P. 1
LAPORAN AMERIKA SERIKAT TENTANG PELAKSANAAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 1997

LAPORAN AMERIKA SERIKAT TENTANG PELAKSANAAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 1997

|Views: 46|Likes:
Published by Arif Budiman

More info:

Published by: Arif Budiman on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/21/2012

pdf

text

original

LAPORAN AMERIKA SERIKAT TENTANG PELAKSANAAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 1997

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Dikeluarkan oleh Biro Demokrasi, Hak Asasi, dan Perburuhan, 30 Januari 1998

INDONESIA Meskipun pada permukaannya patuh pada bentuk-bentuk demokrasi, sistem politik Indonesia tetap sangat otoriter. Pemerintah didominasi oleh suatu elit terdiri dari Presiden Soeharto (sekarang dalam masa jabatan lima tahun keenam), kerabat dekatnya, dan militer. Pemerintah mewajibkan kepatuhan terhadap ideologi negara Pancasila yang menekankan pada musyawarah dan mufakat, tapi Pancasila juga dipakai untuk membatasi pembangkang, memaksakan kesatuan sosial dan politik, serta merintangi perkembangan unsur oposisi. Badan peradilan dengan efektif didudukkan di bawah cabang eksekutif dan golongan militer, dan korup. Misi utama ABRI yang beranggotakan 450.000 orang, termasuk 175.000 polisi, adalah menjaga keamanan dan kestabilan dalam negeri. Meskipun jumlah perwira ABRI maupun purnawirawan yang menduduki posisi-posisi kunci di pemerintahan sudah berkurang, golongan militer mempertahankan kekuatan non-militernya di bawah konsep dwifungsi ABRI yang memberinya peranan politik dan sosial dalam “membangun bangsa”. Militer dan polisi terus melakukan berbagai pelanggaran hak asasi. Krisis moneter yang menyerang kawasan itu di pertengahan tahun memperlambat pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat dan cepat di tahun-tahun sebelumnya. Manfaat dari pembangunan ekonomi tersebar luas dan tingkat hidup meningkat cukup tinggi, tetapi sejumlah besar penduduk masih tetap miskin. Korupsi yang parah tetap menjadi masalah. Berbagai kerusuhan sporadis menuntut pemerintah agar bertindak lebih efektif dalam menangani ketidakseimbangan ekonomi dan sosial. Di kawasan pedesaan, ketidakpuasan sering terpusat pada keluhan para pemilik tanah sempit -- terutama mereka yang tergusur dari tanah mereka oleh kepentingan ekonomi dan militer yang kuat. Di beberapa daerah, eksploitasi sumber alam menyebabkan kemerosotan lingkungan dengan akibat sosial yang merugikan. Pemerintah terus melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Tekanan yang meningkat bagi perubahan oleh para aktivis dan lawan politik mendapat reaksi keras dari pemerintah sebelum pemilihan umum bulan Mei. Pemerintah menunjukkan bahwa mereka tidak akan mentolerir tantangan terhadap unsur dasar sistem politik dengan menahan dan mengadili beberapa pengritiknya. Pemerintah menjaga ketat kekangan mereka pada proses politik, dan pada pemilihan anggota DPR bulan Mei, sebagaimana di lima pemilu sebelumnya sejak 1971, mengingkari hak warganegara untuk mengubah pemerintah secara demokratis. Struktur sistem politik tetap menjamin kemenangan bagi partai yang berkuasa, GOLKAR, yang berhasil memperoleh kemenangan terbesar selama ini. Pemerintah tidak mengizinkan pemimpin 1

PDI yang tergusur, Megawati Sukarnoputri, dan pendukungnya untuk ikut dalam pemilihan umum atau berkoalisi dengan PPP yang beraliran Islam. Pemilihan dan kampanye dicemari oleh tuduhan kecurangan nyata serta bentrok sporadis tapi cukup besar di antara partai-partai termasuk GOLKAR yang disponsori pemerintah. Petugas keamanan terus melakukan pembunuhan sewenang-wenang, termasuk terhadap penduduk sipil tak bersenjata, penghilangan orang, penyiksaan dan perlakuan buruk terhadap tahanan, dan penangkapan serta penahanan secara sewenang-wenang. Dalam praktek, perlindungan hukum terhadap penyiksaan tidak memadai. Kondisi penjara tetap buruk. Badan peradilan disusupi oleh korupsi dan tetap tunduk pada cabang eksekutif yang menggunakan pengadilan untuk menghukum pengritik dan lawan politik pemerintah. Kebanyakan pengadilan menolak untuk mendengarkan tuntutan hukum di seluruh Indonesia yang diajukan oleh Megawati Sukarnoputri dan para pendukungnya yang memprotes penggusuran Mega, meskipun beberapa di antara pengadilan tingkat pertama menerima kasus tersebut dan memenangkannya. Pasukan keamanan secara teratur melanggar hak pribadi warga negara. Pemerintah terus menerapkan pembatasan serius terhadap kebebasan berbicara dan kebebasan pers, meskipun pada akhir tahun pengritik pemerintah lebih berani berbicara. Pemerintah menjalankan kontrol tidak langsung atas pers dan menggunakan intimidasi untuk menindas komentar pedas dan mendesakkan pelaksanaan sensor sendiri. Kritik lunak terhadap pemerintah ditolerir, tapi kritik terhadap presiden, pejabat tinggi, dan kepentingan lokal yang kuat berisiko teror dan penahanan. Meskipun demikian, media cetak menyajikan liputan luas tentang isu-isu politik dan laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia. Empat belas aktivis muda yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) dijatuhi hukuman melakukan tindak subversi karena tulisan, pidato dan kegiatan organisasi mereka. Pemimpin serikat buruh independen Muchtar Pakpahan diancam tuduhan subversi terutama atas pandangan politiknya tapi juga termasuk kegiatan perburuhannya. Mantan anggota DPR Sri Bintang Pamungkas diajukan ke pengadilan bulan Desember di bawah Undang-undang Antisubversi atas pandangan politiknya dan tindakan partainya Partai Uni Demokrasi Indonesia yang tidak diakui pemerintah. Anggota DPR Aberson Marle Sihaloho divonis sembilan bulan penjara atas tuduhan menghina presiden dan militer dalam pidatonya di “mimbar bebas” pada bulan Juli 1996 di bekas markas PDI. Seorang pembantu penulis sebuah buku yang dilarang pemerintah diajukan ke pengadilan atas perannya dalam penerbitan buku itu. Pemerintah terus melakukan pembatasan terhadap kebebasan berserikat dan berkumpul. Pemerintah menghalangi atau membubarkan pertemuan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau serikat buruh, serta demonstrasi damai, kadang-kadang dengan kekerasan. Pemerintah mengadili seorang pendeta Katolik dan saudara laki-lakinya karena melindungi para aktivis politik yang pada 1996 diburu oleh polisi. Tapi ada juga sejumlah pertemuan, seminar dan sarasehan mengenai masalah-masalah peka yang diplubikasikan secara luas dan tidak dicekal, serta demonstrasi terbuka yang tidak dibubarkan. Pasukan keamanan pada umumnya tidak menggunakan kekerasan untuk menghentikan pawai di jalanjalan yang sebenarnya dilarang selama masa kampanye pemilihan umum serta tidak menggunakan senjata dalam menanggapi kerusuhan besar. Kadang-kadang petugas keamanan dikecam karena tidak bertindak cepat untuk melindungi warga negara dan harta benda dari perusakan besar-besaran yang terjadi. Kerusuhan muncul karena gabungan antara faktor ekonomi, golongan, ras, agama dan politik. Ini dimulai pada 1996 dan berlanjut ke 1997, mereda setelah pemilu di bulan Mei dan meletus kembali 2

di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan pada bulan September. Meskipun penggunaan senjata berkurang, petugas keamanan sering bereaksi secara kasar terhadap demonstrasi damai atau sengketa dengan warga negara. Pemerintah secara resmi memberi kebebasan beragama kepada lima agama yang diakui; agama yang tidak diakui menghadapi pembatasan. Pemerintah tidak sepenuhnya melakukan penyelidikan atau menyelesaikan banyak kasus perusakan rumah ibadah dan gereja selama kerusuhan, sekalipun pemerintah secara terbuka mengimbau toleransi beragama kepada masyarakat. Pemerintah terus membatasi kebebasan berpindah tempat. Diskriminasi terhadap wanita, penyandang cacat, dan golongan minoritas, serta kekerasan terhadap wanita tetap menjadi masalah endemis. Pemerintah tetap menentang alternatif bagi gerakan buruh yang disponsori pemerintah dan pembentukan sebuah gerakan serikat buruh bebas, tetapi mengizinkan pendekatan sangat terbuka mengenai undang-undang perburuhan baru. Para anggota organisasi buruh yang tidak diakui terus menyebutkan gangguan terhadap mereka, dan pihak berwenang membubarkan pada hari pertama kongres organisasi itu yang direncanakan berlangsung selama tiga pada bulan September. Pemerintah mendesak para majikan untuk membayarkan secara tepat waktu upah minimum dan tunjangan wajib yang baru, serta menerapkan suatu sistem audit baru bagi keselamatan dan kesehatan pekerja. Tapi pelaksanaan standar perburuhan tetap lemah. Pemerintah dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) menandatangani sebuah nota saling pengertian tentang pekerja anak-anak untuk memajukan perlindungan atas pekerja anak-anak dan untuk secara bertahap mengupayakan penghapusan pekerja anak-anak. Namun jutaan anak-anak tetap bekerja, sering dalam kondisi yang menyedihkan, dan dengan demikian tidak dapat bersekolah. Beberapa anak yang terpaksa bekerja dalam kondisi kerja yang buruk dilaporkan mengalami penyiksaan. Ada juga perkembangan yang berpotensi positif. Misalnya, Komite Independen Pemantau Pemilihan Umum (KIPP) melakukan kegiatan terbatas namun bermakna selama kampanye dan pemilihan anggota DPR. Meskipun pemerintah menolak mengakui KIPP dan membatasi kegiatannya, organisasi itu tetap mengumpulkan informasi mengenai pelanggaran pemilihan dan menyampaikannya kepada masyarakat. Komnas HAM, meskipun kekurangan sumber daya dan terkadang mendapat tekanan dari pemerintah, melakukan penyelidikan dan menerbitkan penemuannya yang independen, tapi tidak mempunyai kekuasaan untuk melaksanakannya. Pemerintah mengabaikan atau lambat menanggapi penemuan komisi ini. Meningkatnya pemantauan atas hak asasi manusia di Timor Timur merupakan perkembangan yang positif, dan pemerintah melakukan beberapa tindakan sebagai tanggapan atas kritik terhadap pelaksanaan hak asasi manusianya; misalnya, sebuah penataran mengenai hak asasi dan hukum internasional diadakan untuk para militer oleh Palang Merah Internasional (ICRC). Di Timor Timur, menyusul demonstrasi besar-besaran pada Desember 1996 sebagai dukungan terhadap penerima Hadiah Nobel Uskup Belo, di mana beberapa petugas keamanan menderita lukaluka dan seorang petugas polisi berpakaian preman tewas, gelombang kampanye kekerasan dan penangkapan pada awal 1997 oleh pihak keamanan mengakibatkan situasi tegang. Selama masa pemilu di bulan Mei dan sesudahnya, berbagai kekacauan ringan di Timor Timur meningkat lewat serangan-serangan gerilya yang menyebabkan jumlah terbesar orang yang tewas di pihak keamanan 3

maupun sipil. Serangan-serangan ini diikuti oleh penangkapan dan kematian seorang pemimpin gerilya ternama serta meluasnya penangkapan, disertai dengan laporan mengenai pembunuhan, hilangnya sejumlah orang, penyiksaan, serta penggunaan kekerasan secara berlebihan oleh pihak keamanan. Perkembangan ini memperburuk kebencian lama di kalangan penduduk asli. Pada bulan November paling tidak lima orang mahasiswa menderita luka ketika sejumlah besar pasukan keamanan memasuki Universitas Timor Timur dan menembakkan senjata. Seorang tahanan politik dilepas ketika ia berhak mendapatkan pembebasan bersyarat. Tidak ada kemajuan berarti mengenai pencarian orang yang hilang menyusul peristiwa Dili 1991 atau orang lain yang hilang di tahun-tahun terakhir. Jumlah tentara di sana masih tetap terlalu tinggi. Pemerintah memberikan akses terbatas ke daerah itu bagi wartawan asing tapi melarang perjalanan bagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) pejuang hak asasi kecuali Palang Merah Internasional ICRC. Komnas HAM Cabang Dili, yang dibuka pada 1996, masih belum efektif, tapi usaha yang meningkat oleh Gereja Katolik dan lain-lain, serta pemahaman yang lebih baik tentang norma kemanusiaan internasional oleh para perwira senior, meningkatkan kualitas pemantauan hak asasi manusia secara keseluruhan di Timor Timur. Tidak ada laporan mengenai hukuman bagi anggota pasukan keamanan yang melakukan penyiksaan di Timor Timur. Guna mencari suaka atau mendapatkan publikasi atas cita-cita mereka, sejumlah pemuda Timor Timur kembali mencoba memasuki sejumlah kedutaan asing di Jakarta. Di Iran Jaya kebencian di kalangan penduduk asli terhadap kebijakan pemerintah dan perusahaan swasta yang mereka anggap sangat menindas dan sewenang-wenang tetap menyala. Diskriminasi nyata terhadap, maupun yang dirasakan, penduduk asli Irian Jaya terus berlangsung. Bentrokan antara penduduk asli dan pasukan keamanan terjadi di Timika di wilayah Tembagapura, lokasi sebuah perusahaan penambangan asing, menyebabkan sejumlah kematian. Perusahaan itu lalu memulai rencana menyisihkan satu persen dari keuntungannya bagi kelompok-kelompok penduduk asli di kawasan itu sebagai bagian dari upaya pembangunan daerah, tapi menangguhkan pembayaran untuk proyek-proyek baru yang berdasarkan prakarsa ini pada bulan Augustus karena adanya peselisihan mengenai bagaimana dana itu harus dialokasikan. Penutupan sejumlah daerah tertentu di pegunungan di kawasan tengah oleh pemerintah berlanjut selama 1997 karena adanya operasi militer melawan kelompok separatis penduduk asli yang pada 1996 menyandera orang dan membunuh mereka. Ada laporan bahwa di kawasan-kawasan terlarang pihak militer telah memaksa orang-orang desa melakukan kerja paksa, tentang pembakaran gubuk-gubuk di satu desa, dan berita-berita mengenai pemukulan dan penyiksaan lain. Pihak militer membantah laporan itu dan menyalahkan kelompok separatis atas penyiksaan itu.

PENGHORMATAN TERHADAP HAK ASASI MANUSIA
Bagian 1 Penghormatan atas Integritas Seseorang, termasuk Bebas dari:

a. Pembunuhan Politis dan Sewenang-wenang Secara historis, pembunuhan sewenang-wenang yang berkaitan dengan politik paling sering terjadi di daerah-daerah di mana gerakan separatis aktif, seperti Timor Timur, Aceh dan Irian Jaya. Pasukan 4

keamanan terus mengambil tindakan keras terhadap gerakan separatis di ketiga wilayah itu. Ada juga sejumlah laporan kejadian tentang pembunuhan sewenang-wenang oleh pasukan keamanan dalam kasus-kasus yang diduga melibatkan kegiatan kejahatan biasa. Sumber-sumber yang dapat dipercaya memastikan adanya sejumlah kematian dalam tahanan di Timor Timur selama tahun itu. Bulan Juni, seseorang yang dikenal sebagai “Januario” ditahan di Baucau, disiksa berat, dan meninggal ketika dipindahkan ke Dili. Para pemantau hak asasi percaya bahwa sejumlah pembunuhan lain oleh pasukan keamanan atas penduduk sipil mungkin telah terjadi, terutama di daerah pelosok, tapi ini mustahil dapat dikonfirmasikan. Ada juga laporan yang layak dipercaya bahwa para tahanan di Timor Timur ditembak mati ketika mereka diduga mencoba melarikan diri. Ada juga laporan yang layak dipercaya mengenai kematian dalam tahanan atau berkaitan dengan penahanan di bagian lain negara itu. Di bulan Maret Teguh Sunarto (Atok) tewas di Jawa Timur tidak lama setelah pembebasannya dari tahanan polisi. Ia dan dua lainnya ditahan pada 17 Maret karena tidak memiliki KTP. Dua orang anggota polisi kabarnya melakukan penyiksaan atas ketiga orang itu termasuk memukul, menendang dan menyulut mereka dengan rokok. Selain itu, polisi kabarnya memerintahkan tahanan lain untuk memukul Sunarto dan dua tahanan lainnya. Kedua polisi itu akhirnya ditahan. Di bulan April, seorang petani di Lampung Tengah, Sukirno, mati dalam tahanan polisi. Menurut sebuah sumber yang layak dipercaya, 10 anggota polisi dan petugas kehutanan mengambilnya dari rumahnya pada malam tanggal 14 April, menuduhnya memiliki senjata buatan tangan dan berburu di hutan lindung. Dua hari kemudian keluarga Sukirno dikabari bahwa Sukirno bunuh diri di tahanan. Tetapi, dilaporkan bahwa banyak luka dan bengkak ditemukan di sekujur tubuh Sukirno. Pasukan keamanan menembak dan membunuh dua orang penduduk Irian di Timika pada 22 Agustus dalam suatu bentrokan di mana penduduk Irian dikabarkan melempari petugas keamanan dengan batu dan memanah mereka dan melukai dua orang. Pihak keamanan mengatakan bahwa mereka menggunakan peluru karet. Sejumlah sumber mengatakan bahwa pihak keamanan bertindak dalam usaha melindungi diri, sedangkan sumber lain mengatakan bahwa pihak keamananlah yang mulai menembak. Insiden itu disulut oleh kematian dua orang penduduk Irian yang tidak jelas sebabnya di wilayah konsesi pertambangan di dekat pos keamanan militer. Polisi sering menggunakan senjata api dalam menahan tersangka atau dalam menangani tertuduh pelaku kejahatan, padahal banyak di antara tersangka itu tidak bersenjata. Sebagai tanggapan atas protes bahwa metode yang dipakai terlalu keras dan sama dengan vonis tanpa pengadilan, polisi pada umumnya menjawab bahwa tersangka mencoba lari, melawan waktu hendak ditangkap atau mengancam polisi. Data lengkap mengenai jumlah kasus demikian belum diumumkan. Tetapi laporan pers, termasuk pernyataan pejabat kepolisian, menunjukkan suatu pola meningkatnya penggunaan senjata api oleh polisi atas tersangka kejahatan yang kebanyakan tidak bersenjata. Setidaknya tujuh tersangka kejahatan dilaporkan ditembak mati oleh polisi di Jakarta pada bulan Januari, dan angka itu kabarnya naik menjadi 32 pada bulan April. Dilaporkan bahwa 28 telah dibunuh dengan cara serupa di Surabaya 5

selama kurun waktu yang sama. Di bulan Mei seorang jurubicara kepolisian mengumumkan bahwa 63 penembakan oleh polisi terjadi antara Januari dan April; kira-kira 85 persennya berakibat fatal. Kecenderungan penembakan oleh polisi terhadap tersangka kejahatan berlanjut di bulan-bulan berikutnya, biasanya dengan laporan pers yang layak dipercaya tentang 90 kematian seperti itu di Jakarta selama tahun itu. Di masa lalu, pihak berwenang yang lebih tinggi jarang menghukum anggota militer atau polisi yang menggunakan kekerasan berlebihan. Ada tanda-tanda bahwa keadaan ini mulai membaik, sekalipun tindakan yang diambil oleh pihak berwenang biasanya tidak sebanding dengan bobot penyalahgunaan kekuasaan yang mereka lakukan. Sebuah pengadilan militer pada 23 Juli memvonis seorang bekas kepala satuan intel Bogor sembilan bulan penjara. Reserse tersebut terlibat dalam penyiksaan atas seorang tersangka, Tjetje Tadjudin, yang tewas dalam tahanan pada bulan Oktober 1996. Mahkamah mendengarkan kesaksian bahwa Tjetje mengalami siksaan sengatan listrik dan pemukulan selama diinterogasi polisi. Reserse tersebut bersama dengan dua staf pembantunya dituduh memperlakukan Tjetje dengan buruk sehingga menyebabkan kematiannya dan menyalahgunakan kekuasaan. Jaksa menuntut hukuman 17 bulan penjara untuk kejahatan ini, tapi polisi tersebut hanya divonis sembilan bulan sepuluh hari penjara karena ia hanya dianggap bersalah telah “menyalahgunakan kekuasaan”. Belum ada yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Tjetje dan polisi yang bersalah itu tidak dipecat dari kepolisian sambil menunggu hasil banding. Lima kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Irian Jaya yang menyebabkan kematian, yang dilaporkan oleh Komnas Ham pada bulan September 1995, mulai menghilang dan Komnas HAM telah menyerukan tindak lanjutnya. Bulan September, polisi mengumumkan “penundaan sementara” atas penyelidikan terhadap pembunuhan aktivis perburuhan Marsinah pada 1993. Para pejuang hak asasi manusia menafsirkan pengumuman ini sebagai upaya untuk menghentikan penyelidikan dan telah menyerukan kelanjutannya. Pihak militer menderita kerugian paling besar di tahun-tahun belakangan ini di Timor Timur, kebanyakan dalam gelombang serangan gerilya selama pemilu bulan Mei dan sesudahnya. Delapan belas anggota keamanan tewas dalam satu serangan dekat Baucau pada bulan Mei. Di samping berbagai pembunuhan atas tentara dan polisi oleh para gerilyawan, mereka juga membunuh penduduk sipil Timor Timur yang dianggap bekerja bagi intel militer dan kalangan sipil lain. Seorang guru dan anggota keluarganya dibunuh oleh gerilya sebelum pemilu. Seorang pejabat pemerintah setempat di Timor Timur, yang juga kepala kelompok pertahanan sipil “gada paksi”, serta empat penduduk sipil, tewas pada bulan April ketika mobil mereka diserang di dekat Viqueque, kemungkinan oleh gerilyawan. Situasi keamanan di Aceh sudah membaik pada awal kampanye melawan gerakan separatis Aceh Merdeka dilancarkan pada awal 1990-an. Meskipun Aceh Merdeka pada umumnya dianggap sudah dapat dihancurkan sebagai kekuatan yang berarti, Aceh secara resmi masih dianggap sebagai salah satu dari tiga “daerah bermasalah” (bersama Timor Timur dan Irian Jaya). Karena daerah itu selama beberapa tahun ini relatif aman, pada Januari diadakan suatu diskusi untuk menyatakan Aceh sebagai 6

daerah aman dan menghapus kategori daerah bermasalah sebagai cermin atas kepercayaan pada situasi keamanan daerah itu. Diskusi itu ditunda setelah operasi militer menemukan gudang senjata yang diduga milik Aceh Merdeka pada bulan Februari dan Maret menyusul peristiwa perampokan bank yang menyebabkan tertembaknya tiga karyawan bank oleh para perampok. b. Penghilangan Orang Sumber-sumber yang layak dipercaya di Timor Timur melaporkan banyak orang hilang, terutama di pelosok-pelosok. Pemerintah tidak banyak membuat kemajuan dalam mengatasi “peristiwa 27 Juli” 1996. Peristiwa itu melibatkan pengambilalihan paksa yang didukung pemerintah atas markas PDI, yang menyulut kerusuhan massal di Jakarta. Pemerintah bergerak sangat lambat dalam menanggapi laporan Komnas HAM di bulan Oktober 1996 tentang peristiwa itu yang menyebutkan 23 orang hilang, 149 terluka, dan lima tewas, salah satunya karena ditembak (lihat Bagian 4). Pada bulan September pihak berwenang kabarnya mengakui bahwa kasus itu belum ditutup dan setuju bahwa mereka akan melakukan pencarian atas 16 orang yang dilaporkan hilang oleh Komnas HAM tapi hampir tidak dicapai kemajuan sampai akhir tahun. Tidak ada usaha yang berarti oleh Pemerintah untuk mempertanggungjawabkan orang yang hilang atau tewas dalam peristiwa penembakan penduduk sipil di Dili pada 12 November 1991. Kasus lain pun belum dapat diselesaikan pada tahun itu. Para pengamat tetap percaya bahwa kebanyakan orang yang hilang itu sudah mati dan bahwa anggota pasukan keamanan mengetahui di mana mayat-mayat mereka. c. Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Kejam dan Tidak Manusiawi Lainnya KUHAP menyatakan bahwa setiap petugas yang menggunakan kekerasan atau paksaan untuk mendapatkan pengakuan diancam hukuman empat tahun penjara. Tapi dalam prakteknya perlindungan hukum tidak memadai atau diabaikan secara luas, dan pihak keamanan terus menggunakan penyiksaan dan bentuk perlakuan buruk lain, terutama di daerah-daerah yang banyak melibatkan masalah keamanan seperti Irian Jaya dan Timor Timur. Polisi sering menggunakan penyiksaan fisik dan bahkan pada insiden kecil. Di Timor Timur, satuan-satuan militer secara teratur menahan penduduk sipil untuk diinterogasi; sebagian besar disekap di pusat-pusat tahanan militer tidak sah tanpa pemberitahuan kepada keluarga mereka, diperlakukan dengan buruk selama beberapa hari, lalu dilepas. Anggota keluarga dan organisasi-organisasi pemantau hak asasi menemui banyak kesulitan dalam mengenali dan mengunjungi para tahanan di tangsi-tangsi militer itu. Banyak sumber yang dapat dipercaya berpendapat bahwa orang-orang yang ditahan oleh polisi di Timor Timur secara rutin dipukuli selama proses penahanan mereka. Ke-32 orang yang ditahan menyusul demonstrasi di Hotel Mahkota di Dili bulan Maret menderita pemukulan di tangan polisi, demikian sumber-sumber-sumber yang dapat dipercaya.

7

Empat orang penduduk Desa Lavateri di dekat Baucau, Timor Timur yang ditahan tanggal 4 April oleh satuan intel, kabarnya dipukuli dengan popor senapan, satu orang mengalami patah tulang iga dan seorang wanita telapak tangannya ditoreh dengan tanda palang. Enam orang Timor Timur yang ditahan oleh Satuan Gabungan Intelijens di Liquica pada 26 Februari kabarnya disiksa dengan setrum listrik dan direndam di dalam air es. Lima penduduk sipil Timor Timur yang ditahan oleh pasukan keamanan di dekat Liquica pada 30 April dilaporkan dipukuli dengan popor senapan dan disetrum. Dalam operasi militer dan pencarian penjahat sesudahnya, setidaknya dua orang tersangka, yang oleh pihak militer diduga dari Aceh Merdeka, ditembak mati oleh militer pada serbuan itu. Sebuah sumber militer menyatakan bahwa para korban bersenjata. Dalam operasi penangkapan terhadap tersangka separatis Aceh Merdeka, para tersangka dalam jumlah yang tidak diketahui ditangkap selama Februari dan Maret. Ada laporan-laporan yang layak dipercaya bahwa sejumlah kecil anggota Aceh Merdeka masih ada di Aceh, dan tetap mendapat simpati di kalangan penduduk setempat, tapi mereka tidak dianggap sebagai ancaman aktif terhadap keamanan. Sejumlah anggota militer dituduh melakukan tindakan kriminal dan pelanggaran di wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi daerah operasi Aceh Merdeka. Ada kalanya pasukan keamanan bereaksi secara brutal terhadap unjuk rasa secara damai atau sengketa dengan penduduk, meskipun mereka pada umumnya menghindari penggunaan kekerasan untuk menghentikan arak-arakan besar yang sebenarnya dilarang selama kampanye pemilu. Pada 2 April, pasukan keamanan dengan kekerasan membubarkan demonstrasi damai oleh 200 pendukung Megawati Sukarnoputri di Denpasar, Bali. Pasukan keamanan menggunakan tongkat rotan, dan belasan demonstran menderita luka-luka ringan. Di Yogyakarta, pasukan keamanan kabarnya memukuli mahasiswa yang berpawai memperingati Hari Hak Asasi dan membubarkan arak-arakan mereka. Di Sulawesi Selatan, polisi dilaporkan menahan diri terhadap kerusuhan mahasiswa yang disulut oleh serbuan polisi terhadap mahasiswa di sebuah asrama. Pada 28 April, pasukan keamanan berseragam dan yang berpakaian sipil memukuli dengan rotan sekelompok kecil pengunjuk rasa damai dan menendangi mereka di luar gedung Pengadilan Jakarta Pusat menyusul vonis terhadap para aktivis PRD dan melukai dua pengunjuk rasa. Pada 23 Juni, pasukan keamanan bersenjata bayonet dan pentungan memasuki kampus Universitas Kristen Indonesia Jakarta dan menyerang sekelompok mahasiswa. Paling tidak lima orang mahasiswa terluka dan tiga diangkut ke rumah sakit karena mengalami luka parah di kepala. Pasukan keamanan melakukan balas dendam setelah seorang tentara terluka dalam suatu bentrokan dengan mahasiswa. Pada 1 September, menurut sumber yang layak dipercaya, 27 mahasiswa dan penduduk setempat di Banda Aceh lukaluka, ada yang parah, ketika polisi sebanyak tiga truk menyerang sekelompok mahasiswa yang baru saja menyaksikan pertandingan sepakbola di mana seorang mahasiswa berdebat dengan polisi tentang sebuah poster. Polisi kabarnya memukuli para mahasiswa dan penonton lain dan mengejar mereka yang berlarian ke rumah-rumah serta memukuli mereka. Penanganan pemerintah atas gelombang kerusuhan besar yang melanda Indonesia mendapat tanggapan bermacam-macam. Pada kebanyakan kasus petugas keamanan tidak menggunakan senjata maut dalam menangani kerusuhan ini dan cukup menunjukkan sikap menahan diri. Dalam banyak hal, ada juga 8

kritik dari masyarakat bahwa petugas keamanan tidak bertindak lebih awal dengan kekuatan cukup untuk melindungi warga dan harta benda mereka dari perusakan besar-besaran yang terjadi. Kerusuhan itu merupakan akibat dari gabungan antara faktor ekonomi, sosial, ras, agama dan politik. Kerusuhan mulai pada 1996, berlanjut ke 1997, reda setelah pemilu bulan Mei, dan meletus lagi di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan pada bulan September. Pada 30 Januari, pasukan keamanan memulihkan tata tertib di Rengasdengklok, Jawa Barat tanpa menembakkan peluru atau perlakuan buruk terhadap warga, walaupun sebelumnya terjadi serangan terhadap toko-toko dan tempat ibadah oleh massa. Kerusuhan yang paling gawat terjadi di Banjarmasin pada hari terakhir kampanye 23 Mei. Setidaknya 123 orang tewas dalam sebuah kebakaran yang disebabkan oleh kerusuhan itu dan penjarahan atas sebuah toko serba-ada. Komnas HAM melakukan penyelidikan dan menyimpulkan tidak adanya bukti penggunaan amunisi untuk mengatasi perusuh. Komisi juga menemukan bahwa sebagian tersangka perusuh mengalami pemukulan setelah ditahan dan merekomendasikan langkah-langkah untuk menjamin bahwa penanganan atas kerusuhan di masa depan tidak melibatkan kekerasan berlebihan. Pada bulan November, menyusul bentrokan nyata antara pemuda dan satuan intel di dekat Universitas Timor Timur, sejumlah besar pasukan keamanan memasuki kampus, melepaskan tembakan dan memukuli mahasiswa. Setidaknya lima mahasiswa luka-luka dan fasilitas kampus rusak berat. Pihak berwenang mengatakan bahwa anggota keamanan hanya menggunakan peluru karet tetapi beberapa mahasiswa yang terluka dilaporkan tertembak, dan dua orang menderita luka bayonet, demikian keterangan organisasi-organisasi hak asasi independen. Seorang dari mahasiswa yang terluka diseret dari kendaraan Komisi Palang Merah Internasional (ICRC), dipukuli dengan popor senapan oleh polisi, lalu dibawa ke rumah sakit militer. ICRC diizinkan menjenguk mahasiswa yang terluka. Sejumlah mahasiswa juga dilaporkan ditahan setelah insiden itu. Ada sejumlah laporan mengenai pemukulan dan penyiksaan oleh pasukan keamanan terhadap orangorang desa di pegunungan Irian Jaya tengah; pihak militer membantah melakukan penyiksaan tersebut (lihat Bagian 2.d.) Pemerintah terus mempertahankan kehadiran militer besar-besaran di Timor Timur, berjumlah lebih dari 16.000 tentara. Pemerintah, sebagaimana di tempat lain, juga mengandalkan gerombolan pemuda, yang diorganisir dan diarahkan oleh pihak militer, untuk mengintimidasi serta mengganggu lawanlawannya. Sebuah kelompok semi-militer, yang dikenal sebagai Gada Paksi, sering dilibatkan dalam serangan malam hari di kampung-kampung di Dili di awal tahun dan dikecam luas karena menyulut kekacauan serius di Viqueque pada bulan Februari. Kegiatan Gada Paksi mereda pada paruh kedua tahun itu. Satu kasus dugaan perkosaan terhadap wanita-wanita Timor Timur oleh anggota militer mendapat perhatian masyarakat sewaktu para pengacara hak asasi berusaha membawa kasus itu ke pengadilan. Tindakan hukum juga tengah diupayakan untuk kasus perkosaan berkali-kali yang dialami oleh seorang wanita Timor Timur yang diduga dilakukan oleh tentara pada November 1996 selama ia berada di dalam tahanan militer. Wanita itu melaporkan perkosaan tersebut kepada pemantau hak 9

asasi dan menulis surat kepada unit komando militer setempat, yang meneruskan ke Komnas HAM. Di akhir tahun, belum jelas apakah para pengacara berhasil membawa kasus itu ke pengadilan militer atau sipil. Organisasi-organisasi hak asasi melaporkan bahwa perkosaan oleh anggota militer merupakan masalah serius, dan tentara jarang dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan ini. Keempat anggota polisi yang memukuli guru-guru agama di Tasikmalaya, Jawa Barat, dalam sebuah insiden pada 1996 yang menyulut kerusuhan besar di sana, terbukti bersalah dalam sebuah mahkamah militer dan dihukum antara 22 dan 28 bulan penjara. Kondisi penjara buruk dan keributan di kalangan narapidana serta perlakuan buruk dan pemerasan terhadap narapidana oleh sipir adalah hal biasa. Perlakuan buruk berkurang sangat tajam jika seorang tahanan sudah dipindahkan dari tahanan militer atau intel (BIA) ke lembaga pemasyarakatan sipil atau tahanan Kejaksaan Agung. Tahanan politik sering bercampur dengan tahanan biasa. Di penjara Cipinang dan Salemba, Jakarta, beberapa tahanan politik dipisahkan. ICRC ditolak menemui tahanan politik sampai Juli, kecuali di Timor Timur di mana mereka biasanya boleh berkunjung. Kadang-kadang diatur pula kunjungan khusus oleh orang-orang tertentu terhadap tahanan politik terkenal. Beberapa tahanan non-politik juga telah dikunjungi pemantau hak asasi, walaupun hal ini tampaknya dilakukan kasus per kasus. d. Penangkapan, Penahanan Sewenang-wenang, atau Pengucilan KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) memuat ketentuan-ketentuan yang melarang penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, tapi petunjuk pelaksanaannya tidak memadai dan pihak berwenang terus melakukan pelanggaran. Kitab ini menyebutkan bahwa narapidana mempunyai hak untuk memberitahu keluarga mereka dan penangkapan harus disertai dengan surat perintah penangkapan kecuali dalam kondisi khusus seperti ketika tersangka tertangkap basah sedang melakukan kejahatan. Undang-undang juga mewajibkan pemberitahuan segera kepada keluarga orang yang ditahan. Undang-undang mengizinkan penyelidik untuk mengeluarkan surat perintah guna membantu dalam penyelidikan mereka atau jika terdapat cukup bukti telah terjadi suatu tindak kejahatan. Akan tetapi pihak berwenang kadang-kadang melakukan penangkapan tanpa surat perintah. Undang-undang menganut praduga tak bersalah terhadap tertuduh dan membolehkan uang jaminan. Mereka atau keluarga mereka boleh juga menuntut legalitas penangkapan dan penahanan mereka dalam sidang praperadilan dan menuntut ganti rugi jika mereka terbukti menjadi korban salah tangkap. Namun, nyaris mustahil bagi tahanan untuk meminta prosedur demikian, atau mendapat ganti rugi, setelah dilepas tanpa tuntutan hukum. Baik dalam mahkamah militer maupun sipil, banding atas penangkapan dan penahanan yang tidak layak jarang, kalau ada, dikabulkan. KUHAP juga memuat batasan khusus mengenai masa penahanan sebelum sidang pengadilan dan menyebutkan kapan pengadilan harus menyetujui perpanjangan, biasanya setelah 60 hari. Selain itu, tersangka yang 10

didakwa berdasarkan Undang-undang Anti-Subversi 1963 tunduk pada prosedur di luar KUHAP. Hal ini memberi Jaksa Agung wewenang untuk menahan seorang tersangka sampai 1 tahun sebelum sidang. Ia mungkin memperpanjang masa 1 tahun ini tanpa batas. Pihak berwenang terus menyetujui perpanjangan masa penahanan. Di daerah-daerah di mana gerakan gerilya aktif, seperti Timor Timur dan Irian Jaya, banyak contoh di mana orang ditahan tanpa surat perintah, tuduhan, atau proses pengadilan. Ini juga terjadi di Aceh. Uang jaminan jarang diizinkan, terutama dalam kasus politik. Lebih dari 100 orang ditahan menyusul ditemukannya penyimpanan senjata di sejumlah tempat di Aceh sejak Februari. Mereka diduga disekap dan tidak boleh ditemui di tangsi-tangsi militer. Pihak berwenang sering menolak kunjungan pengacara ketika sedang menyidik tersangka dan menjadikannya sulit bahkan mustahil bagi tahanan untuk mendapatkan bantuan hukum dari lembaga bantuan hukum sukarela. Undang-undang khusus tentang korupsi, kejahatan ekonomi, dan narkotika tidak termasuk dalam perlindungan KUHAP. BAKORSTANAS beroperasi di luar KUHAP dan sangat leluasa menahan dan menginterogasi orang yang dianggap membahayakan keamanan nasional. Meskipun sudah ada lembaga seperti ini, pihak militer mulai membahas secara terbuka pada 1996 perlunya suatu undang-udang keamanan dalam negeri yang akan memberi kekuasaan lebih besar kepada pemerintah untuk menindas pembangkang. Meskipun pada 1997 ada diskusi lebih lanjut mengenai usul ini, usul tersebut belum diajukan kepada DPR. Pihak keamanan membubarkan unjuk rasa dan pertemuan serta menahan para pesertanya (lihat Bagian 1.c. dan 2.b.) Tidak ada data yang dapat dipercaya mengenai jumlah penangkapan atau penahanan sewenangwenang tanpa sidang pengadilan, terutama di Timor Timur, Irian Jaya dan Aceh. Di Timor Timur, sebagian sebagai akibat dari meningkatnya unjuk rasa di akhir 1996 dan pada 1997, serta meningkatnya kegiatan gerilya, jumlah penahanan selama 1997 lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Penahanan sewenang-wenang di Timor Timur merupakan masalah khusus menyusul meningkatnya serangan gerilya di Baucau dan Los Palos. Menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya, banyak orang yang tidak terlibat dalam gerakan separatis ditahan dan diperlakukan buruk sewaktu pihak keamanan menggerebeg kampung-kampung mencari pelaku berbagai serangan. Di bagian awal tahun 1997 kelompok paramiliter sipil Gada Paksi juga sering menahan dan menyiksa penduduk sipil. Pemerintah tidak melakukan pengucilan paksa. c. Pengingkaran atas Pengadilan Yang Jujur Undang-undang Dasar menyebutkan independensi cabang yudikatif, tapi dalam prakteknya pengadilan tunduk pada cabang eksekutif dan militer. Tuntutan pengadilan di sejumlah daerah terhadap rekayasa kentara oleh pemerintah atas susunan kepemimpinan PDI pada 1996, dengan sedikit kekecualian, terus 11

ditolak selama 1997. Hakim adalah pegawai negeri yang dipekerjakan oleh cabang eksekutif, yang mengatur tugas, gaji, dan kenaikan pangkat mereka. Gaji yang kecil mendorong merajalelanya korupsi. Hakim menerima banyak tekanan dari pihak pemerintah yang sering menentukan hasil suatu sidang pengadilan. Di bawah Mahkamah Agung terdapat empat sistem peradilan, yakni umum, agama, militer dan administrasi negara. Hak banding dari pengadilan negeri/tingkat pertama ke pengadilan tinggi sampai Mahkamah Agung berlaku di keempat sistem itu. Mahkamah Agung tidak mempertimbangkan fakta nyata sebuah kasus, melainkan penerapan hukum oleh pengadilan di bawahnya. Menurut teori, Mahkamah Agung berdiri sejajar dengan cabang eksekutif dan legislatif, tapi lembaga ini tidak mempunyai hak uji materi atas undang-undang yang disahkan DPR. Mahkamah Agung belum melaksanakan wewenangnya (yang dimiliki sejak 1985) untuk menguji kembali peraturan dan keputusan menteri. Pada 1993 Hakim Agung Purwoto Gandasubrata meletakkan prosedur untuk hak uji materi terbatas. Sebuah tim hakim melaksanakan sidang pengadilan di pengadilan negeri/tingkat pertama, mengajukan pertanyaan, mendengar pembuktian, memutuskan bersalah tidaknya terdakwa, dan menentukan hukuman. Keputusan hakim jarang dibatalkan dalam tingkat banding, meskipun hukuman mungkin ditambah atau dikurangi. Baik terdakwa maupun jaksa boleh naik banding. Terdakwa berhak dihadapkan dengan saksi dan menampilkan saksi mereka sendiri. Suatu pengecualian diperbolehkan dalam kasus-kasus di mana jarak atau biaya dianggap menyulitkan untuk mendatangkan saksi ke pengadilan. Dalam kasus demikian, boleh dipakai surat pernyataan yang dibuat di bawah sumpah. Tapi Berita Acara Pidana tidak memberi perlindungan kekebalan kepada saksi atau kekuasan meminta kehadiran di pengadilan kepada terdakwa. Akibatnya, saksi pada umumnya enggan bersaksi melawan pihak berwajib. Pengadilan juga sering membiarkan pengakuan paksa dan membatasi penampilan bukti dari terdakwa. Dalam sebuah sidang pengadilan di bulan Maret, seorang saksi mengatakan di sebuah pengadilan terbuka bahwa ia telah disiksa dengan sengatan listrik selama diinterogasi pada 1996 oleh dinas intelijens (BIA). Tidak dilakukan penyelidikan atas tuntutan ini, kendati di bawah sumpah. Terdakwa tidak berhak diam dan dapat dipaksa untuk bersaksi melawan diri mereka sendiri. Hukum Acara Pidana memberi hak kepada terdakwa untuk mendapatkan pembela sejak penangkapannya, tapi tidak selama masa penyelidikan sebelum penangkapan, yang mungkin mencakup penahanan lama. Orang yang dipanggil sebagai saksi dalam suatu penyelidikan tidak mempunyai hak untuk didampingi pengacara sekalipun informasi yang diperoleh dari kesaksian yang diberikannya mungkin bisa menjadi dasar penyelidikan atas dirinya pula. Undang-undang mewajibkan penyediaan pengacara dalam kasus-kasus dengan ancaman hukuman mati atau hukuman penjara 15 tahun atau lebih. Dalam kasus yang melibatkan hukuman 5 tahun penjara atau lebih, harus disediakan seorang pengacara jika terdakwa menghendakinya dan tidak mampu menyediakannya sendiri. Dalam teori, terdakwa miskin boleh mendapatkan bantuan hukum dari luar, seperti yang disediakan oleh Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Namun dalam prakteknya terdakwa sering dibujuk untuk tidak menyewa pengacara, atau akses untuk mendapatkan pengacara pilihan sendiri dihalangi. Dalam banyak kasus, perlindungan prosedural termasuk perlindungan terhadap pengakuan paksa, 12

terutama mereka yang dipaksa polisi atau dinas intelijens, tidaklah memadai untuk menjamin pengadilan yang jujur. Korupsi adalah hal biasa dalam sistem peradilan dan suap dapat mempengaruhi tuntutan, putusan, dan hukuman dalam kasus perdana dan pidana. Hanya ada sedikit tanda-tanda independensi peradilan. Pengadilan terus dipakai untuk melakukan tindakan terhadap para aktivis politik dan pengritik pemerintah. Pemerintah dengan bersemangat mengupayakan kasus-kasus subversi sejak akhir 1996, dan memprakarsai atau mengancam kasuskasus baru. Banyak peninjau independen mengartikan hal ini sebagai upaya untuk menakut-nakuti para pembangkang menjelang pemilihan umum bulan Mei. Pemerintah menuntut dan pengadilan memvonis 14 aktivis muda yang tergabung dalam atau berkaitan dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) berdasarkan Undang-undang Anti-Subversi bulan April dan Juni, menerapkan hukuman paling keras atas pembangkang politik damai dalam tahun-tahun terakhir (lihat Bagian 2.a.). Pemerintah juga mengadili pemimpin gerakan buruh bebas Muchtar Pakpahan serta mantan anggota DPR Sri Bintang Pamungkas di bawah undang-undang ini. Empat pemuda yang dituduh menyulut kerusuhan di Tasikmalaya, Jawa Barat pada Desember 1996 diajukan ke pengadilan pada 1997 atas tuduhan subversi. Pengadilan mereka berakhir pada November dan Desember, dengan vonis hukuman penjara 22 bulan, 24 bulan, 8 tahun dan 10 tahun. Megawati Sukarnoputri mengajukan tuntutan di seluruh Indonesia atas legalitas kongres PDI di Medan pada Juni 1996 yang disponsori pemerintah yang menggusurnya dari kepemimpinan PDI. Sebagian besar pengadilan menolak menyidangkan kasus itu. Tapi ada juga pengadilan yang menerima dan memenangkan gugatannya. Undang-undang Anti-Subversi, yang mengandung ancaman maksimum hukuman mati (yang belum dimintakan sampai tahun-tahun terakhir), menetapkan bahwa keterlibatan dalam suatu tindakan yang dapat mengubah, merusak, atau menyimpang dari ideologi negara atau GBHN, atau yang dapat menyebarkan kebencian atau menimbulkan permusuhan, gangguan atau kecemasan masyarakat, adalah suatu bentuk kejahatan. Bahasa undang-undang ini yang begitu kabur menyebabkan orang dapat dituntut karena mengungkapkan secara damai pandangannya yang bertentangan dengan pandangan pemerintah. Banyak tahanan menjalani hukuman karena kasus subversi, termasuk para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilarang, kaum Muslim militan, dan mereka yang dihukum karena subversi di Irian Jaya, Aceh, dan Timor Timur. Lebih banyak lagi tahanan yang menjalani hukuman berdasarkan Pasal-pasal Penyebaran Kebencian dan Fitnah. Sebagian dari orang-orang ini mendukung atau menggunakan kekerasan, tetapi lainnya adalah tahanan politik yang dihukum karena berusaha menegakkan hak-hak asasi manusia yang diakui secara universal seperti kebebasan berpendapat atau berserikat, atau yang dihukum dalam pengadilan yang tidak jujur. Juvencio de Jesus Martin, seorang tahanan dari Timor Timur, dibebaskan berdasarkan prosedur remisi biasa pada peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. f. Campur Tangan Sewenang-wenang atas Rahasia Pribadi, Keluarga, Rumah Tangga, atau Surat-Menyurat Surat perintah pengadilan untuk menggeledah diperlukan kecuali dalam kasus-kasus yang melibatkan 13

dugaan subversi, kejahatan ekonomi, dan korupsi. Namun dinas-dinas keamanan secara teratur masuk secara paksa atau sembunyi-sembunyi. Pasukan keamanan juga terlibat dalam pengawasan orang dan penduduk serta melakukan pemantauan selektif atas percakapan telepon lokal dan internasional tanpa hambatan hukum. Petugas keamanan pemerintah memantau gerakan dan kegiatan para bekas anggota PKI dan ormasormas onderbouwnya, terutama orang-orang yang oleh pemerintah dipercaya terlibat dalam peristiwa Gestapu 1965. Mereka dan keluarga mereka kadang-kadang mengalami pengawasan, litsus ulang, indoktrinasi periodis, dan pembatasan perjalanan ke luar dari kota kediaman mereka. Salah satu cara yang dipakai pemerintah untuk memantau kegiatan mereka adalah mencantumkan tanda ET (ExTapol) pada KTP mereka. Ini memungkinkan pemerintah dan calon majikan mereka untuk mengenali bekas anggota PKI dan memperlakukan mereka secara diskriminatif, resmi maupun tidak. Meskipun kewajiban mencantumkan tanda ET pada KTP secara resmi sudah dihentikan, dalam praktek ini masih banyak dilakukan. Setelah selama beberapa tahun pemerintah mengurangi secara berarti program transmigrasinya, program itu dihidupkan kembali selama tahun 1997 dengan bantuan pihak swasta. Program ini memindahkan banyak penduduk dari pulau-pulau yang padat ke pulau yang jarang penduduknya. Ini juga dipakai untuk memukimkan kembali penduduk setempat di dalam wilayah Timor Timur dan Irian Jaya. Para pemantau hak asasi mengatakan bahwa program ini melanggar hak penduduk asli dan mengecoh sebagian transmigran untuk meninggalkan desa mereka tanpa modal untuk kembali lagi. Kondisi di sejumlah lokasi transmigrasi tidak aman bagi hidup mereka tanpa upaya yang memadai untuk melindungi mereka dari penyakit endemis. Transmigran atau migran sukarela di luar program pemerintah mendapat bantuan tidak langsung dari pemerintah dalam bentuk program bantuan pembangunan dan kontrak dengan ABRI maupun pemerintah setempat. Praktek demikian, terutama di Timor Timur, Irian Jaya dan Kalimantan, menimbulkan kebencian di kalangan penduduk asli yang percaya bahwa hak-hak mereka dilanggar. Ada laporan bahwa pasukan keamanan menduduki desa-desa di pegunungan Irian Jaya tengah dan menghancurkan rumah-rumah dan tanaman. Pihak militer membantah melakukan pelanggaran ini (lihat Bagian 2.d.). Pemerintah melarang impor terbitan dalam Bahasa Cina (lihat Bagian 5).

Bagian 2 Penghormatan atas Kebebasan Sipil, Termasuk: a. Kebebasan Berbicara dan Pers Meskipun Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Pers 1982 memberi kebebasan pers, dalam praktek pemerintah terus membatasi kebebasan pers. Pemerintah menggunakan SIUPP berdasarkan keputusan menteri 1984 untuk mengendalikan pers. Alat kontrol lain meliputi peraturan tentang porsi iklan yang diizinkan dan jumlah halaman yang diperbolehkan untuk koran. Di daerah14

daerah yang rawan pihak berwenang terus memberi pengarahan kepada wartawan dan redaktur setempat mengenai berita apa yang harus dimuat, meskipun sering pula pengarahan demikian diabaikan. Sensor diri oleh pers berlanjut, terutama mengenai hal-hal yang peka bagi pemerintah. Pada akhir tahun, kritik terhadap pemerintah menguat dan pers memuatnya secara lebih terbuka. Liputan mengenai sejumlah topik yang peka, seperti korupsi, peran keluarga Presiden, dan kurangnya pertanggungjawaban keuangan pemerintah, muncul, terutama di koran-koran berbahasa Inggris. Koran-koran besar berbahasa Indonesia lebih berhati-hati. Media siaran, yang menjangkau jauh lebih banyak penduduk daripada media cetak, jarang sekali atau bahkan tidak pernah membahas masalah peka. Liputan media mengenai bentrokan etnis antara suku Dayak yang Kristen dan Madura yang Muslim di Kalimantan Barat selama bulan Januari dan Februari berkali-kali sangat dibatasi. Pihak militer mengadakan pertemuan tertutup dengan para redaktur pada awal Februari di tengah-tengah kerusuhan etnis itu. Hanya sedikit liputan mengenai keadaan di Kalimantan Barat sampai bentrokan itu sudah parah. Contoh kerusuhan sosial lain, seperti di Rengasdengklok, Jawa Barat pada 30 Januari, dan kejadian yang berkaitan dengan kampanye pemilu, memperoleh liputan media lebih besar. Sepanjang tahun, debat terbatas mengenai isu-isu politik dan sosial diperbolehkan dalam pers dan forum publik, tapi pemerintah terus menerapkan pembatasan pada kebebasan berbicara, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan oposisi langsung terhadap sistem yang berlaku. Pada akhir tahun, kritik masyarakat terhadap pemerintah makin menguat dan pers memuatnya secara lebih terbuka. Setelah peristiwa 27 Juli 1996, dan menjelang pemilu bulan Mei, pemerintah menyatakan bahwa mereka tidak akan mentolerir tantangan terhadap tiang landasan sistem politik, terutama dengan cara menangkapi, mengajukan ke pengadilan, dan menghukum keras beberapa pengritiknya. Empat belas aktivis anggota, atau yang berkaitan dengan, partai oposisi kecil PRD dihukum berdasarkan Undang-undang Anti-Subversi 1963 yang kontroversial. Pada 28 April, sehari setelah kampanye pemilu dimulai, pengadilan-pengadilan di Jakarta menjatuhkan vonis bagi sembilan aktivis. Meskipun para aktivis muda itu mula-mula ditangkap pada bulan Agustus 1996 di tengah-tengah tuduhan pemerintah sebagai dalang peristiwa 27 Juli, vonis itu ternyata didasarkan pada tulisan, pidato, dan kegiatan organisasi mereka, yang dianggap sebagai subversi (lihat Bagian 1.e.) Ketua PRD Budiman Sudjatmiko menerima vonis 13 tahun penjara, yang dinaikkan menjadi 15 tahun pada waktu banding. Ini merupakan salah satu vonis terberat dalam kasus subversi pada tahun-tahun terakhir. Rekan-rekannya menerima vonis mulai dari 12 tahun sampai 18 bulan. Dua lagi aktivis PRD divonis di Jakarta pada 16 Juni dan mendapat hukuman 4 dan 5 tahun penjara. Kasus lain yang berkaitan dengan PRD termasuk vonis bagi Dita Indah Sari di Surabaya dan dua orang lain dalam kasus subversi pada 22 dan 23 April berdasarkan pada pandangan politik dan kegiatan organisasi mereka, yang meliputi seruan diakhirinya doktrin dwifungsi ABRI dan gerakan unjuk rasa buruh. Pengadilan atas pemimpin buruh independen Muchtar Pakpahan, yang dimulai 12 Desember 1996, berlanjut pada awal tahun lalu, dan ditunda karena ia menderita sakit parah. Pengadilan itu dilanjutkan 15

bulan September. Sebagaimana dengan kasus para aktivis muda PRD, tuduhan subversi juga diarahkan pada kritiknya terhadap pemerintah, bukannya atas perannya dalam kekerasan 27 Juli 1996 seperti yang semula dituduhkan kepadanya secara terbuka oleh pemerintah (lihat Bagian 6.a.) Pengadilan subversi atas Sri Bintang Pamungkas, mantan anggota DPR dari PPP, dimulai 2 Desember. Menurut ketentuan itu Bintang dituduh berdasarkan Undang-Undang Anti-Subversi 1963 karena mendirikan Partai Uni Demokratik Indonesia, mengeluarkan manifesto PUDI, mencalonkan diri sebagai presiden, dan mengirimkan kartu Lebaran berisi agenda PUDI pada Januari. Program PUDI termasuk penolakan terhadap pemilu 1997, penolakan Soeharto sebagai calon presiden lagi, dan seruan untuk mempersiapkan diri bagi era pasca-Soeharto. Bintang ditahan pada 6 Maret, bersamasama dengan wakil ketua PUDI Julius Usman dan sekjennya Saleh Abdullah, oleh Kejaksaan Agung berdasarkan Undang-Undang Anti-Subversi. Rekan-rekannya dibebaskan dari tahanan pada 3 April. Albert Marle Sihaloho, anggota DPR dari PDI dan pendukung ketua PDI tergusur, Megawati Sukarnoputri, divonis pada 21 Juli atas tuduhan menghina presiden, ABRI, dan lembaga-lembaga publik lainnya. Ia menerima hukuman 9 bulan penjara. Dasar dari hukuman baginya adalah pidatonya dalam “mimbar bebas” di markas PDI pada Juli 1996 yang direkam dengan video oleh pemerintah. Ia menjadi anggota DPR pertama yang diajukan ke pengadilan dan dihukum dalam tahun-tahun terakhir ini. Pemerintah juga mengambil tindakan keras terhadap beberapa orang yang menerbitkan majalah atau buku yang menentang sistem. Andi Syaputra dihukum penjara 30 bulan pada 7 April karena mencetak dan menyebarkan bahan cetakan yang dituduh menghina Presiden Soeharto. Pada 4 Maret pemerintah melarang pamflet setebal 22 halaman tulisan Soebadio Sastrosatomo, salah seorang pemimpin Partai Sosialis Indonesia yang telah lama dilarang. Pemerintah lalu menyeret sekretaris pribadi Soebadio ke pengadilan pada 5 Agustus atas tuduhan “menghina” presiden. Kejahatan yang dituduhkan adalah ia membantu memproduksi buku tersebut. Ia dilepas dari tahanan bulan September tapi pengadilannya tetap berlanjut. Seorang aktivis dari LSM Pusat Informasi dan Jaringan Aksi untuk Reformasi Demokrasi (PIJAR), Tri Agus Siswomihardjo, dilepas dari penjara pada 10 Maret setelah menjalani hukuman 24 bulan karena menyebarkan bahan-bahan bacaan yang dituduh menghina presiden. Eko Maryadi dan Achmad Taufik dari Asosiasi Jurnalis Independen (AJI) yang tidak diakui pemerintah dilepas dari penjara pada 18 Juli. Mereka telah menjalani 2 tahun 4 bulan dari hukuman tiga tahun penjara mereka atas tuduhan memfitnah presiden dan menyebarkan kebencian terhadap pemerintah. Mereka dihukum berdasarkan tulisan-tulisan mereka pada majalah bawah tanah “Independen” dan karena menerbitkan majalah itu tanpa SIUPP. Pembunuhan seorang wartawan yang menerbitkan laporan kritis pada 1996 dan paling tidak satu kasus serupa pada 1997, menarik perhatian dalam dan luar negeri. Sebuah sidang pengadilan berlangsung atas terbunuhnya wartawan surat kabar Bernas di Yogyakarta, Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) pada 1996. Udin diserang di rumahnya, kemungkinan berkaitan dengan tulisan-tulisannya yang kritis terhadap tindakan pemerintah setempat dalam masalah tanah. Banyak terjadi kontroversi apakah pihak 16

berwenang sudah menangkap tersangka yang sebenarnya, karena istri korban, saksi dalam kejahatan itu, bersaksi di pengadilan pada 2 September bahwa terdakwa bukanlah orang yang membunuh suaminya. Terdakwa menyatakan bahwa pengakuannya merupakan hasil paksaan pihak berwenang. Jaksa akhirnya menuntut bebas dan terdakwa dilepas pada 27 November. Pada 26 Juli, seorang wartawan koran “Sinar Pagi”, Jakarta, Naimullah, ditemukan tewas di mobilnya di luar kota Pontianak. Dilaporkan ia mendapat luka di leher, kepala, dan pipi, dada, dan pergelangan tangannya, dan empat orang terlihat berada di dekat mobilnya. Ia pernah memuat laporan tentang penyelundupan kayu dan pencurian yang diduga melibatkan pejabat-pejabat pemerintah setempat. PWI menyerukan penyelidikan yang tidak memihak. Polisi Kalimantan Barat mengumumkan pada bulan Agustus bahwa kasus itu masih diselidiki. Menjelang akhir tahun, kasus itu belum terpecahkan. Media elektronik tetap lebih berhati-hati dalam liputan mereka mengenai pemerintah dibanding media cetak. Pemerintah mengoperasikan jaringan televisi nasional dengan 12 stasiun daerah. Perusahaan televisi swasta, kebanyakan dimiliki oleh, atau pengurusnya berhubungan dengan, keluarga presiden, terus berekspansi. Semuanya diwajibkan merelei berita produksi pemerintah, tapi banyak juga yang menyiarkan acara-acara bergaya masalah umum yang mengandung unsur berita. Ada lebih dari 600 radio swasta di samping jaringan radio pemerintah. Semuanya diwajibkan menjadi anggota Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) yang disponsori pemerintah untuk bisa mendapat izin siaran. Stasiun radio pemerintah (RRI) membuat program “Berita Nasional” yang merupakan satu-satunya acara warta berita yang diizinkan untuk disiarkan di Indonesia berdasarkan undang-undang. Acara itu direlei di seluruh negeri oleh radio-radio swasta dan 53 RRI daerah. Menurut undang-undang, radio swasta hanya boleh menyiarkan berita “ringan”, seperti cerita tentang minat pribadi (human interest), dan tidak boleh membahas masalah politik. Tapi dalam praktek banyak radio yang menyiarkan wawancara dan berita asing. Selain itu, acara bincang-bincang radio melalui telepon makin lama makin menyentuh masalah politik, sosial dan ekonomi. Televisi dan siaran asing mudah dijangkau. Antene parabola sudah merembes ke seluruh pelosok tanah air, dan Internet juga dapat diakses. Pemerintah tidak berusaha membatasi akses pada acara ini, dan telah memproklamasikan kebijakan “langit terbuka”. Terbitan berkala asing mudah diperoleh. Distribusi kadang-kadang diperlambat oleh pihak berwenang satu hari atau lebih, tapi ini jarang terjadi. Pemerintah membatasi impor terbitan dalam Bahasa Cina (lihat Bagian 5). Pemerintah secara ketat mengatur akses ke Indonesia, terutama ke daerah-daerah tertentu, bagi koresponden asing yang berkunjung atau menetap. Pemerintah kadang-kadang mengingatkan mereka tentang hak prerogatifnya untuk menolak perpanjangan visa mereka. Izin khusus perlu bagi wartawan asing untuk mengunjungi Timor Timur, Aceh dan Irian Jaya. Dengan beberapa kekecualian, akses ke Timor Timur dibatasi. Sejumlah wartawan berkali-kali meminta izin untuk pergi ke Timor Timur tanpa hasil. Pers daerah di Aceh dikontrol ketat. Bulan November, seorang wanita pekerja LSM asing ditahan di Dili atas keterlibatannya dalam sebuah kegiatan berjaga malam di bawah sinar lilin dan memotret. Pihak berwajib menuduhnya melakukan 17

kegiatan jurnalistik tanpa visa yang sesuai. Ia lalu diusir ke Bali setelah ditanyai selama 10 jam oleh pihak berwajib. Pemerintah mewajibkan izin untuk mengimpor terbitan atau kaset video asing, yang harus diteliti oleh sensor pemerintah. Importir kadang-kadang menghindari bahan-bahan asing yang kritis terhadap pemerintah atau berkaitan dengan masalah-masalah peka seperti hak asasi manusia. Bahan-bahan asing dalam jumlah yang cukup banyak lolos dari prosedur pabean dan sensor. Penerbit kadang-kadang menolak untuk menerima naskah yang berkaitan dengan isu-isu kontroversial. Kebanyakan buku oleh novelis terkenal dan bekas tahanan politik Pramoedya Ananta Toer dilarang, meskipun ada pula yang beredar. Pemerintah pada bulan Maret melarang sebuah buku kecil tulisan mantan pemimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang sudah lama dilarang, Soebadio Sastrosatomo. Bulan Desember, polisi melarang pementasan sebuah drama di Bandung, Jawa Barat yang berkisah tentang kehidupan aktivis perburuhan Marsinah yang dibunuh pada 1993. Drama itu sebelumnya dilarang di Surabaya pada 26 November, dan juga dihentikan di kota-kota lain, namun dipentaskan di Jakarta dan beberapa tempat lain. Walaupun undang-undang memberi kebebasan akademis, kegiatan kaum cendikiawan banyak menghadapi hambatan. Kegiatan politik dan diskusi di universitas, kendati tidak lagi dilarang secara resmi, tetap dibatasi. Sejumlah cendikiawan memperlihatkan kehati-hatian dalam membuat atau mencamtumkan dalam kuliah atau diskusi kelas mereka bahan-bahan yang bisa menimbulkan ketidaksukaan pemerintah. b. Kebebasan Berserikat dan Berkumpul Secara Damai Undang-Undang Dasar memberi kebebasan berkumpul; namun pemerintah menerapkan kontrol ketat atas pelaksanaan hak ini. Pemerintah mengumumkan sejumlah peraturan pada bulan Desember 1995 yang menghapuskan persyaratan izin bagi beberapa jenis pertemuan umum. Syarat untuk memberi tahu kepada polisi tetap diperlukan bagi kebanyakan jenis pertemuan lainnya, dan dalam praktek banyak pertemuan umum terus dihalangi atau dibubarkan. Dalam upaya mengendalikan LSM, kelompok politik yang tak diakui, dan beberapa organisasi mahasiswa setelah peristiwa 27 Juli 1996 dan selama menjelang dan sesudah pemilu bulan Mei, pemerintah menghalangi atau membubarkan berbagai pertemuan, seminar, serta sejumlah unjuk rasa damai dan pertemuan umum meskipun ada juga pertemuan lain yang diizinkan. Pada bulan November 1996, sejumlah pejabat tinggi pemerintah mengeluarkan ancaman terbuka untuk mengambil tindakan hukum terhadap sejumlah LSM tertentu yang dianggap “menimbulkan masalah”. Sebagian dari kelompok ini, terutama PRD dan afiliasi-afiliasinya, dilarang oleh pemerintah pada 29 September, dan pihak berwenang menggunakan pemantauan tertutup untuk mengintimidasi LSM-LSM lain yang bagaimanapun terus beroperasi. Pada 13 Maret, polisi Metro Jaya membubarkan sebuah seminar tentang pemilihan umum yang diselenggarakan bersama oleh sebuah kelompok mahasiswa, beberapa LSM, dan KIPP (Komite 18

Independen Pemantau Pemilu). Mereka menyatakan secara terbuka bahwa mereka telah memberi tahu polisi sesuai dengan peraturan yang berlaku, tapi pihak berwenang tetap menolak untuk membiarkan peristiwa itu berlangsung. Pada 11 April, pasukan keamanan di Medan menghentikan sebuah penataran tentang masalah pertanian oleh sebuah LSM di hari kedua. Penataran itu direncanakan berjalan 5 hari. Pada bulan Juni, sebuah seminar oleh sejumlah LSM di Banda Aceh dibatalkan oleh pihak berwenang pada hari seminar itu akan dimulai. Sebuah diskusi malam hari oleh kelompok-kelompok mahasiswa yang diselenggarakan sehari menjelang peringatan peristiwa 27 Juli 1996 dibubarkan dan lima mahasiswa diinterogasi. Pada 29 Juli, polisi di Provinsi Lampung membubarkan sebuah penataran yang diselenggarakan oleh federasi buruh yang tidak diakui, Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Program itu baru berjalan 3 hari dari rencana 10 hari ketika polisi menghentikannya. Dua puluh tiga anggota SBSI ditangkap, dan ada sejumlah laporan yang dapat dipercaya bahwa beberapa di antara mereka dipukuli selama dalam tahanan. Meskipun pemerintah menolak memberikan pengakuan resmi kepada KIPP, LSM ini diizinkan melakukan kegiatan terbatas namun penting selama kampanye dan pemilu. Pemerintah juga mengizinkan KIPP untuk menyelenggarakan jumpa pers di Jakarta guna mengevaluasi pemilu, dan mengeluarkan sebuah laporan umum tentang penemuan-penemuannya yang menjabarkan beberapa kekurangan pemilu. Namun ada juga beberapa kasus di mana KIPP mengalami hambatan serius. Misalnya, pada 7 April polisi Sulawesi Selatan membatalkan sebuah program oleh KIPP setempat untuk melatih sukarelawan pemantau pemilu meskipun penyelenggara program itu sudah memberi tahu polisi. KIPP tidak bisa berfungsi di Aceh karena tekanan terhadapnya. Sebuah diskusi di sana bulan April yang disponsori oleh KIPP dibatalkan pihak berwenang. Pasukan keamanan menahan 24 mahasiswa pengunjuk rasa di UGM Yogyakarta pada 1 April. Polisi menuduh mahasiswa menyerukan boikot terhadap pemilu. Pada 2 April, delapan mahasiswa ditahan secara kasar dalam demonstrasi kedua yang menuntut pembebasan kelompok pertama. Ke-32 mahasiswa itu dilepas pada 3 April. Pada 11 Maret, tiga aktivis mahasiswa kabarnya ditangkap di Jakarta atas tuduhan mencoba menyerukan boikot terhadap pemilu dengan memasang poster dan melakukan aksi corat-coret. Pasukan keamanan membubarkan dengan kekerasan sebuah pertemuan damai para pendukung Megawati Sukarnoputri di Bali pada April, menyerang sekelompok pengunjuk rasa menyusul vonis terhadap aktivis PRD pada April, dan menyerang sekelompok mahasiswa di Universitas Kristen Indonesia di Jakarta pada bulan Juni (lihat Bagian 1.c.). Pada 19 September, pasukan keamanan menghentikan kongres SBSI di Jakarta. Itu adalah hari pertama dari rencana kongres selama tiga hari. Delapan anggota panitia penyelenggara, dua tokoh serikat buruh Australia, dan dua wartawan 19

Belanda ditahan satu malam. Pasukan keamanan membubarkan sebuah pertemuan akhir tahun di markas SBSI pada 23 Desember. Mereka menyatakan bahwa SBSI belum memperoleh izin yang diperlukan, dan 27 orang ditahan. Alat musik, rekaman lagu-lagu buruh, arsip SBSI, spanduk, foto, dan benda-benda milik peserta disita. Pasukan keamanan disiagakan di Jakarta pada 27 Juli untuk mencegah pendukung Megawati Sukarnoputri melaksanakan apa yang diduga akan menjadi sebuah peringatan atas “peristiwa 27 Juli” 1996 di bekas markas PDI. Beberapa kelompok kecil berhasil mendekati markas tersebut di mana mereka melakukan doa damai dikelilingi oleh pasukan keamanan. Beberapa ribu pendukung Megawati diizinkan berpawai di depan Gedung MPR pada 15 April. Ratusan polisi menghalangi mereka masuk ke halaman gedung, tapi tidak mengambil tindakan untuk menghentikan pertemuan mereka. Sebuah seminar tentang Timor Timur yang disponsori LSM diselenggarakan di Jakarta pada 12 September tanpa campur tangan pemerintah. Sebuah dialog umum antara pihak militer dan pemerintah dengan LSM diselenggarakan pada 8 September. Romo Ignatius Sandyawan Sumardi dan saudara laki-lakinya diajukan ke pengadilan di Bekasi, Jawa Barat pada Oktober. Ia dituduh menyembunyikan tiga pembangkang politik termasuk ketua PRD Budiman Sudjatmiko dan dua pembantunya selama pencarian terhadap mereka bulan Agustus 1996. Pihak berwenang mengatakan bahwa mereka menghalangi Romo Sandyawan untuk berobat di luar negeri karena ia harus menjalani pemeriksaan pada Agustus 1996. Pada 10 Desember terjadi sejumlah demonstrasi mahasiswa yang direncanakan untuk memperingati Hari Hak Asasi. Pihak militer menghalangi beberapa unjuk rasa itu tapi membiarkan yang lain. Undang-Undang Dasar menjamin kebebasan berserikat; tapi pemerintah menerapkan kontrol ketat pada pelaksanaan hak ini. Undang-undang Keormasan 1985 mewajibkan kepatuhan pada Pancasila oleh semua organisasi, termasuk organisasi agama yang diakui dan perserikatan. Ketentuan ini, yang membatasi kegiatan politik, dipahami secara luas dirancang untuk melarang kegiatan kelompokkelompok yang mengupayakan ikut dalam persaingan politik yang demokratis, menjadikan Indonesia negara Islam, menghidupkan kembali komunisme, atau mengembalikan negara ke sistem banyak partai dengan ideologi berbeda-beda. Undang-undang ini memberi kekuasaan kepada pemerintah untuk membubarkan setiap organisasi yang dianggap bertentangan dengan Pancasila dan mewajibkan organisasi yang menerima dana dari luar negeri untuk mendapatkan persetujuan lebih dahulu dari pemerintah. Akan tetapi, banyak organisasi, termasuk SBSI dan KIPP, tetap aktif tanpa pengakuan resmi berdasarkan undang-undang ini. c. Kebebasan Beragama Undang-undang Dasar memberi kebebasan beragama bagi pemeluk lima agama yang diakui dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pemerintah mengakui agama Islam, Katolik, Protestan, Budha dan Hindu, serta mengizinkan peribadatan Aliran Kepercayaan. Meskipun pemeluk Islam lebih dari 85 persen penduduk, pelaksanaan dan ajaran agama lain yang diakui pada umumnya dihormati, 20

dan pemerintah secara aktif menganjurkan toleransi dan harmoni antar-agama. Namun ada sejumlah pembatasan terhadap jenis-jenis tertentu kegiatan agama, termasuk agama yang tidak diakui. Karena sila pertama Pancasila adalah KetuhananYang Maha Esa, maka ateisme dilarang. Meskipun orang tidak dipaksa untuk melaksanakan satu kepercayaan tertentu, semua warga negara harus memilih salah satu dari kelima agama yang diakui. Karena pilihan ini akan dicantumkan dalam dokumen-dokumen resmi, seperti KTP, maka keengganan untuk menyebutkan salah satu agama itu akan menyebabkan orang tidak mungkin memperoleh dokumen seperti itu. Persyaratan hukum untuk patuh pada Pancasila meluas ke semua organisasi agama dan sekuler. Pemerintah dengan tegas menentang kelompok-kelompok Muslim yang mendukung berdirinya negara Islam atau yang hanya mengakui syariat Islam. Pemerintah melarang beberapa agama, termasuk Kesaksian Jehovah, Baha’i, Kong Hu Cu dan, di beberapa provinsi, aliran Darul Arqam. Pemerintah dengan ketat mengawasi aliran-aliran Islam yang dianggap berbahaya akan menyimpang dari ajaran-ajaran ortodoks, dan di masa lalu kadang-kadang membubarkan kelompok sempalan seperti itu. Para pejabat tinggi pemerintah terus membuat pernyataan publik dan menekankan melalui contoh pentingnya penghormatan pada keanekaragaman agama. Namun para pejabat rendahan sering diduga enggan mempermudah dan melindungi agama minoritas. Sebuah peraturan tahun 1969 menetapkan bahwa sebelum sebuah rumah ibadah dapat dibangun, harus diperoleh persetujuan dari penduduk yang tinggal di sekitar lokasi dan diperlukan izin dari kantor departemen agama setempat. Beberapa orang Kristen mengatakan bahwa peraturan ini dipakai untuk melakukan diskriminasi terhadap mereka dan menghalangi mereka untuk membangun gereja. Meskipun demikian pembangunan gereja berjalan terus. Undang-undang membolehkan alih agama, dan alih agama memang terjadi. Para pengamat independen mencatat bahwa perkawinan antara Muslim dan non-Muslim telah menjadi makin sulit. Orang yang beragama selain dari kelima agama yang diakui mengalami kesulitan untuk mendapatkan pengesahan atas perkawinan mereka. Ada satu kasus menonjol di mana sepasang penganut Kong Hu Cu dilarang menikah. Pemerintah menganggap bahwa penyebaran agama oleh sebuah agama yang diakui di wilayah-wilayah yang didominasi oleh agama lain berpotensi mengganggu dan pemerintah tidak mendorong hal itu. Kegiatan misi asing pada umumnya tidak dihalangi, meskipun di Timor Timur, Irian Jaya dan kadangkadang di tempat lain para misionaris mengalami kesulitan dan kelambatan dalam memperpanjang izin tinggal, dan visa bagi penyebar agama asing baru sulit diperoleh. Undang-undang dan peraturan dari tahun 1970-an membatasi lama masa tinggal misionaris asing di Indonesia. Perpanjangan izin tinggal diberikan di daerah-daerah pelosok seperti di Irian Jaya. Kegiatan misionaris asing tunduk pada ketentuan dalam Undang-undang Keormasan. Warga negara pemeluk agama yang diakui membangun hubungan aktif dengan sesama penganut di dalam maupun di luar negeri dan melakukan ziarah agama ke luar negeri. d. Kebebasan Bergerak di Dalam Negeri, Perjalanan ke Luar Negeri, Emigrasi dan Repatriasi 21

Meskipun pada 1993 pemerintah secara drastis mengurangi jumlah orang yang dicegah dan ditangkal keluar atau masuk Indonesia dari jumlah 8.897 orang yang masuk dalam daftar “cekal” secara terbuka menjadi hanya beberapa ratus orang saja, pembatasan masih tetap ada. Pemerintah juga membatasi gerak warga negara dan orang asing ke dan di tempat-tempat tertentu di dalam negeri. Selain itu, pemerintah juga mewajibkan adanya izin untuk mencari pekerjaan di tempat-tempat tertentu, terutama untuk mengendalikan urbanisasi ke kota-kota yang sudah padat. Izin khusus diperlukan untuk mengunjungi tempat-tempat tertentu di Irian Jaya. Pemerintah mewajibkan bekas tahanan, termasuk mereka yang terkait dengan percobaan kudeta 1965, untuk memberi tahu gerak mereka dan untuk mendapatkan izin resmi bagi kepindahan tempat tinggal mereka. (Lihat Bagian 1.f.) Pihak berwajib melakukan operasi untuk memeriksa KTP, termasuk dengan cara menghentikan kendaraan dan menggerebeg tempat-tempat hiburan. Pada 15 Juli, di Jakarta Barat polisi kabarnya memeriksa dokumen 3.000 orang dan mendenda banyak di antara mereka yang tidak memiliki izin untuk tinggal di Jakarta. Teguh Sunarto ditahan dalam operasi serupa di Surabaya karena tidak mempunyai KTP. Ia diperlakukan kasar dan meninggal selepas dari tahanan (lihat Bagian 1.a.) Pemerintah mencegah perjalanan ke luar negeri bagi sejumlah aktivis politik, sebagian di antaranya untuk berobat. Pihak Imigrasi di bandara Jakarta pada 10 April mencegah aktivis hak asasi manusia Romo Sandyawan Soemardi meninggalkan Indonesia untuk menjalani operasi mata di Perth, Australia. Ia diperiksa pada Agustus 1996 dalam kaitannya dengan kasus PRD. PTUN Jakarta pada 28 Januari menguatkan keputusan Kejaksaan Agung untuk menerapkan larangan keluar negeri selama satu tahun bagi Sri Bintang Pamungkas pada 18 April 1996. Itu merupakan larangan satu tahun kedua baginya. Pemerintah mula-mula menolak permohonan ketua serikat buruh independen SBSI Muchtar Pakpahan untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan kesehatan di luar negeri. Bulan Desember pemerintah mengizinkan tim dokter Kanada untuk memeriksa Pakpahan. Pakpahan yang sedang menjalani hukuman penjara karena vonis tahun 1994 masih harus menghadapi pengadilan lain atas tuduhan subversi. Sidang itu tertunda karena kesehatan Pakpahan perlu perawatan, dan pada saat itulah ketika masih di rumah sakit ia meminta izin untuk berobat di luar negeri. Penutupan beberapa wilayah tertentu di pegunungan tengah di Irian Jaya pada 1996 oleh pemerintah bagi pendatang berlanjut pada 1997. Daerah-daerah itu ditutup karena adanya operasi khusus militer terhadap Gerakan Papua Merdeka, kelompok yang melakukan pembunuhan dan penyanderaan pada 1996. Ada juga kekecualian selama masa penutupan ini di tempat-tempat itu, termasuk bagi petugas agama. Sulit untuk memperoleh keterangan karena pembatasan ini. Namun sumber-sumber yang dapat dipercaya menyatakan bahwa pasukan keamanan menduduki desa-desa di pegunungan, memberlakukan kontrol ketat terhadap pergerakan orang-orang desa itu, dan memaksa mereka melakukan kerja paksa selama masa pembatasan itu. Ada laporan yang dapat dipercaya bahwa pada akhir 1996 pasukan keamanan memperlakukan penduduk di kawasan operasi dengan buruk, termasuk pemukulan dan interogasi kasar, perusakan rumah dan tanaman, serta gangguan seksual, dan bahwa pada Januari pasukan keamanan membakar gubuk-gubuk di satu desa. Menurut laporan-laporan yang dapat dipercaya, pihak militer melakukan pemindahan paksa dan gangguan terhadap penduduk desa pada akhir 1997 sehingga memperparah kelangkaan pangan di beberapa tempat. Pihak militer 22

membantah bahwa mereka membatasi gerak penduduk atau melakukan penyiksaan, serta menyatakan bahwa GPM-lah yang mengintimidasi penduduk. Di tahun-tahun yang lewat, pemerintah menawarkan suaka bagi lebih dari 125.000 orang perahu dari Indocina. Kamp Pulau Galang di Indonesia ditutup pada 1996 sewaktu pencari suaka terakhir dipulangkan. Namun masih ada 14 orang yang menunggu pemukiman kembali di negara lain. Pemerintah belum merumuskan kebijakan mengenai pencari suaka dari negara lain, tapi dalam prakteknya menghormati prinsip untuk tidak mengembalikan pencari suaka ke negara asal mereka. Tidak ada laporan mengenai pemulangan paksa terhadap orang ke negara di mana mereka takut menghadapi hukuman.

Bagian 3 Penghormatan Terhadap Hak-hak Politik: Hak Warga Negara Mengubah Pemerintah Mereka Warga negara tidak kuasa mengubah pemerintah mereka melalui cara-cara demokratis. Belum pernah ada tantangan pemilihan terhadap Presiden Soeharto. Ke-1.000 anggota MPR secara konstitusional adalah pemegang kekuasaan tertinggi atas Negara. Mereka bersidang setiap lima tahun untuk memilih presiden dan wakil presiden dan menyusun GBHN. MPR secara efektif dikendalikan oleh Presiden Soeharto dan pemerintahannya. Lima ratus anggota MPR berasal dari DPR, 425 di antaranya dipilih pada pemilu bulan Mei (naik dari 400 pada 1992). Sisanya yang 75 orang diangkat dari kalangan militer. Pada 1993 MPR memilih Soeharto untuk masa bakti lima tahun yang keenam sebagai Presiden. Secara hukum presiden berada di bawah MPR, tapi kenyataannya ia dan sekelompok kecil pendukungnya menjalankan wewenang pemerintahan. Di bawah doktrin dwi-fungsi, pihak militer memegang peran penting di bidang sosio-politik serta keamanan. Militer mendapat jatah 75 kursi di DPR, sebagain sebagai kompensasi seimbang karena tidak boleh ikut memilih. Pihak militer menguasai 20 persen kursi di DPR tingkat provinsi dan kabupaten, dan menduduki banyak posisi kunci di pemerintahan. Sisanya yang 85 persen di tingkat nasional dan 80 persen di tingkat daerah diisi melalui pemilihan yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Semua warga negara dewasa, kecuali anggota ABRI aktif, mereka yang sedang menjalani hukuman penjara, serta sekitar 36.000 bekas anggota PKI, berhak memilih. Pemilih memilih melalui kartu suara satu di antara tiga organisasi politik yang disetujui pemerintah, yang mencantumkan daftar calon pada setiap daerah pemilihan. Daftar itu harus disaring oleh BASKORSTANAS, yang menentukan apakah seorang calon terlibat atau tidak dalam peristiwa percobaan kudeta 1965 atau menimbulkan jenis-jenis bahaya lain terhadap keamanan yang definisinya sangat luas. Para pengritik menuduh penyaringan demikian tidak konstitusional karena tidak ada cara untuk menggugat hasil litsus (penelitian khusus) tersebut, dan mencatat bahwa hasil litsus dapat dipakai untuk menggusur pengritik pemerintah dari DPR. Peraturan ketat menetapkan lama masa kampanye, akses ke media elektronik, jadwal tampil di muka umum, dan lambang politik yang boleh dipakai. Pemerintah secara resmi mengizinkan hanya tiga organisasi politik untuk ikut dalam pemilu. Yang paling besar dan terpenting adalah GOLKAR, sebuah organisasi yang dikendalikan pemerintah terdiri 23

dari berbagai kelompok fungsional. Presiden secara kuat mempengaruhi seleksi pemimpin GOLKAR, dan ia sendiri merupakan pemimpin seniornya. GOLKAR membina hubungan erat dengan ABRI dan KORPRI, organisasi di mana semua pegawai negeri otomatis menjadi anggotanya. Pegawai negeri boleh ikut dalam partai politik dengan izin resmi, tapi dalam praktek mereka dipaksa untuk mendukung GOLKAR. Bekas anggota PKI dan partai terlarang lain tidak boleh mencari kedudukan politik atau aktif dalam politik. Kedua organisasi politik lainnya yang kecil dan sah, PPP dan PDI, tidak dianggap sebagai partai oposisi, dan, bersama-sama dengan GOLKAR, menurut undang-undang wajib menganut ideologi Pancasila. Kedua partai kecil ini tidak boleh membuka kantor di tingkat kecamatan sehingga mereka sangat dirugikan berhadapan dengan GOLKAR yang didukung pemerintah dan mempunyai kantor di tingkat kecamatan dan pemerintah yang lebih rendah lagi. Pemerintah dengan ketat mengawasi dan sering membina kegiatan ketiga organisasi politik ini. Misalnya, banyak anggota DPR aktif serta calon anggota potensial dari PDI tidak boleh mencalonkan diri pada pemilihan anggota DPR bulan Mei setelah pemerintah pada Juni 1996 merekayasa penggusuran Megawati Sukarnoputri yang populer. Ia sebelumnya diramalkan akan menjadi calon presiden 1998. Anggota DPR dan DPRD bisa ditarik/di”recall” dari dewan oleh pimpinan partai. Seorang anggota DPR yang vokal dari fraksi ABRI, Majen Theo Syafei, ditarik dari dewan sebelum pemilu bulan Mei. Kendati anggota DPR dari ABRI dapat diganti kapan saja atas permintaan Pangab, sehingga secara teknis tidak di-”recall”, waktu penarikan Syafei dianggap tidak lazim. Itu terjadi tak lama setelah ia secara terbuka menekankan bahwa pemilih mempunyai hak untuk tidak memilih dengan menusuk ketiga gambar kontestan. Pemilu bulan Mei, begitu pula kelima pemilu sebelumnya sejak 1971, mengingkari hak warga negara untuk mengubah pemerintah mereka sendiri secara demokratis. GOLKAR yang berkuasa memperoleh kemenangan terbesar sepanjang sejarah dengan 74 persen suara; PPP memperoleh sekitar 22 persen, dan PDI hanya memperoleh sedikit di atas 3 persen. Pemimpin PDI Megawati Sukarnoputri dan pendukungnya tidak diizinkan ikut pemilu, suatu faktor yang menurut para pengamat menyebabkan anjloknya perolehan suara PDI dari 17 persen pada pemilu sebelumnya. Kekerasan sporadis tapi bermakna meruyak selama masa kampanye pemilu yang berlangsung 27 hari sebelum pemilu, termasuk bentrokan antara ketiga kontestan, antara kontestan dan pihak keamanan, dan kerusuhan umum. Sebagian besar di antara ratusan kematian selama masa kampanye terjadi sebagai akibat kecelakaan selama pawai di jalan-jalan. Menurut data pemerintah, 123 orang tewas di Banjarmasin pada 23 Mei, hari terakhir masa kampanye, dalam suatu kebakaran yang menimpa sebuah toko serba-ada di tengah-tengah kerusuhan dan penjarahan. Selain itu, banyak yang terluka akibat dari bentrokan sebelum dan sesudah pemilu. Banyak pengamat melihat kampanye tersebut sebagai yang terburuk. Pemerintah berhasil membatasi materi dan format kampanye dan pemilu, mungkin lebih hebat daripada tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, meskipun sudah ada peraturan baru untuk mencegah arak-arakan di jalan yang sudah sering terjadi di kampanye sebelumnya, serta berbagai peringatan terbuka dari pejabat tinggi agar menaati peraturan itu, pawai besar terus dilakukan oleh GOLKAR, PPP, dan sesekali oleh PDI. Di tengah-tengah kampanye, pemerintah melarang semua hal yang mendukung kelahiran aliansi Megawati Sukarnoputri dan PPP. Menjelang pemilu, presiden dan para pejabat tinggi lain melalui 24

serangkaian peringatan terbuka meminta warga agar mengabaikan sejumlah seruan, kebanyakan tidak langsung, untuk memboikot pemilu. Pemerintah secara terbuka berulang-ulang menegaskan bahwa seruan demikian itu ilegal dan melakukan penangkapan terhadap mereka yang menyerukan boikot termasuk Sri Bintang dan para mahasiswa yang diduga menyebarkan selebaran seruan boikot. Beberapa mahasiswa dan kelompok gereja yang secara tidak langsung juga menyerukan boikot tidak diambil tindakan. Pemilu dan kampanye dicemari oleh berbagai tuntutan yang layak atas kecurangan dan pelanggaran lain, kebanyakan oleh pemerintah dan GOLKAR, meskipun ada pula beberapa pelanggaran kampanye oleh PPP dan PDI. Laporan kecurangan dan pelanggaran lain termasuk surat suara ganda oleh anggota GOLKAR, intimidasi pemerintah terhadap saksi di TPS dari PPP dan PDI, dan pengawasan yang buruk atas penghitungan suara. Di beberapa kecamatan di Jawa Timur, keluhan atas kecurangan besar-besaran menimbulkan kerusuhan, memaksa pihak berwenang melakukan pemungutan suara ulang karena, menurut para pejabat, kotak suara hancur. Setelah pemilu usai, pemerintah mengklaim bahwa 64.000 suara terlewat tidak dihitung dan memberi satu tambahan kursi kepada PDI. Komnas HAM mengimbau pemerintah, DPR, kontestan pemilu, dan tokoh masyarakat untuk melakukan evaluasi atas pemilu. Diskusi terbuka oleh pemerintah terutama membahas cara meningkatkan teknik kampanye bukannya faktor-faktor mendasar yang menyebabkan masalah dalam pemilu. Pemerintah mengatakan bahwa mereka akan menyelidiki laporan pelanggaran pemilu yang diajukan oleh ketiga kontestan, tapi janji itu tidak ada hasilnya sampai 1998. DPR mempertimbangkan RUU yang diajukan kepadanya oleh departemen dan instansi pemerintah tapi tidak menyusun RUU sendiri meskipun DPR mempunyai hak untuk itu secara konstitusional. Selama masa lima tahun yang berakhir Oktober, DPR mempertimbangkan dan mensahkan 70 perundangundangan, termasuk satu RUU dua kali. Dalam suatu tindakan yang belum pernah terjadi dan mungkin tidak konstitusional, presiden mengembalikan sebuah RUU penyiaran yang sudah disetujui oleh DPR agar dipertimbangkan kembali dan direvisi. DPR memang secara teknis, dan kadang-kadang secara mendasar, melakukan perubahan atas RUU yang dipertimbangkannya. Ada juga tanda-tanda bahwa DPR sampai tahap tertentu dapat melakukan perubahan mendasar pada RUU yang mencerminkan kepentingan kelompok luar. Ini terutama kentara dalam hal RUU Ketenagakerjaan (lihat Bagian 6). Namun muncul kritik umum setelah ada laporan bahwa Menteri Tenaga Kerja menggunakan dana JAMSOSTEK sebesar $1,3 miliar untuk mempermudah lolosnya RUU tersebut dari DPR. Meskipun jelas tetap tunduk pada cabang eksekutif, DPR sudah menjadi makin aktif dalam mengawasi kebijakan pemerintah, dan dalam mengoreksi kesalahan pengeluaran anggaran pemerintah serta pelaksanaan program melalui dengar-pendapat dengan anggota kabinet, pejabat militer, dan pejabat-pejabat tinggi lain. DPR juga sudah makin menjadi tempat penting untuk mengajukan tuntutan dan petisi oleh mahasiswa, buruh, petani tergusur, dan lain-lain yang mengeluhkan pelanggaran hak asasi manusia dan menyuarakan keprihatinan lain. DPR jarang menjadi sumber pertolongan bagi mereka kecuali hanya menyediakan saluran untuk menerima keluhan mereka.

25

Meskipun tidak ada pembatasan secara hukum terhadap peran wanita dalam politik, mereka masih kurang terwakili di pemerintahan. Pemilu bulan Mei memperlihatkan suatu langkah mundur dalam hal wakil mereka di DPR, dengan persentase jumlah kursi yang mereka duduki turun dari 12 menjadi 9 persen. Di kabinet, hanya 2 dari 41 menteri adalah wanita.

Bagian 4 Sikap Pemerintah Terhadap Penyelidikan Internasional dan Lembaga Swadaya Masyarakat atas Tuduhan Pelanggaran Hak Asasi Tekanan pemerintah terhadap organisasi hak asasi manusia di dalam negeri dan LSM lainnya muncul setelah kekerasan 27 Juli 1996 berlanjut sampai menjelang pemilu bulan Mei (lihat Bagian 2.a.). LSM menghadapi ganggungan dari pemerintah, termasuk penggerebegan kantor mereka oleh polisi, pengawasan oleh polisi dan intel militer, interogasi di kantor polisi, atau pembatalan pertemuan intern mereka. Pejabat pemerintah, seperti pada 1996, secara terbuka mengancam akan mengambil tindakan hukum terhadap beberapa LSM. Pemerintah menegaskan kembali penolakannya terhadap usul Komisi Hak Asasi PBB untuk membuka kantor di Jakarta yang akan dapat memantau perkembangan hak asasi manusia. Pemerintah sebelumnya mengisyaratkan akan mengizinkan pembukaan kantor tersebut di Jakarta jika kantor itu hanya terbatas pada kegiatan teknis, seperti mengadakan seminar tanpa fungsi pemantauan. Pemerintah menganggap penyelidikan oleh pihak luar atau kritik asing atas pelanggaran hak asasi manusia sebagai campur tangan terhadap urusan dalam negerinya. Pemerintah menekankan keyakinannya bahwa mengaitkan bantuan asing atau sanksi lain dengan pelaksanan hak asasi manusia adalah campur tangan terhadap urusan dalam negeri dan dengan demikian tidak dapat diterima. Meskipun pemerintah tidak mengumumkan suatu kebijakan publik yang jelas apakah mereka akan mengundang atau memperbolehkan orang asing memantau pemilu di bulan Mei, dua kelompok internasional melakukan pengamatan secara terbatas. Komisi Palang Merah Internasional ICRC terus beroperasi di Timor Timur. Mereka juga mengunjungi tahanan yang dihukum karena keterlibatan dalam percobaan kudeta 1965, ekstremis Islam, tahanan Timor Timur dan tahanan politik lain di luar Timor Timur. Namun sepanjang tahun mereka menghadapi hambatan dan ketidaksediaan untuk mengizinkan kunjungan, termasuk penundaan berlarut-larut untuk mengunjungi beberapa tahanan atau narapidana baru yang dituduh dengan tindak subversi di Jakarta atau tempat lain setelah peristiwa 27 Juli 1996. Setelah kunjungan pertama pada Agustus 1996, ICRC tidak diizinkan melakukan kunjungan lagi ke tahanan PRD di Jakarta sampai Juli tahun berikutnya. Walaupun pada dasarnya pemerintah memberi dukungan bagi kegiatannya, ICRC secara berkala mendapat kesulitan dalam melaksanakan program kemanusiaannya di Timor Timur. Kerjasama dengan komandan militer setempat membaik menyusul sebuah seminar ICRC di Jakarta bagi para perwira militer. Peserta dalam seminar itu memperlihatkan pemahaman yang lebih baik dan 26

keterbukaan terhadap misi ICRC dan sering mempermudah akses terhadap tahanan di Timor Timur. Meskipun ICRC dapat mengunjungi sebagian besar mereka yang sudah ditahan di Timor Timur, masalah tetap muncul dalam mengunjungi mereka yang ditahan oleh pihak militer di Aceh dan Sumatra Utara. ICRC belum dapat memperoleh akses ke Aceh sejak Maret, saat militer mengadakan operasi di sana. Perjalanan ke Timor Timur oleh LSM hak asasi manusia dari negara asing selain ICRC belum mendapat izin. Tapi organisasi-organisasi hak asasi dalam negeri boleh berkunjung. Seorang wanita pekerja LSM asing ditahan di Timor Timur bulan November ketika ia ikut dan memotret dalam sebuah upacara memperingati peristiwa pembantaian Dili 1991 di bawah cahaya lilin. Selama ditahan, katanya, ia tidak boleh menghubungi kedubes negaranya. Ia diusir ke Bali setelah ditanyai selama 10 jam. Komnas HAM bentukan pemerintah dalam tahun keempat operasinya terus aktif dalam mengamati laporan pelanggaran hak asasi dan terus menunjukkan independensinya. Karena tidak mempunyai kekuasaan untuk menindaklanjuti temuannya, komisi tersebut berusaha bekerja di dalam sistem, mengirim tim ke mana pun diperlukan untuk menyelidiki kemungkinan adanya masalah hak asasi dan menggunakan bujukan, publisitas, dan kekuatan moral untuk menyoroti pelanggaran, memberi rekomendasi bagi perubahan hukum dan peraturan, dan mendorong tindakan koreksi. Pemerintah cenderung mengabaikan temuan komisi tersebut atau, dalam beberapa kasus, bergerak ogah-ogahan sebagai reaksi terhadap temuan tersebut. Diberitakan secara terbuka bahwa komisi meminta pemerintah agar lebih responsif. Pada September 1995 komisi menemukan enam kasus pelanggaran ABRI terhadap penduduk asli di Irian Jaya yang mengakibatkan beberapa kematian; hanya satu kasus yang diajukan ke pengadilan, dan komisi meminta tindak lanjutnya pada 1997. Pemerintah melakukan kemajuan kecil dalam menangani peristiwa 27 Juli 1996. Pemerintah bergerak sangat lambat dalam menanggapi laporan Komnas HAM bulan Oktober 1996 mengenai peristiwa itu yang melaporkan hilangnya 23 orang, 149 terluka, dan 5 tewas, salah satunya karena tembakan. Dua orang menteri secara terbuka mengumumkan penutupan kasus itu dan mengatakan tidak boleh lagi ada diskusi umum mengenai kasus tersebut. Para pendukung pemimpin PDI Megawati Sukarnoputri yang tergusur mengumumkan pada Juni bahwa 6 dari ke-23 orang yang hilang sudah ditemukan, dan komisi mengatakan pada 4 September bahwa jumlah orang yang hilang tinggal 16. Komisi bertemu dengan pejabat-pejabat senior pemerintah pada September yang kabarnya sependapat bahwa kasus itu belum selesai dan setuju untuk meneruskan penyelidikan atas ke-16 orang itu. Tidak ada janji untuk melakukan tindakan hukum sebagaimana direkomendasikan komisi atas mereka yang mengambil alih markas PDI. Komnas HAM membuka kantor di Timor Timur pada Juni 1996, yang secara luas dianggap sebagai langkah positif dalam upaya menangani dan menyelesaikan pelanggaran hak asasi di sana. Tapi banyak pengamat juga meragukan efektivitas kantor itu karena lokasinya berdekatan dengan markas militer, stafnya disediakan oleh pemerintah, dan karena kantor itu hanya dapat menerima keluhan dan mengirimkannya ke Jakarta tanpa dapat mengambil tindakan sendiri. Orang-orang yang pertama mendatangi kantor itu biasanya mereka yang tidak mengeluhkan pemerintah, militer atau pemerintah 27

setempat, dan ini memberi kesan bahwa penduduk setempat segan mendatangi kantor tersebut. Kantor itu sendiri juga membatasi diri pada kasus-kasus non-politik; jadi memberi dampak kecil pada masalah hak asasi yang lebih serius di Timor Timur. Komisi sudah berusaha menangani masalah ini tapi sampai akhir tahun kantor itu tetap tidak efektif. Pemerintah pertama kali menunjuk ketua komisi, yang lalu menunjuk ke-24 anggota lainnya. Komisi mengisi kekosongan pada jajarannya secara bebas melalui pemilihan intern. Seorang ketua baru dan empat angggota baru, menggantikan mereka yang meninggal dalam jabatan, dipilih pada September 1996. Komisi pindah ke kantornya sendiri yang permanen pada 1996 dan telah memakai beberapa staf profesional untuk mendukung ke-25 anggotanya dalam kegiatan penyelidikan dan kegiatan mendasar lain.

Bagian 5 Diskriminasi Berdasarkan Ras, Jenis Kelamin, Agama, Cacat Tubuh, Bahasa, atau Status Sosial Undang-undang Dasar tidak secara eksplisit melarang diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, ras, cacat tubuh, bahasa atau status sosial. Tetapi UUD menyebutkan hak dan kewajiban yang sederajat bagi warga negara, baik pribumi maupun keturunan. GBHN 1993 secara tegas menyatakan bahwa wanita mempunyai hak, kewajiban dan kesempatan yang sama dengan pria. Tapi GBHN 1978, 1983, 1988 dan 1993 ini juga menyatakan bahwa peran serta wanita dalam proses pembangunan harus tidak bertentangan dengan peran mereka untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan pendidikan anakanak. Undang-udang perkawinan menyatakan bahwa pria adalah kepala keluarga. UUD memberi warganya hak untuk menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing tapi pemerintah hanya mengakui lima agama dan menerapkan pembatasan pada kegiatan agama lain. Wanita Kekerasan terhadap wanita tetap tidak tercatat dengan baik. Namun pemerintah mengakui adanya masalah keluarga di masyarakat yang makin gawat karena adanya perubahan sosial akibat urbanisasi yang cepat. Perkosaan oleh suami atas istri tidak dianggap sebagai kejahatan menurut undang-undang. Meskipun kelompok-kelompok wanita berusaha mengubah undang-undang itu, mereka belum memperoleh kemajuan berarti. Norma-norma budaya menetapkan bahwa masalah antara suami dan istri adalah urusan pribadi, dan kekerasan di rumah terhadap wanita jarang dilaporkan. Meskipun polisi dapat menuntut suami karena memukuli istrinya, sikap masyarakat pada umumnya membuat polisi cenderung tidak melakukan hal itu. Akan tetapi, menurut sumber yang dapat dipercaya, polisi sudah menjadi agak lebih responsif terhadap keluhan kekerasan di dalam rumah tangga. Perkosaan adalah tindak pidana. Banyak pria yang sudah ditangkap dan dihukum karena memperkosa dan mencoba memperkosa meskipun data yang dapat dipercaya tidak tersedia. Hukuman penjara maksimum untuk perkosaan adalah 12 tahun, tapi para pengamat mengatakan bahwa hukuman itu 28

biasanya jauh lebih ringan. Kekerasan massa terhadap tersangka pemerkosa sering dilaporkan. Aktivis hak wanita percaya bahwa perkosaan banyak tidak dilaporkan karena adanya aib sosial yang terkait dengan si korban. Beberapa ahli hukum melaporkan bahwa jika seorang wanita tidak segera pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan fisik guna mendapatkan bukti perkosaan, maka ia tidak dapat mengajukan tuntutan. Seorang saksi juga diperlukan untuk mengajukan tuntutan, dan hanya dalam kasus yang jarang saja saksi tersedia, demikian menurut para ahli hukum. Beberapa wanita kabarnya gagal melaporkan perkosaan kepada polisi karena polisi tidak menganggap serius tuduhan mereka. Pemerintah menyediakan bimbingan konsultasi kepada wanita korban aniaya, dan beberapa organisasi swasta muncul untuk membantu wanita. Banyak dari organisasi ini lebih memusatkan perhatian pada keutuhan keluarga daripada menyediakan perlindungan kepada wanita yang terlibat. Banyak wanita mengandalkan pada sistem keluarga besar untuk mendapatkan bantuan dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga. Hanya ada sedikit pusat krisis bagi wanita di Indonesia, termasuk yang didirikan oleh KOWANI di Jakarta atas sponsor pemerintah pada 1996 dan sebuah pusat krisis bagi wanita di Yogyakarta yang dikelola oleh sebuah LSM. Sebuah pusat krisis baru bagi wanita, “Mitra Perempuan”, yang dibuka di Jakarta bulan April, mengoperasikan sambungan telepon langsung 24 jam sehari dan penampungan sementara bagi wanita yang dianiaya. Latihan bagi para pembimbing untuk sebuah pusat krisis lain di Jakarta, “Bicaralah”, sedang dilakukan. Pelecehan seks bukanlah kejahatan menurut undang-undang, hanya merupakan tindakan tidak pantas. Namun tuntutan pelecehan seks dapat merusak karir seorang pegawai negeri. Undang-undang yang berlaku kabarnya hanya menyangkut penganiayaan fisik saja dan memerlukan dua orang saksi. Para wanita pekerja dan pencari kerja mengeluh sering diganggu oleh mandor dan pemilik pabrik. Ada sejumlah laporan yang dapat dipercaya tentang pengiriman wanita dan tentang “kawin kontrak” dengan orang asing di daerah-daerah tertentu, seperti Kalimantan dan Sumatra, meskipun luasnya praktek demikian kurang jelas. Perkawinan demikian tidak dianggap sah, dan anak-anak yang terlahir tidak dianggap lahir dari perkawinan. Pelacuran meluas. Angka resmi 1994 melaporkan bahwa di Indonesia ada 70.684 pelacur, 9.000 di antaranya di Jakarta. Menurut UUD, wanita mempunyai hak, kewajiban dan kesempatan yang sama dengan pria, namun dalam prakteknya wanita menghadapi sejumlah diskriminasi hukum. Undang-undang perkawinan menyatakan bahwa pria adalah kepala keluarga. Undang-undang perkawinan bagi Muslim, berdasarkan pada syariat Islam, mengizinkan pria beristri empat jika istri pertama tidak mampu “memenuhi kewajibannya sebagai istri”. Izin dari istri pertama diperlukan, tapi konon kebanyakan wanita tidak kuasa menolak. Pegawai negeri dan anggota ABRI yang ingin mempunyai istri lagi harus mendapat persetujuan dari atasan mereka. Sebagai teladan, Presiden melarang anggota kabinet dan anggota militer mempunyai istri kedua. Dalam kasus perceraian wanita sering menanggung beban pembuktian yang lebih berat daripada pria, terutama dalam pengadilan agama Islam. Tunjangan cerai jarang diterima oleh wanita, dan tidak ada pemaksaan pembayaran tunjangan ini. Undang-Udang kewarganegaraan 1958 menyatakan bahwa kewarganegaraan anak didasarkan hanya pada kewarganegaraan sang ayah. Anak-anak dari ibu warga negara Indonesia dan ayah 29

berkewarganegaraan asing diangap sebagai orang asing, dan memerlukan visa untuk tinggal di Indonesia sampai umur 18 tahun saat mereka boleh mengajukan permohonan kewarganegaraan. Mereka dilarang bersekolah di sekolah Indonesia, dan harus belajar di sekolah internasional yang mahal. Kasus seorang anak laki-laki berumur lima tahun dari seorang ibu WNI dan seorang pria Jepang menarik perhatian media pada 1996 setelah si anak diperintahkan meninggalkan Indonesia menyusul perceraian kedua orang tuanya dan setelah visa tinggal si anak berakhir. Pada 1997 si anak kembali dengan visa lain, tapi karena sang ibu tidak mampu membiayainya belajar di sekolah internasional, ia akhirnya dikirim ke Jepang untuk hidup dengan ayahnya. Wanita asing yang menikah dengan pria Indonesia juga menghadapi kesulitan. Anak-anak mereka adalah warga negara Indonesia dan dengan demikian tidak boleh bersekolah di sekolah internasional di Indonesia. Wanita demikian biasanya dipajaki sebagai kepala rumah tangga tapi tidak mempunyai hak atas harta benda, usaha dan warisan. Sudah banyak dilakukan pembahasan mengenai masalah Undang-undang Kewarganegaraan ini. LSM dan pemerintah tampaknya sepakat bahwa undangundang ini perlu direvisi. Meskipun sebagian wanita menikmati tingkat kebebasan ekonomi dan sosial yang tinggi, serta menduduki posisi di sektor publik maupun swasta, mayoritas wanita tidak menikmati kebebasan sosial dan ekonomi seperti itu serta terwakili secara tidak proporsional (terlalu banyak) di ujung bawah skala ekonomi. Profil nasional tentang posisi dan peran wanita tahun 1995 memperlihatkan bahwa 37,4 persen pegawai negeri adalah wanita tapi hanya 5,5 persen menduduki jabatan struktural. Kesenjangan penghasilan antara pria dan wanita berkurang secara berarti dengan makin tingginya jenjang pendidikan. Wanita pekerja di bidang manufaktur pada umumnya menerima upah lebih rendah daripada pria. Banyak wanita pekerja pabrik dipekerjakan sebagai buruh harian bukannya pegawai tetap, dan perusahaan tidak wajib menyediakan tunjangan, seperti cuti melahirkan, kepada buruh harian. Para aktivis hak-hak wanita melaporkan bahwa ada kecenderungan yang meningkat di sektor manufaktur untuk mempekerjakan wanita di rumah-rumah dengan upah di bawah minimum. Tingkat pengangguran wanita sebesar 50 persen lebih tinggi daripada pria. Wanita sering tidak mendapat tunjangan atau bonus yang menjadi hak mereka jika mereka adalah kepala keluarga, dan dalam beberapa kasus tidak menerima tunjangan untuk suami dan anak-anak mereka seperti tunjangan kesehatan dan pengurangan pajak pendapatan. Meskipun ada undang-undang yang menetapkan cuti 3 bulan untuk wanita melahirkan, pemerintah mengakui bahwa wanita hamil sering dipecat atau diganti dengan orang lain ketika sedang cuti. Beberapa perusahaan mewajibkan wanita menandatangani pernyataan bahwa mereka tidak akan hamil. Undang-undang Ketenagakerjaan mewajibkan pemberian cuti dua hari untuk wanita haid per bulan tapi ini tidak selalu diberikan. Banyak kelompok mengeluh bahwa RUU Ketenagakerjaan masih kabur dan tidak merinci lama masa cuti melahirkan dan cuti haid yang menjadi hak wanita. Undang-undang ini juga tidak mewajibkan majikan memberi waktu kepada wanita untuk menyusui bayinya selama jam kerja. Undang-undang baru yang disahkan oleh DPR pada 12 September direvisi untuk sekali lagi mencakup hak-hak ini. Banyak kelompok mengritik undang-undang ini karena tidak menyebut tentang pelecehan seks dan kekerasan terhadap wanita di tempat kerja, dan hanya menyediakan perlindungan 30

yang tidak memadai di bidang-bidang kerja di mana wanita secara teratur menderita pelecehan seperti kerja di luar negeri dan pelayanan rumah tangga. Undang-undang itu diharapkan berlaku mulai Oktober 1998. Dibandingkan dengan pria banyak wanita yang buta huruf, kurang sehat dan kurang gizi. Presiden mengimbau perluasan upaya untuk mengurangi tingginya tingkat kematian ibu, yang 425 orang per 100.000 kelahiran, demikian angka resmi, sampai 650 menurut perkiraan sumber lain. Pemerintah meluncurkan “gerakan sayang ibu” pada Desember 1996 untuk mengatasi tingkat kematian ibu, dan sekarang memperluas jangkauannya ke wilayah-wilayah lain. Menurut data PBB sekarang, dua pertiga wanita Indonesia menderita kurang darah dan 24 persen dari wanita dalam umur reproduksi menderita kekurangan tenaga yang kronis. Indikator pendidikan wanita telah membaik selama sepuluh tahun terakhir. Jumlah gadis yang lulus dari SMU berlipat tiga dari 1980 ke 1990. Makin banyak LSM yang kini bekerja untuk memajukan hak-hak hukum, ekonomi, sosial dan politik wanita. Mereka sudah ada yang berhasil memperoleh pengakuan resmi atas perhatian mereka pada masalah wanita. Jumlah konferensi, seminar, dan lokakarya mengenai masalah wanita pun meningkat. Kebanyakan disponsori oleh LSM meskipun ada juga yang oleh lembaga-lembaga akademis dan pemerintah. Kebanyakan acara itu berusaha meningkatkan kesadaran atau memajukan pembelaan bagi wanita. Anak-anak Pemerintah wajib menyediakan hak dan kesejahteraan anak-anak tapi terhambat oleh kurangnya sumber daya sehingga pemerintah sulit menerjemahkan kewajiban ini ke dalam praktek. Pemerintah hanya mengalokasikan 2,2 persen dari produk kotor nasionalnya untuk pendidikan. Sebuah undangundang 1979 tentang kesejahteraan anak-anak mendefinisikan tanggung jawab negara dan orang tua untuk mengurus dan melindungi anak-anak. Namun ketentuan dalam undang-undang itu tentang perlindungan anak-anak masih belum dilaksanakan karena peraturan pelaksanaannya masih dalam tahan pembahasan. Pemerintah telah melakukan upaya khusus untuk meningkatkan pendidikan dasar dan pelayanan ibu. Perawatan kesehatan yang murah tersedia walaupun di daerah pedesaan pelayanan itu kadang-kadang susah dijangkau dan hanya sporadis. Lagi pula pemerintah hanya menyisihkan 0,7 persen dari GNPnya untuk sektor kesehatan. Menurut data PBB, 36 persen dari anak-anak balita menderita kurang gizi yang mengandung energi dan protein dan 35 persen menderita kekurangan zat besi. Meskipun pendidikan dasar pada prinsipnya universal, UNICEF memperkirakan bahwa lebih dari satu juta anak-anak putus sekolah dasar tiap tahun terutama karena biaya dan karena perlu membantu menambah pendapatan keluarga. Sebuah undang-undang tahun 1994 menaikkan pendidikan wajib dari 6 tahun menjadi 9 tahun, tapi undang-undang itu belum sepenuhnya dilaksanakan karena fasilitas sekolah tidak memadai dan kurangnya sumber keuangan keluarga untuk menunjang anak-anak tetap bersekolah. Biaya resmi dan tidak resmi untuk pendidikan umum, termasuk uang pendaftaran, buku, makan, transportasi, dan baju seragam telah naik terlalu tinggi bagi kebanyakan keluarga. 31

Menurut data pemerintah, 8 persen dari anak berusia antara 10 dan 14 tahun bekerja. Setengahnya bersekolah dan juga bekerja, dan setengahnya lagi bekerja saja. Perkiraan tidak resmi tentang pekerja anak-anak malah lebih tinggi. Menurut menteri sosial, 20.000 anak jalanan tinggal di Jakarta. Ribuan lainnya lagi tinggal di kota-kota lain. Mereka menjual koran, menjadi tukang semir, tukang parkir, atau cara lain untuk memperoleh uang. Banyak anak-anak bekerja dalam lingkungan yang berbahaya sebagai pemulung, atau di bagan-bagan ikan dan kapal nelayan. Menurut sumber yang dapat dipercaya, ribuan anak-anak bekerja di lingkungan berbahaya di bagan-bagan ikan di lepas pantai timur Sumatra Utara (lihat Bagian 6.c.). Beribu-ribu anak bekerja di pabrik-pabrik dan sawah (lihat Bagian 6.d.). Anak-anak jalanan dan buruh anak di beberapa kota telah membentuk organisasi dan ingin melindungi hak-hak mereka. Paling tidak 30 LSM bekerja dengan anak-anak jalanan. LSM-LSM itu mengecam pemerintah karena kurang memadainya upaya untuk membantu anak-anak jalanan dan buruh anakanak. Pemerintah tengah bekerja sama dengan Program Pembangunan PBB (UNDP), UNICEF, Lembaga Buruh Internasional ILO, serta dengan sejumlah LSM untuk menciptakan program-program bagi anak jalanan dan buruh anak-anak. Sebuah proyek menyatukan banyak gagasan dari masyarakat LSM, termasuk mendirikan “rumah terbuka” di daerah-daerah target yang menyediakan latihan ketrampilan dan pendidikan dasar bagi anak-anak jalanan. Prakarsa untuk memulai rumah terbuka bagi anak-anak jalanan di tujuh provinsi telah dilakukan. Satu pendekatan lain terhadap masalah anak jalanan menggunakan Program Gerakan Disiplin Nasional dan Kota Bersih. Anak-anak jalanan secara harfiah diangkut dari kota-kota dengan bus. Biasanya mereka dibawa ke luar kota dan di lepas di sana. Kadang-kadang mereka dibawa ke “rumah tahanan” di mana mereka mula-mula diinterogasi, lalu dilepas. Berbeda dengan di tahun-tahun yang lewat, tidak ada laporan bahwa LSM-LSM yang bekerja bagi hak anak-anak mengalami gangguan dari pihak berwajib. Pelacuran anak-anak dan gangguan seks lain terjadi, tapi data yang pasti tidak ada. Meskipun banyak undang-undang melindungi anak-anak dari tindakan tidak pantas, pelacuran, dan inses, pemerintah belum melakukan upaya pelaksanaan undang-undang demikian di bidang-bidang tersebut. Sistem peradilan pidana terpisah bagi anak-anak tidak ada. Polisi mengakui bahwa remaja sering ditahan bersama penjahat dewasa. Kejahatan remaja sekarang ditangani oleh pengadilan biasa. Sebuah undang-undang peradilan remaja disahkan oleh DPR pada Desember 1996 dan ditandatangani oleh presiden pada bulan Januari. Tapi undang-undang itu baru berlaku mulai Januari 1998. Menurut undang-undang ini, remaja adalah mereka yang berumur antara 8 dan 18 tahun, dan sebuah sistem peradilan dan KUHAP khusus bagi mereka dibentuk. Sunat bagi wanita, yang secara luas dikecam oleh para ahli kesehatan internasional karena merusak badan dan jiwa, dilakukan di beberapa bagian Indonesia. Metodenya bervariasi berdasarkan adatistiadat suku, budaya dan agama masing-masing. Tapi praktek yang paling umum adalah sebuah upacara yang mencakup penusukan, penorehan atau penyentuhan pada kelentit (clitoris) bayi 32

perempuan atau gadis kecil, sering dengan tujuan mengambil beberapa tetes darah. Kadang-kadang dipakai akar tanaman sebagai lambang dan si gadis tidak disentuh sama sekali. Sunat wanita yang lebih serius adalah pemotongan ujung kelentit. Praktek ini tampak berkurang, dan tidak ada kesepakatan mengenai luasnya praktek demikian. Kabarnya sunat demikian masih dipraktekkan di Madura, Sulawesi Selatan dan daerah-daerah lain. Karena sunat wanita tidak diatur, dan para pemimpin agama belum menentukan sikap, metode yang dipakai biasanya diserahkan kepada adat masing-masing. Sunat wanita biasanya dilakukan pada tahun pertama kelahiran, biasanya pada hari ke40, meskipun di beberapa daerah ini bisa sampai umur 10 tahun. Ini bisa dilakukan di rumah sakit atau, di pedesaan terutama, oleh dukun setempat. Data tentang sunat wanita tidak tersedia. Penyandang Cacat Menurut perkiraan PBB, ada 10 juta penyandang cacat di Indonesia, sedangkan Departemen Sosial memperkirakan hanya 3 persen dari jumlah penduduk, atau 6 juta orang, adalah penyandang cacat. Tapi data yang tepat tidak ada. Keluarga sering menyembunyikan anggotanya yang cacat untuk menghindari aib masyarakat. Penyandang cacat menghadapi banyak diskriminasi di tempat kerja, meskipun beberapa pabrik telah melakukan upaya khusus untuk mempekerjakan mereka. Beberapa provinsi telah mendirikan “pusat-pusat rehabilitasi” bagi penyandang cacat. Penyandang cacat biasanya diambil dari jalan-jalan oleh pihak berwajib dan dibawa ke pusat-pusat seperti ini untuk latihan kerja. LSM merupakan penyedia utama pendidikan bagi kaum cacat. Sekarang ini ada 1.084 sekolah luar biasa bagi kaum cacat; 680 swasta dan 404 dikelola oleh pemerintah. Sebanyak 165 sekolah pemerintah itu “diintegrasi”, artinya menyediakan pendidikan reguler dan khusus kepada siswa. Di Jakarta ada 98 sekolah bagi kaum cacat, 2 di antaranya dikelola pemerintah, dan sisanya swasta. Pemerintah juga mengelola tiga sekolah nasional bagi kaum tuna netra, tuna rungu dan tuna grahita. Sekolah-sekolah ini menerima siswa dari seluruh negeri. Undang-undang Penyandang Cacat disahkan pada bulan Januari tapi peraturan pelaksanaannya belum ada sehingga dampak dari undang-undang ini belum jelas. Undang-undang itu berusaha menyediakan akses ke pendidikan, pekerjaan dan bantuan bagi kaum cacat. Undang-undang mewajibkan perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 100 orang untuk menyediakan 1 persen dari pekerjaannya bagi kaum cacat. Undang-undang ini juga mewajibkan kemudahan masuk bagi kaum cacat ke tempattempat umum. Boleh dikata tidak ada gedung atau alat angkutan umum yang dirancang dengan konsep untuk memudahkan kaum cacat masuk ke dalamnya. Undang-undang Dasar mewajibkan pemerintah untuk menyediakan pemeliharaan bagi yatim piatu dan penderita cacat, tapi tidak merinci bagaimana definisi “pemeliharaan” itu, dan ketentuan mengenai pendidikan bagi seluruh anak-anak cacat mental dan fisik belum ditetapkan. Peraturan menyebutkan bahwa pemerintah harus menetapkan dan mengatur kurikulum bagi pendidikan khusus dengan menyatakan bahwa “masyarakat” harus menyediakan pelayanan pendidikan khusus bagi anak-anaknya. Penduduk Asli 33

Pemerintah menganggap bahwa istilah “penduduk asli” tidak cocok karena semua orang Indonesia dianggap sebagai penduduk asli. Akan tetapi pemerintah secara terbuka mengakui adanya beberapa “suku terasing” dan bahwa mereka mempunyai hak untuk berperan serta penuh dalam kehidupan politik dan sosial. Pemerintah memperkirakan bahwa jumlah warga suku terasing sebesar 1,5 juta orang. Ini termasuk, tapi tidak terbatas pada, suku-suku Dayak di Kalimantan yang tinggal di tempattempat terpencil, masyarakat-masyarakat penduduk asli di Irian Jaya, dan keluarga-keluarga Orang Laut yang kurang beruntung ekonominya yang hidup di atas perahu mereka di perairan dekat Riau dan dekat Ujung Pandang. Para pengritik mengatakan bahwa pendekatan pemerintah pada dasarnya paternalistik dan lebih dirancang untuk mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat bukannya melindungi tradisi kehidupan mereka. Pemantau hak asasi mengritik program transmigrasi pemerintah karena dianggap melanggar hak-hak penduduk asli. Enam puluh persen dari 200 juta penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa, yang luasnya hanya 7 persen dari wilayah Indonesia. Program transmigrasi yang disponsori pemerintah berusaha memukimkan kembali penduduk dari daerah padat ke daerah yang jarang penduduknya di luar Jawa. Sebagian besar mereka adalah transmigran spontan yang bukan bagian dari program resmi. Pembangunan Lima Tahun yang sekarang berusaha memukimkan kembali 600.000 jiwa, dengan 80.000 direncanakan untuk tahun fiskal 1997-98. Para pengecam program transmigrasi mengatakan bahwa program itu mengancam budaya penduduk asli dan menyulut kecemburuan sosial. Beberapa pengritik menyatakan bahwa program itu sudah dipakai sebagai alat politik untuk memasukkan penduduk luar ke dalam daerah-daerah tertentu untuk “mengindonesiakan” wilayah-wilayah tersebut, sebagian untuk menghalangi gerakan pemisahan. Di beberapa daerah, seperti di bagian tertentu Kalimantan, Timor Timur dan Irian Jaya, hubungan antara transmigran dan penduduk asli kurang baik. Keluhan tentang transmigrasi datang dari penduduk asli yang menerima dukungan dan dana pemerintah yang lebih sedikit dibanding transmigran. Keluhan juga datang dari transmigran yang dalam beberapa kasus dibawa ke tempat-tempat yang kekurangan prasarana untuk mendukung mereka dan ke tanah yang kurang dikehendaki. Rentetan kerusuhan etnik yang berlarut-larut pecah di Kalimantan Barat pada akhir Desember 1996, dan pada bulan Januari dan Februari tahun berikutnya ketika ribuan anggota suku Dayak yang Kristen menyerang migran Madura yang Muslim. Ratusan, mungkin lebih dari 1.000 orang, terutama Madura, tewas dalam perkelahian itu, dan sekitar 15 ribu orang Madura mengungsi menghindari kekerasan. Ledakan kekerasan itu, yang keenam antara Dayak dan Madura selama 30 tahun terakhir, muncul sebagian karena anggapan suku Dayak bahwa mereka dipinggirkan di tanah sendiri. Komunitas Madura di Kalimantan Barat tumbuh dari kantung-kantung transmigran awal, meskipun mayoritas suku Madura di sana adalah transmigran spontan. Penekanan pemerintah pada strategi pembangunan dan pertumbuhan yang relatif cepat, ledakan urbanisasi, dan eksploitasi komersial yang agresif, dukungan pemerintah atas sumber daya alam menyebabkan ketegangan terus-menerus atas isu hak atas tanah. Ketegangan itu sering terwujud dalam isu ras karena pengembang pada umumnya keturunan Cina. Sengketa tanah merupakan keluhan terbesar yang masuk ke Komnas HAM dan banyak juga dikeluhkan kepada lembaga-lembaga dan 34

organisasi bantuan hukum lainnya. Menurut sebuah undang-undang peninggalan Belanda, semua sumber daya tambang di permukaan tanah dikuasai negara. Undang-Undang Pokok Agraria menyatakan bahwa hak-hak atas tanah tidak boleh “bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara” dan memberi pemerintah dasar hukum yang luas atas penyitaan tanah. Jika sengketa tidak dapat diselesaikan, pemerintah mempunyai wewenang untuk menetapkan ganti rugi yang adil atas tanah. Banyak contoh penggunaan intimidasi, kadang-kadang oleh pihak militer, dan sering oleh para “preman” sewaan untuk memperoleh tanah bagi proyek-proyek pembangunan, terutama di kawasan yang diklaim sebagai milik penduduk asli. Intimidasi demikian dipakai di Jakarta, dan beberapa wilayah lain di Jawa, Sumatra Utara, Aceh, dan lain-lain. Ganti rugi yang dibayarkan atas tanah sering sangat kecil atau bahkan tidak ada. Dalam satu kasus, menurut sumber yang layak dipercaya, para penghuni di atas tanah yang diperlukan bagi sebuah pabrik semen di Aceh dibayar dengan rupiah yang setara dengan 20 sen dollar per meter persegi, yang menurut mereka sangat tidak memadai. Pada bulan Juli penduduk Magelang, Jawa Tengah mengeluh kepada DPR setempat tentang pengambilalihan tanah mereka oleh pihak militer untuk keperluan militer. Mereka, penduduk setempat, mengeluh dipaksa, dikunjungi malam hari oleh pihak militer dan pejabat setempat, dan diminta untuk menerima sekitar 5 ribu rupiah per meter untuk tanah mereka, yang bagi mereka sangat tidak memadai. Pihak LSM menyatakan bahwa pelanggaran hak penduduk asli sering terjadi di lokasi pertambangan dan hak pengusahaan hutan dan bahwa pelanggaran itu berpangkal pada penolakan pemerintah atas pemilikan tanah adat oleh penduduk asli, pengingkaran atas struktur sosial, dan pengambilalihan tanah secara paksa. Masalah demikian paling sering terjadi di Irian Jaya dan Kalimantan. Pihak LSM juga melaporkan bahwa penduduk asli menderita sebagai akibat dari sebuah proyek lahan gambut seluas sejuta hektar di Kalimantan Tengah untuk dijadikan sawah. Lokasi itu dirancang sebagai sebuah daerah transmigrasi yang besar. Menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya, sekitar 100.000 penduduk asli terkena dampak proyek itu. Dipaksa untuk meninggalkan pertanian tradisional dan mata pencaharian hutan mereka, banyak penduduk asli yang tinggal di wilayah itu telah menjadi buruh berupah rendah di proyek tersebut. Penduduk asli di Pulau Tanimbar, Maluku Selatan melancarkan protes yang sia-sia atas perusakan hutan, fauna, dan kebudayaan penduduk setempat terutama karena penebangan hutan. Di mana penduduk asli bentrok dengan proyek pengembang, pihak pengembang hampir selalu menang. Keputusan mengenai proyek pembangunan, hak pengusahaan sumber daya, dan kegiatan perekonomian lain biasanya dilakukan tanpa keikutsertaan atau persetujuan dari penduduk yang terkena dampaknya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun lalu tidak ada laporan bahwa LSM-LSM lingkungan yang berusaha membantu penduduk asli itu mengalami gangguan verbal, serangan atau bentuk intimidasi lain oleh pihak keamanan pemerintah.

35

Ketegangan dengan penduduk asli di Irian Jaya, termasuk di sekitar wilayah konsesi pertambangan asing dekat Timika, terus berlanjut. Penduduk asli Irian Jaya mengeluhkan rasialisme, paternalisme, dan penghinaan sebagai kendala terus-menerus atas perbaikan hubungan dengan penduduk non-Irian, termasuk pegawai pemerintah, pihak militer dan komunitas bisnis non-Irian. Mereka juga mengeluhkan sikap personil militer yang kasar. Banyak penduduk Irian sekarang adalah migran yang menguasai kehidupan ekonomi dan politik. Kebanyakan pegawai negeri di pemerintah daerah di Irian Jaya dan daerah-daerah lain yang terisolir terus berdatangan dari daerah lain di Indonesia, bukannya dari kalangan penduduk setempat. Rencana pembagian dana dari sebuah perusahaan pertambangan menyebabkan terjadinya ketegangan yang ikut menyulut bentrokan antara suku-suku setempat dengan pasukan keamanan pada bulan Agustus di kawasan Tembagapura, Timika, dan yang mengakibatkan tertembaknya dua orang Irian serta melukai pasukan keamanan (lihat Bagian 1.a.). Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua kelompok pendukung pemimpin suku Moni saingan mereka melakukan unjuk rasa mengklaim jatah atas dana dari perusahaan penambangan asing itu, lalu bersama-sama bergerak menuju ke kantor pemda setempat untuk mendesakkan tuntutan mereka. Sumber-sumber LSM yang dapat dipercaya melaporkan bahwa penonton kejadian ini diserang oleh pihak keamanan. Karena protes setempat atas rencana cara pembagian dana itu, perusahaan tersebut akhirnya menunda pencairan dana bagi proyekproyek baru berdasarkan prakarsa ini. Minoritas Agama Ada sejumlah insiden serangan terhadap gereja, kuil dan fasilitas keagamaan lain, banyak di antaranya terjadi di tengah-tengah kerusuhan yang lebih besar. Ada juga khotbah-khotbah dan penerbitan menentang golongan Kristen, yang menimbulkan keprihatinan bahwa dukungan masyarakat terhadap toleransi beragama mendapat tekanan. Ketegangan yang didasari pada masalah sosial, ekonomi dan politik, dalam banyak kejadian antara Muslim yang miskin dan Kristen Cina yang berkecukupan, merupakan faktor kunci dalam kejadian-kejadian seperti itu. Pemerintah belum berhasil menyelesaikan banyak kasus penyerangan terhadap tempat ibadah dan gereja yang terjadi selama kerusuhan, dan dalam kasus lain bahkan tidak melakukan penyelidikan sama sekali. Selama bulan Februari, bertepatan dengan bulan suci Ramadan, banyak gereja di seluruh negeri kabarnya mendapat ancaman lewat telepon dan fax tentang akan adanya penghancuran di tanggaltanggal tertentu. Meskipun terjadi pembakaran dan penyerangan gereja selama bulan itu, ancaman serangan luas itu tidak menjadi kenyataan. Akan tetapi ancaman itu menimbulkan rasa takut di kalangan umat Kristen. Sumber-sumber di Medan melaporkan bahwa penduduk setempat, dalam salah satu kasus dengan bantuan tentara, menjaga gereja-gereja dalam masa-masa itu. Sebuah gereja Katolik di Bandung, sebuah gereja Mormon di Semarang, dan beberapa gereja di Jakarta, mendapat ancaman. Sumber-sumber yang dapat dipercaya melaporkan bahwa masyarakat Katolik diancam dengan kekerasan di sebuah kota di Jawa Tengah, tapi sebuah pertemuan antar-agama setempat berhasil meredam ketegangan itu. Menurut laporan-laporan yang dapat dipercaya, ada pula ancaman terhadap umat Kristen dan etnik Cina di Purwokerto dan Purworejo, Jawa Tengah selama masa tersebut. Sumber-sumber yang dapat dipercaya melaporkan bahwa banyak gereja yang mendapat 36

ancaman dijaga oleh kelompok-kelompok gereja dan persekutuan setempat antara pemuda Islam dan Kristen. Sebuah sekolah Katolik di Ambon dibakar bulan Februari, tapi penduduk setempat menggambarkannya sebagai kejadian tidak lazim di Ambon di mana hubungan antar-agama dan kelompok etnik konon pada umumnya baik. Sebuah gereja di Garut, Jawa Barat dibakar pada 22 Februari, dan satu lagi dihancurkan pada 6 Maret. Ada beberapa kejadian kekerasan massal yang mencakup serangan terhadap gereja, dan fasilitas agama lainnya, serta toko-toko milik keturunan Cina. Kerusuhan dan pembakaran gereja terjadi di Rengasdengklok, Jawa Barat pada Januari di mana lima gereja dihancurkan oleh massa. Kejadian itu disulut oleh pertengkaran antara seorang wanita Cina dan pemuda Muslim setempat. Kerusuhan yang menyusulnya menyebabkan perusakan gereja secara meluas. Dua kuil Budha juga dihancurkan atau dibakar. Ada laporan yang dapat dipercaya tentang pembakaran dan perusakan gereja dan sekolah Kristen selama tahun itu. Misalnya, ada dua kejadian di Garut, Jawa Barat; yang pertama adalah pembakaran gereja di bulan Februari dan satu lagi perusakan gereja di bulan Maret. Pelemparan dengan batu terjadi terhadap dua gereja di Wonosobo, Jawa Tengah dan empat gereja di Surabaya bulan Maret dan April. Sebuah gereja di Ngawi, Jawa Timur dibakar bulan Maret; sebuah gereja Pantekosta di Tuban, Jawa timur dibakar bulan Mei; sebuah gereja Pantekosta di Manado dirusak bulan Mei; dan sebuah gereja di Bogor dihancurkan pada bulan Mei pula. Ada juga laporan yang dapat dipercaya tentang pembakaran dan penghancuran gereja di banyak kota pada 23 Mei, hari terakhir masa kampanye pemilu, termasuk: 13 gereja dibakar atau dirusak di Banjarmasin; 5 gereja dirusak di Pasuruan, Jawa Timur; 1 gereja dirusak di Kudus, Jawa Tengah; 7 gereja dirusak di sekitar Jakarta; dan 1 gereja dirusak di Madura. Sebuah gereja Protestan di Jakarta, yang dua kali dilempari batu selama minggu terakhir kampanye, dibakar pada 23 Mei. Setelah kampanye pemilu usai, ketegangan mereda tapi masih ada penyerangan terhadap gereja: 1 gereja di Madura dibakar pada Juni; 1 gereja dibakar di Bogor bulan Juli; 1 gereja dibakar di Kediri bulan Juli; 1 gereja di Kalimantan Selatan dibakar bulan Agustus; 1 gereja dirusak di Gorontalo, Sulawesi Utara pada September; sejumlah gereja dan sekolah Katolik di Ujung Pandang diserang selama kerusuhan bulan September; 1 gereja di Jember diserang pada Oktober; 1 gereja diserang di Blitar, jawa timur bulan Oktober dan 2 gereja lain dibakar bulan November; di Yogyakarta 1 gereja dibakar dan satu lagi dirusak pada bulan November. Banyak di antara gereja yang dibakar atau dirusak selama kerusuhan di Situbondo bulan Oktober 1996 berhasil dibangun kembali melalui kerja sama antara masyarakat Kristen dan Muslim. Sebuah aliansi kelompok-kelompok mahasiswa dan pemuda antar-agama, Forum Nasional untuk Pemuda Indonesia, dibentuk bulan Februari, sebagian sebagai reaksi terhadap meningkatnya ketegangan menyusul kerusuhan dan pembakaran gereja di Situbondo pada Oktober 1996, sebagai 37

sarana bagi kerjasama antar-kelompok agama dan komunikasi dengan rakyat jelata untuk mencegah kerusuhan lebih lanjut. Kelompok itu mewakili pemuda NU, Protestan, Katolik dan Hindu. Bangsa/Ras/Suku-Suku Minoritas Pemerintah secara resmi menganjurkan toleransi ras dan suku. Etnik Cina, dengan sekitar 3 persen dari penduduk tetap menjadi kelompok minoritas terbesar, yang secara historis selalu memainkan peran besar dalam perekonomian. Mereka menjadi sasaran diskriminasi. Perasaan anti-Cina menyulut serangan terhadap toko-toko Cina selama masa kerusuhan seperti yang terjadi di Rengasdengklok bulan Januari dan di Ujung Pandang bulan September. Kerusuhan luas anti-Cina besar-besaran di Ujung Pandang disulut oleh pembunuhan terhadap seorang gadis berusia sembilan tahun di tengah jalan oleh seorang warga Indonesia keturunan Cina yang sakit jiwa. Kejadian itu menyulut terjadinya kerusuhan yang menewaskan enam orang, dan lebih dari 1.000 toko dikabarkan rusak, begitu pula sejumlah bank dan sebuah hotel milik keturunan Cina. Sebagian besar harta benda yang hancur itu menjadi sasaran karena hubungannya dengan Cina. Kelenteng Cina juga diserang, dan kelenteng setempat yang paling bersejarah dirusak. Sejak 1959 WNA keturunan Cina dilarang melakukan usaha di pedesaan Indonesia. Peraturan melarang adanya sekolah Cina, pembentukan kelompok kebudayaan atau ikatan usaha khusus Cina, serta pajangan berhuruf Cina meskipun huruf Cina ada dalam produk yang dipajang. Pemerintah mengizinkan penerbitan sebuah koran harian berbahasa Cina milik pemerintah, namun undang-undang melarang impor, penjualan atau distribusi bahan-bahan bacaan berbahasa Cina. Namun bahan-bahan berbahasa Cina sudah mula tampak di daerah Pecinan Jakarta dan mungkin pula di kota-kota lain. Sejak 1994 pemerintah mengizinkan pengajaran Bahasa Cina bagi karyawan di sektor pariwisata, dan distribusi brosur-brosur, acara, dan lain-lain berbahasa Cina yang dicetak di dalam negeri bagi wisatawan berbahasa Cina. Pengajaran dalam Bahasa Cina pada umumnya dilarang kecuali dalam lingkungan terbatas. Universitas Indonesia mempunyai Jurusan Sastra Cina. Univesitas negeri menerapkan kuota tidak resmi bagi mahasiswa keturunan Cina. Undang-undang melarang peringatan Tahun Baru Cina di kelenteng atau tempat umum, tapi pelaksanaannya terbatas. Hiasan Tahun Baru Cina dipajang dan dijual secara mencolok di pertokoan beberapa kota. Bulan Juni seorang pejabat senior yang mengurusi integrasi etnik mengatakan di media bahwa larangan atas penerbitan berbahasa Cina hendaknya tidak dikendorkan dengan terburu-buru karena masalah SARA. Orang Timor Timur dan berbagai kelompok hak asasi menuduh bahwa Timor Timur kurang diwakili dalam pemerintahan di Timor Timur. Pemerintah sudah melakukan upaya untuk merekrut lebih banyak pegawai negeri di Timor Timur dan Irian Jaya, dan sudah ada peningkatan jumlah pegawai negeri magang di kedua provinsi ini meskipun ada kebijakan pertumbuhan “nol” bagi jumlah pegawai negeri secara keseluruhan. Orang Timor Timur menyatakan keprihatinan bahwa program transmigrasi (lihat Bagian 1.f.) bisa menyebabkan menyempitnya kesempatan kerja dan pada akhirnya menghancurkan jatidiri budaya Timor Timur. Pemerintah mengatakan bahwa program transmigrasi di Timor Timur pada umumnya menekankan pemukiman kembali orang Timor Timur, dengan tambahan 38

kecil orang Kristen dan Hindu non-Timor Timur dari luar. Dalam beberapa tahun terakhir, migran informal yang umumnya Muslim ke provinsi itu telah menyulut ketegangan sosial ekonomi di kawasan kota dan menimbulkan keprihatinan yang lebih besar daripada program transmigrasi resmi.

Bagian 6 Hak-hak Pekerja a. Hak Berserikat Para pekerja sektor swasta menurut undang-undang bebas membentuk serikat pekerja tanpa izin lebih dulu. Namun kebijakan pemerintah dan persyaratan tentang jumlah anggota untuk diakui sebagai serikat pekerja merupakan hambatan besar terhadap kebebasan berserikat dan hak untuk ikut dalam tawar-menawar kolektif. Departemen Tenaga Kerja menggunakan sebuah peraturan yang menentukan bahwa sebuah serikat pekerja harus dibentuk “oleh dan untuk pekerja” guna menolak pengakuan atas kelompok yang mencakup orang-orang yang oleh pemerintah dianggap bukan pekerja, seperti pengacara atau aktivis hak asasi, yang terlibat sebagai penggalang pekerja. Di bawah Undang-undang Ketenagakerjaan yang baru diresmikan oleh DPR bulan September, pekerja boleh membentuk serikat pekerja berdasarkan pada “konsultasi demokratis” dengan pekerja-pekerja lain dari perusahaan yang sama, dan boleh bersama-sama dengan serikat pekerja lain membentuk sebuah federasi sektoral dan lintas sektoral. Undang-undang ini baru akan berlaku pada 1 Oktober 1998 dan masih memerlukan peraturan pelaksanaannya. Secara de facto hanya ada satu sistem serikat pekerja, yakni Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), dengan 13 federasi serikat pekerja sektoralnya. Pada 1995 struktur SPSI berubah dari kesatuan (sentralisasi) menjadi federasi (desentralisasi). Ke-13 sektor industrinya didaftar sebagai serikat pekerja nasional yang terpisah; SPSI merupakan satu-satunya federasi serikat pekerja yang diakui oleh Departemen Tenaga Kerja. Menteri Tenaga Kerja menyatakan bahwa serikat pekerja yang dibentuk harus berafiliasi dengan SPSI, dan bahwa pemerintah tidak akan mengakui setiap serikat pekerja di luar federasi. Kebijaksanaan pemerintah itu untuk menaikkan daya guna serikat-serikat pekerja SPSI ketimbang mengizinkan pembentukan organisasi alternatif. Pemerintah bisa membubarkan sebuah serikat pekerja yang dipercaya bertentangan dengan Pancasila meskipun serikat itu tidak pernah bersikap demikian, dan tidak ada peraturan atau undang-undang yang merinci prosedur untuk membubarkan sebuah serikat pekerja. Pada 1994 hanya SPSI yang dapat secara hukum melakukan tawar-menawar atas nama pekerja atau mewakili pekerja dalam penyelesaian sengketa perburuhan di Departemen Tenaga Kerja. Sebuah peraturan 1994 menyatakan bahwa pekerja sebuah perusahaan dengan jumlah pekerja lebih dari 25 orang dapat membentuk sebuah “serikat pekerja tingkat pabrik” dan merundingkan sebuah persetujuan yang mengikat secara hukum dengan majikan mereka di luar kerangka SPSI meskipun pemerintah menganjurkan kepada serikat pekerja tingkat pabrik agar bergabung dengan SPSI. Menjelang akhir tahun, sebanyak 1.234 serikat pekerja tingkat pabrik sudah berdiri, hanya meningkat sedikit selama setahun. Namun pihak LSM menuduh bahwa banyak di antara serikat ini adalah “serikat pekerja 39

kuning” yang dibentuk oleh pengurus perusahaan dengan sedikit atau tanpa partisipasi pekerja. Ada juga beberapa laporan yang dapat dipercaya bahwa para pejabat Departemen Tenaga Kerja lokal menerima suap dari para majikan pekerja untuk membentuk serikat pekerja tingkat pabrik yang mereka anggap lebih lemah daripada SPSI Ada dua kelompok pekerja selain SPSI yang aktif tapi tidak diakui oleh pemerintah, yakni Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). SBSI, dibentuk 1992, menyatakan bahwa mereka sudah membentuk jumlah unit-unit di tingkat pabrik yang diperlukan guna memenuhi persyaratan hukum untuk didaftar sebagai serikat pekerja, tapi permohonannya yang paling akhir (November 1994) untuk didaftar sebagai serikat pekerja ditolak. Departemen Tenaga Kerja juga menghalangi niat SBSI untuk mendaftar pada Departemen Dalam Negeri sebagai organisasi sosial di bawah Undang-undang Keormasan. Pemerintah menganggap SBSI tidak sah. Meskipun pemerintah tidak membubarkannya, pemerintah terus mengganggu SBSI dengan membubarkan rapat-rapat dan penatarannya serta menekan perusahaan agar memecat para anggota SBSI. Tindakan khusus pemerintah terhadap SBSI selama tahun lalu mencakup penahanan dan interogasi terhadap dua anggotanya di Binjai, Sumatra Utara bulan Mei dan pembubaran sebuah penataran SBSI di Lampung bulan Juli. Sebanyak 26 anggota SBSI ditahan selama dua hari kala itu. Bulan September polisi membubarkan kongres nasional kedua SBSI sewaktu para anggotanya menutup hari pertama kongres yang dijadwalkan berlangsung tiga hari. Pengadilan Pemimpin SBSI, Mucktar Pakpahan, atas tuduhan subversi dan menyebarkan kebencian terhadap pemerintah, yang dimulai Desember 1996, dilanjutkan bulan September setelah ditunda selama lima bulan karena kesehatan Pakpahan yang buruk. Selama penundaan, Pakpahan mengajukan permohonan sampai dua kali untuk mendapatkan pengobatan atas kanker paru-parunya di luar negeri. Setelah beberapa tim dokter Indonesia memeriksanya, Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung memutuskan bahwa kondisi kesehatannya dapat dirawat di Indonesia. Bulan Desember pemerintah mengizinkan tim dokter Kanada untuk memeriksanya. Bulan Januari Pakpahan meminta Mahkamah Agung meninjau kembali keputusannya bulan Oktober 1996 yang memvonisnya empat tahun penjara karena dianggap telah menggerakkan kerusuhan buruh, keputusan yang sebelumnya pernah dibatalkan oleh mahkamah tersebut. Pada Agustus Pakpahan mengajukan argumentasi baru kepada pengadilan negeri bahwa ia tidak bersalah atas tuduhan itu; kasus itu masih menggantung sampai akhir tahun (lihat Bagian 2.a.). Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) adalah satu-satunya organisasi wartawan yang diakui pemerintah. Meskipun Undang-Undang Pers mengatakan bahwa semua wartawan harus menjadi anggota PWI, beberapa wartawan memilih tidak ikut. Menyusul penutupan tiga penerbitan pada 1994, sekitar 80 wartawan membentuk Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sebagai alternatif terhadap serikat milik pemerintah itu. Sebuah tindakan keras pemerintah pada Maret 1995 menyeret tiga anggota AJI ke penjara dengan tuduhan “menyebarkan kebencian”. Mereka dibebaskan tahun lalu (lihat Bagian 2.a.). Meskipun ada tekanan terhadap penerbit yang mempekerjakan anggota AJI, pemerintah membiarkan AJI tetap ada secara tidak resmi. Karena peraturan Departemen Tenaga Kerja yang lama, banyak unit SPSI unit pabrik dipimpin oleh orang yang kredibilitasnya rendah di mata para anggotanya karena mereka dipilih oleh majikan. Sebuah peraturan tahun 1995 menyatakan bahwa pekerja harus memberi tahu majikan mereka jika 40

mereka ingin membentuk serikat pekerja dan bahwa mereka boleh melaksanakannya jika dalam waktu dua minggu majikan tidak memberi tanggapan. Meskipun ada ketentuan demikian, selalu terjadi pemogokan jika majikan berusaha menghalangi pembentukan cabang serikat pekerja. Pemogokan ini biasanya membawa hasil dan pembentukan sebuah unit SPSI terjadi tak lama kemudian. Tetapi pekerja yang aktif dalam pembentukan serikat pekerja biasanya dipecat dan tidak mendapat perlindungan baik dari hukum maupun kebiasaan pemerintah Pegawai negeri dilarang menjadi anggota serikat pekerja dan harus menjadi anggota KORPRI, sebuah organisasi non-serikat pekerja yang dewan pimpinan pusatnya diketuai Menteri Dalam Negeri. Semua karyawan BUMN, siapa saja yang bekerja dalam badan usaha yang 5 persen sahamnya atau lebih dikuasai pemerintah, biasanya wajib menjadi anggota KORPRI, tapi hanya sejumlah kecil BUMN mempunyai unit SPSI. Guru harus menjadi anggota PGRI. Walaupun secara teknis PGRI adalah serikat pekerja, PGRI terus berfungsi hanya sebagai organisasi kesejahteraan dan tidak terlibat dalam kegiatan serikat pekerja seperti dalam tawar-menawar kolektif. Iuran wajib bagi KORPRI dan PGRI dipotongkan langsung dari gaji guru. Serikat pekerja boleh menyusun AD/ART sendiri dan memilih wakil mereka. Tapi pemerintah mempunyai pengaruh terhadap SPSI dan federasi serikat pekerjanya. Ketua SPSI dan banyak anggota Dewan Pimpinannya juga menjadi anggota GOLKAR dan organisasi-organisasi anaknya. Orang-orang ini diberi kedudukan dalam federasi serikat pekerja industri. Menteri Tenaga Kerja adalah anggota Dewan Pembina SPSI. Pemerintah mengumumkan pada akhir 1995 keinginanya untuk melunakkan peraturan tentang kewajiban mendapatkan persetujuan polisi untuk mengadakan pertemuan bagi lima orang atau lebih oleh semua jenis organisasi di luar kantor atau tempat kerja (lihat Bagian 2.b.). Tapi dalam praktek peraturan ini terus diterapkan pada pertemuan serikat pekerja. Izin terus diberikan kepada SPSI, tapi tidak pernah kepada organisasi saingannya seperti SBSI. Pada 1994 Konfederasi Serikat Pekerja Bebas Internasional mengajukan pengduan resmi terhadap Indonesia ke Organisasai Buruh Internasional, ILO. Mereka menuduh pemerintah menolak hak pekerja untuk membentuk serikat pekerja atas pilihan mereka sendiri, mengganggu organisasi pekerja independen, dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan standar ILO mengenai kebebasan berserikat dan hak untuk tawar-menawar kolektif. Pada bulan November Komisi ILO mengaku menerima balasan dari pemerintah Indonesia atas permintaan mereka, tapi tetap mengatakan bahwa mereka “sangat prihatin” atas “berbagai pelanggaran serius dan makin buruk pada hak asasi manusia dan hak berserikat”. Komisi itu mendesak pemerintah Indonesia agar menghapus hambatan pada pendaftaran serikat pekerja, termasuk SBSI, melakukan suatu penyelidikan hukum yang bebas atas pembunuhan Marsinah, membatalkan tuntutan pidana terhadap Pakpahan dan membebaskannya, serta menyediakan informasi tentang kasus-kasus lain.” Meskipun Pancasila menganjurkan penyelesaian masalah pekerja-majikan melalui mufakat, semua pekerja terorganisir, kecuali pegawai negeri, mempunyai hak untuk mogok. Para pekerja BUMN dan guru jarang menggunakan hak ini, tapi pemogokan di sektor swasta sering terjadi. Sebelum 41

pemogokan dilakukan secara sah di sektor swasta, undang-undang mewajibkan dilakukannya penengahan intensif oleh Departemen Tenaga Kerja dan pemberitahuan terlebih dulu tentang niat untuk mogok. Tapi persetujuan tidak diperlukan. Undang-undang Ketenagakerjaan yang disahkan bulan September tapi belum diberlakukan memperbolehkan pemogokan hanya jika suatu sengketa industri tidak dapat diselesaikan oleh pihak-pihak yang terlibat atau melalui proses penyelesaian sengketa industri. Undang-undang menyatakan bahwa buruh yang mogok wajib dibayar hanya kalau mereka mogok untuk menuntut tunjangan yang ditentukan oleh undang-undang, peraturan, persetujuan tawar-menawar kolektif, atau peraturan perusahaan. Dalam praktek, prosedur penyelesaian sengketa jarang diikuti, dan pemberitahuan resmi mengenai niat untuk mogok jarang diberikan karena prosedur Departemen Tenaga Kerja sangat lambat dan kredibilitas mereka di mata pekerja rendah. Maka, pemogokan tiba-tiba cenderung muncul karena keluhan berkepanjangan atau karena tunjangan atau hak yang diatur menurut undang-undang tidak dipenuhi. Menurut data Departemen Tenaga Kerja, selama 11 bulan pertama tahun lalu terjadi 226 kali pemogokan yang melibatkan 141.968 pekerja, suatu penurunan besar dibanding tahun 1996. Tapi pada 1997 pemerintah hanya menganggap sebagai pemogokan kalau pekerja mogok kerja setidaknya selama satu hari, sedangkan unjuk rasa yang lebih pendek, yang lebih sering terjadi, tidak dicatat secara resmi oleh pemerintah selama 1997. Dalam informasi yang diberikan kepada Komisi Penerapan Konvensi dan Rekomendasi ILO, pemerintah melaporkan bahwa selama 1996 terjadi 890 pemogokan yang melibatkan 500.000 pekerja. LSM percaya bahwa jumlah pemogokan dan pekerja yang ikut lebih tinggi dari itu. Pemusatan pemogok terbesar terjadi menyusul pelaksanaan upah pekerja minimum bulan April dan melibatkan puluhan ribu pekerja. Sebuah pemogokan terbesar yang melibatkan 40.000 pekerja terjadi di sebuah pabrik rokok di Jawa Timur di bulan November. Empat buah pemogokan selama tahun itu kabarnya mengakibatkan kerusakan pabrik-pabrik. SPSI melakukan kontak internasional tapi satu-satunya afiliasi serikat pekerja internasional SPSI sebagai suatu federasi hanyalah dalam Dewan Serikat Pekerja ASEAN. Beberapa serikat pekerja sektoral dalam SPSI menjadi anggota sejumlah sekretariat serikat pekerja internasional. b. Hak Untuk Berserikat dan Tawar-Menawar Kolektif Tawar-menawar kolektif dilindungi undang-undang, dan Departemen Tenaga Kerja mendorongnya dalam konteks ideologi negara, Pancasila. Sampai 1994 hanya serikat pekerja yang diakui saja -- SPSI dan unsur-unsurnya -- yang boleh terlibat secara hukum dalam tawar-menawar kolektif. Sejak awal 1994, peraturan pemerintah juga mengizinkan serikat pekerja tingkat pabrik untuk menandatangani perjanjian yang mengikat secara hukum dengan majikan, dan sampai akhir tahun 1996 sebanyak 732 sudah melakukan hal itu. Persetujuan yang ditandatangani oleh kelompok lain tidak dianggap mengikat secara hukum dan tidak didaftarkan pada Departemen Tenaga Kerja. Begitu diberitahu bahwa 25 pekerjanya telah mendaftar di SPSI atau serikat pekerja tingkat pabrik, majikan wajib berunding dengan mereka. Di perusahaan yang tidak ada serikat pekerjanya, pemerintah tidak mendorong pekerja untuk mencari bantuan dari luar pemerintah, misalnya dalam konsultasi dengan majikan mengenai peraturan 42

perusahaan. Sebaliknya, Departemen Tenaga Kerja lebih suka jika pekerja meminta bantuan darinya dan percaya bahwa peranan departemen itu adalah untuk melindungi pekerja. Ada laporan yang dapat dipercaya bahwa bagi banyak perusahaan, konsultasi hanya bersifat asal-asalan saja dan biasanya dilakukan dengan pekerja yang dipilih oleh pihak manajemen; ada juga laporan yang dapat dipercaya tentang hal yang sebaliknya di perusahaan asing. Menurut angka pemerintah, kira-kira 80 persen unit SPSI tingkat pabrik mempunyai persetujuan tawar-menawar kolektif . Setinggi apa tingkat kebebasan persetujuan ini dirundingkan antara serikat pekerja dengan pengurus tanpa campur tangan pemerintah bervariasi. Menurut peraturan, perundingan harus diselesaikan dalam waktu 30 hari atau diserahkan kepada Departemen Tenaga Kerja untuk ditengahi, dirujukkan atau diputuskan. Sebagian besar perundingan itu diselesaikan dalam kurun waktu 30 hari. Persetujuan itu berlaku selama dua tahun dan dapat diperpanjang satu tahun lagi. Undang-Undang Ketenagakerjaan baru, yang diharapkan berlaku pada akhir 1998, tidak merinci batas waktu perundingan tapi mewajibkan serikat buruh yang merundingkan kontrak mendapat dukungan mayoritas pekerja dalam perusahaan bersangkutan. Menurut sejumlah LSM yang terlibat dalam isu perburuhan, dalam praktek sekarang ketentuan mengenai persetujuan tawar-menawar kolektif jarang berkaitan dengan isu di luar standar minimum sah yang ditetapkan pemerintah, dan persetujuan itu sering hanya disodorkan kepada wakil pekerja untuk ditandatangani ketimbang untuk dirundingkan. SPSI menyatakan pada bulan September bahwa dari 23.525 persetujuan tawar-menawar kolektif yang ditandatangani antara majikan dan pekerja, 10.776 di antaranya adalah persetujuan “imitasi” belaka karena dibuat di perusahaan-perusahaan yang tidak mempunyai serikat pekerja. Meskipun peraturan pemerintah melarang majikan untuk mendiskriminasikan atau mengganggu pekerja yang menjadi anggota perserikatan, ada laporan yang dapat dipercaya dari para pejabat serikat pekerja tentang hukuman oleh majikan terhadap pekerja yang membentuk serikat pekerja, termasuk pemecatan, yang dalam prakteknya tidak dicegah atau diatasi dengan efektif. Beberapa majikan konon sudah memperingatkan pekerja mereka agar tidak berhubungan dengan pengorganisir serikat pekerja dari SBSI yang tidak diakui itu. Tuduhan diskriminasi anti-serikat pekerja ditangani oleh komisi penyelesaian sengketa majikan-pekerja tingkat regional atau nasional, dan keputusan mereka dapat dimintakan banding ke PTUN. Bulan September PTUN mencabut keputusan Badan Penyelesaian Sengketa Perburuan nasional yang memerintahkan Hong Kong Bank agar mempekerjakan kembali ke-166 karyawannya yang melakukan pemogokan, meskipun peraturan pemerintah melarang pemecatan pekerja hanya karena mereka mogok atau melakukan jenis lain kegiatan serikat pekerja. Keputusan demikian membuat banyak anggota serikat pekerja menyimpulkan bahwa komisi penyelesaian sengketa pada umumnya berpihak pada majikan. Akibatnya, pekerja sering menyampaikan keluhan mereka langsung kepada Komnas HAM, DPR, dan LSM. Keputusan administrasi yang memihak pada buruh yang dipecat cenderung berupa pembayaran uang saja; mereka jarang dipekerjakan kembali. Undang-undang mewajibkan majikan untuk mendapatkan persetujuan dari komisi penyelesaian sengketa perburuhan sebelum memecat pekerja, tapi undang-undang ini dalam prakteknya sering diabaikan. Undang-undang Ketenagakerjaan yang baru, yang akan berlaku pada akhir 1998, hanya mewajiban majikan untuk berkonsultasi dengan pekerja dan serikat pekerja mereka tentang maksud untuk melakukan pemutusan hubungan kerja. Dalam komentarnya terhadap diskriminasi anti-serikat pekerja dan pembatasan atas hak untuk berserikat dan tawar-menawar kolektif, laporan Komisi Penerapan Konvensi dan Rekomendasi ILO 43

bulan Juni “mengamati dengan keprihatinan mendalam bahwa perbedaan antara Konvensi di satu pihak dan perundang-undangan serta praktek nasional di pihak lain telah berjalan selama bertahun-tahun.” Komisi juga mengamati bahwa “pemerintah tidak memberi cukup bukti tentang kesediaan untuk taat” pada ketentuan dalam Konvensi 98 ILO, “karena pemerintah belum pernah meminta bantuan teknis dalam kaitan ini.” Komisi menyatakan keprihatinan yang mendalam atas situasi ini dan meminta pemerintah agar segera mengubah perundang-undangan dan melaporkan upaya-upaya yang diambil atau dipertimbangkan dalam kaitan ini. Komisi mendesak pemerintah untuk menjamin penghormatan penuh atas kebebasan sipil yang sangat penting bagi pelaksanaan Konvensi itu secara penuh. Pada 1 Juni 1996, Menteri Tenaga Kerja mengeluarkan sebuah peraturan baru yang mengizinkan serikat pekerja berafiliasi dengan SPSI untuk menarik iuran serikat pekerja langsung melalui sistem checkoff (pemotongan), ketimbang Departemen Tenaga Kerja yang menarik iuran itu dan mengirimkannya ke SPSI. Pelaksanaan sistem ini selama tahun lalu tidak merata. Beberapa unit serikat SPSI di tempat kerja melaporkan bahwa mereka menerima iuran yang ditarik lewat sistem checkoff itu dari para majikan mereka. Unit-unit tempat kerja lain melaporkan bahwa perusahaan mereka menolak untuk memberikan iuran itu kepada serikat pekerja dan terus mendepositkan iuran itu di rekening Departemen Tenaga Kerja. Para pejabat departemen mengatakan bahwa departemen menginstrusikan kantor-kantor wilayahnya agar menutup rekening yang semula dipakai untuk iuran serikat sekerja, tapi menurut laporan dari berbagai wilayah, tidak semua kanwil melaksanakan instruksi tersebut. Para pejabat serikat pekerja di markas SPSI mengatakan bahwa tidak semua cabang serikat pekerja itu mengirimkan sebagian dari iuran yang sudah ditarik ke kantor wilayah maupun kantor pusat sebagaimana diatur dalam peraturan SPSI. Polisi, begitu pula pihak militer, terus terlibat dalam masalah ketenagakerjaan, meskipun Menteri Tenaga Kerja pada 1994 sudah mencabut sebuah peraturan tahun 1986 yang mengizinkan militer campur tangan dalam pemogokan dan aksi buruh lainnya. Sebuah keputusan tahun 1990 yang memberi BAKORSTANAS wewenang untuk campur tangan dalam pemogokan demi stabilitas politik dan sosial masih tetap berlaku. Para pengamat serikat buruh dan LSM mencatat adanya suatu pergeseran selama 2 atau 3 tahun terakhir dari campur tangan dan unjuk kekuatan terbuka oleh tentara berseragam ke tindakan-tindakan yang kurang mencolok. Para aktivis serikat pekerja mengeluh bahwa baik polisi maupun militer setempat mengganggu dan kadang-kadang menahan pemimpin serikat buruh serta menyita bahan-bahan dari kantor mereka tanpa surat perintah. Selain itu, polisi sering menghalangi atau membubarkan pertemuan antara tokoh serikat buruh dengan wakil dan pekerja LSM, terutama pertemuan yang diadakan oleh SBSI. Akan tetapi, bentuk yang paling umum keterlibatan militer dalam masalah buruh, menurut para wakil serikat pekerja dan LSM, adalah pola lama kolusi antara polisi/militer dan majikan, yang biasanya berbentuk intimidasi terhadap pekerja oleh personil keamanan berpakaian preman. Majikan dan wakil serikat pekerja pun mengeluhkan tentang “biaya siluman”, korupsi, yang menurut perkiraan mereka dan orang lain mencapai 30 persen dari pengeluaran perusahaan. Undang-undang dan praktek perburuhan sama saja di kawasan proses ekspor (pelabuhan) sebagaimana di bagian lain negara ini.

44

c. Larangan Kerja Paksa atau Kerja Wajib Undang-undang melarang kerja paksa dan pemerintah biasanya menjalankannya. Pemerintah melarang kerja paksa dan terikat pada anak-anak, tapi tidak selalu menjalankannya dengan efektif. Ada sejumlah laporan yang dapat dipercaya bahwa beberapa ribu anak-anak dipaksa untuk bekerja di bagan-bagan ikan di lepas pantai timur Sumatra Utara dalam kondisi kerja seperti budak. Sebagian besar mereka diambil dari masyarakat petani, dan begitu mereka tiba di lokasi kerja beberapa kilometer di lepas pantai, mereka benar-benar seperti tahanan dan tidak boleh pergi selama setidaknya tiga bulan sampai pengganti mereka dapat diperoleh. Anak-anak itu mendapatkan upah sekitar $17 sampai $32 sebulan, jauh di bawah upah minimum regional. Mereka hidup terasing di laut, bekerja 12 sampai 20 jam sehari, sering dalam kondisi yang berbahaya, dan tidur di tempat kerja tanpa fasilitas kebersihan. Ada laporan mengenai gangguan fisik, verbal, dan seksual terhadap anak-anak. Ada sejumlah laporan bahwa militer memaksa penduduk desa melakukan kerja tanpa bayar di Irian Jaya; pihak militer membantah laporan itu (lihat Bagian 2.d.). d. Status Praktek Pekerja Anak-Anak dan Upah Pekerja Minimum Buruh anak-anak ada baik di kota maupun di desa, dan di sektor formal maupun non-formal. Menurut laporan 1995 dari Biro Pusat Statistik Indonesia, 4 persen dari anak-anak berumur 10 sampai 14 tahun bekerja penuh waktu, dan 4 persen lagi bekerja paruh waktu sambil bersekolah. Survei angkatan kerja pemerintah tahun 1994 melaporkan bahwa 2,08 juta anak-anak berumur 10 sampai 14 masuk dalam angkatan kerja, tapi banyak pengamat percaya bahwa angka itu jauh lebih kecil karena dokumen yang menunjukkan usia mereka mudah dipalsukan, dan karena anak di bawah 10 tidak disertakan. Indonesia adalah salah satu negara pertama yang dipilih untuk ikut dalam Program Penghapusan Pekerja Anak-anak Internasional (IPEC) di bawah ILO, dan negara itu menandatangani nota kesepakatan dengan ILO pada 1992 untuk memimpin kerja sama di bawah program ini. Pemerintah dan ILO menandatangani sebuah nota kesepakatan lain tentang pekerja anak-anak bulan Maret tahun lalu untuk “memajukan persyaratan yang akan memungkinkan pemerintah melindungi pekerja anakanak dan secara progresif melarang, membatasi, dan mengatur pekerja anak-anak dengan tujuan akhir menghapuskannya.” Meskipun ILO telah mensponsori program latihan bagi para pemeriksa bidang masalah pekerja anak-anak di bawah program IPEC, pelaksanaannya tetap lemah. Pemerintah mengakui adanya golongan anak-anak yang harus bekerja karena alasan sosial- ekonomi, dan pada 1987 Menteri Tenaga Kerja mengeluarkan sebuah peraturan, “Perlindungan bagi Anak-anak Yang Terpaksa Bekerja”. Peraturan ini mengizinkan pengerjaan anak-anak di bawah 14 tahun yang harus bekerja untuk membantu pendapatan keluarga mereka. Peraturan ini juga mewajibkan adanya izin orang tua, melarang pekerjaan yang berbahaya dan berat, membatasi lama kerja 4 jam sehari, dan mewajibkan majikan melaporkan jumlah anak-anak yang bekerja di bawah ketentuan ini. Namun peraturan ini tidak menetapkan usia minimum untuk anak-anak dalam kategori ini, yang secara efektif menggantikan ordinansi pemerintah kolonial 17 Desember 1925 tentang “Upaya Membatasi Buruh Anak-anak dan Kerja Malam bagi Wanita” yang masih berlaku sebagai undang-undang sampai 45

sekarang tentang buruh anak-anak dan yang menetapkan batas usia minimum kerja 12 tahun. Peraturan tahun 1987 tidak diberlakukan. Belum ada majikan yang diajukan ke pengadilan karena melanggar peraturan itu tentang sifat pekerjaan anak-anak, dan belum ada laporan yang dikumpulkan dari perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan anak-anak. Undang-Undang No. 1 tahun 1951 dimaksudkan untuk melaksanakan upaya perburuhan tertentu, termasuk ketentuan mengenai pekerja anak-anak yang akan menggantikan perundang-undangan tahun 1925 itu. Namun peraturan pelaksanaan untuk ketentuan pekerja anak-anak belum pernah dikeluarkan. Maka ketentuan pekerja anak-anak tahun 1951 itu masih belum sah. Pemerintah melarang kerja paksa dan terikat bagi anak-anak, tapi tidak melaksanakan larangan ini secara efektif (lihat Bagian 6.c.) Undang-undang Ketenagakerjaan yang baru, yang akan berlaku pada 1 Oktober 1998, melarang majikan menyewa anak-anak di bawah umur 15 tahun, namun mereka boleh mempekerjakan anakanak yang terpaksa bekerja karena alasan ekonomi. Undang-undang yang baru ini menggantikan larangan serupa dalam peraturan tahun 1987 mengenai mempekerjakan anak-anak Undang-undang ini juga menyatakan bahwa remaja (usia antara 15 dan 17) tidak boleh bekerja pada jam-jam tertentu di malam hari, di bawah tanah, di pertambangan, atau di tempat kerja yang bisa memberi dampak negatif terhadap moral, misalnya tempat hiburan. Menurut data ketenagakerjaan pemerintah, kebanyakan pekerja anak-anak bekerja di sektor pertanian, meskipun jumlah pekerja anak-anak di kota-kota telah meningkat secara berarti sebagai akibat urbanisasi. Anak-anak lebih banyak bekerja di sektor informal daripada di sektor formal. Di sektor formal pekerjaan anak-anak cenderung ada di garis batas antara ekonomi formal dan informal, seperti bersama-sama dengan orang tua mereka di industri rumah tangga dan di perkebunan, di toko milik keluarga atau pabrik kecil, terutama pabrik yang merupakan “satelit” dari industri besar. Ada juga anak-anak yang bekerja di industri besar meskipun jumlahnya tidak diketahui, terutama karena dokumen yang membuktikan usia mereka mudah dipalsukan. Di sektor informal, mereka menjadi tukang koran, tukang semir, tukang parkir, atau cara lain untuk mendapatkan uang. Banyak anakanak bekerja di lingkungan yang berbahaya seperti menjadi pemulung dan tukang sampah, atau di bagan-bagan ikan dan kapal nelayan. Banyak pembantu rumah tangga adalah wanita di bawah usia 15 tahun. Meskipun angka yang tepat tidak tersedia, diperkirakan jumlah pembantu rumah tangga anakanak mencapai 1,5 juta. Sebuah survei yang dilakukan pada 1995 mengungkapkan bahwa jam kerja anak-anak ini panjang, gaji mereka kecil dan mereka sering tidak sadar akan hak mereka dan sering jauh dari keluarga. Sebuah undang-undang 1994 menaikkan lama wajib belajar dari 6 tahun menjadi 9 tahun, tapi undangundang itu belum sepenuhnya dilaksanakan karena tidak memadainya fasilitas sekolah serta karena kurangnya sumber daya keuangan keluarga untuk menunjang anak-anak tetap bersekolah. Sejumlah majikan mempekerjakan anak-anak karena mereka lebih mudah diatur daripada orang dewasa, dan cenderung tidak membentuk serikat pekerja atau mengajukan tuntutan kepada majikan. Anak-anak yang bekerja di pabrik biasanya bekerja sama lamanya dengan orang dewasa. Anak-anak 46

bekerja antara lain di industri rotan dan perabotan rumah tangga, industri pakaian, industri sepatu, pengolahan makanan, dan pabrik mainan anak-anak. e. Kondisi Kerja Yang Dapat Diterima Tidak ada upah minimum nasional. Sebaliknya, dewan penetap upah wilayah yang bekerja di bawah arahan Dewan Upah Nasional menetapkan upah minimum per wilayah dan angka kebutuhan dasar untuk setiap provinsi -- jumlah uang yang dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan dan perumahan seorang pekerja. Pemerintah sudah menaikkan upah minimum rata-rata sampai 70 persen (disesuaikan dengan inflasi) selama lebih dari 5 tahun terakhir. Setelah kenaikan terakhir pada bulan April, yang rata-rata 10 persen secara nasional, upah minimum menjadi setara dengan 95 persen dari “kebutuhan hidup minimum” yang ditentukan pemerintah. Di Jakarta, upah minimum yang sekitar 70 dolar (Rp 175.000) sebulan pada waktu diberlakukan karena jatuhnya nilai rupiah telah turun menjadi hanya sekitar 30 dollar pada akhir tahun. Kenaikan tambahan diharapkan pada awal 1998. Tidak ada data yang dapat dipercaya mengenai jumlah majikan yang membayarkan paling tidak upah minimum. Para pengamat independen memperkirakan antara 30 dan 60 persen. Pelaksanaan upah minimum dan peraturan ketenagakerjaan lainnya tetap kurang, dan sanksi sangat ringan, meskipun undang-undang ketenagakerjaan yang baru, yang akan mulai berlaku Oktober 1998, menaikkan denda karena tidak membayar upah minimum dari Rp 100.000 (sekitar 30 dollar pada waktu disahkan dan 18 dollar pada akhir tahun) menjadi Rp 200.000.000 (60.000 dollar pada waktu disahkan dan 36.000 dollar pada akhir tahun). Selama setahun, menurut angka pemerintah, 464 perusahaan mengajukan permohonan pembekuan dari kenaikan itu dengan alasan bahwa mereka bisa bangkrut, dan 276 dari pemohon itu mendapat persetujuan untuk tidak membayarkan atau menunda upah baru tersebut. Undang-undang dan peraturan Menteri Tenaga Kerja menyebutkan berbagai tunjangan lain untuk para pekerja, misalnya tunjangan sosial, dan pekeja di fasilitas yang lebih modern sering menerima tunjangan kesehatan, makan gratis, serta transportasi. Undang-undang menetapkan 7 atau 8 jam kerja sehari, 40 jam seminggu dengan waktu istirahat 30 menit untuk setiap empat jam kerja. Undangundang itu juga mewajibkan satu hari libur seminggu. Upah lembur harian adalah 1 ½ kali upah satu jam yang normal untuk satu jam pertama, dan 2 kali upah per jam untuk jam berikutnya. Peraturan itu memungkinkan majikan menyimpang dari jam kerja yang normal setelah mengajukan permohonan kepada Menteri Tenaga Kerja dan atas persetujuan pekerja. Pekerja di industri yang membuat barang eceran untuk eskpor sering bekerja lembur untuk memenuhi kuota kontrak. Pelaksanaan tunjangan dan standar kerja yang ditentukan undang-undang bervariasi dari sektor satu ke yang lain dan menurut daerah. Pelanggaran oleh majikan atas kewajiban yang legal itu biasa dan sering mengakibatkan pemogokan dan protes pekerja. Departemen Tenaga Kerja terus secara terbuka mendesak majikan untuk mematuhi undang-undang. Selama tahun lalu, pemerintah menyelidiki 31 perusahaan atas pelanggaran undang-undang perburuhan, 13 di antaranya diajukan ke pengadilan, dan 6 dari kasus ini berakhir dengan hukuman penjara bagi manajenen perusahaan dan 6 lagi dengan denda. Akan tetapi pada umumnya pelaksanaan dan pengawasan atas standar perburuhan oleh pemerintah tetap lemah.

47

Baik undang-undang maupun peraturan menyediakan standar minimum atas kesehatan dan keselamatan kerja. Bulan Januari pemerintah mengumumkan sebuah sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di mana sebuah perusahaan dengan 100 pekerja dapat memperoleh pengakuan publik atas kepatuhan mereka pada standar kesehatan dan keselamatan dengan mengikuti prosedur audit keselamatan kerja. Di sektor minyak yang umumnya dikelola dengan model Barat, program keselamatan dan kesehatan kerja berjalan cukup baik. Tetapi di 100.000 perusahaan besar yang terdaftar di negara ini di luar sektor minyak, kualitas program kesehatan dan keselamatan kerjanya sangat bervariasi. Pelaksanaan standar keselamatan dan kesehatan kerja sangat terhambat oleh kurangnya pemeriksa yang berkualitas dari Departemen Tenaga Kerja serta oleh rendahnya perhatian pekerja pada praktek keselamatan dan kesehatan kerja. Tuduhan korupsi yang dilakukan oleh para pemeriksa adalah biasa. Pekerja wajib melaporkan kondisi kerja yang berbahaya. Majikan dilarang oleh undang-undang melakukan pembalasan terhadap mereka yang melaporkannya, tapi undangundang itu tidak dilaksanakan secara efektif.

48

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->