P. 1
Keefektifan Layanan Konseling Kelompok Dalam Mengurangi

Keefektifan Layanan Konseling Kelompok Dalam Mengurangi

5.0

|Views: 2,812|Likes:
Published by adee13
KEEFEKTIFAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK DALAM MENGURANGI PERILAKU AGRESIF SISWA PANTI PAMARDI PUTRA MANDIRI SEMARANG
KEEFEKTIFAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK DALAM MENGURANGI PERILAKU AGRESIF SISWA PANTI PAMARDI PUTRA MANDIRI SEMARANG

More info:

Published by: adee13 on Dec 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

03/10/2013

KEEFEKTIFAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK DALAM MENGURANGI PERILAKU AGRESIF SISWA PANTI PAMARDI PUTRA MANDIRI SEMARANG TAHUN

2004/2005

SKRIPSI

Diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata 1 untuk memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh KURSIN NIM. 1314000007

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

ABSTRAK Kursin, 2005. Efektivitas Layanan Konseling Kelompok dalam Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang Tahun 2004/2005. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling. FIP. UNNES. Layanan konseling kelompok memberikan kesempatan kelompok untuk berinteraksi antar pribadi yang khas. Interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama pelaksanaan layanan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu secara mantap. Dalam konseling kelompok anggota kelompok dapat belajar membentuk sikap dan keberanian sosial yang bertenggang rasa dan belajar memahami kebutuhan harga diri anggota. Di dalam kelompok anggota akan saling menolong, menerima dan berempati dengan tulus. Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik mengangkat permasalahan yaitu apakah layanan konseling kelompok efektif untuk mengurangi perilaku agresif pada siswa Panti Pamardi Pura Mandiri Semarang tahun 2004/2005. diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembimbing sebagai bahan informasi dalam melakukan kegiatan layanan konseling kelompok untuk membnatu mengurangi perilaku agresif siswa. Bagi siswa hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan potensi diri dengan memanfaatkan dinamika kelompok dalam layanan konsleing kelompok dan dapat mengambil keputusan untuk kehidupan selanjutnya. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang sebanyak 57 siswa. Sampel diambil dengan teknik purposif sampling. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 8 siswa yang memiliki perilaku agresif paling tinggi. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah layanan konseling kelompok sebagai variabel bebas dan perilaku agresif sebagai variabel terikat. Data diambil dengan observasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku agresif fisik siswa pada mulanya tinggi dan setelah mendapatkan layanan konseling kelompok menurun menjadi kategori rendah sedangkan perilaku agresif verbal siswa yang pada mulanya sangat tinggi setelah mendapatkan layanan konseling kelompok juga menurun menjadi kategori rendah. Hasil uji wilcoxon memperoleh Zhitung = 2,521 > Ztabel = 1,96. Hal ini menunjukkan bahwa layanan konseling kelompok sangat efektif untuk mengurangi perilaku agresif siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang. Berkaitan dengan hasil penelitian ini penulis dapat mengajukan saran antara lain : 1) Bagi para siswa, hendaknya menaati peraturan yang ada dipanti dengan sebaik-baiknya, lebih mendekatkan diri dengan yang kuasa dan lebih menekuni ketrampilan yang telah dipilih sehingga tidak mengalami banyak masalah dalam hidupnya, 2) Bagi Panti hendaknya dalam membuat suatu peraturan tidak dibuat secara sepihak. Apabila di dalam pembuatan peraturan melibatkan siswa itu sendiri maka siswa Panti juga akan berusaha untuk konsekuen menaati peraturan yang mereka sepakati, dan 3) Bagi para pembimbing hendaknya: a) Lebih memperbanyak kegiatan-kegiatan yang sifatnya pencegahanpencegahan masalah. Misalnya lebih banyak untuk mengembangkan ketrampilan yang dimiliki siswa, sehingga siswa akan lebih konsentrasi untuk menekuni ketrampilan yang telah dipilihnya. Para pembimbing harus lebih banyak memberikan teori dan praktik kepada siswa, dan b) Lebih banyak memiliki

ii

rujukan-rujuan mengenai konseling kelompok dan mendalami rujukan tersebut untuk pengembangan ketrampilan dalam melaksanakan konseling kelompok..

iii

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto “Segala permasalahan pasti akan dapat diatasi kalau kita mau belajar dengan orang lain”. “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sunguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap”. (Alam Nasyroh, ayat 6-8).

Persembahan : Skripsi ini ku persembahkan untuk: 1. Ayah dan Ibuku tercinta yang selalu

mendoakanku, mendukungku dan memberikan semangat untuk tetap sabar dalam menjalani kehidupan dan selalu memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya. 2. Keluarga besar Bapak Sutomo yang selalu sabar menunggu kelulusanku. 3. istri tercinta dan anakku Farrel tersayang, engkau adalah sumber inspirasiku. 4. Teman-teman angakatan 2000. 5. Almamater UNNES. Bimbingan dan Konseling

v

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulilah kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Keefektifan Layanan Konseling Kelompok dalam Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang Tahun 2004/2005”. Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari hambatan berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, diantaranya kepada : 1. Dr. A.T. Soegito, SH., MM., Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menempuh studi di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Siswanto, MM., Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin penelitian untuk penyelesaian skripsi ini. 3. Drs. Suharso, M.Pd., Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling dan Dosen Pembimbing II yang telah sabar memberikan masukan dan pikirannya demi kesempurnaan skripsi ini. 4. Dra. Catharina Tri Anni, M.Pd., Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan banyak waktunya untuk memberikan bimbingan demi terselesaikannya penulisan skripsi ini. 5. Dra. Wahyuni, Kepala Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang yang telah memberikan ijin dan fasilitas selama penulis melakukan peneitian.

vi

6. Dra. Sri Sugiarti dan C. Puji Astuti, S.Pd., Pembimbing Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang yang telah banyak memberikan bantuan selama penulis melakukan penelitian. 7. Seluruh siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang yang telah bersedia menjadi sampel penelitian. 8. Sobab-sobatku Irda, Yayan, Desi, Rudi, Retno, Fajar, Sigit, Ratri, Iqbal, Eka, Koko, Bambang, dan desi unyil yang telah membantuku dan memberikan semangat kepadaku selama penyelesaian skrpsi ini, terimakasih atas perjalinan persahabatan kita. 9. Semua teman-temanku Jurusan Bimbingan dan Konseling angkatan 2000. Semoga amal dan kebaikan dari Bapak, Ibu, Saudara-saudara, temanteman yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu akan mendapatkan imbalan yang lebih dari Allah SWT. Amin Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca semua. Semarang, September 2005

Penulis

vii

DAFTAR ISI

viii

HALAMAN JUDUL........................................................................................ ABSTRAK ....................................................................................................... LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................... DAFTAR TABEL............................................................................................ DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... A. Latar Belakang Masalah ............................................................ B. Permasalahan ............................................................................. C. Penegasan Judul......................................................................... D. Tujuan Penelitian....................................................................... E. Manfaat Penelitian..................................................................... F. Garis Besar Sistematika Skripsi ................................................ BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ........................................ A. Perilaku Agresif......................................................................... 1. Pengertian Agresif ............................................................... 2. Faktor Pencetus Agresif ...................................................... B. Macam-Macam Agresif............................................................. C. Usaha untuk Mengurangi Perilaku Agresif ............................... D. Layanan Konseling Kelompok .................................................. 1. Hakekat Layanan Konseling Kelompok.............................. 2. Fungsi Layanan Konseling Kelompok ................................ 3. Proses Pelaksanaan Layanan Konseling Kelompok............ 4. Tahap-tahap Layanan Konseling Kelompok ....................... 5. Layanan Konseling Kelompok dalam Usaha Mengurangi Perilaku Agresif................................................................... E. Hipotesis ....................................................................................

i ii iii iv vi vii ix x xi 1 1 5 6 7 8 9 10 10 10 12 16 20 23 25 27 29 33 35 39

ix

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... A. Jenis penelitian .......................................................................... B. Populasi, Sampel dan Tenik sampling....................................... C. Variabel Penelitian .................................................................... D. Desain Penelitian ....................................................................... E. Metode Pengumpulan Data ....................................................... F. Validitas dan reliabilitas Instrumen........................................... G. Metode Analisis Data ................................................................

40 40 41 45 47 52 55 58

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... A. Persiapan Penelitian................................................................... B. Pelaksanaan Penelitian .............................................................. C. Hasil Penelitian.......................................................................... D. Pembahasan ...............................................................................

59 59 59 60 70

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN ............................................................. A. Kesimpulan ............................................................................... B. Saran ..........................................................................................

74 74 74

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... LAMPIRAN.....................................................................................................

76 77

x

DAFTAR TABEL

Hal Tabel 1. Jumlah Populasi pada Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang......... Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Angket Penelitian............................................... Tabel 3. Jadwal Kegiatan Layanan Konseling Kelompok ............................... Tabel 4. Hasil Persentase Skor Sub Variabel Perilaku Agresif Fisik Siswa Sebelum Layanan Konseling Kelompok ........................................... Tabel 5. Hasil Persentase Skor Sub Variabel Perilaku Agresif Verbal Siswa Sebelum Layanan Konseling Kelompok ........................................... Tabel 6. Hasil Persentase Skor Sub Variabel Perilaku Agresif Fisik Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok.............................................. Tabel 7. Hasil Persentase Skor Sub Variabel Perilaku Agresif Verbal Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok.............................................. Tabel 8. Penurunan Persentase Skor Perilaku Agresif Fisik Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok .......................................................... Tabel 9. Penurunan Persentase Skor Perilaku Agresif Verbal Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok .......................................................... Tabel 10. Ringkasan Hasil Uji Wilcoxon dari Setiap sub Variabel Perilaku Agresif Fisik .................................................................................... Tabel 11. Ringkasan Hasil Uji Wilcoxon dari Setiap Sub Variabel Perilaku Agresif Verbal ................................................................................. 71 70 69 67 66 65 64 63 42 58 62

xi

DAFTAR DIAGRAM

Hal Diagram 1. Perilaku Agresif Fisik Siswa Sebelum Layanan Konseling Kelompok.................................................................................... Diagram 2. Perilaku Agresif Verbal Siswa Sebelum Layanan Konseling Kelompok.................................................................................... Diagram 3. Perilaku Agresif Fisik Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok.................................................................................... Diagram 4. Perilaku Agresif Verbal Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok.................................................................................... Diagram 5. Penurunan Perilaku Agresif Fisik Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok .................................................................. Diagram 6. Penurunan Perilaku Agresif Verbal Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok .................................................................. 69 68 67 66 64 63

xii

DAFTAR LAMPIRAN Hal Lampiran 1. Satuan Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling Pertemuan I ................................................................................. 78

Lampiran 2. Laporan Pelaksanaan evaluasi (Penilaian) Analisis Data dan Tindak Lanjut Satuan Layanan Bimbingan dan Konseling Materi I dan II ............................................................................. Lampiran 3. Satuan Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling PertemuanII................................................................................. Lampiran 4. Laporan Pelaksanaan evaluasi (Penilaian) Analisis Data dan Tindak Lanjut Satuan Layanan Bimbingan dan Konseling Materi III..................................................................................... Lampiran 5. Satuan Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling Pertemuan III............................................................................... Lampiran 6. Laporan Pelaksanaan evaluasi (Penilaian) Analisis Data dan Tindak Lanjut Satuan Layanan Bimbingan dan Konseling Materi IV..................................................................................... Lampiran 7. Satuan Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling Pertemuan IV .............................................................................. Lampiran 8. Laporan Pelaksanaan evaluasi (Penilaian) Analisis Data dan Tindak Lanjut Satuan Layanan Bimbingan dan Konseling Materi V dan VI.......................................................................... Lampiran 9. Angket Perilaku Agresif .............................................................. Lampiran 10. Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Perilaku Agresif .... Lampiran 11. Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Perilaku Agresif .... Lampiran 12. Pedoman Observasi Fisik .......................................................... Lampiran 13 Pedoman Observasi Verbal ........................................................ Lampiran 14. Pedoman Observasi Fisik .......................................................... Lampiran 15. Hasil Observasi Perilaku Agresif Fisik ..................................... 101 102 107 112 117 119 121 123 96 95 90 89 84 83

xiii

Lampiran 16. Rekapitulasi Data Hasil Observasi Perilaku Agresif Fisik Siswa Sebelum Perlakuan................................................ Lampiran 17. Analisis Deskriptif Persentase Perilaku Agresif Fisik Siswa Sebelum Perlakuan................................................ Lampiran 18. Analisis Deskriptif Persentase Perilaku Agresif Fisik Siswa Sesudah Perlakuan ................................................ Lampiran 19. Hasil Observasi Perilaku Agresif Verbal.................................. Lampiran 20. Rekapitulasi Data Hasil Observasi Perilaku Agresif Verbal Siswa Sebelum Perlakuan ............................................. Lampiran 21. Rekapitulasi Data Hasil Observasi Perilaku Agresif Verbal Siswa Sebelum Perlakuan ............................................. Lampiran 22. Rekapitulasi Data Hasil Observasi Perilaku Agresif Verbal Siswa Setelah Perlakuan ............................................... Lampiran 23. Uji Wilcoxon Perilaku Agresif Fisik ......................................... Lampiran 24. Uji Wilcoxon Perilaku Agresif Verbal ...................................... Lampiran 25. Uji Wilcoxon Perilaku Agresif Tiap Aspek .............................. Lampiran 26. Daftar Nama Klien yang Menjadi Sampel dalam Penelitian..... Lampiran 27. Daftar Daftar Hadir.................................................................... Lampiran 28. Surat Permohonan Ijin Penelitian Dari FIP UNNES................. Lampiran 29. Surat Ijin Penelitian Dari Dinas Kesejahteraan Sosial .............. Lampiran 30. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ......................... 174 176 178 180 182 184 186 187 188 164 159 147 152 140 133

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Perilaku Agresif Dalam bab ini akan dijelaskan tentang pengertian agresif, faktor pencetus agresif, mecam-macam agresifitas,usaha untuk mengurangi agresifitas, layanan konseling kelompok.

xiv

1. Pengertian Agresif Istilah ”agresif” sering diartikan dalam percakapan sehari-hari untuk menerangkan sejumlah besar perilaku kasar atau keras. Didalam istila yang

digunakan tersebut kebanyakan di dalamnya mengandung. akibat ataupun kerugian bagi orang lain. Erat hubungannya dengan kemarahan karena kemarahan dapat terjadi jika orang tidak memperoleh apa yang mereka inginkan.Emosi, marah akan berkembang jika orang mendapat ancaman bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka kehendaki dan kemungkinan pula akan terjadi pemaksaan kehendak atas orang atau objek lain dak kemarahan akan berkembang menuju agresi. Dalam situasi tertentu orang akan melakukan agresi atau tidak me1akukan agresi ditentukan oleh tiga variabel: (1) intensitas marah seseorang yang sebagian ditentukan oleh taraf frustasi atau serangan yang menimbulkannya, dan sebagian ditentukan oleh tingkat prestasi individu terhadap frustasi yang menimbulkan amarah, (2) kecenderungan untuk mengekspresikan amarah yang pada umumnya ditentukan oleh apa yang dipelajari seseorang tentang agresifitas dan pada umumnya ditentukan oleh sifat situasi, (3) kadang-kadang kekerasaan dilakukan karena alasan lain yang lebih bersifat instrumental (O Sears,1994: 19) Lorenz yang dikutip oleh Dayakisni (2003 : 198) dorongan agresi ada di dalam diri setiap mahluk hidup yang memiliki fungsi dan peranan penting, bagi pemeliharan hidup atau dengan kata lain memiliki survival. Tetapi manusia juga memiliki mekanisme pengendalian kognitif yang membagi keharusan membunuh. Salah satu pengimbang keharusan membunuh itu adalah naluri. Menurut Lorenz bahwa perilaku agresif timbul karena adanya dorongan pemeliharaan hidup, yang berarti bahwa dengan berperilaku agresif seseorang

xv

akan merasa aman. Seseorang akan melakukan kekerasan terlebh dahulu dari pada menjadi korban kekerasan itu sendiri. Menurut Berkowitz yang dikutip oleh Sobur (2003: 432), mendefinisikan agresif adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang baik secara fisik maupun secara mental. Berkowitz menekankan bahwa perilaku agresif merupakan suatu bentak menyakiti orang lain yang dapat meyebabkan kerusakan fisik maupun mental. Perilaku agresif dapat dilakukan karena adanya tujuan tertentu ataupun tidak adanya tujuan tertentu hanya untuk pelampiasan semata Meyer yang dikutip oleh Wirawan ( 1999: 3022), Perilaku agresi ditentukan oleh proses tertentu yang tejadi diotak dan susunan saraf pusat. Agresi terjadi pada kebanyakan pria kerena hormon pada pria lebih banyak dihasilkan oleh pria. Dapat kita lihat bahwa kenakalan pada remaja banyak terjadi pada pria. Menurut Meyer bahwa perilaku agresif timbul dari otak dan susunan saraf pusat. Ini berarti bahwa perilaku agresif terjadi karena adanya goncangan-goncangan pada otak yang dapat mengakibatkan kurang kontrolnya proses kognisi yang berjalan Agresi seperti dikemukakan para ahli tersebut di atas tampak memiliki persamaan yang mendasar yaitu pada tingkah lakuyang merusak baik fisik psikis maupun benda-benda yang ada di sekitrnya. Agresi juga melekat pada setiap individu termasuk juga remaja. Remaja yang masih dalam proses perkembangan mempunnyai kebutuhan-kebutuhann pokok terutama kebutuhan rasa aman kasih sayang dan kebutuhan harga diri. Pada prinsipnya manusia ingin memiliki kebutuhannya dengan cara yang dipilih. Kemungkinan remaja akan mengalami frustasi atau perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Selanjutnya situasi frustasi akan membuat orang, marah dan akan memperbesar kemungkinan mereka melakukan perilaku agresif. Pengaruh frustasi juga dapat dilihat dari sudut pandang yang lebih luas dalam masyarakat. Depresi ekonomi menyebabkan frustasi yang mempengaruhi hampir semua orang. Orang memperoleh pekerjaan atau tidak dapat memberi sesuatu yang dinginkan dan jauh lebih dibatasi dalam semua segi kehidupan. Akibatnya, berbagai bentuk agresi menjadi lebih umum. Berdasar pendapat-pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa agresifitas adalah bentuk perilaku yang dapat menyakiti orang lain dengan tujuan

xvi

untuk pemeliharaan hidup perilaku agresif itu sendiri berasal dari proses kognitif yang terganggu. 2. Faktor Pencetus Agresif Fakor pencetus adalah faktor yang mendasari perilaku agresif itu muncul. Menurut Lorenz yang dikutip oleh Dayakisni (2003: 208) menjelaskanada empat faktor pencetus agresif yaitu: a. Deindividualis Setiap individu memiliki identitas yang berbeda-beda sehingga upaya individu untuk menyelesaikan tugas perkembangan pun berbeda-beda ada yang secara cepat dapat menyelesaiakan ada juga yang lambat untuk meyelesaikanya yang lambat meyelesaikan biasanya iri dan akann menimbulkan emosi yang berlebihan dan akan menimbulkan emosi. b. Kekuasaan dan kepatuhan Kekuasaan dan kepatuhan merupakan faktor pencetus agresif karena dengan kekuasaan seseorang akan memerintah dengan semauya sendiri sehingga bawahanya akan berusaha untuk menuruti segala sesuatu yang diperintahkan oleh atasanya. Bawahan akan menurut walaupun yang dperintahkan oleh atasan dapat menyakiti orang lain. c. Provokasi Agresif juga dikarenakan adanya provokasi dari individu atau sekelompok individu kepada individu yang lain sehingga individu yang terkena provokasi beranggapan lebih baik menyerang dari pada diserang sebagai bentuk pembelaan terhadap diri sendiri d. Pengaruh obat-obatan terlarang Selain itu juga obat-obatan terlarang merupakan faktor pencetus agresif yang dominan karena apabila individu menggunakan obat-obatan terlarang dalam dosis yang cukup tinggi maka pemikiran akan terganggu individu akan sensitif sekali mudah tersinggung, banyak terjadi akibat menggunakan obat-obatan terlarang itu individu tega untuk membunuh individu lain. David (1994: 10-18) menjelaskan faktor-faktor pencetus dari agresi adalah: a. Penguatan (reinforcement) Penguatan merupakan pengubahan perilaku yang diinginkan dengan cara menarik konsekuensi yang tidak meyenangkan apabila dilakukan terus menerus maka individu akan merasa bahwa dirinya benar dan suatu ketika individu itu

xvii

diberi hukuman maka individu itu merasa bahwa dirinya sangat diatur dan akan memunculkan emosi, akibat emosi yang tidak terkontrol maka menjadi agresif. b. Imitasi Imitasi juga salah satu faktor pencetus dari agresif karena proses imitasi merupakan proses peniruan yang utuh kepada siapa saja entah itu tokoh, orang tua, bintang film dan lain-lain. Apabila tokoh atau bintang film melakukan sesuatu maka individu itu berusaha untuk menirunya tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya. c. Norma Sosial Perilaku agresif yang dikendalikan oleh norma sosial yang sangat komplek. Misalnya geromboalan anak muda mungkin merasa bahwa membunuh untuk membalas demdam merupakan tindakan yang dapat dibenarkan sedang anggota masyarakat lain tidak menyetujui. d. Deindividualis Setiap individu memiliki identitas yang berbeda-beda sehingga upaya individu untuk menyelesaikan tugas perkembangan pun berbeda-beda ada yang secara cepat dapat menyelesaiakan ada juga yang lambat untuk menyelesaikanya, yang lambat meyelesaikan biasanya iri dan akan menimbulkan emosi yang berlebiban dan akan menimbulkan emosi. e. Agresi Instrumental Jenis agresi ini terjadi karena pelaku agresif ingin memperoleh tujuan-tujuan tertenu. Misalnya pembunuh bayaran mereka membunuh karena ada imbalan uang bukan semata-mata ada dendam atau sedang marah. Menurut Soubur, 2003: 435 menjelaskan ada dua macam faktor pencetus agresi yaitu: 1) Tingkah laku agresif yang dilakukan untuk menyerang atau melawan orang lain

xviii

2) Tingkah laku agresif yang dilakukan sebagai sikap mempertahankan diri terhadap kesenangan dari luar. Dari uraian di atas pencetus agresifitas dapat dituangka dala skema berikut: Faktor eksternal Agresifitas Faktor internal

Faktor internal agresif diantaranya adalah deidividualis karena individu memiliki identitas yang berbeda-beda sehingga antara satu individu dengan individu yang lain ada yang dapat menyelesaikan tugas perkembangan dengan sempurna dan ada yang tidak dapat menyelesaikan tugas perkembangan. Individu yang tidak, dapat menyelesaikan tugas perkembangan dengan sempurna akan merasa iri dengan individu yang lain dan memicu munculnya perilaku agresif. Faktor eksternal lebih banyak dipengaruhi oleh adanya interaksi antara individu dengan individu yang lain sehingga besar kemungkinan tetjadi persinggungan-persinggungan atau konfik. Misalnya adanya provokasi dari individu kepada individu lain yang dapat menimbulkan agresi kepada satu atau sekelompok individu. C. Macam-macam Agresifitas Ada berbagai bentuk agresi yang terjadi pada diri individu salah satu diantaranya adalah seperti yang dikemukakan oleh Murry dan Bellak dalam Sukaji 1982 yang dikutip oleh Sugiyarta SL (1990:23-24) bahwa agresifitas meliputi: agresifitas emosional verbal, agresifitas fisik sosial, agresifitas destruktif dan agresifitas a sosial. Agresif emosional verbal dapat ditampakkan dengan perilaku mudah marah atau membencil orang, akan tetapi tidak secara fisik, contohnya menghina perang mulut, mengutuk menertawakan dan lain-lain, Agresifitas fisik sosial dapat ditampakkan dengan perilaku berkelahi, membunuh membalas dendam. Agresifitas fisik sosial ini sangat berbahaya kalau terus menerus dibiarkan tanpa adanya penanganan karena bisa mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan harta benda. Agresifitas fisik a soslal dapat ditampakan dengan perilaku merusak benda-benda disekitarnya hanya untuk memabalas dendam tanpa adannya perang fisik karena orang yang dihadapi pejabat atau aparat. Individu tidak

xix

berani berhadapan langsung, cara untuk membalas demdam adalah dengan merusak harta benda yang dimiliki orang yang bersangkutan. Sedangkan agresifitas destruktif dapat ditampakan dengan perilaku menyerang binatang, memukul diri sendiri dan bunuh diri. Ini disebabkan karena individu merasa kesal dengan dirinya sendiri dan frustasi. Contohnya individu menderita penyakit yang menaun dan tidak sembuh-sembuh akibatnya menjadi tanggungan keluarga dan individu itu memutuskan untuk bunuh diri supaya tidak menjadi tanggungan keluarga lagi. Sementara Buss yang dikutip oleh Dayakisni(2003: 214-215) mengelompokkan agresi manusia dalam delapan jenis yaitu: 1 Agresi fisik aktif langsung, tindakan agrersi fisik yang dilakukan individu \ kelompok dengan cara berhadapansecara langsung dengan individu/kelompok lain yang menjadi targetnya dan menjadi kontak secara fisik langsung, seperti memukul, mendorong,menembak dan lain-lain 2 2 Agresi fisik pasif langsung tindakan agresi fisik yang dilakukan 3 oleh individu\kelompok dengan cara berhadapan dengan individu/kelompok lain yang menjadi targetnya, namun tidak terjadi kontak fisik secara langsung demonstrasi, aksi mogok,aksi diam 4 Agresi fisik aktif tidak langsung, tindakan agresi fisik yang dilakukan oleh individu/kelompok lain dengan cara tidak berhadapan secara langsung dengan individu/kelopok lain yaag menjadi targetnya, seperti merusak harta korban, membakar rumah, menyewa tukang pukul dan lain-lain. 5 Agresi fisik tidak langsung tindakan agresi fisik yang dilakukan oleh individu atau kelompok lain dengan cara tidak berhadapan dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya dan tidak terjadi kontak fisik secara langsung tidak peduli, apatis dan masa bodoh. 6 Agresi verbal pasif langsung yaitu tindakan agersif verbal yang dilakukan oleh individu/kelompok dengan cara berhadapan secara langsung seperti, menghina, memaki, marah, dan mengumpat 7 Agresi verbal pasif tidak langsung, yaitu tindakan agresi verbal yang, dilakukan oleh individu/kelompok dengan individu/kelompok lain namun tidak terjadi kontak verbal secara langsung seperti, menolak bicara, bungkam 8 Agresi verbal aktif tidak langsung, yaitu tindakan agresi verbal vang dilakuka oleh individu /kelompok dengan cara tidak. berhadapan secara langsung dengan individu/kelompok lain yang menjadi targetnya,seperti menyebar fitnah, mengadu domba

xx

9

Agresi verbal pasif tidak langsung, Yaitu tindakan agersi verbal yang dilakukan oleh individu/kelompok dengan cara tidak berhadapan dengan individu /kelompok lain yang menjadi targetnya dan tidak terjadi kontakverbal secara langsung seperti, tidak memberi dukungan, tidak menggunakan hak suara

Menurut Sear, Freedman dan Paplau yang dikutip oleh Wirawan (1996300) membagi menjadi tiga jenis agresif yaitu: 1. Perilaku melukai dan maksud melukai Perilaku melukai misalnya (menembak orang dengan pistol) belum tentu dengan maksud melukai (Misalnya, dengan tidak sengaja). Sebaliknya, maksud melukai (hendak menembak orang) belum tentu berakibat melukai (Misainya, Pistolnya kosong atau macet). Perilaku agresif adalah yang paling sedikit mempunyai unsur maksud melukai dan lebih pasti terdapat pada perbuatan yang bermaksud melukai dan berdampak sungguh-sungguh melukai. Sementara itu perilaku melukai yang tidak disertai dengan maksud melukai tidak dapat di golongkan sebagai agresif 2. Perilaku agresif yang antisosial dan prososial Perilaku agersif yang prososial (misalnya polisi membunuh teroris) biasanya tidak diagap sebagai perilaku agresif. Sementara perilaku agresif yang anti sosial (seperti teroris membunuh sandera) dianggap agresif 3. Perilaku dan perasaan agresif Ini pun harus dibedakan walaupun kenyataannya sulit dibedakan antara sumbernya adalah pada pemberian atribusi oleh korban terhadap pelaku. Dari beberapa penjelasan para tokoh di atas tentang macam-macam agresif dapat dismpulkan menurut saya adalah:

xxi

1. Agresi fisik aktif langsung, tindakan agresi fisik yang dilakukan individiu/ kelompok dengan cara berhadapan secara langsung dengan individu/kelompok lain yang menjadi targetnya dan menjai kontak secara fisik langsung, seperti memukul, mendorong,menembak dan lain-lain 2. Agresi fisik pasif langsung, tindakan agresi fisik yang dilakukan, oleh individu/kelompok dengan cara berhadapan dengan individu/kelompok lain yang menjadi targetnya, namun tidak terjadi kontak fisik secara langsung demonstrasi, aksi mogok, aksi diam, 3. Agresi verbal pasif langsung, yaitu tindakan agresif verbal yang dilakukan oleh individu/kelompok dengan cara berhadapan secara langsung seperti, menghina. memaki, marah, dan mengumat 4. Agresi verbal pasif tidak langsung, yaitu tindakan agresi verbal yang dilakukan oleh individu/kelompok dengan cara berhadapan dengan

individu/kelompok lain namun tidak tetjadi kontak verbal secara langsung seperti, menolak bicara, bungkam. Dari beberapa macam agresif dalam penelitian ini hanya akan menggunakan dua macam agresif karena disesuikan dengan judul penelitian yaitu: 1. Agresi fisik aktif langsung, tindakan agresi fisik yang dilakukan individu/ kelompok dengan cara berhadapan secara langsung dengan individu/ kelompok lain yang menjadi targetnya dan menjadi kontak secara fisik langsung, seperti memukul dan mendorong. 2. Agresi verbal pasif langsung, yaitu tindakan agresif verbal yang dilakukan oleh idividu/kelompok dengan cara berhadapan secara langsung seperti, mehina, memaki, marah dan mengumpat.

xxii

D. Usaha untuk Mengurangi Perilaku Agresif Sesuai dengan pandanggan behaviorisme yaitu ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia berkembang berdasar stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitar. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia yang buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik. Kepribadian manusia dapat dibentuk melalui rangsanganrangsangan tertentu rangsangan tertentu (Sobur, 2003: 121). Perilaku agresif dihasilkan dari lingkungan yang salah memberikan stimulus. Lingkungan keluarga pada khususnya, keluarga mengalami kerusakan sehingga anak akan melihat bahwa orang tua tidak lagi memperhatikan dan menyayangi individu sehingga individu akan membalas melaluil perilaku yang kurang sesuai dengan norma yang ada pada masyarakat. Sesuai dengan pandangan Skiner yang dipeljari dari Social Training Usaha untuk mencontrol perilaku yaitu dengan tehnik Modeling dan modifikasi. Tehik tersebut antara lain: 1. Penegakan Fisik Kita mengontrol perilaku fisik. Misalnya beberapa dari kita menutup mulut untuk menghindari diri dari menertawakan kesalahan orang lain. Orang kadang-kadang melakukan dengan bentuk lain seperti berjalan menjauhi sesorang yang telah menghina agar kita tidak kehilangan kontrol dan menyerang orang tersebut terlarang untuk mengontrol perrilaku yang tidak diinginkan. misalnya, pengendara truk minum obat perrangsang agar tidak mengantuk saat menempuh perjalanan jauh. Bantuan fisikyang dapat memudahkan pelaku tertentu, yang bisa dilihat pada orang memiliki masalah penglihatan dengan cara memakai kaca mata 2. Mengubah kondisi stimulus Suatu tehnik lain adalah mengubah stimulus yang bertanggung jawab. Misalnya, orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak,permen dari hadapanya sehingga dapat

xxiii

mengekang diri sendiri. Dalarn contoh tersebut, orang menyingkirkan diskriminatif stimuli yang menyebabkan perilaku yang diingikan. Akan tetapi kita tidak hanya menyingkirkan stimulus tertentu pada situasi tetentu. Kita tidak juga menghadirkan stimulus untuk melakukan sesuatu perilaku tertentu. misalnya kita menggunakan kaca cermin untuk menguasai tarian yang sulit dikuasai 3. Memanipilasi kondisi emosional Skiner menyatakan bahwa kadang kita mengadakan perubahan emosional dalam diri kita untuk mengontrol diri. MisaInya, beberapa orang menggunakan tehnik meditasi untuk mengatasi stres. Serupa dengan itu kita mungkin memiliki suasana hati vang baik sebelum menghadiri Pertemuan yang membuat stres agar kita dapat menunjukan perilaku yang tepat. 4. Melakukan rspon-respon lain Kita juga sering menahan diri dari melakukan perilaku yang membawa hukuman dengan melakukan hal lain. misalnya, untuk menahan diri agar tidak menyereng orang yang sangat tidak kita sukai, kita mungkin melakukan tindakan yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka. 5. Menguatkan diri secara positif Salah satu tehnik yang kita gunakan untuk mengendalikan perilaku, menurut Skiner adalah dengan self reinforcement. Kita mengendalikan diri sendiri atas perilaku yang patut dihargai. Misalaya, seorang pelajar menghadiahi diri sendiri karena telah belajar dengan keras dan dapat mengerjakan ujian dengan baik, dengan menonton film yang bagus. 6. Menghukum diri sendiri Akhirnya seseorang mungkin menghukum diri sendiri' karena gagal mencapai tujuan diri sendiri. Misalnya mahasiswa menghukum dirinya karena melakukan ujian dengan baik dengan cara menyendiri dan belajar kembali dengan giat. Sementara itu Cormier dan Cormier 1985 (dalam Abimanyu 1996) menjelaskan tentang modeling kognitif, yaitu suatu prosedur dimana konselor menunjukan apa yang dikatakan pada diri mereka sendiri sambil melakukan suatu tugas. Langkah-langkah pelaksanan modeling kognitif ada tiga tahap pelaksanaan modeling dan latihan istruksilonal diri sendiri yaitu : 1. Model tugas dan verbalsasi diri

xxiv

2.

3.

Dalam tahap ini dilakukan hal-hal (a) konselor menginstrusikan klien untuk mendengarkan apa yang dikatakan konselor, (b) konselor melakukan modeling seperti verbalisasi bimbingan diri sendiri dengan keras (c) bimbingan diri yang didemonstrasikan konselor itu meliputi lima komponen. pertanyaan tentang tuntutan-tuntutan dari tugas, menjawab pertanyaan melalui tugas rencana yang akan dikerjakan, memusatkan tugas-tugas dan bimbingan diri selama bertugas,menangani evaluasi diri jika perlu memperbaiki kesalahan, dan penguatan diri sendiri bagi penyelesaian tugas. Bimbingan eksternal yang terlihat Dalam tahap ini dilakukan kegiatan-kegiatan yang meliputi, (a) konselor menginstrusikan klien untuk melakukan tugas-tugas dan konselor melatih untuk membimbingnya, (b) klien melaksanakan tugas-tugas sedangkan konselor melatih dengan verbalisasi bimbingan diri sendiri verbalisasi itu meliputi lima komponen bimbingan diri yaitu, pertanyaan tentang tugas, menjawab pertanyaan memusatkan perhatian pada tugas dan bimbingan selama tugas, melakukan evaluasi diri dan pembetulan kesalahan dan memberi penguatan. Pekerjaan rumah Pada tahap terakhir ini konselor menginstrusikan klien unituk melaksanakan pekerjaan rumah. Instuksi itu meliputi apa yang dikerjakan seberapa banyak atau sering tugas itu dikerjakan kapan dan dimana melakukannya, dan cara melakukan monitoring diri selama mengerjakan pekerjaan rumah. disamping itu konselor juga merencanakn pertemuan face to face atau lewat telepon untuk menindak lanjuti pekerjaan rumah itu.

Perilaku agresif dapat dikontrol dengan teori yang disampaikan oleh Cormier dan Cormier di atas, yaitu melalui layanan konseling kelompok. Karena di dalam konseling kelompok terdapat beberapa metode dan teori itu seperti menguatkan diri secara positif, memanipulasi kondisi emosional, melakukan respon-respon lain dan mengubah kondisi stimulus. Layanan konseling kelompok yaitu layanan bimbingan dan konseling yang .memungkinkan peserta didik untuk memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok. Dinamika kelompok adalah suasana yang hidup, yang berdenyut, yang bergerak, yang berkembang, yang ditandai dengan adanya, interaksi antara sesama anggota kelompok. Layanan

xxv

konseling kelompok merupakan layanan konseling yang diselenggarakan dalam suasana kelompok (Sukardi,2000: 491). Dalam layanan konseling kelompok terdapat dinamika kelompok yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku agesif yaitu, mereka dapat mengembangkan berbagai ketrampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain seperti berani mengemukakan atau percaya diri dalam berperilaku terhadap orang lain, cinta diri yang dapat dilihat dari dalam berperilaku dan gaya hidupnya untuk memelihara diri, memiliki pemahaman yang tinggi terhadap segala kekurangan dan kemampuan dan belajar memahami orang lain ketegasan dan menerima kritik dan memberi kritik dan ketrampilan diri dalam penampilan dirinya serta dapat mengendalikan perasaan dengan baik.

E. Layanan Konseling Kelompok Layanan konseling kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Layanan konseling kelompok secara terpadu dalam pelaksanaan layanan bimbigan dan konseling disekolah. Sebagai kegiatan. layanan konseling kelompok merupakan upaya bantuan untuk dapat memecahkan masalah siswa dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Seperti halnya layanan bimbingan dan konseling, layanan konseling kelompok juga memiliki keistimewaan dan keunggulan dan dalam hal ini tidak saya sangkut pautkan pada aspek ekonomi atau efisiensi. Layanan konseling kelompok memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk beriteraksi antar pribadi yang khas yang tidak mungkin terjadi pada layanan konseling individu atau perorangan, Interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama pelaksanan. layanan diharapkan tujuan-tujuan layanan yang sesuai dengan kebutuha-kebutuhan individu anggota kelompok tetap tercapai secara mantap. Menurut Prayitno ( 1994: 311 .) dalam konseling kelompok terjadi tempat penempatan sikap ketrampilan dan keberanian sosial yang bertenggang rasa.

xxvi

Pada kegiatan konseling kelompok setiap anggota kelompok mendapat kesempatan untuk menggali tiap masalah yang dialami oleh anggota kelompok. Kelompok juga dapat dipakai untuk belajar

mengekspresikan perasaan,menunjukan perhatian orang lain, dan berbagai pengalaman. Pendekatan instruksional merupakan

pendekatan yang digunakan dalam layanan konseling kelompok dalam pendekatan ini menitik beratkan interaksi atau hubungan timbal balik antara anggota-angota dengan pemimpin kelompok dan sebaliknya yang akan nampak dalam dinamika kelompok. Menurut Prayitno (1995: 213) melalui dinamika kelompok setiap anggota kelompok diharapkan mampu tegak sebagai perorangan yang sedang

mengembangka dirinya dalam hubungannya dengan orang lain ini tidak berarti bahwa kedirian seseorang lebih dimunculkan dari pada kehidupan secara umum. maksudnya adalah individu diharapkan mampu mengendalikan dan mengembangkan dirinya sendiri dalam suasana kelompok sehingga individu tersebut dapat berperan aktif dalam kelompok. Pendekatan interaksional merupakan pendekatan yang digunakan dalam layanan konseling kelompok dalam pendekatan ini menitik beratkan interaks atau hubungan timbal balik antar anggota- anggota dengan leader (pemimpin kelompok) dan sebaliknya, yang akan nampak dalam dinamika kelompok. Interaksi itu selain berusaha bersama untuk dapat

xxvii

memecahkan masalah juga setiap anggota kelompok dapat belarjat untuk mendengarkan secara aktif melakukan konfrontasi dengan tepat memperlihatkan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap anggota lain.

Kesempatan memberi dan menerima dalam kelompok akan membutuhkan harga diri dan kepercayaan diri anggota. Di dalam kelompok, anggota akan saling menolong, menerima, berempati dengan tulus. Keadaan ini, membutuhkan suasana yang positif antara anggota, sehingga mereka akan merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka. Semua itu dapat terwujud apabila dinamika kelompok tumbuh dengan baik, karena dinamika kelompok mencerminkan suasana kehidupan nyata yang terjadi dan di jumpai dan merupakan kekuatan yang mendorong kehidupan kelompok. 1. Hakekat Layanan Konseling Kelompok Konseling kelompok mentepakan salah satu layanan bimbingan dan konselig yang diselenggarakan di sekolah layanan. konseling kelompok pada hakekatnya adalah wawancara, konseling antara konselor profesional sebagai pemimpin kelompok utuk memecahkan masalah dengan pertimabangan pribadi para anggota, kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Konseling kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling, kelompok memberikan dorongan dan motivasi kepada individu untuk membuat perubahan-perubahan atau bertindak dengan memanfaatkan potensi secara maksimal sehigga dapat mewujudkan diri.

xxviii

Konseling kelompok dapat dijadikan sebagai media mengembangkan pribadi kedirian dan memetingkan kepentingan kepentingan orang lain. Senada dengan apa yang dikatakan Prayitno (1995: 24) layanian konseling kelompok seharusnya menjadi tempat pengembangan sikap ketrampilan dan keberanian sosial yang bertenggang rasa. Pelampiasan pribadi yang mau menenang sendiri, benar sendiri, kuat sendiri di atas pengorbanan anggota k-elompook valig Jahn tidak- bollch berk-enibang didalam layanan k-onseling kelompok. Selanjutnya dijelaskan perwujudan perkembangan kedirian dan kehidupan kelompok harus saling menghidupi sehingga tercapai suatu keselarasan tuntunan atau kepentingan pribadi dan tuntutan kepentingan sosial. Konseling kelompok sangat berguna bagi remaja karena memberikan kesempatan untuk menyampaikan keluhan perasaan konfliknya, melepas keraguan-raguan diri, dan pada kenyataanya mereka akan senang membagi, keluhan-keluhan pada teman-teman sebayanya. Konseling kelompok memberikan kesempatan kepada remaja untuk mengubah cara menyampaikan Pertanyaan- pertanyaan secara terbuka tentang berbagai nilai. Dalam kelompok remaja dapat belajar berkomunikasi dengan teman sebaya dan akan berhasil apabila ada pembimbing yang membantunya, untuk menunjukan bagaimana menjalani latihan dengan baik dan dalam menguji keterbatasanya. Ada konseling kelompok remaja yang mempunyai keunikan mamberikan kesempatan untuk menjadi itistrumen bagi perkembangan pribadi orang lain. Karena kesempatan untuk berinteraksi sangat membanu situasi kelompok maka para anggotanya akan dapat menyampaikan apa yang diinginkan dan dapat saling membantu dalam hal pengertian diri dan peneriman diri. 2. Fungsi Layanan Konseling Kelompok Fungsi layanan konseling kelompok yang paling utama adalah kuratif atau pengentasan masalah tetapi ada fungsi-fungsi yang lain. Sukardi (2000: 453) konseling kelompok tidak hanya merupakan pertolongan yang, kuratif dan prefentif tetapi dapat

xxix

juga bersifat perseveratif klien dapat melaksanakan fungsinya di masyarakat mungkin dalam bentuk pengalaman hidupnya. Menurut Winkel (1997: 544) tujuan layanan konseling kelompok yaitu.. a) Masing-masing anggota kelompok memahami dirinya dengan baik dan menemukan dirinya sendiri. berdasarkan pemahaman diri itu dia lebih rela menerima dirinya sendiri dan lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya. b) Para ang gota kelompok mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas pada fase perkembangan mereka. c) Para anggota kelompok memperoleh kemampuan mengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri, mula-mula dalam kontra antar pribadi didalam kelompok dan kemudian juga dalam kehidupan sehari-hari diluar kehidupan kelompoknya. d) Para anggota kelompok menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih marnpu menghayati perasaan orang lain. Kepekaan dan penghayatan ini akan lebih mambuat mereka lebih sensitif juga terhadap kebutuhan-kebutuhan dan perasaanperasaan sendiri. e) Masing-masing anggota kelompok menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang lebih konstruktif f) Para anggota kelompok lebih berani melangkah maju dan menerima resiko yang wajar dalam bertindak, dari pada tinggal diam dan tidak berbuat apa-apa. g) Para anggota kelompok lebih menyadari dan menghayati makna dan kehidupan manusia sebagai kehidupan bersama,yang mengandung tuntutan menerima orang lain dan harapan akan diterima orang lain. h) Masing-masing anggota kelompok semakin menyadari bahwa halhal yang memprihatinkan bagi dirinya sendiri kerap juga menmbulkankan rasa prihatin dalam hati orang lain. Dengan, demikian dia tidak merasa teiisolir, atau seolah-olah hanya dialah yang mengalami ini dan itu. i) Para anggota kelompok belajar berkomunikasi dengan anggota-anggota yang lain secara terbuka, dengan saling menghargai dan menaruh perhatian. Pengalaman bahwa komunikasi demikian dimukingkinkan, akan membawa dampak positif dalam kehidupan dengan orang-orang yang dekat dikemudian hari

xxx

Bagi siswa konseling kelompok dapat bermanfaat sekali karena melalui interaksi dengan anggota-anggota kelompok, mereka akan mengembanngkan berbagai ketrampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan terhadap orang lain. Mengingat dalam suasana konseling kelompok mereka mungkin merasa lebih mudah

membicarakan persoalan-persoalan, yang mereka hadapi dari pada konseling individual lebih rela menerima sumbangan pikiran dari seorang rekan anggota atau dari konselor yang memimpin kelompok itu dari pada bila mereka berbicara dengan seorang konselor dalam konseling individual. dan berlatih untuk dapat menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya serta meningkatkan diri sendiri dan orang lain apa adanya serta meningkatkan pikirannya. Tujuan pelaksanaan konseling kelompok ini adalah untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa. kepercayaan diri (self confidence) dapat ditinjau dalam kepercayaan diri lahir dan batin yang diimplementasikan kedalam tujuh ciri yaitu, cinta diri dengan gaya hidup dan perilaku untuk memelihara diri, pemahaman diri sadar akan potensi dan kekurangan yang dimiliki, memiliki tujuan hidup yang jelas berfikir positif dengan apa yang diakan dikerjakandan hasilnya, dapat berkomunikasi dengan orang lain, memiliki ketegasan, penampilan diri yang baik, dan memiliki pengendalian perasaan. 3. Proses Pelaksanaan Layanan Konseling Kelompok Suatu kelompok yang sukses dihasilkan dari perencanaan yang cermat dan terperinci. perencanaan meliputi tujuan, dasar pembentukan kelompok, dan jenis kelompok masyarakat yang menjadi anggota dan hal-hal dasar lain termasuk cara mengumumkan cara merekrut anggota, pemilihan dan seleksi keanggotaan, banyaknya kelompok, lama waktu, frekuensi dan lama waktu pertemuan, struktur dan format kelompok,metode persiapan keanggotaan kelompok terbuka atau

xxxi

tertutup, keanggotaanya suka rela atau bukan, prosedur follow up dan evaluasinya. Layanan konseling keolompok tidak selalu efektitf untuk semua orang. Ada beberapa kondisi anggota yang perlu diperhatikan sehingga kelompok tidak direkomendasikan. kondisi tersebut adalah dalam keadaan kritis, misalnya depresi dan ingin bunuh diri. Sangat takut untuk berbicara dalam kelompok. klien sangat tiodak efektif didalam hubunga pribadinya, atau ia tidak sama sekali mempunyai ketrampilan sosial. klien sangat tidak menyadari akan perasaanya, motivasinya maupun pikirannya. klien menyunjukan perilaku yang menyimpang dan terlalu banyak meminta perhatian dari orang lain sehingga sangat mengganggu di dalam kelompok. Klien dalam keadaan psikotik akut yang diperkirakan akan sangat mengganggu jalanya konseling karena keterbatasan ekspresi verbal. Klien sangat agresif sehingga akan membuat anggota lain merasa takut. Suatu kelompok yang homogen atau lebih fungsional dibanding dengan kelompok heterogen (terdiri dari berbagai macam) misalnya kelompok-kelompok remaja masalah lebih difokuskan pada masalah remaja seperti hubungan antar perorangan, perkembangan seksual, identitas dn kemandirian. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam pembentukan kelompok sehingga ada kerja sama yang baik antara anggota diantaranya sebagai berikut: a. Memilih anggota kelompok Keanggotaan merupakan salah satu unsur yang sangat pokok dalam proses kehidupan kelompok tidak ada anggota tidaklah mungkin ada sebuah kelompok kegiatan atau kehidupan kelompok itu sebagian besar didasarkan atas peranan anggota kelompok. Peranan anggota kelompok menurut Prayitno (1995: 32) dijabarkan dibawah ini yang hendaknya dimainkan oleh anggota kelompok agar dinamika kelompok itu seperti yang diharapkan adalah 1) Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubunganya antar anggota kelompok

xxxii

2) Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan kelompo 3) Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama 4) Membant tersusunya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik 5) Benar-benar berusaha untuk secara efektif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok 6) Mampu mengkomunikasikan secara terbuka 7) Berusaha membantu orang lain 8) Memberikan kesempatan kepada anggota lain untuk juga menjalani perannya 9) Menyadari pentingnya kegiatan kelompok tersebut Sebagai pemimpin kelompok pada langkah-langkah ini jangan memberikan harapan-harapan/janji-janji yang terlalu berlebihan, bukan prestasi yang komersil tetapi pengumunman yang sederhana dn profesional yang memberi ganmbaran yang akurat tentang kelompok macam apa yang akan mereka masuki. informasi tersebut bisa juga dibuat brosur. b. Jumlah peserta (group size) Banyak sedikitnya jumlah anggota anggota kelompok bergantung pada umur klien, tipe atau macam kelompok,pengalaman konselor, problem yang akan ditangani. Prayitno (1995:28),mengmukakan kelompok 4-8 orang adalah kelompok yang besarnya sedang yang dapat diselenggarakan dalam bimbingan dan konseling. kelompok yang sedang ini biasanya mudah dikendalikan disamping itu dapat dimunculkan keragaman diantara anggotanya sehingga suasana dinamika kehidupan kelompok dapat hangat. Melihat beberapa pendapat tersebut di atas peneliti mempertimbngkan besarnya anggota kelompo adalah 8 (delapan ) orang. dengan asumsi bahwa anggota kelompok tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil c. Frekuensi dan Lama Pertemuan Frekuensi dan lamanya pertemuan bergantung dari tipe kelompok atau macamnya. Biasanya satu kali dalam seminggu dua jam untuk kelompok dewasa. Kelompok anak-anak dan remaja makin seringnya pertemuan dengan waktu yang pendek akan semakin baik d. Jangka Waktu Pertemuan Kelompok Mehler (2002: 41) menjelaskan lama kegiatan kelompok kira-kira sepuluh kali pertemuan minimal untuk sebagian besar program konseling kelompok.

xxxiii

Dalam usaha membantu mengurangi masalah pada situasi mendesak seperti jalan keluar, konselor akan melakukan jadwal yang baik delapan sampai sepuluh pertemuan untuk kegiatan diluar, untuk kegiatan diluar dilakukan beberapa minggu, untuk mencapai suasana kerja yang baik. Pada penelitian ini peneliti melaksanakan kegiatan layanan konseling kelompok selama enam minggu dalam satu minggu diadakan dua kali pertemuan merujuk pendpat dari Mehler. Alasan yang mendasar bahwa kelompok yang dibentuk adalah kelompok tertutup tidak menambahkan anggota kelompok baru kedalam kelompok. e. Tempat Pertemuan Setting atau tata letak ruang, bila memungkinkan untuk saling berhadapan sehingga akan membantu suasana kekompakan antar anggotanya. di samping itu kegiatan konseling kelompok dapat diselenggarakan di luar ruangan atau di ruangan terbuka. Seperti ditaman, halaman sekolah atau tempat-tempat yang suasanaya lebih nyaman dan tentram. Letak tempat pertemuan yang memberikan kenyamanan dan kemanan bagi anggotanya. Apabila tata ruang ini dilaksanakan dilaboratorium dapat dilengkapi dengan audio atau audio visual. Proses pelaksanaan dalam penelitian ini adalah dalam jenis kelompok yang akan digunakan adalah kelompok tugas, dengan anggota kelompok sebanyak 8 orang, lama pertemuan selama 45 menit, dalam satu minggu dilaksanakan 2 kali pertemuan dan tempat pertemuan dilaksanakan di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang di ruang bimbingan dan konseling. 4. Tahap- tahap Konseling Kelompok

xxxiv

Menurut Prayitno (1995: 40) tahap-tahap pelaksanaan layanan konseling kelompok ada 4 tahap yang meliputi: tahap pembentukan , tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran a. Tahap Pembentukan Tahap pembentukan merupakan tahap pengenalan , pelibatan diri, pemasukan diri, adapun tujuan dari tahap ini adalah anggota memahami pengertian dan kegiatan kelompok dalam rangka konseling kelompok, menumbuhkan suasana kelompok tumbuhnya minat anggota tumbuhnya saling mengenal percaya menerima dan membantu diantara para anggota tumbuhnya suasana bebas dan terbuka dan dimulainya pembahasan tentang tingkah laku dan perasaan dalam kelompok. Kegiatan dalam tahap pembentukan antara lain mengungkapkan pengertian dan tujuan konseling kelompok dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling, menjelaskan cara-cara dan azas-azas kegiatan kelompok, saling mengungkap /pengakraban. Peranan pemimpin kelompok dalam tahap pementukan menampilkan diri utuh dan terbuka menampilakan penghormatan kepada orang lain hangat, tulus bersedia membantu dn penuh empati sebagai contoh. a. Tahap Peralihan Tahap peralihan merupakan jembatan antara tahap pertama dengan tahap ketiga. adapun tujuan dari tahap peralihan adalah terbebaskanya anggota dari perasaan atau sikap enggan, ragu, malu atau saling tidak percaya untuk memasuki tahap berikutnya, makin mantapnya suasana kelompok dan dan memperkenalkan diri, permainan penghangatan

xxxv

kebersamaan, makin matapnya minat untuk ikut serta dalam kegiatan kelompok. Adapaun kegiatan dalam tahap ini menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya, menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap berikutnya, meningkatkan keikutsertaan anggota. Peranan pemimpin kelompok, menerima suasana yang ada secara sadar dan terbuka tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung atau mengambil alih kekuasaan, mendorong dibahasnya suasana perasaan, membuka diri sebagai contoh dan penuh empati. b. Tahap Kegiatan Tahap kegiatan bertujuan membahas suatu masalah atau topik yang relevan dengan kehidupan anggota secara mendalam dan tuntas adapun dalam tahap ini adalah pemimpin kelompok mengumumkan suatu masalah atau topik tanya jawab antara anggota dan pemimpin kelompok tentang hal-hal belum jelas yang menyangkut masalah atau topik tersebut secara tuntas dan mendalam. Adapun peranan pemimpin kelompok adalah sebagai pengatur lalu-lintas yang sabar dan terbuka, aktif tetapi tidak banyak bicara. c. Tahap Pengakhiran Pada pengakhiran merupakan penilaian dan tindak lanjut, adanya tujuan terungkapnya kesan-kesan anggota kelompok tentang pelaksanaan kegiatan, terungkapnya hasil kegiatan kelompok yang telah dicapai yang dikemukakan secara mendalam dan tuntas, terrumuskan rencana kegiatan lebih lanjut, tetap

xxxvi

dirasakannya hubungan kelompok dan rasa kebersamaan meskipun kegiatan diakhiri. Sedangkan kegiatan dalam tahap ini pemimpin kelompok mengungkapkan bahwa kegiatan akan segera diakhiri, pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan hasil-hasil kegiatan, membahas kegiatan lanjutan, mengemukakan perasaan dan harapan. Peranan pemimpin kelompok dalam tahap ini adalah tetap mengusahakan suasana hangat, bebas dan terbuka, memberikan pernyataan dan

mengucapkan terima kasih atas keikutsertaan anggota, memberikan semangat untuk kegiatann lebih lanjut, penuuh rasa persahabatan dan empati. 5. Layanan Konseling Kelompok Dalam Usaha Mengurangi Perilaku Agresif Layanan konseling kelompok yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik untuk memperoleh kesempatan dan pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok. Dinamika kelompok adalah suasana yang hidup, yang berdenyut, yang bergerak, yang berkembang, yang ditandai dengan adanya interaksi antara sesama anggota kelompok. Layanan konseling kelompok merupakan layanan konseling yang diselenggarakan dalam suasana kelompok (Sukardi, 2000:49) Layanan konseling kelompok memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk berinteraksi antar pribadi yang khas, yang tidak mungkin terjadi pada layanan konseling individual atau perorangan. Interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama pelaksanaan layanan, diharapkan tujuan-tujuan layanan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan individu anggota kelompok dapat tercapai secara mantap. Selain itu para anggota kelompok dapat berlatih untuk mengeluarkan gagasan, ide, saran maupun sanggahan yang bersifat membangun. Menurut Prayitno (1994:311) dalam konseling kelompok terjadi tempat penempatan sikap, ketrampilan dan keberanian sosial yang bertenggang rasa. Pada kegiatan konseling kelompok setiap anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk menggali tiap masalah yang dialami anggota. Kelompok dapat juga dipakai untuk belajar mengekspresikan perasasaan, menunjukkan perhatian pada orang lain, dan berbgai pengalaman. Di dalam kelompok, anggota belajar meningkatkan diri dan kepercayaan terhadap orang lain, selain itu mereka juga mempunyai kesempatan untuk meningkatkan sistem dukungan dengan cara

xxxvii

berteman secara akrab dengan sesama anggota. Dalam layanan konseling kelompok interaksi antar individu antar anggota kelompok merupakan suatu yang khas yang tidak mungkin terjadi pada konseling perorangan. Karena dalam layanan konseling kelompok terdiri dari individu yang heterogen terutama dari latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing. Prilaku agresif merupakan hasil belajar yang keliru dan upaya menanganinya adalah dengan interaksi melalui lingkungan yang intensif dan terus menerus. Interaksi yang intensif dan terus menerus dapat dilakukan dengan layanan konseling kelompok karena dengan layanan konseling kelompok ini para anggota dapat belajar bersama dengan anggota kelompok yang lain dalam memecahkan masalah yang dihadapi, selain itu pemberian alternatif-alternatif bantuan yang ditawarkan oleh para anggota kelompok yang lain lebih efektif sebab anggota kelompok tersebut sudah mengalami secara langsung. Para anggota kelompok saling dapat memberi dan menerima pendapatpendapat yang disampaikan oleh para anggota kelompok. Layanan konseling kelompok juga dapat sebagai media latihan untuk menghargai orang lain atau anggota kelompok yang lain, sehingga diharapkan dapat mengurangi emosi yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan menghargai orang lain para anggota berfikir bahwa orang lain salah, belum tentu dirinya benar. Dengan adanya anggapan seperti itu pada tiap-tiap kelompok, anggota kelompok akan mempertimbangkan baik dan buruk apa yang akan dilakukan. Dalam layanan konseling kelompok terdapat dinamika kelompok yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku agresif yaitu, mereka dapat mengembangkan berbagai ketrampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain seperti berani mengemukakan atau percaya diri dalam berperilaku terhadap orang lain, cinta diri yang dapat dilihat dari dalam berperilaku dan gaya hidupnya untuk memelihara diri, memiliki pemahaman yang tinggi terhadap segala kekurangan dan kemampuan dan belajar memahami orang lain, ketegasan dan menerima kritik dan memberi kritik dan ketrampilan diri dalam penampilan dirinya serta dapat mengenadalikan perasaan dengan baik. Dengan adanya dinamika kelompok pemimpin kelompok dapat memberikan metode untuk mengurangi perilaku agresif seperti metode pengalihan (displacement). Konsep dari metode pengalihan adalah bahwa perilaku dapat dialihkan ke subjek yang lebih lemah. Ini sangat erat sekali hubungannya dengan perilaku agresif apabila seseorang melakukan tindakan perkelahian karena hinaan atau ejekan dari orang lain maka dengan pengalihan dari perkelahian itu seseorang dapat melampiaskannya dengan ketrampilan yang ada. Dari konsep pengalihan yaitu bahwa perilaku dapat dialihkan ke subjek lebih lemah. Subjek yang lebih lemah ini dapat dialihkan melalui pekerjaan, ketrampilan binatang dan lain-lain. Apabila diterapkan di Panti Pamardi Putra

xxxviii

Mandiri Semarang sangat cocok. Seorang siswa yang sering melakukan perkelahian akan dibantu untuk melakukan pengalihan terhadap perkelahian itu dengan subjek yang lebih lemah yaitu melalui pemantapan ketrampilan yang dipilih dari siswa itu sendiri. Peran pemimpin kelompok sangat dominan karena pemimpin kelompok dapat dijadikan sebagai model pembelajaran bagi perubahan para anggota kelompok. Pemimpin kelompok harus mampu mengarahkan anggota kelompok yang bersifat nyata, supaya anggota kelompok benar-benar dapat menerapkan dikehidupan para anggota kelompok. Dari hal itu diharapkan para anggota kelompok dapat berperilaku sesuai dengan norma dan aturan yang ada pada masyarakat dan juga tidak berperilaku agresif. F. Hipotesis Berdasarkan landasan teori diatas, maka diajukan hipotesis penelitian ini adalah: “Layanan konseling kelompok efektif untuk mengurangi perilaku agresif pada siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang 2004/ 2005”.

xxxix

BAB III METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan hal yang esensial di dalam suatu penelitian ilmiah. Agar hasil penelitian yang ditemukan dapat menjadi pengetahuan yang teruji maka setiap penelitian harus mengikuti prosedur yang berlaku. Ketepatan dalam menggunakan metode dalam suatu penelitian yang disesuaikan dengan objek penelitian dan tujuan yang ingin dicapai dapat memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu dengan penguasaan metodologi penelitian secara mantap diharapkan penelitian dapat berjalan dengan baik, terarah dan sistematis. Metode-metode penelitian yang dibatasi secara sistematis sebagai berikut: Jenis Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah suatu cara untuk memberi hubungan sebab akibat (hubungan kausalitas) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminir atau mengurangi faktor-faktor lain yang dapat mengganggu. Eksperimen dilakukan dengan maksud untuk menilai hubungan sebab akibat suatu perlakuan. Dengan cara eksperimen ini peneliti sengaja membangkitkan timbulnya suatu kejadian atau keadaan kemudian diteliti bagaimana akibatnya (Arikunto,2002: 3) Arikunto (2002: 9) menjelaskan penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilaksanakan terhadap variabel masa yang akan datang. Di sebut sebagai variabel yang akan datang, belum terjadi tetapi sengaja untuk didatangkan atau diadakan oleh peneliti dalam bentuk perlakuan (treatmen) yang terjadi dalam eksperimen. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui keefektifan layanan konseling kelompok untuk mengurangi perilaku agresif.

xl

Dalam penelitian eksperimen ini, peneliti memberikan perlakuan atau eksperimen untuk kemudian mengobservasi pengaruh atau perubahan yang diakibatkan oleh modifikasi perilaku secara sengaja dan sistematis.

Populasi, Sampel Dan Teknik Sampling Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang yang terdiri dari tujuh wisma yaitu: Wisma Gajah Mada, Wisma Pangeran Diponegoro, Wisma Yos Sudarso, Wisma W.R Supratman, Wisma Imam Bonjol Wisma Hasanudin dan Wisma Jendral Sudirman dengan jumlah sebanyak 57 siswa. Tabel 1. Subjek populasi pada Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Wisma Jendral Sudirman Yos Sudarso Imam Bonjol Gajah Mada W.R Supratman Hasanudin Diponegoro Jumlah Total Jumlah siswa 8 9 8 8 8 8 8 57

Sampel dan Teknik Sampling Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah sebagian dari siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang . Melihat kondisi populasi di Panti

Pamardi Putra Mandiri Semaramng yang terdiri dari 7 wisma, maka siswa yang menjadi sampel dari penelitian ini adalah sebagian dari siswa panti . Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling.

xli

Menurut Hadi (2000: 226) purposive sampling adalah pemilihan sekelompok subjek didasarkan pada ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Adapun sampel tersebut sebanyak 8 siswa yang

mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1) Sampel berada dalam satu panti, 2) Mempunyai tingkat agresifitas yang sangat tinggi, 3) Sampel berada dalam satu angkatan masuk ke Panti. Tabel. 2. Subjek Sampel Penelitian Nama Siswa Ismu Chumaini Susilo M. Aziz Muzwadi Pujo Warsito Noer Soim Dedy Setyawan Andy Winoto Wisma Yos Sudarso Gajah Mada Imam Bonjol WR. Supratman WR. Supratman Yos Sudarso Diponegoro Yos Sudarso Kriteria Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi

Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian pengamatan peneliti (Arikunto, 1996: 99). Berdasarkan definisi tersebut, daapat disimpulkan bahwa variabel merupakan objek yang bervariasi dan dapat dijadikan sebagai titik perhatian suatu penelitian. Jenis Variabel

xlii

Variabel dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu variabel bebas atau variabel independen dan variabel terikat atau variabel dependen. Variabel tersebut adalah sebagai berikut: Variabel Bebas Variabel bebas (variabel yang mempengaruhi) adalah merupakan variabel perlakuan yang sengaja dimanipulasi untuk diketahui intensitasnya atau pengaruhnya terhadap variabel terikat (Sudjana, 1998: 124). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah Layanan Konseling Kelompok (X) Variabel Terikat Variabel terikat ( variabel yang dipengaruhi) adalah variabel yang timbul karena variabel bebas atau respon dari variabel bebas (Sudjana,1998: 124). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah Perilaku Agresif siswa (Y) Hubungan Antar Variabel Variabel dalam penelitian ini adalah layanan konseling kelompok sebagai variabel bebas dan perilsaku agresif sebagai variabel terikat. Karena dalam penelitian ini variabelnya ganda maka variabel yang satu mempunyai hubungan atau pengaruh dengan variabel yang lain. Variabel X ( variabel bebas) mempengaruhi variabel Y (variabel terikat). Dalam penelitian ini, pemberian layanan konseling kelompok sebagai variabel bebas dengan tujuan untuk mengetahui efektifitasnya dalam mengurangi perilaku agresif siswa. Dengan demikian layanan konseling kelompok

xliii

mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat yaitu berpengaruh terhadap perilaku agresif siswa Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini yang akan dijelaskan adalah variabel bebas dan variabel terikat variabel tersebut adalah sebagai berikut: Variebel bebas dalam penelitian ini adalah konseling kelompok. Layanan konseling kelompok merupakan hubungan khusus dimana klien merasa aman untuk berdiskusi tentang apa yang mereka khawatirkan dan menjengkelkan untuk mengerti apa yang mereka inginkan, melatih ketrampilan yang ada dalam diri sendiri dan untuk melatih tingkah laku yang mereka inginkan. Layanan konseling kelompok beranggotakan 4-8 orang. Lama pertemuan antara 40-60 menit tergantung dari permasalahan atau topik yang dibahas. Proses pelaksanaan terdiri dari empat tahap yaitu tahap pembentukan yang berisi perkenalan penyampaian tujuan, azas-azas serta dengan permainan sebagai pengakraban, tahap peralihan yang berisi pemantapan dari para aanggota kelompok, tahap kegiatan yang berisi tentang pembahasan masalah atau topik yang terjadi dalam kelompok, dan tahap pengakhiran yang berisi penyampaiaan hasil konseling kelompok serta tanggapan dan saran dari para anggota kelompok. Peranan pemimpin kelompok di sini sebagai pengatur jalannya lalu lintas selama kegiatan konseling berlangsung. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku agresif. Perilaku agresif adalah perilaku yang dapat merugikan orang lain yang bersifat fisik maupun non fisik Bentuk-bentuk agresifitas a. Agresi fisik aktif langsung (1) Memukul, (2) Mendorong, (3) Berkelahi, (4) Menendang, (4) Menampar b. Agresi verbal pasif langsung (1) Menghina, (2) Memaki, (3) Marah, dan (d) Mengumpat

xliv

Desain Penelitian Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam

perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dengan desain yang baik, maka pengaturan variabel-variabel dan kondisi-kondisi eksperimental dapat dilakukan secara seksama, ketat dan tertib. Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas layanan konseling kelompok dalam mengurangi perilaku agresif siswa akan dilakukan dengan quasi eksperiment atau eksperimen semu. Quasi eksperiment digunakan karena dalam penelitian ini untuk memperoleh dari suatu perlakuan tanpa kelompok kontrol. Peneliti memanipulasi suatu stimulasi atau kondisi eksperimen untuk kemudian mengobservasi efek atau pengaruh yang terjadi akibat manipulasi tersebut. Dalam penelitian ini manipulasi dilakukan dengan memberikan layanan konseling kelompok. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan one group pretes-postest desain. Dalam desain ini subjek dikenakan dua kali pengukuran (observasi). Pengukuran (observasi) yang pertama dilakukan untuk mengukur prilaku agresif siswa Panti Pamardi Putra Mandiri sebelum diberi layanan konseling kelompok (pretest) dengan kode 01, dan pengukuran (observasi) yang kedua untuk mengukur prilaku agresif sesudah diberi layanan konseling kelompok (postest) dengan kode 02, dengan desain digambar sebagai berikut: Pretest 01
Perlakuan Postest

X

02 (Arikunto, 1996:84)

xlv

Keterangan: 01 = Pengukuran (observasi) pertama, prilaku agresif sebelum diberi layanan konseling kelompok dengan menggunakan instrumen yaitu angket X 02 = Pelaksanaan layanan konseling kelompok terhadap siswa PPP Mandiri = Pengukuran (observasi) kedua prilaku agresi sesudah diberi layanan

konseling kelompok dengan instrumen yang sama dengan pengukuran yang pertama. Untuk memperjelas eksperimen dalam penelitian ini disajikan tahap-tahap rancangan eksperimen . Rancangan Eksperimen Dalam penelitian ini digunakan tahap-tahap rancangan eksperimen untuk mengetahui tingkat pengurangan perilaku agresif siswa Panti Pamardi Putra Mandiri di Semarang setelah mendapatkan layanan konseling kelompok. Untuk menggambarkan jalannya pelaksanaan penelitian eksperimen di Panti Pamardi Putra Mandiri meliputi : Pre-test Tujuan pre-test Mengetahui seberapa besar tingkat agresifitas siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang Mengetahui tingkat agresifitas baik yang fisik maupun yang non fisik Untuk menguji apakah layanan konseling kelompok dapat mengurangi perilaku agresif siswa. Perlakuan (Treatment) Tujuan perlakuan

xlvi

Untuk mengurangi agresifitas pada siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang Untuk menguji apakah layanan konseling kelompok sesuai untuk mengurangi perilaku agresif. Cara mengurangi perilaku agresif adalah dengan menggunakan cara

modeling kognitif yaitu suatu prosedur konselor untuk menunjukkan apa yang dikatakan pada diri sendiri selagi melakukan suatu tugas. Dalam modeling ini ada beberapa tahap yang harus dilalui yaitu: a) Model tugas dan verbalisasi diri, b) Bimbingan eksternal yang terlihat, c) Pekerjaan rumah. 2) Materi eksperimen Materi yang dimasukan ke dalam penelitian ini adalah yang berkaitan dengan perilaku agresif. Materi penelitian disesuaikan dengan pertemuan dalam layanan konseling kelompok sebagai berikut: a) Pertemuan I Konsep diri. Dari tema yang diajarkan para siswa lebih tahu atau lebih mengetahui bakat dan kemampuan mereka sendiri, sehingga para siswa dapat mengembangkan di Panti. Para siswa akan berkonsentrasi untuk mengembangkanya, dari itu para siswa akan mengetahui kelemahan dan kelebihan bagi dirinya sendiri. Mereka berfikir kearah masa depan tanpa berfikir yang negatif mereka akan berjuang untuk mencapainya dengan jalan yang positif tanpa ada kekerasan, mereka berkompetisi secara sehat dan sportif. b) Pertemuan II

xlvii

Perilaku agresif fisik dan agresif verbal. Dengan indikatornya yaitu individu dapat mengembangkan dan mengatur dirinya sendiri dengan melihat kelemahan dan kelebihan yang ada pada diri individu itu sendiri. c) Pertemuan III Potensi diri. Dari tema yang diajarkan para siswa akan mengetahui faktor-faktor terjadinya penyimpangan pada remaja. Tema ini disampaikan agar para siswa punya pengetahuan tentang perilaku menyimpang, macam-macam perilaku menyimpang dan bahaya dari perilaku menyimpang tersebut. d) Pertemuan IV Cara mengurangi perilaku agresif. Dengan indikatornya adalah bahwa emosi merupakan suatu totalitas yang intens dari pada perasaan dan mencakup organisme. 3) Waktu dan lama pertemuan Pertemuan akan dilakukan selama 8 kali pertemuan yang mana dalam satu minggu akan dilakukan dua kali pertemuan dengan durasi waktu selama 45 menit. Akan sering melakukan pertemuan akan semakin baik dalam usaha untuk mengurangi perilaku agresif. Peneliti anak melakukan pertemuan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. 4) Bentuk kelompok Bentuk kelompok dalam eksperimen ini adalah kelompok tugas dengan alasan karena menggunakan metode modeling maka secara langsung peneliti sebagai subjek dari modeling itu sendiri. Peneliti akan mencoba

xlviii

membentuk perilaku baru yang lebih positif tanpa adanya kekerasan yang dilakukan Post-test Tujuan post-test Mengetahui tingkat keberhasilan selama dilakukan treatment Mengetahui perubahan perilaku secara positif yang terjadi pada siswa Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang. Indikasi keberhasilan layanan konseling kelompok Siswa sudah dapat menghindari bergurau yang langsung mengenai angota tubuh teman Siswa sudah lebih sopan dalam berkomunikasi dengan temannya Siswa sudah bisa menempatakan dimana siswa tersebut berada Siswa mau menerima kritik dari orang lain dengan lapang dada Metode Pengumpulan Data Satu kegiatan yang sangat penting dalam penelitian adalah pengumpulan data. Pengumpulan data ini dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang akurat, relevan dan reliable. Untuk memperoleh data yang dimaksud maka digunakan teknik-teknik dan prosedur pengumpulan data, serta alat-alat yang diandalkan. Karena ketepatan hasil penelitian ditentukan oleh strategi dan pengambilan data yang dipergunakan (Azwar, 1997: 36). Menurut Arikunto (1996: 137) metode dan instrumen pengumpulan data adalah sama dengan alat evaluasi. Mengevaluasi adalah memperoleh data tentang

xlix

status sesuatu dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah ditentukan, karena mengevaluasi adalah juga mengadakan pengukuran. Berikut ini dijelaskan pengertian dari alat observasi dan jenis-jenis alat observasi. 1. Pengertian metode observasi Menurut Arikunto (1996: 232) metode observasi adalah salah satu cara untuk mengunpulkan data dalam suatu kegiatan penelitian dengan mengadakan pengamatan yang dilengkapi dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Sedangkan menurut Sudjana ( 1998: 84) observasi adalah alat penilaian yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai perilaku siswa atau proses kegiatan belajar mengajar selama berlangsungnya pengajaran melalui

pengamatan. Dari dua pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode observasi adalah suatu teknik penilaian yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan dilengkapi format atau blangko pengamatan sebagai instrumen sebagai pengamatan. Format yang digunakan dalam observasi divisualisasikan dalam bentuk kisi-kisi instrumen observasi. 2. Jenis-jenis Observasi Menurut Arikunto ( 1996: 146) jenis-jenis observasi ada dua macam, yaitu observasi sistematis dan observasi non sistematis. a. Observasi sistematis yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan.

l

b. Observasi non sistematis yaitu, observasi yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan. Sedangkan menurut Sudjana (1998: 85) ada tiga jenis observasi yaitu, observasi langsung, observasi tidak langsung (menggunakan alat) dan observasi partisipan. a. Observasi langsung yaitu observasi yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan diamati langsung oleh pengamat. b. Observasi tidak langsung yaitu, observasi yang dilakukan dengan

menggunakan alat seperti mikroskop, suryokonto dan sebagainya c. Observasi partisipasi yaitu pengamat harus melibatkan diri dan ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diamati. 3. Kelebihan dan Kelemahan metode observasi a. Kelebihan-kelebihan metode observasi antara lain; 1) pengamat dapat memperoleh data secara langsung dari subjek penelitian melalui aspek yang diamati 2) metode observasi lebih bermakna sebagai alat penilaian proses berperilaku dibandingkan dengan alat penilaian lain 3) Observasi dapat digunakan untuk menilai hasil belajar dan perilaku siswa selama di dalam Panti b. Kelemahan-kelemahan metode observasi 1) Pengamat biasanya kurang cermat dalam mengadakan pengamatan terhadap subjek yang diamati 2) Pengamat biasanya kurang konsentrasi dalam melakukan pengamatan

li

3) Pengamat cepat bosan, sehingga hasil pengamatan banyak dipengaruhi pendapatnya, bukan oleh perilaku yang ditunjukan oleh subjek yang diamati. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut di atas, hendaknya observasi dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk subjek yang diamati, hasilnya dibandingkan dan dicocokan untuk menentukan hasil akhir pengamatan dari semua pengamat. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi langsung dengan alat pencatat observasi dalam bentuk skala penilaian (Rating Scale). Alasan peneliti menggunakan observasi secara langsung karena peneliti ingin memperoleh data secara langsung dari subjek penelitian melalui aspek yang diamati, observasi juga lebih tepat untuk menilai perilaku agresif siswa selama di kelas maupun di luar kelas. Serdangkan alasan peneliti menggunakan alat pencatat observasi dengan teknik skala penilaian (rating scale) dalam bentuk kuantitatif deskriptif, karena peneliti dalam membuat penilaian berdasarkan deskripsi-deskripsi dari indikator yang akan diamati dengan cara memberi tanda ( V ) pada kolom penilaian yang telah dibuat skala penilaiannya apabila indikator muncul. 2. Angket Dalam penelitian ini metode angket digunakan dengan alasan bahwa angket memiliki beberapa kelebihan antara lain 1 Dalam waktu singkat secara serentak dapat diperoleh data yang relatif banyak. 2 Menghemat waktu, tenaga dan biaya dibanding dengan metode wawancara

lii

3

Dalam mengisi angket responden diberi waktu khusus sehingga dalam menjawab angket sesuai dengan kecepatan masing-masing responden

4

Secara psikologi responden tidak merasa terpaksa dan dapat menjawab lebih terbuka Karena tidak terpengaruh oleh hubungan antara peneliti dengan responden

5

Angket dapat dibuat terstadar sehingga dalam menganalisisnya juga lebih mudah. Adapun kelemahan dari metode angket adalah

1

Responden sering tidak teliti dalam menjawab pertanyan sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak dijawab

2

Apabila responden tidak memahami pernyataan, akan terjadi kemacetan dan mungkin responden tidak menjawab seluruh angket. Untuk mengatasi kelemahan dari metode angket dapat dilakukan

langkah-langkah sebagai berikut: 1 Menyatakan permohonan yang menonjol tentang perlunya jawaban dari responden dan pentingnya responden dalam menjawab pertanyan tersebut 2 Memberikan jeminan bahwa kerahasiaan jawaban dan kerahasiaan responden tetap terjaga 3 Pernyataan-pernyaatan dibuat sesederhana mungkin dan langsung mengenai sasaran sehingga responden memahami angket tersebut 4 Memberi kesempatan untuk bertanya jika ada pertanyaan yang belum jelas.

liii

Berdasarkan penjelasan diatas bentuk angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup karena sudah disediakan jawabanya sehingga responden tinggal memilih jawaban. Dilihat dari jawaban yang diberikan menggunakan angket langsung yaitu responden menjawab tentang dirinya. Berdasarkan bentuknya angket yang digunakan adalah sekala bertingkat dengan alternatif jawaban empat pilihan yaitu selalu, sering, jarang dan tidak pernah. Instrumen bebentuk sekala bertingkat Karena dalam penelitian ini bermaksud untuk mengukur intensitas kegiatan yang dilakukan siswa yang menunjukan tingkat agresifitas siswa sehingga dapat diketahui tingkat siswa dari yang rendah sampai yang tinggi. Pernyataan dalam angket dibuat dalam bentuk pernyataan positif dan negatif dengan alasan untuk mengcroscek jawaban dari responden sehingga data yang diperoleh benar-benar sesuai dengan yang sebenarnya.

1. Menyusun angket Prosedur penyusunan angket dalam penelitian ini didasarkan pada validitas konstraks. Suryabrata (2000: 43) menyatakan bahwa validitas konstuksi teoritis mempersoalkan sejauh mana skor-skor hasil pengukurang dengan instrumen yang dipersolakan itu merefleksikan konstruksi teoritis yang mendasari penyusunan alat ukur tersebut. Dengan demikian dalam menyusun instumen agar

liv

dapat mencerminkan apa yang hendak diukur konstruk.

maka didasarkan pada suatu

Dalam penelitian ini penyusunan aangket, didasarkan paada konstruk tentang perilaku agresif, yaitu instrumen dikembangkan dari variabel perilaku agresif yang selanjutnya dirinci sebagai sub variabel. Dari sub- variabel dibuat indikator-indikator untuk dikembangkan menjadi pernyataan-pernyataan. Dari kegiatan tersebut maka terbentuk kisi-kisi instrumen penelitian tentang perilaku agresif. 2. Menentukan skor Angket untuk mengukur perilaku agresif siswa jawabanya disusun dalam bentuk sekala bertingkat yang berisi alternatif pilihan jawaban dalam kolom secara urut, yaitu selalu, sering, jarang dan tidak pernah. Dengan skor yang diberikan untuk masing-masing jawaban berkisar 1-4 dengan alasan bahwa perilaku agresif merupakan suatu perilaku sebagai atribut psikologis sehingga berupa sekala bertingkat.

lv

Dalam mendeskripsikan perilaku agresif fisik dan verbal yang memiliki rentangan skor dari 1-4, sehingga interval kriteria perilaku agresif fisik dan verbal tersebut ditentukan dengan cara sebagai berikut: Persentase skor maksimum = (4 : 4) x 100% = 100% Persentase skor minimum = (1 : 4) x 100% = 25% Rentang persentase skor = 100% - 25% = 75% Banyaknya kriteria = (sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah)

Panjang kelas interval = rentang : banyak kriteria = 75% : 4 = 18,75% Berdasarkan panjang kelas interlava tersebut maka kriteria perilaku agresif fisik dan verbal dapat disusun sebagai berikut :

Tabel 3. Kriteria tingkat perilaku agresif fisik dan verbal siswa Interval Persentase Skor 81,26% - 100,00% 62,51% - 81,25% 43,76% - 62,50% 25,00% - 43,75% Kriteria Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah

lvi

Tabel. 4 Kisi- kisi Instrumen Angket Penelitian Variab el Perilaku agresif 1 Memukul . Mendorong A g Berkelahi r e Menendang s i Menampar 1,2,3,4,5,6,7, 8,9 10,11,12,13, 14,15,16 17,18,19,20,2 1,22,23,24,25 26,27,28,29, 30,31,32 33,34,35,36, 37,38 f Menghina i s Marah i k Memaki 39,40,41,42, 43, 44,45,46,47, 48, 49,50,51,52, 53, 54, a Mengumpat k t i f 55,56,57,58, 59,60 50,52,53 54 55,56,58, 57,59,60 49, 51,52 44,46,49 45,47,48 39,40,43 41,42 10,11,13, 14, 17,18,19, 22,23 27,29,30, 31 33,34,37, 35,36,38 26,28,32 24, 25 12,15 1,2,5,6,7 3,4, 8,9 Sub-variabel Indikator Item + -

l a n g

lvii

s u n g

2. Agresi verbal pasif langsung

Validitas Dan Reliabilitas Validitas dan Reliabilitas Angket Validitas angket Validitas adalan suatu ukuran yang menunjukan tingkat kesahihan suatu instrumen. Dalam penelitian ini menggunakan uji validitas internal. Menurut Arikunto (1996:162) instrumen dikatakan memiliki validaitas internal apabila setiap bagian instrumen mendukung “misi” instrumen secara keseluruhan yaitu menggungkap data dari variabel yang dimaksud, sedangkan tehniknya menggunakn rumus product moment angka kasar dari Person:

lviii

rx y =

NXY − (∑ X )(∑ Y ) ( N ∑ X 2 − (∑ Y ) 2 )( N ∑ Y 2 − (∑ Y ) 2

Keterangan : rxy N ∑X ∑Y = Koefisien korelasi item = Jumlah siswa = Skor item nomor tertentu = Skor total (Arikunto, 1996: 162) Reliabilitas Angket Reliabilitas adalah merupakan ketepatan atau tingkat persepsi suatu ukuran atau alat pengukur (Nasir, 1998: 169). Dalam penelitian ini untuk mengukur reliabilitas adalah dengan menggunakan rumus alpha, (Arikunto, 1996: 190). Rumus Alpha sebagai berikut :
2  K   Σσb  r11 =  1  1 −  σb 2   K 

Keterangan : r11 K = Reliabilitas instrumen = Banyaknya butir pertanyaan

∑σb2 = Jumlah varian butir σb2 = Varian total

Validitas dan Reliabilitas Observasi Validitas Observasi

lix

Untuk mengetahui validasi lembar observasi dalam penelitian ini digunakan validitas isi dengan prosedur mengonsultasikan terlebih dahulu lembar observasi yang telah disusun pada orang yang ahli untuk dianalisis tingkat kecocokan dengan teoritisnya. Langkah ini merupakan salah satu analisis validasi isi. Reliabilitas Observasi Untuk observasi dilakukan uji reliabilitas terhadap observer yang akan melakukan ratings atau penilaian. Prosedur ini ditempuh dengan tujuan untuk menguji apakah penilai atau riter mampu memberikan penilaian yang sama dengan riter lain atau tidak terhadap suatu obyek pengamatan yang sama. Jika ternyata penilaiannya sama atau konsisten antara riter yang satu dengan riter yang lainnya, maka kedua riter ini layak untuk dipakai. Adapun rumus reliabilitas riter yang digunakan adalah sebagai berikut : r
2

=

Ss 2 − Se 2 dimana, Ss 2 + (k − 1) Se 2

∑ i 2 − (∑ R 2 )/n − (∑ T 2 )/k + (∑ i) 2 /nk Se = (n − 1)(k − 1) Ss =
2

(∑ T 2 ) /k + (∑ i) 2 /nk (n − 1)

Keterangan: r = koofesien korelasi ss2 = varians antar-subjek yang dikenai rating se2 = varians error, yaitu varians interaksi antara subjek (s) dan rater (r) (Saefudin Azwar, 2001)

lx

Metode Analisis Data Analisis data merupakan salah satu langkah yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Dengan analisis data maka akan dapat membuktikan hipotesis dan menarik tentang masalah yang akan diteliti digunakan rumus wilcoxon sebagai berikut:
n(n + 1) 4 n(n + 1)(2n + 1) 24 T−

T − µT = z= σT

Keterangan : n = Jumlah sampel T = Jumlah jenjang yang kecil ( Sugiyono, 1997 : 154 ) Dari hasil hitung tersebut dikonsultasikan dengan indeks tabel wilcoxon. Jika hasil analisis lebih besar dari indeks tabel wilcoxon, maka berarti konseling kelompok dianggap efektif dalam mengurangi perilaku agresif.

lxi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini dipaparkan tentang hasil penelitian Yang telah dilaksanakan, analsis data beserta permbabasannya Hasil penelitian ini diperoleh dari penelitian yang dilaksanakan di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang dengan persiapan dan pelaksanaan sebagai berikut.

A. Persiapan Penelitian
Pemberian layanan konseling kelompok tentang Perilaku agresif di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang dengan beberapa persiapan. Adapun persiapan

lxii

kegiatan tersebut antara lain: 1. Menyusun instrumen penelitian. 2. Mengurus Perijinan

B. Pelaksanaan Penelitian
1. Membagi angket tentang perilaku agresif kepada siswa untuk memperoleh calon sampel penelitian. 2. Berdasarkan hasil analsis angket perilaku agresif tersebut selanjutnya diambil 8 siswa yang mempunyai skor perilaku agresif paling tinggi untuk dijadikan sebagai sampel penelitian. 3. Mempersiapkan jadwal untuk memberikan materi layanan 4. Pemberian layanan ini dilaksanakan pada bulan juli sampai bulan Agustus 2005.

Tabel 5.Jadwal Kegiatan layanan Konseling Kelompok
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tanggal 16 Juli 2005 19 Juli 2005 21 Juli 2005 23 Juli 2005 26 Juli 2005 27 Juli 2005 29 Juli 2005 02 Agustus 2005 04 Agustus 2005 09 Agustus 2005 - Pre test - Konsep diri - Konsep diri - Perilaku agresif fisik dan verbal - Potensi diri - Cara mengurangi perilaku agresif - Cara mengurangi perilaku agresif - Perlakuan berupa pemberian teknik modeling I - Perlakuan berupa pemberian teknik modeling II - Perlakuan berupa pemberian teknik 45 menit 45 menit Materi Waktu 45 menit 45 menit 45 menit 45 menit 45 menit 45 menit 45 menit 45 menit

lxiii

modeling III 11 12 13 11 Agustus 2005 13 Agustus 2005 23 Agustus 2005 - Perlakuan berupa pemberian teknik modeling IV - Pengakhiran treatmen - Post test 45 menit 45 menit 45 menit

C. Hasil Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu: 1) mengetahui perilaku agresif fisik dan verbal siswa Panti Pamardi Purta Mandiri Semarang sebelum layanan konseling kelompok, 2) mengetahui perilaku agresif fisik dan verbal siswa Panti Pamardi Purta Mandiri Semarang sesudah layanan konseling kelompok, dan 3) mengetahui efektifitas layanan konseling kelompok dalam mengurangi perilaku agresif siswa Panti Pamardi Purta Mandiri Semarang.

1. Perilaku Agresif Fisik dan Verbal Sebelum Dilakakukan Konseling Kelompok Data hasil penelitian terhadap perilaku agresif fisik mapun verbal siswa sebelum dilaksankan layanan konseling kelompok dapat dilihat pada tabel dan diagram batang berikut.

Tabel 6.Hasil Persentase Skor Sub Variabel Perilaku Agresif Fisik Siswa Sebelum Layanan Konseling Kelompok
No Sub Variabel 1 Memukul 2 Mendorong 3 Berkelahi 4 Menendang 5 Menampar Sumber : Data Penelitian % Skor 82,81 89,92 67,42 81,88 78,44 Kriteria Sangat tinggi Sangat tinggi Sedang Tinggi Tinggi

lxiv

Lebih jelasnya perilaku agresif fisik siswa sebelum dilakukan konseling kelompok dapat dilihat pada diagram batang berikut ini:

Gambar 1.
Persentase Perilaku Agresif Fisik Sebelum Layanan Konseling Kelompok Berdasarkan tabel 6 dan gambar 1 di atas terlihat bahwa sebelum mendapatkan layanan konseling kelompok, perilaku agresif fisik siswa yaitu mendorong (89,92%) dan memukul (82,81%) yang keduanya masuik dalam kategori tinggi, menendang (81,88%) dan menampar (78,44) yang keduanya masuk dalam kategori tinggi sedangkan perilaku agresif fisik berkelahi (67,42%) masuk dalam kategori sedang.

Tabel 7.Hasil Persentase Skor Sub Variabel Perilaku Agresif Verbal Siswa Sebelum Layanan Konseling Kelompok
No. Sub Variabel 1 Menghina 2 Memaki 3 Marah 4 Mengumpat Sumber : Data Penelitian % Skor 90,76 86,80 91,17 84,69 Kriteria Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi

lxv

Lebih jelasnya perilaku agresif fisik siswa sebelum dilakukan layanan konseling kelompok dapat dilihat pada diagram batang berikut ini:

Gambar 2.
Persentase Perilaku Agresif Verbal Sebelum Layanan Konseling Kelompok Berdasarkan tabel 7 dan gambar 2 di atas terlihat bahwa sebelum mendapatkan layanan konseling kelompok, perilaku agresif verbal siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang yaitu menghina (90,76%), memaki (86,8%), marah (91,17%) dan mengumpat (84,69%) semuanya masuk dalam kategori sangat tinggi. 2. Perilaku Agresif Fisik dan Verbal Sebelum Dilakakukan Konseling Kelompok Data hasil penelitian terhadap perilaku agresif fisik mapun verbal siswa setelah dilaksankan layanan konseling kelompok dapat dilihat pada tabel dan diagram batang berikut.

Tabel 8.Hasil Persentase Skor Sub Variabel Perilaku Agresif Fisik Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok No. Sub Variabel % Skor Kriteria 1 Memukul 37,42 Rendah 2 Mendorong 54,84 Rendah

lxvi

3 Berkelahi 4 Menendang 5 Menampar Sumber : Data Penelitian

35,47 49,69 37,08

Rendah Rendah Rendah

Lebih jelasnya perilaku agresif fisik siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang setelah dilakukan layanan konseling kelompok dapat dilihat pada diagram batang berikut ini:

Gambar 3.
Persentase Perilaku Agresif Fisik Setelah Layanan Konseling Kelompok Berdasarkan tabel 8 dan gambar 3 di atas terlihat bahwa setelah mendapatkan layanan konseling kelompok, perilaku agresif fisik siswa yaitu mendorong (54,84%), menendang (49,69%), memukul (37,42%), berkelahi (35,47%) dan menampar (37,08%) semuanya termasuk dalam kategori rendah.

Tabel 9.Hasil Persentase Skor Sub Variabel Perilaku Agresif Verbal Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok
No. Sub Variabel 1 Menghina 2 Memaki 3 Marah 4 Mengumpat Sumber : Data Penelitian % Skor 49,06 47,58 43,67 41,98 Kriteria Rendah Rendah Rendah Rendah

lxvii

Secara grafis perilaku agresif verbal siswa setelah diberikan layanan konseling kelompok dapat dilihat pada grafik berikut ini :

Gambar 4.
Persentase Perilaku Agresif Verbal Setelah Layanan Konseling Kelompok

Berdasarkan tabel 9 dan gambar 4 di atas terlihat bahwa setelah mendapatkan layanan konseling kelompok, perilaku agresif verbal siswa yaitu menghina (49,06%), memaki (47,58%) dan marah (43,67%) dan mengumpat (41,98%) yang seluruhnya masuk dalam kategori rendah. 3. Penurunan Perilaku Agresif Fisik dan Verbal Setelah Dilakakukan Konseling Kelompok Penurunan perilaku agresif fisik mapun verbal siswa setelah dilaksankan layanan konseling kelompok dapat dilihat pada tabel dan diagram batang berikut. Tabel 10.Penurunan Persentase Skor Perilaku Agresif Fisik Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok No 1 2 3 Sub Variabel Memukul Mendorong Berkelahi % Skor Sebelum 82,81 89,92 67,42 % Skor Sesudah 37,42 54,84 35,47 Penurunan 45,39 35,08 31,95

lxviii

4 Menendang 5 Menampar Sumber : Data Penelitian

81,88 78,44

49,69 37,08

32,19 41,36

Lebih jelasnya penurunan perilaku agresif fisik siswa setelah dilakukan layanan konseling kelompok dapat dilihat pada diagram batang berikut ini:

Gambar 5.
Penurunan Perilaku Agresif Fisik Setelah Layanan Konseling Kelompok Berdasarkan grafik 10 di atas menunjukkan bahwa seluruh aspek perilaku agresif fisik siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang setelah diadakan layanan konseling kelompok mengalami penurunan. Dari ke lima aspek perilaku agresif fisik tersebut, penurunan yang paling besar adalah pada aspek memukul dan aspek menampar yaitu 45,39% dan 41,16%, kemudian dikuti oleh aspek mendorong (35,08%), aspek menendang (32,19%) dan yang terakhir yaitu aspek berkelahi (31,65%). Penurunan dari kelima aspek perilaku agresif verbar siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang meliputi aspek memukul dan aspek menampar, aspek mendorong, aspek menendang dan aspek berkelahi setelah diberikan

lxix

layanan konseling kelompok dapat dilihat pada tabel dan diagram batang berikut ini :

Tabel 11.Penurunan Persentase Skor Perilaku Agresif Verbal Siswa Setelah Layanan Konseling Kelompok
No Sub Variabel % Skor Sebelum 90,76 86,80 91,17 84,69 % Skor Sesudah 49,06 47,58 43,67 41,98 Penurunan 41,70 39,22 47,50 42,71

1 Menghina 2 Memaki 3 Marah 4 Mengumpat Sumber : Data Penelitian

Lebih jelasnya penurunan perilaku agresif verbal siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang setelah dilakukan layanan konseling kelompok dapat dilihat pada diagram batang berikut ini:

lxx

Gambar 6.
Penurunan Perilaku Agresif Verbal Setelah Layanan Konseling Kelompok

Berdasarkan grafik 11 di atas menunjukkan bahwa seluruh aspek perilaku agresif verbal siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang setelah diadakan layanan konseling kelompok mengalami penurunan. Dari ke empat aspek perilaku agresif verbal tersebut, penurunan yang paling besar adalah pada aspek memukul dan menampar yaitu 45,39% dan 41,16%, kemudian dikuti oleh aspek mendorong (35,08%), aspek menendang (32,19%) dan yang terakhir yaitu aspek berkelahi (31,65%).

4. Efektivitas Layanan Konseling Kelompok dalam Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Analisis data untuk mengetahui efektivitas layanan konseling kelompok dalam mengurangi perilaku agresif fisik dan verbal siswa dilakukan dengan analisis statistik non parametrik yaitu uji wilcoxon. Berdasarkan hasil uji wilcoxon terhadap data perilaku agresif fisik siswa diperoleh Zhitung = 2,521 > Ztabel = 1,96 dan untuk data perilaku agresif verbal diperoleh Zhitung = 2,521 > Ztabel = 1,96. Dengan demikian menunjukan bahwa layanan konseling kelompok efektif untuk menurunkan perilaku agresif fisik maupun verbal siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang tahun 2004/2005.

lxxi

Secara, lebih spesifik berikut ini disajikan hasil analisis tentang efektivitas layanan konseling kelompok dalam mengurangi perilaku agresif siswa dari tiap-tiap sub variabel.

Tabel 12.Ringkasan Hasil Uji Wilcoxon dari Setiap sub Variabel Perilaku
Agresif Fisik Sub Variabel Memukul Mendorong Berkelahi Menendang Menampar Sumber : Data Penelitian Zhitung 2,521 2,521 2,521 2,521 2,521 Ztabel 1,96 1,96 1,96 1,96 1,96 Kriteria Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan

Berdasarkan tabel 12 tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan perilaku agresif fisik antara sebelum dan sesudah adanya layanan konseling kelompok ditinjau dari tiap-tiap sub variabel yaitu memukul, mendorong,berkelahi, menendang dan menampar.

Tabel 13.Ringkasan Hasil Uji Wilcoxon dari Setiap Sub Variabel Perilaku
Agresif Verbal Sub Variabel Menghina Memaki Marah Mengumpat Sumber : Data Penelitian Zhitung 2,521 2,521 2,521 2,521 Ztabel 1,96 1,96 1,96 1,96 Kriteria Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan

Berdasarkan tabel 13 tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan perilaku agresif verbal antara sebelum dan sesudah adanya layanan konseling kelompok ditinjau dari tiap-tiap sub variabel yaitu menghina, memaki, marah dan mengumpat.

lxxii

D. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa ada penurunan perilaku agesif fisik dan verbal pada siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang setelah mendapatkan layanan konseling kelompok. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa rata-rata perilaku agresif fisik dan verbal siswa setelah adanya layanan konseling kelompok lebih rendah dibandingkan dengan sebelum mendapatkan layanan konseling kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa layanan konseling kelompok yang berisi materi tentang konsep diri, perilaku agresif fisik dan verbal, pontensi diri dan cara mengurangi perilaku agresif sangat efektif untuk mengurangi perilaku agresif siswa. Dengan adanya layanan konseling kelompok, maka kebiasaan buruk, siswa secara fisik seperti memukul, mendorong, berkelahi, menendang dan menampar menjadi menurun. Sebelum diadakannya layanan konseling kelompok siswa mempunyai tingkat agresifitas seperti memukul dan mendorong yang termasuk kategori sangat tinggi, berkelahi dan menendang yang masuk dalam kategori tinggi serta menampar yang masuk dalam kategori sedang, setelah adanya layanan konseling kelompok pada indikator memukul. berkelahi dan menampar agresifitas siswa menjadi menurun dalam kategori rendah sedangkan indikator mendorong dan menendang menurun menjadi kategoro sedang, Penurunan agresifitas siswa tersebut setelah diadakannya layanan konselinge kelompok juga terlihat pada perilaku verbalnya yaitu kebiasaan menghina dan memaki yang sebelumnya masuk dalam kategori sanggat tinggi dapat menurun menjadi kategori sedang. dan

lxxiii

indikator marah dan mengumpat yang sebelumnya masuk dalam kategori tinggidapat menurun dalam kategori rendah. Dengan demikian secara umum dapat dijelaskan bahwa layanan konseling sangat efektif untuk menurunkan perilaku agresif siswa baik secara fisik maupun secara verbal. Menurunnya sikap agresifitas siswa setelah mendapatkan layanan konseling kelompok disebabkan melalui layanan konseting kelompok tersebut para siswa yang memiliki agresifitas tinggi memperoleh kesempatan. untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok. Dinamika kelompok adalah suasana yang hidup, yang berdenyut, yang bergerak, yang berkembang, yang ditandai dengan adanya interaksi antara sesama anggota kelompok. Dalam layanan konseling kelompok sangat memungkinkan siswa untuk dapat mengembangkan berbagai ketrampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain seperti berani mengemukakan atau percaya diri dalam berperilaku terhadap orang lain, cinta diri yang dapat dilihat dan dalam berperilaku dan gaya hidupnya untuk memelihara diri, memiliki pemahaman yang tinggi terhadap segala kekurangan dan kemampuan dan belajar memahami orang lain, ketegasan dan menerima, kritik dan memberi kritki dan ketrampilan diri dalam penampilan dirinya serta dapat mengendalikan perasaan dengan baik. Hal tersebut senada dengan pendapat Prayitno (1994, 311) yang menyatakan bahwa melalui konseling kelompok dapat memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk berinteraksi antar pribadi yang, khas yang tidak mungkin terjadi pada layanan konseling individu

lxxiv

atau perorangan. Layanan konseling kelompok dapat dijadikan sebagai tempat penempatan sikap ketrampilan dan keberanian sosial yang bertenggang rasa. Secara nyata terlihat dari hasil penelitian ini sebelumnnya, para siswa mempunyai perilaku yang cenderung selalu menggunakan kekerasan baik secara fisik maupun verbal untak melampiaskan kekesalan hatinya atau untuk membela temannya entah mereka berada dalam posisi yang benar ataupun salah. Akan tetapi setlah mendapatkan layanan konseling kelompokmereka mendapatkan pengetahuan tentang konsep dirinya, pengetahuan tentang perilaku agresif baik fisik maupun verbal pengetahuan tentang potensi dirinya dan mendapatkan ketrampilan tentang cara mengurangi perilaku agresif melalui kegiatan modeling yang dilakukan oleh peneliti. Di dalam kegiatan modeling klien lebih banyak berperan penting untuk merubah dirinya sendiri. Klien akan menggunakan kognisinyauntuk meresapi bahwa perilaku yang dilakukan tidak sesuai dengan norma yang ada di masyarakat. Selain itu di dalam modeling klien dapat berlah untuk mengubah stimlus yang ada pada dirinya. Misalnya konselor mencontohkan hal yang baik kepada klien, walaupun sulit untuk dilakukan k1ien akan berusaha melakukannya. Perilaku yang lain yang dapat ditampakkan dalam proses modeling yaitu melakukan respon lain, di dalam proses modeling klien juga sadar bahwa mereka dituntat untuk melakukan respon lain yang lebih baik dibandingkan dengan perilaku yang sebelumnya. Apabila klien bisa untuk mengontrol dirinya sendiri secara baik yang ditunjukkan dari kemampuan klien melakukan respon lain yang lebih baik maka klien akan berusaha untuk menguatkan diri secara positif. Apabila klien mendapatkan masalah maka k1ien akan memandang bahwa masalah tersebut akan dapat dipecahkan klien sendiri tanpa harus merugikan orang lain,

lxxv

menjadikan mereka sadar akan pentingnya berperilaku yang ramah, sopan, sabar, tenggang rasa, bersahabat dan pemaaf. Menyikapi hasil penelitian ini, maka dapat dijelaskan bahwa perilaku agresif seseorang cenderung dapat dikurangi dengan pembentukan

lingkunganyang kondusif seperti yang telah peneliti ciptakan saat melakukan modeling.Kegiatan modeling dengan teknik bermain peran yang bertujuan untuk mengembangkan sikap pemaaf rendah hati dan bersahabat tersebut mampu meningkatkan kesadaran siswa yang memiliki perilaku agresif akan arti penting sikap-sikap tersebut dalam kehidupan sosialnya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Sobur (2003:121) yang menyatakan bahwa, manusia berkembang berdasar stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitar. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia yang buruk dan lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik. Dengan kata lain kepribadian manusia dapat dibentuk melalui rangsangan-rangsangan tertentu.

lxxvi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dari hasil penelitian di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Perilaku agresif fisik siswa sebelum mendapatkan layanan konseling kelompok adalah tinggi dengan skor 288,3 dan setelah mendapatkan layanan konseling kelompok menurun menjadi rendah dengan skor 154,3 sedangkan perilaku agresif verbal siswa yang pada mulanya sangat tinggi dengan skor

320,3 setelah mendapatkan layanan konseling kelompok turun mengalami penurunan dengan skor 166,9. 2. Layanan konseling kelompok sangat efektif untuk menurunkan perilaku agresif siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang. Hal ini ditujukan dari hasil uji Wilcixon yang memperoleh harga Zhitung > Ztabel.

lxxvii

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditunjukan beberapa saran, yaitu : 1. Bagi Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang hendaknya persiapan untuk melaksanakan layanan konseling kelompok sebagai upaya mengurangi perilaku agresif siswa-siswa yang memliki tingkat agresifitas tinggi. 2. Bagi para siswa di Panti Pamardi Putra Mandiri Semarang, hendaknya mengikuti layanan konseling kelompok dengan sungguh-sungguh agar dapat mengembangkan berbagai ketrampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri, cinta diri, pemahaman diri atas segala kekurangan dan kemampuan, ketegasan dalam menerima kritik dan memberi kritki serta dapat mengendalikan perasaan dengan baik sehingga adanya gejolak yang ada dalam dirinya dapat diredam yang pada akhirnya dapat menurunkan perilaku agresifnya.

lxxviii

lxxix

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, 1996. Teknik-teknik Dasar Konseling. Jakarta : Gahlia Indonesia. Arikunto,1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : RinekaCipta , 2000. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta Rineka Cipta Azwar, 1997. Tes dan Pengukuran. Jakarta : Rineka Cipta , 2001. Validitas dan Reliabilitas. Jakarta : Rineka Cipta Dayakisni, 2003. Psikologi Sosial.. Malang : UMM. Depdikbud, 1996. Modul Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Depdikbud. Haryadi, 1993. Perkembangan Peserta Didik. Semarang : IKIP Semarang Press. Hadi, 2000. Metodologi reseach. Yogyakarta : Ando Offset. Sobur, 2003. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia. O. Sears. 1994. Psikologi Sosial. Jakarta : Erlangga. Prayitno, 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta : Gahlia Indonesia. Prayitno dan Amti, 1994. Dasar-dasar Bimbingan Konseling. Jakarta : DIKBUD Sobur, 2003. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia. Sudjana, 1998. Statistika. Yogyakarta : Andi Offset Sugiyono, 1997. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta. Sugiyarta S.L., 1990. Paper Hubungan Pola Asuh Orang Tua terhadap Agresifitas (Remaja). Fakultas Pasca Sarjana UNPAD.

lxxx

Sukardi, 1996. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta. Suryabrata, 2000. Tes dan Pengukuran. Jakarta : Ghalia Indonesia Nasir. 1996. Metodologi Penelitian. Jakarta : Gahlia Indonesia. Nawawi, 1998. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Wirawan, 1999. Psikologi Sosial. Jakarta : Balai Pustaka. _____________, 2000. Psiokologi Remaja. Jakarta : PT. Raya Grafindo persada. Winkel, 1997. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta : PT. Gramedia.
77

lxxxi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->