P. 1
(5)Makalah Otonomi Daerah

(5)Makalah Otonomi Daerah

|Views: 1,143|Likes:

More info:

Categories:Types, Maps
Published by: Miezbagh Brebedzz Rezpector on Dec 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

Otonomi Daerah

Pendahuluan Beberapa waktu belakangan semenjak bergulirnya gelombang reformasi, otonomi daerah menjadi salah satu topik sentral yang banyak dibicarakan. Otonomi Daerah menjadi wacana dan bahan kajian dari berbagai kalangan, baik pemerintah, lembaga perwakilan rakyat, kalangan akademisi, pelaku ekonomi bahkan masayarakat awam. Semua pihak berbicara dan memberikan komentar tentang “otonomi daerah” menurut pemahaman dan persepsinya masing-masing. Perbedaan pemahaman dan persepsi dari berbagai kalangan terhadap otonomi daerah sangat disebabkan perbedaan sudut pandang dan pendekatan yang digunakan. Sebenarnya “otonomi daerah” bukanlah suatu hal yang baru karena semenjak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia , konsep otonomi daerah sudah digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Bahkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda, prinsip-prinsip otonomi sebagian sudah diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Semenjak awal kemerdekaan samapi sekarang telah terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kebijakan Otonomi Daerah. UU 1/1945 menganut sistem otonomi daerah rumah tangga formil. UU 22/1948 memberikan hak otonomi dan medebewind yang seluas-luasnya kepada Daerah. Selanjutnya UU 1/1957 menganut sistem otonomi ril yang seluas-luasnya. Kemudian UU 5/1974 menganut prinsip otonomi daerah yang nyata dan bertanggung. Sedangkan saat ini di bawah UU 22/1999 dianut prinsip otonoi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab. Pembahasan 1. Pengertian Otonomi Daerah Pengertian otonom secara bahasa adalah "berdiri sendiri" atau "dengan pemerintahan sendiri". Sedangkan "daerah" adalah suatu "wilayah" atau "lingkungan pemerintah". Dengan demikian pengertian secara istilah "otonomi daerah" adalah "wewenang/kekuasaan pada suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah masyarakat itu sendiri." Dan pengertian lebih luas lagi adalah 1

wewenang/kekuasaan pada suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah masyarakat itu sendiri mulai dari ekonomi, politik, dan pengaturan perimbangan keuangan termasuk pengaturan sosial, budaya, dan ideologi yang sesuai dengan tradisi adat istiadat daerah lingkungannya. Sedangkan otonomi daerah menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Pelaksanaan otonomi daerah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang meliputi kemampuan si pelaksana, kemampuan dalam keuangan, ketersediaan alat dan bahan, dan kemampuan dalam berorganisasi. Otonomi daerah tidak mencakup bidang-bidang tertentu, seperti politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter, fiskal, dan agama. Bidang-bidang tersebut tetap menjadi urusan pemerintah pusat. Pelaksanaan otonomi daerah berdasar pada prinsip demokrasi, keadilan, pemerataan, dan keanekaragaman. 2. Otonomi Daerah Saat Ini Otonomi Daerah yang dilaksanakan saat ini adalah Otonomi Daerah yang berdasarkan kepada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Menurut UU ini, otonomi daerah dipahami sebagai kewenangan daerah otonom untuk menatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan prinsip otonomi daerah yang digunakan adalah otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Kewenangan otonomi yang luas adalah keleluasaan daerah untuk menyelengarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan, kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh hidup, dan berkembang di daerah. sedangkan yang 2

dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggung-jawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi, berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semkain baik, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, pemerataan, serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antara Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah dalam UU 22/1999 adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Penyelengaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata dan Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah

demokrasi, keadilan, pemerataan, serta potensi dan keanekaragaman Daerah. bertangung jawab. Kabupaten dan Daerah Kota. tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antara Daerah. Otonom, dan karenanya dalam daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi wilayah administratif. 6. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif Daerah, baik sebagai fungsi legislatif, fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 7. Pelaksanaan azas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Propinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administratis untuk melaksanakan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. 8. Pelaksanaan azas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah, tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa yang disertai dengan pembiayaan sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. Dalam implementasi kebijakan Otonomi Daerah berdasarkan UU 22/1999 yang dilaksanakan mulai 1 Januari 2001 terdapat beberapa permasalahan yang perlu segera 3

dicarikan pemecahannya. Namun sebagian kalangan beranggapan timbulnya berbagai permasalahan tersebut merupakan akibat dari kesalahan dan kelemahan yang dimiliki oleh UU 22/1999, sehingga merekapun mengupayakan dilakukannya revisi terhadap UU 22/1999 tersebut. Jika kita mengamati secara obyektif terhadap implementasi kebijakan Otonomi Daerah berdasarkan UU 22/1999 yang baru berjalan memasuki bulan kesepuluh bulan ini, berbagai permasalahan yang timbul tersebut seharusnya dapat dimaklumi karena masih dalam proses transisi. Timbulnya berbagai permasalahan tersebut lebih banyak disebabkan karena terbatasnya peraturan pelaksanaan yang bisa dijadikan pedoman dan rambu-rambu bagi implementasi kebijakan Otonomi Daerah tersebut. Jadi bukan pada tempatnya jika kita langsung mengkambinghitamkan bahkan memvonis bahwa UU 22/1999 tersebut keliru. 3. Otonomi Daerah dan Prospeknya di Masa Mendatang Sebagian kalangan menilai bahwa kebijakan Otonomi Daerah di bawah UU 22/1999 merupakan salah satu kebijakan Otonomi Daerah yang terbaik yang pernah ada di Republik ini. Prinsip-prinsip dan dasar pemikiran yang digunakan dianggap sudah cukup memadai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat dan daerah. Kebijakan Otonomi Daerah yang pada hakekatnya adalah upaya pemberdayaan dan pendemokrasian kehidupan masyarakat diharapkan dapat mememnuhi aspirasi berbagai pihak dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan negara serta hubungan Pusat dan Daerah. Jika kita memperhatikan prinsip-prinsip pemberian dan penyelenggaraan Otonomi Daerah dapat diperkirakan prospek ke depan dari Otonomi Daerah tersebut. Untuk mengetahui prospek tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satu pendekatan yang kita gunakan disini adalah aspek ideologi, politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Dari aspek ideologi , sudah jelas dinyatakan bahwa Pancasila merupakan pandangan, falsafah hidup dan sekaligus dasar negara. Nilai-nilai Pancasila mengajarkan antara lain pengakuan Ketuhanan, semangat persatuan dan kesatuan nasional, pengakuan hak azasi manusia, demokrasi, dan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat. Jika kita memahami dan menghayati nilai-nilai tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan Otonomi Daerah dapat diterima dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa 4

dan bernegara. Melalui Otonomi Daerah nilai-nilai luhur Pancasila tersebut akan dapat diwujudkan dan dilestarikan dalam setiap aspek kehidupan bangsa Indonesia . Dari aspek politik , pemberian otonomi dan kewenangan kepada Daerah merupakan suatu wujud dari pengakuan dan kepercayaan Pusat kepada Daerah. Pengakuan Pusat terhadap eksistensi Daerah serta kepercayaan dengan memberikan kewenangan yang luas kepada Daerah akan menciptakan hubungan yang harmonis antara Pusat dan Daerah. Selanjutnya kondisi akan mendorong tumbuhnya dukungan Derah terhadap Pusat dimana akhirnya akan dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Kebijakan Otonomi Daerah sebagai upaya pendidikan politik rakyat akan membawa dampak terhadap peningkatan kehidupan politik di Daerah. Dari aspek ekonomi , kebijakan Otonomi Daerah yang bertujuan untuk pemberdayaan kapasitas daerah akan memberikan kesempatan bagi Daerah untuk mengembangkan dan meningkatkan perekonomiannya. Peningkatan dan pertumbuhan perekonomian daerah akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat di Daerah. Melalui kewenangan yang dimilikinya untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat, daerah akan berupaya untuk meningkatkan perekonomian sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan. Kewenangan daerah melalui Otonomi Daerah diharapkan dapat memberikan pelayanan maksimal kepada para pelaku ekonomi di daerah, baik lokal, nasional, regional maupun global. Dari aspek sosial budaya , kebijakan Otonomi Daerah merupakan pengakuan terhadap keanekaragaman Daerah, baik itu suku bangsa, agama, nilai-nilai sosial dan budaya serta potensi lainnya yang terkandung di daerah. Pengakuan Pusat terhadap keberagaman Daerah merupakan suatu nilai penting bgi eksistensi Daerah. Dengan pengakuan tersebut Daerah akan merasa setara dan sejajar dengan suku bangsa lainnya, hal ini akan sangat berpengaruh terhadap upaya mempersatukan bangsa dan negara. Pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya lokal akan dapat ditingkatkan dimana pada akhirnya kekayaan budaya lokal akan memperkaya khasanah budaya nasional. Selanjutnya dari aspek pertahanan dan keamanan , kebijakan Otonomi Daerah memberikan kewenangan kepada masing-msing daerah untuk memantapkan kondisi Ketahanan daerah dalam kerangka Ketahanan Nasional. Pemberian kewenangan kepada Daerah akan menumbuhkan kepercayaan Daerah terhadap Pusat. Tumbuhnya hubungan

5

dan kepercayaan Daerah terhadap Pusat akan dapat mengeliminir gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia . Memperhatikan pemikiran dengan menggunakan pendekatan aspek ideologi, politik, sosal budaya dan pertahanan keamanan, secara ideal kebijakan Otonomi Daerah merupakan kebijakan yang sangat tepat dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Hal ini berarti bahwa kebijakan Otonomi Daerah mempunyai prospek yang bagus di masa mendatang dalam menghadapi segala tantangan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasya-rakat, berbangsa dan bernegara. Namun demikian prospek yang bagus tersebut tidak akan dapat terlaksana jika berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi tidak dapat diatasi dengan baik. Untuk dapat mewujudkan prospek Otonomi Daerah di masa mendatang tersebut diperlukan suatu kondisi yang kondusif diantaranya yaitu :

Adanya komitmen politik dari seluruh komponen bangsa terutama pemerintah

dan lembaga perwakilan untuk mendukung dan memperjuangkan implementasi kebijakan Otonomi Daerah.

Adanya konsistensi kebijakan penyelenggara negara terhadap implementasi Kepercayaan dan dukungan masyarakat serta pelaku ekonomi dalam

kebijakan Otonomi Daerah.

pemerintah dalam mewujudkan cita-cita Otonomi Daerah. Dengan kondisi tersebut bukan merupakan suatu hal yang mustahil Otonomi Daerah mempunyai prospek yang sanat cerah di masa mendatang. Kita berharap melalui dukungan dan kerjasama seluruh komponen bangsa kebijakan Otonomi Daerah dapat diimplementasikan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. 4. Otonomi Daerah, Masyarakat dan Sumber Daya Alam Pada saat Indonesia dilanda ketidakpastian besar dalam bidang ekonomi, politik dan ekologi, otonomi daerah menjadi salah satu persoalan besar yang membayangi masa depan negeri ini. Otonomi daerah merupakan masalah yang cukup rumit mengingat ia bukan semata-mata sekedar pengalihan kekuasaan dari Jakarta ke tingkat daerah. Ia juga menyinggung masalah perkembangan demokrasi pada tingkat lokal dan melibatkan perubahan-perubahan besar dalam cara perekonomian Indonesia yang dihantam krisis ditangani. Persoalan otonomi daerah juga memunculkan persoalan mendasar tentang arah masa depan dan bentuk Indonesia sebagai negara demokratis. 6

Krisis keuangan yang mengawali kejatuhan Suharto telah berlarut-larut, meskipun -atau barangkali-sudah ada intervensi yang dipimpin oleh IMF. Perekonomian tetap berjalan seperti semula dan beban hutang nasional Indonesia yang besar dimunculkan ke permukaan. Dalam waktu kurang sepuluh bulan sejak berkuasa, pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid yang dipilih secara demokratis sekarang ini dipandang sebagai pemerintahan yang lemah dan terpecah-pecah dalam upaya reformasi yang tidak merata. Konflik berdarah di Maluku terus berlanjut yang menyebabkan tewasnya ratusan jiwa. Aceh dan Papua semakin keras menuntut kemerdekaannya. Krisis ekologis semakin mendalam karena penebangan legal dan ilegal telah mencabik-cabik wilayah hutan yang luas dan menyebabkan kebakaran hutan terhadap bagian yang tersisa. Kaum miskin di Indonesia - yang dipinggirkan selama tiga dekade kekuasaan Suharto - semakin dimiskinkan oleh kejatuhan ekonomi dan kehancuran sumber daya alam mereka yang semakin dipercepat. Pertanyaannya kemudian, pengaruh seperti apakah yang akan diciptakan oleh kebijakan desentralisasi pemerintah terhadap kerumitan persoalan-persoalan yang mendesak dan juga mendera? Otonomi daerah dianggap oleh pejabat kementrian pemerintah sebagai obat penawar gejolak politik. Kebijakan ini dijanjikan sebagai suatu kutub berlawanan terhadap sistem politik dan struktur keuangan terpusat yang digunakan mantan Presiden Suharto sebagai cara mendapatkan keuntungan dari sumber daya alam di Indonesia. Sistem itu juga telah menyingkirkan masyarakat dari mata pencaharian mereka. Tetapi kebijakan ini juga telah ditolak sebagai upaya sinis pemerintah pusat membohongi penduduk untuk percaya bahwa pemerintah pusat bersedia berbagi kekuasaan, sementara dalam kenyataan mereka enggan melakukannya. Masih diperlukan waktu beberapa bulan - atau mungkin beberapa tahun untuk mengetahui kebenaran pandangan ini. Setelah jatuhnya Suharto, pemerintahan transisional Presiden Habibie mengesahkan sebuah undang-undang baru pada tahun 1999. Undang-undang ini memberikan kekuasaan kepada pemerintahan daerah untuk membuat kebijakan dan keuangan sendiri. Terlihat bahwa tindakan ini merupakan reaksi tergesa-gesa terhadap kontrol terpusat yang korup dan represif selama beberapa dekade. Pemerintah nampaknya harus memenuhi tuntutan demokrasi dan reformasi jika mereka ingin menghindari gejolak sosial yang lebih parah yang mencirikan bulan-bulan terakhir kekuasaan Suharto. Tekanan untuk melakukan 7

reformasi politik datang dari wilayah-wilayah yang kaya dengan sumber daya alam. Mereka sangat marah terhadap cara-cara kekayaan alam mereka dikuras hanya untuk menebalkan dompet clique Suharto. Namun pada saat yang sama, krisis keuangan Indonesia yang berlarut-larut nampaknya menjadi insentif ekonomi yang kuat untuk melakukan desentralisasi. Hal ini akan meringankan beban biaya birokrasi yang besar di negeri ini di mana pemerintahan di Jakarta sudah tidak sanggup membayarnya lagi. Mereka ingin mengalihkan beban itu pada pundak pemerintah daerah. Sampai saat ini, perdebatan publik tentang bagaimana bentuk masa depan Indonesia sebagai suatu negara-bangsa masih belum dilakukan. Bulan-bulan setelah kejatuhan Suharto ditandai suatu eforia yang diikuti dengan pertikaian politik dan ketidakpastian. Tuntutan yang semakin kuat untuk merdeka di Aceh dan Papua Barat diikuti pula dengan tuntutan sistem federal dari Riau, Maluku, Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur. Namun, daripada membahas masalah federasi ini secara terbuka, pemerintahan Habibie berupaya keras menolak tuntutan itu dan menjanjikan suatu otonomi lokal. Meskipun demikian, apa yang ditawarkan dalam otonomi lokal tidak dibuat dengan jelas: desentralisasi pemerintahan atau pengalihan kekuasaan? Bersamaan dengan beberapa undang-undang baru yang lainnya, undang-undang tentang otonomi daerah diajukan secara diam-diam dalam bulan-bulan terakhir sebelum pemilu bulan Juni 1999 - sebuah pemilu demokratis pertama setelah 30 tahun. Hasilnya adalah undang-undang otonomi daerah yang sangat lemah. Undang-undang itu melebih-lebihkan persoalan penting tentang tingkat pertanggungjawaban kekuasaan dan daerah dan pusat, khususnya dalam bidang pembuatan kebijakan dan pengelolaan sumber daya alam. Namun yang lebih membingungkan adalah peraturan pelaksana undang-undang tersebut. Hal ini dikarenakan daripada menjelaskan bagaimana undangundang itu dijalankan dalam praktek, aturan pelaksana itu menggeser titik keseimbangan kekuasaan ke tangan pemerintahan pusat. Berbagai jenis aktor di panggung politik Indonesia mencoba menginterpretasikan penerapan undang-undang nomor 22 dan 25 untuk memenuhi kepentingan mereka. Ringkasnya, ini merupakan suatu gabungan yang amat kompleks dan secara politik mudah meledak. Bagi Presiden Abdurrahman Wahid, tujuan utama melanjutkan proyek otonomi daerah yang ia warisi dari pemerintahan Habibie adalah untuk mencegah proses disintegrasi di Indonesia. Gus Dur menyalahkan sebagian besar persoalan yang dialami 8

oleh negeri ini terhadap sistem terpusat di masa lalu dan melihat kebutuhan untuk "otonomi penuh" di daerah. Dalam suatu pidato yang diucapkannya pada tahun lalu di depan pertemuan akbar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan "Apapun yang terjadi, negeri ini tidak boleh terpecah belah. Tidak boleh ada wilayah yang memisahkan diri dari Indonesia dan kita akan tetap bersatu." (AFP, 27/Jan/00) Tetapi, upaya-upaya untuk "menyelamatkan" negara kesatuan Indonesia telah ditolak oleh gerakan kemerdekaan di Aceh dan Papua Barat. Pada bulan Juni lalu, para pemimpin Gerakan Aceh Merdeka, GAM, diikuti proklamasi sepihak oleh Republik Maluku Selatan (RMS), mengumumkan akan melakukan kerja sama mereka dalam perjuangan kemerdekaan. "Tujuan bersama kita adalah kemerdekaan. Otonomi adalah tahapan yang sudah usang," ujar pejabat GAM, Zaini Abdullah (AFP, 30/June/00). Dengan demikian, otonomi daerah telah ditolak sebagai suatu hal yang tidak relevan lagi.

Masyarakat Adat dan Desa Bagi kebanyakan daerah lainnya, persoalan otonomi daerah memiliki arti yang sangat penting. Desentralisasi pengawasan, jika hal ini bisa terus berjalan dalam pengertian yang nyata, akan memiliki pengaruh mendalam terhadap kehidupan masyarakat adat dan masyarakat desa. Selain itu, ia juga berpengaruh terhadap cara pengolahan sumber daya alam di Indonesia. Bagi masyarakat lokal, hutan, tanah, air bersih dan sumber daya laut di mana mereka bergantung, otonomi daerah akan berhasil atau gagal tergantung pada apakah ia akan membantu menghentikan gelombang penghancuran yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Berbagai organisasi Rakyat Indonesia dan LSM yakin bahwa ujian yang sesungguhnya akan terletak pada kekuatan demokrasi pada tingkat lokal - seberapa cepat dan seberapa jauh masyarakat lokal dapat menjamin bahwa mereka dapat mengambil bagian penuh dalam pembuatan keputusan terhadap pengelolaan dan perlindungan sumber daya alam. Secara ideal, keberhasilan akan memberikan pengawasan demokratis terhadap proses pembentukan kebijakan, penegakan hukum yang efektif, pemerintahan daerah yang bersih dan transparan. Proses ini juga akan memberikan peluang penggunaan sumber daya alam berkelanjutan untuk kepentingan seluruh masyarakat sekarang dan di masa yang akan datang. 9

Di sisi lain, dari segi yang terburuk, kegagalan akan menyebabkan pengalihan kekuasaan kepada pusat-pusat pemerintahan daerah dengan para pemimpinnya yang bertingkah seperti tiran kecil dan hanya mencontoh ulang praktek-praktek perampokan sumber daya alam pada era Suharto untuk keuntungan pribadi secara maksimal di tingkat daerah. Atau - jika pemerintahan pusat tetap bersikeras untuk mempertahakan kontrol mereka-hasilnya mungkin adalah ketidak adilan sosial yang sama dan pelanggaran lingkungan yang seringkali dikaitkan dengan pemusatan kekuasaan di Jakarta sampai sekarang. Hal ini akan mengakibatkan ledakan gejolak sosial dan ketidak stabilan politik yang lebih besar. 5. Dampak Negatif Otonomi Daerah Terhadap Pendayagunaan Sumber Daya Alam Pengelolaan Sumber Daya Alam di era Otda banyak menimbulkan dampak negatif keinginan Pemda untuk menghimpun pendapatan asli daerah (PAD), telah menguras sumber daya alam potensial yang ada, tanpa mempertimbangkan dampak negatif/kerusakan lingkungan dan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Era Otda tidak disikapi baik oleh aparat Pemda, DPRD maupun warga masyarakat dengan kematangan berfikir, bersikap dan bertindak. Masing-masing elemen masyarakat lebih menonjolkan hak dari pada kewajiban dalam mengatur dan mengurus sesuatu yang menjadi kepentingan umum. Dengan kata lain, masing-masing lebih mengedepankan egonya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Pemahaman terhadap Otda yang keliru, baik oleh aparat maupun oleh warga masyarakat menyebabkan pelaksanaan Otda menyimpang dari tujuan mewujudkan masyarakat yang aman, damai dan sejahtera. Keterbatasan sumberdaya dihadapkan dengan tuntutan kebutuhan dana (pembangunan dan rutin operasional pemerintahan) yang besar, memaksa Pemda menempuh pilihan yang membebani rakyat, misalnya memperluas dan atau meningkatkan objek pajak dan retribusi, menguras sumberdaya alam yang tersedia, dll. Kesempatan seluas-luasnya yang diberikan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dan mengambil peran, juga sering disalah artikan, seolah-olah merasa diberi kesempatan untuk mengekspolitasi sumber daya alam dengan cara masing-masing semaunya sendiri. Di pihak lain, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), yang seharusnya berperan mengontrol dan meluruskan segala kekeliruan implementasi Otda tidak menggunakan peran dan fungsi yang semestinya, bahkan seringkali mereka ikut terhanyut dan berlomba mengambil untung dari perilaku aparat dan masyarakat yang salah . Semua itu terjadi 10

karena Otda lebih banyak menampilakn nuansa kepentingan pembangunan fisik dan ekonomi. Akibatnya terjadi percepatan kerusakan hutan dan lingkungan yang berdampak pada percepatan sumber daya air hampir di seluruh wilayah tanah air, bahkan untuk Pulau Jawa dan Bali sejak tahun 1995 telah mengalami defisit air karena kebutuhan air jauh di atas ketersediaan air (Sumber: Direktorat Geologi dan Tata Lingkungan, 2001).Eksploitasi hutan dan lahan yang tak terkendali juga telah menyebabkan hancurnya habitat dan ekosistem satwa liar yang berdampak terhadap punahnya sebagian varietas vegetasi dan satwa langka serta mikro organisme yang sangat bermanfaat untuk menjaga kelestarian alam. Sementara pembangunan sumber daya manusia / SDM (moral, spiritual intelektual dan keterampilan) yang seharusnya diprioritaskan, (karena SDM berkualitas ini merupakan prasyarat), sangat kurang mendapat perhatian sebagaimana dikemukakan oleh Riwu Kaho (1988:60), bahwa penerapan otonomi daerah yang efektif memiliki beberapa syarat, sekaligus sebagai faktor yang sangat berpengaruh, yaitu: a. Manusia selaku pelaksana harus berkualitas b. Keuangan sebagai biaya harus cukup dan baik c. Prasarana, sarana dan peralatan harus cukup dan baik d. Organisasi dan manajemen harus baik Dari semua faktor tersebut di atas, “faktor manusia yang baik” adalah faktor yang paling penting karena berfungsi sebagai subjek dimana faktor yang lain bergantung pada faktor manusia ini. SDM yang tidak/belum berkualitas inilah yang menyebabkan penyelenggaraan Otonomi daerah tidak berjalan sebagaimana mestinya, penuh dengan intrik, konflik dan carut-marut serta diwarnai oleh menonjolnya kepentingan pribadi dan kelompok. Departemen Pertahanan (Dephan), selaku lembaga yang bertugas mengelola potensi pertahanan menjadi kekuatan pertahanan berkepentingan dengan adanya dampak negatif dari pendayagunaan sumber daya alam untuk kepentingan pertahanan negara di seluruh daerah otonom. Perlu disadari, bahwa kekuatan pertahanan negara kita ini tidak terpusat, melainkan tersebar di seluruh daerah, karena sesuai Doktrin Pertahanan Rakyat Semesta (Hanrata) kekuatan pertahanan bertumpu pada simpul-simpul kekuatan yang telah diorganisir dan tersebar di daerah. Dephan patut merasa terpanggil perhatiannya melihat semakin menurunnya kondisi lingkungan sumber daya alam di daerah, mengingat 11

masalah-masalah yang menyangkut bidang pertahanan tidak diotonomikan kepada daerah. Dalam hal ini Dephan memiliki sejumlah peran dan kewenangan atas pembinaan dan pendayagunaan sumber daya alam di daerah. Untuk menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi, baik di bidang kebijakan maupun pengelolaan SDA oleh Pemda dan masyarakat di daerah di era Otonomi Daerah ini. Dephan telah melakukan pengkajian Efektivitas Aparatur Dephan dalam Era Otonomi Daerah. Maksud dari pengkajian ini adalah mencari “formula” yang tepat dalam aspek kelembagaan, SDM, tatalaksana, pelayanan publik Dephan dalam rangka menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang mendasar, baik di bidang birokrasi maupun kemasyarakatan di daerah setelah memasuki era Otonomi Daerah . Hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana menjembatani tuntutan masyarakat yang berbeda-beda di setiap daerah (sesuai dengan karakter daerah masingmasing) dengan tantangan dan ancaman sejalan dengan dinamika perkembangan lingkungan strategis yang sulit diprediksi serta tuntutan kebutuhan strategi menghadapi ancaman. Masalah tersebut memerlukan penelitian dan pengkajian lebih lanjut dan mendalam. Khusus mengenai sumber daya nasional / SDN (dalam tulisan ini dibatasi: SDN = sumber daya alam/SDA). Untuk kepentingan hanneg, Dephan, memiliki kewenangan menetapkan kebijakan umum, menetapkan kriteria atau persyaratan dan alokasi kebutuhan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dengan semua pihak terkait (departemen, intansi, dan Pemda), mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan pendayagunaannya. Dengan sejumlah kewenangan tersebut di atas, Dephan memiliki tugas dan fungsi yang tidak mudah, apalagi Dephan tidak memiliki kantor wilayah (Kanwil) sebagai ujung tombak di daerah. Peran Kodam yang selama ini sebagai pengemban tugas dan fungsi (PTF) Dephan, menjadi kurang efektif karena dipandang sudah tidak sesuai dengan tuntutan era reformasi, dimana TNI memfokuskan diri pada tugas pokok pertahanan sebagaimana tertuang dalam konsep reformasi internal TNI dan meninggalkan tugas-tugas pemerintahan. Disamping itu tugas pokok Kodam selaku Kotama pembinaan kekuatan kewilayahan di daerah cukup menyita waktu, sehingga tidak memungkinkan dapat mengemban dua tugas pokok dan fungsi (Dephan dan TNl) sekaligus dengan tuntas. Kondisi inilah yang menginspirasi pemkiran/gagasan tentang perlunya pembentukan Kanwil Dephan di Daerah. Dalam hal pengelolaan sumber daya alam seperti air, tanah, hutan, tambang mineral dll, baik aparat maupun warga masyarakat 12 masing-masing berusaha

mengeksploitasi secara serampangan, tanpa mengindahkan dampak negatif yang merugikan generasi masa depan dan kelestarian lingkungan, bahkan kepentingan penduduk daerah tetangga sekalipun. Sebagai contoh; daerah yang sebelumnya sudah dihijaukan (reboisasi) melalui program penghijauan sekarang di era otonomi banyak dijarah penduduk setempat dan lahannya digunakan sebagai areal pertanian. Tidak peduli lahan tersebut berada di daerah lereng gunung yang tidak layak sebagai lahan cocok tanam. Tidak peduli kalau aktivitas penjarahan lahan seperti itu menyebabkan erosi dan banjir yang menimbulkan bencana yang merugikan daerah tetangga. Otonomi daerah telah menimbulkan persaingan yang tidak sehat antar daerah bertetangga dan perebutan SDA bernilai tinggi yang ada di perbatasan wilayah daerah otonom, terutama hal ini terjadi pada daerah perbatasan yang tidak jelas garis batasnya. Pada kenyataanya kecuali yang menggunakan batas aliran sungai sebagian besar batas antar daerah tidak jelas karena belum diukur dan dikukuhkan dalam peraturan perundang-undangan.Kerusakan SDA dan lingkungan paling parah juga terjadi di daerah miskin sumber daya SDA dimana lahan dan sumber daya yang ada di atasnya merupakan pilihan utama mata pencaharian penduduk. Sementara itu, kebodohan penduduk menyebabkan mereka umumnya menggantungkan sumber mata pencahariannya pada sektor pertanian dan hasil hutan. Kondisi seperti ini dialami oleh sebagian besar daerah kabupaten di Jawa dan Madura, sehingga dari hari ke hari luas hutan di Jawa dan Madura semakin menyempit. Diperkirakan luasnya kurang dari 15 % dari seluruh luas tanah. Padahal sebenarnya luas hutan dan areal di Jawa paling sedikit 30 % dari seluruh luas tanah. Sebagian besar penduduk yang berpengetahuan rendah, menyikapi pemberlakuan otonomi daerah yang bersamaan dengan krisis ekonomi dalam hal eksplolitasi SDA dengan cara-cara yang tidak/kurang bertanggungjawab, pertama; tidak taat hukum/peraturan, beberapa contoh dalam hal ini; penjarahan hutan (termasuk hutan reboisasi), penjarahan areal pertambangan yang sudah dikonsesikan kepada perusahaan (BUMN, BUMD & Swasta) dan mengolah tanah dengan serampangan (tidak sesuai dengan kaidah/metoda pertanian). Dampak negatif dari penjarahan hutan dan cara bertani yang salah dan ilegal telah menyebabkan kerugian ganda, yakni kehilangan lapisan tanah subur karena erosi, banjir setiap hujan besar, sumber air semakin menyusut dan kepunahan dari sebagian flora serta fauna langka. Kedua; rendahnya tingkat kepedulian dan rasa tanggung jawab, baik kepedulian/tanggung jawab sosial maupun lingkungan alam; bahkan terhadap masa depan diri dan anak cucunya. Ketiga; malas bekerja, gejala ini tampak dari banyaknya tenaga 13

muda potensial yang putus sekolah atau tamat sekolah malas bekerja, mereka banyak yang meninggalkan kampung/desa tempat tinggalnya berbondong-bondong pergi ke kota. Di kota mereka lebih banyak menjadi “beban” karena sebagian hanya bekerja secara sambilan di sektor informal (seperti pedagang kaki lima, pengamen, buruh bangunan, pengemis, dll). Gejala perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi), baik yang permanen maupun yang musiman, merupakan penyebab utama terjadinya kesemrawutan wajah kota, kriminalitas dan kepadatan penduduk kota yang sulit diperhitungkan serta dikendalikan. Sementara itu, aktivitas pertanian dan nelayan di desa-desa telah mengalami stagnasi,bahkan penurunan yang signifikan karena kekurangan tenaga kerja muda. Dua gejala yang kontradiktif (pertumbuhan kota yang sangat cepat, tak teratur di satu pihak dan pedesaan yang stagnan serta banyaknya kerusakan lingkungan di pihak lain), tampaknya di era otonomi daerah ini tidak dipandang sebagai suatu masalah yang patut mendapat perhatian dan upaya solusi yang sungguh-sungguh. Bilamana hal ini dibiarkan berlarutlarut akan menimbulkan masalah besar dan kompleks sehingga makin sulit diatasi. Di samping itu perusakan atau pelanggaran terhadap lingkungan yang dibiarkan berkepanjangan dapat menyebabkan para pelakunya menjadi bebal (tidak merasa apa yang diperbuatnya sebagai suatu kejahatan). Padahal penjahat lingkungan itu merupakan “teroris laten” karena akibat perbuatannya dapat menyengsarakan banyak orang di masa yang akan datang yang tidak dapat diperkirakan berapa lama.

6. Peran Dephan dalam Pendayagunaan dan Penyelamatan Sumber Daya Alam Dalam era otonomi daerah, Dephan dituntut memiliki peran yang strategis pro-aktif, terutama dalam hal pengelolaan dan penyelamatan sumber daya alam yang makin parah. Namun di sisi lain, untuk melaksanakan peran tersebut, Dephan dihadapkan pada kesulitan yang menyangkut kelembagaan, sumber daya manusia dll. Hingga saat ini Dephan tidak memiliki aparat di daerah, kecuali Kodam selaku pelaksana tugas dan fungsi (PTF) Dephan. Sejalan dengan tuntutan reformasi TNI, Kodam tidak lagi memiliki kewenangan menangani urusan pemerintahan. Sebagai Kotama kewilayahan TNI Kodam sangat sibuk dengan tugas pokoknya pembinaan dan operasional satuan TNI di daerah. Dalam hal pembinaan wilayah (Binwil) yang sekarang dinyatakan sebagai wilayah tugas dan tanggung jawab pemerintah/Pemda, Kodam/Kodim diposisikan sebagai “peran pembantu”. Namun demikian dihadapkan dengan kerawanan dan ancaman disintegrasi 14

bangsa, keberadaan Kodam/Kodim masih sangat diperlukan di era transisi reformasi dan demokratisasi ini. Pengelolaan Pertahanan Negara (hanneg) merupakan salah satu fungsi pemerintahan negara yang tidak diotonomikan. Di sisi lain pengelolaan hanneg ini merupakan tanggung jawab bersama segenap instansi pemerintahan dan seluruh komponen bangsa. Oleh karena itu, Dephan selaku lembaga pemerintah pemegang otoritas pengelolaan hanneg menghadapi tugas yang sangat luas dan berat. Karena dengan demikian Dephan harus mampu mewujudkan koordinasi dengan semua pihak (intansi/lembaga departemen, non departemen, swasta, LSM, dll) yang terkait agar manajemen dan kinerja masing-masing organisasi tersebut selaras dan serasi dengan kepentingan pertahanan negara sesuai Doktrin Pertahanan Rakyat Semesta (Hanrata) dan UU No. 3 /2002 tentang Pertahanan Negara. Tugas Dephan dikatakan luas dan berat karena menyangkut pembinaan semua aspek sumber daya nasional yang terdiri dari sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), sumber daya buatan (SDB), sarana prasarana (sarpras) wilayah Negara dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) untuk jangka panjang, yakni untuk kepentingan hanneg bila saatnya diperlukan. Semua sumber daya tersebut tersebar di seluruh wilayah daerah NKRI yang dalam keadaan damai sehari-hari dikelola oleh intansi/lembaga departemen dan non departemen (LPND), Pemda serta semua komponen masyarakat untuk kepentingan kesejahteraan dan kemakmuran. Pada saat yang lalu (di era Orba), pemberian tugas, wewenang dan tanggung jawab Dephan kepada Kodam tidak dipermasalahkan sehingga dapat berjalan cukup efektif, pada saat itu Kodam (TNI) masih mengemban fungsi sosial politik (fungsi pemerintahan). Selain itu Dephan(kam); TNI (ABRI) dan Polri berada dalam satu atap satu kepemimpinan, Menhankam Pangab. Dengan demikian segala kebijakan umum yang menyangkut pertahanan, TNI dan Polri sudah terintegrasi. Sekalipun demikian semua kebijakan dan fungsi Dephan tidak dapat diimplementasikan secara optimal karena keterbatasan Kodam dihadapkan dengan dua tugas pokok sekaligus. Di era otonomi daerah, beban tugas Dephan dirasakan semakin berat karena masing-masing daerah memiliki kewenangan untuk mengelola sumber daya sesuai dengan prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakatnya dengan fokus tujuan utama mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran (ekonomi) yang sebesar-besarnya sehingga dengan demikian tujuan dan sasaran mengenai pertahanan kurang mendapat perhatian publik. Fokus sorotan kajian pada SDA ini mengingat bahwa pengelolaan SDA yang terdiri dari tanah, air, mineral tambang, hutan dll, sudah demikian buruk dan cenderung akan semakin buruk di era Otda sekarang ini. Padahal dampak negatif dari pengelolaan SDA 15

yang buruk mempunyai pengaruh ganda terhadap kehidupan masyarakat dan lingkungan serta masa depan generasi bangsa. Sebagai contoh, pengelolaan hutan yang buruk, maraknya “illegal logging” bukan saja menghancurkan hutan itu sendiri tetapi juga komunitas makhluk lain yang ada di kawasan hutan , yakni musnahnya sebagian dari flora dan fauna, terjadinya erosi yang dapat mengikis lapisan tanah subur dan musnahnya mikro organism. Semakin rusaknya komunitas hutan berakibat berubahnya hutan menjadi semak belukar atau padang rumput bahkan tanah gundul. Kondisi demikian mudah menimbulkan kebakaran, kebakaran hutan yang sering terjadi menyebabkan memburuknya kualitas tanah dan udara pada daerah yang sangat luas. Menipisnya hutan juga dapat menyebabkan. rendahnya kemampuan hutan dalam menyimpan air hujan, semakin “dalamnya” permukaan air tanah dan air sungai menjadi cepat surut begitu memasuki musim kemarau. Gejala demikian akan semakin memburuk sejalan dengan bertambahnya penduduk. Pengelolaan lahan pertanian yang buruk di daerah terlarang, seperti lereng gunung, hutan tutupan dan daerah mata air mengakibatkan erosi yang terus menerus sehingga menimbulkan banjir berulang-ulang, kemudian sebagai dampak lanjutan akan terjadi degradasi lingkungan fisik, terutama sepanjang daerah aliran sungai (DAS), menimbulkan endapan, pendangkalan dan kerusakan di daerah hilir sungai, danau serta areal pertanian di dataran rendah. Pengelolaan buruk sumberdaya hutan, tanah dan air ini tengah terjadi secara masif di hampir seluruh daerah Indonesia, dan di era Otda ini semakin meningkat. Dalam eksploitasi sumber daya mineral tambang juga terjadi hal yang sama. Di manamana dijumpai pertambangan emas tanpa izin (Peti) pertambangan batu bara, pasir besi, timah, dll. Pertambangan yang dilakukan oleh perusahaan pemerintah (BUMN/BUMD) juga tidak dikelola dengan baik. Bekas ekspolitasi tambang timah, bauksit dan batu bara dibiarkan tanpa upaya reklamasi yang memadai. Banyak zat kimia beracun yang digunakan dalam proses pengolahan biji tambang dibuang begitu saja tanpa melalui pengolahan limbah yang memadai. Dampak pengelolaan pertambangan yang buruk ini sangat merugikan lingkungan dan membahayakan keselamatan penduduk dalam jangka panjang. Dalam menanggulangi dampak tersebut di atas Dephan dituntut kepeduliannya dan berperan aktif guna mengatasi, setidak-tidaknya mengurangi perilaku buruk para pihak yang telibat dalam pengelolaan SDA, melalui penerbitan kebijakan, dan peraturan perundang-undangan, bekerja sama dengan semua lembaga/intansi, Pemda, dan pihak lain yang terkait. 16

Peran Dephan yang diharapkan. Dephan diharapkan dapat meng-implementasikan fungsi yang diembannya secara aktif dengan menjalin koordinasi terus menerus dengan semua pihak terkait. Adapun fungsi yang dimaksud adalah: “membina dan mendayagunakan SDA untuk kepentingan hanneg”. Dalam mengimplementasikan fungsi tersebut di atas diperlukan suatu konsep pengelolaan yang jelas, baik dalam hubungan koordinasi penyiapan peraturan/perundangan maupun dalam hal pelaksanaan aksi di lapangan. Pembinaan dan pendaya-gunaan SDA berpangkal pada tiga prinsip pengelolaan SDA yakni: keserasian, keseimbangan (propor-sionalitas) dan keberlanjutan (sustainable). Tiga prinsip itulah yang melandasi kebijakan pembinaan dan pendaya-gunaan SDA. Suatu konsepsi pembinaan dan pendaya-gunaan SDA yang disarankan adalah sebagai berikut: a. Strategi: 1). Pendayagunaan SDA diarahkan demi tercapainya kesejahteraan masyarakat yang diselaraskan dengan kepentingan pertahanan dan keamanan Negara berdasarkan Doktrin dan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sishanrata). 2). Kebijakan dan Rencana Umum yang terpusat dan pelaksanaan yang terdesentralisasi oleh lembaga pemerintah, Pemda dan pihak terkait lainnya. 3). Pembinaan SDA menyangkut dua sasaran pokok, yaitu pengamanan dan pengembangan SDA. b. Sasaran. Sasaran yang ingin dicapai dari pembinaan dan pendayagunaan SDA adalah: 1). Tersedianya cadangan material strategis dan sistem logistik wilayah (Sislogwil) di setiap daerah yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk kepentingan hanneg. 2).Terpeliharanya kelestarian dan keseimbangan lingkungan melalui usaha konservasi, rehabilitasi, diversifikasi dan penggunaan teknologi ramah lingkungan. 3). Terwujudnya daya dukung SDA jangka panjang sebagai sumber utama logistik wilayah untuk kepentingan Hanneg. c. Upaya. 1). Menjalin koordinasi yang intensif dengan semua pihak terkait guna terwujudnya sinkronisasi, keserasian dan keseimbangan dalam pengelolaan Sumber daya Alam untuk kepentingan kesejahteraan (jangka pendek) dengan kepentingan pertahanan Negara (jangka panjang)

17

2). Merumuskan kebijakan umum pembinaan dan peraturan perundang-undangan serta merevisi kebijakan dan peraturan perundang-undangan pengelolaan SDA yang tidak sesuai lagi dengan tuntutan kebutuhan. 3). Menetapkan kriteria konservasi dan atau diversifikasi sumber SDA sesuai dengan proyeksi tuntutan kebutuhan ke depan. 4). Menetapkan alokasi cadangan material strategis dari setiap daerah dalam rangka mewujudkan sistem logistik wilayah (sislogwil). 5). Menyelenggarakan invetarisasi data SDA, khususnya material strategis dari setiap daerah dalam sistem informasi geografi petahanan negara (SIG/hanneg). 6). Menyelenggarakan sosialisasi kebijakan dan peraturan perundang-undangan tentang pembinaan dan pendayagunaan SDA secara terprogram. 7). Memantau, mengawasi dan mengendalikan semua kegiatan implementasi kebijakan dan peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan SDA dalam rangka Hanneg. Dari pihak lembaga departemen pemerintahan, LPND, LSM dan pihak terkait yang diharapkan hal-hal sebagai berikut: Departemen, Pemda dan LPND 1). Menerapkan kebijakan yang ketat terhadap pengelolaan kawasan konservasi SDA seperti: hutan lindung, hulu sungai, sumber mata air, DAS dan hutan pantai tirai gelombang. 2). Konsisten menerapkan kebijakan dan peraturan perundang-undangan serta memberikan sanksi hukum yang berat kepada perusak lingkungan. 3). Membuka akses kepada masyarakat tentang informasi kebijakan pendayagunaan SDA. 4). Membuka ruang partisipasi masyarakat dalam memperoleh dan menyalurkan informasi, serta mencari solusi kerusakan SDA sebagai akibat pengelolaan yang salah/ilegal. 5). Menyelenggarakan pengawasan dan pengendalian pengelolaan SDA yang intensif dan ekstensif. LSM dan Tokoh/Anggota Masyarakat 1). Memberikan masukan kepada pemerintah tentang pendaya-gunaan dan penyelamatan SDA yang benar. 2). Memberikan informasi secara dini tentang kejadian/peristiwa bencana alam, kerusakan lingkungan dan pelaku kejahatan lingkungan/SDA.

18

3). Memberikan kritik dan koreksi membangun atas kebijakan dan tindakan aparat pemerintah yang merugikan lingkungan dan SDA. Kesimpulan a. Pemberlakuan Otonomi Daerah membawa dampak buruk terhadap pengelolaan SDA di semua daerah. Penduduk dan atau warga masyarakat mengeksploitasi SDA dengan semena-mena tanpa dilandasi pertimbangan kearifan dan kemaslahatan demi kepentingan jangka panjang dan keseimbangan lingkungan. b. Pendayagunaan SDA yang semena-mena memberikan dampak negatif ganda (multiple impact) terhadap semua aspek kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat yang pada gilirannya merugikan generasi yang akan datang. c. Dephan selaku pemegang otoritas pembinaan dan pendayagunaan sumber daya nasional untuk kepentingan pertahanan negara, di era Otda ini dituntut untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan fungsinya. Khususnya dalam menyikapi degradasi lingkungan sebagai akibat pengelolaan SDA yang kurang bertanggung jawab, Dephan dituntut berperan sebagai misiator, pelopor & koordinator upaya penyelamatan dan rehabilitasi seyogyanya tampil paling depan untuk memotivasi dan mengajak semua pihak terkait guna membangun kerja sama yang sinergis, sistemik dan konsepsional, untuk mengamankan, memelihara dan mengembangkan serta mendayagunakan SDA dalam rangka kesejahteraan masyarakat dan pertahanan Negara.

19

Rencana Tata Ruang Wilayah
Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang, demikian yang dimaksud dalam Bab I, Pasal 1(4) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Perencanaan tata ruang dilakukan dengan mempertimbangkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan fungsi budi daya dan fungsi lindung, dimensi waktu, teknologi, sosial budaya, serta fungsi pertahanan keamanan; aspek pengelolaan secara terpadu berbagai sumber daya, fungsi dan estetika lingkungan, serta kualitas ruang. Perencanaan tata ruang mencakup perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang, yang meliputi tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya. Rencana tata ruang dibedakan atas; (1) Rencana tata ruang (RTR) Wilayah Nasional; (2) Rencana Tata Ruang (RTR) Wilayah Propinsi; dan (3) Rencana Tata Ruang (RTR) Wilayah Kabupaten/Kota. Masing-masing RTR Wilayah (RTRW) ini memiliki isi dan tujuan tertentu. Salah satu bentuk tata ruang seperti RTR Wilayah Kabupaten/Kota, secara detail (rinci) berisikan tentang; (1)pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya; (2)pengelolaan kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan kawasan tertentu, (3)sistem kegiatan pembangunan dan sistem permukiman perdesaan dan perkotaan; (4)sistem prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, pengairan, dan prasarana pengelolaan lingkungan; (5)penatagunaan tanah, penatagunaan air, penatagunaan sumber daya alam lainnya, serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. Semua Sumberdaya Alam (SDA), sosial dan lingkungan buatan dalam skala wilayah kabupaten/kota diatur dan ditata disini. Perletakan kawasan lindung, kawasan budidaya direncanakan dan dirancang di RTR ini. Karenanya, fungsi RTRW Kabupaten/Kota ini menjadi pedoman untuk penetapan lokasi investasi dan menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan yang dilaksanakan pemerintah dan atau masyarakat di kabupaten atau di kota tersebut. Demikian singkat cerita tentang RTRW yang kini RTRW ini dimiliki diantaranya oleh kotakota di Sulawesi Utara seperti kota Manado, Kota Bitung, Kabupaten Minahasa dan Kota Tomohon. Yang artinya pula, bahwa kota-kota ini telah direncanakan peruntukkan ruangnya. Dengan demikian, kegiatan atau usaha apapun yang dilakukan dikota-kota ini, semua ijin-ijin lokasi pembangunannya harus berdasarkan RTRW yang telah ditetapkan. Di Sulawesi Utara terutama di kota Manado dan kabupaten Minahasa, banyak kasus pembangunan fisik dari usaha dan kegiatan dilakukan pada lokasi yang bukan 20

peruntukkannya. Seperti kawasan wisata bakal dijadikan kawasan industri, kawasan wisata, bakal dijadikan kawasan perdagangan/komersil dengan alasan “ah, RTR kan hanyalah arahan saja. Mungkin ini karena sulitnya memahami bahasa Indonesia bidang hukum, sehingga interpretasinya macam-macam dan suka-suka para penguasa wilayah tersebut mengartikannya. Perubahan tata ruang suatu wilayah, terjadi begitu saja dan dengan mudah disahkan oleh pimpinan tertinggi kabupaten/kota tanpa melihat efek di lingkungan wilayahnya bahkan antar wilayah. RTRW hanya menjadi dokumen yang hanya sekedar ada saja. Akibatnya terjadi protes sana-sini oleh masyarakat lokal, dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Akibatnya, investor menjadi uring-uringan (bingung) tak menentu, dilain sisi sudah menyetor kewajiban sebagai penanam modal pada pemerintah kabupaten/kota tersebut, dilain sisi merasa tidak tenang terhadap gangguan masyarakat. Perasaan kecele (terjebak) maju kena mundur kena. Tetapi, ada juga investor yang nekat untuk meneruskan kegiatannya walaupun apapun yang terjadi. Dan tentunya jika ada investor yang demikian akan berat rasanya dengan kondisi/situasi saat ini. Konsekuensi yang bakal dihadapi akan berat juga. Ada juga yang mundur dengan kerugian yang begitu besar, di mana sudah membuat kajian Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dengan biaya yang besar walaupun sudah jelasjelas lokasi tersebut tidak untuk kegiatan atau usaha semacam itu dan kini harus meninggalkan lokasi itu karena umpatan dan protes dari masyarakat yang paham dengan lokasi tersebut. Akhirnya salah menyalahkan terjadi. Pemerintah (pengambil keputusan) menyalahkan masyarakat yang membuat gaduh sehingga investor kabur, dilain pihak masyarakat menuding pemerintah yang memberikan ijin padahal lahan itu bukan untuk kegiatan tersebut. Menurut pengamatan saya, selama ini yang terjadi adalah tudingan kepada pemerintah yang memberikan ijin lokasi pada lahan yang bukan peruntukkan bagi kegiatan tertentu. Tudingan yang wajar. Kenapa? Karena pemerintahlah yang memegang perijinan tersebut, bukan masyarakat. Jelas demikian. Dan lebih jelas lagi, sebetulnya pemerintahlah yang membuat masyarakat dan investor bingung. Mau ikut aturan yang mana, aturan yang itu, ternyata di lapangan jadinya lain. Sebetulnya, semua ini bukan juga salah investor yang menempati peruntukkan yang salah, melainkan ini adalah kesalahan pihak pemerintah setempat yang mengeluarkan ijin untuk boleh menduduki tempat atau lokasi tersebut. Semestinya tidak harus demikian kejadiannya, jika di awal kegiatan atau usaha tersebut dikaji dan dipahami dan dicocokkan dengan RTR Wilayah setempat, apakah sesuai peruntukkannya atau tidak. Jika cocok, tidak ada masalah, semua proses bisa dilanjutkan. 21

Namun, jika kegiatan tersebut tidak sesuai dengan peruntukkan lahan atau RTRW, maka jangan sekali-kali memberikan ijin lokasi pembagunan pada pemohon tersebut. Karena, jika pemohon (pemrakarsa) telah diberikan ijin lokasi pembangunan, pemohon tersebut bakal lanjut pada pembuatan AMDAL (jika kegiatan wajib amdal) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) jika kegiatan tersebut tidak wajib amdal. Ini berabe, sebab pemrakarsa akan mengeluarkan biaya besar untuk studi ini. Repotnya lagi, jika studi tersebut sengaja dibuat bukan untuk memproteksi lingkungan tetapi untuk melayakkan kegiatan tersebut. Proses ini akan berlanjut dan akan otomatis gol dan dilaksanakan. Penilaian Amdal oleh komisi Amdal tidak akan mampu menahan kegiatan tersebut untuk tidak dilaksanakan walaupun sidang komisi sudah mengetahui bahwa kegiatan tersebut berada pada peruntukkan ruang yang salah atau menyalahi RTRW. Mengapa demikian? Karena ijin lokasi pembangunan sudah terbit dan tak ada yang mampu menahan semua itu, kecuali ditarik kembali oleh yang mengeluarkannya. Dan orang nomor satu di wilayah kabupaten dan kota yang berhak melakukan itu. Terlihat disini, langkah awal yang salah telah diambil oleh pembuat keputusan. RTRW tidak menjadi dasar pembuatan ijin lokasi pembangunan. Sebetulnya, jika pembuat keputusan membuat putusan yang betul, investor tidak akan rugi dan masyarakat tidak akan gusar dan tentunya pembuat keputusan tidak akan berat tugasnya menghadapi “omelan dan protes masyarakat. RTRW sudah dibuatkan untuk meringankan tugas para pembuat keputusan. RTRW menjadi pintu masuk awal dan utama (main entrance) dalam menentukan apakah kegiatan atau usaha tersebut dapat masuk dan menempati lokasi yang diinginkan oleh investor atau tidak. Jika ya, proses lanjut boleh dilakukan dan sudah pasti akan mulus jalannya, tetapi jika tidak, maka investor harus menghentikan langkahnya dan mencari lokasi lain dan tentunya tidak akan mengeluarkan biaya. Dalam hal ini pengambil keputusan harus menjadi orang yang tegas dan tegah terhadap keinginan dirinya sendiri maupun keinginan teman-teman sekitarnya. Ini demi untuk kesejahteraan kita bersama sebagai masyarakat dan demi untuk berlanjutnya wadah tempat kita hidup dan berkembang ini. Dan terlebih lagi, demi kepercayaan yang diberikan masyarakat pada sang pemimpin. Dan barangkali rumus “tegah dan tegas ini yang sulit dilakukan oleh pemberi ijin. Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu yang berwenang memberikan ijin lokasi, mampuhkah anda-anda menggunakan rumus tersebut dalam melaksanakan tugas?

