JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN

Tahun 18, Nomor 2, Desember 2008

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender Laily Maziyah, dkk Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati, dkk Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta) Heri Sudarsono Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialogh dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari, dkk. Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi, dkk
Terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi nomor III/DIKTI/KEP/1998 tanggal 8 April 1998; nomor 395/DIKTI/KEP/2000 tanggal 27 November 2000; dan nomor 49/DIKTI/KEP/2003 tanggal 9 Desember 2003 tentang Hasil Akreditasi Jurnal Ilmiah

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender
Laili Maziyah Syafaat

Abstract: The mufassirs have a notion that polygamy is mubah (permitted). It is required for husband that performs polygamy to do justice in giving charity toward all of his wives and justice in giving sex turning and accompany to his wives. However, no required to do justice in love because it includes heart zone and applied by Rasulullah. The result showed that five forms of gender inequality toward women (marginalization,violence, subordination, stereotype, and double burden), not found generally in "five books", even such mufassirs are likely more moderate than other interpreters, by giving rigid conditions to conduct the polygamy. The reseacher chooses it to unveil pictures about concept, condition, rules of polygamy, and aspects of gender equality in their works. However, Ar-Razi opinion tends to perform stereotype of women because he gives not binding of polygamy conditions and permit husband to get married more than four or no limitation number of wives in polygamy. Key words: mufassir, poligami concept, gender

Kontroversi seputar poligami menyembur lagi ke permukaan setelah da‘I kondang KH. Abdullah Gimnastiar (Aa‘Gym) secara mengejutkan melakukan poligami bulan Nopember 2006, kemudian diikuti oleh anggota DPR Zaenal Maarif dari Partai Bintang Reformasi (FBR) secara terang-terangan di hadapan media (Kompas, 18/1/07). Fakta tersebut tak hanya mengundang gejolak tapi juga membuat bombardir kiriman SMS ke ponsel Presiden.
Laily Maziyah dan Syafaat adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang

Presiden Yudhoyono kemudian secara khusus memanggil Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dan Dirjen Binmas Islam Nazzarudin Umar meminta revisi agar cakupan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 1983 (yang sudah direvisi menjadi PP Nomor 45 tahun 1990 tentang poligami) diperluas tidak hanya berlaku bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) tetapi juga pada pejabat negara dan pejabat pemerintah (Iman, 2006). Poligami merupakan salah satu bentuk perkawinan yang seorang laki-laki menikahi lebih dari satu istri. Menurut Mulia (2004:44-45), poligami sudah ada jauh sebelum Islam datang. Mahmud Syaltut (w. 1963), ulama besar asal Mesir, secara tegas menolak poligami sebagai bagian dari ajaran Islam, dan juga menolak bahwa poligami ditetapkan oleh syari‘ah. Berabad-abad sebelum Islam diwahyukan, masyarakat manusia di berbagai belahan dunia telah mengenal dan mempraktekkan poligami. Poligami dipraktekkan secara luas di kalangan masyarakat Yunani, Persia, dan Mesir kuno. Di Jazirah Arab sendiri jauh sebelum Islam, masyarakatnya telah mempraktekkan poligami, malahan poligami yang tak terbatas. Sejumlah riwayat menceriterakan bahwa rata-rata pemimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit kepala suku mempunyai istri sampai ratusan. Sejumlah riwayat menjelaskan bahwa setelah turun ayat yang membatasi jumlah istri hanya empat orang, yakni QS Al-Nisa‘: [4]:3. Nabi segera memerintahkan semua laki-laki yang memiliki istri lebih dari empat agar menceraikan istri-istrinya sehingga setiap suami maksimal hanya boleh punya empat istri (Ibn Surah, tt:445). Karena itu, A1-Aqqad (1962:107) ulama asal Mesir, menyimpulkan bahwa Islam tidak mengajarkan poligami, tidak juga memandang positif, apalagi mewajibkan, Islam hanya membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Sangat disesalkan bahwa dalam prakteknya di masyarakat, mayoritas umat Islam hanya terpaku pada kebolehan poligami, tetapi mengabaikan sama sekali syarat yang ketat bagi kebolehannya itu. Perkembangan poligami dalam sejarah manusia mengikuti pola pandangan masyarakat terhadap kaum perempuan. Pada masa ketika masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan hina, poligami menjadi subur, sebaliknya pada masa masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan terhormat, poligami pun berkurang. Jadi, perkembangan

poligami mengalami pasang surut mengikuti tinggi-rendahnya kedudukan dan derajat perempuan di mata masyarakat (Abu Zayd, 2003). Ketika Islam datang, kebiasaan poligami itu tidak serta merta dihapuskan. Namun, setelah ayat yang menyinggung soal poligami diwahyukan, Nabi lalu melakukan perubahan yang radikal sesuai dengan petunjuk kandungan ayat. Perubahan mendasar yang dilakukan Nabi, menurut Mulia (2004:46-47) berkaitan dengan dua hal. Pertama, membatasi jumlah bilangan istri hanya sampai empat. Sejumlah riwayat memaparkan pembatasan poligami tersebut di antaranya riwayat dan Naufal ibn Muawiyah. Ia berkata: Ketika aku masuk Islam, aku memiliki lima orang istri. Rasulullah berkata: Ceraikanlah yang.satu dan pertahankan yang empat. Pada riwayat lain Qais ibn Tsabit berkata: Ketika masuk Islam aku punya delapan istri. Aku menyampaikan hal itu kepada Rasul dan beliau berkata: pilih dari mereka empat orang. Riwayat serupa dari Ghailan ibn Salamah Al-Tsaqafi menjelaskan bahwa dirinya punya sepuluh orang istri, lalu Rasul bersabda: “pilih empat orang dan ceraikan yang lainnya.” Kedua, menetapkan syarat yang ketat bagi poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Persyaratan yang ditetapkan bagi kebolehan poligami itu sangat berat, dan hampir dapat dipastikan tidak ada yang mampu memenuhinya. Artinya, Islam memperketat syarat poligami sedemikian rupa sehingga kaum laki-laki tidak boleh lagi semena-mena terhadap istri mereka seperti sediakala. Dengan demikian, terlihat bahwa praktek poligami di masa Islam sangat berbeda dengan praktek poligami sebelumnya. Perbedaan itu menonjol pada dua hal. Pertama, pada bilangan istri, dan tidak terbatas jumlahnya menjadi dibatasi hanya empat. Pembatasan ini dirasakan sangat berat, sebab laki-laki masa itu sudah terbiasa dengan banyak istri, lalu mereka disuruh memilih empat saja dan menceraikan selebihnya. Kedua, pada syarat poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Sebelumnya, poligami itu tidak megenal syarat apa pun, termasuk syarat kesetaraan. Akibatnya, poligami banyak membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi kaum perempuan, karena para suami yang berpoligami tidak terikat pada keharusan berlaku adil, sehingga mereka berlaku aniaya dan semena-mena mengikuti luapan nafsunya.

9%. syarat-syarat dan hukum) poligami. dan kekerasan psikis 46. kekerasan seksual 5.1%. juga bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender dalam karya mereka. kontekstual. 2.1% poligami secara rahasia. sebelum tahap reinterpretasi teks agama dilakukan.4%. dalam kerangka pelacakan pada asal-muasal produk pemikiran mengenai poligami dan kesetaraan gender. kekerasan fisik 18. dan holistik.3% korban selingkuh. Data-data mengenai status korban mengungkapkan 5. Oleh karena itu. Jadi. hukum poligami. Adapun rumusan masalah yang diangkat adalah (a) bagaimana latarbelakang para penafsir dan corak tafsir masing-masing.Dalam realiatas. poligami berimplikasi pada maraknya berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. kusutnya benang permasalahan tersebut akan dapat dikaji secara jernih. Jenis kekerasan yang dilaporkan meliputi kekerasan ekonomi sebanyak 29. 4. menjelaskan bahwa selama tahun 2001 mencatat sebanyak 234 kasus kekerasan terhadap istri. dan (c) bagaimana pandangan para mufassir terhadap poligami dalam konteks kesetaraan gender? . 0.6%. Menurut Subhan (2004). di antara aktor penyebab kesenjangan gender yaitu penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. Melalui pendekatan holistik. penelaahan buku-buku tafsir mutlak dilakukan. Dengan melakukan kajian yang mendalam atas sejumlah karya mufassir terkenal akan diperoleh gambaran mengenai penafsirannya tentang konsep. Laporan Rifka Annisa (2001:58). diperlukan reinterpretasi ajaran agama secara komprehensif.4% lainnya sebagai teman kencan. 2. penelitian terhadap sejumlah kitab tafsir klasik atas ayat-ayat poligami dalam al-Qur‘an yang berkaitan dengan kesetaraan gender sangat penting dilakukan sebagai langkah awal untuk memformulasi pemahaman yang baru dan benar. Namun.4% sebagai istri kedua. cenderung dipahami parsial dan kurang kholistik. sebuah institusi yang peduli pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. (b) Bagaimana pandangan para mufassir terhadap konsep (definisi.2% dicerai.5% dipoligami resmi. yaitu linguistis dan sosiologis sekaligus. dan 0. syarat.5% ditinggal suami. untuk meminimalisasi ketidaksetaraan gender yang muncul akibat pemahaman yang keliru terhadap poligami. 36.

yaitu pemerian secara sistematis dan faktual terhadap pandangan dan penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang memuat tentang relasi gender. Al-Mishbah karya M. (3). Tafsir AlQuran al-Adhim karya Ibn Katsir (5) Tanwir al-Miqbas min tafsir Ibn Abbas karya Ibnu Abbas. Quraish Syihab (4). yaitu: (1) An-Nisa‘ ayat 1. (7) An-Nisa‘ ayat 130. (2) Jami‟ul Bayan „an Ta‟wil Ayil Qur'an karya At-Thabari. Sedangkan jenis penelitian ini adalah deskriptif. (5) An-Nisa‘ ayat 128. Untuk mencapai tujuan penelitian secara komprehensif. peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. (4) An-Nisa‘ ayat 127. maka ada tujuh ayat yang akan diteliti. yakni (1) Al Tafsir Al Kabir karya Fakhruddin Ar Razi. Untuk lebih mendapatkan gambaran yang operasional dalam penelitian ini. (6) An-Nisa‘ ayat 129. . Data dalam penelitian ini berupa tulisan atau manuskrip yang merupakan karya dari para mufassir Al-Qur‘an. Oleh karena penelitian ini menganalisis pandangan mufassir tentang ayat-ayat poligami dan munasabah (korelasi)-nya dalam alQur'an. sedangkan sumber datanya terdiri dan lima kitab tafsir. (2) An-Nisa‘ ayat 2. berikut paparan Tabel 1 variabel dan sub variabel: Tabel 1 Paparan Data Variabel dan Sub-Variabel No 1 Variabel Poligami         Sub-Variabel Konsep poligami Syarat-syarat berpoligami Hukum poligami Tidak ada unsur marginalisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur streotifisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur kekerasan terhadap perempuan Tidak ada unsur subordinasi terhadap perempuan Tidak ada unsur pembebanan ganda terhadap perempuan 2 Kesetaraan Gender . (3) An-Nisa‘ ayat 3..METODE Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh paparan yang jelas dan rinci mengenai pandangan mufasir tentang poligami.

metode maudu‗i. Corak Tafsir para Mufassir Setidaknya ada empat metode/corak tafsir yang digunakan telah para mufassir dalam menjelaskan maksud dan makna yang terkandung di dalam Al-Qur'an. syarat) poligami dalam tafsir Ar-Razi. hukum. dan metode muqaran (Umar. dengan apa yang ditemui dalam mushaf Utsmani tadi. mushaf itu masih saja ada. maka dalam bab ini akan dipaparkan pembahasan atau diskusi hasil. mengkaji . Ibn Katsir dan tafsir Ibn Abbas dan pandangan mereka tentang poligami dalam konteks kesetaraan gender.BAHASAN Setelah dilakukan identifikasi data tentang corak penafsiran masing-masing mufassir. Mushaf Utsmani adalah salah satu versi mushaf yang disusun oleh Utsman bin Affan saat ia menjadi khalifah. Mushaf ini dibuat untuk tujuan menyeragamkan bacaan umat Islam. Namun demikian. AlMishbah. didefinisikan sebagai tafsir yang menetapkan suatu topik tertentu. 1984:48). sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan secara menyeluruh tentang masalah tersebut menurut pandangan Al-Qur'an. Adapun metode maudu‘i adalah metode yang oleh Shihab (1993:114). yang merupakan sintesa antara temuan dan teori. tidak saja bacaannya melainkan juga kosakatanya. 1999:188-189). yakni metode tahlili. dan untuk tujuan itu ia telah ―meminggirkan‖ mushaf versi lainnya. metode ijmali. Metode tafsir ijmali adalah metode yang menafsirkan ayat-ayat alQur'an dengan mengemukakan makna global. Metode tahlili adalah metode penafsiran Al-Quran yang munculnya secara kronologis dan memaparkan berbagai aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur‘an. Ath-Thabari. Pembahasan metode ini mengikuti urutan kronologis susunan ayat-ayat A1-Qur‘an. pandangan para mufassir tentang konsep (definisi. dan di dalam dijumpai sejumlah perbedaan. yang berbicara tentang topik tersebut untuk kemudian dikaitkan satu dengan yang lainnya. dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat dan beberapa surah. sesuai dengan urutan bahkan yang terdapal dalam mushaf Utsmani (Al-Almai.

ayat dikupas dengan gamblangnya dari beberapa sudut pandang. filsafat dll. Mulai dari sudut pandang bahasa. bagi mereka yang memilih pernikahan cara ini beragumentasi bahwa apapun yang dilakukan oleh Rasul termasuk dalam hal berumah tangga. Ar-Razi. empat diantaranya menggunakan corak tafsir tahlili dan sisanya menggunakan corak tafsir ijmali. Yakni. sebelum. maka sepatutnya bisa ditiru. . Namun apabila dipresentasi. makna suatu ayat dengan hadis. dan berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan ayat-ayat lainnya (Al-Rahman. Pernikahan inilah yang dalam bahasa agama disebut dengan ta‟addud az zawjah atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan poligami.asbabun nuzulnya. Sedangkan metode tafsir muqaran ialah suatu metode tafsir yang berupaya memberikan makna satu ayat dengan ayat lain. dan antara satu penafsiran dengan penafsiran lainnya dalam suatu ayat (Umar. sejarah. dan Ibn Katsir. Empat tafsir yang menggunakan corak tahlili. sehingga diharapkan setiap muslim yang menikah mampu menjalani rumah tangganya dengan baik dan bahagia. Al-Mishbah. Tafsir-tafsir tersebut digolongkan ke dalam corak tahlili karena setiap kata. kalimat. dan setelah pernikahan. 1986:549). akan tetapi lebih dari satu. Sementara dalam tafsir Ibn Abbas digunakan corak/metode ijmali. Konsep Poligami dalam Pandangan para Mufassir Menikah merupakan sunnah Rasulullah saw yang sangat dianjurkan. Karena Rasul melakukan poligami. Kepada mereka yang belum menikah Rasulullah sangat menganjurkan untuk tidak menunda-nunda pernikahan. jumlah orang yang memilih berpoligami sangat jauh lebih sedikit dari yang tidak berpoligami. Biasanya. yaitu: tafsir athThabari. maka umatnya yang siap memilih jalan itu sebaiknya juga melakukan poligami. mulai dari kesiapan pribadi. bahkan menyegerakannya. lebih menekankan pada aspek bahasa dan keagamaan. Dari kelima jenis tafsir yang dianalisis. saat. 1999:200). Dalam beberapa kasus ada sebagian orang Islam yang menikah tidak hanya dengan satu perempuan. Pada saat yang sama Islam juga menetapkan aturan syar‟i yang jelas tentang pernikahan. Semua ada aturan mainnya.

akan tetapi kata ini bermakna ibahah (kebolehan) dan bukan perintah yang harus dilaksanakan. tiga atau empat. yakni surat An Nisa' ayat 3 dan contoh dari rasulullah SAW. terkait dengan adanya potongan ayat setelahnya yang menyebutkan jumlah dua. menurut Wahbah. sebagaimana perintah sholat. yakni dalam bentuk fi‟il amr (kata perintah). Disamping makna ibahah. Pandangan Para Mufassir dalam Konteks Kesetaraan Gender Menurut analisis gender. Inilah kriteria yang menjadi acuan kaum feminis dalam melihat secara kritis setiap aturan sosial tentang relasi laki-laki dengan perempuan. Sebab ada dalil yang menujukkan hal itu. hukum asal berpoligami adalah kebolehan (jawaz) bisa saja berubah menjadi haram manakala seseorang tidak bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk itu. dan beban kerja ganda (double burden). Dalam menafsirkan lafadz yang terdapat dalam ayat 3 yang artinya. Makna ini diambil. ketidaksetaraan gender bisa diidentifikasi melalui berbagai manifestasi ketidaksetaraan. Perintah poligami. Hal ini tampak sekali dalam penafsiran beliau khususnya mengenai surat An‘Nisa‘ ayat 3 dan 4. Namun demikin. pelabelan negatif (stereotype). Meskipun redaksi dalam Al-Quran terkait dengan poligami adalah Fankihu. puasa dan zakat. bahkan ditentang oleh Shihab (2000:567) dalam tafsirnya. yakni: marginalisasi (proses pemiskinan ekonomi). pangan. Artinya adalah kewajiban melakukan pembatasan. nafkah yang berupa sandang. maka seorang saja. kekerasan (violence). papan . subordinasi (anggapan tidak penting). Bentuk ketidaksetaraan gender berupa marginalisasi ini tidak ada.Menurut Ibn Katsir poligami adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam agama dan berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. makna lain yang bisa diambil dari bentuk amar kata fankihu adalah kewajiban. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada berbuat yang tidak aniaya‖. termasuk yang lahir dari doktrin agama. tak ubahnya perintah makan dan minum seperti yang dimuat juga dalam Al-Qur‘an kuluu wasyrabu. Adil yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah berbuat adil kepada istri khususnya dalam hal harta. atau budak-budak wanita yang kamu miliki. ―Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil.

tetapi hal tersebut hendaknya diberikan dengan tulus dari lubuk hati sang suami. membolehkan seorang suami menikahi istri yang tak terbatas jumlahnya bahkan melebihi jumlah istri rasulullah. termasuk kepada suaminya. wajarlah jika dalam tafsirnya. lihat Q. Hal tersebut tampak jelas tatkala beliau menjelaskan tafsir ayat 1 surat An-Nisa. Ini untuk menjelaskan bahwa maskawin (mahar) adalah kewajiban suami yang harus diberikan kepada istri.S. Maskawin (mahar) merupakan suatu yang diwajibkan oleh suami terhadap dirinya. Oleh karena itu. 2000:313). Sisi lain. Keberadaan umat manusia berasal dari nafsin wahidah yang oleh mayoritas ulama memahaminya dalam arti Adam a. Al-Hujurat ayat 13 (Shihab. Dalam menafsirkan lanjutan ayat 4 tersebut. Ar-Razi (1993: 3/246) juga menolak pandangan subordinasi ini. Sementara Ath-Thabari dan Ibn Katsir cenderung memberikan persyaratan yang mudah bagi suami. sehingga ayat ini sama dengan firman Allah dalam Q. Inilah yang disyaratkan oleh Islam kepada seorang suami dan harus dijalankannya untuk memenuhi hak istri. Ulama kontemporer banyak yang memahami dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita.S Al-Baqarah ayat 236. dan ada juga yang memahaminya dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. subordinasi tampak ketika Ar-Razi. Dalam Islam proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. Ibn Katsir (1999: 2/207) menafsirkan ayat tersebut. Pandangan subordinasi dalam pandangan para mufassir bertentangan dengan apa yang disyariatkan oleh agama Islam.s. karena dia sendiri -bukan orang lain. yaitu pemberian maskawin (mahar) sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nisa‘ ayat 4.dan juga perlakuan. Ath-Thabari (1954: 7/530) menegaskan bahwa maskawin (mahar) itu adalah kewajiban yang harus dibayar suami kepada istri dan bahwa maskawin (mahar) itu adalah hak istri secara penuh. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan dimata Islam. Dia bebas menggunakannya dan bebas pula memberi seluruhnya atau sebagian darinya kepada siapapun.yang mewajibkan atas dirinya (Shihab: 2000:328). yaitu membolehkan melakukan poligami tanpa harus memperhatikan unsur .

yaitu pemberian maskawin (mahar). Bentuk pembebanan kerja ganda tidak akan ditemui dalam masyarakat yang menjalankan tuntunan Islam secara benar. Hal ini bisa kita lihat contohnya pada ayat surat An-Nisa‘ ayat 4 bahwa proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. (2) tafsir ijmali. . yang antara lain dapat diselesaikan dengan tiga cara. Bahkan Islam memerintahkan kepada para suami untuk mempergauli dan memperlakukan istrinya dengan baik. (1) perdamaian yang sebenar-benarnya (ayat 128). 2000: 328). (2) tidak boleh membiarkan istri terkatung-katung (ayat 129). Islam memberikan tuntunan secara umum. SIMPULAN Dari kelima mufassir yang diteliti. Ibn Katsir (tt:2/207) menafsirkan ayat tersebut. maka kita lihat penafsiran Ath-Thabari terhadap ayat 128-130 surat An-Nisa tatkala ada perselisihan antara suami dan istri. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan di mata Islam. akan tetapi akan banyak muncul pada masyarakat yang hanya beorientasi pada duniawi dan materi. yaitu (1) tafsir tahlili. dan (3) bercerai secara baik (ayat 130). sehingga suami dan istri punya kewajiban dan haknya masing-masing yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan.kesetaraan lahir. terdapat dua corak penafsiran. Meskipun pendapat terakhir tersebut mensubordinasi wanita namun terlihat lebih moderat karena tetap membatasi jumlah istri sampai empat. sebagaimana firman-Nya: ― Wa‟aasyiru hunna bil ma‟ruf”. Dalam kaitannya dengan penegasan bahwa KDRT ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan kalau Islam dianggap memberikan kewajiban kepada istri lebih berat (mendapat beban kerja ganda) itu merupakan anggapan yang salah. Sedangkan Kekerasan (violence) dalam rumah tangga (KDRT) merupakan hal yang sangat ditentang dalam Islam. baik di dunia maupun di akhirat (Shihab. Ibn Abbas masuk kelompok 2. ―Kullukum raa‟in wakullukum masuulun „an ra‟iyyatihi‖.

Ibn Katsir dan Quraish Shihab) masuk kelompok 1. bahkan jumlahnya tidak terbatas. . dan (c) dilandasi kemaslahatan bersama.sedangkan mufassir yang lain (Ath-Thabari. terdapat dua bentuk. dan dalam Islam ia merupakan sesuatu yang diperbolehkan. kekerasan. Hanya Ar-Razi saja yang membolehkan poligami melebihi 4 atau 9. Secara konsep. (b) memiliki kayakinan bisa berbuat adil dalam memberi nafkah lahir dan adil memberikan nafkah bathin. pembebanan ganda). yakni dengan tidak membatasi jumlah istri dan menggunakan persyaratan sangat longgar yang merugikan kaum perempuan. semua mufassir tidak berbeda mengenai definisi poligami(ta'addud az-zawjah). Terkait dengan hukum poligami. Quraish Shihab memberikan batasan bahwa poligami berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. streotipisasi. Ar-Razi. mayoritas menghukumi mubah. Ia berani melangkah lebih jauh melampaui hadis Nabi. Jumlah maksimal istri empat orang dalam satu waktu. tiga atau empat istri. Dari lima bentuk ketidaksetaraan gender terhadap wanita (marginalisasi. subordinasi. Hal itu tampak dalam penafsiran Ar-Razi. yaitu subordinasi dan streotipisasi. Adapun syaratsyarat disepakati adalah (a) memiliki kemampuan memberi nafkah. Hanya saja. yakni pernikahan satu suami dengan dua.

Muhammad Ibn Umar.com/reviews/item/ 1 tanggal 25 Oktober 2008 Ainin. Tafsir al-mishbah pesan dan kesan dan keserasian AlQuran diakses dari situs: http://afthon. Abbas Mahmud. Artikel diambil dari situs http://www. Disertasi tidak dipublikasikan.multiply. 2001. At-Tijariyah: Beirut. Tokoh Islam Kontemporer.abim. 1970.. Politis. Tahrir Al-Mar‟ah.org diakses tanggal 4 Nopember 2007 Al-Nawawi. Fakhruddin. Muhammad Ibn Jarir. 1962. Beirut: Dar al-Ta‘aruf li al-Mathba‘ah Amin. Al-Halaby: Mesir. Qasim. Moh. Jami'ul Bayan fi Tafsir alQuran. Laporan Data Kasus Tahun 2001.my . Al-Mar‟ah fi al-Qur‟an.DAFTAR RUJUKAN Abu Zayd. 1986. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ al-turats al-Islami Al-Shadr. Rifka. 2003. Al-‘Aqqad. Mohd Rumaizuddin. Kairo: Dar A1-Ma‘arif Annisa. 1954. 2007. Ittijah al-Tafsir fi al. M Shiddiq. Ath-Thabari. Pertanyaan dalam Terjemahan Al-Quran: Suatu Kajian Pragmatik. Muhammad Baqir. Mansyurat al ‗Ashr al-Hadis Al-Rahman. Mendudukan Poligami dalam Islam : Tinjauan Historis. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Ar-Razi. Uqud Al-Lujain fi Bayan Huquq al-Jauzain. 2007. 1984. Ghazali. Mabahits fi „Ulum al-Qur„an. Dirasat fi al-Tafsir al-Maudu‟i li alQur‟an al-Karim. tt. tt. Kairo: Dar al-Hilal Al-Alma‘I. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Afthon. 2005. Fuad Abd.). 1973. Nashr Hamid. Al-Madrasah al-Qur„aniyyah al-Tafsir al-Maudu„I wa al-Tafsir al-Tajzi„I fi al-Qur„an al-Karim.Qarn al Rabi‟ al„Asyr. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ alturats al-Islami Al-Jawi. Manna‘. dan Normatif. 2002.org. Artikel dikutip dari situs http://www. Dekonstruksi Jender (Terj. Zahir Ibn ‗Awad.khilafah1924. 1993At-Tafsir al-Kabir. Surabaya: Percetakan An-nabhan Al-Qathan.

2000. Analisis Jender dan Tranformasi Sosial (Resensi Buku). Dikutip dari situs http://members. Biografi Quraish Shihab.info/gendervaw/agu/-2004/gendervaw01. Al-Ibnu. Artikel dari situs: http://nofieiman-. Al-jami‟ al-Sahih Juz 3. 2003. Kairo: Al-Manar Jilid IV Sabiq.or.multiply. 1997. Tafsir Al-Mishbah. Ibn Surah. Nofie. Jakarta: Gramedia Pustaka utama Nor Ichwan. No.asp.com2006/12/aa-gym-poligami-dan-islam/ Diakses tanggal 18 Februari 2007. Artikel dikutip dari situs www. Tafsir al-Manar. Poligami.blogspot. Islam Menggugat Poligami. Muhammad. tt. 1992.Ibn Katsir.htm.kesrepro. Imam Fakhruddin Ar-Razi. Sayyid Muhammad Ali.duniaesai-. Mencari Teori Kesetaraan: Analisis Jender Vs Teori Hukum Islam. Aa Gym: Saya Tidak Kecewa Mulia. Acep. Quraish. 2004. Koran Kompas. Artikel diakses dari situs: Http//situs.com) diakses tanggal 4 Nopember 2007 Sari. 2004. Mayang. dalam Jurnal Perempuan. dan Islam. 2004.com/2008/06 tanggal 25 Oktober 2008 Qasim. Iyazi.psq. tanggal 15 Februari 2007. Artikel diakses dari situs: http://www. 1990. Artikel diakses dari situs http://ichwanzt. . 2008. 2007. 1985. Abu Isa Muhammad Ibn Isa. Penerbit Mizan: Bandung. Muhammad Quraish. Tafsir Al-Quran al-Adhim. dalam Dialog. Februari Subhan. Fiqh as-Sunnah. diakses tanggal 1 April 2007. Beirut: Dar el-Fikr Iman. Aa‟ Gym. Sulayman Mar'i: Singapura.com/gender/gender2. Peningkatan Kesetaraan dan Kesetaraan Jender dalam membangun Good Governance. Shihab.id/tafsir detail. Mohammad. edisi Kamis 18 Januari 2007. 2006. Edisi 2 Shihab. Siti Musdah. tanggal 15 Februari 2007. Sugiri. Zaitunah.htm. Artikel diakses dari situs http://almudarris. Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum. 35 Th XVI. Penetapan Hukum Islam Secara Tekstual dan Kontekstual: Tinjauan Mufassir. Sayyid.tripod. Tt.com 2006 tanggal 25 Oktober 2008 Rasyid Ridha.

Laporan penelitian dana DIK 2000. dkk. http://www.id/ Tim Wikipedia Indonesia. Artikel diakses dari situs http://nothingman2run. Damaskus: Penerbit Ahali Tanpa Pengarang. Al-Kitab wa al-Qur'an. 2000. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Wahbah.wordpress. No. Muhammad. 1990. Metode Penelitian Berprespektif Jender tentang Literatur Islam. or. Ibnu Katsir. Artikel diakses dari situs http://id. Beirut: Dar el-Fikr Wahbah.com/ tanggal 25 Oktober 2008 Tanpa Penulis. Malang: LEMLIT Universitas Negeri Malang Umar.wikipedia. 2007. 64. Az-Zuhaili. Beirut: Dar el-Fikr . Abdullah bin Abbas. 2007.org/wiki/ tanggal 25 Oktober 2008 Tohe. 1992. 2007. Ahmad. Sosok Mufassir Sejati.alsofwah. Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu.Syahrur. Biografi Syeikh Ath-Thabari. dalam Jurnal A1-Jami‘ah. At-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asySyari'ah wa al-Manhaj. 1999. Relasi Jender dalam al-Qur'an Menurut Pandangan Para Mufassir. Az-Zuhaili. Nasaruddin. 1999.

Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Abstrak: Undang-undang Republik Indonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT) disahkan dan diundangkan pada 22 September 2004. edukasi dan sosialisasi undang-undang tersebut masih minim. sosialisasi. Penelitian 3 tahap dilakukan dengan fokus peran lembaga dan kasus-kasus KDRT yang muncul dan bagaimana penylesaiannya di tiap lembaga. strategi. faktor pendukung dan penghambatnya. bahkan ditingkat aparat penegak hukum belum termotivasi untuk memahami substansi penting dari UU PKDRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengadilan agama menangani kasus secara perdata. Diperlukan sosialisasi untuk aparat terkait maupun edukasi untuk masyarakat. BP-4 lebih berperan sebagai lembaga konseling sebelum kasus masuk di PA dan Unit PPA Kepolisian dalam lembaga andalan penegak UU PKDRT. Namun upaya komunikasi. KDRT. Namun hukuman yang diputuskan PN untuk pelaku masih belum mencerminkan rasa keadilan. Apalagi aparat di tingkat grass roosts dan masyarakat banyak yang belum tahu substansi UU PKDRT. edukasi Siti Malikhah Towaf adalah dosen Jurusan Sejarah FS Universitas Negeri Malang . informasi. Kata-kata kunci: Undang-undang. diharapkan bisa berperan sebagai usaha preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT.

pengangguran memicu berbagai kriminalitas. gampang memicu pertengkaran. Ketika budaya masyarakat cenderung patriarkhis maka budaya tersebut juga akan mewarnai kehidupan keluarga dalam bentuk hubungan asimetri. jika terjadi dalam dalam keluarga maka ada kecenderungan anggota keluarga yang lain. Kehidupan keluarga banyak yang masih jauh dari sejahtera baik lahir maupun batin. Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) semakin meningkat. anak-anak yang menyaksikan akan menjadi generasi penerus kekerasan jika mereka berkeluarga kelak. sehingga ditempatkan dalam posisi subordinate/pelengkap (Fakih. Kehidupan yang semakin berat menimbulkan berbagai krisis dalam masyarakat. vertikal antara laki-laki dan perempuan sebagai suami-isteri maupun anggota keluarga. Kekerasan dan tindakan agresif biasanya berlanjut. 2002:24). hirarkis. manusia mempunyai potensi untuk melakukan kekerasan. dimana lapisan atas mempunyai kesempatan ―melakukan segala sesuatu‖ untuk menentukan dan mengatur kelompok manusia yang berada di lapisan bawah. ketika letupan psikologis tidak terkendali dan meluap keluar dalam bentuk kekerasan atau tindakan agresif yaitu tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. stereotipi/pelabelan negatif sampai berbagai bentuk kekerasan dalam keluarga yang disebut juga gender related violence. Kemiskinan. sekelompok kecil anggota masyarakat berada pada level "menengah keatas" diuntungkan oleh struktur sosial itu dan sebagian besar anggota masyarakat lainnya "harus bertahan' dalam situasi kemiskinan (Katjasungkana. atas dan bawah. Perubahan sosial dan ketimpangan struktur sosial telah memunculkan kesenjangan sosial. Sebagai individu maupun anggota masyarakat. penganiayaan bahkan pembunuhan. 2003). subordinasi. tidak mampu berperan sebagaimana laki-laki. Perempuan dianggap lebih lemah. akibatnya lapisan bawah tergantung pada lapisan atas. Dalam pola relasi vertikal. 2003:5). Jika terjadi kekerasan dalam keluarga maka akan muncul ancaman bagi keutuhan keluarga dan kesejahteraan anggota-anggotanya. pada umumnya korban adalah . Pola hubungan asimetris ini melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan gender seperti marginalisasi.Menurut Fakih (1996) kekerasan adalah serangan atau invasi terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Krisis rumah tangga. karena kesempatan mengambil keputusan berada pada lapisan atas (Astuti.

Penelitian tahap I/2008 fokus pada eksplorasi kinerja kebijakan.23. 2007).513. hasil penelitian ini mendukung hal tersebut. dari 7. karena mereka terutama lurah adalah ujung tombak untuk menangani kasus-kasus KDRT (Towaf. 2005). 2004:1 & UURI no. Dari segi bentuk kekerasan. namun upaya sosialisasi & edukasi undang-undang tersebut masih minim. yaitu berbagai kantor pemerintah lokasi penelitian. 872 kekerasan seksual dan 590 kekerasan psikis (Wartawan kompas. Undang-undang Republik lndonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) diundangkan pada 22 September 2004. Perlindungan anak.099 kekerasan ekonomi. 1. apalagi aparat di tingkat grass roots seperti aparat kepala desa dan stafnya. diharapkan bisa berperan preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT.2004 ada 14. tidak tahu bahwa penelantaran ekonomi termasuk dalam kekerasan dalam rumah tangga (Wartawan Kompas. apa yang terjadi pada perempuan? Mengapa semuanya itu terjadi? dan bagaimana kita dapat mengubah dan memperbaiki dunia sosial untuk membuatnya menjadi tempat yang lebih adil bagi perempuan dan semua orang? Undang-undang adalah kebijakan publik yang berfungsi untuk mengubah masyarakat/social engineering.2A02 ada 5.perempuan dan anak-anak biasanya tidak tahu harus berbuat apa (UU RI no. Hasil penelitian ini juga memiliki manfaat praktis. psikologi. 2006 ada 22. 2007:405).787. lembaga pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi. mencermati kinerja lembaga yang menangani kasus konflik keluarga.020.163. Dari data-data tersebut lalu muncul pertanyaan krusial yang sering beredar di kalangan teoritisi feminis (Lengerman & Brantley. 801 kekerasan fisik. dan masyarakat.PKDRT.23. 2002). Catatan tahunan 2007 Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap perempuan menunjukkan kenaikan jumlah kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP): tahun 2001 ada 3. kebijakan public dan pelaksanaan Undang-undang. Harapan tersebut akan terpenuhi pada penelitian tahap II/2009 fokus pada pengembangan . tahun 2003 ada 7. Aparat terkait kurang faham. Hasil penelitian akan bermanfaat bagi kepentingan teoritis keilmuan di bidang Sosiologi. kasus-kasus yang terjadi dan penyelesaiannya serta factor pendukung dan penghambatnya. 3.391. Kepala unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Malang sangat mengharapkan ada program sosialisasi kepada para Lurah/Camat di wilayahnya.2005 ada 20.659 kasus. 2007).165.

Mereka adalah ujung tombak untuk optimalisasi kinerja UU PKDRT. 1997:43) atau base line data bagi pendalaman kasus.strategi sosialisasi UU PKDRT kepada aparat terkait. Pendekatan kuantitatif yang dilakukan dengan mengumpulkan data statistik tentang kasus-kasus KDRT dan faktor penyebabnya. METODE Rancangan dan Pendekatan Penelitian Rancangan penelitian ini adalah penelitian kebijakan (Dunn. 1994:163). bagi aparat sasaran maupun berbagai kelompok masyarakat. Pendekatan kualitatif multikasus dan multiksitus (Yin. 200) dan pengembangan yang menggabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. NK & Lincoln. Penelitian Tahap III fokus pada pengembangan strategi edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat. 2004 & Sevilla. Dalam penelitian ini penggabungan pendekatan kuantitatif bersifat komplementer/untuk melengkapi pendekatan kualitatif yang lebih dominan (Branen. sehingga wawasan mereka bertambah dan mengetahui apa yang harus dilakukan jika kasus KDRT terjadi di wilayahnya. Creswell. 1997:22. terutama pada tingkat lurah dan bisa juga nantinya kepada aparat yang lain. Kompleksitas dan permasalahan kehidupan keluarga terutama perempuan dalam konteks apapun cukup besar dan memerlukan berbagai pendekatan dalam penelitian kualitatif (Denzin. 1993:73) digunakan untuk menggali data secara lebih mendalam terhadap kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dan faktor-faktor penyebabnya di setiap lokasi penelitian terkait dengan peran perempuan dan wawasan kesetaraan gender dalam keluarga. Perolehan data kuantitatif dapat memberi landasan (Branen. 1994:21) kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi undang-undang PKDRT. Pendekatan kualitatif juga digunakan untuk eksplorasi (Creswell. .1994:173--190).

73. dan unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Kota dan Kabupaten Malang. 1992). Disamping itu dilakukan juga observasi dan wawancara informal untuk mengawali pengumpuian data kualitatif (Glesne & Peshkin. wawancara observasi. Sesuai dengan rancangan penelitian kualitatif multikasus dan multisitus maka penelitian mendalam dilakukan terhadap setiap lokasi (Sevilla. Tim peneliti mengunjungi 6 lokasi tersebut dan mengumpulkan data untuk menjawab semua pertanyaan penelitian yang ditetapkan. penghambat Sumber data Lokasi. Aparat dokumen. wawancara kajian dokumen. 1993. Bell.kasus KDRT Faktor penyebab Penyelesaian kasus KDRT Pendukung. aparat Metode/Teknik Observasi. Kunjungan ke lokasi penelitian dilakukan beberapa kali sesuai dengan pengumpulan data yang dibutuhkan.Ruang Lingkup Khusus untuk Tahun I/2008 Eksplorasi Kinerja UU PKDRT Luaran/output Profil dan peran lembaga Kasus. Pelestarian Perkawinan (BP-4) Departemen Agama. aparat korban.aparat dokumen. wawancara kajian dokumen. wawancara. tersangka lokasi. Demikian juga peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data dan analisis data penelitian. . Setelah anjangsana pertama untuk perkenalan dan menyampaikan maksud kedatangan. peneliti juga mendatangi kantor Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang sebagai lokasi pelengkap. khususnya Kantor Pengadilan Agama (PA) Kota dan Kabupaten Malang. kaj dok. dilakukan kunjungan berikutnya dalam rangka pengumpulan data kuantitatif. dok. Kantor Badan Penasehatan. Sebagai upaya melacak kasus yang diberkas P21 dan diajukan untuk diadili. wawancara kajian dokumen. diskusi Lokasi Penelitian dan Kehadiran Peneliti Ruang lingkup Lokasi penelitian adalah Kota dan Kabupaten Malang. aparat dokumen. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian dilakukan baik untuk pengumpulan data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Pembinaan.wawancara kajian dokumen. 1992:6).

Wawancara informal dan mendalam dilakukan kepada informan kunci yang dijaring dengan menggunakan tehnik purposive. kasus-kasus KDRT dan penyelesaiannya. ketimpangan gender yang bisa memicu munculnya kasus KDRT. Pejabat dan staf terkait dari kantor BP-4 Depag. segala aktifitas dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. 1993:85). 1992:53--58). serta buku Undang-undang tentang KDRT 3. dan bagaimana penyelesaian kasus-kasus tersebut (Sevilla. Pejabat dan staf terkait dari kantor Pengadilan Agama di Kota dan Kabupaten Malang. sebagai langkah awal pemantapan landasan teoritis dan operasionalisasi penelitian (Bell. 4. Dokumen tentang berbagai kasus KDRT. digali . 3. Kota dan Kabupaten Malang. 2. UU PKDRT no 23 tahun 2004 dan berbagai aturan/dokumen mendukungnya dari berbagai kantor terkait. dokumen UU PKDRT. Teknik Pengumpulan Data 1. 4. BP-4 Depag Kota dan Kabupaten. unit PPA Kepolisian Kota dan Kabupaten ditambah Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang. Pejabat dan staf terkait dari kantor unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang. Observasi dilakukan di 6 lokasi untuk memperoleh gambaran prosedur penanganan kasus-kasus keluarga dan khususnya kasus KDRT di masing-masing lokasi. Telaah buku/literatur yang berkaitan kajian sosiologi tentang kekerasan dan kekerasan dalam rumah tangga. 2.Sumber Data dan Informan Kunci 1. literature ataupun hasil penelitian terkait kasus-kasus KDRT. dilakukan needs assessment awal untuk pengembangan strategi sosialisasi dan edukasi untuk aparat dan masyarakat (Pratt. Telaah dokumen dilakukan untuk memperoleh informasi tentang profil lokasi. Gender dalam perspektif Islam. Lokasi penelitian yaitu 6 kantor: Pengadilan Agama kota dan Kabupaten. 5. bagaimana perasaan tersangka maupun korban. 1980:52).

Muhajir. faktor penghambat. 1993:85. bagaimana kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi agar UU PKDRT lebih difahami (Moleong. kinerja/ implementasi UU PKDRT. Keabsahan data kualitatif dilakukan dengan proses trianggulasi antara data yang dijaring lewat telaah literatur. sehingga peneliti bisa memperoleh gambaran yang lebih mantap tentang perolehan data penelitian.informasi tentang kinerja kebijakan. Keabsahan data kuantitatif yang dijaga dengan kecermatan penghitungan kasus KDRT yang terjadi di setiap lokasi. 3. Analisis Data 1. kasus apa yang terjadi. dokumen dengan data yang diperoleh lewat wawancara informal maupun lewat diskusi. Data dari telaah literature dan dokumen dianalisis secara induktifkomparatif dihasilkan komponen-komponen untuk menjawab pertanyaan penelitian (Miles & Hubberman. Wawancara informal dilakukan berkaitan dengan upaya menjaring data tentang faktor-faktor penyebab kasus KDRT. 1990). Data dari observasi dianalisis secara diskriptif dan berfungsi sebagai sumber informasi tentang profil kelembagaan. Moleong. faktorfaktor penyebab terjadinya kasus dan bagaimana UU PKDRT difungsikan untuk mengatasinya. pengelompokan kasus yang relevan. Data tersebut dianalisis secara deskriptif komparatif/dibandingkan dikelompokkan menurut variasi jawaban kemudian dibuat rangkuman (Gibbon & Morris. 2. 1987:17--24). pendukungnya. 1990:135--152). apa pendukung dan penghambatnya. 3. 1996). 1984. Keabsahan Data 1. 2. kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi. . Kecukupan referensi dapat digunakan untuk membandingkan data yang diperoleh dengan berbagai kritik tertulis yang terkumpul. sarana dan prasarananya dalam menangani kasus-kasus KDRT (Sevilla.

Pengadilan Agama merinci factor penyebab mencapai 14 kategori seperti: krisis moral. tidak ada tanggung jawab. penelantaran ekonomi. pologami tak sehat dll.4. Ribuan kasus ditangani oleh PA Kabupaten Malang dan ratusan kasus ditangani oleh PA Kota Malang setiap tahun. Selain itu juga dilakukan review dengan teman sejawat yaitu antara peneliti dengan tehnisi yang terlibat dalam proses pengumpulan data dalam rangka mencermati keabsahan data (Moleong. yang sering penyebab konflik dalam rumah tangga bersifat multifactor. namun sekarang masih pada tataran wacana di tingkat pusat (wawancara Ketua PA Kota 26/9/08). HASIL Profil & Peran Kelembagaan Lembaga yang terkait UU PKDRT adalah Pengadilan Agama. Sementara itu jumlah kasus yang di tangani PA Kabupaten jauh lebih banyak lagi yaitu pada tahun ada 7192 kasus. kekejaman mental. Peran kelembagaan PA sebagai pengadilan perdata telah berdampak pada lemahnya perhatian aparat PA terhadap UU PKDRT karena dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka tidak menggunakannya sebagai landasan kerja (wawancara dg staf dan hakim PA 22/7/08). namun kasus-kasus tersebut ditangani secara perdata dengan penyelesaian cerai/rujuk. wawancara staf & ketua pengadilan). 1990:I70--187. Ada kemungkinan di masa depan PA juga berfungsi sebagai Pengadilan Pidana. Oleh karena itu peran PA dalam penanganan kasus KDRT masih dalam lingkup perdata yang berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (Dok PA. penganiayaan berat. . yang paling dominan adalah kasus kekerasan psikis dan ekonomi. yang menangani kasus dan konflik yang terjadi dalam keluarga dengan muatan berbagai bentuk kekerasan ada di dalamnya. Jumlah kasus yang ditangani PA Kota Malang tahun 2006 s/d Agustus 2008 adalah 2789 kasus. Disini jelas bahwa kinerja lembaga sangat dibatasi oleh status lembaga sebagai pengadilan perdata yang tidak akan membawa kasus sampai ke perkara pidana. Denzin. Hal tersebut terjadi karena secara kelembagaan PA masih sebagai pengadilan perdata. seberat apapun kasus KDRT yang ditangani. 1994:241).

Oleh karena itu peran BP-4 hanya pada tahap konseling.Penyelesaian akhir kebanyakan adalah perceraian dan hanya sedikit kasus yang berakhir rujuk. Kasus-kasus yang ditangani banyak yang berlanjut ke Pengadilan Agama menuju perceraian. Tabel 1 Kasus KDRT di Pengadilan Agama Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kota Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 9 31 Kekerasan psikis 326 618 267 Kekerasan seksual 15 21 49 Kekerasan ekonomi 430 449 497 Jumlah 788 1097 844 Sumber Dokumen di PA Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kabupaten 2005 8 1472 65 2423 3960 2006 16 1436 158 2316 3926 2007 15 1448 231 2438 4132 2008 55 865 147 1594 2664 Lembaga lain yang terkait dengan kinerja/implementasi UU PKDRT yang menjadi lokasi penelitian. semula sebagai singkatan Badan Penasehatan Perkawinan dan Perselisihan Perceraian menjadi Badan Penasehatan. tidak pernah sampai ke implementasi UU PKDRT sebagai instrument pidana bagi pelaku KDRT. BP-4 tidak berpihak kepada perceraian tetapi berpihak pada pelestarian perkawinan. Mereka hanya sekali tempo menggunakan informasi dari UU PKDRT untuk kepentingan konseling dengan klien yang mereka tangani. lebih berperan dalam memberi kosultasi/kepenasehatan terhadap kliennya. Jumlah . Landasan kerjanya juga senada dengan PA yaitu ajaran agama Islam dan hukum Islam. adalah Badan Penasehatan. pembinaan dan Pelestarian Perkawinan. mereka mengetahui UU PKDRT justru dari interaksi dengan orang lain termasuk peneliti. Kasus-kasus yang ditangani BP-4 Kota pada 3 tahun terakhir berjumlah 183 dengan Di BP-4 Kabupaten Malang ada 43 kasus. Rincian jumlah kasus dipaparkan pada Tabel 1. Staf BP-4 juga menyatakan bahwa tidak ada sosialisasi langsung tentang UU PKDRT terhadap mereka. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departeman Agama. Telah terjadi perubahan paradigma BP-4 yang tercermin dari kepanjangan akronim BP-4.

Untuk kasus-kasus berat yang tidak bisa didamaikan dirujuk ke Pengadilan agama menuju perceraian. Oleh karena itu secara kelembagaan unit PPA adalah andalan utama dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. kemudian mulai ada kerja sama dengan lembaga terkait seperti Bagian Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten Malang. perselingkuhan. Rincian kasus disajikan di Table 2. karena sudah ada kerjasama yang baik dengan Rumah Sakit Kanjuruhan yang membuka Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) sejak tahun 2005 untuk memberi pengobatan dan rawat inap gratis selama 3 hari bagi korban KDRT. Dinas sosial dan LSM.kasus di kabupaten relative justru lebih sedikit karena BP-4 Kabupaten lebih memprioritaskan PNS yang sudah membawa surat pengantar dari Badan Pengawas Pemerintah Daerah. masalah ekonomi. Tabel 2 Kasus KDRT di BP-4 Kota dan Kabupaten Malang BP-4 Kota BP-4 Kabupaten 2008 3 5 8 Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 Kekerasan fisik 2 8 12 5 4 2 Kekerasan psikis 23 22 30 23 5 10 Kekerasan seksual 1 4 7 10 5 8 Kekerasan Ekonomi 7 22 13 27 1 Jumlah 33 56 62 65 15 20 Sumber Dokumen di BP-4 Departemen Agama Kota dan Kabupaten Malang. Faktor penyebab konflik rumah tangga antara lain: ketidak cocokan. . Melacak Kinerja/Implementasi UU PKDRT oleh Unit PPA Kepolisian Lembaga yang tanggap paling awal dengan diundangkannya UU PKDRT adalah kepolisian karena disebut secara eksplisit oleh UU PKDRT. Rumah sakit. Sementara BP-4 Kota Malang menerima semua klien yang datang tanpa membedakan PNS atau bukan. dikembangkan RPK (Ruang Pelayanan Khusus) menjadi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung. Pada awalnya unit PPA ibarat lone ranger yang berjuang sendiri untuk kinerja/implementasi UU PKDRT. Unit PPA sekarang menjadi tempat pengaduan masyarakat yang mengalami kasus KDRT.

perzinaan. adik ipar sendiri ataupun dengan remaja tidak berdaya (kasus perstubuhan dengan remaja cacat bisu-tuli). perselingkuhan. tetapi untuk rawat inap dan visum dokter dalam kasus tertentu belum bisa digratiskan oleh pihak rumah sakit. ketidak puasan. Titian Hati.Jumlah kasus yang ditangani selama 4 tahun terakhir adalah 285 kasus di unit PPA Kota Malang. diberikan pelayanan medis gratis. Rincian kasus disajikan pada Tabel 3. persetubuhan dengan anak. penelantaran ekonomi. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang telah punya kerja sama yang baik dengan PPT Rumah Sakit Kanjuruhan yang menggratiskan visum dan rawat inap bagi korban KDRT selama 3 hari. Layanan kesehatan ini belum dipenuhi secara optimal. dijamin dan sudah dipenuhi. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang selama 4 tahun terakhir ada 502 kasus. Tabel 3 Kasus KDRT di PPA Kepolisian Resort Kota dan Kabupaten Malang PPA Kota Malang PPA Kabupaten Malang Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 51 60 60 19 53 87 32 Kekerasan psikis 3 1 16 16 19 9 22 25 Kekerasan seksual 4 17 15 15 51 26 65 18 Kekerasan ekonomi 2 2 2 6 10 36 34 Jumlah 24 71 93 97 85 98 210 109 Sumber Dokumen di Unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang Kasus-kasus KDRT tersebut muncul dengan berbagai penyebab kecemburuan. korban dirujuk ke Women Crisis Center yang ada di Malang seperti WCC Dian Mutiara. Dll. namun kadang-kadang bisa muncul/termuat di koran karena kegigihan/kecerobohan wartawan. Jika perlu didampingi . (3) Pendampingan. Hak-hak korban dan bentuk pemenuhannya: (1) Perlindungan: korban diberi perlindungan keamanan 1x24 jam di Polres Kota Malang. untuk sementara korban di PPA Kota Malang dirujuk ke RSSA Malang. mendapat perlindungan hukum dari yang berwewenang dan pelayanan kesehatan. perkosaan.. (2) Kerahasiaan Korban. Dari sekian banyak kasus yang dominan di Unit PPA Kota maupun Kabupaten adalah kekerasan fisik dan seksual. keterlibatan fihak ketiga.

(4) Dalam menjelaskan hak-hak korban. termasuk kesadaran hukum masyarakat dalam: (1) Mencegah tindak pidana. teman korban). (3) Sistem mekanisme layanan (kerjasama) yang mudah di akses korban yaitu dengan Women Crisis Center. Pemahaman tentang Undang-Undang masih sangat lemah. Peran masyarakat masih kurang. paling lama 7 hari korban memperoleh perlindungan keamanan oleh PPA. Peran Masyarakat. Saksi pendamping biasanya mendapat perlindungan dari kepolisian. dan (4) Membantu proses penetapan perlindungan sudah menjadi bagian dari proses penanganan kasus KDRT hanya saja dalam hal perlindungan peran PPA masih kurang.oleh penasehat hukum. Kesadaran hukum masyarakat masih rendah. . belum dapat maksimum karena hanya sebatas memberi nasehat dan melerai agar tidak terjadi kekerasan lebih parah. unit PPA. keluarga. dari masyarakat masih kurang. siapa mereka dan bagaimana peran mereka. (3) Kerjasama polisi dengan berbagai fihak untuk perlindungan. dengan cara sosialisasi di lingkungan masyarakat. Demikian juga aparat di tingkat grass roots seperti Lurah dan perangkat desa banyak yang tidak tahu undang-undang PKDRT dan prosedur pelaporan ketika terjadi kasus di wilayahnya. saksi. lebih banyak konseling psikologis belum mengarah pada bimbingan keagamaan. sosial. di lingkungan tempat tinggal misalnya tetangga. Perlindungan masih dilakukan oleh petugas kepolisian. dan (5) Perlindungan (pendamping. Perlindungan yang dilakukan oleh unit PPA Kepolisian Kota maupun Kabupaten Malang dengan prosedur: (1) Dalam waktu 1x24 jam sejak laporan. biasanya pendamping korban dari keluarga atau WCC yang dirujuk (di rujuk PPA). (2) Ketersediaan aparat. (3) Memberi pertolongan darurat: yang paling awal adalah orang-orang di lingkungan terdekat terjadinya kasus-kasus. Kerjasama dengan WCC dari psikolog dari UIN Malang. dan (4) Bimbingan Rohani. Kewajiban pemerintah terutama lembaga Unit PPA. ataupun rohani samapai saat ini mencukupi sesuai dengan kebutuhan. yang disediakan bagi msayarakat yang tertimpa kasus KDRT adalah: (1) Ruang layanan yang cukup mamadai. kesehatan. (2) Dalam wktu 1x24 jam perlindungan perlu minta surat penetapan perlindungan pengadilan. Ketua RT dan Ketua RW. (4) Mekanisme Layanan Standar Kepolisian Unit PPA seperti yang sudah dijelaskan diatas. ada harapan nantinya diwujudkan Pusat Pelayanan terpadu (PP) namun belum maksimal. (2) Memberi perlindungan.

untuk penyidikan. memaksa orang dalam rumah tangga melakukan hubungan seksual . tempat tinggal alternative: kerja sama WCC Dian Mutiara dan Titian Hati. Bila ternyata korban mencabut laporan. (3) Seksual. Pemulihan korban: jika kasus KDRT: (1) Fisik yang menangani adalah RSSA atau di PPT Rumak sakit Kanjuruhan. luka berat = 10th/dan denda 30jt. mati = 15th/dan denda 45jt. visum ke RSSA Malang atau Rumah Sakit Kanjuruhan. ringan= tuntutan 4bl/dan denda 3jt. yang sering terjadi korban dititipkan ke kerabat yang dipercaya untuk menjaga jarak dari pelaku/tersangka. (8) Laporan oleh korban. paling lama perlindungan 1 tahun bisa diperpanjang sesuai kebutuhan juga belum pernah terjadi. dalam 7 hari ketua pengadilan wajib mengeluarkan surat penetapan perlindungan. dengan tuntutan maksimum 3th/atau denda 9jt. (3) Untuk kasus seksual maka penanganannya adalah kerjasama staf unit PPA dengan RSSA. ringan = 4bl/dan denda 5jt. penuntutan pemeriksaan persidangan.identitas petugas. masalah selesai secara kekeluargaan maka penahanan ditangguhkan. pemulihan korban dilakukan secara terpadu oleh staf PPA dan Dinas Sosial. (9) Permohonan perlindungan bisa tertulis/lesan. yang dilakukan secara terpadu oleh kepolisian dan Dinas Kesehatan. ada 1 orang.belum pernah terjadi. penangkapan pelaku dapat dilakukan tanpa surat perintah jika sudah diyakini sebagai pelaku. Layanan advocate di PPA Kota Malang. Rumah aman belum ada. Ketentuan pidana menurut UU PKDRT: (1) Fisik. (6) Pekerja sosial dan layanan konseling. (5) Pemeriksaan kesehatan. penyelidikan: penyidik atau petugas PPA yang menjelaskan kepada korban. tidak ada penangguhan penahanan. dengan tuntutan 12th/dan denda 56jt. Untuk kasus penelantaran. (7) Layanan pendamping untuk penyidikan dan penuntutan belum ada. (10) Dalam waktu 1x24 jam. atau korban memberi kuasa orang lain/kepolisian. pemulihan korban agak sulit ditangani karena menyangkut kemampuan ekonomi keluarga yang mengalami kasus KDRT. sementara dicari rumah kos yang aman. jika kasus berat kerja sama staf PPA dengan Psikolog dan Rumah Sakit Jiwa secara terpadu. dan (11) Pelanggaran terhadap perintah perlindungan oleh pelaku belum pernah terjadi. dengan tuntutan hukuman maksimum: 5th/dan denda 15jt. (2) Psikis. (2) Jika kasus KDRT Psikis yang menangani adalah staf unit PPA. dan (4) Untuk kasus bidang ekonomi ada kasus.

disamping bersikap positif. keguguran dan rusak alat reproduksi pelaku dituntut 5--20th/dan denda 25-100jt. Kasus yang muncul pada tahun 2008 masih dalam proses pengadilan (Dokumen Pengadilan Negeri Kota Malang). Adapun 6 kasus lainnya dengan modus berbagai kekerasan fisik dituntut hukuman bervariasi antara 4 bulan sampai 10 bulan yeng kemudian diputus hukuman 2 bulan 15 hari sampai 9 bulan. Dari kasus-kasus tersebut ada 1 kasus dengan terdakwa WY dengan modus memperkosa korban berulang kali dituntut hukuman 5 tahun dan diputus hukuman 4 tahun. 1 kasus dengan terdakwa SS dengan modus menusuk korban sehingga luka berat dituntut hukuman 2 tahun 6 bulan dan diputus hukuman 2 tahun. ada 9 kasus (tahun 2007) dan 2 kasus (tahun 2008) yang masuk kategori P21 dan diberkas ke Kejaksaan. 2006: 211--223).dituntut hukuman 15 th/dan denda 4--15jt. Bagaimanakah ketentuan tersebut dalam praktek? Lembaga lain sebagai partner Unit PPA dalam penegakan hukum dan implementasi UU PKDRT adalah Kejaksaan dan Pengadilan Negeri. tahun 2006 ada 8 kasus yang telah diputus hukumannya oleh Pengadilan Negeri. Jaksa Penuntut Umum dan Hakim dalam menangani kasus. 5 bulan 7 dan 1 kasus perkosaan yang diputus hukuman 7 tahun. Di berbagai tingkat. Untuk Penyelesaian kasus-kasus KDRT. demikian juga Pengadilan Negeri dalam mengadili kasus KDRT masih mengacu pada KUHP. Penelantaran bisa juga pengabaian kewajiban ataupun menciptakan ketergantungan ekonomi pada pelaku. Aparat Polisi. . 4 bulan. jika korban mengalami gangguan fisik dan kejiwaan. dan (4) Penelantaran: pelaku dituntut hukuman 3th/15jt. Sampai saat ini diantara kasus KDRT yang ditangani unit PPA Polresta Malang. Namun dari informasi yang diperoleh. masih banyak juga sikap-sikap negatifnya (Irianto & Nurcahyo. Pengadilan Negeri yang menetapkan hukuman berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. para penegak hukum yang berperspektif perempuan masih kurang. Hal tersebut sejalan dengan sejalan dengan temuan para aktifis hukum bahwa untuk menegakkan hukum yang berperspektif perempuan kesulitan awal adalah pada sumber daya manusia. diadili di Pengadilan Negeri. Di Kabupaten Malang. staf kejaksaan sendiri belum sensitive terhadap UU PKDRT. Ada 5 kasus yang telah diputus dengan variasi hukuman: 2 bulan 15 hari.

tetapi hukuman yang dijatuhkan gletek saja dalam hitungan bulan. Ada 1 kasus dengan modus perkosaan dituntut 5 tahun yang kemudian diputus 3 tahun 6 bulan. Dari penyelesaian kasus yang masuk kategori P21 dan diproses di Pengadilan Negeri memperoleh putusan yang bervariasi. dan akhirnya kasus-kasus tersebut diputus hukuman terendah 3 bulan 13 hari dan tertinggi hanya satu kasus diputus hukuman 1 tahun 6 bulan sebagaimana tuntutannya. Dapat diaktakan jika para penegak hukum sendiri masih belum sensitive dengan peradilan yang berkeadilan gender dan masih dalam proses mengenal dan memahami UU PKDRT. Sedangkan kasus dalam berbagai bentuk kekerasan fisik hanya diputus hukuman dalam hitungan bulan saja. belum sepenuhnya dipakai sebagai landasan penyelesaian kasus hukum. hanya pasal 44 ayat 4 dan pasal 45 ayat 2. penuntutan. Pada tahun 2008 s/d bulan Juni ada 6 kasus dengan modus berbagai bentuk kekerasan fisik yang cukup parah dengan tuntutan hukuman 3--5 bulan dan diputus hukuman antara 2 bulan 4 hari s/d 4 bulan. selebihnya bukan delik aduan. pemeriksaan mengikuti ketentuan hukum secara pidana yang berlaku. kendala yang dihadapi adalah saksi KDRT biasanya 1orang sedangkan di KUHP. Ketika hal ini di cross cek ke staf kepolisian unit PPA Kabupaten Malang muncul komentar bahwa putusan tersebut sungguh mengusik rasa keadilan. tetapi yang jelas memang kasuskasus KDRT setelah masuk di Pengadilan Negeri diadili dengan KUHP. tuntutan hukuman 4 bulan s/d 1 tahun 6 bulan. Nah. alat bukti sah .Tahun 2007 ada 8 kasus yang sudah diputus hukumannya dengan modus operandi berbagai bentuk kekerasan fisik. Dari Ketua unit PPA Kota Malang muncul komentar bahwa proses pengadilan memang ada unsur legal reasoning yang menjadi pertimbangan pemutusan hukuman. Ketentuan lain (1) Penyidikan. Dari penelitian ini diperoleh kesan bahwa selama 3-4 tahun kinerja/implementasi UU PKDRT yang diundangkan pada tahun 2004 itu masih dalam tahap pengenalan. jika kasus-kasus diberkas oleh kepolisian dengan UU PKDRT tetapi dalam proses di Pengadilan Negeri lebih berdasarkan KUHP lalu untuk apa UU PKDRT? Untuk menjawabnya diperlukan penelitian lebih lanjut. tidak sepadan dengan proses pemberkasan yang memerlukan kerja keras menyiapkan perlengkapan yang terdiri dari 25 s/d 30 an surat-surat. kasus yang dijatuhi hukuman dalam hitungan tahun adalah kasus perkosaan. Menurut UU PKDRT tindak pidana KDRT adalah delik aduan.

Muncul wacana yang menyatakan bahwa delik aduan pada UU PKDRT pantas direvisi (Wawancara staf Pengadilan Negeri. sebagai kasus kriminal sangat disayangkan jika ditangani berdasarkan delik aduan. Untuk kasus penganiayaan berat. termasuk perlunya membangun Musolla yang lebih layak. Kepala PA yang baru merasa sudah saatnya kantor PA Kota Malang direnovasi. kesejangan generasibahkan anonimitas dlam masyarakat perkotaan. Belum. Kekerasan adalah wujud perilaku agresif yang pemicunya bisa bersifat eksternal maupun internal. atau frustasi karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dsb (Rahayu. dibangun ruang tambahan yang lebih luas untuk kepentingan peningkatan kinerja.jika ada 2 saksi. Faktor penghambat utama bagi Pengadilan Agama (PA) dalam optimalisasi kinerja/implementasi UU PKDRT adalah status . diancam. Apakah seorang saksi korban cukup untuk menyatakan bersalah jika disertai bukti lain. Hanya saja kantor PA Kota Malang merupakan bangunan yang sudah lama. jika tersangka tidak mengaku maka diperlukan saksi ke-2. KUHAP seperti sebelum ada UU PKDRT. 4/9/08). serta kurangnya sarana dan prasarana du unit PPA. sarana. Faktor eksternal seperti kondisi geografis. penanganan kasus secara pidana merujuk KUHP. Berbagai penyebab munculnya kasus KDRT di lembaga lokasi penelitian tersebut sejalan dengan analisis KDRT sebagai fenomena sosiologis dan psikologis. rasa tidak suka. BAHASAN Faktor Pendukung dan Penghambat Pengadilan Agama Kota maupun Kabupaten Malang memiliki gedung. kemiskinan. (2) UU PKDRT berlaku sejak 22 September 2004. peralatan dan ketenagaan yang memadai. Sementara faktor internal bisa amarah. tapi dicabut oleh fihak pelapor. Dalam hal ini pihak unit PPA menyayangkan terjadinya kasus penganiayaan berat yang layak diproes di Pengadilan Negeri. lingkungan social. kurangnya peran serta masyarakat dan lembaga yang terkait. jadi jaksa minta saksi lagi. merasa dihina. 2002) Ada saatnya penyebab perilaku yang bersifat internal dengan eksternal bergabung. dan memadai. maka semakin kuat saja dorongan untuk munculnya tindak kekerasan.

ruang pimpinan dan staf administrasi. Layanan kepenasehatan dilakukan setiap hari pada jam kerja Senin sampai Jumat jam 08. Faktor Pendukung di BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah tersedianya kantor yang memadai. tidak sampai ke putusan pidana. sehingga sulit diarahkan ke rujuk atau damai. Penyelesaian kasuskasus yang ditangani hanya diputus cerai atau damai. Tetapi BP-4 Kabupaten khusus melayani PNS yang sudah diberi pengatar oleh Badan Pengawas Pemerintah Daerah. konselor atau BP. Penanganan kasus sudah dilakukan dengan baik. ketenagaan dan peralatan kantor termasuk computer yang siap digunakan. 2006). Kasus pada umumnya disebabkan faktor utama ekonomi dan perbedaan latar . hasil observasi peneliti juga menunjukkan bahwa Ketua BP-4 dan staf cukup welcome terhadap klien. klien tampaknya lebih senang konsultasi langsung di ruang ketua BP-4 (wawancara staf BP-4 Depag 22/7/08). kasus sudah berat sehingga tujuannya ke perceraian. bahkan ketua BP-4 bersedia melakukan konsultasi di ruang kerja. Dalam proses kepenasehatan BP-4 melibatkan para volunteer yang terdiri dari ulama. tidak ada sosialisasi tentang UU PKDRT ke aparat PA karena rujukan kerja mereka bukan itu.00 sampai dengan 15. tetapi ruang konseling jarang digunakan. Sepanjang informasi yang diperoleh peneliti. mubaligh. psikolog.00. ada ruang khusus untuk kepenasehatan. Faktor Penghambat kinerja BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah klien yang datang pada umumnya sudah parah kasusnya. (wawancara Pansek PA/16/9/08). Oleh karena itu aparat PA kurang termotivasi untuk mempelajari UU PKDRT.kelembagaan sebagai lembaga pengadilan perdata. tidak hanya soal kelembagaan dan pemahaman aparat terhadap undangundang tetapi juga perlunya budaya peradilan yang berperspektif perempuan dan sensitive gender (Irianto & Nurcahyo. 26/9/08) namun belum ada persiapan kelembagaan maupun ketenagaan dan perangkat hukum pidana dalam keluarga. Secara kelembagaan di PA sudah mulai muncul wacana di tingkat pusat untuk memfungsikan PA tidak hanya sebagai pengadilan perdata tetapi juga sebagai pengadilan pidana di masa mendatang (wawancara Ketua PA. Kasus yang dibawa ke BP-4 Kota berasal dari masyarakat umum baik PNS atau non PNS. psikiater. Oleh karena itu masih perlu jalan panjang jika bangsa ini memerlukan PA untuk ikut serta menerapkan UU PKDRT.

BP-4 secara rutin menyelenggarakan ―Suscatin‖ kepanjangan dari kursus calon pengantin. Penampilan para petugas di Unit PPA juga berbeda dari polisi pada umumnya. ataupun edukasi kepada muda-mudi calon pengantin sebagai upaya preventif agar mereka tidak terjerumus menjadi pelaku/korban KDRT. Disamping itu unit PPA juga didukung oleh tenaga professional dan berdedikasi terhadap tugasnya. Jika ada kasus di daerah mereka. Mereka memperoleh kesempatan refreshing/professional workshop secara bergilir 2 kali setahun. ruang kepenasehatan kurang digunakan langsung kemeja kerja ketua. karena merkalah ujung tombak yang mengawal implementasi UU PKDRT. Dalam implementasi UU PKDRT. PJ TKI dsb. Dalam Faktor penghambat kinerja Unit PPA. BP-4 lebih tepat berperan sebagai jalur sosialisasi keberadaan UU PKDRT kepada klien yang datang konsultasi. mempunyai desa binaan sebagai desa keluarga sakinah. Kanit PPA Kabupaten merasakan perlunya sosialisasi UU PKDRT di tingkat aparat desa seperti lurah dan jajaran aparat desa. diperlukan semacam rumah singgah. mereka . Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung karena didukung oleh PPT (Pusat Pelayanan Terpadu) di RS Kanjuruhan. diperlukan juga tenaga ahli untuk kasuskasus khusus. Sekolah-Sekolah.belakang keluarga selanjutnya terkait dengan penyebab lainnya seperti kekerasan psikis. komunitas yang memerlukan: Panti Asuhan. fisik dan seksual. Belum ada shelter atau tempat penampungan sementara untuk korban yang menunggu kasus disidik atau diselesaikan dan korban belum berani pulang ke rumah. Kerja sama dengan instansi terkait untuk membantu menangani kasus secara terpadu sangat diperlukan. rumah inap korban KDRT. semua staf yang berjenis kelamin perempuan bekerja dengan berbagai pakaian seragam non kedinasan sehingga penampilan ramah dan segar tidak menakutkan klien. Sosialisasi UU KDRT secara insidental dilakukan oleh Kepala Unit PPA Polres Kota maupun Kabupaten Malang lembaga. Faktor pendukung di unit PPA Kepolisian Resor Kota maupun Kabupaten Malang adalah adanya kantor unit tersendiri walaupun tidak luas tetapi cukup fungsional untuk menjalankan aktifitas unit PPA. sejumlah 8 orang staf dan 1 orang ketua unit. Komunitas Anak Jalanan. sementara PPA Kota yang mengirim korban ke RSSA masih banyak kendala karena belum terbentuk PPT (Pusat Pelajanan Terpadu) disitu.

kasus yang masuk cukup bervariasi dari segi factor penyebabnya. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departemen Agama Kota maupun Kabupaten. Istilah KDRT memang sudah mulai populer di masyarakat terutama lewat TV. Faktor penyebab bersifat psikis dan ekonomi paling dominan.mestinya tahu bagaimana mengurusnya dan kemana melaporkannya. kekerasan apa saja yang diancam hukuman pada umumnya mereka mengira hanya kekerasan fisik yang korbannya babak belur. namun ditangani secara perdata. Di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kota dan Kabupaten Malang adalah lembaga andalan dalam kinerja/ implementtasi UU PKDRT. atau kekerasan seksual. Sementara kekerasan psikis dan ekonomi sering dianggap bukan kekerasan. . kalau ada kekerasan ekonomi dilaporkan adalah juga karena disertai kekerasan fisik. penyelesaian berlandaskan hukum perdata dengan putusan cerai dan hanya sebagian kecil saja dengan putusan damai/rujuk. 2. Di Pengadilan Agama baik Kota maupun Kabupaten. Di Badan Penasehatan. yang paling dominan faktor kekerasan fisik dan ekonomi yang kemudian memicu faktor lainnya penanganan bersifat konseling masih sangat ditonjolkan ditambah dengan penyadaran hukum dengan penahanan dan hukuman kepada tersangka jika tidak mengubah perilakunya. Setiap client diberi kesempatan konsultasi 3 kali. penyelesaian damai banyak terjadi dan jika tidak bisa berdamai lagi diberi pengantar untuk di proses di Pengadilan Agama 3. hampir semua kasus yang masuk jumlahnya mencapai ratusan sampai ribuan setiap tahun ada unsur KDRT. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. penanganan bersifat konseling psikologis dengan pendekatan agama. Oleh karena itu yang paling dominan dilaporkan ke unit PPA adalah kekerasan fisik. tetapi substansi UU PKDRT baik aparat maupun msayarakat di tingkat grass roots tidak tahu. Lembaga ini menangani kasus KDRT yang sangat bervariasi faktor penyebabnya.

mereka secara bergilir memperoleh penyegaran 2 X setahun untuk peningkatan profesionalismenya. Belum ada unit palayanan terpadu dan shelter. untuk kasus seperti ini delik aduan di UU PKDRT dirasa tidak pas digunakan. 9 orang tenaga/aparat termasuk kepala unit PPA adalah orang-orang professional dan berdedikasi dalam bidangnya. Ada beberapa kasus yang masuk kategori P21 yang diberkas untuk dilimpahkan ke kejaksaan dan Pengadilan Negeri dan tersangka benar-benar dijatuhi hukuman. fihak Polres Kota pernah sosialisasi UU PKDRT kepada kepolisian Arhanud dan Brimob. Faktor penghambat yang dirasakan oleh unit PPA adalah belum ada perhatian dari dinas instansi terkait seperti Biro Pemberdayaan Perempuan. atau dicabut kemudian memproses perceraian. Kehadiran peraturan maupun perundang-undangan adalah merupakan upaya mengubah kehidupan masyarakat/sosial engeenering ke arah kehidupan yang lebih baik. . 5. Ada kasus berat yang bisa masuk kasus criminal tetapi dicabut oleh pihak pelapor. 6. Di unit PPA banyak kasus yang kemudian dicabut/berdamai. Keberadaan UU PKDRT adalah merupakan faktor pendukung paling awal untuk menangani kasus-kasus KDRT. ruang konseling masih campur dengan ruang tamu. Namun hukuman yang dijatuhkan dengan berdasarkan KUHP dianggap terlalu ringan dan kurang menimbulkan efek jera pada pelaku.4. lembaga dan penyiapkan suamber daya manusia sebagai pelaksananya. 8. kelurahan dan sekolah-sekolah namun masih sangat jarang. 7. Oleh karena itu perlu disertai dengan pemembangunan sistem. Dalam hal sosialisasi kepada aparat. mengusik rasa keadilan. Ada beberapa kasus dimana tersangka menghilang dan masuk DPO (Daftar Pencarian Orang/buron). Dinas Sosial Pemkot dan Pemkab Malang. Sedangkan Polreskab pernah juga mengadakan penyuluhan incidental ke kecamatan. Saran 1. terbentur keterbatasan dana dan belum adanya strategi/paket untuk sosialisasi/penyuluhan khusus tentang UU PKDRT. bantuan ahli untuk kasus-kasus khusus.

5. tersedia PPT(Pusat Pelayanan Terpadu) dan shelter bagi korban KDRT. Lembaga ini bisa menjadi salah satu jalur sosialisasi UU PKDRT kepada masyarakat. . 6. Dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. siswa/remaja. Mahkamah Agung perlu juga memikirkan proses sosialisasi ke aparat penegak hukum seperti tidak hanya Polisi tapi juga Jaksa dan Hakim sehingga mereka memahami ruh UU PKDRT dan bisa melaksanakan pengadilan berkeadilan gender. Mereka adalah jujukan korban untuk mengadu jika terjadi kasus di wilayahnya.2. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan perlu ikut serta mendorong kinerja/implementasi dengan mengembangkan strategi/paket sosialisasi UU PKDRT untuk Aparat di tingkat Grass Roots dengan prioritas para lurah dan staf di tingkat desa yang merupakan ujung tombak pengawal aturan. menghayati pesan UU PKDRT dan prosedur pelaporan kasus ke aparat penegak hukum. Jika ada kasus yang pantas masuk ke ranah pidana maka dimungkinkan adanya jalur untuk melanjutkan kasus tersebut ke pengadilan pidana. Mereka harus faham substansi pokok. 3. dengan hukuman yang memiliki kekuatan melindungi korban dan membuat jera pelaku. Ide tentang perlunya membangun sistim pengadilan pidana terpadu layak memperoleh perhatian. DinasSosial. Demikian juga diperlukan strategi/paket edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat seperti guru. Perlu ada upaya peningkatan peran kelembagaan PA supaya tidak berhenti pada proses perdata. Peran BP-4 juga sangat strategis sebagai lembaga kepenasehatan/ konseling perkawinan yang langsung didatangi masyarakat dari berbagai lapisan. Pihak Kepolisian yang merupakan pelaksana UU PKDRT utama perlu memperoleh perhatian dan dukungan dari berbagai fihak terkait seperti Biro PP Pemda. 4. LSM yang memperhatikan kasus kekerasan dan Rumah Sakit agar ada kerja sama.

Achie S. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2000. Sulistyowati & Luhulima.Yogyakarta. 35. William N. Qualitatif & Quantitatif Approach. 2007. Becoming Qualitatif Researcher. Y. Jaminan Keadilan Melalui Sistim Peradilan Pidana Terpadu. Noerman K. Pustaka Pelajar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Branen. 20 Maret. Soka Handinah.DAFTAR RUJUKAN Astuti. 1994. Jakarta: Rajagrafirndo Persada. Studi Kasus. New York: Longman Publishing Group. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Kekerasan dalam perspektif Pesantren. Kisah Perjalanan Panjang Konvensi Wanita. Irianto. Lidwina Inge. 2003. Edisi kedua. Julia. Katjasungkana. Glesne & Peskhin. London: London Publication. 1997. Sage Publication. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Denzin. 1992. Bria. Research Design. Abdul Aziz. Sulistyowati & Nurtjahyo. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi. Desain dan Metode. 2000. Jakarta: Gramedia. Memadu Metode Penelitian Kualitatf dan Kuantitatif. Hoesien. 2004. Hartiningsih. Denpasar: Yayasan Pustaka Nusantara. Benyamin. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. Pelatihan Dasar Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Puji. Perempuan di Persidangan. Kekerasan Terhadap Perempuan. Kemandirian dan Kekerasan Terhadap Isteri. Robert K. White Plains. Dunn. 2003.1994. Kekerasan Gender dalam pembangunan. & Lincoln. 2002. Harian Kompas. Yvonna S. . Fakih. Handbook of Qualttatif Research. hal. John W. Irianto. Creswell. Kekerasan terhadap Perempuan dan Bagaimana Menyikapinya. 2004. Mansour. Selasa. Califomia. 2001. Maria. Yin. Himpunan Yurisprudensi Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. Jakarta: Kantor Menteri Negara pemberdayaan Perempuan. Bulletin Psikologi tahun X Nomor 2 Desember 2002.

1996. Jill Niebruge. Erfaniah. Zuhriah. CM. 2006. Kekerasan dalam Rumah Tangga. Rencana Induk P embangunan Nasional Pemberdayaan P erempuan 2000-2004. Marriage and Families. Families & Intimate Relationships. hal 177--187. Patricia Madoo & Brantley. BK &Sawyer SC & Wahlstrom. Bandung: Citra Aditya Bakti. Volume 1/no 2/ Juli 2004. Curriculum Design and Developnrent. Relationship in Social Context. Towaf. Jurnal Psiko-Islamika. Swabaya: Biro Pemberdayaan Perempuan Sekretarian Daerah Propinsi Jawa Timur.2004. Bandung: Remaja Rosda Karya. California: Sage Publication Inc. . 2000.Katjasungkana. 1980. Pemerintah Republik Indonesia. Jurnal PsikoIslamika. Muhammad. Muhajir. 2004. Teori Feminis Modern.J. New York Harcourt B. Makalah seminar di Dharma Wanita Kabupaten Gresik. Undang-undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Metodologi Penelitian Kualitatf. Miles. Moleong. MB & Hubberman. Kita Bisa Mendampingi Korban Kekerasan. 2004. Prenada Media Group. K & Warner RL. Sinar Grafika.. Pratt. Lengerman. Williams. 2004. 2007. Jakarta: Kencana Prenada media Group. Teori Sosiologi Modern. Kekerasan dan Agresifitas. Volume 1/no 2/ Juli 2004. California: Wadsworth/Thomson Learning. 2004. Douglas J. Metode Penelitian Kualitatf Yogyakarta: Rake Sarasin. hal 167--175. Soka Handinah. Marriages. 1990.1984 . Seccombe. David. 2004. Abdulkadir. George & Goodman. 2004. A Practical Introduction. Boston: Pearson Education. 2007. Hukum dan Penelitian Hukum. AM. Jakarta. Siti Malikhah. Noeng. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Dalam Teori Sosiologi Modern. Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Adalah Tugas Kita Semua. Iin Tri. Rahayu. Qualitatif Data Analysis. Ritzer. Jakarta. lexi.

Berdaasarkan jenis data dan analisis yang digunakan. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. PLN Puji Handayati adalah dosen Jurusan Manajemen dan Tri Laksiani adalah dosen Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang . dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7) penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau bidang tertentu. PT. Penulisan ini berusaha menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial. menguji hipotesis. PLN (Persero) dalam mengatasi masalah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan (2) Untuk mengetahui bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang dapat mengatasi konflik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET.Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati Tri Laksiani Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan. Kata-kata kunci: saluran udara ekstra tinggi (SUTET). Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan.

Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa orang yang tinggal dibawah tegangan tinggi bisa terkena kanker otak dan berkaitan dengan penurunan gairah seksual.edu. Kanada. pemerintahan dan masyarakat luas.Pembangunan ekonomi yang tumbuh dengan cepat menuntut PT. Inggris.edu. Inggris mendukung pendapat. Sebagian partikel luruhan bersifat karsinogenik dan oleh medan listrik dikonsentrasikan pada bagian tubuh tertentu. termasuk peneliti di luar AS. penelitian yang dilakukan oleh Nancy Wertheimer dan Ed Leeper (1979) membuktikan bahwa anak-anak di denver. Sejak penelitian di Denver ini para peneliti lainnya mulai tertarik. bahkan mengakibatkan kematian bagi orang yang menyentuhnya secara langsung. Diakses pada 6 Februari 2006) Demikian pula dalam studi tahun 1996 yang dilakukan tim fisikawan Universitas Bristol. Hal ini karena kabel bertegangan tinggi bisa menarik partikel gas radon yang tidak berbau dan tidak berwarna di sekitarnya yang kemudian meluruhkannya. (www. kemudian mentransformasikan sel-sel tubuh yang ditempati menjadi sel kanker (www. Bahkan ilmuwan dari ITB juga mengungkapkan medan listrik dapat menimbulkan stres. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan. Colorado mengalami kemungkinan terserang penyakit leukimia dua atau tiga kali dibandingkan orang dewasa. Perancis. seperti Swedia. Selain itu juga dapat menimbulkan penyakit tumor susunan saraf jika masyarakat tinggal di dekat jaringan tinggi tersebut.hamline. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. Diakses tanggal 6 Februari 2006) . perdagangan. PLN (Perusahaan Listrik Negara) Persero untuk menyediakan tenaga listrik dalam berbagai kebutuhan industri. Finlandia. bahwa gelombang elektromagnetik dari listrik tegangan tinggi dapat menimbulkan kanker. ekonomi. Denmark. Pernyataan ini didukung oleh berbagai penelitian antara lain. Namun listrik juga dapat menimbulkan masalah jika dalam penggunaannya tidak tepat. Berbagai penelitian membuktikan adanya hubungan antara listrik tegangan tinggi dengan penyakti kanker dan leukimia pada anakanak bjkan orang dewasa.hamline. Aliran tegangan tinggi sangat berbahaya bagi masyarakat. listrik merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Selain itu.

menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. dan Kab. Anies. Baik melalui transmisi. Tahun 1973. Pekalongan. berhasil membedakan kelompok penduduk yang beresiko terpapar dan tidak terpapar berdasarkan jarak tempat tinggal dengan jarak listrik terpasang.republika. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome). Hasilnya. Kab. atau peralatan bertenagalistrik. operator radio dan telegraf. Dr. PKK. pekerja di peleburan alumunium. Sementara di Swedia. Gangguan kesehatan itu terutama menyerang anak-anak antara lain leukimia (kanker darah). Sebuah riset di Washington AS tahun 1950-1982 melaporkan adanya kematian 486 ribu pekerja teknisi listrik. Hasil penemuan Anies menyimpulkan bahwa ketiga gejala tersebut dapat dialami sekaligus oleh seseorang. pada penduduk di bawah saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV di Kab. Menurut Prof. pening (dizzines).com diakses pada 26 Desember) . yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache). sehingga penemuan baru ini diwacanakan sebagai Trias Aniesa (www. Pada awal tahun 1980-an dari Selandia Baru dilaporkan ada 546 kasus leukimia pada para perakit alat-alat listrik serta pekerja yang memperbaiki radio dan televisi. distribusi listrik tegangan tinggi.pikiranrakyat. M.Di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa selama lima dasawarsa terakhir melaporkan adanya beberapa gangguan kesehatan akibat paparan medan elektromagnetik dan medan magnet secara terusmenerus dalam jangka panjang. Untung. radius 500 meter diperkirakan masih memiliki risiko terpapar. (www.com. Pemalang. ditemukakan adanya risiko kanker pada 463 kasus pekerja gardu listrik dan 263 kasus pada pekerja pemasangan kabel transmisi. Diakses 7 Februari 2006) Berdasarkan hasil penelitian Dr.Kes. Penelitian lain di Inggris dan New South Wales pada 1970-1972 mencatat kematian para pekerja operator telegram dan ahli teknik yang disebabkan oleh leukimia mieloid akut. peneliti dari Depkes RI di SUTET Cibinong dan Bekasi. dalam penelitian yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto. Tegal (2004). dan operator proyektor bioskop meninggal akibat leukimiaa dan limfoma non Hodgkins. ditemukan angka risiko leukimia pada pekerja kelistrikan meningkatkan dua kali lipat.

dr. Diakses pada 6 Februari 2006) Tetapi dalam bebarapa penelitian lain mengungkapkan bahwa radiasi elektromagnetik tidak mempunyai korelasi dengan kesehatan. kejang otot. (5) endokrin. gangguan konsentrasi.(www. Namun kekhawatiran masyarakat merupakan hal yang wajar dan sebagai upaya untuk mengurangi dampak negatif SUTET terhadap kesehatan masyarakat. Dr. tanda dan gejala lain yang dapat dijumpai adalah jantung berdebar-debar. (6) psikologis.pikiranrakyat. berusaha melihat keadaan hubungan sosial ekonomi dan gangguan SUTET yang dikeluhkan seperti yang diberitakan di media massa.republika. kulit meruam.com diakses pada 26 Desember) Sebuah riset dilakukan selama 10 tahun terakhir oleh Tim Bagian Biologi FKUI. berhasil membuktikan korelasi antara listrik dan beberapa penyakit.com. dan (7) hipersensitivitas. Jawa Barat. Bergdahl dan Grant. Berdasarkan Diktat Diklat yang dikarang oleh kumpulan pengajar Jasdik PLN Pusat tahun 2004. (2) reproduksi. Tim yang diketuai oleh Guru Besar Bidang Biologi Reproduksi FKUI. (4) kardiovaskuler. potensi gangguan kesehatan yang timbul akibat SUTET 500 kV. Ini timbul akibat rusak atau kacaunya kerja jaringan endokrin (hormonal) tubuh karena adanya aliran listrik tersebut. menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara keterpaparan penduduk yang ada di sekitar maupun yang berada di bawah jaringan . dapat terjadi pada sistem: (1) darah. menyebutkan bahwa penelitian sosiologi yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto (1995) serta Ganihartono (1995). rasa mual dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya. gangguan tidur. Hal ini didukung dengan berbagai penelitian antara lain penelitian yang dilakukan oleh Dr. Anies Universitas Diponegoro (1993). Oentoeng Soeradi. serta gangguan kejiwaan berupa depresi. (3) syaraf. perlu dilakukan penyuluhan yang efektif kepada masyarakat umum. (www. dari hasil pengukuran ternyata kuat medan listrik dan kuat medan magnet dari SUTET masih jauh di bawah ambang batas rekomendasi WHO/IRPA sehingga dalam batas tertentu. kebingungan. Menurut Rea. muka terbakar. berhasil menemukan bahwa medan elektomagnetik yang ditimbulkan dari saluran kabel dan gardu listrik tegangan tinggi dan alat-alat listrik di rumah bisa berisiko terhadap kesehatan manusia. SUTET tidak akan menimbulkan masalah kesehatan. Prof.Menurut WHO. telinga berdenging. yaitu kasus yang terjadi di daerah Cibinong dan Bekasi.

Syarifudin Mahmudsyah M. CSR muncul akibat tekanan . Oleh karena itu muncul pula kesadaran untuk mengurangi dampak negatif tersebut. David C.id. Selain itu.Eng dari Fakultas Elektro ITS mengenai dampak medan elektromagnetik akibat pemakaian tenaga listrik SUTET 500 kV di daerah Singosari. masyarakat menginginkan produk-produk yang ramah lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial dan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM). menunjukkan tidak ada korelasi antara gangguan kesehatan seperti sakit kepala. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Budi Haryanto SKM. pusing. tachycardia. Balitbang Depkes RI (1995-1996). Gresik serta Dharmahusada Indah Surabaya. diperoleh data bahwa kuat medan listrik dan kuat medan magnet masih jauh di bawah level toleransi berdasarkan standar IRPA dan INRC.swa. masyarakat. kelelahan. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ir. tindakan yang dilakukan harus mengacu dalam rangka keeangka tanggungjawab tersebut. Masalah yang dihadapi penduduk lebih mengaraah kepada masalah psikologis dan tuntutan mendapatkan ganti rugi.SUTET dengan penyakit yang dilaporkan atau tingkat kesehatan masyarakat. (Jasdik PLN Pusat: 2004) Melihat adanya dampak dari aktivitas produksi perusahaan (corporation) yang besar pada masyarakat. Setiap keputusan yang akan diambil. Hal ini menimbulkan kesadaran tentang pentingnya menerapkan tanggungjawab sosial terhadap stakeholder. dan seluruh kehidupan. Diakses pada 26 Desember 2006) Dari fenomena inilah muncul tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). indikasi tumor dan leukimia terhadap pajanan medan listrik dan medan magnet. keguguran. (www. Karena setiap tindakan yang diambil korporasi membawa dampak yang nyata terhadap kualitas kehidupan manusia baik terhadap individu. memunculkan pertanyaan mengenai tanggungjawab perusahaan atas lingkungan dan masyarakat sekitar. Dr. sehingga harus memperhatikan tanggungjawab untuk kepentingan bersama.co. melukiskan bahwa dunia bisnis selama setengah abad terakhir telah menjadi institusi paling berkuasa. susah tidur. bradycardia. Msc. Korten. Di sini terbukti sebuah korporasi atau perusahaan mempunyai tanggungjawab sosial terhadap stakeholder dan lingkungannya.

Menurut Bank Dunia. namun dalam perkembangannya masih juga terdapat konflik seperti yang telah dipaparkan di atas. melainkan juga tanggungjawab sosial dan lingkungan. 1. komunitas lokal dan masyarakat luas untuk memperbaiki kualitas hidup. in ways that are both good for business and good for development‖. CSR adalah komitmen bisnis sebagai kontribusi untuk keberlanjutan perkembangan ekonomi yang bekerja sama dengan pekerja. serta masyarakat lokal ataupun masyarakat luas. Pemikiran ini didasarkan bahwa perusahaan tidak hanya berkewajiban ekonomis dan legal . tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama. Gagasan CSR menekankan bahwa tanggungjawab perusahaan bukan lagi sekadar kegiatan ekonomi (menciptakan profit demi kelangsungan usaha). pengembangan ekonomi dan badan usaha. pasar. jaminan kerja. yaitu: perlindungan lingkungan. kepemimpinan dan pendidikan. the local community and society at large to improve quality of life. hak asasi manusia.PLN (Persero) sudah menerapkan CSR. standart usaha. dimana keduanya baik untuk bisnis maupun pengembangan. bantuan bencana kemanusiaan. Definisi Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai sebuah konsep.dan desakan berbagai organisasi semacam LSM karena terjadinya malpraktik di dunia bisnis. Corporate Social Responsibility (CSR) mempunyai definisi dalam beberapa versi karena implementasi yang dilakukan oleh perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya berbeda-beda. perlindungan kesehatan. Menurut World Council for Sustainable Development definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen berkelanjutan dari bisnis untuk berperilaku dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi. Pada dasarnya PT. Menurut versi Bank Dunia dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember11 Januari 2006 definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives. interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat. sekaligus meningkatkan kualitas hidup karyawannya. perwakilan mereka.

id Diakses pada 29 Januari 2006). dengan para stakeholder dengan dasar sukarela. Trinidad and Tobacco Bureau of Standard (TTBS) menyimpulkan bahwa CSR terkait dengan nilai dan standar yang dilakukan berkenaan dengan beroperasinya sebuah korporat. tapi juga pada pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). Dan menurut Tony Djogo (2005). co. CSR adalah pengambilan keputusan yang dikaitkan dengan nilai-nilai etika. yaitu ekonomi. komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas (www. sejauh ini definisi yang banyak digunakan adalah pemikiran Elkington tentang triple bottom line.id. masyarakat danlingkungan.fajaronline. yang jangkauannya melebihi kewajiban di atas. Sedangkan menurut versi Uni Eropa Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is concept whereby companies intregate social and environmental concerns in their business operations and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basis‖ CSR merupakann konsep di mana perusahaan mengintegrasikan masyarakat dan lingkungan dalam kegiatan bisnis dan interaksi mereka. memenuhi kaidah-kaidah dan keputusan hukum dan menghargai manusia. yang kemudian diilustrasikan dalam bentuk segitiga.fajaronline. . Diakses pada 29 Januari 2006).co. (www. lingkungan dan sosial. CSR adalah adanya segitiga dalam kehidupan stakeholders yang mesti diperhatikan korporasi di tengah usahanya mencari keuntungan.(shareholders). bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup karyawan. Dari berbagai definisi di atas. maka CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk bertindak etis. Menurut Elkington (1997) dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember – 11 Januari 2006. beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi.

Gambar 1 Segitiga Dalam Kehidupan Stakeholders Social Lingkungan Ekonomi Sumber: Majalah SWA Edisi 29/XXI/19 Desember 2005 – 11 Januari 2006 2. (3) tanggung jawab sosial. mematuhi peraturan dan hukum (berhubungan dengan lingkungan. legal. nasional. Menurut Chrysanti Hasibuan Sedyono (2004). maupun global. ada kewajiban-kewajiban lain terhadap .fajaronline. korporat. komunitas dan stakeholders yang terkait. di antaranya adalah. com. dan pemerintah). (1) ketersediaan dana. dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholders yang difasilitasi perusahaan tersebut dan menyusun program-program pengembangan masyarakat yang ada di sekitarnya. menyetujui adanya perubahan pembangunan. yaitu adanya empat tanggungjawab perusahaan yang bersifat ekonomis. baik lokal. artinya memperoleh laba bagi pemegang sahamnya. (4) terimplementasi dalam kebijakan (masyarakat. (2) misi lingkungan. Selain kewajiban ekonomis dan legal. model CSR membagi kewajiban perusahaan menjadi empat jenis tanggungjawab atau yang dikenal dengan model empat sisi. Hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Jeneiro Brazilia (1992). Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai Kebijakan Perusahaan Keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri di sebuah kawasan. Diakses pada 25 Januari 2006). Ada lima elemen sehingga konsep keberlanjutan menjadi penting. dan (5) mempunyai nilai keuntungan (www. atas kemampuan perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. dan sebagainya).

Pengusaha ini menempatkan CSR sebagai nilai inti dan menganggap sebagai suatu . merupakan kelompok yang sungguh-sungguh dan sukarela melaksanakan praktik CSR. Oleh karena itu. Kelompok ini sama sekali tidak peduli pada aspek lingkungan dan sosial di sekelilingnya dalam menjalankan usaha. yaitu tanggung jawab yang sebenarnya tidak harus dilakukan. dan biasanya dilakukan setelah mendapat tekanan dari pihak lain. transparan. termasuk kesejahteraan karyawan. tetapi dengan terpaksa. Sehubungan dengan praktik CSR. Aspek lingkungan dan sosial mulai dipertimbangkan. bahkan tidak memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Seperti berlaku fair. Seperti halnya investasi. diantaranya: kelompok hitam. tetapi memandangnya hanya sebagai komponen biaya yang akan mengurangi keuntungan. yaitu pengusaha yang menjalankan bisnis hanya untuk kepentingan sendiri. dan tidak korupsi. Perusahaan akan mendapatkan image positif karena masyarakat menilai pengusaha tersebut membantu dengan sungguh-sungguh. dan menilai CSR sebagai investasi. Kelompok ketiga adalah pengusaha yang menganggap praktik CSR akan memberi dampak positif (return) terhadap usahanya. Kelompok keempat. merah. Kelompok merah adalah pengusaha yang mulai melaksanakan praktik CSR. yaitu ethical dimana perusahaan harus memnuhi kaidah-kaidah normatif. kelompok ini menganggap praktik CSR sebagai investasi sosial jangka panjang. menurut Rudi Fajar (2005) pengusaha dapat dikelompokkan menjadi empat. kelompok hijau. tidak membeda-bedakan ras dan gender.stakeholders di luar pemegang saham. Kelompok hitam adalah pengusaha yang tidak melakukan praktik CSR sama sekali. tetapi atas kemauan sendiri misalnya pemberian beasiswaa. kelompok ini secara sukarela dan sungguh-sungguh melaksanakan praktik CSR dan yakin investasi sosial ini akan memperlancar operasional usaha. seperti masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat. kemudian dengan terpaksa memperhatikan isu lingkungan dan sosial. Model tanggung jawab selanjutnya bersifat discretionary. biru dan hijau. Kelompok ini umumnya berasal dari kelompok satu (kelompok hitam) yang mendapat tekanan dari stakeholders-nya. bukan biaya. CSR jenis ini kurang berdampak pada pembentukan image positif perusahaan karena masyarakat melihat kelompok ini memerlukan tekanan sebelum melakukan praktik CSR.

akomodasi.com Diakses pada 29 januari 2006). Pengusaha tersebut sangat memperhatikan aspek lingkungan.keharusan. Selainitu. (www. Hamann dan Acutt (2003). dan menjadikannya sebagai modal sosial (ekuitas). menelaah ada dua motivasi utama yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. superficial. legitimasi. yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik. Selain menjadikan CSR sebagai visi dan misi. nilai tambah bagi stakeholders. . implementasi nilai-nilai perusahaan serta karena alasan kewajiban. tumbuh dan berkembang bersam masyarakat. agar perusahaan dapat terus beroperasi. Menurut Teguh S. Kelompok ini juga memasukan CSR sebagai bagian yang terintegrasi ke dalam bisnis atas dasar kepercayaan bahwa suatu usaha harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial.tempo. Oleh karena itu. dari hasil survey yang dilakukan oleh majalah SWA dalam CSR Award 2005. tidak memiliki modal yang harus dimiliki dalam menjalankan usahanya. Pertama. Sebagai hasilnya. Ada beberapa alasan perusahaan menjalankan CSR. 48. Pambudi (2005) dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. perusahaan juga menjadikannya sebagai strategi bisnis. dan parsial. sosial dan kesejahteraan karyawannya serta melaksanakan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Kedua. yaitu sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan. kelompok ini tidak saja mendapatkan image positif. lingkungan dan sosial). pengusaha ini yakin bahwa tanpa melaksanakan CSR. perusahaan-perusahaan di Indonesia banyak yang sudah menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR). CSR dilakukan untuk memberi kesan korporasi yang peduli terhadap kepentingan sosial. yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana.89% responden memasukkan unsur-unsur CSR kemudian menjadikan CSR sebagai bagian dari visi dan misi perusahaan. strategi perusahaan. bahkan kebutuhan. yaitu kepercayaan bahwa ada nilai tukar (tradeoff) atas triple bottom line (aspek ekonomi. Realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya. karena 80% perusahaan menganggap CSR penting bagi perusahaan. tetapi juga kepercayaan dari masyarakat yang selalu siap mendukung keberlanjutan usaha kelompok ini.

kegiatan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat. hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan lingkungan. Pambudi (2005). Ketiga. d. c. Building Human Capital. e. kedua. sebagai compliance atau kewajiban karena akan ada hukum yang memaksa untuk menerapkan konsep CSR tersebut. yaitu perusahaan menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan konflik. 3. sebagai beyond compliance yaitu perusahaan merasa sebagai sebagian dari komunitas yang secara sadar dianggap sebagai sesuatu yang penting. sebagai strategi perusahaan yang pada akhirnya dapat mendatangkan keuntungan. kelima. Kedua. implementasi nilai-nilai perusahaan. yaitu memberdayakan ekonomi komunitas. agar perusahaan dapat terus beroperasi. Encouraging good governance. Strengthening economies. cara perusahaan memandang CSR ada tujuh yaitu: pertama. program untuk menjadikan masyarakat lebih mandiri. artinya perusahaan harus menjaga kelestarian lingkungan. program-program CSR yang dijalankan perusahaan meliputi bidang sosial. Pambudi (2005). lingkungan. Program yang Dijalankan Perusahaan dalam Corporate Social Responsibility (CSR) Menurut Teguh S. dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. artinya perusahaann dijalankann dalam tata pamong yang baik. ketiga. Sedangkan menurut Teguh S. b. Pandangan lain tentang CSR oleh Prince of Wales International Business Forum yang dipromosikan oleh IBL (Indonesia Business Links) dalam SWA edisi26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006 lewat pilar antara lain: a. keenam. yaitu menyangkut kemampuan perusahaan untuk memiliki dukungann sumber daya manusia yang handal (internal) dab eksternal (masyarakat sekitar). meningkatkan citra perusahaan. Protecting the environment. Assessing social cohession. . sebagai kewajiban dan tanggung jawab perusahaan. dan ekonomi. keempat. dan terakhir.Menurut Darwina (2005). ada beberapa cara perusahaan dalam memandang aktivitas CSR antara lain: pertama.

Program-program CSR yang dijalankan perusahaan dalam bidang ekonomi antara lain: pemebrdayaan dan pembinaan UKM dan pengusaha. menciptakan nilai tambah (value added) dari produk. pengelolaan fisik agar lebih asri. 1-2 tahun. beasiswa pendidikan. Stakeholders Dalam prinsip responsibility. Di sini perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholders. 4. penekanan yang signifikan diberikan pada kepentingan stakeholders perusahaan. dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. sumbangan sosial untuk bencana alam. Program-program CSR ini biasanya dijalankan dalam waktu yang berbeda-beda sesuai dengan perusahaann masing-masing: kurang dari 1 tahun. Menurut Gurvy Kavei dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. Sedangkan program CSR dalam bidang lingkungan adalah pembinaan dan kampanye lingkungan hidup. pihak ketiga dan dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. yayasan milik perusahaan. 6-7 tahun. serta pemberdayaan dan pengembangan tenaga kerja lokal. pengelolaan limbah. yayasan yang bekerjasama dengan pihak ketiga. 3--5 tahun. Pelaksanaan proram-program CSR dapat dilakukan perusahaan dengan cara bekerja sama dengan pihak lain. antara lain pelestarian lingkungan dan pross produksi yang ramah lingkungan. Di komunitas. antara lain dengan memberikan beasiswa dan pemberdayaan ekonomi terhadap lingkungan. penanaman pohon atau penghijauan dan pertanian anorganik. Menurut Sita Soepomo (2004). 8--10 tahun serta lebih daari 11 tahun. pengembangan agrobisnis. seperti aspek keselamatan kerja. pembangunan dan renovasi sarana sekolah. CSR dipraktekkan dalam tiga wilayah atau area antara lain: di tempat kerja. kredit pembiayaan dan bantuan modal untuk pengembangan usaha.Program-program bidang sosial antara lain: pelayanan dan kampanye kesehatan. kemitraan dalam penyediaan kebutuhan dan bahan baku produksi. pengembangan skill karyawan dan kepemilikan saham. sekolah binaan serta pendidikan dan pelatihan teknologi informasi. pembangunan sarana air bersih. stakeholders .

yaitu: 1. dengan keterampilan dan pendidikan yang memadai akan sangat membantu dunia usaha dalam menjalankan usahanya. c) Pemerintah. bank. contoh: lembaga perlindungan konsumen. Sudarsono (2002). d) Kelompok khusus. pemasok. berkenaan dengan penentuan upah kondisi kerja dan sebagainya. b) Pemegang saham dan dewan direksi. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpedoman pada single bottom line. dan pemerintah sebagai regulator. misalnya pecinta alam yang peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan. terdiri dari: a) Karyawan. masyarakat. b) Pemasok. Termasuk di dalamnya adalah karyawan. Eksternal stakeholder Pihak yang berkepentingan eksternal antara lain: a) Pelanggan. f) Serikat pekerja. dengan memperhatikan dan membela hak konsumen. misalnya. Internal stakeholder Pihak yang berkepentingan internal atau stakeholder. lingkungan sekitar. CSR sebagai sebuah gagasan. menukarkan sumber daya dengan barang atau jasa yang dihasilkan oleh dunia usaha. konsumen. pelanggan bisa perorangan maupun lembaga. Di sini bottom lines selain finansial adalah soal dan lingkungan. e) Lembaga konsumen.perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. struktur yang mengatur perusahaan publik yang memungkinkan pemegang saham untuk . g) Lembaga keuangan. lingkungan yang berpengaruh langsung terhadap perusahaan adalah pihak yang berkepentingan (stakeholders) dibagi menjadi dua. Tetapi tanggung jawab perusahaan harus berpedoman pada triple bottom lines. 2. Menurut J. dengan adanya faktor-faktor produksi memungkinkan dunia usaha melakukan kegiatan produksi. lembaga sewa guna yang dapat membantu dalam pemenuhan modal. bertindak untuk membantu dan melindungi industri dengan peraturan dan undang-undang.

usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. Pertama. dan pemeliharaan instalasi. serta jasa terkait lainnya. usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang. distribusi. Sedangkan transmisi tenaga listrik adalah penyaluran tenaga listrik dari suatu pembangkitan ke suatu sistem distribusi atau kepada konsumen. Gambar 2 Model Stakeholder dalam Sebuah Perusahaan Pelanggan Manajemen Komunitas Lokal Perusahaan Pemasok Karyawan Konsumen Sumber : Pengantar Ekonomi Perusahaan (2002) 5. pemasangan. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi. . Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) adalah transmisi tenaga listrik yang menggunakan konduktor di udara bertegangan nominal 275 kV dan 500 kV yang selanjutnya disebut SUTET. pembangunan. Industri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik Menurut Rancangan Undang-Undang Tentang Ketenagalistrikan. transmisi. pengelola pasar dan pengelola sistem. penjualan. pengoperasian.mempengaruhi suatu perusahaan dengan menggunakan hak suara. Kedua. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) didasarkan pada Pasal 8 UU No. pengujian. agen penjualan. 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok.

Akibat ion yang menggandakan diri dan elektron ini (peristiwa avalanche) akan menimbulkan korona berupa percikan busur cahaya yang disertai pula dengan suara mendesis dan bau khusus yang disebut dengan bau ozone. Konduktor adalah pilihan kawat yang dipergunakan untuk menyalurkan energi listrik. Ionisasi terjadi karena elektron sebagai partikel yang bermuatan negatif dalam gerakannya bertumbukan dengan molekul-molekul udara sehingga timbul ionisasi berupa ion-ion dan elektron baru. akan menyebabkan timbulnya medan magnet maupun medan listrik. akan terpengaruh oleh adanya medan magnet dan medan listrik.sehingga gerakannya akan makin cepat dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya ionisasi di udara. Elektron yang membawa arus listrik pada jaringan interkoneksi dan juga pada jaringan transmisi. Elektron bebas yang terdapat dalam udara dim sekitar jaringan tegangan tinggi. Secara teoritis. Udara yang lembab karena adanya pohon di bawah jaringan tegangan tinggi akan lebih mempercepat terbentuknya pelipatan ion dan elektron yang disebut dengan avalanche. Peristiwa avalanche dan timbulnya korona akibat adanya medan magnet dan medan listrik pada jaringan tegangan tinggi inilah yang sering disamakan dengan radiasi gelombang elektromagnet atau radiasi tegangan tinggi. . Proses ini akan terus berjalan selama ada arus pada jaringan tegangan tinggi yang mengakibatkan ion dan elektron menjadi berlipat ganda terlebih lagi bila gradien tegangannya cukup tinggi. elektron yang membawa arus listrik pada jaringan tegangan tinggi akan bergerak lebih cepat bila perbedaan tegangannya makin tinggi.atau penyaluran tenaga listrik antar sistem.

2 mikro Weber/m2. Adanya perbedaan penetapan batas aman ini disebabkan oleh penelitian mengenai dampak radiasi tegangan tinggi terhadap manusia masih belum selesai dan terus dilakukan. GigaWatt Tahun Series1 .Gambar 3 Grafik Perkembangan Daya Listrik Grafik 14 12 10 8 6 4 2 0 1958/69 1973/74 1978/79 1983/84 1988/89 1993/94 Amerika Serikat sebagai negara industri yang banyak menggunakan jaringan tegangan tinggi. Sedangkan Rusia menetapkan batas aman radiasi tegangan tinggi dengan faktor 1000 lebih rendah dari yang telah ditetapkan Amerika Serikat. telah menetapkan batas aman sebesar 0.

makin besar tegangan yang bekerja pada penghantar makin besar jarak bebas minimum (clearance) yaitu jarak terpendek antara kawat penghantar dan benda atau kegiatan lainnya sesuai dengan yang tertera pada table. Kenaikan suhu tersebut disebabkan oleh suhu keliling dan suhu yang diakibatkan oleh besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar. Ruang tersebut harus dibebaskan dari orang. Bahaya Listrik pada Tegangan Ekstra Tinggi Bahaya listrik pada tegangan ekstra tinggi yang paling dominan adalah gradien tegangan ekstra tinggi itu sendiri terhadap makhluk hidup maupun terhadap benda-benda lain yang berada pada daerah sekitarnya. makin besar suhu yang mempengaruhi kawat penghantar makin mengendor kawat penghantar tersebut.6. dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7). Ruang bebas adalah ruang di sekeliling penghantar (kawat listrik) SUTET yang besarnya tergantung besarnya tegangan. dan (3) Suhu kawat penghantar. tekanan angin dan suhu penghantar. makhluk hidup lain maupun benda apapun demi keselamatan orang. makhluk dan benda lain tersebut demikian pula keamanann dari SUTET itu sendiri. hal ini sudah diperhitungkan pada saat mendesaian SUTET tersebut. sehingga andongannya menjadi lebih besar. (2) Angin. Faktor-faktor yang menentukan Ruang Bebas dan Ruang Aman adalah tegangan. makin besar tekanan angin. METODE Berdasarkan jenis data dan analisis yang digunakan. Sebagai contoh Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dimana saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (penghantar) di udara bertegangan di atas 245 kV sesuai dengan standart di bidang ketenagalistrikan. kekuatan angin dan suhu di sekitar penghantar antara lain: (1)Tegangan. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. makin besar ayunan kawat penghantar ke kiri atau ke kanan. penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengnai populasi atau bidang tertentu. Penulisan ini berusaha . Ruang aman adalah ruang yang berada di luar ruang bebas yang tanahnya masih dapat dimanfaatkan.

Wawancara dilakukan dengan Kepala PLN Kota Malang. Berdasarkan tujuan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau pernyataan berupa data primer dan data sekunder. serta artikel atau tulisan yang diakses dari internet. buku-buku dan hasil penelitian yang mendukung. Pada metode ini peneliti hanya memindahkan data yang relevan daaari sumber informasi atau dokumen yang diperlukan. Kepala Kelurahan Purwodadi. koran. penulis menggunakan metode: 1. Dalam penulisan ini data primer diperoleh dari Kepala PLN Kota Malang. serta warga Kelurahan Purwodadi. Menurut Subagyo (1997:106) analisis kualitatif adalah analisis yang dilakukan terhadap data yang berupa informasi. Data tersebut berupa informasi dari studi pustaka berupa majalah. Penulisan ini dimaksud untuk mendeskripsikan mengenai penerapan CSR dalam mengatasi konflik SUTET. dan warga yang tinggal di sekitar SUTET di Kelurahan Purwodadi. 1997:6). Data primer yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan atau langsung melalui objeknya (Supranto. Penulisan ini menggunakan data kualitatif. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Datadata yang dihimpun merupakan data yang berhubungan dengan berbagai hal mengenai Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan Corporate Social Responsibility (CSR).menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tiddak bermaksud mencari penjelasan. membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. Sedangkan data sekunder atau data pendukung yaitu. menguji hipotesis.1997:6). uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap . 2. Dokumentasi Yaitu membaca laporan penelitian-penelitian sebelumnya serta artikel yang diakses dari internet. Wawancara Menurut Nazir (199:234) adalah memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatap muka antara pewawancara dengan responden. data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi. berupa publikasi (Supranto. Kepala Kelurahan Purwodadi.

dan pada 27 Oktober 1945 dibentuk Jawatan Listrik dan Gas. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang. yakni sandang. . dengan konsekuensi berorientasi pada profit meskipun tidak bisa lepas dan tugas negara sebagai penyedia jasa layanan listrik bagi masyarakat.suatu kebenaran sehingga memperoleh gambaran baru. HASIL Gambaran Umum Perkembangan PT. Tujuan pemerintah melakukan restrukturisasi sekaligus liberalisasi ketenagalistrikan dilatarbelakangi oleh adanya pemikiran bahwa penyediaan listrik nasional harus diselenggarakan secara efisien melalui transparansi dan kompetisi dalam iklim usaha yang sehat dengan cara memberikan peluang yang sama kepada para pelaku usaha ketenagalistrikan. serta sebagai pendorong dalam berbagai kegiatan ekonomi. Listrik merupakan salah satu infrastruktur yang menjadi tumpuan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Sejak tahun 1945 jasa ketenagalistrikan di Indonesia ditangani oleh negara. Sehingga beban Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia menjadi berkurang. PLN Persero Listrik telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan primer. Tahun 1972 PLN berstatus sebagai perusahaan umurn (Perum) dan pada Juni 1994 berubah lagi menjadi perusahaan perseroan (Persero) sampai sekarang. pangan. Analisis ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data dari kelompok subjek yang diteliti. Terbukti dengan disahkannnya UU No 20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan yang salah satu tujuannya adalah agar listrik lebih cepat menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Namun pada tahun 1992 pihak swasta mulai diperbolehkan turut serta dalam bisnis penyediaan listrik sehingga monopoli PLN dalam bisnis tersebut berkurang. Kemudian pada I Januari 1961 dikembangkan menjadi BPU Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan 28 Desember 1964 dibentuk PLN dan Perusahaan Gas Nasional (PGN). dan pagan.

Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan dan merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalarn upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. PLN (Persero) dalam Mengatasi Konflik SUTET PT. sebagai dampak karena sudah memanfaatkan sumberdaya. PLN (Persero) didasarkan pada Pasal 8 UU No 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. Kedua. Sehingga CSR diperlukan agar kegiatan operasional PLN dapat berjalan dengan baik. transmisi. PLN (Persero) mempunyai tanggung jawab yang tidak mudah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu dalam hal penyediaan tenaga listrik di berbagai kebutuhan industri. agen penjualan. membangun pembangkit energi terbaru berdasarkan hasil-hasil studi kelayakan yang sudah ada.Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. pembangunan. Dalam bidang lingkungan seperti perbaikan sarana ibadah dan sekolah. Bidang sosial antara lain dengan memberikan asuransi kebakaran. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang. pemerintahan dan masyarakat luas. pemasangan. Dalam bidang ekonomi yaitu melakukan penghematan biaya operasional sehingga meringankan beban masyarakat karena tidak perlu membayar listrik dengan harga tinggi dengan meningkatkan kemampuan pembangkit-pembangkit energi terbaru yang ada. . perdagangan. Program PT. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi. Setiap kegiatan maupun program yang dijalankan oleh PLN harus mempunyai tanggung jawab kepada stakeholders. yaitu seluruh pihak yang berkepentingan di dalamnya. Pertama. ekonomi. pengelola pasar. lingkungan dan ekonomi. dan pengelola sistem. Memberikan pinjaman dana dari koperasi. distribusi. Bentuk-bentuk CSR yang diterapkan oleh PT. PLN (Persero) selama ini meliputi bidang sosial. membuat peta potensi energi terbarukan yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara komersial. pemberian beasiswa bagi putra-putri karyawan dalam lingkup internal PLN dan pemberian dana tali asih. dan program pencarian sumber-sumber pendanaan. melakukan studi-studi kelayakan tentang aspek teknis dan ekonomis energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar minyak. penjualan.

Dalam hal kesehatan misalnya. pengoperasian. kendala dalam berbagai bentuk selalu dihadapi. (www. isu-isu mengenai lingkungan hidup. penurunan kekebalan tubuh.pengujian. juga timbul permasalahan antara lain dalam hal kesehatan maupun ekonomi. Di samping itu.hamline. baik masyarakat lokal. Kegiatan di sektor ketenagalistrikan sangat berkaitan dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah.edu. Namun demikian dalam pelaksanaannya. juga kelainan otak dan resiko serangan jantung. Diakses pada 6 Februari 2006). demokratisasi. leukimia. Untuk memenuhi penyediaan tenaga listrik agar distribusi listrik tersebut dapat met jangkau seluruh masyarakat maka diperlukan suatu interkoneksi yang disebut Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). DI sisi lain. lambatnya pertumbuhan. Kesadaran kolektif yang terbangun karena tinggi dan bebasnya arus infomasi selama ini telah menimbulkan berbagai permasalahan di sektor ketenagalistrikan. terdapat isu beredar yang menyebutkan bahwa radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker. Sebagai contoh salah satu konflik yang ditimbulkan akibat SUTET adalah saat ini lahan yang tersedia semakin sempit akibat pesatnya perkembangan di segala bidang. serta jasa terkait lainnya. seperti daerah pemukiman yang tepat. Oktober 1995 menyebutkan bahwa paparan medan elektromagnetik yang sedikitpun pada tubuh manusia dapat menimbulkan gangguan dalam jangka panjang. Selain itu juga tidak adanya sosialisasi tentang dampak negatif yang mungkin timbul di kemudian hari. sehingga jalur yang dilalui SUTET kemungkinan tidak dapat menghindari clan terpaksa harus melewati daerah dengan keadaan tertentu. Begitu juga pertumbuhan penduduk yang cukup besar. . Laporan Dewan Perlindungan Radiasi Nasional AS. Selama in] keberadaan industri ketenagalistrikan telah memberikan dampak yang positif bagi para stakeholders. Kendala dan hambatan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan terjadinya konflik terutama dengan masyarakat lokal. pemerintah daerah maupun bagi kepentingan nasional secara keseluruhan. dan pemeliharaan instalasi. kemandulan. dan hak asasi manusia juga sangat berpengaruh terhadap sektor ketenagalistrikan. lndustri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik.

Kec. karena tanah milik warga yang dilalui jaringan SUTET mempunyai nilai jual yang rendah dan dianggap berbahaya akibat adanya radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET. Hal ini dikarenakan sejak SUTET tersebut dibangun sampai masyarakat tinggal di daerah tersebut selama 20--30 tahun belum memberikan efek yang benar-benar berarti. yaitu Kelurahan Purwodadi. PLN (Persero) yang tidak mau bekerjasama saat pembangunan SUTET dan kurang mengkomunikasikan proyek tersebut kepada masyarakat. Jatim. Bahkan di beberapa daerah telah terjadi aksi mogok makan dan jahit mulut sebagai aksi menuntut ganti rugi yang menurut masyarakat dirasakan kurang. Kecamatan Blimbing. misalnya ketika permukiman warga Kabupaten Gresik. perusakan menara SUTET oleh korban lainnya sebelumnya terjadi di Desa Cisaat Kec. (Pikiran Rakyat. dibangun saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 500 KV tahun 1995. badan dana anak-anak UNICEF serta Komnas HAM. Cirebon.Bojonggede Kab. Konflik lain yaitu terjadi pada 20 Januari 2006 yang baru lalu sekitar 200 warga Kampung Nagrak Desa Nanjung Mekar Kec. (Pikiran Rakyat. yaitu telah ada yang meninggal dunia ketika hujan turun tepat di bawah tiang listrik. Apa yang dilakukan masyarakat itu sebagai wujud kekecewaan atas sikap PT. Banyak keluarga memilih tidur di bawah tenda sebagai pernyataan protes. masyarakat berusaha menggergaji dan menggali menara listrik yang melintasi pemukiman mereka. Bogor. Waled Kab. . Tidak adanya sosialisasi mengenai dampak negatif SUTET juga mendorong timbulnya konflik.Setelah peneliti melakukan observasi di salah satu kelurahan. Di desa Waringin Jaya. Konflik akibat SUTET dalam hal ekonomi adalah banyaknva masyarakat yang menuntut ganti rugi atas tanah yang dirasakan kurang. Konflik akibat SUTET tersebut sudah terjadi di berbagai daerah. 22/1/06). Kota Malang (2006) menunjukkan bahwa pengaruh radiasi elektromagnetik dapat dirasakan dalam jangka panjang. Bahkan masyarakat mengatakan berbagai penderitaan akibat SUTET. bahkan mereka mengirimkan surat kepada badan kesehatan dunia WHO. Rancaekek Kab. 21/1/06). Bandung melakukan aksi pembakaran ban di bawah tower SUTET dan membongkar sebuah besi penyangga tower yang berkekuatan 500 kV.

OI. Karena. Karena perbuatan itu termasuk kategori membahayakan obyek vital dan strategis milik negara dengan ancaman pidana hukuman seumur hidup atau pidana mati.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975.Konflik-konflik tersebut di atas akan sangat merugikan kedua belah pihak baik masyarakat maupun PLN. dengan ancaman hukuman penjara masing-masing empat tahun penjara dan dua tahun delapan bulan. Karena masyarakat yang mencoba melakukan perusakan tower SUTET bisa dijerat UndangUndang (UU) No. bila tower SUTET 500 k\ sampai roboh atau rusak. 151985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. Pada tahun 1992 dikeluarkan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. rawan terhadap pemadaman. I tahun 2002 tentang Terorisme. 151/1985.K/47/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. Dari berbagai masalah yang timbul seperti di atas dapat dikatakan bahwa akar permasalahan hanya dua yaitu tuntutan ganti rugi yang kurang dan masalah kesehatan. Di samping itu juga terdapat dampak buruk jika SUTET tidak dibangun antara lain: daya dari pembangkit non BBM yang akan dibangun tidak tersalurkan. Hal ini tidak hanya merugikan PLN yaitu berkurangnya profit karena jika terjadi pemadaman total maka akan menghambat segala aktivitas yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat sendiri. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No OI. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No. 15 Tahun 2003. akibatnya akan melumpuhkan perekonomian dan menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan. penambahan pelanggan baru sulit dipenuhi. dan pertumbuhan sentra industri terhambat yang akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Selain itu perusakan instalasi SUTET termasuk tindakan sabotase negara. Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No. keandalan sistem menurun (kemungkinan blackout sangat besar). Peraturan ini menyatakan bahwa . permintaan tambah daya konsumen sulit dipenuhi. Selain itu juga bisa dijerat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 408 dan pasal 406. akan terjadi pemadaman listrik yang meluas di wilayah Jawa-Bali. pelaksanaan UU No.P/47/MPE/1992 tentang Ruang Bebas bagi Penyaluran Tenaga Listrik. daya listrik yang disalurkan terbatas. Hal ini terjadi karena ada perbedaan dasar hukum yang dijadikan pedoman antara masyarakat dengan PLN.

BPN. baik karena kelalaian atau kesalahan PT. 15 Th 1985. Apabila dalam kasus SUTET tidak diajukan judicial review.01. Sebagai niat baik dan peduli terhadap lingkungan yang terkena proyek untuk publik ini. Depdagri. PLN telah membuat dan menandatangani surat jaminan. apabila dikemudian hari terjadi kecelakaan yang sesuai hasil penelitian disebabkan oleh keberadaan SUTET 500 kV. Peristiwa di atas menuntut PT. PLN telah melaksanakan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah dan selalu mengutamakan kepentingan dan keinginan masyarakat.P/47/MPE/1992 diubah oleh Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No-975 K/47/MPE/1999. Depkum dan HAM. penyuluhan dan upaya-upaya lainnya. yang nada pokoknya berisi. Depkominfo. Pada tahun 1999 Permentamben No. PLN (Persero) untuk mengambil langkah penyelesaian sebagai wujud dari tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan membentuk joint team yang terdiri dari pemerintah. Tim inilah yang ditugaskan untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di lapangan melalui dialog intensif. Depkes. karena hanya memberi ganti rugi dan membebaskan tanah. Tim ini terdiri dari Kantor Menko Polhukam. karena PT. PT. Kejaksaan Agung. PLN (Persero) sudah memberikan semacam dana tali asih dan pinjaman dana dari koperasi kepada . PLN akan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. PLN maka PT.pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan tidak diwajibkan untuk memberikan ganti rugi selama bangunan atau benda apa pun tidak termasuk ke dalam ruang bebas atau dengan kata lain bangunan benda berada di ruang aman. Terkait dengan ganti rugi dan kompensasi. Kantor Menneg LH. bangunan dan tumbuh-tumbuhan di atas tapak penyangga SUTET. Departemen ESDM dan PT PLN (Persero). Kantor Menneg BUMN. para korban tetap dapat mengajukan tuntutan atas dasar wanprestasi. Depkeu. Mabes Polri. Tanggung jawab tersebut adalah terhadap kesehatan manusia dan atau meninggal dunia serta atas kerusakan rumah dan atau barang-barang elektronik atau alat-alat rumah tangga lainnya. PLN dan elemen masyarakat. Baik Permentamben tahun 1992 maupun Kepmentamben tahun 1999 isinya adalah bertentangan dengan Pasal 12 UU No.

PLN meninggikan bentangan kabel listrik. Menurut WHO (World Health Organization) ambang batas kekuatan medan listrik dan medan magnet yang tidak membahayakan tubuh manusia sebesar 5 kV/m untuk medan listrik dan 0. Bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang lain adalah dilakukan pengukuran berkala. Diakses pada 28 lanuari 2006) Oleh karena itu. jika sebelumnya dengan bentangan di menara setinggi 8. kuat medan Iistrik di bawah SUTET di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah. PT. dan pemberian penyuluhan tentang aturan jarak aman kepada masyarakat.masyarakat yang tempat tinggalnya dilalui jaringan SUTET. Hal ini ditujukan agar masyarakat mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Dan jika tidak ada kepentingan tidak dianjurkan berada di luar rumah di bawah SUTET pada malam hari karena pada saat itu arus yang mengalir pada kawat penghantar SUTET lebih tinggi daripada siang hari.5 meter harus membebaskan tanah di bawah kabel listrik. Penyuluhan MI bertujuan memberikan pengertian yang benar tentang pengaruh medan listrik dan medan magnet sehingga masyarakat yang bermukim di sekitar sarana transmisi ini memiliki persepsi yang benar dan rasa aman tinggal di sekitarnya. Penyuluhan ini biasanya diberikan PT. PLN (Persero) sendiri telah membuat pagar pembatas untuk menjaga ruang bebas dan jarak aman serta secara periodik melakukan pengukuran kuat medan listrik dengan menggunakan alat Elektromagnetic Field Meter. terutama pada lahan-lahan yang kosong.1 m Tesla untuk medan magnet. upaya untuk meminimalkan dampak negatif radiasi elektromagnetik ini yaitu dari penelitian yang telah dilakukan. maka ruang setinggi 14 meter di atas tanah dianggap aman.com.republika. tetapi penyuluhan ini juga dapat diberikan pada kesempatan lain jika masyarakat membutuhkanya. dan lebih baik jika menanam pohon sebanyak mungkin di sekitar rumah. PLN menganjurkan pada masyarakat agar mengusahakan rumah berlangit-langit (plafon). (www. . PLN pada saat awal pengoperasian SUTET. maka dengan meninggikan sampai 22. Selain itu.5 meter SUTET. Selain itu dengan adanya peraturan Menteri Pertambangan dan Energi tentang ruang bebas untuk SUTET tahun 1992 pihak PT.

Dari berbagai konflik yang timbul akibat keberadaan SUTET dapat dikatakan bahwa akar permasalahannya yaitu tuntutan ganti rugi yang dirasakan masih kurang oleh masyarakat dan adanya ancaman bahaya kesehatan. jika menggantungkan pada finansial saja. tidak menjamin perusahaan akan berkembang secara berkelanjutan. Untuk itu. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. Karena selama ini dasar hukum pemberian ganti rugi yang menjadi pedoman masyarakat dan PT. tetapi juga tanggung jawab sosial dan lingkungan. Untuk konflik SUTET terutama yang menyangkut masalah ganti rugi sebaiknya pihak pemerintah mengeluarkan suatu dasar hukum yang sama dan jelas sehingga tidak menimbulkan konflik dan tidak akan merugikan kedua belah pihak yaitu masyarakat dan PT. PLN. _yaitu menciptakan profit demi kelangsungan usaha. PLN tidak sama. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut apa yang sudah diterapkan PT. Hal ini dikarenakan perusahaan yang hanya mementingkan keuntungan finansial dan mengabaikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Sedangkan dampak negatifnya adalah adanya bahaya kesehatan oleh radiasi elektromagnetik. PLN (Persero). akan mempunyai dampak positif maupun negatif seperti yang telah dijelaskan dalam poin di atas. BAHASAN CSR menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi. berbagai penelitian dan jalan keluar untuk mengatasi konflik SUTET ini sangat diperlukan. Alasannya. Dampak positif tersebut antara lain dapat meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. sehingga . PLN memiliki tanggung jawab sosial atau CSR. tidak hanya mendapat tentangan dari masyarakat sekitar.Namun dari berbagai bentuk CSR yang sudah diterapkan untuk mengatasi masalah SUTET. PLN merupakan bukti bahwa PT. Dalam pembangunan sarana ketenagalistrikan. namun bentuk CSR tersebut ternyata belum memberikan dampak yang nyata karena masih banyak terjadi konflik di berbagai daerah. tetapi juga tekanan dari LSM. masih belum dapat menyelesaikan secara tuntas konflik-konflik yang terjadi antara masyarakat dengan PT.

sejauh ini belum memperoleh sosialisasi secara transparan tentang kemungkinan dampak buruk yang terjadi akibat pembangunan SUTET. Jaminan kesehatan ini diberikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar area yang dilalui jaringan SUTET. Pada kenyataannya. Dalarn hal ini PT. jumlah ganti rugi dari kedua dasar hukum ini berbeda yaitu dasar yang dijadikan patokan oleh PT.K147/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. Untuk itu. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No. manajemen PT.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975. masyarakat akan berusaha mencari solusi bersama-sama dengan pihak PT. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi kurang tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang dampak negatif dan bahaya yang ditimbulkan akibat pembangunan proyek SUTET. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat sebagai Wujud tanggung jawab perusahaan dalam hal kesehatan. maka suatu saat terjadi masalah maupun konflik. jika pihak PLN memberikan sosialisasi secara transparan dan menyeluruh. PLN (Persero) harus menetapkan batasan-batasan . PLN (Persero) dapat menerapkan salah satu bentuk CSR misalnya berupa jaminan kesehatan.tidak ada kesepakatan antara kedua pihak. Selama ini masyarakat yang areal pekarangan dan sawahnya telah dibangun tower dan akan dilalui jaringan. 15 Tahun 1985. PLN.P/47/MPE/1992 lebih rendah dari jumlah ganti rugi yang tertuang dalam UU No. PLN (Persero) sangat perlu untuk segera memberikan informasi yang sebenarbenarnya. PLN yaitu Permentamben No O1. 151/1985. yaitu masyarakat yang sakit dan diduga disebabkan karena radiasi elektramagnetik. PT. Masalah utama dalam konflik SUTET yaitu selain kurangnya ganti rugi yang diberikan yaitu berkaitan dengan masalah kesehatan. Oleh karena itu.15/1985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No Ol. Sehingga nantinya tidak akan terjadi masalah di kemudian hari pada saat proyek SUTET tersebut mulai dikerjakan. Namun. sangat diperlukan kesamaan dasar hukum sehingga akan memiliki persamaan pandangan antara masyarakat dan PT. atas potensi dampak yang mungkin muncul dari proyek tersebut. PLN (Persero). dan masing-masing mempunyai pandangan sendiri. Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No.

untuk 275 kV adalah 13 m dan 500 kV adalah 17 m (www. rasa mual. kebingungan. Sedangkan jarak aman horizontal dari as/sumbu menara (D) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 7 m.Kes. misalnya penyakit yang menyerang 1) darah.5 m.com Diakses pada 26 Desember 2006). gangguan tidur. Atau menurut hasil penelitian Dr.yang jelas misalnya PLN hanya akan memberikan jaminan kesehatan tersebut jika masyarakat yang sakit tersebut benar-benar disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang menurut berbagai penelitian antara lain menurut WHO. kulit meruam.pln. gangguan konsentrasi. misalnya pemberian kredit dan pemberian dana tali asih.id Diakses pada 7 Februari 2006). Sehingga jika suatu saat ada masyarakat yang mempunyai penyakit atau gejala di atas harus mendapat jaminan kesehatan walaupun mungkin penyakit tersebut bukan karena radiasi elektromagnetik.2 m. misalnya untuk jaringan tegangan menengah dan rendah (JTM/JTR) di daerah tersebut dapat digunakan rumus sederhana. PLN (Persero) pada umumnya masih bersifat hibah dan bukan merupakan program rutin. (5) endokrin. (6) psikologis. telinga berdenging. (4) kurdiovaskuler. muka terbakar. PLN. kejang otot. (www. dr. pening (dizziness). (2) reproduksi. untuk 150 kV adalah 5. PKK yang menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome).co. serta gangguan kejiwaan berupa depresi. M. (3) syaraf.pikiranrakyat .5 m. Untuk transmisi SUTET aturan jarak aman vertical (C) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 4. yaitu I kV = 1 cm. yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache).5 m. Kegiatan yang dilaksanakan oleh PT.5 m dan untuk 500 kV adalah 9. untuk 275 kV adalah 7. Anies. Jika hal tersebut sudah dilakukan secara rutin dan menjadi salah satu program aktivitas PT. untuk 150 kV adalah 10 m. Selain itu penyuluhan dan sosialisasi mengenai jarak aman kepada masyarakat harus selalu diberikan. maka ini akan dapat melibatkan hubungan kemitraan . dan (7) hipersensitivitas dengan gejala jantung berdebar-debar. Artinya jika tegangan di kawat jaringan sebesar 20 kV maka jarak amanya adalah 20 cm atau 0. dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya.

antara pihak PT. PLN dengan masyarakat. Untuk itu tanggung jawab sosial perusahaan diperlukan agar menciptakan keseimbangan dan keberlanjutan hidup dan jalinan kemitraan timbal balik antara perusahaan dan stakeholders. Disini PLN menjadikan masyarakat sebagai mitra, sehingga PLN mempunyai program kegiatan dalam upaya pemberdayaan untuk mendukung kesejahteraan dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. Sehingga antara masyarakat dan PLN terjalin hubungan yang baik dan saling mendukung selama kegiatan tersebut tidak menimbulkan masalah dan dampak negatif. Kemitraan ini bisa tercipta antara lain melalui program yang berupa ekonomi kerakyatan yaitu, PLN menjadi mitra masyarakat dalam hal pemberian hibah untuk kredit usaha. Bentuk-bentuk CSR tersebut dl atas mungkin tidak sepenuhnya dapat mengatasi masalah, namun paling tidak dapat mengurangi adanya konflik SUTET. Agar program-program CSR seperti di atas dapat berjalan dengan lancar, maka sangat diperlukan hubungan maupun kerjasama yang baik antara PT. PLN (Persero), masyarakat, dan Pemerintah, serta seluruh stakeholdernya. Aktivitas CSR yang dilakukan oleh PT. PLN Persero tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga pihak PLN itu sendiri. Manfaat yang diperoleh masyarakat dengan dilaksankannya program CSR oleh PLN misalnya, dapat mengembangkan usaha mereka melalui hibah untuk kredit usaha, adanya jaminan kesehatan, dan masyarakat mendapatkan ganti rugi serta kompensasi atas tanah milik mereka sesuai dengan kesepakatan.Selain itu, aktivitas masyarakat juga tidak akan terganggu karena adanya pemadaman total akibat perusakan tower SUTET. Bagi PT. PLN Persero sendiri, kegiatan operasional perusahaan tidak akan terhambat dan selalu mendapat dukungan dari masyarakat, dan akhirnva tercipta hubungan yang baik antara masyarakat dengan pihak PLN. Di sisi lain, image perusahaan dalam pandangan masyarakat akan tetap baik dan selalu mendapatkan respon yang positi£ Dari manfaat yang dapat diperoleh di atas, semoga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi PT. PLN (Persero) untuk menetapkan CSR dalam kegiatan operasionalnya dan tentunya menjadikan PLN ke arah yang lebih baik.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Akhir-akhir ini banyak perusahaan yang makin sadar akan pentingnya praktik Corporate Social Responsibility (CSR), ataupun mengikuti langkah-Iangkah serupa termasuk perusahaan BUMN seperti PT. PLN (Persero). Hal Ini tentu memerlukan hubungan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat dan para pelaku bisnis sendiri. Misalnya, pemerintah memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang menerapkan program CSR secara serius. Demikian pula Bapepam mewajibkan laporan CSR bag) perusahaan yang akan masuk bursa ataupun yang kini sudah tercatat di bursa, serta langkah-langkah lain yang relevan. Dan masyarakat mendukung program CSR yang diterapkan perusahaan tersebut. Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan, PT. PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial.
Saran

Agar program CSR dapat berjalan dengan baik, maka dapat disarankan (1) Untuk pemerintah sebaiknya memberikan peraturan hukum yang secara tegas dan khusus mengatur tentang tanggung jawab sosial perusahaan; (2) Program diarahkan pada masyarakat yang membutuhkan dan diprioritaskan pada kebutuhan pokok masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup; (3) Program dilaksanakan dengan menyediakan tenaga ahli pendamping; dan (4) Dilakukan evaluasi dan pelaporan, apakah program tersebut berjalan sesuai tujuan.

DAFTAR RUJUKAN

Abdul Rosyid Idris, Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah gagasan dan implementasi. www.fajaronline.co.id. Diakses 29 Januari 2006 Anonim. Kekuatan Ide-ide Bisnis Mujarab. www.swa.co.id. Diakses 30 Desember 2005. ----------. Tanggung Jawab Sosial Bukan Beban Bagi Perusahaan. www.kompas.co,id. Diakses 18 Desember 2005. ----------. Pemerintah Bentuk Tim Tangani SUTET. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Tower SUTET Dirusak. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Awas Listrik Munculkan Penyakit. www.republika.com. Diakses 7 Februari 2006. -----------. Proyek Jaringan SUTET PLN (1). www.suara merdeka.com. Diakses 7 Februari 2006 Azwar, Saifudin,1999. Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Arikunto,Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. PT.Rineka Cipta, Jakarta Djatmiko,Harmanto Edy. Saatnya Menabur. www.swa.co.id. Diakses 26 Desember 2005. Djoko,Tony. Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR). www.pertamina.com. Diakses 18 Desember 2005. Hasibuan, Sedyono Chrisanti. Sekali lagi CSR. Majalah SWA 23/XIX/10/ November 2003. Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis. CV.Alfabeta.Bandung. Wiryosimin, Suwarno. 1995. Mengenal Asas Proteksi Radiasi. ITB Bandung

Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta)
Heri Sudarsono

Abstract: The aims of this research are: (a) Describe financial and non financial compensation, intrinsic motivation and lecture performance; (b) Analyze the effect of financial compensation and intrinsic motivation to lecturer performance; (c) Analyze the effect of non financial compensation on intrinsic motivation; (d) Analyze the effect of non financial compensation and motivation to lecture performance. Based on description and path analysis, it shows that financial compensation and intrinsic motivation was in good condition and affecting lecture performance. Financial compensation as salary, incentive, and wage and intrinsic motivation as achievement knowledgement, the job it self, and responsibility has direct and indirect effect on independent variable, so the main model proposed could be decided as final model in path analysis. Key words: compensation, motivation, performance

Unsur manusia memegang peranan yang penting karena manusia menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, strategi maupun langkah kegiatan operasional suatu kegiatan. Manusia juga merupakan mahluk yang mempunyai pikiran, perasaan, kebutuhan dan harapan yang memerlukan perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi prestasi, dedikasi dan loyalitasnya terhadap organisasi (Hasibuan, 1990:222). Menurut hierarki kebutuhan Maslow (Robins, 1996:1990) manusia mempunyai kebutuhan bertingkat yang mencakup faal, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Heri Sudarsono adalah dosen Jurusan Manajemen FE Universitas Teknologi Surabaya

keberadaan dosen menjadi factor yang sangat penting dalam kelangsungan kegiatan akademik. Berdasarkan latar belakang maka tujuan penelitian ini adalah: (a) Mendeskripsikan kompensasi financial dan finansial.Untuk memenuhi aneka ragam kebutuhan tersebut. cara meningkatkan prestasi. sehingga manusia merupakan asset yang harus ditingkatkan efisiensi dan produktivitasnya. disamping sebagai pengajar. Persoalan yang sering mencuat bahwa secara umum kinerja dosen perguruan tinggi swasta (PTS) disinyalir menghasilkan kinerja yang masih dibawah dosen perguruan tinggi negeri (PTN). utamanya dosen ekonomi menjadi menarik untuk dilakukan. motivasi dan kepuasan kerja adalah dengan memberikan kompensasi (1993:156). dosen juga berfungsi sebagai peneliti dan pengabdi. Menurut Handoko. penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Berdasar tri dharma perguruan tinggi. prestasi dosen juga ditentukan oleh frekuensinya dalam menyajikan makalah seminar. Oleh karena itu maka kajian tentang kinerja dosen PTS. Hal ini menunjukkan bahwa disamping mengajar. Selanjutnya gaji merupakan salah satu faktor insentif yang sangat penting bagi dosen. Untuk mencapai hal itu organisasi harus mampu menciptakan situasi dan kondisi yang mendorong dan memungkinkan pegawai mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki secara optimal. Oleh karena itu aspek pembinaan manusia dan motivasi kerja merupakan fokus utama perhatian organisasi. yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi secara umum. penulisan artikel ilmiah dan penyusunan buku. Pola penggajian secara proporsional dengan memberikan insentif pada tenaga dosen yang kinerjanya melebihi standart yang ditetapkan oleh organisasi merupakan salah satu metode untuk meningkatkan motivasi berprestasi. hal yang dapat dilakukan adalah dengan menjadi anggota organisasi. menguasai prinsip penelitian serta mampu melaksanakan dan mengkomunikasikan hasil penelitian. motivasi intrinsik . Dalam konteks perguruan tinggi. motivasi yang tinggi akan berdampak pada kinerja peningkatan produktivitas dan efisiensi. Tumbuh dan berkembangnya organisasi tergantung pada sumber daya manusia. Salah satu upaya yang ditempuh organisasi untuk menciptakan situasi tersebut yakni dengan memberikan kompensasi yang memuaskan karyawan. kritis. Dengan pemberian insentif yang layak akan meningkatkan motivasi kerja dosen. Dosen juga dituntut untuk memililiki kemampuan berfikir logis.

(d) Memberi rewards terhadap perilaku yang sesuai dengan organisasi. dan sebagainya. (c) Prinsip . 1991:185): (a) Prinsip kewajaran. (c) Menunjukkan adanya keadilan baik internal equity maupun external equity.dan kinerja dosen ekonomi pada PTS. (b) Mempertahankan karyawan yang ada. organisasi perlu memperhatikan prinsip berikut (Wayne F. menyebutkan bahwa terminologi atau pembagian dari kompensasi terbagi dalam bentuk kompensasi langsung dan kompensasi tidak langsung. (f) Menyesuaikan dengan regulasi upah yang ada. Kompensasi finansial langsung terdiri dari gaji. (e) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. bonus dan komisi. lingkungan psikologis atau fisik. (g) Memotivasi karyawan. Kompensasi finansial tidak langsung. Davis &Werther (1996:381) menyebutkan ada beberapa tujuan dari pemberian kompensasi. (b) Mengkaji pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsic. upah. (e) Mengontrol dana. seperti tanggung jawab. artinya pemberian kompensasi dengan memperhatikan perbandingan antara jumlah gaji tertinggi dan terendah. yang disebut juga tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi langsung. tidak langsung atau tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi finansial langsung. Pemberian kompensasi yang tepat dan efektif dalam organisasi harus memenuhi syarat adil dan layak pada karyawan. Kompensasi non-finansial adalah kompensasi yang diterima atas dasar pekerjaan itu sendiri. Kompensasi finansial terdiri dari kompensasi finansial langsung dan tidak langsung. upah. diantaranya: (a) Mendapatkan personal yang kualified. biaya hidup. artinya dalam pemberian kompensasi harus terdapat unsur keadilan baik dalam kaitannya dengan waktu kerja maupun prestasi kerja. Kompensasi finansial langsung terdiri dari bayaran yang diperoleh dalam bentuk gaji. yaitu kompensasi finansial dan kompensasi non-finansial. Agar pemberian kompensasi efektif. (b) Prinsip keadilan. Mondy and Noe (1993:20) yang menjadi dasar penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua jenis. dan (h) Mengurangi Labor Turnover karyawan. Selanjutnya Simamora (1997). peluang pengakuan. peluang promosi. (d) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. (c) Menganalisis pengaruh kompensasi finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. bonus dan komisi. Cascio.

dengan yang tidak terkait dengan pekerjaan atau jabatan. dalam pemberian kompensasi mudah dihitung atau mudah dimengerti oleh karyawan. artinya pemberian kompensasi memperhatikan hal yang tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan atau jabatan. Sedangkan Widjaja (1986:12) berpendapat bahwa motivasi adalah kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. artinya pemberian kompensasi harus mampu meransang karyawan untuk memberikan sumbangan yang maksimal atau konstribusi pada organisasi. artinya pemberian kompensasi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kompensasi yang diberikan karena kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan. Teori Maslow mengemukakan bahwa manusia dimotivasi oleh keinginan untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang ada. dan kebutuhan . tujuan organisasi dan kebutuhan. (d) Prinsip kejelasan. Robbins (1996) menyebutkan bahwa motivasi merupakan kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi kebutuhankebutuhan individual.keamanan. yakni kebutuhan manusia dapat disusun dalam hierarki 5 kebutuhan. dari kebutuhan yang terendah sampai kebutuhan tertinggi. Siagian (1995) menjelaskan motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya. (g) Prinsip keseimbangan. 1993: 252). Motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan (Handoko. (f) Prinsip perangsang. artinya pemberian kompensasi harus dihindarkan dari unsur pemborosan organisasi. Teori ini mendasarkan konsep hierarki kebutuhan pada dua prinsip. (e) Prinsip Pengendalian biaya. dan (h) Prinsip kesepakatan. artinya dalam pemberian kompensasi hendaknya merupakan hasil atau kesepakatan bersama antara karyawan dengan pihak manajemen dalam organisasi. Berdasar beberapa definisi motivasi dapat dilihat adanya tiga unsur kunci. atau dengan kata lain motivasi adalah akibat dari interaksi antara situasi dan kondisi yang ada. yakni: upaya. Terdapat beberapa teori motivasi yang menunjuk pada kebutuhan yang memuaskan dan mendorong semangat bekerja seseorang sebagai berikut.

Kebutuhan ini meliputi penerimaan oleh teman sekerja.yang telah terpuaskan akan berhenti menjadi motivator utama dari pelaku. appresiasi. Aktualisasi diri berkaitan dengan pengembangan akan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. (b) penghargaan. faktor higienis yang juga disebut dissatisfier yang berhubungan dengan hakekat manusia untuk memperoleh ketentraman lahiriah. (c) pekerjaan itu sendiri. tidur. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan keinginan untuk dihormati. yakni motivasional dan higieni. 2. Kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan. Pertama. Kebutuhan aktualisasi diri. perumahan. . tiap orang menginginkan dua macam kebutuhan. kemerdekaan. Serangkaian faktor ini meliputi: (a) pengakuan prestasi. 1992:334). Menurut Sukanto dan Handoko (1992:271). (d) tanggung jawab. perampasan dan atau juga proteksi terhadap harta kekayaan. rasa memiliki. kebutuhan akan cinta kasih. dan berhubungan dengan lingkungan. keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. Kebutuhan akan rasa aman dalam melaksanakan suatu pekerjaan dan merupakan harapan mendapat perlindungan terhadap bahaya. Kebutuhan penghargaan. Hilangnya faktor pemeliharaan ini akan meningkatkan ketidakpuasan dan tingkat absensi serta labor turnover yang tinggi. 5. kebutuhan akan status. dan (e) kemajuan. Adapun tingkatan kebutuhan tersebut sebagai berikut: 1. Kebutuhan fisiologis. dan sebagainya. Kebutuhan sosial. Menurut Herzberg (dalam Dressler. kedudukan dan sebagainya. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan. Kedua. dihargai atas prestasinya. Faktor motivasi kerja intrinsik inilah yang menjadi penekanan peneliti. faktor motivasional disebut juga faktor intrinsik yang meliputi kondisi intrinsik dan kepuasan pekerjaan. pengakuan atas kemampuan dan keahliannya. keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. kebebasan. seks. minum. faktor motivator yang juga disebut satisfier yang berkenaan dengan isi pekerjaan dan faktor ini sebagai sumber kepuasan kerja yang dapat memotivasi seseorang pada pekerjaan mereka. Kebutuhan akan aktualisasi diri dengan untuk menunjukkan kemampuan. Kebutuhan terhadap hubungan lingkungan sosial atau bersosialisasi. ancaman. 4. Kebutuhan rasa aman. 3.

Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan. Faktor higienis meliputi kebijakan. kemampuan dan persepsi tugas (Byars dalam Suharsimi. If performance standart or measures are not job-related. the evaluation can lead to inaccurate or biased results. and then gives feedback to employees and the Human Resources Departement. Artinya apabila perilaku seseorang memberikan hasil pekerjaan yang sesuai dengan standar atau kriteria yang dibakukan organisasi. mengukur kriteria-kriteria yang harus diukur dan selanjutnya memberi feedback kapada pegawai/karyawan dan bagian personalia.Faktor ini juga disebut faktor ekstrinsik yang mempengaruhi ketidakpuasan kerja. mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan kerja. Perbaikan faktor higienis akan mencegah. administrasi. maka kinerjanya tergolong baik. pengawasan. sistem penilaian kerja yang efektif memiliki beberapa elemen kunci: Appraisal approaches must identify performance-related standart. Seymour (dalam Swasto. Jadi sistem penilaian yang efektif harus mengidentifikasikan kinerja yang sesuai dengan standar. 1996) mengemukakan bahwa kinerja merupakan pelaksanaan tugas yang telah diselesaikan seorang dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur. . tetapi tidak akan menimbulkan dorongan dan kepuasan kerja. Handoko (1992:270) menyebutkan bahwa faktor higienis sendiri tidak menimbulkan motivasi tetapi diperlukan agar motivasi dapat berfungsi atau dengan kata lain berfungsi sebagai landasan motivasi. dan jika sebaliknya berarti kinerjanya buruk. measure those criterias. penetapan standar diperlukan untuk mengetahui apakah kinerja karyawan sesuai dengan sasaran yang diharapkan. gaji. harming the manager‟s relationship with their employees. sekaligus juga melihat besarnya penyimpangan dengan cara membandingkan antara hasil pekerjaan secara aktual dengan hasil yang diharapkan. Kinerja diartikan sebagai hasil usaha seseorang yang dicapai dengan kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. 1995:29). Atau dengan kata lain. Menurut Davis & Werther (1996:344). hubungan antar rekan dan kondisi kerja. Prestasi kerja merupakan hasil keterkaitan antara usaha.

b) kemampuan karyawan untuk melaksanakan pekerjaan. dan kepemimpinan. Sesuai dengan Keputusan Menpan No. kinerja merupakan fungsi interaksi antara motivasi kerja dengan kemampuan. prakarsa. model hipotesis dapat diuraikan hipotesis berikut: (1) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial terhadap motivasi intrinsic. bentuk penilaian prestasi kerja atau kinerja terangkum dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan. kerjasama. (3) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. dharma penelitian dan dharma pengabdian pada masyarakat. dan (4) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. prestasi kerja.Analisa tentang kinerja karyawan menurut Gomes (1995) senantiasa berkaitan erat dengan dua faktor utama: a) kesediaan atau motivasi seseorang untuk bekerja yang menimbulkan usaha karyawan. dan a = ability. Berdasarkan model kajian penelitian tersebut. dan dapat dituliskan sebagai berikut: p = f ( m x a ). ketaatan. Berdasarkan beberapa definisi di disimpulkan bahwa ukuran kinerja dosen dalam penelitian ini adalah tingkat kinerja dosen dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya yang menyangkut tri dharma perguruan tinggi yakni dharma pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain. kemampuannya dalam melaksanakan suatu pekerjaan serta peralatan atau teknologi yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. 13/MENPAN/1988 tentang Perincian Kegiatan dan Angka Kredit Jabatan Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi. kejujuran. dimana daftar tersebut memuat 10 indikator yang ada. m = motivasi. (2) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. . Swasto (1996) mengemukakan bahwa prestasi kerja individu merupakan perpaduan antara motivasi yang ada pada diri seseorang. dimana p = performance. dapat diturunkan menjadi model hipotesis pada Gambar 1. Indikator-indikator tersebut meliputi: kesetiaan. tanggung jawab. Dalam pendidikan tinggi atau perguruan tinggi.

2. Penulis memperoleh informasi melalui dokumen dari masing-masing PTS seperti program dan struktur kompensasi. 1995). Cara memperoleh data dengan jalan mengadakan tanya jawab langsung dengan pihak yang berkepentingan dengan harapan memperoleh informasi yang dibutuhkan. 3. Uji validitas dalam penelitian ini yakni . Dokumentasi. Kuesioner. (b) memperoleh informasi dengan reliabilitas dan validitas setinggi mungkin (Singarimbun. Wawancara. Tujuan utama dari pemberian kuesioner adalah: (a) memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Informasi yang diperoleh memperjelas atau mendukung jawaban yang disampaikan melalui kuesioner. jumlah dosen.P41 Kompensasi Finansial (X1) P31 Kompensasi Non Finansial (X2) Motivasi Intrinsik (X3) P43 Tingkat Kinerja Dosen (X4) P32 P42 Gambar 1 Model Hipotesis Penelitian METODE Teknik yang digunakan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian dilakukan dengan berbagai cara: 1. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. dan sebagainya. untuk mendapatkan data primer serta memperoleh informasi tertulis dari responden sebagai obyek penelitian. Instrumen dikatakan valid bila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur dan mampu mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Dilakukan dengan memberi daftar pertanyaan pada dosen yang menjadi sampel penelitian.

(1) Metode analisis statistik deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan keadaan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dosen. Selanjutnya untuk analisis statistik inferensial dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Path Analysis dengan terlebih dahulu diadakan analisis faktor untuk tiap variabel. . 1991:172). dan dilakukan dengan melihat standardized scatterplot. Analisis dilakukan secara kualitatif untuk menjelaskan dan mendeskripsikan hubungan data yang diperoleh dengan landasan teori yang dipakai melalui uraian sistematis. maka pelaksanaannya harus memenuhi beberapa asumsi klasik (Gujarati.menggunakan analisis yang menghitung koefisien korelasi antara skor item dengan skor totalnya. Karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan beberapa uji asumsi klasik diantaranya sebagai berikut: a) Asumsi normalitas. artinya adanya heterokedastisitas akan bertentangan dengan salah satu asumsi peneliti yaitu bahwa variabel residual harus sama untuk semua pengamatan. menggunakan bantuan program komputer SPSS. peneliti menggunakan taraf signifikansi 5 persen. Uji ini untuk mengetahui apakah model yang dipakai linier atau tidak. (2) Metode analisis statistik inferensial yang digunakan untuk melihat pengaruh diantara variabel-variabelnya. Untuk menganalisis data dan menguji hipotesis. E(e) = 0. artinya asumsi menginginkan model yang dipakai dapat secara tepat menggambarkan rata-rata variabel terikat dalam observasi. Untuk memperolah nilai koefisien yang tidak bias dan efisien dari persamaan estimasi menggunakan OLS. dimana asumsi ini terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk suatu pola tertentu.5 atau lebih. c) Uji linieritas. Kriteria pengujian yang digunakan apabila reliabilitas suatu instrumen yang memiliki koefisien reliabilitas 0. dengan taraf signifikansi 5% dan dengan bantuan program komputer SPSS for Windows. maka dapat dikatakan sebagai pengumpul data yang handal. b) Asumsi homokedastisitas. Uji reliabilitas dalam penelitian ini. rata-rata sama dengan nol.

Sedangkan hasil uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach dapat dilihat pada Tabel 1.7151 0. dan 68.0000. Valid tidaknya suatu item instrumen dapat diketahui dengan membandingkan antara indeks korelasi produk moment Pearson pada level signifikansi 5 persen dengan nilai kritisnya. Pengujian Asumsi Klasik Uji Asumsi Normalitas Distribusi normal dalam statistik inferensial sangatlah penting. Selanjutnya hasil uji validitas instrumen penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Uji yang dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square terhadap nilai standar residual hasil persamaan regresi. Motivasi intrinsik X4. 1998). Kompensai Non Finansial X3. Menurut Sugiyono (1994) hasil penelitian valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.7350 0. Kompensasi Finansial X2.HASIL 1.8093 Simpulan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Sumber: Hasil Penelitian. 2007 2. Instrumen dikatakan valid apabila memiliki koefisien diatas 0. Jadi semua nilai residual data .1231.05 (5 persen) maka distribusinya normal dan apabila sebaliknya maka terdistribusi tidak normal.7114 0. Bila probabilitas basil uji Chi Square lebih kecil dari 0.3 (Sugiono. oleh karena itu perlu diadakan uji asumsi yaitu menguji residual untuk mengetahui apakah data berasal dari distribusi normal atau tidak. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen Validitas merupakan unsur penting bagi suatu instrumen karena uji ini menunjukkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan instrument dalam melaksanakan fungsinya. Tingkat Kinerja Dosen Alpha 0.0000. Diolah. dan 0.0000 dengan nilai probabilitas sebesar 0. Hasil pengujian menunjukkan nilai chi Square sebesar 78. Tabel 1 Rekapitilasi Hasil Uji Reliabilitas No 1 2 3 4 Variabel XI.

006 0.407 0.662 0.456 0.8 X2.5 X1.000 0.001 0.8 X3.002 0.651 0.4 X3.000 0.006 0.767 0.000 0.720 0.002 0.017 0.000 0.6 Y. 1 X1.4 X1.008 0.6 X2.001 0.000 0.9 Y.l Y.5 Y.10 X3.11 Y.4 X2.387 0.495 0.1 X3.7 X2.2 X2.487 0.004 0. Kompensasi Non Finansial X3.004 0.5 X3.612 0.787 0.689 0.542 ).501 0.9 Y.000 0.003 0.000 0.515 0.2 Y.8 X2.576 0.353 0. Tabel 2 Rekapitulasi hasil Uji validitas Variabel X1.2 X3.000 0.046 0.3 X3.644 0.4 Y.455 0.000 0.1 X2.000 0.006 0.563 0.3 X 1.666 0.6 X3.003 0.471 0. Tingkat Kinerja Dosen Sumber : Hasil Penelitian.000 Simpulan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid X2.3 X2.3 Y.2 X1.560 0.10 Y.455 0.001 0.000 0.006 0.000 0.600 0. Kompensasi finansial Item X1.492 0.7 X3.9 X2.6 X1.5 X2.001 0.000 0.619 0. Motivasi intrinsik X4.028 0.543 0.481 0.434 0.003 0.terdistribusi secara normal (Tabel 3).8 Y.000 0.685 0.594 Probabilitas 0.013 U. Diolah.696 0. 2007 .313 0.720 0.662 0.000 0.12 Koefisien Korelasi 0.000 0.643 0.000 0.7 X1.7 Y.000 0.455 0.689 0.

7385 62. Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji koefisiensi korelasi Rank Spearman yaitu mengkorelasikan antara absolut residual hasil regresi dengan semua variabel bebas.0536 Probabilitas 0. Pengujian regresi memenuhi syarat jika diantara variabel bebas tidak terjadi heteroskedastisitas.434 0.0842 0.8308 Signifikansi (P) 0.0787 0. 2007 Uji Asumsi Heterokedastisitas Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah diantara variabel bebas terjadi hubungan atau tidak. sehingga variabel bebas tidak menyebabkan terjadinya heterokedastisitas. diolah. X2. Berdasarkan data dari rekapitulasi tersebut di atas menunjukkan bahwa semua variabel mempunyai nilai signifikansi di atas taraf kepercayaan 5 persen. 2007 . Korelasi 0. Tabel 4 Rekapitulasi Hasil Uji Heteroskedastisitas Variabel bebas XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial X3 : Motivasi Intrinsik Koef.078 0.366 0.252 0.267 0. Hasil uji dapat di lihat pada Tabel 4.178 0. Diolah.0000 0.X2 terhadap X3 Xl. Kesimpulan yang didapat adalah terjadinya homoskedastisitas sehingga pengujian hipotesis dapat dilanjutkan.336 Simpulan ' Homoskedasttsitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Sumber : Hasil Penelitian.Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Variabel X1.0000 Simpulan Normal Normal Sumber : Hasil penelitian. X3 terhadapX4 Nilai Chi Square 72.

motivasi intrinsik (X3) serta tingkat kinerja dosen (X4) Selanjutnya akan diuraikan masing-masing variabel tersebut. . Ternyata hasil penelitian tidak menunjukkan adanya plot tertentu sehingga uji ini terpenuhi.8). variabel dalam penelitian ini meliputi kompensasi finansial (XI) dan kompensasi non finansial (X2). a. dimana saling berkorelasi.7 sampai X1. Asumsi ini akan terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk pola tertentu (acak). dan dilakukan dengan melihat Standardized Scatterplot. 3.l dan X1. bagian 1 terdiri dari item (Xl. maka pertanyaan dibagi menjadi tiga bagian.2).3 sampai X1. bagian 2 terdiri dari item (X1.Uji Linieritas Pengujian ini dilakukanuntuk mengetahui model yang dibuktikan linier atau tidak. bagian 3 meliputi item (X1. Deskripsi Kompensasi Finansial Untuk melihat distribusi frekuensi jawaban responden dari item yang disampaikan pada 65 orang respoden. Sesuai dengan model analisis dalam penelitian ini.6). Deskripsi Variabel yang Mempengaruhi Kinerja Dosen Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui sejauh mana distribusi frekuensi responden berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan kepada 65 responden yakni para dosen tetap di tiga perguruan tinggi swasta di Kediri. yang secara detail dapat dilihat pada Tabel 5.

bagian pertama meliputi item (X2. X2.85 12.54 81. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 Kesesuaian tentang sistem pemberian gaji Kesesuaian tentang besarnya gaji yang diterima Kesesuaian tentang sistem pemberian honor Kesesuaian tentang besarnya honor Kesesuaian tentang macam insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya tunjangan Kesesuaian tentang macam tunjangan 1 % 2 f % 6. X2.7.46 15.2 dan X2.15 5 7. X2. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian. bagian kedua meliputi item (X2.5.00 0. X2.31 10 15. X2. selanjutnya dapat dilihat Tabel 6. dan X2.00 32.31 10.31 66. c. maka item pertanyaan dibagi menjadi empat bagian seperti dapat dilihat pada . Deskripsi Motivasi Intrinsik Untuk mengetahui distribusi jawaban terhadap 65 responden. Deskripsi Kompensasi Non-Finansial Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban 65 responden variabel ini.77 49 50 75.00 0.46 6 7 8 0 00 0.77 24.3).4.00 1.54 69.31 b.6).38 f 40 53 45 45 47 43 3 % 61.Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kompensasi Finansial Jawaban Responden No.77 10.69 6 15 10.00 0.54 0.23 72.9.38 76 92 9 3.15 16 12 10 12 f 21 4 % 0.62 18. bagian ketiga meliputi item (X2.8.00 10.100.38 18.77 12.1.23 69.

62 16.92 7.62 12.00 61.00 1.46 17 26.32 27 41.92 69.92 16.1 sampai X4. bagian kedua untuk item X4.00 0.62 12. Tabel 6 Distribusi Kompensasi Non Finansial Jawaban No.69 24.12.08 40.10 sampai X4.54 f 22 16 11 11 11 5 16 8 9 12 Responden 4 % 33. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8. 4.15 13.46 .31 6.85 18.00 0.62 4.54 6 9.00 f 3 3 8 4 9 2 % 4.22 25 38.46 63.08 9.00 60.23 38.08 0.46 12.85 f 40 44 46 50 45 25 41 26 39 40 3 % 61 54 67.31 13.77 76.7 sampai X4.15 12 18.68 70. Deskripsi Kinerja Dosen Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban terhadap 6> responden.85 24.92 16.54 3.9 dan bagian ketiga untuk item pertanyaan X4.Tabel 7. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Keadilan dalam promosi Pernyataan tentang kesempatan promosi Sistem kenaikan pangkat Kesempatan mengikuti diklat Dorongan studi lanjut Frekuensi mengikuti diklat Dukungan atasan Dukungan rekan kerja Suasana kerja yang mendukung Fasilitas kerja yang diterima 0 2 0 0 0 8 2 6 0 1 1 % 0.6.00 3. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian yakni bagian pertama untuk item pertanyaan X4.23 0.

00 1.08 35 53.00 0.46 45 69. Membimbing mahasiswa pendidikan seminar 0 0 0 0 0 0 1 % f 2 % f 3 % f 4 % 0.23 7.77 46 70.46 10.46 Tabel 8 Distribusi Frekuensi Kinerja Dosen Jawaban Responden No.69 14 21.00 7 6 6 4 8 10.00 8 7 6 5 6 2 7 23.08 45 69.32 12 18.15 45 69.54 17 26 15 .23 6.69 15 23.22 3.00 0.00 0.46 0.00 0.77 39 60 00 19 29.46 0.00 0. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pengakuan prestasi dan atasan Prestasi menjadi dorongan Utama Penghargaan yang diterima Keadilan pemberian penghargaan Kesesuaian pekerjaan Beban mengajar yang diterima Senang terhadap pekerjaan Pemberian tanggung jawab Sikap terhadap tanggungjawab 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 % 0.62 0.77 12 18.00 15 23.77 12 18. modul 12 31 40 61.23 9.54 47 72.Tabel 7 Distribusi Frekuensi Motivasi Instrinsik Jawaban Responden No.23 16 24.54 0.77 46 70.00 0.23 9.77 44 67.46 37 56.62 Membimbing kuliah kerja nyata Membuat diktat.92 16 24.00 f 7 2 % f 3 % f 4 % 10.62 10.92 47 72.54 9.46 12 18.54 44 67.08 45 69.85 24 36.00 0.31 16 24.23 14 21.08 38 58. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 Keinginan memperoleh Ijazah sampai stratum tertinggi Memberi kuliah Menyelenggarakan di lab.00 0.69 9.23 12 18.00 12 18.23 14 21.

Jika beta signifikan.54 10 15.0000.23 0 00 17 26. Hasil perhitungan regresi antar factor dan identifikasi jalur pada tiap tahap dapat dijelaskan berikut: a. Sebelum analisa jalur.85 14 21. di mana variabel kompensasi intrinsic ke varibel motivasi intrinsic disebut jalur dengan nilai beta sebesar 0.77 19 29.Tabel 8 (Lanjutan) Jawaban Responden No.15 40 61. Pengujian analisis jalur dilakukan melalui penyaringan statistik dengan menggunakan koefisien arah beta untuk regresi berdasarkan data dalam bentuk skor baku karena dapat dibuktikan.38 42 64 62 12 18. dilakukan pengujian hipotesis yang telah diajukan sebelumnya. Tahap 1 Uji Jalur P31 Pada dasarnya uji analisis jalur ini. Hasil Analisis Jalur Menggunakan pengujian analisis jalur (path analysis).00 33 50.54 0. maka signifikan pula koefisien jalurnya.54 8 12.85 41 63. Juga dilihat interkorelasi antara variabel penelitian yakni kompensasi finansial.00 1 54 f 6 3 9 2 % 9.08 14 21.548876 dan signifikansi t = 0.31 1. 7 8 9 10 11 12 Item Pertanyaan Menulis karya ilmiah Menyajikan karya ilmiah Menampilkan karya ilmiah tidak dipublikasikan Memberi penyuluhan masyarakat Memberi pelayanan yang menunjang pemerintah Membuat karya pengabdian f 0 0 1 0 0 1 1 % 0 00 0.22 4. kompensasi non finansial. Jika variabel kompensasi intrinsic dinaikkan satu poin. maka variabel motivasi intrinsic akan naik sebesar . motivasi intrinsik dan tingkat kinerja dosen.46 5. perlu dilakukan analisa faktor yang digunakan untuk mencari faktor yang menentukan masing-masing variable bebas.62 17 26 15 48 73. Artinya bahwa variabel kompensasi finansial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel motivasi intrinsic.54 13.62 3 4 % f % f 42 64.00 13 20.

2. b. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin. Artinya variabel motivasi intrinsik . Tahap 4 Uji Jalur P42 Uji ini merupakan uji jalur faktor variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel tingkat kinerja dosen.0010. Tahap 5 Uji Jalur P43 Uji ini merupakan i0i jalur faktor variabel motivasi intrinsik ke variabel tingkat kinerja dosen.520431 dengan signifikansi t sebesar 0.2731. 354285.232731 dengan signifikansi t sebesar 0. didapatkan nilai beta 0.354285 dengan signifikansi t sebesar 0. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin. d. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap variabel intrinsik.0010.0005. Tahap 3 Uji Jalur P32 Dalam uji jalur full merupakan jalur faktor dari variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel motivasi intrinsik.0. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap tingkat kinerja dosen.0142. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. didapatkan nilai beta sebesar 0.0005. c. Tahap 2 Uji Jalur P41 Dalam uji jalur ini. Jika variabel kompensasi financial dinaikkan satu poin. Artinya variabel kompensasi financial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen. didapatkan nilai beta 0.398286 dan signifikansi t 0. maka varibel motivasi intrinsik akan naik sebesar 0. e. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0.398286 dengan signifikansi t sebesar 0.548876. di mana jalur variabel kompensasi financial ke variabel Tingkat kinerja dosen disebut jalur P41 dengan nilai beta sebesar 0.

0142 Hipotesis 1: Diduga ada pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik Hasil analisa data menunjukkan bahwa hipotesis dinyatakan diterima.59877 0.0000.13 persen variabel kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik. Selanjutnya hasil analisa untuk masing-masing hipotesis dapat dilihat pada Tabel 9.548876 0.0010 0. Hipotesis 2: Diduga ada pengaruh Kompensasi Finansial dan Motivasi Intrinsik Terhadap Kinerja Dosen Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 2 diterima. artinya terdapat kontribusi 30.59877 0.354285 0. Apabila variabel motivasi intinsik dinaikkan satu poin.30127 0.520431.0000 0.54888 yang berarti terdapat hubungan yang kuat.23731 0.30 127 dengan signifikansi F 0. Hal ini dibuktikan variabel Kompensasi finansial dan motivasi . Tabel 9 Rekapitulasi Hasil Analisis Jalur Variabel terikat Motivasi Intrinsik (X3) Kinerja dosen (X4) Variabel bebas Kompensasi finansial (X1) Kompensasi non finansial (X2) Kompensasi Finansial (X1) Motivasi lntrinsik (X3) Kompensasi non Finansial (X2) beta Sig. t R Square 0.berpengaruh terhadap variabel tingkat kinerja dosen. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. Nilai R2 sebesar 0.398286 0. Mengacu pada tabel di atas. BAHASAN Pada prinsipnya dalam menjawab hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dilakukan melalui analisa jalur.520431 0. variabel kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik dosen didapatkan koefisien korelasi sebesar 0.0005 0.0000 0.55664 0.15863 0.

Hipotesis 3: Diduga ada pengaruh Kompensasi non finansial terhadap movitasi instrinsik.0000. artinya terdapat kontribusi sebesar 15. Hal ini disebabkan variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel motivasi intrinsik dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0.88 persen.55664 artinya terdapat kontribusi pengaruh sebesar 55. Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 4 diterima.0010.67 persen dari kompensasi non finansial dan motivasi instrinsik terhadap kinerja dosen. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0. Hasil regresi menunjukkan bahwa hipotesis ketiga dapat diterima. Nilai R2 sebesar 0. yang berarti terdapat hubungan yang kuat. Ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.59877 dapat dikatakan kompensasi finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen.0000.intrinsik mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap tingkat kinerja dosen. R2 sebesar 0. .87 persen dan kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik. Hipotesis 4: D duga ada pengaruh Kompensasi non finansial dan motivasi intrinsik terhadap kinerja dosen.39829 dengan signifikansi t sebesar 0. Nilai R2 sebesar 0.77380 dengan signifikansi F sebesar 0.15863. pengaruh kompensasi finansial dan motivasi Intrinsik sebesar 59.74608 dengan signifikansi F sebesar 0.

39829 Kompensasi Non Finansial (X1) P42 sig t 0.520431 Kinerja Dosen (X4) P32 sig t 0. Hipotesis pertama. 2. Ini menunjukkan bahwa kompensasi finansial yang terdiri dari gaji.13 persen terhadap motivasi intrinsik. ditunjukkan oleh nilai F hitung 11.354285 Kompensasi Finansial (X1) P31 sig t 0.0000.0142. Kompensasi finansial yang terdiri dari gaji. Hipotesis keempat. insentif. beta = 0. pekerjaan itu sendiri. beta = 0.30127 atau 30. 3. kompensasi non finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsic dapat diterima secara statistic.Berdasarkan hasil analisis dapat dibangun model empiris pada Gambar 2. 4. kompensasi non finansial dan variabel intrinsik mempengaruhi kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada PTS di . kompensasi finansial dan motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen dapat dibuktikan secara statistik. dan tanggungjawab berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen. Hipotesis ketiga.87801.0005.232731 Gambar 2 Model Hasil Pengujian Hipotesis SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. kompensasi finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsik dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta dapat diterima secara statistik. honor dan insentif secara parsial mempunyai pengaruh sebesar 0. beta = 0. P41 sig t 0. Hipotesis kedua.0010.000 Beta = 0. beta = 0. dan honor serta motivasi intrinsik yang terdiri dari pengakuan prestasi.548876 Motivasi Intrinsik (X3) P43 sig t 0.

Saran Berdasar pada hasil kajian diatas sangat jelas bahwa variabel kompensasi baik variabel kompensasi finansial maupun variabel kompensasi non finansial sangat erat hubungannya dengan motivasi intrinsik dosen. Kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik mempunyai pengaruh yang signifikan sebesar 55. Baik buruknya kinerja dosen akan sangat dipengaruhi oleh motivasi intrinsik dosen. Perguruan tinggi harus memperhatikan bagaimana meningkatkan movitasi intrinsik dosen tersebut. sisanya 44.67 persen terhadap variabel tingkat kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta di Kediri.33 persen dipengaruhi oleh variabel lainnya diluar model.Kediri dapat diterima. . PTS seyogjanya memperhatikan variabel kompensasi ini guna meningkatkan motivasi intrinsik dosen. Dengan meningkatnya motivasi intrinsik diharapkan kinerja dosen akan bertambah baik pula dalam rangka pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Selanjutnya motivasi intrinsik tersebut akan berdampak langsung pada kinerja dosen.

Manajemen Sumber Daya Manusia. Keith & Werther. Wayne & Noe. The Association for Management Education and Development. 1996. 1989. Manajemen Sumber Daya Manusia. Swasto. Cetakan kelima. BP STIE YKPN. Profits. P. London. Kontroversi dan Aplikasi. Mc Graw-Hill. 1994. Edisi Revisi II.F. Hani. Hasibuan. S. BPFE Yogyakarta. A. Mc Grw Hill. Haji Masagung. Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi. Suharsimi. Jakarta.. Manajemen Sumber Daya Manusia. Prehalindo. Edisi 2. Allyn & Bacon. Robbins. Mondy. Yogyakarta. New York. 1993. Jilid I. ANDI Offset. Yogyakarta.T. Inc. 1996. Prosedur Penelitian : Suatu pendekatan Praktek. Massagung. Human Resources and Personnel Management. . 1992. Sondang. Pressindo. Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan. 1986. 1997. B. Jakarta. W. 1995. Managing Human Resources : Productivity. Simmamora. Robert. M. Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. Widjaja. Cushway. Davis. Manajemen Sumber Daya Manusia.. 1995. Pt Rineka Cipta.DAFTAR RUJUKAN Cascio. Siagian. Jakarta. Handoko. Jakarta. Perilaku Organisasi : Konsep. Gomes. Human Resources Management.P. 1990. Jakarta. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Henry. USA. Human resources Management. Yogyakarta. 1988. 1995. Quality of Work Life. Second Edition.

The result of this research was model with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach which is pleased to be able to increase dialogue and critical thinking skill Key words: Bahan Ajar. The research was desained as research and development by Borg & Gall (1982).Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialog dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari Suparlan Al Hakim Ktut Diara Astawa Nur Wahyu Rochmadi Abstract: This research aimed to developing book and the sheet activity of student Civics with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach. Substansi pesan pembelajaran (bahan ajar) selama ini. Suparlan Al Hakim. dan terbatas pada pengembangan pengetahuan (kognitif). Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT). documentation. The Subyects of this research were 20 teachers of Civics in senior hight school and 20 Experts. Fenomena yang nampak. Lembar Kegiatan siswa. and were analyzed by discriptive statistic. Ktut Diara Astawa. pesan pembelajaran masih bersifat informatif.The data was collected by questionnaires. dan Nur Wahyu Rochmadi adalah dosen Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang . belum mampu memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan dialog mendalam dan berpikir kritis. Sri Untari. PKn.

Bahkan diduga telah menghasilkan hal yang sebaliknya. Untuk mencapai misi tersebut. langkah awal untuk melakukan dialog mendalam dan berpikir kritis individu harus membuka diri terhadap mitra dialog. yaitu rasa egoisme kelompok yang tinggi. membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar. jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI. sehingga menyebabkan rendahnya kesadaran siswa untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan beripikir kritis. dan rendahnya empati dan tingginya prasangka terhadap orang lain.Selain itu. Sedangkan ciritical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis. dapat diartikan bahwa percakapan antara orang-orang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal. Dalam kaitan itu Untari (2002) mengidentifikasikan sebagai berikut: Pertama. 2001). baik yang ditampakkan dalam proses pembelajaran maupun kemasan materi dalam bentuk bahan ajar dan lembar kegiatan siswa. Hal ini dikarenakan hanya terbatas upaya meningkatkan pengetahuan siswa. Justru kenyataan ini sebagai kelebihan lain dari penerapan deep dialogue/critical thinking. keterbukaan. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. saling keterbukaan. proses pendidikan yang berlangsung selama ini diduga belum berhasil meningkatkan kemampuan berdialog. Secara programatik. berpikir kritis. 2000). terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia (Dikti. kajian deep dialogue/critical thinking sebagai paradigma pengembangan pendidikan berlaku prinsip Unity in policy and deversity in implementation. Dalam tataran praksis. khususnya dalam pembelajaran PPKn perlu diperhatikan kaidah-kaidah DD/CT. tanpa ada tindak lanjut dalam bentuk perilaku. praktik pembelajaran seharusnya dikemas dengan menggunakan pendekatan dialog mendalam dan berpikir kritis (deep dialogue/critical thinking). kesenjangan sosial. karena sifat terbuka dalam diri akan membuka peluang . pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya ditekankan pada pembentukan kepribadian manusia. Deep dialogue (dialog mendalam). Agar deep dialogue/critical thinking dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. empati dan mengurangi prasangka siswa.

mengubah dan memodifikasi pemahaman mereka. Dengan demikian ketika masuk dalam dialog. Keempat. Selanjutnya melangkah pada permasalahan umum yang dapat dihadapi bersama atau mencari solusinya. bersikap jujur dan penuh kepercayaan diperlukan dalam deep dialogue/critical thinking. untuk memperdalam. berubah dan berkembang dalam rangka meningkatkan berpikir kritis. Artinya kita paling mengetahui apa yang kita ketahui. deep dialogue/critical thinking terjadi manakala masing-masing pihak yang berdialog menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Dialog sebagai suatu kegiatan memiliki dua sisi yakni dalam masyarakat (intern) dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya (antar). sehingga perubahan yang terjadi pada masing-masing pihak merupakan hasil berpikir kritisnya sendiri (self-critical thinking). kerjasama. Hal ini dilakukan mengingat bahwa dialog pada hakekatnya bertujuan untuk saling berbicara. Hal ini penting karena kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama atau dengan bekerjasama akan menghasilkan pemecahan yang menguntungkan pihak-pihak yang bermasalah (win-win solution).untuk belajar. serta saling percaya diantara mereka. untuk memperluas wawasan bersama. langkah awal adalah mencari kesamaan dengan cara bekerjasama dengan orang lain. Ketiga. Dengan demikian kejujuran merupakan prasyarat terjadinya dialog atau dengan kata lain tidak ada kepercayaan berarti tidak ada dialog. kita dapat belajar. sebab dialog hanya akan bermanfaat manakala pihak-pihak yang melakukan bersikap jujur dan tulus. Untuk menanamkan kepercayaan pribadi. menunjung nilai-nilai moral. demokratis yakni dengan memperlakukan mitra dialog sedemikian rupa sehingga berketetapan hati untuk berdialog. Pemahaman realitas dan bertindak secara tepat merupakan hasil berpikir kritis. etis atau santun. harapan. Di samping itu masing-masing saling mempelajari. saling menghargai. mengubah dan mengembangkan persepsi. kesulitan dan cara mengatasinya melalui berpikir kritis secara apa adanya. selanjutnya memilih pokok-pokok permasalahan yang memungkinkan memberi satu dasar berpijak yang sama. Kedua. . kejujuran. dan mitra dialog kita paling mengerti apa yang mereka ketahui. belajar dan mengubah diri masing-masing pihak yang berdialog.Artinya masing-masing mengemukakan tujuan.

masing-masing pihak yang berdialog dapat memberi respon kepada mitra dialog secara baik. Membangun empati dalam dialog mendalam pihak-pihak yang berdialog dapat menyetujui dengan tetap menjaga integritas diri mitra dialog.Kelima. pengenalan diri sendiri untuk mengenal dunia orang lain. masyarakat dan tradisinya. seolah kita yang memiliki kelebihan daripada mitra dialog kita.1996) dalam teori belajar bermakna (meaningful teaching theory) mengemukakan bahwa kebermaknaan penyajian dan pentingnya pengaturan kemajuan belajar (advance organizer) dimana bahan harus dirancang baik agar menarik minat siswa. (Raka Joni. Untuk itu guru dituntut memiliki kualifikasi baik sebagai inovator sekaligus developer pembelajaran yang dilakukan dengan pembaharuan pembelajarannya maupun melakukan adopsi kritis terhadap inovasi pendidikan (Rogers.1995). saling mengakui keunggulan. Oleh karenanya saling mengakui keunggulan masing-masing akan diperoleh pemahaman bersama secara baik Keenam. bandingkan secara adil dalam berdialog sedapat mungkin kita tidak menduga-duga tentang hal yang disetujui dan hal yang akan ditentang. Jangan menilai sebelum meneliti. Ausubel (dalam Irawan.1981). Oleh karena itu Rianto (2000) berpendapat dalam pandangan teori belajar humanistik. sehingga siswa memiliki kesiapan dan minat untuk belajar. Untuk itu bahan harus: (1) bermakna secara potensial. Global Dialogue Institut merumuskan sebuah pendekatan pembelajaran yang dipandang cocok untuk PKn yakni Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking (DD/CT) yang mengandung prinsip: komunikasi multi arah. (Frazee&Rudnitski. deep dialogue/critical thinking akan terjadi manakala masing-masing pihak menghadirkan hati. pengkotbah atau yang mendominasi proses dialog. menjalin hubungan .1995) dan guru perlu menguasai ketrampilan dasar mengajar (Wardani dala Endang Danial. saling memberi yang terbaik. dan menghindarkan menjadi penceramah.2002). membangun empati. merupakan ungkapan yang tepat dalam membangun deep dialogue/critical thinking. belajar menekankan pada isi dan proses yang berorientasi pada peserta didik sebagai subyek belajar. (2) bertujuan untuk melaksanakan belajar secara bermakna. Dengan menghadirkan hati. Kita jauhkan prasangka. Dalam berdialog harus menghadirkan hati dan tidak hanya fisik.

kesederajatan. Produknya berupa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan . (2) tersusunannya bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan pendekatan DD/CT yang berterima baik secara teoritis maupun praktis bagi siswa SMA di Jawa Timur METODE Subyek penelitian ini adalah praktisi (guru PKn di SMA Jawa Timur) sejumlah 10 orang dan pakar PKn berjumlah 10 orang. dan wawancara. dan persentase) untuk data-data yang diambil dengan kuesioner. demokratis. Instrumen yang digunakan dalam penelitian tahap pertama ini adalah kuesioner. Kuesioner dan wawancara dipergunakan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking . Swidler menekankan bahwa DD/CT lebih merupakan cara berpikir baru (new way of thinking). 2002). Teknik analisis statistik deskriptif (rerata. cerdas dan religius. Analisis domain untuk data yang diambil dengan analisis dokumen. keterbukaan dan kejujuran serta empatisitas yang tinggi ( Al Hakim. sehingga akan menunjang pembentukan warga negara yang baik. terutama dalam pendidikan anak seutuhnya (PAS). bertanggung jawab. Penelitian Pengembangan pada tahap kedua adalah bagaimana menyusun bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang bisa berterima secara teoritis maupun praktis. saling memberadabkan (civilizing) dan memberdayakan (empowering). mode. Rancangan kuantitatif dipergunakan untuk menjelaskan bahan ajar dan LKS Matapelajaran PKn berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking untuk siswa SMA . pedoman wawancara. Dengan rancangan penelitian pengembangan. dokumentasi. Lokasi penelitian ini adalah Kota Malang. Berdasarkan latar belakang di atas tujuan penelitian ini adalah (1) menemukan kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn yang berbasis DD/CT. DD/CT mengandung nilai demokratis dan etis sehingga beraitan dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia.

Padahal ada beberapa langkah yang harus dilakukan guru sebelum sampai pada kesimpulan bahawa bahan ajar sudah dikembangkan dengan baik. serta bahan ajar yang digunakan memang baik. buku mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah menurut pakar dan guru dikategorikan seperti dalam Tabel 1. Paling tidak ada lima langkah utama dalam prosedur pengembangan bahan ajar yang baik. Guru seringkali mengabaikan prosedur pengembangan bahan ajar yang sistematik ini karena berasumsi. Karakteristik Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara yang dilakukan dengan para pakar dan praktisi diketahui sebagai berikut.kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang berterima secara teoritis maupun praktis. jika sudah dibuat dengan baik sesuai dengan materi yang akan diajarkan. . Penelitian dimulai dengan memadukan hasil penelitian tahap pertama dengan dengan kajian teori untuk menghasilkan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA Pengembangan bahan ajar perlu dilakukan secara sistematik berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait untuk menghasilkan bahan ajar yang bermanfaat. sebagai berikut Analisis Perancangan Pengembangan Evaluasi Revisi HASIL 1. a. Struktur Bahan ajar Mata Pelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan struktur bahan ajar. maka bahan ajar dapat digunakan dengan efektif dalam proses pembelajaran.

dan 2. menurut pakar dan praktisi 53% menyatakan sistematis dan semua mengacu pada satandar isi. sedangkan 37% pakar dan praktisi menyatakan sistematis dan sebagian mengacu pada standar isi. 10% pakar dan praktisi /guru menyatakan sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi.dan 10% menyatakan sistematis tetapi tidak mengacu pada standar isi. 2.Tabel 1 Struktur Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. 2. 4. 4. Paparan Materi Buku Teks Mata Pelajaran PKn Semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Tidak runtut dan tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Jumlah Jumlah 35 4 1 0 40 100% % 87.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi.5% 10% 2. Struktur Buku Teks Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Jumlah Jumlah 21 15 4 0 40 % 53 37 10 0 100% Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa struktur bahan ajar PKn berbsis DD/CT yang digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran. Tabel 2 Paparan Materi Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. Ditinjau dari Paparan materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT menurut guru dan pakar dikategorikan seperti dalam Tabel 2 berikut.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi . sebanyak 87. 3. 3.5% Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa paparan materi bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT.

3. 5% menyatakan cukup sulit dipahami.Ditinjau dari keluasan (scope) materi bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam Tabel 3 berikut. Tingkat Kesulitan Materi Buku Teks PKn Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 2 20 17 40 % 2. sebanyak 45% menyatakan luas. 42. 20% menyatakan mudah dipahami. dan 2. 5.5% menyatakan sulit dipahami. 2. Ditinjau dari tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT yang dipergunakan sebagai sumber bahan ajar dalam proses pembelajaran di sekolah dikategorikan seperti dalam Tabel 4 berikut. sebanyak 25% menyatakan sangat luas.5% 100% Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. Tabel 3 Keluasan Materi Bahan Ajar Mata Pelajaran PKn berbasis DD/CT No 1. 3.5% 5% 50% 42. . 4.5% menyatakan sangat mudah dipahami. 4. . 2. dan 30% menyatakan cukup luas. Tabel 4 Tingkat Kesulitan Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. Keluasan (scope) Materi Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 10 18 12 0 0 40 % 25% 45% 30% 100% Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa keluasan (scope) materi bahan ajar matapelajaran PKn berbasis DD/CT. 5.

4.Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa) yang digunakan dalam materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam tabel 5 berikut: Tabel 5 Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1.5% 22. 4. Tabel 6 Paparan Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Paparan Awal Buku Teks PKn menggunakan Cerita.5% 100% Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa tingkat keterbacaan (bahasa) materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT. Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa sangat sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 2 3 25 9 1 40 % 5% 7.5% menyatakan bahasa sangat sesuai untuk siswa SMA.5% 62. 3. 62.5% bahasa kurang sesuai dan 2.5% 2. 5. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 6 seperti berikut. 5% pakar dan praktisi menyatakan bahasa terlalu tinggi untuk siswa SMA.5% 30% 57. 2. 5. 7. 3.5% menyatakan bahasa bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Ditinjau dari paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. 2.5% menyatakan bahasa sesuai.5% 10% 100% . Puisi atau Peristiwa yang Relevan dengan Materi Pokok Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1. Lagus.22. 1 12 23 4 0 40 2.

atau kalimat naratif.5% menyatakan kadang-kadang. 30% menyatakan sering. 4. 3. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 7 seperti berikut. contoh realitas kehidupan. 2. 32. sebanyak 55% menyatakan selalu. kalimat naratif Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1.Ditinjau dari apakah materi Awal bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar. menurut guru dikategorikan dalam Tabel 8 sebagai berikut. Tabel 8 Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam No 1. apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. 5. contoh realitas kehidupan. 3. 2.5% menyatakan sering. contoh realitas kehidupan. 22 13 5 0 0 40 55% 32.5% .5% pakar dan praktisi menyatakan tidak ada. 5. dan 2.5% 100% Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memaparkan ilustrasi berupa gambar. kadang-kadang. 4.Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT. Tabel 7 Paparan Ilustrasi dalam Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar.5% 12. 57. Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 12 23 5 0 0 10 % 20% 30% 50% 100% .5% menyatakan selalu. 2. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam. kalimat naratif. 12.

5% 100% Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis.5% 30% 12. 3. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 9 sebagai berikut. Tabel 9 Materi Bahan Ahar PKn Berbasis DD/CT Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis No 1. 2. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan responden penelitian ini diketahui bahwa lembar kegiatan siswa (LKS) PKn Berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam tabel 10 sebagai berikut. 30% menyatakan selalu. Keberadaan LKS Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Lain-lain Jumlah Jumlah 20 11 3 6 0 40 % 50% 27. 2.5% responden menyatakan selalu. sebanyak 57.5% menyatakan kadang-kadang. 5. 2.Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa materi bahan ajaran mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog mendalam. 30% guru menyatakan sering. 4. Tabel 10 Keberadaan LKS Berbasis DD/CT dalam Proses Pembelajaran PKn No 1. dan 12. sebanyak 50% guru menyatakan kadang-kadang.5% 7. 3. 4. dan 20% guru menyatakan selalu.5% 15% 100% . Materi Bahan Ajar Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 23 12 5 0 0 40 % 57. 5.

Kaitan LKS dan Bahan Ajar LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan LKS dan Bahan Ajar dibuat secara terpisah LKS dimuat setelah materi/topic LKS diletakkan setelah seluruh materi/topik Jumlah Jumlah 10 6 2 22 40 % 25% 15% 5% 55% 100% Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa hubungan lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam setiap materi pembelajaran PKn di sekolah dengan bahan ajar. 7. 2. 50% menyatakan sangat perlu. 2. dan 15% menyatakan tidak perlu. Tabel 11 LKS Terkait dengan Bahan Ajar PKn No 1. 3. 5. 4.5% menyatakan kurang perlu. 3. 55% menyatakan LKS diletakkan setelah seluruh materi. Lembar kegiatan siswa (LKS) PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn menurut pakar dan praktisi terkait dengan bahan ajar PKn berbasis DD/CTi.Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa keberadaan LKS dalam setiap materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran di sekolah. 27. Karakteristik LKS Berbasis DD/CT ditinjau dari struktur LKS PKn yang dipergunakan dapat dikategorikan dalam Tabel 12 sebagai berikut: Tabel 12 Struktur LKS PKn Berbasis DD/CT No 1.5% 100% .5% menyatakan perlu. 4.5% 5% 2. 5% menyatakan LKS dibuat setelah topik. seperti dalam Tabel 11 berikut. 25% menyatakan LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan. Struktur LKS PKn Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Lain-lain Jumlah Jumlah 37 2 0 0 1 40 % 92. 15% menyatakan LKS dan Bahan Ajar dibuat terpisah.

5% menyatakan lain-lain.5% menyatakan sistematis semua mengacu pada standar isi. 5. dan 2. 90% menyatakan runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi.5% 5% 100% . 3. Ditinjau dari keluasan (scope) LKS materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 14 sebagai berikut: Tabel 14 Keluasan Materi LKS No 1. Ditinjau dari sisi pemaparan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam Tabel 13 sebagai berikut. 4. Tabel 13 Paparan LKS PKn Berbasis DD/CT No 1. Paparan LKS Runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi Tidak runtut dengan kompetensi dasar pada kurikulum Lain-lain Jumlah Jumlah 36 0 4 0 0 40 % 90% 10% 100% Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa pemaparan lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT pada mata pelajaran PKn. 2.5% 62.Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa struktur lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT. dan 10% menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. 5. 2. 3. 4. 5% menyatakan sistematis sebagian mengacu pada standar isi. Keluasan (scope) Materi LKS Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 0 13 25 2 0 40 % 32. sebanyak 92.

5% menyatakan cukup luas. Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa yang digunakan) LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 16 sebagai berikut. Tingkat Kesulitan Materi LKS Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 15 24 0 40 % 2.5% 97. 62.5% 60% 100% Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. dan 5% menyatakan sempit. 5.5% menyatakan sulit dipahami.5% responden . 5. dan 60% menyatakan mudah dipahami. 3. Tabel 16 Tingkat Keterbacaan Materi LKS No 1. Ditinjau dari tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam tabel 14 sebagai berikut: Tabel 15 Tingkat Kesulitan Materi LKS No 1.5% menyatakan cukup sulit dipahami.5% 37. 37. 4.5% 100% Berdasarkan Tabel 16 diketahui bahwa tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 4. Tingkat Keterbacaan Materi LKS Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 0 1 39 0 0 40 % 2.Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa keluasan (scope) materi lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT. 2. 3. sebanyak 32.5% menyatakan luas. 2. sebanyak 97. sebanyak 2.

Ditinjau dari pola pemaparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan dalam proses pembelajaran dapat dikategorikan dalam tabel 17 sebagai berikut. Ditinjau dari ilustrasi dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut responden dapat dikategorikan dalam Tabel 18 sebagai berikut. 4% menyatakan memuat gambar. 4. Tabel 17 Paparan Awal LKS No 1. 25. 4. dan 2. 2.5% menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. 2. Ilustrasi dalam LKS Gambar Contoh realitas kehidupan Bagan dan grafik Kalimat naratif (uraian) Lain-lain Jumlah Jumlah 2 25 3 10 5 45 % 4% 56% 6% 22% 12% 100% Berdasarkan Tabel 18 diketahui bahwa ilustrasi dalam LKS PKn berbasis DD/CT. Paparan Awal LKS Cerita Syair lagu nasional atau local Puisi. 3. 5.5% menyatakan lain-lain. 65% memuat peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok.5% 100% Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa paparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan.% responden menyatakan memuat cerita 5% menyatakan memuat syair lagu. 3. 5.menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. syair lagu daerah (lokal) Peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok Lain-lain Jumlah Jumlah 10 2 1 26 1 40 % 25% 5% 2. Tabel 18 Ilustrasi dalam LKS No 1.5% memuat pusi. 2. 56% memuat contoh .5% 65% 2. 2.

2. 22% menyatakan memuat kalimat narasi. Ditinjau dari pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam. 12. 6% menyatakan memuat bagan. Pertanyaan dan tugas dalam LKS PKn Memfasilitasi Siswa untuk Berpikir Kritis Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 28 10 1 1 40 % 70% 25% 2. 30% menyatakan cukup memfasilitasikadang-kadang. 3.5% 30% 12. 2. Tabel 19 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1.5% 100% .5% menjawab kurang. Pertanyaan dan Tugas LKS Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 21 12 5 2 40 % 52. menurut guru dapat dikategorikan sebagai berikut. 4. sebanyak 52.5% 2.5% 5% 100% Berdasarkan Tabel 19 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi terjadinya dialog mendalam diantara siswa. 5. 4. Tabel 20 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1. 3. 5.5% guru menjawab sangat menfasilitasi. dan 12% menyatakan memuat lain-lain.realitas kehidupan. 5% menjawab tidak memfasilitasi Ditinjau dari apakah pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut responden dapat dikategorikan sebagai berikut.

sebanyak 70% menjawab sangat memfasilitasi. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya. . terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia. Kelebihan dan Kekurangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan hasil wawancara dengan praktisi dan pakar dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan. 25% menjawab cukup memfasilitasi.5% menjawab kurang memfasilitasi. Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar tidak dikembangkan secara asal-asalan. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu.Berdasarkan Tabel 20 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.5% menjawab tidak memfasilitasi 3. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. 2. 2. Dapat dilihat dari Tabel sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. benar dari segi keilmuan. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban.

Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. sebagai berikut.Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. keluasan maupun kedalamannya akan berbeda. Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. Dalam hal ini. yang menurut pakar dan praktisi. 3. . Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. Pengembangan bahan ajar sesuai dengan materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan dalam standar isi atau topik di Sekolah Menengah Atas. sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal.

contoh dan latihan. tidak terkotak-kotak satu sama lain. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. namun setiap bagian perlu diberi penjelasan yang memadai sehingga tidak membingungkan siswa. latihan. Misalnya. Keruntutan penyajian isi bahan ajar mempermudah siswa dalam belajar. Logika pemaparan ini dapat diperkenalkan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis.1) Paparan yang Logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. siswa diharapkan dengan mudah mengikuti pemaparan. atau penyajian uraian. latihan. Urutan strategi penyajian dapat berubah-ubah sehingga tidak membosankan. Bahan ajar berbasis DD/CT yang dipaparkan secara logis akan memudahkan siswa. Dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. Dengan demikian. 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar Pkn berbasis DD/CT disajikan secara sistematis. Logika penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep dalam bahan ajar. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. tidak meloncat-loncat. Dengan demikian. atau contoh. 3) Perjelas dengan Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa.hal ini dilihat dari pengorganisasi bahan ajar itu sendiri yang bertanya tentang apa sampai bertanya mengapa. atau dari fakta ke konsep. penyajian uraian. dalam menjelaskan Hak asasi manusia dalam mata . misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). dari yang mudah ke yang sukar. dan juga menuntun siswa untuk terbiasa berpikir runtut.

Koran. Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar harus konsistensi. Dalam bahan ajar cetak.pelajaran PKn di SMA. atau dari internet. atau dalam bentuk noncetak. Dalam beberapa kasus. poster. serta tanda-tanda khusus yang diberlakukan serta dapat membantu siswa. atau caption dalam program video. model. Contoh dan ilustrasi dapat dikembangkan dalam beragam bentuk. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. judul bab yang jelas. tercetak-narasi sebagai bagian dari penyajian isi bahan ajar dalam materi pokok yang berbentuk cetak. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita. alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. audio. penomoran. alat bantu juga dapat berupa rangkuman. Jadi. Untuk menjelaskan konsep tersebut diperlukan alat peraga yang dapat menggambarkan pelaksanaan dan pengadilan HAM internasional. ataupun dari situs-situs di internet. seperti video. untuk memngetahui pengadialan HAM internasional. misalnya nada suara yang berbeda dalam kaset audio. kartu-kartu (flipchart). Guru dapat mencari kasus di koran. alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama . artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. guru tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. serta tanda-tanda khusus. siswa akan dapat berdialog sesuai petunjuk dalam LKS. dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berbentuk tertulis. Melalui guntingan koran tersebut. petunjuk belajar bagi siswa. sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah. Dalam bahan ajar non-cetak. Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan (bukan malah membuat siswa semakin bingung).

Dalam hal ini. Dalam bahan ajar audio. konsistensi istilah sangat diperlukan sehingga siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. Dalam bahan ajar cetak. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. clip video yang berupa grafik. diingat. setiap kali siswa melihat warna kertas kuning. Misalnya. . maka seterusnya gunakanlah warna kertas kuning untuk LKS. jika guru menggunakan kertas kuning untuk lembar kerja siswa. Bahan ajar dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar perlu memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. atau penyajian langsung dapat digunakan sebagai tanda dari rangkuman. Dalam bahan ajar video. Contoh. jangan gunakan warna kuning untuk komponen lain dalam bahan ajar. mengulang.hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. 6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar perlu ada penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. maka siswa akan menandai sebagai LKS. Dengan demikian. paket kerja mandiri). atau meneruskan pembelajaran. atau meneruskan pembelajaran. mengulang. sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. intonasi suara dapat digunakan sebagai tanda atau format untuk berhenti. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. tanda perintah berhenti. Peran ini perlu dijelaskan kepada siswa dengan cermat. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. dan dipelajari oleh siswa. gambar ―orang sedang berpikir‖ digunakan untuk arti ―uji kompetensi‖ yang harus dikerjakan oleh siswa secara tertulis.

Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. 4.Bahan ajar juga perlu menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa. serta dikemas dengan menarik. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar terjadi. pemilihan kata. mengerjakan tugas-tugasnya. namun jika bahasa yang digunakan tidak dimengerti oleh siswa. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. yang meliputi pemilihan ragam bahasa. lembar kerja siswa. dan penyusunan paragraph yang bermakna. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. seperti kaset audio. dan lain-lain. Dengan demikian. video. dan tidak terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendiri-sendiri. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. siswa dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain. Walaupun isi bahan ajar sudah cermat. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. menggunakan format yang konsisten. dan penjelasan. pertanyaan. penggunaan kalimat efektif. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. Hal ini sangat perlu sebagai . ajakan. bahan ajar berbasiskan komputer. Penggunaan bahasa. Dalam bahasa komunikatif. maka bahan ajar tidak akan bermakna apa-apa. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. Dengan demikian. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya.

bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. dan lebih mudah dimengerti. Di samping itu. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. Pada gilirannya. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. kadangkala dapat membingungkan siswa. Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. singkat. yang berbentuk kalimat topik.salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. Selanjutnya. . Selain itu. Gagasan utama. Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan. serta keterpaduan. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar.

5. Perwajahan/Pengemasan

Perwajahan dan atau pengemasan berperan dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak, serta pengemasan dalam paket bahan ajar multimedia. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. 3) Padukan grafik, poin, dan kalimat-kalimat pendek, tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan, karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu, jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian, tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan.  Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar, sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri, atau dengan teman-teman dalam kelompok).
6. Ilustrasi

Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar memiliki ragam manfaat, antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar, jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. Namun, ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis, yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. Selain itu, ilustrasi juga dapat diambil dari sumber

langsung (misalnya foto), sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). Jika ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain, penulis berkewajiban memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. Selain itu, ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik, memotivasi, komunikatif, membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar, antara lain daftar atau tabel, diagram, grafik, kartun, foto, gambar, sketsa, simbol, dan skema.
7. Kelengkapan Komponen

Idealnya, bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik, meliputi penyampaian tujuan belajar, memberi bimbingan tentang strategi belajar, menyediakan latihan yang cukup banyak, memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci, soal, tugas, kegiatan), serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket, atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet, atau buku lain), panduan belajar/siswa, serta panduan guru. Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti, yaitu komponen utama, komponen pelengkap, dan komponen evaluasi hasil belajar. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa, atau harus dikuasai siswa. Kebanyakan, bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak, misalnya buku teks, buku pelajaran, modul, dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama, atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa.

Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan, bacaan, jadwal, silabus, peta materi, kliping kasus), bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak, peta materi dalam bentuk program komputer, video, kaset, web suplemen, simulasi komputer, kit), panduan siswa (peta materi, petunjuk belajar, latihan dan tugas, tips, kata-kata sukar, pemilahan materi), panduan guru (peta materi, petunjuk bagi guru, konsep inti topik atau pokok bahasan, latihan dan tugas, rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik, yang disajikan melalui beragam media, secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
a. Bahan Ajar PKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
b.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

2. Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga Beberapa usulan pakar dan praktisi agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
c. Bahan Ajar PPKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
d.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

Semboyan bahwa ―buku adalah salah satu sumber ilmu‖. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. Tuntutan pendidikan dewasa ini yang memberikan otonomi pada sekolah dan guru dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk menyusun bahan ajar yang tepat. Hal ini dimaksudkan untuk dapat dipergunakan oleh guru dan siswa sesuai dengan jenjang kelasnya. dengan orang tua. dengan guru.2. Karena buku pelajaran merupakan sumber . Semboyan tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya buku pelajaran. Struktur bahan ajar dan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT . Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. Karakteristik Bahan Ajar Mata Pelajaran Pkn berbasis DD/CT Hasil penelitian ditemukan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT menjadi salah satu alternatif pilihan guru dalam pembelajaran PKn yang memberikan kesempatan lebih banyak pada siswa untuk berdialog dengan teman. secara umum memiliki struktur yang mengacu pada kompetensi dasar dan indikator sebagaimana yang terdapat dalam standar isi. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. kompetensi dasar dan kemampuan siswanya. dengan masyrakat disekitarnya. 2003). ―buku adalah jendela informasi dunia‖. ―buku adalah guru yang baik tanpa tatap muka‖. Disamping itu bahan ajar berbasis DD/CT dipandang akan mampu merangsang siswa untuk berpikir kritis. Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga BAHASAN 1. seni dan agama serta ide-ide‖ (Pusbuk. buku adalah media komunikasi tentang IPTEK. Dengan demikian kedepan guru dituntut dapat menyusun bahan ajar mata pelajaran yang diampunya. sesuai dengan standar kompetensi.

yakni materi pokok yang disajikan dalam buku pelajaran PKn umumnya adalah (a) relevansi: bahwa isi materi bahan ajar sesuai dengan standar isi. Aspek penting yang diperhatikan adalah materi. disesuaikan dengan usia dan kematangan siswa. Buku pelajaran PKn berbasis DD/CT dapat secara efektif menunjang pencapaian kompetensi pembelajaran PKn dibuat sedemikian rupa untuk memenuhi standar . dan tugas-tugas pengembangan. penyajian. Davis (1955) dalam Puskur (2003) menyatakan bahwa buku pelajaran yang baik berisi materi yang sesuai dengan kurikulum. Dengan kriteria ini maka hasil penelitian menunjukkan bahwa keakurasian materi bahan ajar PKn berbasis DD/CT tercapai ini tebukti banyak pendapat yang menyatakan materi yang disajikan sebagai sesuai dengan kompetensi dasar. dan (c) keakuratan: bahwa isi materi yang disajikan harus benar secara keilmuan. hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT cukup memiliki kecukupan. (c) kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa. bermanfaat bagi kehidupan dan pengemasan materi sesuai dengan hakekat PKn. Bahan ajar PKn berbasis DD/CT. karena isi materi relevan dengan standar isi yang dikembangkan dalam KTSP. serta grafika. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas dan hasil penelitian .belajar dan media yang sangat penting untuk mendukung tercapainya kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran. Hasil penelitian dan analisis bahan ajar berbasis . di dalamnya memuat kompetensi dasar. Berdasarkan analisis bahan ajar berbasis DD/CT telah cukup lengkap dalam sajian. disusun oleh penulis yang kompeten. maka dapat dikemukakan bahwa bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT untu SMA: (1) aspek materi pelajaran . materi pokok. Kalau dengan KTSP terdapat cukup tepat dengan kompetensi dasar tentunya dalam pemanfaatannya perlu penyesuaian dengan KTSPnya (2) Aspek penyajian. (b) sistematika sajian. Aspek penyajian bahan ajar PKn berbasis DD/CT dapat dijabarkan sebagai berikut (a) kelengkapan sajian. memerhatikan ilustrasi dan format. bahasa dan keterbacaan. (b) kecukupan: muatan materi bahan ajar telah memadai untuk mencapai kompetensi. berdasarkan hasil penelitian menunjukkan cukup sistematis. mutahir atau sesuai dengan perkembangan yang terbaru. Ini berarti untuk dipergunakan dengan dalam rangka implementasi kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat dipergunakan.

cetakan dan ukura huruf bagus. materi luas hal ini dikemukakan baik oleh guru sebagai praktis maupun pakar. (3) Aspek bahasa dan keterbacaan. jenis kertas. jenis kertas menunjukkan beberapa menggunakan kertas putih. kalimat. Hasil penelitian menunjukkan bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat wacana yang membuka wawasan siswa tentang materi yang akan dipelajari. meskipun secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah menggunakan kaidah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. ukuran huruf. Yakni yang berkaitan dengan ukuran bahan.Sehingga bahan ajar PKn berbasis DD/CT ini sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa student centered. paragraf dan wacana. Hasil penelitian juga menunjukkan cara penyajian yang dikemas dalam bahan ajar Pknberbasis DD/CT relative kontekstual. misalnya Bu Yayuk dari SMA di Magetan menyatakan LKS berbasis DD/CT ini saya kita lumayan merangsang siswa untuk berpikir dan berdiskusi. dan (d) cara penyajian. Dengan sajian materi yang luas cukup memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya untuk berpikir kritis. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Mata Pelajaran PKn yang Berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking Hasil wawancara dengan beberapa guru. Keterbacaan. yakni sebagaimana bahan ajar atau buku yang memberi nuasa berdialog siswa. cetakan. 2. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bahasa yang dipergunakan cukup dipahami siswa SMA. warna dan ilustrasi. Secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih kering ilustrasi yang merangsang siswa untuk membicarakan dengan orang lain dan memikirkan lebih kritis. terdapat buku yang contoh yang diangkat kurang kontekstual artinya beberapa gambar yang disajikan tidak dipahami oleh siswa karena dari negara lain. hanya ilustrasi kurang.DD/CT menunjukkan bahwa bahan ajar PKn. namun menurut saya perlu pedoman yang jelas bagaimana dan dimana jawaban harus dibuat sedangkan Pak Wayan mengemukakan bahan ajar . Bahasa disini berarti dalam penyajian bahan tepat dalam penggunaan kosakata.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bahan ajar yang dipergunakan dalam hal ukuran cukup bagus. sedangkan beberapa menggunakan kertas yang agak buram. (4) Aspek grafika.

dan siswa menyatakan sangat mudah dipahami. sebagian besar responden menyatakan runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi. menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada satandar isi Tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. Sehingga beberapa siswa menyatakan‖ bahwa LKS berbasis DD/CT ini mengasikkan karena dapat dikerjakan sendiri ‖ 3.sudah match jadi materi yang ada di bahan ajar sama dengan yang di LKS. Lainnya mengatakan paparan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi. sebagaian kecil siswa menyatakan mudah dipahami. Dengan demikian dari segi bahasa. sebagian besar responden menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada . sangat sulit dipahami. Sedangkan tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menyatakan cukup sulit dipahami. dan sedikit yang menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. dan tidak runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. sebagian responden menyatakan mudah dipahami. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1) Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. banyak responden menyatakan cukup sulit dipahami. namun tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran PKn . Kondisi ini disebabkan LKS berisi rangkuman materi dan soal-soal yang harus dikerjakan secara individual oleh siswa. dan hanya sedikit menyatakan sulit dipahami. meskipun demikian banyak menyatakan bahwa struktur LKS matapelajaran PKn runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. LKS PKn berbasis DD/CT tidak sulit bagi siswa SMA. Struktur lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn di sekolah.dan LKS berbasis DD/CT. sulit dipahami.

kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal. . Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. benar dari segi keilmuan. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia sebagaimana Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar berbasis DD/CT tidak dikembangkan secara asal-asalan. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut.dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2.

keluasan maupun kedalamannya akan berbeda. Setiap guru pasti mempunyai tujuan pembelajaran yang dijabarkan dari kompetensi dasar dan indikator. dan utuh topik yang akan disajikan kepada siswa. antara lain yang paling utama adalah kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran. 3. Dengan . Dalam hal ini seberapa banyak atau luas suatu topik yang akan disajikan? Seberapa dalam suatu topik yang perlu dibahas? Bagaimana keutuhan konsep yang disajikan? Banyak pertimbangan yang perlu diperhatikan. Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. Dalam hal ini. Tentunya. tujuan pembelajaran atau topik tertentu di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama akan berbeda dengan tujuan pembelajaran atau topik yang sama di Sekolah Menengah Atas. atau dari fakta ke konsep. Dalam Bahan ajar PKn berbasis DD/CT penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep. Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. sebagai berikut. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). Kemudian kembangkanlah bahan ajar – materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan tersebut.. sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda. Dengan demikian. dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. dari yang mudah ke yang sukar. Lihatlah tujuan tersebut. dalam. Bahan ajar yang dipaparkan secara tidak logis akan menyulitkan siswa.Keluasan dan kedalaman isi bahan ajar sangat berhubungan dengan keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu. 1) Paparan yang logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. kemudian berlandaskan pada tujuan tersebut dapat menentukan seberapa luas. siswa dengan mudah mengikuti pemaparan.

audio. model. yang mendorong siswa mencari sumber lain. Contoh dan ilustrasi yang dikembangkan dalam bahan ajar berbasis DD/CT dalam penyajian isi bahan ajar belum bervariatif mestinya bisa poster. atau penyajian uraian. 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah disajikan secara sistematis. atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. Padahal dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan . kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita. kartu-kartu (flipchart). bahan ajar tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. tidak terkotak-kotak satu sama lain. dalam menjelaskan Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. penyajian uraian. latihan. Misalnya.demikian. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. latihan. tidak meloncat-loncat. atau contoh. Tampaknya belum banyak contoh-contoh yang mempermudah siswa lebih memahami bahan ajar. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. atau dalam bentuk noncetak. Kelemahannya belum banyak contoh-contoh dan latihan yang kontestual. sekaligus merangsang untuk berdialog mendalam. Kelemahan dari pemaparan bahan ajar berbasis DD/CT ini karena keruntutannya dapat menyebabkan siswa kurang dapat mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis. contoh dan latihan. 3) Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. seperti video.

kotak bahan dialog.(bukan malah membuat siswa semakin bingung). alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar Pkn berbasis DD/CT belum konsistensi. Dalam bahan ajar Pkn DD/CT sebagai bahan cetak. . Koran. ataupun dari situs-situs di internet. Dalam hal ini. penomoran. alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. diingat. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki format yang memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. Jadi. Dalam beberapa kasus. Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah dibuat dengan cetak. judul bab yang jelas. gambar ―orang sedang berdemontrasi‖ digunakan untuk arti ―rapat‖ . sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. Misalnya. serta tanda-tanda khusus. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. konsistensi yang dipelihatra adalah mengenai istilah dengan harapan siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. dan dipelajari oleh siswa. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain..

seperti kaset audio. Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT cukup memadai dalam penggunaan bahasa yang dimengerti oleh siswa. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. siswa kurang dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain. Dengan demikian. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. bahan ajar berbasiskan komputer. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar .6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. Dalam bahasa komunikatif. Dengan demikian. penggunaan kalimat efektif. agar bahan ajar bermakna bagi siswa. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. dan penjelasan. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa. mengerjakan tugas-tugasnya. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. pemilihan kata. dan terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendirisendiri. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. Kelemahan bahan ajar Pkn berbasis DD/CT ini belum menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. yang meliputi pemilihan ragam bahasa. lembar kerja siswa. Penggunaan bahasa. video. pertanyaan. paket kerja mandiri). ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. dan penyusunan paragraph yang bermakna. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. ajakan. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. Bahan ajar PKn dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. Peran ini telah dijelaskan dalam bahan ajar PKn tersebut dijelaskan kepada siswa dengan cermat. 4. dan lain-lain.

terjadi. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. serta keterpaduan. Gagasan utama. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. yang berbentuk kalimat topik. singkat. Hal ini sangat perlu sebagai salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. Selain itu. Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. . dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. dan lebih mudah dimengerti. Di samping itu. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. kadangkala dapat membingungkan siswa. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. Selanjutnya. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana.

tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan.Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. atau dengan teman-teman dalam kelompok). dan kalimat-kalimat pendek. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan. 5. 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu. 3) Padukan grafik. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. poin. tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan.  Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar. Perwajahan/Pengemasan Dalam Hal perwajahan dan atau pengemasan bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih banyak kelemahan terutama dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian. . Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri. Pada gilirannya. karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut..

Kelengkapan Komponen Bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT cukup memiliki kelengkapan komponen. . gambar. Kelemahan dalam bahan ajar ini ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain. jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. Selain itu. dan skema. meliputi penyampaian tujuan belajar. Selain itu. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar. ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis. pelengkap dan evaluasi Idealnya. atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet. diagram. panduan belajar/siswa. yakni informasi . kartun. memotivasi. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik. kegiatan). Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar.6. ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik. antara lain daftar atau tabel.Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT ilustrasinya kurang bervariasi. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket. simbol. soal. menyediakan latihan yang cukup banyak. antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. memberi bimbingan tentang strategi belajar. memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci. grafik. komunikatif. Ilustrasi Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki ragam manfaat. serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. atau buku lain). Namun. membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. sketsa. 7. penulis belum memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. serta panduan guru. bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. tugas. sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). foto. ilustrasi juga dapat diambil dari sumber langsung (misalnya foto).

konsep inti topik atau pokok bahasan. simulasi komputer. latihan dan tugas. komponen pelengkap. atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa. peta materi dalam bentuk program komputer. secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan  Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar  Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik  Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis . panduan guru (peta materi. Bahan Ajar PPKn     Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak. video. rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik. kliping kasus). petunjuk bagi guru. web suplemen. yaitu komponen utama. dan komponen evaluasi hasil belajar. dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. kaset. panduan siswa (peta materi. jadwal. silabus. Kebanyakan. bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak. pemilahan materi). bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak. kit). Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa. buku pelajaran. latihan dan tugas. misalnya buku teks. Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS berbasis DD/CT ini dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut: 1. modul. peta materi. bacaan.Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti. tips. atau harus dikuasai siswa. petunjuk belajar. yang disajikan melalui beragam media. kata-kata sukar.

DD/CT "dicita-citakan" menjadi sebuah pendekatan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn alternatif. namun demikian guru harus tetap memantau dan mengarahkan untuk mencapai kompetensi. merasakan. 2. Dalam pendekatan ini bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsedapat mungkin mengurangi pengajaran yang terpusat pada guru (teacher centered) dan sebanyak mungkin pengajaran yang terpusat pada siswa (Student centered). . Menyusun buku dengan bahasa yang menarik. dimana melalui DD/CT diharapkan siswa belajar melalui "mengalami. Model Bahan Ajar dan Lembar Kegitan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) merupakan model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn yang membantu guru untuk menjadikan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn bermakna bagi siswa. Lembar Kerja Siswa (LKS)  Soal-soal jangan di luar materi  Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang  Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari  Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa  Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir  Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar  LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga 4. mudah difahami dan mengajak siswa berpikir  Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir  Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi. Dengan landasan filosofi konstruktivisme. medialogkan" bukan hanya "menghafalkan".Hal ini sesuai dengan pandangan Gross ( 2000) bahwa dengan mengalami sendiri.

Pergunakan berbagai media dan sumber belajar untuk memperluas wawasan 6. Penilaian hendaknya tidak hanya berdasarkan tes Lima komponen yang terdapat dalam model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan pendekatan DD/CT yakni hening. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan DD/CT di kelas cukup mudah. Untuk menjabarkan topik sebaiknya dilaksanakan dengan kegiatan menggali dan menemukan sendiri 3. maka dapat dikemukakan bahwa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan DD/CT memiliki beberapa keunggulan seperti bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn diawali dan diakhiri dengan "hening". Perubahan pandangan guru bahwa pemberdayaan siswa dalam bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan memberi kesempatan pada siswa. Berdayakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan bertanya secara terbuka 4. mendialogkan dan akhirnya mekonstruksikan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan baru. Ciptakan suasana dialog mendalam ' antar siswa" dan "antara siswaguru" oleh karenanya upayakan untuk selalu belajar dalam kelompok 5. 2. membangun komunitas. untuk mengamati. Sebagaimana .merasakan. kegiatan inti dengan strategi penemuan konsep (Concept Attainment) dan Cooperative Learning. Hal ini selain dapat menciptakan situasi tenang sebelum perkuliahan. Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan di bab sebelumnya. mendialogkan dengan orang lain. maka pengetahuan dan pemahaman siswa akan sesuatu yang baru akan mengendap dalam pikiran siswa dalam jangka panjang yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk bekal siswa dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. refleksi dan evaluasi. dan mengembangkan kecakapan hidupnya. apabila guru telah memahami kaidahkaidahnya sebagai berikut: 1. menganalisis. selain itu juga dapat menghadirkan hati dan pikiran siswa-guru pada bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsaat itu. Berilah siswa kesempatan untuk melakukan refleksi sebelum pelajaran berakhir 7.

maka pada skala makro sikap dan perilaku toleransi. mencari solusi permasalahan dengan caranya sendiri dan bantuan orang lain. menghargai perbedaan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa hening membawa manusia pada pengendapan hati dan pikiran. telah dapat menciptakan kebersamaan. Ini menjadi tatantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan . Kebiasaan selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan termasuk kegiatan belajar mengajar. karena dapat sebagai sarana saling introspeksi baik dosen mapun mahasiswa. terbuka terhadap kritik. Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. usul terbaiknya demi kebaikan bersama. juga ungkapan bebas dari pandangan. secara langsung telah membimbing dan mengajarkan mahasiswa menjadi insan religius. karena menurutnya dengan hening seseorang telah menjalin interaksi intern yakni dengan dirinya maupun ekstern yakni dengan Tuhan. Refleksi memiliki fungsi mendidik pada siswa untuk menyukai belajar dari pengalaman yang telah dilaluinya. Kegiatan refleksi juga merupakan sesuatu yang dapat dipandang keunggulan pendekatan DD/CT. dan mengambil keputusan yang tepat dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Kegiatan membangun komunitas juga merupakan sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat majemuk oleh karena itu apabila dalam pembelajaran telah dibangun keterikatan terhadap komunitas kecil (kelas). sehingga memudahkan proses dialog mendalam. dan dialog mendalam tentang segala hal baru yang diterima mahasiswa. dan sikap terpuji lainnya akan dapat mengantarkan siswa menjadi warga negara demokratis.dikemukakan oleh Swidler (2000) yang menekankan pentingnya hening dalam segala aktifitas. kegiatan ini juga merangsang daya kritis siswa dalam menangkap permasalahan.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). Demikian juga kegiatan penemuan konsep dan cooperative learning. sehingga akan mendukung upaya pendidikan anak seutuhnya (PAS) yang pada gilirannya akan sangat mendukung upaya mewujudkan manusia Indonesia Seutuhnya (MIS). Ini sejalan dengan pendapat Gross (2000) bahwa dengan refleksi terjadi proses penajaman pengalaman yang peroleh dan mereproduksi ketika menyampaikan secara lesan. berani tampil beda.

Ini menjadi tantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Bahan ajar dan LKS PKn dengan pendekatan DD/CT adalah model bahan ajar dan LKS dengan lima komponen utama yakni hening (doa). karena bahan ajar ini memberi peluang dan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk ambil bagian dalam proses pembelajaran. model ini dapat mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif. namun multi arah. refleksi dan doa. mulai dari hening sampai evaluasi. serta memuat hasil penelitian dalam jurnal-jurnal baik yang nasional maupun internasional Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues).model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya. Pembelajaran berbasis DD/CT terus melakukan penelitian lanjutan. Saran Bahan Ajar dan LKS Mata pelajaran PKn Berbasis DD/CT ini perlu sempurnakan dengan cara mengimplementasikannya ke sekolahsekolah yang lebih beragam. Interaksi belajar-mengajar juga semakin meluas tidak hanya satu arah yakni guru-siswa. Dengan model bahan ajar dan LKS bernuansa DD/CT diharapkan prestasi siswa juga semakin meningkat. . membangun komunitas. paparan materi pokok. Bahan ajar dan LKS PKn dengan DD/CT dibuat dipandang mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. utamanya implementasi pembelajaran inovatif dengan menggunakan sarana bahan ajar dan LKS Berbasis DD/CT ini.bahkan kalau perlu dengan nara sumber yang berada di luar lingkungan sekolahnya.

New York. Surakhmad. 2002. Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking dalam Pendidikan Indonesia. Malang. Integreted Teaching Methods: theory. Philadelphia. 1979. B. Steven.M. The Study of Religion in an Age Global Dialogue. Deep Dialogue and Critical Thinking as Instructional Approach.L and paul Mojzes.DAFTAR RUJUKAN Al Hakim.W. Philadelphia University Press.J. Penulisan Karya Ilmiah. & Rudnitski. Curricullun in Turbelence Era. PPPG PMP-IPS Danial. Jakarta. 2002. PPPg PMP-IPS Sri Untari.2000. Del mar Publishers. 1995. Diknas. 2002. Metode Pengajaran Nasional. Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Jembatan Swidler. 2000. Jakarta. Direktorat SLTP. Dilaksanakan di Malang tanggal 1--11 Juli 2001 Gross. PUSKUR-Dirjendikdasmen Frazee. Ar. Dirjendikdasmen Depdiknas. and Field-based Connection. Makalah pelatihan guru PPKn MA se kabupaten Pasuruan. 2000. Kompetensi guru. 2001. GDI. Model Pengintegrasian Budi Pekerti ke dalam PPKn untuk Guru SLTP. Bahan pelatihan Pendidikan Anak seutuhnya (PAS) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Global dialogue Institute dan UNICEF. Jakarta. Temple University Press . Suparlan dan Milan Rianto. E. Jakarta. Malang. Classroom Applications. 2000. Strategi Pembelajaran Berdasarkan Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking. Sri Suntari dan Sri Untari . Pembelajaran Kewarganegaraan dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Menyongsong KBK.2000.

The Module applies study strategy. giving opportunity for students for fundamental physics concept mastering through laboratory activities. integrating erudite process and physics concept. Eddy Supramono adalah dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang . Penguasaan Konsep Fisika.Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Abstrac: The quality of physics conception domination is very determined by study process which is done by students. Key words: Modul Physics by Inquiry. it indicates that the students difficulty is located in the way of comprehending and mastering The fundamental physics lecture concepts. One of the strategy is decanted in the module of Physics by Inquiry. According to the observation of study process of fundamental physics and interviewing with some students. The Concepts acquirement is not constitute to the understanding of erudite process which ought to student experience. Students obtain the concepts in the form of clarification and information from lecturer and then ones will be applied to some problems. Model Pembelajaran Investigasi Kelompok Mata Kuliah Fisika Dasar merupakan salah satu mata kuliah yang termasuk pada rumpun Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK) yang diwajibkan bagi mahasiswa tahun pertama di FMIPA Universitas Negeri Malang. Some Various study strategy have been strived to increase student concept domination.

Dengan demikian. penelitian ini akan menghasilkan teori yang lebih rinci dalam cakupan Teori Kognitif Sosial. Berdasarkan pengamatan pada proses pembelajaran Fisika Dasar dan wawancara dengan mahasiswa menunjukkan bahwa kesulitan mahasiswa terletak dalam cara memahami dan cara menguasai konsep-konsep yang ada dalam mata kuliah Fisika Dasar.. Kualitas penguasaan konsep Fisika sangat ditentukan oleh proses pembelajaran yang dialami mahasiswa. kooperatif dan kolaborasi teman sebaya akan tercipta interaksi sosial di antara siswa dengan pola tertentu pula. Mahasiswa memperoleh konsep dalam bentuk informasi dan penjelasan dari dosen yang kemudian diterapkan dalam bentuk latihan soal. mata kuliah ini memiliki bobot 6 SKS yang terbagi dalam mata kuliah Fisika Dasar I (3 SKS) pada semester I dan Fisika Dasar II pada semester II (3 SKS). Melalui pembentukan kelompok-kelompok dengan pola tertentu. Berbagai strategi pembelajaran telah diupayakan untuk meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa. Strategi pembelajaran yang digunakan dalam modul Physics by Inquiry ini didasarkan pada kurikulum berbasis laboratorium. Hasilnya menunjukkan peningkatan penguasaan konsep Fisika yang cukup signifikan serta mahasiswa memperoleh pengalaman langsung tentang proses ilmiah. Mata kuliah ini secara langsung didukung oleh mata kuliah praktikum Fisika Dasar I pada semester I (1 SKS) dan praktikum Fisika Dasar II (1 SKS) pada semester II. yaitu pola tutorial sebaya. sehuigga struktur kognitif siswa akan tumbuh dan berkembang dengan kecenderungan-kecenderungan tertentu pula. Modul ini pertama kali dikembangkan oleh The Physics Education Group di the University of Washington. Penelitian ini berorientasi pada Teori Kognitif Sosial. Modul ini menggunakan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan proses ilmiah dan konsep Fisika yang memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menguasai konsep Fisika Dasar melalui kegiatan laboratorium. . dan diberikan pada kelas kecil dengan jumlah mahasiswa per kelas 20 orang mahasiswa. Salah satu strategi pembelajaran tersebut diantaranya tertuang dalam modul Physics by Inquiry. Perolehan konsep tersebut tidak didasari pemahaman proses ilmiah yang seharusnya dialami mahasiswa.Berdasarkan kurikulum di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang.

kooperatif dan kolaborasi teman sebaya pada Calon Guru Universitas Negeri Malang? METODE Penelitian ini dilakukan dengan mengambil jenis penelitian Quasy Experimentation (semi eksperimen) dengan mengambil model Randomized Control-Group Pretest-Paster . O3.Design (Caenphell dan Stanley. O2.Untuk lebih tegasnya berdasarkan latar belakang di atas. O4 dan O5 adalah pengukuran pertumbuhan konsep Fisika dengan periode dua mingguan. a. disajikan pada Tabel 1 berikut. masalah pelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. Tabel 1 Rancangan Penelitian GI G2 G3 G4 O1 O1 O1 O1 XI X2 X3 X4 O2 O2 O2 O2 X1 X2 X3 X4 O3 O3 O3 O3 XI X2 X3 X4 O4 O4 O4 O4 XI X2 X3 X4 O5 O5 O5 O5 Keterangan: G1 = kelompok pertama G2 = kelompok kedua G3 = kelompok ketiga G4 = kelompok keempat X1 X2 X3 X4 = = = = perlakuan tutorial perlakuan kooperatif perlakuan kolaboratif perlakuan acak . Adakah pengaruh dampak dari Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi Kelompok terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika Dasar para calon Guru Universitas Negeri Malang? b. 1968). Bagaimanakah interaksi dari dampak Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi kelompok yang dirancang dengan pola tutorial sebaya. yang diperluas dengan melibatkan lebih dari satu variable O1.

Artinya. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru jurusan Fisika Universitas Negeri Malang yang terdiri dari 6 kelas. Analisis butir soal dilakukan dengan mengambil sekor pretes dari 2 kelas sampel penelitian. data interaksi antar mahasiswa akan dianalisis secara deskriptif yang meliputi keterampilan kelompok dasar. intermediate dan lanjut untuk masing-masing pola. sampel sebanyak 4 kelas di atas akan diambil 3 kelas sebagai kelas eksperimen.Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa dijaring lewat hasil tes dengan menggunakan instrumen prestasi. satu kelas sebagai kelas kontrol. kooperatif dan kolaborasi. Analisis regresi ini dimaksudkan untuk tujuan peramalan.yang dipilih secara purposif dengan pertimbangan tertentu dimana masing-masing kelas terdiri atas 25--30 mahasiswa. Selanjutnya. Instrumen kegiatan akan dikembangkan dengan mengadopsi Modul Physics by Inquiry untuk materi Fisika Dasar I. Untuk melihat dampak yang muncul selama mahasiswa para calon guru bekerja dengan model investigasi kelompok. sedangkan data tentang pengamatan interaksi mahasiswa dikumpulkan melalui instrumen pengamatan interaksi dalam kelompok. selengkapnya dapat diperiksa pada Lampiran-5. yaitu tutorial sebaya. pola pengelompokkan belajar mahasiswa untuk kelas eksperimen akan dibentuk mengikuti aturan pengelompokkan secara pola . 1984) dengan menggunakan program SPSS Release-10 for windows. dimana dalam model tersebut ada sebuah variabel dependen. Sedangkan. sedang sebagai sampelnya digunakan sebanyak 4 kelas secara purposif dengan pertimbangan bahwa kesulitan teknis pelaksanaan selama eksperimen dapat dihindarkan. yaitu penguasaan konsep Fisika dan variabel independen. Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika mahasiswa dianalisis dengan regresi (Kleinbaum dan Kupper. Dalam hal ini ingin diselidiki apakah pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa tergantung atau tidak dengan banyaknya waktu yang digunakan dalam penyampaian materi. yaitu waktu yang digunakan belajar. apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry.

proses pembelajaran mengikuti alur yang sama. pola kooperatif dan pola kolaboratif sebaya. Uji Kesamaan Kemampuan Awal mahasiswa Data yang digunakan untuk menguji kesamaan kemampuan awal ini adalah hasil tes awal atau pretes dari masing-masing kelompok.57. Lembar Kerja Mahasiswa pada kegiatan praktikum dengan mengimplementasikan Modul Physics by Inquiry Hasil uji coba instrumen penguasaan konsep Fisika menunjukkan bahwa validitas telah memenuhi syarat instrumen yang cukup baik. Instrumen pengamatan interaksi mahasiswa dalam kelompok b. Tabel 3. kecuali pola pembentukan kelompoknya. Instrumen pengukuran penguasan konsep Fisika yang berupa tes dikembangkan berdasar materi Fisika Dasar I c.. pertama kali yang dikerjakan adalah: 1. Dengan demikian. Reliabilitas tes tersebut ternyata cukup baik dengan koefisien reliabilitas sebesar 0. .tutorial. dan Tabel 4 berikut. sedangkan instrumen kegiatan yang dikembangkan terdiri atas: a. Dari 20 butir soal sebanyak 1 soal gugur. Kelas kontrol akan dikelompokkan secara acak dengan berpedoman dari absensi kelas. bahwa untuk mengetahui apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry. Dengan demikian tes penguasaan konsep Fisika yang digunakan sebanyak 19 butir soal. Instrumen perlakuan dikembangkan dengan mengikuti pola pembelajaran kelompok. Analis yang digunakan adalah Anova dengan mengggunakan program SPSS Release-10 for Windows dengan terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analis. HASIL Seperti telah dijelaskan di atas. yaitu uji normalitas dan homogenitas varians dan hasilnya seperti pada Tabel 2.

216 df 3 102 105 Mean Square 49.161 25 .196 25 . 0.157 Total 10763.05).190 a.190 dan persyaratan homogen variannya juga terpenuhi (sign.699 Dari Tabel 2.095 a ACAK TUTORIAL KOOPERAT KOLABORA Statistic .079.093 df 1 3 df 2 102 Sig.954 . .925 .060 . yaitu pola acak.477 Sig.Tabel 2 Uji Normalitas Data Tes ts of Nor m ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.381 . sig. . sig.165 25 . .686 104.938 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig. 0. dan Tabel 4 terbukti bahwa sebaran data kemampuan awal keempat kelompok data adalah normal karena harga Sig.178 .079 .014 . .176. pola kooperatif. Lillief ors Signif icance Correc tion Tabel 3 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRETES Levene Statistic ..05. 0.079 .0. Tabel 3. 0. terbaca >0. . Dengan demikian langkah selanjutnya adalah uji kesamaan kemampuan awal masing-masing kelompok data dengan statistik Anova. pola tutorial dengan sig.964 Tabel 4 Uji Kesamaan Kemampuan Awal ANOVA PRETES Sum of Squares Betw een Groups 149.060 F .937 .170 25 .964>0.381 dan pola kolaborasi dengan harga sig.059 Within Groups 10614.

Lilliefors Significance Correction .019 . Hasil analisis menunjukkan bahwa harga Sign. Tabel 5 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.931 . sedangkan uji prasyarat homogenitas data dapat dibaca pada Tabel 6.104 .142 25 .105 25 .000. yang muncul adalah sebesar 0. maka langkah selanjutnya adalah menguji hasil postes masing-masing kelompok dengan statistik Anova. kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok mempunyai harga pretes yang sama atau tidak berbeda pada taraf signifikansi 5%.394 *. terbaca harga sign. 2. .200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic . kenyataan ini terbaca pada Tabel 7.191 25 . sebesar 0.05. Hasil menunjukkan bahwa kempat kelompok data adalah homogen.943 . This is a low er bound of the true significance. Kenyataan ini terbaca bahwa harga Sig. 2. dan 4 atau factor pola acak. . hasil pretesnya menunjukkan tidak berbeda pada taraf signifikansi 5% atau sama. 3. Uji Beda Postes Antar Kelompok Oleh karena keempat kelompok. untuk factor 1.007 .Uji prasyarat analis menunjukkan bahwa keempat kelompok berdistribusi normal.699 pada taraf signifikansi 5%.971 .208 25 . kooperatif dan kolaborasi adalah lebih besar dari 0. Dengan demikian uji beda postes dari keempat kelompok dapat dilakukan. a. tutorial.243 . Selanjutnya akan dilakukan uji beda postes dari masing-masing kelompok.955 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.665 .05 artinya bahwa kempat harga postes dari masing-masing kelompok berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%.200* . Pada bagian Post Hoc Tests untuk menu Multiple Comparisons harga Turkey HSD dan Bonferroni. terbaca pada Tabel 5. Harga ini adalah lebih kecil dari 0.Hasil uji terlihat pada Tabel 4 yang menunjukkan bahwa kemampuan awal keempat kelompok tidak berbeda atau sama.

224 Sig. Pertumbuhan Penguasaaan Konsep Fisika Dasar I Mahasiswa Setelah tahap-tahap di atas dilakukan dan hasilnya telah jelas.592 Within Groups 11434. selanjutnya dilakukan uji beda pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I. atau tutorial apalagi belajar kelompok dengan pola acak. artinya bahwa kalau akan membentuk kelompok belajar mahasiswa. Bila diperhatikan harga mean postes yang paling tinggi ada pada kelompok kolaborasi. data-data yang diperlukan adalah sekor pretes dan postes masing-masing kelompok. . .000 Kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok memang mempunyai harga postes yang berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%. 3. dan Tabel 10 berikut. Sebelumnya.Tabel 6 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s POSTES Levene Statistic 1. dilakukan terlebih dulu uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas varians masing-masing kelompok data dan hasilnya seperti ditunjukkan pada Tabel 8.934 Total 14873. Untuk keperluan uji ini. Tabel 9. maka akan tepat bila kelompok tersebut dibentuk dengan mengikuti aturan pola kolaborasi.197 112.107 F 10.345 Tabel 7 Uji Beda Postes ANOVA POSTES Sum of Squares Betw een Groups 3438.120 df 1 3 df 2 102 Sig. . daripada kooperatif.526 df 3 102 105 Mean Square 1146.

This is a low er bound of the true signif icance.746 df 1 3 df 2 102 Sig. a.962 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.Tabel 8 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Norm ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig. .044 244. Dengan demikian.410 Sig. Lillief ors Signif icance Correction Tabel 9 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRTBH Levene Statistic .123 25 .922 F 8.473 *.002 .918 . uji beda pertumbuhan dapat dilakukan yaitu dengan statistik Anova dan hasilnya dapat diperiksa pada Tabel 10 di atas yang terbaca bahwa harga .000 Betw een Groups Within Groups Total Hasil uji yang ditunjukkan pada Tabel 8 menghasilkan bahwa data pertumbuhan masing-masing kelompok adalah normal dan uji homogenitas varians pada Tabel 9 menunjukkan bahwa keempat kelompok data adalah berasal dari varians yang sama.538 df 3 102 105 Mean Square 16.495 196.051 . .382 .316 .527 Tabel 10 Uji Beda Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika ANOVA PRTBH Sum of Squares 48.185 .954 .145 25 .200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic .200* . .228 25 . .165 1.129 25 .949 .

 Dengan menggunakan program SPSS pada statistik regresi dengan mengambil menu Curve Fit.12672 seperti disajikan pada Tabel 11 di bawah.sign. tes-2.916. Hasil analisis dapat ditunjukkan seperti berikut. tetapi tidak ada perbedaan untuk masing-masing pola kelompok. method. sedangkan method Quadrati F = 1. yaitu uji normalitas dan homogenitas pretes dan postes yang hhasilnya telah memnuhi persyaratan. Sedangkan.999 dan sebesar 0. tes-3 dan postes (dilakukan setiap 2 minggu) diolah. namun pertumbuhan untuk masing-masing pola terhadap pola lain pada kelas eksperimen nampaknya tidak ada perbedaan. Masalahnya sekarang adalah bagaimanakah bentuk pola pertumbuhan tersebut untuk masing-masing pola? Untuk menjawab pertanyaan ini langkah-langkah yang dilakukan adalah:  Uji prasyarat analisis. Linier sebesar 0. tes-1. Compound.. sebesar 0. Tampak bahwa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen secara keseluruhan berbeda secara signifikans. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan keempat pola kelompok adalah berbeda secara signifikans pada taraf signifikansi 5%. Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Di bagian atas telah dihasilkan perhitungan statistik tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika pada masing-masing pola.000. Growth dan Exponent sebesar 0. yang ditandai dengan tanda *. 4. data pretes.865 dengan kolaborasi. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa walaupun pertumbuhan untuk masing-masing pola berbeda tetapi mean dari masing-masing pola hampir sama. sehingga setelah dilakukan Post Hoc Tests nampak bahwa perbedaan pertumbuhan penguasaan tersebut akan nyata bila kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. bila kooperatif dibandingkan dengan kolaborasi mendapatkan harga sign. Hal ini karena harga sign antara tutorial dengan kooperatif sebesar 0. Pola acak. harga F untuk Method. 0. maka dapat disimpulkan bahwa penguasaaan konsep Fisika mahasiswa untuk pola kelompok acak . Pada bagian Post Hoc Tests pada Multiple Comparisons memperkuat pernyataan di atas.. Hasil olahan menunjukkan gambaran-gambaran pola pertumbuhan yang terjadi untuk masingmasing pola kelompok yang dibentuk.24726.26153.

tetapi cenderung kearah pola Quadrati. Linier sebesar 44.12672 Pola tutorial sebaya.02156 dengan beda sebesar 0.12672 0.40123 37. harga F untuk Method.71022 22.16240. sedangkan Metod Compound. Growth dan Exponent.12672 0. Linier sebesar 25.12268.02156 Pola kooperatif. yaitu 45.62033. Growth. dan Exponent sebesar 25.36603 (Tabel 13). sehingga dapat disimpulkan bahwa per- .. harga F untuk method.02156 45. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 0.64375 1. Tabel 11 Curve Fit Pola Pertumbuhan Acak Analysis of Variance Method.02156 45.12672 0. Qudrati 14.26153 0.05305 45. Tabel 12 Curve Fit Pola Pertumbuhan Tutorial Sebaya Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 44..40123 yang mana harga ini masih lebih kecil dari Method Compound.tidak linier terhadap waktu yang digunakan. sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan penguasaan konsep pola tutorial adalah linier namun lebih mendekati kearah eksponensial disajikan pada Tabel 12.

92887 39. perbedaaan tersebut adalah nyata. dan Exponent harga F-nya sebesar 39. perbedaaan tersebut adalah nyata.92697 39. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil. Tabel-15 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kolaborasi Analysis of Variance Method.92697 . harga F untuk Method Linier sebesar 39. Growth dan Exponent harga F-nya sebesar 39.12268 18. harga F untuk Method. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil.tumbuhan penguasaan konsep Fisika kelompok kooperatif adalah linier cenderung kearah Metod Compound. Linier sebesar 39.92937.36603 25.86311 20. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 39. Growth..16240 25. Growth dan Exponent Metod.36603 25.92937. sedangkan Metod Compound.81884 14. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%.36603 Compound. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%. sedangkan Metod Compound. Pola Kolaborasi. Pola Kolaborasi.92697 (Tabel 14).92697 39. Tabel 13 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kooperatif Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 25.92697 (Tabel 15). Growth dan Exponent..92937 30.

Keterampilan Kelompok Intermediate: Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 83.33% akan mendengarkan secara seksama pendapat dari anggota kelompok. tutorial sebaya. Disini tampak peranan tutor yang cukup dominan (50%) yaitu megajak anggota kelompok untuk berpartisipasi.002. Bagaimana halnya sekarang dengan hasil pengamatan interaksinya? 1. Keterampilan Kelompok Lanjut: Bahwa kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi seperti ditunjukkan di atas.67%) artinya sifat individu tidak muncul. pada akhirnya tutorlah yang berusaha untuk memperdalam permasalahan sehingga memperoleh jawaban akhir yang dianggap benar (83. namun setiap keputusan yang diambil kelompok selalu berdasar keputusan kelompok (66. Compound.33%) dan terakhir tutor menunjukkan bukti pada anggota kelompok disertai alasan-alasannya (83. (83.33%) b. sehingga kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi (66. Hasil Pengamatan Interaksi Di atas telah dipaparkan hasil penguasaan konsep pada masingmasing pola kelompok belajar. Growth dan Exponent dengan beda yang cukup kecil yaitu sebesar 0. Pola Tutorial Sebaya a..33%). artinya ada kesadaran bahwa pendapat orang lain mungkin akan berguna bagi dirinya sehingga perlu untuk dicermati. yaitu kelompok acak. Keterampilan Kelompok Dasar: Tutor berperanan aktif dalam mengawali pengambilan kesepakatan (83. . kooperatif dan kolaborasi.33%).67%). c.Dengan demikian pola kolaborasi pertumbuhan penguasaan konsepnya lebih kearah linier dibandingkan dengan Metod.

Pola Kolaborasi a. nampak disini bahwa anggota yang merasa berprestasi tinggi merasa tidak begitu memerlukan akan pendapat anggota yang berprestasi rendah c. Pola Kooperatif a.33%) yang lebih dominan.29%).86%).67%). Untuk menyumbangkan pemikiran rupanya diprakarsai oleh setiap anggota kelompok (28. Poin inilah yang utama dan penting dilakukan oleh separoh dari kelompok yang melakukan kegiatan (50%). Keterampilan Kelompok Intermediate: Menunjukkan penghargaan dan empati pada penampilan anggota ditunjukkan oleh anggota yang berprestasi rendah (33. 3. kecuali yang berprestasi rendah (14. namun dia tidak berusaha menunjukkan bukti dan alasannya mengapa jawaban bisa demikian justru yang berkemampuan sedang (83. Keterampilan Kelompok Dasar: Mengawali pengambilan kesepakatan muncul dari anggota dengan predikat berprestasi tinggi (42. bersuara pelan dalam mengemukakan pendapat (33. sedangkan anggota berprestasi tinggi dan sedang justru lebih rendah (16. Inilah yang penting karena dengan demikian yang .67%). itulah pertanyaannya.2.33%) dan justru anggota kelompoknya yang mengajak mengemukakan pendapat (50%).67%). b. Keterampilan Kelompok Dasar: Mahasiswa yang berprestasi tinggi dominan untuk mengawali pengambilan kesepakatan (50%).67%). Masalahnya adalah apakah penjelasan ini benar atau salah. Jadi. Kelompok ini mengarahkan bagaimana kelompok harus bekerja (66. namun tidak menyumbangkan banyak pemikiran dalam memecahkan masalah (16. Namun demikian setiap anggota bersedia berkompromi untuk mencapai jawaban akhir.57%). Keterampilan Kelompok Lanjut: Memperdalam permasalahan dalam upaya memperoleh jawaban yang benar rupanya masih dikendalikan oleh anggota yang berkemampuan tinggi (66.33%). Anggota dengan prestasi paling tinggi nampaknya memegang kendali saat diskusi kelompok. namun dia tetap mengarahkan kerja kelompoknya (50%).

c. 14. demikian juga saat menunjukkan bukti atau memberi alasan terhadap jawaban yang dikemukakannya ((42. Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok belajar menunjukkan bahwa semakin tinggi kebersamaan dalam . Growth dan Exponent. 1. pola tutorial sebaya mahasiswa cenderung kearah pola Compound. 28. b.57%. anggota yang berprestasi tinggi kembali memegang kendali. Hal ini tampak dari hasil urutan pengamatan interaksinya yaitu sebesar 28.57%. 2. sedangkan yang mengikuti pola linier adalah pola kolaborasi. Untuk pola acak cenderung kearah pola quadrati.merasa punya prestasi rendah akan menjadi terhimbas untuk belajar. Dalam menentukan prioritas dalam memecahkan masalah. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 14.14% SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil kajian disertai dengan analisis statistik dari data-data yang didapatkan.57%. Pola pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA UM untuk masing-masing pola pengelompokkan menunjukkan pola yang berbeda-beda. yaitu sebesar 57.86%). Hasil ini sama saat kelompok merinci tugas dan jawaban.57% tetapi untuk memperdalam permasalahan anggota kelompok yang berprestasi paling tinggi yang lebih berperanan (42.29% dan 28. Keterampilan Kelompok Intermediate: Yang menarik pada tingkat keterampilan ini adalah bahwa dalam mengambil kesimpulan tugas-tugas kelompok. 28.57%.86%).57%. Keterampilan Kelompok Lanjut: pada poin untuk merinci tugas dan jawaban hampir semua kelompok anggotanya aktif melakukan ini yang hasil pengamatannya adalah 28. hampir semua kelompok baik yang anggotanya berprestasi tinggi ataupun kelompok yang berprestasi pada urutan yang lebih rendah semua memegang kendali pengambilan keputusan.29% dan 28.

maka akan membuat semakin baik pola pertumbuhan penguasaan konsep mereka. dapat disarankan hal-hal sebagai berikut. Saran Dari kesimpulan yang didapatkan seperti diungkap di atas. Inilah hal utama untuk itu ditekankan sebelum kelompok terbentuk. utamanya prestasi belajar mereka. saling menghargai pendapat orang lain merupakan faktor penting untuk diperhatikan karena erat kaitannya dengan hasil yang didapatkan nantinya. berdiskusi. 1. Mencermati hasil perhitungan statistik yang telah dilakukan.memecahkan permasalahan yang dihadapi. bahwa pola kolaborasi ternyata mampu membuat pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Malang linier terhadap waktu yang digunakan belajar. . Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok menunjukkan bahwa kebersamaan untuk mau bekerja bersama-sama. 2. maka disarankan kepada siapapun sekiranya akan membentuk kelompok belajar seyogyanya membentuk kelompok belajar dengan pola kolaborasi.

. Assessing Student Outcome: Performance Assessment Using the Dimensions of Learning Model. L. A Perspective on Teacher Preparation in Physics and Other Sciences: The Need for Special Science Course for Teacher. L. McDermott. Menuju Kebiasaan Bertanya dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar. Yogyakarta. L. R. & Trowbridge. Rohandi. W 1973. R. Teaching Science by Inquiry in the Secondary School. B. W. C. & Rosenquist. Inc.. 1986.. R. 1996. Columbus. B. 58 (8). Becoming a Secondary School Science Teacher. Trowbridge. 35(6). J. M. Shafferi.L. P.. 1996. W. American Journal of Physics. & McTighe. 1993. 2001. Penerbit Karunika. ASCD Publications. C. J.. Ohio. C. A Bell & Howell Company. Physics by Inquiry: An Introduction to Physics and the Physical Sciences. Ohio . D. A Bell & Howell Company. Shafferi. R. & Sund.. Columbus. L. W. & Constantinou. Washington DC. National Science Education Standard. R. P. New York McDermott. Penerbit Kanisius.. P. Second Edition. Virginia.. Physics Education. National Academy Press. Preparing Teachers to Teach Physics and Physical Science by Inquiry. S. Buku Materi Pokok 4 Universitas Terbuka. S. 2000. John Wiley & Sons. Third Edition..C. Interaksi Belajar Mengajar IPA. L. R. Pickering. National Research Council. Jakarta McDermott.1981. 1990. Marzano. Bybee. Sund.DAFTAR RUJUKAN Dahar.

The findings reveal that most proficient readers do skip unknown words. yaitu analisis terhadap struktur kata dan penggunaan konteks untuk menebak makna kata. and there are five reasons underlying the application of this strategy. misalnya. misalnya melihat kamus untuk mencari makna kata tersebut. Key words: reading. Some recommendations are made based on these findings. dan strategistrategi tersebut telah disusun menjadi taksonomi oleh beberapa pakar. ada beberapa strategi pemrosesan kata lain yang dapat diterapkan oleh para pembelajar bahasa Inggris. Kusumarasdyati adalah dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Surabaya . List dan Lerner (1983). Untuk mengatasi masalah kosakata seperti ini. skipping. Namun taksonomi yang disusun oleh Robinson (1977) terdiri dari tiga strategi. menggunakan kamus. strategy. vocabulary. yaitu membaca secara ekstensif (wide reading).Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Abstract: Proficient readers usually skip unknown words that they encounter in a reading text. pembelajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing acapkali menemui kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. dan menebak makna kata berdasarkan konteks. mereka menerapkan berbagai macam strategi pemrosesan kata (lexical processing strategies). Richek. Selain penggunaan kamus. unknown words Dalam membaca pemahaman. This study attempts to examine the use of skipping as a lexical processing strategy in reading comprehension and explore the reasons for utilizing this strategy. mengusulkan taksonomi yang terdiri dari dua strategi saja.

taksonomi Fraser juga memiliki kelebihan lain. Karena itu penelitian ini berpijak pada taksonomi strategi pemrosesan kata yang disusun oleh Fraser. Rayner dan Pollatsek. strategi berupa melewati kata-kata sulit-atau skipping unknown words-tidak terlalu diperhatikan oleh para peneliti dan pengajar bahasa. yaitu mengakui ignore sebagai salah satu strategi. melainkan berhenti sebentar pada suatu titik dalam teks kemudian melompat dengan cepat ke titik yang lain dalam teks yang sama (Rayner dan McConkie.Fraser (1999) juga membagi strategi pemrosesan kata menjadi tiga: infer (menebak makna kata). Dari beberapa taksonomi di atas. dan amat sedikit informasi yang . Dua strategi yang diusulkan oleh Richek et al dapat dimasukkan ke dalam kategori infer. sedangkan wide reading yang dikemukakan oleh Robinson sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai strategi tersendiri karena pembelajar biasanya menebak makna kata atau menggunakan kamus ketika sedang membaca secara ekstensif. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pembelajar mengumpulkan informasi lebih banyak mengenai teks pada tahap fixation di suatu kata. Selama ini banyak peneliti dan pengajar bahasa yang menganggap bahwa menebak makna kata atau melihat kamus saja yang bisa dikategorikan sebagai strategi. 1989. 1998). Penelitian mengenai gerakan mata (eye movement) menemukan bahwa mata tidak bergerak secara kontinyu dari satu kata ke kata berikutnya ketika membaca. Reichele et al. Mereka tidak menyadari bahwa melewati kata yang tidak ditemukan maknanya sebenarnya juga merupakan strategi atau teknik yang dilakukan oleh pembelajar dalam menghadapi kata-kata sulit. Berdasarkan latar belakang tersebut. Selain lebih lengkap dibandingkan dengan yang lain. Skipping dalam membaca pemahaman sebenarnya telah diketahui oleh para pakar sejak dekade 1970-an. dan menurut mereka apabila kedua strategi ini gagal dalam membantu pembelajar untuk menemukan makna kata maka kata tersebut ‗cukup‘ dilewati saja. consult (melihat makna kata di kamus) dan ignore atau skipping (mengabaikan makna kata). Karena anggapan yang kurang tepat seperti ini. nampak bahwa klasifikasi strategi yang paling lengkap disusun oleh Fraser (1999). 1976. Proses berhentinya mata pada suatu titik disebut fixation. penelitian ini mencoba untuk mendalami skipping sebagai salah satu strategi pemrosesan kata yang digunakan oleh pembelajar bahasa. sedangkan proses melompatnya pandangan ke titik lain disebut saccade.

hanya saja data numerik yang dihasilkan agak berbeda. sedangkan 35% merupakan strategi yang digunakan setelah gagal menebak makna kata. Hasil penelitian kuantitatif Fraser (1999) mendukung temuan di atas. Hosenfeld (1976) serta Paribakht dan Wesche (1999) menemukan bahwa alasan skipping adalah anggapan pembelajar bahwa kata-kata sulit tersebut tidak penting untuk pemahaman bacaan keseluruhan. Selain itu. Pressley . Menurut Fraser.diperoleh pada tahap saccade karena pembelajar melewati beberapa kata begitu saja selama pandangan melompat dari satu titik ke titik lain. pembelajar biasanya tidak memberikan perhatian yang terlalu banyak pada kata tersebut (Reichele et al. Meskipun hasil penelitian di atas memberikan bukti empiris akan adanya strategi skipping dalam menghadapi kata-kata sulit di bacaan. Jumlah ini lebih rendah daripada pemakaian strategi menebak makna kata (44%) dan melihat kamus (29%). 1998). Hosenfeld juga menemukan bahwa kata-kata yang dianggap penting pun terkadang dilewati saja oleh para pembelajar karena gagal mendapatkan makna yang sesuai setelah mencoba beberapa kali untuk melihat kamus atau menebak dari konteks. menunjukkan bahwa pembelajar yang kemampuan membacanya baik biasanya melewati kata-kata yang tak diketahui maknanya karena kata-kata tersebut dipandang tidak terlalu penting untuk memahami makna keseluruhan bacaan. Hasil pengamatan terhadap gerakan mata di atas memberikan bukti yang kuat bahwa pembelajar memang melakukan skipping atau melewati beberapa kata ketika membaca suatu teks. Kalau pun ada kata yang terbaca. Hal ini sejalan dengan temuan dari penelitian Paribakht dan Wesche (1999). Selain bukti dari sudut fisik pembelajar. Sekitar 62% dari penggunaan strategi melewati kata ini merupakan strategi tunggal (tanpa didahului atau diikuti oleh menebak atau melihat kamus). pembelajar melewati 24% kata yang tidak mereka ketahui maknanya. Penelitian Hosenfeld (1976). misalnya. bukti lain diberikan oleh penelitian mengenai penggunaan strategi dari sudut psikolinguistik. hingga saat ini tidak banyak yang meneliti secara mendalam mengapa pembelajar melewati begitu saja kata-kata sulit dalam teks yang mereka baca. yang menunjukkan bahwa para subjek penelitiannya mengabaikan sekitar separuh dari kata-kata sulit yang mereka temukan dalam bacaan karena mereka menganggap kata-kata tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk pemahaman keseluruhan bacaan.

sehingga diperoleh skor yang merefleksikan . Secara teoritis.dan Afflerbach (1995) menyatakan bahwa pembelajar melewati kata sulit karena gagal menebak maknanya dari konteks. Maka dari itu. Data kualitatif diambil dari 8 mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang terpilih menjadi subjek penelitian dengan memakai metode purposive sampling dari populasi sejumlah 74 mahasiswa. Untuk mengetahui kemampuan tersebut. pengajar dapat membimbing pembelajar yang kemampuan membacanya sedang atau kurang dengan jalan meminta mereka untuk menerapkan strategi yang digunakan oleh pembaca yang lebih baik kemampuannya. Dengan demikian. diberikan tes membaca pemahaman DIALANG (dapat diunduh dari http://www. sehingga perlu diteliti lebih jauh apakah hanya kedua alasan itu yang memicu terjadinya skipping. selain alasan yang disebut di atas. penelitian ini diharapkan dapat mendukung pandangan yang menyatakan bahwa membaca pemahaman berlangsung secara top-down (pembelajar menggunakan pengetahuan yang telah dia miliki untuk memahami bacaan) dan bukannya secara bottom-up (pembaca memproses setiap kata satu persatu kemudian menggabungkan semua kata tersebut untuk memahami bacaan secara keseluruhan). penelitian ini juga memberikan manfaat praktis bagi para pengajar bahasa Inggris karena hasilnya dapat memberikan gambaran mengenai penggunaan strategi skipping yang efektif oleh para pembelajar yang kemampuan membacanya baik. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan secara mendalam alasan mengapa para pembaca yang kemampuannya baik mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam bacaan berbahasa Inggris.dialang. Sampel ini diambil dari populasi berdasarkan kriteria berupa kemampuan membaca pemahaman yang baik. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya baik melewati kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya dalam membaca pemahaman. Penelitian-penelitian mereka tidak secara khusus mendalami strategi skipping. Selain itu.org) yang telah menjadi standardized test kepada semua anggota populasi.

namun persentil teratas dibulatkan menjadi 8 (dari 7. Dengan kata lain. Mahasiswa yang menduduki persentil paling atas dipilih menjadi sampel penelitian. yaitu proses berpikir yang diucapkan dengan suara keras. Instrumen kedua adalah concurrent verbal protocols. kemudian ditulis transkripnya dengan menggunakan . dan selama membaca mereka diminta untuk mengucapkan kata-kata sulit yang mereka temui dan strategi mereka dalam mengatasi kata-kata sulit tersebut. Dalam menggunakan instrumen ini. Telah disebutkan sebelumnya bahwa populasi terdiri dari 74 mahasiswa. concurrent verbal protocols. Gambar 1 Cara seleksi sampel menggunakan persentil 10% Skor tertinggi (sampel) 10% Skor terendah Persentil teratas terdiri dari 10% dari mahasiswa yang mendapat skor tertinggi dalam tes membaca pemahaman DIALANG. skor ini diurutkan dari tertinggi hingga terendah dan disusun menjadi persentil. diperlukan empat instrumen penelitian: tes membaca pemahaman DIALANG.4) sehingga didapat sampel sejumlah 8 mahasiswa. Instrumen pertama (tes membaca pemahaman) tidak dibahas secara rinci di sini karena hanya digunakan untuk memilih sampel dari populasi. wawancara retrospektif.kemampuan membaca mereka. Selanjutnya. peneliti memberikan dua teks (masing-masing terdiri dari 812 dan 344 kata) kepada para mahasiswa untuk dibaca dengan keras. Kedelapan mahasiswa ini diasumsikan memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik karena skor tinggi yang mereka capai. Untuk mendapatkan data dari subjek penelitian ini. apa pun yang mereka pikirkan selama membaca harus mereka ucapkan dengan suara keras sehingga dapat diketahui secara persis proses berpikir mereka ketika mereka mengatasi kata-kata sulit. Informasi lebih jauh mengenai tes ini dapat diperoleh dari laman (website) yang disebut di atas. dan observasi. Proses seleksi ini dapat dijelaskan di Gambar 1. Ucapan mereka direkam dalam kaset oleh peneliti.

notasi seperti yang terdapat di Tabel 1. yaitu: (1) Apakah anda mengetahui makna kata ini?. tramping dan loose diperkirakan tidak diketahui maknanya oleh mahasiswa. di mana peneliti mengamati segala perilaku mahasiswa selama membaca dua teks dan mencatat hal-hal yang relevan dengan strategi skipping. di mana peneliti mewawancarai mahasiswa mengenai hal-hal yang perlu diklarifikasi dari hasil concurrent verbal protocols setelah mahasiswa selesai membaca dua teks. Tabel 1 Notasi untuk transkrip hasil concurrent verbal protocols Format Huruf biasa [Cetak miring. Seperti instrumen kedua.‖ Kata-kata tranquility. Apabila mahasiswa mencoba menebak makna tranquility ketika membaca teks dan tidak menebak atau melihat kamus ketika membaca tramping dan loose.0) Deskripsi Kata-kata yang diucapkan oleh subjek penelitian Kata-kata dari bacaan yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata dari kamus yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata sulit yang tidak diketahui maknanya Panjangnya jeda dalam menit dan detik Instrumen ketiga adalah wawancara retrospektif. Wawancara yang semi terstruktur ini berpegang kepada dua pertanyaan dasar. Instrumen yang keempat adalah observasi. di teks terdapat kalimat berikut: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end the previous summer. semua wawancara dengan subjek penelitian direkam dalam kaset dan dibuat transkripnya. peneliti memegang teks yang sama dan telah dibubuhi tanda pada beberapa kata yang diprediksi sulit bagi mahasiswa. karena itu peneliti memberi setrip pendek di bawah kata-kata tersebut. mengapa anda lewati kata ini sewaktu membaca tadi? Pertanyaan tambahan dapat diajukan sesuai kebutuhan. Misalnya. Ketika mahasiswa membaca teks. dan (2) Apabila anda tidak mengetahui maknanya. maka peneliti memberi tanda sebagai berikut di teks yang dia pegang: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end . di dalam kurung] [Cetak tebal. di dalam kurung] Garis bawah (0.

Hanya satu mahasiswa (Catrin) tidak pernah mengabaikan kata-kata sulit dan cenderung melihat kamus untuk mencari makna kata-kata tersebut. Dalam arti. HASIL Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang kemampuan membacanya tergolong baik melewati kata-kata sulit yang ditemui dalam bacaan. . Dari 8 mahasiswa yang menjadi subjek penelitian ini. atau melewati kata-kata sulit (skipping). Setelah didapat daftar kata-kata yang dilewati oleh setiap mahasiswa. sehingga didapat analisis yang lengkap mengenai kata yang dilewati beserta alasan melakukan skipping. dicari alasan-alasannya dari hasil wawancara. melihat kamus (consulting). yaitu kata-kata yang diberi setrip pendek di bawahnya. Hasil coding ini akan ditriangulasikan dengan hasil observasi. Hanya data yang masuk kategori terakhir ini lah yang dianalisis lebih lanjut. tetapi nampaknya melewati kata tramping dan loose karena keduanya masih ditandai setrip pendek. atau memasukkan ujaran mahasiswa selama membaca ke kategori yang sesuai: menebak makna kata (guessing). ujaran yang dikategorikan skipping seharusnya cocok dengan hasil observasi. seperti yang telah dijelaskan dalam bahasan mengenai instrumen ketiga di atas.the previous summer. sehingga penelitian ini mendukung temuan Hosenfeld (1976) yang telah dibahas di atas.‖ Garis bawah di keseluruhan kata menandakan bahwa mahasiswa mencoba mencari makna tranquility. tujuh diantaranya melewati begitu saja kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. Kata-kata yang ditandai setrip pendek ini akan ditanyakan dalam wawancara retrospektif setelah proses membaca selesai. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 2. Data yang diperoleh dari concurrent verbal protocols akan dianalisis terlebih dahulu dengan cara coding.

A : He eh. P : Yang anda tidak tahu artinya. Jadi yang penting kata kunci dari sentence itu udah dapet. Para mahasiswa yang mengabaikan kata tersebut berpendapat mereka masih bisa memahami apa yang disampaikan di dalam teks walaupun mereka tidak mengetahui makna kata-kata yang dilewati. Sentencenya nyambung. Biarpun itu katanya susah. kalo bukan key of the sentence. anda tadi merasa. Jumlah yang bervariasi ini tentunya dilatarbelakangi oleh alasan-alasan yang berbeda pula. ―Saya tidak tahu artinya tapi saya lewati aja‖? A : Ada yang merasa terus ditebak-tebak. saya nggak mau nyari. misalnya seperti yang dijelaskan oleh Andra (A) dalam wawancara retrospektif dengan peneliti (P). Nggak memperdulikan. P : Ada beberapa tadi yang anda tidak tahu artinya tapi anda tetap baca. kalo itu kata kunci? A : Ya. tetapi ada juga yang melewati hingga 43 kata. ngerti maksudnya. . Jadi selama kata itu nggak penting saya nggak mau. P : Jadi yang anda cari itu.Tabel 2 Jumlah Kata-kata yang Sulit dan Dilewati oleh Mahasiswa Nama mahasiswa* Selena Rita Homer Melisa Andra Yulia Catrin Didin * Nama samaran Σ kata sulit 45 35 54 57 37 52 96 49 Σ kata dilewati 25 2 27 35 25 43 0 18 Ada sebagian mahasiswa yang mengabaikan hanya 2 kata yang tidak diketahui maknanya. ya udah diambil.

Pembaca yang baik memiliki kemampuan untuk memilah mana kata-kata kunci (keywords) yang penting untuk pemahaman bacaan secara keseluruhan dan mana kata-kata yang kurang penting. Apabila kata-kata sulit dipandang kurang penting, maka pembaca akan menerapkan strategi skipping agar dia dapat membaca secara lebih efisien dan tidak terhambat oleh kata-kata sulit tersebut. Walaupun kata-kata yang tidak dipandang penting pada umumnya diabaikan, ada juga mahasiswa yang mengabaikan kata-kata sulit yang sebetulnya dianggap penting. Contoh konkrit dapat dilihat dalam ujaran Yulia ketika membaca teks dalam concurrent verbal protocols.
Yulia: [I would see him waiting for the whirring (0.1) whirring (0.1) whirring of wings, violin in hand. Several times now…]

Ketika Yulia membaca kalimat di atas, sebenarnya perhatiannya tertuju pada kata whirring yang tidak dia ketahui maknanya dan dia melakukan upaya untuk mengetahui makna kata tersebut, seperti yang ditunjukkan oleh pengucapaan kata ini berulang-ulang dengan jeda 1 detik. Hal ini dikonfirmasi dalam wawancara retrospektif yang dilakukan setelah verbal protocols di atas. Hasil wawancara menunjukkan bahwa Yulia memang tidak mengetahui makna whirring dan bermaksud untuk menebaknya berdasarkan konteks. Dia membaca kalimat selanjutnya (Several times now…dst.) untuk mengetahui dalam konteks apa kata whirring digunakan, namun karena kapasitas memori jangka pendek (short-term memory) Yulia yang amat terbatas maka kata tersebut terlupakan ketika membaca kalimat selanjutnya. Kata whirring masuk ke dalam memori jangka pendeknya tetapi tidak disimpan terlalu lama dan kemudian hilang, sehingga dia tidak melanjutkan upaya untuk menemukan maknanya dan mengabaikan kata tersebut hingga proses membaca teks berakhir. Salah satu mahasiswa yang melakukan strategi guessing diikuti skipping adalah Andra.
Andra: […but the publishers did not hear his uprush of wings. Uprush of wing.] What is that? Uprush of wing. An idiom? Uprush of wing (0.1) mungkin musik yang aneh, maybe. (0.4) Ah lewat. [The child came to live…]

Dalam verbalisasi di atas terlihat jalan pikiran Andra ketika menemukan kata uprush yang tidak dia ketahui maknanya. Pada awalnya dia berusaha mengidentifikasi apakah frasa uprush of wings adalah

sebuah idiom, kemudian lebih jauh dia mencoba untuk menebak makna frasa tersebut sebagai ‗musik yang aneh.‘ Namun nampak jelas bahwa dia tidak yakin akan akurasi makna yang dia tebak, seperti yang ditunjukkan pada kata mungkin dan maybe. Setelah empat detik berlalu, dia memutuskan untuk melewati saja frasa ini, seperti yang dia nyatakan secara eksplisit dengan ucapan ah lewat. Temuan ini merupakan alasan keempat yang menyebabkan terjadinya skipping. Didin, misalnya, memutuskan untuk mengabaikan saja kata yang sama, yaitu uprush, setelah beberapa kali mencari maknanya di kamus namun tidak berhasil.
Didin: [Long ago, she confided, her brother had tried to get his strange music down on paper, but the publishers did not hear his uprush of wings.] Uprush (0.5) uprush (0.23) uprush (0.6) uprush (0.20) uprush uprush (0.5). [The child came to live…]

Ketika Didin menemukan kata sulit, yaitu uprush, dia meraih kamus saku elektroniknya dan berusaha mencari makna kata ini selama 5 detik, namun di kamus tersebut tidak tercantum entri uprush. Kemudian dia beralih ke kamus bilingual Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan mencari selama 23 detik, tetapi di kamus tersebut juga tidak terdapat entri uprush. Hal yang sama juga terjadi ketika dia menggunakan kamus monolingual selama 6 dan 20 detik. Karena ketiga kamus yang dia gunakan tidak memuat kata uprush sebagai salah satu entrinya, dia gagal mendapatkan maknanya dan memutuskan untuk melewati kata ini dan meneruskan membaca kalimat-kalimat berikutnya. Sebagai contoh, Andra melakukan miscue ketika membaca teks dan ini terlacak dari wawancara retrospektif yang dilakukan peneliti dengannya. P A P A : : : : ‗Confided‘ artinya? Oh, ‗confided,‘ tak pikir ‗convinced.‘ Anda salah baca? Ya, salah baca tadi, tak kira ‗convinced.‘

Dalam wawancara di atas, peneliti menunjuk kata confided di teks dan meminta Andra untuk menyebutkan maknanya, karena dia melewati kata tersebut ketika membaca teks sebelum wawancara dilakukan. Saat

mendengar peneliti menyebut kata confided, Andra baru menyadari bahwa dia telah salah membaca kata tersebut sebagai convinced. Karena dia mengetahui makna kata convinced, dia tidak terlalu memperhatikan kata confided dan mengasumsikan bahwa kata tersebut dikenalnya dengan baik. Kasus miscue atau salah baca seperti ini menunjukkan bahwa pembaca ternyata tidak memberikan perhatian dalam kadar yang sama ke setiap kata di dalam suatu teks. Dia mungkin memberikan perhatian yang lebih banyak pada kata-kata kunci dan beberapa kata-kata sulit, namun kata-kata yang dia anggap familiar (dikenal dengan baik maknanya) hanya dibaca sekilas saja dan dia merasa masih bisa memahami teks secara keseluruhan dengan baik. Kasus ini mendukung hasil penelitian mengenai gerakan mata atau eye movement (Rayner dan McConkie, 1976; Rayner dan Pollatsek, 1989; Reichele et al, 1998) yang telah dijelaskan sebelumnya dengan hasil berupa fase fixation dan saccade. Dengan demikian, penelitian dari sudut psikolinguistik ini melengkapi hasil penelitian dari sudut fisik (gerakan mata) yang telah dilakukan untuk mengetahui proses yang terjadi selama membaca pemahaman.
BAHASAN

Penelitian yang mendalam terhadap strategi dalam menghadapi kata-kata sulit menghasilkan temuan berupa lima alasan yang mendasari skipping dalam membaca pemahaman. (1) Alasan pertama adalah katakata yang dilewati tersebut memiliki kontribusi yang amat kecil terhadap makna keseluruhan teks; (2) Alasan kedua, pada awalnya mereka mengidentifikasi suatu kata sulit sebagai kata yang penting untuk pemahaman bacaan dan berupaya untuk mencari maknanya, akan tetapi kata tersebut terlupakan oleh mereka ketika mereka membaca kalimat berikutnya. Hal ini yang menjadi alasan kedua mengapa mereka menerapkan strategi skipping; (3) Alasan ketiga, untuk skipping adalah pemakaian strategi menebak yang gagal. Pada awalnya mahasiswa berusaha untuk mengetahui makna kata dengan cara menebaknya dari konteks, tetapi nampaknya mereka tidak berhasil mengira-ngira makna yang tepat untuk kata tersebut. Akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk melewati saja kata itu; (4) Alasan keempat, tidak

hanya kegagalan dalam menebak kata, tidak berhasilnya upaya mereka untuk mencari makna kata di kamus dapat memicu terjadinya skipping selama proses membaca pemahaman berlangsung; dan (5) Alasan kelima, untuk skipping adalah miscue. Istilah miscue dipakai untuk pertama kalinya oleh Goodman (1996) untuk menyebut kesilapan yang dibuat oleh pembaca ketika sedang memahami suatu teks.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Dari penjelasan di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut. Para pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya tergolong baik pada umumnya melakukan strategi skipping atau mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam suatu teks, dan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya. Jumlah kata yang mereka abaikan beragam, ada yang amat sedikit, namun ada juga yang cukup banyak. Alasan yang mendasari penggunaan strategi skipping ini juga bermacam-macam, dan penelitian ini berhasil mengeksplorasi lima alasan. Alasan tersebut meliputi: (1) kata tersebut tidak terlalu penting untuk memahami makna teks secara keseluruhan, (2) kata tersebut penting, tetapi pembelajar lupa mencari artinya karena keterbatasan kapasitas memori jangka pendek, (3) kata tersebut sudah diupayakan untuk ditebak maknanya, namun gagal, (4) kata tersebut sudah diupayakan untuk dicari maknanya di kamus, namun gagal, dan (5) miscue atau salah baca, dan diasumsikan kata tersebut diketahui maknanya padahal tidak. Alasan pertama dan ketiga mendukung temuan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sedangkan tiga alasan lainnya merupakan temuan orisinil dari penelitian ini.
Saran

Berdasarkan simpulan yang diuraikan di atas, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut kepada para pengajar bahasa Inggris dalam mengajarkan membaca pemahaman. Pertama, pembelajar dengan kemampuan membaca pemahaman yang baik hendaknya dianjurkan untuk menerapkan strategi skipping terhadap beberapa kata sulit yang

Skipping nampaknya merupakan suatu strategi yang tak dapat dipisahkan dari proses membaca pemahaman. Perbedaan kemampuan ini diperkirakan akan menghasilkan temuan yang berbeda pula. karena mencari makna setiap kata yang tidak diketahui kemungkinan akan: (1) memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk membaca pemahaman. karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap pembaca pada tingkat dasar (elementary) dan lanjut (advanced) untuk mengetahui apakah penerapan strategi skipping memang berbeda karena tingkat membaca pemahamannya berlainan.mereka temui dalam teks. . hendaknya pengajar dapat memetik manfaatnya dengan memberikan pengetahuan yang cukup kepada pembelajar agar dapat memilih kata mana yang dilewati dengan alasan yang sesuai. (2) menghambat proses membaca pemahaman. sehingga skipping akan membuat proses tersebut lebih maksimal apabila dilakukan dengan alasan yang tepat. Penelitian ini hanya menggunakan mahasiswa yang memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik sebagai subjeknya. namun untuk lebih jelasnya diperlukan bukti empiris dari penelitian. karena itu perlu diteliti: (1) apakah mahasiswa dengan kemampuan membaca pemahaman yang kurang juga menerapkan strategi skipping dan (2) apabila memang menerapkannya. subjek penelitian ini adalah pembelajar yang kemampuan membaca pemahamannya berada di tingkat menengah (intermediate). Kedua. apakah memiliki alasan yang sama dengan mahasiswa yang baik kemampuan membacanya. dan (3) menurunkan motivasi untuk membaca lebih jauh. Bagi para peneliti yang berkecimpung di bidang membaca pemahaman dan pengajarannya. Dari lima alasan yang telah disebutkan sebelumnya. pembelajar hendaknya diajarkan untuk memilah katakata sulit yang perlu dicari maknanya dan yang dilewati begitu saja. perlu diadakan investigasi lebih lanjut mengenai strategi skipping. Selain itu.

