PERMASALAHAN LINGKUNGAN JAWA BARAT * PENDAHULUAN

Strategi Pengelolaan Lingkungan Propinsi Jawa Barat disusun dengan mengacu pada kebijakan nasional, dikaitka dengan kepedulian wilayah (propinsi) setempat, dimaksudkan untuk memberi arahan kebijakan umum kepada pemerintah daerah agar dapat menindak lanjutinya kedalam kerangka program pengelolaan lingkungan. Tujuan penyusunan Strategi Lingkungan Propinsi Jawa Barat adalah untuk menunjang perbaikan dan peningkatan kualit lingkungan dengan meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam mengendalikan tingkat pencemaran mel pengkajian kembali penyiapan instrumen kebijakan, strategi dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh masin masing daerah dalam mengatasi masalah lingkungannya.

Adapun proses penyusunannya adalah dengan melakukan identifikasi dan pengkajian ulang kondisi lingkungan r dan lingkungan perkotaan terhadap permasalahan (issues I concerns) yang terjadi dalam konteks regional - lokal dilakukan bersama dengan stakeholders untuk kemudian merumuskan strategi penanganan lingkungan dan perole kesepakatan terhadap rencana tindak yang akan dilakukan mendatang.

Isue lingkungan global, regional, dan nasional dijadikan titik tolak untuk mengidentifikasi permasalahan lingkun yang telah muncul di Jawa Barat. Berdasarkan permasalahan (issue) lingkungan tersebut yang kemudian diseban dengan kebijakan-kebijakan yang ada, baik pada tingkat nasional (Propenas, RTRW, Renstranas, Sarlita) maupun propinsi (Pola Dasar, Rencana Strategi Pembangunan, RTRWP, Propeda) sebagai rujukan, sehingga strategi yang disusun dapat berkesinambungan tanpa kesenjangan dengan kebijakan-kebijakan tersebut.

Strategi Pengelolaan Lingkungan ini diharapkan menjadi arahan kebijakan umum atau untuk dijadikan acuan um (guidance) rencana kegiatan berbagai sektor, sehingga memungkinkan partisipasi berbagai pihak terkait baik di ti propinsi, maupun kabupaten/kota di Jawa Barat.

Strategi Pengelolaan Lingkungan Propinsi Jawa Barat dapat dijadikan payung bagi penyusunan strategi lingkung tingkat kabupaten/kota di Propinsi Jawa Barat serta dapat dijadikan acuan bagi para pihak berkepentingan (stakeh dalam menyusun rencana tidak Ian jut dan program aksi. 2. PERMASALAHAN LINGKUNGAN JAWA BARAT 2.1 POKOK-POKOK PERMASALAHAN LINGKUNGAN Pokok-pokok permasalahan lingkungan di Propinsi Jawa Barat yang telah teridentifikasi hingga saat ini, dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Degradasi sumberdaya alam khususnya air dan lahan, yang ditandai dengan deplesi sumber air (permukaan dan air bawah tanah, baik kuantitas maupun kualitasnya), semakin meluasnya tanah kritis dan DAS kritis, penurunan produktifitas lahan, semakin meluasnya kerusakan hutan (terutama karena perambahan) baik hutan pegunungan maupun hutan pantai (mangrove). Permasalahan pencemaran, baik pencemaran air, udara maupun tanah yang penyebarannya sudah cukup meluas dan terkait dengan industri, rumah tangga dengan segala jenis limbahnya, terutama sampah. Permasalahan kebencanaan alam, yaitu Jawa Barat terutama bagian tengah dan

dan juga aki rendahnya penegakan hukum (law enforcement). hutan sekunder dan semak belukar 17%. Pemukiman. dan pencemaran air laut. dan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkunga 2. perubahan tataguna lahan di wilayah pesisir. munculnya permukiman kumuh pada hampir seluruh kota di Jabar. 22% dan 29% hingga tingkat erosi di wilayah Jawa Barat mencapai 32. Kerusakan keseluruhan wilayah hutan Jawa Barat diperkirakan aka dalam waktu dekat apabila tidak dilakukan tindakan-tindakan yang memadai (BPLHD Jawa Barat. Inkonsistensi antara Rencana Tata Ruang Wilayah dengan eksisting penggunaan lahan/pemanfaatan ruang yang tidak berwawasan lingkungan. Terbatasnya sarana dan prasarana pemantauan lingkungan (termasuk laboratorium lingkungan) serta sistem infor lingkungan. Permasalahan kawasan pesisir dan pantai. abrasi dan akresi pantai. Permasalahan sosial kependudukan.1 Degradasi Sumberdaya Alam 2. Konversi lahan dari hutan alarm menjadi area yang rendah penutupan vegetasinya telah terjadi beberapa dekade d kawasan Bopuncur dan Depok. sebagai akibat kurang efektifnya kegiatan pemantauan. Wilayah hutan yang sebelumnya 791.571 ha (22% daratan Jawa Barat) ternyata penutupan vegetasi hutannya han 9% atau sekitar 323.2 GAMBARAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN JAWA BARAT 2.• • • • selatan termasuk wilayah rawan gempa dan volkanisme. Dalam periode 1994 hingga 2001 telah terjadi perubahan tata guna tanah yang cukup besar.903 ha (17%). hutan lindung berkurang sekitar 106.1 Sumberdaya Lahan Pokok permasalahan terjadinya degradasi sumberdaya lahan adalah karena inkonsistensi atau ketidak sesuaian an penggunaan lahan dan ruang yang ada dengan arahan yang diperintahkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RT Sekitar 33% lahan tidak digunakan sesuai dengan arahan tata guna tanah dalam Rencana Tata Ruang bahkan sela tahun terakhir telah terjadi penyimpangan terhadap pemanfaatan kawasan lindung sekitar 12. intrusi air laut. perkebunan dan k campuran meluas masing-masing sebanyak 33%.802 ha pada tahun 2000.851 ha (24%).2.9% . sementara hutan produksi berk sekitar 130. ditandai dengan tingginya urbanisasi.PKL dan kesemrawutan lalu lintas. kawasan industri.589 ha (31 %). 2002). Dari tahun 1994 sampai 2000. yang terkait dengan "irrational land use" dan juga kegiatan pertambangan. Kondisi terbes penyimpangan tersebut terutama disebabkan adanya alih fungsi pada kawasan hutan dan kawasan resapan air. 2/2 Pola Dasar Pembangunan Jawa Barat 2001-2007). yaitu kerusakan hutan mangrove. 21%. Tumpang-tindih peraturan perundang-undangan terhadap lingkungan.061 ton per tahun. yaitu berkurangnya h primer sebanyak 24%. Gejala ini bisa menurunkan daya dukung lingkungan wilayah Jawa Barat (Perda No.2. Pembangunan villa dan perumahan di kawasan Puncak yang selama ini terjadi su .931.1. Wilayah ini termasuk daerah yang paling sering tertimpa musibah tanah longsor dibanding wilayah lainnya di Indonesia. pedagang kaki lima . Lemahnya fungsi pengendalian. baik dari interpretasi materi maupun implementasinya di lapangan. Pesawahan dalam periode ini telah diubah menjadi lahan bukan pesawahan seluas kur lebih 165.

000 ha. dampak dari adanya lahan kritis yaitu munculnya ma banjir dan tanah longsor. Ciamis (16. tapi keragaman aliran menurut musim da keterbatasan fasilitas penyimpanannya sumber-sumber air permukaan tidak lagi memadai untuk satu tahun penuh tanah juga merupakan sumber penting tapi pengembangannya dibatasi oleh jumlah pengisian kembali sumber air tersebut. konsumsi industri. Kebutuhan ini dipenuhi dari sumber-sumber seperti: air permukaan da .500 Ha. Dinas Kehutanan Propinsi Jawa (2004) melaporkan bahwa luas lahan kritis di DAS Citarum Hulu sudah mencapai 150.500 Ha untuk lahan permukiman perkotaan dan untuk hutan lindung 19 (Keppres No. Bahaya longsor di Jawa Barat dapat dikategorikan ke dalam dua areal.1.750 ha). bahkan tidak sedikit yang berubah fungsi menjadi a permukiman. Permintaan air sekarang untuk kebutuhan domestik. yaitu : Ka Bandung seluas 36.114 Tahun 1999).084 ha. Balai RLKT Wilayah IV melaporkan bahwa luas lahan kritis di Jawa Barat cenderung meningkat. Sementara itu volume banjir periodik 25 tahunan pun mengalami peningkatan dari 330 m3/detik pa tahun 1973 menjadi 740 m3/detik pada tahun 2000. Cianjur seluas 44.melebihi aturan yang ditentukan yaitu 19. Cirebon (450 ha).761 Ha (tahun 1990) menjadi 13. Selain dampak adanya lahan kritis terhadap banjir. u lahan pertanian yang tidak menerapkan teknologi konservasi.945 ha.600 ha).5 m pertahun. daerah pantai utara Subang ( 12. dan Garut seluas 33. Di Jawa Barat daerah yang rawan banjir. Sampai tahun 1999 ada tiga kabupaten yang memiliki luas lahan kritis terbesar. Selain itu terjadi perubahan penggunaan la DAS Ciliwung yang mengalami peningkatan luasan lahan budidaya dari 3. mengingat kebutuhan domesti perkotaan dan industri tumbuh lebih cepat. Permintaan air irigasi sekitar 80% dari t permintaan air. Adanya lahan-lahan kritis umumnya disebabkan oleh adanya kegiatan yang secara langsung menyebabkan rusakn dukung tanah/lahan antara lain pemanfaatan lereng bukit yang tidak sesuai dengan kemampuan peruntukannya.2. Majalengka ( 530 h Indramayu (16.000 ha).000 ha). dan diperkirakan akan terus naik sekitar satu persen per tahun. Pada kenyataannya kawasan kota dan pemukiman menjadi 20.000 ha. Curah hujan yang besar (ter di wilayah bagian tengah) memberikan aliran air permukaan berlimpah. 2. RTRW tidak mampu mengen perencanaan regional yang menciptakan kesenjangan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya (Rencana Strat Jawa Barat 2001-2004). meskipun angka ini diperkirakan berkurang dalam jangka panjang. Misalnya.000 ha dan lebih dari 9000 ha lahan kritis di DAS Ciliwung Hulu. irigasi. Pembangunan infrastruktur di Jawa Barat belum bisa mengikuti secara penuh pedoman yang diberikan dalam Re Tata Ruang dan Wilayah termasuk transportasi. dan irigasi pertanian diperkirakan 17. terutama yang di luar kawasan hutan. permasalahan lain yang sering muncul di Jawa Barat yaitu sem sering terjadi bencana alam longsor. dan konservasi lingkungan.698 ha. yaitu Bandung (1. Permasalahan tersebut dapat ditelaah lebih lanjut dengan melihat masalah-masalah yang berkaitan dengan sektor komponen lingkungan atau sumberdaya lainnya. yaitu daerah jalan/prasarana transportasi dan di daerah permukiman penduduk. Cimanuk Hulu sel 24.2 Sumberdaya Air Wilayah Propinsi Jawa Barat banyak diberkahi dengan sumber-sumber air tapi dengan cepatnya kenaikan permin akan air telah mengakibatkan sistem penyediaan yang dibangun tidak lagi seimbang. Citanduy sekitar 64.760 H (tahun 2000).

dan tetap sama pada 17 milyar m3 / tahun.907. Ketersediaan air sepanjang musim hujan mencapai kira-kira 81. dan telah mengalami deplesi sehingga muka air tanah ( table) dari tahun ke tahun terus menurun.267 ha dengan total areal hutan sekitar 917.106 ha. Sedangkan menurut Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Propinsi Jawa Barat (2001). Dua SWS lainnya yaitu SWS Cisadea-Cimandiri. hutan lindung 271. 1999). Dari beberapa hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Direktorat Geologi Tata Lingk ternyata untuk Cekungan Bandung dan Botabek sudah tidak dimungkinkan lagi adanya pemanfaatan airtanah unt industri. kecuali untuk rumah tangga.4 milyar m3 / tahun dan t menjadi 8. dan hutan konservasi 108. Menurut Perum Perhutani. Propinsi Jawa Barat memiliki lima satuan wilayah sungai (SWS) utama. Disamping itu. namun dari segi pemanfaatan yang ada saat ini menunjukkan sekitar 60% industri mengandalkan sumber airtanah sebagai satu-satunya sumber air alternatif. Tiga SWS berperan penting dalam hubu dengan perkembangan sosial-ekonomi: SWS Cisadane-Ciliwung yang dibagi dengan propinsi OKI Jakarta dan B SWS Citarum. dan SWS Ci Ciwulan. dan hutan konservasi adalah sekitar 116. Kebanyakan airtanah dangkal telah tercemar sehingga melewati standar air minum dan perlu dimasak terlebih da Airtanah dalam juga telah dieksploitasi secara berlebihan. sedangkan hutan yang nyata (cadangan hutan yang ada) kurang dari 9% total wilayah Jawa Barat. hutan lindung 210. dan SWS Cimanuk-Cisanggarung. terutama di wilayah pesisir Pantai Utara Jawa Barat.303 ha.138 ha.519 ha atau dari total areal Jawa Barat. Potensi airtanah secara kuantitatif untuk seluruh Jawa Barat belum terinformasikan secara jelas.074 ha. areal hutan produksi adalah sekitar 465.sungai di wilayah Propinsi Jawa Barat dan air tanah. areal hutan produksi sekitar 437. 2. Bekasi. areal hutan merupakan kawasan hutan. Sungai-sungainya sangat kotor terutama di bagian hilir sehingga tidak bisa digunakan berbagai kehidupan. pertanian.665 ha. Areal hutan produksi seki 472.3 Sumberdaya Hutan Menurut Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. dan hutan konserv sekitar 208. Semua sungai di Jawa Barat dan wilayah-wilayah perkotaan Bogor. luas kawasan hutan di Jawa Barat adalah sekitar 791.972 ha.1 milyar m3 pada musim kering. Kebanyakan kontaminasi sungai tersebut berasal dari limbah domestik yang langsung masuk ke sungai. Pemanfaatan airtanah untuk keperluan irigasi di Jawa Barat diarahkan hany daerah yang tidak mempunyai potensi sumberdaya air permukaan dan potensial untuk dikembangkan usaha perta terutama pertanian yang tidak banyak memerlukan air. Bandung dan Cirebon tidak c untuk pemakaian langsung. Seperti dilaporkan oleh kantor ini. Di wilayah-wilayah pedesaan Jawa Barat banyak aliran dan sungai yang tidak cocok untuk pemakaian langsung oleh manusia dan air dari sumber-sumber lainnya perlu dimasak dulu sebelum digunakan. Aliran ai sungai Citarum yang masuk ke waduk Saguling dengan tingkat pencemaran berat menyebabkan bencana kematia besar-besaran di danau tersebut. kualitas air pada musim kering umumnya kurang baik karena terkonta berat oleh baik sumber-sumber domestik maupun industri. Intrusi air la mencapai lebih dari 1000 m ke daratan ada di Kabupaten Indramayu. Intrusi air laut telah cukup jauh ke arah daratan. Sebagai konsekuensinya.1.2.110 ha. Subang. adanya pasokan air yang tinggi pada musim basa kurang pada musim kering. Bekasi dan Cirebon. hutan lindung 203. Depok. terutama pada daerah cekungan Bandu (95%). Menurut Bagian Kehuta (2001).904 ha (Perum Perhutani. sedangkan permintaan air untuk kebutuhan domestik. Karawang. total areal hut . Keseluruhan wilayah Jawa Barat memiliki 40 daerah aliran sungai (DAS) ukuran besar dan kecil: 22 sungai men utara dan 18 ke selatan. Bogor dan Cirebon.

Perubahan terbesa di Kabupaten Bandung sebesar 38. Aka produksi kayu legal dari Perum Perhutani hanya antara 300.1. dan merosotnya karbon. Ini berarti 28% dari keseluruhan hutan yang melibatkan sekitar 41. masala masalah kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya hutan. Banjir dalam pe musim hujan dan kekurangan air pada musim kemarau cenderung meningkat pada lima tahun terakhir. hingga inkonsistensi antara rencana tata ruang dan implementasinya di tingkat lapangan. Ini merupakan indikasi yang jelas dari suatu kombinasi jumlah penduduk. skala penurunan hutan di Jawa Barat meningkat. hal ini akan mengurangi produksi hutan dan merusak layanan-layanan lingkungan lainnya termasuk stabilisasi tanah dan air. Penyebab lain yang ditengarai pada penurunan hutan di Jawa B adalah penebangan ilegal yang dipicu oleh pertumbuhan industri kayu lokal yang tidak terkendali. Tapi pada sisi lain. Masalah-m lingkungan terkait lainnya yaitu tingginya sedimentasi sungai dan waduk telah mengakibatkan berkurangnya produktifitas pertanian dan gangguan terhadap infrastruktur lainnya secara signifikan bagi pembangunan daerah d nasional. Masalah terakhir ini sebagian besar disebabkan karena lemahnya penegaka hukum. Penurunan hutan yang s besar terletak di bagian hulu DAS. perambahan hutan dilaporkan hingga 15. dan permukiman areal hutan dipercaya sebagai penyebab utama menurunnya areal hutan (cadangan tetap) dari sekitar 22% dari keseluruhan Jawa Barat) menjadi kurang dari 9%.637 Ha pada tahun 2002.869 Ha pada tahun 1997 berkurang menjadi 881. Angka penurunan hutan yang tinggi di Jawa Barat sangat serius. perambahan hutan. inkonsistensi dalam rencana tata ruang dan rendahnya penegakan hukum. Penyebab penurunan hutan bermacam-macam m dari perambahan hutan yang berkaitan dengan krisis ekonomi. Dari perspektif yang luas. Oleh karena itu.024. pada sk lokal di KPH Bandung Selatan. Hasil-hasil pertanian perkebunan pada lahan disatu sisi memberikan keuntungan ekonomi buat petani dalam jangka pendek. Statistik menu bahwa industri-industri kayu di Jawa Barat memerlukan sekitar 2. .5 juta m3 per tahun untuk bahan bakunya. Ketidak-seimbangan ant permintaan dan pemenuhan kayu membuat penebangan-penebangan liar menjadi lebih kentara.748 ha yang jauh lebih kecil dari total areal hutan menurut BPLHD Jawa Barat (2000).500 keluarga (Anonymous. penambangan liar. mikro. Konflik antara kepentingan-kepentingan ekonomi dan ekologi ini perlu ditangani tepat sehingga keberadaan sumberdaya hutan yang tersisa dapat tetap terpelihara. Salah satu masalah lingkungan paling serius di Jawa Barat adalah penurunan luas hutan. 15 sub-DAS (38%) ditemukan dalam kondisi super kritis. Dalam beberapa tahun terakhir. yaitu dari luas sawah 64. 1.000 m3 per tahun.159 Ha.4 Masalah pertanian Selama lima tahun terakhir telah terjadi pengurangan atau alih fungsi lahan sawah di Jawa Barat sebesar 62.negara adalah 791. 2.000 . 1999).500 ha.834 H dari luas sawah 976. Penurunan hutan yang disebabkan oleh kebakaran hutan. tingginya kebutuhan akan lahan pertanian.147 Ha pada tahun 1997 berkurang menjadi 2 Ha pada tahun 2002. penurunan luas hutan juga dapat diamati dari fakta bahwa dari sekitar 22 hutan milik negara. s lebih dari satu juta m3 kayu per tahun dicurigai berasal dari penebangan liar baik di dalam dan di luar Jawa Barat merupakan tantangan besar bagi pengelolaan hutan berkelanjutan di Jawa Barat. dan karenanya perlu diberikan prioritas tinggi untuk perbaikannya. Angka sedimentasi yang tinggi ini ditambah dengan erosi tanah yang hebat di daerah-daerah tangkapan yang dalam beberapa kasus disebabkan oleh penurunan luas hutan. tutupan hutan aktual kurang dari 9%. status buruk kondisi lingkungan Jawa Barat ini ditopang oleh meningkatnya jumlah DAS kritis di Jawa Bar sekitar 40 sub-DAS yang dikenal. Disamping masalah perambahan hutan.2. Sebagai contoh. memiliki konsekuensi lingkungan yang luas dan sangat besar.0 Data yang tersedia tentang areal hutan Jawa Barat bermacam-macam bergantung dari mana data itu didapat.500.

