PRINSIP – PRINSIP DALAM HUKUM PERJANJIAN

OLEH : MAULIDIAZETA WIRIARDI, S.H.

PENGERTIAN PERJANJIAN Berdasarkan ketentuan pasal 1233 BW, perjanjian merupakan salah satu sumber yang bisa menimbulkan perikatan.1 Adapun pengertian dari perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.2 Meskipun bukan yang paling dominan, namun pada umumnya perikatan yang lahir dari perjanjian merupakan yang paling banyak terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari, dan yang juga ternyata banyak dipelajari oleh ahli hukum, serta dikembangkan secara luas oleh legislator, para praktisi hukum, serta juga pada cendekiawan hukum, menjadi aturan-aturan hukum positif yang tertulis, yurisprudensi dan doktrindoktrin hukum yang dapat kita temui dari waktu ke waktu.3 Perjanjian atau kontrak merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh orang untuk mendapatkan harta kekayaan yang diperlukan dalam hidupnya. Dalam kehidupan
1

Dalam ketentuan pasal 1233 BW disebutkan : “Tiap-tiap perikatan dilahirkan karena persetujuan, baik karena undang-undang.”
2

R. Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 2008

3

Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, h. 1

1

convention (bahasa Prancis). 2008. Yoogyakarta. Kenyataan ini. h.4 Sementara itu banyak kalangan berpendapat sama sebagaimana Subekti berpendapat. Teknik Pembuatan Akta Kontrak. 2007. dan sebagainya yang merupakan istilah yang dalam hukum kita dikenal sebagai “kontrak” atau “perjanjian”. sebagai seorang penulis 4 F. Soepratignja. vertrag (bahasa Jerman). Judul dari Bab II Buku III BW adalah “Tentang Perikatan-Perikatan yang Dilahirkan dari Kontrak atau Perjanjian”. kita bisa dengan mudah menemukan orang yang mengadakan berbagai perjanjian. Yogyakarta.2 sehari-hari. contract. contractus (bahasa Latin). h. contract. pacte. X. misalnya jual beli. conventie. Contract Drafting : Kerangka Dasar dan Teknik Penyusunan Kontrak. bahwa “kontrak adalah perjanjian yang tertulis” dan justru pengertian yang terakhir inilah yang jamak diterima dalam pergaulan hidup bermasyarakat. menurut hukum logika dikenal sebagai kesalahan logis (fallacy of relevance) jenis argumentum ad verecvundian. Suhardana. penitipan barang. Dalam hukum asing dijumpai istilah overeenskomst (bahasa Belanda). dan perjanjian adalah kontrak. Universitas Atma Jaya. yaitu penalaran yang mendasarkan atau yang menggantungkan pada pendapat orang yang memiliki otoritas. 8 5 Paulus J. agreement (bahasa Inggris). Hal ini dapat dilihat jelas dari judul Bab II Buku III BW. Dari judul tersebut dapat diberikan makna bahwa kontrak adalah perjanjian. tukar-menukar. BW menggunakan istilah overeenkomst dan contract untuk pengertian yang sama. 5 . perjanjian kerja. Universitas Atma Jaya. dan sebagainya. pemberian kuasa.5 Dalam hal ini yaitu pendapat Subekti. kontrakt.

Kontrak merujuk pada suatu pemikiran akan adanya keuntungan komersil yang diperoleh kedua belah pihak. Sedangkan perjanjian dapat saja berarti social agreement yang belum tentu menguntungkan kedua belah pihak secara komersil.8 Hal pokok dalam definisi tersebut adalah bahwa kontrak dipandang sebagai persetujuan dari dua pihak untuk melaksanakan kewajiban. 2 7 Y.3 dari berbagai buku hukum dan juga seorang mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. London..H. to do or not a particular thing). H. bahwa perjanjian mempunyai arti yang lebih luas daripada kontrak. Sweet & Maxwell. Treitel : “a contract is an agreement giving rise to obligations which are enforced or recognised by law. h.”9 Lebih lanjut dikemukakan oleh Treitel bahwa : “The first 6 H. Menurut Peter Mahmud Marzuki. Treitel. Prinsip Hukum Kontrak Dalam Pengadaan Barang dan Jasa oleh Pemerintah. baik melakukan atau tidak melakukan sesuatu hal tertentu. Sogar Simamora. 1 9 . Sedangkan menurut G. Disertasi Fakultas Hukum Universitas Airlangga. dalam suatu kesempatan perkuliahan Magister Hukum Bisnis Universitas Gadjah Mada. 2006. 11 G. The Law of Contract. X.7 Mengutip apa yang terdapat dalam Black’s Law Dictionary disebutkan bahwa kontrak adalah perjanjian antara 2 (dua) orang atau lebih yang menciptakan kewajiban untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu hal khusus (Contract is agreement betwen two or more persons which creates an obligation. Suhardana. cit. h. h. sebab kontrak pun dapat dibuat secara lisan. 2005. Bandung.6 Dengan demikian pembedaan dua istilah ini bukan pada bentuknya. 25 8 F. h. Citra Aditya Bakti. 2003. Contract Drafting : Seri Keterampilan Merancang Kontrak Bisnis. R. op. Tidak tepat jika kontrak diartikan sebagai perjanjian yang dibuat secara tertulis. Daeng Naja.

13 . Agus Yudha Hernoko sependapat dengan beberapa sarjana yang memberikan pengertian sama antara kontrak dengan perjanjian. Hukum Perjanjian: Azas Proporsionalitas Dalam Kontrak Komersial. pengertian yang diutarakan oleh Treitel menekankan pada kesepakatan para pihak dan tidak menyebutkan bahwa kontrak adalah perjanjian tertulis. h.4 requisite of a contract is that the parties should have reached agreement”. namun membedakan pengertian contract dengan convention (pacte).11 Pothier tidak memberikan pembedaan antara kontrak dan perjanjian. 1973. h. Disebut convention (pacte) yaitu perjanjian dimana dua orang atau lebih menciptakan. Cincinnati. resulting in an obligation to do or to refrain from doing a particular act.13 Dimana dalam BW disamakan pengertian antara perjanjian atau persetujuan (overeenkomst) dengan istilah kontrak. Business Law.. 2008. 8 11 Ronald A. Laksbang Mediatama. South-Western Publishing. h. Anderson dan Walter A. 79 12 Agus Yudha Hernoko. which obligation is recognize or enforced by law. Kumpf. Kumpf memberikan pendapat mengenai contract: Generally a contract is an exchange of promises or assents by two or more persons..12 Terhadap penggunaan istilah kontrak dan perjanjian.10 Dalam hal ini. Selain itu dalam praktik 10 Ibid. 12 13 Ibid. Ronald A. menghapuskan (opheffen) atau merubah (wijzegen) perikatan. Yogyakarta. Anderson dan Walter A. Sedangkan contract adalah perjanjian yang mengharapkan terlaksananya perikatan. A contract may also be formed when a promise is made by one person in exchange for the act or the refraining from the doing of an act by another. h.

dengan kata lain dapat dinilai dengan uang. maka dapat dikemukakan bahwa perjanjian mempunyai unsur-unsur sebagai berikut: 1. h. Ada pihak-pihak yang menjadi subjek. Perjanjian yang diatur dalam Buku III BW kriterianya dapat dinilai secara materiil. 7 Mariam Darus Badrulzaman et al. seperti janji kawin. h. perjanjian kerjasama.. kontrak kerja konstruksi.. yaitu “Suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. op. op. yang merupakan perjanjian juga.15 Tidak lengkap karena yang dirumuskan itu hanya mengenai perjanjian sepihak saja. pengertian perjanjian terdapat dalam ketentuan pasal 1313. kontrak kerjasama. Perbuatan yang disebutkan dalam ketentuan pasal 1313 BW hendak menjelaskan bahwa perjanjian hanya mungkin terjadi jika ada suatu perbuatan nyata. cit. baik dalam bentuk ucapan. misalnya dalam perjanjian waralaba.5 kedua istilah tersebut juga dipergunakan dalam kontrak komersial. dan tidak hanya dalam bentuk pikiran semata-mata. Berdasarkan uraian tersebut. perjanjian sewa guna usaha.14 Para sarjana Hukum Perdata pada umumnya berpendapat bahwa definisi perjanjian yang terdapat di dalam ketentuan pasal 1313 BW adalah tidak lengkap. cit. Definisi itu dikatakan terlalu luas karena dapat mencakup perbuatan di dalam lapangan hukum keluarga. sedikitnya dua pihak dan masing-masing bisa terdiri atas orang dengan orang atau orang dengan 14 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja. tetapi sifatnya berbeda dengan perjanjian yang diatur dalam Buku III BW. dan pula terlalu luas. maupun tindakan secara fisik. Didalam BW. 65 15 ..

yaitu yang dalam teori dikenal dengan sebutan kontrak formal seperti kontrak perdamaian. Ada bentuk tertentu. 5. Kesepakatan digambarkan sebagai pernyataan kehendak para pihak yang saling mengisi. Adanya perbuatan hukum. Objek perjanjian adalah harta benda yang dapat diperdagangkan. 3. kontrak pendirian perseroan terbatas. Ada objek yang berupa benda. lisan atau tertulis. 2.6 badan hukum atau badan hukum dengan badan hukum. kontrak penjaminan tanah. 4. Sedangkan unsur-unsur perjanjian menurut teori lama adalah sebagai berikut: 1. Dengan perkataan lain bahwa perjanjian bermaksud mengalihkan hak atas harta benda yang menjadi objek perjanjian. bisa pula berbentuk tertulis kecuali Undang-Undang menentukan lain. perjanjian hibah. Kesepakatan tersebut terbentuk melalui penawaran-penawaran yang disampaikan oleh para pihak yang kemudian bertemu pada satu titik. Dengan demikian tidak mungkin dikatakan ada perjanjian jika subjeknya hanya satu. . Ada tujuan yang bersifat kebendaan (mengenai harta kekayaan). Ada persetujuan (kesepakatan) diantara para pihak. Berdasarkan asas kebebasan berkontrak atau partij otonomie sebenarnya perjanjian dapat dibuat secara lisan sehingga dikenal sebagai kontrak lisan.

8.7 2. terdapat ketentuan-ketentuan yang bersifat dwingend recht atau imperative law. Akibat hukum untuk kepentingan yang satu atas beban yang lain atau timbal balik. Dengan kata lain. lebih. Persesuaian ini harus dipublikasikan atau dinyatakan. Lihat ketentuan pasal 1319 BW 18 Salim H.17 Artinya bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian. Persesuaian kehendak harus dengan mengingat peraturan perundang-undangan. h. h. 7 .. 5. 7. Persesuaian pernyataan kehendak dari beberapa orang. S. S.. Perbuatan hukum terjadi karena kerjasama antara dua orang atau Pernyataan kehendak (wilsverklaring) yang sesuai harus saling bergantung satu sama lain. op. Kehendak ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum. 3. 4. Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia. 2008 (selanjutnya disingkat Salim H. Jakarta.18 Hal ini dapat disimpulkan 16 Salim H. baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur di dalam undang-undang. cit.16 AZAS KEBEBASAN BERKONTRAK Sistem pengaturan hukum perjanjian dalam Buku III BW adalah sistem terbuka (open system). I. Sinar Grafika. II). 6. atau juga disebut sebagai aanvullend recht. 15 17 Namun perlu diperhatikan bahwa dalam Buku III BW terdapat pula ketentuan yang keberadaannya tidak boleh disimpangi. S.

diteruskan oleh kaum Epicuristen dan berkembang pesat dalam zaman renaissance melalui antara lain ajaran-ajaran Hugo de Groot. op. Azas kebebasan berkontrak dinamakan juga azas otonomi “konsensualisme”. Bebas menentukan bentuk perjanjian. 19 R. op. John Locke.20 Kebebasan berkontrak ini berlatar belakang pada paham individualisme yang secara embrional lahir dalam zaman Yunani..19 Dalam ketentuan tersebut terdapat azas kebebasan berkontrak. 84 20 21 . h. dan 4. 2. Thomas Hobbes. yang berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.8 dari ketentuan yang tercantum dalam pasal 1338 ayat (1) BW. Bebas menentukan dengan siapa ia akan melakukan perjanjian. Bebas menentukan isi atau klausul perjanjian. h. dan Rousseau. cit. het bestaanwaarde) perjanjian. h.. Kebebasan berkontrak memberikan jaminan kebebasan kepada seseorang untuk secara bebas dalam beberapa hal yang berkaitan dengan perjanjian. yang menentukan adanya (raison d’etre. 3. diantaranya: 1.” Subekti berpendapat bahwa dalam soal perjanjian. Bebas menentukan apakah ia akan melakukan perjanjian atau tidak. 14 Mariam Darus Badrulzaman et al. kita diperbolehkan membuat undang-undang bagi kita sendiri. Subekti. 83 Ibid... cit.21 Azas kebebasan berkontrak merupakan salah satu azas utama dan sangat penting dalam suatu perjanjian.

hukum yang berlaku sebagai dasar transaksi. para pihaklah yang paling berhak menentukan hukum yang hendak mereka pilih untuk mengatur perjanjian mereka.24 22 Ahmadi Miru. cit.9 5. S. ketentuan pasal 1319 BW mengakui akan adanya perjanjianperjanjian selain yang terdapat dalam BW. tunduk pada peraturan-peraturan umum.. op. h.23 Azas kebebasan berkontrak menjadi salah satu azas yang utama.. 4 F. yang termuat dalam bab ini dan bab yang lalu. cit. Azas kebebasan berkontrak merupakan prinsip yang telah secara umum dan tertulis diakui sebagian besar negara di dunia ini sehingga dapat dikatakan merupakan prinsip universal. dikarenakan azas ini bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam melakukan transaksi bisnis yang senantiasa berkembang seiring perkembangan teknologi. op. h. Perjanjian-perjanjian yang tidak terdapat dalam Buku III BW ini dinamakan perjanjian tak bernama atau kontrak innominaat. II.” Dengan kata lain. termasuk sebagai dasar penyelesaian sengketa sekiranya timbul suatu sengketa dari perjanjian yang mereka buat. op. 20 Salim H. Kedudukan azas kebebasan berkontrak ini semakin diperkuat dengan ketentuan pasal 1319 BW. h. Kebebasan-kebebasan lainnya yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.22 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menurut azas kebebasan berkontrak. cit.. baik yang mempunyai suatu nama khusus.X Suhardana. yang memuat: “semua perjanjian. maupun yang tidak terkenal dengan suatu nama tertentu. 1 23 24 .

h. Universitas Airalangga. op. Butterworth. Business Law : Principles and Cases. Pokok-Pokok Hukum Perikatan. 2 27 Harold F. 1966. Harold F. pernyataan salah satu pihak “cocok” dengan pernyataan pihak yang lain. h. Surabaya. Business Law. 185 28 . 90 Nigel Savage dan Robert Bradgate. 27 Kesepakatan merupakan hal yang substansial dalam sebuah perjanjian.”28 Pernyataan kehendak bukan 25 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja. 94 26 J. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya Kesepakatan para pihak pada prinsipnya adalah pengejawantahan dari azas konsensualitas. (terjemahan Djasadin Saraghi). Nieuwenhuis. para pihak harus berada pada kondisi mutual understanding antar pihak. London. 1985. H. Kesepakatan mengandung pengertian bahwa para pihak saling menyatakan kehendak masing-masing untuk menutup sebuah perjanjian. that is. 1993.10 SYARAT SAHNYA PERJANJIAN Suatu perjanjian harus memenuhi syarat sah perjanjian agar sebuah perjanjian bisa memiliki kekuatan untuk memaksa para pihak. h.26 Kesepakatan bisa terjadi setelah para pihak sebelumnya melakukan proses penawaran dan penerimaan. a reasonably definite understanding between two or more persons. Richard D. Lusk berpendapat bahwa untuk melahirkan sebuah perjanjian. Adapun syarat sah perjanjian menurut ketentuan pasal 1320 BW adalah: 1. cit. h. Illinois.. Lusk. Irwin. dan kondisi mutual understanding terjadi dengan salah satu pihak melakukan penawaran dan penerimaan oleh pihak lainnya.25 Azas konsensualitas memperlihatkan bahwa sebuah perjanjian timbul seketika setelah para pihak mecapai kesepakatan atau consensus. Nigel Savage dan Robert Bradgate berpendapat: “for there to be a legally binding contract there must be an agreement.

cit. op. h. yaitu: 1) 2) 3) Bahasa yang sempurna dan tertulis. H. 2 Salim H. natuurlijk persoon dikatakan tidak cakap untuk melakukan sebuah perbuatan hukum adalah ketika: 29 J. tetapi juga kelakuan yang mencerminkan adanya kehendak untuk mengadakan perjanjian. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan Kecakapan melakukan perbuatan hukum dapat dirumuskan sebagai kemungkinan melakukan perbuatan hukum secara mandiri yang mengikat diri sendiri tanpa diganggu gugat. 9 J.. H.11 hanya dengan kata-kata yang tegas dinyatakan. Bahasa yang sempurna secara lisan.29 Sudikno mertokusumo menyatakan bahwa ada lima cara terjadinya persesuaian pernyataan kehendak. 20 30 31 .31 Subjek hukum dalam melakukan perjanjian bisa merupakan natuurlijk persoon ataupun rechtspersoon. Bahasa yang tidak sempurna asal dapat diterima oleh pihak lawan... Nieuwenhuis. S. cit. op. cit. et al. h. 4) 5) Bahasa isyarat asal dapat diterima pihak lawannya. op. dan Diam atau membisu tetapi asal dipahami atau diterima pihak lawan.30 2. Hal ini mengingat dalam kenyataanya sering kali seseorang menyampaikan dengan bahasa yang tidak sempurna tetapi dimengerti oleh pihak lawannya. Menurut ketentuan pasal 1330 BW. h.. Nieuwenhuis.

(namun ketentuan ini telah dihapus dengan Surat Edaran Mahkamah Agung No. yaitu: 1) 2) Perkumpulan orang (organisasi). Mempunyai hak dan kewajiban. 2005. Dapat melakukan perbuatan hukum (rechtshandeling) dalam hubungan-hubungan hukum (rechtsbetrekking). h. Orang-orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang.32 32 Chidir Ali.12 1) 2) 3) Orang-orang belum dewasa. 30 tahun 2004 tentang Peraturan Jabatan Notaris. Sedangkan pengertian badan hukum (rechtspersoon) menurut Chidir Ali mencakup beberapa hal. 3) 4) 5) 6) Mempunyai harta kekayaan sendiri. Bandung. seseorang dikatakan telah cakap dalam melakukan perbuatan hukum jika telah berusia 18 tahun. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan) Beradasarkan ketentuan yang tertuang dalam Undang-Undang No. Dapat digugat atau menggugat di depan Pengadilan. Alumni. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. 21 . Undang-Undang No. 3 tahun 1963 dan pasal 31 undang-undang No. 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Badan Hukum. Mempunyai pengurus. dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian- perjanjian tertentu. dan Undang-Undang No. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan.

40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. h. LN tahun 2007 No. tidak mempunyai daya 33 Y. Suatu hal tertentu Suatu perjanjian haruslah mempunyai objek (bepaald onderwerp) tertentu. cit. Sogar Simamora. 2008. 1 angka 5 36 Mariam Darus Badrulzaman et al. h. Risiko Hukum sebagai Direksi. Kewenangan merupakan salah satu syarat yang menentukan keabsahan kontrak yang dibuat oleh badan hukum.. baik badan hukum privat maupun badan hukum publik. ps. 3. sekurang-kurangnya dapat ditentukan bahwa objek tertentu itu dapat berupa benda yang sekarang ada dan nanti akan ada. dan Pemilik PT. direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan terbatas tersebut. op. 106. h. 1 35 Undang-Undang No.. cit. Jakarta. op..33 Hal ini terkait kedudukan badan hukum yang merupakan artificial person. Forum Sahabat.36 Pernyataan-pernyataan yang sifat dan luasnya sama sekali tidak dapat ditentukan. Komisaris.13 Suatu badan hukum dikatakan cakap melakukan perjanjian harus diukur dari aspek kewenangan organ yang melaksanakan. 79 .34 Dalam badan hukum perseroan terbatas. yaitu sesuatu yang diciptakan oleh hukum guna memenuhi kebutuhan perkembangan kehidupan bermasyarakat.35 Sehingga sebuah perseroan terbatas dikatakan cakap melakukan perjanjian apabila dilakukan oleh direksi atau oleh organ yang secara struktural berada dibawah direksi telah diberi kuasa oleh direksi sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar perseroan. 210 34 Gunawan Widjaja.

37 Didalam berbagai literatur disebutkan bahwa yang menjadi objek perjanjian adalah prestasi pokok sebuah perjanjian (onderwerp der overeenskomst). 231 39 Ahmadi Miru. tidak jelas. op. h. h. h. 25 38 Abdulkadir Muhammad. atau objek perjanjian. objek perjanjian. op. Hukum Perdata Indonesia.38 Ahmadi Miru berpendapat bahwa hal tertentu dalam sebuah kontrak disebut prestasi yang dapat berwujud barang. 39 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan kebendaan yang telah ditentukan jenisnya. Nieuwenhuis. op.. prestasi yang wajib dipenuhi. melainkan juga dalam perikatan untuk berbuat sesuatu dan juga perikatan untuk tidak berbuat sesuatu. 158 40 .. Memberikan sesuatu dapat diartikan baik penyerahan nyata maupun penyerahan yuridis. Jika pokok perjanjian. cit. 37 J. Suatu hal tertentu merupakan pokok perjanjian. 30 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja.40 “Memberikan sesuatu” adalah kewajiban seseorang untuk memberikan sesuatu atau menyerahkan sesuatu. “Berbuat sesuatu” adalah setiap prestasi berwujud berbuat sesuatu atau melakukan perbuatan tertentu yang positif.14 mengikat. maka perjanjian itu batal (nietig. meliptui tidak hanya perikatan untuk memberikan sesuatu. sulit bahkan tidak mungkin dilaksanakan. Bamdung. cit. 1990 (selanjutnya disingkat Abdulkadir Muhammad II). H. dan tidak berbuat sesuatu. cit. Citra Aditya Bakti. void). h.. atau prestasi itu kabur. keahlian atau tenaga.

melainkan sebab dalam arti “isi perjanjian itu sendiri” yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai para pihak. Tetapi yang dimaksud dengan “causa yang diperbolehkan” dalam pasal 1320 BW bukanlah sebab dalam arti yang menyebabkan atau yang mendorong orang membuat perjanjian. atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum.. yang diperhatikan atau yang diawasi oleh undang-undang adalah isi perjanjian itu.41 Undang-undang tidak memperdulikan apa yang menjadi sebab orang mengadakan perjanjian. yang mendorong orang membuat perjanjian.” . 4. cit. apabila dilarang oleh undangundang.15 “Tidak berbuat sesuatu” yaitu untuk tidak melakukan perbuatan tertentu yang telah dijanjikan. atau menakar. misalnya tidak mendirikan bangunan yang menutupi pemandangan. op.42 41 Abdulkadir Muhammad II. yang menggambarkan tujuan yang hendak dicapai para pihak. mengukur. Untuk menentukan tentang hal tertentu yang berupa tidak berbuat sesuatu juga harus dijelaskan dalam kontrak. menimbang. harus ditentukan apa yang harus dilakukan oleh para pihak. Suatu sebab yang diperbolehkan/causa yang diperbolehkan Sebab adalah suatu yang menyebabkan orang membuat perjanjian. apakah bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan atau tidak. h. apakah dilarang oleh undang-undang atau tidak. dapat digunakan berbagai cara seperti: menghitung. 232 42 Dalam pasal 1337 BW disebutkan: “suatu sebab adalah terlarang. untuk menentukan jasa. Sementara itu. Untuk menentukan barang yang menjadi objek perjanjian.

yaitu: 1) Penutupan perjanjian tidak diperbolehkan. Binacipta. h. para pihak mengadakan novasi atas sesuatu perikatan yang tidak ada. h. jika tujuan yang dimaksud oleh para pihak pada waktu dibuat perjanjian tidak akan tercapai.44 Misalnya. Pokok-pokok Hukum Perikatan. Misal: jual beli antara suami-istri dilarang 2) Cara timbulnya perjanjian tidak diperbolehkan. perjanjian itu tetap mengikat pihak-pihak. Perjanjian adalah tanpa tanpa causa. walaupun diancam pembatalan sebelum waktu lima tahun. 1994. Misal: Para pihak menutup perjanjian yang menentukan bahwa salah satu pihak membuat kalender pornografi 4) 5) Cara pelaksanaan perjanjian tidak diperbolehkan. 43 J. Maksud para pihak tidak diperbolehkan. Tetapi jika tidak dimintakan pembatalan kepada hakim. 63 44 . karena melekat pada diri orang yang menjadi subjek perjanjian. Nieuwenhuis. Syarat pertama dan kedua pasal 1320 BW disebut syarat subjektif. Bandung. Misal: penutupan perjanjian schenking yang tidak dalam bentuk akta otentik 3) Isi perjanjian tidak diperbolehkan. H. perjanjian adalah batal jika perjanjian tersebut tanpa causa. cit.16 Suatu perjanjian dapat bersifat tidak diperbolehkan dalam berbagai hal. Jika syarat ini tidak dipenuhi.43 Selain itu. 27 R. op.. Setiawan. perjanjian dapat dibatalkan.

17 Syarat ketiga dan keempat pasal 1320 BW disebut syarat objektif. Jika syarat ini tidak dipenuhi. dan hakim menyatakan perjanjian batal. karena mengenai sesuatu yang menjadi objek perjanjian. . Kemudian diperkarakan ke muka hakim. Kebatalan ini dapat diketahui apabila perjanjian tidak mencapai tujuan karena salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. karena tidak memenuhi syarat objektif. perjanjian batal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful