P. 1
Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia

|Views: 550|Likes:
Published by Asengkuat Aseng

More info:

Published by: Asengkuat Aseng on Dec 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2013

pdf

text

original

Di dalam pelaksanan matsuri ada aturan-aturan tertentu yang diyakini dan
dipercayai sebagai norma, sikap atau kewajiban yang harus dipenuhi bagi mereka yang
akan melakukannya. Misalnya, pada penyelenggaraan matsuri yang dipimpin oleh
seorang toya, ada beberapa kewajiban dan persyaratan yang harus dijalankannya sebelum
memimpin upacara tersebut.

Adapun persyaratannya antara lain, toya haruslah seorang yang bersih secara
lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah, ia dipandang berasal dari keluarga yang punya
reputasi dan nama yang bersih, dan dari batiniah, ia juga harus berhati dan berpikiran
bersih. Sebelum upacara matsuri dilakukan, rumah tempat tinggalnya dibersihkan. Ia
tidak diperkenankan untuk berkunjung ke rumah orang lain, serta tidak boleh menerima
makanan dan minuman dari tempat lain. Ada beberapa pantangan makanan yang tidak
boleh ia makan, seperti daging. Kemudian ia harus berjaga di setiap malam beberapa hari
sebelum matsuri dilakukan.

Kewajiban yang ia lakukan dalam rangka pelaksaan matsuri itu adalah
menyalakan api dan menyebar garam ke sekeliling tempat upacara sebagai bentuk
pensucian tempat upacara. Agama Shinto sangat memperhatikan penggunaan api karena

bagi mereka api merupakan simbol penyucian. Jika ia merasakan kotor, ia harus
membersihkan diri dengan air.

Selain membersihkan diri, sajian-sajian untuk para dewa juga dipersiapkan. Sajian
itu terdiri dari dua jenis, yaitu mike dan miki. Mike adalah makanan yang diolah dari
gandum atau besar seperti omochi, makanan dari laut, sayur-sayuran dan buah-buahan,
sedangkan miki adalah minuman yang terdiri dari maca-macam sake misalnya shiroki
(sake putih), kuroki (sake hitam), dan amazake (sake manis).

Pertunjukan lainnya yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat adalah
pertunjukkan tarian yang disebut dengan kagura. Tarian kagura ini merupakan tarian dan
nyanyian yang digunakan unutk memuja para dewa. Setiap daerah di Jepang memiliki
tarian ini walaupun bentuknya berbeda antara daerah satu dengan lainnya.

Sikap dan perilaku orang Jepang dalam pelaksanaan matsuri mencerminkan hati
dan pikiran mereka akan pentingnya kehidupan spiritual. Implementasi sikap dan
perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka meyakini dan mempercayai akan adanya
kekuatan diluar kekuatan manusia. Cermin sikap tersebut menyatu dalam gerak dan
perilaku mereka dalam pelaksanaan matsuri sebagai upacara ritual. Hati dan pikiran
mereka menyatu dalam gerak matsuri yang setiap tahun dirayakan dan diyakini sebagai
wadah dan kegiatan dalam menyembah para leluhur dan memanjatkan doa agar bencana
dan kesusahan tidak melanda. Selain itu matsuri juga merupakan perwujudan rasa syukur
atas keselamatan dan kemakmuran atas panen yang melimpah pada tahun itu.

Keseimbangan antara kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual orang Jepang
menyatu dalam gerak matsuri. Sikap dan perilaku mereka terhadap adanya sesuatu yang
diyakini menunjukkan bahwa mereka mempunyai apa yang disebut dengan kepercayaan
atau keyakinan.

Simpulan

Matsuri mempunyai makna sebagai suatu kegiatan yang sifatnya ritual dalam
memanjatkan doa bagi para leluhur. Matsuri juga merupakan kegiatan yang berfungsi
sebagai kegiatan sosial dalam mengikat solidaritas di antara masyarakat penduduk
setempat dalam memanjatkan doa dan mewujudkan rasa syukur atas limpahan kemurahan
atas panen padi pada tahun itu dan sebagai ucapan rasa syukur atas keselamatan dan
kemakmuran.

Hati dan pikiran orang Jepang menyatu dalam sikap dan perilaku yang
diimplementasikan dalam gerak matsuri. Selain berfungsi untuk sebagai keyakinan atau
kepercayaan, matsuri dewasa ini juga berfungsi sebagai wadah tempat berkumpulnya
penduduk setempat menggalang solidaritas dalam pelaksanaan matsuri di wilayahnya.
Matsuri diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu tsukagirei, nechugyoji dan ninigirei.
Dalam penyelenggaraan matsuri dibutuhkan beberapa persyaratan bagi orang yang akan
memimpin upacara tersebut. Selain itu, terdapat banyak persyaratan agar dapat menjadi
pemimpin dalam penyelenggaraan matsuri.

Orang Jepang hingga dewasa ini masih terus mempertahankan matsuri sebagai
kegiatan spiritual dalam menyeimbangkan kehidupan duniawi dan kehidupan akhiratnya.
Sepanjang orang Jepang masih ada di dunia, matsuri akan terus eksis sebagai bagian dari
kehidupan spiritual orang Jepang.

DAFTAR PUSTAKA

Hori, Ichiro, 民 間 信 仰 、 岩 波 書
店、1951.

________, 日本文化提要、日本文化研究所編集局、1977.

________, 日本の民俗宗教、弘文堂、1979.

Yanagita, Kunio , 日本の祭, 角川書店、1987.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan (Editor). 2001. Kalimat. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional.

Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. 2000. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta:
Akademika Pressindo.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa
Indonesia: Sintaksis.
Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

_______. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

_______. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Finoza, Lamuddin. 2002. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.

M. Moeliono, Anton. 2001. Bentuk dan Pilihan Kata. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional. Sugono, Dendy. 1994. Berbahasa Indonesia dengan Benar.
Jakarta: Puspa Swara.

ANALISIS KOMPONEN: SEBUAH ANCANGAN STRUKTURAL

DALAM SEMANTIK

Katubi

Staf Pengajar Jurusan Bahasa Inggris STBA LIA Jakarta

Abstrak

Munculnya berbagai pandangan yang berupaya untuk mengkaji hubungan bahasa dengan
dunia diluar bahasa, membuat penulis mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan kajian
makna terutama yang menyangkut teori struktural leksikal. Dua permasalahan yang dikaji
yaitu bagaimana semantic struktural dapat mengungkap relasi makna dan apakah jaringan
dari relasi makna tersebut terdapat dalam sistem bahasa atau apakah kognitif
strukturalnya ada dalam benak penutur. Untuk menjawab permasalah tersebut, analisis
yang digunakan adalah analisis komponen. Analisis ini bukan hanya dapat memberikan

struktur semantik kosa kata dari berbagai bahasa dengan sistem matis, tetapi juga
merupakan salah satu cara untuk menformalisasi relasi makna yang mengikat satu leksem
dengan leksem lain. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa komponen
makna dianggap sebagai dasar penanda semantis yang secara umum terdapat pada sistem
bahasa. Komponen makna tersebut pada gilirannya tidak sekedar menetapkan aktualitas
leksen, namun juga menunjukkan potensialitasnya dalam pemakaian.

Kata Kunci: Analisis Komponen, Semantik Struktural, Relasi Makna, Komponen Makna

Abstract

Due to many attempted views to study the relationship between language and the world
outside a language, the writer decided to study further substances that are related to
semantics study particularly those based on lexical structural theory. Two problems that
were studied are how a structural semantics can disclose the meaning relation and
whether the network of that relation is in the language system or whether its cognitive
structure is already in the mind of the speaker. To answer those questions, componential
analysis was applied. This analysis did not only describe the semantics structure of
vocabulary from various language systematically but it is also a method to formalize
semantic meanings that bind one lexeme to another lexeme. The conclusion is that the
componential meaning is believed to be the basic semantic marker that generally exists
within a language system. The componential meaning does not merely state the actuality
of a lexeme but it shows its potentiality towards its use.

Keywords: Componential Analysis, Structural Semantics, Relation of Meaning,
Component of Meaning

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->