P. 1
Makalah UU Minerba

Makalah UU Minerba

|Views: 3,205|Likes:
Published by 'Diduga Mirip Izul'

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: 'Diduga Mirip Izul' on Dec 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/02/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Mineral dan batubara merupakan sumber daya alam tak terbarukan yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, serta memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Kegiatan usaha penambangan mineral dan batubara yang mengandung nilai ekonomi dimulai sejak adanya usaha untuk mengetahui posisi, area, jumlah cadangan, dan letak geografi dari lahan yang mengandung mineral dan batubara. Setelah ditemukan adanya cadangan maka proses eksploitasi (produksi), angkutan, dan industri penunjang lainnya akan memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi sehingga akan terbuka persaingan usaha di dalam rangkaian industri tersebut. Sebagai kegiatan usaha, industri pertambangan mineral dan batubara merupakan industri yang padat modal (high capital), padat resiko (high risk), dan padat teknologi (high technology). Selain itu, usaha pertambangan juga tergantung pada faktor alam yang akan mempengaruhi lokasi dimana cadangan bahan galian. Dengan karakteristik kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara tersebut maka diperlukan kepastian berusaha dan kepastian hukum di dunia pertambangan mineral dan batubara. Tahun 2009 merupakan babak baru bagi pertambangan mineral dan batubara di Indonesia dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (selanjutnya dalam paper ini disebut UU

Minerba), menggantikan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Perubahan mendasar yang terjadi adalah perubahan dari sistem kontrak karya dan perjanjian menjadi sistem perijinan, sehingga Pemerintah tidak lagi berada dalam posisi yang sejajar dengan pelaku usaha dan menjadi pihak yang memberi ijin kepada pelaku usaha di industri pertambangan mineral dan batubara. Kehadiran UU Minerba tersebut menuai pro dan kontra. Ada sementara kalangan yang berpendapat bahwa beberapa kebijakan dalam UU Minerba tersebut tidak memberikan kepastian hukum terkait dengan kegiatan usaha di bidang pertambangan mineral dan batubara dan memberikan hambatan masuk bagi pelaku usaha tertentu. B. Tujuan Penulisan
1) Tujuan Obyektif, untuk memahami bagaimana kelemahan UU Minerba ini

sebenarnya secara obyektif.
2) Tujuan Subyektif, untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis di

bidang Hukum Pertambangan khususnya yang terkait UU Minerba
3) Dalam rangka memenuhi tugas akademis pada mata kuliah Hukum

Pertambangan di STIH Sultan Adam Banjarmasin C. Manfaat Penulisan
1) Manfaat praktis, untuk menambah ilmu dan wawasan penulis di bidang

penelitian karya ilmiah di bidang ilmu hukum khususnya Hukum Pertambangan; dan

2) Manfaat teoritis, diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran di

bidang ilmu Hukum Pertambangan secara teoritis guna pengembangan ilmu pengetahuan

BAB II GAMBARAN UMUM MENGENAI UU MINERBA

Pada dasarnya UU Minerba mengandung pokok-pokok pikiran sebagai berikut: 1. Mineral dan batubara sebagai sumber daya yang tak terbarukan dikuasai oleh negara dan pengembangan derta pendayagunaannya dilaksanakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah bersama dengan pelaku usaha. 2. Pemerintah selanjutnya memberikan kesempatan kepada badan usaha yang berbadan hukum Indonesia, koperasi, perseorangan, maupun masyarakat setempat untuk melakukan pengusahaan mineral dan batubara berdasarkan izin, yang sejalan dengan otonomi daerah, diberikan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya masing-masing. 3. Dalam rangka penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah, pengelolaan pertambangan mineral dan batubara dilaksanakan berdasarkan prinsip eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi yang melibatkan pemerintah dan pemerintah daerah. 4. Usaha pertambangan harus memberi manfaat ekonomi dan sosial yang sebesar-besar bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. 5. Usaha pertambangan harus dapat mempercepat pengembangan wilayah dan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat/pengusaha kesil dan menengah serta mendorong tumbuhnya industri penunjang pertambangan.

6. Dalam rangka terciptanya pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha pertambangan harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip lingkungan hidup, transparansi, dan partisipasi masyarakat. Sistematika dalam UU Minerba tersebut adalah sebagai berikut: 1. Ketentuan Umum 2. Asas dan Tujuan 3. Penguasaan mineral dan batubara 4. Kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara 5. Wilayah pertambangan 6. Usaha Pertambangan 7. Izin Usaha Pertambangan 8. Persyarataan Perizinan Usaha Pertambangan 9. Izin Pertambangan Rakyat 10. Izin Usaha Pertambangan Khusus 11. Persyaratan Perizinan Usaha Pertambangan Khusus 12. Data Pertambangan 13. Hak dan Kewajinan 14. Penghentian Sementara Kegiatan Izin Usaha Pertambangan dan Izin Usaha Pertambangan Khusus 15. berakhirnya Izin Usaha Pertambangan dan Izin Usaha Pertambangan Khusus

16. Usaha Jasa Pertambangan 17. Pendapatan Negara dan Daerah 18. Penggunaan Tanang untuk Kegiatan Usaha Pertambangan 19. Pembinaan, Pengawasan, dan Perlindungan Masyarakat 20. Penelitian dan Pengembangan serta Pendidikan dan Pelatihan 21. Penyidikan 22. Sanksi Administratif 23. Ketentuan Pidana 24. Ketentuan Lain-lain 25. Ketentuan Peralihan 26. Ketentuan Penutup

BAB III PEMBAHASAN

Sepanjang 40 tahun terakhir, sejak UU No 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan, kegiatan pengerukan di tanah air sangatlah identik dengan pencemaran, penghancuran lingkungan dan sumber-sumber kehidupan rakyat, juga pelanggaran hak azasi manusia, utamanya penduduk lokal sekitar tambang hingga kawasan hilir, pesisir maupun pulau pulau kecil. Banyak pihak menuntut perubahan kebijakan pengurusan kekayaan tambang. Celakanya, penggantinya – UU Minerba, masih kadaluwarsa isinya. RUU Minerba akhirnya disahkan Sidang Paripurna DPR Senayan, 16 Desember 2008, setelah dibahas lebih 4 tahun, ditengah kontraversi berbagai kalangan, khususnya masyarakat sipil. Aksi walkout tiga fraksi (PKS, PKB, dan PAN) mewarnai sidang. Panjangnya waktu pembahasan, ternyata tak merubah subtansi UU ini lebih baik dari pendahulunya. UU ini mengancam keselamatan warga negara dan lingkungan. Pemerintah dan Partai-partai penguasa Senayan, hanya merubah UU lama dengan bungkus baru. Sebagai reaksi tehadap pengundangan tersebut, kelompok masyarakat sipil, khususnya JATAM, ICEL, HUMA, WALHI, KAU, SPI, dan KIARA menyatakan kecewa terhadap proses dan substansi UU Minerba. Sebelumnya, mereka telah menyatakan penolakan terhadap rencana pengesahan, jika DPR senayan memperbaiki subtansi UU tersebut. Secara proses, pengundangan UU Minerba belum mengakomodir masukan publik. Secara substansi, UU Minerba tak bergeser dari paradigma lama : jual murah keruk habis. Bahan tambang sebatas

menjadi komoditas dagang, eksploitatif dengan pendekatan top down, yang sepanjang 41 tahun lebih telah menimbulkan persoalan yang komplek di masyarakat. Secara filosofis, kekayaan alam termasuk mineral dan batubara dikuasakan kepada negara oleh rakyat, untuk dikelola bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat. Ini tertuang dalam aturan dasar negara (state fundamental norm) yaitu Pasal 33 Ayat (3) UUD RI 1945. Pasal ini memberikan mandat negara untuk mengusai sumber daya alam dengan tujuan kemakmuran bagi rakyat, selaku pemberi mandat, dalam teori kontrak sosial berdirinya suatu negara. Dengan demikian, pasal ini harus ditafsirkan sepaket dengan bagaimana negara harus mengelola sumber daya alam (SDA) sebagai sumber daya publik secara baik. Oleh karenanya, setidaknya ada empat syarat agar pengelolaan sumber daya pertambangan dilakukan secara baik: 1) Pengakuan terhadap hak-hak masyarakat, terutama yang memiliki keterkaitan langsung dengan sumber daya pertambangan dan lingkungan.
2) Pengakuan dan pengaturan secara jelas dan tegas tentang transparansi,

partisipasi, dan akuntabilitas dalam pengelolaannya. Ini merupakan tiga pilar penting mewujudkan good governance dan demokratisasi dalam pengelolaan pertambangan.
3) Akses keadilan, apabila hak-hak masyarakat dan prinsip transparansi dan

partisipasi dilanggar. 4) Pengakuan keterbatasan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Apakah UU Minerba telah memenuhi syarat-syarat diatas? Tidak.

Pertama. UU Minerba jelas bias darat, tak menaruh pertimbangan dinamika oseanografi dan pentingnya menjaga perairan laut Indonesia; keluar dari konsepsi Indonesia sebagai negara kelautan. Itulah mengapa perijinan di darat tak dibatasi, padahal tempat buangan limbahnya berujung ke pesisir dan laut. Dan laut merupakan ruang hidup dan penghidupan masyarakat. Konsekuensi sebagai negara kepulauan, membuat lebih 60% penduduknya tinggal di wilayah hilir, pesisir dan pulau-pulau kecil. Dalam banyak kesempatan, diketahui kegiatan pertambangan kerap menjadikan wilayah pesisir dan laut, baik melalui sungai, lokasinya beroperasi layaknya jamban, tenpat buang kotoran. Kasus pencemaran di Teluk Buyat, Sulawesi Utara, dan banyak perairan lainnya, menunjukkan bahwa atas nama pertambangan, pemerintah dan industri dengan yakin mencemari wilayah laut yang sekaligus tempat hidup jutaan nelayan Indonesia hingga hari ini. UU Minerba tidak bisa menjawab hal tersebut, abai menanggapi masalah pencemaran pesisir dan laut akibat kegiatan pertambangan. Kedua. Tak heran, jika sistem perijinan dengan pertimbangan administratif, yang dipromosikan UU Minerba tidak relevan, baik secara geografis, ekologis, apalagi dalam konteks Republik Indonesia sebagai negara maritim. Seyogyanya cakupan perijinan mengedepankan perhatian terhadap kerentanan satuan-satuan ekosistem, hingga ketergangguan sosial-ekonomi masyarakat. Pertimbangan ini didasari pada karakter material pencemar pada kegiatan pertambangan yang bersifat akumulatif dan dapat terdistribusi secara luas, baik oleh media air dan udara. Ambil contoh, jika pencemaran dilakukan di perairan sungai hingga laut, yang notabenenya bukanlah - tidak mungkin, menjadi bagian konsesi yang diberikan pemerintah. Barang tentu sistem perijinan yang bersifat administratif

tersebut kaku, bahkan sejak awal abai mempertimbangkan pengurusan dampaknya ekologisnya. Belum lagi, masyarakat yang tinggal di wilayah hilir (pesisir), umumnya tak dimasukkan dalam kategori masyarakat yang terkena dampak langsung, karena kawasannya dianggap tak masuk dalam kawasan tambang. Bisa dipastikan, warga pesisir akan sangat terancam dan diabaikan keselamatannya oleh negara. Dan saat terjadi pencemaran, lebih sulit lagi jika terjadi di perairan laut, yang dimensi pencemarannya bisa meliputi satu kabupaten, antar kabupaten, antar propinsi, satu Negara, bahkan antar negara “marine pollution is no boundaries”. Ketiga. Pasal-pasal UU Minerba lebih banyak mengurus para pemodal. UU ini hanya mengatur keberlanjutan ekploitasi bahan tambang dan keuntungan jangka pendek dari pajak dan royalty. Ini terbaca dari BAB IVUU Minerba tentang kewenangan, dimana pemerintah disemua level dapat mengeluarkan izin pertambangan, izin bisa diberikan kepada badan usaha, koperasi dan perseorangan (pasal 38), yang luas konsesinya 1 ha hingga 100 ribu ha. Keempat. UU Minerba tidak memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat. Dalam BAB XIII tentang Hak dan Kewajiban, yang diatur hanya Hak dan Kewajiban yang diatur hanya sebatas hak dan kewajiban bagi pemegang izin pertambangan (Pasal 90-112). UU tersebut tetap tak mau mengakui bahwa rakyat memiliki hak untuk membuat keputusan apakah investasi tambang bisa ditanamkan di tanah mereka atau diwilayah-wilayah yang jika ditambang akan mengancam sumber-sumber kehidupan mereka, yag belakangan dikenal dengan istilah Free and Prior Inform Consent4. Terkait tanahnya, rakyat hanya diberi dua pilihan dalam UU Minerba ini, menerima ganti

rugi yang ditentukan sepihak oleh pemerintah/ perusahaan atau jalur pengadilan. Ini jelas pelanggaran atas kovenan internasional hak Ekonomi dan sosial budaya. Kelima. UU Minerba secara asas mengakui prinsip transparansi, partisipasi dan akuntabilitas. Namun itu kamuflase, sebab bagian ini tidak tercermin tegas dan jelas dalam pasal-pasal. UU Minerba mengatur peran serta atau partisipasi namun masih sangat umum dan terbatas. Pengakuan secara umum artinya penormaan tentang asas tersebut hanya sebatas pengakuan prinsip tanpa diberikan aturan atau mandat pengaturan tentang bagaimana mekanisme yang harus dibuat pemerintah agar bisa diterapkan, maupun penanggungjawab usaha dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut secara nyata. Misalnya dalam hal partisipasi, norma yang diatur masih sebatas pemberian kewenangan kepada Pemerintah Provinsi untuk meningkatkan peran serta masyarakat (Pasal 7). Permasalahannya, partisipasi masyarakat harusnya wajib dikelola pemerintah dalam semua level, baik Kab/Kota, Provinsi dan Pusat. Demikian pula Pasal 10, yang menyatakan bahwa dalam penetapan wilayah pertambangan harus dilaksanakan: 1) Secara transparan, partisipatif dan bertanggung jawab
2) Secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi pemerintah

terkait, masyarakat dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya, serta berwawasan lingkungan
3) Memperhatikan aspirasi daerah. Permasalahannya, mekanisme partisipasi

untuk menjalankan ketentuan ini belum diatur dalam UU Minerba, dan tidak dimandatkan untuk diatur. Seperti biasa, ketentuan ini bisa ditafsirkan sepihak penguasa, menjadi terserah mereka tanpa parameter

atau indikator yang jelas dan disepakati pihak-pihak berkepentingan termasuk masyarakat. Selain itu, kepentingan partisipasi seharusnya tak hanya saat menetapkan wilayah, tapi juga tahapan pemberian izin usaha. Keenam. Akses keadilan harus kita jadikan titik tekan dalam UU Minerba ini, sebagai prasyarat penting kepastian hukum, tidak hanya kepastian untuk mengeruk, tapi juga kepastian hak-hak masyarakat tak dilanggar. Banyak pasal UU Minerba tak menjamin akses keadian (access to justice) bagi masyarakat, diantaranya:
1) Tidak menyediakan mekanisme pengaduan dan penyelesaian sengketa

yang komprehensif sebagai saluran masyarakat mendapatkan keadilan.
2) Lemahnya pengaturan yang membuat pemerintah bertindak tegas terhadap

pelanggar UU Minerba.
3) Lemahnya pengaturan tentang hak prosedural dan beban pembuktian

untuk memperoleh keadilan bagi masyarakat.
4) UU

Minerba

berpotensi

mengkriminalkan

masyarakat

yang

memperjuangkan hak-haknya. Padahal, mekanisme pengaduan dan penyelesaian sengketa merupakan saluran penting bagi masyarakat yang hak-haknya dilanggar. UU Minerba tidak mengatur tentang hal tersebut. Penyelesaian sengketa hanya diatur penyelesaiannya melalui pengadilan dan arbitrase. Selain itu, UU Minerba tidak memberikan mandat tegas, supaya pemerintah menjatuhkan sanksi administrasi bagi pelanggaran ketentuan UU Minerba. Pasal 151 hanya menyatakan, pemerintah (Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota) berhak memberikan sanksi

administratif kepada pemegang IUP, IPR, dan IUPK atas pelanggaran ketentuan UU Minerba. Berhak disini, bisa direduksi macam-macam oleh pemerintah di berbegai level, seperti praktek-praktek saat ini. Dan kembali melanggar hak-hak masyarakat, dan pasif (diam) terhadap pelanggaran yang terjadi.
5) Apalagi, ada lubang serius dalam penegakan sanksi administrasi pada UU

No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang diulang pada UU Minerba. Pada UU 23/1997, pemerintah diberi mandat menjatuhkan sanksi administrasi bagi pencemar lingkungan. Sebab sanksi pencabutan izin, harus dikeluarkan instansi pemberi izin (sektoral), padahal kewenangan instansi lingkungan sebatas pemberian rekomendasi yang tidak mengikat, apabila instansi pemberi izin (sektoral), misalnya Departemen ESDM menolak, maka rekomendasi itu pun tumpul. Lubang ini diulang pasal 151 UU Minerba. Ketujuh. Hak prosedural merupakan bagian dari pemenuhan akses keadilan masyarakat. Secara prosedural UU Minerba tak memberi saluran memadai untuk mendapatkan keadilan. Misalnya, prosedur gugatan perwakilan (class action) apabila terdapat kerugian yang timbul akibat usaha pertambangan. Gugatan perwakilan akan mempermudah dan menekan biaya yang harus dikeluarkan masyarakat ketika mendapatkan dampak yang sifatnya luas/masif dari usaha pertambangan. Memang UU 23/1997 telah mengatur tentang gugatan perwakilan, namun hal tersebut masih sebatas untuk kerugian lingkungan, sedangkan dampak dari usaha pertambangan bisa jadi tidak hanya kerugian lingkungan saja.

Kedelapan. Pasal 145 mengatur tentang perlindungan masyarakat, judul pasal memang bagus, tapi lagi-lagi tipuan. Pasal 145 tentang Perlindungan Masyarakat ternyata tak seindah judul pasalnya. Pasal ini beresiko melahirkan pelanggaran HAM baru. Awalnya, tentang masyarakat terkena dampak. UU Minerba hanya mengenal masyarakat terkena dampak negatif langsung kegiatan usaha pertambangan. Merujuk kasus-kasus pertambangan selama ini, masyarakat terkena dampak sering dibatasi masyarakat sekitar dan masuk konsesi pertambangan. Padahal, dampak pertambangan tak mengenal batas konsesi, bahkan batas administrasi kabupaten, provinsi, dan negara. Contohnya, tambang batu bara Kideco Jaya Agung, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Ada perkampungan Dayak Paser: Suateng, Damit, Bekoso, Lempesu, Suweto, hingga daerah muara yang tak dihiraukan perusahaan tambang asal Korea Selatan ini. Padahal, Sungai Kendilo, pendukung utama penghidupan mereka, rusak oleh pengerukan batu bara di hulu. Lima kampung itu terpaksa pindah ke lokasi baru, berjarak 2-10 km dari kampung lama. Mereka bangun sekolah dan fasilitas publik lain tanpa bantuan perusahaan karena mereka tak masuk wilayah pertambangan. Pemerintah Kabupaten Paser harus merogoh dana penanganan banjir kabupaten untuk membantu mereka. Hal serupa dialami warga kampung sepanjang Sungai Ok Briam, Mal, Muyu, Kao, dan Sungai Digoel di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Mereka melaporkan limbah tailing tambang Ok Tedi/BHP Billiton di negara tetangga kita, Papua Nugini, terasa dampaknya di kampung mereka. Banyak ikan mati dan kebunkebun sepanjang aliran sungai tak lagi subur. Ini menyuratkan daya rusak tambang yang bersifat mengalir dan meluas.

Selanjutnya, dalam UU Minerba hanya ada dua hak masyarakat yang terkena dampak, yaitu mendapat ganti rugi jika terjadi kesalahan dalam pengusahaan kegiatan pertambangan dan mengajukan gugatan ke pengadilan, itupun jika perusahaan menyalahi ketentuan. Dua pilihan itu sama pahit. Pilihan pertama menegaskan tidak diakuinya hak veto atau hak untuk menentukan nasib sendiri, khususnya jika mereka menolak pertambangan, termasuk hak memilih model pengembangan ekonomi yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan mengeruk batuan. Sementara itu, ganti rugi akan diatur dalam peraturan perundang-undangan. Namun, mengingat dalam setahun ke depan Departemen ESDM harus menyusun 20 PP terkait, bisa dipastikan penyusunannya akan jauh dari transparansi dan partisipasi publik. Pilihan kedua tak kalah getir. Kawasan cadangan mineral dan batu bara tersisa kebanyakan ada di kawasan terisolasi informasi dan keberdayaan hukum. Belum lagi urusan beban pembuktian yang tidak muda. Warga dihadapkan pada perusahaan tambang yang memiliki modal menyewa ahli hukum dan konsultan, juga membayar iklan di media. Sementara itu, proses pengadilan yang lama, biaya mahal, dan sistem yang korup membuat warga berisiko menjadi korban kedua kali. Sungguh, mereka sulit memenangi perkara di pengadilan, dalam sistem hukum yang kini tak berpihak kepada mereka. Terakhir, melalui Pasal 162 UU Minerba, warga berisiko dipidana paling lama setahun dan denda paling banyak Rp 100 juta jika menghambat kegiatan pertambangan. Pengaturan ini tak berbeda dengan UU lama yang diganti. Jika warga tak mau lahannya ditambang, lalu melakukan protes, dianggap menghambat perusahaan, akan dikriminalkan. Hal sama bisa terjadi kepada

mereka yang berupaya menghentikan kegiatan perusahaan yang mencemari lingkungan sekitar. Sementara, penegakan hukum tak berjalan, seperti yang banyak terjadi selama ini. Memang UU Lingkungan Hidup mengatur tentang beban pembuktian yang lebih maju, dengan memasukkan aspek tanggung gugat mutlak (strict liability) bagi pelaku pencemaran atau perusakan, yang menimbulkan dampak besar dan penting serta menggunakan bahan berbahaya dan beracun (B3) atau menghasilkan limbah B3, dimana unsur kesalahan pelaku tidak perlu dibuktikan. Sayangnya, dalam prakteknya nyaris tak digunakan. Kesembilan. Pengakuan keterbatasan daya dukung dan daya tampung lingkungan sangat penting untuk mencegah terjadinya perusakan atau pencemaran lingkungan. Pasal 18 UU Minerba memang mengatur bahwa penetapan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) harus mendasarkan pada kaidah konservasi dan daya dukung lingkungan, namun tidak mencakup daya tampung lingkungan. Disamping itu, pasal ini dipastikan tumpul nantinya. Sebab UU ini tak memandatkan kaji ulang perijinan yang sudah ada, termasuk renegosiasi kontrak karya. Bagaimana mungkin daya dukung dan daya tampung lingkungan akan diberlakukan pada kontrak kontrak dan ijin lama, yang luasannya sudah tak masuk akal. Meski tak lagi memberlakukan kontrak karya, luas daratan yang memiliki cadangan mineral dan batu bara paling ekonomis sebagian besar telah dimiliki pemegang izin dan kontrak lama, tanpa tanpa upaya kaji ulang perizinan lama, pengakuan veto rakyat, penghitungan daya dukung lingkungan, serta pembatasan produksi dan ekspor. UU Minerba jelas melanggengkan rezim keruk cepat jual murah bahan tambang sejak Orde Baru. Selain itu sebagai bagian pengakuan

keterbatasan daya dukung dan daya tampung lingkungan, penting pengaturan tegas tentang reklamasi pasca tambang. Dalam hal reklamasi dan pasca tambang, UU Minerba telah mewajibkan bagi pemegang IUP dan IUPK untuk memberikan dana jaminan. Namun demikian jangka waktu pertanggungjawaban dalam reklamasi dan pasca tambang tidak diatur dalam UU Minerba. Padahal dampak dari kegiatan pertambangan dapat muncul setelah sekian tahun dari kegitatan dilakukan. Jangka waktu pertanggungjawaban ini penting untuk memastikan agar pemegang izin benar-benar menjalankan kewajibannya melakukan reklamasi dan kegiatan pasca tambang sesuai dengan kriteria atau ketentuan yang akan ditetapkan. Selain itu, mekanisme transparansi dari pengelolaan dana jaminan dan pasca tambang harus diatur (tidak diatur dalam UU Minerba) untuk memastikan bahwa dana tersebut diperuntukkan kegiatan reklamasi dan pascatambang secara bertanggungjawab. Kesepuluh. “Pemegang IUP dan IUPK dapat memanfaatkan prasarana dan sarana umum untuk keperluan pertambangan setelah memenuhi ketentuan peraturan perundang- undangan.” Ini bunyi pasal 91. UU Minerba akan mempercepat perusakan prasarana dan sarana umum, dengan

memperbolehkannya dimanfaatkan menjadi sarana pertambangan. Ini terbukti di propinsi Kalimantan Selatan. Ruas jalan mulai Kabupaten Tapin, Banjar sampai dengan Banjarmasin boleh dipakai truk batubara. Apa hasilnya? Tahun 2004, panjang jalan yang dipakai mereka 1056,38 kilometer, dan sementara sepanjang 124,37 kilometer dalam kondisi rusak berat. Namun data terbaru menyebutkan, berdasar temuan DPRD Kalsel, ruas jalan provinsi yang rusak mencapai 293 kilometer atau 27,7% dari panjang jalan negara. Karena itu, kerusakan jalan

umum di Kalsel kini menjadi problem serius. Pemerintah sendiri mengaku tiap tahun mengeluarkan dana perbaikan jalan mencapai Rp 127 miliar. Dana itu bukan dari para penambang tentunya. Tak hanya itu, penderita penyakit ISPA dan kecelakaan di sepanjang jalan yang dilalui truk batubara juga meningkat. Mestinya, upaya reformasi kebijakan sektor pertambangan mensyaratkan 3 hal, yaitu:
1) Dapat memfasilitasi pemulihan dan pengembalian hak masyarakat yang

telah dirampas.
2) hak-nya oleh industri pertambangan, baik secara langsung melalui

perampasan tanah.
3) masyarakat lokal; maupun secara tidak langsung dengan mencemari

perairan laut tempat bergantungnya kehidupan masyarakat nelayan tradisional.
4) Dapat memfasilitasi pulihnya ekonomi masyarakat lokal dan ekosistem

sekitar pertambangan. Dimana paradoks selama ini menunjukkan bahwa, daerah potensial dengan kegiatan pertambangan, justeru identik dengan kemiskinan dan intensitas konflik yang tinggi.
5) Dapat memfasilitasi proses penegakan hukum atas berbagai pelanggaran

yang terjadi selama ini disekitar lingkungan pertambangan, maupun secara luas dalam hal ekonomi nasional. UU Minerba mengakui asas-asas pengelolaan pertambangan yang baik, namun lemah dalam penjabaran ibarat pepesan kosong. Beberapa kelemahan fundamen dari UU Minerba adalah:

1) Pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat terutama yang memiliki

keterkaitan langsung dengan sumber daya pertambangan dan lingkungan
2) Pengakuan dan pengaturan secara jelas dan tegas tentang transparansi,

partisipasi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya alam yang merupakan tiga pilar penting dalam mewujudkan good governance dan demokratiasasi dalam pengelolaan pertambangan.
3) Akses keadilan apabila hak-hak masyarakat dan prinsip transparansi dan

partisipasi dilanggar.
4) Pengakuan keterbatasan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Berbagai kelemahan tersebut, muaranya lagi-lagi rakyat yang harus menanggung ongkos kerusakan lingkungan, pemiskinan dan pelanggaran HAM baik di sekitar pertambangan, hingga kawasan pesisir. Sementara, bahan-bahan mineral kita bisa dipatikan akan makin menipis jumlahnya, karena terus-terusan dikeruk untuk memasok kebutuhan asing. Banyak hal bisa dilakukan untuk menolak UU pertambangan lama dan UU Minerba yang kadaluarsa. Salah satunya, terus menuntut penataan ulang pengurusan kekayaan, lewat penghentian ijin baru, kaji ulang perijinan lama, pembatasan produksi hanya utuk kebutuhan mendesak rakyat dan membawa UU Minerba ke Mahkamah Konstitusi.

BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Sebagai kegiatan usaha, industri pertambangan mineral dan batubara merupakan industri yang padat modal (high capital), padat resiko (high risk), dan padat teknologi (high technology). Selain itu, usaha pertambangan juga tergantung pada faktor alam yang akan mempengaruhi lokasi dimana cadangan bahan galian. Dengan karakteristik kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara tersebut maka diperlukan kepastian berusaha dan kepastian hukum di dunia pertambangan mineral dan batubara. Celakanya, UU Minerba, masih kadaluwarsa isinya. RUU Minerba akhirnya disahkan Sidang Paripurna DPR Senayan, 16 Desember 2008, setelah dibahas lebih 4 tahun, ditengah kontraversi berbagai kalangan, khususnya masyarakat sipil. Namun, panjangnya waktu pembahasan, ternyata tak merubah subtansi UU ini lebih baik dari pendahulunya. UU Minerba ini mengancam keselamatan warga negara dan lingkungan. Pemerintah dan Partai-partai penguasa Senayan, hanya merubah UU lama dengan bungkus baru. B. SARAN SARAN Banyak hal bisa dilakukan untuk menolak UU pertambangan lama dan UU Minerba yang kadaluarsa. Salah satunya, terus menuntut penataan ulang pengurusan kekayaan, lewat penghentian ijin baru, kaji ulang perijinan lama, pembatasan produksi hanya utuk kebutuhan mendesak rakyat dan membawa UU Minerba ke Mahkamah Konstitusi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->