PENELITIAN DOSEN MUDA

LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA TAHUN ANGGARAN 2006

FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG

Oleh: Dra. SATYA GAYATRI, M.Hum

Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415.0/023-04.0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006, tanggal 1 Februari 2006

FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER, 2006

HALAMAN PENGESAHAN USUL PENELITIAN DOSEN MUDA 1. Judul Penelitian 2. Bidang Ilmu 3. Ketua Penelitian a. Nama b. Jenis Kelamin c. Golongan Pangkat dan NIP d. Jabatan Fungsional e. Fakultas/ Jurusan 4. Jumlah Tim Peneliti 5. Lokasi Penelitian 6. Waktu Penelitian 7. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra. Satya Gayatri, M.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7.500.000,(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang, 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra. Adriyetti Amir, S.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti

Dra. Satya Gayatri, M.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian

Prof. Dr. Ir. H. Helmi, M.Sc NIP. 131 474 873

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK…………………………………………………………. PRAKATA …………………………………………………………. DAFTAR ISI………………………………………………………... BAB I. PENDAHULUAN………………………………………….. BAB II PERUMUSAN MASALAH………………………………… BAB III TINJAUAN PUSTAKA…………………………………… BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ……………… BAB V METODE PENELITIAN………………………………… BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………… 1. Transkrip Teks…………………………………………… 2. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang 3. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan……….. 4. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang………………………. BAB VII KESIMPULAN…………………………………………. DAFTAR PUSTAKA……………………………………………… i ii iii 1 6 7 12 14 16 17 52 62 71 83 86

bentuk yang berformulaik sangat membantu proses pelantunan teks oleh pencerita. dalam menyampaikan ide dan gagasan saat pertunjukan supaya dapat dengan cepat menyampaikan cerita. Sebuah teks tidak ada yang persis sama dalam suatu pertunjukan. Berbagai pesan dan unsur nasihat juga terdapat dalam pertunjukan ini. Selanjutnya. Data yang didapatkan dari penelitian lapangan digunakan untuk melihat aspek-aspek pembentuk kelisanan dari teks. Selanjutnya. Seorang pencerita untuk mempermudah komposisi penceritaan memakai formula dan komposisi skematik dalam pertunjukan. unsur-unsur pembentuk kelisanan dalam teater tradisional Tupai Janjang. Disamping itu. serta nilai-nilai apa yang dapat diambil dari teks yang dibacakan. Pertunjukan ini mempunyai fungsi dan kegunaan dalam masyarakat. pencerita juga memakai skematik.ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Oleh sebab itu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat unsur-unsur teks yang bersifat formulaik dalam aspek kelisanan. Pertunjukan Tupai Janjang sampai sekarang masih tetap eksis walaupun sudah mengalami pergeseran oleh bentuk hiburan lainnya. Unsur-unsur teks yang bersifat formulaik berhubungan dalam pembentuk kelisanan dengan menggunakan pendekatan formula dan komposisi skematik. penelitian ini bertujuan untuk melihat fungsi dan kegunaan teater tradisional tersebut dalam kehidupan masyarakat di daerah Palembayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertunjukan sebuah teks dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat pertunjukan sedang berlangsung. Dalam teks akan terlihat adanya perbedaan formulaik antara suatu pencerita dengan pencerita lainnya. wawancara banyak dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang fungsi dan kegunaan pertunjukan Tupai Janjang yang telah dilakukan. Penelitian lapangan digunakan untuk melihat bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang dan tanggapan masyarakat tentang pertunjukan itu sendiri. Formulaik dan komposisi skematik dalam penceritaan juga mempertimbangkan irama sehingga terdapat pemakaian ungkapan penyeling untuk menyempurnakan irama itu. . sedangkan untuk penelitian kepustakaan digunakan terutama dalam menganalisis teks.

rundingan. Bahkan. dan rekaman video (audio-visual). Sastra Minangkabau juga terlihat kekuatannya pada sastra lisan. bahkan hukum dan peraturan. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Navis (1984:231) bahwa dalam percakapan sehari-hari orang Minangkabau lazim menggunakan ungkapan. Budaya Minangkabau pada dasarnya adalah budaya lisan. Bahasa yang diucapkan. Dari banyak tradisi lisan yang masih hidup. Usaha pelestarian tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkelanjutan. seperti ajaran. Padahal. Tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang sangat berharga. terdapat dalam bahasa lisan. ragam tradisi lisan ini juga terlihat dalam komunikasi sehari-hari (Anwar. Pada negara-negara yang sudah maju. 1995:125-126). 1999:105). Kenyataan menunjukkan bahwa banyak tradisi lisan di Indonesia yang telah hilang karena tidak dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya dan tidak sempat pula didokumentasikan. sebagian kecil telah “diselamatkan” dalam bentuk rekaman tape recorder. melainkan juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. Salah satu tradisi lisan itu ada dalam kebudayaan Minangkabau. 1995:117 —118).BAB I PENDAHULUAN Indonesia memiliki kekayaan tradisi lisan yang tersebar pada tiap-tiap daerah. tradisi lisan bisa menjadi sumber bagi suatu penciptaan budaya baru (Esten. hal itu sangat berpengaruh terhadap ragam dan gaya bahasa yang digunakan. perbincangan. transkripsi. hilangnya suatu tradisi lisan tersebut sesungguhnya merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia. . tradisi lisan dicatat dan kemudian disebarkan lewat media cetak dalam bentuk buku (Rosidi. bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. Di samping terdapat tradisi lisan yang telah hilang. Dalam arti. masih terdapat banyak tradisi lisan yang bertahan dan mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. nasihat.

Dengan demikian. ragam tradisi lisan yang . dan disampaikan dalam cerita itu. Orang yang bercerita pada dasarnya ingin menyampaikan pesan. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. disimpan. menambah pengetahuan. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam cerita itu dianggap pernah terjadi pada masa lampau atau merupakan hasil rekaan semata-mata karena terdorong keinginan untuk menyampaikan pesan. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. bahkan ada kecendrungan untuk menolak cara pemberian nasihat secara langsung (Tim Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Akan tetapi. jika pesan itu disampaikan secara langsung kepada orang yang hendak dituju. tetapi juga berbicara tentang hubungan antara pemain. Mengingat fungsinya dalam masyarakat. dan audience. dalam pengertian tradisi lisan terdapat peraturan tertentu yang tidak bisa diabaikan dan ditinggalkan kalau akan melaksanakan pertunjukan. Bertahannya suatu tradisi lisan dalam masyarakat karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. amanat. daya pukau dari apa yang disampaikan menjadi hilang. Selain itu. dan pendidikan yang dapat bermanfaat bagi perkembangan watak dan kepribadian para pendengarnya. tradisi lisan Minangkabau dari segi keberadaannya dikelompokkan menjadi tiga. Tradisi lisan yaitu cerita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain secara lisan.Kebiasaan menggunakan ungkapan dalam percakapan bertolak dari landasan sosial dan struktur kekerabatan yang berkaitan sehingga menyebabkan setiap orang saling menyegani. Pertama. dan pendidikan melalui cerita tersebut. Tradisi lisan tidak hanya berbicara tentang ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang tersebar dan diturunkan secara lisan (dari mulut ke mulut). 1980:66). teks (karya sastra). membicarakan tradisi lisan juga langsung berhadapan dengan nilai-nilai dan aturanaturan yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. amanat. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan.

Randai ditampilkan oleh beberapa orang pemain. akting. 1990:25). Pengelompokkan itu karena pertunjukan Tupai Janjang menghadirkan dialog. Kegiatan dialog. ragam tradisi lisan yang bertahan dari kepunahan dengan jalan melakukan penyesuaian dan perkembangan sehingga mendapat sambutan dari masyarakatnya. sesuai dengan jumlah tokoh yang ada dalam cerita yang dibawakan. jika menceritakan bapak yang sedang marah. Misalnya. dan penyambutan tamu (Amir. seperti pantun adat dan pasambahan. yang biasa ditemukan dalam upacara perhelatan. kematian. nyanyi. Demikian juga. Jika dilihat dari bentuk pertunjukannya. Ketiga. Kedua. ragam tradisi lisan yang tidak mengalami perubahan sama sekali karena berkaitan dengan upacara adat. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. maka pertunjukan ini dapat dikelompokkan ke dalam teater tradisional Minangkabau. maka pemain akan melakukan dialog dan akting seperti ibu-ibu yang sedang menyusui anak. akting. dan nyanyi dilaksanakan oleh satu orang pemain. jika menceritakan seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. Berbeda halnya dengan randai yang juga disebut dengan teater tradisional. dan musik. gerak. Randai adalah pertunjukan teater tradisional yang .terancam punah karena perkembangan dari masyarakat hingga kehilangan fungsi dan perannya. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi pertunjukan Tupai Janjang. Pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. gerak. sedangkan untuk musik juga dimainkan oleh seorang pemain musik. maka pemain akan membesarkan suaranya seperti layaknya seorang bapak yang sedang marah. Pemain itu yang melakukan dialog dari tokoh dalam cerita dengan menirukan suara dan akting yang sesuai dengan tuntutan cerita.

Kepada seorang anak juga ada pesan yang sangat berharga. Namun. Sang istri berputus asa karena belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Dalam pembuangan. si anak bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.sudah lama dikenal dan pada umumnya ditemui hampir di semua wilayah Minangkabau. terutama kepada orang tua agar jangan asal berbicara karena yang diucapkan bisa menjadi kenyataan. orang tua juga harus sabar mendidik anak. anak itu bertemu dan dibesarkan oleh seorang ibu hingga menjadi seorang pemuda yang gagah dan baik. Secara singkat. sang suami membuang anak itu karena ulahnya yang selalu menganggu masyarakat. Kabupaten Agam. itu orang tua juga harus berhati-hati menjaga anak karena anak merupakan amanah. Akhirnya. Berkatalah sang istri tersebut bahwa dia sangat menginginkan anak walaupun anak itu seperti tupai. Di samping. Tupai Janjang bercerita tentang sepasang suami-istri yang sudah lama menikah dan belum juga dikaruniai anak. diduga cerita ini cukup banyak pesan yang dapat diambil. pertunjukannya bernama tupai janjang yang diambil dari kaba yang disampaikan dalam cerita itu yaitu kaba Tupai Janjang. yakni . Tupai janjang diambil dari nama sejenis tupai yang badannya lebih besar dari tupai biasa dengan bulunya berwarna agak kekuning-kuningan. Jadi. Tupai janjang banyak terdapat di hutan di Pulau Sumatera. Oleh karena itu. Tupai janjang disebut juga bajing loncat dalam bahasa Latin dinamakan lomus horsfield dan dalam bahasa Inggris dinamakan endemic Sumatra. Dari ringkasan cerita di atas. pertunjukan dan kabanya bernama Tupai Janjang. Akhirnya. Dalam perjalannya ke kebun dia melihat seekor anak tupai yang melompat. Oleh karena itu. sang istri itu pun hamil dan melahirkan anak yang tingkah lakunya seperti tupai. Kenyataan terakhir ini tidak ditemui pada pertunjukan Tupai Janjang karena hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. Salah satu tokoh dalam ceritanya bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. Tokoh ini awalnya mempunyai tingkah laku seperti tupai janjang dan akhirnya berubah menjadi manusia yang baik dan berguna.

Tradisi lisan ini. misi penyelenggara acara. dan bentuk pertunjukan dapat diselamatkan dari kepunahan dan kelangkaan. Pencerita ini yang sering diundang oleh masyarakat atau pejabat pemerintah setempat untuk melaksanakan pertunjukan. misalnya untuk kampanye. fungsi. pewaris aktif yang profesional dari pertunjukan ini hanya tinggal satu orang.bagaimanapun “durhakanya” seorang ayah yang telah menyakiti anaknya sendiri tetap harus dihormati. atau menyampaikan suatu ide kepada orang (pejabat) secara tidak langsung. Dengan melihat kondisi dan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang ini maka penelitian secepatnya dilakukan mengingat nilai-nilai. Di samping berisi pesan moral. Hal ini didasarkan karena dalam tradisi lisan. memasyarakatkan program pemerintah. atau kalimat yang disebut dengan formula. Di samping pertunjukannya yang spesifik. pertunjukan Tupai Janjang dapat dijadikan sebagai salah satu ajang hiburan karena penampilan pencerita. frasa. . Konsep formulaik ini digunakan oleh pencerita untuk mempermudah dan membantu mengingat teks sehingga teks dapat dirubah dan bersifat fleksibel tergantung kepada komposisi penceritaan. atau menyampaikan perbaikkan jalan kepada pejabat daerah setempat. Kelangkaan pewaris aktif ini seharusnya tidak terjadi karena dengan memperhatikan teks dalam pertunjukan ini maka pewarisan (transmisi) diduga dapat dengan mudah dilakukan. Hal ini terutama terlihat dari akting yang dilakukan oleh pencerita. Mengingat kondisi dan nilai-nilai di atas maka penelitian dan pendokumentasian tentang pertunjukan tupai janjang seharusnya dilakukan secepat mungkin. Pencerita dapat mengajarkannya kepada warga masyarakat yang lain dengan memanfaatkan sistem formula sehingga dapat dengan mudah mengingat teks yang diceritakan. klausa. dapat melakukan penyesuaian dan mampu “merekayasa” pertunjukan sesuai dengan pesan sponsor. teks yang dibacakan mempunyai bentuk yang berulang baik segi kata. untuk menyampaian cerita.

Pada bagian ini akan dianalisis bentuk-bentuk formulaik yang diciptakan oleh pencerita. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap penelitian lapangan dan tahap analisis. nilai-nilai. dan amanat dari teks. setiap penceritaan akan berbeda teksnya. Ketiga. . walaupun menceritakan cerita yang sama. Kedua. Sebuah teks dalam pertunjukan tradisional tidak ada yang persis sama. penelitian lapangan dilakukan untuk melihat bentuk performance (pertunjukan) dari teater tradisional Tupai Janjang. Pertama. untuk mengungkap fungsi pertunjukan Tupai Janjang bagi masyarakat di daerah Palembayan.BAB II PERUMUSAN MASALAH Dari persoalan yang muncul di atas maka dirumuskan penelitian yang akan dilakukan dalam beberapa tahap yang saling berhubungan untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat. Selalu ada bagian-bagian yang mengalami perubahan karena sebuah pertunjukan tradisi lisan akan dipengaruhi oleh audience (penonton) dan suasana pertunjukan. penelitian ini akan dilanjutkan dengan menganalisis teks untuk mengungkap sistem formulaik yang digunakan oleh pencerita dalam sebuah menceritakan teks. Dengan demikian. Pada bagian ini akan melihat fungsi. Dari sebuah pertunjukan itu didapatkan sebuah teks.

Persediaan formula disebut stock-in-trade si penyair. atau tukang pidato. frasa) yang tersedia baginya (stock-in-trade) yang siap pakai. frasa. Unsur-unsur yang dipakai memperlihatkan bentuk yang identik atau variasi sesuai dengan tuntutan tata bahasa. matra. klausa. Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. klausa.BAB III TINJAUAN PUSTAKA Penelitian ini akan mengunakan teori yang dapat mengupas masalah di atas secara mendalam. formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. pencerita. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula itu pada saat pertunjukan. yang identik penampilannya (Teeuw. Dalam setiap pertunjukan tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. Teknik . Untuk menghasilkan perulangan itu. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotipe yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. kata majemuk. dan irama puisi yang dipakai. Hal itu terbukti bahwa jarang terdapat penghafalan dan tidak ada dua pementasan yang sama. 1988a:298). ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. yang mungkin berupa kata. Untuk itu digunakan teori tentang sastra tradisional yang dikemukakan oleh Lord. atau larik. yaitu mengingat perulangan dan menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. dan larik yang telah ada. Setiap penyair tradisional membawakan ceritanya dengan menciptakan kembali secara spontan dan memakai sejumlah unsur bahasa (kata. Lord (1981:34) menyatakan bahwa penyair-penyair itu tidak menghafalkan puisinya lewat naskah atau tulisan. frasa. Menurut Lord dalam bukunya The Singer of Tales (1981:30 dan 43). bahkan seorang pencerita yang sama. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya.

Cerita yang ditampilkan juga menyampaikan tema atau ide. Pencerita dapat membangun larik terusmenerus. Upaya untuk mempelajari. Ekspresi formulaik dapat juga membantu terbentuknya wacana ritmis sehingga merupakan salah satu alat bantu untuk mengingat kembali dengan mudah. Formula dan ekspresi formulaik bertujuan untuk menceritakan kisah-kisah dalam nyanyian dan sajak. 1981:45). dan menampilkan suatu karya secara lisan merupakan bentuk rangkaian kelisanan yang dimaknai sebagai kelisanan dalam arti teknis atau harfiah (Lord. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim. 1981:30). sesuai dengan keinginan dan kreatifitasnya. Finnegan dalam Tuloli.formula dikembangkan untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman (Lord. Formula merupakan alat untuk menuangkan tema atau ide-ide yang . sedangkan ekspresi formalik adalah ungkapan yang dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama. Penganalisisan terhadap teks harus dimulai dengan pengamatan yang cermat terhadap frase-frase yang mengalami perulangan. Batasan yang diberikan tentang pola formula dan ekspresi formulaik akan diterapkan dalam menganalisis teks cerita tupai janjang. menyusun. 1991). Konsep kelisanan tidak hanya dimaknai secara presentasi lisan. cepat. tetapi juga dimaknai sebagai komposisi selama terjadinya penampilan secara lisan. Sweeney (1999:68) menyebutkan bahwa formula adalah larik atau paruh larik yang digunakan lebih dari sekali dalam bentuk yang sama. Dengan pola formula sebagai dasar. 1979:54. Dalam penyusunan baris dengan pola formula itu terjadi proses penggantian. dan penambahan kata-kata atau ungkapan baru pada pola formula sesuai dengan kebutuhan penceritaan atau penggubahan. 1981:5). pembentukan model. kombinasi. Hal ini dilakukan untuk menentukan formula dengan berbagai variasi polanya (Lord. pencerita dapat menyusun larik-larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. dan tepat serta menjadi ungkapan tetap yang dapat bertahan hidup secara lisan (Lord.

1981:40). 1980:64-65). apapun cerita yang ditampilkan (Sweeney. terutama dalam penceritaan dramatis secara lisan (Sweeney. Penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. Tema adalah kelompok ide yang secara teratur digunakan pada penciptaan suatu cerita dalam gaya formulaik. ide-ide. tema mengalami perkembangan. 1981:61). Skemata atau formula itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Lord (1976:4 dan 68) menyatakan bahwa kelompok-kelompok ide yang secara reguler digunakan dalam menceritakan kisah merupakan tema-tema cerita. melainkan merupakan pengelompokan ide-ide (Lord. Ini merupakan suatu keharusan dan bersifat normal. Dalam pikiran pencerita yang telah mapan. skemata merupakan hal yang penting. Tema dapat diekspresikan dengan sekumpulan kata-kata. atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematis. melainkan kreasi seni yang hidup dan berubah sesuai dengan situasi (Lord. Dalam penceritaan lisan. Hal ini disebabkan oleh sifat lentur formula dan pencerita tidak memakai formula yang sama pada setiap saat penceritaan. Komposisi skematik merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional. seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. 1981:94). . Tema bukanlah kreasi seni yang sungguh-sungguh statis. Pencerita berpikir dan mempertimbangkan berdasarkan pola formula untuk menyajikan cerita. Pencerita tidak pernah memproduksi tema dengan kata-kata yang persis sama. Tema bukan sekumpulan kata yang tetap. Dalam sastra Melayu tradisional. Komposisi skematik merupakan skemata atau formula yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan.disampaikan kepada audience. Tema disusun dari adegan-adegan yang telah ada dalam pikiran pencerita dan digunakan untuk merakit cerita itu. Tema adalah peristiwa atau adegan yang diulang dan bagian-bagian deskriptif dalam cerita. Penguasaan formula dan tema merupakan syarat utama dalam menggubah cerita secara mudah dan lancar.

semuanya itu dapat dilakukan oleh satu orang dalam waktu yang bersamaan. telah juga dilakukan oleh Phillips (1981) tentang Sijobang dengan judul Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Penyanyi. dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya (dalam Danandjaja. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. Performance adalah saat berkreasi bagi penyair lisan. Untuk melihat fungsi dari pertunjukan tupai janjang. penelitian yang khusus dilakukan terhadap Tupai Janjang telah dilaksanakan oleh beberapa orang. Penelitian yang dilakukan juga menerapkan teori yang dikemukakan oleh Lord tentang formula yang ditulis dalam bentuk disertasi. 1981:13—17). 1984:19). dan berbicara dengan sesama penoton yang lain. Bascom. tempat. Penelitian Erlinda . yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Sementara itu. tetapi dalam sastra lisan. variasi cerita Sijobang. dan peranan formula dalam penciptaan. Bascom folklor mempunyai empat fungsi. Suasana. Berbagai penelitian tersebut baru pada tahap awal dan tidak memberikan analisis yang mendalam terhadap tradisi ini. Hal ini akan mempengaruhi performance atau mungkin juga performance dapat terputus sejenak (Lord. komposer. Menurut Lord. pembuatan komposisi bagi penyair lisan dilakukan pada saat pencerita melaksanakan performance sehingga komposisi dan performance merupakan dua hal yang dilakukan pada saat bersamaan. performer. dan audience akan mempengaruhi performance. pergi. dan transmisi. Dalam penelitian ini diungkapkan hubungan sosial. performance. (3) sebagai alat pendidikan anak. Audience dapat datang. Penelitian dengan memakai teori Lord. teknik dan metode pencerita dan pencipta. dan penyair adalah orang dengan aspek yang berbeda.Lord juga menyatakan aspek kelisanan berupa komposisi. Performer adalah orang yang memproduksi sastra lisan pada saat performance dan sekaligus juga sebagai komposer. Menurut William R. (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.

Andras (1999) melakukan penelitian terhadap Tupai Janjang dalam tugas akhirnya guna memperoleh strata satu di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Padang. tetapi tidak dilanjutkan dengan analisis terhadap teks tersebut. dan latar cerita.dkk (1997) dalam bentuk laporan penelitian untuk ASKI Padang Panjang sangat ringkas sehingga tidak mencapai aspek-aspek yang dituntut dalam penelitian. cerita yang dibawakan. . Penonton pertunjukan Tupai Janjang pada waktu itu adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah sastra Nusantara. dan audience tidak tepat sasaran karena pertunjukannya ditampilkan untuk tujuan perkuliahan. Udin (1999) dalam makalah untuk seminar Asosiasi Tradisi Lisan tahun 1999 mengamati pertunjukan Tupai Janjang yang dilaksanakan di FPBS IKIP Padang. penokohan. Pada bagian akhir tulisannya dilengkapi dengan teks kaba Tupai Janjang. Namun. bukan menempatkan Tupai Janjang sebagai sebuah pertunjukan tradisi lisan. tema. pembahasannya juga tidak mendalam. alur. bentuk pertunjukan. Penelitiannya lebih terfokus pada unsur cerita Tupai Janjang dengan teori drama modern. Karena hanya dalam bentuk makalah. Analisis dilakukan dengan melihat plot. Gambaran dan suasana pertunjukan yang didapatkan tentu hanya sedikit.

Selain diperlukan berbagai upaya untuk melestarikan tradisi lisan. Dengan ditelitinya pertunjukan ini. penelitian ini diharapkan juga memberikan kontribusi yang baik terhadap pemerintah daerah terutama di bidang kepariwisataan budaya guna . Akhirnya. diperlukan pula upaya untuk menggali dan mengkaji isi yang terkandung di dalamnya yang dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa Indonesia. penelitian ini juga bertujuan untuk menguraikan fungsi supaya dapat mengambil nilai-nilai. otomatis akan menambah dokumentasi dari bentuk pertunjukan teater tradisional di Minangkabau dan akan mengembangkan penelitian yang lebih lanjut terhadap peminat sastra tradisional. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan penelitian. Sementara itu. pesan.BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang serta menerangkan sistem formulaik dari teks. Dengan demikian. Dengan analisis formulaik ini diharapkan dapat ditentukan stereotip yang digunakan dalam merangkai cerita Tupai Janjang oleh pencerita sehingga dapat mudah ditransmisikan kepada pencerita yang lainnya. dan amanat dari cerita Tupai Janjang ini. diharapkan dapat mengangkat nilai-nilai tradisional yang telah lama terkubur sehingga memberikan dan memperkokoh jati diri bangsa yang sedang mengalami erosi yang begitu hebat. Penelitian ini akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan terutama terhadap peninggalan-peninggalan tradisional terutama kepada teater tradisional dan bukan hanya bersifat inventarisasi dan pendokumentasian tetapi lebih dari itu menjadikan peninggalan-peninggalan tradisional jadi objek kajian yang menarik. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangan penelitian yang lebih lanjut terhadap pertunjukan tradisional sehingga dapat menjadikan sumber inspirasi baru bagi pencipta sastra modern dengan memperlihatkan akar dari budaya daerah.

. negara. Dengan demikian.meningkatkan promosi pariwisata karena pertunjukan tradisional dapat juga menarik wisatawan domestik maupun asing. akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. dan daerah.

penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan suasana pertunjukan seperti apa adanya. Wawancara dilakukan setelah pertunjukan usai. tokoh agama. Tanggapan juga diminta kepada niniak mamak. dan pejabat pemerintah setempat tentang pengetahuannya terhadap pertunjukan Tupai Janjang. Penonton yang diwawancarai adalah yang sudah sering. Penelitian dilakukan dengan dilengkapi handycame. Penelitian ini juga dilakukan dengan menggunakan metode etnograsi. Setelah data terkumpul. teknik wawancara dan observasi.BAB V METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang didasarkan pada data-data yang diperoleh di lapangan. Para informan tersebut terdiri atas pemain tupai janjang yang profesional dan masih aktif serta pemain yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat. peneliti terlebih dahulu dibekali dengan seperangkat teori yang berkaitan dengan objek supaya kendala di lapangan tidak mempengaruhi terhadap hasil yang didapatkan. Setelah itu baru data dianalisis dengan . Pertunjukan dan perekaman dilakukan secara alami. Data ditranskipsikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan konteks masyarakat pendukungnya. karena tradisi pertunjukan ini hanya hidup di daerah tersebut. Hal ini dilakukan supaya data yang didapat betul-betul akurat dan hidup. Kabupaten Agam. Penentuan informan didasarkan atas kualitas dan pengalamannya terhadap pertunjukan TJ. atau belum sama sekali menonton pertunjukan Tupai Janjang. Tanggapan yang diberikan oleh penonton akan mempengaruhi kehidupan Tupai Janjang itu sendiri. baik terhadap pemain maupun terhadap penonton. dan wawancara dengan penonton. jarang. tape recorder. Penelitian ini mengambil objek tupai janjang yang dilaksanakan di Kecamatan Palembayan. baik yang terlibat langsung dalam pertunjukan maupun yang tidak. Penonton juga akan memberikan suasana tertentu dalam pertunjukan. cadiak pandai. dilakukan transkripsi dan analisis. Sebelum terjun ke lapangan. Dengan demikian.

menganalisis nilai-nilai.menggunakan pendekatan formulaik untuk melihat teknik-teknik penceritaan lisan. Terakhir. pesan dan amanat yang ada dalam teks cerita Tupai Janjang. .

nan. Setelah diberlakukannya Perda No. Dalam penampilan. Kabupaten Agam. Kata-kata itu hanya berfungsi sebagai penyempurnaan irama dan jika dihilangkan atau ditinggalkan maka tidak akan mempengaruhi arti dari teks tersebut. Dipilihnya teks I untuk dianalisis karena Andras dianggap oleh masyarakat setempat sebagai pencipta pertunjukan TJ seperti sekarang ini. Keterangan untuk kegiatan ini diberikan di bawah teks yang dibacakan dan hanya dalam bahasa Indonesia. jorong adalah bagian nagari atau kampung. kegiatan. Teks ini diambil dari hasil rekaman dan pengamatan penulis terhadap pertunjukan TJ yang ditampilkan oleh Elvis pada tanggal 25 Mai 2006. Untuk membedakan teks yang berbentuk dialog dengan teks yang berbentuk narasi dipakai tanda “ ” di awal dan akhir dialog. ha. 1984:231). Teks ini dijadikan teks I karena lebih tua dari teks II. ondeh. dialog yang diucapkan oleh tokoh. Kata-kata yang tidak ada padanannya ditulis miring dalam bahasa Indonesia dengan memberikan keterangan di bawahnya. desa yang sebelum diberlakukannya Perda tersebut diganti dengan nama jorong. dan lain-lain (Navis. yaitu teks I dan teks II. dalam pengucapannya. Pertunjukan dilaksanakan di rumah salah satu warga di jorong1 Gumarang. Teks I merupakan teks yang diambil dari skripsi Ita Andras (1999). lah. Teks II merupakan teks pokok. serta akting yang dilakukan oleh pencerita untuk mendukung cerita. Kenagarian III Koto Silungkang. ada kata-kata yang tidak mempunyai arti dan hanya berfungsi untuk kepentingan irama. . teks yang didendangkan sangat dipengaruhi oleh irama.BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Teks yang dianalisis dalam penelitian ini ada dua. 1 Menurut Amir (2003:47) dan Kamus Bahasa Minangkabau.02/ 1999. tentang kembali ke nagari di seluruh Sumatra Barat. hai. Oleh karena itu. Kecamatan Pelembayan. misalnya oi. Tanda ( ) digunakan untuk memberikan keterangan. secara pemerintahan kepala jorong berada di bawah kepala nagari.

turunan puti sudut-bersudut. kami mambukak kaba lamo. Ampun baribu kali ampun. adolah urang maso itu. 10 Berlayar kapal ke Sibolga. menyatukan dan memperkuat. yang berumah Gajah Maharam. kononlah si Datuak Bandaro. sapuluah jari kami susun . memegang neraca adil. ADEGAN I 6. nan barumah Gajah Maharam. mambalah maampalau. kaba orang kami kabakan.5 sawah luas berpiring-piring. kami membuka kaba lama. muatan dari Kota Padang. tarajo turun barajo. adalah orang masa itu. di nan dakek jolong tasongoh. maaf diminta banyak-banyak. yang tersebut-sebut. muatan dari Koto Padang. 2 5 Ampun beribu kali ampun. Banda urang kami bandakan. . Dalam pantun adat Minangkabau diungkapkan Nan gadang basa batuah. Menurut Amir (2003:57). jolong tasongoh adalah awal kelihatan. urang kayo suko dimakan. banda nak urang Koto Tuo. niniak mamak adalah sebutan untuk para pemuka/penghulu adat. maaf dimintak banyak-banyak. ampunlah kami niniak mamak.2 sepuluh jari kami susun. siapa dia orang yang terkaba. orang dusta kami tak mau. mamacik naraco adia. Di nan tinggi tampak jauah. mamagang bungka nan piawai.4 turunan raja turun beraja. sawah laweh bapiriang-piriang. kononlah si Datuak Bandaro. Adolah Datuak Bandaro. 4. iyalah kaba Tupai Janjang. kabun ubinyo bapetak-petak. nan dianjuang tinggi. 4 Ibid. gajah maharam adalah sejenis rumah gadang atau rumah adat yang besar dan mempunyai banyak bilik. urang duto kami tak nio. kaba urang kami kabakan. Balaia kapa ka Sibolga. tak kala alun-beralun3. nan tasabuik-sabuik. Transkripsi Teks Teks I PEMBUKAAN 1. memegang timbangan yang benar) 3 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. Tatkala masa dahulunya. alun-beralun adalah untuk menyatakan keadaan dahulu kala dan tidak persis waktunya. (Orang yang besar bertuah.6 kebun ubinya berpetak-petak.1. Banda orang kami bandakan. 2. yang dianjung tampak tinggi. 15 20 25 Adalah Datuak Bandaro. 5. 3. 5 Menurut Navis (1984:175). banda anak orang Koto Tuo. iyolah kaba Tupai Janjang. di yang dekat jolong tasongoh. tak kalo alun baralun. sia nyo urang nan ta kaba. ampunlah kami niniak mamak. taputi suduik basuduik. Tak kalo maso dahulunyo. mampeh mandatakan. Di yang tinggi tampak jauh. memepat dan meratakan. orang kaya suka makan.

” 11. “Oi Tuan Datuak Bandaro. lah sagudang tungku kumayan den baka. luluah rasonyo parantian . tidak patut menyesal Tuan. mako den duduak tamanuang. takana badan tak baranak. melihat Tuan bermenung. Lah sapuluah tahun nyo babaua. “Oi Tuan Datuak Bandaro. membeli ikan belanak. Nan manjawek Datuak Bandaro. ini yang saya menungkan. sudah segudang tungku kemenyan saya bakar kehendak tidak juga berlaku. sia kamambalo badan tuo. 8 Batanyo Puti Linduang Bulan.” 10. kita ambillah anak orang. barakalah kito tantang nantu. menyesal tercuci di kain rancak. kito dibari Tuhan aka. 7. untuk menjaga badan kita. kita diberi Tuhan akal. indak patuik manyasa Tuan. sudah habis susah saya.” Yang menjawab Datuak Bandaro. maka saya duduk termenung. Nan manjawek Datuak Bandaro. “Manalah adik Linduang Bulan. manyasa tasasah di kain rancak. “Manolah adiak Linduang Bulan. manga Tuan duduak tamanuang. sana termenung Datuak Bandaro. indak patuik susah Tuan lah susah. teringat badan tak beranak.” 35 40 45 50 55 60 65 70 6 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. mako den ka Pasa Canduang. kini baitulah dek Tuan. “Manalah adik Linduang Bulan. teringat badan tidak beranak. Bertanya Puti Linduang Bulan.” 30 yang istrinya Puti Linduang Bulan. bapiriang-piriang sama dengan berpetak-petak. susah ka kito bagi duo. sinan tamanuang Datuak Bandaro. kalau den agak-agak bana. kini begitulah oleh Tuan. “Oi Tuan Datuak Bandaro.nan padusinyo Puti Linduang Bulan. Sudah sepuluh tahun dia bergaul. digulai di hari senja. maliek Tuan bamanuang . kandak indak juo balaku. susah akan kita bagi dua. tempat keramat yang sudah saya datangi. maka saya ke Pasar Canduang. siapa akan menjaga badan tua.” Yang berkata Linduang Bulan. tampaik kiramaik nan lah den datangi. anak yang tidak kunjung dapat. takana badan tak baranak. digulai di hari sanjo. kalau saya kira-kira betul. mambali ikan balanak. mengapa Tuan duduk termenung. rancak tarangkan pado denai. anak nan indak kunjuang dapek. Tujuannya adalah untuk menyatakan sawah yang banyak. rancak terangkan pada saya. kini begitulah oleh adik. Nan bakato Linduang Bulan. luluh rasanya perantian. . tidak patut susah Tuan sudah susah. kini baitulah dek adiak. Diak.” 9. berakallah kita tentang itu. Dik. gimana saya tak akan bermenung. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kito ambiaklah anak urang. iko nan den manuangkan. untuak mambalo badan kito. baa denai tak kabamanuang. kemana dukun yang tidak kita tempuh. “Manolah adiak Linduang Bulan lah habih susah den. kama dukun nan tak kito tampuah. kito paliharo elok-elok. kita pelihara elok-elok.” Yang menjawab Datuak Bandaro.

nan bajalan siganjua lalai. Lah bajalan si Linduang Bulan. kononlah kasih orang ditompang. melihat kebun kopi kita. sepinggan juga jadi nasinya. bainggan juo hatinyo. sadangkan badunsanak ibu. “Manolah adiak Linduang Bulan. kok indak padi di lambuang. bilo masonyo nan kasampai. nan lai batali darah. nan ka kida lengang mambunuah. hampir sebulan kita tak ke sana. kononlah padi rang basalang.” 13. kononlah kasiah rang ditompang. cadangkan padi salibu. .” 100 105 Sudah berjalan si Linduang Bulan. sayang manjalang sawah sudah. yang ke kiri lenggang membunuh8. enggan juga hatinya. dua dengan Linduang Bulan. alu tertarung patah tiga. Yang berkata Datuak Bandaro. “Manolah Tuan Datuak Bandaro. Kononlah Puti Linduang Bulan. semut terinjak tindak mati.” Yang berkata Datuak Bandaro. samuik tapijak indak mati. “Manolah adiak Linduang Bulan. seperti orang dikejar hantu. kononlah padi orang dipinjam. kalau saya hitung-hitung benar. Kononlah Puti Linduang Bulan. alua tataruang patah tigo. 95 Datuak Bandaro bajalan bagageh.7 yang berbuah di tengah sawah. nan babuah di tangah sawah. urang baralek tangah sawah. kepada Puti Linduang Bulan. sedangkan berdunsanak ibu. maliek kabun kopi kito. cadangkan padi salibu. kalau seperti ini adik berjalan. 7 8 Sudah berjalan Datuak Bandaro. kononlah kasih orang ditompang. “Manalah adik Linduang Bulan. terutama untuk para gadis. 16. cando urang dikaja hantu. yang masanya semasa itu. kalau den etong-etong bana.gageh. Lah bajalan Datuak Bandaro. bergegaslah adik sedikit. Ungkapan ini sering digunakan untuk menyatakan sifat jalan seorang perempuan. nan ka suok lenggang manganai. yang ada bertali darah. yang ke kanan lenggang mengana. sayang menjelang sawah sudah. marilah kita berjalan-jalan. orang berhelat tengah sawah. bagagehlah adiak saketek.” Sub-adegan ke-1 75 80 85 Yang berkata Linduang Bulan.” ADEGAN II 17. Nan bakato Datuak Bandaro. Nan bakato Datuak Bandaro. Ibid. salibu adalah padi yang sudah terkena hama. kapado Puti Linduang Bulan. kalau co iko adiak bajalan. kononlah kasiah urang ditompang. “Manalah Tuan Datuak Bandaro.” 90 14. duo jo Puti Linduang Bulan. tetapi dapat tumbuh lagi. rasa kopi sudah akan memerah. bila masanya yang akan sampai. yang berjalan siganjua lalai. nan masonyo samaso nan tun. kalau tidak padi di lumbung. 15. baraso kopi lah ka manyirah.12. Datuak Bandaro berjalan bergegas-gegas. hampia sabulan kito tak kian. sapinggan juo kanasinyo. Nan bakato Linduang Bulan. to melah kito bajalan-jalan. “Manalah adik Linduang Bulan.

mangaliciak inyo saketek.” 115 Dalam dia terkejut itu. melompat ke tepi pagar. yang menghabiskan kopi kita. dialah binatang yang melompat tadi. sampai di kebun kopi. usah dibunuah binatang nantun.” 25. ini yang memakan kopi saya. lalu diambiak gado lintang. melihat Datuak Bandaro. Tuan?” 110 dituruti Datuak Bandaro. kalau Tuhan memberi izin saya beranak. mandencek sikua binatang. tibo di dahan inyo maliek. Dibaenyo dek Datuak Bandaro. 23. kinilah nan mudo sajo nan tingga. 22.” 26. rancak benar tampak oleh saya. maliek Datuak Bandaro. kinilah yang muda saja yang tinggal. inyo mailak maso nantun. bialah sarupo Tupai Janjang. etan di dalam parak kopi. “Oi Tuan Datuak Bandaro. “Ini yang menghabiskan kopi kita. itu nan banamo Tupai Janjang. tacangang Datuak Bandaro. dia mengelak masa itu.” 19. inyolah binatang nan mandencek tadi. “Oi adiak Linduang Bulan. “Oi Tuan Datuak Bandaro.dituruikan Datuak Bandaro. 18. tercengang Datuak Bandaro. “Saya sangka kopi banyak masak. 145 kok Tuhan mambari izin denai baranak. Dalamnyo takajuik nantun. lalu diambil gado lintang. rancak bana tampak di denai. 140 nan maabiahkan kopi kito. gado lintang adalah sebutan kayu yang digunakan untuk melempar. 120 125 130 135 Yang berkata Puti Linduang Bulan. Apo namonyo binatang tu.9 dilempar pula sekali lagi. den bunuahlah Tupai Janjang nangko. usah dibunuh binatang itu. Pihak kapado binatang nantun. “Den sangko kopi banyak masak. dibae pulo sakali lai. Tuan?” Yang menjawab Datuak Bandaro. Nan bakato Puti Linduang Bulan. melompat seekor binatang. saya lemparlah binatang ini.” Dilemparnya oleh Datuak Bandaro. “Oi adik Linduang Bulan. . iko nyo nan mamakan kopi denai. Pihak kepada binatang itu. Panehlah hati Datuak Bandaro. mandencek ka dahan tinggi. saya bunuhlah Tupai Janjang ini. Sana terkejut Datuak Bandaro.” Yang berkata Puti Linduang Bulan. itu yang bernama Tupai Janjang. tiba di dahan dia melihat. Nan manjawek Datuak Bandaro. “Iko nan maabihan kopi kito. Nan bakato Datuak Bandaro.” 21. “Oi Tuan Datuak Bandaro. sampai di kabun parak kopi. menghindar dia sedikit. den baelah binatang nangko. Nan bakato Puti Linduang Bulan. itu di dalam kebun kopi. 20. Yang berkata Datuak Bandaro. “Oi Tuan Datuak Bandaro.” 9 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. Sanan takajuik Datuak Bandaro. mandencek ka tapi paga. meloncat ke dahan tinggi. 24. Panaslah hati Datuak Bandaro. Apa namanya binatang itu. biarlah serupa Tupai Janjang.

nan lah pulang Datuak Bandaro. Ibid. bapemenan bintang di langik. bapamenan11 bintang di langit. raso mamangku matohari. rasa memeluk-meluk bulan. 31. 10 11 185 Sudah sebulan dua bulan. bapamenan bintang di langik. Nan bakato Puti Linduang Bulan. ampia sampai ganok bilangan. Ibid. cukuik kaduo hari siang. barabuik sama artinya dengan berebut. “Oi Tuan saya Datuak Bandaro. Lah sabulan duo bulan. tetapi untuk ini berarti hari sudah senja. serta Puti Linduang Bulan. tando Linduang Bulan ka manganduang. “Oi Tuan Datuak Bandaro. 180 lai jaleh dek adiak kanduang?” 33. sudah sampai dia di rumah. hampir sampai genap bilangan. diambil buku takwil mimpi. lalu diliek maso nantun. cukup kedua hari siang. barpamenan adalah mempunyai alat untuk sekadar permainan. 155 Hari yang sudah berabuik10 senja. raso mamaluak-maluak bulan. yang sekali ayam berkokok. rasa memangku matahari. dek badannyo lah ka manganduang. tandanya niat ada kesampaian. Pihak kapado Datuak Bandaro. adik bermimpi malam tadi. “Oi Tuan Datuak Bandaro. tandonyo niaik lai kasampai. bara angguak sarato geleng. Sinan bakato Puti Linduang Bulan. Hari nan alah barabuik sanjo. “Oi Tuan den Datuak Bandaro. raso mamaluak-maluak bulan. lalu dilihat masa itu. ada jelas oleh adik kandung?” Besar hati si Linduang Bulan. nan sakali ayam bakukuak. taserak cando hujan paneh. Yang berkata Puti Linduang Bulan. Nan manjawek Datuak Bandaro. raso mamangku matohari. “Menurut buku takwil mimpi. lah lalok Datuak Bandaro. Badantuang bunyi patuih tongga. berapa angguk serta geleng. 160 165 170 32. karena badannya sudah akan mengandung. apo takwie mimpi denai?” 30. 29. serta Puti Linduang Bulan. yang sudah pulang Datuak Bandaro. Sana berkata Puti Linduang Bulan. apa takwil mimpi saya?” Pihak kepada Datuak Bandaro. denai bamimpi malam tadi. terserak seperti hujan panas. sarato Puti Linduang Bulan. Gadang hati si Linduang Bulan. lah sampai inyo di rumah. . diambiak buku takwie mimpi. tanda Linduang Bulan akan mengandung. kok Tuan tagalak surang?” 150 Berdentum bunyi petir tunggal. bapamenan bintang di langit. rasa memangku matahari. Sub-adegan ke-1 28. kok Tuan tertawa seorang?” Yang menjawab Datuak Bandaro.27. Sub-adegan ke-2 34. 175 adiak bamimpi malam tadi. “Manuruik buku takwie mimpi. rasa memeluk-meluk bulan. sarato Puti Linduang Bulan. sudah tidur Datuak Bandaro. saya bermimpi malam tadi.

yang bersifat berlebihan dan tidak wajar. itu pantang dengan larang yang tiba saya. ado larangan jo pantangannyo. 12 13 210 215 220 225 Sudah hampirnya genap bilangan bulan. sudah tiba sakit beranak. kaluah kasah inyo manahan sakik. ada larangan dengan pantangannya.” Yang berkata si Linduang Bulan. kapunduang adalah sejenis buah-buahan seperti langsat yang rasanya asam dan berkulit tebal. lah hampia sambilan bulan.” 39. nan tabedo inyo bakandak. tabedo adalah sesuatu yang berbeda dengan biasanya. “Manalah adik Linduang Bulan. Yang berkata Puti Linduang Bulan. Nan bakato Datuak Bandaro. mancaracau kato di muluiknyo. Nan bakato si Linduang Bulan. kamailia salero anaknyo isuak. tapi yang dimakan si Linduang Bulan. ampalam sakaruang dicarikannyo. aduh duh sakitnya. hanyolah saketek sajo. tamanuang Datuak Bandaro. “Manolah adiak Linduang Bulan. banyak larangan dengan pantangnya. kalau kamasuak masuak bana. Lah hampienyo ganok bilangan bulan. itu syarat yang saya terima. bermacam-macam kehendak Linduang Bulan dia meminta yang asam-asam. Tuan tidak boleh menyemblih ayam. “Oi Datuak Bandaro. jangan kau tegak-tegak di pintu. termenung Datuak Bandaro. lenyai lihia paja dibueknyo. tolonglah aduh sakitnya. keluh kesah dia menehan sakit. yang tabedo12 dia berkehendak. 205 banyak larangan jo pantangnyo. ondeh deh sakiknyo. mempelam sekarung dicarikannya. dicarinya yang asam-asam. jan kau tagak-tagak di pintu. “Ondeh Tuan. itu syaraik nan den tarimo. lai jaleh dek Tuan tu?” 37. musim kepundung13 sudah langkas. lah tibo sakik baranak. mailia adalah mengalir dalam hai ini. Nan bakato Puti Linduang Bulan. itu pantang jo larang nan tibo di den pihak kapado urang padusi.” 190 200 36. masuk benar. sakitnya. Tuan indak buliah doh mandabiah ayam. Ibid. tapi nan dimakan si Linduang Bulan. 35.” Sub-adegan ke-3 38. dalam hal ini karena menahan sakit. musim kapunduang alah rangkeh. Andropogon Nardus. Ibid.bamacam-macam kandak Linduang Bulan inyo mamintak nan masam-masam. sakiknyo. “Aduh Tuan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. 15 Ibid. sudah hampir sembilan bulan. tolonglah ondeh sakiknyo. akan mailia14 selera anaknya esok. kalau akan masuk. selama saya mengandung ini. pihak kepada orang perempuan. Pihak kepada Datuak Bandaro. bakandak kapunduang mudo. “Oi Tuan Datuak Bandaro. hanyalah sedikit saja. ada jelas oleh Tuan itu?” Yang berkata Datuak Bandaro. “Oi Datuak Bandaro. menceracau15 kata di mulutnya. Pihak kapado Datuak Bandaro. sama dengan ngiler atau air liur. 14 Idid. salamo denai manganduang ko. lembek leher paja dibuatnya. mancaracau sama dengan mengigau atau berbicara dengan tidak punya arahan. dicarinyo nan masam-masam. berkehendak kepundung muda. .

tiba di lantai. jan saroman iko bana. bara geleng sarato uruik. Sudah berlari si Dukun Pandai. rasuak adalah balok yang dipasang antar tiang untuk menyangga lantai. ejanlah. hop. 41. “Oi Datuak Bandaro. “aalah. taruih sakali masuak kandang. nak den cubo manggeleng paruik ko. dibawa naik ke atas rumah. lari ke jenjang masa itu. “Oi Linduang Bulan. Nan lah tibo si Dukun Pandai. Lalu diambiak anak maso nantun. yo mantun. Ibid. hendak saya coba menggeleng perut ini. biarlah hendak saya cuba menolong. Gambaran betapa hebatnya yang empunya kaki dalam cerita klasik. indak tahan sakik co iko.japuiklah Dukun Pandai. alah beko. lantai sudah patah. ya begitu. bara caliak sarato lengoh.” Pihak kepada Dukun Pandai.” 42. ini anak sudah menyuruh. . ejan. ajan. ejan. kanalah diri. ya begitu. tidak tahan sakit seperti ini. Ibid. sudah berjalan masa itu. dijeput malah dukun pandai. rasuak taban.” ADEGAN III 44. berapa urut si Linduang Bulan. ambil kain panjang sebuah. Nan lah lahia anak Linduang Bulan.” 43. Pihak kapado Dukun Pandai.” 40. sudah. “Oi Datuak Bandaro. ko paja lah manyaruang. alah. ingatlah diri.” Lalu diambil anak masa itu. sah bajalan maso itu. tibo di rasuak. Yang sudah tiba si Dukun Pandai. tibo di tanah. sudah. diambillah kain panjang.” 47. tiba di rasuak. sudah nanti. 260 Yang tercengang si Dukun Pandai. tiba di tanah. lari ka janjang maso nantun. ambiak kain panjang sabuah. tibo di lantai. tanah lambang17. iko anak tupai tu candonyo. ejan. yo mantun. berapa geleng serta urut. bialah ndak den cubo manolong. alah. “sudah.” 235 240 245 250 255 Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. 45. terus langsung masuk kandang. “Oi Linduang Bulan. tanah lambang. lantai lah patah. bara uruik si Linduang Bulan. 46.” Pihak kepada Dukun Pandai. Pihak kapado Dukun Pandai. ajan. ajan. berapa lihat serta lengah. hop. ini anak tupai itu sepertinya. rasuak16 terban. Pihak kapado Datuak Bandaro. “Iko indak anak urang doh ko.. “Ini tidak anak orang ini. Nan tacangang si Dukun Pandai. Lah balari si Dukun Pandai. dibawo niiak ka ateh rumah. diambiaklah kain panjang. ajanlah. dijapuik malah dukun pandai. 16 17 jeputlah Dukun Pandai. jangan serupa itu benar. lambang adalah bekas injak atau tekanan beban pada tanah.” 230 Pihak kepada Datuak Bandaro.

kalau begitu kata Adik. Datuak Bandaro baranak tupai. turunan puti sudut-bersudut. inyo darah dagiang kito.“Tuan Datuak Bandaro. Lalu berkata si Linduang Bulan. kini anak manjadi tupai janjang. Datuak Bandaro beranak tupai. dilepas kehendak masa itu. nan sakarang iko kini. kito gadangkan anak nangko. diambil malah Tupai Janjang. 51. kita pelihara baik-baik. “Tanah liek bakapiek. hendak akan menyusu? supaya saya menyusukan. manyusu! manyusu. hendak menyusu. kini anak menjadi tupai janjang. dia kan darah daging kita.” Yang berkata si Dukun Pandai.” Yang tercengang Datuak Bandaro. disusukan anak maso itu. Nan tacangang Datuak Bandaro.” Pihak Puti Linduang Bulan. antah a ko. dia anak kita.” 53. ini entah orang. ditimpo tanah badarai. dipalapeh kandak maso itu.” mandanga kato Linduang Bulan. Lalu bakato si Linduang Bulan. dia darah daging kita. entah apa ini. Pihak Puti Linduang Bulan. alun dilieklah taliek. “Oi Tupai Janjang elok-elok perangai anak. inyo kan darah dagiang kito. yang sekarang ini kini. menyusulah ha! 270 275 280 285 290 295 300 54. disusukan anak masa itu. turunan rajo turunan puti. kito tasabuik urang asa. tapi Tupai Janjang banyak ulahnyo.” 49. tutunan puti suduik-basuduik. “Kini begitulah Linduang Bulan. biar saya bunuh Tupai Janjang. “Tanah liat bakapiek. kito paliharo baiak-baiak. inyo anak kito. iko antah urang. Nan bakato si Linduang Bulan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. malu yang telah tumbuh. bakapiek adalah bergelintin sehingga susah dipisahkan. kalau baitu kato Adiak. belum dilihat sudah terlihat. turunan raja turunan puti. menyusu! menyusu. tapi Tupai Janjang banyak ulahnya.” mendengar kata Linduang Bulan. usah dibunuh anak kita. biapun inyo sakarek ula. tupai anak Tuan malah kiranya. Pihak kapado Datuak Bandaro. biarpun sepotongnya belut. Nan bakato si Dukun Pandai. usah dibunuah anak kito. Pihak kepada Datuak Bandaro. malu nan lah tumbuah. biapun sakarek nyo baluik. kita tersebut orang asal. biarpun dia sepotong ular. tupai anak Tuan malah kironyo. kita pelihara baik-baik. kito paliharo baiak-baiak. “Kini baitulah Linduang Bulan.” 48. Tupai Janjang malah kironyo. bia den banuah Tupai Janjang. Tupai Janjang malah kiranya.18 ditimba tanah berderai. “Oi Tuan Datuak Bandaro. “Oi Tupai Janjang elok-elok parangai anak. diambiak malah Tupai Janjang. . 265 “Tuan Datuak Bandaro. Yang berkata si Linduang Bulan. kita besarkan anak ini. manyusulah ha! 18 Ibid. 305 nak manyusu. 50. andak kamanyusu? nak den manyusukan.

335 kalau bak caro iko parangai Tupai Janjang. banyak benar ulah kamu. sudah payah mandeh membesarkan. kini baitulah nan elok. dipecahnya. jahatnya berlebih-lebih. moh. “Oi Tuan Datuak Bandaro.Nan bakato Linduang Bulan. kita buang habis-habis. piring seonggok dihabiskannya. baik saya kasih makan. nan Tupai Janjang usah dibunuah. makan tu haa. kito buang habih-habih. inyo kan darah dagiang kito. segala tanaman dihabiskan oleh Tupai Janjang. hmm. dari hari baganti bulan.” 57 . haa elok-elok malah kalau manyusu tu!. kalau den pipihkan nasi lamo karajonyo. moh. “Manolah adiak Linduang Bulan.” Maka berkata Linduang Bulan. haa melompat pula lagi. dari hari berganti bulan. saya peluk. kini rancak saya kunyahkan dulu. mandecek pulo lai. banyak bana ulah waang. jangan dibunuh Tupai Janjang. hmm. 310 315 320 325 eh mengigit pula. menandehkan sama dengan menghabiskan. makan. indak patuik dipacah dipacahnyo. yang jari saya yang sudah kamu kunyah.” 345 19 Ibid. den suoki waang dahulu. mambari malu sajo karajonyo. piriang saonggok ditandehkannyo. ndak amuah ditunjuak diajari. ancak den agiah makan.. elok dicacang hiduik-hiduik. makan itu haa. mambenar saya ke hadapan Tuan. kalau seperti cara ini perangai Tupai Janjang tidak mau ditunjuk diajari. nan jari den nan lah ang kunyah. ijan dibunuah Tupai Janjang. inyo bakisa ka hilaman. kalau saya pipihkan nasi lama kerjanya..” 330 Pihak kepada Tupai Janjang. sudah Tupai Janjang. makan. sudah habis barang atas rumah. makan!. mambana den ka bakeh Tuan. . memberi malu saja kerjanya. membenar saya Tuan oi. jaeknya balabiah-labiah. makan. saya suapi kamu dahulu. lah abih barang ateh rumah. tidak patut dipecah. “Manalah adik Linduang Bulan. dia anak kandung kita. kini begitulah yang elok. 340 mahabih manandehkan karajonyo. “Oi Tuan Datuak Bandaro. den paluak. makan!. yang Tupai Janjang usah dibunuh. moh. kini acak den kunyahkan dulo. sudah saya peluk.” 56. elok dicencang hidup-hidup. alah Tupai Janjang. dia kan darah daging kita. moh. alah den paluak.eh mangigik pulo. melompat pula lagi. makan. dia berputar ke halaman.Nan bakato Datuak Bandaro. haa mandecek pulo baliak. haa elok-elok malah kalau menyusu itu. usah digigik pulo susu nantun!. Yang berkata Datuak Bandaro. inyo anak kanduang kito.” Sub-adegan ke-1 55. Pihak kapado Tupai Janjang. usah digigit pula susu ini. sagalo tanaman ditandehkan dek Tupai Janjang . lah payah mandeh manggadangkan. menghabis menandehkan19 kerjanya. mambana den Tuan oi.

yang sekarang kini. nan lah sampai di tapi rimbo. biapun waang indak pandai mangecek. 64. inyo manjanguak ka bawah. mambao ang ka parak kopi. lah sabulan kopi tak baliek. turutkan saya oleh kamu Tupai Janjang. mendengar kata ayah yang itu dia mencibir-cibir.” 62. Pihak kapado Datuak Bandaro. kalo den mintak baelok-elok. nan bajalan mandencek-mandencek. Pihak kepada Datuak Bandaro. iyo ka Datuak Bandaro . etan ka kabun kopi kito. turuikan den di ang Tupai Janjang. iya kepada Datuak Bandaro. rasa banyak yang sudah masak. nan sakarang iko kini. kito pai ka kabun kopi. kini elok saya curi anak ini. kini waden ang cibiakan. Sanan bakato Datuak Bandaro. sudah sebulan kopi tidak lihat. Pihak kapado Tupai Janjang. toh adalah sejenis kata ajakan yang artinya sama dengan marilah. Ibid. 360 365 370 375 380 385 390 Sana berkata Datuak Bandaro. kok sayang ang katoan sayang. kalau menurut hati saya. toh20 melah berjalan-jalan. satantang kato si Linduang Bulan. suaranya mencareceh-careceh21. tapi dek ang anak manusia. Tupai Janjang mairiang di balakang. Nan lah bajalan Datuak Bandaro. den minta batanang-tanang. “Manolah ang Tupai Janjang. “Manalah kamu Tupai Janjang. ndak ka amuah si Linduang Bulan. Berkata Datuak Bandaro.58. Nan bakato Datuak Bandaro. kita pergi ke kebun kopi. dia berjalan bergegas-gegas. kalau saya minta berelok-elok. setentang kata si Linduang Bulan. kapado anak Tupai Janjang. kini elok den cilok paja nangko. Mancareceh-mancareceh adalah ungkapan untuk menyatakan tingkah laku seekor tupai. kalau manuruik hati denai. Yang berkata Datuak Bandaro. Bakato Datuak Bandaro. kalau sayang kamu katakan sayang. 63. saya minta bertenang-tenang. 61. kato den kato nan elok . 59.. sana ke kebun kopi kita. membawa kamu ke kebun kopi. terpikir oleh dia masa itu. 20 21 350 355 Yang termenung Datuak Bandaro.” 60. dia melihat ke bawah. kata saya kata yang elok. suaronyo mancareceh-careceh. nyo bajalan bagageh-gageh. kepada anak Tupai Janjang. mandanga kato ayah nantun. Tupai Janjang mengiringi di belakang. “Manalah kamuTupai Janjang. waang tau dikato urang. . yang berjalan melompat-lompat.” Pihak kepada Tupai Janjang. “Manolah ang Tupai Janjang. kamu tahu dikata orang. yang sudah sampai di tepi rimba. raso banyak nan lah masak. “Manalah kamu Tupai Janjang. biarpun kamu tidak pandai bicara. “Manolah ang Tupai Janjang. tapikia dek nyo maso itu. toh melah bajalan-jalan. kini saya kamu cibirkan. iyo mancibia-cibia. tidak akan mau si Linduang Bulan. sadang inyo di kayu gadang. tapi karena kamu anak manusia. Nan tamanuang Datuak Bandaro.” Yang sudah berjalan Datuak Bandaro. sedang dia di kayu besar.

nan malengong suok jo kida. 395 harato urang harato awak. nan lah kanyang Tupai Janjang. ka mudiak indak bapaga. pangganti harato urang nan ang abihan. nakal kamu berkelebihan. melihat jagung dalam kebun. 68. Pihak kapado rang punyo ladang. hendak menurut kebun yang itu. inyo tahu kato manusia. dia menangis masa itu. nyo pai masuak rimbo. 410 415 420 Pihak kepada Tupai Janjang. ke mudik tidak berpagar. Pihak kapado Tupai Janjang. 22 saya sayang kepada kamu. lah jaleh diang tu?” 66. inyo manangih maso itu. pado den makan ang hiduik-hiduik. tinggallah badan di rimbo gadang. dia pergi masuk rimba. menghabiskan manandehkan kerja kamu.waden sayang ka bakeh ang. taraso lapa nan di paruik. berkirok berkikis22 kamu dari kampung ini. Bakirok bakikih merupakan kata majemuk untuk mengusir seseorang . baitu pulo mandeh ang. andak manuruik kabun nantun. pengganti harta orang yang kamu habiskan.” Yang sekarang kini. pihak kapado Tupai Janjang. pangganti barang urang nan pacah. gadang hati si Tupai Janjang. maliek jaguang dalam parak. Yang sudah sampai di tepi kebun. Mandanga kato ayah kanduang.” 400 Sub-adegan ke-2 65. lah bara piti den abih. yang sudah kenyang Tupai Janjang. takana mandeh kanduang diri. pengganti barang orang yang pecah. jahaik ang bakalabiahan. besar hati si Tupai Janjang. Nan sakarang iko kini. lalu dipanjek kayu gadang. nampaklah ladang nan sabuah. teringat ibu kandung diri. saya cencang lumat-lumat. mangecek sajo nan tak pandai. begitu pula mandeh kamu tapi perangai kamu tidak berubah-rubah. tinggallah badan di rimba besar. bakirok bakikih ang dari kampuang ko. ke hilir lebuh Tarantang. Nan lah sampai di tapi kabun. mahabih manandehkan karajo ang. pada saya makan kamu hidup-hidup. lalu melompat Tupai Janjang. sudah berapa uang saya habis. ADEGAN IV 69. Sub-adegan ke-3 67. lalu mandencek Tupai Janjang. ka ilia labuah Tarantang. tapi parangai ang indak barubah-rubah. terasa lapar yang di perut. jauh yang bukan alang-alang. yang menoleh kanan dengan kiri. dia makan sekenyang-kenyangnya. pihak kepada Tupai Janjang. lalu dipanjat kayu besar. 425 Pihak kepada orang punya ladang. bicara saja yang tak pandai. nampaklah ladang yang sebuah. inyo makan sakanyang-kanyangnyo. sudah jelas oleh kamu itu?” Mendengar kata ayah kandung. jauah nan bukan alang-alang. dia tahu kata manusia. harta orang harta kamu. 405 den cancang lumek-lumek.

71. 450 440 445 Pihak kepada Tupai Janjang. jagung sudah dionggokan untuk kita. untuang-untuang masuak dalam perangkok. karena perut terasa sudah kenyang. diambil jagung tengah kebun. kok untuangnyo takadie Allah. dionggokkan dalam perangkap. dua dengan suaminya Mak Hitam. Pihak kapado Mak Hitam. kalau untungnya takdir Allah. namun samalam-malam nantun. namun semalam-malam itu. nan mancilok si jaguang mudo. 435 rajuiklah binatang nantun. yang mencuri si jagung muda. .” 76. 430 yang bernama Mandeh Rubiah. 74. bakato pado Mak Hitam. elok bana urang nangko. binatang nan mamakan jaguang.“Apo binatang kok kironyo. Yang sekali ayam berkokok. terpikir oleh dia masa itu. dia tidur di atas kayu. duo jo lakinyo Mak Hitam.” Yang pulanglah Mandeh Rubiah. jaguang lah dionggokkannyo untuak awak. diungguakkan dalam pirangkok. Nan lah pulang Mandeh Rubiah. nyo mandencek ka dalam jaguang mudo. pai ka ladang mancaliak jaguang. nak lah sudah cando pirangkok. kini baitulah dek Mak Hitam. 465 pado awak bajariah-jariah. tapikia dek inyo maso itu.nan banamo Mandeh Rubiah. berkata pada Mak Hitam. yang memakan jagung muda. pergi ke ladang melihat jagung. binatang yang memakan jagung. kalau ada untung masuuk peranggggkaaaaaap. terlelap dia si Tupai Janjang. Nan takajuik si Tupai Janjang. dia melompat ke dalam jagung muda. teringat pula mencuri. rajutlah binatang yang itu. Lalu mandencek Tupai Janjang. pulang ka rumah jo Mak Hitam. waktu tiba dia di situ. mancaliak jaguang nan taonggok. 73. cukup kedua hari siang. nyo tidua di ateh kayu. 455 460 75. nan lah jago Tupai Janjang. dibuat perangkap masa itu.” 72. Nan sakali ayam bakukuak. cukuik kaduo hari siang. Pihak kepada Mak Hitam. talalok nyo si Tupai Janjang. untung-untung masuk dalam perangkap. nan mamakan jaguang mudo. “Apa binatang kok kiranya. takana pulo mamaliang. iya elok benar orang yang punya ladang pada kita berjerih-jerih.” baitu katonyo Mandeh Rubiah.” begitu katanya Mandeh Rubiah. Pihak kapado Tupai Janjang. yang sudah bangun Tupai Janjang. lalu mandencek maso nantun. Yang terkejut si Tupai Janjang. kok lai untuang masuaak pirangggkoooook. dibuek pirangkok maso nantun. elok benar orang ini. supayalah sudah seperti perangkap. diambiak jaguang tangah parak. kini begitulah oleh Mak Hitam. dek paruik taraso lah kanyang. pulang ke rumah dengan Mak Hitam 70. melihat jagung yang teronggok. iyo elok bana urang nan punyo ladang. 470 satu tibonyo di situ. “Iya elok orang ini. “Iyo elok urang ko. lalu melompat masa itu.” Lalu melompat Tupai Janjang.

24 Yang sudah datang Mandeh Rubiah. yang sekarang kini. ibo awak mambunuahnyo. kito bao pulang Tupai Janjang ko. . Yang berkata Mandeh Rubiah. 480 waang nan maabihkan yo? den bunuah ang kiniko.” 80. 475 sarato Mak Itam suaminya. nan takajuik si Tupai Janjang. den cakiak inyo sampai mati. 77. dan lain-lain. lah jaleh dek waang?” 78. melentingnya pegas sebuah perangkap apabila tersinggung sesuatu atau mangsa. ha… waden nan jariah-jariah ka parak. “ha…ha…. serta Mak Itam suaminya. 82. jan dibunuh tupai nangko. ya menangis si Tupai Janjang. 23 perangkap bingkeh23 hanya ada. “Tidak! Ini yang menghabiskan jagung kita Ada jelas? Akan dibawa pulang pula? Untuk apa dibawa pulang? saya cencang juga kini-kini. Pihak kapado Tupai Janjang.pirangkok bingkeh hanyo lai.” Yang berkatanya Mak Itam. yo manangih si Tupai Janjang. bingkeh adalah bingkas. Nan bakatonyo Mak Itam. “ha… ha… ha…. mandanga kato Mak Hitam. tumbuahlah sasa dalam diri.” 81. Nan lah datang Mande Rubiah. 485 490 495 500 505 510 24 Ibid. Nan tacangang Mandeh Rubiah. Tupai Janjang pandai menangis. Nan bakato Mandeh Rubiah. iba tiba di dalam hati. jangan dibunuh tupai ini. sudah jelas oleh kamu?” Pihak kepada Tupai Janjang. caliaklah dek Mak Hitam. hiba kita membunuhnya. ibo tibo di dalam hati. saya makan kamu hidup-hidup. mendengar kata Mak Hitam. kita bawa pulang Tupai Janjang ini. iko nan mamakan jaguang denai. tupai ini tupai keramat. lihatlah oleh Mak Hitam. baladang batanam jaguang. ha… saya yang susah-susah ke kebun. air matanya berderai-derai. nan sakarang iko kini. saya cekik dia sampai mati. “Indak!. dalam perengkapnya kalusuak panja. “Manolah Mak Hitam. takana bapak nan jo mandeh. Yang tercengang Mandeh Rubiah. dalam pirangkoknyo kalusuak panja. tupai nangko tupai kiramaik. “Manalah Mak Hitam. ini yang memakan jagung saya. teringat bapak dengan ibu. den makan ang hiduik-hiduik. hu… hu… 79. yang terkejut si Tupai Janjang. hu… hu…. pandai benar dia menangis. baa cubolah rasokan.” Pihak kepada Mandeh Rubiah. kamu yang menghabiskan ya? saya bunuh kamu kini. tumbuhlah sesal dalam diri. Lai jaleh ? Ka babao pulang pulo ? Untuak a dibao pulang ? Den cancang juo kini-kini.ha… bagaimana cobalah rasakan. berladang bertanam jagung. Kalusuah panja adalah kata majemuk untuk menyatakan perasaan yang berkeluh-kesah. Iko nan mahabihkan jaguang awak. Pihak kapado Mandeh Rubiah. aie matonyo badarai-darai. pandai bananyo manangih. Tupai Janjang pandai manangih.

tagali raso di Mandeh Rubiah.” 540 545 550 . diberi air tak diminumnya. bialah ang den bao tingga. “Manolah ang Tupai Janjang. jangan dibunuh Tupai Janjang. saya beri jagung. diberi jagung tak dimakannya.” Pihak kepada Tupai Janjang. kita pelihara baik-baik. Pihak kapado Mak Itam. dimasukkannya ke dalam kandang. molah den bao ang pulang. diagiah jaguang tak dimakannyo. bicara saja yang tak pandai. kalau litak den agiah nasi. namuah mati nyo baeko. dimasuakkannyo ka dalam kandang. mandanga kato Mandeh Rubiah. kalau hauih den agiah aie. melompat kepada Mandeh Rubiah. kalau lapar saya beri nasi. inyo mandencek maso nantun. kok untuang takadia Allah. indak makan indak minum. Pihak kepada Tupai Janjang. sabab tupai ko pandai manangih. bisa mati dia nanti. jan tupai ko kito bunuah. elok-elok kamu di dalam. “Manalah kamu Tupai Janjang. iko kandang ang. kalo manuruik ukuran denai. membenar saya ke Mak Hitam.” Lalu pulang dia masa itu. lah tibo nyo di tangah rumah.” 515 520 “O Tuan hanyo saya. tergeli rasa di Mandeh Rubiah. kito paliharo baiak-baiak.” 87. den agiah jaguang. 525 530 535 Tiba kasih Mandeh Rubiah. kalau menurut ukuran saya.. Pihak kapado Tupi Janjang. elok kito bao pulang. jangan tupai ini kita bunuh. Sub-adegan ke-1 85. mendengar kata Mandeh Rubiah. mandencek kapado Mandeh Rubiah. dimasukkan si Tupai Janjang. yang terpikir Mandeh Rubiah. Pihak kapado Tupai Janjang. kalau seperti ini Tupai Janjang ini. saya kaluarkanlah sebentar. mambana denai ka Mak Hitam . tupai ko mangarati kecek urang mangecek sajo nan tak pandai. elok dia dikeluarkan. Lalu pulang nyo maso nantun. nan tapikie Mandeh Rubiah. kalau haus saya beri air. 84. karena kuduknya kena cium. lalu dibukaknyo pirangkok. Tibo kasiah Mandeh Rubiah. inyo cium kuduak Mandeh Rubiah.“ 83. “Ha elok-elok di siko yo. sudah tiba dia di tengah rumah. elok kita bawa pulang. elok inyo dikaluakan. dek kuduak no kanai cium. dia cium kuduk Mandeh Rubiah. tupai ini mengerti bicara orang. “Ha elok-elok di sini ya. tidak makan tidak minum. marilah saya bawa kamu pulang. den kaluakanlah sabanta.” 86. kok untung takdir Allah. dia melompat masa itu.” Pihak kepada Mak Itam. ini kandang kamu. sebab tupai ini pandai menangis. biarlah kamu saya bawa tinggal. kalo bak nangko Tupai Janjang ko.“O Tuan janyo denai. lalu dibukanya perangkap. diagiah aie tak diminumnyo. dimasuakkan si Tupai Janjang. ambek dibunuah Tupai Janjang. elok-elok ang di dalam.

89. macam waang kini ko. Pihak kapado Tupai Janjang. 575 580 585 590 595 Sana berkata Mandeh Rubiah. melompat ke bahu Mandeh Rubiah. Sinan bakato Mandeh Rubiah. dek karano waang mangadangkan hati kami. jaan mancilok-cilok juo. jaan namuah mamintak-mintak. dibawa naik ke atas rumah. diambiak jaguang di tangan Mandeh Rubiah. di tapak tangan yang suka oleh dia makan. kamu sudah berusaha. 92. minta secara baik-baik. jangan anak mencuri juga. itulah usaha oleh kamu. Sinan bakato Mandeh Rubiah. kalau sekiranya perut lapar. mandencek ka bahu Mandeh Rubiah. awak nan mandapek labo sajo. jaan maambiak-ambiak lai. sebuah pinta dari Mandeh.” Pihak kepada Tupai Janjang. Pihak kapado Tupai Janjang. sugguahpun mamintak elok-elok. sabuah pintak dari Mandeh. diambiak jaguang nan mudo.” 93. barusaholah awak. besar hati kami dibuatnya. lalu dimakan maso nantun. kita yang mendapat laba saja. “Iya elok tupai yang ini. lah barubah parangai maso itu. memakan jagung di kebun orang. . gadang hati kami dibueknyo.” 570 91. orang yang berjerih. kini ndak usah ang masuak kuruangan lai. mintak sacaro elok-elok. iya sebenar pintar Tupai Janjang ini. jika disuruh dia pergi. diambil jagung yang muda. 91. jangan mengambil-ngambil lagi. mamakan jaguang di parak urang.” 555 Pihak kepada Tupai Janjang. 560 90. “Manalah anak Tupai Janjang. Pihak kapado Tupai Janjang. 565 “Iyo elok tupai nan ko. Apa akan makan ya? Apa makanlah. cubolah pikia dek ang Tupai Janjang. jikok disuruah inyo pai . itulah usaho dek ang. seperti kamu kini. inyo mandencek maso nantun. elok tupai ini. bepikirlah kamu sedikit. jaan anak mancilok juo. oleh karena kamu membesarkan hati kami. Sana berkata Mandeh Rubiah. jangan mencuri-curi juga.” Pihak kepada Tupai Janjang. urang nan bajariah. Lah dibao si Tupai Janjang. di tapak tangan nan katuju dek inyomakan. berusahalah kita. dikasih minum yang dengan makan. kalau sakironyo paruik lapa. elok tupai ko. cobalah pikir oleh kamu Tupai Janjang.88. kini tidak usah kamu masuk kurungan lagi. iyo sabana santiang Tupai Janjang ko. dibao naiak ka ateh rumah. “A a kamakan yo? Aa makanlah. tapi sabuah lai. “Manolah anak Tupai Janjang. sudah berubah perangai masa itu. diagiah minum nan jo makan. bapikialah waang saketek. Sanan bakato Mandeh Rubiah. dia melompat masa itu. lalu dimakan masa itu.. jangan mau meminta-minta. Sana berkata Mandeh Rubiah.” Sudah dibawa si Tupai Janjang. diambil jagung di tangan Mandeh Rubiah. sungguhpun meminta baik-baik. waang alah bausaho. tapi sebuah lagi.

. 600 Pihak di Mandeh Rubiah. Pihak kapado Tupai Janjang. 605 610 Lalu berkata masa itu. “Manalah kamu Tupai Janjang. alah patuah dirasokan. apalah binatang yang itu. dilihat kepada Tupai Janjang. sudah selamat ladang Mandeh Rubiah. nyo masuaklah ka dalam ladang. sudah sampai dia di ladang. nan nyo ambiak kain sirah. 615 620 625 Pihak kepada karo25 banyak. Lah tibo inyo di tangah ladang. Nan lah malam pulonyo hari. kok iyo ameh tahan uji. inyo baunduang-unduang kain putiah. waang lah lamo tingga di kami. habis lari karo yang banyak. nan salamaik parak Mandeh Rubiah. ke ladang jagung kita. Yang sudah malam pula hari. selarut selama ini. timbul akal semasa itu. yang dia ambil kain merah. kini pai ang ka parak. lah diambiaknyo kain putiah. dicaliak kapado Tupai Janjang. 94. kini pergi kamu ke ladang. yang sekarang ini kini. dia berundung-undung masa itu. nan sakarang iko kini. kok iyo masuak dek ang pangaja.Lalu bakato maso nantun. siang malam jaga oleh kamu.jikok ditagah inyo baranti. dia pergi pula ke ladang. nan lah siang candonyo hari. inyo pai pulo ka ladang. abih lari karo nan banyak. Sudah tiba dia di tengah ladang. 25 jika ditegur dia berhenti. nan baunduang jo kain sirah. 100. terkejut babi yang banyak. Sub-adegan ke-3 97. yang berundung dengan kain merah. salaruik salamo nangko. nyo baunduang-unduang maso itu. 99. kalau iya masuk oleh kamu pengajaran. yang selamat kebun Mandeh Rubiah. yang sudah siang sepertinya hari. takajuik babi nan banyak. apolah binatang nantun. dia berundung-undung kain putih. sudah patuh dirasakan. lah salamaik parak Mandeh Rubiah. “Manolah ang Tupai Janjang.” Pihak kepada Tupai Janjang. 630 635 Karo adalah sejenis binatang sejenis monyet yang berbadan kecil dan hidup di dalam hutan.Nan tapikia dek Mandeh Rubiah. larilah dia semuanya. sudah diambilnya kain putih. alah barubah parangai waang. larilah inyo kasadonyo. siang malam jago dek waang. Pihak kapado karo banyak. sudah berubah perangai kamu.” 96. kalau iya emas tahan uji. lah sampai inyo di ladang. tapikia dek inyo dalam hati. takutlah dia semuanya. dia masuklah ke dalam ladang. terpikir oleh dia dalam hati. Pihak di Mandeh Rubiah. kamu sudah lama tinggal di kami. Yang terpikir oleh Mandeh Rubiah. 98. takuiklah inyo kasadonyo. Sub-adegan ke-2 95. timbua aka samaso itu . ka ladang jaguang kito.

Ini merupakan falsafah bagi masyarakat Minangkabau yang lazim disebut falsafah Alam Takambang Jadi Guru. supaya Mandeh tunjuk ajari. contoh misalnya batang pisang. padahan adalah akibat. salodang ambiak ka niru. sekepal jadikan gunung. dengar oleh kamu elok-elok.” Sub-adegan ke-4 103. lah tingga samo jo kami. kalau tumbuh tiap menjadi anak. kaki tertarung inai26 padahan27nya. perangai sudah berubah. 104. pasan pituah urang tuo. sebuah pinta kepada kamu. pelajari oleh kamu.lah masuak pangajaran maso itu. bapikialah anak tantang itu. Alam nan takambang ko. mandencek duduak di muko Mandeh Rubiah. tumbuhnya sekeliling induknya. itu nan alam takambang jadi guru. palajari dek waang. itu yang alam terkembang jadi guru. danga dek ang elok-elok. Sebuah lagi oi anak kandung. sabuah pintak kapado ang. menjaga induk kerjanya. 660 665 670 Ibid. Lalu dipanggil Tupai Janjang. yang bernama anak batang pisang. kok tumbuah tiok manjadi anak . kamarilah ang duduak. manjago induak karajonyo.28 Alam yang terkembang ini. alam takambang jadikan guru. setitik jadikan laut. alam terkembang jadikan guru. kalau berjalan peliharalah kaki. berpikirlah anak tentang itu. 101. satitiak jadikan lauik.” 640 102. 28 Bagian ini bisa dibacakan dalam pidato-pidato adat.Pihak kapado diri waaang. contoh misalnyo batang pisang. sudah jelas oleh kamu itu?” Sebuah lagi ya anak kandung. sudah tinggal sama dengan kami. nak Mandeh tunjuak ajari. kok bajalan paliharolah kaki. lah jaleh dek ang tu?” 105. yang sekarang kini. mancaliak paliharolah mato. muluik taloncek ameh tantangannyo. 645 nan sakarang iko kini. “Manalah kamu Tupai Janjang. “Manolah ang Tupai Janjang. panceteh batang lintabung.Pihak kapado Tupai Janjang.Lalu dipangia Tupai Janjang. penakik pisau siraut. salodang ambil ke niru. inai adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa memerahkan kuku yang berfungsi untuk memberikan hiasan pada kuku. nan banamo anak batang pisang. kok bakato paliharolah lidah. melihat peliharalah mata. panceteh batang lintabuang.” Pihak kepada Tupai Janjang. Sabuah lai yo nak kanduang. 26 650 655 Pihak kepada diri kamu. Sabuah lai oi anak kanduang. mulut terlompat emas tantangannya. melompat duduk di muka Mandeh Rubiah. kalau berkata peliharalah lidah. tantangan. kemarilah kamu duduk. kaki tataruang inai padahannyo. parangai alah barubah. .” sudah masuk pengajaran masa itu. “Manalah kamu Tupai Janjang. “Manolah waang Tupai Janjang. panakiak pisau sirauik. Ini merupakan petuah yang sering diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih kecil. tumbuahnyo sabalik induaknyo . 27 Ibid. pesan pituah orang tua. sakapa jadikan gunuang.

baa awak mandaki? sasak angok ndak? itu pakaikan dek waang. itu untuk kawan sama besar. berkata dengan orang yang mulia. ado jalan nan malereng. kalau bicara dengan orang tua. ada jalan yang menurun. 685 itu namonyo jalan nan data. banyak jalan yang akan ditempuh. kok mangecek jo urang tuo. akan jadi pelajaran”. 29 30 “Adat kita hidup di dunia. 695 itu nan tataruang kaki namonyo. patah biko dibueknyo. 705 basuo jo urang tuo-tuo. bisa sajo awak turun. kok tacirubuah kaki ka dalam lubang. tapi ingek bana tu nak kanduang. ada jalan yang mendaki. berkata kepada yang kecil. bisa saja kita turun. awak basobaik samo gadang. “Bagaimana jalan yang mendatar ini. bersua dengan orang tua-tua.” Yang ke dua jalan mendaki. bicara dengan orang yang besar pada kita. “Yang dikatakan jalan mendaki. agak-i 30orang tersinggung. kalau tersinggung orang.” 107. tapi agak-i urang ka tasiingguang. . ada jalan yang melereng. disesakkan nafas kalau bicara. itu ka kawan samo gadang.Nan ka duo jalan mandaki. kalau tercebur kaki ke dalam lobang. basuo jo urang mulia-mulia. tapi ingatlah oleh kamu.” “Sudah itu jalan menurun. batu kecil bisa menurun. ado jalan nan mandata. itu yang tertarung kaki namanya. ado jalan nan manurun. jangan terlongsong-terlongsong29 betul. agak-i urang tasingguang. tapi ingeklah dek waang. di jalan yang datar banyak orang yang jatuh. itu namanya jalan yang datar.”Sudah itu jalan manurun. Agak-i adalah kira-kira perasaan orang supaya jangan tersinggung. kok tasingguang urang. hendaknya dalam kita bergaul ini. buliah mangecek sambarang sajo. nan jalan nan manurun ko banyak balubang-lubang. gimana kita mendaki? sesak nafas kan? itu pakaikan oleh kamu. ada jalan yang mendatar. bersua dengan orang mulia-mulia. begitu pula kita dalam bergaul. handaknyo dalam kito bagaua ko.“Adaik kito iduik di dunia. di jalan nan data banyak urang nan jatuah batu ketek bisa manurun. baitu pulo kito dalam bagaua. tapi agak-i orang akan tersinggung. lihat oleh kamu jalan menurun. ambil semuanya oleh anak kandung. bakato bakeh nan ketek. berkata usah lalu lalang saja. 710 715 Terlongsong-longsong maksudnya sama dengan jangan semena-mena. disasakkan angok kok mangecek. “Nan dikatokan jalan mandaki. dari nan gadang ka nan ketek. 680 ambiak sadonyo dek nak kanduang. ado jalan nan madaki. 675 banyak jalan nan kaditampuah. bakato usah lalu lalang sajo. caliak dek ang jalan manurun.” 106. “Baa jalan nan mandata ko. kita bersahabat sama besar. patah nanti dibuatnya. 690 ijan talongsong-talongsong bana. kok bakawan basamo gadang. yang jalan yang menurun ini banyak berlobang-lobang. ka jadi palajaran”. mangecek jo urang nan gadang pado kita 700 bakato jo urang nan mulia. boleh bicara sembarangan saja. kalau berkawan bersama besar. tapi ingat betul itu anak kandung. dari yang besar ke yang kecil.

bicara dengan orang yang disegani. sudah berubah tingkah lakunya. oi anak muda.kok lalu lalang sajo. ingek-i tu pulo dek waang. anak mudo.” 113. malawannyo bakeh kito. kalau bicara dengan orang sumando. siapa kamu ini kiranya.Adolah pado suatu pagi.anak mudo. ampun ambo Mandeh kanduang. lah barubah tingkah lakunyo. bicara dengan menantu. terkejut Mandeh Rubiah. berkata dia masa itu. jalan malereng nan kadipakai. “Oi…anak muda. bakato inyo maso itu. Manjawab anak mudo nantun. kama Tupai Janjang? dicaliak ado anak mudo tidua di sinan. kuasa Tuhan pun berlaku.” 108. pituah ini sering diberikan oleh niniak mamak kepada kemenakan dan lazim dibacakan waktu pidato adat. mangapa ada kamu disini. 740 745 750 755 Menurut Navis (1984:260). disiko tampaik Tupai Janjang. Pihak kapado Tupai Janjang. Pihak kapado Tupai Janjang. “Sudah tu jalan malereng itulah kato panuah sampiran. lah elok parangai maso itu. 111. barakaik pangaja Mandeh.” Menjawab anak muda itu. sudah elok perangai masa itu. mandanga kato Mandeh Rubiah. berkat pengajaran Mandeh. . ingat-i itu pula oleh kamu. melawan dia kepada kita. kemana Tupai Janjang? dilihat ada anak muda tidur di sana. ampun hamba Madeh kandung. Berkata Mandeh Rubiah. denai barubah jadi manusia. disini tempat Tupai Janjang. 31 720 kalau lalu lalang saja. Tupai Janjang indak ado lai. lai jaleh dek ang tu nak?” ADEGAN V 109. berkata kepada Mandeh kandung. koaso Tuhan pun balaku. “Oi…. bakato kapado Mandeh kanduang. 110. jalan melereng yang akan dipakai. itulah kata penuh sampiran. taraso bana pangajanyo. mangecek jo urang nan disagani. “Kalau itu Mandeh katokan. saya ini yang bernama Tupai Janjang. terasa betul pengajarnya.Bakato Mandeh Rubiah .” 112.31 ada jelas oleh kamu itu nak?” 725 730 735 Pihak kepada Tupai Janjang. dek diaja-i Mandeh Rubiah. “Manolah Mandeh kanduang denai. “Kalau itu Mandeh katakan. sia waang ko kironyo. mangecek jo mintuo. bicara dengan mintuo. mangko ado waang disiko. saya berubah jadi manusia. Tupai Janjang indak ada lagi. yang kecil itu bisa dia melawan.” “Sudah itu jalan melereng. kok mangecek jo urang sumando. oi…. mengecek jo minantu. denai ko nan banamo Tupai Janjang. takajuik Mandeh Rubiah. Adalah pada suatu pagi. nan kaciak tu bisa nyo malawan. oleh diajari Mandeh Rubiah. “Manalah Mandeh kandung saya.” Pihak kepada Tupai Janjang. mendengar kata Mandeh Rubiah.

Anak si kikih32 atas batu. dara. Sana berkata Mandeh Rubiah. 2. sanak sakitulah dahulu.4) 1.” 114.nan sakarang kini nangko. 115. jatuh ke bumi menjadi kaba. 10 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. dilepas dengan hati hiba. terbang ke langit |lah| terberita. 5 Kaiklah berkait |lah| si rotan sago. jatuah ka bumi manjadi kaba. Bandarlah orang |hai|hamba bandarkan. Anak si kikih ateh batu. “kamu kini bergelar Sutan Kurnia. sanak segitulah dahulu. |ai| sagalo kami anak mudo. kapado si Tupai Janjang. izinkan denai mandeh kanduang. baha adalah nama yang diberikan pada sejenis akar laut. Teks II PEMBUKAAN (bait ke-1 sampai bait ke. yakni akar bahar yang biasanya dibuat gelang tangan. Manolah niniak |lah nan| jo mamak. balam adalah sejenis burung yang lazim disebut burung balam. kami di rumah kalau keberangan.Sanan bakato Mandeh Rubiah. nak manamui bapak jo Mandeh denai. |hai| yang sudah terkait yang di akar bahar34. 32 33 Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. Ungkapan ini sering dibacakan oleh tukang kaba dan juga sering ditemui di bagian awal sebuah kaba. |ai| segala kami anak muda. anak balam33 di kebun lada. 760 yang sekarang kini. dilapeh malah Tupai Janjang. . Tibo di langik tabarito. si kikih adalah sejenis burung kecil.Tantangan Mandeh Rubiah. sarato serta sanak |lah| dengan saudara. bandalah |hai| urang si Koto Tuo.” Tentangan Mandeh Rubiah. ambo nak sujuik minta ampun. hendak menemui bapak dengan Mandeh saya. ikan di lauik balayangan. dilapeh jo hati ibo. hamba hendak sujud minta ampun. isuak nak kito ulang pulo. kaba disudahi sampai di situ. beri izin hamba berjalan. izinkan saya mandeh kandung. lah takaik di aka baha. sanak |lah| jo saudaro. Ibid. “waang kini bagala Sutan Karunia.” 765 770 Sanak ke Sumpu lah dahulu. Bandalah urang |hai| ambo bandakan. maaf jo rila nan kami pintak. bandalah |hai| orang si Koto Tuo.” PENUTUP 116. maaf dengan rila yang kami pinta. 3. 775 Supaya dua pantun seiring. kami di rumah kok kaberangan. 34 Ibid. dilepas malah Tupai Janjang. 117. besok hendak kita ulang pulang. dan terkutur. Kaiklah bakaik |lah| si rotan sago. |hai| nan lah takaik nan di aka baha tabang ka langik |lah| tabarito. bari izin ambo bajalan. kepada si Tupai Janjang. tibo di bumi jadi kaba. ikan di laut berlayangan. Kaik bakaik rotan sago.Sanak ka Sumpu lah dahulu. anak balam di parak lado.Nak duo pantun sairiang. kaba disudahi sampai di situ.

Setelah itu. |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro. belakang. oleh adik berilah terang. orang dusta kami tak serta. bumi nan alun |hai lah| baralun. |Oi| adolah pado suatu maso. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak seperti gerakan tari Minang dengan diiringi musik. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan. mengapa adik termenung juga. banda nak urang |lah| di Gumarang. seperti gerakan menari. |oi| orang yang besar |lah| masa itu.kaba |lah| urang kami kabakan. pencerita berangsur-angsur pula berdiri dengan gerakan tangan yang sama. “Dik kanduang si Linduang Bulan. dek adiak barilah tarang. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai urang nan elok |lah| maso itu. 4. bandar anak orang |lah| di Gumarang. |oi| bermuka rancak rambut terurai. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. Kemudian. |Oi| hadaplah diri dua yang itu. Banda |lah| urang kami bandakan. berdua dengan Puti |lah| si Lindung Bulan. 30 |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. pencerita dalam posisi duduk. 6. 25 |oi| bamuko rancak rambuik taurai. |oi| urang nan gadang |lah| maso itu. saluang dibunyikan yang diikuti dengan tepuk tangan seorang penonton. supaya senang dalam hati sejuk dalam pikiran. “Dik kanduang si Linduang Bulan. Ayunan tengan itu bergerak ke depan dan ke belakang mengikuti irama dendang TJ. tersebut gerangan Datuak Bandaro. urang duto kami tak sato. |hai| bumi yang antah barantak. kaba |lah| orang kami kabakan. kaba |lah| orang ada kami kabakan. pencerita beransur-ansur mencari posisi jongkok dengan terus bergerak mengayunkan tangannya. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang.” . nak sanang dalam hati sajuak dalam kiro-kiro. 15 (Pada awalnya. |Oi| adalah pada suatu masa. 8. 20 (Teks bait ke-5 sampai bait ke-8. Bandar |lah| orang kami bandarkan. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. |oi| urang nan kayo suduik-basuduik. tasabuik garan Datuak Bandaro. lah sapuluah tahun barumah tanggo. |Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. bumi yang belum |hai lah| beralun. |oi| anak yang tidak |lah| dapat juga. Pencerita berjalan ke depan. 35 manga adiak tamanuang juo. dan kiri dengan terus mendendangkan teks) .” |Oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. 7.) ADEGAN I |5. kanan. |oi| mangana nasib |lah| maso itu. Hadap ke |lah| diri |lah|si Puti Linduang Bulan. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. |Oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. |Oi| adoklah diri duo nantun. |oi| orang yang kaya sudut-bersudut. |hai| bumi nan antah barantah. 9. orang yang elok |lah| masa itu. Pencerita waktu itu. kaba |lah| urang lai kami kabakan. sudah sepuluh tahun berumah tangga. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan.

mendengar Tuan yang seperti itu. musik tidak dibunyikan. |Oi| baralah jauah |oi| nan bajalan. . |oi| teringat kebun |lah| masa itu. itu yang saya menungkan juga. padiah di raso badan denai. |oi| taraso latiahlah si Linduang Bulan. 40 |Oi| mendengar kata Datuk Bandaro. “Ampunkan saya Tuan kandung. dipangia pulo |lah| si Linduang Bulan. Sudah hampir tiba |oi|gerangan di kebun. Dialog diucapkan dengan menirukan suara perempuan yang sedang sedih karena dia belum mempunyai anak. Sudah |nan| berjalanlah masa itu. |Oi| berapalah jauh |oi| yang berjalan. Waktu dialog. Lah ampia tibo |oi| garan di kabun. pulang maklum kapado Tuan. anak nan indak dapek juo. |oi| tabik pangana Datuak Bandaro. pulang maklum kepada Tuan.) 12.Lalu bakatolah si Linduang Bulan. 13. seperti orang yang menyembah. Pencerita mengucapkan teks dengan berakting seperti seorang suami yang berbicara kepada istrinya. kito bajalan di hari paneh. itu nan denai manuangkan juo. sana termenunglah si Linduang Bulan. anak yang tidak dapat juga. mandanga Tuan nan bak kian. “Ampunkan saya Tuan kanduang.(Bait ke-9 merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan berdiri. |oi| terbit pikiran Datuk Bandaro. Mandanga katolah si Linduang Bulan. 60 Sudah |kok| tiba |oi| masa itu.Lah |nan| bajalanlah maso itu. “Ampunkan denai Tuan kanduang. teks didendangkan oleh pencerita dengan tetap diiringi musik dan tepuk tangan dengan posisi berdiri. pedih di rasa badan saya.” 45 (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-11 dengan posisi duduk. |oi| sinan tasintaklah si Linduang Bulan. kita berjalan di hari panas. ampun baribu kali ampun. 15. lah jauah kito nan bajalan. |oi| takana kabun |lah| maso itu. sapuluah tahun barumah tanggo . Sub-adegan ke-1 14. 50 Mendengar katalah si Linduang Bulan. “Ampunkan denai Tuan kanduang. Pada bait ke-15. pencerita mendendangkan teks dengan posisi duduk sambil berakting memperlihatkan keletihan) . dan berakting.) 11. sudah jauh kita yang berjalan.) 10. |Oi|mandanga kato Datuak Bandaro. |Oi| lalu bakatolah si Linduang Bulan. |Oi| lalu berkatalah si Linduang Bulan. (Pada bait ke-12 sampai bait ke-14. (Pencerita bergerak kembali dengan mendendangkan teks yang diiringi oleh musik serta tepuk tangan. sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. |oi| sana tersentaklah si Lindung Bulan. sepuluh tahun berumah tangga. Lah |kok| tibo |oi| maso itu. ampun beribu kali ampun. |oi| terasa letihlah si Linduang Bulan. |oi| sanan tatagunlah Datuak Bandaro. 55 dicaliak-caliak |nan| kabun nantun. dipanggil pula |lah| si Lindung Bulan. dilihat-lihat |nan| kebun yang itu.” Lalu berkatalah si Linduang Bulan. 16. menundukkan kepala. |oi| sana tertegunlah Datuak Bandaro.

lalu diberikan ke Puti kini. |oi| tangan bajari |lah| Datuak Bandaro. dicari malah |ko| sumua kini. merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita. aia nan indak |lah nan| ko ado. saya hendak minum hanya kini.paneh nan kini angek ko bana. Lamo |lah| lambek |oi| garan di kabun 90 |oi| lah nampak kini |oi lah| nan saikua lah nampang sikua |lah| si Tupai Janjang lah nan malompeklah di maso itu. Pencerita langsung memperagakan seolah-olah LB yang minum) . |oi| lalu disauaklah aia nantun.” (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-16 dengan berakting. saya hendak minum yang di belakang. Sesudah mengucapkan dialog itu. Dik kandung si Linduang Bulan. |oi| lalu minum |lah| si Lindung Bulan. pencerita langsung minum. Pencerita berakting sambil menundukkan kepalanya seolah-olah melihat sumur) . |oi| sudah tampak kini |oi lah| yang seekor. seperti seorang perempuan berbicara dalam kondisi keletihan. tolong Tuan carikan air. Mandanga kato |nan| si Linduang Bulan. teks didendangkan oleh pencerita. dicari pulo sumua nan kaduo. |oi| lalu dicarilah masa itu. sumua nan kaduo lah kariang pulo. rangkungan kariang tu dek Tuan. |oi| tangan berjari |lah| Datuak Bandaro. “Dik kandung si Linduang Bulan. |oi| lalu dicarilah maso itu. Dialog ini adalah dialog DB. Sebagian teks bait ke-19. iko lah aia nan ko kini. minumlah Adik yang dulu. menari sambil sedikit melompat untuk (Pencerita mendendangkan bait ke-20 di atas.) ADEGAN II 20. lalu diagiahkan ka Puti kini.” Mendengar kata |nan| si Linduang Bulan. Lama |lah| lambat |oi| gerangan di kabun. 18. kehendak boleh pintak berlaku. “Ko lai sumua. sudah yang melompatlah di masa itu. Sumua nan katigo |lah| maso itu. jari dirabalah masa itu. sumur yang kedua sudah kering pula. |oi| lalu ditimbalah air yang itu. 70 jari direseklah maso itu. ini sudah air yang ini kini. Dik kanduang si Linduang Bulan. iko lai sumua iko dek Adiak. teks didendangkan oleh pencerita dengan berdiri sambil menari. denai nak minum hanyo kini. Dicari sumua nan partamo. kemudian didialogkan. 75 kandak buliah pintak balaku. Dicari sumur yang pertama. denai nak minum nan di balakang. 17. kerongkongan kering itu oleh Tuan.” (Pada awal bait ke-17. Sumur yang ketiga |lah| masa itu. dicari sudah |ko| sumur kini. sudah tampak seekor |lah| si Tupai Janjang. dicari pula sumur yang kedua. minumlah Adiak nan dulu. dengan menggambarkan tingkah tupai) .” (Pada bait ke-18 dan sebagian bait ke-19. 85 “Dik kanduang si Linduang Bulan.” 65 panas yang kini hangat ini benar. |oi| lalu minum |lah| si Linduang Bulan. . air yang tidak |lah nan| ini ada. ini ada sumur ini oleh Adik. tolong Tuan carikan aia. “Ini ada sumur.” 80 19.

“Dik kanduang si Linduang Bulan. manalah Tuan yang hanyo saya. |oi| habis dicuci muka Linduang Bulan. |Oi| lalu diambil yang air sumur. tadi Adiak nan lah minum. lalu diambiaklah mangko kayu. tadi Adik yang sudah minum. |oi| lalu diambillah air yang itu. Lalu ko sadiahlah si Linduang Bulan. diambil air |oi| lalu di minum. Sesudah itu. |Ha| didekati malah |lah| si Tupai Janjang itu. 23. manolah Tuan nan janyo denai. pencerita mendendangkan dengan suara yang sedih. 22. 115 Sudah |nan| kini dekat |lah| masa itu. Hal itu diperagakan oleh pencerita dengan memegang kepalanya) . 105 (Pencerita mendendangkan bait ke-24 dengan berdiri dan menari. ibarat seorang ibu yang sedang menangis karena anaknya dipukul. kini ko minum Datuak Bandaro. 95 lah ka dibunuah si Tupai Janjang.21. Adiak usah manangih juo. Tuan ndak mambunuah si Tupai Janjang indak elok Tuan baitu bana. Manga Tuan saburuak itu niak kini. sepuluh tahun berumah tangga. Pancuci mukolah si Linduang Bulan. Adik jangan menangis juga. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. anak yang tidak dapat juga. 24. 25. |ha| lalu dilihat |oi| si Tupai Janjang. Mengapa Tuan seburuk itu niat kini. |oi|terbit pikiran |lah|si Linduang Bulan. tidak elok Tuan seperti itu. Pencuci mukalah si Linduang Bulan. (Pencerita mendendangkan bait ke-26 dengan berdiri sambil menari yang diiringgi musik dan tepuk tangan) . |oi| tabik pangana |lah| si Linduang Bulan. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan.” 110 “Dik kandung si Linduang Bulan. (Pencerita mendendangkan bait ke-21 sampai bait ke-23. Mengapa kini sedih |lah| si Linduang Bulan. ibalah saya yang masa itu. anak nan indak dapek juo. “Ampun kan saya Tuan kandung. Pada bait ke-22. pencerita minum kembali) . |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu.“Ampun kan denai Tuan kanduang. lalu berkatalah Datuak Bandaro. lalu diambillah maka kayu. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu. kini sedang minum Datuak Bandaro. |Ha| didakek malah |lah| si Tupai Janjang nantun. 27. mengapa dibunuh |lah| si Tupai Janjang. diambiak aia |oi| lalu di minum. Manga ko sadiah |lah| si Linduang Bulan. kini saya minum pula. 100 lalu bakatolah Datuak Bandaro. Tuan hendak membunuh si Tupai Janjang.” (Pencerita mengucapkan dialog DB pada bait ke-25. 120 sapuluah tahun barumah tanggo. sudah akan dibunuh si Tupai Janjang. . pencerita meminum air) . mangga dibunuah |lah| si Tupai Janjang. 26. Sesudah itu. kini denai ka minum pulo. ibolah denai nan maso itu. |ha| lalu dicaliak |oi| si Tupai Janjang. Lah |nan| ko dakek |lah| maso itu. Lalu kini sedihlah si Linduang Bulan. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua.

|oi| lamalah lambat gerangan di jalan. 145 |oi| surau nan condong |hai| condong ka Barat. 36 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. |Oi| lamalah lambat gerangan di kebun. lalu ditanuanglah36 masa itu. kemudian sujud menyembah dan berakting seperti seorang istri memohon dan berharap kepada suaminya) . 35 Lalu berkata |hoi lah| Linduang Bulan. bia sarupo Tupai Janjang. |oi| surau yang condong |hai| condong ke Barat. apalah tabir mimpi yang itu. 135 raso |lah| mamaguiklah si matohari. apalah tujuan |hai| mimpi ini habis. Lah nan ka Bonjo |lah| maso itu. sudah tiga malam masa itu kini. sudah yang bermimpilah si Linduang Bulan. |Oi| lamolah lambek garan di kabun. sayalah bermimpi |hai| lah tadi malam.kok lai pintak nangko buliah. Sudah tiba malam gerangan di rumah. Lah tibo malam garan di rumah. biar serupa Tupai Janjang. |oi| mimpi nan habih |oi| hari lah siang. tanuang adalah perbuatan untuk meramalkan atau mengetahui sesuatu yang tidak terlihat. asal ada saya dapat anak. berdua dengan diri Datuk Bandaro. rasa |lah| memeluklah si matahari. apolah arah |hai| mimpi ko habih. 130 lah nan sahari |haa| lah duo hari. Sudah yang ke Bonjol |lah| masa itu. Menurut Amir (2003:55). orang keramat |lah| hidup-hidup.. |oi| lamolah lambek garan di jalan. Sub-adegan ke-2 32. 29. urang kiramaik |lah| hiduik-hiduik. lah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. Sub-adegan 1 28. |oi| raso memangkulah itu bulan. (Pencerita mendendangkan bait ke-28 dan bait ke-29 dengan berdiri dan menari) . apalah mimpi |lah| si Linduang Bulan. lalu dicarilah orang malin35. apolah mimpi |lah| si Linduang Bulan. 31. |oi| mimpi yang habis |oi| hari sudah siang. apolah tabir mimpi nantun. lalu dicarilah urang malin. (Pencerita mendendangkan teks bait ke-30 dengan duduk dan berakting untuk memperlihatkan memeluk matahari dan memangku bulan. denailah bamimpi |hai| lah tadi malam. . lah tigo malam maso tu kini. Hal ini dilakukan waktu mendendangkan rasa memeluk bulan dan memangku matahari) . orang yang berilmu dan juga bagian dari gelar adat. Lalu bakato |hoi lah| Linduang Bulan. baduo jo diri Datuak Bandaro.” (Bait ke-27 di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita. lah nan bamimpilah si Linduang Bulan. |oi| raso mamangkulah tu bulan. termasuk kelompok orang Nan IV jinih. Pencerita awalnya berdiri. lalu disebutkan kepada Datuak Bandaro. asa lai denai dapek anak. sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. lalu ditanuanglah maso itu. Kegiatan ini dilarang dalam syariat agama Islam karena tergolong syirik.” 125 kalau ada pinta yang boleh. 30. |Oi| raso bamimpilah maso itu. 140 |Oi| rasa bermimpilah masa itu. sudah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. lalu disabuik ka Datuak Bandaro.

apo nan mintak Adiak ko kini. hati nan sananglah maso itu. aduh aduh.. Waktu mendendangkan bait ke-32 dengan posisi duduk sambil tetap mengayunkan tangan mengikuti irama dendang yang diiringgi bunyi musik) . kini sudah mengandung maka Adik. sepuluh tahun berumah tangga. diminta air |hai| ke Linduang Bulan. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. anak yang tidak dapat juga. |Oi|sudah mengandunglah si Linduang Bulan. lah nan duo bulan garan manganduang.aduh aduh.sakit.. Adik merasa sakit juga.. pada bait ke-34 dengan sedikit melompat karena kegembiraan.sakit. |Oi| lah manganduanglah si Linduang Bulan. |oi| baralah sanang hati Linduang Bulan . “Dik kanduang si Linduang Bulan. 34.sanan bakatolah Datuak Bandaro. 35. sakik. taraso sakiklah si Linduang Bulan.” 165 Dari sehari |oi| gerangan mengandung. |ha| lalu diambiaklah aia nantun.” (Pencerita pada bait ke-36 dan bait ke-37 berakting dengan merintih serta memegang perut dan pinggangnya. terasa haus Datuak Bandaro. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung. |oi|apalah gerangan |lah| takwil mimpi. Ssesudah itu. “aduh. sudah yang dua bulan gerangan mengandung jalan berubahlah yang maengkang37. diminta aia |hai| ka Linduang Bulan. 155 |Oi| sudah yang |ko| pulang Datuak Bandaro. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. sana berkatalah Datuak Bandaro. maengkang merupakan jalan seorang ibu yang lagi hamil. |oi| berapalah senang hati Linduang Bulan. Lah tigo bulan sudah limo bulan garan manganduang. (Pencerita mengambarkan DB pulang. kembali mendendangkan bait ke-36) . sudah delapan bulan perut tambah besar. . 36. (Pencerita mendendangkan bait ke-31dengan posisi berdiri. Adiak maraso sakik juo. anak nan indak dapek juo. |oi| apolah garan |lah| takwia mimpi. jalan barubahlah nan maengkang.” Ibid. “aduh aduh.|Oi| lamolah lambek Datuak Bandaro. kini lah manganduang mako Adiak. sapuluah tahun barumah tanggo .. Hal ini dilakukan supaya seperti seorang ibu yang sedang mengandung) .. Hal ini dilakukak untuk memberitakan istrinya yang akan mengandung) . |ha| lalu diambillah air yang itu. |Oi| lah nan |ko| pulang Datuak Bandaro. |ha| disebut malah |ha| takwil mimpi. Dari sahari |oi| garan manganduang. sakik. terasa sakitlah si Linduang Bulan. |Oi| lamalah lambat Datuak Bandaro. taraso auih Datuak Bandaro. hati yang senanglah masa itu. apa yang minta Adik kini.aduh. 160 (Pencerita minum air pada bait ke-35. lah nan sapakan |oi| lah nan sabulan. lah lapan bulan paruik tambah gadang.” 37 170 “Dik kandung si Lindung Bulan. Sub-adegan ke-3 33. 38.. 37. sudah yang sepekan |oi| sudah yang sebulan. 150 |ha| disabuik malah |ha| takwia mimpi.

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan pencerita dengan suara yang dibesarkan supaya terdengar berwibaya) . 39. Basadiah-sadiahlah si Linduang Bulan, 175 tibo nan cameh dapek tu maa, “Aduuh sakiik aduah saakiik, minum lah ciek dulu Tuan oi.” Bersedih-sendihlah si Linduang Bulan, tiba yang cemas dapat itu, “Aduuh sakiit aduuh saakiik, minum lah satu dulu Tuan oi.”

(Pada bait ke-39, diperagakan oleh pencerita seperti seorang ibu yang mengerang kesakitan waktu sedang hamil tua. Sesudah itu, pencerita minum kembali) . 40. Lah lapan bulan |oi| garan menganduang, lah nan sambilan bulan nyo manganduang, 180 paruik batambahlah sakik juo. 41.|Oi| lalu dipanggia dukun nan partamo, lalu nyo reseklah si Linduang Bulan. Sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung, sudah yang sembilan bulan dia mengandung, perut bertambahlah sakit juga. |Oi| lalu dipanggil dukun yang pertama, lalu dia rabalah si Linduang Bulan.

(Pencerita pada bait-40, bergerak dalam kondisi berdiri, kemudian berakting seperti terjatuh akibat menahan kesakitan. Pada bait ke-41, pencerita berakting seperti seorang dukun yang sedang memeriksa kehamilan) . 42. “aduuah aduuah…. Sakiik…., aduuh sakiik…..” “aduuah aduuh…. Sakiit……, aduuh…..sakiit……”.

(Bagian teks di atas merupakan rintihan Linduang Bulan yang dilakukan oleh pencerita dengan berakting sambil merintih seperti orang yang sedang menahan kesakitan) . 43. “Dik kanduang si Linduang Bulan, dicaliak kini ko codo sia? ambo resek dulu.” 185 “Dik kandung si Linduang Bulan, dilihat kini seperti siapa? saya raba dulu.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita untuk menghibur LB. Hal ini dilakukan supaya dapat mengurangi rasa sakit yang diderita LB) . 44. “Ampunkan denai Datuak Bandaro.” “Ampunkan saya Datuk Bandaro.”

(Dialog di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita dengan terbata- bata) . 45. “Dicaliak kini bini manganduang.” “Dilihat kini istri mengandung.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita juga dengan terbata-bata) . 46. “Tapi….. anak…ndak.ka lahia kini, anam bulan lai ka lahia.” 190 “Tapi…..anak….tidak akan lahir kini, enam bulan lagi akan lahir.”

(Bagian teks yang ke-46 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara ketakutan) .

47. Dukun kapunduang lah salapan bulan, lah sambilan bulan bini den manganduang, kabatambah anam bulan lai.”

Dukun kepundung38 sudah delapan bulan, sudah sembilan bulan bini saya mengandung akan bertambah enam bulan lagi.”

(Dialog DB pada bait ke-47, diucapkan oleh pencerita dengan cara berakting dan suara yang keras sehingga mengambarkan rasa kesal kepada Dukun karena dikatakan istrinya belum juga bisa melahirkan) . 48. Lalu dicari dukun nan kaduo, 195 |oi| dukun kaduo |oo| sarupo itu, |oi| lalu di datang dukun nan katigo, |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Lalu dicari dukun yang kedua, |oi| dukun kedua |oo| seperti itu, |oi| lalu di datang dukun yang ketiga, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pencerita mendendangkan bait ke-48, dengan berdiri dan menari sambil berjalan) . 49. “Batanang dulu yo! kok lah dapek aia ko ambo minum gai dulu.” 50.”Ampunkan denai Datuak Bandaro, kalau dicaliak nan ko kini.” “Tenang dulu ya! kalau sudah dapat air ini saya minum dulu.” “Ampunkan saya Datuak Bandaro, kalau dilihat yang ini kini.”

200

(Bagian teks yang ke-49 dan ke-50, merupakan dialog dukun yang diucapkan oleh pencerita sambil memperlihatkan seolah-olah memeriksa kehamilan LB. Pada bait ke-49, pencerita mengucapkan dialog itu kemudian minum) . 51. “Aaa duuh saakiik….. saakiik.” “Aaa duuh saakiit…..saakiiit.”

(Rintihan LB pada bagian teks ke-51, dilakukan oleh pencerita dengan akting seperti orang yang akan melahirkan) 52. “Batananglah dulu Linduang Bulan.” “Tenanglah dulu Linduang Bulan.”

(Dialog DB pada bagian teks ke-52 diucapkan oleh pencerita dengan suara seperti orang yang sedang membujuk istrinya. Hal ini dilakukan supaya LB tabah dalam menahan rasa sakitnya) . 53. “Iyoo… sakiik iko Dukun.” 205 “Iyaa….sakiit ini Dukun.”

(Bagian teks ke-53 merupakan rintihan LB yang dilakukan oleh pencerita sambil mengurut-urut perut dan pinggangnya) . 54. “Iyo itu nan kamalaian, ampunkan denai Datuak Bandaro, tolong carikan talua nan sabuah, aia putiah nan sagaleh, kito agiah salusuah nangko Linduang Bulan, 210 untuang kok capek nangko laia”.
38

“Iya itu yang akan melahirkan, ampunkan saya Datuak Bandaro, tolong carikan telur yang sebuah, air putih yang segelas, kita berikan selusuh ini Linduang Bulan, untung kalau cepat ini lahir.”

Kepundung diucapkan oleh pencerita untuk mengungkapkan kekesalan kepada dukun

(Dialog pada bagian teks yang ke-54, merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita untuk menyuruh DB mencari telur dan selusuh agar LB cepat melahirkan. Hal ini diucapkan sambil duduk dengan cara menyembah) . 55. Alah ko tibo nan barang nantun, |ha| lalu dipacahlah talua nantun, diambiak malah aia sagaleh, |ha| dicampua-campualah maso itu, 215 |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Sudah kini tiba yang barang yang itu, |ha| lalu dipecahlah telur yang itu, diambil malah air segelas, |ha| dicampur-campurlah masa itu, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pada bait ke-55, didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan menari sambil memperagakan memecah telur) . 56. “Aduuh sakiik… Tuan ampun Tuan….” “Aduuh sakiit…Tuan ampun Tuan….”

(Bagian teks yang ke-56, merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang kesakitan) . 57. “A…. iko Linduang Bulan iko ado pilusuah.” “A….ini Linduang Bulan ini ada sisuluh.”

(Bagian teks yang ke-57 merupakan dialog Dukun yang diperagakan oleh pencerita sambil memegang gelas) . 58. “Aduuh aduuh..sakiik Tuan ai..” 220 “Aduuh aduuh.. sakiit Tuan ai…”

(Bagian teks di atas merupakan rintihan LB. Pencerita merintih sambil berakting dengan cara mengerang seperti orang kesakitan dengan membungukkan badannya) 59. “Iko nan pilusuah Tuah. minumlah yo…!” “Ini yang silusuh Tuan. minumlah ya…!”

(Pencerita mengucapkan dialog dukun pada bagian teks ke-59, dengan memperagakan seolah-olah memberikan minuman kepada LB) . 60. “Aduuh lah sakiik lah Tuan yooi.” “Aduuh sudah sakiit sudah Tuan yooi.”

(Bagian teks ke-60 adalah rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang yang kesakitan) . 61. “Iyo itu nan manganduang, banyaklah mangucap.” 225 “Iya itu yang mengandung banyaklah mengucap.”

(Bagian teks ke-61 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang berwibawa untuk menggambarkan supaya LB tetap tabah) . 62. “Aduu..h sakii….k… ndak …. aduu..h sakiik……” “Aduuh…sakii….t….ndak….. aduu..h sakiik…..”

“Aaa…. 68. 230 Yang sudah ini lahirlah si Tupai Janjang.. Lalu teringat |a| masa di kebun. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. Tupai Janjang?” (Bagian teks yang ke-67 di atas merupakan ucapan DB yang kaget karena melihat anaknya yang lahir seperti TJ. 70.h sakiit aduu…ah…” (Pada bagian teks yang ke-64. 65.. pinta berlakulah hanya ada. |hai| jika diminta sudah masa itu. 67. pintak balakulah hanyo lai. merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegak perut seperti orang kesakitan) . . |Yo| anak barupo |lah| si Tupai Janjang. lantai berlubang.” (Bagian teks di atas merupakan ucapan dari DB yang diucapkan oleh Pencerita dengan suara sedih) . sarupo tupai.” “Eaa……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks di atas untuk menggambarkan bahwa anak LB sudah lahir) .h sakiik adu….h sakiit aduu…. serupa tupai. |a| lalu dilihatlah anak yang itu. ADEGAN III 66. 69. “Lah ampia ko kamahaa.” “Anak ada. Lalu bakato Datuak Bandaro.” “Sudah hampir ini haa.(Bagian teks ke-62 merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegang perut dan pinggangnya) .ah…” “Aduu…. |a| lalu dicaliaklah anak nantun. 63. Nan lah ko laialah si Tupai Janjang |oi| tibo di lantai. |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. Tupai Janjang?” “Aaa…. dengan suara tersedu-sedu seperti orang menangis) . |Ya| anak berupa |lah| si Tupai Janjang.h sakik aduu…. |hai| jikok diminta lah maso itu. Hal itu ditampilkan oleh pencerita dengan mata terbelalak) . 235 |Ha| kini nan sasa nan dapek lai. “Aduu…. “Eaa……. Lalu taingek |a| maso di kabun. 240 Lalu berkata Datuak Bandaro..” (Bagian teks yang ke-63. |hai| sasa kudian indak baguno. merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan mimik penuh kecemasan) 64. |Ha| kini yang sesal yang dapat lagi. lantai balubang. (Bait ke-68 didendangkan oleh pencerita sambil bergerak dengan memegang kain di tangannya seolah oleh mengambarkan bayi yang sedang digendong) . “Anak lai. (Pencerita mendendangkan bait ke-70. dengan berdiri sambil menari) . |hai| sesal kemudian tidak berguna. |oi| tiba di lantai. (Pencerita mendendangkan bait ke-67.

anak sigiang-giang rimba41. Hal ini dilakukan pencerita dan menjadikan selendangnya sebagai properti untuk menggambarkan anak yang sedang digendongnya) . tabiaklah bangih Datuak Bandaro. . “Usahlah mangigik-mangigik juo Yuang. itu tukang saluang limo minik .” 265 “Nak kandung si Tupai Janjang. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. perangai nakal |lah| masa itu. lah tumbuah diri batambah gadang. sudah minum ya….” (Dialog bait ke-74 adalah dialog DB kepada TJ yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang lantang sehingga menggambarkan DB sedang marah) . haus ya? yo menangis juga. 74. anak bincacak anak bincacau. parangai jaek |lah| maso itu.? ko aia ha. waktu mengucapkan dialog baris terakhir bait di atas. apo harato lah diambiaknyo.yo. Kemudian. dilakukan oleh pencerita seperti seorang ibu yang menyusukan bayinya. apa harta sudah diambilnyo. sudah tumbuh diri bertambah besar. ya. selendang itu dilempar seolah-olah DB membuang anaknya) . hauih? Ndak baraia? ndak baraia..! janganlah melompat-lompat juga. (Pencerita mendendangkan bait ke-73 sambil bergerak dan terus memegang selendang. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. lah minum yo…. ko memeh aa…ko meh haa.! 250 usahlah malompek-lompek juo.71. usahlah malempek-lompek juo aa. kini bakirolah ko kini. tidak bisa hembus salung lagi. boleh ke rimbalah kau kini. Sub-adegan ke-1 73. “Nak kanduang si Tupai Janjang. buliah ka rimbolah kau kini. usahlah melompat-lompat juga aa. “Ai……” “Ai……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks ke-71. terbitlah bengis Datuak Bandaro. seperti suara seekor anak tupai. 41 Ungkapan yang biasa diucapkan dalam kaba untuk menyatakan anak yang tidak mempunyai etika dan biasanya disampaikan dengan nada keras dan marah.. 39 40 Yuang adalah sebutan untuk anak laki-laki di Minangkabau Memeh adalah ucapan yang biasa dikatakan oleh ibu pada waktu akan menyusui bayinya. 245 hauui yo? yoi manangih juo. 72. ini memeh40 aa… ini meh haa.” “Janganlah mengigit-mangigit juga Yuang39. Dari sahari |lah| maso itu. 260 anak bincacak anak bincacau.? ini air ha. lalu dibuanglah si Tupai Janjang. lalu dibuanglah si Tupai Janjang.” (Dialog LB pada bait ke-72.. itu tukang salung lima menit.. Pencerita kemudian memasukkan selendangnya ke dalam bajunya seolah-olah seorang ibu yang mengeluarkan payudaranya dan menyusukan bayi. ndak bisa ambuih saluang lai. kini pergilah ini kini. 255 Dari sehari |lah| masa itu. Pencerita akhirnya memperagakan dengan minum) . haus? Ndak berair? tidak berair. anak sigiang-giang rimbo.

77. |oi| sedang berbuntalah si bayang. Istirahat lebih kurang 30 menit ADEGAN IV 82. |Oi| hari yang sedang pukul satu.bayang.Sub-adegan ke-2 75. Lamolah lambek garan manangih. |Oi|terhadap ke dirilah si Linduang Bulan. 42 Sudah yang didulang sedulang lagi. |oi| sadang babuntalah sibayang-bayang. sudah akan dibuanglah si Tupai Janjang. Alah diusialah si Tupai Janjang 76. takana anak nan maso itu. |Oi| adok ka dirilah si Linduang Bulan. lah ka dibuanglah si Tupai Janjang. 275 lah masuak kabunlah ko urang kini. |ha| diambil gerangan |ha| di atas rumah. |oi| lalu dilihatlah oleh Mak Hitam. |ha| duo juo diri si Mamak Hitam. |oi| masuklah kebun |hai| Mandeh Rubiah. |ndeh| badan auih sambia manangih. lah kuruih badanlah si Linduang Bulan. 80. |Oi| lalu dibawalah atas rumah. karena kerongkongan saya |hai| bertambah kering. sana diambillah si Tupai Janjang. babunta adalah sedang memendek bayang-bayang atau yang lazim disebut dengan tengah hari tepat. 285 81. 290 karongkongan basah biko kito sambuang. Lamalah lambat gerangan menangis. 280 |Oi| hadap ke dirilah si Tupai Janjang. |oi| tapi dilarang dek Mande Rubiah. |oi| lalu dicaliaklah dek Mak Hitam. Masuak ka kabunlah maso itu. |Oi| adok ka dirilah si Tupai Janjang. |ha| dua dengan diri si Mamak Hitam. (Bait ke-78 sampai dengan bait ke-81 didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak mengikuti irama yang sama) . Ibid. |ndeh| badan haus sambil manangis. |oi| masuaklah kabun |hai| Mandeh Rubiah. |oi| tapi dilarang oleh Mandeh Rubiah. |oi| paningga anaklah nan bajalan. 79. |oi| badan yang bisa menangis juga. dek rangkungan den |hai| batambah kariang.42 |a| si Tupai Janjang segitu dulu. |a| si Tupai Janjang saitu dulu. |oi| bagaimana cerita |lah| tentang itu. |ha| diambiak garan |ha| di ateh rumah. |oi| peninggal anaklah yang berjalan. sanan diambeklah si Tupai Janjang. Sub-adegan ke-3 78. |Oi| hari nan sadang pukua satu. |oi| baa curito |lah| tantang itu. Lah nan didulang sadulang lai. kerongkongan basah nanti kita sambung. |oi| badan nan bisa manangih juo. sudah masuk kebunlah ini orang kini.|Oi| lalu dibaoklah ateh rumah. sudah kurus badanlah si Linduang Bulan. Sudah diusirlah Si Tupai Janjang. 270 lalu diambiak |oi| aia lalu diminum. (Pencerita mendendangkan bait ke-75 sampai dengan bait ke-77 dengan suara seperti orang yang sedang menangis dan kemudian meneguk air minum) . Masuk ke kebunlah masa itu. . lalu diambil |oi| air lalu diminum. teringat anak yang masa itu.

apalah jadi |lah| yang seperti itu. 315 dicaliak kabunlah maso itu. Lah nan sahari nan duo hari. |oi| sana terkejutlah Mandeh Rubiah. |Oi| abih lah malam |hai| baganti siang. |oi| kenapa kok kebun sudah lacah45 kini. dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. kinilah tarang kabun iko kini. tiap dibersih hari masa itu. bertanya-tanyalah Mandeh Rubiah. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. |oi| sanan takajuiklah Mandeh Rubiah. 300 84. Sudah yang sehari yang dua hari. tibo di malam lah malam kini. ibarat mengambarkan TJ dijaga dan tidur di rumah MR) . sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. 320 44 45 Ibid. tiok disiang hari maso itu. Ibid. yang penyambung yang tinggal tadi. |oi| makan buah dia yang tidak mau. |Oi| sanan takajuik Mandeh |lah| Rubiah. 305 310 (Pencerita mendendangkan bait ke-82 sampai dengan bait ke-84 dengan berdiri dan gerakan yang sama. Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. |oi| baa kok kabun lah lancah kini. kebun bertambah rindang juga. sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah. lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. |oi| lalu berpikir Mandeh Rubiah. 295 |lah| yang pandulang emas di Bangko. |ha| dia yang tidurlah masa itu. yang didulang sedulang lagi.|lah| nan pandulang ameh di Bangko. |Oi| sana terkejut Mandeh |lah| Rubiah. dilihat kebunlah masa itu. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. nan didulang sadulang lai. pencerita mengambil kembali selendangnya. 85. 88. |ha| diagiah makanlah makan rimah. berdua dengan diri |lah| Mak Hitam. apolah jadi |lah| nan bak kian. nan panyambuang nan tingga cako. 87. 325 43 |Oi| habis sudah malam |hai| berganti siang. lacah adalah tanah lembek atau berlumpur. Habih pakan baganti pakan. |oi| makan buah inyo nan indak nio. Lama hari berganti hari. . Pada waktu mendendangkan baris ke-297. lah dibaolah si Tupai Janjang. Lamo hari baganti hari . tiba di malam sudah malam kini. |oi| lalu bapikia Mandeh Rubiah. |oi|apakah gerangan |lah| si tupai yang ini. pakan adalah sebutan untuk satu minggu yang dalam satu hari dalam satu minggu itu ada hari yang ramai untuk berjual-beli. Sub-adegan ke-1 86. Adok ka dirilah si Tupai Janjang. makan jo rimahlah inyo namuah. Ibid. 83. |ha| diberi makanlah makan rimah. baduo jo diri |lah| Mak Hitam. |Oi| kabun lah siang maso kini. diagiah makanlah si Tupai Janjang. lah |nan| bapakan lah maso itu. sudah |nan| berpekan43 sudah masa itu. 89. |Oi| kebun sudah bersih masa kini. makan dengan rimahlah44 dia mau. |oi| apokah garan |lah| si tupai nan ko. sudah dibawalah si Tupai Janjang. kabun batambah rindang juo. lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. Habis pakan baganti pakan. rimah adalah nasi yang jatuh dan keluar dari piring pada saat makan. batanyo-tanyolah Mandeh Rubiah. diberi makanlah si Tupai Janjang. kinilah terang kebun ini kini. |ha| inyo nan laloklah maso itu. dilihat malah |lah| si Tupai Janjang.

335 (Pencerita bergerak pada bait ke-90 sampai dengan bait ke-91 seperti gerakan yang sama. |oi| badan berubah menjadi orang. |Ha| harilah pagi lah maso itu. badan sudah senanglah hanya kini. 96. Lalu dicaliak si Tupai Janjang lah duduak diimbau di maso itu. kira terkejutlah si Tupai Janjang. dicaliak malah |lah| maso itu. |oi| lamolah lambek |hai| baganti sanan. kemudian pencerita memegang selendang di tangannya untuk mengambarkan kulit TJ yang sudah terkelupas) . |ha| kiranya kulitlah tidak ada. |Ha| dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. |oi| Mandeh Rubiah sudah melarang. |Ha| lalu dipanggillah si Tupai Janjang. |ha| dia raba pulalah si Tupai Janjang. |ha| dilihat kulitlah tidak ada. |ha| si Tupai Janjang naiak ka ateh rumah. |Ha| kulit terbakar kulit Tupai Janjang. |ha| dipanggang malah |lah| maso itu. |hai| sahabih asok |lah| maso itu |hai| kulik barubah satumpuak ameh. |oi| apolah garan nan lah tajadi. |o| barang |nan| badanlah indak ado. (Pada bait ke-86 sampai bait ke-89 pencerita mendendangkan bait tersebut dengan terus-menerus bergerak seperti gerakan tari Minang) . |oi| lamalah lambat |hai| berganti sana. |oi| apalah gerangan yang sudah terjadi. Sub-adegan ke-2 90. |Ha| diambil pula kulit itu kini. |oi| Mandeh Rubiah lah managahkan. dua juga diri |lah| Mak Hitam. |hai| kulit berubah setumpuk emas. |oi| badan barubah manjadi urang. kulit berubahlah setumpuk emas. Lalu dilihat si Tupai Janjang. cukuik sabulanlah maso itu. |oi| seorang yang itu naik atas rumah.|Oi| kulik nan abih alah maso itu. |ha| dicaliak kuliklah indak ado . 330 91. 92. 93. |ha| lalu diambillah kulit nantun. 350 kulik barubahlah satumpuak ameh. |Ha| dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. |Ha| lalu baimbaulah si Tupai Janjang. |ha| nyo resek pulolah si Tupai Janjang. 345 355 . |ha| dilihat kembalilah si Tupai Janjang. |o| barang |nan| badanlah tidak ada. |Ha| kulik tapanggang kulik Tupai Janjang. |oi| surang nantun naiak ateh rumah.duo juo diri |lah| Mak Hitam. |ha| menjadi kayalah masa kini. nan dulu |nan| garan |lah| si Tupai Janjang. lalu diambil kulit Tupai Janjang. |Ha| diambiak pulo kulik tu kini. badan lah sananglah hanyo lai. |Oi| kulit yang habis sudah masa itu. |ha| lalu diambillah kulit itu. sudah duduk dipanggil di masa itu. |hai| sehabis asap |lah| masa itu. |ha| kironyo kuliklah ndaknyo ado. 340 |Ha| harilah pagi sudah masa itu. Sub-adegan ke-3 95. yang dulu |nan| gerangan |lah| si Tupai Janjang. |ha|si Tupai Janjang naik ke atas rumah. lalu diambiak kulik Tupai Janjang. dilihat malah |lah| masa itu. |ha| manjadi kayolah maso kini. cukup sebulanlah masa itu. |ha| dicaliak baliaklah si Tupai Janjang. kiro takajuiklah si Tupai Janjang. |ha| dibakar malah |lah| masa itu. 94.

Datuk Bandaro dengan Linduang Bulan. sedang berputar bayang-bayang. 370 Lamalah lambat |lah| masa itu. 99. sudah sadih gerangan |lah| si Tupai Janjang.” “Ampun kandung kata saya. |a| ini |ko| orang tua saya benar. |Oi| adok ka diri |lah| si Tupai Janjang.Lalu disuruah tinggalah maso itu. sanan takajuik lah Datuak Bandaro. |Oi| harilah sedang pukul satu. dengan mandeh kandung Mandeh Rubiah. Teringat pulalah si mandeh kandung. jo mandeh kanduang Mandeh Rubiah. terbit pikiran |lah| si Tupai Janjang. . |ha| meminta uang |lah| masa itu. badan bertambahlah kurus jua. 97. pencerita melemparkan selendangnya kembali) . 102.(Pencerita mendendangkan bait ke-92 sampai dengan bait ke-96 dengan gerakan yang sama sambil berdiri. Hari barubahlah hari pulo. nak kanduang janyo denai.|Oi| harilah sadang pukua satu. bersama-samalah masa kini. ado maso itu badanlah sanang. Waktu mendendangkan kulit TJ sudah berubah menjadi emas (larik 350) . pai barubek |lah | garan kini. |a| iko |ko| urang tuo ambo bana. pergi berobat |lah| gerangan kini. ada masa itu badanlah senang. (Pencerita mendendangkan bait ke-97 dengan duduk sambil memegang kepalanya untuk menggambarkan rasa sedih karena teringat sama orang tuanya) . sana terkejutlah Datuak Bandaro. sadang bapunta bayang-bayang. |ha| maminta piti |lah| maso itu. tabik pangana |lah| si Tupai Janjang.Lamolah lambek |lah| maso itu. dua dengan dirilah Imak Hitam. agiahlah denai kato pasti. anak kandung kata saya. berilah saya kata pasti. basamo-samolah nangko kini. |Oi| hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang. 365 (Bait ke-98 dan bait ke-99 didendangkan oleh pencerita dengan suara tersedu sedan seperti orang sedang sedih) . Datuak Bandaro jo Linduang Bulan. Lalu disuruh tinggalah masa itu. Hal ini didendangkan dengan cara berdiri) Penutup 103.” (Bagian dari teks di atas adalah dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan sedu sedan) Sub-adegan ke-1 101. ADEGAN V 98. Takana pulolah si mandeh kanduang. badan batambahlah kuruih juo. duo jo dirilah Imak Hitam. 360 Hari berubahlah hari pula. 375 (Pencerita mendendangkan bait ke-101 dan bait ke-102 dengan gerakan dan irama yang sama. lah sadiah garan |lah| si Tupai Janjang. 100 “Ampun kanduang janyo denai.

Formulaik pada pantun berikut ini ditemui pada kedua teks. |ouuii……. Antara satu bait dan bait berikutnya juga terjadi pengulangan. . |oio.. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim (Sweeney.. lain waktu hendak akan kita ulang Tuan. atau larik (Lord. Hal itu dilakukan dengan menundukkan dan memegang kepalanya) .| (Di bagian penutup ini iramanya berubah dari irama semua teks yang telah dibacakan terdahulu. Untuk menghasilkan hal itu. bagian yang berformula ditandai dengan garis bawah di kata yang berformula tersebut.|. baik dalam satu larik maupun dalam satu bait. dan waktu pertunjukan.Tupai Janjang sagitu dulu.lai…. Pantun memakai unsur yang berulang. yakni pada bagian awal cerita.| . Ekspresi formulaik juga dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama. frasa. lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. Formula muncul berkali-kali dalam cerita. |oio. maupun klausa. Dalam analisis ini. 1981:30—43). frasa. Jika dicermati kedua teks memperlihatkan adanya bagian yang diulang. penonton. carito habih ndak kito ulang Tuan. 2. |ouuii…. baik dalam bentuk kata-kata. cerita habis hendak kita ulang Tuan. Pada waktu ini.lai…. mungkin berupa kata. lain waktu hendak akan kita ulang. yaitu mengingat frasa-frasa dan menciptakan analogi dengan frasa yang telah ada. Dengan cara ini. lain wakatu nak kan kito ulang. Bentuk yang memperlihatkan perulangan dengan sistem formula disebut ekspresi formulaik. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang Formula adalah sekelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan ide yang esensial.| 380 Tupai Janjang segitu dulu.. 1987:68). pencerita hanya duduk dengan mendendangkan bait ke-103. pencerita dapat menyesuaikan cerita dengan situasi pertunjukan. klausa. Pencerita dapat merangkai suatu cerita dalam waktu relatif pendek dengan cara membentuk kalimat yang berformula. Formulaik yang pertama dilihat pada analisis ini adalah bagian teks yang berbentuk pantun. seperti keadaan tempat.

iyolah garangan |lah| si Tupai Janjang). turunan puti sudut-bersudut). terlihat adanya kata yang diulang pada larik lanjutan pantun itu. kaba |lah| urang lai kami kabakan. Pengulangan itu terjadi. tak kalo alun baralun. adolah urang maso itu. Tak kalo maso dahulunyo. larik itu diulang dengan mengubah kata kami dengan kata ambo (hamba) dan menambahkan ungkapan . (|Oi| adalah pada suatu masa. Pada teks II. baik pada bait yang sama maupun pada bait yang berbeda. bumi yang belum |hai lah| baralun. orang dusta kami tak mau). kaba |lah| urang kami kabakan. di nan dakek jolong tasongoh. urang duto kami tak nio. Banda anak orang Koto Tuo. urang duto kami tak sato. Banda urang kami bandakan. (Bandalah orang |hai|hamba bandakan. Banda nak urang Koto Tuo. (6-9) TEKS II 3. ta Puti suduik-basuduik. kaba |lah| urang lai kami kabakan.(912) bandalah |hai| urang si Koto Tuo.Bandalah urang |hai|ambo bandakan. ta Rajo turun ba rajo. kaba orang kami kabakan.TABEL XII Formula di Bagian Pembukaan Cerita TEKS I 2. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formula yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. (13-16) banda nak urang |lah| di Gumarang. Formula itu adalah Bandalah urang kami bandakan (Bandarlah orang kami bandarkan) yang ditemui pada kedua teks. (Banda orang kami bandakan. kaba |lah| urang kami kabakan. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. |Oi| adolah pado suatu maso. 4. (Banda |lah| orang kami bandakan. banda anak orang |lah| di Gumarang. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. (Di yang tinggi tampak jauah. 4. berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulan). adalah orang masa itu. tak kalo alun baralun. Dalam pantun tersebut. (14-16) 5. (Tak kalo masa dahulunya. Pantun di atas terletak di awal cerita karena berfungsi sebagai pembukaan.Banda |lah| urang kami bandakan. tersebut garangan Datuak Bandaro. nan tasabuik-sabuik. |hai| bumi yang antah barantah. orang dusta kami tak mau). Di nan tinggi tampak jauah. kaba urang kami kabakan. di yang dekat jolong tersongoh. |hai| bumi nan antah barantah. turunan rajo turun beraja. (16-20) 5. yang tersebut-sebut). tasabuik garan Datuak Bandaro. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. (17-21) bumi nan alun |hai lah| baralun.

Untuk menyatakan waktu satu hari. satu bulan. hampir sampai genap bilangan). Ada formulaik tertentu yang digunakan untuk menyatakan perubahan dan pergerakan waktu dalam cerita.penyeling hai. Lah sabulan duo bulan.Lah bulan lah limo bulan garan manganduang Lah lapan bulan paruik tambah gadang (165-166) (Sudah tiga bulan limo bulan garan manganduang Sudah delapan bulan perut tambah besar ) 40. (Sudah sebulan dua bulan. misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2. (162-166) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan Lah nan duo bulan garan mangaduang Jalan barubah |lah nan| maengkang (Dari sahari |oi| garangan mengandung. TEKS II Formula untuk Pergerakan Waktu 36.Dari sahari |oi| garan manganduang. lah tibo sakik baranak. TABEL XIII Formula untuk Pergerakan Waktu TEKS I Formula untuk Pergerakan Waktu 38. Selain itu. 34. Lah nan sahari nan duo hari (301) Lah nan bapakan lah maso itu (302) (Sudah yang sehari yang dua hari Sudah yang berpakan sudah masa itu) . pencerita tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. Perbedaan terjadi dengan penambahan kata untuk kepentingan irama dalam menyanyikan cerita. Perubahan waktu itu ditulis dengan cara ditebalkan. Kata itu adalah kaba dan bandalah urang (bandarlah orang) ditemui pada bait ke-3 dan ke-4. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik. ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu atau dua kata. Lah hampianyo ganok bilangan bulan lah hampienyo sambilan bulan.Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (180) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (181) (Sudah delapan bulan |oi| garangan mengandung Sudah yang sembilan bulannya mengandung) 84. lah tiba sakik beranak). Sudah yang sepakan |oi lah| yang sebulan Sudah yang dua bulan garangan mengadung Jalan berubahlah yang maengkang) 37. (184-185) ambia sampai ganok bilangan. atau dua bulan. (218-220) (Sudah hampirnya genap bilangan bulan sudah hampirnya sembilan bulan.

Untuk perpindahan tokoh yang diceritakan. seperti contoh di bawah ini. pencerita dapat menyusun larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. yaitu lah nan …. misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana sudah berkata Datuak Bandaro). Perbedaan yang tampak adalah dengan adanya penambahan unsur verbal demi kepentingan irama. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada. Kata lah. Persamaan yang terlihat adalah pemakainan kata lah.Telah dikemukan di depan bahwa ekspresi formulaik adalah larik atau paroh larik yang disusun sesuai dengan pola formula. dilanjutkan dengan keterangan atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sehingga terlihat paralelisme satu larik dengan larik yang lainnya. Titik-titik setelah kata lah nan diisi sesuai dengan waktu yang dikehendaki dalam cerita. Dengan pola formula sebagai dasar. Bentuk formula itu seperti terlihat pada tabel berikut. Lah nan sahari |haa nan| duo hari Lah nan tigo malam maso itu (Sudah yang sahari |haa nan| dua hari Sudah yang tiga malam masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan pergerakan dan perubahan tokoh yang diceritakan. pencerita juga memanfaatkan cara yang sama. untuk perubahan tokoh yang diceritakan. seperti yang telah dinyatakan di atas. Ada kata-kata yang selalu digunakan untuk menyatakan perubahan waktu. . merupakan kependekkan dari alah (sudah). Dalam teks TJ ditemukan adanya ekspresi formulaik. Sesudah pemakaian kata yang berformula.

hal itu terlihat seperti tampilan pada bagan berikut ini. . (537) Lalu dicaliak si Tupai Janjang (328) (Sudah tiba dia di tengah rumah) (Lalu dilihat si Tupai Janjang) Lah dibao si Tupai Janjang (571) |ha| lalu diambiak lah kulik nantu (346) (Sudah dibawa si Tupai Janjang) (|ha| lalu diambial lah kulit itu) Untuk lebih memperjelasnya. Formula dengan pola sintaksis yang sama II.Formula dengan pola sintaksis yang sama Lah balari si Dukun Pandai (257) |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (39) (Sudah berlari si Dukun Pandai) (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Lah bajalan Datuak Bandaro (93) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (20) (Sudah berjalan Datuak Bandaro) (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lah bajalan si Linduang Bulan (109) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (102) (Sudah berjalan si Linduang Bulan) (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (448) Lalu bakato Datuak Bandaro (240) (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lah pulangnyo maso nantun.TABEL XIV Formula untuk Perubahan Tokoh TEKS I I. Formula untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (22) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (29) (|Oi| hadaplah diri dua itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (24) (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (296) (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan (267) (|Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan) II. Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (259) (Sudah pulang dia masa itu) (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang) Lah tibonyo di tangah rumah. Formula untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Pihak kapado karo banyak (Pihak kepada karo banyak) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro Kononlah Linduang Bulan (Kononlah Linduang Bulan) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (1 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) (1 kali) TEKS II I.

memakai kata |oi| adok lah. Larik itu adalah kononlah kasiah rang ditompangkan (kononlah kasih rang ditompangkan) dan kononlah kasiah urang tompangkan (kononlah kasih orang tompangkan) (bait 12 larik 78 dan 84). |oi| menghadaplah. sedangkan pencerita pada teks II. Hasil analisis pada teks I.Datuak Bandaro Urang Padusi Dukun Pandai PIHAK KAPADO Puti Linduang Bulan Tupai Janjang Mak Hitam Rang punyo ladang Mandeh Rubiah Kata yang dipakai untuk menyatakan perubahan tokoh pada kedua pencerita juga berbeda. kini baitulah Linduang Bulan (kini begitulah Linduang Bulan)(larik 294). seperti yang juga telah disebutkan pada bab II di atas. Penghilangan kata urang menjadi rang karena pengaruh dari pemakaian bahasa sehari-hari. dan hadap ke). dan kini . mengunakan kata pihak kapado (pihak kepada) dan pihak di diri (pihak di diri). Pemakaian bahasa Minangkabau sehari-hari lazim dipendekkan. |oi| madok lah. Kata yang ditukar ditemukan pada bagian akhirnya untuk menyesuaikannya lawan bicaranya. Larik yang paralel dengan memperlihatkan pola sintaksis yang sama (pada teks I) juga dipakai untuk menyatakan pernyataan ajakan terhadap lawan bicara. Larik itu adalah. dan adok ka (|oi| hadaplah. kini baitulah dek Tuan (kini begitulah oleh Tuan)(larik ke-55) dan kini baitulah dek Adiak (kini begitulah oleh Adik)(larik ke-67). menunjukkan bahwa adanya unsur yang berformulaik dengan memperlihatkan adanya huruf yang hilang yakni pada kata urang (orang). Pencerita pada teks I.

tidak ada. dan 724. tiba di rusuk. Nan lah ko lahialah anak si Tupai Janjang. kalau berkata peliharalah lidah) (larik ke-651 dan 652). |oi | lalu di caliaklah anak nantun. |oi | tiba di tanah. lantai balubang. sedangkan pada teks II (bait ke-66). tanah berlubang.683. adanya larik yang sama dan paralel. larik yang sama diulangi untuk menjelaskan pemakaian jenis kato-kato (kata-kata) tersebut. rusuk terban. tanah lambang). 709. Pemakaian kalimat paralel juga ditemui untuk menyatakan anak Linduang Bulan. 698. tetapi memperlihatkan variasi. ada jalan yang menurun. ado jalan nan malereng (Ada jalan yang mendaki. |oi | tibo di tanah. (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. tibo di lantai. lantai berlubang. terdapat 3 larik yang mempunyai paralel. tibo di rusuak. Variasi pertama. Hal ini digunakan untuk memberikan nasihat kepada tokoh yang ada dalam cerita ini. (Yang sudah ini lahirlah anak si Tupai Janjang. lantai sudah patah. rusuk terban) pada teks II.baitulah dek Mak Itam (kini begitulah oleh Mak Itam)(larik 435). tibo di tanah. ado jalan nan manurun. tanah lambang. Contoh terlihat pada larik-larik ini. 714. Pada kedua teks. Ado jalan nan mandaki. |oi| tiba di lantai. TABEL XV Kalimat yang Paralel Teks I 44. Pemakaian pola yang sama banyak ditemui pada teks I. telah lahir. lantai lah patah. Dan pola yang sama juga digunakan pada larik kini baitulah nan elok (kini begitulah yang elok) (larik ke-315). ada jalan yang melereng) (bait ke-677 sampai dengan bait ke-680). Kok bajalan paliharolah kaki. Teks II 66. |oi| tibo di lantai. tanah balubang. rusuak taban (tiba di rusuk. tiba di tanah. terlihat pada teks I (bait ke-44). ado jalan nan mandata. adanya unsur verbal pada teks II. Hal itu terlihat seperti tabel di bawah ini. ada jalan yang mendatar. misalnya pada larik ke. rusuak taban. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. tiba di lantai. hanya 2 larik. Larik tibo di rusuak. Variasi kedua. Pada bagian bait selanjutnya. kok bakato paliharolah lidah (Kalau berjalan peliharalah kaki. |oi | lalu dilihatlah anak itu). .

pencerita menambahkan dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sesudah menyebutkan nama tokoh yang dituju. a. nyo mandencek ke dalam jaguang mudo. diikuti dengan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dengan mencantumkannya kembali kegiatan tokoh tersebut pada larik selanjutnya. satu tibonyo di situ. dalam pirangkoknyo kaluah kasah. |oi| habih dicuci muka Linduang Bulan. Penempatan kata itu di awal bait. Kemudian. yo. adalah ai. Di dalam teks ini. pencuci muka |lah| si Linduang Bulan. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu). |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. Bait itu adalah. perangkap bingkas hanya ada. dan hai nan. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua. kata itu terutama digunakan pada teks II dari pada teks I karena langsung diambil pada saat mendendangkan. |oi| lalu diambillah air yang itu. hai.Kata sambung memainkan peranan yang besar dan merupakan pola-pola umum untuk memulai baris (Lord. oi. kini ko minum Datuak Bandaro. nan takajuik si Tupai Janjang. 76) (Lalu melompat Tupai Janjang. Ungkapan penyeling pada teks II. Selain kata di atas. Pada teks II (bait ke-24). Oleh karena itu. yang ditempatkan di awal larik. 1981:41). pihak. ha. kok. yang terkejut si Tupai Janjang. dan sinan. . nan. dia melompat ke dalam jagung muda. pencerita memilih kata lalu. Pemakaian kata itu dilakukan jika kalimat kurang dari empat kata dalam satu larik. lalu. sekarang ini minum Datuak Bandaro. diambiak aia |oi| lalu di minum. lah. (TI. (|oi| lalu diambil yang air sumur. diambil air |oi| lalu di minum. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut. ndeh. pancuci muko |lah| si Linduang Bulan. pirangkok bingkeh hanyo lai. dalam perangkap dia keluh kesah). bertujuan untuk menerangkan keadaan tokoh atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. nan. Cara yang dilakukan oleh pencerita mengakibatkan cerita bersifat kronologis dan membuat cerita bergerak ke depan. waktu tiba dia di situ. pemakaian ungkapan penyeling cukup banyak digunakan pada kedua teks karena berfungsi juga untuk kepentingan irama. dominan memakai kata lah. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu. Lalu mandencek Tupai Janjang. kata sambung ditemukan pada awal parangraf sehingga membuat cerita bergerak. Kedua teks pada awal bait. Sesudah itu.

83) (T I larik ke-254) (T II larik ke-232) (TI larik ke-255 ) (TII larik ke-233) {Oi} Tibo + + {hai} + lantai rusuak tanah + patah balubang taban balubang + { dagiang } kanduang { kito } (T I larik ke-285.297) Kito + } + { baiak-baiak } Pangganti + barang harato + urang {nan} + { pacah} + {ang} abihkan + { maso} + { itu } kain putiah kain sirah (TI larik ke-499) (TI larik ke-400) (TI larik ke-618) (TI larik ke-631) (TI larik ke-624) {nyo} inyo nan ||ha| + { baunduang-unduang } baunduang + caliak {dicaliak } + {baliak } |lah| malah |lah| { kulik } lah + {si Tupai Janjang } (TII larik ke-330) (TII larik ke-332) indak + ado maso itu (TII larik ke-338) (TII larik ke-343) . hal itu dapat dilihat pada bagan berikut. baris-baris memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. Untuk lebih jelasnya.346) (T I larik ke-347) (T I larik ke-289) (T I larik ke-290.Pencerita menyusun baris-baris dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya. Pencerita mempunyai pola-pola yang dijadikan pedoman dalam menciptakan baris dengan cepat pada saat penceritaan sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. Dengan demikian. Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} + padi + kasiah di lantai di rusuak di tanah Inyo { kan } + { darah anak anak { paliharo } { u } rang + basalang (T I larik ke-72) (T I larik ke-78.

Pencerita dari komunitas yang sama mengetahui formula itu. Kaik bakaik rotan sago lah takaik di aka baha. Pencerita akan menggunakan cadangan formula itu. Pada awal teks II (bait ke-1 – bait ke-4). pada bagian awal kaba tersebut juga disebutkan nama grup yang menampilkan pertunjukan serta cerita yang akan disampaikan. walaupun tidak diucapkan secara keseluruhan. 1981:50). Formula itu umumnya ditemukan dalam pertunjukan kaba. biasanya berisi permohonan izin untuk menampilkan pertunjukan kaba kepada semua penonton. Demikian dikenalnya formula tersebut oleh masyarakat Minangkabau. (Kait berkait rotan saga. Cadangan formula yang bersifat umum itu. Pada bagian di atas juga telah dijelaskan hal ini. sudah terkait di akar bahar. selalu memakai formula yang sama. Pada teks II (bait ke-2). Pada bagian pembukaan kaba. tiba di langit terberita. Cerita Minangkabau baik dalam bentuk tertulis—misalnya kaba—maupun yang dipertunjukan. memberikan homogenitas kepada pencerita-pencerita tradisional yang juga sudah dikenal oleh masyarakat (Lord. Di dalam tradisi lisan Minangkabau.Formula juga ada yang bersifat umum dan dapat dikatakan bahwa semua pencerita lisan mengenal formula tersebut. formula di atas didendangkan dengan tambahan pada ungkapan penyeling . tiba di bumi jadi kabar) Pada bagian awal kedua teks TJ ini. pembukaan berisi permohonan maaf dan menyebutkan kaba yang diceritakan. walaupun kabanya berbeda. masyarakat sudah mengerti maksudnya. Di samping itu. juga memperlihatkan hal tersebut. untuk menggambarkan ide yang sifatnya umum. tetapi formula yang digunakan sama. terletak pada bait ke1 sampai dengan bait ke-3. Pembukaan ini disampaikan dalam bentuk pantun. bahkan juga masyarakat tersebut. tibo di bumi jadi kaba. ada juga formula yang sifatnya sudah umum dan bahkan sudah dikenal oleh masyarakat Minangkabau. Sementara itu pada teks I. tibo di langik tabarito. Adapun pantun yang lazim dipakai pada pembukaan kaba adalah seperti berikut.

terbang ke langit |lah| terberita. |hai| yang sudah terkait |nan| di akar baha. banda nak urang Koto Tuo. 3. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan Pendekatan komposisi skematik yang disampaikan oleh Sweeney pada dasarnya masih bertolak dari teori Lord tentang formula. Banda urang kami bandakan. Sastra lisan Melayu tradisional tidak memiliki persyaratan baris-baris formula yang kaku seperti sastra Yugoslavia. ampunlah kami ninik mamak. |ai| sagalo kami nan mudo. bandar anak orang Koto Tuo. pencerita dipengaruhi oleh pertunjukan. Rumusan berformula dalam sastra Melayu tradisional juga lebih bervariasi. (Bandar orang kami bandarkan. sepuluh jari kami susun. bandalah |hai| urang Koto Tuo. jatuh ke bumi menjadi kaba). Bandalah urang |hai| kami bandakan. orang dusta kami tak mau). serta sanak |lah| dengan saudara. kami mambukak kaba lamo. (Kaik |lah| berkait |lah| rotan sago. jatuah ka bumi manjadi kaba. tabang ka langik |lah| tabarito. Di depan telah dicontohkan bahwa formula yang juga lazim digunakan pada bagian pembukaan dalam tradisi sastra Minangkabau disampaikan dalam bentuk pantun. maaf dengan rila yang kami pinta |ai| segala kami yang muda). maaf jo rila nan kami pinta. Di dalam sastra Melayu tradisional. urang duto kami tak nio. kaba urang kami kabakan. maaf diminta banyak-banyak. (Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. (Ampun beribu kali ampun. Teks I 1. Manolah niniak |lah nan| jo mamak. Teks II 1. kaba |lah| urang kami kabakan. orang dusta kami tak mau). sapuluah jari kami susun. sarato sanak |lah| jo sudaro.Kaik |lah| bakaik |lah| rotan sago. bandarlah |hai| orang Koto Tuo. ampunlah kami niniak mamak. tetapi memperlihatkan fleksibelitas yang tinggi. khabar orang kami khabarkan. maaf diminta banyak-banyak. (Bandarlah orang |hai| kami bandarkan. |hai| nan lah takaik |nan| di aka baha. karena sastra Melayu tradisional merupakan sastra . 2. Kami membuka kaba lama). Ampun baribu kali ampun. Penggunaan formula itu juga ditemukan dalam cerita TJ berikut. konsep yang dikemukakan oleh Lord tidak semuanya cocok untuk diterapkan pada sastra lisan Melayu yang memiliki keunikan tersendiri. urang duto kami tak nio. 3. kaba |lah| orang kami kabakan. Namun.

Hal itu yang dinamakan komposisi skematis. Komposisi skematik bukan saja berguna untuk pencerita. Pencerita tinggal menyesuaikan tipe persediaan atau skematik yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengungkapkan ide dalam cerita tersebut (Sweeney. Hal ini membentuk re-kreasi cerita selama pertunjukan dan mengkoordinasikan kata-kata dengan melodi sehingga membentuk pola-pola terformulasi yang bersifat fleksibel. Oleh karena itu. dilahirkan dengan mempertimbangkan adanya umpan balik antara pencerita dan penonton (Sweeney. Cerita dilantunkan yang setiap ucapannya digerakkan dengan frasa melodi atau irama nyanyian. pencerita bisa memperpanjang. memperpendek. Komposer dalam tradisi lisan Melayu menggunakan rumusan dan pola-pola untuk membangun plot dalam cerita. Jadi. pencerita pada saat pertunjukan sering menggunakan ungkapan penyeling untuk menyelaraskan dengan melodi. Hal ini jauh berbeda dengan sastra Barat yang lebih individual. 1980:39). formula dalam hal ini digunakan untuk mengungkapkan ide dalam cerita supaya pencerita dapat dengan cepat memformulasikannya. 1987:17). Pencerita tidak belajar dari menghafal baris-baris. Sesuatu disampaikan bukan dari kesan visual.yang merupakan aktivitas komunal. . Dalam mengkoordinasikan kata-kata dengan irama. Komposisi skematik mempunyai cara yang spesifik dengan menerapkan metode tertentu dalam larik untuk mengungkapkan ide. 1980:24). melainkan juga untuk penonton dalam memahami cerita sehingga penonton tidak mengalami kebingungan (Sweeney. melainkan berdasarkan pada ide atau konsep. tetapi dengan mencocokkan lirik-lirik yang ada dengan melodi. Pencerita menggunakan rumusan-rumusan atau pola-pola tertentu untuk menciptakan plot dalam setiap pertunjukan. atau menekan melodi supaya sesuai dengan kata-kata. Pencerita memiliki persediaan yang diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan untuk menggambarkan objek. Komposisi dalam sastra lisan Melayu.

tetapi masih ada kata yang sama pada larik di bawah ini. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. Skemata ini biasanya digunakan untuk menyatakan seorang bayi lahir yang mempunyai keistimewaan (keajaiban) seperti yang juga ditemui pada waktu lahirnya Tupai Janjang. Nan lah ko lahialah si Tupai Janjang. Namun. Teks I. Ada yang naik pagar tiada sempat lari lalu jatuh (Sweeney. tibo di tanah tanah lambang. untuk menyatakan Tupai Janjang sudah lahir pada kedua teks memakai skemata yang hampir sama. |oi| tiba di lantai lantai berlobang. |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. tibo di lantai lantai lah patah. Ada yang bersembunyi di bawah kedai. 1980:17). Oleh karena itu. |oi| tibo di lantai lantai balubang. tibo di rusuak rusuak taban. Kalimatkalimat yang paralel ini berfungsi untuk mempermudah saat pertunjukan karena cerita terikat pada irama. tiba di tanah tanah lambang). |a| lalu dicaliaklah anak nantun. seperti yang juga telah diberikan di depan. Hal ini dinyatakan dengan menggunakan skemata berikut. Skemata diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. (Yang sudah ini lahir si Tupai Janjang. Pada teks II bait ke-66. paralelisme juga berguna untuk kepentingan irama. deskripsi orang sedang melarikan diri dari huru-hara dinyatakan sebagai berikut. Skemata dan perubahannya dapat dilihat sebagai berikut. Ada yang membelah pagar tiada sempat masuk kampung. terjadi perubahan skemata itu. di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. Misalnya. arti dari bait itu tetap mengandung pengertian yang sama.Penyanyi memiliki frasa melodi dalam pikirannya yang bersifat netral untuk menyatakan ide dalam cerita sehingga sastra lisan memperlihatkan paralelisme atau kesejajaran antara suatu larik dengan larik lainnya. Misalnya. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. Komposisi skematik merupakan skemata digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. . tiba di lantai lantai sudah patah. 44 (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. |a| lalu dilihatlah anak yang itu). Ada yang lari naik kedai. Skemata itu juga ditemui dalam kaba Minangkabau yang lainnya. tiba di rusuk rusuak terban.

Penyanyi memasukkan yang diinginkan ke dalam stereotipe yang sudah ada dalam pikirannya.29 ) (Sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. satu bulan. Nan bakato Linduang Bulan. komposisi skematik itu seperti berikut. ( Slot untuk kata kerja/ kata sifat) + lah – (slot untuk subjek {+ lah } Nan lah datang Mandeh Rubiah. seperti waktu satu hari. Sudah yang dua bulan gerangan mengandung. Dari sahari |oi| garan manganduang. satu tahun. Penempatan waktu itu sesuai dengan waktu yang dikehendaki cerita. (T II. Pada kedua cerita Tupai Janjang. nan yang terletak di depan kemudian diikuti oleh ungkapan penyeling lah. Yang berkata Linduang Bulan. Sudah delapan bulan perut bertambah besar). Lah nan sahari |haa| lah duo hari. Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang. Pergerakan cerita juga terlihat dari penggambaran kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita dengan formulasi seperti di bawah ini.Pergerakan waktu. Nan manjawek Datuak Bandaro. (Yang sudah datang Mandeh Rubiah. (T I larik ke-475) (T I larik ke-70) (T I larik ke-57 ) (T I larik ke-383) . Yang menjawab Datuak Bandaro. Kadang-kadang. Lah nan duo bulan garan manganduang. dalam cerita juga memakai skematik. lah terletak sesudah nan atau sebaliknya. Yang sudah tiga malam masa itu kini). Posisi lah di sini bukan sebagai ungkapan penyeling. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung.36 dan 37) Dalam hal ini. melainkan berfungsi untuk menerangkan kata alah (sudah) yang dipendekkan menjadi lah. Lah nan sapakan |oi| nan sabulan. (T II. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung. Nan lah tigo malam maso tu kini. dan lain-lain. Kalimat ini memperlihatkan kesejajaran dan kesetaraan satu kalimat dengan kalimat lainnya dan memberikan kontribusi cerita bergerak ke depan. Lah salapan bulan paruik batambah gadang . Nan lah bajalan Datuak Bandaro. Sudah yang sepekan |oi| yang sebulan. variasi hanya terdapat pada perubahan letak ungkapan penyeling.

Pihak kapado Datuak Bandaro. Pihak kapada Datuak Bandaro. (Slot untuk subjek) .dicari nan masam-masam .lah bajalan maso itu.sudah berjalan masa itu). Gembira hati si Tupai Janjang).diambiak buku takwil mimpi. Pihak kapado Datuak Bandaro.dicari yang masam-masam. (T II larik ke-29) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. (T I larik ke-167) (T I larik ke-188) (T I larik ke-214) (T I larik ke-231) .ado larangan jo pantangnyo. Gadang hati si Tupai Janjang. Pihak kapado urang padusi . Pihak kapada orang parempuan. berfungsi untuk menerangkan keadaan atau kondisi dari tokoh sesuai yang tuntutan cerita yang disampaikan.diambil buku takwil mimpi. kegiatan. |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro. (Pihak kapada Datuak Bandaro.|oi| orang yang besar |lah| masa itu |Oi| hadaplah kediri dua yang itu. dan sifat dari tokoh tersebut dengan komposisi seperti berikut. Pihak kapada Datuak Bandaro.ada larangan dengan pantangnya. akan dilanjutkan dengan penjelasan tentang keadaan atau kondisi tokoh yang disebutkan di awal paragraf. Komposisi skematik juga lazim digunakan untuk pertukaran tokoh yang diceritakan dengan menyebutkan nama tokoh terlebih dahulu dan kemudian diikuti dengan keterangan. (T I larik ke-132) (TII larik ke-98) (TII larik ke-176) (T I larik ke-182) (T I larik ke-409) Slop di atas. Lalu ko sadiah lah si Linduang Bulan. Basadiah-sadiah lah si Linduang Bulan.|oi| urang nan gadang |lah| maso itu.lah sapuluah tahun barumah tanggo.Yang sudah berjalan Datuak Bandaro). Gadang hati si Linduang Bulan. (T II larik ke-22) |Oi| adoklah kadiri duo nantun.sudah sepuluh tahun berumah tangga). larik-larik yang terdapat sesudah larik awal.(slot untuk kata sifat/ kata kerja) Pihak kapado Datuak Bandaro. Bersedih-sedih sudah si Linduang Bulan. (Panas sudah hati Datuak Bandaro. Lalu sedih sudah si Linduang Bulan. Gembira hati si Linduang Bulan. Jadi. Paneh lah hati Datuak Bandaro.

Pertukaran tokoh yang diceritakan juga memakai skematik. sudah dibawalah si Tupai Janjang. Sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah). Adok ka dirilah si Tupai Janjang. Sesudah menyebutkan nama tokoh. Pada teks I. lah dibaolah si Tupai Janjang. penambahan. semut terinjak tidak mati. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. Nama tokoh yang diceritakan diletakkan di awal kalimat atau awal paragraf. tidak semuanya memakai skematik di atas. alu tataruang patah tigo. yang berjalan siganjua lalai. dan pengurangan frasa dan baris demi baris untuk keterangan atau kegiatan yang lebih lanjut dari tokoh tersebut. sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. Untuk menerangkan kondisi seorang tokoh perempuan yang cantik biasanya digunakan skematik. (T I. diikuti dengan perulangan. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. Datuak Bandaro. (T II. Mandeh Rubiah. menerangkan tokoh Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I.82) (Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. nan ka kida lenggang mambunuah. alu tertarung patah tiga. Linduang Bulan. lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. seperti yang lazim digunakan dalam kaba. nan ka suok lenggang manganai.Cerita Tupai Janjang menghadirkan lima orang tokoh yakni Tupai Janjang. tetapi hanya mengambil sebagian anak kalimat dari skematik tersebut. nan bajalan sigajua lalai. Pada teks II. 15) yang ke riri lenggang membunuh). dan Mak Itam. Kononlah Puti Linduang Bulan. samuik tapijak indak mati. (Kononlah Puti Linduang Bulan. tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambutnya yang panjang terurai. yang ke kanan lenggang mengena. .

inyo kan darah dagiang kito. .( T I larik ke-281− 290). orang yang elok |lah| masa itu). Kita pelihara baik-baik”). |oi| bamuko rancak rambuik taurai. 74) (Anak kandung si Tupai Janjang. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. inyo anak kito. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. dia anak kita. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. kito paliharo baiak-baiak”. anak sigiang-giang rimbo. urang nan elok |lah| maso itu. Akhirnya. anak bincacak anak bincancau. 7) Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. |oi| rambut manyapu |hai lah| sapu lantai. biapun sakareknyo baluik. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. biapun inyo sakarek ula. usah dibunuah anak kito. Nan bakato si Linduang Bulan. Berikut ini contoh skematik tentang tokoh yang berbicara serta pembicaraannya. “oi tuan Datuak Bandaro. (T II. jangan dibunuh anak kita. boleh ke rimbalah kau kini). ( T II. Nak kanduang si Tupai Janjang. Skematik itu biasanya diucapkan oleh tokoh orang tua kepada tokoh anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. dia kan darah daging kita. Dalam cerita Tupai Janjang. Tokoh yang berbicara diletakkan di awal paragraf. (Yang berkata si Linduang Bulan. inyo darah dagiang kito. anak sigiang-giang rimba. Seorang tokoh yang berbicara juga mempergunakan skematik. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. “oi tuan Datuak Bandaro. dia darah daging kita. biarpun sekeratnya belut. anak bincacak anak bincacau. kini bakiroklah ko kini. selalu disebutkan nama tokoh berbicara dan kemudian baru diikuti dengan anak kalimat yang diucapkan oleh tokoh itu. buliah ka rimbolah kau kini.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. Jika tidak terletak di awal paragraf. |oi| bermuka rancak rambut terurai. biarpun dia sekerat ular. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. Nama tokoh biasanya terletak pada awal paragraf. kini pergilah sekarang.

dek adiak barilah tarang. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan. sejuk dalam kira-kira). 20). |oi| mangana nasib |lah| maso itu. “Adik kandung si Linduang Bulan. bakato sanan Ameh Manah. diminta pulo kumayan putiah. |oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. “Mamintak kito pado Allah. lah sapuluah tahun barumah tanggo. sudah sepuluh tahun berumah tangga. manga adiak tamanuang juo. |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. “Dik kanduang si Linduang Bulan. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. 38 (|Oi| hadaplah diri dua yang itu. “Mandeh kanduang dengan di Mandeh dengarkanlah pula oleh Mandeh. ( T II larik ke-29− ). Alah tibo di tangah rumah. di sini air ada jernih juga. Manjawab si Asamsudin. sajuak dalam kiro-kiro. Nama tokoh yang berbicara terletak di awal paragraf adalah seperti berikut. supaya senang dalam hari. . Sebagai perbandingan. mengapa adik termanung juga. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. disiko aia lai janiah juo.Di bawah ini adalah nama tokoh yang berbicara diletak di tengah paragraf seperti berikut. disiko kan lai juo sayak nan landai”( Endah. |Oi| adoklah diri duo nantun. |oi| anak yana tidak |lah| dapak juga. nak sanang dalam hari. di sini kan ada tempurung yang landai”) Nama tokoh terletak pada tengah paragraf dalam kaba Anggun Nan Tongga adalah seperti berikut. |oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. alah di mintak parasapan. berikut digambarkan pula bagaimana skematik yang sama digunakan pada kaba Tuangku Lareh Simawang. (Menjawab si Asamsudin. usahlah kito pai ka kian. “Mandeh kanduang jo di Mandeh. oleh adik berilah terang. dangakan malah pulo dek Mandeh. janganlah kita pergi ke sana.

Hari nan sadang pukua satu. kalau iya berasal anak raja. berkat keramat tuan Haji. Skematik ini juga digunakan untuk menyatakan suasana cerita dalam kondisi panas pada siang hari. 81) (|Oi| hari yang sedang pukul satu. diminta pulo kemayan putih. kok iyo barasa anak rajo. |oi| sadang babunta |lah| si bayang-bayang. barakat kiramat tuan Haji. sedang berbunta banyang-bayang). sadang babunta bayang-bayang (hari yang sedang pukul satu. skematik itu tetap difungsikan sebagai penyambung bagian cerita. (T II. Meskipun demikian. sedang berbunta bayangbayang) dalam cerita Tupai Janjang digunakan hanya sebagai sampiran pada pantun. sudah di minta parasapan. Skematik seperti itu juga digunakan oleh pencerita dalam cerita Tupai Janjang. 1998:9) (Sudah tiba di tengah rumah. |a| si Tupai Janjang segitu dulu. yang bertampat di gunung Ledang. sadang babunta bayang-bayang (Hari yang sedang pukul satu. kalau iya puti sudut-bersudut. (Mahkota. Berikut sampiran yang digunakan untuk menyatakan istirahat. Skematik yang juga sering ditemukan dalam sastra lisan Minangkabau adalah hari nan sadang pukau satu. Pada teks Tupai Janjang. |a| si Tupai Janjang saitu dulu. . nan batampek di gunuang Ledang. Ungkapan tersebut sering digunakan untuk menyambung bagian cerita yang terdahulu dengan bagian selanjutnnya. skematik ini dipakai dua kali. kerongkongan basah nanti kita sambung). berkata sana Ameh Manah. kok iyo puti suduik-basuduik. mendengkul ke orang kiamat. salamatlah anak di karuang nangko”.bakauah bakeh rang kiamat. karongkongan basah biko kito sambuang. “Meminta kita pada Allah. |oi| sedang babunta |lah| si bayang-bayang. |Oi| hari nan sadang pukua satu. selamatlah anak di karung ini”). yakni pada waktu akan beristirahat dan pada waktu menutup cerita.

hal ini dinyatakan dalam dua kali. pertautan. 82) 4. Lain waktu hendak akan kita ulang Tuan |oio|. Tupai Janjang segitu dulu. Lah didulang sadulang lai. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Kata fungsi selalu menunjukkan pengaruh terhadap sesuatu yang lain. (T II. pantun ini biasanya dipakai untuk menghubungkan suatu adegan dengan adegan lainnya dalam cerita. nan manyambuang nan tingga cako. perbuatan.Skematik yang sama juga dipakai untuk menutup cerita. sadang bapunta bayang-bayang. Lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan |oio|. Pada kaba. yang didulang sedulang lagi. Tupai Janjang sagitu dulu. lan |nan| pendulang emas di Bangka. Fungsional tidak berdiri sendiri. Sebuah kata. . yang menyambung yang tinggal tadi). Carito habih ndak kito ulang Tuan |ouuiii…lai| (|Oi| hari lah sedang pukul satu. nan didulang sadulang lai. Pemikiran fungsional menyangkut hubungan. pantun ini juga sering dipakai setelah beristirahat. Lain wakatu nak kan kito ulang. Dalam pertunjukan randai. Untuk mempertegasnya. sedang berpuntar bayang-bayang. lan |nan| pandulang ameh di Bangko. dan relasi antarsesuatu dengan lainnya. 103) Dalam teks II. (Sudah didulang sedulang lagi. |Oi| hari lah sadang pukua satu. tetapi dalam hubungan tertentu memperoleh arti dan makna. atau barang dipandang berfungsi menurut peran dan fungsi yang dimainkan dalam suatu keseluruhan dan saling bertautan (van Paursen. sesudah beristirahat menggunakan pantun yang sudah lazim dipakai dalam menyambung cerita. Lain waktu hendak akan kita ulang. 1976:86). Cerita habis hendak kita ulang Tuan |ouuiii…lai|) (T II.

Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk karena tradisi tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. pertunjukan tersebut memperlihatkan spesifikasi yang tidak ditemukan dalam pertunjukan tradisional lain di Minangkabau. pertunjukan Tupai Janjang masih dapat bertahan dalam masyarakat Kecamatan Palembayan karena masyarakat memandang pertunjukan itu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. baik pribadi maupun sosial. Dalam teori ini. salah satunya seperti kesenian. Pendekatan fungsionalisme dari Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat tempat kebudayaan itu berada. Pertunjukan Tupai Janjang mereka anggap sebagai aktivitas kebudayaan yang harus dilestarikan dan dijaga kehidupannya di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk. yang dinamakan kebutuhan sekunder. 1988:171). Pertunjukan Tupai Janjang tetap digemari oleh masyarakat karena dari isi cerita yang ditampilkan dapat dipetik suatu pesan dan dari segi pertunjukannya mampu memberikan suasana tersendiri untuk dinikmati sebagai bentuk hiburan. Bertahannya suatu bentuk kesusastraan yang merupakan salah satu aktifitas kebudayaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya karena segala aktivitas kebudayaan bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. Tetap eksisnya pertunjukan Tupai Janjang di tengah masyarakat karena merupakan “kebutuhan sosial”. Jika teori tersebut dikaitkan dengan objek kajian ini. Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang terjadi kerena manusia ingin memuaskan kebutuhan nalurinya akan keindahan (Koentjaraningrat. semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar warga masyarakat setempat (Ihromi. Jika kebutuhan itu tidak dipenuhi. Selain itu. sistem akan . Setiap pola kelakuan yang sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam masyarakat berguna untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar itu. 1980:60).

dan hubungan sesama pencinta pertunjukan ini dalam masyarakat.mengalami disintegrasi dan “mati” (Kaplan. dari larik 642 sampai dengan larik 731 merupakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. folklor mempunyai empat fungsi. keterkaitan. Bascom (dalam Danandjaja. 1984:19). dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. Menurut William R. Seseorang yang berbudaya Minangkabau harus tahu dan pandai menggunakan dan mengucapkan kata-kata sesuai dengan lawan bicaranya. 1999:78). Dalam perkembangannya. Banyak ucapan MR kepada Tupai Janjang mengungkapkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat di Minangkabau. eksisnya pertunjukan ini karena adanya rasa ketergantungan. (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. orang yang lebih besar. dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya. apakah dia sedang berbicara dengan teman sebaya. juga diberikan dalam cerita ini. (3) sebagai alat pendidikan anak. Untuk melihat fungsio dari pertunjukan Tupai Janjang. Bascom. orang yang lebih kecil. Masyarakat Minangkabau harus mengetahui jo kato nan ampek ‘dengan kata yang empat’. Pertunjukan Tupai Janjang yang merupakan bagian dari kesenian memberikan hiburan atau sarana membebaskan seseorang dari ketegangan serta cara untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran. baik perseorangan maupun kolektif. Orang yang tidak bisa menempatkan posisinya sesuai dengan . Tupai Janjang mampu mengemban fungsi sebagai sarana untuk membangkitkan kepekaan karena mengandung tanggapan emosional dan dapat membina kesinambungan hidup. Pelajaran dan pendidikan tentang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau khususnya. Hal ini terutama terlihat pada teks I. Selain itu. Mereka harus memperhatikan lawan bicaranya. yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. atau dari kalangan pemuka adat.

hingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. Falsafah adat ini juga sering diucapkan oleh pemuka-pemuka adat. Dalam kaba-kaba Minangkabau yang lain hal ini juga sering dinyatakan. Terhadap anak-anak. Pemahanan fungsi seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa sebuah kenyataan sosial mempunyai kesatuan tertentu yang disebut kesatuan fungsional. Sebagai alat pendidikan.lawan bicaranya. Pada umumnya. khususnya bagi pemuda Minangkabau. tetapi juga kepada orang tua. Fungsi didefenisikan sebagai sumbangan dari aktivitas manusia terhadap keseluruhan aktivitas yang lebih luas. Sesuai dengan fungsi yang dikemukakan oleh Bascom. Angan-angan ini tersembunyi dari keinginan pemuda Minangkabau untuk menjadi kaya. Gambaran kepergian Tupai Janjang setelah dia meninggalkan kampung halamannya itu dinyatakan melalui tempat pembuangannya dan akhirnya menjadi orang yang kaya dan dapat membantu orang tuanya. dalam buku-buku tentang kebudayaan Minangkabau sering diuraikan falsafah ini. baik dalam acara pidato adat maupun pasambahan. Dikatakan fungsional karena merupakan sebuah kondisi yang seluruh bagian sistem sosial bekerja bersamasama membentuk tingkat harmoni dan konsistensi internal. Pertunjukan Tupai Janjang dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya dapat dipandang sebagai bahan dan proses kehidupan sosial yang berperan bagi kelangsungan hidup kebudayaan Minangkabau. cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat. cerita Tupai Janjang juga secara tidak langsung sudah memperkenalkan falsafah adat ini kepada audience. Fungsi dari kenyataan sosial merupakan sejumlah sumbangan terhadap keseluruhan kehidupan sosial. Pada larik 665 sampai dengan larik 673 berisi ajaran falsafah alam takambang jadi guru ‘alam terkembang jadi guru’. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anak-anak. apalagi setelah merantau. Falsafah adat Minangkabau juga dihadirkan dalam teks ini. cerita ini memberikan . dalam pergaulan dia indak bisa dibao baretong ‘tidak bisa diperhitungkan’. Jadi.

pepatah adat Minangkabau mengatakan kaba baiak baimbauan. nilai-nilai pendidikan. khususnya masyarakat Palembayan. Kalau suatu perkawinan tidak baik pernyelenggaraannya. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan. yaitu penggunaan dan fungsi. Mulai dari tahap awal sampai akhir perkawinan. Penggunaan mengacu pada situasi dan kegiatan sebuah pertunjukan dilakukan. termasuk kedua orang tua. seperti tujuan pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan oleh masyarakat. pertunjukan ini bukan hanya memperdengarkan irama dari pencerita.pendidikan supaya berkelakuan yang baik. Dalam menyelengarakan perkawinan. Adapun kegunaanya pertunjukan Tupai Janjang adalah seperti berikut. orang tidak menyukainya. Jika seorang anak berkelakuan yang tidak baik. Fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. melainkan juga semua kaum kerabat akan mendapat malu. tetapi menjadi persoalan dan urusan kerabat. Secara eksplisit. sejarah. cerita ini dapat diambil hikmahnya supaya berhati-hati dan tabah dalam mendidik anak. Bagaimanapun nakalnya. bukan hanya satu keluarga inti yang merasa malu. tetapi lebih dari itu. kaba . Dengan demikian. yang dapat berfungsi sebagai penyambung kelangsungan kebudayaan Minangkabau. pertunjukan ini juga menyampaikan pesan-pesan. Memeriahkan pesta perkawinan Menurut adat yang berlaku di Minangkabau. 1. Dalam cerita tersebut juga tersirat pendidikan bahwa seorang anak harus bersifat baik dan tetap menghormati orang tua walaupun orang tua itu pernah membenci dan membuang anaknya. kaba buruang bahambauan ‘kabar baik dipanggilkan. dan lain-lain. seorang anak kalau diberi pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawa hasil. perkawinan bukan hanya merupakan urusan pribadi atau satu keluarga. semua anggota kaum diharapkan dapat membantu dan menyukseskannya. nasihat. Terhadap orang tua. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang bersifat praktis.

Guna memeriahkan acara perkawinan itu biasanya disediakan pertunjukan pada siang atau malam hari. biasanya dilaksanakan pada malam hari. Jika peraturan tersebut dilanggar. Untuk melaksanakan pepatah ini. saudara. Hal itu berkaitan dengan dikeluarkannya peraturan daerah setempat yang menyatakan bahwa jika ada anggota masyarakat yang melaksanakan pesta perkawinan yang dimeriahkan oleh hiburan modern. hendaknya warga saling membantu dan turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anggota masyarakat lainnya. kebijaksanaan tersebut juga untuk menyongsong babaliak ka nagari ‘kembali ke nagari’ yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat. masyarakat diundang untuk ikut dirasakannya. anggota masyarakat diundang untuk saling berbagi kegembiraan. Pertunjukan ini hanya membutuhkan waktu lebih kurang dua jam. atau bentuk hiburan modern. saluang. Untuk mengisi waktu yang masih tertinggal sampai waktu sembayang subuh datang. ditampilkan pertunjukan yang lain. penghulu kaum diberi sanksi dan dipanggil ke kantor wali nagari setempat dan diharuskan membayar denda yang akan digunakan sebagai sumbangan bagi nagari itu. harus juga menyuguhkan hiburan tradisional. tepatnya sesudah sembayang isya hingga selesai. 2. Khusus untuk pertunjukan Tupai Janjang. salah satunya adalah Tupai Janjang Keluarnya kebijaksanaan dari pemuka masyarakat setempat didorong oleh adanya kecenderungan masyarakat dewasa ini meninggalkan kesenian tradisional. Jika pengikisan budaya itu dibiarkan berlangsung.buruk berhamburan’. Di depan juga telah dinyatakan bahwa pertunjukan Tupai Janjang lebih sering ditampilkan di Palembayan. Di samping itu. generasi muda tidak akan mengenali kesenian tradisionalnya. dan warga masyarakat yang lain juga diundang untuk memeriahkan acara perkawinan tersebut. Artinya. jika ada perkawinan dalam suatu keluarga. Tetangga. tetapi jika ada kemalangan atau musibah. Memeriahkan upacara pengangkatan penghulu Pengangkatan penghulu di Minangkabau merupakan suatu kegiatan yang dianggap penting oleh masyarakat karena jabatan penghulu merupakan jabatan yang . jika ada kabar yang baik dan menggembirakan. misalnya randai.

langsung berkaitan dengan anggota dalam satu suku. Peresmiannya dilakukan di balai adat. dabus. baik tradisional maupun modern yang dilakukan secara bergantian. Oleh karena itu. Acara ini diadakan dalam rangka memeriahkan pengangkatan penghulu dan mungkin juga diadakan untuk mencari dana bagi nagari tersebut. Banyak bentuk kesenian tradisional tampil dalam acara ini. randai . Memeriahkan alek nagari Alek nagari adalah pesta yang diadakan oleh suatu nagari yang biasanya berlangsung dalam waktu 15 hari sampai dengan 1 bulan. silat. Untuk menghemat biaya. tetapi dengan syarat suku tersebut mampu membiayai penyelenggaraannya. dan lain-lain. yaitu ruang yang digunakan untuk sidang atau pertemuan para pemuka adat. Bayaran suatu grup tergantung 46 Balai adat sama dengan balairung. sekolah. pengangkatan penghulu dilakukan dengan penghulu dari suku lain dalam satu nagari. Peresmian penghulu ini dilaksanakan secara bersama-sama. indang. Dalam rangka memeriahkan acara itu juga sering diadakan hiburan berbentuk kesenian tradisional. Alek nagari ini dilaksanakan secara bersama oleh anggota masyarakat suatu nagari. Dalam rangka alek nagari itu diadakan pula kesenian-kesenian. penghulu. misalnya untuk membangun masjid. peresmian atau pengangkatan penghulu baru dilakukan supaya semua warga dalam satu nagari mengetahui siapa yang menjadi penghulu suku tersebut. Uang yang didapatkan dari sumbangan para penonton diberikan kepada nagari untuk pembangunan sarana dan prasarana di nagari itu. biasanya nagari tersebut mengadakan malam hiburan yang lazim disebut alek nagari. Penghulu merupakan pemimpin dan orang yang akan menyelesaikan suatu persolan dalam satu suku. termasuk Tupai Janjang. balai adat. rebab. tari tradisional.46 Kalau diadakan secara bersama. saluang. dan lain-lain. Kesenian tradisional ini diundang oleh yang mengadakan alek. misalnya salawat dulang. . Peresmian penghulu juga tidak tertutup meskipun hanya satu orang 3. irigasi.

Wisata budaya merupakan wisata yang dilakukan untuk mengenal aneka ragam kebudayaan Minangkabau. Dalam hal . Tupai Janjang merupakan sarana komunikasi antar sesama masyarakat atau masyarakat dengan anggota masyarakat yang lain yang tidak mungkin disampaikan secara langsung kepada orang yang dituju. baik wisata alam maupun wisata budayanya. Dalam Pekan Budaya Minangkabau. 4. sering mempromosikan pertunjukan Tupai Janjang sebagai salah satu aset budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. maka fungsinya dalam pertunjukan ini dikelompokan dalam 2 hal yaitu sebagai sarana komunikasi dan sebagai penyampaian amanat kepada sesama masyarakat. Sarana komunikasi Dalam penyajiannya. Secara umum. Pembicaraan itu tentang berbagai aspek kehidupan yang disampaikan lewat sarana bahasa. Pejabat pemerintah Kabupaten Agam. Dalam wisata budaya. Dengan memperhatikan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang di Palembayan. yang merupakan ajang promosi pariwisata dan kebudayaan Minangkabau. Semakin seringnya Tupai Janjang tampil di luar daerah secara otomatis akan dapat mengembangkan kebudayaan Minangkabau secara umum. Menunjang program pemerintah Pertunjukan Tupai Janjang juga sering dilakukan guna menunjang program pemerintah. Dengan demikian. juga dapat mengambil peran bersama-sama dengan kesenian tradisional lainnya. serta lingkungan kehidupan budaya dan sosial masyarakat Minangkabau.kepada ketenaran grup tersebut. pemandangan alam Bukit Tinggi yang indah akan lebih bagus jika dikemas bersama dengan kebudayaannya. pertunjukan Tupai Janjang sering ditampilkan untuk mengisi acara tersebut. wisatawan diperkenalkan dengan kebudayaan. dan Kodia Bukit Tinggi. misalnya untuk program peningkatan pariwisata. Salah satu wisata budaya tersebut adalah pertunjukan Tupai Janjang. oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Agam. Minangkabau merupakan daerah wisata yang cukup potensial dikembangkan. peninggalan sejarah. keindahan alam. Dalam alek seperti ini Tupai Janjang. 1.

jalan di daerah itu sebelumnya dalam keadaan rusak dan masih berbatu-batu. Dengan demikian. pesan itu dikemas dalam bentuk prosa liris. Padahal. di depan juga dinyatakan bahwa berkat pertunjukan Tupai JanjangJ jalan ke daerah Palembayan telah diaspal. Seringnya pertunjukan Tupai Janjang dilakukan di daerah rantau dapat mengobati rasa rindu masyarakat Minangkabau terhadap kampung halamannya. Masyarakat setempat menyatakan bahwa jalan yang sudah baik tersebut adalah karena diungkapkan dalam pertunjukan Tupai Janjang. Pencerita merangkai pesan itu secara spontan dan cepat dengan menyisipkan ke dalam adegan cerita Tupai Janjang. Sebagai contoh. yang mengandung nilai estetis. terjadi komunikasi 47 . Karena pencerita tergolong orang yang banyak dikenal oleh masyarakat dan juga bekerja di instansi kecamatan setempat. Komunikasi ini dapat dilakukan dengan menyampaikan hasrat dari masyarakat kepada pencerita TJ. Disamping itu. maka isu-isu yang ada dalam masyarakat dapat dengan cepat ditangkapnya. terutama di Pekan Baru. pertunjukan Tupai Janjang dapat juga berfungsi sebagai sarana komunikasi warga masyarakat dengan pejabat pemerintahan setempat. Jakarta. hubungan dan reaksi antara penonton dan pemain atau sesama penonton.ini. pencerita menyampaikan pesan kepada bupati daerah setempat yang sedang berkunjung ke daerah itu. Wawancara dengan pencerita dan pembuka masyarakat dan masyarakat Palembayan tanggal 21 Februari dan 7 – 8 Nonember 2004 .47 Pertunjukan Tupai Janjang juga dijadikan sebagai komunikasi dan penghubung antara masyarakat yang berada di kampung halaman dan masyarakat yang berada di rantau. terdapat pembicaraan awal atau bisikan terlebih dahulu kepada pencerita dari pemuka masyarakat atau yang mempunyai ide. Pesan-pesan itu dikemas sedemikian rupa oleh pencerita sehingga dapat dimengerti oleh penonton atau kepada si penerima pesan. pantun. Ketika pesan itu disampaikan maka terjadi “dialog”. pencerita mengangkat dan memasukkan isu-isu itu dalam ceritanya. Jika ada event yang kondisif dan pertunjukan Tupai Janjang diikutsertakan. Persoalan atau masalah yang diungkapkan biasanya mengyangkut dengan kemakmuran masyarakat setempat. Pada waktu itu. maupun bahasa sehari-hari. Biasanya.

dan lain-lain. maka malam hari dijadikan untuk saling berkumpul dengan warga di sekitar lingkungan 2. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. petuah. untuk menafsirkan amanat yang disampaikan dalam cerita. Terutama bagi para warga yang sibuk pada siang hari dan beraktivitas di luar lingkungan tempat tinggalnya. Dengan demikian. . Dalam hal karena pertunjukan tradisional bersifat komunal maka untuk menafsirkan amanat cerita yang disampaikan dalam pertunjukan Tupai Janjang tidak terlepas dari masyarakat Minangkabau. pesan. Sebuah karya masih hidup dan bertahan dalam masyarakat karena adanya amanat yang dapat diambil dalam isi yang disampaikan oleh si penyair. Amanat yang disampaikan dibungkus dalam banyak mengandung kiasan. perumpamaan. dalam pertunjukan Tupai Janjang terjadi juga sosialisasi sesama warga. sebelum atau sesudah pertunjukan. Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh kepada amanat itu. Cara menyimpulkan amanat sebuah karya sastra sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal (Waluyo. Komunikasi itu mereka lakukan sewaktu pertunjukan berlangsung. Amanat cerita Amanat. Untuk menafsirkan suatu amanat tidak terlepas dari penyair. tempat tinggal. Penonton sama penonton juga dapat menjadikan pertunjukan Tupai Janjang juga sebagai sarana komunikasi. 2003:40). Amanat juga berkaitan dengan fungsi sebuah karya dalam karya sastra dalam hal ini pertunjukan Tupai Janjang.antara dengan para perantau dengan warga di kampung melalui pencerita atau pertunjukan Tupai Janjang. perumpamaan dan petuah itu. ungkapan. atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca sebuah karya sastra. Dengan demikian. Dalam suasasana pertunjukan yang santai para penonton dapat menjadikan ajang pertunjukan ini untuk saling berkumpul atau saling berbicara antar sesama. dengan sendirinya berhadapan dengan bahasa yang banyak mengandung ungkapan.

2002: 322).Amanat yang disampaikan dalam cerita ini tidak dinyatakan secara langsung tetapi dibungkus dengan berbagai cara. Walaupun. model yang kurang baik atau yang baik. Seperti dalam pertunjukan Tupai Janjang yang mana keinginan Linduang Bulan memiliki anak meskipun anaknya seperti seekor tupai. Kritik secara tidak langsung juga diberikan kepada para orang tua yang tidak sungguh-sungguh memperhatikan pendidikan anaknya. Cerita Tupai Janjang juga memberikan amanat kepada anggota masyarakat dalam hal ini jika posisi sebagai anak dalam suatu keluarga. akhirnya menyadari kesalahannya dan dapat hidup kembali berdampingan. . hal ini dianggap sebagai aib dan membuat keluarga itu malu karena keluarganya merupakan keturunan yang terpandang. dalam kehidupannya supaya tidak terjadi permusuhan. Sikap dan tingkah laku tokoh tersebut hanyalah model. Hal ini tidaklah berarti bawa pengarang menyarankan kepada pembaca (penonton) untuk bersikap dan bertindak seperti demikian. Pesan moral yang disampaikan merupakan hikmah yang ditampilkan lewat sikap dan tingkah laku tokoh. Dalam cerita Tupai Janjang menghadirkan beberapa orang tokoh. Amanat yang disampaikan dalam cerita ini mengandung nilai moral yang cukup tinggi. Orang tua yang tidak mendidik dan bahkan membuang anaknya tetap dihormati karena bagaimanapun orang tua itu merupakan orang yang telah berjasa melahirkan. Melalui tokoh-tokoh ini masyarakat dapat mengambil pesan. Pembaca diharapkan dapat mengambil amanat dan hikmah yang disampaikan (Nurgiyantoro. Meskipun tidak masuk akal. Mungkin orang yang pernah menyakiti seseorang nantinya akan menyadari kesalahannya. Sebagai salah satu anggota masyarakat. Kepada masyarakat secara umum cerita ini mempunyai amanat yang sangat besar. Anak yang pada awalnya dibuang dan tidak disukai. Sebagai orang tua hendaknya dapat membimbing dan mendidik anak walaupun anak itu mempunyai kelakuan yang tidak baik dan tidak diingini. Dalam hal ini digambarkan oleh orang tua Tupai Janjang yang telah membuang anaknya. akhirnya dapat berguna dan mengabdi kepada orang tua. Tuhan memberikan anak yang bertingkah laku seperti seekor tupai.

kok ado umua samo panjang. mandi baranang di tapian.tokoh mana yang dapat dijadikan pedoman dan mana yang tidak. (Kalau ada sumur di ladang. Kok ado sumua di ladang. disini dahulu ditamatkan) . disiko dahulu ditamatkan. Tingkah laku Tupai Janjang yang pada awalnya tidak baik tetapi akhirnya dapat merubah kelakuannya dan menjadi tokoh yang bisa memaafkan kesalahan orang tuanya yang telah membuangnya. mandi berenang di tepian. Tokoh Mandeh Rubiah merupakan tokoh yang baik dan mempunyai sifat yang dermawan dan mau menolong orang yang tidak di ketahui asal-usulnya. Toh akhirnya anak yang didik Mandeh Rubiah (Tupai Janjang) dapat menjadi seorang tokoh yang kaya dan mempunyai hati yang mulia. boleh kita menumpang mandi. kaba nan lain diulang lai. kalau ada umur sama panjang. kaba yang lain diulang lagi. buliah kito manumpang mandi. Begitu juga halnya dengan tokoh Mandeh Rubiah untuk dapat mengambil amanatnya.

paroh larik. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan . Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. klausa. larik. frasa. Perulangan yang ditemui pada teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. melainkan hanya dengan mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. Pencerita bukan menghafal teks. Dengan teknik formula dan komposisi skematik. terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel. Dengan memanfaatkan cara yang sama. atau kata.BAB VII KESIMPULAN Pertunjukan Tupai Janjang merupakan sebuah pertunjukan yang dapat digolongkan kepada teater tradisional karena dalam pertunjukan tersebut menghadirkan akting dan dialog. Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. pencerita dapat melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata. seorang pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. Disampin itu. Setiap pencerita dapat bebas melakukan improvisasi. Pencerita dalam menampilkan ceritanya tidak dengan menghafal teks. dan klausa yang berulang. frasa. Oleh karena itu. jika suku kata tidak mencukupi dalam satu tarikan napas. Perbedaan itu disebabkan oleh sifat dari tradisi lisan. Dengan memanfaatkan pola itu maka terdapat bentuk yang berulang baik dari pantun. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. Akting dan dialog hanya dilakukan oleh satu orang pencerita. tetapi dilantunkan dengan mengingat suatu pola.

irama pada saat pertunjukan. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. pencerita sudah mempunyai stereotipe di dalam pikirannya yang diperoleh dari tradisi lisan Minangkabau lainnya. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. dan (4) menceritakan kondisi tokoh dan peristiwa yang ada dalam cerita. Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. Di samping itu. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan cerita. (2) untuk memeriahkan acara pengangkatan penghulu. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang maka diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan. (2) pertukaran dan kegiatan tokoh dalam cerita. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan. pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pembuatan teks dalam pertunjukan. (4) untuk memeriahkan hari yang berhubungan . Komposisi skematik yang digunakan dalam cerita Tupai Janjang ditemui untuk hal-hal berikut. Di samping itu. (3) pergerakan waktu dalam cerita. yaitu (1) untuk memeriahkan pesta perkawinan. kegunaan Tupai Janjang lebih mengacu pada hal yang bersifat praktis. unsur verbal lebih dominan ditemui pada teks II jika dibandingkan dengan teks I. Dengan demikian. Sementara itu. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan alat memproyeksikan diri dan pencermin angan-angan kolektif masyarakat Minangkabau. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendiri-sendiri. Dalam masyarakat Palembayan. (3) untuk memeriahkan alek nagari. yaitu (1) menghubungkan peristiwa dengan situasisituasi cerita sehingga membuat cerita bergerak ke depan.

dan (5) untuk menunjang program pemerintah.dengan hari-hari nasional. terutama hari kemerdekaan. . terutama di bidang pariwisata.

2003. 1983. A Kasim. Ivan. Bandem. 1996. Laporan Penelitian. Bandung: Granesia. 1990. Made dan Sal Murgiyanto. Adilla. 1999. Yogyakarta: Kanisius. . T. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Hanindita Graha Widya. 1966. Khaidir.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 1992. Datuk Nagari. Seni Pertunjukan Tupai Janjang: Studi Kasus di Desa Aia Mondak Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam. B. Sastra Lisan Minangkabau I. “Resepsi Sastra: Teori dan Penerapannya”. Yogyakarta. Payakumbuh: Eleonora. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Anwar. “Tentang Sikap Dramatik dan Warna Lokal Mengakrabi Teater Rakyat” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau. 1989. Ita. Achmad. Richard. Bustami. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa.S. Skripsi. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. _______ 2001. Padang: Esa. Padang: Universitas Andalas. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Suyatna. Granesia Andras.Teater Daerah Indonesia. Padang. dkk. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Amir. Kesenian Bagurau. Basa. Kedudukan dan Peranan Wanita: Dalam Kebudayaan Suku Bangsa Minangkabau. Adriyetti.Imran. Bandung. Amir. 2003. Padang. Anirun. Kelisanan dalam Keberaksaraan: Hikayat Meukuta Alam. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. 1995. Bauman. and Event. 1988. 1983. Performance. Pusat Penelitian Universitas Andalas. Story. Cambridge: Cambridge University Press. M.

2001. Bandung: Angkasa. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. Ruth. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Erlinda. dan lain-lain. “Penelitian Resepsi Sastra dan Problematianya”. Suwardi. Bandung. Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. dalam Metodologi Penelitian Sastra. “Berburu Sastra Lokal”. Oral Traditions and the Verbal Arts. Makalah pada Seminar Internasional Kebudayaan Minangkabau dan Potensi Etnik Dalam Paradigma Multikultural. Edwar. 2002. Mursal. Yogyakarta: Pustaka Widyatama Esten. dalam Metodologi Penelitian Sastra. 2004. Endraswara. . Masyarakat dan Budaya Lokal Dalam Globalisasi. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Satya. 1993. Citra Wanita Dalam Lima Novel Terbaik Sinclair Lewis dan Gerakan Wanita di Amerika. Hanindita Graha Widya. Gayatri. Jakarta: Yayasan Obor. Padang: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. 2003. Yogyakarta. “Pengkajian Sastra dari Sisi Pembaca: Satu Pembicaraan Metodologi”. Jakarta: Balai Pustaka. 2004 “Tinjauan Fungsiolalisme Terhadap Seni Pertunjukan Saluang” dalam Ekspresi volume 12. Faruk. 1999. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djajanegara. Remaja Rosdakarya. 1993. Dongeng. Padang Panjang. 1995. 1997. 23-24 Agustus 2004 _____ 2003. Dramaturgi. 1980. Hanindita Graha Widya. Danandjaja. Tupai Jangjang Kesenian Rakyat di Nagari Silungkang Kecamatan Palembayan dalam Kajian Teknis dan Filosofis. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip.Chamamah-Soeratno. Soenarjati. Laporan Penelitian Akademi Seni Kerawitan Indonesia. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. _______. Institut Seni Indonesia. dkk. Siti. Harymawan. 1992. ___________. Yogyakarta. 2001. Finnegan. Djamaris. James. Metodologi Penelitian Sastra. Desetralisasi Kebudayaan. London: Routledge.

David. Ignas. 1999. Imran. A.Hutomo. Jakarta. Nadra. Geografi Dialek Bahasa Minangkabau (Disertasi). 1980. 1998. 1997.O. T. Suripan Sadi. Krisna. 1991. Padang Moussay. Jawa Timur. Saluang: Sastra Lisan Minangkabau. Cambridge. Jakarta: Grafiti Pers. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. 1997. The Singer of Tales. Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta: Renika Cipta Lord. . Jakarta: Gramedia.A. Kleden. Manan. 1984. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban. “Minangkabau dalam Perspektif Perubahan Sosial Kontemporer dan Gebu Minang” Diskusi Panel Perubahan Sosial Minangkabau Kerjasama Fakultas Sastra Unand dengan Lembaga Gebu Minang. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. 1982. 1981.Hidayat. 2000. 1991. _____ 1993. 2001. Mass: Harvard University Press. Sejarah Teori Antropologi. Tsuyoshi. Albert B. 2004. Diterjemahkan Rahayu S. Ithaca: Cornell University Press. Eva. Jakarta: Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pengantar Ilmu Antropologi. Ihromi. Tata Bahasa Minangkabau. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Navis. Imran. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Mohd Nefi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau Traditions in Indonesia. Gerard. _______ 1990. Kato. Kaplan. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Koentjaraningrat. Jakarta: Universitas Indonesia.

Van. London: Crambridge University Press. Jakarta: Universitas Indonesia. Keragaman dan Kesamaan Dalam Tradisi Lisan Nusantara. 1999. Andar Indra. Poerwanto.A. MPSS. Yogyakarta: Kanisius. Rusyana. Atar. 1995. 2002. 1984. Hari. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. Sijobang. Jakarta: Pustaka Jaya. Phillips. Sung Narrative Poetry of West Sumatra. “Etnisitas dan Globalisasi: Antara Sentrpetal dan Sentrifugal”. Pustaka Pelajar. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Burhan. Semi. Nigel. Fungsionalisme dan Teori Konlik dalam Perkembangan Sosiologi. Makyong: Hakikat dan Proses Penciptaan Kelisanan (Disertasi). Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. Strategi Kebudayaan. 2000. 1976. Yogyakarta. 1998. Penghulu. Soerjono dan Ratih Hertarini. Rosidi. Anatomi Sastra. Sairin. Idrus Hakimy Dt. 2002. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Pemerintah Kabupaten Agam. Sjafri. Indonesia: Perspektif Sastra. 14-16 Oktober 1999.Rajo. 1999. Kecamatan Palembayan Dalam Angka. 1988. 2002. Bagurau Dalam Basaluang: Cerminan Budaya Konlfik. 1981. Universitas Gajah Mada.Nurgiyantoro. Ajip. Yus. Soekanto. ________. (Tesis): Yogyakarta. C. Bandung: Remaja Karya. Teori Pengkajian Puisi. Makalah Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Perubahan Sosial Masyarakat Antropologi. Jakarta: Sinar Grafika . 2003. Pudentia. Padang: Angkasa Raya. 1988. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Peursen.

2003. Jakarta: Gramedia. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature.Yogyakarta: Tiara Wacana.1980. Waluyo. A. Rebab Pesisir Selatan Malin Kundang. 1982. Tahun I. James P. 1990. Rebab Pesisir Selatan Zamzami dan Marlaini. Jakarta: Pusat Bahasa. Metode Etnografi Elizabeth). A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Rene dan Austin Warren. 1997. Wellek. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1980. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Jakarta: Intermasa. ______ 1993. Sastra dan Ilmu Sastra. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Dendang Pauah Cerita Orang Lubuk Sikaping. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. Jakarta. University of Colifornia Press. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. 2002. Jurnal Basis. XXXVII. Sastra dan Teori Sastra (Terjemahan Melani Budianta). Pedoman Penelitian Sastra Daerah.11. Teeuw. Apresiasi Puisi . Jakarta. 1984. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. Herman. Syamsuddin. Tuloli. 1993. (Terjemahan Misbah Zulfa Sweeney. Berkeley: University of Colifornis Press. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Udin.Suryadi. ________ 1987. . Yayasan Obor Indonesia. Asosiasi Tradisi Lisan. 1999. November. 1980. Abdul Rozak. Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Zaidan. Berkeley. Spradley. Dalam Analisis Kebudayaan. Gramedia Pustaka Utama. Nani. _____ 1996. Amin. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.

0/023-04.PENELITIAN DOSEN MUDA ARTIKEL PENELITIAN FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG Oleh: Dra. 2006 .Hum Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415. M. Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006.0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. SATYA GAYATRI. tanggal 1 Februari 2006 FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER.

Waktu Penelitian 7. Dr. Jumlah Tim Peneliti 5.000. M. Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7. Bidang Ilmu 3. Judul Penelitian 2.HALAMAN PENGESAHAN 1.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian Prof. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra. Satya Gayatri. Jabatan Fungsional e. Satya Gayatri. Ketua Penelitian a. Golongan Pangkat dan NIP d. M. Adriyetti Amir.(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang. 131 474 873 . Helmi.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti Dra. Ir.S.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan.500. M. 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra.Sc NIP. H. Nama b. Fakultas/ Jurusan 4. Jenis Kelamin c. Lokasi Penelitian 6.

Dengan memanfaatkan teknik formulaik. PENGANTAR Tradisi lisan merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga. . dan larik yang berulang. peringatan peringatan hari Nasional. Tradisi lisan bisa juga menjadi sumber suatu penciptaan baru50 atau bisa berperan sebagai sumber dari suatu proses penciptaaan baru. Tradisi lisan di Minangkabau. dan untuk menunjang program pemerintah. bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. sehingga dalam teks akan ditemukan sejumlah kalimat yang bersifat paralel. upacara pengangkatan penghulu. Demikian juga halnya dengan pantun. 1. Bertahannya pertunjukan Tupai Janjang dalam masyarakat Palembayan karena mengandung fungsi dan nilai-nilai yang dapat dipetik baik dari isi cerita maupun dari pertunjukan itu sendiri. pencerita bukan menghafal cerita melainkan menggunakan teknik yang sudah terpola. Masyarakat dapat mengambil nilai-nilai ataupun pesan moral yang terkandung dalam cerita yang disampaikan. terdapat teks yang mempunyai kata. Salah satu tradisi itu adalah tradisi lisan Minangkabau. Tradisi ini. frasa. sampai saat ini mengalami variasi tergantung kepada fungsinya di dalam masyarakat. Dalam menyampaikan cerita. pencerita dapat mengubah teks setiap saat sesuai dengan situasi dan kondisi. tetapi juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. alek nagari. Kehidupan tradisi lisan akan mengalami variasi sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. Dengan demikian. Demikian juga dari segi fungsinya pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk memeriahkan pesta perkawinan.FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG:48 Satya Gayatri49 ABSTRAK Pertunjukan tradisional Tupai Janjang di Minangkabau merupakan salah satu bentuk teater tradisional karena menghadirkan dialoq dan akting. 48 49 50 Artikel penelitian BBI Dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas. klausa.

karena setiap pertunjukan dipengaruhi oleh waktu. Salah satu tokoh dalam cerita ini bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. Falsafah hidup dan ajaran ini dinukilkan dalam pepatah. Bertahannya tradisi lisan dalam masyarakat. kekuatan dalam bidang sastra dan bahasa Minangkabau terletak pada tradisi lisannya. dan disampaikan dalam cerita itu. penonton dan 51 Anwar dalam Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa (1995: 118) . Segala aspek kehidupan. Nama pertunjukan ini diambil dari nama kaba yang diceritakan. Sumatra Barat. pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. Dalam pertunjukan tradisional. Variasi pada teks dilakukan oleh pencerita. menambah pengetahuan. misalnya falsafah hidup yang dikenal dengan alam takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru). Kabupaten Agam. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau. Hal ini disebabkan karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. walaupun menampilkan cerita yang sama. disimpan. hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. bentuk.Dalam kebudayaan Minangkabau. setiap pertunjukan dari suatu cerita akan terlihat adanya variasi. petitih. petuah. Hal ini disebabkan karena nenek moyang orang Minangkabau. diturunkan secara lisan. mamangan. secara lisan. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi Tupai Janjang. Pertunjukan seperti ini. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. setiap cerita yang ditampilkan tidak persis sama. sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. Dalam hal ini. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. dalam mengatur kehidupan pada awalnya. Dengan demikian. dan kehidupan alam51. serta lain-lainnya mengambil ungkapan dari sifat.

XXXVII11(1988a: 298) 53 Lord dalam The Singer of Tales (1979: 54) . Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. Oleh sebab itu. bahwa pencerita di samping mampu mengingat formula sesuai dengan keingginan waktu menceritakan. pencerita. 52 Teeuw dalam “Indonesia Antara Kelisanan dan Kebersaraan”. klausa. untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman53. berarti juga menceritakan kembali cerita-cerita secara lisan. frasa. Pencerita mencoba mengingat frasa-frasa yang didengarnya dari pencerita lain. Persediaan formula itu disebut stock-in-trade si penyair. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula pada saat pertunjukan.situasi selama pertunjukan. Akhirnya. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. atau tukang pidato. tidak ada pementasan yang identik seratus persen walaupun ditampilkan oleh seorang pencerita yang sama52. saat pertunjukan berlangsung. terjadi kalimat yang paralel dan bentuk perulangan pada kata. Dengan demikian. pencerita dapat melakukan perubahan teks secara cepat. Teknik formula yang dikembangkan oleh pencerita. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan pola-pola yang sudah didapatkan dari pencerita terdahulu atau dari tradisi lisan lainnya. frasa diciptakan bukan menggunakan hafalan tetapi karena kebiasaan. sehingga pencerita mengucapkan secara terbiasa frasa-frasa itu seperti halnya dalam pembicaraan sehari-hari. Jurnal Basis November. tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. Variasi dilakukankan oleh pencerita dengan mudah karena pencerita sudah mempunyai stock-in-trade yang siap pakai. Dengan demikian. Dengan memanfaatkan cara ini. dalam sebuah pertunjukan pencerita melakukan perubahan sehingga terjadi variasi pada adegan yang diceritakan. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotip yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. FORMULAIK dan KOMPOSISI SKEMATIK Dalam setiap pertunjukan. Hal ini berarti. karena frasa itu sudah berkalikali dipergunakan. 2. kalimat. dan ide dalam cerita tersebut. Dalam hal ini.

yaitu mengingat perulangan atau menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. Hal ini disebabkan. dan larik yang telah ada54. diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. Tidak ada adegan dan sub-adegan dari cerita yang persis sama. karena pertunjukan merupakan aktivitas komunal dan terikat dalam kohesi sosial. Hal ini juga ditemui dalam tradisi sastra Melayu tradisional. cara yang juga digunakan oleh pencerita dalam sebuah pertunjukan adalah dengan memanfaatkan skema tertentu yang disebut komposisi skematik. atau dikurangi sehingga terjadi variasi antara pencerita terdahulu dengan pencerita yang ada sekarang ini. Variasi itu dapat terjadi karena faktor si pencerita maupun masyarakat yang menikmati cerita tersebut. skematik ini merupakan hal yang penting. Di samping memanfaatkan sistem perulangan. pencerita dalam pengertian ini membentukan baris puisi sastra lisan secara cepat sehingga banyak menggunakan rumusan atau pola-pola tertentu dalam setiap kegiatan penceritaan. Rumusan atau pola berformula dalam sastra Melayu tradisional. klausa. pencerita pada saat pertunjukan berlangsung. diubah. Tradisi sastra Melayu tradisional. atau larik.43) Sweeney dalam Authors Audiences in Traditional Malay Literature (1980:40) .Seorang pencerita dapat melakukan variasi pada adegan dan sub-adegan cerita. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. frasa. Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. sangat dipengaruhi oleh penonton sehingga terjadi umpan-balik. memperlihatkan fleksibilitas komposisi yang tinggi. Hal ini dapat dilakukan karena memanfaatkan sistem formula. Dalam sastra Melayu tradisional. Dengan cara memanfaatkan bentuk berformulaik. yang mungkin berupa kata. Skematik itu. ada adegan dan sub-adegan yang ditambah. Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan pada saat pertunjukan berlangsung. ibid (1981: 30. Oleh karena itu. sangat variatif. frasa. klausa. terutama dalam penceritaan secara lisan55. Di 54 55 Lord. Dengan demikian. Formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. Untuk menghasilkan perulangan itu.

Hal ini dapat menimbulkan variasi dalam cerita tersebut. melainkan bercerita sambil memanfaatkan kondisi yang dapat mendukung penceritaaannya. dan tempat pertunjukan yang berbeda juga mengakibatkan terjadinya variasi. ide-ide. walaupun ceritanya sama dan juga dilakukan oleh pencerita yang sama. apapun cerita yang ditampilkan56. sehingga seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. Dalam pertunjukan Tupai Janjang. atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematik. Dalam analisis ini.samping itu. Variasi itu dapat terjadi karena dalam pertunjukan lisan. ibid (1980:64-65) . pencerita tidak bercerita dalam keadaan teks yang kaku. Pada cerita yang berbentuk pantun ini. komposisi skematik juga merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dengan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional. penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. Dengan demikian. suasana. tetapi belum tentu teks cerita yang diucapkan sama. Dalam sebuah pertunjukan pencerita memanfaatkan cara perulangan supaya dapat menciptakan dan merangkai cerita secara cepat karena dalam pertunjukan lisan tidak ada penghafalan cerita. cerita yang sama dapat dibawakan oleh pencerita yang berlainan. Ekspresi formulaik yang pertama sekali dilihat adalah pada bagian cerita yang berbentuk pantun. Hal ini disebabkan karena waktu. perulangan ditandai dengan memberi garis bawah pada kata yang berformulaik. terlihat adanya perulangan antara satu bait dengan bait berikutnya. Dengan demikian. Pantun itu adalah: 56 Sweeney.

banda nak urang Koto Tuo. (Bandar |lah| orang kami bandarkan. turunan puti sudut-bersudut). bandalah |hai| urang si Koto Tuo. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2. bandar anak orang Koto Tuo. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. urang duto kami tak nio. turunan raja turun beraja. kaba |lah| orang kami kabakan. TEKS II Bandalah urang |hai| ambo bandakan. banda nak urang |lah| di Gumarang. (Bandarlah orang |hai| hamba bandarkan. untuk menyatakan waktu satu hari. bandar anak orang |lah| di Gumarang. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik. bumi |nan| belum |hai lah| beralun. (Oi| adalah pada suatu masa. orang dusta kami tak mau) Tak kalo maso dahulunyo. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang) |Oi| adolah pado suatu maso. Ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu kata atau dua kata. orang dusta kami tak serta). bumi |nan| alun |hai lah| baralun. Misalnya. Pencerita . (Bandar orang kami bandarkan. Kata kaba dan bandalah urang ditemui pada bait ke-1 dan bait ke-2. nan tasabuik-sabuik. Pada teks II. |hai| bumi |nan| antah barantah. kaba |lah| urang lai kami kabakan. satu bulan. Bandalah urang kami bandakan ditemui pada kedua teks. di nan dakek jolong tasongoh. ta rajo turun ba rajo. |hai| bumi |nan| antah berantah. Pengulangan itu terjadi pada bait yang sama dan juga pada bait yang berbeda. kaba urang kami kabakan. (Tak kala masa dahulunya. atau dua bulan. urang duto kami tak sato. tersebut gerangan Datuak Bandaro. Di nan tinggi tampak jauah. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. kaba |lah| urang kami kabakan. (Di yang tinggi tanpak jauh. adalah orang masa itu. kaba |lah| orang ada kami kabakan.TABEL I TEKS I Banda urang kami bandakan. larik itu diulang dengan merubah kata kami dengan kata ambo dan penambahan ungkapan penyeling hai. Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. kaba orang kami kabakan. adolah urang maso itu. Ada formula tertentu yang digunakan untuk menyatakan pergerakan waktu dalam cerita. yang tersebut-sebut). berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulang). Banda |lah| urang kami bandakan. bandarlah |hai| orang si Koto Tuo. tasabuik garan Datuak Bandaro. di yang dekat jolong tersongoh. ta puti suduik-basuduik. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formulaik yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. Pantun di atas terlihat adanya kata yang diulang pada larik berikutnya.

Sesudah pemakainan formula. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan (Sudah yang sepekan |oi lah| yang sebulan) Lah nan duo bulan garan mangaduang (Sudah yang dua bulan gerangan menganduang) Jalan barubah |lah nan| maengkang (Jalan berubah |lah nan| meengkang) Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang (Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung) Lah lapan bulan paruik tambah gadang (Sudah delapan bulan perut tambah besar) Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (Sudah yang sembilan bulan dia mengandung) Lah nan sahari nan duo hari (Sudah yang sehari yang dua hari) Lah nan bapakan lah maso itu (Sudah yang berpekan lah masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan tokoh yang diceritakan. . Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. Kata lah dalam hal ini mengandung arti alah (sudah). misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. (Hampir sampai genap bilangan) TEKS II I. (Sudah sebulan dua bulan) Ambia sampai ganok bilangan. (Sudah tiba sakit beranak) Lah sabulan duo bulan. sehingga terlihat paralelisme antara satu larik dengan larik yang lainnya. Formulaik pergerakan waktu Ampia sampai ganok bilangan bulan (Hampir sampai genap bilangan bulan) Lah hampienyo ganok bilangan. Contoh perulangan itu terlihat pada tabel di bawah ini. Persamaan yang terlihat adalah pada pemakainan kata lah baik untuk pergeseran waktu maupun untuk variasi tokoh yang diceritakan. TABEL II TEKS I I. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada dalam pikiran pencerita tersebut. Penambahan kata yang terjadi hanya untuk kepentingan irama dalam mendendangkan cerita.tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. Formulaik pergerakan waktu Dari sahari |oi| garan manganduang. (Sudah hampir dia genap bulangan) Lah tibo sakik baranak. Demikian juga halnya dengan perpindahan tokoh yang diceritakan juga memanfaatkan sistem formulaik.

dilanjutkan dengan keterangan yang dilakukan oleh tokoh. Variasi yang tampak adalah penambahan unsur verbal demi kepentingan irama misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana lah berkata Datuak Bandaro). Hal itu terlihat pada tabel di bawah ini:
TABEL III TEKS I I. Formulaik untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) II. Formulaik pada sintaksis |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Lalu bakato Datuak Bandaro (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang Lalu dicaliak si Tupai Janjang (Lalu dilihat si Tupai Janjang) |ha| lalu diambiaklah kulik nantun (ha| lalu diambillah kulit yang itu) TEKS II I. Formulaik untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (|Oi| hadaplah diri dua yang itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan |(Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan)

II. Formulaik pada sintaksis Lah balari si Dukun Pandai (Sudah berlari si Dukun Pandai) Lah bajalan Datuak Bandaro (Sudah berjalan Datuak Bandaro) Lah bajalan si Linduang Bulan (Sudah berjalan si Linduang Bulan) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) Lah pulangnyo maso nantun, (Sudah pulang dia masa itu) Lah tibonyo di tangah rumah. (Sudah tiba dia di tengah rumah) Lah dibao si Tupai Janjang (Sudah dibawa si Tupai Janjang)

Pencerita menyusun baris-baris cerita dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya. Pencerita mempunyai polapola yang dijadikan pedoman dalam menghasilkan baris pada saat penceritaan dengan cepat sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. Dengan demikian, baris-baris

memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. Cara ini dilakukan oleh pencerita untuk membentuk baris-baris dengan cepat dengan menukarkan tempat, menambah, atau mengurangi kata, sehingga tidak merubah sifat paralel kalimat itu. Untuk lebih jelasnya, hal itu dapat dilihat pada bagan berikut.
Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} {Oi} Tibo + + padi kasiah di lantai di rusuak di tanah Nyo inyo nan + baunduang-unduang baunduang + + hai + urang lantai rusuak tanah maso kain kain + + + basalang patah balubang taban balubang itu putiah sirah

Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Skematik itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. Dalam sastra Melayu tradisional skematik ini, merupakan hal yang penting, terutama dalam penceritaan secara lisan. Dengan demikian, pencerita mampu menghasilkan cerita dalam waktu yang sangat cepat dengan tidak menyiapkan atau menghafal teks sebelumnya. Hal ini diperlukan kemahiran dan kebiasaan penceritaan, sehingga sebelum menjadi pencerita yang sebenarnya dituntun melaksanakan latihan. Komposisi skematik diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel, seperti yang juga telah diberikan di depan. Kalimat-kalimat yang paralel ini juga berfungsi untuk mempermudah pertunjukan. Oleh karena itu, di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. Misalnya, untuk menyatakan Tupai Janjang telah lahir dan mempunyai perbedaan dengan anak yang lain (mempunyai keajaiban). Hal ini

dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik ini lazim juga ditemui dalam kaba Minangkabau lainnya. Skematik itu adalah;
Nan lah laia anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai lah patah, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang. (Yang telah lahir anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai sudah patah, tiba di rusuk rusuk runtuh, tiba di tanah tanah lambang57

Pada teks II, terjadi variasi skematik itu, namun masih ada kata yang sama digunakan. Sehingga, ide dari skematik itu masih sama. Skematik itu seperti terlihat sebagai berikut.
Nan lah ko laialah si Tupai Janjang, |oi| tibo di lantai lantai balubang, |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang, |a| lalu dicaliaklah anak nantun. (Yang sudah lahir si Tupai Janjang, |oi| tiba di lantai lantai balubang, |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlubang |a| lal dilihatlah anak itu).

Dalam kaba Anggun Nan Tongga, skematik ini juga ditemui waktu Anggun Nan Tongga lahir. Dalam skematik itu terlihat perbedaan dengan mendapatkan tambahan larik yang lain pada bagian awal dan akhir bait.
Dek Allah sadang manggarakkan, tibo di lantai lantai putuih, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang, anak lahia jo karuangnyo. (Mahkota, 1998:8) (Karena Allah sedang mencanda-i tiba di lantai lantai putus, tiba di rusuk rusuk terban, tiba di tanah tanah lambang, anak lahir dengan karungnya)

Untuk menerangkan kondisi kecantikan Linduang Bulan pada teks I, dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik itu juga lazim digunakan dalam sastra tradisional Minangkabau. Skematik itu adalah;
Kononlah Puti Linduang Bulan, nan bajalan sigajua lalai, alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati, nan ka suok lenggang manganai, nan ka kida lenggang mambunuah. (Kononlah Puti Linduang Bulan, yang berjalan sigajua lalai, alu tertarung patah tiga, semut terpijak tidak mati, yang ke kanan lenggang mengena, yang ke kiri lenggang membunuh)

Berbeda halnya pada teks II, menerangkan kecantikan Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I, tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambut yang panjang terurai.
57

Menurut Kamus Bahasa Minangkabau, lambang adalah lembang (bekas injakan, atau tekanan beban pada tanah). Hal ini biasanya digunakan betapa hebatnya yang mempunyai kaki, dalam cerita klasik.

skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena Tupai Janjang suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. Akhirnya. Hal ini disebabkan. anak bincacak anak bincacau. karena tradisi itu dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. Boleh ke rimbalah kau kini). Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. |oi| bamuko rancak rambuik taurai. Skematik itu biasanya diucapkan oleh orang tua kepada anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. misalnya kebutuhan sekunder suatu masyarakat. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. Setiap pola kelakuan sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat. Dalam hal ini. |oi| bermuka rancak rambut terurai. pendekatan fungsionalisme yang dikemukakan oleh Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat dimana unsur itu ada. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. urang nan elok |lah| maso itu. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. walaupun di tengah marak kebudayaan lain yang masuk ke dalam masyarakat. buliah ka rimbo lah kau kini. (Nak kandung si Tupai Janjang. Oleh sebab itu . anak sigiang-giang rimbo. anak yang seperti tidak ditunjuk ajari. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. Dalam cerita Tupai Janjang. 3. untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat sampai sekarang. orang yang elok |lah| masa itu). Nak kanduang si Tupai Janjang. anak sigiang-giang rimba. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. anak bincacak anak bincacau. kini bakiroklah ko kini. kini pergilah sekarang kini.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan.

Hal ini tergambar dari kepergian Tupai Janjang meninggalkan kampung halamannya. Akhirnya. Bascom fungsi folklor ada empat yaitu (a) sebagai sistem proyeksi yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Terhadap orang tua. (c) sebagai alat pendidikan anak. Semua fungsi ini akan dianalisis lebih mendalam dalam penceritaan tradisi lisan Tupai Janjang. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anakanak. kalau diberi 58 59 Ihromi dalam Pokok-Pokok Antropologi Budaya (1980:60) Danandjaja dalam Folklore Indonesia (1984:19). Keinginan itu adalah untuk pergi merantau dan kemudian berhasil di rantau sehingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. Dan juga cerita ini merupakan proyeksi dari keinginan dari orang tua agar anaknya pergi meninggalkan kampung halaman dan mencari “sesuatu” yang dapat digunakan buat masa depannya. bahkan juga orang tua sendiri. Sebagai alat pendidikan. cerita ini memberikan pendidikan supaya mempunyai kelakuan baik karena kelakuan yang tidak baik semua orang tidak menyukai. Tersirat juga pendidikan jika sebagai seorang anak hendaknya terhadap orang tua harus bersifat baik dan tetap menghormati. (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.dalam teori ini. walaupun orang tua kita sendiri pernah membenci dan membuang anak kita. cerita ini dapat diambil nasihatnya supaya hati-hati dan tabah dalam mendidik anak. Cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat Minangkabau. khususnya bagi pemuda Minangkabau. menurut William R. semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar suatu warga masyarakat58. cerita ini juga mengambarkan keberhasilan Tupai Janjang yang menjadi orang yang kaya sehingga dapat membantu orang tuanya. Terhadap anak-anak. . tetapi juga terhadap orang tua. dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya59. Bagaimanapun nakalnya seorang anak. Di samping itu.

sedangkan fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. (2) memeriahkan acara pengangkatan penghulu atau peresmian penghulu baru. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang sifatnya praktis seperti untuk kegiatan apa pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Palembayan.pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawakan hasil. Penggunaan akan mengacu kepada untuk kegiatan apa pertunjukan dilakukan. diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan. Dalam masyarakat Palembayan. pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. Oleh sebab itu. (4) memeriahkan hari yang berhubungan dengan hari-hari nasional. terutama di bidang pariwisata. (3) memeriahkan alek nagari. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang. 4. Secara eksplisit. Pencerita bukan menghafal teks. Bertahannya pertunjukan ini karena masyarakat masing mengangap pertunjukan ini berfungsi. tetapi hanya dengan . (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. KESIMPULAN Pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. terutama hari kemerdekaan. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan yaitu penggunaan dan fungsi. dan (5) menunjang program pemerintah. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendirisendiri. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk (1) memeriahkan pesta perkawinan.

jika suku kata tidak mencukupi maka pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan irama saat pertunjukan. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. Formulaik yang ditemui pada kedua teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. Di samping itu. frasa. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita. dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. dengan memanfaatkan cara yang sama terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan ide cerita. . Oleh karena itu. pencerita dapat melakukan variasi-variasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata. Hal ini dilakukan untuk mempercepat penyampaian ide cerita dalam pertunjukan. Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. Dengan teknik formulaik dan komposisi skematik. Hal ini terjadi karena setiap pencerita.mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. dan klausa yang berulang. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik. dapat bebas melakukan improvisasi.

Esten. 1982. Yogyakarta: Kanisius. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Bandem. T. 1983. dan lainlain. 1999. Bandung. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau in Indonesia. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. Bandung: Angkasa. A. Khaidir. 1992. A Kasim. 2002. 2000.Teater Daerah Indonesia. Granesia Anwar. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Mass: Harvard University Press. . Dongeng. 2004. Pemerintah Kabupaten Agam. Albert B. Ithaca: Cornell University Press. Jakarta: Grafiti Pers. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djamaris. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. Jakarta: Yayasan Obor. James. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. 1980. 1995. 2002.O. Jawa Timur. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Kecamatan Palembayan Dalam Angka. 1980. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. Made dan Sal Murgiyanto. Suripan Sadi.A. Mursal. Edwar. Cambridge. 1991. Desetralisasi Kebudayaan. Finnegan. 1984. Jakarta: Gramedia. Hutomo. The Singer of Tales. Traditions Kleden. Navis. Oral Traditions and the Verbal Arts. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. London: Routledge. Danandjaja. Imran. Kato.DAFTAR PUSTAKA Achmad. Mohd Nefi. Ihromi. Ignas. Ruth. 1981. 1996. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Lord. Tsuyoshi.

Pudentis. Syamsuddin. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Pustaka Pelajar. A. University of Colifornia Press. Amin. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”. Berkeley. Berkeley: University of Colifornis Press. 1999.1980. Jakarta.Peursen. Asosiasi Tradisi Lisan Teeuw. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. .11. Sweeney. Sairin. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. 1984. November. Nani. 2002. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. Padang: Angkasa Raya. 1980. Tuloli. Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Sastra dan Ilmu Sastra. 1988. Variasi Sosial Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi. ________ 1987. MPSS. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. Strategi Kebudayaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Jakarta: Intermasa. Udin. Tahun I. Anatomi Sastra. Sjafri. Ajip. Jakarta: Pustaka Jaya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1976. Dalam Analisis Kebudayaan. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Yogyakarta: Kanisius. Rosidi. Yogyakarta. C. 1990. Jurnal Basis. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan.Van. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. 1980. Atar. 1995.A. Semi. XXXVII. 1998. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful