P. 1
Epistemologi Pancasila Keseimbangan Idealisme Dan Pragmatisme

Epistemologi Pancasila Keseimbangan Idealisme Dan Pragmatisme

1.0

|Views: 1,998|Likes:
Published by rumrosyid

More info:

Published by: rumrosyid on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

Epistemologi Pancasila: Keseimbangan Idealisme dan Pragmatisme Oleh Rum Rosyid Epistemologi (Epistemology) Disebut the theory of knowledge

atau teori pengetahuan. Ia berusaha mengidentifikasi dasar dan hakikat kebenaran dan pengetahuan, dan mungkin inilah bagian paling penting dari filsafat untuk para pendidik. Pertanyaan khas epistemologi adalah bagaimana kamu mengetahui (how do you know?). Pertanyaan ini tidak hanya menanyakan tentang apa (what) yang kita tahu (the products) tetapi juga tentang bagaimana (how) kita sampai mengetahuinya (the process). Para epistemolog adalah para pencari yang sangat ulet. Mereka ingin mengetahui apa yang diketahui (what is known), kapan itu diketahui (when is it known), siapa yang tahu atau dapat mengetahuinya (who knows or can know), dan yang terpenting, bagaimana kita tahu (how we know). Mereka adalah para pengawas dari keluasan ranah kognitif manusia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut didahului dengan pertanyaan dapatkah kita mengetahui (can we know?). Di sini terdapat tiga posisi epistemologis: Pertama, dogmatism. Aliran ini menjawab: ya, tentu saja kita dapat dan benar-benar mengetahui (we can and do know) – selanjutnya bahkan kita yakin (we are certain). Untuk mengetahui sesuatu kita harus lebih dahulu memiliki beberapa pengetahuan yang memenuhi dua kriteria: certain (pasti) dan uninferred (tidak tergantung pada klaim pengetahuan sebelumnya). Contoh untuk itu: a = a dan keseluruhan > bagian. Kedua, skepticism. Aliran ini menjawab: tidak, kita tidak benar-benar tahu dan tidak juga dapat mengetahui. Mereka setuju dengan dogmatisme bahwa untuk berpengetahuan seseorang terlebih dahulu harus mempunyai beberapa premis-premis yang pasti dan bukannya inferensi. Tapi mereka menolak klaim eksistensi premis-premis yang self-evident (terbukti dengan sendirinya). Respon aliran ini seolah menenggelamkan manusia kedalam lautan ketidakpastian dan opini. Ketiga, fallibilism. Aliran ini menjawab bahwa kita dapat mengetahui sesuatu, tetapi kita tidak akan pernah mempunyai pengetahuan pasti sebagaimana pandangan kaum dogmatis. Mereka ini hanya mengatakan mungkin (possible), bukan pasti (certain). Orientasi sosial yang harus dipahami oleh anak didik dan umumnya dunia pendidikan kita, disamping pemahaman dan pemaknaan terhadap fenomena-fenomena sosial yang tengah menjadi gejala di masyarakat sehingga ia menjadi feomena yang integral dengan proses pendidikan; adalah juga idealisme tentang: (1) figur pimpinan panutan / teladan yang diharapkan masyarakat. Misalnya digambarkan figur yang demokrat, memiliki komitmen kemasyarakatan yang tinggi, religius; sehingga arah pendidikan dapat kita dorong ke pembinaan sikap mental anak didik yang demikian; (2) perubahan sosial yang menjamin arah kemakmuran terbesar pada lapis terbawah masyarakat, sehingga akan memunculkan berbagai rumusan strategi dan ‘angan-angan’ alternatif tentang perubahan sosial itu berasal dari proses pendidikan; (3) pemaknaan terhadap perlunya keseimbangan iman, ilmu, dan amal dalam konteks sosial yang relevan; sehingga dunia pendidikan memiliki kepedulian untuk mengimplentasikannya. Kebutuhan tentang orientasi sosial di atas dapat dibentuk melalui rekonstruksi berbagai perangkat pendidikan, antara lain dengan: pertama, pembenahan orientasi pendidikan melalui sosialisasi secara benar fungsi-fungsi institusi pendidikan dengan menekankan

pada nilai-nilai/idealisme sosial, bukannya pada sisi pragmatisme semata-mata. Kedua, penyesuaian dan peninjauan kurikulum pendidikan yang relevan dengan tuntutan masyarakat, serta menjadikan masyarakat sebagai objek terdekat dari dunia pendidikan itu sendiri melalui pengayaan studi kasus (case study) tentang dinamika masyarakat aktual dan untuk kebutuhan futuristik (masa depan). Ketiga, penyempurnaan metoda pengajaran dengan lebih menjadikan anak didik sebagai subjek, penghapusan subordinasi guru-murid secara psikologis dan intelektual untuk menjamin peran-peran anak didik secara kritis dan optimal. Keempat, penyediaan buku-buku referensi dan alat atau bahan belajar yang sesuai dengan dinamika masyarakat, dengan harga yang relatif terjangkau. Selain itu, perlu juga diintensifkan daur belajar secara lengkap yang melibatkan dua lingkar proses pembinaan yang lain di luar sekolah, yakni peran keluarga sebagai lingkar pertama, dan organisasi-organisasi sosial yang terdapat di masyarakat sebagai lingkar pembinaan ketiga, sesudah sekolah. Dengan dioptimalkannya peran-peran lembaga masyarakat yang terdiri dari berbagai jenis kelompok berdasarkan minat dan bakat, kesamaan fungsi, ideologi, dan sebagainya ini, bisa dipastikan wawasan sosial anak didik akan semakin terasah. Sebab, lembaga-lembaga sosial ini memang ‘biangnya’ pembentukan sikap mental social, politis dan ideologis. Dengan demikian dimensi sosial pendidikan akan semakin lengkap. Soedjatmoko dalam beberapa tulisannya juga sempat menyebutkan sumbangan utama kaum cendekiawan setidaknya dapat dirumuskan dalam tiga hal, yaitu mengubah persepsi bangsa dalam menghadapi berbagai persoalan, mengubah kemampuan bangsa menanggapi masalah baru, dan mengubah aturan main dalam pergulatan politik. "Idealisme kaum cendekiawan ini dalam pemikiran Soedjatmoko harus disertai pragmatisme dalam bertindak. Artinya, untuk melawan kemandegan cendekiawan dituntut bukan hanya keberanian, tetapi juga keluwesan yang cerdik dan pemahaman yang mendalam akan masyarakatnya. Sejarah budaya dan ilmu pengetahuan mengakui bahwa bidang filsafat dianggap sebagai induk atau ratu ilmu pengetahuan, dan merupakan bidang pemikiran tertua dalam peradaban (Avey 1961: 3 – 4). Filsafat mencari dan menjangkau kebenaran fundamental dan hakiki untuk dijadikan filsafat hidup sebagai kebenaran terbaik. Nilai filsafat yang bersumber dari Timur Tengah terpadu dengan nilai ajaran agama, karena nilai intrinsik agama yang metafisis-supranatural sinergis dengan nilai filsafat yang cenderung fundamental, komprehensif (kesemestaan), metafisis, universal dan hakiki. Demikian pula nilai agama (Ketuhanan, keagamaan) berwatak fundamental-universal, suprarasional dan supranatural. Identitas filosofis theisme religious Timur Tengah dapat diakui sebagai sumur madu peradaban dibandingkan filsafat Barat sebagai sumur susu peradaban. Karenanya, manusia sehat, sebaiknya minum susu dengan madu; demikian pula bangsa yang jaya seyogyanya menegakkan nilai theisme religious sinergis dengan filsafat dan ipteks. Garis lingkaran dalam skema melukiskan jangkauan nilai Ketuhanan-keagamaan (theisme religious) meliputi (mempengaruhi) seluruh benua dan seluruh manusia agama

Yahudi, Kristen dan Islam. Diakui, bahwa bangsa-bangsa, umat manusia berbudaya dan beradab, berkat nilai-nilai moral filsafat theisme religious; secara intrinsik tersurat dalam filsafat Islam (Al Ahwani 1995) integritas manusia alam semesta dan Ketuhanan sebagai terpancar dari nilai ajaran agama-agama besar yang supranatural di dunia. Filsafat Pancasila adalah bagian dari sistem filsafat Timur; karenanya ajarannya memancarkan identitas dan martabat theisme-religious sebagai nilai keunggulannya. Artinya, keunggulan sistem filsafat Pancasila terpancar dari asas theisme religious yang menjadi tumpuan keyakinan (kerokhanian) dan moral kepribadian manusia. Tegasnya, keunggulan (kepribadian) manusia, bukanlah penguasaan keunggulan ipteks; melainkan keunggulan moralitas manusia! Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidikan Nasional Sampai dengan menjelang hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2009 diskusi tentang Pancasila sedang mati suri, mungkin bersamaan dengan meninggalnya tokoh ekonom Pancasila Prof. Mubyarto. Reaksi ketidakpuasan terhadap hasil pemikiran beliau cukup beragam yang menonjol adalah kritik Dr. Arief Budiman dan Kwik Kian Gie. Diantara kritik-kritik terhadap pemikiran Prof. Mubyarto, yang kami anggap sangat sentral untuk didiskusikan adalah kritik Arief Budiman yang melihat sisi kelemahan pemikiran Mubyarto, dari sisi epistemologi. Karena epistemologi merupakan sisi rasionalitas dari sebuah ideologi. Pada tahap lebih lanjut akan mengalir berbagai macam ilmu sosial yang memiliki ruh Pancasila. Pasal 2 UU-RI No. 2 Tahun 1989 menetapkan bahwa Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 45. Sedangkan Ketetapan MPR RI No. 11/MPR/1987 tetang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) menegaskan bahwa Pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia dan dasar negar Republik Indonesia. P4 atau Ekaprasetya Pancakarsa sebagai petunjuk operasional pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bidang pendidikan . Perlu ditegaskan bahw Pengamalan Pancasila itu haruslah dalam arti keseluruhan dan keutuhan kelima sila dalam Pancasila itu, sebagai yang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 , yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam Buku I Bahan Penataran P4 dikemukakan bahwa Ketetapan MPR RI No. 11/MPR/1989 tersebut diatas memberi petunjuk-petunjuk nyata dan jelas wujud pengamalan kelima sila dari Pancasila. Sistem filsafat Pancasila diakui sebagai bagian dari ajaran sistem filsafat Timur, yang secara kodrati memiliki integritas dan identitas sebagai sistem filsafat theisme-religious; dan monotheisme-religious. Karenanya, identitas martabatnya yang demikian secara intrinsik dan fungsional memancarkan integritas ajaran yang mengakui potensi martabat kepribadian manusia, sebagai terpancar dalam integritas jasmani-rokhani. Integritas dan martabat manusia yang luhur memancarkan potensi unggul dan mulia, sebagai makhluk mulia ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Kemuliaan martabat manusia ialah kesadaran kewajiban asasi untuk menunaikan amanat Ketuhanan dalam peradaban.

Puncak pendidikan yang berlandaskan Islam adalah ma’rifatullah. Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa diilhami oleh sila pertama Pancasila. Adapun yang bisa kita kembangkan dari prinsip ini adalah pemahaman bahwa realitas kehidupan merupakan satu kesatuan karena Tuhan Maha Esa. Dengan kata lain alam semesta merupakan satu kesatuan yang sistemik. Oleh karena itu keaneka ragaman masyarakat, keaneka ragaman tanah air, keaneka ragaman mahluk merupakan satu kesatuan. Tidak ada alasan bagi masyarakat untuk mengembangkan sikap berpecah belah dengan alasan-alasan primordialnya. Pendidikan yang dibangun di atas ajaran Islam menjadi idealisme tersendiri di kalangan praktisi pendidikan Indonesia saat ini. Berdasarkan asas dan wawasan sistem filsafat demikian, maka filsafat Pancasila mengajarkan asas-asas fundamental Ketuhanan dan kemanusiaan sebagai inti ajaran moral; yang dapat dianalisis secara normatif memberikan kedudukan yang tinggi dan mulia atas kedudukan dan martabat manusia (sila I dan II). Karenanya ajaran HAM berdasarkan Pancasila memancarkan asas normatif theisme-religious: a. Bahwa HAM adalah karunia dan anugerah Maha Pencipta (sila I dan II); sekaligus amanat untuk dinikmati dan disyukuri oleh umat manusia. b. Bahwa menegakkan HAM senantiasa berdasarkan asas keseimbangan dengan kewajiban asasi manusia (KAM). Artinya, HAM akan tegak hanya berkat (umat) manusia menunaikan KAM sebagai amanat Maha Pencipta. c. Kewajiban asasi manusia (KAM) berdasarkan filsafat Pancasila, ialah: 1). Manusia wajib mengakui sumber (HAM: life, liberty, property) adalah Tuhan Maha Pencipta (sila I). 2). Manusia wajib mengakui dan menerima kedaulatan Maha Pencipta atas semesta, termasuk atas nasib dan takdir manusia; dan 3). Manusia wajib berterima kasih dan berkhidmat kepada Maha Pencipta, atas anugerah dan amanat yang dipercayakan kepada (kepribadian) manusia. Pengalaman yang menarik dari Jepang adalah tradisi yang eksis tak tergerus desakan kapitalisme-liberalisme-globalisasi. Di tengah masyarakat dunia yang diterpa sistem sekular, memisahkan urusan budaya dan agama, Jepang malah sebaliknya. Iklim religi dan kebudayaan Jepang tetap dilestarikan bahkan di jadikan dasar kemana arah Jepang berjalan. Tegaknya ajaran HAM ditentukan oleh tegaknya asas keseimbangan HAM dan KAM; sekaligus sebagai integritas martabat moral manusia. Sebagai manusia percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita juga bersyukur atas potensi jasmani-rokhani, dan martabat unggul, agung dan mulia manusia berkat anugerah kerokhaniannya sebagai terpancar dari akal-budinuraninya sebagai subyek budaya (termasuk subyek hukum) dan subyek moral. (M. Noor Syam 2007: 147-160). Amerika sebagai negara sekular yang menjadi cermin bagi wujud negara yang di inginkan kapitalisme-liberalisme telah mendeklarasikan diri sebagai negara yang paling mampu menjawab tuntutan globalisasi. Namun Jepang juga mampu memenuhi tuntutan globalisasi tanpa harus menjadi negara kapitalistik-liberalistik. Jepang terseret arus globalisasi tanpa tenggelam di dalamnya. Sehingga dalam setiap aktivitas di berbagai bidang, khususnya politik dan demokrasi ia tetap mendahulukan tradisi dan akar kultur kebudayaannya.

Berdasarkan ajaran suatu sistem filsafat, maka wawasan manusia (termasuk wawasan nasional) atas martabat manusia, menetapkan bagaimana sistem kenegaraan ditegakkan; sebagaimana bangsa Indonesia menetapkan NKRI sebagai negara berkedaulatan rakyat dan negara hukum. Kedua asas fundamental ini memancarkan identitas dan keunggulan sistem kenegaraan RI berdasarkan Pancasila – UUD 45. Ajaran luhur filsafat Pancasila memancarkan identitas theisme-religious sebagai keunggulan sistem filsafat Pancasila dan filsafat Timur umumnya karena sesuai dengan potensi martabat dan integritas kepribadian manusia. Banyaknya ketidaksempurnaan dari hasil pendidikan kita, malah menjadikan anak didik tidak memiliki keseimbangan antara kebutuhan ruhani dengan kebutuhan fikriyah. Begitu banyak orang pintar, tapi sedikit sekali yang semakin taqorrub dengan Allah SWT karena ilmunya. “Kurikulum yang terstruktur tak mampu menghasilkan buah yang optimal. Konsep pendidikan Islam adalah keseimbangan ilmu fardhu a’in dan fardhu kifayah,” ungkap pakar pendidikan asal Malaysia, Prof. Wan Mohd Wan Daud, dalam seminar bertajuk “Pendidikan di Perguruan Tinggi Perspektif Islam” di aula GSG Salman ITB Bandung, Jumat (13/11/09). “Pendidikan seperti apapun dalam konsep Islam adalah semua ilmu yang kita dapat yang pada akhirnya akan menumbuhkan satu idealisme akhir, yakni, ma’rifatullah.” Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang. Pengetahuan (Knowledge) adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui berbagai cara penginderaan terhadap fakta, penalaran (rasio), intuisi dan wahyu. Pengetahuan yang memenuhi kriteria dari segi ontologis, epistomologis dan aksiologis secara konsekuen dan penuh disiplin biasa disebut ilmu atau ilmu pengetahuan (science); kata sifatnya ilmiah atau keilmuan, sedangkan ahlinya disebut ilmuwan. Dengan demikian, pengetahuan meliputi berbagai cabang ilmu (ilmu sosial/social sciences dan ilmu-ilmu alam/natural sciences), humaniora (seni, fisafat , bahasa, dsb). Oleh karena itu, istilah ilmu atau ilmu pengetahuan itu dapat bermakna kumpulan informasi, cara memperoleh informasi serta manfaat daari informasi itu. Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.

Pengembangan dan pemanfaatan iptek pada umumnya ditempuh rangkaian kegiatan : Penelitian dasar, penelitian terapan, pengembangan teknologi dan penerapan teknologi, serta biasanya diikuti pula dengan evaluasi ethis-politis-religius. Kemampuan maupun sikap ilmiah sedini mungkin harus dikembangkan dalam diri peserta didik. Pembentukan keterampilan dansikap ilmiah sedini mungkin tersebut secara serentak akan meletakkan dasar terbentuknya masyarakat yang sadar akan iptek dan calon-calon pakar iptek kelak kemudian hari. Peradaban yang terus berkembang pada dasarnya didorong oleh hasrat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Manusia selalu ingin mendapatkan lebih dari apa yang dimiliki. Hasrat ini, disatu sisi mendorong manusia untuk terus berusaha melakukan perubahan dan menemukan hal-hal baru, namun di sisi lain sering mendorong manusia terjerumus ke dalam “jurang” yang tidak berujung. Pada giliranya menjadikan dunia semakin pragmatis, penghuninya dimanjakan oleh lingkungan kehidupan yang serba jadi dan siap saji, bergerak dalam pola serba baku, berfikir dan berbicara dalam rujukan yang serba konkrit, semua untuk memastikan bahwa yang bernilai hanyalah yang berguna secara pragmatis, dan kebenaran diartikan sebagai kesesuaian dengan kebutuhan nyata. Konsep pembentukan manusia ideal menurut Confucius terpadu dalam konsep dasar manusia itu sendiri, dan cukup relevan. Terlihat dari pembentukan manusia ideal tersebut terdapat hubungan antara raga dan jiwa manusia, sebagaimana diketahui bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu raga (jasmani) dan jiwa (rohani), keduanya merupakan satu kesatuan (dwi tunggal) yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, maka manusia dapat dikatakan manusia jika ia memiliki jasmani dan rohani ; hal tersebut yang menyebabkan manusia dapat bergerak, bersikap dan mempunyai suatu potensi serta kemauan. . Kita ketahui bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan, potensi dan kemauan ini ada dalam jiwa manusia, dan fungsi badan disini ialah untuk menunjang agar terbentuknya potensi itu. Jadi hubungan keduanya cukup menunjang dan saling berkaitan. Konsep manusia ideal menurut Confucius pembahasannya lebih banyak berkiasar tentang masalah moral, moral bagi Confucius memiliki cakupan yang demikian luas dan kompleks yang dapat dijumpai dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan ermasyarakat, oleh sebab itu dibutuhkan suatu kearifan untuk mendapatkan ketentraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan bagi semua orang. Confucius di dalam pandangan tentang konsep manusia lebih mengarah kepada hal-hal yang bersifat pragmatis, sehingga segala sesuatu diukur dengan nilai kegunaan praktis yang mengandung unsur-unsur idealis unuk mendapatkan tujuan yang dicita-citakan serta bersifat realis yang mempunyai arti selalu berpedoman pada hal-hal yang nyata ( realita) : maka ruang lingkup pragmatisme, idealisme dan realisme dalam dimensi filsafat manusia. Konsep Manusia Ideal Memahami, membandingkan dan menghayati kandungan nilai filsafat Pancasila, kita bersyukur mewarisi nilai dan ajaran filsafat Pancasila sebagai bagian dari sistem filsafat Timur. Karenanya, identitas dan integritas Pancasila sebagai sistem filsafat memancarkan integritas martabatnya sebagai sistem filsafat theisme-religius. Identitas dan integritas

demikian memancarkan keunggulan dibandingkan berbagai sistem filsafat lainnya, yang beridentitas: polytheisme, monotheisme, sekularisme, pantheisme sampai atheisme dalam berbagai aliran seperti: theokratisme, zionisme, kapitalisme-liberalisme; marxismekomunisme-atheisme, sosialisme; fundamentalisme dan Pancasila. Nilai demokrasi sebagai suatu teori kedaulatan, atau sistem politik (kenegaraan) diakui sebagai teori yang unggul, karena mengakui kedudukan, hak asasi, peran (fungsi), bahkan juga martabat (pribadi, individu) manusia di dalam masyarakat, negara dan hukum. Secara universal diakui kedudukan dan martabat manusia sebagai dinyatakan, antara lain: “. . . these values be democratically shared in a world-wide order, resting on respect for human dignity as a supervalue . . .” (Bodenheimer 1962). Sebagaimana juga Kant menyatakan: “. . .that humanity should always be respected as an end itself (Mc Coubrey & White 1996). Pemikiran mendasar tentang jatidiri bangsa, peranannya dalam memberikan identitas sistem kenegaraan dan sistem hukum, dikemukakan juga oleh Carl von Savigny (1779 - 1861) dengan teorinya yang amat terkenal sebagai Volkgeist --yang dapat disamakan sebagai jiwa bangsa dan atau jatidiri nasional--. Demikian pula di Perancis dengan "teori 'raison d' etat' (reason of state) yang menentukan eksistensi suatu bangsa dan negara (the rise of souvereign, independent, and nationa state)". (Bodenheimer, 1962). Demikianlah budaya dan peradaban modern mengakui dan menjamin kedudukan manusia dalam konsepsi HAM sehingga ditegakkan sebagai negara demokrasi, sebagaimana tersirat dalam pernyataan: “. . . fundamental rights and freedom as highest value as legal.” (Bodenheimer 1962) sebagaimana juga diakui oleh Murphy & Coleman(1996): “. . . respect to central human values . . .”. Berdasarkan berbagai pandangan filosofis di atas, wajarlah kita bangga dengan filsafat Pancasila yang mengakui asas keseimbangan HAM dan KAM, sekaligus mengakui kepribadian manusia sebagai subyek budaya, subyek hukum dan subyek moral. Secara normatif filosofis ideologis, negara RI berdasarkan Pancasila – UUD 45 mengakui kedudukan dan martabat manusia sebagai asas HAM berdasarkan Pancasila yang menegakkan asas keseimbangan hak asasi manusia (HAM) dan kewajiban asasi manusia (KAM) dalam integritas nasional dan universal (termasuk Universal Declaration of Human Rights, UNO maupun USA). Sebagai integritas nasional bersumber dari sila III, ditegakkan dalam asas Persatuan Indonesia (= wawasan nasional) dan dijabarkan secara konstitusional sebagai negara kesatuan (NKRI dan wawasan nusantara). Bandingkan dengan fundamental values dalam negara USA sebagai terumus dalam CCE 1994: 24-25; 53-55, terutama: "Declaration of Independence, Human Rights, E Pluribus Unum, the American political system, market economy and federalism." NKRI berdasarkan Pancasila - UUD 45 memiliki integritas-kualitas keunggulan normatif filosofis-ideologis dan konstitusional: asas theisme-religious dan UUD Proklamasi menjamin integritas budaya dan moral politik yang bermartabat. Konsep manusia ideal jika direlevansikan pada kondisi kekinian sangat berguna dan bermanfaat dalam membentuk suatu sosialitas yang harmoni dan dimanis. Disamping itu konsep manusia ideal yang ditawarkan Confucius juga cukup relevan dengan konsep manusia indonesia yang berkecenderungan ke arah monodualismenya itu suatu aliran yang berpandangan bahwa manusia mempunyai keseimbangan jasmaniah dan rohaniah

atau keseimbangan lahiriah dan batiniah yang berdasarkan pada pancasila dan UUD 1945. Secara filosofis-ideologis dan konstitusional essensi ajaran filsafat moral Pancasila, berpedoman kepada UUD 45 seutuhnya, terutama Pembukaan dan pasal 29. Lukisan dalam klarifikasi skematis di atas, sebagai kandungan fundamental sistem filsafat Pancasila memancarkan integritas-identitas martabatnya sebagai sistem filsafat theisme-religious (monotheisme-religious) yang unggul dan luhur karena sesuai dengan kodrat martabat kepribadian manusia. Konsep Manusia Ideal Menurut Confucius Konsep manusia ideal yang ditawarkan oleh Confucius adalah Chun Tzu yang agung atau dalam istilah bahasa inggris disebut (gentlemen), seseorang dapat menjadi pimpinan bukan karena keturunan tetapi karena keagungan watak dan tingkah laku yang baik. Menurut Confucius bahwa setiap manusia berpotensi menjadi chu-tzu , dan di dalam naluri manusia terkandung benih-benih kebaikan yang terdiri dari jen (perikemanusiaan), yi (kelayakan), li (sopan santun), dan chi (kebijaksanan); karena secara keseluruhan masih berwujud suatu potensi, maka proses selanjutnya secara lengkap merupakan tanggung jawab manusia, hal ini berkaitan dengan kemauan dan kemampuan seseorang di dalam upaya menumbuh kembangkan benih-benih tersebut bagi diri pribadinya. Dengan demikian berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar manusia mempunyai peran yang demikian besar terutama dalam perwujudan jati diri manusia, maka cara yang paling tepat dan baik adalah hendaknya senantiasa berpedoman kepada agama, kepercayaan, dan norma-norma yang masih berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia dewasa ini (Lasiyo, 1998 : 8-9). Beberapa pengertian Chun-tzu menurut Confucius : Chun-tzu adalah seoarang pemberani yang dapat menyelaraskan berbagai macam hal yang berkaitan dengan pekerjaan dan senantiasa berusaha meningkatkan kualitas moral kepribadiannya (Dawson, 1981 : 54). Sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang chu-tzu adalah : • Setia dan selalu berbuat baik serta berusaha untuk mawas diri. • Mencintai sesuatu yang benar dan tidak mementingkan dirinya sendiri. • Mengutamakan masalah moral (Dawson, 1981 : 55). Oleh karena itu seorang chun-tzu selalu berusaha untuk dapat hidup dan bekerja sama dengan masyarakat dimana ia berada, agar dengan demikian ia mempunyai jiwa sosial yang tinggi mau beramal apa saja demi untuk kepentingan masyarakat bangsa dan negaranya. Confucius dalam membahas masalah chun-tzu lebih banyak berbicara tentang masalah moral, karena moral merupakan dasar dari keberhasilan pembangunan suatu bangsa, tanpa landasan pada moral suatu bangsa akan segera mengalami keruntuhan (Ya'qub, 1978 : 26). Dari penjelasan diatas terlihat bahwa Confucius berupaya untuk membentuk manusia dari benih-benih dan potensi yang ada dalam diri manusia itu sendiri yang kemudian dikembangkan. Confucius mempunyai asumsi bahwa di dalam diri manusia pada awalnya mempunyai benih-benih dan potensi, dan inilah yang merupakan dasar dari pembentukan manusia ideal. Potensi ini akan berkembang atau berfungsi dengan maksimal jikalau manusia itu sendiri yang menyadarinya dan berupaya untuk

melaksanakannya. Kita ketahui bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan, menurut penulis potensi dan kemauan ini ada dalam jiwa manusia, dan fungsi badan disini ialah untuk menunjang agar terbentuknya potensi itu. Jadi hubungan keduanya cukup menunjang dan saling berkaitan. Menjawab pertanyaan mengenai apakah konsep manusia ideal sudah cukup relevan dengan konsep manusia itu sendiri, kita dapat melihat dari dasar pembentukan manusia ideal terdapat hubungan antara raga dan jiwa manusia, sebagaimana diketahui bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu raga (jasmani) dan jiwa (rohani), keduanya merupakan satu kesatuan (dwi tunggal) yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, maka manusia dapat dikatakan manusia jika ia memiliki jasmani dan rohani ; hal tersebut yang menyebabkan manusia dapat bergerak, bersikap dan mempunyai suatu potensi serta kemauan. Manusia dalam kehidupan sehari-hari merupakan subjek yang mandiri dan mengubah dirinya sendiri agar memperoleh kemajuan dan perkembangan terutama potensi yang terdapat di dalam dirinya. Jadi konsep manusia ideal menurut Confucius bisa dikatakan relevan karena mencakup suatu konsep dasar dari manusia yaitu hubungan antara jiwa (rohani) dan raga (jasmani). Dari konsep manusia ideal menurut Confucius maka kita akan melihat atas dasar apakah manusia sudah bisa dikatakan ideal. Dasar dikatakan manusia itu ideal jika ia sudah menjadi Chun-tzu . Chun-tz u adalah seorang yang berusaha memelihara kepribadiannya, terutama moral dan bertujuan untuk membuat situasi menjadi tenang bagi seluruh umat manusia, Chun-tzu berarti seorang pemberani yang dapat menyelaraskan berbagai macam hal yang berkaitan dengan pekerjaan dan senantiasa berusaha meningkatkan kualitas moral. Confucius berkata: “Seorang manusia yang bijaksana adalah seorang yang mempunyai harga diri dan memelihara kepemimpinan dengan membina kepribadiannya pada dua prinsip kebajikan yaitu kesetiaan dan kejujuran serta keberanian untuk menyatakan mana yang benar dan mana yang salah” (Confucius, 1991 : 31). Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang Chun-tzu diantaranya : setia dan selalu berbuat baik serta berusaha untuk mawas diri, mencintai sesuatu yang benar dan tidak mementingkan dirinya sendiri, mengutamakan masalah moral. (Dawson, 1981 : 55). Jadi ada suatu kriteria untuk menjadi manusia ideal yaitu setiap manusia harus menjadi seorang Chun-tzu dan tahapan-tahapan untuk mencapainya ialah pertama-tama manusia harus menyadari potensi dalam dirinya sendiri seperti yang dikatakan Confucius bahwa di dalam naluri manusia terkandung benih-benih kebaikan yang terdiri dari jen (perikemanusiaan), yi (kelayakan), li (sopan santun), dan chi (kebijaksanan) dari sinilah terbentuk potensi untuk menjadi seorang Chun-tzu , jika sudah menjadi Chun-tzu maka ia harus mempunyai sifat-sifat yang dimiliki oleh Chun-tzu seperti yang sudah dijelaskan diatas, jika kriteria tersebut sudah terpenuhi sampai akhirnya manusia itu sudah biasa dikatakan sebagai manusia ideal. Confucius dalam membahas tentang manusia mengatakan bahwa hakikat manusia adalah makhluk sosial, maka hendaknya dapat menjalin kerjasama dengan masyarakat, maksudnya jika di dalam masyarakat berlaku hal-hal yang tidak baik, maka seyogyanya dapat merubah ke hal-hal yang baik, dapat diterima oleh siapa saja. Manusia dianggap

bijak apabila selalu mengutamakan masalah moral. Konsep manusia ideal menurut Confucius pembahasannya lebih banyak berkisar tentang masalah moral. Maka moral bagi Confucius memiliki cakupan yang demikian luas dan kompleks yang dapat dijumpai dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, oleh sebab itu dibutuhkan suatu kearifan untuk mendapatkan ketentraman, kesejahteraan dan kebahagiaan. Dari pemikiran ini kita dapat melihat bahwa Confucius mengedepankan nilai-nilai moral dalam pembentukan manusia ideal yang pada akhirnya membentuk suatu masyarakat yang tertib, aman dan sejahtera. Sumbangan pemikiran ini sangat berguna dan sangat signifikan jika diterapkan pada kondisi kekinian. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini nilai-nilai moral selalu dikesampingkan membuat manusia tidak dapat menjadi manusia yang ideal dan memebntuk suatu masyarakat yang ideal, tertib, dan teratur. Mengenai kodrat manusia itu sendiri pada kondisi kekinian dapat dijadikan suatu dasar untuk menjalin suatu nilai kebersaman atau kerjasama diantara setiap individu (manusia), dikarenakan saat sekarang ini semangat kebersaman sudah mulai hilang, lebih dominan rasa individual yang sangat ditonjolkan. Oleh karena itu alangkah baiknya jika keduanya seimbang itu akan menjadikan suatu sosialitas lebih harmoni dan dinamis. Cara hidup Confucius yang sedemikian sederhana, menyukai kejujuran, senang menasehati orang lain, dan senantiasa berpegang kepada kesucian, dari cara hidupnya akan menjadikan suatu panutan dan keteladanan bagi masyarakat dewasa ini. Memberadabkan manusia adalah memberdayakan masyarakat Pancasila sebagai bukti perlawanan kuatnya pengaruh pemikiran barat terhadap eksistensi paham-paham negara-bangsa di seantero jagad ini. Tetapi perlu di tekankan, bersamaan dengan optik Prof Sudiman, bahwa pemikiran barat bersifat individualisme. Seolah-olah, mengedepankan ”aku”, eksistensi manusia mendahului esensinya, orang lain neraka. Sehingga prinsip-prinsip kesenangan dunia barat di motori oleh hakekat liberalisme, di mana campur tangan pemerintah sudah ditekan serendah mungkin, kepentingan pribadi di atas segala-galanya. Tetapi Pancasila di gali dengan ”perbedaan dalam kesatuan”. Prinsip kekeluargaan menjadi prioritas. Keluarga, merupakan institusi yang di cari oleh sebagian besar manusia Indonesia, sebagai sebuah institusi yang membahagiakan, menenangkan batin, suka saat bersama-sama, meskipun dalam berbagai perbedaan yang ada. Peradaban manusia pada hakikatnya adalah hasil dari proses upaya manusia untuk menemukan sesuatu yang baru untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Prinsip 'adab, diilhami sila kedua istilah 'adab dalam bahasa arab identik dengan istilah husn, maupun tsaqafah yang artinya peradaban. Dengan demikian tujuan ahir dari setiap sistem keilmuan adalah mewujudkan peradaban yang paling baik. Berbagai upaya yang dilakukan manusia berbeda, karena tuntutan kebutuhan yang berbeda. Bisa juga perbedaan tersebut diakibatkan oleh cara dan proses yang dilakukan antara satu manusia dengan manusia lainnya berbeda. Justru perbedaan inilah yang menghasilkan dan memperkaya peradaban manusia tersebut. Prinsip aksiologis Pancasila yang dapat kita kembangkan meliputi : a. Prinsip Persatuan, prinsip ini diilhami sila ketiga

b. Prinsip Musyawarah, prinsip ini diilhami sila keempat c. Prinsip Keadilan, prinsip ini diilhami sila kelima Nilai -nilai etis tersebut menunjukkan begitu berartinya masyarakat, sehingga keberadaannya menjadi prioritas pembangunan. Seperti halnya tradisi bangsa Jepang dalam berhukum dan berdemokrasi. Akar kultur kebudayaan memang tak bisa dipisahkan oleh hukum, jika hukum itu menginginkan keadilan bagi masyarakat lokalitas di mana hukum itu hidup, maka bermanfaat dan efektiflah hukum tersebut. Sebagaimana Jepang yang kita bisa melihatnya sebagai sebuah negara yang memiliki daya kekuatan sendiri atas landasan tradisi yang dipegang teguh. Jepang mengidentifikasi dirinya dan membangun kehidupan yang tak menyatu dengan tradisi, kebudayaan, dan peradabannya. Jepang memegang teguh nilai kolektivisme, bukan individualisme yang berasal dari mulut liberalisme-kapitalisme. Tradisi Jepang tak mengenal ”aku”, yang ada bagi mereka adalah uchi (my house) orang-orang yang tinggal satu rumah, otaku (your house) rumah-rumah tetangga sekitar, dan kaisha (symbolizes the expression of group consciousness) simbol kesadaran kolektif komunitas. Sehingga urusan yang ada bukanlah kepetingan diri sendiri, melainkan kepentingan orang rumah, tetangga, dan kesadaran bersama komunitas. Sehingga dengan kuatnya tradisi ini Jepang tumbuh menjadi negara yang memiliki indentitas. Ia memiliki intregasi sosial komunitas masyarakat, sehingga pembangunan pun di jalankan dengan modal sosial ini. Kepedulian masyarakat Jepang antara satu dengan yang lain, terutama orang rumah, tetangga, dan komunitasnya begitu besar, sehingga menciptakan emotional partisipation, partisipasi emosional yang mengikat antarindividu. Sehingga suasana kekeluargaan, gotong royong, toleransi, dst-nya menjadi karakteristik masyarakat Jepang. A group formed on basis of exclusiveness, based on this homogenety, even without recourse to any form of law. Nalar dan rasa komunitas menyatu dengan pribadi manusia Jepang. Inilah yang menarik dari Jepang yang mungkin sulit ditiru Indonesia, umpanya dengan Jepang yang memiliki masyarakat homogen dan ada institusi yang menjaga kultur dan tradisi mereka berupa kekaisaran-kerajaan yang masih eksis dan autoritatif. Salah satu wujud peradaban manusia yang sangat cepat berkembang adalah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan pada bidang ini selain mendorong dirinya untuk berkembang juga mendorong bidang lain untuk terus juga ikut berkembang, seperti kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi yang sangat mengagumkan. Sama halnya dengan bidang lain, sudah menjadi sunatullah, bidang inipun dalam perkembangannya beragam dan bervariasi. Keberagaman ini disebabkan oleh banyak factor diantaranya disebabkan oleh cara, proses, asal-usul, dan hubungannya (epistemology) (Al-Hussaini, 2007) dengan manusia dalam mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang menjadi minat dan perhatiannya yang juga berbeda. Perkembangan peradaban manusia jauh lebih cepat dibandingkan dengan makluk lainnya di dunia ini. Sejak kelahirannya di dunia manusia terus berkembang dan mengembangkan dirinya demi mencapai kenikmatan, kesenangan, kesejahteraan, dan berbagai keindahan hidup lain, yang bisa jadi tidak pernah dinikmati oleh binatang, atau makluk lain ciptaan

Allah SWT. Pandangan ontologi pendidikan Islam difokuskan pada hakekat manusia, alam raya dan Tuhan. Mengenai pengalaman dalam pendidikan Pancasila didasarkan pada fitrah yang dibawa anak sejak lahir, berfungsi untuk membekali pengalaman keagamaan anak didik, yaitu mengingatkan perjanjian primordial manusia dengan Tuhannya. Pandangan epistemologi pendidikan Pancasila mengenai pengetahuan difokuskan pada ilmu itu sendiri, bahwa ilmu harus diintegrasikan, sehingga akan menghasilkan manusia yang sempurna. Manusia yang sempurna adalah manusia yang berdaya dan mampu memerdekakan diri dari segala ikatan pisik dan jiwa. Tidak semata memandang manusia dari satu sisi keduniawiannya tetapi dunia dan ahirat. Dasar pendidikan kita, artinya yang akan menjadi landasan atau pijakan bagi pendidikan kita adalah Pancasila. Asas adalah ketentuan-ketentuan yang harus menjadi pedoman atau menjadi pegangan dalam melaksanakan kegiatan. Ketentuan-ketentuan tersebut merupakan petunjuk-petunjuk teknis, agar pelaksanaannya berlangsung secara efektif dan efisien. Demikian juga dalam kegiatan pendidikan, ada petunjuk-petunjuknya. Contoh asas pendidikan adalah: asas ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani; asas pendidikan sepanjang hayat, asas semesta, menyeluruh dan terpadu; asas manfaat; asas usaha bersama; asas demokratis; asas adil dan merata; asas perikehidupan dalam keseimbangan; asas kesadaran hokum; asas kepercayaan pada diri sendiri; asas efisiensi dan efektivitas; asas mobilitas dan fleksibilitas. Asas-asas ini pernah dirumuskan oleh komisi pembaharuan pendidikan nasional ( KPKPN ). Peradaban Modern adalah Pragmatisme Pembangunan Ekonomi Dalam pandangan konvensional, sebagaimana menurut Chambers (1995) pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma pembangunan, yakni bersifat “peoplecentered”, participatory, empowering, and sustainable. Konsep pemberdayaan lebih luas dari hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan dasar atau mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut (safety net), yang pemikirannya belakangan ini lebih banyak dikembangkan sebagai upaya mencari alternatif terhadap konsep-konsep pertumbuhan dimasa lalu. Konsep ini berkembang dari upaya para ahli dan praktisi untuk mencari pembangunan alternatif yang menghendaki “inclusive democracy, appropriate growth, gender equity, and intergenerational equity (Friedmen, 1992). Kartasasmita (1996) menambahkan bahwa konsep pemberdayaan tidak mempertentangkan pertumbuhan dengan pemerataan, tetapi konsep ini berpandangan bahwa dengan pemerataan, tercipta landasan yang lebih luas untuk pertumbuhan dan yang akan menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan. Konsep ini juga mencoba untuk melepaskan diri dari perangkap “zero-sum game” dan “trade-off”. Sebagai dampak dari pandangan yang pragmatis. Lebih ironis dari dampak pragmatisme ini adalah menilai kebenaran agama berdasarkan pada perilaku pemeluknya. Nurcholish Madjid menceritakan pengalamannya. Suatu ketika, muridnya bertanya kepadanya tentang bagaimana mengukur atau menentukan kebenaran suatu agama. Muridnya memulai dengan beberapa pertanyaan berikut ini,

“Untuk apa kita beragama?”, Apakah dengan beragama perilaku pemeluknya akan menjadi lebih baik?” Kita perhatikan, hampir semua orang di negeri ini menganut suatu agama, baik Islam, Katolik, Kristen/Protestan, Hindu dan Budha, mereka menjalankan syariat dan ibadah ritual yang dianjurkan oleh agamanya. Dengan agama yang dianutnya, semestinya bangsa ini bukanlah bangsa terkorup di dunia, karena perilaku korupsi bertentangan dengan ajaran semua agama. Kenyataan bangsa ini memiliki indek 111 terkorup di dunia. Jika demikian bagaimana mengukur kebenaran suatu agama, jika agama tidak memberikan pengaruh pada pola pikir dan perilaku pemeluknya?. Pandangan pragmatis untuk melihat fenomena agamawi tidak akan mampu mengungkapkan sepenuhnya kebenaran tersebut. Kesatuan Idealisme dan Pragmatisme : Pemberdayaan Masyarakat Al-Hussaini menilai bahwa filsafat pengetahuan barat yang hanya menilai keabsahan ilmu pengetahuan semata-mata yang bersifat induktif-empiris, rasional-deduktif, dan pragmatis, serta menafikkan atau menolak ilmu pengetahuan non-empiris dan nonpositivisme, merupakan suatu masalah yang akut. Karena pada saat paradigma ini berhasil menemukan cabang disiplin suatu ilmu, maka penemuannya sering mereduksi sebuah kenyataan menjadi hanya kumpulan fakta dan bersifat material. Adam Smith, misalnya, pada saat bicara teori ekonomi, ia bicara tentang prinsip “mekanisme pasar”, dan Charles Darwin dalam biologi berbicara tentang “mekanisme evolusi”. Jelas ini menampikkan peran Penguasa, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah mengatur seluruh sendi kehidupan manusia. Dengan kata lain, paradigma mekanistik-materialistik telah mengesampingkan Tuhan dari wacara keilmuan dan mempromosikan sekularisme (AlHussaini, 2007). Para filosof Islam meyakini bahwa Islam memiliki sejumlah pilar utama dalam pencarian kebenaran (epistemologi), salah satunya adalah tasawuf. Aspek epistemologi Islam ini dapat dijadikan sebagai alternatif di jaman modern ini dimana kebanyakan manusianya telah dikuasai oleh hegemoni paradigma ilmu pengetahuan positivistic-empirisme dan budaya barat yang materialitik dan sekularistik. Kondisi, sebagaimana yang digambarkan di atas, mendorong digunakannya berbagai cara, proses dan sumber ilmu (epistemologi) yang menyeluruh (holistik) dan komprehensif. Dengan demikian, maka pengembangan epistemology berwawasan holistik akan kebenaran pengetahuan selalu bersifat intersubjektif, dimana keberadaan suatu ilmu tidak direduksi ke dalam satu aspek kebenaran dan kepastian tertentu saja. Hal ini sejalan dengan esensi dari epistemologi, yaitu suatu usaha membiarkan pikiran untuk mencapai pengenalan akan esensinya sendiri, dan berusaha mengekspresikan dan menunjukkan kepada dirinya sendiri tentang dasar-dasar kepastian yang sifatnya utuh, kokoh, dan holistik (Watloly, 2001) Saat berkunjung ke Pontianak, 8 Januari 2010 yang lalu, Muhammad Nuh selaku Mendiknas berbicara di dua tempat, yakni Forum Rektor Indonesia di Rektorat Untan dan Temu Wicara Mendiknas dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota se-Kalimantan Barat di Hotel Mahkota. Informasi yang disampaikan sangat mendasar diantaranya tentang empat hal penting yang harus

diperhatikan (Aswandi, 2010) dalam membangun martabat bangsa, yakni; adanya (a) cita-cita yang tinggi, luhur dan mulia. Cita-cita luhur akan mengantarkan bangsa ini lebih bermartabat, prosesnya sangat panjang, bisa jadi mereka yang berperan sebagai pencetus dan penggagas tidak sempat menikmati hasilnya karena dipanggil oleh Sang Khalik; (b) ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk mewujudkan cita-cita tersebut; (c) kepribadian atau karakter; dan (d) mengkombinasikan fondasi filosofi idealisme dan pragmatisme. Penegasan Mendiknas akan pentingnya Pondasi filosofis dalam penyelenggaraan pendidikan, yakni mengkombinasikan idealisme dan pragmatisme, bukan mempertentangkan satu dengan lainnya. Winarno Surakhmad (2009) dalam bukunya “Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi” menyatakan bahwa,”Secara hakiki, tidak ada aktivitas atau praktek pendidikan yang dapat berlangsung tanpa pondasi filosofi yang sedikitnya terkait dengan makna kehidupan dan nilai kemanusiaan. Setiap tingkah laku kependidikan adalah tingkah laku yang bertujuan dan setiap tujuan bersumber dari pilihan, dan setiap pilihan adalah alternatif yang didasarkan pandangan filosofi, yakni pandangan filosofi pendidikan”. Di dunia kemahasiswaan benturan antara idealisme dan pragmatisme sering terjadi. Ada saja diantara mahasiswa kehadirannya di kampus hanya mengejar Indek Prestasi Komulatif (IPK) yang tinggi, memperoleh nilai tinggi tanpa belajar keras. Terlebih lagi isu filosofis pendidikan yang sangat mendasar, penting memberi arah pemikiran dan martabat bangsa ini jarang disampaikan oleh para pemimpin pendidikan kita dan barang kali belum menjadi dasar berpijak dalam membangun pendidikan di negeri ini. Oleh karena itu, janganlah heran, jika kita hanya telihat sibuk dan menghabiskan banyak uang yang dialokasikan pada berbagai proyek tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan anak bangsa ini. Misalnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang atau masyarakat di negeri ini, semakin tinggi pula angka pengangguran kaum terdidik. Hal ini berarti dunia pendidikan belum mampu memberdayakan masyarakat. Kartasasmita (1996) mengemukakan bahwa memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan demikian memberdayakan masyarakat adalah memampukan dan memandirikan masyarakat. Keberdayaan masyarakat adalah unsur dasar yang memungkinkan suatu masyarakat untuk bertahan, dan mengembangkan diri untuk mencapai kemajuan. Sumodiningrat (1996) mengemukakan bahwa keberdayaan masyarakat yang tinggi adalah masyarakat yang sebagian besar anggotanya sehat fisik dan mental, terdidik dan kuat, dan memiliki nilai-nilai intrinsik, seperti: kekeluargaan, kegotongroyongan, dan kebhinekaan. Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya, dengan mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya. Selaras dengan pendapat tersebut, Jim Ife (1995) mengemukakan bahwa “empowerment means providing people with the resources, opportunities, knowledge, and skill to increase their capacity to determine their own future, and to participate in and effect of their community”. Akhirnya Kartasasmita (1996)

menyimpulkan bahwa, upaya yang amat pokok dalam rangka pemberdayaan masyarakat adalah peningkatan taraf pendidikan, kesehatan, serta akses terhadap sumber-sumber kemajuan ekonomi, seperti: modal, teknologi, informasi dan pasar. Ini sebuah bukti fondasi pendidikan kita goyah tanpa arah, dan kita harus berupaya menemukan kembali fondasi filosofis pendidikan yang telah hilang, menghilang, atau sengaja dihilangkan dari dunia pendidikan kita. Menurut Jim Ife (1995) dalam membicarakan konsep pemberdayaan, tidak dapat dilepas-pisahkan dengan dua konsep sentral, yaitu konsep power (“daya”) dan konsep disadvantaged (“ketimpangan”) Pengertian pemberdayaan yang terkait dengan konsep power dapat ditelusuri dari empat sudut pandang/perspektif, yaitu perspektif pluralis, elitis, strukturalis dan poststrukturalis. Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif pluralis, adalah suatu proses untuk menolong kelompok-kelompok masyarakat dan individu yang kurang beruntung untuk bersaing secara lebih efektif dengan kepentingan-kepentingan lain dengan jalan menolong mereka untuk belajar, dan menggunakan keahlian dalam melobi, menggunakan media yang berhubungan dengan tindakan politik, memahami bagaimana bekerjanya sistem (aturan main), dan sebagainya. Oleh karenanya, diperlukan upaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat untuk bersaing sehingga tidak ada yang menang atau kalah. Dengan kata lain, pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk mengajarkan kelompok atau individu bagaimana bersaing di dalam peraturan (how to compete wthin the rules). Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif elitist adalah suatu upaya untuk bergabung dan mempengaruhi para elitis, membentuk aliansi dengan elitis, melakukan konfrontasi dan mencari perubahan pada elitis. Masyarakat menjadi tak berdaya karena adanya power dan kontrol yang besar sekali dari para elitis terhadap media, pendidikan, partai politik, kebijakan publik, birokrasi, parlemen, dan sebagainya. Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif strukturalis adalah suatu agenda yang lebih menantang dan dapat dicapai apabila bentuk-bentuk ketimpangan struktural dieliminir. Masyarakat tak berdaya suatu bentuk struktur dominan yang menindas masyarakat, seperti: masalah kelas, gender, ras atau etnik. Dengan kata lain pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses pembebasan, perubahan struktural secara fundamental, menentang penindasan struktural. Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif post-strukturalis adalah suatu proses yang menantang dan mengubah diskursus. Pemberdayaan lebih ditekankan pertama-tama pada aspek intelektualitas ketimbang aktivitas aksi; atau pemberdayaan masyarakat adalah upaya pengembangan pengertian terhadap pengembangan pemikiran baru, analitis, dan pendidikan dari pada suatu usaha aksi. Ketidakberdayaan masyarakat yang disebabkan oleh ketiadaan daya (powerless) perlu ditemu-kenali. Jim Ife (1995) mengidentifikasi beberapa jenis daya yang dimiliki masyarakat yang dapat digunakan untuk memberdayakan mereka, antara lain: a. Power terhadap pilihan pribadi, yaitu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menentukan pilihan pribadi atau kesempatan untuk hidup lebih baik.

b. Power terhadap pendefinisian kebutuhan, yaitu mendampingi masyarakat untuk merumuskan kebutuhannya sendiri. c. Power terhadap kebebasan berekspresi, yaitu mengembangkan kapasitas masyarakat untuk bebas berekspresi dalam bentuk budaya publik. d. Power terhadap institusi, yaitu meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap kelembagaan pendidikan, kesehatan, keluarga, keagamaan, sistem kesejahteraan sosial, struktur pemerintahan, media dan sebagainya. e. Power terhadap sumberdaya, yaitu meningkatkan aksesibilitas dan kontrol terhadap aktivitas ekonomi. f. Power terhadap kebebasan reproduksi, yaitu memberikan kebebasan kepada masyarakat dalam menentukan proses reproduksi. Ketidakberdayaan masyarakat selain disebabkan oleh faktor ketidak-adaan daya (powerless), juga disebabkan oleh faktor ketimpangan, antara lain: a. Ketimpangan struktural antar kelompok primer, seperti: perbedaan kelas; antara orang kaya-orang miskin; the haves-the haves not; buruh-majikan; ketidaksetaraan gender; perbedaan ras, atau etnis antara masyarakat lokal-pendatang, antara kaum minoritas – mayoritas, dan sebagainya. b. Ketimpangan kelompok lain, seperti: masalah perbedaan usia, tua-muda, ketidakmampuan fisik, mental, dan intelektual, masalah gay-lesbi, isolasi geografis dan sosial (ketertinggalan dan keterbelakangan). c. Ketimpangan personal, seperti: masalah dukacita, kehilangan orang-orang yang dicintai, persoalan pribadi dan keluarga. Dengan demikian untuk dapat merancang, melaksanakan dan mengevaluasi program pemberdayaan pengungsi secara efektif, maka perlu memahami terlebih dahulu faktor apa sajakah yang menjadi akar permasalahan pengungsi, apakah terkait dengan faktor daya atau faktor ketimpangan, ataukah kombinasi keduanya. Epistemologi Keesaan : Pengetahuan Bersifat Analogi Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan, sedangkan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Dengan demikian epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Webster Third New International Dictionary mengartikan epistemologi sebagai “The Study of method and ground of knowledge, especially with reference to its limits and validity”. Paul Edwards, dalam The Encyclopedia of Philosophy, menjelaskan bahwa epistemologi adalah “the theory of knowledge.” Pada tempat yang sama ia menerangkan bahwa epistemologi merupakan “the branch of philosophy which concerned with the nature and scope of knowledge, its presuppositions and basis, and the general reliability of claims to knowledge.” Epistemologi juga disebut logika, yaitu ilmu tentang pikiran. Akan tetapi, logika dibedakan menjadi dua, yaitu logika minor dan logika mayor. Logika minor mempelajari struktur berpikir dan dalil-dalilnya, seperti silogisme. Logika mayor mempelajari hal pengetahuan, kebenaran, dan kepastian yang sama dengan lingkup epistemologi.

Gerakan epistemologi di Yunani dahulu dipimpin antara lain oleh kelompok yang disebut Sophis, yaitu orang yang secara sadar mempermasalahkan segala sesuatu. Dan kelompok Shopis adalah kelompok yang paling bertanggung jawab atas keraguan itu. Oleh karena itu, epistemologi juga dikaitkan bahkan disamakan dengan suatu disiplin yang disebut Critica, yaitu pengetahuan sistematik mengenai kriteria dan patokan untuk menentukan pengetahuan yang benar dan yang tidak benar. Critica berasal dari kata Yunani, krimoni, yang artinya mengadili, memutuskan, dan menetapkan. Mengadili pengetahuan yang benar dan yang tidak benar memang agak dekat dengan episteme sebagai suatu tindakan kognitif intelektual untuk mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Jika diperhatikan, batasan-batasan di atas nampak jelas bahwa hal-hal yang hendak diselesaikan epistemologi ialah tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan. Pranarka menyatakan bahwa sejarah epistemologi dimulai pada zaman Yunani kuno, ketika orang mulai mempertanyakan secara sadar mengenai pengetahuan dan merasakan bahwa pengetahuan merupakan faktor yang amat penting yang dapat menentukan hidup dan kehidupan manusia. Pandangan itu merupakan tradisi masyarakat dan kebudayaan Athena. Tradisi dan kebudayaan Spharta, lebih melihat kemauan dan kekuatan sebagai satu-satunya faktor. Athena mungkin dapat dipandang sebagai basisnya intelektualisme dan Spharta merupakan basisnya voluntarisme. Zaman Romawi tidak begitu banyak menunjukkan perkembangan pemikiran mendasar sistematik mengenai pengetahuan. Hal itu terjadi karena alam pikiran Romawi adalah alam pikiran yang sifatnya lebih pragmatis dan ideologis. Masuknya agama Nasrani ke Eropa memacu perkembangan epistemologi lebih lanjut, khususnya karena terdapat masalah hubungan antara pengetahuan samawi dan pengetahuan manusiawi, pengetahuan supranatural dan pengetahuan rasional-naturalintelektual, antara iman dan akal. Kaum agama di satu pihak mengatakan bahwa pengetahuan manusiawi harus disempurnakan dengan pengetahuan fides, sedang kaum intelektual mengemukakan bahwa iman adalah omong kosong kalau tidak terbuktikan oleh akal. Situasi ini menimbulkan tumbuhnya aliran Skolastik yang cukup banyak perhatiannya pada masalah epistemologi, karena berusaha untuk menjalin paduan sistematik antara pengetahuan dan ajaran samawi di satu pihak, dengan pengetahuan dan ajaran manusiawi intelektual-rasional di lain pihak. Pada fase inilah terjadi pertemuan dan sekaligus juga pergumulan antara Hellenisme dan Semitisme. Kekuasaan keagamaan yang tumbuh berkembang selama abad pertengahan Eropa tampaknya menyebabkan terjadinya supremasi Semitik di atas alam pikiran Hellenistik. Di lain pihak, orang merasa dapat memadukan Hellenisme yang bersifat manusiawi intelektual dengan ajaran agama yang bersifat samawi-supernatural. Dari sinilah tumbuh Rasionalisme, Empirisme, Idelisme, dan Positivisme yang kesemuanya memberikan perhatian yang amat besar terhadap problem pengetahuan. Selanjutnya, Pranarka menjelaskan bahwa zaman modern ini telah membangkitkan gerakan Aufklarung, suatu gerakan yang meyakini bahwa dengan bekal pengetahuan, manusia secara natural akan mampu membangun tata dunia yang sempurna. Optimisme yang kelewat dari Aufklarung serta perpecahan dogmatik doktriner antara berbagai macam aliran sebagai akibat dari

pergumulan epistemologi modern yang menjadi multiplikatif telah menghasilkan suasana krisi budaya. Semua itu menunjukkan bahwa perkembangan epistemologi tampaknya berjalan di dalam dialektika antara pola absolutisasi dan pola relativisasi, di mana lahir aliran-aliran dasar seperti skeptisisme, dogmatisme, relativisme, dan realisme. Namun, di samping itu, tumbuh pula kesadaran bahwa pengetahuan itu adalah selalu pengetahuan manusia. Bukan intelek atau rasio yang mengetahui, manusialah yang mengetahui. Kebenaran dan kepastian adalah selalu kebenaran dan kepastian di dalam hidup dan kehidupan manusia. Pancasila sesungguhnya adalah sebuah paradigma tentang realitas masyarakat multikutural Indonesia yang inklusif dan toleran yang berakar dalam keadaan negeri ini pada abad keduapuluh namun beberapa dari akar-akarnya berasal dari lapisan sejarah yang lebih tua, dengan terintegrasinya proses politik, ikatan sosial keagamaan, dan unsur bahasa yang terkait dengan budaya dan etnis. Pancasila secara tegas menyuratkan bahwa primordialisme tidak dapat dihilangkan, tetapi harus diakomodir dalam kerangka kesetiaan nasional. Disamping itu, Pancasila juga menyerap nilai-nilai internasional yang universal. Tersirat jelas bahwa Pancasila mengisyaratkan tentang dimensi internasional atau globalisasi memiliki keterkaitan yang bersifat interdependensi dengan identitas nasional. Atas dasar itu pula, Pancasila harus dimaknai secara proposional dan kontekstual. Proposional dan kontekstual dapat diartikan, Pancasila harus ditempatkan membumi pada realitas masyarakat dalam pendekatan kultural-doktinal-demokratis, dan bukan ditempatkan diatas menara gading yang elitis-doktrinal-otoriter. Pancasila harus dipandang dan dikonsolidasi secara proposional antara ortodoksi dan ortopraksis yakni, tetap konsisten pada pemikiran para pendiri bangsa pada satu sisi, dan memiliki kemampuan adaptasi terhadap perkembangan dunia kontemporer pada sisi lainnya. Pancasila jangan lagi dijadikan sebagai alat kooptasi negara untuk kepentingan politik kekuasaan yang otoriter. Pancasila harus tumbuh mekar dalam kehidupan bangsa ini justru karena kesadaran dari semua elemen yang ada baik elit maupun masyarakat, dan bukan karena indoktrinasi yang berlebihan. Para elit politik jangan lagi menggunakan Pancasila sebagai alat argumentasi dan legitimasi kepentingan politik sektarian. Agar Pancasila berfungsi sebagai kehendak politik yang baik dan secara simultan bersesuaian dengan perubahan-perubahan politik yang terjadi di era reformasi, maka Pancasila harus ditempatkan tidak saja sebagai sebagai moral politik tetapi harus berfungsi secara lebih tegas dalam kerja-kerja konsolidasi demokrasi dan politik kebangsaan. Jadi, kalau elit politik mau melaksanakan kewajibannya untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa yang bermakna pada masyarakat, maka elit politik harus mengelola pemerintahan secara bersih dan baik, serta melakukan pemberantasan korupsi secara sungguh-sungguh. Elit politik jangan hanya melihat masyarakat sebagai entitas politik dan ekonomi, dalam arti melihat masyarakat untuk kepentingan dukungan politik pada saat pemilihan umum dan potensi pembayar pajak. Tetapi lebih utama harus melihat masyarakat sebagai entitas sosial yang harus disejahterakan dengan kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi yang berkeadilan sosial. Dengan demikian secara teknis, Pancasila harus digunakan secara benar, konsisten dan ideologis dalam pembuatan dan pelaksanaan segala produk perundang-undangan, serta mendorong tumbuhnya iklim birokrasi yang

merit system, dimana pergantian jabatan-jabatan non politis di pemerintahan didasarkan atas kemampuan, kecakapan dan kejujuran pribadi pejabat dimana informasi penilaiannya berasal dari penelusuran catatan jenjang karir pejabat yang bersangkutan. Pancasila merupakan arena ekspresi sosial dan budaya masyarakat yang demokratis. Maksudnya adalah masyarakat diharapkan untuk tidak lagi memunculkan ketegangan antara kelompok yang membuat Pancasila digunakan untuk memaksakan kehendak, dan instrumen untuk mendelegitimasi kekritisan berpikir dari kelompok tertentu. Pancasila tidak membuat kelompok tertentu menjadi tirani atas kelompok lainnya. Tetapi sebaliknya, Pancasila harus dijadikan etos kolektif masyarakat, dimana kesadaran terhadap nilai-nilai Pancasila harus tumbuh, tanpa cara-cara yang otoriter. Pancasila harus dilepaskan dari dominasi institusi negara. Wacana Pancasila harus diletakkan dalam ruang publik dimana setiap masyarakat atau kelompok masyarakat dapat secara leluasa memikirkan secara kritis, dan memberi kontribusi terhadap aktualisasi etis dari nilai-nilai Pancasila dan prakteknya yang ideologis. Masyarakat ekonomi perlu menumbuhkan kesadaran bahwa Pancasila merupakan landasan etis ekonomi, sehingga dalam melakukan aktifitas ekonomi dan bisnisnya masyarakat ekonomi selalu melihat keadilan sosial sebagai keadilan yang terdistribusi. Sekarang ini institusi dan regulasi ekonomi kita belum mampu berfungsi sebagai jembatan antara negara dan pasar, sehingga keduanya menjadi instrumen strategis untuk penguatan ekonomi kerakyatan. Negara masih berfungsi seperti di era Orde Baru, mengikuti model konsensus Washington, bahwa negara hanyalah sebagai ”penjaga malam” dari pemain-pemain ekonomi dominan atau konglomerasi gaya baru, baik nasional maupun internasional. Selama satu dekade ini yang dominan adalah disparitas ekonomi antara elit dan masyarakat semakin menganga. Pendeknya dapat disimpulkan bahwa yang mendapatkan keuntungan dari proses demokratisasi di era reformasi selama satu dekade ini hanyalah segelintir elit politik dan ekonomi. Ketika Daniel Bell tahun 50-an memproklamirkan kematian ideologi, sesungguhnya ada muatan politis, agar para ilmuwan khususnya di dunia ketiga tidak mempertanyakan kesahihan ideologi keilmuan Barat. Pancasila melampaui filsafat yang selama ini di dominasi oleh pemikiran barat. Pemikiran barat yang terlalu mempercayai rasionalitas. Rasionalitas di anggap sebagai senjata ampuh untuk menyiram api mitos. Meskipun demikian, sebaliknya, keyakinan pada rasionalitas yang berlebih-lebihan merupakan justru menciptakan mitos baru. Seolah-olah semuanya dapat diselesaikan dengan akal budi manusia yang terbatas kapasitanya. Diperkuat dengan pembuktian empiris oleh Francis Fukuyama dengan bukunya yang terkenal The End of History. Sampai dengan maraknya praktek neoliberalisme kita masih belum mampu mengetahui posisi ideologi Pancasila. Prinsip Hikmah di ilhami sila keempat, istilah hikmah dalam bahasa Arab lebih mengacu pada kesatuan epistemologi rasional, empiris dan normatif. Dengan kata lain pencapaian kebenaran yang ideal adalah jika dipahami baik secara normatif, rasional maupun empiris. Dengan kata lain suatu argumentasi yang semata mengembangkan pengetahuan rasional, empiris semata maka pengetahuan tersebut belum lengkap demikianpula pengetahuan normatif yang tidak

lengkap adalah jika tidak dikembangkan dalam argumentasi yang rasional teoritis maupun empiris. Pendidikan tanpa pondasi filosofi yang jelas, mengakibatkan dunia pendidikan bergantung pada penafsiran masing-masing dan dimotivasi oleh berbagai kepentingan, bukan saja pendidikan menjadi goyah, tetapi juga berbahaya. Ketidak sudian warga negara Indonesia menggunakan paham Pancasila di karenakan dua hal besar. Pertama, ketidak-pahaman konsepsi pancasila secara subtansional. Dan, kedua, stigmatisasi Pancasila yang dulu cenderung di gunakan oleh rejim Orde Baru untuk memberikan legitimasi politis pada pertahanan status quo-nya. Sehingga semenjak reformasi bergulir, P4 (pedoman, penghayatan, pengamalan pancasila) di duga produk orde baru di hapuskan. Bahkan sekarang mata pelajaran Pancasila pun di hapus dari dunia sains pendidikan nasional. Sebaliknya tidak ada filosofi yang dapat mendalami problematika pendidikan tanpa menjiwai praktek pendidikan”. Para filosof berpendapat; “Idealisme memandang bahwa realitas adalah sesuatu yang bersifat spritual dan mental, proses mengetahui (knowing) adalah memikirkan kembali ide-ide latent, dan nilai bersifat absolut. Sementara pragmatisme memandang realitas adalah interaksi individu dengan lingkungan atau pengalamannya, proses mengetahui pada umumnya sebagai dampak dari penggunaan pengalaman berdasarkan metodologi ilmiah, dan nilai bersifat relatif atau situasional. Ornstein (1977). Jika ideologi Pancasila secara imperatif tidak digunakan lagi secara dominan sebagai comman platfform oleh para elit politik dalam konsolidasi demokrasi, sehingga demokratisasi hanyalah memproduksi disparitas ekonomi antara elit dan massa atau antara pusat dan daerah yang semakin lebar, kebebasan asasi tidak bisa di proteksi dan dipenuhi oleh negara, serta perbedaan latarbelakang dan kepentingan politik tidak di akomodasi secara adil dan konstitusional, seperti yang terlihat secara terang benderang sekarang ini, maka akan mendorong terus terjadinya disintegrasi kepentingan politik horisontal. Di dalam lembaga-lembaga pendidikan guru misalnya, filosofi pendidikan hanya menjadi mata pelajaran yang tidak terkait dengan realitas kehidupan. Ilmuwan sudah tidak beda dengan tukang, tidak peduli terhadap persoalan nyata di lingkungannya sebagaimana sering ditangani atau diatasi oleh para aktivis kampus. Menjadi aktivis dinilai hanya mengganggu perkuliahan dan sebagainya. Informasi terkini, bahwa pemimpin kita saat ini, di bidang dan profesi apapun mereka, ternyata ketika menjadi seorang mahasiswa dulunya, mereka adalah aktivis kampus dan perguruan tinggi ternamanya di negeri ini ingin kembali menarik masuk mahasiswa dalam kegiatan ekstrakurikuler. Epistemologi Integralistik sebagai System Holistik Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang membahas pertanyaan-pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, tentang batas-batas pengetahuan, tentang asal dan jenis-jenis pengetahuan (Harry Hamersma, 1989). Para filosof serta ilmuwan yang telah secara sungguh-sungguh mempelajari masalah ini percaya bahwa

asal mula munculnya berbagai pandangan dunia dan kosmologi-kosmologi yangberbeda terleatak pada apa yang saat ini disebut sebagai teori pengetahuan atau epistemology (Murtadha Mutahhari, 1991). Prinsip holistik bermaksud menunjukkan bahwa pengetahuan mempunyai sifat analogis. Kehadiran pengetahuan tidak dinyatakan secara sama, misalnya pengetahuan di dalam persepsi indrawi tidak sama seperti pengetahuan abstrak atau pengalaman moral. Karena panca indra manusia yang merupakan satu-satunya alat penghubung manusia dengan realitas eksternal terkadang atau senantiasa melahirkan banyak kesalahan dan kekeliruan dalam menangkap objek luar. Kesadaran tidak bersifat subjektif murni, tetapi memiliki keterarahan kepada yang lain yang bukan diri yang sesungguhnya dan mempunyai tingkat kejelasan yang berbeda. Sifat analog dalam pengetahuan mensyaratkan bahwa sifat awal yang tepat bagi ilmuwan adalah kerendahan hati di dalam menghadapi pengalaman dengan sikap keterbukaan total. Istilah ‘integralistik’ untuk menunjukkan pada istilah lain dari Pancasila pertama kali dipergunakan oleh Prof. Mr. Dr. Soepomo dalam sidang BPUPKI pada tanggal 31 Mei 1945. Pada waktu itu beliau secara makro memberikan pilihan ideolgi sebelum masuk kepada sumbstansi ideology, yang sekarang kita namaian Pancasila. Beliau menunjukkan tiga pilihan ideology, yaitu : (1) Paham individualisme, (2) Paham Kolektivisme, (3) Paham Integralistik.Mr. Soepomo dengansangat meyakinkan menolak paham individualisme dan kolektivisme, serta menyarankan paham integralistik yang dinilai lebih sesuai dengan ssemangat kekeluargaan yang berkembang di daerah pedesaan kita. Paham integralistik merupakan kerangka konsepsional makro dari apa yangsudah menjiwai rakyat kita di kesatuan msyarakat yang kecil-kecil itu (Murdiono, dalam Oetojo Oesman dan Alfian, 1993). Dengan demikian epistemologi integralistik adalah epistemology yang prinsip-prinsipnya secara intuitif didasarkan kepada ideology Pancasilaseta pegalaman agamawi penulsi. Metode intuitif dalam pemikiran filsafat ditemukand an diperguankaan oleh Plato serta dilanjutkan oleh Plotinos dan Henri Bergson (Anton Bakker, 1984).. Metode ini lebih menekankan pada pengalaman Illahian, dimana tingkat-tingkat serta penghayatanpenghayatan kesatuan dengan “Yang Mutlak” diungkapkannya dengan kategori-kategori intelektual dan spekulatif. Dalam hal ini Einstein pernah menyatakan bahwa emosi paling indah dan paling menakjubkan yangdapat kita alami adalah persaan batin. Perasaan itu merupakan kekuaan dari semua ilmu pengatahaun yang sejati … untuk mengerti bahwa apa yangtak terjangkau oleh kita benar-benar ada, menjhelmakan wujud dirinya menjadi kebijaksanaan tertinggi dan keindahan paling menyilaukan, hanya dapat dipahami oleh kedunguan kita dalam bentuknya yang paling primitif. Pengetahuan ini, perasaan ini adalah pusat dari keagamaan (Lincoln Barnett, 1988). Upaya untuk memahami Pancasila sebagai metode iolmiah komprehensif pernah dilakukan oleh Munadjat Danusaputro, yang dinamakan Asta Gatra pada tahun 1973. Delapan gatra tersebut secara kiasan diambil dari delapan octave nada yang meliputi : Gatra letak kedudukan alamiah (geografis); Gatrakeadaan dari kekayaan alamiah; Gatra keadaan dan kemampuan penghuninya; Gatra Ideologi; Gatra politik; Gatra ekonomi; Gatra social budaya; Gatra pertahanan dan keamanan. Sedangkan usaha untuk memahami

Pancasila secaradisipliner telahdilakukan oleh Mubyarto yang dikenal denga nnama system perekonomian Pancasila, yang secara resmi dimulai pada waktu pengukuhannya sebagai Guru Besar Ekonomi di Universitas Gadjah Mada pada bulan Mei 1979 (Arif Budiman, 1990). Menurut Arif Budiman, perdebatan tentang system Perekonomi Pancasila, teori tentang hakekat manusia dan negara menggambarkan keadaan ilmu social pada saat ini. Perdebatan tersebut menunjuk pada dua kubu ilmu social yang dianut oleh sarjanasarjana ilmu soaial di Indonesia. Dua pendekatan tersebut adalah sebagai berikut : Pertama, adalah kubu yang menekankan aspek-aspek psikologi dari individu, serta system nilai masyarakat yang melingkunginya, disini yang disebut pendekatan psikologi/kebudayaan; Kedua, menekankan pada lingkungan material manusia, yakni organisasi kemasyarakatan beserta system imbalan-imblan material manusia termasuk perubahan-perubahan teknologi, pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan structural. Adapun prinsip-prinsip yang hendak penulis kembangkan didasarkan pada pemahaman penulis terhadap ideology Pancasila sebagai basic epistemology ilmu pengetahuan. Karena sifat pengalaman agamawi serrta pemahaman trhadap Pancasila berbeda antara satu oaring denga orang yang lain. Maka tesis-tesis yang kami kemukakan lebih bersifat deduktif. Namun demikian akal induktif tidakdapat ditinggalkan, dengan demikian metode deduktif dan induktif sama-sama sdiergunakan apabila diperluian. Dengan kata lain pengalaman subyektif tida dapat dilepaskan dalam mencermati dunia obyektif. Dalam hal ini menurut istilah Poespoprodjo, sebagi metode “subyektif-obyektif”. Dengan metode subyektif-obyektif, ilmu disadarkan akan kemungkianannya dan akan konteksnyadalam perspektif rasionalitas yang lebih luas (Poespoprodjo, 1987). Prinsip-prinsip epistemology integralistik meliputi : Pertama, prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa (Prinsip Keesaan). Prinsip ini berdasarkan pada sila pertama Pancasila. Prinsip ini dalam tahap lebih lanjut adalah merupakan dalil ontology atau dalil wujud yang diyakini oleh bangsa Indonesia. Dengan prinsip keesaan ini, berarti kita meyakini bahwa yang wujudd dlam alam sseemseta apada hekekatnya esa. Dilain pihak keberagaman adalah merupakan maujud yang diciptakanistilah lain sebagi mahluk. Sedangkan keberagaman Sedangkan keberagaman itu sebagai satu kesasatuan didalam wujud atau dalam Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip keesaan ini terwujud didalam alam semesta dalam bentuk prinsip-prinsip : Prinsip ketergantungan; b. prinsip kekeluargaan; c. Prinsip Kesetaraan. Prinsip Ketergantungan Seluruh mahluk yang ada dialam ssemesta ini baik didalam alam mikro kosmossampai dengan alam makro kosmos adalah merupakan satu kesatuan karena saling tergantung antara satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain tidak satupun mahluk yang ada didalam alam semesta yang berdiri sendiri tidak tergantung kepada mahluk yang lainnya. Karena seluruh mahluk saling tergantung maka zat yang merupakan awal dan akhir dari ketergantungan adalah dzat yang tidak bergantung yaitu Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa. Alam semesta yang realitasnya tergantung padanya, dan yang diciptakandalam zatnya, juga diciptakandalam artian temporal. Artinya, alam ssemesta berubah secara

terus menerus dari perubahan pada hakekatnya meruapakan wataknya. Dengan konstitusinya yang ssepertiitu, ia berada dalam keadaan menujadi (becoming) yangterus menrus, dan keadaan diciptakan yang berulang-ulang. Tak ada satu saatpun dimana alam ssemesta tidak berada daslam keadaan diciptakan dan rusak (Murtadha Mutahhari, 1991). Prinsip Kekeluargaan Pada hakekatnya manusia adalah satu keluarga, hal ini merupakan keyakinan agamawi karena manusia saatu keturunan dari Adam. Hal ini berarti individu berasal dari individu yang lain, dan tidak ada satupun individu yang tidak berasal dari individu yang lain. Bahkan ada filosof yang berpendapat bahwa alam semesta sebagai satu keluarga. Dimana mahluk yang satu merupakan asal dari mahluk yang lain. Mereka antara lain Ibn Miskawayh, Jalalludin Rumi demikian juga dapat disebut Lamarck dan Darwin. Jalalludin Rumi mengatakan dalam syairnya yang berjudul evolusi atau pendakian jiwa seperti berikut ini : Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan Aku mati sebagi tumbuhan dan muncul sebagai hewan Aku mati sebagai hewan dan muncul sebagai insane Mengapa aku mesti takut ? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian? Namun sekali lagi aku akan mati sebagi insane, untuk membumbung Bersama para malaikat yang direstui; bahkan dari tingkat malaikatpun Aku harus wafat; segala akan binasa kecuali Tuhan Ketika jiwa malaikatku telah kukorbankan Akun akan menjadi sesuatu yang tak pernah terperikan oleh pikiran Oh, biarkanlah aku tiada, karena ketiaddaan Membisikkan nada dalam telinga “ Sesungguhnya kepada-Nyalah kita kembali (Reynold A Nicholson, 1993). Prinsip Kesetaraan Implikasi lebih lanjut denganadaanya prinsip saling ketergantungan dan kekeluargaaan adalah prinsip kesetaraan. Ldengan prinsip kesetaraan ini berarti antara mahluk yang satu dengan mahluk yang lain pada hakekatnya setara atau sebanding. Sehingga terjadi prises evolusi serta lsaling ketrgantungan. Dan tidak satupuh mahluk yang tidak setara dengan mahluk yang lain dimana dan kapanpun juga. Karena sseluruh mahluk pada hakekatnya setara atau sebanding antara satu dengan yang lainnya, maka hubungan ini berawal dan berakhir pada dzat yang tidak setara yang Esa yaitu Allah SWT. Kedua, Prinsip Moral Pembangunan Prinsip ini berasal dari a. Sila kedua; b. Sila Ketiga; c. Sila keempat;d. sila kelima dengan demikian seluruh sila pancasila pada dasarnya merupakan prinsip-prinsip etika yang diyakini oleh bangsa Indonesia. Keempat sila tersebut yang termasuk kedalam nilainilai etik bangsa Indonesia dapat diringkas menjadi tiga nilai yaitu : Keadilan, Musyawarah dan persatuan. Nilai keadilan; merupakan nilai yang paling utamadalam keseluruhan tingkah laku banga Indonesia. Nilai keadilan berarti tidsak bersat sebelah atau tidak berlku curang terhadap pihak lain, baik trhadap lingkungan social demikian pula trhadap limgjungan alam semesta(mhluk-mahluk yang lain).

Nilai permusyawaratan dalam hal ini berarti bangs Indonesia mementingkan musyawarah untuk mencapai kata mufakat atau untuk mengambil ssuatu keputusan. Dalam situasi dimana musyawarah langsung tidak dapat dilaksanakan maka musyawarah dilaksanakan denga nsistem perwakilan. Nilai Persatuan; disini dapat dipandang sebagai implikasi prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena bangsa Indonesia memandang bahwa realitas kebangsaan, realitas tahan air dan realitas bahasa merupakan satu kesatuan. Dengan demikian sejauh mungkin menghindari diri dari nilai-nilai yang dapat memecah belah persatuan. Ketiga, Prinsip Hikmah Prinsip hikmah berasal dari sila keempat. Dengan prinsip hikmah berarti bangsa Indonesia dalam sikap mental dan tingkah lakunya senantiasa mencintai hikmah atau mencaintai kebenaran terhadap hokum-hukum yang mengatur alam semesta. Persoalan hikmah adalah persoalan kebenaran atau merupakan persoalan filsafat, i.mu pengetahuand an tasawuf. Jika ilmu melihat kebenaran dari luar (berfikir obyektif), filsafat melihat kebenaran dari dalam (berfikir radikal), tasawuf adalah mengalami kebenaran itu sendiri untuk mencapai kebenaran. Dengan demikian antara ilmu, filsafat dan tasawuf adalah sebagai satu kesatuan. Tiga kategori kebenaran tersebut seiring dengan kebenaran yang kita kenal secara konvensional yaitu kebenaran pragmatis, kebenaran korespondensi, dan kebenaran koherensi. a. Kebenaran Pragmatis: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila memiliki kegunaan/manfaat praktis dan bersifat fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, Yadi mau bekerja di sebuah perusahaan minyak karena diberi gaji tinggi. Yadi bersifat pragmatis, artinya mau bekerja di perusahaan tersebut karena ada manfaatnya bagi dirinya, yaitu mendapatkan gaji tinggi. b. Kebenaran Koresponden: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila materi pengetahuan yang terkandung didalamnya berhubungan atau memiliki korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori koresponden menggunakan logika induktif, artinya metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari halhal khusus ke umum. Dengan kata lain kesimpulan akhir ditarik karena ada fakta-fakta mendukung yang telah diteliti dan dianalisa sebelumnya. Contohnya, Jurusan teknik elektro, teknik mesin, dan teknik sipil Undip ada di Tembalang. Jadi Fakultas Teknik Undip ada di Tembalang. c. Kebenaran Koheren: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila konsisten dan memiliki koherensi dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Teori koheren menggunakan logika deduktif, artinya metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal umum ke khusus. Contohnya, seluruh mahasiswa Undip harus mengikuti kegiatan Ospek. Luri adalah mahasiswa Undip, jadi harus mengikuti kegiatan Ospek. Menurut bangsa Indonesia, hikmah merupakan karunia yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karesna itu bangunan filsafat dan ilmu pengetahuannya berlandanskan kepada keyakinan kepada adanyaTuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian prinsip ilmu untuk ilmu sejauh mungkin dihindari oleh bangsa Indonesia. Karena kemungkinan besar akan dapat menjerumuskan ilmuwan kesdalam pemikiran netralits etik. Dengan

demikian bertentangan dengan Ideologi Pancasila dan hati nurani bansa Indonesia. Demikian pula berarti terdaspat kaitan yang sangat erat atara metafisika- etika-ilmu pengetahuan(hikmah)- dan estetika. Keempat, Prinsip Adab (Estetika) Prinsip ini berasal dari sila kedua. Kata peradaban bersal dari bahasa Arab ‘adab’ yang diberi preposisi per-an. Adab berasal dari bahasa Arab yang sering diterjemahkan dengan kebudayaan, padanan kata lainnya adalah ‘tsaqafah’ yang berarti tindakan menjadi lebih cerdas atau berpengatuan. Adab dalam tradisi klasik berarti husn (keindahan, kebaikan) dalam perkataaan, sikap dan perbuatan (Al faruqi, 1993). Bangsa Indonesia memandang bahwa keindahan dan estetika berkait dengan keimanan, etika dan hikmah (kebenaran). Karena Indah merupakan salah satu nama dari nama-nama Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu keindahandalam pandangan bangsa Indonesia daalah juga sesuatu yangsuci. Seni yang suci merupakan permasalahan fitroh atau kecenderungan dasar manusia. Dimana manusia pada dasarnya cenderung pada husn (keindahan dan kebaikan), meski pada akhirnya manusia terjebak pada seni-seni yang profan materialisme. Seni profan pada hakekatnya merupakan produk berfikir materialisme. Karena ditujukan untuk memenuhi kebutuhan materialnya maka seni cenderung berorientasi kepada pasar. Kondisi ini ssebenarnya dapat merusak nilai-nilai Pancasiladari spek seni. Karena jika berorientasi ke pasar akan dapat membuat lupa para seniman, terhadap cita-cita dasar seni yangtidak boleh trlepas dari aspek Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Metafisika), Etika dan hkmah. Dengan kata lain seluruh seni yang tidak berakar pada tiga prinsip dasar diatas dapat merupakan produk seni yangmerusak tatantn masyarakat Pancasilais khususnya serta masyarakat religius pada umumnya. Implikasi Pada Bangunan Ilmu Pengetahuan Prinsip Keimanan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Permasalahan wujud merupakan permasalahan ontology atau Metafisika, yang berbicara tentang Tuhan dan segala sifatsifatnya, manusia, alam semesta, Penciptaan, kematian, dan predeterminasi serta eskatologi. Prinsip Moral Pembangunan. Tingkah laku manusia adalah tingkah laku yang teleologis baik yang alamiah maupun yang religius. Yang alamiah seperti kelahiran, pertumbuhan, tidur, kelelahan, mimpi, kematian. Dalam hal ini menjadi obyek kajian psikologi, biologi, antropologi dan Sosiologi. Tingkah laku religius seperti, berniaga, berperkara, bermasyarakat, dalam hal ini menjadi obyek kajian, ilmu ekonomi, ilmu pollitik, ilmu hukum, ilmu pendidikan dan lain-lain. Prinsip Hikmah, merupakan prinsip kebenaran dalam arti metode, teknik dan model serta strategi dalam rangka mencapai kebenaran yang obyektif, rassional maupun pengetahuan intuitif. Dengan demikian merupakan obyek kajian epistemology, logika, statistika, psikometri demikan pula tasawuf. Prinsip Adab. Merupakan obyek kajian dari kesenian dengan segala cabangnya. Dengan kata lain dalam pandangan integralistik Seni merupakan salah satu yang menyusun kepribadian bangsa. Oleh karena bentuk-bneutk seni yang bertujuan memperhalus budi pekerti semestinya menjadi obyek kajian yang serius. Baik seni sastra, teknik bangunan,

tulis menulis, dan tontonan entertainment semacam program televisi dengan indicator selama tidak bertentangan dengan akal sehat, moral pembangunan dan keimanan. Penutup : Holistisisme Epistemology Pancasila Filosofi pendidikan tidak jelas gunanya di dalam praktek pendidikan. Itulah sebabnya memadukan filosofi idealisme dan pragmatisme menjadi sesuatu yang sangat penting. Prinsip holistik dalam pengembangan ilmu mensyaratkan perlunya kerja sama antar berbagai jenis epistemology yang sifatnya khusus. Melalui kerjasama akan diperoleh ilmu yang lebih baik, karena masing-masing epistemologi akan memberikan kontribusinya dan saling mengisi. Prinsip holistik menunjukkan bahwa karena isi pernyataan muncul dari sisi eksistensi dan eksistensi bersifat analog, maka sifat pengetahuan pun harus analog. Dibutuhkan kerendahan hati dan keterbukaan total karena setiap objek persepsi tidak dapat hadir secara tepat sama (univok). Hanya dengan kesadaran moral, orang dapat mengenali kesalahan moral. Hanya kesadaran estetiklah yang dapat menyadari kesalahan estetik dan seterusnya. Bahwa sesungguhnya UUD Negara adalah jabaran dari filsafat negara Pancasila sebagai ideologi nasional (Weltanschauung); asas kerokhanian negara dan jatidiri bangsa. Karenanya menjadi asas normatif-filosofis-ideologis-konstitusional bangsa; menjiwai dan melandasi cita budaya dan moral politik nasional, terjabar secara konstitusional: a. Negara berkedaulatan rakyat (= negara demokrasi: sila IV); b. Negara kesatuan, negara bangsa (nation state, wawasan nasional dan wawasan nusantara: sila III), ditegakkan sebagai NKRI; c. Negara berdasarkan atas hukum (Rechtsstaat): asas supremasi hukum demi keadilan dan keadilan sosial: oleh semua untuk semua (sila I-II-IV-V); sebagai negara hukum Pancasila; d. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar Kemanusiaan yang adil dan beradab (sila I-II) sebagai asas moral kebangsaan kenegaraan RI; ditegakkan sebagai budaya dan moral manusia warga negara dan politik kenegaraan RI; e. Negara berdasarkan asas kekeluargaan (paham persatuan: negara melindungai seluruh tumpah darah Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia. Negara mengatasi paham golongan dan paham perseorangan: sila III-IV-V); ditegakkan dalam sistem ekonomi Pancasila (M Noor Syam, 2007: 108 - 127). Menurut hakikat dan strukturnya sebagai pengetahuan ilmiah atau “ilmu” (science) maka pengetahuan (jenis-jenis epistemology yang sifatnya khusus) harus bersifat terspesialisasi. Para saintis umumnya cenderung memaksakan adanya suatu jenis epistemology tertentu yang benar-benar pantas disebut pengetahuan. Mereka menekankan adanya jaminan metode dan ukuran kebenaran tertentu saja yang dapat menentukan ketepatan dan kejelasan suatu kebenaran ilmiah. Hal ini berakibat pada sikap yang cenderung menolak kebenaran lainnya dan hanya memandangnya sebagai sesuatu yang mendekati kedudukan ilmiah (Greg Soetomo, 1995: 14). Cara demikian ini sangat tidak memadai karena untuk menghasilkan suatu definisi yang pasti dan tetap mengenai pengetahuan adalah hal yang tidak mungkin. Kita tak perlu meragukan unsur holistisisme di dalam Pancasila. Meskipun demikian, dalam tulisan ini hal ini perlu dibuktikan melalui hasil penyelidikan nalar. Pertama, Pancasila di konstruksikan oleh Bung Karno, dimana ia merupakan menggagas

keseluruhan sila yang di kontekstualisasikan dari keindonesiaan. Tidak berjuang secara parsial, misalnya Ki Hajar Dewantara yang mengkonsepsikan tipikal pendidikan nasional Indonesia saja, meskipun kita harus mengakui perjuangan Ki Hajar Dewantara begitu besar untuk Indonesia. Walaupun secara proporsional kita bisa mengatakan bahwa pergerakan beliau hanya sebatas di wilayah pendidikan. Tetapi, Pancasila. Melepaskan sekat-sekat perjuangan, ras, agama, disiplin ilmu, hingga menuju Bhineka tunggal Ikanya. Menuju ke kekesatuan yang utuh. Pancasila sebagai paham yang tak termakan oleh zaman, melainkan ia selalu hadir sebagai perspektif kontemporer yang cocok bagi bangsa Indonesia. Prinsip holistik mensyaratkan bahwa dibutuhkan sikap kehati-hatian dalam rangka mencari pernyataan-pernyataan epsitemologis yang lebih pasti. Tidak ada kebenaran yang sifatnya mutlak dalam setiap pernyataan pengetahuan yang bersifat reduksi sektoral, walaupun adalah hak setiap orang untuk membuat pernyataan atau penegasan. Tidak ada kebenaran dan kepastian yang sifatnya “exemplaris” tidak selamanya AB=BA, bahkan dalam mekanika kuantum AB ≠ BA , hal ini membuktikan bahwa pengetahuan bersifat analog bukan univok, sebab kebenaran dan kepastian itu penuh nuansa dan membangun perspektif. Kemajemukan dan keanekaragaman aspek kemanusiaan mengisyaratkan perlunya kerja sama antara semua jenis epistemologi khusus karena semuanya saling terkait dan saling membutuhkan. Van Melsen selanjutnya menekankan bahwa spesialisasi dalam ilmu pengetahuan (jenisjenis epistemology yang khusus) biasanya terjadi karena ilmuwan membatasi diri pada satu wilayah tertentu saja. Setiap jenis epistemology khusus berbeda satu sama lain karena menggunakan metode atau cara pandang (objek formal)-nya masing-masing yang sangat berlainan untuk menyelidiki, melukiskan, dan mengerti realitas manusia sebagai objek material. Akibatnya masing-masing melakukan observasi dan eksperimen yang berbeda-beda terhadap objek material yang umumnya sama yaitu pada manusia. Oleh karena itu, setiap masalah manusia tidak dapat diselesaikan oleh salah satu disiplin secara sendiri-sendiri, apalagi hal itu dilakukan secara otonom, tertutup, dan terpisah dari disiplin lainnya. Prinsipnya, harus diberi tempat yang wajar untuk semua bidang pengetahuan kemanusiaan dengan sumbangsihnya sendiri, baik dalam hal objek maupun dalam hal metode. Keutuhan pengalaman manusia harus ditemukan kembali dan diteliti secara ilmiah. Seandainya jenis-jenis epistemology yang beraneka ragam itu memetakan sebagian realitas, maka hanya perlu menggabungkan peta-peta itu supaya dapat diperoleh tujuan yang mencakup seluruh realitasnya. Alasan yang kuat bagi epistemology untuk dikembangkan secara menyeluruh (holistik) karena terdapat sesuatu yang sifatnya bersama yang terdapat diantara jenis-jenisnya yang khusus. Prinsip holistik juga mengakui bahwa betapa pun besarnya kemampuan bidang pengetahuan eksakta dengan teknologinya, tetap tidak dapat merangkum dan mencakup seluruh pengalaman manusia. Karena masing-masing bidang memiliki fokus, proses, dan sumber kajian yang berbeda. Pengetahuan, rasa citranya, perasaan terhadap keindahan, cinta dan kasih sayang, serta rasa harga diri manusia secara utuh tidak dapat dirangkum secara eksak. Ini menunjukkan tidak ada satupun bidang pengetahuan yang sempurna dan

komprehensif. Masing-masing memiliki karakteristik sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Prinsip holistik bermaksud menjelaskan bahwa keanekaragaman epistemology itu penting dalam rangka saling memperkaya untuk menciptakan iklim kesatuan dalam berbagai jenis epistemology. Epistemologi, pada hakikatnya, merupakan ekspresi reflektif diri pribadi atau pengalaman pribadi yang perlu pemurnian terus menerus tanpa melenyapkan nilai epistemologisnya. Penegasan ini sekaligus menunjukkan bahwa elemen pokok dalam proses pemurnian pengetahuan adalah dialog antarbudi. Masalah yang dihadapi manusia sangat kompleks, beragam baik jenis maupun tingkat kesulitannya. Kepustakaan Alif Lukmanul Hakim, Merenungkan Kembali Pancasila Indonesia, Bangsa Tanpa Ideologi , Newsletter KOMMPAK Edisi I 2007. http://aliflukmanulhakim.blogspot.com Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at 11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/ Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at 11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/ Adnan Khan(2008), Memahami Keseimbangan Kekuatan Adidaya , By hati-itb September 26, 2008 , http://adnan-globalisues.blogspot.com/ Al-Ahwani, Ahmad Fuad 1995: Filsafat Islam, (cetakan 7), Jakarta, Pustaka Firdaus (terjemahan Pustaka Firdaus). Ary Ginanjar Agustian, 2003: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (edisi XIII), Jakarta, Penerbit Arga Wijaya Persada. _________2003: ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al Ihsan, (Jilid II), Jakarta, Penerbit ArgaWijaya Persada. A. Sonny Keraf, Pragmatisme menurut William James, Kanisius, Yogyakarta, 1987 R.C. Salomon dan K.M. Higgins, Sejarah Filsafat, Bentang Budaya, yogyakarta, 2003 Avey, Albert E. 1961: Handbook in the History of Philosophy, New York, Barnas & Noble, Inc. Awaludin Marwan, Menggali Pancasila dari Dalam Kalbu Kita, Senin, Juni 01, 2009 Bernstein, The Encyclopedia of Philosophy Bagus Takwin. 2003. Filsafat Timur; Sebuah Pengantar ke Pemikiran Timur. Jalasutra. Yogjakarta. Hal. 28 Budiman, Hikmat 2002, Lubang Hitam Kebudayaan , Kanisius, Yogyakarta. Chie Nakane. 1986. Criteria of Group Formation. Di jurnal berjudul. Japanese Culture and Behavior. Editor Takie Sugiyama Lembra& William P Lebra. University of Hawaii. Hawai. Center for Civic Education (CCE) 1994: Civitas National Standards For Civics and Government, Calabasas, California, U.S Departement of Education. Dawson, Raymond, 1981, Confucius , Oxford University Press, Oxford Toronto, Melbourne D. Budiarto, Metode Instrumentalisme – Eksperimentalisme John Dewey, dalam Skripsi, Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta, 1982

Edward Wilson. 1998. Consilience : The Unity of Knowledge. NY Alfred. A Knof. Fakih, Mansour, Dr, Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi . Pustaka Pelajar. Yogyakarta : 1997 Fritjof Capra. 1982. The Turning of Point; Science, Society and The Rising Culture. HaperCollins Publiser. London. Hadiwijono, H, Dr, Sari Sejarah Filsafat 2, Kanisius, Yogyakarta, 1980 Kartohadiprodjo, Soediman, 1983: Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, cetakan ke-4, Bandung, Penerbit Alumni. Kelsen, Hans 1973: General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell Lasiyo, 1982/1983, Confucius , Penerbit Proyek PPPT, UGM Yogyakarta --------, 1998, Sumbangan Filsafat Cina Bagi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia , Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta --------, 1998, Sumbangan Konfusianisme Dalam Menghadapi Era Globalisasi , Pidato Dies Natalis Ke-31 Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta. McCoubrey & Nigel D White 1996: Textbook on Jurisprudence (second edition), Glasgow, Bell & Bain Ltd. Mohammad Noor Syam 2007: Penjabaran Fislafat Pancasila dalam Filsafat Hukum (sebagai Landasan Pembinaan Sistem Hukum Nasional), disertasi edisi III, Malang, Laboratorium Pancasila. ---------2000: Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan Sosio-Kultural, Filosofis dan Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila. Murphy, Jeffrie G & Jules L. Coleman 1990: Philosophy of Law An Introduction to Jurisprudence, San Francisco, Westview Press. mcklar(2008), Aliran-aliran Pendidikan, http://one.indoskripsi.com/node/ Posted July 11th, 2008 Nawiasky, Hans 1948: Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe, Zurich/Koln Verlagsanstalt Benziger & Co. AC. Notonagoro, 1984: Pancasila Dasar Filsafat Negara, Jakarta, PT Bina Aksara, cet ke-6. Radhakrishnan, Sarpavalli, et. al 1953: History of Philosophy Eastern and Western, London, George Allen and Unwind Ltd. Roland Roberton. 1992. Globalization Social Theory and Global Culture. Sage Publications. London. P. 85-87 Sudionokps(2008)Landasan-landasan Pendidikan, http://sudionokps.wordpress.com Titus, Smith, Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta : 1984 UNO 1988: Human Rights, Universal Declaration of Human Rights, New York, UNO UUD 1945, UUD 1945 Amandemen, Tap MPRS – MPR RI dan UU yang berlaku. (1966; 2001, 2003) Widiyastini, 2004, Filsafat Manusia Menurut Confucius dan Al Ghazali, Penerbit Paradigma, Yogyakarta Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New York, Harvard College, University Press. Ya'qub, Hamzah, 1978, Etika Islam , CV. Publicita, Jakarta Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New York, Harvard College, University Press.

Andersen, R. dan Cusher, K. (1994). Multicultural and intercultural studies, dalam Teaching Studies of Society and Environment (ed. Marsh,C.). Sydney: Prentice-Hall Banks, J. (1993). Multicultural education: historical development, dimensions, and practice. Review of Research in Education, 19: 3-49. Boyd, J. (1989). Equality Issues in Primary Schools. London: Paul Chapman Publishing, Ltd. Burnett, G. (1994). Varieties of multicultural education: an introduction. Eric Clearinghouse on Urban Education, Digest, 98. Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. Boston MA: Allyn Bacon Campbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research. Chicago Rand McNelly Carter, R.T. dan Goodwin, A.L. (1994). Racial identity and education. Review of Research in Education, 20:291-336. Cooper, H. dan Dorr, N. (1995). Race comparisons on need for achievement: a meta analytic alternative to Graham's Narrative Review. Review of Educational Research, 65, 4:483-508. Darling-Hammond, L. (1996). The right to learn and the advancement of teaching: research, policy, and practice for democratic education. Educational Researcher, 25, 6:5-Dewantara, Deese, J (1978) The Scientific Basis of the Art of Teaching. New York : Colombia University-Teachers College Press Eggleston, J.T. (1977). The Sociology of the School Curriculum, London: Routledge & Kegan Paul. Garcia, E.E. (1993). Language, culture, and education. Review of Research in Education, 19:51 -98. Gordon, Thomas (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Wydenpub Hasan, S.H. (1996). Local Content Curriculum for SMP. Paper presented at UNESCO Seminar on Decentralization. Unpublished. Hasan, S.H. (1996). Multicultural Issues and Human Resources Development. Paper presented at International Conference on Issues in Education of Pluralistic Societies and Responses to the Global Challenges Towards the Year 2020. Unpublished. Henderson, SVP (1954) Introduction to Philosophy of Education.Chicago : Univ. of Chicago Press Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional. Makalah pada Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Jakarta: Maret,1997

Highet, G (l954), Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II), PT.Pembangunan Ki Hajar (1936). Dasar-dasar pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Kemeny,JG, (l959), A Philosopher Looks at Science, New Hersey, NJ: Yale Univ.Press Ki Hajar Dewantara, (l950), Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa, DIY:Majelis Luhur Ki Suratman, (l982), Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila, Jakarta:Depdikbud Ki Hajar, Dewantara (1945). Pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Ki Hajar, Dewantara (1946). Dasar-dasar pembaharuan pengajaran, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Kuhn, Ts, (l969), The Structure of Scientific Revolution, Chicago:Chicago Univ. Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars Liem Tjong Tiat, (l968), Fisafat Pendidikan dan Pedagogik, Bandung, Jurusan FSP FIP IKIP Bandung Oliver, J.P. dan Howley, C. (1992). Charting new maps: multicultural education in rural schools. ERIC Clearinghouse on Rural Education and Small School. ERIC Digest. ED 348196. Print, M. (1993). Curriculum Development and Design. St. Leonard: Allen & Unwin Pty, Ltd. Raka JoniT.(l977),PermbaharauanProfesionalTenagaKependidikan:Permasalahan dan Kemungkinan Pendekatan, Jakarta, Depdikbud Rosyid, Rum (1995) Kesatuan, Kesetaraan, Kecintaan dan Ketergantungan : Prinsipprinsip Pendidikan Islami, Suara Almamater No 4/5 XII Bulan Juli 7 Agustus, Publikasi Ilmiah, Universitas Tajungpura, Pontianak Rum Rosyid(2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian I : Beberapa Tantangan Menuju Masyarakat Informasi, Penerbit KAMI , Pontianak. Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian II : Perselingkuhan Dunia Pendidikan Dan Kapitalisme, Penerbit KAMI, Pontianak. Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian III : Epistemologi Pragmatisme Dalam Pendidikan Kita, Penerbit KAMI, Pontianak. Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian IV : Peradaban Indonesia Evolusi Yang Tak Terarah, Penerbit KAMI , Pontianak. Twenticth-century thinkers: Studies in the work of Seventeen Modern philosopher, edited by with an introduction byJohn K ryan, alba House, State Island, N.Y, 1964 http://stishidayatullah.ac.id/index2.php?option=com_content http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan.htm http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default

http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html http://stishidayatullah.ac.id/index2.php http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan, .htm http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Modern, http://panjiaromdaniuinpai2e.blogspot.com Koran Tempo, 12 November 2005 , Revolusi Sebatang Jerami. http://www.8tanda.com/4pilar.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005 http://filsafatkita.f2g.net/sej2.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005 http://spc.upm.edu.my/webkursus/FAL2006/notakuliah/nota.cgi?kuliah7.htm l di down load pada tanggal 16 November 2005 http://indonesia.siutao.com/tetesan/gender_dalam_siu_tao.php di down load pada tanggal 16 November 2005 http://storypalace.ourfamily.com/i98906.html di down load pada tanggal 16 November 2005 http://www.ditext.com/runes/y.html di down load pada tanggal 2 Desember 2005

Dari Buku Pragmatisme Pendidikan Indonesia
Beberapa Tantangan Menuju Masyarakat Informasi Oleh : Rum Rosyid Dosen FKIP Universitas Tanjungpura Direktur Global Equivalency for Education

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->