STUDI PENENTUAN LOGAM TEMBAGA (Cu) DAN SENG (Zn) PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max [L] Merril) SECARA SPEKTROFOTOMETER SERAPAN

ATOM DI KECAMATAN TRIMURJO KABUPATEN LAMPUNG TENGAH (Skripsi)

Oleh Priyo Raharjo

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2002

STUDI PENENTUAN LOGAM TEMBAGA (Cu) DAN SENG (Zn) PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max [L] Merril) SECARA SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM DI KECAMATAN TRIMURJO KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Oleh Priyo Raharjo

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA SAINS Pada Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2002

Judul Skripsi

: STUDI PENENTUAN LOGAM TEMBAGA (Cu) DAN SENG (Zn) PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max [L] Merril) SECARA SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM DI KECAMATAN TRIMURJO KABUPATEN LAMPUNG TENGAH : Priyo Raharjo : 96171146 : Kimia : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Nama Mahasiswa Nomor Pokok Mahasiswa Jurusan Fakultas

MENYETUJUI
1. Komisi Pembimbing

Drs. R. Supriyanto, M.S. NIP 131899289

Dra. Chansyanah Diawati, M.Si. NIP 131971494

2. Ketua Jurusan

Andi Setiawan, Ph.D. NIP 131804062

MENSAHKAN

1.

Tim Penguji
Ketua : Drs. R. Supriyanto, M.S.

Sekretaris

: Dra. Chansyanah Diawati, M.Si.

Penguji Bukan Pembimbing

: Dra. Aspita Laila, M.S.

2.

Dekan Fakultas MIPA

Dr. Sugeng P. Hariyanto, M.S. NIP 131129059

Tanggal Lulus : 28 Juni 2002

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1978 di Metro, sebagai anak ke delapan dari delapan bersaudara dari pasangan Bapak Sarnoto As (Alm) dan Ibu M. Pratiwi.

Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar pada tahun 1990 di SDN XV Muara Enim Sumatera Selatan, Sekolah Menengah Pertama diselesaikan pada tahun 1993 di SMPN I Trimurjo Lampung Tengah, dan Sekolah Menengah Atas tahun 1996 di SMAN I Metro Lampung, tahun 1996 penulis terdaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung melalui jalur UMPTN.

MOTTO

C Tiada kesuksesan tanpa adanya kegagalan dan
hambatan.

C Belajar, kerja keras, dan disiplin adalah kunci
utama dalam mencapai kesuksesan.

Kupersembahkan skripsi ini kepada :

> >

Almarhum Bapak Sarnoto AS, Ibu M. Pratiwi yang kucintai,

Kakak-kakak dan mbakku yang kusayangi : > Drs. Heri Las Mei Mas Putro, > Drs. Bambang Pranoto Putro, > Drs. Trituradilaksono, > Drs. Sariwan Prayogo, > Erjunarko, > Rahmad Wahyudi, S.Si, > Sri Herni Ari Ningrum, A.Md., Keponakan-keponakanku yang kukasihi. Seseorang yang akan menemani hidupku sampai akhir hayatku

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, hanya dengan rahmat dan hidayah-Nya akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini berjudul “Studi Penentuan Logam Tembaga (Cu) dan Seng (Zn) Pada Tanaman Kedelai (Glycine max [L] Merril) Secara Spektrofotometer Serapan Atom di Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah”.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Bapak Drs. R. Supriyanto, M.S., selaku Pembimbing I, yang telah memberikan kepercayaan, perhatian, saran-saran dan begitu sabar membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. Ibu Dra. Chansyanah Diawati, M.Si., selaku Pembimbing II, yang dengan sabar dan sungguh-sungguh memberikan petunjuk dan berbagai masukan dalam menyelesaikan skripsi ini. 3. Ibu Dra. Aspita Laila, M.S., atas kesediaannya menjadi penguji dalam memberikan pengarahan dalam penulisan skripsi ini. 4. Bapak Andi Setiawan, Ph.D., selaku Ketua Jurusan Kimia FMIPA Unila yang telah memberikan kemudahan selama penulis menjalani masa studi.

ii

5. Bapak Dr. Sugeng P. Hariyanto, M.Sc., selaku Dekan FMIPA Universitas Lampung yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan studi di FMIPA Universitas Lampung. 6. Ibu Rinawati, M.Si., selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan nasehat dan bimbingan kepada penulis menjalani masa studi. 7. Seluruh staf Dosen FMIPA Universitas Lampung yang telah memberikan bekal cakrawala ilmu. 8. Seluruh staf karyawan FMIPA Unila atas bantuan dan kerjasamanya. 9. Ibu yang tercinta, mamas dan mbak yang kucintai, dan keponakan-keponakanku yang kusayangi, yang telah memberikan do’a dan bantuan baik moral maupun matril selama menuntut ilmu dan sekaligus menanti keberhasilanku. 10. Titi atas kerjasamanya sebagai satu tim dalam penelitian ini. 11. Azis, Olin, Tata, Icon, Heryadi, Masyhar, Baband, Dwi Bambang, Risman, Eden, Yani, Widia, Mei, Yati, Alfi, Fauziah, Lisa, Anita, Sulis, serta rekan-rekan Kimia ’96 yang telah banyak membantu dan memberikan dorongan. 12. Mas Harno, Mas Lemi, Mbak Iin, Mas Madi, Danu, Nomo’, Mas Ramli, Eka, Mas Ngadiman yang telah memberikan fasilitas. 13. Mas Sujud, Mbah Ipin, Derry, Eyang Fitri ‘Racer”, Bang Pardi, Kak Bustomi, Mas Abror, Mas Sigit, Ibnu, Edi, Kak Atul, Wayan “T’, Norman, Mas Jumroni di Balau dan kru Rental “Langgeng” yang telah banyak membantu selama penulis melakukan penelitian. 14. Mashudi atas bantuannya dalam mengambil sampel, Harmanto atas kopinya, dan Siswadi atas stressnya. iii

15. Angkatan ’95 : Herman, Yuwono, Khoiru Zein, Sriyanto, Subhan, Wahyu, angkatan ’97 : Anita Fiteriyeni, Lia Alfiani, Endang Handayani, Yuni Eka Wati, Yuni Bangka, Wempy Arma, angkatan ’98 : Hendri, Heriyandi, dan adik-adikku serta kakak-kakak seniorku yang telah banyak membantu dan memberi warna selama penulis menimba ilmu di Universitas Lampung. 16. Semua pihak yang tidak disebutkan satu persatu. 17. Untuk seseorang atas segala pengertian, penantian, kejujuran dan kesabarannya.

Skripsi ini mungkin jauh dari sempurna tetapi semoga penelitian ini mampu memberikan satu arti dan berguna bagi kita semua. Amin.

Bandar Lampung, Juli 2002 Penulis

iv

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL ................................................................................................. DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ PENDAHULUAN................................................................................................. Latar belakang masalah .......................................................................... Tujuan penelitian .................................................................................... Manfaat penelitian .................................................................................. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................................... Kedelai (Glycine max [L] Merril) ............................................................ Logam-logam Berat .................................................................................. Logam Cu .................................................................................................. Logam Zn .................................................................................................. Akumulasi logam berat pada tanaman..................................................... Spektrofotometer Serapan Atom ........................................................... Sumber radiasi .............................................................................. Pembakar....................................................................................... Monokromator dan detektor ........................................................ Pencatat ......................................................................................... METODELOGI PENELITIAN ........................................................................... Waktu dan tempat penelitian.................................................................... Alat dan bahan .......................................................................................... Prosedur penelitian ................................................................................... Pengambilan sampel tanaman kedelai ........................................ Perlakuan pendahuluan ................................................................ Pembuatan larutan sampel ........................................................... Pembuatan larutan standar........................................................................ Pembuatan larutan standar tembaga............................................ Pembuatan larutan standar seng .................................................. Pembuatan kurva kalibrasi ....................................................................... vii viii 1 1 3 3 4 4 6 8 10 11 14 15 16 17 17 18 18 18 18 18 19 19 20 20 20 20 v

Pembuatan kurva kalibrasi tembaga............................................ Pembuatan kurva kalibrasi seng .................................................. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................ Hasil penelitian ....................................................................................... Hasil analisis kandungan logam Cu dalam bagian tanaman kedelai ........................................................................................... Hasil analisis kandungan logam Zn dalam bagian tanaman kedelai ........................................................................................... Kurva kalibrasi larutan standar tembaga (Cu)............................ Kurva kalibrasi larutan standar seng (Zn)................................... Pembahasan............................................................................................... Kandungan rerata tembaga (Cu).................................................. Kandungan rerata seng (Zn) ........................................................ KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................ Kesimpulan................................................................................................ Saran ........................................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... LAMPIRAN ........................................................................................................

20 20 21 21 21 21 22 22 23 24 26 29 29 30 31 33

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Situasi ekologis dimana ion-ion berbagai unsur dapat menyebabkan toksisitas.......................................................................................................... 2. Kandungan minimum – maksimum logam berat yang diperbolehkan dalam hasil tumbuhan dan produk olahan .................................................... 3. Kandungan rerata Cu pada bagian tanaman kedelai .................................... 4. Kandungan rerata Zn pada bagian tanaman kedelai .................................... 5. Hasil pengukuran absorbansi larutan standar Cu (µg/L) ............................. 6. Hasil pengukuran absorbansi larutan standar Zn (µg/L) ............................. 7. Hasil perhitungan logam Cu dan Zn pada bagian tanaman kedelai............ 8. Kadar air pada tanaman kedelai ....................................................................

Halaman

12 12 24 27 34 36 39 41

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman 14 21 21 35 37

1. Skema spektrofotometer serapan atom .......................................................... 2. Grafik hasil analisis kandungan logam Cu dalam tanah dan bagian tanaman kedelai............................................................................................... 3. Grafik hasil analisis kandungan logam Zn dalam tanah dan bagian tanaman kedelai............................................................................................... 4. Kurva kalibrasi larutan standar Cu................................................................. 5. Kurva kalibrasi larutan standar Zn.................................................................

viii

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kedelai (Glycine max [L] Merril) merupakan salah satu tanaman sumber protein yang penting di Indonesia. Sebagai bahan pangan pokok sebagian besar penduduk Indonesia, tanaman kedelai menjadi prioritas utama dalam pembangunan pertanian. Berdasarkan luas panen, di Indonesia kedelai menempati urutan ke-3 sebagai tanaman palawija setelah jagung dan ubi kayu. Rata-rata luas pertanaman per tahun sekitar 703.878 ha, dengan total produksi 518.204 ton.

Pertanian modern dengan tuntutan produksi yang tinggi, khususnya di lahan dengan tanah tidak subur dan menggunakan varietas unggul, memerlukan masukan unsur hara dalam jumlah besar. Kebutuhan unsur hara di atas dapat dipenuhi melalui pemanfaatan berbagai jenis unsur hara, baik organik maupun anorganik, alami ataupun non alami (rekayasa kimia).

Banyak faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya hasil kedelai antara lain: tanah, varietas, pengelolaan, lingkungan, keadaan hama, pemupukan dan zat-zat pencemar (Sumarno, 1984). Kedelai mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai sumber bahan makanan seperti tempe, minyak, kecap dan sebagainya.

2 Disamping itu kedelai merupakan tanaman dengan daerah penyebaran yang cukup luas termasuk di daerah tropis seperti di Indoensia (AAK, 1989).

Penggunaan pupuk kimia dalam jumlah besar dapat berdampak buruk terhadap lingkungan. Pupuk kimia dapat mengandung logam berat dalam jumlah tinggi dan kegunaannya dapat meningkatkan konsentrasinya di dalam tanah serta bahayanya terhadap mahluk hidup (Salam AK, 1997).

Pupuk kimia yang biasa digunakan petani untuk tanaman kedelai yaitu Urea dan TSP yang semuanya mengandung 0,02 % Cu dan 0,02 % Zn. Petani menggunakan pupuk tersebut pada kedelai untuk urea kira-kira 600—800 kg per hektar, TSP kira-kira 600—800 kg per hektar dan KCl kira-kira 400 kg per hektar. Untuk zat pengatur tumbuhan (ZPT) dan pupuk pelengkap cair (PPC), petani menggunakan Dharmasri 5 EC untuk mengendalikan rayap tanah pada akar dan gandasil D untuk pertumbuhan dau dan buah yang mengandung komposisi 12 % asam fosfat dilengkapi dengan unsur-unsur tembaga (Cu), seng (Zn), mangan (Mn), Kobal (Co), dan Boron (B) serta vitamin-vitamin untuk pertumbuhan tanaman seperti aneurine, laktof lavine dan nicotinil acid amida (Williams and UZO, W.T.H, 1993).

Zat-zat pencemar merupakan senyawa yang tidak diinginkan dalam lingkungan hidup. Bahan-bahan pencemar itu tergolong zat organik dan anorganik. Diantara zatzat pencemar anorganik maka logam berat seperti tembaga (Cu) dan seng (Zn) mendapat perhatian yang lebih banyak. Hal ini bukan saja karena sifat toksiknya melainkan logam berat itu pada umumnya terdapat dalam lingkungan. Diantara

3 logam-logam berat yang dapat mengganggu kesehatan tubuh adalah tembaga dan seng.

Besarnya bahaya logam berat terhadap mahluk hidup di atas menunjukkan bahwa akumulasi logam berat di dalam jaringan tubuh tumbuhan, hewan dan manusia harus ditekan. Selain itu aliran logam berat melalui jaringan makanan harus diatur sedemikian rupa, sehingga logam berat yang dapat memasuki jaring makanan hanya dalam jumlah terbatas dan pemupukannya di dalam jaringan tubuh mahluk hidup berada pada tingkat yang tidak membahayakan. Dengan mengetahui akibat-akibat tersebut di atas maka perlu dilakukan studi logam berat pada tanaman kedelai yang banyak dikonsumsi oleh manusia. Dalam studi logam ini akan ditentukan kandungan logam tembaga dan seng pada tanaman kedelai secara kuantitatif menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom. 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam tembaga (Cu) dan seng (Zn) dalam tanaman kedelai di kecamatan Trimurjo secara Spektrofotometer Serapan Atom. 1.3 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada umum, industri pembuatan pupuk dan kalangan di akademisi tentang kandungan logam tembaga (Cu) dan seng (Zn) secara kuantitatif dalam tanaman kedelai di Kecamatan Trimurjo secara Spektrofotometer Serapan Atom (SSA).

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kedelai (Glycine max [L] Merril)

Klasifikasikan kedelai menurut Lawrence (1951) adalah sebagai berikut : Divisi Subdivisi Kelas Subkelas Ordo Famili Subfamili Genus Species : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledoneae : Dialypetaleae : Rosales : Leguminosae : Papilonoideae : Glycine : (Glycine max [L] Merril)

Kedelai adalah tanaman semusim yang penting setelah padi dan jagung. Ketiganya merupakan tanaman bahan makanan yang penting di Indonesia. Kedelai merupakan sumber utama minyak atau lemak dan kualitas proteinnya sangat tinggi bagi gizi manusia, kedelai mengandung asam amino essensial yang diperlukan tubuh manusia. Biji-bijinya mengandung 16%--24% lemak, 30,55%--40% protein dan kandungan karbohidratnya mencapai 35 %.

5 Kedelai dalam bentuk bahan olahan tradisional seperti tempe atau tahu, kandungan protein per 100 gram bahan menjadi lebih rendah, namun lebih mudah tercerna. Tempe merupakan olahan dari kedelai yang paling tinggi kandungan proteinnya dibandingkan tahu atau olahan lain (Suprapto, 1992).

Kedelai dipanen saat unsur panennya sudah optimal (masak fisiologis) agar diperoleh mutu hasil dan produksi yang tinggi. Umur panen kedelai antara 71 – 90 hari, tergantung varietasnya. Selain itu perlu diperhatikan sosok tanamannya. Berikut ini indikator panen kedelai :

1. Polong mengalami perubahan warna dan hijau menjadi kecoklatan atau jika 95% polong berubah warna. 2. Batang dan daun telah kering. 3. Kadar air sekitar 15 – 18 %.

Dewasa ini varietas baru kedelai banyak bermunculan, varietas kedelai yang dianjurkan antara lain variets Otak, varietas Ringgit, varietas Sumbing, varietas Merapi, varietas Galunggung, varietas Wilis dan varietas Americana. Varietas yang paling banyak ditanam di Propinsi Lampung adalah varietas Wilis. Salah satu varietas kedelai yang ditanam di Indonesia adalah varietas Wilis yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

1. Umur panen 88 hari. 2. Varietas ini agak tahan terhadap penyakit karat dan virus. 3. Hasil panen 1,6 ton/ha.

6 2.2 Logam-logam Berat

Logam berat merupakan unsur yang mempunyai sifat dan kriteria yang sama seperti logam-logam lain diantaranya : memiliki kemampuan yang baik sebagai penghantar listrik (konduktor), memiliki kemampuan sebagai penghantar panas yang baik, memiliki rapat jenis yang tinggi, dapat membentuk alloy dengan logam lainnya. Sedangkan karakteristik logam berat adalah memiliki massa jenis yang lebih besar dari 4 kg/L dan mempunyai respon biokimia yang khas pada organisme hidup. Berbeda dengan logam biasa, logam berat dapat menimbulkan efek-efek khusus pada mahluk hidup. Secara umum bisa dikatakan bahwa semua logam berat dapat menjadi bahan pencemar yang akan meracuni tubuh mahluk hidup (Palar, 1994).

Logam berat umumnya terdapat dalam jumlah yang kecil sehingga sering menyulitkan pemantauan kadarnya dalam media lingkungan. Logam berat dapat terakumulasi dalam tubuh organisme dan sebagian besar organisme tersebut mempunyai kemampuan untuk menghimpun logam berat (Adzam, 1994).

Logam berat kelimpahan alamnya maksimal 0,1 % atau 1000 ppm dari berat kerak bumi dikelompokkan sebagai logam renik. Logam-logam renik ini walaupun kelimpahannya di alam sangat kecil, tetapi sangat membahayakan organisme hidup. Dalam konsentrasi yang kecil, logam-logam itu justru dibutuhkan oleh organisme dalam melaksanakan aktivitas hidupnya. Bila kelimpahannya di alam bertambah maka dapat membahayakan organisme itu sendiri (Anon, 1993 dalam Adzam, 1994).

7 Konsentrasi logam berat di dalam jaringan tanaman pada umumnya rendah, dalam jangka panjang akumulasi logam berat asal tumbuhan di dalam jaringan tubuh manusia dapat mengakibatkan pengaruh negatif bagi kesehatan manusia.

Istilah logam berat pada umumnya digunakan untuk logam yang memiliki nomor atom lebih besar daripada besi atau yang memiliki di atas 5 gr ml-1. Karakteristik kelompok logam berat adalah sebagai berikut : 1. memiliki spesifikasi graviti yang sangat besar (lebih dari 5) 2. mempunyai nomor atom 22 – 34 dan 40 – 50 serta unsur lantanida dan aktinida. 3. mempunyai respon biokimia khas (spesifik) pada organisme hidup.

Logam berat juga bisa dikelompokkan sebagai logam yang berhubungan dengan toksisitas atau polusi. Toksisitas dari logam berat ini ditumbuhkan oleh sifat pengompleks yang kuat dari ion-ion logam berat tersebut (Vymazal, 1995).

Menurut Vymazal (1995), logam juga dapat diklasifikasikan berdasarkan konsentrasi yang dibutuhkan untuk menimbulkan efek toksik pada tanaman, yaitu : 1. Sangat Toksik Efek toksik terlihat pada konsentrasi dibawah 1 mg.L-1 (Ag+, Hg 2+, Sn 2+, Pb2+) 2. Agak Toksik Efek toksik terjadi pada konsentrasi antara 1—100 mg.L-1 (Al3+, Ba2+, Be2+, Bi3+, Cu2+, Cd2+ Co2+, Cr2+, Fe 2+, Mn2+, Ni2+, Zn2+, Zr4+)

8 2.2.1 Logam Cu

Tembaga dengan nama kimia Cupprum dilambangkan dengan Cu. Unsur logam ini berbentuk kristal dengan warna kemerahan dan mempunyai titik didih 26000C serta titik leleh 10800C. Dalam tabel periodik, tembaga menempati posisi dengan nomor atom (NA) 29 dan mempunyai massa atom relatif (Ar) 63,546. Cu terdapat dalam keadaan oksidasi +1 (kupro) dan +2 (kupri).

Tembaga merupakan mikronutrien essensial bagi tumbuhan dan hewan dimana Cu terlibat dalam berbagai sistem enzim, (Bowen, 1979). Spesies-spesie tertentu yang terdapat pada area yang terkontaminasi memiliki mekanisme yang sama juga ditunjukkan oleh Zn dan logam-logam berat beracun lainnya.

Tidak seperti Hg, Pb, dan Cd, Cu adalah logam renik penting (essensial) bagi tumbuhan dan hewan termasuk manusia. Maka dari itu, Cu biasanya ada dalam makanan tetapi harus tersedia dalam jumlah yang tepat. Ambang batas Cu untuk pertanian adalah 0,2 mg/L (Peraturan Pemerintah RI, PP 20 tahun 1990). Dalam konsentrasi yang lebih tinggi, Cu bersifat toksik.

Logam berat Cu digolongkan kedalam logam berat dipentingkan atau logam berat essensial artinya, meskipun Cu merupakan logam berat beracun, unsur logam ini sangat dibutuhkan tubuh meski dalam jumlah yang sedikit. Cu dibutuhkan manusia sebagai kompleks Cu-protein yang mempunyai fungsi tertentu dalam pembentukan hemoglobin, kolagen, pembuluh darah dan myelin otak. Disamping itu Cu juga

9 terlibat dalam proses pembentukan energi untuk metabolisme serta dalam aktifitas tirosin.

Defisiensi Cu dapat terjadi karena kurangnya konsumsi. Beberapa tanda kekurangan Cu yang terjadi pada organisme hidup meliputi: anemia, depigmentasi kulit, rambut beruban, rambut kusut, kerusakan otak dan mandul (Briggs dan Calloway, 1979 dalam Rivai, 1999). Karena itu Cu termasuk ke dalam logam-logam essensial bagi manusia seperti Cu, Fe, Zn, dan lain-lain. Toksisitas yang dimiliki oleh Cu baru akan bekerja dan memperlihatkan pengaruhnya bila logam ini telah masuk kedalam tubuh organisme dalam jumlah besar.

Kebutuhan harian Cu untuk manusia yang dianjurkan oleh WHO (1973) dalam Palar (1994) adalah 30 µg Cu per kilogram berat tubuh untuk orang dewasa, 40 µg Cu per kilogram berat tubuh untuk anak-anak dan 80 µg Cu per kilogram berat tubuh untuk bayi. Kadar Cu tubuh orang dewasa sekitar 50—80 mg, jauh lebih sedikit daripada Fe dan Zn. Pada manusia Cu paling banyak terdapat dalam hati, sedangkan pada darah dan jaringan lain, rata-rata konsentrasinya sama dan lebih rendah dari hati (Linder, 1992).

Manusia sebagai konsumen tumbuhan dan produknya, misal daun, buah atau akar, dapat mengalami kontaminasi logam berat melalui rantai makanan. Dalam tubuh, konsentrasi logam berat akan menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan konsentrasi logam berat pada sumber asalnya. Hal ini berbahaya bagi kesehatan manusia.

10 Absorpsi logam Cu oleh tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : Konsentrasi logam berat di lingkungan, tipe tumbuhan, pH tanah, curah hujan, dan lain-lain. Kemampuan untuk mengakumulasi logam berat juga berbeda-beda pada tiap tanaman. Sammers dalam penelitian menemukan bahwa kemampuan untuk menerima dan mentranslokasi logam berat terhadap beberapa jenis tanaman berbedabeda pada masing-masing tanaman (Allen, 1989).

Pada manusia efek keracunan utama yang ditimbulkan oleh Cu adalah terjadinya gangguan pada jalur pernafasan. Selain itu, keracunan Cu secara kronis dapat dilihat dengan timbulnya penyakit Wilson dan Kinsky. Gejala dari penyakit wilson adalah terjadi kerusakan otak serta terjadinya penurunan kerja ginjal dan pengendapan Cu dalam kornea mata. Sedangkan untuk penyakit kinsky dapat diketahui dengan terbentuknya rambut yang kaku dan berwarna kemerahan pada penderita (Palar, 1994).

2.2.2

Logam Zn

Seng adalah logam yang berwarna putih kebiruan, dan disimbolkan dengan Zn. Logam ini termasuk ke dalam kelompok logam-logam golongan II-B dalam tabel periodik unsur kimia, mempunyai nomor atom 30 dan berat atom 65,38.

Mineral yang umum adalah ZnS. Mineral lainnya adalah kompleks produk –oksi dan garam-garam serta silikat (walaupun jumlahnya lebih sedikit). Mineral-mineral dalam tanah liat juga dapat menyerap Zn (Allen, 1989).

11 Sebagi kofaktor, Zn dapat mengakibatkan keaktifan enzim lainnya. Kekurangan zat mineral seng dapat mengakibatkan hati dan ginjal membengkak, dan terjadi gejala gizi besi. Diperkirakan kebutuhan seng adalah 15 mg bagi setiap anak diatas 11 tahun (Winarno, 1988).

Dalam tubuh manusia terkandung 1,4 – 2,5 gram seng, terutama terdapat pada rambut, tulang dan mata. Seng merupakan komponen penting dari berbagai enzim dan mineral mikro yang menyebar ke dalam jaringan manusia atau hewan dan terlibat dalam fungsi berbagai enzim pada proses metabolisme. Paling sedikit 15—20 metallo-enzim yang mengandung seng telah diisolasi dan dimurnikan. Salah satunya adalah karbonat anhidrase yang terdapat dalam sel darah merah.

Disamping itu seng juga terdapat dalam karboksi peptidase dan dehidrogenase dalam hati. Sebagai kofaktor, seng dapat meningkatkan keaktifan enzim lainnya. Kekurangan zat mineral seng dapat mengakibatkan hati dan ginjal membengkak, dan terjadi gejala anemia gizi besi. Diperkirakan kebutuhan seng adalah 15 mg bagi setiap anak diatas usia 11 tahun (Winarno, 1988).

2.3

Akumulasi logam berat pada tanaman

Logam berat yang masuk kedalam tanah akan menyebar, terutama ke fase larutan dan fase padatan tanah. Bila sejumlah logam berat masuk kedalam tanah, sebagian akan larut dalam air tanah dan sebagian lagi akan mengendap atau teradsorpsi. Sebagian logam berat didalam tanah merupakan unsur hara mikro, yaitu unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit. Unsur hara mikro dalam kelompok logam

12 berat berperan penting dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Salam, 1997).

Tanaman mapu menyerap dan mengakumulasikan logam-logam yang ada baik dari tanah melalui sistem perakarannya maupun dari udara melalui daun-daunnya. Akumulasi yang berlebihan dari logam berat menyebabkan penurunan produktifitas tanaman. Tanaman menyerap mineral nutrisi dari dalam tanah melalui akar untuk kelangsungan prose metabolisme, bersamaan dengan itu apabila terdapat logam berat dalam tanah akan terserap juga oleh akar dan masuk ke dalam jaringan.

Penyerapan logam berat sangat dipengaruhi oleh konsentrasi logam berat dalam larutan tanah dan penyebaran logam berat dalam jaringan tumbuhan. Akar tanaman secara langsung dapat menyerap logam berat larut, khususnya kation logam berat bebas. Fraksi logam berat lainnya, seperti ion kompleks dan padatan mineral dapat terserap akar tanaman secara tidak langsung setelah terlebih dahulu dibebaskan sebagai kation bebas. Dengan demikian, seluruh logam berat di dalam tanah pada dasarnya akan dapat diserap oleh akar tanaman (Salam AK, 1997).

Konsentrasi logam berat di dalam jaringan tanaman pada umumnya rendah. Dalam jangka panjang akumulasi logam berat yang berasal dari tumbuhan, di dalam jaringan tubuh manusia dapat mengakibatkan pengaruh negatif bagi kesehatan.

Pada keadaan ekologis dimana ion-ion Cu dan Zn dapat menyebabkan toksisitas dapat dilihat pada Tabel 1.

13 Tabel 1. Situasi ekologis dimana ion-ion berbagai unsur dapat menyebabkan toksisitas. Penting (P) Tidak Penting (TP) P P

Unsur Cu Zn

Situasi Pada endapan tanah dan timbunan tanah; kadangkadang dengan pengendapan dari udara

Sumber : A.H. Filter R.K.M. Hay, 1991

Seringkali beberapa unsur dapat mencapai konsentrasi toksik (yang dapat menimbulkan racun) di dalam tanah seperti Cu dan Zn. Bijih dari logam ini terdapat di alam, kadang-kadang di celah batuan, dan konsentrasinya bisa tinggi sekali (A.H. Filter R.K.M. Hay, 1991).

Untuk kandungan logam berat pada tanaman pertanian dan produk olahan yang memenuhi kebutuhan harian pada manusia dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan minimum – maksimum logam berat yang diperbolehkan dalam hasil tumbuhan dan produk olahan. No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Parameter Cobalt (Co) Tembaga (Cu) Seng (Zn) Nikel (Ni) Besi (Fe) Timbal (Pb) Satuan mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg Dianjurkan 0,05—1 0,02—1 0,01—0,1 0,03—3 0,51—1,05 0,01—0,1 Berat maksimum 2 5 2 4,3 1,5 2

Sumber : Codex Alimentarius Comite (Komite Pengawasan Makanan Internasional) http : //www.who.int/fsf/codex/generalstandarcontaminantsandtuxinpoods. Pdf

14 2.4 Spektrofotometer Serapan Atom

Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) adalah alat yang digunakan untuk menganalisis secara kualitatif dan kuantitatif unsur-unsur logam dalam jumlah runut. Dasar analisis pengukuran sepktrofotometer serapan atom adalah intensitas radiasi yang diserap oleh atom-atom netral yang tidak tereksitasi dari logam yang dianalisis.

Menurut Khopkar (1990) metode Spektrofotometri Serapan Atom memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan metode-metode lain, yaitu : 1. Meningkatkan untuk menentukan konsentrasi hampir semua unsur pada tingkat runut. 2. Kecepatan analisis dan ketelitian yang akurat sehingga tidak diperlukan pemisahan. 3. Sebelum pengukuran tidak perlu dilakukan pemisahan unsur yang akan ditentukan walaupun dalam sampel terdapat banyak unsur.

Prinsip spektrofotometri serapan atom didasarkan oleh adanya panjang gelombang tertentu oleh atom-atom dalam keadaan dasar. Bila satu atom pada keadaan dasar diberi suatu radiasi, akan terjadi peristiwa eksitasi yaitu peristiwa dimana elektronelektron dari keadaan dasar akan pindah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Atomatom yang tak tereksitasi sangat tidak stabil dan akan kembali ke keadaan semula dengan memancarkan energi yang sama jumlahnya dengan energi yang diserap pada saat terjadi eksitasi elektron-elektronnya. Atom akan membutuhkan energi pada saat eksitasi, energi ini didapat melalui penyerapan radiasi pada panjang gelombang

15 tertentu sehingga menyebabkan berkurangnya intensitas radiasi yang diberikan. Intensitas radiasi yang diserap akan sebanding dengan jumlah atom pada keadaan dasar yang menyerap radiasi tersebut. Dengan mengukur besarnya intensitas yang diserap (A) pada tabel media yang tetap (b), besarnya konsentrasi (c) dari suatu materi dapat ditentukan. Hukum Lambert Beer menyatakan : “Besarnya absorbansi sebanding dengan tebal medium dan konsentrasinya pada panjang gelombang tertentu” atau secara matematis : A=ε.b.c Dengan ε adalah koefisien ekstinksi molar (Price, 1983). Suatu Spektrofotometer Serapan Atom terdiri dari : sumber radiasi, pembakar, monokromator, detektor dan pencatat.

Sumber Radiasi Monokromator Pembakar Penguat Detektor

Oksidan Sampel Pembakar Pencatat

Gambar 1. Skema Spektrofotometer Serapan Atom 2.4.1 Sumber Radiasi

Sumber radiasi memberikan spektrum pancaran yang terdiri dari puncak-puncak atau garis-garis pancaran yang sempit, hal itu penting karena serapan atom di dalam nyala

16 dari puncak-puncak serapan dengan lebar pita yang sempit. Salah satu sumber radiasi yang memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai radiasi spektrofotometer serapan atom adalah lampu katoda berongga.

Keuntungan yang dapat diperoleh dari pemakaian lampu katoda berongga adalah sebagai berikut : 1. Memancarkan garis pancaran yang panjang gelombangnya tepat sama dengan panjang gelombang garis serapan atom sehingga dapat terjadi serapan yang optimum. 2. Memancarkan garis pancaran yang sempit. 3. Dapat dibuat untuk semua unsur kimia yang dapat ditetapkan dengan SSA. 4. Pengoperasiannya tidak rumit, cukup menghubungkan kedua elektroda lampu tersebut dengan sumber tegangan dan mengukur besarnya arus lampu sehingga sesuai dengan nyala yang tercantum dalam pemakaian lampu tersebut. 5. Memberikan pancaran yang stabil dan intensitas yang cukup tinggi.

2.4.2

Pembakar

Sampel yang akan dianalisis diatomisasi terlebih dahulu dengan cara contoh yang berupa larutan disemprotkan sehingga menjadi kabut kemudian dibakar dengan asetilen (C2H2) sebagai bahan bakar, sebagi kontrol besarnya aliran udara (O 2) dan asetilen (C2H2), maka pada bagian ini dilengkapi dengan flowmeter sehingga terjadi kesesuaian antara tinggi nyala, komposisi pembakar, serta bahan bakar (Ellwell & Gidley, 1991).

17 2.4.3 Monokromator dan Detektor

Radiasi yang melewati populasi atom pada pembakar sebagian akan diserap dan sebagian lagi diteruskan. Monokromator terdiri dari cermin dan gritting akan menangkap radiasi yang diteruskan. Selanjutnya sebuah amplifier akan memperkuat intensitas cahaya yang diteruskan itu. Radiasi yang telah diperkuat intensitasnya itu kemudian diubah menjadi sinyal – sinyal listrik oleh detektor (Ellwell & Gidley, 1991).

2.4.4

Pencatat

Pencatat merupakan bagian terakhir dari alat Spektrofotometer Serapan Atom. Pada bagian ini sinyal listrik yang berasal dari detektor diterjemahkan menjadi serangkaian angka-angka digital maupun menjadi grafik sehingga dapat dibaca (Ellwell & Gidley, 1991).

III. METODELOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Maret 2002 di Laboratorium Kimia Analitik dan Laboratorium Kimia Instrumentasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas yang biasa digunakan dalam praktikum, neraca analitik merk Mentler model AE-200, oven merk Heraeus tipe T-5050, hot plate, termometer, Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) merk Hitachi model Z-8000. Bahan-bahan yang digunakan adalah tanaman kedelai (Glycine max [L] Merril) dan tanah, asam nitrat (65% dan 11%), akuades, aluminium foil, Cu(NO3)2, dan Zn(NO3)2. 3.3 Prosedur Penelitian 3.3.1 Pengambilan sampel tanaman kedelai

Sampel yang berupa tanaman kedelai (umur tanaman ± 3 bulan) diambil dari sebagian areal persawahan di sekitar kecamatan Trimurjo. Pengambilan sampel

19 dilakukan secara acak dengan titik pengambilan sampel sebanyak 5 titik. Sampel yang diperoleh segera dimasukkan dalam kantong plastik.

3.3.2

Perlakuan Pendahuluan

Di Laboratorium sampel dipisahkan menjadi 5 bagian yaitu tanah, akar, batang, daun, dan buah. Sampel yang telah diperoleh dibersihkan dari kotoran lalu dibilas dengan akuades, dipisah menurut bagiannya. Kemudian dikeringkan dengan cara dianginanginkan tanpa terkena sinar matahari langsung selama 4 x 24 jam, selanjutnya dipotong-potong sekecil mungkin atau ditumbuk halus dan dimasukkan dalam kemasan plastik tertutup.

3.3.3

Pembuatan larutan sampel

Dalam Allen (1989) disebutkan bahwa pembuatan larutan sampel adalah sebagai berikut : “sebanyak 0,5 – 0,6 gram sampel kedelai dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dikeringkan dalam oven pada suhu 105 0 C selama 48 jam, kemudian didinginkan dalam desikator hingga mencapai berat konstan. Selanjutnya sampel dilarutkan dalam 5 ml asam nitrat 65%, dipanaskan kembali dengan menggunakan Hot Plate pada suhu 1050 C selama 48 jam dan dibiarkan dingin. Sampel yang telah larut dipindahkan ke dalam labu takar 50 ml kemudian ditambah lagi dengan HNO3 11%, dipanaskan kembali dengan menggunakan Hot Plate pada suhu 1050 C selama 48 jam dan dibiarkan dingin. Kemudian sampel siap diukur dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom” (Allen, 1989).

20 3.3.4 Pembuatan larutan

3.3.4.1 Pembuatan larutan tembaga Untuk mengetahui larutan stok tembaga 1000 mg/L dilarutkan 2,451 gram tembaga nitrat ke dalam 1000 ml akuades. Dari larutan standar tembaga 1000 mg/L dibuat larutan standar tembaga dengan konsentrasi 0,1; 0,3; 0,5; 0,7; 0,9 mg/L. 3.3.4.2 Pembuatan larutan seng Untuk mengetahui larutan stok seng 1000 mg/L dilarutkan 1,659 gram seng nitrat ke dalam 1000 ml akuades. Dari larutan standar seng 1000 mg/L dibuat larutan standar tembaga dengan konsentrasi 0,1; 0,3; 0,5; 0,7; 0,9 mg/L. 3.3.5 Pembuatan kurva kalibrasi

3.3.5.1 Pembuatan kurva kalibrasi tembaga Untuk membuat kurva kalibrasi tembaga maka digunakan larutan standar tembaga dengan konsentrasi 0,1; 0,3; 0,5; 0,7; 0,9 mg/L diukur pada kondisi optimum dengan SSA sebanyak tiga kali ulangan. Data yang diperoleh dari manual alat dibuat kurva dengan konsentrasi sebagai sumbu X dan absorbansi sebagi sumbu Y. 3.3.5.2 Pembuatan kurva kalibrasi seng Untuk membuat kurva kalibrasi seng maka digunakan larutan standar seng dengan konsentrasi 0,1; 0,3; 0,5; 0,7; 0,9 mg/L diukur pada kondisi optimum dengan SSA sebanyak tiga kali ulangan. Data yang diperoleh dari manual alat dibuat kurva dengan konsentrasi sebagai sumbu X dan absorbansi sebagi sumbu Y.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Hasil Analisis Kandungan Logam Cu dalam Tanah dan Bagian Tanaman Kedelai
Kandungan logam Cu (ug/g) 40 30 20 10 0 T A B D Ba Bagian-bagian tanaman kedelai

Gambar 2. Grafik hasil analisis kandungan logam Cu dalam Tanah dan Bagian Tanaman Kedelai 4.1.2 Hasil Analisis Kandungan Logam Zn dalam Tanah dan Bagian Tanaman Kedelai
Kandungan logam Zn (ug/g) 80 60 40 20 0 T A B D Ba

Bagian-bagian tanaman kedelai

Gambar 2. Grafik hasil analisis kandungan logam Cu dalam Tanah dan Bagian Tanaman Kedelai

22 Keterangan : T A B D Ba 4.1.3 : : : : : Tanah Akar Batang Daun Ba

Kurva kalibrasi larutan standar tembaga (Cu)

Untuk mengetahui konsentrasi tembaga dalam sampel, pada penelitian ini menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Terlebih dahulu dibuat kurva kalibrasi dengan cara mengukur absorbansi larutan baku tembaga yang konsentrasi 0,1; 0,3; 0,5; 0,7; 0,9 mg/L. Dari perhitungan didapat koefisien korelasi (r) sebesar 0,9836 dan persamaan garis lurus y = 0,000701 + 0,0096 x. Selanjutnya kurva kalibrasi ini untuk menentukan konsentrasi Cu dalam sampel. Gambar (4) menunjukkan kurva kalibrasi yang terbentuk dapat dibuat pada lampiran. 4.1.4 Kurva kalibrasi larutan standar seng (Zn)

Untuk mengetahui konsentrasi seng dalam sampel, pada penelitian ini menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Terlebih dahulu dibuat kurva kalibrasi dengan cara mengukur absorbansi larutan baku seng yang mempunyai konsentrasi 0,1; 0,3; 0,5; 0,7; 0,9 mg/L. Dari perhitungan didapat koefisien korelasi (r) sebesar 0,9667 dan persamaan garis lurus adalah y = 0,010225 + 0,03775 x. Selanjutnya kurva kalibrasi ini digunakan untuk menentukan konsentrasi seng dalam sampel. Gambar (5) menunjukkan kurva kalibrasi yang terbentuk dapat dibuat pada lampiran.

23 4.2 Pembahasan

Dalam penelitian ini digunakan sampel tanaman kedelai yang diambil di sebagian wilayah kecamatan Trimurjo yaitu di daerah Pujo Asri, Pujo Kerto dan Pujo Basuki. Sampel kedelai dari jenis varietas Americana dibagi menjadi lima bagian yaitu tanah, akar, batang, daun dan buah. Dalam penelitian ini, untuk mengidentifikasi dan menentukan kadar unsur-unsur logam Cu dan Zn dalam bagian tanaman kedelai digunakan metode Spektrofotometer Serapan Atom, karena metode ini dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif unsur-unsur logam dalam jumlah renik (trace). Cara SSA ini sangat penting untuk analisis renik logam sebab mempunyai kepekaan yang tinggi yaitu dapat menentukan kadar logam dibawah 1 µg/g dan analisis logam tertentu dapat dilakukan dalam campuran dengan unsur-unsur logam lain tanpa diperlukan pemisahan terlebih dahulu. Sampel kedelai yang akan dianalisis pada mulanya berbentuk padatan yang harus di destruksi kering terlebih dahulu. Setelah sampel kering, sampel ditimbang kemudian dipanaskan dengan menggunakan oven dengan suhu 1050 C sampai berat konstan. Menurut Tasfiri (dalam Suryanto, 1997), logam-logam yang terdapat dalam persenyawaan organik dan anorganik dapat dipisahkan melalui penguraian senyawa tersebut dengan cara destruksi. Proses destruksi ini bertujuan untuk menguapkan senyawa-senyawa organik yang terkandung dalam sampel dan untuk mengetahui kadar air dari masing-masing bagian tanaman kedelai.

24 Dalam proses destruksi kering, ada penambahan HNO3 pekat yang tujuannya untuk merubah sampel dari bentuk padat menjadi larutan, juga untuk melarutkan logamlogam yang akan dianalisis. Kesempurnaan dari proses destruksi dapat dilihat dari larutan jernih pada sampel yang didestruksi, hal tersebut menunjukkan konstituen yang ada larut sempurna, kemudian larutan siap diukur dengan SSA.

4.2.1

Kandungan rerata tembaga (Cu)

Dapat dilihat pada Tabel 3 yang menunjukkan kadar rerata Cu pada seluruh bagian tanaman kedelai, akumulasi terbesar terdapat pada akar yaitu 30,69 µg/g. Sednagkan akumulasi terkecil tanaman kedelai terdapat pada daun yaitu 10,774 µg/g. Secara berurutan akumulasi rerata Cu dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah akar (30,669 µg/g), buah (24,14 µg/g), batang (17,05 µg/g), tanah (11,36 µg/g) dan daun (10,77 µg/g).

Tabel 3. Kandungan rerata Cu pada bagian tanaman kedelai. No 1 2 3 4 5 Sampel Tanah Akar Batang Daun Buah N 5 5 5 5 5 Kandungan rerata Cu (µg/g) 11,369 30,690 17,052 10,774 24,144

Dalam buah/biji tanaman kedelai, kadar Cu yang didapat yaitu 24,144 µg/g sehingga buah tersebut masih dapat dikonsumsi dikarenakan kandungan Cu yang diperoleh untuk dikonsumsi dalam material tumbuhan adalah 2,5—30 µg/g (Allen, 1999).

25 Akumulasi logam Cu terbesar pada tanaman kedelai adalah akar, dikarenakan logam Cu berasal dari serapan melalui akar. Akumulasi logam Cu terkecil terdapat pada daun, hal ini diasumsikan sumber Cu pada tanaman kedelai yang terserap pada daun melalui proses asimilasi kemudian menyebar ke bagian tanaman kedelai yang lainnya.

Dalam Heradilla (1997), logam berat Cu terdapat dalam tanaman, selain karena penyerapan melalui mekanisme absorbsi akar. Secara alami Cu di tanah bervariasi dari 2—100 µg/g berat kering dan sekitar 55 µg/g pada lapisan kerak bumi. Selain berasal dari litosfer dan bahan organik, Cu dalam tanah juga bersumber dari batuan beku dan batuan endapan. Konsentrasi Cu meningkat di dalam tanah diakibatkan dengan adanya penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Peningkatan konsentrasi dan ketersediaan logam berat di dalam tanah dapat secara tepat atau lambat meningkatkan akumulasi logam berat di dalam jaringan tubuh tanaman (Salam AK, 1991).

Nyakpa, Yusuf (1998) menyatakan bahwa pada umumnya logam Cu paling banyak terdapat pada lapisan tanah dan akan berkurang dengan makin dalamnya kedalaman tanah. Tetapi dalam hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada tanah konsentrasi Cu berada dalam jumlah terkecil, hal ini disebabkan oleh karena sebagian besar logam Cu yang berada pada tanah telah terserap oleh tanaman melalui akar kemudian ke seluruh bagian tubuh tanaman yang lainnya.

26 Sebagai logam berat essensial, logam Cu dibutuhkan oleh tubuh meskipun dalam jumlah yang sedikit. Sumber konsumsi Cu dapat diperoleh dari daging, kerang, coklat dan kacang-kacangan. Untuk buah/biji tanaman kedelai dapat menjadi indikator untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan Cu didalam tubuh. Kekurangan Cu dapat menyebabkan anemia, depigmentasi kulit, rambut beruban, rambut kusut, kerusakan otak dan mandul (Rivai, 1999). Konsumsi Cu yang berlebihan dalam tubuh dapat menyebabkan penimbunan Cu di dalam jaringan tubuh. Cu dapat bersifat toksik yang mengakibatkan gangguan ringan seperti pusing, muntah-muntah dan diare (Nriagu, dalam Rivai 1999).

Menurut Keputusan Ditjen POM No. 03725/B/SK/1989 dan menurut Zooke serta Federal Water Pollution Control Administration tentang batas maksimum cemaran logam berat dalam bahan makanan menyebutkan bahwa batas kadar Cu dalam olahan makanan sebesar 30 µg/g.

4.2.2

Kandungan rerata seng (Zn)

Hasil analisis seperti terlihat pada Tabel 4 menunjukkan kadar rerata Zn pada bagian tanaman kedelai, akumulasi Zn terbesar terdapat pada buah yaitu 69,54 µg/g. Sedangkan akumulasi Zn terkecil terdapat pada tanah yaitu 32,99 µg/g. Secara berurutan akumulasi Zn dari yang terbesar hingga yang terkecil sebagai berikut : Dimulai dari buah (69,54 µg/g), daun (66,09 µg/g), akar (60,56 µg/g), batang (46,51 µg/g dan tanah (32,99 µg/g).

27 Tabel 4. Kandungan rerata Zn pada bagian tanaman kedelai No 1 2 3 4 5 Sampel Tanah Akar Batang Daun Buah N 5 5 5 5 5 Kandungan rerata Zn (µg/g) 32,99 60,56 46,51 66,09 69,54

Akumulasi logam Zn terbesar pada tanaman kedelai yaitu buah, diasumsikan bahwa logam Zn terserap oleh buah. Hal ini disebabkan logam seng pada tanaman kedelai berperan dalam pembentukan klorofil pada daun dan pencegahan kerusakan molekul klorofil. Pada pembentukan klorofil yang ada pada daun diperoleh dari serapan hara oleh akar dari dalam tanah yang berperan sebagai media tumbuh tanaman, kemudian diangkut ke bagian atas tanaman, terutama ke daun dan buah melalui pembuluh xylem. Pembuluh xylem pada akar, daun dan buah merupakan suatu sistem untuk kontinyu, berhubungan satu sama lain.

Winarno (1988) menyatakan bahwa kebutuhan seng bagi anak usia 15 tahun adalah sekitar 15 µg/g dan pada akumulasi Zn yang terlalu besar (± 2000 µg/g berat tubuh) akan menyebabkan keracunan. Dalam tubuh manusia, seng (Zn) berperan dalam metabolisme asam nukleat dan protein, oleh karena itu seng terlibat dalam proses fundamental perbanyakan sel. Seng dalam tubuh terutama terdapat pada rambut, tulang, mata dan kelenjar alat kelamin pria. Sumber seng dapat berasal dari berbagai macam bahan makanan terutama bekatul dan butir kedelai.

28 Dari hasil analisis, kandungan Zn pada bagian tanaman kedelai diperoleh hasil yang berbeda-beda. Secara normal kandungan Zn dalam tanaman kedelai berkisar antara 15—100 µg/g (Allen, 1989).

Menurut Kep. Ditjen POM No. 03725/B/SK/1982 dan menurut Zooke serta Federal Water Pollution Control Administration tentang batas maksimum cemaran logam berat dalam bahan makanan dalam Inswiasti menyebutkan bahwa batas kadar Zn sebesar 100 µg/g.

Ini menunjukkan bahwa kadar Zn rerata dalam buah/biji tanaman kedelai adalah 69,54 µg/g. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan manusia akan Zn telah terpenuhi dan kadar Zn dalam biji tanaman kedelai belum melewati batas maksimum yang diijinkan (100 µg/g) dan layak untuk dikonsumsi manusia.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa : 1. Kandungan Cu pada bagian tanaman kedelai di sebagian wilayah kecamatan Trimurjo, akumulasi terbesar terdapat pada akar yaitu 30,69 µg/g. Sedangkan akumulasi terkecil tanaman kedelai terdapat pada daun yaitu 10,77 µg/g. Dalam buah/biji tanaman kedelai, kadar Cu yang didapat yaitu 24,14 µg/g. 2. Kandungan Zn pada bagian tanaman kedelai di sebagian wilayah kecamatan Trimurjo, akumulasi terbesar terdapat pada biji yaitu 69,54 µg/g. Sedangkan akumulasi terkecil tanaman kedelai terdapat pada tanah yaitu 32,99 µg/g. Dalam buah/biji tanaman kedelai, kadar Cu yang didapat yaitu 69,54 µg/g. 3. Data dari kandungan Cu dan Zn pada buah/biji tanaman kedelai di sebagian wilayah tanaman kedelai menunjukkan bahwa buah/biji tanaman kedelai di sebagian wilayah kecamatan Trimurjo di indikasikan cukup dan aman untuk dikonsumsi oleh manusia.

30 5.2 Saran

Untuk penelitian lebih lanjut perlu dilakukan pengujian parameter lain pada tanaman kedelai di daerah yang sama atau sebagian wilayah yang di indikasikan daerah yang tercemar oleh industri yang cukup besar dan penelitian ini bisa dijadikan acuan untuk penelitian berikutnya.

Lampiran

31 Lampiran I. Tabel 5. Hasil Pengukuran Absorbansi Larutan Standar Cu (µg/L) [ ] Cu (mg/L) (X) 0,100 0,300 0,500 0,700 0,900 2,500 Absorbansi (Y) 0,00045 0,00160 0,00350 0,00510 0,00830 0,01895 X2 0,0100 0,0900 0,2500 0,4900 0,8100 1,6500 Y2 0,0000002 0,0000256 0,0001225 0,0002601 0,0006889 0,0001099

No 1. 2. 3. 4. 5. Σ

XY 0,000045 0,000480 0,001750 0,003570 0,007470 0,013315

Persamaan garis regresi linear : 1. Persamaan garis umum : Y = a + bX b adalah slope (kemiringan) persamaan garis regresi linear

b =

n ΣXY − ΣX ΣY n ΣX 2 − (ΣX

)2

=

( ) 5 (0,013315 −) 2,500 (0,01895
5 (1,6500 − 2,500 ) (
2

)

)

= 0,0096
a adalah intersep yang memotong sumbu pada persamaan garis linear
a = = ΣY − b ΣX n

(0,01895 −) 0,0089082 (
5

2,500 ( )

)

= 0,000701

Y = 0,000701 + 0,0096X

32 2. Koefisien korelasi antara konsentrasi (X) dan absorbansi (Y), (rxy)

r xy =

{ [ (n ΣX − )(ΣX ) ] [(n ΣY − )(ΣY ) ] }
2 2 2 2 2

n ΣY − (ΣX

) (ΣY )

1

2

=

{[ (5 x 1,6500 − ) 2,500 ] [)(5 x 0,0010991 − (

5 (0,013315 − 2,500 )( ,01895 0 ) (

)0,01895 2 ] } )2 (
1

)

= 0,9836
0 .0 1 0 .0 0 8 absorbansi 0 .0 0 6 0 .0 0 4 0 .0 0 2 0 0 .1 0 .3 0 .5 0 .7 0 .9 K o ns e ntra s i (p p m )
Y = 0,00701 + 0,0096 x

Gambar 4. Kurva Kalibrasi Larutan Standar Cu

33 Lampiran II. Tabel 6. Hasil Pengukuran Absorbansi Larutan Standar Zn (µg/L) [ ] Zn (mg/L) (X) 0,100 0,300 0,500 0,700 0,900 2,500 Absorbansi (Y) 0,00780 0,01240 0,01650 0,03220 0,03570 0,10460 X2 0,0100 0,0900 0,2500 0,4900 0,8100 1,6500 Y2 0,0000608 0,0001538 0,0002723 0,0010368 0,0012745 0,0027982

No 1. 2. 3. 4. 5. Σ

XY 0,0008 0,0037 0,0083 0,0225 0,0321 0,0674

Persamaan garis regresi linear : 1. Persamaan garis umum : Y = a + bX b adalah slope (kemiringan) persamaan garis regresi linear

b =

n ΣXY − ΣX ΣY n ΣX 2 − (ΣX

)2

=

) 2,500 ()0,1046 5 (0,0674 − (
5 (1,6500 − 2,500 ) (
2

)

)

= 0,03775
a adalah intersep yang memotong sumbu pada persamaan garis linear
a = = ΣY − b ΣX n

(0,1046 − 0,03775 2,(500 ) ) ( )
5

= 0,010225

Y = 0,010225 + 0,03775X

34 2. Koefisien korelasi antara konsentrasi (X) dan absorbansi (Y), (rxy)

r xy =

{ [ (n ΣX − )(ΣX ) ] [(n ΣY − )(ΣY ) ] }
2 2 2 2 2

n ΣY − (ΣX

) (ΣY )

1

2

=

{[ (5 x 1,6500 − ) 2,500 [)(5 x 0,002982] − )0,1046 } ) ( (
2 1

( 5 (0,0674 )− 2,500 )(,1046 0

)

2

]

= 0,9667
0.04000
Y = 0,010225 + 0,03775 x

Absorbansi

0.03000 0.02000 0.01000 0.00000 0.100 0.300 0.500 0.700 0.900 Konsentrasi (ppm)

Gambar 5. Kurva Kalibrasi Larutan Standar Zn

35 Lampiran III. Kondisi Optimum SSA

* Arus lampu * λ

Kondisi pada pengukuran logam Cu : 7,5 mA : 324,8 nm : 7,5 mm : Standar Burner : Udara : 1,60 kg/cm2 : C2H2 : 0,30 kg/cm2

* Tinggi pembakar * Atomizer * Oksidan * Tekanan O2 * Bahan bakar * Tekanan bahan bakar

* Arus lampu * λ

Kondisi pada pengukuran logam Zn : 10 mA : 213,8 nm : 7,5 mm : Standar Burner : Udara : 1,60 kg/cm2 : C2H2 : 0,2 kg/cm2

* Tinggi pembakar * Atomizer * Oksidan * Tekanan O2 * Bahan bakar * Tekanan bahan bakar

36 Lampiran IV. Tabel 7. Hasil perhitungan logam Cu dan Zn pada tanah dan bagian tanaman kedelai
No. Kode Sampel Cu (µg/L alat) Zn (µg/L alat) Volume Larutan (ml) Berat Kering (gr) Cu (µg/g hasil) Zn (µg/g hasil)

I. Tanah
1. 2. 3. 4. 5. PA1 PA2 PC1 PC2 PD 0,174 0,153 0,097 0,032 0,059 0,287 0,342 0,232 0,441 0,177 50 50 50 50 50 0,4530 0,4816 0,4259 0,4371 0,4413 19,21 15,88 11,39 3,68 6,68 31,68 35,51 27,24 50,45 20,05

II. Akar
1. 2. 3. 4. 5. PA1 PA2 PC1 PC2 PD 0,181 0,130 0,068 0,061 0,165 0,236 0,187 0,236 0,424 0,269 50 50 50 50 50 0,1082 0,3656 0,1880 0,3242 0,3363 83,64 17,78 18,09 9,41 24,53 109,06 25,57 62,77 65,39 39,99

III. Batang
1. 2. 3. 4. 5. PA1 PA2 PC1 PC2 PD 0,101 0,095 0,073 0,042 0,115 0,221 0,326 0,095 0,167 0,320 50 50 50 50 50 0,2598 0,2142 0,2850 0,2635 0,2441 19,44 21,48 12,81 7,97 23,56 42,53 76,10 16,67 31,69 65,55

IV. Daun
1. 2. 3. 4. 5. PA1 PA2 PC1 PC2 PD 0,140 0,075 0,048 0,022 0,122 0,503 0,917 0,577 0,186 0,230 50 50 50 50 50 0,3948 0,3552 0,3467 0,3748 0,3878 17,73 10,56 6,92 2,93 15,73 63,70 129,08 83,21 24,81 29,65

37
Kode Sampel Cu (µg/L alat) Zn (µg/L alat) Volume Larutan (ml) Berat Kering (gr) Cu (µg/g hasil) Zn (µg/g hasil)

No.

V. Buah
1. 2. 3. 4. 5. PA1 PA2 PC1 PC2 PD 0,034 0,092 0,035 0,031 0,088 0,416 0,176 0,300 0,323 0,093 50 50 50 50 50 0,2498 0,0988 0,5170 0,1843 0,0792 6,81 46,56 3,38 8,41 55,56 83,27 89,07 29,01 87,63 58,71

Keterangan : PA adalah Pujo Asri PC adalah Pujo Kerto PD adalah Pujo Dadi

Contoh Perhitungan : Sampel tanah µg/g hasil

=

(µg/L alat )x (0,174 ) g/L µ

volum pengenceran x 1000 berat kering

=

x 50 ml x 1000 = 19,21 µg/g 0,4530

(sampel tanah tanaman kedelai wilayah PA 1)

38 Lampiran V. Tabel 8. Kadar air pada tanaman kedelai
Data 1. (kadar air pada tanaman kedelai) No 1 2 3 4 5

Kedelai I
Tanah Akar Batang Daun Buah

Berat sampel (gr) 0,5142 0,3487 0,5377 0,5458 0,5899

Berat kering (gr) 0,4530 0,1082 0,2598 0,3984 0,2498

Kadar air 0,11902 0,68970 0,51683 0,27006 0,57654

Kadar air (%) 11,9020 68,9705 51,6831 27,0062 57,6538

Data 2. (kadar air pada tanaman kedelai) No 1 2 3 4 5

Kedelai 2
Tanah Akar Batang Daun Buah

Berat sampel (gr) 0,5624 0,5172 0,4699 0,5078 0,5931

Berat kering (gr) 0,4816 0,3656 0,2142 0,3552 0,0988

Kadar air 0,14367 0,29312 0,54416 0,30051 0,83342

Kadar air (%) 14,3670 29,3117 54,4158 30,0512 83,3418

Data 3. (kadar air pada tanaman kedelai) No 1 2 3 4 5

Kedelai 3
Tanah Akar Batang Daun Buah

Berat sampel (gr) 0,5294 0,5179 0,5980 0,5200 0,5938

Berat kering (gr) 0,4259 0,1880 0,2850 0,3467 0,5170

Kadar air 0,19550 0,63700 0,52341 0,33327 0,12934

Kadar air (%) 19,5504 63,6996 52,3411 33,3269 12,9336

Data 4. (kadar air pada tanaman kedelai) No 1 2 3 4 5

Kedelai 4
Tanah Akar Batang Daun Buah

Berat sampel (gr) 0,5044 0,5175 0,5189 0,5027 0,5172

Berat kering (gr) 0,4371 0,2635 0,2635 0,3748 0,1843

Kadar air 0,13343 0,37353 0,49220 0,25443 0,64366

Kadar air (%) 13,3426 37,3527 49,2195 25,4426 64,3658

39
Data 5. (kadar air pada tanaman kedelai) No 1 2 3 4 5

Kedelai 5
Tanah Akar Batang Daun Buah

Berat sampel (gr) 0,5122 0,5300 0,5289 0,5181 0,5441

Berat kering (gr) 0,4413 0,3363 0,2441 0,3878 0,0792

Kadar air 0,13842 0,36547 0,53848 0,25150 0,85444

Kadar air (%) 13,8422 36,5472 53,8476 25,1496 85,4439

Lampiran VI.
LAMPIRAN : SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN NOMOR : 03725/B/SK/VII/89 TENTANG : BATAS MAKSIMUM CEMARAN LOGAM DALAM MAKANAN
Timbal (Pb) mg/kg Timbal (Pb) mg/kg 0.2

No. I.

KOMODITI BUAH DAN HASIL OLAHAN 1. Acar buah 2. Sari buah 3. Sari buah konsentrat 4. Selai dan sejenisnya 5. Tomat dan hasil olahannya 6. Buah dan hasil olahnya yang tidak tertera di atas COKLAT, KOPI, TEH 1. Coklat bubuk 2. Kopi bubuk 3. Teh DAGING DAN HASIL OLAHANNYA

Arsen (As) mg/kg

Tembaga (Cu) mg/kg

Timah (Sn) mg/kg

Raksa (Hg) mg/kg

Keterangan

No. IX.

KOMODITI MINUMAN RINGAN

Arsen (As) mg/kg 0.1

Tembaga (Cu) mg/kg 2.0

Timah (Sn) mg/kg 40.0 (250.0*)

Raksa (Hg) mg/kg 0.03

Keterangan

1.0 0.2 0.2 1.0 1.0 1.0

10.0 0.3 0.3 1.5 1.0 2.0

30.0 5.0 5.0 10.0 50.0 5.0

40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*)

0.03 0.03 0.03 0.03

Dihitung thdp makanan yg siap dikonsumsi

II.

X. 1.0 1.0 1.0 1.0 2.0 2.0 2.0 2.0 50.0 30.0 150.0 20.0 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) 0.03 0.03 0.03 0.03 Dihitung thdp makanan yg siap dikonsumsI XI.

MINUMAN BUBUK

0.1

0.2

2.0

40.0 (250.0*)

-

Dihitung terhadap makanan yang siap dikonsumsi/ diminum

III.

REMPAH-REMPAH DAN BUMBU 1. Rempah-rempah dan bumbu 2. Kecap 3. Ragi

0.1 0.5 2.0

10.0 1.0 5.0

30.0 30.0 60.0

40.0 (250.0*) -

0.05 -

Dihitung terhadap makanan yang siap dikeringkan Dihitung terhadap makanan yang siap dikeringkan

40

Lampiran VI. (lanjutan)
No. IV. KOMODITI GULA, MADU 1. Fruktosa 2. Gula pasir 3. Sirup 4. Madu IKAN DAN HASIL OLAHANNYA Arsen (As) mg/kg 1.0 1.0 0.5 1.0 1.0 Timbal (Pb) mg/kg 0.5 2.0 1.0 10.0 2.0 Tembaga (Cu) mg/kg 2.0 2.0 10.0 30.0 20.0 Timah (Sn) mg/kg 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) Raksa (Hg) mg/kg 0.03 0.5 Keterangan No. KOMODITI Arsen (As) mg/kg 1.0 1.0 Timbal (Pb) mg/kg 10.0 2.0 Tembaga (Cu) mg/kg 30.0 5.0 Timah (Sn) mg/kg Raksa (Hg) mg/kg 0.03 0.03 Keterangan

V.

XII. SAYURAN DAN HASIL OLAHANNYA 1. Acar sayuran 2. Sayuran dan hasil olahannya yang tidak tertera diatas XIII.. SUSU DAN HASIL OLAHANNYA 1. Es Krim 2. Mentega 3. Susu dan hasil olahannya yang tidak tertera diatas XIV. TEPUNG DAN HASIL OLAHANNYA

40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*)

0.5 0.1 0.1

1.0 0.1 0.3

20.0 0.1 20.0

40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*)

0.03 0.03

Dihitung terhadap makanan yang siap dikonsumsi/ diminum

MAKANAN BAYI DAN ANAK 1. Pengganti air susu ibu (Susu bayi) 2. Makanan bayi dan anak VII. MINYAK DAN LEMAK 1. Margarin 2. Minyak nabati yang dimurnikan VIII. MINUMAN RINGAN 1. Es Lilin 2. Minuman ringan

VI.

0.5

1.0

10.0

-

0.05

0.1 0.1 0.1 0.1 0.5 0.1

0.3 0.3 0.1 0.1 1.0 0.2

5.0 5.0 0.1 0.1 20.0 2.0

40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*) 40.0 (250.0*)

0.03 0.03 0.03 0.05 -

Dihitung thdp makanan yg siap dikonsumsi XV. MAKANAN LAIN YANG TIDAK TERTERA DI ATAS 1.0 2.0 30.0 40.0 (250.0*) 0.03

41

42 Lampiran VII.

DIAGRAM ALIR

Sampel basah (daging, ampela, usus, jantung hati) * Ditimbang 0,5 – 0,6 gram * Dimasukkan dalam tabung reaksi Sampel yang sudah ditimbang * Dikeringkan dalam oven pada suhu 1050 C, sampai berat konstan

Sampel kering * Ditambah HNO3 65 % 1 ml * Dipanaskan di atas Hotplate di dalam ruang asam pada suhu 1050 C sampai berat konstan Sampel terlarut dalam HNO3 * Ditambah HNO3 11 % sampai 5 ml * Diencerkan dalam labu takar 100 ml

Sampel siap ukur

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful