PRINSIP – PRINSIP DALAM HUKUM PERJANJIAN

OLEH : MAULIDIAZETA WIRIARDI, S.H.

PENGERTIAN PERJANJIAN Berdasarkan ketentuan pasal 1233 BW, perjanjian merupakan salah satu sumber yang bisa menimbulkan perikatan.1 Adapun pengertian dari perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.2 Meskipun bukan yang paling dominan, namun pada umumnya perikatan yang lahir dari perjanjian merupakan yang paling banyak terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari, dan yang juga ternyata banyak dipelajari oleh ahli hukum, serta dikembangkan secara luas oleh legislator, para praktisi hukum, serta juga pada cendekiawan hukum, menjadi aturan-aturan hukum positif yang tertulis, yurisprudensi dan doktrindoktrin hukum yang dapat kita temui dari waktu ke waktu.3 Perjanjian atau kontrak merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh orang untuk mendapatkan harta kekayaan yang diperlukan dalam hidupnya. Dalam kehidupan
1

Dalam ketentuan pasal 1233 BW disebutkan : “Tiap-tiap perikatan dilahirkan karena persetujuan, baik karena undang-undang.”
2

R. Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 2008

3

Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, h. 1

1

Yogyakarta. menurut hukum logika dikenal sebagai kesalahan logis (fallacy of relevance) jenis argumentum ad verecvundian. dan sebagainya. misalnya jual beli. dan perjanjian adalah kontrak. Dari judul tersebut dapat diberikan makna bahwa kontrak adalah perjanjian. dan sebagainya yang merupakan istilah yang dalam hukum kita dikenal sebagai “kontrak” atau “perjanjian”. conventie. contractus (bahasa Latin). Universitas Atma Jaya. agreement (bahasa Inggris). tukar-menukar. X. sebagai seorang penulis 4 F. vertrag (bahasa Jerman).4 Sementara itu banyak kalangan berpendapat sama sebagaimana Subekti berpendapat. perjanjian kerja. h. 2008.5 Dalam hal ini yaitu pendapat Subekti. penitipan barang. h. contract. BW menggunakan istilah overeenkomst dan contract untuk pengertian yang sama.2 sehari-hari. Hal ini dapat dilihat jelas dari judul Bab II Buku III BW. pacte. Contract Drafting : Kerangka Dasar dan Teknik Penyusunan Kontrak. Teknik Pembuatan Akta Kontrak. 2007. bahwa “kontrak adalah perjanjian yang tertulis” dan justru pengertian yang terakhir inilah yang jamak diterima dalam pergaulan hidup bermasyarakat. contract. Soepratignja. Kenyataan ini. convention (bahasa Prancis). Universitas Atma Jaya. pemberian kuasa. kita bisa dengan mudah menemukan orang yang mengadakan berbagai perjanjian. 8 5 Paulus J. Judul dari Bab II Buku III BW adalah “Tentang Perikatan-Perikatan yang Dilahirkan dari Kontrak atau Perjanjian”. yaitu penalaran yang mendasarkan atau yang menggantungkan pada pendapat orang yang memiliki otoritas. Suhardana. kontrakt. 5 . Yoogyakarta. Dalam hukum asing dijumpai istilah overeenskomst (bahasa Belanda).

Contract Drafting : Seri Keterampilan Merancang Kontrak Bisnis. Bandung. baik melakukan atau tidak melakukan sesuatu hal tertentu. to do or not a particular thing). cit. Sedangkan menurut G. h. Citra Aditya Bakti. Kontrak merujuk pada suatu pemikiran akan adanya keuntungan komersil yang diperoleh kedua belah pihak. Suhardana.. 1 9 . 2003. 11 G. Treitel : “a contract is an agreement giving rise to obligations which are enforced or recognised by law.”9 Lebih lanjut dikemukakan oleh Treitel bahwa : “The first 6 H. 25 8 F. dalam suatu kesempatan perkuliahan Magister Hukum Bisnis Universitas Gadjah Mada. bahwa perjanjian mempunyai arti yang lebih luas daripada kontrak. Sedangkan perjanjian dapat saja berarti social agreement yang belum tentu menguntungkan kedua belah pihak secara komersil. London.H. 2006. sebab kontrak pun dapat dibuat secara lisan. h. Sogar Simamora.6 Dengan demikian pembedaan dua istilah ini bukan pada bentuknya.3 dari berbagai buku hukum dan juga seorang mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Disertasi Fakultas Hukum Universitas Airlangga. 2005. h. Prinsip Hukum Kontrak Dalam Pengadaan Barang dan Jasa oleh Pemerintah.7 Mengutip apa yang terdapat dalam Black’s Law Dictionary disebutkan bahwa kontrak adalah perjanjian antara 2 (dua) orang atau lebih yang menciptakan kewajiban untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu hal khusus (Contract is agreement betwen two or more persons which creates an obligation. Sweet & Maxwell. Daeng Naja. Treitel. X. R. H. Menurut Peter Mahmud Marzuki. 2 7 Y. Tidak tepat jika kontrak diartikan sebagai perjanjian yang dibuat secara tertulis. The Law of Contract. h. op.8 Hal pokok dalam definisi tersebut adalah bahwa kontrak dipandang sebagai persetujuan dari dua pihak untuk melaksanakan kewajiban.

11 Pothier tidak memberikan pembedaan antara kontrak dan perjanjian. Sedangkan contract adalah perjanjian yang mengharapkan terlaksananya perikatan. A contract may also be formed when a promise is made by one person in exchange for the act or the refraining from the doing of an act by another. Disebut convention (pacte) yaitu perjanjian dimana dua orang atau lebih menciptakan. menghapuskan (opheffen) atau merubah (wijzegen) perikatan. resulting in an obligation to do or to refrain from doing a particular act. Ronald A. Kumpf. Cincinnati. Yogyakarta. h. Anderson dan Walter A. South-Western Publishing. Hukum Perjanjian: Azas Proporsionalitas Dalam Kontrak Komersial. Laksbang Mediatama. Agus Yudha Hernoko sependapat dengan beberapa sarjana yang memberikan pengertian sama antara kontrak dengan perjanjian.13 Dimana dalam BW disamakan pengertian antara perjanjian atau persetujuan (overeenkomst) dengan istilah kontrak. namun membedakan pengertian contract dengan convention (pacte). pengertian yang diutarakan oleh Treitel menekankan pada kesepakatan para pihak dan tidak menyebutkan bahwa kontrak adalah perjanjian tertulis..12 Terhadap penggunaan istilah kontrak dan perjanjian. 13 . Business Law. which obligation is recognize or enforced by law.10 Dalam hal ini. Selain itu dalam praktik 10 Ibid. h. Kumpf memberikan pendapat mengenai contract: Generally a contract is an exchange of promises or assents by two or more persons.. h. h. 8 11 Ronald A. 2008. Anderson dan Walter A. 1973.4 requisite of a contract is that the parties should have reached agreement”. 12 13 Ibid. 79 12 Agus Yudha Hernoko.

pengertian perjanjian terdapat dalam ketentuan pasal 1313. Perjanjian yang diatur dalam Buku III BW kriterianya dapat dinilai secara materiil.... dan tidak hanya dalam bentuk pikiran semata-mata. cit. tetapi sifatnya berbeda dengan perjanjian yang diatur dalam Buku III BW.5 kedua istilah tersebut juga dipergunakan dalam kontrak komersial. yaitu “Suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. op. 7 Mariam Darus Badrulzaman et al. misalnya dalam perjanjian waralaba. Ada pihak-pihak yang menjadi subjek.15 Tidak lengkap karena yang dirumuskan itu hanya mengenai perjanjian sepihak saja. seperti janji kawin. h.14 Para sarjana Hukum Perdata pada umumnya berpendapat bahwa definisi perjanjian yang terdapat di dalam ketentuan pasal 1313 BW adalah tidak lengkap. maka dapat dikemukakan bahwa perjanjian mempunyai unsur-unsur sebagai berikut: 1. perjanjian kerjasama. Definisi itu dikatakan terlalu luas karena dapat mencakup perbuatan di dalam lapangan hukum keluarga. kontrak kerjasama. h. baik dalam bentuk ucapan. yang merupakan perjanjian juga. Berdasarkan uraian tersebut. perjanjian sewa guna usaha. kontrak kerja konstruksi. dan pula terlalu luas. op. sedikitnya dua pihak dan masing-masing bisa terdiri atas orang dengan orang atau orang dengan 14 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja. Perbuatan yang disebutkan dalam ketentuan pasal 1313 BW hendak menjelaskan bahwa perjanjian hanya mungkin terjadi jika ada suatu perbuatan nyata. maupun tindakan secara fisik. Didalam BW. cit. dengan kata lain dapat dinilai dengan uang. 65 15 .

kontrak penjaminan tanah. Ada persetujuan (kesepakatan) diantara para pihak. Dengan demikian tidak mungkin dikatakan ada perjanjian jika subjeknya hanya satu. 5. lisan atau tertulis. perjanjian hibah. bisa pula berbentuk tertulis kecuali Undang-Undang menentukan lain. Dengan perkataan lain bahwa perjanjian bermaksud mengalihkan hak atas harta benda yang menjadi objek perjanjian. Ada bentuk tertentu. Berdasarkan asas kebebasan berkontrak atau partij otonomie sebenarnya perjanjian dapat dibuat secara lisan sehingga dikenal sebagai kontrak lisan. . Objek perjanjian adalah harta benda yang dapat diperdagangkan. Ada objek yang berupa benda. Sedangkan unsur-unsur perjanjian menurut teori lama adalah sebagai berikut: 1. 4. 2. yaitu yang dalam teori dikenal dengan sebutan kontrak formal seperti kontrak perdamaian. Ada tujuan yang bersifat kebendaan (mengenai harta kekayaan). Kesepakatan tersebut terbentuk melalui penawaran-penawaran yang disampaikan oleh para pihak yang kemudian bertemu pada satu titik. Kesepakatan digambarkan sebagai pernyataan kehendak para pihak yang saling mengisi. 3. Adanya perbuatan hukum. kontrak pendirian perseroan terbatas.6 badan hukum atau badan hukum dengan badan hukum.

S. Persesuaian kehendak harus dengan mengingat peraturan perundang-undangan. 6. Jakarta.17 Artinya bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian. Persesuaian ini harus dipublikasikan atau dinyatakan. I.. terdapat ketentuan-ketentuan yang bersifat dwingend recht atau imperative law. 2008 (selanjutnya disingkat Salim H. Perbuatan hukum terjadi karena kerjasama antara dua orang atau Pernyataan kehendak (wilsverklaring) yang sesuai harus saling bergantung satu sama lain. S. lebih. Lihat ketentuan pasal 1319 BW 18 Salim H. h.. Persesuaian pernyataan kehendak dari beberapa orang. 4. baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur di dalam undang-undang. 7 .16 AZAS KEBEBASAN BERKONTRAK Sistem pengaturan hukum perjanjian dalam Buku III BW adalah sistem terbuka (open system).7 2. 5. 15 17 Namun perlu diperhatikan bahwa dalam Buku III BW terdapat pula ketentuan yang keberadaannya tidak boleh disimpangi. 8. 3. II). atau juga disebut sebagai aanvullend recht. h. Akibat hukum untuk kepentingan yang satu atas beban yang lain atau timbal balik. 7. S. cit. Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia. op. Dengan kata lain.18 Hal ini dapat disimpulkan 16 Salim H. Kehendak ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum. Sinar Grafika.

op. Bebas menentukan apakah ia akan melakukan perjanjian atau tidak.. Bebas menentukan dengan siapa ia akan melakukan perjanjian.19 Dalam ketentuan tersebut terdapat azas kebebasan berkontrak. Kebebasan berkontrak memberikan jaminan kebebasan kepada seseorang untuk secara bebas dalam beberapa hal yang berkaitan dengan perjanjian. Subekti. yang berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.21 Azas kebebasan berkontrak merupakan salah satu azas utama dan sangat penting dalam suatu perjanjian. 19 R.8 dari ketentuan yang tercantum dalam pasal 1338 ayat (1) BW..” Subekti berpendapat bahwa dalam soal perjanjian. cit. het bestaanwaarde) perjanjian. cit. kita diperbolehkan membuat undang-undang bagi kita sendiri. h. dan 4. Azas kebebasan berkontrak dinamakan juga azas otonomi “konsensualisme”.20 Kebebasan berkontrak ini berlatar belakang pada paham individualisme yang secara embrional lahir dalam zaman Yunani. Thomas Hobbes. John Locke. 14 Mariam Darus Badrulzaman et al. op. 2. dan Rousseau.. diteruskan oleh kaum Epicuristen dan berkembang pesat dalam zaman renaissance melalui antara lain ajaran-ajaran Hugo de Groot. h. 83 Ibid. Bebas menentukan isi atau klausul perjanjian. h. yang menentukan adanya (raison d’etre. diantaranya: 1. Bebas menentukan bentuk perjanjian. 84 20 21 . 3..

1 23 24 . S. yang memuat: “semua perjanjian. termasuk sebagai dasar penyelesaian sengketa sekiranya timbul suatu sengketa dari perjanjian yang mereka buat. Perjanjian-perjanjian yang tidak terdapat dalam Buku III BW ini dinamakan perjanjian tak bernama atau kontrak innominaat.X Suhardana. h. hukum yang berlaku sebagai dasar transaksi. yang termuat dalam bab ini dan bab yang lalu.24 22 Ahmadi Miru. Kebebasan-kebebasan lainnya yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.9 5. 20 Salim H. op. ketentuan pasal 1319 BW mengakui akan adanya perjanjianperjanjian selain yang terdapat dalam BW. h. op. cit. h. op. dikarenakan azas ini bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam melakukan transaksi bisnis yang senantiasa berkembang seiring perkembangan teknologi..23 Azas kebebasan berkontrak menjadi salah satu azas yang utama. II. 4 F. cit.. maupun yang tidak terkenal dengan suatu nama tertentu..” Dengan kata lain.22 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menurut azas kebebasan berkontrak. baik yang mempunyai suatu nama khusus. Azas kebebasan berkontrak merupakan prinsip yang telah secara umum dan tertulis diakui sebagian besar negara di dunia ini sehingga dapat dikatakan merupakan prinsip universal. para pihaklah yang paling berhak menentukan hukum yang hendak mereka pilih untuk mengatur perjanjian mereka. Kedudukan azas kebebasan berkontrak ini semakin diperkuat dengan ketentuan pasal 1319 BW. tunduk pada peraturan-peraturan umum. cit.

. 1985. 185 28 . Business Law.25 Azas konsensualitas memperlihatkan bahwa sebuah perjanjian timbul seketika setelah para pihak mecapai kesepakatan atau consensus. Lusk. Adapun syarat sah perjanjian menurut ketentuan pasal 1320 BW adalah: 1. London. a reasonably definite understanding between two or more persons. h. cit. 27 Kesepakatan merupakan hal yang substansial dalam sebuah perjanjian. Irwin. Universitas Airalangga. Illinois. op.”28 Pernyataan kehendak bukan 25 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja. H. Richard D. Nigel Savage dan Robert Bradgate berpendapat: “for there to be a legally binding contract there must be an agreement. that is. 90 Nigel Savage dan Robert Bradgate. Butterworth.26 Kesepakatan bisa terjadi setelah para pihak sebelumnya melakukan proses penawaran dan penerimaan. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya Kesepakatan para pihak pada prinsipnya adalah pengejawantahan dari azas konsensualitas. h. 1966. Nieuwenhuis. h. Lusk berpendapat bahwa untuk melahirkan sebuah perjanjian. Harold F. 1993. pernyataan salah satu pihak “cocok” dengan pernyataan pihak yang lain. para pihak harus berada pada kondisi mutual understanding antar pihak. Pokok-Pokok Hukum Perikatan. Kesepakatan mengandung pengertian bahwa para pihak saling menyatakan kehendak masing-masing untuk menutup sebuah perjanjian. dan kondisi mutual understanding terjadi dengan salah satu pihak melakukan penawaran dan penerimaan oleh pihak lainnya. Surabaya.10 SYARAT SAHNYA PERJANJIAN Suatu perjanjian harus memenuhi syarat sah perjanjian agar sebuah perjanjian bisa memiliki kekuatan untuk memaksa para pihak. h. 2 27 Harold F. (terjemahan Djasadin Saraghi). 94 26 J. Business Law : Principles and Cases.

31 Subjek hukum dalam melakukan perjanjian bisa merupakan natuurlijk persoon ataupun rechtspersoon. et al.. cit. 9 J.30 2. Nieuwenhuis.29 Sudikno mertokusumo menyatakan bahwa ada lima cara terjadinya persesuaian pernyataan kehendak. H. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan Kecakapan melakukan perbuatan hukum dapat dirumuskan sebagai kemungkinan melakukan perbuatan hukum secara mandiri yang mengikat diri sendiri tanpa diganggu gugat. tetapi juga kelakuan yang mencerminkan adanya kehendak untuk mengadakan perjanjian.. Hal ini mengingat dalam kenyataanya sering kali seseorang menyampaikan dengan bahasa yang tidak sempurna tetapi dimengerti oleh pihak lawannya. H. op.. cit. Nieuwenhuis. Bahasa yang sempurna secara lisan. natuurlijk persoon dikatakan tidak cakap untuk melakukan sebuah perbuatan hukum adalah ketika: 29 J.. 2 Salim H. 4) 5) Bahasa isyarat asal dapat diterima pihak lawannya. yaitu: 1) 2) 3) Bahasa yang sempurna dan tertulis. cit.11 hanya dengan kata-kata yang tegas dinyatakan. op. Bahasa yang tidak sempurna asal dapat diterima oleh pihak lawan. dan Diam atau membisu tetapi asal dipahami atau diterima pihak lawan. Menurut ketentuan pasal 1330 BW. 20 30 31 . h. h. S. h. op.

Dapat digugat atau menggugat di depan Pengadilan. dan Undang-Undang No. 30 tahun 2004 tentang Peraturan Jabatan Notaris. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. 3) 4) 5) 6) Mempunyai harta kekayaan sendiri. 21 . Bandung. 3 tahun 1963 dan pasal 31 undang-undang No. (namun ketentuan ini telah dihapus dengan Surat Edaran Mahkamah Agung No. Undang-Undang No. Orang-orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang. 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan) Beradasarkan ketentuan yang tertuang dalam Undang-Undang No. Mempunyai pengurus. Alumni.32 32 Chidir Ali. dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian- perjanjian tertentu. Dapat melakukan perbuatan hukum (rechtshandeling) dalam hubungan-hubungan hukum (rechtsbetrekking). seseorang dikatakan telah cakap dalam melakukan perbuatan hukum jika telah berusia 18 tahun. 2005. Badan Hukum. h.12 1) 2) 3) Orang-orang belum dewasa. Mempunyai hak dan kewajiban. Sedangkan pengertian badan hukum (rechtspersoon) menurut Chidir Ali mencakup beberapa hal. yaitu: 1) 2) Perkumpulan orang (organisasi).

baik badan hukum privat maupun badan hukum publik. Risiko Hukum sebagai Direksi. Forum Sahabat. Jakarta. Suatu hal tertentu Suatu perjanjian haruslah mempunyai objek (bepaald onderwerp) tertentu. LN tahun 2007 No. 3. 79 . yaitu sesuatu yang diciptakan oleh hukum guna memenuhi kebutuhan perkembangan kehidupan bermasyarakat.35 Sehingga sebuah perseroan terbatas dikatakan cakap melakukan perjanjian apabila dilakukan oleh direksi atau oleh organ yang secara struktural berada dibawah direksi telah diberi kuasa oleh direksi sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar perseroan. sekurang-kurangnya dapat ditentukan bahwa objek tertentu itu dapat berupa benda yang sekarang ada dan nanti akan ada. ps. op. h. cit..34 Dalam badan hukum perseroan terbatas. direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan terbatas tersebut. 106. Kewenangan merupakan salah satu syarat yang menentukan keabsahan kontrak yang dibuat oleh badan hukum. 2008. tidak mempunyai daya 33 Y. h. 1 35 Undang-Undang No. 1 angka 5 36 Mariam Darus Badrulzaman et al..13 Suatu badan hukum dikatakan cakap melakukan perjanjian harus diukur dari aspek kewenangan organ yang melaksanakan. 210 34 Gunawan Widjaja.36 Pernyataan-pernyataan yang sifat dan luasnya sama sekali tidak dapat ditentukan.. op. Sogar Simamora. cit.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. h.33 Hal ini terkait kedudukan badan hukum yang merupakan artificial person. Komisaris. dan Pemilik PT.

h. maka perjanjian itu batal (nietig. op. 39 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan kebendaan yang telah ditentukan jenisnya. 25 38 Abdulkadir Muhammad. cit. dan tidak berbuat sesuatu. atau objek perjanjian.38 Ahmadi Miru berpendapat bahwa hal tertentu dalam sebuah kontrak disebut prestasi yang dapat berwujud barang. keahlian atau tenaga. h. Citra Aditya Bakti. h. Jika pokok perjanjian. “Berbuat sesuatu” adalah setiap prestasi berwujud berbuat sesuatu atau melakukan perbuatan tertentu yang positif. op. Memberikan sesuatu dapat diartikan baik penyerahan nyata maupun penyerahan yuridis. h.40 “Memberikan sesuatu” adalah kewajiban seseorang untuk memberikan sesuatu atau menyerahkan sesuatu. op. melainkan juga dalam perikatan untuk berbuat sesuatu dan juga perikatan untuk tidak berbuat sesuatu. H. cit.14 mengikat. Hukum Perdata Indonesia. Suatu hal tertentu merupakan pokok perjanjian. sulit bahkan tidak mungkin dilaksanakan. cit. 30 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja. 158 40 . prestasi yang wajib dipenuhi... meliptui tidak hanya perikatan untuk memberikan sesuatu. 1990 (selanjutnya disingkat Abdulkadir Muhammad II). 231 39 Ahmadi Miru. 37 J. atau prestasi itu kabur. tidak jelas. void). Bamdung.. objek perjanjian. Nieuwenhuis.37 Didalam berbagai literatur disebutkan bahwa yang menjadi objek perjanjian adalah prestasi pokok sebuah perjanjian (onderwerp der overeenskomst).

Sementara itu.41 Undang-undang tidak memperdulikan apa yang menjadi sebab orang mengadakan perjanjian. menimbang. apakah bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan atau tidak. 232 42 Dalam pasal 1337 BW disebutkan: “suatu sebab adalah terlarang. yang mendorong orang membuat perjanjian.42 41 Abdulkadir Muhammad II. Suatu sebab yang diperbolehkan/causa yang diperbolehkan Sebab adalah suatu yang menyebabkan orang membuat perjanjian. melainkan sebab dalam arti “isi perjanjian itu sendiri” yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai para pihak.. misalnya tidak mendirikan bangunan yang menutupi pemandangan. cit. apabila dilarang oleh undangundang. yang menggambarkan tujuan yang hendak dicapai para pihak. Untuk menentukan tentang hal tertentu yang berupa tidak berbuat sesuatu juga harus dijelaskan dalam kontrak. atau menakar.” . apakah dilarang oleh undang-undang atau tidak. h. yang diperhatikan atau yang diawasi oleh undang-undang adalah isi perjanjian itu. mengukur. atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum. op. harus ditentukan apa yang harus dilakukan oleh para pihak.15 “Tidak berbuat sesuatu” yaitu untuk tidak melakukan perbuatan tertentu yang telah dijanjikan. dapat digunakan berbagai cara seperti: menghitung. Tetapi yang dimaksud dengan “causa yang diperbolehkan” dalam pasal 1320 BW bukanlah sebab dalam arti yang menyebabkan atau yang mendorong orang membuat perjanjian. untuk menentukan jasa. 4. Untuk menentukan barang yang menjadi objek perjanjian.

yaitu: 1) Penutupan perjanjian tidak diperbolehkan. walaupun diancam pembatalan sebelum waktu lima tahun. Syarat pertama dan kedua pasal 1320 BW disebut syarat subjektif.. para pihak mengadakan novasi atas sesuatu perikatan yang tidak ada. Tetapi jika tidak dimintakan pembatalan kepada hakim.16 Suatu perjanjian dapat bersifat tidak diperbolehkan dalam berbagai hal. Pokok-pokok Hukum Perikatan. op. Jika syarat ini tidak dipenuhi. perjanjian itu tetap mengikat pihak-pihak. karena melekat pada diri orang yang menjadi subjek perjanjian. Misal: jual beli antara suami-istri dilarang 2) Cara timbulnya perjanjian tidak diperbolehkan. Misal: penutupan perjanjian schenking yang tidak dalam bentuk akta otentik 3) Isi perjanjian tidak diperbolehkan.43 Selain itu. perjanjian adalah batal jika perjanjian tersebut tanpa causa. 63 44 .44 Misalnya. Setiawan. Nieuwenhuis. perjanjian dapat dibatalkan. 43 J. 27 R. H. Binacipta. h. Bandung. Misal: Para pihak menutup perjanjian yang menentukan bahwa salah satu pihak membuat kalender pornografi 4) 5) Cara pelaksanaan perjanjian tidak diperbolehkan. 1994. Perjanjian adalah tanpa tanpa causa. jika tujuan yang dimaksud oleh para pihak pada waktu dibuat perjanjian tidak akan tercapai. cit. h. Maksud para pihak tidak diperbolehkan.

. Kebatalan ini dapat diketahui apabila perjanjian tidak mencapai tujuan karena salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Jika syarat ini tidak dipenuhi. dan hakim menyatakan perjanjian batal. Kemudian diperkarakan ke muka hakim. karena mengenai sesuatu yang menjadi objek perjanjian.17 Syarat ketiga dan keempat pasal 1320 BW disebut syarat objektif. perjanjian batal. karena tidak memenuhi syarat objektif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful