P. 1
Wakaf , Kajian Sejarah Dan Analisa Fikih

Wakaf , Kajian Sejarah Dan Analisa Fikih

|Views: 299|Likes:
Published by hilalfathoni
wakaf ditinjau dari aspek rah dan analisa fikih
wakaf ditinjau dari aspek rah dan analisa fikih

More info:

Published by: hilalfathoni on Dec 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2012

pdf

text

original

1

WAKAF : DALAM KAJIAN SEJARAH DAN ANALISA FIKIH
Oleh : Nuurhilal Fathoni
1


PENDAHULUAN
WakaI merupakan salah satu instrument dalam membangun kehidupan sosial
ekonomi umat islam selain inIak,zakat,shadaqah,hibah. Dalam UU No 41 tahun 2004 pasal 5
disebutkan bahwa Iungsi dari wakaI adalah mewuiudkan potensi dan manIaat ekonomis
harta benda wakaI untuk kepentingan ibadah dan untuk mewuiudkan kepentingan umum.
WakaI telah di syariatkan setelah nabi berhiirah ke Madinah , tepatnya pada tahun ke dua
hiirah. Adapun yang melaksanakannya pertama kali ada dua pendapat yaitu antara Rasulullah
dan Umar bin Khatab . hal ini didasarkan atas hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Syabah
dari Amr bin Sa`ad bin Mu`ad, ia berkata : ' Dan diriwavatkan dari Umar bin Svabah dari
Amr bin Saad bin Muad berkata . Kami bertanva tentang mula mula wakaf dalam islam.
oranh muhaiirin mengatakan adalah wakaf Umar. sedangkan orang orang Anshor
mengatakan wakaf Rasulullah.
Di Indonesia sendiri perkembangan pelaksanaan wakaI sangat pesat, pemerintah
memberikan perhatiannya dalam pemberdayaan wakaI dengan mengeluarkan peraturan yang
mengakomodir hukum Iiqh wakaI termasuk dalam UU No 41 tahun 2004 mengenai wakaI
serta Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2006 mengenai prosedur pelaksanaan wakaI, selain
hal tersebut pemerintah membentuk sebuah Badan WakaI Indonesia ( BWI ) untuk lebih
mengorganisir pelaksanaan wakaI.
Sebelum itu, telah ada berbagai peraturan yang mengatur tentang wakaI.Peraturan
yang mengatur tentang wakaI adalah UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria, khususnya pasal 5, 14 (1), dan 49, PP No. 28 Tahun 1977 tentang PerwakaIan
Tanah Milik, Peraturan Menteri No. 1 Tahun 1978 tentang Peraturan Pelaksanaan PP No. 28
Tahun 1977, Intruksi Bersama Menag RI dan Kepala BPN No. 4 Tahun 1990 tentang
SertiIikat Tanah WakaI, Badan Pertanahan Nasional No. 630.1-2782 tantang Pelaksanaan
PenyertiIikatan Tanah WakaI, Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang KHI, SK Direktorat BI No.
32/34/KEP/DIR tentang Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah (pasal 29 ayat 2 berbunyi:

1
Mahaslswa S1Ll ?oavakarLa


bank dapat bertindak sebagai lembaga baitul mal, yaitu menerim dana yang berasal dari
zakat, inIaq, shadaqah, wakaI, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada
yang berhak dalam bentuk santunan dan atau piniaman kebaiikan |qard al-hasan|), SK
Direktorat BI No. 32/36/KEP/DIR tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip
Syariah (pasal 28 berbunyi: BPRS dapat bertindak sebagai lembaga baitul mal, yaitu
menerima dana yang berasal dari zakat, inIaq, shadaqah, wakaI, hibah, atau dana social
lainnya dan menyalurkannya kepada yang berhak dalam bentuk santunan dan atau piniaman
kebaiikan |qard al-hasan|)
2
.
Produktivitas wakaI di Indonesia iuga terus mengalami pertumbuhan yang signiIikan
dilihat dari perkembangan aset wakaI yaitu pada September 2002 iumlah seluruh wakaI tanah
mencapai 1.472.047.607.29 M persegi berada pada 359.462 lokasi
3
, dan Januari 2008 aset
wakaI mencapai 2.686.536.656.68 M persegi dengan 366.595 lokasi
4
.

PEMBAHASAN
A.Seiarah
5

Masa Rasulullah
Dalam seiarah Islam, WakaI dikenal seiak masa Rasulullah SAW karena wakaI
disyariatkan setelah nabi SAW Madinah, pada tahun kedua Hiiriyah. Ada dua pendapat yang
berkembang di kalangan ahli yurisprudensi Islam (fuqaha) tentang siapa yang pertama kali
melaksanakan syariat wakaI. Menurut sebagian pendapat ulama mengatakan bahwa yang
pertama kali melaksanakan wakaI adalah Rasulullah SAW ialah wakaI tanah milik Nabi
SAW untuk dibangun masiid. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar
bin Syabah dari Amr bin Sa`ad bin Mu`ad, ia berkata: Dan diriwayatkan dari Umar bin
Syabah, dari Umar bin Sa`ad bin Muad berkata: 'Kami bertanva tentang mula-mula wakaf
dalam Islam? Orang Muhaiirin mengatakan adalah wakaf Umar. sedangkan orang-orang
Ansor mengatakan adalah wakaf Rasulullah SAW." (Asv-Svaukani. 129). Rasulullah SAW
pada tahun ketiga Hiiriyah pernah mewakaIkan ketuiuh kebun kurma di Madinah;

Wakaf dan usaha memberdavakannva secara produkLlf dl lndonesla ţ nurkholls ţ dlsampalkan dalam dlskusl
llmlah hukum lslam dl unlverslLas lslam lndoneslaŦ
3
Se[arah dan penaelolaan wakafţ uswaLun hasanah lnsLlLuL mana[emen zakaL [akarLa

8adan Wakaf lndonesla
3
Se[arah dan penaembanaan wakaf ţ 8adan Wakaf lndonesla
3

diantaranya ialah kebon A`raI, ShaIiyah, Dalal, Barqah dan kebon lainnya. Menurut pendapat
sebagian ulama mengatakan bahwa yang pertama kali melaksanakan Syariat WakaI adalah
Umar bin Khatab. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar ra, ia
berkata:
Dari Ibnu Umar ra, berkata : 'ahwa sahabat Umar ra. memperoleh sebidang tanah di
Khaibar. kemudian Umar ra. menghadap Rasulullah SAW untuk meminta petuniuk. Umar
berkata . 'Hai Rasulullah SAW.. sava mendapat sebidang tanah di Khaibar. sava belum
mendapat harta sebaik itu. maka apakah vang engkau perintahkan kepadaku?` Rasulullah
SAW. bersabda. 'ila engkau suka. kau tahan (pokoknva) tanah itu. dan engkau sedekahkan
(hasilnva). tidak diiual. tidak dihibahkan dan tidak diwariskan. Ibnu Umar berkata. 'Umar
menvedekahkannva (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-rang fakir. kaum kerabat.
hamba sahava. sabilillah. Ibnu sabil dan tamu. Dan tidak dilarang bagi vang mengelola
(nazhir) wakaf makan dari hasilnva dengan cara vang baik (sepantasnva) atau memberi
makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta` (HR.Muslim).
Kemudian syariat wakaI yang telah dilakukan oleh Umar bin Khatab dususul oleh
Abu Thalhah yang mewakaIkan kebun kesayangannya, kebun 'Bairaha. Selaniutnya disusul
oleh sahabat Nabi SAW. lainnya, seperti Abu Bakar yang mewakaIkan sebidang tanahnya di
Mekkah yang diperuntukkan kepada anak keturunannya yang datang ke Mekkah. Utsman
menyedekahkan hartanya di Khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakaIkan tanahnya yang subur.
Mu`ads bin Jabal mewakaIkan rumahnya, yang populer dengan sebutan 'Dar Al-Anshar.
Kemudian pelaksanaan wakaI disusul oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin
Awwam dan Aisyah Isri Rasulullah SAW.
Masa Dinasti-Dinasti Islam
Praktek wakaI meniadi lebih luas pada masa dinasti Umayah dan dinasti Abbasiyah,
semua orang berduyun-duyun untuk melaksanakan wakaI, dan wakaI tidak hanya untuk
orang-orang Iakir dan miskin saia, tetapi wakaI meniadi modal untuk membangun lembaga
pendidikan, membangun perpustakaan dan membayar gaii para statnya, gaii para guru dan
beasiswa untuk para siswa dan mahasiswa. Antusiasme masyarakat kepada pelaksanaan
wakaI telah menarik perhatian negara untuk mengatur pengelolaan wakaI sebagai sektor
untuk membangun solidaritas sosial dan ekonomi masyarakat. WakaI pada mulanya hanyalah
keinginan seseorang yang ingin berbuat baik dengan kekayaan yang dimilikinya dan dikelola


secara individu tanpa ada aturan yang pasti. Namun setelah masyarakatIslam merasakan
betapa manIaatnya lembaga wakaI, maka timbullah keinginan untuk mengatur perwakaIan
dengan baik. Kemudian dibentuk lembaga yang mengatur wakaI untuk mengelola,
memelihara dan menggunakan harta wakaI, baik secara umum seperti masiid atau secara
individu atau keluarga.
Pada masa dinasti Umayyah yang meniadi hakim Mesir adalah Taubah bin Ghar Al-
Hadhramiy pada masa khaliIah Hisyam bin Abd. Malik. Ia sangat perhatian dan tertarik
dengan pengembangan wakaI sehingga terbentuk lembaga wakaI tersendiri sebagaimana
lembaga lainnya dibawah pengawasan hakim. Lembaga wakaI inilah yang pertama kali
dilakukan dalam administrasi wakaI di Mesir, bahkan diseluruh negara Islam. Pada saat itu
iuga, Hakim Taubah mendirikan lembaga wakaI di Basrah. Seiak itulah pengelolaan lembaga
wakaI di bawah Departemen Kehakiman yang dikelola dengan baik dan hasilnya disalurkan
kepada yang berhak dan yang membutuhkan.
Pada masa dinasti Abbasiyah terdapat lembaga wakaI yang disebut dengan 'shadr al-
WuquuI yang mengurus administrasi dan memilih staI pengelola lembaga wakaI. Demikian
perkembangan wakaI pada masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah yang manIaatnya dapat
dirasakan oleh masyarakat, sehingga lembaga wakaI berkembang searah dengan pengaturan
administrasinya.
Pada masa dinasti Ayyubiyah di Mesir perkembangan wakaI cukup menggembirakan,
dimana hampir semua tanah-tanah pertanian meniadi harta wakaI dan semua dikelola oleh
negara dan meniadi milik negara (baitul mal). Ketika Shalahuddin Al-Ayyuby memerintah
Mesir, maka ia bermaksud mewakaIkan tanah-tanah milik negara diserahkan kepada yayasan
keagamaan dan yayasan sosial sebagaimana yang dilakukan oleh dinasti Fathimiyah
sebelumnnya, meskipun secara Iiqh Islam hukum mewakaIkan harta baitulmal masih berbeda
pendapat di antara para ulama.
Pertama kali orang yang mewakaIkan tanah milik nagara (baitul mal) kepada yayasan
dan sosial adalah Raia Nuruddin Asy-Skyahid dengan ketegasan Iatwa yang dekeluarkan oleh
seorang ulama pada masa itu ialah Ibnu 'Ishrun dan didukung oleh pada ulama lainnya
bahwa mewakaIkan harta milik negara hukumnya boleh (iawaz), dengan argumentasi (dalil)
memelihara dan meniaga kekayaan negara. Sebab harta yang meniadi milik negara pada
dasarnya tidak boleh diwakaIkan. Shalahuddin Al-Ayyubi banyak mewakaIkan lahan milik
3

negara untuk kegiatan pendidikan, seperti mewakaIkan beberapa desa (qaryah) untuk
pengembangan madrasah mazhab asy-SyaIi`iyah, madrasah al-Malikiyah dan madrasah
mazhab al-HanaIiyah dengan dana melalui model mewakaIkan kebun dan lahan pertanian,
seperti pembangunan madrasah mazhab SyaIi`iy di samping kuburan Imam SyaIi`I dengan
cara mewakaIkan kebun pertanian dan pulau al-Fil.
Dalam rangka menseiahterakan ulama dan kepentingan misi mazhab Sunni
Shalahuddin al-Ayyuby menetapkan kebiiakan (1178 M/572 H) bahwa bagi orang Kristen
yang datang dari Iskandar untuk berdagang waiib membayar bea cukai. Hasilnya
dikumpulkan dan diwakaIkan kepada para ahli yurisprudensi (Iuqahaa`) dan para
keturunannya. WakaI telah meniadi sarana bagi dinasti al-Ayyubiyah untuk kepentingan
politiknya dan misi alirannya ialah mazhab Sunni dan mempertahankan kekuasaannya.
Dimana harta milik negara (baitul mal) meniadi modal untuk diwakaIkan demi
pengembangan mazhab Sunni dan menggusus mazhab Syi`ah yang dibawa oleh dinasti
sebelumnya, ialah dinasti Fathimiyah.
Perkembangan wakaI pada masa dinasti Mamluk sangat pesat dan beraneka ragam,
sehingga apapun yang dapat diambil manIaatnya boleh diwakaIkan. Akan tetapi paling
banyak yang diwakaIkan pada masa itu adalah tanah pertanian dan bangunan, seperti gedung
perkantoran, penginapan dan tempat belaiar. Pada masa Mamluk terdapat wakaI hamba
sahaya yang di wakaIkan budak untuk memelihara masiid dan madrasah. Hal ini dilakukan
pertama kali oleh pengusa dinasti Ustmani ketika menaklukan Mesir, Sulaiman Basya yang
mewakaIkan budaknya untuk merawat mesiid.
ManIaat wakaI pada masa dinasti Mamluk digunakan sebagaimana tuiuan wakaI,
seperti wakaI keluarga untuk kepentingan keluarga, wakaI umum untuk kepentingan sosial,
membangun tempat untuk memandikan mayat dan untuk membantu orang-orang Iakir dan
miskin. Yang lebih membawa syiar islam adalah wakaI untuk sarana Harmain, ialah Mekkah
dan Madinah, seperti kain ka`bah (kiswatul ka`bah). Sebagaimana yang dilakukan oleh Raia
Shaleh bin al-Nasir yang membrli desa Bisus lalu diwakaIkan untuk membiayai kiswah
Ka`bah setiap tahunnya dan mengganti kain kuburan Nabi SAW dan mimbarnya setiap lima
tahun sekali.
Perkembangan berikutnya yang dirasa manIaat wakaI telah meniadi tulang punggung
dalam roda ekonomi pada masa dinasti Mamluk mendapat perhatian khusus pada masa itu


meski tidak diketahui secara pasti awal mula disahkannya undang-undang wakaI. Namun
menurut berita dan berkas yang terhimpun bahwa perundang-undangan wakaI pada dinasti
Mamluk dimulai seiak Raia al-Dzahir Bibers al-Bandaq (1260-1277 M/658-676) H) di mana
dengan undang-undang tersebut Raia al-Dzahir memilih hakim dari masing-masing empat
mazhab Sunni.
Pada orde al-Dzahir Bibers perwakaIan dapat dibagi meniadi tiga katagori: Pendapat
negara hasil wakaI yang diberikan oleh penguasa kepada orang-orang yanbg dianggap
beriasa, wakaI untuk membantu haramain (Iasilitas Mekkah dan Madinah) dan kepentingan
masyarakat umum. Seiak abad lima belas, keraiaan Turki Utsmani dapat memperluas wilayah
kekuasaannya, sehingga Turki dapat menguasai sebagian besar wilayah negara Arab.
Kekuasaan politik yang diraih oleh dinasti Utsmani secara otomatis mempermudah untuk
merapkan Syari`at Islam, diantaranya ialah peraturan tentang perwakaIan.
Di antara undang-undang yang dikeluarkan pada dinasti Utsmani ialah peraturan
tentang pembukuan pelaksanaan wakaI, yang dikeluarkan pada tanggal 19 Jumadil Akhir
tahun 1280 Hiiriyah. Undang-undang tersebut mengatur tentang pencatatan wakaI, sertiIikasi
wakaI, cara pengelolaan wakaI, upaya mencapai tuiuan wakaI dan melembagakan wakaI
dalam upaya realisasi wakaI dari sisi administrasi dan perundang-udangan.

B. Analisa Fikih
a. Pengertian
Kata wakaI berasal dari waqaIa yang berarti menahan atau berhenti atau diam di tempat
atau tetap berdiri,adapu pengertian wakaI menurut ulama ahli Iiqih terdapat beberapa
perbedaan mengenai hal tersebut ,
Golongan SyaIi`iyah dan Hanabillah
menurut beliau, wakaI adalah menahan harta yang memungkinkan darinya diambil
manIaatnya,namun tetap ainnya, dibelaniakan untuk mendekatkan diri kepada Allah
dan bagi wakiI terhalang memanIaatkannya
6


Muhammad Abu Zahrah dalam Se[arah dan Þenaelolaan wakafţ uswaLun Pasanahţ lnsLlLuL Mana[emen ZakaL




Abu HaniIah
Menurut beliau, wakaI adalah penghentian benda tidak bergerak dari pemilikan wakiI
secara hukum dan penyedekahan manIaatnya untuk kepentingan umum
7


Golongan Malikiyyah
WakaI mengandung pengertian bahwa pemilik harta memberikan manIaat atas harta
( yang dapat berupa benda yang disewa kemudian hasilnya diwakaIkan ) kepada
mustahiq
8
.

Undang undang No 41 Tahun 2004
WakaI adalah perbuatan hukum wakiI untuk memisahkan dan/atau menyerahkan
sebagian harta benda miliknya untuk dimanIaatkan selamanya atau untuk iangka
waktu tertetu untuk kepentingannya guna kepentingan ibadah dan/atau keseiahteraan
umum menurut syariah
b. Dasar Hukum
dalil yang meniadi dasar disyariatkannya ibadah wakaI berasal dari :
9

a) Ayat Al Qur`an
B´·´·´0´´´· ´´´´C´ãBb Fb¬´1´vb.´
Fb¬´´´m´:Bb Fb´´M´´´Bb.´ Fb´´M´P´´Bb.´
´ò´N´).: Fb¬´1´´´´Bb.´ .M´M´´ÒBb
´ò´P´1´´Ò ´.¬´´1´´´V
Hai orang-orang vang beriman. ruku´lah kamu. suiudlah kamu. sembahlah Tuhanmu
dan perbuatlah kebaiikan. supava kamu mendapat kemenangan.( Al Haii . 77 )

*Ò Fb¬´ÒB×oV ´M´Ò´ÒBb P´´/´= Fb¬´f´´1´V B´ù´v
´.¬´P´´´v P B´v.´ Fb¬´f´´1´V *´v 0´´´A´
´´´T´ ´ãBb ´´=´) ´óT´1´´ ´´´´

Wahbah Zuhalll op clL
8
Wahbah zuhallll ţ op clL hal
9
llqh Wakaf ţ deparLemen aaama republlk lndoneslaţ[akarLa
8

kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaiikan (vang sempurna). sebelum kamu
menafkahkan sehahagian harta vang kamu cintai. dan apa saia vang kamu nafkahkan
Maka Sesungguhnva Allah mengetahuinva ( Ali Imran . 92 ) .


b) Sunnah Rasulullah

' Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : apabila anak
Adam meninggal dunia maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara : shadaqah
iariyah,ilmu yang bermanIaat, dan anak yang sholeh yang mendoakan orang tuanya '
( HR. Muslim )

' Dari Ibnu Umar , ia berkata : ' Umar mengatakan kepada Nabi SAW,Saya
mempunyai seratus dirham saham di Khaibar. Saya belum pernah mendapat harta
yang paling saya kagumi seperti itu. Tetapi saya ingin menyedekahkannya.Nabi SAW
mengatakan kepada Umar ' Tahanlah ( iangan di iual, hibahkan dan wariskan )
asalnya ( modal pokok ) dan iadikan buahnya sedekah untuk sabilillah ' ( HR.
Bukhari dan Muslim )
C. Macam wakaI dan Rukun WakaI
Adapun wakaI apabila di tiniau dari segi peruntukan,dituiukan kepada siapa wakaI itu
maka wakaI terbagi atas :
O WakaI ahli
Terbagi atas dua , yaitu : akaf Dzurri adalah wakaI yang dituiukan kepada orang
orang tertentu( seorang atau lebih ) keluarga atau bukan. Dan akaf alal aulad
adalah wakaI yang diperuntukkan bagi kepentingan dan iaminan sosial dalam
lingkungan keluarga atau kerabat sendiri
10
.
Yang meniadi landasan pelaksanaan wakaI ini adalah hadis riwayat Bukhari dan
Muslim dari Anas bin Malik tentang adanya wakaI keluarga Abu Thalhah yang
dinyatakan sebagai berikut

1
Savvld sabblq ţ flqhu asŴsunnah
9

' aku telah mendengar ucapanmu tentang hal tersebut. sava berpendapat sebaiknva
kamu memberikannva kepada keluarga terdekat. Maka Abu Thalhah membagikannva
untuk para keluarga dan anak anak pamannva '
Namun dalam perkembangan selaniutnya pelaksanaan wakaI ini dinilai menimbulkan
kekaburan dalam pengelolaan dan pemanIaatan wakaI oleh keluarga yang diserahi,
sehingga keberadaannya perlu ditiniau untuk di hapuskan.

O WakaI khairi
Adalah wakaI yang secara tegas diperuntukkan bagi kepentingan umum atau
keagamaan
11
. dalam tiniauan manIaat penggunaannya , wakaI ienis ini lebih
memberikan nilai guna karena tidak terbatasnya pihak pihak yang mengambil
manIaatnya.
Mengenai rukun wakaI secara garis besar ulama Iiqh Ulama Iiqh secara garis besar
merumuskan rukun wakaI ada empat , yaitu :
12

1) WakiI ( orang yang mewakaIkan )
2) MauquI bih ( benda yang diwakaIkan )
3) MauquI alaih / nazhir ( pihak yang diperuntukkan wakaI )
4) Shighat ( pernyataan wakiI untuk mewakaIkan )
Namun dalam Undang undang No 41 tahun 2004 ditambahkan 2 unsur yaitu,peruntukan harta
benda wakaI dan iangka waktu wakaI.
D. wakiI dan mauquI bih.
Dalam UU No 41 Tahun 2004 pasal 8 disebutkan bahwa yang dapat meniadi wakiI
adalah perseorangan , badan hokum dan organisasi. Adapun yang meniadi syarat bagi wakiI
terdapat empat criteria, yaitu merdeka, berakal sehat ,dewasa, tidak terhalang melakukan
perbuatan hukum, dan merupakan pemilik sah harta benda wakaI. WakiI organisasi dan
badan hukum dapat melakukan wakaI apabila memenuhi ketentuan organisasi atau badan
hukum untuk mewakaIkan harta benda wakaI milik organisasi atau badan hukum sesuai
dengan anggaran dasar organisasi atau badan hukum yang bersangkutan.

11
Savvld sablqţ op clL
1
Wahbah zuhalll dalam makalah penaelolaan wakaf ţ u8ŦMŦAnwar lbrahlm ţ lnsLlLuL mana[emen zakaL
1

Syarat-syarat harta yang diwakaIkan (al-mauquf) harus memenuhi beberapa persyaratan,
yaitu: al-mauquf harus barang yang berharga, al-mauquf harus diketahui kadarnya, al-mauquf
dimiliki oleh wakiI secara sah, al-mauquf harus berdiri sendiri, tidak melekat kepada harta
lain (mufarrazan). Harta benda wakaI bisa berbentuk benda tidak bergerak ataupun benda
bergerak. Yang termasuk benda tidak bergerak antara lain:
a. hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik
yang sudah maupun yang belum terdaItar;
b. bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah
c. tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah;
d. hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku;
e. benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Sedangkan yang dimaksud benda bergerak adalah harta benda yang tidak bisa habis karena
dikonsumsi, antara lain:
a. uang;
b. logam mulia;
c. surat berharga;
d. kendaraan;
e. hak atas kekayaan intelektual;
I. hak sewa; dan
g. benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundangundangan
yang berlaku.

Berdasarkan paparan tersebut, dapat ditegaskan bahwa pemahaman tentang benda wakaI
hanya sebatas benda tak bergerak, seperti tanah adalah kurang tepat. Karena wakaI iuga bisa
berupa benda bergerak, antara lain uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak
kekayaan intelektual, dan hak sewa, sebagaimana tercermin dalam Bab II, Pasal 16, UU No.
41 tahun 2004.
Pada prinsipnya, dalam rangka mencapai tuiuan dan Iungsi wakaI, harta benda wakaI hanya
dapat diperuntukan bagi:
a. sarana dan kegiatan ibadah;
11

b. sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan;
c. bantuan kepada Iakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, bea siswa;
d. kemaiuan dan peningkatan ekonomi umat; dan/atau
e. kemaiuan keseiahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah dan
peraturan perundang-undangan



E. Nazhir dan Shighat
Nazbir aualah pihak yang meneiima haita benua wakaf uaii Waqif untuk uikelola
uan uikembangkan sesuai uengan peiuntukannya.
ualam pasal 9 uan ŵŴ uijelaskan jenis-jenis nazhii beseita peisyaiatannya, yaitu:
a. eiseoiangan: hanya uapat menjaui Nazhii apabila memenuhi peisyaiatan :
O waiga negaia Inuonesia:
O beiagama Islam:
O uewasa:
O amanah:
O mampu secaia jasmani uan iohani: uan
O tiuak teihalang melakukan peibuatan hukum.
b. 0iganisasi: hanya uapat menjaui Nazhii apabila memenuhi peisyaiatan :
O penguius oiganisasi yang beisangkutan memenuhi peisyaiatan nazhii
peiseoiangan uan
O oiganisasi yang beigeiak ui biuang sosial, penuiuikan, kemasyaiakatan,
uan¡atau keagamaan Islam.
c. Bauan hukum: hanya uapat menjaui Nazhii apabila memenuhi peisyaiatan :
O penguius bauan hukum yang beisangkutan memenuhi peisyaiatan
nazhii peiseoiangan
O bauan hukum Inuonesia yang uibentuk sesuai uengan peiatuian
peiunuang-unuangan yang beilaku: uan
O bauan hukum yang beisangkutan beigeiak ui biuang sosial, penuiuikan,
kemasyaiakatan, uan¡atau keagamaan Islam.

1

Tugas nazhir adalah melakukan pengadministrasian harta benda wakaI, mengelola dan
mengembangkan harta benda wakaI sesuai dengan tuiuan, Iungsi, dan peruntukannya,
mengawasi dan melindungi harta benda wakaI, melaporkan pelaksanaan tugas kepada Badan
WakaI Indonesia. Dalam melaksanakan tugas tersebut, nazhir dapat menerima imbalan dari
hasil bersih atas pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaI yang besarnya tidak
melebihi 10° (sepuluh persen)
Adapun yang dimaksud dengan rar Waaf (shigat)aualah peinyataan kehenuak
waqif yang uiucapkan secaia lisan uan atau tulisan kepaua Nazhii untuk mewakafkan
haita benua miliknya. Shigat memiliki peisyaiatan yang haius uipenuhi, yaitu:
O ucapan itu mestilah menganuungi kata-kata yang menunjukkan kekalnya
(ta'biu). Tiuak sah wakaf jika ucapan uengan batas waktu teitentu.
O ucapan itu uapat uiiealisasikan segeia (tanjiz), tanpa uisangkutkan atau
uigantungkan kepaua syaiat teitentu.
O ucapan itu beisifat pasti.
O ucapan itu tiuak uiikuti oleh syaiat yang membatalkan.













13






You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->