PENELITIAN DOSEN MUDA

LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA TAHUN ANGGARAN 2006

FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG

Oleh: Dra. SATYA GAYATRI, M.Hum

Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415.0/023-04.0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006, tanggal 1 Februari 2006

FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER, 2006

HALAMAN PENGESAHAN USUL PENELITIAN DOSEN MUDA 1. Judul Penelitian 2. Bidang Ilmu 3. Ketua Penelitian a. Nama b. Jenis Kelamin c. Golongan Pangkat dan NIP d. Jabatan Fungsional e. Fakultas/ Jurusan 4. Jumlah Tim Peneliti 5. Lokasi Penelitian 6. Waktu Penelitian 7. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra. Satya Gayatri, M.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7.500.000,(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang, 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra. Adriyetti Amir, S.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti

Dra. Satya Gayatri, M.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian

Prof. Dr. Ir. H. Helmi, M.Sc NIP. 131 474 873

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK…………………………………………………………. PRAKATA …………………………………………………………. DAFTAR ISI………………………………………………………... BAB I. PENDAHULUAN………………………………………….. BAB II PERUMUSAN MASALAH………………………………… BAB III TINJAUAN PUSTAKA…………………………………… BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ……………… BAB V METODE PENELITIAN………………………………… BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………… 1. Transkrip Teks…………………………………………… 2. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang 3. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan……….. 4. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang………………………. BAB VII KESIMPULAN…………………………………………. DAFTAR PUSTAKA……………………………………………… i ii iii 1 6 7 12 14 16 17 52 62 71 83 86

unsur-unsur pembentuk kelisanan dalam teater tradisional Tupai Janjang. penelitian ini bertujuan untuk melihat fungsi dan kegunaan teater tradisional tersebut dalam kehidupan masyarakat di daerah Palembayan. pencerita juga memakai skematik. Berbagai pesan dan unsur nasihat juga terdapat dalam pertunjukan ini. Data yang didapatkan dari penelitian lapangan digunakan untuk melihat aspek-aspek pembentuk kelisanan dari teks. sedangkan untuk penelitian kepustakaan digunakan terutama dalam menganalisis teks. Seorang pencerita untuk mempermudah komposisi penceritaan memakai formula dan komposisi skematik dalam pertunjukan. Selanjutnya. Dalam teks akan terlihat adanya perbedaan formulaik antara suatu pencerita dengan pencerita lainnya. bentuk yang berformulaik sangat membantu proses pelantunan teks oleh pencerita. Penelitian lapangan digunakan untuk melihat bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang dan tanggapan masyarakat tentang pertunjukan itu sendiri. Formulaik dan komposisi skematik dalam penceritaan juga mempertimbangkan irama sehingga terdapat pemakaian ungkapan penyeling untuk menyempurnakan irama itu. Oleh sebab itu. Unsur-unsur teks yang bersifat formulaik berhubungan dalam pembentuk kelisanan dengan menggunakan pendekatan formula dan komposisi skematik. serta nilai-nilai apa yang dapat diambil dari teks yang dibacakan. wawancara banyak dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang fungsi dan kegunaan pertunjukan Tupai Janjang yang telah dilakukan. Pertunjukan Tupai Janjang sampai sekarang masih tetap eksis walaupun sudah mengalami pergeseran oleh bentuk hiburan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat unsur-unsur teks yang bersifat formulaik dalam aspek kelisanan. Sebuah teks tidak ada yang persis sama dalam suatu pertunjukan. dalam menyampaikan ide dan gagasan saat pertunjukan supaya dapat dengan cepat menyampaikan cerita. Pertunjukan ini mempunyai fungsi dan kegunaan dalam masyarakat. Selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertunjukan sebuah teks dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat pertunjukan sedang berlangsung. .ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Disamping itu.

Kenyataan menunjukkan bahwa banyak tradisi lisan di Indonesia yang telah hilang karena tidak dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya dan tidak sempat pula didokumentasikan. Padahal. . seperti ajaran. 1995:125-126). bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. bahkan hukum dan peraturan. dan rekaman video (audio-visual). Usaha pelestarian tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkelanjutan. Bahasa yang diucapkan. ragam tradisi lisan ini juga terlihat dalam komunikasi sehari-hari (Anwar. Dari banyak tradisi lisan yang masih hidup. Salah satu tradisi lisan itu ada dalam kebudayaan Minangkabau. Pada negara-negara yang sudah maju. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Navis (1984:231) bahwa dalam percakapan sehari-hari orang Minangkabau lazim menggunakan ungkapan. melainkan juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. hal itu sangat berpengaruh terhadap ragam dan gaya bahasa yang digunakan. tradisi lisan bisa menjadi sumber bagi suatu penciptaan budaya baru (Esten. Di samping terdapat tradisi lisan yang telah hilang.BAB I PENDAHULUAN Indonesia memiliki kekayaan tradisi lisan yang tersebar pada tiap-tiap daerah. transkripsi. 1999:105). Bahkan. Dalam arti. sebagian kecil telah “diselamatkan” dalam bentuk rekaman tape recorder. perbincangan. nasihat. masih terdapat banyak tradisi lisan yang bertahan dan mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. Sastra Minangkabau juga terlihat kekuatannya pada sastra lisan. 1995:117 —118). tradisi lisan dicatat dan kemudian disebarkan lewat media cetak dalam bentuk buku (Rosidi. Tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang sangat berharga. terdapat dalam bahasa lisan. rundingan. Budaya Minangkabau pada dasarnya adalah budaya lisan. hilangnya suatu tradisi lisan tersebut sesungguhnya merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia.

daya pukau dari apa yang disampaikan menjadi hilang. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. bahkan ada kecendrungan untuk menolak cara pemberian nasihat secara langsung (Tim Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Tradisi lisan tidak hanya berbicara tentang ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang tersebar dan diturunkan secara lisan (dari mulut ke mulut). dan pendidikan melalui cerita tersebut. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. dan disampaikan dalam cerita itu. 1980:66). membicarakan tradisi lisan juga langsung berhadapan dengan nilai-nilai dan aturanaturan yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam cerita itu dianggap pernah terjadi pada masa lampau atau merupakan hasil rekaan semata-mata karena terdorong keinginan untuk menyampaikan pesan. dan audience. Akan tetapi. tradisi lisan Minangkabau dari segi keberadaannya dikelompokkan menjadi tiga. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. jika pesan itu disampaikan secara langsung kepada orang yang hendak dituju. amanat. dan pendidikan yang dapat bermanfaat bagi perkembangan watak dan kepribadian para pendengarnya. teks (karya sastra). disimpan.Kebiasaan menggunakan ungkapan dalam percakapan bertolak dari landasan sosial dan struktur kekerabatan yang berkaitan sehingga menyebabkan setiap orang saling menyegani. Mengingat fungsinya dalam masyarakat. Orang yang bercerita pada dasarnya ingin menyampaikan pesan. Bertahannya suatu tradisi lisan dalam masyarakat karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. menambah pengetahuan. Selain itu. amanat. Dengan demikian. ragam tradisi lisan yang . tetapi juga berbicara tentang hubungan antara pemain. Tradisi lisan yaitu cerita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain secara lisan. Pertama. dalam pengertian tradisi lisan terdapat peraturan tertentu yang tidak bisa diabaikan dan ditinggalkan kalau akan melaksanakan pertunjukan.

Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi pertunjukan Tupai Janjang. dan musik. Jika dilihat dari bentuk pertunjukannya. jika menceritakan bapak yang sedang marah. kematian. yang biasa ditemukan dalam upacara perhelatan. akting. Kedua. jika menceritakan seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. gerak. Pemain itu yang melakukan dialog dari tokoh dalam cerita dengan menirukan suara dan akting yang sesuai dengan tuntutan cerita. Randai ditampilkan oleh beberapa orang pemain. maka pemain akan melakukan dialog dan akting seperti ibu-ibu yang sedang menyusui anak. Ketiga. dan penyambutan tamu (Amir. seperti pantun adat dan pasambahan. Misalnya. Berbeda halnya dengan randai yang juga disebut dengan teater tradisional. Kegiatan dialog. akting. 1990:25). sedangkan untuk musik juga dimainkan oleh seorang pemain musik.terancam punah karena perkembangan dari masyarakat hingga kehilangan fungsi dan perannya. sesuai dengan jumlah tokoh yang ada dalam cerita yang dibawakan. Randai adalah pertunjukan teater tradisional yang . nyanyi. maka pertunjukan ini dapat dikelompokkan ke dalam teater tradisional Minangkabau. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. Pengelompokkan itu karena pertunjukan Tupai Janjang menghadirkan dialog. ragam tradisi lisan yang bertahan dari kepunahan dengan jalan melakukan penyesuaian dan perkembangan sehingga mendapat sambutan dari masyarakatnya. gerak. Demikian juga. Pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. ragam tradisi lisan yang tidak mengalami perubahan sama sekali karena berkaitan dengan upacara adat. maka pemain akan membesarkan suaranya seperti layaknya seorang bapak yang sedang marah. dan nyanyi dilaksanakan oleh satu orang pemain.

Dari ringkasan cerita di atas. Akhirnya. Berkatalah sang istri tersebut bahwa dia sangat menginginkan anak walaupun anak itu seperti tupai. sang suami membuang anak itu karena ulahnya yang selalu menganggu masyarakat. Akhirnya. yakni . Tupai janjang disebut juga bajing loncat dalam bahasa Latin dinamakan lomus horsfield dan dalam bahasa Inggris dinamakan endemic Sumatra. orang tua juga harus sabar mendidik anak. Jadi. Sang istri berputus asa karena belum juga ada tanda-tanda kehamilan. sang istri itu pun hamil dan melahirkan anak yang tingkah lakunya seperti tupai. anak itu bertemu dan dibesarkan oleh seorang ibu hingga menjadi seorang pemuda yang gagah dan baik. diduga cerita ini cukup banyak pesan yang dapat diambil. pertunjukannya bernama tupai janjang yang diambil dari kaba yang disampaikan dalam cerita itu yaitu kaba Tupai Janjang. si anak bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. Kabupaten Agam. Namun. Dalam perjalannya ke kebun dia melihat seekor anak tupai yang melompat. terutama kepada orang tua agar jangan asal berbicara karena yang diucapkan bisa menjadi kenyataan. Salah satu tokoh dalam ceritanya bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. Secara singkat. Kepada seorang anak juga ada pesan yang sangat berharga. Tupai janjang banyak terdapat di hutan di Pulau Sumatera. Tokoh ini awalnya mempunyai tingkah laku seperti tupai janjang dan akhirnya berubah menjadi manusia yang baik dan berguna. Kenyataan terakhir ini tidak ditemui pada pertunjukan Tupai Janjang karena hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. pertunjukan dan kabanya bernama Tupai Janjang. Oleh karena itu. itu orang tua juga harus berhati-hati menjaga anak karena anak merupakan amanah. Tupai janjang diambil dari nama sejenis tupai yang badannya lebih besar dari tupai biasa dengan bulunya berwarna agak kekuning-kuningan.sudah lama dikenal dan pada umumnya ditemui hampir di semua wilayah Minangkabau. Dalam pembuangan. Tupai Janjang bercerita tentang sepasang suami-istri yang sudah lama menikah dan belum juga dikaruniai anak. Di samping. Oleh karena itu.

bagaimanapun “durhakanya” seorang ayah yang telah menyakiti anaknya sendiri tetap harus dihormati. Di samping berisi pesan moral. misi penyelenggara acara. memasyarakatkan program pemerintah. Kelangkaan pewaris aktif ini seharusnya tidak terjadi karena dengan memperhatikan teks dalam pertunjukan ini maka pewarisan (transmisi) diduga dapat dengan mudah dilakukan. dapat melakukan penyesuaian dan mampu “merekayasa” pertunjukan sesuai dengan pesan sponsor. . Konsep formulaik ini digunakan oleh pencerita untuk mempermudah dan membantu mengingat teks sehingga teks dapat dirubah dan bersifat fleksibel tergantung kepada komposisi penceritaan. Dengan melihat kondisi dan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang ini maka penelitian secepatnya dilakukan mengingat nilai-nilai. Di samping pertunjukannya yang spesifik. teks yang dibacakan mempunyai bentuk yang berulang baik segi kata. Hal ini didasarkan karena dalam tradisi lisan. klausa. pertunjukan Tupai Janjang dapat dijadikan sebagai salah satu ajang hiburan karena penampilan pencerita. Pencerita ini yang sering diundang oleh masyarakat atau pejabat pemerintah setempat untuk melaksanakan pertunjukan. misalnya untuk kampanye. untuk menyampaian cerita. dan bentuk pertunjukan dapat diselamatkan dari kepunahan dan kelangkaan. Mengingat kondisi dan nilai-nilai di atas maka penelitian dan pendokumentasian tentang pertunjukan tupai janjang seharusnya dilakukan secepat mungkin. fungsi. atau menyampaikan suatu ide kepada orang (pejabat) secara tidak langsung. Hal ini terutama terlihat dari akting yang dilakukan oleh pencerita. pewaris aktif yang profesional dari pertunjukan ini hanya tinggal satu orang. atau menyampaikan perbaikkan jalan kepada pejabat daerah setempat. atau kalimat yang disebut dengan formula. frasa. Tradisi lisan ini. Pencerita dapat mengajarkannya kepada warga masyarakat yang lain dengan memanfaatkan sistem formula sehingga dapat dengan mudah mengingat teks yang diceritakan.

untuk mengungkap fungsi pertunjukan Tupai Janjang bagi masyarakat di daerah Palembayan. Pertama. Ketiga. nilai-nilai. Pada bagian ini akan dianalisis bentuk-bentuk formulaik yang diciptakan oleh pencerita. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap penelitian lapangan dan tahap analisis. setiap penceritaan akan berbeda teksnya. Kedua. Pada bagian ini akan melihat fungsi. Sebuah teks dalam pertunjukan tradisional tidak ada yang persis sama. dan amanat dari teks. Dari sebuah pertunjukan itu didapatkan sebuah teks. Dengan demikian. . Selalu ada bagian-bagian yang mengalami perubahan karena sebuah pertunjukan tradisi lisan akan dipengaruhi oleh audience (penonton) dan suasana pertunjukan. penelitian ini akan dilanjutkan dengan menganalisis teks untuk mengungkap sistem formulaik yang digunakan oleh pencerita dalam sebuah menceritakan teks.BAB II PERUMUSAN MASALAH Dari persoalan yang muncul di atas maka dirumuskan penelitian yang akan dilakukan dalam beberapa tahap yang saling berhubungan untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat. walaupun menceritakan cerita yang sama. penelitian lapangan dilakukan untuk melihat bentuk performance (pertunjukan) dari teater tradisional Tupai Janjang.

Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. Setiap penyair tradisional membawakan ceritanya dengan menciptakan kembali secara spontan dan memakai sejumlah unsur bahasa (kata. formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. atau tukang pidato. matra. klausa. bahkan seorang pencerita yang sama. klausa. frasa. Teknik . dan larik yang telah ada. Hal itu terbukti bahwa jarang terdapat penghafalan dan tidak ada dua pementasan yang sama. Untuk itu digunakan teori tentang sastra tradisional yang dikemukakan oleh Lord. yaitu mengingat perulangan dan menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. Untuk menghasilkan perulangan itu. Persediaan formula disebut stock-in-trade si penyair. atau larik. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula itu pada saat pertunjukan. Unsur-unsur yang dipakai memperlihatkan bentuk yang identik atau variasi sesuai dengan tuntutan tata bahasa.BAB III TINJAUAN PUSTAKA Penelitian ini akan mengunakan teori yang dapat mengupas masalah di atas secara mendalam. kata majemuk. frasa) yang tersedia baginya (stock-in-trade) yang siap pakai. dan irama puisi yang dipakai. Lord (1981:34) menyatakan bahwa penyair-penyair itu tidak menghafalkan puisinya lewat naskah atau tulisan. 1988a:298). frasa. Menurut Lord dalam bukunya The Singer of Tales (1981:30 dan 43). tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotipe yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. yang mungkin berupa kata. yang identik penampilannya (Teeuw. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. pencerita. Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. Dalam setiap pertunjukan tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen.

Upaya untuk mempelajari. 1991). menyusun. Cerita yang ditampilkan juga menyampaikan tema atau ide. Finnegan dalam Tuloli. dan penambahan kata-kata atau ungkapan baru pada pola formula sesuai dengan kebutuhan penceritaan atau penggubahan. sesuai dengan keinginan dan kreatifitasnya. dan tepat serta menjadi ungkapan tetap yang dapat bertahan hidup secara lisan (Lord. Batasan yang diberikan tentang pola formula dan ekspresi formulaik akan diterapkan dalam menganalisis teks cerita tupai janjang. pencerita dapat menyusun larik-larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. 1981:5). cepat. Hal ini dilakukan untuk menentukan formula dengan berbagai variasi polanya (Lord. Formula dan ekspresi formulaik bertujuan untuk menceritakan kisah-kisah dalam nyanyian dan sajak. pembentukan model. Ekspresi formulaik dapat juga membantu terbentuknya wacana ritmis sehingga merupakan salah satu alat bantu untuk mengingat kembali dengan mudah. 1979:54. tetapi juga dimaknai sebagai komposisi selama terjadinya penampilan secara lisan. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim. Formula merupakan alat untuk menuangkan tema atau ide-ide yang . Dalam penyusunan baris dengan pola formula itu terjadi proses penggantian.formula dikembangkan untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman (Lord. Pencerita dapat membangun larik terusmenerus. Dengan pola formula sebagai dasar. Penganalisisan terhadap teks harus dimulai dengan pengamatan yang cermat terhadap frase-frase yang mengalami perulangan. 1981:45). dan menampilkan suatu karya secara lisan merupakan bentuk rangkaian kelisanan yang dimaknai sebagai kelisanan dalam arti teknis atau harfiah (Lord. kombinasi. Konsep kelisanan tidak hanya dimaknai secara presentasi lisan. 1981:30). sedangkan ekspresi formalik adalah ungkapan yang dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama. Sweeney (1999:68) menyebutkan bahwa formula adalah larik atau paruh larik yang digunakan lebih dari sekali dalam bentuk yang sama.

ide-ide. Komposisi skematik merupakan skemata atau formula yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. melainkan merupakan pengelompokan ide-ide (Lord. Dalam pikiran pencerita yang telah mapan. melainkan kreasi seni yang hidup dan berubah sesuai dengan situasi (Lord. Tema disusun dari adegan-adegan yang telah ada dalam pikiran pencerita dan digunakan untuk merakit cerita itu. 1981:40). Tema dapat diekspresikan dengan sekumpulan kata-kata. Pencerita tidak pernah memproduksi tema dengan kata-kata yang persis sama. Dalam sastra Melayu tradisional. Ini merupakan suatu keharusan dan bersifat normal. seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. Tema bukan sekumpulan kata yang tetap. skemata merupakan hal yang penting. Penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. Hal ini disebabkan oleh sifat lentur formula dan pencerita tidak memakai formula yang sama pada setiap saat penceritaan. Komposisi skematik merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional. Lord (1976:4 dan 68) menyatakan bahwa kelompok-kelompok ide yang secara reguler digunakan dalam menceritakan kisah merupakan tema-tema cerita. tema mengalami perkembangan. terutama dalam penceritaan dramatis secara lisan (Sweeney. Tema bukanlah kreasi seni yang sungguh-sungguh statis. 1980:64-65). 1981:94).disampaikan kepada audience. Skemata atau formula itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. 1981:61). Dalam penceritaan lisan. Tema adalah kelompok ide yang secara teratur digunakan pada penciptaan suatu cerita dalam gaya formulaik. . Pencerita berpikir dan mempertimbangkan berdasarkan pola formula untuk menyajikan cerita. Penguasaan formula dan tema merupakan syarat utama dalam menggubah cerita secara mudah dan lancar. atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematis. Tema adalah peristiwa atau adegan yang diulang dan bagian-bagian deskriptif dalam cerita. apapun cerita yang ditampilkan (Sweeney.

semuanya itu dapat dilakukan oleh satu orang dalam waktu yang bersamaan. tempat. Penelitian dengan memakai teori Lord. Dalam penelitian ini diungkapkan hubungan sosial. dan audience akan mempengaruhi performance. dan transmisi. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. Bascom. Penelitian Erlinda . Berbagai penelitian tersebut baru pada tahap awal dan tidak memberikan analisis yang mendalam terhadap tradisi ini. dan berbicara dengan sesama penoton yang lain. Performer adalah orang yang memproduksi sastra lisan pada saat performance dan sekaligus juga sebagai komposer. tetapi dalam sastra lisan. Sementara itu. Suasana. penelitian yang khusus dilakukan terhadap Tupai Janjang telah dilaksanakan oleh beberapa orang. dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya (dalam Danandjaja. pembuatan komposisi bagi penyair lisan dilakukan pada saat pencerita melaksanakan performance sehingga komposisi dan performance merupakan dua hal yang dilakukan pada saat bersamaan. performance. yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Penelitian yang dilakukan juga menerapkan teori yang dikemukakan oleh Lord tentang formula yang ditulis dalam bentuk disertasi. teknik dan metode pencerita dan pencipta. variasi cerita Sijobang. (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. performer. Menurut William R. dan penyair adalah orang dengan aspek yang berbeda. Menurut Lord. Penyanyi.Lord juga menyatakan aspek kelisanan berupa komposisi. pergi. Untuk melihat fungsi dari pertunjukan tupai janjang. (3) sebagai alat pendidikan anak. 1981:13—17). 1984:19). Audience dapat datang. komposer. Bascom folklor mempunyai empat fungsi. telah juga dilakukan oleh Phillips (1981) tentang Sijobang dengan judul Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Hal ini akan mempengaruhi performance atau mungkin juga performance dapat terputus sejenak (Lord. dan peranan formula dalam penciptaan. Performance adalah saat berkreasi bagi penyair lisan.

Pada bagian akhir tulisannya dilengkapi dengan teks kaba Tupai Janjang. Karena hanya dalam bentuk makalah. dan audience tidak tepat sasaran karena pertunjukannya ditampilkan untuk tujuan perkuliahan. Penelitiannya lebih terfokus pada unsur cerita Tupai Janjang dengan teori drama modern. Andras (1999) melakukan penelitian terhadap Tupai Janjang dalam tugas akhirnya guna memperoleh strata satu di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Padang. bentuk pertunjukan. Udin (1999) dalam makalah untuk seminar Asosiasi Tradisi Lisan tahun 1999 mengamati pertunjukan Tupai Janjang yang dilaksanakan di FPBS IKIP Padang. cerita yang dibawakan. pembahasannya juga tidak mendalam.dkk (1997) dalam bentuk laporan penelitian untuk ASKI Padang Panjang sangat ringkas sehingga tidak mencapai aspek-aspek yang dituntut dalam penelitian. Gambaran dan suasana pertunjukan yang didapatkan tentu hanya sedikit. tetapi tidak dilanjutkan dengan analisis terhadap teks tersebut. alur. bukan menempatkan Tupai Janjang sebagai sebuah pertunjukan tradisi lisan. dan latar cerita. Namun. tema. Penonton pertunjukan Tupai Janjang pada waktu itu adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah sastra Nusantara. penokohan. . Analisis dilakukan dengan melihat plot.

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan penelitian. otomatis akan menambah dokumentasi dari bentuk pertunjukan teater tradisional di Minangkabau dan akan mengembangkan penelitian yang lebih lanjut terhadap peminat sastra tradisional. Sementara itu. pesan. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangan penelitian yang lebih lanjut terhadap pertunjukan tradisional sehingga dapat menjadikan sumber inspirasi baru bagi pencipta sastra modern dengan memperlihatkan akar dari budaya daerah. dan amanat dari cerita Tupai Janjang ini. Akhirnya. Dengan analisis formulaik ini diharapkan dapat ditentukan stereotip yang digunakan dalam merangkai cerita Tupai Janjang oleh pencerita sehingga dapat mudah ditransmisikan kepada pencerita yang lainnya. Dengan demikian. diharapkan dapat mengangkat nilai-nilai tradisional yang telah lama terkubur sehingga memberikan dan memperkokoh jati diri bangsa yang sedang mengalami erosi yang begitu hebat. Dengan ditelitinya pertunjukan ini. diperlukan pula upaya untuk menggali dan mengkaji isi yang terkandung di dalamnya yang dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa Indonesia. penelitian ini juga bertujuan untuk menguraikan fungsi supaya dapat mengambil nilai-nilai. penelitian ini diharapkan juga memberikan kontribusi yang baik terhadap pemerintah daerah terutama di bidang kepariwisataan budaya guna . Penelitian ini akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan terutama terhadap peninggalan-peninggalan tradisional terutama kepada teater tradisional dan bukan hanya bersifat inventarisasi dan pendokumentasian tetapi lebih dari itu menjadikan peninggalan-peninggalan tradisional jadi objek kajian yang menarik.BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang serta menerangkan sistem formulaik dari teks. Selain diperlukan berbagai upaya untuk melestarikan tradisi lisan.

negara.meningkatkan promosi pariwisata karena pertunjukan tradisional dapat juga menarik wisatawan domestik maupun asing. . dan daerah. Dengan demikian. akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat.

penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan suasana pertunjukan seperti apa adanya. teknik wawancara dan observasi. karena tradisi pertunjukan ini hanya hidup di daerah tersebut. Setelah itu baru data dianalisis dengan . Penelitian ini juga dilakukan dengan menggunakan metode etnograsi. dilakukan transkripsi dan analisis. Setelah data terkumpul.BAB V METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang didasarkan pada data-data yang diperoleh di lapangan. Para informan tersebut terdiri atas pemain tupai janjang yang profesional dan masih aktif serta pemain yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat. Data ditranskipsikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan konteks masyarakat pendukungnya. atau belum sama sekali menonton pertunjukan Tupai Janjang. dan pejabat pemerintah setempat tentang pengetahuannya terhadap pertunjukan Tupai Janjang. baik terhadap pemain maupun terhadap penonton. Sebelum terjun ke lapangan. cadiak pandai. Penelitian dilakukan dengan dilengkapi handycame. Wawancara dilakukan setelah pertunjukan usai. Dengan demikian. Penelitian ini mengambil objek tupai janjang yang dilaksanakan di Kecamatan Palembayan. Tanggapan juga diminta kepada niniak mamak. peneliti terlebih dahulu dibekali dengan seperangkat teori yang berkaitan dengan objek supaya kendala di lapangan tidak mempengaruhi terhadap hasil yang didapatkan. jarang. Penonton juga akan memberikan suasana tertentu dalam pertunjukan. tokoh agama. Pertunjukan dan perekaman dilakukan secara alami. Hal ini dilakukan supaya data yang didapat betul-betul akurat dan hidup. baik yang terlibat langsung dalam pertunjukan maupun yang tidak. Penentuan informan didasarkan atas kualitas dan pengalamannya terhadap pertunjukan TJ. tape recorder. Tanggapan yang diberikan oleh penonton akan mempengaruhi kehidupan Tupai Janjang itu sendiri. dan wawancara dengan penonton. Penonton yang diwawancarai adalah yang sudah sering. Kabupaten Agam.

. Terakhir. menganalisis nilai-nilai.menggunakan pendekatan formulaik untuk melihat teknik-teknik penceritaan lisan. pesan dan amanat yang ada dalam teks cerita Tupai Janjang.

dialog yang diucapkan oleh tokoh. Kata-kata itu hanya berfungsi sebagai penyempurnaan irama dan jika dihilangkan atau ditinggalkan maka tidak akan mempengaruhi arti dari teks tersebut. Dipilihnya teks I untuk dianalisis karena Andras dianggap oleh masyarakat setempat sebagai pencipta pertunjukan TJ seperti sekarang ini. nan. Tanda ( ) digunakan untuk memberikan keterangan. yaitu teks I dan teks II. Teks ini dijadikan teks I karena lebih tua dari teks II. Teks II merupakan teks pokok. Kecamatan Pelembayan. secara pemerintahan kepala jorong berada di bawah kepala nagari. . Untuk membedakan teks yang berbentuk dialog dengan teks yang berbentuk narasi dipakai tanda “ ” di awal dan akhir dialog. Oleh karena itu. ondeh. ha.BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Teks yang dianalisis dalam penelitian ini ada dua. Dalam penampilan. ada kata-kata yang tidak mempunyai arti dan hanya berfungsi untuk kepentingan irama. Keterangan untuk kegiatan ini diberikan di bawah teks yang dibacakan dan hanya dalam bahasa Indonesia. jorong adalah bagian nagari atau kampung. Kabupaten Agam.02/ 1999. dan lain-lain (Navis. Kata-kata yang tidak ada padanannya ditulis miring dalam bahasa Indonesia dengan memberikan keterangan di bawahnya. desa yang sebelum diberlakukannya Perda tersebut diganti dengan nama jorong. Teks I merupakan teks yang diambil dari skripsi Ita Andras (1999). misalnya oi. dalam pengucapannya. hai. Kenagarian III Koto Silungkang. kegiatan. tentang kembali ke nagari di seluruh Sumatra Barat. teks yang didendangkan sangat dipengaruhi oleh irama. lah. Setelah diberlakukannya Perda No. serta akting yang dilakukan oleh pencerita untuk mendukung cerita. Teks ini diambil dari hasil rekaman dan pengamatan penulis terhadap pertunjukan TJ yang ditampilkan oleh Elvis pada tanggal 25 Mai 2006. 1 Menurut Amir (2003:47) dan Kamus Bahasa Minangkabau. 1984:231). Pertunjukan dilaksanakan di rumah salah satu warga di jorong1 Gumarang.

memegang neraca adil. muatan dari Kota Padang. Tak kalo maso dahulunyo. urang kayo suko dimakan. kononlah si Datuak Bandaro.2 sepuluh jari kami susun. ampunlah kami niniak mamak. 5. maaf diminta banyak-banyak. taputi suduik basuduik.1. Tatkala masa dahulunya. menyatukan dan memperkuat. Banda urang kami bandakan. mamacik naraco adia. banda nak urang Koto Tuo. mambalah maampalau. alun-beralun adalah untuk menyatakan keadaan dahulu kala dan tidak persis waktunya. kaba urang kami kabakan. gajah maharam adalah sejenis rumah gadang atau rumah adat yang besar dan mempunyai banyak bilik. tarajo turun barajo. Di nan tinggi tampak jauah. mampeh mandatakan. ADEGAN I 6. kaba orang kami kabakan. 2 5 Ampun beribu kali ampun. yang tersebut-sebut. 4. 15 20 25 Adalah Datuak Bandaro. yang berumah Gajah Maharam. kami mambukak kaba lamo. maaf dimintak banyak-banyak. nan dianjuang tinggi. Dalam pantun adat Minangkabau diungkapkan Nan gadang basa batuah. . mamagang bungka nan piawai.5 sawah luas berpiring-piring. di yang dekat jolong tasongoh. orang dusta kami tak mau. orang kaya suka makan. 10 Berlayar kapal ke Sibolga. adolah urang maso itu. siapa dia orang yang terkaba. banda anak orang Koto Tuo. Banda orang kami bandakan. 5 Menurut Navis (1984:175). memegang timbangan yang benar) 3 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. ampunlah kami niniak mamak. kami membuka kaba lama. Transkripsi Teks Teks I PEMBUKAAN 1. niniak mamak adalah sebutan untuk para pemuka/penghulu adat. iyalah kaba Tupai Janjang. nan tasabuik-sabuik. sia nyo urang nan ta kaba. memepat dan meratakan. (Orang yang besar bertuah. Adolah Datuak Bandaro. sapuluah jari kami susun . nan barumah Gajah Maharam. Balaia kapa ka Sibolga. Di yang tinggi tampak jauh. 4 Ibid. urang duto kami tak nio. tak kala alun-beralun3. adalah orang masa itu. Menurut Amir (2003:57). yang dianjung tampak tinggi. turunan puti sudut-bersudut. jolong tasongoh adalah awal kelihatan. iyolah kaba Tupai Janjang.4 turunan raja turun beraja. 2. 3. Ampun baribu kali ampun.6 kebun ubinya berpetak-petak. kononlah si Datuak Bandaro. di nan dakek jolong tasongoh. kabun ubinyo bapetak-petak. sawah laweh bapiriang-piriang. tak kalo alun baralun. muatan dari Koto Padang.

tempat keramat yang sudah saya datangi. ini yang saya menungkan. “Manolah adiak Linduang Bulan lah habih susah den. Nan manjawek Datuak Bandaro. menyesal tercuci di kain rancak. Nan manjawek Datuak Bandaro.” 10. maka saya ke Pasar Canduang. kama dukun nan tak kito tampuah.” 11. susah ka kito bagi duo. untuk menjaga badan kita. “Manalah adik Linduang Bulan. membeli ikan belanak. anak yang tidak kunjung dapat. melihat Tuan bermenung. teringat badan tak beranak. berakallah kita tentang itu. sudah habis susah saya. kalau saya kira-kira betul. teringat badan tidak beranak. takana badan tak baranak. “Oi Tuan Datuak Bandaro. luluh rasanya perantian. mengapa Tuan duduk termenung. Tujuannya adalah untuk menyatakan sawah yang banyak.” Yang berkata Linduang Bulan. tampaik kiramaik nan lah den datangi.” Yang menjawab Datuak Bandaro. Nan bakato Linduang Bulan. 8 Batanyo Puti Linduang Bulan. kita pelihara elok-elok. maka saya duduk termenung. kito paliharo elok-elok. kita diberi Tuhan akal.” Yang menjawab Datuak Bandaro. barakalah kito tantang nantu. sudah segudang tungku kemenyan saya bakar kehendak tidak juga berlaku. indak patuik manyasa Tuan.” 9. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kini begitulah oleh Tuan. Lah sapuluah tahun nyo babaua. mako den duduak tamanuang. kini baitulah dek Tuan. manyasa tasasah di kain rancak. kandak indak juo balaku. mambali ikan balanak. sinan tamanuang Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. “Manolah adiak Linduang Bulan. rancak terangkan pada saya.” 30 yang istrinya Puti Linduang Bulan.nan padusinyo Puti Linduang Bulan. tidak patut menyesal Tuan. kita ambillah anak orang. digulai di hari senja. sana termenung Datuak Bandaro. takana badan tak baranak. Bertanya Puti Linduang Bulan. bapiriang-piriang sama dengan berpetak-petak. indak patuik susah Tuan lah susah. Dik.” 35 40 45 50 55 60 65 70 6 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. kini begitulah oleh adik. maliek Tuan bamanuang . siapa akan menjaga badan tua. anak nan indak kunjuang dapek. digulai di hari sanjo. kito ambiaklah anak urang. kini baitulah dek adiak. tidak patut susah Tuan sudah susah. iko nan den manuangkan. untuak mambalo badan kito. rancak tarangkan pado denai. manga Tuan duduak tamanuang. kalau den agak-agak bana. . mako den ka Pasa Canduang. baa denai tak kabamanuang. “Manalah adik Linduang Bulan. kito dibari Tuhan aka. luluah rasonyo parantian . kemana dukun yang tidak kita tempuh. gimana saya tak akan bermenung. “Oi Tuan Datuak Bandaro. susah akan kita bagi dua. lah sagudang tungku kumayan den baka. Diak. sia kamambalo badan tuo. Sudah sepuluh tahun dia bergaul. 7.

“Manolah adiak Linduang Bulan. to melah kito bajalan-jalan. orang berhelat tengah sawah. “Manalah adik Linduang Bulan. sedangkan berdunsanak ibu. kononlah kasih orang ditompang. kononlah padi rang basalang. alu tertarung patah tiga. 95 Datuak Bandaro bajalan bagageh.” 13. maliek kabun kopi kito. yang ada bertali darah. nan bajalan siganjua lalai. kalau tidak padi di lumbung. kok indak padi di lambuang. nan masonyo samaso nan tun. Datuak Bandaro berjalan bergegas-gegas. kononlah padi orang dipinjam. enggan juga hatinya. marilah kita berjalan-jalan. kapado Puti Linduang Bulan. nan ka suok lenggang manganai. kalau den etong-etong bana. kononlah kasiah urang ditompang. sayang menjelang sawah sudah. kalau saya hitung-hitung benar.” Sub-adegan ke-1 75 80 85 Yang berkata Linduang Bulan. semut terinjak tindak mati. bilo masonyo nan kasampai. Lah bajalan si Linduang Bulan. bainggan juo hatinyo. “Manolah adiak Linduang Bulan. sepinggan juga jadi nasinya. kononlah kasih orang ditompang. hampia sabulan kito tak kian. Nan bakato Linduang Bulan.” Yang berkata Datuak Bandaro. kononlah kasiah rang ditompang. sadangkan badunsanak ibu. duo jo Puti Linduang Bulan. nan lai batali darah. 7 8 Sudah berjalan Datuak Bandaro. salibu adalah padi yang sudah terkena hama. rasa kopi sudah akan memerah. baraso kopi lah ka manyirah. Ibid. Lah bajalan Datuak Bandaro. bila masanya yang akan sampai. tetapi dapat tumbuh lagi. cando urang dikaja hantu. yang berjalan siganjua lalai. 16. . terutama untuk para gadis. kepada Puti Linduang Bulan. kalau seperti ini adik berjalan.12. cadangkan padi salibu. cadangkan padi salibu.” ADEGAN II 17.gageh. hampir sebulan kita tak ke sana. melihat kebun kopi kita. Nan bakato Datuak Bandaro. bagagehlah adiak saketek.7 yang berbuah di tengah sawah. yang ke kanan lenggang mengana. Kononlah Puti Linduang Bulan. Ungkapan ini sering digunakan untuk menyatakan sifat jalan seorang perempuan.” 100 105 Sudah berjalan si Linduang Bulan. nan babuah di tangah sawah. yang ke kiri lenggang membunuh8. dua dengan Linduang Bulan. seperti orang dikejar hantu. “Manolah Tuan Datuak Bandaro. alua tataruang patah tigo. nan ka kida lengang mambunuah. 15. Kononlah Puti Linduang Bulan. “Manalah Tuan Datuak Bandaro. Nan bakato Datuak Bandaro. Yang berkata Datuak Bandaro.” 90 14. sapinggan juo kanasinyo. “Manalah adik Linduang Bulan. sayang manjalang sawah sudah. urang baralek tangah sawah. samuik tapijak indak mati. kalau co iko adiak bajalan. yang masanya semasa itu. bergegaslah adik sedikit.

145 kok Tuhan mambari izin denai baranak. kinilah yang muda saja yang tinggal. tercengang Datuak Bandaro. Apo namonyo binatang tu. tibo di dahan inyo maliek. Panehlah hati Datuak Bandaro.9 dilempar pula sekali lagi. 24. Apa namanya binatang itu. rancak benar tampak oleh saya. usah dibunuah binatang nantun. Nan bakato Puti Linduang Bulan. “Oi adik Linduang Bulan. Tuan?” 110 dituruti Datuak Bandaro. dibae pulo sakali lai. ini yang memakan kopi saya. bialah sarupo Tupai Janjang. saya lemparlah binatang ini. “Saya sangka kopi banyak masak. dialah binatang yang melompat tadi. sampai di kebun kopi. kinilah nan mudo sajo nan tingga. itu di dalam kebun kopi. Pihak kapado binatang nantun. “Oi Tuan Datuak Bandaro. melompat seekor binatang. Dalamnyo takajuik nantun. Nan bakato Datuak Bandaro.” Dilemparnya oleh Datuak Bandaro. Panaslah hati Datuak Bandaro. 22. den baelah binatang nangko. Sana terkejut Datuak Bandaro. rancak bana tampak di denai. lalu diambil gado lintang. “Oi adiak Linduang Bulan. “Ini yang menghabiskan kopi kita. Yang berkata Datuak Bandaro. melompat ke tepi pagar. menghindar dia sedikit. inyo mailak maso nantun. Sanan takajuik Datuak Bandaro. lalu diambiak gado lintang. 18. 140 nan maabiahkan kopi kito. tacangang Datuak Bandaro. mandencek ka dahan tinggi. inyolah binatang nan mandencek tadi. sampai di kabun parak kopi. etan di dalam parak kopi.” 25.” Yang berkata Puti Linduang Bulan. Tuan?” Yang menjawab Datuak Bandaro. maliek Datuak Bandaro. den bunuahlah Tupai Janjang nangko.” 21. itu yang bernama Tupai Janjang. 120 125 130 135 Yang berkata Puti Linduang Bulan. meloncat ke dahan tinggi. Dibaenyo dek Datuak Bandaro. mangaliciak inyo saketek.” 19. “Den sangko kopi banyak masak. “Oi Tuan Datuak Bandaro. Nan manjawek Datuak Bandaro. saya bunuhlah Tupai Janjang ini. “Oi Tuan Datuak Bandaro. iko nyo nan mamakan kopi denai. tiba di dahan dia melihat.” 115 Dalam dia terkejut itu. “Oi Tuan Datuak Bandaro. mandencek sikua binatang. 23. dia mengelak masa itu. kalau Tuhan memberi izin saya beranak.” 9 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. itu nan banamo Tupai Janjang. usah dibunuh binatang itu. melihat Datuak Bandaro.dituruikan Datuak Bandaro. yang menghabiskan kopi kita. gado lintang adalah sebutan kayu yang digunakan untuk melempar. biarlah serupa Tupai Janjang. Nan bakato Puti Linduang Bulan. Pihak kepada binatang itu.” 26. 20. mandencek ka tapi paga. . “Iko nan maabihan kopi kito.

sudah sampai dia di rumah. tando Linduang Bulan ka manganduang. bapamenan bintang di langit. raso mamangku matohari. “Oi Tuan saya Datuak Bandaro. dek badannyo lah ka manganduang. taserak cando hujan paneh. tanda Linduang Bulan akan mengandung. rasa memeluk-meluk bulan. Badantuang bunyi patuih tongga. diambil buku takwil mimpi. yang sekali ayam berkokok. serta Puti Linduang Bulan. cukup kedua hari siang. 180 lai jaleh dek adiak kanduang?” 33. nan lah pulang Datuak Bandaro. kok Tuan tertawa seorang?” Yang menjawab Datuak Bandaro. “Menurut buku takwil mimpi. apa takwil mimpi saya?” Pihak kepada Datuak Bandaro. raso mamangku matohari. cukuik kaduo hari siang. Gadang hati si Linduang Bulan. Hari nan alah barabuik sanjo. sarato Puti Linduang Bulan. Sana berkata Puti Linduang Bulan. tandonyo niaik lai kasampai. rasa memangku matahari. diambiak buku takwie mimpi. Yang berkata Puti Linduang Bulan. kok Tuan tagalak surang?” 150 Berdentum bunyi petir tunggal. 160 165 170 32. denai bamimpi malam tadi. barpamenan adalah mempunyai alat untuk sekadar permainan. Ibid. bapamenan bintang di langik. “Oi Tuan den Datuak Bandaro. raso mamaluak-maluak bulan. lalu diliek maso nantun. Ibid. sarato Puti Linduang Bulan. 155 Hari yang sudah berabuik10 senja. adik bermimpi malam tadi. yang sudah pulang Datuak Bandaro. bapamenan11 bintang di langit. lah lalok Datuak Bandaro. Sub-adegan ke-1 28. tetapi untuk ini berarti hari sudah senja. Sub-adegan ke-2 34. serta Puti Linduang Bulan. nan sakali ayam bakukuak. 29. 175 adiak bamimpi malam tadi. Nan bakato Puti Linduang Bulan. bara angguak sarato geleng. hampir sampai genap bilangan. Lah sabulan duo bulan. tandanya niat ada kesampaian. lalu dilihat masa itu. raso mamaluak-maluak bulan. Sinan bakato Puti Linduang Bulan. 31. rasa memeluk-meluk bulan.27. 10 11 185 Sudah sebulan dua bulan. ampia sampai ganok bilangan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. saya bermimpi malam tadi. lah sampai inyo di rumah. . Pihak kapado Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro. ada jelas oleh adik kandung?” Besar hati si Linduang Bulan. karena badannya sudah akan mengandung. apo takwie mimpi denai?” 30. “Manuruik buku takwie mimpi. terserak seperti hujan panas. berapa angguk serta geleng. Nan manjawek Datuak Bandaro. rasa memangku matahari. sudah tidur Datuak Bandaro. bapemenan bintang di langik. barabuik sama artinya dengan berebut.

15 Ibid.” Sub-adegan ke-3 38. yang bersifat berlebihan dan tidak wajar. lenyai lihia paja dibueknyo. 12 13 210 215 220 225 Sudah hampirnya genap bilangan bulan. sakitnya. aduh duh sakitnya. sudah tiba sakit beranak. Tuan tidak boleh menyemblih ayam. Nan bakato Datuak Bandaro. ampalam sakaruang dicarikannyo. mempelam sekarung dicarikannya. tolonglah ondeh sakiknyo.” 39. “Oi Tuan Datuak Bandaro. lah tibo sakik baranak. “Ondeh Tuan. termenung Datuak Bandaro. dalam hal ini karena menahan sakit. hanyolah saketek sajo. 205 banyak larangan jo pantangnyo. sakiknyo. . “Oi Tuan Datuak Bandaro. yang tabedo12 dia berkehendak. tamanuang Datuak Bandaro.bamacam-macam kandak Linduang Bulan inyo mamintak nan masam-masam. salamo denai manganduang ko. sama dengan ngiler atau air liur. kapunduang adalah sejenis buah-buahan seperti langsat yang rasanya asam dan berkulit tebal. ada jelas oleh Tuan itu?” Yang berkata Datuak Bandaro. Nan bakato Puti Linduang Bulan. lai jaleh dek Tuan tu?” 37. itu syarat yang saya terima. “Manalah adik Linduang Bulan. tolonglah aduh sakitnya. bakandak kapunduang mudo. “Manolah adiak Linduang Bulan. itu pantang jo larang nan tibo di den pihak kapado urang padusi. kaluah kasah inyo manahan sakik. Lah hampienyo ganok bilangan bulan. masuk benar. kalau akan masuk. akan mailia14 selera anaknya esok. Nan bakato si Linduang Bulan. mancaracau sama dengan mengigau atau berbicara dengan tidak punya arahan. banyak larangan dengan pantangnya. 14 Idid. keluh kesah dia menehan sakit. musim kapunduang alah rangkeh.” 190 200 36. mailia adalah mengalir dalam hai ini. kamailia salero anaknyo isuak. menceracau15 kata di mulutnya. Pihak kepada Datuak Bandaro. Andropogon Nardus.” Yang berkata si Linduang Bulan. mancaracau kato di muluiknyo. “Oi Datuak Bandaro. sudah hampir sembilan bulan. Ibid. dicarinya yang asam-asam. “Oi Datuak Bandaro. tapi yang dimakan si Linduang Bulan. ondeh deh sakiknyo. Tuan indak buliah doh mandabiah ayam. lah hampia sambilan bulan. hanyalah sedikit saja. jan kau tagak-tagak di pintu. nan tabedo inyo bakandak. jangan kau tegak-tegak di pintu. Yang berkata Puti Linduang Bulan. dicarinyo nan masam-masam. berkehendak kepundung muda. 35. tapi nan dimakan si Linduang Bulan. ada larangan dengan pantangannya. “Aduh Tuan. Ibid. pihak kepada orang perempuan. Pihak kapado Datuak Bandaro. itu pantang dengan larang yang tiba saya. musim kepundung13 sudah langkas. lembek leher paja dibuatnya. tabedo adalah sesuatu yang berbeda dengan biasanya. selama saya mengandung ini. ado larangan jo pantangannyo. itu syaraik nan den tarimo. bermacam-macam kehendak Linduang Bulan dia meminta yang asam-asam. kalau kamasuak masuak bana.

bara geleng sarato uruik. ajanlah. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. tanah lambang. 260 Yang tercengang si Dukun Pandai. ya begitu. Ibid.” 47. “Oi Linduang Bulan. Nan tacangang si Dukun Pandai. iko anak tupai tu candonyo. ejan. ambiak kain panjang sabuah. lantai sudah patah. sudah berjalan masa itu. yo mantun. tanah lambang17. “Iko indak anak urang doh ko. indak tahan sakik co iko. Nan lah tibo si Dukun Pandai.” Pihak kepada Dukun Pandai. ajan. . sah bajalan maso itu. lari ke jenjang masa itu. hop. tiba di rasuak. yo mantun. ko paja lah manyaruang. jan saroman iko bana. alah. Sudah berlari si Dukun Pandai. bialah ndak den cubo manolong. “Oi Datuak Bandaro. rasuak16 terban. ejan. lari ka janjang maso nantun. ejanlah. dibawa naik ke atas rumah. Pihak kapado Dukun Pandai. tibo di lantai. “Ini tidak anak orang ini. hop. diambiaklah kain panjang. 45. kanalah diri. berapa geleng serta urut. Pihak kapado Dukun Pandai. ya begitu. ejan. Pihak kapado Datuak Bandaro. ajan.” Pihak kepada Dukun Pandai. tiba di lantai. bara caliak sarato lengoh.” 43. taruih sakali masuak kandang. tiba di tanah. “aalah. rasuak adalah balok yang dipasang antar tiang untuk menyangga lantai. tibo di tanah. lantai lah patah. hendak saya coba menggeleng perut ini. tibo di rasuak.” 40.. “Oi Datuak Bandaro. Lalu diambiak anak maso nantun.” 235 240 245 250 255 Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. ini anak tupai itu sepertinya. nak den cubo manggeleng paruik ko. ajan. ini anak sudah menyuruh. diambillah kain panjang. alah beko. jangan serupa itu benar. Yang sudah tiba si Dukun Pandai. terus langsung masuk kandang. berapa lihat serta lengah. alah. 46. sudah. tidak tahan sakit seperti ini. dijeput malah dukun pandai. Gambaran betapa hebatnya yang empunya kaki dalam cerita klasik. sudah. “sudah. Lah balari si Dukun Pandai. dibawo niiak ka ateh rumah. 41. rasuak taban. sudah nanti.” 230 Pihak kepada Datuak Bandaro.” ADEGAN III 44.” 42. dijapuik malah dukun pandai. ingatlah diri.japuiklah Dukun Pandai. biarlah hendak saya cuba menolong. “Oi Linduang Bulan. 16 17 jeputlah Dukun Pandai. Ibid.” Lalu diambil anak masa itu. ambil kain panjang sebuah. lambang adalah bekas injak atau tekanan beban pada tanah. bara uruik si Linduang Bulan. berapa urut si Linduang Bulan.

ditimpo tanah badarai. Datuak Bandaro beranak tupai. kita pelihara baik-baik. ini entah orang. Nan tacangang Datuak Bandaro.“Tuan Datuak Bandaro. turunan puti sudut-bersudut.” 53. inyo darah dagiang kito. dia kan darah daging kita. bia den banuah Tupai Janjang. biapun inyo sakarek ula. malu yang telah tumbuh. usah dibunuah anak kito. tupai anak Tuan malah kironyo.” Yang tercengang Datuak Bandaro. malu nan lah tumbuah. Tupai Janjang malah kiranya. iko antah urang. “Oi Tuan Datuak Bandaro. dipalapeh kandak maso itu. disusukan anak maso itu. turunan raja turunan puti. inyo anak kito.18 ditimba tanah berderai. kito tasabuik urang asa. “Oi Tupai Janjang elok-elok parangai anak. “Tanah liek bakapiek.” Pihak Puti Linduang Bulan. .” Yang berkata si Dukun Pandai. tupai anak Tuan malah kiranya. kita besarkan anak ini. kito paliharo baiak-baiak. dia anak kita. kini anak manjadi tupai janjang. nan sakarang iko kini.” mandanga kato Linduang Bulan. yang sekarang ini kini. kita pelihara baik-baik. “Tanah liat bakapiek. Pihak kepada Datuak Bandaro. Lalu bakato si Linduang Bulan. Tupai Janjang malah kironyo. biar saya bunuh Tupai Janjang. Nan bakato si Linduang Bulan. diambiak malah Tupai Janjang. Lalu berkata si Linduang Bulan. 51. andak kamanyusu? nak den manyusukan. Nan bakato si Dukun Pandai. manyusu! manyusu. 305 nak manyusu. Pihak kapado Datuak Bandaro. Pihak Puti Linduang Bulan. turunan rajo turunan puti. diambil malah Tupai Janjang. “Oi Tupai Janjang elok-elok perangai anak. dia darah daging kita. belum dilihat sudah terlihat. entah apa ini. tapi Tupai Janjang banyak ulahnyo. alun dilieklah taliek. Datuak Bandaro baranak tupai. kita tersebut orang asal. “Kini begitulah Linduang Bulan. tapi Tupai Janjang banyak ulahnya. Yang berkata si Linduang Bulan.” 49. disusukan anak masa itu. kalau begitu kata Adik. biarpun sepotongnya belut. inyo kan darah dagiang kito. kalau baitu kato Adiak. menyusulah ha! 270 275 280 285 290 295 300 54.” 48. usah dibunuh anak kita. menyusu! menyusu. kini anak menjadi tupai janjang. bakapiek adalah bergelintin sehingga susah dipisahkan. hendak menyusu.” mendengar kata Linduang Bulan. “Kini baitulah Linduang Bulan. kito paliharo baiak-baiak. hendak akan menyusu? supaya saya menyusukan. biapun sakarek nyo baluik. 265 “Tuan Datuak Bandaro. kito gadangkan anak nangko. 50. manyusulah ha! 18 Ibid. dilepas kehendak masa itu. tutunan puti suduik-basuduik. “Oi Tuan Datuak Bandaro. antah a ko. biarpun dia sepotong ular.

” Sub-adegan ke-1 55. kito buang habih-habih. sudah payah mandeh membesarkan. jaeknya balabiah-labiah. Pihak kapado Tupai Janjang. membenar saya Tuan oi. jangan dibunuh Tupai Janjang. moh. den suoki waang dahulu. lah abih barang ateh rumah. dia berputar ke halaman. makan!. usah digigit pula susu ini. haa elok-elok malah kalau manyusu tu!.Nan bakato Linduang Bulan. kita buang habis-habis. saya peluk. yang jari saya yang sudah kamu kunyah. usah digigik pulo susu nantun!. sudah saya peluk. moh. banyak benar ulah kamu..” 345 19 Ibid. haa melompat pula lagi. makan.” 57 . piriang saonggok ditandehkannyo. sudah Tupai Janjang.Nan bakato Datuak Bandaro. segala tanaman dihabiskan oleh Tupai Janjang. 340 mahabih manandehkan karajonyo. dipecahnya. tidak patut dipecah. “Manalah adik Linduang Bulan. Yang berkata Datuak Bandaro. kini baitulah nan elok.” 330 Pihak kepada Tupai Janjang. alah den paluak. kalau den pipihkan nasi lamo karajonyo. hmm. haa elok-elok malah kalau menyusu itu. 335 kalau bak caro iko parangai Tupai Janjang. ijan dibunuah Tupai Janjang. nan jari den nan lah ang kunyah. memberi malu saja kerjanya. elok dicacang hiduik-hiduik. menandehkan sama dengan menghabiskan. 310 315 320 325 eh mengigit pula. moh. melompat pula lagi. makan. ancak den agiah makan. piring seonggok dihabiskannya.” Maka berkata Linduang Bulan. makan.” 56. kini begitulah yang elok. . nan Tupai Janjang usah dibunuah. dia kan darah daging kita. mambari malu sajo karajonyo. “Oi Tuan Datuak Bandaro. sagalo tanaman ditandehkan dek Tupai Janjang . kalau seperti cara ini perangai Tupai Janjang tidak mau ditunjuk diajari. elok dicencang hidup-hidup. indak patuik dipacah dipacahnyo. haa mandecek pulo baliak. dari hari berganti bulan. mambana den ka bakeh Tuan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. dari hari baganti bulan. inyo bakisa ka hilaman. “Manolah adiak Linduang Bulan. inyo kan darah dagiang kito. den paluak. menghabis menandehkan19 kerjanya. inyo anak kanduang kito. sudah habis barang atas rumah. saya suapi kamu dahulu. yang Tupai Janjang usah dibunuh. mambana den Tuan oi. baik saya kasih makan. makan.eh mangigik pulo. kini rancak saya kunyahkan dulu.. dia anak kandung kita. lah payah mandeh manggadangkan. moh. kalau saya pipihkan nasi lama kerjanya. kini acak den kunyahkan dulo. alah Tupai Janjang. makan itu haa. ndak amuah ditunjuak diajari. mambenar saya ke hadapan Tuan. makan!. mandecek pulo lai. hmm. makan tu haa. jahatnya berlebih-lebih. banyak bana ulah waang.

. Nan bakato Datuak Bandaro.” 60. toh20 melah berjalan-jalan. Nan tamanuang Datuak Bandaro. kok sayang ang katoan sayang. kito pai ka kabun kopi. “Manolah ang Tupai Janjang. nyo bajalan bagageh-gageh. sedang dia di kayu besar. kalau saya minta berelok-elok. Berkata Datuak Bandaro. yang berjalan melompat-lompat. iya kepada Datuak Bandaro.” 62. Pihak kapado Datuak Bandaro. toh melah bajalan-jalan. membawa kamu ke kebun kopi.58. turutkan saya oleh kamu Tupai Janjang. kini elok saya curi anak ini. sana ke kebun kopi kita. kepada anak Tupai Janjang. den minta batanang-tanang.” Pihak kepada Tupai Janjang. 59. “Manalah kamu Tupai Janjang. suaranya mencareceh-careceh21. etan ka kabun kopi kito. terpikir oleh dia masa itu. inyo manjanguak ka bawah. tidak akan mau si Linduang Bulan. biapun waang indak pandai mangecek. dia melihat ke bawah. rasa banyak yang sudah masak. biarpun kamu tidak pandai bicara. nan lah sampai di tapi rimbo. mambao ang ka parak kopi. iyo ka Datuak Bandaro . tapi karena kamu anak manusia. 20 21 350 355 Yang termenung Datuak Bandaro. mendengar kata ayah yang itu dia mencibir-cibir. sadang inyo di kayu gadang. kato den kato nan elok . nan bajalan mandencek-mandencek. kini saya kamu cibirkan. kata saya kata yang elok. Nan lah bajalan Datuak Bandaro. raso banyak nan lah masak. nan sakarang iko kini. Yang berkata Datuak Bandaro. “Manalah kamu Tupai Janjang. “Manalah kamuTupai Janjang. yang sudah sampai di tepi rimba. “Manolah ang Tupai Janjang. 360 365 370 375 380 385 390 Sana berkata Datuak Bandaro. satantang kato si Linduang Bulan. Bakato Datuak Bandaro. tapikia dek nyo maso itu. iyo mancibia-cibia. 61. Ibid.” Yang sudah berjalan Datuak Bandaro. kapado anak Tupai Janjang. . mandanga kato ayah nantun. dia berjalan bergegas-gegas. kalo den mintak baelok-elok. Tupai Janjang mairiang di balakang. 64. ndak ka amuah si Linduang Bulan. toh adalah sejenis kata ajakan yang artinya sama dengan marilah. kita pergi ke kebun kopi. Pihak kepada Datuak Bandaro. Tupai Janjang mengiringi di belakang. setentang kata si Linduang Bulan. “Manolah ang Tupai Janjang. kalau menurut hati saya. tapi dek ang anak manusia. kini elok den cilok paja nangko. Mancareceh-mancareceh adalah ungkapan untuk menyatakan tingkah laku seekor tupai. kini waden ang cibiakan. yang sekarang kini. Pihak kapado Tupai Janjang. turuikan den di ang Tupai Janjang. sudah sebulan kopi tidak lihat. lah sabulan kopi tak baliek. kamu tahu dikata orang. suaronyo mancareceh-careceh. kalau manuruik hati denai. 63. saya minta bertenang-tenang. waang tau dikato urang. kalau sayang kamu katakan sayang. Sanan bakato Datuak Bandaro.

teringat ibu kandung diri. yang menoleh kanan dengan kiri. mangecek sajo nan tak pandai. dia pergi masuk rimba. ke mudik tidak berpagar.” Yang sekarang kini. tapi parangai ang indak barubah-rubah. berkirok berkikis22 kamu dari kampung ini. tinggallah badan di rimba besar. pada saya makan kamu hidup-hidup. ka mudiak indak bapaga. pengganti harta orang yang kamu habiskan. 405 den cancang lumek-lumek. nampaklah ladang yang sebuah. sudah berapa uang saya habis. Pihak kapado rang punyo ladang. pihak kepada Tupai Janjang. sudah jelas oleh kamu itu?” Mendengar kata ayah kandung. Nan lah sampai di tapi kabun. nakal kamu berkelebihan. lalu dipanjek kayu gadang. pangganti harato urang nan ang abihan. ADEGAN IV 69. takana mandeh kanduang diri. nan lah kanyang Tupai Janjang. ke hilir lebuh Tarantang. pado den makan ang hiduik-hiduik. dia menangis masa itu. pangganti barang urang nan pacah. Bakirok bakikih merupakan kata majemuk untuk mengusir seseorang . 410 415 420 Pihak kepada Tupai Janjang. 68. lalu melompat Tupai Janjang. tinggallah badan di rimbo gadang. 425 Pihak kepada orang punya ladang. Sub-adegan ke-3 67. Nan sakarang iko kini. gadang hati si Tupai Janjang. harta orang harta kamu. dia tahu kata manusia. 395 harato urang harato awak. menghabiskan manandehkan kerja kamu. inyo tahu kato manusia. terasa lapar yang di perut. yang sudah kenyang Tupai Janjang.waden sayang ka bakeh ang. bakirok bakikih ang dari kampuang ko. ka ilia labuah Tarantang. andak manuruik kabun nantun. pengganti barang orang yang pecah. pihak kapado Tupai Janjang. nyo pai masuak rimbo. saya cencang lumat-lumat. nan malengong suok jo kida. Pihak kapado Tupai Janjang. Mandanga kato ayah kanduang. lalu mandencek Tupai Janjang. inyo makan sakanyang-kanyangnyo. besar hati si Tupai Janjang. nampaklah ladang nan sabuah. 22 saya sayang kepada kamu. lah bara piti den abih. baitu pulo mandeh ang. Yang sudah sampai di tepi kebun. inyo manangih maso itu. jauh yang bukan alang-alang. bicara saja yang tak pandai. dia makan sekenyang-kenyangnya. maliek jaguang dalam parak. jahaik ang bakalabiahan. lalu dipanjat kayu besar. melihat jagung dalam kebun. jauah nan bukan alang-alang. lah jaleh diang tu?” 66. mahabih manandehkan karajo ang. begitu pula mandeh kamu tapi perangai kamu tidak berubah-rubah.” 400 Sub-adegan ke-2 65. taraso lapa nan di paruik. hendak menurut kebun yang itu.

diambil jagung tengah kebun. Pihak kapado Mak Hitam. namun samalam-malam nantun. “Iyo elok urang ko. supayalah sudah seperti perangkap. nan mamakan jaguang mudo. diambiak jaguang tangah parak. 470 satu tibonyo di situ. Pihak kapado Tupai Janjang. elok bana urang nangko. melihat jagung yang teronggok.” Yang pulanglah Mandeh Rubiah. yang mencuri si jagung muda. Yang sekali ayam berkokok. binatang yang memakan jagung.nan banamo Mandeh Rubiah. nyo mandencek ka dalam jaguang mudo. Nan takajuik si Tupai Janjang. Yang terkejut si Tupai Janjang. dionggokkan dalam perangkap. lalu melompat masa itu. . cukup kedua hari siang. lalu mandencek maso nantun. “Iya elok orang ini.” 76. terlelap dia si Tupai Janjang. yang sudah bangun Tupai Janjang.” 72. 430 yang bernama Mandeh Rubiah. terpikir oleh dia masa itu. duo jo lakinyo Mak Hitam. kok lai untuang masuaak pirangggkoooook. dibuek pirangkok maso nantun. iya elok benar orang yang punya ladang pada kita berjerih-jerih. dibuat perangkap masa itu.” begitu katanya Mandeh Rubiah. kok untuangnyo takadie Allah. nak lah sudah cando pirangkok. nan lah jago Tupai Janjang. iyo elok bana urang nan punyo ladang. Nan sakali ayam bakukuak. rajutlah binatang yang itu. untung-untung masuk dalam perangkap. dia melompat ke dalam jagung muda. yang memakan jagung muda. 450 440 445 Pihak kepada Tupai Janjang. pergi ke ladang melihat jagung.“Apo binatang kok kironyo. kalau ada untung masuuk peranggggkaaaaaap. mancaliak jaguang nan taonggok. pulang ke rumah dengan Mak Hitam 70. karena perut terasa sudah kenyang. bakato pado Mak Hitam. nyo tidua di ateh kayu. dua dengan suaminya Mak Hitam. kini begitulah oleh Mak Hitam. 73. kalau untungnya takdir Allah. teringat pula mencuri. dia tidur di atas kayu. Lalu mandencek Tupai Janjang. dek paruik taraso lah kanyang. nan mancilok si jaguang mudo. untuang-untuang masuak dalam perangkok. takana pulo mamaliang. pai ka ladang mancaliak jaguang. waktu tiba dia di situ. 71. talalok nyo si Tupai Janjang.” Lalu melompat Tupai Janjang. kini baitulah dek Mak Hitam. berkata pada Mak Hitam. diungguakkan dalam pirangkok. jaguang lah dionggokkannyo untuak awak. namun semalam-malam itu. pulang ka rumah jo Mak Hitam.” baitu katonyo Mandeh Rubiah. 435 rajuiklah binatang nantun. 455 460 75. Pihak kepada Mak Hitam. 465 pado awak bajariah-jariah. cukuik kaduo hari siang. tapikia dek inyo maso itu. elok benar orang ini. jagung sudah dionggokan untuk kita. binatang nan mamakan jaguang. “Apa binatang kok kiranya. 74. Nan lah pulang Mandeh Rubiah.

tumbuahlah sasa dalam diri. “Manalah Mak Hitam. Nan bakato Mandeh Rubiah. kito bao pulang Tupai Janjang ko. kamu yang menghabiskan ya? saya bunuh kamu kini. baladang batanam jaguang. berladang bertanam jagung. lah jaleh dek waang?” 78. yang sekarang kini. saya cekik dia sampai mati. Lai jaleh ? Ka babao pulang pulo ? Untuak a dibao pulang ? Den cancang juo kini-kini. tupai ini tupai keramat. “ha…ha…. aie matonyo badarai-darai.” Pihak kepada Mandeh Rubiah. “ha… ha… ha…. ha… waden nan jariah-jariah ka parak. pandai benar dia menangis. kita bawa pulang Tupai Janjang ini. iba tiba di dalam hati. jan dibunuh tupai nangko.24 Yang sudah datang Mandeh Rubiah. tumbuhlah sesal dalam diri. ibo tibo di dalam hati. melentingnya pegas sebuah perangkap apabila tersinggung sesuatu atau mangsa. Iko nan mahabihkan jaguang awak. mendengar kata Mak Hitam. iko nan mamakan jaguang denai.” 80. jangan dibunuh tupai ini. 82.ha… bagaimana cobalah rasakan. takana bapak nan jo mandeh. dan lain-lain. bingkeh adalah bingkas. hu… hu…. Nan lah datang Mande Rubiah. pandai bananyo manangih. mandanga kato Mak Hitam. den makan ang hiduik-hiduik. Nan tacangang Mandeh Rubiah. Yang tercengang Mandeh Rubiah. yang terkejut si Tupai Janjang.” Yang berkatanya Mak Itam. Pihak kapado Mandeh Rubiah. Tupai Janjang pandai menangis. sudah jelas oleh kamu?” Pihak kepada Tupai Janjang. Nan bakatonyo Mak Itam. 480 waang nan maabihkan yo? den bunuah ang kiniko. 475 sarato Mak Itam suaminya. ha… saya yang susah-susah ke kebun. dalam perengkapnya kalusuak panja. 23 perangkap bingkeh23 hanya ada. hiba kita membunuhnya. ibo awak mambunuahnyo. yo manangih si Tupai Janjang. saya makan kamu hidup-hidup. Yang berkata Mandeh Rubiah. nan sakarang iko kini. lihatlah oleh Mak Hitam. ini yang memakan jagung saya. . air matanya berderai-derai. “Tidak! Ini yang menghabiskan jagung kita Ada jelas? Akan dibawa pulang pula? Untuk apa dibawa pulang? saya cencang juga kini-kini.pirangkok bingkeh hanyo lai. “Indak!. Tupai Janjang pandai manangih. tupai nangko tupai kiramaik. caliaklah dek Mak Hitam. Kalusuah panja adalah kata majemuk untuk menyatakan perasaan yang berkeluh-kesah. Pihak kapado Tupai Janjang. teringat bapak dengan ibu. den cakiak inyo sampai mati. nan takajuik si Tupai Janjang.” 81. dalam pirangkoknyo kalusuak panja. baa cubolah rasokan. 77. 485 490 495 500 505 510 24 Ibid. serta Mak Itam suaminya. hu… hu… 79. “Manolah Mak Hitam. ya menangis si Tupai Janjang.

bisa mati dia nanti. mambana denai ka Mak Hitam . yang terpikir Mandeh Rubiah. iko kandang ang. Tibo kasiah Mandeh Rubiah.” 515 520 “O Tuan hanyo saya. saya kaluarkanlah sebentar. kita pelihara baik-baik. dek kuduak no kanai cium. melompat kepada Mandeh Rubiah. kalau haus saya beri air. dimasuakkannyo ka dalam kandang. molah den bao ang pulang. ini kandang kamu. sebab tupai ini pandai menangis. jan tupai ko kito bunuah.” 86. “Ha elok-elok di sini ya. elok inyo dikaluakan. kalau lapar saya beri nasi. dimasuakkan si Tupai Janjang. bicara saja yang tak pandai. inyo mandencek maso nantun. elok kito bao pulang. elok kita bawa pulang. diagiah aie tak diminumnyo.” 87. tupai ko mangarati kecek urang mangecek sajo nan tak pandai. den kaluakanlah sabanta. Pihak kapado Tupai Janjang. diberi jagung tak dimakannya. diberi air tak diminumnya. kito paliharo baiak-baiak. elok-elok ang di dalam. sabab tupai ko pandai manangih. lalu dibukaknyo pirangkok. marilah saya bawa kamu pulang.” Pihak kepada Mak Itam. kalau menurut ukuran saya. sudah tiba dia di tengah rumah.“ 83. namuah mati nyo baeko. indak makan indak minum. “Manalah kamu Tupai Janjang.. inyo cium kuduak Mandeh Rubiah. biarlah kamu saya bawa tinggal. lalu dibukanya perangkap. “Manolah ang Tupai Janjang.” Lalu pulang dia masa itu. elok dia dikeluarkan. kalau seperti ini Tupai Janjang ini. Pihak kapado Tupi Janjang. saya beri jagung. mendengar kata Mandeh Rubiah. kalo manuruik ukuran denai. diagiah jaguang tak dimakannyo. kalau hauih den agiah aie. nan tapikie Mandeh Rubiah. tagali raso di Mandeh Rubiah.“O Tuan janyo denai. Pihak kapado Mak Itam.” 540 545 550 . tidak makan tidak minum. dimasukkan si Tupai Janjang. kalo bak nangko Tupai Janjang ko. Sub-adegan ke-1 85. tupai ini mengerti bicara orang. lah tibo nyo di tangah rumah. ambek dibunuah Tupai Janjang. elok-elok kamu di dalam. bialah ang den bao tingga. membenar saya ke Mak Hitam. kalau litak den agiah nasi. 84. mandencek kapado Mandeh Rubiah. kok untung takdir Allah. dia cium kuduk Mandeh Rubiah. 525 530 535 Tiba kasih Mandeh Rubiah. Lalu pulang nyo maso nantun. dimasukkannya ke dalam kandang. jangan dibunuh Tupai Janjang.” Pihak kepada Tupai Janjang. “Ha elok-elok di siko yo. tergeli rasa di Mandeh Rubiah. dia melompat masa itu. kok untuang takadia Allah. mandanga kato Mandeh Rubiah. karena kuduknya kena cium. den agiah jaguang. jangan tupai ini kita bunuh. Pihak kepada Tupai Janjang.

besar hati kami dibuatnya. itulah usaha oleh kamu. inyo mandencek maso nantun. jaan maambiak-ambiak lai. “A a kamakan yo? Aa makanlah. 92. 89. oleh karena kamu membesarkan hati kami. cobalah pikir oleh kamu Tupai Janjang. Sana berkata Mandeh Rubiah. jangan anak mencuri juga. waang alah bausaho. jika disuruh dia pergi. dia melompat masa itu. di tapak tangan nan katuju dek inyomakan. Lah dibao si Tupai Janjang. diambiak jaguang di tangan Mandeh Rubiah. Apa akan makan ya? Apa makanlah. dek karano waang mangadangkan hati kami. jaan anak mancilok juo.” Pihak kepada Tupai Janjang. 565 “Iyo elok tupai nan ko. mandencek ka bahu Mandeh Rubiah. kini tidak usah kamu masuk kurungan lagi. elok tupai ini. “Manalah anak Tupai Janjang. “Iya elok tupai yang ini. dibao naiak ka ateh rumah. Sana berkata Mandeh Rubiah. jikok disuruah inyo pai . kalau sakironyo paruik lapa. bapikialah waang saketek. lalu dimakan masa itu. Sinan bakato Mandeh Rubiah. barusaholah awak. iyo sabana santiang Tupai Janjang ko. orang yang berjerih. mintak sacaro elok-elok. 91. tapi sebuah lagi. diambiak jaguang nan mudo.” 555 Pihak kepada Tupai Janjang. jangan mau meminta-minta. berusahalah kita.88. seperti kamu kini. jaan namuah mamintak-mintak. diambil jagung yang muda. elok tupai ko.” 570 91. kalau sekiranya perut lapar. itulah usaho dek ang. Pihak kapado Tupai Janjang. dikasih minum yang dengan makan. jaan mancilok-cilok juo.” 93. diagiah minum nan jo makan. kamu sudah berusaha. 560 90.. mamakan jaguang di parak urang. lah barubah parangai maso itu. macam waang kini ko. Sanan bakato Mandeh Rubiah. 575 580 585 590 595 Sana berkata Mandeh Rubiah. sungguhpun meminta baik-baik. minta secara baik-baik. “Manolah anak Tupai Janjang. sugguahpun mamintak elok-elok.” Pihak kepada Tupai Janjang. .” Sudah dibawa si Tupai Janjang. sebuah pinta dari Mandeh. iya sebenar pintar Tupai Janjang ini. melompat ke bahu Mandeh Rubiah. Sinan bakato Mandeh Rubiah. Pihak kapado Tupai Janjang. Pihak kapado Tupai Janjang. cubolah pikia dek ang Tupai Janjang. jangan mengambil-ngambil lagi. awak nan mandapek labo sajo. kini ndak usah ang masuak kuruangan lai. gadang hati kami dibueknyo. lalu dimakan maso nantun. diambil jagung di tangan Mandeh Rubiah. di tapak tangan yang suka oleh dia makan. tapi sabuah lai. bepikirlah kamu sedikit. memakan jagung di kebun orang. jangan mencuri-curi juga. urang nan bajariah. sabuah pintak dari Mandeh. kita yang mendapat laba saja. dibawa naik ke atas rumah. sudah berubah perangai masa itu.

nan nyo ambiak kain sirah. nan sakarang iko kini. waang lah lamo tingga di kami. kini pai ang ka parak. Sudah tiba dia di tengah ladang. Sub-adegan ke-3 97. selarut selama ini. 98. apolah binatang nantun. 605 610 Lalu berkata masa itu. terkejut babi yang banyak. Yang sudah malam pula hari. habis lari karo yang banyak. dia masuklah ke dalam ladang. 630 635 Karo adalah sejenis binatang sejenis monyet yang berbadan kecil dan hidup di dalam hutan. takuiklah inyo kasadonyo. ke ladang jagung kita. takutlah dia semuanya. timbua aka samaso itu . kamu sudah lama tinggal di kami. dilihat kepada Tupai Janjang. dia pergi pula ke ladang. Lah tibo inyo di tangah ladang. salaruik salamo nangko. 600 Pihak di Mandeh Rubiah. 99. siang malam jaga oleh kamu.Lalu bakato maso nantun. Pihak kapado Tupai Janjang. lah sampai inyo di ladang. larilah inyo kasadonyo. inyo pai pulo ka ladang. Nan lah malam pulonyo hari. “Manalah kamu Tupai Janjang.” 96. yang selamat kebun Mandeh Rubiah. “Manolah ang Tupai Janjang. lah salamaik parak Mandeh Rubiah. inyo baunduang-unduang kain putiah. abih lari karo nan banyak. Pihak di Mandeh Rubiah. Pihak kapado karo banyak.jikok ditagah inyo baranti. sudah sampai dia di ladang. timbul akal semasa itu. kalau iya emas tahan uji. nan baunduang jo kain sirah. . sudah diambilnya kain putih. tapikia dek inyo dalam hati. sudah patuh dirasakan. yang sudah siang sepertinya hari. yang dia ambil kain merah. 25 jika ditegur dia berhenti. yang sekarang ini kini. lah diambiaknyo kain putiah. takajuik babi nan banyak.Nan tapikia dek Mandeh Rubiah. nyo baunduang-unduang maso itu. kok iyo masuak dek ang pangaja. alah barubah parangai waang. siang malam jago dek waang. 615 620 625 Pihak kepada karo25 banyak. 100. dicaliak kapado Tupai Janjang. Yang terpikir oleh Mandeh Rubiah. nyo masuaklah ka dalam ladang. larilah dia semuanya. kini pergi kamu ke ladang. terpikir oleh dia dalam hati. apalah binatang yang itu. ka ladang jaguang kito. sudah berubah perangai kamu. nan salamaik parak Mandeh Rubiah. dia berundung-undung masa itu. 94.” Pihak kepada Tupai Janjang. kok iyo ameh tahan uji. dia berundung-undung kain putih. nan lah siang candonyo hari. yang berundung dengan kain merah. Sub-adegan ke-2 95. alah patuah dirasokan. sudah selamat ladang Mandeh Rubiah. kalau iya masuk oleh kamu pengajaran.

kalau berjalan peliharalah kaki. mulut terlompat emas tantangannya. kalau berkata peliharalah lidah. panakiak pisau sirauik. muluik taloncek ameh tantangannyo. tumbuahnyo sabalik induaknyo . menjaga induk kerjanya. palajari dek waang. dengar oleh kamu elok-elok. setitik jadikan laut. . danga dek ang elok-elok. bapikialah anak tantang itu. perangai sudah berubah.28 Alam yang terkembang ini. kok bajalan paliharolah kaki. lah tingga samo jo kami.” 640 102. inai adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa memerahkan kuku yang berfungsi untuk memberikan hiasan pada kuku. mancaliak paliharolah mato. panceteh batang lintabuang.” Sub-adegan ke-4 103. Alam nan takambang ko. satitiak jadikan lauik. tantangan. “Manalah kamu Tupai Janjang. salodang ambiak ka niru. melompat duduk di muka Mandeh Rubiah. kemarilah kamu duduk. Sebuah lagi oi anak kandung. “Manolah ang Tupai Janjang. 101. contoh misalnya batang pisang. alam terkembang jadikan guru.Lalu dipangia Tupai Janjang. sabuah pintak kapado ang. itu yang alam terkembang jadi guru. panceteh batang lintabung. padahan adalah akibat. sebuah pinta kepada kamu. sekepal jadikan gunung. kok tumbuah tiok manjadi anak . “Manalah kamu Tupai Janjang. melihat peliharalah mata. 28 Bagian ini bisa dibacakan dalam pidato-pidato adat.” sudah masuk pengajaran masa itu. lah jaleh dek ang tu?” 105. kok bakato paliharolah lidah. kaki tertarung inai26 padahan27nya. nan banamo anak batang pisang. sudah jelas oleh kamu itu?” Sebuah lagi ya anak kandung. kalau tumbuh tiap menjadi anak.” Pihak kepada Tupai Janjang. 27 Ibid. mandencek duduak di muko Mandeh Rubiah. Sabuah lai yo nak kanduang. Ini merupakan falsafah bagi masyarakat Minangkabau yang lazim disebut falsafah Alam Takambang Jadi Guru. kaki tataruang inai padahannyo. sudah tinggal sama dengan kami. salodang ambil ke niru. parangai alah barubah. pasan pituah urang tuo. “Manolah waang Tupai Janjang. pesan pituah orang tua.lah masuak pangajaran maso itu. manjago induak karajonyo. alam takambang jadikan guru. itu nan alam takambang jadi guru. 660 665 670 Ibid. sakapa jadikan gunuang. contoh misalnyo batang pisang. Sabuah lai oi anak kanduang. Ini merupakan petuah yang sering diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih kecil.Pihak kapado Tupai Janjang. 645 nan sakarang iko kini. yang sekarang kini. penakik pisau siraut. pelajari oleh kamu. supaya Mandeh tunjuk ajari. kamarilah ang duduak. nak Mandeh tunjuak ajari. 104. yang bernama anak batang pisang. berpikirlah anak tentang itu. 26 650 655 Pihak kepada diri kamu.Pihak kapado diri waaang. tumbuhnya sekeliling induknya. Lalu dipanggil Tupai Janjang.

ado jalan nan manurun. tapi ingeklah dek waang. kita bersahabat sama besar. kalau bicara dengan orang tua. . baitu pulo kito dalam bagaua. Agak-i adalah kira-kira perasaan orang supaya jangan tersinggung. banyak jalan yang akan ditempuh. kalau tercebur kaki ke dalam lobang. berkata usah lalu lalang saja. itu untuk kawan sama besar. kok tacirubuah kaki ka dalam lubang. mangecek jo urang nan gadang pado kita 700 bakato jo urang nan mulia.”Sudah itu jalan manurun. tapi ingat betul itu anak kandung. 695 itu nan tataruang kaki namonyo. tapi agak-i orang akan tersinggung. baa awak mandaki? sasak angok ndak? itu pakaikan dek waang. patah biko dibueknyo. akan jadi pelajaran”. hendaknya dalam kita bergaul ini. dari yang besar ke yang kecil. 690 ijan talongsong-talongsong bana. “Baa jalan nan mandata ko. agak-i urang tasingguang. ado jalan nan madaki. agak-i 30orang tersinggung. bisa saja kita turun. itu namanya jalan yang datar. bicara dengan orang yang besar pada kita.“Adaik kito iduik di dunia. dari nan gadang ka nan ketek. di jalan yang datar banyak orang yang jatuh.Nan ka duo jalan mandaki. jangan terlongsong-terlongsong29 betul. bisa sajo awak turun. 685 itu namonyo jalan nan data. kok tasingguang urang. itu yang tertarung kaki namanya. disasakkan angok kok mangecek. kok bakawan basamo gadang. bakato bakeh nan ketek. yang jalan yang menurun ini banyak berlobang-lobang. 680 ambiak sadonyo dek nak kanduang. batu kecil bisa menurun. basuo jo urang mulia-mulia. tapi ingek bana tu nak kanduang. bersua dengan orang tua-tua. ado jalan nan malereng. di jalan nan data banyak urang nan jatuah batu ketek bisa manurun. gimana kita mendaki? sesak nafas kan? itu pakaikan oleh kamu. awak basobaik samo gadang. lihat oleh kamu jalan menurun. disesakkan nafas kalau bicara. kok mangecek jo urang tuo. ka jadi palajaran”. ada jalan yang menurun.” 107. “Yang dikatakan jalan mendaki. kalau berkawan bersama besar. 710 715 Terlongsong-longsong maksudnya sama dengan jangan semena-mena. berkata dengan orang yang mulia.” Yang ke dua jalan mendaki. caliak dek ang jalan manurun. 675 banyak jalan nan kaditampuah. berkata kepada yang kecil. tapi ingatlah oleh kamu. ambil semuanya oleh anak kandung. ado jalan nan mandata. tapi agak-i urang ka tasiingguang. bersua dengan orang mulia-mulia. itu ka kawan samo gadang. nan jalan nan manurun ko banyak balubang-lubang.” 106. 29 30 “Adat kita hidup di dunia. “Nan dikatokan jalan mandaki. patah nanti dibuatnya. begitu pula kita dalam bergaul. boleh bicara sembarangan saja. kalau tersinggung orang. buliah mangecek sambarang sajo. 705 basuo jo urang tuo-tuo. bakato usah lalu lalang sajo. “Bagaimana jalan yang mendatar ini.” “Sudah itu jalan menurun. ada jalan yang mendaki. ada jalan yang mendatar. handaknyo dalam kito bagaua ko. ada jalan yang melereng.

disiko tampaik Tupai Janjang. berkata dia masa itu. bakato inyo maso itu.Adolah pado suatu pagi. Adalah pada suatu pagi. “Manolah Mandeh kanduang denai. kalau bicara dengan orang sumando. bicara dengan mintuo. malawannyo bakeh kito. taraso bana pangajanyo. bicara dengan menantu. mangapa ada kamu disini. Berkata Mandeh Rubiah. terasa betul pengajarnya. denai ko nan banamo Tupai Janjang. barakaik pangaja Mandeh.” 113. “Kalau itu Mandeh katokan. Pihak kapado Tupai Janjang. sia waang ko kironyo. ingek-i tu pulo dek waang. mandanga kato Mandeh Rubiah. koaso Tuhan pun balaku. bicara dengan orang yang disegani. disini tempat Tupai Janjang. saya ini yang bernama Tupai Janjang. oi…. mengecek jo minantu. yang kecil itu bisa dia melawan. sudah elok perangai masa itu. kuasa Tuhan pun berlaku. anak mudo. “Oi…anak muda. pituah ini sering diberikan oleh niniak mamak kepada kemenakan dan lazim dibacakan waktu pidato adat.” 108. . mangecek jo mintuo.31 ada jelas oleh kamu itu nak?” 725 730 735 Pihak kepada Tupai Janjang. lai jaleh dek ang tu nak?” ADEGAN V 109.” Pihak kepada Tupai Janjang.Bakato Mandeh Rubiah . Manjawab anak mudo nantun. berkat pengajaran Mandeh. nan kaciak tu bisa nyo malawan. berkata kepada Mandeh kandung. ampun hamba Madeh kandung. mendengar kata Mandeh Rubiah. ingat-i itu pula oleh kamu. melawan dia kepada kita.anak mudo. terkejut Mandeh Rubiah. oleh diajari Mandeh Rubiah. kama Tupai Janjang? dicaliak ado anak mudo tidua di sinan. 110.” “Sudah itu jalan melereng. jalan melereng yang akan dipakai. saya berubah jadi manusia. lah elok parangai maso itu.kok lalu lalang sajo. itulah kata penuh sampiran. denai barubah jadi manusia. kemana Tupai Janjang? dilihat ada anak muda tidur di sana. “Kalau itu Mandeh katakan. “Sudah tu jalan malereng itulah kato panuah sampiran. sudah berubah tingkah lakunya.” Menjawab anak muda itu. oi anak muda. mangecek jo urang nan disagani. 111. bakato kapado Mandeh kanduang. 31 720 kalau lalu lalang saja. Tupai Janjang indak ado lai. takajuik Mandeh Rubiah. dek diaja-i Mandeh Rubiah. “Oi…. kok mangecek jo urang sumando. Pihak kapado Tupai Janjang. siapa kamu ini kiranya. jalan malereng nan kadipakai. mangko ado waang disiko. lah barubah tingkah lakunyo. “Manalah Mandeh kandung saya. Tupai Janjang indak ada lagi. 740 745 750 755 Menurut Navis (1984:260).” 112. ampun ambo Mandeh kanduang.

anak balam di parak lado. dilepas dengan hati hiba.” 114. kami di rumah kalau keberangan. kapado si Tupai Janjang. kami di rumah kok kaberangan. |ai| sagalo kami anak mudo. 760 yang sekarang kini. anak balam33 di kebun lada. isuak nak kito ulang pulo. Anak si kikih ateh batu. Sana berkata Mandeh Rubiah. ikan di laut berlayangan. 115. Bandalah urang |hai| ambo bandakan. Ungkapan ini sering dibacakan oleh tukang kaba dan juga sering ditemui di bagian awal sebuah kaba. beri izin hamba berjalan. 775 Supaya dua pantun seiring. “kamu kini bergelar Sutan Kurnia. dara. dilapeh malah Tupai Janjang. |hai| nan lah takaik nan di aka baha tabang ka langik |lah| tabarito.” 765 770 Sanak ke Sumpu lah dahulu. 5 Kaiklah berkait |lah| si rotan sago. 10 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. si kikih adalah sejenis burung kecil. 34 Ibid. Anak si kikih32 atas batu.4) 1. kaba disudahi sampai di situ. dilapeh jo hati ibo. yakni akar bahar yang biasanya dibuat gelang tangan. Kaik bakaik rotan sago. Ibid. Tibo di langik tabarito. Manolah niniak |lah nan| jo mamak.Sanak ka Sumpu lah dahulu. bari izin ambo bajalan. besok hendak kita ulang pulang. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. maaf dengan rila yang kami pinta. dan terkutur. . lah takaik di aka baha.” PENUTUP 116.Tantangan Mandeh Rubiah. Kaiklah bakaik |lah| si rotan sago. maaf jo rila nan kami pintak. terbang ke langit |lah| terberita. ikan di lauik balayangan. sanak |lah| jo saudaro. sanak segitulah dahulu. 117. kepada si Tupai Janjang.Sanan bakato Mandeh Rubiah. jatuah ka bumi manjadi kaba. hamba hendak sujud minta ampun. 2. hendak menemui bapak dengan Mandeh saya. ambo nak sujuik minta ampun. jatuh ke bumi menjadi kaba. baha adalah nama yang diberikan pada sejenis akar laut. kaba disudahi sampai di situ.” Tentangan Mandeh Rubiah. 3.Nak duo pantun sairiang. 32 33 Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. balam adalah sejenis burung yang lazim disebut burung balam. bandalah |hai| orang si Koto Tuo. tibo di bumi jadi kaba. |hai| yang sudah terkait yang di akar bahar34. |ai| segala kami anak muda. nak manamui bapak jo Mandeh denai. izinkan saya mandeh kandung. “waang kini bagala Sutan Karunia. sarato serta sanak |lah| dengan saudara.nan sakarang kini nangko. Bandarlah orang |hai|hamba bandarkan. dilepas malah Tupai Janjang. Teks II PEMBUKAAN (bait ke-1 sampai bait ke. izinkan denai mandeh kanduang. sanak sakitulah dahulu.

Kemudian. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang.” . kaba |lah| orang ada kami kabakan. dek adiak barilah tarang. 6. |Oi| hadaplah diri dua yang itu. didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak seperti gerakan tari Minang dengan diiringi musik. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. Pencerita berjalan ke depan. |Oi| adoklah diri duo nantun. |oi| urang nan gadang |lah| maso itu. Pencerita waktu itu. seperti gerakan menari. orang yang elok |lah| masa itu. 9. |Oi| adolah pado suatu maso. |oi| urang nan kayo suduik-basuduik. |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro. 20 (Teks bait ke-5 sampai bait ke-8. |oi| orang yang besar |lah| masa itu. nak sanang dalam hati sajuak dalam kiro-kiro. Setelah itu. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. 30 |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. berdua dengan Puti |lah| si Lindung Bulan. |hai| bumi yang antah barantak. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. |oi| anak yang tidak |lah| dapat juga. bumi yang belum |hai lah| beralun. |hai| bumi nan antah barantah. belakang. Banda |lah| urang kami bandakan. Ayunan tengan itu bergerak ke depan dan ke belakang mengikuti irama dendang TJ. |oi| mangana nasib |lah| maso itu. urang duto kami tak sato. 25 |oi| bamuko rancak rambuik taurai. oleh adik berilah terang. tasabuik garan Datuak Bandaro. supaya senang dalam hati sejuk dalam pikiran. 8. |Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. 4.) ADEGAN I |5. kanan. 15 (Pada awalnya.” |Oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. lah sapuluah tahun barumah tanggo. |Oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang. sudah sepuluh tahun berumah tangga. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. pencerita berangsur-angsur pula berdiri dengan gerakan tangan yang sama. dan kiri dengan terus mendendangkan teks) .kaba |lah| urang kami kabakan. mengapa adik termenung juga. “Dik kanduang si Linduang Bulan. orang dusta kami tak serta. |oi| bermuka rancak rambut terurai. 35 manga adiak tamanuang juo. “Dik kanduang si Linduang Bulan. tersebut gerangan Datuak Bandaro. saluang dibunyikan yang diikuti dengan tepuk tangan seorang penonton. banda nak urang |lah| di Gumarang. kaba |lah| urang lai kami kabakan. |Oi| adalah pada suatu masa. bandar anak orang |lah| di Gumarang. 7. Bandar |lah| orang kami bandarkan. |oi| orang yang kaya sudut-bersudut. bumi nan alun |hai lah| baralun. kaba |lah| orang kami kabakan. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai urang nan elok |lah| maso itu. pencerita dalam posisi duduk. Hadap ke |lah| diri |lah|si Puti Linduang Bulan. pencerita beransur-ansur mencari posisi jongkok dengan terus bergerak mengayunkan tangannya. Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan.

|Oi| lalu bakatolah si Linduang Bulan. sepuluh tahun berumah tangga. menundukkan kepala. sana termenunglah si Linduang Bulan. Dialog diucapkan dengan menirukan suara perempuan yang sedang sedih karena dia belum mempunyai anak. |oi| terbit pikiran Datuk Bandaro. sapuluah tahun barumah tanggo . teks didendangkan oleh pencerita dengan tetap diiringi musik dan tepuk tangan dengan posisi berdiri. “Ampunkan denai Tuan kanduang. padiah di raso badan denai. Sudah |nan| berjalanlah masa itu. dipanggil pula |lah| si Lindung Bulan. |Oi|mandanga kato Datuak Bandaro. dan berakting. 55 dicaliak-caliak |nan| kabun nantun. itu yang saya menungkan juga. kito bajalan di hari paneh. anak nan indak dapek juo. musik tidak dibunyikan. Mandanga katolah si Linduang Bulan. “Ampunkan denai Tuan kanduang. 50 Mendengar katalah si Linduang Bulan.Lalu bakatolah si Linduang Bulan. sudah jauh kita yang berjalan.) 10. |oi| takana kabun |lah| maso itu. (Pencerita bergerak kembali dengan mendendangkan teks yang diiringi oleh musik serta tepuk tangan. pulang maklum kepada Tuan.Lah |nan| bajalanlah maso itu. |oi| taraso latiahlah si Linduang Bulan. 60 Sudah |kok| tiba |oi| masa itu. kita berjalan di hari panas. dilihat-lihat |nan| kebun yang itu. lah jauah kito nan bajalan. |oi| sinan tasintaklah si Linduang Bulan. ampun beribu kali ampun. Sudah hampir tiba |oi|gerangan di kebun. |oi| sana tersentaklah si Lindung Bulan. itu nan denai manuangkan juo. “Ampunkan saya Tuan kandung. |oi| terasa letihlah si Linduang Bulan. “Ampunkan saya Tuan kanduang. dipangia pulo |lah| si Linduang Bulan. anak yang tidak dapat juga. |Oi| berapalah jauh |oi| yang berjalan.” 45 (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-11 dengan posisi duduk. |oi| teringat kebun |lah| masa itu. 15. pulang maklum kapado Tuan. Lah |kok| tibo |oi| maso itu. 40 |Oi| mendengar kata Datuk Bandaro. |oi| sanan tatagunlah Datuak Bandaro.) 11. mendengar Tuan yang seperti itu. |oi| sana tertegunlah Datuak Bandaro. 16. Pencerita mengucapkan teks dengan berakting seperti seorang suami yang berbicara kepada istrinya. Lah ampia tibo |oi| garan di kabun. pedih di rasa badan saya. mandanga Tuan nan bak kian. 13. Pada bait ke-15. Sub-adegan ke-1 14.” Lalu berkatalah si Linduang Bulan. . seperti orang yang menyembah. (Pada bait ke-12 sampai bait ke-14. pencerita mendendangkan teks dengan posisi duduk sambil berakting memperlihatkan keletihan) . |Oi| baralah jauah |oi| nan bajalan. |Oi| lalu berkatalah si Linduang Bulan. ampun baribu kali ampun.) 12. |oi| tabik pangana Datuak Bandaro. Waktu dialog. sanan tamanuanglah si Linduang Bulan.(Bait ke-9 merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan berdiri.

Lamo |lah| lambek |oi| garan di kabun 90 |oi| lah nampak kini |oi lah| nan saikua lah nampang sikua |lah| si Tupai Janjang lah nan malompeklah di maso itu. iko lah aia nan ko kini.” (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-16 dengan berakting. dicari malah |ko| sumua kini. tolong Tuan carikan air. rangkungan kariang tu dek Tuan. Sebagian teks bait ke-19. Lama |lah| lambat |oi| gerangan di kabun. lalu diagiahkan ka Puti kini. |oi| tangan bajari |lah| Datuak Bandaro. Dicari sumur yang pertama. aia nan indak |lah nan| ko ado. Dialog ini adalah dialog DB. . |oi| lalu ditimbalah air yang itu. Sesudah mengucapkan dialog itu. saya hendak minum yang di belakang. sumur yang kedua sudah kering pula. Dicari sumua nan partamo. 75 kandak buliah pintak balaku. kehendak boleh pintak berlaku. lalu diberikan ke Puti kini. |oi| lalu dicarilah maso itu. seperti seorang perempuan berbicara dalam kondisi keletihan. kerongkongan kering itu oleh Tuan. Pencerita langsung memperagakan seolah-olah LB yang minum) . dicari pulo sumua nan kaduo. denai nak minum hanyo kini. |oi| tangan berjari |lah| Datuak Bandaro.” 80 19. Sumua nan katigo |lah| maso itu. saya hendak minum hanya kini. menari sambil sedikit melompat untuk (Pencerita mendendangkan bait ke-20 di atas. 70 jari direseklah maso itu. |oi| lalu dicarilah masa itu.” (Pada awal bait ke-17. merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita. “Ini ada sumur. minumlah Adiak nan dulu. 85 “Dik kanduang si Linduang Bulan. Pencerita berakting sambil menundukkan kepalanya seolah-olah melihat sumur) . pencerita langsung minum. ini ada sumur ini oleh Adik. denai nak minum nan di balakang. dicari pula sumur yang kedua. |oi| lalu minum |lah| si Linduang Bulan. 18. 17. sudah tampak seekor |lah| si Tupai Janjang. Mandanga kato |nan| si Linduang Bulan. iko lai sumua iko dek Adiak.” 65 panas yang kini hangat ini benar. Dik kandung si Linduang Bulan. sudah yang melompatlah di masa itu. Sumur yang ketiga |lah| masa itu. Dik kanduang si Linduang Bulan. sumua nan kaduo lah kariang pulo. “Ko lai sumua. |oi| lalu disauaklah aia nantun. “Dik kandung si Linduang Bulan.) ADEGAN II 20. minumlah Adik yang dulu. ini sudah air yang ini kini. |oi| lalu minum |lah| si Lindung Bulan. tolong Tuan carikan aia. |oi| sudah tampak kini |oi lah| yang seekor. jari dirabalah masa itu. dengan menggambarkan tingkah tupai) . teks didendangkan oleh pencerita dengan berdiri sambil menari. dicari sudah |ko| sumur kini.” Mendengar kata |nan| si Linduang Bulan. kemudian didialogkan.” (Pada bait ke-18 dan sebagian bait ke-19. teks didendangkan oleh pencerita.paneh nan kini angek ko bana. air yang tidak |lah nan| ini ada.

Lalu kini sedihlah si Linduang Bulan. sudah akan dibunuh si Tupai Janjang. Tuan ndak mambunuah si Tupai Janjang indak elok Tuan baitu bana. Tuan hendak membunuh si Tupai Janjang. mangga dibunuah |lah| si Tupai Janjang. |oi|terbit pikiran |lah|si Linduang Bulan.” 110 “Dik kandung si Linduang Bulan. 115 Sudah |nan| kini dekat |lah| masa itu. |ha| lalu dicaliak |oi| si Tupai Janjang. |Ha| didekati malah |lah| si Tupai Janjang itu.“Dik kanduang si Linduang Bulan. ibalah saya yang masa itu. 23. Hal itu diperagakan oleh pencerita dengan memegang kepalanya) . tadi Adik yang sudah minum.21. Mengapa kini sedih |lah| si Linduang Bulan. mengapa dibunuh |lah| si Tupai Janjang. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua.” (Pencerita mengucapkan dialog DB pada bait ke-25. Manga ko sadiah |lah| si Linduang Bulan. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. Adiak usah manangih juo. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu. |oi| lalu diambillah air yang itu. ibolah denai nan maso itu. |ha| lalu dilihat |oi| si Tupai Janjang. kini saya minum pula. Pencuci mukalah si Linduang Bulan. diambiak aia |oi| lalu di minum. |Oi| lalu diambil yang air sumur. Pancuci mukolah si Linduang Bulan. tidak elok Tuan seperti itu. (Pencerita mendendangkan bait ke-26 dengan berdiri sambil menari yang diiringgi musik dan tepuk tangan) . . pencerita mendendangkan dengan suara yang sedih. lalu diambillah maka kayu. 22. ibarat seorang ibu yang sedang menangis karena anaknya dipukul.“Ampun kan denai Tuan kanduang. (Pencerita mendendangkan bait ke-21 sampai bait ke-23. 95 lah ka dibunuah si Tupai Janjang. “Ampun kan saya Tuan kandung. diambil air |oi| lalu di minum. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. manolah Tuan nan janyo denai. 100 lalu bakatolah Datuak Bandaro. 105 (Pencerita mendendangkan bait ke-24 dengan berdiri dan menari. Sesudah itu. Adik jangan menangis juga. 24. Pada bait ke-22. kini denai ka minum pulo. 27. Mengapa Tuan seburuk itu niat kini. kini ko minum Datuak Bandaro. tadi Adiak nan lah minum. pencerita minum kembali) . anak nan indak dapek juo. Lah |nan| ko dakek |lah| maso itu. anak yang tidak dapat juga. manalah Tuan yang hanyo saya. sepuluh tahun berumah tangga. lalu berkatalah Datuak Bandaro. 26. |oi| habis dicuci muka Linduang Bulan. Lalu ko sadiahlah si Linduang Bulan. |oi| tabik pangana |lah| si Linduang Bulan. Sesudah itu. Manga Tuan saburuak itu niak kini. 25. pencerita meminum air) . |Ha| didakek malah |lah| si Tupai Janjang nantun. kini sedang minum Datuak Bandaro. 120 sapuluah tahun barumah tanggo. lalu diambiaklah mangko kayu. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu.

lalu disabuik ka Datuak Bandaro. lalu dicarilah urang malin. |Oi| lamolah lambek garan di kabun. |oi| lamolah lambek garan di jalan. Sudah yang ke Bonjol |lah| masa itu. |oi| mimpi yang habis |oi| hari sudah siang. rasa |lah| memeluklah si matahari. kemudian sujud menyembah dan berakting seperti seorang istri memohon dan berharap kepada suaminya) . Menurut Amir (2003:55). berdua dengan diri Datuk Bandaro. apalah mimpi |lah| si Linduang Bulan. orang keramat |lah| hidup-hidup. sudah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. sayalah bermimpi |hai| lah tadi malam. Sub-adegan 1 28.” (Bait ke-27 di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita. apalah tabir mimpi yang itu. biar serupa Tupai Janjang. sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. lalu disebutkan kepada Datuak Bandaro. lalu ditanuanglah36 masa itu. lalu dicarilah orang malin35. asal ada saya dapat anak.” 125 kalau ada pinta yang boleh.kok lai pintak nangko buliah. Sudah tiba malam gerangan di rumah. 30. |oi| raso memangkulah itu bulan. apolah arah |hai| mimpi ko habih. Hal ini dilakukan waktu mendendangkan rasa memeluk bulan dan memangku matahari) . apolah mimpi |lah| si Linduang Bulan. lah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. urang kiramaik |lah| hiduik-hiduik. |Oi| raso bamimpilah maso itu. (Pencerita mendendangkan teks bait ke-30 dengan duduk dan berakting untuk memperlihatkan memeluk matahari dan memangku bulan. 140 |Oi| rasa bermimpilah masa itu. lah nan bamimpilah si Linduang Bulan. Lah tibo malam garan di rumah. |oi| surau yang condong |hai| condong ke Barat. denailah bamimpi |hai| lah tadi malam.. orang yang berilmu dan juga bagian dari gelar adat. termasuk kelompok orang Nan IV jinih. Lah nan ka Bonjo |lah| maso itu. lalu ditanuanglah maso itu. 135 raso |lah| mamaguiklah si matohari. Lalu bakato |hoi lah| Linduang Bulan. Kegiatan ini dilarang dalam syariat agama Islam karena tergolong syirik. sudah tiga malam masa itu kini. sudah yang bermimpilah si Linduang Bulan. 145 |oi| surau nan condong |hai| condong ka Barat. Sub-adegan ke-2 32. asa lai denai dapek anak. 29. |oi| mimpi nan habih |oi| hari lah siang. tanuang adalah perbuatan untuk meramalkan atau mengetahui sesuatu yang tidak terlihat. 130 lah nan sahari |haa| lah duo hari. 35 Lalu berkata |hoi lah| Linduang Bulan. lah tigo malam maso tu kini. . |oi| lamalah lambat gerangan di jalan. 36 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. Pencerita awalnya berdiri. (Pencerita mendendangkan bait ke-28 dan bait ke-29 dengan berdiri dan menari) . bia sarupo Tupai Janjang. baduo jo diri Datuak Bandaro. apalah tujuan |hai| mimpi ini habis. apolah tabir mimpi nantun. |Oi| lamalah lambat gerangan di kebun. |oi| raso mamangkulah tu bulan. 31.

sakit.” 37 170 “Dik kandung si Lindung Bulan. 37. Adiak maraso sakik juo. 150 |ha| disabuik malah |ha| takwia mimpi. |oi|apalah gerangan |lah| takwil mimpi.sakit. 34. pada bait ke-34 dengan sedikit melompat karena kegembiraan. anak nan indak dapek juo. Sub-adegan ke-3 33. “aduh. Dari sahari |oi| garan manganduang. kini sudah mengandung maka Adik. Ssesudah itu. sudah delapan bulan perut tambah besar. lah nan sapakan |oi| lah nan sabulan. diminta aia |hai| ka Linduang Bulan. |Oi| lah nan |ko| pulang Datuak Bandaro. sudah yang dua bulan gerangan mengandung jalan berubahlah yang maengkang37.|Oi| lamolah lambek Datuak Bandaro. lah lapan bulan paruik tambah gadang. sakik. “Dik kanduang si Linduang Bulan. 160 (Pencerita minum air pada bait ke-35. apo nan mintak Adiak ko kini. terasa haus Datuak Bandaro. |ha| disebut malah |ha| takwil mimpi. “aduh aduh.aduh.. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. Hal ini dilakukan supaya seperti seorang ibu yang sedang mengandung) . jalan barubahlah nan maengkang. |oi| baralah sanang hati Linduang Bulan . Adik merasa sakit juga. 36..aduh aduh.. sana berkatalah Datuak Bandaro. sepuluh tahun berumah tangga. sudah yang sepekan |oi| sudah yang sebulan. . maengkang merupakan jalan seorang ibu yang lagi hamil. kini lah manganduang mako Adiak. apa yang minta Adik kini. kembali mendendangkan bait ke-36) . |Oi| lamalah lambat Datuak Bandaro. |oi| apolah garan |lah| takwia mimpi.” (Pencerita pada bait ke-36 dan bait ke-37 berakting dengan merintih serta memegang perut dan pinggangnya. sapuluah tahun barumah tanggo . 35. lah nan duo bulan garan manganduang.. taraso auih Datuak Bandaro. |ha| lalu diambillah air yang itu. anak yang tidak dapat juga. Waktu mendendangkan bait ke-32 dengan posisi duduk sambil tetap mengayunkan tangan mengikuti irama dendang yang diiringgi bunyi musik) . 38. Hal ini dilakukak untuk memberitakan istrinya yang akan mengandung) .. diminta air |hai| ke Linduang Bulan. (Pencerita mengambarkan DB pulang. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. sakik. |Oi| lah manganduanglah si Linduang Bulan. hati nan sananglah maso itu. terasa sakitlah si Linduang Bulan. aduh aduh.sanan bakatolah Datuak Bandaro. |Oi|sudah mengandunglah si Linduang Bulan. (Pencerita mendendangkan bait ke-31dengan posisi berdiri. |oi| berapalah senang hati Linduang Bulan. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung. |ha| lalu diambiaklah aia nantun. 155 |Oi| sudah yang |ko| pulang Datuak Bandaro.” 165 Dari sehari |oi| gerangan mengandung. hati yang senanglah masa itu.. taraso sakiklah si Linduang Bulan. Lah tigo bulan sudah limo bulan garan manganduang.” Ibid.

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan pencerita dengan suara yang dibesarkan supaya terdengar berwibaya) . 39. Basadiah-sadiahlah si Linduang Bulan, 175 tibo nan cameh dapek tu maa, “Aduuh sakiik aduah saakiik, minum lah ciek dulu Tuan oi.” Bersedih-sendihlah si Linduang Bulan, tiba yang cemas dapat itu, “Aduuh sakiit aduuh saakiik, minum lah satu dulu Tuan oi.”

(Pada bait ke-39, diperagakan oleh pencerita seperti seorang ibu yang mengerang kesakitan waktu sedang hamil tua. Sesudah itu, pencerita minum kembali) . 40. Lah lapan bulan |oi| garan menganduang, lah nan sambilan bulan nyo manganduang, 180 paruik batambahlah sakik juo. 41.|Oi| lalu dipanggia dukun nan partamo, lalu nyo reseklah si Linduang Bulan. Sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung, sudah yang sembilan bulan dia mengandung, perut bertambahlah sakit juga. |Oi| lalu dipanggil dukun yang pertama, lalu dia rabalah si Linduang Bulan.

(Pencerita pada bait-40, bergerak dalam kondisi berdiri, kemudian berakting seperti terjatuh akibat menahan kesakitan. Pada bait ke-41, pencerita berakting seperti seorang dukun yang sedang memeriksa kehamilan) . 42. “aduuah aduuah…. Sakiik…., aduuh sakiik…..” “aduuah aduuh…. Sakiit……, aduuh…..sakiit……”.

(Bagian teks di atas merupakan rintihan Linduang Bulan yang dilakukan oleh pencerita dengan berakting sambil merintih seperti orang yang sedang menahan kesakitan) . 43. “Dik kanduang si Linduang Bulan, dicaliak kini ko codo sia? ambo resek dulu.” 185 “Dik kandung si Linduang Bulan, dilihat kini seperti siapa? saya raba dulu.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita untuk menghibur LB. Hal ini dilakukan supaya dapat mengurangi rasa sakit yang diderita LB) . 44. “Ampunkan denai Datuak Bandaro.” “Ampunkan saya Datuk Bandaro.”

(Dialog di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita dengan terbata- bata) . 45. “Dicaliak kini bini manganduang.” “Dilihat kini istri mengandung.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita juga dengan terbata-bata) . 46. “Tapi….. anak…ndak.ka lahia kini, anam bulan lai ka lahia.” 190 “Tapi…..anak….tidak akan lahir kini, enam bulan lagi akan lahir.”

(Bagian teks yang ke-46 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara ketakutan) .

47. Dukun kapunduang lah salapan bulan, lah sambilan bulan bini den manganduang, kabatambah anam bulan lai.”

Dukun kepundung38 sudah delapan bulan, sudah sembilan bulan bini saya mengandung akan bertambah enam bulan lagi.”

(Dialog DB pada bait ke-47, diucapkan oleh pencerita dengan cara berakting dan suara yang keras sehingga mengambarkan rasa kesal kepada Dukun karena dikatakan istrinya belum juga bisa melahirkan) . 48. Lalu dicari dukun nan kaduo, 195 |oi| dukun kaduo |oo| sarupo itu, |oi| lalu di datang dukun nan katigo, |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Lalu dicari dukun yang kedua, |oi| dukun kedua |oo| seperti itu, |oi| lalu di datang dukun yang ketiga, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pencerita mendendangkan bait ke-48, dengan berdiri dan menari sambil berjalan) . 49. “Batanang dulu yo! kok lah dapek aia ko ambo minum gai dulu.” 50.”Ampunkan denai Datuak Bandaro, kalau dicaliak nan ko kini.” “Tenang dulu ya! kalau sudah dapat air ini saya minum dulu.” “Ampunkan saya Datuak Bandaro, kalau dilihat yang ini kini.”

200

(Bagian teks yang ke-49 dan ke-50, merupakan dialog dukun yang diucapkan oleh pencerita sambil memperlihatkan seolah-olah memeriksa kehamilan LB. Pada bait ke-49, pencerita mengucapkan dialog itu kemudian minum) . 51. “Aaa duuh saakiik….. saakiik.” “Aaa duuh saakiit…..saakiiit.”

(Rintihan LB pada bagian teks ke-51, dilakukan oleh pencerita dengan akting seperti orang yang akan melahirkan) 52. “Batananglah dulu Linduang Bulan.” “Tenanglah dulu Linduang Bulan.”

(Dialog DB pada bagian teks ke-52 diucapkan oleh pencerita dengan suara seperti orang yang sedang membujuk istrinya. Hal ini dilakukan supaya LB tabah dalam menahan rasa sakitnya) . 53. “Iyoo… sakiik iko Dukun.” 205 “Iyaa….sakiit ini Dukun.”

(Bagian teks ke-53 merupakan rintihan LB yang dilakukan oleh pencerita sambil mengurut-urut perut dan pinggangnya) . 54. “Iyo itu nan kamalaian, ampunkan denai Datuak Bandaro, tolong carikan talua nan sabuah, aia putiah nan sagaleh, kito agiah salusuah nangko Linduang Bulan, 210 untuang kok capek nangko laia”.
38

“Iya itu yang akan melahirkan, ampunkan saya Datuak Bandaro, tolong carikan telur yang sebuah, air putih yang segelas, kita berikan selusuh ini Linduang Bulan, untung kalau cepat ini lahir.”

Kepundung diucapkan oleh pencerita untuk mengungkapkan kekesalan kepada dukun

(Dialog pada bagian teks yang ke-54, merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita untuk menyuruh DB mencari telur dan selusuh agar LB cepat melahirkan. Hal ini diucapkan sambil duduk dengan cara menyembah) . 55. Alah ko tibo nan barang nantun, |ha| lalu dipacahlah talua nantun, diambiak malah aia sagaleh, |ha| dicampua-campualah maso itu, 215 |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Sudah kini tiba yang barang yang itu, |ha| lalu dipecahlah telur yang itu, diambil malah air segelas, |ha| dicampur-campurlah masa itu, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pada bait ke-55, didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan menari sambil memperagakan memecah telur) . 56. “Aduuh sakiik… Tuan ampun Tuan….” “Aduuh sakiit…Tuan ampun Tuan….”

(Bagian teks yang ke-56, merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang kesakitan) . 57. “A…. iko Linduang Bulan iko ado pilusuah.” “A….ini Linduang Bulan ini ada sisuluh.”

(Bagian teks yang ke-57 merupakan dialog Dukun yang diperagakan oleh pencerita sambil memegang gelas) . 58. “Aduuh aduuh..sakiik Tuan ai..” 220 “Aduuh aduuh.. sakiit Tuan ai…”

(Bagian teks di atas merupakan rintihan LB. Pencerita merintih sambil berakting dengan cara mengerang seperti orang kesakitan dengan membungukkan badannya) 59. “Iko nan pilusuah Tuah. minumlah yo…!” “Ini yang silusuh Tuan. minumlah ya…!”

(Pencerita mengucapkan dialog dukun pada bagian teks ke-59, dengan memperagakan seolah-olah memberikan minuman kepada LB) . 60. “Aduuh lah sakiik lah Tuan yooi.” “Aduuh sudah sakiit sudah Tuan yooi.”

(Bagian teks ke-60 adalah rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang yang kesakitan) . 61. “Iyo itu nan manganduang, banyaklah mangucap.” 225 “Iya itu yang mengandung banyaklah mengucap.”

(Bagian teks ke-61 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang berwibawa untuk menggambarkan supaya LB tetap tabah) . 62. “Aduu..h sakii….k… ndak …. aduu..h sakiik……” “Aduuh…sakii….t….ndak….. aduu..h sakiik…..”

. merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegak perut seperti orang kesakitan) . 65. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang.ah…” “Aduu…. lantai balubang.” “Sudah hampir ini haa. |Ya| anak berupa |lah| si Tupai Janjang. Tupai Janjang?” (Bagian teks yang ke-67 di atas merupakan ucapan DB yang kaget karena melihat anaknya yang lahir seperti TJ. pinta berlakulah hanya ada. sarupo tupai. “Anak lai. |hai| jikok diminta lah maso itu. 235 |Ha| kini nan sasa nan dapek lai. |a| lalu dicaliaklah anak nantun. dengan berdiri sambil menari) . lantai berlubang. “Lah ampia ko kamahaa. |hai| sesal kemudian tidak berguna.h sakiit aduu…. |Ha| kini yang sesal yang dapat lagi. Lalu taingek |a| maso di kabun. 63.” “Eaa……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks di atas untuk menggambarkan bahwa anak LB sudah lahir) . . dengan suara tersedu-sedu seperti orang menangis) .h sakiit aduu…ah…” (Pada bagian teks yang ke-64. (Bait ke-68 didendangkan oleh pencerita sambil bergerak dengan memegang kain di tangannya seolah oleh mengambarkan bayi yang sedang digendong) . Hal itu ditampilkan oleh pencerita dengan mata terbelalak) . |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. “Eaa……. 240 Lalu berkata Datuak Bandaro. |Yo| anak barupo |lah| si Tupai Janjang. 70.h sakik aduu…. “Aaa….” (Bagian teks yang ke-63. (Pencerita mendendangkan bait ke-70. Tupai Janjang?” “Aaa…. ADEGAN III 66. pintak balakulah hanyo lai.(Bagian teks ke-62 merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegang perut dan pinggangnya) . |oi| tiba di lantai. 69. Nan lah ko laialah si Tupai Janjang |oi| tibo di lantai. 68. “Aduu…. Lalu bakato Datuak Bandaro.” “Anak ada. merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan mimik penuh kecemasan) 64. (Pencerita mendendangkan bait ke-67.. 67.. serupa tupai. 230 Yang sudah ini lahirlah si Tupai Janjang. |hai| sasa kudian indak baguno. |hai| jika diminta sudah masa itu.h sakiik adu…. Lalu teringat |a| masa di kebun.” (Bagian teks di atas merupakan ucapan dari DB yang diucapkan oleh Pencerita dengan suara sedih) . |a| lalu dilihatlah anak yang itu.

245 hauui yo? yoi manangih juo. itu tukang salung lima menit. parangai jaek |lah| maso itu. lalu dibuanglah si Tupai Janjang. (Pencerita mendendangkan bait ke-73 sambil bergerak dan terus memegang selendang.. 39 40 Yuang adalah sebutan untuk anak laki-laki di Minangkabau Memeh adalah ucapan yang biasa dikatakan oleh ibu pada waktu akan menyusui bayinya. hauih? Ndak baraia? ndak baraia. lah tumbuah diri batambah gadang.” (Dialog LB pada bait ke-72. “Usahlah mangigik-mangigik juo Yuang.” “Janganlah mengigit-mangigit juga Yuang39. tabiaklah bangih Datuak Bandaro.! 250 usahlah malompek-lompek juo. sudah tumbuh diri bertambah besar. ini memeh40 aa… ini meh haa. 74. “Ai……” “Ai……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks ke-71. selendang itu dilempar seolah-olah DB membuang anaknya) . terbitlah bengis Datuak Bandaro. sudah minum ya…. usahlah malempek-lompek juo aa. perangai nakal |lah| masa itu. 255 Dari sehari |lah| masa itu. . anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. 41 Ungkapan yang biasa diucapkan dalam kaba untuk menyatakan anak yang tidak mempunyai etika dan biasanya disampaikan dengan nada keras dan marah. ndak bisa ambuih saluang lai. anak sigiang-giang rimba41. 260 anak bincacak anak bincacau. ya. kini pergilah ini kini. anak bincacak anak bincacau. Kemudian.! janganlah melompat-lompat juga... Dari sahari |lah| maso itu. Pencerita kemudian memasukkan selendangnya ke dalam bajunya seolah-olah seorang ibu yang mengeluarkan payudaranya dan menyusukan bayi. buliah ka rimbolah kau kini. waktu mengucapkan dialog baris terakhir bait di atas. anak sigiang-giang rimbo. Sub-adegan ke-1 73. “Nak kanduang si Tupai Janjang. apo harato lah diambiaknyo. haus? Ndak berair? tidak berair. ko memeh aa…ko meh haa.71.. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. apa harta sudah diambilnyo. boleh ke rimbalah kau kini. Pencerita akhirnya memperagakan dengan minum) . kini bakirolah ko kini. itu tukang saluang limo minik .? ini air ha. seperti suara seekor anak tupai.? ko aia ha. haus ya? yo menangis juga.” 265 “Nak kandung si Tupai Janjang. Hal ini dilakukan pencerita dan menjadikan selendangnya sebagai properti untuk menggambarkan anak yang sedang digendongnya) . lalu dibuanglah si Tupai Janjang.” (Dialog bait ke-74 adalah dialog DB kepada TJ yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang lantang sehingga menggambarkan DB sedang marah) . tidak bisa hembus salung lagi. usahlah melompat-lompat juga aa.yo. lah minum yo…. dilakukan oleh pencerita seperti seorang ibu yang menyusukan bayinya. 72.

sana diambillah si Tupai Janjang. sudah akan dibuanglah si Tupai Janjang. 270 lalu diambiak |oi| aia lalu diminum. |oi| tapi dilarang oleh Mandeh Rubiah. lah ka dibuanglah si Tupai Janjang. 79. |oi| lalu dicaliaklah dek Mak Hitam. (Pencerita mendendangkan bait ke-75 sampai dengan bait ke-77 dengan suara seperti orang yang sedang menangis dan kemudian meneguk air minum) . 280 |Oi| hadap ke dirilah si Tupai Janjang. 77. 42 Sudah yang didulang sedulang lagi. Masuk ke kebunlah masa itu. (Bait ke-78 sampai dengan bait ke-81 didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak mengikuti irama yang sama) . |oi| masuklah kebun |hai| Mandeh Rubiah. |ha| diambiak garan |ha| di ateh rumah. |oi| tapi dilarang dek Mande Rubiah. teringat anak yang masa itu.bayang. |Oi|terhadap ke dirilah si Linduang Bulan. lah kuruih badanlah si Linduang Bulan. Sudah diusirlah Si Tupai Janjang. |oi| lalu dilihatlah oleh Mak Hitam. |Oi| adok ka dirilah si Tupai Janjang. |ndeh| badan haus sambil manangis. |oi| bagaimana cerita |lah| tentang itu. 290 karongkongan basah biko kito sambuang. |ha| diambil gerangan |ha| di atas rumah. takana anak nan maso itu. |oi| paningga anaklah nan bajalan.|Oi| lalu dibaoklah ateh rumah. kerongkongan basah nanti kita sambung.42 |a| si Tupai Janjang segitu dulu. |oi| badan nan bisa manangih juo. |Oi| hari nan sadang pukua satu. |oi| sedang berbuntalah si bayang. Masuak ka kabunlah maso itu. |ha| duo juo diri si Mamak Hitam. |a| si Tupai Janjang saitu dulu. dek rangkungan den |hai| batambah kariang. Sub-adegan ke-3 78. sanan diambeklah si Tupai Janjang. 285 81. lalu diambil |oi| air lalu diminum. sudah kurus badanlah si Linduang Bulan. |oi| baa curito |lah| tantang itu. |ndeh| badan auih sambia manangih. babunta adalah sedang memendek bayang-bayang atau yang lazim disebut dengan tengah hari tepat. Alah diusialah si Tupai Janjang 76. |oi| masuaklah kabun |hai| Mandeh Rubiah. Lamalah lambat gerangan menangis. |ha| dua dengan diri si Mamak Hitam. |oi| peninggal anaklah yang berjalan. karena kerongkongan saya |hai| bertambah kering. |Oi| lalu dibawalah atas rumah. Istirahat lebih kurang 30 menit ADEGAN IV 82. Lamolah lambek garan manangih. |oi| sadang babuntalah sibayang-bayang.Sub-adegan ke-2 75. |Oi| adok ka dirilah si Linduang Bulan. 275 lah masuak kabunlah ko urang kini. 80. |oi| badan yang bisa menangis juga. |Oi| hari yang sedang pukul satu. sudah masuk kebunlah ini orang kini. Lah nan didulang sadulang lai. . Ibid.

|Oi| sanan takajuik Mandeh |lah| Rubiah. dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. Lah nan sahari nan duo hari. |Oi| sana terkejut Mandeh |lah| Rubiah. |Oi| abih lah malam |hai| baganti siang. |oi| makan buah dia yang tidak mau. Pada waktu mendendangkan baris ke-297. diberi makanlah si Tupai Janjang. berdua dengan diri |lah| Mak Hitam. Sudah yang sehari yang dua hari. lah |nan| bapakan lah maso itu. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. |oi| makan buah inyo nan indak nio. dilihat kebunlah masa itu. Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. |oi| lalu bapikia Mandeh Rubiah. ibarat mengambarkan TJ dijaga dan tidur di rumah MR) . Sub-adegan ke-1 86. Ibid. . 85. sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. batanyo-tanyolah Mandeh Rubiah. 315 dicaliak kabunlah maso itu. nan panyambuang nan tingga cako. dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. |ha| inyo nan laloklah maso itu. kinilah tarang kabun iko kini. makan jo rimahlah inyo namuah. Lamo hari baganti hari . kinilah terang kebun ini kini. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah.|lah| nan pandulang ameh di Bangko. rimah adalah nasi yang jatuh dan keluar dari piring pada saat makan. |ha| diberi makanlah makan rimah. 83. |Oi| kabun lah siang maso kini. tiok disiang hari maso itu. bertanya-tanyalah Mandeh Rubiah. 300 84. 87. pakan adalah sebutan untuk satu minggu yang dalam satu hari dalam satu minggu itu ada hari yang ramai untuk berjual-beli. kabun batambah rindang juo. Ibid. tiba di malam sudah malam kini. apalah jadi |lah| yang seperti itu. sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah. |oi| apokah garan |lah| si tupai nan ko. |ha| dia yang tidurlah masa itu. tiap dibersih hari masa itu. makan dengan rimahlah44 dia mau. yang penyambung yang tinggal tadi. |oi| sanan takajuiklah Mandeh Rubiah. apolah jadi |lah| nan bak kian. baduo jo diri |lah| Mak Hitam. Habis pakan baganti pakan. Habih pakan baganti pakan. |oi| baa kok kabun lah lancah kini. nan didulang sadulang lai. 305 310 (Pencerita mendendangkan bait ke-82 sampai dengan bait ke-84 dengan berdiri dan gerakan yang sama. Lama hari berganti hari. |Oi| kebun sudah bersih masa kini. 295 |lah| yang pandulang emas di Bangko. sudah |nan| berpekan43 sudah masa itu. 320 44 45 Ibid. pencerita mengambil kembali selendangnya. Adok ka dirilah si Tupai Janjang. tibo di malam lah malam kini. sudah dibawalah si Tupai Janjang. 325 43 |Oi| habis sudah malam |hai| berganti siang. kebun bertambah rindang juga. |ha| diagiah makanlah makan rimah. |oi| kenapa kok kebun sudah lacah45 kini. |oi|apakah gerangan |lah| si tupai yang ini. yang didulang sedulang lagi. |oi| sana terkejutlah Mandeh Rubiah. 89. lacah adalah tanah lembek atau berlumpur. lah dibaolah si Tupai Janjang. |oi| lalu berpikir Mandeh Rubiah. 88. lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. diagiah makanlah si Tupai Janjang.

dilihat malah |lah| masa itu. |o| barang |nan| badanlah indak ado. Lalu dilihat si Tupai Janjang. |Ha| lalu baimbaulah si Tupai Janjang. 330 91. |ha| dia raba pulalah si Tupai Janjang. Sub-adegan ke-3 95. |ha| manjadi kayolah maso kini. |Ha| kulit terbakar kulit Tupai Janjang. |ha| lalu diambillah kulit itu. |ha| dicaliak baliaklah si Tupai Janjang. Sub-adegan ke-2 90. 340 |Ha| harilah pagi sudah masa itu. 350 kulik barubahlah satumpuak ameh. (Pada bait ke-86 sampai bait ke-89 pencerita mendendangkan bait tersebut dengan terus-menerus bergerak seperti gerakan tari Minang) . lalu diambil kulit Tupai Janjang. |oi| apalah gerangan yang sudah terjadi. kiro takajuiklah si Tupai Janjang. |oi| badan berubah menjadi orang. |ha| dipanggang malah |lah| maso itu. |Ha| dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. |ha| nyo resek pulolah si Tupai Janjang. kira terkejutlah si Tupai Janjang. |Ha| kulik tapanggang kulik Tupai Janjang. |ha| dilihat kembalilah si Tupai Janjang. |hai| kulit berubah setumpuk emas. 96. Lalu dicaliak si Tupai Janjang lah duduak diimbau di maso itu. badan sudah senanglah hanya kini. |ha| dilihat kulitlah tidak ada. |ha| dicaliak kuliklah indak ado . 94. |ha| kironyo kuliklah ndaknyo ado. cukup sebulanlah masa itu. |oi| surang nantun naiak ateh rumah. |ha|si Tupai Janjang naik ke atas rumah. 345 355 . |oi| seorang yang itu naik atas rumah. |ha| kiranya kulitlah tidak ada. |oi| lamolah lambek |hai| baganti sanan. |ha| lalu diambillah kulit nantun. |oi| badan barubah manjadi urang. 92. |oi| apolah garan nan lah tajadi. |Oi| kulit yang habis sudah masa itu. 93. |Ha| lalu dipanggillah si Tupai Janjang. |ha| dibakar malah |lah| masa itu. kulit berubahlah setumpuk emas. |Ha| diambil pula kulit itu kini. |oi| Mandeh Rubiah sudah melarang. |Ha| diambiak pulo kulik tu kini. 335 (Pencerita bergerak pada bait ke-90 sampai dengan bait ke-91 seperti gerakan yang sama. dicaliak malah |lah| maso itu. sudah duduk dipanggil di masa itu. |Ha| dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. badan lah sananglah hanyo lai. |hai| sahabih asok |lah| maso itu |hai| kulik barubah satumpuak ameh. lalu diambiak kulik Tupai Janjang. kemudian pencerita memegang selendang di tangannya untuk mengambarkan kulit TJ yang sudah terkelupas) . dua juga diri |lah| Mak Hitam. |ha| menjadi kayalah masa kini. cukuik sabulanlah maso itu. yang dulu |nan| gerangan |lah| si Tupai Janjang. |Ha| harilah pagi lah maso itu. |oi| Mandeh Rubiah lah managahkan. |ha| si Tupai Janjang naiak ka ateh rumah. |o| barang |nan| badanlah tidak ada.duo juo diri |lah| Mak Hitam. |hai| sehabis asap |lah| masa itu. nan dulu |nan| garan |lah| si Tupai Janjang.|Oi| kulik nan abih alah maso itu. |oi| lamalah lambat |hai| berganti sana.

dengan mandeh kandung Mandeh Rubiah. basamo-samolah nangko kini. Takana pulolah si mandeh kanduang. Hal ini didendangkan dengan cara berdiri) Penutup 103.Lalu disuruah tinggalah maso itu. |a| ini |ko| orang tua saya benar. (Pencerita mendendangkan bait ke-97 dengan duduk sambil memegang kepalanya untuk menggambarkan rasa sedih karena teringat sama orang tuanya) .Lamolah lambek |lah| maso itu. |Oi| adok ka diri |lah| si Tupai Janjang. jo mandeh kanduang Mandeh Rubiah. terbit pikiran |lah| si Tupai Janjang. |ha| maminta piti |lah| maso itu. . bersama-samalah masa kini. 375 (Pencerita mendendangkan bait ke-101 dan bait ke-102 dengan gerakan dan irama yang sama. badan bertambahlah kurus jua. |ha| meminta uang |lah| masa itu. Lalu disuruh tinggalah masa itu. Waktu mendendangkan kulit TJ sudah berubah menjadi emas (larik 350) . agiahlah denai kato pasti. badan batambahlah kuruih juo. |Oi| hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang.|Oi| harilah sadang pukua satu. tabik pangana |lah| si Tupai Janjang. 97.” (Bagian dari teks di atas adalah dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan sedu sedan) Sub-adegan ke-1 101. pencerita melemparkan selendangnya kembali) .” “Ampun kandung kata saya. Teringat pulalah si mandeh kandung. Datuk Bandaro dengan Linduang Bulan. berilah saya kata pasti. ADEGAN V 98.(Pencerita mendendangkan bait ke-92 sampai dengan bait ke-96 dengan gerakan yang sama sambil berdiri. sana terkejutlah Datuak Bandaro. dua dengan dirilah Imak Hitam. |Oi| harilah sedang pukul satu. anak kandung kata saya. nak kanduang janyo denai. Hari barubahlah hari pulo. 370 Lamalah lambat |lah| masa itu. pai barubek |lah | garan kini. 360 Hari berubahlah hari pula. 102. sadang bapunta bayang-bayang. duo jo dirilah Imak Hitam. 99. sudah sadih gerangan |lah| si Tupai Janjang. ada masa itu badanlah senang. 365 (Bait ke-98 dan bait ke-99 didendangkan oleh pencerita dengan suara tersedu sedan seperti orang sedang sedih) . pergi berobat |lah| gerangan kini. |a| iko |ko| urang tuo ambo bana. sanan takajuik lah Datuak Bandaro. Datuak Bandaro jo Linduang Bulan. ado maso itu badanlah sanang. lah sadiah garan |lah| si Tupai Janjang. 100 “Ampun kanduang janyo denai. sedang berputar bayang-bayang.

frasa. lain waktu hendak akan kita ulang Tuan. klausa. Formulaik pada pantun berikut ini ditemui pada kedua teks. Dalam analisis ini. seperti keadaan tempat.| 380 Tupai Janjang segitu dulu.. maupun klausa. Antara satu bait dan bait berikutnya juga terjadi pengulangan. Pencerita dapat merangkai suatu cerita dalam waktu relatif pendek dengan cara membentuk kalimat yang berformula.| (Di bagian penutup ini iramanya berubah dari irama semua teks yang telah dibacakan terdahulu. dan waktu pertunjukan. pencerita dapat menyesuaikan cerita dengan situasi pertunjukan.Tupai Janjang sagitu dulu. 2. |oio. 1981:30—43).| . lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan. mungkin berupa kata. Pada waktu ini.|. Bentuk yang memperlihatkan perulangan dengan sistem formula disebut ekspresi formulaik. Formula muncul berkali-kali dalam cerita.. Dengan cara ini. lain wakatu nak kan kito ulang. baik dalam satu larik maupun dalam satu bait. bagian yang berformula ditandai dengan garis bawah di kata yang berformula tersebut. |ouuii……. penonton. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang Formula adalah sekelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan ide yang esensial.lai…. Ekspresi formulaik juga dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama.lai…. 1987:68). Pantun memakai unsur yang berulang. atau larik (Lord. Formulaik yang pertama dilihat pada analisis ini adalah bagian teks yang berbentuk pantun. |ouuii…. carito habih ndak kito ulang Tuan. cerita habis hendak kita ulang Tuan. . baik dalam bentuk kata-kata. |oio.. pencerita hanya duduk dengan mendendangkan bait ke-103. Hal itu dilakukan dengan menundukkan dan memegang kepalanya) . ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. yakni pada bagian awal cerita. Jika dicermati kedua teks memperlihatkan adanya bagian yang diulang. Untuk menghasilkan hal itu. lain waktu hendak akan kita ulang. yaitu mengingat frasa-frasa dan menciptakan analogi dengan frasa yang telah ada. frasa. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim (Sweeney.

Banda |lah| urang kami bandakan. (13-16) banda nak urang |lah| di Gumarang. (6-9) TEKS II 3. (Banda |lah| orang kami bandakan. kaba orang kami kabakan. terlihat adanya kata yang diulang pada larik lanjutan pantun itu. adolah urang maso itu. ta Rajo turun ba rajo. Banda anak orang Koto Tuo. tak kalo alun baralun. kaba |lah| urang lai kami kabakan. orang dusta kami tak mau). Pantun di atas terletak di awal cerita karena berfungsi sebagai pembukaan. di yang dekat jolong tersongoh. Tak kalo maso dahulunyo.(912) bandalah |hai| urang si Koto Tuo. turunan rajo turun beraja. (Tak kalo masa dahulunya. kaba urang kami kabakan. banda anak orang |lah| di Gumarang. (Banda orang kami bandakan. Formula itu adalah Bandalah urang kami bandakan (Bandarlah orang kami bandarkan) yang ditemui pada kedua teks. urang duto kami tak sato. tersebut garangan Datuak Bandaro. tasabuik garan Datuak Bandaro. turunan puti sudut-bersudut). kaba |lah| urang lai kami kabakan. Di nan tinggi tampak jauah. 4. orang dusta kami tak mau). (16-20) 5. adalah orang masa itu. (14-16) 5. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. |hai| bumi nan antah barantah. nan tasabuik-sabuik. urang duto kami tak nio. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. kaba |lah| urang kami kabakan. di nan dakek jolong tasongoh. berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulan). (Bandalah orang |hai|hamba bandakan. iyolah garangan |lah| si Tupai Janjang). (Di yang tinggi tampak jauah. Pengulangan itu terjadi. bumi yang belum |hai lah| baralun. yang tersebut-sebut). larik itu diulang dengan mengubah kata kami dengan kata ambo (hamba) dan menambahkan ungkapan .TABEL XII Formula di Bagian Pembukaan Cerita TEKS I 2. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formula yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. (17-21) bumi nan alun |hai lah| baralun. Dalam pantun tersebut. tak kalo alun baralun. baik pada bait yang sama maupun pada bait yang berbeda. kaba |lah| urang kami kabakan. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. |Oi| adolah pado suatu maso.Bandalah urang |hai|ambo bandakan. Banda urang kami bandakan. 4. (|Oi| adalah pada suatu masa. |hai| bumi yang antah barantah. Banda nak urang Koto Tuo. ta Puti suduik-basuduik. Pada teks II.

34. ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu atau dua kata.Lah bulan lah limo bulan garan manganduang Lah lapan bulan paruik tambah gadang (165-166) (Sudah tiga bulan limo bulan garan manganduang Sudah delapan bulan perut tambah besar ) 40. satu bulan. atau dua bulan. Ada formulaik tertentu yang digunakan untuk menyatakan perubahan dan pergerakan waktu dalam cerita. Kata itu adalah kaba dan bandalah urang (bandarlah orang) ditemui pada bait ke-3 dan ke-4. Lah sabulan duo bulan. Sudah yang sepakan |oi lah| yang sebulan Sudah yang dua bulan garangan mengadung Jalan berubahlah yang maengkang) 37. misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. hampir sampai genap bilangan). Lah hampianyo ganok bilangan bulan lah hampienyo sambilan bulan. Perubahan waktu itu ditulis dengan cara ditebalkan. (Sudah sebulan dua bulan. Untuk menyatakan waktu satu hari. (162-166) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan Lah nan duo bulan garan mangaduang Jalan barubah |lah nan| maengkang (Dari sahari |oi| garangan mengandung. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik. lah tiba sakik beranak).Dari sahari |oi| garan manganduang. (218-220) (Sudah hampirnya genap bilangan bulan sudah hampirnya sembilan bulan. lah tibo sakik baranak. Lah nan sahari nan duo hari (301) Lah nan bapakan lah maso itu (302) (Sudah yang sehari yang dua hari Sudah yang berpakan sudah masa itu) . TEKS II Formula untuk Pergerakan Waktu 36. (184-185) ambia sampai ganok bilangan. pencerita tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. Perbedaan terjadi dengan penambahan kata untuk kepentingan irama dalam menyanyikan cerita.Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (180) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (181) (Sudah delapan bulan |oi| garangan mengandung Sudah yang sembilan bulannya mengandung) 84. TABEL XIII Formula untuk Pergerakan Waktu TEKS I Formula untuk Pergerakan Waktu 38. Selain itu. Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda.penyeling hai. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2.

Bentuk formula itu seperti terlihat pada tabel berikut. merupakan kependekkan dari alah (sudah). . Persamaan yang terlihat adalah pemakainan kata lah. Dalam teks TJ ditemukan adanya ekspresi formulaik. Sesudah pemakaian kata yang berformula. seperti contoh di bawah ini. yaitu lah nan …. Perbedaan yang tampak adalah dengan adanya penambahan unsur verbal demi kepentingan irama.Telah dikemukan di depan bahwa ekspresi formulaik adalah larik atau paroh larik yang disusun sesuai dengan pola formula. dilanjutkan dengan keterangan atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh. seperti yang telah dinyatakan di atas. misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana sudah berkata Datuak Bandaro). Untuk perpindahan tokoh yang diceritakan. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sehingga terlihat paralelisme satu larik dengan larik yang lainnya. untuk perubahan tokoh yang diceritakan. Lah nan sahari |haa nan| duo hari Lah nan tigo malam maso itu (Sudah yang sahari |haa nan| dua hari Sudah yang tiga malam masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan pergerakan dan perubahan tokoh yang diceritakan. pencerita juga memanfaatkan cara yang sama. Kata lah. Ada kata-kata yang selalu digunakan untuk menyatakan perubahan waktu. Dengan pola formula sebagai dasar. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada. Titik-titik setelah kata lah nan diisi sesuai dengan waktu yang dikehendaki dalam cerita. pencerita dapat menyusun larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu.

hal itu terlihat seperti tampilan pada bagan berikut ini. . (537) Lalu dicaliak si Tupai Janjang (328) (Sudah tiba dia di tengah rumah) (Lalu dilihat si Tupai Janjang) Lah dibao si Tupai Janjang (571) |ha| lalu diambiak lah kulik nantu (346) (Sudah dibawa si Tupai Janjang) (|ha| lalu diambial lah kulit itu) Untuk lebih memperjelasnya. Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (259) (Sudah pulang dia masa itu) (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang) Lah tibonyo di tangah rumah.Formula dengan pola sintaksis yang sama Lah balari si Dukun Pandai (257) |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (39) (Sudah berlari si Dukun Pandai) (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Lah bajalan Datuak Bandaro (93) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (20) (Sudah berjalan Datuak Bandaro) (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lah bajalan si Linduang Bulan (109) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (102) (Sudah berjalan si Linduang Bulan) (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (448) Lalu bakato Datuak Bandaro (240) (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lah pulangnyo maso nantun. Formula untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (22) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (29) (|Oi| hadaplah diri dua itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (24) (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (296) (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan (267) (|Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan) II. Formula untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Pihak kapado karo banyak (Pihak kepada karo banyak) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro Kononlah Linduang Bulan (Kononlah Linduang Bulan) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (1 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) (1 kali) TEKS II I. Formula dengan pola sintaksis yang sama II.TABEL XIV Formula untuk Perubahan Tokoh TEKS I I.

dan hadap ke). dan kini . sedangkan pencerita pada teks II. Pemakaian bahasa Minangkabau sehari-hari lazim dipendekkan. |oi| madok lah. Larik itu adalah. memakai kata |oi| adok lah. mengunakan kata pihak kapado (pihak kepada) dan pihak di diri (pihak di diri). Larik itu adalah kononlah kasiah rang ditompangkan (kononlah kasih rang ditompangkan) dan kononlah kasiah urang tompangkan (kononlah kasih orang tompangkan) (bait 12 larik 78 dan 84). seperti yang juga telah disebutkan pada bab II di atas. dan adok ka (|oi| hadaplah. menunjukkan bahwa adanya unsur yang berformulaik dengan memperlihatkan adanya huruf yang hilang yakni pada kata urang (orang). Kata yang ditukar ditemukan pada bagian akhirnya untuk menyesuaikannya lawan bicaranya. kini baitulah Linduang Bulan (kini begitulah Linduang Bulan)(larik 294). Hasil analisis pada teks I. Larik yang paralel dengan memperlihatkan pola sintaksis yang sama (pada teks I) juga dipakai untuk menyatakan pernyataan ajakan terhadap lawan bicara. Penghilangan kata urang menjadi rang karena pengaruh dari pemakaian bahasa sehari-hari.Datuak Bandaro Urang Padusi Dukun Pandai PIHAK KAPADO Puti Linduang Bulan Tupai Janjang Mak Hitam Rang punyo ladang Mandeh Rubiah Kata yang dipakai untuk menyatakan perubahan tokoh pada kedua pencerita juga berbeda. kini baitulah dek Tuan (kini begitulah oleh Tuan)(larik ke-55) dan kini baitulah dek Adiak (kini begitulah oleh Adik)(larik ke-67). Pencerita pada teks I. |oi| menghadaplah.

Variasi pertama. ada jalan yang menurun. ada jalan yang melereng) (bait ke-677 sampai dengan bait ke-680). tiba di rusuk. tibo di rusuak. terlihat pada teks I (bait ke-44). Ado jalan nan mandaki. Teks II 66. |oi | tiba di tanah. adanya unsur verbal pada teks II. TABEL XV Kalimat yang Paralel Teks I 44. kalau berkata peliharalah lidah) (larik ke-651 dan 652). rusuk terban) pada teks II. adanya larik yang sama dan paralel. . ada jalan yang mendatar. lantai berlubang. (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. tidak ada. 709. larik yang sama diulangi untuk menjelaskan pemakaian jenis kato-kato (kata-kata) tersebut. Hal ini digunakan untuk memberikan nasihat kepada tokoh yang ada dalam cerita ini. |oi | lalu di caliaklah anak nantun. tibo di tanah. tanah lambang). tanah lambang. Dan pola yang sama juga digunakan pada larik kini baitulah nan elok (kini begitulah yang elok) (larik ke-315). |oi | lalu dilihatlah anak itu). tiba di lantai. Pada bagian bait selanjutnya. ado jalan nan manurun. rusuak taban (tiba di rusuk. tanah balubang.baitulah dek Mak Itam (kini begitulah oleh Mak Itam)(larik 435). lantai sudah patah. Variasi kedua. tibo di lantai. Kok bajalan paliharolah kaki. lantai lah patah. sedangkan pada teks II (bait ke-66). Hal itu terlihat seperti tabel di bawah ini. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. |oi | tibo di tanah. ado jalan nan mandata. Larik tibo di rusuak. tiba di tanah. Nan lah ko lahialah anak si Tupai Janjang. 698. |oi| tiba di lantai. rusuk terban. misalnya pada larik ke. telah lahir. Pemakaian kalimat paralel juga ditemui untuk menyatakan anak Linduang Bulan. hanya 2 larik. Pemakaian pola yang sama banyak ditemui pada teks I. terdapat 3 larik yang mempunyai paralel. dan 724. tanah berlubang. ado jalan nan malereng (Ada jalan yang mendaki. tetapi memperlihatkan variasi. Pada kedua teks.683. lantai balubang. Contoh terlihat pada larik-larik ini. 714. rusuak taban. kok bakato paliharolah lidah (Kalau berjalan peliharalah kaki. |oi| tibo di lantai. (Yang sudah ini lahirlah anak si Tupai Janjang.

Ungkapan penyeling pada teks II. dan hai nan. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. kok. Oleh karena itu. perangkap bingkas hanya ada. nan takajuik si Tupai Janjang. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. .Kata sambung memainkan peranan yang besar dan merupakan pola-pola umum untuk memulai baris (Lord. a. (|oi| lalu diambil yang air sumur. yo. diikuti dengan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dengan mencantumkannya kembali kegiatan tokoh tersebut pada larik selanjutnya. nyo mandencek ke dalam jaguang mudo. pemakaian ungkapan penyeling cukup banyak digunakan pada kedua teks karena berfungsi juga untuk kepentingan irama. Selain kata di atas. oi. 1981:41). Pada teks II (bait ke-24). dia melompat ke dalam jagung muda. |oi| lalu diambillah air yang itu. pirangkok bingkeh hanyo lai. Kedua teks pada awal bait. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut. Pemakaian kata itu dilakukan jika kalimat kurang dari empat kata dalam satu larik. Lalu mandencek Tupai Janjang. kata sambung ditemukan pada awal parangraf sehingga membuat cerita bergerak. pancuci muko |lah| si Linduang Bulan. dan sinan. sekarang ini minum Datuak Bandaro. dalam perangkap dia keluh kesah). hai. pencerita memilih kata lalu. pihak. pencuci muka |lah| si Linduang Bulan. yang ditempatkan di awal larik. ha. Cara yang dilakukan oleh pencerita mengakibatkan cerita bersifat kronologis dan membuat cerita bergerak ke depan. dalam pirangkoknyo kaluah kasah. kini ko minum Datuak Bandaro. Kemudian. Bait itu adalah. Penempatan kata itu di awal bait. satu tibonyo di situ. pencerita menambahkan dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sesudah menyebutkan nama tokoh yang dituju. (TI. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua. bertujuan untuk menerangkan keadaan tokoh atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu. 76) (Lalu melompat Tupai Janjang. yang terkejut si Tupai Janjang. |oi| habih dicuci muka Linduang Bulan. nan. diambil air |oi| lalu di minum. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu). kata itu terutama digunakan pada teks II dari pada teks I karena langsung diambil pada saat mendendangkan. ndeh. lalu. adalah ai. lah. diambiak aia |oi| lalu di minum. Di dalam teks ini. Sesudah itu. nan. waktu tiba dia di situ. dominan memakai kata lah.

hal itu dapat dilihat pada bagan berikut.297) Kito + } + { baiak-baiak } Pangganti + barang harato + urang {nan} + { pacah} + {ang} abihkan + { maso} + { itu } kain putiah kain sirah (TI larik ke-499) (TI larik ke-400) (TI larik ke-618) (TI larik ke-631) (TI larik ke-624) {nyo} inyo nan ||ha| + { baunduang-unduang } baunduang + caliak {dicaliak } + {baliak } |lah| malah |lah| { kulik } lah + {si Tupai Janjang } (TII larik ke-330) (TII larik ke-332) indak + ado maso itu (TII larik ke-338) (TII larik ke-343) .346) (T I larik ke-347) (T I larik ke-289) (T I larik ke-290. Untuk lebih jelasnya. Dengan demikian. Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} + padi + kasiah di lantai di rusuak di tanah Inyo { kan } + { darah anak anak { paliharo } { u } rang + basalang (T I larik ke-72) (T I larik ke-78. 83) (T I larik ke-254) (T II larik ke-232) (TI larik ke-255 ) (TII larik ke-233) {Oi} Tibo + + {hai} + lantai rusuak tanah + patah balubang taban balubang + { dagiang } kanduang { kito } (T I larik ke-285.Pencerita menyusun baris-baris dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya. Pencerita mempunyai pola-pola yang dijadikan pedoman dalam menciptakan baris dengan cepat pada saat penceritaan sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. baris-baris memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya.

Pencerita dari komunitas yang sama mengetahui formula itu. pembukaan berisi permohonan maaf dan menyebutkan kaba yang diceritakan. ada juga formula yang sifatnya sudah umum dan bahkan sudah dikenal oleh masyarakat Minangkabau. memberikan homogenitas kepada pencerita-pencerita tradisional yang juga sudah dikenal oleh masyarakat (Lord. Cadangan formula yang bersifat umum itu.Formula juga ada yang bersifat umum dan dapat dikatakan bahwa semua pencerita lisan mengenal formula tersebut. Demikian dikenalnya formula tersebut oleh masyarakat Minangkabau. Pembukaan ini disampaikan dalam bentuk pantun. masyarakat sudah mengerti maksudnya. Pada awal teks II (bait ke-1 – bait ke-4). (Kait berkait rotan saga. Di samping itu. tibo di bumi jadi kaba. Pada bagian pembukaan kaba. juga memperlihatkan hal tersebut. Di dalam tradisi lisan Minangkabau. Pada teks II (bait ke-2). walaupun tidak diucapkan secara keseluruhan. Formula itu umumnya ditemukan dalam pertunjukan kaba. formula di atas didendangkan dengan tambahan pada ungkapan penyeling . tibo di langik tabarito. pada bagian awal kaba tersebut juga disebutkan nama grup yang menampilkan pertunjukan serta cerita yang akan disampaikan. tiba di bumi jadi kabar) Pada bagian awal kedua teks TJ ini. terletak pada bait ke1 sampai dengan bait ke-3. Pencerita akan menggunakan cadangan formula itu. 1981:50). tiba di langit terberita. Kaik bakaik rotan sago lah takaik di aka baha. Pada bagian di atas juga telah dijelaskan hal ini. biasanya berisi permohonan izin untuk menampilkan pertunjukan kaba kepada semua penonton. untuk menggambarkan ide yang sifatnya umum. walaupun kabanya berbeda. tetapi formula yang digunakan sama. Sementara itu pada teks I. Adapun pantun yang lazim dipakai pada pembukaan kaba adalah seperti berikut. selalu memakai formula yang sama. Cerita Minangkabau baik dalam bentuk tertulis—misalnya kaba—maupun yang dipertunjukan. sudah terkait di akar bahar. bahkan juga masyarakat tersebut.

Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan Pendekatan komposisi skematik yang disampaikan oleh Sweeney pada dasarnya masih bertolak dari teori Lord tentang formula. terbang ke langit |lah| terberita. kami mambukak kaba lamo. bandarlah |hai| orang Koto Tuo. Penggunaan formula itu juga ditemukan dalam cerita TJ berikut. sapuluah jari kami susun. Banda urang kami bandakan. Kami membuka kaba lama). Rumusan berformula dalam sastra Melayu tradisional juga lebih bervariasi.Kaik |lah| bakaik |lah| rotan sago. kaba |lah| urang kami kabakan. serta sanak |lah| dengan saudara. kaba |lah| orang kami kabakan. orang dusta kami tak mau). (Bandarlah orang |hai| kami bandarkan. jatuah ka bumi manjadi kaba. tabang ka langik |lah| tabarito. Teks II 1. konsep yang dikemukakan oleh Lord tidak semuanya cocok untuk diterapkan pada sastra lisan Melayu yang memiliki keunikan tersendiri. orang dusta kami tak mau). Teks I 1. Di depan telah dicontohkan bahwa formula yang juga lazim digunakan pada bagian pembukaan dalam tradisi sastra Minangkabau disampaikan dalam bentuk pantun. (Kaik |lah| berkait |lah| rotan sago. jatuh ke bumi menjadi kaba). 3. |ai| sagalo kami nan mudo. Bandalah urang |hai| kami bandakan. urang duto kami tak nio. sepuluh jari kami susun. Sastra lisan Melayu tradisional tidak memiliki persyaratan baris-baris formula yang kaku seperti sastra Yugoslavia. (Ampun beribu kali ampun. pencerita dipengaruhi oleh pertunjukan. banda nak urang Koto Tuo. (Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. Manolah niniak |lah nan| jo mamak. kaba urang kami kabakan. maaf diminta banyak-banyak. maaf dengan rila yang kami pinta |ai| segala kami yang muda). Ampun baribu kali ampun. bandalah |hai| urang Koto Tuo. ampunlah kami ninik mamak. 3. Di dalam sastra Melayu tradisional. maaf diminta banyak-banyak. |hai| yang sudah terkait |nan| di akar baha. |hai| nan lah takaik |nan| di aka baha. Namun. (Bandar orang kami bandarkan. karena sastra Melayu tradisional merupakan sastra . 2. tetapi memperlihatkan fleksibelitas yang tinggi. ampunlah kami niniak mamak. khabar orang kami khabarkan. bandar anak orang Koto Tuo. sarato sanak |lah| jo sudaro. maaf jo rila nan kami pinta. urang duto kami tak nio.

melainkan berdasarkan pada ide atau konsep. Komposisi skematik bukan saja berguna untuk pencerita. Cerita dilantunkan yang setiap ucapannya digerakkan dengan frasa melodi atau irama nyanyian. Pencerita tinggal menyesuaikan tipe persediaan atau skematik yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengungkapkan ide dalam cerita tersebut (Sweeney. Hal ini jauh berbeda dengan sastra Barat yang lebih individual. dilahirkan dengan mempertimbangkan adanya umpan balik antara pencerita dan penonton (Sweeney. Oleh karena itu. Dalam mengkoordinasikan kata-kata dengan irama. formula dalam hal ini digunakan untuk mengungkapkan ide dalam cerita supaya pencerita dapat dengan cepat memformulasikannya. Hal itu yang dinamakan komposisi skematis.yang merupakan aktivitas komunal. atau menekan melodi supaya sesuai dengan kata-kata. melainkan juga untuk penonton dalam memahami cerita sehingga penonton tidak mengalami kebingungan (Sweeney. tetapi dengan mencocokkan lirik-lirik yang ada dengan melodi. Pencerita tidak belajar dari menghafal baris-baris. Komposisi skematik mempunyai cara yang spesifik dengan menerapkan metode tertentu dalam larik untuk mengungkapkan ide. pencerita pada saat pertunjukan sering menggunakan ungkapan penyeling untuk menyelaraskan dengan melodi. memperpendek. Pencerita memiliki persediaan yang diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan untuk menggambarkan objek. Komposer dalam tradisi lisan Melayu menggunakan rumusan dan pola-pola untuk membangun plot dalam cerita. pencerita bisa memperpanjang. Komposisi dalam sastra lisan Melayu. Jadi. 1980:39). Hal ini membentuk re-kreasi cerita selama pertunjukan dan mengkoordinasikan kata-kata dengan melodi sehingga membentuk pola-pola terformulasi yang bersifat fleksibel. 1987:17). 1980:24). . Pencerita menggunakan rumusan-rumusan atau pola-pola tertentu untuk menciptakan plot dalam setiap pertunjukan. Sesuatu disampaikan bukan dari kesan visual.

tibo di rusuak rusuak taban. di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. paralelisme juga berguna untuk kepentingan irama. . Hal ini dinyatakan dengan menggunakan skemata berikut. 44 (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. Ada yang bersembunyi di bawah kedai. Oleh karena itu. arti dari bait itu tetap mengandung pengertian yang sama. untuk menyatakan Tupai Janjang sudah lahir pada kedua teks memakai skemata yang hampir sama. Teks I. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. Misalnya. terjadi perubahan skemata itu. |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang.Penyanyi memiliki frasa melodi dalam pikirannya yang bersifat netral untuk menyatakan ide dalam cerita sehingga sastra lisan memperlihatkan paralelisme atau kesejajaran antara suatu larik dengan larik lainnya. Skemata itu juga ditemui dalam kaba Minangkabau yang lainnya. (Yang sudah ini lahir si Tupai Janjang. tibo di tanah tanah lambang. tiba di tanah tanah lambang). |oi| tibo di lantai lantai balubang. Kalimatkalimat yang paralel ini berfungsi untuk mempermudah saat pertunjukan karena cerita terikat pada irama. Skemata ini biasanya digunakan untuk menyatakan seorang bayi lahir yang mempunyai keistimewaan (keajaiban) seperti yang juga ditemui pada waktu lahirnya Tupai Janjang. |a| lalu dicaliaklah anak nantun. tiba di lantai lantai sudah patah. Ada yang membelah pagar tiada sempat masuk kampung. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. tibo di lantai lantai lah patah. Ada yang lari naik kedai. Nan lah ko lahialah si Tupai Janjang. deskripsi orang sedang melarikan diri dari huru-hara dinyatakan sebagai berikut. |a| lalu dilihatlah anak yang itu). Komposisi skematik merupakan skemata digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Skemata diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Skemata dan perubahannya dapat dilihat sebagai berikut. tetapi masih ada kata yang sama pada larik di bawah ini. Pada teks II bait ke-66. Namun. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel. seperti yang juga telah diberikan di depan. Misalnya. 1980:17). tiba di rusuk rusuak terban. Ada yang naik pagar tiada sempat lari lalu jatuh (Sweeney. |oi| tiba di lantai lantai berlobang.

komposisi skematik itu seperti berikut. (T II. lah terletak sesudah nan atau sebaliknya. Kalimat ini memperlihatkan kesejajaran dan kesetaraan satu kalimat dengan kalimat lainnya dan memberikan kontribusi cerita bergerak ke depan. Penempatan waktu itu sesuai dengan waktu yang dikehendaki cerita. Nan lah tigo malam maso tu kini.36 dan 37) Dalam hal ini. Nan lah bajalan Datuak Bandaro. satu tahun. dan lain-lain. variasi hanya terdapat pada perubahan letak ungkapan penyeling. Dari sahari |oi| garan manganduang. Sudah yang sepekan |oi| yang sebulan. Lah nan sapakan |oi| nan sabulan. melainkan berfungsi untuk menerangkan kata alah (sudah) yang dipendekkan menjadi lah. Pada kedua cerita Tupai Janjang. Sudah yang dua bulan gerangan mengandung. Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang. satu bulan. nan yang terletak di depan kemudian diikuti oleh ungkapan penyeling lah. Yang sudah tiga malam masa itu kini). Kadang-kadang. dalam cerita juga memakai skematik. (T II. Yang berkata Linduang Bulan.Pergerakan waktu. Pergerakan cerita juga terlihat dari penggambaran kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita dengan formulasi seperti di bawah ini. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung. Nan bakato Linduang Bulan. Lah nan duo bulan garan manganduang.29 ) (Sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. (T I larik ke-475) (T I larik ke-70) (T I larik ke-57 ) (T I larik ke-383) . Yang menjawab Datuak Bandaro. Sudah delapan bulan perut bertambah besar). Lah nan sahari |haa| lah duo hari. seperti waktu satu hari. Lah salapan bulan paruik batambah gadang . Posisi lah di sini bukan sebagai ungkapan penyeling. (Yang sudah datang Mandeh Rubiah. ( Slot untuk kata kerja/ kata sifat) + lah – (slot untuk subjek {+ lah } Nan lah datang Mandeh Rubiah. Nan manjawek Datuak Bandaro. Penyanyi memasukkan yang diinginkan ke dalam stereotipe yang sudah ada dalam pikirannya.

Yang sudah berjalan Datuak Bandaro). (T II larik ke-29) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. (T II larik ke-22) |Oi| adoklah kadiri duo nantun. (Pihak kapada Datuak Bandaro. |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro. Lalu sedih sudah si Linduang Bulan. Pihak kapada Datuak Bandaro. larik-larik yang terdapat sesudah larik awal.diambiak buku takwil mimpi.ada larangan dengan pantangnya. Basadiah-sadiah lah si Linduang Bulan. Pihak kapado Datuak Bandaro.|oi| orang yang besar |lah| masa itu |Oi| hadaplah kediri dua yang itu. dan sifat dari tokoh tersebut dengan komposisi seperti berikut. Gadang hati si Tupai Janjang.dicari yang masam-masam. Pihak kapado urang padusi . Pihak kapado Datuak Bandaro.ado larangan jo pantangnyo. kegiatan. Pihak kapada orang parempuan. (T I larik ke-132) (TII larik ke-98) (TII larik ke-176) (T I larik ke-182) (T I larik ke-409) Slop di atas. berfungsi untuk menerangkan keadaan atau kondisi dari tokoh sesuai yang tuntutan cerita yang disampaikan. Jadi. akan dilanjutkan dengan penjelasan tentang keadaan atau kondisi tokoh yang disebutkan di awal paragraf. Pihak kapada Datuak Bandaro.(slot untuk kata sifat/ kata kerja) Pihak kapado Datuak Bandaro.lah sapuluah tahun barumah tanggo.|oi| urang nan gadang |lah| maso itu. Lalu ko sadiah lah si Linduang Bulan. (Slot untuk subjek) . Gembira hati si Tupai Janjang).sudah berjalan masa itu).diambil buku takwil mimpi. Komposisi skematik juga lazim digunakan untuk pertukaran tokoh yang diceritakan dengan menyebutkan nama tokoh terlebih dahulu dan kemudian diikuti dengan keterangan.dicari nan masam-masam . Bersedih-sedih sudah si Linduang Bulan. (Panas sudah hati Datuak Bandaro.sudah sepuluh tahun berumah tangga).lah bajalan maso itu. Gadang hati si Linduang Bulan. (T I larik ke-167) (T I larik ke-188) (T I larik ke-214) (T I larik ke-231) . Paneh lah hati Datuak Bandaro. Gembira hati si Linduang Bulan.

lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. sudah dibawalah si Tupai Janjang. Adok ka dirilah si Tupai Janjang. Linduang Bulan. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. yang ke kanan lenggang mengena. (T I. tidak semuanya memakai skematik di atas. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. alu tataruang patah tigo. Sesudah menyebutkan nama tokoh. penambahan. Pertukaran tokoh yang diceritakan juga memakai skematik. nan ka kida lenggang mambunuah. yang berjalan siganjua lalai. Nama tokoh yang diceritakan diletakkan di awal kalimat atau awal paragraf. tetapi hanya mengambil sebagian anak kalimat dari skematik tersebut. lah dibaolah si Tupai Janjang. samuik tapijak indak mati. menerangkan tokoh Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I. 15) yang ke riri lenggang membunuh). dan Mak Itam. nan ka suok lenggang manganai.Cerita Tupai Janjang menghadirkan lima orang tokoh yakni Tupai Janjang. Datuak Bandaro. alu tertarung patah tiga. semut terinjak tidak mati. nan bajalan sigajua lalai. (Kononlah Puti Linduang Bulan. seperti yang lazim digunakan dalam kaba. Untuk menerangkan kondisi seorang tokoh perempuan yang cantik biasanya digunakan skematik.82) (Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. Mandeh Rubiah. (T II. Pada teks II. Pada teks I. diikuti dengan perulangan. dan pengurangan frasa dan baris demi baris untuk keterangan atau kegiatan yang lebih lanjut dari tokoh tersebut. . sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambutnya yang panjang terurai. Kononlah Puti Linduang Bulan. Sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah).

Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. 74) (Anak kandung si Tupai Janjang. Nak kanduang si Tupai Janjang. biapun sakareknyo baluik.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. (T II. Jika tidak terletak di awal paragraf. jangan dibunuh anak kita. “oi tuan Datuak Bandaro. boleh ke rimbalah kau kini). Seorang tokoh yang berbicara juga mempergunakan skematik. ( T II. anak bincacak anak bincancau. anak bincacak anak bincacau. dia darah daging kita. Tokoh yang berbicara diletakkan di awal paragraf. Akhirnya. buliah ka rimbolah kau kini. |oi| bermuka rancak rambut terurai. orang yang elok |lah| masa itu). Berikut ini contoh skematik tentang tokoh yang berbicara serta pembicaraannya. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. dia anak kita. Nama tokoh biasanya terletak pada awal paragraf. (Yang berkata si Linduang Bulan. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. inyo darah dagiang kito. anak sigiang-giang rimba. “oi tuan Datuak Bandaro. urang nan elok |lah| maso itu. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. biarpun dia sekerat ular. . anak sigiang-giang rimbo. kini pergilah sekarang. 7) Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran.( T I larik ke-281− 290). dia kan darah daging kita. Skematik itu biasanya diucapkan oleh tokoh orang tua kepada tokoh anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. Dalam cerita Tupai Janjang. skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. kini bakiroklah ko kini. biapun inyo sakarek ula. kito paliharo baiak-baiak”. Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. |oi| rambut manyapu |hai lah| sapu lantai. inyo anak kito. Nan bakato si Linduang Bulan. |oi| bamuko rancak rambuik taurai. usah dibunuah anak kito. biarpun sekeratnya belut. inyo kan darah dagiang kito. selalu disebutkan nama tokoh berbicara dan kemudian baru diikuti dengan anak kalimat yang diucapkan oleh tokoh itu. Kita pelihara baik-baik”).

di sini air ada jernih juga. janganlah kita pergi ke sana. . Manjawab si Asamsudin. dangakan malah pulo dek Mandeh. dek adiak barilah tarang. sejuk dalam kira-kira). mengapa adik termanung juga. bakato sanan Ameh Manah. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. Nama tokoh yang berbicara terletak di awal paragraf adalah seperti berikut. Alah tibo di tangah rumah. disiko kan lai juo sayak nan landai”( Endah. alah di mintak parasapan. supaya senang dalam hari.Di bawah ini adalah nama tokoh yang berbicara diletak di tengah paragraf seperti berikut. ( T II larik ke-29− ). diminta pulo kumayan putiah. “Mamintak kito pado Allah. “Mandeh kanduang jo di Mandeh. |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. “Mandeh kanduang dengan di Mandeh dengarkanlah pula oleh Mandeh. 20). oleh adik berilah terang. disiko aia lai janiah juo. sajuak dalam kiro-kiro. manga adiak tamanuang juo. |oi| anak yana tidak |lah| dapak juga. “Dik kanduang si Linduang Bulan. di sini kan ada tempurung yang landai”) Nama tokoh terletak pada tengah paragraf dalam kaba Anggun Nan Tongga adalah seperti berikut. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan. |Oi| adoklah diri duo nantun. usahlah kito pai ka kian. lah sapuluah tahun barumah tanggo. |oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. (Menjawab si Asamsudin. |oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. Sebagai perbandingan. berikut digambarkan pula bagaimana skematik yang sama digunakan pada kaba Tuangku Lareh Simawang. 38 (|Oi| hadaplah diri dua yang itu. sudah sepuluh tahun berumah tangga. “Adik kandung si Linduang Bulan. nak sanang dalam hari. |oi| mangana nasib |lah| maso itu.

berkata sana Ameh Manah. 81) (|Oi| hari yang sedang pukul satu. (Mahkota. sadang babunta bayang-bayang (Hari yang sedang pukul satu. kalau iya berasal anak raja. Berikut sampiran yang digunakan untuk menyatakan istirahat. kok iyo puti suduik-basuduik. yakni pada waktu akan beristirahat dan pada waktu menutup cerita. nan batampek di gunuang Ledang. diminta pulo kemayan putih. kerongkongan basah nanti kita sambung).bakauah bakeh rang kiamat. |oi| sedang babunta |lah| si bayang-bayang. |oi| sadang babunta |lah| si bayang-bayang. |Oi| hari nan sadang pukua satu. skematik itu tetap difungsikan sebagai penyambung bagian cerita. Skematik seperti itu juga digunakan oleh pencerita dalam cerita Tupai Janjang. Pada teks Tupai Janjang. kok iyo barasa anak rajo. sudah di minta parasapan. berkat keramat tuan Haji. 1998:9) (Sudah tiba di tengah rumah. Meskipun demikian. Skematik ini juga digunakan untuk menyatakan suasana cerita dalam kondisi panas pada siang hari. Hari nan sadang pukua satu. (T II. “Meminta kita pada Allah. salamatlah anak di karuang nangko”. |a| si Tupai Janjang saitu dulu. |a| si Tupai Janjang segitu dulu. mendengkul ke orang kiamat. kalau iya puti sudut-bersudut. barakat kiramat tuan Haji. Ungkapan tersebut sering digunakan untuk menyambung bagian cerita yang terdahulu dengan bagian selanjutnnya. sadang babunta bayang-bayang (hari yang sedang pukul satu. sedang berbunta banyang-bayang). . sedang berbunta bayangbayang) dalam cerita Tupai Janjang digunakan hanya sebagai sampiran pada pantun. skematik ini dipakai dua kali. yang bertampat di gunung Ledang. selamatlah anak di karung ini”). Skematik yang juga sering ditemukan dalam sastra lisan Minangkabau adalah hari nan sadang pukau satu. karongkongan basah biko kito sambuang.

yang didulang sedulang lagi. nan manyambuang nan tingga cako. Pada kaba. yang menyambung yang tinggal tadi). pantun ini biasanya dipakai untuk menghubungkan suatu adegan dengan adegan lainnya dalam cerita. lan |nan| pandulang ameh di Bangko. Lain waktu hendak akan kita ulang Tuan |oio|.Skematik yang sama juga dipakai untuk menutup cerita. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Kata fungsi selalu menunjukkan pengaruh terhadap sesuatu yang lain. sadang bapunta bayang-bayang. Lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan |oio|. Fungsional tidak berdiri sendiri. (Sudah didulang sedulang lagi. Lain wakatu nak kan kito ulang. Lain waktu hendak akan kita ulang. Pemikiran fungsional menyangkut hubungan. Untuk mempertegasnya. Carito habih ndak kito ulang Tuan |ouuiii…lai| (|Oi| hari lah sedang pukul satu. Cerita habis hendak kita ulang Tuan |ouuiii…lai|) (T II. Dalam pertunjukan randai. pertautan. Tupai Janjang sagitu dulu. 1976:86). (T II. nan didulang sadulang lai. |Oi| hari lah sadang pukua satu. 82) 4. Lah didulang sadulang lai. lan |nan| pendulang emas di Bangka. . perbuatan. hal ini dinyatakan dalam dua kali. sesudah beristirahat menggunakan pantun yang sudah lazim dipakai dalam menyambung cerita. atau barang dipandang berfungsi menurut peran dan fungsi yang dimainkan dalam suatu keseluruhan dan saling bertautan (van Paursen. 103) Dalam teks II. Tupai Janjang segitu dulu. dan relasi antarsesuatu dengan lainnya. pantun ini juga sering dipakai setelah beristirahat. tetapi dalam hubungan tertentu memperoleh arti dan makna. sedang berpuntar bayang-bayang. Sebuah kata.

semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar warga masyarakat setempat (Ihromi. Bertahannya suatu bentuk kesusastraan yang merupakan salah satu aktifitas kebudayaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya karena segala aktivitas kebudayaan bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. baik pribadi maupun sosial. yang dinamakan kebutuhan sekunder. pertunjukan tersebut memperlihatkan spesifikasi yang tidak ditemukan dalam pertunjukan tradisional lain di Minangkabau.Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk karena tradisi tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. pertunjukan Tupai Janjang masih dapat bertahan dalam masyarakat Kecamatan Palembayan karena masyarakat memandang pertunjukan itu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika teori tersebut dikaitkan dengan objek kajian ini. Selain itu. Setiap pola kelakuan yang sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam masyarakat berguna untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar itu. Pertunjukan Tupai Janjang mereka anggap sebagai aktivitas kebudayaan yang harus dilestarikan dan dijaga kehidupannya di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk. salah satunya seperti kesenian. Pertunjukan Tupai Janjang tetap digemari oleh masyarakat karena dari isi cerita yang ditampilkan dapat dipetik suatu pesan dan dari segi pertunjukannya mampu memberikan suasana tersendiri untuk dinikmati sebagai bentuk hiburan. Tetap eksisnya pertunjukan Tupai Janjang di tengah masyarakat karena merupakan “kebutuhan sosial”. 1988:171). Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang terjadi kerena manusia ingin memuaskan kebutuhan nalurinya akan keindahan (Koentjaraningrat. sistem akan . Dalam teori ini. Jika kebutuhan itu tidak dipenuhi. 1980:60). Pendekatan fungsionalisme dari Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat tempat kebudayaan itu berada.

Orang yang tidak bisa menempatkan posisinya sesuai dengan . Bascom. folklor mempunyai empat fungsi. orang yang lebih kecil. dari larik 642 sampai dengan larik 731 merupakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Menurut William R. dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya. orang yang lebih besar. (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Banyak ucapan MR kepada Tupai Janjang mengungkapkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat di Minangkabau. dan hubungan sesama pencinta pertunjukan ini dalam masyarakat. 1999:78). Selain itu. Mereka harus memperhatikan lawan bicaranya. Dalam perkembangannya. apakah dia sedang berbicara dengan teman sebaya. Tupai Janjang mampu mengemban fungsi sebagai sarana untuk membangkitkan kepekaan karena mengandung tanggapan emosional dan dapat membina kesinambungan hidup. Pertunjukan Tupai Janjang yang merupakan bagian dari kesenian memberikan hiburan atau sarana membebaskan seseorang dari ketegangan serta cara untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. keterkaitan. Seseorang yang berbudaya Minangkabau harus tahu dan pandai menggunakan dan mengucapkan kata-kata sesuai dengan lawan bicaranya. atau dari kalangan pemuka adat. Bascom (dalam Danandjaja. baik perseorangan maupun kolektif. 1984:19). (3) sebagai alat pendidikan anak. Hal ini terutama terlihat pada teks I. juga diberikan dalam cerita ini. eksisnya pertunjukan ini karena adanya rasa ketergantungan. yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif.mengalami disintegrasi dan “mati” (Kaplan. Untuk melihat fungsio dari pertunjukan Tupai Janjang. Pelajaran dan pendidikan tentang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau khususnya. Masyarakat Minangkabau harus mengetahui jo kato nan ampek ‘dengan kata yang empat’.

khususnya bagi pemuda Minangkabau. cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat. hingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anak-anak. Jadi. Gambaran kepergian Tupai Janjang setelah dia meninggalkan kampung halamannya itu dinyatakan melalui tempat pembuangannya dan akhirnya menjadi orang yang kaya dan dapat membantu orang tuanya. dalam buku-buku tentang kebudayaan Minangkabau sering diuraikan falsafah ini. Sesuai dengan fungsi yang dikemukakan oleh Bascom. Falsafah adat ini juga sering diucapkan oleh pemuka-pemuka adat. dalam pergaulan dia indak bisa dibao baretong ‘tidak bisa diperhitungkan’.lawan bicaranya. apalagi setelah merantau. Sebagai alat pendidikan. tetapi juga kepada orang tua. cerita Tupai Janjang juga secara tidak langsung sudah memperkenalkan falsafah adat ini kepada audience. Falsafah adat Minangkabau juga dihadirkan dalam teks ini. Angan-angan ini tersembunyi dari keinginan pemuda Minangkabau untuk menjadi kaya. Pertunjukan Tupai Janjang dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya dapat dipandang sebagai bahan dan proses kehidupan sosial yang berperan bagi kelangsungan hidup kebudayaan Minangkabau. Dikatakan fungsional karena merupakan sebuah kondisi yang seluruh bagian sistem sosial bekerja bersamasama membentuk tingkat harmoni dan konsistensi internal. Fungsi didefenisikan sebagai sumbangan dari aktivitas manusia terhadap keseluruhan aktivitas yang lebih luas. cerita ini memberikan . Pada umumnya. Terhadap anak-anak. Pada larik 665 sampai dengan larik 673 berisi ajaran falsafah alam takambang jadi guru ‘alam terkembang jadi guru’. Dalam kaba-kaba Minangkabau yang lain hal ini juga sering dinyatakan. Fungsi dari kenyataan sosial merupakan sejumlah sumbangan terhadap keseluruhan kehidupan sosial. Pemahanan fungsi seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa sebuah kenyataan sosial mempunyai kesatuan tertentu yang disebut kesatuan fungsional. baik dalam acara pidato adat maupun pasambahan.

Secara eksplisit. Penggunaan mengacu pada situasi dan kegiatan sebuah pertunjukan dilakukan. Adapun kegunaanya pertunjukan Tupai Janjang adalah seperti berikut. pepatah adat Minangkabau mengatakan kaba baiak baimbauan. perkawinan bukan hanya merupakan urusan pribadi atau satu keluarga. 1. Fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. pertunjukan ini bukan hanya memperdengarkan irama dari pencerita. yang dapat berfungsi sebagai penyambung kelangsungan kebudayaan Minangkabau. tetapi menjadi persoalan dan urusan kerabat. khususnya masyarakat Palembayan.pendidikan supaya berkelakuan yang baik. Dalam menyelengarakan perkawinan. sejarah. kaba . kaba buruang bahambauan ‘kabar baik dipanggilkan. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang bersifat praktis. Dalam cerita tersebut juga tersirat pendidikan bahwa seorang anak harus bersifat baik dan tetap menghormati orang tua walaupun orang tua itu pernah membenci dan membuang anaknya. bukan hanya satu keluarga inti yang merasa malu. tetapi lebih dari itu. Memeriahkan pesta perkawinan Menurut adat yang berlaku di Minangkabau. Jika seorang anak berkelakuan yang tidak baik. Bagaimanapun nakalnya. Terhadap orang tua. yaitu penggunaan dan fungsi. melainkan juga semua kaum kerabat akan mendapat malu. Kalau suatu perkawinan tidak baik pernyelenggaraannya. seorang anak kalau diberi pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawa hasil. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan. semua anggota kaum diharapkan dapat membantu dan menyukseskannya. pertunjukan ini juga menyampaikan pesan-pesan. nasihat. cerita ini dapat diambil hikmahnya supaya berhati-hati dan tabah dalam mendidik anak. Dengan demikian. seperti tujuan pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan oleh masyarakat. orang tidak menyukainya. nilai-nilai pendidikan. Mulai dari tahap awal sampai akhir perkawinan. dan lain-lain. termasuk kedua orang tua.

Pertunjukan ini hanya membutuhkan waktu lebih kurang dua jam. Jika peraturan tersebut dilanggar. salah satunya adalah Tupai Janjang Keluarnya kebijaksanaan dari pemuka masyarakat setempat didorong oleh adanya kecenderungan masyarakat dewasa ini meninggalkan kesenian tradisional. Hal itu berkaitan dengan dikeluarkannya peraturan daerah setempat yang menyatakan bahwa jika ada anggota masyarakat yang melaksanakan pesta perkawinan yang dimeriahkan oleh hiburan modern. misalnya randai. atau bentuk hiburan modern. Artinya. jika ada perkawinan dalam suatu keluarga. Di depan juga telah dinyatakan bahwa pertunjukan Tupai Janjang lebih sering ditampilkan di Palembayan.buruk berhamburan’. tetapi jika ada kemalangan atau musibah. saudara. ditampilkan pertunjukan yang lain. penghulu kaum diberi sanksi dan dipanggil ke kantor wali nagari setempat dan diharuskan membayar denda yang akan digunakan sebagai sumbangan bagi nagari itu. Guna memeriahkan acara perkawinan itu biasanya disediakan pertunjukan pada siang atau malam hari. jika ada kabar yang baik dan menggembirakan. masyarakat diundang untuk ikut dirasakannya. tepatnya sesudah sembayang isya hingga selesai. Jika pengikisan budaya itu dibiarkan berlangsung. generasi muda tidak akan mengenali kesenian tradisionalnya. Untuk mengisi waktu yang masih tertinggal sampai waktu sembayang subuh datang. saluang. hendaknya warga saling membantu dan turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anggota masyarakat lainnya. anggota masyarakat diundang untuk saling berbagi kegembiraan. Tetangga. harus juga menyuguhkan hiburan tradisional. biasanya dilaksanakan pada malam hari. Memeriahkan upacara pengangkatan penghulu Pengangkatan penghulu di Minangkabau merupakan suatu kegiatan yang dianggap penting oleh masyarakat karena jabatan penghulu merupakan jabatan yang . 2. kebijaksanaan tersebut juga untuk menyongsong babaliak ka nagari ‘kembali ke nagari’ yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Untuk melaksanakan pepatah ini. dan warga masyarakat yang lain juga diundang untuk memeriahkan acara perkawinan tersebut. Di samping itu. Khusus untuk pertunjukan Tupai Janjang.

Penghulu merupakan pemimpin dan orang yang akan menyelesaikan suatu persolan dalam satu suku. peresmian atau pengangkatan penghulu baru dilakukan supaya semua warga dalam satu nagari mengetahui siapa yang menjadi penghulu suku tersebut. Kesenian tradisional ini diundang oleh yang mengadakan alek. . Bayaran suatu grup tergantung 46 Balai adat sama dengan balairung. Alek nagari ini dilaksanakan secara bersama oleh anggota masyarakat suatu nagari. balai adat. Peresmiannya dilakukan di balai adat. misalnya salawat dulang. Dalam rangka alek nagari itu diadakan pula kesenian-kesenian. penghulu.langsung berkaitan dengan anggota dalam satu suku. Uang yang didapatkan dari sumbangan para penonton diberikan kepada nagari untuk pembangunan sarana dan prasarana di nagari itu. saluang. Oleh karena itu. Memeriahkan alek nagari Alek nagari adalah pesta yang diadakan oleh suatu nagari yang biasanya berlangsung dalam waktu 15 hari sampai dengan 1 bulan.46 Kalau diadakan secara bersama. dan lain-lain. dan lain-lain. biasanya nagari tersebut mengadakan malam hiburan yang lazim disebut alek nagari. baik tradisional maupun modern yang dilakukan secara bergantian. Dalam rangka memeriahkan acara itu juga sering diadakan hiburan berbentuk kesenian tradisional. irigasi. indang. sekolah. tetapi dengan syarat suku tersebut mampu membiayai penyelenggaraannya. yaitu ruang yang digunakan untuk sidang atau pertemuan para pemuka adat. Acara ini diadakan dalam rangka memeriahkan pengangkatan penghulu dan mungkin juga diadakan untuk mencari dana bagi nagari tersebut. randai . dabus. rebab. termasuk Tupai Janjang. Untuk menghemat biaya. silat. Peresmian penghulu juga tidak tertutup meskipun hanya satu orang 3. tari tradisional. misalnya untuk membangun masjid. pengangkatan penghulu dilakukan dengan penghulu dari suku lain dalam satu nagari. Banyak bentuk kesenian tradisional tampil dalam acara ini. Peresmian penghulu ini dilaksanakan secara bersama-sama.

Dalam hal . Salah satu wisata budaya tersebut adalah pertunjukan Tupai Janjang. Semakin seringnya Tupai Janjang tampil di luar daerah secara otomatis akan dapat mengembangkan kebudayaan Minangkabau secara umum. yang merupakan ajang promosi pariwisata dan kebudayaan Minangkabau. juga dapat mengambil peran bersama-sama dengan kesenian tradisional lainnya. Pejabat pemerintah Kabupaten Agam. serta lingkungan kehidupan budaya dan sosial masyarakat Minangkabau. Sarana komunikasi Dalam penyajiannya. pemandangan alam Bukit Tinggi yang indah akan lebih bagus jika dikemas bersama dengan kebudayaannya. oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Agam. 1. wisatawan diperkenalkan dengan kebudayaan. keindahan alam. baik wisata alam maupun wisata budayanya. Dalam alek seperti ini Tupai Janjang. pertunjukan Tupai Janjang sering ditampilkan untuk mengisi acara tersebut. Pembicaraan itu tentang berbagai aspek kehidupan yang disampaikan lewat sarana bahasa. Dengan memperhatikan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang di Palembayan. Wisata budaya merupakan wisata yang dilakukan untuk mengenal aneka ragam kebudayaan Minangkabau. misalnya untuk program peningkatan pariwisata.kepada ketenaran grup tersebut. 4. Dalam Pekan Budaya Minangkabau. dan Kodia Bukit Tinggi. Secara umum. Minangkabau merupakan daerah wisata yang cukup potensial dikembangkan. maka fungsinya dalam pertunjukan ini dikelompokan dalam 2 hal yaitu sebagai sarana komunikasi dan sebagai penyampaian amanat kepada sesama masyarakat. sering mempromosikan pertunjukan Tupai Janjang sebagai salah satu aset budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Menunjang program pemerintah Pertunjukan Tupai Janjang juga sering dilakukan guna menunjang program pemerintah. Tupai Janjang merupakan sarana komunikasi antar sesama masyarakat atau masyarakat dengan anggota masyarakat yang lain yang tidak mungkin disampaikan secara langsung kepada orang yang dituju. Dengan demikian. peninggalan sejarah. Dalam wisata budaya.

Disamping itu. Seringnya pertunjukan Tupai Janjang dilakukan di daerah rantau dapat mengobati rasa rindu masyarakat Minangkabau terhadap kampung halamannya. Ketika pesan itu disampaikan maka terjadi “dialog”.ini. yang mengandung nilai estetis. Sebagai contoh. Wawancara dengan pencerita dan pembuka masyarakat dan masyarakat Palembayan tanggal 21 Februari dan 7 – 8 Nonember 2004 . terutama di Pekan Baru. Padahal. maka isu-isu yang ada dalam masyarakat dapat dengan cepat ditangkapnya. maupun bahasa sehari-hari. Karena pencerita tergolong orang yang banyak dikenal oleh masyarakat dan juga bekerja di instansi kecamatan setempat. Jika ada event yang kondisif dan pertunjukan Tupai Janjang diikutsertakan. jalan di daerah itu sebelumnya dalam keadaan rusak dan masih berbatu-batu. Pada waktu itu. pencerita mengangkat dan memasukkan isu-isu itu dalam ceritanya. Jakarta. Persoalan atau masalah yang diungkapkan biasanya mengyangkut dengan kemakmuran masyarakat setempat. Dengan demikian. pesan itu dikemas dalam bentuk prosa liris. Biasanya. Masyarakat setempat menyatakan bahwa jalan yang sudah baik tersebut adalah karena diungkapkan dalam pertunjukan Tupai Janjang. pertunjukan Tupai Janjang dapat juga berfungsi sebagai sarana komunikasi warga masyarakat dengan pejabat pemerintahan setempat. Pencerita merangkai pesan itu secara spontan dan cepat dengan menyisipkan ke dalam adegan cerita Tupai Janjang.47 Pertunjukan Tupai Janjang juga dijadikan sebagai komunikasi dan penghubung antara masyarakat yang berada di kampung halaman dan masyarakat yang berada di rantau. terjadi komunikasi 47 . Pesan-pesan itu dikemas sedemikian rupa oleh pencerita sehingga dapat dimengerti oleh penonton atau kepada si penerima pesan. di depan juga dinyatakan bahwa berkat pertunjukan Tupai JanjangJ jalan ke daerah Palembayan telah diaspal. hubungan dan reaksi antara penonton dan pemain atau sesama penonton. terdapat pembicaraan awal atau bisikan terlebih dahulu kepada pencerita dari pemuka masyarakat atau yang mempunyai ide. pencerita menyampaikan pesan kepada bupati daerah setempat yang sedang berkunjung ke daerah itu. Komunikasi ini dapat dilakukan dengan menyampaikan hasrat dari masyarakat kepada pencerita TJ. pantun.

dengan sendirinya berhadapan dengan bahasa yang banyak mengandung ungkapan. dalam pertunjukan Tupai Janjang terjadi juga sosialisasi sesama warga. maka malam hari dijadikan untuk saling berkumpul dengan warga di sekitar lingkungan 2. Amanat juga berkaitan dengan fungsi sebuah karya dalam karya sastra dalam hal ini pertunjukan Tupai Janjang. Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh kepada amanat itu. ungkapan. pesan. atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca sebuah karya sastra. petuah. perumpamaan. untuk menafsirkan amanat yang disampaikan dalam cerita. Dengan demikian. Terutama bagi para warga yang sibuk pada siang hari dan beraktivitas di luar lingkungan tempat tinggalnya. Dalam hal karena pertunjukan tradisional bersifat komunal maka untuk menafsirkan amanat cerita yang disampaikan dalam pertunjukan Tupai Janjang tidak terlepas dari masyarakat Minangkabau. perumpamaan dan petuah itu. Dengan demikian. Penonton sama penonton juga dapat menjadikan pertunjukan Tupai Janjang juga sebagai sarana komunikasi. Untuk menafsirkan suatu amanat tidak terlepas dari penyair. 2003:40). Cara menyimpulkan amanat sebuah karya sastra sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal (Waluyo. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. dan lain-lain. . Amanat yang disampaikan dibungkus dalam banyak mengandung kiasan. tempat tinggal. Sebuah karya masih hidup dan bertahan dalam masyarakat karena adanya amanat yang dapat diambil dalam isi yang disampaikan oleh si penyair. Komunikasi itu mereka lakukan sewaktu pertunjukan berlangsung. sebelum atau sesudah pertunjukan. Dalam suasasana pertunjukan yang santai para penonton dapat menjadikan ajang pertunjukan ini untuk saling berkumpul atau saling berbicara antar sesama.antara dengan para perantau dengan warga di kampung melalui pencerita atau pertunjukan Tupai Janjang. Amanat cerita Amanat.

Tuhan memberikan anak yang bertingkah laku seperti seekor tupai. Amanat yang disampaikan dalam cerita ini mengandung nilai moral yang cukup tinggi. Dalam cerita Tupai Janjang menghadirkan beberapa orang tokoh. Anak yang pada awalnya dibuang dan tidak disukai. akhirnya dapat berguna dan mengabdi kepada orang tua. dalam kehidupannya supaya tidak terjadi permusuhan. Kritik secara tidak langsung juga diberikan kepada para orang tua yang tidak sungguh-sungguh memperhatikan pendidikan anaknya. hal ini dianggap sebagai aib dan membuat keluarga itu malu karena keluarganya merupakan keturunan yang terpandang. Hal ini tidaklah berarti bawa pengarang menyarankan kepada pembaca (penonton) untuk bersikap dan bertindak seperti demikian. Sikap dan tingkah laku tokoh tersebut hanyalah model. Seperti dalam pertunjukan Tupai Janjang yang mana keinginan Linduang Bulan memiliki anak meskipun anaknya seperti seekor tupai. Pembaca diharapkan dapat mengambil amanat dan hikmah yang disampaikan (Nurgiyantoro. Meskipun tidak masuk akal. Pesan moral yang disampaikan merupakan hikmah yang ditampilkan lewat sikap dan tingkah laku tokoh. Walaupun. Sebagai salah satu anggota masyarakat.Amanat yang disampaikan dalam cerita ini tidak dinyatakan secara langsung tetapi dibungkus dengan berbagai cara. 2002: 322). . Sebagai orang tua hendaknya dapat membimbing dan mendidik anak walaupun anak itu mempunyai kelakuan yang tidak baik dan tidak diingini. Melalui tokoh-tokoh ini masyarakat dapat mengambil pesan. Kepada masyarakat secara umum cerita ini mempunyai amanat yang sangat besar. model yang kurang baik atau yang baik. Orang tua yang tidak mendidik dan bahkan membuang anaknya tetap dihormati karena bagaimanapun orang tua itu merupakan orang yang telah berjasa melahirkan. Cerita Tupai Janjang juga memberikan amanat kepada anggota masyarakat dalam hal ini jika posisi sebagai anak dalam suatu keluarga. Dalam hal ini digambarkan oleh orang tua Tupai Janjang yang telah membuang anaknya. akhirnya menyadari kesalahannya dan dapat hidup kembali berdampingan. Mungkin orang yang pernah menyakiti seseorang nantinya akan menyadari kesalahannya.

disiko dahulu ditamatkan. kaba nan lain diulang lai. Toh akhirnya anak yang didik Mandeh Rubiah (Tupai Janjang) dapat menjadi seorang tokoh yang kaya dan mempunyai hati yang mulia. boleh kita menumpang mandi. kok ado umua samo panjang. kalau ada umur sama panjang. kaba yang lain diulang lagi. buliah kito manumpang mandi. (Kalau ada sumur di ladang. mandi berenang di tepian.tokoh mana yang dapat dijadikan pedoman dan mana yang tidak. Begitu juga halnya dengan tokoh Mandeh Rubiah untuk dapat mengambil amanatnya. mandi baranang di tapian. Tokoh Mandeh Rubiah merupakan tokoh yang baik dan mempunyai sifat yang dermawan dan mau menolong orang yang tidak di ketahui asal-usulnya. Kok ado sumua di ladang. disini dahulu ditamatkan) . Tingkah laku Tupai Janjang yang pada awalnya tidak baik tetapi akhirnya dapat merubah kelakuannya dan menjadi tokoh yang bisa memaafkan kesalahan orang tuanya yang telah membuangnya.

pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan . paroh larik. seorang pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. Dengan teknik formula dan komposisi skematik. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. larik.BAB VII KESIMPULAN Pertunjukan Tupai Janjang merupakan sebuah pertunjukan yang dapat digolongkan kepada teater tradisional karena dalam pertunjukan tersebut menghadirkan akting dan dialog. Pencerita bukan menghafal teks. atau kata. tetapi dilantunkan dengan mengingat suatu pola. Oleh karena itu. Dengan memanfaatkan pola itu maka terdapat bentuk yang berulang baik dari pantun. klausa. jika suku kata tidak mencukupi dalam satu tarikan napas. dan klausa yang berulang. Akting dan dialog hanya dilakukan oleh satu orang pencerita. Dengan memanfaatkan cara yang sama. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. frasa. melainkan hanya dengan mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. Pencerita dalam menampilkan ceritanya tidak dengan menghafal teks. terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel. pencerita dapat melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata. frasa. Disampin itu. Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. Perulangan yang ditemui pada teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. Perbedaan itu disebabkan oleh sifat dari tradisi lisan. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. Setiap pencerita dapat bebas melakukan improvisasi.

pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendiri-sendiri. Di samping itu. yaitu (1) menghubungkan peristiwa dengan situasisituasi cerita sehingga membuat cerita bergerak ke depan. Di samping itu. (3) untuk memeriahkan alek nagari. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan cerita. (2) untuk memeriahkan acara pengangkatan penghulu. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang maka diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. Dalam masyarakat Palembayan. (2) pertukaran dan kegiatan tokoh dalam cerita. (3) pergerakan waktu dalam cerita. kegunaan Tupai Janjang lebih mengacu pada hal yang bersifat praktis. Komposisi skematik yang digunakan dalam cerita Tupai Janjang ditemui untuk hal-hal berikut. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pembuatan teks dalam pertunjukan. Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. dan (4) menceritakan kondisi tokoh dan peristiwa yang ada dalam cerita. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan.irama pada saat pertunjukan. unsur verbal lebih dominan ditemui pada teks II jika dibandingkan dengan teks I. (4) untuk memeriahkan hari yang berhubungan . Dengan demikian. Sementara itu. yaitu (1) untuk memeriahkan pesta perkawinan. pencerita sudah mempunyai stereotipe di dalam pikirannya yang diperoleh dari tradisi lisan Minangkabau lainnya. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan alat memproyeksikan diri dan pencermin angan-angan kolektif masyarakat Minangkabau. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik.

terutama di bidang pariwisata. terutama hari kemerdekaan.dengan hari-hari nasional. dan (5) untuk menunjang program pemerintah. .

2003. Padang. Skripsi. A Kasim. 1983. Payakumbuh: Eleonora. Story. “Tentang Sikap Dramatik dan Warna Lokal Mengakrabi Teater Rakyat” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Adriyetti. Adilla. Ita. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Amir. 2003. 1966. Basa. Kesenian Bagurau.Imran. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. 1995. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. Kelisanan dalam Keberaksaraan: Hikayat Meukuta Alam. Sastra Lisan Minangkabau I. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Bandung. Padang: Esa. .S. Bandem. and Event. Bustami. Anwar. Achmad. Granesia Andras. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. M. 1999. Cambridge: Cambridge University Press. Bandung: Granesia. 1992. Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Amir. Suyatna. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. dkk. 1983. 1989. Kedudukan dan Peranan Wanita: Dalam Kebudayaan Suku Bangsa Minangkabau. T. Richard. Anirun. Ivan.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. “Resepsi Sastra: Teori dan Penerapannya”. B. _______ 2001. Padang: Universitas Andalas. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Datuk Nagari. Made dan Sal Murgiyanto. Yogyakarta. Bauman. 1990. Padang. Performance. 1996. Laporan Penelitian. 1988. Seni Pertunjukan Tupai Janjang: Studi Kasus di Desa Aia Mondak Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam.Teater Daerah Indonesia. Khaidir. Hanindita Graha Widya. Pusat Penelitian Universitas Andalas. Yogyakarta: Kanisius.

dalam Metodologi Penelitian Sastra. 1999. 1993. Jakarta: Balai Pustaka. Remaja Rosdakarya. 2004 “Tinjauan Fungsiolalisme Terhadap Seni Pertunjukan Saluang” dalam Ekspresi volume 12. London: Routledge. “Berburu Sastra Lokal”. . Harymawan. Edwar. 1997. James. Institut Seni Indonesia. Desetralisasi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Widyatama Esten. Laporan Penelitian Akademi Seni Kerawitan Indonesia. Yogyakarta. 2003. ___________. Djamaris. Endraswara. Satya. _______. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. Erlinda. Yogyakarta. 1992. Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. dan lain-lain. Dongeng. Gayatri. 2004. 2001. Yogyakarta. 1993. Dramaturgi. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Suwardi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Jakarta: Yayasan Obor. Hanindita Graha Widya. Ruth. Padang: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Bandung. “Pengkajian Sastra dari Sisi Pembaca: Satu Pembicaraan Metodologi”. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Citra Wanita Dalam Lima Novel Terbaik Sinclair Lewis dan Gerakan Wanita di Amerika. Mursal. 2001. 2002.Chamamah-Soeratno. dkk. Padang Panjang. 1995. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djajanegara. Tupai Jangjang Kesenian Rakyat di Nagari Silungkang Kecamatan Palembayan dalam Kajian Teknis dan Filosofis. Danandjaja. Soenarjati. Hanindita Graha Widya. Faruk. Siti. 1980. Bandung: Angkasa. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. Metodologi Penelitian Sastra. Finnegan. Makalah pada Seminar Internasional Kebudayaan Minangkabau dan Potensi Etnik Dalam Paradigma Multikultural. Oral Traditions and the Verbal Arts. “Penelitian Resepsi Sastra dan Problematianya”. 23-24 Agustus 2004 _____ 2003. Masyarakat dan Budaya Lokal Dalam Globalisasi.

Suripan Sadi. Jakarta: Renika Cipta Lord. Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban. 1997. Pengantar Ilmu Antropologi. Cambridge.Hidayat. Nadra. 1991. 1998. Teori Kebudayaan. Manan. Jakarta. Imran. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Mass: Harvard University Press. Ithaca: Cornell University Press. 1980.A. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. 1991. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. Jakarta: Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ihromi. Kleden. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau Traditions in Indonesia. Albert B. 2001. Jakarta: Grafiti Pers. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2004. 1984. Tsuyoshi. Saluang: Sastra Lisan Minangkabau. Mohd Nefi. T. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: Gramedia. . Diterjemahkan Rahayu S. Navis. A. Gerard. Eva. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.Hutomo. Jawa Timur. Geografi Dialek Bahasa Minangkabau (Disertasi). Padang Moussay. Kaplan. Tata Bahasa Minangkabau. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Krisna. 2000. David. Jakarta: Universitas Indonesia. 1997. 1982. 1999. Ignas. The Singer of Tales.O. 1981. _____ 1993. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Koentjaraningrat. Imran. _______ 1990. “Minangkabau dalam Perspektif Perubahan Sosial Kontemporer dan Gebu Minang” Diskusi Panel Perubahan Sosial Minangkabau Kerjasama Fakultas Sastra Unand dengan Lembaga Gebu Minang. Kato.

Yogyakarta. 2002. Penghulu. 1976. 2002. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. 1999.Rajo. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Pustaka Pelajar. Indonesia: Perspektif Sastra. Pudentia. Hari. Pemerintah Kabupaten Agam. 1995. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. MPSS. Bagurau Dalam Basaluang: Cerminan Budaya Konlfik.A. 1988.Nurgiyantoro. Fungsionalisme dan Teori Konlik dalam Perkembangan Sosiologi. Makalah Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Sairin. Anatomi Sastra. Nigel. ________. Sijobang. Teori Pengkajian Puisi. Kecamatan Palembayan Dalam Angka. 2003. 2002. Rosidi. Andar Indra. Phillips. Jakarta: Pustaka Jaya. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Soerjono dan Ratih Hertarini. Atar. Makyong: Hakikat dan Proses Penciptaan Kelisanan (Disertasi). Rusyana. C.Van. Sjafri. 1999. Soekanto. 14-16 Oktober 1999. (Tesis): Yogyakarta. Ajip. London: Crambridge University Press. Yus. Jakarta: Universitas Indonesia. Keragaman dan Kesamaan Dalam Tradisi Lisan Nusantara. Peursen. Burhan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Bandung: Remaja Karya. 1984. 1981. 1998. Idrus Hakimy Dt. Perubahan Sosial Masyarakat Antropologi. 1988. 2000. Jakarta: Sinar Grafika . Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Poerwanto. Semi. “Etnisitas dan Globalisasi: Antara Sentrpetal dan Sentrifugal”. Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Padang: Angkasa Raya. Universitas Gajah Mada.

Suryadi. 1990. Rebab Pesisir Selatan Malin Kundang. Spradley. Amin. 1997. Rebab Pesisir Selatan Zamzami dan Marlaini. Wellek.11. Berkeley. Jakarta: Gramedia. Jurnal Basis. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. _____ 1996. Teeuw. Udin. Tahun I. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. Zaidan. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”. Jakarta. ________ 1987. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. 1999.1980. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1993. 1980. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. ______ 1993. Jakarta.Yogyakarta: Tiara Wacana. 2003. 2002. Rene dan Austin Warren. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta. Waluyo. Jakarta: Intermasa. XXXVII. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. A. . University of Colifornia Press. Berkeley: University of Colifornis Press. Syamsuddin. Jakarta: Pusat Bahasa. Asosiasi Tradisi Lisan. Nani. Apresiasi Puisi . Tuloli. (Terjemahan Misbah Zulfa Sweeney. Abdul Rozak. 1982. Dalam Analisis Kebudayaan. Sastra dan Teori Sastra (Terjemahan Melani Budianta). 1980. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Metode Etnografi Elizabeth). Dendang Pauah Cerita Orang Lubuk Sikaping. Gramedia Pustaka Utama. Pedoman Penelitian Sastra Daerah. 1984. James P. November. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Herman.

M.PENELITIAN DOSEN MUDA ARTIKEL PENELITIAN FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG Oleh: Dra. 2006 .0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. SATYA GAYATRI. tanggal 1 Februari 2006 FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER.0/023-04.Hum Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415. Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006.

Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian Prof. Ir.S. Bidang Ilmu 3.HALAMAN PENGESAHAN 1. 131 474 873 .000. Judul Penelitian 2. M.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti Dra.500. Golongan Pangkat dan NIP d.(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang. Satya Gayatri. Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7. Helmi. 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra. Jabatan Fungsional e. Jumlah Tim Peneliti 5. Satya Gayatri. Waktu Penelitian 7. Dr. Nama b. Fakultas/ Jurusan 4. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra. Ketua Penelitian a. M. M. Lokasi Penelitian 6.Sc NIP. Jenis Kelamin c. H. Adriyetti Amir.

pencerita bukan menghafal cerita melainkan menggunakan teknik yang sudah terpola. dan untuk menunjang program pemerintah. bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. Dengan memanfaatkan teknik formulaik. pencerita dapat mengubah teks setiap saat sesuai dengan situasi dan kondisi. frasa. klausa. Masyarakat dapat mengambil nilai-nilai ataupun pesan moral yang terkandung dalam cerita yang disampaikan. Tradisi ini. PENGANTAR Tradisi lisan merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga. sampai saat ini mengalami variasi tergantung kepada fungsinya di dalam masyarakat. Demikian juga dari segi fungsinya pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk memeriahkan pesta perkawinan. sehingga dalam teks akan ditemukan sejumlah kalimat yang bersifat paralel. Tradisi lisan bisa juga menjadi sumber suatu penciptaan baru50 atau bisa berperan sebagai sumber dari suatu proses penciptaaan baru. dan larik yang berulang. Tradisi lisan di Minangkabau. Bertahannya pertunjukan Tupai Janjang dalam masyarakat Palembayan karena mengandung fungsi dan nilai-nilai yang dapat dipetik baik dari isi cerita maupun dari pertunjukan itu sendiri.FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG:48 Satya Gayatri49 ABSTRAK Pertunjukan tradisional Tupai Janjang di Minangkabau merupakan salah satu bentuk teater tradisional karena menghadirkan dialoq dan akting. upacara pengangkatan penghulu. alek nagari. Dengan demikian. terdapat teks yang mempunyai kata. Dalam menyampaikan cerita. 48 49 50 Artikel penelitian BBI Dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas. Kehidupan tradisi lisan akan mengalami variasi sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. Demikian juga halnya dengan pantun. 1. Salah satu tradisi itu adalah tradisi lisan Minangkabau. tetapi juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. . peringatan peringatan hari Nasional.

Dalam hal ini. karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. dan kehidupan alam51. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. setiap cerita yang ditampilkan tidak persis sama. walaupun menampilkan cerita yang sama. penonton dan 51 Anwar dalam Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa (1995: 118) . serta lain-lainnya mengambil ungkapan dari sifat. Bertahannya tradisi lisan dalam masyarakat. Salah satu tokoh dalam cerita ini bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. setiap pertunjukan dari suatu cerita akan terlihat adanya variasi. Dengan demikian. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi Tupai Janjang. Dalam pertunjukan tradisional. Sumatra Barat. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. bentuk. menambah pengetahuan. disimpan. Kabupaten Agam. kekuatan dalam bidang sastra dan bahasa Minangkabau terletak pada tradisi lisannya. diturunkan secara lisan. pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya. karena setiap pertunjukan dipengaruhi oleh waktu. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. Segala aspek kehidupan. dan disampaikan dalam cerita itu. Hal ini disebabkan karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. petuah. petitih. Nama pertunjukan ini diambil dari nama kaba yang diceritakan. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau. Hal ini disebabkan karena nenek moyang orang Minangkabau. secara lisan. dalam mengatur kehidupan pada awalnya. Pertunjukan seperti ini. misalnya falsafah hidup yang dikenal dengan alam takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru).Dalam kebudayaan Minangkabau. Falsafah hidup dan ajaran ini dinukilkan dalam pepatah. mamangan. Variasi pada teks dilakukan oleh pencerita.

situasi selama pertunjukan. 52 Teeuw dalam “Indonesia Antara Kelisanan dan Kebersaraan”. Dalam hal ini. Variasi dilakukankan oleh pencerita dengan mudah karena pencerita sudah mempunyai stock-in-trade yang siap pakai. tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. bahwa pencerita di samping mampu mengingat formula sesuai dengan keingginan waktu menceritakan. Dengan memanfaatkan cara ini. Teknik formula yang dikembangkan oleh pencerita. karena frasa itu sudah berkalikali dipergunakan. Oleh sebab itu. frasa. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. pencerita dapat melakukan perubahan teks secara cepat. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula pada saat pertunjukan. Hal ini berarti. dan ide dalam cerita tersebut. Pencerita mencoba mengingat frasa-frasa yang didengarnya dari pencerita lain. frasa diciptakan bukan menggunakan hafalan tetapi karena kebiasaan. terjadi kalimat yang paralel dan bentuk perulangan pada kata. atau tukang pidato. berarti juga menceritakan kembali cerita-cerita secara lisan. saat pertunjukan berlangsung. Akhirnya. Persediaan formula itu disebut stock-in-trade si penyair. 2. XXXVII11(1988a: 298) 53 Lord dalam The Singer of Tales (1979: 54) . Dengan demikian. untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman53. dalam sebuah pertunjukan pencerita melakukan perubahan sehingga terjadi variasi pada adegan yang diceritakan. sehingga pencerita mengucapkan secara terbiasa frasa-frasa itu seperti halnya dalam pembicaraan sehari-hari. FORMULAIK dan KOMPOSISI SKEMATIK Dalam setiap pertunjukan. pencerita. klausa. Jurnal Basis November. Dengan demikian. kalimat. Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotip yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan pola-pola yang sudah didapatkan dari pencerita terdahulu atau dari tradisi lisan lainnya. tidak ada pementasan yang identik seratus persen walaupun ditampilkan oleh seorang pencerita yang sama52.

Dengan demikian. ada adegan dan sub-adegan yang ditambah. pencerita dalam pengertian ini membentukan baris puisi sastra lisan secara cepat sehingga banyak menggunakan rumusan atau pola-pola tertentu dalam setiap kegiatan penceritaan. pencerita pada saat pertunjukan berlangsung. karena pertunjukan merupakan aktivitas komunal dan terikat dalam kohesi sosial.43) Sweeney dalam Authors Audiences in Traditional Malay Literature (1980:40) . terutama dalam penceritaan secara lisan55. yang mungkin berupa kata. atau larik. Di samping memanfaatkan sistem perulangan. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. klausa. cara yang juga digunakan oleh pencerita dalam sebuah pertunjukan adalah dengan memanfaatkan skema tertentu yang disebut komposisi skematik. Hal ini juga ditemui dalam tradisi sastra Melayu tradisional. Hal ini dapat dilakukan karena memanfaatkan sistem formula. frasa. Untuk menghasilkan perulangan itu. Oleh karena itu. diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. Tidak ada adegan dan sub-adegan dari cerita yang persis sama. skematik ini merupakan hal yang penting. sangat variatif. Di 54 55 Lord. sangat dipengaruhi oleh penonton sehingga terjadi umpan-balik. yaitu mengingat perulangan atau menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan pada saat pertunjukan berlangsung. Rumusan atau pola berformula dalam sastra Melayu tradisional.Seorang pencerita dapat melakukan variasi pada adegan dan sub-adegan cerita. diubah. Skematik itu. atau dikurangi sehingga terjadi variasi antara pencerita terdahulu dengan pencerita yang ada sekarang ini. ibid (1981: 30. Dengan cara memanfaatkan bentuk berformulaik. Dalam sastra Melayu tradisional. Tradisi sastra Melayu tradisional. Hal ini disebabkan. frasa. memperlihatkan fleksibilitas komposisi yang tinggi. dan larik yang telah ada54. Formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. Variasi itu dapat terjadi karena faktor si pencerita maupun masyarakat yang menikmati cerita tersebut. klausa. Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita.

Dengan demikian. penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. Dalam analisis ini. atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematik. pencerita tidak bercerita dalam keadaan teks yang kaku. Ekspresi formulaik yang pertama sekali dilihat adalah pada bagian cerita yang berbentuk pantun. ibid (1980:64-65) . terlihat adanya perulangan antara satu bait dengan bait berikutnya. sehingga seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. suasana. Hal ini dapat menimbulkan variasi dalam cerita tersebut. melainkan bercerita sambil memanfaatkan kondisi yang dapat mendukung penceritaaannya. Pantun itu adalah: 56 Sweeney. perulangan ditandai dengan memberi garis bawah pada kata yang berformulaik. Dalam sebuah pertunjukan pencerita memanfaatkan cara perulangan supaya dapat menciptakan dan merangkai cerita secara cepat karena dalam pertunjukan lisan tidak ada penghafalan cerita. dan tempat pertunjukan yang berbeda juga mengakibatkan terjadinya variasi.samping itu. Hal ini disebabkan karena waktu. Dengan demikian. ide-ide. walaupun ceritanya sama dan juga dilakukan oleh pencerita yang sama. apapun cerita yang ditampilkan56. komposisi skematik juga merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dengan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional. tetapi belum tentu teks cerita yang diucapkan sama. cerita yang sama dapat dibawakan oleh pencerita yang berlainan. Variasi itu dapat terjadi karena dalam pertunjukan lisan. Dalam pertunjukan Tupai Janjang. Pada cerita yang berbentuk pantun ini.

bandalah |hai| urang si Koto Tuo. adalah orang masa itu. larik itu diulang dengan merubah kata kami dengan kata ambo dan penambahan ungkapan penyeling hai. tasabuik garan Datuak Bandaro. urang duto kami tak nio. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik. ta puti suduik-basuduik. Ada formula tertentu yang digunakan untuk menyatakan pergerakan waktu dalam cerita. |hai| bumi |nan| antah berantah. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formulaik yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. Pencerita . kaba |lah| orang kami kabakan. TEKS II Bandalah urang |hai| ambo bandakan. urang duto kami tak sato.TABEL I TEKS I Banda urang kami bandakan. ta rajo turun ba rajo. turunan puti sudut-bersudut). orang dusta kami tak serta). kaba |lah| orang ada kami kabakan. (Oi| adalah pada suatu masa. (Tak kala masa dahulunya. turunan raja turun beraja. tersebut gerangan Datuak Bandaro. Di nan tinggi tampak jauah. atau dua bulan. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. Pantun di atas terlihat adanya kata yang diulang pada larik berikutnya. di nan dakek jolong tasongoh. |hai| bumi |nan| antah barantah. Pada teks II. di yang dekat jolong tersongoh. (Bandarlah orang |hai| hamba bandarkan. kaba orang kami kabakan. (Di yang tinggi tanpak jauh. kaba |lah| urang lai kami kabakan. bumi |nan| belum |hai lah| beralun. berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulang). Banda |lah| urang kami bandakan. bandar anak orang |lah| di Gumarang. untuk menyatakan waktu satu hari. banda nak urang |lah| di Gumarang. adolah urang maso itu. Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. bandarlah |hai| orang si Koto Tuo. kaba urang kami kabakan. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. bumi |nan| alun |hai lah| baralun. satu bulan. Ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu kata atau dua kata. orang dusta kami tak mau) Tak kalo maso dahulunyo. Pengulangan itu terjadi pada bait yang sama dan juga pada bait yang berbeda. bandar anak orang Koto Tuo. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang) |Oi| adolah pado suatu maso. Misalnya. (Bandar |lah| orang kami bandarkan. Kata kaba dan bandalah urang ditemui pada bait ke-1 dan bait ke-2. Bandalah urang kami bandakan ditemui pada kedua teks. yang tersebut-sebut). nan tasabuik-sabuik. (Bandar orang kami bandarkan. banda nak urang Koto Tuo. kaba |lah| urang kami kabakan.

Kata lah dalam hal ini mengandung arti alah (sudah).tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. (Sudah hampir dia genap bulangan) Lah tibo sakik baranak. Sesudah pemakainan formula. TABEL II TEKS I I. Demikian juga halnya dengan perpindahan tokoh yang diceritakan juga memanfaatkan sistem formulaik. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan (Sudah yang sepekan |oi lah| yang sebulan) Lah nan duo bulan garan mangaduang (Sudah yang dua bulan gerangan menganduang) Jalan barubah |lah nan| maengkang (Jalan berubah |lah nan| meengkang) Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang (Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung) Lah lapan bulan paruik tambah gadang (Sudah delapan bulan perut tambah besar) Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (Sudah yang sembilan bulan dia mengandung) Lah nan sahari nan duo hari (Sudah yang sehari yang dua hari) Lah nan bapakan lah maso itu (Sudah yang berpekan lah masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan tokoh yang diceritakan. Formulaik pergerakan waktu Ampia sampai ganok bilangan bulan (Hampir sampai genap bilangan bulan) Lah hampienyo ganok bilangan. Persamaan yang terlihat adalah pada pemakainan kata lah baik untuk pergeseran waktu maupun untuk variasi tokoh yang diceritakan. . (Hampir sampai genap bilangan) TEKS II I. (Sudah tiba sakit beranak) Lah sabulan duo bulan. Contoh perulangan itu terlihat pada tabel di bawah ini. (Sudah sebulan dua bulan) Ambia sampai ganok bilangan. Penambahan kata yang terjadi hanya untuk kepentingan irama dalam mendendangkan cerita. Formulaik pergerakan waktu Dari sahari |oi| garan manganduang. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada dalam pikiran pencerita tersebut. sehingga terlihat paralelisme antara satu larik dengan larik yang lainnya. misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling.

dilanjutkan dengan keterangan yang dilakukan oleh tokoh. Variasi yang tampak adalah penambahan unsur verbal demi kepentingan irama misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana lah berkata Datuak Bandaro). Hal itu terlihat pada tabel di bawah ini:
TABEL III TEKS I I. Formulaik untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) II. Formulaik pada sintaksis |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Lalu bakato Datuak Bandaro (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang Lalu dicaliak si Tupai Janjang (Lalu dilihat si Tupai Janjang) |ha| lalu diambiaklah kulik nantun (ha| lalu diambillah kulit yang itu) TEKS II I. Formulaik untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (|Oi| hadaplah diri dua yang itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan |(Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan)

II. Formulaik pada sintaksis Lah balari si Dukun Pandai (Sudah berlari si Dukun Pandai) Lah bajalan Datuak Bandaro (Sudah berjalan Datuak Bandaro) Lah bajalan si Linduang Bulan (Sudah berjalan si Linduang Bulan) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) Lah pulangnyo maso nantun, (Sudah pulang dia masa itu) Lah tibonyo di tangah rumah. (Sudah tiba dia di tengah rumah) Lah dibao si Tupai Janjang (Sudah dibawa si Tupai Janjang)

Pencerita menyusun baris-baris cerita dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya. Pencerita mempunyai polapola yang dijadikan pedoman dalam menghasilkan baris pada saat penceritaan dengan cepat sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. Dengan demikian, baris-baris

memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. Cara ini dilakukan oleh pencerita untuk membentuk baris-baris dengan cepat dengan menukarkan tempat, menambah, atau mengurangi kata, sehingga tidak merubah sifat paralel kalimat itu. Untuk lebih jelasnya, hal itu dapat dilihat pada bagan berikut.
Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} {Oi} Tibo + + padi kasiah di lantai di rusuak di tanah Nyo inyo nan + baunduang-unduang baunduang + + hai + urang lantai rusuak tanah maso kain kain + + + basalang patah balubang taban balubang itu putiah sirah

Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Skematik itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. Dalam sastra Melayu tradisional skematik ini, merupakan hal yang penting, terutama dalam penceritaan secara lisan. Dengan demikian, pencerita mampu menghasilkan cerita dalam waktu yang sangat cepat dengan tidak menyiapkan atau menghafal teks sebelumnya. Hal ini diperlukan kemahiran dan kebiasaan penceritaan, sehingga sebelum menjadi pencerita yang sebenarnya dituntun melaksanakan latihan. Komposisi skematik diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel, seperti yang juga telah diberikan di depan. Kalimat-kalimat yang paralel ini juga berfungsi untuk mempermudah pertunjukan. Oleh karena itu, di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. Misalnya, untuk menyatakan Tupai Janjang telah lahir dan mempunyai perbedaan dengan anak yang lain (mempunyai keajaiban). Hal ini

dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik ini lazim juga ditemui dalam kaba Minangkabau lainnya. Skematik itu adalah;
Nan lah laia anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai lah patah, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang. (Yang telah lahir anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai sudah patah, tiba di rusuk rusuk runtuh, tiba di tanah tanah lambang57

Pada teks II, terjadi variasi skematik itu, namun masih ada kata yang sama digunakan. Sehingga, ide dari skematik itu masih sama. Skematik itu seperti terlihat sebagai berikut.
Nan lah ko laialah si Tupai Janjang, |oi| tibo di lantai lantai balubang, |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang, |a| lalu dicaliaklah anak nantun. (Yang sudah lahir si Tupai Janjang, |oi| tiba di lantai lantai balubang, |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlubang |a| lal dilihatlah anak itu).

Dalam kaba Anggun Nan Tongga, skematik ini juga ditemui waktu Anggun Nan Tongga lahir. Dalam skematik itu terlihat perbedaan dengan mendapatkan tambahan larik yang lain pada bagian awal dan akhir bait.
Dek Allah sadang manggarakkan, tibo di lantai lantai putuih, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang, anak lahia jo karuangnyo. (Mahkota, 1998:8) (Karena Allah sedang mencanda-i tiba di lantai lantai putus, tiba di rusuk rusuk terban, tiba di tanah tanah lambang, anak lahir dengan karungnya)

Untuk menerangkan kondisi kecantikan Linduang Bulan pada teks I, dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik itu juga lazim digunakan dalam sastra tradisional Minangkabau. Skematik itu adalah;
Kononlah Puti Linduang Bulan, nan bajalan sigajua lalai, alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati, nan ka suok lenggang manganai, nan ka kida lenggang mambunuah. (Kononlah Puti Linduang Bulan, yang berjalan sigajua lalai, alu tertarung patah tiga, semut terpijak tidak mati, yang ke kanan lenggang mengena, yang ke kiri lenggang membunuh)

Berbeda halnya pada teks II, menerangkan kecantikan Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I, tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambut yang panjang terurai.
57

Menurut Kamus Bahasa Minangkabau, lambang adalah lembang (bekas injakan, atau tekanan beban pada tanah). Hal ini biasanya digunakan betapa hebatnya yang mempunyai kaki, dalam cerita klasik.

|oi| bermuka rancak rambut terurai. anak yang seperti tidak ditunjuk ajari. orang yang elok |lah| masa itu). anak sigiang-giang rimbo. Oleh sebab itu . misalnya kebutuhan sekunder suatu masyarakat. Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. Dalam cerita Tupai Janjang. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. Akhirnya. kini bakiroklah ko kini. Setiap pola kelakuan sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat. karena tradisi itu dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. buliah ka rimbo lah kau kini. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. pendekatan fungsionalisme yang dikemukakan oleh Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat dimana unsur itu ada. urang nan elok |lah| maso itu. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat sampai sekarang. anak bincacak anak bincacau. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. |oi| bamuko rancak rambuik taurai. Boleh ke rimbalah kau kini). Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. 3. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. kini pergilah sekarang kini. untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar. Nak kanduang si Tupai Janjang. Dalam hal ini. Hal ini disebabkan.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. (Nak kandung si Tupai Janjang. Skematik itu biasanya diucapkan oleh orang tua kepada anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena Tupai Janjang suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. anak bincacak anak bincacau. walaupun di tengah marak kebudayaan lain yang masuk ke dalam masyarakat. anak sigiang-giang rimba.

walaupun orang tua kita sendiri pernah membenci dan membuang anak kita. (c) sebagai alat pendidikan anak. (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya59. khususnya bagi pemuda Minangkabau. Keinginan itu adalah untuk pergi merantau dan kemudian berhasil di rantau sehingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. Hal ini tergambar dari kepergian Tupai Janjang meninggalkan kampung halamannya. . Semua fungsi ini akan dianalisis lebih mendalam dalam penceritaan tradisi lisan Tupai Janjang. Di samping itu. kalau diberi 58 59 Ihromi dalam Pokok-Pokok Antropologi Budaya (1980:60) Danandjaja dalam Folklore Indonesia (1984:19). cerita ini dapat diambil nasihatnya supaya hati-hati dan tabah dalam mendidik anak. Sebagai alat pendidikan.dalam teori ini. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anakanak. Terhadap anak-anak. cerita ini memberikan pendidikan supaya mempunyai kelakuan baik karena kelakuan yang tidak baik semua orang tidak menyukai. Akhirnya. bahkan juga orang tua sendiri. menurut William R. Terhadap orang tua. Bascom fungsi folklor ada empat yaitu (a) sebagai sistem proyeksi yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Tersirat juga pendidikan jika sebagai seorang anak hendaknya terhadap orang tua harus bersifat baik dan tetap menghormati. Cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat Minangkabau. semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar suatu warga masyarakat58. cerita ini juga mengambarkan keberhasilan Tupai Janjang yang menjadi orang yang kaya sehingga dapat membantu orang tuanya. Bagaimanapun nakalnya seorang anak. Dan juga cerita ini merupakan proyeksi dari keinginan dari orang tua agar anaknya pergi meninggalkan kampung halaman dan mencari “sesuatu” yang dapat digunakan buat masa depannya. tetapi juga terhadap orang tua.

pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. (3) memeriahkan alek nagari. Oleh sebab itu. Bertahannya pertunjukan ini karena masyarakat masing mengangap pertunjukan ini berfungsi. terutama hari kemerdekaan. terutama di bidang pariwisata. tetapi hanya dengan . Pencerita bukan menghafal teks. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendirisendiri. (2) memeriahkan acara pengangkatan penghulu atau peresmian penghulu baru. dan (5) menunjang program pemerintah. 4. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang sifatnya praktis seperti untuk kegiatan apa pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Palembayan. diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang.pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawakan hasil. sedangkan fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan. (4) memeriahkan hari yang berhubungan dengan hari-hari nasional. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk (1) memeriahkan pesta perkawinan. KESIMPULAN Pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. Dalam masyarakat Palembayan. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. Penggunaan akan mengacu kepada untuk kegiatan apa pertunjukan dilakukan. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan yaitu penggunaan dan fungsi. Secara eksplisit.

Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik. . frasa. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita. dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. dan klausa yang berulang. Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. Formulaik yang ditemui pada kedua teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. Oleh karena itu. Dengan teknik formulaik dan komposisi skematik. Di samping itu. pencerita dapat melakukan variasi-variasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata.mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. Hal ini terjadi karena setiap pencerita. Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. dengan memanfaatkan cara yang sama terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel. jika suku kata tidak mencukupi maka pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan irama saat pertunjukan. Hal ini dilakukan untuk mempercepat penyampaian ide cerita dalam pertunjukan. dapat bebas melakukan improvisasi. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan ide cerita.

Esten. The Singer of Tales. 1996. Hutomo. Kato.DAFTAR PUSTAKA Achmad. Pemerintah Kabupaten Agam. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. 1991. Bandung: Angkasa. 1984. Danandjaja. Granesia Anwar. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djamaris. . Ihromi. Jawa Timur. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Bandem. Mohd Nefi. Kecamatan Palembayan Dalam Angka. 1999.O. London: Routledge. Edwar. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Cambridge. 1992. Mass: Harvard University Press. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Oral Traditions and the Verbal Arts. Finnegan. 1995. Imran. 2002. 2000. Made dan Sal Murgiyanto. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau in Indonesia. 2002. 1982. A Kasim. Jakarta: Grafiti Pers. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Lord. James. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia.A.Teater Daerah Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Jakarta: Gramedia. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Traditions Kleden. Albert B. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. 1983. 1981. Jakarta: Yayasan Obor. Bandung. 2004. Desetralisasi Kebudayaan. 1980. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. dan lainlain. Dongeng. Navis. 1980. Ithaca: Cornell University Press. Ignas. Ruth. Mursal. Khaidir. Tsuyoshi. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. T. Suripan Sadi. A.

Sjafri. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. Padang: Angkasa Raya. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Berkeley. . 1998.Peursen. Sastra dan Ilmu Sastra. Semi. Tuloli. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”.Van. Tahun I. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. Yogyakarta: Kanisius. MPSS. Nani. Jakarta: Intermasa. Asosiasi Tradisi Lisan Teeuw. Sweeney. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. Syamsuddin. Jakarta. Dalam Analisis Kebudayaan.11.A. Pudentis. Variasi Sosial Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi. 2002. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. 1976. Berkeley: University of Colifornis Press. Udin. 1980. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. 1995. Anatomi Sastra. Jurnal Basis. ________ 1987. C. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta. 1999. XXXVII. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Rosidi. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Pustaka Pelajar. Sairin. 1988. Jakarta: Pustaka Jaya. University of Colifornia Press. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Atar. Amin. 1980. Ajip. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. November. A. 1990. 1984.1980.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.