2009

DIREKTORAT MUTU DAN SATNDARDISASI DITJEN PPHP

PEDOMAN SERTIFIKASI DAN PENILAIAN CARA PENANGANAN DAN PENGOLAHAN PANGAN SEGAR HASIL PERTANIAN YANG BAIK

DIREKTORAT MUTU DAN STANDARDISASI DIREKTORAT JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN TAHUN 2009

i

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga Pedoman Sertifikasi dan Penilaian Cara Penanganan dan Pengolahan Pangan Segar Hasil Pertanian Yang Baik ini telah selesai disusun. Sesuai Tugas dan Fungsi Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor:299/Kpts/OT.140/7/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian, maka Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian menyusun Pedoman ini sebagai acuan bagi pemangku kepentingan (stakeholder) antara lain Pelaku Usaha, Pembina Mutu (Fasilitator/Penyuluh/Pemandu Lapang), Pengawas Mutu (Auditor/Inspektur Mutu), Lembaga Sertifikasi dan atau OKKP Pusat dan Daerah untuk menerapkan Cara Penanganan dan Pengolahan Pangan Segar Hasil Pertanian Yang Baik. Kami menyadari bahwa Pedoman ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaannya dimasa mendatang. Semoga Pedoman ini bermanfaat.

Jakarta, 02 Desember 2009 Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian

Prof. Dr. Ir. Zaenal Bachruddin, M.Sc NIP. 19520425197803.1.001

ii

DAFTAR ISI halaman KATA PENGANTAR DAFTAR ISI .......................................... i ii 1 3 3 4 4 6 ............................. 10 19 20

....................................................... …………………………………

1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran

…………………………………………… ......................................................... …………………………………. ………………………………..

4. Ruang Lingkup 5. Acuan Normatif 6. Istilah dan Definisi

7. Pelaksanaan Sertifikasi GHP/GMP Lampiran 1. Lampiran 2.

iii

PEDOMAN SERTIFIKASI DAN PENILAIAN CARA PENANGANAN DAN PENGOLAHAN PANGAN SEGAR HASIL PERTANIAN YANG BAIK 1. Untuk Pembinaan dan Pengawasan Produk Pangan Segar Hasil Pertanian menjadi tanggungjawab Departemen Pertanian sedangkan untuk Produk Pangan Olahan menjadi tanggungjawab Departemen Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Mutu dan Gizi Pangan. sehingga bagi negara yang sudah maju akan mempersyaratkan tingkat jaminan Mutu dan Keamanan Pangan lebih ketat dibanding negara berkembang. maka sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan. Latar Belakang Tuntutan konsumen terhadap tersedianya produk pangan segar hasil pertanian yang aman dikonsumsi dan bermutu terus meningkat baik di pasar domestik maupun di pasar internasional. Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan Segar Hasil Pertanian untuk dikonsumsi seringkali digunakan sebagai persyaratan teknis dalam perdagangan global. 1 . Dengan demikian jaminan mutu dan keamanan pangan merupakan salah satu faktor penentu daya saing produk pertanian baik dipasar Domestik maupun dipasar Internasional. seluruh tanggungjawab Pembinaan dan Pengawasan yang berkaitan dengan Mutu dan Keamanan Pangan didistribusikan secara jelas antara Produk Pangan Segar Hasil Pertanian dan Produk Pangan Olahan. Dalam rangka memenuhi tuntutan konsumen terhadap produk pertanian yang aman dikonsumsi dan bermutu serta meningkatkan daya saing baik di pasar domestik maupun dipasar internasional.

140/8/2007 tentang Sistem Standardisasi Nasional di Bidang Pertanian . ditindaklanjuti dengan peraturan untuk Persyaratan Dasar (Pre Requisite) Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan seperti Peraturan Menteri Pertanian Nomor 381/Kpts/Ot.140/10/2005 tentang Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan dan Permentan No.140/10/2009 tentang Pedoman Penangan Paska Panen Hasil Pertanian Asal Tumbuhan Yang Baik. Ditjen Perkebunan dengan jajarannya Dinas Lingkup Pertanian Provinsi.140/7/2008 tentang Persyaratan dan Penerapan Cara Pengolahan Hasil Pertanian Asal Tumbuhan Yang Baik serta Permentan No 44/Permentan/OT. 58/Permentan/OT.35/Permentan/OT.Untuk menjamin terlaksananya kegiatan tersebut Departemen Pertanian telah dilengkapi dengan kelembagaan untuk melaksanakan tugas Pembinaan dan Pengawasan. Kabupaten dan Kota sedangkan tugas pembinaan pada tahap Pengolahan dan Pemasaran menjadi tanggungjawab Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian serta Badan Karantina Pertanian. Semua regulasi teknis diatas merupakan Persyaratan Dasar (Pre Requisite) Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan berdasarkan Sistem HACCP. Dukungan berupa kebijakan tentang Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan juga telah terbentuk seperti Permentan No. Oleh karena itu diperlukan pedoman-pedoman yang akan digunakan sebagai acuan dalam rangka 2 . Tugas Pengawasan dilakukan oleh Pejabat Fungsional Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP) pada Lembaga Pengawas Mutu dan Keamanan Pangan Hasil Pertanian yang disebut sebagai Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat dan Daerah. Tugas Pembinaan Mutu dan Keamanan Pangan pada bidang Budidaya dilakukan oleh Lembaga Struktural yang terdiri dari Direktorat Jenderal Budidaya lingkup Pertanian yaitu Ditjen Tanaman Pangan. yang harus diterapkan lebih dahulu secara benar dan maksimal. Ditjen Hortikultura.

fasilitator mutu. Mengingat keberadaan pedoman tersebut sangat diperlukan. 2.mengimplementasikan ditetapkan. 3 . maka pada tahun anggaran 2009 ini Direktorat Mutu dan Standardisasi kiranya dapat menghasilkan ketiga pedoman tersebut. dapat menerapkan Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan ini secara bertahap yaitu dengan menerapkan persyaratan dasar (Pre Requisite) saja terlebih dahulu baru kemudian dilanjutkan dengan Sistem Mutu Keamanan Pangan berdasarkan Sistem HACCP. semua regulasi yang telah Terkait dengan hal tersebut diatas disusunlah Pedoman Penerapan Penanganan dan Pengolahan Pangan Segar Hasil Pertanian Yang Baik (GHP/GMP). Sasaran Tersedianya pedoman Sertifikasi dan Penilaian Penerapan Cara Penanganan Pasca Panen/Pengolahan Pangan Hasil Pertanian yang Baik bagi pelaku usaha pangan hasil pertanian. Bagi pelaku usaha skala kecil.yang akhirnya dapat menghasilkan produk yang aman dan bermutu. inspektor keamanan pangan dan Lembaga Sertifikasi dan atau Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat dan Daerah. Tujuan Menyediakan pedoman Sertifikasi dan Penilaian Penerapan Cara Penanganan Pasca Panen/Pengolahan Pangan Hasil Pertanian yang Baik. Pedoman Sertifikasi dan Penilaian GHP/GMP tersebut serta Pedoman Pelabelan dan Penggunaan Tanda/Logo. 3.

penetapan sertifikat. Peraturan Menteri Pertanian No. Acuan Normatif Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1982 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100. surveilen. pencabutan dan perpanjangan sertifikat serta kelengkapan Form Audit Penilaian.140/7/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian juncto Peraturan Menteri Pertanian No. .8.6. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4020). Ruang Lingkup Pedoman ini meliputi permohonan sertifikasi. Peraturan Menteri Pertanian No 341/Kpts/OT.7. Tambahan Lembaran Negar Nomor 3656).1. inspeksi lapangan. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 42. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 131. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional Indonesia (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 199.140/9/2005 tentang Kelengkapan 4 5. penolakan. 5. rapat komisi teknis.2. 5.4. audit kelengkapan dokumen permohonan. 5. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan. (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 107. 5.140/2/2007. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 99. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4424). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495). Mutu dan Gizi Pangan. 5. 5.299/Kpts/OT.4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3867). 5. 11/Permentan/OT.3. pembekuan.5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821).

58/Permentan/OT.140/10/2005 tentang Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan.140/8/2007 tentang Pelaksanaan Sistem Standardisasi Nasional di Bidang Pertanian 5.140/2/2007.9. Peraturan Menteri Pertanian No.140/7/2008 tentang Persyaratan dan Penerapan Cara Pengolahan Hasil Pertanian Asal Tumbuhan Yang Baik.16. Peraturan Menteri Pertanian No.35/Permentan/OT. 5. SNI 19 – 19011 – 2005 Panduan Audit Sistem Manajemen Mutu dan atau Lingkungan.13.12. 5. 5. CAC/RCP1-1969-Rev 4-2003 : Recommended International Code of Practice General Principles of Food Hygiene.12/Permentan/OT. 5 . 5. 48 /Permentan/OT.Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian juncto Peraturan Menteri Pertanian No. Pedoman BSN 401-2000 Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Produk. Peraturan Menteri Pertanian No. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 51 /Permentan/OT.160/10/2009 tentang Pedoman Budidaya Buah dan Sayuran Yang Baik.17.140/10/2008 tentang Tata Cara Pendaftaran Produk Segar Asal Tumbuhan 5.14. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 381/Kpts/Ot. 5.15.44/Permentan/OT.48/Permentan/OT. Peraturan Menteri Pertanian No. Permentan No. 5.18. 5.140/10/2006 tentang Budidaya Tanaman Pangan yang baik. 5.140/10/2009 tentang Pedoman Penanganan Paska Panen Hasil Pertanian Asal Tanaman Yang Baik.11.10.

5 Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat (OKKP-P) Institusi atau unit kerja dilingkup Departemen Pertanian yang sesuai dengan tugas fungsinya diberi kewenangan untuk melaksanakan Pengawasan Sistem Jaminan Mutu Pangan Hasil Pertanian 6.1 Sertifikasi Rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat terhadap barang dan atau jasa 6.4 Sertifikat Mutu Keamanan Pangan Jaminan tertulis yang diberikan oleh Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat atau Daerah yang telah diakreditasi atau diverifikasi yang menyatakan bahwa pangan tersebut telah memenuhi kriteria tertentu dalam standar mutu pangan yang bersangkutan 6.2 Sertifikat Jaminan tertulis yang diberikan oleh Lembaga/Laboratorium yang telah diakreditasi untuk menyatakan bahwa barang. proses.6. 6.6 Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKP-D) Institusi atau unit kerja dilingkup Pemerintah Daerah yang sesuai dengan tugas dan fungsinya diberi kewenangan untuk melaksanakan pengawasan system jaminan mutu pangan hasil pertanian dan telah lulus verifikasi dari OKKP-Pusat 6 . jasa. Istilah dan Definisi 6. system atau personel telah memenuhi standar yang telah dipersyaratkan.3 Sertifikasi Mutu Pangan Rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat terhadap pangan yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan 6.

peralatan dan bangunan yang dapat merusak pangan dan membahayakan manusia. baik yang diolah maupun yang tidak diolah.11 Sanitasi Pangan Upaya untuk pencegahan terhadap kemungkinan bertumbuh dan berkembang biaknya jasad renik pembusuk dan pathogen dalam makanan.8 Pangan Segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air.7 Inspektor/Pengawas Mutu Hasil Pertanian Personel yang secara resmi ditugaskan oleh oleh OKKP-P untuk melakukan pengawasan dan penilaian terhadap unit usaha atau lembaga (OKKP-D) dalam menerapkan system jaminan mutu pangan yang ditetapkan. bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan.6. termasuk bahan tambahan pangan.10 Mutu Pangan Nilai yang ditentukan atas dasar criteria keamanan pangan. yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia. 6. pengolahan. dan atau pembuatan makanan atau minuman. 7 . 6. 6. 6. minuman.9 Pangan Segar Pangan yang belum mengalami pengolahan yang dapat dikonsumsi langsung dan/atau yang dapat menjadi bahan baku pengolahan pangan. makanan dan minuman.12 Persyaratan Sanitasi Standar kebersihan dan kesehatan yang harus dipenuhi sebagai upaya untuk mematikan atau mencegah hidupnya jasad renik pathogen dan mengurangi jasad renik lainnya agar pangan yang dihasilkan dan dikonsumsi tidak membahayakan kesehatan dan jiwa manusia. kandungan gizi dan standar perdagangan terhadap bahan makanan. 6.

14 Audit Proses yang sistematik. prosedur atau persyaratan 6. 6. 6.18 Laboratorium Penguji Laboratorium yang melakukan pengujian dalam rangka sertifikasi Cara Penanganan Pasca Panen/Pengolahan Pangan Hasil Pertanian Yang Baik. 6. baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Republik Indonesia. baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dibidang pangan segar asal tumbuhan. baik karena cemaran biologis. pernyataan mengenai fakta atau informasi lain yang terkait dengan kriteria audit dan dapat diverifikasi 6.17 Pelaku Usaha Setiap orang perseorangan atau badan usaha. merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. monitoring maupun pengujian produk akhir pangan hasil pertanian. kimia dan benda lain yang dapat mengganggu. independen dan terdokumentasi untuk memperoleh bukti audit dan mengevaluasinya secara objektif untuk menentukan sampai sejauh mana kriteria audit terpenuhi. 8 .13 Persyaratan Keamanan Pangan Standard dan ketentuan-ketentuan lain yang harus dipenuhi untuk mencegah pangan dari kemungkinan adanya bahaya.15 Bukti Audit Rekaman.16 Kriteria Audit Seperangkat kebijakan. baik dalam fungsi pengembangan dan penerapan desain sistem Cara Penanganan Pasca Panen/Pengolahan Pangan Hasil Pertanian Yang Baik.6.

20 Ketidaksesuaian Tingkat penyimpangan pelaku usaha/produsen pangan terhadap seperangkat kebijakan .21 Ketidaksesuaian Mayor Tingkat penyimpangan yang dapat menyebabkan resiko terhadap kualitas keamanan pangan produk 6. yang selanjutnya dalam peraturan pemerintah Nomor 69 tahun 1999 disebut Label. 6. ditempelkan pada. dimasukan kedalam.6.19 Logo/Label Setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar. atau merupakan bagian dari kemasan pangan.22 Ketidaksesuaian Serius Tingkat penyimpangan yang serius yang dapat menyebabkan resiko terhadap kualitas keamanan pangan produk dan segera ditindaklanjuti 6. prosedur dan persyaratan standar/ketentuan dalam bidang keamanan pangan 6.23 Ketidaksesuaian Kritis Tngkat penyimpangan yang sangat serius dan sangat dapat menyebabkan resiko terhadap kualitas keamanan pangan produk dan harus segera ditindaklanjuti 9 . kombinasi keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada pangan . tulisan.21 Ketidaksesuaian Minor Tingkat penyimpangan yang kurang serius dan tidak menyebabkan resiko terhadap kualitas keamanan pangan produk 6.

7. Apabila persyaratan belum lengkap. Dokumen Sistem Mutu Pemohon. Apabila telah memenuhi persyaratan permohonan. OKKP-D melakukan : a) Evaluasi kelengkapan dokumen permohonan untuk menjamin kecukupan persyaratan administrasi permohonan sertifikasi. Pelaksanaan Sertifikasi Cara Penanganan Pasca Panen/Pengolahan Pangan Hasil Pertanian Yang Baik. Dalam mengajukan permohonan. Mengkonfirmasikan personil Tim Inspeksi dan jadwal inspeksi lapangan. Pelaku Usaha dapat mengusulkan keberatan terhadap personil Tim Inspeksi apabila ada alasan yang tepat dan OKKP-D dapat menerima b) c) d) 10 .2 Berdasarkan pengajuan sertifikasi dari pemohon. Permohonan Sertifikasi 7. pemohon harus melampirkan : a) b) Formulir pendaftaran Daftar isian Otoritas Kompeten Keamanan PanganDaerah yang mencakup identitas pelaku usaha dan data umum pelaku usaha. yang terdiri dari Dokumen Rencana GHP/GMP.1 Unit usaha yang ingin mendapatkan sertifikasi harus mengajukan permohonan sertifikasi kepada OKKP-D yang telah diverifikasi oleh OKKP-P sesuai Bagan Alir sebagaimana yang tertuang pada Lampiran 1. maka OKKP-D memberitahukan kepada pemohon untuk melengkapi dalam jangka waktu maksimal 14 hari kerja. SSOP dan SOP Audit Kelengkapan Dokumen c) 7. maka OKKP-D menunjuk Tim Inspektor untuk melakukan Inspeksi sesuai bidang keahliannya.

4 Inspeksi 7.Pemohon yang pernah mengajukan sertifikasi kepada lembaga sertifikasi lain dan ditolak sertifikasinya harus melampirkan dokumentasi tentang tindakan koreksi yang telah dilakukan.1 Audit kecukupan Setelah persyaratan administrasi terpenuhi melalui audit kelengkapan dokumen.4. 7. dilakukan penunjukan Tim Inspeksi yang terdiri dari Inspektor Kepala dan Inspektor Anggotayang bertugas melakukan penilaian dalam rangka sertifikasi ini. 7. kecuali pada inspeksi mendadak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu misalnya karena kasus tertentu. 7. Inspeksi Lapangan dapat dilakukan bila semua ketidakcukupan dokumen sudah diperbaiki dan Inspektor Kepala menyatakan dokumen sudah sesuai. dan dipastikan bahwa perwakilan manajemen dari pelaku usaha harus hadir pada saat inspeksi. Bila ditemukan ketidak cukupan dokumen terhadap persyaratan yang diacu.3 Penunjukan Tim Inspeksi Sebelum penilaian dilaksanakan. maka Tim Inspektor melakukan audit kecukupan dokumen sistem mutu Cara Penanganan Pasca Panen/Pengolahan Pangan Hasil Pertanian yang Baik. maka ketidakcukupan dokumen tersebut disampaikan kepada pelaku usaha.2 Inspeksi lapangan a) Penjadwalan Inspeksi lapangan dilakukan sesuai jadual yang telah disepakati. 11 . untuk dilengkapi atau diperbaiki sesuai persyaratan.4.

Apabila tindakan perbaikan sudah sesuai maka Ketua Tim menyampaikan Laporan secara menyeluruh kepada OKKP-D. Tim Inspeksi dapat meminta auditee untuk mendemonstrasi kan unjuk kerja. konfirmasi kesiapan pendamping. Pada pertemuan penutupan seluruh temuan ketidaksesuaian disampaikan beserta buktibuktinya dan kesepakatan tindakan perbaikan yang harus dilakukan. Laporan hasil inspeksi dan kesepakatan pelaksanaan tindakan perbaikan ditandatangani bersama antara ketua tim inspeksi dan Auditee (wakil manajemen) Ketua Tim Inspektor membuat laporan kepada OKKP-D terhadap hasil inspeksi secara umum untuk selanjutnya melakukan monitoring terhadap tindakan perbaikan yang dilakukan oleh pemohon. c). proses penilaian sampai kategori ketidaksesuaian dalam penilaian. klarifikasi program inspeksi. Pelaksanaan Inspeksi dapat dilakukan dengan wawancara dan melihat langsung kegiatan dilapangan. penyampaian maksud dan tujuan kedatangan. Pengambilan Contoh Pengambilan contoh produk dapat dilakukan bila Inspektur Kepala menganggap perlu sebagai 12 .b) Pelaksanaan Inspeksi Lapangan Pertemuan Pembukaan Pertemuan pembukaan harus dihadiri oleh Tim Inspeksi dan personal kunci Auditee. Dalam Pertemuan Pembukaan dilakukan perkenalan. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan dilakukan bila kegiatan inspeksi telah selesai dilakukan dan Tim inspeksi telah merumuskan laporan sementara hasil inspeksi untuk dilaporkan kepada Auditee.

6 Pemberian/Penetapan. karena 13 . ditolak. dicabut atau diperpanjang sesuai ketentuan yang berlaku.1 Pemberian/Penetapan sertifikat Pimpinan OKKP-D menerbitkan atau menolak menerbitkan sertifikat sesuai rekomendasi dari rapat Komisi Teknis. penolakan. pencabutan dan perpanjangan Sertifikat 7.5 Rapat Komisi Teknis (Komtek) Laporan hasil Inspeksi Lapangan dan hasil Analisa Laboratorium dibahas dalam rapat komisi teknis (KOMTEK) sebagai dasar rekomendasi penetapan sertifikasi. Nama OKKP-D yang mengeluarkan Nomor verifikasi/ akreditasi /register OKKP-D Cap Tanda Tangan pimpinan OKKP-D Sertifikat dapat diberikan apabila Nilai Pemohon berada pada Level I dan II dengan masa berlaku selama 5 tahun kecuali unit usaha sendiri yang menghentikan.6. Rekomendasi Komisi Teknis disampaikan kepada Pimpinan OKKP-D untuk selanjutnya OKKP-D memberi keputusan sertifikasi kepada pemohon/pelaku usaha apakah sertifikasi dapat diberikan/ditetapkan. Ruang lingkup sertifikasi. 7. Pengambilan contoh harus dilakukan pada saat audit berlangsung dan dilokasi yang dianggap penting oleh Ketua Tim Inspeksi yang dilakukan oleh Petugas Pengambil Contoh (PPC) yang kompeten dan bersertifikat sebagai PPC 7. dibekukan. Pada Sertifikat yang diterbitkan minimal mencakup : Nama dan alamat unit usaha. Nomor sertifikat Tanggal dan masa berlaku sertifikat. pembekuan.pembuktian berjalannya system mutu dan memperkuat hasil penilaian.

pemohon dapat : Memasukkan informasi tertulis tentang keberatan/penolakan yang diterbitkan kepada lembaga sertifikasi pertama atas pemberitahuan penolakan sertifikasi. Memberkas banding atas penolakan sertifikasi dan disampaikan kepada Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat 14 .kegiatan tidak beroperasi lagi.2 Penolakan sertifikasi a) Penolakan sertifikasi dapat dilakukan oleh OKKP-D apabila pelaku usaha tidak dapat memenuhi persyaratan. Tata cara penggunaan tanda/logo mengacu kepada dokumen Pedoman Pelabelan Cara penanganan dan Pengolahan Pangan Segar Hasil Pertanian 7. Dasar-dasar penolakan penerbitan sertifikat. Surveilen dilakukan minimal sekali dalam setahun dan sewaktu-waktu apabila diperlukan. Pelaku usaha yang telah mendapatkan sertifikat dapat memasang tanda/logo pada kemasan dan atau pada produk. dicabut oleh OKKP-D. dibekukan.6. Tanggal dimana pemohon harus menyampaikan keberatan atau melakukan tindakan koreksi ketidaksesuaian dan memasukkan kembali dokumen pendukung untuk setiap tindakan koreksi jika tindakan koreksi masih memungkinkan. Meminta mediasi untuk dapat naik banding kepada Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat (OKKP-P). OKKP-D harus memberikan informasi kepada pelaku usaha minimal mencakup : Diskripsi setiap ketidaksesuaian. b) Pada saat menerima pemberitahuan ketidaksesuaian.

Melakukan tindakan koreksi dan menyampaikan buktinya kepada OKKP-D sebagai dokumen pendukung. dan diskripsi tindakan koreksi yang diambil dengan dokumen pendukung. Pemohon harus menyertakan informasi tentang penolakan sertifikasi dan alasan penolakanya. notifikasi ketidaksesuaian dari lembaga sertifikasi pertama. f) Jika OKKP. d) Pemohon sertifikasi yang menerima pemberiahuan tertulis tentang ketidak sesuaian atau notifikasi tertulis penolakan sertifikasi. Tindakan koreksi dapat dilakukan maksimum selama 30 hari kerja. OKKP-D harus mengevaluasi surat keberatan penolakan sertifikasi atau bukti tindakan koreksi dan dokumen pendukungnya dari pelaku usaha. OKKP-D dapat melakukan inspeksi lapangan kembali jika diperlukan. apabila lebih dari 30 hari maka pemohon harus melakukan permohonan sertifikasi ulang. harus memperlakukan sebagai pemohon baru dan mulai dengan proses sertifikasi baru. e) OKKP-D yang menerima permohonan sertifikasi ulang. c) Setelah menerima surat keberatan penolakan sertifikasi atau bukti tindakan koreksi dari pelaku usaha. maka pemohon harus memasukan dokumen permohonan.D mempunyai alasan bahwa pemohon sertifikasi mempunyai niat membuat pernyataan yang salah atau secara sengaja menyajikan kegiatan operasi yang tidak sesuai dengan persyaratan. 15 . Jika pemohon memasukkan permohonan baru pada lembaga sertifikasi lain. dapat mengajukan permohonan kembali setiap saat kepada lembaga sertifikasi. OKKPD dapat menolak sertifikasi tanpa menerbitkan pemberitahuan ketidaksesuaian.

maka sertifikat dibekukan sementara sampai ada hasil pemeriksaan. Perbaikan pada tindakan koreksi ketidaksesuaian minor sebelumnya 16 dan yang . sertifikat dari sementara pelaku usaha tidak yang Ada permohonan bersangkutan.6.6. Apabila terjadi perubahan dalam dokumen system mutu maka pelaku usaha harus memberikan informasi dan dokumen mutakhir kepada OKKP-D sehingga dokumen perpanjangan sertifikat antara lain meliputi : Doksistu yang telah diperbaiki : Penambahan atau pengurangan ruang lingkup.6. Ada tindak pidana melanggar perundangan terkait dengan keamanan pangan.4 Pencabutan Sertifikat Pencabutan Sertifikat dilakukan apabila : Pembekuan ditindaklanjuti. unit usaha yang telah bersertifikat harus mengajukan permohonan perpanjangan sertifikat minimal 6 bulan sebelum masa berlaku sertifikat berakhir.3 Pembekuan Sertifikat Pembekuan Sertifikat dilakukan apabila penerapan penanganan pasca panen/ pengolahan pangan hasil pertanian yang baik tidak berjalan dan atau ada indikasi produk yang dihasilkan tidak aman. penilaian dan pengujian terhadap produk pangan sehingga produk dinyatakan aman.5 Perpanjangan Sertifikat a) Untuk meneruskan kesinambungan sertifikasi. 7. 7. Pencabutan sertifikat dilakukan dengan pemberitahuan terlebih dahulu.7. Unit usaha tidak operasional maksimal satu tahun.

140/7/2008 tentang Persyaratan dan Penerapan Cara Pengolahan Hasil Pertanian Asal Tumbuhan Yang Baik. berdasarkan review suatu informasi tertentu. d) Bila ada perubahan regulasi atau persyaratan lain terkait proses sertifikasi. bahwa pemohon perpanjangan sertifikasi tidak mampu memenuhi persyaratan. diminta untuk melakukan Informasi lain yang dianggap perlu oleh OKKP-D untuk penetapan kesesuaian dengan standar dan regulasi. c) Jika OKKP-D mempunyai alasan. maka OKKP-D harus menginformasikan kepada unit usaha yang bersertifikat agar unit usaha melakukan penyesuaian.44/Permentan/OT. 17 . dan menerbitkan perpanjangan sertifikat berdasarkan hasil inspeksi lapang terbaru.140/10/2009 tentang Pedoman Penanganan Paska Panen Hasil Pertanian Asal Tanaman Yang Baik dan/atau Peraturan Menteri Pertanian No. b) Menindaklanjuti informasi yang telah didapat di atas. 7. maka lembaga sertifikasi harus memberitahukan secara tertulis tentang ketidaksesuaian kepada pemohon. OKKP-D harus segera melaksanakan inspeksi lapang sesuai prosedur awal.diidentifikasi OKKP-D tindakan koreksi.35/Permentan/OT. Penilaian Tata cara penilai penerapan Cara Penanganan dan Pengolahan Pangan Segar Asal Tumbuhan yang Baik (GHP/GMP) dengan ”defect methode” yaitu menilai kekurangan/ketidaksesuaian penerapan sistem jaminan mutu keamanan pangan pelaku usaha/pemohon dari Regulasi Teknis yang berlaku yakni Peraturan Menteri Pertanian No.

Serius dan Kritis dengan pengertian sesuai definisi.Ketidaksesuaian dibagi dalam 4 (empat) kategori yaitu Kategori Minor. Inspeksi dilakukan dengan menggunakan Cheklist Penilaian Ketidaksesuaian Penerapan Cara Penanganan dan Pengolahan Hasil Pertanian Yang Baik (GHP/GMP) seperti tertuang dalam Lampiran 2. 18 . Mayor.

LAMPIRAN 1. OKKP-PUSAT/ OKKP-DAERAH 2 5 6 1 KOMISI TEKNIS 4 TIM INSPEKSI 3 7 8 PELAKU USAHA POKTAN/GAPOKTAN Gambar 1. Alur Proses Sertifikasi Cara Penanganan dan Pengolahan Hasil Pertanian yang Baik (GHP/GMP) 19 .

Cheklist Penilaian Ketidaksesuaian Penerapan Cara Penanganan dan Pengolahan Hasil Pertanian Yang Baik (GHP/GMP) Nama dan alamat Pelaku Kabupaten Usaha Propinsi Nomor PU Pemilik Perusahaan atau Tanggal (tgl/bl/th) Perorangan Jenis produk akhir Nomor Telepon Audit dalam rangka: Audit internal (minimal 1 kali/6 bulan) Gap assessment Pra assessment Full assessment surveilance Resiko : Rendah Nama dan nomor inspektur Nama Pendamping Inspektur Tinggi Produk beresiko tinggi seharusnya menggunakan simbol ini. Produk beresiko rendah seharusnya menggunakan simbol ini. 20 .LAMPIRAN 2.

Tindakan koreksi tidak dilakukan C. KEAMANAN AIR DAN ES Air 1. 3. Dokumen dan catatan tidak benar 5. Rekaman tidak mutakhir Rekaman tidak akurat Rekaman yang diperlukan untuk pemeriksaan tidak ada 4. Modifikasi program CPPOB yang digunakan belum mendapat persetujuan 2. Tidak ada personil yang memiliki pelatihan/kompetensi CPPOB DELAPAN KUNCI POKOK PENERAPAN SANITASI 1. LAIN – LAIN 1. 2.2 Perlindungan terhadap membaliknya air limbah. saluran pemindah atau sumber kontaminasi tidak cukup 1. Prosedur tidak diikuti B.Eelemen Yang Diaudit MIN KEPATUHAN TERHADAP PROGRAM A.1 KATEGORI MAJ SER CR MAJ SER CR MIN MAJ SER CR MIN MAJ SER CR Suplai air tidak aman untuk digunakan 1.3 Suplai air panas tidak mencukupi* (bila digunakan) 21 . Prosedur monitoring tidak diikuti 3. DOKUMEN MIN 2. REKAMAN 1.

2.2.1.2.2 Pemisahan kegiatan melalui pembagian ruang atau cara lainnya tidak memadai sehingga memungkinkan produk dipalsukan atau 22 MIN MAJ SER CR MIN MAJ SER CR . tidak mencegah terjadinya kontaminasi 3. lay out atau bahan yang dipergunakan untuk fasilitas menyebabkan fasilitas tidak dapat dibersihkan dengan mudah atau disucihamakan. KONDISI DAN KEBERSIHAN PERMUKAAN YANG KONTAK DENGAN BAHAN PANGAN 2.2. PENCEGAHAN KONTAMINASI SILANG 3.4 Tidak dibuat atau ditangani atau digunakan dengan cara yang sehat 2. Kondisi tanah memungkinkan terjadinya kontaminasi ke dalam fasilitas 3. Peralatan yang kontak langsung dengan produk yang tidak dibersihkan atau disucihamakan terlebih dahulu sebelum digunakan.1. Fasilitas 3.1 Desain. Kebersihan lingkungan bangunan tidak mencukupi 3. Peralatan yang tidak kontak/kontak langsung dengan produk yang tidak dibersihkan terlebih dahulu sebelum dipergunakan 2.2.3.ES (bila digunakan) 1.

5.1 Daerah-daerah mempengaruhi produk atau bahan utama kemasan secara langsung 5.1 Permukaan peralatan yang berhubungan langsung dengan produk 5.1.3. Desain.terkontaminasi 3. langit-langit.1. Jumlah toilet yang berfungsi tidak mencukupi 4.2 Lain-lain 5. MENJAGA FASILITAS PENCUCI TANGAN. 5.2.3. Peralatan yang rusak tidak diperbaiki dengan benar atau tidak dipindahkan. pintu atau penerangan dalam kondisi tidak terawat.2. konstruksi.1. PROTEKSI DARI BAHANBAHAN KONTAMINAN 5. dinding. SANITASI DAN TOILET 4.2 Lain-lain Ventilasi MIN MAJ SER CR MIN MAJ SER CR MIN MAJ SER CR 23 .1. Atap. Bahan-bahan perlengkapan toilet tidak mencukupi 5. penempatan atau bahan yang dipergunakan untuk peralatan menyebabkan peralatan tidak dapat dibersihkan dengan mudah atau disucihamakan 4. lampu-lampu tidak berpelindung. Lampu tidak cukup terang 5.3.3.

7.1 Saluran air 5. Kondensasi 5.2 Bahan-bahan kimia diberi label dengan tidak benar 6.2 Personil yang menangani makanan dan prosessing tidak melakukan tindakan 24 MIN MAJ SER CR MIN MAJ SER CR MIN MAJ SER CR .5.5. PENYIMPANAN.1 Personil yang menangani makanan dan prosessing tidak menjaga kebersihan yang tinggi bagi personil.4.2 Limbah pengolahan 6.6 Pembuangan limbah yang tidak benar pada : 5.6.1 Terjadi kondensasi di ruangan yang mempengaruhi produk atau material pengemasan 5.3 Bahan bahan kimia disimpan di tempat yang tidak benar 7. PENGAWASAN KONDISI KESEHATAN PERSONIL YANG DAPAT MENGAKIBATKAN KONTAMINASI 7. Sistem pertukaran udara tidak memadai Pembuangan limbah 5.6.4. PELABELAN.1 Bahan-bahan kimia digunakan atau ditangani dengan cara yang tidak benar 6.2 Kondensasi lainnya 5.4. DAN PENGGUNAAN BAHAN TOKSIN YANG BENAR 6.

1 Pencegahan 8.3.1.2.pengamanan untuk mencegah terjadinya kontaminasi pada makanan.2 Upaya pengawasan binatang pengerat/serangga tidak efektif 8.2. 7.3.2.3.1 Terdapat barang/benda/tempat yang menarik kehadiran hewan pengerat/serangga 8. Pengelola fasilitas tidak mempunyai peraturan yang berlaku untuk melarang orang yang berpenyakit mengkontaminasi produk 7. Tempat cuci tangan dan tempat mensucihamakan tangan tidak ada atau terletak di tempat yang sulit dijangkau 8.2 Pembasmian SUMMARY Penyimpangan Total Rating Akhir Fasilitas MIN MAJ SER CR Tanda Tangan Auditor dan Tanggal Tanda Tangan Auditi dan Tanggal 25 . Kontrol 7. MENGHILANGKAN HAMA DARI UNIT PENGOLAHAN 8.

1994 2.10 11 NA Serius 0 1-2 3-4 5 Kritis 0 0 0 1 *NA= Not Applicable Catatan : Untuk fasilitas yang mempunyai rating level II. maka fasilitas tersebut akan dirating menjadi level III.Jadwal Frekuensi Sistem Audit Rating Fasilitas Level I Level II Level III Level IV Frekuensi Audit Jumlah Penyimpangan Minor Satu kunjungan setiap dua bulan Satu kunjungan setiap bulan Dua kunjungan setiap bulan Setiap hari 0–6 7 NA* NA Mayor 0-5 6 . USDC. CAC/RCP1-1968-Rev IV-2003 26 . NOAA. Acuan normatif: 1. tidak boleh ada penyimpangan yang lebih dari 10 kombinasi “Mayor” dan “Serius”. Apabila kombinasi “Mayor” dan “Serius” penyimpangannya lebih dari “10”.

Checklist Persyaratan teknis (lokasi. mesin dan peralatan proses produksi dst) lebih lanjut disesuaikan dengan Pedoman teknisnya. bangunan.LAMPIRAN 3. 27 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful