P. 1
All Tesis3

All Tesis3

|Views: 1,014|Likes:
Published by farizah_khansa

More info:

Published by: farizah_khansa on Dec 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2012

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perbankan merupakan salah satu sumber dana diantaranya dalam bentuk perkreditan bagi masyarakat, perorangan, atau badan usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya atau untuk meningkatkan produksinya.1 Produk jasa perbankan, sepanjang memerlukan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, maka produk tersebut menjadi produk perkreditan.2 Kata kredit secara etimologi, berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata Credere yang berarti kepercayaan. Kepercayaan dilihat dari sisi bank adalah suatu keyakinan bahwa uang yang akan diberikan akan dapat dikembalikan tepat pada waktunya sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak yang tertuang dalam akta perjanjian kredit. Keyakinan bank tentu berdasarkan studi kelayakan usaha masing-masing debitur yang akan dibiayai.3 Sumber dana yang dipinjamkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit tersebut bukan dana milik bank sendiri karena modal perbankan juga sangat terbatas, tetapi merupakan dana-dana masyarakat yang disimpan pada bank tersebut sehingga perbankan berusaha dan berlomba-lomba menarik dan mengumpulkan dana masyarakat agar bersedia menyimpan dananya pada bank tersebut dengan berbagai undian, hadiah, dan iming-iming lainnya dengan tujuan semata-mata agar masyarakat menyimpan dananya dalam bank untuk jangka waktu yang lama. Dana yang disimpan masyarakat pada bank, pada umumnya dalam bentuk tabungan, deposito, giro, setipikat deposito dan lain-lain. Dana masyarakat yang terkumpul dalam jumlah yang sangat besar dengan jangka waktu cukup lama merupakan sumber utama bagi bank dalam menyalurkan kembali kepada masyarakat yang memerlukan dalam bentuk pinjaman atau kredit. Inilah
1

Sutarno, S.H., M.M., Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, (Bandung : CV. Alfabeta, 2004), hlm. 1.
2 Try Widiyono, S.H., M.H., Sp.N., Aspek Hukum Operasional Transaksi Produk Perbankan di Indonesia. ( Bogor : Ghalia Indonesia, 2006), hlm. 256. 3

Suharno, Analisa Kredit, (Jakarta : Djambatan, 2003), hlm. 1.

Universitas Indonesia

2

yang dinamakan fungsi bank sebagai intermediasi. Karena itu suatu bank yang tidak memiliki sumber dana dari masyarakat yang memadai akan sangat mengganggu usaha dan kegiatan bank dan bank juga tidak mampu memperluas ekspansinya.4 Fungsi utama bagi perbankan di Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat.
5

Fungsi perbankan tersebut dlama penerapannya

disesuaikan dengan jenis banknya dan sebagaimana yang terdapat dalam pasal 5 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, jenis-jenis bank adalah bank umum dan bank perkreditan rakyat, yang masing-masing memiliki cakupan bidang usaha yang berbeda. Terkait dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan ini, usaha bank umum meliputi :6 a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu; b. c. d. e. f. memberikan kredit; menerbitkan surat pengakuan hutang; membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya; memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah; menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya; g. h. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga; menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga;

4

Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Seri Hukum Bisnis Jaminan Fidusia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm.2.
5 Indonesia, Undang-Undang Perbankan, UU No.10 Tahun 1998, LN No.182 Tahun 1998, TLN No.3790, ps. 3. 6

Ibid., ps. 6.

Universitas Indonesia

3

i. j. k.

melakukan

kegiatan

penitipan

untuk

kepentingan

pihak

lain

berdasarkan suatu kontrak; melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek; membeli melalui pelelangan agunan baik semua maupun sebagian dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada bank, dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatnya; l. m. n. melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat; menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah; melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini dan peraturan perundangundangan yang berlaku. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa Perbankan sebagai salah satu lembaga keuangan mempunyai nilai strategis dalam kehidupan perekonomian suatu negara, dimana kegiatan utamanya sebagai intermediasi pihak-pihak yang mempunyai kelebihan dana (surplus of fund) dengan pihak-pihak yang kekurangan dan memerlukan dana (lack of funds). Dalam rangka mencapai kemanfaatan yang maksimal dari kegiatan perbankan tersebut perlu adanya aturan dan ketentuan pokok sebagai dasar hukum dalam operasional perbankan yang kemudian oleh pemeritah diundangkan berupa Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang merupakan amandemen dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan definisi bank sebagai penghimpun dana dan kemudian disalurkan dalam bentuk kredit berbunyi sebagai berikut : a. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. 7
7

Undang-Undang Perbankan, Ibid., ps. 1 angka 2.

Universitas Indonesia

4

b. Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.8 Kredit merupakan perjanjian antara debitur dan kreditur di mana hak dan kewajibannya termuat dalam perjanjian tersebut dan dikenal dengan perjanjian utang piutang, dimana terdapat unsur-unsur di dalamnya sebagai berikut :9 a. Kepercayaan, yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa kredit tersebut akan dibayar kembali oleh sipenerima kredit dalam jangka waktu tertentu yang telah diperjanjikan. b. waktu. c. Risiko, yaitu bahwa setiap pemberian kredit mempunyai risiko akibat adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian kredit dengan pembayaran kembali. Semakin panjang jangka waktu pemberian kredit semakin tinggi resiko kredit tersebut. d. Prestasi, atau obyek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang, tetapi juga dapat berbentuk barang dan jasa. Namun dalam obyek kredit yang menyangkut uanglah yang sering dijumpai dalam praktek perkreditan. Kredit dapat dibedakan menurut kriteria lembaga pemberi dan penerima kredit yang menyangkut struktur pelaksanaan kredit di Indonesia, maka jenis kredit terdiri dari:10 a. Kredit Perbankan kepada masyarakat untuk kegiatan usaha dan atau konsumsi. Kredit ini diberikan oleh bank pemerintah atau bank swasta kepada dunia usaha untuk ikut membiayai sebagian kebutuhan permodalan, dan atau kredit dari bank Waktu, yaitu bahwa pemberian kredit dengan pembayaran kembali tidak dilakukan pada waktu yang bersamaan melainkan dipisahkan oleh tenggang

8 9

Ibid., ps. 1 angka 11.

Febby M. Sukatendel, 2006. “Kredit dan Masalah Keuangan, Panduan Bantuan Hukum di Indonesia”. YLBHI, Jakarta.
10

Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan Di Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), hlm.221-224.

Universitas Indonesia

berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. cit. hlm. Infobank. sehingga biasa disebut Hukum Perjanjian yang mengandung asas Kebebasan dalam Membuat Perjanjian. 30. Buku III KUHPerdata tersebut berisi perikatan-perikatan yang timbul karena perjanjian. Kredit Likuiditas. yang selanjutnya digunakan sebagai dana untuk membiayai perkreditannya.. Diterjemahkan oleh R. Subekti dan R. (Jakarta : Pradnya Paramita. yaitu yang dimaksud perikatan adalah suatu perhubungan hukum (mengenai kekayaan harta benda) antara dua orang yang memberi hak kepada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya.H. Tjitrosudibio. b. 23. Kredit Langsung. 13 Widjanarko. op.5 kepada individu untuk membiayai pembelian kebutuhan hidup yang berupa barang maupun jasa. kredit ini diberikan oleh Bank Indonesia kepada lembaga pemerintah atau semi pemerintah. ps..13 11 Widjanarko. para pihak juga tunduk kepada perjanjian yang telah disetujui dan disepakati oleh para pihak yang selanjutnya dituangkan dalam Akta Perjanjian Kredit.” Kumpulan Tulisan. selain tunduk pada peraturan perundang-undangan. Misalnya Bank Indonesia memberikan kredit langsung kepada Bulog dalam rangka pelaksanaan program pengadaan barang. c. yang berbunyi :12 “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. S. Dalam pemberian kredit perbankan.11 Pengertian perjanjian diatur dalam Pasal 1313 KUHPerdata. (Jakarta. “Aspek Hukum Pemberian Kredit Perbankan. 1313. yaitu kredit yang diberikan oleh Bank Sentral kepada bankbank yang beroperasi di Indonesia. Terjadinya perjanjian tersebut karena adanya pihak-pihak yang membuat perjanjian sebagaimana hukum yang mengatur perikatan di Indonesia terdapat dalam Buku III KUHPerdata yang berjudul Perikatan (verbintenissen). cet. sedangkan orang yang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan. MBA. Universitas Indonesia . 12 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek].1999). yang dapat disimpulkan dari pasal 1338 KUHPerdata yang menyatakan bahwa segala perjanjian yang dibuat secara sah. 1998) : 4.

hlm. Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit yang menyangkut jangka waktu. 15 Universitas Indonesia . 228. Perjanjian kredit mempunyai beberapa fungsi yaitu diantaranya : 15 a. Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank. 158160. (Jakarta : Institut Bankir Indonesia. Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat bukti mengenai batasan-batasan hak dan kewajiban di antara kreditur dan debitur. Bank dan Manajemen. Perumusan Masalah 14 Sutan Remi Sjahdeini. cara penarikan kredit dan pembayaran kembali serta besarnya bunga yang harus dibayar oleh debitur serta perjanjian ikutan lainnya (accessoir). Melalui penelitian mengenai “Aspek Hukum Kerjasama Penyaluran Kredit Antara Bank X dengan PT Y”. 1993). atau pembagian hasil keuntungan. serta penyelesaian kredit berdasarkan kerjasama tersebut. 1.64-69 dikutip dari: Drs.H. karena perjanjian kredit mempunyai fungsi yang sangat penting dalam pemberian. 2000). Muhammad Djumhana.2. Gatot Wardoyo. hubungan hukum para pihak. Sekitar Klausul-klausul Perjanjian Kredit Bank. Cet. S. b.. (Bandung: Citra Aditya Bakti. CH. c. Berdasarkan uraian di atas. artinya perjanjian kredit merupakan sesuatu yang menentukan batal atau tidaknya perjanjian lain yang mengikutinya misalnya pengikatan jaminan. 3. diharapkan dapat diketahui mengenai kedudukan hukum. imbalan.14 Lebih lanjut mengenai perjanjian kredit perlu mendapat perhatian khusus bagi pihak-pihak yang terkait.6 Perjanjian Kredit adalah perjanjian antara bank sebagai kreditur dengan nasabah sebagai nasabah debitur mengenai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu yang mewajibkan nasabah-nasabah debitur untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga. hak dan kewajiban. hlm. penulis tertarik untuk mendalami tentang aspek hukum dalam pemberian kredit yaitu khususnya tentang perjanjian kredit atau yang dipersamakan dengan itu. Perjanjian kredit berfungsi sebagai perjanjian pokok. pengelolaannya maupun penatalaksanaan kredit itu sendiri. Nopember-Desember 1992 hlm. Hukum Perbankan di Indonesia.

Memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan dan penyelesaian kredit terkait dengan perjanjian kerjasama antara Bank dengan badan usaha lain. Menguraikan dan menganalisa aspek hukum kerjasama antara Bank X dengan PT. Universitas Indonesia . Y dalam rangka penyaluran kredit ke Penerima Kredit. 1. Menguraikan dan menganalisa permasalahan dalam penyelesaian kredit berdasarkan perjanjian restrukturisasi kredit antara Bank X dengan PT. maka permasalahan-permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. yaitu : 1. 3. Memberikan sumbangan pengetahuan kepada masyarakat mengenai perjanjian kerjasama antara Bank dengan badan usaha lain dalam penyaluran kredit ke Penerima Kredit/End User. Y.4. Y dalam rangka penyaluran kredit kepada Penerima Kredit (end user) ? 2. Bagaimana pelaksanaan penyelesaian kredit berdasarkan perjanjian restrukturisasi kredit antara Bank X dengan PT. antara lain kedudukan hukum.3. Memberikan masukan bagi Bank X untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan sehubungan dengan pelaksanaan perjanjian kerjasama dan penyelesaian kredit sejenis di masa mendatang. serta Bank X pada khususnya.7 Sesuai dengan judul tesis ini yaitu “Aspek Hukum Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan Antara Bank X dengan PT. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan akan berguna bagi masyarakat pada umumnya. hak dan kewajiban serta hubungan hukum para pihak dalam perjanjian kerjasama dan perjanjian kredit. 2. Y” dan berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas. 2. Y? 1. Permasalahan hukum apa yang terdapat dalam pelaksanaan kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan antara Bank X dengan PT. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas maka tujuan yang hendak dicapai dalam tesis ini adalah sebagai berikut: 1.

8

1.5.

Kerangka Teori dan Definisi Operasional Dalam rangka melaksanakan pembangunan, Bank sebagai salah satu

lembaga keuangan yang paling penting dan besar peranannya dalam kehidupan masyarakat. Seiring dengan perkembangan masyarakat hukumpun mengalami perkembangan masyarakat. Kontinuitas perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi juga sangat ditentukan oleh teori. Teori hukum mempunyai fungsi yaitu menerangkan atau menjelaskan, menilai dan memprediksi serta mempengaruhi hukum positif, misalnya menjelaskan ketentuan yang berlaku, menilai suatu peraturan atau perbuatan hukum dan memprediksi hak dan kewajiban yang akan timbul dari suatu perjanjian, teori hukum disusun dengan memperhatikan fakta-fakta dan filsafat hukum, dalam tesis ini dipergunakan teori kepentingan umum (public interest) dengan menggunakan prinsip kehati-hatian, karena teori ini berkaitan dengan usaha perbankan dalam menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito yang kemudian ditempatkan/diberikan dalam bentuk kredit kepada masyarakat yang kekurangan dana (lack of funds) dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 yaitu “Dalam memberikan kredit, Bank Umum wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan”.16 Fungsi dan peran bank sangat krusial bagi perekonomian suatu negara, keberadaan aset bank dalam bentuk kepercayaan masyarakat sangat penting dijaga guna meningkatkan efisiensi penggunaan bank dan efisiensi intermediasi. Kepercayaan dari masyarakat juga diperlukan karena bank tidak memiliki uang tunai yang cukup untuk membayar kewajiban kepada seluruh nasabahnya sekaligus. Adapun masyarakat menyimpan dananya di bank karena adanya unsur kepercayaan terhadap bank tersebut, oleh karena itu bank dalam memberikan kredit kepada debitur haruslah sesuai prinsip atau asas kehati-hatian mengingat
16

Undang-Undang Perbankan, op.cit., ps. 8.

Universitas Indonesia

9

dana yang diberikan oleh bank merupakan simpanan masyarakat yang dipercayakan kepada bank, yang menyangkut kepentingan umum dalam jasa keuangan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat banyak, sehingga perbankan dalam menjalankan fungsinya harus mengenyampingkan kepentingan individual karena terdapat kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan umum. Sehingga dalam menjalankan peranannya bank bertindak sebagai salah satu bentuk lembaga keuangan yang bertujuan memberikan kredit dan jasa-jasa keuangan lainnya. Adapun pemberian kredit itu dilakukan baik dengan modal sendiri atau dengan dana-dana yang dipercayakan oleh pihak ketiga maupun dengan jalan memperedarkan alat-alat pembayaran baru berupa uang giral. 17 Sedangkan kredit adalah suatu kepercayaan, dimana kreditur yang memberikan kredit percaya bahwa debitur (penerima kredit) akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah diperjanjikan, baik menyangkut jangka waktunya maupun prestasi dan kontra prestasinya. 18 Salah satu obyek yang terpenting dalam hal ini adalah aspek hukum karena sangat berperan dalam operasional perbankan, terdapat adanya perjanjian di antara pelaku jasa perbankan yaitu bagi nasabah debitur terhadap bank yang disebut dengan Perjanjian Kredit. Menurut Hukum Perdata Indonesia, salah satu bentuk perjanjian pinjam meminjam yang diatur dalam Buku Ketiga KUHPerdata pasal 1754 sampai dengan 1789, namun demikian dalam praktek perbankan modern tidak hanya perjanjian pinjam meminjam melainkan adanya campuran dengan bentuk perjanjian yang lainnya seperti perjanjian pemberian kuasa dan perjanjian lainnya. Sehubungan dengan pemberian kredit oleh bank maka setiap pemberian kredit tersebut haruslah dituangkan dalam perjanjian kredit (akad kredit) secara tertulis dengan tetap harus dipedomani yaitu bahwa perjanjian tersebut rumusanya tidak boleh kabur atau tidak jelas dan harus memperhatikan keabsahan dan persyaratan secara hukum dengan menyebutkan jumlah besarnya kredit, jangka waktu, tata cara pembayaran, serta persyaratan lainnya. Untuk

17

Drs. O. P. Simorangkir, Kamus Perbankan, cet. 2, (Jakarta : Bina Aksara, 1989), hlm.33.
18

Drs. Muhammad Djumhana, S.H., op .cit., hlm. 365-366.

Universitas Indonesia

10

mencegah adanya kebatalan dari perjanjian, sehingga secara yuridis telah memberikan perlindungan yang memadai bagi bank.19 Adapun definisi dari beberapa istilah yang sering digunakan penulis sehingga dapat menunjang dan membantu dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut : 1. Bank Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi orang perseorangan, badan-badan usaha swasta, badan-badan usaha milik negara, bahkan lembaga-lembaga pemerintahan menyimpan dana-dana yang dimilikinya. Melalui kegiatan perkreditan dan berbagai jasa yang diberikan, bank melayani kebutuhan pembiyaan serta melancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian.20 Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan: 21 “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”. 2. Debitur Nasabah Debitur adalah Nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan.22 Selanjutnya dalam penulisan tesis ini akan disebut debitur. Debitur adalah One who owes a debt to another who is called the director; one who may be compelled to pay a claim or demand; anyone lieable on a claim, whether due or to become due. 23
19

Ibid., hlm. 385.
20

Hermansyah, S.H., M.Hum., Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta : Prenada Media, 1999), hlm. 7.
21

Undang-Undang Perbankan, op.cit., ps.1 angka 2.

22

Ibid., ps.1 angka 18.
23

Universitas Indonesia

11

3.

Kredit Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan : 24 “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/2/PBI/2009 : 25 “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga, termasuk: a. cerukan (overdraft), yaitu saldo negatif pada rekening giro nasabah yang tidak dapat dibayar lunas pada akhir hari; b. pengambilalihan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang; c. pengambilalihan atau pembelian kredit dari pihak lain.” Perjanjian Perjanjian adalah suatu perbuatan hukum dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.26 Perjanjian dalam KUHPerdata diatur dalam buku III tentang perikatan, bab kedua, bagian kesatu sampai dengan bagian keempat. Pengertian perjanjian yang dikemukakan oleh Subekti menyebutkan bahwa suatu perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada

4.

Henry Black Campbell, Black’s Law Dictionary, Sixth Edition, (St. Paul Minn: West Publishing Co, 1990), hlm. 404.
24

Indonesia, Undang-Undang Perbankan, op.cit., ps.1 angka 11.
25

Indonesia, Peraturan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, PBI No.11/2/PBI/2009 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005, ps. 1 angka 5.
26

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek], op.cit., ps. 1313.

Universitas Indonesia

Hubungan hukum merupakan hubungan yang menimbulkan akibat hukum. 26. 31 Salim H.. cet. 2004). Intermasa.29 Sementara M. Ada tiga tahap untuk membuat perjanjian. 6. maka unsur-unsur di dalam perjanjian adalah sebagai berikut : 31 a.. tidak hanya melihat perjanjian semata-mata tetapi juga harus dilihat perbuatan sebelumnya. yang memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan kepada pihak lain untuk menunaikan prestasi. R. Cet. 25-26. 1986). cet. (Jakarta : PT.. (Bandung: Alumni. Hukum Perjanjian. 26. Yahya Harahap.27 Untuk memperjelas pengertian perjanjian. 30 M. hlm.” Di dalam teori baru tersebut. hlm. Subekti. 28 Salim H. 29 Ibid.S. Adanya Hubungan Hukum. 4. hlm.30 Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian perjanjian tersebut. Segi-Segi Hukum Perjanjian.. op. tahap contractual (adanya persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak) dan tahap post-contractual (pelaksanaan perjanjian). hlm. hlm. yaitu : 28 “Perjanjian adalah suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. cit. 27 Prof. b. Sedangkan menurut teori baru yang dikemukakan oleh Van Dunne. yaitu tahap pra-contractual (adanya penawaran dan penerimaan). 20. Subyek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban. Universitas Indonesia ..1. 2. (Jakarta : Sinar Grafika. Yahya Harahap mengartikan perjanjian sebagai hubungan hukum dalam lapangan hukum harta kekayaan antara dua orang atau lebih. 2006). Menurut doktrin (teori lama) yang disebut perjanjian adalah perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban. maka dapat ditemukan di dalam doktrin. Adanya Subyek Hukum. yang diartikan dengan perjanjian. Hukum Kontrak : Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak.12 seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.S.

Di bidang harta kekayaan.cit. Universitas Indonesia . Dasar-Dasar Perkreditan. (Jakarta: PT. 33 Sutan Remi Sjahdeini. untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat sebagai berikut : 32 a. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. Kepercayaan. hlm. Prestasi terdiri dari memberikan (menyerahkan) sesuatu. yaitu bahwa pemberian kredit dengan pembayaran kembali tidak dilakukan pada waktu yang bersamaan melainkan dipisahkan oleh tenggang 32 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek].. 1320.. 5. 1995). b. waktu. Berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata. 4. c. Thomas Suyatno. ps.cit. dimana terdapat unsur-unsur di dalamnya sebagai berikut :34 a. b. atau pembagian hasil keuntungan. yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa kredit tersebut akan dibayar kembali oleh sipenerima kredit dalam jangka waktu tertentu yang telah diperjanjikan. Perjanjian Kredit Perjanjian Kredit adalah perjanjian antara bank sebagai kreditur dengan nasabah sebagai nasabah debitur mengenai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu yang mewajibkan nasabah-nasabah debitur untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga. Gramedia Pustaka Utama. suatu sebab yang halal. melakukan sesuatu. imbalan. 12-13. kecakapan untuk membuat suatu perikatan.13 c. d.33 Perjanjian Kredit merupakan perjanjian antara debitur dan kreditur di mana hak dan kewajibannya termuat dalam perjanjian tersebut dan dikenal dengan perjanjian utang piutang. cet. op. Adanya Prestasi. Waktu. op. 34 Drs. suatu hal tertentu. d. atau tidak melakukan sesuatu.

Metode Penelitian 1. dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum. 1. (Jakarta : Balai Pustaka. pengolahan.36 Sebagai upaya melakukan penelitian terhadap pokok permasalahan yang ingin ditulis.6.6. 3. Tipe Penelitian Penelitian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kegiatan pengumpulan. atau obyek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang. Prestasi. Universitas Indonesia . b. 6. pengertian dari kerjasama adalah :35 a. 2002). penulis 35 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Interaksi sosial antara individu atau kelompok secara bersama-sama mewujudkan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia.14 c.1. hlm. Prestasi yang wajib dilakukan oleh debitur atas kredit yang diberikan kepadanya adalah tidak semata-mata melunasi utangnya tetapi juga disertai dengan bunga sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. analisis. Risiko. Semakin panjang jangka waktu pemberian kredit semakin tinggi resiko kredit tersebut. Namun dalam obyek kredit yang menyangkut uanglah yang sering dijumpai dalam praktek perkreditan. tetapi juga dapat berbentuk barang dan jasa. hlm. cet.. d. 428. 1163. Kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang atau pihak untuk mencapai tujuan bersama. Kamus Besar Bahasa Indonesia. yaitu bahwa setiap pemberian kredit mempunyai risiko akibat adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian kredit dengan pembayaran kembali. 36 Ibid.

Jenis Data Dalam penelitian pada umumnya dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari bahan-bahan pustaka. yang diterbitkan di Jakarta oleh Penerbit UI-Press pada tahun 1986.15 dalam penulisan ini menggunakan metode penelitian normatif yang dikenal juga dengan istilah penelitian kepustakaan. cet. Pada penelitian hukum sosiologis atau empiris. hlm.6. Teknik Penyusunan Karya Ilmiah Untuk Perguruan Tinggi (Jakarta : Nina Dinamika. b. Lihat juga Rasyid Sartuni. maka yang diteliti pada awalnya adalah data sekunder. sekunder dan tertier. Bahan hukum primer. antara lain Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. meliputi buku-buku. 38 37 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. makalah-makalah atau karya ilmiah. serta artikel-artikel yang berkaitan dengan permasalahan yang akan ditulis. Menurut Soerjono Soekanto dalam bukunya Pengantar Penelitian Hukum. Universitas Indonesia . Data yang diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data primer (atau data dasar). untuk kemudian dilanjutkan dengan penelitian terhadap data primer di lapangan atau masyarakat. Penelitian hukum dapat dibedakan antara penelitian hukum normatif dengan penelitian hukum sosiologis atau empiris. 14. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan pihak Bank X. jurnal-jurnal. Pada penelitian hukum normatif yang diteliti hanya bahan pustaka atau data sekunder. 3 (Jakarta : Rajawali Pers. sedangkan yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka lazimnya dinamakan data sekunder38. cet. 39 Ibid. sedangkan data sekunder diperoleh dengan melakukan penelusuran kepustakaan atau dokumentasi atau berupa norma hukum tertulis sehingga alat pengumpulan data dengan studi kepustakaan berupa bahan-bahan terdiri dari: a. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat39. hlm. yang mungkin mencakup bahan hukum primer.2. hlm. Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat.3. Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. Penelitian ini bersifat yuridis normatif dengan menggunakan data primer dan data sekunder. 1990). 52. Bahan hukum sekunder. 15. 1986). 37 1. 40 Ibid. yaitu berupa bahan-bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer40.

1. Selanjutnya Bank dan pihak-pihak lain yang terkait dapat melakukan perbaikan dan penyempurnaan sehubungan dengan pelaksanaan perjanjian kerjasama dan penyelesaian kredit sejenis di masa mendatang. Universitas Indonesia . Kegunaan Praktis Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pikiran di bidang hukum mengenai perkreditan untuk menentukan konsep kerjasama antara Bank dengan badan usaha lain dalam rangka penyaluran kredit ke End User.7. Metode Pengolahan Data Data-data sekunder dan data-data primer yang telah diperoleh akan dikumpulkan. 1. Kamus Bahasa Inggris. b. 1. Kamus Besar Bahasa Indonesia. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder41 seperti Kamus Hukum.6.8. Bahan hukum tertier. Cara Menganalisa Data Data yang didapat akan dianalisa sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan kemudian akan dikaitkan dengan kaidah-kaidah yang ada dalam konsep perjanjian kerjasama dalam rangka penyaluran kredit. kemudian diseleksi untuk diambil data khusus.4. 1. baik secara teoritis maupun praktis. Kegunaan Teoritis Memberikan sumbangan penting dan memperluas wawasan dalam pemahaman konsep hukum perjanjian kerjasama dalam rangka penyaluran kredit. sehingga diharapkan dapat memberikan suatu analisis logis. Kegunaan Teoritis dan Praktis Faedah yang diharapkan dari tulisan ini sangat berguna.6.16 c. yaitu data yang lebih khusus berkaitan dengan permasalahan yang akan ditulis. Sistematika Penelitian 41 Ibid. yaitu : a.3.

penulis membagi pokok penulisan tesis dalam 4 (empat) bab.1. Y yang terdiri dari Analisa Perjanjian Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. Y. Dalam bab ketiga membahas mengenai Aspek Hukum Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. diuraikan mengenai Latar Belakang. serta Pelaksanaan Kredit dalam Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT.1. Bab keempat merupakan bab penutup yang menguraikan Kesimpulan dan Saran. Y dengan Penerima Kredit (End User) dan Analisa Perjanjian Restrukturisasi Kredit antara Bank X dengan PT. Perumusan Masalah. Y. Buku Pedoman Perusahaan Perkreditan Bank X. Analisa Perjanjian Kredit antara PT.1. Tinjauan Umum Perkreditan 2. Dalam bab kedua membahas mengenai Tinjauan Umum Perkreditan dan Pelaksanaannya Pada Bank X yang terdiri dari Tinjauan Umum Perkreditan. Kerangka Konsepsional. Metode Penelitian. Y. Pengertian Kredit Universitas Indonesia . serta Sistematika Penelitian. BAB II TINJAUAN UMUM PERKREDITAN DAN PELAKSANAANNYA PADA BANK X 2. dan dalam tiap-tiap bab tersebut terdapat pula beberapa sub bab. Kegunaan Teoritis dan Praktis. Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian. yaitu: Dalam bab kesatu yaitu Pendahuluan. dan dibagi lagi dalam pokok-pokok pembahasan.17 Dalam sistematika penelitian ini.

berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.43 Perjanjian Kredit merupakan perjanjian antara debitur dan kreditur di mana hak dan kewajibannya termuat dalam perjanjian tersebut dan dikenal dengan perjanjian utang piutang.cit.” dalam rumusan kredit tersebut dapat ditafsirkan sangat luas. 43 Try Widiyono. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan : 42 “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Produk jasa perbankan. waktu. sepanjang memerlukan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Kepercayaan. Universitas Indonesia . cit. penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. 12-13.. hlm 256. 1 ayat 11. b.. ps. 42 Waktu. 44 Drs. maka produk tersebut menjadi produk perkreditan... yaitu bahwa setiap pemberian kredit mempunyai risiko akibat adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian kredit dengan pembayaran kembali. cit. Risiko. op. yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa kredit tersebut akan dibayar kembali oleh sipenerima kredit dalam jangka waktu tertentu yang telah diperjanjikan. op. yaitu bahwa pemberian kredit dengan pembayaran kembali tidak dilakukan pada waktu yang bersamaan melainkan dipisahkan oleh tenggang Undang-Undang Perbankan.. c. op... Semakin panjang jangka waktu pemberian kredit semakin tinggi resiko kredit tersebut.18 Bank dalam usahanya adalah menghimpun dana masyarakat dan kemudian menyalurkan dana-dana tersebut dalam bentuk kredit. Kata-kata dalam pasal 1 ayat 11 Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan “. dimana terdapat unsur-unsur di dalamnya sebagai berikut :44 a. Thomas Suyatno. hlm.

45 Muhamad Djumhana. maka jenis kredit terdiri dari: 46 a. 2. cit. yaitu kredit yang diberikan oleh Bank Sentral kepada bank-bank yang beroperasi di Indonesia. waktu. Jenis-Jenis Kredit Perkembangan kredit saat ini memang sudah jauh dari bentuk awalnya. hlm.45 Kredit dapat dibedakan menurut kriteria lembaga pemberi dan penerima kredit yang menyangkut struktur pelaksanaan kredit di Indonesia.2.. tetapi juga dapat berbentuk barang dan jasa.. Kredit Likuiditas. 46 Ibid. Kredit ini diberikan oleh bank pemerintah atau bank swasta kepada dunia usaha untuk ikut membiayai sebagian kebutuhan permodalan.233. Sebenarnya perkembangan jenis kredit tersebut tidak dapat dipisahkan dari kebijakan perkreditan yang ditetapkan sesuai dengan tujuan pembangunan. Prestasi. Begitu banyaknya jenis kredit memperlihatkan begitu eratnya eksistensi kredit dengan usaha pemenuhan kebutuhan manusia. atau obyek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang. dan atau kredit dari bank kepada individu untuk membiayai pembelian kebutuhan hidup yang berupa barang maupun jasa.19 d. hlm. op. risiko dan prestasi. Dapat disimpulkan bahwa prestasi yang wajib dilakukan oleh debitur atas kredit yang diberikan kepadanya adalah tidak semata-mata melunasi utangnya tetapi juga disertai dengan bunga sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya dan unsur-unsur yang terdapat dalam kredit yaitu kepercayaan. yang selanjutnya digunakan sebagai dana untuk membiayai perkreditannya.221-224. terutama karena berbagai kebutuhan manusia yang semakin beragam. Kredit Perbankan kepada masyarakat untuk kegiatan usaha dan atau konsumsi. b. Universitas Indonesia . Salah satu bukti perkembangan kredit tersebut dapat dilihat melalui jenis-jenis kredit yang dikenal saat ini.1. Namun dalam obyek kredit yang menyangkut uanglah yang sering dijumpai dalam praktek perkreditan.

cet. b. Kredit lisan. 47 Munir Fuady (A). yang dibagi menjadi : i. Kredit sektor pertanian. b. e. iii. ada juga bank yang memberlakukan jangka waktu untuk dua tahun. c. Kredit Langsung. Penggolongan berdasarkan bidang ekonomi : a. 3. Kredit dengan perjanjian tertulis.20 c. Penggolongan berdasarkan dokumentasi : a. Kredit cerukan. yang timbul karena : Penarikan atau pembebanan giro yang melampaui saldonya. kredit ini diberikan oleh Bank Indonesia kepada lembaga pemerintah atau semi pemerintah. ii. hlm. Kredit sektor listrik. Kredit jangka panjang (long term loan). Kredit jangka pendek (short term loan). Jangka waktu untuk masing-masing kredit berbeda-beda. d.15-21. Kredit sektor perindustrian. Penarikan atau pembebanan R/C yang melampaui plafondnya. 2. c. yang saat ini sudah sangat jarang Kredit dengan instrumen surat berharga. Citra Aditya Bakti. Misalnya untuk kredit jangka pendek ada bank yang memberlakukan jangka waktu tidak lebih dari satu tahun. Untuk lebih mudah memahaminya. 1996). Kredit jangka menengah (medium term loan). Kredit yang dimaksud dan akan dibahas oleh penulis adalah kredit perbankan. perburuhan dan sarana pertanian. gas dan air. b. Kredit sektor konstruksi. Universitas Indonesia . 1 (Bandung: PT. Misalnya Bank Indonesia memberikan kredit langsung kepada Bulog dalam rangka pelaksanaan program pengadaan barang. Kredit sektor pertambangan. Hukum Perkreditan Kontemporer. Kredit tanpa surat perjanjian. tergantung dari ketentuan banknya. jenis-jenis kredit perbankan digolongkan berdasarkan kriteria yang digunakan. yaitu: 47 1. Penggolongan berdasarkan jangka waktu : a.

ii. 6. g. Garansi Bank atau Stand by L/C. i. Letter of Credit. barang dan jasa. yang pemberian dan pengembaliannya Kredit bukan uang. untuk membantu perusahaan yang sedang kesulitan likuiditas. Kredit modal kerja atau kredit eksploitasi. yang pencairannya sekaligus. b. Penggolongan berdasarkan obyek yang ditransfer : a. Kredit uang. h. Kredit investasi. perdagangan dan komunikasi. Kredit sektor lain-lain. yang terdiri dari : i. seperti tunai atau pemindahbukuan. b. 4. restoran dan hotel. tahan lama. Kredit produktif. Kredit sekali jadi (aflopend). Kredit Likuiditas. Kredit sektor jasa. Penggolongan berdasarkan waktu pencairannya : a. Kredit sektor pengangkutan. namun pengembaliannya dalam bentuk uang. iii. Kredit sektor perdagangan. yang pencairannya secara tunai atau dengan pemindahbukuan ke rekening debitur. Kredit tunai. yang pemberiannya dalam bentuk dilakukan dalam bentuk uang. b. Penggolongan berdasarkan tujuan penggunaannya : a. yang pencairannya tidak dilakukan saat pinjaman dibuat. yang baru akan dibayar bila terjadi perbuatan tertentu. yang merupakan jaminan pembayaran dalam kegiatan ekspor impor. seperti : i. Kredit konsumtif. 7.21 f. untuk membeli modal lancar yang habis dalam pemakaiannya. ii. Kredit tidak tunai. untuk membeli barang modal atau barang yang Universitas Indonesia . yang diberikan untuk keperluan konsumsi seharihari. Penggolongan berdasarkan cara penarikannya : a. 5.

c. tetapi melalui lembaga/perusahaan (agent) yang berhubungan langsung dengan debitur. yang waktu penarikannya tidak teratur dan dapat dilakukan berulang kali selama plafond kredit masih tersedia.. misalnya bilyet giro atau cek. Kredit berulang-ulang (revolving loan). Kredit tiap transaksi (self-liquidating credit) yang penarikannya sekaligus untuk satu transaksi tertentu dan pengembaliannya diambil dari hasil transaksi yang bersangkutan. ibid. hlm. cit. yang pencairannya dalam beberapa termin/bertahap. Penggolongan berdasarkan pola penyaluran kredit :48 a. b. 293-297. d. op. Kredit sindikasi (syndicated loan). 293.22 b. Kredit bertahap. b.. Kredit Referensi Selain kriteria yang digunakan di atas. masih banyak lagi kriteria yang dapat digunakan untuk menggolongkan berbagai jenis kredit. Kredit dengan kredit tunggal (single loan). Kredit Channeling. Kredit rekening koran. terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai kredit pola channeling. Kredit Pola Channeling.3. yang diberikan sesuai kebutuhan selama dalam batas maksimum dan masih dalam jangka waktu yang diperjanjikan. hlm. Penjabaran semua kriteria itu pada dasarnya hendak memperlihatkan perkembangan kredit yang telah mengisi berbagai segi kegiatan manusia.1. 2. 9. yang mempunyai lebih dari satu kreditur dengan satu kreditur sebagai lead creditor/lead bank. Kredit Executing. e. Universitas Indonesia . Penggolongan berdasarkan jumlah kreditur : a. c. 8. 48 Try Widiyono. Executing dan Referensi Sehubungan dengan kajian kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan pada penulisan ini. 49 Try Widiyono. executing dan referensi sebagai berikut : 49 Channeling agent merupakan pola pemberian kredit kepada debitur.

maka agen yang bersangkutan wajib mendapatkan kuasa dari kreditur (bank) karena agen dalam hal ini bertindak dalam kapasitasnya berdasarkan kuasa dan oleh karena itu. kredit diberikan kepada debitur melalui lembaga/perusahaan lain. untuk dan atas nama bank/kreditur. maka pemberian fasilitas kredit tersebut bukan merupakan tanggung jawab pihak pemberi kuasa. Pada pola channeling. Dalam pola ini. khususnya dalam hal channeling agent diberikan hak untuk menetapkan secara bebas suku bunga kredit kepada end user/debitur. Ada perbedaan utama antara pola channeling dengan executing. Dalam hal perjanjian kredit ditandatangani antara debitur dengan agen. Fungsi lembaga/perusahaan (agent) lain dalam pola channeling ditetapkan dalam Perjanjian Kerjasama. Sementara. Hal yang perlu diperhatikan adalah hak dan kewajiban perusahaan (agent) tersebut. Pada pola channeling agent terdapat beberapa variasi yang masing-masing mempunyai aspek hukum yang berbeda-beda dan wajib dimuat dalam perjanjian kerjasama sebagai berikut : a. Universitas Indonesia . Jika tidak. Sebagai kuasa.23 Lembaga/perusahaan tersebut harus telah melakukan perjanjian kerja sama dengan bank/kreditor. Channeling agent dengan pola tidak adanya kewajiban agen untuk mengambil alih kredit (take over) jika end user/debitur wanprestasi. Dalam pola ini. b. kreditur tidak perlu memberikan kuasa untuk melaksanakan hak-hak kreditur dalam melakukan tagihan dan atau eksekusi agunan jika end user/debitur wanprestasi. Penetapan demikian wajib didukung oleh kewenangan yang terdapat dalam perjanjian kerjasama. pola executing bukan demikian. channeling agent tidak dapat bertindak di luar kuasa yang diberikan. Dalam hal ini perlu diperhatikan. kreditur wajib memberikan kuasa untuk melaksanakan hak-hak kreditur dalam melakukan tagihan atau eksekusi agunan jika end user/debitur melakukan wanprestasi. Dalam pemberian kredit berpola channeling atau executing dapat berupa Kredit Investasi atau Kredit Modal Kerja atau kredit-kredit lainnya. Channeling agent dengan pola adanya kewajiban agen untuk mengambil alih kredit (take over) jika end user/debitur wanprestasi. siapakah yang menandatangani perjanjian kredit.

24 c. isi SPPK. PK serta pengikatan agunan dan tingkat suku bunga harus diketahui atau disetujui oleh bank. PK (perjanjian kredit). terdapat agen menaikkan suku bunga kredit dari yang ditetapkan bank. Dalam hal ini bank memberikan kuasa kepada agen untuk bertindak atas nama bank dalam menandatangani SPPK (surat pemberitahuan persetujuan kredit). c. Persyaratan tata cara. f. Meneliti kapabilitas dari debitur. termasuk self financing/persentase pembiayaan sendiri (end user). hak-hak dan kewajiban agen harus diperinci dalam perjanjian kerjasama channeling antara bank dengan agen. termasuk persyaratan calon debitur yang layak untuk diberikan fasilitas serta meyakini dan bertanggung jawab atas seluruh dokumen kredit yang diserahkan dan atau terkait dengan pemberian fasilitas kredit kepada end user. Channeling agent dengan pola bahwa agen ikut membiayai kredit tersebut. Menarik dan atau menjual jaminan kredit debitur. Kewajiban agen untuk menagih kepada debitur dan menyerahkannya kepada bank/kreditur. b. penarikan dan atau penjualan agunan. d. mewakili bank di dalam dan di luar pengadilan berkaitan dengan pelaksanaan pemberian fasilitas kredit secara channeling. baik spesifikasi maupun kualitasnya. yang dibolehkan Universitas Indonesia . d. yang disebut juga dengan pola purchasing agreement. Channeling agent dengan pola pembelian kredit-kredit existing yang telah dibiayai oleh lembaga pembiayaan. misalnya kreditur 75% dan agen 25%. Artinya. antara lain sebagai berikut : a. g. Oleh karena itu. Hal yang penting dalam perjanjian kerjasama. sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh bank. Dibebaskan atau tidak dibebaskan untuk meningkatkan suku bunga kredit dari bunga yang ditentukan oleh bank. Kewajiban-kewajiban agen dalam memberikan kredit kepada end user menurut prosedur dan tata cara pemberian kredit yang sehat. yang juga dikenal joint financing. e. Pernyataan dan tanggung jawab agen mengenai benda/barang yang dibiayai (dibeli) end user merupakan tanggung jawab agen. pengikatan agunan.

Menerbitkan surat sanggup bayar (promissory note). berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI No. tabungan dan bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. dan Memberikan jaminan dalam segala bentuknya kepada pihak lain.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan. Hal penting juga untuk dikemukakan. i. dalam pasal 27 (1) dinyatakan bahwa perusahaan pembiayaan dilarang: a. Dengan demikian. mengikatkan diri untuk memenuhi pengikatannya si berutang manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya. dapat disimpulkan bahwa pengertian buy back guarantee dalam pola Universitas Indonesia . deposito. Sedangkan pengertian buy back guarantee dalam pola channeling agent adalah bahwa apabila debitur (end user) tidak dapat membayar kewajibannya kepada bank. b. Umum diperjanjikan juga bahwa agen harus menempatkan dananya pada bank/kreditur dalam jumlah tertentu sebagai jaminan apabila debitur ternyata menunggak/tidak membayar kredit. Dengan demikian. j. c. guna kepentingan si berpiutang. maka pihak channeling agent akan menjamin pembayaran kewajiban debitur tersebut. kecuali sebagai jaminan atas utang kepada bank yang menjadi krediturnya. berikut sanksi apabila ternyata agen tidak mau atau tidak mampu mangambil alih (take over). Menarik dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk giro. untuk membuat perjanjian kerja sama pemberian kredit dengan pola channeling agent yang dalam perjanjian kerja samanya memuat adanya take over atau buy back guarantee atau with recourse atau avalis harus diperhatikan dan diyakini bahwa perusahaan yang menjadi channeling agent tersebut bukan perusahaan pembiayaan.25 h. Pengertian pemberian jaminan sebagaimana dimaksud dalam SK Menkeu tersebut adalah pemberian jaminan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1820 KUHPerdata. 448/KMK. Melaporkan semua kegiatan agen berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh bank yang termuat dalam surat kuasa. Mengambil alih (take over) kredit oleh agen apabila debitur (end user) wanprestasi. yang menyatakan bahwa penanggungan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga. Ini berarti pihak channeling agent melakukan penjaminan apabila debitur (end user) tidak memenuhinya.

juga agunan yang diperlukan. agen yang dalam perjanjian kerja samanya dapat sebagai penanggung kredit. Dengan demikian. yang apabila dilakukan oleh perusahaan pembiayaan penjaminan. 2. Jadi. maka itu dilarang. antara lain ditentukan adanya aplikasi nasabah agen yang mengajukan kredit kepada agen dan selanjutnya agen tersebut meminta kepada bank untuk dapat menarik/mencairkan fasilitas kredit. maka agen harus memenuhi syarat dan ketentuan bidang perkreditan sebagaimana mestinya. Hak dan kewajiban pihak agen harus secara tegas diatur dalam perjanjian kerja sama antara bank dengan agen karena. Hubungan hukum antara agen dengan nasabahnya (nasabah agen/end user) adalah hubungan hukum yang terpisah dengan hubungan hukum antara bank dengan agen. Disamping itu. kewajiban.26 demikian hakikatnya adalah penjaminan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1820 KUHPerdata. maka hal tersebut termasuk pengertian “penjaminan” sebagaimana dimaksud dalam SK Menkeu di atas. fungsi agen semata-mata hanya sebagai sales atau pihak yang mencari nasabah. Memperhatikan uraian tersebut. Hal terpenting dalam kredit pola executing adalah perjanjian kredit yang dibuat harus lebih rinci. biasanya untuk menetapkan syarat penarikan. sekalipun sebagai referensi. Oleh karena agen adalah debitur. Prinsip-Prinsip dalam Pemberian Kredit Universitas Indonesia . khususnya berkaitan dengan syarat penarikan. dalam executing debitur adalah agen tersebut langsung. Dalam hal ini. hal terpenting dalam pola pemberian kredit melalui agen adalah hak. maka kalusula buy back guarantee dalam perjanjian kerja sama dengan perusahaan pembiayaan seyogianya dihindari karena hal ini bertentangan dengan ketentuan Menkeu tersebut. termasuk pada kewajiban memberikan calon nasabah yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh kreditur. tetapi fungsi agen hanyalah untuk memberikan referensi atas calon debitur kepada bank. Berbeda dengan channeling.1.4. apabila pengertian buy back guarantee adalah termasuk cakupan dalam pengertian penjaminan sebagaimana dikemukakan dalam pasal 1820 KUHPerdata tersebut. dan tanggung jawab dari agen yang bersangkutan. Namun demikian. terdapat pola pemberian kredit melalui agen.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR).1. Seri Hukum Bisnis: Jaminan Fidusia. yaitu untuk menyerahkan uang yang diperjanjikan kepada debitur. hlm. 27/162/KEP/DIR tanggal 31 Maret 1995 tentang Kewajiban Penyusunan dan Pelaksanaan Kebijakan Perkreditan Bank bagi Bank Umum. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. SK No. bank akan mengikuti prosedur pemberian kredit (Standard Of Procedure/SOP)53 yang 50 Gunawan Widjaja & Ahmad Yani. 2001). disertai dengan bunga yang disepakati oleh para pihak pada saat perjanjian kredit tersebut disetujui oleh para pihak. hlm. Untuk memperoleh keyakinan tersebut. Ketentuan-ketentuan tersebut antara lain penentuan Batas Minimum Pemberian Kredit (BMPK).27 Pada dasarnya pemberian kredit dapat diberikan pada siapa saja yang memiliki kemampuan untuk itu melalui perjanjian utang piutang antara pemberi utang (kreditur) di satu pihak dan penerima utang (debitur) di lain pihak. dengan hak untuk menerima kembali uang itu dari debitur pada waktunya. (Bandung: Alfabeta. 44-50. 53 Bank Indonesia. Universitas Indonesia .50 Dalam melakukan setiap usahanya. 2. 52 Rachmat Firdaus dan Maya Ariyani. ps. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. maka dalam proses pemberian kredit. Bank harus memperoleh keyakinan bahwa kredit yang disalurkannya tersebut dapat dikembalikan kembali oleh debitur tepat pada waktunya.51 Hal tersebut tidak terkecuali dalam usaha penyaluran kredit. 2004). sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat.52 Disadari bahwa kredit yang diberikan oleh bank mengandung risiko. Manajemen Perkreditan Bank Umum. bank wajib memperhatikan prinsip kehati-hatian (prudent principle). 30/267/KEP/DIR/1998. Bank Indonesia menerbitkan ketentuan-ketentuan yang harus ditaati oleh bank sebagai upaya untuk meminimalisasi risiko akibat kredit dan berkenaan dengan prinsip kehati-hatian bank. alokasi jumlah kredit untuk golongan usaha tertentu dan batas minimum perolehan bank. rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR). maka lahirlah kewajiban pada diri kreditur. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia tentang Kualitas Aktiva Produktif. Setelah perjanjian disepakati dan debitur telah menyerahkan sejumlah jaminan bagi kredit yang diperolehnya. 51 Bank Indonesia.

55 Sedangkan modal (capital) berhubungan dengan kekuatan keuangan dari sipeminjam. dan hasilnya kredit akan mengandung resiko tinggi. Seseorang yang incompetence menjalankan bisnis tidak diragukan lagi akan menjalankan bisnisnya dengan buruk. 56 Ibid.2. Jakarta. “Kredit Macet : Antara Kerugian Negara atau Kerugian Korporasi. Langkah pertama adalah mendapatkan laporan aset dan pasiva dari sipeminjam dan harus dipastikan data tersebut akurat. biaya dan bunga.” (Makalah disampaikan pada Pelatihan Kriminalisasi Kredit Macet Perbankan sebagai Tindak Pidana Korupsi). Bank berhak mengetahui tujuan dari pinjaman. Modal (Capital). ataupun incompetence. Untuk itu. Orang yang tidak jujur ataupun curang akan selalu mencari jalan untuk mengambil keuntungan. maka kredit tidak akan berhasil tanpa perlu memperhatikan faktor-faktor lainnya.1. Jakarta. dapat dilihat melalui dua kategori. hlm. Universitas Indonesia . Hal ini membantu bank menilai 54 Agus Santoso. Kedua belah pihak baik bank maupun debitur menyusun kontrak yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan kredit. penilaian karakter debitur harus ditentukan sejak ia memulai langkah pertama untuk mendapatkan pinjaman. hlm.” (Makalah disampaikan pada Pelatihan Aspek Hukum Perkreditan bagi Staf PT Bank NISP Tbk). 25-26 Januari 2010. “Kendala dan Masalah.1. Kemampuan (Capacity). 16 September 2004. Agunan (Collateral) dan prospek usaha (Condition of economy).54 Karakter tidak diragukan lagi adalah faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan jika ingin memberikan kredit. Ada beberapa cara untuk menentukan apakah modal seseorang itu memuaskan. sehingga bank dapat mengetahui bahwa usaha proyek yang dibiayainya layak (feasible) dan bankable. curang. Jika seseorang tidak ingin membayar kembali kreditnya. yaitu kondisi internal dan kondisi eksternal yang akan mempengaruhi peminjam dan kemampuan debitur untuk mengembalikan. hlm. Beberapa lembaga pinjaman mempunyai aturan-aturan pinjaman yang memuat batas rasio maksimal aset dan pasiva. Apabila debitur tidak jujur. 55 Zulkarnain Sitompul..28 berlaku di internal bank untuk melakukan penilaian yang seksama atas kemampuan debitur yang lazim menggunakan ukuran 5’Cs yaitu Watak (Character). kemungkinan ia akan mencari jalan untuk menghindari membayar kembali.56 Conditions.

Kenapa. produktif dan collectable. 2001). 58 59 Ibid. hlm. sehingga usaha debitur juga tidak jalan. Demikian juga apabila berlebih diberikan akan mematikan debitur.59 Kegiatan perkreditan merupakan proses pembentukan aset bank.. Bank tidak memberikan kredit untuk tujuan yang illegal misalnya memberikan kredit untuk tujuan yang dapat membahayakan lingkungan. Kredit merupakan risk asset bagi bank karena aset bank itu dikuasai oleh pihak luar bank yaitu debitur. Setiap bank menginginkan dan berusaha keras agar kualitas risk asset ini sehat. kredit bagaikan suatu obat yang dapat menyembuhkan atau atau bahkan dapat mematikan. Banking & Lending Practice. karena bila kredit yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan debitur. Dengan adanya skim tersebut maka bank lebih mudah menilai risiko kredit yang diberikannya. Universitas Indonesia . Namun kredit yang diberikan kepada debitur selalu ada resiko berupa kredit tidak dapat kembali tepat pada waktunya 57 Ibid. Calon debitur umumnya diminta untuk menyediakan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya. karena keuntungan atas obyek yang dibiayai tidak mencukupi untuk membayar kewajibannya kepada bank sehingga memberi peluang dana yang diberikan tidak digunakan sebagaimana seharusnya. Kesulitan bank dalam melakukan analisis dengan menggunakan prinsip 5 C sebagaimana dikemukakan di atas dapat diatasi dengan adanya skim penjaminan atau skim asuransi kredit. 97-104. tipe dari produk pinjaman dan keamanan apa yang diperlukan.29 resiko dari pinjaman. dikutip dari PM Weaver & CD Kingsley.58 Kredit dari sisi bank merupakan sumber pendapatan yang memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan bank itu sendiri. (Sydney: Lawbook Co.57 Collateral (agunan) diperlukan untuk menanggung pembayaran kredit macet. Ibid. Sedangkan bagi debitur. maka kredit tersebut tidak bermanfaat karena tidak cukup untuk membiayai usaha debitur. Agunan berfungsi sebagai jaminan tambahan. Akibatnya pada saat jangka waktu berakhir kredit tidak dapat diselesaikan sebagaimana seharusnya.

c. f. Organisasi dan manajemen perkreditan. bagaimana memonitori kredit dan bagaimana menyelematkan kredit bermasalah. PPKPB tersebut mengatur mengenai bagaimana cara memberikan kredit (prosedur). 36. Penyelamatan dan penyelesaian kredit bermasalah.31 Maret 1995 tentang Pedoman Penyusunan Kebijaksanaan Perkreditan Bank (PPKPB). karena bank tidak mungkin menghindari adanya kredit bermasalah. Suatu kebijakan perkreditan bank minimal memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut : 61 a. Kebijakan persetujuan kredit. risiko keramaian/keamanan/tawuran/perkelahian. 263. hlm. Kebijakan ini dilakukan untuk menghindari dampak dari risiko kredit yang mungkin terjadi antara lain adalah risiko usaha. b. hlm. (Bandung: Alfabeta. Bank hanya dapat berusaha menekan seminimal mungkin besarnya kredit bermasalah agar tidak melebihi ketentuan Bank Indonesia sebagai Pengawas Perbankan. suatu bank juga mempunyai Pedoman Kebijakan Perkreditan Bank sebagaimana yang diamanatkan oleh Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 27/162/KEP/Dir. hlm. tiap-tiap bank mempunyai kebebasan untuk mekanisme penyaluran 60 Sutarno. Kredit bermasalah selalu ada dalam kegiatan perkreditan bank. e. Monitoring dan pengawasan kredit. 62 Ibid.30 yang dinamakan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL).. d.60 2. Universitas Indonesia . 2004). risiko politik/kebijakan pemerintah. risiko geografis.cit. Cet.62 Dengan memperhatikan prinsip dan pedoman kebijakan dalam perkreditan bank di atas. Portofolio kredit yang sehat. 61 Rachmat Firdaus dan Maya Ariyani. Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank. risiko ketidakpastian dan risiko lainnya. II. 41-52..5.1. Pedoman Kebijakan Perkreditan Bank Setelah memperhatikan prinsip-prinsip perkreditan yang umum dikenal. op. Administrasi dan dokumentasi kredit.

91. daftar isian yang disediakan oleh bank dan diisi dengan benar dan lengkap oleh nasabah serta daftar lampiran lainnya. Mempersiapkan pekerjaan penguraian dari segala aspek untuk mempertimbangkan apakah permohonan kredit dapat diterima. 2. 65 Thomas Suyatno. 64 Adapun tahap-tahap ini merupakan tahap umum dari suatu pemberian kredit yang berupa tindakan yang harus dilakukan sejak diajukannya permohonan kredit sampai dengan lunasnya kredit yang diberikan oleh bank tersebut : 65 1.. hlm. 64 Ibid. pemeriksaan atau penyidikan atas kebenaran dan kewajiban mengenai hal yang dikemukakan nasabah dan penyusunan laporan mengenai hasil penyidikan. hlm. Analisis Kredit Dalam menganalisis kredit. op..63 Mekanisme pemberian kredit tersebut meliputi persiapan kredit. Universitas Indonesia . hlm.31 kredit. Permohonan Kredit Setiap nasabah yang ingin mendapatkan fasilitas kredit harus melampirkan berkas permohonan kredit yang terdiri dari surat permohonan yang ditandatangani secara lengkap dan sah.. hal-hal yang dilakukan meliputi wawancara dengan pemohon kredit. pengumpulan data yang berhubungan dengan permohonan kredit yang diiajukan nasabah. kegiatan analisis yang harus dilakukan dalam pemberian kredit antara lain : a. Berkas permohonan harus dipelihara dalam selama dalam proses dan bank biasanya menggunakan Daftar Isian Permohonan Kredit untuk memudahkan bank memperoleh data yang diperlukan. Surat permohonan yang diterima harus dalam register khusus yang disediakan dan akan dinyatakan lengkap jika telah memenuhi persyaratan yang ditentukan. cit. 35. keputusan kredit. 69. pelaksanaan dan administrasi kredit. supervisi kredit dan pembinaan debitur. 63 Ibid. Selain itu. Mekanisme pemberian kredit adalah tahap-tahap yang harus dilalui sebelum suatu kredit diputuskan untuk diberikan. analisis atau penilaian kredit.

Penelitian atas realisasi-realisasi usaha. d. Penelitian atas rencana-rencana usaha. Penelitian dan penilaian barang jaminan tambahan. Penolakan Permohonan Kredit Bagian Kredit/Cabang dapat menolak permohonan kredit yang secara jelas dianggap oleh bank secara teknis tidak memenuhi persyaratan dan harus disampaikan kepada nasabah secara tertulis dengan disertai alasan penolakannya atau setelah mendapat keputusan penolakan dari Direksi. e. tapi jika permohonan diluar batas wewenangnya maka harus diusulkan terlebih dahulu kepada kantor pusat melalui surat dan Bank Indonesia juga dapat memberikan keputusan sesuai dengan wewenang yang ditentukan. 3. Menyusun laporan analisis yang diperlukan. Analisis kebutuhan investasi. Penelitian pendahuluan atas laporan keuangan (financial statement). Keputusan atas Permohonan Kredit Pihak yang berhak mengambil keputusan untuk meyetujui permohonan kredit adalah Kepala Bagian Kredit/Cabang tanpa mengusulkan terlebih dahulu kepada kantor pusat karena sudah sesuai dengan jenis yang telah dilakukan. Setiap keputusan permohonan kredit harus memperhatikan penilaian syarat-syarat umum yang pada dasarnya tercantum dalam laporan pemeriksaan kredit dan analisis kredit serta bahan pertimbangan yang diperoleh harus dibubuhkan secara tertulis (disposisi).32 b. g. b. berisi penguraian dan kesimpulan serta penyajian alternatif sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan dari permohonan kredit nasabah. Penelitian data. Analisis kebutuhan modal kerja. 5. f. Setelah memperoleh data pokoknya maka yang harus dikerjakan adalah : a. 4. c. Persetujuan Permohonan Kredit Bank akan memberikan persetujuan baik sebagian maupun seluruhnya permohonan kredit dari calon nasabah debitur tetapi akan ditegaskan lebih dulu mengenai syarat-syarat fasilitas kredit dan prosedur yang harus ditempuh oleh Universitas Indonesia .

Penandatanganan perjanjian kredit. h. Adapun langkah-langkah yang harus dijalani adalah : a.33 nasabah dalam rangka melindungi kepentingan bank. c.1. f. misalnya bagian kas dan bagian ekspor/impor. Pencairan Fasilitas Kredit Bank hanya menyetujui pencairan kredit oleh nasabah bila syarat-syarat yang harus dipenuhi nasabah telah dilaksanakan. kuitansi maupun dengan dokumen lainnya. i. Penyelamatan dan Penyelesaian Kredit Bermasalah Universitas Indonesia . Pengikatan jaminan. Membuat asuransi kredit. Mengasuransikan barang jaminan. Membuat informasi untuk bagian lain. d. Surat penegasan persetujuan permohonan kredit kepada pemohon dibuat secara tertulis dan dalam lima rangkap. Pembayaran provisi kredit atau commitment fee. Pembayaran bea materai kredit. Pelunasan Fasilitas Kredit Dengan dipenuhinya semua kewajiban nasabah terhadap bank berarti kredit tersebut telah lunas dan berakibat hapusnya ikatan perjanjian kredit.6. g. Penandatanganan surat aksep. jumlah dan syarat lainnya. Setelah itu harus dilakukan verifikasi yang meliputi pencocokan dan keabsahan pencairan. Pengikatan jaminan secara sempurna dan penandatanganan warkat-warkat kredit (perjanjian kredit atau surat aksep borgtocht) mutlak harus mendahului pencairan kredit. Surat ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari surat perjanjian kredit karena dengan tegas telah disebutkan nomor dan tanggalnya. pencairan kredit berupa pembayaran dan/atau pemindahbukuan atas beban rekening pinjaman atau fasilitas lainnya. 6. b. e. dengan cara antara lain menarik cek atau giro bilyet. Dalam prakteknya. 7. 2.

yaitu dengan melakukan Restrukturisasi Kredit apabila prospek usahanya masih memungkinkan atau dilakukan tindakan eksekusi jaminan untuk melunasi hutang/kewajibannya kepada bank. op. Kualitas dapat digolongkan sebagai berikut : 66 a. Misalnya apakah debitur kooperatif dalam menyelesaikan kredit bermasalah atau tidak. Dalam Perhatian Khusus c. cit. kondisi fisik jaminan dan nilai jaminan karena jaminan inilah satu-satunya sumber pengembalian kredit. Apabila debitur kooperatif dalam mencari solusi penyelesaian kredit bermasalah dan usaha debitur masih memiliki prospek. pengikatan barang jaminan.12 ayat (3). yaitu eksekusi barang jaminan oleh bank baik melalui pelelangan umum maupun penjualan barang jaminan secara sukarela.34 Bank Indonesia memberikan penggolongan mengenai kualitas kredit apakah kredit yang diberikan bank termasuk Performing Loan (kredit tidak bermasalah) atau Non Performing Loan (kredit bermasalah). maka dilakukan langkah-langkah penanganan yang bersifat antisipatif. Sebaliknya bagi debitur yang memiliki itikad tidak baik (tidak kooperatif) untuk penyelesaian kredit tergantung dari kuat tidaknya dari aspek hukum perjanjian kredit. Universitas Indonesia .. Diragukan dan Macet. 66 Peraturan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. Mengingat bahwa kredit bermasalah tersebut membawa pengaruh pada kelangsungan hidup bank. maka dilakukan restrukturisasi kredit. terganggunya kelancaran dan laju pembangunan nasional secara keseluruhan. Tindakan bank dalam usaha menyelamatkan atau menyelesaikan kredit bermasalah akan beraneka ragam tergantung pada kondisi kredit bermasalah tersebut. kepercayaan masyarakat. Lancar b. Kurang Lancar d. Macet Kualitas kredit yang termasuk dalam Non Performing Loan (kredit bermasalah) adalah Kurang Lancar. Diragukan e. ps. Bagi debitur yang beritikad tidak baik namun dari aspek hukum kuat maka tindakan hukum merupakan pilihan yang tidak dapat dihindarkan.

20-21. c.1. Faktor Intern Penyebab kredit Bermasalah :67 a.35 Kredit bermasalah dapat disebabkan oleh dua macam sumber. Peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga yang cukup cepat menyebabkan beberapa bank melakukan kebijakan pertumbuhan kredit yang melebihi tingkat wajar. Bank seharusnya tetap melakukan kebijakan pemberian kredit dengan prosedur yang berhati-hati untuk menghindari terjadinya risiko kredit bermasalah. Universitas Indonesia . Itikad kurang baik pemilik/pengurus dan pegawai bank . Praktek-praktek yang terjadi adalah pihak-pihak tersebut memberikan kredit pada debitur yang sebenarnya tidak “bankable”. yang dilakukan untuk menghindari terjadinya penumpukan dana yang ideal akibat penghimpunan dana yang cukup besar. b. Lemahnya sistem informasi kredit serta system pengawasan dan administrasi kredit. Teknik dan Kasus. Kegiatan usaha tersebut misalnya kegiatan-kegiatan yang kurang jelas tujuannya. d. yaitu faktor intern dan faktor ekstern sebagai berikut : 1. 1997). selain juga tidak jelas debiturnya (debitur fiktif). 67 Siswanto Sutojo. Kebijakan pemberian kredit yang hanya didasarkan pada pencapaian target jumlah tertentu tanpa memperhatikan aspek-aspek lainnya hanya akan menimbulkan masalah yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tingkat kesehatan bank di kemudian hari. hlm. Menangani Kredit Bermasalah : Konsep. yaitu misalnya penggunaan dana yang sebenarnya berbeda dengan yang tercantum pada bukti-bukti yang ada. Penyimpangan pemberian kredit. (Jakarta: Pustaka Binawan Pressindo. Cet. Penyimpangan pemberian kredit terhadap prosedur atau kebijakan yang ada pada umumnya disebabkan oleh kurangnya kuantitas maupun kualitas pejabat-pejabat pemberi kredit selain disebabkan oleh adanya dominasi pemutusan kredit oleh pejabat tertentu kepada bank yang bersangkutan. Kebijaksanaan pemberian kredit yang terlalu ekspansif.

pemasaran maupun adanya regulasi terhadap suatu industri. Deputi Direktur Bank Indonesia. pimpinan bank tidak dapat memantau penggunaan kredit serta perkembangan kegiatan usaha maupun kondisi keuangan debitur secara cermat. 22. 30 Agustus 1996. Universitas Indonesia . Faktor tersebu dapat berupa kegagalan produksi. disampaikan oleh DR.. Pengamatan yang cermat terhadap kecenderungan suatu industry juga merupakan factor kunci terhadap keberhasilan suatu usaha. Kejenuhan yang terjadi pada suatu industry dapat menyebabkan runtunhnya industry tersebut yang selanjutnya akan menimbulkan pula dampak yang serius terhadap industry perbankan yang ikut membiayai proyek-proyek pada industri tersebut. distribusi. Pemberian kredit oleh bank dapat dilakukan setelah pihak bank mendapatkan keyakinan yang tinggi bahwa usaha debitur akan berjalan dengan aman dan tidak bersifat spekulatif. 2. mereka tidak dapat segera melakukan tindakan koreksi apabila terjadi penurunan kondisi bisnis dan keuangan debitur atau terjadi penyimpangan dari perjanjian kredit. Padahal hal ini justru menyulitkan bank karena tidak memiliki informasi yang akurat mengenai kredit bermasalah yang sebenarnya sehingga bank tidak dapat mengambil langkah-langkah pencegahan kredit bermasalah secara lebih dini. Sebagai kelanjutannya. Kegagalan usaha debitur dapat dipengaruhi oleh beberapa factor yang terdapat dalam lingkungan debitur. Erman Munzir. seharusnya bank dapat mengantisipasi risiko-risiko tersebut pada saat melakukan penilaian terhadap kelayakan usaha debitur.36 Oleh karena lemahnya sistem pengawasan dan administrasi kredit. hlm. Kegagalan usaha debitur. Selain itu bank cenderung melakukan gambaran perkreditan yang lebih baik dari keadaan yang sebenarnya kepada Bank Indonesia dengan tujuan mendapatkan penilaian tingkat kesehatan yang lebih baik. Namun demikian. 68 Ibid. dikutip dari seminar Penghapusan Kredit Macet: Problematika dan Pemecahannya yang diselenggarakan di Jakarta. Faktor Ekstern Penyebab Kredit Bermasalah :68 a.

Musibah yang terjadi pada usaha debitur atau kegiatan usahanya. banjir. Tingginya suku bunga kredit dan menurunnya kegiatan ekonomi terutama pada sector-sektor usaha tertentu akibat adanya kebijakan pemerintah untuk melakukan penyejukan perekonomian karena kegiatan ekonomi yang overheated telah menjadi salah satu penyebab kesulitan debitur untuk memenuhi kewajibannya kepada bank. Beberapa kredit bermasalah yang sering terjadi memang karena adanya musibah yang dialami oleh debitur. op. musim kemarau yang berkepanjangan seringkali merusak atau menurunkan kapasitas produksi. peralatan produksi yang dioperasikan oleh debitur. yaitu negosiasi dan litigasi. Pada akhirnya pemberian kredit yang berlebihan kepada debitur dari jumlah yang diperlukan dapat mendorong debitur yang bersangkutan menggunakan kelebihan dana tersebut untuk tujuan spekulatif. Pemanfaatan iklim persaingan perbankan yang tidak sehat oleh debitur Adanya iklim persaingan perbankan yang ketat sering dimanfaatkan oleh calon debitur dengan cara tertentu yang mendorong bank menawarkan persyaratan kredit yang lebih ringan dan jumlah kredit yang lebih besar.. Tindakan penyelamatan kredit dilakukan oleh bank apabila debitur telah menunjukkan gejala tidak mampu lagi untuk menyelesaikan kewajibannya kepada pihak bank tepat pada waktunya. hlm. Menurunnya kegiatan ekonomi dan tingginya suku bunga. Akibatnya jumlah produksi. 174. d. Universitas Indonesia . yaitu debitur meninggal dunia atau sarana usahanya mengalami kebakaran sementara debitur dan atau bank tidak melakukan pengamanan melalui penutupan asuransi. Namun tetap diakui bahwa kedua alternatif tersebut terlepas dari 69 Suharno. badai. hasil penjualan produk dan keuntungan menurun yang mempunyai akibat lebih lanjut memburuknya likuiditas keuangan debitur.cit.37 b. Selain itu bencana alam seperti gempa bumi. c.69 Dalam prakteknya penyelesaian kredit bermasalah yang oleh bank-bank dilakukan dengan dua alternatif.

yaitu kredit yang semula tergolong bermasalah atau macet kemudian terjadi kesepakatan antara debitur dan bank untuk diperbaiki. 71 Peraturan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. cit. 174-175. Penyelesaian kredit bermasalah dengan negosiasi ini dilakukan terhadap debitur yang usahanya masih berjalan meskipun tersendat-sendat. pengurangan tunggakan bunga Kredit. subrogasi. konversi Kredit menjadi Penyertaan Modal Sementara. Bahkan terhadap debitur yang usahanya sudah tidak berjalanpun dapat dilakukan penyelesaiannya dengan negosiasi sebagai contoh yaitu apabila ratio agunan atau jaminan kredit masih mencukupi dan ada usaha lain yang dianggap lebih layak dan dapat menghasilkan maka kepada debitur yang bersangkutan dimungkinkan untuk diberikan suntikan baru yang hasilnua dapat dipergunakan untuk membayar seluruh kewajibannya.. d. op. hlm. Ps. Adapun bentuk penyelamatan kredit tersebut secara umum berupa : 70 1. Semua upaya tersebut dapat disebut dengan kredit yang diselamatkan. e. pengurangan tunggakan pokok Kredit.. penambahan fasilitas Kredit. dapat membayar bunga meskipun kemampuannya tetap melemah dan tidak dapat membayar angsurannya. dan atau f.1 angka 25 Universitas Indonesia . penurunan suku bunga Kredit. baik berupa novasi. yang dilakukan antara lain melalui : 71 a. 70 Ibid.38 adanya bank-bank yang melakukan penagihan kredit macet dengan menggunakan jasa “debt collector”. kompensasi atau hanya berupa addendum atas perjanjian kredit yang telah ada. b. perpanjangan jangka waktu Kredit. Restrukturisasi Kredit Restrukturisasi Kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan Bank dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya. yang tentunya diikuti dengan suatu perjanjian kredit yang baru. c.

ps..” Bentuk Novasi dapat dibedakan menjadi dua sebagai berikut :73 a. op. cit. yang dihapuskan karenanya. Novasi (Pembaharuan Utang) diatur dalam Pasal 1413 KUHPerdata sebagai berikut : 72 “ Ada tiga macam jalan untuk melaksanakan pembaharuan utang : (1) Apabila seorang yang berutang membuat suatu perikatan utang baru guna orang yang mengutangkan kepadanya.. Novasi Kredit Novasi kredit adalah tindakan penyelamatan dengan cara pengambilalihan kredit oleh pihak ke III. telah atau mempunyai potensi kesulitan pembayaran pokok/bunga kredit. Kompensatie dan Percampuran Hutang. 106-133. yang menggantikan utang yang lama.2. contoh perjanjian jual beli diganti menjadi perjanjian utang piutang.39 Kredit dapat direstruktur apabila usaha debitur masih memiliki prospek yang baik. hlm.H. yang oleh siberpiutang dibebaskan dari perikatannya. 73 J. seorang berpiutang baru ditunjuk untuk menggantikan orang berpiutang lama. cet. yang didalamnya mengandung suatu objek perikatan yang lain berupa novasi objektif benda/zaaknya diganti. yaitu suatu novasi dimana perikatan yang lama diganti dengan perikatan yang baru. contoh jual beli kendaraan diganti dengan jual beli rumah. Subrogatie. Cessie. Satrio. 2.. secara otomatis fasilitas debitur lama (yang diambil alih) dianggap telah lunas dan pihak yang mengambil alih pinjaman merupakan debitur baru. 1999). yang didalamnya mengandung suatu subjek Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek]. Novatie. S. Untuk itu semua perikatan dan perjanjian asesoris harus diperbaharui. (2) Apabila seorang berutang baru ditunjuk untuk menggantikan orang berutang lama. 72 causanya diganti. Bila dari hasil analisa usaha debitur tersebut layak maka permohonan novasi dapat disetujui dan sebaliknya. Novasi Objektif. (Bandung : Alumni. yaitu suatu novasi dimana perikatan yang lama diganti dengan perikatan yang baru. Pada saat dilakukan novasi. Universitas Indonesia . terhadap siapa si berutang dibebaskan dari perikatannya. Novasi Subjektif. (3) Apabila sebagai akibat suatu perjanjian baru. novasi objektif b. 1413. Untuk itu bank harus melakukan analisa kredit sebagaimana analisa debitur baru.

novasi dan janji-janji untuk pihak ketiga. besarnya suku bunga kredit. Hambatan terbut dilakukan dengan melalui pengadilan. karena tidak seluruh debitur merelakan barang yang dijamnkan disita oleh bank. Berdasarkan Undang-Undang Perbankan Nomor 10 tahun 1998 Pasal 8 ayat (1) yaitu : “Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah. novasi subjektif pasif .40 perikatan yang lain yaitu novasi subjektif aktif . 3. besarnya angsuran dan jadwal angsuran kredit serta kemungkinan adanya tambahan kredit yang harus Universitas Indonesia . likuidasi agunan merupakan alternatif terakhir yang diambil oleh pihak bank. exprommissio. novasi ganda. jangka waktu. Likuidasi Agunan Calon debitur umumnya diminta untuk menyediakan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya. Bank Umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atau itikad baik dan kemampuan serta kesanggupan Nasabah Debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan”. sering kali pihak bank masih harus mengeluarkan sejumlah biaya khususnya untuk biaya perawatan. yaitu menyangkut : 1.kreditur lama digantikan oleh kreditur yang baru. Addendum perjanjian kredit Maksudnya apakah dalam addendum telah tercantum dengan baik syaratsyarat perubahan perjanjian kredit dengan adanya restrukturisasi yaitu antara lain menyangkut. Hal ini biasanya akan memakan waktu yang cukup lama. Beberapa alternatif penyelesaian kredit yang dapat dilakukan oleh bank tergantung parah tidaknya usaha dan niat baik dari debitur itu sendiri untuk menyelesaikan kewajibannya. Pada saat kredit direstrukturisasi atau dinovasi sebagai tindakan preventif bagi bank hal yang sangat penting penting mendapat perhatian adalah dari aspek hukumnya.debitur lama digantikan oleh debitur yang baru. Setelah berhasil dimenangkan bank. Dalam upaya penyelamatan kredit. Akhirnya harga jual setelah dikurangi biaya pengadilan dan perawatan lebih kecil dengan kerugian yang diderita pihak bank (bunga plus pokok).

Pedoman Kebijakan dan Prosedur Perkreditan Produk kredit yang dimiliki Bank X terdiri dari beberapa jenis kredit. 2.2.1. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pemberian kredit/ pelepasan kredit atau restrukturisasi kredit akan terlahirlah suatu perjanjian antara dua pihak yaitu peminjam (debitur) dan yang meminjamkan (kreditur). Kredit Bagi Pegawai Honor Tetap Bank X. dibedakan berdasarkan kebutuhan dan persyaratan yang diberikan Bank. maka sangat perlu untuk perjanjian pokok berikut perjanjian ikutan (accesoir) dibuat secara notarial dihadapan notaris yang berwenang. Pelaksanaan Kredit pada Bank X 2. Universitas Indonesia .2. Kredit Bagi Komisaris dan Direksi.163 tahun 2010 tanggal 14 April 2010. 74 Keputusan Direksi Bank X tentang Pedoman Kebijakan dan Prosedur Perkreditan. Kredit Bagi Pegawai Tetap Bank X. Kredit Modal Kerja. Pengikatan terhadap barang jaminan Maksudnya apakah barang jaminan/ agunan tersebut tidak cacat hukum untuk dilakukan pengikatan sesuai dengan jenis pengikatannya. Sebagai pengaman terhadap kemungkinan terjadinya wansprestasi oleh debitur (tidak memenuhi kesepakatan yang diperjanjikan) atas fasilitas kredit yang dinikmatinya. Kredit Investasi. SK Dir No. b. Kredit Sindikasi (Joint Financing). e. yaitu sebagai berikut : 74 a. c. 2. Sedangkan pengikatan atas barang-barang agunan akan dilakukan setelah perjanjian kredit ditandatangani dan sebelum pencairan kredit. d. yaitu antara lain dalam bentuk pengikatan secara Fiducia dan pengikatan dengan Hak Tanggungan yang dibuat dihadapkan Notaris yang berwenang. f.41 diikuti dengan pertambahan penyerahan jaminan/ agunan oleh debitur yang nilai ekonomisnya harus mengcover besarnya limit kredit. dan mutlak bahwa pengikatan terhadap barang jaminan harus secara notarial.

Cash Collateral Credit. u. Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN). Bank harus memperoleh keyakinan bahwa kredit yang disalurkannya tersebut dapat dikembalikan kembali oleh debitur tepat pada waktunya. Penyisihan Penghapusan Aktiva. l. j. p. Kredit Pemilikan Rumah. h. sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat. Pedoman Kebijakan dan Prosedur Restrukturisasi Kredit. Kredit Pemilikan Rumah Sangat Sederhana. BPP terdiri dari : a. n. m. Kredit Bagi Golongan Usaha Skala Kecil (GUSK). SOP diatur dalam Buku Pedoman Perusahaan (BPP). Kredit Tenaga Kerja dan Wira Usaha Baru. Pedoman Kebijakan dan Prosedur Perkreditan. Kredit Laris. b. Kredit Paket Lebaran. o. Kredit Dana Talangan. Kredit Dana Bergulir. Disadari bahwa kredit yang diberikan oleh bank mengandung risiko. diklasifikasikan ke dalam dua buku pedoman yaitu Buku I Kebijakan Umun dan Buku II Sistem dan Prosedur. Hapus Buku dan Hapus Tagih. Kredit Multiguna Kembang. i. Letter of Credit. k.42 g. t. s. Untuk memperoleh keyakinan tersebut. q. dan Kerjasama Penyaluran Pembiayaan. Terkait dengan operasional kredit. Kredit Multiguna. diklasifikasikan ke dalam empat buku pedoman yaitu Buku I Kebijakan Umum. maka dalam proses pemberian kredit. Non Restrukturisasi Kredit. Pada Bank X. Buku III Kebijakan dan Prosedur dan Buku IV Formulir dan Petunjuk Pengisian. Buku II Jenis-Jenis Produk. Garansi Bank. r. bank akan mengikuti prosedur pemberian kredit (Standard Of Procedure/SOP). Universitas Indonesia .

op. Kerjasama penyaluran pembiayaan adalah pemberian pembiayaan kepada nasabah atau end user melalui lembaga penyaluran pembiayaan dengan pola executing. Pembiayaan melalui kerjasama dengan agen sebagai upaya untuk : 78 a.2. channeling dan joint financing. 78 Ibid. Sub Bab 01. d.76 Sasaran pemberian pembiayaan nasabah/end user untuk kebutuhan produktif maupun konsumtif melalui kerjasama dengan agen. b.43 Sehubungan dengan kajian yang akan dibahas. 76 Ibid.cit. Universitas Indonesia . 75 Executing adalah pinjaman yang diberikan kepada bank perkreditan rakyat dalam rangka pembiayaan (untuk diterus pinjamkan) kepada nasabah mikro dan kecil. Meningkatkan pendapatan Difersifikasi produk pembiayaan Mengurangi resiko konsentrasi Memberi nilai tambah bagi nasabah/end user 77 Pemberian 75 Keputusan Direksi Bank X No. Pedoman Kebijakan dan Prosedur Kerjasama Penyaluran Pembiayaan Pedoman kebijakan dan prosedur kerjasama penyaluran pembiayaan di Bank X saat ini diatur dalam Pedoman Kebijakan dan Prosedur Perkreditan Buku II Bab U. 2. penulis akan memaparkan mengenai SOP Bank X terkait dengan sistem dan prosedur dalam Kerjasama Penyaluran Pembiayaan. sedangkan Joint financing adalah pembiayaan bersama terhadap nasabah/end user yang dilakukan oleh bank bersama dengan Bank Perkreditan Rakyat dan atau Multifinance.163 tahun 2010. angka (1). c. 77 Ibid.2. Channeling adalah pinjaman yang diberikan oleh bank kepada nasabah melalui “agent” yang tidak mempunyai kewenangan memutus pembiayaan kecuali mendapat surat kuasa dari bank.

Hapus Buku dan Hapus Tagih yaitu pada Buku II Sistem dan Prosedur. cara pembayaran kembali. Latar Belakang 79 Ibid. asuransi.2. c. channeling dan Joint Financing). Pedoman Kebijakan dan Prosedur Restrukturisasi Kredit Pedoman Kebijakan dan Prosedur Restrukturisasi Kredit di Bank X diatur dalam Buku Pedoman Perusahaan Restrukturisasi Kredit. bunga. Bab I. yaitu: 79 a. penandatanganan). pengelolaan rekening). Sub bab 01: Ketentuan Umum Ketentuan umum mengatur mengenai pengertian. sifat penyaluran pembiayaan. Non Restrukturisasi Kredit. Universitas Indonesia . terdiri dari :80 a. usulan pembiayaan perusahaan. Sub bab 03 : Prosedur Pembiayaan Prosedur pembiayaan meliputi permohonan formulir pembiayaan. PPA. persyaratan administrasi agent (Lembaga Pembiayaan (multifinance). persetujuan pembiayaan (kewenangan proses. sasaran.3. persetujuan pemberian pembiayaan. Hapus Buku dan Hapus Tagih. jenis penyaluran pembiayaan (pembiayaan produktif dan pembiayaan konsumtif). biaya administrasi. provisi. analisa pembiayaan (analisa aspek usaha. tujuan. Bank Perkreditan Rakyat (BPR). 91 Tahun 2008 Tanggal 27 Juni 2008. analisa keuangan perusahaan). maksimum pembiayaan. denda dan keterlambatan. 2. agunan dan pengikatan. administrasi kerjasama penyaluran pembiayaan (perjanjian kerjasama pembiayaan. SK Dir No. Penyisihan Penghapusan Aktiva. Sub bab 02 : Kebijakan Penyaluran Pembiayaan Kebijakan Penyaluran Pembiayaan meliputi pola pembiayaan (executing. jangka waktu. kewenangan memutus. 80 Surat Keputusan Direksi Bank X tentang Restrukturisasi.44 Pedoman Kebijakan dan Prosedur Perkreditan Buku II Bab U terdiri dalam 3 (tiga) Sub Bab. Non Restrukturisasi. Koperasi dan Bank Umum) b.

pengurangan tunggakan pokok kredit. Dokumen pelengkap (surat permohonan debitur. e. Penggolongan Kualitas Kredit Penggolongan Kualitas kredit terdiri dari kredit bermasalah dan kredit hapus buku. konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara. h.45 Restrukturisasi kredit mengacu kepada Peraturan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum Nomor 11/9/PBI/2009 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005. Perlakuan Akuntansi Perlakuan akuntansi mengatur mengenai penerapan perlakuan akuntansi terhadap kredit-kredit yang telah direstrukturisasi. d. pengurangan tunggakan bunga kredit. f. kredit menengah dan korporasi). penurunan suku bunga kredit. Prosedur Restrukturisasi Kredit Prosedur Penanganan Kredit meliputi Prosedur Penanganan (Kredit ritel dan konsumtif. Universitas Indonesia . Analisis Restrukturisasi Kredit Analisis Restrukturisasi Kredit meliputi analisa dan rekomendasi usulan (perpanjangan jangka waktu kredit. Pelaporan Pelaporan meliputi proses laporan selama berjalannya restrukturisasi kepada pihak internal Bank dan Bank Indonesia oleh Unit Kerja yang bertanggung jawab. penambahan fasilitas kredit. Pemantauan Pemantauan meliputi kegiatan-kegiatan pemantauan dan unit kerja yang melakukan pemantauan. perlakuan untuk kredit konsumsi). g. c. penangguhan pembayaran tunggakan bunga kredit (interest balloning payment). Keputusan Restrukturisasi Kredit Keputusan Restrukturisasi kredit meliputi pembagian kewenangan memutus hasil analisa. relas kredit. b. memorandum pengusulan).

000. Analisa Berdasarkan permohonan kerjasama PT. Pelaksanaan Kredit dalam Kerjasama Penyaluran Kredit/ Pembiayaan antara Bank X dengan PT. b. Bank X melakukan analisa kredit dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Untuk itu dalam rangka mengembangkan bisnis ritel. 25. risiko pasar. Y 2.1. c. yaitu aspek umum dan manajemen.3.46 2. Y. Keputusan Hasil analisa kemudian ditindaklanjuti dengan menyampaikan Memorandum Pengusulan Kredit ke Komite Pemutus Kredit yang terdiri dari direktur utama. Kerjasama kedua belah pihak tersebut dilakukan dengan beberapa tahapan sebagai berikut : a. Y di Pekanbaru. permohonan PT. aspek keuangan. Y dengan suratnya tertanggal 11 Oktober 2006 mengajukan Permohonan Kerjasama Fasilitas Channeling kepada Bank X sejumlah Rp.000. Permohonan kerjasama PT.000.000. Bank X juga melakukan mitigasi risiko atas risiko kredit. Selanjutnya. risiko likuiditas dan risiko operasional serta melakukan kunjungan ke salah satu cabang PT. aspek hubungan dengan bank.000. Bank X melakukan kerjasama dengan PT.(dua puluh lima Universitas Indonesia . aspek pemasaran. direktur pemasaran dan direktur kepatuhan... direktur keuangan.3. 25.000. Y yang merupakan perusahaan multifinance yang bergerak di bidang kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor. Y disetujui oleh seluruh anggota Komite Pemutus Kredit sejumlah Rp.(dua puluh lima milyar rupiah). Pemberian Kredit Bank X dalam salah satu kegiatan usahanya adalah memberi kredit atau pembiayaan kepada masyarakat dengan berbagai jenis kredit diantaranya yaitu Kerjasama Penyaluran Pembiayaan (kredit channeling). aspek teknis dan produksi/pembelian.

Y di seluruh Indonesia berdasarkan Perjanjian Kredit antara nasabah dengan PT. Bank X menerbitkan Surat Pemberitahuan Persetujuan Kredit (SPPK) Kerjasama Penyaluran Pembiayaan atas nama PT. 1.81 Pihak/nasabah yang menerima fasilitas kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor dari Bank X dilakukan melalui kantor cabang PT. Universitas Indonesia . Y.Y. Y pada tanggal 4 April 2007. Y baik dalam pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor kepada masyarakat. d. maupun dalam pelaksanaan segala hak-hak Bank X yang timbul sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan tersebut.82 Selanjutnya. 81 Perjanjian Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT Y untuk Pembelian Kendaraan Bermotor tanggal 20 April Tahun 2007.83 Perlu diketahui bahwa kredit untuk pembelian kendaraan bermotor tersebut disalurkan kepada masyarakat yang mayoritas pekerjaannya adalah petani kelapa sawit. pengadministrasian pemberian kredit/pembiayaan.47 milyar rupiah) dengan masing-masing direktur memberikan pertimbangan dan pendapat. berisi mengenai persetujuan kredit disertai penjelasan mengenai ketentuan dan persyaratan yang sifatnya belum mengikat. ps. dibuatlah Perjanjian Kerjasama Penyaluran Pembiayaan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak pada tanggal 20 April 2007. nasabah wajib membayar secara berkala dalam jumlah tertentu sebagai angsuran kepada Bank X melalui PT. Berdasarkan keputusan Komite Pemutus Kredit.Y sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada PT. 82 Ibid. Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Setelah ketentuan dan persyaratan yang diberikan oleh Bank X telah disepakati oleh PT. Pelaksanaan kredit berdasarkan Kerjasama Penyaluran Pembiayaan tersebut dilakukan dengan cara Bank X memberikan kuasa kepada PT.Y. 83 Ibid.

4. Y bersifat nonrevolving sampai dengan sejumlah 25 milyar rupiah. Universitas Indonesia . ps. 84 Ibid. 85 Ibid. Bank X segera mengambil upaya penyelamatan kredit. Jaminan atas kredit/pembiayaan yang disalurkan oleh Bank X melalui PT. Y pada tanggal 29 Juni 2009. Daftar alokasi penyaluran kredit/pembiayaan dan jadwal pembayaran angsuran nasabah. Sehubungan dengan permasalahan tersebut PT.84 Penyaluran dan atau pencairan kredit/pembiayaan oleh Bank X kepada PT. perjanjian fidusia dan surat kuasa pembebanan jaminan fidusia. berdasarkan permintaan PT. Tembusan perjanjian kredit/pembiayaan. setelah PT.2.48 Plafond kredit/pembiayaan yang disalurkan oleh Bank X kepada nasabah melalui PT. Y menyampaikan kepada Bank X berupa: 85 a. Surat permohonan pencairan kredit/pembiayaan. dengan suratnya (surat pemberitahuan persetujuan restrukturisasi kredit/ SPPRK) tertanggal 27 April 2009 berisi persetujuan untuk melakukan restrukturisasi tersebut. b. Kemudian akta perjanjian restrukturisasi kredit ditandatangani antara Bank X dengan PT. berdasarkan permohonan debitur tersebut. ps. 86 Ibid.. Y mengajukan proposal penyelasaian kredit dengan restrukturisasi kredit tertanggal 30 Desember 2008. ps. c. 6.. Y.86 2. Restrukturisasi Kredit Setelah kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan berjalan selama satu tahun. Hal ini mengakibatkan angsuran atau pembayaran kembali kredit ke Bank X menjadi terhambat dan kualitas kredit menjadi memburuk.Y kepada nasabah berupa Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) kendaraan yang dibiayai Bank X dan Corporate Guarantee dari Holding Company yang dibuat secara notariil.3.2. terjadi kesulitan pembayaran dari para end user (penerima kredit) yang disebabkan adanya penurunan harga kelapa sawit dunia yang drastis.. Y dilaksanakan secara bertahap.

f. 89 Peraturan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. 90 Surat Keputusan Direksi Bank X tentang Restrukturisasi. 87 88 Suharno.. kompensasi atau hanya berupa addendum atas perjanjian kredit yang telah ada. subrogasi. pengurangan tunggakan bunga Kredit. d.49 Tindakan penyelamatan kredit dilakukan oleh bank apabila debitur telah menunjukkan gejala tidak mampu lagi untuk menyelesaikan kewajibannya kepada pihak bank tepat pada waktunya. c. pengurangan tunggakan pokok Kredit. Restrukturisasi Kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan Bank dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya. Berdasarkan Pedoman Kebijakan dan Prosedur Restrukturisasi Kredit Bank X. b. penurunan suku bunga Kredit. op. perpanjangan jangka waktu Kredit. yang tentunya diikuti dengan suatu perjanjian kredit yang baru. Novasi Kredit dan Likuidasi Agunan. memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi kewajiban setelah kredit direstrukturisasi. 88 Ibid..87 Semua upaya tersebut dapat disebut dengan kredit yang diselamatkan. 174-175. hlm. Universitas Indonesia .cit. Restrukturisasi kredit hanya dapat dilakukan terhadap debitur-debitur yang mengalami kesulitan pembayaran pokok dan atau bunga kredit. op. op. dan atau konversi Kredit menjadi Penyertaan Modal Sementara. penambahan fasilitas Kredit. yang dilakukan antara lain melalui : 89 a. cit. e. pelaksanaan restrukturisasi kredit harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 90 a. Adapun bentuk penyelamatan kredit tersebut secara umum berupa : Restrukturisasi Kredit. 174. yaitu kredit yang semula tergolong bermasalah atau macet kemudian terjadi kesepakatan antara debitur dan bank untuk diperbaiki. cit. baik berupa novasi. hlm.

cit. e. atau penghentian pengakuan pendapatan bunga secara akrual. maka restrukturisasi kredit wajib dilakukan oleh pejabat yang lebih tinggi dari pejabat yang memutus pemberian kredit. Pengurangan tunggakan pokok kredit.1 angka 19. g. Restrukturisasi Kredit diharapkan dapat memperbaiki kualitas kredit. 92 Surat Keputusan Direksi Bank X tentang Restrukturisasi.50 b. Bank wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis sebagain dasar pelaksanaan Restrukturisasi Kredit yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kebijakan manajemen risiko sebagaimana diatur oleh ketentuan Bank Indonesia. ps. e. Bab 1 huruf (C) angka (5). peningkatan pembentukan PPA91. Penurunan suku bunga kredit. Perpanjangan jangka waktu kredit. Universitas Indonesia . d. Restrukturisasi kredit harus dilakukan berdasarkan analisis yang cermat. op. Perlakuan untuk kredit konsumtif. Pola-pola restrukturisasi kredit di Bank X adalah sebagai berikut : 92 a. Selain itu untuk menjaga obyektivitas. Penambahan fasilitas kredit. Konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara. f. Penangguhan pembayaran tunggakan bunga kredit. Pengurangan tunggakan bunga kredit. c. h. c. Restrukturisasi kredit dilarang dilakukan oleh Bank..11/9/2009 tentang Penilaian Kualitas Aktiva. b. 91 Berdasarkan PBI No. Pelaksanaan dengan pola ini belum dapat diaplikasikan pada Bank X. Penyisihan Penghapusan Aktiva yang untuk selanjutnya disebut PPA adalah cadangan yang harus dibentuk sebesar persentase tertentu berdasarkan kualitas Aktiva. jika bertujuan hanya untuk menghindari : penurunan penggolongan kualitas kredit. memperhatikan praktek-praktek perbankan yang sehat (good corporate governance) dan penerapan manajemen risiko secara memadai. d. sebagai upaya untuk menurunkan rasio Non Performing Loan (NPL) terhadap eksposur kredit secara keseluruhan.

Sedangkan analisa penyelesaian kredit dititik beratkan pada pembayaran kembali kredit dan perjanjian restrukturisasi kredit. ruang lingkup perjanjian serta hak dan kewajiban para pihak. Pengertian perjanjian diatur dalam Pasal 1313 KUHPerdata.Y. perlu dilakukan beberapa analisa antara lain Analisa Perjanjian Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. Menurut doktrin (teori lama) yang disebut perjanjian adalah perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Sedangkan Universitas Indonesia . Analisa terhadap perjanjian kerjasama dan perjanjian kredit dilakukan dengan menitikberatkan pada kedudukan hukum perjanjian. penyelesaian fasilitas kredit lama dan memberikan fasilitas kredit baru dengan jumlah angsuran dan jangka waktu yang telah disepakati oleh debitur dan bank. Semua upaya tersebut diharapkan dapat memperbaiki kualitas kredit di Bank X yang semula tergolong kredit bermasalah atau macet menjadi kredit lancar. yang berbunyi: “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.51 Pada kredit konsumtif. maka dapat ditemukan di dalam doktrin.Y dengan End User (penerima kredit) dan Analisa Penyelesaian Kredit. BAB III ASPEK HUKUM KERJASAMA PENYALURAN KREDIT/PEMBIAYAAN ANTARA BANK X DENGAN PT. Analisa Perjanjian Kredit antara PT. Y Menjawab permasalahan dalam penulisan ini. Untuk memperjelas pengertian perjanjian.

94 Ibid. c.S.. Pasal 1338 KUHPerdata menyebutkan : 97 93 Salim H. hlm.52 menurut teori baru yang dikemukakan oleh Van Dunne. cit. cit. tidak hanya melihat perjanjian semata-mata tetapi juga harus dilihat perbuatan sebelumnya. yaitu tahap pra-contractual (adanya penawaran dan penerimaan)..1338. yang diartikan dengan perjanjian. 26. 26.S.. melakukan sesuatu. Selanjutnya. Di bidang harta kekayaan. cit. hlm.94 Sementara M. 25-26. Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban. Adanya Hubungan Hukum Hubungan hukum merupakan hubungan yang menimbulkan akibat hukum. Yahya Harahap. atau tidak melakukan sesuatu. op. b. d. ps. tahap contractual (adanya persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak) dan tahap post-contractual (pelaksanaan perjanjian). op. Ada tiga tahap untuk membuat perjanjian. op. 96 Salim H.95 Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian perjanjian tersebut. maka unsur-unsur di dalam perjanjian adalah sebagai berikut : 96 a. Yahya Harahap mengartikan perjanjian sebagai hubungan hukum dalam lapangan hukum harta kekayaan antara dua orang atau lebih. 6. 97 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek]. Universitas Indonesia .. Adanya Prestasi Prestasi terdiri dari memberikan (menyerahkan) sesuatu. mengenai asas-asas dalam suatu perjanjian. hlm. yaitu : 93 “Perjanjian adalah suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. cit..” Di dalam teori baru tersebut. 95 M. hlm. yang memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan kepada pihak lain untuk menunaikan prestasi.. op. Adanya Subyek Hukum Subyek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban.

Kata “semua” menunjukan perjanjian yang dimaksud tidak hanya perjanjian bernama. 99 J. 102. yaitu asas yang menyatakan bahwa perjanjian itu mengikat setelah adanya kata sepakat atau kesepakatan. Universitas Indonesia . hlm. Berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata. Hukum Perikatan (Bandung : Alumni. yang berarti setiap orang diberi kebebasan untuk membuat perjanjian dengan siapa saja.H. 1995).98 Selain asas kebebasan berkontrak. syarat sah perjanjian adalah : kesepakatan. Disamping kedua asas tersebut. Karena isinya mereka tentukan sendiri.100 98 Mariam Darus Badrulzaman. maka lahirlah perjanjian yang harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak tersebut. 1996). Satrio. Pasal 1338 KUHPerdata ini juga memuat asas “Pacta Sunt Servanda”. Keterikatan para pihak pada perjanjian adalah keterikatan pada isi perjanjian yang ditentukan oleh mereka sendiri.Perdata Buku III Hukum Perikatan dengan Penjelasan. kecakapan para pihak. 1982). 107. obyek tertentu dan kausa yang halal.53 “Semua perjanjian yang dibuat secara sah mengikat sebagai undangundang bagi mereka yang membuatnya”. 100 Abdul Kadir Muhammad. Dalam kata “semua” terkandung azas partij autonomie.99 Setelah tercapai kesepakatan oleh kedua belah pihak. hlm. Pelaksanaan yang dimaksud di sini adalah realisasi atau pemenuhan hak dan kewajiban yang telah diperjanjikan oleh pihak-pihak agar perjanjian tersebut mencapai tujuannya. namanya apa saja. 145. maka sebenarnya orang terikat pada janjinya sendiri. (Bandung : Citra Aditya Bakti. (Bandung : Alumni. tetapi juga perjanjian tak bernama. Masing-masing pihak harus melaksanakan perjanjian dengan sempurna dan tepat sesuai dengan apa yang telah disetujui untuk dilakukan. Pasal ini berisikan asas hukum yang biasa disebut asas “kebebasan berkontrak”. Pasal 1338 KUHPerdata juga mengandung asas “Konsensualisme”. hlm. janji yang diberikan kepada pihak lain dalam perjanjian. yaitu asas yang menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat secara sah mengikat bagi para pembuatnya. isinya apa saja. Hukum Perikatan : Perikatan yang Lahir dari Perjanjian Buku II.U. K.

Y 3. kemudian ditanggapi dengan persetujuan Bank X dalam Surat Pemberitahuan Persetujuan Kredit (SPPK). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Y untuk Pembelian Kendaraan Bermotor”. perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. Post Contractual 101 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Dalam Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. Y kepada Bank X untuk melakukan kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan. c. pengertian dari kerjasama adalah : 101 a. Bunga. (Jakarta : Balai Pustaka. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia.1 Hak dan Kewajiban Para Pihak Perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. Y dituangkan dalam akta “Perjanjian Kerjasama Perjanjian Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X deangan PT. 3. Interaksi sosial antara individu atau kelompok secara bersama-sama mewujudkan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama. ditandatangani oleh para pihak di hadapan notaris di Jakarta pada tanggal 20 April 2007. Contractual Persesuaian pernyataan kehendak (kesepakatan) antara Bank X dan PT. Jaminan dan lain sebagainya. Y.1. cet. Y untuk Pembelian Kendaraan Bermotor”.54 3. Kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang atau pihak untuk mencapai tujuan bersama. hlm. Y bukanlah merupakan perjanjian kredit. b. Pra-contractual Perjanjian bermula dari Surat Permohonan dari PT. tiga tahap dalam pembuatan perjanjian kerjasama tersebut adalah : a. Universitas Indonesia .1. Analisa Perjanjian Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. namun pada kenyataannya perjanjian kerjasama dimaksud mencantumkan klausul-klausul sebagaimana diatur dalam suatu perjanjian kredit seperti ketentuan mengenai Plafond. Secara hukum. 2002). Denda.Y. 428. dibuat dengan judul perjanjian “Perjanjian Kerjasama Perjanjian Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X deangan PT. b.

j. o. Honda. Kawasaki melalui Pihak Kedua. d. m. n. pengadministrasian pemberian kredit/pembiayaan tersebut. Ruang lingkup perjanjian kerjasama ini seperti tersebut di atas telah diatur pada pasal 1 ayat (1). e.” Disamping itu dijelaskan pula pada pasal 1 ayat (2) bahwa : “Pihak Kedua bertindak sebagai kuasa Pihak Pertama. l. f. i.55 Pelaksanaan perjanjian berupa pemenuhan hak-hak dan kewajibankewajiban sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati antara Bank X dan PT. Suzuki. q. Y. k. h. Pasal 1 Pasal 2 Pasal 5 Pasal 6 Pasal 7 Pasal 8 Pasal 9 Pasal 10 Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14 Pasal 15 Pasal 16 Pasal 17 Pasal 18 : Ruang Lingkup dan Pengertian : Plafond dan Jangka Waktu Kredit/Pembiayaan : Pelunasan dipercepat : Jaminan Kredit dan Asuransi : Tarif Bunga Kredit/Pembiayaan dan Provisi : Hak dan Kewajiban : Laporan dan Pemeriksaan : Pembukaan Rekening : Jangka Waktu : Pengakhiran Perjanjian : Force Majeur : Larangan Pengalihan Hak : Pemberitahuan : Penyelesaian Perselisihan dan Domisili Hukum : Addendum : Lain-lain Pasal 3. 4 : Tujuan Kredit/Pembiayaan Pada Perjanjian Kerjasama tersebut. Y disusun dalam beberapa pasal sebagai berikut : a.Y sebagai Pihak Kedua. Bank X sebagai Pihak Pertama dan PT. p. Yamaha. baik dalam pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua kepada masyarakat. c. g. b. Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. maupun dalam pelaksanaan segala hak-hak Universitas Indonesia . berbunyi : “Ruang lingkup kerjasama ini adalah penyaluran kredit/pembiayaan oleh Pihak Pertama kepada masyarakat untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua merk Kanzen.

25. Melakukan analisa dan evaluasi terhadap permohonan dan dokumen calon Nasabah sesuai dengan persyaratan dan ketentuan Bank X. Kewajiban Bank X yang diatur dalam Pasal 8 ayat (1) adalah menyediakan plafond kredit/pembiayaan sejumlah Rp. Y berdasarkan ketentuan pasal 7 ayat (4) Perjanjian ini. Hak Bank X diatur pada Pasal 8 ayat (1) yaitu : a.56 Pihak Pertama yang timbul sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan tersebut pada ayat 1 pasal ini. Pasal 7 ayat (4) berbunyi : “Tarif bunga yang dibebankan oleh Pihak Kedua kepada Nasabah adalah sebesar tarif bunga yang ditetapkan oleh Pihak Pertama pada ayat (1) Pasal ini ditambah dengan tarif bunga (spread) untuk keuntungan Pihak Kedua yang ditentukan oleh Pihak Kedua.000. kuasa mana apabila diperlukan akan dibuat secara tersendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari akta ini. Menerima pembayaran angsuran hutang pokok dan bunga atas kredit/pembiayaan yang diberikan oleh Bank X kepada Nasabah setelah diperhitungkan dengan hak PT.000. b.” Berdasarkan Pasal 7 ayat (1) dan ayat (6). e. Meninjau Nasabah. Y dalam Pasal 8 ayat (2) adalah menerima selisih bunga sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat (4) Perjanjian ini serta pendapatanpendapatan lain yang merupakan hak atau keuntungan PT. Y berdasarkan Perjanjian ini. Menerima pembayaran dari PT. Pihak Pertama (Bank X) menetapkan bunga pinjaman sebesar 16% (enam belas persen) efektif pertahun dihitung dari kembali kerjasama kredit/pembiayaan ini apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan dalam penyaluran kredit/pembiayaan kepada Universitas Indonesia . Menerima data dan dokumen Nasabah dari PT. Hak PT. Y. c.00 (dua puluh lima milyar rupiah). Y dalam hal nasabah wanprestasi guna pelunasan kredit/pembiayaannya sesuai dengan yang ditetapkan dalam huruf l ayat (2) pasal ini mengenai Hak-Hak PT. Y.000. d.” Hak dan Kewajiban Bank X dan PT Y dalam Perjanjian Kerjasama akan dijelaskan sebagai berikut.

denda serta biaya-biaya lain yang dikenakan kepada Nasabah dengan tetap berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang berlaku. menyeleksi dan memutuskan calon Nasabah yang akan memperoleh kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor dengan memenuhi kriteria dan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 perjanjian ini dan tidak terdapat kredit/pembiayaan ganda atas nama Nasabah yang sama. j. melakukan perhitungan jumlah kredit/pembiayaan yang diberikan. Y diatur dalam Pasal 8 ayat (2) sebagai berikut: a. Mencari. c. d. g. Mengadakan evaluasi atas permohonan kredit/pembiayaan yang diajukan oleh calon Nasabah berikut dokumen penununjangnya.57 pencairan kredit dan setiap pencairan kredit dikenakan provisi sebesar 1% (satu persen) yang langsung dipotong dari pencairan kredit. f. kelayakan usaha serta kemampuan pembayarannya. Meneliti keabsahan semua dokumen yang berkaitan dengan Perjanjian Kredit/Pembiayaan. bea atau iuran sebagaimana ditetapkan oleh ketentuan perpajakan yang berlaku. Melakukan pemotongan pajak. Surat Kuasa Pembebanan Jaminan Fidusia dan Surat Kuasa Menjual. Menetapkan besarnya jumlah kredit/pembiayaan yang akan diberikan berikut tarif bunga sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat (4) Perjanjian ini. Menerapkan prinsip-prinsip pemberian kredit/pembiayaan dan manajemen kredit/pembiayaan yang sehat dan berlaku umum di Indonesia. Menyimpan asli dokumen Perjanjian Kredit/Pembiayaan dan surat-surat lainnya yang berkaitan dengan pemberian kredit/pembiayaan. Menyetujui atau menolak permohonan kredit/pembiayaan yang diajukan oleh calon Nasabah. i. untuk mengurangi timbulnya risiko sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan. k. Membukukan kredit/pembiayaan. jumlah hutang pokok dan bunga serta biaya yang terhutang oleh setiap Nasabah. Kewajiban PT. Universitas Indonesia . Menjamin dan bertanggung jawab atas kelancaran pembayaran Angsuran Nasabah kepada Bank X sesuai jadwal yang ditetapkan. h. e. Menandatangani perjanjian dengan Nasabah antara lain Perjanjian Fidusia. b. termasuk untuk jenis kendaraan yang akan dibiayai.

somasi. Y sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) Perjanjian ini kepada Bank X. penyitaan. Y kepada Nasabah tersebut dengan menyetorkan seluruh dana atau porsi kredit/pembiayaan yang disalurkan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender sejak Nasabah menunggak. m. Melakukan penjualan atau dengan cara lain mengalihkan hak atas kendaraan bermotor yang dibiayai kepada pihak manapun menurut harga pasar yang wajar dengan memperhitungkan hasil penjualan barang jaminan dengan jumlah yang terhutang oleh Nasabah. o. Mengajukan gugatan. kepolisian atau pihak-pihak lain yang berwenang sehubungan dengan pelaksanaan hak-hak Bank X. klaim. n. denda maupun biaya-biaya lainnya yang berkaitan dengan pemberian kredit/pembiayaan serta mengeluarkan kuitansi atau tanda bukti pembayaran yang sah. pengaduan dan tindakan hukum lainnya tanpa ada yang dikecualikan di hadapan badan peradilan. melakukan setiap tindakan hukum yang diperlukan guna melindungi kepentingan Bank X. maka PT. Apabila terdapat Nasabah menunggak pembayaran angsuran lebih dari 3 (tiga) kali angsuran. arbitrase. Y wajib mengupayakan untuk mendapatkan kembali dana atau porsi kredit/pembiayaan Bank X yang telah disalurkan oleh Bank X melalui PT.58 l. ii) Melaporkan kepada Bank X mengenai hasil dari langkah-langkah penyelesaian yang telah diambil terhadap Nasabah yang wanprestasi yang meliputi : Melakukan penguasaan dan penarikan barang jaminan kredit/pembiayaan. penagihan kepada Nasabah dan pihak-pihak lainnya sehubungan dengan administrasi penyelesaian kredit/pembiayaan. diantaranya tetapi tidak terbatas pada mengeluarkan surat peringatan. Dalam hal Nasabah wanprestasi maka : i) Sebagai kuasa dari Bank X. bunga. Universitas Indonesia . Menyetorkan semua dan setiap pembayaran yang diterima berdasarkan huruf (k) di atas setelah diperhitungkan dengan hak atau keuntungan PT. Menerima pembayaran angsuran kredit/pembiayaan baik berupa angsuran pokok.

maka PT. sedangkan Bank X adalah termasuk perbankan konvensional.2. jumlah Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) yang telah diserahkan oleh Nasabah kepada Pihak Kedua dan Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) yang sedang dalam proses pengurusan. Y tidak melakukan penyetoran pada tanggal yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam butir 2. Ketentuan mengenai jaminan kredit diatur dalam Perjanjian Kerjasama pasal 6 ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimana Bank X sebagai Pihak Pertama dan PT.” Ketentuan-ketentuan tersebut baik dari segi bahasa maupun materi yang dikandung banyak memiliki hal-hal yang inkonsistensi sehingga perlu dikaji dari Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1988 dan Buku Pedoman Perusahaan Bank X. asli Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) kendaraan yang dibiayai. (2) Asli Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini dismpan oleh Pihak Kedua sampai kredit dinyatakan lunas oleh Pihak Pertama. Y. huruf k Pasal ini.59 p. Dari sisi bahasa antara lain istilah “Penyaluran Pembiayaan”. Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 1 angka 12 dijelaskan bahwa : “Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. (3) Pihak Kedua wajib menyampaikan secara tertulis kepada Pihak Pertama setiap akhir bulan. Y sebagai Pihak Kedua sebagai berikut : “(1) Sebagai jaminan atas kredit/pembiayaan yang disalurkan/dicairkan oleh Pihak Pertama melalui Pihak Kedua kepada Nasabah. lebih tepat digunakan pada produk perbankan syariah. yang digunakan dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT.” Universitas Indonesia . (4) Corporate Guarantee dari Holding Company yang dibuat secara notariil. Y wajib membayar denda keterlambatan sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari tarif bunga yang berlaku pertahun untuk per hari keterlambatan dihitung dari jumlah tertunggak. Apabila PT. maka Nasabah tersebut wajib menyerahkan jaminan tersebut berupa.

Pihak Kedua maupun Bank Indonesia dan tidak terdapat kredit/pembiayaan ganda atas nama calon end user yang sama”.. istilah ini sering digunakan dalam kerjasama penyaluran kredit103 walaupun tidak dikenal dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998. Universitas Indonesia . walaupun seringkali disebutkan pada perjanjian kerjasama dimaksud. tidak dijelaskan pengertiannya. 103 Penulis melihat penggunaan istilah “end user” pada suatu akta “Perjanjian Kerjasama Dalam Rangka Pemberian Fasilitas Pembiayaan (Joint Financing)” tanggal 24 Juli 2007 yang dilaksanakan oleh PT. Dalam Perjanjian Kerjasama Pasal 1 ayat (3) huruf (c) dijelaskan pengertian dari Nasabah sebagai berikut : “Nasabah adalah pihak yang menerima fasilitas kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan dari Pihak Pertama melalui Kantor Cabang Pihak Kedua di seluruh Indonesia yang tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang mempunyai kredit bermasalah di Pihak Pertama.60 Dalam perbankan konvensional. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. Y juga kurang tepat. Sub Bab 01 angka (1) huruf (f). penggunaan istilah “Nasabah/end user” untuk menyebut penerima/pengguna kredit pada perjanjian kerjasama antara Bank X dan PT. Bank Mandiri. baik pembiayaan produktif maupun pembiayaan konsumtif”. Namun demikian. hal ini diatur dalam Buku Pedoman Perusahaan Bank X mengenai Kerjasama Penyaluran Pembiayaan yang berbunyi:102 “Nasabah/end user adalah pihak yang memperoleh pembiayaan melalui Lembaga Penyaluran Perkreditan. Pada praktek perbankan. Sedangkan istilah end user. op. cit. Kemudian. sedangkan istilah “Nasabah” dalam Pasal 1 angka 16 sampai dengan angka 18 berturut-turut dijelaskan sebagai berikut : 102 Keputusan Direksi Bank X tentang Kerjasama Penyaluran Pembiayaan. Tbk. istilah yang lebih tepat digunakan untuk penyaluran dana ke masyarakat adalah “Kredit” sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 1 angka 11 : “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu.

kredit diberikan kepada end user (penerima kredit) melalui PT.” Dengan demikian. Universitas Indonesia . Y (lembaga/perusahaan lain).. Op. Nasabah Penyimpan adalah nasabah yang menempatkan dananya di bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan.61 “Nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa bank. Y masih bersifat luas. Sekalipun secara etimologi. 3. karena dalam undang-undang pengertian Nasabah sendiri dibedakan lagi menjadi dua yaitu Nasabah Penyimpan dan Nasabah Debitur.2 Kedudukan Hukum Para Pihak Pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai penyaluran kredit dengan pola channeling. yang menyatakan bahwa pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seseorang memberikan kekuasaan kepada seseorang lain. yang menerimanya untuk dan atas namanya menyelenggarakan suatu urusan. PT. Adanya Persetujuan 104 Try Widiyono. 47.. Cit. Y sebagai channeling agent bertindak sebagai kuasa dari Bank X dalam rangka penyaluran kredit/pembiayaan kepada masyarakat. istilah “Nasabah” yang digunakan dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dan PT. Berdasarkan Perjanjian Kerjasama Pasal 1 ayat (2). 47-50. hlm. Penulis berpendapat istilah yang lebih tepat digunakan untuk menyebut penerima kredit adalah Nasabah Debitur. Nasabah Debitur adalah nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan. Pada pola channeling seperti pada kajian penulisan ini. tetapi undang-undang telah memberikan batasan yang diatur dalam pasal 1792 KUHPerdata.1.104 Batasan tersebut mempunyai 4 (empat) unsur penting :105 a. Fungsi lembaga/perusahaan lain dalam pola channeling ditetapkan dalam Perjanjian Kerjasama. 105 Ibid. hlm. Debitur ataupun End User. surat kuasa dapat diartikan sebagai surat yang berisi pemberian sebagian kekuasaan atau hak yang dimiliki oleh subyek hukum kepada subyek hukum lainnya untuk melakukan perbuatan hukum tertentu.

sebatas dengan kuasa atau kewenangan yang diberikan oleh pihak pemberi kuasa. Pasal 1313 KUHPerdata menyatakan suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. harus diperhatikan dasar bertindak atau dasar pemberian kuasa tersebut (kewenangan bertindak). baik orang atau badan. suatu hal tertentu. yakni hukum yang mengatur mengenai berbagai badan. Kewenangan itu harus dilihat. apakah pemberi kuasa bertindak atas dirinya sendiri atau dalam suatu jabatan Universitas Indonesia . oleh karena itu diwakili oleh pihak lain. Dimaksud dengan subjek hukum tersebut harus memenuhi unsur kecakapan dan punya kewenangan bertindak. yaitu : sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. Di luar kuasa atau kewenangan yang diberikan oleh pemberi kuasa. Ketentuan ini maksudnya adalah surat kuasa tersebut diberikan dari dan untuk subjek hukum. Jadi. Antara Pemberi kepada Penerima Kuasa Surat kuasa diberikan oleh oleh pemberi kuasa kepada pihak lain. Berkaitan dengan badan ini perlu diperhatikan aspek hukum korporasi. baik badan hukum maupun bukan badan hukum. kewenangan tersebut perlu kita minta buktinya untuk meyakini kewenangan itu. b. Kehadiran penerima kuasa tersebut mewakili pemberi kuasa. Perwakilan itu memberi konsekuensi bahwa seakan-akan pemberi kuasa tersebut hadir dalam melakukan perbuatan hukum tersebut. Bertindak atas Nama Pemberi Kuasa Sebagaimana telah disinggung di atas.62 Unsur ini merupakan unsur dalam suatu perikatan yang lahir oleh karena adanya persetujuan (vide Pasal 1233 jo Pasal 1313 KUHPerdata). dan suatu sebab yang halal. baik pihak pemberi kuasa maupun kuasanya. Hal lain yang penting berkaitan dengan persetujuan ini adalah Pasal 1320 KUHPerdata yang mengatur mengenai syarat-syarat sahnya suatu persetujuan. kecakapan untuk membuat suatu perikatan. maka pihak penerima kuasa harus bertanggung jawab sendiri. Dalam hal tertentu. bahwa pemberi kuasa dalam surat kuasa tidak dapat melakukan perbuatan hukum sendiri. c.

berdasarkan pasal 1799 KUHPerdata. Kedudukan PT. Penetapan demikian wajib didukung oleh kewenangan yang terdapat dalam perjanjian kerjasama. Untuk Menyelenggarakan Suatu Urusan Suatu pemberian kuasa dimaksudkan untuk mewakili pihak pemberi kuasa kepada penerima kuasa dalam suatu urusan. Y. Sebagai kuasa. Oleh karena itu. khususnya dalam hal channeling agent diberikan hak untuk menetapkan secara bebas suku bunga kredit kepada end user. Semua akibat hukum yang ditimbulkan merupakan tanggung jawab dari pemberi kuasa. Jadi. Oleh karena itu. Penerima kuasa hanya bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa. Y dalam perjanjian kerjasama adalah sebagai kuasa bank dalam berikut : melakukan penyaluran kredit dengan mewakili bank dalam penandatanganan perjanjian kredit. hal ini diatur dalam pasal 1 ayat (2) sebagai Universitas Indonesia . Dalam hal ini perlu diperhatikan. pemberi kuasa dapat menggugat secara langsung orang dengan siapa si kuasa telah bertindak dalam kedudukannya dan menuntut daripadanya pemenuhan persetujuannya. Y sebagai agen. suatu urusan tersebut wajib dicantumkan dalam suatu surat kuasa. maka PT. wajib disebutkan dasarnya juga. Jika dalam kapasitas tertentu. Y wajib mendapatkan kuasa dari Bank X sebagai kreditur karena PT. yang dikuasakan tersebut harus jelas serta rinci dan sedapat mungkin tidak dapat diinterpretasikan lain sehingga tidak mudah menimbulkan dispute. Apabila telah memenuhi syarat-syarat tersebut berarti perbuatan tersebut seakan-akan dilakukan sendiri oleh pemberi kuasa. hal yang perlu diperhatikan adalah hak dan kewajiban PT. Dalam hal perjanjian kredit ditandatangani antara end user sebagai penerima kredit dengan PT. Jika tidak. maka pemberian fasilitas kredit tersebut bukan merupakan tanggung jawab pihak pemberi kuasa.63 tertentu. Y sebagai channeling agent tidak dapat bertindak di luar kuasa yang diberikan. siapakah yang menandatangani perjanjian kredit. Sehubungan dengan kajian mengenai kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan antara Bank X dengan PT. Y. Y dalam hal ini bertindak dalam kapasitasnya berdasarkan kuasa dan oleh karena itu. untuk dan atas nama Bank X. d. PT.

ketentuan mengenai penandatanganan perjanjian kredit tersebut diatur pula dalam Buku Pedoman Perusahaan Bank X mengenai Kerjasama Penyaluran Pembiayaan sebagai berikut: 106 ”(1) Perjanjian Kredit ditandatangani antara Bank X dengan Debitur yang diajukan oleh Agen atau antara Agen dengan Debitur. Y bertindak mewakili/atas nama Bank X dalam pemberian kredit kepada end user.” Kuasa yang dimaksud pada Perjanjian Kerjasama pasal 1 ayat (2) sampai saat ini tidak dibuat secara tersendiri. Pelaksanaan segala hak-hak Bank X yang timbul sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan. b. maupun dalam pelaksanaan segala hak-hak Pihak Pertama yang timbul sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan tersebut pada ayat 1 pasal ini. SK Dir. No. pengadministrasian pemberian kredit/pembiayaan tersebut. ps. 5 ayat (1) dan ayat (2). c. Pengadministrasian pemberian kredit/pembiayaan.66 Tahun 2003 tentang Kerjasama Penyaluran Pembiayaan. walaupun Bank X telah memberikan kuasa kepada PT. kuasa ini dibatasi oleh klausul yang terdapat pada pasal 8 Perjanjian Kerjasama mengenai Hak-Hak Bank X sebagai berikut : a.64 “Pihak Kedua bertindak sebagai kuasa Pihak Pertama. 106 Keputusan Direksi Bank X tentang Kerjasama Penyaluran Pembiayaan. Universitas Indonesia . dengan demikian kuasa hanya diberikan terbatas pada hal-hal yang diatur dalam pasal 1 ayat (2) tersebut di atas. (2) Penandatanganan Perjanjian Kredit berdasarkan kuasa dari Bank X kepada Agen dituangkan dalam perjanjian kerjasama penyaluran pembiayaan.” Disamping itu. Menerima data dan dokumen Nasabah dari PT. Y untuk melaksanakan pemberian kredit/pembiayaan tersebut. kuasa mana apabila diperlukan akan dibuat secara tersendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari akta ini. yaitu kuasa untuk : a. Namun demikian. Pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua kepada masyarakat. baik dalam pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua kepada masyarakat. Y. Konsekuensi hukum dari kuasa yang tercantum dalam Perjanjian Kerjasama adalah PT.

Y (Pihak Kedua) sebagai pemberi kuasa dan penerima kuasa. Disamping itu. d. Y. berdasarkan hak-hak Bank X dalam Perjanjian Kerjasama. Bank X tetap menjalankan fungsinya sebagai Bank karena Bank X juga melakukan analisa dan evaluasi terhadap permohonan dan dokumen dari Calon Nasabah serta dapat menolak permohonan pencairan kredit. dan berdasarkan kedudukan hukum Bank X (Pihak Pertama) dengan PT. Dilihat dari bentuk perjanjiannya. Disamping itu. yaitu Perjanjian Kerjasama. Y dalam perjanjian kerjasama ini bukan sebagai Debitur. maka hubungan hukum antara Bank X dengan PT. Y adalah sebagai mitra usaha sebagaimana dijelaskan dalam komparisi (pembukaan) perjanjian kerjasama sebagai berikut : Universitas Indonesia . Selanjutnya. Menerima pembayaran angsuran hutang pokok dan bunga atas kredit/pembiayaan yang diberikan oleh Bank X kepada Nasabah setelah diperhitungkan dengan hak PT. plafond kredit/pembiayaan disalurkan oleh Bank X kepada end user melalui PT. Y dengan sifat Non Revolving (sekaligus).65 b. Meninjau kembali kerjasama kredit/pembiayaan ini apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan dalam penyaluran kredit/pembiayaan kepada Nasabah (end user). Y dilakukan setelah terlebih dahulu PT. Y jika Calon Nasabah tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh Bank X. X melakukan penelitian terhadap pemenuhan persyaratan untuk pencairan kredit. Dengan demikian. Y dalam hal nasabah wanprestasi guna pelunasan kredit/pembiayaannya. Apabila dilihat dari tujuan penyaluran kredit/pembiayaan sesuai dengan Pasal 2 jo Pasal 3 Perjanjian Kerjasama. Y menyampaikan tembusan perjanjian kredit/pembiayaan dan accesoirnya antara PT. Bank X berhak menolak permohonan pencairan kredit dari PT. Menerima pembayaran dari PT. Bank X merupakan Kreditur dari end user. maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan PT. e. c. Melakukan analisa dan evaluasi terhadap permohonan dan dokumen calon Nasabah sesuai dengan persyaratan dan ketentuan Bank X. Y dengan end user dan PT. diatur pula dalam Pasal 4 mengenai Permintaan Penyaluran Kredit/ Pembiayaan bahwa penyaluran kredit/pembiayaan oleh Bank X melalui PT.

Seharusnya tanggung jawab PT.2. wanprestasi end user terkait dengan pembayaran kembali/pelunasan kredit ke Bank X bukanlah menjadi tanggung jawab dari PT. Y. Y. Y hanya terbatas pada pemberian kredit/pembiayaan dan tindakan wanprestasi dari PT. Pra-contractual Perjanjian bermula dari Surat Permohonan dari end user untuk memperoleh fasilitas dana pembiayaan berupa sejumlah uang untuk 3. Sedangkan di lain pihak. Pembuatan Perjanjian Kredit antara PT.1 Hak dan Kewajiban Para Pihak Universitas Indonesia . Y memperoleh keuntungan berupa spread (selisih) antara bunga pinjaman dari bank dengan bunga pinjaman kepada end user.2 Analisa Perjanjian Kredit antara PT. Perjanjian Pembiayaan Konsumen tersebut merupakan perjanjian kredit/pembiayaan sebagaimana diatur pada pasal 1 ayat 3 huruf e Perjanjian Kerjasama sebagai berikut : “Perjanjian Kredit/Pembiayaan adalah perjanjian yang dibuat oleh dan antara Pihak Kedua dengan Nasabah sebagai pelaksanaan dari Perjanjian ini yang bentuk dan isinya sesuai dengan ketentuan/standard yang berlaku pada Pihak Kedua”. Bank X memperoleh keuntungan berupa provisi dan bunga pinjaman sebagai akibat dari meluasnya penyaluran kredit ke masyarakat melalui PT. Y dengan Penerima Kredit Perjanjian antara PT. Berdasarkan konstruksi dan hubungan hukum yang ada. Dalam kerjasama ini. PT.Y dengan end user terdiri dari tiga tahap sebagai berikut : a. ditandatangani oleh para pihak secara bawah tangan (tidak notariil). dibuat dengan judul perjanjian “Perjanjian Pembiayaan Konsumen”.66 “Bahwa dalam rangka mengembangkan bisnis ritel. Y dengan penerima kredit (end user). Pihak Pertama bermaksud menjalin kerjasama dengan perusahaan pembiayaan (multi finance) sebagai mitra usaha dalam memberikan kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor kepada masyarakat”. Y hanya meliputi penyimpangan-penyimpangan atas penyaluran kredit yang tidak sesuai dengan perjanjian kerjasama. 3.

Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian kredit antara PT. Hak dan Kewajiban para pihak meliputi: Hak end user adalah memperoleh pinjaman uang melalui fasilitas pembiayaan untuk pembelian barang dari penjual berupa satu unit kendaraan Universitas Indonesia . Y dengan end user. Contractual Persesuaian pernyataan kehendak (kesepakatan) antara PT. Y dengan end user dituangkan dalam akta “Perjanjian Pembiayaan Konsumen”. Y bertindak sendiri sebagai kreditur atau dengan kata lain tidak mewakili Bank X. c. c. Akibat hukumnya adalah perjanjian tersebut tidak memiliki hubungan hukum dengan perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. Pasal 1 Pasal 2 Pasal 3 Pasal 4 Pasal 5 Pasal 6 Pasal 7 Pasal 8 Pasal 9 Pasal 10 Pasal 11 : Fasilitas Pembiayaan : Jumlah Fasilitas Pembiayaan : Tata Cara Pembayaran : Hak dan Kewajiban atas Barang Jaminan : Wanprestasi : Berakhirnya Perjanjian : Lain-Lain : Perjanjian Pemberian Jaminan Fidusia : Penyelesaian Perselisihan : Kuasa Pembebanan Jaminan Fidusia : Kuasa Berdasarkan komparisi (pembukaan) perjanjian kredit antara PT. i. b. b. Y dengan end user disusun dalam beberapa pasal sebagai berikut : a. Y dengan end user.67 pembelian kendaraan bermotor. h. e. tidak disebutkan bahwa PT. Berdasarkan perjanjian kredit ini. k. Disamping itu. sehingga dalam kedudukan hukumnya PT. d. Y. g. Post Contractual Pelaksanaan perjanjian berupa pemenuhan hak-hak dan kewajibankewajiban sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati antara PT. f. j. Y. Y merupakan kuasa dari Bank X dalam meyalurkan kredit. perjanjian kredit tersebut dapat dimohonkan kembali kepada bank lain untuk pencairan kredit serupa. kemudian ditanggapi dengan persetujuan PT.

Ketentuan mengenai keadaan wanprestasi oleh end user diatur dalam Pasal 5 sebagai berikut : a. dalam pasal 1 jo pasal 2 ayat (1) perjanjian kredit. b. adalah memberikan pinjaman uang melalui fasilitas pembiayaan dengan jaminan hak milik secara Fidusia kepada end user untuk pembelian barang dari penjual berupa satu unit kendaraan bermotor roda dua dengan spesifikasi sesuai dengan permohonan end user. sedangkan kewajiban end user diatur dalam pasal 3 jo pasal 4 perjanjian kredit sebagai berikut : a. Y. Membayar kembali hutang pembiayaan (pokok dan bunga) dengan cara mengangsur dengan tertib dan teratur sesuai jadwal pembayaran angsuran tanpa terlebih dahulu dilakukan penagihan/pemberitahuan oleh PT. Y sebagai Barang Jaminan. d. Universitas Indonesia . c. b. Y adalah memperoleh pembayaran kembali hutang pembiayaan dari end user berupa pokok dan bunga dan hak-hak lain dalam Perjanjian Pemberian Jaminan Fidusia.68 bermotor roda dua dengan spesifikasi sesuai dengan permohonan end user. Penerima Fasilitas tidak/lalai melakukan pembayaran angsuran Hutang Pembiayaan pada tanggal jatuh tempo angsuran. sedangkan kewajiban PT. Y. kemudian barang jaminan tersebut diikat secara Fidusia dan tunduk pada Perjanjian Pemberian Jaminan Fidusia. Hak PT. Menyerahkan setiap unit sepeda motor merk apapun yang dibeli oleh end user dari penjual melalui akad pembiayaan dari PT. Y dan pembayaran dilakukan pada hari kerja di tempat PT. Barang jaminan disita atau terancam oleh suatu tindakan penyitaan oleh pihak lain atau siapapun juga dan karena sebab apapun. Membayar denda keterlambatan sebesar 2 ‰ (dua permil) perhari dari jumlah angsuran yang tertunggak atas setiap keterlambatan pembayaran angsuran hutang pembiayaan. Barang jaminan yang berada di bawah penguasaan Penerima Fasilitas/Pemberi Jaminan hilang atau musnah. Penerima Fasilitas lalai dan/atau tidak dan/atau gagal memenuhi satu atau lebih kewajiban sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian ini dan/atau Perjanjian Pemberian Jaminan Fidusia. c.

3. 109 Universitas Indonesia . Ketentuan mengenai penandatanganan perjanjian kredit dalam rangka pemberian/penyaluran kredit kepada end user diatur dalam Buku Pedoman Perusahaan Bank X mengenai Kerjasama Penyaluran Pembiayaan sebagai berikut:109 ”(1) Perjanjian Kredit ditandatangani antara Bank X dengan Debitur yang diajukan oleh Agen atau antara Agen dengan Debitur. 108 Sutan Remi Sjahdeini. No. op.cit. Keputusan Direksi Bank X tentang Kerjasama Penyaluran Pembiayaan.. atau pembagian hasil keuntungan.66 Tahun 2003. op. 5 ayat (1) dan ayat (2).2. Penerima Fasilitas atau Pemberi Jaminan dinyatakan pailit. Y (Pihak Kedua) bahwa : “Pihak Kedua bertindak sebagai kuasa Pihak Pertama.69 e. (2) Penandatanganan Perjanjian Kredit berdasarkan kuasa dari Bank X kepada Agen dituangkan dalam perjanjian kerjasama penyaluran pembiayaan. imbalan. ps. op. diletakkan di bawah pengampuan. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. baik dalam pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan 107 Undang-Undang Perbankan. 1 angka 11. hubungan hukum antara Bank dengan Debitur pada prinsipnya didasarkan pada perjanjian kredit.cit.2 Kedudukan Hukum Para Pihak Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. ps. cit.107 Perjanjian Kredit adalah perjanjian antara bank sebagai kreditur dengan nasabah sebagai nasabah debitur mengenai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu yang mewajibkan nasabah-nasabah debitur untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga. meninggal dunia atau mengajukan penundaan pembayaran hutang.108 Dalam kredit perbankan..” Disamping itu dijelaskan pula pada pasal 1 ayat (2) perjanjian kerjasama antara Bank X (Pihak Pertama) dengan PT.

cit. Namun dalam obyek kredit yang menyangkut uanglah yang sering dijumpai dalam praktek perkreditan. c.. atau obyek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang. Thomas Suyatno. perjanjian tersebut merupakan perjanjian kredit. karena dalam perjanjian disebutkan bahwa PT. d. kuasa mana apabila diperlukan akan dibuat secara tersendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari akta ini. Risiko. pengadministrasian pemberian kredit/pembiayaan tersebut. maupun dalam pelaksanaan segala hak-hak Pihak Pertama yang timbul sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan tersebut pada ayat 1 pasal ini.” Secara hukum. waktu. Semakin panjang jangka waktu pemberian kredit semakin tinggi resiko kredit tersebut. 12-13. hlm. tetapi juga dapat berbentuk barang dan jasa. Kepercayaan. Perjanjian Kredit merupakan perjanjian antara debitur dan kreditur di mana hak dan kewajibannya termuat dalam perjanjian tersebut dan dikenal dengan perjanjian utang piutang. yaitu bahwa pemberian kredit dengan pembayaran kembali tidak dilakukan pada waktu yang bersamaan melainkan dipisahkan oleh tenggang 110 Drs.70 bermotor roda dua kepada masyarakat. Universitas Indonesia . Y bertindak sebagai Pemberi Fasilitas (kreditur) dan end user bertindak sebagai Penerima Fasilitas (debitur). perjanjian tersebut telah memenuhi unsur-unsur perjanjian kredit. op. Prestasi yang wajib dilakukan oleh debitur atas kredit yang diberikan kepadanya adalah tidak semata-mata melunasi utangnya tetapi juga disertai dengan bunga sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa kredit tersebut akan dibayar kembali oleh sipenerima kredit dalam jangka waktu tertentu yang telah diperjanjikan. Waktu. dimana terdapat unsur-unsur di dalamnya sebagai berikut :110 a. Di samping itu. yaitu bahwa setiap pemberian kredit mempunyai risiko akibat adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian kredit dengan pembayaran kembali. Prestasi. b.

71 Pada perjanjian kredit antara PT. Prestasi yang wajib dilakukan oleh end user adalah tidak semata-mata melunasi utangnya tetapi juga disertai dengan bunga. seharusnya PT. yaitu bahwa pemberian kredit kepada end user dengan pembayaran kembali tidak dilakukan pada waktu yang bersamaan melainkan dipisahkan oleh jangka waktu kredit. selain itu kedudukan Bank sebagai mediasi tidak memiliki dasar hukum yang jelas. yaitu bahwa setiap pemberian kredit kepada end user mempunyai risiko yang akan ditanggung oleh PT. Waktu. yaitu : a. Y dengan end user telah dipenuhi unsurunsur perjanjian kredit. Keyakinan ini didasarkan pada analisa dan evaluasi atas permohonan kredit dan pengikatan jaminan yang diberikan oleh end user. Y. 3. sehingga hubungan hukum yang harusnya terbentuk dari perjanjian yang berjudul “Perjanjian Pembiayaan Konsumen” tersebut adalah Bank X sebagai Kreditur dan end user sebagai Debitur. Pada bagian penutup dari perjanjian kredit ini disebutkan bahwa Bank sebagai mediasi. Hal yang perlu dicermati adalah dari awal perjanjian Bank sama sekali tidak disebut sebagai pihak dalam perjanjian tersebut.3. Universitas Indonesia . yaitu keyakinan dari PT. Y. Prestasi. c. Kepercayaan. Analisa Penyelesaian Kredit 3. atau obyek kredit diberikan dalam bentuk uang sejumlah pembelian kendaraan bermotor yang dimohonkan oleh end user. Pembayaran Kembali Kredit Hak Bank X sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (1) angka 1 huruf c perjanjian kerjasama adalah menerima pembayaran angsuran hutang pokok dan bunga atas kredit/pembiayaan yang diberikan oleh Bank X kepada end user setelah diperhitungkan dengan hak PT. d. Berdasarkan ketentuan dalam perjanjian kerjasama dan Buku Pedoman Perusahaan tersebut. b. Risiko. Y bertindak sebagai kuasa dari Bank X untuk menandatangani perjanjian kredit/pembiayaan dengan end user. Y bahwa kredit tersebut akan dibayar kembali oleh end user dalam jangka waktu tertentu yang telah diperjanjikan.1.3.

Melaporkan kepada Bank X mengenai hasil dari langkah-langkah penyelesaian yang telah diambil terhadap end user yang wanprestasi. Ketentuan pada pasal 10 ayat (2) tersebut tidak sesuai dengan kaidah hukum. Y dalam perjanjian kerjasama. yaitu pada Pasal 8 ayat (2) angka 2 huruf (n) dan (o). c. Sebagai kuasa dari Bank X. denda maupun biaya-biaya lainnya yang berkaitan dengan pemberian kredit/pembiayaan serta mengeluarkan kuitansi atau tanda bukti pembayaran yang sah. yaitu pada Pasal 8 ayat (2) angka 2 huruf (l) dan (m). Apabila terdapat end user yang menunggak pembayaran angsuran lebih dari 3 (tiga) kali angsuran. karena seharusnya kuasa pendebetan rekening PT. somasi. dalam Pasal 10 ayat (1) perjanjian kerjasama mengenai Pembukaan Rekening diatur bahwa PT. kewajiban PT. Menyetorkan semua dan setiap pembayaran yang diterima dari end user setelah diperhitungkan dengan hak atau keuntungan PT. Y dalam hal end user wanprestasi adalah : a. Y wajib membuka rekening pada Bank X guna menampung pencairan kredit/pembiayaan dan pembayaran angsuran serta biaya-biaya lain. Y sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 pasal ini. Y sebagai pemilik rekening.72 Sehubungan dengan pembayaran kembali kredit ini. sebagai berikut : a. melakukan setiap tindakan hukum yang diperlukan guna melindungi kepentingan Bank X. diantaranya tetapi tidak terbatas pada mengeluarkan surat peringatan. penagihan kepada end user dan pihak-pihak lainnya sehubungan dengan administrasi penyelesaian kredit/pembiayaan. Kemudian pada Pasal 10 ayat (2) diatur bahwa Bank X diberi kuasa oleh end user untuk mendebet rekening PT. Menerima pembayaran angsuran kredit/pembiayaan dari end user baik berupa angsuran pokok. b. bukan oleh end user. telah diatur dalam perjanjian kerjasama. bahwa kewajiban PT. Y diberikan oleh PT. Mengenai pembayaran kembali. Y wajib mengupayakan untuk mendapatkan kembali dana atau porsi kredit/pembiayaan yang telah disalurkan oleh Bank X melalui PT. Y kepada end user tersebut dengan menyetorkan seluruh dana atau porsi kredit/pembiayaan yang disalurkan Universitas Indonesia . bunga. Y. b. maka PT. Selanjutnya.

cit. Y dalam hal end user wanprestasi guna pelunasan kredit/pembiayaannya. Adapun bentuk penyelamatan kredit tersebut secara umum berupa : 111 Restrukturisasi Kredit. maka PT. Y tidak melakukan penyetoran pada tanggal yang ditentukan. Bank X segera mengambil upaya penyelamatan kredit.. yaitu tahun 2008. melainkan hanya diatur dalam perjanjian kredit antara PT. Bab I huruf (A). Universitas Indonesia . Sehubungan dengan permasalahan tersebut.73 dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender sejak end user menunggak. d. Ketentuan mengenai pembayaran kembali tersebut menimbulkan inkonsistensi antara kedudukan hukum PT. op.3. 112 Keputusan Direksi Bank X tentang Restrukturisasi.. Y selaku kuasa dan mitra usaha dari Bank X dengan kewajibannya menanggung pelunasan kredit/pembiayaan end user selaku debitur dalam hal terjadi wanprestasi oleh end user. pada Pasal 8 ayat (1) angka 1 huruf d perjanjian kerjasama. Y wajib membayar denda keterlambatan sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari tarif bunga yang berlaku pertahun untuk per hari keterlambatan dihitung dari jumlah tertunggak. pelaksanaan restrukturisasi kredit harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 112 111 Ibid. Y dengan end user. Kemudian. ketentuan mengenai keadaan wanprestasi debitur tidak diatur dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. 174-175. Berdasarkan Pedoman Kebijakan dan Prosedur Restrukturisasi Kredit Bank X. hlm.2. Novasi Kredit dan Likuidasi Agunan. Y. Selain itu. Bank X berhak menerima pembayaran dari PT. Perjanjian Restrukturisasi Kredit Setelah kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan berjalan selama satu tahun. Apabila PT. Hal ini mengakibatkan angsuran/pembayaran kembali kredit ke Bank X menjadi terhambat dan kualitas kredit menjadi memburuk. 3. terjadi kesulitan pembayaran dari para end user (penerima kredit) yang disebabkan adanya penurunan harga kelapa sawit dunia yang drastis akibat krisis ekonomi global.

jika bertujuan hanya untuk menghindari : penurunan penggolongan kualitas kredit. Bank wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis sebagain dasar pelaksanaan Restrukturisasi Kredit yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kebijakan manajemen risiko sebagaimana diatur oleh ketentuan Bank Indonesia. peningkatan pembentukan PPA. Penangguhan pembayaran tunggakan bunga kredit. Pengurangan tunggakan bunga kredit. Restrukturisasi kredit dilarang dilakukan oleh Bank. Pelaksanaan dengan pola ini belum dapat diaplikasikan pada Bank X.. Restrukturisasi Kredit diharapkan dapat memperbaiki kualitas kredit. Penambahan fasilitas kredit. Pengurangan tunggakan pokok kredit. Konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara. d. sebagai upaya untuk menurunkan rasio Non Performing Loan (NPL) terhadap eksposur kredit secara keseluruhan. c. b. Selain itu untuk menjaga obyektivitas. f. Penurunan suku bunga kredit. Bab I huruf (C) angka (5). c. maka restrukturisasi kredit wajib dilakukan oleh pejabat yang lebih tinggi dari pejabat yang memutus pemberian kredit.74 a. 113 Ibid. atau penghentian pengakuan pendapatan bunga secara akrual. Universitas Indonesia . e. Restrukturisasi kredit hanya dapat dilakukan terhadap debitur-debitur yang mengalami kesulitan pembayaran pokok dan atau bunga kredit. b. memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi kewajiban setelah kredit direstrukturisasi. memperhatikan praktek-praktek perbankan yang sehat (good corporate governance) dan penerapan manajemen risiko secara memadai. e. Restrukturisasi kredit harus dilakukan berdasarkan analisis yang cermat. g. d. Perpanjangan jangka waktu kredit. Pola-pola restrukturisasi kredit di Bank X adalah sebagai berikut : 113 a.

hubungan hukum antara Bank dengan Debitur pada prinsipnya didasarkan pada Perjanjian Kredit. Penandatanganan Akta Perjanjian Restrukturisasi Kredit antara Bank X dengan PT. perlu dilihat kembali kedudukan hukum para pihak yaitu Bank X sebagai Kreditur. dan End User sebagai Debitur. penyelesaian fasilitas kredit lama dan memberikan fasilitas kredit baru dengan jumlah angsuran dan jangka waktu yang telah disepakati oleh debitur dan bank. Y. Jaminan restrukturisasi yang semula hanya berupa BPKB (Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor) yang fisiknya disimpan oleh PT. b. Terbentur dengan kesulitan yang dialami oleh end user dalam pembayaran kembali kredit. d.75 h. Y sepakat dan setuju untuk melakukan restrukturisasi kredit dengan membuat akta Perjanjian Restrukturisasi Kredit pada tanggal 29 Juni 2009 yang mengatur beberapa hal : a. Mengubah pola kredit dari kredit channeling menjadi kredit executing. PT. Dalam kredit perbankan. Pada kredit konsumtif. Y mengajukan proposal penyelesaian kredit dengan restrukturisasi kredit tertanggal 30 Desember 2008. Jumlah rekening pinjaman yang sebelumnya sesuai dengan jumlah dan atas nama end user menjadi satu rekening pinjaman atas nama PT. Sehubungan dengan Perjanjian Restruturisasi Kredit yang dibuat antara Bank X dan PT. Y serta corporate guarantee. Y atas end user kepada Bank X yang diikat secara Fidusia dan didaftarkan kepada instansi yang berwenang. Y atas end user yang diikat dengan Jaminan Fidusia. kemudian Bank X dengan suratnya (surat pemberitahuan persetujuan restrukturisasi kredit/ SPPRK) tertanggal 27 April 2009 memutuskan untuk menyetujui restrukturisasi kredit tersebut. kemudian ditambah dengan jaminan piutang PT. serta penyerahan jaminan tagihan/piutang PT. Perpanjangan jangka waktu fasilitas kredit selama 24 bulan sejak tanggal kredit jatuh tempo. PT. Y. Bank X dan PT. Y selaku Agen/Kuasa dari Bank X. c. Perlakuan untuk kredit konsumtif. Y tersebut dilaksanakan bersamaan dengan penyerahan fisik BPKB sebagai jaminan kredit dan diikat secara bawah tangan. sehingga pelaksanaan Universitas Indonesia .

dapat disimpulkan bahwa dalam Perjanjian Restrukturisasi Kredit tersebut kedudukan debitur dalam pelaksanaan kredit telah berubah. kedudukan hukum end user sebagai debitur telah digantikan oleh PT. untuk dan atas nama bank/kreditur. Y restrukturisasi kredit dilakukan antara lain dengan melakukan perubahan yang mendasar. Berdasarkan kesepakatan antara Bank X dengan PT. sebagaimana diatur pada Perjanjian Restrukturisasi Kredit Pasal 2 dan Pasal 3 ayat (1) meliputi : a. Sedangkan kredit dengan pola executing. Fungsi lembaga/perusahaan (agent) lain dalam pola channeling ditetapkan dalam Perjanjian Kerjasama. Oleh karena agen adalah debitur. perbuatan seperti ini merupakan suatu Pembaharuan Utang atau Novasi. Pada pola channeling. maka agen yang bersangkutan wajib mendapatkan kuasa dari kreditur (bank) karena agen dalam hal ini bertindak dalam kapasitasnya berdasarkan kuasa dan oleh karena itu. Hubungan hukum antara agen dengan nasabahnya (nasabah agen/end user) adalah hubungan hukum yang terpisah dengan hubungan hukum antara bank dengan agen. kredit diberikan kepada debitur melalui lembaga/perusahaan lain. Secara hukum. maka agen harus memenuhi syarat dan ketentuan bidang perkreditan sebagaimana mestinya. Perjanjian Kredit yang dimaksud dalam kajian ini telah dijelaskan sebelumnya adalah Perjanjian Kredit/Pembiayaan antara PT. Y sebagai debitur baru.76 restrukturisasi dapat dilakukan dengan mengubah ketentuan-ketentuan pada perjanjian kreditnya. Jumlah rekening pinjaman yang sebelumnya sesuai dengan jumlah dan atas nama end user menjadi satu rekening pinjaman atas nama PT. Y (selaku Kuasa dari Bank X) dengan Penerima Kredit/End User yang dibuat dengan judul “Perjanjian Pembiayaan Konsumen”. Sehubungan dengan hal tersebut. Mengubah pola kredit dari kredit channeling menjadi kredit executing. Ada perbedaan utama antara pola channeling dengan executing. Y. debitur adalah agen tersebut langsung. sehingga perbuatan ini harus ditegaskan secara tegas dan nyata. Dalam hal perjanjian kredit ditandatangani antara debitur dengan agen. Hal ini diatur dalam pasal 1417 KUHPerdata sebagai berikut : 114 114 Universitas Indonesia . b.

BAB IV PENUTUP Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek]. hlm. Vollmar. tetapi yang benar adalah dengan pembayaran oleh debitur baru debitur lama menjadi bebas. Novasi tersebut tidak secara tegas dinyatakan dalam suatu Perjanjian Pembaharuan Utang (Novasi). Kemudian. Satrio. Y pada perjanjian kerjasama berkedudukan hukum sebagai mitra usaha. bukan sebagai debitur dari Bank X. Satrio. 116 Seharusnya pelaksanaan restrukturisasi kredit sebagaimana dijelaskan di atas. hlm. pada novasi yang tidak selesai maka paling-paling ada borgtocht (penanggungan) atau penyediaan diri untuk menjadi debitur serta (mede-schuldenaar). hlm. hlm.” Pengalihan tersebut semakin mempertegas bahwa benar kedudukan PT. 279. Scholten. op. Novasi baru terjadi kalau kreditur.77 “ Delegasi atau pemindahan... Akibat hukum yang muncul dari peristiwa seperti itu adalah bahwa paling-paling kreditur sekarang mempunyai tambahan seorang debitur lagi yang dapat ditagih untuk memenuhi perikatan yang ada antara kreditur dengan debitur. jika si berpitang tidak secara tegas menyatakan bahwa ia bermaksud membebaskan orang berutang yang melakukan pemindahan itu. P.G. hlm.. didahului dengan pembuatan Akta Perjanjian Pembaharuan Utang (Novasi) antara Bank X dengan PT. 1417. 115 J.. 116 Pitlo. mengatakan bahwa dalam hal demikian. “Overnemen van en toetreding tot eens anders schuld” dalam V. setelah menerima/menyetujui persoon debitur yang baru. S. ibid..H. Verbintenissenrecht. tidak menerbitkan suatu pembaharuan utang. dengan mana seorang berutang memberikan kepada orang yang mengutangkan padanya seorang berutang baru mengikatkan dirinya kepada si berpiutang. dibuat Akta Perjanjian Kredit antara Bank X dengan PT. dari perikatannya. ps. Dikutip dari J. Universitas Indonesia . sehingga bukan dengan penerimaan debitur yang baru debitur lama terbebaskan. Verbintenissenrecht. dengan tegas menyatakan bahwa ia membebaskan debitur lama dari keterikatannya berdasarkan perikatan yang lama dari kewajibannya berprestasi (lebih lanjut) terhadap kreditur.115 Pada prakteknya. cit.H. 298 menganggap syarat yang seperti tersebut dalam pasal 1417 [Burgerlijk Wetboek] perlu karena tidak tertutup kemungkinan bahwa memang maksud para pihak adalah hanya mau menambah seorang debitur disamping debitur yang lama. op. S. 118. Y.. 461. cit. 119. Y secara terpisah.

78 4. ii) Berdasarkan hubungan hukum yang ada antara Bank X dengan PT. tidak ada kewajiban bagi PT. Y bertanggung jawab hanya terbatas pada pemberian kredit/pembiayaan dan tindakan wanprestasi dari PT.1. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian yang telah penulis kemukakan dalam bab-bab terdahulu dari tesis ini. PT.Berdasarkan tujuan penyaluran kredit/pembiayaan sesuai dengan Pasal 2 jo Pasal 3 Perjanjian Kerjasama bahwa plafond kredit/pembiayaan disalurkan oleh Bank X kepada end user melalui PT. Y. dan berdasarkan kedudukan hukum Bank X (Pihak Pertama) dengan PT. yaitu “Perjanjian Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. maka hubungan hukum antara Bank X dengan PT. Ketentuan-ketentuan dalam Perjanjian Kerjasama antara Bank X dengan PT. sebagai mitra usaha yang diatur dalam perjanjian kerjasama penyaluran kredit kepada end user. Y dalam rangka penyaluran kredit ke end user (penerima kredit) adalah sebagai berikut : a. Y adalah sebagai mitra usaha sebagaimana dijelaskan dalam komparisi perjanjian kerjasama. melainkan Universitas Indonesia . maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Y baik dari segi bahasa maupun materi yang dikandung banyak memiliki hal-hal yang inkonsistensi sehingga perlu dikaji dari Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1988 dan Buku Pedoman Perusahaan Bank X sebagai berikut : i) Dilihat dari bentuk perjanjian yang mendasari kerjasama ini. Permasalahan hukum yang terdapat dalam pelaksanaan kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan antara Bank X dengan PT. maka kedudukan PT. Y (Pihak Kedua) sebagai pemberi kuasa dan penerima kuasa. Y untuk Pembelian Kendaraan Bermotor”. Y. Dengan demikian. Y hanya meliputi penyimpanganpenyimpangan atas penyaluran kredit yang tidak sesuai dengan perjanjian kerjasama. Y dalam perjanjian kerjasama ini bukan sebagai Debitur. Y untuk mengganti kerugian yang disebabkan oleh keadaan wanprestasi dari end user.

Sehubungan dengan hal tersebut terdapat permasalahan sebagai Perjanjian antara PT. v) Istilah “Nasabah” yang digunakan dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dan PT. Y (Kuasa dari Bank X) berkedudukan sebagai Kreditur Universitas Indonesia . istilah yang lebih tepat digunakan untuk penyaluran dana ke masyarakat adalah “Kredit” sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 1 angka 11. sedangkan di lain pihak PT. Bank X juga berhak melakukan analisa dan evaluasi terhadap permohonan dan dokumen dari calon Nasabah (end user). Dalam perbankan konvensional. maka diketahui bahwa Bank X tetap menjalankan fungsinya sebagai Bank. Dalam kredit perbankan. Y masih bersifat luas. karena dalam undang-undang pengertian Nasabah sendiri dibedakan lagi menjadi dua yaitu Nasabah Penyimpan dan Nasabah Debitur. penulis berpendapat agar istilah yang lebih tepat digunakan untuk menyebut penerima kredit adalah Nasabah Debitur. Bank X memperoleh keuntungan berupa provisi dan bunga pinjaman sebagai akibat dari meluasnya penyaluran kredit ke masyarakat melalui jasa PT. Debitur ataupun End User. Y lebih tepat digunakan pada produk perbankan syariah. Y dengan end user yang dibuat dengan judul “Perjanjian Pembiayaan Konsumen” merupakan perjanjian kredit dimana PT. iii) Dalam hubungan mitra usaha ini. Y memperoleh keuntungan berupa spread (selisih) antara bunga pinjaman dari bank dengan bunga pinjaman kepada end user. Sehubungan dengan hal tersebut. sedangkan Bank X adalah termasuk perbankan konvensional. Disamping itu. iv) Istilah “Penyaluran Pembiayaan” yang digunakan dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. b.79 sebagai Agen atau Kuasa dari Bank X. Y. hubungan hukum antara Bank dengan Debitur berikut : i) pada prinsipnya didasarkan pada Perjanjian Kredit.

a. Bank X segera mengambil upaya penyelamatan kredit dengan cara merestrukturisasi kredit tersebut. sehingga dalam kedudukan hukumnya PT. ketentuan mengenai keadaan wanprestasi debitur tidak diatur dalam perjanjian Universitas Indonesia . Y dengan end user. ii) Pada bagian penutup dari perjanjian kredit ini disebutkan bahwa Bank sebagai mediasi. selain itu kedudukan Bank sebagai mediasi tidak memiliki dasar hukum yang jelas.80 dan end user berkedudukan sebagai Debitur. namun pada kenyataannya telah terjadi kesulitan pembayaran dari para end user (penerima kredit) sehingga kualitas kredit menjadi memburuk. Akibat hukumnya adalah perjanjian tersebut tidak memiliki hubungan hukum dengan perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. Hal-hal yang dikaji dalam penyelesaian kredit ini adalah permasalahan dalam ketentuan mengenai Pembayaran Kembali Kredit dan pelaksanaan restrukturisasi kredit. 2. perjanjian kredit tersebut dapat dimohonkan kembali kepada bank lain untuk pencairan kredit serupa. Y merupakan kuasa dari Bank X dalam meyalurkan kredit. Y selaku kuasa dan mitra usaha dari Bank X dengan kewajibannya menanggung pelunasan kredit/pembiayaan end user selaku debitur dalam hal terjadi wanprestasi oleh end user. Y. Disamping itu. Pada ketentuan mengenai Pembayaran Kembali Kredit terdapat inkonsistensi yaitu : i) Ketidaksesuaian antara kedudukan hukum PT. Selain itu. Hal yang perlu dicermati adalah dari awal perjanjian Bank sama sekali tidak disebut sebagai pihak dalam perjanjian tersebut. Pelaksanaan penyelesaian kredit dilakukan dengan tahapan awal adalah pembayaran kembali kredit. Namun demikian. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. berdasarkan komparisi (pembukaan) perjanjian kredit antara PT. tidak disebutkan bahwa PT. Y bertindak sendiri sebagai kreditur atau dengan kata lain tidak mewakili Bank X.

bukan oleh end user. benar kedudukan PT. karena seharusnya kuasa pendebetan rekening PT. Y pada perjanjian kerjasama berkedudukan hukum sebagai mitra usaha. Secara hukum. Y wajib membuka rekening pada Bank X guna menampung pencairan kredit/pembiayaan dan pembayaran angsuran serta biaya-biaya lain. selanjutnya Bank X diberi kuasa oleh end user untuk mendebet rekening PT. Y sebagai pemilik rekening. dalam “Perjanjian Restrukturisasi Kredit antara Bank X dengan PT. Kedudukan hukum end user sebagai debitur telah digantikan oleh PT.2. Y sebagai debitur baru. Y selaku debitur baru. Y. melainkan hanya diatur dalam perjanjian kredit antara PT. Y dengan end user. b. Pengalihan tersebut semakin mempertegas bahwa Bank X. Y. ii) Dalam Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) perjanjian kerjasama mengenai Pembukaan Rekening diatur bahwa PT. Selanjutnya. Namun demikian. bukan sebagai debitur dari 4. sehingga kredit masing-masing end user beralih menjadi satu kredit dengan atas nama PT. Y” telah disepakati bahwa pola kredit diubah dari kredit channeling menjadi kredit executing. Y. Ketentuan mengenai kuasa pendebetan rekening ini tidak sesuai dengan kaidah hukum. pada prakteknya perjanjian tersebut tidak didahului dengan Perjanjian Pembaharuan Utang (Novasi) yang mencakup peralihan hak dan kewajiban dari end user selaku debitur lama kepada PT. Y diberikan oleh PT.81 kerjasama antara Bank X dengan PT. Saran Universitas Indonesia . perbuatan seperti ini merupakan suatu Pembaharuan Utang atau Novasi.

3. Universitas Indonesia . Y didahului dengan membuat Perjanjian Pembaharuan Utang (Novasi). Sehubungan dengan permasalahan yang terdapat pada pelaksanaan kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan antara Bank X dengan PT. Y selaku Debitur. untuk itu perlu adanya penyempurnaan Buku Pedoman Perusahaan Bank X sehubungan dengan Novasi Kredit dalam rangka penyelamatan kredit. terutama mengenai hubungan hukum antara Bank selaku Kreditur. Selanjutnya klausul yang harus dimasukkan di dalam perjanjian tersebut adalah penegasan bahwa PT. Seharusnya restrukturisasi kredit antara Bank X dengan PT. sehingga perjanjian kredit yang dibuat seharusnya berdasarkan standar dan pedoman peraturan perkreditan yang ada di Bank X. Y (Kuasa dari Bank X). Y. Dalam Buku Pedoman Perusahaan Bank X sama sekali tidak diatur mengenai Novasi Kredit (Pembaharuan Utang). 4. mengingat bahwa suatu hubungan hukum dan kedudukan para pihak akan menentukan tanggung jawab atau akibat hukum bagi para pihak. Y bertindak selaku Kuasa dari Bank X. 2. padahal pada praktek perbankan hal ini sudah lazim dilakukan. Kemudian.82 Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang telah penulis kemukakan di atas. maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut : 1. bukan standar yang ada di PY. Lembaga Pembiayaan selaku Agen dengan End User selaku Debitur. Novasi tersebut diikuti dengan Perjanjian Kredit tersendiri antara Bank X selaku Kreditur dengan PT. karena perbuatan Novasi harus secara tegas dinyatakan. perlu dilakukan suatu penyempurnaan dalam Buku Pedoman Perusahaan Bank X mengenai konsep hukum yang tepat dalam penyaluran kredit dengan pola kerjasama pembiayaan (channeling). Hubungan hukum antara Bank X dengan End User adalah hubungan antara Debitur dengan Kreditur.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->