P. 1
Bab III Hasil Dan Pembahasan

Bab III Hasil Dan Pembahasan

|Views: 416|Likes:
Published by Firdaus Al-Khatami

More info:

Published by: Firdaus Al-Khatami on Dec 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2010

pdf

text

original

PENELITIAN DOSEN MUDA

LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA TAHUN ANGGARAN 2006

FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG

Oleh: Dra. SATYA GAYATRI, M.Hum

Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415.0/023-04.0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006, tanggal 1 Februari 2006

FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER, 2006

HALAMAN PENGESAHAN USUL PENELITIAN DOSEN MUDA 1. Judul Penelitian 2. Bidang Ilmu 3. Ketua Penelitian a. Nama b. Jenis Kelamin c. Golongan Pangkat dan NIP d. Jabatan Fungsional e. Fakultas/ Jurusan 4. Jumlah Tim Peneliti 5. Lokasi Penelitian 6. Waktu Penelitian 7. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra. Satya Gayatri, M.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7.500.000,(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang, 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra. Adriyetti Amir, S.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti

Dra. Satya Gayatri, M.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian

Prof. Dr. Ir. H. Helmi, M.Sc NIP. 131 474 873

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK…………………………………………………………. PRAKATA …………………………………………………………. DAFTAR ISI………………………………………………………... BAB I. PENDAHULUAN………………………………………….. BAB II PERUMUSAN MASALAH………………………………… BAB III TINJAUAN PUSTAKA…………………………………… BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ……………… BAB V METODE PENELITIAN………………………………… BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………… 1. Transkrip Teks…………………………………………… 2. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang 3. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan……….. 4. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang………………………. BAB VII KESIMPULAN…………………………………………. DAFTAR PUSTAKA……………………………………………… i ii iii 1 6 7 12 14 16 17 52 62 71 83 86

wawancara banyak dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang fungsi dan kegunaan pertunjukan Tupai Janjang yang telah dilakukan. . unsur-unsur pembentuk kelisanan dalam teater tradisional Tupai Janjang. Formulaik dan komposisi skematik dalam penceritaan juga mempertimbangkan irama sehingga terdapat pemakaian ungkapan penyeling untuk menyempurnakan irama itu. Selanjutnya. dalam menyampaikan ide dan gagasan saat pertunjukan supaya dapat dengan cepat menyampaikan cerita. Penelitian lapangan digunakan untuk melihat bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang dan tanggapan masyarakat tentang pertunjukan itu sendiri. Unsur-unsur teks yang bersifat formulaik berhubungan dalam pembentuk kelisanan dengan menggunakan pendekatan formula dan komposisi skematik. Data yang didapatkan dari penelitian lapangan digunakan untuk melihat aspek-aspek pembentuk kelisanan dari teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertunjukan sebuah teks dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat pertunjukan sedang berlangsung. Seorang pencerita untuk mempermudah komposisi penceritaan memakai formula dan komposisi skematik dalam pertunjukan. Sebuah teks tidak ada yang persis sama dalam suatu pertunjukan. Berbagai pesan dan unsur nasihat juga terdapat dalam pertunjukan ini.ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Disamping itu. bentuk yang berformulaik sangat membantu proses pelantunan teks oleh pencerita. Pertunjukan ini mempunyai fungsi dan kegunaan dalam masyarakat. Dalam teks akan terlihat adanya perbedaan formulaik antara suatu pencerita dengan pencerita lainnya. Pertunjukan Tupai Janjang sampai sekarang masih tetap eksis walaupun sudah mengalami pergeseran oleh bentuk hiburan lainnya. pencerita juga memakai skematik. serta nilai-nilai apa yang dapat diambil dari teks yang dibacakan. Selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat unsur-unsur teks yang bersifat formulaik dalam aspek kelisanan. sedangkan untuk penelitian kepustakaan digunakan terutama dalam menganalisis teks. penelitian ini bertujuan untuk melihat fungsi dan kegunaan teater tradisional tersebut dalam kehidupan masyarakat di daerah Palembayan. Oleh sebab itu.

terdapat dalam bahasa lisan. Padahal. hal itu sangat berpengaruh terhadap ragam dan gaya bahasa yang digunakan. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Navis (1984:231) bahwa dalam percakapan sehari-hari orang Minangkabau lazim menggunakan ungkapan. bahkan hukum dan peraturan. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak tradisi lisan di Indonesia yang telah hilang karena tidak dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya dan tidak sempat pula didokumentasikan. Di samping terdapat tradisi lisan yang telah hilang.BAB I PENDAHULUAN Indonesia memiliki kekayaan tradisi lisan yang tersebar pada tiap-tiap daerah. rundingan. Bahasa yang diucapkan. 1999:105). tradisi lisan bisa menjadi sumber bagi suatu penciptaan budaya baru (Esten. Bahkan. dan rekaman video (audio-visual). perbincangan. Sastra Minangkabau juga terlihat kekuatannya pada sastra lisan. seperti ajaran. Dari banyak tradisi lisan yang masih hidup. bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. Salah satu tradisi lisan itu ada dalam kebudayaan Minangkabau. hilangnya suatu tradisi lisan tersebut sesungguhnya merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia. nasihat. 1995:117 —118). Usaha pelestarian tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkelanjutan. tradisi lisan dicatat dan kemudian disebarkan lewat media cetak dalam bentuk buku (Rosidi. . ragam tradisi lisan ini juga terlihat dalam komunikasi sehari-hari (Anwar. Pada negara-negara yang sudah maju. sebagian kecil telah “diselamatkan” dalam bentuk rekaman tape recorder. transkripsi. 1995:125-126). Tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang sangat berharga. masih terdapat banyak tradisi lisan yang bertahan dan mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. Dalam arti. melainkan juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. Budaya Minangkabau pada dasarnya adalah budaya lisan.

Orang yang bercerita pada dasarnya ingin menyampaikan pesan. dan audience. menambah pengetahuan. Pertama.Kebiasaan menggunakan ungkapan dalam percakapan bertolak dari landasan sosial dan struktur kekerabatan yang berkaitan sehingga menyebabkan setiap orang saling menyegani. daya pukau dari apa yang disampaikan menjadi hilang. jika pesan itu disampaikan secara langsung kepada orang yang hendak dituju. disimpan. ragam tradisi lisan yang . sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. membicarakan tradisi lisan juga langsung berhadapan dengan nilai-nilai dan aturanaturan yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. 1980:66). Tradisi lisan yaitu cerita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain secara lisan. tradisi lisan Minangkabau dari segi keberadaannya dikelompokkan menjadi tiga. bahkan ada kecendrungan untuk menolak cara pemberian nasihat secara langsung (Tim Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Tradisi lisan tidak hanya berbicara tentang ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang tersebar dan diturunkan secara lisan (dari mulut ke mulut). dan disampaikan dalam cerita itu. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam cerita itu dianggap pernah terjadi pada masa lampau atau merupakan hasil rekaan semata-mata karena terdorong keinginan untuk menyampaikan pesan. Bertahannya suatu tradisi lisan dalam masyarakat karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. tetapi juga berbicara tentang hubungan antara pemain. Akan tetapi. dan pendidikan melalui cerita tersebut. Mengingat fungsinya dalam masyarakat. Dengan demikian. dan pendidikan yang dapat bermanfaat bagi perkembangan watak dan kepribadian para pendengarnya. amanat. amanat. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. teks (karya sastra). Selain itu. dalam pengertian tradisi lisan terdapat peraturan tertentu yang tidak bisa diabaikan dan ditinggalkan kalau akan melaksanakan pertunjukan.

gerak. jika menceritakan bapak yang sedang marah. Misalnya. Randai ditampilkan oleh beberapa orang pemain. Kegiatan dialog. Randai adalah pertunjukan teater tradisional yang . Berbeda halnya dengan randai yang juga disebut dengan teater tradisional.terancam punah karena perkembangan dari masyarakat hingga kehilangan fungsi dan perannya. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. sesuai dengan jumlah tokoh yang ada dalam cerita yang dibawakan. Pemain itu yang melakukan dialog dari tokoh dalam cerita dengan menirukan suara dan akting yang sesuai dengan tuntutan cerita. akting. kematian. yang biasa ditemukan dalam upacara perhelatan. gerak. akting. sedangkan untuk musik juga dimainkan oleh seorang pemain musik. jika menceritakan seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. Pengelompokkan itu karena pertunjukan Tupai Janjang menghadirkan dialog. Pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. nyanyi. Kedua. maka pertunjukan ini dapat dikelompokkan ke dalam teater tradisional Minangkabau. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi pertunjukan Tupai Janjang. ragam tradisi lisan yang bertahan dari kepunahan dengan jalan melakukan penyesuaian dan perkembangan sehingga mendapat sambutan dari masyarakatnya. dan penyambutan tamu (Amir. Jika dilihat dari bentuk pertunjukannya. Ketiga. maka pemain akan melakukan dialog dan akting seperti ibu-ibu yang sedang menyusui anak. Demikian juga. ragam tradisi lisan yang tidak mengalami perubahan sama sekali karena berkaitan dengan upacara adat. dan musik. dan nyanyi dilaksanakan oleh satu orang pemain. 1990:25). seperti pantun adat dan pasambahan. maka pemain akan membesarkan suaranya seperti layaknya seorang bapak yang sedang marah.

terutama kepada orang tua agar jangan asal berbicara karena yang diucapkan bisa menjadi kenyataan. Secara singkat. Jadi. Oleh karena itu. anak itu bertemu dan dibesarkan oleh seorang ibu hingga menjadi seorang pemuda yang gagah dan baik. Akhirnya. sang istri itu pun hamil dan melahirkan anak yang tingkah lakunya seperti tupai. Dari ringkasan cerita di atas. pertunjukan dan kabanya bernama Tupai Janjang. Tokoh ini awalnya mempunyai tingkah laku seperti tupai janjang dan akhirnya berubah menjadi manusia yang baik dan berguna. Akhirnya. sang suami membuang anak itu karena ulahnya yang selalu menganggu masyarakat. itu orang tua juga harus berhati-hati menjaga anak karena anak merupakan amanah. Kabupaten Agam. Tupai janjang banyak terdapat di hutan di Pulau Sumatera. Di samping. Kenyataan terakhir ini tidak ditemui pada pertunjukan Tupai Janjang karena hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. Salah satu tokoh dalam ceritanya bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. Namun. pertunjukannya bernama tupai janjang yang diambil dari kaba yang disampaikan dalam cerita itu yaitu kaba Tupai Janjang. Dalam perjalannya ke kebun dia melihat seekor anak tupai yang melompat. Kepada seorang anak juga ada pesan yang sangat berharga.sudah lama dikenal dan pada umumnya ditemui hampir di semua wilayah Minangkabau. Tupai janjang diambil dari nama sejenis tupai yang badannya lebih besar dari tupai biasa dengan bulunya berwarna agak kekuning-kuningan. diduga cerita ini cukup banyak pesan yang dapat diambil. yakni . orang tua juga harus sabar mendidik anak. Tupai janjang disebut juga bajing loncat dalam bahasa Latin dinamakan lomus horsfield dan dalam bahasa Inggris dinamakan endemic Sumatra. Sang istri berputus asa karena belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Berkatalah sang istri tersebut bahwa dia sangat menginginkan anak walaupun anak itu seperti tupai. Oleh karena itu. Dalam pembuangan. Tupai Janjang bercerita tentang sepasang suami-istri yang sudah lama menikah dan belum juga dikaruniai anak. si anak bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.

Hal ini terutama terlihat dari akting yang dilakukan oleh pencerita. pewaris aktif yang profesional dari pertunjukan ini hanya tinggal satu orang. untuk menyampaian cerita. misi penyelenggara acara. Mengingat kondisi dan nilai-nilai di atas maka penelitian dan pendokumentasian tentang pertunjukan tupai janjang seharusnya dilakukan secepat mungkin. Di samping berisi pesan moral. teks yang dibacakan mempunyai bentuk yang berulang baik segi kata. misalnya untuk kampanye. dan bentuk pertunjukan dapat diselamatkan dari kepunahan dan kelangkaan. pertunjukan Tupai Janjang dapat dijadikan sebagai salah satu ajang hiburan karena penampilan pencerita. frasa. Tradisi lisan ini. klausa. Kelangkaan pewaris aktif ini seharusnya tidak terjadi karena dengan memperhatikan teks dalam pertunjukan ini maka pewarisan (transmisi) diduga dapat dengan mudah dilakukan. Dengan melihat kondisi dan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang ini maka penelitian secepatnya dilakukan mengingat nilai-nilai. Hal ini didasarkan karena dalam tradisi lisan. Pencerita ini yang sering diundang oleh masyarakat atau pejabat pemerintah setempat untuk melaksanakan pertunjukan. .bagaimanapun “durhakanya” seorang ayah yang telah menyakiti anaknya sendiri tetap harus dihormati. atau menyampaikan perbaikkan jalan kepada pejabat daerah setempat. Konsep formulaik ini digunakan oleh pencerita untuk mempermudah dan membantu mengingat teks sehingga teks dapat dirubah dan bersifat fleksibel tergantung kepada komposisi penceritaan. dapat melakukan penyesuaian dan mampu “merekayasa” pertunjukan sesuai dengan pesan sponsor. Di samping pertunjukannya yang spesifik. Pencerita dapat mengajarkannya kepada warga masyarakat yang lain dengan memanfaatkan sistem formula sehingga dapat dengan mudah mengingat teks yang diceritakan. atau kalimat yang disebut dengan formula. fungsi. atau menyampaikan suatu ide kepada orang (pejabat) secara tidak langsung. memasyarakatkan program pemerintah.

penelitian ini akan dilanjutkan dengan menganalisis teks untuk mengungkap sistem formulaik yang digunakan oleh pencerita dalam sebuah menceritakan teks. nilai-nilai. Pertama. Kedua. setiap penceritaan akan berbeda teksnya. Dengan demikian. Pada bagian ini akan dianalisis bentuk-bentuk formulaik yang diciptakan oleh pencerita. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap penelitian lapangan dan tahap analisis.BAB II PERUMUSAN MASALAH Dari persoalan yang muncul di atas maka dirumuskan penelitian yang akan dilakukan dalam beberapa tahap yang saling berhubungan untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat. Sebuah teks dalam pertunjukan tradisional tidak ada yang persis sama. Selalu ada bagian-bagian yang mengalami perubahan karena sebuah pertunjukan tradisi lisan akan dipengaruhi oleh audience (penonton) dan suasana pertunjukan. Ketiga. Dari sebuah pertunjukan itu didapatkan sebuah teks. . walaupun menceritakan cerita yang sama. untuk mengungkap fungsi pertunjukan Tupai Janjang bagi masyarakat di daerah Palembayan. penelitian lapangan dilakukan untuk melihat bentuk performance (pertunjukan) dari teater tradisional Tupai Janjang. dan amanat dari teks. Pada bagian ini akan melihat fungsi.

Untuk menghasilkan perulangan itu. dan larik yang telah ada. 1988a:298). atau tukang pidato. Hal itu terbukti bahwa jarang terdapat penghafalan dan tidak ada dua pementasan yang sama. dan irama puisi yang dipakai. bahkan seorang pencerita yang sama. klausa. matra. frasa. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. Unsur-unsur yang dipakai memperlihatkan bentuk yang identik atau variasi sesuai dengan tuntutan tata bahasa. yang identik penampilannya (Teeuw.BAB III TINJAUAN PUSTAKA Penelitian ini akan mengunakan teori yang dapat mengupas masalah di atas secara mendalam. frasa. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula itu pada saat pertunjukan. yaitu mengingat perulangan dan menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. frasa) yang tersedia baginya (stock-in-trade) yang siap pakai. Untuk itu digunakan teori tentang sastra tradisional yang dikemukakan oleh Lord. pencerita. klausa. Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. Menurut Lord dalam bukunya The Singer of Tales (1981:30 dan 43). Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. Setiap penyair tradisional membawakan ceritanya dengan menciptakan kembali secara spontan dan memakai sejumlah unsur bahasa (kata. Teknik . atau larik. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotipe yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. Dalam setiap pertunjukan tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. kata majemuk. Persediaan formula disebut stock-in-trade si penyair. Lord (1981:34) menyatakan bahwa penyair-penyair itu tidak menghafalkan puisinya lewat naskah atau tulisan. yang mungkin berupa kata.

Hal ini dilakukan untuk menentukan formula dengan berbagai variasi polanya (Lord. dan menampilkan suatu karya secara lisan merupakan bentuk rangkaian kelisanan yang dimaknai sebagai kelisanan dalam arti teknis atau harfiah (Lord. 1981:45). baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim. kombinasi. Konsep kelisanan tidak hanya dimaknai secara presentasi lisan. tetapi juga dimaknai sebagai komposisi selama terjadinya penampilan secara lisan. pencerita dapat menyusun larik-larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. sedangkan ekspresi formalik adalah ungkapan yang dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama. Sweeney (1999:68) menyebutkan bahwa formula adalah larik atau paruh larik yang digunakan lebih dari sekali dalam bentuk yang sama. pembentukan model. Ekspresi formulaik dapat juga membantu terbentuknya wacana ritmis sehingga merupakan salah satu alat bantu untuk mengingat kembali dengan mudah. dan penambahan kata-kata atau ungkapan baru pada pola formula sesuai dengan kebutuhan penceritaan atau penggubahan. Cerita yang ditampilkan juga menyampaikan tema atau ide. Formula dan ekspresi formulaik bertujuan untuk menceritakan kisah-kisah dalam nyanyian dan sajak. Batasan yang diberikan tentang pola formula dan ekspresi formulaik akan diterapkan dalam menganalisis teks cerita tupai janjang. cepat. 1991). 1981:5). Dalam penyusunan baris dengan pola formula itu terjadi proses penggantian. sesuai dengan keinginan dan kreatifitasnya. 1979:54. Formula merupakan alat untuk menuangkan tema atau ide-ide yang . Penganalisisan terhadap teks harus dimulai dengan pengamatan yang cermat terhadap frase-frase yang mengalami perulangan. dan tepat serta menjadi ungkapan tetap yang dapat bertahan hidup secara lisan (Lord. Upaya untuk mempelajari.formula dikembangkan untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman (Lord. 1981:30). Finnegan dalam Tuloli. Pencerita dapat membangun larik terusmenerus. menyusun. Dengan pola formula sebagai dasar.

atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematis. Tema bukan sekumpulan kata yang tetap. 1981:94). melainkan merupakan pengelompokan ide-ide (Lord. tema mengalami perkembangan. Lord (1976:4 dan 68) menyatakan bahwa kelompok-kelompok ide yang secara reguler digunakan dalam menceritakan kisah merupakan tema-tema cerita. Tema adalah peristiwa atau adegan yang diulang dan bagian-bagian deskriptif dalam cerita. Dalam pikiran pencerita yang telah mapan. skemata merupakan hal yang penting. 1981:61). Tema bukanlah kreasi seni yang sungguh-sungguh statis. Dalam sastra Melayu tradisional. Penguasaan formula dan tema merupakan syarat utama dalam menggubah cerita secara mudah dan lancar. Tema adalah kelompok ide yang secara teratur digunakan pada penciptaan suatu cerita dalam gaya formulaik. melainkan kreasi seni yang hidup dan berubah sesuai dengan situasi (Lord. Penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. ide-ide. Ini merupakan suatu keharusan dan bersifat normal. Komposisi skematik merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional.disampaikan kepada audience. Tema disusun dari adegan-adegan yang telah ada dalam pikiran pencerita dan digunakan untuk merakit cerita itu. Komposisi skematik merupakan skemata atau formula yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Hal ini disebabkan oleh sifat lentur formula dan pencerita tidak memakai formula yang sama pada setiap saat penceritaan. Dalam penceritaan lisan. seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. . apapun cerita yang ditampilkan (Sweeney. Pencerita berpikir dan mempertimbangkan berdasarkan pola formula untuk menyajikan cerita. Pencerita tidak pernah memproduksi tema dengan kata-kata yang persis sama. 1981:40). 1980:64-65). terutama dalam penceritaan dramatis secara lisan (Sweeney. Skemata atau formula itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Tema dapat diekspresikan dengan sekumpulan kata-kata.

Bascom. Dalam penelitian ini diungkapkan hubungan sosial. penelitian yang khusus dilakukan terhadap Tupai Janjang telah dilaksanakan oleh beberapa orang. Performer adalah orang yang memproduksi sastra lisan pada saat performance dan sekaligus juga sebagai komposer. pembuatan komposisi bagi penyair lisan dilakukan pada saat pencerita melaksanakan performance sehingga komposisi dan performance merupakan dua hal yang dilakukan pada saat bersamaan. dan penyair adalah orang dengan aspek yang berbeda. telah juga dilakukan oleh Phillips (1981) tentang Sijobang dengan judul Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Berbagai penelitian tersebut baru pada tahap awal dan tidak memberikan analisis yang mendalam terhadap tradisi ini. performer. Audience dapat datang. Suasana. Sementara itu. (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. tempat. Penelitian yang dilakukan juga menerapkan teori yang dikemukakan oleh Lord tentang formula yang ditulis dalam bentuk disertasi. Bascom folklor mempunyai empat fungsi. 1981:13—17). yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. dan peranan formula dalam penciptaan. Penelitian dengan memakai teori Lord. dan berbicara dengan sesama penoton yang lain. performance. dan transmisi. Performance adalah saat berkreasi bagi penyair lisan. variasi cerita Sijobang. komposer. semuanya itu dapat dilakukan oleh satu orang dalam waktu yang bersamaan. Menurut Lord. Penelitian Erlinda . dan audience akan mempengaruhi performance. 1984:19). teknik dan metode pencerita dan pencipta. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. Untuk melihat fungsi dari pertunjukan tupai janjang. tetapi dalam sastra lisan. Hal ini akan mempengaruhi performance atau mungkin juga performance dapat terputus sejenak (Lord. Penyanyi. pergi. (3) sebagai alat pendidikan anak. Menurut William R.Lord juga menyatakan aspek kelisanan berupa komposisi. dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya (dalam Danandjaja.

Pada bagian akhir tulisannya dilengkapi dengan teks kaba Tupai Janjang. bentuk pertunjukan. pembahasannya juga tidak mendalam. dan audience tidak tepat sasaran karena pertunjukannya ditampilkan untuk tujuan perkuliahan. Namun. cerita yang dibawakan. Andras (1999) melakukan penelitian terhadap Tupai Janjang dalam tugas akhirnya guna memperoleh strata satu di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Padang. tetapi tidak dilanjutkan dengan analisis terhadap teks tersebut. Udin (1999) dalam makalah untuk seminar Asosiasi Tradisi Lisan tahun 1999 mengamati pertunjukan Tupai Janjang yang dilaksanakan di FPBS IKIP Padang. Analisis dilakukan dengan melihat plot. Karena hanya dalam bentuk makalah. . tema. bukan menempatkan Tupai Janjang sebagai sebuah pertunjukan tradisi lisan.dkk (1997) dalam bentuk laporan penelitian untuk ASKI Padang Panjang sangat ringkas sehingga tidak mencapai aspek-aspek yang dituntut dalam penelitian. Gambaran dan suasana pertunjukan yang didapatkan tentu hanya sedikit. alur. Penelitiannya lebih terfokus pada unsur cerita Tupai Janjang dengan teori drama modern. dan latar cerita. Penonton pertunjukan Tupai Janjang pada waktu itu adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah sastra Nusantara. penokohan.

otomatis akan menambah dokumentasi dari bentuk pertunjukan teater tradisional di Minangkabau dan akan mengembangkan penelitian yang lebih lanjut terhadap peminat sastra tradisional. Penelitian ini akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan terutama terhadap peninggalan-peninggalan tradisional terutama kepada teater tradisional dan bukan hanya bersifat inventarisasi dan pendokumentasian tetapi lebih dari itu menjadikan peninggalan-peninggalan tradisional jadi objek kajian yang menarik. Dengan analisis formulaik ini diharapkan dapat ditentukan stereotip yang digunakan dalam merangkai cerita Tupai Janjang oleh pencerita sehingga dapat mudah ditransmisikan kepada pencerita yang lainnya. penelitian ini diharapkan juga memberikan kontribusi yang baik terhadap pemerintah daerah terutama di bidang kepariwisataan budaya guna . pesan. Sementara itu. penelitian ini juga bertujuan untuk menguraikan fungsi supaya dapat mengambil nilai-nilai. Selain diperlukan berbagai upaya untuk melestarikan tradisi lisan. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan penelitian. diperlukan pula upaya untuk menggali dan mengkaji isi yang terkandung di dalamnya yang dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangan penelitian yang lebih lanjut terhadap pertunjukan tradisional sehingga dapat menjadikan sumber inspirasi baru bagi pencipta sastra modern dengan memperlihatkan akar dari budaya daerah. Dengan ditelitinya pertunjukan ini. dan amanat dari cerita Tupai Janjang ini. Dengan demikian. Akhirnya.BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang serta menerangkan sistem formulaik dari teks. diharapkan dapat mengangkat nilai-nilai tradisional yang telah lama terkubur sehingga memberikan dan memperkokoh jati diri bangsa yang sedang mengalami erosi yang begitu hebat.

Dengan demikian.meningkatkan promosi pariwisata karena pertunjukan tradisional dapat juga menarik wisatawan domestik maupun asing. dan daerah. negara. . akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat.

Penonton yang diwawancarai adalah yang sudah sering. Hal ini dilakukan supaya data yang didapat betul-betul akurat dan hidup. Kabupaten Agam. Para informan tersebut terdiri atas pemain tupai janjang yang profesional dan masih aktif serta pemain yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat. Pertunjukan dan perekaman dilakukan secara alami. cadiak pandai. peneliti terlebih dahulu dibekali dengan seperangkat teori yang berkaitan dengan objek supaya kendala di lapangan tidak mempengaruhi terhadap hasil yang didapatkan. Penentuan informan didasarkan atas kualitas dan pengalamannya terhadap pertunjukan TJ. Setelah data terkumpul. Dengan demikian. penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan suasana pertunjukan seperti apa adanya. Sebelum terjun ke lapangan. Penonton juga akan memberikan suasana tertentu dalam pertunjukan. tokoh agama. dilakukan transkripsi dan analisis. dan pejabat pemerintah setempat tentang pengetahuannya terhadap pertunjukan Tupai Janjang. Data ditranskipsikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan konteks masyarakat pendukungnya. Penelitian ini mengambil objek tupai janjang yang dilaksanakan di Kecamatan Palembayan. Tanggapan yang diberikan oleh penonton akan mempengaruhi kehidupan Tupai Janjang itu sendiri. jarang. Wawancara dilakukan setelah pertunjukan usai. teknik wawancara dan observasi. tape recorder. dan wawancara dengan penonton. Setelah itu baru data dianalisis dengan . baik yang terlibat langsung dalam pertunjukan maupun yang tidak. Penelitian ini juga dilakukan dengan menggunakan metode etnograsi. atau belum sama sekali menonton pertunjukan Tupai Janjang. karena tradisi pertunjukan ini hanya hidup di daerah tersebut. Tanggapan juga diminta kepada niniak mamak. Penelitian dilakukan dengan dilengkapi handycame.BAB V METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang didasarkan pada data-data yang diperoleh di lapangan. baik terhadap pemain maupun terhadap penonton.

menggunakan pendekatan formulaik untuk melihat teknik-teknik penceritaan lisan. Terakhir. pesan dan amanat yang ada dalam teks cerita Tupai Janjang. . menganalisis nilai-nilai.

Kata-kata itu hanya berfungsi sebagai penyempurnaan irama dan jika dihilangkan atau ditinggalkan maka tidak akan mempengaruhi arti dari teks tersebut. dalam pengucapannya. Kata-kata yang tidak ada padanannya ditulis miring dalam bahasa Indonesia dengan memberikan keterangan di bawahnya. ondeh. kegiatan. teks yang didendangkan sangat dipengaruhi oleh irama. Teks I merupakan teks yang diambil dari skripsi Ita Andras (1999). lah. ha. Oleh karena itu. Kenagarian III Koto Silungkang. Kecamatan Pelembayan. Teks II merupakan teks pokok. hai. Dalam penampilan. secara pemerintahan kepala jorong berada di bawah kepala nagari. Untuk membedakan teks yang berbentuk dialog dengan teks yang berbentuk narasi dipakai tanda “ ” di awal dan akhir dialog. ada kata-kata yang tidak mempunyai arti dan hanya berfungsi untuk kepentingan irama.BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Teks yang dianalisis dalam penelitian ini ada dua. Dipilihnya teks I untuk dianalisis karena Andras dianggap oleh masyarakat setempat sebagai pencipta pertunjukan TJ seperti sekarang ini. 1 Menurut Amir (2003:47) dan Kamus Bahasa Minangkabau. Setelah diberlakukannya Perda No. jorong adalah bagian nagari atau kampung. Keterangan untuk kegiatan ini diberikan di bawah teks yang dibacakan dan hanya dalam bahasa Indonesia. serta akting yang dilakukan oleh pencerita untuk mendukung cerita. Teks ini dijadikan teks I karena lebih tua dari teks II. desa yang sebelum diberlakukannya Perda tersebut diganti dengan nama jorong.02/ 1999. Teks ini diambil dari hasil rekaman dan pengamatan penulis terhadap pertunjukan TJ yang ditampilkan oleh Elvis pada tanggal 25 Mai 2006. nan. dan lain-lain (Navis. 1984:231). Kabupaten Agam. . misalnya oi. tentang kembali ke nagari di seluruh Sumatra Barat. Pertunjukan dilaksanakan di rumah salah satu warga di jorong1 Gumarang. Tanda ( ) digunakan untuk memberikan keterangan. dialog yang diucapkan oleh tokoh. yaitu teks I dan teks II.

. (Orang yang besar bertuah. 4 Ibid. urang kayo suko dimakan. kabun ubinyo bapetak-petak. Banda orang kami bandakan. di nan dakek jolong tasongoh. ampunlah kami niniak mamak.4 turunan raja turun beraja. 5. Tak kalo maso dahulunyo. iyolah kaba Tupai Janjang. adolah urang maso itu. memegang neraca adil. banda nak urang Koto Tuo. tak kalo alun baralun. alun-beralun adalah untuk menyatakan keadaan dahulu kala dan tidak persis waktunya. sia nyo urang nan ta kaba. kononlah si Datuak Bandaro. Transkripsi Teks Teks I PEMBUKAAN 1. Di yang tinggi tampak jauh. orang dusta kami tak mau. ADEGAN I 6. taputi suduik basuduik. muatan dari Koto Padang.6 kebun ubinya berpetak-petak. Balaia kapa ka Sibolga. memepat dan meratakan. menyatukan dan memperkuat. kami mambukak kaba lamo. maaf dimintak banyak-banyak. banda anak orang Koto Tuo. gajah maharam adalah sejenis rumah gadang atau rumah adat yang besar dan mempunyai banyak bilik. 3. mamacik naraco adia. yang dianjung tampak tinggi. niniak mamak adalah sebutan untuk para pemuka/penghulu adat. memegang timbangan yang benar) 3 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. mampeh mandatakan. 10 Berlayar kapal ke Sibolga. mambalah maampalau. kami membuka kaba lama. kononlah si Datuak Bandaro.2 sepuluh jari kami susun. muatan dari Kota Padang. tak kala alun-beralun3. maaf diminta banyak-banyak. Menurut Amir (2003:57). Adolah Datuak Bandaro. yang berumah Gajah Maharam. 2. urang duto kami tak nio. adalah orang masa itu. iyalah kaba Tupai Janjang. 2 5 Ampun beribu kali ampun.5 sawah luas berpiring-piring. nan barumah Gajah Maharam. sapuluah jari kami susun . Tatkala masa dahulunya. jolong tasongoh adalah awal kelihatan. Di nan tinggi tampak jauah. siapa dia orang yang terkaba. yang tersebut-sebut. kaba orang kami kabakan. Dalam pantun adat Minangkabau diungkapkan Nan gadang basa batuah. nan dianjuang tinggi. kaba urang kami kabakan. 4. ampunlah kami niniak mamak. Ampun baribu kali ampun. mamagang bungka nan piawai. 5 Menurut Navis (1984:175). sawah laweh bapiriang-piriang. 15 20 25 Adalah Datuak Bandaro. turunan puti sudut-bersudut. orang kaya suka makan. nan tasabuik-sabuik.1. tarajo turun barajo. di yang dekat jolong tasongoh. Banda urang kami bandakan.

takana badan tak baranak. kito ambiaklah anak urang. ini yang saya menungkan. kini baitulah dek adiak.” Yang menjawab Datuak Bandaro. membeli ikan belanak. Nan manjawek Datuak Bandaro. menyesal tercuci di kain rancak.” Yang berkata Linduang Bulan. kama dukun nan tak kito tampuah. teringat badan tidak beranak. sudah habis susah saya. sinan tamanuang Datuak Bandaro. mambali ikan balanak. “Manalah adik Linduang Bulan. manyasa tasasah di kain rancak. tidak patut susah Tuan sudah susah. siapa akan menjaga badan tua. sana termenung Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro.” 35 40 45 50 55 60 65 70 6 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. kalau den agak-agak bana. maliek Tuan bamanuang . anak yang tidak kunjung dapat.” 11. “Manolah adiak Linduang Bulan. kita diberi Tuhan akal. kito paliharo elok-elok. susah ka kito bagi duo. “Manolah adiak Linduang Bulan lah habih susah den. melihat Tuan bermenung. Dik. barakalah kito tantang nantu. kini baitulah dek Tuan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. .” 9. untuk menjaga badan kita. indak patuik manyasa Tuan. indak patuik susah Tuan lah susah. luluah rasonyo parantian .” 10. Diak. Sudah sepuluh tahun dia bergaul. kita ambillah anak orang. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kita pelihara elok-elok. anak nan indak kunjuang dapek. gimana saya tak akan bermenung. maka saya ke Pasar Canduang. luluh rasanya perantian. Lah sapuluah tahun nyo babaua. kini begitulah oleh adik. 7. rancak tarangkan pado denai. kito dibari Tuhan aka. rancak terangkan pada saya. bapiriang-piriang sama dengan berpetak-petak. kini begitulah oleh Tuan. mako den ka Pasa Canduang.” 30 yang istrinya Puti Linduang Bulan. iko nan den manuangkan. sia kamambalo badan tuo. manga Tuan duduak tamanuang. maka saya duduk termenung. Nan bakato Linduang Bulan. mako den duduak tamanuang. Bertanya Puti Linduang Bulan. tampaik kiramaik nan lah den datangi.” Yang menjawab Datuak Bandaro. Tujuannya adalah untuk menyatakan sawah yang banyak. 8 Batanyo Puti Linduang Bulan. digulai di hari senja. mengapa Tuan duduk termenung. baa denai tak kabamanuang. tempat keramat yang sudah saya datangi. susah akan kita bagi dua. tidak patut menyesal Tuan. kandak indak juo balaku. takana badan tak baranak. kalau saya kira-kira betul. Nan manjawek Datuak Bandaro. “Manalah adik Linduang Bulan. digulai di hari sanjo. kemana dukun yang tidak kita tempuh. teringat badan tak beranak. untuak mambalo badan kito.nan padusinyo Puti Linduang Bulan. sudah segudang tungku kemenyan saya bakar kehendak tidak juga berlaku. berakallah kita tentang itu. lah sagudang tungku kumayan den baka.

95 Datuak Bandaro bajalan bagageh. enggan juga hatinya. nan masonyo samaso nan tun.” 90 14. yang ada bertali darah. terutama untuk para gadis.” Yang berkata Datuak Bandaro. yang ke kiri lenggang membunuh8. alua tataruang patah tigo. kalau co iko adiak bajalan.” 13. orang berhelat tengah sawah. hampia sabulan kito tak kian. nan lai batali darah. sedangkan berdunsanak ibu. cadangkan padi salibu.12. “Manolah Tuan Datuak Bandaro. Kononlah Puti Linduang Bulan. yang berjalan siganjua lalai. “Manolah adiak Linduang Bulan. “Manolah adiak Linduang Bulan. 15. “Manalah adik Linduang Bulan. sayang menjelang sawah sudah. bainggan juo hatinyo.” 100 105 Sudah berjalan si Linduang Bulan. cando urang dikaja hantu. kononlah kasiah urang ditompang. sayang manjalang sawah sudah. yang masanya semasa itu. kepada Puti Linduang Bulan. 7 8 Sudah berjalan Datuak Bandaro. alu tertarung patah tiga. Datuak Bandaro berjalan bergegas-gegas. Nan bakato Linduang Bulan. samuik tapijak indak mati. nan ka kida lengang mambunuah. Yang berkata Datuak Bandaro. 16. kononlah padi rang basalang. urang baralek tangah sawah.” Sub-adegan ke-1 75 80 85 Yang berkata Linduang Bulan. dua dengan Linduang Bulan. duo jo Puti Linduang Bulan. nan bajalan siganjua lalai. Lah bajalan Datuak Bandaro. sapinggan juo kanasinyo. kok indak padi di lambuang.” ADEGAN II 17. melihat kebun kopi kita. Ibid. maliek kabun kopi kito. kapado Puti Linduang Bulan. bagagehlah adiak saketek. yang ke kanan lenggang mengana. kononlah kasiah rang ditompang. marilah kita berjalan-jalan. cadangkan padi salibu. kalau tidak padi di lumbung. nan babuah di tangah sawah. kalau den etong-etong bana. bergegaslah adik sedikit.gageh. Nan bakato Datuak Bandaro. hampir sebulan kita tak ke sana.7 yang berbuah di tengah sawah. . kalau seperti ini adik berjalan. sepinggan juga jadi nasinya. bilo masonyo nan kasampai. kononlah kasih orang ditompang. seperti orang dikejar hantu. baraso kopi lah ka manyirah. “Manalah Tuan Datuak Bandaro. sadangkan badunsanak ibu. Kononlah Puti Linduang Bulan. “Manalah adik Linduang Bulan. kononlah kasih orang ditompang. kononlah padi orang dipinjam. kalau saya hitung-hitung benar. bila masanya yang akan sampai. to melah kito bajalan-jalan. tetapi dapat tumbuh lagi. semut terinjak tindak mati. rasa kopi sudah akan memerah. Ungkapan ini sering digunakan untuk menyatakan sifat jalan seorang perempuan. nan ka suok lenggang manganai. Lah bajalan si Linduang Bulan. Nan bakato Datuak Bandaro. salibu adalah padi yang sudah terkena hama.

120 125 130 135 Yang berkata Puti Linduang Bulan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. Yang berkata Datuak Bandaro. “Oi adik Linduang Bulan.” Dilemparnya oleh Datuak Bandaro. Dibaenyo dek Datuak Bandaro. usah dibunuh binatang itu. tibo di dahan inyo maliek. Nan bakato Puti Linduang Bulan. Tuan?” 110 dituruti Datuak Bandaro. 23. Sanan takajuik Datuak Bandaro. saya bunuhlah Tupai Janjang ini. Panaslah hati Datuak Bandaro. 24. melompat ke tepi pagar. meloncat ke dahan tinggi. iko nyo nan mamakan kopi denai. kinilah nan mudo sajo nan tingga. den bunuahlah Tupai Janjang nangko. dialah binatang yang melompat tadi. maliek Datuak Bandaro. rancak benar tampak oleh saya. mangaliciak inyo saketek.” 21. dibae pulo sakali lai. den baelah binatang nangko. yang menghabiskan kopi kita. . kinilah yang muda saja yang tinggal. 18. 20. lalu diambil gado lintang. “Den sangko kopi banyak masak. mandencek sikua binatang. mandencek ka dahan tinggi. gado lintang adalah sebutan kayu yang digunakan untuk melempar. mandencek ka tapi paga.9 dilempar pula sekali lagi. etan di dalam parak kopi. Nan bakato Puti Linduang Bulan. inyolah binatang nan mandencek tadi. Panehlah hati Datuak Bandaro.” 9 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. Nan manjawek Datuak Bandaro. biarlah serupa Tupai Janjang. itu yang bernama Tupai Janjang. 140 nan maabiahkan kopi kito.dituruikan Datuak Bandaro. tiba di dahan dia melihat. tacangang Datuak Bandaro. “Iko nan maabihan kopi kito. menghindar dia sedikit. Apa namanya binatang itu. rancak bana tampak di denai. 145 kok Tuhan mambari izin denai baranak.” 19. kalau Tuhan memberi izin saya beranak.” 115 Dalam dia terkejut itu. itu nan banamo Tupai Janjang. Sana terkejut Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. dia mengelak masa itu. Tuan?” Yang menjawab Datuak Bandaro. lalu diambiak gado lintang. Pihak kepada binatang itu. melihat Datuak Bandaro. sampai di kabun parak kopi. ini yang memakan kopi saya. melompat seekor binatang. Apo namonyo binatang tu.” 26. itu di dalam kebun kopi. bialah sarupo Tupai Janjang. Nan bakato Datuak Bandaro.” 25. tercengang Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. inyo mailak maso nantun. “Oi adiak Linduang Bulan. Dalamnyo takajuik nantun.” Yang berkata Puti Linduang Bulan. saya lemparlah binatang ini. 22. sampai di kebun kopi. Pihak kapado binatang nantun. usah dibunuah binatang nantun. “Saya sangka kopi banyak masak. “Ini yang menghabiskan kopi kita.

apa takwil mimpi saya?” Pihak kepada Datuak Bandaro. . apo takwie mimpi denai?” 30. “Oi Tuan den Datuak Bandaro. 160 165 170 32. bapemenan bintang di langik. cukuik kaduo hari siang. diambil buku takwil mimpi. lalu dilihat masa itu. bara angguak sarato geleng. ada jelas oleh adik kandung?” Besar hati si Linduang Bulan. barpamenan adalah mempunyai alat untuk sekadar permainan. terserak seperti hujan panas. Ibid. kok Tuan tertawa seorang?” Yang menjawab Datuak Bandaro. dek badannyo lah ka manganduang. 29. raso mamaluak-maluak bulan. 31. denai bamimpi malam tadi. 155 Hari yang sudah berabuik10 senja. Gadang hati si Linduang Bulan. tandonyo niaik lai kasampai. 10 11 185 Sudah sebulan dua bulan. sarato Puti Linduang Bulan. bapamenan bintang di langit. Sub-adegan ke-1 28. yang sudah pulang Datuak Bandaro. sudah tidur Datuak Bandaro. adik bermimpi malam tadi. rasa memeluk-meluk bulan. lalu diliek maso nantun. ampia sampai ganok bilangan. Sana berkata Puti Linduang Bulan. Sinan bakato Puti Linduang Bulan. barabuik sama artinya dengan berebut. cukup kedua hari siang. 175 adiak bamimpi malam tadi. Nan manjawek Datuak Bandaro. yang sekali ayam berkokok. karena badannya sudah akan mengandung. “Oi Tuan Datuak Bandaro. lah lalok Datuak Bandaro.27. tando Linduang Bulan ka manganduang. serta Puti Linduang Bulan. “Menurut buku takwil mimpi. Badantuang bunyi patuih tongga. bapamenan bintang di langik. “Oi Tuan saya Datuak Bandaro. Yang berkata Puti Linduang Bulan. tanda Linduang Bulan akan mengandung. “Oi Tuan Datuak Bandaro. sudah sampai dia di rumah. hampir sampai genap bilangan. bapamenan11 bintang di langit. serta Puti Linduang Bulan. nan sakali ayam bakukuak. rasa memangku matahari. Nan bakato Puti Linduang Bulan. nan lah pulang Datuak Bandaro. raso mamangku matohari. taserak cando hujan paneh. sarato Puti Linduang Bulan. tetapi untuk ini berarti hari sudah senja. Hari nan alah barabuik sanjo. rasa memeluk-meluk bulan. raso mamaluak-maluak bulan. 180 lai jaleh dek adiak kanduang?” 33. Pihak kapado Datuak Bandaro. diambiak buku takwie mimpi. Sub-adegan ke-2 34. “Manuruik buku takwie mimpi. raso mamangku matohari. rasa memangku matahari. kok Tuan tagalak surang?” 150 Berdentum bunyi petir tunggal. tandanya niat ada kesampaian. lah sampai inyo di rumah. Lah sabulan duo bulan. saya bermimpi malam tadi. Ibid. berapa angguk serta geleng.

Nan bakato Puti Linduang Bulan.” Sub-adegan ke-3 38. lah tibo sakik baranak. ada jelas oleh Tuan itu?” Yang berkata Datuak Bandaro. musim kepundung13 sudah langkas. kalau kamasuak masuak bana. sama dengan ngiler atau air liur. lembek leher paja dibuatnya. “Manalah adik Linduang Bulan. hanyalah sedikit saja. ondeh deh sakiknyo. hanyolah saketek sajo. musim kapunduang alah rangkeh. lai jaleh dek Tuan tu?” 37. termenung Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. Nan bakato Datuak Bandaro. sudah hampir sembilan bulan. salamo denai manganduang ko. berkehendak kepundung muda. kaluah kasah inyo manahan sakik. 12 13 210 215 220 225 Sudah hampirnya genap bilangan bulan. dicarinya yang asam-asam. banyak larangan dengan pantangnya. “Aduh Tuan. akan mailia14 selera anaknya esok. Yang berkata Puti Linduang Bulan. dalam hal ini karena menahan sakit. itu syarat yang saya terima. sakitnya. tolonglah aduh sakitnya.bamacam-macam kandak Linduang Bulan inyo mamintak nan masam-masam. Lah hampienyo ganok bilangan bulan. 15 Ibid. tolonglah ondeh sakiknyo. “Oi Datuak Bandaro. itu pantang dengan larang yang tiba saya. aduh duh sakitnya. bermacam-macam kehendak Linduang Bulan dia meminta yang asam-asam. lah hampia sambilan bulan. sudah tiba sakit beranak. itu syaraik nan den tarimo. menceracau15 kata di mulutnya. Pihak kapado Datuak Bandaro. Tuan tidak boleh menyemblih ayam. “Ondeh Tuan. kalau akan masuk. dicarinyo nan masam-masam. 35.” 39. Ibid. Tuan indak buliah doh mandabiah ayam. mempelam sekarung dicarikannya. keluh kesah dia menehan sakit. sakiknyo. ampalam sakaruang dicarikannyo.” Yang berkata si Linduang Bulan. tamanuang Datuak Bandaro. nan tabedo inyo bakandak. Andropogon Nardus. “Manolah adiak Linduang Bulan. itu pantang jo larang nan tibo di den pihak kapado urang padusi. mancaracau sama dengan mengigau atau berbicara dengan tidak punya arahan. selama saya mengandung ini. kapunduang adalah sejenis buah-buahan seperti langsat yang rasanya asam dan berkulit tebal. Nan bakato si Linduang Bulan. Pihak kepada Datuak Bandaro. “Oi Datuak Bandaro. tapi yang dimakan si Linduang Bulan. mailia adalah mengalir dalam hai ini. 205 banyak larangan jo pantangnyo. tapi nan dimakan si Linduang Bulan. mancaracau kato di muluiknyo. 14 Idid. . bakandak kapunduang mudo. jangan kau tegak-tegak di pintu. kamailia salero anaknyo isuak. lenyai lihia paja dibueknyo. masuk benar. pihak kepada orang perempuan.” 190 200 36. tabedo adalah sesuatu yang berbeda dengan biasanya. ada larangan dengan pantangannya. jan kau tagak-tagak di pintu. yang tabedo12 dia berkehendak. Ibid. ado larangan jo pantangannyo. yang bersifat berlebihan dan tidak wajar.

jan saroman iko bana. sah bajalan maso itu. ambil kain panjang sebuah. bara caliak sarato lengoh. jangan serupa itu benar. Nan lah tibo si Dukun Pandai. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. hop. tibo di lantai. “Iko indak anak urang doh ko. lantai sudah patah.” 42. tanah lambang17.” Pihak kepada Dukun Pandai. taruih sakali masuak kandang. tidak tahan sakit seperti ini. Yang sudah tiba si Dukun Pandai. “sudah. ini anak sudah menyuruh. tiba di lantai. Pihak kapado Dukun Pandai. Ibid. Pihak kapado Datuak Bandaro. Lah balari si Dukun Pandai. Lalu diambiak anak maso nantun. hop. ejanlah. indak tahan sakik co iko. dijapuik malah dukun pandai. sudah. lantai lah patah. berapa lihat serta lengah. 260 Yang tercengang si Dukun Pandai. “Oi Linduang Bulan. rasuak taban. “Oi Datuak Bandaro. hendak saya coba menggeleng perut ini. ajan. diambillah kain panjang. lari ke jenjang masa itu. kanalah diri. Ibid. tibo di rasuak. terus langsung masuk kandang. “Oi Linduang Bulan. 46. ejan. lambang adalah bekas injak atau tekanan beban pada tanah. biarlah hendak saya cuba menolong.” 235 240 245 250 255 Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. bara geleng sarato uruik. ajanlah.. tanah lambang. ejan. iko anak tupai tu candonyo. alah beko. yo mantun. ini anak tupai itu sepertinya. diambiaklah kain panjang. sudah berjalan masa itu. berapa urut si Linduang Bulan. alah.” Lalu diambil anak masa itu.” 40. tibo di tanah. “Oi Datuak Bandaro.japuiklah Dukun Pandai. ejan. dibawa naik ke atas rumah. yo mantun. rasuak16 terban. ingatlah diri. ya begitu. tiba di rasuak. “aalah. “Ini tidak anak orang ini. . dijeput malah dukun pandai. berapa geleng serta urut. lari ka janjang maso nantun. rasuak adalah balok yang dipasang antar tiang untuk menyangga lantai. Gambaran betapa hebatnya yang empunya kaki dalam cerita klasik. 41. sudah nanti. tiba di tanah. ko paja lah manyaruang.” 47. Pihak kapado Dukun Pandai.” Pihak kepada Dukun Pandai. ajan. nak den cubo manggeleng paruik ko. dibawo niiak ka ateh rumah. ambiak kain panjang sabuah. 16 17 jeputlah Dukun Pandai. 45.” ADEGAN III 44. bara uruik si Linduang Bulan.” 230 Pihak kepada Datuak Bandaro. Nan tacangang si Dukun Pandai. bialah ndak den cubo manolong. Sudah berlari si Dukun Pandai. ya begitu. alah. ajan. sudah.” 43.

305 nak manyusu. antah a ko. disusukan anak maso itu. hendak akan menyusu? supaya saya menyusukan.” 48. alun dilieklah taliek. Lalu bakato si Linduang Bulan. kini anak manjadi tupai janjang. Pihak kepada Datuak Bandaro. usah dibunuah anak kito. iko antah urang. Datuak Bandaro baranak tupai. menyusulah ha! 270 275 280 285 290 295 300 54.” 53. 51. “Kini baitulah Linduang Bulan. biapun inyo sakarek ula. inyo anak kito. dipalapeh kandak maso itu. manyusulah ha! 18 Ibid. 50. kita tersebut orang asal. kito tasabuik urang asa. inyo kan darah dagiang kito. Pihak Puti Linduang Bulan. dia darah daging kita. ini entah orang.” Pihak Puti Linduang Bulan. turunan rajo turunan puti. biarpun sepotongnya belut. diambiak malah Tupai Janjang. ditimpo tanah badarai.” 49. nan sakarang iko kini. disusukan anak masa itu. biapun sakarek nyo baluik. “Kini begitulah Linduang Bulan. Nan bakato si Linduang Bulan. tupai anak Tuan malah kironyo.18 ditimba tanah berderai. kita pelihara baik-baik.” Yang tercengang Datuak Bandaro. malu nan lah tumbuah. malu yang telah tumbuh. tupai anak Tuan malah kiranya. Nan bakato si Dukun Pandai. kita besarkan anak ini. bakapiek adalah bergelintin sehingga susah dipisahkan.“Tuan Datuak Bandaro. “Oi Tupai Janjang elok-elok perangai anak. “Oi Tupai Janjang elok-elok parangai anak. kito gadangkan anak nangko. dia kan darah daging kita. usah dibunuh anak kita. kito paliharo baiak-baiak. bia den banuah Tupai Janjang. kalau baitu kato Adiak.” mendengar kata Linduang Bulan. kita pelihara baik-baik. tapi Tupai Janjang banyak ulahnya. menyusu! menyusu. Datuak Bandaro beranak tupai. tutunan puti suduik-basuduik.” Yang berkata si Dukun Pandai. Lalu berkata si Linduang Bulan. tapi Tupai Janjang banyak ulahnyo. belum dilihat sudah terlihat. “Oi Tuan Datuak Bandaro. . inyo darah dagiang kito. “Tanah liat bakapiek.” mandanga kato Linduang Bulan. dia anak kita. “Tanah liek bakapiek. yang sekarang ini kini. hendak menyusu. Pihak kapado Datuak Bandaro. diambil malah Tupai Janjang. turunan puti sudut-bersudut. dilepas kehendak masa itu. Tupai Janjang malah kironyo. kini anak menjadi tupai janjang. 265 “Tuan Datuak Bandaro. kito paliharo baiak-baiak. biarpun dia sepotong ular. kalau begitu kata Adik. andak kamanyusu? nak den manyusukan. biar saya bunuh Tupai Janjang. turunan raja turunan puti. manyusu! manyusu. Tupai Janjang malah kiranya. entah apa ini. Nan tacangang Datuak Bandaro. Yang berkata si Linduang Bulan. “Oi Tuan Datuak Bandaro.

nan Tupai Janjang usah dibunuah. sudah saya peluk. kalau den pipihkan nasi lamo karajonyo. 310 315 320 325 eh mengigit pula. piriang saonggok ditandehkannyo. banyak benar ulah kamu. baik saya kasih makan. dia berputar ke halaman. saya suapi kamu dahulu. kini baitulah nan elok. makan!. makan itu haa. dari hari berganti bulan. piring seonggok dihabiskannya. sagalo tanaman ditandehkan dek Tupai Janjang . jaeknya balabiah-labiah.. moh. hmm. alah den paluak. sudah habis barang atas rumah.Nan bakato Datuak Bandaro. haa melompat pula lagi. dia kan darah daging kita.” 57 . kini rancak saya kunyahkan dulu. usah digigit pula susu ini. mambana den Tuan oi.. ijan dibunuah Tupai Janjang. den paluak. mambana den ka bakeh Tuan.eh mangigik pulo. makan. kito buang habih-habih. kalau saya pipihkan nasi lama kerjanya. memberi malu saja kerjanya. inyo anak kanduang kito. mambenar saya ke hadapan Tuan. sudah payah mandeh membesarkan. inyo bakisa ka hilaman. tidak patut dipecah. haa elok-elok malah kalau manyusu tu!.” 330 Pihak kepada Tupai Janjang. “Manalah adik Linduang Bulan. yang jari saya yang sudah kamu kunyah. moh. kalau seperti cara ini perangai Tupai Janjang tidak mau ditunjuk diajari. kita buang habis-habis. saya peluk. menghabis menandehkan19 kerjanya. segala tanaman dihabiskan oleh Tupai Janjang. “Oi Tuan Datuak Bandaro. menandehkan sama dengan menghabiskan. hmm. Yang berkata Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. makan tu haa. moh. inyo kan darah dagiang kito. nan jari den nan lah ang kunyah. banyak bana ulah waang.” 56. ndak amuah ditunjuak diajari. jahatnya berlebih-lebih.Nan bakato Linduang Bulan. dipecahnya. . alah Tupai Janjang. ancak den agiah makan. lah payah mandeh manggadangkan. elok dicencang hidup-hidup. yang Tupai Janjang usah dibunuh. den suoki waang dahulu. melompat pula lagi. makan. elok dicacang hiduik-hiduik. mambari malu sajo karajonyo. Pihak kapado Tupai Janjang. lah abih barang ateh rumah. kini begitulah yang elok. haa elok-elok malah kalau menyusu itu. kini acak den kunyahkan dulo.” 345 19 Ibid. usah digigik pulo susu nantun!. sudah Tupai Janjang. dia anak kandung kita. dari hari baganti bulan. moh. 340 mahabih manandehkan karajonyo. makan!. mandecek pulo lai. makan.” Maka berkata Linduang Bulan. indak patuik dipacah dipacahnyo. membenar saya Tuan oi. makan. 335 kalau bak caro iko parangai Tupai Janjang. “Manolah adiak Linduang Bulan. haa mandecek pulo baliak.” Sub-adegan ke-1 55. jangan dibunuh Tupai Janjang.

sadang inyo di kayu gadang. mandanga kato ayah nantun. tapikia dek nyo maso itu. inyo manjanguak ka bawah. kita pergi ke kebun kopi. nan sakarang iko kini. yang sekarang kini. Bakato Datuak Bandaro. kato den kato nan elok . kepada anak Tupai Janjang. dia melihat ke bawah. mambao ang ka parak kopi. nan bajalan mandencek-mandencek. tapi karena kamu anak manusia. turutkan saya oleh kamu Tupai Janjang. raso banyak nan lah masak.58. Nan lah bajalan Datuak Bandaro. toh20 melah berjalan-jalan. kalau sayang kamu katakan sayang. kok sayang ang katoan sayang. mendengar kata ayah yang itu dia mencibir-cibir. Mancareceh-mancareceh adalah ungkapan untuk menyatakan tingkah laku seekor tupai. yang sudah sampai di tepi rimba. Ibid. “Manalah kamuTupai Janjang. “Manalah kamu Tupai Janjang. iyo mancibia-cibia. tidak akan mau si Linduang Bulan. kalau menurut hati saya.” 62. “Manolah ang Tupai Janjang. saya minta bertenang-tenang. biarpun kamu tidak pandai bicara. Nan tamanuang Datuak Bandaro. kini elok saya curi anak ini. nan lah sampai di tapi rimbo. kalau saya minta berelok-elok. setentang kata si Linduang Bulan. kapado anak Tupai Janjang. rasa banyak yang sudah masak. suaronyo mancareceh-careceh. 59. Pihak kapado Datuak Bandaro. suaranya mencareceh-careceh21. sedang dia di kayu besar. etan ka kabun kopi kito. Pihak kapado Tupai Janjang. tapi dek ang anak manusia. .” 60. kata saya kata yang elok. kini saya kamu cibirkan. toh adalah sejenis kata ajakan yang artinya sama dengan marilah. “Manolah ang Tupai Janjang. kito pai ka kabun kopi. kini waden ang cibiakan. “Manalah kamu Tupai Janjang. 360 365 370 375 380 385 390 Sana berkata Datuak Bandaro. den minta batanang-tanang. dia berjalan bergegas-gegas. iya kepada Datuak Bandaro. kini elok den cilok paja nangko. Yang berkata Datuak Bandaro. iyo ka Datuak Bandaro . biapun waang indak pandai mangecek. lah sabulan kopi tak baliek. membawa kamu ke kebun kopi. Sanan bakato Datuak Bandaro. kamu tahu dikata orang. Tupai Janjang mengiringi di belakang. toh melah bajalan-jalan. kalau manuruik hati denai.” Yang sudah berjalan Datuak Bandaro. 61. yang berjalan melompat-lompat. ndak ka amuah si Linduang Bulan. Berkata Datuak Bandaro. satantang kato si Linduang Bulan. turuikan den di ang Tupai Janjang. 63. 64. sudah sebulan kopi tidak lihat.” Pihak kepada Tupai Janjang. nyo bajalan bagageh-gageh. sana ke kebun kopi kita. Pihak kepada Datuak Bandaro. terpikir oleh dia masa itu. Nan bakato Datuak Bandaro. “Manolah ang Tupai Janjang.. Tupai Janjang mairiang di balakang. 20 21 350 355 Yang termenung Datuak Bandaro. kalo den mintak baelok-elok. waang tau dikato urang.

andak manuruik kabun nantun. ADEGAN IV 69. Nan sakarang iko kini.” Yang sekarang kini. lalu mandencek Tupai Janjang. yang sudah kenyang Tupai Janjang. saya cencang lumat-lumat. pengganti barang orang yang pecah. begitu pula mandeh kamu tapi perangai kamu tidak berubah-rubah. baitu pulo mandeh ang. jauh yang bukan alang-alang. mahabih manandehkan karajo ang. lalu dipanjek kayu gadang. terasa lapar yang di perut. dia tahu kata manusia. ke hilir lebuh Tarantang. lah bara piti den abih. sudah jelas oleh kamu itu?” Mendengar kata ayah kandung.” 400 Sub-adegan ke-2 65. tapi parangai ang indak barubah-rubah. taraso lapa nan di paruik. ka mudiak indak bapaga. menghabiskan manandehkan kerja kamu. mangecek sajo nan tak pandai. lah jaleh diang tu?” 66. Yang sudah sampai di tepi kebun. ke mudik tidak berpagar. bakirok bakikih ang dari kampuang ko. nampaklah ladang nan sabuah. pengganti harta orang yang kamu habiskan. takana mandeh kanduang diri. tinggallah badan di rimbo gadang. Pihak kapado rang punyo ladang. 405 den cancang lumek-lumek. pangganti harato urang nan ang abihan. tinggallah badan di rimba besar. 425 Pihak kepada orang punya ladang. dia menangis masa itu. pihak kepada Tupai Janjang. nyo pai masuak rimbo. pada saya makan kamu hidup-hidup. harta orang harta kamu. dia makan sekenyang-kenyangnya. Bakirok bakikih merupakan kata majemuk untuk mengusir seseorang . teringat ibu kandung diri. inyo tahu kato manusia. gadang hati si Tupai Janjang. 410 415 420 Pihak kepada Tupai Janjang. maliek jaguang dalam parak. lalu melompat Tupai Janjang. jauah nan bukan alang-alang.waden sayang ka bakeh ang. hendak menurut kebun yang itu. bicara saja yang tak pandai. melihat jagung dalam kebun. Nan lah sampai di tapi kabun. inyo manangih maso itu. 22 saya sayang kepada kamu. lalu dipanjat kayu besar. pihak kapado Tupai Janjang. pado den makan ang hiduik-hiduik. besar hati si Tupai Janjang. nan malengong suok jo kida. dia pergi masuk rimba. Pihak kapado Tupai Janjang. Mandanga kato ayah kanduang. jahaik ang bakalabiahan. inyo makan sakanyang-kanyangnyo. berkirok berkikis22 kamu dari kampung ini. 68. yang menoleh kanan dengan kiri. 395 harato urang harato awak. nampaklah ladang yang sebuah. pangganti barang urang nan pacah. Sub-adegan ke-3 67. nan lah kanyang Tupai Janjang. sudah berapa uang saya habis. ka ilia labuah Tarantang. nakal kamu berkelebihan.

” Yang pulanglah Mandeh Rubiah. berkata pada Mak Hitam. nan mancilok si jaguang mudo. 73. diungguakkan dalam pirangkok. binatang nan mamakan jaguang. untuang-untuang masuak dalam perangkok. cukup kedua hari siang. kini begitulah oleh Mak Hitam.nan banamo Mandeh Rubiah. 435 rajuiklah binatang nantun. kok lai untuang masuaak pirangggkoooook. lalu mandencek maso nantun. iya elok benar orang yang punya ladang pada kita berjerih-jerih. terpikir oleh dia masa itu. karena perut terasa sudah kenyang. cukuik kaduo hari siang. nan lah jago Tupai Janjang. Pihak kapado Mak Hitam. Nan takajuik si Tupai Janjang. dek paruik taraso lah kanyang. 470 satu tibonyo di situ. dia melompat ke dalam jagung muda.” 72. Nan sakali ayam bakukuak.” Lalu melompat Tupai Janjang. yang mencuri si jagung muda. rajutlah binatang yang itu. jagung sudah dionggokan untuk kita. dionggokkan dalam perangkap. dibuek pirangkok maso nantun. Lalu mandencek Tupai Janjang. pergi ke ladang melihat jagung. dia tidur di atas kayu. iyo elok bana urang nan punyo ladang. supayalah sudah seperti perangkap. “Iya elok orang ini. tapikia dek inyo maso itu. namun semalam-malam itu. terlelap dia si Tupai Janjang. dua dengan suaminya Mak Hitam.” 76. kalau untungnya takdir Allah. yang memakan jagung muda. “Iyo elok urang ko. kalau ada untung masuuk peranggggkaaaaaap. 430 yang bernama Mandeh Rubiah. kini baitulah dek Mak Hitam. namun samalam-malam nantun. pai ka ladang mancaliak jaguang. untung-untung masuk dalam perangkap. elok bana urang nangko. 74. Pihak kapado Tupai Janjang. mancaliak jaguang nan taonggok.” begitu katanya Mandeh Rubiah. 71. pulang ka rumah jo Mak Hitam. bakato pado Mak Hitam. 465 pado awak bajariah-jariah. 450 440 445 Pihak kepada Tupai Janjang. waktu tiba dia di situ. 455 460 75. Yang terkejut si Tupai Janjang. “Apa binatang kok kiranya. yang sudah bangun Tupai Janjang. Nan lah pulang Mandeh Rubiah. teringat pula mencuri. duo jo lakinyo Mak Hitam. . binatang yang memakan jagung. Yang sekali ayam berkokok. jaguang lah dionggokkannyo untuak awak. takana pulo mamaliang. nan mamakan jaguang mudo. kok untuangnyo takadie Allah. elok benar orang ini. lalu melompat masa itu. nak lah sudah cando pirangkok. Pihak kepada Mak Hitam. melihat jagung yang teronggok. nyo tidua di ateh kayu. talalok nyo si Tupai Janjang. diambiak jaguang tangah parak. dibuat perangkap masa itu.” baitu katonyo Mandeh Rubiah. diambil jagung tengah kebun. pulang ke rumah dengan Mak Hitam 70.“Apo binatang kok kironyo. nyo mandencek ka dalam jaguang mudo.

tumbuahlah sasa dalam diri. Nan bakatonyo Mak Itam. nan takajuik si Tupai Janjang. ha… saya yang susah-susah ke kebun.24 Yang sudah datang Mandeh Rubiah. den cakiak inyo sampai mati. Pihak kapado Mandeh Rubiah. 475 sarato Mak Itam suaminya. yang sekarang kini. nan sakarang iko kini.ha… bagaimana cobalah rasakan. 82. saya cekik dia sampai mati. hu… hu…. Nan tacangang Mandeh Rubiah. “ha… ha… ha…. sudah jelas oleh kamu?” Pihak kepada Tupai Janjang. serta Mak Itam suaminya. ha… waden nan jariah-jariah ka parak. iba tiba di dalam hati. baa cubolah rasokan. kamu yang menghabiskan ya? saya bunuh kamu kini. Lai jaleh ? Ka babao pulang pulo ? Untuak a dibao pulang ? Den cancang juo kini-kini. Pihak kapado Tupai Janjang. berladang bertanam jagung. hiba kita membunuhnya.pirangkok bingkeh hanyo lai. dan lain-lain. bingkeh adalah bingkas. melentingnya pegas sebuah perangkap apabila tersinggung sesuatu atau mangsa. kita bawa pulang Tupai Janjang ini. “ha…ha…. Kalusuah panja adalah kata majemuk untuk menyatakan perasaan yang berkeluh-kesah. ya menangis si Tupai Janjang. pandai benar dia menangis. mendengar kata Mak Hitam. ibo awak mambunuahnyo. tupai nangko tupai kiramaik. baladang batanam jaguang. 480 waang nan maabihkan yo? den bunuah ang kiniko. dalam perengkapnya kalusuak panja. Iko nan mahabihkan jaguang awak. Yang tercengang Mandeh Rubiah. caliaklah dek Mak Hitam. mandanga kato Mak Hitam. ini yang memakan jagung saya. tumbuhlah sesal dalam diri. takana bapak nan jo mandeh. Yang berkata Mandeh Rubiah. “Manalah Mak Hitam. saya makan kamu hidup-hidup. Nan bakato Mandeh Rubiah. 77.” 80. Tupai Janjang pandai manangih. iko nan mamakan jaguang denai. jan dibunuh tupai nangko.” Pihak kepada Mandeh Rubiah. teringat bapak dengan ibu. yo manangih si Tupai Janjang. “Manolah Mak Hitam. ibo tibo di dalam hati. den makan ang hiduik-hiduik. “Indak!.” Yang berkatanya Mak Itam. lihatlah oleh Mak Hitam. . jangan dibunuh tupai ini. Nan lah datang Mande Rubiah. kito bao pulang Tupai Janjang ko. lah jaleh dek waang?” 78. 485 490 495 500 505 510 24 Ibid. air matanya berderai-derai. aie matonyo badarai-darai. 23 perangkap bingkeh23 hanya ada. dalam pirangkoknyo kalusuak panja.” 81. hu… hu… 79. yang terkejut si Tupai Janjang. Tupai Janjang pandai menangis. pandai bananyo manangih. tupai ini tupai keramat. “Tidak! Ini yang menghabiskan jagung kita Ada jelas? Akan dibawa pulang pula? Untuk apa dibawa pulang? saya cencang juga kini-kini.

kalo manuruik ukuran denai.” 515 520 “O Tuan hanyo saya. tupai ko mangarati kecek urang mangecek sajo nan tak pandai. kito paliharo baiak-baiak. karena kuduknya kena cium. kita pelihara baik-baik. mandanga kato Mandeh Rubiah. kalau menurut ukuran saya. dek kuduak no kanai cium. yang terpikir Mandeh Rubiah. mandencek kapado Mandeh Rubiah. Pihak kapado Mak Itam. diagiah aie tak diminumnyo.“O Tuan janyo denai. lalu dibukaknyo pirangkok. tergeli rasa di Mandeh Rubiah. Pihak kapado Tupi Janjang. nan tapikie Mandeh Rubiah.” Pihak kepada Mak Itam. “Ha elok-elok di sini ya. “Manolah ang Tupai Janjang. kalau hauih den agiah aie. sudah tiba dia di tengah rumah. lalu dibukanya perangkap.” Pihak kepada Tupai Janjang. diberi jagung tak dimakannya. bisa mati dia nanti. saya beri jagung. elok inyo dikaluakan. 525 530 535 Tiba kasih Mandeh Rubiah. Tibo kasiah Mandeh Rubiah. kok untuang takadia Allah. Lalu pulang nyo maso nantun. kalau seperti ini Tupai Janjang ini. diagiah jaguang tak dimakannyo.” 540 545 550 . mendengar kata Mandeh Rubiah. tagali raso di Mandeh Rubiah. “Ha elok-elok di siko yo. bicara saja yang tak pandai. lah tibo nyo di tangah rumah. ambek dibunuah Tupai Janjang. melompat kepada Mandeh Rubiah.” Lalu pulang dia masa itu. membenar saya ke Mak Hitam. elok dia dikeluarkan. jangan dibunuh Tupai Janjang. dimasukkannya ke dalam kandang. ini kandang kamu. kok untung takdir Allah. den kaluakanlah sabanta. diberi air tak diminumnya. tidak makan tidak minum. tupai ini mengerti bicara orang. sabab tupai ko pandai manangih. “Manalah kamu Tupai Janjang. dia cium kuduk Mandeh Rubiah. molah den bao ang pulang. den agiah jaguang.“ 83. Pihak kapado Tupai Janjang.” 87. elok-elok ang di dalam. saya kaluarkanlah sebentar. mambana denai ka Mak Hitam . Pihak kepada Tupai Janjang. indak makan indak minum. kalau lapar saya beri nasi. dimasuakkannyo ka dalam kandang. namuah mati nyo baeko. sebab tupai ini pandai menangis. dia melompat masa itu. iko kandang ang. bialah ang den bao tingga. elok kito bao pulang. marilah saya bawa kamu pulang. elok-elok kamu di dalam. elok kita bawa pulang. jangan tupai ini kita bunuh. kalo bak nangko Tupai Janjang ko. kalau haus saya beri air. 84. inyo cium kuduak Mandeh Rubiah. biarlah kamu saya bawa tinggal. dimasuakkan si Tupai Janjang. kalau litak den agiah nasi. inyo mandencek maso nantun. jan tupai ko kito bunuah. Sub-adegan ke-1 85.” 86.. dimasukkan si Tupai Janjang.

” Pihak kepada Tupai Janjang. elok tupai ini. dek karano waang mangadangkan hati kami. Pihak kapado Tupai Janjang. berusahalah kita. besar hati kami dibuatnya. dibao naiak ka ateh rumah. 575 580 585 590 595 Sana berkata Mandeh Rubiah. dikasih minum yang dengan makan.. lalu dimakan maso nantun. sudah berubah perangai masa itu. seperti kamu kini. Pihak kapado Tupai Janjang. Sana berkata Mandeh Rubiah. oleh karena kamu membesarkan hati kami. Sana berkata Mandeh Rubiah. jaan namuah mamintak-mintak. dia melompat masa itu. cobalah pikir oleh kamu Tupai Janjang. waang alah bausaho. sebuah pinta dari Mandeh. “Manolah anak Tupai Janjang. kamu sudah berusaha. Lah dibao si Tupai Janjang. elok tupai ko. urang nan bajariah.” 570 91. gadang hati kami dibueknyo. Apa akan makan ya? Apa makanlah. kita yang mendapat laba saja. kini ndak usah ang masuak kuruangan lai. 565 “Iyo elok tupai nan ko.” 555 Pihak kepada Tupai Janjang. iya sebenar pintar Tupai Janjang ini. lalu dimakan masa itu. di tapak tangan yang suka oleh dia makan. Sinan bakato Mandeh Rubiah. melompat ke bahu Mandeh Rubiah.” 93. 91. jikok disuruah inyo pai . kalau sekiranya perut lapar. sugguahpun mamintak elok-elok. minta secara baik-baik. mintak sacaro elok-elok. mamakan jaguang di parak urang. tapi sebuah lagi. tapi sabuah lai. kalau sakironyo paruik lapa. cubolah pikia dek ang Tupai Janjang. bepikirlah kamu sedikit. sungguhpun meminta baik-baik.” Pihak kepada Tupai Janjang. jika disuruh dia pergi. barusaholah awak. jangan mencuri-curi juga. kini tidak usah kamu masuk kurungan lagi. sabuah pintak dari Mandeh. 89. awak nan mandapek labo sajo. diambil jagung yang muda. . dibawa naik ke atas rumah. macam waang kini ko. “A a kamakan yo? Aa makanlah. Sanan bakato Mandeh Rubiah. “Iya elok tupai yang ini. diagiah minum nan jo makan. inyo mandencek maso nantun. 560 90. jaan anak mancilok juo. itulah usaho dek ang. itulah usaha oleh kamu. diambiak jaguang nan mudo. di tapak tangan nan katuju dek inyomakan. diambiak jaguang di tangan Mandeh Rubiah. lah barubah parangai maso itu. orang yang berjerih. iyo sabana santiang Tupai Janjang ko. memakan jagung di kebun orang. “Manalah anak Tupai Janjang. 92.88. diambil jagung di tangan Mandeh Rubiah. jaan maambiak-ambiak lai.” Sudah dibawa si Tupai Janjang. jangan mau meminta-minta. jangan anak mencuri juga. bapikialah waang saketek. jaan mancilok-cilok juo. Pihak kapado Tupai Janjang. mandencek ka bahu Mandeh Rubiah. jangan mengambil-ngambil lagi. Sinan bakato Mandeh Rubiah.

yang sudah siang sepertinya hari. Pihak kapado Tupai Janjang. Nan lah malam pulonyo hari. yang selamat kebun Mandeh Rubiah. dia berundung-undung kain putih. takutlah dia semuanya. 25 jika ditegur dia berhenti. nyo baunduang-unduang maso itu. Sub-adegan ke-3 97. kini pergi kamu ke ladang. ka ladang jaguang kito.Lalu bakato maso nantun. sudah sampai dia di ladang. yang sekarang ini kini. alah patuah dirasokan. kalau iya masuk oleh kamu pengajaran. timbul akal semasa itu. larilah dia semuanya. yang dia ambil kain merah. lah diambiaknyo kain putiah. sudah diambilnya kain putih. 630 635 Karo adalah sejenis binatang sejenis monyet yang berbadan kecil dan hidup di dalam hutan.” 96. 615 620 625 Pihak kepada karo25 banyak. yang berundung dengan kain merah. 98. terkejut babi yang banyak.Nan tapikia dek Mandeh Rubiah. Sudah tiba dia di tengah ladang. takuiklah inyo kasadonyo. takajuik babi nan banyak. Yang terpikir oleh Mandeh Rubiah. nan baunduang jo kain sirah. salaruik salamo nangko. lah salamaik parak Mandeh Rubiah. kamu sudah lama tinggal di kami. apalah binatang yang itu. . alah barubah parangai waang. nyo masuaklah ka dalam ladang. siang malam jaga oleh kamu. nan nyo ambiak kain sirah. sudah selamat ladang Mandeh Rubiah. tapikia dek inyo dalam hati. kok iyo ameh tahan uji.jikok ditagah inyo baranti. ke ladang jagung kita. nan lah siang candonyo hari. apolah binatang nantun. “Manalah kamu Tupai Janjang. siang malam jago dek waang. abih lari karo nan banyak. sudah berubah perangai kamu. 99. selarut selama ini.” Pihak kepada Tupai Janjang. Yang sudah malam pula hari. kalau iya emas tahan uji. nan sakarang iko kini. waang lah lamo tingga di kami. dia masuklah ke dalam ladang. Pihak kapado karo banyak. inyo baunduang-unduang kain putiah. 605 610 Lalu berkata masa itu. dia berundung-undung masa itu. dia pergi pula ke ladang. habis lari karo yang banyak. Sub-adegan ke-2 95. 100. timbua aka samaso itu . Lah tibo inyo di tangah ladang. larilah inyo kasadonyo. Pihak di Mandeh Rubiah. kini pai ang ka parak. nan salamaik parak Mandeh Rubiah. lah sampai inyo di ladang. terpikir oleh dia dalam hati. sudah patuh dirasakan. dicaliak kapado Tupai Janjang. inyo pai pulo ka ladang. kok iyo masuak dek ang pangaja. dilihat kepada Tupai Janjang. “Manolah ang Tupai Janjang. 600 Pihak di Mandeh Rubiah. 94.

kaki tertarung inai26 padahan27nya. Alam nan takambang ko.Lalu dipangia Tupai Janjang. kaki tataruang inai padahannyo. panceteh batang lintabung. yang sekarang kini. lah jaleh dek ang tu?” 105. pasan pituah urang tuo. melompat duduk di muka Mandeh Rubiah. sabuah pintak kapado ang. “Manalah kamu Tupai Janjang. 104. Lalu dipanggil Tupai Janjang. sekepal jadikan gunung. muluik taloncek ameh tantangannyo. sakapa jadikan gunuang. pesan pituah orang tua. Sabuah lai oi anak kanduang. kok tumbuah tiok manjadi anak . Ini merupakan petuah yang sering diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih kecil. salodang ambil ke niru. pelajari oleh kamu. perangai sudah berubah. nak Mandeh tunjuak ajari. kemarilah kamu duduk. 28 Bagian ini bisa dibacakan dalam pidato-pidato adat. setitik jadikan laut. lah tingga samo jo kami. danga dek ang elok-elok. manjago induak karajonyo. sudah tinggal sama dengan kami.” Pihak kepada Tupai Janjang. mancaliak paliharolah mato. supaya Mandeh tunjuk ajari. dengar oleh kamu elok-elok. nan banamo anak batang pisang. kalau berjalan peliharalah kaki.28 Alam yang terkembang ini. 26 650 655 Pihak kepada diri kamu. 660 665 670 Ibid. mandencek duduak di muko Mandeh Rubiah. kok bakato paliharolah lidah. menjaga induk kerjanya. “Manalah kamu Tupai Janjang. kok bajalan paliharolah kaki. satitiak jadikan lauik. melihat peliharalah mata. padahan adalah akibat. tumbuahnyo sabalik induaknyo . yang bernama anak batang pisang. panakiak pisau sirauik.lah masuak pangajaran maso itu. “Manolah ang Tupai Janjang. palajari dek waang. Sebuah lagi oi anak kandung. 645 nan sakarang iko kini. contoh misalnyo batang pisang. 101. inai adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa memerahkan kuku yang berfungsi untuk memberikan hiasan pada kuku. kalau berkata peliharalah lidah. mulut terlompat emas tantangannya. contoh misalnya batang pisang.Pihak kapado diri waaang. 27 Ibid.” 640 102. salodang ambiak ka niru. kamarilah ang duduak. Sabuah lai yo nak kanduang. panceteh batang lintabuang. tumbuhnya sekeliling induknya. itu yang alam terkembang jadi guru. kalau tumbuh tiap menjadi anak. bapikialah anak tantang itu. itu nan alam takambang jadi guru. tantangan.” sudah masuk pengajaran masa itu. berpikirlah anak tentang itu. “Manolah waang Tupai Janjang. penakik pisau siraut. parangai alah barubah.” Sub-adegan ke-4 103. sudah jelas oleh kamu itu?” Sebuah lagi ya anak kandung. alam terkembang jadikan guru. sebuah pinta kepada kamu. alam takambang jadikan guru. .Pihak kapado Tupai Janjang. Ini merupakan falsafah bagi masyarakat Minangkabau yang lazim disebut falsafah Alam Takambang Jadi Guru.

kok bakawan basamo gadang. baa awak mandaki? sasak angok ndak? itu pakaikan dek waang. kok tacirubuah kaki ka dalam lubang. ado jalan nan malereng. banyak jalan yang akan ditempuh. batu kecil bisa menurun. bicara dengan orang yang besar pada kita. dari yang besar ke yang kecil. baitu pulo kito dalam bagaua. “Baa jalan nan mandata ko. awak basobaik samo gadang. patah biko dibueknyo.”Sudah itu jalan manurun. tapi ingek bana tu nak kanduang. ado jalan nan manurun. berkata dengan orang yang mulia. caliak dek ang jalan manurun. “Bagaimana jalan yang mendatar ini. yang jalan yang menurun ini banyak berlobang-lobang. hendaknya dalam kita bergaul ini. begitu pula kita dalam bergaul.” Yang ke dua jalan mendaki. Agak-i adalah kira-kira perasaan orang supaya jangan tersinggung.Nan ka duo jalan mandaki. 685 itu namonyo jalan nan data. ada jalan yang menurun. mangecek jo urang nan gadang pado kita 700 bakato jo urang nan mulia.“Adaik kito iduik di dunia. ada jalan yang mendaki. kalau berkawan bersama besar. kalau tercebur kaki ke dalam lobang. ada jalan yang melereng. 705 basuo jo urang tuo-tuo. bersua dengan orang tua-tua. ado jalan nan madaki. kok tasingguang urang. kalau tersinggung orang. nan jalan nan manurun ko banyak balubang-lubang. agak-i 30orang tersinggung. itu ka kawan samo gadang. tapi ingeklah dek waang. 690 ijan talongsong-talongsong bana. . boleh bicara sembarangan saja. bakato bakeh nan ketek. ada jalan yang mendatar. bisa sajo awak turun.” “Sudah itu jalan menurun. itu untuk kawan sama besar. handaknyo dalam kito bagaua ko. itu namanya jalan yang datar.” 107. “Yang dikatakan jalan mendaki. berkata kepada yang kecil. tapi ingat betul itu anak kandung. itu yang tertarung kaki namanya. 680 ambiak sadonyo dek nak kanduang. di jalan yang datar banyak orang yang jatuh. gimana kita mendaki? sesak nafas kan? itu pakaikan oleh kamu. ambil semuanya oleh anak kandung. disesakkan nafas kalau bicara. kalau bicara dengan orang tua. basuo jo urang mulia-mulia. patah nanti dibuatnya. berkata usah lalu lalang saja. 695 itu nan tataruang kaki namonyo.” 106. ado jalan nan mandata. tapi ingatlah oleh kamu. kita bersahabat sama besar. disasakkan angok kok mangecek. 675 banyak jalan nan kaditampuah. 29 30 “Adat kita hidup di dunia. di jalan nan data banyak urang nan jatuah batu ketek bisa manurun. kok mangecek jo urang tuo. akan jadi pelajaran”. buliah mangecek sambarang sajo. lihat oleh kamu jalan menurun. bersua dengan orang mulia-mulia. tapi agak-i urang ka tasiingguang. “Nan dikatokan jalan mandaki. jangan terlongsong-terlongsong29 betul. 710 715 Terlongsong-longsong maksudnya sama dengan jangan semena-mena. ka jadi palajaran”. bakato usah lalu lalang sajo. bisa saja kita turun. tapi agak-i orang akan tersinggung. agak-i urang tasingguang. dari nan gadang ka nan ketek.

ampun ambo Mandeh kanduang. 740 745 750 755 Menurut Navis (1984:260). sudah elok perangai masa itu. terkejut Mandeh Rubiah. “Manolah Mandeh kanduang denai. “Oi…anak muda. mangapa ada kamu disini. siapa kamu ini kiranya. kok mangecek jo urang sumando. Tupai Janjang indak ada lagi. bicara dengan menantu.31 ada jelas oleh kamu itu nak?” 725 730 735 Pihak kepada Tupai Janjang. “Kalau itu Mandeh katokan. Pihak kapado Tupai Janjang. Manjawab anak mudo nantun. mendengar kata Mandeh Rubiah. anak mudo. ampun hamba Madeh kandung. lah barubah tingkah lakunyo. “Kalau itu Mandeh katakan. barakaik pangaja Mandeh. mangko ado waang disiko. nan kaciak tu bisa nyo malawan. kuasa Tuhan pun berlaku. mangecek jo urang nan disagani. “Oi…. yang kecil itu bisa dia melawan. . bakato inyo maso itu. denai barubah jadi manusia. bicara dengan mintuo. taraso bana pangajanyo. itulah kata penuh sampiran. sudah berubah tingkah lakunya. 110.” “Sudah itu jalan melereng. mandanga kato Mandeh Rubiah. kemana Tupai Janjang? dilihat ada anak muda tidur di sana. disiko tampaik Tupai Janjang.anak mudo. oi anak muda.Adolah pado suatu pagi. mangecek jo mintuo.” 113. mengecek jo minantu. dek diaja-i Mandeh Rubiah. berkat pengajaran Mandeh. terasa betul pengajarnya. berkata kepada Mandeh kandung. melawan dia kepada kita.” 108. oi…. lah elok parangai maso itu. bakato kapado Mandeh kanduang. kalau bicara dengan orang sumando. sia waang ko kironyo. pituah ini sering diberikan oleh niniak mamak kepada kemenakan dan lazim dibacakan waktu pidato adat. lai jaleh dek ang tu nak?” ADEGAN V 109. Tupai Janjang indak ado lai. bicara dengan orang yang disegani. saya berubah jadi manusia.” 112. ingat-i itu pula oleh kamu.Bakato Mandeh Rubiah . kama Tupai Janjang? dicaliak ado anak mudo tidua di sinan. malawannyo bakeh kito. Pihak kapado Tupai Janjang. Adalah pada suatu pagi. koaso Tuhan pun balaku.” Menjawab anak muda itu. saya ini yang bernama Tupai Janjang. 111. jalan melereng yang akan dipakai.kok lalu lalang sajo. Berkata Mandeh Rubiah. ingek-i tu pulo dek waang. berkata dia masa itu. oleh diajari Mandeh Rubiah. “Sudah tu jalan malereng itulah kato panuah sampiran. 31 720 kalau lalu lalang saja. takajuik Mandeh Rubiah. denai ko nan banamo Tupai Janjang.” Pihak kepada Tupai Janjang. disini tempat Tupai Janjang. “Manalah Mandeh kandung saya. jalan malereng nan kadipakai.

Sana berkata Mandeh Rubiah. sarato serta sanak |lah| dengan saudara. bandalah |hai| orang si Koto Tuo. 117. kami di rumah kok kaberangan. bari izin ambo bajalan. kami di rumah kalau keberangan. 115. si kikih adalah sejenis burung kecil.nan sakarang kini nangko. Ungkapan ini sering dibacakan oleh tukang kaba dan juga sering ditemui di bagian awal sebuah kaba. sanak sakitulah dahulu. tibo di bumi jadi kaba. maaf jo rila nan kami pintak. 3. dilapeh jo hati ibo. sanak segitulah dahulu. kapado si Tupai Janjang. . baha adalah nama yang diberikan pada sejenis akar laut. Anak si kikih ateh batu. 5 Kaiklah berkait |lah| si rotan sago. maaf dengan rila yang kami pinta. “kamu kini bergelar Sutan Kurnia. anak balam33 di kebun lada. dilepas malah Tupai Janjang.” 765 770 Sanak ke Sumpu lah dahulu. dan terkutur. 2. jatuah ka bumi manjadi kaba. anak balam di parak lado. ambo nak sujuik minta ampun. ikan di laut berlayangan. dilapeh malah Tupai Janjang. kaba disudahi sampai di situ. jatuh ke bumi menjadi kaba. |hai| nan lah takaik nan di aka baha tabang ka langik |lah| tabarito. Manolah niniak |lah nan| jo mamak.Sanan bakato Mandeh Rubiah. kaba disudahi sampai di situ. hendak menemui bapak dengan Mandeh saya. Ibid. 34 Ibid. Bandarlah orang |hai|hamba bandarkan. izinkan saya mandeh kandung. 32 33 Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. balam adalah sejenis burung yang lazim disebut burung balam. |hai| yang sudah terkait yang di akar bahar34. kepada si Tupai Janjang. dilepas dengan hati hiba. lah takaik di aka baha. yakni akar bahar yang biasanya dibuat gelang tangan.Nak duo pantun sairiang. 775 Supaya dua pantun seiring.Tantangan Mandeh Rubiah.Sanak ka Sumpu lah dahulu. Kaik bakaik rotan sago. besok hendak kita ulang pulang. 760 yang sekarang kini. nak manamui bapak jo Mandeh denai. 10 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. |ai| segala kami anak muda. “waang kini bagala Sutan Karunia.” Tentangan Mandeh Rubiah. Teks II PEMBUKAAN (bait ke-1 sampai bait ke. Bandalah urang |hai| ambo bandakan.” PENUTUP 116. izinkan denai mandeh kanduang. terbang ke langit |lah| terberita. isuak nak kito ulang pulo. hamba hendak sujud minta ampun.4) 1. sanak |lah| jo saudaro.” 114. Tibo di langik tabarito. beri izin hamba berjalan. Kaiklah bakaik |lah| si rotan sago. ikan di lauik balayangan. |ai| sagalo kami anak mudo. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. Anak si kikih32 atas batu. dara.

|hai| bumi yang antah barantak. |oi| urang nan gadang |lah| maso itu. bandar anak orang |lah| di Gumarang. 9. pencerita dalam posisi duduk. orang yang elok |lah| masa itu. bumi nan alun |hai lah| baralun. 6. 8.” |Oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. Pencerita waktu itu. kaba |lah| orang ada kami kabakan. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. Banda |lah| urang kami bandakan. mengapa adik termenung juga. kanan. lah sapuluah tahun barumah tanggo. |Oi| adoklah diri duo nantun.” . orang dusta kami tak serta. |oi| mangana nasib |lah| maso itu. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. pencerita berangsur-angsur pula berdiri dengan gerakan tangan yang sama. Bandar |lah| orang kami bandarkan. 15 (Pada awalnya. Ayunan tengan itu bergerak ke depan dan ke belakang mengikuti irama dendang TJ. pencerita beransur-ansur mencari posisi jongkok dengan terus bergerak mengayunkan tangannya. |oi| urang nan kayo suduik-basuduik. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. |oi| orang yang besar |lah| masa itu. urang duto kami tak sato. dek adiak barilah tarang. “Dik kanduang si Linduang Bulan. belakang. saluang dibunyikan yang diikuti dengan tepuk tangan seorang penonton. 20 (Teks bait ke-5 sampai bait ke-8. Kemudian. “Dik kanduang si Linduang Bulan. |oi| bermuka rancak rambut terurai. 25 |oi| bamuko rancak rambuik taurai.kaba |lah| urang kami kabakan. 30 |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang. |Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. nak sanang dalam hati sajuak dalam kiro-kiro. |Oi| adolah pado suatu maso. oleh adik berilah terang. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan. |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro. kaba |lah| urang lai kami kabakan. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. |Oi| adalah pada suatu masa. 7. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai urang nan elok |lah| maso itu. seperti gerakan menari. |hai| bumi nan antah barantah. sudah sepuluh tahun berumah tangga. Pencerita berjalan ke depan. |Oi| hadaplah diri dua yang itu. didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak seperti gerakan tari Minang dengan diiringi musik. 35 manga adiak tamanuang juo. Setelah itu. supaya senang dalam hati sejuk dalam pikiran. tasabuik garan Datuak Bandaro. berdua dengan Puti |lah| si Lindung Bulan. bumi yang belum |hai lah| beralun. |oi| orang yang kaya sudut-bersudut. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. banda nak urang |lah| di Gumarang. tersebut gerangan Datuak Bandaro. kaba |lah| orang kami kabakan. Hadap ke |lah| diri |lah|si Puti Linduang Bulan. 4. |Oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. |oi| anak yang tidak |lah| dapat juga. Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan.) ADEGAN I |5. dan kiri dengan terus mendendangkan teks) .

|oi| sana tersentaklah si Lindung Bulan. pulang maklum kepada Tuan. ampun baribu kali ampun. 15. pulang maklum kapado Tuan. |Oi| lalu berkatalah si Linduang Bulan. dilihat-lihat |nan| kebun yang itu. sana termenunglah si Linduang Bulan. musik tidak dibunyikan.) 11. Dialog diucapkan dengan menirukan suara perempuan yang sedang sedih karena dia belum mempunyai anak. 13. Lah |kok| tibo |oi| maso itu.Lalu bakatolah si Linduang Bulan. |oi| terasa letihlah si Linduang Bulan. Mandanga katolah si Linduang Bulan. |oi| terbit pikiran Datuk Bandaro. itu yang saya menungkan juga. sanan tamanuanglah si Linduang Bulan.” Lalu berkatalah si Linduang Bulan.(Bait ke-9 merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan berdiri. pedih di rasa badan saya. seperti orang yang menyembah. |oi| taraso latiahlah si Linduang Bulan. ampun beribu kali ampun. . 55 dicaliak-caliak |nan| kabun nantun. “Ampunkan saya Tuan kanduang. mendengar Tuan yang seperti itu. pencerita mendendangkan teks dengan posisi duduk sambil berakting memperlihatkan keletihan) . anak yang tidak dapat juga. 16. Waktu dialog.” 45 (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-11 dengan posisi duduk. 40 |Oi| mendengar kata Datuk Bandaro. |Oi| baralah jauah |oi| nan bajalan. |Oi| lalu bakatolah si Linduang Bulan. anak nan indak dapek juo. Sudah hampir tiba |oi|gerangan di kebun. |oi| takana kabun |lah| maso itu. kito bajalan di hari paneh. menundukkan kepala. |Oi| berapalah jauh |oi| yang berjalan. (Pada bait ke-12 sampai bait ke-14. “Ampunkan saya Tuan kandung. Sub-adegan ke-1 14. dipanggil pula |lah| si Lindung Bulan. teks didendangkan oleh pencerita dengan tetap diiringi musik dan tepuk tangan dengan posisi berdiri. dan berakting. |oi| sinan tasintaklah si Linduang Bulan. sepuluh tahun berumah tangga. 50 Mendengar katalah si Linduang Bulan. |oi| sanan tatagunlah Datuak Bandaro. lah jauah kito nan bajalan. “Ampunkan denai Tuan kanduang. Sudah |nan| berjalanlah masa itu.) 12. |Oi|mandanga kato Datuak Bandaro. Lah ampia tibo |oi| garan di kabun.) 10. padiah di raso badan denai. (Pencerita bergerak kembali dengan mendendangkan teks yang diiringi oleh musik serta tepuk tangan. mandanga Tuan nan bak kian.Lah |nan| bajalanlah maso itu. |oi| tabik pangana Datuak Bandaro. Pada bait ke-15. 60 Sudah |kok| tiba |oi| masa itu. Pencerita mengucapkan teks dengan berakting seperti seorang suami yang berbicara kepada istrinya. |oi| sana tertegunlah Datuak Bandaro. “Ampunkan denai Tuan kanduang. sudah jauh kita yang berjalan. dipangia pulo |lah| si Linduang Bulan. |oi| teringat kebun |lah| masa itu. itu nan denai manuangkan juo. kita berjalan di hari panas. sapuluah tahun barumah tanggo .

saya hendak minum hanya kini. “Dik kandung si Linduang Bulan. “Ko lai sumua. ini ada sumur ini oleh Adik. jari dirabalah masa itu. 17. pencerita langsung minum. sudah yang melompatlah di masa itu. |oi| sudah tampak kini |oi lah| yang seekor. |oi| lalu ditimbalah air yang itu. kehendak boleh pintak berlaku. ini sudah air yang ini kini. Sumur yang ketiga |lah| masa itu. Dicari sumur yang pertama. iko lai sumua iko dek Adiak. dicari malah |ko| sumua kini. merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita. teks didendangkan oleh pencerita dengan berdiri sambil menari. dicari pulo sumua nan kaduo. Sesudah mengucapkan dialog itu. Sumua nan katigo |lah| maso itu. |oi| tangan bajari |lah| Datuak Bandaro. |oi| lalu dicarilah maso itu.” 65 panas yang kini hangat ini benar. kerongkongan kering itu oleh Tuan. Lamo |lah| lambek |oi| garan di kabun 90 |oi| lah nampak kini |oi lah| nan saikua lah nampang sikua |lah| si Tupai Janjang lah nan malompeklah di maso itu. rangkungan kariang tu dek Tuan. 85 “Dik kanduang si Linduang Bulan. Lama |lah| lambat |oi| gerangan di kabun. minumlah Adik yang dulu.” Mendengar kata |nan| si Linduang Bulan. Dialog ini adalah dialog DB. Dik kanduang si Linduang Bulan. Pencerita langsung memperagakan seolah-olah LB yang minum) . sudah tampak seekor |lah| si Tupai Janjang. menari sambil sedikit melompat untuk (Pencerita mendendangkan bait ke-20 di atas. |oi| lalu dicarilah masa itu. |oi| lalu minum |lah| si Linduang Bulan. seperti seorang perempuan berbicara dalam kondisi keletihan. 18. tolong Tuan carikan air. .) ADEGAN II 20. aia nan indak |lah nan| ko ado. |oi| tangan berjari |lah| Datuak Bandaro.” (Pada awal bait ke-17. |oi| lalu disauaklah aia nantun. Dicari sumua nan partamo. minumlah Adiak nan dulu. 75 kandak buliah pintak balaku. tolong Tuan carikan aia. 70 jari direseklah maso itu. saya hendak minum yang di belakang. Pencerita berakting sambil menundukkan kepalanya seolah-olah melihat sumur) . Mandanga kato |nan| si Linduang Bulan. Sebagian teks bait ke-19. Dik kandung si Linduang Bulan. lalu diberikan ke Puti kini. teks didendangkan oleh pencerita. denai nak minum hanyo kini. denai nak minum nan di balakang. sumur yang kedua sudah kering pula. kemudian didialogkan.” (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-16 dengan berakting. dengan menggambarkan tingkah tupai) . |oi| lalu minum |lah| si Lindung Bulan. “Ini ada sumur. iko lah aia nan ko kini.” 80 19.” (Pada bait ke-18 dan sebagian bait ke-19. dicari pula sumur yang kedua.paneh nan kini angek ko bana. sumua nan kaduo lah kariang pulo. dicari sudah |ko| sumur kini. lalu diagiahkan ka Puti kini. air yang tidak |lah nan| ini ada.

|oi|terbit pikiran |lah|si Linduang Bulan. lalu diambillah maka kayu. kini saya minum pula. Lalu ko sadiahlah si Linduang Bulan. 25. Adik jangan menangis juga. anak nan indak dapek juo. Adiak usah manangih juo. |oi| lalu diambillah air yang itu. ibarat seorang ibu yang sedang menangis karena anaknya dipukul. 100 lalu bakatolah Datuak Bandaro. . lalu diambiaklah mangko kayu. |ha| lalu dicaliak |oi| si Tupai Janjang. anak yang tidak dapat juga. mengapa dibunuh |lah| si Tupai Janjang. sepuluh tahun berumah tangga. 24. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua. (Pencerita mendendangkan bait ke-26 dengan berdiri sambil menari yang diiringgi musik dan tepuk tangan) . Manga Tuan saburuak itu niak kini. ibalah saya yang masa itu. diambiak aia |oi| lalu di minum. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu. 115 Sudah |nan| kini dekat |lah| masa itu. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. diambil air |oi| lalu di minum. Pencuci mukalah si Linduang Bulan. mangga dibunuah |lah| si Tupai Janjang. Tuan ndak mambunuah si Tupai Janjang indak elok Tuan baitu bana. pencerita mendendangkan dengan suara yang sedih. |ha| lalu dilihat |oi| si Tupai Janjang. 23. sudah akan dibunuh si Tupai Janjang. manalah Tuan yang hanyo saya. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu. Tuan hendak membunuh si Tupai Janjang. tadi Adik yang sudah minum. Lah |nan| ko dakek |lah| maso itu. |oi| habis dicuci muka Linduang Bulan. tadi Adiak nan lah minum. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. |Ha| didekati malah |lah| si Tupai Janjang itu. Manga ko sadiah |lah| si Linduang Bulan. manolah Tuan nan janyo denai. pencerita meminum air) . lalu berkatalah Datuak Bandaro. Hal itu diperagakan oleh pencerita dengan memegang kepalanya) .“Dik kanduang si Linduang Bulan. ibolah denai nan maso itu. kini sedang minum Datuak Bandaro.21. 27. 120 sapuluah tahun barumah tanggo. tidak elok Tuan seperti itu. 105 (Pencerita mendendangkan bait ke-24 dengan berdiri dan menari. (Pencerita mendendangkan bait ke-21 sampai bait ke-23. Sesudah itu.” 110 “Dik kandung si Linduang Bulan. 95 lah ka dibunuah si Tupai Janjang.“Ampun kan denai Tuan kanduang. |oi| tabik pangana |lah| si Linduang Bulan. Pada bait ke-22. 26. “Ampun kan saya Tuan kandung. Mengapa kini sedih |lah| si Linduang Bulan. 22. Pancuci mukolah si Linduang Bulan. |Oi| lalu diambil yang air sumur. Lalu kini sedihlah si Linduang Bulan.” (Pencerita mengucapkan dialog DB pada bait ke-25. kini ko minum Datuak Bandaro. kini denai ka minum pulo. pencerita minum kembali) . Sesudah itu. Mengapa Tuan seburuk itu niat kini. |Ha| didakek malah |lah| si Tupai Janjang nantun.

|Oi| raso bamimpilah maso itu. lah nan bamimpilah si Linduang Bulan.” (Bait ke-27 di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita. 29. Sudah tiba malam gerangan di rumah. (Pencerita mendendangkan teks bait ke-30 dengan duduk dan berakting untuk memperlihatkan memeluk matahari dan memangku bulan. termasuk kelompok orang Nan IV jinih. 145 |oi| surau nan condong |hai| condong ka Barat. apalah tujuan |hai| mimpi ini habis. Lalu bakato |hoi lah| Linduang Bulan. sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. . biar serupa Tupai Janjang. asal ada saya dapat anak. Kegiatan ini dilarang dalam syariat agama Islam karena tergolong syirik. 140 |Oi| rasa bermimpilah masa itu. Hal ini dilakukan waktu mendendangkan rasa memeluk bulan dan memangku matahari) . Pencerita awalnya berdiri. lah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. |oi| raso memangkulah itu bulan. sayalah bermimpi |hai| lah tadi malam. lalu ditanuanglah36 masa itu. rasa |lah| memeluklah si matahari. |Oi| lamalah lambat gerangan di kebun. bia sarupo Tupai Janjang. |oi| raso mamangkulah tu bulan. apalah mimpi |lah| si Linduang Bulan. baduo jo diri Datuak Bandaro. 30. tanuang adalah perbuatan untuk meramalkan atau mengetahui sesuatu yang tidak terlihat. |oi| mimpi nan habih |oi| hari lah siang. lalu disebutkan kepada Datuak Bandaro. sudah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. Sub-adegan ke-2 32. berdua dengan diri Datuk Bandaro. lalu disabuik ka Datuak Bandaro. denailah bamimpi |hai| lah tadi malam. Menurut Amir (2003:55). Sub-adegan 1 28.” 125 kalau ada pinta yang boleh. |oi| mimpi yang habis |oi| hari sudah siang. apalah tabir mimpi yang itu. apolah mimpi |lah| si Linduang Bulan. Lah tibo malam garan di rumah.kok lai pintak nangko buliah. 36 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. lalu ditanuanglah maso itu. apolah arah |hai| mimpi ko habih. lalu dicarilah orang malin35. urang kiramaik |lah| hiduik-hiduik. asa lai denai dapek anak. 135 raso |lah| mamaguiklah si matohari. kemudian sujud menyembah dan berakting seperti seorang istri memohon dan berharap kepada suaminya) . |oi| lamalah lambat gerangan di jalan. 35 Lalu berkata |hoi lah| Linduang Bulan. |Oi| lamolah lambek garan di kabun. lalu dicarilah urang malin. (Pencerita mendendangkan bait ke-28 dan bait ke-29 dengan berdiri dan menari) . orang yang berilmu dan juga bagian dari gelar adat. |oi| lamolah lambek garan di jalan. Lah nan ka Bonjo |lah| maso itu. Sudah yang ke Bonjol |lah| masa itu. lah tigo malam maso tu kini. apolah tabir mimpi nantun. |oi| surau yang condong |hai| condong ke Barat. sudah tiga malam masa itu kini. orang keramat |lah| hidup-hidup. sudah yang bermimpilah si Linduang Bulan.. 31. 130 lah nan sahari |haa| lah duo hari.

apo nan mintak Adiak ko kini. |Oi| lamalah lambat Datuak Bandaro. lah nan duo bulan garan manganduang. . |oi| baralah sanang hati Linduang Bulan . |oi| lalulah minum Datuak Bandaro.|Oi| lamolah lambek Datuak Bandaro. hati nan sananglah maso itu. |ha| disebut malah |ha| takwil mimpi. “aduh aduh. |Oi|sudah mengandunglah si Linduang Bulan. sudah yang sepekan |oi| sudah yang sebulan. |ha| lalu diambillah air yang itu. kembali mendendangkan bait ke-36) . maengkang merupakan jalan seorang ibu yang lagi hamil. lah lapan bulan paruik tambah gadang. aduh aduh..sanan bakatolah Datuak Bandaro. terasa sakitlah si Linduang Bulan.. |ha| lalu diambiaklah aia nantun. sana berkatalah Datuak Bandaro. taraso auih Datuak Bandaro. taraso sakiklah si Linduang Bulan. Lah tigo bulan sudah limo bulan garan manganduang. anak nan indak dapek juo. Hal ini dilakukak untuk memberitakan istrinya yang akan mengandung) . 160 (Pencerita minum air pada bait ke-35. sakik. anak yang tidak dapat juga. Adik merasa sakit juga.. |Oi| lah manganduanglah si Linduang Bulan.. terasa haus Datuak Bandaro.. 35. 155 |Oi| sudah yang |ko| pulang Datuak Bandaro. “aduh. sudah delapan bulan perut tambah besar. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung.” (Pencerita pada bait ke-36 dan bait ke-37 berakting dengan merintih serta memegang perut dan pinggangnya. jalan barubahlah nan maengkang. 38. Waktu mendendangkan bait ke-32 dengan posisi duduk sambil tetap mengayunkan tangan mengikuti irama dendang yang diiringgi bunyi musik) . sakik. (Pencerita mengambarkan DB pulang. sepuluh tahun berumah tangga. Adiak maraso sakik juo. kini sudah mengandung maka Adik. kini lah manganduang mako Adiak.aduh aduh.sakit. diminta air |hai| ke Linduang Bulan.. Sub-adegan ke-3 33.” 37 170 “Dik kandung si Lindung Bulan. lah nan sapakan |oi| lah nan sabulan. Hal ini dilakukan supaya seperti seorang ibu yang sedang mengandung) . sudah yang dua bulan gerangan mengandung jalan berubahlah yang maengkang37. (Pencerita mendendangkan bait ke-31dengan posisi berdiri. “Dik kanduang si Linduang Bulan. 37. 34. Ssesudah itu.” Ibid.aduh. sapuluah tahun barumah tanggo . |Oi| lah nan |ko| pulang Datuak Bandaro.” 165 Dari sehari |oi| gerangan mengandung.sakit. |oi| apolah garan |lah| takwia mimpi. Dari sahari |oi| garan manganduang. pada bait ke-34 dengan sedikit melompat karena kegembiraan. |oi|apalah gerangan |lah| takwil mimpi. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. apa yang minta Adik kini. diminta aia |hai| ka Linduang Bulan. |oi| berapalah senang hati Linduang Bulan. 36. hati yang senanglah masa itu. 150 |ha| disabuik malah |ha| takwia mimpi.

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan pencerita dengan suara yang dibesarkan supaya terdengar berwibaya) . 39. Basadiah-sadiahlah si Linduang Bulan, 175 tibo nan cameh dapek tu maa, “Aduuh sakiik aduah saakiik, minum lah ciek dulu Tuan oi.” Bersedih-sendihlah si Linduang Bulan, tiba yang cemas dapat itu, “Aduuh sakiit aduuh saakiik, minum lah satu dulu Tuan oi.”

(Pada bait ke-39, diperagakan oleh pencerita seperti seorang ibu yang mengerang kesakitan waktu sedang hamil tua. Sesudah itu, pencerita minum kembali) . 40. Lah lapan bulan |oi| garan menganduang, lah nan sambilan bulan nyo manganduang, 180 paruik batambahlah sakik juo. 41.|Oi| lalu dipanggia dukun nan partamo, lalu nyo reseklah si Linduang Bulan. Sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung, sudah yang sembilan bulan dia mengandung, perut bertambahlah sakit juga. |Oi| lalu dipanggil dukun yang pertama, lalu dia rabalah si Linduang Bulan.

(Pencerita pada bait-40, bergerak dalam kondisi berdiri, kemudian berakting seperti terjatuh akibat menahan kesakitan. Pada bait ke-41, pencerita berakting seperti seorang dukun yang sedang memeriksa kehamilan) . 42. “aduuah aduuah…. Sakiik…., aduuh sakiik…..” “aduuah aduuh…. Sakiit……, aduuh…..sakiit……”.

(Bagian teks di atas merupakan rintihan Linduang Bulan yang dilakukan oleh pencerita dengan berakting sambil merintih seperti orang yang sedang menahan kesakitan) . 43. “Dik kanduang si Linduang Bulan, dicaliak kini ko codo sia? ambo resek dulu.” 185 “Dik kandung si Linduang Bulan, dilihat kini seperti siapa? saya raba dulu.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita untuk menghibur LB. Hal ini dilakukan supaya dapat mengurangi rasa sakit yang diderita LB) . 44. “Ampunkan denai Datuak Bandaro.” “Ampunkan saya Datuk Bandaro.”

(Dialog di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita dengan terbata- bata) . 45. “Dicaliak kini bini manganduang.” “Dilihat kini istri mengandung.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita juga dengan terbata-bata) . 46. “Tapi….. anak…ndak.ka lahia kini, anam bulan lai ka lahia.” 190 “Tapi…..anak….tidak akan lahir kini, enam bulan lagi akan lahir.”

(Bagian teks yang ke-46 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara ketakutan) .

47. Dukun kapunduang lah salapan bulan, lah sambilan bulan bini den manganduang, kabatambah anam bulan lai.”

Dukun kepundung38 sudah delapan bulan, sudah sembilan bulan bini saya mengandung akan bertambah enam bulan lagi.”

(Dialog DB pada bait ke-47, diucapkan oleh pencerita dengan cara berakting dan suara yang keras sehingga mengambarkan rasa kesal kepada Dukun karena dikatakan istrinya belum juga bisa melahirkan) . 48. Lalu dicari dukun nan kaduo, 195 |oi| dukun kaduo |oo| sarupo itu, |oi| lalu di datang dukun nan katigo, |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Lalu dicari dukun yang kedua, |oi| dukun kedua |oo| seperti itu, |oi| lalu di datang dukun yang ketiga, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pencerita mendendangkan bait ke-48, dengan berdiri dan menari sambil berjalan) . 49. “Batanang dulu yo! kok lah dapek aia ko ambo minum gai dulu.” 50.”Ampunkan denai Datuak Bandaro, kalau dicaliak nan ko kini.” “Tenang dulu ya! kalau sudah dapat air ini saya minum dulu.” “Ampunkan saya Datuak Bandaro, kalau dilihat yang ini kini.”

200

(Bagian teks yang ke-49 dan ke-50, merupakan dialog dukun yang diucapkan oleh pencerita sambil memperlihatkan seolah-olah memeriksa kehamilan LB. Pada bait ke-49, pencerita mengucapkan dialog itu kemudian minum) . 51. “Aaa duuh saakiik….. saakiik.” “Aaa duuh saakiit…..saakiiit.”

(Rintihan LB pada bagian teks ke-51, dilakukan oleh pencerita dengan akting seperti orang yang akan melahirkan) 52. “Batananglah dulu Linduang Bulan.” “Tenanglah dulu Linduang Bulan.”

(Dialog DB pada bagian teks ke-52 diucapkan oleh pencerita dengan suara seperti orang yang sedang membujuk istrinya. Hal ini dilakukan supaya LB tabah dalam menahan rasa sakitnya) . 53. “Iyoo… sakiik iko Dukun.” 205 “Iyaa….sakiit ini Dukun.”

(Bagian teks ke-53 merupakan rintihan LB yang dilakukan oleh pencerita sambil mengurut-urut perut dan pinggangnya) . 54. “Iyo itu nan kamalaian, ampunkan denai Datuak Bandaro, tolong carikan talua nan sabuah, aia putiah nan sagaleh, kito agiah salusuah nangko Linduang Bulan, 210 untuang kok capek nangko laia”.
38

“Iya itu yang akan melahirkan, ampunkan saya Datuak Bandaro, tolong carikan telur yang sebuah, air putih yang segelas, kita berikan selusuh ini Linduang Bulan, untung kalau cepat ini lahir.”

Kepundung diucapkan oleh pencerita untuk mengungkapkan kekesalan kepada dukun

(Dialog pada bagian teks yang ke-54, merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita untuk menyuruh DB mencari telur dan selusuh agar LB cepat melahirkan. Hal ini diucapkan sambil duduk dengan cara menyembah) . 55. Alah ko tibo nan barang nantun, |ha| lalu dipacahlah talua nantun, diambiak malah aia sagaleh, |ha| dicampua-campualah maso itu, 215 |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Sudah kini tiba yang barang yang itu, |ha| lalu dipecahlah telur yang itu, diambil malah air segelas, |ha| dicampur-campurlah masa itu, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pada bait ke-55, didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan menari sambil memperagakan memecah telur) . 56. “Aduuh sakiik… Tuan ampun Tuan….” “Aduuh sakiit…Tuan ampun Tuan….”

(Bagian teks yang ke-56, merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang kesakitan) . 57. “A…. iko Linduang Bulan iko ado pilusuah.” “A….ini Linduang Bulan ini ada sisuluh.”

(Bagian teks yang ke-57 merupakan dialog Dukun yang diperagakan oleh pencerita sambil memegang gelas) . 58. “Aduuh aduuh..sakiik Tuan ai..” 220 “Aduuh aduuh.. sakiit Tuan ai…”

(Bagian teks di atas merupakan rintihan LB. Pencerita merintih sambil berakting dengan cara mengerang seperti orang kesakitan dengan membungukkan badannya) 59. “Iko nan pilusuah Tuah. minumlah yo…!” “Ini yang silusuh Tuan. minumlah ya…!”

(Pencerita mengucapkan dialog dukun pada bagian teks ke-59, dengan memperagakan seolah-olah memberikan minuman kepada LB) . 60. “Aduuh lah sakiik lah Tuan yooi.” “Aduuh sudah sakiit sudah Tuan yooi.”

(Bagian teks ke-60 adalah rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang yang kesakitan) . 61. “Iyo itu nan manganduang, banyaklah mangucap.” 225 “Iya itu yang mengandung banyaklah mengucap.”

(Bagian teks ke-61 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang berwibawa untuk menggambarkan supaya LB tetap tabah) . 62. “Aduu..h sakii….k… ndak …. aduu..h sakiik……” “Aduuh…sakii….t….ndak….. aduu..h sakiik…..”

(Pencerita mendendangkan bait ke-67. lantai berlubang.h sakiit aduu….” “Sudah hampir ini haa. 63. Nan lah ko laialah si Tupai Janjang |oi| tibo di lantai. serupa tupai. 240 Lalu berkata Datuak Bandaro. Tupai Janjang?” “Aaa…. |Yo| anak barupo |lah| si Tupai Janjang. 70. Lalu teringat |a| masa di kebun. |hai| jika diminta sudah masa itu. . |Ya| anak berupa |lah| si Tupai Janjang. lantai balubang.h sakik aduu….” (Bagian teks yang ke-63. sarupo tupai. |a| lalu dilihatlah anak yang itu.” “Anak ada.. Hal itu ditampilkan oleh pencerita dengan mata terbelalak) . |hai| jikok diminta lah maso itu. |oi| tiba di lantai. 235 |Ha| kini nan sasa nan dapek lai. dengan berdiri sambil menari) .” (Bagian teks di atas merupakan ucapan dari DB yang diucapkan oleh Pencerita dengan suara sedih) .. “Lah ampia ko kamahaa. (Pencerita mendendangkan bait ke-70. “Aduu…. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegak perut seperti orang kesakitan) . |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. pinta berlakulah hanya ada.h sakiik adu….” “Eaa……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks di atas untuk menggambarkan bahwa anak LB sudah lahir) . |Ha| kini yang sesal yang dapat lagi. “Aaa…. “Anak lai. |hai| sasa kudian indak baguno. dengan suara tersedu-sedu seperti orang menangis) . 67. |a| lalu dicaliaklah anak nantun. Tupai Janjang?” (Bagian teks yang ke-67 di atas merupakan ucapan DB yang kaget karena melihat anaknya yang lahir seperti TJ.ah…” “Aduu…. pintak balakulah hanyo lai. 230 Yang sudah ini lahirlah si Tupai Janjang. 68. merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan mimik penuh kecemasan) 64. 69.h sakiit aduu…ah…” (Pada bagian teks yang ke-64. 65. “Eaa…….. Lalu bakato Datuak Bandaro. ADEGAN III 66. Lalu taingek |a| maso di kabun. |hai| sesal kemudian tidak berguna.(Bagian teks ke-62 merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegang perut dan pinggangnya) . (Bait ke-68 didendangkan oleh pencerita sambil bergerak dengan memegang kain di tangannya seolah oleh mengambarkan bayi yang sedang digendong) .

71. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. “Ai……” “Ai……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks ke-71. lah tumbuah diri batambah gadang. anak sigiang-giang rimbo. lalu dibuanglah si Tupai Janjang. terbitlah bengis Datuak Bandaro. usahlah malempek-lompek juo aa. 260 anak bincacak anak bincacau.. “Usahlah mangigik-mangigik juo Yuang. . 255 Dari sehari |lah| masa itu. boleh ke rimbalah kau kini.yo. haus? Ndak berair? tidak berair.! 250 usahlah malompek-lompek juo. buliah ka rimbolah kau kini.” (Dialog LB pada bait ke-72. 41 Ungkapan yang biasa diucapkan dalam kaba untuk menyatakan anak yang tidak mempunyai etika dan biasanya disampaikan dengan nada keras dan marah. “Nak kanduang si Tupai Janjang. ndak bisa ambuih saluang lai. haus ya? yo menangis juga. 72. itu tukang saluang limo minik . dilakukan oleh pencerita seperti seorang ibu yang menyusukan bayinya. itu tukang salung lima menit. lah minum yo…...? ko aia ha. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. sudah minum ya….” (Dialog bait ke-74 adalah dialog DB kepada TJ yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang lantang sehingga menggambarkan DB sedang marah) . perangai nakal |lah| masa itu. seperti suara seekor anak tupai.? ini air ha. hauih? Ndak baraia? ndak baraia. 245 hauui yo? yoi manangih juo.! janganlah melompat-lompat juga. Kemudian. 74. tabiaklah bangih Datuak Bandaro. 39 40 Yuang adalah sebutan untuk anak laki-laki di Minangkabau Memeh adalah ucapan yang biasa dikatakan oleh ibu pada waktu akan menyusui bayinya. waktu mengucapkan dialog baris terakhir bait di atas. anak bincacak anak bincacau. ya.” 265 “Nak kandung si Tupai Janjang. apo harato lah diambiaknyo. kini pergilah ini kini. tidak bisa hembus salung lagi. (Pencerita mendendangkan bait ke-73 sambil bergerak dan terus memegang selendang. kini bakirolah ko kini. Pencerita kemudian memasukkan selendangnya ke dalam bajunya seolah-olah seorang ibu yang mengeluarkan payudaranya dan menyusukan bayi. sudah tumbuh diri bertambah besar. selendang itu dilempar seolah-olah DB membuang anaknya) . anak sigiang-giang rimba41. ini memeh40 aa… ini meh haa. lalu dibuanglah si Tupai Janjang. Hal ini dilakukan pencerita dan menjadikan selendangnya sebagai properti untuk menggambarkan anak yang sedang digendongnya) . ko memeh aa…ko meh haa. Pencerita akhirnya memperagakan dengan minum) .. apa harta sudah diambilnyo.” “Janganlah mengigit-mangigit juga Yuang39. Dari sahari |lah| maso itu. usahlah melompat-lompat juga aa. parangai jaek |lah| maso itu. Sub-adegan ke-1 73.

80. |oi| baa curito |lah| tantang itu. |oi| lalu dicaliaklah dek Mak Hitam. lalu diambil |oi| air lalu diminum.Sub-adegan ke-2 75. |oi| badan nan bisa manangih juo. takana anak nan maso itu. sudah akan dibuanglah si Tupai Janjang. Sub-adegan ke-3 78. (Bait ke-78 sampai dengan bait ke-81 didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak mengikuti irama yang sama) . karena kerongkongan saya |hai| bertambah kering. |oi| tapi dilarang dek Mande Rubiah. Alah diusialah si Tupai Janjang 76. sanan diambeklah si Tupai Janjang. 280 |Oi| hadap ke dirilah si Tupai Janjang. |Oi| hari nan sadang pukua satu. Lamolah lambek garan manangih. |oi| badan yang bisa menangis juga. dek rangkungan den |hai| batambah kariang. |a| si Tupai Janjang saitu dulu. |oi| sadang babuntalah sibayang-bayang. lah kuruih badanlah si Linduang Bulan. Lamalah lambat gerangan menangis. |Oi| adok ka dirilah si Linduang Bulan. Masuak ka kabunlah maso itu. 42 Sudah yang didulang sedulang lagi. |ndeh| badan haus sambil manangis. 275 lah masuak kabunlah ko urang kini. |oi| masuklah kebun |hai| Mandeh Rubiah.42 |a| si Tupai Janjang segitu dulu. Sudah diusirlah Si Tupai Janjang. |Oi| lalu dibawalah atas rumah. 285 81. (Pencerita mendendangkan bait ke-75 sampai dengan bait ke-77 dengan suara seperti orang yang sedang menangis dan kemudian meneguk air minum) . . |ha| duo juo diri si Mamak Hitam.|Oi| lalu dibaoklah ateh rumah. |Oi|terhadap ke dirilah si Linduang Bulan. |oi| bagaimana cerita |lah| tentang itu. babunta adalah sedang memendek bayang-bayang atau yang lazim disebut dengan tengah hari tepat. 270 lalu diambiak |oi| aia lalu diminum. |oi| masuaklah kabun |hai| Mandeh Rubiah. Masuk ke kebunlah masa itu. |oi| peninggal anaklah yang berjalan. |ha| diambil gerangan |ha| di atas rumah. |oi| paningga anaklah nan bajalan. 77. |Oi| adok ka dirilah si Tupai Janjang. sana diambillah si Tupai Janjang. 290 karongkongan basah biko kito sambuang. kerongkongan basah nanti kita sambung. |oi| tapi dilarang oleh Mandeh Rubiah. sudah masuk kebunlah ini orang kini. |oi| lalu dilihatlah oleh Mak Hitam. Lah nan didulang sadulang lai. |ndeh| badan auih sambia manangih. 79. |ha| dua dengan diri si Mamak Hitam. Ibid. sudah kurus badanlah si Linduang Bulan. teringat anak yang masa itu. lah ka dibuanglah si Tupai Janjang. |oi| sedang berbuntalah si bayang. |Oi| hari yang sedang pukul satu. Istirahat lebih kurang 30 menit ADEGAN IV 82. |ha| diambiak garan |ha| di ateh rumah.bayang.

pakan adalah sebutan untuk satu minggu yang dalam satu hari dalam satu minggu itu ada hari yang ramai untuk berjual-beli. bertanya-tanyalah Mandeh Rubiah. yang penyambung yang tinggal tadi. sudah |nan| berpekan43 sudah masa itu. |oi| sanan takajuiklah Mandeh Rubiah. Lamo hari baganti hari . Lah nan sahari nan duo hari. |oi| lalu berpikir Mandeh Rubiah. |oi| lalu bapikia Mandeh Rubiah. 85. Lama hari berganti hari. diberi makanlah si Tupai Janjang. |Oi| sana terkejut Mandeh |lah| Rubiah. 300 84. baduo jo diri |lah| Mak Hitam. tibo di malam lah malam kini. |Oi| kabun lah siang maso kini. lacah adalah tanah lembek atau berlumpur. Sudah yang sehari yang dua hari. tiap dibersih hari masa itu. sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. |ha| inyo nan laloklah maso itu. 83. Pada waktu mendendangkan baris ke-297. lah |nan| bapakan lah maso itu. dilihat kebunlah masa itu. tiba di malam sudah malam kini. kebun bertambah rindang juga. batanyo-tanyolah Mandeh Rubiah. |oi| makan buah inyo nan indak nio. Adok ka dirilah si Tupai Janjang. tiok disiang hari maso itu. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah. makan jo rimahlah inyo namuah. |oi| sana terkejutlah Mandeh Rubiah. kinilah terang kebun ini kini. |oi| apokah garan |lah| si tupai nan ko. |ha| diberi makanlah makan rimah. 87. yang didulang sedulang lagi. |oi| kenapa kok kebun sudah lacah45 kini. |oi| baa kok kabun lah lancah kini. |oi|apakah gerangan |lah| si tupai yang ini. |oi| makan buah dia yang tidak mau. Ibid. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. kabun batambah rindang juo. pencerita mengambil kembali selendangnya. 325 43 |Oi| habis sudah malam |hai| berganti siang. apolah jadi |lah| nan bak kian. apalah jadi |lah| yang seperti itu. 305 310 (Pencerita mendendangkan bait ke-82 sampai dengan bait ke-84 dengan berdiri dan gerakan yang sama.|lah| nan pandulang ameh di Bangko. Habih pakan baganti pakan. Habis pakan baganti pakan. ibarat mengambarkan TJ dijaga dan tidur di rumah MR) . |Oi| abih lah malam |hai| baganti siang. lah dibaolah si Tupai Janjang. |Oi| kebun sudah bersih masa kini. 89. 320 44 45 Ibid. |Oi| sanan takajuik Mandeh |lah| Rubiah. sudah dibawalah si Tupai Janjang. nan panyambuang nan tingga cako. kinilah tarang kabun iko kini. dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. Ibid. 88. . lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. Sub-adegan ke-1 86. 295 |lah| yang pandulang emas di Bangko. |ha| diagiah makanlah makan rimah. rimah adalah nasi yang jatuh dan keluar dari piring pada saat makan. dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. berdua dengan diri |lah| Mak Hitam. nan didulang sadulang lai. 315 dicaliak kabunlah maso itu. makan dengan rimahlah44 dia mau. diagiah makanlah si Tupai Janjang. |ha| dia yang tidurlah masa itu.

|Oi| kulit yang habis sudah masa itu. |hai| sahabih asok |lah| maso itu |hai| kulik barubah satumpuak ameh. 335 (Pencerita bergerak pada bait ke-90 sampai dengan bait ke-91 seperti gerakan yang sama. (Pada bait ke-86 sampai bait ke-89 pencerita mendendangkan bait tersebut dengan terus-menerus bergerak seperti gerakan tari Minang) . |ha| menjadi kayalah masa kini. cukup sebulanlah masa itu. |ha| dilihat kembalilah si Tupai Janjang. 345 355 . 340 |Ha| harilah pagi sudah masa itu. |ha|si Tupai Janjang naik ke atas rumah. |oi| apolah garan nan lah tajadi. cukuik sabulanlah maso itu. lalu diambiak kulik Tupai Janjang. |hai| sehabis asap |lah| masa itu. |ha| lalu diambillah kulit nantun. lalu diambil kulit Tupai Janjang. |oi| apalah gerangan yang sudah terjadi. |ha| manjadi kayolah maso kini. Sub-adegan ke-2 90. |oi| surang nantun naiak ateh rumah. |ha| dicaliak baliaklah si Tupai Janjang. |ha| dicaliak kuliklah indak ado . |hai| kulit berubah setumpuk emas. |Ha| kulik tapanggang kulik Tupai Janjang. |oi| lamalah lambat |hai| berganti sana. |Ha| kulit terbakar kulit Tupai Janjang. |oi| badan barubah manjadi urang. badan sudah senanglah hanya kini.duo juo diri |lah| Mak Hitam. dua juga diri |lah| Mak Hitam. |Ha| lalu baimbaulah si Tupai Janjang. dilihat malah |lah| masa itu. |Ha| dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. nan dulu |nan| garan |lah| si Tupai Janjang. |Ha| diambiak pulo kulik tu kini. |ha| lalu diambillah kulit itu.|Oi| kulik nan abih alah maso itu. 92. |ha| dilihat kulitlah tidak ada. 96. |ha| dia raba pulalah si Tupai Janjang. yang dulu |nan| gerangan |lah| si Tupai Janjang. 350 kulik barubahlah satumpuak ameh. 330 91. badan lah sananglah hanyo lai. kemudian pencerita memegang selendang di tangannya untuk mengambarkan kulit TJ yang sudah terkelupas) . |Ha| lalu dipanggillah si Tupai Janjang. 93. |oi| seorang yang itu naik atas rumah. Sub-adegan ke-3 95. kulit berubahlah setumpuk emas. sudah duduk dipanggil di masa itu. Lalu dicaliak si Tupai Janjang lah duduak diimbau di maso itu. dicaliak malah |lah| maso itu. |ha| kiranya kulitlah tidak ada. |oi| lamolah lambek |hai| baganti sanan. |ha| kironyo kuliklah ndaknyo ado. |o| barang |nan| badanlah tidak ada. kira terkejutlah si Tupai Janjang. |ha| dibakar malah |lah| masa itu. |o| barang |nan| badanlah indak ado. |Ha| dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. |oi| Mandeh Rubiah lah managahkan. |Ha| diambil pula kulit itu kini. Lalu dilihat si Tupai Janjang. |oi| badan berubah menjadi orang. |oi| Mandeh Rubiah sudah melarang. |ha| si Tupai Janjang naiak ka ateh rumah. |ha| dipanggang malah |lah| maso itu. |Ha| harilah pagi lah maso itu. 94. kiro takajuiklah si Tupai Janjang. |ha| nyo resek pulolah si Tupai Janjang.

Takana pulolah si mandeh kanduang. Datuak Bandaro jo Linduang Bulan. nak kanduang janyo denai. Lalu disuruh tinggalah masa itu. |Oi| adok ka diri |lah| si Tupai Janjang. pai barubek |lah | garan kini.(Pencerita mendendangkan bait ke-92 sampai dengan bait ke-96 dengan gerakan yang sama sambil berdiri.Lalu disuruah tinggalah maso itu. |ha| meminta uang |lah| masa itu. Teringat pulalah si mandeh kandung. anak kandung kata saya. 100 “Ampun kanduang janyo denai. . sanan takajuik lah Datuak Bandaro. lah sadiah garan |lah| si Tupai Janjang. 370 Lamalah lambat |lah| masa itu. sudah sadih gerangan |lah| si Tupai Janjang. terbit pikiran |lah| si Tupai Janjang. dua dengan dirilah Imak Hitam. badan bertambahlah kurus jua. sedang berputar bayang-bayang. dengan mandeh kandung Mandeh Rubiah. |Oi| harilah sedang pukul satu.” (Bagian dari teks di atas adalah dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan sedu sedan) Sub-adegan ke-1 101. 102. jo mandeh kanduang Mandeh Rubiah. ada masa itu badanlah senang. |a| ini |ko| orang tua saya benar. badan batambahlah kuruih juo. pencerita melemparkan selendangnya kembali) . tabik pangana |lah| si Tupai Janjang. ado maso itu badanlah sanang. duo jo dirilah Imak Hitam. ADEGAN V 98. Hari barubahlah hari pulo. |Oi| hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang. 99. pergi berobat |lah| gerangan kini. 375 (Pencerita mendendangkan bait ke-101 dan bait ke-102 dengan gerakan dan irama yang sama. Datuk Bandaro dengan Linduang Bulan. Hal ini didendangkan dengan cara berdiri) Penutup 103. 97. (Pencerita mendendangkan bait ke-97 dengan duduk sambil memegang kepalanya untuk menggambarkan rasa sedih karena teringat sama orang tuanya) . 360 Hari berubahlah hari pula.|Oi| harilah sadang pukua satu. agiahlah denai kato pasti.Lamolah lambek |lah| maso itu. |a| iko |ko| urang tuo ambo bana. sana terkejutlah Datuak Bandaro. |ha| maminta piti |lah| maso itu. Waktu mendendangkan kulit TJ sudah berubah menjadi emas (larik 350) . sadang bapunta bayang-bayang. berilah saya kata pasti. basamo-samolah nangko kini.” “Ampun kandung kata saya. bersama-samalah masa kini. 365 (Bait ke-98 dan bait ke-99 didendangkan oleh pencerita dengan suara tersedu sedan seperti orang sedang sedih) .

|ouuii……. . Jika dicermati kedua teks memperlihatkan adanya bagian yang diulang. Pantun memakai unsur yang berulang. baik dalam bentuk kata-kata. |ouuii…. Pencerita dapat merangkai suatu cerita dalam waktu relatif pendek dengan cara membentuk kalimat yang berformula. |oio.Tupai Janjang sagitu dulu. atau larik (Lord. lain wakatu nak kan kito ulang. dan waktu pertunjukan. bagian yang berformula ditandai dengan garis bawah di kata yang berformula tersebut. baik dalam satu larik maupun dalam satu bait. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita.. cerita habis hendak kita ulang Tuan.| 380 Tupai Janjang segitu dulu. yaitu mengingat frasa-frasa dan menciptakan analogi dengan frasa yang telah ada.|. carito habih ndak kito ulang Tuan. Untuk menghasilkan hal itu. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang Formula adalah sekelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan ide yang esensial. pencerita dapat menyesuaikan cerita dengan situasi pertunjukan. Pada waktu ini. Hal itu dilakukan dengan menundukkan dan memegang kepalanya) . |oio. Bentuk yang memperlihatkan perulangan dengan sistem formula disebut ekspresi formulaik. lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan. frasa. lain waktu hendak akan kita ulang. Dalam analisis ini. klausa. lain waktu hendak akan kita ulang Tuan. Formulaik pada pantun berikut ini ditemui pada kedua teks. 1987:68)..lai….| . Dengan cara ini. Formula muncul berkali-kali dalam cerita. seperti keadaan tempat. 2. Ekspresi formulaik juga dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama. Antara satu bait dan bait berikutnya juga terjadi pengulangan. 1981:30—43).lai…. frasa.| (Di bagian penutup ini iramanya berubah dari irama semua teks yang telah dibacakan terdahulu. Formulaik yang pertama dilihat pada analisis ini adalah bagian teks yang berbentuk pantun.. pencerita hanya duduk dengan mendendangkan bait ke-103. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim (Sweeney. yakni pada bagian awal cerita. penonton. maupun klausa. mungkin berupa kata.

(Bandalah orang |hai|hamba bandakan. (17-21) bumi nan alun |hai lah| baralun. tak kalo alun baralun. orang dusta kami tak mau). kaba |lah| urang lai kami kabakan. kaba |lah| urang kami kabakan. (6-9) TEKS II 3. tersebut garangan Datuak Bandaro.(912) bandalah |hai| urang si Koto Tuo. (16-20) 5. |hai| bumi yang antah barantah. terlihat adanya kata yang diulang pada larik lanjutan pantun itu.TABEL XII Formula di Bagian Pembukaan Cerita TEKS I 2. kaba orang kami kabakan. Pantun di atas terletak di awal cerita karena berfungsi sebagai pembukaan. nan tasabuik-sabuik. iyolah garangan |lah| si Tupai Janjang). iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. (Banda orang kami bandakan. kaba |lah| urang lai kami kabakan. adolah urang maso itu. tak kalo alun baralun. Di nan tinggi tampak jauah. (Tak kalo masa dahulunya. kaba |lah| urang kami kabakan. Banda anak orang Koto Tuo. Dalam pantun tersebut. berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulan). |Oi| adolah pado suatu maso. Formula itu adalah Bandalah urang kami bandakan (Bandarlah orang kami bandarkan) yang ditemui pada kedua teks. turunan puti sudut-bersudut). banda anak orang |lah| di Gumarang.Banda |lah| urang kami bandakan. 4. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formula yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. (14-16) 5. orang dusta kami tak mau). kaba urang kami kabakan. ta Rajo turun ba rajo. urang duto kami tak nio. 4. urang duto kami tak sato. (|Oi| adalah pada suatu masa. Banda urang kami bandakan. turunan rajo turun beraja. ta Puti suduik-basuduik. di nan dakek jolong tasongoh. baik pada bait yang sama maupun pada bait yang berbeda. Tak kalo maso dahulunyo.Bandalah urang |hai|ambo bandakan. (Banda |lah| orang kami bandakan. (13-16) banda nak urang |lah| di Gumarang. |hai| bumi nan antah barantah. yang tersebut-sebut). di yang dekat jolong tersongoh. Banda nak urang Koto Tuo. bumi yang belum |hai lah| baralun. adalah orang masa itu. Pengulangan itu terjadi. larik itu diulang dengan mengubah kata kami dengan kata ambo (hamba) dan menambahkan ungkapan . tasabuik garan Datuak Bandaro. (Di yang tinggi tampak jauah. Pada teks II.

Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. atau dua bulan. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2. Ada formulaik tertentu yang digunakan untuk menyatakan perubahan dan pergerakan waktu dalam cerita. ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu atau dua kata. Selain itu. pencerita tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. Lah hampianyo ganok bilangan bulan lah hampienyo sambilan bulan. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik.penyeling hai. (162-166) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan Lah nan duo bulan garan mangaduang Jalan barubah |lah nan| maengkang (Dari sahari |oi| garangan mengandung. Kata itu adalah kaba dan bandalah urang (bandarlah orang) ditemui pada bait ke-3 dan ke-4.Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (180) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (181) (Sudah delapan bulan |oi| garangan mengandung Sudah yang sembilan bulannya mengandung) 84. Sudah yang sepakan |oi lah| yang sebulan Sudah yang dua bulan garangan mengadung Jalan berubahlah yang maengkang) 37.Lah bulan lah limo bulan garan manganduang Lah lapan bulan paruik tambah gadang (165-166) (Sudah tiga bulan limo bulan garan manganduang Sudah delapan bulan perut tambah besar ) 40. (184-185) ambia sampai ganok bilangan. Perbedaan terjadi dengan penambahan kata untuk kepentingan irama dalam menyanyikan cerita. lah tibo sakik baranak. misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. TEKS II Formula untuk Pergerakan Waktu 36. satu bulan.Dari sahari |oi| garan manganduang. 34. (218-220) (Sudah hampirnya genap bilangan bulan sudah hampirnya sembilan bulan. Untuk menyatakan waktu satu hari. Lah nan sahari nan duo hari (301) Lah nan bapakan lah maso itu (302) (Sudah yang sehari yang dua hari Sudah yang berpakan sudah masa itu) . (Sudah sebulan dua bulan. hampir sampai genap bilangan). TABEL XIII Formula untuk Pergerakan Waktu TEKS I Formula untuk Pergerakan Waktu 38. lah tiba sakik beranak). Lah sabulan duo bulan. Perubahan waktu itu ditulis dengan cara ditebalkan.

pencerita dapat menyusun larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. Dengan pola formula sebagai dasar. merupakan kependekkan dari alah (sudah). Persamaan yang terlihat adalah pemakainan kata lah. Perbedaan yang tampak adalah dengan adanya penambahan unsur verbal demi kepentingan irama. Dalam teks TJ ditemukan adanya ekspresi formulaik. Bentuk formula itu seperti terlihat pada tabel berikut. Ada kata-kata yang selalu digunakan untuk menyatakan perubahan waktu. Untuk perpindahan tokoh yang diceritakan.Telah dikemukan di depan bahwa ekspresi formulaik adalah larik atau paroh larik yang disusun sesuai dengan pola formula. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sehingga terlihat paralelisme satu larik dengan larik yang lainnya. dilanjutkan dengan keterangan atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh. yaitu lah nan …. pencerita juga memanfaatkan cara yang sama. seperti contoh di bawah ini. Kata lah. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada. . misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana sudah berkata Datuak Bandaro). Lah nan sahari |haa nan| duo hari Lah nan tigo malam maso itu (Sudah yang sahari |haa nan| dua hari Sudah yang tiga malam masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan pergerakan dan perubahan tokoh yang diceritakan. untuk perubahan tokoh yang diceritakan. Titik-titik setelah kata lah nan diisi sesuai dengan waktu yang dikehendaki dalam cerita. Sesudah pemakaian kata yang berformula. seperti yang telah dinyatakan di atas.

Formula untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (22) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (29) (|Oi| hadaplah diri dua itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (24) (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (296) (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan (267) (|Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan) II.Formula dengan pola sintaksis yang sama Lah balari si Dukun Pandai (257) |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (39) (Sudah berlari si Dukun Pandai) (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Lah bajalan Datuak Bandaro (93) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (20) (Sudah berjalan Datuak Bandaro) (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lah bajalan si Linduang Bulan (109) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (102) (Sudah berjalan si Linduang Bulan) (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (448) Lalu bakato Datuak Bandaro (240) (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lah pulangnyo maso nantun.TABEL XIV Formula untuk Perubahan Tokoh TEKS I I. hal itu terlihat seperti tampilan pada bagan berikut ini. Formula untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Pihak kapado karo banyak (Pihak kepada karo banyak) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro Kononlah Linduang Bulan (Kononlah Linduang Bulan) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (1 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) (1 kali) TEKS II I. Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (259) (Sudah pulang dia masa itu) (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang) Lah tibonyo di tangah rumah. . (537) Lalu dicaliak si Tupai Janjang (328) (Sudah tiba dia di tengah rumah) (Lalu dilihat si Tupai Janjang) Lah dibao si Tupai Janjang (571) |ha| lalu diambiak lah kulik nantu (346) (Sudah dibawa si Tupai Janjang) (|ha| lalu diambial lah kulit itu) Untuk lebih memperjelasnya. Formula dengan pola sintaksis yang sama II.

Larik itu adalah. Penghilangan kata urang menjadi rang karena pengaruh dari pemakaian bahasa sehari-hari. Larik itu adalah kononlah kasiah rang ditompangkan (kononlah kasih rang ditompangkan) dan kononlah kasiah urang tompangkan (kononlah kasih orang tompangkan) (bait 12 larik 78 dan 84). Pemakaian bahasa Minangkabau sehari-hari lazim dipendekkan. Hasil analisis pada teks I. kini baitulah Linduang Bulan (kini begitulah Linduang Bulan)(larik 294). sedangkan pencerita pada teks II. |oi| menghadaplah. Kata yang ditukar ditemukan pada bagian akhirnya untuk menyesuaikannya lawan bicaranya. Pencerita pada teks I. seperti yang juga telah disebutkan pada bab II di atas. menunjukkan bahwa adanya unsur yang berformulaik dengan memperlihatkan adanya huruf yang hilang yakni pada kata urang (orang). dan kini . dan hadap ke).Datuak Bandaro Urang Padusi Dukun Pandai PIHAK KAPADO Puti Linduang Bulan Tupai Janjang Mak Hitam Rang punyo ladang Mandeh Rubiah Kata yang dipakai untuk menyatakan perubahan tokoh pada kedua pencerita juga berbeda. Larik yang paralel dengan memperlihatkan pola sintaksis yang sama (pada teks I) juga dipakai untuk menyatakan pernyataan ajakan terhadap lawan bicara. |oi| madok lah. dan adok ka (|oi| hadaplah. memakai kata |oi| adok lah. mengunakan kata pihak kapado (pihak kepada) dan pihak di diri (pihak di diri). kini baitulah dek Tuan (kini begitulah oleh Tuan)(larik ke-55) dan kini baitulah dek Adiak (kini begitulah oleh Adik)(larik ke-67).

|oi | lalu di caliaklah anak nantun. tiba di lantai. adanya unsur verbal pada teks II. larik yang sama diulangi untuk menjelaskan pemakaian jenis kato-kato (kata-kata) tersebut. Variasi pertama. Teks II 66. ada jalan yang mendatar. hanya 2 larik. ado jalan nan manurun.683. 714. Contoh terlihat pada larik-larik ini. kalau berkata peliharalah lidah) (larik ke-651 dan 652). tiba di rusuk. |oi | tibo di tanah. Pemakaian kalimat paralel juga ditemui untuk menyatakan anak Linduang Bulan. Dan pola yang sama juga digunakan pada larik kini baitulah nan elok (kini begitulah yang elok) (larik ke-315). (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. |oi | lalu dilihatlah anak itu). tanah balubang. ada jalan yang menurun. tiba di tanah. lantai lah patah. Pada kedua teks. TABEL XV Kalimat yang Paralel Teks I 44. misalnya pada larik ke. ado jalan nan malereng (Ada jalan yang mendaki. rusuak taban. dan 724. ado jalan nan mandata. |oi| tiba di lantai. Hal ini digunakan untuk memberikan nasihat kepada tokoh yang ada dalam cerita ini. (Yang sudah ini lahirlah anak si Tupai Janjang. Ado jalan nan mandaki. tibo di tanah. rusuk terban. tanah lambang). Kok bajalan paliharolah kaki. adanya larik yang sama dan paralel. 709. kok bakato paliharolah lidah (Kalau berjalan peliharalah kaki. rusuk terban) pada teks II. |oi| tibo di lantai. tibo di rusuak. telah lahir. tanah berlubang. tibo di lantai. lantai balubang. 698. Nan lah ko lahialah anak si Tupai Janjang. lantai berlubang. Pemakaian pola yang sama banyak ditemui pada teks I. Hal itu terlihat seperti tabel di bawah ini. Larik tibo di rusuak. sedangkan pada teks II (bait ke-66). ada jalan yang melereng) (bait ke-677 sampai dengan bait ke-680). rusuak taban (tiba di rusuk. . Nan lah lahia anak Linduang Bulan. lantai sudah patah. tidak ada. Pada bagian bait selanjutnya.baitulah dek Mak Itam (kini begitulah oleh Mak Itam)(larik 435). tetapi memperlihatkan variasi. terlihat pada teks I (bait ke-44). |oi | tiba di tanah. tanah lambang. terdapat 3 larik yang mempunyai paralel. Variasi kedua.

Bait itu adalah. pemakaian ungkapan penyeling cukup banyak digunakan pada kedua teks karena berfungsi juga untuk kepentingan irama. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu). dia melompat ke dalam jagung muda. 1981:41). pencuci muka |lah| si Linduang Bulan. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu. dalam pirangkoknyo kaluah kasah. ha. pancuci muko |lah| si Linduang Bulan. (|oi| lalu diambil yang air sumur. adalah ai. bertujuan untuk menerangkan keadaan tokoh atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. Di dalam teks ini. pencerita menambahkan dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sesudah menyebutkan nama tokoh yang dituju. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua. Cara yang dilakukan oleh pencerita mengakibatkan cerita bersifat kronologis dan membuat cerita bergerak ke depan. Penempatan kata itu di awal bait. Pada teks II (bait ke-24). Oleh karena itu. perangkap bingkas hanya ada. dominan memakai kata lah. (TI. nan takajuik si Tupai Janjang. Ungkapan penyeling pada teks II. dan sinan. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut. yang terkejut si Tupai Janjang. oi. nyo mandencek ke dalam jaguang mudo. |oi| lalu diambillah air yang itu. pirangkok bingkeh hanyo lai. kata sambung ditemukan pada awal parangraf sehingga membuat cerita bergerak. dalam perangkap dia keluh kesah). nan. Pemakaian kata itu dilakukan jika kalimat kurang dari empat kata dalam satu larik. sekarang ini minum Datuak Bandaro. pencerita memilih kata lalu. diambil air |oi| lalu di minum. hai. . lalu. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. 76) (Lalu melompat Tupai Janjang. Kemudian. nan. waktu tiba dia di situ. |oi| habih dicuci muka Linduang Bulan. kini ko minum Datuak Bandaro. Kedua teks pada awal bait. diambiak aia |oi| lalu di minum. Selain kata di atas. diikuti dengan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dengan mencantumkannya kembali kegiatan tokoh tersebut pada larik selanjutnya. dan hai nan. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. pihak. satu tibonyo di situ. kata itu terutama digunakan pada teks II dari pada teks I karena langsung diambil pada saat mendendangkan.Kata sambung memainkan peranan yang besar dan merupakan pola-pola umum untuk memulai baris (Lord. lah. kok. ndeh. a. Sesudah itu. yang ditempatkan di awal larik. Lalu mandencek Tupai Janjang. yo.

baris-baris memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. Untuk lebih jelasnya.Pencerita menyusun baris-baris dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya. hal itu dapat dilihat pada bagan berikut.346) (T I larik ke-347) (T I larik ke-289) (T I larik ke-290.297) Kito + } + { baiak-baiak } Pangganti + barang harato + urang {nan} + { pacah} + {ang} abihkan + { maso} + { itu } kain putiah kain sirah (TI larik ke-499) (TI larik ke-400) (TI larik ke-618) (TI larik ke-631) (TI larik ke-624) {nyo} inyo nan ||ha| + { baunduang-unduang } baunduang + caliak {dicaliak } + {baliak } |lah| malah |lah| { kulik } lah + {si Tupai Janjang } (TII larik ke-330) (TII larik ke-332) indak + ado maso itu (TII larik ke-338) (TII larik ke-343) . 83) (T I larik ke-254) (T II larik ke-232) (TI larik ke-255 ) (TII larik ke-233) {Oi} Tibo + + {hai} + lantai rusuak tanah + patah balubang taban balubang + { dagiang } kanduang { kito } (T I larik ke-285. Pencerita mempunyai pola-pola yang dijadikan pedoman dalam menciptakan baris dengan cepat pada saat penceritaan sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. Dengan demikian. Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} + padi + kasiah di lantai di rusuak di tanah Inyo { kan } + { darah anak anak { paliharo } { u } rang + basalang (T I larik ke-72) (T I larik ke-78.

juga memperlihatkan hal tersebut. Demikian dikenalnya formula tersebut oleh masyarakat Minangkabau. tiba di langit terberita. Kaik bakaik rotan sago lah takaik di aka baha. Di samping itu.Formula juga ada yang bersifat umum dan dapat dikatakan bahwa semua pencerita lisan mengenal formula tersebut. pembukaan berisi permohonan maaf dan menyebutkan kaba yang diceritakan. Adapun pantun yang lazim dipakai pada pembukaan kaba adalah seperti berikut. tibo di bumi jadi kaba. Pada teks II (bait ke-2). tetapi formula yang digunakan sama. ada juga formula yang sifatnya sudah umum dan bahkan sudah dikenal oleh masyarakat Minangkabau. Cadangan formula yang bersifat umum itu. tibo di langik tabarito. Pencerita akan menggunakan cadangan formula itu. masyarakat sudah mengerti maksudnya. walaupun tidak diucapkan secara keseluruhan. biasanya berisi permohonan izin untuk menampilkan pertunjukan kaba kepada semua penonton. Pada bagian di atas juga telah dijelaskan hal ini. memberikan homogenitas kepada pencerita-pencerita tradisional yang juga sudah dikenal oleh masyarakat (Lord. Cerita Minangkabau baik dalam bentuk tertulis—misalnya kaba—maupun yang dipertunjukan. tiba di bumi jadi kabar) Pada bagian awal kedua teks TJ ini. Formula itu umumnya ditemukan dalam pertunjukan kaba. selalu memakai formula yang sama. Pencerita dari komunitas yang sama mengetahui formula itu. walaupun kabanya berbeda. Pembukaan ini disampaikan dalam bentuk pantun. Pada awal teks II (bait ke-1 – bait ke-4). 1981:50). bahkan juga masyarakat tersebut. Pada bagian pembukaan kaba. Sementara itu pada teks I. Di dalam tradisi lisan Minangkabau. untuk menggambarkan ide yang sifatnya umum. sudah terkait di akar bahar. pada bagian awal kaba tersebut juga disebutkan nama grup yang menampilkan pertunjukan serta cerita yang akan disampaikan. terletak pada bait ke1 sampai dengan bait ke-3. (Kait berkait rotan saga. formula di atas didendangkan dengan tambahan pada ungkapan penyeling .

jatuah ka bumi manjadi kaba. Ampun baribu kali ampun. 2. urang duto kami tak nio. orang dusta kami tak mau). (Ampun beribu kali ampun. tabang ka langik |lah| tabarito. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan Pendekatan komposisi skematik yang disampaikan oleh Sweeney pada dasarnya masih bertolak dari teori Lord tentang formula. (Kaik |lah| berkait |lah| rotan sago. (Bandar orang kami bandarkan. jatuh ke bumi menjadi kaba). karena sastra Melayu tradisional merupakan sastra . Rumusan berformula dalam sastra Melayu tradisional juga lebih bervariasi. banda nak urang Koto Tuo. sepuluh jari kami susun. tetapi memperlihatkan fleksibelitas yang tinggi. maaf diminta banyak-banyak. |hai| yang sudah terkait |nan| di akar baha. terbang ke langit |lah| terberita. bandarlah |hai| orang Koto Tuo. (Bandarlah orang |hai| kami bandarkan. khabar orang kami khabarkan. Bandalah urang |hai| kami bandakan. sapuluah jari kami susun. maaf jo rila nan kami pinta. (Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. serta sanak |lah| dengan saudara. urang duto kami tak nio. kami mambukak kaba lamo. kaba urang kami kabakan. Manolah niniak |lah nan| jo mamak. kaba |lah| orang kami kabakan. kaba |lah| urang kami kabakan. Banda urang kami bandakan. konsep yang dikemukakan oleh Lord tidak semuanya cocok untuk diterapkan pada sastra lisan Melayu yang memiliki keunikan tersendiri.Kaik |lah| bakaik |lah| rotan sago. Penggunaan formula itu juga ditemukan dalam cerita TJ berikut. ampunlah kami ninik mamak. 3. maaf diminta banyak-banyak. bandalah |hai| urang Koto Tuo. bandar anak orang Koto Tuo. Kami membuka kaba lama). Teks I 1. Teks II 1. sarato sanak |lah| jo sudaro. |hai| nan lah takaik |nan| di aka baha. Di dalam sastra Melayu tradisional. maaf dengan rila yang kami pinta |ai| segala kami yang muda). |ai| sagalo kami nan mudo. Namun. Di depan telah dicontohkan bahwa formula yang juga lazim digunakan pada bagian pembukaan dalam tradisi sastra Minangkabau disampaikan dalam bentuk pantun. Sastra lisan Melayu tradisional tidak memiliki persyaratan baris-baris formula yang kaku seperti sastra Yugoslavia. orang dusta kami tak mau). pencerita dipengaruhi oleh pertunjukan. ampunlah kami niniak mamak. 3.

1987:17). melainkan juga untuk penonton dalam memahami cerita sehingga penonton tidak mengalami kebingungan (Sweeney. Komposisi dalam sastra lisan Melayu. pencerita pada saat pertunjukan sering menggunakan ungkapan penyeling untuk menyelaraskan dengan melodi. pencerita bisa memperpanjang. dilahirkan dengan mempertimbangkan adanya umpan balik antara pencerita dan penonton (Sweeney. Oleh karena itu. Cerita dilantunkan yang setiap ucapannya digerakkan dengan frasa melodi atau irama nyanyian. Pencerita tinggal menyesuaikan tipe persediaan atau skematik yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengungkapkan ide dalam cerita tersebut (Sweeney. memperpendek. 1980:24). Hal ini membentuk re-kreasi cerita selama pertunjukan dan mengkoordinasikan kata-kata dengan melodi sehingga membentuk pola-pola terformulasi yang bersifat fleksibel. . 1980:39). formula dalam hal ini digunakan untuk mengungkapkan ide dalam cerita supaya pencerita dapat dengan cepat memformulasikannya. Komposisi skematik mempunyai cara yang spesifik dengan menerapkan metode tertentu dalam larik untuk mengungkapkan ide. Dalam mengkoordinasikan kata-kata dengan irama.yang merupakan aktivitas komunal. Pencerita tidak belajar dari menghafal baris-baris. tetapi dengan mencocokkan lirik-lirik yang ada dengan melodi. atau menekan melodi supaya sesuai dengan kata-kata. Pencerita menggunakan rumusan-rumusan atau pola-pola tertentu untuk menciptakan plot dalam setiap pertunjukan. Sesuatu disampaikan bukan dari kesan visual. Komposisi skematik bukan saja berguna untuk pencerita. Hal ini jauh berbeda dengan sastra Barat yang lebih individual. Jadi. Pencerita memiliki persediaan yang diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan untuk menggambarkan objek. Hal itu yang dinamakan komposisi skematis. Komposer dalam tradisi lisan Melayu menggunakan rumusan dan pola-pola untuk membangun plot dalam cerita. melainkan berdasarkan pada ide atau konsep.

Komposisi skematik merupakan skemata digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. tiba di rusuk rusuak terban. |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. Ada yang naik pagar tiada sempat lari lalu jatuh (Sweeney. Nan lah ko lahialah si Tupai Janjang. Misalnya. tiba di lantai lantai sudah patah. Skemata itu juga ditemui dalam kaba Minangkabau yang lainnya. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel. tibo di tanah tanah lambang. terjadi perubahan skemata itu. Misalnya. Ada yang bersembunyi di bawah kedai. Teks I. untuk menyatakan Tupai Janjang sudah lahir pada kedua teks memakai skemata yang hampir sama. (Yang sudah ini lahir si Tupai Janjang. |oi| tiba di lantai lantai berlobang. . deskripsi orang sedang melarikan diri dari huru-hara dinyatakan sebagai berikut. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. Skemata diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan.Penyanyi memiliki frasa melodi dalam pikirannya yang bersifat netral untuk menyatakan ide dalam cerita sehingga sastra lisan memperlihatkan paralelisme atau kesejajaran antara suatu larik dengan larik lainnya. |a| lalu dilihatlah anak yang itu). Skemata ini biasanya digunakan untuk menyatakan seorang bayi lahir yang mempunyai keistimewaan (keajaiban) seperti yang juga ditemui pada waktu lahirnya Tupai Janjang. Ada yang membelah pagar tiada sempat masuk kampung. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. Namun. Kalimatkalimat yang paralel ini berfungsi untuk mempermudah saat pertunjukan karena cerita terikat pada irama. Hal ini dinyatakan dengan menggunakan skemata berikut. arti dari bait itu tetap mengandung pengertian yang sama. |oi| tibo di lantai lantai balubang. |a| lalu dicaliaklah anak nantun. 1980:17). seperti yang juga telah diberikan di depan. paralelisme juga berguna untuk kepentingan irama. Ada yang lari naik kedai. tiba di tanah tanah lambang). Pada teks II bait ke-66. tetapi masih ada kata yang sama pada larik di bawah ini. tibo di rusuak rusuak taban. di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. tibo di lantai lantai lah patah. Skemata dan perubahannya dapat dilihat sebagai berikut. Oleh karena itu. 44 (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan.

Posisi lah di sini bukan sebagai ungkapan penyeling. Sudah yang dua bulan gerangan mengandung.36 dan 37) Dalam hal ini. (T II. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung. komposisi skematik itu seperti berikut. Lah nan sapakan |oi| nan sabulan. nan yang terletak di depan kemudian diikuti oleh ungkapan penyeling lah. satu bulan. Yang sudah tiga malam masa itu kini). variasi hanya terdapat pada perubahan letak ungkapan penyeling. Dari sahari |oi| garan manganduang. Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang. ( Slot untuk kata kerja/ kata sifat) + lah – (slot untuk subjek {+ lah } Nan lah datang Mandeh Rubiah. Penyanyi memasukkan yang diinginkan ke dalam stereotipe yang sudah ada dalam pikirannya.Pergerakan waktu. Yang menjawab Datuak Bandaro. Lah nan duo bulan garan manganduang. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung. Pada kedua cerita Tupai Janjang. Penempatan waktu itu sesuai dengan waktu yang dikehendaki cerita.29 ) (Sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. (T I larik ke-475) (T I larik ke-70) (T I larik ke-57 ) (T I larik ke-383) . Sudah yang sepekan |oi| yang sebulan. lah terletak sesudah nan atau sebaliknya. Sudah delapan bulan perut bertambah besar). Kadang-kadang. Lah salapan bulan paruik batambah gadang . Pergerakan cerita juga terlihat dari penggambaran kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita dengan formulasi seperti di bawah ini. Yang berkata Linduang Bulan. seperti waktu satu hari. Lah nan sahari |haa| lah duo hari. Kalimat ini memperlihatkan kesejajaran dan kesetaraan satu kalimat dengan kalimat lainnya dan memberikan kontribusi cerita bergerak ke depan. satu tahun. Nan manjawek Datuak Bandaro. (T II. dan lain-lain. Nan bakato Linduang Bulan. Nan lah tigo malam maso tu kini. (Yang sudah datang Mandeh Rubiah. Nan lah bajalan Datuak Bandaro. dalam cerita juga memakai skematik. melainkan berfungsi untuk menerangkan kata alah (sudah) yang dipendekkan menjadi lah.

diambiak buku takwil mimpi. kegiatan.(slot untuk kata sifat/ kata kerja) Pihak kapado Datuak Bandaro. (Slot untuk subjek) . Pihak kapada Datuak Bandaro.dicari yang masam-masam.|oi| urang nan gadang |lah| maso itu. Basadiah-sadiah lah si Linduang Bulan.ada larangan dengan pantangnya.ado larangan jo pantangnyo. (T I larik ke-167) (T I larik ke-188) (T I larik ke-214) (T I larik ke-231) . (T II larik ke-29) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. Lalu ko sadiah lah si Linduang Bulan.|oi| orang yang besar |lah| masa itu |Oi| hadaplah kediri dua yang itu. Pihak kapada orang parempuan.diambil buku takwil mimpi. (Pihak kapada Datuak Bandaro. |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro.Yang sudah berjalan Datuak Bandaro).lah bajalan maso itu. (Panas sudah hati Datuak Bandaro. berfungsi untuk menerangkan keadaan atau kondisi dari tokoh sesuai yang tuntutan cerita yang disampaikan. Lalu sedih sudah si Linduang Bulan.lah sapuluah tahun barumah tanggo. Gadang hati si Tupai Janjang. (T I larik ke-132) (TII larik ke-98) (TII larik ke-176) (T I larik ke-182) (T I larik ke-409) Slop di atas. Pihak kapada Datuak Bandaro. Paneh lah hati Datuak Bandaro. Jadi.sudah berjalan masa itu). larik-larik yang terdapat sesudah larik awal.dicari nan masam-masam . dan sifat dari tokoh tersebut dengan komposisi seperti berikut. akan dilanjutkan dengan penjelasan tentang keadaan atau kondisi tokoh yang disebutkan di awal paragraf. Pihak kapado urang padusi . Pihak kapado Datuak Bandaro. Pihak kapado Datuak Bandaro. Gembira hati si Tupai Janjang).sudah sepuluh tahun berumah tangga). Komposisi skematik juga lazim digunakan untuk pertukaran tokoh yang diceritakan dengan menyebutkan nama tokoh terlebih dahulu dan kemudian diikuti dengan keterangan. Gadang hati si Linduang Bulan. Gembira hati si Linduang Bulan. Bersedih-sedih sudah si Linduang Bulan. (T II larik ke-22) |Oi| adoklah kadiri duo nantun.

nan ka kida lenggang mambunuah. Kononlah Puti Linduang Bulan. Adok ka dirilah si Tupai Janjang. penambahan. Untuk menerangkan kondisi seorang tokoh perempuan yang cantik biasanya digunakan skematik. tidak semuanya memakai skematik di atas. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. Pada teks I.Cerita Tupai Janjang menghadirkan lima orang tokoh yakni Tupai Janjang. alu tataruang patah tigo. Linduang Bulan. Sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah). sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. Sesudah menyebutkan nama tokoh. (Kononlah Puti Linduang Bulan. tetapi hanya mengambil sebagian anak kalimat dari skematik tersebut. 15) yang ke riri lenggang membunuh). Pertukaran tokoh yang diceritakan juga memakai skematik. Pada teks II. diikuti dengan perulangan. (T I. (T II. samuik tapijak indak mati. dan Mak Itam. dan pengurangan frasa dan baris demi baris untuk keterangan atau kegiatan yang lebih lanjut dari tokoh tersebut. nan ka suok lenggang manganai. lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. Datuak Bandaro. Mandeh Rubiah. semut terinjak tidak mati.82) (Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. lah dibaolah si Tupai Janjang. nan bajalan sigajua lalai. yang ke kanan lenggang mengena. Nama tokoh yang diceritakan diletakkan di awal kalimat atau awal paragraf. menerangkan tokoh Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I. . lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. sudah dibawalah si Tupai Janjang. seperti yang lazim digunakan dalam kaba. alu tertarung patah tiga. tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambutnya yang panjang terurai. yang berjalan siganjua lalai.

biapun sakareknyo baluik. dia anak kita. dia darah daging kita. Kita pelihara baik-baik”). dia kan darah daging kita. skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. “oi tuan Datuak Bandaro. buliah ka rimbolah kau kini. Nama tokoh biasanya terletak pada awal paragraf. inyo anak kito. orang yang elok |lah| masa itu). |oi| rambut manyapu |hai lah| sapu lantai. biapun inyo sakarek ula. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. ( T II. Nan bakato si Linduang Bulan. Skematik itu biasanya diucapkan oleh tokoh orang tua kepada tokoh anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. kini bakiroklah ko kini. anak sigiang-giang rimbo. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. Seorang tokoh yang berbicara juga mempergunakan skematik. inyo darah dagiang kito. Berikut ini contoh skematik tentang tokoh yang berbicara serta pembicaraannya. 7) Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. urang nan elok |lah| maso itu. (T II. jangan dibunuh anak kita.( T I larik ke-281− 290). anak bincacak anak bincancau. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. Jika tidak terletak di awal paragraf. anak bincacak anak bincacau. |oi| bermuka rancak rambut terurai. inyo kan darah dagiang kito. Tokoh yang berbicara diletakkan di awal paragraf. selalu disebutkan nama tokoh berbicara dan kemudian baru diikuti dengan anak kalimat yang diucapkan oleh tokoh itu. anak sigiang-giang rimba. Nak kanduang si Tupai Janjang. |oi| bamuko rancak rambuik taurai. kito paliharo baiak-baiak”. Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. usah dibunuah anak kito. boleh ke rimbalah kau kini). Dalam cerita Tupai Janjang. .Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. 74) (Anak kandung si Tupai Janjang. kini pergilah sekarang. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. biarpun sekeratnya belut. Akhirnya. (Yang berkata si Linduang Bulan. “oi tuan Datuak Bandaro. biarpun dia sekerat ular.

|Oi| adoklah diri duo nantun. ( T II larik ke-29− ). dek adiak barilah tarang. |oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. alah di mintak parasapan. 20). “Mandeh kanduang dengan di Mandeh dengarkanlah pula oleh Mandeh. |oi| anak yana tidak |lah| dapak juga. disiko aia lai janiah juo. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. janganlah kita pergi ke sana. sudah sepuluh tahun berumah tangga. |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. “Mandeh kanduang jo di Mandeh. Nama tokoh yang berbicara terletak di awal paragraf adalah seperti berikut. |oi| mangana nasib |lah| maso itu. supaya senang dalam hari. nak sanang dalam hari. |oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. Manjawab si Asamsudin. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan. Alah tibo di tangah rumah. diminta pulo kumayan putiah. berikut digambarkan pula bagaimana skematik yang sama digunakan pada kaba Tuangku Lareh Simawang. “Mamintak kito pado Allah. sejuk dalam kira-kira). disiko kan lai juo sayak nan landai”( Endah. mengapa adik termanung juga. usahlah kito pai ka kian. di sini kan ada tempurung yang landai”) Nama tokoh terletak pada tengah paragraf dalam kaba Anggun Nan Tongga adalah seperti berikut. (Menjawab si Asamsudin. . “Dik kanduang si Linduang Bulan. lah sapuluah tahun barumah tanggo. “Adik kandung si Linduang Bulan. oleh adik berilah terang.Di bawah ini adalah nama tokoh yang berbicara diletak di tengah paragraf seperti berikut. di sini air ada jernih juga. bakato sanan Ameh Manah. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. manga adiak tamanuang juo. dangakan malah pulo dek Mandeh. 38 (|Oi| hadaplah diri dua yang itu. sajuak dalam kiro-kiro. Sebagai perbandingan.

Ungkapan tersebut sering digunakan untuk menyambung bagian cerita yang terdahulu dengan bagian selanjutnnya. sadang babunta bayang-bayang (Hari yang sedang pukul satu. Skematik ini juga digunakan untuk menyatakan suasana cerita dalam kondisi panas pada siang hari. berkat keramat tuan Haji. Skematik yang juga sering ditemukan dalam sastra lisan Minangkabau adalah hari nan sadang pukau satu. salamatlah anak di karuang nangko”. karongkongan basah biko kito sambuang. Pada teks Tupai Janjang. kok iyo barasa anak rajo. sedang berbunta bayangbayang) dalam cerita Tupai Janjang digunakan hanya sebagai sampiran pada pantun. (T II. yang bertampat di gunung Ledang. Berikut sampiran yang digunakan untuk menyatakan istirahat. berkata sana Ameh Manah. kalau iya berasal anak raja. barakat kiramat tuan Haji. |Oi| hari nan sadang pukua satu. diminta pulo kemayan putih.bakauah bakeh rang kiamat. 81) (|Oi| hari yang sedang pukul satu. skematik ini dipakai dua kali. “Meminta kita pada Allah. 1998:9) (Sudah tiba di tengah rumah. skematik itu tetap difungsikan sebagai penyambung bagian cerita. kalau iya puti sudut-bersudut. (Mahkota. sadang babunta bayang-bayang (hari yang sedang pukul satu. Meskipun demikian. yakni pada waktu akan beristirahat dan pada waktu menutup cerita. sedang berbunta banyang-bayang). Skematik seperti itu juga digunakan oleh pencerita dalam cerita Tupai Janjang. selamatlah anak di karung ini”). mendengkul ke orang kiamat. kerongkongan basah nanti kita sambung). nan batampek di gunuang Ledang. . |a| si Tupai Janjang saitu dulu. sudah di minta parasapan. Hari nan sadang pukua satu. kok iyo puti suduik-basuduik. |oi| sadang babunta |lah| si bayang-bayang. |oi| sedang babunta |lah| si bayang-bayang. |a| si Tupai Janjang segitu dulu.

1976:86). Dalam pertunjukan randai. .Skematik yang sama juga dipakai untuk menutup cerita. pertautan. lan |nan| pendulang emas di Bangka. 82) 4. yang didulang sedulang lagi. Untuk mempertegasnya. Lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan |oio|. hal ini dinyatakan dalam dua kali. Pemikiran fungsional menyangkut hubungan. Pada kaba. dan relasi antarsesuatu dengan lainnya. Lain waktu hendak akan kita ulang Tuan |oio|. (T II. Lain waktu hendak akan kita ulang. Lah didulang sadulang lai. Carito habih ndak kito ulang Tuan |ouuiii…lai| (|Oi| hari lah sedang pukul satu. |Oi| hari lah sadang pukua satu. Fungsional tidak berdiri sendiri. sadang bapunta bayang-bayang. nan manyambuang nan tingga cako. Tupai Janjang segitu dulu. atau barang dipandang berfungsi menurut peran dan fungsi yang dimainkan dalam suatu keseluruhan dan saling bertautan (van Paursen. tetapi dalam hubungan tertentu memperoleh arti dan makna. Lain wakatu nak kan kito ulang. sedang berpuntar bayang-bayang. Sebuah kata. pantun ini juga sering dipakai setelah beristirahat. pantun ini biasanya dipakai untuk menghubungkan suatu adegan dengan adegan lainnya dalam cerita. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Kata fungsi selalu menunjukkan pengaruh terhadap sesuatu yang lain. lan |nan| pandulang ameh di Bangko. Cerita habis hendak kita ulang Tuan |ouuiii…lai|) (T II. nan didulang sadulang lai. (Sudah didulang sedulang lagi. yang menyambung yang tinggal tadi). Tupai Janjang sagitu dulu. 103) Dalam teks II. sesudah beristirahat menggunakan pantun yang sudah lazim dipakai dalam menyambung cerita. perbuatan.

1988:171). sistem akan . Bertahannya suatu bentuk kesusastraan yang merupakan salah satu aktifitas kebudayaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya karena segala aktivitas kebudayaan bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. Setiap pola kelakuan yang sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam masyarakat berguna untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar itu. Jika kebutuhan itu tidak dipenuhi. Dalam teori ini. salah satunya seperti kesenian. Pertunjukan Tupai Janjang mereka anggap sebagai aktivitas kebudayaan yang harus dilestarikan dan dijaga kehidupannya di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk. Jika teori tersebut dikaitkan dengan objek kajian ini. pertunjukan Tupai Janjang masih dapat bertahan dalam masyarakat Kecamatan Palembayan karena masyarakat memandang pertunjukan itu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. baik pribadi maupun sosial. Pertunjukan Tupai Janjang tetap digemari oleh masyarakat karena dari isi cerita yang ditampilkan dapat dipetik suatu pesan dan dari segi pertunjukannya mampu memberikan suasana tersendiri untuk dinikmati sebagai bentuk hiburan. Selain itu. Tetap eksisnya pertunjukan Tupai Janjang di tengah masyarakat karena merupakan “kebutuhan sosial”. yang dinamakan kebutuhan sekunder. pertunjukan tersebut memperlihatkan spesifikasi yang tidak ditemukan dalam pertunjukan tradisional lain di Minangkabau.Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk karena tradisi tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar warga masyarakat setempat (Ihromi. 1980:60). Pendekatan fungsionalisme dari Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat tempat kebudayaan itu berada. Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang terjadi kerena manusia ingin memuaskan kebutuhan nalurinya akan keindahan (Koentjaraningrat.

dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya. Bascom. (3) sebagai alat pendidikan anak. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. Pelajaran dan pendidikan tentang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau khususnya. Pertunjukan Tupai Janjang yang merupakan bagian dari kesenian memberikan hiburan atau sarana membebaskan seseorang dari ketegangan serta cara untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran. Dalam perkembangannya. 1999:78). Seseorang yang berbudaya Minangkabau harus tahu dan pandai menggunakan dan mengucapkan kata-kata sesuai dengan lawan bicaranya. yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Banyak ucapan MR kepada Tupai Janjang mengungkapkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat di Minangkabau. orang yang lebih kecil. Tupai Janjang mampu mengemban fungsi sebagai sarana untuk membangkitkan kepekaan karena mengandung tanggapan emosional dan dapat membina kesinambungan hidup. orang yang lebih besar. (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Bascom (dalam Danandjaja. 1984:19). juga diberikan dalam cerita ini. apakah dia sedang berbicara dengan teman sebaya. dan hubungan sesama pencinta pertunjukan ini dalam masyarakat.mengalami disintegrasi dan “mati” (Kaplan. dari larik 642 sampai dengan larik 731 merupakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Menurut William R. Masyarakat Minangkabau harus mengetahui jo kato nan ampek ‘dengan kata yang empat’. Hal ini terutama terlihat pada teks I. atau dari kalangan pemuka adat. eksisnya pertunjukan ini karena adanya rasa ketergantungan. Untuk melihat fungsio dari pertunjukan Tupai Janjang. Selain itu. baik perseorangan maupun kolektif. Mereka harus memperhatikan lawan bicaranya. folklor mempunyai empat fungsi. keterkaitan. Orang yang tidak bisa menempatkan posisinya sesuai dengan .

Jadi. Falsafah adat ini juga sering diucapkan oleh pemuka-pemuka adat. Angan-angan ini tersembunyi dari keinginan pemuda Minangkabau untuk menjadi kaya. Fungsi didefenisikan sebagai sumbangan dari aktivitas manusia terhadap keseluruhan aktivitas yang lebih luas. apalagi setelah merantau. dalam buku-buku tentang kebudayaan Minangkabau sering diuraikan falsafah ini. baik dalam acara pidato adat maupun pasambahan. Pemahanan fungsi seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa sebuah kenyataan sosial mempunyai kesatuan tertentu yang disebut kesatuan fungsional. Terhadap anak-anak. cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat. Pada larik 665 sampai dengan larik 673 berisi ajaran falsafah alam takambang jadi guru ‘alam terkembang jadi guru’. tetapi juga kepada orang tua.lawan bicaranya. cerita ini memberikan . Pada umumnya. dalam pergaulan dia indak bisa dibao baretong ‘tidak bisa diperhitungkan’. Dalam kaba-kaba Minangkabau yang lain hal ini juga sering dinyatakan. Gambaran kepergian Tupai Janjang setelah dia meninggalkan kampung halamannya itu dinyatakan melalui tempat pembuangannya dan akhirnya menjadi orang yang kaya dan dapat membantu orang tuanya. khususnya bagi pemuda Minangkabau. Sesuai dengan fungsi yang dikemukakan oleh Bascom. Falsafah adat Minangkabau juga dihadirkan dalam teks ini. Dikatakan fungsional karena merupakan sebuah kondisi yang seluruh bagian sistem sosial bekerja bersamasama membentuk tingkat harmoni dan konsistensi internal. Fungsi dari kenyataan sosial merupakan sejumlah sumbangan terhadap keseluruhan kehidupan sosial. hingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. Pertunjukan Tupai Janjang dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya dapat dipandang sebagai bahan dan proses kehidupan sosial yang berperan bagi kelangsungan hidup kebudayaan Minangkabau. Sebagai alat pendidikan. cerita Tupai Janjang juga secara tidak langsung sudah memperkenalkan falsafah adat ini kepada audience. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anak-anak.

yaitu penggunaan dan fungsi. Memeriahkan pesta perkawinan Menurut adat yang berlaku di Minangkabau. tetapi lebih dari itu. kaba . Terhadap orang tua. Adapun kegunaanya pertunjukan Tupai Janjang adalah seperti berikut. perkawinan bukan hanya merupakan urusan pribadi atau satu keluarga. kaba buruang bahambauan ‘kabar baik dipanggilkan. khususnya masyarakat Palembayan. Dengan demikian. Jika seorang anak berkelakuan yang tidak baik.pendidikan supaya berkelakuan yang baik. seperti tujuan pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan oleh masyarakat. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang bersifat praktis. dan lain-lain. nilai-nilai pendidikan. yang dapat berfungsi sebagai penyambung kelangsungan kebudayaan Minangkabau. tetapi menjadi persoalan dan urusan kerabat. Dalam cerita tersebut juga tersirat pendidikan bahwa seorang anak harus bersifat baik dan tetap menghormati orang tua walaupun orang tua itu pernah membenci dan membuang anaknya. Dalam menyelengarakan perkawinan. pertunjukan ini bukan hanya memperdengarkan irama dari pencerita. Penggunaan mengacu pada situasi dan kegiatan sebuah pertunjukan dilakukan. pertunjukan ini juga menyampaikan pesan-pesan. cerita ini dapat diambil hikmahnya supaya berhati-hati dan tabah dalam mendidik anak. termasuk kedua orang tua. Mulai dari tahap awal sampai akhir perkawinan. Bagaimanapun nakalnya. orang tidak menyukainya. Secara eksplisit. Kalau suatu perkawinan tidak baik pernyelenggaraannya. nasihat. bukan hanya satu keluarga inti yang merasa malu. sejarah. melainkan juga semua kaum kerabat akan mendapat malu. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan. pepatah adat Minangkabau mengatakan kaba baiak baimbauan. seorang anak kalau diberi pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawa hasil. 1. semua anggota kaum diharapkan dapat membantu dan menyukseskannya. Fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh.

kebijaksanaan tersebut juga untuk menyongsong babaliak ka nagari ‘kembali ke nagari’ yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Jika peraturan tersebut dilanggar.buruk berhamburan’. harus juga menyuguhkan hiburan tradisional. penghulu kaum diberi sanksi dan dipanggil ke kantor wali nagari setempat dan diharuskan membayar denda yang akan digunakan sebagai sumbangan bagi nagari itu. ditampilkan pertunjukan yang lain. biasanya dilaksanakan pada malam hari. jika ada perkawinan dalam suatu keluarga. tepatnya sesudah sembayang isya hingga selesai. anggota masyarakat diundang untuk saling berbagi kegembiraan. 2. misalnya randai. Untuk mengisi waktu yang masih tertinggal sampai waktu sembayang subuh datang. salah satunya adalah Tupai Janjang Keluarnya kebijaksanaan dari pemuka masyarakat setempat didorong oleh adanya kecenderungan masyarakat dewasa ini meninggalkan kesenian tradisional. Hal itu berkaitan dengan dikeluarkannya peraturan daerah setempat yang menyatakan bahwa jika ada anggota masyarakat yang melaksanakan pesta perkawinan yang dimeriahkan oleh hiburan modern. Memeriahkan upacara pengangkatan penghulu Pengangkatan penghulu di Minangkabau merupakan suatu kegiatan yang dianggap penting oleh masyarakat karena jabatan penghulu merupakan jabatan yang . Jika pengikisan budaya itu dibiarkan berlangsung. Pertunjukan ini hanya membutuhkan waktu lebih kurang dua jam. atau bentuk hiburan modern. hendaknya warga saling membantu dan turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anggota masyarakat lainnya. jika ada kabar yang baik dan menggembirakan. Guna memeriahkan acara perkawinan itu biasanya disediakan pertunjukan pada siang atau malam hari. saudara. Untuk melaksanakan pepatah ini. saluang. generasi muda tidak akan mengenali kesenian tradisionalnya. Khusus untuk pertunjukan Tupai Janjang. Artinya. tetapi jika ada kemalangan atau musibah. Tetangga. dan warga masyarakat yang lain juga diundang untuk memeriahkan acara perkawinan tersebut. Di depan juga telah dinyatakan bahwa pertunjukan Tupai Janjang lebih sering ditampilkan di Palembayan. Di samping itu. masyarakat diundang untuk ikut dirasakannya.

rebab. saluang. . Kesenian tradisional ini diundang oleh yang mengadakan alek. baik tradisional maupun modern yang dilakukan secara bergantian. misalnya untuk membangun masjid. tetapi dengan syarat suku tersebut mampu membiayai penyelenggaraannya. Banyak bentuk kesenian tradisional tampil dalam acara ini. tari tradisional. peresmian atau pengangkatan penghulu baru dilakukan supaya semua warga dalam satu nagari mengetahui siapa yang menjadi penghulu suku tersebut. Bayaran suatu grup tergantung 46 Balai adat sama dengan balairung. Peresmian penghulu juga tidak tertutup meskipun hanya satu orang 3.46 Kalau diadakan secara bersama. Peresmian penghulu ini dilaksanakan secara bersama-sama. Memeriahkan alek nagari Alek nagari adalah pesta yang diadakan oleh suatu nagari yang biasanya berlangsung dalam waktu 15 hari sampai dengan 1 bulan. Oleh karena itu. randai .langsung berkaitan dengan anggota dalam satu suku. termasuk Tupai Janjang. sekolah. Acara ini diadakan dalam rangka memeriahkan pengangkatan penghulu dan mungkin juga diadakan untuk mencari dana bagi nagari tersebut. Alek nagari ini dilaksanakan secara bersama oleh anggota masyarakat suatu nagari. dabus. indang. Untuk menghemat biaya. dan lain-lain. irigasi. penghulu. Uang yang didapatkan dari sumbangan para penonton diberikan kepada nagari untuk pembangunan sarana dan prasarana di nagari itu. Dalam rangka alek nagari itu diadakan pula kesenian-kesenian. silat. yaitu ruang yang digunakan untuk sidang atau pertemuan para pemuka adat. Dalam rangka memeriahkan acara itu juga sering diadakan hiburan berbentuk kesenian tradisional. Penghulu merupakan pemimpin dan orang yang akan menyelesaikan suatu persolan dalam satu suku. Peresmiannya dilakukan di balai adat. balai adat. misalnya salawat dulang. pengangkatan penghulu dilakukan dengan penghulu dari suku lain dalam satu nagari. biasanya nagari tersebut mengadakan malam hiburan yang lazim disebut alek nagari. dan lain-lain.

Dalam alek seperti ini Tupai Janjang. Dengan memperhatikan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang di Palembayan. Dengan demikian. 4. wisatawan diperkenalkan dengan kebudayaan. dan Kodia Bukit Tinggi. Wisata budaya merupakan wisata yang dilakukan untuk mengenal aneka ragam kebudayaan Minangkabau. Secara umum. pemandangan alam Bukit Tinggi yang indah akan lebih bagus jika dikemas bersama dengan kebudayaannya. Salah satu wisata budaya tersebut adalah pertunjukan Tupai Janjang. Sarana komunikasi Dalam penyajiannya. Dalam Pekan Budaya Minangkabau. serta lingkungan kehidupan budaya dan sosial masyarakat Minangkabau. Dalam wisata budaya. Menunjang program pemerintah Pertunjukan Tupai Janjang juga sering dilakukan guna menunjang program pemerintah. Pejabat pemerintah Kabupaten Agam. peninggalan sejarah. Minangkabau merupakan daerah wisata yang cukup potensial dikembangkan. Dalam hal . maka fungsinya dalam pertunjukan ini dikelompokan dalam 2 hal yaitu sebagai sarana komunikasi dan sebagai penyampaian amanat kepada sesama masyarakat. sering mempromosikan pertunjukan Tupai Janjang sebagai salah satu aset budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Pembicaraan itu tentang berbagai aspek kehidupan yang disampaikan lewat sarana bahasa.kepada ketenaran grup tersebut. misalnya untuk program peningkatan pariwisata. 1. juga dapat mengambil peran bersama-sama dengan kesenian tradisional lainnya. Tupai Janjang merupakan sarana komunikasi antar sesama masyarakat atau masyarakat dengan anggota masyarakat yang lain yang tidak mungkin disampaikan secara langsung kepada orang yang dituju. pertunjukan Tupai Janjang sering ditampilkan untuk mengisi acara tersebut. baik wisata alam maupun wisata budayanya. Semakin seringnya Tupai Janjang tampil di luar daerah secara otomatis akan dapat mengembangkan kebudayaan Minangkabau secara umum. oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Agam. keindahan alam. yang merupakan ajang promosi pariwisata dan kebudayaan Minangkabau.

terdapat pembicaraan awal atau bisikan terlebih dahulu kepada pencerita dari pemuka masyarakat atau yang mempunyai ide.ini. Jika ada event yang kondisif dan pertunjukan Tupai Janjang diikutsertakan. Sebagai contoh. Seringnya pertunjukan Tupai Janjang dilakukan di daerah rantau dapat mengobati rasa rindu masyarakat Minangkabau terhadap kampung halamannya. jalan di daerah itu sebelumnya dalam keadaan rusak dan masih berbatu-batu. Dengan demikian. Wawancara dengan pencerita dan pembuka masyarakat dan masyarakat Palembayan tanggal 21 Februari dan 7 – 8 Nonember 2004 . Biasanya. Padahal. pesan itu dikemas dalam bentuk prosa liris. terjadi komunikasi 47 . yang mengandung nilai estetis. Disamping itu. di depan juga dinyatakan bahwa berkat pertunjukan Tupai JanjangJ jalan ke daerah Palembayan telah diaspal. hubungan dan reaksi antara penonton dan pemain atau sesama penonton. Karena pencerita tergolong orang yang banyak dikenal oleh masyarakat dan juga bekerja di instansi kecamatan setempat. Jakarta. pertunjukan Tupai Janjang dapat juga berfungsi sebagai sarana komunikasi warga masyarakat dengan pejabat pemerintahan setempat. terutama di Pekan Baru. Pesan-pesan itu dikemas sedemikian rupa oleh pencerita sehingga dapat dimengerti oleh penonton atau kepada si penerima pesan. pencerita menyampaikan pesan kepada bupati daerah setempat yang sedang berkunjung ke daerah itu. pantun. Komunikasi ini dapat dilakukan dengan menyampaikan hasrat dari masyarakat kepada pencerita TJ. Persoalan atau masalah yang diungkapkan biasanya mengyangkut dengan kemakmuran masyarakat setempat. Masyarakat setempat menyatakan bahwa jalan yang sudah baik tersebut adalah karena diungkapkan dalam pertunjukan Tupai Janjang. maupun bahasa sehari-hari. Pada waktu itu.47 Pertunjukan Tupai Janjang juga dijadikan sebagai komunikasi dan penghubung antara masyarakat yang berada di kampung halaman dan masyarakat yang berada di rantau. Pencerita merangkai pesan itu secara spontan dan cepat dengan menyisipkan ke dalam adegan cerita Tupai Janjang. maka isu-isu yang ada dalam masyarakat dapat dengan cepat ditangkapnya. Ketika pesan itu disampaikan maka terjadi “dialog”. pencerita mengangkat dan memasukkan isu-isu itu dalam ceritanya.

Untuk menafsirkan suatu amanat tidak terlepas dari penyair. perumpamaan dan petuah itu. Dalam suasasana pertunjukan yang santai para penonton dapat menjadikan ajang pertunjukan ini untuk saling berkumpul atau saling berbicara antar sesama. dalam pertunjukan Tupai Janjang terjadi juga sosialisasi sesama warga. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Penonton sama penonton juga dapat menjadikan pertunjukan Tupai Janjang juga sebagai sarana komunikasi. tempat tinggal. Sebuah karya masih hidup dan bertahan dalam masyarakat karena adanya amanat yang dapat diambil dalam isi yang disampaikan oleh si penyair. Komunikasi itu mereka lakukan sewaktu pertunjukan berlangsung. 2003:40). untuk menafsirkan amanat yang disampaikan dalam cerita. Dalam hal karena pertunjukan tradisional bersifat komunal maka untuk menafsirkan amanat cerita yang disampaikan dalam pertunjukan Tupai Janjang tidak terlepas dari masyarakat Minangkabau. . dengan sendirinya berhadapan dengan bahasa yang banyak mengandung ungkapan. ungkapan. Amanat yang disampaikan dibungkus dalam banyak mengandung kiasan. sebelum atau sesudah pertunjukan. dan lain-lain. atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca sebuah karya sastra. Dengan demikian. Cara menyimpulkan amanat sebuah karya sastra sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal (Waluyo. Amanat juga berkaitan dengan fungsi sebuah karya dalam karya sastra dalam hal ini pertunjukan Tupai Janjang. perumpamaan.antara dengan para perantau dengan warga di kampung melalui pencerita atau pertunjukan Tupai Janjang. pesan. Dengan demikian. maka malam hari dijadikan untuk saling berkumpul dengan warga di sekitar lingkungan 2. Terutama bagi para warga yang sibuk pada siang hari dan beraktivitas di luar lingkungan tempat tinggalnya. petuah. Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh kepada amanat itu. Amanat cerita Amanat.

Hal ini tidaklah berarti bawa pengarang menyarankan kepada pembaca (penonton) untuk bersikap dan bertindak seperti demikian. Tuhan memberikan anak yang bertingkah laku seperti seekor tupai. Meskipun tidak masuk akal. Mungkin orang yang pernah menyakiti seseorang nantinya akan menyadari kesalahannya. akhirnya dapat berguna dan mengabdi kepada orang tua. model yang kurang baik atau yang baik. . hal ini dianggap sebagai aib dan membuat keluarga itu malu karena keluarganya merupakan keturunan yang terpandang. Sebagai salah satu anggota masyarakat. Dalam cerita Tupai Janjang menghadirkan beberapa orang tokoh. Seperti dalam pertunjukan Tupai Janjang yang mana keinginan Linduang Bulan memiliki anak meskipun anaknya seperti seekor tupai. Sikap dan tingkah laku tokoh tersebut hanyalah model. Kepada masyarakat secara umum cerita ini mempunyai amanat yang sangat besar. dalam kehidupannya supaya tidak terjadi permusuhan. Cerita Tupai Janjang juga memberikan amanat kepada anggota masyarakat dalam hal ini jika posisi sebagai anak dalam suatu keluarga. Amanat yang disampaikan dalam cerita ini mengandung nilai moral yang cukup tinggi. Anak yang pada awalnya dibuang dan tidak disukai. Sebagai orang tua hendaknya dapat membimbing dan mendidik anak walaupun anak itu mempunyai kelakuan yang tidak baik dan tidak diingini. Dalam hal ini digambarkan oleh orang tua Tupai Janjang yang telah membuang anaknya. 2002: 322). Pesan moral yang disampaikan merupakan hikmah yang ditampilkan lewat sikap dan tingkah laku tokoh. Kritik secara tidak langsung juga diberikan kepada para orang tua yang tidak sungguh-sungguh memperhatikan pendidikan anaknya. Orang tua yang tidak mendidik dan bahkan membuang anaknya tetap dihormati karena bagaimanapun orang tua itu merupakan orang yang telah berjasa melahirkan.Amanat yang disampaikan dalam cerita ini tidak dinyatakan secara langsung tetapi dibungkus dengan berbagai cara. Melalui tokoh-tokoh ini masyarakat dapat mengambil pesan. akhirnya menyadari kesalahannya dan dapat hidup kembali berdampingan. Pembaca diharapkan dapat mengambil amanat dan hikmah yang disampaikan (Nurgiyantoro. Walaupun.

Begitu juga halnya dengan tokoh Mandeh Rubiah untuk dapat mengambil amanatnya. Tokoh Mandeh Rubiah merupakan tokoh yang baik dan mempunyai sifat yang dermawan dan mau menolong orang yang tidak di ketahui asal-usulnya. kaba yang lain diulang lagi. buliah kito manumpang mandi. (Kalau ada sumur di ladang. Tingkah laku Tupai Janjang yang pada awalnya tidak baik tetapi akhirnya dapat merubah kelakuannya dan menjadi tokoh yang bisa memaafkan kesalahan orang tuanya yang telah membuangnya. disini dahulu ditamatkan) . mandi berenang di tepian.tokoh mana yang dapat dijadikan pedoman dan mana yang tidak. mandi baranang di tapian. kok ado umua samo panjang. boleh kita menumpang mandi. kalau ada umur sama panjang. disiko dahulu ditamatkan. Toh akhirnya anak yang didik Mandeh Rubiah (Tupai Janjang) dapat menjadi seorang tokoh yang kaya dan mempunyai hati yang mulia. Kok ado sumua di ladang. kaba nan lain diulang lai.

Perulangan yang ditemui pada teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. paroh larik. frasa. frasa. pencerita dapat melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata. Pencerita dalam menampilkan ceritanya tidak dengan menghafal teks. seorang pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. klausa. atau kata. Pencerita bukan menghafal teks. jika suku kata tidak mencukupi dalam satu tarikan napas. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. Dengan memanfaatkan pola itu maka terdapat bentuk yang berulang baik dari pantun. Disampin itu. Setiap pencerita dapat bebas melakukan improvisasi. Perbedaan itu disebabkan oleh sifat dari tradisi lisan. tetapi dilantunkan dengan mengingat suatu pola. Dengan memanfaatkan cara yang sama. dan klausa yang berulang.BAB VII KESIMPULAN Pertunjukan Tupai Janjang merupakan sebuah pertunjukan yang dapat digolongkan kepada teater tradisional karena dalam pertunjukan tersebut menghadirkan akting dan dialog. Dengan teknik formula dan komposisi skematik. Akting dan dialog hanya dilakukan oleh satu orang pencerita. melainkan hanya dengan mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan . Oleh karena itu. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. larik. terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel.

pencerita sudah mempunyai stereotipe di dalam pikirannya yang diperoleh dari tradisi lisan Minangkabau lainnya. Di samping itu. Dalam masyarakat Palembayan. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. Sementara itu. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan alat memproyeksikan diri dan pencermin angan-angan kolektif masyarakat Minangkabau. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendiri-sendiri. dan (4) menceritakan kondisi tokoh dan peristiwa yang ada dalam cerita. (3) untuk memeriahkan alek nagari. yaitu (1) menghubungkan peristiwa dengan situasisituasi cerita sehingga membuat cerita bergerak ke depan. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan cerita. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. (2) untuk memeriahkan acara pengangkatan penghulu. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan. kegunaan Tupai Janjang lebih mengacu pada hal yang bersifat praktis. yaitu (1) untuk memeriahkan pesta perkawinan. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang maka diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan. Dengan demikian.irama pada saat pertunjukan. Di samping itu. Komposisi skematik yang digunakan dalam cerita Tupai Janjang ditemui untuk hal-hal berikut. (3) pergerakan waktu dalam cerita. (4) untuk memeriahkan hari yang berhubungan . unsur verbal lebih dominan ditemui pada teks II jika dibandingkan dengan teks I. Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pembuatan teks dalam pertunjukan. (2) pertukaran dan kegiatan tokoh dalam cerita. pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat.

dengan hari-hari nasional. terutama di bidang pariwisata. terutama hari kemerdekaan. dan (5) untuk menunjang program pemerintah. .

Amir. Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau. Yogyakarta. Khaidir. Basa. 1988.S. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. Cambridge: Cambridge University Press. Story. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Ivan. A Kasim. Kelisanan dalam Keberaksaraan: Hikayat Meukuta Alam. Achmad.Teater Daerah Indonesia. Padang. and Event. 1999. Ita. Padang: Esa. 2003. Adilla. M. 1996. Padang: Universitas Andalas. 1989. Anirun. . _______ 2001. Seni Pertunjukan Tupai Janjang: Studi Kasus di Desa Aia Mondak Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam. Yogyakarta: Kanisius. Kedudukan dan Peranan Wanita: Dalam Kebudayaan Suku Bangsa Minangkabau. “Tentang Sikap Dramatik dan Warna Lokal Mengakrabi Teater Rakyat” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. B. Anwar. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Padang. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Datuk Nagari. Sastra Lisan Minangkabau I. 1990. Kesenian Bagurau. Made dan Sal Murgiyanto. Hanindita Graha Widya. Bandem. Bandung. 1992. dkk. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Laporan Penelitian. 1983. Pusat Penelitian Universitas Andalas. “Resepsi Sastra: Teori dan Penerapannya”. Richard. Suyatna. Granesia Andras. 1995.Imran. Adriyetti. 2003. 1966. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. T. Bauman. Skripsi. 1983. Performance. Payakumbuh: Eleonora. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Amir. Bustami. Bandung: Granesia.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.

2001. Desetralisasi Kebudayaan. 1997. Harymawan. Endraswara. London: Routledge. Padang: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. 1999. Hanindita Graha Widya. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Djamaris. Remaja Rosdakarya. Hanindita Graha Widya. Dongeng. Edwar. Metodologi Penelitian Sastra. “Penelitian Resepsi Sastra dan Problematianya”. Satya. Dramaturgi. Oral Traditions and the Verbal Arts. Gayatri. James. Faruk. 2004. Yogyakarta. Erlinda. Siti. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. Masyarakat dan Budaya Lokal Dalam Globalisasi. ___________. 1992. Laporan Penelitian Akademi Seni Kerawitan Indonesia. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Bandung: Angkasa. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. 1980. _______. Danandjaja. 1993. 2002. Suwardi. Makalah pada Seminar Internasional Kebudayaan Minangkabau dan Potensi Etnik Dalam Paradigma Multikultural. “Berburu Sastra Lokal”. dkk. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. 1993. “Pengkajian Sastra dari Sisi Pembaca: Satu Pembicaraan Metodologi”. Jakarta: Balai Pustaka. 2001. Soenarjati. Ruth. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta.Chamamah-Soeratno. Tupai Jangjang Kesenian Rakyat di Nagari Silungkang Kecamatan Palembayan dalam Kajian Teknis dan Filosofis. 2004 “Tinjauan Fungsiolalisme Terhadap Seni Pertunjukan Saluang” dalam Ekspresi volume 12. dan lain-lain. Yogyakarta. Institut Seni Indonesia. . Padang Panjang. Finnegan. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. Yogyakarta: Pustaka Widyatama Esten. Bandung. 23-24 Agustus 2004 _____ 2003. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djajanegara. 1995. Jakarta: Yayasan Obor. Mursal. 2003. Citra Wanita Dalam Lima Novel Terbaik Sinclair Lewis dan Gerakan Wanita di Amerika.

David. 2004. Jakarta: Universitas Indonesia. 1981. 1982. Ignas. Nadra. “Minangkabau dalam Perspektif Perubahan Sosial Kontemporer dan Gebu Minang” Diskusi Panel Perubahan Sosial Minangkabau Kerjasama Fakultas Sastra Unand dengan Lembaga Gebu Minang. A. Suripan Sadi. Ihromi. 1998. Imran. Krisna. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau Traditions in Indonesia. 2001. Mohd Nefi. Jakarta. Jakarta: Renika Cipta Lord. Gerard. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Albert B. 1991. Kaplan. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. Kato. Teori Kebudayaan. Sejarah Teori Antropologi. Padang Moussay.Hutomo. Tata Bahasa Minangkabau. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. The Singer of Tales. 1997. _____ 1993. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. 1997. 1991. Eva. .O. Saluang: Sastra Lisan Minangkabau. T. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau.A. Jakarta: Gramedia. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. Pengantar Ilmu Antropologi. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. _______ 1990. Diterjemahkan Rahayu S. Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban. Jawa Timur. Navis.Hidayat. Jakarta: Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Kleden. Geografi Dialek Bahasa Minangkabau (Disertasi). Mass: Harvard University Press. Imran. Tsuyoshi. Cambridge. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 1984. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Koentjaraningrat. 2000. Jakarta: Grafiti Pers. 1999. Ithaca: Cornell University Press. Manan. 1980.

Kecamatan Palembayan Dalam Angka. (Tesis): Yogyakarta. Ajip. Yogyakarta. Yus. Hari. Peursen. 2002. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. Indonesia: Perspektif Sastra. Jakarta: Sinar Grafika . 1981. MPSS. 1999. Andar Indra. Soerjono dan Ratih Hertarini.A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Rusyana. Sairin. Penghulu. Fungsionalisme dan Teori Konlik dalam Perkembangan Sosiologi. Poerwanto. Jakarta: Universitas Indonesia. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta: Kanisius. 2002. Perubahan Sosial Masyarakat Antropologi. Pustaka Pelajar.Nurgiyantoro. Sijobang. 1984. ________. C. Keragaman dan Kesamaan Dalam Tradisi Lisan Nusantara. Nigel. Strategi Kebudayaan. Teori Pengkajian Puisi. Phillips. Makalah Seminar Internasional Tradisi Lisan III.Van. Makyong: Hakikat dan Proses Penciptaan Kelisanan (Disertasi). Idrus Hakimy Dt. Atar. Sjafri. Padang: Angkasa Raya. 1988. Rosidi. 2000. 1999. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Soekanto. Pemerintah Kabupaten Agam. 1998. 1976. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 2003. 2002. Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Bagurau Dalam Basaluang: Cerminan Budaya Konlfik. 14-16 Oktober 1999. 1995. Anatomi Sastra. London: Crambridge University Press. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Pudentia. “Etnisitas dan Globalisasi: Antara Sentrpetal dan Sentrifugal”. Burhan.Rajo. Semi. Jakarta: Pustaka Jaya. 1988. Bandung: Remaja Karya. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global.

2002. Jakarta. 1997. Berkeley. ________ 1987. Metode Etnografi Elizabeth). Rebab Pesisir Selatan Malin Kundang. Herman. Nani. _____ 1996. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia. 1999. Jakarta.11. Rene dan Austin Warren. Seminar Internasional Tradisi Lisan III.Suryadi. November. Asosiasi Tradisi Lisan. Waluyo. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. 1993. Dendang Pauah Cerita Orang Lubuk Sikaping. Spradley. Gramedia Pustaka Utama.1980. Jakarta. Syamsuddin. 2003. Udin. ______ 1993. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun I. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. Teeuw. (Terjemahan Misbah Zulfa Sweeney. James P. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”. Jakarta: Intermasa. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. 1984. Rebab Pesisir Selatan Zamzami dan Marlaini. 1982. Dalam Analisis Kebudayaan. A. University of Colifornia Press. Yayasan Obor Indonesia. Wellek. 1990. Berkeley: University of Colifornis Press. Tuloli. Pedoman Penelitian Sastra Daerah. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. Amin. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. Jakarta: Pusat Bahasa. XXXVII. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1980. Sastra dan Teori Sastra (Terjemahan Melani Budianta). Jurnal Basis. 1980. Apresiasi Puisi . Zaidan.Yogyakarta: Tiara Wacana. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. . Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Abdul Rozak.

Hum Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415. Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006.0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2006 . M.0/023-04. SATYA GAYATRI. tanggal 1 Februari 2006 FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER.PENELITIAN DOSEN MUDA ARTIKEL PENELITIAN FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG Oleh: Dra.

Dr.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti Dra. M. Jumlah Tim Peneliti 5. M.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan.HALAMAN PENGESAHAN 1. 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra. Ir. Bidang Ilmu 3. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra. M. Lokasi Penelitian 6. Jabatan Fungsional e. Ketua Penelitian a.000. Judul Penelitian 2. Jenis Kelamin c. Waktu Penelitian 7.S. Nama b.Sc NIP. Satya Gayatri. Satya Gayatri. H. Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7. Helmi. Fakultas/ Jurusan 4. Adriyetti Amir.500.(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang. 131 474 873 .Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian Prof. Golongan Pangkat dan NIP d.

FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG:48 Satya Gayatri49 ABSTRAK Pertunjukan tradisional Tupai Janjang di Minangkabau merupakan salah satu bentuk teater tradisional karena menghadirkan dialoq dan akting. alek nagari. dan larik yang berulang. Dalam menyampaikan cerita. Demikian juga halnya dengan pantun. sampai saat ini mengalami variasi tergantung kepada fungsinya di dalam masyarakat. Tradisi ini. Tradisi lisan di Minangkabau. terdapat teks yang mempunyai kata. Tradisi lisan bisa juga menjadi sumber suatu penciptaan baru50 atau bisa berperan sebagai sumber dari suatu proses penciptaaan baru. Salah satu tradisi itu adalah tradisi lisan Minangkabau. Bertahannya pertunjukan Tupai Janjang dalam masyarakat Palembayan karena mengandung fungsi dan nilai-nilai yang dapat dipetik baik dari isi cerita maupun dari pertunjukan itu sendiri. sehingga dalam teks akan ditemukan sejumlah kalimat yang bersifat paralel. Dengan demikian. PENGANTAR Tradisi lisan merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga. upacara pengangkatan penghulu. Dengan memanfaatkan teknik formulaik. Kehidupan tradisi lisan akan mengalami variasi sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. pencerita dapat mengubah teks setiap saat sesuai dengan situasi dan kondisi. dan untuk menunjang program pemerintah. 1. klausa. 48 49 50 Artikel penelitian BBI Dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas. tetapi juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. frasa. pencerita bukan menghafal cerita melainkan menggunakan teknik yang sudah terpola. Demikian juga dari segi fungsinya pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk memeriahkan pesta perkawinan. bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. peringatan peringatan hari Nasional. . Masyarakat dapat mengambil nilai-nilai ataupun pesan moral yang terkandung dalam cerita yang disampaikan.

petuah. Hal ini disebabkan karena nenek moyang orang Minangkabau. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau. dalam mengatur kehidupan pada awalnya. mamangan. pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya. misalnya falsafah hidup yang dikenal dengan alam takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru). secara lisan. petitih. disimpan. diturunkan secara lisan. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi Tupai Janjang. Segala aspek kehidupan. Kabupaten Agam. Bertahannya tradisi lisan dalam masyarakat. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. dan disampaikan dalam cerita itu. kekuatan dalam bidang sastra dan bahasa Minangkabau terletak pada tradisi lisannya.Dalam kebudayaan Minangkabau. sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. karena setiap pertunjukan dipengaruhi oleh waktu. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. dan kehidupan alam51. Dengan demikian. penonton dan 51 Anwar dalam Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa (1995: 118) . Sumatra Barat. walaupun menampilkan cerita yang sama. hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. menambah pengetahuan. Falsafah hidup dan ajaran ini dinukilkan dalam pepatah. serta lain-lainnya mengambil ungkapan dari sifat. Salah satu tokoh dalam cerita ini bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. Nama pertunjukan ini diambil dari nama kaba yang diceritakan. bentuk. Dalam pertunjukan tradisional. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. Dalam hal ini. Pertunjukan seperti ini. setiap cerita yang ditampilkan tidak persis sama. karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. Variasi pada teks dilakukan oleh pencerita. Hal ini disebabkan karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. setiap pertunjukan dari suatu cerita akan terlihat adanya variasi.

pencerita. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan pola-pola yang sudah didapatkan dari pencerita terdahulu atau dari tradisi lisan lainnya. Persediaan formula itu disebut stock-in-trade si penyair. XXXVII11(1988a: 298) 53 Lord dalam The Singer of Tales (1979: 54) .situasi selama pertunjukan. 2. Hal ini berarti. Variasi dilakukankan oleh pencerita dengan mudah karena pencerita sudah mempunyai stock-in-trade yang siap pakai. untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman53. karena frasa itu sudah berkalikali dipergunakan. Oleh sebab itu. frasa. dan ide dalam cerita tersebut. dalam sebuah pertunjukan pencerita melakukan perubahan sehingga terjadi variasi pada adegan yang diceritakan. Dengan demikian. tidak ada pementasan yang identik seratus persen walaupun ditampilkan oleh seorang pencerita yang sama52. bahwa pencerita di samping mampu mengingat formula sesuai dengan keingginan waktu menceritakan. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula pada saat pertunjukan. Pencerita mencoba mengingat frasa-frasa yang didengarnya dari pencerita lain. saat pertunjukan berlangsung. Akhirnya. Teknik formula yang dikembangkan oleh pencerita. sehingga pencerita mengucapkan secara terbiasa frasa-frasa itu seperti halnya dalam pembicaraan sehari-hari. Jurnal Basis November. Dengan demikian. FORMULAIK dan KOMPOSISI SKEMATIK Dalam setiap pertunjukan. pencerita dapat melakukan perubahan teks secara cepat. Dalam hal ini. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. kalimat. tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. 52 Teeuw dalam “Indonesia Antara Kelisanan dan Kebersaraan”. berarti juga menceritakan kembali cerita-cerita secara lisan. klausa. atau tukang pidato. frasa diciptakan bukan menggunakan hafalan tetapi karena kebiasaan. Dengan memanfaatkan cara ini. terjadi kalimat yang paralel dan bentuk perulangan pada kata. Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotip yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa.

Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. atau larik. yang mungkin berupa kata. Tidak ada adegan dan sub-adegan dari cerita yang persis sama. ibid (1981: 30.43) Sweeney dalam Authors Audiences in Traditional Malay Literature (1980:40) . Tradisi sastra Melayu tradisional. Variasi itu dapat terjadi karena faktor si pencerita maupun masyarakat yang menikmati cerita tersebut. ada adegan dan sub-adegan yang ditambah. klausa. Dalam sastra Melayu tradisional. klausa. sangat dipengaruhi oleh penonton sehingga terjadi umpan-balik. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. terutama dalam penceritaan secara lisan55. Oleh karena itu. Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan pada saat pertunjukan berlangsung. Dengan cara memanfaatkan bentuk berformulaik.Seorang pencerita dapat melakukan variasi pada adegan dan sub-adegan cerita. Di samping memanfaatkan sistem perulangan. skematik ini merupakan hal yang penting. yaitu mengingat perulangan atau menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. Hal ini disebabkan. frasa. pencerita pada saat pertunjukan berlangsung. pencerita dalam pengertian ini membentukan baris puisi sastra lisan secara cepat sehingga banyak menggunakan rumusan atau pola-pola tertentu dalam setiap kegiatan penceritaan. Formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. sangat variatif. atau dikurangi sehingga terjadi variasi antara pencerita terdahulu dengan pencerita yang ada sekarang ini. cara yang juga digunakan oleh pencerita dalam sebuah pertunjukan adalah dengan memanfaatkan skema tertentu yang disebut komposisi skematik. Hal ini dapat dilakukan karena memanfaatkan sistem formula. Rumusan atau pola berformula dalam sastra Melayu tradisional. memperlihatkan fleksibilitas komposisi yang tinggi. Untuk menghasilkan perulangan itu. Dengan demikian. dan larik yang telah ada54. Skematik itu. frasa. karena pertunjukan merupakan aktivitas komunal dan terikat dalam kohesi sosial. diubah. Hal ini juga ditemui dalam tradisi sastra Melayu tradisional. Di 54 55 Lord.

cerita yang sama dapat dibawakan oleh pencerita yang berlainan.samping itu. ibid (1980:64-65) . suasana. ide-ide. perulangan ditandai dengan memberi garis bawah pada kata yang berformulaik. Dalam pertunjukan Tupai Janjang. melainkan bercerita sambil memanfaatkan kondisi yang dapat mendukung penceritaaannya. tetapi belum tentu teks cerita yang diucapkan sama. Variasi itu dapat terjadi karena dalam pertunjukan lisan. pencerita tidak bercerita dalam keadaan teks yang kaku. Ekspresi formulaik yang pertama sekali dilihat adalah pada bagian cerita yang berbentuk pantun. Dengan demikian. Hal ini disebabkan karena waktu. terlihat adanya perulangan antara satu bait dengan bait berikutnya. walaupun ceritanya sama dan juga dilakukan oleh pencerita yang sama. atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematik. penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. Pada cerita yang berbentuk pantun ini. Dalam analisis ini. Hal ini dapat menimbulkan variasi dalam cerita tersebut. Pantun itu adalah: 56 Sweeney. Dalam sebuah pertunjukan pencerita memanfaatkan cara perulangan supaya dapat menciptakan dan merangkai cerita secara cepat karena dalam pertunjukan lisan tidak ada penghafalan cerita. dan tempat pertunjukan yang berbeda juga mengakibatkan terjadinya variasi. apapun cerita yang ditampilkan56. komposisi skematik juga merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dengan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional. Dengan demikian. sehingga seorang performer menggunakan tema-tema yang sama.

adalah orang masa itu. berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulang). |hai| bumi |nan| antah barantah. Ada formula tertentu yang digunakan untuk menyatakan pergerakan waktu dalam cerita. kaba |lah| urang lai kami kabakan. Pantun di atas terlihat adanya kata yang diulang pada larik berikutnya. di nan dakek jolong tasongoh. turunan puti sudut-bersudut). kaba |lah| urang kami kabakan. Pengulangan itu terjadi pada bait yang sama dan juga pada bait yang berbeda. Bandalah urang kami bandakan ditemui pada kedua teks. Banda |lah| urang kami bandakan. Di nan tinggi tampak jauah. bumi |nan| alun |hai lah| baralun. untuk menyatakan waktu satu hari. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. kaba orang kami kabakan. urang duto kami tak nio. banda nak urang Koto Tuo. orang dusta kami tak mau) Tak kalo maso dahulunyo. kaba |lah| orang kami kabakan. (Di yang tinggi tanpak jauh. Misalnya. Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. banda nak urang |lah| di Gumarang. (Bandar |lah| orang kami bandarkan. tersebut gerangan Datuak Bandaro. larik itu diulang dengan merubah kata kami dengan kata ambo dan penambahan ungkapan penyeling hai. TEKS II Bandalah urang |hai| ambo bandakan. ta puti suduik-basuduik. |hai| bumi |nan| antah berantah. Ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu kata atau dua kata. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang) |Oi| adolah pado suatu maso. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. (Tak kala masa dahulunya. urang duto kami tak sato. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formulaik yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. di yang dekat jolong tersongoh. nan tasabuik-sabuik. kaba |lah| orang ada kami kabakan. bandarlah |hai| orang si Koto Tuo. turunan raja turun beraja. yang tersebut-sebut). adolah urang maso itu. (Oi| adalah pada suatu masa. Kata kaba dan bandalah urang ditemui pada bait ke-1 dan bait ke-2. satu bulan. (Bandarlah orang |hai| hamba bandarkan. Pada teks II.TABEL I TEKS I Banda urang kami bandakan. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik. ta rajo turun ba rajo. Pencerita . bandar anak orang |lah| di Gumarang. bumi |nan| belum |hai lah| beralun. orang dusta kami tak serta). bandar anak orang Koto Tuo. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. (Bandar orang kami bandarkan. tasabuik garan Datuak Bandaro. kaba urang kami kabakan. atau dua bulan.

Contoh perulangan itu terlihat pada tabel di bawah ini. .tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. Persamaan yang terlihat adalah pada pemakainan kata lah baik untuk pergeseran waktu maupun untuk variasi tokoh yang diceritakan. Penambahan kata yang terjadi hanya untuk kepentingan irama dalam mendendangkan cerita. Sesudah pemakainan formula. Formulaik pergerakan waktu Ampia sampai ganok bilangan bulan (Hampir sampai genap bilangan bulan) Lah hampienyo ganok bilangan. (Sudah sebulan dua bulan) Ambia sampai ganok bilangan. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada dalam pikiran pencerita tersebut. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan (Sudah yang sepekan |oi lah| yang sebulan) Lah nan duo bulan garan mangaduang (Sudah yang dua bulan gerangan menganduang) Jalan barubah |lah nan| maengkang (Jalan berubah |lah nan| meengkang) Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang (Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung) Lah lapan bulan paruik tambah gadang (Sudah delapan bulan perut tambah besar) Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (Sudah yang sembilan bulan dia mengandung) Lah nan sahari nan duo hari (Sudah yang sehari yang dua hari) Lah nan bapakan lah maso itu (Sudah yang berpekan lah masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan tokoh yang diceritakan. sehingga terlihat paralelisme antara satu larik dengan larik yang lainnya. (Sudah hampir dia genap bulangan) Lah tibo sakik baranak. Demikian juga halnya dengan perpindahan tokoh yang diceritakan juga memanfaatkan sistem formulaik. Kata lah dalam hal ini mengandung arti alah (sudah). Formulaik pergerakan waktu Dari sahari |oi| garan manganduang. misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. (Hampir sampai genap bilangan) TEKS II I. (Sudah tiba sakit beranak) Lah sabulan duo bulan. TABEL II TEKS I I. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut.

dilanjutkan dengan keterangan yang dilakukan oleh tokoh. Variasi yang tampak adalah penambahan unsur verbal demi kepentingan irama misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana lah berkata Datuak Bandaro). Hal itu terlihat pada tabel di bawah ini:
TABEL III TEKS I I. Formulaik untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) II. Formulaik pada sintaksis |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Lalu bakato Datuak Bandaro (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang Lalu dicaliak si Tupai Janjang (Lalu dilihat si Tupai Janjang) |ha| lalu diambiaklah kulik nantun (ha| lalu diambillah kulit yang itu) TEKS II I. Formulaik untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (|Oi| hadaplah diri dua yang itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan |(Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan)

II. Formulaik pada sintaksis Lah balari si Dukun Pandai (Sudah berlari si Dukun Pandai) Lah bajalan Datuak Bandaro (Sudah berjalan Datuak Bandaro) Lah bajalan si Linduang Bulan (Sudah berjalan si Linduang Bulan) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) Lah pulangnyo maso nantun, (Sudah pulang dia masa itu) Lah tibonyo di tangah rumah. (Sudah tiba dia di tengah rumah) Lah dibao si Tupai Janjang (Sudah dibawa si Tupai Janjang)

Pencerita menyusun baris-baris cerita dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya. Pencerita mempunyai polapola yang dijadikan pedoman dalam menghasilkan baris pada saat penceritaan dengan cepat sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. Dengan demikian, baris-baris

memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. Cara ini dilakukan oleh pencerita untuk membentuk baris-baris dengan cepat dengan menukarkan tempat, menambah, atau mengurangi kata, sehingga tidak merubah sifat paralel kalimat itu. Untuk lebih jelasnya, hal itu dapat dilihat pada bagan berikut.
Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} {Oi} Tibo + + padi kasiah di lantai di rusuak di tanah Nyo inyo nan + baunduang-unduang baunduang + + hai + urang lantai rusuak tanah maso kain kain + + + basalang patah balubang taban balubang itu putiah sirah

Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Skematik itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. Dalam sastra Melayu tradisional skematik ini, merupakan hal yang penting, terutama dalam penceritaan secara lisan. Dengan demikian, pencerita mampu menghasilkan cerita dalam waktu yang sangat cepat dengan tidak menyiapkan atau menghafal teks sebelumnya. Hal ini diperlukan kemahiran dan kebiasaan penceritaan, sehingga sebelum menjadi pencerita yang sebenarnya dituntun melaksanakan latihan. Komposisi skematik diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel, seperti yang juga telah diberikan di depan. Kalimat-kalimat yang paralel ini juga berfungsi untuk mempermudah pertunjukan. Oleh karena itu, di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. Misalnya, untuk menyatakan Tupai Janjang telah lahir dan mempunyai perbedaan dengan anak yang lain (mempunyai keajaiban). Hal ini

dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik ini lazim juga ditemui dalam kaba Minangkabau lainnya. Skematik itu adalah;
Nan lah laia anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai lah patah, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang. (Yang telah lahir anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai sudah patah, tiba di rusuk rusuk runtuh, tiba di tanah tanah lambang57

Pada teks II, terjadi variasi skematik itu, namun masih ada kata yang sama digunakan. Sehingga, ide dari skematik itu masih sama. Skematik itu seperti terlihat sebagai berikut.
Nan lah ko laialah si Tupai Janjang, |oi| tibo di lantai lantai balubang, |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang, |a| lalu dicaliaklah anak nantun. (Yang sudah lahir si Tupai Janjang, |oi| tiba di lantai lantai balubang, |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlubang |a| lal dilihatlah anak itu).

Dalam kaba Anggun Nan Tongga, skematik ini juga ditemui waktu Anggun Nan Tongga lahir. Dalam skematik itu terlihat perbedaan dengan mendapatkan tambahan larik yang lain pada bagian awal dan akhir bait.
Dek Allah sadang manggarakkan, tibo di lantai lantai putuih, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang, anak lahia jo karuangnyo. (Mahkota, 1998:8) (Karena Allah sedang mencanda-i tiba di lantai lantai putus, tiba di rusuk rusuk terban, tiba di tanah tanah lambang, anak lahir dengan karungnya)

Untuk menerangkan kondisi kecantikan Linduang Bulan pada teks I, dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik itu juga lazim digunakan dalam sastra tradisional Minangkabau. Skematik itu adalah;
Kononlah Puti Linduang Bulan, nan bajalan sigajua lalai, alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati, nan ka suok lenggang manganai, nan ka kida lenggang mambunuah. (Kononlah Puti Linduang Bulan, yang berjalan sigajua lalai, alu tertarung patah tiga, semut terpijak tidak mati, yang ke kanan lenggang mengena, yang ke kiri lenggang membunuh)

Berbeda halnya pada teks II, menerangkan kecantikan Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I, tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambut yang panjang terurai.
57

Menurut Kamus Bahasa Minangkabau, lambang adalah lembang (bekas injakan, atau tekanan beban pada tanah). Hal ini biasanya digunakan betapa hebatnya yang mempunyai kaki, dalam cerita klasik.

Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. Dalam cerita Tupai Janjang. kini bakiroklah ko kini. walaupun di tengah marak kebudayaan lain yang masuk ke dalam masyarakat. Oleh sebab itu . Dalam hal ini. Nak kanduang si Tupai Janjang. buliah ka rimbo lah kau kini. Setiap pola kelakuan sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat. Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. anak sigiang-giang rimba. pendekatan fungsionalisme yang dikemukakan oleh Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat dimana unsur itu ada.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. anak bincacak anak bincacau. |oi| bamuko rancak rambuik taurai. Skematik itu biasanya diucapkan oleh orang tua kepada anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. 3. karena tradisi itu dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. urang nan elok |lah| maso itu. misalnya kebutuhan sekunder suatu masyarakat. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. orang yang elok |lah| masa itu). skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena Tupai Janjang suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. |oi| bermuka rancak rambut terurai. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat sampai sekarang. Akhirnya. Hal ini disebabkan. Boleh ke rimbalah kau kini). kini pergilah sekarang kini. anak bincacak anak bincacau. anak yang seperti tidak ditunjuk ajari. anak sigiang-giang rimbo. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. (Nak kandung si Tupai Janjang. untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar.

(c) sebagai alat pendidikan anak. walaupun orang tua kita sendiri pernah membenci dan membuang anak kita. Terhadap orang tua. Sebagai alat pendidikan. Akhirnya. . Semua fungsi ini akan dianalisis lebih mendalam dalam penceritaan tradisi lisan Tupai Janjang. kalau diberi 58 59 Ihromi dalam Pokok-Pokok Antropologi Budaya (1980:60) Danandjaja dalam Folklore Indonesia (1984:19). cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anakanak. Di samping itu. dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya59. semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar suatu warga masyarakat58. Cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat Minangkabau. cerita ini juga mengambarkan keberhasilan Tupai Janjang yang menjadi orang yang kaya sehingga dapat membantu orang tuanya. Terhadap anak-anak. Keinginan itu adalah untuk pergi merantau dan kemudian berhasil di rantau sehingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. tetapi juga terhadap orang tua. menurut William R. cerita ini memberikan pendidikan supaya mempunyai kelakuan baik karena kelakuan yang tidak baik semua orang tidak menyukai. Dan juga cerita ini merupakan proyeksi dari keinginan dari orang tua agar anaknya pergi meninggalkan kampung halaman dan mencari “sesuatu” yang dapat digunakan buat masa depannya. (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Bascom fungsi folklor ada empat yaitu (a) sebagai sistem proyeksi yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif.dalam teori ini. cerita ini dapat diambil nasihatnya supaya hati-hati dan tabah dalam mendidik anak. Tersirat juga pendidikan jika sebagai seorang anak hendaknya terhadap orang tua harus bersifat baik dan tetap menghormati. khususnya bagi pemuda Minangkabau. Bagaimanapun nakalnya seorang anak. Hal ini tergambar dari kepergian Tupai Janjang meninggalkan kampung halamannya. bahkan juga orang tua sendiri.

dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan. (3) memeriahkan alek nagari. 4. (2) memeriahkan acara pengangkatan penghulu atau peresmian penghulu baru. Oleh sebab itu. diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan. Pencerita bukan menghafal teks. Bertahannya pertunjukan ini karena masyarakat masing mengangap pertunjukan ini berfungsi. KESIMPULAN Pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang sifatnya praktis seperti untuk kegiatan apa pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Palembayan. Dalam masyarakat Palembayan. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk (1) memeriahkan pesta perkawinan. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendirisendiri. (4) memeriahkan hari yang berhubungan dengan hari-hari nasional. pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang. Secara eksplisit. terutama di bidang pariwisata. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. dan (5) menunjang program pemerintah. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. sedangkan fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan yaitu penggunaan dan fungsi. terutama hari kemerdekaan.pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawakan hasil. tetapi hanya dengan . Penggunaan akan mengacu kepada untuk kegiatan apa pertunjukan dilakukan.

dengan memanfaatkan cara yang sama terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel. dan klausa yang berulang. Dengan teknik formulaik dan komposisi skematik. Oleh karena itu. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. pencerita dapat melakukan variasi-variasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata. dapat bebas melakukan improvisasi. jika suku kata tidak mencukupi maka pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan irama saat pertunjukan. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik. frasa. Di samping itu. . Hal ini terjadi karena setiap pencerita. Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu.mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan ide cerita. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. Formulaik yang ditemui pada kedua teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk mempercepat penyampaian ide cerita dalam pertunjukan.

Kecamatan Palembayan Dalam Angka. Traditions Kleden. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jawa Timur. Danandjaja. 2004. Ithaca: Cornell University Press. Oral Traditions and the Verbal Arts. Ignas. 1984. dan lainlain. Granesia Anwar. 2002. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Ruth. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau in Indonesia. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. James. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Cambridge. Dongeng. 1982. Jakarta: Yayasan Obor. Desetralisasi Kebudayaan. Finnegan. . Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. 1992. 1995. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. Jakarta: Gramedia. Navis. Bandung: Angkasa. 1996. Mursal. 2000. Kato. Hutomo. Bandung. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Bandem.A.O. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. 1983.Teater Daerah Indonesia. Tsuyoshi. Mohd Nefi. 2002. London: Routledge. The Singer of Tales. Pemerintah Kabupaten Agam.DAFTAR PUSTAKA Achmad. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djamaris. 1980. Yogyakarta: Kanisius. A. Ihromi. 1991. Jakarta: Grafiti Pers. Edwar. 1981. Khaidir. Made dan Sal Murgiyanto. Esten. T. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. 1980. Imran. 1999. Albert B. Mass: Harvard University Press. Suripan Sadi. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Lord. A Kasim.

Jurnal Basis. . Asosiasi Tradisi Lisan Teeuw. Sastra dan Ilmu Sastra. ________ 1987. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”. Anatomi Sastra. 1980. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. Pudentis. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yogyakarta. 2002. Amin. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. Berkeley.Van. Tuloli.1980. Yogyakarta: Kanisius. 1988. 1980. Dalam Analisis Kebudayaan. A. 1999. Berkeley: University of Colifornis Press. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. 1984. Semi. 1976. C. 1998. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. MPSS. Ajip. Sairin. Sweeney. Strategi Kebudayaan. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Variasi Sosial Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Udin. November. University of Colifornia Press. Nani. 1995. Padang: Angkasa Raya. Tahun I. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Sjafri. Atar. Jakarta: Intermasa. Syamsuddin. Seminar Internasional Tradisi Lisan III. 1990. XXXVII. Jakarta. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo.A. Jakarta: Pustaka Jaya.11.Peursen. Pustaka Pelajar. Rosidi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->