22

Rencana Tata Ruang Justru Percepat Alih Fungsi Hutan Proses penataan ruang di daerah, yang dimulai dari penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK), justru mempercepat alih fungsi hutan di bawah wilayah di Tanah Air. Menurut evaluasi Greenomics Indonesia periode tahun 2003-2007 terhadap proses RTRWP dan RTRWK di Pulau Sumatera dan Kalimantan, tingkat kesahihan produk RTRWP dan RTRWK secara umum dapat dikategorikan cukup rendah karena data penentu kesahihan suatu produk RTRWP dan RTRWK sering tidak terpenuhi. "Akibatnya, arahan pengelolaan kawasan lindung, arahan pengembangan kawasan budi daya, arahan struktur tata ruang, dan pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah tidak memenuhi standar kriteria," kata Elfian Effendi, Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia di Jakarta, Senin (5/5). "Rendahnya kesahihan produk RTRWP dan RTRWK telah menyebabkan semakin meluasnya konflik lahan, kasus tumpang tindih perizinan di lapangan, konflik status dan fungsi kawasan hutan, dan pengaplingan areal hutan lindung untuk perizinan perkebunan dan budi daya pertanian lainnya," lanjut Elfian Effendi. Kondisi ini tentu semakin mempercepat lenyapnya kawasan hutan, karena banyak dijumpai alih fungsi kawasan hutan melalui proses RTRWP dan RTRWK yang sering dilakukan secara sepihak, tanpa melalui mekanisme dan prosedur yang sah, tambahnya. Elfian juga menyebutkan dalam penyusunan RTRWP dan RTRWK, tidak jarang dijumpai kebijakan pemerintah daerah yang memasukkan kawasan hutan, baik yang sudah tidak berhutan maupun relatif berhutan, menjadi areal pengembangan budi daya pertanian seperti perkebunan, tanpa melalui prosedur yang sah. "Ini jelas kebijakan ilegal dan bisa dipidanakan, karena melanggar peraturan perundangan kehutanan. Tentu kasus-kasus alih fungsi hutan lewat mekanisme RTRWP dan RTRWK yang sah ini harus diusut sampai tuntas," ujar dia. Data Greenomics Indonesia tahun 2006-2008 menunjukkan di Provinsi Sumatra Utara, ada sekitar 40 kasus perambahan kawasan hutan untuk perkebunan dan budi daya pertanian lainnya yang mencapai luas 195.000 hektar. "Bahkan, hutan lindung seluas 327.000 hektar di wilayah Provinsi Sumatera Utara dialihfungsikan menjadi areal konsesi HPH. Kondisi tersebut tentu sangat riskan," kata Elfian. Greenomics Indonesia merilis data sedikitnya 143.000 hektar kawasan hutan lindung dan hutan konservasi di Provinsi Riau secara ilegal telah berubah fungsi menjadi areal perkebunan dan budi daya pertanian lahan kering. Di Provinsi Aceh, seluas 160.000 hektar hutan lindung telah berubah menjadi areal perkebunan, lahan pertanian kering, semak belukar, dan tanah terbuka. Sementara Provinsi Kalimantan Barat, sedikitnya 286.000 hektar 23

hutan lindung telah berubah fungsi menjadi areal pertanian. Sedangkan di Provinsi Kalimantan Tengah, kawasan hutan lindung dan hutan produksi telah dialihfungsikan secara ilegal menjadi areal perkebunan seluas 225.000 hektar. Secara nasional, data Departemen Kehutanan tahun 2007 menunjukkan perubahan peruntukan hutan lindung dan hutan konservasi secara ilegal yang telah dijadikan areal perkebunan, pertambangan, lahan terbuka, semak belukar, dan budi daya pertanian lainnya mencapai angka 10 juta hektar. Kepala Pusat Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan (PPKH) Badan Planologi Kehutanan, Departemen Kehutanan Dwi Sudharto mengatakan, pada umumnya pemekaran wilayah kabupaten/kota yang ada di Indonesia menabrak atau masuk dalam kawasan hutan. "Kita berharap pemerintah kabupaten/kota yang ada, sebelum disahkan kabupaten pemekaran terlebih dulu melakukan koordinasi dengan DPR dan Dinas Kehutanan setempat agar ketika disahkan, pemekaran kabupaten/kota tidak masuk dalam kawasan hutan lindung dan taman nasional," kata Dwi Sudharto, usai Diskusi Monitoring Implementasi Program Revitalisasi Perkebunan Kamis malam. Ia menginginkan, ke depannya ada koordinasi yang baik antara pemerintah kabupaten/kota dalam memekarkan wilayahnya. "Selama ini kita melihat belum ada koordinasi. Mestinya pemerintah kabupaten atau kota sebelum menyetujui pemekaran terlebih dulu melihat peta di Dephut agar tidak memberikan lokasi yang berada di kawasan hutan lindung dan taman nasional," ujarnya. Dwi menambahkan, sesuai dengan Undang-undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, keberadaan hutan dijamin dengan luasan penutupan hutan minimal 30% dari luas Daerah Aliran Sungai (DAS) dan pulau, agar fungsi hutan sebagai kawasan konservasi dan fungsi lindung dan fungsi produksi bisa terjaga. Ia mencatat, akibat eksploitasi yang tidak terkendali, laju kerusakan hutan tercatat 1,08 juta hektar per tahun untuk 2000-2006. Laju kerusakan semakin tidak terkendali pada era otonomi, karena masing-masing daerah pemekaran berlomba-lomba memperoleh pendapatan asli daerah dari hasil alam, seperti kayu, tambang, dan pengembangan perkebunan. "Kita mencatat, saat ini hutan terdegradasi sebesar 59,63 juta hektar," katanya. Ada beberapa faktor penyebab tingginya degradasi hutan di Indonesia di antaranya, salah memahami makna hutan, transisi desentralisasi, konflik atau benturan antarsektor, penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah yang mengabaikan ruang kawasan hutan, pemekaran wilayah yang tidak mempertimbangkan eksistensi kawasan hutan, pembalakan hutan secara liar dan kebakaran hutan.

24

Sebelumnya Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalimantan Barat, Tri Budiarto mengatakan, saat ini banyak pemerintah kabupaten membuat tata ruang semaunya, sehingga ketika tata ruang tersebut dipertemukan dengan pemerintah provinsi terdapat perbedaan mencolok. Sehingga tidak heran di tata ruang Pemprov Kalbar daerah tertentu masih berstatus hutan produksi, tetapi di tata ruang kabupaten menjadi kawasan perkebunan. Karena masalah itu, saat ini banyak bupati yang menuding Bapedalda Kalbar mempersulit izin pengembangan sawit. "Padahal tidak demikian, asal memiliki AMDAL dan tidak menyalahi tata ruang izin pasti akan lancar," tambahnya. Ia mengatakan, jangan sampai pengembangan lahan sawit baru hanya mengarah pada praktik penebangan kayu. Setelah kayu habis ditebang, pengembang melarikan diri seperti praktik-praktik zaman dahulu. Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, maka setiap orang yang tidak mentaati tata ruang pembangunan yang menyebabkan perubahan tata fungsi ruang, diancam pidana kurungan tiga tahun dan denda Rp500 juta. Apabila menyebabkan kematian orang maka diancam kurungan penjara 15 tahu dan denda Rp5 miliar.

25

Sumber daya alam dan Fungsinya
1. Pengertian Sumber daya alam Sumber daya alam (biasa disingkat SDA) adalah segala sesuatu yang berasal dari alam yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sumber daya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam lingkungan hidup kita. Sumber daya alam bisa terdapat di mana saja seperti di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya. Contoh dasar sumber daya alam seperti barang tambang, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya. Sumber daya alam, seperti hutan, perairan dan tambang, adalah rahmat Tuhan semesta alam yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya, bukan saja untuk generasi sekarang tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Oleh karena itu, sumber daya alam ini harus dikelola dengan baik dan tepat agar manfaat dan hasilnya dapat diperoleh secara maksimal dan lestari. Kegiatan pembangunan pada umumnya menyangkut pendayagunaan sumber daya alam. Sumber daya ini beserta lingkungannya merupakan kesatuan sistem ekologis atau ekosistem yang mempunyai manfaat langsung dan tak langsung bagi manusia. Dalam ekosistem sumber daya alam ini manusia merupakan konsumen dan berperan aktif dalam proses produksi dan pengelolaan. Pengertian sumber daya alam secara lebih mendalam dapat dikaji dari beberapa aspek bidang keilmuan. Kecuali manusia dan hasil rekayasanya yang menyatu dengan lingkungan, komponen lingkungan lainnya disebut sumber daya alam. Sumber daya alam dapat juga dikatakan sebagai segala sesuatu persediaan bahan atau barang alamiah yang dalam keadaan sebagaimana ditemukan diperlukan manusia (Randall, 1987), atau yang dengan suatu upaya tertentu dapat dibuat bermanfaat bagi manusia (Menard, 1974). Dalam keadaan mentah, sumber daya dapat menjadi masukan ke dalam proses menghasilkan sesuatu yang berharga, atau dapat memasuki proses konsumsi secara langsung sehingga mempunyai harga (Randall, 1987). Dalam pandangan ekonomi, sumber daya alam ditakrifkan dengan konsep keterbatasan (scarcity). Sesuatu yang tidak terbatas tidak disebut sumber daya. Sumber daya bermakna ganda, yakni kuantitas, kualitas, waktu dan ruang (Randall, 1987). Menurut bahan penyusunnya, sumber daya alam terpilahkan menjadi sumber daya mineral (air, tanah, udara, cebakan bahan tambang, cebakan energi) dan sumber daya hayati (masyarakat hewan dan tumbuhan). Menurut perilakunya pada penggunaan lumrah, ada sumber daya yang terbarukan (air, tanah, udara, masyarakat hewan dan tumbuhan) dan ada yang bersifat tak dapat terbarukan (cebakan bahan tambang dan energi nuklir). Akan tetapi pada penggunaan yang melewati

26

ambang batas pemakaian, sumber daya terbarukan dapat berperilaku tak terbarukan dalam hitungan waktu generasi manusia, karena laju penggunaan melampaui laju perkembangan diri sumber daya alam bersangkutan.  Pengertian Lebih lanjut The World Conservation Strategi tahun 1980 telah menakrifkan konsep pembangungan konsep berkelanjutan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan kini tanpa menutup kemungkinan generasi mendatang memenuhi kebutuhan mereka” (SCOPE, 1990). Konsep ini dapat dijabarkan dengan diberi konotasi ekonomi menjadi “suatu pola pertumbuhan ekonomi yang memenuhi kebutuhan kebendaan kini tanpa memberikan dampak negatif kepada sumber daya fisik yang ada, yang seringkali berjumlah dan berkemampuan terbatas, sehingga tidak membahayakan kapasitas dan potensi pembangunan masa depan untuk memuaskan aspirasi kebendaan dan lingkungan kepada generasi yang mendatang (Shindo, 1990). Konservasi merupakan suatu faktor lanjutan yang mutlak. Dalam hal sumber daya yang dapat diperbaharui, konservasi menjamin kesinambungan (continuously). Tujuan ini dapat dicapai lewat penggalakan semua prosesmendaur alami dan teknik rekayasa daur ulang limbah dan sisa produksi. Dalam hal sumber daya alam yang tak terbaharukan, konservasi memperpanjang umur guna sumber daya dengan jalan pemakaian yang efisiean dan ekonomis serta menganekaragamkan penggunaannya.  Konsep Konservasi Sehubungan dengan sumber daya terbaharukan, konservasi berarti menjaga sumber daya menurut asas yang akan dijamin secara abadi manfaat ekonomi, sosial dan psikologi setinggitingginya bagi masyarakat (disadur dari Donahue, dkk, 1977). Jadi, konservasi berkaitan dengan fungsi. Hal ini berbeda secara mendasar dengan preservasi yang bertujuan mempertahankan bentuk. Apa yang perlu dikonservasi dan bagaimana menjalankannya bergantung pada fungsi yang diharapkan dilangsungkan oleh sumber daya bersangkutan. Sumber daya lahan untuk pertanian memerlukan tindakan konservsi yang berbeda dengan misalnya lahan untuk perumahan. Perbedaan kebutuhan akan konservasi dapat menyebabkan terbentuknya rencana-rencana yang salign itdak serasi, bahkan penerapan yang saling berlawanan. Untuk menghindarkan kemungkinan terbentuknya pertentangan dan untuk menjamin pengamanan sumber daya secara efektif dari pengurasan dan pemburukan, konservasi harus menjadi bagian dari suatu hampiran bernalar terhadap penggunaan sumber daya (Hudson & Notohadiprawiro, 1983). Konservasi merupakan suatu tindakan yang terencaan dan terkoordinasi. Konsep konservasi dan keterlanjutan mengandung petunjuk bahwa pengelolaan ruang dan waktu mendasari segala kehendak atau kegiatan. Perbedaan kesusahan dari penerapan sistem atau teknik konservasi yang berbeda dapat dikatakan karena perbedaan

27

2. Jenis-Jenis Sumber daya alam Sumber daya alam dibagi menjadi dua, yaitu, sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. 1.) Sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui meliputi air, tanah, tumbuhan dan hewan. Sumber daya alam ini harus kita jaga kelestariannya agar tidak merusak keseimbangan ekosistem. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui itu contohnya barang tambang yang ada di dalam perut bumi seperti minyak bumi, batu bara, timah dan nikel. Kita harus menggunakan sumber daya alam ini seefisien mungkin. Sebab, seperti batu bara, baru akan terbentuk kembali setelah jutaan tahun kemudian. Sumber daya alam juga dapat dibagi menjadi dua yaitu sumber daya alam hayati' dan sumber daya alam non-hayati. 1. Sumber daya alam hayati adalah sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup. Seperti: hasil pertanian, perkebunan, pertambakan dan perikanan. 2. Sumber daya alam non-hayati adalah sumber daya alam yang berasal dari makhluk tak hidup (abiotik). Seperti: air, tanah, barang-barang tambang. Pemanfaatan sumber daya alam: Tumbuhan Manfaat tumbuhan antara lain: Menghasilkan oksigen bagi manusia dan hewan Mengurangi polusi karena dapat menyerap karbondioksida yang dipakai tumbuhan untuk proses fotosintesis Mencegah terjadinya erosi, tanah longsor dan banjir Bahan industri, misalnya kelapa sawit bahan industri minyak goreng Bahan makanan, misalnya padi menjadi beras Bahan minuman, misalnya teh dan jahe Persebaran sumber daya alam tidak selamanya melimpah. ada beberapa sumber daya alam yang terbatas jumlahnya. terkadang dalam proses pembentukannya membutuhkan jangka waktu yang relatif lama dan tidak dapat di tunggu oleh tiga atau empat generasi keturunan manusia. Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang tersedia di alam dan dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Sumber daya alam dibagi menjadi dua, yaitu: sumber daya alam yang dapat diperbarui dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. 1 Sumber daya alam yang dapat diperbarui Ialah sumber daya alam yang dapat diusahakan kembali keberadaannya dan dapat dimanfaatkan secara terus-menerus, contohnya: air, udara, tanah, hutan, hewan dan tumbuhan.

28

A. Air Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain untuk minum, mandi dan mencuci, air bermanfaat juga: (1) sebagai sarana transportasi (2) sebagai sarana wisata/rekreasi (3) sebagai sarana irigasi/pengairan (4) sebagai PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Cekungan di daratan yang digenangi air terjadi secara alami disebut danau, misalnya Danau Toba di Sumatera Utara. Sedangkan cekungan di daratan yang digenangi air terjadi karena buatan manusia disebut waduk, misalnya waduk Sermo di Kulon Progo dan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri (Jateng). B. Udara Udara yang bergerak dan berpindah tempat disebut angin. Lapisan udara yang menyelimuti bumi disebut atmosfer. Lapisan Ozon berfungsi untuk melindungi bumi dari sinar ultraviolet yang dipancarkan oleh matahari. C. Tanah Tanah adalah lapisan kulit bumi bagian atas yang terbentuk dari pelapukan batuan dan bahan organik yang hancur oleh proses alamiah. Tanah banyak dimanfaatkan untuk menanam sumber daya alam pertanian. Pertanian meliputi tanaman untuk makanan pokok, seperti padi, jagung dan sagu. Palawija terdiri dari ubi-ubian dan kacang-kacangan; dan holtikultura yang meliputi berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. D. Hewan Hewan di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua, yaitu hewan liar dan hewan piaraan. Hewan liar ialah hewan yang hidup di alam bebas dan dapat mencari makan sendiri, misalnya dari jenis burung, ikan dan serangga. Hewan piaraan ialah hewan yang dipelihara untuk sekadar hobi atau kesenangan semata, misalnya burung perkutut, marmut, kucing dan kakaktua. Hewan ternak ialah hewan yang dikembangbiakkan untuk kemudian dimanfaatkan atau diperjualbelikan. E. Tumbuhan a.) Hutan Hutan merupakan sebuah areal luas yang ditumbuhi beraneka ragam pepohonan. Dilihat dari jenis pohonnya, hutan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: Hutan Homogen Ialah hutan yang ditumbuhi oleh satu jenis pohon/tanaman, Hutan Heterogen misal: hutan jati, hutan pinus, hutan cemara dan

29

lain-lainnya. Ialah hutan yang ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon/tanaman. Dilihat dari arealnya, hutan dapat dibagi menjadi lima, yaitu sebagai berikut: Hutan lindung ialah hutan yang berfungsi melindungi tanah dari erosi, Hutan produksi ialah hutan yang berfungsibanjir dan tanah longsor. untuk menghasilkan berbagai produk industri dan bahan perlengkapan masyarakat, seperti kayu lapis, mebel, bahan bangunan dan kerajinan Hutan wisata ialah hutan yang ditujukan khusus untuk menarik tangan. para wisatawan domestik (dalam negeri) maupun wisatawan mancanegara. Hutan suaka alam ialah hutan yang berfungsi memelihara dan melindungi Hutan Mangrove ialah hutan bakau flora (tumbuhan) dan fauna (hewan). di tepi pantai yang berfungsi untuk menghindari daratan dari abrasi. Hasil hutan yang dapat dimanfaatkan oleh kita yaitu: kayu (jati, pinus, cemara, cendana), damar, rotan, bambu dan lain-lainnya. Erosi ialah pengkisan tanah yang disebabkan oleh air hujan. Reboisasi ialah penanaman/penghijauan kembali hutan yang telah gundul. Abrasi ialah penyempitan daratan akibat pengikisan tanah yang disebabkan oleh air laut. Korasi ialah pengikisan daratan yang disebabkan oleh angina. b.) Pertanian Pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai macam tumbuhan, antara lain padi, jagung, kedelai, sayur-sayuran, cabai, bawang dan berbagai macam buah-buahan, seperti jeruk, apel, mangga, dan durian. Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam. c.) Perkebunan Jenis tanaman perkebunan yang ada di Indonesia meliputi karet, cokelat, teh tembakau, kina, kelapa sawit, kapas, cengkih dan tebu. Berbagai jenis di antara tanaman tersebut merupakan tanaman ekspor (kegiatan mengirim barang ke luar negeri ) yang menghasilkan devisa (tabungan bagi negara ). 2.) Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui Ialah sumber daya alam yang apabila digunakan secara terus-menerus akan habis. Biasanya sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui berasal dari barang tambang (minyak bumi dan batu bara) dan bahan galian (emas, perak, timah, besi, nikel dan lain-lain). a.) Batu Bara. Batu bara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan seperti kayu, dedaunan, ranting dan akar pepohonan yang telah mati berjuta-juta tahun yang lalu, mengalami sedimentasi dan proses perubahan struktur rumus kimia penyusunnya, sehingga dari sisa-sisa tumbuhan itu mengeras dan terbentuklah batu bara. Batu bara dapat digunakan sebagai bahan bakar kereta uap pada jaman dahulu. Juga, dapat

30

digunakan sebagai bahan bakar penghangat rumah (berbitumen) pada rumah-rumah bangsa yang negaranya mengalami musim dingin. Batu bara sekarang lebih babyak dipakai sebagai dalam bentuk briket batu bara, yakni batu bara dalam bentuk padat yang digunakan sebagai konversi dari penggunaan minyak tanah. Penggunaan batu bara dalam skala besar biasanya digunakan dalam proyek pabrik. Batu bara disini dipakai sebagai sumber energi untuk membangkitkan/ memanaskan uap yang digunakan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), contohnya PLTU Paiton di Jawa Timur. b.) Minyak Bumi Dalam perut bumi, terkandung minyak bumi yang terbentuk dari sisa-sisa jasad renik hewan laut yang telah mati jutaan tahun yang lampau. Sisa-sisa jasad renik ini mengalami perubahan struktur kimia, berubah menjadi minyak. Minyak ini masih belum bisa digunakan secara langsung karena masih membutuhkan proses pengolahan lebih lanjut. Setelah minyak mentah diperoleh, minyak diolah di pabrik pengilangan minyak. Disini, fraksi-fraksi minyak bumi dipisahkan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap pada suhu yang relatif rendah. Fraksi yang tergolong dalamnya adalah gas alam (liquified natural gas), avtur dan bensin. Berikutnya secara berurutan ke titik didih yang semakin meninggi ada minyak tanah, solar, kerosin, lilin, malam, minyak bakar, dan limbah minyak tanah adalah aspal. Minyak bumi adalah termasuk salah satu sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui. Artinya, untuk dapat memperolehnya lagi dibutuhkan waktu berjuta-juta tahun terbentuknya. Ini mengapa harga minyak bumi di pasaran dunia akhir-akhir ini terus melambung. Persediaan minyak bumi semakin menipis, sedangkan tambang minyak baru masih belum ditemukan. 3. Fungsi Sumber Daya Alam a.) Sumber daya alam sebagai faktor produksi Bumi sebagai tempat makhluk hidup, luasnya relatif tetap, sedangkan makhluk hidup khusunya manusia, jumlahnya terus meningkat. Peningkatan jumlah manusia diikuti dengan peningkatan kebutuhan, baik dalam jumlah maupun jenis, yang harus dapat dipenuhi dan ini berarti dibutuhkan makin banyak sumber daya alam dan makin banyak pula limbah dari proses produksi maupun proses konsumsi.

31

Sumber daya modal dan sumber daya manusia sebagai faktor produksi mempunyai peran yang searah dengan pertumbuhan ekonomi, artinya bertambahnya pertumbuhan ekonomi, diikuti dengan bertambahnya sumber daya modal dab sumber daya manusia. Sumber daya alam mempunyai hubungan yang tidak searah dengan laju pertumbuhan ekonomi diikuti oleh menurunnya sumber daya alam. Dengan kondisi yang demikian, banyak anggapan bahwa faktor sumber daya alam merupakan faktor yang sangat menentukan bagi proses pembangunan ekonomi suatu negara. Negara yang banyak mempunyai sumber daya alam akan mengalami proses pembangunan yang cepat. Misalnya, suatu negara yang tanahnya subur sangat mungkin memiliki tingkat produktivitas pertanian yang tinggi. Tingginya produktivitas pertanian merupakan modal awal untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pada tahap perkembangan ekonomi selanjutnya peningkatan produktivitas pertanian akan sangat mempengaruhi perkembangan sektor industri dan jasa. b.) Sumber daya alam sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi Pertumbuhan ekonomi yang cepat akan banyak faktor produksi yang diperlukan untuk proses produksi. Semakin banyak faktor produksi yang diperlukan akan mengurangi tersedianya faktor produksi. Menurunnya persediaan faktor produksi modal atau tenaga kerja, relatif lebih mudah diatasi dibandingkan dengan menurunnya faktor produksi sumber daya alam, karena faktor produksi sumber daya alam harus diambil dari tempat persediaan sumber daya alam tersebut. Selain itu, proses terbentuknya sumber daya alam membutuhkan waktu yang sangat panjang. Tuntutan percepatan pertumbuhan ekonomi, seperti yang terjadi di negara-negara sedang berkembang, menuntut semakin banyak pula sumber daya alam yang diambil dan semakin sedikit jumlah persediaan sumber daya alam tersebut. Dengan demikian ada hubungan yang positif antara jumlah dan kualitas sumber daya alam dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi sebaliknya ada hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi dan persediaan sumber daya alam di dalam bumi. Pertumbuhan ekonomi selain mengurangi persediaan sumber daya alam, mempunyai dampak negatif juga terhadap lingkungan, karena percepatan pertumbuhan ekonomi biasanya diikuti dengan peningkatan sektor industri. Dengan meningkatnya sektor industri tingkat pencemaran terhadap lingkungan akibat limbah proses produksi juga meningkat.

32

Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: Pilar Penyangga Kelestarian Hutan
(Tinjauan Aspek Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis) “Hutan adalah pakaian bumi, dan manusia cenderung merobek-robeknya”.(Rousseau) 1. Pendahuluan Selama tiga dasawarsa terakhir, sejak diberlakukannya ijin pengelolaan hutan di luar Jawa kepada pihak swasta, kondisi hutan Indonesia bukannya semakin baik, tetapi justru semakin hancur. Meski tidak separah di pulau lain, seiring dengan masa resesi yang belum pulih, hutan di Jawa juga mengalami kerusakan yang cukup tinggi. Saat ini Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang masih beroperasi harus pandai-pandai menempatkan diri kalau tidak ingin traktornya disandera, campnya di bakar, atau tenaga kerjanya mogok total. Di belakang suatu kegiatan penebangan oleh HPH, secara diam-diam menyusul operasi kelompok penebang ilegal dengan tumpukan kayu ukuran balok (belambangan) atau papan yang ditumpuk di kanan kiri jalan induk atau jalan cabang yang “siap angkut” (diangkut armada gelap di malam hari) atau “siap titip” (dititipkan angkutan logging setengah memaksa). Gambaran kondisi perebutan kayu seperti di atas dapat ditemui di beberapa kawasan hutan di Kalimantan Timur atau provinsi lain yang hutannya masih dapat dieksploitasi. Gambaran itu semakin runyam dengan munculnya ijin penebangan dengan luasan berskala kecil (maksimum 100 hektar) yang dikeluarkan oleh bupati setempat sebagai realisasi dari otonomi daerah (Undang-undang RI No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, PP No. 62 Tahun 1998 tentang penyerahan Sebagian urusan Pemerintah di Bidang Kehutanan kepada Daerah dan SK Menhut No. 310/Kpts-II/1999 tentang Pedoman Pemberian Hak Pemungutan Hasil Hutan). Pada kenyataannya, lokasi areal yang diberikan pasti tumpang tindih dengan HPH. Mengapa tumpang tindih? Jelas bahwa wilayah hutan yang masih berkayu pasti menjadi incaran pemilik HPH, dan masuk dalam rencana tebang mereka, entah dalam waktu dekat ataupun dalam jangka waktu tertentu kemudian, sementara ijin penebangan skala 100 hektar pasti memilih areal yang kayunya banyak, mudah dikeluarkan dan tidak jauh dari kawasan pemilik ijin. Padahal, hutan Indonesia telah dinyatakan sebagai kawasan paru-paru dunia, yang tentunya kalau bicara hutan Indonesia, wilayah hutan di beberapa propinsi yang masih mengandung potensi kayu seperti Irian Jaya, Kalimantan (khususnya Kalimantan Timur) pasti dipilih sebagai kawasan utama yang menjadi contoh ujung tombak untuk diperlihatkan, karena luas dan kondisi yang relatif masih lebih baik dibanding dengan provinsi lainnya. Sementara itu, di pulau Jawa masih terdengar informasi pencurian kayu jati, atau bahkan penjarahan suatu petak siap tebang oleh kelompok illegal yang semuanya menurunkan kualitas dan kondisi hutan. Demikian runyamnya kerusakan itu, terbukti dengan laporanWorld Bank atas kerusakan hutan Indonesia yang meningkat dari hanya 900 ribu hektar pertahun (era 1980 – 1990), menjadi sekitar dua juta hektar pertahun (Iskandar, 2000). Bahkan, sampai ada pendapat skeptis yang menyatakan bahwa sebelum hutan alam benar-benar habis, pembinaan dan pengelolaan hutan Indonesia – terutama hutan alam luar Jawa- tidak akan dapat terlaksana.

33

2.

Tinjauan Ontologis a. Pengertian, Luasan, dan Harapan Ideal

Menurut Undang-undang Pokok Kehutanan (UUPK) No. 5 Tahun 1967, hutan didefinisikan sebagai suatu lapangan yang bertumbuhkan pohon-pohon yang merupakan suatu kesatuan hidup alam hayati bersama alam lingkungannya dan ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Selanjutnya dalam Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, definisi hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Dari definisi tersebut ada dua hal yang penting yang berubah, pertama bahwa dalam definisi pertama peran pemerintah sangat dominan sebagai penetap suatu kawasan, yang berimplikasi tanggungjawab untuk menjaga kondisi kawasan yang telah ditetapkan. Kemudian kedua, dalam definisi kedua peran pemerintah tidak ditonjolkan namun justru adanya pengakuan untuk tidak memisahkan persekutuan hidup alam dengan lingkungannya, termasuk persekutuan masyarakat sekitar hutan. Dengan melihat definisi itu tampak bahwa hutan juga dimaksudkan sebagai sarana untuk mensejahterakan masyarakat. Berapakah luas hutan di Indonesia? Wilayah Indonesia dengan jumlah 17.508 pulau ini memiliki 57% dari luas daratannya berwujud hutan, atau seluas 108.573.300 hektar. Hutan terluas berada di Kalimantan (34 juta hektar), Irian Jaya (33 juta hektar), Sumatera (20 juta hektar) dan sisanya tersebar di berbagai pulau lainnya (Anonim, 1997). Namun demikian, angka itu berbedan drastis dengan laporan World Bank yang menyatakan bahwa setelah 35 tahun terjadi deforestasi, hutan Indonesia tinggal 57 juta hektar dan hanya 15 % diantaranya terletak di dataran rendah, sisanya di lapangan yang sulit dijangkau dan kawasan payau alluvial (Iskandar, 2000) . Hutan tropik Indonesia sebagaimana disebutkan di atas merupakan bioma daratan yang dicirikan oleh suhu sekitar 25 derajat Celsius dengan perbedaan suhu diurnal (siang dan malam) maupun perbedaan suhu musim (hujan dan kering) yang tidak mencolok. Kelembabannya 80 % atau lebih, umumnya dengan curah hujan yang cukup tinggi. Sifat hutan yang sangat khas dan berbeda dengan sumberdaya lainnya adalah kemampuannya untuk memperbarui diri secara alami, atau karena campur tangan manusia maka manusia mampu memperbaharuinya bahkan dengan perlakuaan intensifikasi. Dengan demikian kelestarian sumberdaya secara alami akan terlaksana dengan sendirinya, ataupun akan terlaksana lebih cepat sepanjang manusia mengusahakannya, dan akan terhenti bila manusia memusnahkannya. Dari sumber daya hutan tersebut selain prinsip kelestarian hasil (sustained yield principle) juga diharapkan mampu secara maksimal memberikan manfaat kepada manusia (maximum yield principle) atau bila prinsip tersebut digabungkan akan menjadikan suatu harapan ideal hutan yaitu pelaksanaan prinsip The progressive maximum sustained yield (prinsip hasil maksimal yang bekembang lestari). Hasil Hutan Lebih Sekedar Kayu Hutan berisikan lebih dari sekedar kayu bulat untuk kayu lapis atau perabot rumah yang diekspor. Hutan juga memuat hasil luar kayu seperti buah-buahan, bahan serat, tumbuhan obat dan plasma nutfah untuk berbagai kebutuhan hidup. Hutan adalah pula rumah tempat pemukiman dan sumber kehidupan spiritual masyarakat lokal, bahkan hutan juga sebagai sumber inspirasi bagi para seniman. Hutan adalah penadah hujan pencegah 34 b.

banjir di musim hujan dan penyimpan air di musim kemarau. Hutan adalah pula penyerap asap pencemar karbon dan pelepas udara bersih. Itulah sifat khas hutan yang lain: serbaguna. Secara ekonomis hutan bermanfaat dalam memberi bahan industri kayu, menjadi sumber devisa, membuka lapangan kerja, dan menaikkan pendapatan nasional. Hutan juga bermanfaat secara ekologis dengan ekosistemnya yang beragam sebagai tempat hunian hewan dan tumbuhan, serta manfaat sosial budaya yang telah dimanfaatkan manusia sejak keberadaannya. Oleh karena bermacam manfaat inilah maka kelompok yang berkepentingan dengan hutanpun beraneka ragam. Ada kelompok yang melulu berkepentingan dengan hutan sebagai sumber ekonomi, antara lain para pemegang HPH dan industriawan kayu, pejabat pemerintah yang mengelola instansi perindustrian, perdagangan, pertambangan, transmigrasi, pemukiman penduduk dan mereka yang ingin mengeksploitasi hutan demi kayu, tanah atu bahan mineral di bawahnya. Lain lagi dengan kelompok yang berkepentingan dengan kelestarian hutan seperti para pemeduli keanekaragaman hayati, pengelola jamu dan obat-obatan, pengelola banjir, air tanah dan pencegah erosi, pemeduli ekoturisme, pejabat instansi lingkungan hidup, departemen kesehatan, para peneliti atau umumnya mereka yang memetik manfaat dari hutan yang utuh. Lain pula kelompok yang berkepentingan dengan hutan sebagai habitat tempat masyarakat lokal, tempat berburu, tempat bercocok tanam secara alami dan sumber daya kehidupan spiritual. Hutan memberi penduduk setempat makanan alami, lapangan pekerjaan dan sumber kehidupan. Hutan memang diolah namun di bawah ambang batas kemampuan pembaharuan diri hutan sebagai sumber alam yang bisa diperbaharui. 3. Tinjauan Epistemologis dan Aksiologis a. Pelaksanaan di Lapangan

Hanya saja dalam pelaksanaannya, semua stakeholder (pemegang peran) di bidang kehutanan baik pemerintah pusat dan daerah, swasta dan masyarakat tidak berjalan dalam track yang benar dalam menuju suatu kelestarian yang diidealkan. Penyebab utamanya adalah faktor desakan ekonomi, faktor moral para pemegang peran di bidang tersebut dan faktor pengembangan ilmu dan teknologi yang terkesan lambat. Secara rinci ketiga penyebab tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. 1). Faktor desakan ekonomi. Dengan pola pembangunan nasional yang dititik beratkan pada sektor ekonomi, membuat seluruh sistem diupayakan menghasilkan sesuatu secara ekonomis dan diupayakan mampu menggerakkan roda ekonomi. Konsekuensi dari pola tersebut adalah bahwa kapasitas terpasang mesin industri perkayuan di Indonesia digenjot sedemikian besarnya, mencapai 60 juta m3/tahun, dengan tujuan menaikkan pendapatan sektor kehutanan dan menghidupkan roda ekonomi bidang kehutanan. Padahal, ketersediaan bahan baku hanyalah separuhnya, atau sekitar 30 juta m3/tahun, yang diperoleh dari sekitar 900 ribu hektar hutan/tahun dengan potensi kayu berdiameter 50 cm ke atas yang boleh ditebang hanya sekitar 30 – 50 m3 per hektar, dengan riap pertumbuhan kayu juga hanya 1 cm/batang/tahun atau sekitar 1 – 1,5 m3/ha/tahun. 35

Dengan alasan ekonomi pula, sejak krisis ekonomi Indonesia berlangsung, kondisi hutan Indonesia diperparah dengan adanya pembelian besar-besaran terhadap hasil hutan berupa flooring dan sleepers dari kayu jenis Ulin (Eusideroxylon zwageri T et B) terutama dari hutan (termasuk hutan lindung) di Kalimantan Timur dan Selatan. Mata rantai penghancuran hutan tersebut melibatkan rangkaian yang panjang dan kuat sejak dari penebang liar (yang bisa juga dilakukan oleh masyarakat setempat dengan harga mulai Rp 300.000/m3), kemudian diteruskan kepada penadah, pengolah, pengumpul sampai dengan eksportir yang pada akhirnya bernilai jual Rp 3 juta/m3. Pihak yang terlibat dalam perdagangan kedua jenis komoditi tersebut sudah tidak lagi murni para pekerja bidang perkayuan, tetapi merambah kepada siapa saja, yang mempunyai minat, modal atau ingin ambil untung dari setiap transanksi yang dilakukan. Perilaku serakah sebagaimana disebutkan di atas, mempengaruhi pula perilaku masyarakat baik yang berada di sekitar lokasi HPH ataupun masyarakat umum lainnya yang mengetahui kondisi tidak benar tersebut. Pengaruhnya dapat berbentuk keikutsertaan dalam tindakan yang serupa seperti pencurian kayu, tebangan liar, mempertentangkan hak adat, tuntutan ganti rugi dan sebagainya. Rencana Bupati Kutai ingin membangun pagar sepanjang 45 kilometer untuk membatasi enclave di tengah Taman Nasional Kutai (Kompasb, 2001) akan menimbulkan pertanyaan, apakah memang begitu jalan keluar mengatasi pencurian kayu dan perambahan yang terus marak di areal seluas hampir 200 ribu hektar? Begitu dahsyatnya eksploitasi hutan dan ketidakberdayaan aparat tampak dimana-mana. Banyak hutan lindung menjadi sasaran mudah untuk memperoleh kayu – bahkan batubara di bawahnya juga di incar untuk dieksploitasi - seperti di Taman Nasional Kerinci Sebelat (Kompasa , 2001) dan Hutan Lindung Bukit Soeharto. Tumpang tindih areal antara berbagai kepentingan juga telah terjadi, misal antara HPH, hutan adat, HPHH, atau kelompok-kelompok kecil (koperasi, KUD, hutan rakyat dan sebagainya). Bagaimana tidak tumpang tindih, kalau seorang Bupati Kutai Barat (luas hutan produktif 1.481.000 hektar) mengeluarkan 622 ijin HPHH dengan target produksi 2,3 juta m3 kayu bulat (KK-PKD, 2001). Areal itu boleh jadi mengambil sisa HPH yang tidak aktif (yang seharusnya tidak boleh tidak aktif, karena rencana kerja HPH 35 tahun, yang berarti siklus pertama baru akan berakhir tahun 2005 nanti). Mungkin sekali areal itu juga bertumpang tindih dengan kawasan yang sedang dalam masa pembinaan suatu HPH aktif tertentu, yang karena keterbatasan dana, tidak diawasi dengan efektif sehingga terkesan “tak bertuan”. Terbukti bahwa teori “The idea of limited goods” berlaku pada eksploitasi hutan ini. Bahwa barang di dunia ini (termasuk kayu) jumlahnya terbatas, sehingga kalau diekploitasi secara berlebihan oleh (sedikit) orang, maka kerugian akan diderita oleh banyak orang sehingga sebelum menderita, (banyak) orang tersebut turut melakukan eksploitasi sedapatdapatnya. Dari sisi ini mungkin terbukti pendapat Hobbes (dalam Bawengan, 1983) bahwa manusia pada dasarnya rakus dan egois, dan kehidupan bagaikan medan perang dengan kemenangan bagi pihak yang kuat, bahwa “manusia natura” hidup dalam suasana kotor, kasar dan singkat.

36

2). Faktor Moral Kekeliruan pada penentu kebijakan, yang tidak memperhitungkan besarnya kemampuan pasokan tersebut diperparah dengan faktor moral yang membuat hutan semakin menderita. Moral sebagaimana disebutkan di atas adalah sifat keserakahan dari para stake holdernya. Perilaku serakah tersebut merupakan sumber malapetaka yang utama bagi hutan alam di Indonesia. Pada awal mula diterapkannya Forestry Agreement melalui UU No. 21 Tahun 1970 tentang HPH, para pemegang lisensi pengusahaan hutan tersebut telah setuju untuk membagi arealnya dalam 35 blok tebangan dengan ketentuan bahwa sepanjang semuanya dapat berjalan dengan baik, setiap tahun diijinkan untuk menebang satu blok tebangan. Karena pertambahan diameter rata-rata dianggap satu sentimeter per tahun, maka pada akhir tahun ke 35 bekas blok tebangan pertama akan memiliki tegakan dengan diameter 49(1 x 35) = 84 cm karena pohon yang diijinkan untuk ditebang adalah pohon dengan diameter 49 cm ke atas. Dengan demikian rotasi tebang dapat dimulai kembali pada tahun ke 36 pada blok pertama, demikian seterusnya setiap tahun berpindah ke blok berikutnya. Kenyataannya yang ada adalah bahwa meski saat ini HPH baru berumur 30 tahun, sebagian HPH sudah tinggal nama, tidak beroperasi atau menghentikan kegiatannya dengan alasan tidak memiliki areal yang layak tebang. Beberapa industri perkayua sudah tidak lagi memiliki areal yang layak tebang. Beberapa industri perkayuan sudah tidak lagi memperoleh pasokan kayu bulat karena disamping tidak memiliki standing stock, perolehan kayu ilegal juga semakin sulit didapatkan. Moral yang baik juga tidak ditunjukkan oleh para petugas di lapangan, yang justru sebaliknya, petugas ikut dalam kegiatan perusakan dengan menjadikan dirinya oknum yang menuntut perlakuan istimewa. Forester yang menjadi pengawas dan forester yang menjadi pelaksana (sarjana kehutanan yang bekerja di HPH) tak lebih hanya sebagai robot, yang masing-masing tertawa dalam hatinya (Iskandar, 2000). Kadar pengabdian dan tanggungjawab yang harus diemban terkalahkan oleh kebutuhan dan pengaruh lingkungan yang menyesatkan. Demoralisasi dan sikap kontradiktif (di satu sisi pandai menguraikan nilai-nilai luhur, di sisi lain korupsi dan kolusi menjadi-jadi) merupakan perilaku lain yang pada akhirnya menjadikan hutan sebagai korban sasaran eksploitasi. Sekarang baru tampak bahwa tekanan yang terlalu berat kepada pembangunan ekonomi, namun tidak disertai pembangunan etika dan moral melalui keteladanan para pemimpin, telah menjerumuskan sebagian anggota masyarakat kita kepada pandangan hidup yang hedonistik, yang enak-kepenak. Kelompok masyarakat tersebut dipenuhi obsesi bagaimana memperoleh kekayaan pribadi sebesar-besarnya dalam waktu sesingkatsingkatnya dengan cara yang semudah-mudahnya, tanpa peduli hukum, etika dan moral. 3). Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa pengelolaan hutan alam di Indonesia hanya didasarkan pada angan-angan yang hanya bagus pada tataran teori, yakni pada forum diskusi dan buku pedoman. Dalam pelaksanaannya, setiap jengkal hutan memiliki karakter, hambatan dan kekhususan dalam hal cara pengelolaan yang tidak semudah membacanya dalam pedoman. Apa yang disebut dengan Tebang Pilih Indonesia (TPI) yang pada tahun 1989 berubah menjadi Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), dalam kenyataannya di 37

lapangan sulit sekali dinilai keberhasilannya, dalam arti bahwa HPH setempat yakin benar bahwa rotasi kedua nanti pasti memperoleh kayu sesuai yang telah direncanakan. Lebih banyak hutan berubah menjadi lahan kosong, wilayah perambahan, semak belukar atau hutan tidak produktif dan tidak terurus. Hal tersebut lebih banyak karena – disamping desakan ekonomi dan moral bangsa ilmu pengetahuan tentang kehutanan yang kita miliki tidak mampu menjawab tentang bagaimana menciptakan sistem pengelolaan dan cara budidaya hutan yang benar-benar lestari. Apa yang disebut dengan TPTI, Tebang Jalur, Tebang Rumpang, Bina Pilih, atau beberapa sistem budidaya hutan alam lainnya, secara teori, dalam tataran wacana, ataupun dalam skala area penelitian dalam luasan tertentu, sungguh memberikan harapan yang menjanjikan. Sistem TPTI telah teruji dalam penelitian dan ditimba dari berbagai pengalaman, menjanjikan riap yang tadinya hanya 1 – 1,5 m3/ha/tahun mampu melipatgandakan sepuluh kali hingga mencapai 11 m3/ha/tahun, sehingga umur panen dapat dipercepat atau bila dipanen sesuai rotasi maka volume yang dihasilkan akan sepuluh kali lebih besar (Sutisna, 1996). Namun bila sudah melihat dalam skala luas dan aplikatif dalam operasional perusahaan, sistem tersebut sulit dibuktikan keberhasilannya. Selalu ditemukan hambatan baik dari segi teknis, ekonomis, atau bahkan sosial (misalnya petak yang berisi pohon binaan diklaim sebagai hutan rakyat), sehingga akhirnya sulit sekali memperoleh jaminan keberlanjutan rotasi berikutnya. Teknologi yang dimiliki semuanya merupakan teknologi warisan luar negeri, bahkan sampai pada mesin-mesin pengolah kayu juga merupakan peralatan hasil relokasi industri dari luar negeri. Ketergantungan kepada pihak luar membuat kita sangat miskin dan lemah dalam ilmu dan teknologi, terobosan yang ada belum mampu menjawab kebutuhan akan kelestarian yang sudah sangat mendesak. Masih terdapat limbah di hutan ( 36,78 %) dan limbah di industri kayu ( 35 %) yang dibiarkan membusuk atau malahan dibakar begitu saja (Muladi, 1996). Sangat berbeda misalnya dengan Selandia Baru (Mc Intosh Company) yang mampu membuat balok penyangga (beam) hasil penggabungan kayu limbah, dan mampu dipasang tanpa tiang penguat sampai sepanjang 90 meter (Anonim, 1998). Sementara harga kayu lapis Indonesia di pasar internasional tidak beranjak naik (bahkan menurun dari 400 US dollar menjadi 250 US dollar/m 3 per awal Oktober 2001), Rusia dan Cina mampu menjual produk serupa dengan harga separuhnya. Cina juga membuka pabrik tikar bambu yang sangat laku di pasar Jepang dan Amerika Serikat, dan Taiwan mendirikan pabrik lampit (tikar rotan) dengan bahan baku dari Indonesia, dengan kualitas yang lebih baik dan harga yang lebih murah dibanding produksi Kalimantan Selatan (Kompasc, 2001). Tampak bahwa Indonesia sulit untuk mampu merebut teknologi dan terlambat dalam antisipasi dan diversifikasi produk atau pemanfaatan teknologinya. b. Beberapa Saran 1). Keseimbangan ekonomi dengan lingkungan: Strategi Terpadu Pengelolalan Hutan Hutan akan tetap lestari sepanjang manusia memahami berdasar pemikiran dan pengalamannya yang membuktikan bahwa hutan mampu memberikan manfaat secara ekonomi bagi siapa saja yang berkaitan dengannya, secara terus menerus. Kata lain dari manfaat ekonomi secara terus menerus adalah tercapainya kelestarian, sedangkan kelestarian akan tercapai bila terjadi keseimbangan antara pemanfaatan secara ekonomi dengan 38

penjagaan kondisi lingkungan yang memungkinkan hutan bertumbuh sebagai penukar manfaat ekonomi yang dipetik. Masalahnya adalah bagaimana menjaga kondisi lingkungan tersebut sehingga hutan mampu bertumbuh sesuai harapan? Karena begitu banyaknya pihak yang berkaitan dengan hutan, maka konsep pengelolaan terpadu sejak perencanaan awal hingga kegiatan operasional dan pengawasannya harus disetujui bersama. Untuk mencapai kelestarian dan melibatkan semua pihak yang memiliki kepentingan dan keinginan terhadap hutan, perencanaan dan pengelolalan hutan hendaknya dilakukan pada tiga level yaitu teknis, konsultatif dan koordinatif. Pada level teknis segenap pertimbangan teknis, ekonomis, sosial dan lingkungan hendaknya secara proporsional masuk ke dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sumberdaya hutan. Pada level konsultatif segenap aspirasi dan kebutuhan pihak stakeholder serta pihak penderita dampak pembangunan sumberdaya tersebut hendaknya diperhatikan. Pada tingkat koordinatif masyarakat perlu bekerjasama dengan semua pihak untuk menuju tujuan bersama yang diinginkan. Dengan demikian terdapat empat tahap proses perencanaan pengelolaan hutan secara terpadu, yang bisa disebut sebagai “Strategi Terpadu Pengelolaan Hutan” meliputi: a). Tahap merumuskan visi, misi, tujuan dan sasaran, yang dapat diangkat pada level nasional yang berkait erat dengan aparat di level provinsi dan kabupaten. b). Tahap perencanaan zonasi, yang merupakan rencana alokasi ruang dan pengendalian penggunaan/pemanfaatan ruang. c). Tahap rencana pengelolaan, yang merupakan petunjuk dan arahan pengelolaan yang terpadu pada kawasan prioritas atau pemanfaatan sumberdaya hutan secara optimal dan berkelanjutan d). Tahap rencana tindak yang merupakan rencana pelaksanaan perumusan program kegiatan pada masing-masing unit kegiatan. Secara lebih jelas, ke empat tahap tersebut dapat digambarkan sebagai pada Gambar 3 berikut ini. Penggambaran sebagaimana di atas menunjukkan adanya keterlibatan semua pihak pada semua aspek sesuai dengan proporsi masing-masing sehingga diharapkan tujuan bersama yang ditetapkan – yaitu kelestarian hutan – dapat tercapai. Dengan demikian sedapat mungkin dilaksanakan peninjauan ulang tentang sistem perijinan, sistem pemanfaatan, zonasi, dan semua yang terkait dengan hak pengelolaan atas suatu kawasan hutan, dengan goal-nya adalah kelestarian dan optimasi hasil. Contoh kasus saja, bahwa tidak akan mungkin lestari pada areal 100 hektar yang merupakan area kecilkecil yang dibagi-bagi oleh bupati kepada masyarakat dengan dalih meningkatkan kesejahteraan langsung kepada mereka. Bagaimana cutting-cycle bisa terjadi (secara ekonomis menguntungkan atau tidak) pada areal yang begitu sempit? Mampukah mereka melaksanakan budidaya dan pembinaan hutannya? Keuntungan terbesar dari kegiatan itu sebenarnya diperoleh siapa: pemerintah daerah selaku penarik pajak dan retribusi, masyarakat selaku pemegang hak, atau “cukong” yang meminjamkan dan memborong pekerjaan dan mengambil kayu mereka? Itu baru satu contoh kasus, dan belum membahas tentang berbagai bentuk hak pengelolaan lainnya.

39

Dengan kata lain, perlu kiranya menetapkan pola penyelesaian penggunaan hutan secara lebih canggih dengan sasaran tunggal yang disepakati semua pihak (yang berbeda kepentingan) dan dapat disebut sebagai Penggunaan Hutan Secara Adil dan Berkelanjutan. 2). Perbaikan moral Saat inilah seharusnya mulai dilaksanakan penghentian terhadap segala kejahatan sosial termasuk bagi para pemegang peran di bidang kehutanan. Seharusnya upaya gerakan “kembali dan start ulang di titik nol” (sebagai istilah lain dari rekonsiliasi) bisa dilaksanakan baik kepada aparat birokrasi, petugas lapangan, kalangan swasta dan siapa saja yang terkait dengan masalah eksploitasi hutan. Paradigma lama, yaitu hanya bertitik berat pada peningkatan sektor ekonomi semata, harus diubah dengan pembangunan etika dan moral pribadi dan sosial. Kepedulian kepada hukum dan norma etika moral harus ditegakkan. Bangsa yang maju adalah bangsa yang taat dan patuh pada hukum, dan bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang menghargai norma, etika dan memiliki moral tinggi. Kalau hal itu bisa tercapai, maka pendapat Rousseau seperti tercantum di bawah judul tulisan ini bisa terbantahkan, dan bahkan kita dapat mengikuti nasihat pujangga “lokal” kaliber dunia Ranggawarsita (1802 – 1873): “…… sak begja-begjaning wong kang lali, luwih begja kang eling lan waspada” (Sebesar apapun bahagianya mereka yang lupa, lebih bahagia orang yang ingat serta waspada) (Suriasumantri, 1995). 3). Peningkatan teknologi Beberapa pemikiran agar potensi hutan tidak secara drastis hilang begitu saja, adalah: a). Penutupan industri yang tidak berijin dan industri yang menampung kayu illegal atau yang tidak jelas sumbernya. Penutupan kegiatan ini harus diikuti dengan sanksi hukum yang tegas, jelas dan terukur. b). Penutupan pabrik kayu lapis yang tidak memiliki pengembangan teknologi yang meningkatkan nilai tambah produk kayu lapis atau turunannya. Industri kayu lapis harus dikonversi dalam tingkat teknologi yang lebih tinggi baik segi kualitas dan daya saingnya sehingga mampu menaikkan harga. c). Peningkatan kegiatan penelitian yang didanai dengan cukup untuk mengantisipasi pengembangan teknologi. 4). Peningkatan Kinerja Kelembagaan dan Perbaikan Iklim Politik Saat ini merupakan saat yang paling baik untuk memulai suatu prestasi kerja demi kelestarian hutan dan masa depan bangsa. Kinerja kelembagaan baik sektor pemerintah dan swasta harus ditata ulang untuk mendukung tujuan itu, dengan sistem yang baru. Iklim politik (baik nasional maupun dalam lingkup kehutanan) harus benar-benar bertujuan untuk kepentingan bangsa, bukan untuk meng”akali” demi tujuan pribadi, kelompok atau golongan. Dengan komitmen semua pihak, semoga hutan Indonesia tetap lestari keberadaannya, demi kesejahteraan seluruh bangsa.

40

Hutan Lindung Dialihfungsikan
Sudah cukup lama, berita ini terdengar. Bahkan sampai menyeret salah seorang anggota DPR ke dalam kasus, karena disinyalir 'goal' nya permintaan alih fungsi itu karena anggota komisi IV itu disuap. Tetapi di sini saya bukan mau menyinggung tentang kasusnya, tetapi tentang alih fungsi hutan lindung itu. Alasan DPR Setujui Alih Fungsi Hutan Lindung Bintan Alih fungsi hutan lindung di Pulau Bintan untuk pembangunan Bandar Sri Bintan sebagai ibukota Kabupaten Bintan disetujui Komisi IV DPR. Apa alasan Komisi Kehutanan ini akhirnya mengetok palu? Proses alih fungsi hutan lindung tersebut sebenarnya telah berjalan selama dua tahun atas usulan Gubernur Kepri kepada Menhut. Selama kurun waktu itu, tim independen yang anggotanya ditunjuk Dephut melakukan kajian. Tim itu lalu mengeluarkan rekomendasi. Isi rekomendasinya adalah fungsi hutan lindung tersebut pantas dialihkan. Hasil kajian tim independen itu lantas dilaporkan kepada Komisi IV DPR atas nama Menhut pada Januari 2008. Ketua Komisi IV DPR Ishartanto mengatakan, Komisi IV sependapat dengan rekomendasi tim independen itu. Hutan lindung ribuan hektar itu pantas dialihfungsikan karena awalnya hutan tersebut merupakan kawasan perkampungan. Apalagi Komisi IV juga telah beberapa kali mekaukan kunjungan kerja ke kawasan hutan itu. “Karena kepentingan ekonomi saat Orde Baru, maka dijadikan hutan lindung. Daerah tersebut dijadikan area penampungan air hujan sehingga menjadi waduk air tawar,” beber Is dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (10/4/2008). Air tawar itu lantas dijual ke Singapura. Kala itu, Singapura dan Malaysia tengah terjadi perselisihan sehingga suplai air tawar ke Negeri Singa itu terganggu. “Tapi sekarang kan Singapura sudah tidak masalah dengan pasokan air karena Siangapura dan Malaysia sudah baikan. Jadi proyek ini (waduk air tawar) sudah tidak visible,” tutur Is. Alih status, imbuh dia, diawali dengan adanya pemekaran Kabupaten Bintan. Gubernur Riau pun telah meminta Menhut untuk mengkajinya. Dan sesuai UU No 41/ 1999, maka pelepasan fungsi hutan lindung harus mendapat persetujuan dari DPR, dalam hal ini Komisi IV DPR. Diduga golnya alih fungsi hutan lindung tersebut menyeret anggota Komisi 41

IV DPR Al Amin Nasution dalam kasus suap. Amin diciduk KPK pada Rabu 9 April pukul 02.00 WIB di Hotel Ritz Carlton. Turut diciduk bersamanya adalah Sekda Kabupaten Bintan Azirwan. Barang bukti yang disita 'hanya' Rp 71 juta. Namun Al Amin mendapat janji mendapat Rp 3 miliar. Menurut saya, walaupun proses permintaan tersebut sudah sesuai prosedur, tetap saja hutan lindung harus tetap dipertahankan. Karena hutan adalah 'paru-paru' dunia, yang jika semakin banyak, pemanasan global juga berkurang. Kasihan juga 'kan, penghuni dari hutan lindung itu kalau rumahnya digusur. ILLEGAL LOGGING KIKIS HUTAN LINDUNG Aparat diminta cepat tanggap. Berantas IL, jangan beri peluang terjadinya pelanggaran.Ketapang, Pambalakan liar di Kabupaten Ketapang terus berlanjut. Kali ini, kawasan hutan lindung Matan di Desa Pematang Gadung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang mulai dirambah para penebang liar. “Aktivitas ini berlangsung kurang lebih dua pekan terakhir di areal hutan produksi lahan gambut Desa Pematang Gadung. Sekitar 35 hektar hutan produktif yang akan dijadikan hutan lindung, telah dirambah,” kata Abdurahman, Kepala Desa Pematang Gadung kepada Equator, Selasa (5/8) Menurut Abdurahman, para penebang liar terbilang nekat dan berani. Tiga buah mesin chainsaw setiap harinya beroperasi. “Ini hasil laporan masyarakat kepada saya,” kata Abdurahman. Diakui Abdurahman memang dilematis karena mereka pada mulanya untuk keperluan masyarakat setempat dan hanya satu buah mesin chainsaw. Tetapi memasuki minggu kedua mulai bertambah menjadi tiga unit mesin. “Bahkan sudah mulai ada yang membuka jalur baru,” kata dia. Diakuinya, sejak Maret 2008 lalu, aktivitas perkayuan di Kabupaten Ketapang sempat terhenti total. Itu setelah Tim Mabes Polri turun langsung menggelar operasi pemberantasan. Dari 30 tersangka, sudah empat orang yang dilimpahkan ke persidangan. Menurut Abdurahman, pihak Desa Pematang Gadung tidak dapat bertindak karena terbentur alasan klasik. Pihaknya pun sudah pernah memanggil oknum penebang ini. Diharapkan intansi terkait segera turun tangan. “Desa sedang mengusulkan agar lahan gambut yang masih sangat lebat hutannya dapat dijadikan lokasi pelepasan satwa liar terutama orang utan,” kata Abdurahman.

42

Upaya ini, dikatakan dia, untuk mengantisipasi kerusakan hutan yang disebabkan beberapa faktor antara lain penebangan liar dan penambangan emas tanpa izin. “Kita memang merencanakan menjadikan kawasan areal hutan produksi itu menjadi hutan lindung atau mungkin hutan lindung desa. Karena kawasan ini masih banyak menyimpan kekayaan flora dan fauna, salah satunya orang utan. Sangat disayangkan jika rusak,” tutur Abdurrahman. Pemanasan global, kata dia, sedikit banyaknya dipengaruhi menipisnya hutan. Sebagai tempat persediaan air tanah, maka hutan lindung dapat dijadikan salah satu usaha untuk menekan pemanasan global tersebut. Dia juga menilai, pembukaan lahan pertambangan emas di Lubuk Sempok dalam setahun belakangan menjadikan kawasan yang kaya flora dan fauna ini mulai terancam. Ditambah lagi, aktivitas illegal logging (IL) yang terus berlangsung. Kawasan ini memang kawasan produktif yang sering dimanfaatkan masyarakat secara tradisional baik memanfaatkan tumbuh-tumbuhan yang ada seperti kayu dan rotan, juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berburu hewan, salah satunya rusa yang masih banyak di kawasan ini,” tambahnya. “Kita sulit untuk bertindak tegas sebab khawatir berbenturan dengan masyarakat, namun kita sudah mengingatkan mereka yang beraktivitas,” ujar dia. Tris Mulyadi dari LSM Cinta Nusantara Kabupaten Ketapang meminta kepolisian segera bertindak agar aktivitas IL cepat dihentikan dan ditindak. Yang dikhawatirkan justeru ada upaya membuka peluang bagi pelaku lain. “Masyarakat kita sering latah, jika melihat orang lain aman dalam berbuat pelanggaran seperti IL maka mereka pun ikut-ikutan,” ucap Tris. Supaya kerusakan hutan tidak bertambah parah, Tris menyarankan aparat segera bertindak dan memproses pelakunya hingga dikenakan hukuman setimpal. “Mumpung kegiatannya masih baru maka harus segera diatasi,” harap Tris. (lud) Pemanasan Global dan Obral Karbon Pertemuan para pihak UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) di Bali pada tanggal 3-14 Desember 2007 menjadi perhatian banyak pihak di belahan dunia. Hajatan yang menghabiskan dana Rp 115 miliar dan US$ 3 juta tersebut dihadiri oleh hampir 10 ribu orang dari 185 negara.

43

Pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim telah menyedot perhatian dunia. Kenaikan suhu udara yang kemudian menjadi sebuah ancaman bagi kehidupan manusia di muka bumi telah menjadi keresahan banyak pihak. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menyebutkan bahwa bila tidak dilakukan upaya pengurangan emisi gas rumah kaca maka 75-250 juta penduduk di Afrika akan menghadapi krisis air di tahun 2020. Kelaparan yang meluas akan terjadi di Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan. Indonesia pun akan menghadapi kehilangan sekitar dua ribu pulau kecil akibat kenaikan permukaan air laut. Bencana banjir dan kekeringan menjadi ancaman. Perjalanan Protokol Kyoto Protokol Kyoto merupakan sebuah kesepakatan yang merupakan kelanjutan dari berbagai kesepakatan penyelamatan bumi, telah menjadi sebuah titik awal upaya mengatasi pemanasan global. Protokol Kyoto telah memperoleh kekuatan hukum internasional sejak 16 Februari 2005, saat Rusia menjadi negara ke-55 yang meratifikasi protokol ini sekaligus memenuhi syarat 55 persen total emisi dari negara maju. Indonesia sendiri telah meratifikasi Protokol Kyoto melalui UU No. 17/2004. Hingga tahun 2006, 161 negara di dunia yang meratifikasi protokol ini, kecuali Amerika Serikat dan Australia yang menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca (GRK). Bersamaan dengan pertemuan Bali, Australia melakukan ratifikasi protokol tersebut, dan akan menjadi bagian dari protokol pada bulan Maret 2008. Protokol Kyoto mewajibkan sejumlah negara maju yang masuk dalam daftar Annex I untuk menurunkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari perkembangan industri dan aktivitas pembangunan di negaranya. Dalam tahap pertama, antara tahun 2008 hingga 2012, negara maju itu wajib menurunkan emisi GRK-nya, dan ditargetkan pada akhir 2012 terjadi penurunan emisi hingga 5,2 persen dari tingkat emisi pada tahun 1990. Emil Salim menyatakan Protokol Kyoto telah terbukti gagal menurunkan emisi gas rumah kaca dunia. Hal ini juga diungkapkan oleh IPCC bahwa pada tahun 2004 terjadi kenaikan 20% emisi gas rumah kaca dari emisi pada tahun 1990. Untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca, Protokol Kyoto dilengkapi dengan mekanisme lentur yang menjadi bagian dari protokol tersebut. Termasuk dalam mekanisme lentur Protokol Kyoto tersebut adalah perdagangan emisi (emission trading), 44

penerapan bersama (joint implementation) dan mekanisme pembangunan bersih (clean development mechanism). Pertarungan di Bali Negara-negara pemilik hutan mengajukan opsi baru, yaitu pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (Reduction Emission from Deforestation and Degradation). Pemerintah Indonesia sendiri yakin akan memperoleh dana hingga US$ 3,75 miliar (Rp 33,75 triliun) per tahun dari negara-negara maju melalui skema REDD tersebut. Dana dari negara maju diperkirakan bisa mencapai US$ 20-30 miliar per tahun untuk program adaptasi di seluruh dunia, dengan asumsi setiap hektar hutan dalam setiap tahunnya dihargai 10 dollar Amerika. REDD sendiri tidak membawa dampak secara langsung dan segera, karena pencemaran masih akan terus bergerak naik seiring dengan itu. WALHI menyatakan bahwa skema REDD telah mengecilkan fungsi ekosistem hutan, yakni hanya sebagai penyerap karbondioksida sahaja (carbon sinks). Selain itu, skema REDD juga akan akan membatasi akses dan partisipasi masyarakat lokal terhadap hutan, setelah hutan berubah menjadi global common goods, serta akan mengaburkan (menyulitkan) proses penegakan hukum terhadap kasus-kasus kejahatan kehutanan, mengingat kesanggupan mereka (penjahat kehutanan) memenuhi kewajibannya untuk membayar (willingness to pay) sesuai skema yang ditawarkan REDD. Pertemuan Bali juga memperbincangkan adaptation fund, yaitu pendanaan yang diperuntukkan bagi negara-negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim untuk melakukan kegiatan adaptasi. Dana berasal dari 2% penjualan CER (Certified Emission Reduction) serta sumber-sumber lain yang belum teridentifikasi dengan jelas. Namun hingga kini masih belum ada kesepakatan mengenai lembaga mana yang akan mengelola dana tersebut. Pertemuan Bali adalah ruang pertarungan negara utara (industri) dengan negara selatan (berkembang). Negara industri tetap akan memproduksi emisi gas rumah kaca yang menjadi sumber pemanasan global, sementara negara pemilik hutan tropis berada pada posisi ditekan akibat deforestasi yang disebabkan juga oleh negara industri. Obral Karbon

45

Sementara pertemuan Bali berlangsung, kelompok-kelompok perantara perdagangan (broker) karbon menantikan hasil dari pertemuan tersebut. Banyaknya dana yang akan bertaburan dalam skema perdagangan karbon, menjadikan para pedagang karbon akan meraup keuntungan yang sangat besar. Presiden Direktur EcoSecurities, Bruce Usher, memperkirakan hingga 2012 permintaan karbon kredit akan mencapai 3,36 miliar ton, sementara sisi penawaran berdasarkan proyek yang terdaftar 2 miliar ton dengan total nilai kredit karbon yang bisa diraup US$ 250 juta atau setara Rp 23,37 triliun. Data lain menyebutkan, besaran nilai pasar untuk tahun 2006 bagi perdagangan kredit karbon adalah sekitar US$ 24 miliar. Nilai yang sangat tidak kecil tersebut diperkirakan akan tumbuh menjadi US$100 miliar pada tahun 2010. Jepang sendiri telah menyediakan dana lingkungan hidup 690 miliar yen atau sekitar Rp 5,175 triliun untuk menghadapi pemanasan global. Kabupaten Malinau dan Global Eco Rescue Ltd telah menginisiasi kerjasama proyek perdagangan karbon di areal seluas 325.041,6 hektar, yaitu di 3 hutan lindung di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, yaitu Pasilan Tabah Hilir Sungai Sembakung, Long Ketrok dan Gunung Laung – Gunung Belayan. Pemkab Malinau akan memasukkan kawasan hutan lindung ke pasar karbon sukarela (voluntary carbon market). Di media, Bupati Malinau, Marthin Billa, menyatakan bahwa melalui perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 8 November 2007 tersebut daerahnya mendapatkan dana penjagaan hutan sebanyak 325.000 Euro atau setara Rp 4,5 miliar per tahun (kurang lebih setara dengan US$ 1 per hektar setiap tahun). Senyatanya, perdagangan karbon dengan cara tersebut dalam kondisi ideal bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi. Memang hingga saat ini Pemerintah Indonesia belum menetapkan harga karbon. Harga di pasar internasional sangat bervariasi dari US$ 5-40 setiap ton dan sangat tergantung pada kesepakatan internasional. Kemampuan hutan tanaman menyerap karbon berkisar 24 ton karbon per hektar setiap tahun, hutan alam berpotensi menyerap 200-300 ton karbon per hektar setiap tahun, sementara di India, sebuah kawasan kering dan hutan campuran dapat menyerap karbon 3,4 ton per hektar setiap tahun. Menurut data Civil Society Organization on Forestry Governance and Climate Change, untuk mendapatkan proyek REDD terdapat biaya operasional yang dibebankan kepada negara pemilik hutan tropis mencapai 30%-40%, artinya hanya 60%-70% dari total 46

dana yang akan diterima negara penerima program tersebut. Bahkan potongan biaya operasional itu bisa mencapai 90%. Contoh saja Kosta Rika yang melakukan mekanisme REDD dengan negara-negara Uni Eropa, hanya memperoleh 10 persen dari total dana karena biaya operasional. Dari beberapa perhitungan di atas, maka sebenarnya harga yang ditawarkan oleh Global Eco Rescue kepada Pemkab Malinau merupakan harga yang sangat rendah dalam sebuah perhitungan perdagangan karbon. Bila sudah demikian, siapa yang sebenarnya akan diuntungkan dari sebuah perdagangan karbon? Ancaman Terhadap Kehidupan Mekanisme perdagangan karbon juga mengancam kehidupan komunitas lokal. Ancaman terhadap masyarakat asli dan petani amat buruk, penghancuran dan hilangnya akses terhadap hutan akan menghancurkan penghidupan mereka. Forum Internasional Masyarakat Asli yang Pertama (The First International Forum Of Indigenous Peoples on Climate Change) menyatakan sinks (penyerapan) dalam mekanisme CDM akan mengandung strategi skala dunia dalam rangka pengambilalihan tanah-tanah. Pengusiran masyarakat oleh tentara atas nama perdagangan karbon, sudah terjadi di Uganda. Konflik horisontal juga kemungkinan akan terjadi beriringan dengan dilakukannya skema perdagangan karbon. Selain juga akan semakin banyak penguasaan lahan oleh kelompok tertentu, yang akan semakin mengurangi luasan kawasan produktif komunitas lokal. Sementara itu, skema perdagangan karbon tak akan menjadi jawaban terhadap pemanasan global. Negara industri tetap saja akan menghasilkan emisi gas rumah kaca dengan sangat tinggi ke atmosfer yang pada gilirannya akan menghadirkan bencana ekologi dan semakin meluasnya penyebaran penyakit. Pemanasan global harus dihadapi bukan semata dengan memuluskan mekanisme perdagangan karbon. Negara-negara industri harus ditekan untuk melakukan penurunan emisi dari industri di negara mereka. Bukan dengan melakukan perdagangan karbon dan hanya menyalahkan negara pemilik hutan tropis yang tersisa. Ancaman terhadap kehidupan akibat pemanasan global dapat diatasi bila negaranegara industri bersikap lebih adil terhadap proses berkehidupan.

47

PERBAIKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP
A. KONDISI UMUM Pembangunan yang seimbang dan terpadu antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup adalah prinsip pembangunan yang senantiasa menjadi dasar pertimbangan utama bagi seluruh sektor dan daerah guna menjamin keberlanjutan proses pembangunan itu sendiri. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004–2009, perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup diarahkan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sumber daya alam agar sumber daya alam mampu memberikan manfaat ekonomi, termasuk jasa lingkungannya, dalam jangka panjang dengan tetap menjamin kelestariannya. Dengan demikian, sumber daya alam diharapkan dapat tetap mendukung perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan daya dukung dan fungsi lingkungan hidupnya, agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Dalam kaitan ini, pembangunan berkelanjutan terus diupayakan menjadi arus utama dari pembangunan nasional di semua bidang dan daerah. Pembangunan kehutanan selama lebih dari tiga puluh tahun telah difungsikan sebagai penunjang pembangunan ekonomi dengan memanfaatkan hasil hutan kayu secara berlebih, sementara masalah sosial dan lingkungan yang berkaitan dengan hutan kurang mendapat perhatian yang memadai. Akibat dari itu, hutan Indonesia telah terdegradasi dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Walaupun pada tataran pemikiran telah disadari akan peran hutan sebagai fungsi penunjang ekosistem kehidupan yang lebih luas dan upaya untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan (sustainable forest management) telah seringkali dibahas, namun dalam praktek sehari-hari di lapangan degradasi hutan masih terus berlanjut. Dampak-dampak negatif dari degradasi hutan juga semakin sering terjadi dengan korban jiwa dan materi yang semakin besar. Dalam jangka pendek hal ini diperkirakan masih sulit untuk diatasi karena upaya perbaikan yang dilakukan akan berkejaran dengan degradasi yang terjadi. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah peningkatan perbaikan pengelolaan hutan secara terus menerus, baik perbaikan dari segi kualitas pengelolaan maupun skala aksi di lapangan. Disamping itu juga diperlukan suatu 48

gerakan nasional yang konsisten dan terus menerus yang melibatkan semua pihak, antara lain dengan meningkatkan peran kelembagaan pengelola kehutanan yang harus semakin handal. Berdasarkan kondisi umum tersebut diatas, perbaikan pengelolaan sumber daya hutan dilakukan melalui penguatan kelembagaan pengelola hutan dengan membentuk unit-unit pengelola lapangan berupa kesatuan pengelola hutan (KPH) yang mencakup seluruh jenis hutan yaitu hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservasi. Untuk mewujudkan hal tersebut, pada tahun 2005 telah dilakukan beberapa kegiatan sebagai berikut. Dalam rangka pelaksanaan Program Pemantapan Pemanfaatan Potensi Sumberdaya Hutan telah dilakukan penetapan kawasan hutan sebanyak 35 unit dengan luas sekitar 110 ribu ha, penunjukan kawasan hutan dan perairan untuk 3 provinsi, pengembangan hutan kemasyarakatan dan usaha perhutanan rakyat, penyelesaian restrukturisasi terhadap 17 HTI dan HPH/IUPHHK pada 73 perusahaan, serta pengembangan produk kayu bernilai tinggi. Dalam pelaksanaan program perlindungan dan konservasi sumber daya alam telah dilaksanakan kegiatankegiatan meliputi penetapan 5 Taman Nasional baru, pengembangan pusat-pusat penyelamatan satwa, pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian sumber daya alam, implementasi kolaborasi pengelolaan taman nasional untuk lebih dari 9 taman nasional, sosialisasi sistem peringkat bahaya kebakaran, dan pembentukan brigade pengendalian kebakaran hutan di 15 provinsi. Selanjutnya, dalam implementasi Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumberdaya Alam telah dilakukan pelaksanaan kajian awal untuk rencana induk pelaksanaan rehabilitasi ekosistem mangrove di Provinsi NAD, pelaksanaan rehabilitasi hutan lindung seluas 89 ribu ha, pelaksanaan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan yang masih berjalan sampai tahun 2007, serta penelitian teknik rehabilitasi lahan kritis bekas tambang, teknik dan kelembagaan rehabilitasi lahan gambut, dan teknik rehabilitasi lahan terdegradasi. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup adalah: pengembangan sistem pengawasan dan pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat, bimbingan teknis perencanaan pengembangan social forestry di 15 provinsi dan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan social forestry di 20 provinsi, serta pembangunan fasilitas pelatihan pemadaman kebakaran hutan untuk petugas dari 4 Taman Nasional. Sedangkan kegiatan yang telah dihasilkan dari pelaksanaan Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup adalah: pembentukan forum DAS dan forum komunikasi kelompok kerja DAS di 9 DAS.

49

Di samping itu, sektor kelautan yang merupakan salah satu sektor pembangunan berbasis pada sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan, diharapkan dapat menjadi andalan dalam mendukung perekonomian nasional dan daerah serta peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Dalam pelaksanaan pembangunan kelautan, telah dihasilkan beberapa pencapaian yang meliputi: (1) penanganan pencurian ikan (illegal fishing); (2) pembangunan/ pemberdayaan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau terluar/terdepan; (3) pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu; dan (4) konservasi dan rehabilitasi sumber daya kelautan. Banyaknya praktik pelanggaran dan illegal fishing telah mengakibatkan kerugian negara cukup besar. Untuk meminimalkan kerugian yang terjadi, telah dilakukan upaya pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan di perairan teritorial dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) melalui penerapan sistem Monitoring Controlling and Surveillance (MCS). Sistem ini terdiri atas Vessel Monitoring System (VMS) yang bermanfaat untuk memantau kapal perikanan yang beroperasi di perairan Indonesia dan ZEEI melalui pemasangan transmiter di kapal-kapal perikanan, dan didukung oleh 18 kapal patroli, 50 alat komunikasi, 600 Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), dan sistem pengawasan berbasis masyarakat (SISWASMAS) di setiap wilayah. Dalam kurun waktu 2004-2005, transmiter yang telah dipasang berjumlah sekitar 1.375 buah, sementara itu juga telah terbentuk kelompok masyarakat pengawas sebanyak 579 kelompok, dan diperkirakan mencapai sebanyak 650 kelompok pada tahun 2006. Selain itu, juga dilaksanakan operasi terpadu yang terdiri atas unsur-unsur Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), TNI AL, Polair dan TNI AU, serta kelompok masyarakat pengawas, di samping gelar operasi mandiri yang dilakukan oleh DKP. Perbaikan sistem perijinan usaha penangkapan dan penyiapan pembentukan Pengadilan Khusus Perikanan juga telah dilaksanakan untuk mendukung penanggulangan illegal fishing. Dalam rangka pengembangan dan pengelolaan sumber daya kelautan telah dilaksanakan penyusunan rencana pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu, rencana zonasi wilayah pesisir, dan pelatihan pengelolaan wilayah pesisir terpadu di 15 provinsi, yang mencakup 42 kabupaten/kota. Di samping itu, pada tahun 2005 juga mulai dilakukan perumusan dan penyusunan kebijakan kelautan nasional (ocean policy). Dalam rangka pendayagunaan potensi sumber daya kelautan non-konvensional, telah dilakukan pengelolaan benda muatan kapal tenggelam (BMKT) yang tersebar sedikitnya di 463 titik. Pengangkatan BMKT telah dilakukan di Pantai Utara Cirebon dengan nilai taksir sebesar Rp225 miliar. Di 50

bidang penataan ruang laut yang merupakan basis pengembangan wilayah pesisir, telah dilakukan penyusunan tata ruang pesisir, laut dan pulau-pulau kecil pada skala regional, provinsi, kabupaten/kota dan kawasan, serta penyusunan rencana detail lokasi kawasan unggulan. Dalam kaitan itu, telah dilakukan pula pengelolaan ruang laut kawasan Teluk Tomini, Selat Karimata, Teluk Cenderawasih dan Teluk Balikpapan. Pembangunan pulau-pulau kecil telah menjadi perhatian khusus untuk ditangani dalam beberapa tahun ini, mengingat kondisinya yang tertinggal dan sebagian dari pulaupulau tersebut sebagai titik pangkal perbatasan Indonesia dengan negara-negara tetangga. Dalam pengembangan dan pemanfaatan pulau-pulau kecil di Indonesia, sejak tahun 2002 telah dibentuk Kelompok Kerja Strategi Pengembangan dan Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil sebagai wadah koordinasi lintas sektor dan daerah. Pada tahun 2005, pemerintah pusat bersama-sama dengan pemerintah daerah telah melakukan kegiatan toponimi (penamaan pulau) di 8 provinsi, yaitu: Bangka Belitung, Riau, Maluku Utara, NTB, NTT, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Selain itu, dilakukan pengembangan pariwisata bahari di kawasan pulau-pulau kecil di 6 lokasi. Selanjutnya, guna mempercepat pembangunan pulau-pulau kecil terluar di 13 kabupaten, pemerintah telah melakukan pengadaan sarana dan prasarana energi tenaga surya dan alat komunikasi. Khusus untuk penanganan dan pemanfaatan pulau-pulau terdepan/terluar yang berjumlah 92 pulau, telah dikeluarkan Peraturan Presiden No. 78/2005 tentang Pengelolaan Pulau-pulau Terluar. Diharapkan dengan keluarnya Perpres tersebut akan dapat mempercepat penanganan dan pengembangan pulau-pulau terluar yang ada baik dari segi hankam maupun kesejahteraan. Saat ini, kondisi ekosistem pesisir di sebagian wilayah telah mengalami kerusakan dan pencemaran yang tinggi, yang digambarkan dengan kerusakan rata-rata terumbu karang sebesar 40 persen, penurunan luasan mangrove, dan pencemaran yang tinggi di beberapa wilayah pesisir/laut. Sebagai salah satu upaya pengurangan perusakan, dilakukan program perlindungan dan rehabilitasi sumber daya kelautan dan perikanan dengan cara melakukan rehabilitasi terumbu karang di 8 provinsi yang meliputi 12 kabupaten/kota, penanaman mangrove, dan pengelolaan konservasi kawasan dan konservasi jenis. Selama kurun waktu 2002–2005, telah ditetapkan luasan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) melalui SK Bupati dan calon KKLD sekitar dua juta hektar, yang diperkirakan akan bertambah sebesar 700 ribu hektar pada tahun 2006. Selain itu, persiapan juga dilakukan dalam rangka pengusulan marine world heritage site, yaitu Taman Nasional Bunaken, Takabonarate, 51

Kepulauan Banda, Raja Ampat, Kepulauan Derawan, dan Wakatobi. Pada tahun 2005 dan 2006 telah dilaksanakan kegiatan kerjasama regional dengan Malaysia dan Filipina dalam pengelolaan kawasan konservasi laut Sulu Sulawesi (Sulu Sulawesi Marine Eco-Region), dan telah menghasilkan rencana aksi konservasi di tingkat nasional dan regional. Selain itu, telah dilakukan pula pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan di perairan Arafura dan Timor yang dilaksanakan melalui kerjasama dengan Australia, Timor Leste, dan Papua New Guinea.Untuk kerjasama pengelolaan laut antar daerah antara lain telah dilaksanakan di Selat Karimata dan Teluk Tomini. Sebagai upaya mitigasi bencana lingkungan laut, telah disusun pedoman strategi nasional mitigasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Bidang energi dan sumber daya mineral juga memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Hal ini terbukti dengan besarnya peranan sektor energi dan sumber daya mineral sebagai penyedia sumber energi, sumber devisa, penerimaan negara, sumber bahan baku industri, wahana alih teknologi, pendukung pengembangan wilayah, menciptakan lapangan pekerjaan dan pendorong pertumbuhan sektor lain. Komoditi yang dihasilkan dari sektor ini masih memegang peranan penting dalam perekonomian nasional, menyumbang hampir mencapai 30% dari total pendapatan negara. Perbaikan iklim investasi mutlak diperlukan guna terus mendukung fungsi sektor energi dan sumber daya mineral sebagai tulang punggung penggerak roda ekonomi nasional dalam tahun-tahun mendatang. Di samping itu penyempurnaan aturan main mengenai pengelolaan produksi pemanfaatan minyak dan gas bumi (migas) perlu terus disempurnakan guna mendukung peningkatan devisa sebagai penerimaan negara. Dalam tahun-tahun mendatang, sektor industri akan terus menjadi konsumen energi final yang paling besar. Berbeda dengan sektor transportasi yang hanya mengkonsumsi bahan bakar minyak (BBM), sektor industri mengkonsumsi berbagai jenis energi final, seperti BBM (35–40%), gas bumi (30–35%), batu bara (15–18%), Liquified Petroleum Gas (LPG) (0–1%), dan listrik (10–12%). Di samping itu pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) terutama untuk sektor transportasi menjadi salah satu opsi yang perlu mendapatkan perhatian. Dengan meningkatnya harga BBM akhir-akhir ini – berkurangnya subsidi BBM – ada potensi untuk menggeser kedudukan BBM di sektor industri oleh berbagai jenis energi final lainnya. Gas bumi, batu bara, dan LPG menjadi lebih kompetitif untuk digunakan sebagai energi input di sektor industri. Belum lagi energi final lainnya yang bersumber dari nabati (biofuel) atapun

52

hayati (biomass), yang jika dikelola dengan baik akan merupakan sumber energi alternatif (yang juga kompetitif) pengganti BBM. Lingkungan tektonik Indonesia memberikan implikasi kepulauan Indonesia kaya akan sumber daya energi dan mineral. Penelitian dan penyelidikan terhadap sumber daya energi fosil seperti migas, Coal Bed Methane (CBM), gas hydrat dan batubara perlu ditingkatkan agar potensi yang ada terkelola dengan optimal. Tidak kalah penting juga, adalah meningkatkan penemuan keberadaan endapan-endapan mineral logam seperti tembaga, emas, nikel, dan timah yang terletak pada busur-busur magmatik dan membentuk proses mineralisasi. Busur magmatik aktif yang terdapat di kawasan Indonesia ini selain membawa mineral-mineral berharga juga menghasilkan suatu sumber energi alternatif yang ramah lingkungan yaitu panas bumi. Cadangan panas bumi yang dimiliki cukup besar untuk menunda posisi Indonesia sebagai net oil importer dan mendukung diversifikasi energi primer bila dapat dioptimumkan pemanfaatannya. Beberapa komoditi mineral logam yang memiliki nilai ekonomi tinggi diantaranya emas, tembaga, timah, dan nikel, juga komoditi mineral non logam atau mineral industri yang sangat beragam jumlahnya saat ini perlu dikembangkan secara intensif. Indonesia juga berpotensi besar terkena bencana geologi. Mitigasi bencana geologi sangat penting dilakukan dalam melindungi seluruh rakyat baik jiwa maupun harta bendanya. Pemanfaatan teknologi geologi memegang peranan penting dalam pemanfaatan lahan untuk kawasan pertambangan, kawasan industri, hutan lindung serta untuk pariwisatanya, sehingga tumpang tindih lahan tidak terjadi. Penyebaran informasi geologi dan sumber daya mineral yang lengkap akan sangat membantu. Kedepan, informasi geologi dan sumber daya mineral harus dengan mudah didapat baik berkaitan dengan dunia usaha maupun kebencanaan. Kondisi geologi dan potensi mineral Indonesia sangat menarik, namun masih banyak wilayah yang belum dijangkau oleh kegiatan eksplorasi secara intensif. Selama tahun 2005 keadaan lingkungan hidup banyak mengalami tekanan di hampir seluruh wilayah tanah air yang didominasi oleh kejadian bencana alam dan lingkungan, serta beragam masalah lingkungan hidup. Bencana alam yang terjadi diantaranya adalah gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir dan letusan gunungapi, di berbagai daerah, dengan kecenderungan yang semakin meningkat. Bencana gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir dan letusan gunungapi telah menimbulkan kerusakan lingkungan seperti rusaknya kawasan budidaya (persawahan, perkebunan, peternakan, dan pertambangan) sarana 53

prasarana, harta dan jiwa manusia. Penyebab banjir dan tanah longsor adalah kombinasi antara besaran curah hujan, struktur geologi, jenis tanah dan daya dukung dan atau kawasan lindung yang dialih fungsikan. Beragam faktor penyebab banjir (dan juga tanah longsor) untuk setiap lokasi namun terdapat faktor yang sama yaitu kombinasi antara curah hujan, daya dukung lingkungan, dialih fungsikannya kawasan lindung khususnya hutan lindung dan masyarakat yang terkena musibah tinggal di kawasan lindung. Kejadian bencana gempa bumi, tsunami dan letusan gunungapi juga tidak terlepas dari dinamika geologi yang memerlukan penelitian, penyelidikan dan sekaligus mitigasi bencana yang baik agar dampak negatif dari bencana dapat diminimalkan. Disamping itu, Kejadian Luar Biasa (KLB) berbagai penyakit menular muncul secara bergantian, tidak saja flu burung (Avian Influenza) yang telah mewabah dan menjadi sorotan secara internasional, akan tetapi penyakit-penyakit lain yang sampai sekarang masih menjadi masalah perlu menjadi perhatian pula. Demam berdarah selalu muncul setiap tahun di berbagai daerah, polio, busung lapar, tuberkulosisi (TBC), muntaber dan malaria masih mewabah di beberapa provinsi. Upaya penanganan secara kuratif (pengobatan) memang perlu dilakukan akan tetapi penanganan secara promotif dan pencegahan masih kurang mendapat perhatian. Keadaan di atas tidak lepas kaitannya dengan degradasi kualitas fungsi lingkungan diikuti dengan gaya hidup tidak sehat serta kemiskinan yang masih cukup tinggi. Di lain pihak, pembangunan bidang lingkungan hidup, telah mencatat beberapa capaian dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup. Untuk itu telah dilakukan peningkatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pencemar dan perusak lingkungan, penyusunan berbagai peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup, peningkatan kesadaran semua lapisan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup dan penyebarluasan informasi dan isu lingkungan hidup yang dilakukan di pusat dan daerah juga telah meningkatkan kepedulian banyak pihak terhadap kondisi lingkungan hidup. Disamping itu, telah dilaksanakan Program Bangun Praja, Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER), dan Program Super Kasih, pembinaan tim penilai AMDAL, serta terbentuknya Environmental Parliament Watch. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia juga telah melaksanakan kegiatan di bidang perlindungan lapisan ozon dari kerusakan akibat penggunaan bahan-bahan kimia, sebagai tindak lanjut ratifikasi Konvensi Wina dan Protokol Montreal di bidang perlindungan lapisan ozon. 54

Pembangunan bidang meteorologi dan geofisika memiliki peran yang penting untuk negara tropis dengan keunikan geografis, cuaca, dan iklim seperti Indonesia. Variabilitas iklim serta karakteristik kegempaan yang terkait erat dengan rentannya Indonesia terhadap proses aktivitas bumi yang tidak pernah berhenti dapat muncul dalam bentuk fenomena alam seperti curah hujan ekstrim, banjir, longsor, kemarau panjang, angin topan, puting beliung, gempa bumi dan tsunami akan membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia berupa korban jiwa maupun harta benda. Catatan internasional tentang jumlah korban bencana (1994–2003) menunjukkan bahwa di Asia terjadi bencana dua sampai tiga kali setiap tahun. Sembilan persen dari jumlah korban bencana adalah penduduk Asia, dan Indonesia menduduki urutan ke-4 di Asia setelah China, India dan Filipina. Untuk tujuan mengurangi dampak bencana diperlukan informasi awal yang tingkat ketepatan dan kecepatannya tinggi agar dapat tepat sesuai kebutuhan dan dapat diterima enduser dalam waktu yang singkat. Informasi dini pada dasarnya tidak hanya digunakan untuk penanggulangan bencana tapi juga sebagai landasan operasional dalam kegiatan perencanaan keselamatan transportasi baik udara, laut dan darat; peningkatan produksi pangan; pelestarian lingkungan hidup; pertahanan dan keamanan; kesehatan; dan pariwisata. Berbagai upaya perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang telah dilakukan masih memerlukan tindak lanjut mengingat masih banyaknya masalah serta tantangan yang dihadapi dalam tahun 2006. Permasalahan yang diperkirakan masih dihadapi dalam pembangunan kehutanan pada tahun 2007 adalah: (1) masih lemahnya kapasitas kelembagaan pengelola sumber daya hutan khususnya di tingkat lapangan sehingga pengelolaan hutan yang berkelanjutan (sustainable forest management/SFM) masih belum dapat dilaksanakan dengan baik; (2) belum optimalnya pemanfaatan aneka fungsi hutan karena pengelolaan hutan masih bertumpu pada hasil hutan kayu; (3) masih belum selesainya restrukturisasi industri kehutanan sehingga permintaan bahan baku kayu dari industri dalam negeri jauh melebihi kemampuan penyediaan yang berkelanjutan; (4) masih lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran UU dan peraturan yang terkait dengan kehutanan sehingga kasus-kasus pembalakan liar (illegal logging), tebang berlebih, perdagangan kayu ilegal (illegal trading), pembakaran hutan, konversi kawasan hutan , dll masih sering terjadi; (5) kurangnya pelibatan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan, antara lain karena tidak jelasnya pelaksanaan aturan kerjasama pemerintah dan masyarakat, serta kondisi kemiskinan masyarakat sehingga cenderung mudah dimanfaatkan untuk mendukung 55

kegiatan-kegiatan ilegal; (6) kurang efektifnya pelaksanaan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan kritis, perlindungan dan konservasi, penatagunaan kawasan hutan, dan lain-lain. Dalam pelaksanaan program pembangunan kelautan permasalahan yang masih akan dihadapi dalam tahun 2007 adalah: (1) masih rendahnya sarana dan prasarana pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan, serta lemahnya penegakan hukum dalam penanganan illegal fishing; (2) kurang optimalnya pemanfaatan potensi sumber daya kelautan dan perikanan di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia, termasuk potensi kelautan nonkonvensional; (3) belum berkembangnya pembangunan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau terdepan/terluar; (4) belum selesainya penetapan batas laut Indonesia dengan negara tetangga; (5) rusak dan tercemarnya ekosistem pesisir dan laut; (6) sering terjadi konflik pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan karena belum tertatanya ruang laut dan pesisir. Dalam pelaksanaan pembangunan bidang energi dan sumber daya mineral, kebutuhan akan BBM dalam negeri dalam kurun waktu 20 tahun terakhir meningkat, dengan laju pertumbuhan sekitar 5–6% per tahun. Namun, hal ini tidak diikuti dengan peningkatan produksi minyak bumi. Bahkan, produksi minyak bumi pada lima tahun terakhir mengalami penurunan yang cukup berarti. Hal ini disebabkan oleh karena: a) tidak ditemukannya cadangan baru dengan skala besar untuk dapat dikembangkan; dan b) sebagian besar dari lapangan minyak yang saat ini sedang berproduksi merupakan lapangan tua – mengalami penurunan produksi secara alamiah sebesar kurang lebih 15% per tahun. Investasi (eksplorasi) di bidang migas juga tidak berkembang terutama disebabkan oleh terbitnya beberapa peraturan yang memberatkan investor, seperti pemberlakuan pajak pertambahan nilai (PPN) dalam tahap eksplorasi, pemberlakuan bea masuk terhadap barang-barang impor Migas, dan pembatasan kegiatan eksplorasi di kawasan hutan lindung. Pemanfaatan dan pengembangan gas bumi saat ini belum mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Sebagian besar gas bumi diekspor dalam bentuk liquified natural gas (LNG). Kelangkaan pasokan gas bumi terjadi dibeberapa daerah misalnya di Jawa Timur, untuk kepentingan tenaga listrik, dan di Aceh, untuk bahan baku pabrik pupuk dan petrokimia. Terbatasnya prasarana tranportasi gas bumi merupakan hambatan yang utama dalam pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri, disamping masih tingginya ongkos produksi gas bumi dibandingkan dengan tingkat kemampuan konsumen gas dalam negeri, terutama rumah tangga. 56

Persoalan utama yang dihadapi dalam pengelolaan lingkungan hidup diantaranya adalah peningkatan pencemaran air, penurunan kualitas udara khususnya di kota-kota besar, kerusakan habitat ekosistem pesisir dan laut yang semakin parah, ancaman terhadap keanekaragaman hayati, kekurangan sumber air bersih di daerah tertinggal/sulit air, lemahnya harmonisasi peraturan perundangan lingkungan hidup, dan rendahnya kesadaran masyarakat yang dalam pemeliharaan lingkungan. Berbagai persoalan lingkungan hidup tersebut telah menurunkan kualitas media lingkungan hutan, tanah, air tanah dan air permukaan, udara dan atmosfir, pantai dan laut, yang berakibat pada penurunan kualitas lingkungan sebagai penyangga kehidupan. Bila ditinjau dari luas wilayah Indonesia, jumlah stasiun pemantauan yang ada saat ini belum cukup untuk dapat memberikan pelayanan informasi meteorologi dan geofisika ke seluruh wilayah Indonesia. Enam stasiun meteorologi maritim, 21 stasiun klimatologi, dan 31 stasiun geofisika yang ada saat ini masih jauh dari cukup. Kualitas data sangat dipengaruhi oleh keakurasian sistem peralatan yang digunakan serta pelaksanaan kalibrasi peralatan tersebut. Pemantauan fenomena meteorologi dan geofisika harus dilakukan secara terus menerus, tidak mengenal batas wilayah serta diperlukan aksesibilitas pertukaran data dan informasi secara mudah dan cepat. Kondisi sarana komunikasi meteorologi dan geofisika saat ini dirasakan masih belum dapat memenuhi tuntutan kebutuhan operasional tersebut.

B. SASARAN PEMBANGUNAN TAHUN 2007 Secara umum, sasaran pembangunan yang ingin dicapai adalah perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup dengan mengarusutamakan prinsip-prinsip tata kepemerintahan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sementara itu, secara khusus, sasaran pembangunan dalam bidang kehutanan adalah: a. Diterapkannya prinsip pengelolaan hutan lestari dengan membangun Unit Pengelolaan Hutan disetiap Provinsi. b. Terselesaikannya penetapan kesatuan pengelolaan hutan di 20 lokasi. c. Meningkatnya investasi untuk memanfaatkan dan mengolah hasil hutan non-kayu.

57

d. Terlaksananya penilaian kinerja pada 85 unit Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) pada hutan alam dan hutan tanaman. e. Terlaksananya pelaksanaan pelelangan 20 unit IUPHHK denga luasan 600 ribu ha. f. Terlaksananya kegiatan-kegiatan operasi penanggulangan illegal logging dan illegal trading. g. Terlaksananya pembangunan hutan rakyat seluas 200 ribu ha, serta hutan kemasyarakatan dan perhutanan sosial seluas 200 ribu ha. h. Terlaksananya rehabilitasi hutan dan lahan seluas 900 ribu ha di 282 DAS prioritas. i. Meningkatnya pengelolaan kawasan konservasi di 10 Taman Nasional. j. Terlaksananya penataan batas kawasan hutan di 26 provinsi. Sasaran yang akan dicapai dalam pembangunan kelautan adalah: a. Meningkatnya ketaatan stakeholders dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya

kelautan dan perikanan, serta terbangunnya sistem Monitoring, Controlling, and Surveillance. b. Terkelolanya wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau kecil berbasis kemitraan dan

masyarakat. c. d. Terwujudnya pengelolaan kawasan perbatasan laut dan pulau terluar/terdepan. Tersusunnya kebijakan kelautan yang terintegrasi (ocean policy) dan peraturan

perundangan bidang kelautan (UU Pengelolaan wilayah Pesisir). e. Meningkatnya pengelolaan dan luasan kawasan konservasi laut dan terlaksananya

rehabilitasi ekosistem terumbu karang, mangrove, padang lamun, dan estuaria. f. Tersusunnya penataan ruang laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil yang mendukung

usaha kelautan dan perikanan. g. Meningkatnya upaya mitigasi bencana lingkungan laut dan kesiapsiagaan masyarakat. 58

h.

Meningkatnya kualitas dan kuantitas pelaksanaan riset dan kepakaran SDM riset. Sasaran dalam pembangunan bidang sumber daya energi, mineral dan

pertambangan adalah: a. Terwujudnya peran optimal migas bagi penerimaan negara guna menunjang

pembangunan ekonomi dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. b. Terciptanya iklim investasi yang lebih baik dan berkembangnya kegiatan penelitian

dan penyelidikan eksplorasi dan eksploitasi migas, panas bumi, batubara, mineral logam maupun non-logam, mineral industri serta pertambangan umum lainnya. c. Terjaminnya ketersediaan minyak mentah dan gas bumi, BBM, BBG, hasil olahan

dan LPG dan/atau LNG untuk kebutuhan dalam negeri, termasuk meningkatnya produksi dan cadangan gas bumi dan cadangan strategis minyak bumi nasional. d. Meningkatnya pemanfaatan energi primer selain minyak bumi, seperti batubara, gas

bumi, panas bumi, tenaga air dan tenaga surya dalam pola konsumsi energi primer nasional. e. Tersedianya dan terkelolanya data dan informasi geologi, energi dan sumber daya

mineral yang lebih lengkap terutama informasi mengenai cadangan sumber daya energi dan mineral di daerah-daerah baru dan informasi mengenai daerah rawan bencana. f. Terwujudnya kemandirian dalam pengusahaan energi dan sumber daya mineral

melalui peningkatan dan pemanfaatan produksi dan jasa dalam negeri. g. Terwujudnya pengembangan masyarakat di daerah koperasi energi dan sumber

daya mineral dan peningkatan pengelolaan lingkungan, peningkatan keselamatan operasi dan kesehatan kerja. h. Terwujudnya alih teknologi dan peningkatan kompetensi tenaga kerja nasional di

sektor energi dan sumber daya mineral Sedangkan sasaran yang akan dicapai melalui pembangunan lingkungan hidup adalah:

59

a. tanah. b.

Menurunnya beban pencemaran lingkungan meliputi air, udara, atmosfer, laut, dan

Diterapkannya berbagai kebijakan untuk menurunkan laju kerusakan lingkungan

meliputi sumber daya air, hutan dan lahan, keanekaragaman hayati, energi, atmosfir, serta ekosistem pesisir dan laut. c. Diterapkannya pertimbangan pelestarian fungsi lingkungan dalam perencanaan dan

pelaksanaan pembangunan serta pengawasan pemanfaatan ruang dan lingkungan. d. Meningkatnya kepatuhan pelaku pembangunan untuk menjaga kualitas fungsi

lingkungan. e. Terwujudnya pengarusutamaan prinsip-prinsip tata kepemerintahan dalam

pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di pusat dan daerah. f. Terwujudnya peningkatan kapasitas pengelola lingkungan hidup.. Selanjutnya, sasaran yang akan dicapai melalui pembangunan bidang meteorologi dan geofisika adalah: a. Tersedianya informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami yang dapat diakses

secara cepat oleh masyarakat, melalui Pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami. b. Tersedianya informasi dan peringatan dini cuaca/iklim ekstrim yang dapat diakses

secara cepat oleh masyarakat, melalui Pembangunan Sistem Peringatan Dini Meteorologi (cuaca dan iklim ekstrim). c. Tersedianya informasi cuaca untuk penerbangan, pelayaran, pertahanan dan

keamanan, pariwisata dan kesehatan. d. Tersedianya informasi iklim untuk mendukung pertanian yang dapat diakses secara

cepat oleh masyarakat di tingkat kabupaten. e. hidup. Tersedianya informasi kualitas udara untuk mendukung pelestarian lingkungan

60

C. ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TAHUN 2007 Untuk mencapai sasaran sebagaimana disebutkan di atas, arah kebijakan pembangunan diutamakan untuk mengarusutamakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan. Secara rinci, arah kebijakan yang ditempuh dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah sebagai berikut. Pembangunan kehutanan diarahkan untuk: 1. Mengembangkan peraturan-peraturan yang mendukung untuk terciptanya

pengelolaan hutan lestari dan pemanfaatan potensi sumber daya hutan yang efisien.. 2. 3. Membentuk wilayah pengelolaan dan perubahan kawasan hutan. Mengembangkan sistem insentif untuk menarik investasi dibidang pengembangan

hutan tanaman, hutan rakyat, pemanfaatan wisata alam dan jasa lingkungan. 4. 5. Menginventarisasi potensi dan pengembangan informasi sumber daya hutan. Mengatur struktur industri kehutanan dalam rangka efisiensi dan peningkatan daya

saing. 6. 7. Melakukan perlindungan dan pengamanan hutan. Mengatur perijinan dalam rangka peningkatan peran serta masyarakat dalam

pengelolaan hutan lestari. 8. Mengembangkan, merencanakan, melaksanakan, serta melakukan pembinaan

rehabilitasi hutan dan lahan 9. Melakukan perlindungan dan konservasi kawasan-kawasan hutan yang masih baik

10. Mengukuhkan dan menataguna kawasan hutan. Pembangunan kelautan diarahkan untuk :

61

1.

Memperkuat pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya kelautan dan

perikanan dalam upaya penanggulangan illegal fishing dengan penerapan monitoring, controlling and surveillance secara terkoordinasi yang didukung dengan sarana kapal pengawas, vessel monitoring system, satelit, radar, sistem pengawasan berbasis masyarakat dan lain-lain. 2. Penegakan hukum di wilayah laut teritorial, Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia

(ZEEI), dan perbatasan terhadap pelanggaran dan perusakan. 3. Mengembangkan dan mengelola sumber daya laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil

secara terpadu, berkelanjutan dan berbasis kemitraan dan masyarakat. 4. Mengembangkan dan mengelola wilayah perbatasan laut dan pulau-pulau

terdepan/terluar. 5. Merumuskan dan menyusun kebijakan kelautan nasional dan peraturan perundangan

pengelolaan wilayah pesisir. 6. Menyusun tata ruang laut, pesisir dan pulau-pulau kecil, serta lahan budidaya

perikanan. 7. 8. Meningkatkan rehabilitasi dan konservasi sumber daya kelautan dan perikanan. Meningkatkan riset dan iptek kelautan dan perikanan. Pembangunan energi, sumber daya mineral, dan pertambangan diarahkan untuk: 1. Meningkatkan iklim investasi industri hulu migas, panas bumi, batubara, mineral melalui penyediaan data dan informasi potensi sumber daya dan cadangan serta penyempurnaan kebijakan fiskal, kontrak kerjasama, struktur industri, dan harga. 2. Menemukan cadangan baru migas, panas bumi, dan batubara melalui peningkatan kegiatan seismik survei, termasuk pemanfatan geo-science, pemboran eksplorasi/pengembangan, serta pembangunan sarana dan prasarana pendukung.

62

3.

Mengembangkan sumber-sumber migas di daerah laut dalam dan wilayah timur

Indonesia melalui pemberian perangsang tambahan atau insentif. 4. Mengoptimalkan serta meningkatkan produksi kilang migas guna memenuhi

kebutuhan BBM dalam negeri, serta meningkatkan pelayanan dan penyaluran BBM di dalam negeri. 5. Menyelesaikan konflik lahan peruntukan antara pertambangan dan hutan lindung, menurunkan jumlah pertambangan mineral dan batubara tanpa izin (PETI), serta mengoptimalisasi kegiatan pengembangan masyarakat paska tambang. 6. Menyempurnakan sistem data dan informasi geologi guna mendukung pencarian

sumber daya dan cadangan energi dan mineral, dan promosi wilayah kerja pertambangan. Pembangunan lingkungan hidup diarahkan untuk: 1. Meningkatkan pengendalian pencemaran lingkungan untuk mendorong sumber

pencemar memenuhi baku mutu, menggunakan bahan baku yg ramah lingkungan dan meningkatkan kapasitas daerah di bidang pengendalian pencemaran. 2. Meningkatkan konservasi sumber daya alam dan pengendalian kerusakan

lingkungan melalui kebijakan insentif dan disinsentif dan membangun income generating masyarakat dalam menunjang keberhasilan konservasi dan pemulihan kerusakan lingkungan. 3. Meningkatkan penaatan lingkungan melalui pendekatan penataan ruang dan

pengkajian dampak lingkungan. 4. 5. Menguatkan akses masyarakat terhadap informasi lingkungan hidup Meningkatkan upaya penegakan hukum lingkungan secara konsisten terhadap

pencemar dan perusak lingkungan. 6. 7. Mendayagunakan potensi kerjasama luar negeri bidang lingkungan hidup. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pengelola lingkungan hidup di pusat maupun

daerah. 63

Pembangunan meteorologi dan geofisika diarahkan untuk: 1. Mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami dan Sistem Peringatan Dini

Meteorologi (cuaca dan iklim ekstrim). 2. Meningkatkan kualitas dan aksesibilitas data dan informasi melalui penguatan

sarana dan kalibrasi dan komunikasi. 3. Meningkatan kualitas informasi meteorologi dan geofisika melalui penguatan sarana

pengolahan dan analisis serta penelitian dan pengembangan. 4.. 5. Menambah jaringan stasiun meteorologi maritim, klimatologi serta geofisika. Meningkatkan kelas stasiun untuk peningkatan kemampuan penyediaan informasi

meteorologi dan geofisika serta relokasi stasiun sesuai dengan tuntutan kebutuhan operasional. 6. 7. Menyusun Rancangan Undang-Undang Meteorologi dan Geofisika. Meningkatkan dan memelihara peralatan pada stasiun meteorologi, klimatologi dan

geofisika yang ada di daerah.

64

Ekonomi Indonesia dan Pengaruh Global
Perkembangan ekonomi global pasti akan mempengaruhi kondisi ekonomi di Indonesia, apalagi perekonomian Indonesia bersifat terbuka. Perekonomian Indonesia terbuka dari sisi neraca pembayaran mulai dari perdagangan, arus modal masuk dan keluar (capital inflow atau outflow), dan kegiatan pemerintah melalui penarikan dan pembayaran utang luar negeri. "Sebagai negara kecil dan terbuka dalam kancah ekonomi global, yang bisa dilakukan Indonesia adalah memperkuat pondasi ekonomi dan memperbesar fleksibilitas. Ekonominya harus fleksibel," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berbagai keputusan harus bisa disesuaikan atau diubah secepatnya ketika memang harus diubah dalam kondisi perekonomian yang overheating (kepanasan). "Jangan kaku di mana kalau sudah ambil keputusan tidak bisa berubah. Di sisi lain APBN juga harus sehat demikian juga perbankan juga harus sehat," katanya. Ia menjelaskan, dalam beberapa kurun waktu perekonomian Amerika Serikat (AS) dan Cina telah menjadi dua mesin ekonomi utama di dunia. Kemudian perekonomian di beberapa kawasan seperti India, Jepang, dan Eropa juga kembali menggeliat. Sudah sejak 2003 hingga 2004, berbagai kalangan melihat bahwa perekonomian AS sebagai lokomotif perekonomian dunia sudah tidak sustainabel karena perekonomian AS selalu mengalami defisit. Namun karena pemerintahannya tidak ingin mewariskan kondisi ekonomi dalam kondisi jelek maka mereka banyak menetapkan policy agar momentum pertumbuhan ekonominya tetap tinggi seperti melakukan pemotongan pajak besar-besaran. "Tapi orang melihat itu adalah policy jangka pendek yang sebenarnya tidak berimplikasi baik dalam jangka panjang dan AS tetap mengalami defisit bahkan defisit kembar yaitu pada APBN-nya dan pada neraca pembayarannya," jelas Sri Mulyani. Dalam beberapa kurun waktu, defisit AS itu tidak menjadi masalah karena dapat dikatakan hampir seluruh dunia membiayai defisit AS dengan cara membeli surat utang yang dikeluarkan AS atau menyimpannya dalam cadangan devisa. Cadangan devisa Cina dalam bentuk dolar AS saat ini sangat besar hingga mencapai di atas 1 triliun dolar AS. Demikian juga dengan negara-negara lain, cadangan devisanya meningkat cukup drastis seperti India yang saat ini di atas 80 miliar dolar AS. "Dari sisi produksi dan perdagangan sebenarnya AS kalah dengan Cina tetapi dari sisi capital inflow ke AS, pasar AS sangat besar di mana semua negara memiliki andil di pasar AS," jelas Sri Mulyani. 65

Namun sekali lagi banyak kalangan menilai bahwa kondisi pasar modal dan pasar uang di AS yang tidak didukung dengan produksi dan perdagangan, tidak akan sustainable lagi dalam jangka panjang. "Makanya ketika New York Stok Exchange (NYSE) dianggap kurang atraktif dibanding London, maka pejabat di AS mereview berbagai kebijakannya karena dianggap akan mempengaruhi defisit neraca pembayarannya," kata Sri Mulyani. Menurut dia, pihak AS maupun pelaku ekonomi besar lainnya akan terus-menerus mereview berbagai kebijakannya atas kondisi yang berkembang sehingga perekonomiannya tetap terjaga. "Waktu itu Menteri Keuangan seluruh dunia menyatakan bahwa perubahan itu merupakan suatu keharusan. Yang jadi soal adalah apakah perubahan itu soft landing, hard landing, atau crash landing," jelasnya. Menurut dia, Indonesia pernah terkena dampak perubahan situasi global secara drastis di mana Indonesia harus melakukan devaluasi mata uangnya pada tahun 1983 dan tahun 1986. "Meskipun perubahan situasi global dalam 1 hingga 2 tahun ke depan diyakini akan terjadi soft landing, tetapi kita tetap akan terus mewaspadai perubahan yang terjadi," katanya. Menkeu mencontohkan perubahan kebijakan di Cina sebagai respon atas kebijakan AS beberapa waktu lalu telah berdampak kepada kurs Rupiah maupun indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Pada akhir Februari 2007 lalu IHSG BEJ dan kura rupiah mengalami kemerosotan cukup signifikan. IHSG BEJ pada Selasa (27/2) turun 19,943 poin (1,12 persen) menjadi 1.764,008. Pada Rabu siang IHSG turun lagi 57,500 poin menjadi 1.706,508. Sementara nilai tukar Rupiah pada Rabu pagi (28/2) turun tajam hingga menjadi Rp9.185/9.190 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya yaitu Rp9.070/9.092 atau melemah 115 poin. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan turunnya IHSG BEJ itu karena faktor fundamental ekonomi dalam negeri cukup baik. "Faktor-faktor fundamental dalam negeri yang berhubungan dengan korporasi dan pasar modal rasanya tidak ada yang mendorong penurunan IHSG. Karena itu kita tidak terlalu khawatir," katanya. Menurut dia, perbaikan terhadap kondisi pasar modal maupun kondisi korporasi akan terus dilakukan, namun ia menilai tidak ada faktor dalam negeri yang secara signifikan mendorong adanya penurunan IHSG. Ia menyatakan, penurunan IHSG di BEJ yang terjadi saat itu karena sentimen regional yang sedang terjadi dan Indonesia menerima dampaknya. "Kalau turun karena dampak itu ya nggak apa-apa. Meski demikian kita akan terus mewaspadai," kata Sri Mulyani. Senada 66

dengan Sri Mulyani, Menko Perekonomian Boediono menyatakan turunnya IHSG dan nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir merupakan dampak regional terkait apa yang terjadi di Cina. "Itu gerakan di seluruh dunia. Itu karena kemarin Cina anjlok cukup besar hingga 10 persen, demikian juga dengan Hong Kong. Kalau Hong Kong jelas karena ekornya Cina," kata Boediono. Menurut Boediono, semua negara terkena dampak dari apa yang terjadi di Cina, namun apa yang terjadi di Indonesia masih dalam batas-batas yang terkendali. "Jadi tidak ada yang salah di sini, kita tetap pada kebijakan yang telah kita tetapkan dan sampai saat ini cukup baik," katanya. Ia mengharapkan, dampak global itu hanya akan sementara saja sehingga tidak akan berdampak buruk kepada perekonomian nasional secara keseluruhan.

PERKEMBANGAN ETIKA PROFESI
1. PENTINGNYA ETIKA PROFESI Apakah etika, dan apakah etika profesi itu ? Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act as the performance index or reference for our control system”. Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri. Selanjutnya, karena kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri. 67

Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat “built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalahgunaan kehlian (Wignjosoebroto, 1999). Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika profesi, apa yang semual dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan kepada para elite profesional ini. 2. PENGERTIAN ETIKA Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agara mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita. Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini: - Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. - Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari seg baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. 68

- Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya. Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang perlu kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya. Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya prilaku manusia : 1. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil. 2. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus member norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan. Etika secara umum dapat dibagi menjadi : a. ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsipprinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori. b. ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud: Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis: cara

69

bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidanakn, dan teori serta prinsip moral asar yang ada dibaliknya. ETIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi dua bagian: a. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. b. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia. Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan. Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadpa pandangan-pandangana dunia dan idiologi-idiologi maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi atau terpecah menjadi banyak bagian atau bidang. Dan pembahasan bidang yang paling aktual saat ini adalah sebagai berikut : 1. Sikap terhadap sesama 2. Etika keluarga 3. Etika profesi 4. Etika politik 5. Etika lingkungan 6. Etika idiologi SISTEM PENILAIAN ETIKA : • Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan baik atau jahat, susila atau tidak susila. • Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya atau telah mendarah daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya dalam jiwa, bila telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti. Jadi suatu budi pekerti, pangkal penilaiannya adalah dari dalam jiwa; dari semasih berupa angan-angan, cita-cita, niat hati, sampai ia lahir keluar berupa perbuatan nyata. • Burhanuddin Salam, Drs. menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di nilai pada 3 (tiga) tingkat : 70

a. Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa rencana dalam hati, niat. b. Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti. c. Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau buruk. Dari sistematika di atas, kita bisa melihat bahwa ETIKA PROFESI merupakan bidang etika khusus atau terapan yang merupakan produk dari etika sosial. Kata hati atau niat biasa juga disebut karsa atau kehendak, kemauan, wil. Dan isi dari karsa inilah yang akan direalisasikan oleh perbuatan. Dalam hal merealisasikan ini ada (4 empat) variabel yang terjadi : a. Tujuan baik, tetapi cara untuk mencapainya yang tidak baik. b. Tujuannya yang tidak baik, cara mencapainya ; kelihatannya baik. c. Tujuannya tidak baik, dan cara mencapainya juga tidak baik. d. Tujuannya baik, dan cara mencapainya juga terlihat baik. C. PENGERTIAN PROFESI Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek. Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Sejalan dengan itu, menurut DE GEORGE, timbul kebingungan mengenai pengertian profesi itu sendiri, sehubungan dengan istilah profesi dan profesional. Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional tidak atau belum tentu termasuk dalam pengertian profesi. Berikut pengertian profesi dan profesional menurut DE GEORGE: PROFESI, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. PROFESIONAL, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang 71

profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang. Yang harus kita ingat dan fahami betul bahwa “PEKERJAAN / PROFESI” dan “PROFESIONAL” terdapat beberapa perbedaan : PROFESI : - Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus. - Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu). - Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup. - Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam. PROFESIONAL : - Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya. - Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu. - Hidup dari situ. - Bangga akan pekerjaannya. CIRI-CIRI PROFESI Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu : 1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun. 2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi. 3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat. 4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, 72

keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus. 5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi. Dengan melihat ciri-ciri umum profesi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kaum profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas rata-rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka kepentingan masyarakat. Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang kegiatan menerapkan suatu standar profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan tercipta suatu kualitas masyarakat yang semakin baik. PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI : 1. Tanggung jawab - Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya. - Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya. 2. Keadilan. Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. 3. Otonomi. Prinsip ini menuntut agar setiap kaum kebebasan dalam menjalankan profesinya. SYARAT-SYARAT SUATU PROFESI : - Melibatkan kegiatan intelektual. - Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus. - Memerlukan persiapan profesional yang alam dan bukan sekedar latihan. - Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan. - Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen. - Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi. - Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat. 73 profesional memiliki dan diberi

- Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik. PERANAN ETIKA DALAM PROFESI : • Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika tersebut, suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan bersama. • Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan para anggotanya. • Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada masyarakat profesi tersebut. Sebagai contohnya adalah pada profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan, demikian juga pada profesi dokter dengan pendirian klinik super spesialis di daerah mewah, sehingga masyarakat miskin tidak mungkin menjamahnya. D. KODE ETIK PROFESI Kode; yaitu tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata, tulisan atau benda yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang sistematis. Kode etik ; yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja. MENURUT UU NO. 8 (POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN) Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari. Kode etik profesi sebetulnya tidak merupakan hal yang baru. Sudah lama diusahakan untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuanketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh seluruh kelompok itu. Salah satu contoh tertua adalah ; SUMPAH HIPOKRATES, yang dipandang sebagai kode etik 74

pertama untuk profesi dokter. Hipokrates adalah doktren Yunani kuno yang digelari : BAPAK ILMU KEDOKTERAN. Beliau hidup dalam abad ke-5 SM. Menurut ahli-ahli sejarah belum tentu sumpah ini merupakan buah pena Hipokrates sendiri, tetapi setidaknya berasal dari kalangan murid-muridnya dan meneruskan semangat profesional yang diwariskan oleh dokter Yunani ini. Walaupun mempunyai riwayat eksistensi yang sudahsudah panjang, namun belum pernah dalam sejarah kode etik menjadi fenomena yang begitu banyak dipraktekkan dan tersebar begitu luas seperti sekarang ini. Jika sungguh benar zaman kita di warnai suasana etis yang khusus, salah satu buktinya adalah peranan dan dampak kode-kode etik ini. Profesi adalah suatu MORAL COMMUNITY (MASYARAKAT MORAL) yang memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama. Kode etik profesi dapat menjadi penyeimbang segi-segi negative dari suatu profesi, sehingga kode etik ibarat kompas yang menunjukkan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral profesi itu dimata masyarakat. Kode etik bisa dilihat sebagai produk dari etika terapan, seban dihasilkan berkat penerapan pemikiran etis atas suatu wilayah tertentu, yaitu profesi. Tetapi setelah kode etik ada, pemikiran etis tidak berhenti. Kode etik tidak menggantikan pemikiran etis, tapi sebaliknya selalu didampingi refleksi etis. Supaya kode etik dapat berfungsi dengan semestinya, salah satu syarat mutlak adalah bahwa kode etik itu dibuat oleh profesi sendiri. Kode etik tidak akan efektif kalau di drop begitu saja dari atas yaitu instansi pemerintah atau instansi-instansi lain; karena tidak akan dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai yang hidup dalam kalangan profesi itu sendiri. Instansi dari luar bisa menganjurkan membuat kode etik dan barang kali dapat juga membantu dalam merumuskan, tetapi pembuatan kode etik itu sendiri harus dilakukan oleh profesi yang bersangkutan. Supaya dapat berfungsi dengan baik, kode etik itu sendiri harus menjadi hasil SELF REGULATION (pengaturan diri) dari profesi. Dengan membuat kode etik, profesi sendiri akan menetapkan hitam atas putih niatnya untuk mewujudkan nilai-nilai moral yang dianggapnya hakiki. Hal ini tidak akan pernah bisa dipaksakan dari luar. Hanya kode etik yang berisikan nilai-nilai dan citacita yang diterima oleh profesi itu sendiri yang bis mendarah daging dengannya dan menjadi tumpuan harapan untuk dilaksanakan untuk dilaksanakan juga dengan tekun dan konsekuen. Syarat lain yang harus dipenuhi agar kode etik dapat berhasil dengan baik adalah bahwa pelaksanaannya di awasi terus menerus. Pada umumnya kode etik akan mengandung sanksi-sanksi yang dikenakan pada pelanggar kode etik.

75

ETIKA PROFESI DAN TANGGUNG JAWAB PROFESI
Pengertian Profesi dan Pelaksanaan Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang tertentu atau jenis pekerjaan (occupation) yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetapi belum tentu dikatakan memiliki profesi yang sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup untuk menyatakan suatu pekerjaan dapat disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksaan, dan penguasaan teknik intelektual yang merupakan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek. Adapun hal yang perlu diperhatikan oleh para pelaksana profesi. 1. Etika Profesi Berkaitan dengan bidang pekerjaan yang telah dilakukan seseorang sangatlah perlu untuk menjaga profesi dikalangan masyarakat atau terhadap konsumen (klien atau objek). Dengan kata lain orientasi utama profesi adalah untuk kepentingan masyarakat dengan menggunakan keahlian yang dimiliki. Akan tetapi tanpa disertai suatu kesadaran diri yang tinggi, profesi dapat dengan mudahnya disalahgunakan oleh seseorang seperti pada penyalahgunaan profesi seseorang dibidang komputer misalnya pada kasus kejahatan komputer yang berhasil mengcopy program komersial untuk diperjualbelikan lagi tanpa ijin dari hak pencipta atas program yang dikomesikan itu. Sehingga perlu pemahaman atas etika profesi dengan memahami kode etik profesi. 2. Kode Etik Profesi Kode etik profesi merupakan sarana untuk membantu para pelaksana seseorang sebagai seseorang yang professional supaya tidak dapat merusak etika profesi. Ada tiga hal pokok yang merupakan fungsi dari kode etik profesi :

Kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan. Maksudnya bahwa dengan kode etik profesi, pelaksana profesi mampu mengetahui suatu hal yang boleh dia lakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Kode etik profesi merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan. Maksudnya bahwa etika profesi dapat memberikan suatu pengetahuan 76

kepada masyarakat agar juga dapat memahami arti pentingnya suatu profesi, sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap para pelaksana di lapangan keja (kalanggan social).

Kode etik profesi mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Arti tersebut dapat dijelaskan bahwa para pelaksana profesi pada suatu instansi atau perusahaan yang lain tidak boleh mencampuri pelaksanaan profesi di lain instansi atau perusahaan.

3. Penyalahgunaan Profesi Dalam bidang computer sering terjadi penyalahgunaan profesi contohnya penjahat berdasi yaitu orang-orang yang menyalahgunakan profesinya dengan cara penipuan kartu kredit, cek, kejahatan dalam bidang komputer lainnya yang biasa disebut Cracker dan bukan Hacker, sebab Hacker adalah Membangun sedangkan Cracker Merusak. Hal ini terbukti bahwa Indonesia merupakan kejahatan komputer di dunia diurutan 2 setelah Ukraine. Maka dari itu banyak orang yang mempunyai profesi tetapi tidak tahu ataupun tidak sadar bahwa ada kode Etik tertentu dalam profesi yang mereka miliki, dan mereka tidak lagi bertujuan untuk menolong kepentingan masyarakat, tapi sebaliknya masyarakat merasa dirugikan oleh orang yang menyalahgunakan profesi. 4. Kesimpulan Kesadaran itu penting dan lebih penting lagi kesadaran itu timbul dari Diri kita masing - masing yang sebentar lagi akan menjadi pelaksana profesi di bidang komputer disetiap tempat kita bekerja, dan selalu memahami dengan baik atas Etika Profesi yang membangun dan bukan untuk merugikan orang lain.

77

SUMBER DAYA ALAM INDONESIA
1.PENGERTIAN SUMBER DAYA ALAM Sumber daya alam adalah semua kekayaan berupa benda mati maupun benda hidup yang berapa di bumi dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. 2.PENGGOLONGAN SUMBER DAYA ALAM Ada beberapa macam sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dengan berbagai cara. SDA dapat diklasifikasikan menurut beberapa hal. berdasarkan bentuk yang dimanfaatkan, SDA dapat diklasifikasikan siderit, limonit dapat sebagai dilebur jadi besi/ berikut: tersebut. contoh : baja a. SDA Materi, yaitu bila yang dimanfaatkan adalah materi sumber daya alam

b. SDA Hayati, ialah SDA yang berbentuk makhluk hidup, yaitu hewan dan tumbuhan. SDA tumbuhan disebut SDA Nabati dan hewan disebut SDA Hewani. c. SDA Energi, yaitu bila barang yang dimanfaatkan manusia adalah energi yang terkandung dalam SDA tersebut. d. SDA Ruang, adalah ruang atau tempat yang diperlukan manusia dalam hidupnya. e. SDA Waktu, sebagai sumber daya alam, waktu tidak berdiri sendiri melainkan terikat dengan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. Berdasarkan Pembentukan a. SUMBER DAYA ALAM YANG DAPAT DIPERBARUI

Disebut demikian, karena alam mampu mengadakan pembentukan baru dalam waktu relatif cepat, secara reproduksi atau siklus. 1) 2) perbaruan dengan reproduksi. Hal ini terjadi pada sumber daya alam Hayati, karena hewan dan dapat berkembang biak sehingga jumlahnya selalu bertambah. Perbaruan dengan adanya siklus. beberapa SDA ,misalnya air dan udara terjadi dalam proses

tumbuhan

yang melingkar membentuk siklus. b. SUMBER DAYA ALAM YANG TIDAK DAPAT DIPERBARUI

SDA ini terdapat dalam jumlah relatif statis karena tidak ada penambahan atau waktu pembentukan yang lama.

78

Contoh : bahan mineral, batu bara dll. berdasarkan daya pakai dan nilai konsumtifnya, SDA ini dibagi 2, yaitu 1) SDA YANG TIDAK CEPAT HABIS. Karena nilai konsumtifnya kecil.

2) SDA YANG CEPAT HABIS. Karena nilai konsumtif barang tersebut relatif tinggi MENURUT CARA TERBENTUKNYA BAHAN GALIAN DIBAGI MENJADI 1. 2. 3. 4. 5. 6. bahan galian magmatik bahan galian pegmatit bahan galian hasil pengendapan bahan galian hasil pengayaan sekunder bahan galian hasil metamorfosis kontak bahan galian termal GALIAN MENURUT KEPENTINGAN BAGI NEGARA

BAHAN

1. GOLONGAN A, golongan bahan galian strategis 2. GOLONGAN B, golongan bahan galian vital

3. GOLONGAN C, bahan galian yang tidak termasuk ke dalam golongan A atau B A. 1. JENIS-JENIS DAN PERSEBARAN SUMBER DAYA ALAM Sumber Daya Alam Hayati.

Sumber daya alam hayati terdiri dari sumber daya alam hewani dan nabati. Sumber daya sedimen tersebar di darat dan laut atau perairan. a. Sumber Daya Alam Nabati

Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alamnya. Dianugerahi tanah yang subur sehingga tumbuhan dapat tumbuh dengan sempurna di wilayah Indonesia. Wilayah flora di indonesia meliputi b. Hutan Tropis, Hutan Musim, Stepa, dan Sabana. Sumber Daya Alam Hewani

Pada umumnya wilayah persebaran fauna di Indonesia dibagi 3 wilayah yaitu, wilayah Indonesia Bagian Barat, Indonesia Bagian Tengah, dan Indonesia Bagian Timur. Ketiganya dibatasi oleh garis Wallace dan garis Weber. Bagian barat lebih cenderung mengikuti ragam hewan Asia, sedangkan

79

bagian timur mengikuti ragam hewan Australia. Ciri-ciri khusus hewan Indonesia terdapat pada wilayah 2. Persebaran Hasil Tambang a. Minyak bumi Minyak bumi berasal dari mikroplankton yang terdapat di danau-danau, teluk-teluk, rawarawa dan laut-laut dangkal. Sesudah mati mikroplankton berjatuhan dan mengendap di dasar laut kemudian bercampur dengan sedimen. Akibat tekanan lapisan-lapisan atas dan pengaruh panas magma, dan terjadilah proses destilasi hingga terjadi minyak bumi kasar. Daerahdaerah penghasil minyak bumi di Indonesia adalah sebagai berikut : • • • • Pulau Jawa : Cepu, Cirebon dan Wonokromo. Pulau Sumatera : Palembang dan Jambi. Pulau Kalimantan : Pulau Tarakan, Pulau Bunyu dan Kutai. Pulau Irian : Sorong. bagian tengah.

b. Gas alam Gas alam merupakan campuran beberapa hidrokarbon dengan kadar karbon kecil yang digunakan sebagai bahan baker. Ada dua macam gas alam cair yang diperdagangkan, yaitu LNG ( liquefied natural gas ) dan LPG ( liquefied petroleum gas). c. Batu bara Batu bara terbentuk dari tumbuhan yang tertimbun hingga berada dalam lapisan batu-batuan sediment yang lain. Proses pembentukan batu bara disebut juga inkolent yang terbagi menjadi dua, yaitu prose biokimia dan proses metamorfosis. Daerah tambang batu bara di Indonesia adalah • • • sebgai berikut : Ombilin dekat Sawahlunto ( Sumatera Barat ) Bukit Asam dekat Tanjung Enin ( Palembang ) Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan

Selatan ( Pulau Laut / Sebuku ) • Jambi, Riau, Aceh dan Papua.

d. Tanah liat Merupakan tanah yang mengandung lempung, banyak terdapat di dataran rendah di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.

80

e. Kaolin Terbentuk dari pelapukan batu-batuan granit. Banyak terdapat di daerah sekitar pegunungan di Pulau Sumatera f. Gamping Batu kapur terbentuk dari pelapukan sarang binatang karang. Banyak terdapat di Pegunungan Seribu dan Pegunungan Kendeng. g. Pasir kuarsa Merupakan pelapukan batu-batuan yang hanyut lalu mengendap di daerah sekitar sungai, pantai dan danau. Banyak terdapat di Banda Aceh, Bangka, Belitung dan Bengkulu. h. Pasir besi Merupakan batuan pasir yang banyak mengandung zat besinya. Terdapat di Pantai Cilacap, Jawa Tengah. i. Marmer atau batu pualam Merupakan batu kapur yang telah berubah bentuk dan rupanya. Banyak terdapat A. di Trenggalek, Jawa Timur, dan daerah Bayat ( Jawa Tengah ).

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

Sumber daya alam perlu dilestarikan supaya dapat mendukung kehidupan makhluk hidup. Bila sumber daya alam rusak atau musnah kehidupan bisa terganggu. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat 1. diusahakan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam : Berdasarkan prinsip berwawasan lingkungan dan berkesinambungan a. b. c. d. e. 2. penghijauan dan reboisasi sengkedan pengembangan daerah aliran sungai pengelolaan air limbah penertiban pembuangan sampah

Berdasarkan prinsip mengurangi Dalam mengambil sumber daya alam sebaiknya jangan diambil semuanya, tetapi berprinsip mengurangi saja. Pengambilan yang dihabiskan akan merusak lingkungan dan mengganggu ekosistem lingkungan.

3. Berdasarkan prinsip daur ulang

81

proses daur ulang adalah pengolahan kembali suatu massa atau bahan-bahan bekas dalam bentuk sampah kering yang tidak mempunyai nilai ekonomi menjadi barang yang berguna bagi kehidupan manusia. Ada 2 sistem pengelolaan sampah yaitu system pengelolaan formal dan informal 2. System pengelolaan formal Yakni pengumpulan pengangkutan dan pembuangan yang dilakukan oleh aparat setempat misalnya Dinas Kebersihan dan Pertanaman 2. System pengelolaan informal

Yakni aktifitas yang dilakukan oleh dorongan kebutuhan untuk hidup dari sebagian masyarakat. Secara tidak sadar mereka berperan serta dalam kebersihan kota dan mereka sebenarnya juga merupakan pendekar lingkungan. B. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN SDA

Di bidang pertanian dan perikanan a. b. c. Penggundulan hutan mengakibatkan lahan yang ditinggalkan menjadi kurang subur dan ditumbuhi alang-alang Pemberian pupuk dan penyemprotan hama yang berlebihan akan mengakibatkan timbulnya hama jenis baru yang tebal terhadap zat kimia tersebut. Penangkapan ikan yang salah mengakibatkan berkurangnya jenis-jenis ikan tertentu di daerah perairan. Di bidang Teknologi dan industri Penggunaan teknologi yang kurang tepat dan tidak sesuai yang akan menyebabkan sesuatu yang buruk 3. a. Pencemaran Udara Hasil limbah industri berupa gas karbon monoksida, karbon dioksida, belerang dioksida, dan lainnya b. c. Suara Pencemaran suara oleh bisingnya suara mobil, pesawat, kereta api, jet udara. Air Pencemaran sisa-sisa industri secara sembarangan bisa mencemarkan air laut. Busa sabun tidak dapat diserap oleh tanah. 4. Banjir

82

Sering

terjadi

saat

musim

hujan

ketika

curah

hujan

tinggi.

Faktor-faktor yang menyebabkan antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penggundulan hutan Membuang sampah sembarangan Tertutupnya tanah perkotaan dengan beton dan aspal rusaknya tanggul sungai Gunung meletus Angin topan Adalah angin yang berhembus dengan kecepatan yang sangat kuat. Apabila disertai dengan hujan disebut badai, dapat menyebabkan kerusakan antara lain, rumah-rumah, bangunan rumah tembok, jatuhnya helikopter, rusaknya areal hutan, menggulingkan kereta api, dan dapat menimbulkan ombak yang besar 7. Musim kemarau

Apabila terik dan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan. C. HAMBATAN PEMANFAATAN SDA Dikarenakan Indonesia masih merupakan Negara berkembang, Indonesia masih mengalami berbagai macam hambatan-hambatan dalam proses pengelolaan dan pemanfaatan Sumber Daya Alam. Terutama dalam segi kesiapan Sumber Daya Manusia Indonesia yang masih dan 1. Kurangnya 2. Mahalnya 3. Kerjasama pemanfaatan tenaga sarana dengan ahli dan Sumber dalam prasarana perusahaan bidang untuk asing Daya Sumber yang Daya pengolahan kurang. Alam. Alam. SDA. merugikan. Berikut ini adalah hambatan-hambatan umum yang dihadapi Indonesia dalam pengelolaan

4. Transportasi ke daerah SDA terbatas mengingat Indonesia merupakan kepulauan. D. UPAYA MENGATASI KERUSAKAN SDA

1. Di bidang pertanian dan perikanan a. b. c. d. e. 2. Mengurangi penggundulan hutan dan reboisasi Pembuatan sengkedan Penyuluhan kepada masyarakat Mengurangi penyemprotan hama yang berlebihan Melakukan penangkapan ikan dengan benar Di bidang Teknologi

83

a. b. c. d. 3. a.

Menggunakan teknologi dengan baik dan benar Mendatangkan tenaga ahli dan teknologi asing Pendidikan tingkat Diploma dan Sarjana untuk memenuhi kebutuhan SDM. Bekerja sama dengan Negara lain dalam pengolahan SDA Dalam Pencemaran Membuat saluran pembuangan limbah udara dan air sehingga tidak mengganggu keseimbangan alam

c. Pengurangan penggunaan zat kimia berbahaya d. Penyuluhan kepada masyarakat e. Mencegah penggundulan hutan f. Memperbaiki kerusakan tanggul dan mereboisasi hutan yang gundul

E.

UPAYA PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM Dalam memanfaatkan sumber daya alam, manusia perlu berdasar pada prinsip ekoefisiensi.

Artinya tidak merusak ekosistem, pengambilan secara efisien dalam memikirkan kelanjutan SDM. Pembangunan yang berkelanjutan bertujuan pada terwujudnya keberadaan sumber daya alam untuk mendukung kesejahteraan manusia. Maka prioritas utama pengelolaan adalah upaya pelestarian lingkungan 1. Pemanfaatan SDA Nabati 1.Dimanfaatkan sebagai sumber daya pangan seperti padi, jagung, ubi dan sebagainya 2.Dimanfaatkan sebagai sumber sandang seperti serat haramay 3.Beberapa jenis tanaman dapat dimanfaatkan sebagai minyak atsiri seperti kayu putih, sereh, kenanga, cengkeh 4.Dimanfaatkan sebagai tanaman hias seperti anggrek 5.Dimanfaatkan sebagai bahan baku mebel seperti meranti, rotan, bambu 6.Dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan kencur, jahe, kunyit 7.Dimanfaatkan sebagai keperluan industri 2. Pemanfaatan SDA Hewani 1.Dimanfaatkan sebagai sumber daya pangan seperti daging sapi, daging kambing

84

2.Dimanfaatkan sebagai sumber kerajinan tangan seperti lokan, dirangkai menjadi perhiasan 3.Dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai budaya manusia dan nilai kehidupan, seperti bentuk kapal selam diadopsi dari cara ikan menyelam, bentuk pesawat dari bentuk burung 3. Pemanfaatan SDA Barang Tambang

Usaha pemanfaatan pertambangan dan bahan galian dalam pembangunan Indonesia adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. Sebagai pemenuh kebutuhan SDA barang tambang dan galian dalam negeri.

Menambah pendapatan negara karena barang tambang dapat diekspor keluar negeri Memperluas lapangan kerja Memajukan bidang transportasi dan komunikasi Memajukan industri dalam negeri upaya Menyatukan Menggunakan dalam presepsi SDA pembangunan tentang secara efisien dan berkelanjutan atau tidak sebagai konservasi membahayakan berikut: biosfer biosfer

Adapun a. b. c. d. e.

pelestarian

Melanjutkan dan mengamankan penggunaan SDA Mengembangkan dan menerapkan teknologi maju untuk mendukung pengelolaan dan pengembangan lingkungan Mendukung program ekonomi baru yang memiliki strategi berkelanjutan dalam pengelolaan dan pengembangan lingkungan

F. PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN 1 1. PROGRAM PERLINDUNGAN DAN KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM Program ini ditujukan untuk melindungi sumber daya alam dari kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas pengelolaan yang kurang memperhatikan dampak negatif terhadap potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta menyelenggarakan pengelolaan kawasan konservasi untuk menjamin keragaman ekosistem, sehingga terjaga fungsinya sebagai penyangga sistem kehidupan. Sasaran yang hendak dicapai dalam program ini adalah terlindunginya kawasan konservasi dan kawasan lindung dari kerusakan akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali dan eksploitatif. Kegiatan pokok yang akan dilaksanakan antara lain meliputi: 1 1. Pengkajian kembali kebijakan perlindungan dan konservasi sumber daya alam;

85

2 3 4 5 6 7 8 9

2. Perlindungan sumber daya alam dari kegiatan pemanfaatan yang tidak terkendali dan eksploitatif terutama kawasan konservasi dan kawasan lain yang rentan terhadap kerusakan; 3. Pengelolaan dan perlindungan keanekaragaman hayati dari kepunahan, termasuk spesiesspesies pertanian dan biota-biota laut; 4. Pengembangan sistem insentif dalam konservasi sumber daya alam; 5. Penyusunan mekanisme pendanaan bagi kegiatan perlindungan sumber daya alam; 6. Inventarisasi hak adat dan ulayat dan pengembangan masyarakat setempat; 7. Peningkatan partisipasi masyarakat dan pengembangan kerja sama kemitraan dalam perlindungan dan pelestarian alam; 8. Pengembangan ekowisata dan jasa lingkungan di kawasan-kawasan konservasi darat dan laut; 9. Perlindungan dan pengamanan hutan; Peningkatan penegakan hukum terpadu dan percepatan penyelesaian kasus

10 10. Penanggulangan dan pengendalian kebakaran hutan; 11 11. pelanggaran/kejahatan kehutanan; 12 12. Pemantapan pengelolaan kawasan konservasi dan hutan lindung; 13 13. Penguatan sarana dan prasarana pengelolaan kawasan konservasi; 14 14. Pembentukan dan peningkatan kapasitas kelembagaan pengelolaan kawasan konservasi dan kawasan lindung; 15 15. Pengembangan kawasan konservasi laut dan suaka perikanan;
16

2. PROGRAM REHABILITASI DAN PEMULIHAN CADANGAN SUMBER DAYA ALAM 17 16. Pengembangan budidaya perikanan berwawasan lingkungan; 18 17. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangan bidang konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup; 19 18. Evaluasi lingkungan dan kawasan konservasi alam geologi untuk pelestarian lingkungan hidup; 20 19. Konservasi geologi dan sumber daya mineral; 21 20. Penanggulangan konversi lahan pertanian produktif dalam rangka peningkatan ketahanan pangan.
1

Program ini bertujuan untuk merehabilitasi sumber daya alam yang rusak dan mempercepat pemulihan cadangan sumber daya alam sehingga selain dapat menjalankan fungsinya sebagai penyangga sistem kehidupan, juga dapat menjadi potensi bagi pengelolaan yang berkelanjutan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sasaran yang akan dicapai dalam program ini adalah terehabilitasinya sumber daya alam yang mengalami kerusakan akibat pemanfaatan yang tidak terkendali dan eksploitatif, dan terwujudnya

86

pemulihan kondisi sumber daya hutan, lahan, laut dan pesisir, perairan tawar serta sumber daya mineral agar berfungsi optimal sebagai fungsi produksi dan fungsi penyeimbang lingkungan. Kegiatan pokok yang akan dilaksanakan antara lain meliputi: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 3. PROGRAM PENGEMBANGAN KAPASITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Program ini ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup melalui tata kelola yang baik yang berdasarkan pada prinsip transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Sasaran yang akan dicapai dalam program ini adalah meningkatnya kapasitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup seningga sumber daya alam yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal, adil dan berkelanjutan yang ditopang dengan kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Kegiatan pokok yang akan dilaksanakan antara lain meliputi: 1 1. Pengkajian dan analisa instrumen yang mendukung pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan dan perlindungan lingkungan hidup, seperti peraturan perundangan dan kebijakan termasuk penegakan hukumnya; 2 3 1 2 2. Pengembangan dan peningkatan kapasitas institusi dan aparatur penegak hukum dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup; 3. Penguatan kapasitas kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, baik di tingkat pusat, daerah maupun masyarakat lokal dan adat; 4. Pengembangan peran serta masyarakat (warga madani) dan pola kemitraan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup; 5. Pengembangan tata nilai sosial yang berwawasan lingkungan; 1. Perencanaan dan evaluasi pengelolaan Daerah Aliran Sungai; 2. Pembinaan dan pengembangan pembibitan; 3. Reboisasi dan penghijauan; 4. Pembangunan hutan tanaman industri (HTI), kawasan konservasi dan lindung; 5. Rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut (mangrove, terumbu karang, dan padang lamun), dan pengembangan sistem manajemen pengelolaan pesisir dan laut; 6. Rehabilitasi kawasan perairan tawar seperti waduk, situ, dan danau; 7. Pengkayaan (restocking) sumber daya perikanan dan biota air lainnya; 8. Rehabilitasi areal bekas pertambangan terbuka.

87

3 4 5 6 7 8

6. Pengembangan sistem pengendalian dan pengawasan sumber daya alam (hutan, air, tanah, pesisir, laut, tambang, dan mineral), termasuk sistem pengawasan oleh masyarakat; 7. Pengembangan sistem pendanaan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup; 8. Penetapan standar pelayanan minimal bidang lingkungan; 9. Penyiapan dan pendirian pusat produksi bersih lingkungan; 10. Pengembangan dan peningkatan penataan dan penegakan hukum lingkungan; 11. Pengembangan pelaksanaan perjanjian internasional yang telah disepakati.

4. PROGRAM PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP Program ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup dalam upaya mencegah perusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup baik di darat, perairan tawar dan laut, maupun udara sehingga masyarakat memperoleh kualitas lingkungan hidup yang baik. Sasaran yang hendak dicapai dalam program ini adalah menurunnya tingkat pencemaran lingkungan dan terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat. Kegiatan pokok yang akan dilaksanakan antara lain meliputi: 1 2 3 1. Penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang mendukung pengendalian 2. Penetapan indeks dan baku mutu lingkungan dan baku mutu limbah; 3. Pengembangan teknologi yang berwawasan lingkungan, termasuk teknologi tradisional

pencemaran;

dalam pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan limbah, dan teknologi industri yang ramah lingkungan; 4 5 6 7 8 9 10 11 sakit; 12 13 12. Pengendalian pencemaran industri, pertambangan dan pertanian melalui berbagai 13. Pengembangan sistem penilaian kinerja lingkungan industri; mekanisme insentif dan disintesif kepada para pelaku; 4. Pengintegrasian biaya-biaya lingkungan ke dalam biaya produksi; 5. Pemantauan yang kontinyu, serta pengawasan dan evaluasi baku mutu lingkungan; 6. Pengendalian pencemaran kualitas udara dari sumber bergerak dan sumber tidak bergerak; 7. Pengendalian pencemaran kualitas air; 8. Inventarisasi dan pengendalian pencemaran dari bahan-bahan perusak ozon (ozon depleting 9. Perumusan kebijakan untuk mengadaptasi perubahan iklim; 10. Inventarisasi dan persiapan kegiatan melalui Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean 11. Pengendalian Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari sumber-sumber industri dan rumah

substances);

Development Mechanism);

88

14 15

14. Penanganan sampah perkotaan dengan konsep 3R (reduce, reuse dan recycle); 15. Peningkatan penyuluhan dan interpretasi lingkungan kepada masyarakat menuju budaya

produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. 5. PROGRAM PENINGKATAN KUALITAS DAN AKSES INFORMASI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan akses informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup dalam rangka mendukung pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan fungsi lingkungan hidup. Sasaran yang ingin dicapai dalam program ini adalah tersedianya data dan informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang lengkap, akurat, dan mudah diakses oleh semua pemangku kepentingan dan masyarakat luas. Kegiatan pokok yang akan dilaksanakan antara lain meliputi: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1. Penyusunan data dasar sumber daya alam baik data potensi maupun data daya dukung kawasan ekosistem, termasuk pulau-pulau kecil; 2. Penyusunan statistik bidang lingkungan hidup baik di tingkat nasional maupun daerah; 3. Pengembangan sistem jaringan laboratorium nasional bidang lingkungan; 4. Pengembangan sistem deteksi dini terhadap kemungkinan bencana lingkungan; 5. Pengembangan sistem inventarisasi dan informasi SDA dan LH; 6. Inventarisasi dan pemantauan kualitas udara perkotaan dan sumber-sumber air; 7. Inventarisasi sumber daya mineral melalui penyelidikan geologi, survei eksplorasi, dan kegiatan pemetaan; 8. Pengembangan valuasi sumber daya alam (hutan, air, pesisir, dan mineral); 9. Penyusunan dan penerapan Produk Domestik Bruto (PDB) hijau; neraca sumber daya hutan, mineral, dan energi; 11 11. Pendataan dan penyelesaian batas kawasan sumber daya alam, termasuk kawasan hutan dan kawasan perbatasan dengan negara lain; 12 12. Penyusunan indikator keberhasilan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup; 13 13. Peningkatan akses informasi kepada masyarakat.

10 10. Penyusunan Neraca Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup yang antara lain mencakup

89

Daftar Pustaka

• •

Andrias Harefa, Membangkitkan Roh Profesionalisme, (Jakarta: Gramedia: 1999), h. 222. Anonim, 1997. Ensiklopedi Kehutanan Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. hal. 91. Anonim, 1998. Fascinating World of Glulam Beams, Asian Furniture. Vol. 4 No. 2 June – August, 1998. Singapore. Anonim(2002). Laporan Status lingkungan hidup. Pusat Studi Lingkungan. IPB – Bogor. Bawengan, G.W. 1983. Sebuah Studi Tentang Filsafat. Pradnya Paramita, Jakarta. hal: 33 Budianto, irmayanti., dkk. 2008, Buku Ajar I MPKT Logika, Filsafat Ilmu, dan Pancasila. Depok : PDPT UI Dewan Riset Nasional dan Bakosurtanal, Pedoman Umum Penyusunan Sumber Daya Alam, 1990. Dharma Setyawan Salam, Dr. Ir., Otonomi Daerah dalam Perspektif Lingkungan, Nilai dan Sumber Daya, Penerbit Djambatan, 2001. Iskandar, U. 2000. Pola Pengelolaan Hutan Tropika. Alternatif Pengelolaan Hutan yang Selaras dengan Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Bigraf Publishing. hal: 3. KK-PKD, 2001. Laporan Kelompok Kerja Pengelolaan Kehutanan Daerah Kabupaten Kutai Barat. (tidak diterbitkan). Kompasa, 2001. Paru-paru Dunia itu Terus Digerogoti, Jumat, 5 Oktober 2001 hal. 27. Kompasb, 2001. Bupati Kutai Timur Berencana Pagari TN Kutai, Senin, 8 Oktober 2001 hal. 10. Kompasc, 2001. Jepang Beralih ke Lampit Bambu dari Cina, Selasa, 9 Oktober 2001 hal. 21. Meliono, Irmayanti, Dkk. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi, Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI, 2008. ---------. 2008. Modul mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi; Logika, Filsafat, Ilmu dan Pancasila. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI. Muhammad Uzer Usman op. cit., h.. 18-19.

• •

• • •

• •

• • •

• •

• •

90

Muladi, S. 1996. Quantification and Use of Dipterocarp Wood Residue in East Kalimantan, (Dalam Schulte, A dan D. Schone (Editors): Dipterocarp Forest Ecosystems: Towards Sustainable Managemen), World Scientific Publishing Co. Pte, Ltd. Singapore.hal 603 – 615. Program Dasar Pendidikan Tinggi UI. 2007. Modul MPKT Terintegrasi. Jakarta : Lembaga Penerbit FE UI. Pusposutardjo, S. dan A. Rozag, 2001. Sumbangan Teknik Pertanian dalam Pengembangan Pertanian di Daerah Semiarid Indonesia. dalam : Pembangunan Pertanian di wilayah kering Indonesia, penyunting Semangun H dan F.F. Kawur, Widya Sari., Salatiga. R. Ibrahim, Nana Syaodih S., op. cit., h..28 Soerjani, Mohammad .1997. Pembangunan dan Lingkungan. Institut Pendidikan dan Pengembangan Lingkungan: Jakarta. Soemiarno, Slamet dkk. 2008. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi Buku Ajar III Bangsa, Negara, dan Lingkungan Hidup di Indonesia. Depok: Universitas Indonesia.Ditjen Otda Depdagri, Upaya Mengoptimalkan Otonomi Daerah, dalam Jurnal Otonomi Daerah No.4 Th.II Feb 2002. Supriyadi, 2000. Perencanaan Pengelolaan Sumberdaya Mangrove Di Wilayah Pesisir Kecamatan Seram Barat Kabupaten Maluku Tengah. Thesis Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (Tidak dipublikasikan). Suriasumantri, J.S. 1995. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta hal:227. Surjadi Soedirja, Aktualisasi Otonomi Daerah dalam Reformasi Politik dan Pemerintahan Suatu Upaya Menuju Indonesia Baru, dalam Majalah Ketahanan Nasional Edisi Khusus, 2000. Sutisna, M. 1996. Silvikultur Hutan Alam Indonesia. Fak. Kehutanan Univ. Mulawarman. (Tidak dipublikasikan). Tim Penulis, 2008, Buku Ajar II MPKT Manusia, Akhlak, Budi Pekerti, dan Masyarakat. Depok : PDPT UI

• •

91

Website: http://www.antara.co.id/arc/2007/3/11/ekonomi-indonesia-dan-pengaruh-global/ http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?mnorutisi=4&vnomor=14 http://kskkp.tripod.com/kelompokstudikeuangandankebijakanpublik/id11.html http://dte.gn.apc.org/46iRA.htm http://www.apkasi.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=112 http://www.pu.go.id/itjen/buletin/3031otoda.htm http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_alam http://organisasi.org/pengertian_sumber_daya_alam_dan_pembagian_macam_jenisnya_biolo gi http://ftp.ui.edu/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0040%20Bio %201-9a.htm http://addiehf.wordpress.com/2007/06/14/keanekaragaman-sumber-daya-alam-hayati-dankonservasinya/ http://veronicakumurur.blogspot.com/2006/07/rencana-tata-ruang-seharusnya-menjadi.html http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzY1 http://www.kapanlagi.com/h/0000223492.html http://selamatkanbumi.blogspot.com/2008/04/hutan-lindung-dialih-fungsikan.html http://jacsky.wordpress.com/2008/08/14/illegal-logging-kikis-hutan-lindung-matan/ http://timpakul.hijaubiru.org/iklim-12.html

92

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->