076.478 Ha dengan total penurunan produksi sebesar 9.363 Ton padi pada tahun 2002. Umumnya.462.781.126 ton.436 ton meningkat 5.846 ton.257 Ha pada tahun 1992 berkurang menjadi 163.135 Ton/Ha pada tahun 1992 menurun m 3.795 Ha dari luas panen padi sebesar 60.340.126 ton dan meningka % dari produksi tahun 1998 sebesar 1.861 Ha pada tahun 2002.114.71 % dari sasaran sebesar 10. Sedangkan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir juga terjadi penurunan rata-rata produktivitas lahan sawah Propinsi Jawa Barat sebesar 0. Penurunan luas panen padi terkecil terjadi di Kabupaten Purwaka sebesar 17. Perubahan terbesar terjadi di Kabupaten Garut sebesar 9 Ha.102.410.64 dengan total produksi sebesar 18.455 Ton/Ha. dari luas lahan kering 154.715 Ton GKG pada tahun 2002.370.638 ton GKG (NKLD. Produksi buah-buahan mencapai 2.464 Ha pada tahun 2002.574. dari luas panen sayur-sayuran sebesar 173. dari luas lahan kering 1.681 Ha pada tahun 2002.037.629 Ha pada tahun 1992 menjadi 43.318 Ha pada tahun 2002. Makin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gizi berimplikasi terhadap meningkatnya permintaan akan p hortikultura baik segar maupun olahan sehingga meningkatkan keinginan petani untuk meningkatkan usaha dalam bidang hortikurtura. Pembangunan pertanian pada saat ini khususnya tanaman pangan dan hortikultura diarahkan pada penyediaan ba pangan beras.514 Ha pada tahun 1992 bertambah menjadi 244. Selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir telah terjadi penurunan luasan panen sayur-sayuran di Propinsi Jawa sebesar 10.772 ton (NKLD. Penurunan produktivitas terbesar terjadi di Kabupaten Karawang sebesar 1.103 Ha dari luas panen padi sebesar 571.469 Ton padi dari total prod padi sebesar 2.12 To dari produktivitas 4.518 Ton/Ha pada tahun 2002. Pengurangan luasan panen sayur-sayuran tertinggi terjadi di Kabupaten Cianjur sebesar 6.790 Ton padi pada tahun 1992 berkurang menjadi luas panen padi sebesar 1. masalah-masalah yang berkaitan dengan pertanian tersebut menyangkut penurunan secara .912.184 Ton GKG pada tahun 1992 berkurang menjadi 1.638 Ton/Ha pada tahun 1992 turun menjadi 3.795. dari produktivitas sebesar 4. atau mencapai 128.251 Ha pada tahun 1992 berkurang menjadi 14. total produksi maupun produktivitas tersebut disebabkan karena adanya kekerin pada lahan sawah sehingga banyak areal yang puso.101 Ha pada tahun 2002.909 Ha pa 1992 bertambah menjadi 2.380 Ton/Ha pada tahun 2002.190.57 % dari tahun 1998 yang mencapai 9.427 Ton padi dari luas panen padi sebesar 4.686 ton GKG.33 % dari sasaran 2. Seperti pada kasus sumberdaya hutan. 2000). dan menin 28. Selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir telah terjadi penurunan luasan panen padi di propinsi Jawa Barat seb 2.409 Ha.162 Ha dengan total produksi sebesar 9.636.987. atau mencapai 99. Penurunan prod lahan terkecil terjadi di Kabupaten Cirebon sebesar 0.Sebaliknya pertanian lahan kering selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir telah terjadi penambahan luasan la kering atau alih fungsi ke lahan kering di Jawa Barat sebesar 804. Produksi sayur-sayuran mencapai 3. Produksi padi mencapai 10.304. Penurunan total produksi padi terbesar terjadi di kabupaten Indramayu sebesar 1.778 Ha pada tahun 2002.112. Sumbangan sektor pertanian terhadap perekonomian Jawa Barat tahun 1999 sebesar 1.83 dari luas panen sayuran sebesar 35.568 ton. Te kabupaten lainnya justru terjadi kenaikan luas panen sayuran tertinggi terjadi di Kabupaten Bandung sebesar 7.18 pada tahun 2002. 2000).10 % dari produksi 1998 sebesar 2.476 Ha pada tahun 1992 menjadi 42.755 Ton/Ha. kondisi pertanian lahan basah (sawah) di Jawa Barat juga menunjukkan in penurunan.069 Ha. Pengurangan luasan panen pad tertinggi terjadi di Kabupaten Cirebon sebesar 489.59 % (NKL 2000).586.204 Ha pada tahun 1 berkurang menjadi 82.406.473 H luas panen sayur-sayuran sebesar 21. Penurunan luas areal panen padi.

(iv) meningkatnya kekeruhan dan pendangkalan se dan sungai karena penggalian tanpa penyediaan penampung sedimen. penggalian atau penambangan material yang tidak termasu material strategis. banyak lubang-lubang dalam yang ditinggalkan perusa perusahaan. Disamping itu juga terja inefisiensi penggunaan sumber air karena kebocoran dan salah-pilih tanaman pertanian (kebutuhan tinggi terhada Terbatasnya sumber air permukaan maupun sumber air tanah untuk memenuhi kebutuhan pertanian juga mengak penurunan produktivitas lahan pertanian tersebut. Kerusakan lingkungan dapat diakibatkan oleh operasi kecil. pengoperasian dan perbaikan penambangan. Gangguan kelebihan beban dan tanah atas dapat mengakibatkan hilangnya st tanah. perusakan bentang lahan.2. . (vi semakin menurunnya permukaan air bawah tanah atau hilangnya air tanah karena terpotongnya akuifer. tanah. batu keras (basal. stabilitas dan resistensi erosi yang membuat areal yang 'diperbaiki' menjadi lebih tidak produktif dari sebe 2.6 Permasalahan lingkungan pantai dan wilayah pesisir Masalah-masalah umum yang dihadapi wilayah pesisir dan pantai Jawa Barat adalah degradasi hutan bakau. (vii) polu dan suara dari jalan-jalan pengangkutan serta kerusakan vegetasi dan tanaman.2. Bahan galian 'C' termasuk pasir. karena cuaca dan tidak terkonsolidasi meningkatnya erosi tanah karena hilangnya vegetasi penutup. kerikil. (ii) meningkatnya bahaya tanah longsor atau runtuhnya batuan akibat terpotongnya lereng curam yang terdiri dari batuan lepas dan batuan lapuk. pencemaran pantai karena kegiatan-kegiatan industri dan domestik serta intrusi air laut. (v) kerusakan daerah resapan air tanah.1.1. geru (abrasi) dan sedimentasi. batu kapur dan batu yang digunakan bahan mentah untuk kebutuhan industri dan konstruksi. pengedukan dan pengerukan bahan galian 'C' sebagian besar diakib dari kurang mempertimbangkan masalah-masalah lingkungan dalam perencanaan. 2. Tanpa perbaikan yang tepat pada pasca penambangan. Tingkat kecepatan eksploitasi dan penggunaan material ini telah mengakibatkan beberapa permasalahan lingkung dimana belum ada ketaatan akan praktek-praktek pengelolaan yang bijak dan kurangnya rehabilitasi pasca penam Kerusakan lingkungan karena penambangan. yang meluas sampai batas wilayah perumahan. Pengadaan bahan galian 'C' sangat penting untuk mendukung pembangunan fisik wilayah di Jawa B Jakarta.signifikan kapasitas air irigasi yang disebabkan meningkatnya sedimentasi pada saluran-saluran irigasi dan kerus yang tinggi pada infrastruktur irigasi (54% dari keseluruhan infrastruktur irigasi). andesit.5 Masalah kegiatan pertambangan Penambangan bahan galian 'C' mencakup pengerukan. Ini sebagian besar disebabkan oleh perubahan iklim global dan regional serta permintaan yang tinggi terhadap air untuk kebutuhan non-pertanian. Dampak-dampak lingkungannya meliputi: (i) destabilisasi lereng dengan penggalian dinding-dinding tinggi. besar dan mekanisasi atau oleh damp kumulatif dari operasi-operasi kecil. Tingginya erosi tanah pada DA tingginya pengangkutan sedimen mengakibatkan pendangkalan pada saluran dan waduk. tataguna tanah menjadi tidak serasi lagi dengan areal sekit Pada dataran rendah di Bogor dan Bekasi sebagai contoh. Endapan tanah liat. Di daerah perbukitan dan pegunungan topografi bisa lebih rendah d lereng yang landai menjadi lebih curam. dasit) untuk agregat ditemukan di wilayah-wilayah berbuki pegunungan. penggalian. yang mengancam stabilitas sisi-sisi bukit. timbulnya daerah-daerah genangan yang dengan limpahan air yang mandek meninggalkan lereng curam yang berbahaya. yang pada gilirannya menganc pemukiman manusia dan pertanian. tanah liat. pasir dan kerikil ditemukan di datara dataran rendah dan sungai.

6 skala Reichter. . sedangkan sisany melalui penyedotan septic tanks oleh Dinas Kebersihan Kota.2. setelah hujan. sedangkan kerusakan hutan bakau 15 ha terjadi di Ciamis. 2. 5 km di Subang dan 2 mil / tahun di Karawang. dan gempa bumi. Hampir seluruh kota/kabupaten telah memiliki fasi Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) namun tidak beroperasi secara optimum dan tinja yang diolah rata-rat mencapai 5% dari laju timbulan tinja yang ada. Di pantai selatan. sebagian besar lumpur tinja tersebut dibuang langsung ke sungai dan kanal-kanal tanpa mengindahkan prosedur pembuangan limbah yang semestinya. dan pemandangan yang indah (pariwisata). kegiatan g berapi selain menimbulkan dampak-dampak negatif. 1 Limbah Cair (Sewage) Khusus untuk Kota Bandung saat ini telah tersedia instalasi pengolahan tinja secara terpusat dengan sistem perpi namun sampai dengan tahun 2002 berdasarkan data dari Divisi Air Kotor PDAM Kota Bandung menyebutkan ba konsumen yang mendapat pelayanan sistem perpipaan baru mencapai 20% dari penduduk kota. sedangkan sedimentasi/penambahan (akresi) sejauh 5 sepanjang garis pantai terjadi di Indramayu. Keberadaan gunung berapi aktif yang tersebar di wilayah Jawa Barat dapat menyebabkan bahaya potensial terhad kehidupan manusia di wilayah-wilayah sekitarnya. Kerusakan pantai karena penamban pasir laut (sekitar 450 ha) juga terjadi di daerah pantai selatan Cianjur.Dilaporkan oleh BPLHD (Jawa Barat ASER. dan sekitar 64% dari total hutan bakau di Bekasi. 6000 tanaman di Subang. Dengan kata lain. sekitar 100 ha di Tasikmalaya. Kemungkinan kejadian g bumi di Jawa Barat. meskipun lumpur tinja dari tangki septik telah dikumpulkan/disedot. tapi juga memberikan kontribusi aspek-aspek positif untuk kemakmuran manusia. 2002) bahwa di pantai utara Jawa Barat abrasi sejauh 400-500 m te Indramayu.5. Penyebab utama tanah longsor tersebut dengan korban jiwa yang besar a karena alam dan fakta bahwa banyak terdapat masyarakat yang membangun di tanah-tanah yang rentan longsor. abrasi sejauh 1 km terjadi di Ciamis. pengendapan (sedimenta menutup sekitar 6000 ha daratan. perlu juga diingat kegiatan gunung berapi memberikan keuntungan yang sangat besar seperti tanah-tanah subur. Direktorat Geologi Tata Lingkungan (GTL) melaporkan bahwa selama dekade terakhir 481 tanah longsor yang terjadi di wilayah Jawa Barat. bijih besi.2. dan 1500 ha di Garut. letusan gun berapi.7 Permasalahan bencana alam Jawa Barat memiliki potensi tinggi dalam bahaya-bahaya alam atau geologis. 22 km di Tasikmalaya. 5 km di Subang dan 300 m di Karawang. 2. Akan tetapi. energi geothermal. Dampak-dampak dari letusan gunung berapi tidak hanya kehi jiwa dan kerusakan dan harta benda. misalnya di selatan Kabupaten Sukabumi dan Tasikmalaya. Penurunan hutan bakau sejauh 1 km panjang pantai terjadi di Indramayu.2.1. sekitar 1000 Karawang. bahan baku yang berlimpah.7 . Di wilayah pantai Subang. terutama tanah longsor. Bencana ini lebih dari 50% tanah longsor yang terjadi di In pada periode yang sama (811 kejadian). Dalam dekade terakhir beberapa gempa b berat terjadi di Jawa Barat. Bahkan.2 Pencemaran 2. sedangkan getaran gempa bumi tersebut be antara 4. Jawa Barat terletak di suatu wilayah kegiatan gempa bumi yang tinggi. tapi juga dapat menjadi sumber polusi alami.2. terutama di wilayah bagian selatan relatif tinggi.

2 Kontaminasi Pasokan Air Sistem pemasokan air dengan pipa tidak lagi memadai karena tingkat kerusakan perpipaannya yang kurang terpe Tekanan air yang rendah berisiko terkontaminasi oleh rembesan airtanah. belum menunju efektifitas yang tinggi. selagi air tersebut dimasak dengan sempurna.2. Sebagai akibatnya. dan dari sumber-sumber yang lain. 3 % dibuan langsung ke sungai dan 21 % dibuang ke lahan-lahan kosong. Lokasi kritis dimana banyak ditemukan timbunan sampah yang dibuang secara ilegal oleh masyarakat adalah sala satunya di bantaran sungai. Pada kebanyakan rumah tangga yang kebutuhan airnya tergantung sumur-sumur dangkal. sekitar 23 % dikubur atau dibakar ditempat yang berpotensi mencemari udara dan air. kanal-kanal dan sungai-su kecil lainnya.2. d komersial. Sampai saat ini hampir seluruh lokasi penimbunan sampah akhir di Jawa Barat berada pada k tidak memadai.000 m3/hari. menunjukkan angka timbulan tertinggi.Perlu dikemukakan. Data dari Kota Bandung menunjukkan 64 % r total limbah padat berasal dari rumah tangga. akibatnya baik pasokan air dari perusah bersih maupun dari penyadapan airtanah dangkal belumlah aman terhadap kesehatan manusia. 2. Bekasi sebagai penimbul sampah terbesar. bahwa sangat sedikit tangki septik yang dirancang dan dibangun menurut persyaratan yang ditentukan oleh dinas kesehatan. sehingga setiap hari keseluruhannya mencapai 7. rata-rata hanya sekitar 54 % seluruh limbah domestik yang terkumpul dan terangkut ke tempat pemb akhir. Dari data st tahun 2002. ke dalam ba balong atau langsung dibuang begitu saja ke lahan-lahan kosong. Kondisi yang demikian telah mendorong masyarakat untuk lebih banyak memakai air botol-galonan. Meskipun pasokan pada tingkat air bersih dan bukan air minum. menyebabkan pengalihan permasalahan dari sumber aktifitas perkotaan menjadi permasalahan di lokasi penimbunan akhir. Di daerah perkotaan yang berkembang dengan semakin meluasnya kawasan kumuh. atau dibuang ke selokan. 2. telah banyak menimbulkan kontaminasi terhadap airtanah. atau kebanyakan tidak dipelihara dengan baik.3 Limbah padat dan persampahan Timbulan sampah di Jawa Barat dari tahun ke tahun terus meningkat. yaitu lebih dari 5. Bahkan sistem pengelolaan yang dijalankan oleh lembaga formal pengelola kota.500m3/hari. Umum kota-kota pusat kegiatan dalam suatu wilayah andalan. akibatnya terjadi penyumbatan alur sungai dan berisiko terjadinya banjir. Kecenderungan pola timbulan sampah di Jawa Barat adalah sejalan dengan tingkat aktifitas kota tersebut. Kebersihan kota umumnya di Jawa Barat masih sangat buruk. Di Wilayah .2. Seme itu yang tertimbun di TPA baru mencapai 60%. yaitu lebih dari 2.2. Sisanya. pemasokannya pun hingga tahun 2002 baru dapat mencapai 43 % konsumen di perkotaan dan sekitar 22 % konsumen di pedesaan Jawa Barat. bahaya kontaminasi tersebut cukup besar dan menjadi sumber timbulnya berbagai penyak dengan perantara air. dan mungkin inilah sebagai alasan menurut catatan m Jawa Barat yang menyatakan bahwa jumlah penduduk yang terkena diare semakin menurun. Di Wilayah Bo Kota Bogor dan Kab. dengan paradigma pengelolaan kumpul-ang buang. limbah cair dari rumahtangg khususnya yang tinggal di daerah bantaran sungai dibuang langsung ke sungai atau selokan-selokan. Komposisi limbah padat sebagian besar berasal dari rumah tangga. Di Wilayah Band Raya timbulan terbesar berasal dari Kota dan Kabupaten Bandung. sementara 27 % dari industri.000 m3/hari. Sembilan persen berasal dari pasar.

jumlah hari tidak sehat mempunyai kecenderungan me dari tahun-ke tahun. Alasan utama diselenggarakannya metode open dumping adalah rendahnya biaya operasi yang harus dikeluarkan. satu hal yang luput adalah pencemaran yang terja pernah diperhitungkan sebagai biaya yang seharusnya ditanggung oleh pemerintah. data ISPU menunjukan di Kota Bandung hanya terdapat 55 hari yang tergolong sehat (Pikiran R 12 Maret 2004). Parameter kritis adalah parameter yang meny dampak buruk terbesar terhadap kualitas udara. namun dalam pelaksanaannya banyak ditemui TPA yang hanya dioperasikan oleh seorang sopir buldozer. yaitu lebih dari 1. . Berdasarkan data sejak akhir tahun 2000.000 m3/hari. Umum terjadi di Jawa Barat bahwa TPA yang telah dipersiapkan untuk dioperasikan dengan metode sanitary landfill akh berubah menjadi open dumping. berasap dan lindinya menyebar ke sega Pencemaran air tanah dan air pemukaan sekitar TPA oleh lindi. mengingat metode ini tidak memerlukan perlakuan khusus yang berdampak pada penambahan biaya operasi. timbulan terbesar berasal dari Kab. Jarang ditemukan adanya perencanaan penimbunan yang sistemat TPA dapat berfungsi dengan baik dan tidak mengganggu lingkungan. TPA tersebut akhirnya akan menjadi semrawut. Hal ini dapat dipastikan bahwa kontribusi sampah dari aktifitas kota sanga menentukan besar kecilnya timbulan sampah.4 Permasalahan kualitas udara Data pemantauan kualitas udara dari pengamatan secara berkala yang dapat digunakan untuk melihat kecenderun peningkatan atau penurunannya di kota-kota di Jawa Barat masih sangat terbatas. Hal ini tentunya akan mendatangkan dampak yang tidak diinginkan. sesungguhnya perlu dicermati. disampin masalah lain yang ditimbulkan dari pelaksanaan open dumping di TPA. Berdasarkan nilai ISPU yang dip parameter PMi0 dan 03 sering ditemukan menjadi parameter kritis. Cirebon dan Majalengka. serta masalah sanita lingkungan yang menurun akibat kehadiran vektor penyakit berupa lalat di atas timbunan sampah terbuka. Faktor penyebab utama adalah kurangnya konsistensi pihak pengelola mengetrapkan aturan-aturan yang telah dit dalam perencanaan. adalah Kabupaten Subang.Ciayumajakuning. Namun demikian. seperti masalah bau. Data-data dari stasiun pemanta otomatis digunakan untuk menghitung Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). namun nampaknya m ini masih menjadi pilihan para pengelola kota. Kontrol terhadap operasi penimbunan sampah di TPA seluruh Jawa Barat masih sangat lemah. masalah pencemaran udara karen kebakaran dan asap yang terjadi secara alarm di dalam timbunan sampah yang tidak ditutup. masalah gas bio yai methana yang disebabkan karena tidak adanya upaya penangkapan gas tersebut. W sudah diketahui bahwa metoda ini telah menimbulkan pencemaran lindi terhadap air tanah. Tidak jarang dijum bahwa suatu TPA sampah kota juga menerima buangan industri atau bahkan tergolong limbah B3 misalnya limb infectiuous dari aktifitas rumah sakit. Pada tahun 2003. atau hanya mengand sopir truk sampah untuk menuang sampahnya. Faktor penduduk pada dasarnya sebagai penentu besarnya timbulan disamping faktor aktifitas di dalam kota itu s Sebagai contoh Kota Bandung dan Kota Bogor menimbulkan sampah lebih besar dibandingkan Kabupaten Band Bogor yang berpenduduk lebih tinggi. Disebutnya operasi controlled landfill dan sanitary landfill sebagai metode yang diterapkan pada sebuah TPA.2. Purwakarta dan Indramayu. Di seluruh Jawa barat hampir 90 % lebih TPA di Jawa Barat menerapkan metoda penimbunan open dumping. Banyak kota yang telah merencanakan pelaksanaan metoda tersebut. 2. merupakan masalah yang paling serius. bau. Adapun kota-kota yang memiliki timbulan terkecil yaitu kurang da m3/hari.2.

711 per km2. Selain hujan asam. Tahun 2000 48. Di wilayah lain seperti Kabupaten Bekasi dengan PDRB lebih dar didominasi oleh sektor industri. Cianjur.86% penduduk tinggal di perkotaan sedangkan di tahun 1990 hanya 35. penduduk Jawa Barat terdiri dari 30.9%). Berdasarkan usia. konsentrasinya yang tinggi di daerah pedesaan.8 juta orang di tahun 2010 45% kelompok penduduk berada di tiga wilayah kota: Bandung.5 sampai 2 kali lipat da ambang batas Baku Mutu udara ambien. sedangkan kepadatan penduduk Jawa Barat adalah 1.03 per tahun dan kepadatan penduduk 1. sektor industri diperkirakan juga mempunyai kontribusi yang cukup berarti dalam pencemaran udara. dan menurunnya visibilitas di daerah pe terutama dapat diamati di daerah Cekungan Bandung pada siang hari. Tingginya konsentrasi H2S ini dengan jelas mengindikasikan pencemar yang berasal dari proses pembusukan sampah. Pengamatan terhadap fenomena hujan asam masih sangat terbatas. perda . sejak tahun 2001 di Kota Bandung juga dilakukan uji emisi kendaraan be dan kualitas udara ambien di jalan-jalan raya.Dengan adanya peralatan mobile monitoring pemantauan kampanye mulai dilakukan di kota-kota lain di Jawa Ba seperti Bogor. terdapat pula indikasi terjadinya pencemaran dari smog fotokimia. Hasil pemantauan secara kampanye tersebut juga menunj kecenderungan yang sama dengan yang diperoleh di Kota Bandung. Hasil pemantauan emisi kendaraan bermotor terkini yang dilakuka BPLH Kodya Bandung (2004) menunjukan terdapat lebih dari 40% kendaraan bermotor dengan bahan bakar ben diesel yang tidak memenuhi persyaratan Baku Mutu Emisi Sumber Bergerak (Kepmen LH 13/1995). Fenomena hujan asam tergolong ke dalam pencemaran yang disebabkan oleh transport pencema jauh. Pencemaran udara di daerah perkotaan dan kawasan industri dapat menyebabkan dampak negatif di daerah yang dari sumbernya. Indikasi tersebut ditunjukan oleh konsentrasi ozon yang se menjadi parameter kritis. dan 4. Depok.3 Permasalahan sosial ekonomi dan kependudukan Jumlah penduduk propinsi Jawa Barat tahun 2000 adalah 35.Data pH rata-rata tahunan air hujan menunjukkan menurun.2. salah satu pengamatan terhadap pH air h sejan tahun 1980-an dilakukan oleh LAPAN di Kota Bandung. yaitu pola fluktuasi pencemar yang dipengar intensitas kendaraan bermotor. 2.72 juta jiwa yang terdiri dari 18. Sektor-sektor yang menyerap banyak tenaga kerja di daerah perkotaan adalah perindustrian.03%.73% berumur a 15-64 tahun. Di samping pengukuran udara ambien. 64. Walaupun e kendaraan bermotor umumnya merupakan kontributor yang dominan terhadap pencemaran udara. di kota-kota te terdapat sumber-sumber pencemar lain yang juga patut mendapat perhatian. Di TPA Bantargebang pencemar bau seluruhnya menunjukan nilai H2S berkisar antara 1. Kepadatan pendudu Bandung adalah 12. Bogor-Bekasi dan Cirebon. yang mengindikasikan tingginya migrasi ke kota (urbanisasi). Dengan asum tingkat pertumbuhan penduduk 1.56% berumur lebih dari 65 tahun.71% usia muda (kurang dari 14 tahun).033 per km2. Karawang dan Cirebon.033 / km2. berasal dari konversi NOX dan CO menjadi ozon dan senyawa fotokimia lainnya.08 juta laki-laki dan juta perempuan dengan rata-rata pertumbuhan 2.7% jumlah penduduk propinsi ini akan mencapai 43. Meskipun Propinsi Jawa Barat berkembang menuju daerah industri tapi sektor pertanian menyerap lebih banyak kerja (28. mengindikasikan adanya proses perubahan kualitas air hujan yang kemungkinan disebabkan oleh aktifi manusia yang semakin meningkat di daerah perkotaan. di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Bandung.

541 jiwa di Kota Bogor. beberapa penduduk menetap dan membangun rumah mereka pada bantar sungai. dimana telah ditempati oleh 96.3%. Tercatat seki 136. Indramayu.50% lul 52 dan S3. Pembangunan industri ini membuat para imigran mencari kesempatan kerja di wilayah Jawa Jumlah penduduk yang sangat besar dengan tingginya rata-rata pertumbuhan dan distribusi yang tidak seimbang wilayah membuat masalah baru.171 lokasi daerah kumuh yang mencakup 4. 2.457 keluarga atau 353.581 juta jiwa di Sukabumi. Sensus Nasional pad 1997 mencatat bahwa kepadatan penduduk di kabupaten Bekasi adalah 2. Rata-r mengalami penurunan daripada rata-rata pada tahun 1990 yaitu 27. rata-rata angka kelahiran di Jawa Barat adalah 10. Indeks pemb manusia Jawa Barat tahun 1999 mencapai 65. Angka pengangguran mencapai 8. mencuci. ham seluruh kabupaten lainnya mempunyai tekanan penduduk di atas angka 4. Permukiman yang terluas kawasan kumuhnya Kota Bandung. Permukiman di bantaran/tepi sun tersebut menyebar luas di Kota Bandung. Badan Peneliti Statistik (BPS) mencatat bahwa sejumlah 67.941 warga.176 jiwa per km2. 11. lingkungan permuki yang kotor. 14.059 bangunan rumah yang berlokasi di bantaran/tepi sungai dengan 69.621 ha lahan sawah yang dijadikan daerah permukiman. yang artinya lebih d dari penduduk yang ada sekarang adalah pendatang. Jumlah imigrasi ke Jawa Barat pada tahu sebesar 4. Ciamis. Dengan terbatasnya ketersediaan lahan.585 orang. Pola penyakit di Jawa Barat didominasi oleh penyakit yang disebabkan oleh buruknya sanitasi lingkungan yakni saluran pernapasan atas (49% pada tahun 2002). 2.900 unit industri.66%. Di wilayah pedesaan. pembuangan air. Dilaporkan oleh Gubernur (2002) ada sekitar 2.221.45% lulus Sarjana muda dan 1.108 jiwa di Kota Bandung.911. . Dalam hal kesehatan masyarakat. Karena kete tersebut .762 ha tanah. tekanan penduduk terhadap lahan sudah sangat tinggi. sarana bermain dll. 2. yaitu air bersih. Karawang dan Kabupaten Bandung.3% per 1000 kelahiran. dan prasarana yang terbatas. Pada tahun 2000 terdapat 39. pada tahun 2002 Jawa Barat me 4. sementara di Cirebon sebesar 7. diare dan busung lapar (14% pada tahun 2000). seperti pertumbuhan daer kumuh. Kecuali di wilayah pantai utara. Bekasi dan kabupaten Bandung. yaitu meningkatnya terhadap kebutuhan lahan untuk permukiman. Permukiman kumuh menimbulkan banyak sekali masalah. urutan ke-13 di Indonesia sedangkan 26.59% dari jumlah pend berada pada garis kemiskinan. banyak masyarakat yang memanfaatkan sungai untuk mandi.024 jiwa per k Kepadatan penduduk yang tinggi pada daerah perkotaan selalu membuat masalah baru. Angka kepadatan penduduk yang tinggi di Jawa Barat disebabkan oleh beberapa faktor. Tingginya angka rata-rata perpindahan penduduk ke Jawa Barat sebagian besar dikarenakan lajunya pembanguna bidang industri. kematian bayi di Jawa Barat mencapai 42. sehingga kepadatan penduduknya dapat mencapai 2000 orang per km2. yang identik dengan kemiskinan. 12. meskipun ada juga melimpahnya penduduk tetap be beberapa kota besar. Menurut sensus nasional tahun 1997.39 juta angkatan kerja.94% lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). sebagian besar karena ke dan migrasi.01% dari keseluruhan 14. Angka ini termasuk tinggi. listrik.877 dan pada tahun 2000 sebesar 3.988 keluarga yang menetap disana. mengambil air dan juga membu sampah.8% lulus Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP). Cianjur.dan jasa.74%.30 persen penduduk yang lulus Sekolah Dasar (SD). Pada tahun 2000. Menurut Pusat Data dari Departemen Perdagangan dan Industri.

4 Masalah hukum dan kelembagaan Dalam mengimplementasikan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Di beberapa Daerah Kabupaten/ Kota. y berakibat kepada upaya memperoleh pendapatan asli daerah secara berlebihan. . maka peraturan perundang-undangan seolah-olah tumpang tindih.2. Mengingat target perolehan pendap asli daerah. belum digunakan pen secara sistemik. menyebabkan kepentingan pelestarian fungsi lingkungan sering terabaikan. Peranserta masyarakat masih bersifat formalitas. Upaya menghimpun Dana Lingkungan melalui ditegakkannya prinsip Tanggung Jawab Mutlak (strict liability). Peraturan perundang-undangan masih ditinjau bidang per bidang atau sektor per sektor. Dalam penaatan dan penegakan hukum lingkungan. s pembentukan lembaga pertanggungan keuangan atas kerugian yang timbul akibat kegiatan yang mempunyai risik terjadinya pencemaran atau perusakan lingkungan belum diminati oleh sektor swasta. proses penyelenggaraan dekonsentrasi dan desentralisasi masih berjalan secara tersendat-sendat. Dana Lingkungan masih menjadi kendala. Sementara itu. Bahkan masyarakat sering dicurigai sebagai penghambat proses pembangunan. dan hanya melihat ketentuan-ketentuan pada batang tubuhnya saja. walaupu umumnya aparatur pemerintah maupun masyarakat memahami bahwa unsur-unsur lingkungan hidup membentuk sistem yang disebut ekosistem.2. karena metode penafsiran hukum yang didasarkan pada kepe sektornya masing-masing. Pemerintah maupun Pemerintah Daerah masih belum terbuka da memberikan informasi yang lengkap dan tepat waktu. sehingga peranserta masyarakat belum terlaksana sebagaim mestinya. Proses desentralisasi belum tuntas sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan sehingga struktur organisasi dan tata kerja institusi pen lingkungan hidup di daerah masih belum mantap sebagai upaya untuk mendukung profesionalisme aparatur pem Belum adanya institusi penegak hukum Peraturan Daerah yang dapat bertugas secara langsung dan seketika menc dan menanggulangi terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan. institusi pengelola dan atau pen lingkungan hidup dibebani sebagai instansi penghasil pendapatan asli daerah.