P. 1
Lingkungan Sebagai Sumber (PKR)

Lingkungan Sebagai Sumber (PKR)

|Views: 855|Likes:
Published by Eross Chandra
Sebagai makhluk hidup, anak selain berinteraksi dengan orang atau manusia lain juga berinteraksi dengan sejumlah makhluk hidup lainnya dan benda-benda mati. Makhluk hidup tersebut antara lain adalah berbagai tumbuhan dan hewan, sedangkan benda-benda mati antara lain udara, air, dan tanah. Manusia merupakan salah satu anggota di dalam lingkungan hidup yang berperan penting dalam kelangsungan jalinan hubungan yang terdapat dalam sistem tersebut
Sebagai makhluk hidup, anak selain berinteraksi dengan orang atau manusia lain juga berinteraksi dengan sejumlah makhluk hidup lainnya dan benda-benda mati. Makhluk hidup tersebut antara lain adalah berbagai tumbuhan dan hewan, sedangkan benda-benda mati antara lain udara, air, dan tanah. Manusia merupakan salah satu anggota di dalam lingkungan hidup yang berperan penting dalam kelangsungan jalinan hubungan yang terdapat dalam sistem tersebut

More info:

Published by: Eross Chandra on Dec 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

10/18/2015

LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR

PENGERTIAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Sebagai makhluk hidup, anak selain berinteraksi dengan orang atau manusia lain juga berinteraksi dengan sejumlah makhluk hidup lainnya dan benda-benda mati. Makhluk hidup tersebut antara lain adalah berbagai tumbuhan dan hewan, sedangkan benda-benda mati antara lain udara, air, dan tanah. Manusia merupakan salah satu anggota di dalam lingkungan hidup yang berperan penting dalam kelangsungan jalinan hubungan yang terdapat dalam sistem tersebut. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) lingkungan diartikan sebagai bulatan yang melingkungi (melingkari). Pengertian lainnya yaitu sekalian yang terlingkung di suatu daerah. Dalam kamus Bahasa Inggris peristilahan lingkungan ini cukup beragam diantaranya ada istilah circle, area, surroundings, sphere, domain, range, dan environment, yang artinya kurang lebih berkaitan dengan keadaan atau segala sesuatu yang ada di sekitar atau sekeliling. Dalam literatur lain disebutkan bahwa lingkungan itu merupakan kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan itu terdiri dari unsur-unsur biotik (makhluk hidup), abiotik (benda mati) dan budaya manusia.

NILAI-NILAI LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Lingkungan yang ada di sekitar anak merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil pendidikan yang berkualitas bagi anak usia dini, karena : 1. Lingkungan menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari anak. Jumlah sumber belajar yang tersedia di lingkungan ini tidaklah terbatas, sekalipun pada umumnya tidak dirancang secara sengaja untuk kepentingan pendidikan.

2. Penggunaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna (meaningfull learning) sebab anak dihadapkan dengan keadaan dan situasi yang sebenarnya. 3. Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan mendorong pada penghayatan nilai-nilai atau aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya. 4. Penggunaan lingkungan dapat menarik bagi anak. Kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih menarik bagi anak sebab lingkungan menyediakan sumber belajar yang sangat beragam dan banyak pilihan. 5. Pemanfaatan lingkungan menumbuhkan aktivitas belajar anak (learning activities) yang lebih meningkat. Penggunaan cara atau metode yang bervariasi ini merupakan tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam pendidikan untuk anak usia dini. Memanfaatkan lingkungan sekitar dengan membawa anak-anak untuk mengamati lingkungan akan menambah keseimbangan dalam kegiatan belajar. Artinya belajar tidak hanya terjadi di ruangan kelas namun juga di luar ruangan kelas dalam hal ini lingkungan sebagai sumber belajar yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik, keterampilan sosial, dan budaya, perkembangan emosional serta intelektual.  Perkembangan Fisik Lingkungan sangat berperan dalam merangsang pertumbuhan fisik anak, untuk mengembangkan otot-ototnya. Anak memiliki kesempatan yang alami untuk berlari-lari, melompat, berkejar-kejaran dengan temannya dan menggerakkan tubuhnya dengna caracara yang tidak terbatas.  Perkembangan aspek keterampilan social Lingkungan secara alami mendorong anak untuk berinteraksi dengan anak-anak yang lain bahkan dengan orang-orang dewasa. Pada saat anak mengamati objek-objek tertentu yang ada di lingkungan pasti dia ingin mencritakan hasil penemuannya dengan yang lain  Perkembangan aspek emosi Lingkungan pada umumnya memberikan tantangan untuk dilalui oleh anak-anak. Pemanfaatannya akan memungkinkan anak untuk mengembangkan rasa percaya diri yang positif.

 Perkembangan intelektual Anak-anak belajar melalui interaksi langsung dengan benda-benda atau ide-ide. Lingkungan menawarkan kepada guru kesempatan untuk menguatkan kembali konsepkonsep seperti warna, angka, bentuk dan ukuran.

SEKOLAH DAN GURU LAIN SEBAGAI SUMBER
Sebagaimana anda pelajari dalam modul 1, bahwa salah satu prinsip PKR adalah memanfaatkan sumber belajar secara optimal. Oleh karena sumber belajar yang tersedia sangat terbatas, maka anda sebagai guru dituntut untuk selalu kreatif “menciptakan” berbagai sumber, sehingga dapat dimanfaatkan pada pembelajaran. 1. Kerjasama Menciptakan sumber belajar, dan sumber daya merupakan faktor penting bagi sekolah-sekolah di daerah terpencil yang menghadapi berbagai kesulitan dan keterbatasan. Oleh karena itu, kerjasama tersebut diarahkan kepada : a. Kerjasama antara guru dan kepala sekolah terpusat pada pembagian tugas mengajar dan kerjasama administrasi, misalnya : 1) Mengatur pembagian tugas mengajar, kerjasama administrasi, dan jadwal pelajaran. 2) Pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan alat dan sumber belajar. 3) Berdiskusi dan saling tukar informasi dan pengalaman. b. Kerjasama sekolah diarahkan untuk membangun Pusat Sumber Belajar (PSB). PSB ini dapat dibangun dari mulai yang sederhana sampai dengan yang lebih tinggi. c. Kerjasama dengan orang tua dan masyarakat diarahkan untuk menciptakan iklim dimana sekolah adalah milik bersama, oleh karenanya penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan masyarakat. d. Kerjasama dengan Penilik, Ka Kancam Depdikbud, dan Ka Cabang Dinas Dikbud setempat sebagai Pembina. Pihak terkait lainnya diluar sekolah bukan lagi sebagai orang yang hanya “mengatasi” anda dalam melakukan kegiatan sehari-hari, tetapi sebagai partner (mitra) Anda dalam mendidik murid-murid di sekolah.

2. Membangun iklim kerjasama Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat digunakan untuk membangun kerjasama dengan pihak lain yang terkait. a. Mengumpulkan data statistik dan sumber informasi Anda perlu memiliki data statistic sederhana, terutama data sekolah yang meliputi jumlah murid, jumlah murid mengulang kelas, jumlah murid putus sekolah, dan jumlah murid yang melanjutkan ke SMP. b. Melakukan negosiasi (perundingan) Anda dan kepala sekolah perlu mengatur langkah-langkah untuk melakukan negosiasi agar mendapatkan dukungan. Dalam melakukan negosiasi itu tumbuhkan kesan bahwa mereka bukan hanya membantu kita, tetapi mereka merupakan unsur penting, tanpa kehadiran mereka maka sekolah tidak akan berjalan dengan baik. c. Memberikan peranan nyata Masyarakat perlu diberikan peranan nyata, misalnya menjadi tutor, dan nara sumber diberbagai bidang antara lain : kesenian, olahraga, kesehatan, kerajinan, dan pertanian. d. Melaporkan keadaan sekolah Pada saat-saat tertentu Anda atau sekolah dapat memberikan laporan kepada kepala desa atau masyarakat tentang keadaan sekolahnya. e. Memberikan tanda penghargaan Sekolah dapat memberikan penghargaan terhadap masyarakat yang berjasa terhadap sekolah. Penghargaan seperti ini dapat berbentuk piagam atau piala, atau lebih sederhana lagi misalnya mengumumkan kepada masyarakat ketika rapat sekolah, kenaikan kelas atau pada saat rapat desa. 3. Melakukan kerjasama dengan sekolah dan guru lain Anda sebagai seorang guru tentu memahami betul kondisi dan keadaan sekolah Anda yang menurut Anda sendiri serba kekurangan. Fenomena (gejala) ini sangat mempengaruhi Anda sehingga menggangu proses belajar mengajar. Keserbakekurangan tersebut antara lain : di sekolah Anda kekurangan tenaga guru sehingga Anda harus mengajar merangkap beberapa kelas sekaligus, siswa Anda tidak memiliki buku sumber, Anda sendiri tidak mempunyai buku pedoman guru secara lengkap, serta anda yang berijasah SGO atau PGA

tetapi bertugas sebagai guru kelas merasa kewalahan dalam mengajar, Anda tidak menguasai materi matematika dan IPA karena Anda dulu tidak pernah mendapatkan pelajaran tersebut. Anda juga merasa bahwa sekolah Anda tertinggal jauh dari sekolah lain yang kondisinya serba berkecukupan. Ketinggalan tersebut Anda rasakan sebagai akibat antara lain hal berikut : mata pelajaran yang dapat Anda berikan pada setiap harinya sangat terbatas paling hanya 2 mata pelajaran saja, sedangkan mata pelajaran lain seperti kesehatan, kesenian dan PKK kurang mendapat perhatian. Disekitar Anda juga banyak sekali kekayaan alam yang tak ternilai harganya dan dapat Anda manfaatkan sebagai sumber belajar. Nah, sekarang bagaimana caranya memanfaatkan sumber-sumber belajar tersebut untuk mengatasi fenomena seperti tersebut diatas? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ikutilah uraian berikut ini. a. Bagaimana cara memanfaatkan sesama guru dari satu sekolah sebagai sumber belajar? Disekolah Anda hanya ada 3 orang guru, yaitu Anda sendiri (Bu dehes) lulusan SGO tetapi mengajar sebagai guru kelas, teman Anda Pak sebu lulusan SPG merangkap Kepala Sekolah, dan seorang guru baru Pak Atei lulusan SPG. Oleh Kepala Sekolah Anda diserahi tugas untuk mengajar di kelas III dan kelas IV, Pak Atei di kelas V dan kelas VI, sedangkan di kelas I dan kelas II diajar oleh Pak Sebu Kepala Sekolah. Dari hari kehari Anda semakin merasa memperoleh kesulitan dalam beberapa materi pelajaran matematika, misalnya di kelas III Anda kurang menguasai tentang. “luas kurva berdasarkan luas unit bujur sangkar”. Apa yang harus Anda lakukan ? Anda tidak harus “mengabaikan” materi pelajaran tersebut sehingga tidak Anda ajarkan. Yang harus Anda lakukan adalah mencoba mengatasi kesulitan Anda dengan cara meminta bantuan Pak Atei atau Pak Sebu.

Pada saat istirahat, atau sebelum pelajaran dimulai, atau sore hari ketika Anda sedang santai, Anda pergi ke Pak Atei atau Pak Sebu untuk mendiskusikan masalah Anda. Langkah yang dapat Anda lakukan adalah seperti berikut :

1) Kemukakan masalah yang Anda hadapi. 2) Menentukan alternative pemecahan permasalahan berupa :     Membahas bersama materi tersebut Meminjam buku sumber, bahan, dan alat peraga Meminta teman Anda menggantikan mengajar, sementara Anda mengajar di kelas teman Anda Membawa murid Anda untuk belajar matematika di kelas teman Anda.

b. Memilih alternatif yang paling tepat dengan mempertimbangkan kebutuhan, waktu, jadwal, dan bahan yang tersedia. Kesulitan apapun dapat diatasi asal ada keterbukaan dan saling pengertian antara sesama guru. Kerjasama antara sesama guru dalam satu sekolah itu sangat penting karena dapat memecahkan berbagai kesulitan terutama kesulitan dalam melaksanakan tugas mengajar. Setiap orang mempunyai kekurangan, dan kekurangan tersebut dapat diatasi apabila kita bekerjasama dan saling menolong.

c. Bagaimana cara memanfaatkan guru dari sekolah yang lain? Kerjasama antar sekolah merupakan faktor yang sangat penting, misalnya untuk kepentingan berikut : 1) Berdiskusi dan tukar pengalaman untuk mengatasi berbagai kesulitan mengajar, misalnya tidak mempunyai buku sumber dan alat peraga pelajaran, atau kurang menguasai materi yang harus diajarkan; 2) Membangun Pusat Sumber Belajar (PSB), misalnya mengembangkan alat pelajaran, perpustakaan bersama, dan laboratorium yang sederhana; 3) Mengadakan kegiatan bersama, misalnya mengadakan kunjungan dan karyawisata bersama; 4) Saling membantu dalam mengajar, misalnya guru dari SD yang satu dapat membantu mengajar guru-guru di SD lainnya yang berdekatan. Dalam menjalin kerjasama antar sekolah ini, Anda tidak akan terlepas dari berbagai hambatan, sebagai contoh dapat diikuti dalam uraian berikut.

Sekolah Anda adalah SD Garing Taringgul 1 (GT1), merupakan SD di daerah terpencil, letaknya satu komplek dengan SD Garing taringgul 2 (GT2). Di SD anda hanya ada 2 orang guru, yaitu Anda (Bu Dehes) mengajar di kelas V dan VI, sedangkan Pak Sebu sebagai Kepala Sekolah juga sebagai guru kelas yang merangkap mengajar di kelas I, II, III, dan Iv. Menurut Pak Sebu, biar Bu Dehes mengajar 2 kelas saja, karena kelas VI akan menghadapi EBTANAS sehingga perlu lebih mendapat perhatian. Oleh karena Anda hanya berdua di SD GT1, Anda sangat repot karena harus membanting tulang mengajar di beberapa kelas, sehingga Anda tidak pernah memberikan pelajaran olahraga kepada murid-murid. Ini disebabkan Anda kekurangan waktu, terlalu lelah untuk mengajar olahraga, dan Anda juga kurang menguasai pelajaran olahraga. Sehingga pada pelajaran olahraga Anda tidak pernah memberikan pelajaran, atau murid-murid dilepas di halaman untuk olahraga sendiri. Di pihak lain, teman Anda di SD GT2 cukup santai karena di SD tersebut 6 orang guru, di luar guru olahraga. Nampaknya Bu Dehes melihat bahwa bekerjasama dengan guru-guru di SD GT2 merupakan cara untuk menanggulangi kesulitannya.

Untuk mengatasi kesulitan ini, Anda mencoba menjalin kerjasama dengan guru di SD GT2, anda mencoba menemui Pak Labehu (guru olahraga SD GT2) dan mengemukakan kesulitan Anda. Dengan senang hati Pak Labehu memberikan petunjuk kepada Anda (Bu Dehes) tentang cara mengajarkan olahraga tersebut, alat peraga apa yang digunakan dan bagaimana cara menggunakannya. Berdasarkan kasus tersebut diatas, ternyata cara kerja sama yang dilakukan oleh Bu Dehes kurang berhasil, ia hanya berhasil dalam meminta Pak Labehu unutk menjelaskan materi yang Bu Dehes tidak kuasai. Seandainya Bu Dehes tetap tidak menguasai materi tersebut atau karena hal lain, berarti masalahnya tetap tidak terpecahkan. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu dilakukan pendekatan dengan berbagai pihak, dan merupakan kerjasama sekolah bukan kerjasama Bu Dehes. Pendekatan yang perlu dilakukan oleh SD GT1 adalah :

1) Melakukan konsultasi dengan pejabat Dikbud tingkat kecamatan untuk mengatasi kekurangan guru di SD GT1 dengan memanfaatkan kelebihan guru di SD GT2. 2) Melakukan pendekatan dengan SD GT2 untuk mengatur pemanfaatan kelebihan guru di SD GT2. 3) Mengatur penjadwalan mengajar apabila sudah disepakati untuk saling membantu dalam mengajar. Untuk mengatasi kesulitan serupa, bias saja kerjasama tersebut digunakan untuk saling meminjamkan alat-alat praktik, buku pegangan, atau alat peraga lainnya. Hal ini sangat tergantung pada jauh dekatnya sekolah tersebut.

d. Bagaimana cara memanfaatkan teman guru dalam KKG? Setiap guru tentunya sudah mempunyai pengalaman yang cukup tentang mengajar, sehingga ia mengetahui dimana atau pada materi apa ia mendapatkan kesulitan sebagai contoh. Salah satu kesulitan akan muncul ketika ada murid atau guru lain yang bertanya tentang materi tertentu, dan Anda tidak dapat menjelaskannya. Apabila Anda menjadi anggota KKG tentunya kesulitan tersebut dengan mudah dapat diatasi. Anda kemukakan masalah tersebut, kemungkinan ada guru lain yang mempunyai masalah yang sama dengan Anda. Kesulitan tersebut muncul karena Anda kurang menguasai materi, tidak mempunyai buku, tidak mempunyai alat peraga, atau ada hal lain yang mendesak sehingga harus secepatnya diatasi, misalnya membuat program atau persiapan pembelajaran. KKG adalah forum yang dapat dijadikan untuk saling tukar informasi, tukar pengalaman, berdiskusi untuk memecahkan berbagai kesulitan mengajar, dan mengerjakan sesuatu secara bersama. Hal yang perlu Anda perhatikan dalam memanfaatkan teman guru anggota KKG dalam mengatasi kesulitan Anda antara lain adalah : 1) Anda harus sudah mengetahui permasalahan dan kesulitan Anda tersebut jauh sebelumnya, sehingga Anda forum KKG. 2) Anda tidak perlu khawatir atau malu oleh teman bahwa Anda guru yang tidak mampu. sudah siap untuk berdiskusi atau berdialog dalam

SEKOLAH DAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Dalam teorinya tentang “ mastery learning”, anggapan adanya murid yang pintar dan bodoh. Murid hanya dapat dibedakan dari yang cepat dengan yang lambat. Menurut teori Mastery Learning tersebut bahwa “semua yang dapat dipelajari oleh orang lain, bisa dipelajari oleh siapapun’. Prinsip mastery learning ini melahirkan berbagai bentuk belajar mandiri, salah satunya adalah sistem belajar jarak jauh (SBJJ) yang sedang diikuti oleh guru-guru SD melalui program Penyeteraan D-2 PGSD. Malcolm Knowles (1975, h. 180) menggambarkan bahwa belajar mandiri menekankan pendidikan pada “inisiatif individu dalam belajar”. Bruce Miller menjelaskan bahwa “belajar mandiri adalah cara belajar yang sepenuhnya atau sebagian besar di bawah kendali murid-murid itu sendiri. 1. Menciptakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar Untuk menunjang proses belajar mandiri, perlu adanya suatu suasana yang mendorong murid dan guru untuk memafaatkan bahan dan perlengkapan yang ada. Suasana tersebut adalah adanya persiapan alat/bahan sebagai sumber belajar dan terciptanya lingkungan belajar untuk menunjang proses belajar mandiri. Kasus 1 Ketika saya berkunjung ke SD daerah terpencil yang gurunya mengajar merangkap kelas disetiap dinding ruang kelas di hiasi dengan ruas bambu yang di isi dengan berbagai jenis daun warna-warni (di daerah ini sulit ditemui bunga) yang diperoleh dari sekitar sekolah. Daun-daun ini dikumpulkan oleh murid-murid dan guru, kemudian di pasang sebagai hiasan kelas. Jumlah hiasan tersebut tidak kurang dari 9 buah dalam satu ruang kelas. Saya tidak mengetahui secara pasti apakah hiasan tersebut ada setiap hari atau hanya karena akan di kunjungi . ketika saya bertanya pada salah seorang murid apakah hiasan tersebut digunakan untuk belajar, mereka menjawab “tidak’.

Kasus 2 Pada tahun 1960-an ada Sd dikampung penulis yang terhitung maju, SD tersebut baru didirikan selama 3-4 tahun, jadi termasuk SD baru. Kepala Sekolahnya termasuk berpikiran modern, sehingga dalam waktu relative singkat SD tersebut sudah memiliki kebun sekolah, kolam ikan, dan peternakan kambing. Semua ini dikelola oleh murid-murid dengan bimbingan guru. Setiap bulan murid-murid dari seluruh kelas dibagi tugas piket secara bergiliran, misalnya bulan pertama yang mengurus kolam adalah kelas VI dan kelas I, kelas V dan kelas II mengurus kebun, dan kelas III dan kelas IV mengurus peternakan kambing. Setiap harinya juga diatur piket per kelas, rata-rata 3 orang murid yang harus mengurus kekayaan sekolah itu, antara lain memberi makan ternak dan ikan, membersihkan kandang dan kolam, serta memelihara kebun. Dari sini murid-murid belajar berkebun, beternak, dan memelihara ikan. Dengan demikian SD tersebut menjadi lebih terkenal sehingga hampir tiap minggu di kunjungi oleh instansi dan pejabat dari kota, misalnya Kanwil Depdikbud, UNICEP dan UNIESCO. Murid-muridnya bangga menjadi murid SD tersebut, apalagi kalau sedang piket, mereka memakai pakaian yang bagus dan memakai selempang. Mereka senang belajar karena tidak hanya duduk di dalam kelasnya, tetapi juga sering ke kebun, ke kolam atau ke kandang kambing.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya sekolah mempunyai potensi dan keinginan yang besar untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekolahnya sebagai sumber belajar (kasus 1 dan 2). Pada kasus 1, murid-murid dilibatkan hanya pada saat mengumpulkan daun-daun dan meletakkannya pada bumbung bambu. Ini disebabkan guru belum mempunyai program yang jelas untuk memenfaatkan daun-daun tersebut bagi kepentingan belajar murid-murid. Sebelum saya lanjutkan, jawablah pertanyaan berikut ini. Untuk hal apa saja daun tersebut dapat dimanfaatkan? …tepat sekali. Sesungguhnya daun tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, yaitu sebagai alat peraga, atau alat bantu pelajaran. Contoh, untuk

IPA daun yang berwarna-warni dapat dijadikan peraga untuk materi “penggolongan tumbuhan” dan sebagainya. Masih banyak kegunaannya bukan ? Pada kasus 2 murid sudah banyak terlibat dalam belajar yaitu belajar cara beternak, berkebun, dan cara memelihara ikan, tetapi masih belum banyak dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, misalnya alat peraga pelajaran dalam pelajaran IPA, matematika, dan mata pelajaran yang lainnya. Contoh, dalam mata pelajaran IPA yaitu materi tentang “herbivore” bias menggunakan kambing sebagai bahan pengamatan, materi lingkungan hidup dapat menggunakan kambing sebagai bahan pengamatan, materi lingkunganb hidup dapat menggunakan kolam sebagai sumber pengamatan, dan materi “klasifikasi tumbuhan”, muridmurid dapat di bawa ke kebun untuk mengamati jenis-jenis tumbuhan.

2. Melengkapi sekolah dengan sumber belajar a. Mengumpulkan berbagai jenis tumbuhan, daun-daun atau bunga-bunga, kemudian di keringkan dan disusun berdasarkan jenisnya. b. Mengumpulkan berbagai jenis binatang (serangga), baik binatang darat maupun binatang air, kemudian dikeringkan dan disusun dalam satu lembar kertas manila dan diberi identitas seperti pada butir a. c. Mengumpulkan berbagai jenis biji-bijian, kemudian dikumpulkan pada gelas plastic bekas aqua sesuai dengan jenisnya dan disimpan dalam lemari. d. Mengumpulkan berbagai jenis batu-batuan seperti batu padas, batu sungai, batu pasir, dan batu-batuan lain. e. Mengumpulkan barang-barang bekas antara lain barang dari logam, plastic, kayu, rotan, kaca, ebonite, kabel, kertas, karet dan lain-lain. f. Mengumpulkan uang logam yang sudah tidak terpakai dari tahun-tahun lama sampai tahun terakhir. g. Guru bersama-sama murid membuat sendiri berbagai jenis alat peraga pelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, antara lain globe, dan alat peraga terjadinya gerhana.

3. Bagaimana cara mengembangkan program kebun, kolam, dan peternakan sekolah? Anda mungkin berpendapat bahwa untuk mengembangkan sarana belajar seperti itu, memerlukan biaya yang cukup besar dan perlu memiliki keahlian khusus, bukan? tidak, yang diperlukan dari anda adalah karsa dan karya (inisiatif dan kreatifitas). Untuk ini anda tidak perlu menggunakan semua sarana belajar tersebut, anda cukup memilih salah satu saja misalnya yang paling sederhana, mudah dan dapat dilaksanakan dimana saja seperti kebun sekolah.

4. Mengembangkan Pusat Sumber Belajar (PSB) PSB merupakan tempat kegiatan belajar, maka PSB harus dilengkapi dengan perlengkapan sumber belajar, seperti berikut: a. Alat perlengkapan Alat perlengkapan belajar dapat berupa alat peraga, alat bantu belajar, alat praktik, dan berbagai benda atau barang seperti gunting, karton, kertas plastic, dan sebagainya. b. Sumber belajar Sumber belajar disini berupa buku-buku pelajaran, majalah, koran, herbarium, insektarium, akuarium, tumbuhan dalam pot, binatang yang dipelihara, dan sebagainya. c. Media elektronik Sumber ini dapat berupa kaset audio, kaset video, radio, dan TV.

Benda atau barang tersebut ditempatkan dan ditata pada tempat yang disediakan. Penempatan ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: a. Menurut jenisnya Penempatan dilakukan berdasarkan jenis dari semua koleksi atau benda/barang yang ada di PSB tersebut. Jenis tersebut diklasifikasikan menurut alat praktikum, buku, tanaman, hewan, dan tumbuhan yang diawetkan, biji-bijian, batu-batuan dan lain-lain. b. Menurut mata pelajaran. Penempatan dapat juga dilakukan berdasarkan mata pelajaran, yaitu alat dan sumber untuk IPA ditempatkan pada satu sudut atau satu lemari. Sedangkan untuk mata pelajaran lainnya misalnya Bahasa Indonesia, IPS, Matematik, Orkes, PPKN dan sebagainya ditempatkan pada sudut atau lemari yang lain.

LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Jenis-Jenis Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Pada dasarnya semua jenis lingkungan yang ada di sekitar anak dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan kegiatan pendidikan untuk anak usia dini sepanjang relevan dengan komptensi dasar dan hasil belajar yang bisa berupa lingkungan alam atau lingkungan fisik, lingkungan sosial dan lingkungan budaya atau buatan. 1. Lingkungan alam Lingkungan alam atau lingkungan fisik adalah segala sesuatu yang sifatnya alamiah, seperti sumber daya alam (air, hutan, tanah, batu-batuan), tumbuh-tumbuhan dan hewan (flora dan fauna), sungai, iklim, suhu, dan sebagainya. 2. Lingkungan sosial Hal-hal yang bisa dipelajari oleh anak usia dini dalam kaitannya dengan pemanfaatan lingkungan sosial sebagai sumber belajar ini misalnya: 1. mengenal adat istiadat dan kebiasaan penduduk setempat di mana anak tinggal. 2. mengenal jenis-jenis mata pencaharian penduduk di sektiar tempat tinggal dan sekolah. 3. Mengenal organisasi-organisasi sosial yang ada di masyarakat sekitar tempat tinggal dan sekolah. 4. Mengenal kehidupan beragama yang dianut oleh penduduk sekitar tempat tinggal dan sekolah. 5. Mengenal kebudayaan termasuk kesenian yang ada di sekitar tempat tinggal dan sekolah. 6. Mengenal struktur pemerntahan setempat seperti RT, RW, desa atau kelurahan dan kecamatan. Pemanfaatan lingkungan sosial sebagai sumber belajar dalam kegiatan pendidikan untuk anak usia dini sebaiknya dimulai dari lingkungan yang terkecil atau paling dekat dengan anak. 3. Lingkungan Budaya

Di samping lingkungan budaya dan lingkungan alam yang sifatnya alami, ada juga yang disebut lingkungan budaya atau buatan yakni lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia untuk tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Anak dapat mempelajari lingkungan buatan dari berbagai aspek seperti prosesnya, pemanfaatannya, fungsinya, pemeliharaannya, daya dukungnya, serta aspek lain yang berkenan dengan pembangunan dan kepentingan manusia dan masyarakat pada umumnya. Lingkungan alam sekitar baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial budaya seperti contoh-contoh diatas adalah “laboratorium raksasa”, yang dapat digunakan sebagai sumber belajar oleh murid-murid. Lembar Kerja Murid (LKM) merupakan alat pembelajaran yang berguna untuk memanfaatkan sumber lingkungan secara maksimal. Lembar Kerja Murid (LKM) merupakan alat atau sarana utuk mengaktifkan murid-murid belajar secara mandiri. Berikut ini adalah contoh LKM yang berisi panduan untuk menggunakan lingkungan sebagai sumber.

LEMBAR KERJA MURID Nama/kelompok Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Kelas 1. Alat/bahan : ………….. : Penggolongan makhluk hidup : Hewan berbuku-buku (serangga) : V (lima) : a. 2 buah toles b. kapas c. 2 potong roti / makanan lain d. lalat buah (drosophila melanogratia) e. lalat rumah 2. Tujuan : Melakukan percobaan untuk : a. Mengetahui cara perkembangbiakan lalat b. Membandingkan cara perkembangbiakan lalat rumah dan lalat buah 3. Kegiatan : a. persiapan

b. Cara pengamatan  Amati dan catat setiap hari perkembangan mulai bertelur;  Catat pada hari ke berapa telur menetas,  Catat hari ke berapa lalat tersebut mulai dewasa, 4. Hasil : a. Uraikan cara perkembangbiakan lalat-lalat tersebut dari mulai Ditempatkan sampai dengan bertelur dan dewasa! b. Bandingkan perkembangbiakan lalat rumah dengan lalat buah. 5. Kesimpulan : a. Mana yang banyak bertelurnya? b. Mana yang lebih cepat bertelurnya? c. Mana yang lebih cepat menetas? d. Mana yang lebih cepat dewasa? Apa cirinya?

1. Memanfaatkan Pusat Sumber Belajar Contoh dalam memanfaatkan PSB, LKM diarahkan untuk kegiatan berikut : a. Mengembangkan keterampialan atau konsep 1) Kecermatan : menggunting, merekat, memasangkan, membuat (mengamati, membuat diagram), dan mengadakan simulasi, 2) Penerapan konsep : memasukkan, mengurutkan, mengumpulkan, memisahkan, mendaftar, mengelompokkan, memasangkan, menuliskan, menempatkan, atau memberi nama, membandingkan, mengembangkan, meneliti, menemukan, dan memutuskan. b. Menempatkan suatu lembar kerja, permainan, diagram, hasil praktikum, laporan, dan hasil karya lainnya di suatu tempat di mana murid lain dapat belajar dengan cara belajar mandiri. c. Mengembangkan beberapa untuk penyimpanan, sehingga baik guru maupun murid dapat menghabiskan waktunya untuk belajar di PSB. merekontruksi, percobaan

LKM merupakan alat yang paling efekktif untuk memaksimalkan penggunaan PSB. Berikut ini beberapa contoh kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan dengan menggunakan LKM, antara lain : a. Murid-murid melakukan praktikum tentang pengaruh sinar matahari terhadap tumbuhan. Contoh : 1) Murid-murid menempatkan tumbuhan dalam kotak yang ditutup rapat. Pada dinding kotak tersebut diberi lubang untuk masuk sinar. Setelah beberapa hari akan diiketahui bahwa tumbuhan tersebut merayap melalui lubang tadi. 2) Murid-murid mengamati 2 buah pot yang sudah ditanami bunga dari jenis yang sama, yang satu ditempatkan ditempat terang dan satunya lagi ditempatkan pada tempat gelap. Setelah satu minggu murid-murid dapat membandingkan pertumbuhan kedua murid tersebut. b. Berbagai potongan bambo yang merupakan contoh bentuk lingkaran dari berbagai ukuran. Setiap murid mengukur lingkaran tersebut dengan menggunakan benang. Berdasarkan pengukuran ini, murid di bawah bimbingan guru akan mengetahui rumus perhitungan benda-benda bulat seperti bola. c. Berbagai tanda rambu-rambu lalu litas yang di buat sendiri, ditempatkan berjejer. Muridmurid harus menunjukkan ke mana arah berjalan sesuai dengan rambu tersebut.

2. Lingkungan Sekitar Sebagai Sumber Belajar Lingkungan alam berkaitan dengan sumber-sumber alami antara lain laut, gunung, sungai, sawah, kolam, hutan, lembah, danau, dan sumber alam lainnya. Sedangkan lingkungan sosial budaya berkaitan antara lain dengan kehidupan kemasyarakatan, keagamaan, kenegaraan, kebudayaan, adat istiadat, politik, ekonomi dan lain-lain. Ke dalam lingkungan social budaya ini dimasukkan pula tentang lembaga-lembaganya seperti lembaga adat, pemerintahan, budaya dan seterusnya. Manfaat yang dapat diperoleh dalam menggunakan lingkungan sebagai sumber adalah : Murid-murid dapat melihat secara langsung benda-benda yang berkaitan dengan mata pelajaran di sekolahnya;

Murid dapat membuktikan dan menerapkan teori atau konsep yang pernah didapat di sekolah kedalam kehidupan sehari-hari; Menanamkan sikap untuk menyayangi lingkungan sekitar.

a. Bagaimana cara mengidentifikasi lingkungan sebagai sumber belajar? Format 1 Identifikasi Sumber Lingkungan Sesuai Dengan Materi Pelajaran Sumber Alam Ketersediaannya Ada 1 1. Sumber Alam a. Gunung b. Sungai c. Sawah d. Lembah e. Hutan f. Kawah g. Irigasi h. Danau/waduk i. Pertambangan j. Mata air 2 Tidak 3 Untuk Mata Pelajaran 4

2. Sosial a. Jenis suku bangsa b. Suku terasing c. Kehidupan alat d. Upacara adat e. Rumah adat f. Upacara keagamaan g. Mata pencaharian penduduk

h. Pakaian adat i. Ragam bahasa

3. Lembaga a. Kantor Desa b. Puskesmas c. Posyandu d. Tempat ibadah e. Lembaga adat f. Lembaga budaya/sanggar tari g. Perpustakaan h. Museum i. Laboratorium j. Pabrik/perusahaan

Beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan dalam menentukan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, adalah : 1. Sumber tersebut mudah dijangkau (kemudahan), 2. Tidak memerlukan biaya tinggi (kemurahan), 3. Tempat tersebut cukup aman untuk digunakan sebagai sumber belajar (keamanan), 4. Berkaitan dengan materi yang diajarkan disekolah (kesesuaian.

b. Bagaimana memanfaatkan sumber tersebut untuk kepentingan belajar muridmurid? Langkah-langkah yang perlu dimantapkan dalam menggunakan lingkungan sebagai sumber dapat dilakukan sejak awal caturwulan. Untuk ini Anda dapat bertitik tolak dari GBPP atau buku paket, atau keduanya. Format 2 berikut memberikan gambaran kepada Anda sebagaimana semestinya Anda merencanakan program ini.

Format 2 Identifikasi Materi Memerlukan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Sekolah Caturwulan Kelas Mata Pelajaran/Topik 1. Matematika 2. IPA 3. IPS 4. PMP 5. B. Indonesia Ling. Fisik : ……………. : ……………. : ……………. Sumber Belajar yang Diperlukan Ling. Sosial Lembaga PSB (sekolah)

Dalam melaksanakan pemanfaatan sumber-sumber lingkungan tersebut, ada beberapa langkah yang harus Anda lakukan, yaitu : 1) Anda membuka kembali daftar materi pada Format 1 dan Format 2, untuk melihat topik dan materi yang akan diberikan dengan menggunakan berbagai sumber lingkungan, 2) Mempersiapkan kunjungan ke sumber belajar tersebut, yaitu;  Menentukan jadwal (kapan dan berapa lama)

 Menyiapkan lembar kerja murid (LKM), merupakan pedoman atau petunjuk bagi murid dalam melakukan pengamatan, dan pengumpulan data,  Mempersiapkan perbekalan, misalnya : alat, bahan, dan konsumsi. 3) Memberikan petunjuk tentang tata tertib selama melakukan kunjungan atau pengumpulan data, 4) Melakukan bimbingan dan pembinaan selama dalam kunjungan, 5) Memberikan pengawasan penuh kepada murid-murid baik di perjalanan maupun ditempat tujuan, 6) Memberikan petunjuk cara membuat laporan hasil kunjungan, dan cara

menyampaikannya dalam kelas, 7) Menata kelompok belajar untuk mempresentasikan hasil laporan.

c. Masyarakat sebagai sumber Masyarakat adalah individu sebagai personal yang merupakan bagian dari masyarakat. Misalnya, para ulama, budayawan, sosiawan, pengrajin, petani, seniman, pakar lingkungan hidup dan sebagainya. Bagaimana caranya memanfaatkan narasumber. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan adalah : 1. Materi atau informasi yang dapat diperoleh dari narasumber, materi ini tidak dikuasai oleh guru, dan sumbernya pun tidak ada. Oleh karena itu diperlukan narasumber yang dapat memberikan informasi ini secara jelas, misalnya tentang bahaya narkotik, bahaya AIDS dan sebagainya. Sekolah atau guru dapat mengundang Kepolisian atau dari Puskesmas untuk memberikan ceramah di sekolah. 2. Narasumber tersebut tepat, artinya yang dijadikan narasumber harus orang yang benar-benar memiliki informasi tersebut. 3. Hindarkanlah hal yang berwarna politik, karena murid SD belum saatnya di beri informasi politik praktis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->