Kebenaran Sebuah AMDAL

June 11th, 2009 | Environment | 110 Comments »
Pada akhir tahun 2003, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) meluncurkan fase lanjutan dari reformasi atas sistem pemantauan dampak lingkungannya. “AMDAL Revitalisasi” bertujuan berbagai tantangan khusus yang telah timbul sejak diperkenalkan oleh undang-undang Pemerintah Indonesia atas otonomi daerah pada tahun 1999. Secara khusus, pentingnya untuk mengklarifikasi peran dari pusat terhadap berbagai otorita lingkungan di tingkat sub-nasional, mengkaji dan meningkatkan berbagai prosedur yang telah ada untuk partisipasi publik, mengklarifikasi cakupan AMDAL dan untuk memperkenalkan berbagai peralatan lingkungan alternatif, dan untuk memperkuat penegakan. Berbagai diskusi awal dengan Bank juga mencakup potensi untuk memperkenalkan fleksibilitas yang lebih tinggi terhadap sistem sentralisasi yang ada untuk memungkinkan variasi untuk muncul ke permukaan dari suatu daerah ke daerah lainnya sementara tetap mempertahankan konsistensi berkaitan dengan berbagai standar lingkungan. Bank telah menegaskan pentingnya pemberdayaan yang lebih atas sektor swasta sebagai suatu agen yang berpotensi untuk melakukan inovasi dan perubahan dalam rangka mendorong kualitas AMDAL. 1. Latar belakang Tidaklah lazim bagi berbagai diskusi kontemporer mengenai reformasi AMDAL untuk berfokus pada ‘apa yang benar dengan AMDAL’ (dan tetap saja hal inilah yang benarbenar diperlukan). Banyak yang diketahui mengenai berbagai problema dengan implementasi AMDAL namun sangat sedikit pembicaraan mengenai berbagai solusi yang berpotensi. Di waktu yang sama juga penting adanya pemikiran atas kebijakan AMDAL untuk diinformasikan tidak hanya oleh norma-norma dan standar-standar internasional namun secara bersamaan oleh praktek yang baik yang dikembangkan sendiri yang ada di Indonesia. AMDAL telah ada sekitar 20 tahun lamanya. AMDAL didasarkan atas berbagai regulasi nasional yang telah ditetapkan dengan baik serta berbagai acuan yang dikenal di seluru sektor utama di pemerintahan. Prosedur review dan persetujuan secara relatif telah menjadi kebiasaan yang diterima dengan baik di dalam organisasi dan berlaku secara homogen di tingkat nasional dan propinsi, berdasarkan komite administratif dan teknis lintas-pemerintahan. Sistem tersebut didukung oleh suatu jaringan Pusat Studi Lingkungan yang menyediakan berbagai masukan teknis, pelatihan formal dan kendali mutu, sementara berbagai reformasi penting juga telah dilakukan untuk mencoba menstimulasi keterlibatan publik dalam jumlah yang lebih besar dalam AMDAL. Terdapat berbagai pertimbangan yang dapat dibenarkan atas pelaksanaan AMDAL di tingkat kabupaten, khususnya sejak undang-undang otonomi daerah diperkenalkan di Indonesia, mengingat kekurangan yang berkelanjutan atas kapasitas teknis dan administratif untuk manajemen lingkungan. Berkaitan dengan ini, berbagai reformasi terdahulu atas AMDAL telah memiliki kecenderungan untuk dilihas secara primer dari perspektif sentralis yang berfokus pada perubahan regulasi dan standar, sementara banyak dari berbagai tantangan yang sifatnya nyata adalah lebih bersifat operasional. Sebagai konsekuensinya terdapat suatu rentang yang sangat nyata di dalam

‘keterampilan’ ketika berkenaan dengan penerapan kebijakan lingkungan nasional di lapangan. Akan tetapi di sebuah Negara yang sebesar dan yang se-kompleks Indonesia, Terdapat beberapa kelemahan yang telah diakui dalam AMDAL, tidak bahwa sedemikian berorientasi atas masukan, khawatir akan pemenuhan birokratis dan jarang bersifat efisien dari segi harga. tidak satupun dari kritik ini dapat dianggap sebagai benar secara keseluruhan. Berbagai tingkat variasi dalam pelaksanaan yang mengejutkan dapat ditemukan di antara berbagai propinsi dan kabupaten, sebagaimana ditemukan di dalam suatu penilaian terkini yang dilakukan oleh Bank Dunia2. Beberapa contoh praktek AMDAL yang diidentifikasi baik termasuk berbagai upaya untuk mengadaptasi dan menafsirkan kembali berbagai arahan nasional terhadap kebutuhan dan prioritas setempat yang jelas terlihat. Sebagai contoh, baik Propinsi Jawa Barat dan Metropolitan Jakarta menerapkan Kaji Ulang ANDAL (revisi AMDAL) yang efisien untuk berbagai ekspansi kapasitas atau perubahan besar lainnya atas berbagai fasilitas yang ada, daripada proses AMDAL yang lengkap dan panjang sebagaimana diharuskan oleh berbagai arahan nasional. Di Kota Balikpapan (Kalimantan Timur) pemerintah daerah bekerjasama dengan sektor swasta dan suatu koalisi LSM lingkungan untuk mendapatkan cara untuk meningkatkan AMDAL, sementara di Bali AMDAL telah dipergunakan secara efektif sebagai suatu bentuk perjanjian perantara dalam menempatkan dan mendisain berbagai perkembangan baru yang bersifat kontroversial, seperti halnya penimbunan tanah untuk kepentingan sanitasi komunal dan berbagai fasilitas pengolahan limbah. Sistem AMDAL Indonesia Suatu sejarah singkat Meskipun AMDAL secara resmi diperkenalkan ke Indonesia pada tahun 1982, sebagian besar praktisi mengetahui asal muasal sebenarnya untuk beranjak dari Peraturan No. 29/1986 yang menciptakan berbagai elemen penting dari proses AMDAL. Sepanjang awal era 1990 didirikan suatu badan perlindungan lingkungan pusat (BAPEDAL) terlepas dari Kementerian Negara Lingkungan, dengan mandat meningkatkan pelaksanaan AMDAL dan kendali atas polusi, didukung oleh tiga kantor daerah. Kajian dan persetujuan atas berbagai dokumen AMDAL pada saat ini ditangani oleh Komisi Pusat atau Komisi Daerah, sesuai dengan skala proyek dan sumber pendanaan. Lebih dari 4000 AMDAL dikaji sampai dengan 1992 dimana menjadi lebih jelas bahwa berbagai elemen dari proses tersebut terlalu kompleks dan terlalu banyak didasarkan pada AMDAL ‘gaya barat’. Legislasi AMDAL yang baru yang diberlakukan pada tahun 1993 yang memiliki efek pembenahan atas prosedur penapisan, mempersingkat jangka waktu pengkajian, dan memperkenalkan status format EMP yang distandardisasi (UKL/UPL) untuk proyek dengan dampak yang lebih terbatas. Lebih dari 6000 AMDAL nasional dan propinsi diproses berdasarkan peraturan ini termasuk sejumlah kecil AMDAL daerah di bawah suatu komisi pusat yang didirikan di dalam BAPEDAL. Undang-undang Pengelolaan Lingkungan yang baru (No. 23/1997) berbagai reformasi lanjutan atas regulasi AMDAL menjadi perlu. Peraturan 27/1999 diperkenalkan dengan simplifikasi lebih lanjut. Komisi sektoral dibubarkan dan dikonsolidasikan ke dalam suatu komisi pusat tunggal, sementara komisi propinsi diperkuat. Ketentuan yang lebih spesifik dan lengkap atas keterlibatan publik juga diperkenalkan, sebagaimana halnya

juga dengan suatu rangkaian arahan teknis pendukung. Namun demikian PP 27/1999 ternyata tidak tepat waktu, gagal untuk secara memadai merefleksikan berbagai perubahan politis yang pada saat itu lebih luas yang akhirnya mengarah kepada desentralisasi politik dan administratif. Gerakan sosial di pertengahan hingga akhir 1990, dinamakan ‘reformasi’, mengarah ke reformasi politik yang sangat cepat sebagaimana terlihat dalam legislasi baru yang memberi kewenangan kepada kabupaten dan kecamatan terpencil untuk mengelola sebagian besar jasa-jasa kepemerintahan. Realokasi fungsi ini membuat Indonesiasebagai salah satu dari Negara yang paling ter-desentralisasi di wilayah ini, yang bersamaan dengan ini membawa janji akan pemerintahan yang membaik (namun dengan beberapa jaminan). Kabupaten Indonesia yang mendekati jumlah 400 mendapat otonomi yang lebih besar dengan pemilihan kepala daerah yang tidak lagi tunduk kepada persetujuan yang lebih tinggi, dan tanggung jawab atas ketentuan yang bersifat wajib untuk menyediakan jasa di 11 area, termasuk pengelolaan lingkungan. 2. Tujuan, Audiensi dan Hasil Studi ini mengidentifikasi berbagai contoh praktek AMDAL yang baik di tingkat subnasional, meneliti berbagai faktor yang memberi kontribusi dan menilai potensi untuk mereplikasi pengalaman ini secara lebih luas di Indonesia. Ia menguji hipotesa yang mengatakan bahwa terdapat banyak hal yang akan dipelajari dari implementasi AMDAL di tingkat sub-nasional dalam masa 5 tahun terakhir ini dalam mengadaptasi kebijakan nasional atas kenyataan dari manajemen lingkungan yang desentralisasi. Studi ini memiliki beberapa target audiensi, di tingkat pertama para staf dari berbagai otorita lingkungan sub-nasional tersebut yang telah terlibat di dalam persiapan dari berbagai studi kasus3. Yang kedua, studi akan menginformasikan disain dari berbagai studi pilot di tingkat propinsi yang saat ini sedang dilakukan oleh Bank di Jawa Barat dan Kalimantan Timur, meskipun identifikasi atas ide-ide yang inovatif yang telah diuji di tempat lain di Indonesia. Yang ketiga, ia akan memberi masukan pada berbagai rekomendasi keseluruhan atas reformasi AMDAL yang akan disediakan oleh Bank Dunia kepada KLH. Diharapkan, juga, bahwa berbagai konklusi utama dari studi akan dibagi secara lebih luas dengan berbagai kabupaten dan propinsi melalui buletin KLH mengenai AMDAL (INFOAMDAL). Hasil-hasil dari studi mencakup (i) laporan ringkasan ini, (ii) sepuluh laporan studi kasus yang berdasarkan lapangan, dan (iii) suatu seminar yang menampilkan hasil-hasil dari studi untuk berbagai otorita setempat yang terpilih. 3. Metodologi dan Sumber Informasi Pendekatan Umum Studi menerapkan suatu pendekatan empiris untuk mengidentifikasi dan menjelaskan praktek AMDAL yang baik, tujuannya adalah untuk mengidentifikasi berbagai contoh daripada memberikan suatu pandangan secara menyeluruh atas frekuensi dengan mana ia terjadi di dalam sistem. Telah diketahui bahwa praktek yang baik tersebut jarang, mungkin terjadi pada sekitar 10% AMDAL yang dilakukan di tingkat sub-nasional. Studi tidak berupaya untuk memvalidasi asumsi ini, tetapi untuk melihat berbagai studi kasus yang dipilih secara rinci sebagai dasar untuk mulai lebih memahami mengapa AMDAL secara relatif berjalan sangat baik di beberapa tempat namun tidak di tempat lainnya.

Studi terdiri dari suatu fase awal yang berfokus pada pengumpulan 10 studi kasus yang berdasarkan-lapangan dari AMDAL yang baru saja diselesaikan di lima daerah. Berbagai daerah tersebut dipilih dengan konsultasi dengan KLH atas dasar tingkat perkembangan ekonomi, kapasitas implementasi AMDAL, dan kemauan untuk berpartisipasi. Penelitian di lapangan diikuti dengan verifikasi atas berbagai hasil dan perbandingan terhadap pengalaman yang relevan dari berbagai Negara lainnya, yang tersedia dari staf Bank Dunia dan donor multilateral dan bilateral. Hal ini mengikuti prinsip bahwa, untuk menghindari hasil-hasil yang subyektif, identifikasi atas praktek yang baik di suatu Negara dapat ditentukan dengan cara paling baik melalui pembandingan dengan berbagai standar yang diaplikasikan di berbagai Negara sebanding, sebagaimana halnya juga berbagai stándar internasional yang diterima. Untuk memastikan bahwa hasil dari studi-studi kasus dapat dengan mudah dibandingkan dengan pengalaman internasional, suatu kerangka kerja atas analisa yang baru-baru ini digunakan oleh Bank Dunia dalam menilai berbagai sistem AMDAL nasional di daerah tetap diadaptasi dan diterapkan5. Sesuai dengan hal itu, studi atas sistem AMDAL dibagi ke dalam kategori berikut: 1. Legislasi dan Arahan – sampai sejauh mana regulasi dan arahan nasional diadaptasi pada dan merefleksikan, kenyataan setempat; 2. Administrasi – tingkatan di mana terdapat koordinasi antara AMDAL dan berbagai prosedur administratif lainnya; 3. Penapisan dan Pelingkupan – suatu tingkatan di mana kualitas penapisan dan pelingkupan ditingkatkan melalui konsultasi dan pencakupan informasi setempat; 4. Isi Studi AMDAL– sensitifitas dari isi laporan terhadap pelingkupan, kualitas dari analisa dampak, dan sampai sejauh mana berbagai rencana manajemen lingkungan beroperasi; 5. Proses kajian dan Partisipasi Publik – kualitas dan konsistensi dari proses kajian dan sampai sejauh mana publik dilibatkan; dan 6. Pengawasan & Penegakan–upaya-upaya yang diambil untuk mendorong pemenuhan berbagai persyaratan AMDAL. Data primer dikumpulkan di setiap area ini dan dikompilasi ke dalam sepuluh laporan studi kasus, menyediakan suatu badan informasi yang signifikan atas berbagai praktek AMDAL yang ada di tingkat sub-nasional. Informasi dikumpulkan melalui suatu kombinasi pengkajian dokumen, wawancara informan utama dan kunjungan lapangan. Biasanya, wawancara dilaksanakan dengan para pejabat di otorita lingkungan tingkat sub-nasional yang relevan, para anggota lainnya dari Komisi kajian AMDAL dan tim teknisi, perwakilan dari penggagas proyek, LSM setempat dan pihak yang terkena dampak, dan para konsultan dan penasehat yang bertanggung jawab untuk menyiapkan berbagai laporan AMDAL. Setiap laporan studi kasus disirkulasikan dalam bentuk rancangan ke KLH dan berbagai otorita setempat yang relevan, sebelum suatu seminar yang diadakan di Jakarta untuk para pejabat pemerintah kunci setempat dari lima propinsi yang terlibat dalam studi. Sebagai contoh, berbagai pengaturan yang baru memungkinkan pendirian Komisi-komisi AMDAL di tingkat kabupaten. Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran akan benturan kepentingan di dalam pengkajian dan persetujuan atas dokumen AMDAL yang ‘memanasi’ suatu pandangan di tingkat pusat bahwa otorita setempat seharusnya mengundang ekstraksi sumber-sumber daya yang merusak lingkungan dan lebih intensif untuk mendorong pendapatan. Sebagai konsekuensi tidak langsung dari desentralisasi, berbagai fungsi Bapedal diserahkan

tetapi akan perlu untuk tetap memegang tanggung jawab operasional atas AMDAL. Namun demikian. Tingkat kepentingan publik/protes juga telah sangat berpengaruh dalam memperkuat proses tersebut. Pada saat yang sama. Kepribadian penting dalam mempengaruhi efektifitas AMDAL. Berbagai revisi yang lebih baru terhadap kerangka kerja hukum untuk desentralisasi tampaknya memperkuat posisi otorita lingkungan local dan meningkatkan demokratisasi (seperti pemilihan langsung atas kepada kabupaten) dapat pada waktunya menyediakan berbagai kondisi untuk aplikasi yang lebih konsisten atas undang-undang lingkungan dan berbagai standar. tetapi tidak menyediakan alat maupun sumber daya untuk melakukan hal ini secara efektif. aturan-aturan tetap ‘dibengkokkan’ ketika memang dirasakan perlu untuk melakukan hal tersebut. meskipun sebagian besar sejalan dengan berbagai standar nasional. Tanggung jawab pengawasan diperluas dalam artian bahwa KLH akan tetap bertindak sebagai caretaker dari berbagai regulasi lingkungan nasional namun harus sejak saat ini menangani (paling tidak secara teori) dengan hampir 400 unit independen dari manajemen. Kabupaten-kabupaten dan kecamatan dengan sumber daya yang lebih baik telah dengan cepat memberlakukan regulasi lingkungan mereka sendiri. Berbagai Kabupaten dengan sumber daya yang kurang baik (sebagian besar Jawa) secara umum telah terus menerus bergantung pada berbagai arahan nasional dan juga propinsi untuk membantu mereka dalam menerapkan AMDAL. khususnya hubungan antara kepala badan lingkungan daerah (BPLHD) dan gubernur propinsi atau bupati. Sementara efek bersih dari pergeseran otorita ini mungkin tidak akan terlalu terlihat dalam jangka waktu pendek. Revitalisasi AMDAL dapat mulai menjawab tantangan ini dengan mendefinisikan secara lebih jelas bahwa peran KLH tidak hanya sebagai regulator tetapi juga sebagai fasilitator dari pembelajaran dan inovasi antara berbagai propinsi. Suatu kajian awal yang dilakukan oleh Bank pada awal 2004 mengindikasikan berbagai perbedaan yang signifikan dari satu daerah dengan daerah lainnya. ketidak-konsistenan yang semakin meningkat dalam penerapan regulasi dan standar nasional pasti akan terjadi dalam jangka waktu yang lebih panjang. desentralisasi memiliki efek memperluas fungsi pengawasannya terhadap kabupaten. yang mengakibatkan pusat berpendirian untuk memperkuat penegakan dan mekanisme pertanggung jawaban. Berbagai otorita propinsi dapat melakukan pendekatan yang serupa terhadap berbagai kabupaten. sementara tanggung jawab dari ketiga kantor daerahnya difokuskan kembali dan diperluas untuk juga mencakup berbagai kabupaten. Suatu program atas pembentukan kapasitas ekstensif dan alih keterampilan kepada berbagai kabupaten dapat membantu menangani resiko ini. Tantangan utama Dari perspektif Kementerian Lingkungan. Sampai saat ini hanya sedikit penelitian mengenai dampak desentralisasi atas pengelolaan lingkungan secara umum dan AMDAL secara khususnya. implementasi AMDAL kemungkinan besar akan tidak stabil untuk masa depan yang dapat diperkirakan. Kedua pilihan dapat berarti berfokus kepada mempromosikan . demikian juga berbagai standar internasional yang diperkenalkan melalui berbagai proyek donor. dalam hampir semua kasus.kembali kepada Kementerian Negara untuk Lingkungan (KLH) pada saat ini. meskipun terdapat variasi dalam kapasitas dari daerah ke daerah dan dari kabupaten ke kabupaten. Re-konsentrasi otorita hukum dan administrasi dan upaya lebih lanjut untuk memperkuat kapasitas teknis di tingkat propinsi dapat memberikan pilihan lain.

dalam semua studi kasus menunjukkan baik kelemahan maupun kekuatan yang signifikan. Dalam sebuah negara sebesar dan dengan sebanyak variasi seperti Indonesia sudah jelas bahwa standar nasional seakan-akan tampak generik dari perspektif sebagian besar pemerintah daerah. sebagai suatu cara untuk meningkatkan transparansi dari proses pengkajian dan untuk memastikan bahwa para anggota Komisi dapat mengeluarkan komentarkomentar yang lebih mengandung informasi. Madang kala. Temuan Studi Kasus Bagian ini merangkum temuan studi kasus di mana terdapat contoh praktek yang baik bagi AMDAL yang diidentifikasi di tingkat propinsi dan daerah baru-baru ini dan faktor mendasar yang dijajaki. serta tingkat partisipasi dan komitmen dari para pengembang. Dengan demikian aksi yang langsung umumnya merupakan cara yang lebih disukai untuk mengadakan perubahan. tersedianya professional yang kompeten. Pemerintah daerah seringkali meminta bimbingan tambahan yang cukup rinci dari pusat untuk mendukung pelaksanaan kebijakan nasional. Tekanan politik juga penting akan tetapi merupakan sebuah faktor kontekstual terhadap mana badan lingkungan yang bertanggung jawab dapat melaksanakan pengendalian terbatas. Satu poin awal yang penting adalah untuk mengkaji struktur dan fungsi dari berbagai komisi kajian AMDAL. secara tidak teratur. Namun demikian. namun protes sedemikian jarang dibuat sebagai akibat langsung dari AMDAL. Keterlibatan publik (khususnya dari orang-orang yang terkena dampak proyek) merupakan masalah yang kritis yang mana tanpanya sistem AMDAL secara garis besar akan tetap bersifat birokratis. AMDAL adalah suatu proses yang tidak terlihat atau suatu proses yang ‘dikekang’ oleh birokrasi. Salah satu dari temuan-temuan tersebut secara keseluruhan adalah bahwa tidak satupun dari studi kasus tersebut cukup kuat untuk diklasifikasikan sebagai praktek yang baik secara keseluruhan. mempromosikan keterlibatan publik dalam AMDAL adalah tantangan yang berat. komitmen dan kepemimpinan staf lingkungan senior. Rekomendasi untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari keterlibatan publik dan pengungkapan informasi disediakan melalui suatu laporan yang terpisah sebagai bagian dari dukungan Bank Dunia atas Revitalisasi AMDAL. . Fokus dari serangkaian kategori ini adalah untuk menetapkan sampai batas mana pemerintah daerah telah memulai menafsirkan panduan dan standar nasional secara nyata di daerah setempat. Untuk sebagian besar. Sebagai contoh. Salah satu pendorong Revitalisasi AMDAL adalah untuk mereformasi mekanisme yang ada untuk keterlibatan publik dalam rangka mendorong keterlibatan publik yang lebih besar. Faktor kunci yang mempengaruhi timbulnya praktek yang baik termasuk: tekanan dari masyarakat. BPLHD dari Propinsi Sulawesi Selatan telah berpengalaman dalam mengadakan berbagai rapat Komisi AMDAL di tingkat Kecamatan.kesadaran serta partisipasi publik dikombinasikan dengan mekanisme pertanggungjawaban yang diperkuat bagi para pejabat setempat. 4. Namun demikian beberapa pihak yang lebih inovatif telah juga mulai melaksanakan proses penganutan dan pengadaptasian peraturan dan standar nasional. komunitas setempat memprotes pembangunan baru yang timbul dari perubahan penentuan lokasi dan disain yang signifikan. Perundang-undangan dan pedoman. namun tetap merupakan suatu bahaya laten di Indonesia.Perundang-undangan dan prosedur.

memberikan tantangan secara implisit terhadap pihak lain untuk mencapai standar yang sama. Propinsi Yogyakarta telah mengambil beberapa langkah untuk menganut/menjelaskan prosedur AMDAL melalui penerbitan sebuah Surat Keputusan Gubernur yang menitikberatkan dan memperkuat persyaratan konsultasi masyarakat. langkah tambahan yaitu “mengadaptasi” peraturan dan standar nasional sesuai dengan kebutuhan daerah. Kesimpulan Banyak yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja AMDAL tanpa harus melakukan perubahan secara keseluruhan terhadap sistem. Hal ini terdorong oleh perkembangan yang cepat dalam sektor perumahan dan sektor komersil serta kepedulian masyarakat terhadap biaya lingkungan dan sosial. Pendekatan yang dilakukan memperlihatkan adanya kecakapan di pihak badan pemerintah daerah AMDAL untuk menegosiasikan sebuah hasil yang mengakui dengan jelas peran AMDAL antar departemen pemerintah kunci. Sama pentingnya dengan hasil akhirnya di sini adalah proses pencapaian kesepakatan atas prosedur yang memerlukan “keikutsertaan” dari semua departemen pemerintah pemberi izin. Di daerah yang paling inovatif. Ini didukung oleh sebuah ‘road-show’ yang dilaksanakan oleh instansi lingkungan hidup yang berwenang melalui mana mekanisme AMDAL yang berkaitan dengan perizinan dijelaskan kepada staf teknis dan staf menengah dari semua jajaran pemberi izin. Namun terdapat bebrapa kasus AMDAL yang tidak berjalan sesui yang diharapkan. di mana terjadi pertukaran informasi atas proyek-proyek yang sedang berjalan (project pipeline). . Salah satu contoh yang termasuk baik yang teridentifikasi adalah dari Metropolitan Jakarta yang telah menerbitkan sebuah surat keputusan yang dengan jelas mengintegrasikan AMDAL dengan prosedur perizinan dan perencanaan daerah. misalkan dengan menetapkan komisi AMDAL daerah atau prosedur keterlibatan masyarakat. Yogyakarta dan Surabaya. Contoh yang paling baik ditemukan dalam kaitannya dengan: pelingkupan lingkungan. 5. hal tersebut terjasi karena kurangnya tanggung jawab bagi pengelolah AMDAL itu sendiri dan kurangnya perhatian berbagi pihak yang berada diwilah tersebut. Perjanjian memerlukan sebuah kompromi. Ini terdorong oleh kepedulian masyarakat ditambah dengan perasaan akuntabilitas yang lebih besar antar pejabat pemerintah. yaitu mengizinkan pembebasan tanah bagi pengembangan baru untuk dimulai sebelum persetujuan AMDAL dengan izin mendirikan bangunan (IMB) diterbitkan setelah persetujuan AMDAL. Tendensi untuk berpihak pada lingkungan hidup dari Gubernur Yogyakarta yang sangat dihormati ini juga member dukungan yang lebih kuat kepada BPHLD daerah dalam urusannya dengan departemen pemerintah lainnya. termasuk Metropolitan Jakarta. telah dimulai. Koordinasi yang berkesinambungan dengan pihak berwenang pemberi izin telah tercapai melalui sebuah “Forum” yang dikaitkan ke Komisi AMDAL. secara umum untuk “menganut” peraturan nasional.Dari semua studi kasus paling tidak satu peraturan AMDAL telah diluluskan oleh pemerintah daerah. Kekuatan dari studi kasus adalah bahwa mereka menunjukkan bagaimana hal ini dapat tercapai secara praktis. termasuk kepekaan masyrakat. terutama di daerahdaerah di Indonesia yang lebih berkembang.

Sulawesi Selatan Ir. Kepala BAPEDALDA. Kepala Divisi Dampak Lingkungan Hidup. UNEP (1972) mengadopsi EIA. Tan Malaka Guntur. Bank Dunia (1989) diikuti Bank Pembangunan Asia dan Bank Pembangunan Afrika pun mengharuskan EIA. hanya dikenal amdal proyek tunggal. 20 Januari 2010 | 03:15 WIB Mulai tahun 2010 kita berharap penerapan sanksi lingkungan akan semakin tegas. dan regional. Gunawan Palaguna. penjabarannya melalui PP No 29/1986. Hal ini tecermin pada 19 pasal tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009: tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup. Lingkungan Add comments HArian Kompas. Kepala Divisi Pencegahan Dampak Lingkungan Hidup. Kabupaten Jeneponto. Ridwan Panjaitan. Pendekatannya sektoral dengan 16 komisi amdal pusat. kawasan. BPLHD DKI Jakarta Sulawesi Selatan: Ir. HEFNI EFFENDI Analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) atau environmental impact assessment (EIA) awalnya diintroduksi di Amerika Serikat (1969) melalui National Environmental Policy Act. Kepala BAPEDALDA Sulawesi Selatan Ir. OECD memublikasi Guidelines for EIA (1979). MSi. MSi.Referensi DKI Jakarta: Drs. Pada periode ini. H. Sulawesi Selatan Amdal (Tak) Masuk Laci F. Burhanuddin S. hanya ada 3 pasal soal amdal. Sebelumnya pada UU No 23/1887. MSi. Rabu. Kabupaten Maros.. MS. implementasinya masih terbatas. Mukhtar Patau. dan Masyarakat Eropa (1985) mengeluarkan Directive on EIA. Lalu. Implementasi terbatas Amdal di Indonesia diperkenalkan pada UU No 4/1982 tentang Lingkungan Hidup. serta Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL UPL) untuk kegiatan yang tidak berdampak negatif penting. . Kepala Divisi Lingkungan Hidup. SulawesiSelatan Ir.. H.. Laside. Penegasan EIA sebagai instrumen pengelolaan lingkungan dikuatkan pada Principle 17 Rio Declaration pada tahun 1992. PP No 51/1993 mengintroduksi amdal terpadu..

Amdal akhirnya jatuh sebagai syarat administrasi belaka. hal itu jelas membebani pengusaha yang ingin taat lingkungan. ada kerja sama dengan laboratorium terakreditasi (Permen LH No 05 dan 06/2008). juga latah menyusun amdal! Tidak adanya lisensi komisi penilai amdal juga mengakibatkan kapabilitas komisi dalam menilai amdal juga diragukan. penunjukan otoritas pengelola lingkungan lebih condong ditentukan oleh kedekatan emosional. . dan pemrakarsa amdal. ada anggota dari lembaga swadaya masyarakat (LSM). Walaupun segelintir. Tulisan ”Amdal Masuk Laci” muncul di Kompas (7 Juli 2009). serta tidak adanya sistem registrasi terhadap konsultan penyusun amdal. dan agar komisi diisi orang lingkungan. Amdal belum diapresiasi secara merata oleh kalangan industri. Penguatan amdal Sejak 2004 KLH mencanangkan program Revitalisasi Amdal. Diharapkan tak akan ada lagi amdal yang melanggar tata ruang justru disahkan layak lingkungan. konsultan yang kompetensi intinya bukan lingkungan. untuk membenahi konsultan lingkungan. komisi amdal. 2 orang bersertifikat amdal penyusun. Terkadang di kabupaten/kota tertentu. amdal telah bermetamorfosis 3 kali. Komisi amdal kabupaten/kota wajib beranggotakan 3 orang yang bersertifikat amdal penilai. belum adanya organisasi profesi amdal. yang mewadahi pengembangan profesi. tetapi wajahnya masih karut-marut. tenaga ahli amdal. Untuk membuat amdal ditetapkan.Pengembangan selanjutnya ada pada PP No 27/1999. Kompetensi tak merata Buruknya kualitas amdal juga terkait dengan tidak meratanya kompetensi penyusun amdal. Redesentralisasi dengan dibentuknya sekitar 119 komisi amdal kabupaten/kota dan sentralisasi dengan hanya ada satu komisi amdal pusat di Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH). Badan usaha milik negara pun masih ada yang sama sekali tak punya dokumen lingkungan. Tak aneh. harus ada pelibatan masyarakat dan keterbukaan informasi amdal (Keputusan Bapedal No 8/2000). Pihak KLH melansir 70-80 persen amdal yang dinilai komisi di kabupaten/kota berkualitas buruk hingga sangat buruk. ada tenaga ahli. Kelemahan amdal Seiring waktu. Tak jarang amdal dijadikan instrumen retribusi! Presentasi dokumen amdal di daerah tertentu terkadang dipatok dengan harga fantastis! Pejabat daerah kalau diundang ke Jakarta untuk menghadiri presentasi terkadang minta hotel dan fasilitas mewah. bukan kompetensinya di bidang lingkungan. terutama dengan tidak diimplementasikannya Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.

111. Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah Namun dikarenakan minimnya pengetahuan dari pemerintah dan rakyat dalam memahami AMDAL. Lembaga pelatihan penyusun amdal harus registrasi ke KLH (Permen LH No 11/2008 dan No 06/2009). Adapun metode pelingkupan dan prakiraan dampak kualitas udara telah dibakukan pula. sosek. dan memiliki panduan mutu. Setiap pengusaha tanpa izin lingkungan. UU No 32/2009). Kurikulum pelatihan harus mengacu Kepmen LH No 178/2004 agar multidisiplin amdal terwadahi. Konsultan penyusun amdal harus mendaftar ke KLH. Kajian terpadu yg mempertimbangkan aspek ekologi. adalah merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. dapat dibui hingga 3 tahun dan denda hingga Rp 3 miliar (Pasal 109. MASALAH AMDAL … (1) Ruh AMDAL ketika pertama kali dikeluarkan kebijakan mengenainya. Endang AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yg direncanakan pd LH yg diperlukan bagi proses pengambilan keputusan ttg penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. berbadan hukum. Sehingga AMDAL tidak dapat menjadi sebuah acuan kelayakan sebuah kegiatan berjalan MASALAH AMDAL… (2) .Setiap personal penyusunan amdal yang telah bersertifikat amdal wajib mengikuti ujian kompetensi (Permen LH No 11/2008) yang dilaksanakan oleh Lembaga sertifikasi kompetensi. dan kecenderungan mengutip dokumen AMDAL lainnya sangat tinggi. sosbud sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan Kajian ini dibuat pada tahap perencanaan. Kelak. penyusun dokumen amdal tidak bersertifikat kompetensi. memiliki tenaga ahli tetap yang berkualifikasi ketua tim 2 orang. mulai 3 Oktober 2010. 110. Laboratorium lingkungan terakreditasi harus registrasi. dan pejabat penerbit izin lingkungan tanpa dokumen amdal. tenaga ahli konsultan amdal bisa outsourcing sepenuhnya atau malah hanya pinjam nama. kita berharap menyaksikan kinerja amdal yang makin baik dan penerapan sanksi yang tegas sehingga bunyi sanksi itu tak hanya jadi macan kertas! HEFNI EFFENDI Sekretaris Eksekutif Pusat Penelitian Lingkungan Hidup-IPB Tema: AMDAL Prikaz svih 4 unosa. menjadikan pemrakarsa dan konsultan menggunakan AMDAL sebagai sebuah dokumen asal jadi. Tidak seperti sekarang ini.

analisis dampak lingkungan hidup. MASALAH AMDAL… (4) sangat sering ditemui konsultan (tim penyusun) AMDAL meninggalkan berbagai prinsip dalam AMDAL berupa keterlibatan rakyat dan posisi dalam penyusuan Amdal pasal 33 PP No. Kepmen LH no. 57 tahun 1995 ttg Amdal usaha atau kegiatan terpadu/multisektor. dasar hukum…. 09 th 2000 ttg Pedoman Penyusunan AMDAL. 124/12/1997 ttg Panduan Kajian Aspek Kesehatan . 4 tahun 2000 ttg Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu. Tidak ada penegakan hukum terhadap pelanggar AMDAL. 08 th 2000 ttg Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. 40 tahun 2000 ttg Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Amdal Kepmen LH no. Kadang kala AMDAL justru hanya sebagai alat retribusi. Kepka Bapedal No. Kontribusi pengelolaan lingkungan yang masih rendah.119 kabupaten/kota yang memiliki komisi penilai AMDAL dari 474 kabupaten/kota di Indonesia. masukan publik wajib untuk dikaji dan dipertimbangkan dalam AMDAL pasal 34 PP No. PP nomor 27 tahun 1999 ttg AMDAL. pendapat. Asisten Deputi Urusan Pengkajian Dampak Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup MASALAH AMDAL… (3) Sering dikeluhkan bahwa selama ini AMDAL memerlukan waktu proses yang lama. dan dipandang sebagai komodias ekonomi oleh (oknum) aparatur pemerintah. Kepka Bapedal No. 105 th 1997 ttg Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 12 tahun 1994 ttg Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan dasar hukum… Kep Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal): Kepka Bapedal No. 27/1999 menegaskan kewajiban pemrakarsa untuk mengumunkan kepada publik dan saran. 42 tahun 2000 tth Susunan Keanggotaan Komisi Penilai dan Tim Teknis Amdal Pusat. Menjadi beban biaya. Kepmen LH Nomor 5 tahun 2000 ttg Panduan Penyusunan AMDAL kegiatan pembangunan di Daerah Lahan Basah. Kepmen LH: Kepmen LH No. hanya 50% yang berfungsi menilai AMDAL. bukan sebagai bagian dari sebuah studi kelayakan. Kepka Bapedal No. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. 41 tahun 2000 ttg Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Amdal Kab/Kota. DASAR HUKUM AMDAL: UU Nomor 23 tahun 1997 ttg Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kepmen LH No. 27/1999 menegaskan bagi kelompok rakyat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan. pemrakarsa atau konsultan. 2 tahun 2000 ttg Panduan Penilaian Dokumen AMDAL Kepmen LH No. 17 thn 2001 ttg Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yg wajib dilengkapi dengan AMDAL Kepmen LH No. Kepmen LH No. sehingga sering kali ditemui banyak AMDAL yang justru melanggar tata ruang. Kepmen LH No. 75% dokumen AMDAL yang dihasilkan berkualitas buruk sampai sangat buruk (Hermien Roosita. penilaian kerangka acuan.

Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. serta kemerosotan sumberdaya alam dalam pemanfaatannya. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. luas wilayah penyebaran dampak. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumberdaya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan.Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL. 27/1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) kreteria dampak besar dan penting meliputi: Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. 23/1997 menyatakan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. banyaknya komponen lingk ungan hidup lain yang akan terkena dampak. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. sifat kumulatif dampak. serta lingkungan sumberdaya. d. Kepka Bapedal No. Pasal 3 PP No. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. Kreteria wajib Amdal … (3) Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non-hayati. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Kreteria wajib Amdal … (4) Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut digunakan kriteria mengenai: besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan. Kreteria wajib Amdal … (2) Proses dan kajian yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. jenis hewan dan jasad renik. Kreteria wajib Amdal …(1) Pasal 15 (1) UU No. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan dapat mempengaruhi pertahanan negara. Eksploitasi sumberdaya alam baik yang terbaharui maupun yang tidak terbaharui. lingkungan buatan. 229/Bapedal/11/1996 ttg Pedoman Teknis kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. .

Menampung aspirasi. Disusun sebelum rencana kegiatan dibangun/dilaksanakan. Hasil penilaian menentukan apakah rencana usaha dan/atau direkomendasikan utk diberi izin atau tidak Siapa yg harus menyusun AMDAL? Dokumen Amdal disusun oleh pemrakarsa suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yg berpotensi menimbulkan dampak penting dan belum memliliki kepastian pengelolaan lingkungannya. RKL. RKL dan RPL: Dokumen Andal: mengkaji seluruh dampak lingkungan hidup yg diperkirakan akan terjadi. Kewajiban menyusun dokumen AMDAL didasarkan atas kreteria-kreteria yg telah ditetapkan. Bagaimana dokumen AMDAL disusun? Pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk menyusun dokumen AMDAL. Mengambil keputusan ttg penyelenggaraan/pemberian izin usaha dan/atau kegiatan. Dokumen ANDAL. dan RPL tidak dapat dilaksanakan. akan didirikannya rencana usaha tersebut. pengetahuan. Ketiga dokumen ini diajukan secara bersama-sama kepada Komisi Penilai Amdal utk dinilai kelayakannya. berikut dampak lingkunan yg ditimbulkannya. Kreteria wajib AMDAL mencakup kegiatan: Potensi kegiatan menimbulkan dampak penting. Jika KA-Andal belum/tidak disetujui maka Penyusunan Dokumen ANDAL. Apa saja dokumen AMDAL? Dokumen KA-ANDAL (kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup).Apa guna Amdal?: Menjamin rencana usaha layak lingkungan. Jadi dukumen KA-ANDAL harus disepakati isinya oleh Komisi Penilai AMDAL dan digunakan sebagai acuan penyusunan Andal. Memberikan solusi minimalisasi dampak negatif. Bagi masyarakat Amdal berguna utk: Memberikan informasi secara jelas mengenai suatu rencana usaha. Dokumen RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup) Dokumen RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan) DOKUMEN KA-ANDAL: Disusun terlebih dahulu utk menentukan lingkup studi dan mengidentifikasi isuisu pokok yg harus diperhatikan dlm penyusunan ANDAL Dokumen ini dinilai dihadapan Komisi Penilai AMDAL. . dan pendapat penduduk. sehingga tdk semua jenis kegiatan yg membutuhkan izin memerlukan penyusunan AMDAL. Dokumen RKL dan RPL: rekomendasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup utk mengantisipasi dampak-dampak yg telah dievaluasi dalam dokumen ANDAL. sesuai dgn lingkup yg telah ditetapkan dalam KA-ANDAL. Dokumen ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan Hidup). Tdk pastinya ketersediaan pengelolaan lingkungan hidup dalam mengontrol dampak tersebut. khususnya dalam masalah lingkungan. Menamoung informasi setempat yg berguna bagi pemrakarsa dan masyarakat dalam mengantisipasi dampak dan mengelola lingkungan. dan RPL. RKL.

seorang atau kelompok warga masyarakat yg akibat akan dibangunnya suatu rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut akan menjadi kelompok yg diuntungkan atau dirugikan. Bagaimana proses Amdal? Pelingkupan: proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak penting Kerangka Acuan (KA): ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan Andal: telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan RKL: upaya penangan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan RPL: upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat rencana usaha dan/atau kegiatan Prosedur Amdal? Persetujuan Amdal Lama persetujuan dokumen KA-Andal dan Andal oleh instansi yang bertanggung jawab adalah 75 hari kerja sejak diterima dokumen Andal. Proses penilaian KA-ANDAL. Kegiatan berjalan yg diwajibkan menyusun Audit Lingkungan tdk membutuhkan AMDAL baru. maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. pemrakarsa mengajukan dokumen utk dinilai oleh Komisi Penilai Amdal. pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatannya selama waktu yg ditetentukan. Pemberi izin. (lama penilaian maks 75 hari) . Pengubahan kegiatan yg hanya membutuhkan penyesuaikan RKL-RPL tdk perlu menyusun AMDAL lagi. (ini memberi peluang dan bisa terjadi kolusi disaat tidak adanya keputusan tentang persetujuan AMDAL dalam jangka waktu 75 hari) Apa kaitan AMDAL dgn dokumen/ kajian lingkungan lainnya? Rencana kegiatan yg sudah ditetapkan menyusun UKL-UPL tidak lagi diwajibkan menyusun AMDAL. bagaimana prosedur amdal di Indonesia? Proses penapisan (screening) wajib Amdal (seleksi awal mana kegiatan yg wajib menyusun Amdal atau tidak. Pemprakarsa. RKL. menanggapi masukan yg diberikan dan kemudian melakukan konsultasi kpd masyarakat terlebih dahulu sebelum menyusun KA-ANDAL. Di propinsi berkedudukan di Bapedalda/Institusi pengelola LH propinsi. SIAPA SAJA PIHAK YG TERLIBAT DALAM AMDAL? Komisi penilai Amdal. Warga masyarakat yg terkena dampak. setelah disususn diajukan secara bersamaan utk dinilai Komisi Penilai Amdal. Proses pengumaman dan konsultasi masyarakat. Di pusat berkedudukan di Bapedal/Meneg LH. orang atau badan hukum yg bertanggung jawab atas rencana usaha dan/atau kegiatan yg akan dilaksanakan. Di kab/kota berkedudukan di Bapedalda/Insitusi pengelola LH kab/kota. dan RPL. Format dan materi disusun berdasarkan Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09/2000.Penyusun dokumen AMDAL memiliki sertifikat penyusun AMDAL (lulus kursus AMDAL B) dan ahli dibidangnya. komisi yg bertugas menilai dokumen Amdal. dan RPL Jika instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud. Proses menyusunan dan penilaian dokumen Andal. RKL.

co....id. bentuknya hanya formalitas saja...[exp... Izin perusahaan/usaha sudah keluar sebelum ada dokumen Amdal. Observasi lapangan oleh konsultan hanya 1 atau 2 kali saja/sekedar pelengkap. Indro Sugianto. segala sesuatu tanpa berfikir kesenangan sesaat. Tidak ada sangsi terhadap pelanggaran RKL dan RPL (jika terjadi komplik atau pencemaran lingkungan akibat tidak dilaksanakan RKL dan RPL harus merujuk perangkat hukum lain (semisal UU No. 19/2004 ataupun Kitab Undang-Undang Hukum Pidana/Perdata).. Prosedur hukum berbelit-belit akibat kelemahan dari pengawasan.. namun lama kelamaan hancurlah ekosistem tempat kediaman kita so. Kelemahan Implementasi AMDAL: Dokumen Amdal sering lolos tanpa pertimbangan yg memadai. 41/1999 jo UU No..Kelemahan penyusunan AMDAL: Amdal disusun sekedar memenuhi kewajiban... prije više od godinu dana Kelana btw UU dah diganti UU NO 32 TAHUN 2009 di negara kita kan peraturan bukan untuk di taati atw ikuti tapi untuk DILANGGAR Amdal Lemah. prije više od godinu dana Dadi tugas kita kenapa hukum yg sudah ada dan jelas tertulis namun tidak teralisasi dengan baik. hee....republika. mengatakan unsur .. to the point secara realistis di indonesia cuma hanya ada dua money n politic. Senin.. 23/1997. UU No... Kejahatan Pertambangan Tersu Meningkat www. silahkan mengomentari masaalah apa saja yg berkaitan dengan amdal prije više od godinu dana Gutus ikut gabung boleh ia.. 19:32:00 Jakarta-RoL-..Ahli hukum lingkungan hidup. dn smua itu mnutupi smua hal yg sudah anda paparkan diatas [that's it just cover] dibalik itu semua ada beberppa pihak yang mempunya kepentingan lah yang mempunyai wewenang. Keterlibatan masyarakat dalam penyusunan sangat kurang/tidak ada... adakah yang mampu berjalan dsni. pembukaan kebun kelapa sawit di daerah kal-teng] waktu da penelitian ttg penangnan limbahdan pmapaan pertisida paa pkerja] iaa gtu deh..just for share. 12 Nopember 2007. Pengawasan oleh aparat/instansi terkait tidak berjalan sebagaimana mestinya. melindungi.

ujar Indro. tapi tetap saja izin ditentukan oleh Departemen ESDM. Hal yang juga dirasa Indro sangat melemahkan peran AMDAL dalam upaya mencegah dan meredam kerusakan lingkungan hidup akibat kegiatan pertambangan terletak di metodologi identifikasi." kata dia. "Biasanya mereka melakukan usaha yang termasuk dalam kategori usaha 'wajib memiliki AMDAL'. Trik lain. Lapisan termoklin adalah lapisan dalam perairan laut di mana suhu menurun lebih cepat terhadap kedalaman. "Contoh kasus untuk ini adalah PT Lapindo Brantas di Sidoarjo. lanjut Indro. . sehingga tak jarang sektor pertambangan mengancam bahkan merusak lingkungan hidup. kalau dalam perjalanan operasi tambang ada masalah. adalah dengan membuat izin operasi dengan luas wilayah yang kecil-kecil dan terpencar. padahal seharusnya AMDAL disusun sebelum operasi dimulai." katanya. sehingga tidak wajib AMDAL dan mereka bisa mengeruk bahan tambang di antara titik-titik usaha yang sudah terhubung jalan itu. di Jakarta.lemahnya mekanisme AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) berdampak langsung terhadap peningkatan kejahatan di sektor industri tambang yang berdampak kepada rusaknya lingkungan hidup ." Hubungan pengawasan dan pemberian sanksi serta perizinan inilah. tegas Indro. Lebih lanjut Indro menjelaskan bahwa ada beberapa modus yang kerap digunakan oleh para pengusaha tambang. terkait AMDAL. tapi ternyata mereka tidak punya AMDAL. Contoh kasus ini adalah data lapisan termoklin dalam AMDAL PT Newmont Minahasa Raya (NMR). Siasat lain. Kelemahan paling utama di mekanisme AMDAL. lanjut Indro. Masih kata Indro. kelemahan yang juga dimanfaatkan oleh para perusahaan tambang adalah ketentuan sektoral lintas-instansi yang berbeda-beda tentang jenis usaha yang wajib memiliki AMDAL." kata Indro dalam acara peluncuran buku tentang kasus-kasus pertambangan sepanjang tahun 2003-2004. "Jadi tidak ada hubungan antara pengawasan dan penjatuhan sanksi hasil pengawasan. Senin. yang dimanfaatkan para pengusaha tambang yang bermasalah. sehingga belum wajib menyusun AMDAL. dan evaluasi dampak yang kerap tidak valid. prediksi. "Pengawas AMDAL adalah KLH. adalah dengan membuat AMDAL setelah operasi tambang sudah berjalan. yang ternyata AMDALnya tidak ada karena mereka beranggap bahwa operasi mereka itu belum sampai pada tahap eksploitasi." katanya. terletak pada kewenangan memberi izin di pihak Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan tugas pengawasan yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). maka KLH melaporkan hal itu ke pihak Kepolisian dan Kejaksaan. "Banyak perusahaan tambang yang menyiasati kelemahan mekanisme AMDAL ini. yang kurang tepat.

dan buat pengusaha 10 tahun. ia menawarkan beberapa solusi. Di hadapkan dengan persoalan ini. "Informasi pemrakarsa kegiatan usaha tidak sesuai dengan praktik di lapangan. malah dibangun Lapindo. "Kita tinggal rampungkan pasal-pasal peralihan. "Kalau perlu AMDAL dikaitkan dengan pengaturan sanksi berupa sanksi pidana. antara/abi Posted by : APBI-ICMA Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) “Sebuah Pendekatan untuk Mencapai Pembangunan Berkelanjutan” REP Agung Priyanto | 03 August 2010 | 14:57 166 2 ." kata anggota dewan dari Fraksi PDIPerjuangan tersebut. "Tegaskan ketentuan AMDAL dengan perijinan. sudah saatnya pejabat pemberi AMDAl yang terbukti lalai melakukan tugasnya dikenakan sanksi tegas. sehingga data yang dihasilkan AMDAL juga tidak valid." tegasnya. Sony Kerraf."Metodologinya lemah. Bilangnya akan dibangun peternakan ayam. antara Undang-undang dan kebijakan sektoral." kata Indro. antara lain dengan cara mengharmoniskan peraturan wajib AMDAL. RUU Minerba. masih kata Sony." papar Indro. AMDAL pun kerap ditemui berbeda dengan kenyataan. Di lapangan." "Untuk hal akses informasi." ujar Sony yang juga hadir dalam acara peluncuran buku terbitan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) tersebut. diproyeksikan sudah bisa disahkan menjadi Undangundang pada awal bulan Desember." Menanggapi usulan Indro. Wakil Ketua Komisi VII DPR-RI yang juga mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup. menegaskan bahwa dalam RUU Minerba (Mineral dan Baru bara) telah dicantumkan ancaman sanksi baik administratif maupun pidana kepada para pejabat dan pengusaha yang lalai dalam AMDAL. partisipasi dan keadilan (termasuk konsultasi publik) tidak dilaksanakan secara hakiki. Ia pun menambahkan. dan fungsi pengawasan dengan fungsi pemberian izin harus 'nyambung'. "Ancaman terberat buat pejabat adalah dua tahun penjara.

Selama ini kita mengenal AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) sebagai salah satu instrumen dalam pengendalian pencemaran lingkungan. Dalam pelaksanaannya perlu dipahami bahwa KLHS bukan bertujuan untuk menghalangi pembangunan namun dengan pertimbangan isu lingkungan maka pembangunan yang dilakukan tersebut tidak akan mengurangi daya dukung dan daya tampung dari lingkungan. rencana dan program yang dicetuskan. Lain halnya bila kebijakan. maka KLHS bisa diintegrasikan ketika adanya evaluasi RTRW berkala atau melalui penjabaran atau kegiatan detil dari rencana tersebut. Sebuah kebijakan baru dari pemerintah pusat telah lahir. Kebijakan ini menjadi salah satu upaya pemerintah pusat dalam menyikapi kondisi penurunan kualitas dan kuantitas lingkungan yang semakin memprihatinkan. Salah satu konsekuensi dari era otonomi daerah adalah wewenang pengelolaan lingkungan di daerah menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah. Sedangkan dalam penyusunan KLHS scientific judgement tidak terlalu dikedepankan akan tetapi diskusi publik dari berbagai stakeholder yang berkepentingan dan terkena dampak dari sebuah kebijakan. Dengan begitu KLHS akan tetap bisa fleksibel terintegrasi ke dalam kebijakan walaupun kebijakan tersebut sudah dicetuskan. rencana dan program tersebut telah tersusun misalnya RTRW sebuah Propinsi yang sudah menjadi Perda. Kebijakan ini merupakan sebuah upaya pemerintah pusat untuk mengatasi permasalahan lingkugan mulai dari “hulu”. KLHS bermanfaat untuk bisa mengefektifkan instrument pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan yang lain seperti AMDAL. rencana dan/atau program tersebut. KLHS bermanfaat untuk menunjang sebuah kebijakan agar kebijakan tersebut dapat diterapkan dalam jangka panjang serta bukan kebijakan yang hanya bisa diterapkan dalam jangka pendek karena berdampak besar terhadap lingkungan. Kajian Lingkungan Hidup Strategis wajib dimasukkan ke dalam kebijakan. rencana dan program dapat diprediksi dan dapat diminimalisir dampaknya. Kebijakan ini mewajibkan pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan kajian lingkungan hidup strategis dalam setiap kebijakan. rencana dan/atau program maka KLHS tidak harus menjadi sebuah dokumen tersendiri melainkan menjadi sebuah kesatuan yang terintegrasi dalam kebijakan. Di dalam penyusunan Amdal lebih mengedepankan pada aspek scientific judgement yang biasa dilakukan oleh para pakar yang bersertifikasi. Dalam pelaksanaannya KLHS akan lebih berperan sebagai sebuah pendekatan atau metode daripada sebuah intrumen seperti AMDAL.Nihil. Kepala daerah . Dalam undangundang tersebut disebutkan bahwa KLHS merupakan salah satu instrument untuk pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan. Dengan adanya KLHS ini permasalahan lingkungan yang akan lahir dari sebuah kebijakan. rencana dan program. Dalam pelaksanaannya KLHS akan memasuki Dalam proses integrasi KLHS ke dalam kebijakan. Kebijakan ini di amanatkan dalam UU no 32 tahun 2009 tentang perlindugan dan pengelolaan lingkungan hidup. Ketika KLHS disusun seiring dengan penyusunan kebijakan. rencana dan/atau program mempunyai beberapa alternatif metode. rencana dan/atau program untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan.

Namun semoga KLHS ke depan akan bisa menjadi pendekatan yang efektif untuk menyelamatkan lingkungan kita. Walaupun kebijakan ini memang masih perlu banyak masukan untuk menuju kesempurnaan mengingat Peraturan Pemerintahnya belum ada. rencana dan program itu lahir maka diharapkan anak cucu kita akan masih bisa menikmati alam dan lingkungan yang tetap terjaga. Dengan upaya pertimbangan lingkugan mulai dari suatu kebijakan. rencana dan/atau program. Sebarkan Tulisan: • • • Laporkan Tulisan Beri Tanggapan Beri Nilai o Aktual o Inspiratif o Bermanfaat o Menarik o Menghibur o Biasa o Basi o Tidak Penting o Asal Tulis o Plagiat o Provokatif <p>Your browser does not support iframes. pemerintah yang sejak zaman orde baru sulit memahami dan mengikuti konsepku yang selama ini saya bisikkan kepada pihak ketiga. Demikian juga dengan tingkat keberhasilan dari kebijakan KLHS ini adalah tingkat kepatuhan dari tiap-tiap kepala daerah untuk melaksanakannya KLHS pada setiap kebijakan. suara saya tentang telekomunikasi dikompasiana ini dan dampak lingkungannya dapat didengar dan menghubungi kami. Kelahiran KLHS perlu diapresiasi walaupun pastinya masih banyak memiliki kekurangan. Semoga dengan KLHS. kali ini saya memerlukan pihak ketiga .</p> Tanggapan Tulisan Suharsono Suharsono 4 August 2010 06:52:55 1 ini yang saya tunggu mas Agung.mempunyai peran yang sangat penting untuk menentukan suatu kebijakan apakah dengan mempertimbangkan kepentingan lingkungan atau tidak.

Pembuatan amdal GCS semata dilakukan lewat pendekatan legalistik dan tidak dipandang sebagai instrumen pengendalian. Di Indonesia untuk meminimalkan dampak pembangunan dibuat instrumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). negara-negara anggota Persatuan Bangsa-Bangsa mengadakan konferensi lingkungan hidup. Contoh lainnya adalah pembangunan Perumahan Bukit Mas memperoleh amdal dua tahun setelah perumahan ini dibangun (Kompas. Karena semakin memburuknya kualitas bumi tempat tinggal manusia. 7/12/2005). Dalam dokumen amdal banyak ditemukan dugaan rekayasa (Surya. adalah cermin semakin merosotnya wibawa amdal (analissi mengenai dampak lingkungan) sekaligus sebagai bukti ketidakseriusan pemerintah dan pelaku usaha di Surabaya dalam menghayati fungsi penting dokumen amdal. Balas tanggapan | Beri Nilai Agung Priyanto 6 August 2010 08:59:08 0 halo mas suharsono.lagi sebagai mitra bisnis telekomunikasi yang memikirkan dampak lingkungan tentang penggunaan udara dan frekuensi. maka pada tahun 1972 di Stockholm. . untuk mengenal proses masalalu yang telah berhasil saya bisikkan. Praktik pelaksanaan amdal saat ini masih jauh menyimpang dari semangat peraturan yang telah ditetapkan. Amdal hanya dijadikan persyaratan administratif yang meminggirkan kepentingan publik sehingga menimbulkan berbagai konflik berkepanjangan. sehingga tanpa amdal sebuah proyek pembangunan tetap berjalan. amdal masih bersifat formalitas dan bukan masalah prinsip dan penting. terdapat empat kelemaham penting dalam implementasi amdal di Indonesia: Pertama. menelorkan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan (suistainable development). dapat membaca REVOLUSISPIRITUALBANGSA digoogle dan profilku hanya dikompasiana saja dan telp 02747889345 untuk klarifikasi. Melalui implementasi konsep ini pembangunan yang sedang dan akan berjalan di muka bumi diharapkan tidak menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang dapat mengurangi hak generasi selanjutnya akan sumber daya alam dan terpeliharanya proses ekologi. Surabaya. semoga KLHS bisa memberi harapan untuk lingkungan kita +1 -1 Masih Perlukah Amdal? Kasus Amdal Grand City Surabaya (GCS) yang disusun dosen Teknik Lingkungan ITS yang diprotes warga Ketabang. 3/3).

masih diabaikannya partisipasi masyarakat dalam penyusunan dan persetujuan amdal.Padahal dalam dokumen amdal menentukan dampak penting pada lingkungan dan manusia. (3) intensitas dan lamanya dampak. Mengundang masyarakat berkepentingan untuk memberikan masukan dan tanggapan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan. a. b. Penilaian amdal untuk menentukan apakah suatu kegiatan layak lingkungan atau tidak. berdasarkan Peraturan Pemerintah No 27/1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Masyarakat berperan penting dalam penyusunan dokumen amdal. Amdal memuat prinsip-prinsip partisipatif dan transparan. dampak besar dan penting dari suatu kegiatan ditentukan oleh enam hal. sehingga dalam izin tersebut perlu diatur persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemrakarsa usaha untuk mencegah dampak kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkan. maka dibutuhkan keahlian multidisiplin dalam penyusunan untuk mengidentifikasi berbagai masalah lingkungan dan sosial yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan. yaitu (1) jumlah manusia yang akan terkena dampak. (4) banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak. (5) sifat kumulatif dampak. kualitas amdal masih sangat buruk. Data Bidang Tata Lingkungan. d. pemrakarsa kegiatan wajib mengumumkan kepada masyarakat tentang rencana kegiatan secara terbuka. Amdal adalah kajian ilmiah dampak besar dan penting pada lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia. Pasal 35 PP 27/1999 telah mengatur bahwa semua dokumen amdal bersifat terbuka untuk umum yang dapat diakses oleh masyarakat yang membutuhkan. c. karena mereka akan selalu terlibat dalam empat tahapan penyusunan amdal. Amdal akan memberikan informasi yang relevan bagi pemerintah sebagai pengambil keputusan dalam pemberian izin usaha yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Amdal merupakan kajian ilmiah terhadap lingkungan fisik dan sosial yang sangat kompleks. tenaga ahli. dan (6) apakah dampak yang ditimbulkan dapat terpulihkan atau tidak terpulihkan. Salah satu penyebab buruknya kualitas amdal karena banyak penyusunan studi amdal yang tidak dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli di bidangnya. Kantor Menteri Lingkungan Hidup tahun 2006 menyebutkan Lebih dari 75 persen dokumen amdal yang dinilai oleh Komisi Penilai Amdal di kabupaten/kota berkualitas buruk hingga sangat buruk. Penyusunan amdal masih memprioritaskan kepentingan investor daripada dampak pada lingkungan. Peraturan tersebut memberikan ruang kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengidentifikasi kebutuhan dan kepentingan. Kedua. dan wakil masyarakat. (2) luas wilayah penyebaran dampak. Sebelum memulai penyusunan dokumen amdal. pusat studi lingkungan hidup. . Masyarakat terkena dampak wajib dilibatkan dalam proses penyusunan dokumen amdal. Ketiga. dilakukan oleh Komisi Penilai Amdal yang beranggotakan pemerintah berwenang.

Di Surabaya hanya ada empat orang pengawas amdal di tengah banyaknya aktivitas pembangunan. Kelemahan pengawasan implementasi dokumen Amdal. Mereka menafikan segala kerusakan lingkungan dan kesengsaraan bagi masyarakat di sekitar proyek kegiatannya. Keempat. Amdal tetap diperlukan sebagai perangkat peraturan untuk mendukung pembangunan ekonomi sekaligus melindungi kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan hidup. sehingga segala dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat blow-out seharusnya telah diprediksi sejak awal dalam dokumen amdal untuk mempersiapkan langkah-langkah antisipasi. Bumi ini cukup memberi makan seluruh penduduk Bumi. Pengawasan terhadap pelaksanaan Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana Pantau Lingkungan (RPL) untuk meminimalisasi dampak lingkungan dirasakan masih sangat lemah. Perbaikan implementasi amdal harus menjadi prioritas pemerintah untuk mencegah dampak negatif pembangunan yang berdampak pada penderitaan masyarakat di masa yang akan datang. sehingga tidak ada sanksi tegas dari instansi yang memberi izin kegiatan. Daru Setyo Rini Msi Ecoton .Sungguh menjadi sebuah kejahatan pada lingkungan yang serius bila dalam penyusunan amdal tidak diberikan langkah-langkah antisipasi bila terjadi dampak lingkungan yang mengancam jiwa manusia. Pemerintah harus menjadikan pelestarian fungsi lingkungan hidup sebagai arus utama yang diprioritaskan dalam kebijakan pembangunan. tetapi tidak cukup bagi satu orang yang serakah. Manusialah yang harus menyesuaikan kebutuhannya dalam mengeksploitasi alam dan memperlakukan bumi. Pelanggaran terhadap peraturan amdal sudah dianggap wajar dengan dalih untuk kepentingan pembangunan. Terjadinya blow-out adalah hal yang biasa terjadi dalam kegiatan pengeboran migas. bahkan pemerintah cenderung berpihak kepada kepentingan pemrakarsa kegiatan. Blow out pada kedalaman hampir 3. Akibatnya banyak investor yang gemampang pada implementasi amdal. Dokumen ini akhirnya dimanfaatkan sebagai ‘tameng’ untuk menunjukkan bahwa proyek kegiatannya telah disetujui pemerintah dan layak lingkungan.000 meter di bawah permukaan tanah di Sumur Banjar Panji 1 ini menimbulkan semburan lumpur panas yang menenggelamkan ribuan rumah warga desa di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Tragedi underground blow out akibat pengeboran gas Lapindo Brantas Inc (LBI) adalah salah satu contohnya. Pemerintah dan LBI seharusnya melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar proyek tentang adanya kemungkinan blow-out dan dampak yang akan mereka hadapi serta mempersiapkan langkah antisipasi.

S. Sejak dimulainya revolusi industri tahun 1760 – 1830 (T. Di jakarta misalnya. Kebakaran ini selain dikarenakan faktor alam juga terjadi karena adanya usaha mengkonversi lahan hutan menjadi areal industri oleh oknum serakah. Kerusakan akibat eksploitasi yang mengesampingkan kelestarian alam ini tidak hanya terjadi di Sidoarjo. You can leave a response. Padahal hutan mangrove berfungsi untuk menyimpan air dan penyangga pasang laut (ROB). Api melalap hampir 11. 2007 at 8:19 pm and is filed under Uncategorized. Efektifitas AMDAL dalam Pelestarian Alam Indonesia Efektifitas AMDAL dalam Pelestarian Alam Indonesia Nov 25. hutan mangrove di sekitar pantai ikut di babat. Kasus lain adalah kebakaran hutan secara besar-besaran pada 1997/1998. March 19th. kekayaan ini malah menumbuhkan jiwa-jiwa rakus dan oknum-oknum tak bertanggungjawab.0 feed. Ashton: Wikipedia) setiap negara di dunia berlomba-lomba mengembangkan perindustrian mereka.7 juta hektare lahan hutan dan menghasilkan selimut asap tebal di Asia Tenggara. Mereka hanyalah warga biasa yang selalu nrimo setiap “kebijakan” pemerintah.This entry was posted on Monday. mereka harus terusir dari tanah leluhurnya. Kekayaan alam yang seharusnya dapat mensejahterakan mereka justeru malah menjadi bencana. You can follow any responses to this entry through the RSS 2. Permohonan ganti rugi pun seolah tidak layak mereka teriakkan. akibat reklamasi Pantai Jakarta menjadi tempat hunian mewah. or trackback from your own site. Padahal tidak sampai 10 % dari hasil kekayaan alam yang dieksplorasi dan dieksploitasi PT Lapindo Brantas itu mereka nikmati. Namun saat pemerintah harus legawa menyikapi tuntutan atas musibah yang warga alami. Tengoklah warga Sidoarjo. Sayang. Kerusakan terjadi hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Hal ini terkait erat dengan konversi penggunaan lahan yang tak terkendali dan pesatnya laju pertumbuhan unit usaha dan perindustrian. '08 2:01 AM for everyone Tuhan menganugerahkan kekayaan alam yang melimpah untuk negeri ini. ironisnya dengan pongah pemerintah malah meminta mereka lebih nrimo lagi keadaan yang seperti itu. .

871 juta hektare (2%) per tahun atau 51 kilometer persegi perhari. AMDAL mungkin saja diproseduri namun praktek unit usaha dan perindustrian tetap tidak mengindahkan kelestarian lingkungan. Sehingga Indonesia pun dinobatkan sebagai negara penghancur hutan tercepat oleh Guinnes World Record. asam nitrat dan zat metan. Produk hukum sudah terbiasa menjadi onggokan-onggokan kertas tak berguna. Setiap produk hukum dibuat. Seharusnya dapat disadari bahwa setiap padi di tanam rumput liar akan menyertainya. Selain itu. Lautan tercemari limbah yang mengancam keberlangsungan ekosistemnya begitu halnya dengan udara dipenuhi dengan karbondioksida. niscaya bumi Indonesia ini akan tetap lestari. Padahal biasanya produk itu lahir setelah melalui perjalanan waktu yang alot dan dengan pengeluaran biaya yang lumayan besar. Inilah kelemahan akut pembuat legislasi di bumi pertiwi. Lahan-lahan hutan dibabat untuk dijadikan kawasan industri. Apalagi Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu paru-paru dunia. chlorofluorocarbon. Kesemuanya itu jika tidak cepat ditanggulangi akan meluas menjadi bencana global. Namun faktanya AMDAL tidak cukup efektif dalam mengatasi kerusakan lingkungan. Sebagai upaya menekan dampak kerusakan tersebut. Lagi-lagi terkesan hanya formalitas semata. AMDAL diharapkan dapat mengurangi dampak negatif suatu unit usaha atau industri. Terbukti pada tahun 2007 dimana AMDAL telah diberlakukan kerusakan hutan di Indonesia masih terus terjadi bahkan mencapai kisaran 250 ribu sampai 300 ribu hektare. AMDAL akan lebih efektif jika pemerintah mulai memberikan dukungan yang cukup terhadap lembaga-lembaga yang concern dengan pelestarian lingkungan.Celakanya. Jika saja pemerintah serius dalam upaya pelestarian alam melalui AMDAL. pemerintah melalui UU No 23 tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah No 27 tahun 1999 menetapkan bahwa sebelum suatu unit usaha dijalankan. manusia menjadi cenderung bersifat instan dan tidak bersahabat dengan alam. Dalam catatannya selama kurun 2000 – 2005 tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1. Pepohonan digunduli dan isi bumi berupa barang tambang dieksploitasi besar-besaran. Semuanya menjadi sia-sia karena tidak ditindak lanjuti secara sungguh-sungguh. para pelanggar akan selalu ada. Setidaknya jika yang mencintai kelestarian . terlebih dahulu dilakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Peraturan dan undang-undang seolah dibuat memang untuk dilanggar.

industri listrik perlu energi untuk pembangunan. “Masyarakat belum banyak yang sadar soal ini. Kata dia. kita mencari energi ramah lingkungan. Semoga generasi anak negeri di masa depan tetap dapat menikmati keindahan alam Indonesia. Tags: amdal Prev: Tarawih Ramadhan di Masjid Syuhada Next: “Mengkritisi Ka`idah Pengajaran Mufrodat dari Buku Pengajaran Bahasa Arab: Al-Arabiyah Baina Yadaik Jilid-1” Gusti Muhammad Hatta Minggu. Mochamad Ade Maulidin. . Berikut petikannya. Itu misi yang diusung Kementerian Lingkungan Hidup di bawah kepemimpinan Gusti Muhammad Hatta. Namun juga tetap menjaga kelestarian alam. Misalnya. Termasuk penegak hukum yang belum paham aturan lingkungan hidup.alam lebih kuat maka para oknum perusak dengan sendirinya akan terlemahkan. Sebanyak 48 persennya harus panas bumi. Bukan hanya sebuah dongeng yang dia dengar dari Ibunya. Senin pekan lalu menuturkan banyak hal terkait kebijakan hingga upaya menjaga Indonesia dari kerusakan lingkungan akut. Dongeng tentang eloknya alam bumi pertiwi di masa lampau. Sisanya silakan dari batu bara. menteri ini yang ditemui di rumah dinasnya di Komplek Widya Chandra. red) rencana pembangunan 10 ribu megawatt. Termasuk usulan untuk pemberian sanksi bagi pelaku pembangunan yang menyimpang dari aturan main. Contohnya. instruksi Presiden kepada Menteri ESDM (Energi Sumber Daya Mineral. 10 Oktober 2010 Konsep Ekonomi Hijau. 12 persen dari hidrolik elektro air.” ujar dia. pembangunan tetap jalan. Kenyataannya ada kendalakendala harga satuan panas bumi. dengan konsep itu. Indonesia kelak bukan hanya memikirkan aspek keuntungan dari pembangunan yang menggeliat. Ekonomi Hijau maksudnya. Sejumlah kendala dihadapi dalam penerapannya. tapi lingkungan tetap terjaga dengan didukung aksi nyata. Kepada wartawan Koran Jakarta. Tapi. Agar konsep ini dapat diterima pihak swasta sebagai salah satu kunci pelaku pembangunan. Apa target Kementerian hingga 2014? Tujuan dan sasarannya mewujudkan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara integrasi guna mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan dengan menekankan pada ekonomi hijau. sejumlah insentif diusulkan Kementerian Lingkungan Hidup. Namun misi itu tampaknya perlu upaya gigih untuk direalisasikan.

Merah dikenakan pada 83 perusahaan. benar sekali. Bukannya usulan itu justru bisa mengurangi pemasukan negara? Kalaupun pajak sedikit. kalau enggak ada air. Artinya.turut. ada ribuan jumlahnya. Tahun 2008 yang diumumkan 2009. Yang sedikit melakukan pelestarian lingkungan atau ogahogahan merah. tapi kalau pencemaran lingkungan juga kecil. namun tidak terlalu besar. apa sanksinya? Kami masih merancangnya. tapi tidak separah batu bara. Kami juga telah mencoba menggunakan energi matahari untuk energi kantor. Yang telah memenuhi syarat lingkungan hidup diberi warna hijau. membangun eco office berupa gedung di mana cahaya mudah masuk sehingga tidak diperlukan penerangan ketika siang. Bagaimana dengan energi panas bumi? Panas bumi mengganggu hutan. maka perlu menentukan harga jual. Salah satu yang menerapkan adalah Gubernur Bali yang membuat peraturan daerah tentang kewajiban bagi hotel baru untuk memanfaatkan energi matahari untuk 70 persen sumber listriknya. kami beri warna hitam. di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. misalnya? Nuklir itu energi yang cukup bersih. Kalau perusahaan itu hitam berturut.Karena. Kalau warnanya hijau. kami usul agar bunga kreditnya dikecilkan. Tapi kami sedang melobi bankir-bankir agar perusahaan itu tidak diberikan pinjaman. Energi nuklir. salah satu misinya menggerakkan pemanfaatan energi alternatif? Ya. kami baru mampu menilai 690 perusahaan. enggak ada gunanya. Kementerian masih mengizinkan orang menggali panas bumi. pemerintah mau ke sana. Apa yang dilakukan Kementerian kepada perusahaan yang melanggar? Kami beri warna industri-industri. Karena hutan menghasilkan air. Meski pencemaran lingkungan juga bisa membuat orang mati. Panas bumi kaya tangki panas. Sedangkan petugas kami terbatas. Kami sudah membuat berbagai macam eco office guidance itu dan telah disebarkan ke berbagai instansi. Kapan evaluasi ini dilakukan ? Setiap tahun kami umumkan ini. . Sejauh ini. Untuk panas bumi. Maka panas bumi ada hutan di atasnya. Sudah berapa sanksi yang diberikan Kementerian mengenai pelanggaran kuasa pertambangan batu bara itu? Baru dua kali. Termasuk agar pajak mereka dikurangi untuk perusahaan yang peduli lingkungan. walaupun merusak hutan. Habis itu aku kirim surat ke gubernur dan bupati untuk menindaklanjutinya. tapi kita trauma tragedi Chernobyl. masih banyak perdebatan. Apa konsekuensinya dan sebagainya. Maka itu saya juga meminta deputi dan pemerintah daerah untuk memantaunya. Yang meningkat lebih sedikit dari itu diberi warna biru. Yang tidak melakukan pelestarian lingkungan sama sekali. misalnya. kita akan melakukan pengawasan lebih ketat. Apakah semua perusahaan telah dievaluasi? Terus terang industri di Indonesia itu kan banyak. Apakah Kementerian sendiri telah menerapkan konsep Ekonomi Hijau itu? Kami berusaha membangun kantor yang ramah lingkungan. Termasuk membuat biopori di halaman kantor. maka biaya penanggulangan masalah lingkungan hidup juga kecil kan? Daripada sebaliknya. Bagi yang tetap menggali batu bara.

UU-nya kuat. Jakarta juga sudah terlalu banyak pembangunan yang menutupi air masuk ke tanah. Kalau menurut UU Lingkungan Hidup. Lalu. Siapa saja yang pernah kena sanksi? Banyak. minimal 30 persen. Pertamina pernah juga. prediksinya lemah. Di setiap provinsi ada angkanya. Idealnya seperti apa agar areal pertambangan tidak terlalu merusak lingkungan? Idealnya 30 persen bisa untuk penutupan lahan. Apa kendala menyeret perusahaan pelanggar lingkungan ke pengadilan? Kalau dulu mereka menolak. cuma hakimnya kami minta kuatlah. Jadi benar ada kemungkinan Jakarta akan tenggelam pada 2030? Saya tidak setuju karena itu pengertian permanen. Ada yang diberi wewenang kepada provinsi. pelakunya bisa dipidana. Kalau La Nina masih datang. kami hitung pertambahannya. Itu kami dukung untuk dimenangkan. Setiap kabupaten membangun kebun jenis asli.Ada perlawanan dari perusahaan dalam penerapannya? Aku maunya pembinaan dulu sebetulnya. Pengacaranya hebat. Karena. Jakarta hanya sebesar 9.6 persen. 10 persen atau 15 persen yang ada di Jawa. Jadi. Aku harap 2011 akan naik lagi. Apa ada reward bagi daerah yang menyediakan lahan hijau? Kami memotivasi kabupatenkabupaten supaya meningkatkan luasan cakupan. Kedua. red). Kalau di hulu-hulu per wilayah minimal 30 persen. kami bukan melanggar. Dulu kita tidak pernah Amdal (analisis dampak lingkungan. Apa pendapat Anda? Kami punya Indeks Kualitas Hidup. Kalau dilihat per pulau. misalnya karena aspal atau beton ditambah buang sampah sembarangan. dia berargumen. Jadi tahu permasalahannya di mana? Kendalanya di mana? Baru cari solusi. Kadang-kadang yang dipanggil mencari saksi ahli. memang bisa banjir. Kemudian. berapa yang rusak dihitung lalu masyarakat dapat ganti rugi. Siapa yang bisa menambah dari yang ikut itu kami beri 500 juta rupiah. Pertama. Padahal itu untuk memprediksi apa yang akan terjadi secara holistik. karena ini bukan B3. Bagaimana perkembangan kerja sama dengan Norwegia dalam pengurangan emisi . Kelemahan Amdal ini mungkin pertama ada yang kewenangannya diberikan kepada kabupaten. Itu kurang. Ada yang masuk penjara karena membakar hutan. Ada yang mengatakan tahun ini Jakarta bakal dilanda banjir besar. yang paling jelek itu Jawa. penutupan lahan. banyak manfaat yang diperoleh seperti penyimpanan air. Tapi kami coba perdata. misalnya Adaro pernah kami beri sanksi. Saya lebih sepakat dengan istilah Jakarta terendam. kualitas air dan ketiga soal kualitas udara. Berbicara penutupan lahan. kemudian warga menggugat 20 miliar rupiah. kami membentuk kebun-kebun genetik. kalau ada kerusakan lingkungan sampai menyebabkan kematian. Padahal itu disebut harus 30 persen. Di Pertamina melakukan pencemaran.79. Maunya 60 ke atas. Kalau di perkotaan ruang terbuka hijau. Lalu ada tiga kriteria yang dijadikan Indeks Kualitas Hidup. penyerapan pencemaran dan habitat binatang. Kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup sertifikat Amdal dapat dievaluasi. Secara nasional nilainya baru 59. Ini kan menunjang sektor kehutanan.

Apa target jangka panjang Kementerian? Menurunkan emisi karbon 26 persen. Jangan lagi ada izin di hutan primer. hanya diimbangi. Kalau bisa dua tahun dulu dicoba jangan ada izin di hutan gambut. Gara-gara hutannya tidak dimacam-macamin. reputable. kapan musim kering atau hujan untuk jadwal penanaman. Itu harus terukur. memperbaiki pendekatan pengelolaan lingkungan di Indonesia tidak akan mudah. favorable). Tugas Kementerian adalah pembinaan. Ada dua alasan untuk kinerja yang buruk. kalau teknis banyak sektor. Padahal lahan banyak. Kalau Kementerian mengatakan hutan jangan berkurang harus melakukan penanaman. Ada juga perusahaan yang bilang tidak ada lahan lagi nih. Kalau di hutan boleh mengambil non kayunya. Yang saya sebutkan tadi telah masuk RAN dan sudah ditandatangani Presiden. Tapi presiden belum mau. Namun. namanya MRP (measurable. Dalam itu siapa berbuat apa dan di mana. Tapi target itu direncanakan baru tercapai pada 2020. BMKG (Badan Meteorologi. Kementerian Kehutanan yang mengerjakannya. Ada penanaman pohon. meskipun terdapat investasi yang substansial pada kebijakan lingkungan dan pengembangan kepegawaian.karbon? Kerja sama dengan Norwegia tetap jalan. pelaksanaan peraturan dan prosedur di lapangan masih . info AMDAL Kliping Internet (0216) Rabu. Klimatologi dan Geofisika) memberikan informasi sejak awal kepada petani. Norwegia enggak minta macam-macam. Orang kadang berpikir membandingkan dengan negara lain. Mereka mau yang ada hutannya. red). 16 Desember 2009 Reformasi AMDAL dan Desentralisasi Peluang Inovasi di Indonesia Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sedang berupaya agar Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dapat berjalan dengan efektif di daerah-daerah yang baru diberdayakan. Pertama. nanti dulu kita harus bagus menjaga hutan dulu. Apa yang dilakukan untuk mencapainya? Kami melakukan mitigasi dengan adaptasi karena dampak perubahan iklim sudah terjadi. Norwegia mau memberikan bantuan kenapa enggak diambil sekitar 30 juta dollar AS. masyarakat tidak bisa memanfaatkan katanya. karena banyak airnya. Sebelum kerja sama ini Indonesia telah melaksanakan RAN (Rencana Aksi Nasional. Contohnya.

kualitas dan efektivitas keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL sejak dikeluarkannya Keputusan Kepala BAPEDAL No. namun kebanyakan malah mengendurkan atau bahkan mengabaikan standar-standar nasional sama sekali. mengidentifikasi berbagai contoh praktek yang baik dan mengkaji faktor-faktor kritis yang menyumbang kepada peningkatan kinerja. Meskipun sebagian inovasi ini memperkuat pengendalian lingkungan. Karena landasan nasional ini sering diabaikan maka KLH meminta Bank Dunia agar bekerja sama dalam merevisi kebijakan yang ada dan kerangka kelembagaan AMDAL. Empat studi analitis pendukung dirancang untuk memperkuat dan menentukan hasil-hasil percontohan di tingkat provinsi.5MB) Apa yang Dilakukan untuk AMDAL – Studi tentang Praktek Baik yang Baru Diperkenalkan kepada Provinsi-Provinsi Tertentu di Indonesia. 27/1999.Partisipasi Masyarakat dan Akses ke Informasi AMDAL Studi ini meninjau tingkat. Studi Analitis AMDAL Laporan Pemeriksaan 2004 membantu menetapkan sejumlah masalah utama untuk diteliti. Hal ini dimaksudkan sebagai masukan untuk merevisi Keputusan 8/2000 yang dilaksanakan KLH pada tahun 2006.buruk. Dua percontohan tingkat provinsi (di Jawa Barat dan Kalimantan Timur) meneliti bagaimana sistem AMDAL terpusat saat ini dapat ‘divariasikan’. dan mengidentifikasi prasyarat untuk revisi yang akan dibuat . Sebuah indikasi kesesuaian praktek yang baik dengan pengalaman internasional diberikan melalui perbandingan dengan negara-negara berpenghasilan menengah. percontohan daerah. sehingga prioritas di berbagai daerah dapat ditentukan berdasarkan kapasitas dan kebutuhan yang ada. Pengkajian Risiko. Kajian ini memerlukan gabungan Studi Analitis. Laporan ini juga mengkaji pengalaman Indonesia di masa lalu dalam menerapkan instrumen-instrumen ini. Download (pdf 2. atau menciptakan prosedur peraturan yang seluruhnya baru. dan dialog kebijakan di tingkat nasional maupun daerah. masalah-masalah ini kemudian disaring lagi melalui konsultasi dengan KLH dan pemegang saham daerah untuk memaksimalkan kesesuaian dengan program Revitalisasi AMDAL. Studi ini meninjau dengan cermat serangkaian AMDAL yang baru diselesaikan. 08/2000. Instrumen Kebijakan Alternatif untuk Pengelolaan Lingkungan di Indonesia Studi ini meninjau empat instrumen kebijakan lingkungan prioritas yang dianggap oleh KLH sebagai pelengkap bagi sistem AMDAL. Kajian AMDAL Bank Dunia mengupas masalah inti untuk menyesuaikan sistem peraturan pengelolaan lingkungan dengan perubahan kondisi desentralisasi. banyak provinsi dan kabupaten membuat interpretasi baru mengenai peraturan-peraturan yang ada. yaitu Pengkajian Lingkungan Strategis. Output dari Studi akan menentukan pengembangan rancangan dokumen kebijakan yang menjadi dasar untuk revisi Peraturan AMDAL No. Kedua. Audit Lingkungan dan Pengkajian Lingkungan secara Cepat.

Untuk mendukung upaya Revitalisasi AMDAL Kementerian Lingkungan Hidup. sebuah Proyek Percontohan Daerah telah diadakan sebagai bagian dari Program Reformasi AMDAL – Menghubungkan Kemiskinan. Proposal dalam laporan ini mengusulkan bentuk pelaksanaan yang menghasilkan gagasan-gagasan yang lebih konkrit untuk mendesentralisasi AMDAL dengan mengembangkan ‘Model-Model AMDAL Spesifik-Daerah’. Pada tanggal 9 Juni 2004. menawarkan rancangan dan pendekatan yang dianggap paling strategis saat ini. dan mengundang Bank Dunia untuk memberikan ulasan dari perspektif pengalaman internasional. KLH mengadakan sebuah lokakarya nasional tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan pelaksanaannya. Konsultasi AMDAL KLH – Lokakarya AMDAL Daerah Dari bulan April sampai Oktober 2004. Tim AMDAL Bank Dunia mengadakan lokakarya satu hari di Jakarta untuk membagikan dan membahas temuan-temuan penting dan implikasinya terhadap Program Revitalisasi AMDAL Pemerintah dalam rancangan laporan akhir tentang praktek AMDAL yang baik di Indonesia dan pelajaran yang dipetik dari pengalaman internasional. Lingkungan dan Desentralisasi Laporan Akhir Proyek Daerah. AMDAL dan Pelaksanaannya Pelaksanaan AMDAL masih menjadi salah satu tema reformasi AMDAL yang diusulkan oleh KLH. Program Reformasi AMDAL – Menghubungkan Kemiskinan. Disusun secara spesifik untuk kegiatan percontohan yang sedang dipertimbangkan. dan menjelaskan kepada para pejabat lingkungan hidup dan pejabat pemerintah lain gagasan-gagasan utama dari program Revitalisasi AMDAL yang disponsori oleh KLH yang dilaksanakan dari tahun 2004 sampai 2006. . membahas. Percontohan AMDAL Daerah Kegiatan Percontohan untuk Mendesentralisasi AMDAL Proposal Awal.terhadap Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan tahun 1997 guna memperkuat sistem pengelolaan lingkungan Indonesia secara keseluruhan. Apa yang Dilakukan untuk AMDAL? Pada tanggal 30 Mei 2005. KLH dengan sebagian dukungan dari Bank Dunia menyelenggarakan serangkaian lokakarya tingkat nasional dan daerah untuk mempresentasikan. Lingkungan dan Desentralisasi” oleh Bank Dunia.

Sumber : http://web. di Surabaya dan Jakarta. Sudah bukan rahasia lagi bila komponen kegiatan atau proyek Amdal telah terdegradasi menjadi formalitas perizinan yang memiliki konsekuensi biaya. LSM. Dalam setiap diskusi. Qipra Galang Kualita memfasilitasi acara konsultasi tingat nasional selama satu hari untuk membagikan dan membahas temuan-temuan penting dari studi tentang partisipasi masyarakat dan akses ke informasi AMDAL sebelum menyelesaikan dan menyampaikan laporan kepada KLH. instansi pemerintah daerah dan pusat.worldbank. ketika memberikan sambutan pada Rapat Kerja Nasional Amdal 2006. Tujuan utama studi ini adalah untuk menilai potensi untuk memperkenalkan lebih banyak jenis instrumen kebijakan lingkungan sebagai dasar untuk memperkuat AMDAL. Pembahasan mengenai Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi AMDAL Pada tanggal 14 dan 22 Februari 2006. Selasa. Ia mengatakan bahwa saat ini juga masih ditemukan anggota Komisi Penilai Amdal yang melakukan penyusunan dokumen Amdal.contentMDK:21562642~pagePK:141137~piPK :141127~theSitePK:447244.12 Menteri LH: Amdal Terdegradasi Jadi Formalitas Perizinan Selasa.00. Instrumen Kebijakan Alternatif untuk Pengelolaan Lingkungan di Indonesia Pada tanggal 16 Februari 2006 di Jakarta. Salah satu kelemahan yang diakui dari AMDAL adalah bahwa AMDAL menjadi satu-satunya alat pengelolaan lingkungan dengan penerapan yang luas sehingga cenderung dipergunakan secara berlebihan. katanya di Jakarta. Para peserta penting yang hadir antara lain meliputi para wakil dari sektor swasta. dan komunitas donor internasional. KLH dan Bank Dunia mensponsori lokakarya untuk mempresentasikan dan membahas dengan para wakil akademisi dan praktisi lingkungan hidup temuan-temuan studi yang diadakan oleh Hatfield Indonesia.html Diposkan oleh empat tiga blog di 00. 9 Mei 2006 21:35 WIB | Peristiwa | | Dibaca 98 kali Jakarta (ANTARA News) .org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFICE XT/INDONESIAINBAHASAEXTN/0. Tim AMDAL KLH mengadakan pertemuan dengan para stakeholder AMDAL dari daerah-daerah lain (yaitu Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur) untuk membahas gagasangagasan yang timbul dari percontohan daerah mengenai caranya meningkatkan proses AMDAL saat ini. .Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar mengatakan kebijakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) kini telah terdegradasi menjadi formalitas perizinan yang memiliki konsekuensi biaya.. diundang sekitar 25 sampai 30 peserta.Keterlibatan Masyarakat dalam AMDAL Pada tanggal 20 Juni 2005.

27 Tahun 1999. Saat ini hanya 119 kabupaten/kota atau 75 persen dari jumlah kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki Komisi Penilai Amdal. kata dia. akan memberi pengalaman empiris yang bermanfaat bagi kegiatan revitalisasi Amdal. Oleh karena itu. ia meminta pemerintah daerah menyikapinya dengan bijaksana.(*) COPYRIGHT © 2006 Ikuti berita terkini di handphone anda http://m. Pembenahan itu. revisi dan penetapan suatu peraturan perundang-undangan Amdal yang baru. Lebih dari 75 persen dokumen Amdal yang dinilai oleh Komisi Penilai Amdal di kabupaten/kota pun."Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi kewenangan menilai dokumen Amdal diperlakukan sebagai kesempatan untuk memeroleh pendapatan tambahan.29 Tahun 1986 tentang Amdal. penyusunan. kebijakan itu belum dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengelolaan lingkungan." ujarnya. yakni sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. Kementerian Lingkungan Hidup akan membenahi kekurangan-kekurangan yang masih dirasakan dalam sistem Amdal yang ada. "Desentralisasi penilaian Amdal tidak seharusnya dilakukan hanya untuk memenuhi kepentingan jangka pendek aparat birokrasi daerah. berkualitas buruk hingga sangat buruk. "Dan hanya 50 persen dari 119 Komisi Penilai yang berfungsi menilai Amdal. kata dia. lanjut dia.antaranews. yang kemudian direvisi dengan PP No. Amdal menjadi tumpuan masyarakat untuk mengatasi berbagai persoalan termasuk persoalan lingkungan hidup dan isu-isu yang terkait lainnya." katanya. Padahal. ia melanjutkan. Kebijakan Amdal telah dilakukan selama 20 tahun di Indonesia. Ia menjelaskan pula bahwa konsep Amdal yang dipercepat. akan dilakukan dengan melakukan pembahasan. Sehubungan adanya tuntutan pendelegasian kewenangan penilaian AMDAL kepada masing-masing daerah." jelasnya." kata Asisten Deputi Urusan Pengkajian Dampak Lingkungan Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan Hermien Roosita. "Dokumentasi dari praktik-praktik terbaik pelaksanaan Amdal perlu ditekuni dan dijadikan dasar untuk perbaikan Amdal pada masa depan. akan tetapi lebih untuk menjamin pelaksanaan Amdal yang baik.com . Namun. yang sedang dilakukan di Aceh dan Nias dalam rangka rekonstruksi pasca-tsunami.

Pengalaman implementasi berbagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup. hutan dataran rendah. Bila dua dekade lalu laju kerusakan hutan di Indonesia ditengarai sekitar 1 sampai 1. Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya hal tersebut. Salah satu faktor strategic yang menyebabkan terjadinya hal ini adalah karena portofolio KRP pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan yang diluncurkan pemerintah (KLH di Pusat. instrumen AMDAL belum memadai dalam memberikan jalan keluar terhadap dampak lingkungan . tidak menyatu (embedded) atau tidak terintegrasi. social. Bagai gayung bersambut. budaya. etika. pesisir dan laut. Pencemaran air dan udara di kota-kota besar dan wilayah padat penduduk juga telah berada pada ambang yang tidak hanya membahayakan kesehatan penduduk tetapi juga telah mengancam kemampuan pulih dan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya hayati. tampak tak berarti atau kalah berpacu dengan kecepatan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Kebijakan. menunjukkan bahwa meskipun AMDAL sebagai salah satu instrumen pengelolaan lingkungan cukup efektif dalam memasukkan pertimbangan-pertimbangan lingkungan alam rancang-bangun proyek-proyek individual. dari faktor demografis. ekonomi. Dalam dua dekade terakhir ini laju kerusakan sumberdaya alam dan pencemaran lingkungan di Indonesia semakin terns meningkat dan tidak menunjukkan gejala penurunan.KLHS: PENTINGNYA PENERAPAN KLHS DI INDONESIA There are no translations available. tapi secara konsep pembangunan menyeluruh. rencana dan program (KRP) pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan yang telah diluncurkan pemerintah sejak tiga dekade lalu.2 juta per tahun. kini telah mencapai 2 juta hektar per tahun. pantai. rantai kerusakan tersebut kemudian menjalar dan meluas ke sungai. hingga faktor institusi dan politik. utamanya AMDAL. danau. atau Bapedalda provinsi/kabupaten/kota) cenderung "terlepas" atau "terpisah" dari KRP pembangunan wilayah dan sektor.

Dengan demikian. Penanganan dampak lintas wilayah dan lintas sektor ini diharapkan dapat menjadi jalan keluar atas permasalahan lingkungan hidup yang cenderung makin kompleks dengan hidup telah dijadikan pertimbangan dalam setiap tingkatan pengambilan keputusan. distorsi pelaksanaan Undang-Undang No. KLHS merupakan suatu upaya sistematis dan logis dalam memberikan landasan bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan melalui proses pengambilan keputusan yang berwawasan dilaksanakannya. secara substansial. dampak tidak langsung. tujuan KLHS juga mengalami lingkungan bahwa yang semata-mata pelaksanaan ditujukan KRP pada komponenlingkungan komponen KRP. Dalam konteks pergeseran strategi mewujudkan pembangunan berkelanjutan inilah peran KLHS menjadi penting. pergeseran orientasi kebijakan pengelolaan lingkungan telah mengarah pada intervensi di tingkat makro dan pada tingkat hulu dari proses pengambilan keputusan pembangunan. keberlanjutan pembangunan dapat lebih terjamin (Annandale dan Bailey. Esensinya adalah bahwa kerjasama antar pelaku pembangunan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan akan lebih efektif apabila lebih fokus pada upaya pencapaian pembangunan berkelanjutan pada tingkat makro/nasional daripada terbatas pada pendekatan di tingkat proyek. dan dengan demikian. Implementasi KLHS juga diharapkan dapat mengantisipasi terjadinya dampak lingkungan yang bersifat lintas batas (cross boundary environmental effects) dan lintas sektor. Dengan kata lain. 1999). KLHS seharusnya tidak diartikan sebagai instrumen pengelolaan meyakinkan lingkungan. dan dampak lingkungan sinergistik. 34 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Daerah. Saat ini. atau lebih tepatnya. Seiring dengan semakin berkembangnya KLHS. tapi yang lebih penting adalah sebagai suatu cara untuk implikasi terhadap .kumulatif.

transparansi. Dalam konteks pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam UU No. Manfaat KLHS KLHS diperlukan sebagai sebuah instrument/tools dalam rangka self assessment untuk melihat sejauh mans KRP yang diusulkan oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah telah mempertimbangkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan diharapkan KRP yang dihasilkan dan ditetapkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah menjadi lebih baik. baik di tingkat kabupaten. rencana. namun juga diperlukan kehadiran good governance yang diindikasikan oleh adanya keterbukaan. dan tersedianya aneka pilihan kebijakan. dan Partidario 2000). tahun-tahun pertama aplikasi KLHS agaknya akan banyak didominasi oleh KLHS instrumental. walau tidak tertutup kemungkinan akan adanya KLHS yang bersifat transformatif atau substantif. Membantu menangani permasalahan lintas batas dan lintas sektor. Menjamin keberlanjutan rencana dan implementasi pembangunan.perluasan dibanding ketika pertama kali diperkenalkan pada dekade 1970an. atau program. Oleh karena itu. Pada saat ini teridentifikasi tiga pilihan tujuan KLHS yang tersusun secara berjenjang (hirarkis). KLHS menjadi kerangka integratif untuk: • • • Meningkatkan manfaat pembangunan. 25 Tahun 2004 tentang Sistim Perencanaan Pembangunan Nasional (UU SPPN). untuk konteks Indonesia. atau program . dan rancangan program. yakni: instrumental. Untuk menghasilkan KLHS yang bersifat transformatif atau substantif tidak cukup hanya mengandalkan pada penguasaan prosedur dan metode KLHS. rencana. perumusan strategi. transformatif dan subtantif (Sadler 2005:20. provinsi maupun antarnegara (jika diperlukan) dan kemudian menjadi acuan dasar bagi proses penentuan kebijakan. • Mengurangi kemungkinan kekeliruan dalam membuat prakiraan/prediksi pada awal proses perencanaan kebijakan.

Mengidentifikasi dan mempertimbangkan peluang-peluang baru melalui pengkajian secara sistematis dan cermat atas opsi-opsi pembangunan yang tersedia. Mencegah kesalahan investasi dengan mengingatkan para pengambil keputusan akan adanya peluang pembangunan yang tidak berkelanjutan sejak tahap awal proses pengambilan keputusan. • Memungkinkan antisipasi dini secara lebih efektif terhadap dampak negatif lingkungan di tingkat proyek pembangunan. KLHS mengatasi kelemahan dan keterbatasan AMDAL. Fischer 1999. atau program pembangunan. Merupakan instrumen proaktif dan sarana pendukung pengambilan keputusan. g. rencana.pembangunan. KLHS merupakan instrumen yang lebih efektif untuk mendorong pembangunan berkelanjutan (Briffetta et al 2003). Dengan dilakukannya KLHS pada tataran hulu KRP maka potensi dihasilkannya KRP yang tidak sejalan dengan prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan yang pada akhirnya berimplikasi pada . Tata pengaturan (governance) yang lebih baik berkat terbangunnya keterlibatan para pihak (stakeholders) dalam proses pengambilan keputusan melalui proses konsultasi dan partisipasi. dan kedua. c. Memfasilitasi kerjasama lintas batas untuk mencegah konflik. berbagi pemanfaatan sumberdaya alam. e. Mempertimbangkan aspek lingkungan hidup secara lebih sistematis pada jenjang pengambilan keputusan yang lebih tinggi. f. Melindungi aset-aset sumberdaya alam dan lingkungan hidup guns menjamin berlangsungnya pembangunan berkelanjutan. d. Manfaat lebih lanjut yang dapat dipetik dari KLHS adalah (OECD 2006. Sedangkan dua faktor utama yang menyebabkan kehadiran KLHS dibutuhkan saat ini: pertama. b. karena pertimbangan lingkungan telah dikaji sejak awal tahap formulasi kebijakan. KLHS merupakan salah satu instrumen pengelolaan lingkungan hidup yang diterapkan pada tingkat/tataran hulu. UNEP 2002): a. dan menangani masalah kumulatif dampak lingkungan.

dan pemanfaatan sumber daya alam harus diikuti oleh pemeliharaan dan pelestarian karena sumber daya alam bersifat terbatas. olehnya itu. Ikan terakhir telah ditangkap. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup administrator • • • • • • 1 2 3 4 5 /4 Rate ( 4 Votes ) User Rating: Poor Best Share Pada dasarnya alam mempunyai sifat yang beraneka ragam. baik biotik maupun abiotik. bahwa “bumi cukup memenuhi kebutuhan umat manusia. . sangat cocok mengambarkan kesereakahan dan apatisme manusia terhadap alam dan lingkungannya. seperti yang diucapkan oleh Mahatma Gandhi. “Jika Pohon terakhir telah ditebang.terjadinya kerusakan lingkungan hidup dapat diantisipasi sejak dini. Sungai terakhir telah mengering. Manusia baru sadar kalau uang tak dapat dimakan. Sekarang ini. Bumi (alam) sebenarnya cukup untuk memenuhi hajat hidup seluruh manusia. tapi ia tidak cukup untuk memenuhi keinginan satu orang manusia yang serakah. masyarakat dunia mulai sadar bahwa apa yang pernah diungkapkan Mahatmah Gandhi dan pepatah bijak suku Indian tersebut. namun serasi dan seimbang. karena timbul kesadaran bahwa pada akhirnya kerusakan lingkungan akan berdampak pada kehidupan manusia itu sendiri. Berbagai Kelemahan UU No. yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia merupakan sumber daya alam. dengan merosotnya kualitas lingkungan di sertai ancaman global warming. ditandai dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap lingkungan seperti dengan maraknya gerakan-gerakan dan kegiatan kampanye lingkungan di berbagai belahan bumi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manfaat yang diperoleh dengan melakukan KLHS adalah dihasilkannya KRP yang lebih baik dan sejalan dengan prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan. Semua kekayaan bumi. perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan keserasian dan keseimbangan itu.” Namun keserakahan manusia terkadang mengabaikan aspek keseimbangan (equalibrium) yang menimbulkan kemerosotan kualitas lingkungan.” Untaian bahasa bijak orang Indian yang dipopulerkan oleh Greenpeace itu.

Sejak merdeka para pendiri bangsa ini telah memikirkan pentingnya pemanfaatan lingkungan secara lestari dan berkelanjutan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. jaringan hubungan timbal balik antara manusia dengan segala jenis benda. di Bab HAM dan Kebebasan Dasar Manusia. Dalam perkembanganya dengan keluarnya UU No. Namun. berwawasan lingkungan. negara hukum menurut Eropa Kontinental yang di namakan rechtsstaat. meskipun konsep negara hukum dianggap sebagi konsep universal. dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat (3) dinyatakan dengan tegas bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Kemudian juga hak atas lingkungan hidup yang sehat dan baik di Indonesia diakui sebagai HAM melalui ketetapan MPR RI Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia . kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”. Karena itu. negara hukum menurut konsep Anglo Saxon (rule of law). konsep negara hukum muncul dalam berbagai model seperti negara hukum menurut Alquran dan Sunnah atau nomokrasi Islam. Hal demikian. bahwa konsep tersebut selalu dikaitkan dengan konsep perlindungan hukum (Machfud MD dalam Andi Sudirman Hamsah. maka usaha penegakan hukum harus berdasar pada prinsip bahwa hukum harus tetap dipegang teguh.Dalam suatu lingkungan hidup yang baik. Stabilitas keseimbangan dan keserasian interaksi antar komponen lingkungan hidup tersebut tergantung pada usaha manusia. Konsepsi negara hukum pada masa sekarang ini adalah sesuatu yang popular. efesiensi berkeadilan. Sehingga terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungan hidupnya. Di salah pasal pada Dekrasi Nasional tentang HAM menetapkan bahwa. merupakan interaksi antara manusia dan lingkungan. apalagi sebahagian besar negara di dunia ini menganut sistem atau mengklaim negaranya sebagai negara hukum. seyogyanya menimbulkan kesadaran akan pentingngnya keberlanjutan lingkungan hidup yang lestari dan seimbang sehingga hal tersebut perlu di atur dengan jelas. dibawah bagian Hak untuk Hidup.com/2009/11/lg/analisisfilosofi-uu-nomor-32-tahun-2009/). dengan ditempatkan hak lingkungan ini diharapkan semua lapisan masyarakat semakin menjaga kualitas lingkungan hidup dengan perlu dilakukan suatu perlindungan dan pengelolaan yang terpadu. Sebagai negara hukum. dasarnya pada Pasal 28H UUD 1945. karena tegaknya hukum dalam suatu negara hukum merupakan jaminan pengakuan akan hak-hak masyarakat. zat organis dan bukan organis serta kondisi yang ada dalam suatu lingkungan membentuk suatu ekosistem. intragrasi dan seksama untuk mengantisipasi penurunan akibat pemanasan global (Siti Khotijah. 2009: http://gagasanhukum. ideologi negara dan lain-lain. dan konsep negara hukum pancasila (Ridwan HR. Atas dasar itu.2006:1-2).” setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang sehat dan baik. 2007:14).4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tentang Lingkungan Hidup yang diganti dengan UU No. Hubungan yang sedemikian erat dan ketergantungan manusia terhadap lingkungannya. Hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. hak atas lingkungan yang sehat dan baik baru diatur dalam sebuah UU No. Sebaliknya lingkungan pun mempengaruhi manusia.wordpress. yaitu :” Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Di dalam pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. juga ditekankan bahwa pembangunan ekonomi nasional harus selaras dengan masalah sosial dan lingkungan. Kemakmuran berarti harus dapat dinikmati baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Karena manusia adalah komponen lingkungan hidup yang paling dominan dalam mempengaruhi lingkungan. berkelanjutan. Jaringan hubungan dalam ekosistem ini bisa tumbuh secara stabil apabila berbagai unsur dan zat dalam lingkungan ini berada dalam keseimbangan. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh-pengaruh kesejarahan tadi. Pemikiran atau konsepsi manusia tentang Negara hukum juga lahir dan berkembang dalam situasi kesejarahan. Kelemahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup . di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD 1945) telah diatur dalam pasal 33 ayat (3). 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. terjalin suatu interaksi yang harmonis dan seimbang antar komponen-komponen lingkungan hidup. pada daratan implementasi ternyata memiliki karakteristik yang beragam.2007:98) mengemukakan bahwa. secara historis dan praktis. Di Indonesia sendiri.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Emil Salim (dalam Andi Sudirman Hamsah. Hal ini tertuang dalam pasal 33 ayat(4) yaitu“ Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. konsepsocialist legality. disamping pengaruh falsafah bangsa.

bahkan di desa-desa. 32 tahun 2009). seperti dalam hasil survey yang dilakukan oleh Sugeng Suryadi Syndicat tahun 2006 yang mengatakan bahwa kepala daerah kurang peduli terhadap lingkungan hidup.2009:http://www.com/books/1824482-benang-kusut-pengelolaan-lingkungan-hidup/). baik pemerintah. diperkenalkan instrumen baru yang tidak terdapat dalam UUPLH sebelumnya. Dalam pasal ini.4% (Darmansyah. 2009: http://gagasanhukum. Karenannya persoalan lingkungan adalah persoalan kita semua.2009:http://www. pengelolaan lingkungan hidup harus berdasarkan pada dasar hukum yang jelas dan menyeluruh sehingga diperoleh suatu kepastian hukum (Siswanto Sunarso. sehingga justru mereduksi hak-hak masyarakat dalam proses awal pembangunan. dunia investasi maupun masyarakat pada umumnya (Siti Khotijah. Tetapi bila dicermati lebih jauh. Sebagian besar lagi.php?ac-id=NjkzMw==). 32 Tahun 2009 tersebut. Di Indonesia. seperti dalam pasal 26 ayat (2) bahwa” pelibatan masyarakat harus dilakukan berdasarkan prinsip pemberian informasi yang transparan dan lengkap serta diberitahukan sebelum kegiatan dilaksanakan”. 2005:31). UUPPLH ini tidak mencantumkan sanksi apapun bagi pemerintah atau pemerintah daerah yang tidak melakukannya (Anonime. komunitas rasional tidak melebihi dari 5 %. (AgusAdianto. . dari ketigabelas instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang termuat dalam pasal 14 UU no. survei terhadap tingkat pemahaman UU 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang sudah berlaku lebih dari 10 tahun menunjukkan 15 % masyarakat sebuah kota memahami UU tersebut dengan baik.com/webtorial/klh/index. Padahal tingkat pengetahuan masyarakat dalam memahami undang-undang sangat kurang.mediaindonesia.html). tidak seperti halnya analisa dampak lingkungan (AMDAL) yang disertai sanksi berat pelanggarannya. yaitu Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang wajib dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah untuk memastikan terintegrasinya prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan. 9% tidak peduli. tidak diikuti penjelasan seperti apa dan bagaimana bentuk informasi secara lengkap tersebut dan upaya hukum apa yang dapat dilakukan bila hal tersebut tidak dilakukan. Selain itu. juga memasuhkan landasan filosofi tentang konsep pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dalam rangka pembangunan ekonomi. rencana dan/atau program (pasal 15 ayat 1 UU no. cukup peduli 37% dan sangat peduli hanya berkisar 6. sisanya. seperti yang dikatakan Tasdyanto Rohadi (Ketua Umum Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia).duniaesai.shvoong. UUPPLH yang sangat bernuansa ilmiah dan akademis hanya akan mampu dipahami oleh komunitas rasional.Untuk pelestarian terhadap masalah lingkungan hidup sangat kompleks dan pemecahan masalahnya memerlukan perhatian yang bersifat komperehensif dan menjadi tanggung jawab pemerintah didukung pertisipasi masyarakat.wordpress.com/2009/11/lg/analisisfilosofi-uu-nomor-32-tahun-2009/). 2008: http://id. 32 Tahun 2009 menggantikan Undang Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) tahun 1997 yang dianggap belum bisa menyelesaikan persoalan-persoalan lingkungan banyak mendapat apresiasi dan sebagai upaya yang serius dari pemerintah dalam menangani masalah-masalah pengelolaan lingkungan. UU No 32 Tahun 2009. begitupula dalam ayat (4) “masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan keberatan terhadap dokumen amdal” juga tidak di ikuti penjelasan sehingga dapat menimbulkan kerancuan dalam hal yang seperti apa masyarakat menolak dokumen tersebut. 60 % masyarakat kota tersebut tidak mengetahui judul dan substansi pengaturan dengan baik. Keluarnya Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) No. Ini penting dalam pembangunan ekonomi nasional karena persoalan lingkungan kedepan semakin komplek dan syarat dengan kepentingan investasi.com/direktori/esai/42-lingkungan/231waspadai-pelaksanaan-uu-pplh-no-32-tahun-2009. Namun demikian. Yang menyedihkan adalah. dan hal ini menunjukkan bahwa cara menyelenggarakan kebijakan kepada masing-masing segmen tersebut membutuhkan cara dan strategi yang berbeda. yaitu 25 % mengetahui judul tanpa mengetahui substansi pengaturan dengan baik. Mudah-mudahan ditahun 2010 ini kepedulian pemerintah terhadap masalah lingkungan sudah membaik. masih banyak hal-hal yang perlu dibenahi dalam UUPPLH tersebut. Hanya sayangnya komunitas rasional di perkotaan tidak lebih dari 30 %. Hal yang perlu di perhatikan bahwa komitmen pemerintah daerah dalam masalah lingkungan hidup masih kurang. Menurutnya sekitar 47% kepala daerah kurang peduli dengan lingkungan hidup.

32 tahun 2009 yang dimaksud dengan baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup. Perlu dikembangkan suatu mekanisme pelaksanaan biokrasi pada semua level. baku mutu emisi.000. Ketentuan ini akan sangat merugikan karena pencemarnya tidak diungkit sama sekali.000. baku mutu air. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1. dalam rangka pemulihan kondisi lingkungan hidup yang kualitasnya telah mengalami pencemaran dan/atau kerusakan pada saat undangundang ini ditetapkan. Tentunya bila ditelaah dengan baik. berbunyi “Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. biasanya di jabarkan secara rinci tetapi dalam pasal 98 dan 99 UUPPLH terdapat kesalahan fatal karena diabaikannya (dihilangkan) unsur perbuatan melawan hukum yg seharusnya ada selain itu. 2010: http://waspadamedan. baku mutu udara ambient. Kalimat terakhir yang sekaligus penutup dari penjelasan tersebut “dengan tetap memperhatikan kemandirian peradilan merupakan kalimat kunci yang dimaksudkan untuk mematahkan/mementahkan janji dari pasal 66. dan anehnya di penjelasannya juga tertulis “cukup jelas”. mulai dari perumusan kebijakan sampai pada pelaksanaan operasional dilapangan. padahal ketentuan dalam pasal ini bisa melepaskan pencemarnya begitu saja dan pemulihan justru dibebankan kepada pemerintah. Namun dalam penjelasan pasal ini berbunyi bahwa ketentuan ini dimaksudkan untuk melindungi korban dan / atau pelapor yang menempuh cara hukum akibat pencemaran dan / atau perusakan lingkungan hidup dan perlindungan dimaksudkan untuk mencegah tindakan pembalasan dari terlapor melalui pemidanaan dan/gugatan perdata dengan tetap memperhatikan kemandirian peradilan (Edy Rachmad.html). atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. aparat birokrat dan masyarakat bersama-sama perlu memahami biokrasi dan tahu bagaimana melaksanakannya. Artinya diberlakukannya hak perlindungan sebagaimana yang diatur dalam pasal 66 masih harus ditentukan dan diuji lagi oleh peradilan. diperlukan proses yang tidak sederhana dan membutuhkan investasi yang besar sehingga tidak dapat diterapkan dalam waktu cepat (Anonime. baku mutu air limbah.000. sanksi hukum dalam Pasal 101 UUPPLH berbunyi” setia orang yang melepaskan dan/atau mengedarkan produk rekayasa genetik ke media lingkungan hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf g. 2010: http://waspadamedan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran untuk pemulihan lingkungan hidup”.00 (tiga miliar rupiah) serta dalam pasal 102 UUPPLH berbunyi” setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (4). baku mutu air laut. dan baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.000.php? option=com_content&view=article&id=hati-hati-dengan-pasal-66-uu-no32-tahun-2008&catid=63:suratpembaca&Itemd=234). Pasal 66 dari UUPPLH yang perlu untuk dicermati dan kritis adalah pasal 66. zat.00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.php?option=com¬_content&view=article&id=hati-hati-dengan-pasal-66-uuno32-tahun-2008&catid=63:surat-pembaca&Itemd=234).com/index.000.Dalam pelaksanaannya biokrasi memerlukan komitmen yang tinggi dalam semua tatanan.000. Dalam UU No.000. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.com/index.000. tidak ada yang salah dari pasal ini. Sehingga apa yang yang sudah dirumuskan pada tingkat kebijakan dapat dilaksanakan ditingkat operasional. Hal ini justru menunjukkan ketidakpedulian Negara terhadap nilai keadilan akibat kejahatan yg berkaitan limbah B3. baku mutu gangguan.id/berita/migas/40-migas/3197-implikasi-uu-no-32-tahun-2009terhadap-industri-migas-nasional.esdm. Dalam pasal 46. Selanjutnya pada pasal 20 dinyatakan baku mutu lingkungan meliputi.000. Padahal berbagai kasus saksi pelapor seringkali menjadi korban dan kurang mendapat perlindungan serta hak-haknya sering terabaikan bahkan justru jadi korban seperti dalam kasus Susno Duadji.go. apalagi jika dibandingkan dengan sanksi hukum dalam Pasal 108 UUPPLH. Selengkapnya pasal ini berbunyi:”Setiap orang yang memperjuangkan hak atas linkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata”. energi.00 (tiga miliar rupiah). http://www. Bahwa disidang peradilan segala sesuatu (apapun) masih mungkin terjadi termasuk mengabaikan pemberlakuan pasal 66 karena hakim bebas dan memiliki hak mutlak untuk menentukan/menjatuhkan putusannya (Edy Rachmad.000.00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3. Untuk menerapkan baku mutu lingkungan terkait temperatur air seperti yang dipersyaratkan tersebut. .000. Para politisi.000. Unsur-unsur perbuatan melawan hukum dalam hukum pidana.

Program Pascasarjana UNHAS.mediaindonesia. sebagai sarana penunjang maka keampuhan dan kedayagunaannya akan selalu tergantung kepada siapa dan dengan cara bagaimana digunakannya.http://waspadamedan. Sudirman. masih banyak hal-hal yang berpengaruh dalam penegakan hukum lingkungan.com/books/1824482-benangkusut-pengelolaan-lingkungan-hidup/. Dalam masyarakat pedesaan. Online (http://id. tetapi faktor-faktor lain seperti kesadaran masyarakat tidak bisa dinafikan.2010:http://www. 2008. 2009.Online. 2007. 2010.com/webtorial/klh/index. Anonime.000.00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp10. Perlindungan Hukum Terhadap Kars MarosPangkep dalam Rangka Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup pada Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Online. Dan dalam penjelasan pasal 69 ayat (1) huruf h sebagaimana yang dimaksud kearifan lokal dalam pasal 69 ayat (2) yaitu.http://www. Online.duniaesai. Khotijah. Anonime.org/wikihukum-lingkungan2010).go. Jakarta. Sunarso. 2009.wikipedia. Referensi • • • • • • • • • • HR.000. PT Raja Grafindo Persada. Jika hal ini tidak tersosialisasikan ke masyarakat. php?acid=NjkzMw==.shvoong.2010.com/direktori/esai/42-lingkungan/231waspadai-pelaksanaan-uu-pplh-no-32-tahun-2009.id/berita/migas/40-migas/3197implikasi-uu-no-32-tahun-2009-terhadap-industri-migas-nasional.com/2009/11/lg/analisis-filosofi-uu-nomor-32tahun-2009/. Rachmad. 2003. ketentuan hukum (Undang-Undang) memang sangat penting dan berperang dalam hal ini.html.000. Hukum Administrasi Negara. Siswanto.esdm. 2009. Posisi dan peranan aturan tersebut hanyalah sebagai sarana penunjang belaka. http://gagasanhukum. Rineka Cipta. Agus. Sebagimana bunyi pasal 108 bahwa “ Setiap orang yang melakukan pembakaran lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf h. Ridwan. terutama masyarakat pedesaan bisa saja akan menimbulkan permasalahan dan konflik baru.wordpress. masih banyak lahan milik masyarakat (perorangan) yang luasnya diatas 2 (dua) hektar. karena hal ini bisa menimbulkan kesalah pahaman dan kesewenang-wenagan dalam penerapannya. Tesis tidak diterbitkan. . Hukum Pidana Lingkungan Hidup dan Strateg Penyelesaian Sengketa. kearifan lokal yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimal 2 hektare per kepala keluarga untuk ditanami tanaman jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.Di Pasal 108 UUPLH sangat penting untuk dilakukan sosialisasi. Anonime.php? option=com_content&view=article&id=hati-hati-dengan-pasal-66-uu-no32tahun-2008&catid=63:surat-pembaca&Itemd=234. Online.00 (sepuluh miliar rupiah)”. Andi Hamsah. Selain beberapa permasalahan dalam UUPPLH diatas.Edy. Adianto.000.html. Makassar. 2005. Darmansyah. Jakarta. http://id.000. Betapa pun ampuh dan sempurnanya sarana. Online. http://www.com/index. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.Siti. namun jika yang menggunakannya tidak memiliki keterampilan dan kemahiran sudah pasti keampuhan dan kesempurnaan daripada sarana tersebut tidak akan terwujud.

com/2010_08_01_archive.blogspot.Oleh : Ahmad Amrullah Sudiarto Sumber: http://lakeiko.html .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful