P. 1
Kebijakan Pendidikan Pemerintahan BJ Habibie

Kebijakan Pendidikan Pemerintahan BJ Habibie

|Views: 2,579|Likes:
Published by rumrosyid

More info:

Published by: rumrosyid on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

Kebijakan Pendidikan Pemerintahan BJ Habibie Oleh Rum Rosyid, Univ Tanjungpura Pontianak Sebenarnya agak sulit memisahkan era

Habibe dan era Soeharto, karena dari kacamata krisis dan kebijakan, era ini adalah kelanjutan dari era Soeharto. Itulah sebabnya lebih tepat bila dikatakan bahwa era ini adalah era ekonomi pasca 21 Mei. Di era ini, situasi yang menyenangkan memang masih tidak bersama kita. Tengok saja situasi ekonomi saat ini: BPS memperkirakan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia akan pada tahun 1998 akan hampir mencapai 80 juta. Suatu jumlah yang fantastis yang bahkan lebih buruk dari 20 tahun yang lalu ketika pada tahun 1976 jumlah orang miskin tercatat sekitar 54 juta. Situasi dunia usaha pun tak jauh berbeda. Upaya untuk melihat perkembangan ekonomi di era Habibie mungkin bisa dilihat dari beberapa indikator berikut. 1.Nilai tukar dan pasar modal Situasi ekonomi seperti yang disebut diatas tidak mengalami perbaikan dalam era Habibie, bahkan mengalami penuruan. Ini bisa dilihat dengan semakin jatuhnya nilai tukar yang - walau tanggal 19 Agustus sempat mencapai Rp11.700 - tetap terpuruk. Kapitalisasi pasar modal juga tidak mengalami perbaikan, bahkan beberapa waktu terakhir mengalami penurunan. Tentu saja agak terlalu berlebihan bila kita menganggap bahwa kurs yang terpuruk ini semata-mata disebabkan karena naiknya Habibie sebagai Presiden. Ada faktor lain yang juga berperan, seperti kekuatiran terhadap masalah politik dan keamanan. Kerusuhan yang terjadi tanggal 13-15 Mei Department of Economics, Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University juga memberikan kontribusi terpuruknya nilai tukar dan kapitalisasi pasar. Tetapi perlu dilihat bahwa kebijakan yang dibuat selama era Habibie memang tidak berhasil mengembalikan kepercayaan pasar. Satu fenomena yang menarik selama krisis ini adalah fenomena vote by dollar, dimana ketidak puasan atau ketidakpercayaan terhadap kebijakan ekonomi atau situasi ekonomi dimanifestasikan dalam bentuk berpindahnya modal atau ditukarnya rupiah ke mata uang asing seperti US $. Karena itu dari konsep vote by dollar terlihat bahwa Habibie tidak berhasil mengembalikan kepercayaan itu. Berita akan masuknya dana CGI memang sedikit memperkuat rupiah tetapi di masih berada di tingkat Rp 11.000. Bila nilai tukar masih bertahan pada angka ini maka lebih dari 70% perusahaan secara teknis mengalami bangkrut. 2. Uang beredar, defisit anggaran dan inflasi Dalam periode Januari-Juli minggu ke 3 1998, uang primer tumbuh sebesar 26,6%. Pertumbuhan yang paling tinggi terjadi dalam bulan Mei, yaitu periode peralihan, di mana MO atau uang primer tumbuh sebesar 11%. Bandingkan dengan periode JanJuli tahun 1997 dimana uang primer tumbuh sebesar 12,7%. Uang beredar dalam arti luas (M2) setelah Habibie memerintah tumbuh relative tinggi, yaitu tercatat sebesar 8% pada bulan Mei, dan 15% pada bulan Juni. Sumber utama pertumbuhan pada bulan Juni adalah tagihan untuk sektor swasta yang tumbuh sebesar 19,9%. Dari sisi ini kita melihat bahwa adanya peningkatan jumlah uang beredar yang tentunya akan memberikan kontribusi kepada inflasi yang tinggi.

Dari sisi anggaran pemerintah Habibie melakukan revisi anggaran, dan untuk 1998/99 anggaran mengalami defisit sebesar 8,5% dari PDB. Defisit yang besar ini tentu saja juga akan memberikan kontribusi kepada inflasi. Perhitungan dampak ekspansi moneter dari anggaran menunjukkan bahwa dengan defisit 8,5% dari PDB, maka terjadi ekspansi moneter sebesar 56,9 trilyun rupiah. Tambahan uang beredar sebesar 56,9 trilyun dari sisi fiskal ini tentu akan mendorong inflasi ketingkat yang lebih tinggi lagi. Tingkat inflasi sendiri sudah mencapai 59%. Tingkat inflasi untuk makanan, pada bulan sejak bulan Juni dan Juli meningkat cukup tajam yaitu sebesar 7 dan 12%. Dari sisi ini terlihat adanya pemburukan selama pemerintahan Habibie. Tentu saja inflasi ini dipengaruhi oleh paling tidak 3 hal, yaitu imported inflation, yang terjadi karena semakin memburuknya nilai tukar, masalah meningkatnya uang beredar dan juga masalah distribusi atau problema sisi penawarannya. Dari sisi ini kita bisa melihat bagaimana inflasi akan mengancam kita dari dalam bulan-bulan kedepan. Itulah sebabnya penajaman prioritas dari subsidi harus dilakukan, sehingga kebiiakan yang muncul juga harus memiliki argumentasi pertimbangan ekonomis rasional dan bukan sekedar efisien untuk dukungan politik saja. Pada sisi dunia usaha, kita melihat bahwa dengan nilai tukar Rp 8000, 63% dari perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta memiliki rasio utang dollar terhadap total asset 50% atau lebih. Dan pada kurs Rp l0.000,- rasio ini akan meningkat lagi menjadi hampir 70%. Tingkat pengangguran juga meningkat sangat drastis hingga 20 juta. Angka pertumbuhan ekonomi sendiri tahun ini diperkirakan mencapai -15%, bahkan perhitungan satu lembaga dari Amerika Serikat memperkira- kan pertumbuhan ekonomi yang mencapai minus 30%. Tingkat upah riil mengalami penurunan di hampir semua propinsi di Indonesia. Penurunan upah riil yang paling tajam terjadi di pulau Jawa, dimana tingkat upah riil turun lebih dari 10% dalam 6 bulan krisis. Tingkat inflasi sudah mencapai 59%. Khusus untuk bahan makanan inflasi telah mencapai 82,7%. Dari sisi pangan FAO memperkirakan 7,5 juta orang di 15 propinsi akan mengalami kurang pangan. Produksi padi per kapita riil mengalami penurunan 10% pada tahun 1998 dibandingkan tahun 1997. Dengan gambaran yang tidak bersahabat ini kita mencoba melihat perkembangan ekonomi di era Habibie. Umar Juoro mencontohkan, pada era Presiden Habibie, ekonomi Indonesia dihadapkan pada masalah perubahan eksternal seperti meningkatnya harga minyak dunia, lemah dalam pengelolaan aset-aset produktif, dan dalam penyelesaian konflik bisnis.. Rupiah pada waktu itu mencapai Rp 16.000 per US$. Tetapi kemudian dalam waktu singkat bisa diturunkan hingga di bawah Rp 10.000. Kuncinya pada waktu itu, kata Umar, adalah pilihan kebijakan yang berani, kebijakan yang tidak konvensional dengan menaikkan defisit anggaran dan memberikan porsi anggaran yang besar untuk jaring pengaman sosial. Karena Iptek sering diasosiasikan dengan figur Habibie maka saat pemerintahan berganti ada sementara pihak yang mengkhawatirkan kelanjutan program-progam Iptek. Boleh jadi, meminjam analisa Bito (1994), disebabkan kebijakan Iptek belum merupakan

konsensus nasional, tapi lebih merupakan hasil kedekatan Habibie dengan Soeharto. Di mata orang yang pernah menjadi penasehat Habibie ini, struktur masyarakat Indonesia dibangun atas dasar koneksi (hito no tsunagari) sehingga kedekatan pada kekuasaan menentukan akseptabilitas ide seseorang. Terlebih lagi karena Soeharto berkepentingan dengan politik harmoni. Ini terlihat dengan diterapkannya kebijakan industri ganda (dual track policy), yaitu konsep para ekonom dan konsep Habibie (Thee & Marie, 1998). Keduanya mencerminkan perebutan pengaruh di hadapan Soeharto. Tak heran saat itu sering terjadi tarik-ulur anggaran antara Bappenas dan Depkeu di satu sisi dengan BPIS di sisi lain. Selain kebijakan ekonomi yang ditetapkan IMF, Habibie mencoba memperkenalkan konsep ekonominya, yang menurut Habibie berbeda dalam 3 hal dengan era Soeharto: 1. Nilai tukar yang stabil, menurut Habibie yang dibutuhkan adalah nilai tukar yang stabil tanpa perduli berapa pun tingkatnya. Menarik sekali karena jika ini dijalankan, pada nilai tukar Rp 10.000 saja, maka 70% perusahaan yang terdaftar di BEJ secara teknis akan bangkrut. Impor beras dalam tahun 1998/99 (April-Maret) diperkirakan sebesar 3,5 juta ton dengan asumsi bahwa pada bulan Agustus panen berjalan norrnal. Dengan kurs yang tinggi maka pembelian bahan makanan pun menjadi sangat mahal. Karena- itu kurs yang stabil tanpa memperhatikan level nya, jelas membawa ekonomi Indonesia kepada kebangkrutan. 2. Ekonomi kerakyatan, dinyatakan bahwa konsep ekonomi sekarang mengacu kepada konsep ekonomi rakyat. Tidak ada penjelasan yang rinci tentang konsep ini. Sebenarnya dari sisi konsep ekonomi umum, pelaku ekonomi itu dibedakan 2, produsen dan konsumen. Jika orientasi kita kepada rakyat, dengan pengertian mereka yang berpendapatan rendah, maka persolaan dalam ekonomi rakyat dapat dilihat dari 2 sisi: Dari sisi produsen, dari sisi ini yang paling penting adalah aksesibilitas untuk melakukan usaha seperti ketersediaan kredit dan bukan tingkat bunga kredit itu sendiri, beberapa studi yang dilakukan telah membuktikan ini. Dari sisi konsumen, persoalan yang dihadapi adalah harga yang mahal. Karena itu upaya yang harus dilakukan adalah memerangi inflasi dan bukan memberikan subsidi untuk berbagai macam hal yang skala prioritasnya kurang tinggi. Agaknya subsidi untuk makanan dan obat-obatan adalah suatu hal yang harus dan tidak bisa dihindari, tetapi subsidi yang lain mungkin bisa diperdebatkan. Mengingat bahwa rakyat adalah juga konsumen, maka concern kepada ekonomi rakyat seharusnya ditujukan kepada upaya memerangi inflasi. 3. Independensi Bank Indonesia. Habibie menyatakan bahwa Bank Indonesia akan dibuat independen. Tentu saja hal ini dibutuhkan dalam periode krisis seperti ini. Tetapi bila kita melihat kebijakan yang ada saat ini, maka independensi BI masih dipertanyakan, melihat bagaimana bank yang sakit masih di pertahankan dan juga pemberian subsidi bunga kredit.

Dalam periode Habibie ini sendiri, ada beberapa kebijakan yang telah dilakukan selama ini. Paling tidak 2 hal yang menjadi sorotan penting, masalah penyelesaian utang melalui INDRA dan sektor perdagangan luar negeri. Skema yang diberikan melalui INDRA masih mengalami kesulitan, bukan karena skema INDRA itu sendiri tidak baik, tetapi kondisi makroekonominya menyulitkan INDRA untuk berjalan. Kurs terbaik yang ditetapkan adalah sebesar RP 13.200. Dengan tingkat kurs seperti ini hanya sangat sedikit sekali perusahaan yang bisa ikut. Pilihan lain adalah membayar dengan rupiah dengan tingkat bunga riil 5,5%, berarti sekitar 65,5% nominal, yang sulit sekali dicapai oleh perusahaan dalam masa krisis. Di pihak lain upaya ekspor non migas dinyatakan meningkat sekitar 8% sedangkan impor menurun 37% atau -37%. Dalam jangka pendek memang akan terjadi peningkatan neraca perdagangan. Tetapi mengingat bahwa bahan yang diimpor adalah bahan baku dan barang modal termasuk untuk ekspor, bisa diduga bahwa penurunan impor yang tajam juga akan berakibat menurunnya kapasitas produksi untuk ekspor, sehingga surplus dalam neraca perdagangan pun tidak akan sustainable. Di tengah situasi seperti ini pemerintah malah memberlakukan pelarangan ekspor untuk CPO, yang pada akhirnya hanya akan mendorong penyelundupan dan mentrasfer keuntungan kepada pihak asing. Dari sisi lain problematika yang sering memberikan kebingungan kepada pasar adalah kordinasi kebijakan yang sangat lemah atau malah tidak terkoordinir. Agar kekhawatiran semacam itu tidak terulang setiap kali pergantian kekuasaan, kita perlu membuat konsensus agar kebijakan Iptek bebas dari politik partisan. Dan demi menyelamatkan investasi masa lalu, diperlukan sikap eklektik-objektif agar hal-hal positif yang diwariskan Habibie dapat dilanjutkan, dan yang negatif dapat ditanggalkan. Untuk tujuan itu penulis mencoba menganalisa kebijakan Iptek semasa Habibie, selanjutnya melihat bagaimana sebaiknya kebijakan di masa yang akan datang, dan membahas mengenai peran lembaga Iptek pemerintah dalam meningkatkan kemampuan teknologi industri nasional. Teori Pembangunan Ekonomi Habibie Kabinet Reformasi Pembangunan mengambil kebijakan dan langkah-langkah proaktif untuk mengembalikan roda pembangunan yang dalam beberapa bidang telah terhambat dan merugikan rakyat kecil. Karena itu, Kabinet memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas, produktivitas, dan daya saing ekonomi rakyat, dengan memberi peran perusahaan kecil, menengah, dan koperasi, karena terbukti memiliki ketahanan ekonomi dalam menghadapi krisis. Ditegaskan, Kabinet Reformasi Pembangunan disusun untuk melaksanakan tugas pokok, yaitu reformasi menyeluruh terhadap kehidupan ekonomi, politik, dan hukum dalam menghadapi era globalisasi. Karena itu, kabinet disusun dengan pertimbangan profesionalitas, kepakaran, pengalaman, dedikasi, integritas, dan kekompakan kerja. Karena sebagai pembantu presiden, para menteri dalam kabinet pun terdiri dari berbagai unsur kekuatan bangsa, yaitu PPP, Golkar, PDI, ABRI, unsur daerah, kaum intelektual, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). "Sebagaimana yang saya

kemukakan, kita akan mengembangkan pemerintahan yang bersih dan bebas dari inefisiensi, karena praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme," tegas Presiden. "Sejalan dengan itu, saya juga menekankan dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan aparatur yang bersih dan berwibawa, yang mampu memberikan arahan dan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat," tegas Habibie. Independensi Bank Indonesia Habibie juga menegaskan, dengan sengaja melepaskan Gubernur Bank Indonesia (BI) dari kabinet, untuk meningkatkan obyektivitas dan menjamin kemandirian BI. "BI harus mempunyai kedudukan khusus dalam perekonomian, serta bebas dari pengaruh pemerintah dan pihak mana pun juga, berdasarkan Undang-undang," katanya. Menjadi pimpinan di Industri Pesawat Terbang skala besar di Jerman selama bertahuntahun memberikan inspirasi dan mempengaruhi pemikiran Habibie. Berlandaskan pengalaman itu, Habibie memiliki keyakinan bahwa untuk bisa menjadi negara maju tidak selalu perlu melewati “tahap-tahap” pembangunan yakni pertanian/agraris industri pengolahan pertanian, manufaktur, industri teknologi rendah/menengah baru ke teknologi tinggi. Ia mengemukan teori pembangunan ekonomi negara yang berbeda yakni “Dari negara agraris langsung melompat ke tahap negara industri teknologi tinggi”, tanpa harus menunggu dan melewati kematangan indsutri pertanian, atau tahapan industri manufaktur serta teknologi rendah. “The basis of any modern economy is in their capability of using their renewable human resources. The best renewable human resources are those human resources which are in a position to contribute to a product which uses a mixture of high-tech.” (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile -1998) Dari teori pembangunan ekonomi tersebut, Habibie sangat menekankan pada kualitas SDM bukan semata SDA. Dengan meningkatkan sumber daya manusia (human resources), maka kita dapat membuat produk berteknologi tinggi dimana memiliki nilai jual yang tinggi. Hal ini pun akan mentriger berdirinya perusahaan-perusahaan pendukung dengan teknologi lebih rendah. Jadi, prinsip pembangunan industri ala Habibie adalah Top-Down (dari tinggi hingga ke rendah). Sedangkan secara konvensional adalah dari Down-Top (dari industri teknologi rendah ke teknologi tinggi). Selama masa pengabdiannya di Indonesia, Habibie memegang 47 jabatan penting seperti: Direkur Utama (Dirut) PT. Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN), Dirut PT Industri Perkapalan Indonesia (PAL), Dirut PT Industri Senjata Ringan (PINDAD), Kepala Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam, Kepala BPPT, Kepala BPIS, Ketua ICMI, dan masih banyak lagi. Sejak era reformasi 1998, tampaknya hanya Habibie yang menjadi presiden yang benarbenar sukses mengelola ekonomi dengan baik. Dalam kondisi yang amburadul, kacau balau baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan tiada hari tanpa demonstrasi, Habibie mampu membawa ekonomi Indonesia yang lebih baik. Meskipun Presiden Singapura Lee Kuan Yeew berusaha mendiskritkan kemampuan Habibie untuk memimpin Indonesia, toh Habibie menunjukkan bukti. Ketika banyak orang yang menyangsikan bahwa Habibie mampu bertahan selama 3 hari sebagai Presiden, namun semua dapat dilalui. Lalu, pihak-pihak yang tidak suka dengan Habibie pun

menyampaikan opini bahwa Habibie tidak mampu bertahan lebih dari 100 hari. Sekali lagi, Habibie membuktikan bahwa ia mampu memimpin Indonesia dalam kondisi kritis. Dari nilai tukar rupiah Rp 15000 per dollar diawal jabatannya, Habibie mampu membawa nilai tukar rupiah ke posisi Rp 7000 per dollar. Ketika inflasi mencapai 76% pada periode Januari-September 1998, setahun kemudian Habibie mampu mengendalikan harga barang dan jasa dengan kenaikan 2% pada periode Januari-September 1999. Indeks IHSG naik dari 200 poin menjadi 588 poin setelah 17 bulan memimpin. Tentu, indikator-indikator kesuksesan ekonomi era Habibie tidak dapat diikuti dengan baik oleh masa pemerintah Megawati maupun SBY. Kota Batam : Miniatur Pembangunan Habibie Disaat Hari Jadi Kota Batam ke 180 tahun 2009 ini sedang digelar dan dipersiapkan secara matang oleh para panitia, masyarakat Batam juga berkesempatan dengan orang yang dulunya pernah menakhodai arah kebijakan pengembangan Batam dalam kurun waktu cukup lama yang juga mantan Presiden RI, BJ Habibie. Kedatangannya ke Batam untuk menghadiri Silahturahmi Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Hotel Novotel dan peresmian Klinik Ginjal R.A. Habibie di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK). Pada saat memberikan orasinya pada Jumat (10/12) diacara Silaknas ICMI, Habibie membahas persoalan perekonomian. Pria yang berjasa dalam pembangunan Kota Batam ini menyebut bahwa Batam tidak mempunyai apapun. Dibukanya Batam timbul dari pemikiran Suharto setelah melihat letak Batam yang strategis dan berhadapan dengan Singapura dan Malaysia. Pada waktu itu, kapal-kapal tanker asing bebas hilir mudik di perairan Batam yang merupakan jalur pelayaran internasional. Pada saat itu lah timbul pikiran dari Presiden Soeharto untuk mengembangkan Batam sebagai kawasan perdagangan dan industri. Namun kini, Batam menurutnya sudah banyak perubahan dan berkembang. Jumlah penduduk sudah mencapai 900 ribu jiwa dan jumlah ini akan terus bertambah untuk kota seperti Batam. Batam memang tidak memiliki Sumber Daya Alam (SDA) untuk diolah. Untuk itu ia mengajak agar bangsa Indonesia untuk memberdayakan Sumber Daya Manusia (SDM). Orang yang paling berpengaruh terhadap peningkatan SDM adalah ibu. ”Ibu kuncinya. Peranan ibu dan perempuan harus dikeluarkan dari ketertinggalan dan harus berada di garis depan, bahu membahu bersama bapak,” katanya dan disambut tepukan meriah dari peserta Silaknas. Dulu, pertumbuhan ekonomi di Batam mencapai 17 persen ketika ia masih memimpin sebagai Ketua Otorita Batam (OB). Berdasarkan data dari BPS, pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 7,8 persen. Menurutnya, tidak perlu saling menyalahkan terhadap menurunnya pertumbuhan ekonomi ini. ”Yang terpenting harus segera memperbaikinya. Jangan saling menyalahkan. Dan orang Batam harus menyelesaikan permasalahannya. Jangan melibatkan orang luar,” katanya penuh semangat dihadapan seluruh peserta Silaknas ICMI yang hadir. Habibie memberikan tiga kiatnya dalam menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapi. Pertama, bekerja keras tanpa mengenal rasa lelah. Kedua, selalu rasional dan fair terhadap orang lain dan

menyelesaikan permasalahan dengan waktu yang sesingkatnya dengan pengorbanan yang seminimnya serta mampu bekerja dengan satu tim. ”Jangan pernah mau jadi pahlawan. Yang penting bisa tidur nyenyak dan menjaga persatuan sehingga masyarakat menjadi rakyat yang madani,” paparnya. Salah satu langkah yang harus ditempuh untuk memperbaiki perekonomian adalah dengan menggerakkan pasar dalam negeri. Harus sistematis namun tidak berati pasar dalam negeri harus di proteksi. Langkah yang ditempuh untuk menggerakkan produk dalam negeri ini yakni dengan daya saing, meningkatkan kualitas dan SDM. Pada saat membuka Silaknas, Habibie memaparkan makalah yang berjudul ”Indonesia Abad XXI, Unggul? Makalah ini menurutnya pernah paparkan dihadapan civitas akademica ITB. Jika pada saat pemaparan dihadapan citivtas academika ITB, Habibie berbicara sampai empat jam, kemarin pada saat pembukaan Silaknas, ia berbicara hampir, 1,5 jam. Itu pun setelah seluruh peserta Silaknas menyetujui dirinya untuk menambah waktu pemaparan. ”Pada saat memberikan pemaparan di ITB, makalah saya berjudul ”Indonesia Abad 2045,” ujar suami dari Ainun Habibie ini. Secara kenyataan, Indonesia Kaya, tapi miskin. Mengapa? ”Karena saat ini masih banyak rakyat Indonesia yang tidak tahu besok makannya bagaimana. Masih banyak yang belum bisa menikmati air bersih yang sehat termasuk pendidikan,” katanya memberi alasan. Ini disebabkan karena agrobisnis dan pertambangan belum bisa menyediakan lapangan pekerjaan untuk penduduk. Sehingga itu perlu dilakukan perubahan dari mengandalkan SDA ke SDM. Sesuai dengan program MDG menuntaskan kemiskinan pada tahun 2015 yang dicetuskan pada tahun 2000. Diantaranya yang menjadi program MDG, untuk menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan kualitas pendidikan, kesetaraan gender, mengurangi angka kematian bayi dan angka kematian ibu saat melahirkan serta mengurangi jumlah penderita HIV/AIDS dan Malaria. Dalam kesempatan itu, Habibie juga membeberkan hasil perkembangan penduduk dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2045. Menurut catatannya, pada tahun 2005 jumlah penduduk mencapai 219 juta. Diprediksi pada tahun 2025 mencapai 273 juta. Ditahun 2045 merupakan 100 tahun Indonesia merdeka dan jumlah penduduk mencapai 364 juta jiwa. Sama seperti di Batam, yang jumlah penduduknya sudah mencapai satu juta jiwa. ”Orang memilih Batam karena di desa tidak ada pekerjaan,” tutur pria yang berusia 73 tahun ini. Dari tahun ke tahun perkembangan kota di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada tahun 1961 hanya 14,8 persen penduduk yang tinggal di kota. Di tahun 2000 melonjak menjadi 42,2 persen dan asumsi pada tahun 2010 diprediksi penduduk yang tinggal di kota mencapai 57,4 persen. Habibe mengharapkan agar melalui Silaknas ini, ICMI dapat memberikan masukan dan turut mendukung pengentasan kemiskinan. Habibie dan Demokrasi Indonesia Ketika mendapat amanah menjadi Presiden RI ke-3, kondisi ekonomi, sosial, stabilitas politik, keamanan di Indonesia berada di ujung tanduk “revolusi”. Dengan mengambil kebijakan yang salah serta pengelolaan ekonomi yang tidak tepat, maka Indonesia 1998

berpotensi masuk dalam era “chaos” ataupun revolusi berdarah. (catatan : perlu diingat bahwa reformasi 1998 menelan ratusan bahkan ribuan korban pembunuhan dan pemerkosaan serta serangkaian kerusuhan, penjarahan, pembakaran, yang terutama ditujukan pada etnis Tionghoa). Untungnya di tahun 1998, Indonesia tidak masuk dalam era revolusi jilid-2 namun hanya masuk dalam era reformasi. Belajar dari kesalahan presiden pendahulunya, Jenderal Soeharto, Presiden Habibie memimpin Indonesia dengan cermat, cepat, telaten, rasional dan reformis. Habibie menunjukkan perhatiannya terhadap keinginan bangsa untuk lebih mengerti dan menerapkan prinsip umum demokrasi. Perhatiannya didasarkan pada pengamatan Habibie pada pemerintahan Orde Lama dan sebagai pejabat pada masa Orde Baru, dimana telah mengarahkan beliau untuk mempelajari situasi yang ada. Melalui proses yang sistematik, menyeluruh, dan menyatu, Habibie mengembangkan sebuah konsep yang lebih jelas, sebuah pengejewantahan dari proaktif dan prediksi preventive atas interpretasi dari demokrasi sebagai sebuah mesin politik. Konsep ini kemudian diimplementasikan dalam berbagai agenda politik, ekonomi, hukum dan keamanan seperti: Kebebasan multi partai dalam pemilu (UU 2 tahun 1999) Undang Undang anti monopoli (UU 5 tahun 1999) Kebijakan Independensi BI agar bebas dari pengaruh Presiden (UU 23 tahun 1999) Kebebasan berkumpul dan berbicara, (selanjutnya masyarakat lebih mengenal istilah demonstrasi) Pengakuan Hak Asasi Manusia (UU 39 tahun 1999) Kebebasan pers dan media, Usaha usaha menciptakan pemerintahan yang efektif dan efisien yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme atau dengan kata lain adalah pemerintahan yang baik dan bersih. (Membuat UU Pemberantasan Tindak Korupsi pada tahun 1999) Penghormatan terhadap badan badan hukum dan berbagai institusi lainnya yang dibentuk atas prinsip demokrasi; Pembebasan tahanan-tahanan politik tanpa syarat, (eg. Sri Bintang Pamungkas dan Muktar Pakpahan) Pemisahan Kesatuan Polisi dari Angkatan Bersenjata. Dalam waktu yang relatif singkat sebagai Presiden RI, Habibie telah memelihara pandangan modern beliau dalam demokrasi dan mengimplementasikannya dalam setiap proses pembuatan keputusan. Peran penting Habibie dalam percepatan proses demokrasi di Indonesia dikenal baik oleh masyarakat nasional ataupun internasional sehingga beliau dianggap sebagai “Bapak Demokrasi“. Komitmen beliau terhadap demokrasi adalah nyata. Ketika MPR, institusi tertinggi di Indonesia yang memiliki wewenang untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, menolak pidato pertanggung-jawaban Habibie (masalah referendum TimorTimur), Habibie secara berani mengundurkan diri dari pemilihan Presiden yang baru pada tahun 1999. Beliau melakukan ini, selain penolakan MPR atas pidatonya tidak mengekang beliau untuk terus ikut serta dalam pemilihan, dan keyakinan dari pendukung beliau bahwa beliau akan tetap bisa unggul dari kandidat Presiden lainnya, karena yakin bahwa sekali pidatonya ditolak oleh MPR akan menjadi tidak etis baginya untuk terus

ikut dalam pemilihan. Keputusan ini juga dimaksudkan sebagai pendidikan politik dari arti sebuah demokrasi. Referendum bagi rakyat Timor-timur Karena “demokratis”-nya Habibie, maka iapun memberikan opsi referendum bagi rakyat Timor-Timur untuk menentukan sikap masa depannya. Namun, perlu dicatat bahwa Habibie bukanlah orang yang bodoh dengan mudah memberikan opsi referendum tanpa alasan yang jelas dan tepat. Habibie sebagai Presiden RI memberikan opsi referendum kepada rakyat Timor-Timur mengingat bahwa Timor-Timur tidak masuk dalam peta wilayah Indonesia sejak deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Secara yuridis, wilayah kesatuan negara Indonesai sejak 17 Agustus 1945 adalah wilayah bekas kekuasaan kolonialisme Belanda yakni dari Sabang (Aceh) hingga Merauke (Irian Jaya/ Papua). Dari 1596 hingga 1975, Timor Timur adalah sebuah jajahan Portugis di pulau Timor yang dikenal sebagai Timor Portugis dan dipisahkan dari pesisir utara Australia oleh Laut Timor. Akibat kejadian politis di Portugal, pejabat Portugal secara mendadak mundur dari Timor Timur pada 1975. Dalam pemilu lokal pada tahun 1975, Fretilin, sebuah partai yang dipimpin sebagian oleh orang-orang yang membawa paham Marxisme, dan UDT, menjadi partai-partai terbesar, setelah sebelumnya membentuk aliansi untuk mengkampanyekan kemerdekaan dari Portugal. Pada 7 Desember 1975, pasukan Indonesia masuk ke Timor Timur. Indonesia, yang mempunyai dukungan material dan diplomatik, dibantu peralatan persenjataan yang disediakan Amerika Serikat dan Australia, berharap dengan memiliki Timor Timur mereka akan memperoleh tambahan cadangan minyak dan gas alam, serta lokasi yang strategis. Bagi sebagian orang menganggap bahwa masuknya militer Indonesia di TimorTimur merupakan bentuk neo-kolonialisme baru (penjajahan modern) dari Indonesia pada tahun 1975. Seharusnya Indonesia tidak ikut campur pada proses kemerdekaan Timor-Timur dari penjajahan Portugis. Jadi, kita dapat memahami dibalik landasan Habibie dimana provinsi Timor-Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perlu dicatat bahwa kasus Aceh dan Papua berbeda dengan Timor-Timur. B.J. Habibie mendapat tempat istimewa dalam sejarah Timor Leste. Saya ingat pada malam redeklarasi kemerdekaan 20 Mei 2002 di Tasi Tolu, Presiden Xanana Gusmao menyampaikan terima kasih bangsa Timor Leste kepada lebih dari selusin tokoh dunia. Di antaranya disebutnya B.J. Habibie. Bahkan nama Abdurrachman "Gus Dur" Wahid, teman Xanana dan satusatunya tokoh Indonesia yang pernah menyatakan mea culpa (maaf) kepada bangsa Timor Leste, tak disebut dalam upacara historis tsb. Sayang, Detik-Detik yang ditulis Habibie lebih ramai oleh kontroversi seputar peranan Jen. Prabowo sekitar 21 Mei 1998, ketimbang isu Timor Timur. Padahal isu ini tak kalah menentukan, bahkan membawa aib bagi Indonesia di mata dunia. Di tangan Habibie, soal TimTim menjadi tantangan yang dihadapinya dengan tegas dan berani, yaitu dengan memberi rakyat TimTim hak mereka yang absah, yang menjadi peluang emas bagi kemerdekaan bangsa Timor Leste.

Sebaliknya, Ali Alatas, mantan menlu, diplomat yang paling makan garam soal TimTim, memanfaatkan bukunya yang baru, The Pebble in the Shoe, The Diplomatic Struggle for East Timor, untuk membela dengan konsisten kebijakan Indonesia c.q. Soeharto. Pernah pada 1997, Soeharto menampik usulan Alatas, yang ketiban cape TimTim (Timor fatigue), untuk memberi otonomi luas kepada TimTim, namun selanjutnya Alatas tetap setia menjalankan kebijakan Soeharto. Mengapa seorang Alatas yang satu dasawarsa menjabat Menteri Luar Negeri Orde Baru lebih loyal kepada Soeharto, ketimbang seorang Habibie yang mantan Wapresnya Soeharto dan pernah menyebut Soeharto sebagai "guru besar"nya?. Di mata "guru besar"nya, Habibie bahkan melakukan "ingkar dan khianat" sampai dua kali. Pertama, seperti dikemukakan Endy Bayuni dari The Jakarta Post, di luar dugaan Soeharto, Habibie memenuhi amanat konstitusi dengan keputusannya untuk siap menggantikan Soeharto ketika Soeharto pada 19 Mei 1998 mengungkap niatnya untuk turun. Kedua, dengan keputusan 28 Januari 1999, yang memberi "opsi kedua" pada TimTim, Habibie menjunjung preambule UUD 1945 yang menghormati hak bangsa untuk merdeka dan menyediakan peluang tsb kepada TimTim - satu hal yang mustahil dilakukan Soeharto sejak dia berkonspirasi dengan Ali Moertopo dan kemudian dengan Presiden AS Gerard Ford dan Menlu Henry Kissinger 6 Des. 1975 untuk mencaplok TimTim. Dalam Detik-Detik-nya, Habibie tentu saja tidak berbicara polos tentang konspirasikonspirasi Soeharto tsb, barangkali dia tak tahu, naif, atau tak peduli. Namun harus diakui Habibie telah mengedepankan kepentingan nasional dengan mencoba memulihkan kredibilitas R.I. dengan cara memberi hak absah dan peluang referendum kepada TimTim. Lagi pula, ini dilakukannya dengan rasional dan jujur. Pertama dia berfilosofi sekitar konsep "bangsa" dan "Indonesia", dengan bertanya pada diri sendiri apa saja unsur-unsur "Rumpun Melayu" dan "Indonesia itu siapa?" yang secara retorik dijawabnya sendiri dengan tegas bahwa itu tidak lain adalah bekas Hindia-Belanda. Berbeda dengan pejabat Orde Baru, banyak cendekia, bahkan juga sebagian sayap kiri Indonesia, Habibie di situ rasional dan konsekuen, sehingga menyimpulkan bahwa Timor Timur memang tidak dengan sendirinya harus menjadi bagian dari republik. (lihat hal. 223-265 & 397 dst). Ini satu pendapat yang patut dihormati. Meski begitu, toh ada kesan Habibie belum mengungkap pandangannya tentang TimTim dengan lengkap. Sekitar 1997 di kalangan aktivis ICMI sudah beredar gagasan bahwa Tim-Tim perlu dilepas dari RI. Ada yang beranggapan propinsi ke-27 tsb hanya menambah jumlah propinsi bermayoritas kelompok minoritas religius saja. Detik-Detik-nya Habibie terbit tahun ini, tetapi semasa hangatnya isu TimTim, 19981999, Habibie sebenarnya berargumen persis serupa Orde Baru, bahkan secara eksemplaris mencerminkan watak kolonial Orde Baru terhadap TimTim: "Why do we have this problem when we have a mountain of other problems? Do we get any oil? No. Do we get gold? No. All we get is rocks. If the East Timorese are ungrateful after what we have done for them, why should we hang on?" (dikutip dari sumber berbahasa Inggris, aslinya dari Suara Pembaruan). Akhirnya, Habibie terpancing oleh sindiran PM

Australia John Howard yang mengusulkan transisi menjelang referendum semacam New Caledonia. Di sini, semangat nasionalisme Orde Baru-nya Habibie tersinggung, kemudian mengeluarkan gagasan "opsi kedua" tadi. Secara sepintas, Habibie mengakui ini dalam Detik-Detik-nya, sayang dia tidak merincinya panjang lebar. Betapa pun, Habibie lebih legawa ketimbang Charles de Gaulle. Kalau Presiden Prancis mengakhiri perang kolonial Prancis di Aljazair dengan berunding, B.J. Habibie mengakhiri penjajahan Indonesia di Timor Timur dengan menawarkan opsi kedua. Banyak pelanggaran HAM yang terjadi saat Timor Timur berada dalam wilayah Indonesia. Pada 30 Agustus 1999, rakyat Timor Timur memilih untuk memisahkan diri dari Indonesia dalam sebuah pemungutan suara yang diadakan PBB. Sekitar 99% penduduk yang berhak memilih turut serta; 3/4-nya memilih untuk merdeka. Segera setelah hasilnya diumumkan, dikabarkan bahwa pihak militer Indonesia melanjutkan pengrusakan di Timor Timur, seperti merusak infrastruktur di daerah tersebut. Celakanya, di luar dugaan seluruh jajaran penguasa di Jakarta, termasuk B.J. Habibie sendiri, rakyat Timor Timur, dengan porsi yang besar dan meyakinkan, mencoblos opsi merdeka. Kemenangan kubu pro-kemerdekaan TimTim itu menjadi selendang merah bagi banteng bernama ABRI yang kemudian mengamuk, merusak, membantai dan mendeportasi ratusan ribu warga TimTim. Maka terjadilah tragedi berdarah bagi Timor Timur dan, lagi lagi, aib yang mempermalukan bangsa bagi Indonesia. Menlu kala itu Ali Alatas dalam bukunya The Pebble in the Shoe (2006) memuji kearifan Presiden Habibie untuk mempercepat pengumuman hasil referendum tsb dari tgl. 6 menjadi tgl. 4 Sept. 1999. Ini untuk menghindari kebocoran dan kerusuhan. Hal ini menarik, sebab ini memberi kesan seolah mereka telah mengkhawatirkan kerusuhan beberapa hari sebelum gelombang amukan ABRI itu terjadi. Mingguan TEMPO (edisi 3 Maret 2003) mengutip keterangan seorang anggota milisi-pro Jakarta bahwa bumi hangus TimTim pasca jajak-pendapat itu berasal dari perintah Presiden Habibie. Dugaan TEMPO ini tidak pernah terkonfirmasi, namun Prof. Geoffrey Robinson, waktu itu staf badan PBB UNAMET di Dili, berdasarkan penyidikannya, menyimpulkan kepada Radio Nederland (Des. 2004) bahwa ada semacam komisi di bawah Presiden Habibie, yang selain melibatkan sejumlah jendral (Feisal Tanjung, Wiranto), juga melibatkan sejumlah menteri (a.l. Alatas) yang bertanggungjawab atas reaksi Jakarta terhadap hasil jajak-pendapat di TimTim. Yang menarik, Ali Alatas dalam The Pebble mengungkap frustrasi dan kemarahannya atas keonaran pasca-jajak pendapat tsb, dan secara samar menyalahkan kebijakan Presiden Habibie yang sulit diperhitungkan, tapi tidak pernah menuding jajaran perwira ABRI sebagai biang dari bumi hangus TimTim. Habibie, yang dari kontroversinya dengan Jen. Prabowo kita ketahui dekat dengan Jen. Wiranto, juga setali tiga uang dengan Alatas. Pada dasarnya, keduanya menyalahkan milisi dan konflik antara kubukubu TimTim sebagai penyebab tragedi September 1999 tsb. Di mata pejabat Indonesia, Tim-Tim selalu "bersalah". Dulu TimTim "bersalah" karena Fretilin menjadi "pekarangan belakang" yang "mengancam" Indonesia, sekarang TimTim "bersalah" karena selalu ber-"perang-saudara" di antara mereka. Habibie menyebut TimTim "cuma batu karang"

yang merepotkan Indonesia, sedangkan Alatas menyepelekan TimTim sebagai "kerikil" (pebble) di sepatu Indonesia. Detik Detik-nya Habibie maupun The Pebble-nya Alatas pun tak luput dari mitos-mitos kolonial Indonesia, sebagaimana Belanda dulu sering bertakhyul tentang Indonesia. Barangkali, Habibie dan Alatas perlu mengenang renungan Ki Hadjar Dewantara di masa Indonesia sendiri berada dalam situasi terjajah. Dua abad silam, Ki Hadjar memprotes pajak ekstra bagi rakyat Hindia-Belanda untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Belanda, dengan menulis pamflet "Als ik eens een Nederlander was" (Andaikan Aku Orang Belanda) dan di situ Ki Hadjar menganjurkan agar rakyat Indonesia memboikot pajak tsb. Siapa tahu, pada suatu hari seorang Timor Leste akan menulis "Andaikan Aku Orang Indonesia". Di situ, dia pasti akan mencatat bahwa B.J. Habibie perlu dikenang dengan rasa hormat, tapi tak usah dijadikan "kekasih" bangsa. Pada Oktober 1999, MPR membatalkan dekrit 1976 yang mengintegrasikan Timor Timur ke wilayah Indonesia, dan Otorita Transisi PBB (UNTAET) mengambil alih tanggung jawab untuk memerintah Timor Timur sehingga kemerdekaan penuh dicapai pada Mei 2002. Visi Habibie Image yang berkembang selama ini tentang visi Habibie adalah hi-tech, leap-frogging, dana besar, dan berkutat dalam enclave terpisah dari ruang perekonomian dan industrialisasi nasional. Kita dapat menganalisa visi Habibie dalam tiga level: orientasi kebijakan, strategi, dan pilihan sektor. Orientasi kebijakan teknologi dibedakan atas 2 kategori: Mission-oriented dan Diffusion-oriented (Ergas, 1987). Yang pertama merujuk pada orientasi mencapai misi tertentu yang ditetapkan pemerintah. Bagi negara yang menerapkan orientasi ini peningkatan daya saing industri secara umum menjadi nomor dua. Sebaliknya, yang kedua merujuk pada orientasi penyebaran teknologi ke seluruh struktur industri guna meningkatkan competitiveness. Menurut Bito, karakteristik kebijakan Habibie adalah industrialisasi dengan “kepemimpinan negara” yang direalisasikan melalui keterlibatan langsung sebagai pemain industri di BUMNIS. Misinya adalah menjadi wahana transformasi industri sehingga proses pengembangan kemampuan teknologi bangsa dapat lebih cepat (accelerated evolution). Diharapkan kelak ada spill over teknologi dari BUMNIS ke industri lain. Ini sejenis dengan apa yang terjadi pada kebijakan teknologi Amerika (hingga berakhirnya perang dingin) yaitu spill over dari militer ke industri (Mowery & Rosenberg, 1993), yang menurut studi Ergas masuk kategori mission oriented. Sebagai konsekwensi dari pola kepemimpinan negara maka anggaran pemerintah menjadi terkonsentrasi pada BUMNIS dan institusi Iptek negara. Tahun 1991, dana yang dikeluarkan pemerintah untuk Iptek, mencapai Rp 1 triliun. Sebanyak Rp 400 M digunakan untuk R&D dan sisanya untuk pembangunan infrastruktur dan diklat. Dari dana R&D itu sebanyak Rp 310 M digunakan untuk intramural (dalam lembaga pemerintah) sedangkan sisanya digunakan perguruan tinggi (Rp 25 M) dan membantu langsung industri (Rp 65 M). Perlu dicatat bahwa yang dimaksud industri di sini justru sebagian besarnya adalah BUMNIS (STAID, 1993). Kondisi alokasi anggaran ini terus berlanjut hingga sekarang.

Institusi iptek negara seperti BPPT, yang seharusnya mendukung kemampuan teknologi industri secara umum juga bisa menjadi “pelayan” BUMNIS. Disamping itu R&D yang dilakukan institusi Iptek sebagian besar bersifat riset semata (for reasearch sake) dan tidak market-oriented (Bappenas, 1997). Kondisi ini membuat industri di luar BUMNIS mempertanyakan technological trickling-down effect. Dengan tidak adanya titisan teknologi bagi industri di luar BUMNIS maka wajar bila program-program Habibie seolah berkutat pada enclave terpisah dari ruang perekonomian dan industrialisasi nasional. Dengan menjelaskan orientasi kebijakan Habibie seperti itu tidak otomatis itu salah. Sebab, bila benar bahwa BUMNIS hanyalah wahana percontohan dalam transformasi industri, maka dapat dipahami sebenarnya peranan besar pemerintah melalui BUMNIS akan ada akhirnya. Sampai batas waktu itu justru peran besar negara boleh jadi tepat demi mencapai misi akselerasi industrialisasi. Namun, masalahnya hingga kejatuhan Habibie tidak pernah jelas batas waktu tersebut. Ketakjelasan ini menyebabkan BUMNIS alih-alih menjadi contoh dan memberi spill over malah menjadi industri yang terusmenerus diproteksi dan disusui (infant industry). BUMNIS tumbuh bagai bayi abadi yang sulit efisien dan mandiri. Inilah yang membuat citra program-program Habibie sebagai memboroskan uang negara. Otonomi dan tren pendidikan tinggi Isu otonomi pendidikan sebenarnya sudah dimulai di Indonesia sejak masa Presiden Habibie. Meskipun isu otonomi dan kebebasan akademis dalam beberapa hal sangat kontroversial, dalam batas tertentu kita harus menganggapnya sebagai kebutuhan yang bisa fleksibel. Otonomi adalah hak bagi setiap institusi untuk memutuskan apa yang baik bagi sebuah institusi tanpa ada gangguan dari pihak luar. Konsep ini jelas datang dari semangat kebebasan akademis, ketika hak-hak akademis individu untuk mengekspresikan opini mereka terjamin. Di dalam Magna Carta of European Universities yang ditandatangani pada 1988 oleh para rektor dari Universitas terbaik se-Eropa dikatakan bahwa universitas merupakan lembaga yang otonom di tengah-tengah masyarakat yang sangat beragam, baik secara geografis maupun budaya. Universitas adalah produsen utama hampir seluruh produk sosial, politik, dan budaya yang bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, keseluruhan proses belajar mengajar di universitas secara moral dan intelektual haruslah independen dan terlepas dari semua kepentingan politik dan kekuasaan. Kebebasan dalam menjalankan proses belajar mengajar dan melakukan riset secara terbuka merupakan pilihan strategis dan fundamental bagi universitas dalam rangka menjaga independensinya di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, universitas harus secara konsisten dan konsekuen menjaga prinsip-prinsip otonomi seperti: (1) Hak untuk mempekerjakan dan memecat staf akademis yang melanggar etika dan tidak dapat mengembangkan kapasitas akademisnya, (2) hak untuk memutuskan apa dan bagaimana proses belajar mengajar harus dijalankan, (3) hak untuk menyeleksi mahasiswa dan mengevaluasi performance mereka secara mandiri dan bertanggung jawab, serta (4) hak untuk memilih topik-topik riset yang mereka inginkan tanpa harus takut akan intervensi pihak luar.

Di samping soal otonomi, beberapa isu penting soal bagaimana seharusnya sebuah universitas merespons perkembangan sosial budaya masyarakat juga harus diperhatikan. Isu tentang strategi kolaborasi yang harus dijalankan oleh universitas, strategi pendanaan, dan pentingnya memikirkan segmentasi yang bersinergi dengan bursa kerja merupakan keharusan yang perlu dipikirkan, direncanakan, dan dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan (Zusman, 1999). Dalam rangka menarik minat pasar, pendidikan tinggi di Indonesia, mau tidak mau dan suka atau tidak suka, harus membuka program-program pelatihan, sertifikasi, serta kuliah jarak jauh yang dikelola dengan logika kolaboratif, yaitu ketersambungan dunia bisnis dan pendidikan. Networking atau jejaring adalah kata kunci yang harus dikembangkan secara terus-menerus oleh setiap universitas dalam rangka mencari pola partnership yang tepat antara universitas dan lembaga keuangan (bisnis, entertainer) dan lembaga riset. Selain itu, universitas diharapkan juga jeli dalam menjalin kolaborasi dengan sekolah menengah umum tertentu sebagai basis input-nya dan universitas lain terutama dalam rangka pemanfaatan sumber daya dan teknologi. Jika strategi kolaborasi ini berjalan, perencanaan pendidikan menjadi lebih mudah disosialisasikan ke tingkat masyarakat. Dengan demikian, pembukaan program-program baru yang berorientasi pada pasar atau kebutuhan masyarakat perlu dijajaki. Selain itu, dalam menjalankan strategi pendanaannya, lembaga pendidikan tinggi juga harus memperhatikan daya beli masyarakat. Karena itu, riset tentang pembelanjaan dana publik di sektor pendidikan harus dilakukan. Belajar dari tren yang berkembang di Amerika Serikat, skema distribusi dana pendidikan diubah dari \'subsidi\' menjadi \'pinjaman\'. Perubahan ini sudah barang tentu merugikan masyarakat kurang mampu, yang enggan terbebani utang. Meski demikian, permintaan pinjaman mahasiswa meningkat secara signifikan, yang jumlahnya naik dari setengah menjadi tiga perempat dana pinjaman dalam anggaran pemerintah pusat. Adapun di tingkat negara bagian, alokasi anggaran pendidikan menunjukkan peningkatan. Sumbangan korporasi untuk universitas pun meningkat. Di samping itu, semakin banyak negara bagian yang mengikuti jejak California mengenalkan skema pinjaman yang lunak (Kovel-Jarboe, P 2000). Strategi dan skema pendanaan yang berlaku saat ini di Amerika Serikat boleh jadi dapat menginspirasi lembaga pendidikan tinggi kita untuk melakukan kerja sama dengan perbankan dan pemerintah daerah dalam menggalang dana publik masuk ke sektor pendidikan tinggi. Ke depan, diharapkan ada riset mendalam yang secara spesifik melihat kemungkinan strategi pendanaan seperti ini bagi para mahasiswa kita di Indonesia. Strategi ketiga adalah bagaimana lembaga pendidikan memetakan kemampuannya dalam melihat segmentasi pasar. Harus kita sadari bahwa \'peta sosial\' universitas senantiasa berubah, baik dalam hal komposisi umur dan jenis kelamin, serta konfigurasi mayoritasminoritas. Hal yang penting diperhatikan adalah meningkatnya jumlah \'mahasiswa dewasa\'. Ketika perusahaan mengurangi program-program pelatihan, karyawan berpaling pada institusi akademis. Universitas-universitas dan lembaga pendidikan tinggi yang tanggap akan kebutuhan ini, yaitu yang mampu menjanjikan peningkatan

kemampuan akademis dan keahlian khusus, baik melalui kelas reguler maupun kelas jarak jauh, menjadi lebih kompetitif. Dengan kesadaran tentang the new student map, sesungguhnya kita menginginkan agar universitas di Indonesia dapat berperan lebih aktif dalam melihat kebutuhan tenaga profesional di segala bidang dengan kebutuhan dunia birokrasi dan usaha. Para pekerja yang ingin memperoleh ilmu dan meningkatkan profesionalitas mereka perlu diakomodasi oleh lembaga pendidikan seperti universitas dengan membuka programprogram yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan secara bertanggung jawab. Kesadaran tentang paradigma instruksional lembaga pendidikan kita juga tampaknya perlu digeser menjadi paradigma pembelajaran yang mengedepankan keberagaman model belajar dan multiple intelligences. Pada titik ini, peran dosen dan tenaga pengajar lainnya menjadi sangat penting. Karena itu, dosen dan tenaga akademis di setiap lembaga pendidikan tinggi dituntut untuk memiliki kemampuan, pengetahuan, dan keahlian dalam memutuskan bagaimana dapat membantu mahasiswa belajar secara maksimal. Perubahan paradigma pembelajaran ini juga membawa konsekuensi logis kepada universitas untuk melakukan program-program penyegaran dan pelatihan yang dapat memacu kreativitas pembelajaran (Kezar, 2000). Strategi Industri Dengan membuat industri percontohan, dalam hal ini BUMNIS, jelas Habibie tidak semata mengembangkan Iptek tapi juga industri. Pengalaman di industri Jerman membuat Habibie sadar bahwa Iptek justru berkembang pesat tatkala teraplikasi dalam denyut industrialisasi. Bahkan menurut Bito, pemikiran dasar Habibie adalah teknologi tidak dapat diperoleh melalui teksbook, melainkan dengan memanfaatkannya, baru kemudian menguasai dan mengembangkannya. Artinya tanpa ada industri maka teknologi sulit dikuasai dan dikembangkan. Terlepas dari implementasinya yang masih terbatas di BUMNIS, Habibie memiliki apa yang disebut Strategi Transformasi Industri (STI), dirumuskan sebagai “berawal dari akhir dan berakhir dari awal” Intinya adalah proses bertahap dari kemampuan produksi, integrasi teknologi, pengembangan teknologi baru, dan riset dasar. STI bukan hal baru dan khas Habibie. Studi-studi menyimpulkan bahwa technology transfer (TT) bukanlah semata persoalan mengimpor embodied-technology melainkan persoalan bagaimana menguasai dan mengembangkannya setelah diimpor. Di sini muncul persoalan daya serap teknologi penerima (technological absorptive capacity), artinya penguasaan teknologi baru selalu mensyaratkan dalam kadar tertentu kemampuan teknologi sebelumnya (technological capabilities, TCs). Substansi pandangan ini adalah pertama, proses TT tidak statis tapi dinamis, terencana, dan proaktif. Kedua, TCs dibangun secara gradual dari memanfaatkan lalu perbaikan kecil (minor and incremental change), sampai perubahan besar (radical change and technological breakthrought). STI adalah satu formula dari proses gradual tersebut. Jadi tidak benar bila strategi Habibie dikatakan leap-frogging. Yang Habibie inginkan adalah akselerasi melewati tiap tahapan. Sayangnya, STI tidak secara eksplisit mengungkap kemampuan management

dan marketing, padahal itu penting dalam inovasi Schumpeterian. Menurut studi McKendrick (1992) mengenai IPTN, meskipun kemampuan teknologinya meningkat secara mengagumkan namun tidak dibarengi kemampuan managerial dan marketing. Mantan Presiden Baharudin Jusuf Habibie memberikan 3 resep agar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. Agar produk Iptek bisa membidik pasar domestik dan internasional. "3 Pola strategi yang berorientasi pada pasar domestik dan internasional dan harus dilaksanakan secara simultan," ujar BJ Habibie. Hal itu disampaikan dia saat silaturahmi dengan Presiden SBY dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (20/1/2010). Ketiga strategi itu adalah pendidikan yang kuat, pelaksanaan riset dan teknologi serta pengadaan lapangan kerja. "Pelaksanaan riset dan teknologi dan pengadaan lapangan kerja harus mendapatkan perhatian yang lebih serius dan rinci," imbuh Presiden RI ke-3 itu. Selain itu dana untuk riset juga harus ditingkatkan. "Biaya riset dan teknologi perlu sekali ditingkatkan. Perusahaan yang melakukan riset perlu diberi insentif kebijakan," jelasnya. Tak lupa Habibie mengingatkan agar 'mengamankan' pasar domestik di tengah persaingan dengan negara lain agar ketiga strategi itu bisa berhasil. "Pasar domestik satusatunya penggerak utama pendidikan, penggerak riset dan teknologi dan pengadaan lapangan kerja. Karena itu wajar jika pasar domestic diamankan," tegas dia. Universitas Indonesia menganugerahi gelar Doktor Honoris Causa kepada Bacharuddin Jusuf Habibie. Presiden Republik Indonesia ketiga ini mendapat gelar doktor kehormatan dalam bidang filsafat teknologi. Upacara penganugerahan yang dipimpin Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri tersebut berlangsung di Balairung UI, Sabtu (30/1) sekitar pukul 09:00 WIB. Pada acara penganugerahan tersebut, Habibie membacakan pidato berjudul "Filsafat dan Teknologi". Pidato tersebut memaparkan bahwa berfilsafat tanpa memperhatikan dan memperhitungkan dampak dan kendala teknologi tidak mungkin lagi dapat menghasilkan karya pemikiran yang sempurna. Sekurang-kurangnya teknologi dan filsafat harus bersinergi agar tercapai kualitas keuanggulan. Habibie juga menginginkan agar industrialisasi melalui alih ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dilepaskan dari prinsip-prinsip filosofis pragmatis. Setidaknya ada tiga prinsip filosofis yang berkenaan dengan teknologi. Pertama, teknologi tidak bebas nilai. Kedua, kebertautan antara teknologi dan kebudayaan dan ketiga, kesiapan infrastruktur etis bagi teknologi. Habibie menuturkan, ada dua hal yang membuatnya sangat bahagia menerima gelar honoris causa dari UI. Pertama, karena dari universitas inilah, ia mendapat kartu mahasiswa pertamanya pada 56 tahun silam. "Saya mendapat kartu mahasiswa pertama saya dari Fakulteit Techniek Universiteit Indonesia di Bandung," ujarnya dalam pidatonya hari ini. Alasan kedua, Habibie sangat bangga menerima gelar doktor dalam filsafat kepada orang yang lebih dikenal umum sebagai teknolog.

Sektor Industri Ciri lain yang dikemukakan Ergas, negara-negara berorientasi misi tertentu umumnya mengeluarkan biaya R&D yang besar pada sektor-sektor yang berkaitan dengan pertahanan (defense related aspects). Seolah menguatkan dugaan kebijakan Habibie mission-oriented, pilihannya pada sektor Industri Strategis dalam pengertiannya saat ini juga didominasi sektor-sektor yang terkait dengan pertahanan negara. Dari 10 BUMNIS sebagian besar produknya sangat gampang diasosiasikan dengan kepentingan hankam. Meskipun ada keterkaitan dengan kepentingan rakyat, persoalannya masih banyak sektor lain yang lebih menyentuh hajat hidup orang banyak, seperti industri berbasis pertanian, otomotif, dan sebagainya. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, pilihan sektor haruslah didasarkan pada kalkulasi opportunity cost yang matang. Tanpa kalkulasi itu akan membebani keuangan negara. Untuk kasus IPTN dapat diduga itu subjektif Habibie. Tapi untuk yang lain, patut diduga refleksi kuatnya militer saat itu. Bagi militer, pengertian strategis (berdampak luas dan berjangka panjang) tiada lain kecuali pertahanan negara. Maka pilihan BUMNIS seperti itu boleh jadi hasil kompromi dua kepentingan politik yaitu Habibie dan regim militer saat itu. Melalui pilihan sektor semacam itu bukan akselerasi yang terjadi malah “kegagalan” yang dituai. Dengan menggunakan kerangka Porter Diamond, ada empat komponen domestik agar industri suatu negara mencapai competitive advantage (1990). Pertama, kondisi faktor-faktor produksi, meliputi SDM, input material, inrastruktur, dan sebagainya. Di sini yang dibutuhkan adalah advanced and specialized factors. Kedua, kondisi permintaan/konsumen dalam negeri. Di sini yang dibutuhkan selain jumlah yang besar tapi juga karakternya yaitu demanding buyers (pembeli yang faham dan cerewet akan mutu produk). Ketiga, kondisi persaingan dalam negeri (domestic rivalry). Di sini yang dibutuhkan adalah iklim persaingan yang sehat, bukan monopoli, oligopoli, atau kartel. Keempat, kondisi industri pemasok dan klusternya (supplier and related industries). Semakin baik industri pemasok dan klusternya maka semakin baik industri induknya. Berbeda dengan kritik yang sering dilontarkan banyak pihak, kesalahan pemilihan sektor bukanlah karena jenis teknologinya yang high-tech atau low-tech. Namun terletak pada opportunity cost dan dukungan komponen daya-saing seperti di atas. Sektor-sektor yang dipilih Habibie, misalnya IPTN, selain secara opportunity cost masih terus dipertanyakan, juga sulit mendapat dukungan kondisi dalam negeri dengan baik. Padahal seperti disarankan Porter, meskipun mustahil sejak awal terpenuhi keempatnya, namun sebuah negara harus memulainya minimal dari salah satu kondisi dalam negerinya yang paling kondusif. Strategi lompatan katak dalam pengembangan iptek dan industri bukan barang asing bagi bangsa kita. BJ. Habibie, mantan Presiden RI, memformulasikan strategi transformasi teknologi dalam empat tahap: (1) Lisensi, (2) Integrasi teknologi, (3) Pengembangan teknologi, dan (4) Penelitian dasar. Istilah lompatan katak secara khusus digunakan untuk menunjukkan betapa cepatnya dua negara, yakni Jerman dan Jepang, dalam mengejar ketertinggalan teknologi dan industri, hingga saat ini berhasil mendudukkan dirinya dalam deretan negara maju (Murphy, 2001). Di bidang teknologi energi, lompatan katak

teknologi umumnya dipahami sebagai sebuah strategi negara berkembang untuk menguasai, menggunakan, dan mengembangkan teknologi hemat energi dan ramah lingkungan tanpa harus melalui tahapan-tahapan yang dilewati negara maju. Konsumsi energi terbesar umumnya terjadi pada sektor transportasi, industri, dan rumah tangga. Leapfrogging teknologi energi perlu memperhatikan aplikasi pada ke-3 sektor tersebut. Pada sektor transportasi, cutting edge teknologi energi saat ini diantaranya adalah teknologi kendaraan hibrida (hybrid vehicle - HV), fuel cell vehicle - FCV, bahan bakar hayati (biofuel), dan sistem transportasi massal untuk penghematan energi. Sedangkan sektor industri dan rumah tangga pada umumnya bergantung pada penyediaan energi oleh pemerintah, baik dalam bentuk listrik ataupun BBM. Penggunaan energi solar (photovoltaic ataupun termal), geothermal, biogas, dan angin adalah beberapa pilihan sumber energi ramah lingkungan yang bisa digunakan untuk menghasilkan listrik guna mendampingi penggunaan BBM. Biofuel, seperti minyak jarak, juga memiliki potensi besar untuk secara gradual mensubstitusi penggunaan solar di industri. Beberapa contoh cutting edge teknologi energi Kendaraan hibrida yang menggunakan kombinasi mesin bensin/solar/gas (internal combustion engine) dan motor elektrik saat ini semakin menjadi pilihan di berbagai negara maju. Penghematan energi pada kendaraan ini umumnya disebabkan oleh tiga hal berikut: (1) Regenerative braking yakni konversi energi pengereman menjadi listrik yang disimpan di dalam baterei,(2)Tambahan daya dari motor elektrik pada saat kendaraan berakselerasi dan melakukan manuver-sehingga ukuran mesin bisa ditekan, dan (3) Automatic start/shutoff yakni mesin akan mati secara otomatis pada kondisi idle (misalnya lampu merah) dan akan hidup secara otomatis pada saat diperlukan. Selain pada saat pengereman, secara umum motor elektrik mendapatkan pasokan daya dari mesin pada saat kendaraan beroperasi. FCV banyak dipandang sebagai kendaraan masa depan; terutama bila sumber energi untuk keperluan produksi hidrogennya diperoleh dari energi terbarukan (seperti energi surya, angin, biomassa, dan sebagainya). Hidrogen bisa digunakan secara langsung di dalam mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) ataupun sebagai pembawa energi (energy carrier) untuk menggerakkan motor elektrik. FCV adalah kendaraan yang berbasiskan motor elektrik yang menggunakan hidrogen sebagai pembawa energi. Dengan menggunakan teknologi seperti PEM (Proton Exchange Membrane), hidrogen hanya akan menghasilkan putaran motor elektrik dan air (H2O). Jacobson (2005), memperkirakan akan terjadi penurunan angka kematian lebih dari 6,000 orang per-tahun di USA bila seluruh kendaraan di negara tersebut beralih ke FCV. Namun pada saat ini FCV belum digunakan dalam skala luas dikarenakan masih mahalnya biaya produksi hidrogen, terutama dari sumber energi terbarukan. Berbagai riset terkait dengan hal ini masih terus berlangsung. Penggunaan biofuel untuk mesin pembakaran dalam, baik mesin bensin ataupun mesin solar, adalah teknologi energi ramah lingkungan yang bisa segera diimplementasikan di Indonesia. Pada tahun 2005, jurnal Naturemelaporkan bahwa tingkat penggunaan bahan bakar ethanol di Brazil telah mencapai angka 40% secara nasional. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan bioethanol di Brazil berhasil menekan polusi gas CO2sebesar 12-18% per tahun (Rodriguez dkk, 1997; Gallagher, 2006).

Brazil memiliki kondisi alam yang sesuai untuk produksi bioethanol dari tebu, yakni ketersediaan lahan dan air yang cukup. Penggunaan ethanol yang berasal dari tanaman tidak menciptakan gas CO2 netto ke lingkungan, dikarenakan gas yang sama akan digunakan dalam budidaya bahan baku bioethanol. Salah satu strategi yang baik untuk beralih ke bahan bakar biofuel adalah dengan penggunaan FFV (Flexible Fuel Vehicle) kendaraan dengan keleluasaan penggunaan bahan bakar fossil fuel (bensin atau solar) dan biofuel. Dukungan dan kesiapan pemerintah dan masyarakat Pada saat menyoroti rencana implementasi leapfrogging teknologi energi untuk daerah pedesaan di Afrika Timur, Murphy (2001) menekankan bahwa upaya penggunaan sebuah teknologi energi mutakhir terbarukan (renewable) tidaklah bisa berdiri sendiri, namun harus memperhatikan aspek non teknis, seperti kondisi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat setempat. Lompatan teknologi, dalam bidang apa pun, membutuhkan tingkat pengetahuan masyarakat dalam batas minimal tertentu. Tanpa adanya kemampuan masyarakat untuk menerima teknologi baru tersebut, maka apresiasi yang berkorelasi dengan adaptasi dan absorpsi terhadap teknologi baru ini akan sulit diharapkan muncul di kalangan masyarakat dan penyelenggara negara. Oleh karena itu, leapfrogging teknologi energi harus dibarengi dengan lompatan katak di bidang pendidikan dan kebudayaan. Gallagher (2006) menyimpulkan terdapat 3 penyebab utama tidak maksimalnya leapfrogging teknologi energi yang dilakukan di China, yakni (1) Kebijakan pemerintah yang tidak strategis dan konsisten, (2) Kurangnya kemampuan teknologi domestik, dan (3) Kurangnya kemauan kuat dari perusahaan multinasional dalam transfer teknologi ke China. Faktor kemauan kuat pemerintah juga nampak jelas pada keberhasilan Brazil menggunakan bioethanol sebagai pengganti bensin. Mulyanto (2002) juga menyebut faktor kebijakan pemerintah Korea sebagai salah satu pendukung utama keberhasilan transformasi teknologi di Korea. Oleh karena itu, dukungan penyelenggara negara (eksekutif dan legislatif), terutama dalam hal kebijakan (policy) strategis, sangat diperlukan dalam keberhasilan leapfrogging teknologi energi di tanah air. Bangsa kita pernah mencoba melakukan lompatan katak dalam pengembangan iptek dan industri di masa lalu-dengan segala keberhasilan dan kekurangannya; oleh karena itu, semoga kali ini sudah ada bekal wisdom bagi leapfroggingteknologi energi di tanah air. Agenda ke depan Dengan melihat kondisi keuangan negara saat ini, sangatlah sulit bagi kita terus mengembangkan pola kepeloporan negara dalam membangun kemampuan Iptek nasional. Apa yang dikembangkan Habibie nampaknya sudah kehilangan momentum. Kini saatnya kita merumuskan visi yang berorientasi pada penguatan kemampuan teknologi di seluruh sektor industri. Artinya, peran pemerintah tidak perlu direalisasikan dalam keterlibatan langsung sebagai pemain, tapi fasilitator bagi seluruh industri. Terlepas dari bias BUMNIS, satu hal yang sangat positif dari Habibie adalah concernnya pada penyediaan sumberdaya Iptek (supply side), baik SDM maupun infrastruktur. Yang justru hal ini kurang mendapat perhatian dari para ekonom kita, dimana mereka lebih memperhatikan pada proses-proses yang terjadi di industri (demand side) dan abai pada

aspek pemenuhannya. Kembali, terlepas dari kegagalan transformai industrinya ・kalau pantas disebut demikian ・usaha-usaha Habibie telah melahirkan sejumlah ladang sumberdaya (resources pool), baik yang di BUMNIS maupun di institusi Iptek pemerintah lainnya, seperti BPPT, LIPI, dan sebagainya. Dari 240 ribu SDM ilmu alam dan teknik (D3, S1-S3) 188 ribu berada di institusi pemerintah, baik departemen maupun non departemen, perguruan tinggi 18 ribu, dan industri 34 ribu (STAID, 1993). Ladang sumber daya ini dapat menjadi jawaban guna menyelesaikan persoalan-persoalan teknologi di industri secara umum, baik industri primer (pertanian dan pertambangan), sekunder (manufaktur), maupun tersier (jasa) Di masa Soeharto, antara supply side dan demand side sulit bertemu dikarenakan berbagai faktor, terutama politis. Di era reformasi ini kita harus mampu mempertemukan keduanya untuk membuat sinergi bagi kepentingan bersama. Langkah awal adalah merubah kebijakan menjadi single track yaitu diffusion oriented. Dengan perubahan ini diharapkan alokasi sumberdaya (SDM, dana, dan infrastuktur) menjadi efisien. Juga agar upaya-upaya teknologis (technological efforts) menjadi lebih terfokus dan efektif yaitu peningkatkan TCs industri-industri nasional. Sebagai konsekwensi perubahan kebijakan di atas banyak agenda yang harus kita elaborasi guna mensukseskannya. Agenda-agenda tersebut diantaranya: 1. Bagaimana mekanisme mempertemukan ladang sumberdaya ・yang umumnya terkonsentrasi di lembaga-lembaga pemerintah ・dengan kebutuhan industri secara efektif dan efisien; 2. Bagaimana melakukan advokasi dan supervisi terhadap industri agar conern dan proaktif dengan proses transformasi industri (STI); 3. Sektor industri yang akan dibangun haruslah broad-base, namun demikian tetap perlu dirumuskan sektor-sektor yang secara relatif memiliki komponen daya saing lebih baik; 4. Guna menumbuhkan seluruh komponen daya saing domestik, perlu ada koherensi kebijakan dari seluruh unsur kementrian (eksekutif) ・juga legislatif ・sehingga mendukung proses akselaerasi industri. Untuk agenda-agenda tersebut secara singkat dapat penulis uraikan sebagai berikut. Untuk agenda nomor 1, dapat ditempuh dua cara. Pertama, sumberdaya dipertahankan keberadaannya pada supply side, namun diciptakan mekanisme kemitraan yang lebih baik dengan industri swasta. Ini membutuhkan reformasi pengelolaan mulai dari seleksi program, pendanaan, dan evaluasi prestasi yang ketat. Kedua, melalui pembentukan venture bussines sebagaimana yang diterapkan Taiwan (Ho and San, 1993). Sebuah inovasi hasil para peneliti pemerintah yang prospektif dan marketable dikembangkan menjadi venture business dimana sang innovator diberi posisi yang laik・dalam perusahaan hasil spin-off tersebut. Perusahaan baru ini dimodali 60-70% oleh swasta sehingga berprilaku profesional seperti perusahaan swasta umumnya. Dengan cara ini selain memberi insentif bagi para peneliti pemerintah untuk berprestasi juga mempercepat munculnya entrepreneur baru. Tumbuhnya banyak wiraswastawan baru akan memperkokoh struktur industri nasional, terlebih kelahirannya ditopang oleh kemampuan teknologi yang bagus. Inilah yang membedakan kualitas IKM tradisional dengan IKM hasil spin-off (sebagian besar IKM kita masuk kategori pertama sedangkan IKM Taiwan masuk kategori kedua). Kedua langkah tersebut membutuhkan adanya perubahan paradigma kepemilikan. Benar bahwa sumberdaya tersebut, baik SDM maupun infrastruktur, dihasilkan oleh usahausaha pemerintah namun pemanfaatannya tidak harus untuk kepentingan intramural

pemerintah. Selama pemanfaatannya untuk kepentingan nasional tidak ada salahnya sumberdaya itu pun dimanfaatkan seluas-luasnya oleh industri swasta. Dan bukankah justru itu merupakan tugas utama pemerintah sebagai fasilitator? Untuk agenda nomor 2, dibutuhkan pertama, adanya skema-skema insentif yang welldesigned, artinya sesuai dengan kebutuhan riil industri, agar insentif tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya. Kurang diminatinya program RUK (Riset Unggulan Kemitraan) oleh industri di luar BUMNIS dan pengurangan pajak bagi industri yang melaksanakan R&D boleh jadi disebabkan karena program-program itu tidak tepat sasaran. Benarkah industri kita saat ini sudah merasakan kebutuhan akan R&D dalam pengertian yang dimaksud dalam skema-skema tersebut? Sebab sebagaimana tergambar pada STI kebutuhan akan R&D itu berada pada tahap akhir transformasi. Boleh jadi yang dibutuhkan mereka saat ini baru gugus kendali mutu pada tingkat shop-floor atau unit disain bukan formal R&D. Kedua, juga harus ada pressure on performance, dimana selain kemudahan (reward) juga harus ada sangsi (punishment) sehingga industri benar-benar concern dengan proses transformasi. Untuk agenda nomor 3, perlu ada semacam panitia ad hoc dari berbagai disiplin ilmu dan lapangan usaha, baik pemerintah maupun swasta, guna merumuskan secara komprehensif sektor-sektor yang dimasa mendatang dapat menjadi unggulan nasional. Kerangka analisanya dapat menggunakan Porter Diamond, Delphi Method, Scenario Analysis, atau kerangka lain, yang penting harus objektif dan terbebas dari kepentingan politik partisan. Untuk agenda nomor 4, dapat dicapai dengan menjadikan program pengembangan Iptek dan industri sebagai konsensus nasional yang mengikat seluruh komponen pemerintah dan masyarakat ・termasuk parpol ・sehingga seluruh derap langkahnya koheren dan konvergen. Tentu masih banyak agenda lain yang belum terkemukakan di sini. Semua agenda tersebut membutuhkan pembahasan yang mendalam, yang belum dapat dielaborasi secara memadai dalam tulisan ini. Kepustakaan Alif Lukmanul Hakim, Merenungkan Kembali Pancasila Indonesia, Bangsa Tanpa Ideologi , Newsletter KOMMPAK Edisi I 2007. http://aliflukmanulhakim.blogspot.com Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at 11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/ Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at 11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/ Adnan Khan(2008), Memahami Keseimbangan Kekuatan Adidaya , By hati-itb September 26, 2008 , http://adnan-globalisues.blogspot.com/ Al-Ahwani, Ahmad Fuad 1995: Filsafat Islam, (cetakan 7), Jakarta, Pustaka Firdaus (terjemahan Pustaka Firdaus). Ary Ginanjar Agustian, 2003: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (edisi XIII), Jakarta, Penerbit Arga Wijaya Persada. _________2003: ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al Ihsan, (Jilid II), Jakarta, Penerbit ArgaWijaya Persada. A. Sonny Keraf, Pragmatisme menurut William James, Kanisius, Yogyakarta, 1987 R.C. Salomon dan K.M. Higgins, Sejarah Filsafat, Bentang Budaya, yogyakarta, 2003

Avey, Albert E. 1961: Handbook in the History of Philosophy, New York, Barnas & Noble, Inc. Awaludin Marwan, Menggali Pancasila dari Dalam Kalbu Kita, Senin, Juni 01, 2009 Bernstein, The Encyclopedia of Philosophy Bagus Takwin. 2003. Filsafat Timur; Sebuah Pengantar ke Pemikiran Timur. Jalasutra. Yogjakarta. Hal. 28 Budiman, Hikmat 2002, Lubang Hitam Kebudayaan , Kanisius, Yogyakarta. Chie Nakane. 1986. Criteria of Group Formation. Di jurnal berjudul. Japanese Culture and Behavior. Editor Takie Sugiyama Lembra& William P Lebra. University of Hawaii. Hawai. Center for Civic Education (CCE) 1994: Civitas National Standards For Civics and Government, Calabasas, California, U.S Departement of Education. Dawson, Raymond, 1981, Confucius , Oxford University Press, Oxford Toronto, Melbourne D. Budiarto, Metode Instrumentalisme – Eksperimentalisme John Dewey, dalam Skripsi, Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta, 1982 Edward Wilson. 1998. Consilience : The Unity of Knowledge. NY Alfred. A Knof. Fakih, Mansour, Dr, Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi . Pustaka Pelajar. Yogyakarta : 1997 Fritjof Capra. 1982. The Turning of Point; Science, Society and The Rising Culture. HaperCollins Publiser. London. Hadiwijono, H, Dr, Sari Sejarah Filsafat 2, Kanisius, Yogyakarta, 1980 Kartohadiprodjo, Soediman, 1983: Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, cetakan ke-4, Bandung, Penerbit Alumni. Kelsen, Hans 1973: General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell Lasiyo, 1982/1983, Confucius , Penerbit Proyek PPPT, UGM Yogyakarta --------, 1998, Sumbangan Filsafat Cina Bagi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia , Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta --------, 1998, Sumbangan Konfusianisme Dalam Menghadapi Era Globalisasi , Pidato Dies Natalis Ke-31 Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta. McCoubrey & Nigel D White 1996: Textbook on Jurisprudence (second edition), Glasgow, Bell & Bain Ltd. Mohammad Noor Syam 2007: Penjabaran Fislafat Pancasila dalam Filsafat Hukum (sebagai Landasan Pembinaan Sistem Hukum Nasional), disertasi edisi III, Malang, Laboratorium Pancasila. ---------2000: Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan Sosio-Kultural, Filosofis dan Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila. Murphy, Jeffrie G & Jules L. Coleman 1990: Philosophy of Law An Introduction to Jurisprudence, San Francisco, Westview Press. mcklar(2008), Aliran-aliran Pendidikan, http://one.indoskripsi.com/node/ Posted July 11th, 2008 Nawiasky, Hans 1948: Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe, Zurich/Koln Verlagsanstalt Benziger & Co. AC. Notonagoro, 1984: Pancasila Dasar Filsafat Negara, Jakarta, PT Bina Aksara, cet ke-6.

Radhakrishnan, Sarpavalli, et. al 1953: History of Philosophy Eastern and Western, London, George Allen and Unwind Ltd. Roland Roberton. 1992. Globalization Social Theory and Global Culture. Sage Publications. London. P. 85-87 Sudionokps(2008)Landasan-landasan Pendidikan, http://sudionokps.wordpress.com Titus, Smith, Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta : 1984 UNO 1988: Human Rights, Universal Declaration of Human Rights, New York, UNO UUD 1945, UUD 1945 Amandemen, Tap MPRS – MPR RI dan UU yang berlaku. (1966; 2001, 2003) Widiyastini, 2004, Filsafat Manusia Menurut Confucius dan Al Ghazali, Penerbit Paradigma, Yogyakarta Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New York, Harvard College, University Press. Ya'qub, Hamzah, 1978, Etika Islam , CV. Publicita, Jakarta Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New York, Harvard College, University Press. Andersen, R. dan Cusher, K. (1994). Multicultural and intercultural studies, dalam Teaching Studies of Society and Environment (ed. Marsh,C.). Sydney: Prentice-Hall Banks, J. (1993). Multicultural education: historical development, dimensions, and practice. Review of Research in Education, 19: 3-49. Boyd, J. (1989). Equality Issues in Primary Schools. London: Paul Chapman Publishing, Ltd. Burnett, G. (1994). Varieties of multicultural education: an introduction. Eric Clearinghouse on Urban Education, Digest, 98. Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. Boston MA: Allyn Bacon Campbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research. Chicago Rand McNelly Carter, R.T. dan Goodwin, A.L. (1994). Racial identity and education. Review of Research in Education, 20:291-336. Cooper, H. dan Dorr, N. (1995). Race comparisons on need for achievement: a meta analytic alternative to Graham's Narrative Review. Review of Educational Research, 65, 4:483-508. Darling-Hammond, L. (1996). The right to learn and the advancement of teaching: research, policy, and practice for democratic education. Educational Researcher, 25, 6:5-Dewantara, Deese, J (1978) The Scientific Basis of the Art of Teaching. New York : Colombia University-Teachers College Press Eggleston, J.T. (1977). The Sociology of the School Curriculum, London: Routledge & Kegan Paul.

Garcia, E.E. (1993). Language, culture, and education. Review of Research in Education, 19:51 -98. Gordon, Thomas (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Wydenpub Hasan, S.H. (1996). Local Content Curriculum for SMP. Paper presented at UNESCO Seminar on Decentralization. Unpublished. Hasan, S.H. (1996). Multicultural Issues and Human Resources Development. Paper presented at International Conference on Issues in Education of Pluralistic Societies and Responses to the Global Challenges Towards the Year 2020. Unpublished. Henderson, SVP (1954) Introduction to Philosophy of Education.Chicago : Univ. of Chicago Press Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional. Makalah pada Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Jakarta: Maret,1997 Highet, G (l954), Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II), PT.Pembangunan Ki Hajar (1936). Dasar-dasar pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Kemeny,JG, (l959), A Philosopher Looks at Science, New Hersey, NJ: Yale Univ.Press Ki Hajar Dewantara, (l950), Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa, DIY:Majelis Luhur Ki Suratman, (l982), Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila, Jakarta:Depdikbud Ki Hajar, Dewantara (1945). Pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Ki Hajar, Dewantara (1946). Dasar-dasar pembaharuan pengajaran, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Kuhn, Ts, (l969), The Structure of Scientific Revolution, Chicago:Chicago Univ. Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars Liem Tjong Tiat, (l968), Fisafat Pendidikan dan Pedagogik, Bandung, Jurusan FSP FIP IKIP Bandung Oliver, J.P. dan Howley, C. (1992). Charting new maps: multicultural education in rural schools. ERIC Clearinghouse on Rural Education and Small School. ERIC Digest. ED 348196. Print, M. (1993). Curriculum Development and Design. St. Leonard: Allen & Unwin Pty, Ltd. Raka JoniT.(l977),PermbaharauanProfesionalTenagaKependidikan:Permasalahan dan Kemungkinan Pendekatan, Jakarta, Depdikbud

Rosyid, Rum (1995) Kesatuan, Kesetaraan, Kecintaan dan Ketergantungan : Prinsipprinsip Pendidikan Islami, Suara Almamater No 4/5 XII Bulan Juli 7 Agustus, Publikasi Ilmiah, Universitas Tajungpura, Pontianak Rum Rosyid(2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian I : Beberapa Tantangan Menuju Masyarakat Informasi, Penerbit KAMI , Pontianak. Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian II : Perselingkuhan Dunia Pendidikan Dan Kapitalisme, Penerbit KAMI, Pontianak. Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian III : Epistemologi Pragmatisme Dalam Pendidikan Kita, Penerbit KAMI, Pontianak. Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian IV : Peradaban Indonesia Evolusi Yang Tak Terarah, Penerbit KAMI , Pontianak. Twenticth-century thinkers: Studies in the work of Seventeen Modern philosopher, edited by with an introduction byJohn K ryan, alba House, State Island, N.Y, 1964 http://stishidayatullah.ac.id/index2.php?option=com_content http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan.htm http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html http://stishidayatullah.ac.id/index2.php http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan, .htm http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Modern, http://panjiaromdaniuinpai2e.blogspot.com Koran Tempo, 12 November 2005 , Revolusi Sebatang Jerami. http://www.8tanda.com/4pilar.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005 http://filsafatkita.f2g.net/sej2.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005 http://spc.upm.edu.my/webkursus/FAL2006/notakuliah/nota.cgi?kuliah7.htm l di down load pada tanggal 16 November 2005 http://indonesia.siutao.com/tetesan/gender_dalam_siu_tao.php di down load pada tanggal 16 November 2005 http://storypalace.ourfamily.com/i98906.html di down load pada tanggal 16 November 2005 http://www.ditext.com/runes/y.html di down load pada tanggal 2 Desember 2005

Dari Buku Pragmatisme Pendidikan Indonesia
Beberapa Tantangan Menuju Masyarakat Informasi Oleh : Rum Rosyid Dosen FKIP Universitas Tanjungpura Direktur Global Equivalency for Education

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->