B. PENGERTIAN RASMUL QURAN Istilah rasmul al-Quran terdiri dari dua kata yaitu rasm dan al-Quran.

Kata rasm berarti bentuk tulisan. Dapat juga diartikan dengan ‘atsar dan ‘alamah. Sedangkan alQuran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., dengan perantaraan malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf- mushaf dan disampaikan kepada umat manusia secara mutawatir (oleh Banyak Orang) dan mempelajarinya suatu ibadah, dimulai dengan surat al-Fatihah dan di akhiri dengan surat an-Nas. Dengan demikian, rasm al-Quran berarti bentuk tulisan al-Quran. Para ulama lebih cendrung menamakannya dengan istilah rasm mushaf. Ada pula yang menyebutnya rasmul utsmani. Ini wajar karena khalifah Utsman lah yang merestui dilakukannya penulisan al-Quran. Rasmul mushaf merupakan ketentuan atau pola yang digunakan oleh Utsman bin Affan beserta sahabat- sahabat lainya dalam penulisan al-Quran yang berkaitan dengan susunan huruf- hurufnya yang terdapat dalam mushaf- mushaf yang dikirim ke berbagi daerah dan kota serta mushaf alimam yang berada di tangan khalifah Utsman bin Affan itu sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa rasmul al-Quran itu adalah bentuk penulisan alQuran yang sebagian ulama menyebutnya dengan rasm mushaf dan sebagian ulama yang lain menyebutnya dengan rasm Utsmani. Terlepas dari apapun namanya kata kuncinya adalah “bentuk tulisan” dari al-Quran itu sendiri. C. PENDAPAT ULAMA TENTANG RASMUL QURAN Berbagai pendapat tentang rasmul Quran berkaitan dengan permasalahan, apakah rasmul Quran merupakan tauqifi (ketetapan) dari Nabi Muhammad saw. ataukah bukan. Mengenai permasalahaan ini, muncul dua pendapat dikalangan ulama. Kelompok pertama menyatakan bahwa rasmul Quran adalah tauqifi dari Nabi Muhammad saw. Sedangkan kelompok kedua menyatakan bahwa, rasmul quran adalah bukan tauqifi dari Nabi Muhammad saw. Menurut kelompok pertama, bahwa rasmul Quran adalah tauqifi dan metode penulisannya dinyatakan sendiri oleh Rasulullah saw. Pendapat ini dianut dan dipertahankan oleh Ibnu Mubaraq yang sependapat dengan gurunya Abdul Aziz adDabbagh. Ia menyatakan bahwa, tidak seujung rambut pun huruf al-Quran yang ditulis atas kehendak seorang sahabat Nabi atau yang lainya. Ditambahkan oleh Manaa’ Khalil al- Qathan, dan sesungguhnya dia (al-Quran, pen) adalah tauqifi dari Nabi dan dialah yang memerintahkan kepada mereka untuk menulisnya dalam bentuk yang dikenal hingga sekarang. Termasuk tambahan huruf ‘alif’ dan penguranganya, yaitu rahasia yang dikhususkan Allah SWT. bagi kitab AlQuran (aziz) yang merupakan suatu kekhususan yang tidak diberikan kepada kitab

samawi lainya. tetapi Ash-Shalih mengatakan rentangkanlah hurup baa. Sedangkan dikalangan sejarawan Arab. Allah SWT.Quran untuk menggunakan rasm selama itu ( baca. Ia mengatakan bahwa mengenai tulisan al-Quran.beda. mereka berpandangan bahwa. memberikan isyarat bahwa dibolehkannya penulisan al-Quran dengan rasm yang paling mudah. rasmul Quran tersebut tidak masuk akal kalau dikatakan tauqifi. yang ditransformasikan ke dalam karakter tulisan Arab pada abad IV atau V. Dikisahkan bahwa tulisan Arab sampai ke Mekkah . Setiap orang boleh menulis mushaf dengan cara yang sudah lazim dan menjadi kebiasaannya atau dengan caranya sendiri yang menurutnya paling mudah dan paling baik. Tetapi ada sedikit perbedaan yaitu menurut al-Qaththan. Sehingga bentuk tulisan mushaf pun berbeda. Penulis melihat Manna’ al. Tidak ada petunjuk khusus yang mengisyaratkan bahwa penulisan rasmul Quran dan pencatatan serta penulisan hanya dilakukan dalam bentuk khusus atau dengan cara tertentu yang tidak boleh ditinggalkan. Pada permulaan abad ke VI. jangan merapatkan lubang huruf “miim” tulislah lafat “Allah” yang baik. Karena Rasulullah SAW. Proses transformasi ini kemungkinan berlangsung di Madyan atau di kerajaan Gassanid (Gasaniyah) dibawah pengaruh perniagaan. Kewajiban itu tidak terdapat dalam Nash al. Sedangkan kelompok kedua menurut Ash-Shalih sebagaimana dikutib oleh Adnan mengatakan bahwa. Allahu wa’lam bissawab. Tulisan Arab menurut teori terpopuler dikalangan sarjana Barat bahwa berasal dari tulisan Kusrfi Nabthi (Nabathen). rentangkanlah huruf Yaa. Bahkan sunnah Rasulullah SAW. tulislah huruf. khususnya di Mekkah atau pun di Madinah. Pendapat ini didasarkan kepada suatu riwayat yang mengatakan bahwa ingatlah sesungguhnya Nabi pernah bersabda kepada muawiyah : “Hanya satu kitab wahyu : hambillah tinta. mana yang benara.sebuah kota di dekat Babilonia dan Anbar.huruf dengan kalam (pena). demikian pula dengan ijma’ ulama. ia akan selalu mengingat engkau”. tulisan berasal dari Hirah. Maka sangat memungkinkan al-Quran ditulis dengan huruf Kufi dan huruf dizaman kuno. Kemudian letakan qalam -mu pada telinga kiri. memerintahkan penulisannya tanpa menjelaskan bentuk tulisan (baca : Rasm) tertentu dan beliau tidak melarang siapapun yang menulis al-Quran. tulisan ini kemudian menyebar ke utara dan selatan.Shalih dalam hal ini. panjangkanlah lafat “ar-rahmaan” dan tulislah lafat “ar-rahim” yang indah. Pendapat ini dipelopori oleh Qhadi Abu al-Baqilani. Sama halnya dengan susunan al-Quran itu mu’jiz (membuat lawan tidak berdaya). sebelah barat laut kota Baghdad sekarang. rentangkanlah huruf “Yaa” bedakan huruf “sin”. telah masuk didaerah Siria Utara dan mencapai puncak keberhasilan penyebarannya yang sama ke daerah.Quran maupun Hadits Nabi Muhammad SAW. Usman bin Affan) yang dikatakatan kewajiban hanyalah diketahui dari berita – berita yang didengar.daerah yang menggunakan bahasa Arab Utara. maka rasmul Quran juga mu’jiz. sama sekali tidak mewajibkan kepada umat Islam dan tidak melarang para penulis al.sebuah kota di Eufrat.Qaththan sependapat dengan Ash.

Tulisan al-Quran banyak berbeda dengan tulisan Arab biasa karena masing – masing mempunya kaidah tersendiri.usul kedua tulisan ini tidak begitu diterima oleh sejarawan Arab. dan Qurasa’ad. Khat Khufi. Kedua. kulit Unta.merupakan bagian dari rangkaian tulisan Arab. Huththi.nama raja Madyan pada masa Nabi Syu’aib.menulis. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa.melalui Harb Ibn Umaiyah ibn Abd as-Syams yang mempelajari dari orang. D.Nadim dalam Fihrist yang dikutib oleh Taufik Adnan Amal mengatakan bahwa. Bentuk khat ini biasanya digunakan dalam bentuk suratmenyurat. Namun teori tentang asal.batu. ‘Abdullah Ibn al-Zubair. Bentuk tulisan ini sangat mirip dengan tulisan orang. Saf’ad. Ibn al. Terdapat dua jenis tulisan Arab yang lazimnya disebut Khat.orang Hirah ditanya dari mana mereka memperoleh pengengetahuan tentang tulis. Dengan demikian dapat dipahami bahwa bentuk dan ragam tulisan adalah produk manusia yang berkembang selaras dengan perkembangan manusia. mereka menjawab dari penduduk al-Anbar. Misalnya dalam penulisan kata “Bismillah” dalam rasm Usmani “Bismi” ( tulisan huruf “ba” tidak disertai dengan huruf “Alif”) tetapi menurut tulisan Arab biasa harus disambung “ba” dengan huruf “alif”. Hawwas.benda sederhana.orang tertentu yang ditemuinya dalam perjalanan – perjalanannya. Pertama. Tulisan al-Quran masih terpencar. Mengingat karakter manusia yang selalu berkembang.kata alQuran yang disetujui oleh Khalifah Usman dan dipedomani oleh tim penyalin alQuran yang dibentuknya dan terdiri atas Zaid Ibn Tsabit. yang melihat bahwa tulisan musnat yang bersumber dari tulisanArami (Aramik) yang masuk ke Hijaz melalui Yaman. Salah satu di antaranya adalah Bisyr Abd al-Malik yang datang ke Mekkah sembari mengajari sejumlah orang Mekkah tulis.kaidah penulisan aksara tersebut. dinamakan Khufi karena dinisbahkan kepada kota Kufah tempat berkembang dan disempurnakannya kaidah.tulang. orang. dan pelapah Korma.orang yang pertama kali menulis dalam aksara Arab adalah Abu Jad. Di zaman Nabi SAW. Upaya penekanan karakter Ilahiah Rasm Usmani atau penetapannya sebagai tauqifi jelas merupakan produk manusia.kaidah penulisan huruf – huruf dan kata. Khat Naskhi yang bersumber dari bentuk tulisan Nabthi (Nabaten). dan ‘Abd al-Rahman Ibn al. seperti di batu.Harits Ibn Hisyam. maka permasalahannya adalah apakah suatu bentuk tulisan memiliki sanksi Ilahi atau meskikah ia dilestarikan karena merupakan konsesus manusia dalam suatu korum waktu tertentu yang sangat sepele dan tidak perlu diperdebatkan. tulang. Kalamun.pencar dan belum terhimpun dalam sebuah mushaf dan di simpan di rumah .digunakan saat ini adalah antara lain untuk menyalin al-Quran. RASM USMANI Rasm Usmani atau kaidah. ketika orang. al-Quran ditulis pada benda.Hijazi yang berkembang ketika itu.menulis aksara Arab tersebut. Sa’id Ibn al-‘Ash.

1 dari ya nidaa’(ya seru). Dalam melakukan pekerjaan itu mereka mengikuti ketentuan. dan Abdurrahman ibn Harits. seperti yang menurut kaidah imlak: a. seperti yang menurut kaidah imlak : a. seperti : yang menurut kaidah imlak : a.kaidah tertentu yang berbeda dengan tulisan imlak. Di antara ketentuan itu adalah bahwa mereka menyalin ayat berdasarkan riwayat mutawatir. al-Quran yang terpencar. di antaranya : E.KAIDAH RASM USMANI Mushaf Usmani ditulis menurut kaidah. Dizaman Abu Bakar. Kaidah Buang ( al-Hadzf) a. mengabaikan ayat. tulisannya secara maksimal mampu mengakomodasi qira’at yang berbeda.4 dari lafal Allah. Masa Khalifah Usman Ibn Affan. al-Quran disalin lagi ke dalam beberapa naskah.. Tujuan pokok penyalinan al-Quran pada masa Abu Bakar juga dalam rangka pemeliharaan ayat. Para ulama merumuskan kaidah. Membuang Atau Menhilangi Huruf Alif . dan menghilangkan semua tulisan sahabat yang tidak termasuk al-Quran.lembaran). Penghipunan al-Quran dilakukannya setelah menerima usul Umar Ibn Al-Khatab yang khawatir akan semakin hilangnya para penghafal alQuran karena sebanyak 70 orang sahabat yang hafal al-Quran gugur dalam perang Yamamah.2 dari ha tanbih ( ha menarik perhatian). Sa’dibn al. Abdulllah ibn az-Zubair. keenam istilah tersebut adalah : 1. a. Ada beberapa hal yang sangat penting pada rasm usmani yang perlu kita ketahui.Ash. Para ulama menyebut cara penulisan ini sebagai rasm al-Mushaf.beda.ketentuan yang disetujui oleh Khalifah Usman. Untuk melakukan pekerjaan ini Usman membentuk tim empat yang terdiri dari Zaid ibn Tsabit. Karena cara penulisan ini disetujui Usman sehingga sering pula dibangsakan kepada Usman sehingga mereka sebut rasm Usman atau ar-rasm al-usmani. Demikian disampaikan oleh al-Zarkasyi sebagaiman dikutip oleh Ramli Abdul Wahid. Para penulis dan para sahabat setuju dengan tulisan yang mereka gunakan ini.pencar itu ditulis ke dalam shuhuf (lembaran.kaidah tersebut menjadi enam istilah.Nabi SAW. Penulisan ini bertujuan untuk membantu memeliara keutuhan dan kemurnian al-Quran. KAIDAH. yang menurut kaidah imlak: .3 dari kata na.ayat Al-quran.ayat mansukh dan tidak diyakini dibaca kembali dimasa hidup Nabi SAW.

seperti yang menurut kaidah imlak : a.a. penambahan huruf alif ( ) sesudah waw ( ) pada akhir setiap isim jama’( kata benda bentuk jama’) atau yang mempunyai hukum jama’ seperti . hamzah ( ) pada kata.1.9 dari semua bertuk jamak yang setimbangan dengan seperti : yang menurut kaidah imlak: a. seperti : a. membuang huruf Waw huruf waw ( ) dibuang apabila bergandengan waw juga.7 dari semua bentuk mutsanna (dual). bernaik berbaris raf maupun jar. membuang huruf lam huruf lam dibuangkan apabila dalam keadaan idgam seperti dan yang asal keduanya dan 2. a. seperti yang asalnya : c. yaitu yang menurut kaidah imlak adalah: b.10 dari semua kata bilangan. Kaidah Penambahan (az-ziyyadah) Penambahan (az-ziyyadah) disini berarti penambahan huruf alif ( ). seperti: yang menurut kaidah imlak : a. seperti dan yang asal keduanya adalah dan d.kata tertentu.laki) seperti maupun muannats (perempuan). membuang huruf ya’ huruf ya’ dibuang dari setiap manqushah munawwan. penambahan huruf alif a.5 dari dua kata dan yang menurut kaidah imlak: dan a. baik muzakkar (laki.8 dari semua bentuk jamak sahih.6 sesudah huruf lam.11 dari basmalah. seperti: yang menurut kaidah imlak: a. ya ( ).

seperti .baqarah.2.dan a.3.kata tertentu.Zukhruf. Adapun bila hamzah ( ) terletak di tengah. dan kecuali pada kata yang dikecualikan. . . di luar tersebut ini kata yang dikecualikan. apabila huruf yang sebelum hamzah itu sukun. maka tidak ada tambahan. penambahan huruf ya ( ) pada kata. Ada pun hamzah yang ber-harakat. .2. Maryam.1. kecuali beberapa kata yang dikecualikan. maka ia berada di awal kata dan bersambung dengan hamzah tersebut huruf tambahan. penambahan huruf.1..kata dan kata b. maka ia ditulis sesuai huruf dan harakatnya. al.2. huruf alif ditulis dengan huruf ya’ ( ) pada kata-kata berikut :. Kalau fathah dengan dengan alif.Rum dan al. . penambahan huruf ya ( ) b. 4. . seperti dan . seperti kecuali pada beberapa keadaan. al-A’raf. yang berarti (bagaimana) . huruf ha ta’nits ( ) ditulis dengan huruf ta’ maftuhah ( ) pada kata rahmatu( ) dalam surah al. . Huruf ha ta’ ta’nits ditulis dengan ta’maftuhah pada kata nikmah ( ) yang terdapat dalam . . seperti dan 3. . huruf alif diganti dengan huruf nun taukid khafifah pada kata izan 4. mutlak harus ditulis dengan alif dalam keadaan ber-harakat fathah atau kasrah seperti. Tetapi. Kaidah Penggantian (al. huruf alif ditulis dengan huruf waw sebagai penghormatan pada kata . .4. .huruf waw ( ) pada kata. dan 4. penambahan huruf alif ( ) sesudah huruf hamzah marsumah waw (hamzah yang ditulis di atas rumah waw) seperti yang asalnya demikian juga halnya dengan kata dan b.Badal1) 4. Kaidah Hamzah (al-Hamzah) Apabila hamzah ber-harakat (berbaris) sukun (tanda mati) maka ditulis dengan huruf berharakat yang sebelumnya. kalau kasrah dengan ya dan kalau dhamah dengan waw. Namun. 4. .

5.min ( ) yang disusul dengan man ( ) ditulis bersambung dengan menghilanhkan huruf nun ( ) sehingga menjadi mimman ( ).ayat ini boleh dibaca . Kul ( ) yang diiringi ma ( ) disambung sehingga tulisannya menjadi kullama ( ).2. seperti pada din dan yakhda’una Allah. Ali Imran.7.6. Kata Yang Bisa Dibaca Dua Bunyi suatu kata yang penulisannya disesuaikan penulisan kata semacam kalimat. Ayat. maliki yaum ad boleh dibaca dengan dua cara dalam bahasa Arab dengan salah satu bunyinya. 5.surat al-Baqarah. bukan mim man ( ).4. washl dimaksudkan metode penyambungan kata (dalam bahasa Arab disebut huruf. 5. al-Nahl. maka penulisannya bersambung dengan menghilangkan huruf nun.5. kecuali Firman Allah 5. kecuali pada Firman Allah yang berbunyi 5. kecuali pada kalimat dan 5. demikian juga pada kata dan yang terdapat dalam surat al-Mujadalah. Kaidah Sambung dan Pisah (washl wa fashl) washl berarti menyambung. jadi penyambungan dua huruf) yang mengakibatkan hilang atau dibuangnya huruf-huruf tertentu. al-Maidah. Min ( ) yang bersambung dengan ma ( ) penulisannya disambung dan huruf nun pada min-nya tidak ditulis. kecuali pada firman Allah yang berbunyi sebagai berikut : 6.3. In ( ) yang disusul ma ( ) ditulis bersanbung dengan meniadakan nun ( ) sehingga menjadi imam ( ). 5. ‘An ( ) yang disusul dengan man ( )ditulis sambung dengan menghilangkan nun ( ) sehingga menjadi ‘amman ( ).1. seperti tidak ditulis . bukan an man ( ). Fathir. An ( ) yang disusul dengan ma ( ) mutlak disambung dan huruf nun ( )-ya ditiadakan sehingga tulisannya menjadi amma ( ). Ibrahim. Di dalam Mushaf Usmani itu ditulis dengan menghilangkan alif ( ). 5. dan at-Thur. seperti kecuali yang terdapat di dalam surah an-Nisa’ dan al-Rum dan pada surat al-Munafiqun. Di sini. Luqman. bila an ( ) dengan harakat fathah pada hamzahnya di disusul dengan la ( ).

Penulis juga berkeyakinan bahwa pendapat Imam Ahmad juga harus menjadi pertimbangan dalam penulisan al-Quran dikemudian (sesudahnya) karena beliau juga seorang imam mazhab yang ilmunya tidak diragukan lagi. penulis at. Demikian kaidahkaidah penulisan ayat – ayat al-Quran yang dirumuskan para ulama berdasarkan Mushaf Rasm Usmani. Memang tidak di temukan nash yang jelas baika alQuran maupun hadist yang mewajibkan penulisan al-Quran dengan rasm Usmani. yaitu tidak bolehnya menulis al-Quran selain tulisan yang ditetapkan para sahabat itu.dapat dipahami bahwa pendapat ketiga lebih moderat dan lebih sesuai dengan kondisi umat. tulisan lama harus ada yang memeliaranya sebagai warisan. tulisan al-Quran itu bukan tauqifi ( tergantung pada petunjuk nabi atau Allah). HUKUM MENGIKUTI RASM USMANI Tentang hukum menulis ayat. Demikian juga tidak ditemukan hadits maupun qiyas tentang itu. F. di antaranya: Pertama. Rasul SAW.Dani berkata bahwa tidak ada orang yang berbada pendapat dengan apa yang diriwayatkan dari Imam Malik.ayat al-Quran menurut rasm Usmani. berpendapat bahwa sama sekali tidak boleh menyalahi tulisan Usmani. Sunnah Nabi SAW.Tibyan dan penulis al-Burhan memilih pendapat yang dipahami dari keterangan ibn Abd Salam yang membolehkan menulis al-Quran untuk orang awan menurut istilah. Namun kesepakan para penulis rasm Usmani harus diindahkan dalam artian bahwa dijadikan sebagi rujukan yang keberadaanya tidak boleh hilang di masyarakat Islam.dengan menetapkan alif (madd) dan boleh dengan suara tanpa alif. Ketiga. Dari ketiga pendapat di atas. Pendapat ini dipegangi oleh Imam Ahmad. Sementara itu. hanya memerintahkan para penulis al-Quran dengan tidak menetapkan cara penulisannya. terutama kalangan yang menguasaainya. para ulama berbeda pendapat. Abu ‘Amir ad. Menurut dia. Kemudian untuk menghindari pertikaian dan keraguan dikalangan muslim perlu ada suatu standar yang baku sebagai rujukan agar Islam tidak menuai berbagai persepsi yang controversial . tidak ditemukan nash maupun mahfum (yang difahami dari) nash yang menunjuk kepada kepastian menulis al-Quran dengan satu macam tulisan. Kedua. ia mengatakan bahwa Tuhan tidak mewajibkan kita menulis al-Quran dengan cara tertentu. Tulisan yang sudah ditetapkan dan disepakati pada masa itu boleh saja tidak diikuti. Di anatara ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Ibn Khaldun dalam muqadimah-nya dan al-Qhadi Abu Bakar dalam kitabnya al-intishar. Dalam kitab ini.istilah yang dikenal dikalangan mereka dan tidak boleh menulisnya dengan cara yang lama karena dikuatirkan akan membuat mereka ragu. bukan demikian di terima dari syarak. menunjuk kepada kebolehan menulis al-Quran dengan cara yang mudah.

justru oleh tangan-tangan ahli kebatilan yang mengatasnamakan istilah atas kekeliruan. walaupun sejak awal telah dilakukan evaluasi ulang. seperti Persia di sebelah timur. ternyata tidak luput dari kekeliruan dan inkosistensi. mereka membawa sebuah mushaf kepada Utsman. Waktu akan diluruskan oleh (kemampuan) bahasa “mereka sepanjang sejarah tidak dilakukan. Bahkan mereka beluim mengenal tulisan.dikalangan muslim di berbagai disiplin ilmu yang bersumber kepada al-Quran itu sendiri. kecuali beberapa orang saja. yaitu : ٩: ‫ان الله برئ من المشركين ورسوله )التوبة‬ ۳) “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik”. Disini terdapat hikmah. ketika dilakukan tauhid al-Mashahif. diakui oleh Ustman sendiri. dan beberapa wilayah non Arab disebelah barat. D. kemudian beliau melihatnya dan mengatakan : “Sungguh kalian telah melakukan hal yang baik. Didalamnya aku melihat ada kekeliruan (lahn) yang lanjutnya Utsman mengatakan : “Seandainya yang mengimlakan dan Hudzail dan yang menulis dari tsaqif. Kekeliruan Penulisan Mengenai mushaf Utsamani. . Al-Duwali memenuhi permintaan itu setelah mendengarkan suatu kasus ُ salah pembacaan yang fatal. Afrika disebelah Selatan. Masalah ini mulai disadari para pemimpin Islam. Pada suatu ketika seorang membaca ayat tersebut dengan : ٩:۳ ‫)ان الله برئ من المشركين ورسوله )التوبة‬ ِ “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan RasulNya”. terutama untuk menghindari kesalahan dalam membaca Al Qur’an bagi generasi yang tidak hafal Al Qur’an. Karena bila dilakukan. kaum muslimin belum begitu mengenal dengan baik seni khath dan cara penulisan (usluh al-Kitabah). tentu ini tidak akan terjadi diatasnya. Hal demikian terjadi karena pada masa dilakukannya tauhid al-Mashahif. Kesulitan mulai muncul ketika Islam mulai meluas ke wilayah-wilayah non Arab. Ibnu Abi Daud meriwayatkan bahwa setelah mereka menyelesaikan naskh Al-Mahsahif. Adanya kekeliruan (lahn) ini. Ketika Ziyad ibn Samiyyah menjabat gubernur Bashrah pada masa Mua’wiyah ibn Abi Sofyan (661-680 M) – riwayat lain menyebutkan pada masa pemerintahan Ali ibn Abi Thalib – ia memerintahkan Abu Al-Aswad Al-Duwali membuatkan tanda-tanda baca.

Karena semakin lengkap petunjuk yang dapat ditangkap semakin sedikit pula kesulitan untuk mengungkap pengertian-pengertian yang terkandung didalam Al-Qur’an. Oleh karena itu pula. “Sejak ini Al-Qur’an tidak dapat diotak-ataik dan diubah-ubah. . Namun bagi mereka orang Islam non Arab akan meresa sulit untuk membedakan bacaan-bacaan yang hampir sama tanpa menggunakan titik perbedaan dan baris barakat. namun demikian masih terdapat juga perbedaan dalam pembacaan. Bagi mereka (para sahabat dan tabi’in) memang tidak mempengaruhi pembacaan Al-Qur’an. seperti diatas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Abu Aswad Ad-Duali berusaha menghilangkan kesulitan-kesulitan yang sering dialami oleh orang-orang Islam non Arab dalam membaca Al-Qur’an dengan memberikan tanda-tanda yang diperlukan untuk menolong mereka membaca ayat-ayat al-Qur’an dan memahami kandungan ayat-ayat al-Qur’an tersebut .atau dijadikan mainan para pengekor hawa nafsu. Ali bin Abi Thalib A. Dengan demikian hubungan rasmul Qur’an dengan pemahaman AlQur’an sangat erat. E.S mengatakan. karena mereka telah fasih dalam pembacaan bahasa Arab. Hubungan Rasm Al Qur’an Dengan Pemahaman Al Qur’an Meskipun mushaf Utsmani tetap dianggap sebagai satu-satunya mushaf yang dijadikan pegangan bagi umat Islam diseluruh dunia dalam pembacaan AlQur’an. Hal ini disebabkan penulisan Al-Qur’an itu sendiri pada waktu itu belum mengenal adanya tanda-tanda titik pada huruf-huruf yang hampir sama dan belum ada baris harakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful