PENELITIAN DOSEN MUDA

LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA TAHUN ANGGARAN 2006

FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG

Oleh: Dra. SATYA GAYATRI, M.Hum

Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415.0/023-04.0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006, tanggal 1 Februari 2006

FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER, 2006

HALAMAN PENGESAHAN USUL PENELITIAN DOSEN MUDA 1. Judul Penelitian 2. Bidang Ilmu 3. Ketua Penelitian a. Nama b. Jenis Kelamin c. Golongan Pangkat dan NIP d. Jabatan Fungsional e. Fakultas/ Jurusan 4. Jumlah Tim Peneliti 5. Lokasi Penelitian 6. Waktu Penelitian 7. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra. Satya Gayatri, M.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7.500.000,(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang, 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra. Adriyetti Amir, S.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti

Dra. Satya Gayatri, M.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian

Prof. Dr. Ir. H. Helmi, M.Sc NIP. 131 474 873

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK…………………………………………………………. PRAKATA …………………………………………………………. DAFTAR ISI………………………………………………………... BAB I. PENDAHULUAN………………………………………….. BAB II PERUMUSAN MASALAH………………………………… BAB III TINJAUAN PUSTAKA…………………………………… BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ……………… BAB V METODE PENELITIAN………………………………… BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………… 1. Transkrip Teks…………………………………………… 2. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang 3. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan……….. 4. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang………………………. BAB VII KESIMPULAN…………………………………………. DAFTAR PUSTAKA……………………………………………… i ii iii 1 6 7 12 14 16 17 52 62 71 83 86

Penelitian ini bertujuan untuk melihat unsur-unsur teks yang bersifat formulaik dalam aspek kelisanan. serta nilai-nilai apa yang dapat diambil dari teks yang dibacakan. Pertunjukan ini mempunyai fungsi dan kegunaan dalam masyarakat. Pertunjukan Tupai Janjang sampai sekarang masih tetap eksis walaupun sudah mengalami pergeseran oleh bentuk hiburan lainnya.ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Dalam teks akan terlihat adanya perbedaan formulaik antara suatu pencerita dengan pencerita lainnya. Selanjutnya. Berbagai pesan dan unsur nasihat juga terdapat dalam pertunjukan ini. sedangkan untuk penelitian kepustakaan digunakan terutama dalam menganalisis teks. Formulaik dan komposisi skematik dalam penceritaan juga mempertimbangkan irama sehingga terdapat pemakaian ungkapan penyeling untuk menyempurnakan irama itu. Disamping itu. penelitian ini bertujuan untuk melihat fungsi dan kegunaan teater tradisional tersebut dalam kehidupan masyarakat di daerah Palembayan. wawancara banyak dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang fungsi dan kegunaan pertunjukan Tupai Janjang yang telah dilakukan. Data yang didapatkan dari penelitian lapangan digunakan untuk melihat aspek-aspek pembentuk kelisanan dari teks. pencerita juga memakai skematik. Seorang pencerita untuk mempermudah komposisi penceritaan memakai formula dan komposisi skematik dalam pertunjukan. Penelitian lapangan digunakan untuk melihat bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang dan tanggapan masyarakat tentang pertunjukan itu sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertunjukan sebuah teks dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat pertunjukan sedang berlangsung. . bentuk yang berformulaik sangat membantu proses pelantunan teks oleh pencerita. Selanjutnya. unsur-unsur pembentuk kelisanan dalam teater tradisional Tupai Janjang. dalam menyampaikan ide dan gagasan saat pertunjukan supaya dapat dengan cepat menyampaikan cerita. Unsur-unsur teks yang bersifat formulaik berhubungan dalam pembentuk kelisanan dengan menggunakan pendekatan formula dan komposisi skematik. Sebuah teks tidak ada yang persis sama dalam suatu pertunjukan. Oleh sebab itu.

Budaya Minangkabau pada dasarnya adalah budaya lisan. sebagian kecil telah “diselamatkan” dalam bentuk rekaman tape recorder. hal itu sangat berpengaruh terhadap ragam dan gaya bahasa yang digunakan. perbincangan. melainkan juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. Salah satu tradisi lisan itu ada dalam kebudayaan Minangkabau. . tradisi lisan bisa menjadi sumber bagi suatu penciptaan budaya baru (Esten. terdapat dalam bahasa lisan. Dalam arti. Padahal. 1995:117 —118). Sastra Minangkabau juga terlihat kekuatannya pada sastra lisan. dan rekaman video (audio-visual). bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. rundingan. masih terdapat banyak tradisi lisan yang bertahan dan mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Navis (1984:231) bahwa dalam percakapan sehari-hari orang Minangkabau lazim menggunakan ungkapan. Pada negara-negara yang sudah maju. Bahkan. nasihat. hilangnya suatu tradisi lisan tersebut sesungguhnya merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia. bahkan hukum dan peraturan. 1999:105). tradisi lisan dicatat dan kemudian disebarkan lewat media cetak dalam bentuk buku (Rosidi. Bahasa yang diucapkan.BAB I PENDAHULUAN Indonesia memiliki kekayaan tradisi lisan yang tersebar pada tiap-tiap daerah. seperti ajaran. Dari banyak tradisi lisan yang masih hidup. transkripsi. Di samping terdapat tradisi lisan yang telah hilang. Tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang sangat berharga. 1995:125-126). Usaha pelestarian tradisi lisan sebagai kekayaan budaya bangsa perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkelanjutan. ragam tradisi lisan ini juga terlihat dalam komunikasi sehari-hari (Anwar. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak tradisi lisan di Indonesia yang telah hilang karena tidak dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya dan tidak sempat pula didokumentasikan.

membicarakan tradisi lisan juga langsung berhadapan dengan nilai-nilai dan aturanaturan yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. menambah pengetahuan. Dengan demikian. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. Pertama. disimpan. 1980:66). Selain itu. Tradisi lisan yaitu cerita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain secara lisan. Mengingat fungsinya dalam masyarakat. bahkan ada kecendrungan untuk menolak cara pemberian nasihat secara langsung (Tim Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam cerita itu dianggap pernah terjadi pada masa lampau atau merupakan hasil rekaan semata-mata karena terdorong keinginan untuk menyampaikan pesan. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. dan disampaikan dalam cerita itu. amanat. tetapi juga berbicara tentang hubungan antara pemain. teks (karya sastra). Bertahannya suatu tradisi lisan dalam masyarakat karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. daya pukau dari apa yang disampaikan menjadi hilang. dan pendidikan melalui cerita tersebut.Kebiasaan menggunakan ungkapan dalam percakapan bertolak dari landasan sosial dan struktur kekerabatan yang berkaitan sehingga menyebabkan setiap orang saling menyegani. Orang yang bercerita pada dasarnya ingin menyampaikan pesan. tradisi lisan Minangkabau dari segi keberadaannya dikelompokkan menjadi tiga. amanat. dan audience. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. dalam pengertian tradisi lisan terdapat peraturan tertentu yang tidak bisa diabaikan dan ditinggalkan kalau akan melaksanakan pertunjukan. jika pesan itu disampaikan secara langsung kepada orang yang hendak dituju. Akan tetapi. ragam tradisi lisan yang . Tradisi lisan tidak hanya berbicara tentang ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang tersebar dan diturunkan secara lisan (dari mulut ke mulut). dan pendidikan yang dapat bermanfaat bagi perkembangan watak dan kepribadian para pendengarnya.

maka pertunjukan ini dapat dikelompokkan ke dalam teater tradisional Minangkabau. Pengelompokkan itu karena pertunjukan Tupai Janjang menghadirkan dialog. ragam tradisi lisan yang bertahan dari kepunahan dengan jalan melakukan penyesuaian dan perkembangan sehingga mendapat sambutan dari masyarakatnya. yang biasa ditemukan dalam upacara perhelatan.terancam punah karena perkembangan dari masyarakat hingga kehilangan fungsi dan perannya. Jika dilihat dari bentuk pertunjukannya. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. Kedua. Randai ditampilkan oleh beberapa orang pemain. Pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. Pemain itu yang melakukan dialog dari tokoh dalam cerita dengan menirukan suara dan akting yang sesuai dengan tuntutan cerita. akting. dan musik. nyanyi. Demikian juga. Randai adalah pertunjukan teater tradisional yang . sesuai dengan jumlah tokoh yang ada dalam cerita yang dibawakan. maka pemain akan membesarkan suaranya seperti layaknya seorang bapak yang sedang marah. seperti pantun adat dan pasambahan. Berbeda halnya dengan randai yang juga disebut dengan teater tradisional. jika menceritakan bapak yang sedang marah. gerak. Kegiatan dialog. sedangkan untuk musik juga dimainkan oleh seorang pemain musik. jika menceritakan seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. gerak. akting. ragam tradisi lisan yang tidak mengalami perubahan sama sekali karena berkaitan dengan upacara adat. dan penyambutan tamu (Amir. dan nyanyi dilaksanakan oleh satu orang pemain. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi pertunjukan Tupai Janjang. 1990:25). kematian. Misalnya. Ketiga. maka pemain akan melakukan dialog dan akting seperti ibu-ibu yang sedang menyusui anak.

Namun. terutama kepada orang tua agar jangan asal berbicara karena yang diucapkan bisa menjadi kenyataan. Secara singkat. Akhirnya. Tupai Janjang bercerita tentang sepasang suami-istri yang sudah lama menikah dan belum juga dikaruniai anak. Dalam perjalannya ke kebun dia melihat seekor anak tupai yang melompat. Kabupaten Agam. pertunjukan dan kabanya bernama Tupai Janjang. sang istri itu pun hamil dan melahirkan anak yang tingkah lakunya seperti tupai. Akhirnya. Oleh karena itu. diduga cerita ini cukup banyak pesan yang dapat diambil. yakni . Berkatalah sang istri tersebut bahwa dia sangat menginginkan anak walaupun anak itu seperti tupai. Tupai janjang diambil dari nama sejenis tupai yang badannya lebih besar dari tupai biasa dengan bulunya berwarna agak kekuning-kuningan. Salah satu tokoh dalam ceritanya bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. Tupai janjang banyak terdapat di hutan di Pulau Sumatera. sang suami membuang anak itu karena ulahnya yang selalu menganggu masyarakat. Oleh karena itu.sudah lama dikenal dan pada umumnya ditemui hampir di semua wilayah Minangkabau. anak itu bertemu dan dibesarkan oleh seorang ibu hingga menjadi seorang pemuda yang gagah dan baik. itu orang tua juga harus berhati-hati menjaga anak karena anak merupakan amanah. Dari ringkasan cerita di atas. Tokoh ini awalnya mempunyai tingkah laku seperti tupai janjang dan akhirnya berubah menjadi manusia yang baik dan berguna. Kepada seorang anak juga ada pesan yang sangat berharga. Kenyataan terakhir ini tidak ditemui pada pertunjukan Tupai Janjang karena hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. si anak bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. Tupai janjang disebut juga bajing loncat dalam bahasa Latin dinamakan lomus horsfield dan dalam bahasa Inggris dinamakan endemic Sumatra. orang tua juga harus sabar mendidik anak. Sang istri berputus asa karena belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Jadi. pertunjukannya bernama tupai janjang yang diambil dari kaba yang disampaikan dalam cerita itu yaitu kaba Tupai Janjang. Di samping. Dalam pembuangan.

pertunjukan Tupai Janjang dapat dijadikan sebagai salah satu ajang hiburan karena penampilan pencerita. Pencerita dapat mengajarkannya kepada warga masyarakat yang lain dengan memanfaatkan sistem formula sehingga dapat dengan mudah mengingat teks yang diceritakan. dapat melakukan penyesuaian dan mampu “merekayasa” pertunjukan sesuai dengan pesan sponsor. misi penyelenggara acara. Tradisi lisan ini. frasa. memasyarakatkan program pemerintah. Mengingat kondisi dan nilai-nilai di atas maka penelitian dan pendokumentasian tentang pertunjukan tupai janjang seharusnya dilakukan secepat mungkin. atau menyampaikan suatu ide kepada orang (pejabat) secara tidak langsung. pewaris aktif yang profesional dari pertunjukan ini hanya tinggal satu orang. teks yang dibacakan mempunyai bentuk yang berulang baik segi kata. Dengan melihat kondisi dan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang ini maka penelitian secepatnya dilakukan mengingat nilai-nilai. Hal ini terutama terlihat dari akting yang dilakukan oleh pencerita. Pencerita ini yang sering diundang oleh masyarakat atau pejabat pemerintah setempat untuk melaksanakan pertunjukan. Kelangkaan pewaris aktif ini seharusnya tidak terjadi karena dengan memperhatikan teks dalam pertunjukan ini maka pewarisan (transmisi) diduga dapat dengan mudah dilakukan.bagaimanapun “durhakanya” seorang ayah yang telah menyakiti anaknya sendiri tetap harus dihormati. Hal ini didasarkan karena dalam tradisi lisan. Di samping pertunjukannya yang spesifik. atau menyampaikan perbaikkan jalan kepada pejabat daerah setempat. untuk menyampaian cerita. . Konsep formulaik ini digunakan oleh pencerita untuk mempermudah dan membantu mengingat teks sehingga teks dapat dirubah dan bersifat fleksibel tergantung kepada komposisi penceritaan. misalnya untuk kampanye. Di samping berisi pesan moral. atau kalimat yang disebut dengan formula. dan bentuk pertunjukan dapat diselamatkan dari kepunahan dan kelangkaan. klausa. fungsi.

Ketiga. Pertama. Dengan demikian. nilai-nilai. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap penelitian lapangan dan tahap analisis. Dari sebuah pertunjukan itu didapatkan sebuah teks. setiap penceritaan akan berbeda teksnya. Pada bagian ini akan melihat fungsi. walaupun menceritakan cerita yang sama. Kedua. Sebuah teks dalam pertunjukan tradisional tidak ada yang persis sama. . Selalu ada bagian-bagian yang mengalami perubahan karena sebuah pertunjukan tradisi lisan akan dipengaruhi oleh audience (penonton) dan suasana pertunjukan. penelitian lapangan dilakukan untuk melihat bentuk performance (pertunjukan) dari teater tradisional Tupai Janjang. untuk mengungkap fungsi pertunjukan Tupai Janjang bagi masyarakat di daerah Palembayan. dan amanat dari teks. Pada bagian ini akan dianalisis bentuk-bentuk formulaik yang diciptakan oleh pencerita.BAB II PERUMUSAN MASALAH Dari persoalan yang muncul di atas maka dirumuskan penelitian yang akan dilakukan dalam beberapa tahap yang saling berhubungan untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat. penelitian ini akan dilanjutkan dengan menganalisis teks untuk mengungkap sistem formulaik yang digunakan oleh pencerita dalam sebuah menceritakan teks.

frasa) yang tersedia baginya (stock-in-trade) yang siap pakai. Persediaan formula disebut stock-in-trade si penyair. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotipe yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. Lord (1981:34) menyatakan bahwa penyair-penyair itu tidak menghafalkan puisinya lewat naskah atau tulisan. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. pencerita. klausa. Untuk itu digunakan teori tentang sastra tradisional yang dikemukakan oleh Lord. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula itu pada saat pertunjukan. frasa. Dalam setiap pertunjukan tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. Teknik . bahkan seorang pencerita yang sama. Menurut Lord dalam bukunya The Singer of Tales (1981:30 dan 43). 1988a:298). Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. dan irama puisi yang dipakai. Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. Hal itu terbukti bahwa jarang terdapat penghafalan dan tidak ada dua pementasan yang sama.BAB III TINJAUAN PUSTAKA Penelitian ini akan mengunakan teori yang dapat mengupas masalah di atas secara mendalam. yaitu mengingat perulangan dan menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. Unsur-unsur yang dipakai memperlihatkan bentuk yang identik atau variasi sesuai dengan tuntutan tata bahasa. Setiap penyair tradisional membawakan ceritanya dengan menciptakan kembali secara spontan dan memakai sejumlah unsur bahasa (kata. formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. dan larik yang telah ada. Untuk menghasilkan perulangan itu. frasa. yang mungkin berupa kata. klausa. atau tukang pidato. atau larik. yang identik penampilannya (Teeuw. kata majemuk. matra.

Formula dan ekspresi formulaik bertujuan untuk menceritakan kisah-kisah dalam nyanyian dan sajak. Formula merupakan alat untuk menuangkan tema atau ide-ide yang .formula dikembangkan untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman (Lord. pencerita dapat menyusun larik-larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. Pencerita dapat membangun larik terusmenerus. Upaya untuk mempelajari. dan penambahan kata-kata atau ungkapan baru pada pola formula sesuai dengan kebutuhan penceritaan atau penggubahan. Finnegan dalam Tuloli. Dalam penyusunan baris dengan pola formula itu terjadi proses penggantian. tetapi juga dimaknai sebagai komposisi selama terjadinya penampilan secara lisan. Batasan yang diberikan tentang pola formula dan ekspresi formulaik akan diterapkan dalam menganalisis teks cerita tupai janjang. Dengan pola formula sebagai dasar. 1979:54. 1981:5). 1991). Konsep kelisanan tidak hanya dimaknai secara presentasi lisan. Sweeney (1999:68) menyebutkan bahwa formula adalah larik atau paruh larik yang digunakan lebih dari sekali dalam bentuk yang sama. Ekspresi formulaik dapat juga membantu terbentuknya wacana ritmis sehingga merupakan salah satu alat bantu untuk mengingat kembali dengan mudah. Penganalisisan terhadap teks harus dimulai dengan pengamatan yang cermat terhadap frase-frase yang mengalami perulangan. Cerita yang ditampilkan juga menyampaikan tema atau ide. pembentukan model. kombinasi. cepat. dan tepat serta menjadi ungkapan tetap yang dapat bertahan hidup secara lisan (Lord. 1981:30). sedangkan ekspresi formalik adalah ungkapan yang dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama. menyusun. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim. dan menampilkan suatu karya secara lisan merupakan bentuk rangkaian kelisanan yang dimaknai sebagai kelisanan dalam arti teknis atau harfiah (Lord. 1981:45). Hal ini dilakukan untuk menentukan formula dengan berbagai variasi polanya (Lord. sesuai dengan keinginan dan kreatifitasnya.

Tema adalah kelompok ide yang secara teratur digunakan pada penciptaan suatu cerita dalam gaya formulaik. Penguasaan formula dan tema merupakan syarat utama dalam menggubah cerita secara mudah dan lancar. melainkan merupakan pengelompokan ide-ide (Lord. Ini merupakan suatu keharusan dan bersifat normal. Dalam pikiran pencerita yang telah mapan. Komposisi skematik merupakan skemata atau formula yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. . Penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. Tema disusun dari adegan-adegan yang telah ada dalam pikiran pencerita dan digunakan untuk merakit cerita itu. Tema bukan sekumpulan kata yang tetap. 1981:94). 1981:40). Lord (1976:4 dan 68) menyatakan bahwa kelompok-kelompok ide yang secara reguler digunakan dalam menceritakan kisah merupakan tema-tema cerita. Tema adalah peristiwa atau adegan yang diulang dan bagian-bagian deskriptif dalam cerita. Pencerita tidak pernah memproduksi tema dengan kata-kata yang persis sama. melainkan kreasi seni yang hidup dan berubah sesuai dengan situasi (Lord. Dalam sastra Melayu tradisional. 1980:64-65). terutama dalam penceritaan dramatis secara lisan (Sweeney. atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematis. ide-ide. 1981:61). Skemata atau formula itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. apapun cerita yang ditampilkan (Sweeney. Tema bukanlah kreasi seni yang sungguh-sungguh statis. Pencerita berpikir dan mempertimbangkan berdasarkan pola formula untuk menyajikan cerita. Hal ini disebabkan oleh sifat lentur formula dan pencerita tidak memakai formula yang sama pada setiap saat penceritaan.disampaikan kepada audience. Dalam penceritaan lisan. Tema dapat diekspresikan dengan sekumpulan kata-kata. tema mengalami perkembangan. skemata merupakan hal yang penting. Komposisi skematik merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional.

Sementara itu. dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya (dalam Danandjaja. dan audience akan mempengaruhi performance. (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Penelitian Erlinda . semuanya itu dapat dilakukan oleh satu orang dalam waktu yang bersamaan. pembuatan komposisi bagi penyair lisan dilakukan pada saat pencerita melaksanakan performance sehingga komposisi dan performance merupakan dua hal yang dilakukan pada saat bersamaan. telah juga dilakukan oleh Phillips (1981) tentang Sijobang dengan judul Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra. dan transmisi. tetapi dalam sastra lisan. Bascom. variasi cerita Sijobang. tempat. dan peranan formula dalam penciptaan. Performer adalah orang yang memproduksi sastra lisan pada saat performance dan sekaligus juga sebagai komposer. Menurut Lord. yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. penelitian yang khusus dilakukan terhadap Tupai Janjang telah dilaksanakan oleh beberapa orang. pergi.Lord juga menyatakan aspek kelisanan berupa komposisi. Suasana. (3) sebagai alat pendidikan anak. dan berbicara dengan sesama penoton yang lain. Penyanyi. Dalam penelitian ini diungkapkan hubungan sosial. Hal ini akan mempengaruhi performance atau mungkin juga performance dapat terputus sejenak (Lord. dan penyair adalah orang dengan aspek yang berbeda. Bascom folklor mempunyai empat fungsi. Menurut William R. Penelitian yang dilakukan juga menerapkan teori yang dikemukakan oleh Lord tentang formula yang ditulis dalam bentuk disertasi. Untuk melihat fungsi dari pertunjukan tupai janjang. Penelitian dengan memakai teori Lord. Audience dapat datang. performer. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. performance. 1981:13—17). Performance adalah saat berkreasi bagi penyair lisan. teknik dan metode pencerita dan pencipta. 1984:19). komposer. Berbagai penelitian tersebut baru pada tahap awal dan tidak memberikan analisis yang mendalam terhadap tradisi ini.

Analisis dilakukan dengan melihat plot. bentuk pertunjukan. pembahasannya juga tidak mendalam.dkk (1997) dalam bentuk laporan penelitian untuk ASKI Padang Panjang sangat ringkas sehingga tidak mencapai aspek-aspek yang dituntut dalam penelitian. alur. penokohan. . Penelitiannya lebih terfokus pada unsur cerita Tupai Janjang dengan teori drama modern. Pada bagian akhir tulisannya dilengkapi dengan teks kaba Tupai Janjang. tetapi tidak dilanjutkan dengan analisis terhadap teks tersebut. Penonton pertunjukan Tupai Janjang pada waktu itu adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah sastra Nusantara. Andras (1999) melakukan penelitian terhadap Tupai Janjang dalam tugas akhirnya guna memperoleh strata satu di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Padang. bukan menempatkan Tupai Janjang sebagai sebuah pertunjukan tradisi lisan. cerita yang dibawakan. Karena hanya dalam bentuk makalah. Udin (1999) dalam makalah untuk seminar Asosiasi Tradisi Lisan tahun 1999 mengamati pertunjukan Tupai Janjang yang dilaksanakan di FPBS IKIP Padang. Namun. Gambaran dan suasana pertunjukan yang didapatkan tentu hanya sedikit. tema. dan latar cerita. dan audience tidak tepat sasaran karena pertunjukannya ditampilkan untuk tujuan perkuliahan.

Selain diperlukan berbagai upaya untuk melestarikan tradisi lisan. pesan. penelitian ini diharapkan juga memberikan kontribusi yang baik terhadap pemerintah daerah terutama di bidang kepariwisataan budaya guna . otomatis akan menambah dokumentasi dari bentuk pertunjukan teater tradisional di Minangkabau dan akan mengembangkan penelitian yang lebih lanjut terhadap peminat sastra tradisional.BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan teater tradisional Tupai Janjang serta menerangkan sistem formulaik dari teks. dan amanat dari cerita Tupai Janjang ini. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangan penelitian yang lebih lanjut terhadap pertunjukan tradisional sehingga dapat menjadikan sumber inspirasi baru bagi pencipta sastra modern dengan memperlihatkan akar dari budaya daerah. Akhirnya. diharapkan dapat mengangkat nilai-nilai tradisional yang telah lama terkubur sehingga memberikan dan memperkokoh jati diri bangsa yang sedang mengalami erosi yang begitu hebat. Sementara itu. penelitian ini juga bertujuan untuk menguraikan fungsi supaya dapat mengambil nilai-nilai. Dengan analisis formulaik ini diharapkan dapat ditentukan stereotip yang digunakan dalam merangkai cerita Tupai Janjang oleh pencerita sehingga dapat mudah ditransmisikan kepada pencerita yang lainnya. Dengan demikian. diperlukan pula upaya untuk menggali dan mengkaji isi yang terkandung di dalamnya yang dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa Indonesia. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan penelitian. Penelitian ini akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan terutama terhadap peninggalan-peninggalan tradisional terutama kepada teater tradisional dan bukan hanya bersifat inventarisasi dan pendokumentasian tetapi lebih dari itu menjadikan peninggalan-peninggalan tradisional jadi objek kajian yang menarik. Dengan ditelitinya pertunjukan ini.

Dengan demikian. negara.meningkatkan promosi pariwisata karena pertunjukan tradisional dapat juga menarik wisatawan domestik maupun asing. akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. dan daerah. .

Dengan demikian. Penonton juga akan memberikan suasana tertentu dalam pertunjukan. Data ditranskipsikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan konteks masyarakat pendukungnya. dan wawancara dengan penonton. peneliti terlebih dahulu dibekali dengan seperangkat teori yang berkaitan dengan objek supaya kendala di lapangan tidak mempengaruhi terhadap hasil yang didapatkan. Penelitian ini juga dilakukan dengan menggunakan metode etnograsi. Penelitian ini mengambil objek tupai janjang yang dilaksanakan di Kecamatan Palembayan. jarang. Kabupaten Agam. Sebelum terjun ke lapangan. Setelah itu baru data dianalisis dengan . dan pejabat pemerintah setempat tentang pengetahuannya terhadap pertunjukan Tupai Janjang. Penonton yang diwawancarai adalah yang sudah sering. tape recorder. Penelitian dilakukan dengan dilengkapi handycame. Wawancara dilakukan setelah pertunjukan usai. atau belum sama sekali menonton pertunjukan Tupai Janjang. penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan suasana pertunjukan seperti apa adanya. baik yang terlibat langsung dalam pertunjukan maupun yang tidak. cadiak pandai. dilakukan transkripsi dan analisis. Penentuan informan didasarkan atas kualitas dan pengalamannya terhadap pertunjukan TJ. Hal ini dilakukan supaya data yang didapat betul-betul akurat dan hidup. karena tradisi pertunjukan ini hanya hidup di daerah tersebut. teknik wawancara dan observasi. tokoh agama. Tanggapan juga diminta kepada niniak mamak. Tanggapan yang diberikan oleh penonton akan mempengaruhi kehidupan Tupai Janjang itu sendiri. Setelah data terkumpul.BAB V METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang didasarkan pada data-data yang diperoleh di lapangan. Para informan tersebut terdiri atas pemain tupai janjang yang profesional dan masih aktif serta pemain yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat. baik terhadap pemain maupun terhadap penonton. Pertunjukan dan perekaman dilakukan secara alami.

menggunakan pendekatan formulaik untuk melihat teknik-teknik penceritaan lisan. pesan dan amanat yang ada dalam teks cerita Tupai Janjang. . menganalisis nilai-nilai. Terakhir.

misalnya oi. Kecamatan Pelembayan. Untuk membedakan teks yang berbentuk dialog dengan teks yang berbentuk narasi dipakai tanda “ ” di awal dan akhir dialog. Teks I merupakan teks yang diambil dari skripsi Ita Andras (1999). yaitu teks I dan teks II. . nan.BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Teks yang dianalisis dalam penelitian ini ada dua. Kabupaten Agam. 1 Menurut Amir (2003:47) dan Kamus Bahasa Minangkabau. Kenagarian III Koto Silungkang. jorong adalah bagian nagari atau kampung. tentang kembali ke nagari di seluruh Sumatra Barat. hai. Dalam penampilan. secara pemerintahan kepala jorong berada di bawah kepala nagari. Setelah diberlakukannya Perda No. dalam pengucapannya. ada kata-kata yang tidak mempunyai arti dan hanya berfungsi untuk kepentingan irama. Kata-kata itu hanya berfungsi sebagai penyempurnaan irama dan jika dihilangkan atau ditinggalkan maka tidak akan mempengaruhi arti dari teks tersebut. Tanda ( ) digunakan untuk memberikan keterangan. Teks ini diambil dari hasil rekaman dan pengamatan penulis terhadap pertunjukan TJ yang ditampilkan oleh Elvis pada tanggal 25 Mai 2006. dialog yang diucapkan oleh tokoh. Dipilihnya teks I untuk dianalisis karena Andras dianggap oleh masyarakat setempat sebagai pencipta pertunjukan TJ seperti sekarang ini. Teks ini dijadikan teks I karena lebih tua dari teks II. 1984:231). Oleh karena itu.02/ 1999. Keterangan untuk kegiatan ini diberikan di bawah teks yang dibacakan dan hanya dalam bahasa Indonesia. serta akting yang dilakukan oleh pencerita untuk mendukung cerita. ha. desa yang sebelum diberlakukannya Perda tersebut diganti dengan nama jorong. Kata-kata yang tidak ada padanannya ditulis miring dalam bahasa Indonesia dengan memberikan keterangan di bawahnya. Teks II merupakan teks pokok. teks yang didendangkan sangat dipengaruhi oleh irama. dan lain-lain (Navis. kegiatan. Pertunjukan dilaksanakan di rumah salah satu warga di jorong1 Gumarang. lah. ondeh.

5 Menurut Navis (1984:175). Adolah Datuak Bandaro. kami membuka kaba lama. Tak kalo maso dahulunyo. kaba orang kami kabakan. 2. mamacik naraco adia. niniak mamak adalah sebutan untuk para pemuka/penghulu adat. tak kalo alun baralun. kononlah si Datuak Bandaro. banda anak orang Koto Tuo. banda nak urang Koto Tuo. Menurut Amir (2003:57). adalah orang masa itu.1. kaba urang kami kabakan. iyalah kaba Tupai Janjang. menyatukan dan memperkuat. gajah maharam adalah sejenis rumah gadang atau rumah adat yang besar dan mempunyai banyak bilik. Di nan tinggi tampak jauah. alun-beralun adalah untuk menyatakan keadaan dahulu kala dan tidak persis waktunya. Transkripsi Teks Teks I PEMBUKAAN 1. Di yang tinggi tampak jauh. ampunlah kami niniak mamak. mamagang bungka nan piawai. orang kaya suka makan. Ampun baribu kali ampun. maaf diminta banyak-banyak. nan barumah Gajah Maharam. Banda orang kami bandakan.5 sawah luas berpiring-piring. di nan dakek jolong tasongoh. memegang neraca adil. tak kala alun-beralun3. iyolah kaba Tupai Janjang. urang duto kami tak nio. tarajo turun barajo. taputi suduik basuduik. di yang dekat jolong tasongoh. turunan puti sudut-bersudut. jolong tasongoh adalah awal kelihatan. ampunlah kami niniak mamak. Banda urang kami bandakan. . kononlah si Datuak Bandaro. Dalam pantun adat Minangkabau diungkapkan Nan gadang basa batuah. nan tasabuik-sabuik. siapa dia orang yang terkaba. memepat dan meratakan.6 kebun ubinya berpetak-petak. 4 Ibid.4 turunan raja turun beraja. Tatkala masa dahulunya. mampeh mandatakan. adolah urang maso itu. kami mambukak kaba lamo. 10 Berlayar kapal ke Sibolga. 15 20 25 Adalah Datuak Bandaro. sia nyo urang nan ta kaba. nan dianjuang tinggi. 5. 2 5 Ampun beribu kali ampun. orang dusta kami tak mau. 4. memegang timbangan yang benar) 3 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. muatan dari Kota Padang.2 sepuluh jari kami susun. muatan dari Koto Padang. urang kayo suko dimakan. (Orang yang besar bertuah. mambalah maampalau. yang tersebut-sebut. yang berumah Gajah Maharam. 3. kabun ubinyo bapetak-petak. Balaia kapa ka Sibolga. sawah laweh bapiriang-piriang. yang dianjung tampak tinggi. sapuluah jari kami susun . ADEGAN I 6. maaf dimintak banyak-banyak.

tidak patut susah Tuan sudah susah. tidak patut menyesal Tuan. mako den ka Pasa Canduang. maka saya duduk termenung. melihat Tuan bermenung. luluh rasanya perantian. indak patuik manyasa Tuan. kito dibari Tuhan aka. membeli ikan belanak.” Yang menjawab Datuak Bandaro. kito ambiaklah anak urang. sudah segudang tungku kemenyan saya bakar kehendak tidak juga berlaku. untuk menjaga badan kita. teringat badan tidak beranak. mengapa Tuan duduk termenung. digulai di hari senja. “Manalah adik Linduang Bulan. kini begitulah oleh Tuan. Sudah sepuluh tahun dia bergaul. 8 Batanyo Puti Linduang Bulan. gimana saya tak akan bermenung. sudah habis susah saya. “Manolah adiak Linduang Bulan. manyasa tasasah di kain rancak. iko nan den manuangkan. maliek Tuan bamanuang . tempat keramat yang sudah saya datangi. maka saya ke Pasar Canduang. kemana dukun yang tidak kita tempuh. “Oi Tuan Datuak Bandaro. kita ambillah anak orang. Tujuannya adalah untuk menyatakan sawah yang banyak.” 10. mako den duduak tamanuang.nan padusinyo Puti Linduang Bulan. “Manalah adik Linduang Bulan. digulai di hari sanjo. Dik. siapa akan menjaga badan tua. “Oi Tuan Datuak Bandaro. lah sagudang tungku kumayan den baka. indak patuik susah Tuan lah susah. tampaik kiramaik nan lah den datangi. kini begitulah oleh adik. baa denai tak kabamanuang. rancak terangkan pada saya. “Oi Tuan Datuak Bandaro. luluah rasonyo parantian .” Yang berkata Linduang Bulan. susah ka kito bagi duo. kandak indak juo balaku. 7. kita diberi Tuhan akal. berakallah kita tentang itu. kito paliharo elok-elok. “Oi Tuan Datuak Bandaro. ini yang saya menungkan. mambali ikan balanak. untuak mambalo badan kito. kalau saya kira-kira betul. Diak. . kita pelihara elok-elok. kini baitulah dek Tuan. kini baitulah dek adiak. Bertanya Puti Linduang Bulan.” 35 40 45 50 55 60 65 70 6 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. kalau den agak-agak bana.” Yang menjawab Datuak Bandaro. takana badan tak baranak. Lah sapuluah tahun nyo babaua. sinan tamanuang Datuak Bandaro. bapiriang-piriang sama dengan berpetak-petak.” 9. menyesal tercuci di kain rancak. manga Tuan duduak tamanuang.” 11. Nan bakato Linduang Bulan. Nan manjawek Datuak Bandaro. anak yang tidak kunjung dapat. takana badan tak baranak.” 30 yang istrinya Puti Linduang Bulan. barakalah kito tantang nantu. “Manolah adiak Linduang Bulan lah habih susah den. kama dukun nan tak kito tampuah. susah akan kita bagi dua. Nan manjawek Datuak Bandaro. sia kamambalo badan tuo. rancak tarangkan pado denai. teringat badan tak beranak. anak nan indak kunjuang dapek. sana termenung Datuak Bandaro.

melihat kebun kopi kita. Nan bakato Datuak Bandaro. dua dengan Linduang Bulan. Datuak Bandaro berjalan bergegas-gegas. orang berhelat tengah sawah.” Sub-adegan ke-1 75 80 85 Yang berkata Linduang Bulan. kononlah padi rang basalang. cadangkan padi salibu.gageh. “Manalah adik Linduang Bulan. kalau co iko adiak bajalan. alu tertarung patah tiga. enggan juga hatinya. bagagehlah adiak saketek. kalau tidak padi di lumbung. “Manalah Tuan Datuak Bandaro. hampia sabulan kito tak kian. Lah bajalan si Linduang Bulan. salibu adalah padi yang sudah terkena hama.” 100 105 Sudah berjalan si Linduang Bulan. nan babuah di tangah sawah. cadangkan padi salibu. duo jo Puti Linduang Bulan. rasa kopi sudah akan memerah.” 13. 7 8 Sudah berjalan Datuak Bandaro. hampir sebulan kita tak ke sana. to melah kito bajalan-jalan. nan bajalan siganjua lalai. sayang manjalang sawah sudah. Ungkapan ini sering digunakan untuk menyatakan sifat jalan seorang perempuan. “Manalah adik Linduang Bulan. 15. bainggan juo hatinyo.” Yang berkata Datuak Bandaro. yang masanya semasa itu. yang ada bertali darah. Kononlah Puti Linduang Bulan. “Manolah Tuan Datuak Bandaro. “Manolah adiak Linduang Bulan.” ADEGAN II 17. kononlah kasih orang ditompang. sayang menjelang sawah sudah. nan masonyo samaso nan tun.12. . marilah kita berjalan-jalan. tetapi dapat tumbuh lagi. kalau den etong-etong bana. urang baralek tangah sawah. sedangkan berdunsanak ibu. samuik tapijak indak mati. 95 Datuak Bandaro bajalan bagageh. nan lai batali darah. kalau saya hitung-hitung benar. bergegaslah adik sedikit. bila masanya yang akan sampai. yang ke kanan lenggang mengana. kononlah kasiah rang ditompang. sapinggan juo kanasinyo. Nan bakato Datuak Bandaro. alua tataruang patah tigo. terutama untuk para gadis. kok indak padi di lambuang. yang ke kiri lenggang membunuh8. kononlah kasih orang ditompang. Kononlah Puti Linduang Bulan. semut terinjak tindak mati. nan ka suok lenggang manganai. kononlah kasiah urang ditompang. cando urang dikaja hantu. yang berjalan siganjua lalai. baraso kopi lah ka manyirah. kalau seperti ini adik berjalan.7 yang berbuah di tengah sawah. kepada Puti Linduang Bulan. Ibid. bilo masonyo nan kasampai. nan ka kida lengang mambunuah. 16. maliek kabun kopi kito. kapado Puti Linduang Bulan. seperti orang dikejar hantu. Yang berkata Datuak Bandaro. sadangkan badunsanak ibu. kononlah padi orang dipinjam. “Manolah adiak Linduang Bulan.” 90 14. Nan bakato Linduang Bulan. sepinggan juga jadi nasinya. Lah bajalan Datuak Bandaro.

mangaliciak inyo saketek. 140 nan maabiahkan kopi kito.” Yang berkata Puti Linduang Bulan.9 dilempar pula sekali lagi. yang menghabiskan kopi kita. etan di dalam parak kopi. melompat ke tepi pagar. itu di dalam kebun kopi. lalu diambiak gado lintang. “Oi adiak Linduang Bulan. Sanan takajuik Datuak Bandaro. ini yang memakan kopi saya. 120 125 130 135 Yang berkata Puti Linduang Bulan. saya lemparlah binatang ini.” 115 Dalam dia terkejut itu. “Oi Tuan Datuak Bandaro. iko nyo nan mamakan kopi denai. “Iko nan maabihan kopi kito. Sana terkejut Datuak Bandaro. Dibaenyo dek Datuak Bandaro. tiba di dahan dia melihat.dituruikan Datuak Bandaro.” 21. dia mengelak masa itu. menghindar dia sedikit. “Oi Tuan Datuak Bandaro. Tuan?” 110 dituruti Datuak Bandaro. bialah sarupo Tupai Janjang. mandencek sikua binatang. saya bunuhlah Tupai Janjang ini. inyo mailak maso nantun. “Oi Tuan Datuak Bandaro. rancak bana tampak di denai. biarlah serupa Tupai Janjang. lalu diambil gado lintang. 22.” 26. den bunuahlah Tupai Janjang nangko.” 19. “Den sangko kopi banyak masak. “Oi Tuan Datuak Bandaro. den baelah binatang nangko. usah dibunuah binatang nantun. dibae pulo sakali lai. dialah binatang yang melompat tadi. Nan bakato Puti Linduang Bulan. mandencek ka dahan tinggi. 18. usah dibunuh binatang itu. Panehlah hati Datuak Bandaro. Nan bakato Puti Linduang Bulan. melihat Datuak Bandaro. tibo di dahan inyo maliek. Dalamnyo takajuik nantun. kinilah yang muda saja yang tinggal. tercengang Datuak Bandaro. Pihak kapado binatang nantun. “Saya sangka kopi banyak masak. 23. 20. maliek Datuak Bandaro. Tuan?” Yang menjawab Datuak Bandaro. inyolah binatang nan mandencek tadi. itu yang bernama Tupai Janjang. Pihak kepada binatang itu. meloncat ke dahan tinggi. Yang berkata Datuak Bandaro. Apo namonyo binatang tu. gado lintang adalah sebutan kayu yang digunakan untuk melempar. Panaslah hati Datuak Bandaro. kinilah nan mudo sajo nan tingga. itu nan banamo Tupai Janjang. kalau Tuhan memberi izin saya beranak. “Ini yang menghabiskan kopi kita. melompat seekor binatang. Nan manjawek Datuak Bandaro.” 9 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. mandencek ka tapi paga.” Dilemparnya oleh Datuak Bandaro. “Oi adik Linduang Bulan. tacangang Datuak Bandaro. Nan bakato Datuak Bandaro. sampai di kabun parak kopi. rancak benar tampak oleh saya. 24. sampai di kebun kopi. 145 kok Tuhan mambari izin denai baranak.” 25. . Apa namanya binatang itu.

cukuik kaduo hari siang. sudah tidur Datuak Bandaro. raso mamangku matohari. adik bermimpi malam tadi. denai bamimpi malam tadi. “Oi Tuan den Datuak Bandaro. cukup kedua hari siang. raso mamaluak-maluak bulan. Gadang hati si Linduang Bulan. raso mamangku matohari. “Menurut buku takwil mimpi. kok Tuan tertawa seorang?” Yang menjawab Datuak Bandaro. rasa memeluk-meluk bulan. apo takwie mimpi denai?” 30. ampia sampai ganok bilangan. lalu dilihat masa itu. Sub-adegan ke-2 34. apa takwil mimpi saya?” Pihak kepada Datuak Bandaro. Sinan bakato Puti Linduang Bulan. diambiak buku takwie mimpi. sarato Puti Linduang Bulan. Yang berkata Puti Linduang Bulan. Ibid. Hari nan alah barabuik sanjo. taserak cando hujan paneh. tandanya niat ada kesampaian. tandonyo niaik lai kasampai. barpamenan adalah mempunyai alat untuk sekadar permainan. serta Puti Linduang Bulan. Sub-adegan ke-1 28. nan sakali ayam bakukuak. lalu diliek maso nantun. nan lah pulang Datuak Bandaro. tanda Linduang Bulan akan mengandung. sarato Puti Linduang Bulan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. hampir sampai genap bilangan. Sana berkata Puti Linduang Bulan. berapa angguk serta geleng. lah sampai inyo di rumah. 180 lai jaleh dek adiak kanduang?” 33. Lah sabulan duo bulan. 31. tetapi untuk ini berarti hari sudah senja. rasa memangku matahari. serta Puti Linduang Bulan. “Manuruik buku takwie mimpi. karena badannya sudah akan mengandung. raso mamaluak-maluak bulan. yang sekali ayam berkokok.27. Ibid. Nan manjawek Datuak Bandaro. dek badannyo lah ka manganduang. bapamenan bintang di langik. bapemenan bintang di langik. saya bermimpi malam tadi. lah lalok Datuak Bandaro. yang sudah pulang Datuak Bandaro. terserak seperti hujan panas. tando Linduang Bulan ka manganduang. bapamenan bintang di langit. Nan bakato Puti Linduang Bulan. 29. “Oi Tuan Datuak Bandaro. 155 Hari yang sudah berabuik10 senja. diambil buku takwil mimpi. ada jelas oleh adik kandung?” Besar hati si Linduang Bulan. bara angguak sarato geleng. barabuik sama artinya dengan berebut. rasa memangku matahari. sudah sampai dia di rumah. 10 11 185 Sudah sebulan dua bulan. kok Tuan tagalak surang?” 150 Berdentum bunyi petir tunggal. Pihak kapado Datuak Bandaro. . bapamenan11 bintang di langit. 160 165 170 32. 175 adiak bamimpi malam tadi. “Oi Tuan saya Datuak Bandaro. rasa memeluk-meluk bulan. Badantuang bunyi patuih tongga.

mailia adalah mengalir dalam hai ini. Yang berkata Puti Linduang Bulan. tolonglah aduh sakitnya. hanyalah sedikit saja. itu pantang dengan larang yang tiba saya. “Oi Datuak Bandaro. dicarinya yang asam-asam. sudah hampir sembilan bulan. 12 13 210 215 220 225 Sudah hampirnya genap bilangan bulan.” 190 200 36. tapi nan dimakan si Linduang Bulan. “Manalah adik Linduang Bulan. “Oi Datuak Bandaro. . pihak kepada orang perempuan. Ibid. ada larangan dengan pantangannya. musim kepundung13 sudah langkas. lembek leher paja dibuatnya. lenyai lihia paja dibueknyo. kalau kamasuak masuak bana. kapunduang adalah sejenis buah-buahan seperti langsat yang rasanya asam dan berkulit tebal.” 39. bakandak kapunduang mudo. tolonglah ondeh sakiknyo. sakitnya. yang tabedo12 dia berkehendak. berkehendak kepundung muda. dicarinyo nan masam-masam. Nan bakato Datuak Bandaro. selama saya mengandung ini. bermacam-macam kehendak Linduang Bulan dia meminta yang asam-asam. ada jelas oleh Tuan itu?” Yang berkata Datuak Bandaro. tapi yang dimakan si Linduang Bulan. menceracau15 kata di mulutnya. tamanuang Datuak Bandaro. lah tibo sakik baranak.” Sub-adegan ke-3 38. dalam hal ini karena menahan sakit. akan mailia14 selera anaknya esok. hanyolah saketek sajo. aduh duh sakitnya. yang bersifat berlebihan dan tidak wajar. Tuan indak buliah doh mandabiah ayam. mancaracau kato di muluiknyo. Andropogon Nardus. Tuan tidak boleh menyemblih ayam. sama dengan ngiler atau air liur. Ibid. 35. jangan kau tegak-tegak di pintu. nan tabedo inyo bakandak. kalau akan masuk. 14 Idid. ampalam sakaruang dicarikannyo. Lah hampienyo ganok bilangan bulan. keluh kesah dia menehan sakit. 15 Ibid. kaluah kasah inyo manahan sakik.bamacam-macam kandak Linduang Bulan inyo mamintak nan masam-masam. “Aduh Tuan. Pihak kepada Datuak Bandaro. lai jaleh dek Tuan tu?” 37. Nan bakato si Linduang Bulan.” Yang berkata si Linduang Bulan. lah hampia sambilan bulan. “Manolah adiak Linduang Bulan. Nan bakato Puti Linduang Bulan. kamailia salero anaknyo isuak. ondeh deh sakiknyo. mempelam sekarung dicarikannya. musim kapunduang alah rangkeh. masuk benar. jan kau tagak-tagak di pintu. itu syarat yang saya terima. salamo denai manganduang ko. “Oi Tuan Datuak Bandaro. itu pantang jo larang nan tibo di den pihak kapado urang padusi. “Ondeh Tuan. tabedo adalah sesuatu yang berbeda dengan biasanya. “Oi Tuan Datuak Bandaro. banyak larangan dengan pantangnya. mancaracau sama dengan mengigau atau berbicara dengan tidak punya arahan. Pihak kapado Datuak Bandaro. termenung Datuak Bandaro. 205 banyak larangan jo pantangnyo. ado larangan jo pantangannyo. sudah tiba sakit beranak. itu syaraik nan den tarimo. sakiknyo.

hendak saya coba menggeleng perut ini. hop. Yang sudah tiba si Dukun Pandai. Pihak kapado Datuak Bandaro. ingatlah diri. taruih sakali masuak kandang. ejan. ajan.japuiklah Dukun Pandai. diambiaklah kain panjang. Nan lah tibo si Dukun Pandai.” ADEGAN III 44. tibo di tanah. jangan serupa itu benar. rasuak taban. sudah. “Oi Datuak Bandaro.” 43. ambiak kain panjang sabuah. biarlah hendak saya cuba menolong. iko anak tupai tu candonyo. ajanlah.” Pihak kepada Dukun Pandai. bara geleng sarato uruik. alah. ejan.. kanalah diri. ko paja lah manyaruang. tanah lambang. 46. tanah lambang17. 45. ajan. “Ini tidak anak orang ini. ini anak sudah menyuruh. sudah berjalan masa itu. 260 Yang tercengang si Dukun Pandai. sudah. lantai lah patah. bialah ndak den cubo manolong. indak tahan sakik co iko.” Lalu diambil anak masa itu. 16 17 jeputlah Dukun Pandai.” 40. berapa urut si Linduang Bulan. tiba di rasuak. terus langsung masuk kandang. Lah balari si Dukun Pandai. bara caliak sarato lengoh. lantai sudah patah. alah beko. sudah nanti. ejan. Nan tacangang si Dukun Pandai.” 235 240 245 250 255 Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. alah. jan saroman iko bana. Lalu diambiak anak maso nantun. dibawa naik ke atas rumah. diambillah kain panjang. rasuak16 terban. tibo di lantai. yo mantun. bara uruik si Linduang Bulan. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. ya begitu. berapa geleng serta urut. dijapuik malah dukun pandai. dijeput malah dukun pandai. ini anak tupai itu sepertinya. lari ke jenjang masa itu. Pihak kapado Dukun Pandai. berapa lihat serta lengah.” 42. “Oi Linduang Bulan. rasuak adalah balok yang dipasang antar tiang untuk menyangga lantai.” 230 Pihak kepada Datuak Bandaro. tiba di tanah. Sudah berlari si Dukun Pandai. Ibid. sah bajalan maso itu. tidak tahan sakit seperti ini. ya begitu.” 47. ajan. “Oi Datuak Bandaro. ambil kain panjang sebuah. “Iko indak anak urang doh ko. tibo di rasuak. Pihak kapado Dukun Pandai. tiba di lantai. Gambaran betapa hebatnya yang empunya kaki dalam cerita klasik. . “sudah. “Oi Linduang Bulan. yo mantun. “aalah. lari ka janjang maso nantun. 41. lambang adalah bekas injak atau tekanan beban pada tanah. nak den cubo manggeleng paruik ko. ejanlah. Ibid. dibawo niiak ka ateh rumah.” Pihak kepada Dukun Pandai. hop.

Tupai Janjang malah kiranya. bia den banuah Tupai Janjang.” Yang berkata si Dukun Pandai. andak kamanyusu? nak den manyusukan. Lalu berkata si Linduang Bulan. ditimpo tanah badarai.” Pihak Puti Linduang Bulan.” mendengar kata Linduang Bulan. “Tanah liat bakapiek.” 53. “Tanah liek bakapiek. Datuak Bandaro baranak tupai. kalau baitu kato Adiak. kalau begitu kata Adik. “Oi Tuan Datuak Bandaro. Lalu bakato si Linduang Bulan. tapi Tupai Janjang banyak ulahnyo. . tupai anak Tuan malah kiranya. Pihak kepada Datuak Bandaro. bakapiek adalah bergelintin sehingga susah dipisahkan. 265 “Tuan Datuak Bandaro.” 48. belum dilihat sudah terlihat. antah a ko.” mandanga kato Linduang Bulan. diambil malah Tupai Janjang. manyusulah ha! 18 Ibid. ini entah orang. kito tasabuik urang asa. Yang berkata si Linduang Bulan. dia anak kita. dia kan darah daging kita. malu nan lah tumbuah. inyo darah dagiang kito. kito paliharo baiak-baiak. 51. biarpun dia sepotong ular. kita besarkan anak ini. kita pelihara baik-baik. usah dibunuah anak kito. yang sekarang ini kini.” 49. manyusu! manyusu. turunan raja turunan puti. 305 nak manyusu. biar saya bunuh Tupai Janjang. Datuak Bandaro beranak tupai. dilepas kehendak masa itu. iko antah urang. disusukan anak maso itu.” Yang tercengang Datuak Bandaro. kito paliharo baiak-baiak. kini anak manjadi tupai janjang. turunan puti sudut-bersudut. menyusulah ha! 270 275 280 285 290 295 300 54. Nan bakato si Dukun Pandai. kita tersebut orang asal. 50. tutunan puti suduik-basuduik. diambiak malah Tupai Janjang. Nan tacangang Datuak Bandaro. Nan bakato si Linduang Bulan. tupai anak Tuan malah kironyo. “Kini begitulah Linduang Bulan. malu yang telah tumbuh. “Kini baitulah Linduang Bulan. “Oi Tupai Janjang elok-elok perangai anak. kita pelihara baik-baik. Pihak Puti Linduang Bulan. nan sakarang iko kini. tapi Tupai Janjang banyak ulahnya. “Oi Tupai Janjang elok-elok parangai anak. menyusu! menyusu. alun dilieklah taliek. hendak menyusu. entah apa ini. inyo kan darah dagiang kito.“Tuan Datuak Bandaro. usah dibunuh anak kita. biapun sakarek nyo baluik. “Oi Tuan Datuak Bandaro. biarpun sepotongnya belut. kini anak menjadi tupai janjang. Tupai Janjang malah kironyo. dipalapeh kandak maso itu. dia darah daging kita. inyo anak kito. biapun inyo sakarek ula. Pihak kapado Datuak Bandaro. hendak akan menyusu? supaya saya menyusukan. turunan rajo turunan puti.18 ditimba tanah berderai. disusukan anak masa itu. kito gadangkan anak nangko.

sudah Tupai Janjang. “Manalah adik Linduang Bulan.Nan bakato Linduang Bulan. banyak bana ulah waang. mambenar saya ke hadapan Tuan.” 345 19 Ibid. dari hari baganti bulan. kalau den pipihkan nasi lamo karajonyo. Pihak kapado Tupai Janjang. mandecek pulo lai. kini baitulah nan elok. hmm. haa mandecek pulo baliak. yang jari saya yang sudah kamu kunyah. makan. mambari malu sajo karajonyo. saya suapi kamu dahulu. 340 mahabih manandehkan karajonyo. usah digigik pulo susu nantun!.eh mangigik pulo. . moh.” Sub-adegan ke-1 55. lah abih barang ateh rumah. haa melompat pula lagi.. elok dicencang hidup-hidup. dari hari berganti bulan. nan jari den nan lah ang kunyah. dipecahnya. alah den paluak. Yang berkata Datuak Bandaro.” 330 Pihak kepada Tupai Janjang. makan itu haa. nan Tupai Janjang usah dibunuah. moh. dia berputar ke halaman. menghabis menandehkan19 kerjanya. memberi malu saja kerjanya. segala tanaman dihabiskan oleh Tupai Janjang. moh.. makan. makan!. sudah payah mandeh membesarkan. ancak den agiah makan. piring seonggok dihabiskannya. “Manolah adiak Linduang Bulan. saya peluk.” 56. ndak amuah ditunjuak diajari. kini begitulah yang elok.Nan bakato Datuak Bandaro. 310 315 320 325 eh mengigit pula. moh. “Oi Tuan Datuak Bandaro. alah Tupai Janjang. elok dicacang hiduik-hiduik. sudah habis barang atas rumah. 335 kalau bak caro iko parangai Tupai Janjang. usah digigit pula susu ini. kalau seperti cara ini perangai Tupai Janjang tidak mau ditunjuk diajari. yang Tupai Janjang usah dibunuh. ijan dibunuah Tupai Janjang. haa elok-elok malah kalau menyusu itu. makan.” Maka berkata Linduang Bulan. membenar saya Tuan oi. mambana den ka bakeh Tuan. “Oi Tuan Datuak Bandaro. dia anak kandung kita. piriang saonggok ditandehkannyo. den suoki waang dahulu. makan!. sagalo tanaman ditandehkan dek Tupai Janjang . jahatnya berlebih-lebih. baik saya kasih makan. kalau saya pipihkan nasi lama kerjanya. tidak patut dipecah. inyo kan darah dagiang kito. makan tu haa. den paluak. kini acak den kunyahkan dulo. hmm. banyak benar ulah kamu. inyo anak kanduang kito. inyo bakisa ka hilaman. indak patuik dipacah dipacahnyo. menandehkan sama dengan menghabiskan. makan.” 57 . mambana den Tuan oi. jaeknya balabiah-labiah. melompat pula lagi. haa elok-elok malah kalau manyusu tu!. kini rancak saya kunyahkan dulu. jangan dibunuh Tupai Janjang. dia kan darah daging kita. sudah saya peluk. lah payah mandeh manggadangkan. kita buang habis-habis. kito buang habih-habih.

kini elok saya curi anak ini. kato den kato nan elok . biapun waang indak pandai mangecek. “Manalah kamu Tupai Janjang. kini elok den cilok paja nangko. kata saya kata yang elok. Tupai Janjang mairiang di balakang. den minta batanang-tanang. mandanga kato ayah nantun. 63. etan ka kabun kopi kito. Bakato Datuak Bandaro. membawa kamu ke kebun kopi. “Manalah kamuTupai Janjang. Ibid. toh adalah sejenis kata ajakan yang artinya sama dengan marilah. lah sabulan kopi tak baliek.” Pihak kepada Tupai Janjang. tapikia dek nyo maso itu. satantang kato si Linduang Bulan. “Manolah ang Tupai Janjang. . Nan lah bajalan Datuak Bandaro. sana ke kebun kopi kita. saya minta bertenang-tenang. 64. 360 365 370 375 380 385 390 Sana berkata Datuak Bandaro. kapado anak Tupai Janjang. Mancareceh-mancareceh adalah ungkapan untuk menyatakan tingkah laku seekor tupai. Sanan bakato Datuak Bandaro. kini saya kamu cibirkan. Pihak kepada Datuak Bandaro. nyo bajalan bagageh-gageh. kok sayang ang katoan sayang. tapi karena kamu anak manusia. Pihak kapado Tupai Janjang. iyo ka Datuak Bandaro . nan lah sampai di tapi rimbo. terpikir oleh dia masa itu. kini waden ang cibiakan. rasa banyak yang sudah masak. tidak akan mau si Linduang Bulan. toh melah bajalan-jalan. turutkan saya oleh kamu Tupai Janjang. ndak ka amuah si Linduang Bulan.58. yang sudah sampai di tepi rimba. kalau menurut hati saya. turuikan den di ang Tupai Janjang. inyo manjanguak ka bawah. kito pai ka kabun kopi. mendengar kata ayah yang itu dia mencibir-cibir. biarpun kamu tidak pandai bicara. “Manolah ang Tupai Janjang.” Yang sudah berjalan Datuak Bandaro. waang tau dikato urang. Tupai Janjang mengiringi di belakang. sadang inyo di kayu gadang. tapi dek ang anak manusia. kita pergi ke kebun kopi. kalo den mintak baelok-elok. yang berjalan melompat-lompat. kamu tahu dikata orang. iyo mancibia-cibia. Berkata Datuak Bandaro. kalau manuruik hati denai. suaranya mencareceh-careceh21. kalau saya minta berelok-elok. Yang berkata Datuak Bandaro. 20 21 350 355 Yang termenung Datuak Bandaro. 61. Nan tamanuang Datuak Bandaro. yang sekarang kini. Pihak kapado Datuak Bandaro. nan bajalan mandencek-mandencek. mambao ang ka parak kopi.” 60. sedang dia di kayu besar. iya kepada Datuak Bandaro. “Manalah kamu Tupai Janjang. dia melihat ke bawah. toh20 melah berjalan-jalan. nan sakarang iko kini. kalau sayang kamu katakan sayang. suaronyo mancareceh-careceh. 59..” 62. dia berjalan bergegas-gegas. “Manolah ang Tupai Janjang. raso banyak nan lah masak. sudah sebulan kopi tidak lihat. kepada anak Tupai Janjang. Nan bakato Datuak Bandaro. setentang kata si Linduang Bulan.

mangecek sajo nan tak pandai. pengganti barang orang yang pecah. pangganti barang urang nan pacah. berkirok berkikis22 kamu dari kampung ini. ke hilir lebuh Tarantang. Sub-adegan ke-3 67. lalu mandencek Tupai Janjang. teringat ibu kandung diri. lah jaleh diang tu?” 66. bicara saja yang tak pandai. nampaklah ladang yang sebuah. dia pergi masuk rimba. baitu pulo mandeh ang. dia makan sekenyang-kenyangnya. lalu melompat Tupai Janjang. nan lah kanyang Tupai Janjang. nakal kamu berkelebihan. tinggallah badan di rimba besar. Pihak kapado Tupai Janjang.” 400 Sub-adegan ke-2 65. besar hati si Tupai Janjang. jauah nan bukan alang-alang. nampaklah ladang nan sabuah. 425 Pihak kepada orang punya ladang. pihak kapado Tupai Janjang. mahabih manandehkan karajo ang. lah bara piti den abih. Nan sakarang iko kini. 22 saya sayang kepada kamu. jauh yang bukan alang-alang. pado den makan ang hiduik-hiduik. sudah jelas oleh kamu itu?” Mendengar kata ayah kandung. sudah berapa uang saya habis. melihat jagung dalam kebun. lalu dipanjat kayu besar. inyo makan sakanyang-kanyangnyo. Pihak kapado rang punyo ladang. harta orang harta kamu. jahaik ang bakalabiahan. ke mudik tidak berpagar. menghabiskan manandehkan kerja kamu. begitu pula mandeh kamu tapi perangai kamu tidak berubah-rubah. pada saya makan kamu hidup-hidup. 405 den cancang lumek-lumek. pengganti harta orang yang kamu habiskan. nyo pai masuak rimbo. 410 415 420 Pihak kepada Tupai Janjang. lalu dipanjek kayu gadang. tinggallah badan di rimbo gadang. Yang sudah sampai di tepi kebun. ka mudiak indak bapaga. pihak kepada Tupai Janjang.waden sayang ka bakeh ang. Bakirok bakikih merupakan kata majemuk untuk mengusir seseorang . dia tahu kata manusia. 395 harato urang harato awak. yang sudah kenyang Tupai Janjang. ka ilia labuah Tarantang. yang menoleh kanan dengan kiri. dia menangis masa itu. hendak menurut kebun yang itu.” Yang sekarang kini. Mandanga kato ayah kanduang. Nan lah sampai di tapi kabun. pangganti harato urang nan ang abihan. bakirok bakikih ang dari kampuang ko. 68. inyo manangih maso itu. taraso lapa nan di paruik. ADEGAN IV 69. nan malengong suok jo kida. saya cencang lumat-lumat. andak manuruik kabun nantun. tapi parangai ang indak barubah-rubah. maliek jaguang dalam parak. inyo tahu kato manusia. terasa lapar yang di perut. takana mandeh kanduang diri. gadang hati si Tupai Janjang.

Lalu mandencek Tupai Janjang.nan banamo Mandeh Rubiah. waktu tiba dia di situ. rajutlah binatang yang itu.“Apo binatang kok kironyo. tapikia dek inyo maso itu. “Iyo elok urang ko. yang mencuri si jagung muda. mancaliak jaguang nan taonggok.” baitu katonyo Mandeh Rubiah. dia melompat ke dalam jagung muda. teringat pula mencuri. diambiak jaguang tangah parak. yang memakan jagung muda. yang sudah bangun Tupai Janjang. untuang-untuang masuak dalam perangkok. Pihak kapado Mak Hitam. berkata pada Mak Hitam.” Yang pulanglah Mandeh Rubiah. iya elok benar orang yang punya ladang pada kita berjerih-jerih.” 76. diambil jagung tengah kebun. 470 satu tibonyo di situ. Pihak kepada Mak Hitam.” Lalu melompat Tupai Janjang. binatang nan mamakan jaguang. nyo mandencek ka dalam jaguang mudo. nan mamakan jaguang mudo. duo jo lakinyo Mak Hitam. dionggokkan dalam perangkap. dek paruik taraso lah kanyang. Yang sekali ayam berkokok. kini begitulah oleh Mak Hitam. pulang ke rumah dengan Mak Hitam 70. Yang terkejut si Tupai Janjang.” 72. kalau ada untung masuuk peranggggkaaaaaap. Nan lah pulang Mandeh Rubiah. 465 pado awak bajariah-jariah. diungguakkan dalam pirangkok. 71. jagung sudah dionggokan untuk kita. pergi ke ladang melihat jagung. elok benar orang ini. dibuek pirangkok maso nantun. 435 rajuiklah binatang nantun. 450 440 445 Pihak kepada Tupai Janjang. binatang yang memakan jagung. supayalah sudah seperti perangkap. “Apa binatang kok kiranya. nak lah sudah cando pirangkok. dibuat perangkap masa itu. terlelap dia si Tupai Janjang. lalu melompat masa itu.” begitu katanya Mandeh Rubiah. cukup kedua hari siang. bakato pado Mak Hitam. karena perut terasa sudah kenyang. nan mancilok si jaguang mudo. Nan sakali ayam bakukuak. melihat jagung yang teronggok. untung-untung masuk dalam perangkap. lalu mandencek maso nantun. . cukuik kaduo hari siang. elok bana urang nangko. dia tidur di atas kayu. namun semalam-malam itu. “Iya elok orang ini. pai ka ladang mancaliak jaguang. Nan takajuik si Tupai Janjang. 455 460 75. 430 yang bernama Mandeh Rubiah. pulang ka rumah jo Mak Hitam. nan lah jago Tupai Janjang. Pihak kapado Tupai Janjang. kok untuangnyo takadie Allah. nyo tidua di ateh kayu. kalau untungnya takdir Allah. terpikir oleh dia masa itu. takana pulo mamaliang. 74. jaguang lah dionggokkannyo untuak awak. iyo elok bana urang nan punyo ladang. 73. namun samalam-malam nantun. dua dengan suaminya Mak Hitam. talalok nyo si Tupai Janjang. kok lai untuang masuaak pirangggkoooook. kini baitulah dek Mak Hitam.

kito bao pulang Tupai Janjang ko. hiba kita membunuhnya.” Yang berkatanya Mak Itam.24 Yang sudah datang Mandeh Rubiah. Nan tacangang Mandeh Rubiah. jangan dibunuh tupai ini. Tupai Janjang pandai menangis. “Indak!. Kalusuah panja adalah kata majemuk untuk menyatakan perasaan yang berkeluh-kesah. ibo awak mambunuahnyo. “Manalah Mak Hitam. Nan bakato Mandeh Rubiah. ibo tibo di dalam hati. dalam pirangkoknyo kalusuak panja. ini yang memakan jagung saya. bingkeh adalah bingkas. hu… hu…. 485 490 495 500 505 510 24 Ibid. yang terkejut si Tupai Janjang. Lai jaleh ? Ka babao pulang pulo ? Untuak a dibao pulang ? Den cancang juo kini-kini. caliaklah dek Mak Hitam. serta Mak Itam suaminya. berladang bertanam jagung. ha… saya yang susah-susah ke kebun. nan takajuik si Tupai Janjang. “ha… ha… ha…. aie matonyo badarai-darai. Pihak kapado Mandeh Rubiah.ha… bagaimana cobalah rasakan. 23 perangkap bingkeh23 hanya ada. air matanya berderai-derai. Yang tercengang Mandeh Rubiah. pandai benar dia menangis. Iko nan mahabihkan jaguang awak. ha… waden nan jariah-jariah ka parak. jan dibunuh tupai nangko. “Manolah Mak Hitam. tumbuahlah sasa dalam diri. dalam perengkapnya kalusuak panja. pandai bananyo manangih.” 81. 82. saya makan kamu hidup-hidup. hu… hu… 79. sudah jelas oleh kamu?” Pihak kepada Tupai Janjang. dan lain-lain. . Pihak kapado Tupai Janjang. 480 waang nan maabihkan yo? den bunuah ang kiniko. tupai nangko tupai kiramaik. yang sekarang kini. lah jaleh dek waang?” 78. iko nan mamakan jaguang denai. saya cekik dia sampai mati. yo manangih si Tupai Janjang. baladang batanam jaguang.” 80. iba tiba di dalam hati. melentingnya pegas sebuah perangkap apabila tersinggung sesuatu atau mangsa. mendengar kata Mak Hitam. “ha…ha…. baa cubolah rasokan. takana bapak nan jo mandeh. 77. Yang berkata Mandeh Rubiah.pirangkok bingkeh hanyo lai. Tupai Janjang pandai manangih. “Tidak! Ini yang menghabiskan jagung kita Ada jelas? Akan dibawa pulang pula? Untuk apa dibawa pulang? saya cencang juga kini-kini. den makan ang hiduik-hiduik. teringat bapak dengan ibu. 475 sarato Mak Itam suaminya. lihatlah oleh Mak Hitam.” Pihak kepada Mandeh Rubiah. den cakiak inyo sampai mati. kamu yang menghabiskan ya? saya bunuh kamu kini. mandanga kato Mak Hitam. Nan bakatonyo Mak Itam. nan sakarang iko kini. tumbuhlah sesal dalam diri. tupai ini tupai keramat. Nan lah datang Mande Rubiah. ya menangis si Tupai Janjang. kita bawa pulang Tupai Janjang ini.

marilah saya bawa kamu pulang. den kaluakanlah sabanta. bialah ang den bao tingga. kalau litak den agiah nasi.“O Tuan janyo denai. mandencek kapado Mandeh Rubiah. elok inyo dikaluakan. elok kito bao pulang. “Ha elok-elok di siko yo.” Lalu pulang dia masa itu. kalau haus saya beri air. kita pelihara baik-baik.” Pihak kepada Tupai Janjang. elok-elok ang di dalam. karena kuduknya kena cium. tagali raso di Mandeh Rubiah. kalo bak nangko Tupai Janjang ko. 84. lalu dibukaknyo pirangkok.“ 83. kalau menurut ukuran saya. diagiah aie tak diminumnyo. den agiah jaguang. 525 530 535 Tiba kasih Mandeh Rubiah. kalau hauih den agiah aie. mendengar kata Mandeh Rubiah.” 86. ini kandang kamu. kalau seperti ini Tupai Janjang ini. diberi air tak diminumnya. Sub-adegan ke-1 85. jangan dibunuh Tupai Janjang. tupai ko mangarati kecek urang mangecek sajo nan tak pandai. sebab tupai ini pandai menangis. kalo manuruik ukuran denai. dimasukkan si Tupai Janjang. jangan tupai ini kita bunuh. saya kaluarkanlah sebentar. namuah mati nyo baeko. tidak makan tidak minum. bicara saja yang tak pandai.” 515 520 “O Tuan hanyo saya. elok kita bawa pulang. tupai ini mengerti bicara orang. dimasukkannya ke dalam kandang. Pihak kepada Tupai Janjang. inyo cium kuduak Mandeh Rubiah. jan tupai ko kito bunuah. biarlah kamu saya bawa tinggal. “Ha elok-elok di sini ya. iko kandang ang. kalau lapar saya beri nasi. dimasuakkan si Tupai Janjang. nan tapikie Mandeh Rubiah. kok untung takdir Allah. ambek dibunuah Tupai Janjang. tergeli rasa di Mandeh Rubiah. inyo mandencek maso nantun. melompat kepada Mandeh Rubiah. mandanga kato Mandeh Rubiah.” 87. Tibo kasiah Mandeh Rubiah.” 540 545 550 . lalu dibukanya perangkap. kito paliharo baiak-baiak. dimasuakkannyo ka dalam kandang. dek kuduak no kanai cium. dia cium kuduk Mandeh Rubiah. lah tibo nyo di tangah rumah. diagiah jaguang tak dimakannyo. membenar saya ke Mak Hitam. mambana denai ka Mak Hitam . “Manolah ang Tupai Janjang. “Manalah kamu Tupai Janjang. bisa mati dia nanti. yang terpikir Mandeh Rubiah. molah den bao ang pulang. kok untuang takadia Allah.” Pihak kepada Mak Itam. diberi jagung tak dimakannya. Pihak kapado Tupi Janjang. elok dia dikeluarkan. sabab tupai ko pandai manangih. dia melompat masa itu. Lalu pulang nyo maso nantun. indak makan indak minum. elok-elok kamu di dalam. Pihak kapado Tupai Janjang. Pihak kapado Mak Itam. saya beri jagung.. sudah tiba dia di tengah rumah.

itulah usaha oleh kamu. cobalah pikir oleh kamu Tupai Janjang. 575 580 585 590 595 Sana berkata Mandeh Rubiah. barusaholah awak. cubolah pikia dek ang Tupai Janjang. Sinan bakato Mandeh Rubiah. 92. “Manalah anak Tupai Janjang. urang nan bajariah. jaan anak mancilok juo. melompat ke bahu Mandeh Rubiah.” Pihak kepada Tupai Janjang. seperti kamu kini. jaan mancilok-cilok juo. bepikirlah kamu sedikit. di tapak tangan yang suka oleh dia makan. Pihak kapado Tupai Janjang. kalau sakironyo paruik lapa. iya sebenar pintar Tupai Janjang ini. diambiak jaguang di tangan Mandeh Rubiah. Sanan bakato Mandeh Rubiah. “Manolah anak Tupai Janjang. “Iya elok tupai yang ini. “A a kamakan yo? Aa makanlah. jika disuruh dia pergi. Sinan bakato Mandeh Rubiah. bapikialah waang saketek. sudah berubah perangai masa itu. minta secara baik-baik. Sana berkata Mandeh Rubiah. dek karano waang mangadangkan hati kami. jangan anak mencuri juga. jangan mau meminta-minta. jangan mengambil-ngambil lagi. Sana berkata Mandeh Rubiah. dibawa naik ke atas rumah. iyo sabana santiang Tupai Janjang ko. lalu dimakan maso nantun. jikok disuruah inyo pai . macam waang kini ko. mandencek ka bahu Mandeh Rubiah. . orang yang berjerih. Pihak kapado Tupai Janjang. elok tupai ini. berusahalah kita. sugguahpun mamintak elok-elok. diambil jagung di tangan Mandeh Rubiah.” Pihak kepada Tupai Janjang. sebuah pinta dari Mandeh. Apa akan makan ya? Apa makanlah. diagiah minum nan jo makan. inyo mandencek maso nantun. besar hati kami dibuatnya.88. kini ndak usah ang masuak kuruangan lai. diambiak jaguang nan mudo. sabuah pintak dari Mandeh. itulah usaho dek ang. diambil jagung yang muda. di tapak tangan nan katuju dek inyomakan. elok tupai ko. kini tidak usah kamu masuk kurungan lagi. mamakan jaguang di parak urang. jangan mencuri-curi juga. tapi sabuah lai. awak nan mandapek labo sajo. 91.. tapi sebuah lagi. 89. dia melompat masa itu.” 555 Pihak kepada Tupai Janjang. 560 90. Pihak kapado Tupai Janjang.” Sudah dibawa si Tupai Janjang. lalu dimakan masa itu. lah barubah parangai maso itu. kamu sudah berusaha.” 93. dikasih minum yang dengan makan. kita yang mendapat laba saja. jaan maambiak-ambiak lai.” 570 91. mintak sacaro elok-elok. gadang hati kami dibueknyo. 565 “Iyo elok tupai nan ko. jaan namuah mamintak-mintak. kalau sekiranya perut lapar. oleh karena kamu membesarkan hati kami. dibao naiak ka ateh rumah. waang alah bausaho. memakan jagung di kebun orang. sungguhpun meminta baik-baik. Lah dibao si Tupai Janjang.

kalau iya emas tahan uji. lah diambiaknyo kain putiah. sudah patuh dirasakan. siang malam jaga oleh kamu. yang berundung dengan kain merah. dia masuklah ke dalam ladang. kalau iya masuk oleh kamu pengajaran. Sub-adegan ke-3 97. 605 610 Lalu berkata masa itu. dia berundung-undung masa itu. apalah binatang yang itu. waang lah lamo tingga di kami. takuiklah inyo kasadonyo. lah sampai inyo di ladang. 99. lah salamaik parak Mandeh Rubiah. terpikir oleh dia dalam hati. Sudah tiba dia di tengah ladang. ka ladang jaguang kito.Lalu bakato maso nantun. kini pai ang ka parak. tapikia dek inyo dalam hati. nan nyo ambiak kain sirah. yang selamat kebun Mandeh Rubiah. kok iyo masuak dek ang pangaja. nan baunduang jo kain sirah. 615 620 625 Pihak kepada karo25 banyak. 630 635 Karo adalah sejenis binatang sejenis monyet yang berbadan kecil dan hidup di dalam hutan. larilah dia semuanya. siang malam jago dek waang. “Manolah ang Tupai Janjang. takutlah dia semuanya. “Manalah kamu Tupai Janjang. timbua aka samaso itu . . Pihak kapado Tupai Janjang. Pihak di Mandeh Rubiah. dia berundung-undung kain putih. salaruik salamo nangko. dicaliak kapado Tupai Janjang. habis lari karo yang banyak.Nan tapikia dek Mandeh Rubiah. ke ladang jagung kita. sudah diambilnya kain putih. timbul akal semasa itu. Pihak kapado karo banyak. Yang sudah malam pula hari. terkejut babi yang banyak. abih lari karo nan banyak. nyo masuaklah ka dalam ladang. selarut selama ini. Nan lah malam pulonyo hari. alah patuah dirasokan. nan lah siang candonyo hari. alah barubah parangai waang. sudah selamat ladang Mandeh Rubiah. sudah sampai dia di ladang. 100. Lah tibo inyo di tangah ladang. dilihat kepada Tupai Janjang.” Pihak kepada Tupai Janjang.” 96. kini pergi kamu ke ladang. apolah binatang nantun. yang sekarang ini kini. yang dia ambil kain merah. Sub-adegan ke-2 95. dia pergi pula ke ladang. 25 jika ditegur dia berhenti. yang sudah siang sepertinya hari. kamu sudah lama tinggal di kami. kok iyo ameh tahan uji. sudah berubah perangai kamu.jikok ditagah inyo baranti. nyo baunduang-unduang maso itu. inyo baunduang-unduang kain putiah. 98. inyo pai pulo ka ladang. larilah inyo kasadonyo. nan salamaik parak Mandeh Rubiah. takajuik babi nan banyak. 600 Pihak di Mandeh Rubiah. Yang terpikir oleh Mandeh Rubiah. nan sakarang iko kini. 94.

26 650 655 Pihak kepada diri kamu. panceteh batang lintabung. inai adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa memerahkan kuku yang berfungsi untuk memberikan hiasan pada kuku. kok bajalan paliharolah kaki. “Manolah waang Tupai Janjang. mandencek duduak di muko Mandeh Rubiah. 645 nan sakarang iko kini. muluik taloncek ameh tantangannyo.Pihak kapado diri waaang. Lalu dipanggil Tupai Janjang. palajari dek waang. 28 Bagian ini bisa dibacakan dalam pidato-pidato adat. Ini merupakan petuah yang sering diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih kecil. nak Mandeh tunjuak ajari.” Sub-adegan ke-4 103.Pihak kapado Tupai Janjang. 104. yang sekarang kini. kaki tataruang inai padahannyo. pelajari oleh kamu. lah jaleh dek ang tu?” 105. contoh misalnyo batang pisang. kamarilah ang duduak. bapikialah anak tantang itu. alam terkembang jadikan guru. 660 665 670 Ibid. dengar oleh kamu elok-elok. alam takambang jadikan guru. 101. pasan pituah urang tuo. “Manalah kamu Tupai Janjang.” sudah masuk pengajaran masa itu. contoh misalnya batang pisang. kalau tumbuh tiap menjadi anak. .28 Alam yang terkembang ini. kalau berjalan peliharalah kaki. itu yang alam terkembang jadi guru. sakapa jadikan gunuang. “Manolah ang Tupai Janjang. melihat peliharalah mata.” Pihak kepada Tupai Janjang.lah masuak pangajaran maso itu. salodang ambil ke niru. penakik pisau siraut. panceteh batang lintabuang. tumbuahnyo sabalik induaknyo . kaki tertarung inai26 padahan27nya. sudah tinggal sama dengan kami. Sabuah lai oi anak kanduang. sebuah pinta kepada kamu. menjaga induk kerjanya. yang bernama anak batang pisang. mulut terlompat emas tantangannya. perangai sudah berubah. parangai alah barubah. kalau berkata peliharalah lidah. Sebuah lagi oi anak kandung. kok bakato paliharolah lidah. danga dek ang elok-elok. tumbuhnya sekeliling induknya. nan banamo anak batang pisang. kemarilah kamu duduk. sabuah pintak kapado ang. satitiak jadikan lauik. melompat duduk di muka Mandeh Rubiah. tantangan. sudah jelas oleh kamu itu?” Sebuah lagi ya anak kandung. Sabuah lai yo nak kanduang. Ini merupakan falsafah bagi masyarakat Minangkabau yang lazim disebut falsafah Alam Takambang Jadi Guru. Alam nan takambang ko. kok tumbuah tiok manjadi anak . padahan adalah akibat. “Manalah kamu Tupai Janjang. panakiak pisau sirauik. mancaliak paliharolah mato. supaya Mandeh tunjuk ajari. berpikirlah anak tentang itu. salodang ambiak ka niru.Lalu dipangia Tupai Janjang. sekepal jadikan gunung. pesan pituah orang tua. itu nan alam takambang jadi guru. manjago induak karajonyo.” 640 102. 27 Ibid. setitik jadikan laut. lah tingga samo jo kami.

patah biko dibueknyo. 680 ambiak sadonyo dek nak kanduang. kita bersahabat sama besar. akan jadi pelajaran”. ambil semuanya oleh anak kandung. ado jalan nan mandata. bersua dengan orang mulia-mulia. kok bakawan basamo gadang. awak basobaik samo gadang. ado jalan nan madaki. disasakkan angok kok mangecek. kalau tersinggung orang. bakato usah lalu lalang sajo. di jalan nan data banyak urang nan jatuah batu ketek bisa manurun. ado jalan nan malereng.” 107. tapi ingat betul itu anak kandung. “Baa jalan nan mandata ko. berkata kepada yang kecil. . kalau berkawan bersama besar. itu ka kawan samo gadang. bakato bakeh nan ketek. caliak dek ang jalan manurun. lihat oleh kamu jalan menurun. bisa sajo awak turun. tapi agak-i orang akan tersinggung. kalau tercebur kaki ke dalam lobang.“Adaik kito iduik di dunia. patah nanti dibuatnya. di jalan yang datar banyak orang yang jatuh. 705 basuo jo urang tuo-tuo. itu untuk kawan sama besar. “Bagaimana jalan yang mendatar ini. “Yang dikatakan jalan mendaki. tapi ingek bana tu nak kanduang. bicara dengan orang yang besar pada kita. basuo jo urang mulia-mulia.” 106.”Sudah itu jalan manurun. ado jalan nan manurun. 675 banyak jalan nan kaditampuah. tapi ingatlah oleh kamu. baitu pulo kito dalam bagaua. 690 ijan talongsong-talongsong bana. nan jalan nan manurun ko banyak balubang-lubang. ada jalan yang mendaki. bisa saja kita turun. ada jalan yang melereng. 710 715 Terlongsong-longsong maksudnya sama dengan jangan semena-mena. jangan terlongsong-terlongsong29 betul. agak-i urang tasingguang. yang jalan yang menurun ini banyak berlobang-lobang. bersua dengan orang tua-tua. tapi agak-i urang ka tasiingguang. itu yang tertarung kaki namanya. berkata dengan orang yang mulia. 29 30 “Adat kita hidup di dunia. 695 itu nan tataruang kaki namonyo. hendaknya dalam kita bergaul ini. 685 itu namonyo jalan nan data.” Yang ke dua jalan mendaki. berkata usah lalu lalang saja. ka jadi palajaran”. kok tacirubuah kaki ka dalam lubang. ada jalan yang mendatar. dari nan gadang ka nan ketek. tapi ingeklah dek waang. itu namanya jalan yang datar. buliah mangecek sambarang sajo. “Nan dikatokan jalan mandaki. batu kecil bisa menurun. disesakkan nafas kalau bicara. Agak-i adalah kira-kira perasaan orang supaya jangan tersinggung. baa awak mandaki? sasak angok ndak? itu pakaikan dek waang. begitu pula kita dalam bergaul. dari yang besar ke yang kecil. mangecek jo urang nan gadang pado kita 700 bakato jo urang nan mulia. banyak jalan yang akan ditempuh.” “Sudah itu jalan menurun. kalau bicara dengan orang tua. boleh bicara sembarangan saja. agak-i 30orang tersinggung. kok mangecek jo urang tuo.Nan ka duo jalan mandaki. handaknyo dalam kito bagaua ko. gimana kita mendaki? sesak nafas kan? itu pakaikan oleh kamu. kok tasingguang urang. ada jalan yang menurun.

oi anak muda.” 108. saya berubah jadi manusia. disini tempat Tupai Janjang. berkat pengajaran Mandeh.” 112. ampun ambo Mandeh kanduang. yang kecil itu bisa dia melawan. berkata kepada Mandeh kandung. mangko ado waang disiko. “Kalau itu Mandeh katokan. 110. takajuik Mandeh Rubiah. “Manalah Mandeh kandung saya. terkejut Mandeh Rubiah. ingat-i itu pula oleh kamu. kemana Tupai Janjang? dilihat ada anak muda tidur di sana. itulah kata penuh sampiran. disiko tampaik Tupai Janjang. berkata dia masa itu. kok mangecek jo urang sumando. lah elok parangai maso itu.” Pihak kepada Tupai Janjang. Pihak kapado Tupai Janjang. Adalah pada suatu pagi. oi…. sudah elok perangai masa itu. pituah ini sering diberikan oleh niniak mamak kepada kemenakan dan lazim dibacakan waktu pidato adat. jalan melereng yang akan dipakai. “Oi…. 740 745 750 755 Menurut Navis (1984:260).31 ada jelas oleh kamu itu nak?” 725 730 735 Pihak kepada Tupai Janjang. terasa betul pengajarnya. lah barubah tingkah lakunyo. denai ko nan banamo Tupai Janjang. dek diaja-i Mandeh Rubiah.anak mudo. malawannyo bakeh kito. “Kalau itu Mandeh katakan. Tupai Janjang indak ado lai.Bakato Mandeh Rubiah . Berkata Mandeh Rubiah. “Sudah tu jalan malereng itulah kato panuah sampiran. nan kaciak tu bisa nyo malawan. siapa kamu ini kiranya. Pihak kapado Tupai Janjang. 31 720 kalau lalu lalang saja. . kalau bicara dengan orang sumando. 111.” 113. kama Tupai Janjang? dicaliak ado anak mudo tidua di sinan. “Manolah Mandeh kanduang denai. melawan dia kepada kita. kuasa Tuhan pun berlaku. ingek-i tu pulo dek waang. taraso bana pangajanyo. bicara dengan menantu. lai jaleh dek ang tu nak?” ADEGAN V 109. koaso Tuhan pun balaku. bicara dengan orang yang disegani. oleh diajari Mandeh Rubiah.” “Sudah itu jalan melereng. mandanga kato Mandeh Rubiah. mendengar kata Mandeh Rubiah. anak mudo. bakato kapado Mandeh kanduang. mangecek jo mintuo.kok lalu lalang sajo. barakaik pangaja Mandeh. denai barubah jadi manusia.Adolah pado suatu pagi. bicara dengan mintuo. saya ini yang bernama Tupai Janjang. sia waang ko kironyo. sudah berubah tingkah lakunya. mangecek jo urang nan disagani. Manjawab anak mudo nantun. jalan malereng nan kadipakai.” Menjawab anak muda itu. mangapa ada kamu disini. ampun hamba Madeh kandung. mengecek jo minantu. bakato inyo maso itu. Tupai Janjang indak ada lagi. “Oi…anak muda.

sanak |lah| jo saudaro. hendak menemui bapak dengan Mandeh saya. . dara. sarato serta sanak |lah| dengan saudara. Bandarlah orang |hai|hamba bandarkan. si kikih adalah sejenis burung kecil. ikan di laut berlayangan. baha adalah nama yang diberikan pada sejenis akar laut. izinkan denai mandeh kanduang. 117.” Tentangan Mandeh Rubiah. kami di rumah kalau keberangan.Sanan bakato Mandeh Rubiah. isuak nak kito ulang pulo. kami di rumah kok kaberangan. |hai| nan lah takaik nan di aka baha tabang ka langik |lah| tabarito. Ungkapan ini sering dibacakan oleh tukang kaba dan juga sering ditemui di bagian awal sebuah kaba. Kaiklah bakaik |lah| si rotan sago. kaba disudahi sampai di situ. dan terkutur. Anak si kikih32 atas batu. dilapeh malah Tupai Janjang.Nak duo pantun sairiang. 5 Kaiklah berkait |lah| si rotan sago.” PENUTUP 116. Bandalah urang |hai| ambo bandakan. Anak si kikih ateh batu. anak balam33 di kebun lada. dilapeh jo hati ibo. “kamu kini bergelar Sutan Kurnia. izinkan saya mandeh kandung. Tibo di langik tabarito. maaf dengan rila yang kami pinta. |ai| sagalo kami anak mudo. sanak sakitulah dahulu. sanak segitulah dahulu. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. 3. dilepas dengan hati hiba.” 114. “waang kini bagala Sutan Karunia. Manolah niniak |lah nan| jo mamak. ambo nak sujuik minta ampun. 34 Ibid. terbang ke langit |lah| terberita. kaba disudahi sampai di situ. Kaik bakaik rotan sago.4) 1. bandalah |hai| orang si Koto Tuo. 2. Teks II PEMBUKAAN (bait ke-1 sampai bait ke. Ibid. 760 yang sekarang kini. nak manamui bapak jo Mandeh denai. anak balam di parak lado. |hai| yang sudah terkait yang di akar bahar34. beri izin hamba berjalan.” 765 770 Sanak ke Sumpu lah dahulu. Sana berkata Mandeh Rubiah.Tantangan Mandeh Rubiah. jatuh ke bumi menjadi kaba. tibo di bumi jadi kaba. 32 33 Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. jatuah ka bumi manjadi kaba. yakni akar bahar yang biasanya dibuat gelang tangan. kapado si Tupai Janjang. |ai| segala kami anak muda. hamba hendak sujud minta ampun. dilepas malah Tupai Janjang. kepada si Tupai Janjang. besok hendak kita ulang pulang. 115.Sanak ka Sumpu lah dahulu. maaf jo rila nan kami pintak.nan sakarang kini nangko. lah takaik di aka baha. balam adalah sejenis burung yang lazim disebut burung balam. bari izin ambo bajalan. 775 Supaya dua pantun seiring. 10 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. ikan di lauik balayangan.

sudah sepuluh tahun berumah tangga. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. pencerita berangsur-angsur pula berdiri dengan gerakan tangan yang sama. seperti gerakan menari. |hai| bumi yang antah barantak. “Dik kanduang si Linduang Bulan. “Dik kanduang si Linduang Bulan.” . |Oi| hadaplah diri dua yang itu. 35 manga adiak tamanuang juo. 15 (Pada awalnya. bumi nan alun |hai lah| baralun. Pencerita berjalan ke depan. kaba |lah| orang kami kabakan. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. oleh adik berilah terang.) ADEGAN I |5. pencerita dalam posisi duduk. orang yang elok |lah| masa itu. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai urang nan elok |lah| maso itu. Bandar |lah| orang kami bandarkan. Pencerita waktu itu. |oi| orang yang besar |lah| masa itu. |Oi| adolah pado suatu maso. mengapa adik termenung juga. berdua dengan Puti |lah| si Lindung Bulan. belakang. |oi| urang nan kayo suduik-basuduik. |Oi| adalah pada suatu masa. |oi| mangana nasib |lah| maso itu. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. 6. |oi| urang nan gadang |lah| maso itu. Ayunan tengan itu bergerak ke depan dan ke belakang mengikuti irama dendang TJ. 20 (Teks bait ke-5 sampai bait ke-8. Setelah itu. bumi yang belum |hai lah| beralun. kanan. Hadap ke |lah| diri |lah|si Puti Linduang Bulan. tasabuik garan Datuak Bandaro. |Oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. bandar anak orang |lah| di Gumarang. orang dusta kami tak serta. supaya senang dalam hati sejuk dalam pikiran. |oi| orang yang kaya sudut-bersudut. |hai| bumi nan antah barantah. |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro. dan kiri dengan terus mendendangkan teks) . urang duto kami tak sato. saluang dibunyikan yang diikuti dengan tepuk tangan seorang penonton. nak sanang dalam hati sajuak dalam kiro-kiro. 25 |oi| bamuko rancak rambuik taurai. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan.” |Oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. 30 |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. |Oi| adoklah diri duo nantun. kaba |lah| urang lai kami kabakan. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. Kemudian. kaba |lah| orang ada kami kabakan. dek adiak barilah tarang. |Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. 9.kaba |lah| urang kami kabakan. Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. tersebut gerangan Datuak Bandaro. |oi| anak yang tidak |lah| dapat juga. banda nak urang |lah| di Gumarang. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. lah sapuluah tahun barumah tanggo. 4. pencerita beransur-ansur mencari posisi jongkok dengan terus bergerak mengayunkan tangannya. didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak seperti gerakan tari Minang dengan diiringi musik. Banda |lah| urang kami bandakan. 8. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang. |oi| bermuka rancak rambut terurai. 7.

sapuluah tahun barumah tanggo . dipangia pulo |lah| si Linduang Bulan. sana termenunglah si Linduang Bulan. Dialog diucapkan dengan menirukan suara perempuan yang sedang sedih karena dia belum mempunyai anak. 55 dicaliak-caliak |nan| kabun nantun. |oi| terbit pikiran Datuk Bandaro. . seperti orang yang menyembah. |Oi| baralah jauah |oi| nan bajalan. pulang maklum kepada Tuan. |Oi| lalu bakatolah si Linduang Bulan. “Ampunkan saya Tuan kandung. kito bajalan di hari paneh.) 10. pedih di rasa badan saya. “Ampunkan saya Tuan kanduang. teks didendangkan oleh pencerita dengan tetap diiringi musik dan tepuk tangan dengan posisi berdiri.) 11. |oi| sana tertegunlah Datuak Bandaro.Lalu bakatolah si Linduang Bulan. |oi| sanan tatagunlah Datuak Bandaro. 50 Mendengar katalah si Linduang Bulan. 40 |Oi| mendengar kata Datuk Bandaro. musik tidak dibunyikan. menundukkan kepala. sepuluh tahun berumah tangga. “Ampunkan denai Tuan kanduang. Lah |kok| tibo |oi| maso itu. Sub-adegan ke-1 14. Lah ampia tibo |oi| garan di kabun. |oi| sana tersentaklah si Lindung Bulan. mendengar Tuan yang seperti itu. Mandanga katolah si Linduang Bulan.” Lalu berkatalah si Linduang Bulan. mandanga Tuan nan bak kian. (Pencerita bergerak kembali dengan mendendangkan teks yang diiringi oleh musik serta tepuk tangan. Waktu dialog. 16.Lah |nan| bajalanlah maso itu. Sudah |nan| berjalanlah masa itu.(Bait ke-9 merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan berdiri. dipanggil pula |lah| si Lindung Bulan. itu yang saya menungkan juga. |oi| sinan tasintaklah si Linduang Bulan. |oi| terasa letihlah si Linduang Bulan. anak yang tidak dapat juga. |oi| taraso latiahlah si Linduang Bulan. dan berakting. pencerita mendendangkan teks dengan posisi duduk sambil berakting memperlihatkan keletihan) . ampun beribu kali ampun. dilihat-lihat |nan| kebun yang itu. |Oi| berapalah jauh |oi| yang berjalan. |oi| takana kabun |lah| maso itu. |oi| teringat kebun |lah| masa itu. |Oi|mandanga kato Datuak Bandaro.” 45 (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-11 dengan posisi duduk. ampun baribu kali ampun. “Ampunkan denai Tuan kanduang. anak nan indak dapek juo.) 12. sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. sudah jauh kita yang berjalan. kita berjalan di hari panas. lah jauah kito nan bajalan. 13. 60 Sudah |kok| tiba |oi| masa itu. 15. padiah di raso badan denai. Sudah hampir tiba |oi|gerangan di kebun. |Oi| lalu berkatalah si Linduang Bulan. Pencerita mengucapkan teks dengan berakting seperti seorang suami yang berbicara kepada istrinya. |oi| tabik pangana Datuak Bandaro. itu nan denai manuangkan juo. (Pada bait ke-12 sampai bait ke-14. Pada bait ke-15. pulang maklum kapado Tuan.

Dicari sumur yang pertama. Lama |lah| lambat |oi| gerangan di kabun. kehendak boleh pintak berlaku. jari dirabalah masa itu.” (Pada awal bait ke-17. dengan menggambarkan tingkah tupai) . lalu diberikan ke Puti kini. |oi| tangan berjari |lah| Datuak Bandaro. .” (Pada bait ke-18 dan sebagian bait ke-19. Sesudah mengucapkan dialog itu. sudah yang melompatlah di masa itu. iko lah aia nan ko kini. ini sudah air yang ini kini. “Ini ada sumur. dicari pula sumur yang kedua. dicari pulo sumua nan kaduo. saya hendak minum yang di belakang. saya hendak minum hanya kini. |oi| lalu dicarilah masa itu. teks didendangkan oleh pencerita. 75 kandak buliah pintak balaku. Mandanga kato |nan| si Linduang Bulan. Dialog ini adalah dialog DB. |oi| lalu minum |lah| si Lindung Bulan.paneh nan kini angek ko bana. tolong Tuan carikan aia. Pencerita berakting sambil menundukkan kepalanya seolah-olah melihat sumur) . Dik kanduang si Linduang Bulan. minumlah Adiak nan dulu. seperti seorang perempuan berbicara dalam kondisi keletihan. rangkungan kariang tu dek Tuan. 17. teks didendangkan oleh pencerita dengan berdiri sambil menari.” 80 19. air yang tidak |lah nan| ini ada. |oi| sudah tampak kini |oi lah| yang seekor. iko lai sumua iko dek Adiak. sumur yang kedua sudah kering pula. Dik kandung si Linduang Bulan. “Ko lai sumua.” 65 panas yang kini hangat ini benar. sumua nan kaduo lah kariang pulo. merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita. |oi| lalu disauaklah aia nantun. denai nak minum nan di balakang. lalu diagiahkan ka Puti kini.) ADEGAN II 20. menari sambil sedikit melompat untuk (Pencerita mendendangkan bait ke-20 di atas. 70 jari direseklah maso itu. ini ada sumur ini oleh Adik. |oi| lalu ditimbalah air yang itu. dicari sudah |ko| sumur kini. Dicari sumua nan partamo. minumlah Adik yang dulu.” Mendengar kata |nan| si Linduang Bulan. kemudian didialogkan. |oi| lalu dicarilah maso itu. pencerita langsung minum. tolong Tuan carikan air. denai nak minum hanyo kini. Pencerita langsung memperagakan seolah-olah LB yang minum) . Sebagian teks bait ke-19. kerongkongan kering itu oleh Tuan. “Dik kandung si Linduang Bulan. 18. sudah tampak seekor |lah| si Tupai Janjang. dicari malah |ko| sumua kini. |oi| tangan bajari |lah| Datuak Bandaro. Lamo |lah| lambek |oi| garan di kabun 90 |oi| lah nampak kini |oi lah| nan saikua lah nampang sikua |lah| si Tupai Janjang lah nan malompeklah di maso itu. 85 “Dik kanduang si Linduang Bulan. aia nan indak |lah nan| ko ado. |oi| lalu minum |lah| si Linduang Bulan. Sumur yang ketiga |lah| masa itu. Sumua nan katigo |lah| maso itu.” (Pencerita mengucapkan dialog LB pada bait ke-16 dengan berakting.

sepuluh tahun berumah tangga.” 110 “Dik kandung si Linduang Bulan.“Dik kanduang si Linduang Bulan. |oi| tabik pangana |lah| si Linduang Bulan. Manga Tuan saburuak itu niak kini. tidak elok Tuan seperti itu. Tuan hendak membunuh si Tupai Janjang. pencerita mendendangkan dengan suara yang sedih. Pancuci mukolah si Linduang Bulan. 24. Sesudah itu. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. Lalu ko sadiahlah si Linduang Bulan. Lalu kini sedihlah si Linduang Bulan. sudah akan dibunuh si Tupai Janjang. 23. |oi| lalu diambillah air yang itu. tadi Adiak nan lah minum. Pada bait ke-22. Mengapa Tuan seburuk itu niat kini. pencerita minum kembali) . diambiak aia |oi| lalu di minum. (Pencerita mendendangkan bait ke-21 sampai bait ke-23. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua. |Ha| didakek malah |lah| si Tupai Janjang nantun.21. 115 Sudah |nan| kini dekat |lah| masa itu. lalu berkatalah Datuak Bandaro. (Pencerita mendendangkan bait ke-26 dengan berdiri sambil menari yang diiringgi musik dan tepuk tangan) . |ha| lalu dilihat |oi| si Tupai Janjang. Lah |nan| ko dakek |lah| maso itu. 95 lah ka dibunuah si Tupai Janjang. 22. diambil air |oi| lalu di minum. anak yang tidak dapat juga. 27. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu. mangga dibunuah |lah| si Tupai Janjang. Hal itu diperagakan oleh pencerita dengan memegang kepalanya) . kini denai ka minum pulo. |Oi| lalu diambil yang air sumur. Mengapa kini sedih |lah| si Linduang Bulan. Sesudah itu. Tuan ndak mambunuah si Tupai Janjang indak elok Tuan baitu bana. pencerita meminum air) . |oi| lalu diambiaklah aia nantun. ibolah denai nan maso itu. lalu diambiaklah mangko kayu. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu. ibalah saya yang masa itu. kini ko minum Datuak Bandaro. 120 sapuluah tahun barumah tanggo. |ha| lalu dicaliak |oi| si Tupai Janjang. Adik jangan menangis juga.“Ampun kan denai Tuan kanduang. . kini saya minum pula. Pencuci mukalah si Linduang Bulan. manalah Tuan yang hanyo saya. lalu diambillah maka kayu. Adiak usah manangih juo. |oi| habis dicuci muka Linduang Bulan. mengapa dibunuh |lah| si Tupai Janjang.” (Pencerita mengucapkan dialog DB pada bait ke-25. 105 (Pencerita mendendangkan bait ke-24 dengan berdiri dan menari. 100 lalu bakatolah Datuak Bandaro. 26. ibarat seorang ibu yang sedang menangis karena anaknya dipukul. 25. anak nan indak dapek juo. Manga ko sadiah |lah| si Linduang Bulan. kini sedang minum Datuak Bandaro. manolah Tuan nan janyo denai. “Ampun kan saya Tuan kandung. tadi Adik yang sudah minum. |oi|terbit pikiran |lah|si Linduang Bulan. |Ha| didekati malah |lah| si Tupai Janjang itu.

|Oi| lamolah lambek garan di kabun. asa lai denai dapek anak. (Pencerita mendendangkan bait ke-28 dan bait ke-29 dengan berdiri dan menari) . orang yang berilmu dan juga bagian dari gelar adat. Sudah yang ke Bonjol |lah| masa itu. Sub-adegan ke-2 32. 145 |oi| surau nan condong |hai| condong ka Barat. |oi| raso memangkulah itu bulan. lalu dicarilah urang malin. berdua dengan diri Datuk Bandaro. Lalu bakato |hoi lah| Linduang Bulan. Sudah tiba malam gerangan di rumah. lalu disabuik ka Datuak Bandaro. Hal ini dilakukan waktu mendendangkan rasa memeluk bulan dan memangku matahari) . |oi| surau yang condong |hai| condong ke Barat. apalah mimpi |lah| si Linduang Bulan. sudah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. |oi| raso mamangkulah tu bulan. 36 Menurut Kamus Bahasa Minangkabau. |oi| lamalah lambat gerangan di jalan.. bia sarupo Tupai Janjang. |oi| mimpi nan habih |oi| hari lah siang. lalu disebutkan kepada Datuak Bandaro. sudah tiga malam masa itu kini. asal ada saya dapat anak. sudah yang bermimpilah si Linduang Bulan.” (Bait ke-27 di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita. Kegiatan ini dilarang dalam syariat agama Islam karena tergolong syirik. 135 raso |lah| mamaguiklah si matohari. |Oi| raso bamimpilah maso itu. Pencerita awalnya berdiri. Lah nan ka Bonjo |lah| maso itu. |Oi| lamalah lambat gerangan di kebun. 30. termasuk kelompok orang Nan IV jinih. apolah mimpi |lah| si Linduang Bulan. apalah tabir mimpi yang itu. lah pulang |malah lah| si Linduang Bulan. Menurut Amir (2003:55). orang keramat |lah| hidup-hidup. lalu dicarilah orang malin35.kok lai pintak nangko buliah. urang kiramaik |lah| hiduik-hiduik. Sub-adegan 1 28. tanuang adalah perbuatan untuk meramalkan atau mengetahui sesuatu yang tidak terlihat. |oi| lamolah lambek garan di jalan. lah tigo malam maso tu kini. baduo jo diri Datuak Bandaro. apalah tujuan |hai| mimpi ini habis. lalu ditanuanglah maso itu. kemudian sujud menyembah dan berakting seperti seorang istri memohon dan berharap kepada suaminya) . apolah arah |hai| mimpi ko habih. sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. 29. lah nan bamimpilah si Linduang Bulan. 31. rasa |lah| memeluklah si matahari. denailah bamimpi |hai| lah tadi malam. sayalah bermimpi |hai| lah tadi malam. . 140 |Oi| rasa bermimpilah masa itu. biar serupa Tupai Janjang. Lah tibo malam garan di rumah. (Pencerita mendendangkan teks bait ke-30 dengan duduk dan berakting untuk memperlihatkan memeluk matahari dan memangku bulan.” 125 kalau ada pinta yang boleh. apolah tabir mimpi nantun. 130 lah nan sahari |haa| lah duo hari. 35 Lalu berkata |hoi lah| Linduang Bulan. lalu ditanuanglah36 masa itu. |oi| mimpi yang habis |oi| hari sudah siang.

Ssesudah itu. diminta air |hai| ke Linduang Bulan.” (Pencerita pada bait ke-36 dan bait ke-37 berakting dengan merintih serta memegang perut dan pinggangnya. sakik.” Ibid. 34.sakit. maengkang merupakan jalan seorang ibu yang lagi hamil. apo nan mintak Adiak ko kini. 155 |Oi| sudah yang |ko| pulang Datuak Bandaro. taraso auih Datuak Bandaro. sana berkatalah Datuak Bandaro. |ha| lalu diambillah air yang itu. hati yang senanglah masa itu. lah nan duo bulan garan manganduang. anak nan indak dapek juo. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung.. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. sapuluah tahun barumah tanggo . (Pencerita mendendangkan bait ke-31dengan posisi berdiri. sepuluh tahun berumah tangga. Dari sahari |oi| garan manganduang. sudah yang sepekan |oi| sudah yang sebulan.sanan bakatolah Datuak Bandaro. |ha| disebut malah |ha| takwil mimpi. kini sudah mengandung maka Adik.aduh aduh.|Oi| lamolah lambek Datuak Bandaro. |oi| apolah garan |lah| takwia mimpi. Waktu mendendangkan bait ke-32 dengan posisi duduk sambil tetap mengayunkan tangan mengikuti irama dendang yang diiringgi bunyi musik) . . hati nan sananglah maso itu. |oi|apalah gerangan |lah| takwil mimpi. |Oi|sudah mengandunglah si Linduang Bulan. terasa haus Datuak Bandaro. Adik merasa sakit juga. 160 (Pencerita minum air pada bait ke-35..sakit.. |ha| lalu diambiaklah aia nantun. “aduh aduh. |Oi| lamalah lambat Datuak Bandaro. “aduh. sudah delapan bulan perut tambah besar. diminta aia |hai| ka Linduang Bulan. |oi| lalulah minum Datuak Bandaro. 37.. Hal ini dilakukan supaya seperti seorang ibu yang sedang mengandung) . (Pencerita mengambarkan DB pulang. “Dik kanduang si Linduang Bulan. Adiak maraso sakik juo. sakik. |Oi| lah nan |ko| pulang Datuak Bandaro. lah lapan bulan paruik tambah gadang..aduh. lah nan sapakan |oi| lah nan sabulan. |oi| berapalah senang hati Linduang Bulan. Sub-adegan ke-3 33. 35. kini lah manganduang mako Adiak. sudah yang dua bulan gerangan mengandung jalan berubahlah yang maengkang37. pada bait ke-34 dengan sedikit melompat karena kegembiraan. terasa sakitlah si Linduang Bulan. 36. taraso sakiklah si Linduang Bulan. Hal ini dilakukak untuk memberitakan istrinya yang akan mengandung) . apa yang minta Adik kini.” 37 170 “Dik kandung si Lindung Bulan. jalan barubahlah nan maengkang. anak yang tidak dapat juga. |Oi| lah manganduanglah si Linduang Bulan.” 165 Dari sehari |oi| gerangan mengandung. Lah tigo bulan sudah limo bulan garan manganduang. kembali mendendangkan bait ke-36) . 38. |oi| baralah sanang hati Linduang Bulan . aduh aduh.. 150 |ha| disabuik malah |ha| takwia mimpi.

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan pencerita dengan suara yang dibesarkan supaya terdengar berwibaya) . 39. Basadiah-sadiahlah si Linduang Bulan, 175 tibo nan cameh dapek tu maa, “Aduuh sakiik aduah saakiik, minum lah ciek dulu Tuan oi.” Bersedih-sendihlah si Linduang Bulan, tiba yang cemas dapat itu, “Aduuh sakiit aduuh saakiik, minum lah satu dulu Tuan oi.”

(Pada bait ke-39, diperagakan oleh pencerita seperti seorang ibu yang mengerang kesakitan waktu sedang hamil tua. Sesudah itu, pencerita minum kembali) . 40. Lah lapan bulan |oi| garan menganduang, lah nan sambilan bulan nyo manganduang, 180 paruik batambahlah sakik juo. 41.|Oi| lalu dipanggia dukun nan partamo, lalu nyo reseklah si Linduang Bulan. Sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung, sudah yang sembilan bulan dia mengandung, perut bertambahlah sakit juga. |Oi| lalu dipanggil dukun yang pertama, lalu dia rabalah si Linduang Bulan.

(Pencerita pada bait-40, bergerak dalam kondisi berdiri, kemudian berakting seperti terjatuh akibat menahan kesakitan. Pada bait ke-41, pencerita berakting seperti seorang dukun yang sedang memeriksa kehamilan) . 42. “aduuah aduuah…. Sakiik…., aduuh sakiik…..” “aduuah aduuh…. Sakiit……, aduuh…..sakiit……”.

(Bagian teks di atas merupakan rintihan Linduang Bulan yang dilakukan oleh pencerita dengan berakting sambil merintih seperti orang yang sedang menahan kesakitan) . 43. “Dik kanduang si Linduang Bulan, dicaliak kini ko codo sia? ambo resek dulu.” 185 “Dik kandung si Linduang Bulan, dilihat kini seperti siapa? saya raba dulu.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita untuk menghibur LB. Hal ini dilakukan supaya dapat mengurangi rasa sakit yang diderita LB) . 44. “Ampunkan denai Datuak Bandaro.” “Ampunkan saya Datuk Bandaro.”

(Dialog di atas merupakan dialog LB yang diucapkan oleh pencerita dengan terbata- bata) . 45. “Dicaliak kini bini manganduang.” “Dilihat kini istri mengandung.”

(Dialog di atas merupakan dialog DB yang diucapkan oleh pencerita juga dengan terbata-bata) . 46. “Tapi….. anak…ndak.ka lahia kini, anam bulan lai ka lahia.” 190 “Tapi…..anak….tidak akan lahir kini, enam bulan lagi akan lahir.”

(Bagian teks yang ke-46 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara ketakutan) .

47. Dukun kapunduang lah salapan bulan, lah sambilan bulan bini den manganduang, kabatambah anam bulan lai.”

Dukun kepundung38 sudah delapan bulan, sudah sembilan bulan bini saya mengandung akan bertambah enam bulan lagi.”

(Dialog DB pada bait ke-47, diucapkan oleh pencerita dengan cara berakting dan suara yang keras sehingga mengambarkan rasa kesal kepada Dukun karena dikatakan istrinya belum juga bisa melahirkan) . 48. Lalu dicari dukun nan kaduo, 195 |oi| dukun kaduo |oo| sarupo itu, |oi| lalu di datang dukun nan katigo, |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Lalu dicari dukun yang kedua, |oi| dukun kedua |oo| seperti itu, |oi| lalu di datang dukun yang ketiga, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pencerita mendendangkan bait ke-48, dengan berdiri dan menari sambil berjalan) . 49. “Batanang dulu yo! kok lah dapek aia ko ambo minum gai dulu.” 50.”Ampunkan denai Datuak Bandaro, kalau dicaliak nan ko kini.” “Tenang dulu ya! kalau sudah dapat air ini saya minum dulu.” “Ampunkan saya Datuak Bandaro, kalau dilihat yang ini kini.”

200

(Bagian teks yang ke-49 dan ke-50, merupakan dialog dukun yang diucapkan oleh pencerita sambil memperlihatkan seolah-olah memeriksa kehamilan LB. Pada bait ke-49, pencerita mengucapkan dialog itu kemudian minum) . 51. “Aaa duuh saakiik….. saakiik.” “Aaa duuh saakiit…..saakiiit.”

(Rintihan LB pada bagian teks ke-51, dilakukan oleh pencerita dengan akting seperti orang yang akan melahirkan) 52. “Batananglah dulu Linduang Bulan.” “Tenanglah dulu Linduang Bulan.”

(Dialog DB pada bagian teks ke-52 diucapkan oleh pencerita dengan suara seperti orang yang sedang membujuk istrinya. Hal ini dilakukan supaya LB tabah dalam menahan rasa sakitnya) . 53. “Iyoo… sakiik iko Dukun.” 205 “Iyaa….sakiit ini Dukun.”

(Bagian teks ke-53 merupakan rintihan LB yang dilakukan oleh pencerita sambil mengurut-urut perut dan pinggangnya) . 54. “Iyo itu nan kamalaian, ampunkan denai Datuak Bandaro, tolong carikan talua nan sabuah, aia putiah nan sagaleh, kito agiah salusuah nangko Linduang Bulan, 210 untuang kok capek nangko laia”.
38

“Iya itu yang akan melahirkan, ampunkan saya Datuak Bandaro, tolong carikan telur yang sebuah, air putih yang segelas, kita berikan selusuh ini Linduang Bulan, untung kalau cepat ini lahir.”

Kepundung diucapkan oleh pencerita untuk mengungkapkan kekesalan kepada dukun

(Dialog pada bagian teks yang ke-54, merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita untuk menyuruh DB mencari telur dan selusuh agar LB cepat melahirkan. Hal ini diucapkan sambil duduk dengan cara menyembah) . 55. Alah ko tibo nan barang nantun, |ha| lalu dipacahlah talua nantun, diambiak malah aia sagaleh, |ha| dicampua-campualah maso itu, 215 |ha| diresek pulolah si Linduang Bulan. Sudah kini tiba yang barang yang itu, |ha| lalu dipecahlah telur yang itu, diambil malah air segelas, |ha| dicampur-campurlah masa itu, |ha| diraba pulalah si Linduang Bulan.

(Pada bait ke-55, didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan menari sambil memperagakan memecah telur) . 56. “Aduuh sakiik… Tuan ampun Tuan….” “Aduuh sakiit…Tuan ampun Tuan….”

(Bagian teks yang ke-56, merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang kesakitan) . 57. “A…. iko Linduang Bulan iko ado pilusuah.” “A….ini Linduang Bulan ini ada sisuluh.”

(Bagian teks yang ke-57 merupakan dialog Dukun yang diperagakan oleh pencerita sambil memegang gelas) . 58. “Aduuh aduuh..sakiik Tuan ai..” 220 “Aduuh aduuh.. sakiit Tuan ai…”

(Bagian teks di atas merupakan rintihan LB. Pencerita merintih sambil berakting dengan cara mengerang seperti orang kesakitan dengan membungukkan badannya) 59. “Iko nan pilusuah Tuah. minumlah yo…!” “Ini yang silusuh Tuan. minumlah ya…!”

(Pencerita mengucapkan dialog dukun pada bagian teks ke-59, dengan memperagakan seolah-olah memberikan minuman kepada LB) . 60. “Aduuh lah sakiik lah Tuan yooi.” “Aduuh sudah sakiit sudah Tuan yooi.”

(Bagian teks ke-60 adalah rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita seperti orang yang kesakitan) . 61. “Iyo itu nan manganduang, banyaklah mangucap.” 225 “Iya itu yang mengandung banyaklah mengucap.”

(Bagian teks ke-61 merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang berwibawa untuk menggambarkan supaya LB tetap tabah) . 62. “Aduu..h sakii….k… ndak …. aduu..h sakiik……” “Aduuh…sakii….t….ndak….. aduu..h sakiik…..”

Lalu teringat |a| masa di kebun. 240 Lalu berkata Datuak Bandaro. Tupai Janjang?” “Aaa….(Bagian teks ke-62 merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegang perut dan pinggangnya) .” (Bagian teks di atas merupakan ucapan dari DB yang diucapkan oleh Pencerita dengan suara sedih) . sarupo tupai. “Lah ampia ko kamahaa. “Aduu…. |hai| sasa kudian indak baguno. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. |hai| jika diminta sudah masa itu. Lalu taingek |a| maso di kabun. Nan lah ko laialah si Tupai Janjang |oi| tibo di lantai.” “Eaa……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks di atas untuk menggambarkan bahwa anak LB sudah lahir) . “Aaa…. pinta berlakulah hanya ada.ah…” “Aduu…. 70. (Pencerita mendendangkan bait ke-70. Hal itu ditampilkan oleh pencerita dengan mata terbelalak) .h sakiik adu….. serupa tupai. |hai| jikok diminta lah maso itu. 68. 67. |Yo| anak barupo |lah| si Tupai Janjang. “Anak lai. |Ha| kini yang sesal yang dapat lagi. (Bait ke-68 didendangkan oleh pencerita sambil bergerak dengan memegang kain di tangannya seolah oleh mengambarkan bayi yang sedang digendong) . |a| lalu dilihatlah anak yang itu. 230 Yang sudah ini lahirlah si Tupai Janjang. dengan suara tersedu-sedu seperti orang menangis) . pintak balakulah hanyo lai. (Pencerita mendendangkan bait ke-67.. “Eaa……. 65. Lalu bakato Datuak Bandaro.h sakiit aduu…ah…” (Pada bagian teks yang ke-64. merupakan rintihan LB yang diperagakan oleh pencerita dengan memegak perut seperti orang kesakitan) .” “Anak ada.. lantai berlubang. . 63. lantai balubang. merupakan dialog Dukun yang diucapkan oleh pencerita dengan mimik penuh kecemasan) 64. Tupai Janjang?” (Bagian teks yang ke-67 di atas merupakan ucapan DB yang kaget karena melihat anaknya yang lahir seperti TJ. |oi| tiba di lantai.” (Bagian teks yang ke-63.h sakik aduu…. |a| lalu dicaliaklah anak nantun.” “Sudah hampir ini haa. ADEGAN III 66.h sakiit aduu…. dengan berdiri sambil menari) . 235 |Ha| kini nan sasa nan dapek lai. |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. |Ya| anak berupa |lah| si Tupai Janjang. |hai| sesal kemudian tidak berguna. 69.

245 hauui yo? yoi manangih juo.! 250 usahlah malompek-lompek juo.” 265 “Nak kandung si Tupai Janjang. usahlah melompat-lompat juga aa. haus ya? yo menangis juga. 39 40 Yuang adalah sebutan untuk anak laki-laki di Minangkabau Memeh adalah ucapan yang biasa dikatakan oleh ibu pada waktu akan menyusui bayinya. “Ai……” “Ai……” (Pencerita mengeluarkan suara pada bagian teks ke-71.? ko aia ha. ndak bisa ambuih saluang lai. 260 anak bincacak anak bincacau.. usahlah malempek-lompek juo aa. kini bakirolah ko kini. boleh ke rimbalah kau kini.” (Dialog bait ke-74 adalah dialog DB kepada TJ yang diucapkan oleh pencerita dengan suara yang lantang sehingga menggambarkan DB sedang marah) . kini pergilah ini kini. Pencerita akhirnya memperagakan dengan minum) . . selendang itu dilempar seolah-olah DB membuang anaknya) . seperti suara seekor anak tupai. “Usahlah mangigik-mangigik juo Yuang.. (Pencerita mendendangkan bait ke-73 sambil bergerak dan terus memegang selendang. waktu mengucapkan dialog baris terakhir bait di atas. sudah tumbuh diri bertambah besar.yo. ya. ini memeh40 aa… ini meh haa. tidak bisa hembus salung lagi. buliah ka rimbolah kau kini.” (Dialog LB pada bait ke-72. 41 Ungkapan yang biasa diucapkan dalam kaba untuk menyatakan anak yang tidak mempunyai etika dan biasanya disampaikan dengan nada keras dan marah. lah minum yo….? ini air ha. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. lalu dibuanglah si Tupai Janjang. sudah minum ya…. apo harato lah diambiaknyo. itu tukang salung lima menit. lalu dibuanglah si Tupai Janjang. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. parangai jaek |lah| maso itu.” “Janganlah mengigit-mangigit juga Yuang39.71. hauih? Ndak baraia? ndak baraia. Pencerita kemudian memasukkan selendangnya ke dalam bajunya seolah-olah seorang ibu yang mengeluarkan payudaranya dan menyusukan bayi. anak bincacak anak bincacau.. haus? Ndak berair? tidak berair. Kemudian. lah tumbuah diri batambah gadang. apa harta sudah diambilnyo. terbitlah bengis Datuak Bandaro. perangai nakal |lah| masa itu. Hal ini dilakukan pencerita dan menjadikan selendangnya sebagai properti untuk menggambarkan anak yang sedang digendongnya) . dilakukan oleh pencerita seperti seorang ibu yang menyusukan bayinya. itu tukang saluang limo minik . anak sigiang-giang rimbo. tabiaklah bangih Datuak Bandaro. Dari sahari |lah| maso itu. Sub-adegan ke-1 73. 72. 255 Dari sehari |lah| masa itu. 74.. “Nak kanduang si Tupai Janjang. anak sigiang-giang rimba41. ko memeh aa…ko meh haa.! janganlah melompat-lompat juga.

sanan diambeklah si Tupai Janjang. |oi| badan nan bisa manangih juo. Masuk ke kebunlah masa itu. |ha| duo juo diri si Mamak Hitam. |Oi| hari nan sadang pukua satu. 285 81. teringat anak yang masa itu. lah ka dibuanglah si Tupai Janjang. 80. |oi| lalu dilihatlah oleh Mak Hitam.42 |a| si Tupai Janjang segitu dulu. Lamolah lambek garan manangih. |Oi| hari yang sedang pukul satu. |oi| masuaklah kabun |hai| Mandeh Rubiah. |ndeh| badan auih sambia manangih. |Oi| adok ka dirilah si Tupai Janjang. 270 lalu diambiak |oi| aia lalu diminum.|Oi| lalu dibaoklah ateh rumah. |oi| lalu dicaliaklah dek Mak Hitam. takana anak nan maso itu. |oi| masuklah kebun |hai| Mandeh Rubiah. |oi| bagaimana cerita |lah| tentang itu. |ha| diambiak garan |ha| di ateh rumah. 280 |Oi| hadap ke dirilah si Tupai Janjang. |oi| sedang berbuntalah si bayang. |Oi| adok ka dirilah si Linduang Bulan. Masuak ka kabunlah maso itu. Istirahat lebih kurang 30 menit ADEGAN IV 82. dek rangkungan den |hai| batambah kariang. sudah kurus badanlah si Linduang Bulan. |Oi|terhadap ke dirilah si Linduang Bulan. |ha| diambil gerangan |ha| di atas rumah. lah kuruih badanlah si Linduang Bulan. |Oi| lalu dibawalah atas rumah. 275 lah masuak kabunlah ko urang kini. 42 Sudah yang didulang sedulang lagi. |ha| dua dengan diri si Mamak Hitam. Lah nan didulang sadulang lai. sudah akan dibuanglah si Tupai Janjang. kerongkongan basah nanti kita sambung. sudah masuk kebunlah ini orang kini. 290 karongkongan basah biko kito sambuang.Sub-adegan ke-2 75. |oi| tapi dilarang oleh Mandeh Rubiah. |oi| tapi dilarang dek Mande Rubiah. Lamalah lambat gerangan menangis. |oi| peninggal anaklah yang berjalan. (Pencerita mendendangkan bait ke-75 sampai dengan bait ke-77 dengan suara seperti orang yang sedang menangis dan kemudian meneguk air minum) . babunta adalah sedang memendek bayang-bayang atau yang lazim disebut dengan tengah hari tepat. |oi| badan yang bisa menangis juga. . |ndeh| badan haus sambil manangis. Sudah diusirlah Si Tupai Janjang. (Bait ke-78 sampai dengan bait ke-81 didendangkan oleh pencerita dengan berdiri dan bergerak mengikuti irama yang sama) . Alah diusialah si Tupai Janjang 76. sana diambillah si Tupai Janjang.bayang. 79. Sub-adegan ke-3 78. |oi| baa curito |lah| tantang itu. 77. |oi| sadang babuntalah sibayang-bayang. lalu diambil |oi| air lalu diminum. karena kerongkongan saya |hai| bertambah kering. Ibid. |oi| paningga anaklah nan bajalan. |a| si Tupai Janjang saitu dulu.

baduo jo diri |lah| Mak Hitam. tibo di malam lah malam kini. kabun batambah rindang juo. lah |nan| bapakan lah maso itu. lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. |ha| diagiah makanlah makan rimah. sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. 315 dicaliak kabunlah maso itu. 87. sudah dibawalah si Tupai Janjang. Lamo hari baganti hari . |Oi| abih lah malam |hai| baganti siang. |oi| sana terkejutlah Mandeh Rubiah. tiap dibersih hari masa itu. |oi| kenapa kok kebun sudah lacah45 kini. |ha| diberi makanlah makan rimah. 89. Ibid. |oi| apokah garan |lah| si tupai nan ko. pencerita mengambil kembali selendangnya. apolah jadi |lah| nan bak kian. yang penyambung yang tinggal tadi. |Oi| kabun lah siang maso kini. lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. diberi makanlah si Tupai Janjang. Pada waktu mendendangkan baris ke-297. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. 325 43 |Oi| habis sudah malam |hai| berganti siang. 305 310 (Pencerita mendendangkan bait ke-82 sampai dengan bait ke-84 dengan berdiri dan gerakan yang sama. 295 |lah| yang pandulang emas di Bangko. bertanya-tanyalah Mandeh Rubiah. lacah adalah tanah lembek atau berlumpur. |Oi| kebun sudah bersih masa kini. |oi| makan buah inyo nan indak nio. 300 84. makan jo rimahlah inyo namuah. sudah |nan| berpekan43 sudah masa itu. berdua dengan diri |lah| Mak Hitam. diagiah makanlah si Tupai Janjang. tiba di malam sudah malam kini. |Oi| sanan takajuik Mandeh |lah| Rubiah. |oi| makan buah dia yang tidak mau. Lama hari berganti hari. kinilah terang kebun ini kini. Lah nan sahari nan duo hari. . |oi| lalu berpikir Mandeh Rubiah. 320 44 45 Ibid. 85. batanyo-tanyolah Mandeh Rubiah. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. nan panyambuang nan tingga cako. 83. ibarat mengambarkan TJ dijaga dan tidur di rumah MR) . yang didulang sedulang lagi. Ibid. nan didulang sadulang lai. Habis pakan baganti pakan. dilihat kebunlah masa itu. makan dengan rimahlah44 dia mau. 88. tiok disiang hari maso itu. lah dibaolah si Tupai Janjang. dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. |ha| dia yang tidurlah masa itu. sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah. |ha| inyo nan laloklah maso itu. |Oi| sana terkejut Mandeh |lah| Rubiah. |oi|apakah gerangan |lah| si tupai yang ini. kinilah tarang kabun iko kini. pakan adalah sebutan untuk satu minggu yang dalam satu hari dalam satu minggu itu ada hari yang ramai untuk berjual-beli. Sub-adegan ke-1 86. |oi| baa kok kabun lah lancah kini.|lah| nan pandulang ameh di Bangko. Habih pakan baganti pakan. |oi| lalu bapikia Mandeh Rubiah. Adok ka dirilah si Tupai Janjang. dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. rimah adalah nasi yang jatuh dan keluar dari piring pada saat makan. apalah jadi |lah| yang seperti itu. kebun bertambah rindang juga. |oi| sanan takajuiklah Mandeh Rubiah. Sudah yang sehari yang dua hari.

kemudian pencerita memegang selendang di tangannya untuk mengambarkan kulit TJ yang sudah terkelupas) . 340 |Ha| harilah pagi sudah masa itu. (Pada bait ke-86 sampai bait ke-89 pencerita mendendangkan bait tersebut dengan terus-menerus bergerak seperti gerakan tari Minang) . 335 (Pencerita bergerak pada bait ke-90 sampai dengan bait ke-91 seperti gerakan yang sama. |ha| kironyo kuliklah ndaknyo ado. |oi| seorang yang itu naik atas rumah. |oi| badan barubah manjadi urang. |ha| dipanggang malah |lah| maso itu.|Oi| kulik nan abih alah maso itu. |ha| manjadi kayolah maso kini. yang dulu |nan| gerangan |lah| si Tupai Janjang. |hai| sahabih asok |lah| maso itu |hai| kulik barubah satumpuak ameh. |ha| dia raba pulalah si Tupai Janjang. Sub-adegan ke-2 90. lalu diambil kulit Tupai Janjang. kulit berubahlah setumpuk emas. kira terkejutlah si Tupai Janjang. dicaliak malah |lah| maso itu. |ha| dicaliak kuliklah indak ado . |oi| Mandeh Rubiah lah managahkan. 96. |hai| kulit berubah setumpuk emas. |oi| badan berubah menjadi orang. |Ha| kulik tapanggang kulik Tupai Janjang. Sub-adegan ke-3 95. 350 kulik barubahlah satumpuak ameh.duo juo diri |lah| Mak Hitam. |Ha| harilah pagi lah maso itu. 345 355 . |Ha| lalu dipanggillah si Tupai Janjang. Lalu dilihat si Tupai Janjang. |oi| surang nantun naiak ateh rumah. badan lah sananglah hanyo lai. |ha| dilihat kulitlah tidak ada. |oi| apalah gerangan yang sudah terjadi. cukup sebulanlah masa itu. |Ha| kulit terbakar kulit Tupai Janjang. |Ha| dilihat malah |lah| si Tupai Janjang. nan dulu |nan| garan |lah| si Tupai Janjang. 93. |ha| dilihat kembalilah si Tupai Janjang. |hai| sehabis asap |lah| masa itu. 92. |Ha| lalu baimbaulah si Tupai Janjang. |ha| lalu diambillah kulit itu. |oi| lamolah lambek |hai| baganti sanan. |Ha| diambil pula kulit itu kini. 330 91. kiro takajuiklah si Tupai Janjang. lalu diambiak kulik Tupai Janjang. |ha| menjadi kayalah masa kini. |Ha| dicaliak malah |lah| si Tupai Janjang. sudah duduk dipanggil di masa itu. |oi| apolah garan nan lah tajadi. |ha| nyo resek pulolah si Tupai Janjang. |oi| Mandeh Rubiah sudah melarang. dua juga diri |lah| Mak Hitam. |ha|si Tupai Janjang naik ke atas rumah. |o| barang |nan| badanlah indak ado. badan sudah senanglah hanya kini. 94. |Oi| kulit yang habis sudah masa itu. |ha| kiranya kulitlah tidak ada. |oi| lamalah lambat |hai| berganti sana. |Ha| diambiak pulo kulik tu kini. cukuik sabulanlah maso itu. dilihat malah |lah| masa itu. |ha| dicaliak baliaklah si Tupai Janjang. |ha| si Tupai Janjang naiak ka ateh rumah. |ha| lalu diambillah kulit nantun. |o| barang |nan| badanlah tidak ada. Lalu dicaliak si Tupai Janjang lah duduak diimbau di maso itu. |ha| dibakar malah |lah| masa itu.

|ha| meminta uang |lah| masa itu. sedang berputar bayang-bayang. 370 Lamalah lambat |lah| masa itu. 99. berilah saya kata pasti. 100 “Ampun kanduang janyo denai. Takana pulolah si mandeh kanduang. 102. ado maso itu badanlah sanang. agiahlah denai kato pasti. (Pencerita mendendangkan bait ke-97 dengan duduk sambil memegang kepalanya untuk menggambarkan rasa sedih karena teringat sama orang tuanya) .” (Bagian dari teks di atas adalah dialog DB yang diucapkan oleh pencerita dengan sedu sedan) Sub-adegan ke-1 101. Datuk Bandaro dengan Linduang Bulan.” “Ampun kandung kata saya.Lalu disuruah tinggalah maso itu. |Oi| adok ka diri |lah| si Tupai Janjang. |a| iko |ko| urang tuo ambo bana. Hari barubahlah hari pulo. anak kandung kata saya. . 97. |Oi| harilah sedang pukul satu.|Oi| harilah sadang pukua satu. dengan mandeh kandung Mandeh Rubiah. 365 (Bait ke-98 dan bait ke-99 didendangkan oleh pencerita dengan suara tersedu sedan seperti orang sedang sedih) . dua dengan dirilah Imak Hitam. tabik pangana |lah| si Tupai Janjang. ada masa itu badanlah senang. pai barubek |lah | garan kini. |Oi| hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang. lah sadiah garan |lah| si Tupai Janjang. pergi berobat |lah| gerangan kini. duo jo dirilah Imak Hitam. Teringat pulalah si mandeh kandung. jo mandeh kanduang Mandeh Rubiah. sadang bapunta bayang-bayang. Datuak Bandaro jo Linduang Bulan. bersama-samalah masa kini.Lamolah lambek |lah| maso itu. |a| ini |ko| orang tua saya benar. pencerita melemparkan selendangnya kembali) . Hal ini didendangkan dengan cara berdiri) Penutup 103. Lalu disuruh tinggalah masa itu.(Pencerita mendendangkan bait ke-92 sampai dengan bait ke-96 dengan gerakan yang sama sambil berdiri. terbit pikiran |lah| si Tupai Janjang. 375 (Pencerita mendendangkan bait ke-101 dan bait ke-102 dengan gerakan dan irama yang sama. |ha| maminta piti |lah| maso itu. badan batambahlah kuruih juo. sana terkejutlah Datuak Bandaro. sanan takajuik lah Datuak Bandaro. ADEGAN V 98. nak kanduang janyo denai. basamo-samolah nangko kini. 360 Hari berubahlah hari pula. Waktu mendendangkan kulit TJ sudah berubah menjadi emas (larik 350) . sudah sadih gerangan |lah| si Tupai Janjang. badan bertambahlah kurus jua.

Untuk menghasilkan hal itu. Dalam analisis ini.. Antara satu bait dan bait berikutnya juga terjadi pengulangan. |ouuii……. klausa. pencerita hanya duduk dengan mendendangkan bait ke-103. seperti keadaan tempat. Formulaik sebagai Sarana Komposisi Puisi Tupai Janjang Formula adalah sekelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan ide yang esensial.| 380 Tupai Janjang segitu dulu. lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan. |ouuii….Tupai Janjang sagitu dulu. bagian yang berformula ditandai dengan garis bawah di kata yang berformula tersebut. mungkin berupa kata. carito habih ndak kito ulang Tuan. Dengan cara ini. dan waktu pertunjukan. Formulaik yang pertama dilihat pada analisis ini adalah bagian teks yang berbentuk pantun.|. pencerita dapat menyesuaikan cerita dengan situasi pertunjukan. Pencerita dapat merangkai suatu cerita dalam waktu relatif pendek dengan cara membentuk kalimat yang berformula.| (Di bagian penutup ini iramanya berubah dari irama semua teks yang telah dibacakan terdahulu. atau larik (Lord. baik dalam bentuk kata-kata. cerita habis hendak kita ulang Tuan. |oio.lai…. Formula muncul berkali-kali dalam cerita. 1981:30—43).. Pada waktu ini. yaitu mengingat frasa-frasa dan menciptakan analogi dengan frasa yang telah ada. penonton. Jika dicermati kedua teks memperlihatkan adanya bagian yang diulang. baik dalam bentuk perulangan maupun sinonim (Sweeney. Bentuk yang memperlihatkan perulangan dengan sistem formula disebut ekspresi formulaik. Ekspresi formulaik juga dibentuk menurut pola irama dan sintaksis yang sama serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama. frasa. Formulaik pada pantun berikut ini ditemui pada kedua teks. lain wakatu nak kan kito ulang. baik dalam satu larik maupun dalam satu bait. frasa. |oio. 1987:68). 2. maupun klausa. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. yakni pada bagian awal cerita.lai…. lain waktu hendak akan kita ulang. Hal itu dilakukan dengan menundukkan dan memegang kepalanya) . lain waktu hendak akan kita ulang Tuan. Pantun memakai unsur yang berulang. .| ..

kaba |lah| urang lai kami kabakan. adolah urang maso itu. di nan dakek jolong tasongoh. tak kalo alun baralun. urang duto kami tak nio. 4. terlihat adanya kata yang diulang pada larik lanjutan pantun itu. Banda anak orang Koto Tuo. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. Pada teks II. (6-9) TEKS II 3. (Banda |lah| orang kami bandakan. banda anak orang |lah| di Gumarang.Banda |lah| urang kami bandakan. (Di yang tinggi tampak jauah. Banda nak urang Koto Tuo. (|Oi| adalah pada suatu masa. di yang dekat jolong tersongoh. larik itu diulang dengan mengubah kata kami dengan kata ambo (hamba) dan menambahkan ungkapan . tersebut garangan Datuak Bandaro. (Tak kalo masa dahulunya. tasabuik garan Datuak Bandaro. yang tersebut-sebut). Formula itu adalah Bandalah urang kami bandakan (Bandarlah orang kami bandarkan) yang ditemui pada kedua teks. urang duto kami tak sato. (17-21) bumi nan alun |hai lah| baralun. nan tasabuik-sabuik. orang dusta kami tak mau). tak kalo alun baralun. kaba orang kami kabakan. |hai| bumi nan antah barantah. (Banda orang kami bandakan. iyolah garangan |lah| si Tupai Janjang). kaba |lah| urang kami kabakan. 4. kaba urang kami kabakan. (16-20) 5. Tak kalo maso dahulunyo. Dalam pantun tersebut. (Bandalah orang |hai|hamba bandakan. |hai| bumi yang antah barantah.TABEL XII Formula di Bagian Pembukaan Cerita TEKS I 2. turunan rajo turun beraja. Banda urang kami bandakan. ta Puti suduik-basuduik. baik pada bait yang sama maupun pada bait yang berbeda. bumi yang belum |hai lah| baralun. kaba |lah| urang kami kabakan. orang dusta kami tak mau). kaba |lah| urang lai kami kabakan. Di nan tinggi tampak jauah. turunan puti sudut-bersudut). Pantun di atas terletak di awal cerita karena berfungsi sebagai pembukaan. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formula yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. (13-16) banda nak urang |lah| di Gumarang. berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulan).Bandalah urang |hai|ambo bandakan. ta Rajo turun ba rajo. (14-16) 5. Pengulangan itu terjadi. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang.(912) bandalah |hai| urang si Koto Tuo. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. |Oi| adolah pado suatu maso. adalah orang masa itu.

Kata itu adalah kaba dan bandalah urang (bandarlah orang) ditemui pada bait ke-3 dan ke-4.penyeling hai. hampir sampai genap bilangan). misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. Selain itu. pencerita tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. 34. Perubahan waktu itu ditulis dengan cara ditebalkan. atau dua bulan. Ada formulaik tertentu yang digunakan untuk menyatakan perubahan dan pergerakan waktu dalam cerita. satu bulan. Perbedaan terjadi dengan penambahan kata untuk kepentingan irama dalam menyanyikan cerita. ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu atau dua kata. Sudah yang sepakan |oi lah| yang sebulan Sudah yang dua bulan garangan mengadung Jalan berubahlah yang maengkang) 37. Lah sabulan duo bulan. (162-166) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan Lah nan duo bulan garan mangaduang Jalan barubah |lah nan| maengkang (Dari sahari |oi| garangan mengandung. Lah hampianyo ganok bilangan bulan lah hampienyo sambilan bulan.Lah bulan lah limo bulan garan manganduang Lah lapan bulan paruik tambah gadang (165-166) (Sudah tiga bulan limo bulan garan manganduang Sudah delapan bulan perut tambah besar ) 40. lah tibo sakik baranak. TABEL XIII Formula untuk Pergerakan Waktu TEKS I Formula untuk Pergerakan Waktu 38. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2. (Sudah sebulan dua bulan. Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. lah tiba sakik beranak). Lah nan sahari nan duo hari (301) Lah nan bapakan lah maso itu (302) (Sudah yang sehari yang dua hari Sudah yang berpakan sudah masa itu) . (218-220) (Sudah hampirnya genap bilangan bulan sudah hampirnya sembilan bulan.Dari sahari |oi| garan manganduang. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik.Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (180) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (181) (Sudah delapan bulan |oi| garangan mengandung Sudah yang sembilan bulannya mengandung) 84. TEKS II Formula untuk Pergerakan Waktu 36. Untuk menyatakan waktu satu hari. (184-185) ambia sampai ganok bilangan.

merupakan kependekkan dari alah (sudah). seperti yang telah dinyatakan di atas. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sehingga terlihat paralelisme satu larik dengan larik yang lainnya. Untuk perpindahan tokoh yang diceritakan. . pencerita dapat menyusun larik dengan rapi dan cepat pada posisi tertentu. Dalam teks TJ ditemukan adanya ekspresi formulaik. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada. Perbedaan yang tampak adalah dengan adanya penambahan unsur verbal demi kepentingan irama. Sesudah pemakaian kata yang berformula. dilanjutkan dengan keterangan atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh.Telah dikemukan di depan bahwa ekspresi formulaik adalah larik atau paroh larik yang disusun sesuai dengan pola formula. misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana sudah berkata Datuak Bandaro). Lah nan sahari |haa nan| duo hari Lah nan tigo malam maso itu (Sudah yang sahari |haa nan| dua hari Sudah yang tiga malam masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan pergerakan dan perubahan tokoh yang diceritakan. Ada kata-kata yang selalu digunakan untuk menyatakan perubahan waktu. untuk perubahan tokoh yang diceritakan. yaitu lah nan …. Kata lah. Dengan pola formula sebagai dasar. seperti contoh di bawah ini. Persamaan yang terlihat adalah pemakainan kata lah. pencerita juga memanfaatkan cara yang sama. Bentuk formula itu seperti terlihat pada tabel berikut. Titik-titik setelah kata lah nan diisi sesuai dengan waktu yang dikehendaki dalam cerita.

Formula dengan pola sintaksis yang sama Lah balari si Dukun Pandai (257) |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (39) (Sudah berlari si Dukun Pandai) (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Lah bajalan Datuak Bandaro (93) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (20) (Sudah berjalan Datuak Bandaro) (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lah bajalan si Linduang Bulan (109) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (102) (Sudah berjalan si Linduang Bulan) (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (448) Lalu bakato Datuak Bandaro (240) (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lah pulangnyo maso nantun. hal itu terlihat seperti tampilan pada bagan berikut ini. (537) Lalu dicaliak si Tupai Janjang (328) (Sudah tiba dia di tengah rumah) (Lalu dilihat si Tupai Janjang) Lah dibao si Tupai Janjang (571) |ha| lalu diambiak lah kulik nantu (346) (Sudah dibawa si Tupai Janjang) (|ha| lalu diambial lah kulit itu) Untuk lebih memperjelasnya. Formula untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (22) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (29) (|Oi| hadaplah diri dua itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (24) (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (296) (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan (267) (|Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan) II.TABEL XIV Formula untuk Perubahan Tokoh TEKS I I. Formula dengan pola sintaksis yang sama II. Formula untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Pihak kapado karo banyak (Pihak kepada karo banyak) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro Kononlah Linduang Bulan (Kononlah Linduang Bulan) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (1 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) (1 kali) TEKS II I. . Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (259) (Sudah pulang dia masa itu) (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang) Lah tibonyo di tangah rumah.

kini baitulah dek Tuan (kini begitulah oleh Tuan)(larik ke-55) dan kini baitulah dek Adiak (kini begitulah oleh Adik)(larik ke-67). Larik itu adalah kononlah kasiah rang ditompangkan (kononlah kasih rang ditompangkan) dan kononlah kasiah urang tompangkan (kononlah kasih orang tompangkan) (bait 12 larik 78 dan 84). |oi| madok lah. kini baitulah Linduang Bulan (kini begitulah Linduang Bulan)(larik 294). dan adok ka (|oi| hadaplah. mengunakan kata pihak kapado (pihak kepada) dan pihak di diri (pihak di diri). dan kini . Larik yang paralel dengan memperlihatkan pola sintaksis yang sama (pada teks I) juga dipakai untuk menyatakan pernyataan ajakan terhadap lawan bicara. memakai kata |oi| adok lah. Hasil analisis pada teks I. Pencerita pada teks I. Kata yang ditukar ditemukan pada bagian akhirnya untuk menyesuaikannya lawan bicaranya.Datuak Bandaro Urang Padusi Dukun Pandai PIHAK KAPADO Puti Linduang Bulan Tupai Janjang Mak Hitam Rang punyo ladang Mandeh Rubiah Kata yang dipakai untuk menyatakan perubahan tokoh pada kedua pencerita juga berbeda. seperti yang juga telah disebutkan pada bab II di atas. sedangkan pencerita pada teks II. menunjukkan bahwa adanya unsur yang berformulaik dengan memperlihatkan adanya huruf yang hilang yakni pada kata urang (orang). Pemakaian bahasa Minangkabau sehari-hari lazim dipendekkan. |oi| menghadaplah. Larik itu adalah. Penghilangan kata urang menjadi rang karena pengaruh dari pemakaian bahasa sehari-hari. dan hadap ke).

tanah lambang). ado jalan nan mandata. tibo di rusuak. Pada bagian bait selanjutnya. Kok bajalan paliharolah kaki. tanah berlubang. Variasi pertama. tidak ada. rusuk terban. Pada kedua teks. larik yang sama diulangi untuk menjelaskan pemakaian jenis kato-kato (kata-kata) tersebut. 698. hanya 2 larik. tibo di tanah. Hal ini digunakan untuk memberikan nasihat kepada tokoh yang ada dalam cerita ini. |oi| tiba di lantai. lantai berlubang. (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. rusuak taban (tiba di rusuk. |oi | tibo di tanah. lantai balubang. TABEL XV Kalimat yang Paralel Teks I 44. tiba di tanah. Larik tibo di rusuak. tibo di lantai. tanah balubang. . adanya larik yang sama dan paralel.683. misalnya pada larik ke. tiba di rusuk. ada jalan yang melereng) (bait ke-677 sampai dengan bait ke-680). dan 724. Hal itu terlihat seperti tabel di bawah ini. lantai lah patah. Nan lah ko lahialah anak si Tupai Janjang. adanya unsur verbal pada teks II. rusuak taban. ada jalan yang mendatar. 714. kok bakato paliharolah lidah (Kalau berjalan peliharalah kaki. terdapat 3 larik yang mempunyai paralel. |oi | lalu dilihatlah anak itu). Contoh terlihat pada larik-larik ini. ado jalan nan manurun. |oi| tibo di lantai. Pemakaian kalimat paralel juga ditemui untuk menyatakan anak Linduang Bulan. terlihat pada teks I (bait ke-44). tiba di lantai. sedangkan pada teks II (bait ke-66). ada jalan yang menurun. Variasi kedua. |oi | lalu di caliaklah anak nantun. Dan pola yang sama juga digunakan pada larik kini baitulah nan elok (kini begitulah yang elok) (larik ke-315). 709. rusuk terban) pada teks II. Pemakaian pola yang sama banyak ditemui pada teks I. (Yang sudah ini lahirlah anak si Tupai Janjang. tanah lambang. Ado jalan nan mandaki. tetapi memperlihatkan variasi. telah lahir. |oi | tiba di tanah. Teks II 66.baitulah dek Mak Itam (kini begitulah oleh Mak Itam)(larik 435). ado jalan nan malereng (Ada jalan yang mendaki. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. lantai sudah patah. kalau berkata peliharalah lidah) (larik ke-651 dan 652).

nan. diikuti dengan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dengan mencantumkannya kembali kegiatan tokoh tersebut pada larik selanjutnya. adalah ai. bertujuan untuk menerangkan keadaan tokoh atau kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. Kedua teks pada awal bait. dominan memakai kata lah. diambil air |oi| lalu di minum. pirangkok bingkeh hanyo lai. pihak. sekarang ini minum Datuak Bandaro. lalu. Di dalam teks ini. |oi| lalu diminumlah |oi| maso itu. Oleh karena itu. ha. Pemakaian kata itu dilakukan jika kalimat kurang dari empat kata dalam satu larik. Kemudian.Kata sambung memainkan peranan yang besar dan merupakan pola-pola umum untuk memulai baris (Lord. kata sambung ditemukan pada awal parangraf sehingga membuat cerita bergerak. . hai. |oi| lalu diambillah air yang itu. dalam pirangkoknyo kaluah kasah. (TI. pencuci muka |lah| si Linduang Bulan. Bait itu adalah. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut. 76) (Lalu melompat Tupai Janjang. yo. kata itu terutama digunakan pada teks II dari pada teks I karena langsung diambil pada saat mendendangkan. (|oi| lalu diambil yang air sumur. Ungkapan penyeling pada teks II. |oi| lalu diminumlah |oi| masa itu). pencerita memilih kata lalu. pancuci muko |lah| si Linduang Bulan. |oi| habih dicuci muka Linduang Bulan. Penempatan kata itu di awal bait. ndeh. diambiak aia |oi| lalu di minum. lah. dan sinan. Sesudah itu. |oi| abih dicuci muko Linduang Bulan. dia melompat ke dalam jagung muda. |Oi| lalu diambiak nan aia sumua. Pada teks II (bait ke-24). dan hai nan. pencerita menambahkan dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh tokoh sesudah menyebutkan nama tokoh yang dituju. dalam perangkap dia keluh kesah). Lalu mandencek Tupai Janjang. waktu tiba dia di situ. yang ditempatkan di awal larik. satu tibonyo di situ. nan takajuik si Tupai Janjang. kini ko minum Datuak Bandaro. nan. |oi| lalu diambiaklah aia nantun. Selain kata di atas. perangkap bingkas hanya ada. 1981:41). a. oi. Cara yang dilakukan oleh pencerita mengakibatkan cerita bersifat kronologis dan membuat cerita bergerak ke depan. pemakaian ungkapan penyeling cukup banyak digunakan pada kedua teks karena berfungsi juga untuk kepentingan irama. yang terkejut si Tupai Janjang. kok. nyo mandencek ke dalam jaguang mudo.

Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} + padi + kasiah di lantai di rusuak di tanah Inyo { kan } + { darah anak anak { paliharo } { u } rang + basalang (T I larik ke-72) (T I larik ke-78. 83) (T I larik ke-254) (T II larik ke-232) (TI larik ke-255 ) (TII larik ke-233) {Oi} Tibo + + {hai} + lantai rusuak tanah + patah balubang taban balubang + { dagiang } kanduang { kito } (T I larik ke-285. baris-baris memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. Pencerita mempunyai pola-pola yang dijadikan pedoman dalam menciptakan baris dengan cepat pada saat penceritaan sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. Untuk lebih jelasnya.297) Kito + } + { baiak-baiak } Pangganti + barang harato + urang {nan} + { pacah} + {ang} abihkan + { maso} + { itu } kain putiah kain sirah (TI larik ke-499) (TI larik ke-400) (TI larik ke-618) (TI larik ke-631) (TI larik ke-624) {nyo} inyo nan ||ha| + { baunduang-unduang } baunduang + caliak {dicaliak } + {baliak } |lah| malah |lah| { kulik } lah + {si Tupai Janjang } (TII larik ke-330) (TII larik ke-332) indak + ado maso itu (TII larik ke-338) (TII larik ke-343) .Pencerita menyusun baris-baris dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya.346) (T I larik ke-347) (T I larik ke-289) (T I larik ke-290. hal itu dapat dilihat pada bagan berikut. Dengan demikian.

memberikan homogenitas kepada pencerita-pencerita tradisional yang juga sudah dikenal oleh masyarakat (Lord. Pada awal teks II (bait ke-1 – bait ke-4). selalu memakai formula yang sama. Pada teks II (bait ke-2). Di dalam tradisi lisan Minangkabau. tiba di bumi jadi kabar) Pada bagian awal kedua teks TJ ini. walaupun kabanya berbeda. walaupun tidak diucapkan secara keseluruhan. tiba di langit terberita. Pada bagian pembukaan kaba. Cadangan formula yang bersifat umum itu. Pembukaan ini disampaikan dalam bentuk pantun. Adapun pantun yang lazim dipakai pada pembukaan kaba adalah seperti berikut. (Kait berkait rotan saga. bahkan juga masyarakat tersebut. Kaik bakaik rotan sago lah takaik di aka baha. Sementara itu pada teks I. tibo di bumi jadi kaba. Di samping itu. Pada bagian di atas juga telah dijelaskan hal ini. sudah terkait di akar bahar. Cerita Minangkabau baik dalam bentuk tertulis—misalnya kaba—maupun yang dipertunjukan. tetapi formula yang digunakan sama. masyarakat sudah mengerti maksudnya.Formula juga ada yang bersifat umum dan dapat dikatakan bahwa semua pencerita lisan mengenal formula tersebut. ada juga formula yang sifatnya sudah umum dan bahkan sudah dikenal oleh masyarakat Minangkabau. Formula itu umumnya ditemukan dalam pertunjukan kaba. pada bagian awal kaba tersebut juga disebutkan nama grup yang menampilkan pertunjukan serta cerita yang akan disampaikan. Demikian dikenalnya formula tersebut oleh masyarakat Minangkabau. Pencerita dari komunitas yang sama mengetahui formula itu. pembukaan berisi permohonan maaf dan menyebutkan kaba yang diceritakan. formula di atas didendangkan dengan tambahan pada ungkapan penyeling . untuk menggambarkan ide yang sifatnya umum. 1981:50). juga memperlihatkan hal tersebut. tibo di langik tabarito. biasanya berisi permohonan izin untuk menampilkan pertunjukan kaba kepada semua penonton. Pencerita akan menggunakan cadangan formula itu. terletak pada bait ke1 sampai dengan bait ke-3.

Di depan telah dicontohkan bahwa formula yang juga lazim digunakan pada bagian pembukaan dalam tradisi sastra Minangkabau disampaikan dalam bentuk pantun. (Bandarlah orang |hai| kami bandarkan. jatuah ka bumi manjadi kaba. (Bandar orang kami bandarkan. Sastra lisan Melayu tradisional tidak memiliki persyaratan baris-baris formula yang kaku seperti sastra Yugoslavia. Bandalah urang |hai| kami bandakan.Kaik |lah| bakaik |lah| rotan sago. khabar orang kami khabarkan. pencerita dipengaruhi oleh pertunjukan. konsep yang dikemukakan oleh Lord tidak semuanya cocok untuk diterapkan pada sastra lisan Melayu yang memiliki keunikan tersendiri. tetapi memperlihatkan fleksibelitas yang tinggi. sapuluah jari kami susun. Teks II 1. (Manalah ninik |lah nan| dengan mamak. |ai| sagalo kami nan mudo. |hai| yang sudah terkait |nan| di akar baha. urang duto kami tak nio. tabang ka langik |lah| tabarito. Namun. terbang ke langit |lah| terberita. kaba |lah| orang kami kabakan. Kami membuka kaba lama). maaf jo rila nan kami pinta. orang dusta kami tak mau). bandarlah |hai| orang Koto Tuo. ampunlah kami niniak mamak. maaf dengan rila yang kami pinta |ai| segala kami yang muda). Rumusan berformula dalam sastra Melayu tradisional juga lebih bervariasi. Ampun baribu kali ampun. karena sastra Melayu tradisional merupakan sastra . Manolah niniak |lah nan| jo mamak. jatuh ke bumi menjadi kaba). (Kaik |lah| berkait |lah| rotan sago. maaf diminta banyak-banyak. Penggunaan formula itu juga ditemukan dalam cerita TJ berikut. Banda urang kami bandakan. 3. kaba |lah| urang kami kabakan. banda nak urang Koto Tuo. sarato sanak |lah| jo sudaro. bandar anak orang Koto Tuo. bandalah |hai| urang Koto Tuo. 2. sepuluh jari kami susun. urang duto kami tak nio. Di dalam sastra Melayu tradisional. serta sanak |lah| dengan saudara. (Ampun beribu kali ampun. kami mambukak kaba lamo. |hai| nan lah takaik |nan| di aka baha. Komposisi Skematik sebagai Sarana Penceritaan Pendekatan komposisi skematik yang disampaikan oleh Sweeney pada dasarnya masih bertolak dari teori Lord tentang formula. 3. kaba urang kami kabakan. ampunlah kami ninik mamak. orang dusta kami tak mau). maaf diminta banyak-banyak. Teks I 1.

pencerita bisa memperpanjang. Pencerita memiliki persediaan yang diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan untuk menggambarkan objek. memperpendek.yang merupakan aktivitas komunal. 1980:24). melainkan berdasarkan pada ide atau konsep. Oleh karena itu. Hal ini jauh berbeda dengan sastra Barat yang lebih individual. . Sesuatu disampaikan bukan dari kesan visual. dilahirkan dengan mempertimbangkan adanya umpan balik antara pencerita dan penonton (Sweeney. Hal itu yang dinamakan komposisi skematis. Komposisi skematik mempunyai cara yang spesifik dengan menerapkan metode tertentu dalam larik untuk mengungkapkan ide. melainkan juga untuk penonton dalam memahami cerita sehingga penonton tidak mengalami kebingungan (Sweeney. Dalam mengkoordinasikan kata-kata dengan irama. tetapi dengan mencocokkan lirik-lirik yang ada dengan melodi. Komposer dalam tradisi lisan Melayu menggunakan rumusan dan pola-pola untuk membangun plot dalam cerita. Hal ini membentuk re-kreasi cerita selama pertunjukan dan mengkoordinasikan kata-kata dengan melodi sehingga membentuk pola-pola terformulasi yang bersifat fleksibel. atau menekan melodi supaya sesuai dengan kata-kata. 1980:39). 1987:17). Komposisi dalam sastra lisan Melayu. Komposisi skematik bukan saja berguna untuk pencerita. Cerita dilantunkan yang setiap ucapannya digerakkan dengan frasa melodi atau irama nyanyian. Pencerita tinggal menyesuaikan tipe persediaan atau skematik yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengungkapkan ide dalam cerita tersebut (Sweeney. pencerita pada saat pertunjukan sering menggunakan ungkapan penyeling untuk menyelaraskan dengan melodi. formula dalam hal ini digunakan untuk mengungkapkan ide dalam cerita supaya pencerita dapat dengan cepat memformulasikannya. Pencerita menggunakan rumusan-rumusan atau pola-pola tertentu untuk menciptakan plot dalam setiap pertunjukan. Jadi. Pencerita tidak belajar dari menghafal baris-baris.

untuk menyatakan Tupai Janjang sudah lahir pada kedua teks memakai skemata yang hampir sama. Skemata itu juga ditemui dalam kaba Minangkabau yang lainnya. Ada yang lari naik kedai. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel. Namun. Hal ini dinyatakan dengan menggunakan skemata berikut. |a| lalu dicaliaklah anak nantun. Pada teks II bait ke-66. Skemata diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang. 1980:17). Skemata dan perubahannya dapat dilihat sebagai berikut. Komposisi skematik merupakan skemata digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. tibo di lantai lantai lah patah. Kalimatkalimat yang paralel ini berfungsi untuk mempermudah saat pertunjukan karena cerita terikat pada irama. |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlobang. Nan lah lahia anak Linduang Bulan. tiba di lantai lantai sudah patah. seperti yang juga telah diberikan di depan. Teks I. terjadi perubahan skemata itu. |oi| tiba di lantai lantai berlobang. paralelisme juga berguna untuk kepentingan irama. arti dari bait itu tetap mengandung pengertian yang sama. (Yang sudah ini lahir si Tupai Janjang. |oi| tibo di lantai lantai balubang. tiba di tanah tanah lambang). . tiba di rusuk rusuak terban. Skemata ini biasanya digunakan untuk menyatakan seorang bayi lahir yang mempunyai keistimewaan (keajaiban) seperti yang juga ditemui pada waktu lahirnya Tupai Janjang. deskripsi orang sedang melarikan diri dari huru-hara dinyatakan sebagai berikut. tibo di tanah tanah lambang. Oleh karena itu. Misalnya. tibo di rusuak rusuak taban. tetapi masih ada kata yang sama pada larik di bawah ini. di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. Nan lah ko lahialah si Tupai Janjang. Misalnya. Ada yang bersembunyi di bawah kedai. 44 (Yang sudah lahir anak Linduang Bulan. Ada yang membelah pagar tiada sempat masuk kampung.Penyanyi memiliki frasa melodi dalam pikirannya yang bersifat netral untuk menyatakan ide dalam cerita sehingga sastra lisan memperlihatkan paralelisme atau kesejajaran antara suatu larik dengan larik lainnya. Ada yang naik pagar tiada sempat lari lalu jatuh (Sweeney. |a| lalu dilihatlah anak yang itu).

variasi hanya terdapat pada perubahan letak ungkapan penyeling. Nan lah bajalan Datuak Bandaro. Nan bakato Linduang Bulan. dalam cerita juga memakai skematik. Lah nan sahari |haa| lah duo hari. Lah salapan bulan paruik batambah gadang . melainkan berfungsi untuk menerangkan kata alah (sudah) yang dipendekkan menjadi lah. Kalimat ini memperlihatkan kesejajaran dan kesetaraan satu kalimat dengan kalimat lainnya dan memberikan kontribusi cerita bergerak ke depan. (Dari sehari |oi| gerangan mengandung. Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung. (Yang sudah datang Mandeh Rubiah. satu bulan. (T II.36 dan 37) Dalam hal ini. Pada kedua cerita Tupai Janjang. Nan manjawek Datuak Bandaro. Dari sahari |oi| garan manganduang. Yang sudah tiga malam masa itu kini). Lah nan sapakan |oi| nan sabulan. Penyanyi memasukkan yang diinginkan ke dalam stereotipe yang sudah ada dalam pikirannya. (T I larik ke-475) (T I larik ke-70) (T I larik ke-57 ) (T I larik ke-383) . Posisi lah di sini bukan sebagai ungkapan penyeling.Pergerakan waktu. satu tahun. lah terletak sesudah nan atau sebaliknya. Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang. Sudah delapan bulan perut bertambah besar). Yang berkata Linduang Bulan. Kadang-kadang. Lah nan duo bulan garan manganduang. ( Slot untuk kata kerja/ kata sifat) + lah – (slot untuk subjek {+ lah } Nan lah datang Mandeh Rubiah. dan lain-lain. (T II. nan yang terletak di depan kemudian diikuti oleh ungkapan penyeling lah. seperti waktu satu hari.29 ) (Sudah yang sehari |haa| sudah dua hari. komposisi skematik itu seperti berikut. Pergerakan cerita juga terlihat dari penggambaran kegiatan yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita dengan formulasi seperti di bawah ini. Yang menjawab Datuak Bandaro. Penempatan waktu itu sesuai dengan waktu yang dikehendaki cerita. Sudah yang dua bulan gerangan mengandung. Nan lah tigo malam maso tu kini. Sudah yang sepekan |oi| yang sebulan.

(Slot untuk subjek) .ada larangan dengan pantangnya. Pihak kapado Datuak Bandaro. (T I larik ke-132) (TII larik ke-98) (TII larik ke-176) (T I larik ke-182) (T I larik ke-409) Slop di atas. (T II larik ke-22) |Oi| adoklah kadiri duo nantun. Gadang hati si Linduang Bulan.diambiak buku takwil mimpi. kegiatan.lah sapuluah tahun barumah tanggo. Bersedih-sedih sudah si Linduang Bulan. Pihak kapado urang padusi . akan dilanjutkan dengan penjelasan tentang keadaan atau kondisi tokoh yang disebutkan di awal paragraf. Lalu sedih sudah si Linduang Bulan. Pihak kapado Datuak Bandaro. (Panas sudah hati Datuak Bandaro. Basadiah-sadiah lah si Linduang Bulan.lah bajalan maso itu. dan sifat dari tokoh tersebut dengan komposisi seperti berikut. Lalu ko sadiah lah si Linduang Bulan. (T II larik ke-29) (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro. Paneh lah hati Datuak Bandaro.sudah berjalan masa itu).dicari yang masam-masam. Gadang hati si Tupai Janjang.diambil buku takwil mimpi. larik-larik yang terdapat sesudah larik awal.sudah sepuluh tahun berumah tangga). |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro. berfungsi untuk menerangkan keadaan atau kondisi dari tokoh sesuai yang tuntutan cerita yang disampaikan. Pihak kapada Datuak Bandaro. Komposisi skematik juga lazim digunakan untuk pertukaran tokoh yang diceritakan dengan menyebutkan nama tokoh terlebih dahulu dan kemudian diikuti dengan keterangan.(slot untuk kata sifat/ kata kerja) Pihak kapado Datuak Bandaro. (Pihak kapada Datuak Bandaro.ado larangan jo pantangnyo. Gembira hati si Linduang Bulan. Jadi.|oi| urang nan gadang |lah| maso itu.|oi| orang yang besar |lah| masa itu |Oi| hadaplah kediri dua yang itu. (T I larik ke-167) (T I larik ke-188) (T I larik ke-214) (T I larik ke-231) .dicari nan masam-masam . Gembira hati si Tupai Janjang). Pihak kapada orang parempuan. Pihak kapada Datuak Bandaro.Yang sudah berjalan Datuak Bandaro).

lalu |ko| tidualah si Tupai Janjang. nan ka suok lenggang manganai. lalu |ko| tidurlah si Tupai Janjang. sudah dibawalah si Tupai Janjang. tetapi hanya mengambil sebagian anak kalimat dari skematik tersebut. (T I. seperti yang lazim digunakan dalam kaba. Linduang Bulan. yang berjalan siganjua lalai. dan Mak Itam. . sudah |nan| iba Mandeh Rubiah. yang ke kanan lenggang mengena. nan bajalan sigajua lalai. alu tertarung patah tiga. semut terinjak tidak mati. alah |nan| ibo Mandeh Rubiah. tidak semuanya memakai skematik di atas.Cerita Tupai Janjang menghadirkan lima orang tokoh yakni Tupai Janjang. alu tataruang patah tigo. 15) yang ke riri lenggang membunuh). nan ka kida lenggang mambunuah. Sudah tidur di rumah |lah| Mandeh Rubiah). Nama tokoh yang diceritakan diletakkan di awal kalimat atau awal paragraf. (T II. Untuk menerangkan kondisi seorang tokoh perempuan yang cantik biasanya digunakan skematik. Datuak Bandaro. penambahan. samuik tapijak indak mati. lah dibaolah si Tupai Janjang. Kononlah Puti Linduang Bulan. (Kononlah Puti Linduang Bulan. Sesudah menyebutkan nama tokoh. menerangkan tokoh Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I. Adok ka dirilah si Tupai Janjang. Pertukaran tokoh yang diceritakan juga memakai skematik. dan pengurangan frasa dan baris demi baris untuk keterangan atau kegiatan yang lebih lanjut dari tokoh tersebut.82) (Hadap ke dirilah si Tupai Janjang. Pada teks I. Mandeh Rubiah. tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambutnya yang panjang terurai. lah tidua di rumah |lah| Mandeh Rubiah. Pada teks II. diikuti dengan perulangan.

Kita pelihara baik-baik”). anak bincacak anak bincacau.( T I larik ke-281− 290). “oi tuan Datuak Bandaro. usah dibunuah anak kito. |oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. kini pergilah sekarang.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. selalu disebutkan nama tokoh berbicara dan kemudian baru diikuti dengan anak kalimat yang diucapkan oleh tokoh itu. 74) (Anak kandung si Tupai Janjang. Akhirnya. Nama tokoh biasanya terletak pada awal paragraf. inyo anak kito. dia kan darah daging kita. . dia darah daging kita. dia anak kita. (Yang berkata si Linduang Bulan. Berikut ini contoh skematik tentang tokoh yang berbicara serta pembicaraannya. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. jangan dibunuh anak kita. inyo kan darah dagiang kito. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. anak bincacak anak bincancau. anak sigiang-giang rimba. |oi| rambut manyapu |hai lah| sapu lantai. 7) Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. orang yang elok |lah| masa itu). anak sigiang-giang rimbo. ( T II. |oi| bamuko rancak rambuik taurai. biarpun dia sekerat ular. Nan bakato si Linduang Bulan. biarpun sekeratnya belut. boleh ke rimbalah kau kini). biapun sakareknyo baluik. biapun inyo sakarek ula. Skematik itu biasanya diucapkan oleh tokoh orang tua kepada tokoh anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. buliah ka rimbolah kau kini. Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. anak yang bentuk tidak ditujuk ajari. Seorang tokoh yang berbicara juga mempergunakan skematik. |oi| bermuka rancak rambut terurai. Nak kanduang si Tupai Janjang. Tokoh yang berbicara diletakkan di awal paragraf. urang nan elok |lah| maso itu. “oi tuan Datuak Bandaro. skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. (T II. inyo darah dagiang kito. Dalam cerita Tupai Janjang. kini bakiroklah ko kini. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. kito paliharo baiak-baiak”. Jika tidak terletak di awal paragraf.

Di bawah ini adalah nama tokoh yang berbicara diletak di tengah paragraf seperti berikut. Manjawab si Asamsudin. |oi| sinan bakato |hai| Datuak Bandaro. manga adiak tamanuang juo. berikut digambarkan pula bagaimana skematik yang sama digunakan pada kaba Tuangku Lareh Simawang. |oi| anak yana tidak |lah| dapak juga. alah di mintak parasapan. sajuak dalam kiro-kiro. disiko kan lai juo sayak nan landai”( Endah. |Oi| adoklah diri duo nantun. |oi| anak nan indak |lah| dapek juo. diminta pulo kumayan putiah. . supaya senang dalam hari. “Adik kandung si Linduang Bulan. di sini air ada jernih juga. lah sapuluah tahun barumah tanggo. 38 (|Oi| hadaplah diri dua yang itu. usahlah kito pai ka kian. bakato sanan Ameh Manah. dek adiak barilah tarang. “Mandeh kanduang jo di Mandeh. ( T II larik ke-29− ). 20). “Dik kanduang si Linduang Bulan. “Mandeh kanduang dengan di Mandeh dengarkanlah pula oleh Mandeh. nak sanang dalam hari. |oi| mengingat nasib |lah| masa itu. |oi| mangana nasib |lah| maso itu. disiko aia lai janiah juo. janganlah kita pergi ke sana. |oi| sana termenunglah si Linduang Bulan. |oi| sanan tamanuanglah si Linduang Bulan. Alah tibo di tangah rumah. dangakan malah pulo dek Mandeh. mengapa adik termanung juga. sejuk dalam kira-kira). “Mamintak kito pado Allah. Sebagai perbandingan. Nama tokoh yang berbicara terletak di awal paragraf adalah seperti berikut. |oi| sana berkata |hai| Datuak Bandaro. (Menjawab si Asamsudin. di sini kan ada tempurung yang landai”) Nama tokoh terletak pada tengah paragraf dalam kaba Anggun Nan Tongga adalah seperti berikut. oleh adik berilah terang. sudah sepuluh tahun berumah tangga.

sadang babunta bayang-bayang (hari yang sedang pukul satu. “Meminta kita pada Allah. |a| si Tupai Janjang saitu dulu. kok iyo puti suduik-basuduik. Pada teks Tupai Janjang. nan batampek di gunuang Ledang. selamatlah anak di karung ini”). salamatlah anak di karuang nangko”. Skematik seperti itu juga digunakan oleh pencerita dalam cerita Tupai Janjang. skematik ini dipakai dua kali. mendengkul ke orang kiamat. |oi| sedang babunta |lah| si bayang-bayang. sadang babunta bayang-bayang (Hari yang sedang pukul satu. |Oi| hari nan sadang pukua satu.bakauah bakeh rang kiamat. 81) (|Oi| hari yang sedang pukul satu. skematik itu tetap difungsikan sebagai penyambung bagian cerita. Ungkapan tersebut sering digunakan untuk menyambung bagian cerita yang terdahulu dengan bagian selanjutnnya. yakni pada waktu akan beristirahat dan pada waktu menutup cerita. berkata sana Ameh Manah. Skematik ini juga digunakan untuk menyatakan suasana cerita dalam kondisi panas pada siang hari. . Skematik yang juga sering ditemukan dalam sastra lisan Minangkabau adalah hari nan sadang pukau satu. sedang berbunta bayangbayang) dalam cerita Tupai Janjang digunakan hanya sebagai sampiran pada pantun. (Mahkota. (T II. berkat keramat tuan Haji. 1998:9) (Sudah tiba di tengah rumah. Hari nan sadang pukua satu. kok iyo barasa anak rajo. |oi| sadang babunta |lah| si bayang-bayang. yang bertampat di gunung Ledang. kerongkongan basah nanti kita sambung). Berikut sampiran yang digunakan untuk menyatakan istirahat. kalau iya puti sudut-bersudut. barakat kiramat tuan Haji. sudah di minta parasapan. karongkongan basah biko kito sambuang. diminta pulo kemayan putih. |a| si Tupai Janjang segitu dulu. sedang berbunta banyang-bayang). Meskipun demikian. kalau iya berasal anak raja.

Cerita habis hendak kita ulang Tuan |ouuiii…lai|) (T II. 103) Dalam teks II. lan |nan| pandulang ameh di Bangko. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Kata fungsi selalu menunjukkan pengaruh terhadap sesuatu yang lain. yang didulang sedulang lagi. 1976:86). pantun ini biasanya dipakai untuk menghubungkan suatu adegan dengan adegan lainnya dalam cerita. lan |nan| pendulang emas di Bangka. yang menyambung yang tinggal tadi). Tupai Janjang segitu dulu. Lain wakatu nak kan kito ulang. Carito habih ndak kito ulang Tuan |ouuiii…lai| (|Oi| hari lah sedang pukul satu. sedang berpuntar bayang-bayang. . nan didulang sadulang lai. 82) 4. perbuatan. sesudah beristirahat menggunakan pantun yang sudah lazim dipakai dalam menyambung cerita. (T II. hal ini dinyatakan dalam dua kali. Sebuah kata. |Oi| hari lah sadang pukua satu. Lain waktu hendak akan kita ulang. nan manyambuang nan tingga cako. atau barang dipandang berfungsi menurut peran dan fungsi yang dimainkan dalam suatu keseluruhan dan saling bertautan (van Paursen. Dalam pertunjukan randai. dan relasi antarsesuatu dengan lainnya. Pada kaba. Fungsional tidak berdiri sendiri. Lain waktu hendak akan kita ulang Tuan |oio|. Tupai Janjang sagitu dulu.Skematik yang sama juga dipakai untuk menutup cerita. Untuk mempertegasnya. Lah didulang sadulang lai. pantun ini juga sering dipakai setelah beristirahat. Pemikiran fungsional menyangkut hubungan. sadang bapunta bayang-bayang. tetapi dalam hubungan tertentu memperoleh arti dan makna. (Sudah didulang sedulang lagi. pertautan. Lain wakatu ndak kan kito ulang Tuan |oio|.

baik pribadi maupun sosial. Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang terjadi kerena manusia ingin memuaskan kebutuhan nalurinya akan keindahan (Koentjaraningrat. Pertunjukan Tupai Janjang mereka anggap sebagai aktivitas kebudayaan yang harus dilestarikan dan dijaga kehidupannya di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk. Pertunjukan Tupai Janjang tetap digemari oleh masyarakat karena dari isi cerita yang ditampilkan dapat dipetik suatu pesan dan dari segi pertunjukannya mampu memberikan suasana tersendiri untuk dinikmati sebagai bentuk hiburan. 1980:60). Bertahannya suatu bentuk kesusastraan yang merupakan salah satu aktifitas kebudayaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya karena segala aktivitas kebudayaan bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. salah satunya seperti kesenian. Pendekatan fungsionalisme dari Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat tempat kebudayaan itu berada. Setiap pola kelakuan yang sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam masyarakat berguna untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar itu. Jika teori tersebut dikaitkan dengan objek kajian ini. Selain itu. yang dinamakan kebutuhan sekunder. pertunjukan tersebut memperlihatkan spesifikasi yang tidak ditemukan dalam pertunjukan tradisional lain di Minangkabau. sistem akan . Tetap eksisnya pertunjukan Tupai Janjang di tengah masyarakat karena merupakan “kebutuhan sosial”. pertunjukan Tupai Janjang masih dapat bertahan dalam masyarakat Kecamatan Palembayan karena masyarakat memandang pertunjukan itu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam teori ini. 1988:171). semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar warga masyarakat setempat (Ihromi. Jika kebutuhan itu tidak dipenuhi.Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat di tengah maraknya kebudayaan lain yang masuk karena tradisi tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya.

Mereka harus memperhatikan lawan bicaranya. 1999:78). (3) sebagai alat pendidikan anak. Bascom. Untuk melihat fungsio dari pertunjukan Tupai Janjang. juga diberikan dalam cerita ini. orang yang lebih kecil. (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Bascom (dalam Danandjaja. Pelajaran dan pendidikan tentang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau khususnya. folklor mempunyai empat fungsi. Selain itu. dalam hal ini mengacu kepada fungsi folklor yang dikemukakan oleh William R. keterkaitan. 1984:19).mengalami disintegrasi dan “mati” (Kaplan. Pertunjukan Tupai Janjang yang merupakan bagian dari kesenian memberikan hiburan atau sarana membebaskan seseorang dari ketegangan serta cara untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran. Hal ini terutama terlihat pada teks I. Masyarakat Minangkabau harus mengetahui jo kato nan ampek ‘dengan kata yang empat’. dan hubungan sesama pencinta pertunjukan ini dalam masyarakat. dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya. atau dari kalangan pemuka adat. baik perseorangan maupun kolektif. yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Banyak ucapan MR kepada Tupai Janjang mengungkapkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat di Minangkabau. Orang yang tidak bisa menempatkan posisinya sesuai dengan . orang yang lebih besar. dari larik 642 sampai dengan larik 731 merupakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Seseorang yang berbudaya Minangkabau harus tahu dan pandai menggunakan dan mengucapkan kata-kata sesuai dengan lawan bicaranya. apakah dia sedang berbicara dengan teman sebaya. eksisnya pertunjukan ini karena adanya rasa ketergantungan. Dalam perkembangannya. Menurut William R. Tupai Janjang mampu mengemban fungsi sebagai sarana untuk membangkitkan kepekaan karena mengandung tanggapan emosional dan dapat membina kesinambungan hidup.

hingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. dalam buku-buku tentang kebudayaan Minangkabau sering diuraikan falsafah ini. Falsafah adat ini juga sering diucapkan oleh pemuka-pemuka adat. dalam pergaulan dia indak bisa dibao baretong ‘tidak bisa diperhitungkan’. Sebagai alat pendidikan. Fungsi dari kenyataan sosial merupakan sejumlah sumbangan terhadap keseluruhan kehidupan sosial. cerita ini memberikan . Sesuai dengan fungsi yang dikemukakan oleh Bascom. Dalam kaba-kaba Minangkabau yang lain hal ini juga sering dinyatakan.lawan bicaranya. Terhadap anak-anak. apalagi setelah merantau. Fungsi didefenisikan sebagai sumbangan dari aktivitas manusia terhadap keseluruhan aktivitas yang lebih luas. baik dalam acara pidato adat maupun pasambahan. Jadi. Angan-angan ini tersembunyi dari keinginan pemuda Minangkabau untuk menjadi kaya. Pada umumnya. Gambaran kepergian Tupai Janjang setelah dia meninggalkan kampung halamannya itu dinyatakan melalui tempat pembuangannya dan akhirnya menjadi orang yang kaya dan dapat membantu orang tuanya. Pada larik 665 sampai dengan larik 673 berisi ajaran falsafah alam takambang jadi guru ‘alam terkembang jadi guru’. cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat. tetapi juga kepada orang tua. khususnya bagi pemuda Minangkabau. cerita Tupai Janjang juga secara tidak langsung sudah memperkenalkan falsafah adat ini kepada audience. Dikatakan fungsional karena merupakan sebuah kondisi yang seluruh bagian sistem sosial bekerja bersamasama membentuk tingkat harmoni dan konsistensi internal. Pemahanan fungsi seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa sebuah kenyataan sosial mempunyai kesatuan tertentu yang disebut kesatuan fungsional. Pertunjukan Tupai Janjang dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya dapat dipandang sebagai bahan dan proses kehidupan sosial yang berperan bagi kelangsungan hidup kebudayaan Minangkabau. Falsafah adat Minangkabau juga dihadirkan dalam teks ini. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anak-anak.

Bagaimanapun nakalnya. Secara eksplisit. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan. nilai-nilai pendidikan. khususnya masyarakat Palembayan. 1. yaitu penggunaan dan fungsi. semua anggota kaum diharapkan dapat membantu dan menyukseskannya. pertunjukan ini juga menyampaikan pesan-pesan. seperti tujuan pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan oleh masyarakat. cerita ini dapat diambil hikmahnya supaya berhati-hati dan tabah dalam mendidik anak. tetapi menjadi persoalan dan urusan kerabat. melainkan juga semua kaum kerabat akan mendapat malu. tetapi lebih dari itu. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang bersifat praktis. dan lain-lain. Dengan demikian. pertunjukan ini bukan hanya memperdengarkan irama dari pencerita. orang tidak menyukainya. Jika seorang anak berkelakuan yang tidak baik. yang dapat berfungsi sebagai penyambung kelangsungan kebudayaan Minangkabau. Dalam cerita tersebut juga tersirat pendidikan bahwa seorang anak harus bersifat baik dan tetap menghormati orang tua walaupun orang tua itu pernah membenci dan membuang anaknya. sejarah. nasihat. termasuk kedua orang tua. kaba . Terhadap orang tua. Kalau suatu perkawinan tidak baik pernyelenggaraannya. Penggunaan mengacu pada situasi dan kegiatan sebuah pertunjukan dilakukan. Adapun kegunaanya pertunjukan Tupai Janjang adalah seperti berikut. perkawinan bukan hanya merupakan urusan pribadi atau satu keluarga. Memeriahkan pesta perkawinan Menurut adat yang berlaku di Minangkabau. seorang anak kalau diberi pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawa hasil. pepatah adat Minangkabau mengatakan kaba baiak baimbauan. Fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. bukan hanya satu keluarga inti yang merasa malu. Dalam menyelengarakan perkawinan.pendidikan supaya berkelakuan yang baik. Mulai dari tahap awal sampai akhir perkawinan. kaba buruang bahambauan ‘kabar baik dipanggilkan.

Di samping itu. Jika peraturan tersebut dilanggar. Artinya. Hal itu berkaitan dengan dikeluarkannya peraturan daerah setempat yang menyatakan bahwa jika ada anggota masyarakat yang melaksanakan pesta perkawinan yang dimeriahkan oleh hiburan modern. Memeriahkan upacara pengangkatan penghulu Pengangkatan penghulu di Minangkabau merupakan suatu kegiatan yang dianggap penting oleh masyarakat karena jabatan penghulu merupakan jabatan yang . biasanya dilaksanakan pada malam hari. jika ada kabar yang baik dan menggembirakan. penghulu kaum diberi sanksi dan dipanggil ke kantor wali nagari setempat dan diharuskan membayar denda yang akan digunakan sebagai sumbangan bagi nagari itu. tepatnya sesudah sembayang isya hingga selesai. ditampilkan pertunjukan yang lain.buruk berhamburan’. jika ada perkawinan dalam suatu keluarga. hendaknya warga saling membantu dan turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anggota masyarakat lainnya. Tetangga. Di depan juga telah dinyatakan bahwa pertunjukan Tupai Janjang lebih sering ditampilkan di Palembayan. misalnya randai. generasi muda tidak akan mengenali kesenian tradisionalnya. Pertunjukan ini hanya membutuhkan waktu lebih kurang dua jam. atau bentuk hiburan modern. Untuk mengisi waktu yang masih tertinggal sampai waktu sembayang subuh datang. Guna memeriahkan acara perkawinan itu biasanya disediakan pertunjukan pada siang atau malam hari. saudara. Jika pengikisan budaya itu dibiarkan berlangsung. saluang. Untuk melaksanakan pepatah ini. salah satunya adalah Tupai Janjang Keluarnya kebijaksanaan dari pemuka masyarakat setempat didorong oleh adanya kecenderungan masyarakat dewasa ini meninggalkan kesenian tradisional. 2. dan warga masyarakat yang lain juga diundang untuk memeriahkan acara perkawinan tersebut. kebijaksanaan tersebut juga untuk menyongsong babaliak ka nagari ‘kembali ke nagari’ yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat. anggota masyarakat diundang untuk saling berbagi kegembiraan. Khusus untuk pertunjukan Tupai Janjang. harus juga menyuguhkan hiburan tradisional. tetapi jika ada kemalangan atau musibah. masyarakat diundang untuk ikut dirasakannya.

. Memeriahkan alek nagari Alek nagari adalah pesta yang diadakan oleh suatu nagari yang biasanya berlangsung dalam waktu 15 hari sampai dengan 1 bulan. Bayaran suatu grup tergantung 46 Balai adat sama dengan balairung. Acara ini diadakan dalam rangka memeriahkan pengangkatan penghulu dan mungkin juga diadakan untuk mencari dana bagi nagari tersebut. saluang. rebab. Penghulu merupakan pemimpin dan orang yang akan menyelesaikan suatu persolan dalam satu suku. silat. Dalam rangka alek nagari itu diadakan pula kesenian-kesenian. Untuk menghemat biaya. yaitu ruang yang digunakan untuk sidang atau pertemuan para pemuka adat. tetapi dengan syarat suku tersebut mampu membiayai penyelenggaraannya.langsung berkaitan dengan anggota dalam satu suku. Uang yang didapatkan dari sumbangan para penonton diberikan kepada nagari untuk pembangunan sarana dan prasarana di nagari itu. Peresmiannya dilakukan di balai adat. balai adat.46 Kalau diadakan secara bersama. Oleh karena itu. irigasi. misalnya untuk membangun masjid. Dalam rangka memeriahkan acara itu juga sering diadakan hiburan berbentuk kesenian tradisional. penghulu. termasuk Tupai Janjang. dan lain-lain. randai . Peresmian penghulu juga tidak tertutup meskipun hanya satu orang 3. tari tradisional. dan lain-lain. Peresmian penghulu ini dilaksanakan secara bersama-sama. Alek nagari ini dilaksanakan secara bersama oleh anggota masyarakat suatu nagari. biasanya nagari tersebut mengadakan malam hiburan yang lazim disebut alek nagari. sekolah. pengangkatan penghulu dilakukan dengan penghulu dari suku lain dalam satu nagari. baik tradisional maupun modern yang dilakukan secara bergantian. Kesenian tradisional ini diundang oleh yang mengadakan alek. peresmian atau pengangkatan penghulu baru dilakukan supaya semua warga dalam satu nagari mengetahui siapa yang menjadi penghulu suku tersebut. dabus. Banyak bentuk kesenian tradisional tampil dalam acara ini. indang. misalnya salawat dulang.

serta lingkungan kehidupan budaya dan sosial masyarakat Minangkabau. Minangkabau merupakan daerah wisata yang cukup potensial dikembangkan. Dalam hal . keindahan alam. maka fungsinya dalam pertunjukan ini dikelompokan dalam 2 hal yaitu sebagai sarana komunikasi dan sebagai penyampaian amanat kepada sesama masyarakat. yang merupakan ajang promosi pariwisata dan kebudayaan Minangkabau. Pembicaraan itu tentang berbagai aspek kehidupan yang disampaikan lewat sarana bahasa. wisatawan diperkenalkan dengan kebudayaan. misalnya untuk program peningkatan pariwisata. Dalam alek seperti ini Tupai Janjang. Secara umum. oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Agam.kepada ketenaran grup tersebut. Pejabat pemerintah Kabupaten Agam. juga dapat mengambil peran bersama-sama dengan kesenian tradisional lainnya. 4. sering mempromosikan pertunjukan Tupai Janjang sebagai salah satu aset budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. dan Kodia Bukit Tinggi. Wisata budaya merupakan wisata yang dilakukan untuk mengenal aneka ragam kebudayaan Minangkabau. Salah satu wisata budaya tersebut adalah pertunjukan Tupai Janjang. Menunjang program pemerintah Pertunjukan Tupai Janjang juga sering dilakukan guna menunjang program pemerintah. Semakin seringnya Tupai Janjang tampil di luar daerah secara otomatis akan dapat mengembangkan kebudayaan Minangkabau secara umum. Sarana komunikasi Dalam penyajiannya. Dalam Pekan Budaya Minangkabau. peninggalan sejarah. Dalam wisata budaya. pertunjukan Tupai Janjang sering ditampilkan untuk mengisi acara tersebut. 1. Dengan demikian. Dengan memperhatikan keberadaan pertunjukan Tupai Janjang di Palembayan. Tupai Janjang merupakan sarana komunikasi antar sesama masyarakat atau masyarakat dengan anggota masyarakat yang lain yang tidak mungkin disampaikan secara langsung kepada orang yang dituju. baik wisata alam maupun wisata budayanya. pemandangan alam Bukit Tinggi yang indah akan lebih bagus jika dikemas bersama dengan kebudayaannya.

Biasanya. maka isu-isu yang ada dalam masyarakat dapat dengan cepat ditangkapnya. maupun bahasa sehari-hari. pantun. Padahal. Dengan demikian. hubungan dan reaksi antara penonton dan pemain atau sesama penonton. yang mengandung nilai estetis.ini. Persoalan atau masalah yang diungkapkan biasanya mengyangkut dengan kemakmuran masyarakat setempat. jalan di daerah itu sebelumnya dalam keadaan rusak dan masih berbatu-batu. Wawancara dengan pencerita dan pembuka masyarakat dan masyarakat Palembayan tanggal 21 Februari dan 7 – 8 Nonember 2004 . Disamping itu. Ketika pesan itu disampaikan maka terjadi “dialog”. Jika ada event yang kondisif dan pertunjukan Tupai Janjang diikutsertakan. pertunjukan Tupai Janjang dapat juga berfungsi sebagai sarana komunikasi warga masyarakat dengan pejabat pemerintahan setempat. Karena pencerita tergolong orang yang banyak dikenal oleh masyarakat dan juga bekerja di instansi kecamatan setempat.47 Pertunjukan Tupai Janjang juga dijadikan sebagai komunikasi dan penghubung antara masyarakat yang berada di kampung halaman dan masyarakat yang berada di rantau. pencerita menyampaikan pesan kepada bupati daerah setempat yang sedang berkunjung ke daerah itu. Pencerita merangkai pesan itu secara spontan dan cepat dengan menyisipkan ke dalam adegan cerita Tupai Janjang. Seringnya pertunjukan Tupai Janjang dilakukan di daerah rantau dapat mengobati rasa rindu masyarakat Minangkabau terhadap kampung halamannya. Pada waktu itu. terdapat pembicaraan awal atau bisikan terlebih dahulu kepada pencerita dari pemuka masyarakat atau yang mempunyai ide. terjadi komunikasi 47 . Masyarakat setempat menyatakan bahwa jalan yang sudah baik tersebut adalah karena diungkapkan dalam pertunjukan Tupai Janjang. di depan juga dinyatakan bahwa berkat pertunjukan Tupai JanjangJ jalan ke daerah Palembayan telah diaspal. pesan itu dikemas dalam bentuk prosa liris. Sebagai contoh. Komunikasi ini dapat dilakukan dengan menyampaikan hasrat dari masyarakat kepada pencerita TJ. Pesan-pesan itu dikemas sedemikian rupa oleh pencerita sehingga dapat dimengerti oleh penonton atau kepada si penerima pesan. Jakarta. terutama di Pekan Baru. pencerita mengangkat dan memasukkan isu-isu itu dalam ceritanya.

Untuk menafsirkan suatu amanat tidak terlepas dari penyair. Sebuah karya masih hidup dan bertahan dalam masyarakat karena adanya amanat yang dapat diambil dalam isi yang disampaikan oleh si penyair. . Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. perumpamaan dan petuah itu. Amanat yang disampaikan dibungkus dalam banyak mengandung kiasan.antara dengan para perantau dengan warga di kampung melalui pencerita atau pertunjukan Tupai Janjang. dan lain-lain. Amanat juga berkaitan dengan fungsi sebuah karya dalam karya sastra dalam hal ini pertunjukan Tupai Janjang. Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh kepada amanat itu. petuah. Cara menyimpulkan amanat sebuah karya sastra sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal (Waluyo. Dengan demikian. atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca sebuah karya sastra. Terutama bagi para warga yang sibuk pada siang hari dan beraktivitas di luar lingkungan tempat tinggalnya. dalam pertunjukan Tupai Janjang terjadi juga sosialisasi sesama warga. 2003:40). sebelum atau sesudah pertunjukan. perumpamaan. Dengan demikian. dengan sendirinya berhadapan dengan bahasa yang banyak mengandung ungkapan. pesan. ungkapan. untuk menafsirkan amanat yang disampaikan dalam cerita. Amanat cerita Amanat. tempat tinggal. Dalam suasasana pertunjukan yang santai para penonton dapat menjadikan ajang pertunjukan ini untuk saling berkumpul atau saling berbicara antar sesama. Penonton sama penonton juga dapat menjadikan pertunjukan Tupai Janjang juga sebagai sarana komunikasi. Komunikasi itu mereka lakukan sewaktu pertunjukan berlangsung. Dalam hal karena pertunjukan tradisional bersifat komunal maka untuk menafsirkan amanat cerita yang disampaikan dalam pertunjukan Tupai Janjang tidak terlepas dari masyarakat Minangkabau. maka malam hari dijadikan untuk saling berkumpul dengan warga di sekitar lingkungan 2.

Tuhan memberikan anak yang bertingkah laku seperti seekor tupai. Seperti dalam pertunjukan Tupai Janjang yang mana keinginan Linduang Bulan memiliki anak meskipun anaknya seperti seekor tupai. Kepada masyarakat secara umum cerita ini mempunyai amanat yang sangat besar. Hal ini tidaklah berarti bawa pengarang menyarankan kepada pembaca (penonton) untuk bersikap dan bertindak seperti demikian. Anak yang pada awalnya dibuang dan tidak disukai. Pesan moral yang disampaikan merupakan hikmah yang ditampilkan lewat sikap dan tingkah laku tokoh. Walaupun. Amanat yang disampaikan dalam cerita ini mengandung nilai moral yang cukup tinggi. Cerita Tupai Janjang juga memberikan amanat kepada anggota masyarakat dalam hal ini jika posisi sebagai anak dalam suatu keluarga. dalam kehidupannya supaya tidak terjadi permusuhan. Orang tua yang tidak mendidik dan bahkan membuang anaknya tetap dihormati karena bagaimanapun orang tua itu merupakan orang yang telah berjasa melahirkan. Sebagai salah satu anggota masyarakat. akhirnya menyadari kesalahannya dan dapat hidup kembali berdampingan. Melalui tokoh-tokoh ini masyarakat dapat mengambil pesan. model yang kurang baik atau yang baik. Dalam cerita Tupai Janjang menghadirkan beberapa orang tokoh. 2002: 322). Meskipun tidak masuk akal. Pembaca diharapkan dapat mengambil amanat dan hikmah yang disampaikan (Nurgiyantoro. Mungkin orang yang pernah menyakiti seseorang nantinya akan menyadari kesalahannya.Amanat yang disampaikan dalam cerita ini tidak dinyatakan secara langsung tetapi dibungkus dengan berbagai cara. Sebagai orang tua hendaknya dapat membimbing dan mendidik anak walaupun anak itu mempunyai kelakuan yang tidak baik dan tidak diingini. akhirnya dapat berguna dan mengabdi kepada orang tua. Sikap dan tingkah laku tokoh tersebut hanyalah model. Kritik secara tidak langsung juga diberikan kepada para orang tua yang tidak sungguh-sungguh memperhatikan pendidikan anaknya. Dalam hal ini digambarkan oleh orang tua Tupai Janjang yang telah membuang anaknya. hal ini dianggap sebagai aib dan membuat keluarga itu malu karena keluarganya merupakan keturunan yang terpandang. .

mandi baranang di tapian. Toh akhirnya anak yang didik Mandeh Rubiah (Tupai Janjang) dapat menjadi seorang tokoh yang kaya dan mempunyai hati yang mulia. disini dahulu ditamatkan) . kok ado umua samo panjang. kaba yang lain diulang lagi. buliah kito manumpang mandi. kalau ada umur sama panjang. Begitu juga halnya dengan tokoh Mandeh Rubiah untuk dapat mengambil amanatnya. Tingkah laku Tupai Janjang yang pada awalnya tidak baik tetapi akhirnya dapat merubah kelakuannya dan menjadi tokoh yang bisa memaafkan kesalahan orang tuanya yang telah membuangnya.tokoh mana yang dapat dijadikan pedoman dan mana yang tidak. disiko dahulu ditamatkan. (Kalau ada sumur di ladang. Kok ado sumua di ladang. mandi berenang di tepian. boleh kita menumpang mandi. Tokoh Mandeh Rubiah merupakan tokoh yang baik dan mempunyai sifat yang dermawan dan mau menolong orang yang tidak di ketahui asal-usulnya. kaba nan lain diulang lai.

Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. Oleh karena itu. Setiap pencerita dapat bebas melakukan improvisasi. melainkan hanya dengan mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. frasa. seorang pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. Akting dan dialog hanya dilakukan oleh satu orang pencerita. Dengan memanfaatkan cara yang sama. paroh larik. Disampin itu. tetapi dilantunkan dengan mengingat suatu pola. klausa.BAB VII KESIMPULAN Pertunjukan Tupai Janjang merupakan sebuah pertunjukan yang dapat digolongkan kepada teater tradisional karena dalam pertunjukan tersebut menghadirkan akting dan dialog. frasa. larik. Perbedaan itu disebabkan oleh sifat dari tradisi lisan. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan . Perulangan yang ditemui pada teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel. Pencerita bukan menghafal teks. Dengan memanfaatkan pola itu maka terdapat bentuk yang berulang baik dari pantun. jika suku kata tidak mencukupi dalam satu tarikan napas. Pencerita dalam menampilkan ceritanya tidak dengan menghafal teks. Dengan teknik formula dan komposisi skematik. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. atau kata. dan klausa yang berulang. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. pencerita dapat melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata.

Komposisi skematik yang digunakan dalam cerita Tupai Janjang ditemui untuk hal-hal berikut. Di samping itu. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pembuatan teks dalam pertunjukan. Sementara itu. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. unsur verbal lebih dominan ditemui pada teks II jika dibandingkan dengan teks I. pencerita sudah mempunyai stereotipe di dalam pikirannya yang diperoleh dari tradisi lisan Minangkabau lainnya. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik. (3) pergerakan waktu dalam cerita. yaitu (1) menghubungkan peristiwa dengan situasisituasi cerita sehingga membuat cerita bergerak ke depan. (3) untuk memeriahkan alek nagari. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. (2) pertukaran dan kegiatan tokoh dalam cerita. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendiri-sendiri. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang maka diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan. Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. (4) untuk memeriahkan hari yang berhubungan . Di samping itu. (2) untuk memeriahkan acara pengangkatan penghulu. Dalam masyarakat Palembayan. kegunaan Tupai Janjang lebih mengacu pada hal yang bersifat praktis. yaitu (1) untuk memeriahkan pesta perkawinan. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan alat memproyeksikan diri dan pencermin angan-angan kolektif masyarakat Minangkabau. dan (4) menceritakan kondisi tokoh dan peristiwa yang ada dalam cerita. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan cerita. pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. Dengan demikian.irama pada saat pertunjukan.

. terutama hari kemerdekaan. dan (5) untuk menunjang program pemerintah. terutama di bidang pariwisata.dengan hari-hari nasional.

2003. Khaidir. Amir. and Event. Hanindita Graha Widya. Ita. 1999. Bandem. Basa. Ivan. Granesia Andras. M. Cambridge: Cambridge University Press. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. Adriyetti.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Padang. “Tentang Sikap Dramatik dan Warna Lokal Mengakrabi Teater Rakyat” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. 1983. dkk. _______ 2001. Padang. Bandung.Teater Daerah Indonesia. Yogyakarta. Padang: Universitas Andalas. Made dan Sal Murgiyanto. 1983. 1988. Adilla. Richard.S. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Skripsi. Suyatna. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Amir. Anirun. Performance. Kesenian Bagurau. Anwar. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. B. 1992. dalam Metodologi Penelitian Sastra. 1966. Seni Pertunjukan Tupai Janjang: Studi Kasus di Desa Aia Mondak Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam. 1995.Imran. Pusat Penelitian Universitas Andalas. Bandung: Granesia. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Kanisius. A Kasim. Kelisanan dalam Keberaksaraan: Hikayat Meukuta Alam. Story. . 1989. Padang: Esa. Achmad. T. 1990. Payakumbuh: Eleonora. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Sastra Lisan Minangkabau I. Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau. 2003. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. “Resepsi Sastra: Teori dan Penerapannya”. Kedudukan dan Peranan Wanita: Dalam Kebudayaan Suku Bangsa Minangkabau. Datuk Nagari. 1996. Bauman. Bustami.

Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. Harymawan. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Edwar. dkk. Oral Traditions and the Verbal Arts. ___________. Yogyakarta. 1997. 1995. _______. 1993. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. Dongeng. Erlinda. 1992. Yogyakarta: Pustaka Widyatama Esten. Jakarta: Balai Pustaka. 23-24 Agustus 2004 _____ 2003. 2001. Institut Seni Indonesia. Masyarakat dan Budaya Lokal Dalam Globalisasi. Siti. Danandjaja. 2004. Padang Panjang. Padang: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. 1999. “Pengkajian Sastra dari Sisi Pembaca: Satu Pembicaraan Metodologi”. Suwardi. Endraswara. Yogyakarta. Laporan Penelitian Akademi Seni Kerawitan Indonesia. Bandung. dalam Metodologi Penelitian Sastra. Satya. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djajanegara. 2002. 1980. Djamaris. 1993. Bandung: Angkasa. James. Dramaturgi. Jakarta: Yayasan Obor. Gayatri. Finnegan. Faruk. 2004 “Tinjauan Fungsiolalisme Terhadap Seni Pertunjukan Saluang” dalam Ekspresi volume 12. Remaja Rosdakarya. London: Routledge. Yogyakarta. Makalah pada Seminar Internasional Kebudayaan Minangkabau dan Potensi Etnik Dalam Paradigma Multikultural.Chamamah-Soeratno. Desetralisasi Kebudayaan. “Penelitian Resepsi Sastra dan Problematianya”. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Hanindita Graha Widya. Mursal. Citra Wanita Dalam Lima Novel Terbaik Sinclair Lewis dan Gerakan Wanita di Amerika. Tupai Jangjang Kesenian Rakyat di Nagari Silungkang Kecamatan Palembayan dalam Kajian Teknis dan Filosofis. 2001. Soenarjati. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. dan lain-lain. Ruth. . “Berburu Sastra Lokal”. Hanindita Graha Widya.

Padang Moussay. 1991. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Cambridge. David. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Navis. Saluang: Sastra Lisan Minangkabau. Pengantar Ilmu Antropologi. Tata Bahasa Minangkabau. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. A. 1999. Manan. 2004. Albert B. 1982. Pokok-Pokok Antropologi Budaya.Hutomo. Mass: Harvard University Press. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1984. Ignas. “Minangkabau dalam Perspektif Perubahan Sosial Kontemporer dan Gebu Minang” Diskusi Panel Perubahan Sosial Minangkabau Kerjasama Fakultas Sastra Unand dengan Lembaga Gebu Minang. Imran. Jakarta: Universitas Indonesia. Kato.O. The Singer of Tales. Suripan Sadi. Imran. Kaplan. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. 2000. T. Diterjemahkan Rahayu S. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Koentjaraningrat. Teori Kebudayaan. Gerard. Jakarta: Grafiti Pers. Eva. 2001. Ithaca: Cornell University Press.Hidayat. 1997. _____ 1993. Sejarah Teori Antropologi. 1981. Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban. 1991. Jawa Timur. Jakarta: Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. Jakarta. Nadra. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau Traditions in Indonesia. 1998. Ihromi. Kleden. .A. Jakarta: Renika Cipta Lord. 1997. _______ 1990. Mohd Nefi. Jakarta: Gramedia. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Tsuyoshi. Krisna. Geografi Dialek Bahasa Minangkabau (Disertasi). Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 1980.

Soerjono dan Ratih Hertarini. dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. 1976. 1981. 1984. Pemerintah Kabupaten Agam. Bagurau Dalam Basaluang: Cerminan Budaya Konlfik. London: Crambridge University Press. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Semi. 1999. Yogyakarta.Nurgiyantoro.A. 1988. Perubahan Sosial Masyarakat Antropologi. ________. Jakarta: Universitas Indonesia. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Sjafri. Yus. Yogyakarta: Kanisius. Peursen. Rusyana. Strategi Kebudayaan.Rajo. Pudentia. Hari. Burhan. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. 1998. C. 2002. 14-16 Oktober 1999. Andar Indra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Sijobang. 1988. 1999. Nigel. 1995. Ajip. Sung Narrative Poetry of West Sumatra. 2002. 2000. Makyong: Hakikat dan Proses Penciptaan Kelisanan (Disertasi). “Etnisitas dan Globalisasi: Antara Sentrpetal dan Sentrifugal”. Jakarta: Sinar Grafika . Padang: Angkasa Raya. Penghulu. Jakarta: Pustaka Jaya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.Van. Makalah Seminar Internasional Tradisi Lisan III. Phillips. MPSS. Bandung: Remaja Karya. Pustaka Pelajar. Teori Pengkajian Puisi. (Tesis): Yogyakarta. Anatomi Sastra. Rosidi. Indonesia: Perspektif Sastra. Keragaman dan Kesamaan Dalam Tradisi Lisan Nusantara. Sairin. 2003. Idrus Hakimy Dt. Poerwanto. Kecamatan Palembayan Dalam Angka. Fungsionalisme dan Teori Konlik dalam Perkembangan Sosiologi. 2002. Soekanto. Atar.

Sastra dan Ilmu Sastra. Pedoman Penelitian Sastra Daerah. Seminar Internasional Tradisi Lisan III.1980. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. Jakarta: Intermasa. Yayasan Obor Indonesia. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pusat Bahasa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Berkeley. (Terjemahan Misbah Zulfa Sweeney. 1982. Jakarta.11. Dendang Pauah Cerita Orang Lubuk Sikaping. Syamsuddin. Apresiasi Puisi . Jurnal Basis. Teeuw. Amin. A. XXXVII. Tuloli. _____ 1996. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. 1999. 1993. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. Herman. . Dalam Analisis Kebudayaan. Nani. Tahun I. 1984. Jakarta: Gramedia. Waluyo. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”. Rene dan Austin Warren. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Abdul Rozak. Rebab Pesisir Selatan Zamzami dan Marlaini. 2002. Rebab Pesisir Selatan Malin Kundang. 2003. 1980. ________ 1987. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Wellek. Berkeley: University of Colifornis Press. Jakarta. ______ 1993. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Asosiasi Tradisi Lisan. Udin. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo.Yogyakarta: Tiara Wacana. Metode Etnografi Elizabeth).Suryadi. Spradley. 1980. 1997. University of Colifornia Press. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Zaidan. 1990. November. Sastra dan Teori Sastra (Terjemahan Melani Budianta). James P.

0/023-04. tanggal 1 Februari 2006 FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS SEPTEMBER.0/-/2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.PENELITIAN DOSEN MUDA ARTIKEL PENELITIAN FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG Oleh: Dra. Departemen Pendidikan Nasional Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor: 005/SP3/PP/DP2M/II/2006. 2006 . M. SATYA GAYATRI.Hum Dibiayai Dipa Nomor SP: 0415.

Dr. Satya Gayatri. Nama b. Jabatan Fungsional e. Golongan Pangkat dan NIP d. Bidang Ilmu 3. M.500.S. Kabupaten Agam : 8 (delapan) bulan : Rp 7. Ketua Penelitian a.Sc NIP.HALAMAN PENGESAHAN 1. Jenis Kelamin c. Lokasi Penelitian 6. Ir. Judul Penelitian 2. H.Hum NIP: 131 850 752 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian Prof. Adriyetti Amir.U NIP: 131 413 768 Ketua Peneliti Dra.(Tujuh juta lima ratus ribu rupiah) Padang. Waktu Penelitian 7. M. Jumlah Tim Peneliti 5. 131 474 873 . M. Satya Gayatri. Biaya : Formulaik dan Fungsi dalam Pertunjukan Teater Tradisional Tupai Janjang : Sastra/ Filsafat : Dra.000.Hum : Perempuan : Penata Muda Tk I/ III/b NIP: 131 850 752 : Asisten Ahli : Sastra/ Sastra Daerah Minangkabau : 2 orang : Kecamatan Palembayan. 10 September 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Dra. Fakultas/ Jurusan 4. Helmi.

1. upacara pengangkatan penghulu. bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional. Dalam menyampaikan cerita. Bertahannya pertunjukan Tupai Janjang dalam masyarakat Palembayan karena mengandung fungsi dan nilai-nilai yang dapat dipetik baik dari isi cerita maupun dari pertunjukan itu sendiri. Dengan demikian. Demikian juga halnya dengan pantun. terdapat teks yang mempunyai kata. Demikian juga dari segi fungsinya pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk memeriahkan pesta perkawinan. pencerita bukan menghafal cerita melainkan menggunakan teknik yang sudah terpola. klausa. tetapi juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. Tradisi lisan bisa juga menjadi sumber suatu penciptaan baru50 atau bisa berperan sebagai sumber dari suatu proses penciptaaan baru. PENGANTAR Tradisi lisan merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga. . sehingga dalam teks akan ditemukan sejumlah kalimat yang bersifat paralel. Tradisi lisan di Minangkabau. frasa. alek nagari. pencerita dapat mengubah teks setiap saat sesuai dengan situasi dan kondisi.FORMULAIK DAN FUNGSI DALAM PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL TUPAI JANJANG:48 Satya Gayatri49 ABSTRAK Pertunjukan tradisional Tupai Janjang di Minangkabau merupakan salah satu bentuk teater tradisional karena menghadirkan dialoq dan akting. peringatan peringatan hari Nasional. dan larik yang berulang. sampai saat ini mengalami variasi tergantung kepada fungsinya di dalam masyarakat. 48 49 50 Artikel penelitian BBI Dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas. Tradisi ini. Dengan memanfaatkan teknik formulaik. Salah satu tradisi itu adalah tradisi lisan Minangkabau. Masyarakat dapat mengambil nilai-nilai ataupun pesan moral yang terkandung dalam cerita yang disampaikan. Kehidupan tradisi lisan akan mengalami variasi sesuai dengan dinamika masyarakat pemiliknya. dan untuk menunjang program pemerintah.

dan kehidupan alam51. Hal ini disebabkan karena nenek moyang orang Minangkabau.Dalam kebudayaan Minangkabau. pencerita berdialog secara monolog dengan mendramatisasikan suaranya. bentuk. Falsafah hidup dan ajaran ini dinukilkan dalam pepatah. setiap cerita yang ditampilkan tidak persis sama. kekuatan dalam bidang sastra dan bahasa Minangkabau terletak pada tradisi lisannya. Pertunjukan seperti ini. Pertunjukan Tupai Janjang merupakan pertunjukan yang spesifik dari pertunjukan tradisional lainnya di Minangkabau. Dengan demikian. sedangkan nilai luaran adalah manfaat yang didapatkan dari tradisi itu misalnya untuk hiburan. Bertahannya tradisi lisan dalam masyarakat. misalnya falsafah hidup yang dikenal dengan alam takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru). setiap pertunjukan dari suatu cerita akan terlihat adanya variasi. Nilai dalaman ialah apa yang dipesankan. Kabupaten Agam. Salah satu tokoh dalam cerita ini bernama Tupai Janjang yang merupakan tokoh utama. Dalam pertunjukan tradisional. secara lisan. dalam mengatur kehidupan pada awalnya. informasi yang timbul dalam pikiran seseorang setelah menyaksikan sebuah pertunjukan. mamangan. karena nilai dalaman dan nilai luaran yang terdapat dalam tradisi lisan itu. Nama pertunjukan ini diambil dari nama kaba yang diceritakan. karena setiap pertunjukan dipengaruhi oleh waktu. sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita ini. disimpan. Salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang belum terdokumentasi secara baik adalah tradisi Tupai Janjang. Segala aspek kehidupan. Dalam hal ini. Sumatra Barat. Hal ini disebabkan karena selama ini belum ditemukan bentuk pertunjukan yang hanya dilakukan oleh seorang pencerita untuk memerankan semua tokoh dalam cerita. diturunkan secara lisan. petuah. dan disampaikan dalam cerita itu. walaupun menampilkan cerita yang sama. serta lain-lainnya mengambil ungkapan dari sifat. petitih. penonton dan 51 Anwar dalam Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa (1995: 118) . hanya terdapat di daerah Kecamatan Palembayan. menambah pengetahuan. Variasi pada teks dilakukan oleh pencerita.

Setiap kali seorang tukang cerita atau pembawa puisi naratif lisan berpentas. XXXVII11(1988a: 298) 53 Lord dalam The Singer of Tales (1979: 54) . Persediaan formula itu disebut stock-in-trade si penyair. Akhirnya. dan ide dalam cerita tersebut. tetapi pencerita memakai sejumlah formula yang merupakan stereotip yang siap pakai dengan kemungkinan variasi menurut tata bahasa. Dengan memanfaatkan cara ini. atau tukang pidato. Hal ini berarti. Dengan demikian. Pencerita mempunyai kebebasan memilih dan memasangkan formula pada saat pertunjukan. frasa diciptakan bukan menggunakan hafalan tetapi karena kebiasaan. sehingga pencerita mengucapkan secara terbiasa frasa-frasa itu seperti halnya dalam pembicaraan sehari-hari. FORMULAIK dan KOMPOSISI SKEMATIK Dalam setiap pertunjukan. tidak ada bentuk penciptaan yang spontan seratus persen. Dengan demikian. Teknik formula yang dikembangkan oleh pencerita. Oleh sebab itu. klausa. dalam sebuah pertunjukan pencerita melakukan perubahan sehingga terjadi variasi pada adegan yang diceritakan. karena frasa itu sudah berkalikali dipergunakan. pencerita. saat pertunjukan berlangsung.situasi selama pertunjukan. Variasi dilakukankan oleh pencerita dengan mudah karena pencerita sudah mempunyai stock-in-trade yang siap pakai. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan pola-pola yang sudah didapatkan dari pencerita terdahulu atau dari tradisi lisan lainnya. dia mengucapkan kembali secara baru dan spontan gubahannya. pencerita dapat melakukan perubahan teks secara cepat. frasa. bahwa pencerita di samping mampu mengingat formula sesuai dengan keingginan waktu menceritakan. untuk melayani dirinya sebagai seorang ahli seniman53. 52 Teeuw dalam “Indonesia Antara Kelisanan dan Kebersaraan”. Pencerita mencoba mengingat frasa-frasa yang didengarnya dari pencerita lain. kalimat. Dalam hal ini. tidak ada pementasan yang identik seratus persen walaupun ditampilkan oleh seorang pencerita yang sama52. Jurnal Basis November. 2. berarti juga menceritakan kembali cerita-cerita secara lisan. terjadi kalimat yang paralel dan bentuk perulangan pada kata.

yang mungkin berupa kata. pencerita pada saat pertunjukan berlangsung.Seorang pencerita dapat melakukan variasi pada adegan dan sub-adegan cerita. diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. Rumusan atau pola berformula dalam sastra Melayu tradisional. atau larik. Dalam sastra Melayu tradisional. Tidak ada adegan dan sub-adegan dari cerita yang persis sama. karena pertunjukan merupakan aktivitas komunal dan terikat dalam kohesi sosial. Dengan cara memanfaatkan bentuk berformulaik. ada adegan dan sub-adegan yang ditambah. Formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide yang esensial atau pokok. sangat dipengaruhi oleh penonton sehingga terjadi umpan-balik. klausa. yaitu mengingat perulangan atau menciptakan melalui analogi dengan perulangan kata. Di samping memanfaatkan sistem perulangan. diubah. Oleh karena itu. frasa. dan larik yang telah ada54. Hal ini disebabkan. Tradisi sastra Melayu tradisional. Formula itu muncul berkali-kali dalam cerita. Hal ini juga ditemui dalam tradisi sastra Melayu tradisional. frasa. Dengan demikian. Variasi itu dapat terjadi karena faktor si pencerita maupun masyarakat yang menikmati cerita tersebut. Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan pada saat pertunjukan berlangsung. Hal ini dapat dilakukan karena memanfaatkan sistem formula. Untuk menghasilkan perulangan itu. ada dua cara yang ditempuh oleh pencerita. memperlihatkan fleksibilitas komposisi yang tinggi. sangat variatif. pencerita dalam pengertian ini membentukan baris puisi sastra lisan secara cepat sehingga banyak menggunakan rumusan atau pola-pola tertentu dalam setiap kegiatan penceritaan. ibid (1981: 30.43) Sweeney dalam Authors Audiences in Traditional Malay Literature (1980:40) . klausa. cara yang juga digunakan oleh pencerita dalam sebuah pertunjukan adalah dengan memanfaatkan skema tertentu yang disebut komposisi skematik. skematik ini merupakan hal yang penting. Di 54 55 Lord. terutama dalam penceritaan secara lisan55. Skematik itu. atau dikurangi sehingga terjadi variasi antara pencerita terdahulu dengan pencerita yang ada sekarang ini.

ide-ide. walaupun ceritanya sama dan juga dilakukan oleh pencerita yang sama. pencerita tidak bercerita dalam keadaan teks yang kaku. apapun cerita yang ditampilkan56. Dengan demikian. melainkan bercerita sambil memanfaatkan kondisi yang dapat mendukung penceritaaannya. Pada cerita yang berbentuk pantun ini. tetapi belum tentu teks cerita yang diucapkan sama. Ekspresi formulaik yang pertama sekali dilihat adalah pada bagian cerita yang berbentuk pantun. perulangan ditandai dengan memberi garis bawah pada kata yang berformulaik. Dalam sebuah pertunjukan pencerita memanfaatkan cara perulangan supaya dapat menciptakan dan merangkai cerita secara cepat karena dalam pertunjukan lisan tidak ada penghafalan cerita. terlihat adanya perulangan antara satu bait dengan bait berikutnya. Pantun itu adalah: 56 Sweeney. Variasi itu dapat terjadi karena dalam pertunjukan lisan. Hal ini disebabkan karena waktu. penyajian lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola. atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematik.samping itu. komposisi skematik juga merupakan cara-cara konvensional dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa dengan situasi-situasi cadangan dalam sastra Melayu tradisional. Dalam pertunjukan Tupai Janjang. dan tempat pertunjukan yang berbeda juga mengakibatkan terjadinya variasi. sehingga seorang performer menggunakan tema-tema yang sama. Dalam analisis ini. suasana. ibid (1980:64-65) . Hal ini dapat menimbulkan variasi dalam cerita tersebut. cerita yang sama dapat dibawakan oleh pencerita yang berlainan. Dengan demikian.

(Bandar orang kami bandarkan. berdua dengan Puti |lah| si Linduang Bulang). kaba |lah| orang kami kabakan. banda nak urang Koto Tuo. Ada juga bentuk perulangan yang hanya dilakukan dengan satu kata atau dua kata. ta rajo turun ba rajo. tersebut gerangan Datuak Bandaro. atau dua bulan. adalah orang masa itu. TEKS II Bandalah urang |hai| ambo bandakan. bandarlah |hai| orang si Koto Tuo. kaba |lah| urang kami kabakan. turunan raja turun beraja. orang dusta kami tak serta). nan tasabuik-sabuik. Kata kaba dan bandalah urang ditemui pada bait ke-1 dan bait ke-2. Pengulangan itu terjadi pada bait yang sama dan juga pada bait yang berbeda. untuk menyatakan waktu satu hari. Pencerita . di nan dakek jolong tasongoh. kaba urang kami kabakan. Banda |lah| urang kami bandakan. di yang dekat jolong tersongoh. Ada formula tertentu yang digunakan untuk menyatakan pergerakan waktu dalam cerita. satu bulan. (Di yang tinggi tanpak jauh. kaba |lah| orang ada kami kabakan. Misalnya. |hai| bumi |nan| antah barantah. kaba |lah| urang lai kami kabakan. iyolah garan |lah| si Tupai Janjang. Di nan tinggi tampak jauah. banda nak urang |lah| di Gumarang. baduo jo Puti |lah| si Linduang Bulan. (Oi| adalah pada suatu masa. bandalah |hai| urang si Koto Tuo. Dari pantun itu terlihat adanya unsur formulaik yang sama digunakan oleh kedua pencerita ini. tasabuik garan Datuak Bandaro. (Bandarlah orang |hai| hamba bandarkan. (Tak kala masa dahulunya. adolah urang maso itu. bandar anak orang Koto Tuo. bandar anak orang |lah| di Gumarang. (Bandar |lah| orang kami bandarkan. Perjalanan dan pergerakan waktu dalam cerita juga memperlihatkan kata yang berfomulaik. urang duto kami tak nio. Pantun di atas terlihat adanya kata yang diulang pada larik berikutnya. yang tersebut-sebut).TABEL I TEKS I Banda urang kami bandakan. Pada teks II. Kedua pencerita ini mempunyai stock–in-trade yang berbeda. kaba orang kami kabakan. larik itu diulang dengan merubah kata kami dengan kata ambo dan penambahan ungkapan penyeling hai. bumi |nan| belum |hai lah| beralun. orang dusta kami tak mau) Tak kalo maso dahulunyo. turunan puti sudut-bersudut). Bandalah urang kami bandakan ditemui pada kedua teks. |hai| bumi |nan| antah berantah. bumi |nan| alun |hai lah| baralun. iyalah gerangan |lah| si Tupai Janjang) |Oi| adolah pado suatu maso. Larik yang sama juga ditemui pada bait ke-2. ta puti suduik-basuduik. urang duto kami tak sato.

Formulaik pergerakan waktu Dari sahari |oi| garan manganduang. (Sudah tiba sakit beranak) Lah sabulan duo bulan. Kata lah dalam hal ini mengandung arti alah (sudah). (Dari sehari |oi| gerangan mengandung) Lah nan sapakan |oi lah| nan sabulan (Sudah yang sepekan |oi lah| yang sebulan) Lah nan duo bulan garan mangaduang (Sudah yang dua bulan gerangan menganduang) Jalan barubah |lah nan| maengkang (Jalan berubah |lah nan| meengkang) Lah tigo bulan lah limo bulan garan manganduang (Sudah tiga bulan sudah lima bulan gerangan mengandung) Lah lapan bulan paruik tambah gadang (Sudah delapan bulan perut tambah besar) Lah lapan bulan |oi| garan manganduang (sudah delapan bulan |oi| gerangan mengandung) Lah nan sambilan bulannyo manganduang (Sudah yang sembilan bulan dia mengandung) Lah nan sahari nan duo hari (Sudah yang sehari yang dua hari) Lah nan bapakan lah maso itu (Sudah yang berpekan lah masa itu) Ekspresi formulaik juga dipakai untuk menyatakan tokoh yang diceritakan. (Sudah hampir dia genap bulangan) Lah tibo sakik baranak. TABEL II TEKS I I. Pola sintaksis yang sama juga dipakai untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh tersebut. Demikian juga halnya dengan perpindahan tokoh yang diceritakan juga memanfaatkan sistem formulaik. Formulaik pergerakan waktu Ampia sampai ganok bilangan bulan (Hampir sampai genap bilangan bulan) Lah hampienyo ganok bilangan. Persamaan yang terlihat adalah pada pemakainan kata lah baik untuk pergeseran waktu maupun untuk variasi tokoh yang diceritakan. . misalnya dengan menambahkan ungkapan penyeling. Contoh perulangan itu terlihat pada tabel di bawah ini. sehingga terlihat paralelisme antara satu larik dengan larik yang lainnya. Sesudah pemakainan formula.tinggal memasukkan kata tersebut ke dalam stock-in-trade yang sudah ada dalam ingatannya. Pencerita tinggal menempatkan tokoh yang akan diceritakan ke dalam formula yang sudah ada dalam pikiran pencerita tersebut. Penambahan kata yang terjadi hanya untuk kepentingan irama dalam mendendangkan cerita. (Hampir sampai genap bilangan) TEKS II I. (Sudah sebulan dua bulan) Ambia sampai ganok bilangan.

dilanjutkan dengan keterangan yang dilakukan oleh tokoh. Variasi yang tampak adalah penambahan unsur verbal demi kepentingan irama misalnya Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) menjadi Sinan lah bakato Datuak Bandaro (Sana lah berkata Datuak Bandaro). Hal itu terlihat pada tabel di bawah ini:
TABEL III TEKS I I. Formulaik untuk tokoh Pihak kapado Mak Hitam (Pihak kepada Mak Hitam) Pihak kapado Mandeh Rubiah (Pihak kepada Mandeh Rubiah) Pihak kapado Datuak Bandaro (Pihak kepada Datuak Bandaro) Nan bakato Datuak Bandaro (Yang berkata Datuak Bandaro) Nan bakato Linduang Bulan (Yang berkata Linduang Bulan) Nan bakato Mandeh Rubiah (Yang berkata Mandeh Rubiah) Nan manjawek Datuak Bandaro (Yang menjawab Datuak Bandaro) (2 kali) (2 kali) (3 kali) (9 kali) (9 kali) (3 kali) (4 kali) II. Formulaik pada sintaksis |Oi| mandanga kato Datuak Bandaro (|Oi| mendengar kata Datuak Bandaro) Mandanga kato |lah| si Linduang Bulan (Mendengar kata |lah| si Linduang Bulan) Lalu bakato |lah| Datuak Bandaro (Lalu berkata |lah| Datuak Bandaro) Lalu bakato Datuak Bandaro (Lalu berkata Datuak Bandaro) Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang (Lalu dibuang |lah| si Tupai Janjang Lalu dicaliak si Tupai Janjang (Lalu dilihat si Tupai Janjang) |ha| lalu diambiaklah kulik nantun (ha| lalu diambillah kulit yang itu) TEKS II I. Formulaik untuk tokoh |Oi| adok ka diri Datuak Bandaro (|Oi| hadap ke diri Datuak Bandaro) |Oi| adoklah diri duo nantun (|Oi| hadaplah diri dua yang itu) Madok ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan (Hadap ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan) Adok ka diri |lah| si Tupai Janjang (Hadap ke diri |lah| si Tupai Janjang) |Oi|adok kadiri |lah|si Linduang Bulan |(Oi| hadap ke diri |lah| si Linduang Bulan)

II. Formulaik pada sintaksis Lah balari si Dukun Pandai (Sudah berlari si Dukun Pandai) Lah bajalan Datuak Bandaro (Sudah berjalan Datuak Bandaro) Lah bajalan si Linduang Bulan (Sudah berjalan si Linduang Bulan) Nan lah pulang Mandeh Rubiah (Yang sudah pulang Mandeh Rubiah) Lah pulangnyo maso nantun, (Sudah pulang dia masa itu) Lah tibonyo di tangah rumah. (Sudah tiba dia di tengah rumah) Lah dibao si Tupai Janjang (Sudah dibawa si Tupai Janjang)

Pencerita menyusun baris-baris cerita dalam waktu yang dekat dengan berpedoman pada baris-baris yang telah ada sebelumnya. Pencerita mempunyai polapola yang dijadikan pedoman dalam menghasilkan baris pada saat penceritaan dengan cepat sehingga antarbaris memperlihatkan paralelisme. Dengan demikian, baris-baris

memperlihatkan kesejajaran satu dengan lainnya. Cara ini dilakukan oleh pencerita untuk membentuk baris-baris dengan cepat dengan menukarkan tempat, menambah, atau mengurangi kata, sehingga tidak merubah sifat paralel kalimat itu. Untuk lebih jelasnya, hal itu dapat dilihat pada bagan berikut.
Bagan Paralelisme Sintaktik Konon {lah} {Oi} Tibo + + padi kasiah di lantai di rusuak di tanah Nyo inyo nan + baunduang-unduang baunduang + + hai + urang lantai rusuak tanah maso kain kain + + + basalang patah balubang taban balubang itu putiah sirah

Komposisi skematik merupakan skema yang digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Skematik itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dalam menggambarkan objek yang diceritakan. Dalam sastra Melayu tradisional skematik ini, merupakan hal yang penting, terutama dalam penceritaan secara lisan. Dengan demikian, pencerita mampu menghasilkan cerita dalam waktu yang sangat cepat dengan tidak menyiapkan atau menghafal teks sebelumnya. Hal ini diperlukan kemahiran dan kebiasaan penceritaan, sehingga sebelum menjadi pencerita yang sebenarnya dituntun melaksanakan latihan. Komposisi skematik diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Perulangan pada bagian ini juga akan mengakibatkan kalimat yang dihasilkan bersifat paralel, seperti yang juga telah diberikan di depan. Kalimat-kalimat yang paralel ini juga berfungsi untuk mempermudah pertunjukan. Oleh karena itu, di samping untuk mempermudah pengungkapan ide cerita. Misalnya, untuk menyatakan Tupai Janjang telah lahir dan mempunyai perbedaan dengan anak yang lain (mempunyai keajaiban). Hal ini

dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik ini lazim juga ditemui dalam kaba Minangkabau lainnya. Skematik itu adalah;
Nan lah laia anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai lah patah, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang. (Yang telah lahir anak Linduang Bulan, tibo di lantai lantai sudah patah, tiba di rusuk rusuk runtuh, tiba di tanah tanah lambang57

Pada teks II, terjadi variasi skematik itu, namun masih ada kata yang sama digunakan. Sehingga, ide dari skematik itu masih sama. Skematik itu seperti terlihat sebagai berikut.
Nan lah ko laialah si Tupai Janjang, |oi| tibo di lantai lantai balubang, |oi| tibo di tanah |hai| tanah balubang, |a| lalu dicaliaklah anak nantun. (Yang sudah lahir si Tupai Janjang, |oi| tiba di lantai lantai balubang, |oi| tiba di tanah |hai| tanah berlubang |a| lal dilihatlah anak itu).

Dalam kaba Anggun Nan Tongga, skematik ini juga ditemui waktu Anggun Nan Tongga lahir. Dalam skematik itu terlihat perbedaan dengan mendapatkan tambahan larik yang lain pada bagian awal dan akhir bait.
Dek Allah sadang manggarakkan, tibo di lantai lantai putuih, tibo di rusuak rusuak taban, tibo di tanah tanah lambang, anak lahia jo karuangnyo. (Mahkota, 1998:8) (Karena Allah sedang mencanda-i tiba di lantai lantai putus, tiba di rusuk rusuk terban, tiba di tanah tanah lambang, anak lahir dengan karungnya)

Untuk menerangkan kondisi kecantikan Linduang Bulan pada teks I, dinyatakan dengan skematik di bawah ini. Skematik itu juga lazim digunakan dalam sastra tradisional Minangkabau. Skematik itu adalah;
Kononlah Puti Linduang Bulan, nan bajalan sigajua lalai, alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati, nan ka suok lenggang manganai, nan ka kida lenggang mambunuah. (Kononlah Puti Linduang Bulan, yang berjalan sigajua lalai, alu tertarung patah tiga, semut terpijak tidak mati, yang ke kanan lenggang mengena, yang ke kiri lenggang membunuh)

Berbeda halnya pada teks II, menerangkan kecantikan Linduang Bulan tidak memakai skematik seperti pada teks I, tetapi langsung menyatakannya dengan menggunakan keterangan tentang kecantikan wajah serta rambut yang panjang terurai.
57

Menurut Kamus Bahasa Minangkabau, lambang adalah lembang (bekas injakan, atau tekanan beban pada tanah). Hal ini biasanya digunakan betapa hebatnya yang mempunyai kaki, dalam cerita klasik.

|oi| rambuik manyapu |hai lah| sapu lantai. karena tradisi itu dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar. anak sigiang-giang rimbo.Madoklah ka |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. orang yang elok |lah| masa itu). pendekatan fungsionalisme yang dikemukakan oleh Malinowski berasumsi bahwa semua kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat dimana unsur itu ada. Dalam hal ini. anak bincacak anak bincacau. Setiap pola kelakuan sudah merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat. 3. anak nan bantuak indak ditunjuak ajari. Oleh sebab itu . Akhirnya. skematik itu dipakai ketika Datuak Bandaro marah kepada Tupai Janjang karena Tupai Janjang suka merusak barang di rumah dan kepunyaan tetangganya. misalnya kebutuhan sekunder suatu masyarakat. kini bakiroklah ko kini. buliah ka rimbo lah kau kini. Ungkapan yang dipakai adalah sebagai berikut. walaupun di tengah marak kebudayaan lain yang masuk ke dalam masyarakat. |oi| bermuka rancak rambut terurai. |oi| bamuko rancak rambuik taurai. Hal ini disebabkan. |oi| rambut menyapu |hai lah| sapu lantai. Pemakaian skematik juga digunakan untuk menyatakan tingkah laku seorang anak yang tidak baik dan tidak mau diberi pelajaran. Datuak Bandaro mengusir Tupai Janjang. Nak kanduang si Tupai Janjang. kini pergilah sekarang kini. (Nak kandung si Tupai Janjang. Skematik itu biasanya diucapkan oleh orang tua kepada anaknya atau orang yang lebih besar kepada yang lebih kecil. Pemakaian skematik ini biasanya diucapkan dalam kondisi marah dan bersifat kasar. anak bincacak anak bincacau. (Hadaplah ke |lah| diri |lah| si Puti Linduang Bulan. anak yang seperti tidak ditunjuk ajari. Fungsi Pertunjukan Tupai Janjang Sebuah tradisi dapat bertahan di masyarakat sampai sekarang. Dalam cerita Tupai Janjang. urang nan elok |lah| maso itu. anak sigiang-giang rimba. Boleh ke rimbalah kau kini).

bahkan juga orang tua sendiri. tetapi juga terhadap orang tua. Akhirnya. cerita Tupai Janjang bukan hanya ditujukan kepada anakanak. dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya59. Cerita Tupai Janjang merupakan sistem proyeksi keinginan dari masyarakat Minangkabau. khususnya bagi pemuda Minangkabau. cerita ini memberikan pendidikan supaya mempunyai kelakuan baik karena kelakuan yang tidak baik semua orang tidak menyukai. (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Bagaimanapun nakalnya seorang anak. Sebagai alat pendidikan. Terhadap anak-anak. Tersirat juga pendidikan jika sebagai seorang anak hendaknya terhadap orang tua harus bersifat baik dan tetap menghormati. Semua fungsi ini akan dianalisis lebih mendalam dalam penceritaan tradisi lisan Tupai Janjang. menurut William R. cerita ini juga mengambarkan keberhasilan Tupai Janjang yang menjadi orang yang kaya sehingga dapat membantu orang tuanya. Bascom fungsi folklor ada empat yaitu (a) sebagai sistem proyeksi yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Keinginan itu adalah untuk pergi merantau dan kemudian berhasil di rantau sehingga dapat berguna bagi orang tua dan masyarakat. cerita ini dapat diambil nasihatnya supaya hati-hati dan tabah dalam mendidik anak. walaupun orang tua kita sendiri pernah membenci dan membuang anak kita. Di samping itu. kalau diberi 58 59 Ihromi dalam Pokok-Pokok Antropologi Budaya (1980:60) Danandjaja dalam Folklore Indonesia (1984:19). (c) sebagai alat pendidikan anak.dalam teori ini. Hal ini tergambar dari kepergian Tupai Janjang meninggalkan kampung halamannya. semua unsur kebudayaan dipandang untuk memenuhi kebutuhan dasar suatu warga masyarakat58. . Dan juga cerita ini merupakan proyeksi dari keinginan dari orang tua agar anaknya pergi meninggalkan kampung halaman dan mencari “sesuatu” yang dapat digunakan buat masa depannya. Terhadap orang tua.

4. Oleh sebab itu. dan (3) sarana kesinambungan dan pembelajaran kebudayaan. (3) memeriahkan alek nagari. fungsional mempunyai dua pengertian yang sering dirancukan yaitu penggunaan dan fungsi. Penggunaan akan mengacu kepada untuk kegiatan apa pertunjukan dilakukan. Bertahannya pertunjukan ini karena masyarakat masing mengangap pertunjukan ini berfungsi. dan (5) menunjang program pemerintah. Secara eksplisit.pelajaran secara terus-menerus dengan penuh ketabahan dan ketulusan pasti akan membawakan hasil. terutama hari kemerdekaan. Dengan tetap dijaganya nilai-nilai yang tersimpan dalam cerita Tupai Janjang. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang adalah untuk (1) memeriahkan pesta perkawinan. (2) memeriahkan acara pengangkatan penghulu atau peresmian penghulu baru. (4) memeriahkan hari yang berhubungan dengan hari-hari nasional. termasuk pembelajaran norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Kegunaan pertunjukan Tupai Janjang lebih mengacu kepada hal-hal yang sifatnya praktis seperti untuk kegiatan apa pertunjukan Tupai Janjang dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Palembayan. sedangkan fungsi memperhatikan sebab yang ditimbulkan oleh pemakainya dengan tujuan-tujuan yang lebih jauh. terutama di bidang pariwisata. Pencerita bukan menghafal teks. tetapi hanya dengan . KESIMPULAN Pencerita dapat mengubah cerita dalam waktu yang sangat singkat dengan memanfaatkan teknik kelisanan. pertunjukan Tupai Janjang berfungsi untuk (1) forum dialog estetis antaranggota masyarakat. (2) alat komunikasi dan penyampaian aspirasi antarsesama anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. Dalam masyarakat Palembayan. baik yang dilakukan secara bersama maupun sendirisendiri. dalam cerita Tupai Janjang dapat diambil nilai-nilai pendidikan serta merupakan alat pengesahan pranata-pranata yang berlaku dalam masyarakat Minangbakau. diharapkan pertunjukan ini tetap bertahan.

Pencerita tinggal memanfaatkan sistem perulangan sesuai dengan situasi penceritaan. dengan memanfaatkan cara yang sama terlihat adanya kalimat-kalimat yang bersifat paralel.mengingat pola-pola yang sudah didapatkan dari guru atau pencerita yang ada sebelumnya. dapat bebas melakukan improvisasi. pencerita dapat menggubah cerita dengan cepat sehingga mempermudah dan memperlancar penceritaan. Formulaik yang ditemui pada kedua teks memperlihatkan adanya kata dan kelompok kata yang sama bahkan juga ada yang berbeda. Formulaik yang digunakan oleh kedua pencerita. Komposisi skematik merupakan cara yang digunakan oleh pencerita untuk menyampaikan ide cerita. Formulaik yang dipilih saat pertunjukan juga mempertimbangkan irama. dan klausa yang berulang. . Di samping itu. jika suku kata tidak mencukupi maka pencerita akan menambahkan dengan memasukkan ungkapan penyeling untuk penyempurnaan irama saat pertunjukan. pencerita dapat melakukan variasi-variasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi waktu pertunjukan sehingga ditemui kata-kata. dalam cerita Tupai Janjang tidak selalu sama. Oleh karena itu. frasa. Hal ini terjadi karena setiap pencerita. Hal ini dilakukan untuk mempercepat penyampaian ide cerita dalam pertunjukan. Dengan teknik formulaik dan komposisi skematik. Dengan memanfaatkan teknik kelisanan itu. Teknik kelisanan yang juga digunakan dalam teks Tupai Janjang adalah komposisi skematik.

Yogyakarta: Kanisius. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. 1992. Granesia Anwar. 1996. Kecamatan Palembayan Dalam Angka. Jawa Timur. Jakarta: Grafiti Pers. 1980. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Bandem. dan lainlain. 2004. Desetralisasi Kebudayaan. Tsuyoshi. T.DAFTAR PUSTAKA Achmad. 1984. Ithaca: Cornell University Press. Finnegan. Esten. 1995. Danandjaja. A Kasim. Mursal. 1980. Ihromi. Suripan Sadi. James. 2000. 1999. Mutiara yang Terlupakan Pengantar Studi Sastra Lisan. The Singer of Tales. 1982. Hutomo. Traditions Kleden.A. Ruth. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. . Oral Traditions and the Verbal Arts. Albert B. London: Routledge. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Lord. Dongeng. “Posisi Teater Masa Kini di Indonesia” dalam Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Bandung: Angkasa. Ignas. 2002. Jakarta: Yayasan Obor. Mohd Nefi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Djamaris.O. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. Navis. Cambridge. Imran. Khaidir. Pemerintah Kabupaten Agam. Alam Terkembang Jadi Guru Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Edwar. “Tradisi Lisan Minangkabau: Satu Analisis Makna dan Fungsi Sastera dan Seni Persembahan” seminar Universitas Malaya dan Universitas Negeri Padang. Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau in Indonesia.Teater Daerah Indonesia. 2002. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip. A. Mass: Harvard University Press. 1991. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Bandung. Made dan Sal Murgiyanto. Jakarta: Gramedia. 1983. Kato. 1981.

1999.11. Udin. Asosiasi Tradisi Lisan Teeuw. XXXVII. University of Colifornia Press. Sastra dan Ilmu Sastra. “Tradisi Lisan Tupai Janjang: Kajian Sastra dan Teatrikal”. November. Berkeley. Manfaat Pengumpulan Cerita Rakyat dalam Rangka Penyelamat dan Pemeliharaan Warisan Budaya. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature.A. Amin. Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Rosidi. 1980. Variasi Sosial Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Kanisius. C. Tahun I. Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. 1976. Jakarta. Yogyakarta. 2002. 1998. Syamsuddin.1980. Anatomi Sastra. . Jurnal Basis. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Strategi Kebudayaan. Jakarta: Intermasa. Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. 1980. Berkeley: University of Colifornis Press. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. MPSS. Tuloli. 1988. Ajip. Dalam Analisis Kebudayaan. A. Jakarta: Pustaka Jaya ______ 1988. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Sjafri. Jakarta: Pustaka Jaya. 1984. 1990. Seminar Internasional Tradisi Lisan III. ________ 1987.Van. Pudentis. Nani.Peursen. 1995. Padang: Angkasa Raya. Atar. Sairin. Pustaka Pelajar. Sweeney. Semi. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.