PENELITIAN DOSEN MUDA

LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA TAHUN ANGGARAN 2006

FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG

Oleh: Dra. SATYA GAYATRI, M.Hum

Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415.0/023-04.0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006, tanggal 1 Februari 2006

FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER, 2006

HALAMAN PENGESAHAN USUL PENELITIAN DOSEN MUDA 1. Judul Penelitian 2. Bidang Ilmu 3. Ketua Penelitian a. Nama b. Jenis Kelamin c. Golongan Pangkat dan NIP d. Jabatan Fungsional e. Fakultas/ Jurusan 4. Jumlah Tim Peneliti 5. Lokasi Penelitian 6. Waktu Penelitian 7. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra. Satya Gayatri, M.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7.500.000,(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang, 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra. Adriyetti Amir, S.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti

Dra. Satya Gayatri, M.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian

Prof. Dr. Ir. H. Helmi, M.Sc NIP. 131 474 873

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK…………………………………………………………. PRAKATA …………………………………………………………. DAFTAR ISI………………………………………………………... BAB I. PENDAHULUAN………………………………………….. BAB II PERUMUSAN MASALAH………………………………… BAB III TINJAUAN PUSTAKA…………………………………… BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ……………… BAB V METODE PENELITIAN………………………………… BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………… 1. Transkrip Teks…………………………………………… 2. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang 3. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan……….. 4. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang………………………. BAB VII KESIMPULAN…………………………………………. DAFTAR PUSTAKA……………………………………………… i ii iii 1 6 7 12 14 16 17 52 62 71 83 86

dalam menyampaikan ide dan gagasan saat pertunjukan supaya dapat dengan cepat menyampaikan cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertunjukan sebuah teks dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat pertunjukan sedang berlangsung. Berbagai pesan dan unsur nasihat juga terdapat dalam pertunjukan ini. sedangkan untuk penelitian kepustakaan digunakan terutama dalam menganalisis teks. Formulaik dan komposisi skematik dalam penceritaan juga mempertimbangkan irama sehingga terdapat pemakaian ungkapan penyeling untuk menyempurnakan irama itu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat unsur-unsur teks yang bersifat formulaik dalam aspek kelisanan. Penelitian lapangan digunakan untuk melihat bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang dan tanggapan masyarakat tentang pertunjukan itu sendiri. Seorang pencerita untuk mempermudah komposisi penceritaan memakai formula dan komposisi skematik dalam pertunjukan. bentuk yang berformulaik sangat membantu proses pelantunan teks oleh pencerita. . Disamping itu. Sebuah teks tidak ada yang persis sama dalam suatu pertunjukan. Pertunjukan Tupai Janjang sampai sekarang masih tetap eksis walaupun sudah mengalami pergeseran oleh bentuk hiburan lainnya. Oleh sebab itu. penelitian ini bertujuan untuk melihat fungsi dan kegunaan teater tradisional tersebut dalam kehidupan masyarakat di daerah Palembayan. Unsur-unsur teks yang bersifat formulaik berhubungan dalam pembentuk kelisanan dengan menggunakan pendekatan formula dan komposisi skematik.ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Dalam teks akan terlihat adanya perbedaan formulaik antara suatu pencerita dengan pencerita lainnya. wawancara banyak dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang fungsi dan kegunaan pertunjukan Tupai Janjang yang telah dilakukan. Data yang didapatkan dari penelitian lapangan digunakan untuk melihat aspek-aspek pembentuk kelisanan dari teks. pencerita juga memakai skematik. Selanjutnya. Selanjutnya. Pertunjukan ini mempunyai fungsi dan kegunaan dalam masyarakat. unsur-unsur pembentuk kelisanan dalam teater tradisional Tupai Janjang. serta nilai-nilai apa yang dapat diambil dari teks yang dibacakan.

nasihat. hal itu sangat berpengaruh terhadap ragam dan gaya bahasa yang digunakan. . 1995:125-126). tradisi lisan dicatat dan kemudian disebarkan lewat media cetak dalam bentuk buku (Rosidi. Dalam arti. Dari banyak tradisi lisan yang masih hidup. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak tradisi lisan di Indonesia yang telah hilang karena tidak dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya dan tidak sempat pula didokumentasikan. Usaha pelestarian tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkelanjutan. masih terdapat banyak tradisi lisan yang bertahan dan mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. Salah satu tradisi lisan itu ada dalam kebudayaan Minangkabau. Bahasa yang diucapkan. bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. bahkan hukum dan peraturan. Pada negara-negara yang sudah maju. Padahal. Bahkan. ragam tradisi lisan ini juga terlihat dalam komunikasi sehari-hari (Anwar. sebagian kecil telah “diselamatkan” dalam bentuk rekaman tape recorder. Tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang sangat berharga. perbincangan. rundingan. Sastra Minangkabau juga terlihat kekuatannya pada sastra lisan. Budaya Minangkabau pada dasarnya adalah budaya lisan. transkripsi. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Navis (1984:231) bahwa dalam percakapan sehari-hari orang Minangkabau lazim menggunakan ungkapan.BAB I PENDAHULUAN Indonesia memiliki kekayaan tradisi lisan yang tersebar pada tiap-tiap daerah. tradisi lisan bisa menjadi sumber bagi suatu penciptaan budaya baru (Esten. 1995:117 —118). 1999:105). hilangnya suatu tradisi lisan tersebut sesungguhnya merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia. Di samping terdapat tradisi lisan yang telah hilang. melainkan juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. dan rekaman video (audio-visual). terdapat dalam bahasa lisan. seperti ajaran.

Dengan demikian. Selain itu. amanat. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam cerita itu dianggap pernah terjadi pada masa lampau atau merupakan hasil rekaan semata-mata karena terdorong keinginan untuk menyampaikan pesan. tetapi juga berbicara tentang hubungan antara pemain. dan pendidikan yang dapat bermanfaat bagi perkembangan watak dan kepribadian para pendengarnya. 1980:66). teks (karya sastra). Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. bahkan ada kecendrungan untuk menolak cara pemberian nasihat secara langsung (Tim Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. disimpan. Tradisi lisan yaitu cerita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain secara lisan. Pertama. Orang yang bercerita pada dasarnya ingin menyampaikan pesan. daya pukau dari apa yang disampaikan menjadi hilang. Bertahannya suatu tradisi lisan dalam masyarakat karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. menambah pengetahuan. jika pesan itu disampaikan secara langsung kepada orang yang hendak dituju. dalam pengertian tradisi lisan terdapat peraturan tertentu yang tidak bisa diabaikan dan ditinggalkan kalau akan melaksanakan pertunjukan. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. dan disampaikan dalam cerita itu. dan pendidikan melalui cerita tersebut. dan audience. Tradisi lisan tidak hanya berbicara tentang ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang tersebar dan diturunkan secara lisan (dari mulut ke mulut). amanat. Akan tetapi. tradisi lisan Minangkabau dari segi keberadaannya dikelompokkan menjadi tiga. membicarakan tradisi lisan juga langsung berhadapan dengan nilai-nilai dan aturanaturan yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Mengingat fungsinya dalam masyarakat. ragam tradisi lisan yang . informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan.Kebiasaan menggunakan ungkapan dalam percakapan bertolak dari landasan sosial dan struktur kekerabatan yang berkaitan sehingga menyebabkan setiap orang saling menyegani.

yang biasa ditemukan dalam upacara perhelatan. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. Demikian juga. Pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. Berbeda halnya dengan randai yang juga disebut dengan teater tradisional. Jika dilihat dari bentuk pertunjukannya. sedangkan untuk musik juga dimainkan oleh seorang pemain musik. Kegiatan dialog. Pengelompokkan itu karena pertunjukan Tupai Janjang menghadirkan dialog. maka pemain akan melakukan dialog dan akting seperti ibu-ibu yang sedang menyusui anak. nyanyi. 1990:25). ragam tradisi lisan yang bertahan dari kepunahan dengan jalan melakukan penyesuaian dan perkembangan sehingga mendapat sambutan dari masyarakatnya. Ketiga. Pemain itu yang melakukan dialog dari tokoh dalam cerita dengan menirukan suara dan akting yang sesuai dengan tuntutan cerita.terancam punah karena perkembangan dari masyarakat hingga kehilangan fungsi dan perannya. jika menceritakan bapak yang sedang marah. dan penyambutan tamu (Amir. gerak. kematian. Misalnya. seperti pantun adat dan pasambahan. sesuai dengan jumlah tokoh yang ada dalam cerita yang dibawakan. dan nyanyi dilaksanakan oleh satu orang pemain. maka pertunjukan ini dapat dikelompokkan ke dalam teater tradisional Minangkabau. ragam tradisi lisan yang tidak mengalami perubahan sama sekali karena berkaitan dengan upacara adat. gerak. akting. akting. Randai adalah pertunjukan teater tradisional yang . dan musik. maka pemain akan membesarkan suaranya seperti layaknya seorang bapak yang sedang marah. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi pertunjukan Tupai Janjang. Randai ditampilkan oleh beberapa orang pemain. Kedua. jika menceritakan seorang ibu yang sedang menyusui anaknya.

Tupai Janjang bercerita tentang sepasang suami-istri yang sudah lama menikah dan belum juga dikaruniai anak. Secara singkat. anak itu bertemu dan dibesarkan oleh seorang ibu hingga menjadi seorang pemuda yang gagah dan baik. Sang istri berputus asa karena belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Tupai janjang banyak terdapat di hutan di Pulau Sumatera. Tupai janjang diambil dari nama sejenis tupai yang badannya lebih besar dari tupai biasa dengan bulunya berwarna agak kekuning-kuningan. itu orang tua juga harus berhati-hati menjaga anak karena anak merupakan amanah. sang istri itu pun hamil dan melahirkan anak yang tingkah lakunya seperti tupai. Jadi. sang suami membuang anak itu karena ulahnya yang selalu menganggu masyarakat. Oleh karena itu. Oleh karena itu. terutama kepada orang tua agar jangan asal berbicara karena yang diucapkan bisa menjadi kenyataan. Salah satu tokoh dalam ceritanya bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. pertunjukan dan kabanya bernama Tupai Janjang. Dalam perjalannya ke kebun dia melihat seekor anak tupai yang melompat. Berkatalah sang istri tersebut bahwa dia sangat menginginkan anak walaupun anak itu seperti tupai. pertunjukannya bernama tupai janjang yang diambil dari kaba yang disampaikan dalam cerita itu yaitu kaba Tupai Janjang. Tokoh ini awalnya mempunyai tingkah laku seperti tupai janjang dan akhirnya berubah menjadi manusia yang baik dan berguna. yakni . diduga cerita ini cukup banyak pesan yang dapat diambil.sudah lama dikenal dan pada umumnya ditemui hampir di semua wilayah Minangkabau. Di samping. Kepada seorang anak juga ada pesan yang sangat berharga. Akhirnya. Kenyataan terakhir ini tidak ditemui pada pertunjukan Tupai Janjang karena hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. Dari ringkasan cerita di atas. Kabupaten Agam. si anak bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. Tupai janjang disebut juga bajing loncat dalam bahasa Latin dinamakan lomus horsfield dan dalam bahasa Inggris dinamakan endemic Sumatra. Namun. Dalam pembuangan. orang tua juga harus sabar mendidik anak. Akhirnya.

misi penyelenggara acara. dapat melakukan penyesuaian dan mampu “merekayasa” pertunjukan sesuai dengan pesan sponsor.bagaimanapun “durhakanya” seorang ayah yang telah menyakiti anaknya sendiri tetap harus dihormati. frasa. Pencerita ini yang sering diundang oleh masyarakat atau pejabat pemerintah setempat untuk melaksanakan pertunjukan. Di samping berisi pesan moral. Hal ini terutama terlihat dari akting yang dilakukan oleh pencerita. Mengingat kondisi dan nilai-nilai di atas maka penelitian dan pendokumentasian tentang pertunjukan tupai janjang seharusnya dilakukan secepat mungkin. Tradisi lisan ini. atau menyampaikan suatu ide kepada orang (pejabat) secara tidak langsung. pewaris aktif yang profesional dari pertunjukan ini hanya tinggal satu orang. Kelangkaan pewaris aktif ini seharusnya tidak terjadi karena dengan memperhatikan teks dalam pertunjukan ini maka pewarisan (transmisi) diduga dapat dengan mudah dilakukan. misalnya untuk kampanye. fungsi. atau menyampaikan perbaikkan jalan kepada pejabat daerah setempat. dan bentuk pertunjukan dapat diselamatkan dari kepunahan dan kelangkaan. Di samping pertunjukannya yang spesifik. Dengan melihat kondisi dan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang ini maka penelitian secepatnya dilakukan mengingat nilai-nilai. teks yang dibacakan mempunyai bentuk yang berulang baik segi kata. atau kalimat yang disebut dengan formula. pertunjukan Tupai Janjang dapat dijadikan sebagai salah satu ajang hiburan karena penampilan pencerita. klausa. untuk menyampaian cerita. Hal ini didasarkan karena dalam tradisi lisan. Pencerita dapat mengajarkannya kepada warga masyarakat yang lain dengan memanfaatkan sistem formula sehingga dapat dengan mudah mengingat teks yang diceritakan. Konsep formulaik ini digunakan oleh pencerita untuk mempermudah dan membantu mengingat teks sehingga teks dapat dirubah dan bersifat fleksibel tergantung kepada komposisi penceritaan. . memasyarakatkan program pemerintah.

Sebuah teks dalam pertunjukan tradisional tidak ada yang persis sama. Pertama. Kedua. Ketiga. Pada bagian ini akan melihat fungsi. penelitian ini akan dilanjutkan dengan menganalisis teks untuk mengungkap sistem formulaik yang digunakan oleh pencerita dalam sebuah menceritakan teks. Dengan demikian. dan amanat dari teks. setiap penceritaan akan berbeda teksnya. Pada bagian ini akan dianalisis bentuk-bentuk formulaik yang diciptakan oleh pencerita. penelitian lapangan dilakukan untuk melihat bentuk performance (pertunjukan) dari teater tradisional Tupai Janjang. untuk mengungkap fungsi pertunjukan Tupai Janjang bagi masyarakat di daerah Palembayan.BAB II PERUMUSAN MASALAH Dari persoalan yang muncul di atas maka dirumuskan penelitian yang akan dilakukan dalam beberapa tahap yang saling berhubungan untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat. nilai-nilai. Selalu ada bagian-bagian yang mengalami perubahan karena sebuah pertunjukan tradisi lisan akan dipengaruhi oleh audience (penonton) dan suasana pertunjukan. . Dari sebuah pertunjukan itu didapatkan sebuah teks. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap penelitian lapangan dan tahap analisis. walaupun menceritakan cerita yang sama.

Menurut Lord dalam bukunya The Singer of Tales (1981:30 dan 43). Setiap penyair tradisional membawakan ceritanya dengan menciptakan kembali secara spontan dan memakai sejumlah unsur bahasa (kata. Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas.BAB III TINJAUAN PUSTAKA Penelitian ini akan mengunakan teori yang dapat mengupas masalah di atas secara mendalam. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotipe yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. yaitu mengingat perulangan dan menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. bahkan seorang pencerita yang sama. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula itu pada saat pertunjukan. Hal itu terbukti bahwa jarang terdapat penghafalan dan tidak ada dua pementasan yang sama. dan larik yang telah ada. klausa. Untuk menghasilkan perulangan itu. frasa. kata majemuk. frasa) yang tersedia baginya (stock-in-trade) yang siap pakai. yang identik penampilannya (Teeuw. Persediaan formula disebut stock-in-trade si penyair. frasa. Untuk itu digunakan teori tentang sastra tradisional yang dikemukakan oleh Lord. Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. Unsur-unsur yang dipakai memperlihatkan bentuk yang identik atau variasi sesuai dengan tuntutan tata bahasa. yang mungkin berupa kata. atau larik. klausa. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. Teknik . dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. dan irama puisi yang dipakai. 1988a:298). formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. Dalam setiap pertunjukan tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. Lord (1981:34) menyatakan bahwa penyair-penyair itu tidak menghafalkan puisinya lewat naskah atau tulisan. pencerita. atau tukang pidato. matra.

Batasan yang diberikan tentang pola formula dan ekspresi formulaik akan diterapkan dalam menganalisis teks cerita tupai janjang. dan menampilkan suatu karya secara lisan merupakan bentuk rangkaian kelisanan yang dimaknai sebagai kelisanan dalam arti teknis atau harfiah (Lord. Dalam penyusunan baris dengan pola formula itu terjadi proses penggantian. Konsep kelisanan tidak hanya dimaknai secara presentasi lisan. dan penambahan kata-kata atau ungkapan baru pada pola formula sesuai dengan kebutuhan penceritaan atau penggubahan. menyusun. Ekspresi formulaik dapat juga membantu terbentuknya wacana ritmis sehingga merupakan salah satu alat bantu untuk mengingat kembali dengan mudah. Upaya untuk mempelajari. Dengan pola formula sebagai dasar. Sweeney (1999:68) menyebutkan bahwa formula adalah larik atau paruh larik yang digunakan lebih dari sekali dalam bentuk yang sama. Hal ini dilakukan untuk menentukan formula dengan berbagai variasi polanya (Lord. cepat. kombinasi. Pencerita dapat membangun larik terusmenerus. tetapi juga dimaknai sebagai komposisi selama terjadinya penampilan secara lisan. 1979:54. Cerita yang ditampilkan juga menyampaikan tema atau ide. pembentukan model. dan tepat serta menjadi ungkapan tetap yang dapat bertahan hidup secara lisan (Lord. 1991). sesuai dengan keinginan dan kreatifitasnya. 1981:45). Finnegan dalam Tuloli. Formula dan ekspresi formulaik bertujuan untuk menceritakan kisah-kisah dalam nyanyian dan sajak. 1981:5). Formula merupakan alat untuk menuangkan tema atau ide-ide yang . sedangkan ekspresi formalik adalah ungkapan yang dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama.formula dikembangkan untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman (Lord. pencerita dapat menyusun larik-larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim. Penganalisisan terhadap teks harus dimulai dengan pengamatan yang cermat terhadap frase-frase yang mengalami perulangan. 1981:30).

Dalam pikiran pencerita yang telah mapan.disampaikan kepada audience. ide-ide. terutama dalam penceritaan dramatis secara lisan (Sweeney. Skemata atau formula itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Lord (1976:4 dan 68) menyatakan bahwa kelompok-kelompok ide yang secara reguler digunakan dalam menceritakan kisah merupakan tema-tema cerita. . Ini merupakan suatu keharusan dan bersifat normal. Dalam penceritaan lisan. melainkan kreasi seni yang hidup dan berubah sesuai dengan situasi (Lord. Tema adalah kelompok ide yang secara teratur digunakan pada penciptaan suatu cerita dalam gaya formulaik. 1981:40). atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematis. Tema adalah peristiwa atau adegan yang diulang dan bagian-bagian deskriptif dalam cerita. Tema bukan sekumpulan kata yang tetap. Tema dapat diekspresikan dengan sekumpulan kata-kata. 1981:94). seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. Tema disusun dari adegan-adegan yang telah ada dalam pikiran pencerita dan digunakan untuk merakit cerita itu. Penguasaan formula dan tema merupakan syarat utama dalam menggubah cerita secara mudah dan lancar. skemata merupakan hal yang penting. 1980:64-65). Komposisi skematik merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional. 1981:61). Pencerita tidak pernah memproduksi tema dengan kata-kata yang persis sama. Hal ini disebabkan oleh sifat lentur formula dan pencerita tidak memakai formula yang sama pada setiap saat penceritaan. tema mengalami perkembangan. Komposisi skematik merupakan skemata atau formula yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Pencerita berpikir dan mempertimbangkan berdasarkan pola formula untuk menyajikan cerita. Penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. Tema bukanlah kreasi seni yang sungguh-sungguh statis. melainkan merupakan pengelompokan ide-ide (Lord. Dalam sastra Melayu tradisional. apapun cerita yang ditampilkan (Sweeney.

Penelitian dengan memakai teori Lord. Menurut William R. penelitian yang khusus dilakukan terhadap Tupai Janjang telah dilaksanakan oleh beberapa orang. Performance adalah saat berkreasi bagi penyair lisan. Untuk melihat fungsi dari pertunjukan tupai janjang. yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. (3) sebagai alat pendidikan anak. Berbagai penelitian tersebut baru pada tahap awal dan tidak memberikan analisis yang mendalam terhadap tradisi ini. Dalam penelitian ini diungkapkan hubungan sosial.Lord juga menyatakan aspek kelisanan berupa komposisi. pergi. dan peranan formula dalam penciptaan. Menurut Lord. dan audience akan mempengaruhi performance. 1984:19). Bascom folklor mempunyai empat fungsi. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. Suasana. performer. dan berbicara dengan sesama penoton yang lain. tetapi dalam sastra lisan. semuanya itu dapat dilakukan oleh satu orang dalam waktu yang bersamaan. Audience dapat datang. Penelitian yang dilakukan juga menerapkan teori yang dikemukakan oleh Lord tentang formula yang ditulis dalam bentuk disertasi. Sementara itu. Bascom. Penyanyi. Performer adalah orang yang memproduksi sastra lisan pada saat performance dan sekaligus juga sebagai komposer. 1981:13—17). performance. komposer. Hal ini akan mempengaruhi performance atau mungkin juga performance dapat terputus sejenak (Lord. tempat. variasi cerita Sijobang. dan transmisi. dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya (dalam Danandjaja. (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. teknik dan metode pencerita dan pencipta. Penelitian Erlinda . pembuatan komposisi bagi penyair lisan dilakukan pada saat pencerita melaksanakan performance sehingga komposisi dan performance merupakan dua hal yang dilakukan pada saat bersamaan. dan penyair adalah orang dengan aspek yang berbeda. telah juga dilakukan oleh Phillips (1981) tentang Sijobang dengan judul Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra.

penokohan. Gambaran dan suasana pertunjukan yang didapatkan tentu hanya sedikit. tetapi tidak dilanjutkan dengan analisis terhadap teks tersebut. cerita yang dibawakan.dkk (1997) dalam bentuk laporan penelitian untuk ASKI Padang Panjang sangat ringkas sehingga tidak mencapai aspek-aspek yang dituntut dalam penelitian. tema. . alur. Namun. dan latar cerita. pembahasannya juga tidak mendalam. dan audience tidak tepat sasaran karena pertunjukannya ditampilkan untuk tujuan perkuliahan. Karena hanya dalam bentuk makalah. bentuk pertunjukan. Andras (1999) melakukan penelitian terhadap Tupai Janjang dalam tugas akhirnya guna memperoleh strata satu di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Padang. Penelitiannya lebih terfokus pada unsur cerita Tupai Janjang dengan teori drama modern. Penonton pertunjukan Tupai Janjang pada waktu itu adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah sastra Nusantara. Udin (1999) dalam makalah untuk seminar Asosiasi Tradisi Lisan tahun 1999 mengamati pertunjukan Tupai Janjang yang dilaksanakan di FPBS IKIP Padang. Pada bagian akhir tulisannya dilengkapi dengan teks kaba Tupai Janjang. bukan menempatkan Tupai Janjang sebagai sebuah pertunjukan tradisi lisan. Analisis dilakukan dengan melihat plot.

penelitian ini diharapkan juga memberikan kontribusi yang baik terhadap pemerintah daerah terutama di bidang kepariwisataan budaya guna . pesan.BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang serta menerangkan sistem formulaik dari teks. Selain diperlukan berbagai upaya untuk melestarikan tradisi lisan. otomatis akan menambah dokumentasi dari bentuk pertunjukan teater tradisional di Minangkabau dan akan mengembangkan penelitian yang lebih lanjut terhadap peminat sastra tradisional. Sementara itu. diharapkan dapat mengangkat nilai-nilai tradisional yang telah lama terkubur sehingga memberikan dan memperkokoh jati diri bangsa yang sedang mengalami erosi yang begitu hebat. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan penelitian. Penelitian ini akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan terutama terhadap peninggalan-peninggalan tradisional terutama kepada teater tradisional dan bukan hanya bersifat inventarisasi dan pendokumentasian tetapi lebih dari itu menjadikan peninggalan-peninggalan tradisional jadi objek kajian yang menarik. Akhirnya. penelitian ini juga bertujuan untuk menguraikan fungsi supaya dapat mengambil nilai-nilai. Dengan ditelitinya pertunjukan ini. Dengan demikian. dan amanat dari cerita Tupai Janjang ini. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangan penelitian yang lebih lanjut terhadap pertunjukan tradisional sehingga dapat menjadikan sumber inspirasi baru bagi pencipta sastra modern dengan memperlihatkan akar dari budaya daerah. diperlukan pula upaya untuk menggali dan mengkaji isi yang terkandung di dalamnya yang dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa Indonesia. Dengan analisis formulaik ini diharapkan dapat ditentukan stereotip yang digunakan dalam merangkai cerita Tupai Janjang oleh pencerita sehingga dapat mudah ditransmisikan kepada pencerita yang lainnya.

dan daerah. negara.meningkatkan promosi pariwisata karena pertunjukan tradisional dapat juga menarik wisatawan domestik maupun asing. Dengan demikian. akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. .

Penelitian ini mengambil objek tupai janjang yang dilaksanakan di Kecamatan Palembayan. Tanggapan juga diminta kepada niniak mamak. Penelitian dilakukan dengan dilengkapi handycame. Sebelum terjun ke lapangan. karena tradisi pertunjukan ini hanya hidup di daerah tersebut. Wawancara dilakukan setelah pertunjukan usai. Setelah itu baru data dianalisis dengan . jarang. Hal ini dilakukan supaya data yang didapat betul-betul akurat dan hidup. Kabupaten Agam. dan wawancara dengan penonton. baik yang terlibat langsung dalam pertunjukan maupun yang tidak. tape recorder. Data ditranskipsikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan konteks masyarakat pendukungnya. dilakukan transkripsi dan analisis. penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan suasana pertunjukan seperti apa adanya. Penelitian ini juga dilakukan dengan menggunakan metode etnograsi. Penonton juga akan memberikan suasana tertentu dalam pertunjukan. Dengan demikian. Setelah data terkumpul. baik terhadap pemain maupun terhadap penonton. atau belum sama sekali menonton pertunjukan Tupai Janjang. teknik wawancara dan observasi. peneliti terlebih dahulu dibekali dengan seperangkat teori yang berkaitan dengan objek supaya kendala di lapangan tidak mempengaruhi terhadap hasil yang didapatkan. Para informan tersebut terdiri atas pemain tupai janjang yang profesional dan masih aktif serta pemain yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat. Penonton yang diwawancarai adalah yang sudah sering. cadiak pandai. Tanggapan yang diberikan oleh penonton akan mempengaruhi kehidupan Tupai Janjang itu sendiri.BAB V METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang didasarkan pada data-data yang diperoleh di lapangan. dan pejabat pemerintah setempat tentang pengetahuannya terhadap pertunjukan Tupai Janjang. tokoh agama. Pertunjukan dan perekaman dilakukan secara alami. Penentuan informan didasarkan atas kualitas dan pengalamannya terhadap pertunjukan TJ.

menggunakan pendekatan formulaik untuk melihat teknik-teknik penceritaan lisan. menganalisis nilai-nilai. . Terakhir. pesan dan amanat yang ada dalam teks cerita Tupai Janjang.

. Tanda ( ) digunakan untuk memberikan keterangan. ha. 1984:231). Teks II merupakan teks pokok. Keterangan untuk kegiatan ini diberikan di bawah teks yang dibacakan dan hanya dalam bahasa Indonesia. yaitu teks I dan teks II. Kata-kata yang tidak ada padanannya ditulis miring dalam bahasa Indonesia dengan memberikan keterangan di bawahnya. Dalam penampilan. nan. Kecamatan Pelembayan. tentang kembali ke nagari di seluruh Sumatra Barat. hai. serta akting yang dilakukan oleh pencerita untuk mendukung cerita. Kata-kata itu hanya berfungsi sebagai penyempurnaan irama dan jika dihilangkan atau ditinggalkan maka tidak akan mempengaruhi arti dari teks tersebut. Dipilihnya teks I untuk dianalisis karena Andras dianggap oleh masyarakat setempat sebagai pencipta pertunjukan TJ seperti sekarang ini. jorong adalah bagian nagari atau kampung. 1 Menurut Amir (2003:47) dan Kamus Bahasa Minangkabau. Teks ini dijadikan teks I karena lebih tua dari teks II. dalam pengucapannya. Pertunjukan dilaksanakan di rumah salah satu warga di jorong1 Gumarang. Teks I merupakan teks yang diambil dari skripsi Ita Andras (1999). kegiatan. ondeh. dialog yang diucapkan oleh tokoh. lah. ada kata-kata yang tidak mempunyai arti dan hanya berfungsi untuk kepentingan irama. dan lain-lain (Navis. misalnya oi. Kenagarian III Koto Silungkang. teks yang didendangkan sangat dipengaruhi oleh irama. Setelah diberlakukannya Perda No. Teks ini diambil dari hasil rekaman dan pengamatan penulis terhadap pertunjukan TJ yang ditampilkan oleh Elvis pada tanggal 25 Mai 2006. secara pemerintahan kepala jorong berada di bawah kepala nagari.02/ 1999.BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Teks yang dianalisis dalam penelitian ini ada dua. Oleh karena itu. desa yang sebelum diberlakukannya Perda tersebut diganti dengan nama jorong. Untuk membedakan teks yang berbentuk dialog dengan teks yang berbentuk narasi dipakai tanda “ ” di awal dan akhir dialog. Kabupaten Agam.

turunan puti sudut-bersudut. tak kala alun-beralun3. kononlah si Datuak Bandaro. 2. Banda orang kami bandakan. 15 20 25 Adalah Datuak Bandaro. 4 Ibid.2 sepuluh jari kami susun.5 sawah luas berpiring-piring. kami membuka kaba lama.4 turunan raja turun beraja. maaf diminta banyak-banyak. Ampun baribu kali ampun. sawah laweh bapiriang-piriang. di nan dakek jolong tasongoh. 3. nan dianjuang tinggi. Menurut Amir (2003:57). kami mambukak kaba lamo. banda anak orang Koto Tuo. 4. sapuluah jari kami susun . nan tasabuik-sabuik. menyatukan dan memperkuat. (Orang yang besar bertuah. 5 Menurut Navis (1984:175). alun-beralun adalah untuk menyatakan keadaan dahulu kala dan tidak persis waktunya. mampeh mandatakan. ADEGAN I 6. memepat dan meratakan. ampunlah kami niniak mamak. Tak kalo maso dahulunyo. kaba urang kami kabakan. adalah orang masa itu. sia nyo urang nan ta kaba.1. Dalam pantun adat Minangkabau diungkapkan Nan gadang basa batuah. muatan dari Kota Padang. Di nan tinggi tampak jauah. 5. Tatkala masa dahulunya. siapa dia orang yang terkaba. maaf dimintak banyak-banyak. jolong tasongoh adalah awal kelihatan. yang berumah Gajah Maharam. Balaia kapa ka Sibolga. Adolah Datuak Bandaro. Transkripsi Teks Teks I PEMBUKAAN 1. orang kaya suka makan. tak kalo alun baralun. kabun ubinyo bapetak-petak. iyalah kaba Tupai Janjang. Di yang tinggi tampak jauh. muatan dari Koto Padang. 10 Berlayar kapal ke Sibolga. urang duto kami tak nio. yang dianjung tampak tinggi. taputi suduik basuduik.6 kebun ubinya berpetak-petak. orang dusta kami tak mau. iyolah kaba Tupai Janjang. Banda urang kami bandakan. memegang timbangan yang benar) 3 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. ampunlah kami niniak mamak. mamagang bungka nan piawai. yang tersebut-sebut. niniak mamak adalah sebutan untuk para pemuka/penghulu adat. nan barumah Gajah Maharam. urang kayo suko dimakan. mambalah maampalau. gajah maharam adalah sejenis rumah gadang atau rumah adat yang besar dan mempunyai banyak bilik. adolah urang maso itu. kononlah si Datuak Bandaro. memegang neraca adil. kaba orang kami kabakan. 2 5 Ampun beribu kali ampun. mamacik naraco adia. tarajo turun barajo. banda nak urang Koto Tuo. di yang dekat jolong tasongoh. .

kito paliharo elok-elok. melihat Tuan bermenung. membeli ikan belanak. teringat badan tidak beranak. anak yang tidak kunjung dapat.” Yang berkata Linduang Bulan. digulai di hari sanjo. mengapa Tuan duduk termenung. tempat keramat yang sudah saya datangi.” 10. tampaik kiramaik nan lah den datangi. kita ambillah anak orang. “Oi Tuan Datuak Bandaro. indak patuik susah Tuan lah susah. kemana dukun yang tidak kita tempuh. kito dibari Tuhan aka. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kalau den agak-agak bana. kita diberi Tuhan akal. tidak patut susah Tuan sudah susah. kini begitulah oleh Tuan. sana termenung Datuak Bandaro. indak patuik manyasa Tuan. menyesal tercuci di kain rancak. “Manalah adik Linduang Bulan. kandak indak juo balaku. Dik. ini yang saya menungkan. sudah segudang tungku kemenyan saya bakar kehendak tidak juga berlaku. Bertanya Puti Linduang Bulan. mako den duduak tamanuang. kalau saya kira-kira betul.” 35 40 45 50 55 60 65 70 6 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. rancak terangkan pada saya. siapa akan menjaga badan tua. barakalah kito tantang nantu.” 9.” 30 yang istrinya Puti Linduang Bulan. manyasa tasasah di kain rancak. kini baitulah dek Tuan.” Yang menjawab Datuak Bandaro. untuk menjaga badan kita. Nan bakato Linduang Bulan. “Manolah adiak Linduang Bulan.” 11. Nan manjawek Datuak Bandaro. anak nan indak kunjuang dapek. gimana saya tak akan bermenung. manga Tuan duduak tamanuang. tidak patut menyesal Tuan. maka saya duduk termenung. digulai di hari senja. “Manolah adiak Linduang Bulan lah habih susah den. sia kamambalo badan tuo. susah ka kito bagi duo.nan padusinyo Puti Linduang Bulan. mako den ka Pasa Canduang. iko nan den manuangkan. teringat badan tak beranak. kini baitulah dek adiak. berakallah kita tentang itu. sinan tamanuang Datuak Bandaro. maka saya ke Pasar Canduang. kita pelihara elok-elok. Diak. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kini begitulah oleh adik. luluh rasanya perantian. rancak tarangkan pado denai. sudah habis susah saya. Sudah sepuluh tahun dia bergaul. maliek Tuan bamanuang . 7. susah akan kita bagi dua. Nan manjawek Datuak Bandaro. . lah sagudang tungku kumayan den baka. untuak mambalo badan kito. baa denai tak kabamanuang. “Oi Tuan Datuak Bandaro.” Yang menjawab Datuak Bandaro. takana badan tak baranak. “Manalah adik Linduang Bulan. bapiriang-piriang sama dengan berpetak-petak. mambali ikan balanak. luluah rasonyo parantian . takana badan tak baranak. kama dukun nan tak kito tampuah. Tujuannya adalah untuk menyatakan sawah yang banyak. kito ambiaklah anak urang. Lah sapuluah tahun nyo babaua. 8 Batanyo Puti Linduang Bulan.

“Manolah adiak Linduang Bulan.” Yang berkata Datuak Bandaro. tetapi dapat tumbuh lagi. cadangkan padi salibu. sedangkan berdunsanak ibu. sadangkan badunsanak ibu. bagagehlah adiak saketek. Nan bakato Datuak Bandaro. bergegaslah adik sedikit. kononlah padi rang basalang. “Manalah Tuan Datuak Bandaro. urang baralek tangah sawah. sayang manjalang sawah sudah. Ungkapan ini sering digunakan untuk menyatakan sifat jalan seorang perempuan.” 100 105 Sudah berjalan si Linduang Bulan. orang berhelat tengah sawah. terutama untuk para gadis. nan lai batali darah. sapinggan juo kanasinyo. Datuak Bandaro berjalan bergegas-gegas. 7 8 Sudah berjalan Datuak Bandaro. bila masanya yang akan sampai. bainggan juo hatinyo. kapado Puti Linduang Bulan. kononlah kasiah rang ditompang.” ADEGAN II 17. enggan juga hatinya. hampia sabulan kito tak kian. Kononlah Puti Linduang Bulan. Nan bakato Datuak Bandaro. marilah kita berjalan-jalan. . salibu adalah padi yang sudah terkena hama. sayang menjelang sawah sudah. kononlah kasih orang ditompang. 15.” 13. kalau saya hitung-hitung benar.12. dua dengan Linduang Bulan. samuik tapijak indak mati. “Manolah adiak Linduang Bulan. kalau tidak padi di lumbung. kalau seperti ini adik berjalan. sepinggan juga jadi nasinya. duo jo Puti Linduang Bulan. hampir sebulan kita tak ke sana. “Manalah adik Linduang Bulan. Yang berkata Datuak Bandaro. kononlah kasih orang ditompang. alu tertarung patah tiga. yang ke kanan lenggang mengana. to melah kito bajalan-jalan. kalau co iko adiak bajalan. kalau den etong-etong bana. “Manolah Tuan Datuak Bandaro. nan ka suok lenggang manganai. 16.” Sub-adegan ke-1 75 80 85 Yang berkata Linduang Bulan. nan ka kida lengang mambunuah. 95 Datuak Bandaro bajalan bagageh. seperti orang dikejar hantu.7 yang berbuah di tengah sawah. yang ada bertali darah.gageh. nan bajalan siganjua lalai. alua tataruang patah tigo. Lah bajalan si Linduang Bulan. bilo masonyo nan kasampai. yang masanya semasa itu. nan babuah di tangah sawah. maliek kabun kopi kito. baraso kopi lah ka manyirah. kok indak padi di lambuang. yang ke kiri lenggang membunuh8. “Manalah adik Linduang Bulan. Ibid.” 90 14. nan masonyo samaso nan tun. kononlah padi orang dipinjam. rasa kopi sudah akan memerah. melihat kebun kopi kita. kepada Puti Linduang Bulan. Nan bakato Linduang Bulan. Lah bajalan Datuak Bandaro. cando urang dikaja hantu. kononlah kasiah urang ditompang. Kononlah Puti Linduang Bulan. yang berjalan siganjua lalai. cadangkan padi salibu. semut terinjak tindak mati.

“Saya sangka kopi banyak masak. usah dibunuh binatang itu. . “Oi adik Linduang Bulan. kinilah nan mudo sajo nan tingga. sampai di kebun kopi. biarlah serupa Tupai Janjang.” 21. ini yang memakan kopi saya. tercengang Datuak Bandaro. saya bunuhlah Tupai Janjang ini. melompat seekor binatang. inyo mailak maso nantun.” Dilemparnya oleh Datuak Bandaro. 145 kok Tuhan mambari izin denai baranak. “Oi Tuan Datuak Bandaro. mangaliciak inyo saketek. usah dibunuah binatang nantun. melihat Datuak Bandaro. lalu diambiak gado lintang. “Oi adiak Linduang Bulan. kinilah yang muda saja yang tinggal. itu di dalam kebun kopi. den bunuahlah Tupai Janjang nangko. tacangang Datuak Bandaro. gado lintang adalah sebutan kayu yang digunakan untuk melempar.” 19. Dalamnyo takajuik nantun. etan di dalam parak kopi. 22. dialah binatang yang melompat tadi.dituruikan Datuak Bandaro. 18. meloncat ke dahan tinggi.9 dilempar pula sekali lagi. 20. “Iko nan maabihan kopi kito. 24. rancak bana tampak di denai. “Ini yang menghabiskan kopi kita. mandencek ka dahan tinggi. 120 125 130 135 Yang berkata Puti Linduang Bulan. Tuan?” Yang menjawab Datuak Bandaro. tibo di dahan inyo maliek.” Yang berkata Puti Linduang Bulan. kalau Tuhan memberi izin saya beranak. Pihak kepada binatang itu. dia mengelak masa itu. Nan manjawek Datuak Bandaro. den baelah binatang nangko. Sanan takajuik Datuak Bandaro. melompat ke tepi pagar. Nan bakato Puti Linduang Bulan. yang menghabiskan kopi kita. “Oi Tuan Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. lalu diambil gado lintang. sampai di kabun parak kopi. Apa namanya binatang itu. Dibaenyo dek Datuak Bandaro. Tuan?” 110 dituruti Datuak Bandaro. Nan bakato Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro.” 25.” 26. menghindar dia sedikit. Apo namonyo binatang tu. tiba di dahan dia melihat. Nan bakato Puti Linduang Bulan. iko nyo nan mamakan kopi denai. Panehlah hati Datuak Bandaro. dibae pulo sakali lai. mandencek ka tapi paga. mandencek sikua binatang.” 9 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. maliek Datuak Bandaro. saya lemparlah binatang ini. inyolah binatang nan mandencek tadi. 23. Panaslah hati Datuak Bandaro. rancak benar tampak oleh saya. itu yang bernama Tupai Janjang. bialah sarupo Tupai Janjang.” 115 Dalam dia terkejut itu. 140 nan maabiahkan kopi kito. itu nan banamo Tupai Janjang. Pihak kapado binatang nantun. Yang berkata Datuak Bandaro. Sana terkejut Datuak Bandaro. “Den sangko kopi banyak masak.

“Oi Tuan saya Datuak Bandaro. Sinan bakato Puti Linduang Bulan. ampia sampai ganok bilangan. bapamenan11 bintang di langit. Sana berkata Puti Linduang Bulan. rasa memeluk-meluk bulan. apa takwil mimpi saya?” Pihak kepada Datuak Bandaro. Sub-adegan ke-1 28. Yang berkata Puti Linduang Bulan. “Oi Tuan den Datuak Bandaro. 155 Hari yang sudah berabuik10 senja. rasa memeluk-meluk bulan. denai bamimpi malam tadi. “Menurut buku takwil mimpi. tetapi untuk ini berarti hari sudah senja. Gadang hati si Linduang Bulan. tando Linduang Bulan ka manganduang. raso mamaluak-maluak bulan. nan sakali ayam bakukuak. Sub-adegan ke-2 34. berapa angguk serta geleng. Nan manjawek Datuak Bandaro. barabuik sama artinya dengan berebut. barpamenan adalah mempunyai alat untuk sekadar permainan. lah lalok Datuak Bandaro. 160 165 170 32. serta Puti Linduang Bulan. Badantuang bunyi patuih tongga. tandanya niat ada kesampaian. sarato Puti Linduang Bulan. sarato Puti Linduang Bulan. tandonyo niaik lai kasampai. “Manuruik buku takwie mimpi. kok Tuan tagalak surang?” 150 Berdentum bunyi petir tunggal. “Oi Tuan Datuak Bandaro. 29. nan lah pulang Datuak Bandaro.27. rasa memangku matahari. . sudah sampai dia di rumah. “Oi Tuan Datuak Bandaro. taserak cando hujan paneh. Ibid. kok Tuan tertawa seorang?” Yang menjawab Datuak Bandaro. Pihak kapado Datuak Bandaro. serta Puti Linduang Bulan. 180 lai jaleh dek adiak kanduang?” 33. raso mamangku matohari. lalu diliek maso nantun. 31. karena badannya sudah akan mengandung. yang sekali ayam berkokok. dek badannyo lah ka manganduang. saya bermimpi malam tadi. bapamenan bintang di langik. Lah sabulan duo bulan. Nan bakato Puti Linduang Bulan. Hari nan alah barabuik sanjo. bapemenan bintang di langik. hampir sampai genap bilangan. diambil buku takwil mimpi. lah sampai inyo di rumah. terserak seperti hujan panas. Ibid. bapamenan bintang di langit. 175 adiak bamimpi malam tadi. tanda Linduang Bulan akan mengandung. ada jelas oleh adik kandung?” Besar hati si Linduang Bulan. raso mamangku matohari. cukuik kaduo hari siang. bara angguak sarato geleng. diambiak buku takwie mimpi. yang sudah pulang Datuak Bandaro. 10 11 185 Sudah sebulan dua bulan. sudah tidur Datuak Bandaro. cukup kedua hari siang. raso mamaluak-maluak bulan. apo takwie mimpi denai?” 30. adik bermimpi malam tadi. lalu dilihat masa itu. rasa memangku matahari.

tolonglah aduh sakitnya. . dalam hal ini karena menahan sakit. Nan bakato Datuak Bandaro. 12 13 210 215 220 225 Sudah hampirnya genap bilangan bulan. ada larangan dengan pantangannya.” Sub-adegan ke-3 38.bamacam-macam kandak Linduang Bulan inyo mamintak nan masam-masam. aduh duh sakitnya. Lah hampienyo ganok bilangan bulan. hanyalah sedikit saja. “Aduh Tuan. 14 Idid. nan tabedo inyo bakandak.” Yang berkata si Linduang Bulan. kalau kamasuak masuak bana. banyak larangan dengan pantangnya. mancaracau sama dengan mengigau atau berbicara dengan tidak punya arahan. 205 banyak larangan jo pantangnyo. sudah tiba sakit beranak. hanyolah saketek sajo. dicarinyo nan masam-masam. lah tibo sakik baranak. kamailia salero anaknyo isuak. lah hampia sambilan bulan. Tuan tidak boleh menyemblih ayam. “Manalah adik Linduang Bulan. jan kau tagak-tagak di pintu. yang tabedo12 dia berkehendak. itu syarat yang saya terima. mailia adalah mengalir dalam hai ini. mancaracau kato di muluiknyo. tolonglah ondeh sakiknyo. sakitnya. pihak kepada orang perempuan.” 39. sakiknyo. keluh kesah dia menehan sakit. “Oi Datuak Bandaro. kapunduang adalah sejenis buah-buahan seperti langsat yang rasanya asam dan berkulit tebal. tabedo adalah sesuatu yang berbeda dengan biasanya. ondeh deh sakiknyo. ado larangan jo pantangannyo. 15 Ibid. berkehendak kepundung muda. Andropogon Nardus. itu pantang jo larang nan tibo di den pihak kapado urang padusi. akan mailia14 selera anaknya esok.” 190 200 36. yang bersifat berlebihan dan tidak wajar. selama saya mengandung ini. dicarinya yang asam-asam. 35. ada jelas oleh Tuan itu?” Yang berkata Datuak Bandaro. itu syaraik nan den tarimo. Nan bakato si Linduang Bulan. jangan kau tegak-tegak di pintu. “Oi Tuan Datuak Bandaro. lai jaleh dek Tuan tu?” 37. “Oi Tuan Datuak Bandaro. bermacam-macam kehendak Linduang Bulan dia meminta yang asam-asam. Ibid. tamanuang Datuak Bandaro. musim kepundung13 sudah langkas. “Manolah adiak Linduang Bulan. salamo denai manganduang ko. bakandak kapunduang mudo. Nan bakato Puti Linduang Bulan. musim kapunduang alah rangkeh. ampalam sakaruang dicarikannyo. menceracau15 kata di mulutnya. tapi nan dimakan si Linduang Bulan. masuk benar. Yang berkata Puti Linduang Bulan. “Oi Datuak Bandaro. kaluah kasah inyo manahan sakik. kalau akan masuk. Pihak kapado Datuak Bandaro. sama dengan ngiler atau air liur. mempelam sekarung dicarikannya. lenyai lihia paja dibueknyo. Ibid. termenung Datuak Bandaro. sudah hampir sembilan bulan. Tuan indak buliah doh mandabiah ayam. itu pantang dengan larang yang tiba saya. lembek leher paja dibuatnya. tapi yang dimakan si Linduang Bulan. “Ondeh Tuan. Pihak kepada Datuak Bandaro.

” 235 240 245 250 255 Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. yo mantun. kanalah diri. ejan. dibawo niiak ka ateh rumah. ajan. alah. nak den cubo manggeleng paruik ko. dibawa naik ke atas rumah. diambiaklah kain panjang. ejanlah. lari ka janjang maso nantun. terus langsung masuk kandang.japuiklah Dukun Pandai. sudah nanti. . ini anak tupai itu sepertinya. ko paja lah manyaruang. ejan. 41. taruih sakali masuak kandang. Ibid. “Ini tidak anak orang ini. sudah berjalan masa itu. ajan. berapa urut si Linduang Bulan. Ibid. alah. ambiak kain panjang sabuah. iko anak tupai tu candonyo. hop. “sudah. “Iko indak anak urang doh ko. tanah lambang17. tiba di lantai.” Pihak kepada Dukun Pandai. Lah balari si Dukun Pandai. hendak saya coba menggeleng perut ini. hop. “Oi Linduang Bulan. Sudah berlari si Dukun Pandai. ejan. yo mantun. lantai lah patah. dijeput malah dukun pandai.” 40. ambil kain panjang sebuah. ya begitu. tibo di tanah. sah bajalan maso itu. tibo di rasuak. 16 17 jeputlah Dukun Pandai. sudah. ini anak sudah menyuruh. bara caliak sarato lengoh. tidak tahan sakit seperti ini. Lalu diambiak anak maso nantun.” 230 Pihak kepada Datuak Bandaro. bialah ndak den cubo manolong.” 43. Pihak kapado Datuak Bandaro.” ADEGAN III 44. Nan tacangang si Dukun Pandai.” 42. lambang adalah bekas injak atau tekanan beban pada tanah. sudah. rasuak16 terban. Yang sudah tiba si Dukun Pandai. tiba di rasuak. 46. rasuak taban. ya begitu. lari ke jenjang masa itu. Gambaran betapa hebatnya yang empunya kaki dalam cerita klasik. diambillah kain panjang. lantai sudah patah. ajan. bara geleng sarato uruik. Pihak kapado Dukun Pandai. alah beko. tanah lambang. 45. Nan lah tibo si Dukun Pandai. 260 Yang tercengang si Dukun Pandai. tiba di tanah. Pihak kapado Dukun Pandai. jangan serupa itu benar.” Pihak kepada Dukun Pandai. dijapuik malah dukun pandai. jan saroman iko bana.. ajanlah.” Lalu diambil anak masa itu. “aalah. rasuak adalah balok yang dipasang antar tiang untuk menyangga lantai. ingatlah diri. indak tahan sakik co iko. “Oi Linduang Bulan. berapa lihat serta lengah. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. “Oi Datuak Bandaro. biarlah hendak saya cuba menolong.” 47. berapa geleng serta urut. “Oi Datuak Bandaro. bara uruik si Linduang Bulan. tibo di lantai.

” Yang berkata si Dukun Pandai. tapi Tupai Janjang banyak ulahnya. kito gadangkan anak nangko. ditimpo tanah badarai. nan sakarang iko kini. Datuak Bandaro baranak tupai. dilepas kehendak masa itu. kito paliharo baiak-baiak. Nan bakato si Dukun Pandai. Datuak Bandaro beranak tupai. bakapiek adalah bergelintin sehingga susah dipisahkan. tupai anak Tuan malah kiranya. biar saya bunuh Tupai Janjang. kalau begitu kata Adik. kita besarkan anak ini. dipalapeh kandak maso itu. Yang berkata si Linduang Bulan. Lalu berkata si Linduang Bulan.” 48. Pihak kapado Datuak Bandaro. iko antah urang. Tupai Janjang malah kironyo. “Kini begitulah Linduang Bulan. kita pelihara baik-baik. diambiak malah Tupai Janjang.“Tuan Datuak Bandaro. kita pelihara baik-baik. turunan puti sudut-bersudut. inyo anak kito. alun dilieklah taliek. hendak menyusu. kini anak manjadi tupai janjang. malu nan lah tumbuah. manyusulah ha! 18 Ibid. Pihak kepada Datuak Bandaro. “Tanah liek bakapiek. menyusu! menyusu. usah dibunuah anak kito. 305 nak manyusu. Lalu bakato si Linduang Bulan. manyusu! manyusu. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kito paliharo baiak-baiak. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kito tasabuik urang asa. “Oi Tupai Janjang elok-elok perangai anak.” Yang tercengang Datuak Bandaro. tupai anak Tuan malah kironyo. entah apa ini. biarpun dia sepotong ular. inyo kan darah dagiang kito. tutunan puti suduik-basuduik. “Tanah liat bakapiek. tapi Tupai Janjang banyak ulahnyo. Tupai Janjang malah kiranya. biapun sakarek nyo baluik. antah a ko. “Oi Tupai Janjang elok-elok parangai anak. kini anak menjadi tupai janjang. Nan tacangang Datuak Bandaro. 50. biapun inyo sakarek ula. 265 “Tuan Datuak Bandaro. ini entah orang.18 ditimba tanah berderai. disusukan anak masa itu. turunan raja turunan puti. dia anak kita. disusukan anak maso itu. dia kan darah daging kita. turunan rajo turunan puti. menyusulah ha! 270 275 280 285 290 295 300 54. biarpun sepotongnya belut. 51.” mandanga kato Linduang Bulan.” 53.” 49.” Pihak Puti Linduang Bulan. malu yang telah tumbuh. belum dilihat sudah terlihat. kalau baitu kato Adiak. andak kamanyusu? nak den manyusukan.” mendengar kata Linduang Bulan. Pihak Puti Linduang Bulan. bia den banuah Tupai Janjang. yang sekarang ini kini. diambil malah Tupai Janjang. inyo darah dagiang kito. “Kini baitulah Linduang Bulan. . Nan bakato si Linduang Bulan. dia darah daging kita. hendak akan menyusu? supaya saya menyusukan. usah dibunuh anak kita. kita tersebut orang asal.

makan!. 310 315 320 325 eh mengigit pula. sudah payah mandeh membesarkan. haa melompat pula lagi. makan!. elok dicencang hidup-hidup. moh. mandecek pulo lai. inyo anak kanduang kito.” 57 .eh mangigik pulo. moh. banyak benar ulah kamu. kini baitulah nan elok. makan tu haa. baik saya kasih makan. dia berputar ke halaman.” 345 19 Ibid. kita buang habis-habis. alah den paluak. tidak patut dipecah. haa mandecek pulo baliak. dari hari baganti bulan. makan. kalau saya pipihkan nasi lama kerjanya. jahatnya berlebih-lebih. . segala tanaman dihabiskan oleh Tupai Janjang. dari hari berganti bulan. alah Tupai Janjang. melompat pula lagi. piring seonggok dihabiskannya. menghabis menandehkan19 kerjanya. haa elok-elok malah kalau menyusu itu. makan itu haa. “Manalah adik Linduang Bulan. nan Tupai Janjang usah dibunuah.. Yang berkata Datuak Bandaro. yang Tupai Janjang usah dibunuh.Nan bakato Datuak Bandaro. banyak bana ulah waang. makan. sudah habis barang atas rumah.. usah digigik pulo susu nantun!. moh. kini rancak saya kunyahkan dulu. indak patuik dipacah dipacahnyo. moh. membenar saya Tuan oi. makan. hmm. kini acak den kunyahkan dulo. kalau seperti cara ini perangai Tupai Janjang tidak mau ditunjuk diajari. saya suapi kamu dahulu. kito buang habih-habih. mambenar saya ke hadapan Tuan. piriang saonggok ditandehkannyo. inyo bakisa ka hilaman. Pihak kapado Tupai Janjang. sudah Tupai Janjang. 340 mahabih manandehkan karajonyo. ancak den agiah makan. hmm.” 56. jaeknya balabiah-labiah.” Maka berkata Linduang Bulan.” 330 Pihak kepada Tupai Janjang. sagalo tanaman ditandehkan dek Tupai Janjang . kini begitulah yang elok. jangan dibunuh Tupai Janjang. yang jari saya yang sudah kamu kunyah. inyo kan darah dagiang kito. den paluak. sudah saya peluk. ijan dibunuah Tupai Janjang. menandehkan sama dengan menghabiskan. dia kan darah daging kita.Nan bakato Linduang Bulan. lah payah mandeh manggadangkan. elok dicacang hiduik-hiduik. den suoki waang dahulu. dipecahnya. mambana den ka bakeh Tuan. ndak amuah ditunjuak diajari. mambana den Tuan oi. “Oi Tuan Datuak Bandaro. mambari malu sajo karajonyo. haa elok-elok malah kalau manyusu tu!. lah abih barang ateh rumah. memberi malu saja kerjanya. kalau den pipihkan nasi lamo karajonyo. saya peluk. “Oi Tuan Datuak Bandaro. makan. “Manolah adiak Linduang Bulan. nan jari den nan lah ang kunyah. 335 kalau bak caro iko parangai Tupai Janjang. usah digigit pula susu ini. dia anak kandung kita.” Sub-adegan ke-1 55.

kini elok saya curi anak ini.” 60. dia melihat ke bawah. setentang kata si Linduang Bulan. . kini saya kamu cibirkan.” Pihak kepada Tupai Janjang.” 62. “Manolah ang Tupai Janjang. Sanan bakato Datuak Bandaro. 64. Nan lah bajalan Datuak Bandaro. kato den kato nan elok .” Yang sudah berjalan Datuak Bandaro. etan ka kabun kopi kito. 360 365 370 375 380 385 390 Sana berkata Datuak Bandaro. kamu tahu dikata orang. kita pergi ke kebun kopi. “Manolah ang Tupai Janjang. nan lah sampai di tapi rimbo. terpikir oleh dia masa itu.58. Tupai Janjang mengiringi di belakang. Ibid. Nan tamanuang Datuak Bandaro. kepada anak Tupai Janjang. ndak ka amuah si Linduang Bulan. kapado anak Tupai Janjang. sadang inyo di kayu gadang. mambao ang ka parak kopi. kalau sayang kamu katakan sayang. den minta batanang-tanang. sudah sebulan kopi tidak lihat. “Manalah kamu Tupai Janjang. iya kepada Datuak Bandaro. toh20 melah berjalan-jalan. suaranya mencareceh-careceh21. “Manolah ang Tupai Janjang. kalau menurut hati saya. kito pai ka kabun kopi. “Manalah kamu Tupai Janjang. satantang kato si Linduang Bulan. kata saya kata yang elok. waang tau dikato urang. yang sekarang kini. turutkan saya oleh kamu Tupai Janjang. Pihak kapado Datuak Bandaro. 63. nyo bajalan bagageh-gageh. nan sakarang iko kini. inyo manjanguak ka bawah. kalo den mintak baelok-elok. lah sabulan kopi tak baliek. 59. Nan bakato Datuak Bandaro. mandanga kato ayah nantun. Tupai Janjang mairiang di balakang. kalau manuruik hati denai. kini elok den cilok paja nangko. dia berjalan bergegas-gegas. tapikia dek nyo maso itu. tapi karena kamu anak manusia. Bakato Datuak Bandaro. biarpun kamu tidak pandai bicara. iyo ka Datuak Bandaro . kok sayang ang katoan sayang. tapi dek ang anak manusia. toh adalah sejenis kata ajakan yang artinya sama dengan marilah. nan bajalan mandencek-mandencek. kini waden ang cibiakan. turuikan den di ang Tupai Janjang. 61. toh melah bajalan-jalan. kalau saya minta berelok-elok. biapun waang indak pandai mangecek. suaronyo mancareceh-careceh. tidak akan mau si Linduang Bulan. iyo mancibia-cibia. “Manalah kamuTupai Janjang. raso banyak nan lah masak. Pihak kepada Datuak Bandaro. Mancareceh-mancareceh adalah ungkapan untuk menyatakan tingkah laku seekor tupai. sedang dia di kayu besar. mendengar kata ayah yang itu dia mencibir-cibir. yang sudah sampai di tepi rimba. Berkata Datuak Bandaro. saya minta bertenang-tenang. yang berjalan melompat-lompat. sana ke kebun kopi kita. Pihak kapado Tupai Janjang. rasa banyak yang sudah masak. 20 21 350 355 Yang termenung Datuak Bandaro. Yang berkata Datuak Bandaro.. membawa kamu ke kebun kopi.

nan lah kanyang Tupai Janjang. 425 Pihak kepada orang punya ladang. nampaklah ladang yang sebuah. Nan sakarang iko kini. Pihak kapado Tupai Janjang. nyo pai masuak rimbo. pihak kepada Tupai Janjang. pado den makan ang hiduik-hiduik. inyo manangih maso itu. melihat jagung dalam kebun. jauh yang bukan alang-alang. pada saya makan kamu hidup-hidup. nakal kamu berkelebihan. begitu pula mandeh kamu tapi perangai kamu tidak berubah-rubah. yang sudah kenyang Tupai Janjang. Sub-adegan ke-3 67.” 400 Sub-adegan ke-2 65. bicara saja yang tak pandai. pangganti barang urang nan pacah. gadang hati si Tupai Janjang. bakirok bakikih ang dari kampuang ko. nampaklah ladang nan sabuah. ke mudik tidak berpagar. ADEGAN IV 69. lalu mandencek Tupai Janjang. Bakirok bakikih merupakan kata majemuk untuk mengusir seseorang . besar hati si Tupai Janjang. pengganti harta orang yang kamu habiskan. hendak menurut kebun yang itu. dia tahu kata manusia. dia pergi masuk rimba. pihak kapado Tupai Janjang. lah jaleh diang tu?” 66. ka ilia labuah Tarantang. jahaik ang bakalabiahan. dia makan sekenyang-kenyangnya. Mandanga kato ayah kanduang. jauah nan bukan alang-alang. tapi parangai ang indak barubah-rubah. 22 saya sayang kepada kamu. andak manuruik kabun nantun. ke hilir lebuh Tarantang. Nan lah sampai di tapi kabun. Pihak kapado rang punyo ladang. inyo tahu kato manusia. saya cencang lumat-lumat. lalu dipanjat kayu besar. inyo makan sakanyang-kanyangnyo. mangecek sajo nan tak pandai. lah bara piti den abih. 68. pengganti barang orang yang pecah. Yang sudah sampai di tepi kebun. harta orang harta kamu. mahabih manandehkan karajo ang. 410 415 420 Pihak kepada Tupai Janjang. lalu melompat Tupai Janjang. maliek jaguang dalam parak. baitu pulo mandeh ang. 405 den cancang lumek-lumek. dia menangis masa itu. 395 harato urang harato awak. teringat ibu kandung diri. lalu dipanjek kayu gadang. takana mandeh kanduang diri. nan malengong suok jo kida.” Yang sekarang kini. ka mudiak indak bapaga. menghabiskan manandehkan kerja kamu. yang menoleh kanan dengan kiri. berkirok berkikis22 kamu dari kampung ini. taraso lapa nan di paruik. tinggallah badan di rimba besar. tinggallah badan di rimbo gadang. terasa lapar yang di perut.waden sayang ka bakeh ang. sudah berapa uang saya habis. pangganti harato urang nan ang abihan. sudah jelas oleh kamu itu?” Mendengar kata ayah kandung.

450 440 445 Pihak kepada Tupai Janjang. diungguakkan dalam pirangkok. terpikir oleh dia masa itu.” baitu katonyo Mandeh Rubiah. pulang ke rumah dengan Mak Hitam 70. 470 satu tibonyo di situ. takana pulo mamaliang. pai ka ladang mancaliak jaguang. elok benar orang ini. nan mamakan jaguang mudo. jaguang lah dionggokkannyo untuak awak.” Lalu melompat Tupai Janjang. dia melompat ke dalam jagung muda.“Apo binatang kok kironyo. “Iyo elok urang ko. Pihak kapado Mak Hitam. 74. cukup kedua hari siang.” begitu katanya Mandeh Rubiah. dek paruik taraso lah kanyang. Yang terkejut si Tupai Janjang. kini baitulah dek Mak Hitam.” 72. yang mencuri si jagung muda. talalok nyo si Tupai Janjang. 73. untung-untung masuk dalam perangkap.nan banamo Mandeh Rubiah. Yang sekali ayam berkokok. binatang nan mamakan jaguang. iya elok benar orang yang punya ladang pada kita berjerih-jerih. 455 460 75. binatang yang memakan jagung. bakato pado Mak Hitam. lalu mandencek maso nantun. yang memakan jagung muda. Pihak kepada Mak Hitam. kalau untungnya takdir Allah. pulang ka rumah jo Mak Hitam. melihat jagung yang teronggok. 435 rajuiklah binatang nantun. Nan sakali ayam bakukuak. untuang-untuang masuak dalam perangkok. namun semalam-malam itu. supayalah sudah seperti perangkap. “Apa binatang kok kiranya. dia tidur di atas kayu. dua dengan suaminya Mak Hitam. duo jo lakinyo Mak Hitam. Nan lah pulang Mandeh Rubiah. nyo mandencek ka dalam jaguang mudo. 465 pado awak bajariah-jariah. Nan takajuik si Tupai Janjang. iyo elok bana urang nan punyo ladang. Lalu mandencek Tupai Janjang. 71. nak lah sudah cando pirangkok. jagung sudah dionggokan untuk kita. Pihak kapado Tupai Janjang. 430 yang bernama Mandeh Rubiah. diambil jagung tengah kebun. yang sudah bangun Tupai Janjang. nyo tidua di ateh kayu. . berkata pada Mak Hitam. kok lai untuang masuaak pirangggkoooook. “Iya elok orang ini. karena perut terasa sudah kenyang. terlelap dia si Tupai Janjang. pergi ke ladang melihat jagung. diambiak jaguang tangah parak. nan mancilok si jaguang mudo. dibuat perangkap masa itu. kalau ada untung masuuk peranggggkaaaaaap.” 76. namun samalam-malam nantun. dionggokkan dalam perangkap. tapikia dek inyo maso itu. nan lah jago Tupai Janjang. mancaliak jaguang nan taonggok. teringat pula mencuri. lalu melompat masa itu. kini begitulah oleh Mak Hitam. rajutlah binatang yang itu. kok untuangnyo takadie Allah. waktu tiba dia di situ. elok bana urang nangko.” Yang pulanglah Mandeh Rubiah. cukuik kaduo hari siang. dibuek pirangkok maso nantun.

” Pihak kepada Mandeh Rubiah. 82. ha… waden nan jariah-jariah ka parak. berladang bertanam jagung. tumbuhlah sesal dalam diri. “Manolah Mak Hitam. aie matonyo badarai-darai. tupai ini tupai keramat. ini yang memakan jagung saya. “Tidak! Ini yang menghabiskan jagung kita Ada jelas? Akan dibawa pulang pula? Untuk apa dibawa pulang? saya cencang juga kini-kini. melentingnya pegas sebuah perangkap apabila tersinggung sesuatu atau mangsa. teringat bapak dengan ibu.ha… bagaimana cobalah rasakan. kita bawa pulang Tupai Janjang ini. bingkeh adalah bingkas. 480 waang nan maabihkan yo? den bunuah ang kiniko. Iko nan mahabihkan jaguang awak. air matanya berderai-derai. 23 perangkap bingkeh23 hanya ada. ibo awak mambunuahnyo. pandai bananyo manangih. mandanga kato Mak Hitam. nan sakarang iko kini. 77. Pihak kapado Tupai Janjang. takana bapak nan jo mandeh. lihatlah oleh Mak Hitam. jan dibunuh tupai nangko.” Yang berkatanya Mak Itam. “ha…ha…. caliaklah dek Mak Hitam. lah jaleh dek waang?” 78. 485 490 495 500 505 510 24 Ibid. mendengar kata Mak Hitam. dalam perengkapnya kalusuak panja. den cakiak inyo sampai mati. Nan bakato Mandeh Rubiah. tupai nangko tupai kiramaik. dan lain-lain. Kalusuah panja adalah kata majemuk untuk menyatakan perasaan yang berkeluh-kesah.” 81. ha… saya yang susah-susah ke kebun. yang terkejut si Tupai Janjang. hu… hu… 79. ibo tibo di dalam hati. jangan dibunuh tupai ini. Nan tacangang Mandeh Rubiah. Nan lah datang Mande Rubiah. pandai benar dia menangis. den makan ang hiduik-hiduik. “Indak!. ya menangis si Tupai Janjang. nan takajuik si Tupai Janjang. tumbuahlah sasa dalam diri. saya makan kamu hidup-hidup. “Manalah Mak Hitam. Nan bakatonyo Mak Itam. kamu yang menghabiskan ya? saya bunuh kamu kini. . Yang tercengang Mandeh Rubiah. saya cekik dia sampai mati. “ha… ha… ha…. yang sekarang kini. hiba kita membunuhnya.” 80. yo manangih si Tupai Janjang. Lai jaleh ? Ka babao pulang pulo ? Untuak a dibao pulang ? Den cancang juo kini-kini.24 Yang sudah datang Mandeh Rubiah. sudah jelas oleh kamu?” Pihak kepada Tupai Janjang. iko nan mamakan jaguang denai. Pihak kapado Mandeh Rubiah. iba tiba di dalam hati. serta Mak Itam suaminya. Yang berkata Mandeh Rubiah. Tupai Janjang pandai manangih. baa cubolah rasokan. 475 sarato Mak Itam suaminya. Tupai Janjang pandai menangis. kito bao pulang Tupai Janjang ko.pirangkok bingkeh hanyo lai. hu… hu…. dalam pirangkoknyo kalusuak panja. baladang batanam jaguang.

dimasuakkan si Tupai Janjang. Sub-adegan ke-1 85. nan tapikie Mandeh Rubiah. diberi jagung tak dimakannya. Lalu pulang nyo maso nantun. den agiah jaguang.” 87. kita pelihara baik-baik. elok kita bawa pulang. bicara saja yang tak pandai. dimasukkan si Tupai Janjang.” Lalu pulang dia masa itu. iko kandang ang. indak makan indak minum.” 86. jangan tupai ini kita bunuh. kalau menurut ukuran saya. diberi air tak diminumnya. Pihak kepada Tupai Janjang. marilah saya bawa kamu pulang. elok dia dikeluarkan.” Pihak kepada Mak Itam. elok-elok kamu di dalam. kalau litak den agiah nasi. mandanga kato Mandeh Rubiah. Tibo kasiah Mandeh Rubiah. 84. dia melompat masa itu. lalu dibukaknyo pirangkok. “Ha elok-elok di siko yo.“ 83. tagali raso di Mandeh Rubiah. kalau haus saya beri air. Pihak kapado Tupi Janjang. diagiah aie tak diminumnyo. kok untung takdir Allah. jangan dibunuh Tupai Janjang. kalau lapar saya beri nasi. bialah ang den bao tingga.. diagiah jaguang tak dimakannyo. elok-elok ang di dalam. kalo bak nangko Tupai Janjang ko. elok kito bao pulang.” 515 520 “O Tuan hanyo saya. molah den bao ang pulang. kito paliharo baiak-baiak. lah tibo nyo di tangah rumah. tupai ini mengerti bicara orang. kalau hauih den agiah aie. kalo manuruik ukuran denai. “Manolah ang Tupai Janjang. mendengar kata Mandeh Rubiah. biarlah kamu saya bawa tinggal. namuah mati nyo baeko. dia cium kuduk Mandeh Rubiah. “Manalah kamu Tupai Janjang. Pihak kapado Tupai Janjang. tupai ko mangarati kecek urang mangecek sajo nan tak pandai.” Pihak kepada Tupai Janjang. membenar saya ke Mak Hitam. ini kandang kamu. saya beri jagung. “Ha elok-elok di sini ya. sabab tupai ko pandai manangih. dek kuduak no kanai cium. yang terpikir Mandeh Rubiah. lalu dibukanya perangkap. sudah tiba dia di tengah rumah. saya kaluarkanlah sebentar. inyo mandencek maso nantun. inyo cium kuduak Mandeh Rubiah. Pihak kapado Mak Itam. sebab tupai ini pandai menangis.” 540 545 550 . tidak makan tidak minum. kok untuang takadia Allah.“O Tuan janyo denai. den kaluakanlah sabanta. jan tupai ko kito bunuah. mandencek kapado Mandeh Rubiah. ambek dibunuah Tupai Janjang. dimasuakkannyo ka dalam kandang. bisa mati dia nanti. kalau seperti ini Tupai Janjang ini. mambana denai ka Mak Hitam . dimasukkannya ke dalam kandang. karena kuduknya kena cium. tergeli rasa di Mandeh Rubiah. 525 530 535 Tiba kasih Mandeh Rubiah. elok inyo dikaluakan. melompat kepada Mandeh Rubiah.

mintak sacaro elok-elok.” 570 91. lah barubah parangai maso itu. 89. Sana berkata Mandeh Rubiah. dikasih minum yang dengan makan. seperti kamu kini. iya sebenar pintar Tupai Janjang ini. tapi sabuah lai. mandencek ka bahu Mandeh Rubiah. 575 580 585 590 595 Sana berkata Mandeh Rubiah.88. awak nan mandapek labo sajo. sudah berubah perangai masa itu. jaan anak mancilok juo. Apa akan makan ya? Apa makanlah. sabuah pintak dari Mandeh. gadang hati kami dibueknyo. 92. melompat ke bahu Mandeh Rubiah.” 555 Pihak kepada Tupai Janjang. sugguahpun mamintak elok-elok. berusahalah kita. dek karano waang mangadangkan hati kami. iyo sabana santiang Tupai Janjang ko. diambiak jaguang nan mudo. Sinan bakato Mandeh Rubiah. kini tidak usah kamu masuk kurungan lagi. “Manolah anak Tupai Janjang. dibao naiak ka ateh rumah. diambil jagung di tangan Mandeh Rubiah. minta secara baik-baik. . memakan jagung di kebun orang. oleh karena kamu membesarkan hati kami. jaan namuah mamintak-mintak.” Sudah dibawa si Tupai Janjang. Pihak kapado Tupai Janjang. bepikirlah kamu sedikit. jangan mengambil-ngambil lagi. lalu dimakan masa itu. diambil jagung yang muda. tapi sebuah lagi. macam waang kini ko. sebuah pinta dari Mandeh. orang yang berjerih. kini ndak usah ang masuak kuruangan lai. di tapak tangan nan katuju dek inyomakan. sungguhpun meminta baik-baik. bapikialah waang saketek. diagiah minum nan jo makan. diambiak jaguang di tangan Mandeh Rubiah. itulah usaho dek ang. dia melompat masa itu. itulah usaha oleh kamu.. elok tupai ini. Pihak kapado Tupai Janjang. waang alah bausaho. jangan mau meminta-minta. Pihak kapado Tupai Janjang. jaan maambiak-ambiak lai. “Manalah anak Tupai Janjang. urang nan bajariah. kita yang mendapat laba saja. Sinan bakato Mandeh Rubiah. cubolah pikia dek ang Tupai Janjang.” Pihak kepada Tupai Janjang. lalu dimakan maso nantun. kalau sakironyo paruik lapa. kamu sudah berusaha. 560 90. jangan mencuri-curi juga. mamakan jaguang di parak urang. barusaholah awak. Sanan bakato Mandeh Rubiah. Sana berkata Mandeh Rubiah. dibawa naik ke atas rumah. 91. “Iya elok tupai yang ini. inyo mandencek maso nantun.” Pihak kepada Tupai Janjang. elok tupai ko. jikok disuruah inyo pai . jaan mancilok-cilok juo. cobalah pikir oleh kamu Tupai Janjang. 565 “Iyo elok tupai nan ko. besar hati kami dibuatnya. kalau sekiranya perut lapar. “A a kamakan yo? Aa makanlah. di tapak tangan yang suka oleh dia makan. jika disuruh dia pergi. Lah dibao si Tupai Janjang.” 93. jangan anak mencuri juga.

“Manalah kamu Tupai Janjang. dia masuklah ke dalam ladang. inyo pai pulo ka ladang. lah salamaik parak Mandeh Rubiah. Pihak kapado karo banyak. sudah berubah perangai kamu. nyo baunduang-unduang maso itu. Pihak kapado Tupai Janjang. dia berundung-undung kain putih. alah patuah dirasokan. dilihat kepada Tupai Janjang. abih lari karo nan banyak. nan nyo ambiak kain sirah. kini pergi kamu ke ladang. “Manolah ang Tupai Janjang. takutlah dia semuanya.” Pihak kepada Tupai Janjang.Nan tapikia dek Mandeh Rubiah. Sub-adegan ke-3 97. Sub-adegan ke-2 95. larilah dia semuanya. yang sekarang ini kini. 98. siang malam jago dek waang. kamu sudah lama tinggal di kami. habis lari karo yang banyak. 605 610 Lalu berkata masa itu. salaruik salamo nangko. takuiklah inyo kasadonyo. ka ladang jaguang kito. terkejut babi yang banyak. yang berundung dengan kain merah. kini pai ang ka parak. kalau iya emas tahan uji. lah diambiaknyo kain putiah. larilah inyo kasadonyo. sudah sampai dia di ladang. nan sakarang iko kini. sudah patuh dirasakan. dia pergi pula ke ladang. 94. kok iyo ameh tahan uji. Yang terpikir oleh Mandeh Rubiah. alah barubah parangai waang. nan lah siang candonyo hari. timbul akal semasa itu. kok iyo masuak dek ang pangaja. dia berundung-undung masa itu. Yang sudah malam pula hari. Pihak di Mandeh Rubiah.jikok ditagah inyo baranti. Nan lah malam pulonyo hari. selarut selama ini. . tapikia dek inyo dalam hati. siang malam jaga oleh kamu. 615 620 625 Pihak kepada karo25 banyak. apolah binatang nantun. apalah binatang yang itu. Sudah tiba dia di tengah ladang. sudah diambilnya kain putih. 99. ke ladang jagung kita.Lalu bakato maso nantun. takajuik babi nan banyak. terpikir oleh dia dalam hati. yang selamat kebun Mandeh Rubiah. 630 635 Karo adalah sejenis binatang sejenis monyet yang berbadan kecil dan hidup di dalam hutan. yang dia ambil kain merah. yang sudah siang sepertinya hari. waang lah lamo tingga di kami.” 96. nan salamaik parak Mandeh Rubiah. 600 Pihak di Mandeh Rubiah. inyo baunduang-unduang kain putiah. dicaliak kapado Tupai Janjang. sudah selamat ladang Mandeh Rubiah. nyo masuaklah ka dalam ladang. nan baunduang jo kain sirah. 25 jika ditegur dia berhenti. timbua aka samaso itu . Lah tibo inyo di tangah ladang. 100. lah sampai inyo di ladang. kalau iya masuk oleh kamu pengajaran.

. melihat peliharalah mata. Sabuah lai oi anak kanduang. salodang ambil ke niru. yang bernama anak batang pisang. 101. Ini merupakan petuah yang sering diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih kecil. setitik jadikan laut.28 Alam yang terkembang ini. yang sekarang kini. kamarilah ang duduak. 660 665 670 Ibid. danga dek ang elok-elok. 27 Ibid. nak Mandeh tunjuak ajari. panakiak pisau sirauik. sudah tinggal sama dengan kami. Sabuah lai yo nak kanduang. 645 nan sakarang iko kini. muluik taloncek ameh tantangannyo.” Sub-adegan ke-4 103. 26 650 655 Pihak kepada diri kamu. kok bajalan paliharolah kaki. itu nan alam takambang jadi guru. salodang ambiak ka niru.” 640 102. sudah jelas oleh kamu itu?” Sebuah lagi ya anak kandung. bapikialah anak tantang itu. palajari dek waang. contoh misalnyo batang pisang. tantangan. dengar oleh kamu elok-elok. lah tingga samo jo kami. penakik pisau siraut. Sebuah lagi oi anak kandung.Lalu dipangia Tupai Janjang.” sudah masuk pengajaran masa itu. pelajari oleh kamu. alam takambang jadikan guru. panceteh batang lintabuang. tumbuahnyo sabalik induaknyo . kaki tataruang inai padahannyo. Ini merupakan falsafah bagi masyarakat Minangkabau yang lazim disebut falsafah Alam Takambang Jadi Guru. contoh misalnya batang pisang. menjaga induk kerjanya. manjago induak karajonyo.Pihak kapado Tupai Janjang. padahan adalah akibat. melompat duduk di muka Mandeh Rubiah. berpikirlah anak tentang itu. sebuah pinta kepada kamu. nan banamo anak batang pisang. satitiak jadikan lauik.” Pihak kepada Tupai Janjang. tumbuhnya sekeliling induknya. lah jaleh dek ang tu?” 105. mandencek duduak di muko Mandeh Rubiah. panceteh batang lintabung. sekepal jadikan gunung. “Manolah ang Tupai Janjang.lah masuak pangajaran maso itu. kalau berkata peliharalah lidah. perangai sudah berubah. “Manalah kamu Tupai Janjang. 28 Bagian ini bisa dibacakan dalam pidato-pidato adat. sakapa jadikan gunuang. pesan pituah orang tua. kok tumbuah tiok manjadi anak . alam terkembang jadikan guru. sabuah pintak kapado ang. kaki tertarung inai26 padahan27nya. kemarilah kamu duduk. mulut terlompat emas tantangannya. kalau tumbuh tiap menjadi anak. supaya Mandeh tunjuk ajari. 104. parangai alah barubah.Pihak kapado diri waaang. pasan pituah urang tuo. Alam nan takambang ko. Lalu dipanggil Tupai Janjang. “Manolah waang Tupai Janjang. inai adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa memerahkan kuku yang berfungsi untuk memberikan hiasan pada kuku. kok bakato paliharolah lidah. kalau berjalan peliharalah kaki. mancaliak paliharolah mato. “Manalah kamu Tupai Janjang. itu yang alam terkembang jadi guru.

itu yang tertarung kaki namanya. bersua dengan orang tua-tua.” 106. banyak jalan yang akan ditempuh. bersua dengan orang mulia-mulia. “Yang dikatakan jalan mendaki. gimana kita mendaki? sesak nafas kan? itu pakaikan oleh kamu. 710 715 Terlongsong-longsong maksudnya sama dengan jangan semena-mena. agak-i 30orang tersinggung. tapi agak-i urang ka tasiingguang. 29 30 “Adat kita hidup di dunia. tapi agak-i orang akan tersinggung. ada jalan yang mendatar. kok bakawan basamo gadang. begitu pula kita dalam bergaul. agak-i urang tasingguang. kok tacirubuah kaki ka dalam lubang. berkata dengan orang yang mulia. lihat oleh kamu jalan menurun. caliak dek ang jalan manurun. batu kecil bisa menurun. ado jalan nan mandata. yang jalan yang menurun ini banyak berlobang-lobang. itu ka kawan samo gadang. jangan terlongsong-terlongsong29 betul.” Yang ke dua jalan mendaki. di jalan yang datar banyak orang yang jatuh. tapi ingatlah oleh kamu. Agak-i adalah kira-kira perasaan orang supaya jangan tersinggung. ka jadi palajaran”. itu namanya jalan yang datar. kalau tercebur kaki ke dalam lobang. bakato bakeh nan ketek. ado jalan nan madaki. ado jalan nan manurun. itu untuk kawan sama besar. baa awak mandaki? sasak angok ndak? itu pakaikan dek waang. bisa saja kita turun. ado jalan nan malereng.” “Sudah itu jalan menurun. kalau bicara dengan orang tua. dari yang besar ke yang kecil. . 680 ambiak sadonyo dek nak kanduang. patah biko dibueknyo. hendaknya dalam kita bergaul ini. kok tasingguang urang. kita bersahabat sama besar. tapi ingek bana tu nak kanduang. ada jalan yang melereng. 690 ijan talongsong-talongsong bana. bisa sajo awak turun. kok mangecek jo urang tuo.” 107. nan jalan nan manurun ko banyak balubang-lubang. 705 basuo jo urang tuo-tuo. ambil semuanya oleh anak kandung. disesakkan nafas kalau bicara.”Sudah itu jalan manurun. disasakkan angok kok mangecek. awak basobaik samo gadang. berkata usah lalu lalang saja. 695 itu nan tataruang kaki namonyo. di jalan nan data banyak urang nan jatuah batu ketek bisa manurun. buliah mangecek sambarang sajo. “Nan dikatokan jalan mandaki. baitu pulo kito dalam bagaua. kalau berkawan bersama besar. berkata kepada yang kecil. ada jalan yang menurun. 675 banyak jalan nan kaditampuah. “Bagaimana jalan yang mendatar ini. ada jalan yang mendaki. tapi ingat betul itu anak kandung.Nan ka duo jalan mandaki. akan jadi pelajaran”.“Adaik kito iduik di dunia. kalau tersinggung orang. bakato usah lalu lalang sajo. handaknyo dalam kito bagaua ko. basuo jo urang mulia-mulia. boleh bicara sembarangan saja. patah nanti dibuatnya. bicara dengan orang yang besar pada kita. 685 itu namonyo jalan nan data. “Baa jalan nan mandata ko. mangecek jo urang nan gadang pado kita 700 bakato jo urang nan mulia. tapi ingeklah dek waang. dari nan gadang ka nan ketek.

Tupai Janjang indak ado lai. mangecek jo mintuo. bakato inyo maso itu. saya berubah jadi manusia. takajuik Mandeh Rubiah.” 113. sia waang ko kironyo. ampun hamba Madeh kandung. anak mudo. disiko tampaik Tupai Janjang. ingek-i tu pulo dek waang. mandanga kato Mandeh Rubiah. ampun ambo Mandeh kanduang. nan kaciak tu bisa nyo malawan.” Pihak kepada Tupai Janjang.Bakato Mandeh Rubiah . mangapa ada kamu disini. taraso bana pangajanyo. dek diaja-i Mandeh Rubiah. yang kecil itu bisa dia melawan. “Oi…. kama Tupai Janjang? dicaliak ado anak mudo tidua di sinan. bicara dengan menantu. koaso Tuhan pun balaku. oi…. lah barubah tingkah lakunyo.kok lalu lalang sajo. “Sudah tu jalan malereng itulah kato panuah sampiran. berkat pengajaran Mandeh. ingat-i itu pula oleh kamu. mangecek jo urang nan disagani. jalan melereng yang akan dipakai.” 108. 31 720 kalau lalu lalang saja. “Oi…anak muda. berkata kepada Mandeh kandung. mengecek jo minantu. Tupai Janjang indak ada lagi. oi anak muda. itulah kata penuh sampiran.31 ada jelas oleh kamu itu nak?” 725 730 735 Pihak kepada Tupai Janjang. berkata dia masa itu. 111. 110. Pihak kapado Tupai Janjang.” “Sudah itu jalan melereng. Pihak kapado Tupai Janjang. bicara dengan mintuo. kemana Tupai Janjang? dilihat ada anak muda tidur di sana. mendengar kata Mandeh Rubiah. disini tempat Tupai Janjang. lah elok parangai maso itu. denai ko nan banamo Tupai Janjang.anak mudo. bicara dengan orang yang disegani. lai jaleh dek ang tu nak?” ADEGAN V 109. pituah ini sering diberikan oleh niniak mamak kepada kemenakan dan lazim dibacakan waktu pidato adat. kuasa Tuhan pun berlaku. terasa betul pengajarnya.Adolah pado suatu pagi. “Manalah Mandeh kandung saya. kalau bicara dengan orang sumando. Manjawab anak mudo nantun. oleh diajari Mandeh Rubiah. denai barubah jadi manusia. 740 745 750 755 Menurut Navis (1984:260). malawannyo bakeh kito. Adalah pada suatu pagi. jalan malereng nan kadipakai. . “Kalau itu Mandeh katakan.” 112. mangko ado waang disiko. kok mangecek jo urang sumando. saya ini yang bernama Tupai Janjang. terkejut Mandeh Rubiah. melawan dia kepada kita. sudah berubah tingkah lakunya. barakaik pangaja Mandeh. bakato kapado Mandeh kanduang. Berkata Mandeh Rubiah. siapa kamu ini kiranya. sudah elok perangai masa itu. “Kalau itu Mandeh katokan.” Menjawab anak muda itu. “Manolah Mandeh kanduang denai.

775 Supaya dua pantun seiring. 32 33 Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. sanak sakitulah dahulu.nan sakarang kini nangko. Sana berkata Mandeh Rubiah. ikan di lauik balayangan. dilepas malah Tupai Janjang. dan terkutur. 5 Kaiklah berkait |lah| si rotan sago. Ibid. isuak nak kito ulang pulo. bandalah |hai| orang si Koto Tuo. Kaiklah bakaik |lah| si rotan sago. hamba hendak sujud minta ampun. Kaik bakaik rotan sago. dilapeh jo hati ibo.” PENUTUP 116. 10 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. bari izin ambo bajalan. nak manamui bapak jo Mandeh denai.Nak duo pantun sairiang. kaba disudahi sampai di situ. anak balam di parak lado. Anak si kikih ateh batu. balam adalah sejenis burung yang lazim disebut burung balam. sanak segitulah dahulu.Sanak ka Sumpu lah dahulu. 760 yang sekarang kini. Anak si kikih32 atas batu. ambo nak sujuik minta ampun. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. hendak menemui bapak dengan Mandeh saya. jatuah ka bumi manjadi kaba.4) 1. kami di rumah kok kaberangan. dara. 3.Sanan bakato Mandeh Rubiah. |ai| segala kami anak muda. sarato serta sanak |lah| dengan saudara. maaf dengan rila yang kami pinta. Bandalah urang |hai| ambo bandakan. |hai| yang sudah terkait yang di akar bahar34. anak balam33 di kebun lada. |ai| sagalo kami anak mudo. jatuh ke bumi menjadi kaba. baha adalah nama yang diberikan pada sejenis akar laut. kepada si Tupai Janjang. “kamu kini bergelar Sutan Kurnia. maaf jo rila nan kami pintak. |hai| nan lah takaik nan di aka baha tabang ka langik |lah| tabarito. 115. 2. “waang kini bagala Sutan Karunia. Bandarlah orang |hai|hamba bandarkan. si kikih adalah sejenis burung kecil. kapado si Tupai Janjang.” 765 770 Sanak ke Sumpu lah dahulu. sanak |lah| jo saudaro.” Tentangan Mandeh Rubiah. yakni akar bahar yang biasanya dibuat gelang tangan. Manolah niniak |lah nan| jo mamak. ikan di laut berlayangan. kami di rumah kalau keberangan. terbang ke langit |lah| terberita. izinkan saya mandeh kandung. dilepas dengan hati hiba. dilapeh malah Tupai Janjang. beri izin hamba berjalan. kaba disudahi sampai di situ. lah takaik di aka baha. izinkan denai mandeh kanduang. 34 Ibid.Tantangan Mandeh Rubiah. besok hendak kita ulang pulang. Teks II PEMBUKAAN (bait ke-1 sampai bait ke. 117. . Ungkapan ini sering dibacakan oleh tukang kaba dan juga sering ditemui di bagian awal sebuah kaba.” 114. Tibo di langik tabarito. tibo di bumi jadi kaba.

tersebut gerangan Datuak Bandaro. Kemudian. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. orang yang elok |lah| masa itu. |oi| urang nan gadang |lah| maso itu. supaya senang dalam hati sejuk dalam pikiran. pencerita dalam posisi duduk. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan. 30 |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. |oi| bermuka rancak rambut terurai. |oi| orang yang besar |lah| masa itu. 35 manga adiak tamanuang juo. |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro. |Oi| adolah pado suatu maso. lah sapuluah tahun barumah tanggo. berdua dengan Puti |lah| si Lindung Bulan. didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak seperti gerakan tari Minang dengan diiringi musik. Bandar |lah| orang kami bandarkan. Banda |lah| urang kami bandakan. orang dusta kami tak serta. oleh adik berilah terang. tasabuik garan Datuak Bandaro. “Dik kanduang si Linduang Bulan. |Oi| adoklah diri duo nantun. Hadap ke |lah| diri |lah|si Puti Linduang Bulan. seperti gerakan menari. pencerita beransur-ansur mencari posisi jongkok dengan terus bergerak mengayunkan tangannya. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. |oi| mangana nasib |lah| maso itu. Ayunan tengan itu bergerak ke depan dan ke belakang mengikuti irama dendang TJ. 8. kanan. 4. Pencerita berjalan ke depan. 9.” . bandar anak orang |lah| di Gumarang. kaba |lah| urang lai kami kabakan. 6. bumi nan alun |hai lah| baralun. |Oi| hadaplah diri dua yang itu. Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan.” |Oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. 25 |oi| bamuko rancak rambuik taurai. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai urang nan elok |lah| maso itu. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. |oi| urang nan kayo suduik-basuduik. |Oi| adalah pada suatu masa. kaba |lah| orang ada kami kabakan.) ADEGAN I |5. belakang. “Dik kanduang si Linduang Bulan. 20 (Teks bait ke-5 sampai bait ke-8. 7. nak sanang dalam hati sajuak dalam kiro-kiro. mengapa adik termenung juga. sudah sepuluh tahun berumah tangga. dan kiri dengan terus mendendangkan teks) . banda nak urang |lah| di Gumarang. kaba |lah| orang kami kabakan.kaba |lah| urang kami kabakan. |Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. |oi| anak yang tidak |lah| dapat juga. saluang dibunyikan yang diikuti dengan tepuk tangan seorang penonton. 15 (Pada awalnya. |oi| orang yang kaya sudut-bersudut. |hai| bumi yang antah barantak. |Oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang. Pencerita waktu itu. Setelah itu. urang duto kami tak sato. bumi yang belum |hai lah| beralun. pencerita berangsur-angsur pula berdiri dengan gerakan tangan yang sama. dek adiak barilah tarang. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. |hai| bumi nan antah barantah.

pedih di rasa badan saya. 40 |Oi| mendengar kata Datuk Bandaro. 50 Mendengar katalah si Linduang Bulan. |oi| terasa letihlah si Linduang Bulan. pulang maklum kepada Tuan. |oi| taraso latiahlah si Linduang Bulan. Sudah |nan| berjalanlah masa itu. Pada bait ke-15. sepuluh tahun berumah tangga.) 11. seperti orang yang menyembah. “Ampunkan saya Tuan kanduang. 15. kita berjalan di hari panas. musik tidak dibunyikan. anak nan indak dapek juo. sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. 16. 13. 55 dicaliak-caliak |nan| kabun nantun. pulang maklum kapado Tuan. 60 Sudah |kok| tiba |oi| masa itu. |Oi| berapalah jauh |oi| yang berjalan. “Ampunkan denai Tuan kanduang.) 10.(Bait ke-9 merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan berdiri. dan berakting. teks didendangkan oleh pencerita dengan tetap diiringi musik dan tepuk tangan dengan posisi berdiri. Lah |kok| tibo |oi| maso itu. |oi| sana tersentaklah si Lindung Bulan. pencerita mendendangkan teks dengan posisi duduk sambil berakting memperlihatkan keletihan) . itu yang saya menungkan juga. ampun beribu kali ampun. |oi| tabik pangana Datuak Bandaro. mendengar Tuan yang seperti itu. dilihat-lihat |nan| kebun yang itu.) 12. Waktu dialog. mandanga Tuan nan bak kian. sapuluah tahun barumah tanggo . kito bajalan di hari paneh. Mandanga katolah si Linduang Bulan. ampun baribu kali ampun. Sub-adegan ke-1 14. Sudah hampir tiba |oi|gerangan di kebun. .Lah |nan| bajalanlah maso itu. dipangia pulo |lah| si Linduang Bulan. sudah jauh kita yang berjalan. |oi| sana tertegunlah Datuak Bandaro. |oi| sanan tatagunlah Datuak Bandaro. sana termenunglah si Linduang Bulan. (Pada bait ke-12 sampai bait ke-14. Lah ampia tibo |oi| garan di kabun. Dialog diucapkan dengan menirukan suara perempuan yang sedang sedih karena dia belum mempunyai anak. “Ampunkan denai Tuan kanduang.” Lalu berkatalah si Linduang Bulan. menundukkan kepala.Lalu bakatolah si Linduang Bulan. |Oi| baralah jauah |oi| nan bajalan. |oi| takana kabun |lah| maso itu. (Pencerita bergerak kembali dengan mendendangkan teks yang diiringi oleh musik serta tepuk tangan.” 45 (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-11 dengan posisi duduk. lah jauah kito nan bajalan. anak yang tidak dapat juga. dipanggil pula |lah| si Lindung Bulan. itu nan denai manuangkan juo. |Oi| lalu bakatolah si Linduang Bulan. |Oi|mandanga kato Datuak Bandaro. |oi| terbit pikiran Datuk Bandaro. “Ampunkan saya Tuan kandung. Pencerita mengucapkan teks dengan berakting seperti seorang suami yang berbicara kepada istrinya. padiah di raso badan denai. |Oi| lalu berkatalah si Linduang Bulan. |oi| teringat kebun |lah| masa itu. |oi| sinan tasintaklah si Linduang Bulan.

lalu diagiahkan ka Puti kini.) ADEGAN II 20. tolong Tuan carikan air. minumlah Adiak nan dulu. |oi| lalu dicarilah masa itu. |oi| sudah tampak kini |oi lah| yang seekor. sumur yang kedua sudah kering pula. dicari malah |ko| sumua kini. menari sambil sedikit melompat untuk (Pencerita mendendangkan bait ke-20 di atas. seperti seorang perempuan berbicara dalam kondisi keletihan. dengan menggambarkan tingkah tupai) . pencerita langsung minum. dicari pulo sumua nan kaduo. merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita. Dialog ini adalah dialog DB. lalu diberikan ke Puti kini.” (Pada awal bait ke-17. sudah yang melompatlah di masa itu. ini sudah air yang ini kini. Dik kandung si Linduang Bulan. “Ini ada sumur. Sumur yang ketiga |lah| masa itu. Dicari sumua nan partamo. teks didendangkan oleh pencerita. denai nak minum hanyo kini. Lamo |lah| lambek |oi| garan di kabun 90 |oi| lah nampak kini |oi lah| nan saikua lah nampang sikua |lah| si Tupai Janjang lah nan malompeklah di maso itu. kehendak boleh pintak berlaku. Sebagian teks bait ke-19.” Mendengar kata |nan| si Linduang Bulan. |oi| lalu dicarilah maso itu. sumua nan kaduo lah kariang pulo. minumlah Adik yang dulu.” 65 panas yang kini hangat ini benar. Pencerita langsung memperagakan seolah-olah LB yang minum) . |oi| tangan bajari |lah| Datuak Bandaro. Dik kanduang si Linduang Bulan. |oi| lalu ditimbalah air yang itu.paneh nan kini angek ko bana. denai nak minum nan di balakang. Dicari sumur yang pertama. tolong Tuan carikan aia. dicari pula sumur yang kedua. iko lah aia nan ko kini.” 80 19. kerongkongan kering itu oleh Tuan. |oi| lalu minum |lah| si Lindung Bulan. 18. . saya hendak minum yang di belakang. Sumua nan katigo |lah| maso itu. jari dirabalah masa itu. dicari sudah |ko| sumur kini. |oi| lalu disauaklah aia nantun. kemudian didialogkan. Lama |lah| lambat |oi| gerangan di kabun. |oi| lalu minum |lah| si Linduang Bulan. aia nan indak |lah nan| ko ado. Mandanga kato |nan| si Linduang Bulan. iko lai sumua iko dek Adiak. 70 jari direseklah maso itu. “Ko lai sumua. 85 “Dik kanduang si Linduang Bulan.” (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-16 dengan berakting. “Dik kandung si Linduang Bulan. 75 kandak buliah pintak balaku. ini ada sumur ini oleh Adik. saya hendak minum hanya kini. |oi| tangan berjari |lah| Datuak Bandaro. sudah tampak seekor |lah| si Tupai Janjang. Sesudah mengucapkan dialog itu. 17. air yang tidak |lah nan| ini ada. teks didendangkan oleh pencerita dengan berdiri sambil menari. rangkungan kariang tu dek Tuan.” (Pada bait ke-18 dan sebagian bait ke-19. Pencerita berakting sambil menundukkan kepalanya seolah-olah melihat sumur) .

” 110 “Dik kandung si Linduang Bulan. kini saya minum pula. Hal itu diperagakan oleh pencerita dengan memegang kepalanya) . 22. Tuan ndak mambunuah si Tupai Janjang indak elok Tuan baitu bana. diambil air |oi| lalu di minum. “Ampun kan saya Tuan kandung. anak yang tidak dapat juga. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. 95 lah ka dibunuah si Tupai Janjang.“Dik kanduang si Linduang Bulan. pencerita minum kembali) . 27. tadi Adiak nan lah minum. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. 26. (Pencerita mendendangkan bait ke-21 sampai bait ke-23. Manga Tuan saburuak itu niak kini. lalu diambillah maka kayu. 120 sapuluah tahun barumah tanggo. manalah Tuan yang hanyo saya. diambiak aia |oi| lalu di minum. kini denai ka minum pulo. 25. Sesudah itu. Mengapa Tuan seburuk itu niat kini. sudah akan dibunuh si Tupai Janjang. mengapa dibunuh |lah| si Tupai Janjang. kini sedang minum Datuak Bandaro. 115 Sudah |nan| kini dekat |lah| masa itu. kini ko minum Datuak Bandaro. pencerita meminum air) . sepuluh tahun berumah tangga. ibolah denai nan maso itu.“Ampun kan denai Tuan kanduang. pencerita mendendangkan dengan suara yang sedih. Lalu ko sadiahlah si Linduang Bulan. Manga ko sadiah |lah| si Linduang Bulan. Adiak usah manangih juo. 23. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu. tadi Adik yang sudah minum. mangga dibunuah |lah| si Tupai Janjang. 100 lalu bakatolah Datuak Bandaro. Lalu kini sedihlah si Linduang Bulan. |Ha| didekati malah |lah| si Tupai Janjang itu. |Ha| didakek malah |lah| si Tupai Janjang nantun. Mengapa kini sedih |lah| si Linduang Bulan. 105 (Pencerita mendendangkan bait ke-24 dengan berdiri dan menari. ibalah saya yang masa itu. lalu berkatalah Datuak Bandaro.” (Pencerita mengucapkan dialog DB pada bait ke-25. lalu diambiaklah mangko kayu. Pada bait ke-22. Pancuci mukolah si Linduang Bulan. .21. Pencuci mukalah si Linduang Bulan. Adik jangan menangis juga. tidak elok Tuan seperti itu. Lah |nan| ko dakek |lah| maso itu. manolah Tuan nan janyo denai. |oi| tabik pangana |lah| si Linduang Bulan. anak nan indak dapek juo. 24. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua. |Oi| lalu diambil yang air sumur. |oi|terbit pikiran |lah|si Linduang Bulan. |oi| lalu diambillah air yang itu. |oi| habis dicuci muka Linduang Bulan. Tuan hendak membunuh si Tupai Janjang. ibarat seorang ibu yang sedang menangis karena anaknya dipukul. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu. |ha| lalu dicaliak |oi| si Tupai Janjang. (Pencerita mendendangkan bait ke-26 dengan berdiri sambil menari yang diiringgi musik dan tepuk tangan) . Sesudah itu. |ha| lalu dilihat |oi| si Tupai Janjang.

lah nan bamimpilah si Linduang Bulan. |Oi| raso bamimpilah maso itu. berdua dengan diri Datuk Bandaro. |Oi| lamolah lambek garan di kabun. 31. orang keramat |lah| hidup-hidup. |oi| surau yang condong |hai| condong ke Barat.. apalah mimpi |lah| si Linduang Bulan. tanuang adalah perbuatan untuk meramalkan atau mengetahui sesuatu yang tidak terlihat. lah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. Hal ini dilakukan waktu mendendangkan rasa memeluk bulan dan memangku matahari) . apolah mimpi |lah| si Linduang Bulan. lalu dicarilah orang malin35. 140 |Oi| rasa bermimpilah masa itu. urang kiramaik |lah| hiduik-hiduik. sayalah bermimpi |hai| lah tadi malam. sudah tiga malam masa itu kini. Lah tibo malam garan di rumah. asa lai denai dapek anak. |Oi| lamalah lambat gerangan di kebun. biar serupa Tupai Janjang. 135 raso |lah| mamaguiklah si matohari. lalu ditanuanglah maso itu. sudah yang bermimpilah si Linduang Bulan. lalu disebutkan kepada Datuak Bandaro. kemudian sujud menyembah dan berakting seperti seorang istri memohon dan berharap kepada suaminya) . orang yang berilmu dan juga bagian dari gelar adat. lah tigo malam maso tu kini. Sudah tiba malam gerangan di rumah. (Pencerita mendendangkan bait ke-28 dan bait ke-29 dengan berdiri dan menari) . 35 Lalu berkata |hoi lah| Linduang Bulan. apalah tujuan |hai| mimpi ini habis. . Lah nan ka Bonjo |lah| maso itu. 29. apolah arah |hai| mimpi ko habih. termasuk kelompok orang Nan IV jinih.kok lai pintak nangko buliah. lalu ditanuanglah36 masa itu. sudah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. 36 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. denailah bamimpi |hai| lah tadi malam. Pencerita awalnya berdiri. |oi| lamalah lambat gerangan di jalan.” 125 kalau ada pinta yang boleh. apalah tabir mimpi yang itu. |oi| raso mamangkulah tu bulan. bia sarupo Tupai Janjang. |oi| lamolah lambek garan di jalan. Kegiatan ini dilarang dalam syariat agama Islam karena tergolong syirik. |oi| raso memangkulah itu bulan. Menurut Amir (2003:55). |oi| mimpi yang habis |oi| hari sudah siang. (Pencerita mendendangkan teks bait ke-30 dengan duduk dan berakting untuk memperlihatkan memeluk matahari dan memangku bulan. asal ada saya dapat anak. Sudah yang ke Bonjol |lah| masa itu. lalu disabuik ka Datuak Bandaro. 145 |oi| surau nan condong |hai| condong ka Barat. 30. rasa |lah| memeluklah si matahari. Lalu bakato |hoi lah| Linduang Bulan. Sub-adegan 1 28. apolah tabir mimpi nantun.” (Bait ke-27 di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita. lalu dicarilah urang malin. 130 lah nan sahari |haa| lah duo hari. |oi| mimpi nan habih |oi| hari lah siang. Sub-adegan ke-2 32. sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. baduo jo diri Datuak Bandaro.

Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung. |oi| berapalah senang hati Linduang Bulan. 38. Adiak maraso sakik juo. |Oi| lamalah lambat Datuak Bandaro. sapuluah tahun barumah tanggo . . 34. 150 |ha| disabuik malah |ha| takwia mimpi.sakit. Lah tigo bulan sudah limo bulan garan manganduang.aduh aduh. terasa haus Datuak Bandaro. anak yang tidak dapat juga. Adik merasa sakit juga. 35..” Ibid.” 37 170 “Dik kandung si Lindung Bulan... apa yang minta Adik kini..” (Pencerita pada bait ke-36 dan bait ke-37 berakting dengan merintih serta memegang perut dan pinggangnya. sana berkatalah Datuak Bandaro. hati yang senanglah masa itu. kembali mendendangkan bait ke-36) .sakit. maengkang merupakan jalan seorang ibu yang lagi hamil. sudah yang sepekan |oi| sudah yang sebulan. |oi| baralah sanang hati Linduang Bulan . |oi| apolah garan |lah| takwia mimpi. lah lapan bulan paruik tambah gadang. (Pencerita mendendangkan bait ke-31dengan posisi berdiri.sanan bakatolah Datuak Bandaro. “aduh aduh. Ssesudah itu. diminta aia |hai| ka Linduang Bulan.aduh. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. 155 |Oi| sudah yang |ko| pulang Datuak Bandaro. |ha| lalu diambiaklah aia nantun.. |ha| lalu diambillah air yang itu. sudah delapan bulan perut tambah besar. |Oi| lah manganduanglah si Linduang Bulan.. kini lah manganduang mako Adiak. Sub-adegan ke-3 33. sepuluh tahun berumah tangga. |ha| disebut malah |ha| takwil mimpi. sakik. pada bait ke-34 dengan sedikit melompat karena kegembiraan. “aduh.|Oi| lamolah lambek Datuak Bandaro. 160 (Pencerita minum air pada bait ke-35. |Oi|sudah mengandunglah si Linduang Bulan. taraso auih Datuak Bandaro. lah nan sapakan |oi| lah nan sabulan. Hal ini dilakukan supaya seperti seorang ibu yang sedang mengandung) . 36. sakik. |oi|apalah gerangan |lah| takwil mimpi. anak nan indak dapek juo. taraso sakiklah si Linduang Bulan. jalan barubahlah nan maengkang. Hal ini dilakukak untuk memberitakan istrinya yang akan mengandung) . aduh aduh. 37. kini sudah mengandung maka Adik. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. Waktu mendendangkan bait ke-32 dengan posisi duduk sambil tetap mengayunkan tangan mengikuti irama dendang yang diiringgi bunyi musik) . |Oi| lah nan |ko| pulang Datuak Bandaro. lah nan duo bulan garan manganduang. terasa sakitlah si Linduang Bulan. apo nan mintak Adiak ko kini. “Dik kanduang si Linduang Bulan. diminta air |hai| ke Linduang Bulan. (Pencerita mengambarkan DB pulang. Dari sahari |oi| garan manganduang. hati nan sananglah maso itu. sudah yang dua bulan gerangan mengandung jalan berubahlah yang maengkang37.” 165 Dari sehari |oi| gerangan mengandung.

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan pencerita dengan suara yang dibesarkan supaya terdengar berwibaya) . 39. Basadiah-sadiahlah si Linduang Bulan, 175 tibo nan cameh dapek tu maa, “Aduuh sakiik aduah saakiik, minum lah ciek dulu Tuan oi.” Bersedih-sendihlah si Linduang Bulan, tiba yang cemas dapat itu, “Aduuh sakiit aduuh saakiik, minum lah satu dulu Tuan oi.”

(Pada bait ke-39, diperagakan oleh pencerita seperti seorang ibu yang mengerang kesakitan waktu sedang hamil tua. Sesudah itu, pencerita minum kembali) . 40. Lah lapan bulan |oi| garan menganduang, lah nan sambilan bulan nyo manganduang, 180 paruik batambahlah sakik juo. 41.|Oi| lalu dipanggia dukun nan partamo, lalu nyo reseklah si Linduang Bulan. Sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung, sudah yang sembilan bulan dia mengandung, perut bertambahlah sakit juga. |Oi| lalu dipanggil dukun yang pertama, lalu dia rabalah si Linduang Bulan.

(Pencerita pada bait-40, bergerak dalam kondisi berdiri, kemudian berakting seperti terjatuh akibat menahan kesakitan. Pada bait ke-41, pencerita berakting seperti seorang dukun yang sedang memeriksa kehamilan) . 42. “aduuah aduuah…. Sakiik…., aduuh sakiik…..” “aduuah aduuh…. Sakiit……, aduuh…..sakiit……”.

(Bagian teks di atas merupakan rintihan Linduang Bulan yang dilakukan oleh pencerita dengan berakting sambil merintih seperti orang yang sedang menahan kesakitan) . 43. “Dik kanduang si Linduang Bulan, dicaliak kini ko codo sia? ambo resek dulu.” 185 “Dik kandung si Linduang Bulan, dilihat kini seperti siapa? saya raba dulu.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita untuk menghibur LB. Hal ini dilakukan supaya dapat mengurangi rasa sakit yang diderita LB) . 44. “Ampunkan denai Datuak Bandaro.” “Ampunkan saya Datuk Bandaro.”

(Dialog di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita dengan terbata- bata) . 45. “Dicaliak kini bini manganduang.” “Dilihat kini istri mengandung.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita juga dengan terbata-bata) . 46. “Tapi….. anak…ndak.ka lahia kini, anam bulan lai ka lahia.” 190 “Tapi…..anak….tidak akan lahir kini, enam bulan lagi akan lahir.”

(Bagian teks yang ke-46 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara ketakutan) .

47. Dukun kapunduang lah salapan bulan, lah sambilan bulan bini den manganduang, kabatambah anam bulan lai.”

Dukun kepundung38 sudah delapan bulan, sudah sembilan bulan bini saya mengandung akan bertambah enam bulan lagi.”

(Dialog DB pada bait ke-47, diucapkan oleh pencerita dengan cara berakting dan suara yang keras sehingga mengambarkan rasa kesal kepada Dukun karena dikatakan istrinya belum juga bisa melahirkan) . 48. Lalu dicari dukun nan kaduo, 195 |oi| dukun kaduo |oo| sarupo itu, |oi| lalu di datang dukun nan katigo, |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Lalu dicari dukun yang kedua, |oi| dukun kedua |oo| seperti itu, |oi| lalu di datang dukun yang ketiga, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pencerita mendendangkan bait ke-48, dengan berdiri dan menari sambil berjalan) . 49. “Batanang dulu yo! kok lah dapek aia ko ambo minum gai dulu.” 50.”Ampunkan denai Datuak Bandaro, kalau dicaliak nan ko kini.” “Tenang dulu ya! kalau sudah dapat air ini saya minum dulu.” “Ampunkan saya Datuak Bandaro, kalau dilihat yang ini kini.”

200

(Bagian teks yang ke-49 dan ke-50, merupakan dialog dukun yang diucapkan oleh pencerita sambil memperlihatkan seolah-olah memeriksa kehamilan LB. Pada bait ke-49, pencerita mengucapkan dialog itu kemudian minum) . 51. “Aaa duuh saakiik….. saakiik.” “Aaa duuh saakiit…..saakiiit.”

(Rintihan LB pada bagian teks ke-51, dilakukan oleh pencerita dengan akting seperti orang yang akan melahirkan) 52. “Batananglah dulu Linduang Bulan.” “Tenanglah dulu Linduang Bulan.”

(Dialog DB pada bagian teks ke-52 diucapkan oleh pencerita dengan suara seperti orang yang sedang membujuk istrinya. Hal ini dilakukan supaya LB tabah dalam menahan rasa sakitnya) . 53. “Iyoo… sakiik iko Dukun.” 205 “Iyaa….sakiit ini Dukun.”

(Bagian teks ke-53 merupakan rintihan LB yang dilakukan oleh pencerita sambil mengurut-urut perut dan pinggangnya) . 54. “Iyo itu nan kamalaian, ampunkan denai Datuak Bandaro, tolong carikan talua nan sabuah, aia putiah nan sagaleh, kito agiah salusuah nangko Linduang Bulan, 210 untuang kok capek nangko laia”.
38

“Iya itu yang akan melahirkan, ampunkan saya Datuak Bandaro, tolong carikan telur yang sebuah, air putih yang segelas, kita berikan selusuh ini Linduang Bulan, untung kalau cepat ini lahir.”

Kepundung diucapkan oleh pencerita untuk mengungkapkan kekesalan kepada dukun

(Dialog pada bagian teks yang ke-54, merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita untuk menyuruh DB mencari telur dan selusuh agar LB cepat melahirkan. Hal ini diucapkan sambil duduk dengan cara menyembah) . 55. Alah ko tibo nan barang nantun, |ha| lalu dipacahlah talua nantun, diambiak malah aia sagaleh, |ha| dicampua-campualah maso itu, 215 |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Sudah kini tiba yang barang yang itu, |ha| lalu dipecahlah telur yang itu, diambil malah air segelas, |ha| dicampur-campurlah masa itu, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pada bait ke-55, didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan menari sambil memperagakan memecah telur) . 56. “Aduuh sakiik… Tuan ampun Tuan….” “Aduuh sakiit…Tuan ampun Tuan….”

(Bagian teks yang ke-56, merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang kesakitan) . 57. “A…. iko Linduang Bulan iko ado pilusuah.” “A….ini Linduang Bulan ini ada sisuluh.”

(Bagian teks yang ke-57 merupakan dialog Dukun yang diperagakan oleh pencerita sambil memegang gelas) . 58. “Aduuh aduuh..sakiik Tuan ai..” 220 “Aduuh aduuh.. sakiit Tuan ai…”

(Bagian teks di atas merupakan rintihan LB. Pencerita merintih sambil berakting dengan cara mengerang seperti orang kesakitan dengan membungukkan badannya) 59. “Iko nan pilusuah Tuah. minumlah yo…!” “Ini yang silusuh Tuan. minumlah ya…!”

(Pencerita mengucapkan dialog dukun pada bagian teks ke-59, dengan memperagakan seolah-olah memberikan minuman kepada LB) . 60. “Aduuh lah sakiik lah Tuan yooi.” “Aduuh sudah sakiit sudah Tuan yooi.”

(Bagian teks ke-60 adalah rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang yang kesakitan) . 61. “Iyo itu nan manganduang, banyaklah mangucap.” 225 “Iya itu yang mengandung banyaklah mengucap.”

(Bagian teks ke-61 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang berwibawa untuk menggambarkan supaya LB tetap tabah) . 62. “Aduu..h sakii….k… ndak …. aduu..h sakiik……” “Aduuh…sakii….t….ndak….. aduu..h sakiik…..”

69. 230 Yang sudah ini lahirlah si Tupai Janjang. dengan berdiri sambil menari) . (Pencerita mendendangkan bait ke-67. |a| lalu dilihatlah anak yang itu. . dengan suara tersedu-sedu seperti orang menangis) . pintak balakulah hanyo lai.h sakiik adu…. merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan mimik penuh kecemasan) 64.” (Bagian teks di atas merupakan ucapan dari DB yang diucapkan oleh Pencerita dengan suara sedih) . merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegak perut seperti orang kesakitan) .. |hai| sesal kemudian tidak berguna. Nan lah ko laialah si Tupai Janjang |oi| tibo di lantai. lantai balubang. Lalu taingek |a| maso di kabun. |Ha| kini yang sesal yang dapat lagi.” (Bagian teks yang ke-63. |Ya| anak berupa |lah| si Tupai Janjang.. Tupai Janjang?” (Bagian teks yang ke-67 di atas merupakan ucapan DB yang kaget karena melihat anaknya yang lahir seperti TJ. 68. |Yo| anak barupo |lah| si Tupai Janjang. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. “Anak lai. “Lah ampia ko kamahaa. Lalu teringat |a| masa di kebun. |a| lalu dicaliaklah anak nantun. Hal itu ditampilkan oleh pencerita dengan mata terbelalak) .” “Anak ada.” “Eaa……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks di atas untuk menggambarkan bahwa anak LB sudah lahir) . pinta berlakulah hanya ada. “Eaa……. ADEGAN III 66. |hai| sasa kudian indak baguno. |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. (Bait ke-68 didendangkan oleh pencerita sambil bergerak dengan memegang kain di tangannya seolah oleh mengambarkan bayi yang sedang digendong) . Tupai Janjang?” “Aaa…. 65. 63. 235 |Ha| kini nan sasa nan dapek lai. “Aduu…. 70.h sakiit aduu….” “Sudah hampir ini haa. Lalu bakato Datuak Bandaro. 67. sarupo tupai. “Aaa….ah…” “Aduu…. |hai| jikok diminta lah maso itu.(Bagian teks ke-62 merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegang perut dan pinggangnya) .. (Pencerita mendendangkan bait ke-70.h sakik aduu…. 240 Lalu berkata Datuak Bandaro.h sakiit aduu…ah…” (Pada bagian teks yang ke-64. |oi| tiba di lantai. serupa tupai. |hai| jika diminta sudah masa itu. lantai berlubang.

..71.! 250 usahlah malompek-lompek juo. boleh ke rimbalah kau kini. itu tukang salung lima menit. . anak sigiang-giang rimba41. lalu dibuanglah si Tupai Janjang. lalu dibuanglah si Tupai Janjang. “Nak kanduang si Tupai Janjang. itu tukang saluang limo minik . seperti suara seekor anak tupai.” (Dialog bait ke-74 adalah dialog DB kepada TJ yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang lantang sehingga menggambarkan DB sedang marah) .! janganlah melompat-lompat juga. usahlah malempek-lompek juo aa.” “Janganlah mengigit-mangigit juga Yuang39. ko memeh aa…ko meh haa. Sub-adegan ke-1 73. tabiaklah bangih Datuak Bandaro. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. usahlah melompat-lompat juga aa. “Usahlah mangigik-mangigik juo Yuang. “Ai……” “Ai……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks ke-71. Pencerita kemudian memasukkan selendangnya ke dalam bajunya seolah-olah seorang ibu yang mengeluarkan payudaranya dan menyusukan bayi.. 41 Ungkapan yang biasa diucapkan dalam kaba untuk menyatakan anak yang tidak mempunyai etika dan biasanya disampaikan dengan nada keras dan marah. Kemudian.. 39 40 Yuang adalah sebutan untuk anak laki-laki di Minangkabau Memeh adalah ucapan yang biasa dikatakan oleh ibu pada waktu akan menyusui bayinya. kini pergilah ini kini. parangai jaek |lah| maso itu. lah minum yo…. kini bakirolah ko kini. apo harato lah diambiaknyo. haus? Ndak berair? tidak berair. lah tumbuah diri batambah gadang. buliah ka rimbolah kau kini. (Pencerita mendendangkan bait ke-73 sambil bergerak dan terus memegang selendang. haus ya? yo menangis juga.yo. ya. ndak bisa ambuih saluang lai. Pencerita akhirnya memperagakan dengan minum) . 245 hauui yo? yoi manangih juo.” 265 “Nak kandung si Tupai Janjang. perangai nakal |lah| masa itu. Dari sahari |lah| maso itu. ini memeh40 aa… ini meh haa. 260 anak bincacak anak bincacau.? ini air ha.” (Dialog LB pada bait ke-72. dilakukan oleh pencerita seperti seorang ibu yang menyusukan bayinya. 74. sudah minum ya…. hauih? Ndak baraia? ndak baraia. 255 Dari sehari |lah| masa itu. 72.? ko aia ha. terbitlah bengis Datuak Bandaro. selendang itu dilempar seolah-olah DB membuang anaknya) . sudah tumbuh diri bertambah besar. waktu mengucapkan dialog baris terakhir bait di atas. anak bincacak anak bincacau. anak sigiang-giang rimbo. tidak bisa hembus salung lagi. apa harta sudah diambilnyo. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. Hal ini dilakukan pencerita dan menjadikan selendangnya sebagai properti untuk menggambarkan anak yang sedang digendongnya) .

|Oi| hari yang sedang pukul satu. (Pencerita mendendangkan bait ke-75 sampai dengan bait ke-77 dengan suara seperti orang yang sedang menangis dan kemudian meneguk air minum) . |oi| sadang babuntalah sibayang-bayang. 79. |oi| paningga anaklah nan bajalan. lah ka dibuanglah si Tupai Janjang. sana diambillah si Tupai Janjang. |oi| peninggal anaklah yang berjalan. 77. sudah kurus badanlah si Linduang Bulan. |ndeh| badan auih sambia manangih. |oi| baa curito |lah| tantang itu. sudah akan dibuanglah si Tupai Janjang. Ibid. |Oi| lalu dibawalah atas rumah.Sub-adegan ke-2 75. |ha| dua dengan diri si Mamak Hitam. kerongkongan basah nanti kita sambung. Lamolah lambek garan manangih. |oi| sedang berbuntalah si bayang. Alah diusialah si Tupai Janjang 76. lah kuruih badanlah si Linduang Bulan. |Oi| adok ka dirilah si Linduang Bulan. 280 |Oi| hadap ke dirilah si Tupai Janjang. 270 lalu diambiak |oi| aia lalu diminum. |oi| masuklah kebun |hai| Mandeh Rubiah. |Oi| hari nan sadang pukua satu. Lah nan didulang sadulang lai. Masuk ke kebunlah masa itu. |oi| masuaklah kabun |hai| Mandeh Rubiah.42 |a| si Tupai Janjang segitu dulu. |oi| bagaimana cerita |lah| tentang itu.|Oi| lalu dibaoklah ateh rumah. |oi| tapi dilarang oleh Mandeh Rubiah. |ha| diambiak garan |ha| di ateh rumah. lalu diambil |oi| air lalu diminum. Masuak ka kabunlah maso itu. |oi| tapi dilarang dek Mande Rubiah. Sub-adegan ke-3 78. |oi| badan nan bisa manangih juo. |ha| diambil gerangan |ha| di atas rumah. takana anak nan maso itu. dek rangkungan den |hai| batambah kariang. sudah masuk kebunlah ini orang kini. teringat anak yang masa itu. |ha| duo juo diri si Mamak Hitam. Istirahat lebih kurang 30 menit ADEGAN IV 82.bayang. sanan diambeklah si Tupai Janjang. Sudah diusirlah Si Tupai Janjang. |Oi|terhadap ke dirilah si Linduang Bulan. (Bait ke-78 sampai dengan bait ke-81 didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak mengikuti irama yang sama) . |oi| lalu dicaliaklah dek Mak Hitam. 275 lah masuak kabunlah ko urang kini. karena kerongkongan saya |hai| bertambah kering. Lamalah lambat gerangan menangis. 42 Sudah yang didulang sedulang lagi. 290 karongkongan basah biko kito sambuang. |oi| badan yang bisa menangis juga. |ndeh| badan haus sambil manangis. |a| si Tupai Janjang saitu dulu. . |oi| lalu dilihatlah oleh Mak Hitam. 80. |Oi| adok ka dirilah si Tupai Janjang. 285 81. babunta adalah sedang memendek bayang-bayang atau yang lazim disebut dengan tengah hari tepat.

sudah dibawalah si Tupai Janjang. |Oi| sanan takajuik Mandeh |lah| Rubiah. sudah |nan| berpekan43 sudah masa itu. rimah adalah nasi yang jatuh dan keluar dari piring pada saat makan. lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah. apalah jadi |lah| yang seperti itu. tibo di malam lah malam kini. tiap dibersih hari masa itu. nan didulang sadulang lai. baduo jo diri |lah| Mak Hitam. ibarat mengambarkan TJ dijaga dan tidur di rumah MR) . |oi| sanan takajuiklah Mandeh Rubiah. diberi makanlah si Tupai Janjang. |ha| dia yang tidurlah masa itu. . |oi| apokah garan |lah| si tupai nan ko. |oi| kenapa kok kebun sudah lacah45 kini. 315 dicaliak kabunlah maso itu. yang didulang sedulang lagi.|lah| nan pandulang ameh di Bangko. dilihat kebunlah masa itu. dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. |oi|apakah gerangan |lah| si tupai yang ini. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. 89. Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. 325 43 |Oi| habis sudah malam |hai| berganti siang. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. 320 44 45 Ibid. |Oi| abih lah malam |hai| baganti siang. 305 310 (Pencerita mendendangkan bait ke-82 sampai dengan bait ke-84 dengan berdiri dan gerakan yang sama. nan panyambuang nan tingga cako. makan jo rimahlah inyo namuah. pakan adalah sebutan untuk satu minggu yang dalam satu hari dalam satu minggu itu ada hari yang ramai untuk berjual-beli. 295 |lah| yang pandulang emas di Bangko. Habih pakan baganti pakan. Ibid. Lah nan sahari nan duo hari. Habis pakan baganti pakan. kinilah terang kebun ini kini. |ha| diberi makanlah makan rimah. |oi| sana terkejutlah Mandeh Rubiah. |Oi| sana terkejut Mandeh |lah| Rubiah. lacah adalah tanah lembek atau berlumpur. |ha| inyo nan laloklah maso itu. |Oi| kabun lah siang maso kini. Sudah yang sehari yang dua hari. lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. Lama hari berganti hari. batanyo-tanyolah Mandeh Rubiah. 83. |oi| makan buah dia yang tidak mau. tiok disiang hari maso itu. Ibid. |Oi| kebun sudah bersih masa kini. yang penyambung yang tinggal tadi. dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. |oi| lalu bapikia Mandeh Rubiah. |oi| makan buah inyo nan indak nio. Sub-adegan ke-1 86. Adok ka dirilah si Tupai Janjang. |ha| diagiah makanlah makan rimah. makan dengan rimahlah44 dia mau. 88. |oi| lalu berpikir Mandeh Rubiah. kinilah tarang kabun iko kini. kabun batambah rindang juo. Pada waktu mendendangkan baris ke-297. lah dibaolah si Tupai Janjang. bertanya-tanyalah Mandeh Rubiah. 87. diagiah makanlah si Tupai Janjang. berdua dengan diri |lah| Mak Hitam. lah |nan| bapakan lah maso itu. Lamo hari baganti hari . 300 84. pencerita mengambil kembali selendangnya. kebun bertambah rindang juga. |oi| baa kok kabun lah lancah kini. 85. apolah jadi |lah| nan bak kian. tiba di malam sudah malam kini.

Sub-adegan ke-2 90. |oi| apalah gerangan yang sudah terjadi. |Ha| kulit terbakar kulit Tupai Janjang. |ha| lalu diambillah kulit itu. |oi| seorang yang itu naik atas rumah. |ha| manjadi kayolah maso kini. kulit berubahlah setumpuk emas. 335 (Pencerita bergerak pada bait ke-90 sampai dengan bait ke-91 seperti gerakan yang sama. Sub-adegan ke-3 95. badan lah sananglah hanyo lai. |ha| kiranya kulitlah tidak ada. |ha| si Tupai Janjang naiak ka ateh rumah. Lalu dilihat si Tupai Janjang. |ha| dicaliak baliaklah si Tupai Janjang. 340 |Ha| harilah pagi sudah masa itu. |o| barang |nan| badanlah indak ado. yang dulu |nan| gerangan |lah| si Tupai Janjang. kira terkejutlah si Tupai Janjang. (Pada bait ke-86 sampai bait ke-89 pencerita mendendangkan bait tersebut dengan terus-menerus bergerak seperti gerakan tari Minang) . |Ha| lalu baimbaulah si Tupai Janjang. |oi| badan barubah manjadi urang. |Ha| diambil pula kulit itu kini. 93. |ha|si Tupai Janjang naik ke atas rumah. 94. |Ha| harilah pagi lah maso itu. kemudian pencerita memegang selendang di tangannya untuk mengambarkan kulit TJ yang sudah terkelupas) . badan sudah senanglah hanya kini. |ha| dia raba pulalah si Tupai Janjang. 350 kulik barubahlah satumpuak ameh. |Ha| diambiak pulo kulik tu kini. kiro takajuiklah si Tupai Janjang. lalu diambiak kulik Tupai Janjang. lalu diambil kulit Tupai Janjang. |hai| sehabis asap |lah| masa itu. 345 355 . |ha| dipanggang malah |lah| maso itu. 330 91. |Ha| dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. |Ha| lalu dipanggillah si Tupai Janjang. 96. |oi| apolah garan nan lah tajadi.duo juo diri |lah| Mak Hitam. |ha| nyo resek pulolah si Tupai Janjang. |Ha| dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. |hai| sahabih asok |lah| maso itu |hai| kulik barubah satumpuak ameh. dicaliak malah |lah| maso itu. |hai| kulit berubah setumpuk emas. |oi| Mandeh Rubiah sudah melarang. |oi| badan berubah menjadi orang. cukuik sabulanlah maso itu. |oi| Mandeh Rubiah lah managahkan. 92. dua juga diri |lah| Mak Hitam. |oi| lamalah lambat |hai| berganti sana. |Oi| kulit yang habis sudah masa itu. Lalu dicaliak si Tupai Janjang lah duduak diimbau di maso itu. |ha| lalu diambillah kulit nantun. |o| barang |nan| badanlah tidak ada. |ha| dilihat kulitlah tidak ada. |ha| dilihat kembalilah si Tupai Janjang. |ha| dicaliak kuliklah indak ado . dilihat malah |lah| masa itu. sudah duduk dipanggil di masa itu. |ha| kironyo kuliklah ndaknyo ado. |oi| lamolah lambek |hai| baganti sanan. |oi| surang nantun naiak ateh rumah. |Ha| kulik tapanggang kulik Tupai Janjang. |ha| menjadi kayalah masa kini. cukup sebulanlah masa itu. |ha| dibakar malah |lah| masa itu.|Oi| kulik nan abih alah maso itu. nan dulu |nan| garan |lah| si Tupai Janjang.

|a| ini |ko| orang tua saya benar. |Oi| adok ka diri |lah| si Tupai Janjang. 360 Hari berubahlah hari pula. nak kanduang janyo denai. 365 (Bait ke-98 dan bait ke-99 didendangkan oleh pencerita dengan suara tersedu sedan seperti orang sedang sedih) . 375 (Pencerita mendendangkan bait ke-101 dan bait ke-102 dengan gerakan dan irama yang sama. basamo-samolah nangko kini. Teringat pulalah si mandeh kandung.” “Ampun kandung kata saya. badan bertambahlah kurus jua. terbit pikiran |lah| si Tupai Janjang. 100 “Ampun kanduang janyo denai. sanan takajuik lah Datuak Bandaro. 97. (Pencerita mendendangkan bait ke-97 dengan duduk sambil memegang kepalanya untuk menggambarkan rasa sedih karena teringat sama orang tuanya) . sana terkejutlah Datuak Bandaro. sudah sadih gerangan |lah| si Tupai Janjang. pencerita melemparkan selendangnya kembali) .Lamolah lambek |lah| maso itu. Waktu mendendangkan kulit TJ sudah berubah menjadi emas (larik 350) . Datuk Bandaro dengan Linduang Bulan. berilah saya kata pasti.Lalu disuruah tinggalah maso itu. anak kandung kata saya. Takana pulolah si mandeh kanduang. Datuak Bandaro jo Linduang Bulan. . 370 Lamalah lambat |lah| masa itu. sedang berputar bayang-bayang. |ha| meminta uang |lah| masa itu.|Oi| harilah sadang pukua satu. 99. Hal ini didendangkan dengan cara berdiri) Penutup 103. |a| iko |ko| urang tuo ambo bana. |ha| maminta piti |lah| maso itu.” (Bagian dari teks di atas adalah dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan sedu sedan) Sub-adegan ke-1 101. ADEGAN V 98.(Pencerita mendendangkan bait ke-92 sampai dengan bait ke-96 dengan gerakan yang sama sambil berdiri. dengan mandeh kandung Mandeh Rubiah. pergi berobat |lah| gerangan kini. badan batambahlah kuruih juo. |Oi| harilah sedang pukul satu. Hari barubahlah hari pulo. sadang bapunta bayang-bayang. 102. |Oi| hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang. Lalu disuruh tinggalah masa itu. ada masa itu badanlah senang. dua dengan dirilah Imak Hitam. agiahlah denai kato pasti. tabik pangana |lah| si Tupai Janjang. duo jo dirilah Imak Hitam. ado maso itu badanlah sanang. lah sadiah garan |lah| si Tupai Janjang. pai barubek |lah | garan kini. bersama-samalah masa kini. jo mandeh kanduang Mandeh Rubiah.

penonton. lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan. Untuk menghasilkan hal itu. Jika dicermati kedua teks memperlihatkan adanya bagian yang diulang. |oio. 2. . lain wakatu nak kan kito ulang. Pada waktu ini. yaitu mengingat frasa-frasa dan menciptakan analogi dengan frasa yang telah ada. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. lain waktu hendak akan kita ulang. frasa. lain waktu hendak akan kita ulang Tuan. baik dalam bentuk kata-kata. |ouuii….. Formula muncul berkali-kali dalam cerita. |oio. pencerita dapat menyesuaikan cerita dengan situasi pertunjukan. bagian yang berformula ditandai dengan garis bawah di kata yang berformula tersebut. Dengan cara ini. seperti keadaan tempat. frasa.lai….| (Di bagian penutup ini iramanya berubah dari irama semua teks yang telah dibacakan terdahulu. Antara satu bait dan bait berikutnya juga terjadi pengulangan. klausa.| 380 Tupai Janjang segitu dulu. dan waktu pertunjukan. pencerita hanya duduk dengan mendendangkan bait ke-103.Tupai Janjang sagitu dulu. maupun klausa. Hal itu dilakukan dengan menundukkan dan memegang kepalanya) . atau larik (Lord. carito habih ndak kito ulang Tuan. Bentuk yang memperlihatkan perulangan dengan sistem formula disebut ekspresi formulaik. 1987:68). Pantun memakai unsur yang berulang.| . Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang Formula adalah sekelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan ide yang esensial. Dalam analisis ini. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim (Sweeney. Formulaik yang pertama dilihat pada analisis ini adalah bagian teks yang berbentuk pantun. Ekspresi formulaik juga dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama. yakni pada bagian awal cerita. |ouuii……. mungkin berupa kata. 1981:30—43).|.. cerita habis hendak kita ulang Tuan.lai…. Pencerita dapat merangkai suatu cerita dalam waktu relatif pendek dengan cara membentuk kalimat yang berformula.. Formulaik pada pantun berikut ini ditemui pada kedua teks. baik dalam satu larik maupun dalam satu bait.

tak kalo alun baralun. bumi yang belum |hai lah| baralun. (Tak kalo masa dahulunya. urang duto kami tak sato. Dalam pantun tersebut. Pantun di atas terletak di awal cerita karena berfungsi sebagai pembukaan. tak kalo alun baralun. kaba |lah| urang kami kabakan. (13-16) banda nak urang |lah| di Gumarang. (Bandalah orang |hai|hamba bandakan. kaba |lah| urang lai kami kabakan. Banda urang kami bandakan. banda anak orang |lah| di Gumarang. Pengulangan itu terjadi. (6-9) TEKS II 3. adalah orang masa itu. turunan puti sudut-bersudut). iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. urang duto kami tak nio. tasabuik garan Datuak Bandaro.(912) bandalah |hai| urang si Koto Tuo. Tak kalo maso dahulunyo. di yang dekat jolong tersongoh. (Di yang tinggi tampak jauah. kaba orang kami kabakan. nan tasabuik-sabuik. Banda anak orang Koto Tuo. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formula yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. |Oi| adolah pado suatu maso. (Banda |lah| orang kami bandakan.Bandalah urang |hai|ambo bandakan. (17-21) bumi nan alun |hai lah| baralun. kaba |lah| urang kami kabakan. |hai| bumi nan antah barantah. ta Puti suduik-basuduik. (16-20) 5. turunan rajo turun beraja. ta Rajo turun ba rajo. berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulan). orang dusta kami tak mau). terlihat adanya kata yang diulang pada larik lanjutan pantun itu. Pada teks II. kaba urang kami kabakan. kaba |lah| urang lai kami kabakan. larik itu diulang dengan mengubah kata kami dengan kata ambo (hamba) dan menambahkan ungkapan . (Banda orang kami bandakan. bandalah |hai| urang si Koto Tuo.Banda |lah| urang kami bandakan. yang tersebut-sebut). Formula itu adalah Bandalah urang kami bandakan (Bandarlah orang kami bandarkan) yang ditemui pada kedua teks. |hai| bumi yang antah barantah. baik pada bait yang sama maupun pada bait yang berbeda.TABEL XII Formula di Bagian Pembukaan Cerita TEKS I 2. di nan dakek jolong tasongoh. 4. iyolah garangan |lah| si Tupai Janjang). 4. (14-16) 5. orang dusta kami tak mau). (|Oi| adalah pada suatu masa. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. Di nan tinggi tampak jauah. Banda nak urang Koto Tuo. adolah urang maso itu. tersebut garangan Datuak Bandaro.

lah tibo sakik baranak. misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. TEKS II Formula untuk Pergerakan Waktu 36. Selain itu. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2. Sudah yang sepakan |oi lah| yang sebulan Sudah yang dua bulan garangan mengadung Jalan berubahlah yang maengkang) 37. ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu atau dua kata. (Sudah sebulan dua bulan. (184-185) ambia sampai ganok bilangan. satu bulan. Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. Ada formulaik tertentu yang digunakan untuk menyatakan perubahan dan pergerakan waktu dalam cerita. (218-220) (Sudah hampirnya genap bilangan bulan sudah hampirnya sembilan bulan. TABEL XIII Formula untuk Pergerakan Waktu TEKS I Formula untuk Pergerakan Waktu 38.penyeling hai. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik.Dari sahari |oi| garan manganduang. Kata itu adalah kaba dan bandalah urang (bandarlah orang) ditemui pada bait ke-3 dan ke-4. pencerita tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. lah tiba sakik beranak). Lah nan sahari nan duo hari (301) Lah nan bapakan lah maso itu (302) (Sudah yang sehari yang dua hari Sudah yang berpakan sudah masa itu) .Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (180) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (181) (Sudah delapan bulan |oi| garangan mengandung Sudah yang sembilan bulannya mengandung) 84. (162-166) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan Lah nan duo bulan garan mangaduang Jalan barubah |lah nan| maengkang (Dari sahari |oi| garangan mengandung. Lah hampianyo ganok bilangan bulan lah hampienyo sambilan bulan. Perbedaan terjadi dengan penambahan kata untuk kepentingan irama dalam menyanyikan cerita.Lah bulan lah limo bulan garan manganduang Lah lapan bulan paruik tambah gadang (165-166) (Sudah tiga bulan limo bulan garan manganduang Sudah delapan bulan perut tambah besar ) 40. Perubahan waktu itu ditulis dengan cara ditebalkan. Untuk menyatakan waktu satu hari. 34. atau dua bulan. Lah sabulan duo bulan. hampir sampai genap bilangan).

Dengan pola formula sebagai dasar. Ada kata-kata yang selalu digunakan untuk menyatakan perubahan waktu. yaitu lah nan …. Untuk perpindahan tokoh yang diceritakan. seperti contoh di bawah ini. untuk perubahan tokoh yang diceritakan. Persamaan yang terlihat adalah pemakainan kata lah. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada.Telah dikemukan di depan bahwa ekspresi formulaik adalah larik atau paroh larik yang disusun sesuai dengan pola formula. Sesudah pemakaian kata yang berformula. Dalam teks TJ ditemukan adanya ekspresi formulaik. Bentuk formula itu seperti terlihat pada tabel berikut. Lah nan sahari |haa nan| duo hari Lah nan tigo malam maso itu (Sudah yang sahari |haa nan| dua hari Sudah yang tiga malam masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan pergerakan dan perubahan tokoh yang diceritakan. . misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana sudah berkata Datuak Bandaro). pencerita dapat menyusun larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. Kata lah. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sehingga terlihat paralelisme satu larik dengan larik yang lainnya. dilanjutkan dengan keterangan atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh. pencerita juga memanfaatkan cara yang sama. Perbedaan yang tampak adalah dengan adanya penambahan unsur verbal demi kepentingan irama. merupakan kependekkan dari alah (sudah). seperti yang telah dinyatakan di atas. Titik-titik setelah kata lah nan diisi sesuai dengan waktu yang dikehendaki dalam cerita.

Formula dengan pola sintaksis yang sama II.Formula dengan pola sintaksis yang sama Lah balari si Dukun Pandai (257) |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (39) (Sudah berlari si Dukun Pandai) (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Lah bajalan Datuak Bandaro (93) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (20) (Sudah berjalan Datuak Bandaro) (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lah bajalan si Linduang Bulan (109) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (102) (Sudah berjalan si Linduang Bulan) (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (448) Lalu bakato Datuak Bandaro (240) (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lah pulangnyo maso nantun. . (537) Lalu dicaliak si Tupai Janjang (328) (Sudah tiba dia di tengah rumah) (Lalu dilihat si Tupai Janjang) Lah dibao si Tupai Janjang (571) |ha| lalu diambiak lah kulik nantu (346) (Sudah dibawa si Tupai Janjang) (|ha| lalu diambial lah kulit itu) Untuk lebih memperjelasnya.TABEL XIV Formula untuk Perubahan Tokoh TEKS I I. Formula untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Pihak kapado karo banyak (Pihak kepada karo banyak) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro Kononlah Linduang Bulan (Kononlah Linduang Bulan) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (1 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) (1 kali) TEKS II I. hal itu terlihat seperti tampilan pada bagan berikut ini. Formula untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (22) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (29) (|Oi| hadaplah diri dua itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (24) (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (296) (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan (267) (|Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan) II. Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (259) (Sudah pulang dia masa itu) (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang) Lah tibonyo di tangah rumah.

dan hadap ke). dan kini . Larik yang paralel dengan memperlihatkan pola sintaksis yang sama (pada teks I) juga dipakai untuk menyatakan pernyataan ajakan terhadap lawan bicara. dan adok ka (|oi| hadaplah. Penghilangan kata urang menjadi rang karena pengaruh dari pemakaian bahasa sehari-hari. memakai kata |oi| adok lah. menunjukkan bahwa adanya unsur yang berformulaik dengan memperlihatkan adanya huruf yang hilang yakni pada kata urang (orang). kini baitulah dek Tuan (kini begitulah oleh Tuan)(larik ke-55) dan kini baitulah dek Adiak (kini begitulah oleh Adik)(larik ke-67). Pencerita pada teks I. |oi| madok lah.Datuak Bandaro Urang Padusi Dukun Pandai PIHAK KAPADO Puti Linduang Bulan Tupai Janjang Mak Hitam Rang punyo ladang Mandeh Rubiah Kata yang dipakai untuk menyatakan perubahan tokoh pada kedua pencerita juga berbeda. mengunakan kata pihak kapado (pihak kepada) dan pihak di diri (pihak di diri). sedangkan pencerita pada teks II. Larik itu adalah. |oi| menghadaplah. seperti yang juga telah disebutkan pada bab II di atas. Hasil analisis pada teks I. Larik itu adalah kononlah kasiah rang ditompangkan (kononlah kasih rang ditompangkan) dan kononlah kasiah urang tompangkan (kononlah kasih orang tompangkan) (bait 12 larik 78 dan 84). Pemakaian bahasa Minangkabau sehari-hari lazim dipendekkan. kini baitulah Linduang Bulan (kini begitulah Linduang Bulan)(larik 294). Kata yang ditukar ditemukan pada bagian akhirnya untuk menyesuaikannya lawan bicaranya.

sedangkan pada teks II (bait ke-66). tanah berlubang. Kok bajalan paliharolah kaki. tidak ada. telah lahir. Ado jalan nan mandaki. 714. tetapi memperlihatkan variasi. Variasi kedua. |oi | lalu di caliaklah anak nantun. Teks II 66. Pemakaian kalimat paralel juga ditemui untuk menyatakan anak Linduang Bulan. hanya 2 larik. 698. |oi | tiba di tanah. (Yang sudah ini lahirlah anak si Tupai Janjang. 709. (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. ada jalan yang melereng) (bait ke-677 sampai dengan bait ke-680). lantai lah patah. ada jalan yang menurun. lantai sudah patah. Pada kedua teks. |oi| tiba di lantai. Hal itu terlihat seperti tabel di bawah ini. tanah lambang). Dan pola yang sama juga digunakan pada larik kini baitulah nan elok (kini begitulah yang elok) (larik ke-315). terlihat pada teks I (bait ke-44). . kalau berkata peliharalah lidah) (larik ke-651 dan 652).baitulah dek Mak Itam (kini begitulah oleh Mak Itam)(larik 435). |oi | lalu dilihatlah anak itu). tibo di rusuak. tibo di lantai. Pada bagian bait selanjutnya.683. dan 724. ado jalan nan mandata. rusuk terban) pada teks II. adanya larik yang sama dan paralel. Nan lah ko lahialah anak si Tupai Janjang. rusuak taban. larik yang sama diulangi untuk menjelaskan pemakaian jenis kato-kato (kata-kata) tersebut. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. misalnya pada larik ke. terdapat 3 larik yang mempunyai paralel. rusuk terban. lantai berlubang. ado jalan nan manurun. adanya unsur verbal pada teks II. Pemakaian pola yang sama banyak ditemui pada teks I. ada jalan yang mendatar. TABEL XV Kalimat yang Paralel Teks I 44. lantai balubang. tanah lambang. tiba di rusuk. ado jalan nan malereng (Ada jalan yang mendaki. kok bakato paliharolah lidah (Kalau berjalan peliharalah kaki. Contoh terlihat pada larik-larik ini. rusuak taban (tiba di rusuk. tibo di tanah. |oi| tibo di lantai. tiba di tanah. tiba di lantai. tanah balubang. Larik tibo di rusuak. |oi | tibo di tanah. Variasi pertama. Hal ini digunakan untuk memberikan nasihat kepada tokoh yang ada dalam cerita ini.

pencerita menambahkan dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sesudah menyebutkan nama tokoh yang dituju. kata sambung ditemukan pada awal parangraf sehingga membuat cerita bergerak. sekarang ini minum Datuak Bandaro. waktu tiba dia di situ. ha. dalam pirangkoknyo kaluah kasah. oi.Kata sambung memainkan peranan yang besar dan merupakan pola-pola umum untuk memulai baris (Lord. Cara yang dilakukan oleh pencerita mengakibatkan cerita bersifat kronologis dan membuat cerita bergerak ke depan. (TI. Pada teks II (bait ke-24). nan. . a. diambiak aia |oi| lalu di minum. pencerita memilih kata lalu. adalah ai. perangkap bingkas hanya ada. yo. nan. pihak. Kedua teks pada awal bait. kata itu terutama digunakan pada teks II dari pada teks I karena langsung diambil pada saat mendendangkan. diikuti dengan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dengan mencantumkannya kembali kegiatan tokoh tersebut pada larik selanjutnya. dominan memakai kata lah. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua. ndeh. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu. hai. |oi| lalu diambillah air yang itu. bertujuan untuk menerangkan keadaan tokoh atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. pancuci muko |lah| si Linduang Bulan. Sesudah itu. nyo mandencek ke dalam jaguang mudo. (|oi| lalu diambil yang air sumur. Penempatan kata itu di awal bait. Lalu mandencek Tupai Janjang. nan takajuik si Tupai Janjang. yang ditempatkan di awal larik. dalam perangkap dia keluh kesah). Oleh karena itu. 1981:41). dan sinan. Pemakaian kata itu dilakukan jika kalimat kurang dari empat kata dalam satu larik. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. lah. lalu. pencuci muka |lah| si Linduang Bulan. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu). pemakaian ungkapan penyeling cukup banyak digunakan pada kedua teks karena berfungsi juga untuk kepentingan irama. yang terkejut si Tupai Janjang. |oi| habih dicuci muka Linduang Bulan. Ungkapan penyeling pada teks II. pirangkok bingkeh hanyo lai. Di dalam teks ini. satu tibonyo di situ. dan hai nan. Kemudian. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. kini ko minum Datuak Bandaro. diambil air |oi| lalu di minum. Bait itu adalah. dia melompat ke dalam jagung muda. Selain kata di atas. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut. 76) (Lalu melompat Tupai Janjang. kok.

297) Kito + } + { baiak-baiak } Pangganti + barang harato + urang {nan} + { pacah} + {ang} abihkan + { maso} + { itu } kain putiah kain sirah (TI larik ke-499) (TI larik ke-400) (TI larik ke-618) (TI larik ke-631) (TI larik ke-624) {nyo} inyo nan ||ha| + { baunduang-unduang } baunduang + caliak {dicaliak } + {baliak } |lah| malah |lah| { kulik } lah + {si Tupai Janjang } (TII larik ke-330) (TII larik ke-332) indak + ado maso itu (TII larik ke-338) (TII larik ke-343) . Untuk lebih jelasnya.Pencerita menyusun baris-baris dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya.346) (T I larik ke-347) (T I larik ke-289) (T I larik ke-290. 83) (T I larik ke-254) (T II larik ke-232) (TI larik ke-255 ) (TII larik ke-233) {Oi} Tibo + + {hai} + lantai rusuak tanah + patah balubang taban balubang + { dagiang } kanduang { kito } (T I larik ke-285. Pencerita mempunyai pola-pola yang dijadikan pedoman dalam menciptakan baris dengan cepat pada saat penceritaan sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. Dengan demikian. hal itu dapat dilihat pada bagan berikut. baris-baris memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} + padi + kasiah di lantai di rusuak di tanah Inyo { kan } + { darah anak anak { paliharo } { u } rang + basalang (T I larik ke-72) (T I larik ke-78.

Pada bagian pembukaan kaba. Pencerita akan menggunakan cadangan formula itu. untuk menggambarkan ide yang sifatnya umum. Pada teks II (bait ke-2). Formula itu umumnya ditemukan dalam pertunjukan kaba. Di samping itu. Pada bagian di atas juga telah dijelaskan hal ini. Demikian dikenalnya formula tersebut oleh masyarakat Minangkabau. sudah terkait di akar bahar. Cerita Minangkabau baik dalam bentuk tertulis—misalnya kaba—maupun yang dipertunjukan. Pencerita dari komunitas yang sama mengetahui formula itu. tibo di langik tabarito. selalu memakai formula yang sama. Kaik bakaik rotan sago lah takaik di aka baha. Cadangan formula yang bersifat umum itu. Sementara itu pada teks I. terletak pada bait ke1 sampai dengan bait ke-3. Adapun pantun yang lazim dipakai pada pembukaan kaba adalah seperti berikut. (Kait berkait rotan saga. juga memperlihatkan hal tersebut. tetapi formula yang digunakan sama. Pada awal teks II (bait ke-1 – bait ke-4). tiba di bumi jadi kabar) Pada bagian awal kedua teks TJ ini. tibo di bumi jadi kaba. Di dalam tradisi lisan Minangkabau. formula di atas didendangkan dengan tambahan pada ungkapan penyeling . walaupun kabanya berbeda. bahkan juga masyarakat tersebut. pembukaan berisi permohonan maaf dan menyebutkan kaba yang diceritakan. memberikan homogenitas kepada pencerita-pencerita tradisional yang juga sudah dikenal oleh masyarakat (Lord. biasanya berisi permohonan izin untuk menampilkan pertunjukan kaba kepada semua penonton. walaupun tidak diucapkan secara keseluruhan. Pembukaan ini disampaikan dalam bentuk pantun. tiba di langit terberita.Formula juga ada yang bersifat umum dan dapat dikatakan bahwa semua pencerita lisan mengenal formula tersebut. pada bagian awal kaba tersebut juga disebutkan nama grup yang menampilkan pertunjukan serta cerita yang akan disampaikan. masyarakat sudah mengerti maksudnya. ada juga formula yang sifatnya sudah umum dan bahkan sudah dikenal oleh masyarakat Minangkabau. 1981:50).

Teks II 1. bandalah |hai| urang Koto Tuo. maaf dengan rila yang kami pinta |ai| segala kami yang muda). kaba |lah| orang kami kabakan. jatuah ka bumi manjadi kaba. (Bandarlah orang |hai| kami bandarkan. Di dalam sastra Melayu tradisional. Manolah niniak |lah nan| jo mamak. Penggunaan formula itu juga ditemukan dalam cerita TJ berikut. (Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. Ampun baribu kali ampun. tetapi memperlihatkan fleksibelitas yang tinggi. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan Pendekatan komposisi skematik yang disampaikan oleh Sweeney pada dasarnya masih bertolak dari teori Lord tentang formula. Banda urang kami bandakan. serta sanak |lah| dengan saudara. Namun. (Ampun beribu kali ampun. khabar orang kami khabarkan. 3. orang dusta kami tak mau). |ai| sagalo kami nan mudo. konsep yang dikemukakan oleh Lord tidak semuanya cocok untuk diterapkan pada sastra lisan Melayu yang memiliki keunikan tersendiri. karena sastra Melayu tradisional merupakan sastra . maaf diminta banyak-banyak. tabang ka langik |lah| tabarito. Teks I 1. Sastra lisan Melayu tradisional tidak memiliki persyaratan baris-baris formula yang kaku seperti sastra Yugoslavia. Di depan telah dicontohkan bahwa formula yang juga lazim digunakan pada bagian pembukaan dalam tradisi sastra Minangkabau disampaikan dalam bentuk pantun. |hai| nan lah takaik |nan| di aka baha. urang duto kami tak nio. 2. banda nak urang Koto Tuo. bandar anak orang Koto Tuo. sapuluah jari kami susun. maaf diminta banyak-banyak. orang dusta kami tak mau). kaba |lah| urang kami kabakan. bandarlah |hai| orang Koto Tuo. kami mambukak kaba lamo.Kaik |lah| bakaik |lah| rotan sago. (Bandar orang kami bandarkan. |hai| yang sudah terkait |nan| di akar baha. urang duto kami tak nio. kaba urang kami kabakan. 3. ampunlah kami ninik mamak. Bandalah urang |hai| kami bandakan. pencerita dipengaruhi oleh pertunjukan. maaf jo rila nan kami pinta. (Kaik |lah| berkait |lah| rotan sago. ampunlah kami niniak mamak. jatuh ke bumi menjadi kaba). terbang ke langit |lah| terberita. Rumusan berformula dalam sastra Melayu tradisional juga lebih bervariasi. Kami membuka kaba lama). sepuluh jari kami susun. sarato sanak |lah| jo sudaro.

Jadi. Cerita dilantunkan yang setiap ucapannya digerakkan dengan frasa melodi atau irama nyanyian. tetapi dengan mencocokkan lirik-lirik yang ada dengan melodi. dilahirkan dengan mempertimbangkan adanya umpan balik antara pencerita dan penonton (Sweeney. 1987:17). Pencerita tinggal menyesuaikan tipe persediaan atau skematik yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengungkapkan ide dalam cerita tersebut (Sweeney. Komposer dalam tradisi lisan Melayu menggunakan rumusan dan pola-pola untuk membangun plot dalam cerita. Hal itu yang dinamakan komposisi skematis. Sesuatu disampaikan bukan dari kesan visual. 1980:39). Oleh karena itu. Pencerita menggunakan rumusan-rumusan atau pola-pola tertentu untuk menciptakan plot dalam setiap pertunjukan. atau menekan melodi supaya sesuai dengan kata-kata. Hal ini membentuk re-kreasi cerita selama pertunjukan dan mengkoordinasikan kata-kata dengan melodi sehingga membentuk pola-pola terformulasi yang bersifat fleksibel. melainkan juga untuk penonton dalam memahami cerita sehingga penonton tidak mengalami kebingungan (Sweeney. Dalam mengkoordinasikan kata-kata dengan irama. Komposisi skematik mempunyai cara yang spesifik dengan menerapkan metode tertentu dalam larik untuk mengungkapkan ide. Komposisi skematik bukan saja berguna untuk pencerita. Pencerita tidak belajar dari menghafal baris-baris. Hal ini jauh berbeda dengan sastra Barat yang lebih individual. formula dalam hal ini digunakan untuk mengungkapkan ide dalam cerita supaya pencerita dapat dengan cepat memformulasikannya. . pencerita pada saat pertunjukan sering menggunakan ungkapan penyeling untuk menyelaraskan dengan melodi. melainkan berdasarkan pada ide atau konsep. memperpendek.yang merupakan aktivitas komunal. Komposisi dalam sastra lisan Melayu. pencerita bisa memperpanjang. Pencerita memiliki persediaan yang diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan untuk menggambarkan objek. 1980:24).

Ada yang bersembunyi di bawah kedai. |oi| tibo di lantai lantai balubang. Skemata itu juga ditemui dalam kaba Minangkabau yang lainnya. tiba di lantai lantai sudah patah. terjadi perubahan skemata itu. deskripsi orang sedang melarikan diri dari huru-hara dinyatakan sebagai berikut. Skemata ini biasanya digunakan untuk menyatakan seorang bayi lahir yang mempunyai keistimewaan (keajaiban) seperti yang juga ditemui pada waktu lahirnya Tupai Janjang. Nan lah ko lahialah si Tupai Janjang.Penyanyi memiliki frasa melodi dalam pikirannya yang bersifat netral untuk menyatakan ide dalam cerita sehingga sastra lisan memperlihatkan paralelisme atau kesejajaran antara suatu larik dengan larik lainnya. Oleh karena itu. Komposisi skematik merupakan skemata digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Teks I. Namun. |oi| tiba di lantai lantai berlobang. Misalnya. arti dari bait itu tetap mengandung pengertian yang sama. Ada yang naik pagar tiada sempat lari lalu jatuh (Sweeney. |a| lalu dilihatlah anak yang itu). Ada yang lari naik kedai. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel. Misalnya. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. Pada teks II bait ke-66. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. 44 (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. tibo di lantai lantai lah patah. |a| lalu dicaliaklah anak nantun. Hal ini dinyatakan dengan menggunakan skemata berikut. |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. tibo di rusuak rusuak taban. Skemata dan perubahannya dapat dilihat sebagai berikut. 1980:17). tibo di tanah tanah lambang. seperti yang juga telah diberikan di depan. tiba di tanah tanah lambang). . Kalimatkalimat yang paralel ini berfungsi untuk mempermudah saat pertunjukan karena cerita terikat pada irama. paralelisme juga berguna untuk kepentingan irama. Ada yang membelah pagar tiada sempat masuk kampung. tetapi masih ada kata yang sama pada larik di bawah ini. untuk menyatakan Tupai Janjang sudah lahir pada kedua teks memakai skemata yang hampir sama. (Yang sudah ini lahir si Tupai Janjang. Skemata diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. tiba di rusuk rusuak terban. di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita.

Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang. Nan lah bajalan Datuak Bandaro. (T II. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung. Nan bakato Linduang Bulan. Penempatan waktu itu sesuai dengan waktu yang dikehendaki cerita. Pada kedua cerita Tupai Janjang. lah terletak sesudah nan atau sebaliknya. melainkan berfungsi untuk menerangkan kata alah (sudah) yang dipendekkan menjadi lah. Sudah yang sepekan |oi| yang sebulan. Posisi lah di sini bukan sebagai ungkapan penyeling. komposisi skematik itu seperti berikut. Kadang-kadang. Yang berkata Linduang Bulan. Yang sudah tiga malam masa itu kini). (T II. Sudah yang dua bulan gerangan mengandung. seperti waktu satu hari. dalam cerita juga memakai skematik. Lah nan duo bulan garan manganduang. Dari sahari |oi| garan manganduang.36 dan 37) Dalam hal ini. Nan manjawek Datuak Bandaro. Pergerakan cerita juga terlihat dari penggambaran kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita dengan formulasi seperti di bawah ini. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung. Lah nan sapakan |oi| nan sabulan. Sudah delapan bulan perut bertambah besar). dan lain-lain.29 ) (Sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. variasi hanya terdapat pada perubahan letak ungkapan penyeling. satu bulan.Pergerakan waktu. Lah salapan bulan paruik batambah gadang . nan yang terletak di depan kemudian diikuti oleh ungkapan penyeling lah. Kalimat ini memperlihatkan kesejajaran dan kesetaraan satu kalimat dengan kalimat lainnya dan memberikan kontribusi cerita bergerak ke depan. (T I larik ke-475) (T I larik ke-70) (T I larik ke-57 ) (T I larik ke-383) . Nan lah tigo malam maso tu kini. Penyanyi memasukkan yang diinginkan ke dalam stereotipe yang sudah ada dalam pikirannya. satu tahun. Lah nan sahari |haa| lah duo hari. (Yang sudah datang Mandeh Rubiah. ( Slot untuk kata kerja/ kata sifat) + lah – (slot untuk subjek {+ lah } Nan lah datang Mandeh Rubiah. Yang menjawab Datuak Bandaro.

|Oi| adok ka diri Datuak Bandaro. (T II larik ke-22) |Oi| adoklah kadiri duo nantun.diambiak buku takwil mimpi. kegiatan. Pihak kapada Datuak Bandaro. Paneh lah hati Datuak Bandaro.lah bajalan maso itu. Pihak kapada Datuak Bandaro.sudah berjalan masa itu). akan dilanjutkan dengan penjelasan tentang keadaan atau kondisi tokoh yang disebutkan di awal paragraf. Komposisi skematik juga lazim digunakan untuk pertukaran tokoh yang diceritakan dengan menyebutkan nama tokoh terlebih dahulu dan kemudian diikuti dengan keterangan. Pihak kapado Datuak Bandaro. Lalu ko sadiah lah si Linduang Bulan. Gembira hati si Tupai Janjang). Gembira hati si Linduang Bulan. Gadang hati si Tupai Janjang.dicari nan masam-masam . dan sifat dari tokoh tersebut dengan komposisi seperti berikut. (Pihak kapada Datuak Bandaro. (Panas sudah hati Datuak Bandaro. Bersedih-sedih sudah si Linduang Bulan. Basadiah-sadiah lah si Linduang Bulan.lah sapuluah tahun barumah tanggo.dicari yang masam-masam. larik-larik yang terdapat sesudah larik awal. berfungsi untuk menerangkan keadaan atau kondisi dari tokoh sesuai yang tuntutan cerita yang disampaikan.ada larangan dengan pantangnya. (T I larik ke-132) (TII larik ke-98) (TII larik ke-176) (T I larik ke-182) (T I larik ke-409) Slop di atas. Lalu sedih sudah si Linduang Bulan. Pihak kapado urang padusi .Yang sudah berjalan Datuak Bandaro).diambil buku takwil mimpi.|oi| orang yang besar |lah| masa itu |Oi| hadaplah kediri dua yang itu.|oi| urang nan gadang |lah| maso itu. Jadi. (Slot untuk subjek) . Pihak kapada orang parempuan. Pihak kapado Datuak Bandaro.ado larangan jo pantangnyo.sudah sepuluh tahun berumah tangga). Gadang hati si Linduang Bulan.(slot untuk kata sifat/ kata kerja) Pihak kapado Datuak Bandaro. (T II larik ke-29) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. (T I larik ke-167) (T I larik ke-188) (T I larik ke-214) (T I larik ke-231) .

lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. sudah dibawalah si Tupai Janjang. Adok ka dirilah si Tupai Janjang. Datuak Bandaro. (Kononlah Puti Linduang Bulan. Linduang Bulan. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. (T I. dan pengurangan frasa dan baris demi baris untuk keterangan atau kegiatan yang lebih lanjut dari tokoh tersebut. (T II. sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. Untuk menerangkan kondisi seorang tokoh perempuan yang cantik biasanya digunakan skematik. alu tataruang patah tigo. Sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah). alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. dan Mak Itam. Nama tokoh yang diceritakan diletakkan di awal kalimat atau awal paragraf. tidak semuanya memakai skematik di atas. samuik tapijak indak mati. penambahan. semut terinjak tidak mati. nan ka suok lenggang manganai. Sesudah menyebutkan nama tokoh.82) (Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. 15) yang ke riri lenggang membunuh). seperti yang lazim digunakan dalam kaba. tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambutnya yang panjang terurai. alu tertarung patah tiga. nan ka kida lenggang mambunuah. lah dibaolah si Tupai Janjang. Mandeh Rubiah. lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. Pada teks I.Cerita Tupai Janjang menghadirkan lima orang tokoh yakni Tupai Janjang. yang berjalan siganjua lalai. diikuti dengan perulangan. menerangkan tokoh Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I. Kononlah Puti Linduang Bulan. nan bajalan sigajua lalai. tetapi hanya mengambil sebagian anak kalimat dari skematik tersebut. yang ke kanan lenggang mengena. . Pada teks II. Pertukaran tokoh yang diceritakan juga memakai skematik.

kito paliharo baiak-baiak”. dia kan darah daging kita.( T I larik ke-281− 290). kini bakiroklah ko kini. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. Nama tokoh biasanya terletak pada awal paragraf. Jika tidak terletak di awal paragraf. urang nan elok |lah| maso itu. Tokoh yang berbicara diletakkan di awal paragraf. Seorang tokoh yang berbicara juga mempergunakan skematik. “oi tuan Datuak Bandaro. inyo darah dagiang kito. anak bincacak anak bincancau. . anak bincacak anak bincacau. biapun sakareknyo baluik. biarpun dia sekerat ular. Skematik itu biasanya diucapkan oleh tokoh orang tua kepada tokoh anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. (Yang berkata si Linduang Bulan. selalu disebutkan nama tokoh berbicara dan kemudian baru diikuti dengan anak kalimat yang diucapkan oleh tokoh itu. Nan bakato si Linduang Bulan. |oi| bamuko rancak rambuik taurai. biapun inyo sakarek ula. (T II. anak sigiang-giang rimbo. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. Kita pelihara baik-baik”). Berikut ini contoh skematik tentang tokoh yang berbicara serta pembicaraannya. inyo anak kito. Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. inyo kan darah dagiang kito. Akhirnya. kini pergilah sekarang. buliah ka rimbolah kau kini. usah dibunuah anak kito. ( T II. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. “oi tuan Datuak Bandaro. Dalam cerita Tupai Janjang. dia darah daging kita. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. orang yang elok |lah| masa itu). biarpun sekeratnya belut. dia anak kita. |oi| bermuka rancak rambut terurai. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. anak sigiang-giang rimba. 7) Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. jangan dibunuh anak kita.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. 74) (Anak kandung si Tupai Janjang. Nak kanduang si Tupai Janjang. boleh ke rimbalah kau kini). |oi| rambut manyapu |hai lah| sapu lantai. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari.

|oi| anak nan indak |lah| dapek juo. sejuk dalam kira-kira). dangakan malah pulo dek Mandeh. “Dik kanduang si Linduang Bulan. “Mamintak kito pado Allah. 38 (|Oi| hadaplah diri dua yang itu. . lah sapuluah tahun barumah tanggo. Nama tokoh yang berbicara terletak di awal paragraf adalah seperti berikut. supaya senang dalam hari.Di bawah ini adalah nama tokoh yang berbicara diletak di tengah paragraf seperti berikut. |oi| mangana nasib |lah| maso itu. sudah sepuluh tahun berumah tangga. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan. Alah tibo di tangah rumah. ( T II larik ke-29− ). |oi| anak yana tidak |lah| dapak juga. di sini kan ada tempurung yang landai”) Nama tokoh terletak pada tengah paragraf dalam kaba Anggun Nan Tongga adalah seperti berikut. Sebagai perbandingan. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. di sini air ada jernih juga. (Menjawab si Asamsudin. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. “Mandeh kanduang jo di Mandeh. disiko aia lai janiah juo. mengapa adik termanung juga. “Adik kandung si Linduang Bulan. |Oi| adoklah diri duo nantun. |oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. diminta pulo kumayan putiah. dek adiak barilah tarang. manga adiak tamanuang juo. Manjawab si Asamsudin. |oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. berikut digambarkan pula bagaimana skematik yang sama digunakan pada kaba Tuangku Lareh Simawang. usahlah kito pai ka kian. disiko kan lai juo sayak nan landai”( Endah. janganlah kita pergi ke sana. “Mandeh kanduang dengan di Mandeh dengarkanlah pula oleh Mandeh. sajuak dalam kiro-kiro. nak sanang dalam hari. oleh adik berilah terang. alah di mintak parasapan. 20). bakato sanan Ameh Manah.

sadang babunta bayang-bayang (hari yang sedang pukul satu. |a| si Tupai Janjang saitu dulu. sedang berbunta bayangbayang) dalam cerita Tupai Janjang digunakan hanya sebagai sampiran pada pantun. skematik ini dipakai dua kali. |oi| sedang babunta |lah| si bayang-bayang. kok iyo barasa anak rajo. selamatlah anak di karung ini”). yakni pada waktu akan beristirahat dan pada waktu menutup cerita. 81) (|Oi| hari yang sedang pukul satu. Berikut sampiran yang digunakan untuk menyatakan istirahat. diminta pulo kemayan putih. Skematik seperti itu juga digunakan oleh pencerita dalam cerita Tupai Janjang. Skematik yang juga sering ditemukan dalam sastra lisan Minangkabau adalah hari nan sadang pukau satu. skematik itu tetap difungsikan sebagai penyambung bagian cerita. sudah di minta parasapan. karongkongan basah biko kito sambuang. . sedang berbunta banyang-bayang). Pada teks Tupai Janjang. |oi| sadang babunta |lah| si bayang-bayang. barakat kiramat tuan Haji. |a| si Tupai Janjang segitu dulu. kerongkongan basah nanti kita sambung). Meskipun demikian. nan batampek di gunuang Ledang. yang bertampat di gunung Ledang. mendengkul ke orang kiamat. Skematik ini juga digunakan untuk menyatakan suasana cerita dalam kondisi panas pada siang hari. berkat keramat tuan Haji.bakauah bakeh rang kiamat. Ungkapan tersebut sering digunakan untuk menyambung bagian cerita yang terdahulu dengan bagian selanjutnnya. “Meminta kita pada Allah. sadang babunta bayang-bayang (Hari yang sedang pukul satu. kalau iya berasal anak raja. |Oi| hari nan sadang pukua satu. salamatlah anak di karuang nangko”. (Mahkota. 1998:9) (Sudah tiba di tengah rumah. (T II. kalau iya puti sudut-bersudut. Hari nan sadang pukua satu. berkata sana Ameh Manah. kok iyo puti suduik-basuduik.

Sebuah kata. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Kata fungsi selalu menunjukkan pengaruh terhadap sesuatu yang lain. Dalam pertunjukan randai. Lain waktu hendak akan kita ulang. Carito habih ndak kito ulang Tuan |ouuiii…lai| (|Oi| hari lah sedang pukul satu. nan didulang sadulang lai. 82) 4. sedang berpuntar bayang-bayang. hal ini dinyatakan dalam dua kali. pertautan.Skematik yang sama juga dipakai untuk menutup cerita. Tupai Janjang segitu dulu. yang menyambung yang tinggal tadi). Cerita habis hendak kita ulang Tuan |ouuiii…lai|) (T II. tetapi dalam hubungan tertentu memperoleh arti dan makna. dan relasi antarsesuatu dengan lainnya. pantun ini biasanya dipakai untuk menghubungkan suatu adegan dengan adegan lainnya dalam cerita. sesudah beristirahat menggunakan pantun yang sudah lazim dipakai dalam menyambung cerita. Pada kaba. atau barang dipandang berfungsi menurut peran dan fungsi yang dimainkan dalam suatu keseluruhan dan saling bertautan (van Paursen. Pemikiran fungsional menyangkut hubungan. Lain wakatu nak kan kito ulang. lan |nan| pandulang ameh di Bangko. Untuk mempertegasnya. perbuatan. yang didulang sedulang lagi. . Lain waktu hendak akan kita ulang Tuan |oio|. (Sudah didulang sedulang lagi. 103) Dalam teks II. (T II. |Oi| hari lah sadang pukua satu. sadang bapunta bayang-bayang. Lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan |oio|. Lah didulang sadulang lai. Tupai Janjang sagitu dulu. lan |nan| pendulang emas di Bangka. 1976:86). Fungsional tidak berdiri sendiri. pantun ini juga sering dipakai setelah beristirahat. nan manyambuang nan tingga cako.

yang dinamakan kebutuhan sekunder. Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang terjadi kerena manusia ingin memuaskan kebutuhan nalurinya akan keindahan (Koentjaraningrat. semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar warga masyarakat setempat (Ihromi. Tetap eksisnya pertunjukan Tupai Janjang di tengah masyarakat karena merupakan “kebutuhan sosial”. salah satunya seperti kesenian. 1988:171). 1980:60). Jika kebutuhan itu tidak dipenuhi. pertunjukan tersebut memperlihatkan spesifikasi yang tidak ditemukan dalam pertunjukan tradisional lain di Minangkabau. Selain itu. Pertunjukan Tupai Janjang tetap digemari oleh masyarakat karena dari isi cerita yang ditampilkan dapat dipetik suatu pesan dan dari segi pertunjukannya mampu memberikan suasana tersendiri untuk dinikmati sebagai bentuk hiburan. baik pribadi maupun sosial. Jika teori tersebut dikaitkan dengan objek kajian ini. pertunjukan Tupai Janjang masih dapat bertahan dalam masyarakat Kecamatan Palembayan karena masyarakat memandang pertunjukan itu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam teori ini. Setiap pola kelakuan yang sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam masyarakat berguna untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar itu. Pendekatan fungsionalisme dari Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat tempat kebudayaan itu berada. sistem akan . Pertunjukan Tupai Janjang mereka anggap sebagai aktivitas kebudayaan yang harus dilestarikan dan dijaga kehidupannya di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk.Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk karena tradisi tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. Bertahannya suatu bentuk kesusastraan yang merupakan salah satu aktifitas kebudayaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya karena segala aktivitas kebudayaan bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.

(2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Selain itu. Bascom (dalam Danandjaja. apakah dia sedang berbicara dengan teman sebaya. baik perseorangan maupun kolektif. atau dari kalangan pemuka adat. juga diberikan dalam cerita ini. yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Tupai Janjang mampu mengemban fungsi sebagai sarana untuk membangkitkan kepekaan karena mengandung tanggapan emosional dan dapat membina kesinambungan hidup. Hal ini terutama terlihat pada teks I. Pertunjukan Tupai Janjang yang merupakan bagian dari kesenian memberikan hiburan atau sarana membebaskan seseorang dari ketegangan serta cara untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran. 1984:19). folklor mempunyai empat fungsi. Untuk melihat fungsio dari pertunjukan Tupai Janjang. Pelajaran dan pendidikan tentang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau khususnya. Menurut William R. Dalam perkembangannya. keterkaitan. Bascom. Orang yang tidak bisa menempatkan posisinya sesuai dengan . dari larik 642 sampai dengan larik 731 merupakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau harus mengetahui jo kato nan ampek ‘dengan kata yang empat’. Banyak ucapan MR kepada Tupai Janjang mengungkapkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat di Minangkabau. Seseorang yang berbudaya Minangkabau harus tahu dan pandai menggunakan dan mengucapkan kata-kata sesuai dengan lawan bicaranya. dan hubungan sesama pencinta pertunjukan ini dalam masyarakat. orang yang lebih kecil. orang yang lebih besar.mengalami disintegrasi dan “mati” (Kaplan. 1999:78). dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. Mereka harus memperhatikan lawan bicaranya. eksisnya pertunjukan ini karena adanya rasa ketergantungan. (3) sebagai alat pendidikan anak.

Fungsi dari kenyataan sosial merupakan sejumlah sumbangan terhadap keseluruhan kehidupan sosial. apalagi setelah merantau. khususnya bagi pemuda Minangkabau. Pada umumnya. Dalam kaba-kaba Minangkabau yang lain hal ini juga sering dinyatakan. Terhadap anak-anak. cerita ini memberikan . Falsafah adat ini juga sering diucapkan oleh pemuka-pemuka adat. Dikatakan fungsional karena merupakan sebuah kondisi yang seluruh bagian sistem sosial bekerja bersamasama membentuk tingkat harmoni dan konsistensi internal. Pertunjukan Tupai Janjang dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya dapat dipandang sebagai bahan dan proses kehidupan sosial yang berperan bagi kelangsungan hidup kebudayaan Minangkabau.lawan bicaranya. Angan-angan ini tersembunyi dari keinginan pemuda Minangkabau untuk menjadi kaya. cerita Tupai Janjang juga secara tidak langsung sudah memperkenalkan falsafah adat ini kepada audience. Fungsi didefenisikan sebagai sumbangan dari aktivitas manusia terhadap keseluruhan aktivitas yang lebih luas. Falsafah adat Minangkabau juga dihadirkan dalam teks ini. hingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. baik dalam acara pidato adat maupun pasambahan. Gambaran kepergian Tupai Janjang setelah dia meninggalkan kampung halamannya itu dinyatakan melalui tempat pembuangannya dan akhirnya menjadi orang yang kaya dan dapat membantu orang tuanya. dalam pergaulan dia indak bisa dibao baretong ‘tidak bisa diperhitungkan’. Pemahanan fungsi seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa sebuah kenyataan sosial mempunyai kesatuan tertentu yang disebut kesatuan fungsional. Jadi. cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat. dalam buku-buku tentang kebudayaan Minangkabau sering diuraikan falsafah ini. Pada larik 665 sampai dengan larik 673 berisi ajaran falsafah alam takambang jadi guru ‘alam terkembang jadi guru’. Sesuai dengan fungsi yang dikemukakan oleh Bascom. Sebagai alat pendidikan. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anak-anak. tetapi juga kepada orang tua.

termasuk kedua orang tua. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan. nilai-nilai pendidikan. Bagaimanapun nakalnya. perkawinan bukan hanya merupakan urusan pribadi atau satu keluarga. dan lain-lain. pepatah adat Minangkabau mengatakan kaba baiak baimbauan. orang tidak menyukainya. Fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. pertunjukan ini bukan hanya memperdengarkan irama dari pencerita. Dengan demikian. kaba . Terhadap orang tua. yaitu penggunaan dan fungsi. melainkan juga semua kaum kerabat akan mendapat malu. Jika seorang anak berkelakuan yang tidak baik. bukan hanya satu keluarga inti yang merasa malu. Secara eksplisit. yang dapat berfungsi sebagai penyambung kelangsungan kebudayaan Minangkabau. seperti tujuan pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan oleh masyarakat. pertunjukan ini juga menyampaikan pesan-pesan. tetapi lebih dari itu. semua anggota kaum diharapkan dapat membantu dan menyukseskannya. Adapun kegunaanya pertunjukan Tupai Janjang adalah seperti berikut. seorang anak kalau diberi pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawa hasil. Dalam menyelengarakan perkawinan.pendidikan supaya berkelakuan yang baik. cerita ini dapat diambil hikmahnya supaya berhati-hati dan tabah dalam mendidik anak. Dalam cerita tersebut juga tersirat pendidikan bahwa seorang anak harus bersifat baik dan tetap menghormati orang tua walaupun orang tua itu pernah membenci dan membuang anaknya. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang bersifat praktis. khususnya masyarakat Palembayan. Memeriahkan pesta perkawinan Menurut adat yang berlaku di Minangkabau. Kalau suatu perkawinan tidak baik pernyelenggaraannya. nasihat. Mulai dari tahap awal sampai akhir perkawinan. tetapi menjadi persoalan dan urusan kerabat. kaba buruang bahambauan ‘kabar baik dipanggilkan. Penggunaan mengacu pada situasi dan kegiatan sebuah pertunjukan dilakukan. 1. sejarah.

harus juga menyuguhkan hiburan tradisional. tepatnya sesudah sembayang isya hingga selesai. Di samping itu. biasanya dilaksanakan pada malam hari. Hal itu berkaitan dengan dikeluarkannya peraturan daerah setempat yang menyatakan bahwa jika ada anggota masyarakat yang melaksanakan pesta perkawinan yang dimeriahkan oleh hiburan modern. misalnya randai. Jika peraturan tersebut dilanggar. tetapi jika ada kemalangan atau musibah. saudara. hendaknya warga saling membantu dan turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anggota masyarakat lainnya.buruk berhamburan’. Untuk mengisi waktu yang masih tertinggal sampai waktu sembayang subuh datang. dan warga masyarakat yang lain juga diundang untuk memeriahkan acara perkawinan tersebut. 2. atau bentuk hiburan modern. Guna memeriahkan acara perkawinan itu biasanya disediakan pertunjukan pada siang atau malam hari. saluang. Jika pengikisan budaya itu dibiarkan berlangsung. penghulu kaum diberi sanksi dan dipanggil ke kantor wali nagari setempat dan diharuskan membayar denda yang akan digunakan sebagai sumbangan bagi nagari itu. jika ada perkawinan dalam suatu keluarga. anggota masyarakat diundang untuk saling berbagi kegembiraan. salah satunya adalah Tupai Janjang Keluarnya kebijaksanaan dari pemuka masyarakat setempat didorong oleh adanya kecenderungan masyarakat dewasa ini meninggalkan kesenian tradisional. jika ada kabar yang baik dan menggembirakan. ditampilkan pertunjukan yang lain. masyarakat diundang untuk ikut dirasakannya. Tetangga. Pertunjukan ini hanya membutuhkan waktu lebih kurang dua jam. kebijaksanaan tersebut juga untuk menyongsong babaliak ka nagari ‘kembali ke nagari’ yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Artinya. Untuk melaksanakan pepatah ini. generasi muda tidak akan mengenali kesenian tradisionalnya. Di depan juga telah dinyatakan bahwa pertunjukan Tupai Janjang lebih sering ditampilkan di Palembayan. Khusus untuk pertunjukan Tupai Janjang. Memeriahkan upacara pengangkatan penghulu Pengangkatan penghulu di Minangkabau merupakan suatu kegiatan yang dianggap penting oleh masyarakat karena jabatan penghulu merupakan jabatan yang .

. Acara ini diadakan dalam rangka memeriahkan pengangkatan penghulu dan mungkin juga diadakan untuk mencari dana bagi nagari tersebut. Untuk menghemat biaya. Peresmian penghulu juga tidak tertutup meskipun hanya satu orang 3. silat. misalnya untuk membangun masjid. pengangkatan penghulu dilakukan dengan penghulu dari suku lain dalam satu nagari. Dalam rangka memeriahkan acara itu juga sering diadakan hiburan berbentuk kesenian tradisional.langsung berkaitan dengan anggota dalam satu suku. indang. Uang yang didapatkan dari sumbangan para penonton diberikan kepada nagari untuk pembangunan sarana dan prasarana di nagari itu. Memeriahkan alek nagari Alek nagari adalah pesta yang diadakan oleh suatu nagari yang biasanya berlangsung dalam waktu 15 hari sampai dengan 1 bulan. rebab. dan lain-lain. Alek nagari ini dilaksanakan secara bersama oleh anggota masyarakat suatu nagari. termasuk Tupai Janjang. dabus. Oleh karena itu. Peresmiannya dilakukan di balai adat. Dalam rangka alek nagari itu diadakan pula kesenian-kesenian. baik tradisional maupun modern yang dilakukan secara bergantian. saluang.46 Kalau diadakan secara bersama. Peresmian penghulu ini dilaksanakan secara bersama-sama. Kesenian tradisional ini diundang oleh yang mengadakan alek. sekolah. peresmian atau pengangkatan penghulu baru dilakukan supaya semua warga dalam satu nagari mengetahui siapa yang menjadi penghulu suku tersebut. irigasi. yaitu ruang yang digunakan untuk sidang atau pertemuan para pemuka adat. misalnya salawat dulang. dan lain-lain. balai adat. tari tradisional. tetapi dengan syarat suku tersebut mampu membiayai penyelenggaraannya. Bayaran suatu grup tergantung 46 Balai adat sama dengan balairung. randai . Banyak bentuk kesenian tradisional tampil dalam acara ini. Penghulu merupakan pemimpin dan orang yang akan menyelesaikan suatu persolan dalam satu suku. biasanya nagari tersebut mengadakan malam hiburan yang lazim disebut alek nagari. penghulu.

dan Kodia Bukit Tinggi. keindahan alam. Salah satu wisata budaya tersebut adalah pertunjukan Tupai Janjang. Dalam alek seperti ini Tupai Janjang. Sarana komunikasi Dalam penyajiannya. sering mempromosikan pertunjukan Tupai Janjang sebagai salah satu aset budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Pejabat pemerintah Kabupaten Agam. Semakin seringnya Tupai Janjang tampil di luar daerah secara otomatis akan dapat mengembangkan kebudayaan Minangkabau secara umum. Wisata budaya merupakan wisata yang dilakukan untuk mengenal aneka ragam kebudayaan Minangkabau. pemandangan alam Bukit Tinggi yang indah akan lebih bagus jika dikemas bersama dengan kebudayaannya.kepada ketenaran grup tersebut. maka fungsinya dalam pertunjukan ini dikelompokan dalam 2 hal yaitu sebagai sarana komunikasi dan sebagai penyampaian amanat kepada sesama masyarakat. Dengan demikian. Tupai Janjang merupakan sarana komunikasi antar sesama masyarakat atau masyarakat dengan anggota masyarakat yang lain yang tidak mungkin disampaikan secara langsung kepada orang yang dituju. Secara umum. 4. wisatawan diperkenalkan dengan kebudayaan. juga dapat mengambil peran bersama-sama dengan kesenian tradisional lainnya. Menunjang program pemerintah Pertunjukan Tupai Janjang juga sering dilakukan guna menunjang program pemerintah. yang merupakan ajang promosi pariwisata dan kebudayaan Minangkabau. baik wisata alam maupun wisata budayanya. Pembicaraan itu tentang berbagai aspek kehidupan yang disampaikan lewat sarana bahasa. Dalam Pekan Budaya Minangkabau. oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Agam. peninggalan sejarah. pertunjukan Tupai Janjang sering ditampilkan untuk mengisi acara tersebut. Minangkabau merupakan daerah wisata yang cukup potensial dikembangkan. Dengan memperhatikan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang di Palembayan. misalnya untuk program peningkatan pariwisata. serta lingkungan kehidupan budaya dan sosial masyarakat Minangkabau. 1. Dalam wisata budaya. Dalam hal .

pencerita menyampaikan pesan kepada bupati daerah setempat yang sedang berkunjung ke daerah itu. Pada waktu itu. Sebagai contoh. terutama di Pekan Baru. Pesan-pesan itu dikemas sedemikian rupa oleh pencerita sehingga dapat dimengerti oleh penonton atau kepada si penerima pesan. Padahal. terjadi komunikasi 47 . pantun. yang mengandung nilai estetis. Jakarta. hubungan dan reaksi antara penonton dan pemain atau sesama penonton. Ketika pesan itu disampaikan maka terjadi “dialog”. Karena pencerita tergolong orang yang banyak dikenal oleh masyarakat dan juga bekerja di instansi kecamatan setempat. Biasanya. di depan juga dinyatakan bahwa berkat pertunjukan Tupai JanjangJ jalan ke daerah Palembayan telah diaspal. Persoalan atau masalah yang diungkapkan biasanya mengyangkut dengan kemakmuran masyarakat setempat. terdapat pembicaraan awal atau bisikan terlebih dahulu kepada pencerita dari pemuka masyarakat atau yang mempunyai ide. Seringnya pertunjukan Tupai Janjang dilakukan di daerah rantau dapat mengobati rasa rindu masyarakat Minangkabau terhadap kampung halamannya.47 Pertunjukan Tupai Janjang juga dijadikan sebagai komunikasi dan penghubung antara masyarakat yang berada di kampung halaman dan masyarakat yang berada di rantau. maka isu-isu yang ada dalam masyarakat dapat dengan cepat ditangkapnya. pencerita mengangkat dan memasukkan isu-isu itu dalam ceritanya. Komunikasi ini dapat dilakukan dengan menyampaikan hasrat dari masyarakat kepada pencerita TJ. maupun bahasa sehari-hari. Wawancara dengan pencerita dan pembuka masyarakat dan masyarakat Palembayan tanggal 21 Februari dan 7 – 8 Nonember 2004 . pertunjukan Tupai Janjang dapat juga berfungsi sebagai sarana komunikasi warga masyarakat dengan pejabat pemerintahan setempat. jalan di daerah itu sebelumnya dalam keadaan rusak dan masih berbatu-batu. pesan itu dikemas dalam bentuk prosa liris. Jika ada event yang kondisif dan pertunjukan Tupai Janjang diikutsertakan. Masyarakat setempat menyatakan bahwa jalan yang sudah baik tersebut adalah karena diungkapkan dalam pertunjukan Tupai Janjang. Dengan demikian. Disamping itu. Pencerita merangkai pesan itu secara spontan dan cepat dengan menyisipkan ke dalam adegan cerita Tupai Janjang.ini.

Penonton sama penonton juga dapat menjadikan pertunjukan Tupai Janjang juga sebagai sarana komunikasi. Komunikasi itu mereka lakukan sewaktu pertunjukan berlangsung. Amanat cerita Amanat. Untuk menafsirkan suatu amanat tidak terlepas dari penyair.antara dengan para perantau dengan warga di kampung melalui pencerita atau pertunjukan Tupai Janjang. petuah. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. sebelum atau sesudah pertunjukan. perumpamaan. Cara menyimpulkan amanat sebuah karya sastra sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal (Waluyo. Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh kepada amanat itu. dan lain-lain. Amanat yang disampaikan dibungkus dalam banyak mengandung kiasan. Terutama bagi para warga yang sibuk pada siang hari dan beraktivitas di luar lingkungan tempat tinggalnya. perumpamaan dan petuah itu. 2003:40). maka malam hari dijadikan untuk saling berkumpul dengan warga di sekitar lingkungan 2. Dengan demikian. untuk menafsirkan amanat yang disampaikan dalam cerita. Sebuah karya masih hidup dan bertahan dalam masyarakat karena adanya amanat yang dapat diambil dalam isi yang disampaikan oleh si penyair. Dalam hal karena pertunjukan tradisional bersifat komunal maka untuk menafsirkan amanat cerita yang disampaikan dalam pertunjukan Tupai Janjang tidak terlepas dari masyarakat Minangkabau. Amanat juga berkaitan dengan fungsi sebuah karya dalam karya sastra dalam hal ini pertunjukan Tupai Janjang. dalam pertunjukan Tupai Janjang terjadi juga sosialisasi sesama warga. dengan sendirinya berhadapan dengan bahasa yang banyak mengandung ungkapan. Dalam suasasana pertunjukan yang santai para penonton dapat menjadikan ajang pertunjukan ini untuk saling berkumpul atau saling berbicara antar sesama. atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca sebuah karya sastra. ungkapan. Dengan demikian. pesan. . tempat tinggal.

Amanat yang disampaikan dalam cerita ini tidak dinyatakan secara langsung tetapi dibungkus dengan berbagai cara. Hal ini tidaklah berarti bawa pengarang menyarankan kepada pembaca (penonton) untuk bersikap dan bertindak seperti demikian. Kritik secara tidak langsung juga diberikan kepada para orang tua yang tidak sungguh-sungguh memperhatikan pendidikan anaknya. Dalam hal ini digambarkan oleh orang tua Tupai Janjang yang telah membuang anaknya. Mungkin orang yang pernah menyakiti seseorang nantinya akan menyadari kesalahannya. 2002: 322). . Dalam cerita Tupai Janjang menghadirkan beberapa orang tokoh. Kepada masyarakat secara umum cerita ini mempunyai amanat yang sangat besar. Amanat yang disampaikan dalam cerita ini mengandung nilai moral yang cukup tinggi. Anak yang pada awalnya dibuang dan tidak disukai. model yang kurang baik atau yang baik. Meskipun tidak masuk akal. hal ini dianggap sebagai aib dan membuat keluarga itu malu karena keluarganya merupakan keturunan yang terpandang. dalam kehidupannya supaya tidak terjadi permusuhan. Sikap dan tingkah laku tokoh tersebut hanyalah model. Pesan moral yang disampaikan merupakan hikmah yang ditampilkan lewat sikap dan tingkah laku tokoh. Tuhan memberikan anak yang bertingkah laku seperti seekor tupai. akhirnya dapat berguna dan mengabdi kepada orang tua. Sebagai orang tua hendaknya dapat membimbing dan mendidik anak walaupun anak itu mempunyai kelakuan yang tidak baik dan tidak diingini. Walaupun. Seperti dalam pertunjukan Tupai Janjang yang mana keinginan Linduang Bulan memiliki anak meskipun anaknya seperti seekor tupai. Melalui tokoh-tokoh ini masyarakat dapat mengambil pesan. Cerita Tupai Janjang juga memberikan amanat kepada anggota masyarakat dalam hal ini jika posisi sebagai anak dalam suatu keluarga. Pembaca diharapkan dapat mengambil amanat dan hikmah yang disampaikan (Nurgiyantoro. Orang tua yang tidak mendidik dan bahkan membuang anaknya tetap dihormati karena bagaimanapun orang tua itu merupakan orang yang telah berjasa melahirkan. Sebagai salah satu anggota masyarakat. akhirnya menyadari kesalahannya dan dapat hidup kembali berdampingan.

Begitu juga halnya dengan tokoh Mandeh Rubiah untuk dapat mengambil amanatnya. kaba yang lain diulang lagi. (Kalau ada sumur di ladang. disiko dahulu ditamatkan. kalau ada umur sama panjang. disini dahulu ditamatkan) .tokoh mana yang dapat dijadikan pedoman dan mana yang tidak. Tingkah laku Tupai Janjang yang pada awalnya tidak baik tetapi akhirnya dapat merubah kelakuannya dan menjadi tokoh yang bisa memaafkan kesalahan orang tuanya yang telah membuangnya. kaba nan lain diulang lai. Tokoh Mandeh Rubiah merupakan tokoh yang baik dan mempunyai sifat yang dermawan dan mau menolong orang yang tidak di ketahui asal-usulnya. kok ado umua samo panjang. mandi berenang di tepian. buliah kito manumpang mandi. Toh akhirnya anak yang didik Mandeh Rubiah (Tupai Janjang) dapat menjadi seorang tokoh yang kaya dan mempunyai hati yang mulia. mandi baranang di tapian. Kok ado sumua di ladang. boleh kita menumpang mandi.

Dengan teknik formula dan komposisi skematik. Pencerita bukan menghafal teks. Disampin itu. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama.BAB VII KESIMPULAN Pertunjukan Tupai Janjang merupakan sebuah pertunjukan yang dapat digolongkan kepada teater tradisional karena dalam pertunjukan tersebut menghadirkan akting dan dialog. Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. Akting dan dialog hanya dilakukan oleh satu orang pencerita. pencerita dapat melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata. terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel. paroh larik. Dengan memanfaatkan cara yang sama. pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan . pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. Perulangan yang ditemui pada teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. frasa. frasa. Oleh karena itu. Dengan memanfaatkan pola itu maka terdapat bentuk yang berulang baik dari pantun. tetapi dilantunkan dengan mengingat suatu pola. atau kata. Perbedaan itu disebabkan oleh sifat dari tradisi lisan. Setiap pencerita dapat bebas melakukan improvisasi. Pencerita dalam menampilkan ceritanya tidak dengan menghafal teks. melainkan hanya dengan mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. seorang pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. klausa. larik. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. jika suku kata tidak mencukupi dalam satu tarikan napas. dan klausa yang berulang.

Di samping itu. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. unsur verbal lebih dominan ditemui pada teks II jika dibandingkan dengan teks I. Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pembuatan teks dalam pertunjukan. Komposisi skematik yang digunakan dalam cerita Tupai Janjang ditemui untuk hal-hal berikut. (2) pertukaran dan kegiatan tokoh dalam cerita. dan (4) menceritakan kondisi tokoh dan peristiwa yang ada dalam cerita. pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendiri-sendiri. Di samping itu. Dengan demikian. Dalam masyarakat Palembayan. (3) pergerakan waktu dalam cerita. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan cerita. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau.irama pada saat pertunjukan. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. (3) untuk memeriahkan alek nagari. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang maka diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan. (2) untuk memeriahkan acara pengangkatan penghulu. kegunaan Tupai Janjang lebih mengacu pada hal yang bersifat praktis. yaitu (1) untuk memeriahkan pesta perkawinan. yaitu (1) menghubungkan peristiwa dengan situasisituasi cerita sehingga membuat cerita bergerak ke depan. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik. (4) untuk memeriahkan hari yang berhubungan . Sementara itu. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan. pencerita sudah mempunyai stereotipe di dalam pikirannya yang diperoleh dari tradisi lisan Minangkabau lainnya. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan alat memproyeksikan diri dan pencermin angan-angan kolektif masyarakat Minangkabau.

dan (5) untuk menunjang program pemerintah. terutama di bidang pariwisata. terutama hari kemerdekaan.dengan hari-hari nasional. .

. 1992. Padang: Esa. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Payakumbuh: Eleonora. Suyatna. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Amir. 1983. 1995. Adriyetti. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. 1989. Cambridge: Cambridge University Press. Richard. Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau. Yogyakarta. Amir. Granesia Andras. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. Khaidir. Yogyakarta: Kanisius.Teater Daerah Indonesia. Made dan Sal Murgiyanto. Ivan. “Tentang Sikap Dramatik dan Warna Lokal Mengakrabi Teater Rakyat” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Anwar. dalam Metodologi Penelitian Sastra. 1996. Pusat Penelitian Universitas Andalas. _______ 2001. M. Story. Adilla. T. Anirun.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. A Kasim. Kedudukan dan Peranan Wanita: Dalam Kebudayaan Suku Bangsa Minangkabau. Bandem. 1990. Kelisanan dalam Keberaksaraan: Hikayat Meukuta Alam. B. Ita. Padang: Universitas Andalas. Datuk Nagari. Sastra Lisan Minangkabau I. 2003. Performance. Seni Pertunjukan Tupai Janjang: Studi Kasus di Desa Aia Mondak Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam. “Resepsi Sastra: Teori dan Penerapannya”. 1983. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Basa. Bandung: Granesia.Imran. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Bauman. and Event. 2003. Bustami. Padang. 1966. Skripsi. Laporan Penelitian. Padang. Achmad. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Hanindita Graha Widya. dkk.S. 1988. Bandung. 1999. Kesenian Bagurau.

Citra Wanita Dalam Lima Novel Terbaik Sinclair Lewis dan Gerakan Wanita di Amerika. Harymawan. Remaja Rosdakarya. 2002. 2004. James. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. 1993. “Berburu Sastra Lokal”. Oral Traditions and the Verbal Arts. Edwar. Siti. Laporan Penelitian Akademi Seni Kerawitan Indonesia. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Padang: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Gayatri. 1997. 1993. 1992. _______. Faruk. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. Hanindita Graha Widya. Yogyakarta. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. Mursal. Institut Seni Indonesia. Djamaris. 23-24 Agustus 2004 _____ 2003. Metodologi Penelitian Sastra. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta. Satya. Endraswara. 1980. Ruth. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djajanegara. ___________. Finnegan. Bandung: Angkasa. Tupai Jangjang Kesenian Rakyat di Nagari Silungkang Kecamatan Palembayan dalam Kajian Teknis dan Filosofis. Dongeng. Padang Panjang. Yogyakarta. “Pengkajian Sastra dari Sisi Pembaca: Satu Pembicaraan Metodologi”. . Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Desetralisasi Kebudayaan. Makalah pada Seminar Internasional Kebudayaan Minangkabau dan Potensi Etnik Dalam Paradigma Multikultural. 1995. Erlinda. dkk. Dramaturgi. Jakarta: Balai Pustaka. Hanindita Graha Widya. “Penelitian Resepsi Sastra dan Problematianya”. Danandjaja. 2001. London: Routledge. Soenarjati. Bandung. Jakarta: Yayasan Obor. 2001. dan lain-lain. 2004 “Tinjauan Fungsiolalisme Terhadap Seni Pertunjukan Saluang” dalam Ekspresi volume 12.Chamamah-Soeratno. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. 1999. 2003. Masyarakat dan Budaya Lokal Dalam Globalisasi. Suwardi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama Esten.

Navis. The Singer of Tales. Jakarta: Universitas Indonesia. 2004. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau Traditions in Indonesia. Tata Bahasa Minangkabau. _______ 1990. Mass: Harvard University Press. Jakarta: Renika Cipta Lord. Pengantar Ilmu Antropologi. Kaplan. T. Geografi Dialek Bahasa Minangkabau (Disertasi). Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Diterjemahkan Rahayu S.Hutomo. Jakarta: Gramedia. Jakarta: Grafiti Pers. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Hidayat. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. Gerard. 2001. Eva. Nadra. Krisna. Suripan Sadi. Jakarta. Manan. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. 1999. 2000. A. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Mohd Nefi. Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban. Kato. Imran. 1997. . Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Ignas. 1991. Kleden. Cambridge. Tsuyoshi. David. Ithaca: Cornell University Press. 1982. Saluang: Sastra Lisan Minangkabau. 1984. “Minangkabau dalam Perspektif Perubahan Sosial Kontemporer dan Gebu Minang” Diskusi Panel Perubahan Sosial Minangkabau Kerjasama Fakultas Sastra Unand dengan Lembaga Gebu Minang. Ihromi. 1980. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. Padang Moussay. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.O. 1991.A. Jawa Timur. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Koentjaraningrat. Teori Kebudayaan. 1981. 1998. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Imran. Albert B. _____ 1993. 1997.

2000. Kecamatan Palembayan Dalam Angka. Universitas Gajah Mada. Bagurau Dalam Basaluang: Cerminan Budaya Konlfik. 14-16 Oktober 1999. (Tesis): Yogyakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Andar Indra. Pustaka Pelajar. Penghulu. 2003. Bandung: Remaja Karya. 1976. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. 1981. Makyong: Hakikat dan Proses Penciptaan Kelisanan (Disertasi). Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Padang: Angkasa Raya. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Keragaman dan Kesamaan Dalam Tradisi Lisan Nusantara. 1995. Rosidi. Fungsionalisme dan Teori Konlik dalam Perkembangan Sosiologi. Yus. 2002. Jakarta: Sinar Grafika . Rusyana. Perubahan Sosial Masyarakat Antropologi. Sairin. Poerwanto. C. Peursen.A. Makalah Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Indonesia: Perspektif Sastra. “Etnisitas dan Globalisasi: Antara Sentrpetal dan Sentrifugal”. 2002. Jakarta: Pustaka Jaya. Burhan. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. ________. 1999. Sijobang. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. MPSS. Phillips. Anatomi Sastra. 1984. Teori Pengkajian Puisi. Nigel. Soekanto. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Sjafri. Idrus Hakimy Dt.Van. 1998. Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Pudentia. 1999. Semi. Atar. Soerjono dan Ratih Hertarini. Ajip.Nurgiyantoro. Yogyakarta.Rajo. 1988. 1988. Strategi Kebudayaan. Jakarta: Universitas Indonesia. 2002. Hari. Pemerintah Kabupaten Agam. Yogyakarta: Kanisius. London: Crambridge University Press.

(Terjemahan Misbah Zulfa Sweeney. Sastra dan Teori Sastra (Terjemahan Melani Budianta). Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Dendang Pauah Cerita Orang Lubuk Sikaping. Berkeley: University of Colifornis Press. Jakarta: Gramedia. Udin. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. Syamsuddin. A. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. 1999. 1982. Amin. Rebab Pesisir Selatan Zamzami dan Marlaini. Sastra dan Ilmu Sastra. Gramedia Pustaka Utama. Metode Etnografi Elizabeth). Rene dan Austin Warren. Jurnal Basis. Yayasan Obor Indonesia. Nani. Jakarta.Yogyakarta: Tiara Wacana. November. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. XXXVII. Jakarta: Intermasa. 1980. Spradley. University of Colifornia Press. 2002. Jakarta. ______ 1993. Apresiasi Puisi . . Zaidan. 2003. 1984. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Pedoman Penelitian Sastra Daerah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. Abdul Rozak. Asosiasi Tradisi Lisan. Teeuw.11. Herman. _____ 1996. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Dalam Analisis Kebudayaan. James P. 1997. Tuloli. Berkeley. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Jakarta. 1993. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Waluyo. ________ 1987. Wellek.1980. 1990.Suryadi. Jakarta: Pusat Bahasa. Tahun I. 1980. Rebab Pesisir Selatan Malin Kundang.

0/023-04.Hum Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415. Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006. M.PENELITIAN DOSEN MUDA ARTIKEL PENELITIAN FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG Oleh: Dra. tanggal 1 Februari 2006 FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER. SATYA GAYATRI. 2006 .0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7. Jabatan Fungsional e. M. Ir.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan. Waktu Penelitian 7.HALAMAN PENGESAHAN 1. Ketua Penelitian a. Nama b.(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang. Bidang Ilmu 3.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti Dra. H. Judul Penelitian 2. Golongan Pangkat dan NIP d. 131 474 873 . 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra.Sc NIP. Dr. Jumlah Tim Peneliti 5.000. Lokasi Penelitian 6.S.500. Helmi.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian Prof. Satya Gayatri. Fakultas/ Jurusan 4. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra. Satya Gayatri. Jenis Kelamin c. M. M. Adriyetti Amir.

. dan untuk menunjang program pemerintah. Dalam menyampaikan cerita. PENGANTAR Tradisi lisan merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga. Demikian juga halnya dengan pantun. upacara pengangkatan penghulu. pencerita dapat mengubah teks setiap saat sesuai dengan situasi dan kondisi. sehingga dalam teks akan ditemukan sejumlah kalimat yang bersifat paralel. 1. Tradisi ini. Kehidupan tradisi lisan akan mengalami variasi sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. Dengan memanfaatkan teknik formulaik. terdapat teks yang mempunyai kata. 48 49 50 Artikel penelitian BBI Dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas. dan larik yang berulang. sampai saat ini mengalami variasi tergantung kepada fungsinya di dalam masyarakat. Tradisi lisan di Minangkabau.FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG:48 Satya Gayatri49 ABSTRAK Pertunjukan tradisional Tupai Janjang di Minangkabau merupakan salah satu bentuk teater tradisional karena menghadirkan dialoq dan akting. bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. Dengan demikian. pencerita bukan menghafal cerita melainkan menggunakan teknik yang sudah terpola. alek nagari. klausa. frasa. peringatan peringatan hari Nasional. Salah satu tradisi itu adalah tradisi lisan Minangkabau. Tradisi lisan bisa juga menjadi sumber suatu penciptaan baru50 atau bisa berperan sebagai sumber dari suatu proses penciptaaan baru. Masyarakat dapat mengambil nilai-nilai ataupun pesan moral yang terkandung dalam cerita yang disampaikan. Bertahannya pertunjukan Tupai Janjang dalam masyarakat Palembayan karena mengandung fungsi dan nilai-nilai yang dapat dipetik baik dari isi cerita maupun dari pertunjukan itu sendiri. Demikian juga dari segi fungsinya pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk memeriahkan pesta perkawinan. tetapi juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru.

Dalam pertunjukan tradisional. misalnya falsafah hidup yang dikenal dengan alam takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru). petuah. karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. Dengan demikian. dan disampaikan dalam cerita itu. Kabupaten Agam. Hal ini disebabkan karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. kekuatan dalam bidang sastra dan bahasa Minangkabau terletak pada tradisi lisannya. Segala aspek kehidupan. diturunkan secara lisan. dalam mengatur kehidupan pada awalnya. karena setiap pertunjukan dipengaruhi oleh waktu. disimpan. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau. Pertunjukan seperti ini. dan kehidupan alam51. Bertahannya tradisi lisan dalam masyarakat. secara lisan. setiap pertunjukan dari suatu cerita akan terlihat adanya variasi. mamangan. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi Tupai Janjang. Variasi pada teks dilakukan oleh pencerita. petitih. Nama pertunjukan ini diambil dari nama kaba yang diceritakan. Falsafah hidup dan ajaran ini dinukilkan dalam pepatah. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. Sumatra Barat.Dalam kebudayaan Minangkabau. serta lain-lainnya mengambil ungkapan dari sifat. Dalam hal ini. Salah satu tokoh dalam cerita ini bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. menambah pengetahuan. setiap cerita yang ditampilkan tidak persis sama. Hal ini disebabkan karena nenek moyang orang Minangkabau. pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya. penonton dan 51 Anwar dalam Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa (1995: 118) . bentuk. hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. walaupun menampilkan cerita yang sama.

Jurnal Basis November. Variasi dilakukankan oleh pencerita dengan mudah karena pencerita sudah mempunyai stock-in-trade yang siap pakai. dan ide dalam cerita tersebut. bahwa pencerita di samping mampu mengingat formula sesuai dengan keingginan waktu menceritakan. atau tukang pidato. kalimat. Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. pencerita dapat melakukan perubahan teks secara cepat. terjadi kalimat yang paralel dan bentuk perulangan pada kata. tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. saat pertunjukan berlangsung. Dengan demikian.situasi selama pertunjukan. pencerita. Oleh sebab itu. Dalam hal ini. sehingga pencerita mengucapkan secara terbiasa frasa-frasa itu seperti halnya dalam pembicaraan sehari-hari. Teknik formula yang dikembangkan oleh pencerita. Dengan demikian. frasa. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula pada saat pertunjukan. Persediaan formula itu disebut stock-in-trade si penyair. berarti juga menceritakan kembali cerita-cerita secara lisan. FORMULAIK dan KOMPOSISI SKEMATIK Dalam setiap pertunjukan. tidak ada pementasan yang identik seratus persen walaupun ditampilkan oleh seorang pencerita yang sama52. Pencerita mencoba mengingat frasa-frasa yang didengarnya dari pencerita lain. dalam sebuah pertunjukan pencerita melakukan perubahan sehingga terjadi variasi pada adegan yang diceritakan. XXXVII11(1988a: 298) 53 Lord dalam The Singer of Tales (1979: 54) . Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan pola-pola yang sudah didapatkan dari pencerita terdahulu atau dari tradisi lisan lainnya. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotip yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. karena frasa itu sudah berkalikali dipergunakan. untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman53. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. Akhirnya. Hal ini berarti. 52 Teeuw dalam “Indonesia Antara Kelisanan dan Kebersaraan”. 2. Dengan memanfaatkan cara ini. frasa diciptakan bukan menggunakan hafalan tetapi karena kebiasaan. klausa.

klausa. klausa. sangat variatif. Variasi itu dapat terjadi karena faktor si pencerita maupun masyarakat yang menikmati cerita tersebut. karena pertunjukan merupakan aktivitas komunal dan terikat dalam kohesi sosial. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. diubah. cara yang juga digunakan oleh pencerita dalam sebuah pertunjukan adalah dengan memanfaatkan skema tertentu yang disebut komposisi skematik. atau larik. ibid (1981: 30. frasa. Tidak ada adegan dan sub-adegan dari cerita yang persis sama. Rumusan atau pola berformula dalam sastra Melayu tradisional. atau dikurangi sehingga terjadi variasi antara pencerita terdahulu dengan pencerita yang ada sekarang ini. Tradisi sastra Melayu tradisional. Dengan cara memanfaatkan bentuk berformulaik. pencerita pada saat pertunjukan berlangsung. memperlihatkan fleksibilitas komposisi yang tinggi. ada adegan dan sub-adegan yang ditambah. terutama dalam penceritaan secara lisan55. sangat dipengaruhi oleh penonton sehingga terjadi umpan-balik. Di samping memanfaatkan sistem perulangan. Untuk menghasilkan perulangan itu. diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. Hal ini dapat dilakukan karena memanfaatkan sistem formula. Formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. Dalam sastra Melayu tradisional. Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. pencerita dalam pengertian ini membentukan baris puisi sastra lisan secara cepat sehingga banyak menggunakan rumusan atau pola-pola tertentu dalam setiap kegiatan penceritaan. dan larik yang telah ada54. Dengan demikian. Skematik itu. yang mungkin berupa kata. Oleh karena itu.Seorang pencerita dapat melakukan variasi pada adegan dan sub-adegan cerita. yaitu mengingat perulangan atau menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. Di 54 55 Lord. Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan pada saat pertunjukan berlangsung. skematik ini merupakan hal yang penting. Hal ini disebabkan. frasa. Hal ini juga ditemui dalam tradisi sastra Melayu tradisional.43) Sweeney dalam Authors Audiences in Traditional Malay Literature (1980:40) .

atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematik. Ekspresi formulaik yang pertama sekali dilihat adalah pada bagian cerita yang berbentuk pantun. apapun cerita yang ditampilkan56. suasana. walaupun ceritanya sama dan juga dilakukan oleh pencerita yang sama. ide-ide. Variasi itu dapat terjadi karena dalam pertunjukan lisan. perulangan ditandai dengan memberi garis bawah pada kata yang berformulaik. Pantun itu adalah: 56 Sweeney. Hal ini dapat menimbulkan variasi dalam cerita tersebut. Dalam sebuah pertunjukan pencerita memanfaatkan cara perulangan supaya dapat menciptakan dan merangkai cerita secara cepat karena dalam pertunjukan lisan tidak ada penghafalan cerita. Dengan demikian. tetapi belum tentu teks cerita yang diucapkan sama. dan tempat pertunjukan yang berbeda juga mengakibatkan terjadinya variasi. komposisi skematik juga merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dengan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional. Dalam pertunjukan Tupai Janjang. ibid (1980:64-65) . Dalam analisis ini. cerita yang sama dapat dibawakan oleh pencerita yang berlainan. Dengan demikian. sehingga seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. Pada cerita yang berbentuk pantun ini. Hal ini disebabkan karena waktu.samping itu. terlihat adanya perulangan antara satu bait dengan bait berikutnya. melainkan bercerita sambil memanfaatkan kondisi yang dapat mendukung penceritaaannya. pencerita tidak bercerita dalam keadaan teks yang kaku. penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola.

Ada formula tertentu yang digunakan untuk menyatakan pergerakan waktu dalam cerita. orang dusta kami tak mau) Tak kalo maso dahulunyo. Pada teks II. bumi |nan| alun |hai lah| baralun. TEKS II Bandalah urang |hai| ambo bandakan. banda nak urang Koto Tuo. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2. (Oi| adalah pada suatu masa. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formulaik yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. tasabuik garan Datuak Bandaro. Banda |lah| urang kami bandakan. |hai| bumi |nan| antah berantah. adolah urang maso itu. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik. untuk menyatakan waktu satu hari. |hai| bumi |nan| antah barantah. orang dusta kami tak serta). urang duto kami tak nio. adalah orang masa itu. kaba urang kami kabakan. Bandalah urang kami bandakan ditemui pada kedua teks. Pantun di atas terlihat adanya kata yang diulang pada larik berikutnya. (Di yang tinggi tanpak jauh. kaba |lah| urang lai kami kabakan. kaba |lah| orang kami kabakan. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. (Bandarlah orang |hai| hamba bandarkan. banda nak urang |lah| di Gumarang. nan tasabuik-sabuik. satu bulan. bumi |nan| belum |hai lah| beralun. bandarlah |hai| orang si Koto Tuo. urang duto kami tak sato. larik itu diulang dengan merubah kata kami dengan kata ambo dan penambahan ungkapan penyeling hai. bandar anak orang Koto Tuo. di nan dakek jolong tasongoh. Pencerita . turunan puti sudut-bersudut). (Bandar orang kami bandarkan. Kata kaba dan bandalah urang ditemui pada bait ke-1 dan bait ke-2. berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulang). ta rajo turun ba rajo. kaba |lah| orang ada kami kabakan. turunan raja turun beraja. kaba orang kami kabakan. di yang dekat jolong tersongoh. Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. ta puti suduik-basuduik. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang) |Oi| adolah pado suatu maso. Misalnya. tersebut gerangan Datuak Bandaro. yang tersebut-sebut). atau dua bulan. (Bandar |lah| orang kami bandarkan. Pengulangan itu terjadi pada bait yang sama dan juga pada bait yang berbeda.TABEL I TEKS I Banda urang kami bandakan. Ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu kata atau dua kata. kaba |lah| urang kami kabakan. Di nan tinggi tampak jauah. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. (Tak kala masa dahulunya. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. bandar anak orang |lah| di Gumarang.

Sesudah pemakainan formula. (Sudah sebulan dua bulan) Ambia sampai ganok bilangan. misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. Penambahan kata yang terjadi hanya untuk kepentingan irama dalam mendendangkan cerita. Contoh perulangan itu terlihat pada tabel di bawah ini. Persamaan yang terlihat adalah pada pemakainan kata lah baik untuk pergeseran waktu maupun untuk variasi tokoh yang diceritakan. Kata lah dalam hal ini mengandung arti alah (sudah). Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada dalam pikiran pencerita tersebut. .tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan (Sudah yang sepekan |oi lah| yang sebulan) Lah nan duo bulan garan mangaduang (Sudah yang dua bulan gerangan menganduang) Jalan barubah |lah nan| maengkang (Jalan berubah |lah nan| meengkang) Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang (Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung) Lah lapan bulan paruik tambah gadang (Sudah delapan bulan perut tambah besar) Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (Sudah yang sembilan bulan dia mengandung) Lah nan sahari nan duo hari (Sudah yang sehari yang dua hari) Lah nan bapakan lah maso itu (Sudah yang berpekan lah masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan tokoh yang diceritakan. Formulaik pergerakan waktu Dari sahari |oi| garan manganduang. Formulaik pergerakan waktu Ampia sampai ganok bilangan bulan (Hampir sampai genap bilangan bulan) Lah hampienyo ganok bilangan. Demikian juga halnya dengan perpindahan tokoh yang diceritakan juga memanfaatkan sistem formulaik. (Sudah hampir dia genap bulangan) Lah tibo sakik baranak. TABEL II TEKS I I. sehingga terlihat paralelisme antara satu larik dengan larik yang lainnya. (Sudah tiba sakit beranak) Lah sabulan duo bulan. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. (Hampir sampai genap bilangan) TEKS II I.

dilanjutkan dengan keterangan yang dilakukan oleh tokoh. Variasi yang tampak adalah penambahan unsur verbal demi kepentingan irama misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana lah berkata Datuak Bandaro). Hal itu terlihat pada tabel di bawah ini:
TABEL III TEKS I I. Formulaik untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) II. Formulaik pada sintaksis |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Lalu bakato Datuak Bandaro (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang Lalu dicaliak si Tupai Janjang (Lalu dilihat si Tupai Janjang) |ha| lalu diambiaklah kulik nantun (ha| lalu diambillah kulit yang itu) TEKS II I. Formulaik untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (|Oi| hadaplah diri dua yang itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan |(Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan)

II. Formulaik pada sintaksis Lah balari si Dukun Pandai (Sudah berlari si Dukun Pandai) Lah bajalan Datuak Bandaro (Sudah berjalan Datuak Bandaro) Lah bajalan si Linduang Bulan (Sudah berjalan si Linduang Bulan) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) Lah pulangnyo maso nantun, (Sudah pulang dia masa itu) Lah tibonyo di tangah rumah. (Sudah tiba dia di tengah rumah) Lah dibao si Tupai Janjang (Sudah dibawa si Tupai Janjang)

Pencerita menyusun baris-baris cerita dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya. Pencerita mempunyai polapola yang dijadikan pedoman dalam menghasilkan baris pada saat penceritaan dengan cepat sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. Dengan demikian, baris-baris

memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. Cara ini dilakukan oleh pencerita untuk membentuk baris-baris dengan cepat dengan menukarkan tempat, menambah, atau mengurangi kata, sehingga tidak merubah sifat paralel kalimat itu. Untuk lebih jelasnya, hal itu dapat dilihat pada bagan berikut.
Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} {Oi} Tibo + + padi kasiah di lantai di rusuak di tanah Nyo inyo nan + baunduang-unduang baunduang + + hai + urang lantai rusuak tanah maso kain kain + + + basalang patah balubang taban balubang itu putiah sirah

Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Skematik itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. Dalam sastra Melayu tradisional skematik ini, merupakan hal yang penting, terutama dalam penceritaan secara lisan. Dengan demikian, pencerita mampu menghasilkan cerita dalam waktu yang sangat cepat dengan tidak menyiapkan atau menghafal teks sebelumnya. Hal ini diperlukan kemahiran dan kebiasaan penceritaan, sehingga sebelum menjadi pencerita yang sebenarnya dituntun melaksanakan latihan. Komposisi skematik diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel, seperti yang juga telah diberikan di depan. Kalimat-kalimat yang paralel ini juga berfungsi untuk mempermudah pertunjukan. Oleh karena itu, di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. Misalnya, untuk menyatakan Tupai Janjang telah lahir dan mempunyai perbedaan dengan anak yang lain (mempunyai keajaiban). Hal ini

dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik ini lazim juga ditemui dalam kaba Minangkabau lainnya. Skematik itu adalah;
Nan lah laia anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai lah patah, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang. (Yang telah lahir anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai sudah patah, tiba di rusuk rusuk runtuh, tiba di tanah tanah lambang57

Pada teks II, terjadi variasi skematik itu, namun masih ada kata yang sama digunakan. Sehingga, ide dari skematik itu masih sama. Skematik itu seperti terlihat sebagai berikut.
Nan lah ko laialah si Tupai Janjang, |oi| tibo di lantai lantai balubang, |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang, |a| lalu dicaliaklah anak nantun. (Yang sudah lahir si Tupai Janjang, |oi| tiba di lantai lantai balubang, |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlubang |a| lal dilihatlah anak itu).

Dalam kaba Anggun Nan Tongga, skematik ini juga ditemui waktu Anggun Nan Tongga lahir. Dalam skematik itu terlihat perbedaan dengan mendapatkan tambahan larik yang lain pada bagian awal dan akhir bait.
Dek Allah sadang manggarakkan, tibo di lantai lantai putuih, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang, anak lahia jo karuangnyo. (Mahkota, 1998:8) (Karena Allah sedang mencanda-i tiba di lantai lantai putus, tiba di rusuk rusuk terban, tiba di tanah tanah lambang, anak lahir dengan karungnya)

Untuk menerangkan kondisi kecantikan Linduang Bulan pada teks I, dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik itu juga lazim digunakan dalam sastra tradisional Minangkabau. Skematik itu adalah;
Kononlah Puti Linduang Bulan, nan bajalan sigajua lalai, alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati, nan ka suok lenggang manganai, nan ka kida lenggang mambunuah. (Kononlah Puti Linduang Bulan, yang berjalan sigajua lalai, alu tertarung patah tiga, semut terpijak tidak mati, yang ke kanan lenggang mengena, yang ke kiri lenggang membunuh)

Berbeda halnya pada teks II, menerangkan kecantikan Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I, tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambut yang panjang terurai.
57

Menurut Kamus Bahasa Minangkabau, lambang adalah lembang (bekas injakan, atau tekanan beban pada tanah). Hal ini biasanya digunakan betapa hebatnya yang mempunyai kaki, dalam cerita klasik.

Nak kanduang si Tupai Janjang. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. urang nan elok |lah| maso itu. |oi| bermuka rancak rambut terurai. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat sampai sekarang. anak bincacak anak bincacau. walaupun di tengah marak kebudayaan lain yang masuk ke dalam masyarakat. Dalam hal ini. misalnya kebutuhan sekunder suatu masyarakat. Hal ini disebabkan. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. kini bakiroklah ko kini. Boleh ke rimbalah kau kini). Dalam cerita Tupai Janjang. Setiap pola kelakuan sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat. orang yang elok |lah| masa itu). anak sigiang-giang rimbo. Akhirnya. anak bincacak anak bincacau. (Nak kandung si Tupai Janjang. karena tradisi itu dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. anak yang seperti tidak ditunjuk ajari. anak sigiang-giang rimba. skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena Tupai Janjang suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. Oleh sebab itu . |oi| bamuko rancak rambuik taurai. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. 3. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. Skematik itu biasanya diucapkan oleh orang tua kepada anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. pendekatan fungsionalisme yang dikemukakan oleh Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat dimana unsur itu ada.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. kini pergilah sekarang kini. buliah ka rimbo lah kau kini.

cerita ini dapat diambil nasihatnya supaya hati-hati dan tabah dalam mendidik anak. kalau diberi 58 59 Ihromi dalam Pokok-Pokok Antropologi Budaya (1980:60) Danandjaja dalam Folklore Indonesia (1984:19). menurut William R. khususnya bagi pemuda Minangkabau. Sebagai alat pendidikan. Keinginan itu adalah untuk pergi merantau dan kemudian berhasil di rantau sehingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat.dalam teori ini. dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya59. Terhadap orang tua. tetapi juga terhadap orang tua. Semua fungsi ini akan dianalisis lebih mendalam dalam penceritaan tradisi lisan Tupai Janjang. cerita ini memberikan pendidikan supaya mempunyai kelakuan baik karena kelakuan yang tidak baik semua orang tidak menyukai. Bagaimanapun nakalnya seorang anak. Cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat Minangkabau. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anakanak. (c) sebagai alat pendidikan anak. cerita ini juga mengambarkan keberhasilan Tupai Janjang yang menjadi orang yang kaya sehingga dapat membantu orang tuanya. (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Di samping itu. walaupun orang tua kita sendiri pernah membenci dan membuang anak kita. Hal ini tergambar dari kepergian Tupai Janjang meninggalkan kampung halamannya. semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar suatu warga masyarakat58. Bascom fungsi folklor ada empat yaitu (a) sebagai sistem proyeksi yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Terhadap anak-anak. Akhirnya. Tersirat juga pendidikan jika sebagai seorang anak hendaknya terhadap orang tua harus bersifat baik dan tetap menghormati. Dan juga cerita ini merupakan proyeksi dari keinginan dari orang tua agar anaknya pergi meninggalkan kampung halaman dan mencari “sesuatu” yang dapat digunakan buat masa depannya. . bahkan juga orang tua sendiri.

fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan yaitu penggunaan dan fungsi. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. KESIMPULAN Pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. terutama di bidang pariwisata. 4. Penggunaan akan mengacu kepada untuk kegiatan apa pertunjukan dilakukan. (4) memeriahkan hari yang berhubungan dengan hari-hari nasional. diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan. dan (5) menunjang program pemerintah. Bertahannya pertunjukan ini karena masyarakat masing mengangap pertunjukan ini berfungsi. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendirisendiri. Dalam masyarakat Palembayan. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk (1) memeriahkan pesta perkawinan. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang sifatnya praktis seperti untuk kegiatan apa pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Palembayan. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang.pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawakan hasil. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan. (3) memeriahkan alek nagari. terutama hari kemerdekaan. tetapi hanya dengan . Oleh sebab itu. Pencerita bukan menghafal teks. Secara eksplisit. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. sedangkan fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. (2) memeriahkan acara pengangkatan penghulu atau peresmian penghulu baru.

Hal ini terjadi karena setiap pencerita. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik. dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. dengan memanfaatkan cara yang sama terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel.mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. . Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. dan klausa yang berulang. jika suku kata tidak mencukupi maka pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan irama saat pertunjukan. pencerita dapat melakukan variasi-variasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata. Di samping itu. dapat bebas melakukan improvisasi. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita. Dengan teknik formulaik dan komposisi skematik. frasa. Hal ini dilakukan untuk mempercepat penyampaian ide cerita dalam pertunjukan. Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. Formulaik yang ditemui pada kedua teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. Oleh karena itu. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan ide cerita.

O. 1980. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. 2002. 2004. Jakarta: Yayasan Obor. A Kasim. Navis. A. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Lord. 1984. 1996. Suripan Sadi. T. Finnegan. Yogyakarta: Kanisius. Imran. James. 1980. Ihromi. 1982. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. Ignas. 1983. London: Routledge. 1999. 1992. Jakarta: Grafiti Pers. Granesia Anwar. Mohd Nefi. Ruth. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djamaris. 1995.A. . Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. Jawa Timur. The Singer of Tales. Jakarta: Gramedia. Edwar. Dongeng. Hutomo. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau in Indonesia. 2002. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Bandung: Angkasa. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Mursal. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. Made dan Sal Murgiyanto. Cambridge. 1981. Traditions Kleden.Teater Daerah Indonesia. Oral Traditions and the Verbal Arts. Albert B. Kecamatan Palembayan Dalam Angka. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Tsuyoshi. dan lainlain. Danandjaja. Desetralisasi Kebudayaan. Mass: Harvard University Press. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Bandem.DAFTAR PUSTAKA Achmad. Khaidir. Esten. Pemerintah Kabupaten Agam. 1991. Bandung. Kato. Ithaca: Cornell University Press. 2000.

Semi.11. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. Variasi Sosial Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi. Sweeney. Yogyakarta: Kanisius. MPSS.Peursen. Syamsuddin. XXXVII. Dalam Analisis Kebudayaan. Tuloli. Tahun I. Anatomi Sastra. 1980. Jakarta: Intermasa. Sairin. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Rosidi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Atar. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. 1990. 1999. 1998. Udin. 1980.Van. Ajip. 1988. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. Asosiasi Tradisi Lisan Teeuw. Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Yogyakarta. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. University of Colifornia Press. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Berkeley. Berkeley: University of Colifornis Press. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan.A. Amin. . November. ________ 1987. C. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”. 1995. Padang: Angkasa Raya. Sjafri. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. Pustaka Pelajar. Pudentis. 2002. 1984. 1976. Strategi Kebudayaan. Nani. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Jurnal Basis.1980. Jakarta. A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful