P. 1
Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia

|Views: 550|Likes:
Published by Asengkuat Aseng

More info:

Published by: Asengkuat Aseng on Dec 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2013

pdf

text

original

Sections

ISSN 1412-9183 Volume 2 Nomor 2, Oktober 2003

JURNAL ILMIAH

LINGUA

PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT SEKOLAH TINGGI BAHASA ASING LIA JAKARTA

Penasihat Sudibyo Siyam, M.A.

Penanggung Jawab Dr. Ekayani R.M.L. Tobing

Penyunting Penyelia Sri Suryanti, M.A.

Penyunting Pelaksana

Dewi A.Yudhasari, M.Hum. Dwi Astuti Retno L., M.Hum. Ismarita Ramayanti, S.Pd. Vera Syamsi, M.Hum.

Penyunting Tamu/Penelaah Ahli Dr. Tommy Christomy Dr. Agus Aris Munandar

Sekretaris Agus Wahyudin, S.Pd.

Tata Usaha Tety Kurniati

Alamat Redaksi Jalan Pengadegan Timur Raya No. 3 Pancoran, Jakarta 12770 Telepon (021) 79181051, Faksimile (021) 79181048 E-mail: jurnal_lingua@stba.lia.ac.id

ISSN 1412-9183 Volume 2 Nomor 2, Oktober 2003

JURNAL ILMIAH

LINGUA

DAFTAR ISI

Jendela

i

Matsuri : Implementasi Sikap dan Perilaku Orang Jepang 79 dalam Kehidupan Spiritual Dewi Ariantini Yudhasari

72—

Penelitian Sastra: Lahan Yang Luas Dan Berlimpah Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra

80—93

Maman S. Mahayana

Penelitian Di Bidang Penerjemahan Benny Hoed

94—111

Analisis Komponen: Sebuah Ancangan Struktural Dalam Semantik Katubi

112—123

Kata Dan Kalimat Dalam Karangan Ilmiah Agus Wahyudin

124—143

Indeks

Pedoman Penulisan Jurnal Ilmiah LINGUA

Pada terbitan kali ini jurnal LINGUA mempersembahkan lima artikel dari para dosen. Yang pertama membahas tentang orang Jepang yang tetap mempertahankan budaya mereka dengan merayakan hari-hari besar. Mereka percaya akan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam setiap ritual yang ada. Artikel kedua membahas pengenalan dan manfaat kesusastraan, serta lahan penelitian yang dapat digarap baik melalui sistem makro dimana kritikus sastra merupakan bagian dari ekstrinsik karya itu maupun sistem mikro dimana teks sastra merupakan bagian intrinsik karya sastra. Hal-hal yang barkaitan dengan penerjemahan dapat dibaca di artikel ketiga. Di situ penulis menekankan bahwa sebuah penerjemahan dilakukan ‘untuk apa’ dan ‘untuk siapa’ dengan tidak melupakan konteks dan budaya dari teks sumber dan teks sasaran. Kajian semantik dapat kita lihat pada artikel keempat dimana penulis memaparkan semantik struktural sebuah kata berdasarkan analisis komponen. Jurnal ini ditutup dengan sebuah tinjauan tentang kata dan kalimat dalam karya ilmiah. Semoga tulisan yang ditayangkan pada jurnal kali ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Redaksi

KATA DAN KALIMAT DALAM KARANGAN ILMIAH

Agus Wahyudin Staf Pengajar Bahasa Indonesia STBA LIA Jakarta

Abstrak
Setiap kata bentukan dalam bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai pola tersendiri dan sudah terbakukan. Kata bentukan tersebut dapat berupa afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Afiksasi mempersoalkan proses penambahan afiks, infiks, dan sufiks. Reduplikasi membicarakan masalah pengulangan kata atau unsur kata. Komposisi membahas penggabungan dua kata atau lebih. Pola kata dalam bahasa Indonesia pada umumnya terbentuk secara teratur dan rapi. Begitu juga dalam kalimat bahasa Indonesia. Kalimat yang terpola dan baku merupakan suatu keharusan terlebihlebih dalam karya ilmiah. Hal itu boleh jadi jika syarat-syarat kalimat efektif, diantaranya, seperti kesepadanan struktur, keparalelan, dan pemfokusan makna dapat dipenuhi.

Kata Kunci: kata, kalimat, karya ilmiah

Abstract
Basically, any formulations in Indonesian have certain fixed patterns. Those formulations can be in the form of affixes, reduplications, and compositions. Affixations deal with addition of prefixes, infixes, and suffixes. Reduplication talks about the repetition of the words or part of the words. Compotition discusses the combination of two or more words. In general, Indonesian word patterns are formed in a certain fixed order. This also happens to Indonesian sentences. It is considered a must for words to follow certain fixed patterns, especially for scientific works. Effective sentences can be archieved if the requirement of the sentence such as word equivalence, parallelism and focused meaning can fulfilled. Keywords: word, sentence, scientific works

1. Pengantar Sebagian orang sering mengatakan bahwa bahasa Indonesia tidak perlu dipelajari. Tidak berguna belajar bahasa itu karena sejak dilahirkan sudah belajar bahasa Indonesia. Belajar bahasa Indonesia menghambur-hamburkan waktu dan uang saja. Bahkan, sering orang beranggapan mempelajari bahasa Indonesia adalah pekerjaan yang sia-sia karena sudah merasa mampu berkomunikasi dengan lawan bicara tanpa harus mempelajari bermacam-macam kaidah atau ketentuan seperti ejaan, kata, atau kalimat. Kenyataan di atas menunjukkan bahwa keberadaan bahasa Indonesia di masyarakatnya sendiri kurang diakui. Kekurangsimpatikan seperti ini kadang-kadang muncul dalam masyarakat karena mereka tidak memiliki sifat positif, kalau tidak mau dikatakan tidak peduli terhadap bahasa Indonesia. Hal ini biasanya ditandai dengan tidak adanya kesetian berbahasa, hilangnya kebanggaan berbahasa, dan tidak munculnya kesadaran akan norma berbahasa (Arifin dan Amran Tasai, 2000:1). Sikap-sikap seperti ini ternyata tidak hanya terbatas pada individu, tetapi terjadi pada beberapa lembaga pendidikan di Indonesia. Di antara lembaga-lembaga itu tidak lagi memasukkan pelajaran atau mata kuliah bahasa Indonesia sebagai suatu kajian di dalam kurikulum. Adanya keengganan itu mengakibatkan kesulitan dalam meningkatan kegairahan berbahasa Indonesia para siswa atau mahasiswa. Apabila keadaan seperti ini dibiarkan berlanjut, tidak menutup kemungkinan bahasa Indonesia--perlahan tetapi pasti--akan lenyap dari bumi pertiwi. Saatnya kita sebagai bagian masyarakat Indonesia harus memikirkan bagaimana agar bahasa Indonesia menjadi bahasa tuan rumah di negerinya sendiri. Menumbuhkembangkan bahasa Indonesia harus kita mulai dari diri sendiri. Keteraturan dan ketaatasasan berbahasa Indonesia selayaknya diketahui dan sekaligus dipakai dalam berbahasa, baik lisan maupun tertulis, terlebih-lebih dalam karangan ilmiah. Dengan cara seperti ini diharapkan bahasa Indonesia dapat tumbuh dengan baik menjadi bahasa di rumahnya sendiri.

Persoalan berikutnya adalah bagaimanakah agar teratur dan taat asas dalam berbahasa Indonesia. Uraian ini membahas masalah kata, khususnya pembentukan kata dan kalimat, dalam karangan ilmiah bahasa Indonesia. Tulisan ini bertujuan agar pengguna bahasa Indonesia mengetahui bahwa ketika berbahasa perlu adanya paradigma atau norma bahasa. Hal ini patut diketahui sebab orang yang taat kaidah dan terampil berbahasa menunjukkan keintelektualan dalam berbicara dan berpikir. 2. Pembentukan Kata Yang dimaksud dengan pembentukan kata adalah proses terjadinya kata jadian dari kata dasar ditambah unsur-unsur yang bersifat morfemis. Kata bentukan itu dapat berupa kata afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. 2.1 Afiksasi Proses atau hasil penambahan afiks, seperti prefiks atau awalan, infiks atau sisipan, sufiks atau akhiran, dan konfiks atau penggabungan antara prefiks dan sufiks disebut afiksasi. Afiksasi dalam bahasa Indonesia terbentuk mengikuti pola yang rapi. Bentukan-bentukan itu menujukkan pertalian antara yang satu dengan yang lain secara teratur. Dengan kata lain, kata yang mengalami afiksasi mempunyai relasi makna yang konsisten. Verba yang berawalan meng- dapat dibentuk menjadi kata nomina yang bermakna umum ‘proses’ yang berimbuhan peng-an, dan dapat dibentuk menjadi nomina yang bermakna umum ‘hasil’ yang berimbulan -an (Arifin, E. Zainal dan Amran Tasai, 2000) Berikut contoh bentuk afiksasi yang mempunyai kekonsitenan makna. rakit terbit telaah gali merakit menerbitkan menelaah menggali perakit penerbit penelaah penggali perakitan penerbitan penelaahan penggalian rakitan terbitan telaahan galian

hapus ringkas capai layan putus simpul ubah ajar pimpin bangun bina

menghapus meringkas mencapai melayani memutuskan menyimpulkan mengubah mengajar memimpin membangun membina

penghapus peringkas pencapai pelayan pemutus penyimpul pengubah pengajar pemimpin pembangun pembina

penghapusan peringkasan pencapaian pelayanan pemutusan penyimpulan pengubahan pengajaran pemimpinan pembangunan pembinaan

hapusan ringkasan capaian layanan putusan simpulan ubahan ajaran pimpinan bangunan binaan

Selain itu, pembentukan kata berikut mengikuti pola tersendiri.

tani tinju silat mukim gulat

bertani bertinju bersilat bermukim bergulat

petani petinju pesilat pemukim pegulat

pertanian pertinjuan persilatan permukiman pergulatan

Kelompok kata di bawah ini mengikuti cara lain.

Satu Solek Oleh

bersatu persatuan bersolek persolekan beroleh perolehan

mempersatukan mempersolek memperoleh

pemersatu pemersolek pemeroleh

2.2 Reduplikasi Reduplikasi adalah proses perulangan kata atau unsur kata, baik secara keseluruhan atau sebagaian. Perulangan ini terdiri atas reduplikasi fonologis, gramatikal, dan idiomatis. Pengulangan unsur fonem dan suku kata atau bagian kata merupakan reduplikasi fonologis. Dalam bahasa Indonesia bentuk cincin, gigi, pipi merupakan reduplikasi fonologis karena yang diulang adalah bagian yang inheren dalam kata itu sendiri…. (Harimurti, 1985: 22). Pengulangan gramatikal meliputi reduplikasi morfologis dan sintaksis. Reduplikasi morfologis adalah pengulangan morfem, baik bebas maupun terikat, yang menghasilkan kata. Bentuk-bentuk seperti berikut merupakan contoh-contoh reduplikasi morfologis. rumah-rumah bersih-bersih tali-temali turun-temurun gilang-gemilang sayur-mayur kerlap-kerlip sorak-sorai cerai-berai tetamu

gunung-gemunung bolak-balik hingar-bingar huru-hara lauk-pauk

lelaki leluhur pukul-memukul tembak-menembak

Reduplikasi sintaksis adalah pengulangan morfem karena tuntutan kaidah sintaksis, seperti contoh kalimat berikut. 1) Panas-panas anak itu masih tetap bermain juga. Walaupun panas anak itu masih tetap bermain juga. 2) Jika ada kekeliruan, kami-kami yang disalahkan. Jika ada kekeliruran, selalu kami yang disalahkan. Di samping bentuk reduplikasi gramatikal terdapat redupliklikasi idiomatis. Bentuk reduplikasi ini tidak dapat dijabarkan maknanya dari makna yang diulang, seperti contoh kalimat berikut. 3) Mata-mata Korea Utara tertangkap di Korea Selatan. Pengintai Korea Utara tertangkap di Korea Selatan. 4) Kuda-kuda pesilat itu kurang bagus sehingga mudah dikalahkan lawan. Sikap siaga pesilat itu kurang bagus sehingga mudah dikalahkan lawan. Selanjutnya, reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat menyatakan (a) kejamakan, (b) kemiripan, dan (c) penonjolan. Pada umumnya arti yang mempunyai jamak dinyatakan dengan reduplikasi. seperti contoh kalimat berikut.

5) Siswa-siswa LBPP LIA cabang Pengadegan sedang libur. Akan tetapi, tidak semua arti jamak atau lebih dari satu dinyatakan dengan reduplikasi. Contoh berikut menunjukkan pernyataan tersebut. 6) Karyawan Yayasan LIA setiap 17 Agustus selalu melakukan upacara di halaman LBPP LIA Pengadegan.

7) Ketika mempertahankan Yogjakarta, banyak prajurit kita yang gugur dan terluka. Kata karyawan pada kalimat (3) dan prajurit pada kalimat (4) tidak mempunyai lagi makna tunggal, tetapi mengacu ke jamak atau jumlah yang lebih dari satu. Arti reduplikasi dapat menyatakan kemiripan, yaitu makna yang mengacu kepada kemiripan baik rupa atau cara. Contoh berikut menunjukkan pernyataan tersebut. 8) Wajah gadis itu seperti nenek-nenek padadal usianya baru dua puluh tahun. 9) Bersikaplah seperti orang Indonesia, jangan kebarat-baratan. Selain itu, arti reduplikasi juga dapat mengandung makna penonjolan atau penegasan. Perhatikanlah contoh barikut. 10) Kamu jangan melalukan hal itu sebab kalau salah kami-kami juga yang ditegur.

2.3 Komposisi Kompositum atau bentuk majemuk adalah penggabungan dua bentuk kata atau lebih. Bentuk ini terdiri atas verba majemuk dan verba nominal. Verba majemuk adalah deret dua kata atau lebih menghasilkan makna yang masih dapat diruntut dari makna komponennya yang tergabung (Moeliono, 2001: 22). Kata terjun dan kata payung dapat digabungkan menjadi terjung payung. Makna perpaduan ini masih dapat ditelusuri dari makna kata terjun dan kata payung, yaitu melakukan terjun dari udara dengan memakai

semacam payung. Hasil perpanduan dua verba seperti ini dinamakan verba majemuk. Penanda lain verba majemuk adalah urutannya tetap dan tidak dapat dipertukarkan tempatnya. Contoh berikut dapat dilihat di bawah ini. 1) terjun payung tidak dapat menjadi payung terjun 2) siap tempur tidak dapat menjadi tempur siap 3) tatap muka tidak dapt menjadi muka tatap Verba nominal pada dasarnya mempunyai ciri yang sama dengan verba majemuk. Suamiistri merupakan verba nominal karena maknanya masih dapat diuraikan dari makna kata suami dan istri. Hal ini sangat jelas berbeda dengan idiom. Idiom juga terbentuk melalui proses penggabungan beberapa kata. Perbedaan antara verba majemuk dan nomina majemuk dengan idiom terdapat pada penulusuran makna kata yang membentuknya. Jika makna verbal majemuk dan nominal majemuk masing dapat diuraikan, makna idiom tidak dapat diuraikan secara langsung dari masing-masing makna yang tergabung. Kata naik dapat digabungkan dengan darah sehingga terbentuk naik darah. Perpaduan dua kata ini menimbulkan makna baru dan tidak ada hubungannya dengan darah yang naik. Berdasarkan panjang-pendeknya, verba majemuk dan verba nominal berbeda dengan idiom. Perpaduan bentuk majemuk pada umumnya terdiri atas dua kata. Tatap muka, bunuh diri, dan maju mundur merupakan contoh verba majemuk dan uang pangkal, anak cucu, dan cetak coba merupakan contoh verba nominal. Akan tetapi, perpaduan pada bentuk idiom dapat terdiri dari dua kata atau lebih. Kata bertepuk sebelah tangan, bermain api, dan memancing di air keruh adalah bentuk-bentuk idiom. Selain bentuk-bentuk di atas, satu hal lagi yang termasuk bentuk majemuk adalah adjektiva majemuk. Ada dua bentuk adjektiva majemuk. Pertama, adjektiva yang merupakan gabungan morfem terikat dengan morfem bebas. Berikut adalah contohcontohnya. antarbangsa pascajual

antiperang ektrakurikuler inkonstitusional interlokal mahakuasa multinasional nirgelar nirlaba

paranormal semipermanen subbagian transkontinental tunakarya ultranasionalis ultramodern

Kedua, adjektiva yang merupakan gabungan dua atau lebih morfem bebas. Berikut adalah contoh-contohnya. berat sebelah besar mulut cacat badan cepat lidah gatal mulut gila pangkat hampa tangan haus darah kotor mulut kuat iman lepas landas lintas budaya mabuk asmara mahal senyum panjang tangan pendek akal hangat-hangat kuku hitam-hitam gula jawa jinak-jinak merpati malu-malu kucing tua-tua kelapa tua-tua keladi

iba hati iri hati

ringan kaki tahan banting

3. Kalimat dalam Karya Ilmiah Kalimat dalam ragam tulis baku harus memiliki minimal subjek dan predikat. Jika syarat ini tidak terpenuhi, susunan kata itu bukanlah kalimat tetapi merupakan frasa. Sebagai satuan bahasa yang relatif dapat berdiri sendiri, kalimat ditandai oleh huruf kapital pada bagian awal dan tanda titik, tanda seru, serta tanda tanya pada bagian akhir. Selain itu, di dalam kalimat—yang unsur-unsurnya berupa kata—terdapat tanda-tanda baca dan spasi.

Paragraf dan wacana yang merupakan satuan lebih besar daripada kalimat akan terbentuk secara utuh apabila kalimat-kalimat yang mendasarinya itu terpola berdasarkan kaidah bahasa yang benar. Dalam hal ini yang dapat dijadikan patokan adalah kalimat efektif, yaitu kalimat yang—apabila disampaikan—mudah dimengeri, jelas, dan lengkap sehingga pesan yang dimaksud oleh penulis/pembicara relatif sama dengan pesan yang diterima oleh pembaca/pendengar. Beberapa ciri kalimat efektif di antaranya kesepadanan struktur, keparalelan, dan pemfokusan makna.

3.1 Kesepadana Struktur Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik (Arifin dan Amran Tasai, 2000:90).

Ciri-ciri yang dimiliki kesepadanan adalah sebagai berikut.

3.1.1 Subjek Tidak Didahului Kata Depan Subjek yang didahului kata depan akan menghilangkan kejelasan kalimat. Secara gramatikal hal ini tidak memungkinkan terjadinya satuan fungsi secara utuh. Artinya, kalimat itu mungkin terdiri atas predikat dan keterangan, tanpa adanya subjek atau subjek dan keterangan, tanpa predikat.. Para linguis sepakat bahwa sebuah kalimat akan mempunyai arti gramatikal jika minimal memiliki subjek dan predikat. Kejelasan kalimat dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kata depan sebelum subjek atau predikat, seperti kata untuk, bagi, tentang, dengan, kepada, pada, di/dalam, dari, dan sebagai, seperti contoh-contoh kalimat berikut. (1) Untuk peraturan kampus STBA LIA Jakarta perlu ditegakkan agar ketertiban tetap terjaga. (2) Bagi karyawan yang tidak masuk kerja sebanyak 20% per tahun tidak akan mendapatkan tunjangan hari raya. (3) Tentang korban bencana alam Gunung Papandayan itu sudah ditangani Pemerintah Daerah Kabupaten Garut dan Provinsi Jawa Barat. (4) Dengan penggunaan bahan bakar gas untuk kendaraan bermotor sangat dianjurkan karena tidak terlalu banyak mencemari udara. (5) Kepada para mahasiswa dilarang memakai sandal di ruang kelas dan di lingkungan kampus STBA LIA Jakarta. (6) Pada Festival Kebudayaan Jepang STBA LIA Jakarta tahun 2002 menampilakan seni origami dan taiko. (7) Mengenai hal itu sudah kami bicarakan dengan pimpinan.

(8) (9)

Di dalam diskusi itu membicarakan masalah tata cara penulisan skirpsi. Dari peristiwa pengeboman di Bali mendapat perhatian dari berbagai pihak

(10) Sebagai orang beriman harus menjalankan perintah dan larangan Allah. (11) Bapak Sudibyo sebagai Ketua STBA LIA Jakarta periode tahun 2002—2006. Kalimat-kalimat di atas mempunyai kata depan yang mendahului subjek (kalimat 1—10) dan predikat (kalimat 11). Kalimat-kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan menghilangkat kata-kata depan yang berada di depan subjek dan predikat. Perbaikan kalimat-kalimat di atas adalah sebagai berikut. (12) Peraturan kampus STBA LIA Jakarta perlu ditegakkan agar ketertiban tetap terjaga. (13) Karyawan yang tidak hadir sebanyak 20% per tahun tidak akan mendapatkan tunjangan hari raya. (14) Korban bencana alam Gunung Papandayan itu sudah ditangani Pemerintah Daerah Kabupaten Garut dan Provinsi Jawa Barat. (15) Penggunaan bahan bakar gas untuk kendaraan bermotor sangat dianjurkan karena tidak terlalu banyak mencemari udara. (16) Para mahasiswa dilarang memakai sandal di ruang kelas dan di lingkungan kampus STBA LIA Jakarta.

(17) Festival Kebudayaan Jepang STBA LIA Jakarta tahun 2002 menampilakan seni origami dan taiko.

(18) Hal itu sudah kami bicarakan dengan pimpinan.

(19) Diskusi itu membicarakan masalah tata cara penulisan skirpsi. (20) Peristiwa pengeboman Bali mendapat perhatian berbagai pihak (21) Orang beriman harus menjalankan perintah dan larangan Allah. (22) Bapak Sudibyo Ketua STBA LIA Jakarta periode tahun 2002—2006. Kata depan diperbolehkankan mengawali kalimat asalkan berfungsi sebagai keterangan. Beberapa contoh dapat dilihat di bawah ini. (23) Mengenai kriteria pembimbing skripsi, Ketua STBA LIA Jakarta sudah mengeluarkan surat putusan. (24) Sebagai bahan pertimbangan Bapak, bersama ini saya lampirkan ijazah terakhir dan daftar riwayat hidup. (25) Dalam diskusi itu dibicarakan masalah tata cara penulisan ilmiah.

3.1.1 Tidak Terdapat Subjek yang Ganda Kalimat yang bersubjek ganda menunjukkan kekuranghati-hatian penulis. Ini terjadi karena gagasan yang ada pada pikiran penulis tidak sejalan dengan kalimat yang dituliskannya. Apabila ditampilkan, kalimat tersebut akan membingungkan pembaca. Di bawah ini contoh-contoh kalimat yang dimaksud. (1) Saya melihat anak itu bingung. (2) Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.

(3) Soal itu saya kurang jelas. Contoh-contoh di atas tidak jelas sehingga sangat mengganggu kelancaran berkomunikasi. Jika kalimat-kalimat itu dianalisis akan tampak dua subjek. Para linguis sepakat bahwa cara mencari subjek sebuah kalimat adalah dengan cara bertanya melalui predikat dengan pertanyaan siapa yang atau apa yang ditambah predikat. Dengan demikian, pertanyaan yang muncul pada kalimat (1) adalah siapa yang bingung. Jawabannya adalah boleh jadi saya atau anak itu. Agar menjadi jelas, kalimat itu dapat diperbaiki dengan dua cara. (4) Jika yang dimaksudkan saya yang bingung, perbaikannya adalah dua varian berikut. a. Saya bingung melihat anak itu.

b. Bingung saya melihat anak itu. (5) Jika yang dimaksudkan si anak yang bingung, perbaikannya adalah dua varian berikut. a. Anak itu saya lihat (sedang) bingung.

b. Saya melihat anak itu (sedang) kebingungan. Pertanyaan pada kalimat (2) adalah apa atau siapa yang dibantu. Jawabannya adalah boleh jadi penyusunan laporan itu atau saya. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan dua cara pula. Jika yang dimaksudkan saya yang dibantu, perbaikannya mejadi adalah sebagai berikut. (6) Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen. Jika yang dimaksudkan penyusunan laporan itu, perbaikannya adalah sebagai berikut. (7) Penyusunan laporan itu dibantu oleh para dosen.

Pertanyaan pada kalimat (3) adalah apa dan siapa yang kurang jelas. Jawabannya adalah boleh jadi soal itu atau saya. Kalimat itu dapat diperbaiki juga dengan dua cara. Jika yang dimaksudkan saya yang kurang jelas, perbaikannya adalah sebagai berikut. (8) Saya kurang jelas mengenai soal itu. Jika yang dimaksudkan soal itu yang kurang jelas, perbaikannya adalah sebagai berikut. (9) Bagi saya soal itu kurang jelas.

3.1.2

Ungkapan Penghubung Intrakalimat Tidak Dipakai pada Kalimat Tunggal Banyak penulis beranggapan bahwa ungkapan penghubung intrakalimat seperti

kata sedangkan dan sehingga dapat dipakai pada posisi awal kalimat tunggal. Padahal hal itu tidak diperbolehkan dalam kaidah bahasa Indonesia. Posisi ungkapan penghubung yang terdapat pada awal kalimat hanya dapat diduduki oleh ungkapan penghubung antarkalimat. Perhatikanlah contoh berikut. (1) Saya membeli motor Honda Supra. Sedangkan kakak membeli motor Kymko. (2) Iqbal bangun terlambat. Sehingga dia tidak dapat mengikuti pelajaran pertama. Perbaikan kalimat-kalimat itu dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk. Kedua, gantilah ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat. Perhatikanlah perbaikan kalimat berikut. (3) Saya membeli motor Honda Supra, sedangkan kakak membeli motor Kymko. (4) Iqbal bangun terlambat sehingga dia tidak dapat mengikuti pelajaran pertama. (5) Saya membeli motor Honda Supra. Akan tetapi, kakak membeli motor Kymko.

(6) Iqbal bangun terlambat. Dengan demikian, dia tidak dapat mengikuti pelajaran pertama.

3.1.3 Predikat Kalimat Tidak Didahului Kata yang Kata yang berfungsi untuk menerangkan sesuatu benda, baik subjek maupun objek. Apabila kata yang terdapat di depan predikat, kalimat tersebut berarti tidak memiliki predikat, seperti contoh kalimat berikut. (1) STBA LIA Jakarta yang terletak di belakang Kecamatan Pancoran. (2) Bayi sehat yang mendapat hadiah perlengkapan mandi. Kedua kalimat itu dapat diperbaiki dengan menghilangkan kata yang di depan predikat. Ubahannya adalah sebagai berikut. (3) STBA LIA Jakarta terletak di belakang Kecamatan Pancoran. (4) Bayi sehat mendapat hadiah perlengkapan mandi.

3.2 Keparalelan Kalimat efektif mengharuskan adanya keparalelan bentuk dan makna. Unsurunsur yang ada dalam kalimat itu, susunan kata atau frasa, harus sejajar pola dan derajatnya.

3.2.1 Keparalelan bentuk Keparalelan bentuk yaitu penggunaan unsur-unsur atau bentuk yang sama dalam kalimat. Jika unsur pertama menggunakan bentuk verba meng-, unsur berikutnya juga harus menggunakan bentuk verba meng-. Demikian pula, jika unsur pertama

menggunakan bentuk nomina ke-an atau pe-an, berikutnya juga harus menggunakan bentuk nomina ke-an atau pe-an. Berikut ini contoh kalimat. (1) Aktivitas di Pesantren Alhusna pada Ramadhan tahun ini di antaranya membaca buku-buku umum berbahasa Inggris, pengkajian Alquran dan Hadis, serta shalat tarawih dikukan bersama. (2) Pembangunan sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat memerlukan kecerdasan, harus ulet, dan aparat pelakunya harus sabar. (3) Kegiatan di perpustakaan meliputi pembelian buku, membuat katalog, dan bukubuku diberi label. Kalimat-kalimat di atas akan menjadi efektif jika diperbaiki sebagai berikut.

(4) Aktivitas di Pesantren Alhusna pada Ramadhan tahun ini di antaranya membaca buku-buku umum berbahasa Inggris, mengkaji Quran dan Hadis, serta melakukan shalat tarawih bersama. (5) Pembangunan sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat memerlukan kecerdasan, keuletan, dan kesabaran aparat para pelakunya. (6) Kegiatan di perpustakaan meliputi pembelian buku, pembuatan katalog, dan pelabelan buku.

3.2.2 Keparalelan Makna

Keparalelan makna yaitu penataan antara gagasan dengan apa yang tertulis terjalin secara cermat. Kecermatan ini ditentukan oleh relasi makna kata di dalam kalimat. Perhatikanlah contoh berikut ini. (1) (2) Saya tidak memperhatikan dan mempunyai kepentingan terhadap masalah ini. Selain pelajar SMU, Panitia juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa. Kalimat-kalimat di atas menunjukkan makna yang tidak paralel. Pada kalimat (1) tidak menegaskan apakah menegasikan atau memositipkan. Jika demikian adanya, bentuk penanda kalimat majemuk perjumlahan itu harus sama, negatif dengan negatif atau positif dengan positif. Berikut perbaikan kalimat (1). (1a) Saya tidak memperhatikan dan tidak mempunyai kepentingan terhadap masalah ini. (1b) Saya memperhatian dan mempunyai kepentingan terhadap masalah ini. Begitu pula kesalahan terjadi pada kalimat (2). Kalimat ini seolah-olah ada dua pelaku perbuatan, yaitu pelajar SMU dan panitia yang memberikan kesempatan kepada para mahasiswa. Jika diuraikan kalimat itu akan seperti contoh berikut. (2a) Selain pelajar SMU memberikan kesempatan kepada para mahasiswa, panitia juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa. Berikut perbaikan kalimat (2). (2c) Selain kepada pelajar SMU, panitia juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa.

3.3 Pemfokusan Yang dimaksud dengan pemfokusan adalah pemusatan perhatian pada bagian kalimat tertentu (Alwi, 2001: 40). Pemfokusan ini dapat dilakukan dengan cara pengedepanan ide pokok kalimat, pengulangan kata (repetisi), dan penekanan atau penegasan seperti contoh berikut. (1) Pulau Sipadan-Ligitan seharusnya masuk wilayah Republik Indonesia. (2) Pandai berbicara, pandai bergaul, dan pandai membujuk adalah modal utama seorang pialang. (2) Saudaralah yang bertanggung jawab. Pada kalimat (1) terlihat bahwa pemfokusan terdapat pada bagian awal kalimat. Ide pokok yang dikedepankan pada kalimat tersebut ada pada subjeknya, yaitu pulau Sipadan-Ligitan. Jika bagian awal diubah, ide pokok kalimat itu juga akan menjadi lain seperti contoh berikut. (1a) Seharusnya pulau Sipadan-Ligitan masuk wilayah Republik Indonesia. Pada kalimat (2) terdapat pengulangan kata pandai. Apabila dilihat berdasarkan jumlah kata pandai yang muncul dalam kalimat tersebut boleh jadi dianggap tidak efektif. Sementara itu, kalimat efektif menghendaki adanya penghematan kata. Persoalannya bukan pada masalah kemubaziran kata, tetapi lebih menekankan pada penegasan pernyataan. Jika kemunculan kata pandai itu hanya sekali tentu akan terasa lain kesannya seperti contoh berikut. (2a) Pandai berbicara, bergaul, dan membujuk adalah modal utama seorang pialang.

Simpulan

Memandang bahwa bahasa Indonesia tidak perlu dipelajari adalah jelas sikap yang salah. Kesalahan ini boleh jadi berawal ketika rasa positif terhadap bahasa itu tidak dimiliki oleh seseorang. Akibat yang timbul adalah seseorang tidak lagi bangga terhadap bahasa Indonesia. Penggunan bahasa Indonesia secara tidak beraturan pun tidak lagi menjadi persoalan. Kaidah dan norma bahasa bukan hal yang harus dipahami. Persoalan apakan itu menyimpang dari aturan tidak merupakan tindakan yang harus diperbaiki. Itu semua akibat adanya sikap tidak acuh dan tidak positif terhadap bahasa Indonesia. Harus disadari bahwa setiap bahasa dipastikan memiliki aturan, kaidah dan norma. Sama halnya dalam bahasa Indonesia, semua itu ada aturan mainnya. Persoalannya memang kadang-kadang orang sering tidak sadar bahwa ketika berbahasa ada koridorkoridor tertentu yang harus dipatuhi, terlebih-lebih dalam karya ilmiah. Setiap tulisan ilmiah apakah itu berbertuk skripsi, thesis, disertasi, atau sejenisnya memiliki terikatan norma bahasa yang baku. Setiap kalimat yang muncul harus jelas makna dan acuannya, tidak boleh ada makna ambigu. Jika ada makna membias, dapat dipastikan kalimat akan menjadi rancu. Dengan kata lain, kalimat itu tidak jelas sasarannya. Kejelasan makna akan diperoleh apabila kalimat tersebut efektif.

PENELITIAN DI BIDANG PENERJEMAHAN*

Benny Hoed Guru Besar Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia; Ketua Umum Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI)

Abstrak

Penerjemahan adalah suatu upaya mengungkapkan kembali pesan dari suatu bahasa ke dalam bahasa yang lain. Pada dasarnya di dalam penerjemahan tidak ada yang benar atau salah secara mutlak. Hal ini tergantung untuk apa dan untuk tujuan siapa penerjemahan itu dibuat. Di dalam penerjemahan teks sasaran (TSa) isinya harus sama dengan teks sumber (TSu) atau boleh jadi bentuknya berbeda, tetapi maknanya serupa. Dengan demikian, makna atau pesan yang dimaksud dalam bahasa sumber (BSu) dapat dipahami atau mempunyai nilai yang sama dengan bahasa sasaran (BSa). Dalam teori penerjemahan ada dua jenis kajian, yaitu (1) yang bertujuan membantu penerjemah dalam melaksanakan pekerjaannya dan (2) yang bertujuan mengembangkan teori penerjemahan sebagai landasan kajian, bukan sekedar hubungan antarbahasa, melainkan hubungan antar budaya. Di antara kedua tujuan ini timbul jenis kajian yang mempunyai fungsi ganda: teori dan kritik terjemahan.

Kata Kunci: Penerjemahan, Bahasa Sasaran, Bahasa Sumber

Abstract
A translation is a transfer of massage from one language to another. There’s no right or wrong in one’s translation. It depends on whose the readers are and the purpose of the translation. A translator may change the forms used in the target language as long as the massage is still the same. Therefore, the meaning in the source language will still be achieved through the target language. There are two analyses used in the theory of translation, they are: (1) one meant to help a translator do his job and (2) one meant to develop analyse both the theory of translation in the two languages (Source and Target Language) and the different cultural background. There are two functions in these two analyses: the theory of translation and the critics of translation.

Keywords: Translation, Target Language, Source Language _____________
*Makalah untuk Lokakarya Penelitian PPM STBA LIA, Wisma Karya Sartika, Cipanas. Jawa Barat. 3 Juni 2003.

Penerjemahan adalah upaya mengalihkan pesan dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Oleh karena itu, kita tidak dapat melihat penerjemahan sebagai sekedar upaya menggantikan teks dalam satu bahasa ke dalam teks1 bahasa lain. Nida dan Taber (1974:

12) mengemukakan bahwa penerjemahan “consists in reproducing in the receptor language the closest natural equivalent of the source language message, first in terms of meaning and secondly in terms of style”. Jadi, intinya penerjemahan adalah suatu upaya mengungkapkan kembali pesan dan suatu bahasa ke dalam bahasa yang lain. Kata-kata receptor language memperlihatkan bahwa penerjemahan merupakan kegiatan komunikasi. Oleh karenanya, konsep benar-salah (correctness) dalam penerjemahan, menurut mereka (opcit. : 1) didasari oleh “untuk siapa” penerjemahan itu dibuat. Dengan demikian, tidak ada terjemahan yang benar atau salah secara mutlak. Bahkan saya dapat menambahkan bahwa benar-salah dalam penerjemahan juga tergantung pada “untuk tujuan apa” penerjemahan itu dilakukan. Dalam kaitan ini, ada yang melihat penerjemahan sebagai suatu bentuk khusus komunikasi. Hatim dan Mason (1997: 1) mendefinisikan penerjemahan sebagai “an act of communication which attempts to relay, across cultural and linguistic boundaries, another act of communication (which may have been intended for different pruposes and different readers/hearers). Penerjemah dalam hal ini adalah penerima (pesan) dalam bahasa asli (disebut bahasa sumber, disingkat BSu) dan kemudian, pada saat menerjemahkan ia bertindak juga sebagai pengirim (pesan) dalam bahasa terjemahan (disebut bahasa sasaran, disingkat BSa).

______________
1

Yang dimaksud dengan teks di sini adalah produk kebahasaan tertulis atau pun lisan

Bila yang diupayakan oleh seorang penerjemah adalah pengungkapan kembali pesan BSU dalam BSa, maka secara tekstual teks sasaran (TSa) harus sepadan (isinya) dengan teks sumber (TSu)’. Dalam teori penerjemahan, dua teks (TSu dan TSa) yang sepadan adalah dua teks yang isinya dipahami secara serupa oleh penerima (pembaca atau pendengar) masing-masing dalam BSu dan BSa. Oleh karena itu, Nida dan Taber (1974: 173) mengemukakan bahwa secara tekstual terjemahan (TSa) yang benar adalah yang merupakan “dynamic equivalence” dan TSu, yakni yang bentuknya mungkin

berbeda, tetapi “makna”nya serupa, yakni yang oleh penerima TSa dipahami serupa seperti TSu dipahami oleh penerimanya dalam BSu. Jadi, sepadan bukan sama, melainkan mengandung “nilai” yang sama.

Orientasi dalam Penerjemahan Apa yang dikemukakan di atas belum menjelaskan secara tuntas masalah dasar dalam penerjemahan. Newmark (1988: 4) mengemukakan betapa sebuah terjemahan melibatkan TSu dan TSa pada dua kutub yang berlawanan. Di satu pihak TSu dipengaruhi oleh empat faktor, yakni pemroduksi teks (tertulis atau lisan), norma dalam BSu, kebudayaan BSu, dan format TSu. Di pihak lain, Tsa juga dipengaruhi oleh empat faktor, yakni sidang pembaca atau pendengar TSa, norma dalam BSa, kebudayaan BSu, dan format TSa. Semua itu akan mempengaruhi hasil penerjemahan. Di samping itu, masih ada dua faktor lagi yang mempengaruhi proses penerjemahan, yakni latar belakang pemikiran penerjemah dan pemahaman tentang hal yang dibicarakan dalam TSu yang mungkin berbeda atau tidak ada dalam BSa. Jadi sebuah teks atau ujaran ditentukan pemahamannya oleh konteksnya, baik di pihak BSu maupun BSa. Inilah yang oleh Newmark disebut sebagal “the dynamics of translation”. Konteks juga menyangkut tujuan penerjemahan. Faktor ini mempengaruhi metode yang dipilih oleh penerjemah (Newmark 1988: 45). Yang dimaksud dengan metode adalah cara yang dipilih penerjemah sesuai dengan apakah lebih dekat dengan BSu atau BSa. Ada dua kutub yang saling menarik, yakni BSu dan BSa. Metode yang berorientasi kepada BSu adalah metode “penerjemahan semantik”, yakni yang mementingkan pengalihan makna pada tataran terendah (misalnya kata atau ungkapan). Dalam metode ini ungkapan idiomatik tidak dicarikan padanannya, tetapi dialihbahasakan saja meskipun idiom semacam itu tidak terdapat dalam BSa. Misalnya, (1) “Nobody is gonna buy that idea” diterjemahkan dengan (la)”Tak seorangpun akan membeli gagasan itu”

Dalam hal tertentu, ini dapat juga disebut sebagai “penerjemahan setia” terutama apabila terjemahan itu berbunyi, (1b) “Tidak satu orangpun akan membeli gagasan itu” yang terasa lebih “kaku” dan “asing” daripada yang pertama. Dalam pada itu, apabila penerjemahan lebih berorientasi kapada BSa, maka disebut metode “penerjemahan komunikatif’. Di sini, yang penting adalah agar pesan dipahami dalam konteks BSa. Kalimat Inggris di atas akan diterjemahkan menjadi: (1c) “Tak seorangpun mau menerima gagasan itu” yang lebih menekankan pada keberterimaan dalam BSa.2

______________
2

Sebenarnya Newmark berbicara tentang delapan metode dasar dalam penerjemahan (Newmark 1988:4548). Di samping dua metode yang dibicarakan di atas, tiga di antaranya lebih dekat lagi orientasinya kepada BSu (penerjemahan kata-demi-kata, harfiah, dan setia) dan tiga lagi lebih dekat lagi kepada BSa (saduran atau adaptasi, penerjemahan bebas, dan penerjemahan idiomatik). Namun. tidak relevan untuk dibicarakan di sini. Yang penting kita pahami bahwa bahwa tidak ada hanya satu metode dan bahwa metode-metode itu dibedakan berdasarkan orientasinya ke BSu ata BSa, dan dipilih berdasarkan tujuan tertentu.

Melihat adanya dua orientasi yang berbeda (BSu dan BSa), maka kita pun dapat melihat tujuan penerjemahan dan perspektif yang lebih luas. Venuti (1995; 17-28) berbicara mengenai “foreignizing translation” (yang berorientasi kepada BSu) dan “domesticating translation” (yang berorientasi kepada BSa)3. Dalam hal yang pertama, penerjemah sepenuhnya berada di bawah kendali penulis TSu, sehingga penerjemah menjadi tidak terlihat (invisible). Di sini yang menonjol adalah penulis teks yang diterjemahkan dan yang hadir di hadapan pembaca adalah suatu aspek kebudayaan “asing” yang diungkapkan dalam bahasa sang pembaca. Dalam hal kedua, penerjemah menentukan apa yang diperlukan agar terjemahannya tidak dirasakan sebagai karya “asing” bagi pembacanya (dalam hal ini penerjemah menjadi lebih terlihat karena karyanya dianggap sebagai “turunan” bahkan semacam “adaptasi”). Foreignization dan

domestication dapat dikatakan merupakan semacam cara pandang dalam penerjemahan. Ini bergantung pada tujuan menerjemahkan. Hasil penerjemahan berdasarkan tujuan diakui sebagai terjemahan. Bahkan apabila menjadi dasar dalam pembentukan kebijakan dalam hal penerjemahan teks-teks bermuatan budaya, bisa disebut ideologi.

______________
3

“I want to suggest that in so far as foreignizing translation seeks to restrain the ethnocentric violence of translation, it is highly desirable today, a strategic cultural invention in the current state of world affairs, pitched against the hegemonic English-language nations and the unequal cultural exchanges in which they engage their global exchanges.” (Venuti 1995: 20). Nida dan Taber (1974) dalam seluruh bukunya tentang penerjemahan Kitab Injil mendorong penerjemah melakukan domesticating translation meskipun Ia tidak secara eksplisit menggunakan istilah yang- digunakan Venuli itu. Namun, kita sudah dapat menangkap pada halaman pertama bukunya bahwa “correctness must be determined by the extent to which the average reader for which a translation is intended will likely to understand it correctly. “Jadi, kata kunci path mereka menjadi “Anything that can be said in one language can be said in another, unless the form is an essential element of the message” dan “equivalence rather than identity”. Bagi Nida dan Taber (1964: 12) penerjemahan adalah upaya “pengungkapan kembali pesan dan suatu bahasa ke bahasa yang lain” dan bukan sekadar pengalihbahasaan.

Kecenderungan ini dikenal dengan nama “skopos”. Salah satu contoh yang terbaru adalah “Diskusi Panel Penerjemahan Cerita Anak-Anak” yang diselenggarakan oleh Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) di Jakarta (24 Mei 2003). Ada dua pembicara dalam panel tersebut, yaitu Listiana Srisanti4 dan Murti Bunanta5. Keduanya mempunyai minat besar pada cerita anak-anak, yang pertama dalam penerjemahan, sedangkan yang kedua dalam penelitian tentang cerita anak-anak termasuk penerjemahannya. Salah satu topik pembicaraan yang menarik dikemukakan oleh Srisanti, yakni tentang sebutan Mr., Mrs., Mom, Dad, dan sebagainya yang ber”warna” asing. Kata-kata itu tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan alasan sapaan-sapaan seperti itu “tidak lagi asing bagi pembaca Indonesia”. Demikian pula kata sandwich, tidak dialihkan ke dalam bahasa Indonesia dengan alasan yang sama (Srisanti 2003: 5). Dalam penerjemahan buku Harry Potter, Srisanti cenderung menerjemahkan secara setia (bukan harfiah) dan semantik, misalnya pepperup (merica─ mujarab), remember all (bolaingatsemua), Nearly─headless Nick (Nick

si kepala─nyaris─putus), cheering charms (jampi jenaka), dan Kwikspel — A Correspondence for Beginners (Mantra Kilat Kursus Sihir Tertulis untuk Pemula). Srisanti dalam penjelasan selanjutnya mengemukakan bahwa kebudayaan asing yang disajikan dalam buku cerita Harry Potter sengaja diperlihatkan agar dikenal oleh anakanak kita, yakni agar anak-anak kita mempunyai pengetahuan tentang kebudayaan lain. Ini adalah suatu konsep penerjemahan foreignization atau transferensi, yang ingin menerjemahkan dengan mengalihkan nilai-nilai budaya bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Tentu saja tidak berarti ______________
4

Listiana Srisanti adalah penerjernah dan editor buku anak pada penerbit PT Grarnedia. 5Dr Murti Bunanta adalah Ketua Kelompok Pencita Bacaan Anak (KPBA) dan spesialis sastra anak.

Srisanti tidak berusaha agar terjemahannya enak dibaca. Justru ia menginginkan agar terjemahannya itu “enak dibaca”. Ia mengemukakan bahwa untuk menjadi penerjemah buku anak yang baik harus memenuhi tiga syarat, yakni “bisa bercerita, menguasai bahasa Inggris (atau bahasa asing lain buku yang akan diterjemahkan) dengan baik, menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar.” (Srisanti 2003: 1). Di dalam diskusi terungkap antara lain pendapat Murti Bunanta yang mengatakan bahwa seharusnya katakata asing termasuk kata-kata sapaan seperti Mr., Mrs., Uncle, Aunt, dan sebagainya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar keseluruhan terjemahan hadir sebagai bagian dari bahasa Indonesia. Di sini kita dapat melihat suatu contoh kecenderungan domestication yang dianut oleh Bunanta. Tentu domestication yang Iebih tinggi kadarnya adalah pada saduran cerita binatang (fabel) di mana tokoh-tokoh hewan asing dan lingkungan alamnya diganti dengan tokoh hewan dan alam yang ada dalam bahasa sasaran. Misalnya, rubah yang di dalam kebudayaan Eropa dikenal sebagai binatang yang licik diganti dengan kancil. Namun, perlu dicatat bahwa kelicikan rubah (culas, penipu, kejam) tidak sama dengan kelicikan kancil (cerdik, menipu karena mempertahankan diri terhadap binatang yang lebih besar). Jenis flora pun digantikan dengan tetumbuhan yang ada di Indonesia seperti cabai dan mentimun. Begitu pula jenis makanan, seperti keju yang di pegang burung gagak dengan paruhnya (di Eropa) diganti dengan dendeng.

Mana yang benar dan kedua kecenderungan ideologis tersebut di atas tidaklah dapat dinyatakan secara mutlak. Keduanya mempunyai fungsi dalam kehidupan budaya suatu masyarakat. Apalagi masyarakat kita termasuk masyarakat yang terbuka untuk memperoleh informasi tentang kebudayaan mana pun. Tentu saja─dalam hal buku anak─masih diperdebatkan dampaknya terhadap pendidikan anak-anak. ini tidak hanya menyangkut pemilihan salah satu dan dua konsep tersebut di atas, tetapi terutama dalam pemilihan (isi) buku ceritanya.

Konteks dalam Penerjemahan Newmark (1988:20) mengemukakan bahwa kerangka acuan bagi proses penerjemahan bertolak dan masalah kebahasaan dan budaya yang ditanggulangi dengan melibatkan faktor konteks yang akhirnya diikuti dengan pemilihan prosedur penerjemahan. Kerangka acuan itu yang digunakan sebagai dasar berpikir dalam proses penerjemahan, dapat digambarkan sebagai berikut ini.

Masalah antar bahasa/antarbudaya → Faktor konteks → Prosedur
Dari kerangka acuan tersebut di atas terlihat bahwa faktor konteks merupakan jalan ke luar dan masalah yang timbul akibat perbedaan antara dua bahasa yang terlibat dalam proses penerjemahan. Artinya bahwa unsur BSa yang merupakan padanan bagi unsur BSu bisa ditemukan melalui konteks. Jadi, yang dicari bukanlah makna formal, tetapi makna kontekstual. Perhatikan contoh berikut ini. (2) Someone is looking for you. (2a) Ada yang mencarimu.

Kata someone menurut konteksnya lebih tepat diterjemahkan dengan ada (padanan kontekstual) bukan dengan seseorang (padanan formal), contoh lain adalah seperti berikut ini.

(3) By the will of God (dalam konteks terjadinya suatu kerusakan yang dapat diganti oleh asuransi). (3a) Di luar kemampuan manusia.

tidak

Jadi, terjemahan by the will of God dalam konteks peraturan asuransi tidak diterjemahkan dengan atas kehendak Tuhan, tetapi dengan di luar kemampuan manusia. Di sinilah konteks dapat memecahkan masalah perbedaan antar bahasa untuk menemukan padanan yang tepat, yakni berterima bagi pembaca dalam BSa. Bagaimana penerjemahan itu harus dilakukan, disebut prosedur.6

Penerjemahan Berdasarkan Wacana Penekanan pada konteks berkembang menjadi penekanan pada wacana (discourse-based translation). Dengan demikian, kita kembali kepada konsep “dinamika penerjemahan” (the dynamics of translation) seperti dikemukakan Newmark dan sudah dikutip di atas. Ada sepuluh faktor yang mempengaruhi pemaknaan teks yang hams diperhatikan dalam penerjemahan. Jadi, harus dipahami bahwa wacana lebih luas daripada teks. Secara sederhana dapat dikatakan bahwadalam kaitan dengan penerjemahanwacana adalah teks dengan seluruh faktor yang mempengamhi pemaknaannya, baik sebagai TSu maupun TSa. Wacana adalah teks dengan selumh konteks dan situasi yang melingkunginya. Oleh karena itu, konsep penerjemahan berdasar makna (meaning-based translation) (cf. Larson 1984) harus diperluas kerangka acuannya. Upaya itu sudah dilakukan oleh Nord (1991) dan kemudian Jabr (2001) mengemukakan bahwa dalam hal penerjemahan berdasar wacana ada dua model, yakni model Newmark (1988) dan model Hatim dan Mason (1990). Model Newmark, didasari oleh ciri-ciri khas yang mecolok dalam sebuah teks, antara lain, koherensi, kohesi, tema, rema, enumerasi, oposisi, kelewahan, konjungsi, substitusi, komparasi, negasi inisial, tanda baca, dan retorika. Newmark juga meminta penerjemah memparhatikan nada, maksud, jenis (fungsi teks), laras, dan fitur-fitur pragmatik dalam sebuah teks. Dalam pada itu, Hatim dan Mason memandang penerjemahan sebagai penciptaan dan oleh

______________
6

Tidak akan dibicarakan di sini. Lihat antara lain Newmark (1988) pada Bab 5 dan Bab 8.

diperluas lagi oleh Hatim dan Mason (1990) dan oleh Hatim dan Mason (1997). karena itu, setiap bagian teks yang diterjemahkan harus dilihat pemrosesan teks (baru) sebagai bagian dan fungsi retorik yang berada pada tataran yang lebih tinggi. Oleh karena itu, bagi mereka penerjemahan merupakan sesuatu yang dinamis. Maksudnya adalah bahwa penerjemahan merupakan suatu jenis komunikasi yang khusus, seperti yang dicerminkan dalam definisinya tentang penerjemahan yang sudah dikutip di atas. Jadi, bagaimana terjemahan (padanan) kata-kata asing berikut diperoleh, sangat ditentukan oleh tempatnya dalam wacana. Perhatikan contoh berikut ini. (4) Lost and Found (tempat kita dapat menanyakan dan mungkin memperoleh kembali barang yang hilang misalnya—di suatu taman rekreasi.) (4a) Barang Hilang. (4b) Barang Ditemukan. Dua dan sekian banyak kemungkinan terjemahan di atas hanya dapat dipahami dalam rangka wacana papan pemberitahuan di suatu tempat rekreasi. Contoh lain ialah (5) Right lane must turn right (petunjuk di jalan raya di Amerika Serikat yang lalu lintasnya di sebelah kanan) (5a) Belok kanan langsung. Terjemahan (5a) merupakan analogi dan Belok kiri langsung yang terdapat dalam petunjuk di jalan di Indonesia yang lalu-lintasnya di sebelah kiri. Sekali lagi, pemahanan teks (5) dan (5a) hanya dapat dilakukan dalam rangka wacana sistem lalu-lintas.

Selanjutnya dapat ditambahkan bahwa dalam proses penerjemahan harus memperhatikan kaitan intertekstual yang terdapat antara teks tersebut dan teksteks lain, baik dalam TSu maupun nantinya yang mungkin terjadi dalam TSa. Semiotik dan Penerjemahan Beranjak dari konsep penenjemahan berdasar wacana, kita dapat berlanjut pada konsep penerjemahan berdasar semiotik. Intinya adalah bahwa dalam setiap teks selalu ada unsur teks yang tidak sekadar kita lihat sebagai bagian teks dengan segala konteks dan situasi yang melingkunginya, tetapi juga sebagai tanda yang dimaknai oleh penulis dan pembaca (pendengar) TSu dan calon pembaca (pendengar) TSa. Pembicaraan tentang pendekatan semiotik dapat ditemukan dalam Hewson dan Martin (1991) di mana ia berbicara tentang “language-culture” (disingkat LC) dan bukan sekadar “language” (Hewson dan Martin 199 1:8-13). Dengan demikian, penerjemahan dilakukan dalam rangka sistem budaya tempat teks yang bersangkutan terdapat. Ini berarti, teori penerjemahan akan membicarakan proses signifikasi dan komunikasi yang merupakan konsep dasar dalam semiotik, di samping konsep pengungkapan kebahasaan (linguistic expression). Oleh karena itu, dalam teori ini dibicarakan apa yang disebut “ideological representation” dalam penerjemahan.

Marilah kita perhatikan contoh berikut ini: (6) Good morning, Sir (di desa di Inggris) (6a) Mau kemana, Pak? (6b) Ke kantor, Pak? (6c) Selamat pagi, Tuan. Pemilihan satu di antara tiga kemungkinan terjemahan di atas tergantung dan situasi (baca: wacana “salam”) pertemuan antara dua orang itu di desa. Kalau situasinya

disesuaikan dengan situasi di desa Indonesia, maka yang dipilih (6a) dan (6b), karena di desa “Selamat pagi” hampir tidak dikenal dalam wacana “salam”. Akan tetapi (6c) dapat dipilih untuk tetap mempertahankan situasi “asli “nya (di desa di Inggris). Pertanyaan kita: apa yang dapat membuat kita memilih (6a) dan (6b) di satu pihak atau (6c) di pihak lain? Wacana saja tidak cukup sebagai dasar. Di sini semiotik dapat berperan, yakni digunakannya konsep “representasi”: salah satu ujaran itu mewakili budaya apa? Juga kita dapat menggunakan konsep “tanda sebagai konvensi” (dalam semiotik Peirce disebut symbol (lambang): salah satu ujaran itu merupakan lambang dalam konvensi apa? Kita dapat mengatakan bahwa (6a) dan (6b) mewakili kebudayaan desa di Indonesia, sedangkan (6c) mewakili kebudayaan BSu (desa di Inggris). Setiap ujaran terjemahan itu juga dapat dilihat sebagai lambang yang bermakna “sapaan hormat antara dua orang yang saling mengenal tetapi tidak terlalu akrab”. Ujaran (6a) dan (6b) berlaku sebagai lambang di desa Indonesia, sedangkan (6c) di Inggris.7 Pendekatan semiotik ini bisa berguna untuk memecahkan masalah penerjemahan teks yang sarat dengan faktor kebudayaan.

Penelitian di Bidang Penerjemahan Tujuan Kajian dan Dua Jenis Teori Para pakar pada dasarnya sepakat untuk mengatakan bahwa ada dua dua jenis teori penerjemahan. Yang pertama adalah yang bertujuan membantu penerjemah melakukan tugasnya (translator-based theories), sedangkan yang kedua adalah yang bertujuan membuat analisis dan deskripsi teoretis atas hasil penerjemahan (text-based atau research-based theories).
______________

7

Situasi di Indonesia yang dikemukakan di atas tidak tepat benar karena dalam kenyataan sangat tergantung dan daerahnya. Namun, prinsip dasarnya dapat kita katakana bahwa di banyak desa kita sapaan “salam” Selamat pagi sangat jarang digunakan.

Berdasarkan pembedaan itu, kita dapat membedakan penelitian untuk mengembangkan teori guna membantu pekerjaan penerjemah dengan penelitian untuk melakukan analisis

dan deskripsi yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori. Di antara kedua jenis penelitian itu, ada satu jenis penelitian lagi yang bertujuan mengulas atau melakukan kritik atas suatu terjemahan (translation criticism). Ini merupakan gabungan antara analisis, deskripsi, dan evaluasi. Dalam hal melakukan evaluasi, pengkritik harus melihat dari segi penerjemah (mengapa penerjemah memilih suatu padanan) dan dari segi pengkritik sendiri (setuju atau tidak setuju dengan pilihan penerjemah apa dasarnya). Newmark (1988: 184-192) mengemukakan bahwa kritik terjemahan merupakan “jembatan” (link) antara teori dan praktik penerjemahan. Secara garis besar penelitian dibidang penerjemahan dapat ditujukan ke dua arah yang berbeda, yakni (1) untuk menghasilkan teori dan metode serta prosedur guna membantu penerjemah dalam melakukan pekerjaannya, dan (2) mengembangkan metodologi penerjemahan dan tenik analisis guna (a) mengembangkan teori penerjemahan dan (b) melakukan kritik atau ulasan atas terjemahan.

Strategi dalam Penerjemahan Meskipun Catford (1965: 20) menggambarkan penerjemahan sebagai kegiatan satu arah (uni-directional), pada hakikatnya proses penerjemahan selalu dibayangi oleh daya tarik-menarik antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Ivir (19?) menggambarkan kajian penerjemahan sebagai kajian atas parole (bahasa dalam praktik) yang berbeda dengan kajian kontrastif yang terfokus pada langue (sistem bahasa). Akibat dan adanya dua kutub yang saling menarik itu, penerjemah selalu dihadapkan dengan masalah strategi penerjemahan. Newmark telah menggambarkan strategi penerjemahan yang beronientasi kepada TSu (semantik) dan yang berorientasi pada TSa (komunikatif). Dalam kaitan ini, kita dapat mengutip konsep strategi yang dikemukakan oleh Nord (1991:72-73) yang membedakan documentary translation dengan instrumental translation. Yang pertama adalah terjemahan sebagai upaya mengungkapkan kembali isi sebuah teks dalam bahasa sasaran tanpa tujuan lain bagi kelompok sasaran terjemahan kecuali hanya mengetahui apa pesan yang terkandung

dalam teks sumber, sedangkan yang kedua adalah upaya mengungkapkan kembali pesan dari teks sumber dengan tujuan khusus yang berkaitan dengan kemungkinan dampaknya dalam kelompok sasaran terjemahan. Kehadiran karaktenistik bahasa sumber sangat dominan, ini sejajar dengan apa yang dikemukakan Newmark 1988: 46) sebagai penenjemahan semantic, dan Venuti (1995: 17-28) sebagai foreignizing translation. Dalam upaya penerjemahan jenis instrumental itu, kita dapat memasukkan strategi penerjemahan komunikatif (Newmark 1988: 47) dan Venuti (1995: 17-28) sebagai domesticating translation. Jadi, penelitian di bidang penerjemahan pada masa kini tidak lagi sekedar membandingkan kata atau kalimat dalam TSu dan TSa, tetapi terfokus pada strategi penerjemahan, yakni konsep apa yang digunakan untuk melakukan penerjemahan. Dalam setiap upaya penerjemahan selalu terlibat dua bahasa yang berbeda, yang telah kita kenal sebagai BSu dan BSa. Perbedaan ini berimplikasi bahwa ada teks asli (teks sumber) yang kemudian—sebagai akibat dan kegiatan penenjemahan—menghasilkan teks tenjemahan (teks sasaran). Yang menarik adalah bahwa teks sasanan hanya ada jika ada tindakan penerjemahan. Dalam teori-teori yang terdahulu, TSa dianggap sebagai sekadar turunan (derivat) TSu. Dalam teori-teori yang mutakhir — terutama dengan adanya konsep “skopos”8 — Tsa, meskipun “lahir” dan penerjemahan, dapat dipandang sebagai mempunyai peran yang mandiri dan dinamis dilingkungan penerima dalam Bsa. Pandangan ini melahirkan adanya strategi dalam penerjemahan karena penerjemahan bukan sekadar alih bahasa, tetapi pengungkapan kembali pesan yang dilakukan berdasarkan suatustrategi tertentu berdasarkan peranan teks terjemahan.dalam masyarakat BSa.9 Apa yang dikemukakan di atas dapat digambarkan dengan bagan berikut. _______________________________________________________________ Bagan 1: Strategi

BSu/TSu →

penerjemahan→

BSa/TSa

STRATEGI
[orientasi kegiatan penerjemahan] “documentary translation” “instrumental translation”

“foreignization”

“domestication”

_______________________________________________________________
_____________________________________

8

“Skopos (Greek: ‘pupose’, ‘goal ‘), is an appropriate name for a theory which focuses on such aspects of translation process as interactional dynamics and pragmatic purpose. The theory holds that the way the target text eventually shapes up is determined to a great extent by the function. or ‘skopos’. intended for it by the target context. (....) (Hatim, 2001: 74).
9

Harian Kompas yang terbit Sabtu, 24 Mei 2003, memuat karangan dan ulasan tentang situasi penerjemahan di Indonesia. Harian tersebut mengajukan pertanyaan yang bersifat strategis, yakni bahwa kini Indonesia dibanjiri dengan buku terjemahan, tetapi mutunya tidak semua baik. “Siapa yang bertanggung jawab?” tanya Kompas. Bagaimana dampak suatu karya terjemahan dalam suatu masyarakat sasaran merupakan hal yang banyak diteliti orang pada akhir-akhir ini.

Perincian Fokus dan Kelompok Topik Penelitian Fokus yang lebih terperinci bagi kajian atas terjemahan dapat dibagi dua, yakni satu yang berorientasi pada proses dan satu lagi pada produk penerjemahan. Yang berorientasi pada proses lebih banyak melihat pada proses kegiatan penerjemahan, termasuk apa yang terjadi saat penerjemah melakukan pekerjaannya. Dalam kaitan ini segi ingatan (memory) merupakan faktor yang mendapat perhatian juga yang berorientasi pada produk lebih banyak melihat teks (sumber dan terutama sasaran) sebagai objek

kajian (cf. Bell 1991). Di dalam kerangka ini objek penelitiannya dapat terfokus pada penerjemahan dan segi komunikasi, semiotik, dan pragmatik. Bertolak dan perincian fokus tersebut di atas, kita dapat memperinci fokus penelitian berdasarkan kelompok topik berikut ini. _______________________________________________________________ Bagan 2: Rincian Fokus Penelitian RINCIAN FOKUS [kelompok topik penelitian]

segi proses penerjemahan segi proses penerjemahan ↓ segi komunikasi segi semiotic segi pragmatic _______________________________________________________________ Dua Jenis Teori dan Tiga Jenis Kajian

Akhirnya, perlu diingatkan kembali bahwa ada dua jenis kajian yang dilandasi oleh dua jenis teori yang berbeda, yakni (1) yang bertujuan membantu penerjemah dalam melaksanakan pekerjaannya dan (2) yang bertujuan mengembangkan teori penerjemahan sebagai landasan kajian, bukan sekadar hubungan antarbahasa, melainkan terutama hubungan antarbudaya. Di antara kedua terjemahan, yang dipandang sebagai “jembatan” antara teori dan praktik penerjemahan. Perhatikan bagan berikut.

_______________________________________________________________ Bagan 3: Tujuan Kajian

TUJUAN KAJIAN
[Orientasi pengembangan teori] “translator-based theories” “research-based theories” “translation critism”

Penutup Demikianlah beberapa pemikiran mengenai penelitian di bidang penerjemahan. Penelitian di bidang penerjemahan, seperti dikemukakan oleh Catford (1965:20), termasuk cabang penelitian linguistic bandingan (comparative linguistics). Namun, Penelitian jenis ini mempunyai sifat khusus, yakni cara pandangnya bersifat satu arah (uni-directional). Peneliti memandang objeknya sebagai suatu proses dan/atau hasil penerjemahan yang melibatkan bahasa sumber dan bahasa sasaran. Dari sini kita melihat adanya gerakan tarik-menarik antara bahasa sumber dan bahasa sasaran, yang kemudian melahirkan strategi penerjemahan. Strategi ini secara umum, mencakupi upaya foreignization atau domestication. Karena itulah Ivir (19?) mengemukakan bahwa kajian penerjemahan adalah kajian atas parole yang berbeda dengan kajian kontrastif yang fokus utamanya adalah langue. Penelitian tentang penerjemahan adalah mengenai bahasa dalam praktik (language in use) yang tidak harus selalu bermuara pada pemerian system bahasa. Tentu saja penelitian penerjemahan dapat membantu kajian kontrasif, yang fokusnya adalah membandingkan secara timbal balik dua sistem bahasa. Inilah dasar bagi penelitian di bidang penerjemahan. Perlu dicatat bahwa tulisan ini masih merupakan upaya awal yang masih memerlukan penyempurnaan.

Jakarta, 27 Mei 2003

DAFTAR PUSTAKA
Bell, R.T. 1991. Translation and Translating. London/New York: Longman

Hatim, B. 2001. Teaching and Researching Translation. London/New York: Longman

Hatim, B. dan I. Mason. 1997. The Translator as Communicator. London/New York: Routledge.

Hewson, L. dan J. Martin. 1991. Redefining Translation. The Variational Approach. London/New York: Routledge.

Ivir, V. 1979. The Communicative Model of Translation in Relation to Contrastive Analysis. Zagreb: Institute of Linguistics, Zagreb University (Preprint).

Jabr, A-F. M. 2001. “Arab Translator’s Problems at the Discourse Level” dalam Babel. International Journal of Translation. Vol. 47, no.4.

Larson, M.L. 1984. Meaning-Based Translation. A Guide to Cross-language Equivalence. Lanham, Maryland: University Press of America.

Newmark, P. 1988. A Textbook of translation. London/New York/Toronto/Sydney/Tokyo: Prentice Hall.

Nida, E.A. dan Ch. R. Taber. 1974 (1969). The Theory and Practice of Translation. Helps for Translators. Den Haag: Brill.

Nord, Chr. 1991. Text Analysis in Translation. Amsterdam/Atlanta, GA: Rodopi.

Venuti, L. The Translator’s Invisibility. A History of Translation. London/New York: Routledge.

Matsuri : Implementasi Sikap dan Perilaku Orang Jepang dalam Kehidupan Spiritual

Dewi Ariantini Yudhasari
Staf Pengajar Bahasa Jepang Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA Jakarta

Abstrak Orang Jepang hingga dewasa ini masih terus mempertahankan matsuri sebagai suatu kegiatan spiritual dalam menyeimbangkan kehidupan duniawi dan kehidupan akhiratnya. Hati dan pikiran orang Jepang menyatu dalam sikap dan perilaku yang diimplementasikan dalam gerak matsuri. Sepanjang orang Jepang masih ada di dunia, matsuri akan terus eksis sebagai bagian dari kehidupan spiritual orang Jepang.

Kata Kunci : matsuri, ritual, spiritual

Abstract

;

All this present time, the Japanese still keep their spritual ritual that is called matsuri as an effort to keep their life nowadays balance and the life after. This writing tells about kinds of matsuri which is held based on seasons, the elements of a matsuri and the attitude and behaviour of the Japanese toward it.

Keywords: matsuri, ritual, spritual

Pendahuluan
Jika kita bertanya pada orang Jepang, apakah mereka memiliki agama. Sering dijumpai bahwa mereka agak sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Namun, jika kita perhatikan sikap dan perilaku orang Jepang dalam fenomena kehidupan sehari-hari seperti dalam upacara pemujaan leluhur atau perayaan-perayaan yang berhubungan dengan pemujaan terhadap alam dan perayaan yang bertujuan untuk memanjatkan rasa syukur, maka kita akan mendapatkan kesan bahwa orang Jepang mempercayai atau meyakini adanya sesuatu. Kepercayaan atau keyakinan orang Jepang tersebut diimplementasikan dalam sikap dan tingkah laku dalam suatu kegiatan yang disebut dengan matsuri. Matsuri disebut juga girei atau gyoji yang mengandung arti ritual atau upacara. Matsuri itu sendiri mengandung dua makna. Makna pertama yaitu untuk mendoakan arwah para leluhur yang telah meninggal dunia dengan melakukan berbagai persembahan atau upacara, dan makna kedua mengacu pada suatu perayaan oleh kelompok masyarakat yang bertujuan untuk memperingati atau merayakan rasa syukur pada dewa atas dilimpahkannya kemakmuran dan keselamatan. Matsuri juga merupakan upacara untuk memohon pada dewa agar dilimpahkan keselamatan bagi penduduk setempat. (Yanagita, 1987: 42 ). Yanagita Kunio dalam bukunya Nihon no Matsuri mengatakan bahwa matsuri adalah bagian dari budaya spiritual orang Jepang, banyak mengambil bentuk dari upacara yang berkenaan dengan kepercayaan yang diyakini. (Yanagita, 1987: 42 ). Dengan

demikian, dapat dikatakan bahwa matsuri pada hakekatnya adalah merupakan suatu kegiatan ritual atau upacara yang diyakini atau dipercayai dalam konteks pemujaan leluhur, pemujaan terhadap alam semesta dan perayaan untuk memohon dan memanjatkan rasa syukur atas kemakmuran dan keselamatan pada yang diyakini. Tata cara pelaksanaan matsuri sudah ada sejak zaman kuno di Jepang. Pelaksanaannya dahulu dilakukan secara sederhana dalam lingkup keluarga atau desa. Matsuri yang dilakukan di dalam lingkup keluarga dipimpin oleh seorang kepala keluarga. Matsuri ini biasanya dilakukan untuk menghormati para leluhur dan memohon keselamatan pada dewa yang mereka yakini, sedangkan matsuri dalam kelompok desa dipimpin oleh seorang pemimpin kuil (toya) yang dihormati di desa itu dengan tujuan untuk memohon keselamatan pada yang diyakini. Matsuri ini dapat pula berupa upacara memanjatkan rasa syukur atas berhasilnya panen pada tahun itu. Pada akhir zaman Meiji, fungsi matsuri yang tadinya hanya terbatas pada pemujaan leluhur di lingkup keluarga, bergeser menjadi suatu kegiatan kelompok masyarakat desa yang berfungsi sebagai wadah tempat berkumpul untuk merayakan, memperingati, atau mengucapkan rasa syukur. Hal ini merupakan salah satu bentuk implikasi dari kegiatan masturi yang berfungsi mengikat rasa solidaritas sosial di antara kelompok masyarakat setempat. (Yanagita, 1987 : 44).

Jenis Matsuri Berdasarkan Musim
Penyelenggaraan matsuri sangat erat kaitannya dengan musim dalam satu tahunnya. Pada musim semi, matsuri biasanya diselenggarakan sehubungan dengan dimulainnya masa bercocok tanam. Matsuri yang diadakan pada musim panas biasanya bertujuan unk memohon kepada dewa agar dewa melindungi tanaman padi mereka dari bencana alam maupun hama penyakit, sedangkan matsuri yang diadakan pada musim gugur merupakan ungkapan rasa syukur pada dewa atas hasil panen yang mereka peroleh

pada tahun itu. Sementara itu, pada musim dingin matsuri diadakan dengan tujuan memohon agar para dewa memberikan panen yang berlimpah pada tahun mendatang. Menurut Yanagita Kunio di Jepang terdapat 50.000 jenis perayaan matsuri yang dianggap penting dalam setahun. (Yanagita, 1987: 44). Dari jumlah tersebut matsuri digolongkan dalam tiga jenis, yaitu tsukagirei, nenchugyoji dan ninigirei. Tsukagirei adalah matsuri yang dilakukan dalam lingkaran hidup orang Jepang atau disebut juga ritus lingkaran hidup. Contohnya obi iwai yaitu matsuri yang pertama kali dilakukan oleh orang Jepang ketika seseorang masih menjadi janin pada usia lima bulan di dalam kandungan. Ketika janin lahir ada upacara yang disebut dengan oshichiya yaitu upacara pemberian nama bagi bayi yang lahir. Kemudian ada upacara omiyamairi, yaitu upacara membawa bayi yang baru lahir setelah berusia 31 atau 32 hari ke kuil Shinto. Setelah bayi beranjak besar atau anak-anak ada upacara shi chi go san, yaitu upacara pada umur tertentu seperti umur tiga dan lima tahun bagi anak laki-laki dan umur tiga dan tujuh tahun bagi anak perempuan. Mereka pergi ke kuil untuk memohon keselamatan. Pada usia dua puluh tahun bagi mereka yang beranjak remaja diadakan upacara seijin shiki, yaitu upacara dimana seseorang dianggap mulai dewasa. Selanjutnya ada upacara pernikahan, kematian, serta upacara pemujaan bagi para leluhur yang telah meninggal dunia. Nenchugyoji adalah matsuri yang dilakukan secara periodik dan waktunya sudah ditetapkan di dalam setahunnya menurut penanggalan Jepang. Istilah nenchugyoji ini muncul pertama kali pada zaman Heian (7941185), dan mendapat pengaruh dari Cina yang mengandung arti penanggalan yang dipakai dilingkungan kerajaan. Pelaksanaan nenchugyoji dilakukan secara berkala. Upacara-upacara yang tergolong dalam nenchugyoji dilakukan secara nasional di daerah-daerah, contohnya Gion matsuri yang diadakan di Kyoto pada musim panas. Upacara obon adalah merupakan bagian dari acara nenchugoji yang dilakukan secara periodik, dan jatuh pada tanggal 1316 Juli atau Agustus setiap tahunnya. Obon juga dapat dikategorikan tsukagirei, karena upacara ini selalu dilakukan dalam lingkaran hidup orang Jepang. Matsuri lainnya yang termasuk dalam nenchugyoji antara lain hina matsuri yaitu matsuri yang dilakukan untuk anak

perempuan dan kodomo no hi untuk anak laki-laki. Kedua matsuri itu bertujuan untuk memohon berkat dan keselamatan bagi pertumbuhan anak-anak. Ninigirei adalah matsuri yang dilakukan oleh orang Jepang secara aksidental. Matsuri ini tidak berada dalam lingkaran hidup orang Jepang dan tidak semua orang Jepang melakukannya, contohnya kenchiku girei, yaitu rangkain upacara yang dilakukan ketika seseorang ingin membangun rumah. Upacara ini mempunyai urutan seperti jichisan yaitu upacara sebelum rumah berdiri. Kemudian tate mae diselenggarakan pada saat pemasangan kerangka rumah, dan diakhiri dengan upacara yautsuri, yaitu upacara pindah ke rumah baru. Jenis matsuri yang termasuk dalam ninigirei lainnya adalah upacara memohon agar lulus ujian masuk universitas dan lain-lain.

Unsur-Unsur Dalam Penyelenggaraan Matsuri Penyelenggaraan upacara matsuri pada mulanya tidak dilakukan di jinja atau kuil Shinto melainkan dilakukan di tempat yang diyakini sebagai tempat turunnya para dewa. Tempat-tempat itu biasanya berupa pohon-pohon yang tinggi, batu karang, dan tempat yang tinggi seperti gunung. Untuk menandai tempat-tempat itu, biasanya ditandai dengan tali jerami yang dilingkarkan pada pohon atau batu yang digantungi kertas-kertas suci (shimenawa). Shimenawa diyakini memiliki kekuatan untuk mengusir segala pengaruh jahat. Oleh penduduk setempat, di tempat-tempat seperti itu diberikan sesaji. Lama kelamaan tempat itu menjadi tempat yang sering didatangi oleh masyarakat. Akhirnya, di tempat itulah didirikan jinja atau kuil Shinto. Dalam pelaksanaan penyelenggaraan matsuri, orang Jepang meyakini bahwa waktu yang terbaik untuk menyelenggarakan matsuri adalah mulai pukul enam sore (yumike) dan berakhir pada pukul enam pagi (asamike). Jika matsuri diadakan di dalam ruangan, di halaman luar akan dinyalakan lampu dan api unggun untuk mengundang para dewa. Mereka percaya bahwa lampu atau lentera memudahkan dewa mencari jalan menuju tempat diadakannya matsuri.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam penyelenggaraan matsuri adalah sao o tateru, yaitu pencanangan tiang kayu atau bambu. Pencanangan tiang kayu atau bambu ini diyakini bahwa dewa akan turun dari tempat yang tinggi melalui tiang itu. Oleh sebab itu, tempat pencanangan tiang itu dilakukan di tempat yang memiliki ketinggian seperti bukit atau gunung-gunung. Tiang itu diberi kain yang bertuliskan nama dewa dan diberi lampu dengan maksud agar dewa tahu bahwa itu adalah jalan turunnya para dewa.

Sikap dan Perilaku Orang Jepang Dalam Penyelenggaraan Matsuri
Di dalam pelaksanan matsuri ada aturan-aturan tertentu yang diyakini dan dipercayai sebagai norma, sikap atau kewajiban yang harus dipenuhi bagi mereka yang akan melakukannya. Misalnya, pada penyelenggaraan matsuri yang dipimpin oleh seorang toya, ada beberapa kewajiban dan persyaratan yang harus dijalankannya sebelum memimpin upacara tersebut. Adapun persyaratannya antara lain, toya haruslah seorang yang bersih secara lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah, ia dipandang berasal dari keluarga yang punya reputasi dan nama yang bersih, dan dari batiniah, ia juga harus berhati dan berpikiran bersih. Sebelum upacara matsuri dilakukan, rumah tempat tinggalnya dibersihkan. Ia tidak diperkenankan untuk berkunjung ke rumah orang lain, serta tidak boleh menerima makanan dan minuman dari tempat lain. Ada beberapa pantangan makanan yang tidak boleh ia makan, seperti daging. Kemudian ia harus berjaga di setiap malam beberapa hari sebelum matsuri dilakukan. Kewajiban yang ia lakukan dalam rangka pelaksaan matsuri itu adalah menyalakan api dan menyebar garam ke sekeliling tempat upacara sebagai bentuk pensucian tempat upacara. Agama Shinto sangat memperhatikan penggunaan api karena

bagi mereka api merupakan simbol penyucian. Jika ia merasakan kotor, ia harus membersihkan diri dengan air. Selain membersihkan diri, sajian-sajian untuk para dewa juga dipersiapkan. Sajian itu terdiri dari dua jenis, yaitu mike dan miki. Mike adalah makanan yang diolah dari gandum atau besar seperti omochi, makanan dari laut, sayur-sayuran dan buah-buahan, sedangkan miki adalah minuman yang terdiri dari maca-macam sake misalnya shiroki (sake putih), kuroki (sake hitam), dan amazake (sake manis). Pertunjukan lainnya yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat adalah pertunjukkan tarian yang disebut dengan kagura. Tarian kagura ini merupakan tarian dan nyanyian yang digunakan unutk memuja para dewa. Setiap daerah di Jepang memiliki tarian ini walaupun bentuknya berbeda antara daerah satu dengan lainnya. Sikap dan perilaku orang Jepang dalam pelaksanaan matsuri mencerminkan hati dan pikiran mereka akan pentingnya kehidupan spiritual. Implementasi sikap dan perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka meyakini dan mempercayai akan adanya kekuatan diluar kekuatan manusia. Cermin sikap tersebut menyatu dalam gerak dan perilaku mereka dalam pelaksanaan matsuri sebagai upacara ritual. Hati dan pikiran mereka menyatu dalam gerak matsuri yang setiap tahun dirayakan dan diyakini sebagai wadah dan kegiatan dalam menyembah para leluhur dan memanjatkan doa agar bencana dan kesusahan tidak melanda. Selain itu matsuri juga merupakan perwujudan rasa syukur atas keselamatan dan kemakmuran atas panen yang melimpah pada tahun itu. Keseimbangan antara kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual orang Jepang menyatu dalam gerak matsuri. Sikap dan perilaku mereka terhadap adanya sesuatu yang diyakini menunjukkan bahwa mereka mempunyai apa yang disebut dengan kepercayaan atau keyakinan.

Simpulan

Matsuri mempunyai makna sebagai suatu kegiatan yang sifatnya ritual dalam memanjatkan doa bagi para leluhur. Matsuri juga merupakan kegiatan yang berfungsi sebagai kegiatan sosial dalam mengikat solidaritas di antara masyarakat penduduk setempat dalam memanjatkan doa dan mewujudkan rasa syukur atas limpahan kemurahan atas panen padi pada tahun itu dan sebagai ucapan rasa syukur atas keselamatan dan kemakmuran. Hati dan pikiran orang Jepang menyatu dalam sikap dan perilaku yang diimplementasikan dalam gerak matsuri. Selain berfungsi untuk sebagai keyakinan atau kepercayaan, matsuri dewasa ini juga berfungsi sebagai wadah tempat berkumpulnya penduduk setempat menggalang solidaritas dalam pelaksanaan matsuri di wilayahnya. Matsuri diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu tsukagirei, nechugyoji dan ninigirei. Dalam penyelenggaraan matsuri dibutuhkan beberapa persyaratan bagi orang yang akan memimpin upacara tersebut. Selain itu, terdapat banyak persyaratan agar dapat menjadi pemimpin dalam penyelenggaraan matsuri. Orang Jepang hingga dewasa ini masih terus mempertahankan matsuri sebagai kegiatan spiritual dalam menyeimbangkan kehidupan duniawi dan kehidupan akhiratnya. Sepanjang orang Jepang masih ada di dunia, matsuri akan terus eksis sebagai bagian dari kehidupan spiritual orang Jepang.

DAFTAR PUSTAKA Hori, Ichiro, 民 間 信 仰 店、1951. 、 岩 波 書

________, 日本文化提要、日本文化研究所編集局、1977.

________, 日本の民俗宗教、弘文堂、1979.

Yanagita, Kunio , 日本の祭, 角川書店、1987.

DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan (Editor). 2001. Kalimat. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. 2000. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

_______. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. _______. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Finoza, Lamuddin. 2002. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.

M. Moeliono, Anton. 2001. Bentuk dan Pilihan Kata. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Sugono, Dendy. 1994. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.

ANALISIS KOMPONEN: SEBUAH ANCANGAN STRUKTURAL DALAM SEMANTIK

Katubi Staf Pengajar Jurusan Bahasa Inggris STBA LIA Jakarta

Abstrak
Munculnya berbagai pandangan yang berupaya untuk mengkaji hubungan bahasa dengan dunia diluar bahasa, membuat penulis mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan kajian makna terutama yang menyangkut teori struktural leksikal. Dua permasalahan yang dikaji yaitu bagaimana semantic struktural dapat mengungkap relasi makna dan apakah jaringan dari relasi makna tersebut terdapat dalam sistem bahasa atau apakah kognitif strukturalnya ada dalam benak penutur. Untuk menjawab permasalah tersebut, analisis yang digunakan adalah analisis komponen. Analisis ini bukan hanya dapat memberikan

struktur semantik kosa kata dari berbagai bahasa dengan sistem matis, tetapi juga merupakan salah satu cara untuk menformalisasi relasi makna yang mengikat satu leksem dengan leksem lain. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa komponen makna dianggap sebagai dasar penanda semantis yang secara umum terdapat pada sistem bahasa. Komponen makna tersebut pada gilirannya tidak sekedar menetapkan aktualitas leksen, namun juga menunjukkan potensialitasnya dalam pemakaian. Kata Kunci: Analisis Komponen, Semantik Struktural, Relasi Makna, Komponen Makna

Abstract Due to many attempted views to study the relationship between language and the world outside a language, the writer decided to study further substances that are related to semantics study particularly those based on lexical structural theory. Two problems that were studied are how a structural semantics can disclose the meaning relation and whether the network of that relation is in the language system or whether its cognitive structure is already in the mind of the speaker. To answer those questions, componential analysis was applied. This analysis did not only describe the semantics structure of vocabulary from various language systematically but it is also a method to formalize semantic meanings that bind one lexeme to another lexeme. The conclusion is that the componential meaning is believed to be the basic semantic marker that generally exists within a language system. The componential meaning does not merely state the actuality of a lexeme but it shows its potentiality towards its use.

Keywords: Componential Analysis, Structural Semantics, Relation of Meaning, Component of Meaning

Pengantar
Berbagai pandangan bermunculan sehubungan dengan upaya untuk menjelaskan hubungan bahasa dengan dunia di luar bahasa. Setidaknya, hingga kini ada tiga pandangan utama yang berpengaruh terhadap teori semantik, yaitu pandangan realisme, pandangan nominalisme, dan pandangan konseptualisme. Berdasarkan hal itu, bermunculan pula berbagai teori kajian makna, antara lain kajian makna menurut teori

referensial, kajian makna menurut teori struktural, kajian makna menurut teori ideasional, dan kajian makna menurut teori behavioral. Dari berbagai kajian itu, kajian yang dipilih dalam tulisan ini berkaitan dengan kajian makna menurut teori struktural, terutama menyangkut konsep struktur leksikal. Lyons menyatakan bahwa di dalam suatu sistem bahasa, makna kata tidak dapat didefinisikan secara terpisah dari kata lain, yang secara semantis memiliki keterkaitan. Struktur leksikal dari suatu bahasa dapat dianggap sebagai suatu jaringan dari relasi makna. Pandangan di atas berkaitan erat dengan strukturalisme dalam linguistik. Strukturalisme memiliki prinsip bahwa bahasa merupakan sistem terpadu, di dalamnya terdapat subsistem tata bahasa, leksikon, serta fonologi yang saling terkait. Dengan mengutip pendangan Saussure mengenai keterikatan langue dan parole, Lyons (1995: 20; 104) mengukuhkan prinsip strukturalisme, terutama dalam bidang semantik. Lyons memaparkan bahwa pada awalnya strukturalisme di Amerika diwarnai oleh Bloomfieldianisme yang cenderung memperhatikan struktur gramatikal bahasa. Akan tetapi, dengan munculnya tata bahasa generatif dari Chomsky (seperti dikutip Lyons 1995: 105), strukturalisme Amerika mulai menyadari betapa pentingnya struktur semantik dalam suatu sistem bahasa.

Masalah dan batasannya Sehubungan dengan uraian di atas, muncul masalah yang dapat dijabarkan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut. Pertama, bagaimana semantik struktural dapat mengungkap relasi makna? Kedua, sebenarnya jaringan dari relasi makna tersebut terdapat dalam sistem bahasa atau secara kognitif strukturnya itu ada dalam benak para penutur? Tampaknya, kedua masalah itu dapat terjawab melalui satu bahasan analisis komponen, yang dalam tulisan ini lebih banyak mengacu kepada tulisan Lyons, terlepas dari kelebihan dan kekurangan teori tersebut. Apalagi, kini teori analisis komponen ini

banyak mendapat serangan dari para penganut teori prototip. Namun, tulisan ini tidak membahas pertentangan yang muncul di antara kedua penganut teori tersebut.

Bahasan
Menurut Lyons (1977; 1995), analisis komponen dapat memberikan struktur semantik kosakata dari berbagai bahasa dengan sistematis. Analisis komponen juga merupakan salah satu cara untuk memformalisasi relasi makna yang mengikat satu leksem dengan leksem lain. Sebagai suatu komposisi, makna leksem dapat diuraikan ke dalam unsur makna pembentuknya. Sebagai contoh, leksem bahasa Inggris man, memiliki makna man yang terbentuk atas relasi komponen makna MALE, ADULT, dan HUMAN. Oleh sebab itu, analisis komponen dapat disebut sebagai dekomposisi leksikal (penguraian komposisi makna). Lyons menyebut hal itu sebagai metode analisis. Makna leksem merupakan produk dari komponen pembentuk maknanya. Produk tersebut dapat berupa konjungsi antar komponen makna. Konjungsi tersebut dapat dicermati melalui set-theory. Dalam set-theory, makna man merupakan interseksi konjungsi dari komponen MALE (M), ADULT (A), dan HUMAN (H): seperti tampak pada diagram berikut.

A

M

H

Sebagai suatu produk, makna leksem merupakan suatu fungsi komposisional dari komponen maknanya. Sehubungan dengan hal itu, nilai makna man ditentukan oleh nilai komponennya serta bagaimana komponen tersebut digabung. Konjungsi interseksi merupakan salah satu bentuk relasi komponen. Di samping itu, relasi komponen juga ditentukan oleh disjungsi serta direksionalitas komponen. Misalnya, dalam bahasa Inggris makna brother-in-law bukan sekadar konjungsi komponen MALE, SPOUSE, dan SIBLING. Disjungsi serta direksionalitas komponen sangat menentukan makna. Makna dari brother-in-law dapat dipilah dalam direksionalitas komponen sebagai berikut: MALE & (SPOUSE-OFSIBLING-OF (x, y)) v MALE & (SIBLING-OF-SPOUSE-OF (x,y)). Komponen tersebut menunjukkan relasi PASANGAN LAKI-LAKI DARI SAUDARA KANDUNG (x, y) atau SAUDARA KANDUNG LAKI-LAKI DARI PASANGAN (x, y). Disjungsi dan direksionalitas tersebut tidak dapat disampaikan seperti SPOUSE OF (MALE-OF-

SIBLING (x, y)), yakni PASANGAN DARI SAUDARA KANDUNG LAKI-LAKI (x, y), yang maknanya menjadi sister-in-law. Direksionalitas relasi komponen makna mempunyai struktur sintaktik internal yang sangat menentukan hubungan antarmaujud yang ada di dalamnya. Hubungan antarmaujud dalam komponen makna dapat dinyatakan dalam bentuk variabel. Makna kill memiliki struktur internal yang menyangkut maujud yang bervariabel x dan y dalam direksionalitas makna “x causes y to die”. Contoh tersebut secara analisis komponen dapat dinyatakan kill = (x, (y) DIE) CAUSE. Masih berkaitan dengan pentingnya direksionalitas komponen, McCawley (sebagaimana dikutip Lyons 1977: 321) menyatakan bahwa leksem verba seperti kill dapat dianalisis komponen maknanya, yakni CAUSE, BECOME, NOT, dan ALIVE. Unsur-unsur tersebut harus dipadukan sesuai dengan hierarki direksionalitasnya menjadi (CAUSE (BECOME (NOT(ALIVE)))). Kombinasi unsur yang berbeda dapat melahirkan makna yang berbeda. Bahkan, perbedaan itu dalam bahasa Inggris dapat dileksikalisasi. (NOT(ALIVE)) dileksikalisasi ke dead dan (BECOME(NOT(ALIVE))) menjadi die. Semua itu maknanya berbeda dari makna leksem kill. Sepaham dengan Geckeler, seorang strukturalis Eropa, Lyons (1977: 326) berpendapat bahwa sebenarnya analisis komponen merupakan perluasan dari teori medan makna. Asumsi pertama teori strukturalis Eropa tersebut ialah subset dari keseluruhan leksem dapat membentuk medan serta mengikat relasi makna antara satu unsur dengan yang lain. Relasi makna merupakan faktor terpenting dalam medan makna, bukan komponen makna. Asumsi berikut ialah yang berkenaan dengan analisis komponen sebagai sarana menyatakan relasi makna. Dengan mengacu kepada Greimas, Pottier, Prieto, dan Coseriu, Lyons (1977: 318) menunjukkan bahwa analisis komponen dalam medan makna diterapkan oleh strukturalis Eropa. Sementara itu, di Amerika sebagaimana mengacu kepada Goodenough, Lounsbury, Wallace dan Atkins, Lyons menunjukkan bahwa analisis tersebut diterapkan pada antropologi untuk meneliti kekerabatan. Baru kemudian diintegrasikan dengan analisis sintaksis dan semantik oleh Lamb, Nida, serta Kats dan Fodor.

Berdasar keterkaitan antara teori medan makna dan analisis komponen, ada satu aspek yang dapat ditarik oleh Lyons, yaitu semi dan klasemi. Coseriu (dalam Coseriu & Geckeler 1974: 149) sebagaimana dikutip Lyons (1977: 326) mendefinisikan semi sebagai fitur makna distingtif minimal yang berkaitan dengan acuan, seperti kursi dan sofa memiliki semi yang berbeda karena acuannya berbeda. Klasemi adalah komponen makna yang umum terdapat pada semua leksem dan merupakan penanda semantis yang tidak berkaitan dengan acuan, tetapi berkaitan erat dengan sistem bahasa. Contoh klasemi ialah ANIMATE, INANIMATE, MALE, FEMALE, dan sebagainya. Sehubungan dengan konsep Kats dan Fodor tentang marker dan distinguisher, Lyons mengaitkan klasemi sebagai marker (penanda semantis) dan semi sebagai distinguisher (pembeda). Klasemi sering digramatikalisasi serta dileksikalisasi. Contohnya ialah dalam bahasa Inggris The man is pregnant adalah anomali secara semantis sebab penanda semantis dari man dan pregnant tidak menunjukkan sudut pandang makna yang sistematis. Yang pregnant seharusnya memiliki penanda semantis FEMALE, bukan MALE seperti pada makna man. Hubungan sistematisitas antara semi dan klasemi tersebut telah ditengarai oleh Kats (sebagaimana dikutip Lyons 1977: 328). Pertama, perbedaan dan persamaan antara leksem yang berada pada tataran klasemi (marker) lebih mudah diidentifikasi dibanding yang ada pada tataran semi. Perbedaan dan persamaan tersebut tidak begitu bergantung pada acuan konteks bahasa dan budaya seperti pada semi (distinguisher). Kedua, perbedaan dan persamaan yang berdasar klasemi dapat digramatikalisasi dan dileksikalisasi sehingga memiliki relevansi sintaktis. Ketiga, perbedaan dan persamaan tersebut tidak terbatas pada beberapa leksem, namun menyangkut seluruh kata. Kriteria ini sangat diragukan. Ketiga kriteria tersebut tidak harus terpenuhi semuanya dalam komponen makna dari suatu sistem bahasa. Komponen MALE, dalam bahasa Turki, misalnya, terdapat pada seluruh satuan bahasa (memenuhi kriteria pertama), tetapi secara sintaktis tidak relevan sebab tidak ada pronomina yang membedakan gender (tidak memenuhi kriteria kedua).

Analisis komponen tersebut memang diwarnai oleh konsep atomis. Prinsip atomis tersebut menekankan gagasan bahwa komponen makna dari suatu leksem merupakan unsur yang paling dasar, yang mengacu kepada hubungan antara bahasa dengan dunia luar. Unsur tersebut dianggap bersifat universal. Unsur tersebut bukan hal yang terpisahpisah, melainkan suatu jaringan relasi. Karena itu, takpelak makna suatu leksem merupakan produk seperangkat konsep yang bersifat atomis. Leksem, menurut Weinreich (sebagaimana dikutip Lyons 1977: 321) memiliki struktur internal. Konsep tersebut berkaitan erat dengan pandangan strukturalisme. Sehubungan dengan konsep dasar dan universal di atas, yang menjadi permasalahan lanjutannya ialah sesuatu yang dianggap dasar dan universal itu. Apakah komponen yang dianggap dasar itu sudah tidak dapat lagi diperinci menjadi dasar lagi? Apakah yang dianggap universal itu memang betul-betul universal? Di manakah letak keuniversalannya? Berkaitan dengan hal itu, Lyons mengungkapkan bahwa secara empiris komponen makna yang secara umum dianggap dasar belum tentu bersifat dasar pada kognisi penutur bahasa. Komponen ADULT, dalam bahasa Inggris misalnya, dapat menjadi unsur dalam proposisi ‘that boy/girl is now an adult” untuk mengacu kepada man dan woman. Proposisi tersebut berterima. Akan tetapi, proposisi “that child is now an adult” tidak berterima untuk mengacu kepada boy dan girl. Jelas bahwa komponen ADULT, dalam bahasa Inggris, memiliki spesifikasi yang lebih terperinci, yang sangat bergantung pada pemikiran penutur bahasa Inggris. Hal tersebut juga tampak pada spesifikasi komponen makna yang berdimensi kelamin, yakni MALE dan FEMALE. Konsep ketiadaan unsur MALE, dalam bahasa Inggris, sering diterapkan pada woman dan girl. Sangat jarang man dan boy ditandai dengan ketiadaan unsur FEMALE karena man dan boy taktermarkahi. Pada pihak lain, kedua unsur MALE dan FEMALE dapat digunakan, baik sebagai pembentuk makna boy dan ram serta girl dan ewe. Boy dan ram dapat dikatakan memiliki unsur MALE, atau tidak berunsur FEMALE. Demikian juga, girl dan ewe dapat dianggap berunsur FEMALE atau tidak berunsur MALE. Tidak demikian halnya dengan makna horse dan child.

Keduanya dianggap tidak mengacu kepada komponen MALE dan FEMALE atau dianggap netral sehingga komponen dimensi kelaminnya adalah zero-valued. Hal itu berlainan dengan makna house. House oleh penutur bahasa Inggris dianggap tidak memiliki spesifikasi komponen MALE maupun FEMALE sehingga sebagai non-valued. Penerapan komponen dasar itu memang bersifat arbitrer serta sangat bergantung pada penutur maupun konteks budaya. Dalam ujaran bahasa Indonesia, makna kata mewarisi dapat saja mempunyai komponen MALE atau FEMALE atau bahkan tidak memiliki komponen yang berdimensi kelamin. Di ranah Minang, makna tersebut merupakan produk dari FEMALE sebagai salah satu komponennya karena hal itu ada hubungannya dengan budaya maternalistik. Leksem kawin, dalam budaya Indonesia, memiliki komponen makna MALE. Karena itu, ujaran Ani mengawini Tono tidak berterima dalam bahasa Indonesia, setidaknya untuk sebagian besar masyarakat penutur asli bahasa Indonesia. Bagaimana halnya dengan keuniversalan komponen makna? Terdapat suatu pandangan substantif bahwa seperangkat komponen yang baku secara universal akan dileksikalisasi dalam semua bahasa. Akan tetapi, kenyataannya tidak begitu. Komponen MALE dan FEMALE dalam bahasa Indonesia tidak secara keseluruhan dileksikalisasi. Makna kakak dan adik tidak mengacu kepada komponen MALE dan FEMALE walaupun secara dasar kedua makna tersebut mengacu kepada maujud di luar bahasa yang pasti merupakan sosok yang berkelamin laki-laki maupun perempuan. Selanjutnya, ada suatu pandangan universalisme yang menyatakan bahwa makna semua leksem dari suatu bahasa akan terserap secara keseluruhan ke dalam komponen makna yang homogen. Katz tidak setuju dengan pandangan itu. Dia menyatakan bahwa komponen makna yang ada dalam bahasa itu diambil dari pengetahuan bawaan (inate) yang sudah ada pada penutur (mengutip Chomsky). Lyons juga menandaskan bahwa yang dianggap universal itu belum tentu universal dalam kognisi penutur. Contoh, makna mother oleh seorang penutur bahasa Inggris tidak hanya dikonsepsikan memiliki komponen WOMAN, tetapi mungkin juga AMBITION, dan LONG HAIR. Hal itu sangat bergantung pada persepsi serta pengetahuan bawaan penutur tersebut.

Meskipun begitu, patut diakui bahwa analisis komponen telah menghasilkan penelitian semantik yang berharga. Berdasar asumsi terhadap keuniversalan komponen makna, motivasi teoretis dari analisis komponen cukup jelas. Secara teoretis analisis komponen dapat membekali para ahli bahasa dengan sarana yang sistematis dan ekonomis untuk merepresentasikan relasi makna yang menghubungkan satu leksem dengan leksem lain dalam suatu sistem bahasa. Selaras dengan hal itu, Lyons menawarkan sudut pandang lain untuk mengatasi kekurangan analisis komponen yang bersifat teoretis serta empiris. Sudut pandang tersebut berkaitan dengan suatu analisis yang merumuskan makna prototipikal. Makna prototipikal ialah makna nuklir (inti) yang mirip, yang dimiliki oleh semua leksem. Makna tersebut mengacu kepada kemiripan objek yang sering dijumpai, sifat yang menonjol dari objek, serta persamaan kategori dengan objek lain (Rosch 1978). Sebagai contoh, cupid sering dihubungkan dengan boy. Makna boy mempunyai komponen inti HUMAN. Kategori ini juga digunakan sebagai komponen makna (yang sifatnya noninti) dari cupid karena cupid sering dijumpai mempunyai relasi dengan masyarakat manusia. Kecuali itu, perikutan (entailment) dapat merupakan pilihan analisis dalam relasi makna. Perikutan merupakan hubungan antara proposisi satu dengan yang lain. Hubungan itu menyangkut masalah proposisi yang “benar” ataupun “salah” dalam possible world (dunia kemungkinan). Contohnya ialah Napoleon was defeated at Waterloo mempunyai proposisi yang benar dalam dunia kemungkinan secara analitis dan logis bila ditinjau dari komponen semantis intrabahasa. Akan tetapi, secara sintetis, proposisi tersebut belum tentu “benar” atau “salah” dalam dunia kemungkinan sebab proposisinya bergantung pada unsur luar bahasa, atau pada apa dan siapa yang diacu oleh ‘Napoleon’. Terdapat alternatif lain yang erat kaitannya dengan perikutan, yakni meaningpostulates (postulat makna). Hubungan keduanya lebih bersifat analitis. Postulat makna adalah bentuk perikutan analitis terhadap leksem secara hierarkis. Perikutan disimbolkan (---- ). Sebagai contoh, bachelor ---- unmarried lebih analitis dibanding dengan bachelor -- adult dan bachelor ---- man karena lebih sulit untuk menyatakan

ketidaksahihan bachelor ---- unmarried tanpa lebih dahulu mengubah makna bachelor maupun unmarried. Postulat makna juga dapat memerikan hubungan makna dalam hiponim asimetri seperti dog ---- animal, tetapi belum tentu animal -- dog, hiponim simetri seperti puppy ---- baby dog. Postulat makna dapat pula meliputi hubungan inkompabilitas red -- blue atau yellow, komplementer seperti unmarried ----- married, serta konversi seperti kill (x, y) --- “be killed (y, x), dan sebagainya. Jelaslah bahwa postulat makna tidak menekankan konsep komponen makna yang universal, namun mencoba untuk mengurai komponen makna yang berupa prototipe. Postulat makna merupakan alternatif analisis yang lebih menguntungkan dari analisis komponen.

Simpulan
Berdasar berbagai sudut pandang di atas, dapat disimpulkan bahwa paling tidak dari analisis komponen, secara teoretis dapat ditengarai komponen makna. Komponen makna tersebut dianggap sebagai dasar penanda semantis yang secara umum terdapat pada sistem bahasa. Komponen makna tersebut pada gilirannya tidak sekadar menetapkan aktualitas leksem, namun potensialitasnya dalam pemakaian. Sebagai contoh, dalam bahasa Indonesia makna kata Anda yang memiliki salah satu komponen, yakni NETRAL telah menempatkan leksem “Anda” secara potensial untuk mengacu kepada maujud dari segala lapisan orang kedua tunggal maupun jamak. Potensialitas leksem tersebut baru diaktualisasikan secara proporsional sesuai dengan komponen NETRAL-nya mulai dekade terakhir ini. Hal tersebut dapat terlihat dalam wawancara antara pembawa acara yang menyebut menteri dengan kata Anda dan hal itu kini dianggap wajar saja. Potensialitas komponen makna bagaimana pun juga sangat esensial terhadap produktivitas pemakaian leksem. Sebenarnya, terbuka luas kajian komponen makna dari berbagai leksem bahasa Indonesia yang dapat mengangkat potensialitas leksem ke tataran

produktivitasnya dalam sistem struktur bahasa Indonesia yang holistis. Sebagaimana ditegaskan Tampubolon (1988: 20), konsep produktivitas ini penting sekali dalam teori linguistik, khususnya dalam analisis semantik.

DAFTAR PUSTAKA
Lyons, John. 1977. Semantics: Volume 1. Cambridge: Cambridge University Press.

Lyons, John. 1995. Linguistic Semantics: An Introduction. Cambridge: Cambridge University Press.

Rosch, Elenor. 1978. “Human Categgorization”. Dalam Advances in Cross-Culture Psychology. Vol. 1 (ed. Warren). London: London Academic Press. Hlm. 1—71.

Tampubolon, D.P. 1988. “Semantik sebagai Titik Tolak Analisis Linguistik”. Dalam PELLBA I. (Ed. Dardjowijojo). Jakarta: Lembaga Bahasa Atma Jaya.

PENELITIAN SASTRA: LAHAN YANG LUAS DAN BERLIMPAHð

Maman S. Mahayana Pensyarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Abstrak

Berbicara tentang sastra sepertinya tidak pernah berhenti selama manusia itu sendiri ada. Oleh karena itu, penelitian sastra sangat dimungkinkan karena banyak objek sastra yang dapat dijadikan bahan kajian. Diantara objek penelitian itu adalah rentang pembagian waktu, ragam bahasa, teks sastra, perkembangan sastra, dan kritik sastra. Dua sistem besar yang dapat dilakukan dalam penelitian sastra, yaitu sistem mikro dan sistem makro. Pada sistem mikro, teks sastra merupakan pusat perhatian dan sekaligus menjadi bagian instrinsik karya sastra, sedangkan pada sistem makro, pengarang atau sastrawan, penerbit, pembaca, dan kritikus sastra merupakan bagian ekstrinsik karya itu.

Kata Kunci: intrinsik, ekstrinsik, sastra

Abstract

Literature covers a very wide range of human life. There are so many texts that can be explored and consequently researches on this would never exhaustive. A researcher can approach a certain text by using many different tools include in the intrinsic and extrinsic elements of literature. This writing introduces those issues and tries to give an elaboration on things to pay attension to in doing a research in literature.
Keywords: intrinsic, extrinsic, literature

Lahan atau objek kajian dalam penelitian kesusastraan sesungguhnya begitu berlimpah. Barangkali juga, selama manusia memerlukan sastra, selama itu pula terbuka peluang bagi siapa pun untuk melakukan penelitian terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan keberadaan sastra. Keadaan tersebut tentu saja dimungkinkan oleh banyak faktor. Beberapa di antaranya, dapatlah disebutkan berikut ini. Pertama, penelitian sastra meliputi cakupan yang begitu luas. Dilihat dari rentang pembagian batas waktunya, penelitian sastra dapat mencakupi penelitian terhadap sastra tradisionalsastra lisan dan naskah-naskah lama— maupun sastra modern. Kedua, penelitian sastra berhadapan dengan sejumlah karya berlimpah. Dilihat dari ragamnya, penelitian sastra dapat dilakukan terhadap ragam puisi, prosa─novel dan cerpen—, drama, dan esai kritik.

Ketiga, penelitian sastra berurusan dengan berbagai masalah yang tidak pernah selesai, mengingat sastra selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi. Dilihat dari objek kajiannya, penelitian sastra dapat menumpukan diri pada masalah teks sastra yang sejak zaman entah kapan selalu lahir dan terus lahir, tanpa pernah mati. Kalaupun nyaris mati, ia justru dihidupkan oleh penelitian itu sendiri. Keempat, penelitian sastra dapat dilakukan dengan kesengajaan memasalahkan apa pun yang berhubungan dengan perjalanan dan perkembangan sastra. Dilihat dari kelahiran dan perjalanannya, penelitian sastra dapat mengkhususkan diri pada sebuah karya atau sejumlah karya yang dilahirkan dalam kurun waktu tertentu. Peneliti boleh memusatkan perhatiannya hanya pada satu karya, tetapi boleh juga menempatkannya dalam rentang waktu sejarah perjalanannya. Dalam hal itu, peneliti menempatkan salah satu karya sastra dalam konteks sejarahnya. Kelima, penelitian sastra dapat dilakukan dengan menempatkan teks dalam konteksnya. Dilihat dari sistem sastra, penelitian sastra dapat berorientasi pada keberadaan pengarang sebagai penghasil karya, teks sastra sebagai produk budaya, penerbit─termasuk media massa─sebagai pihak atau lembaga yang memungkinkan karya itu lahir dan menyebar, pembaca sebagai penikmat dan pemberi makna, serta pembaca kritis atau kritikus sebagai pihak yang dianggap mempunyai pengetahuan dan kompetensi dalam bidang sastra dengan berbagai aspeknya. Tentu saja kita masih dapat menderetkan faktor lain lebih panjang. Dalam hal ini, keseluruhan penelitian itu tercakup dalam apa yang disebut ilmu sastra atau dalam istilah teknisnya disebut kritik sastra (criticism). Istilah lain yang digunakan dalam pengertian itu adalah telaah sastra, kajian sastra, atau penelitian sastra. Langkah apa saja yang perlu dilakukan ketika seseorang hendak meneliti salah satu aspek kesusastraan yang begitu berlimpah itu. Bagaimana pula kita dapat dengan mudah memilih dan menentukan objek penelitian sastra yang hendak kita lakukan. Lalu, apanya yang akan kita teliti mengingat dunia sastra dengan berbagai masalahnya itu, sungguh begitu luas dan berlimpah.

Penelitian sastra secara akademis termasuk ke dalam kegiatan ilmiah. Di sana ada sejumlah syarat dan prosedur yang terpaksa mesti kita ikuti. Kegiatan ilmiah mensyaratkan pemanfaatkan kerangka teoretis, metodologi, dan perangkat lain yang sering menjadi semacam kaidah dalam sebuah kegiatan ilmiah. Dalam hal ini, tentu saja kita perlu memilih, menggunakan dan mengoperasionalisasikan salah satu (atau salah dua) pendekatan—dari sejumlah pendekatan yang ada—yang dapat kita pandang tepat dan pas sebagai alat analisisnya. Sejumlah hal itulah yang─barangkali—membuat kita─belum apa-apa—sudah cenderung berkutat dengan teori dan metodologi, tanpa merasa perlu bersentuhan dengan karyanya sendiri yang justru hendak dijadikan objek atau bahan penelitiannya. Kecenderungan itu pula yang membawa dunia akademis terkesan sebagai pihak yang begitu konservatif terhadap teori dan metodologi, tetapi acap kali atau bahkan cenderung mengabaikan keberadaan karya sastranya itu sendiri. Itulah salah satu problem penelitian sastra di lingkungan dunia akademi. Sebelum kita memasuki pembicaraan mengenai langkah-langkah apa saja yang mesti dilakukan kalangan akademis dalam melakukan, menumbuhkan, mengembangkan, dan menggairahkan penelitian sastra, eloklah kita mencermati dahulu bagan berikut ini.

MASYARAKAT PENDUKUNG KESUSASTRAAN

UNIVERSE
SASTRAWAN

TEKS

PEMBACA

KRITIKUS

PENERBIT

Berdasarkan bagan tersebut di atas, Ronald Tanaka membagi penelitian sastra atas dua sistem besar, yaitu sistem makro dan sistem mikro. Meskipun konsep ini sejalan dengan gagasan Rene Wellek dan Austin Warren mengenai apa yang disebutnya sebagai pendekatan esktrinsik dan pendekatan intrinsik, gagasan Tanaka, khasnya mengenai

sistem makro, meliputi penelitian yang jauh lebih luas. Dalam hal ini, Tanaka mencoba memasalahkan keberadaan pengarang sebagai penghasil karya, peranan penerbit yang ditempatkannya dalam kerangka sistem produksi dan reproduksi, pembaca sebagai pemberi makna, dan kritikus yang terkadang ikut mempengaruhi citra pengarang. Untuk memberi gambaran lebih jauh, mari kita periksa duduk persoalannya.

Sistem Pengarang
Pengarang dalam sistem sastra makro ditempatkan tidak lebih penting dari pembaca. Harus diakui, bahwa lahir dan hidupnya dunia kesusastraan dimungkinkan oleh keberadaan pengarang. Jadi, meskipun pengarang yang memungkinkan lahirnya karya sastra, dalam konteks sistem sastra, ia diperlakukan sama pentingnya dengan pihak-pihak lain yang berperan dalam menghidupkan keberadaan dunia sastra. Pengarang sebagai kreator, penghasil karya sastra, di zaman modern ini, harus mendasari kemampuannya tidak lagi ada bakat alam, talenta, melainkan juga pada intelektualitas. Seorang pengarang modern, mutlak harus mempunyai kemampuan menciptakan sebuah dunia; dunia yang dibangunnya lewat bahasa. Kemampuan ini tentu akan berkutat pada dunia yang itu-itu saja, jika ia juga tidak meluaskan cakrawala pengetahuannya. Dengan demikian, seorang pengarang modern dituntut mempunyai pengetahuan yang luas, agar ia terus berkarya dan tidak kehabisan bahan. Persoalan itu, dalam sistem pengarang, akan membawa seorang peneliti menelusuri lebih jauh pada latar belakang pendidikan pengarang, kultur yang telah melahirkan dan membesarkannya, lingkungan masyarakat, profesi kepengarangannya, ideologi yang dianut, dan masalah patronase (pengayoman). Jika hendak mempersempit masalahnya dan menghubungkannya dengan karya sastra (teks) yang dihasilkannya, kita dapat melakukan penelitian mengenai (a) pengarang dan karya-karyanya dengan fokus pada salah satu karyanya, (b) latar belakang pendidikan pengarang dan hubungannya dengan teks yang dihasilkannya, (c) kecenderungan pengarang tertentu─atau sejumlah

pengarang—dalam satu komunitas sosial, (d) kecenderungan pengarang tertentu dalam hubungannya dengan kultur masyarakat yang telah melahirkan dan membesarkannya, (e) kepengarangan sebagai sebuah profesi, (f) masalah ideologi pengarang dalam kaitannya dengan teks yang dihasilkannya, dan (g) teks dalam hubungannya dengan sistem pengayoman. Sesungguhnya, penelitian mengenai persoalan tersebut di atas, termasuk ke dalam tema-tema umum yang masih mungkin dikerucutkan lebih tajam lagi. Gambaran tersebut sekadar hendak menegaskan, bahwa dari satu aspek saja─sistem pengarang—kita dapat melakukan berbagai macam penelitian sastra.

Sistem Penerbit
Dalam sastra modern, penerbit adalah pihak atau lembaga yang memungkinkan terjadinya produksi dan reproduksi karya sastra. Dalam pengertian ini, di dalamnya termasuk media massa (majalah dan surat kabar) yang juga berperan sama. Dalam hubungannya dengan teks sastra, penerbit dan media massa sering kali terikat oleh kepentingan-kepentingan tertentu (ideologi, ekonomi). Oleh karena itu, di dalam proses penerbitan atau publikasi sebuah karya sastra, tidak terhindarkan adanya pihak lain yang terlibat dalam proses produksi atau reproduksi karya. Dalam hubungan itulah, keterlibatan pihak-pihak itu sering kali ikut mempengaruhi struktur formal karya. Hal lain yang berkaitan dengan sistem penerbit menyangkut persoalan distribusi dan penyebaran karya. Penerbit besar atau media massa nasional yang punya jaringan luas dalam soal distribusi akan lain pengaruhnya dibandingkan dengan penerbit swadaya atau media massa lokal. Dalam hal ini, tentu saja tugas peneliti menjadi sangat penting dalam usaha membuat pemetaan konstelasi kesusastraan sebuah komunitas. Penelitian lain yang dapat dilakukan berkaitan dengan sistem penerbit, berurusan dengan (a) ideologi dan kepentingan penerbit, (b) peranan dan pengaruh penerbit terhadap struktur formal karya sastra, (c) sistem pengayoman yang dilakukan penerbit,

(d) faktor sosial-politik-ekonomi yang mempengaruhi penerbit, (e) jaringan distribusi, dan (f) sasaran pembaca. Dalam hubungan itu, keberadaan dan peranan penerbit dan media massa penting artinya dalam penelitian sastra, baik yang bersifat sinkronis maupun diakronis.

Sistem Pembaca
Dalam sistem sastra makro tidak dibedakan antara penikmat atau pembaca biasa, pembaca ahli, dan pembaca kritis atau kritikus (: peneliti). Ronald Tanaka menempatkan pembaca ahli dan pembaca kritis atau kritikus ini dalam sistem kritik. Meski demikian, keberadaan pembaca dalam sistem ini tetap dianggap penting karena, dalam banyak hal, pembaca sering kali ikut mempengaruhi situasi dan kondisi kehidupan kesusastraan. Jadi, keberadaan pembaca tidak dapat diabaikan begitu saja. Mereka tak jarang, justru menjadi bahan pertimbangan pengarang dan penerbit. Dengan demikian, karya sastra yang ditulis dengan sasaran pembaca tertentu, tidak hanya memaksa dan menyeret pengarang untuk mempertimbangkan masalah di luar teks, tetapi juga memaksa penerbit melakukan semacam kompromi khasnya dengan pengarang. Akibat kompromi itulah, pengarang sering berada dalam posisi yang tidak menguntungkan sehingga terpaksa memperbaiki bahkan mengubah teks sejalan dengan keinginan penerbit yang berorientasi pada (selera) pembaca. Karya sastra populer─yang menekankan pada pemanjaan selera pembaca—dan sastra propagandayang berorientasi pada tujuan mempengaruhi ideologi pembaca— misalnya, merupakan contoh kasus ini. Penelitian yang dapat dilakukan berkaitan dengan sistem pembaca ini, beberapa di antaranya, menyangkut (a) latar belakang dan kultur pembaca, (b) usia dan jenis kelamin pembaca, (c) pendidikan dan ideologi pembaca, (d) pemaknaan sebuah teks yang ditentukan oleh penguasaan (i) konvensi bahasa, (ii) konvensi budaya, (iii) konvensi sastra, dan (e) penerimaan pembaca terhadap sebuah teks (resepsi sastra) dalam kurun waktu yang sezaman (sinkronis) dan dalam rentang waktu tertentu (diakronis).

Sistem Kritik
Praktik kritik sastra yang membicarakan sebuah karya, penelitian serius terhadap karya sastra, seperti makalah ilmiah, skripsi, tesis, disertasi, atau esai dan resensi buku sastra yang dimuat media massa, merupakan salah satu bahan penelitian yang termasuk ke dalam sistem kritik. Karya-karya itu merupakan pandangan kritikus atau pembaca ahli. Di Indonesia para penulis kritik ini datang dari latar belakang pendidikan yang heterogen. Siapa pun yang merasa mempunyai kemampuan untuk menulis kritik dan tulisan-tulisan kritiknya telah banyak dipublikasikan, sering kali ditempatkan dalam posisi sebagai kritikus. Masyarakat pendukung kesusastraan itu sendiri cenderung tidak memasalahkan latar belakang pendidikan penulis kritik. Oleh karena itu, kritik sastra di Indonesia dapat dibagi ke dalam dua bagian besar, yaitu kritik akademis dan kritik umum. Dalam kritik sastra akademis yang sering juga disebut kritik ilmiah, penekanan pada apresiasi mesti didukung oleh alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, objektivitas atas nilai yang dikemukakan, menjadi landasan. Artinya, ia mesti dapat diterima berdasarkan ketentuan ilmiah; persyaratan atau teori tertentu yang di dunia akademis, mutlak perlu karena tuntutannya memang demikian. Sementara itu, dalam kritik umum, ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam dunia ilmiah, mungkin saja tidak dianggap penting. Oleh karena itu, kerangka teoretis dan metodologi yang di dalam kritik akademis sangat penting, dalam kritik umum justru sering diabaikan. Hampir semua media massa (majalah dan surat kabar) lebih menyukai memuat kritik umum daripada kritik akademis. Masalahnya, kritik umum ditulis dalam bahasa yang sangat cair yang memungkinkan dapat dipahami oleh berbagai macam kalangan masyarakat. Penelitian sastra yang berkaitan dengan sistem kritik ini, menyangkut beberapa hal (a) jenis media yang memuat tulisan kritik, (b) latar belakang pendidikan kritikus, (c) profesi penulis kritik, (d) ideologi yang dianut, (e) model penilaian yang digunakan, yaitu (i) penilaian absolut, (ii) relatif, (iii) perspektif.

Selain sistem sastra makro, Ronald Tanaka membicarakan juga ihwal sistem sastra mikro yang dalam istilah Rene Wellek dan Austin Warren disebut pendekatan intrinsik. Dalam sistem ini, teks sastra menjadi pusat perhatian. Teks diperlakukan tidak lagi terikat pada pengarangnya, mengingat teks dianggap otonom, unik, dan berbeda, baik dengan teks sastra yang lain maupun teks nonsastra. Secara ekstrem, pandangan ini membawa pada anggapan bahwa teks sastra hadir ke hadapan pembaca dalam keadaan yang sudah lengkap. Oleh karena itu, di sana tak ada lagi hubungannya dengan pengarang. “Pengarang telah mati!” begitu Roland Barthes, tokoh penting strukturalisme menegaskan pendiriannya. Pandangan Tanaka tidak seekstrem itu. Dalam hal ini, teks diperlakukan sebagai jembatan yang menghubungkan pengarang dengan pembaca. Ia masih memberi peluang adanya keterkaitan antara teks dan konteksnya. Teks sastra boleh saja dikaitkan dengan pengarang, sejarah, sosio-budaya, filsafat, dan unsur ekstrinsik lainnya. Demikianlah, sesungguhnya begitu berlimpah objek penelitian sastra yang dapat di lakukan. Penelitian terhadap sejumlah unsur intrinsik sebuah karya sastra yang selama ini banyak dilakukan kalangan akademiskhasnya skripsi—misalnya, merupakan salah satu contoh, betapa tak terhitung banyaknya penelitian mengenai itu. Jadi, sungguh ironis rasanya jika kaum akademis sendiri, kehilangan gairah untuk melakukan penelitian sejenis atau penelitian lain yang belum banyak digarap orang. Di luar hal itu, masih ada pula kemungkinan penelitian dengan membandingkan satu karya sastra dengan karya sastra lain atau dengan karya nonsastra (intertekstualitas). Mungkin saja karya sastra dibandingkan dengan sejarah, filsafat, sosiologi, psikologi atau bahkan antropologi. Model ini dapat pula dilakukan dengan membandingkan satu karya dari satu negara dengan karya lain dari negara yang berbeda atau satu karya yang berasal dari kultur etnik tertentu dengan kultur etnik lain (studi sastra bandingan).

Sejumlah Kendala

Jika berbagai kemungkinan penelitian sastra terbuka luas dan lempang serta objek-objek penelitian sastra begitu berlimpahnya, pertanyaannya kini: Mengapa seperti telah disinggung—kaum akademis seperti kehilangan gairah untuk melakukan penelitian? Kendala apa saja yang menyebabkan masalah itu seperti penyakit kronis yang tak dapat disembuhkan. Bahwa kaum akademis menyadari adanya penyakit kronis itu, mengapakah penyakit itu dibiarkan hidup dan terus-menerus menggerayangi kegiatan kesehariannya.

Marilah kita coba membuat anatomi! Pertama, terjebak rutinitas. Kecenderungan kaum akademis tidak (sempat) melakukan penelitian karena mereka menikmati betul hidup dalam lingkaran rutinitas. Masalah pengajaran dan kegiatan administratifdi lingkungan kampus—sering kali menjadi kambing hitam. Pertanyaannya kini: tidak adakah waktu untuk membaca sesuatu (: buku) baru atau karya sastra terbitan baru? Jika masih sempat melakukan itu, tulislah! Tulisan inilah yang kelak dapat menjadi salah satu cikal-bakal objek penelitian. Kedua, sergapan ketakutan. Dalam banyak kasus, ada kesan bahwa kaum akademis ini hidup dalam sergapan ketakutan berbuat salah jika hendak melakukan penelitian. Inilah bahaya yang sebenarnya ditanamkan sendiri. Penelitian sastra sesungguhnya tidak berurusan dengan persoalan benar—salah. Dalam penelitian kualitatif, argumen menjadi sesuatu yang penting. Terterima atau tidak argumen itu, itu soal lain. Jadi, tumpahkan saja gagasan itu, baik atau buruk, itu persoalan nanti. Ketiga, mengajar seperti kaset yang dapat diputar berulang-ulang. Benar atau tidak asumsi ini, suka atau tidak terhadap anggapan ini, kenyataannya tidak sedikit kaum akademis yang mengajar dengan pola seperti kaset. Dari semester ke semester, ia terusmenerus mengulang hal yang itu-itu saja, tanpa ada usaha untuk melakukan inovasi. Revisi silabus dan satuan acara perkuliahan dalam setiap dua atau tiga tahun, sebenarnya dimaksudkan agar pola pengajaran tidak seperti kaset. Di samping itu, materi kuliah yang dipersiapkan, sering hanya ditulis pokok-pokoknya saja, tanpa berusaha menyusunnya

kembali sebagai sebuah tulisan yang utuh. Menyusun kembali pokok-pokok kuliah itu sebenarnya dapat menjadi bahan ajar yang penting yang mungkin suatu saat dapat menjadi sebuah diktat, atau bahkan buku teks yang dapat juga dipelajari masyarakat luas. Keempat, penelitian sekadar mengejar kum. Satu bahaya lain datang ketika kaum akademis melakukan penelitian sekadar mengejar kum sebagai usaha untuk naik pangkat atau golongan. Cara amatiran model ini tentu saja sangat berbahaya, karena lambat laun, tidak mustahil bakal membunuh profesionalitas. Maka, bekerjalah secara profesional, sesuai dengan profesi dan kewajiban untuk melakukan penelitian. Kelima, penghargaan tak manusiawi dan tak berbudaya. Karya-karya penelitian di dunia akademi, sering kali tidak mendapat penghargaan yang sewajarnya. Bahkan, tidak jarang pula sama sekali tidak dihargai, untuk tidak mengatakan tidak manusiawi dan tidak berbudaya. Institusi mestinya memberi penghargaan yang lebih beradab, baik penghargaan yang berupa materi mapun nonmateri. Keenam, pudarnya tradisi diskusi. Salah satu cara yang memungkinkan tumbuhnya kegairahan melakukan penelitian, kiranya dapat dimulai dengan menciptakan tradisi berdiskusi. Jurusan atau fakultas dapat memfasilitasinya atas nama seminar kecil. Jika tradisi ini rutin dilaksanakan dalam setiap semester dan dalam satu tahun diangkat ke dalam forum yang lebih luas berupa seminar, sangat mungkin kegiatan diskusi dan seminar menjadi sebuah kegiatan rutin. Kondisi ini pada gilirannya akan menumbuhkan kegairahan melakukan penelitian. Jika hasil seminar itu dikumpulkan kembali dan coba dipublikasikan dalam bentuk buku, dalam setiap tahun akan terbit sebuah buku yang berisi tulisan-tulisan para pengajar itu. Ketujuh, menikmati otoritas sebagai jago kandang. Bahaya lain yang secara laten datang dan memudarkan kegairahan melakukan penelitian adalah adanya sikap merasa besar di lingkungan sendiri. Oleh karena itu, kebiasaan mengirimkan makalah dalam seminar yang diselenggarakan di luar institusinya, seyogianya menjadi sasaran berikutnya jika tradisi diskusi dan seminar di lingkungan sendiri telah berjalan jadi kegiatan rutin

Kedelapan, keengganan menulis resensi atau esai untuk media massa. Salah satu kewajiban kaum akademi adalah membaca buku. Jika yang dibacanya itu buku baru, informasi tentang buku itu sering kali disampaikan hanya kepada mahasiswanya sendiri. Padahal, jika buku baru itu dibuat resensinya atau esai mengenai buku itu dan dicoba dipublikasikan di media massa, pengaruh informasi itu jauh lebih luas dan berwibawa. Jika resensi atau esai itu dikembangkan lebih luas dengan membandingkannya dengan buku lain dan sekaligus mencoba menggunakan kerangka teori dan metodologi, ia telah masuk kategori karya penelitian. Sayangnya, kaum akademi kurang menyadari pentingnya resensi atau esai ini sebagai salah satu usaha membuat tradisi penelitian. Itulah beberapa kendala yang sering menghantui kaum akademis kita. Masalahnya kini terpulang pada diri masing-masing. Jika kita menyadari betapa kegiatan penelitian itu sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan profesional kita, lakukanlah. Niscaya, kita akan merasakan sendiri bahwa sesungguhnya, penelitian itu memang asyik dan mengasyikkan. Percayalah, hasil penelitian kita itu, sangat mungkin suatu saat kelak, justru bakal ikut membesarkan kita sendiri. Apa pun hasilnya, itu soal lain. Sebaliknya, jika Anda masih juga enggan melakukan penelitian, dalam kesempatan ini, saya hanya dapat berdoa “Kembalilah ke jalan yang benar!”

Mklh/lokakarya/stba-lia/3—4 Juni 2003

DAFTAR PUSTAKA

Bradbury, Malcolm. 1972. The Social Context of Modern English Literature. London: Compton Printing Ltd.

Damono, Sapardi Djoko. 1993. Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah, Fungsi dan Struktur. Jakarta: Pusat Bahasa.

Luxemburg, Jan van., dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Terj. Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.

_____________________. 1992. Tentang Sastra. Terj. Achadiati Ikram. Jakarta: Intermasa.

Mahayana, Maman S. 2001. Akar Melayu. Magelang: Indonesia Tera.

Storey, Jhon (Ed.). 1996. Cultural Theory and Popular Culture: A Reader. New York: Harvester Wheatsheaf.

Tanaka, Ronald. 1976. System Models for Literary Macro-theory. Lisse: Peter de Rider Press.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Terj. Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

ð Makalah Lokakarya “Penelitian itu Asyik” diselenggarakan Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA Jakarta, di Wisma Karya Sartika, Cipanas, Puncak, 3—4 Juni 2003. Indeks

Analisis Komponen 112, 114, 116, 117 Penerjemahan 94, 95, 96, 97, 98

Bahasa Sasaran 94, 95, 99, 100 Bahasa Sumber 94 Cultural 53, 54 Discourse Completion 43, 45 Intellectual Capital 57, 58, 59, 60 Intrinsik 80, 83 Kalimat 124, 125, 129, 132, 133 Komponen Makna 114, 115, 116, 117 Matsuri 72, 73, 74, 75, 76, 77 Modernisasi 1, 3, 4, 6, 7, 8

Politeness Strategy 43,50 Pragmatic Transfer 43,44,50 Relasi Makna 112, 116, 126 Ritual 72, 73, 78 Penelitian Sastra 81, 82, 86, 88 Semantic Formula 43,46 Sosiologi Sastra 14, 15 Spritual 72, 73, 78, 79 Wanita Jepang 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Young Learners 70, 71

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->