P. 1
ASFIKSIA

ASFIKSIA

|Views: 1,088|Likes:
Published by darmanrasyid

More info:

Published by: darmanrasyid on Dec 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2013

pdf

text

original

Pada kasus tersedak, asfiksia disebabkan oleh obstruksi dalam saluran pernafasan.

Cara kematian dapat alami, pembunuhan, atau kecelakaan. Kematian alami terlihat pada

individu dengan epiglotitis akut fulminan, dimana terdapat obstruksi saluran nafas oleh

epiglotis yang mengalami inflamasi dan jaringan lunak di sekitarnya. Individu dengan

kondisi seperti ini termasuk kegawatdaruratan medis dan dapat mati di depan petugas

9

medis. Individu tersebut mengalami radang tenggorokan, suara serak, kesulitan bernafas,

tidak mampu berbicara dan kemudian secara tiba-tiba kolaps pada saat saluran nafas

terobstruksi sempurna. Inhalasi uap juga dapat mengakibatkan gambaran serupa, dengan

edematous yang jelas, mukosa berwarna seperti daging pada laring dengan obstruksi

(gambar 8.6).

Gambar 8.5 Wanita tua yang dibekap dengan tangan. Bekas kuku pada hidung.

Gambar 8.6 Edema laringeal masif yang disebabkan oleh uap.

10

Kematian akibat tersedak yang merupakan pembunuhan relatif tidak biasa. Pada

bayi, seseorang terkadang melihat bayi yang baru lahir dibunuh dengan menjejali tissue

toilet ke dalam mulutnya. Gambar 8.7A mengilustrasikan kasus bayi yang dibunuh oleh

ayahnya dengan jalan memasukkan dot ke dalam mulutnya.

Gambar 8.7 (A) Dot yang dimasukkan ke dalam mulut oleh ayah (bersambung).

Pada orang dewasa, individu terkadang mati selama perampokan atau pencurian bila baju

atau kaos kaki dimasukkan ke dalam mulut untuk mendiamkan individu tersebut. Hal ini

terkadang merupakan kelanjutan dari penyumbatan (gambar 8.7B). Metode untuk

menyumbat seseorang cukup sering diperlihatkan di televisi tanpa konsekuensi yang

berbahaya, tetapi, sayangnya, pada kehidupan nyata, pakaian dapat masuk lebih ke

belakang, mengobstruksi sempurna faring posterior dan menyebabkan individu

mengalami asfiksia.

Kebanyakan kematian akibat tersedak terjadi akibat kecelakaan. Pada tahun 1997,

terdapat sekitar 3300 kematian yang diduga akibat inhalasi tidak disengaja makanan atau

objek lain, mengakibatkan obstruksi saluran pernafasan.7

Pada anak-anak, tersedak

11

biasanya melibatkan aspirasi dari objek kecil ke dalam laring dengan oklusi dari saluran

nafas, contohnya, bola karet kecil atau balon (gambar 8.8). Kematian pernah terjadi

dalam ruang kelas, dimana anak-anak tersedak oleh ujung ballpoint yang mereka gigit.

Pada orang dewasa, pada dasarnya tersedak selalu melibatkan makanan (gambar

8.9). Disini, umumnya dihubungkan dengan intoksikasi alkohol akut, gigi palsu yang

tidak sesuai, gangguan neurologis atau senilitas. Potongan makanan akan terjepit di

laringofaring dan laring, mengobstruksi sempurna saluran nafas.

Gambar 8.7 (sambungan) (B) Tersedak oleh penyumbat yang dirapatkan dengan
bandana.

12

Gambar 8.8 Anak usia 2 tahun yang tersedak hingga mati oleh gabus anggur.

Gambar 8.9 Pria 39 tahun yang tersedak oleh ham sandwich.

13

Kematian seperti ini memperoleh nama cafe coronary. Individu tersebut sedang makan,

kemudian tiba-tiba berhenti bicara, berdiri, dan kolaps. Resusitasi kardiopulmonal

dimulai dengan keyakinan bahwa korban mengalami serangan jantung. Kenyataannya, ia

tersedak makanan dan saluran nafasnya teroklusi sempurna. Jadi, resusitasi

kardiopulmonal tidaklah efektif. Bila individu yang memberi resusitasi dari mulut-ke-

mulut memperhatikan dengan baik, ia akan melihat bahwa dada korban tidak terangkat

saat udara ditiupkan ke saluran nafas, yang mengindikasikan adanya obstruksi.

Batuk saat kolaps diduga disebabkan karena tersedak mengaburkan diagnosis ini

sebab seseorang harus memiliki saluran nafas yang terbuka untuk batuk. Batuk

melibatkan inspirasi dari 2 hingga 2,5 liter udara, diikuti oleh penutupan epiglotis dan

pita suara, kontraksi otot-otot perut untuk mengangkat diafragma, sementara pada saat

yang sama, otot-otot ekspirasi berkontraksi. Epiglotis dan pita suara membuka dan

kemudian udara dikeluarkan dari paru-paru, dengan tekanan, biasanya disertai benda-

benda asing yang berasal dari bronchi dan trakea.8

Udara yang dikeluarkan dapat

mencapai kecepatan 75 sampai 100 mil per jam.

Terkadang, kematian akibat tersedak terjadi saat seseorang terjatuh dalam

material seperti hasil penggilingan jagung atau serbuk gergaji. Terjadi inhalasi involunter

dan saluran pernafasan tersumbat sepenuhnya oleh material tersebut.

Ditemukannya sejumlah kecil material makanan dalam saluran pernafasan saat

autopsi tidak menandakan bahwa korban tersedak hingga mati. Sekitar 20 -25% dari

semua individu yang secara langsung mengaspirasi makanan, merupakan penyebab

kematian yang independen.9

Seseorang dapat mengalami kematian karena aspirasi hanya

bila saluran pernafasan dari laring ke bawah teroklusi sempurna oleh makanan. Kematian

yang disebabkan oleh aspirasi masif makanan jarang ditemukan. Hal ini lebih sering

terjadi pada pasien koma dengan gangguan pada sistem saraf pusatnya.

Diagnosis kematian karena tersedak dibuat pada saat autopsi ditemukan adanya

oklusi saluran pernafasan. Bila seseorang mengalami oklusi jalan nafas dan objek atau

makanan yang menyumbat telah dikeluarkan saat resusitasi, satu-satunya cara untuk

membuat diagnosis adalah berdasarkan anamnesis. Tidak terdapat penemuan autopsi

yang spesifik yang mengindikasikan sesak nafas kecuali oklusi pada jalan nafas.

14

Beberapa personil medis akan menyatakan kematian karena tersedak meskipun

saluran pernafasan tidak sepenuhnya teroklusi. Mereka menduga laringospasme

merupakan penyebab kematiannya. Akan tetapi, tidak ada bukti objektif bahwa hal ini

dapat terjadi. Bila laringospasme benar terjadi, beberapa orang memperkirakan terjadinya

relaksasi laring seiring dengan memburuknya kondisi korban. Hal ini, pada akhirnya akan

menyebabkan pembukaan saluran nafas dan penyembuhan. Beberapa yang lainnya

berhipotesis bahwa reaksi vagal atau reflek cardiac death yang fatal terjadi melalui

sistem saraf parasimpatis, terjadi akibat hipersensitivitas laring terhadap makanan yang

teraspirasi. Namun sekali lagi, tidak ada cukup bukti objektif bahwa hal ini benar adanya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->