PENELITIAN DOSEN MUDA

LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA TAHUN ANGGARAN 2006

FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG

Oleh: Dra. SATYA GAYATRI, M.Hum

Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415.0/023-04.0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006, tanggal 1 Februari 2006

FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER, 2006

HALAMAN PENGESAHAN USUL PENELITIAN DOSEN MUDA 1. Judul Penelitian 2. Bidang Ilmu 3. Ketua Penelitian a. Nama b. Jenis Kelamin c. Golongan Pangkat dan NIP d. Jabatan Fungsional e. Fakultas/ Jurusan 4. Jumlah Tim Peneliti 5. Lokasi Penelitian 6. Waktu Penelitian 7. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra. Satya Gayatri, M.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7.500.000,(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang, 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra. Adriyetti Amir, S.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti

Dra. Satya Gayatri, M.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian

Prof. Dr. Ir. H. Helmi, M.Sc NIP. 131 474 873

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK…………………………………………………………. PRAKATA …………………………………………………………. DAFTAR ISI………………………………………………………... BAB I. PENDAHULUAN………………………………………….. BAB II PERUMUSAN MASALAH………………………………… BAB III TINJAUAN PUSTAKA…………………………………… BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ……………… BAB V METODE PENELITIAN………………………………… BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………… 1. Transkrip Teks…………………………………………… 2. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang 3. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan……….. 4. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang………………………. BAB VII KESIMPULAN…………………………………………. DAFTAR PUSTAKA……………………………………………… i ii iii 1 6 7 12 14 16 17 52 62 71 83 86

wawancara banyak dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang fungsi dan kegunaan pertunjukan Tupai Janjang yang telah dilakukan. Oleh sebab itu. Disamping itu. Formulaik dan komposisi skematik dalam penceritaan juga mempertimbangkan irama sehingga terdapat pemakaian ungkapan penyeling untuk menyempurnakan irama itu. Pertunjukan Tupai Janjang sampai sekarang masih tetap eksis walaupun sudah mengalami pergeseran oleh bentuk hiburan lainnya. serta nilai-nilai apa yang dapat diambil dari teks yang dibacakan. penelitian ini bertujuan untuk melihat fungsi dan kegunaan teater tradisional tersebut dalam kehidupan masyarakat di daerah Palembayan. Selanjutnya. sedangkan untuk penelitian kepustakaan digunakan terutama dalam menganalisis teks. bentuk yang berformulaik sangat membantu proses pelantunan teks oleh pencerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertunjukan sebuah teks dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat pertunjukan sedang berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk melihat unsur-unsur teks yang bersifat formulaik dalam aspek kelisanan. unsur-unsur pembentuk kelisanan dalam teater tradisional Tupai Janjang. pencerita juga memakai skematik. Selanjutnya. Unsur-unsur teks yang bersifat formulaik berhubungan dalam pembentuk kelisanan dengan menggunakan pendekatan formula dan komposisi skematik. Berbagai pesan dan unsur nasihat juga terdapat dalam pertunjukan ini. . Pertunjukan ini mempunyai fungsi dan kegunaan dalam masyarakat. Data yang didapatkan dari penelitian lapangan digunakan untuk melihat aspek-aspek pembentuk kelisanan dari teks. Sebuah teks tidak ada yang persis sama dalam suatu pertunjukan. Dalam teks akan terlihat adanya perbedaan formulaik antara suatu pencerita dengan pencerita lainnya. Penelitian lapangan digunakan untuk melihat bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang dan tanggapan masyarakat tentang pertunjukan itu sendiri. dalam menyampaikan ide dan gagasan saat pertunjukan supaya dapat dengan cepat menyampaikan cerita. Seorang pencerita untuk mempermudah komposisi penceritaan memakai formula dan komposisi skematik dalam pertunjukan.ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan.

Pada negara-negara yang sudah maju. Budaya Minangkabau pada dasarnya adalah budaya lisan. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Navis (1984:231) bahwa dalam percakapan sehari-hari orang Minangkabau lazim menggunakan ungkapan. . 1995:117 —118). Salah satu tradisi lisan itu ada dalam kebudayaan Minangkabau. masih terdapat banyak tradisi lisan yang bertahan dan mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. Di samping terdapat tradisi lisan yang telah hilang. tradisi lisan dicatat dan kemudian disebarkan lewat media cetak dalam bentuk buku (Rosidi. nasihat. bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. Tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang sangat berharga. 1995:125-126). melainkan juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. hal itu sangat berpengaruh terhadap ragam dan gaya bahasa yang digunakan. sebagian kecil telah “diselamatkan” dalam bentuk rekaman tape recorder. Dari banyak tradisi lisan yang masih hidup. Sastra Minangkabau juga terlihat kekuatannya pada sastra lisan. 1999:105).BAB I PENDAHULUAN Indonesia memiliki kekayaan tradisi lisan yang tersebar pada tiap-tiap daerah. seperti ajaran. Usaha pelestarian tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkelanjutan. tradisi lisan bisa menjadi sumber bagi suatu penciptaan budaya baru (Esten. terdapat dalam bahasa lisan. hilangnya suatu tradisi lisan tersebut sesungguhnya merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia. perbincangan. rundingan. Padahal. Bahasa yang diucapkan. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak tradisi lisan di Indonesia yang telah hilang karena tidak dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya dan tidak sempat pula didokumentasikan. Bahkan. transkripsi. bahkan hukum dan peraturan. dan rekaman video (audio-visual). ragam tradisi lisan ini juga terlihat dalam komunikasi sehari-hari (Anwar. Dalam arti.

1980:66). Pertama. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. disimpan. tetapi juga berbicara tentang hubungan antara pemain. bahkan ada kecendrungan untuk menolak cara pemberian nasihat secara langsung (Tim Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Bertahannya suatu tradisi lisan dalam masyarakat karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. dan pendidikan melalui cerita tersebut. Mengingat fungsinya dalam masyarakat. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. dalam pengertian tradisi lisan terdapat peraturan tertentu yang tidak bisa diabaikan dan ditinggalkan kalau akan melaksanakan pertunjukan. Akan tetapi. dan audience. Selain itu. amanat. teks (karya sastra). Tradisi lisan yaitu cerita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain secara lisan. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam cerita itu dianggap pernah terjadi pada masa lampau atau merupakan hasil rekaan semata-mata karena terdorong keinginan untuk menyampaikan pesan. amanat. tradisi lisan Minangkabau dari segi keberadaannya dikelompokkan menjadi tiga. daya pukau dari apa yang disampaikan menjadi hilang. dan pendidikan yang dapat bermanfaat bagi perkembangan watak dan kepribadian para pendengarnya. ragam tradisi lisan yang . jika pesan itu disampaikan secara langsung kepada orang yang hendak dituju. dan disampaikan dalam cerita itu.Kebiasaan menggunakan ungkapan dalam percakapan bertolak dari landasan sosial dan struktur kekerabatan yang berkaitan sehingga menyebabkan setiap orang saling menyegani. menambah pengetahuan. membicarakan tradisi lisan juga langsung berhadapan dengan nilai-nilai dan aturanaturan yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Orang yang bercerita pada dasarnya ingin menyampaikan pesan. Tradisi lisan tidak hanya berbicara tentang ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang tersebar dan diturunkan secara lisan (dari mulut ke mulut). Dengan demikian.

kematian. ragam tradisi lisan yang bertahan dari kepunahan dengan jalan melakukan penyesuaian dan perkembangan sehingga mendapat sambutan dari masyarakatnya. akting. dan penyambutan tamu (Amir. sesuai dengan jumlah tokoh yang ada dalam cerita yang dibawakan. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. nyanyi.terancam punah karena perkembangan dari masyarakat hingga kehilangan fungsi dan perannya. Pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. Jika dilihat dari bentuk pertunjukannya. Ketiga. Misalnya. ragam tradisi lisan yang tidak mengalami perubahan sama sekali karena berkaitan dengan upacara adat. Kedua. maka pemain akan membesarkan suaranya seperti layaknya seorang bapak yang sedang marah. gerak. sedangkan untuk musik juga dimainkan oleh seorang pemain musik. Demikian juga. maka pemain akan melakukan dialog dan akting seperti ibu-ibu yang sedang menyusui anak. seperti pantun adat dan pasambahan. Berbeda halnya dengan randai yang juga disebut dengan teater tradisional. dan musik. Kegiatan dialog. jika menceritakan seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. dan nyanyi dilaksanakan oleh satu orang pemain. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi pertunjukan Tupai Janjang. gerak. Randai adalah pertunjukan teater tradisional yang . 1990:25). yang biasa ditemukan dalam upacara perhelatan. Randai ditampilkan oleh beberapa orang pemain. jika menceritakan bapak yang sedang marah. maka pertunjukan ini dapat dikelompokkan ke dalam teater tradisional Minangkabau. Pemain itu yang melakukan dialog dari tokoh dalam cerita dengan menirukan suara dan akting yang sesuai dengan tuntutan cerita. akting. Pengelompokkan itu karena pertunjukan Tupai Janjang menghadirkan dialog.

Tupai janjang banyak terdapat di hutan di Pulau Sumatera. yakni . Berkatalah sang istri tersebut bahwa dia sangat menginginkan anak walaupun anak itu seperti tupai. orang tua juga harus sabar mendidik anak. Kenyataan terakhir ini tidak ditemui pada pertunjukan Tupai Janjang karena hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. itu orang tua juga harus berhati-hati menjaga anak karena anak merupakan amanah. diduga cerita ini cukup banyak pesan yang dapat diambil. sang suami membuang anak itu karena ulahnya yang selalu menganggu masyarakat. Tupai Janjang bercerita tentang sepasang suami-istri yang sudah lama menikah dan belum juga dikaruniai anak. Sang istri berputus asa karena belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Salah satu tokoh dalam ceritanya bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. pertunjukannya bernama tupai janjang yang diambil dari kaba yang disampaikan dalam cerita itu yaitu kaba Tupai Janjang. Dalam pembuangan. Dari ringkasan cerita di atas. Jadi. Dalam perjalannya ke kebun dia melihat seekor anak tupai yang melompat. si anak bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. anak itu bertemu dan dibesarkan oleh seorang ibu hingga menjadi seorang pemuda yang gagah dan baik. Tokoh ini awalnya mempunyai tingkah laku seperti tupai janjang dan akhirnya berubah menjadi manusia yang baik dan berguna. Namun. Di samping.sudah lama dikenal dan pada umumnya ditemui hampir di semua wilayah Minangkabau. Tupai janjang diambil dari nama sejenis tupai yang badannya lebih besar dari tupai biasa dengan bulunya berwarna agak kekuning-kuningan. terutama kepada orang tua agar jangan asal berbicara karena yang diucapkan bisa menjadi kenyataan. Akhirnya. Akhirnya. pertunjukan dan kabanya bernama Tupai Janjang. Tupai janjang disebut juga bajing loncat dalam bahasa Latin dinamakan lomus horsfield dan dalam bahasa Inggris dinamakan endemic Sumatra. Kepada seorang anak juga ada pesan yang sangat berharga. Oleh karena itu. sang istri itu pun hamil dan melahirkan anak yang tingkah lakunya seperti tupai. Oleh karena itu. Secara singkat. Kabupaten Agam.

Konsep formulaik ini digunakan oleh pencerita untuk mempermudah dan membantu mengingat teks sehingga teks dapat dirubah dan bersifat fleksibel tergantung kepada komposisi penceritaan. misi penyelenggara acara. Kelangkaan pewaris aktif ini seharusnya tidak terjadi karena dengan memperhatikan teks dalam pertunjukan ini maka pewarisan (transmisi) diduga dapat dengan mudah dilakukan. misalnya untuk kampanye. dan bentuk pertunjukan dapat diselamatkan dari kepunahan dan kelangkaan. atau menyampaikan suatu ide kepada orang (pejabat) secara tidak langsung. atau menyampaikan perbaikkan jalan kepada pejabat daerah setempat. klausa. atau kalimat yang disebut dengan formula. dapat melakukan penyesuaian dan mampu “merekayasa” pertunjukan sesuai dengan pesan sponsor. pewaris aktif yang profesional dari pertunjukan ini hanya tinggal satu orang.bagaimanapun “durhakanya” seorang ayah yang telah menyakiti anaknya sendiri tetap harus dihormati. Di samping pertunjukannya yang spesifik. Pencerita dapat mengajarkannya kepada warga masyarakat yang lain dengan memanfaatkan sistem formula sehingga dapat dengan mudah mengingat teks yang diceritakan. Di samping berisi pesan moral. memasyarakatkan program pemerintah. Hal ini terutama terlihat dari akting yang dilakukan oleh pencerita. frasa. pertunjukan Tupai Janjang dapat dijadikan sebagai salah satu ajang hiburan karena penampilan pencerita. fungsi. teks yang dibacakan mempunyai bentuk yang berulang baik segi kata. . Hal ini didasarkan karena dalam tradisi lisan. Mengingat kondisi dan nilai-nilai di atas maka penelitian dan pendokumentasian tentang pertunjukan tupai janjang seharusnya dilakukan secepat mungkin. untuk menyampaian cerita. Dengan melihat kondisi dan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang ini maka penelitian secepatnya dilakukan mengingat nilai-nilai. Pencerita ini yang sering diundang oleh masyarakat atau pejabat pemerintah setempat untuk melaksanakan pertunjukan. Tradisi lisan ini.

setiap penceritaan akan berbeda teksnya. Sebuah teks dalam pertunjukan tradisional tidak ada yang persis sama. dan amanat dari teks.BAB II PERUMUSAN MASALAH Dari persoalan yang muncul di atas maka dirumuskan penelitian yang akan dilakukan dalam beberapa tahap yang saling berhubungan untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat. Ketiga. penelitian ini akan dilanjutkan dengan menganalisis teks untuk mengungkap sistem formulaik yang digunakan oleh pencerita dalam sebuah menceritakan teks. Pada bagian ini akan dianalisis bentuk-bentuk formulaik yang diciptakan oleh pencerita. Selalu ada bagian-bagian yang mengalami perubahan karena sebuah pertunjukan tradisi lisan akan dipengaruhi oleh audience (penonton) dan suasana pertunjukan. untuk mengungkap fungsi pertunjukan Tupai Janjang bagi masyarakat di daerah Palembayan. Dari sebuah pertunjukan itu didapatkan sebuah teks. nilai-nilai. Kedua. walaupun menceritakan cerita yang sama. Pertama. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap penelitian lapangan dan tahap analisis. penelitian lapangan dilakukan untuk melihat bentuk performance (pertunjukan) dari teater tradisional Tupai Janjang. Pada bagian ini akan melihat fungsi. Dengan demikian. .

dan larik yang telah ada. atau larik. yang mungkin berupa kata. matra.BAB III TINJAUAN PUSTAKA Penelitian ini akan mengunakan teori yang dapat mengupas masalah di atas secara mendalam. Dalam setiap pertunjukan tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. bahkan seorang pencerita yang sama. frasa) yang tersedia baginya (stock-in-trade) yang siap pakai. 1988a:298). Persediaan formula disebut stock-in-trade si penyair. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula itu pada saat pertunjukan. dan irama puisi yang dipakai. frasa. formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. Untuk itu digunakan teori tentang sastra tradisional yang dikemukakan oleh Lord. Unsur-unsur yang dipakai memperlihatkan bentuk yang identik atau variasi sesuai dengan tuntutan tata bahasa. Untuk menghasilkan perulangan itu. klausa. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotipe yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. Menurut Lord dalam bukunya The Singer of Tales (1981:30 dan 43). Lord (1981:34) menyatakan bahwa penyair-penyair itu tidak menghafalkan puisinya lewat naskah atau tulisan. pencerita. yaitu mengingat perulangan dan menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. klausa. kata majemuk. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. yang identik penampilannya (Teeuw. Hal itu terbukti bahwa jarang terdapat penghafalan dan tidak ada dua pementasan yang sama. Teknik . Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. frasa. Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. atau tukang pidato. Setiap penyair tradisional membawakan ceritanya dengan menciptakan kembali secara spontan dan memakai sejumlah unsur bahasa (kata. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita.

dan tepat serta menjadi ungkapan tetap yang dapat bertahan hidup secara lisan (Lord. 1981:30). Ekspresi formulaik dapat juga membantu terbentuknya wacana ritmis sehingga merupakan salah satu alat bantu untuk mengingat kembali dengan mudah. Upaya untuk mempelajari. sesuai dengan keinginan dan kreatifitasnya. Hal ini dilakukan untuk menentukan formula dengan berbagai variasi polanya (Lord. kombinasi. Konsep kelisanan tidak hanya dimaknai secara presentasi lisan. pencerita dapat menyusun larik-larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. Sweeney (1999:68) menyebutkan bahwa formula adalah larik atau paruh larik yang digunakan lebih dari sekali dalam bentuk yang sama. pembentukan model. 1981:5). tetapi juga dimaknai sebagai komposisi selama terjadinya penampilan secara lisan. Formula dan ekspresi formulaik bertujuan untuk menceritakan kisah-kisah dalam nyanyian dan sajak. Dalam penyusunan baris dengan pola formula itu terjadi proses penggantian. 1981:45). dan penambahan kata-kata atau ungkapan baru pada pola formula sesuai dengan kebutuhan penceritaan atau penggubahan. cepat. dan menampilkan suatu karya secara lisan merupakan bentuk rangkaian kelisanan yang dimaknai sebagai kelisanan dalam arti teknis atau harfiah (Lord. menyusun.formula dikembangkan untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman (Lord. Pencerita dapat membangun larik terusmenerus. 1979:54. Penganalisisan terhadap teks harus dimulai dengan pengamatan yang cermat terhadap frase-frase yang mengalami perulangan. Formula merupakan alat untuk menuangkan tema atau ide-ide yang . Finnegan dalam Tuloli. Cerita yang ditampilkan juga menyampaikan tema atau ide. Dengan pola formula sebagai dasar. sedangkan ekspresi formalik adalah ungkapan yang dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim. Batasan yang diberikan tentang pola formula dan ekspresi formulaik akan diterapkan dalam menganalisis teks cerita tupai janjang. 1991).

1981:40). 1981:61). seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. Lord (1976:4 dan 68) menyatakan bahwa kelompok-kelompok ide yang secara reguler digunakan dalam menceritakan kisah merupakan tema-tema cerita. Tema dapat diekspresikan dengan sekumpulan kata-kata. skemata merupakan hal yang penting. Tema bukan sekumpulan kata yang tetap. Hal ini disebabkan oleh sifat lentur formula dan pencerita tidak memakai formula yang sama pada setiap saat penceritaan. Penguasaan formula dan tema merupakan syarat utama dalam menggubah cerita secara mudah dan lancar. tema mengalami perkembangan. Ini merupakan suatu keharusan dan bersifat normal. Dalam sastra Melayu tradisional. ide-ide.disampaikan kepada audience. Tema disusun dari adegan-adegan yang telah ada dalam pikiran pencerita dan digunakan untuk merakit cerita itu. melainkan merupakan pengelompokan ide-ide (Lord. Pencerita berpikir dan mempertimbangkan berdasarkan pola formula untuk menyajikan cerita. Pencerita tidak pernah memproduksi tema dengan kata-kata yang persis sama. Penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. Komposisi skematik merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional. Komposisi skematik merupakan skemata atau formula yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Dalam pikiran pencerita yang telah mapan. melainkan kreasi seni yang hidup dan berubah sesuai dengan situasi (Lord. Skemata atau formula itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. 1980:64-65). apapun cerita yang ditampilkan (Sweeney. 1981:94). Tema adalah kelompok ide yang secara teratur digunakan pada penciptaan suatu cerita dalam gaya formulaik. Tema adalah peristiwa atau adegan yang diulang dan bagian-bagian deskriptif dalam cerita. Dalam penceritaan lisan. terutama dalam penceritaan dramatis secara lisan (Sweeney. Tema bukanlah kreasi seni yang sungguh-sungguh statis. . atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematis.

Dalam penelitian ini diungkapkan hubungan sosial. 1984:19). pergi. Sementara itu. semuanya itu dapat dilakukan oleh satu orang dalam waktu yang bersamaan. (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. Performer adalah orang yang memproduksi sastra lisan pada saat performance dan sekaligus juga sebagai komposer. dan berbicara dengan sesama penoton yang lain.Lord juga menyatakan aspek kelisanan berupa komposisi. komposer. Hal ini akan mempengaruhi performance atau mungkin juga performance dapat terputus sejenak (Lord. dan audience akan mempengaruhi performance. Menurut William R. Bascom folklor mempunyai empat fungsi. dan penyair adalah orang dengan aspek yang berbeda. Suasana. dan peranan formula dalam penciptaan. Bascom. telah juga dilakukan oleh Phillips (1981) tentang Sijobang dengan judul Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Penyanyi. dan transmisi. performer. dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya (dalam Danandjaja. Audience dapat datang. yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. (3) sebagai alat pendidikan anak. Menurut Lord. pembuatan komposisi bagi penyair lisan dilakukan pada saat pencerita melaksanakan performance sehingga komposisi dan performance merupakan dua hal yang dilakukan pada saat bersamaan. Untuk melihat fungsi dari pertunjukan tupai janjang. performance. penelitian yang khusus dilakukan terhadap Tupai Janjang telah dilaksanakan oleh beberapa orang. Penelitian yang dilakukan juga menerapkan teori yang dikemukakan oleh Lord tentang formula yang ditulis dalam bentuk disertasi. variasi cerita Sijobang. Performance adalah saat berkreasi bagi penyair lisan. Berbagai penelitian tersebut baru pada tahap awal dan tidak memberikan analisis yang mendalam terhadap tradisi ini. tetapi dalam sastra lisan. 1981:13—17). tempat. teknik dan metode pencerita dan pencipta. Penelitian Erlinda . Penelitian dengan memakai teori Lord.

Gambaran dan suasana pertunjukan yang didapatkan tentu hanya sedikit. dan latar cerita. Andras (1999) melakukan penelitian terhadap Tupai Janjang dalam tugas akhirnya guna memperoleh strata satu di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Padang. alur. bentuk pertunjukan. dan audience tidak tepat sasaran karena pertunjukannya ditampilkan untuk tujuan perkuliahan. tema. Analisis dilakukan dengan melihat plot. Udin (1999) dalam makalah untuk seminar Asosiasi Tradisi Lisan tahun 1999 mengamati pertunjukan Tupai Janjang yang dilaksanakan di FPBS IKIP Padang. pembahasannya juga tidak mendalam. penokohan.dkk (1997) dalam bentuk laporan penelitian untuk ASKI Padang Panjang sangat ringkas sehingga tidak mencapai aspek-aspek yang dituntut dalam penelitian. tetapi tidak dilanjutkan dengan analisis terhadap teks tersebut. Penelitiannya lebih terfokus pada unsur cerita Tupai Janjang dengan teori drama modern. Pada bagian akhir tulisannya dilengkapi dengan teks kaba Tupai Janjang. Penonton pertunjukan Tupai Janjang pada waktu itu adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah sastra Nusantara. . cerita yang dibawakan. bukan menempatkan Tupai Janjang sebagai sebuah pertunjukan tradisi lisan. Karena hanya dalam bentuk makalah. Namun.

BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang serta menerangkan sistem formulaik dari teks. diharapkan dapat mengangkat nilai-nilai tradisional yang telah lama terkubur sehingga memberikan dan memperkokoh jati diri bangsa yang sedang mengalami erosi yang begitu hebat. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan penelitian. penelitian ini diharapkan juga memberikan kontribusi yang baik terhadap pemerintah daerah terutama di bidang kepariwisataan budaya guna . pesan. Akhirnya. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangan penelitian yang lebih lanjut terhadap pertunjukan tradisional sehingga dapat menjadikan sumber inspirasi baru bagi pencipta sastra modern dengan memperlihatkan akar dari budaya daerah. otomatis akan menambah dokumentasi dari bentuk pertunjukan teater tradisional di Minangkabau dan akan mengembangkan penelitian yang lebih lanjut terhadap peminat sastra tradisional. Sementara itu. Dengan analisis formulaik ini diharapkan dapat ditentukan stereotip yang digunakan dalam merangkai cerita Tupai Janjang oleh pencerita sehingga dapat mudah ditransmisikan kepada pencerita yang lainnya. dan amanat dari cerita Tupai Janjang ini. Dengan ditelitinya pertunjukan ini. diperlukan pula upaya untuk menggali dan mengkaji isi yang terkandung di dalamnya yang dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa Indonesia. penelitian ini juga bertujuan untuk menguraikan fungsi supaya dapat mengambil nilai-nilai. Selain diperlukan berbagai upaya untuk melestarikan tradisi lisan. Dengan demikian. Penelitian ini akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan terutama terhadap peninggalan-peninggalan tradisional terutama kepada teater tradisional dan bukan hanya bersifat inventarisasi dan pendokumentasian tetapi lebih dari itu menjadikan peninggalan-peninggalan tradisional jadi objek kajian yang menarik.

akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. Dengan demikian. . negara.meningkatkan promosi pariwisata karena pertunjukan tradisional dapat juga menarik wisatawan domestik maupun asing. dan daerah.

Penonton juga akan memberikan suasana tertentu dalam pertunjukan. baik yang terlibat langsung dalam pertunjukan maupun yang tidak. dan wawancara dengan penonton. Setelah itu baru data dianalisis dengan . Tanggapan juga diminta kepada niniak mamak. Penelitian ini mengambil objek tupai janjang yang dilaksanakan di Kecamatan Palembayan. dan pejabat pemerintah setempat tentang pengetahuannya terhadap pertunjukan Tupai Janjang. Penelitian ini juga dilakukan dengan menggunakan metode etnograsi. teknik wawancara dan observasi. Setelah data terkumpul. Kabupaten Agam. Wawancara dilakukan setelah pertunjukan usai. Tanggapan yang diberikan oleh penonton akan mempengaruhi kehidupan Tupai Janjang itu sendiri. Penelitian dilakukan dengan dilengkapi handycame. peneliti terlebih dahulu dibekali dengan seperangkat teori yang berkaitan dengan objek supaya kendala di lapangan tidak mempengaruhi terhadap hasil yang didapatkan. tokoh agama. jarang. Data ditranskipsikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan konteks masyarakat pendukungnya. Hal ini dilakukan supaya data yang didapat betul-betul akurat dan hidup. penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan suasana pertunjukan seperti apa adanya. Para informan tersebut terdiri atas pemain tupai janjang yang profesional dan masih aktif serta pemain yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat. Penonton yang diwawancarai adalah yang sudah sering. atau belum sama sekali menonton pertunjukan Tupai Janjang. baik terhadap pemain maupun terhadap penonton.BAB V METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang didasarkan pada data-data yang diperoleh di lapangan. cadiak pandai. Sebelum terjun ke lapangan. Dengan demikian. Pertunjukan dan perekaman dilakukan secara alami. karena tradisi pertunjukan ini hanya hidup di daerah tersebut. Penentuan informan didasarkan atas kualitas dan pengalamannya terhadap pertunjukan TJ. tape recorder. dilakukan transkripsi dan analisis.

menggunakan pendekatan formulaik untuk melihat teknik-teknik penceritaan lisan. Terakhir. . pesan dan amanat yang ada dalam teks cerita Tupai Janjang. menganalisis nilai-nilai.

dialog yang diucapkan oleh tokoh.BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Teks yang dianalisis dalam penelitian ini ada dua. Untuk membedakan teks yang berbentuk dialog dengan teks yang berbentuk narasi dipakai tanda “ ” di awal dan akhir dialog. yaitu teks I dan teks II. nan. ada kata-kata yang tidak mempunyai arti dan hanya berfungsi untuk kepentingan irama. Oleh karena itu. ha. hai. kegiatan. Keterangan untuk kegiatan ini diberikan di bawah teks yang dibacakan dan hanya dalam bahasa Indonesia. secara pemerintahan kepala jorong berada di bawah kepala nagari. desa yang sebelum diberlakukannya Perda tersebut diganti dengan nama jorong. Dalam penampilan. Teks II merupakan teks pokok. dan lain-lain (Navis. 1 Menurut Amir (2003:47) dan Kamus Bahasa Minangkabau. serta akting yang dilakukan oleh pencerita untuk mendukung cerita. Kata-kata yang tidak ada padanannya ditulis miring dalam bahasa Indonesia dengan memberikan keterangan di bawahnya. . Pertunjukan dilaksanakan di rumah salah satu warga di jorong1 Gumarang. teks yang didendangkan sangat dipengaruhi oleh irama. misalnya oi. Tanda ( ) digunakan untuk memberikan keterangan. Dipilihnya teks I untuk dianalisis karena Andras dianggap oleh masyarakat setempat sebagai pencipta pertunjukan TJ seperti sekarang ini. Kecamatan Pelembayan. Setelah diberlakukannya Perda No.02/ 1999. Kata-kata itu hanya berfungsi sebagai penyempurnaan irama dan jika dihilangkan atau ditinggalkan maka tidak akan mempengaruhi arti dari teks tersebut. tentang kembali ke nagari di seluruh Sumatra Barat. Teks ini diambil dari hasil rekaman dan pengamatan penulis terhadap pertunjukan TJ yang ditampilkan oleh Elvis pada tanggal 25 Mai 2006. Kenagarian III Koto Silungkang. dalam pengucapannya. Teks I merupakan teks yang diambil dari skripsi Ita Andras (1999). jorong adalah bagian nagari atau kampung. lah. Teks ini dijadikan teks I karena lebih tua dari teks II. Kabupaten Agam. 1984:231). ondeh.

niniak mamak adalah sebutan untuk para pemuka/penghulu adat. iyolah kaba Tupai Janjang. Menurut Amir (2003:57). sawah laweh bapiriang-piriang. Balaia kapa ka Sibolga. ampunlah kami niniak mamak.1. maaf diminta banyak-banyak. mamagang bungka nan piawai. nan tasabuik-sabuik. gajah maharam adalah sejenis rumah gadang atau rumah adat yang besar dan mempunyai banyak bilik. mamacik naraco adia. tak kalo alun baralun. Dalam pantun adat Minangkabau diungkapkan Nan gadang basa batuah. Di nan tinggi tampak jauah. urang kayo suko dimakan. adolah urang maso itu. Adolah Datuak Bandaro. di yang dekat jolong tasongoh. urang duto kami tak nio. yang dianjung tampak tinggi.2 sepuluh jari kami susun. di nan dakek jolong tasongoh. kononlah si Datuak Bandaro. 2. memegang timbangan yang benar) 3 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. adalah orang masa itu. maaf dimintak banyak-banyak. iyalah kaba Tupai Janjang. siapa dia orang yang terkaba. muatan dari Koto Padang. orang dusta kami tak mau. Banda orang kami bandakan. mampeh mandatakan. kaba orang kami kabakan. yang berumah Gajah Maharam. banda anak orang Koto Tuo. kabun ubinyo bapetak-petak. banda nak urang Koto Tuo. 5 Menurut Navis (1984:175). (Orang yang besar bertuah. tak kala alun-beralun3. mambalah maampalau. nan dianjuang tinggi. yang tersebut-sebut. 3. taputi suduik basuduik. Di yang tinggi tampak jauh. kami membuka kaba lama. memegang neraca adil. Tak kalo maso dahulunyo. alun-beralun adalah untuk menyatakan keadaan dahulu kala dan tidak persis waktunya. menyatukan dan memperkuat. Tatkala masa dahulunya. 4 Ibid. 2 5 Ampun beribu kali ampun. kaba urang kami kabakan. 15 20 25 Adalah Datuak Bandaro. ADEGAN I 6. memepat dan meratakan.6 kebun ubinya berpetak-petak. turunan puti sudut-bersudut. sia nyo urang nan ta kaba. orang kaya suka makan. . ampunlah kami niniak mamak. 10 Berlayar kapal ke Sibolga. tarajo turun barajo.4 turunan raja turun beraja. sapuluah jari kami susun . Banda urang kami bandakan. 4. jolong tasongoh adalah awal kelihatan. Transkripsi Teks Teks I PEMBUKAAN 1. 5. kononlah si Datuak Bandaro. muatan dari Kota Padang.5 sawah luas berpiring-piring. kami mambukak kaba lamo. nan barumah Gajah Maharam. Ampun baribu kali ampun.

rancak tarangkan pado denai. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kandak indak juo balaku. teringat badan tak beranak. Tujuannya adalah untuk menyatakan sawah yang banyak. “Manalah adik Linduang Bulan. mako den ka Pasa Canduang.” Yang menjawab Datuak Bandaro. 8 Batanyo Puti Linduang Bulan.” 10. sudah segudang tungku kemenyan saya bakar kehendak tidak juga berlaku. gimana saya tak akan bermenung. mambali ikan balanak. “Manolah adiak Linduang Bulan. mako den duduak tamanuang. maka saya ke Pasar Canduang. tidak patut susah Tuan sudah susah.” 30 yang istrinya Puti Linduang Bulan. kini begitulah oleh adik.” Yang berkata Linduang Bulan. mengapa Tuan duduk termenung. anak yang tidak kunjung dapat. kini baitulah dek Tuan. baa denai tak kabamanuang. kito dibari Tuhan aka. menyesal tercuci di kain rancak.nan padusinyo Puti Linduang Bulan. Lah sapuluah tahun nyo babaua. untuk menjaga badan kita. susah ka kito bagi duo. digulai di hari sanjo. manyasa tasasah di kain rancak. barakalah kito tantang nantu. teringat badan tidak beranak. kemana dukun yang tidak kita tempuh. bapiriang-piriang sama dengan berpetak-petak. untuak mambalo badan kito. tidak patut menyesal Tuan. luluh rasanya perantian. berakallah kita tentang itu. Sudah sepuluh tahun dia bergaul. 7. lah sagudang tungku kumayan den baka. Nan manjawek Datuak Bandaro. kito ambiaklah anak urang.” 9. tampaik kiramaik nan lah den datangi. “Manolah adiak Linduang Bulan lah habih susah den. kita diberi Tuhan akal. luluah rasonyo parantian . tempat keramat yang sudah saya datangi. rancak terangkan pada saya. Bertanya Puti Linduang Bulan. kini baitulah dek adiak. “Manalah adik Linduang Bulan. indak patuik manyasa Tuan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. susah akan kita bagi dua. Nan manjawek Datuak Bandaro. indak patuik susah Tuan lah susah. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kini begitulah oleh Tuan. Diak. sia kamambalo badan tuo. sinan tamanuang Datuak Bandaro. anak nan indak kunjuang dapek. maliek Tuan bamanuang . sana termenung Datuak Bandaro. digulai di hari senja. takana badan tak baranak. takana badan tak baranak. kama dukun nan tak kito tampuah. Dik. maka saya duduk termenung. manga Tuan duduak tamanuang. sudah habis susah saya. iko nan den manuangkan. siapa akan menjaga badan tua. Nan bakato Linduang Bulan. .” 11. ini yang saya menungkan. kita ambillah anak orang. membeli ikan belanak.” 35 40 45 50 55 60 65 70 6 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. kalau den agak-agak bana. kito paliharo elok-elok.” Yang menjawab Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. melihat Tuan bermenung. kalau saya kira-kira betul. kita pelihara elok-elok.

hampia sabulan kito tak kian. yang berjalan siganjua lalai. yang ke kiri lenggang membunuh8. sepinggan juga jadi nasinya. nan masonyo samaso nan tun. kononlah padi rang basalang. tetapi dapat tumbuh lagi. urang baralek tangah sawah. Lah bajalan Datuak Bandaro. Yang berkata Datuak Bandaro.” Sub-adegan ke-1 75 80 85 Yang berkata Linduang Bulan. kononlah kasiah rang ditompang. “Manolah Tuan Datuak Bandaro. bilo masonyo nan kasampai. baraso kopi lah ka manyirah. marilah kita berjalan-jalan. enggan juga hatinya. nan lai batali darah. kepada Puti Linduang Bulan. Kononlah Puti Linduang Bulan. . hampir sebulan kita tak ke sana. kapado Puti Linduang Bulan. nan bajalan siganjua lalai. Kononlah Puti Linduang Bulan. kononlah kasih orang ditompang. duo jo Puti Linduang Bulan.” 90 14.” Yang berkata Datuak Bandaro. kalau den etong-etong bana. Nan bakato Datuak Bandaro. “Manalah adik Linduang Bulan. seperti orang dikejar hantu. cadangkan padi salibu.” 100 105 Sudah berjalan si Linduang Bulan. Lah bajalan si Linduang Bulan. semut terinjak tindak mati. cadangkan padi salibu.” ADEGAN II 17. kalau saya hitung-hitung benar. nan ka suok lenggang manganai.” 13. terutama untuk para gadis. alua tataruang patah tigo. Nan bakato Datuak Bandaro. sadangkan badunsanak ibu. “Manalah Tuan Datuak Bandaro. 16. yang ke kanan lenggang mengana.7 yang berbuah di tengah sawah. 15. yang masanya semasa itu. to melah kito bajalan-jalan. dua dengan Linduang Bulan. samuik tapijak indak mati. Datuak Bandaro berjalan bergegas-gegas. yang ada bertali darah.gageh. Ungkapan ini sering digunakan untuk menyatakan sifat jalan seorang perempuan. 7 8 Sudah berjalan Datuak Bandaro. “Manolah adiak Linduang Bulan. melihat kebun kopi kita. rasa kopi sudah akan memerah. sapinggan juo kanasinyo. kalau co iko adiak bajalan. sayang menjelang sawah sudah. kononlah padi orang dipinjam. kononlah kasiah urang ditompang. Nan bakato Linduang Bulan. bila masanya yang akan sampai. maliek kabun kopi kito. “Manalah adik Linduang Bulan. salibu adalah padi yang sudah terkena hama. bainggan juo hatinyo. bergegaslah adik sedikit. alu tertarung patah tiga. “Manolah adiak Linduang Bulan. sayang manjalang sawah sudah. kalau tidak padi di lumbung.12. cando urang dikaja hantu. bagagehlah adiak saketek. kok indak padi di lambuang. nan ka kida lengang mambunuah. Ibid. orang berhelat tengah sawah. kalau seperti ini adik berjalan. nan babuah di tangah sawah. sedangkan berdunsanak ibu. kononlah kasih orang ditompang. 95 Datuak Bandaro bajalan bagageh.

” Dilemparnya oleh Datuak Bandaro. gado lintang adalah sebutan kayu yang digunakan untuk melempar.” 19. lalu diambiak gado lintang. kalau Tuhan memberi izin saya beranak. dia mengelak masa itu. etan di dalam parak kopi. Apa namanya binatang itu. Pihak kepada binatang itu. 23. ini yang memakan kopi saya. tibo di dahan inyo maliek. Nan bakato Puti Linduang Bulan. saya bunuhlah Tupai Janjang ini. Panehlah hati Datuak Bandaro. den bunuahlah Tupai Janjang nangko.” 26. “Oi adiak Linduang Bulan. “Den sangko kopi banyak masak. tacangang Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. mandencek ka dahan tinggi. menghindar dia sedikit. saya lemparlah binatang ini. “Oi adik Linduang Bulan. dibae pulo sakali lai. mangaliciak inyo saketek. iko nyo nan mamakan kopi denai. meloncat ke dahan tinggi. mandencek ka tapi paga. Pihak kapado binatang nantun. Dibaenyo dek Datuak Bandaro. Sana terkejut Datuak Bandaro. bialah sarupo Tupai Janjang. melompat ke tepi pagar. “Saya sangka kopi banyak masak. kinilah yang muda saja yang tinggal. Nan manjawek Datuak Bandaro. usah dibunuh binatang itu. lalu diambil gado lintang. sampai di kabun parak kopi. usah dibunuah binatang nantun. itu yang bernama Tupai Janjang. Dalamnyo takajuik nantun. den baelah binatang nangko. itu nan banamo Tupai Janjang. .” 21. Apo namonyo binatang tu. mandencek sikua binatang. kinilah nan mudo sajo nan tingga. 145 kok Tuhan mambari izin denai baranak. Yang berkata Datuak Bandaro. inyo mailak maso nantun. Tuan?” 110 dituruti Datuak Bandaro. 18. tercengang Datuak Bandaro. 22. maliek Datuak Bandaro. “Iko nan maabihan kopi kito. rancak benar tampak oleh saya. “Ini yang menghabiskan kopi kita. melihat Datuak Bandaro.” 9 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. “Oi Tuan Datuak Bandaro. Nan bakato Datuak Bandaro. itu di dalam kebun kopi. dialah binatang yang melompat tadi.” Yang berkata Puti Linduang Bulan. rancak bana tampak di denai. sampai di kebun kopi. “Oi Tuan Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. tiba di dahan dia melihat. melompat seekor binatang. 24. Tuan?” Yang menjawab Datuak Bandaro. biarlah serupa Tupai Janjang.” 25.dituruikan Datuak Bandaro.” 115 Dalam dia terkejut itu. Nan bakato Puti Linduang Bulan. Sanan takajuik Datuak Bandaro.9 dilempar pula sekali lagi. 140 nan maabiahkan kopi kito. yang menghabiskan kopi kita. 120 125 130 135 Yang berkata Puti Linduang Bulan. 20. inyolah binatang nan mandencek tadi. Panaslah hati Datuak Bandaro.

sarato Puti Linduang Bulan. denai bamimpi malam tadi. ada jelas oleh adik kandung?” Besar hati si Linduang Bulan. bapamenan bintang di langik. lah lalok Datuak Bandaro. tanda Linduang Bulan akan mengandung. nan sakali ayam bakukuak. Lah sabulan duo bulan. 155 Hari yang sudah berabuik10 senja. karena badannya sudah akan mengandung. kok Tuan tagalak surang?” 150 Berdentum bunyi petir tunggal. berapa angguk serta geleng. cukuik kaduo hari siang. Sub-adegan ke-1 28. bapamenan11 bintang di langit. lah sampai inyo di rumah. barabuik sama artinya dengan berebut. rasa memangku matahari. 31. dek badannyo lah ka manganduang. Hari nan alah barabuik sanjo. Badantuang bunyi patuih tongga. “Oi Tuan den Datuak Bandaro. barpamenan adalah mempunyai alat untuk sekadar permainan. 10 11 185 Sudah sebulan dua bulan. 180 lai jaleh dek adiak kanduang?” 33. Ibid.27. taserak cando hujan paneh. terserak seperti hujan panas. apa takwil mimpi saya?” Pihak kepada Datuak Bandaro. serta Puti Linduang Bulan. apo takwie mimpi denai?” 30. ampia sampai ganok bilangan. cukup kedua hari siang. raso mamangku matohari. hampir sampai genap bilangan. Pihak kapado Datuak Bandaro. Ibid. tandanya niat ada kesampaian. Sana berkata Puti Linduang Bulan. rasa memeluk-meluk bulan. saya bermimpi malam tadi. tetapi untuk ini berarti hari sudah senja. adik bermimpi malam tadi. “Menurut buku takwil mimpi. raso mamangku matohari. yang sudah pulang Datuak Bandaro. yang sekali ayam berkokok. sudah tidur Datuak Bandaro. kok Tuan tertawa seorang?” Yang menjawab Datuak Bandaro. lalu dilihat masa itu. diambiak buku takwie mimpi. “Manuruik buku takwie mimpi. bapemenan bintang di langik. rasa memeluk-meluk bulan. rasa memangku matahari. tando Linduang Bulan ka manganduang. serta Puti Linduang Bulan. “Oi Tuan saya Datuak Bandaro. 29. tandonyo niaik lai kasampai. . bapamenan bintang di langit. “Oi Tuan Datuak Bandaro. Nan bakato Puti Linduang Bulan. 175 adiak bamimpi malam tadi. Gadang hati si Linduang Bulan. 160 165 170 32. Nan manjawek Datuak Bandaro. sarato Puti Linduang Bulan. lalu diliek maso nantun. “Oi Tuan Datuak Bandaro. nan lah pulang Datuak Bandaro. Sub-adegan ke-2 34. raso mamaluak-maluak bulan. Sinan bakato Puti Linduang Bulan. Yang berkata Puti Linduang Bulan. diambil buku takwil mimpi. sudah sampai dia di rumah. raso mamaluak-maluak bulan. bara angguak sarato geleng.

sudah hampir sembilan bulan. lembek leher paja dibuatnya. Tuan indak buliah doh mandabiah ayam. Ibid. sudah tiba sakit beranak. Pihak kapado Datuak Bandaro. itu syarat yang saya terima. sakiknyo. banyak larangan dengan pantangnya. bermacam-macam kehendak Linduang Bulan dia meminta yang asam-asam. 14 Idid. lenyai lihia paja dibueknyo. tapi nan dimakan si Linduang Bulan.” Sub-adegan ke-3 38. sakitnya. tolonglah ondeh sakiknyo. salamo denai manganduang ko. itu pantang jo larang nan tibo di den pihak kapado urang padusi. dicarinya yang asam-asam. yang tabedo12 dia berkehendak. sama dengan ngiler atau air liur. nan tabedo inyo bakandak. lah hampia sambilan bulan. masuk benar.” 190 200 36. “Oi Datuak Bandaro. tolonglah aduh sakitnya. mempelam sekarung dicarikannya. bakandak kapunduang mudo. ada larangan dengan pantangannya. lah tibo sakik baranak. tamanuang Datuak Bandaro. “Manolah adiak Linduang Bulan. musim kapunduang alah rangkeh. “Oi Tuan Datuak Bandaro. “Aduh Tuan. termenung Datuak Bandaro. dicarinyo nan masam-masam. hanyalah sedikit saja. lai jaleh dek Tuan tu?” 37. jan kau tagak-tagak di pintu. mailia adalah mengalir dalam hai ini. kalau akan masuk. tabedo adalah sesuatu yang berbeda dengan biasanya. kapunduang adalah sejenis buah-buahan seperti langsat yang rasanya asam dan berkulit tebal. 15 Ibid. pihak kepada orang perempuan. ado larangan jo pantangannyo. hanyolah saketek sajo. jangan kau tegak-tegak di pintu. “Oi Tuan Datuak Bandaro. berkehendak kepundung muda. mancaracau sama dengan mengigau atau berbicara dengan tidak punya arahan. . kaluah kasah inyo manahan sakik. “Oi Datuak Bandaro. Nan bakato Puti Linduang Bulan.bamacam-macam kandak Linduang Bulan inyo mamintak nan masam-masam. “Ondeh Tuan. ampalam sakaruang dicarikannyo. Ibid. itu pantang dengan larang yang tiba saya. Nan bakato Datuak Bandaro. dalam hal ini karena menahan sakit. 12 13 210 215 220 225 Sudah hampirnya genap bilangan bulan. musim kepundung13 sudah langkas. ondeh deh sakiknyo. Pihak kepada Datuak Bandaro. 35. keluh kesah dia menehan sakit. tapi yang dimakan si Linduang Bulan. ada jelas oleh Tuan itu?” Yang berkata Datuak Bandaro. Tuan tidak boleh menyemblih ayam. Nan bakato si Linduang Bulan. mancaracau kato di muluiknyo. kamailia salero anaknyo isuak. kalau kamasuak masuak bana.” Yang berkata si Linduang Bulan. menceracau15 kata di mulutnya. Andropogon Nardus. akan mailia14 selera anaknya esok. Lah hampienyo ganok bilangan bulan. 205 banyak larangan jo pantangnyo. aduh duh sakitnya.” 39. Yang berkata Puti Linduang Bulan. selama saya mengandung ini. itu syaraik nan den tarimo. “Manalah adik Linduang Bulan. yang bersifat berlebihan dan tidak wajar.

“Iko indak anak urang doh ko.” 43. Lah balari si Dukun Pandai. diambillah kain panjang. “Oi Linduang Bulan. tanah lambang17.” Lalu diambil anak masa itu. . ko paja lah manyaruang. tibo di tanah. Pihak kapado Dukun Pandai. Ibid. ya begitu. hop.” Pihak kepada Dukun Pandai. “Oi Datuak Bandaro. ajanlah. tiba di lantai. bara geleng sarato uruik. berapa geleng serta urut. ini anak tupai itu sepertinya. ingatlah diri. bara caliak sarato lengoh. dijeput malah dukun pandai. rasuak taban. “aalah. “sudah. ejanlah. nak den cubo manggeleng paruik ko. 16 17 jeputlah Dukun Pandai. alah. lantai sudah patah.” 42. berapa urut si Linduang Bulan. “Oi Linduang Bulan. taruih sakali masuak kandang. indak tahan sakik co iko.” Pihak kepada Dukun Pandai. dibawa naik ke atas rumah. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. biarlah hendak saya cuba menolong.” 235 240 245 250 255 Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. Nan lah tibo si Dukun Pandai. lambang adalah bekas injak atau tekanan beban pada tanah. 41. 260 Yang tercengang si Dukun Pandai. tibo di rasuak. terus langsung masuk kandang. jangan serupa itu benar. hop. tiba di tanah. sudah nanti. ini anak sudah menyuruh. ejan. berapa lihat serta lengah. jan saroman iko bana. yo mantun. sudah. tibo di lantai. 45.” 40. tidak tahan sakit seperti ini. yo mantun. rasuak adalah balok yang dipasang antar tiang untuk menyangga lantai. tanah lambang. diambiaklah kain panjang. lari ka janjang maso nantun. sudah. sudah berjalan masa itu. lari ke jenjang masa itu. hendak saya coba menggeleng perut ini. “Oi Datuak Bandaro. dijapuik malah dukun pandai.” 230 Pihak kepada Datuak Bandaro. rasuak16 terban. 46. sah bajalan maso itu. ya begitu. ejan.” ADEGAN III 44. ambiak kain panjang sabuah. Pihak kapado Dukun Pandai.japuiklah Dukun Pandai. Lalu diambiak anak maso nantun. ambil kain panjang sebuah. bara uruik si Linduang Bulan. Ibid. Nan tacangang si Dukun Pandai. kanalah diri. lantai lah patah. ajan. Pihak kapado Datuak Bandaro. alah. “Ini tidak anak orang ini. alah beko. Sudah berlari si Dukun Pandai. dibawo niiak ka ateh rumah.” 47. bialah ndak den cubo manolong. Gambaran betapa hebatnya yang empunya kaki dalam cerita klasik. iko anak tupai tu candonyo. tiba di rasuak. ejan.. ajan. Yang sudah tiba si Dukun Pandai. ajan.

“Tuan Datuak Bandaro. manyusulah ha! 18 Ibid. Nan bakato si Linduang Bulan. bakapiek adalah bergelintin sehingga susah dipisahkan. kito tasabuik urang asa. alun dilieklah taliek. dilepas kehendak masa itu. Nan tacangang Datuak Bandaro.” Yang tercengang Datuak Bandaro. malu nan lah tumbuah. Tupai Janjang malah kiranya. dia kan darah daging kita. bia den banuah Tupai Janjang. hendak akan menyusu? supaya saya menyusukan. antah a ko. diambil malah Tupai Janjang.” 53. biapun sakarek nyo baluik. “Oi Tuan Datuak Bandaro. entah apa ini. Datuak Bandaro beranak tupai. “Oi Tupai Janjang elok-elok parangai anak. diambiak malah Tupai Janjang.” mendengar kata Linduang Bulan. “Tanah liek bakapiek. belum dilihat sudah terlihat. menyusulah ha! 270 275 280 285 290 295 300 54. Pihak kepada Datuak Bandaro. biar saya bunuh Tupai Janjang. kito paliharo baiak-baiak. 265 “Tuan Datuak Bandaro. Yang berkata si Linduang Bulan. hendak menyusu. . kita pelihara baik-baik. “Oi Tupai Janjang elok-elok perangai anak. kito gadangkan anak nangko. Nan bakato si Dukun Pandai. malu yang telah tumbuh. turunan rajo turunan puti.” 49. disusukan anak maso itu. nan sakarang iko kini. dia anak kita.” Yang berkata si Dukun Pandai. turunan puti sudut-bersudut. Pihak Puti Linduang Bulan. inyo kan darah dagiang kito. tutunan puti suduik-basuduik. dia darah daging kita. Pihak kapado Datuak Bandaro. inyo anak kito. kini anak manjadi tupai janjang. 305 nak manyusu. Lalu bakato si Linduang Bulan. tapi Tupai Janjang banyak ulahnya. disusukan anak masa itu.” 48. “Kini begitulah Linduang Bulan. ini entah orang. menyusu! menyusu. yang sekarang ini kini. biarpun dia sepotong ular. kita pelihara baik-baik. usah dibunuah anak kito. 50. kito paliharo baiak-baiak. “Kini baitulah Linduang Bulan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. inyo darah dagiang kito. biarpun sepotongnya belut.” Pihak Puti Linduang Bulan. turunan raja turunan puti. ditimpo tanah badarai.18 ditimba tanah berderai. biapun inyo sakarek ula. tupai anak Tuan malah kiranya. manyusu! manyusu. 51. dipalapeh kandak maso itu. kita tersebut orang asal. kita besarkan anak ini. kalau begitu kata Adik. usah dibunuh anak kita. Lalu berkata si Linduang Bulan. andak kamanyusu? nak den manyusukan. Datuak Bandaro baranak tupai. “Tanah liat bakapiek. Tupai Janjang malah kironyo. kalau baitu kato Adiak. tapi Tupai Janjang banyak ulahnyo.” mandanga kato Linduang Bulan. iko antah urang. tupai anak Tuan malah kironyo. kini anak menjadi tupai janjang.

kini begitulah yang elok. den paluak. kito buang habih-habih.. sagalo tanaman ditandehkan dek Tupai Janjang .” Sub-adegan ke-1 55. mambana den Tuan oi. moh. kita buang habis-habis. sudah payah mandeh membesarkan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kini rancak saya kunyahkan dulu. makan. sudah Tupai Janjang. lah abih barang ateh rumah. alah den paluak.Nan bakato Datuak Bandaro. kalau den pipihkan nasi lamo karajonyo. moh. lah payah mandeh manggadangkan. makan!.. Yang berkata Datuak Bandaro. saya suapi kamu dahulu.” Maka berkata Linduang Bulan. usah digigik pulo susu nantun!. jaeknya balabiah-labiah. moh. den suoki waang dahulu. 340 mahabih manandehkan karajonyo. jahatnya berlebih-lebih. menghabis menandehkan19 kerjanya. segala tanaman dihabiskan oleh Tupai Janjang. . mambana den ka bakeh Tuan. mambari malu sajo karajonyo. dari hari berganti bulan.” 330 Pihak kepada Tupai Janjang. usah digigit pula susu ini. dia kan darah daging kita. “Oi Tuan Datuak Bandaro. banyak bana ulah waang.eh mangigik pulo. ndak amuah ditunjuak diajari. 310 315 320 325 eh mengigit pula. piriang saonggok ditandehkannyo. inyo anak kanduang kito. hmm. tidak patut dipecah. haa mandecek pulo baliak. indak patuik dipacah dipacahnyo. sudah saya peluk. yang jari saya yang sudah kamu kunyah. makan. membenar saya Tuan oi. dari hari baganti bulan.” 345 19 Ibid. nan jari den nan lah ang kunyah. elok dicencang hidup-hidup.” 57 . jangan dibunuh Tupai Janjang. moh. kini baitulah nan elok. mandecek pulo lai. nan Tupai Janjang usah dibunuah. haa elok-elok malah kalau menyusu itu. haa melompat pula lagi. saya peluk. “Manalah adik Linduang Bulan. Pihak kapado Tupai Janjang. ancak den agiah makan. 335 kalau bak caro iko parangai Tupai Janjang. menandehkan sama dengan menghabiskan. makan.Nan bakato Linduang Bulan. makan!. makan itu haa. yang Tupai Janjang usah dibunuh.” 56. dia berputar ke halaman. inyo kan darah dagiang kito. mambenar saya ke hadapan Tuan. haa elok-elok malah kalau manyusu tu!. piring seonggok dihabiskannya. baik saya kasih makan. “Manolah adiak Linduang Bulan. alah Tupai Janjang. melompat pula lagi. dipecahnya. hmm. inyo bakisa ka hilaman. elok dicacang hiduik-hiduik. memberi malu saja kerjanya. makan. kini acak den kunyahkan dulo. sudah habis barang atas rumah. banyak benar ulah kamu. kalau saya pipihkan nasi lama kerjanya. makan tu haa. kalau seperti cara ini perangai Tupai Janjang tidak mau ditunjuk diajari. dia anak kandung kita. ijan dibunuah Tupai Janjang.

mambao ang ka parak kopi. 63. kalau sayang kamu katakan sayang.. Pihak kapado Datuak Bandaro.” Pihak kepada Tupai Janjang. Nan bakato Datuak Bandaro. turutkan saya oleh kamu Tupai Janjang. sudah sebulan kopi tidak lihat. etan ka kabun kopi kito. “Manalah kamu Tupai Janjang. “Manalah kamu Tupai Janjang. iyo mancibia-cibia. kini waden ang cibiakan. mandanga kato ayah nantun. tidak akan mau si Linduang Bulan. dia berjalan bergegas-gegas. mendengar kata ayah yang itu dia mencibir-cibir. tapikia dek nyo maso itu. sadang inyo di kayu gadang. inyo manjanguak ka bawah. kata saya kata yang elok. turuikan den di ang Tupai Janjang. ndak ka amuah si Linduang Bulan. “Manolah ang Tupai Janjang. sana ke kebun kopi kita. kalau saya minta berelok-elok. kepada anak Tupai Janjang. rasa banyak yang sudah masak. kalau manuruik hati denai.58. Pihak kapado Tupai Janjang. 64. suaranya mencareceh-careceh21. kok sayang ang katoan sayang. Tupai Janjang mengiringi di belakang. kamu tahu dikata orang. den minta batanang-tanang. suaronyo mancareceh-careceh. saya minta bertenang-tenang. 59. kapado anak Tupai Janjang. dia melihat ke bawah. Ibid. “Manolah ang Tupai Janjang. Mancareceh-mancareceh adalah ungkapan untuk menyatakan tingkah laku seekor tupai. kini elok den cilok paja nangko. yang berjalan melompat-lompat. 20 21 350 355 Yang termenung Datuak Bandaro. 360 365 370 375 380 385 390 Sana berkata Datuak Bandaro. biarpun kamu tidak pandai bicara. “Manolah ang Tupai Janjang. raso banyak nan lah masak.” Yang sudah berjalan Datuak Bandaro. kato den kato nan elok . nan sakarang iko kini. nan lah sampai di tapi rimbo. waang tau dikato urang. membawa kamu ke kebun kopi. iya kepada Datuak Bandaro. kalau menurut hati saya. toh adalah sejenis kata ajakan yang artinya sama dengan marilah. yang sudah sampai di tepi rimba. tapi karena kamu anak manusia. satantang kato si Linduang Bulan. Berkata Datuak Bandaro. nan bajalan mandencek-mandencek. Pihak kepada Datuak Bandaro. yang sekarang kini. kito pai ka kabun kopi. . toh melah bajalan-jalan. kini elok saya curi anak ini. “Manalah kamuTupai Janjang. sedang dia di kayu besar. 61. kalo den mintak baelok-elok. Tupai Janjang mairiang di balakang. iyo ka Datuak Bandaro . toh20 melah berjalan-jalan. kita pergi ke kebun kopi. Sanan bakato Datuak Bandaro.” 62.” 60. terpikir oleh dia masa itu. nyo bajalan bagageh-gageh. tapi dek ang anak manusia. kini saya kamu cibirkan. Nan lah bajalan Datuak Bandaro. Nan tamanuang Datuak Bandaro. biapun waang indak pandai mangecek. setentang kata si Linduang Bulan. Yang berkata Datuak Bandaro. lah sabulan kopi tak baliek. Bakato Datuak Bandaro.

lalu dipanjat kayu besar. 395 harato urang harato awak. inyo manangih maso itu. pengganti barang orang yang pecah. berkirok berkikis22 kamu dari kampung ini. nan lah kanyang Tupai Janjang. Sub-adegan ke-3 67. Mandanga kato ayah kanduang. lah jaleh diang tu?” 66. Yang sudah sampai di tepi kebun. Bakirok bakikih merupakan kata majemuk untuk mengusir seseorang . ka mudiak indak bapaga. terasa lapar yang di perut. inyo makan sakanyang-kanyangnyo. Nan lah sampai di tapi kabun. dia menangis masa itu. gadang hati si Tupai Janjang. baitu pulo mandeh ang. pangganti harato urang nan ang abihan. jauah nan bukan alang-alang. harta orang harta kamu. Nan sakarang iko kini. 22 saya sayang kepada kamu. nampaklah ladang nan sabuah. jauh yang bukan alang-alang. 410 415 420 Pihak kepada Tupai Janjang. 68. tinggallah badan di rimba besar. 405 den cancang lumek-lumek. besar hati si Tupai Janjang. pado den makan ang hiduik-hiduik. pengganti harta orang yang kamu habiskan. nakal kamu berkelebihan. sudah berapa uang saya habis. sudah jelas oleh kamu itu?” Mendengar kata ayah kandung. yang menoleh kanan dengan kiri. andak manuruik kabun nantun. hendak menurut kebun yang itu. begitu pula mandeh kamu tapi perangai kamu tidak berubah-rubah. tinggallah badan di rimbo gadang. bicara saja yang tak pandai. lalu dipanjek kayu gadang. Pihak kapado rang punyo ladang. maliek jaguang dalam parak.waden sayang ka bakeh ang. Pihak kapado Tupai Janjang. mangecek sajo nan tak pandai. ADEGAN IV 69. takana mandeh kanduang diri. nyo pai masuak rimbo. ke hilir lebuh Tarantang.” Yang sekarang kini. nampaklah ladang yang sebuah. pangganti barang urang nan pacah. taraso lapa nan di paruik. nan malengong suok jo kida. yang sudah kenyang Tupai Janjang. lalu melompat Tupai Janjang. jahaik ang bakalabiahan.” 400 Sub-adegan ke-2 65. dia tahu kata manusia. pada saya makan kamu hidup-hidup. saya cencang lumat-lumat. tapi parangai ang indak barubah-rubah. ke mudik tidak berpagar. dia pergi masuk rimba. menghabiskan manandehkan kerja kamu. pihak kepada Tupai Janjang. 425 Pihak kepada orang punya ladang. bakirok bakikih ang dari kampuang ko. lalu mandencek Tupai Janjang. lah bara piti den abih. teringat ibu kandung diri. mahabih manandehkan karajo ang. dia makan sekenyang-kenyangnya. inyo tahu kato manusia. ka ilia labuah Tarantang. pihak kapado Tupai Janjang. melihat jagung dalam kebun.

cukup kedua hari siang. dia melompat ke dalam jagung muda. supayalah sudah seperti perangkap. Yang sekali ayam berkokok. dionggokkan dalam perangkap. 430 yang bernama Mandeh Rubiah. untung-untung masuk dalam perangkap. rajutlah binatang yang itu. 71. nan mancilok si jaguang mudo. iyo elok bana urang nan punyo ladang. diambiak jaguang tangah parak. binatang yang memakan jagung. nak lah sudah cando pirangkok. kini baitulah dek Mak Hitam.” 72. Pihak kepada Mak Hitam. jagung sudah dionggokan untuk kita. berkata pada Mak Hitam.” Lalu melompat Tupai Janjang. bakato pado Mak Hitam. pergi ke ladang melihat jagung.“Apo binatang kok kironyo. iya elok benar orang yang punya ladang pada kita berjerih-jerih. teringat pula mencuri. kalau ada untung masuuk peranggggkaaaaaap. jaguang lah dionggokkannyo untuak awak. kini begitulah oleh Mak Hitam. dek paruik taraso lah kanyang. lalu mandencek maso nantun. untuang-untuang masuak dalam perangkok. namun semalam-malam itu. nyo mandencek ka dalam jaguang mudo. elok bana urang nangko. waktu tiba dia di situ. 470 satu tibonyo di situ. “Iya elok orang ini. terpikir oleh dia masa itu. dua dengan suaminya Mak Hitam. namun samalam-malam nantun. pai ka ladang mancaliak jaguang.” 76. melihat jagung yang teronggok. mancaliak jaguang nan taonggok. yang mencuri si jagung muda. terlelap dia si Tupai Janjang. Lalu mandencek Tupai Janjang.” begitu katanya Mandeh Rubiah.nan banamo Mandeh Rubiah. elok benar orang ini. Nan takajuik si Tupai Janjang.” Yang pulanglah Mandeh Rubiah. kalau untungnya takdir Allah. Nan sakali ayam bakukuak. nyo tidua di ateh kayu. yang sudah bangun Tupai Janjang. karena perut terasa sudah kenyang. diambil jagung tengah kebun. “Apa binatang kok kiranya. yang memakan jagung muda. 74. kok untuangnyo takadie Allah. Yang terkejut si Tupai Janjang. 455 460 75. . binatang nan mamakan jaguang. takana pulo mamaliang. dia tidur di atas kayu. Pihak kapado Mak Hitam. pulang ke rumah dengan Mak Hitam 70. lalu melompat masa itu. 435 rajuiklah binatang nantun. duo jo lakinyo Mak Hitam. 465 pado awak bajariah-jariah. kok lai untuang masuaak pirangggkoooook. talalok nyo si Tupai Janjang. pulang ka rumah jo Mak Hitam. 450 440 445 Pihak kepada Tupai Janjang. “Iyo elok urang ko. Pihak kapado Tupai Janjang. nan lah jago Tupai Janjang. tapikia dek inyo maso itu. Nan lah pulang Mandeh Rubiah. 73. diungguakkan dalam pirangkok. cukuik kaduo hari siang. dibuat perangkap masa itu.” baitu katonyo Mandeh Rubiah. dibuek pirangkok maso nantun. nan mamakan jaguang mudo.

kita bawa pulang Tupai Janjang ini. sudah jelas oleh kamu?” Pihak kepada Tupai Janjang. “Indak!. tumbuahlah sasa dalam diri. tumbuhlah sesal dalam diri. ya menangis si Tupai Janjang. saya cekik dia sampai mati. ha… saya yang susah-susah ke kebun.24 Yang sudah datang Mandeh Rubiah. pandai bananyo manangih. jan dibunuh tupai nangko.pirangkok bingkeh hanyo lai. Nan tacangang Mandeh Rubiah. ibo tibo di dalam hati. yang sekarang kini. baladang batanam jaguang. Iko nan mahabihkan jaguang awak. Lai jaleh ? Ka babao pulang pulo ? Untuak a dibao pulang ? Den cancang juo kini-kini. “Manalah Mak Hitam. iko nan mamakan jaguang denai. teringat bapak dengan ibu. berladang bertanam jagung. Yang berkata Mandeh Rubiah. 82. ha… waden nan jariah-jariah ka parak. aie matonyo badarai-darai. hu… hu… 79. 23 perangkap bingkeh23 hanya ada. mendengar kata Mak Hitam.ha… bagaimana cobalah rasakan. tupai nangko tupai kiramaik.” 80. nan sakarang iko kini. den cakiak inyo sampai mati. ini yang memakan jagung saya. den makan ang hiduik-hiduik. Pihak kapado Mandeh Rubiah. “ha… ha… ha…. kito bao pulang Tupai Janjang ko. caliaklah dek Mak Hitam. Nan bakatonyo Mak Itam. 77.” Yang berkatanya Mak Itam. “Manolah Mak Hitam. lihatlah oleh Mak Hitam. saya makan kamu hidup-hidup. yang terkejut si Tupai Janjang. baa cubolah rasokan. Yang tercengang Mandeh Rubiah. serta Mak Itam suaminya. melentingnya pegas sebuah perangkap apabila tersinggung sesuatu atau mangsa. air matanya berderai-derai. hiba kita membunuhnya. hu… hu…. jangan dibunuh tupai ini. . 480 waang nan maabihkan yo? den bunuah ang kiniko. lah jaleh dek waang?” 78. Kalusuah panja adalah kata majemuk untuk menyatakan perasaan yang berkeluh-kesah. iba tiba di dalam hati. dan lain-lain. nan takajuik si Tupai Janjang. “Tidak! Ini yang menghabiskan jagung kita Ada jelas? Akan dibawa pulang pula? Untuk apa dibawa pulang? saya cencang juga kini-kini. tupai ini tupai keramat. Tupai Janjang pandai manangih. 485 490 495 500 505 510 24 Ibid. Nan lah datang Mande Rubiah. “ha…ha…. mandanga kato Mak Hitam.” Pihak kepada Mandeh Rubiah. 475 sarato Mak Itam suaminya. kamu yang menghabiskan ya? saya bunuh kamu kini. dalam perengkapnya kalusuak panja. ibo awak mambunuahnyo. Nan bakato Mandeh Rubiah.” 81. pandai benar dia menangis. Pihak kapado Tupai Janjang. takana bapak nan jo mandeh. yo manangih si Tupai Janjang. dalam pirangkoknyo kalusuak panja. bingkeh adalah bingkas. Tupai Janjang pandai menangis.

membenar saya ke Mak Hitam. den kaluakanlah sabanta. tidak makan tidak minum. jangan dibunuh Tupai Janjang.” Pihak kepada Tupai Janjang. mandencek kapado Mandeh Rubiah. “Ha elok-elok di siko yo. Sub-adegan ke-1 85. lalu dibukaknyo pirangkok. kalau menurut ukuran saya. kalau seperti ini Tupai Janjang ini.” 540 545 550 . kok untuang takadia Allah. dimasukkan si Tupai Janjang. elok inyo dikaluakan. bialah ang den bao tingga. ambek dibunuah Tupai Janjang.” Lalu pulang dia masa itu. diberi jagung tak dimakannya. diagiah jaguang tak dimakannyo. yang terpikir Mandeh Rubiah. elok dia dikeluarkan. Pihak kapado Tupai Janjang. dek kuduak no kanai cium. 84. tergeli rasa di Mandeh Rubiah. saya kaluarkanlah sebentar. lalu dibukanya perangkap. dia cium kuduk Mandeh Rubiah. lah tibo nyo di tangah rumah. sudah tiba dia di tengah rumah. bicara saja yang tak pandai. biarlah kamu saya bawa tinggal. diberi air tak diminumnya. Tibo kasiah Mandeh Rubiah. elok-elok kamu di dalam. kalau hauih den agiah aie. namuah mati nyo baeko. ini kandang kamu. den agiah jaguang. mambana denai ka Mak Hitam . inyo mandencek maso nantun..” 515 520 “O Tuan hanyo saya. karena kuduknya kena cium. tupai ini mengerti bicara orang. mendengar kata Mandeh Rubiah. elok kita bawa pulang. “Manolah ang Tupai Janjang. kalo bak nangko Tupai Janjang ko. saya beri jagung. marilah saya bawa kamu pulang. iko kandang ang. dia melompat masa itu. tagali raso di Mandeh Rubiah.” 87. Lalu pulang nyo maso nantun.” Pihak kepada Mak Itam. jangan tupai ini kita bunuh. Pihak kepada Tupai Janjang. Pihak kapado Tupi Janjang. kalau haus saya beri air. dimasuakkan si Tupai Janjang. kalo manuruik ukuran denai. mandanga kato Mandeh Rubiah. molah den bao ang pulang. indak makan indak minum. kalau lapar saya beri nasi. kalau litak den agiah nasi. inyo cium kuduak Mandeh Rubiah. “Ha elok-elok di sini ya. jan tupai ko kito bunuah. kok untung takdir Allah. sebab tupai ini pandai menangis.” 86. elok-elok ang di dalam. dimasukkannya ke dalam kandang. 525 530 535 Tiba kasih Mandeh Rubiah. elok kito bao pulang. “Manalah kamu Tupai Janjang. nan tapikie Mandeh Rubiah. dimasuakkannyo ka dalam kandang. Pihak kapado Mak Itam. kita pelihara baik-baik.“ 83. kito paliharo baiak-baiak. sabab tupai ko pandai manangih.“O Tuan janyo denai. diagiah aie tak diminumnyo. tupai ko mangarati kecek urang mangecek sajo nan tak pandai. melompat kepada Mandeh Rubiah. bisa mati dia nanti.

barusaholah awak. 565 “Iyo elok tupai nan ko. jangan mencuri-curi juga. bepikirlah kamu sedikit. mandencek ka bahu Mandeh Rubiah. tapi sabuah lai. sungguhpun meminta baik-baik. kamu sudah berusaha. Apa akan makan ya? Apa makanlah. memakan jagung di kebun orang. “A a kamakan yo? Aa makanlah. kini tidak usah kamu masuk kurungan lagi. 91. Lah dibao si Tupai Janjang. elok tupai ini. jaan anak mancilok juo. sudah berubah perangai masa itu. elok tupai ko. gadang hati kami dibueknyo. 89. dek karano waang mangadangkan hati kami. jangan mengambil-ngambil lagi. berusahalah kita. 92. minta secara baik-baik. iyo sabana santiang Tupai Janjang ko. dibawa naik ke atas rumah. lalu dimakan masa itu. dibao naiak ka ateh rumah. jangan mau meminta-minta. awak nan mandapek labo sajo. waang alah bausaho. dikasih minum yang dengan makan. dia melompat masa itu. Pihak kapado Tupai Janjang. diambil jagung yang muda. kini ndak usah ang masuak kuruangan lai. besar hati kami dibuatnya. sebuah pinta dari Mandeh. kalau sekiranya perut lapar. seperti kamu kini. Sinan bakato Mandeh Rubiah. “Manalah anak Tupai Janjang. di tapak tangan nan katuju dek inyomakan. inyo mandencek maso nantun. Sana berkata Mandeh Rubiah. mintak sacaro elok-elok. Sana berkata Mandeh Rubiah. di tapak tangan yang suka oleh dia makan. sugguahpun mamintak elok-elok.. kalau sakironyo paruik lapa. lalu dimakan maso nantun. jikok disuruah inyo pai .” 570 91. cubolah pikia dek ang Tupai Janjang. oleh karena kamu membesarkan hati kami. itulah usaho dek ang. diagiah minum nan jo makan. jaan namuah mamintak-mintak. “Iya elok tupai yang ini. Pihak kapado Tupai Janjang. Sinan bakato Mandeh Rubiah.” Sudah dibawa si Tupai Janjang. bapikialah waang saketek. cobalah pikir oleh kamu Tupai Janjang. mamakan jaguang di parak urang. jika disuruh dia pergi. itulah usaha oleh kamu. “Manolah anak Tupai Janjang.” Pihak kepada Tupai Janjang. jangan anak mencuri juga.” Pihak kepada Tupai Janjang. tapi sebuah lagi. Pihak kapado Tupai Janjang. diambiak jaguang di tangan Mandeh Rubiah. jaan maambiak-ambiak lai. sabuah pintak dari Mandeh. diambiak jaguang nan mudo.” 555 Pihak kepada Tupai Janjang. macam waang kini ko.” 93. 560 90. melompat ke bahu Mandeh Rubiah. lah barubah parangai maso itu. Sanan bakato Mandeh Rubiah. 575 580 585 590 595 Sana berkata Mandeh Rubiah. jaan mancilok-cilok juo. diambil jagung di tangan Mandeh Rubiah. . kita yang mendapat laba saja. urang nan bajariah. orang yang berjerih. iya sebenar pintar Tupai Janjang ini.88.

Nan lah malam pulonyo hari. larilah dia semuanya. dilihat kepada Tupai Janjang. yang dia ambil kain merah. yang sekarang ini kini. inyo pai pulo ka ladang. takutlah dia semuanya. 630 635 Karo adalah sejenis binatang sejenis monyet yang berbadan kecil dan hidup di dalam hutan. yang sudah siang sepertinya hari. alah barubah parangai waang. nyo baunduang-unduang maso itu. Pihak kapado Tupai Janjang. timbua aka samaso itu . 25 jika ditegur dia berhenti. 94. nan salamaik parak Mandeh Rubiah. apolah binatang nantun. sudah berubah perangai kamu.Lalu bakato maso nantun. Sub-adegan ke-3 97. dicaliak kapado Tupai Janjang. sudah diambilnya kain putih. takuiklah inyo kasadonyo. dia berundung-undung kain putih. sudah patuh dirasakan. Yang terpikir oleh Mandeh Rubiah. lah diambiaknyo kain putiah. dia masuklah ke dalam ladang. kok iyo masuak dek ang pangaja. dia berundung-undung masa itu. kini pergi kamu ke ladang. takajuik babi nan banyak. nan baunduang jo kain sirah. Pihak di Mandeh Rubiah. sudah selamat ladang Mandeh Rubiah. nan lah siang candonyo hari. 615 620 625 Pihak kepada karo25 banyak. “Manolah ang Tupai Janjang. apalah binatang yang itu.” 96. Pihak kapado karo banyak. yang selamat kebun Mandeh Rubiah. nyo masuaklah ka dalam ladang.Nan tapikia dek Mandeh Rubiah. 600 Pihak di Mandeh Rubiah. nan sakarang iko kini. sudah sampai dia di ladang. abih lari karo nan banyak. alah patuah dirasokan. tapikia dek inyo dalam hati. kalau iya masuk oleh kamu pengajaran. Sudah tiba dia di tengah ladang. lah salamaik parak Mandeh Rubiah. selarut selama ini. “Manalah kamu Tupai Janjang. dia pergi pula ke ladang. lah sampai inyo di ladang. . waang lah lamo tingga di kami. terkejut babi yang banyak. 99. ka ladang jaguang kito. kalau iya emas tahan uji. timbul akal semasa itu. kamu sudah lama tinggal di kami. Yang sudah malam pula hari. kok iyo ameh tahan uji. salaruik salamo nangko. kini pai ang ka parak. terpikir oleh dia dalam hati. larilah inyo kasadonyo.” Pihak kepada Tupai Janjang. Lah tibo inyo di tangah ladang. 605 610 Lalu berkata masa itu.jikok ditagah inyo baranti. nan nyo ambiak kain sirah. ke ladang jagung kita. siang malam jaga oleh kamu. yang berundung dengan kain merah. Sub-adegan ke-2 95. siang malam jago dek waang. 100. habis lari karo yang banyak. 98. inyo baunduang-unduang kain putiah.

Sabuah lai oi anak kanduang. Ini merupakan falsafah bagi masyarakat Minangkabau yang lazim disebut falsafah Alam Takambang Jadi Guru. .” 640 102. 27 Ibid. padahan adalah akibat. mancaliak paliharolah mato. melihat peliharalah mata. Sabuah lai yo nak kanduang. tumbuahnyo sabalik induaknyo . contoh misalnya batang pisang. lah tingga samo jo kami. 26 650 655 Pihak kepada diri kamu. “Manalah kamu Tupai Janjang. nan banamo anak batang pisang. kalau berkata peliharalah lidah. berpikirlah anak tentang itu.28 Alam yang terkembang ini. sakapa jadikan gunuang. lah jaleh dek ang tu?” 105. yang bernama anak batang pisang. kok tumbuah tiok manjadi anak . 660 665 670 Ibid. pasan pituah urang tuo. pelajari oleh kamu. tumbuhnya sekeliling induknya. supaya Mandeh tunjuk ajari. 101. mandencek duduak di muko Mandeh Rubiah. setitik jadikan laut. sudah jelas oleh kamu itu?” Sebuah lagi ya anak kandung.Lalu dipangia Tupai Janjang. Ini merupakan petuah yang sering diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih kecil. kaki tataruang inai padahannyo. pesan pituah orang tua. kok bakato paliharolah lidah. panceteh batang lintabung. “Manolah ang Tupai Janjang. kok bajalan paliharolah kaki. nak Mandeh tunjuak ajari. 28 Bagian ini bisa dibacakan dalam pidato-pidato adat. penakik pisau siraut. contoh misalnyo batang pisang.Pihak kapado Tupai Janjang. sekepal jadikan gunung. tantangan. alam takambang jadikan guru. parangai alah barubah. Lalu dipanggil Tupai Janjang.lah masuak pangajaran maso itu. kalau berjalan peliharalah kaki. manjago induak karajonyo. 104. “Manalah kamu Tupai Janjang. inai adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa memerahkan kuku yang berfungsi untuk memberikan hiasan pada kuku. kamarilah ang duduak.” Sub-adegan ke-4 103. kaki tertarung inai26 padahan27nya. salodang ambiak ka niru.” sudah masuk pengajaran masa itu. sabuah pintak kapado ang. itu yang alam terkembang jadi guru. “Manolah waang Tupai Janjang. panceteh batang lintabuang. yang sekarang kini. salodang ambil ke niru.Pihak kapado diri waaang. palajari dek waang. satitiak jadikan lauik. kemarilah kamu duduk. bapikialah anak tantang itu. melompat duduk di muka Mandeh Rubiah. panakiak pisau sirauik. sudah tinggal sama dengan kami. perangai sudah berubah. mulut terlompat emas tantangannya. Sebuah lagi oi anak kandung. Alam nan takambang ko. muluik taloncek ameh tantangannyo. itu nan alam takambang jadi guru. sebuah pinta kepada kamu. menjaga induk kerjanya. 645 nan sakarang iko kini.” Pihak kepada Tupai Janjang. dengar oleh kamu elok-elok. alam terkembang jadikan guru. danga dek ang elok-elok. kalau tumbuh tiap menjadi anak.

patah nanti dibuatnya. tapi agak-i orang akan tersinggung. gimana kita mendaki? sesak nafas kan? itu pakaikan oleh kamu. “Bagaimana jalan yang mendatar ini. dari yang besar ke yang kecil. ado jalan nan manurun.” 106.“Adaik kito iduik di dunia. ado jalan nan malereng. kalau bicara dengan orang tua. ada jalan yang mendaki. “Yang dikatakan jalan mendaki. kita bersahabat sama besar. 675 banyak jalan nan kaditampuah. begitu pula kita dalam bergaul. 29 30 “Adat kita hidup di dunia. tapi ingek bana tu nak kanduang. yang jalan yang menurun ini banyak berlobang-lobang.” 107. itu yang tertarung kaki namanya. kok tasingguang urang. ambil semuanya oleh anak kandung. dari nan gadang ka nan ketek. agak-i 30orang tersinggung. kok mangecek jo urang tuo. baa awak mandaki? sasak angok ndak? itu pakaikan dek waang. tapi ingatlah oleh kamu. 705 basuo jo urang tuo-tuo. Agak-i adalah kira-kira perasaan orang supaya jangan tersinggung. boleh bicara sembarangan saja. berkata usah lalu lalang saja. lihat oleh kamu jalan menurun. bakato bakeh nan ketek. bakato usah lalu lalang sajo. bersua dengan orang mulia-mulia. “Nan dikatokan jalan mandaki. disesakkan nafas kalau bicara. buliah mangecek sambarang sajo. mangecek jo urang nan gadang pado kita 700 bakato jo urang nan mulia. caliak dek ang jalan manurun. tapi ingeklah dek waang.” Yang ke dua jalan mendaki. kok tacirubuah kaki ka dalam lubang. ada jalan yang melereng. 680 ambiak sadonyo dek nak kanduang. ada jalan yang menurun. 695 itu nan tataruang kaki namonyo. berkata dengan orang yang mulia. handaknyo dalam kito bagaua ko. ka jadi palajaran”. banyak jalan yang akan ditempuh. disasakkan angok kok mangecek. . di jalan yang datar banyak orang yang jatuh. bisa sajo awak turun. bersua dengan orang tua-tua. kalau tercebur kaki ke dalam lobang. agak-i urang tasingguang. bisa saja kita turun.” “Sudah itu jalan menurun. berkata kepada yang kecil. 685 itu namonyo jalan nan data. ado jalan nan madaki. 710 715 Terlongsong-longsong maksudnya sama dengan jangan semena-mena. basuo jo urang mulia-mulia.Nan ka duo jalan mandaki. tapi agak-i urang ka tasiingguang. akan jadi pelajaran”. patah biko dibueknyo. itu namanya jalan yang datar. tapi ingat betul itu anak kandung. nan jalan nan manurun ko banyak balubang-lubang. kalau berkawan bersama besar. baitu pulo kito dalam bagaua. itu untuk kawan sama besar. ada jalan yang mendatar.”Sudah itu jalan manurun. di jalan nan data banyak urang nan jatuah batu ketek bisa manurun. bicara dengan orang yang besar pada kita. itu ka kawan samo gadang. “Baa jalan nan mandata ko. 690 ijan talongsong-talongsong bana. ado jalan nan mandata. jangan terlongsong-terlongsong29 betul. batu kecil bisa menurun. kalau tersinggung orang. hendaknya dalam kita bergaul ini. kok bakawan basamo gadang. awak basobaik samo gadang.

kalau bicara dengan orang sumando. dek diaja-i Mandeh Rubiah. kemana Tupai Janjang? dilihat ada anak muda tidur di sana. “Oi…. bicara dengan orang yang disegani. 31 720 kalau lalu lalang saja. oi…. ingat-i itu pula oleh kamu. barakaik pangaja Mandeh.kok lalu lalang sajo. mangko ado waang disiko. ampun hamba Madeh kandung. 111. lai jaleh dek ang tu nak?” ADEGAN V 109. Adalah pada suatu pagi.” 113. ampun ambo Mandeh kanduang. saya berubah jadi manusia. bakato inyo maso itu. sudah elok perangai masa itu. sudah berubah tingkah lakunya. bakato kapado Mandeh kanduang. ingek-i tu pulo dek waang. “Manalah Mandeh kandung saya. koaso Tuhan pun balaku. “Kalau itu Mandeh katokan. jalan melereng yang akan dipakai.” Pihak kepada Tupai Janjang. melawan dia kepada kita. Tupai Janjang indak ada lagi. denai barubah jadi manusia. disini tempat Tupai Janjang.anak mudo. Pihak kapado Tupai Janjang. berkat pengajaran Mandeh. taraso bana pangajanyo. lah elok parangai maso itu. 740 745 750 755 Menurut Navis (1984:260). nan kaciak tu bisa nyo malawan. takajuik Mandeh Rubiah. saya ini yang bernama Tupai Janjang. mangecek jo urang nan disagani. jalan malereng nan kadipakai. terasa betul pengajarnya.Bakato Mandeh Rubiah . berkata dia masa itu. pituah ini sering diberikan oleh niniak mamak kepada kemenakan dan lazim dibacakan waktu pidato adat. yang kecil itu bisa dia melawan.Adolah pado suatu pagi. sia waang ko kironyo.” Menjawab anak muda itu. kama Tupai Janjang? dicaliak ado anak mudo tidua di sinan. anak mudo.31 ada jelas oleh kamu itu nak?” 725 730 735 Pihak kepada Tupai Janjang. . lah barubah tingkah lakunyo. bicara dengan menantu. denai ko nan banamo Tupai Janjang.” 112. itulah kata penuh sampiran.” “Sudah itu jalan melereng. oi anak muda. mangapa ada kamu disini. “Kalau itu Mandeh katakan. kok mangecek jo urang sumando. “Oi…anak muda. oleh diajari Mandeh Rubiah. disiko tampaik Tupai Janjang. mangecek jo mintuo. Tupai Janjang indak ado lai. Berkata Mandeh Rubiah. kuasa Tuhan pun berlaku. 110. terkejut Mandeh Rubiah. “Manolah Mandeh kanduang denai. mendengar kata Mandeh Rubiah. siapa kamu ini kiranya. mandanga kato Mandeh Rubiah. bicara dengan mintuo. Pihak kapado Tupai Janjang. malawannyo bakeh kito. mengecek jo minantu. berkata kepada Mandeh kandung. Manjawab anak mudo nantun.” 108. “Sudah tu jalan malereng itulah kato panuah sampiran.

Kaik bakaik rotan sago. Tibo di langik tabarito. Ibid. Ungkapan ini sering dibacakan oleh tukang kaba dan juga sering ditemui di bagian awal sebuah kaba. 34 Ibid. Teks II PEMBUKAAN (bait ke-1 sampai bait ke. kepada si Tupai Janjang. |ai| segala kami anak muda. kaba disudahi sampai di situ. Bandarlah orang |hai|hamba bandarkan. dan terkutur. 5 Kaiklah berkait |lah| si rotan sago. anak balam di parak lado. yakni akar bahar yang biasanya dibuat gelang tangan. kami di rumah kok kaberangan. kaba disudahi sampai di situ. “waang kini bagala Sutan Karunia. si kikih adalah sejenis burung kecil. bari izin ambo bajalan. ambo nak sujuik minta ampun.4) 1. 32 33 Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. isuak nak kito ulang pulo. baha adalah nama yang diberikan pada sejenis akar laut. sarato serta sanak |lah| dengan saudara.Tantangan Mandeh Rubiah. sanak sakitulah dahulu. dilapeh jo hati ibo.nan sakarang kini nangko.Nak duo pantun sairiang. kami di rumah kalau keberangan. . dilapeh malah Tupai Janjang. Kaiklah bakaik |lah| si rotan sago. dilepas malah Tupai Janjang. jatuah ka bumi manjadi kaba. anak balam33 di kebun lada. balam adalah sejenis burung yang lazim disebut burung balam. izinkan denai mandeh kanduang. Bandalah urang |hai| ambo bandakan.Sanan bakato Mandeh Rubiah. tibo di bumi jadi kaba. |hai| yang sudah terkait yang di akar bahar34. hendak menemui bapak dengan Mandeh saya. bandalah |hai| urang si Koto Tuo.” PENUTUP 116. ikan di laut berlayangan. izinkan saya mandeh kandung. ikan di lauik balayangan. maaf dengan rila yang kami pinta. Anak si kikih32 atas batu. kapado si Tupai Janjang. bandalah |hai| orang si Koto Tuo. Anak si kikih ateh batu. dara. hamba hendak sujud minta ampun.Sanak ka Sumpu lah dahulu. 2. Sana berkata Mandeh Rubiah. maaf jo rila nan kami pintak. lah takaik di aka baha. Manolah niniak |lah nan| jo mamak. dilepas dengan hati hiba. “kamu kini bergelar Sutan Kurnia. sanak |lah| jo saudaro. beri izin hamba berjalan. nak manamui bapak jo Mandeh denai.” 114. |hai| nan lah takaik nan di aka baha tabang ka langik |lah| tabarito. jatuh ke bumi menjadi kaba.” Tentangan Mandeh Rubiah. 115. 760 yang sekarang kini. 3. besok hendak kita ulang pulang. 10 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. 775 Supaya dua pantun seiring. 117. terbang ke langit |lah| terberita.” 765 770 Sanak ke Sumpu lah dahulu. sanak segitulah dahulu. |ai| sagalo kami anak mudo.

|oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. bumi nan alun |hai lah| baralun. |Oi| adolah pado suatu maso. |Oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. 9. |oi| urang nan gadang |lah| maso itu. orang dusta kami tak serta. |oi| orang yang besar |lah| masa itu. Ayunan tengan itu bergerak ke depan dan ke belakang mengikuti irama dendang TJ. berdua dengan Puti |lah| si Lindung Bulan.) ADEGAN I |5. saluang dibunyikan yang diikuti dengan tepuk tangan seorang penonton. sudah sepuluh tahun berumah tangga. |oi| urang nan kayo suduik-basuduik. 25 |oi| bamuko rancak rambuik taurai. 8. pencerita dalam posisi duduk. Bandar |lah| orang kami bandarkan. bumi yang belum |hai lah| beralun. |Oi| adoklah diri duo nantun. Hadap ke |lah| diri |lah|si Puti Linduang Bulan. 6. |Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. |oi| orang yang kaya sudut-bersudut. 15 (Pada awalnya. dek adiak barilah tarang. bandar anak orang |lah| di Gumarang. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. seperti gerakan menari. |oi| anak yang tidak |lah| dapat juga. 7.kaba |lah| urang kami kabakan. 20 (Teks bait ke-5 sampai bait ke-8. 35 manga adiak tamanuang juo. oleh adik berilah terang. mengapa adik termenung juga. |hai| bumi nan antah barantah. kaba |lah| orang ada kami kabakan. Setelah itu. pencerita berangsur-angsur pula berdiri dengan gerakan tangan yang sama. Kemudian. tasabuik garan Datuak Bandaro. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang. orang yang elok |lah| masa itu. |oi| mangana nasib |lah| maso itu. |hai| bumi yang antah barantak. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai urang nan elok |lah| maso itu. supaya senang dalam hati sejuk dalam pikiran. didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak seperti gerakan tari Minang dengan diiringi musik. |Oi| adalah pada suatu masa. 30 |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. pencerita beransur-ansur mencari posisi jongkok dengan terus bergerak mengayunkan tangannya. kaba |lah| orang kami kabakan. banda nak urang |lah| di Gumarang. kaba |lah| urang lai kami kabakan.” . dan kiri dengan terus mendendangkan teks) . 4. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. |oi| bermuka rancak rambut terurai. Pencerita berjalan ke depan. “Dik kanduang si Linduang Bulan. kanan. belakang. |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro. lah sapuluah tahun barumah tanggo. nak sanang dalam hati sajuak dalam kiro-kiro. Banda |lah| urang kami bandakan. “Dik kanduang si Linduang Bulan.” |Oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. Pencerita waktu itu. urang duto kami tak sato. |Oi| hadaplah diri dua yang itu. tersebut gerangan Datuak Bandaro. Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan.

Mandanga katolah si Linduang Bulan.) 12. (Pencerita bergerak kembali dengan mendendangkan teks yang diiringi oleh musik serta tepuk tangan. Lah |kok| tibo |oi| maso itu. ampun baribu kali ampun.Lalu bakatolah si Linduang Bulan. |Oi| lalu bakatolah si Linduang Bulan. lah jauah kito nan bajalan. kita berjalan di hari panas. dipangia pulo |lah| si Linduang Bulan. |oi| terasa letihlah si Linduang Bulan.” Lalu berkatalah si Linduang Bulan. Pada bait ke-15. dilihat-lihat |nan| kebun yang itu. sana termenunglah si Linduang Bulan. itu yang saya menungkan juga. sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. |oi| tabik pangana Datuak Bandaro. dan berakting. 60 Sudah |kok| tiba |oi| masa itu. |oi| sanan tatagunlah Datuak Bandaro. |Oi| berapalah jauh |oi| yang berjalan. “Ampunkan saya Tuan kanduang. musik tidak dibunyikan. 50 Mendengar katalah si Linduang Bulan. . pencerita mendendangkan teks dengan posisi duduk sambil berakting memperlihatkan keletihan) . |oi| terbit pikiran Datuk Bandaro.Lah |nan| bajalanlah maso itu. Pencerita mengucapkan teks dengan berakting seperti seorang suami yang berbicara kepada istrinya. 16. |oi| sinan tasintaklah si Linduang Bulan. pedih di rasa badan saya. mandanga Tuan nan bak kian. sudah jauh kita yang berjalan. Dialog diucapkan dengan menirukan suara perempuan yang sedang sedih karena dia belum mempunyai anak.(Bait ke-9 merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan berdiri. |Oi| lalu berkatalah si Linduang Bulan. itu nan denai manuangkan juo. mendengar Tuan yang seperti itu. kito bajalan di hari paneh. |Oi|mandanga kato Datuak Bandaro. sepuluh tahun berumah tangga.) 10. Waktu dialog. |oi| sana tersentaklah si Lindung Bulan. |Oi| baralah jauah |oi| nan bajalan. pulang maklum kepada Tuan. 15. Sudah hampir tiba |oi|gerangan di kebun. “Ampunkan denai Tuan kanduang. (Pada bait ke-12 sampai bait ke-14. Lah ampia tibo |oi| garan di kabun. seperti orang yang menyembah. |oi| taraso latiahlah si Linduang Bulan. 13. |oi| sana tertegunlah Datuak Bandaro. anak nan indak dapek juo. padiah di raso badan denai. Sub-adegan ke-1 14. anak yang tidak dapat juga. |oi| takana kabun |lah| maso itu. sapuluah tahun barumah tanggo . teks didendangkan oleh pencerita dengan tetap diiringi musik dan tepuk tangan dengan posisi berdiri. ampun beribu kali ampun. 55 dicaliak-caliak |nan| kabun nantun. “Ampunkan saya Tuan kandung. menundukkan kepala. Sudah |nan| berjalanlah masa itu. dipanggil pula |lah| si Lindung Bulan. |oi| teringat kebun |lah| masa itu. pulang maklum kapado Tuan.” 45 (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-11 dengan posisi duduk. “Ampunkan denai Tuan kanduang.) 11. 40 |Oi| mendengar kata Datuk Bandaro.

tolong Tuan carikan air. ini sudah air yang ini kini. rangkungan kariang tu dek Tuan. Sumur yang ketiga |lah| masa itu.” 80 19. iko lah aia nan ko kini. 17. sumua nan kaduo lah kariang pulo.” 65 panas yang kini hangat ini benar. pencerita langsung minum. “Ini ada sumur.” Mendengar kata |nan| si Linduang Bulan. tolong Tuan carikan aia. |oi| lalu dicarilah masa itu. jari dirabalah masa itu.” (Pada awal bait ke-17. menari sambil sedikit melompat untuk (Pencerita mendendangkan bait ke-20 di atas. dicari pula sumur yang kedua. Lama |lah| lambat |oi| gerangan di kabun. Pencerita berakting sambil menundukkan kepalanya seolah-olah melihat sumur) .paneh nan kini angek ko bana. seperti seorang perempuan berbicara dalam kondisi keletihan. lalu diberikan ke Puti kini. Dialog ini adalah dialog DB.” (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-16 dengan berakting. |oi| sudah tampak kini |oi lah| yang seekor. Mandanga kato |nan| si Linduang Bulan. merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita. dicari sudah |ko| sumur kini.” (Pada bait ke-18 dan sebagian bait ke-19. 75 kandak buliah pintak balaku. Pencerita langsung memperagakan seolah-olah LB yang minum) . |oi| tangan bajari |lah| Datuak Bandaro. ini ada sumur ini oleh Adik.) ADEGAN II 20. Dicari sumua nan partamo. minumlah Adiak nan dulu. denai nak minum nan di balakang. iko lai sumua iko dek Adiak. |oi| tangan berjari |lah| Datuak Bandaro. Dicari sumur yang pertama. Sumua nan katigo |lah| maso itu. |oi| lalu disauaklah aia nantun. |oi| lalu minum |lah| si Linduang Bulan. Dik kanduang si Linduang Bulan. teks didendangkan oleh pencerita. lalu diagiahkan ka Puti kini. sudah yang melompatlah di masa itu. dicari pulo sumua nan kaduo. aia nan indak |lah nan| ko ado. minumlah Adik yang dulu. Lamo |lah| lambek |oi| garan di kabun 90 |oi| lah nampak kini |oi lah| nan saikua lah nampang sikua |lah| si Tupai Janjang lah nan malompeklah di maso itu. kerongkongan kering itu oleh Tuan. Dik kandung si Linduang Bulan. “Dik kandung si Linduang Bulan. saya hendak minum hanya kini. 70 jari direseklah maso itu. kemudian didialogkan. |oi| lalu minum |lah| si Lindung Bulan. |oi| lalu ditimbalah air yang itu. dicari malah |ko| sumua kini. “Ko lai sumua. 18. dengan menggambarkan tingkah tupai) . air yang tidak |lah nan| ini ada. Sesudah mengucapkan dialog itu. . 85 “Dik kanduang si Linduang Bulan. |oi| lalu dicarilah maso itu. kehendak boleh pintak berlaku. Sebagian teks bait ke-19. teks didendangkan oleh pencerita dengan berdiri sambil menari. sudah tampak seekor |lah| si Tupai Janjang. saya hendak minum yang di belakang. denai nak minum hanyo kini. sumur yang kedua sudah kering pula.

mangga dibunuah |lah| si Tupai Janjang.“Dik kanduang si Linduang Bulan. 95 lah ka dibunuah si Tupai Janjang. Adik jangan menangis juga. |oi|terbit pikiran |lah|si Linduang Bulan. Sesudah itu. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua. lalu diambiaklah mangko kayu. Tuan hendak membunuh si Tupai Janjang. manolah Tuan nan janyo denai. anak yang tidak dapat juga. tadi Adik yang sudah minum. |oi| lalu diambillah air yang itu. pencerita mendendangkan dengan suara yang sedih. diambiak aia |oi| lalu di minum. kini ko minum Datuak Bandaro. 24. 120 sapuluah tahun barumah tanggo. mengapa dibunuh |lah| si Tupai Janjang. Mengapa Tuan seburuk itu niat kini. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu. ibarat seorang ibu yang sedang menangis karena anaknya dipukul. tidak elok Tuan seperti itu. 26. |ha| lalu dicaliak |oi| si Tupai Janjang. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu. Tuan ndak mambunuah si Tupai Janjang indak elok Tuan baitu bana.” (Pencerita mengucapkan dialog DB pada bait ke-25. kini saya minum pula. 105 (Pencerita mendendangkan bait ke-24 dengan berdiri dan menari. manalah Tuan yang hanyo saya. pencerita minum kembali) . |Ha| didakek malah |lah| si Tupai Janjang nantun. 115 Sudah |nan| kini dekat |lah| masa itu.“Ampun kan denai Tuan kanduang. Lalu kini sedihlah si Linduang Bulan. (Pencerita mendendangkan bait ke-26 dengan berdiri sambil menari yang diiringgi musik dan tepuk tangan) . Mengapa kini sedih |lah| si Linduang Bulan.21. Manga ko sadiah |lah| si Linduang Bulan. |Oi| lalu diambil yang air sumur. pencerita meminum air) . Manga Tuan saburuak itu niak kini. kini sedang minum Datuak Bandaro. 25. sudah akan dibunuh si Tupai Janjang. diambil air |oi| lalu di minum.” 110 “Dik kandung si Linduang Bulan. tadi Adiak nan lah minum. Adiak usah manangih juo. 22. |ha| lalu dilihat |oi| si Tupai Janjang. Sesudah itu. Pencuci mukalah si Linduang Bulan. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. ibalah saya yang masa itu. . Lalu ko sadiahlah si Linduang Bulan. |oi| tabik pangana |lah| si Linduang Bulan. lalu berkatalah Datuak Bandaro. ibolah denai nan maso itu. 100 lalu bakatolah Datuak Bandaro. Lah |nan| ko dakek |lah| maso itu. kini denai ka minum pulo. “Ampun kan saya Tuan kandung. Pada bait ke-22. 23. |oi| habis dicuci muka Linduang Bulan. sepuluh tahun berumah tangga. lalu diambillah maka kayu. anak nan indak dapek juo. |Ha| didekati malah |lah| si Tupai Janjang itu. Pancuci mukolah si Linduang Bulan. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. (Pencerita mendendangkan bait ke-21 sampai bait ke-23. Hal itu diperagakan oleh pencerita dengan memegang kepalanya) . 27.

31. denailah bamimpi |hai| lah tadi malam.” 125 kalau ada pinta yang boleh. lalu ditanuanglah maso itu. apolah tabir mimpi nantun. sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. apalah tujuan |hai| mimpi ini habis. |oi| mimpi nan habih |oi| hari lah siang. sudah tiga malam masa itu kini. |oi| raso mamangkulah tu bulan. baduo jo diri Datuak Bandaro. Sudah yang ke Bonjol |lah| masa itu. urang kiramaik |lah| hiduik-hiduik. lah tigo malam maso tu kini. termasuk kelompok orang Nan IV jinih. kemudian sujud menyembah dan berakting seperti seorang istri memohon dan berharap kepada suaminya) . Lalu bakato |hoi lah| Linduang Bulan. |Oi| raso bamimpilah maso itu. orang yang berilmu dan juga bagian dari gelar adat. (Pencerita mendendangkan teks bait ke-30 dengan duduk dan berakting untuk memperlihatkan memeluk matahari dan memangku bulan. Sub-adegan 1 28. 36 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. |Oi| lamolah lambek garan di kabun. lalu disabuik ka Datuak Bandaro. Lah tibo malam garan di rumah. sudah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. apalah mimpi |lah| si Linduang Bulan. |oi| lamalah lambat gerangan di jalan. asa lai denai dapek anak.. 145 |oi| surau nan condong |hai| condong ka Barat. Kegiatan ini dilarang dalam syariat agama Islam karena tergolong syirik. 30. |Oi| lamalah lambat gerangan di kebun. lah nan bamimpilah si Linduang Bulan. lalu ditanuanglah36 masa itu. tanuang adalah perbuatan untuk meramalkan atau mengetahui sesuatu yang tidak terlihat. berdua dengan diri Datuk Bandaro. 135 raso |lah| mamaguiklah si matohari.” (Bait ke-27 di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita. 140 |Oi| rasa bermimpilah masa itu. bia sarupo Tupai Janjang. rasa |lah| memeluklah si matahari. apolah arah |hai| mimpi ko habih. |oi| surau yang condong |hai| condong ke Barat. Menurut Amir (2003:55). Pencerita awalnya berdiri. lalu dicarilah urang malin. lalu disebutkan kepada Datuak Bandaro. Lah nan ka Bonjo |lah| maso itu. orang keramat |lah| hidup-hidup. biar serupa Tupai Janjang. asal ada saya dapat anak. |oi| mimpi yang habis |oi| hari sudah siang. apolah mimpi |lah| si Linduang Bulan. (Pencerita mendendangkan bait ke-28 dan bait ke-29 dengan berdiri dan menari) . sudah yang bermimpilah si Linduang Bulan. lah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. Sudah tiba malam gerangan di rumah. 35 Lalu berkata |hoi lah| Linduang Bulan. sayalah bermimpi |hai| lah tadi malam. |oi| lamolah lambek garan di jalan. apalah tabir mimpi yang itu. 29. Sub-adegan ke-2 32. lalu dicarilah orang malin35. 130 lah nan sahari |haa| lah duo hari. . Hal ini dilakukan waktu mendendangkan rasa memeluk bulan dan memangku matahari) . |oi| raso memangkulah itu bulan.kok lai pintak nangko buliah.

terasa sakitlah si Linduang Bulan. sudah yang sepekan |oi| sudah yang sebulan. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. |oi| baralah sanang hati Linduang Bulan . sana berkatalah Datuak Bandaro. aduh aduh. lah nan duo bulan garan manganduang.aduh. 34.” 165 Dari sehari |oi| gerangan mengandung.. diminta aia |hai| ka Linduang Bulan. Hal ini dilakukak untuk memberitakan istrinya yang akan mengandung) . pada bait ke-34 dengan sedikit melompat karena kegembiraan. |Oi|sudah mengandunglah si Linduang Bulan. |Oi| lamalah lambat Datuak Bandaro.. lah nan sapakan |oi| lah nan sabulan. Hal ini dilakukan supaya seperti seorang ibu yang sedang mengandung) . terasa haus Datuak Bandaro.” Ibid. 155 |Oi| sudah yang |ko| pulang Datuak Bandaro.” (Pencerita pada bait ke-36 dan bait ke-37 berakting dengan merintih serta memegang perut dan pinggangnya. |Oi| lah nan |ko| pulang Datuak Bandaro. kembali mendendangkan bait ke-36) . anak nan indak dapek juo. . apa yang minta Adik kini. sakik. sudah yang dua bulan gerangan mengandung jalan berubahlah yang maengkang37. Waktu mendendangkan bait ke-32 dengan posisi duduk sambil tetap mengayunkan tangan mengikuti irama dendang yang diiringgi bunyi musik) . sapuluah tahun barumah tanggo . |ha| lalu diambiaklah aia nantun.sakit. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung. taraso auih Datuak Bandaro. 36.” 37 170 “Dik kandung si Lindung Bulan. “aduh. taraso sakiklah si Linduang Bulan.aduh aduh. |oi| berapalah senang hati Linduang Bulan.sanan bakatolah Datuak Bandaro.. Lah tigo bulan sudah limo bulan garan manganduang. maengkang merupakan jalan seorang ibu yang lagi hamil. Dari sahari |oi| garan manganduang. lah lapan bulan paruik tambah gadang. 37. 35. “Dik kanduang si Linduang Bulan. hati nan sananglah maso itu. anak yang tidak dapat juga. diminta air |hai| ke Linduang Bulan. kini sudah mengandung maka Adik.sakit. “aduh aduh. hati yang senanglah masa itu. 38. Sub-adegan ke-3 33. 160 (Pencerita minum air pada bait ke-35.. apo nan mintak Adiak ko kini. (Pencerita mengambarkan DB pulang. Adik merasa sakit juga. |oi|apalah gerangan |lah| takwil mimpi. |ha| lalu diambillah air yang itu. 150 |ha| disabuik malah |ha| takwia mimpi. kini lah manganduang mako Adiak. jalan barubahlah nan maengkang. Ssesudah itu. sakik.. sepuluh tahun berumah tangga. sudah delapan bulan perut tambah besar.|Oi| lamolah lambek Datuak Bandaro. |oi| apolah garan |lah| takwia mimpi. (Pencerita mendendangkan bait ke-31dengan posisi berdiri. |Oi| lah manganduanglah si Linduang Bulan.. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. Adiak maraso sakik juo. |ha| disebut malah |ha| takwil mimpi.

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan pencerita dengan suara yang dibesarkan supaya terdengar berwibaya) . 39. Basadiah-sadiahlah si Linduang Bulan, 175 tibo nan cameh dapek tu maa, “Aduuh sakiik aduah saakiik, minum lah ciek dulu Tuan oi.” Bersedih-sendihlah si Linduang Bulan, tiba yang cemas dapat itu, “Aduuh sakiit aduuh saakiik, minum lah satu dulu Tuan oi.”

(Pada bait ke-39, diperagakan oleh pencerita seperti seorang ibu yang mengerang kesakitan waktu sedang hamil tua. Sesudah itu, pencerita minum kembali) . 40. Lah lapan bulan |oi| garan menganduang, lah nan sambilan bulan nyo manganduang, 180 paruik batambahlah sakik juo. 41.|Oi| lalu dipanggia dukun nan partamo, lalu nyo reseklah si Linduang Bulan. Sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung, sudah yang sembilan bulan dia mengandung, perut bertambahlah sakit juga. |Oi| lalu dipanggil dukun yang pertama, lalu dia rabalah si Linduang Bulan.

(Pencerita pada bait-40, bergerak dalam kondisi berdiri, kemudian berakting seperti terjatuh akibat menahan kesakitan. Pada bait ke-41, pencerita berakting seperti seorang dukun yang sedang memeriksa kehamilan) . 42. “aduuah aduuah…. Sakiik…., aduuh sakiik…..” “aduuah aduuh…. Sakiit……, aduuh…..sakiit……”.

(Bagian teks di atas merupakan rintihan Linduang Bulan yang dilakukan oleh pencerita dengan berakting sambil merintih seperti orang yang sedang menahan kesakitan) . 43. “Dik kanduang si Linduang Bulan, dicaliak kini ko codo sia? ambo resek dulu.” 185 “Dik kandung si Linduang Bulan, dilihat kini seperti siapa? saya raba dulu.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita untuk menghibur LB. Hal ini dilakukan supaya dapat mengurangi rasa sakit yang diderita LB) . 44. “Ampunkan denai Datuak Bandaro.” “Ampunkan saya Datuk Bandaro.”

(Dialog di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita dengan terbata- bata) . 45. “Dicaliak kini bini manganduang.” “Dilihat kini istri mengandung.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita juga dengan terbata-bata) . 46. “Tapi….. anak…ndak.ka lahia kini, anam bulan lai ka lahia.” 190 “Tapi…..anak….tidak akan lahir kini, enam bulan lagi akan lahir.”

(Bagian teks yang ke-46 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara ketakutan) .

47. Dukun kapunduang lah salapan bulan, lah sambilan bulan bini den manganduang, kabatambah anam bulan lai.”

Dukun kepundung38 sudah delapan bulan, sudah sembilan bulan bini saya mengandung akan bertambah enam bulan lagi.”

(Dialog DB pada bait ke-47, diucapkan oleh pencerita dengan cara berakting dan suara yang keras sehingga mengambarkan rasa kesal kepada Dukun karena dikatakan istrinya belum juga bisa melahirkan) . 48. Lalu dicari dukun nan kaduo, 195 |oi| dukun kaduo |oo| sarupo itu, |oi| lalu di datang dukun nan katigo, |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Lalu dicari dukun yang kedua, |oi| dukun kedua |oo| seperti itu, |oi| lalu di datang dukun yang ketiga, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pencerita mendendangkan bait ke-48, dengan berdiri dan menari sambil berjalan) . 49. “Batanang dulu yo! kok lah dapek aia ko ambo minum gai dulu.” 50.”Ampunkan denai Datuak Bandaro, kalau dicaliak nan ko kini.” “Tenang dulu ya! kalau sudah dapat air ini saya minum dulu.” “Ampunkan saya Datuak Bandaro, kalau dilihat yang ini kini.”

200

(Bagian teks yang ke-49 dan ke-50, merupakan dialog dukun yang diucapkan oleh pencerita sambil memperlihatkan seolah-olah memeriksa kehamilan LB. Pada bait ke-49, pencerita mengucapkan dialog itu kemudian minum) . 51. “Aaa duuh saakiik….. saakiik.” “Aaa duuh saakiit…..saakiiit.”

(Rintihan LB pada bagian teks ke-51, dilakukan oleh pencerita dengan akting seperti orang yang akan melahirkan) 52. “Batananglah dulu Linduang Bulan.” “Tenanglah dulu Linduang Bulan.”

(Dialog DB pada bagian teks ke-52 diucapkan oleh pencerita dengan suara seperti orang yang sedang membujuk istrinya. Hal ini dilakukan supaya LB tabah dalam menahan rasa sakitnya) . 53. “Iyoo… sakiik iko Dukun.” 205 “Iyaa….sakiit ini Dukun.”

(Bagian teks ke-53 merupakan rintihan LB yang dilakukan oleh pencerita sambil mengurut-urut perut dan pinggangnya) . 54. “Iyo itu nan kamalaian, ampunkan denai Datuak Bandaro, tolong carikan talua nan sabuah, aia putiah nan sagaleh, kito agiah salusuah nangko Linduang Bulan, 210 untuang kok capek nangko laia”.
38

“Iya itu yang akan melahirkan, ampunkan saya Datuak Bandaro, tolong carikan telur yang sebuah, air putih yang segelas, kita berikan selusuh ini Linduang Bulan, untung kalau cepat ini lahir.”

Kepundung diucapkan oleh pencerita untuk mengungkapkan kekesalan kepada dukun

(Dialog pada bagian teks yang ke-54, merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita untuk menyuruh DB mencari telur dan selusuh agar LB cepat melahirkan. Hal ini diucapkan sambil duduk dengan cara menyembah) . 55. Alah ko tibo nan barang nantun, |ha| lalu dipacahlah talua nantun, diambiak malah aia sagaleh, |ha| dicampua-campualah maso itu, 215 |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Sudah kini tiba yang barang yang itu, |ha| lalu dipecahlah telur yang itu, diambil malah air segelas, |ha| dicampur-campurlah masa itu, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pada bait ke-55, didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan menari sambil memperagakan memecah telur) . 56. “Aduuh sakiik… Tuan ampun Tuan….” “Aduuh sakiit…Tuan ampun Tuan….”

(Bagian teks yang ke-56, merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang kesakitan) . 57. “A…. iko Linduang Bulan iko ado pilusuah.” “A….ini Linduang Bulan ini ada sisuluh.”

(Bagian teks yang ke-57 merupakan dialog Dukun yang diperagakan oleh pencerita sambil memegang gelas) . 58. “Aduuh aduuh..sakiik Tuan ai..” 220 “Aduuh aduuh.. sakiit Tuan ai…”

(Bagian teks di atas merupakan rintihan LB. Pencerita merintih sambil berakting dengan cara mengerang seperti orang kesakitan dengan membungukkan badannya) 59. “Iko nan pilusuah Tuah. minumlah yo…!” “Ini yang silusuh Tuan. minumlah ya…!”

(Pencerita mengucapkan dialog dukun pada bagian teks ke-59, dengan memperagakan seolah-olah memberikan minuman kepada LB) . 60. “Aduuh lah sakiik lah Tuan yooi.” “Aduuh sudah sakiit sudah Tuan yooi.”

(Bagian teks ke-60 adalah rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang yang kesakitan) . 61. “Iyo itu nan manganduang, banyaklah mangucap.” 225 “Iya itu yang mengandung banyaklah mengucap.”

(Bagian teks ke-61 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang berwibawa untuk menggambarkan supaya LB tetap tabah) . 62. “Aduu..h sakii….k… ndak …. aduu..h sakiik……” “Aduuh…sakii….t….ndak….. aduu..h sakiik…..”

serupa tupai. |a| lalu dicaliaklah anak nantun. |hai| jika diminta sudah masa itu. |Yo| anak barupo |lah| si Tupai Janjang. 69. “Aduu…. lantai balubang. “Eaa……. |hai| sesal kemudian tidak berguna. sarupo tupai.. (Pencerita mendendangkan bait ke-67. (Pencerita mendendangkan bait ke-70. 63. |hai| sasa kudian indak baguno.” (Bagian teks yang ke-63.(Bagian teks ke-62 merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegang perut dan pinggangnya) .. “Anak lai. merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegak perut seperti orang kesakitan) . (Bait ke-68 didendangkan oleh pencerita sambil bergerak dengan memegang kain di tangannya seolah oleh mengambarkan bayi yang sedang digendong) .h sakiit aduu…. 240 Lalu berkata Datuak Bandaro. |Ha| kini yang sesal yang dapat lagi.. 70.h sakik aduu…. 68. merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan mimik penuh kecemasan) 64. dengan berdiri sambil menari) .” (Bagian teks di atas merupakan ucapan dari DB yang diucapkan oleh Pencerita dengan suara sedih) .” “Sudah hampir ini haa. “Aaa…. dengan suara tersedu-sedu seperti orang menangis) . |oi| tiba di lantai. lantai berlubang. 67. pintak balakulah hanyo lai. .h sakiik adu…. pinta berlakulah hanya ada. Lalu taingek |a| maso di kabun. “Lah ampia ko kamahaa. |hai| jikok diminta lah maso itu. Lalu teringat |a| masa di kebun. Nan lah ko laialah si Tupai Janjang |oi| tibo di lantai. ADEGAN III 66.” “Anak ada. |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. Lalu bakato Datuak Bandaro. 65. Hal itu ditampilkan oleh pencerita dengan mata terbelalak) .ah…” “Aduu…. |Ya| anak berupa |lah| si Tupai Janjang. 230 Yang sudah ini lahirlah si Tupai Janjang. Tupai Janjang?” (Bagian teks yang ke-67 di atas merupakan ucapan DB yang kaget karena melihat anaknya yang lahir seperti TJ.h sakiit aduu…ah…” (Pada bagian teks yang ke-64. 235 |Ha| kini nan sasa nan dapek lai. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. Tupai Janjang?” “Aaa…. |a| lalu dilihatlah anak yang itu.” “Eaa……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks di atas untuk menggambarkan bahwa anak LB sudah lahir) .

yo. ya. itu tukang salung lima menit. dilakukan oleh pencerita seperti seorang ibu yang menyusukan bayinya.? ko aia ha. “Ai……” “Ai……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks ke-71. Pencerita akhirnya memperagakan dengan minum) . sudah tumbuh diri bertambah besar. tabiaklah bangih Datuak Bandaro. buliah ka rimbolah kau kini.” “Janganlah mengigit-mangigit juga Yuang39. haus? Ndak berair? tidak berair. Sub-adegan ke-1 73. apo harato lah diambiaknyo.. lalu dibuanglah si Tupai Janjang. “Usahlah mangigik-mangigik juo Yuang. 245 hauui yo? yoi manangih juo. (Pencerita mendendangkan bait ke-73 sambil bergerak dan terus memegang selendang.. lalu dibuanglah si Tupai Janjang.” 265 “Nak kandung si Tupai Janjang. lah tumbuah diri batambah gadang. Kemudian.” (Dialog bait ke-74 adalah dialog DB kepada TJ yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang lantang sehingga menggambarkan DB sedang marah) . Hal ini dilakukan pencerita dan menjadikan selendangnya sebagai properti untuk menggambarkan anak yang sedang digendongnya) . 72. 39 40 Yuang adalah sebutan untuk anak laki-laki di Minangkabau Memeh adalah ucapan yang biasa dikatakan oleh ibu pada waktu akan menyusui bayinya. tidak bisa hembus salung lagi. 255 Dari sehari |lah| masa itu. . ko memeh aa…ko meh haa. itu tukang saluang limo minik .? ini air ha. kini pergilah ini kini. usahlah melompat-lompat juga aa. “Nak kanduang si Tupai Janjang. Dari sahari |lah| maso itu. seperti suara seekor anak tupai. haus ya? yo menangis juga. boleh ke rimbalah kau kini. anak bincacak anak bincacau.” (Dialog LB pada bait ke-72.71.! 250 usahlah malompek-lompek juo. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. perangai nakal |lah| masa itu.. 41 Ungkapan yang biasa diucapkan dalam kaba untuk menyatakan anak yang tidak mempunyai etika dan biasanya disampaikan dengan nada keras dan marah. selendang itu dilempar seolah-olah DB membuang anaknya) . usahlah malempek-lompek juo aa. waktu mengucapkan dialog baris terakhir bait di atas. Pencerita kemudian memasukkan selendangnya ke dalam bajunya seolah-olah seorang ibu yang mengeluarkan payudaranya dan menyusukan bayi. ndak bisa ambuih saluang lai.. terbitlah bengis Datuak Bandaro. apa harta sudah diambilnyo. anak sigiang-giang rimba41. parangai jaek |lah| maso itu. sudah minum ya…. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. lah minum yo…. 260 anak bincacak anak bincacau. 74. kini bakirolah ko kini. hauih? Ndak baraia? ndak baraia. ini memeh40 aa… ini meh haa. anak sigiang-giang rimbo.! janganlah melompat-lompat juga.

|oi| masuaklah kabun |hai| Mandeh Rubiah. 285 81. |oi| tapi dilarang oleh Mandeh Rubiah. 80. |oi| baa curito |lah| tantang itu. sudah akan dibuanglah si Tupai Janjang. |oi| bagaimana cerita |lah| tentang itu.bayang. kerongkongan basah nanti kita sambung. . |Oi| hari nan sadang pukua satu. |oi| badan yang bisa menangis juga. teringat anak yang masa itu. |ndeh| badan auih sambia manangih. lah kuruih badanlah si Linduang Bulan. 275 lah masuak kabunlah ko urang kini.Sub-adegan ke-2 75. 77. Masuk ke kebunlah masa itu. sudah kurus badanlah si Linduang Bulan. |Oi| adok ka dirilah si Linduang Bulan. Sub-adegan ke-3 78. |ha| diambil gerangan |ha| di atas rumah. lah ka dibuanglah si Tupai Janjang. |oi| masuklah kebun |hai| Mandeh Rubiah. Lamalah lambat gerangan menangis. |oi| peninggal anaklah yang berjalan. |a| si Tupai Janjang saitu dulu. |oi| badan nan bisa manangih juo. Ibid. Lah nan didulang sadulang lai. sana diambillah si Tupai Janjang. Sudah diusirlah Si Tupai Janjang. |oi| sedang berbuntalah si bayang. sudah masuk kebunlah ini orang kini. takana anak nan maso itu. sanan diambeklah si Tupai Janjang. lalu diambil |oi| air lalu diminum. Masuak ka kabunlah maso itu. (Pencerita mendendangkan bait ke-75 sampai dengan bait ke-77 dengan suara seperti orang yang sedang menangis dan kemudian meneguk air minum) .42 |a| si Tupai Janjang segitu dulu. |ndeh| badan haus sambil manangis. |oi| lalu dicaliaklah dek Mak Hitam. |ha| dua dengan diri si Mamak Hitam. |Oi|terhadap ke dirilah si Linduang Bulan. karena kerongkongan saya |hai| bertambah kering. |Oi| adok ka dirilah si Tupai Janjang. 79. Istirahat lebih kurang 30 menit ADEGAN IV 82. |Oi| hari yang sedang pukul satu. |oi| tapi dilarang dek Mande Rubiah. babunta adalah sedang memendek bayang-bayang atau yang lazim disebut dengan tengah hari tepat.|Oi| lalu dibaoklah ateh rumah. (Bait ke-78 sampai dengan bait ke-81 didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak mengikuti irama yang sama) . dek rangkungan den |hai| batambah kariang. |ha| diambiak garan |ha| di ateh rumah. Alah diusialah si Tupai Janjang 76. |oi| paningga anaklah nan bajalan. 42 Sudah yang didulang sedulang lagi. 290 karongkongan basah biko kito sambuang. Lamolah lambek garan manangih. |oi| sadang babuntalah sibayang-bayang. 270 lalu diambiak |oi| aia lalu diminum. |oi| lalu dilihatlah oleh Mak Hitam. |ha| duo juo diri si Mamak Hitam. 280 |Oi| hadap ke dirilah si Tupai Janjang. |Oi| lalu dibawalah atas rumah.

sudah |nan| berpekan43 sudah masa itu. |oi| sanan takajuiklah Mandeh Rubiah. batanyo-tanyolah Mandeh Rubiah. kinilah tarang kabun iko kini. 83. nan panyambuang nan tingga cako. |oi|apakah gerangan |lah| si tupai yang ini. ibarat mengambarkan TJ dijaga dan tidur di rumah MR) . 315 dicaliak kabunlah maso itu. diberi makanlah si Tupai Janjang. nan didulang sadulang lai. sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. kebun bertambah rindang juga. Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. makan dengan rimahlah44 dia mau. rimah adalah nasi yang jatuh dan keluar dari piring pada saat makan. Habih pakan baganti pakan. yang didulang sedulang lagi. 305 310 (Pencerita mendendangkan bait ke-82 sampai dengan bait ke-84 dengan berdiri dan gerakan yang sama. apolah jadi |lah| nan bak kian. |ha| dia yang tidurlah masa itu. kinilah terang kebun ini kini.|lah| nan pandulang ameh di Bangko. |ha| inyo nan laloklah maso itu. Lah nan sahari nan duo hari. |Oi| kebun sudah bersih masa kini. tiba di malam sudah malam kini. dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. . lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. Ibid. tiap dibersih hari masa itu. 295 |lah| yang pandulang emas di Bangko. sudah dibawalah si Tupai Janjang. 320 44 45 Ibid. kabun batambah rindang juo. apalah jadi |lah| yang seperti itu. |Oi| sanan takajuik Mandeh |lah| Rubiah. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. Pada waktu mendendangkan baris ke-297. Sudah yang sehari yang dua hari. lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. 89. tibo di malam lah malam kini. dilihat kebunlah masa itu. |oi| makan buah dia yang tidak mau. |Oi| sana terkejut Mandeh |lah| Rubiah. makan jo rimahlah inyo namuah. lah |nan| bapakan lah maso itu. Sub-adegan ke-1 86. |oi| kenapa kok kebun sudah lacah45 kini. |oi| lalu berpikir Mandeh Rubiah. sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah. |oi| baa kok kabun lah lancah kini. Ibid. Habis pakan baganti pakan. dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. 87. pakan adalah sebutan untuk satu minggu yang dalam satu hari dalam satu minggu itu ada hari yang ramai untuk berjual-beli. |Oi| kabun lah siang maso kini. tiok disiang hari maso itu. lacah adalah tanah lembek atau berlumpur. |oi| makan buah inyo nan indak nio. |Oi| abih lah malam |hai| baganti siang. 88. yang penyambung yang tinggal tadi. berdua dengan diri |lah| Mak Hitam. bertanya-tanyalah Mandeh Rubiah. pencerita mengambil kembali selendangnya. lah dibaolah si Tupai Janjang. 325 43 |Oi| habis sudah malam |hai| berganti siang. 85. baduo jo diri |lah| Mak Hitam. Lamo hari baganti hari . |ha| diagiah makanlah makan rimah. Lama hari berganti hari. |oi| lalu bapikia Mandeh Rubiah. Adok ka dirilah si Tupai Janjang. lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. |oi| sana terkejutlah Mandeh Rubiah. 300 84. |ha| diberi makanlah makan rimah. |oi| apokah garan |lah| si tupai nan ko. diagiah makanlah si Tupai Janjang.

|ha| nyo resek pulolah si Tupai Janjang. |oi| badan berubah menjadi orang. 93. |ha| si Tupai Janjang naiak ka ateh rumah. |Ha| diambiak pulo kulik tu kini.duo juo diri |lah| Mak Hitam. |ha|si Tupai Janjang naik ke atas rumah. |oi| Mandeh Rubiah lah managahkan. |hai| sehabis asap |lah| masa itu. |ha| manjadi kayolah maso kini. |oi| lamalah lambat |hai| berganti sana.|Oi| kulik nan abih alah maso itu. dua juga diri |lah| Mak Hitam. |ha| dipanggang malah |lah| maso itu. |oi| Mandeh Rubiah sudah melarang. 94. |Ha| dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. nan dulu |nan| garan |lah| si Tupai Janjang. |ha| dibakar malah |lah| masa itu. |oi| apolah garan nan lah tajadi. |o| barang |nan| badanlah tidak ada. |ha| dilihat kulitlah tidak ada. |ha| lalu diambillah kulit itu. (Pada bait ke-86 sampai bait ke-89 pencerita mendendangkan bait tersebut dengan terus-menerus bergerak seperti gerakan tari Minang) . kiro takajuiklah si Tupai Janjang. |Ha| lalu dipanggillah si Tupai Janjang. 92. |Ha| lalu baimbaulah si Tupai Janjang. lalu diambiak kulik Tupai Janjang. |ha| dicaliak kuliklah indak ado . |hai| sahabih asok |lah| maso itu |hai| kulik barubah satumpuak ameh. Sub-adegan ke-2 90. |Ha| kulik tapanggang kulik Tupai Janjang. |oi| surang nantun naiak ateh rumah. |Oi| kulit yang habis sudah masa itu. Lalu dicaliak si Tupai Janjang lah duduak diimbau di maso itu. 330 91. |oi| badan barubah manjadi urang. |ha| dicaliak baliaklah si Tupai Janjang. Lalu dilihat si Tupai Janjang. |Ha| dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. 335 (Pencerita bergerak pada bait ke-90 sampai dengan bait ke-91 seperti gerakan yang sama. 340 |Ha| harilah pagi sudah masa itu. kira terkejutlah si Tupai Janjang. |oi| apalah gerangan yang sudah terjadi. |o| barang |nan| badanlah indak ado. 345 355 . |ha| dia raba pulalah si Tupai Janjang. |ha| menjadi kayalah masa kini. |Ha| harilah pagi lah maso itu. |ha| dilihat kembalilah si Tupai Janjang. Sub-adegan ke-3 95. kemudian pencerita memegang selendang di tangannya untuk mengambarkan kulit TJ yang sudah terkelupas) . lalu diambil kulit Tupai Janjang. cukuik sabulanlah maso itu. badan lah sananglah hanyo lai. |Ha| kulit terbakar kulit Tupai Janjang. dicaliak malah |lah| maso itu. yang dulu |nan| gerangan |lah| si Tupai Janjang. |oi| lamolah lambek |hai| baganti sanan. badan sudah senanglah hanya kini. sudah duduk dipanggil di masa itu. |ha| kiranya kulitlah tidak ada. |hai| kulit berubah setumpuk emas. |ha| lalu diambillah kulit nantun. cukup sebulanlah masa itu. 96. 350 kulik barubahlah satumpuak ameh. |Ha| diambil pula kulit itu kini. dilihat malah |lah| masa itu. kulit berubahlah setumpuk emas. |ha| kironyo kuliklah ndaknyo ado. |oi| seorang yang itu naik atas rumah.

dengan mandeh kandung Mandeh Rubiah. berilah saya kata pasti. ada masa itu badanlah senang. anak kandung kata saya.|Oi| harilah sadang pukua satu. sana terkejutlah Datuak Bandaro. |a| iko |ko| urang tuo ambo bana. Datuak Bandaro jo Linduang Bulan. |Oi| hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang. badan bertambahlah kurus jua. Hal ini didendangkan dengan cara berdiri) Penutup 103. |a| ini |ko| orang tua saya benar. Datuk Bandaro dengan Linduang Bulan. 375 (Pencerita mendendangkan bait ke-101 dan bait ke-102 dengan gerakan dan irama yang sama. lah sadiah garan |lah| si Tupai Janjang. pencerita melemparkan selendangnya kembali) . sedang berputar bayang-bayang. sadang bapunta bayang-bayang. Hari barubahlah hari pulo. tabik pangana |lah| si Tupai Janjang. Takana pulolah si mandeh kanduang. 102. nak kanduang janyo denai.” (Bagian dari teks di atas adalah dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan sedu sedan) Sub-adegan ke-1 101. sanan takajuik lah Datuak Bandaro.” “Ampun kandung kata saya. 370 Lamalah lambat |lah| masa itu. |ha| maminta piti |lah| maso itu. agiahlah denai kato pasti. |Oi| harilah sedang pukul satu. bersama-samalah masa kini. 360 Hari berubahlah hari pula. basamo-samolah nangko kini. ADEGAN V 98.(Pencerita mendendangkan bait ke-92 sampai dengan bait ke-96 dengan gerakan yang sama sambil berdiri. Lalu disuruh tinggalah masa itu.Lalu disuruah tinggalah maso itu. dua dengan dirilah Imak Hitam. duo jo dirilah Imak Hitam. jo mandeh kanduang Mandeh Rubiah. |ha| meminta uang |lah| masa itu.Lamolah lambek |lah| maso itu. Teringat pulalah si mandeh kandung. sudah sadih gerangan |lah| si Tupai Janjang. 97. pergi berobat |lah| gerangan kini. 365 (Bait ke-98 dan bait ke-99 didendangkan oleh pencerita dengan suara tersedu sedan seperti orang sedang sedih) . |Oi| adok ka diri |lah| si Tupai Janjang. 99. ado maso itu badanlah sanang. pai barubek |lah | garan kini. badan batambahlah kuruih juo. terbit pikiran |lah| si Tupai Janjang. (Pencerita mendendangkan bait ke-97 dengan duduk sambil memegang kepalanya untuk menggambarkan rasa sedih karena teringat sama orang tuanya) . 100 “Ampun kanduang janyo denai. . Waktu mendendangkan kulit TJ sudah berubah menjadi emas (larik 350) .

yakni pada bagian awal cerita.Tupai Janjang sagitu dulu. frasa. |ouuii……. lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan. atau larik (Lord. baik dalam bentuk kata-kata. pencerita dapat menyesuaikan cerita dengan situasi pertunjukan. Pantun memakai unsur yang berulang. Jika dicermati kedua teks memperlihatkan adanya bagian yang diulang. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang Formula adalah sekelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan ide yang esensial. cerita habis hendak kita ulang Tuan. bagian yang berformula ditandai dengan garis bawah di kata yang berformula tersebut. yaitu mengingat frasa-frasa dan menciptakan analogi dengan frasa yang telah ada. Bentuk yang memperlihatkan perulangan dengan sistem formula disebut ekspresi formulaik. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim (Sweeney.|. lain waktu hendak akan kita ulang Tuan. Ekspresi formulaik juga dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama. frasa.| (Di bagian penutup ini iramanya berubah dari irama semua teks yang telah dibacakan terdahulu. penonton. Formula muncul berkali-kali dalam cerita. lain waktu hendak akan kita ulang. baik dalam satu larik maupun dalam satu bait. |oio.. Pada waktu ini.lai…. carito habih ndak kito ulang Tuan. seperti keadaan tempat. |ouuii…. Dalam analisis ini. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. klausa. 1987:68). 2. |oio. mungkin berupa kata. Pencerita dapat merangkai suatu cerita dalam waktu relatif pendek dengan cara membentuk kalimat yang berformula. dan waktu pertunjukan. pencerita hanya duduk dengan mendendangkan bait ke-103.| . Formulaik pada pantun berikut ini ditemui pada kedua teks. Hal itu dilakukan dengan menundukkan dan memegang kepalanya) . maupun klausa.. 1981:30—43). lain wakatu nak kan kito ulang. . Antara satu bait dan bait berikutnya juga terjadi pengulangan. Untuk menghasilkan hal itu.| 380 Tupai Janjang segitu dulu. Dengan cara ini.lai….. Formulaik yang pertama dilihat pada analisis ini adalah bagian teks yang berbentuk pantun.

Tak kalo maso dahulunyo. Dalam pantun tersebut. kaba |lah| urang kami kabakan. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. Pada teks II. yang tersebut-sebut). turunan puti sudut-bersudut). |Oi| adolah pado suatu maso. adalah orang masa itu. (14-16) 5. iyolah garangan |lah| si Tupai Janjang). banda anak orang |lah| di Gumarang. kaba |lah| urang lai kami kabakan. bumi yang belum |hai lah| baralun. nan tasabuik-sabuik. |hai| bumi nan antah barantah. (13-16) banda nak urang |lah| di Gumarang. urang duto kami tak nio. ta Puti suduik-basuduik. Banda anak orang Koto Tuo. Banda nak urang Koto Tuo. 4. turunan rajo turun beraja. Formula itu adalah Bandalah urang kami bandakan (Bandarlah orang kami bandarkan) yang ditemui pada kedua teks. di yang dekat jolong tersongoh. di nan dakek jolong tasongoh. kaba orang kami kabakan.Banda |lah| urang kami bandakan. tak kalo alun baralun. terlihat adanya kata yang diulang pada larik lanjutan pantun itu. 4. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formula yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. Banda urang kami bandakan. larik itu diulang dengan mengubah kata kami dengan kata ambo (hamba) dan menambahkan ungkapan . tersebut garangan Datuak Bandaro. urang duto kami tak sato. (Banda |lah| orang kami bandakan. orang dusta kami tak mau). berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulan). |hai| bumi yang antah barantah. (6-9) TEKS II 3. (Banda orang kami bandakan. Di nan tinggi tampak jauah. (17-21) bumi nan alun |hai lah| baralun. kaba urang kami kabakan. (Di yang tinggi tampak jauah.Bandalah urang |hai|ambo bandakan. tasabuik garan Datuak Bandaro. kaba |lah| urang lai kami kabakan. kaba |lah| urang kami kabakan. (|Oi| adalah pada suatu masa.(912) bandalah |hai| urang si Koto Tuo. Pengulangan itu terjadi. adolah urang maso itu. baik pada bait yang sama maupun pada bait yang berbeda. (Bandalah orang |hai|hamba bandakan. orang dusta kami tak mau). ta Rajo turun ba rajo. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. (Tak kalo masa dahulunya.TABEL XII Formula di Bagian Pembukaan Cerita TEKS I 2. tak kalo alun baralun. Pantun di atas terletak di awal cerita karena berfungsi sebagai pembukaan. (16-20) 5.

atau dua bulan. Lah hampianyo ganok bilangan bulan lah hampienyo sambilan bulan. pencerita tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. (Sudah sebulan dua bulan. Sudah yang sepakan |oi lah| yang sebulan Sudah yang dua bulan garangan mengadung Jalan berubahlah yang maengkang) 37. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2.Dari sahari |oi| garan manganduang. 34. TEKS II Formula untuk Pergerakan Waktu 36. Lah sabulan duo bulan. lah tiba sakik beranak). Untuk menyatakan waktu satu hari. misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. Selain itu.Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (180) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (181) (Sudah delapan bulan |oi| garangan mengandung Sudah yang sembilan bulannya mengandung) 84. TABEL XIII Formula untuk Pergerakan Waktu TEKS I Formula untuk Pergerakan Waktu 38.penyeling hai. lah tibo sakik baranak. Lah nan sahari nan duo hari (301) Lah nan bapakan lah maso itu (302) (Sudah yang sehari yang dua hari Sudah yang berpakan sudah masa itu) . hampir sampai genap bilangan). Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. Perubahan waktu itu ditulis dengan cara ditebalkan. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik. Perbedaan terjadi dengan penambahan kata untuk kepentingan irama dalam menyanyikan cerita. Ada formulaik tertentu yang digunakan untuk menyatakan perubahan dan pergerakan waktu dalam cerita. (184-185) ambia sampai ganok bilangan. Kata itu adalah kaba dan bandalah urang (bandarlah orang) ditemui pada bait ke-3 dan ke-4.Lah bulan lah limo bulan garan manganduang Lah lapan bulan paruik tambah gadang (165-166) (Sudah tiga bulan limo bulan garan manganduang Sudah delapan bulan perut tambah besar ) 40. ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu atau dua kata. satu bulan. (162-166) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan Lah nan duo bulan garan mangaduang Jalan barubah |lah nan| maengkang (Dari sahari |oi| garangan mengandung. (218-220) (Sudah hampirnya genap bilangan bulan sudah hampirnya sembilan bulan.

misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana sudah berkata Datuak Bandaro).Telah dikemukan di depan bahwa ekspresi formulaik adalah larik atau paroh larik yang disusun sesuai dengan pola formula. Kata lah. . untuk perubahan tokoh yang diceritakan. Titik-titik setelah kata lah nan diisi sesuai dengan waktu yang dikehendaki dalam cerita. Dengan pola formula sebagai dasar. Ada kata-kata yang selalu digunakan untuk menyatakan perubahan waktu. Untuk perpindahan tokoh yang diceritakan. Perbedaan yang tampak adalah dengan adanya penambahan unsur verbal demi kepentingan irama. seperti contoh di bawah ini. Lah nan sahari |haa nan| duo hari Lah nan tigo malam maso itu (Sudah yang sahari |haa nan| dua hari Sudah yang tiga malam masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan pergerakan dan perubahan tokoh yang diceritakan. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada. Bentuk formula itu seperti terlihat pada tabel berikut. pencerita dapat menyusun larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. dilanjutkan dengan keterangan atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh. Dalam teks TJ ditemukan adanya ekspresi formulaik. seperti yang telah dinyatakan di atas. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sehingga terlihat paralelisme satu larik dengan larik yang lainnya. Persamaan yang terlihat adalah pemakainan kata lah. yaitu lah nan …. merupakan kependekkan dari alah (sudah). Sesudah pemakaian kata yang berformula. pencerita juga memanfaatkan cara yang sama.

Formula dengan pola sintaksis yang sama Lah balari si Dukun Pandai (257) |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (39) (Sudah berlari si Dukun Pandai) (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Lah bajalan Datuak Bandaro (93) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (20) (Sudah berjalan Datuak Bandaro) (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lah bajalan si Linduang Bulan (109) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (102) (Sudah berjalan si Linduang Bulan) (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (448) Lalu bakato Datuak Bandaro (240) (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lah pulangnyo maso nantun. hal itu terlihat seperti tampilan pada bagan berikut ini. Formula dengan pola sintaksis yang sama II. . Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (259) (Sudah pulang dia masa itu) (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang) Lah tibonyo di tangah rumah. Formula untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (22) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (29) (|Oi| hadaplah diri dua itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (24) (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (296) (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan (267) (|Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan) II. Formula untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Pihak kapado karo banyak (Pihak kepada karo banyak) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro Kononlah Linduang Bulan (Kononlah Linduang Bulan) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (1 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) (1 kali) TEKS II I. (537) Lalu dicaliak si Tupai Janjang (328) (Sudah tiba dia di tengah rumah) (Lalu dilihat si Tupai Janjang) Lah dibao si Tupai Janjang (571) |ha| lalu diambiak lah kulik nantu (346) (Sudah dibawa si Tupai Janjang) (|ha| lalu diambial lah kulit itu) Untuk lebih memperjelasnya.TABEL XIV Formula untuk Perubahan Tokoh TEKS I I.

Larik itu adalah. Larik itu adalah kononlah kasiah rang ditompangkan (kononlah kasih rang ditompangkan) dan kononlah kasiah urang tompangkan (kononlah kasih orang tompangkan) (bait 12 larik 78 dan 84). Larik yang paralel dengan memperlihatkan pola sintaksis yang sama (pada teks I) juga dipakai untuk menyatakan pernyataan ajakan terhadap lawan bicara. Hasil analisis pada teks I. dan adok ka (|oi| hadaplah. |oi| madok lah. Pemakaian bahasa Minangkabau sehari-hari lazim dipendekkan. dan kini . kini baitulah dek Tuan (kini begitulah oleh Tuan)(larik ke-55) dan kini baitulah dek Adiak (kini begitulah oleh Adik)(larik ke-67). mengunakan kata pihak kapado (pihak kepada) dan pihak di diri (pihak di diri).Datuak Bandaro Urang Padusi Dukun Pandai PIHAK KAPADO Puti Linduang Bulan Tupai Janjang Mak Hitam Rang punyo ladang Mandeh Rubiah Kata yang dipakai untuk menyatakan perubahan tokoh pada kedua pencerita juga berbeda. Pencerita pada teks I. kini baitulah Linduang Bulan (kini begitulah Linduang Bulan)(larik 294). memakai kata |oi| adok lah. seperti yang juga telah disebutkan pada bab II di atas. Kata yang ditukar ditemukan pada bagian akhirnya untuk menyesuaikannya lawan bicaranya. Penghilangan kata urang menjadi rang karena pengaruh dari pemakaian bahasa sehari-hari. |oi| menghadaplah. dan hadap ke). sedangkan pencerita pada teks II. menunjukkan bahwa adanya unsur yang berformulaik dengan memperlihatkan adanya huruf yang hilang yakni pada kata urang (orang).

lantai lah patah. ada jalan yang mendatar. adanya unsur verbal pada teks II. Pemakaian kalimat paralel juga ditemui untuk menyatakan anak Linduang Bulan. lantai berlubang. |oi| tibo di lantai. (Yang sudah ini lahirlah anak si Tupai Janjang. tiba di tanah.683. Teks II 66. ado jalan nan malereng (Ada jalan yang mendaki. telah lahir. larik yang sama diulangi untuk menjelaskan pemakaian jenis kato-kato (kata-kata) tersebut. ada jalan yang menurun. TABEL XV Kalimat yang Paralel Teks I 44. |oi | lalu di caliaklah anak nantun. dan 724. hanya 2 larik. rusuak taban (tiba di rusuk. tiba di rusuk. |oi | tibo di tanah. rusuak taban. rusuk terban) pada teks II. Variasi kedua. (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. Nan lah ko lahialah anak si Tupai Janjang. |oi| tiba di lantai. Variasi pertama. Dan pola yang sama juga digunakan pada larik kini baitulah nan elok (kini begitulah yang elok) (larik ke-315). terdapat 3 larik yang mempunyai paralel. Ado jalan nan mandaki. Hal itu terlihat seperti tabel di bawah ini. tanah lambang). |oi | tiba di tanah. Kok bajalan paliharolah kaki. tibo di rusuak. 698. Larik tibo di rusuak. sedangkan pada teks II (bait ke-66). . Pemakaian pola yang sama banyak ditemui pada teks I. Pada kedua teks. ado jalan nan mandata. lantai balubang. tanah lambang. tanah balubang. ada jalan yang melereng) (bait ke-677 sampai dengan bait ke-680). |oi | lalu dilihatlah anak itu). tetapi memperlihatkan variasi. tidak ada. tibo di lantai. lantai sudah patah. 714. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. tiba di lantai. 709. terlihat pada teks I (bait ke-44). kok bakato paliharolah lidah (Kalau berjalan peliharalah kaki. ado jalan nan manurun. tanah berlubang. Pada bagian bait selanjutnya.baitulah dek Mak Itam (kini begitulah oleh Mak Itam)(larik 435). Contoh terlihat pada larik-larik ini. adanya larik yang sama dan paralel. rusuk terban. tibo di tanah. Hal ini digunakan untuk memberikan nasihat kepada tokoh yang ada dalam cerita ini. misalnya pada larik ke. kalau berkata peliharalah lidah) (larik ke-651 dan 652).

1981:41). a. dalam pirangkoknyo kaluah kasah. satu tibonyo di situ. dan hai nan. dan sinan. pencerita menambahkan dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sesudah menyebutkan nama tokoh yang dituju. pencerita memilih kata lalu. adalah ai. Kemudian. Kedua teks pada awal bait. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. ha. 76) (Lalu melompat Tupai Janjang. dominan memakai kata lah. diambiak aia |oi| lalu di minum. nyo mandencek ke dalam jaguang mudo. hai. dalam perangkap dia keluh kesah). yo. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu. Cara yang dilakukan oleh pencerita mengakibatkan cerita bersifat kronologis dan membuat cerita bergerak ke depan. pihak. pemakaian ungkapan penyeling cukup banyak digunakan pada kedua teks karena berfungsi juga untuk kepentingan irama. pencuci muka |lah| si Linduang Bulan. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut. Ungkapan penyeling pada teks II. |oi| habih dicuci muka Linduang Bulan. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua. kata itu terutama digunakan pada teks II dari pada teks I karena langsung diambil pada saat mendendangkan. perangkap bingkas hanya ada. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. yang ditempatkan di awal larik. |oi| lalu diambillah air yang itu. waktu tiba dia di situ. dia melompat ke dalam jagung muda. pancuci muko |lah| si Linduang Bulan. nan. lalu. lah.Kata sambung memainkan peranan yang besar dan merupakan pola-pola umum untuk memulai baris (Lord. nan takajuik si Tupai Janjang. Pada teks II (bait ke-24). ndeh. kata sambung ditemukan pada awal parangraf sehingga membuat cerita bergerak. oi. (TI. (|oi| lalu diambil yang air sumur. Sesudah itu. Pemakaian kata itu dilakukan jika kalimat kurang dari empat kata dalam satu larik. Bait itu adalah. kini ko minum Datuak Bandaro. Penempatan kata itu di awal bait. Lalu mandencek Tupai Janjang. diikuti dengan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dengan mencantumkannya kembali kegiatan tokoh tersebut pada larik selanjutnya. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu). Di dalam teks ini. bertujuan untuk menerangkan keadaan tokoh atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. sekarang ini minum Datuak Bandaro. Oleh karena itu. Selain kata di atas. diambil air |oi| lalu di minum. yang terkejut si Tupai Janjang. nan. kok. pirangkok bingkeh hanyo lai. .

Pencerita mempunyai pola-pola yang dijadikan pedoman dalam menciptakan baris dengan cepat pada saat penceritaan sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme.346) (T I larik ke-347) (T I larik ke-289) (T I larik ke-290. Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} + padi + kasiah di lantai di rusuak di tanah Inyo { kan } + { darah anak anak { paliharo } { u } rang + basalang (T I larik ke-72) (T I larik ke-78. baris-baris memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. hal itu dapat dilihat pada bagan berikut.297) Kito + } + { baiak-baiak } Pangganti + barang harato + urang {nan} + { pacah} + {ang} abihkan + { maso} + { itu } kain putiah kain sirah (TI larik ke-499) (TI larik ke-400) (TI larik ke-618) (TI larik ke-631) (TI larik ke-624) {nyo} inyo nan ||ha| + { baunduang-unduang } baunduang + caliak {dicaliak } + {baliak } |lah| malah |lah| { kulik } lah + {si Tupai Janjang } (TII larik ke-330) (TII larik ke-332) indak + ado maso itu (TII larik ke-338) (TII larik ke-343) . Dengan demikian. Untuk lebih jelasnya. 83) (T I larik ke-254) (T II larik ke-232) (TI larik ke-255 ) (TII larik ke-233) {Oi} Tibo + + {hai} + lantai rusuak tanah + patah balubang taban balubang + { dagiang } kanduang { kito } (T I larik ke-285.Pencerita menyusun baris-baris dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya.

Pencerita akan menggunakan cadangan formula itu. untuk menggambarkan ide yang sifatnya umum. terletak pada bait ke1 sampai dengan bait ke-3. Pada teks II (bait ke-2). Pada bagian di atas juga telah dijelaskan hal ini. pada bagian awal kaba tersebut juga disebutkan nama grup yang menampilkan pertunjukan serta cerita yang akan disampaikan. Formula itu umumnya ditemukan dalam pertunjukan kaba. Cadangan formula yang bersifat umum itu. Pencerita dari komunitas yang sama mengetahui formula itu. biasanya berisi permohonan izin untuk menampilkan pertunjukan kaba kepada semua penonton. ada juga formula yang sifatnya sudah umum dan bahkan sudah dikenal oleh masyarakat Minangkabau. Adapun pantun yang lazim dipakai pada pembukaan kaba adalah seperti berikut. (Kait berkait rotan saga. tiba di langit terberita. memberikan homogenitas kepada pencerita-pencerita tradisional yang juga sudah dikenal oleh masyarakat (Lord. 1981:50). masyarakat sudah mengerti maksudnya. tiba di bumi jadi kabar) Pada bagian awal kedua teks TJ ini. formula di atas didendangkan dengan tambahan pada ungkapan penyeling . sudah terkait di akar bahar. juga memperlihatkan hal tersebut.Formula juga ada yang bersifat umum dan dapat dikatakan bahwa semua pencerita lisan mengenal formula tersebut. Kaik bakaik rotan sago lah takaik di aka baha. pembukaan berisi permohonan maaf dan menyebutkan kaba yang diceritakan. tibo di langik tabarito. selalu memakai formula yang sama. Pada awal teks II (bait ke-1 – bait ke-4). Pembukaan ini disampaikan dalam bentuk pantun. walaupun tidak diucapkan secara keseluruhan. bahkan juga masyarakat tersebut. Di samping itu. Cerita Minangkabau baik dalam bentuk tertulis—misalnya kaba—maupun yang dipertunjukan. Di dalam tradisi lisan Minangkabau. tibo di bumi jadi kaba. Sementara itu pada teks I. tetapi formula yang digunakan sama. walaupun kabanya berbeda. Demikian dikenalnya formula tersebut oleh masyarakat Minangkabau. Pada bagian pembukaan kaba.

(Bandarlah orang |hai| kami bandarkan. pencerita dipengaruhi oleh pertunjukan. maaf dengan rila yang kami pinta |ai| segala kami yang muda). tetapi memperlihatkan fleksibelitas yang tinggi. ampunlah kami ninik mamak. Di dalam sastra Melayu tradisional. urang duto kami tak nio. maaf jo rila nan kami pinta. tabang ka langik |lah| tabarito. ampunlah kami niniak mamak. sarato sanak |lah| jo sudaro. sapuluah jari kami susun. kaba |lah| urang kami kabakan. jatuh ke bumi menjadi kaba). orang dusta kami tak mau). sepuluh jari kami susun. 3. Di depan telah dicontohkan bahwa formula yang juga lazim digunakan pada bagian pembukaan dalam tradisi sastra Minangkabau disampaikan dalam bentuk pantun. |ai| sagalo kami nan mudo. maaf diminta banyak-banyak.Kaik |lah| bakaik |lah| rotan sago. Banda urang kami bandakan. (Bandar orang kami bandarkan. orang dusta kami tak mau). |hai| nan lah takaik |nan| di aka baha. bandar anak orang Koto Tuo. terbang ke langit |lah| terberita. Manolah niniak |lah nan| jo mamak. (Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. Teks II 1. Bandalah urang |hai| kami bandakan. khabar orang kami khabarkan. Namun. Sastra lisan Melayu tradisional tidak memiliki persyaratan baris-baris formula yang kaku seperti sastra Yugoslavia. karena sastra Melayu tradisional merupakan sastra . kaba |lah| orang kami kabakan. Penggunaan formula itu juga ditemukan dalam cerita TJ berikut. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan Pendekatan komposisi skematik yang disampaikan oleh Sweeney pada dasarnya masih bertolak dari teori Lord tentang formula. bandalah |hai| urang Koto Tuo. (Ampun beribu kali ampun. kami mambukak kaba lamo. Teks I 1. Rumusan berformula dalam sastra Melayu tradisional juga lebih bervariasi. 2. 3. Kami membuka kaba lama). urang duto kami tak nio. serta sanak |lah| dengan saudara. Ampun baribu kali ampun. bandarlah |hai| orang Koto Tuo. |hai| yang sudah terkait |nan| di akar baha. banda nak urang Koto Tuo. konsep yang dikemukakan oleh Lord tidak semuanya cocok untuk diterapkan pada sastra lisan Melayu yang memiliki keunikan tersendiri. (Kaik |lah| berkait |lah| rotan sago. jatuah ka bumi manjadi kaba. kaba urang kami kabakan. maaf diminta banyak-banyak.

Komposer dalam tradisi lisan Melayu menggunakan rumusan dan pola-pola untuk membangun plot dalam cerita. melainkan juga untuk penonton dalam memahami cerita sehingga penonton tidak mengalami kebingungan (Sweeney. tetapi dengan mencocokkan lirik-lirik yang ada dengan melodi. 1980:24). Hal ini membentuk re-kreasi cerita selama pertunjukan dan mengkoordinasikan kata-kata dengan melodi sehingga membentuk pola-pola terformulasi yang bersifat fleksibel.yang merupakan aktivitas komunal. Pencerita tidak belajar dari menghafal baris-baris. Pencerita tinggal menyesuaikan tipe persediaan atau skematik yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengungkapkan ide dalam cerita tersebut (Sweeney. atau menekan melodi supaya sesuai dengan kata-kata. Hal itu yang dinamakan komposisi skematis. Dalam mengkoordinasikan kata-kata dengan irama. Pencerita menggunakan rumusan-rumusan atau pola-pola tertentu untuk menciptakan plot dalam setiap pertunjukan. 1987:17). formula dalam hal ini digunakan untuk mengungkapkan ide dalam cerita supaya pencerita dapat dengan cepat memformulasikannya. Sesuatu disampaikan bukan dari kesan visual. Hal ini jauh berbeda dengan sastra Barat yang lebih individual. pencerita pada saat pertunjukan sering menggunakan ungkapan penyeling untuk menyelaraskan dengan melodi. memperpendek. Jadi. 1980:39). Oleh karena itu. Pencerita memiliki persediaan yang diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan untuk menggambarkan objek. Cerita dilantunkan yang setiap ucapannya digerakkan dengan frasa melodi atau irama nyanyian. dilahirkan dengan mempertimbangkan adanya umpan balik antara pencerita dan penonton (Sweeney. . melainkan berdasarkan pada ide atau konsep. Komposisi skematik mempunyai cara yang spesifik dengan menerapkan metode tertentu dalam larik untuk mengungkapkan ide. Komposisi dalam sastra lisan Melayu. pencerita bisa memperpanjang. Komposisi skematik bukan saja berguna untuk pencerita.

Skemata dan perubahannya dapat dilihat sebagai berikut. tibo di tanah tanah lambang. Skemata itu juga ditemui dalam kaba Minangkabau yang lainnya. (Yang sudah ini lahir si Tupai Janjang. deskripsi orang sedang melarikan diri dari huru-hara dinyatakan sebagai berikut. Ada yang naik pagar tiada sempat lari lalu jatuh (Sweeney. Kalimatkalimat yang paralel ini berfungsi untuk mempermudah saat pertunjukan karena cerita terikat pada irama. |a| lalu dilihatlah anak yang itu). |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. |oi| tibo di lantai lantai balubang. arti dari bait itu tetap mengandung pengertian yang sama. seperti yang juga telah diberikan di depan. Skemata ini biasanya digunakan untuk menyatakan seorang bayi lahir yang mempunyai keistimewaan (keajaiban) seperti yang juga ditemui pada waktu lahirnya Tupai Janjang. 44 (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan.Penyanyi memiliki frasa melodi dalam pikirannya yang bersifat netral untuk menyatakan ide dalam cerita sehingga sastra lisan memperlihatkan paralelisme atau kesejajaran antara suatu larik dengan larik lainnya. tibo di lantai lantai lah patah. Ada yang lari naik kedai. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. . terjadi perubahan skemata itu. Komposisi skematik merupakan skemata digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel. Teks I. Nan lah ko lahialah si Tupai Janjang. 1980:17). Pada teks II bait ke-66. untuk menyatakan Tupai Janjang sudah lahir pada kedua teks memakai skemata yang hampir sama. Misalnya. Ada yang membelah pagar tiada sempat masuk kampung. Hal ini dinyatakan dengan menggunakan skemata berikut. Misalnya. tetapi masih ada kata yang sama pada larik di bawah ini. Ada yang bersembunyi di bawah kedai. tiba di lantai lantai sudah patah. tiba di tanah tanah lambang). tiba di rusuk rusuak terban. paralelisme juga berguna untuk kepentingan irama. Namun. Oleh karena itu. di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. tibo di rusuak rusuak taban. |oi| tiba di lantai lantai berlobang. |a| lalu dicaliaklah anak nantun. Skemata diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan.

Sudah delapan bulan perut bertambah besar). ( Slot untuk kata kerja/ kata sifat) + lah – (slot untuk subjek {+ lah } Nan lah datang Mandeh Rubiah. (T I larik ke-475) (T I larik ke-70) (T I larik ke-57 ) (T I larik ke-383) . melainkan berfungsi untuk menerangkan kata alah (sudah) yang dipendekkan menjadi lah. Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang. Pada kedua cerita Tupai Janjang.Pergerakan waktu. variasi hanya terdapat pada perubahan letak ungkapan penyeling. seperti waktu satu hari. Nan lah tigo malam maso tu kini. Sudah yang dua bulan gerangan mengandung.29 ) (Sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. Lah nan sapakan |oi| nan sabulan.36 dan 37) Dalam hal ini. komposisi skematik itu seperti berikut. lah terletak sesudah nan atau sebaliknya. satu tahun. Lah salapan bulan paruik batambah gadang . Lah nan sahari |haa| lah duo hari. Nan bakato Linduang Bulan. Nan manjawek Datuak Bandaro. (T II. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung. Dari sahari |oi| garan manganduang. Sudah yang sepekan |oi| yang sebulan. Penyanyi memasukkan yang diinginkan ke dalam stereotipe yang sudah ada dalam pikirannya. Posisi lah di sini bukan sebagai ungkapan penyeling. nan yang terletak di depan kemudian diikuti oleh ungkapan penyeling lah. Yang menjawab Datuak Bandaro. Kalimat ini memperlihatkan kesejajaran dan kesetaraan satu kalimat dengan kalimat lainnya dan memberikan kontribusi cerita bergerak ke depan. Pergerakan cerita juga terlihat dari penggambaran kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita dengan formulasi seperti di bawah ini. (Yang sudah datang Mandeh Rubiah. Penempatan waktu itu sesuai dengan waktu yang dikehendaki cerita. Lah nan duo bulan garan manganduang. Yang berkata Linduang Bulan. (T II. Kadang-kadang. Yang sudah tiga malam masa itu kini). dan lain-lain. Nan lah bajalan Datuak Bandaro. satu bulan. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung. dalam cerita juga memakai skematik.

diambil buku takwil mimpi.dicari yang masam-masam. Pihak kapada Datuak Bandaro.dicari nan masam-masam . Jadi.diambiak buku takwil mimpi. Pihak kapada orang parempuan. (T I larik ke-132) (TII larik ke-98) (TII larik ke-176) (T I larik ke-182) (T I larik ke-409) Slop di atas. (Panas sudah hati Datuak Bandaro.sudah sepuluh tahun berumah tangga). berfungsi untuk menerangkan keadaan atau kondisi dari tokoh sesuai yang tuntutan cerita yang disampaikan. dan sifat dari tokoh tersebut dengan komposisi seperti berikut. akan dilanjutkan dengan penjelasan tentang keadaan atau kondisi tokoh yang disebutkan di awal paragraf.|oi| urang nan gadang |lah| maso itu. Komposisi skematik juga lazim digunakan untuk pertukaran tokoh yang diceritakan dengan menyebutkan nama tokoh terlebih dahulu dan kemudian diikuti dengan keterangan. Gadang hati si Linduang Bulan. Gembira hati si Linduang Bulan. Gadang hati si Tupai Janjang. Basadiah-sadiah lah si Linduang Bulan.(slot untuk kata sifat/ kata kerja) Pihak kapado Datuak Bandaro. |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro.|oi| orang yang besar |lah| masa itu |Oi| hadaplah kediri dua yang itu.lah bajalan maso itu.lah sapuluah tahun barumah tanggo. Lalu ko sadiah lah si Linduang Bulan.Yang sudah berjalan Datuak Bandaro). Bersedih-sedih sudah si Linduang Bulan. Pihak kapado urang padusi . Lalu sedih sudah si Linduang Bulan.ado larangan jo pantangnyo. Pihak kapado Datuak Bandaro. kegiatan. (T II larik ke-22) |Oi| adoklah kadiri duo nantun. Gembira hati si Tupai Janjang).sudah berjalan masa itu).ada larangan dengan pantangnya. (Slot untuk subjek) . (T I larik ke-167) (T I larik ke-188) (T I larik ke-214) (T I larik ke-231) . (T II larik ke-29) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. larik-larik yang terdapat sesudah larik awal. Pihak kapada Datuak Bandaro. Pihak kapado Datuak Bandaro. (Pihak kapada Datuak Bandaro. Paneh lah hati Datuak Bandaro.

(T I. (Kononlah Puti Linduang Bulan. samuik tapijak indak mati. dan pengurangan frasa dan baris demi baris untuk keterangan atau kegiatan yang lebih lanjut dari tokoh tersebut. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. alu tertarung patah tiga. Nama tokoh yang diceritakan diletakkan di awal kalimat atau awal paragraf. alu tataruang patah tigo. Pada teks I. tidak semuanya memakai skematik di atas. yang berjalan siganjua lalai.82) (Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. 15) yang ke riri lenggang membunuh). nan ka kida lenggang mambunuah. Pertukaran tokoh yang diceritakan juga memakai skematik. diikuti dengan perulangan. Untuk menerangkan kondisi seorang tokoh perempuan yang cantik biasanya digunakan skematik. nan bajalan sigajua lalai. Pada teks II. nan ka suok lenggang manganai. tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambutnya yang panjang terurai. lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. dan Mak Itam. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. seperti yang lazim digunakan dalam kaba. lah dibaolah si Tupai Janjang. Kononlah Puti Linduang Bulan. semut terinjak tidak mati. Sesudah menyebutkan nama tokoh. (T II. tetapi hanya mengambil sebagian anak kalimat dari skematik tersebut. yang ke kanan lenggang mengena. sudah dibawalah si Tupai Janjang. Datuak Bandaro. menerangkan tokoh Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I.Cerita Tupai Janjang menghadirkan lima orang tokoh yakni Tupai Janjang. penambahan. Mandeh Rubiah. sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. . Adok ka dirilah si Tupai Janjang. lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. Sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah). Linduang Bulan.

( T I larik ke-281− 290). Berikut ini contoh skematik tentang tokoh yang berbicara serta pembicaraannya. |oi| bamuko rancak rambuik taurai. jangan dibunuh anak kita. selalu disebutkan nama tokoh berbicara dan kemudian baru diikuti dengan anak kalimat yang diucapkan oleh tokoh itu. anak sigiang-giang rimba. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. ( T II. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. |oi| rambut manyapu |hai lah| sapu lantai. Jika tidak terletak di awal paragraf. biarpun sekeratnya belut. (Yang berkata si Linduang Bulan. boleh ke rimbalah kau kini). biarpun dia sekerat ular. dia anak kita. Nan bakato si Linduang Bulan. orang yang elok |lah| masa itu). dia kan darah daging kita. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. |oi| bermuka rancak rambut terurai. usah dibunuah anak kito. anak bincacak anak bincancau. “oi tuan Datuak Bandaro. Kita pelihara baik-baik”). kini bakiroklah ko kini. biapun inyo sakarek ula. anak sigiang-giang rimbo. dia darah daging kita. biapun sakareknyo baluik. anak bincacak anak bincacau. urang nan elok |lah| maso itu. Dalam cerita Tupai Janjang. Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. buliah ka rimbolah kau kini. skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. . Nak kanduang si Tupai Janjang. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. 7) Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. inyo darah dagiang kito. Akhirnya. (T II. 74) (Anak kandung si Tupai Janjang. Tokoh yang berbicara diletakkan di awal paragraf. “oi tuan Datuak Bandaro. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. Skematik itu biasanya diucapkan oleh tokoh orang tua kepada tokoh anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. Nama tokoh biasanya terletak pada awal paragraf. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. kini pergilah sekarang. kito paliharo baiak-baiak”. Seorang tokoh yang berbicara juga mempergunakan skematik. inyo anak kito. inyo kan darah dagiang kito.

bakato sanan Ameh Manah. “Mandeh kanduang dengan di Mandeh dengarkanlah pula oleh Mandeh. (Menjawab si Asamsudin.Di bawah ini adalah nama tokoh yang berbicara diletak di tengah paragraf seperti berikut. 38 (|Oi| hadaplah diri dua yang itu. ( T II larik ke-29− ). Alah tibo di tangah rumah. disiko kan lai juo sayak nan landai”( Endah. dangakan malah pulo dek Mandeh. janganlah kita pergi ke sana. nak sanang dalam hari. sudah sepuluh tahun berumah tangga. . supaya senang dalam hari. berikut digambarkan pula bagaimana skematik yang sama digunakan pada kaba Tuangku Lareh Simawang. 20). |Oi| adoklah diri duo nantun. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan. |oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. “Dik kanduang si Linduang Bulan. “Adik kandung si Linduang Bulan. dek adiak barilah tarang. “Mandeh kanduang jo di Mandeh. |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. di sini kan ada tempurung yang landai”) Nama tokoh terletak pada tengah paragraf dalam kaba Anggun Nan Tongga adalah seperti berikut. |oi| mangana nasib |lah| maso itu. alah di mintak parasapan. “Mamintak kito pado Allah. disiko aia lai janiah juo. |oi| anak yana tidak |lah| dapak juga. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. sajuak dalam kiro-kiro. Manjawab si Asamsudin. |oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. lah sapuluah tahun barumah tanggo. diminta pulo kumayan putiah. Sebagai perbandingan. usahlah kito pai ka kian. mengapa adik termanung juga. oleh adik berilah terang. di sini air ada jernih juga. manga adiak tamanuang juo. Nama tokoh yang berbicara terletak di awal paragraf adalah seperti berikut. sejuk dalam kira-kira).

Skematik yang juga sering ditemukan dalam sastra lisan Minangkabau adalah hari nan sadang pukau satu. (Mahkota. |a| si Tupai Janjang segitu dulu. yang bertampat di gunung Ledang. |oi| sadang babunta |lah| si bayang-bayang. mendengkul ke orang kiamat. Skematik seperti itu juga digunakan oleh pencerita dalam cerita Tupai Janjang. (T II. kalau iya puti sudut-bersudut. |Oi| hari nan sadang pukua satu. Pada teks Tupai Janjang. kok iyo barasa anak rajo. Ungkapan tersebut sering digunakan untuk menyambung bagian cerita yang terdahulu dengan bagian selanjutnnya. skematik ini dipakai dua kali. diminta pulo kemayan putih. sadang babunta bayang-bayang (hari yang sedang pukul satu. kalau iya berasal anak raja. Meskipun demikian. nan batampek di gunuang Ledang. berkat keramat tuan Haji. sedang berbunta banyang-bayang). |oi| sedang babunta |lah| si bayang-bayang. Skematik ini juga digunakan untuk menyatakan suasana cerita dalam kondisi panas pada siang hari. “Meminta kita pada Allah. kerongkongan basah nanti kita sambung). Hari nan sadang pukua satu. 81) (|Oi| hari yang sedang pukul satu. selamatlah anak di karung ini”). sadang babunta bayang-bayang (Hari yang sedang pukul satu. Berikut sampiran yang digunakan untuk menyatakan istirahat. barakat kiramat tuan Haji. |a| si Tupai Janjang saitu dulu. karongkongan basah biko kito sambuang. kok iyo puti suduik-basuduik.bakauah bakeh rang kiamat. berkata sana Ameh Manah. skematik itu tetap difungsikan sebagai penyambung bagian cerita. 1998:9) (Sudah tiba di tengah rumah. yakni pada waktu akan beristirahat dan pada waktu menutup cerita. sudah di minta parasapan. salamatlah anak di karuang nangko”. sedang berbunta bayangbayang) dalam cerita Tupai Janjang digunakan hanya sebagai sampiran pada pantun. .

yang didulang sedulang lagi. dan relasi antarsesuatu dengan lainnya. lan |nan| pendulang emas di Bangka. Dalam pertunjukan randai. Untuk mempertegasnya. (Sudah didulang sedulang lagi. atau barang dipandang berfungsi menurut peran dan fungsi yang dimainkan dalam suatu keseluruhan dan saling bertautan (van Paursen. yang menyambung yang tinggal tadi). 103) Dalam teks II. sedang berpuntar bayang-bayang. Sebuah kata. Lah didulang sadulang lai. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Kata fungsi selalu menunjukkan pengaruh terhadap sesuatu yang lain. Pada kaba. Tupai Janjang sagitu dulu. Pemikiran fungsional menyangkut hubungan. Lain waktu hendak akan kita ulang. pantun ini biasanya dipakai untuk menghubungkan suatu adegan dengan adegan lainnya dalam cerita. perbuatan. |Oi| hari lah sadang pukua satu. pantun ini juga sering dipakai setelah beristirahat. sadang bapunta bayang-bayang. sesudah beristirahat menggunakan pantun yang sudah lazim dipakai dalam menyambung cerita. 82) 4. 1976:86). nan manyambuang nan tingga cako. Carito habih ndak kito ulang Tuan |ouuiii…lai| (|Oi| hari lah sedang pukul satu. . tetapi dalam hubungan tertentu memperoleh arti dan makna.Skematik yang sama juga dipakai untuk menutup cerita. (T II. Lain waktu hendak akan kita ulang Tuan |oio|. Fungsional tidak berdiri sendiri. nan didulang sadulang lai. Lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan |oio|. Cerita habis hendak kita ulang Tuan |ouuiii…lai|) (T II. lan |nan| pandulang ameh di Bangko. pertautan. Tupai Janjang segitu dulu. hal ini dinyatakan dalam dua kali. Lain wakatu nak kan kito ulang.

baik pribadi maupun sosial. pertunjukan Tupai Janjang masih dapat bertahan dalam masyarakat Kecamatan Palembayan karena masyarakat memandang pertunjukan itu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam teori ini. Setiap pola kelakuan yang sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam masyarakat berguna untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar itu. pertunjukan tersebut memperlihatkan spesifikasi yang tidak ditemukan dalam pertunjukan tradisional lain di Minangkabau. Bertahannya suatu bentuk kesusastraan yang merupakan salah satu aktifitas kebudayaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya karena segala aktivitas kebudayaan bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang terjadi kerena manusia ingin memuaskan kebutuhan nalurinya akan keindahan (Koentjaraningrat. Pendekatan fungsionalisme dari Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat tempat kebudayaan itu berada. yang dinamakan kebutuhan sekunder. semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar warga masyarakat setempat (Ihromi. sistem akan . Selain itu. Tetap eksisnya pertunjukan Tupai Janjang di tengah masyarakat karena merupakan “kebutuhan sosial”.Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk karena tradisi tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. 1988:171). Pertunjukan Tupai Janjang mereka anggap sebagai aktivitas kebudayaan yang harus dilestarikan dan dijaga kehidupannya di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk. Pertunjukan Tupai Janjang tetap digemari oleh masyarakat karena dari isi cerita yang ditampilkan dapat dipetik suatu pesan dan dari segi pertunjukannya mampu memberikan suasana tersendiri untuk dinikmati sebagai bentuk hiburan. Jika kebutuhan itu tidak dipenuhi. 1980:60). Jika teori tersebut dikaitkan dengan objek kajian ini. salah satunya seperti kesenian.

keterkaitan. Masyarakat Minangkabau harus mengetahui jo kato nan ampek ‘dengan kata yang empat’. orang yang lebih kecil. Mereka harus memperhatikan lawan bicaranya. yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Dalam perkembangannya. Orang yang tidak bisa menempatkan posisinya sesuai dengan . dari larik 642 sampai dengan larik 731 merupakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Menurut William R. 1999:78). (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Bascom. Hal ini terutama terlihat pada teks I. baik perseorangan maupun kolektif. Pertunjukan Tupai Janjang yang merupakan bagian dari kesenian memberikan hiburan atau sarana membebaskan seseorang dari ketegangan serta cara untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran.mengalami disintegrasi dan “mati” (Kaplan. Selain itu. atau dari kalangan pemuka adat. folklor mempunyai empat fungsi. 1984:19). Untuk melihat fungsio dari pertunjukan Tupai Janjang. Seseorang yang berbudaya Minangkabau harus tahu dan pandai menggunakan dan mengucapkan kata-kata sesuai dengan lawan bicaranya. juga diberikan dalam cerita ini. (3) sebagai alat pendidikan anak. eksisnya pertunjukan ini karena adanya rasa ketergantungan. apakah dia sedang berbicara dengan teman sebaya. Bascom (dalam Danandjaja. Pelajaran dan pendidikan tentang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau khususnya. dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya. orang yang lebih besar. Tupai Janjang mampu mengemban fungsi sebagai sarana untuk membangkitkan kepekaan karena mengandung tanggapan emosional dan dapat membina kesinambungan hidup. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. Banyak ucapan MR kepada Tupai Janjang mengungkapkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat di Minangkabau. dan hubungan sesama pencinta pertunjukan ini dalam masyarakat.

tetapi juga kepada orang tua. Falsafah adat Minangkabau juga dihadirkan dalam teks ini. Angan-angan ini tersembunyi dari keinginan pemuda Minangkabau untuk menjadi kaya. Pertunjukan Tupai Janjang dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya dapat dipandang sebagai bahan dan proses kehidupan sosial yang berperan bagi kelangsungan hidup kebudayaan Minangkabau. Falsafah adat ini juga sering diucapkan oleh pemuka-pemuka adat. Jadi. Gambaran kepergian Tupai Janjang setelah dia meninggalkan kampung halamannya itu dinyatakan melalui tempat pembuangannya dan akhirnya menjadi orang yang kaya dan dapat membantu orang tuanya. cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat. Dalam kaba-kaba Minangkabau yang lain hal ini juga sering dinyatakan. Sesuai dengan fungsi yang dikemukakan oleh Bascom. Fungsi didefenisikan sebagai sumbangan dari aktivitas manusia terhadap keseluruhan aktivitas yang lebih luas. Pemahanan fungsi seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa sebuah kenyataan sosial mempunyai kesatuan tertentu yang disebut kesatuan fungsional. Pada umumnya. Dikatakan fungsional karena merupakan sebuah kondisi yang seluruh bagian sistem sosial bekerja bersamasama membentuk tingkat harmoni dan konsistensi internal. Pada larik 665 sampai dengan larik 673 berisi ajaran falsafah alam takambang jadi guru ‘alam terkembang jadi guru’. khususnya bagi pemuda Minangkabau. Terhadap anak-anak. hingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. Fungsi dari kenyataan sosial merupakan sejumlah sumbangan terhadap keseluruhan kehidupan sosial. Sebagai alat pendidikan. apalagi setelah merantau. dalam buku-buku tentang kebudayaan Minangkabau sering diuraikan falsafah ini. dalam pergaulan dia indak bisa dibao baretong ‘tidak bisa diperhitungkan’. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anak-anak. baik dalam acara pidato adat maupun pasambahan. cerita ini memberikan . cerita Tupai Janjang juga secara tidak langsung sudah memperkenalkan falsafah adat ini kepada audience.lawan bicaranya.

Dalam cerita tersebut juga tersirat pendidikan bahwa seorang anak harus bersifat baik dan tetap menghormati orang tua walaupun orang tua itu pernah membenci dan membuang anaknya. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang bersifat praktis. semua anggota kaum diharapkan dapat membantu dan menyukseskannya. pertunjukan ini juga menyampaikan pesan-pesan. yang dapat berfungsi sebagai penyambung kelangsungan kebudayaan Minangkabau. cerita ini dapat diambil hikmahnya supaya berhati-hati dan tabah dalam mendidik anak. Bagaimanapun nakalnya. Memeriahkan pesta perkawinan Menurut adat yang berlaku di Minangkabau. perkawinan bukan hanya merupakan urusan pribadi atau satu keluarga. nilai-nilai pendidikan. termasuk kedua orang tua. Mulai dari tahap awal sampai akhir perkawinan. Kalau suatu perkawinan tidak baik pernyelenggaraannya. seorang anak kalau diberi pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawa hasil. Dalam menyelengarakan perkawinan. Terhadap orang tua. pertunjukan ini bukan hanya memperdengarkan irama dari pencerita. pepatah adat Minangkabau mengatakan kaba baiak baimbauan. Penggunaan mengacu pada situasi dan kegiatan sebuah pertunjukan dilakukan.pendidikan supaya berkelakuan yang baik. yaitu penggunaan dan fungsi. Secara eksplisit. sejarah. melainkan juga semua kaum kerabat akan mendapat malu. orang tidak menyukainya. khususnya masyarakat Palembayan. seperti tujuan pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan oleh masyarakat. Fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan. dan lain-lain. nasihat. Adapun kegunaanya pertunjukan Tupai Janjang adalah seperti berikut. Dengan demikian. 1. kaba buruang bahambauan ‘kabar baik dipanggilkan. kaba . tetapi menjadi persoalan dan urusan kerabat. bukan hanya satu keluarga inti yang merasa malu. Jika seorang anak berkelakuan yang tidak baik. tetapi lebih dari itu.

kebijaksanaan tersebut juga untuk menyongsong babaliak ka nagari ‘kembali ke nagari’ yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Khusus untuk pertunjukan Tupai Janjang. hendaknya warga saling membantu dan turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anggota masyarakat lainnya. Di depan juga telah dinyatakan bahwa pertunjukan Tupai Janjang lebih sering ditampilkan di Palembayan. Di samping itu. tetapi jika ada kemalangan atau musibah. Guna memeriahkan acara perkawinan itu biasanya disediakan pertunjukan pada siang atau malam hari. Jika peraturan tersebut dilanggar. Tetangga. atau bentuk hiburan modern. biasanya dilaksanakan pada malam hari. Jika pengikisan budaya itu dibiarkan berlangsung. harus juga menyuguhkan hiburan tradisional. misalnya randai. jika ada kabar yang baik dan menggembirakan. Untuk mengisi waktu yang masih tertinggal sampai waktu sembayang subuh datang. saudara. Artinya. Hal itu berkaitan dengan dikeluarkannya peraturan daerah setempat yang menyatakan bahwa jika ada anggota masyarakat yang melaksanakan pesta perkawinan yang dimeriahkan oleh hiburan modern. Pertunjukan ini hanya membutuhkan waktu lebih kurang dua jam. jika ada perkawinan dalam suatu keluarga. salah satunya adalah Tupai Janjang Keluarnya kebijaksanaan dari pemuka masyarakat setempat didorong oleh adanya kecenderungan masyarakat dewasa ini meninggalkan kesenian tradisional. generasi muda tidak akan mengenali kesenian tradisionalnya. anggota masyarakat diundang untuk saling berbagi kegembiraan. dan warga masyarakat yang lain juga diundang untuk memeriahkan acara perkawinan tersebut. ditampilkan pertunjukan yang lain. saluang. Untuk melaksanakan pepatah ini. penghulu kaum diberi sanksi dan dipanggil ke kantor wali nagari setempat dan diharuskan membayar denda yang akan digunakan sebagai sumbangan bagi nagari itu.buruk berhamburan’. tepatnya sesudah sembayang isya hingga selesai. Memeriahkan upacara pengangkatan penghulu Pengangkatan penghulu di Minangkabau merupakan suatu kegiatan yang dianggap penting oleh masyarakat karena jabatan penghulu merupakan jabatan yang . 2. masyarakat diundang untuk ikut dirasakannya.

Dalam rangka alek nagari itu diadakan pula kesenian-kesenian. Peresmian penghulu juga tidak tertutup meskipun hanya satu orang 3. Bayaran suatu grup tergantung 46 Balai adat sama dengan balairung. Untuk menghemat biaya. tari tradisional. Alek nagari ini dilaksanakan secara bersama oleh anggota masyarakat suatu nagari. Uang yang didapatkan dari sumbangan para penonton diberikan kepada nagari untuk pembangunan sarana dan prasarana di nagari itu. indang. rebab.langsung berkaitan dengan anggota dalam satu suku. dabus. dan lain-lain. silat. Acara ini diadakan dalam rangka memeriahkan pengangkatan penghulu dan mungkin juga diadakan untuk mencari dana bagi nagari tersebut. peresmian atau pengangkatan penghulu baru dilakukan supaya semua warga dalam satu nagari mengetahui siapa yang menjadi penghulu suku tersebut. randai . saluang. irigasi. sekolah. balai adat. misalnya salawat dulang. Dalam rangka memeriahkan acara itu juga sering diadakan hiburan berbentuk kesenian tradisional. baik tradisional maupun modern yang dilakukan secara bergantian. penghulu. dan lain-lain. Penghulu merupakan pemimpin dan orang yang akan menyelesaikan suatu persolan dalam satu suku. tetapi dengan syarat suku tersebut mampu membiayai penyelenggaraannya. yaitu ruang yang digunakan untuk sidang atau pertemuan para pemuka adat. termasuk Tupai Janjang. Banyak bentuk kesenian tradisional tampil dalam acara ini. pengangkatan penghulu dilakukan dengan penghulu dari suku lain dalam satu nagari. misalnya untuk membangun masjid. Peresmiannya dilakukan di balai adat. Kesenian tradisional ini diundang oleh yang mengadakan alek. biasanya nagari tersebut mengadakan malam hiburan yang lazim disebut alek nagari. Peresmian penghulu ini dilaksanakan secara bersama-sama. Oleh karena itu. Memeriahkan alek nagari Alek nagari adalah pesta yang diadakan oleh suatu nagari yang biasanya berlangsung dalam waktu 15 hari sampai dengan 1 bulan.46 Kalau diadakan secara bersama. .

pertunjukan Tupai Janjang sering ditampilkan untuk mengisi acara tersebut. peninggalan sejarah. 4. pemandangan alam Bukit Tinggi yang indah akan lebih bagus jika dikemas bersama dengan kebudayaannya. oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Agam. Dalam alek seperti ini Tupai Janjang. keindahan alam. misalnya untuk program peningkatan pariwisata. Wisata budaya merupakan wisata yang dilakukan untuk mengenal aneka ragam kebudayaan Minangkabau. Dalam hal . Menunjang program pemerintah Pertunjukan Tupai Janjang juga sering dilakukan guna menunjang program pemerintah. Pejabat pemerintah Kabupaten Agam. Tupai Janjang merupakan sarana komunikasi antar sesama masyarakat atau masyarakat dengan anggota masyarakat yang lain yang tidak mungkin disampaikan secara langsung kepada orang yang dituju. Minangkabau merupakan daerah wisata yang cukup potensial dikembangkan. Dengan memperhatikan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang di Palembayan. Semakin seringnya Tupai Janjang tampil di luar daerah secara otomatis akan dapat mengembangkan kebudayaan Minangkabau secara umum. Sarana komunikasi Dalam penyajiannya. Dalam Pekan Budaya Minangkabau. juga dapat mengambil peran bersama-sama dengan kesenian tradisional lainnya. Secara umum. serta lingkungan kehidupan budaya dan sosial masyarakat Minangkabau. baik wisata alam maupun wisata budayanya. Dengan demikian.kepada ketenaran grup tersebut. wisatawan diperkenalkan dengan kebudayaan. Pembicaraan itu tentang berbagai aspek kehidupan yang disampaikan lewat sarana bahasa. 1. Dalam wisata budaya. Salah satu wisata budaya tersebut adalah pertunjukan Tupai Janjang. yang merupakan ajang promosi pariwisata dan kebudayaan Minangkabau. sering mempromosikan pertunjukan Tupai Janjang sebagai salah satu aset budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. dan Kodia Bukit Tinggi. maka fungsinya dalam pertunjukan ini dikelompokan dalam 2 hal yaitu sebagai sarana komunikasi dan sebagai penyampaian amanat kepada sesama masyarakat.

pesan itu dikemas dalam bentuk prosa liris. Komunikasi ini dapat dilakukan dengan menyampaikan hasrat dari masyarakat kepada pencerita TJ. Disamping itu. maka isu-isu yang ada dalam masyarakat dapat dengan cepat ditangkapnya. Masyarakat setempat menyatakan bahwa jalan yang sudah baik tersebut adalah karena diungkapkan dalam pertunjukan Tupai Janjang. terutama di Pekan Baru. Pada waktu itu. Pesan-pesan itu dikemas sedemikian rupa oleh pencerita sehingga dapat dimengerti oleh penonton atau kepada si penerima pesan. Sebagai contoh. di depan juga dinyatakan bahwa berkat pertunjukan Tupai JanjangJ jalan ke daerah Palembayan telah diaspal. pencerita mengangkat dan memasukkan isu-isu itu dalam ceritanya. Ketika pesan itu disampaikan maka terjadi “dialog”. Jika ada event yang kondisif dan pertunjukan Tupai Janjang diikutsertakan. yang mengandung nilai estetis. pencerita menyampaikan pesan kepada bupati daerah setempat yang sedang berkunjung ke daerah itu.47 Pertunjukan Tupai Janjang juga dijadikan sebagai komunikasi dan penghubung antara masyarakat yang berada di kampung halaman dan masyarakat yang berada di rantau. jalan di daerah itu sebelumnya dalam keadaan rusak dan masih berbatu-batu.ini. Persoalan atau masalah yang diungkapkan biasanya mengyangkut dengan kemakmuran masyarakat setempat. terjadi komunikasi 47 . pantun. Biasanya. Wawancara dengan pencerita dan pembuka masyarakat dan masyarakat Palembayan tanggal 21 Februari dan 7 – 8 Nonember 2004 . terdapat pembicaraan awal atau bisikan terlebih dahulu kepada pencerita dari pemuka masyarakat atau yang mempunyai ide. Seringnya pertunjukan Tupai Janjang dilakukan di daerah rantau dapat mengobati rasa rindu masyarakat Minangkabau terhadap kampung halamannya. maupun bahasa sehari-hari. Padahal. Karena pencerita tergolong orang yang banyak dikenal oleh masyarakat dan juga bekerja di instansi kecamatan setempat. hubungan dan reaksi antara penonton dan pemain atau sesama penonton. Pencerita merangkai pesan itu secara spontan dan cepat dengan menyisipkan ke dalam adegan cerita Tupai Janjang. pertunjukan Tupai Janjang dapat juga berfungsi sebagai sarana komunikasi warga masyarakat dengan pejabat pemerintahan setempat. Dengan demikian. Jakarta.

. Amanat yang disampaikan dibungkus dalam banyak mengandung kiasan. Terutama bagi para warga yang sibuk pada siang hari dan beraktivitas di luar lingkungan tempat tinggalnya. perumpamaan dan petuah itu. Dengan demikian. untuk menafsirkan amanat yang disampaikan dalam cerita. dan lain-lain. dengan sendirinya berhadapan dengan bahasa yang banyak mengandung ungkapan. petuah. Dalam suasasana pertunjukan yang santai para penonton dapat menjadikan ajang pertunjukan ini untuk saling berkumpul atau saling berbicara antar sesama. dalam pertunjukan Tupai Janjang terjadi juga sosialisasi sesama warga. Dengan demikian. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Komunikasi itu mereka lakukan sewaktu pertunjukan berlangsung. Amanat juga berkaitan dengan fungsi sebuah karya dalam karya sastra dalam hal ini pertunjukan Tupai Janjang. atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca sebuah karya sastra. Sebuah karya masih hidup dan bertahan dalam masyarakat karena adanya amanat yang dapat diambil dalam isi yang disampaikan oleh si penyair. Cara menyimpulkan amanat sebuah karya sastra sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal (Waluyo. pesan. 2003:40). Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh kepada amanat itu. Dalam hal karena pertunjukan tradisional bersifat komunal maka untuk menafsirkan amanat cerita yang disampaikan dalam pertunjukan Tupai Janjang tidak terlepas dari masyarakat Minangkabau. perumpamaan. Untuk menafsirkan suatu amanat tidak terlepas dari penyair. Penonton sama penonton juga dapat menjadikan pertunjukan Tupai Janjang juga sebagai sarana komunikasi. Amanat cerita Amanat.antara dengan para perantau dengan warga di kampung melalui pencerita atau pertunjukan Tupai Janjang. ungkapan. tempat tinggal. sebelum atau sesudah pertunjukan. maka malam hari dijadikan untuk saling berkumpul dengan warga di sekitar lingkungan 2.

Amanat yang disampaikan dalam cerita ini tidak dinyatakan secara langsung tetapi dibungkus dengan berbagai cara. Tuhan memberikan anak yang bertingkah laku seperti seekor tupai. Mungkin orang yang pernah menyakiti seseorang nantinya akan menyadari kesalahannya. Cerita Tupai Janjang juga memberikan amanat kepada anggota masyarakat dalam hal ini jika posisi sebagai anak dalam suatu keluarga. . Anak yang pada awalnya dibuang dan tidak disukai. Sebagai salah satu anggota masyarakat. Sikap dan tingkah laku tokoh tersebut hanyalah model. Dalam cerita Tupai Janjang menghadirkan beberapa orang tokoh. Seperti dalam pertunjukan Tupai Janjang yang mana keinginan Linduang Bulan memiliki anak meskipun anaknya seperti seekor tupai. Meskipun tidak masuk akal. Pesan moral yang disampaikan merupakan hikmah yang ditampilkan lewat sikap dan tingkah laku tokoh. Hal ini tidaklah berarti bawa pengarang menyarankan kepada pembaca (penonton) untuk bersikap dan bertindak seperti demikian. hal ini dianggap sebagai aib dan membuat keluarga itu malu karena keluarganya merupakan keturunan yang terpandang. akhirnya dapat berguna dan mengabdi kepada orang tua. akhirnya menyadari kesalahannya dan dapat hidup kembali berdampingan. Melalui tokoh-tokoh ini masyarakat dapat mengambil pesan. Kepada masyarakat secara umum cerita ini mempunyai amanat yang sangat besar. dalam kehidupannya supaya tidak terjadi permusuhan. Walaupun. model yang kurang baik atau yang baik. Dalam hal ini digambarkan oleh orang tua Tupai Janjang yang telah membuang anaknya. Pembaca diharapkan dapat mengambil amanat dan hikmah yang disampaikan (Nurgiyantoro. Amanat yang disampaikan dalam cerita ini mengandung nilai moral yang cukup tinggi. Orang tua yang tidak mendidik dan bahkan membuang anaknya tetap dihormati karena bagaimanapun orang tua itu merupakan orang yang telah berjasa melahirkan. 2002: 322). Sebagai orang tua hendaknya dapat membimbing dan mendidik anak walaupun anak itu mempunyai kelakuan yang tidak baik dan tidak diingini. Kritik secara tidak langsung juga diberikan kepada para orang tua yang tidak sungguh-sungguh memperhatikan pendidikan anaknya.

kalau ada umur sama panjang. Toh akhirnya anak yang didik Mandeh Rubiah (Tupai Janjang) dapat menjadi seorang tokoh yang kaya dan mempunyai hati yang mulia. kok ado umua samo panjang. boleh kita menumpang mandi. kaba yang lain diulang lagi. Kok ado sumua di ladang. mandi baranang di tapian. buliah kito manumpang mandi. mandi berenang di tepian. (Kalau ada sumur di ladang. disiko dahulu ditamatkan. Tokoh Mandeh Rubiah merupakan tokoh yang baik dan mempunyai sifat yang dermawan dan mau menolong orang yang tidak di ketahui asal-usulnya. kaba nan lain diulang lai. Tingkah laku Tupai Janjang yang pada awalnya tidak baik tetapi akhirnya dapat merubah kelakuannya dan menjadi tokoh yang bisa memaafkan kesalahan orang tuanya yang telah membuangnya.tokoh mana yang dapat dijadikan pedoman dan mana yang tidak. disini dahulu ditamatkan) . Begitu juga halnya dengan tokoh Mandeh Rubiah untuk dapat mengambil amanatnya.

Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. paroh larik. Dengan memanfaatkan pola itu maka terdapat bentuk yang berulang baik dari pantun. larik. dan klausa yang berulang.BAB VII KESIMPULAN Pertunjukan Tupai Janjang merupakan sebuah pertunjukan yang dapat digolongkan kepada teater tradisional karena dalam pertunjukan tersebut menghadirkan akting dan dialog. Akting dan dialog hanya dilakukan oleh satu orang pencerita. atau kata. pencerita dapat melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata. Oleh karena itu. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. Pencerita bukan menghafal teks. Dengan memanfaatkan cara yang sama. Disampin itu. tetapi dilantunkan dengan mengingat suatu pola. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. klausa. frasa. terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel. seorang pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. melainkan hanya dengan mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. Perulangan yang ditemui pada teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan . Pencerita dalam menampilkan ceritanya tidak dengan menghafal teks. jika suku kata tidak mencukupi dalam satu tarikan napas. Setiap pencerita dapat bebas melakukan improvisasi. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. Perbedaan itu disebabkan oleh sifat dari tradisi lisan. frasa. Dengan teknik formula dan komposisi skematik.

(2) pertukaran dan kegiatan tokoh dalam cerita. yaitu (1) menghubungkan peristiwa dengan situasisituasi cerita sehingga membuat cerita bergerak ke depan. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan alat memproyeksikan diri dan pencermin angan-angan kolektif masyarakat Minangkabau. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan cerita. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pembuatan teks dalam pertunjukan. Di samping itu. Sementara itu. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. (2) untuk memeriahkan acara pengangkatan penghulu. kegunaan Tupai Janjang lebih mengacu pada hal yang bersifat praktis. (4) untuk memeriahkan hari yang berhubungan . Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. pencerita sudah mempunyai stereotipe di dalam pikirannya yang diperoleh dari tradisi lisan Minangkabau lainnya. pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. (3) untuk memeriahkan alek nagari.irama pada saat pertunjukan. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan. (3) pergerakan waktu dalam cerita. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendiri-sendiri. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang maka diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan. Dalam masyarakat Palembayan. Komposisi skematik yang digunakan dalam cerita Tupai Janjang ditemui untuk hal-hal berikut. Di samping itu. unsur verbal lebih dominan ditemui pada teks II jika dibandingkan dengan teks I. dan (4) menceritakan kondisi tokoh dan peristiwa yang ada dalam cerita. yaitu (1) untuk memeriahkan pesta perkawinan. Dengan demikian.

dan (5) untuk menunjang program pemerintah. . terutama di bidang pariwisata.dengan hari-hari nasional. terutama hari kemerdekaan.

_______ 2001. Bandung: Granesia. Khaidir. “Resepsi Sastra: Teori dan Penerapannya”. 1999. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. T. Datuk Nagari. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Padang. Padang. 1983. Story. 1995. 1988. A Kasim. Skripsi.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 1966. Anirun. Hanindita Graha Widya. Cambridge: Cambridge University Press. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Amir. Performance. 1989.Teater Daerah Indonesia. “Tentang Sikap Dramatik dan Warna Lokal Mengakrabi Teater Rakyat” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. 2003.Imran. Bandung. Anwar. and Event. Bauman. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. Kelisanan dalam Keberaksaraan: Hikayat Meukuta Alam. Pusat Penelitian Universitas Andalas.S. Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau. Yogyakarta. Bustami. Achmad. Amir. 1983. Suyatna. dkk. M. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 1996. Made dan Sal Murgiyanto. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Seni Pertunjukan Tupai Janjang: Studi Kasus di Desa Aia Mondak Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam. . Padang: Universitas Andalas. Richard. B. Laporan Penelitian. Kesenian Bagurau. 1990. Adriyetti. Sastra Lisan Minangkabau I. Granesia Andras. 2003. Payakumbuh: Eleonora. Bandem. Basa. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Kedudukan dan Peranan Wanita: Dalam Kebudayaan Suku Bangsa Minangkabau. Adilla. 1992. Padang: Esa. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. Ivan. Ita.

Erlinda. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. Laporan Penelitian Akademi Seni Kerawitan Indonesia. “Penelitian Resepsi Sastra dan Problematianya”. 1980. Djamaris. 1999. Hanindita Graha Widya. Dongeng. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta: Yayasan Obor. Oral Traditions and the Verbal Arts. Metodologi Penelitian Sastra. . 2002. Tupai Jangjang Kesenian Rakyat di Nagari Silungkang Kecamatan Palembayan dalam Kajian Teknis dan Filosofis. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. 23-24 Agustus 2004 _____ 2003. Padang Panjang. 1992. Desetralisasi Kebudayaan. Suwardi. Institut Seni Indonesia. 1995. Dramaturgi. Bandung. Satya. Finnegan. _______. Makalah pada Seminar Internasional Kebudayaan Minangkabau dan Potensi Etnik Dalam Paradigma Multikultural. ___________. Gayatri. Yogyakarta. 1993. 1993. Citra Wanita Dalam Lima Novel Terbaik Sinclair Lewis dan Gerakan Wanita di Amerika. 2001. 2004. Soenarjati. Yogyakarta: Pustaka Widyatama Esten. Siti. Endraswara. dan lain-lain. Padang: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas.Chamamah-Soeratno. Faruk. dalam Metodologi Penelitian Sastra. “Berburu Sastra Lokal”. Yogyakarta. Harymawan. Edwar. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djajanegara. James. Bandung: Angkasa. 2003. dkk. Ruth. Mursal. Danandjaja. 2004 “Tinjauan Fungsiolalisme Terhadap Seni Pertunjukan Saluang” dalam Ekspresi volume 12. 1997. Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. Hanindita Graha Widya. Masyarakat dan Budaya Lokal Dalam Globalisasi. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. “Pengkajian Sastra dari Sisi Pembaca: Satu Pembicaraan Metodologi”. 2001. London: Routledge. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Remaja Rosdakarya. Yogyakarta. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

_____ 1993. Saluang: Sastra Lisan Minangkabau. “Minangkabau dalam Perspektif Perubahan Sosial Kontemporer dan Gebu Minang” Diskusi Panel Perubahan Sosial Minangkabau Kerjasama Fakultas Sastra Unand dengan Lembaga Gebu Minang. 2001. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1991. Ignas. Manan. Diterjemahkan Rahayu S. Kaplan. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau Traditions in Indonesia.A. Padang Moussay. 2000. David. Imran. Jakarta. Suripan Sadi. Navis. _______ 1990. 1999. 1991. Geografi Dialek Bahasa Minangkabau (Disertasi). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Koentjaraningrat. 1998. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Krisna.Hutomo. Eva. Mohd Nefi. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Kleden. 2004. 1981. Kato. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. Imran. Nadra. Jakarta: Grafiti Pers. Jakarta: Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Teori Antropologi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Jakarta: Renika Cipta Lord. Ihromi. Pengantar Ilmu Antropologi. Tata Bahasa Minangkabau. . Cambridge.Hidayat. Jakarta: Gramedia. T. Gerard. Jawa Timur. A. 1997. Ithaca: Cornell University Press. 1980.O. Tsuyoshi. Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. 1997. Jakarta: Universitas Indonesia. Mass: Harvard University Press. 1982. Teori Kebudayaan. 1984. The Singer of Tales. Albert B.

Strategi Kebudayaan. Pemerintah Kabupaten Agam. 1988. Sjafri.Nurgiyantoro. Ajip. Jakarta: Sinar Grafika . Penghulu. Indonesia: Perspektif Sastra.A. MPSS. Anatomi Sastra. Rosidi. 14-16 Oktober 1999. Idrus Hakimy Dt. Padang: Angkasa Raya. 1976. 1984. Kecamatan Palembayan Dalam Angka. Sijobang. Jakarta: Pustaka Jaya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Soekanto. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Burhan. Perubahan Sosial Masyarakat Antropologi.Rajo. Peursen. “Etnisitas dan Globalisasi: Antara Sentrpetal dan Sentrifugal”. Poerwanto. Teori Pengkajian Puisi. Nigel. Universitas Gajah Mada. Bagurau Dalam Basaluang: Cerminan Budaya Konlfik. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. 1998. Hari. Andar Indra. Yus. 1995. 1988. Semi. 2000. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global.Van. Rusyana. Pudentia. Pustaka Pelajar. 2002. Phillips. C. 1999. ________. 1999. 2002. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. London: Crambridge University Press. Keragaman dan Kesamaan Dalam Tradisi Lisan Nusantara. Yogyakarta. Sairin. Atar. Makalah Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Bandung: Remaja Karya. (Tesis): Yogyakarta. 2002. Yogyakarta: Kanisius. Fungsionalisme dan Teori Konlik dalam Perkembangan Sosiologi. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. Jakarta: Universitas Indonesia. 2003. Soerjono dan Ratih Hertarini. 1981. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Makyong: Hakikat dan Proses Penciptaan Kelisanan (Disertasi).

1999. (Terjemahan Misbah Zulfa Sweeney. 1993. Waluyo. Jakarta: Pusat Bahasa. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. University of Colifornia Press. Pedoman Penelitian Sastra Daerah. Rene dan Austin Warren. Jurnal Basis. ______ 1993.Suryadi. Nani. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. Teeuw. Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Jakarta: Intermasa. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”. Spradley. Apresiasi Puisi . Gramedia Pustaka Utama. 1982. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. Amin. Tahun I. Asosiasi Tradisi Lisan. Syamsuddin. _____ 1996. Dalam Analisis Kebudayaan. November. Sastra dan Teori Sastra (Terjemahan Melani Budianta). Zaidan.1980. Dendang Pauah Cerita Orang Lubuk Sikaping. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Abdul Rozak.11. Jakarta. Herman. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Berkeley: University of Colifornis Press. 2003. Tuloli. Metode Etnografi Elizabeth). Berkeley. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Sastra dan Ilmu Sastra. A. Jakarta: Gramedia. 1990. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. James P.Yogyakarta: Tiara Wacana. ________ 1987. 1980. Rebab Pesisir Selatan Zamzami dan Marlaini. 1984. Udin. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Wellek. 1980. . Jakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. Rebab Pesisir Selatan Malin Kundang. Yayasan Obor Indonesia. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. XXXVII. 2002. 1997.

M. Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006. tanggal 1 Februari 2006 FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER.Hum Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415. SATYA GAYATRI.0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2006 .0/023-04.PENELITIAN DOSEN MUDA ARTIKEL PENELITIAN FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG Oleh: Dra.

Jabatan Fungsional e. Fakultas/ Jurusan 4. Adriyetti Amir. Dr.(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang. Ir. Jumlah Tim Peneliti 5. Judul Penelitian 2. Ketua Penelitian a. M. Satya Gayatri.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian Prof. Waktu Penelitian 7. Lokasi Penelitian 6. 131 474 873 . 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra. Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti Dra. Jenis Kelamin c. Golongan Pangkat dan NIP d. Bidang Ilmu 3.S.000.500. M. M.Sc NIP. Satya Gayatri. Nama b. H. Helmi.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan.HALAMAN PENGESAHAN 1.

sampai saat ini mengalami variasi tergantung kepada fungsinya di dalam masyarakat. Dengan memanfaatkan teknik formulaik. Tradisi lisan di Minangkabau. Salah satu tradisi itu adalah tradisi lisan Minangkabau. Dengan demikian. Masyarakat dapat mengambil nilai-nilai ataupun pesan moral yang terkandung dalam cerita yang disampaikan. Demikian juga dari segi fungsinya pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk memeriahkan pesta perkawinan. terdapat teks yang mempunyai kata.FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG:48 Satya Gayatri49 ABSTRAK Pertunjukan tradisional Tupai Janjang di Minangkabau merupakan salah satu bentuk teater tradisional karena menghadirkan dialoq dan akting. dan untuk menunjang program pemerintah. bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. pencerita dapat mengubah teks setiap saat sesuai dengan situasi dan kondisi. 48 49 50 Artikel penelitian BBI Dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas. Tradisi lisan bisa juga menjadi sumber suatu penciptaan baru50 atau bisa berperan sebagai sumber dari suatu proses penciptaaan baru. Tradisi ini. alek nagari. dan larik yang berulang. klausa. 1. Dalam menyampaikan cerita. upacara pengangkatan penghulu. frasa. PENGANTAR Tradisi lisan merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga. pencerita bukan menghafal cerita melainkan menggunakan teknik yang sudah terpola. Demikian juga halnya dengan pantun. . Kehidupan tradisi lisan akan mengalami variasi sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. tetapi juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. Bertahannya pertunjukan Tupai Janjang dalam masyarakat Palembayan karena mengandung fungsi dan nilai-nilai yang dapat dipetik baik dari isi cerita maupun dari pertunjukan itu sendiri. peringatan peringatan hari Nasional. sehingga dalam teks akan ditemukan sejumlah kalimat yang bersifat paralel.

Nama pertunjukan ini diambil dari nama kaba yang diceritakan. Pertunjukan seperti ini. Bertahannya tradisi lisan dalam masyarakat. dalam mengatur kehidupan pada awalnya. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau. sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya. dan disampaikan dalam cerita itu. secara lisan. Hal ini disebabkan karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita.Dalam kebudayaan Minangkabau. dan kehidupan alam51. bentuk. Dengan demikian. Variasi pada teks dilakukan oleh pencerita. Salah satu tokoh dalam cerita ini bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. walaupun menampilkan cerita yang sama. serta lain-lainnya mengambil ungkapan dari sifat. petitih. petuah. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi Tupai Janjang. setiap pertunjukan dari suatu cerita akan terlihat adanya variasi. karena setiap pertunjukan dipengaruhi oleh waktu. menambah pengetahuan. Dalam hal ini. disimpan. Sumatra Barat. Dalam pertunjukan tradisional. misalnya falsafah hidup yang dikenal dengan alam takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru). mamangan. Segala aspek kehidupan. Hal ini disebabkan karena nenek moyang orang Minangkabau. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. Kabupaten Agam. penonton dan 51 Anwar dalam Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa (1995: 118) . hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. setiap cerita yang ditampilkan tidak persis sama. diturunkan secara lisan. karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. kekuatan dalam bidang sastra dan bahasa Minangkabau terletak pada tradisi lisannya. Falsafah hidup dan ajaran ini dinukilkan dalam pepatah.

dan ide dalam cerita tersebut. klausa. FORMULAIK dan KOMPOSISI SKEMATIK Dalam setiap pertunjukan.situasi selama pertunjukan. Dalam hal ini. saat pertunjukan berlangsung. berarti juga menceritakan kembali cerita-cerita secara lisan. Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. XXXVII11(1988a: 298) 53 Lord dalam The Singer of Tales (1979: 54) . Akhirnya. Dengan memanfaatkan cara ini. Persediaan formula itu disebut stock-in-trade si penyair. frasa diciptakan bukan menggunakan hafalan tetapi karena kebiasaan. Jurnal Basis November. bahwa pencerita di samping mampu mengingat formula sesuai dengan keingginan waktu menceritakan. dalam sebuah pertunjukan pencerita melakukan perubahan sehingga terjadi variasi pada adegan yang diceritakan. pencerita dapat melakukan perubahan teks secara cepat. Pencerita mencoba mengingat frasa-frasa yang didengarnya dari pencerita lain. Dengan demikian. frasa. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan pola-pola yang sudah didapatkan dari pencerita terdahulu atau dari tradisi lisan lainnya. sehingga pencerita mengucapkan secara terbiasa frasa-frasa itu seperti halnya dalam pembicaraan sehari-hari. terjadi kalimat yang paralel dan bentuk perulangan pada kata. atau tukang pidato. Teknik formula yang dikembangkan oleh pencerita. 2. Oleh sebab itu. Hal ini berarti. pencerita. tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. Variasi dilakukankan oleh pencerita dengan mudah karena pencerita sudah mempunyai stock-in-trade yang siap pakai. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula pada saat pertunjukan. tidak ada pementasan yang identik seratus persen walaupun ditampilkan oleh seorang pencerita yang sama52. untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman53. Dengan demikian. kalimat. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotip yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. karena frasa itu sudah berkalikali dipergunakan. 52 Teeuw dalam “Indonesia Antara Kelisanan dan Kebersaraan”.

cara yang juga digunakan oleh pencerita dalam sebuah pertunjukan adalah dengan memanfaatkan skema tertentu yang disebut komposisi skematik. sangat dipengaruhi oleh penonton sehingga terjadi umpan-balik. yaitu mengingat perulangan atau menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. skematik ini merupakan hal yang penting.43) Sweeney dalam Authors Audiences in Traditional Malay Literature (1980:40) . Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan pada saat pertunjukan berlangsung. pencerita dalam pengertian ini membentukan baris puisi sastra lisan secara cepat sehingga banyak menggunakan rumusan atau pola-pola tertentu dalam setiap kegiatan penceritaan. atau dikurangi sehingga terjadi variasi antara pencerita terdahulu dengan pencerita yang ada sekarang ini. Dengan demikian. Untuk menghasilkan perulangan itu. terutama dalam penceritaan secara lisan55. Di samping memanfaatkan sistem perulangan. Hal ini disebabkan.Seorang pencerita dapat melakukan variasi pada adegan dan sub-adegan cerita. ibid (1981: 30. Rumusan atau pola berformula dalam sastra Melayu tradisional. klausa. Formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. pencerita pada saat pertunjukan berlangsung. Oleh karena itu. ada adegan dan sub-adegan yang ditambah. karena pertunjukan merupakan aktivitas komunal dan terikat dalam kohesi sosial. dan larik yang telah ada54. yang mungkin berupa kata. diubah. Tradisi sastra Melayu tradisional. Di 54 55 Lord. diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. frasa. memperlihatkan fleksibilitas komposisi yang tinggi. Variasi itu dapat terjadi karena faktor si pencerita maupun masyarakat yang menikmati cerita tersebut. atau larik. Dalam sastra Melayu tradisional. Hal ini dapat dilakukan karena memanfaatkan sistem formula. Tidak ada adegan dan sub-adegan dari cerita yang persis sama. klausa. Skematik itu. Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. Dengan cara memanfaatkan bentuk berformulaik. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. Hal ini juga ditemui dalam tradisi sastra Melayu tradisional. sangat variatif. frasa.

apapun cerita yang ditampilkan56. Pada cerita yang berbentuk pantun ini. sehingga seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. Dengan demikian. atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematik. Ekspresi formulaik yang pertama sekali dilihat adalah pada bagian cerita yang berbentuk pantun. Dalam pertunjukan Tupai Janjang. Dengan demikian.samping itu. Hal ini dapat menimbulkan variasi dalam cerita tersebut. Pantun itu adalah: 56 Sweeney. Dalam analisis ini. penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. suasana. ide-ide. terlihat adanya perulangan antara satu bait dengan bait berikutnya. walaupun ceritanya sama dan juga dilakukan oleh pencerita yang sama. Hal ini disebabkan karena waktu. pencerita tidak bercerita dalam keadaan teks yang kaku. dan tempat pertunjukan yang berbeda juga mengakibatkan terjadinya variasi. perulangan ditandai dengan memberi garis bawah pada kata yang berformulaik. cerita yang sama dapat dibawakan oleh pencerita yang berlainan. komposisi skematik juga merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dengan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional. Variasi itu dapat terjadi karena dalam pertunjukan lisan. melainkan bercerita sambil memanfaatkan kondisi yang dapat mendukung penceritaaannya. tetapi belum tentu teks cerita yang diucapkan sama. Dalam sebuah pertunjukan pencerita memanfaatkan cara perulangan supaya dapat menciptakan dan merangkai cerita secara cepat karena dalam pertunjukan lisan tidak ada penghafalan cerita. ibid (1980:64-65) .

kaba urang kami kabakan. Kata kaba dan bandalah urang ditemui pada bait ke-1 dan bait ke-2. bandar anak orang Koto Tuo. Ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu kata atau dua kata. kaba |lah| urang kami kabakan. (Oi| adalah pada suatu masa. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang) |Oi| adolah pado suatu maso. ta rajo turun ba rajo. yang tersebut-sebut). TEKS II Bandalah urang |hai| ambo bandakan. kaba orang kami kabakan. Ada formula tertentu yang digunakan untuk menyatakan pergerakan waktu dalam cerita. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2. banda nak urang |lah| di Gumarang. (Bandar |lah| orang kami bandarkan. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formulaik yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. Misalnya. Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. Pencerita . bandalah |hai| urang si Koto Tuo. adolah urang maso itu. urang duto kami tak nio. turunan raja turun beraja. satu bulan.TABEL I TEKS I Banda urang kami bandakan. orang dusta kami tak serta). atau dua bulan. Banda |lah| urang kami bandakan. berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulang). bandar anak orang |lah| di Gumarang. (Bandar orang kami bandarkan. bumi |nan| alun |hai lah| baralun. (Tak kala masa dahulunya. (Bandarlah orang |hai| hamba bandarkan. bumi |nan| belum |hai lah| beralun. kaba |lah| urang lai kami kabakan. adalah orang masa itu. Di nan tinggi tampak jauah. Bandalah urang kami bandakan ditemui pada kedua teks. tasabuik garan Datuak Bandaro. Pada teks II. nan tasabuik-sabuik. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. untuk menyatakan waktu satu hari. tersebut gerangan Datuak Bandaro. kaba |lah| orang kami kabakan. turunan puti sudut-bersudut). Pantun di atas terlihat adanya kata yang diulang pada larik berikutnya. banda nak urang Koto Tuo. |hai| bumi |nan| antah barantah. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik. kaba |lah| orang ada kami kabakan. bandarlah |hai| orang si Koto Tuo. larik itu diulang dengan merubah kata kami dengan kata ambo dan penambahan ungkapan penyeling hai. urang duto kami tak sato. di nan dakek jolong tasongoh. ta puti suduik-basuduik. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. orang dusta kami tak mau) Tak kalo maso dahulunyo. Pengulangan itu terjadi pada bait yang sama dan juga pada bait yang berbeda. di yang dekat jolong tersongoh. |hai| bumi |nan| antah berantah. (Di yang tinggi tanpak jauh.

Kata lah dalam hal ini mengandung arti alah (sudah). (Hampir sampai genap bilangan) TEKS II I.tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada dalam pikiran pencerita tersebut. . Formulaik pergerakan waktu Dari sahari |oi| garan manganduang. Demikian juga halnya dengan perpindahan tokoh yang diceritakan juga memanfaatkan sistem formulaik. sehingga terlihat paralelisme antara satu larik dengan larik yang lainnya. Penambahan kata yang terjadi hanya untuk kepentingan irama dalam mendendangkan cerita. (Sudah tiba sakit beranak) Lah sabulan duo bulan. misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. TABEL II TEKS I I. Sesudah pemakainan formula. Persamaan yang terlihat adalah pada pemakainan kata lah baik untuk pergeseran waktu maupun untuk variasi tokoh yang diceritakan. (Sudah sebulan dua bulan) Ambia sampai ganok bilangan. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan (Sudah yang sepekan |oi lah| yang sebulan) Lah nan duo bulan garan mangaduang (Sudah yang dua bulan gerangan menganduang) Jalan barubah |lah nan| maengkang (Jalan berubah |lah nan| meengkang) Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang (Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung) Lah lapan bulan paruik tambah gadang (Sudah delapan bulan perut tambah besar) Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (Sudah yang sembilan bulan dia mengandung) Lah nan sahari nan duo hari (Sudah yang sehari yang dua hari) Lah nan bapakan lah maso itu (Sudah yang berpekan lah masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan tokoh yang diceritakan. (Sudah hampir dia genap bulangan) Lah tibo sakik baranak. Formulaik pergerakan waktu Ampia sampai ganok bilangan bulan (Hampir sampai genap bilangan bulan) Lah hampienyo ganok bilangan. Contoh perulangan itu terlihat pada tabel di bawah ini.

dilanjutkan dengan keterangan yang dilakukan oleh tokoh. Variasi yang tampak adalah penambahan unsur verbal demi kepentingan irama misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana lah berkata Datuak Bandaro). Hal itu terlihat pada tabel di bawah ini:
TABEL III TEKS I I. Formulaik untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) II. Formulaik pada sintaksis |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Lalu bakato Datuak Bandaro (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang Lalu dicaliak si Tupai Janjang (Lalu dilihat si Tupai Janjang) |ha| lalu diambiaklah kulik nantun (ha| lalu diambillah kulit yang itu) TEKS II I. Formulaik untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (|Oi| hadaplah diri dua yang itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan |(Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan)

II. Formulaik pada sintaksis Lah balari si Dukun Pandai (Sudah berlari si Dukun Pandai) Lah bajalan Datuak Bandaro (Sudah berjalan Datuak Bandaro) Lah bajalan si Linduang Bulan (Sudah berjalan si Linduang Bulan) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) Lah pulangnyo maso nantun, (Sudah pulang dia masa itu) Lah tibonyo di tangah rumah. (Sudah tiba dia di tengah rumah) Lah dibao si Tupai Janjang (Sudah dibawa si Tupai Janjang)

Pencerita menyusun baris-baris cerita dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya. Pencerita mempunyai polapola yang dijadikan pedoman dalam menghasilkan baris pada saat penceritaan dengan cepat sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. Dengan demikian, baris-baris

memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. Cara ini dilakukan oleh pencerita untuk membentuk baris-baris dengan cepat dengan menukarkan tempat, menambah, atau mengurangi kata, sehingga tidak merubah sifat paralel kalimat itu. Untuk lebih jelasnya, hal itu dapat dilihat pada bagan berikut.
Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} {Oi} Tibo + + padi kasiah di lantai di rusuak di tanah Nyo inyo nan + baunduang-unduang baunduang + + hai + urang lantai rusuak tanah maso kain kain + + + basalang patah balubang taban balubang itu putiah sirah

Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Skematik itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. Dalam sastra Melayu tradisional skematik ini, merupakan hal yang penting, terutama dalam penceritaan secara lisan. Dengan demikian, pencerita mampu menghasilkan cerita dalam waktu yang sangat cepat dengan tidak menyiapkan atau menghafal teks sebelumnya. Hal ini diperlukan kemahiran dan kebiasaan penceritaan, sehingga sebelum menjadi pencerita yang sebenarnya dituntun melaksanakan latihan. Komposisi skematik diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel, seperti yang juga telah diberikan di depan. Kalimat-kalimat yang paralel ini juga berfungsi untuk mempermudah pertunjukan. Oleh karena itu, di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. Misalnya, untuk menyatakan Tupai Janjang telah lahir dan mempunyai perbedaan dengan anak yang lain (mempunyai keajaiban). Hal ini

dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik ini lazim juga ditemui dalam kaba Minangkabau lainnya. Skematik itu adalah;
Nan lah laia anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai lah patah, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang. (Yang telah lahir anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai sudah patah, tiba di rusuk rusuk runtuh, tiba di tanah tanah lambang57

Pada teks II, terjadi variasi skematik itu, namun masih ada kata yang sama digunakan. Sehingga, ide dari skematik itu masih sama. Skematik itu seperti terlihat sebagai berikut.
Nan lah ko laialah si Tupai Janjang, |oi| tibo di lantai lantai balubang, |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang, |a| lalu dicaliaklah anak nantun. (Yang sudah lahir si Tupai Janjang, |oi| tiba di lantai lantai balubang, |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlubang |a| lal dilihatlah anak itu).

Dalam kaba Anggun Nan Tongga, skematik ini juga ditemui waktu Anggun Nan Tongga lahir. Dalam skematik itu terlihat perbedaan dengan mendapatkan tambahan larik yang lain pada bagian awal dan akhir bait.
Dek Allah sadang manggarakkan, tibo di lantai lantai putuih, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang, anak lahia jo karuangnyo. (Mahkota, 1998:8) (Karena Allah sedang mencanda-i tiba di lantai lantai putus, tiba di rusuk rusuk terban, tiba di tanah tanah lambang, anak lahir dengan karungnya)

Untuk menerangkan kondisi kecantikan Linduang Bulan pada teks I, dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik itu juga lazim digunakan dalam sastra tradisional Minangkabau. Skematik itu adalah;
Kononlah Puti Linduang Bulan, nan bajalan sigajua lalai, alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati, nan ka suok lenggang manganai, nan ka kida lenggang mambunuah. (Kononlah Puti Linduang Bulan, yang berjalan sigajua lalai, alu tertarung patah tiga, semut terpijak tidak mati, yang ke kanan lenggang mengena, yang ke kiri lenggang membunuh)

Berbeda halnya pada teks II, menerangkan kecantikan Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I, tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambut yang panjang terurai.
57

Menurut Kamus Bahasa Minangkabau, lambang adalah lembang (bekas injakan, atau tekanan beban pada tanah). Hal ini biasanya digunakan betapa hebatnya yang mempunyai kaki, dalam cerita klasik.

Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. anak sigiang-giang rimbo. (Nak kandung si Tupai Janjang. Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. Nak kanduang si Tupai Janjang. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. Dalam cerita Tupai Janjang. orang yang elok |lah| masa itu). Oleh sebab itu . skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena Tupai Janjang suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. Hal ini disebabkan. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. anak bincacak anak bincacau. kini bakiroklah ko kini. buliah ka rimbo lah kau kini.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. karena tradisi itu dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. kini pergilah sekarang kini. Akhirnya. walaupun di tengah marak kebudayaan lain yang masuk ke dalam masyarakat. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat sampai sekarang. urang nan elok |lah| maso itu. Boleh ke rimbalah kau kini). Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. Skematik itu biasanya diucapkan oleh orang tua kepada anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. anak bincacak anak bincacau. anak sigiang-giang rimba. misalnya kebutuhan sekunder suatu masyarakat. |oi| bermuka rancak rambut terurai. Setiap pola kelakuan sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat. |oi| bamuko rancak rambuik taurai. pendekatan fungsionalisme yang dikemukakan oleh Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat dimana unsur itu ada. Dalam hal ini. untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar. anak yang seperti tidak ditunjuk ajari. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. 3.

cerita ini memberikan pendidikan supaya mempunyai kelakuan baik karena kelakuan yang tidak baik semua orang tidak menyukai. cerita ini dapat diambil nasihatnya supaya hati-hati dan tabah dalam mendidik anak. . khususnya bagi pemuda Minangkabau. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anakanak. Sebagai alat pendidikan. (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Akhirnya. semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar suatu warga masyarakat58. dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya59. menurut William R. Tersirat juga pendidikan jika sebagai seorang anak hendaknya terhadap orang tua harus bersifat baik dan tetap menghormati. tetapi juga terhadap orang tua. Bascom fungsi folklor ada empat yaitu (a) sebagai sistem proyeksi yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. (c) sebagai alat pendidikan anak. cerita ini juga mengambarkan keberhasilan Tupai Janjang yang menjadi orang yang kaya sehingga dapat membantu orang tuanya. Bagaimanapun nakalnya seorang anak. kalau diberi 58 59 Ihromi dalam Pokok-Pokok Antropologi Budaya (1980:60) Danandjaja dalam Folklore Indonesia (1984:19). Terhadap orang tua. Keinginan itu adalah untuk pergi merantau dan kemudian berhasil di rantau sehingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. bahkan juga orang tua sendiri. Dan juga cerita ini merupakan proyeksi dari keinginan dari orang tua agar anaknya pergi meninggalkan kampung halaman dan mencari “sesuatu” yang dapat digunakan buat masa depannya. Di samping itu. Cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat Minangkabau. walaupun orang tua kita sendiri pernah membenci dan membuang anak kita. Hal ini tergambar dari kepergian Tupai Janjang meninggalkan kampung halamannya. Terhadap anak-anak.dalam teori ini. Semua fungsi ini akan dianalisis lebih mendalam dalam penceritaan tradisi lisan Tupai Janjang.

baik yang dilakukan secara bersama maupun sendirisendiri. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan.pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawakan hasil. dan (5) menunjang program pemerintah. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang. terutama di bidang pariwisata. terutama hari kemerdekaan. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk (1) memeriahkan pesta perkawinan. tetapi hanya dengan . Pencerita bukan menghafal teks. sedangkan fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. 4. Dalam masyarakat Palembayan. Secara eksplisit. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. KESIMPULAN Pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. (2) memeriahkan acara pengangkatan penghulu atau peresmian penghulu baru. (4) memeriahkan hari yang berhubungan dengan hari-hari nasional. pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. Bertahannya pertunjukan ini karena masyarakat masing mengangap pertunjukan ini berfungsi. Penggunaan akan mengacu kepada untuk kegiatan apa pertunjukan dilakukan. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan yaitu penggunaan dan fungsi. Oleh sebab itu. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang sifatnya praktis seperti untuk kegiatan apa pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Palembayan. (3) memeriahkan alek nagari. diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan.

dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. pencerita dapat melakukan variasi-variasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata. dan klausa yang berulang. Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. Hal ini dilakukan untuk mempercepat penyampaian ide cerita dalam pertunjukan. dengan memanfaatkan cara yang sama terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan ide cerita. Hal ini terjadi karena setiap pencerita. jika suku kata tidak mencukupi maka pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan irama saat pertunjukan. frasa. Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. Di samping itu. dapat bebas melakukan improvisasi. Oleh karena itu. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. Formulaik yang ditemui pada kedua teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. Dengan teknik formulaik dan komposisi skematik.mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. .

O. James. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Bandem. Imran. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau in Indonesia. Jakarta: Gramedia. Pemerintah Kabupaten Agam. 1981. Navis. Suripan Sadi. A Kasim. 2002. Albert B. The Singer of Tales.Teater Daerah Indonesia. 2000. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Lord. Ithaca: Cornell University Press. . Finnegan. Mursal. Yogyakarta: Kanisius. Ignas. dan lainlain. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. A. Mass: Harvard University Press. Jakarta: Grafiti Pers. Granesia Anwar. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. Mohd Nefi. Kecamatan Palembayan Dalam Angka. 1992. Danandjaja. Desetralisasi Kebudayaan. 1980. 1980. Bandung. 2004. Tsuyoshi. 1984. Kato. Oral Traditions and the Verbal Arts. Jakarta: Yayasan Obor. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. Ruth. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. 1995. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. T.DAFTAR PUSTAKA Achmad. Ihromi. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. 1983.A. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djamaris. 1999. 1982. Bandung: Angkasa. Esten. Jawa Timur. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Traditions Kleden. Edwar. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Dongeng. 2002. Made dan Sal Murgiyanto. 1991. Hutomo. London: Routledge. Cambridge. 1996. Khaidir.

November. Sweeney. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Syamsuddin. 1980.11. ________ 1987. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. Strategi Kebudayaan. Padang: Angkasa Raya. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Amin. 1984.Peursen. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Rosidi. 1976. C. Variasi Sosial Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi. Asosiasi Tradisi Lisan Teeuw. Nani. Jakarta: Intermasa. Atar.A. Pustaka Pelajar. MPSS. University of Colifornia Press. Yogyakarta: Kanisius. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Pudentis. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Jurnal Basis. 1980.Van. Sairin. Tuloli. Jakarta. Ajip. Sjafri. A. Jakarta: Pustaka Jaya. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. Berkeley: University of Colifornis Press. 1998. 1990. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Yogyakarta. 1995. XXXVII. 1999. Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Sastra dan Ilmu Sastra. 1988. . Berkeley. Tahun I.1980. Dalam Analisis Kebudayaan. Udin. Anatomi Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. 2002. Semi. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.