P. 1
Skripsi Full

Skripsi Full

5.0

|Views: 5,538|Likes:
Published by arif1982

More info:

Published by: arif1982 on Dec 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2015

pdf

text

original

Sections

  • 1.1.Latar Belakang Masalah
  • 1.2.Rumusan Masalah
  • 1.3.1Tujuan Umum
  • 1.3.2 Tujuan Khusus
  • 1.4.1 Bagi Pembaca
  • 1.4.2 Bagi Sekolah dan Siswa
  • 1.5.1 Ruang Lingkup Tempat
  • 1.5.2 Ruang Lingkup Waktu
  • 1.5.3 Ruang Lingkup Sasaran
  • 2.1.1. Pengertian
  • 2.1.2. Fisiologi Tidur
  • 2.1.3. Ritme Sirkadian
  • 2.1.4.1. Tidur NREM
  • 2.1.4.2. Tidur REM
  • 2.1.5.Siklus Tidur
  • 2.1.6.1.Penyakit
  • 2.1.6.2.Lingkungan
  • 2.1.6.3.Kelelahan
  • 2.1.6.4.Gaya hidup
  • 2.1.6.5.Stress emosional
  • 2.1.6.6. Stimulant dan alcohol
  • 2.1.6.7.Diet
  • 2.1.6.8.Merokok
  • 2.1.6.9.Medikasi
  • 2.1.6.10.Motivasi
  • 2.1.7.1.Insomnia
  • 2.1.7.2.Parasomnia
  • 2.1.7.3.Hipersomnia
  • 2.1.7.4.Narkolepsi
  • 2.1.7.5.Apnea saat tidur
  • 2.2. KONSEP REMAJA
  • 2.3.1.1. Perokok Pasif
  • 2.3.1.2. Perokok Aktif
  • 2.3.2.1. Perokok Ringan
  • 2.3.2.2. Perokok Sedang
  • 2.3.2.3. Perokok Berat
  • 2.3.3. Lama Menghisap Rokok
  • 2.3.4.1. Begitu menghisap langsung dihembuskan (secara dangkal)
  • 2.3.4.2. Ditelan sampai ke dalam mulut (dimulut saja)
  • 2.3.4.3.Ditelan sampai di kerongkongan (isapan dalam)
  • 2.3.5. Jenis Rokok Yang Dihisap
  • 2.4.1. Alasan remaja merokok
  • 2.4.2.1. Lingkungan keluarga
  • 2.4.2.2. Lingkungan tempat tinggal
  • 2.4.2.3. Lingkungan pergaulan remaja
  • 2.4.2.4. Moment-moment saat merokok
  • 3.1. KERANGKA KONSEP
  • 3.2.DEFINISI KONSEPTUAL
  • 3.3.DEFINISI OPERASIONAL
  • 3.4.HIPOTESIS
  • 4.1. RANCANGAN PENELITIAN
  • 4.2.1.Variabel Independen
  • 4.2.2.Variabel Dependen
  • 4.2.3.Variabel Perancu
  • 4.3.1.Populasi
  • 4.3.2.2.1. Kriteria Inklusi
  • 4.3.2.2.2. Kriteria Ekslusi
  • 4.3.2.3. Jumlah Sampel
  • 4.4.1.Cara pengumpulan data
  • 4.4.2.Alat pengumpulan data
  • 4.5.PENGOLAHAN DATA
  • 4.6. ANALISA DATA
  • 4.7.1.Lokasi Penelitian
  • 4.7.2.Waktu Penelitian
  • 4.8.1.Tahap Persiapan
  • 4.8.2.Tahap Pelaksanaan
  • 4.8.3.Tahap Akhir
  • 4.9.Etika Penelitian
  • 5.1.1. Identitas Sekolah
  • 5.1.2. Rekapitulasi Siswa Tahun Pelajaran 2009/2010
  • 5.2.1. Gambaran Responden Penelitian
  • 5.2.2.1. Gambaran Kebiasaan Merokok Pada Remaja
  • 5.2.2.2. Gambaran Gangguan Pola Tidur (insomnia)
  • 5.2.2.3. Gambaran Stress Pada Remaja
  • 5.2.3. Analisa Bivariat
  • 6.1. Keterbatasan Penelitian
  • 6.2.1.1. Kebiasaan Merokok
  • 6.2.1.2. Gangguan Pola Tidur (insomnia)
  • 6.2.2.3. Stress
  • 7.1. Kesimpulan
  • 7.2.1. Bagi Siswa
  • 7.2.2. Bagi Sekolah
  • 7.2.3. Bagi Institusi Kesehatan
  • 7.2.4. Bagi Peneliti Lain

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah Trend kesehatan modern memperhatikan tidur sebagai salah satu pilar penopang kesehatan selain olah raga dan keseimbangan nutrisi. Di pagi hari kita merasakan manfaat dari tidur yang menyegarkan dan memberi energi baru untuk menghadapi hari yang akan kita jelang. Ini disebabkan oleh kortisol yang dihasilkan pada saat tidur. Kortisol dihasilkan menjelang pagi saat proses tidur mendekati akhir. Dalam tidur terjadi juga pembaruan dan perbaikan sel-sel yang rusak yang dipicu oleh Growth Hormone yang dihasilkan tubuh pada tahap tidur malam (Prasadja,2009). Kurang tidur atau proses tidur yang terganggu jelas merugikan kesehatan dan performa kita di siang hari. Mulai dari kurangnya motivasi, penurunan kemampuan konsentrasi dan daya ingat, hingga buruknya suasana hati. Kondisi kurang tidur juga menurunkan daya tahan tubuh seseorang. Efek kurang tidur yang paling nyata terlihat adalah pada kulit yang tampak kusam dan tak segar (Prasadja,2009). Ada lebih dari 40 kondisi medis yang telah ditentukan sebagai penyebab insomnia. Kira-kira separuh dari jumlah ini adalah kondisi psikologis seperti kekhawatiran, stress, atau depresi. Sisanya adalah

1

2

gangguan tidur yang disebabkan kondisi khusus seperti alergi, radang sendi, kecanduan alkohol, merokok, diet dan obesitas. Individu yang mengalami stress atau depresi sangat berpeluang menderita insomnia (Listiani, 2007). Merokok adalah salah satu penyeban insomnia. Dalam bidang kesehatan tidur, nikotin dalam rokok digolongkan dalam kelompok zat stimulan. Stimulan merupakan zat yang memberikan efek menyegarkan seperti halnya kafein dan coklat. Namun demikian, ada juga sebagian efek dari nikotin yang menenangkan sehingga perokok dapat merasa tenang dan santai saat menghirup asapnya (Prasadja,2009). Namun efek stimulan dari nikotin ternyata lebih kuat, ini dibuktikan dengan penelitian Punjabi dan kawan-kawan di tahun 2006 yang meneliti efek nikotin pada pola tidur seseorang. Perokok ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dibanding orang yang tidak merokok. Mereka jadi sulit tidur (Prasadja,2009). Pada penelitian selanjutnya yang dipublikasikan pada Februari 2008, Punjabi dan kawan-kawan lebih menyoroti efek kecanduan rokok pada pola tidur. Secara teoritis, nikotin akan hilang dari otak dalam waktu 30 menit. Tetapi reseptor di otak seorang pecandu seolah ‘menagih’ nikotin lagi, sehingga mengganggu proses tidur (Prasadja,2009). Pada pecandu akut yang baru mulai kecanduan rokok, selain lebih sulit tidur, mereka juga dapat terbangun oleh keinginan kuat untuk

3

merokok setelah tidur kira-kira 2 jam. Setelah merokok mereka akan sulit untuk tidur kembali karena efek stimulan dari nikotin. Saat tidur, proses ini akan berulang dan ia terbangun lagi untuk merokok (Prasadja,2009). Sedangkan pada tahap lanjut, perokok mengalami gangguan kualitas tidur yang dipicu oleh efek ‘menagih’ dari kecanduan nikotin. Dari perekaman gelombang otak di laboratorium tidur, didapatkan bahwa perokok lebih banyak tidur ringan dibandingkan tidur dalam; terutama pada jam-jam awal tidur. Akibatnya, dari penelitian tersebut didapatkan, jumlah orang yang melaporkan rasa tak segar atau masih mengantuk saat bangun tidur pada perokok adalah 4 kali lipat dibandingkan orang yang tidak merokok (Prasadja,2009). Menurut Departemen Kesehatan melalui pusat promosi kesehatan menyatakan Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi rokok tertinggi. Berdasarkan data dari WHO tahun 2008 Indonesia menduduki urutan ke 3 terbanyak dalam konsumsi rokok di dunia dan setiap tahunnya mengkonsumsi 225 miliar batang rokok (Nusantaraku,2009). Berdasatkan hasil riset yang dilakukan Dinas Kesehatan Jawa Barat pada tahun 2007 menunjukan bahwa jumlah perokok aktif di provinsi itu yang mencapai 26,7 persen Hasil riset yang dilakukan Dinas Kesehatan Jawa Barat pada tahun 2007 juga menyebutkan kebiasaan

2008).1 persen atau 5.49% siswa adalah perokok (Data Puskesmas Lurah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Puskesmas Lurah Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon pada bulan April 2010 di beberapa sekolah di wilayah kerjanya. 80.4 persen (Profil Kesehatan Indonesia. Dalam penelitian ini faktor yang mempengaruhi gangguan pola tidur (insomnia) yang akan diteliti adalah kebiasaan merokok berdasarkan jumlah rata-rata rokok yang dihisap per hari yang meliputi perokok berat. Ironisnya perokok di usia anak-anak kelompok umur 10-14 tahun sebesar 11.2008).2010).4 merokok di Jawa Barat rata-rata didominasi sejak usia remaja 15-19 tahun. . perokok sedang dan perokok ringan. Dari 41 siswa yang dijadikan sampel penelitian didapatkan hasil.9 persen. lebih banyak dibanding kelompok usia 25-29 tahun yang hanya 7.8 persen untuk kelompok usia di atas 30 tahun (Profil Kesehatan Indonesia. presentasinya mencapai 50.7 persen. Berdasarkan alasan tersebut di atas. Dengan kata lain. maka peneliti tertarik untuk meneliti hubungan kebiasaan merokok pada remaja usia 15-19 tahun dengan gangguan pola tidur (insomnia) di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon. didapatkan hasil bahwa presentasi terbesar perokok remaja terdapat di STM PGRI Plumbon. Disusul kelompok usia 20-24 tahun. sekitar 24.33 orang adalah perokok dan hanya 8 orang saja yang tidak merokok.

3.2 Tujuan Khusus 1. hingga buruknya suasana hati. Tingginya angka perokok aktif ini dapat meningkatkan resiko gangguan pola tidur (insomnia) pada siswa di sekolah tersebut.5 1. 1.1 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok pada remaja usia 15-19 tahun dengan gangguan pola tidur (insomnia) di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka yang menjadi masalah penelitian adalah : Tingginya angka perokok aktif pada siswa di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon. 1. penurunan kemampuan konsentrasi dan daya ingat. Penelitian ini akan mengkaji hubungan antara kebiasaan merokok pada remaja usia 15-19 tahun berdasarkan jumlah rata-rata rokok yang dihisap per hari dengan gangguan pola tidur (insomnia) di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon. 1.3.3. Gangguan pola tidur (insomnia) ini dapat menyebabkan kurangnya motivasi.2. Untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok pada remaja usia 15-19 tahun di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon. .

2 Bagi Sekolah dan Siswa Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi sekolah dan siswa pada khususnya agar meminimalkan konsumsi merokok untuk menghindari gangguan pola tidur (insomnia) dan memaksimalkan fungsi tidur itu sendiri. Untuk mengetahui gambaran gangguan pola tidur (insomnia) pada remaja usia 15-19 tahun di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon.4. 1. 1. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia) pada remaja usia 15-19 tahun di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon.6 2. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia) pada remaja usia 15-19 tahun di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon setelah dikontrol oleh variabel stress sebagai perancu. 1. .1 Manfaat Penelitian Bagi Pembaca Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi dan menambah wawasan mengenai hubungan antara kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia). 4.4.4. 3.

5. 1.5.5.3 Ruang Lingkup Sasaran Penelitian ini ditujukan kepada seluruh siswa STM PGRI Plumbon Kelas I. 1. II. dan III pada tahun ajaran 2009/2010.2 Ruang Lingkup Waktu Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli 2010. .1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang Lingkup Tempat Lingkup tempat penelitian ini adalah di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon. 1.7 1.5.

Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang minimal. tanpa tekanan emosional.relaks. Hampir sepertiga dari waktu kita.kita gunakan untuk tidur.8 .dan penurunan respons terhadap stimulus eksternal. tingkat kesadaran yang bervariasi. perubahan proses fsiologis tubuh. 2006) Sedangkan tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun.1. Jadi. Terkadang.1. Pengertian Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi oleh semua orang.dan bebas dari perasaan gelisah.berjalan-jalan di taman juga bisa dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat (Hidayat. serta 8 . mengurangi stress dan kecemasan.1. Secara umum.tubuh baru dapat berfungsi secara optimal.BAB II TINJAUAN TEORITIS 2. KONSEP ISTIRAHAT DAN TIDUR 2. Dengan istirahat dan tidur yang cukup. Hal tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa tidur dapat memulihkan atau mengistirahatkan fisik setelah seharian beraktivitas. Istirahat dan tidur sendiri memiliki makna yang berbeda pada setiap individu. istirahat berarti suatu keadaan tenang. beristirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali.

fluktuasi denyut jantung.3. RAS melepaskan katekolamin.1.bioritme ini dikontrol oleh tubuh dan disesuaikan dengan faktor lingkungan (mis. Ritme Sirkadian Setiap makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang berbeda. RAS di bagian atas batang otak diyakini memiliki selsel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran.tekanan darah.9 dapat meningkatkan kemampuan dan konsenterasi saat hendak melakukan aktivitas sehari-hari (Hidayat.serta emosi dan proses berfikir. 2. 2006).2.dan sensori raba. sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan serum serotonin dari BSR (Qimi. Pada saat sadar.sekresi hormone. metabolisme dan penampilan serta perasaan individu bergantung pada ritme sirkadiannya. Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang sangat kompleks. cahaya. Bentuk bioritme yang paling umum adalah ritme sirkadian-yang melengkapi siklus selama 24 jam. 2009). 2. Fisiologi Tidur Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua system pada batang otak. Sinkronisasi sirkadian terjadi jika individu memiliki pola tidur-bangun yang mengikuti jam biologisnya: .nyeri. Dalam hal ini.pendengaran.1. memberi stimulus visual.yaitu Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region (BSR).temperature. Pada manusia. kegelapan. gravitasi dan stimulus elektromagnetik).

elektro-okulogram (EOG).1. Tidur NREM Tidur NREM disebut juga sebagai tidur gelombangpendek karena gelombang otak yang ditunjukkan oleh orang yang tidur lebih pendek daripada gelombang alfa dan beta yang ditunjukkan orang yang sadar. dan kerja otot melambat. Tidur NREM sendiri terbagi atas 4 tahap (I-IV). diketahui ada dua tahapan tidur. Pada tidur NREM terjadi penurunan sejumlah fungsi fisiologi tubuh. Di samping itu.1. Tahap I-II disebut sebagai tidur ringan (light sleep) dan tahap III-IV disebut sebagai tidur dalam (deep sleep atau delta sleep).semua proses metabolisme termasuk tanda-tanda vital. metabolisme. Tidur REM tidak senyenyak .2. 2.1.4.1. dan elektrokiogram (EMG). Tidur REM Tidur REM biasanya terjadi setiap 90 menit dan berlangsung selama 5-30 menit. 2009). 2. 2. yaitu non-rapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM).10 individu akan bangun pada saat ritme fisiologis paling tinggi atau paling aktif dan akan tidur pada saat ritme tersebut paling rendah (Qimi. berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan bantuan alat elektroensefalogram (EEG).4. Tahapan Tidur Menurut Hidayat (2006).4.

2006). stress emosional. individu melewati tahap tidur NREM dan REM. lingkungan. Tahap NREM I-III berlangsung selama 30 menit.11 tidur NREM. Siklus Tidur Selama tidur .5 jam.dan frekuensi jantung dan pernapasan sering kali tidak teratur. Tahap I REM muncul sesudahnya dan berlangsung selama 10 menit (Hidayat.5. 2. Siklus tersebut dimulai dari tahap NREM yang berlanjut ke tahap REM. dan setiap orang biasanya melalui empat hingga lima siklus selama 7-8 jam tidur.dan motivasi. gaya hidup. diet.6. Selama tidur REM.otak cenderung aktif dan metabolismenya meningkat hingga 20%. sekresi lambung meningkat. individu kembali melalui tahap III dan II selama 20 menit. stimulan dan alcohol. .1. Setelah itu. Faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas maupun kuantitas tidur.1. Siklus tidur yang komplet normalnya berlangsung selama 1. kemudian diteruskan ke tahap IV selama ± 20 menit. merokok. tonus otot terdepresi. Pada tahap ini individu menjadi sulit untuk dibangunkan atau justru dapat bangun dengan tiba-tiba. 2. dan sebagian besar mimpi terjadi pada tahap ini. kelelahan. Menurut Qimi (2009) factor-faktor tersebut adalah penyakit.

Sebagai contoh. Penyakit Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur. Kelelahan Kondisi tubuh yang lelah dapat mempengaruhi pola tidur seseorang.1. Gaya hidup Individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur pada waktu yang tepat. Tidak adanya stimulus tertentu atau adanya stimulus yang asing dapat menghambat upaya tidur.1. temperatur yang tidak nyaman atau ventilasi yang buruk dapat mempengaruhi tidur seseorang.4.12 2. .6. Akan tetapi. Semakin lelah seseorang. 2.3.6. seiring waktu individu bisa beradaptasi dan tidak lagi terpengaruh dengan kondisi tersebut.1.2.1.6.6. Setelah beristirahat biasanya siklus REM akan kembali memanjang. Individu yang sakit membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak daripada biasanya. 2.Di samping itu. 2. siklus bangun-tidur selama sakit juga dapat mengalami gangguan.1. Lingkungan Faktor lingkungan dapat membantu sekaligus menghambat proses tidur.semakin pendek siklus tidur REM yang dilaluinya.

.6.1.6. Stress emosional Ansietas dan depresi sering kali mengganggu tidur seseorang. Ketika pengaruh alkohol telah hilang.1. 2. 2. kondisi ansietas dapat meningkatkan kadar norepinfrin darah melalui stimulasi sistem saraf simpatis.1.1. Sebaliknya. Sedangkan konsumsi alkohol yang berlebihan dapat mengganggu siklus tidur REM.5. Diet Penurunan berat badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnya terjaga di malam hari.13 2. Stimulant dan alcohol Kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP sehingga dapat mengganggu pola tidur. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus tidur NREM tahap IV dan tidur REM serta seringnya terjaga saat tidur.6.7.6. Merokok Nikotin yang terkandung dalam rokok memiliki efek stimulasi pada tubuh. penambahan berat badan dikaitkan dengan peningkatan total tidur dan sedikitnya periode terjaga di malam hari. Akibatnya.8.6. perokok sering kali kesulitan untuk tidur dan mudah terbangun di malam hari. individu sering kali mengalami mimpi buruk. 2.

Penyebabnya bisa karena gangguan fisik atau karena faktor mental seperti perasaan gundah atau gelisah.1.1. hipnotik dapat mengganggu tahap III dan IV tidur NREM.7. sedangkan narkotik (mis. Insomnia inisial. meperidin hidroklorida dan morfin) diketahui dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga di malam hari.7.1. perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga sering kali dapat mendatangkan kantuk. Gangguan tidur yang umum terjadi Menurut Qimi (2009) ada beberapa gangguan tidur yang umum terjadi yaitu : 2.10.14 2. baik secara kualitas maupun kuantitas. sebaliknya. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu dewasa.9.6. Kesulitan untuk memulai tidur. . Motivasi Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang. metabloker dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk. Insomnia Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur. 2. Medikasi Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. 2.1.6.1. Ada tiga jenis insomnia: 1.

Beberapa turunan parasomnia antara lain sering terjaga (mis. Kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga. tidur berjalan. melakukan relaksasi sebelum tidur (misalnya. Insomnia terminal. parasomnia yang terkait dengan tidur REM (mis.15 2. yaitu tidur yang berkelebihan terutama pada siang hari. Gangguan ini umum terjadi pada anak-anak. night terror). Gangguan ini dapat disebabkan oleh kondisi tertentu. Bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali. mimpi buruk).2. menghindari rangsangan tidur di sore hari. 2. Parasomnia Parasomnia adalah perilaku yang dapat mengganggu tidur atau muncul saat seseorang tidur. Hipersomnia Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia. Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi insomnia antara lain dengan mengembangkan pola tiduristirahat yang efektif melalui olahraga rutin. mengigau). Insomnia intermiten. 2.dan lainnya (misalnya. mendengarkan music).7.1. gangguan transisi bangun-tidur (mis.3. 3. seperti kerusakan . membaca.dan tidur jika benar-benar mengantuk.7.1. bruksisme).

amfetamin atau metilpenidase.16 sistem saraf.1. 2. 2.7.5. atau karena gangguan metabolisme (mis. hidroklorida. hipertiroidisme). gangguan pada hati atau ginjal. insomnia. Gangguan ini disebut juga sebagai “serangan tidur” atau sleep attack. sakit kepala disiang hari. . iritabilitas. Narkolepsi Narkolepsi adalah gelombang kantuk yang tak tertahankan yang muncul secara tiba-tiba pada siang hari. Alternatife seperti. atau mengalami perubahan psikologis seperti hipertensi atau aritmia jantung. pencegahannya adalah dengan obat-obatan. Apnea saat tidur Apnea saat tidur atau sleep apnea adalah kondisi terhentinya nafas secara periodic pada saat tidur. mengatup berlebihan pada siang hari. Diduga karena kerusakan genetik system saraf pusat yang menyebabkan tidak terkendalinya periode tidur REM. hipersomnia dapat digunakan sebagai mekanisme koping untuk menghindari tanggung jawab pada siang hari.7. Kondisi ini diduga terjadi pada orang yang mengorok dengan keras. Penyebab pastinya belum diketahui. sering terjaga di malam hari. Pada kondisi tertentu. atau dengan antidepresan seperti imipramin hidroklorida.1.4.

Anak dianggap sudah dewasa bila sudah mampu mengadakan reproduksi. KONSEP REMAJA Seringkali dengan gampang orang mendefinisikan remaja sebagai periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa. Hurlock (1999) menyatakan bahwa “Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa”. mereka terlihat sudah dewasa tetapi jika mereka diperlakukan sebagai orang dewasa ternyata belum dapat menunjukkan sikap dewasa.2. 1999) Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu yang terkait (seperti Biologi dan Ilmu Faal) remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya (Sarlito. . 2006). Remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan anak dan masa kehidupan orang dewasa. 2002 dalam Soamole. sosial dan fisik (Hurlock. Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya adolescentia yang berarti remaja primitive) yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence seperti yang digunakan saat ini mempunyai arti yang lebih luas.17 2. Dalam pengertian ini remaja dipandang dari sudut fisik dimana individu disebut remaja apabila individu tersebut secara fisik telah mampu untuk melakukan reproduksi. Bila ditinjau dari segi tubuhnya. atau disebut juga usia belasan. mencakup kematangan mental.

Mendefinisikan remaja untuk masyarakat Indonesia menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah. Misalnya saja remaja mempunyai rasa keingin tahuan yang tinggi. Dalam definisi tersebut dikemukakan 3 kriteria yang biologik. Sugeng (1995) mengatakan “Bahwa remaja merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak dan masa kehidupan dewasa dan remaja sering menunjukkan kegelisahan. Untuk definisi remaja di Indonesia diartikan dengan pertimbangan pertimbangan sebagai berikut : .” Dalam hal ini remaja dikatakan sebagai individu yang masih belum jelas identitas dirinya atau juga disebut dengan individu yang masih mencari jati dirinya. dan sosial ekonomi. pertentangan. sehingga secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut : 1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. 2) Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. 2006). Pada tahun 1974. dan keinginan mencoba segala sesuatu. (Muangman (1980) dalam Soamole. WHO memberi definisi tentang remaja yang lebih bersifat konseptual.18 Selain itu juga. jarang sekali remaja yang memegang prinsip atas dirinya. psikologik. 3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh pada keadaan yang relative lebih mandiri .

usia 11 tahun sudah dianggap usia akil balig. masih dapat digolongkan remaja. tetapi juga tidak termasuk golongan dewasa. Dalam masa transisi inilah remaja cenderung untuk ingin disebut sebagai orang . Biasanya masa remaja dianggap telah mulai ketika anak secara seksual menjadi matang. Remaja tidak termasuk kedalam golongan anak-anak. Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral.19 1) Usia 11 tahun adalah usia di mana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai nampak (kriteria fisik) 2) Di banyak masyarakat Indonesia. Remaja berada di antara masa kanak-kanak dan dewasa. 3) Mulai ada tanda-tanda menyempurnakan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri. 4) Orang-orang yang sampai batas usia 24 tahun belum dapat memnuhi persyaratan kedewasaan secara rasional maupun psikologik. dan kemudian berakhir pada saat ia mencapai usia yang secara hukum disebut usia dewasa yaitu ± 24 tahun. Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa remaja adalah individu yang berusia belasan tahun (12-21 tahun) yang tergolong dalam masa transisi antara masa anak-anak menuju masa dewasa. baik menurut adat maupun agama. sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak.

KEBIASAAN MEROKOK Seseorang dikatakan perokok jika telah menghisap minimal 100 batang rokok. Selain faktor psikologis juga dipengaruhi oleh faktor fisiologis yaitu adiksi tubuh terhadap bahan yang dikandung rokok .3. mengalihkan diri dari kecemasan. 2.rata merokok yang dilakukan oleh kebanyakan laki-laki dipengaruhi oleh faktor psikologis meliputi rangsangan sosial melalui mulut. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi rokok yang tinggi. Variasi produk dan harga rokok di Indonesia telah menyebabkan Indonesia menjadi salah satu produsen sekaligus konsumen rokok terbesar di dunia (Pdpersi. Menurut Departemen Kesehatan Dalam Gizi dan Promosi Masyarakat. 1995).20 yang sudah dewasa. banyak penyakit yang telah terbukti menjadi akibat buruk merokok baik secara langsung maupun tidak langsung. Agar terkesan sebagai orang yang sudah dewasa remaja cenderung melakukan kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang dewasa. 2003). kebanggaan diri. Rata. menunjukkan kejantanan. Merokok dapat mengganggu kesehatan. ritual masyarakat. Tembakau atau rokok paling berbahaya bagi kesehatan manusia. kenyataan ini tidak dapat kita pungkiri. salah satu contohnya adalah bagi remaja laki-laki dengan merokok (Sugeng. Rokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.

2.2.3.1.3. Asap rokok lebih berbahaya terhadap perokok pasif daripada perokok aktif. lima kali lebih banyak mengandung karbon monoksida. empat kali lebih banyak mengandung tar dan nikotin.21 seperti nikotin atau juga disebut kecanduan terhadap nikotin (Sitepoe. 1997). kategori perokok dibagi menjadi dua yaitu : 2. terutama di tempat tertutup. . 2. Kategori Perokok Menurut Bustan (2000) dan Trim (2006).1.3.1. Perokok Pasif Perokok pasif adalah asap rokok yang di hirup oleh seseorang yang tidak merokok (Pasive Smoker). Asap rokok merupakan polutan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya.1. Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perokok aktif adalah orang yang merokok dan langsung menghisap rokok serta bisa mengakibatkan bahaya bagi kesehatan diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Asap rokok sigaret kemungkinan besar berbahaya terhadap mereka yang bukan perokok. Asap rokok yang dihembusan oleh perokok aktif dan terhirup oleh perokok pasif. Perokok Aktif Perokok aktif adalah asap rokok yang berasal dari isapan perokok atau asap utama pada rokok yang dihisap (mainstream).

3. Perokok Berat Disebut perokok berat jika menghisap lebih dari 20 batang.2.2.000 hisapan asap rokok. akan semakin besar pengaruhnya.3.22 2.2. pak per hari. suatu saat dosis racunnya akan mencapai titik toksis sehingga akan mulai kelihatan gejala yang ditimbulkan (Sitepoe. Apabila . artinya semakin muda usia merokok. Lama Menghisap Rokok Menurut Bustan (2000) merokok dimulai sejak umur < 10 tahun atau lebih dari 10 tahun.2. Beberapa zat kimia dalam rokok yang berbahaya bagi kesehatan bersifat kumulatif (ditimbun). Perokok Ringan Disebut perokok ringan apabila merokok kurang dari 10 batang per hari.3. 2.1. Rokok juga punya dose-response effect. Perokok Sedang Disebut perokok sedang jika menghisap 10 – 20 batang per hari.2. bungkus. 2. Jumlah Rokok Yang Dihisap Menurut Bustan (2000) dan Bangun (2008). jumlah rokok yang dihisap dapat dalam satuan batang. Semakin awal seseorang merokok makin sulit untuk berhenti merokok.3. Kategori perokok dapat dibagi atas 3 kelompok yaitu : 2.3.3.3. 2. Bila sebatang rokok dihabiskan dalam sepuluh kali hisapan asap rokok maka dalam tempo setahun bagi perokok sejumlah 20 batang (satu bungkus) per hari akan mengalami 70. 1997).

Jenis Rokok Yang Dihisap Rokok tidak dapat dipisahkan dari bahan baku pembuatnya yaitu tembakau.4.3.3. rokok putih. Ditelan sampai ke dalam mulut (dimulut saja) 2. merokok sigaret dapat berhubungan dengan tingkat arterosclerosis. rokok kretek.5.Ditelan sampai di kerongkongan (isapan dalam) 2. rokok klobot dan rokok tembakau tanpa asap (tembakau kunyah) (Sitepoe.4. Dalam peraturan (PP) Nomor 19 tahun 2003 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan.2. Begitu menghisap langsung dihembuskan (secara dangkal) 2. Selain itu juga masih ada beberapa jenis rokok yang dapat digunakan yaitu rokok linting. 2.1. cara manghisap rokok dapat dibedakan menjadi : 2.3.3. Cara Menghisap Rokok Menurut Bustan (2000).3. rokok cerutu. rokok pipa.4.23 perilaku merokok dimulai sejak usia remaja.5 mg dan kandungan kadar tar serbesar 20 mg pada rokok kretek. 1997). Di Indonesia tembakau ditambah cengkeh dan bahan–bahan lain dicampur untuk dibuat rokok. Dan rokok kretek menggunakan tembakau rakyat. 1994).3.4. Risiko kematian bertambah sehubungan dengan banyaknya merokok dan umur awal merokok yang lebih dini (Bart. pemerintah tidak menentukan kandungan kadar nikotin sebesar 1. Tetapi menurut Direktur Agro Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Yamin Rahman menyatakan kandungan kadar nikotin pada rokok kretek .

Rokok kretek mengandung 60–70% tembakau.4. seolah-olah mereka ingin membuktikan bahwa mereka mampu berbuat seperti orang dewasa (Sugeng. Mereka ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa. 2003). anak-anak berusia muda mulai merokok disebabkan beberapa faktor diantaranya yaitu karena kemauan . mencoba sesuatu yang belum pernah dialaminya. 2.5 mg yaitu 2. 1995). bahkan banyak dari mereka yang sudah menjadi perokok aktif. Menurut Hurlock (1999) bahwa “Pada usia remaja rokok dan minuman alkohol digunakan sebagai lambang kematangan”. Di Indonesia.(Pdpersi. Harus kita sedihkan bahwa merokok bagi para remaja khususnya remaja yang masih berusia sekolah menengah sudah menjadi hal biasa dan dapat dibanggakan bagi mereka. sisanya 30%–40% cengkeh dan ramuan lain.5 mg dan kandungan kadar tar pada rokok kretek melebihi 20 mg yaitu 40 mg. Begitu banyaknya fenomena sekarang ini yang dapat kita lihat bawa para remaja terlebih lagi remaja laki-laki sudah melakukan aktivitas merokok atau menjadi perokok. KEBIASAAN MEROKOK PADA REMAJA Pada umumnya remaja itu selalu ingin bertualang. Dengan sembunyi sembunyi remaja pria mencoba merokok karena seringkali mereka melihat orang dewasa melakukannya.24 melebihi 1.

2001 dalam Soamole. 1997). 2002 dalam Soamole. dan diajari atau dipaksa merokok oleh teman-temannya (Sitepoe. Merokok juga merupakan salah satu yang dilakukan oleh para remaja untuk menyatakan bahwa mereka diterima dan teridentifikasi menjadi suatu kelompok tertentu. Bagi mereka merokok bukanlah suatu hal yang tabu tetapi sudah menjadi suatu hal yang biasa dilakukan di lingkungan sosial mereka. terutama kepada teman-teman atau orang orang yang ingin buat mereka terkesan.25 sendiri. Merokok sudah menjadi kebiasaan bagi remaja di Indonesia. 2) Sukar mengatakan "tidak". 2006). Dewasa ini banyak remaja (laki-laki) melakukan aktivitas merokok. 2006). tetapi Corey (2001) menggolongkan kedalam dua faktor penentu kebiasaan yaitu paradigma tentang diri sendiri dan paradigma tentang kehidupan (Corey. Seperti yang dikemukakan Abu Al-Ghifari (2003) “Bagi remaja modern merokok merupakan satu jenis pilihan aktivitas yang populer dilakukan untuk memanfaatkan waktu senggang”. Tidak ada aspek khusus dalam pembentukan kebiasaan. . melihat teman-temannya. 3) Tidak mengetahui resikonya. Remaja cenderung merokok jika mereka: 1) Memiliki teman-teman atau keluarga yang merokok. Kebiasaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan berulang-ulang. (Darvill dan Powell.

2000). Alasan remaja merokok.26 Untuk kebiasaan merokok pada remaja sendiri akan ditinjau beberapa hal mengapa remaja memiliki kebiasaan merokok. 2) Untuk meningkatkan kesan "kejagoan". Begitu banyak sebab atau alasan yang disampaikan para remaja mengapa dia melakukan aktivitas merokok. Menurut Trim (2006). diantaranya: 2. 3) Hasrat berkelompok dengan kawan senasib dan sebaya. antara lain : 1) Rasa ingin tahu sampai menjadi ketergantungan. gagah atau “Macho”. Alasan alasan yang menyebabkan seseorang merokok dan membuat merokok menjadi sesuatu yang menggairahkan bisa bermacam-macam dan bersifat pribadi. Seperti yang dikemukakan oleh Abu Al-Ghifari (2003) .1. 4) Adanya stress atau konflik batin atau masalah yang sulit diselesaikan.4. Sebagian besar para remaja melakukan aktivitas merokok dikarenakan ia ingin terkesan dewasa. 6) Ketidak tahuan akibat bahaya merokok Merokok pada anak-anak karena kemauan sendiri disebabkan ingin menunjukkan bahwa dirinya dewasa (Sitepoe. faktor pendorong remaja mulai melakukan aktivitas merokok. 5) Dorongan sosial dari lingkungan yang "mendesak" remaja untuk merokok atau kalau tidak dianggap tidak solider dengan lingkungan sosialnya.

tidak lagi anak kecil. Misalnya saja. remaja ingin diidentifikasikan sebanyak mungkin dengan teman-teman sebaya mereka (Al Ghifari. Lingkungan keluarga. 2003). seorang remaja laki-laki merokok dikarenakan melihat ayahnya suka merokok. Lingkungan remaja yang mempengaruhi remaja merokok. Menurut Trim (2006) ada tiga lingkungan yang dapat mempengaruhi remaja merokok di antara : 2.4. Ia sangat kagum dengan ayahnya sehingga ia ingin seperti ayahnya dan remaja tersebut suka mengimitasikan tingkah ayahnya sampai pada kebiasaan buruk ayahnya yaitu merokok. selain itu juga disebabkan oleh faktor lingkungan yang mempengaruhi. Merokok pada remaja tidak begitu saja dikarenakan karena faktor remaja itu sendiri. 2.1. Alasan utama lainnya remaja merokok adalah karena ajakan atau paksaan teman atau pengaruh lingkungan yang sukar ditolak.27 “Alasan remaja laki-laki merokok adalah mereka membayangkan bahwa dengan merokok maka mereka dianggap sudah dewasa.Bergabung dengan suatu kelompok tertentu bagi remaja masa kini mungkin merupakan hal yang penting. Tidak sedikit remaja yang merokok dikarenakan di dalam lingkungan keluarganya ada yang merokok.4. dan bisa memasuki kelompok teman sebaya sekaligus kelompok yang mempunyai ciri gaya tertentu yaitu merokok”.2. .2.

maka para remaja akan merasa canggung bila merokok. dan remaja cenderung melawan pada orang dewasa (orang tua). lingkungan tempat tinggal pun dapat mempengaruhi remaja merokok. Meskipun orang tua melarang remaja tersebut merokok. maka kemungkinan besar remaja itu akan merokok. tetapi bila ia bergaul dengan sekelompok remaja yang merokok.3. Dalam lingkungan tempat tinggal di mana merokok pada remaja masih di anggap suatu hal yang tabu. Remaja cenderung mendengarkan atau melakukan apa yang dibenarkan dalam kelompoknya.4.2. 2. Bila dalam suatu lingkungan tempat tinggal merokok bukan merupakan suatu hal yang kurang baik. Selain lingkungan keluarga. .2.28 Selain hal tersebut. Lingkungan pergaulan remaja. bahkan sampai anak kecil pun merokok terlebih lagi para remaja. ada juga orang tua yang tidak keberatan anak remaja laki-lakinya merokok. 2. Lingkungan tempat tinggal. bila lingkungan tempat tinggal mendukung remaja untuk merokok maka perilaku merokok pada remaja ini tidak akan bisa dikendalikan bahkan akan menciptakan banyak perokok. Tetapi.2. Lingkungan yang ketiga ini adalah lingkungan yang sangat menentukan pada remaja.4.

Misalnya saja merokok pada saat berkumpul dengan teman.4. Tidak semua perokok pada remaja melakukan aktivitas merokok terus menerus atau dengan seenaknya. atau pada saat suasana tertentu misalnya berkemah atau mendaki gunung. . ia tidak melakukan aktivitas merokok jika tidak ada moment khusus.29 2.4.2. Bagi remaja yang bukan benar-benar pecandu rokok. Moment-moment saat merokok. mungkin dikarenakan ia ingin menghargai teman lainnya yang merokok atau tidak ingin dikucilkan oleh teman-temannya. Mereka melakukan aktivitas merokok mungkin hanya pada saat berkumpul dengan temannya. Biasanya remaja mempunyai moment-moment (waktu-waktu) tertentu untuk melakukan aktivitas merokok.

Stress dimasukan sebagai variabel perancu karena dapat berpengaruh terhadap variabel dependen (insomnia) maupun variabel independen (kebiasaan merokok). 3.1. 30 . perokok sedang. 2. KERANGKA KONSEP Berdasarkan tinjauan teoritis diatas maka dibuatlah kerangka konsep tentang hubungan kebiasaan merokok pada remaja usia 15-19 tahun dengan gangguan pola tidur (insomnia). DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3. perokok berat. Variabel Perancu adalah stress. Variabel Dependen adalah gangguan pola tidur yang dikhususkan pada insomnia. Pada penelitian ini peneliti membatasi variabel – variabel yang diteliti sebagai berikut : 1.dan perokok ringan. Dengan sub variabel.30 BAB III KERANGKA KONSEP. DEFINISI KONSEPTUAL. Variabel Independen adalah kebiasaan merokok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap per hari.

31 Secara sistematis kerangka konsep dapat di gambarkan sebagai berikut : Variabel Independen Variabel Dependen Kebiasaan Merokok Perokok berat Perokok sedang Perokok ringan Gangguan Pola tidur (Insomnia) Stress Ket : Variabel Penelitian Variabel Perancu Bagan 3.1. Kerangka Konsep Hubungan Kebiasaan Merokok pada Remaja usia 15-19 tahun dengan Gangguan Pola Tidur ( insomnia ) .

( Bustan. 2000 ) 3. Perokok Berat Perokok yang menghabiskan rata-rata > 20 batang per hari. Kebiasaan Merokok Adalah kebiasaan merokok berdasarkan pada jumlah rokok yang dihabiskan perhari. Pengukuran stress dengan menggunakan skala DASS . b. Insomnia Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur. baik secara kualitas maupun kuantitas (Hidayat. Skala menggunakan 29 pertanyaan yang dapat mengidentifikasi adanya gangguan insomnia dengan skor 0-3 per item (Saryono. a. Stress Stres menurut Hans Selye dalam Sriati (2008) menyatakan bahwa stres adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. c. Perokok Sedang Perokok yang menghabiskan rata-rata 10-20 batang per hari. Perokok Ringan Perokok yang menghabiskan < 10 batang per hari.2.2006). 2. 2010).32 3. Pengukuran insomnia dengan menggunakan skala insomnia Pittsburgh (2001). DEFINISI KONSEPTUAL 1.

1997) Ordinal 3 Variabel Perancu Stress Adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. 2010). DEFINISI OPERASIONAL Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian NO 1 VARIABEL Variabel Dependen Gangguan Pola Tidur (insomnia) DEFINISI OPERASIONAL Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur. Adalah kebiasaan merokok berdasarkan banyaknya rokok yang dihisap per hari CARA UKUR Angket ALAT UKUR Kuesion er HASIL UKUR Insomnia=1 Jika skor pada alat ukur > 29 Tidak insomnia=2 Jika skor pada alat ukur ≤ 29 SKALA Ordinal 2 Variabel Independen Kebiasaan merokok pada remaja Angket Kuesion er (Saryono. 2010) Perokok berat=1 Bila menghisap >20 batang per hari Perokok sedang=2 Bila menghisap 1020 batang per hari Perokok ringan=3 Bila menghisap <10 batang per hari (Bustan.33 (depression anxiety stress scale) yang berjumlah 7 item dengan skor 03 per item (Saryono. 2010) Ordinal . 3. Angket Kuesion er DASS Sangat berat=1 Jika skor > 20 Berat=2 Jika skor 15-19 Sedang=3 Jika skor 10-14 Ringan=4 Jika skor 7-9 Normal atau Tidak stress=5 Jika skor 0-6 (Saryono. baik secara kualitas maupun kuantitas.3.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian observasional atau survei dengan pendekatan cross sectional.4. Penelitian dan pengamatan pada variabel bebas dan variabel terikat dari . HIPOTESIS Hipotesis dalam penelitian ini adalah : Hα : Ada hubungan antara kebiasaan merokok pada remaja usia 15-19 tahun dengan gangguan pola tidur (insomnia) di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon.34 3. yaitu penelitian pada objek penelitian yang bersifat sesaat. Ho : Tidak Ada hubungan antara kebiasaan merokok pada remaja usia 1519 tahun dengan gangguan pola tidur (insomnia) di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon.

1. artinya objek tidak diteliti atau diamati secara terus menerus dalam kurun waktu tertentu.2. Dalam penelitian ini variabel independennya adalah kebiasaan merokok pada remaja. 4. 1995). 4.35 objek penelitian dilakukan secara bersamaan dalam waktu yang terbatas. VARIABEL PENELITIAN Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel independen. 4. Variabel Dependen Variabel Dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas (Sastroasmoro dan Ismael. Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah gangguan pola tidur (insomnia).2.2.2. 1995). Variabel Independen Variabel Independen merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (Sastroasmoro dan Ismael. Variabel Perancu Variabel perancu adalah jenis variabel yang berhubungan (asosiasi) dengan variabel independen dan berhubungan dengan variabel 35 .2. variabel dependen dan variabel perancu.3. 4.

POPULASI DAN SAMPEL 4. Keseluruhan subjek yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang pada tahun pelajaran 2009/2010 berstatus sebagai siswa di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Teknik Sampel . perincian jumlah populasi penelitian adalah 119 siswa.1.1. Dalam penelitian ini variabel perancu akan dieliminasi dengan teknik restriksi sehingga kesimpulan yang dihasilkan terbebas dari pengaruh variabel perancu (Sastroasmoro dan Ismael.2. 4. II dan III di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Variabel ini dapat mempengaruhi variabel independen maupun dependen sehingga variabel ini dapat membawa kita pada kesimpulan yang salah.3. 1995).2. Variabel perancu dalam penelitian ini adalah stress.36 dependen. maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas I.3. 4.3.3. Berdasarkan data yang diperoleh maka. Sampel 4. Populasi Berdasarkan lokasi penelitian yaitu di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat.

ternyata .2.2.2. Kriteria Inklusi Siswa perokok aktif Siswa yang bersedia menjadi responden 4.3. Siswa yang tidak bersedia menjadi responden.37 Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling. Siswa Kriteria Ekslusi yang tidak hadir saat penelitian 2.2. Setelah dibagikan angket.3. 1.2.2. Kriteria Sampel 4. 4.2.3. 2.3.1. 1. Jumlah Sampel Jumlah sampel awal dalam penelitian ini adalah 119 siswa.3. 4. Alasan penelitian menggunakan penelitian populasi dikarenakan jumlah populasi yang diteliti dianggap tidak terlalu banyak dan dapat dijangkau peneliti.2. Dalam penelitian ini semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Dari 85 siswa tersebur siswa yang perokok aktif berjumlah 63 siswa. Pada saat penelitian siswa yang hadir berjumlah 85 siswa.

Alat pengumpulan data Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner.5. Kuesioner yang diberikan kepada reponsen adalah untuk mendapatkan gambaran tentang variabel kebiasaan merokok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap per hari.4.38 data yang valid dan dapat diolah sejumlah 51. PENGOLAHAN DATA . 4. Kuesioner juga digunakan untuk mengidentifikasi variabel adanya gangguan pola tidur (insomnia) dan adanya stress sebagai variabel perancu.4.1.4.2. PENGUMPULAN DATA 4. Kuesioner yang digunakan bersumber dari Saryono (2010) adalah kuesioner yang telah berstandar dan telah diuji validitas dan reliabilitas sehingga dalam penelitian ini tidak dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Cara pengumpulan data Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan angket yang berisi daftar pertanyaan kepada responden penelitian. 4. Dengan metode restriksi untuk menghilangkan pengaruh variabel perancu didapatkan sampel akhir dalam penelitian ini adalah 42 siswa. 4.

1. 2005). ANALISA DATA 4. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel (Soekidjo Notoatmodjo. Tabulating Yaitu mengelompokkan data sesuai variabel yang akan diteliti guna memudahkan analisis data 4.6. entry. Analisa Univariat Merupakan analisa yang dilakukan terhadap tiap variabel dalam hasil penelitian. konsistensi maupun kesalahan antar jawaban pada kuesioner. kejelasan makna jawaban.6. 2. 1. 3. Entry Yaitu memasukkan data untuk diolah menggunakan komputer. Menurut Budiarto (2001). kegiatan dalam proses pengolahan data meliputi editing. . coding. Coding Yaitu memberikan kode-kode untuk memudahkan proses pengolahan data. dan tabulating data. Editing Yaitu memeriksa kelengkapan. 4.39 Pengolahan data adalah suatu hal yang sangat penting mengingat data yang terkumpul di lapangan masih merupakan data yang masih mentah yang berguna sebagai bahan informasi untuk menjawab tujuan penelitian.

40 Hasil analisis univariat akan disajikan dalam bentuk table.2. 2000) Analisa univariat dalam penelitian ini meliputi gambaran distribusi dan presentasi siswa yang merokok. siswa yang insomnia. Analisa Bivariate Analisis bivariate dimaksudkan untuk mengetahui hubungan atau korelasi antara variabel bebas dan variabel terikat (Soekidjo Notoatmodjo. Analisi bivariate dilakukan dengan menggunakan uji chi square (X2) dengan menggunakan α =0. 4.6. dan siswa yang mengalami stress. 2002:188). Rumus chi kuadrat tersebut adalah sebagai berikut : X2= ∑(O-E) E . grafik dan narasi. Dalam penelitian ini kebiasaan merokok merupakan variabel bebas dan gangguan pola tidur (insomnia) merupakan variabel terikat. Rumus : P= F x100 % N Keterangan : P = Presentase F = Frekuensi N = Jumlah responden (Nursalam.05 dan 95% Confidence Interval (CI).

berarti tidak ada hubungan antara dua variabel tersebut. Prosedur Penelitian Langkah-langkah dalam prosedur penelitian adalah : 4. berarti ada hubungan antara dua variabel tersebut. Menentukan judul penelitian 2.1. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon. apabila p < α maka H0 ditolak. Lokasi Dan Waktu Penelitian 4.2000). 4.7.8.2. Kriteria uji. Tahap Persiapan 1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2010. 4. Apabila p ≥ α maka H0 gagal ditolak atau Ho diterima.41 Keterangan: X2 O E = = = Chi Kuadrat Nilai Hasil Pengamatan (Observed) Ekspetasi (Expected) (Nursalam.7.1.8. 4. Bekerjasama pendahuluan dengan lahan penelitian untuk studi . Memilih lahan penelitian 3.7.

Pelaksanaan seminar proposal 7. Perbaikan hasil seminar proposal 8. 2. Melakukan observasi responden dan menyebarkan kuesioner atau angket. 4. Studi kepustakaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian 5.9. Menyusun proposal penelitian serta instrumen 6. Tahap Pelaksanaan 1. Mendapat izin melakukan penelitian dari institusi terkait. Mengurus perizinan untuk pelaksanaan penelitian 4. Menyusun laporan hasil penelitian 2. Melakukan analisa data 4.8. 3. Sidang atau presentasi hasil penelitian 4. Mengumpulkan hasil kuesioner atau angket yang telah diisi oleh responden dan dilakukan tahap selanjutnya.3. Menyusun instrumen dan perbaikan instrumen 9.8.2. Etika Penelitian Untuk mencegah timbulnya masalah etik. maka dilakukan hal sebagai berikut: . Tahap Akhir 1.42 4.

jika responden setuju maka diminta untuk mengisi kuesioner yang telah disediakan oleh peneliti. Anonimity yang berarti bahwa kuesioner yang diisikan oleh responden tanpa memberikan data diri secara khusus (tidak mencantumkan nama responden). Bebas dari bahaya dimana penelitian ini tidak akan berdampak secara langsung terhadap diri responden atau tidak membahayakan. 4. 3. Informed consent kepada responden tentang perlunya penelitian. Privacy yang berarti identitas responden tidak akan diketahui oleh orang lain dan bahkan oleh peneliti itu sendiri. BAB V HASIL PENELITIAN .43 1. 2.

Identitas Sekolah Nama Sekolah Status Sekolah NSS Akreditasi : SMK PGRI Plumbon : Swasta : 322021714001 : Program Teknik Otomotif Akreditasi A (Sangat Baik) Berlaku mulai Tahun ajaran 2009 sampai dengan 2014 Alamat Sekolah : Jl.1.2.44 5. Gambaran Umum Wilayah Penelitian 5.1. Rekapitulasi Siswa Tahun Pelajaran 2009/2010 Tabel 5.2. (0231) 320 890 5.2. Pangeran Antasari Plumbon Cirebon.1.1. Hasil Penelitian 5.1 Rekapitulasi Siswa Tahun Pelajaran 2009/2010 Jumlah Siswa Kelas Program Keahlian L P JML Teknik Otomotif / Teknik I 34 34 Kendaraan Ringan II III Teknik Otomotif / Teknik Kendaraan Ringan 47 1 48 Teknik Mekanik Otomotif 37 37 Jumlah 118 1 119 Sumber : Profil SMK PGRI Plumbon Tahun Ajaran 2009/2010 5. Telp.1. Gambaran Responden Penelitian 44 .

Berdasarkan data penelitian setelah dilakukan cleaning data dengan mengeliminasi data yang tidak valid maka dari 63 siswa perokok yang mengisi angket diperoleh jumlah data valid sebanyak 51 dan tidak valid sebanyak 12. Gambaran Kebiasaan Merokok Pada Remaja .2. 2010. Analisa Univariat 5. 5. Siswa yang hadir saat penelitian berjumlah 85 siswa dari 119 siswa secara keseluruhan.2.2. siswa yang perokok aktif berjumlah 63 dan yang tidak merokok berjumlah 22 siswa. Data yang tidak valid tersebut disebabkan oleh instrumen yang cacat dan adanya beberapa item yang tidak di jawab oleh siswa yang dapat menyamarkan analisa data.1.12 25. Dari 85 siswa tersebut.2. Adapun distribusi siswa perokok dan bukan perokok adalah sebagai berikut: Tabel 5.45 Responden dalam penelitian ini adalah seluruh siswa perokok aktif di STM PGRI Plumbon. Status Siswa Perokok Bukan Perokok Total Jumlah 63 22 85 Persentase (%) 74. 1.0 Sumber : Data Penelitian. Selanjutnya berdasarkan jumlah data valid diatas dilakukan analisa data penelitian.88 100.2 Distribusi Jumlah Siswa Perokok dan Bukan Perokok No. 2.

2.46 Berdasarkan data penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pada penelitian ini adalah perokok ringan yang menghisap kurang dari 10 batang setiap harinya sedangkan.8 7. Jumlah perokok sedang pada siswa di STM PGRI Plumbon sebanyak 6 siswa (11. Lebih jelasnya distribusi perokok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap responden per hari dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5. 1. Kebiasaan Merokok Perokok Ringan (<10 batang/hari) Perokok Sedang (10-20 batang/hari) Perokok Berat (> 10 batang/hari) Total Sumber : Data Penelitian.4%.8%) Jumlah 41 6 4 51 Persentase (%) 80.3 Gambaran Kebiasaan Merokok Pada Remaja No.8 100.4 11. 2010. 3.0 . Berdasarkan data diatas didapatkan hasil bahwa siswa di STM PGRI Plumbon sangat didominasi oleh perokok ringan yang menghisap kurang dari 10 batang per hari sebanyak 41 siswa dengan persentase mencapai 80.

4%) dan hanya 11 siswa yang mengalami insomnia (21. Distribusi frekuensi gangguan pola tidur (insomnia) dapat dilihat pada table berikut : . Gambaran Gangguan Pola Tidur (insomnia) Berdasarkan data penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut : Grafik 5.8 %).2.6%).2. sebagian besar siswa tidak mengalami insomnia yaitu sebanyak 40 siswa (78.2.1 Kebiasaan Merokok Pada Remaja 50 40 Frequency 30 20 10 0 Perokok Beratt Perokok Sedang Perokok Ringan Kebiasaan Merokok Pada Remaja 5.47 dan perokok berat hanya 4 orang (7.

2 Gangguan Pola Tidur (insomnia) Jumlah 11 40 51 Persentase (%) 21. 2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut : Grafik 5.3. Gambaran Stress Pada Remaja Frequency 20 10 0 insomnia tidak insomnia Gangguan Pola Tidur (insomnia) . 2010.6 78.48 Tabel 5.0 40 30 5.2. Tabel tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar siswa yang diteliti tidak mengalami insomnia (78.4% saja yang mengalami insomnia.4 100.4 Gambaran Gangguan Pola Tidur (insomnia) No. Gangguan Pola Tidur Insomnia Tidak Insomnia Total Sumber : Data Penelitian.4%) dan hanya 21.2. 1.

1. 2010. yang mengalami stress ringan 5 siswa (9.4%). stress berat 2 siswa (3. stress sedang 2 siswa (3. sebagian besar siswa tidak mengalami stress.3 Stress Pada Remaja . 3 4 5 Tingkatan Stress Stress Sangat Berat Stress Berat Stress Sedang Stress Ringan Normal Total Sumber : Data Penelitian. 2.4 100.9%).49 Berdasarkan hasil penelitian. dan tidak ada seorangpun yang mengalami stress sangat berat (0%). Distribusi frekuensi stress pada remaja dapat dilihat pada table berikut : Tabel 5.9 3. Secara keseluruhan siswa yang tidak mengalami stress sebanyak 42 siswa (82.9 9.8%).9%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut : Jumlah 0 2 2 5 42 51 Persentase (%) 0 3.0 Grafik 5.5 Gambaran Stress Pada Remaja No.8 82.

Analisa Sebelum Eliminasi Variabel Perancu . Hal ini dikarenakan adanya variabel perancu yaitu stress pada remaja. Analisa Bivariat Analisa bivariat dalam penelitian ini hanya satu.50 50 Frequency 40 30 20 10 0 Berat Sedang Ringan Normal Stress Pada Remaja 5. Analisa setelah mengeliminasi variabel perancu adalah analisa akhir yang lebih valid sehingga digunakan dalam menetapkan kesimpulan akhir.2. 5. Analisa bivariat dalam penelitian ini meliputi analisa sebelum eliminasi variabel perancu dan setelah eliminasi variabel perancu.3.1. analisa bivariat dalam penelitian ini melalui dua tahap analisa.3. yaitu mengkaji hubungan kebiasaan merokok pada remaja dengan gangguan pola tidur (insomnia).2. Tetapi.

1 .5 Hubungan Kebiasaan Merokok Pada Remaja dengan Gangguan Pola Tidur (insomnia) di STM PGRI Plumbon Tahun 2010 Gangguan Pola Tidur (insomnia) Insomni a 0 1. Analisa yang diperoleh tergambar dalam tabel berikut : Tabel 5. dari empat siswa perokok berat tidak ada seorangpun yang mengalami insomnia. Perokok Sedang (16. Dari data tersebut.51 Analisa ini untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok pada remaja dengan gangguan pola tidur tanpa memperhitungkan variabel perancu. 2010.6%) (78.4%) (100%) (75. Perokok Ringan (24. Perokok Berat (0%) 1 2.3%) 31 (100%) 41 0. Jadi 100% perokok berat tidak mengalami insomnia.6%) 40 (100%) 51 (83.7%) 10 3.502 (100%) 5 (100%) 6 Tidak Insomnia 4 No Kebiasaan Merokok Pada Remaja Total P value 4 Sumber : Data Penelitian.4%) 11 Total (21. Pada perokok sedang. didapatkan hasil bahwa pada perokok berat.

Berdasarkan data diatas didapatkan hasil p value=0.4%) dan 31 siswa lainnya tidak mengalami insomnia (75. Teknik restriksi adalah teknik mengeliminasi variabel perancu dengan cara menghilangkannya dalam desain.3%). Jadi sampel yang . 5.2.1. Analisa Setelah Eliminasi Variabel Perancu Analisa ini penting dilakukan untuk hasil penelitian yang lebih akurat mengingat adanya variable perancu yaitu stress pada remaja.502. P value >0. sampel dengan stress positif akan dieliminasi dalam penelitian. Pada perokok ringan 10 diantara 41 siswa mengalami insomnia (24.6%).05 artinya Ho gagal ditolak atau Ho diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok pada remaja dengan gangguan pola tidur (insomnia). Teknik yang digunakan dalam mengeliminasi variabel perancu dalam penelitian adalah teknik restriksi.3. Stress pada remaja dapat mempengaruhi kebiasaan merokok maupun gangguan pola tidur (insomnia). dan lima lainnya tidak mengalami insomnia (83.7%).52 diantara 6 mengalami insomnia (16. Jika stress adalah perancu dalam hubungan antara kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia) maka dengan cara restriksi.

Dari distribusi frekuensi stress pada remaja jumlah siswa yang tidak mengalami stress atau normal adalah sejumlah 42 siswa (82. Selanjutnya 42 siswa itulah yang akan dianalisa dengan menggunakan metode chi square dengan batas kemaknaan α=0. Berikut adalah tabel hubungan kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia) setelah variabel perancu dieliminasi.05. Tabel 5.6 Hubungan Kebiasaan Merokok Pada Remaja dengan .4%).53 dianalisa adalah sampel yang tidak mengalami stress atau normal.

54

Gangguan Pola Tidur (insomnia) di STM PGRI Plumbon Tahun 2010 Setelah dikontrol stress sebagai variabel perancu Kebiasaan Merokok Pada Remaja Gangguan Pola Tidur (insomnia) Insomni a 0 1. Perokok Berat (0%) 0 2. Perokok Sedang (0%) 6 3. Perokok Ringan (17,6%) 6 Total (14,3%) (85,7%) (100%) (82,4%) 36 (100%) 42 (100%) 28 (100%) 34 0,439 (100%) 5 (100%) 5 Tidak Insomnia 3

No

Total

P value

3

Sumber : Data Penelitian, 2010. Berdasarkan data diatas didapatkan bahwa pada perokok berat dan perokok sedang tidak ada seeorangpun yang mengalami insomnia. Jadi 100% perokok berat dan perokok sedang tidak mengalami insomnia. Pada perokok ringan 6 dari 34 siswa mengalami insomnia (17,6%) dan 28 siswa lainnya tidak mengalami insomnia (82,4%). Pada analisa diatas didapatkan hasil p value=0,439. Artinya p value > α (0,05) maka Ho gagal ditolak atau Ho diterima jadi kesimpulannya tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok pada remaja dengan gangguan pola tidur (insomnia).

55

BAB VI PEMBAHASAN

56

6.1. Keterbatasan Penelitian Rancangan yang dipakai dalam penelitian ini bersifat cross sectional (potong lintang), dimana rancangan ini mempunyai kelemahan yaitu pengambilan data variabel independen dan dependen dilakukan pada satu waktu sehingga data yang didapat bisa jadi akan berbeda jika diambil pada waktu yang lain tergantung kepada kondisi responden saat penelitian. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini berupa kuesioner. Kelemahan kuesioner, karena sudah disediakan alternatif jawabannya (bersifat tertutup) sehingga jawaban yang diberikan responden terpaku pada jawaban yang sudah ada dan tidak bisa mengembangkan jawaban yang lebih luas dan lengkap. Jumlah responden dalam penelitian ini sangat terbatas dikarenakan kondisi tempat penelitian yang bersifat dinamis dan tidak dapat diprediksi dalam arti jumlah responden dapat berbeda setiap harinya dikarenakan kondisi siswa yang kompleks. Instrumen untuk penilaian insomnia yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala insomnia pittsburg yang telah berstandar. Namun pada kenyataannya instrumen ini hanya menilai insomnia secara umum tanpa memperhitungkan gangguan baik pada fase tidur NREM maupun REM. Jika instrumen yang digunakan mampu menilai gangguan tidur lebih spesifik pada fase NREM dan REM dimungkinkan akan didapatkan hasil yang berbeda dalam penelitian ini.
56

Variabel perancu dalam penelitian ini dieliminasi dengan menggunakan teknik restriksi. Kelemahan dari teknik ini hanya menghilangkan variabel tersebut dalam disain penelitian dan tidak dapat mengetahui sejauh mana pengaruh variabel perancu baik terhadap variabel dependen maupun variabel independen. Kebiasaan Merokok Berdasatkan hasil riset yang dilakukan Dinas Kesehatan Jawa Barat pada tahun 2007 menunjukan bahwa jumlah perokok aktif di Jawa Barat mencapai 26.2.7 persen.1. presentasinya mencapai 50. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh variabel perancu terhadap variabel dependen maupun independen membutuhkan analisa lanjutan dengan teknik regresi logistik yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Hasil riset yang dilakukan Dinas Kesehatan Jawa Barat pada tahun 2007 juga menyebutkan kebiasaan merokok di Jawa Barat rata-rata didominasi sejak usia remaja 15-19 tahun.2.2008). Univariat 6.4 persen (Depkes RI.57 Dalam penelitian ini mencantumkan variabel perancu.1. 6.1. .2. Dengan teknik restriksi analisa yang dihasilkan akan terbebas dari pengaruh variabel perancu. Pembahasan Hasil Penelitian 6.

58 Merokok bagi para remaja khususnya remaja yang masih berusia sekolah menengah sudah menjadi hal biasa dan dapat dibanggakan bagi mereka. melihat teman-temannya. `Pada umumnya remaja itu selalu ingin bertualang. 6 siswa perokok sedang (11. Dari jumlah perokok tersebut.8%). 1995: 12). mencoba sesuatu yang belum pernah dialaminya. Di Indonesia. anak-anak berusia muda mulai merokok disebabkan beberapa faktor diantaranya yaitu karena kemauan sendiri. bahkan banyak dari mereka yang sudah menjadi perokok aktif. Hal ini menggambarkan bahwa merokok adalah suatu yang tidak .8%). 2000: 17).12%.4%). 41 siswa adalah perokok ringan (80. dan diajari atau dipaksa merokok oleh teman-temannya (Sitepoe. seolah-olah mereka ingin membuktikan bahwa mereka mampu berbuat seperti orang dewasa (Sugeng. Mereka ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa. Hasil penelitian yang dilakukan pada siswa di STM PGRI Plumbon menggambarkan tingginya angka perokok remaja yaitu sebesar 74. Dengan sembunyi sembunyi remaja pria mencoba merokok karena seringkali mereka melihat orang dewasa melakukannya. dan 4 siswa perokok berat (7.

6.2. Angka tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar siswa tidak mengalami insomnia.4%). Angka . Hal ini sejalan dengan pendapat Sitepoe (2000) yang menyatakan bahwa remaja merokok adalah hal yang biasa.59 asing bagi remaja terutama siswa sekolah menengah. Kebanyakan dari mereka juga adalah perokok ringan (80.6%) dan 40 siswa tidak mengalami insomnia (78.1. yang menyatakan bahwa remaja merokok karena ingin mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukannya.12%. Gangguan Pola Tidur (insomnia) Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur. Salah satu penyebab yang dibahas dalam penelitian ini adalah kebiasaan merokok. Hal ini di buktikan dengan tingginya angka perokok di STM PGRI Plumbon mencapai 74. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sugeng (1995). Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu dewasa. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil 11 siswa mengalami insomnia (21. baik secara kualitas maupun kuantitas.4%) yang artinya mereka hanya merokok kurang dari 10 batang per hari yang artinya sebagian besar dari mereka hanya mencoba dan belum sampai tingkat perokok sedang maupun berat.2.

maupun berat akan dieliminasi sehingga responden yang diperhitungkan pada analisa akhir hanya responden yang normal atau tidak mengalami stress.4%) dalam keadaan normal atau tidak mengalami stress. 2 siswa (3. responden yang mengalami stress baik stress ringan.8%) mengalami stress ringan. sedang. maka ia cenderung melakukan hal yang tidak biasa dilakukannya contohnya merokok.9%) mengalami stress sedang dan 2 siswa (3. pada analisa bivariat. Pada saat seseorang mengalami stress. 5 siswa (9.2. Bivariat . Stress dapat mempengaruhi kebiasaan merokok maupun insomnia.2.60 insomnia tersebut belum menggambarkan kejadian insomnia akibat kebiasaan merokok. disamping itu pada saat seseorang stress maka ia cenderung akan mengalami insomnia. Stress Berdasarkan hasil penelitian.3. 6. 6. termasuk akibat stress yang berperan sebagai variable perancu dalam penelitian ini.2. Stress adalah variable perancu dalam penelitian ini. Dengan teknik restriksi. Angka tersebut menggambarkan kondisi siswa yang insomnia dengan berbagai sebab yang bervariasi.2. 42 siswa (82.9%) mengalami stress berat.

4%). didapatkan hasil bahwa 11 siswa perokok mengalami insomnia (21. Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan metode chi square didapatkan hasil bahwa p value=0. Dari penelitian tersebut didapatkan.2. Berdasarkan hasil penelitian sebelum mengeliminasi variable perancu. Perokok ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dibanding orang yang tidak merokok.2. Secara teoritis. Mereka jadi sulit tidur. Tetapi reseptor di otak seorang pecandu seolah ‘menagih’ nikotin lagi. Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Gangguan Pola Tidur (insomnia) Punjabi dan kawan-kawan di tahun 2006 yang meneliti efek nikotin pada pola tidur seseorang. jumlah orang yang melaporkan rasa tak segar atau masih mengantuk saat bangun tidur pada perokok adalah 4 kali lipat dibandingkan orang yang tidak merokok (Prasadja.6%) dan 40 siswa perokok tidak mengalami insomnia (78. nikotin akan hilang dari otak dalam waktu 30 menit.61 6.2009).1. Pada penelitian selanjutnya yang dipublikasikan pada Februari 2008. sehingga mengganggu proses tidur. Punjabi dan kawan-kawan lebih menyoroti efek kecanduan rokok pada pola tidur.05 dan Ho gagal ditolak atau Ho diterima sehingga ditarik kesimpulan bahwa .502 yang artinya p value > 0.

62 tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia). Hal ini berlawanan dengan penelitian Punjabi dkk (2002) seperti yang diungkapkan Prasadja (2009) bahwa pada perokok usia muda atau perokok pemula cenderung mengalami insomnia akibat efek menagih dari rokok yang tak tertahankan.05 dan Ho gagal ditolak atau Ho diterima sehingga ditarik kesimpulan akhir bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia). Berdasarkan hasil analisa setelah mengeliminasi variable perancu didapatkan hasil bahwa 6 siswa perokok mengalami insomnia (14.3%) dan 36 siswa tidak mengalami insomnia (85. mereka juga dapat terbangun oleh keinginan kuat untuk merokok setelah tidur kira-kira 2 jam.439 yang artinya p value > 0.7%). selain lebih sulit tidur. Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan metode chi square didapatkan hasil p value = 0. Hasil penelitian ini menunjukan tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok baik dengan atau tanpa memperhitungkan stress sebagai variable perancu dengan gangguan pola tidur (insomnia). Setelah merokok mereka akan . Prasadja juga mengungkapkan bahwa pecandu akut yang baru mulai kecanduan rokok.

BAB VII .2009). proses ini akan berulang dan ia terbangun lagi untuk merokok (Prasadja.63 sulit untuk tidur kembali karena efek stimulan dari nikotin. Saat tidur. Hal inipun berlawanan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia).

Jumlah perokok aktif di STM PGRI Plumbon terbagi menjadi perokok ringan 41 siswa (80. maka dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. perokok sedang 6 siswa (11.4%).2. 2.2. diambil kesimpulan akhir bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok pada remaja usia 15-19 tahun dengan gangguan pola tidur (insomnia) di STM PGRI Plumbon Kabupaten Cirebon.6%) dan 40 siswa (78. Siswa yang mengalami insomnia sejumlah 11 siswa (21.8%).64 KESIMPULAN DAN SARAN 7. Bagi Siswa 64 . Sebelum mengeliminasi variabel perancu diambil kesimpulan tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia).4%) tidak mengalami insomnia. Saran 7. Setelah mengeliminasi variabel perancu. dan perokok berat 4 siswa (7. 3. 4.1. 7.8%).1. Kesimpulan Setelah dianalisa dan dilakukan pembahasan terhadap data yang telah diperoleh.

tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa secara medis rokok memilik efek negative terhadap semua system tubuh.2. 7. 7.2.3. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghentikan kebiasaan merokok yaitu dengan minum air sekurang-kurangnya 8 gelas perhari. Bagi Institusi Kesehatan Rokok adalah masalah yang sulit teratasi karena jumlah populasinya yang semakin bertambah terutama pada usia remaja. Jadi kepada siswa diharapkan untuk menghentikan kebiasaan merokok dan bagi yang tidak merokok agar jangan mencoba untuk merokok. Institusi kesehatan yang ada diharapkan lebih meningkatkan promosi kesehatan terutama tentang bahaya merokok.65 Dalam penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia). Oleh karena itu diharapkan adanya sosialisasi dari pihak sekolah dengan bekerjasama dengan institusi kesehatan yang ada tentang bahaya merokok agar sedini mungkin diminimalkan kebiasaan merokok pada siswanya. mengkonsumsi buah dan sayuran segar serta rutin berolahraga dan sedapat mungkin menghindari pergaulan dengan para perokok selama beberapa minggu. Karena sebagian besar perokok adalah usia remaja dan usia remaja sangat potensial untuk menjadi .2. Bagi Sekolah Sekolah adalah sarana pendidikan yang efektif bagi siswa dan remaja khususnya.

Penelitian yang mengkaji efek-efek negative tentang merokok dapat memberikan keyakinan masyarakat akan bahaya rokok dan merupakan sarana promosi kesehatan yang efektif. Diharapkan bagi peneliti lain agar dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk mengadakan penelitian terkait kebiasaan merokok dengan efek negative lain yang mungkin ditimbulkan. 7. Bagi Peneliti Lain Dalam penelitian ini membahas tentang hubungan antara kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia).66 perokok maka diharapkan promosi kesehatan lebih digencarkan di sekolah-sekolah terutama sekolah menengah. DAFTAR PUSTAKA .2.4.

331-333.com/.N. Jakarta: PT. 31 Mei 2009. 2007. Diakses 6 April 2010. 2005. 29 Agustus 2009. Jakarta : Infomedika. Listiani.kaltimpost. Andreas. . Elizabeth. M. Budiarto. Rahasia Tidur Malam yang Nyenyak. Kesehatan Tidur dan Kebiasaan Merokok. Jakarta: EGC. http://sleepclinicjakarta. Anonim.com. http. 2003. Bantul : Nulia Medika. Nursalam. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. 1999. Hidayat. Aziz Alimul. 2008. http://www. Diakses 6 April 2010.S. Rineka Cipta: Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran. Bandung : Mujahid. 2006. Amelia S. Prasadja. 2008. Jakarta : Salemba Medika. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia.id. Agus.wordpress.// www. Andreas. Sikap Bijak Bagi Perokok.red-bondowoso.P.67 Alghifari. 35. Ada Apa Dengan Rokok. Rineka Cipta. Departemen Kesehatan RI. Hurlock.id. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.or. A. Bustan. 2001. Abu.tblog. Riyanto. Gangguan Pola Tidur. Soekidjo. Jakarta : Interaksara. 2000. Metodologi Penelitian Kesehatan. Profil Kesehatan Indonesia 2007.co. Qimi. Diakses 6 April 2010. 2008. 20 Juni 2009. Prasadja. Notoatmodjo. 2009. Pdpersi. Jakarta. PT Gramedia. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Diakses 6 April 2010. Diakses 6 April 2010. Psikologi Perkembangan. Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : Indocamp. 2000. Obstructive Sleep Apnea. Bangun. Remaja Korban Mode. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. 10 Negara dengan Jumlah Perokok Terbesar di Dunia http://nusantaranews. 2003.

Jakarta:Gramedia. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran Bandung. FKUI. Tinjauan Tentang Stress. 1997. Trim. 2008. Usaha Mencegah Bahaya Merokok. HUBUNGAN ANTARA SIKAP TERHADAP MEROKOK DENGAN KEBIASAAN MEROKOK PADA REMAJA . Hariyadi. UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006.1994. Sastroasmoro. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Iqbal. Soamole. Jakarta : Ganesha Exact. IKIP Semarang. Smet. Sitepoe.68 Saryono. Psikologi Kesehatan. 2006. Sudigdo dan Sofyan Ismael. . Bambang. Sriati. Skripsi S1. Aat. Merokok itu Konyol. Mangku. 1997. Perkembangan Peserta Didik. Bart. 2010. 1995. Jakarta. 2006. Sugeng. Kumpulan Instrumen Penelitian Kesehatan. Dasar-Dasar Metode Penelitian Klinis. Bantul : Nulia Medika. Semarang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->