Boston: Allyn and Bacon. A. 21(2). Reading and "Incidental" L2 Vocabulary Acquisition: An Introspective Study of Lexical Inferencing. 1976. & Pollatsek. 225--241. K. 1996. & McConkie. A. & Rayner. Psychological Review. L.. A Preliminary Investigation of the Reading Strategies of Successful and Nonsuccessful Second Language Learners. Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates. T. The Psychology of Reading. 125--157. 1976. B. 1999. P. What Guides a Reader's Eye Movements. System. A. Rayner. W. Pressley. K. Fisher. Reichele. C. & Wesche. C. Rayner. Toward a Model of Eye Movement Control in Reading. Vision Res. Pollatsek. G. D. 21(2). M. Teaching Reading and Study Strategies: The Content Areas.DAFTAR RUJUKAN Fraser. K. A.. Studies in Second Language Acquisition. Lexical Processing Strategy Use and Vocabulary Learning through Reading.. Goodman. D. M. 105(1). S. Paribakht. Verbal Protocols of Reading: the Nature of Constructively Responsive Reading. & Afflerbach. 5(2). 1995.. 1977. Studies in Second Language Acquisition. 829-837. Hosenfeld. H. Hillsdale: Erlbaum. 1989. 16(8). On Reading.. Robinson. 195-224.. 1998. 1999. Ontario: Scholastic. E.. . 110--213. K.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Kota Malang angka perceraian dari tahun ke tahun meningkat. yakni keluarga harmonis. meskipun rumah tangga yang mereka bina telah berusia lebih dari 20 atau 30 tahun. Perceraian Suami Istri Muslim Belakangan ini. "Luka" akibat perceraian tidak dipungkiri akan mewarnai perjalanan kehidupan mereka dan keluarganya setelah bercerai. Tampaknya masalah ini bukan hanya terjadi pada keluarga dari kelas tertentu. Kata-kata kunci: Pengembangan Model Pendidikan. Ironisnya. Hal ini bisa dilihat dari seringnya masalah tersebut menjadi berita hangat di media masa. Dan anak adalah korban terbesar dari perceraian yang dilakukan oleh ibu dan bapaknya. kasus perceraian seakan merupakan tren yang sangat menyita perhatian publik. Perceraian sebenarnya dapat dihindari apabila suami atau istri mau mengkompromikan segala kepentingan yang mereka miliki untuk kepentingan bersama yang lebih besar. baik lokal maupun nasional. kasus perceraian yang terjadi karena inisiatif pihak istri (gugat cerai) jumlahnya lebih besar daripada perceraian karena inisiatif pihak suami (talak) lihat pada Tabel 1. Ahmad Munjin Nasih adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang .Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Abstrak: Perceraian bagi setiap pasangan suami istri adalah sesuatu yang paling tidak diinginkan. namun juga menimpa keluarga dari semua kelas sosial. Namun dalam realisasi di lapangan masih sering saja dijumpai ada pasangan yang memutuskan untuk bercerai.

5. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan. terjadinya perceraian itu menunjukkan bahwa pasangan suami-istri yang telah mengikat janji membangun keluarga. Kalau pasangan yang bercerai tersebut belum dikaruniai anak barangkali dapat dikatakan bahwa hanya pasangan tersebut sajalah yang terkena dampak negatif dari perceraian itu. telah gagal mencapai cita-cita yang mereka dambakan ketika mengawali membangun rumah tangga. bahkan mungkin akan membuat anak trauma terhadap institusi keluarga. Tentu saja hal ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk membenarkan perceraian tersebut. tidak hanya mengena pada anak dari pasangan yang . 2. Trauma yang demikian. 4. Tabel 2 Angka Talak dan Gugat Cerai bulan Januari 2007 di Kota Malang Bulan/Tahun Januari/2007 Talak 46 Gugat Cerai 79 Jumlah 125 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Kondisi yang terjadi di Kota Malang tidak menutup kemungkinan terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia.Tabel 1 Angka Talak dan Gugat Cerai di Kota Malang No 1. bisa jadi. Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Talak 335 358 371 434 408 Gugat Cerai 627 664 733 796 764 Jumlah 962 1022 1104 1230 1172 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Bahkan tren naiknya jumlah gugat cerai daripada talak ternyata tidak berubah sampai bulan Januari 2007 lihat pada Tabel 2. sebab bagaimanapun juga. 3. Akan tetapi. jika pasangan-pasangan yang bercerai tersebut sudah dikaruniai anak sebagai buah pernikahan mereka. perceraian yang demikian hampir bisa dipastikan meninggalkan kesan negatif terhadap anak.

Jika ini terjadi tentu akan semakin mengkhawatirkan. (3) mengetahui langkah-langkah yang selama ini telah ditempuh oleh suami dan istri dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga. 1998). Oleh karena itu. perlu dilakukan penelitian pengembangan untuk mewujudkannya. Sehingga diasumsikan jumlah perceraian terbanyak dialami oleh pemeluk agama Islam. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan penyadaran kepada semua pihak terutama pasangan suami istri akan pentingnya menjaga rumah tangga dari perceraian. METODE Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya. 1999) Rancangan metode . (2) mengetahui kebutuhan dan persepsi pasangan suami istri yang telah bercerai terhadap bangunan keluarga sakinah.bersangkutan tetapi bisa meluas kepada anak secara umum. maka rancangan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Namun demikian. Pembatasan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mayoritas penduduk Malang Raya secara khusus dan Indonesia secara umum memeluk agama Islam. Dengan langkah ini diharapkan pasangan tersebut akan menjadikan keluarganya sebagai keluarga yang sakinah (harmonis) melalui pendidikan pencegahan perceraian bagi pasangan suami istri. Namun. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui data tentang faktorfaktor penyebab terjadinya perceraian. Rancangan ini diharapkan dapat menghasilkan teori dengan generalisasi lebih luas dan lebih umum penerapannya untuk kasus pencegahan perceraian. dan (4) mengetahui dampak yang terjadi pada anak-anak korban perceraian. Rancangan studi kasus dapat digunakan untuk pengembangan teori yang diangkat dari sebuah latar penelitian (Bogdan & Biklen. Selaras dengan uraian di atas. penelitian ini hanya terbatas pada keluargakeluarga muslim. model pendidikan seperti apa yang sesuai dengan tujuan ini belum berhasil dibangun. Dalam penelitian studi kasus ini digunakan rancangan studi kasus observasional (Yin. pencegahan terhadap terjadinya perceraian menjadi sangat penting untuk dilakukan. Oleh karena itu.

1989). yaitu: teknik wawancara terfokus. Di samping itu juga akan diambil data berupa situasi setting penelitian serta kegiatankegiatan yang berkaitan dengan fokus penelitian. Dalam setiap kali melakukan pengumpulan data. Sementara itu lokasi penelitian ini adalah wilayah Malang Raya. pemahaman serta kepedulian yang tinggi terhadap pemasalahan yang sedang diteliti. Adapun subyek penelitian ini adalah suami. Dalam setiap kesempatan mengadakan wawancara mendalam digunakan buku catatan. akan dikumpulkan informasi berupa katakata. Data subjek penelitian akan diperoleh dari Pengadilan Agama Kota Malang. Dalam penelitian ini. observasi dan dokumentasi (Marshall. Subjek penelitian sekaligus akan dijadikan informan penelitian dengan kesempatan yang sama. Pada tahap pertama peneliti melakukan penjajakan ke lokasi dalam rangka memperoleh gambaran secara umum tentang situs yang akan diteliti. Kabupaten Malang dan Kota Batu yang tercatat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. situasi setting dan beberapa dokumen yang berhubungan dengan fokus penelitian. FGD. Hal ini diterapkan untuk mendapatkan data yang memadai dan sesuai dengan fukos penelitian dan tujuan penelitian. Adapun teknik penjaringan informasi yang digunakan adalah teknik bola salju (snowball). Dalam penelitian kualitatif teknik untuk memperoleh data di lapangan dilakukan dengan tiga cara. Untuk menjaring data tersebut akan dilakukan pengamatan. Tahap berikutnya adalah melakukan eksplorasi.tersebut digunakan untuk menelaah sebuah fenomena dalam sebuah organisasi tertentu. Kata-kata dimaksud adalah berasal dari para informan. digunakan beberapa alat. serta berusaha mencari sumber-sumber data atau informan yang kompeten dan memiliki pengetahuan. serta anak-anak korban perceraian di Malang Raya. Informasi tersebut akan digali melalui wawancara bebas. baik menggunakan teknik wawancara mendalam maupun dengan teknik observasi. Dalam pelaksanaannya dilakukan beberapa kali pengumpulan data dan hasilnya dianalisis sehingga tersusun teori sementara. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap. yaitu Kota Malang. Kabupaten Malang. dimana dalam tahap ini peneliti mengumpulkan data secara lebih mendalam dan terarah dengan fokus penelitian. istri yang sedang dalam proses perceraian dan sudah bercerai. Di samping itu . dan Kota Batu.

peneliti memberikan catatan reflektif yang sesuai dengan isi data. Sedangkan untuk kegiatan observasi. kegiatan ini merupakan akhir dalam proses penelitian. psikolog. yaitu: (1) kredibilitas. selain format lapangan juga akan digunakan alat dokumentasi yang berfungsi untuk mendokumentasikan perilaku-perilaku atau peristiwa-peristiwa penting yang muncul selama pelaksanaan observasi. (2) dependabilitas. peneliti merumuskan temuan penelitian dari data yang dianggap bersifat spesifik setelah melalui analisis etnografi. Kedua. Ketiga. Kedua alat tersebut digunakan untuk mencatat dan merekam jawaban-jawaban informan yang selanjutnya ditulis ulang ke dalam format transkrip wawancara dengan menyertakan koding yang terdiri dari tanggal. Kesimpulan penelitian . dan (3) konfirmabilitas. peneliti juga mencari istilah-istilah kunci yang menjadi data inti. dilakukan dengan meminta bantuan para ahli dan berbagai pihak yang memahami penelitian ini. tempat dan inisial informan. dan (4) Penarikan Kesimpulan Pertama. Pemilahan data ini juga bertujuan untuk membuang data yang tidak diperlukan karena searah dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan tiga cara. kemudian dirangkai secara sistematis sesuai dengan susunan tema fokus dan disajikan sebagai paparan data. yakni ahli pendidikan. tanpa mengurangi esensi data tersebut. dipilah dan digolongkan sesuai tema-tema dalam fokus penelitian. Dalam paparan data. semua data hasil wawancara terbuka dengan semua subjek penelitian.. Kesimpulan dirangkum dari proses analisis data. (2) Penyajian Data (Display). Data inti yang ditemukan dimasukkan format model analisis data etnografi yang dikembangkan oleh Spradley (1980). peneliti menganalisis data dengan empat langkah yaitu: (1) Reduksi Data. Selanjutnya dalam setiap melakukan observasi digunakan format catatan lapangan. Keempat. dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi baik triangulasi teknik data maupun triangulasi informan. Dalam proses reduksi data. Untuk menganalisis data. dan hakim agama. (3) Penentuan Temuan Penelitian. data yang telah dikelompokkan. dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan ulang terhadap data yang diperoleh dengan meminta konfirmasi lebih lanjut kepada para informan dan para ahli terkait. ulama. Peneliti mengikuti saran Spradley untuk menggunakan model analisis domain dan analisis komponensial.apabila yang diwawancarai banyak maka digunakan alat perekam.

ia tidak akan terjadi begitu saja tanpa diawali oleh berbagai persoalan yang melatarbelakanginya. HASIL Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian Hukum alam mengatakan bahwa tidak ada asap bila tidak ada api. tanpa berlebih-lebihan atau kekurangan. Berbagai persoalan selalu mengiringi perjalanan rumah tangga.34) karena kelebihan itu suami mempunyai kewajiban menyejahterakan kehidupan keluarga. Hampir bisa dipastikan seseorang yang memasuki dunia rumah tangga berharap bisa menjadikan rumah tangganya sebagai tempat memadu kasih yang sangat membahagiakan antara suami. mencukupi kebutuhan mereka dengan memberikan nafkah yang layak. jika ini tidak terpenuhi Islam menganjurkan agar dia menundanya dengan melakukan pengendalian diri antara lain dengan berpuasa. dan apabila hal tidak bisa dimenej dengan baik bukan mustahil semuanya berujung pada perceraian. pada hakikatnya adalah kesimpulan yang diperoleh peneliti. fakta seringkali berkata lain. suami dilebihkan dari isteriisterinya karena kelebihan yang diberikan Allah kepadanya (alNisa‟. Begitupun sebuah perceraian. Hidup berkekurangan bisa membawa keluarga ke gerbang kehancuran sebagaimana sabda Rasulullah SAW ―kaada al-faqru an yakuuna .sebelumnya dirumuskan dalam temuan penelitian. idealitas yang dimiliki harus berhadapan dengan fakta yang sangat tidak diharapkan. halal dan dibenarkan oleh agama dan negara. Dalam Islam. istri dan anakanak. ini yang mendatangkan ketenangan isteri dalam menjalani hidup berkeluarga. Para responden menyatakan bahwa penyebab perceraian yang paling menonjol adalah masalah ekonomi. Temuan penelitian. Suami berkewajiban memberi belanja yang cukup dan tidak mempersempit nafkah keluarganya. Namun. ini dapat dimaklumi karena pemenuhan kebutuhan keluarga terkait dengan kedudukan suami sebagai penanggung jawab keluarga. Suami berkewajiban memenuhinya dalam batas kewajaran. Terlebih jika diingat bahwa anjuran untuk menikah bagi seorang laki-laki adalah ketika dia sudah mempunyai kemampuan (alba‟ah) untuk memenuhi kebutuhan keluarganya baik lahir maupun batin.

Permainan api ini melukai hati isteri dan mengecewakannya sehingga isteri terdorong melakukan gugatan cerai karena dia melihat hilangnya kejujuran suami pada janji setianya yang diikrarkan pada waktu menikah. . Keinginan untuk lepas dari ikatan perkawinan dengan suami makin menguat ketika menemukan suami sudah tidak lagi jujur dalam memegang janjinya. 228). terlebih jika laki-laki itu berharta. . Hadirnya pihak ketiga ini menjadi sebab terjadinya perceraian. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara-cara yang baik‖ (Al-Baqa rah. bahkan karena itu kesetiaannya pada suami hilang dan menggugatnya untuk menceraikannya seperti pada kasus ibu IT dan ibu UL. kenyataan ini dapat dilihat pada kasus ibu IT dan ibu UL. dengan itu dia dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan merasa dapat hidup mandiri tanpa bantuan suami. isteri dapat menjalani kehidupan keluarga dengan baik. mereka tidak sabar dalam menerima kekurangan yang ada. Rapuhnya perkawinan yang berakhir dengan cerai karena hadirnya pihak ketiga tidak saja dialami oleh suami tetapi terjadi pula pada isteri sehingga suami terpaksa menceraikannya. ibunya tergoda oleh laki-laki lain karena dia melihatnya lebih keren dari pada suaminya. Hilangnya status qawwamuuna ala an-nisa‟ dari suami memaksa isteri bekerja. seperti kasus ibunda DM ini. di sini pentingnya suami memenuhi kebutuhan keluarga sebab dengan terpenuhinya kebutuhan. seperti yang terjadi pada ibunda DM. ― . 30-31). Isteri melihat laki-laki itu dapat memenuhi kebahagiaan yang diimpikannya karena dia dipandang ―lebih‖ dari pada suaminya karena itu isteri rela menggugat agar suaminya menceraikannya. lebih-lebih jika pasangan suami isteri tidak tabah menghadapinya. Pada suami melekat kedudukan sebagai pelindung keluarga (qawwamuuna ala an-nisa‟) karena itu kesetiaan isteri tetap terjaga manakala suami dapat memerankan dirinya sesuai dengan kedudukannya. Godaan ini sangat mempengaruhi langgengnya perkawinan sehingga agama Islam meminta setiap suami atau isteri untuk menahan pandangannya dan menutup mata serta memelihara kemaluannya (An-Nur.kufran”. . Ketidaksabaran ini yang sering membawa suami isteri pada perceraian. suami bermain api di belakang isteri dengan berselingkuh bersama wanita lain.

yang demikian itu lebih suci bagi mereka. . dilempar dengan kursi. Katakanlah kepada wanita yang beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya. perselingkuhan dan kekerasan tidak akan terjadi jika masing-masing suami isteri taat asas pada janji mereka. diseret-seret. Masih ada jalan untuk menghindari perceraian yang tidak diharapkan oleh siapapun. meski mereka menjalani hidup yang sulit mereka rela menerimanya selama suami yang mendampinginya dapat mengayomi mereka sebagai kepala rumah tangga . penistaan. Isteri akan sabar dan rela mendampingi suami meski dalam kondisi ekonomi yang kurang jika suami benar-benar bertindak dan bersikap dengan elegan. dan janganlah menampakkan perhiasannya. Kekerasan dapat dihindari manakala suami dapat bersabar diri atas kekhilafan dan kekurangan isteri dalam melayaninya. Penistaan suami karena kemiskinannya. agama bahkan melarangnya kalau tidak terpaksa benar. Dalam kondisi seperti ini suami tidak lagi memegang prinsip mu‟asyarah bil ma‟ruf yang dapat melanggengkan kehidupan rumah tangga. Persepsi terhadap Keluarga Sakinah Perceraian bukanlah keinginan dasar para isteri. Tak jarang kekerasan psikis mengiringi perlakuan kasar suami pada isteri nya. sementara isteri teguh berimannya dan setia memegang janji tidak akan berpaling kepada orang lain yang mungkin hadir setelah mereka menikah. sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui apa yang mereka perbuat.Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman “Hendaklah me reka menahan pandangannya. sampai pada ancaman pembunuhan seperti terlihat dalam kasus yang dialami oleh ibu UL dan ibu TS. dan memelihara kemaluannya. kekerasan pisik dan psikis dapat terjadi karenanya. dan me meli-hara kemaluannya. Beberapa faktor penyebab gugatan cerai di atas adalah imbas dari tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga. “ Akibat lain dari hadirnya pihak ketiga ini adalah hilangnya kasih sayang antara suami isteri. Bagi seorang isteri penistaan ini lebih menyakit kan dari pada tindak kekerasan pisik. Kekerasan pisik bisa berupa pemukulan. karena sakitnya terasa lebih dalam dan lama di hati. katakata kotor dan penisbatan kepada pezina diterima oleh isteri sebagaimana dalam kasus ibu IT. .

saling mengerti. karena nilai-nilai yang dianut keluarga di mana seseorang dibesarkan secara tidak sadar akan diserap (absorbs) dalam dirinya.yang dapat memberikan perlindungan (al-wilayah). dan ibu TS. sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abdullah bin Mas‘ud. baginya laki-laki yang ideal adalah bapaknya dia mengidolakan bapaknya sebagai suami yang baik. pendidikan dan keturunan. Suami tidak dapat nyambung bila diajak ngobrol dan sering minder. Perbedaan pendidikan yang jauh antara isteri dengan suami misalnya menjadi masalah yang susah ditoleransi dalam menjemba tani perbedaan pendidikan antara isteri dengan suami agar tidak menjadi potensi konflik. misalnya. kecantikan. Ini yang terjadi pada ibu IT sehingga tidak dapat menemukan keluarga sakinah. Ketika terjadi konflik yang keluar dari suami adalah ucapan-ucapan yang tidak layak. bimbingan (arri‟ayah) dan mencukupi (al-kifayah) kebutuhan mereka. pekerjaan. dia akan menggerogoti isterinya apalagi jika isteri telah mapan. Kufu ini menumbuhkan kebanggaan isteri untuk berjalan bersama suaminya. yaitu keseimbangan antara keduanya baik dalam hal agama maupun status sosial. Ibu UL dan ibu IT mengalami hal ini padahal . Di bawah suami yang seperti itu cita-cita keluarga sakinah dapat terwujud. Di sini perlunya suami isteri se-kufu. seperti yang terjadi pada ibu IT. ibu UL. Suami yang tidak mempunyai pekerjaan (menganggur) bisa menjauhkan tercapainya cita-cita keluarga sakinah. Bahkan anggota keluarga yang lain. dan berwibawa. konflik antara suami isteri tidak dapat menemukan titik kesamaan karena tidak se-kufu. anak-anak misalnya. keluarga yang di pimpin oleh suami bertanggung jawab. mendambakan hal itu seperti harapan yang diungkapkan oleh DM. juga kasus ibu IT. Karena ketergantungan itu pula yang mendorong suami tidak bisa fair (jujur) kepada isteri. kotor dan menista. apalagi jika isteri berasal dari keluarga yang mempunyai cetak biru bahwa pendidikan sangat penting. Ketergantungan suami kepada isteri menyebabkan pincang nya status dan fungsi suami sebagai seseorang yang harus mencukupi (al-kifayah) keluarganya. sebagaimana yang diungkapkan olah ibu IT. Kewibawaan suami diapresiasi oleh isteri manakala suami mempunyai al-ba‟ah (kemampuan) sebagaimana dituntun oleh agama yaitu kemampuan lahiriah batiniah. Kasus ibu UL adalah contohnya.

Berkonsultasi kepada pihak di luar anggota keluarga inti (suami. seperti BP4 dan KUA. saudara. Namun demikian ada juga pasutri yang tidak melibatkan pihak di luar keluarga inti. teman bahkan ke lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah untuk mengatasi persoaln perceraian. dan membuatnya aman serta nyaman. mertua. Bagaimanapun suami adalah penanggung jawab keluarga.mereka mengharapkan suaminya bisa menjadi teman hidup yang menyenangkan. Hal ini bisa dilihat betapa pasutri selalu berusaha mempertahanhan rumah tangganya dengan berbagai cara yang mereka anggap efektif agar perselisihan dan pertengkaran yang terjadi di antara pasutri tidak berujung kepada perceraian. Suaminya bisa menjadi belahan jiwanya (soulmate) tempat mencurahkan segala rasa dan cinta sepenuh hati. Langkah-langkah Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga Secara umum setiap pasangan suami istri (pasutri) di Malang menyadari betapa pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga. Manakala masing-masing suami dan isteri dapat memerankan dirinya dengan melaksanakan kewajiban dan haknya maka perceraian tidak perlu terjadi. mereka berusaha menyelesaikan sendiri persoalan rumah tangganya tanpa . Isteri yang terlalu mengatur (too care) suaminya ternyata tidak disukai suami seperti kasus LQ. Perceraian bisa pula terjadi karena kurangnya pemahaman pasangan suami isteri tentang makna perkawinan dan upaya yang harus dilakukan untuk membangun keluarga sakinah. Hal lain yang menarik untuk diperhatikan bahwa sebesar apapun cinta isteri kepada suaminya. manakala isteri mengambil peranannya terlalu banyak maka cita-cita keluarga sakinah tidak dapat terwujud. dia diharapkan tetap memainkan peranannya sebagai pendamping suami yang berfungsi sebagai perawat dan pemelihara (al-hafidzat) bagi suaminya bukan sebagai penjaga baginya. perceraian baru terjadi jika suami isteri sebagai pasangan hidup tidak memenuhi kriteria yang diharapkan. Adakalanya kepada orang tua. saling respek. Meskipun suami dan isteri telah bercerai namun cita-cita dan keinginan untuk membangun keluarga sakinah tetap tertanam dalam hati masing-masing. istri dan anak) adalah cara yang paling umum. saling membutuhkan.

sebab perkawinan mereka juga atas restu keluarga. Bantuan penyelesaian . keterlibatan mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok. Meskipun demikian pihak keluarga biasanya juga mengetahui kapan mereka bisa terlibat dan kapan tidak.melibatkan pihak lain. Pasutri yang melibatkan pihak keluarga secara penuh biasanya adalah pasutri yang memulai proses pernikahan dengan cara yang wajar dan mendapatkan restu dari keluarga kedua belah pihak. Namun. keberadaan keuarga tak lebih hanya sekedar membantu memecahkan persoalan yang dialami. sebagian berhasil tidak meneruskan ke tingkat perceraian dan sebagian lagi justru gagal. Mereka selalu terlibat dalam hal ini. sebagian lagi hanya melibatkan salah satu keluarga saja. yakni keluarga yang secara penuh dilibatkan dan sebagian lagi tidak penuh. sehingga mereka juga merasa perlu membantu pasutri yang sedang mempunyai persoalan rumah tangga dan membutuhkan bantuan penyelesaian. 1. Hasilnya. keterlibatan keluarga pun tidak bisa dihindari. Keterlibatan Keluarga Sudah menjadi kelaziman bahwa anggota keluarga adalah bagian tak terpisahkan dari sepasang suami istri. Dalam konteks perceraian. Karena bagimanpun pasutri adalah pihak-pihak yang paling mengetahui persoalan yang dialami. Keluargalah yang biasa memberikan suport kepada pasutri apabila mengalami problem keluarga yang sulit diatasi. Tidak semua persoalan harus diselesaikan oleh pihak keluarga. Sementara itu dari pihak pasutri sendiri juga tidak merasa sungkan dan terbebani jika meminta bantuan kepada keluarga. Sebagian diantara mereka bisa melibatkan pihak keluarga masing-masing secara penuh. Ada juga yang berkonsultasi ke KUA. Dari paparan data sebelumnya dapat diketahui bahwa langkahlangkah yang ditempuh oleh pasutri di Malang dalam memproses perceraian sangat beragam. Hal ini sangat wajar. Namun dari responden yang dihubungi hampir tidak ada yang melibatkan lembaga BP4 yang sengaja dibentuk oleh pemerintah untuk memberikan solusi terhadap pasutri yang sedang mengalami problem keluarga. sebab pihak keluarga merasa dilibatkan dalam proses perkawinan.

banyak pasutri yang sedang mengalami persoalan rumah tangga tidak memanfaatkan lembaga ini untuk menyelesaikan persoalannnya. Berbeda dengan pelibatan sebelumnya. sebagian pasutri tidak memanfaatkan peran senioritas keluarga. menurut para responden karena mereka tidak banyak mengenal keberadaan lembaga ini termasuk peran dan fungsinya. . Tidak termanfaatkannya BP4 oleh pasutri. Banyak faktor yang menjadi penyebab mereka melakukan ha lni.persoalan adalah sesuatu yang penting. Keterlibatan BP4 BP4 adalah lembaga resmi pemerintah yang didirikan untuk membantu pasutri dalam menemukan solusi atas persoalan rumah tangga yang dialaminya. Pasutri ini merasa bahwa mereka telah berbuat tidak baik kepada orang tua dan pihak keuarga. agar pasutri tidak sampai masuk dalam kubang perceraian. Karena pertimbangan inilah mereka lebih memilih menyelesaikan persoalan keluarganya tanpa campur tangan keluarga terlebih dahulu. yang mengemuka adalah aspek emosi. Ketidaktahuan masyarakat tentang BP4 ini bisa jadi karena minimnya sosialiasi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait kepada masyarakat. Adapun faktor yang mngemuka adalah tidak direstuinya hubungan perkawinan mereka oleh kedua belah pihak. karena proses pernikahan yang mereka jalani pada awalnya tidak ‖direstui‖ oleh orang tua. Tujuannya jelas. sehingga aspek nalar tidak bisa berfungsi secara maksimal. Ketakutan terutama diarahkan kepada orang tua dan mertua. Pasutri yang menempuh langkah ini biasanya didasari oleh perasaan minder dan takut. baik keduanya atau salah satunya. 2. Idealisme lembaga ini ternyata bertepuk sebelah tangan. Bahkan ada pasutri di Malang Raya yang tidak mengerti tentang BP4 sama sekali. mengingat ketika pasutri mengalami pertengkaran. Apabila mereka telah merasa tidak mampu barulah melibatkan orang tua atau mertua. Akibatnya masyarakat tidak memanfaatkan lembaga ini sebagai media penyelesaian problem keluarga yang mereka hadapi. kalaupun direstui hal itu disebabkan adanya ‖kecelakaan‖ sebelumnya dari pihak istri.

biasanya sudah pasti cerai. setidaknya bisa meredam gejolak mereka untuk meneruskan perceraiannya. pemerintah tetap memposisikan BP4 masih terikat kuat dengan struktur KUA di kecamatan. namun ada juga yang tetap bercerai. tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Undang-undang nomor 7 tahun 1989 tentang peradilan agama. Ketua KUA di semua tempat adalah kepala BP4 itu sendiri.Sebenarnya secara kelembagaan. demikian sebagaimana dituturkan oleh salah satu pejabat PA dan kepala KUA di Malang. Posisi BP4 yang demikian. mereka langsung menyelesaikannya di pengadilan. bagi pasutri PNS rekomendasi BP4 akan sangat berarti bagi kelangsungan proses perceraian di pengadilan agama. Namun. Sebab apabila BP4 dibiarkan tanpa tugas dan kewenangan yang jelas. Melihat eksistensi BP4 yang demikian. masyarakat secara umum lebih suka menyelesaikan problem keluarganya tanpa melibatkan BP4. Ketika aturan tersebut diberlakukan. maka bisa dipastikan BP4 tidak memiliki peranan lagi. hampir dipastikan tidak dikunjungi masyarakat. BP4 yang ada di setiap level. secara formal BP4 memiliki struktur mulai dari pusat sampai tingkat desa. Dan yang demikian pada gilirannya akan memacu peningkatan angka perceraian di masyarakat. pada saat yang sama. dimana peranan KUA dibatasi pada persolan nikah dan ruju‘. Namun eksistensi BP4 bisa dibilang wujuduhu ka‟adimihi (adanya seperti tidak adanya). maka persoalan perceraian yang menimpa banyak umat Islam akan meningkat. Selain pasutri PNS. Hal ini sesuai dengan pengakuan salah satu kepala KUA di Kab Malang bahwa sebagian PNS yang berkonsultasi ke BP4 ada yang kembali rukun. dimana mereka harus mendapatkan rekomendasi BP4 terlebih dahulu. kecuali pasutri yang berstatus PNS. Dan kalau sudah di pengadilan agama. khususunya yang ada di kecamatan. . maka pemerintah dalam hal ini Departemen Agama dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia sudah selayaknya duduk bersama merumuskan kembali posisi BP4. Prosedur perceraian yang diterapkan oleh pengadilan agama terhadap pasutri PNS. Sebab. Tanpa rekomendasi dari BP4 pengadilan tidak akan meneruskan sidang perceraian mereka.

Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. namun perceraian—terutama yang disertai kekerasan—malah mengajarkan sikap antipati. Pada keluarga yang telah pecah akibat perceraian. rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). loyalitas. Seharusnya anak dapat memahami sikap simpati. Perilaku tersebut akan menjadi model bagi anak. serta nilai-nilai budaya. bimbingan dan perlindungan.BAHASAN Secara taksonomis. seorang anak belajar beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Apabila keluarga menjadi berantakan disebabkan perceraian. Keluarga yang telah bercerai berpotensi membentuk pribadi bermasalah karena lingkungan inilah yang pertama kali dihadapi oleh sang anak. suka berbohong dan perilaku proyeksi. Orang tua yang sedang kalut dan marah pada pasangannya sering kali menampakkan perilaku tidak dewasa dan emosional. kecewa. tidak loyal dan acuh. penurunan prestasi belajar. dampak perceraian yang tampak pada anakanak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis. Bermula dari keluarga. Maka akan muncul serentetan masalah baru bagi anak-anak mereka. Perceraian secara tiba-tiba mencerabut kebutuhan anak tersebut. kasih sayang. perilaku agresif. interaksi yang dapat menimbulkan pengalaman afektif dalam kehidupan anak juga terkurangi. Perceraian dapat menghambat proses belajar tersebut. solidaritas. atau salah satu dari pasangan tersebut (baca orang tua anak-anak) ―kabur‖. seorang anak idealnya memperoleh kehangatan cinta. curiga. di tengah keluarga. perilaku regresi dan obsesif. Mereka juga belajar mengenal normanorma dan aturan-aturan hidup. Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. Kehangatan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh anak dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Kondisi ini menimpa AZ dan Wim dan S yang . Pertikaian antara ayah dan ibunya ketika kondisi ―retak‖ hingga proses perceraian dapat mengacaukan kondisi emosi anak. Perceraian dalam keluarga membuat anak kebilangan harapan dalam memperoleh kebahagiaan padahal secara teoritis dan realitas.

telah terjadi pula di Malang Raya. Mungkin perkiraan bahwa perceraian dapat mempengaruhi 15 persen anak-anak yang lahir di tahun 1955 di Inggris dan Amerika. kehilangan figur model perilaku. Dikhawatirkan. Anak-anak dari korban perceraian semakin banyak dan. Angka perceraian yang cenderung meningkat di Malang Raya khususnya tahun 2000-an membuat kasus perceraian yang dulu merupakan kejadian luar biasa. perkembangan sosio-emosional. anak-anak seperti AZ. Bagi PR yang menjadi saksi pecahnya harmoni keluarga. meskipun S dan AZ diasuh oleh si ibu. Kasus PR menunjukkan bahwa kehadiran orang tua dalam perkembangan kepribadian anak sangat penting.mengalami masalah emosional setelah proses perceraian orang tuanya yang disertai kekerasan. Perceraian yang terjadi melibatkan anak-anak dibawah usia 18 tahun. Kasus S menunjukkan bahwa anak anak yang berupaya dengan keyakinannya ingin menyelamatkan perkawinan orang tuanya meskipun . Semua kasus diatas bahkan dapat dikatakan mengalami deprivasi parental atau kehilangan fungsi pengasuhan. Akibatnya PR merasa tidak pernah belajar menjadi figur perempuan sebenarnya. Dewasa ini. PR dan saudara-saudaranya masih beruntung karena figur sang ayah dan keluarganya yang lain memberikan penguatan sehingga dampak psikologis akibat perceraian kedua orang tuanya tidak terlalu berat dirasakan PR. dia juga merasa tidak aman secara emosional (emotional insecurity). dan sebagian besar perceraian dewasa ini melibatkan keluarga yang mempunyai anak. sekarang merupakan hal yang biasa. Sementara AZ mungkin merasa kehilangan kepercayaan diri dalam pergaulan sosial sebagai akibat perasaan malu karena memiliki keluarga yang tidak utuh. semuanya akan nampak dari perilaku anak ketika beranjak remaja dan dewasa apabila tanpa bimbingan dari salah satu dari orang tua atau pengganti orang tuanya (Nawawi: 1998). Win dan S akan mengalami gangguan perkambangan intelektual. Di samping karena AZ juga menjadi saksi pertikaian orang tuanya yang pebuh dengan kekerasan sehingga dia mengimitasi peristiwa itu lalu mentrasfernya dalam hubungan dengan teman-temannya. PR telah merasakan pahitnya kehilangan fungsi ibu dan ia mengalami deprivasi maternal atau kehilangan bimbingan ibu. bahkan spiritual. prosentase perceraian dengan gugat cerai berlipat ganda. Lebih lanjut.

diantaranya (1) ketidakberdayaan suami dalam membahagiakan isteri. Kasus S memberikan gambaran bahwa S berpotensi menjadi kurang matang (Immature) akibat kerinduan pada sosok ayah. Ia mempersepsi sang ibu sebagai orang yang tidak tanggap atau menimbulkan frustasi karena tidak bersikap kasih. Sebagian diantara mereka dapat memahami kosep keluarga sakinah sama seperti yang dimaksud oleh agama. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan paparan data pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Dalam menyelesaikan problem rumah tangga yang menjurus ke arah perceraian. sebagian pasutri Muslim di Malang Raya melibatkan keluarga (orang tua. atau yang dituakan) sejak awal untuk . (4) perbedaan keyakinan. (3) kekerasan dalam rumah tangga. Persepsi pasutri Muslim di Malang Raya tentang keluarga sakinah sangat beragam. kakak. PR lebih bisa memahami kasus orang tuanya karena dia mengetahui kejadian itu setelah beranjak dewasa. PR lebih mampu memahami bahwa perceraian orang tuanya dan tahu asal muasal penyebab perceraian tersebut. 2. (5) ketimpangan pola pikir. dan (6) tidak saling percaya. AZ menjadi berperilaku terpusat pada diri sendiri (egosentris) dan menghawatirkan karena sering kasar dan agresif pada teman-teman sebayanya. Perceraian yang terjadi diantara pasutri muslim di Malang Raya disebabkan oleh beberapa faktor. bahkan ada yang tidak mengenal konsep keluarga sakinah. (2) hadirnya orang ketiga. Sementara itu. 3. sebagian lagi hanya memahaminya sebatas aspek lahiriyah. R dalam hal telah menempatkan ibunya sebagai orang yang kurang dapat dipercaya. Dia belajar mengenai sosok-sosok pribadi dengan ciri-ciri yang terkesan negatif dalam benaknya untuk ditolak dan tidak dapat di percaya. Anak-anak korban perceraian baik AZ dan S kemungkinan akan berkembang memiliki cara pandang yang selektif pada orang lain sebagai bagian dari kepribadiannya..usahanya menjadi sia-sia. Kondisi ini sesuai dengan analisa Sears (1988).

Penelitian ini akan membawa manfaat yang lebih besar jika ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan yang diarahkan kepada . rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). dampak perceraian yang tampak pada anak-anak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis. suka berbohong dan perilaku proyeksi. biasanya pasutri yang proses pembentukan rumah tangganya tidak mendapat restu dari keluarga. penurunan prestasi belajar. Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. Kecuali pasutri PNS. Secara taksonomis. pasutri di Malang Raya yang sedang bermasalah hampir seluruhnya tidak memanfaatkan keberadaan BP4 sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah untuk membantu mencarikan solusi atas persoalan rumah tangga. khususnya mereka yang mendapatkan bimbingan yang memadai. saran yang dapat dikemukakan adalah: 1. Selain kedua model tersebut.membantu mencari solusi yang terbaik. 4. bagi sebagian kecil diantara anak-anak korban perceraian. perilaku agresif. selain itu mereka juga lebih bijak Saran Setelah diketahui beberapa kesimpulan di atas. Sebagian lagi hanya melibatkan pihak keluarga pada saat mereka tidak mampu lagi mengatasinya. merasakan dampak positif. Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. ada keharusan bagi mereka untuk berkonsultasi kepada BP4 kabupaten terlebih dahulu jika ingin memproses ke arah perceraian. jika tidak ada rekomendasi dari BP4. perilaku regresi dan obsesif. Mereka menjadi lebih selektif dalam memutuskan masalah masa depan. Pasutri yang meibatkan keluarga sejak awal biasanya adalah pasutri yang mendapatkan restu dari keluarga untuk membentuk rumah tangga. Sebab pihak Pengadilan Agama tidak akan memproses. Selain dampak yang negatif. Sebaliknya yang tidak melibatkan keluarga sejak awal.

pembuatan model pencegahan perceraian bagi pasutri muslim yang diwujudkan dalam penerbitan buku saku pencegahan perceraian 2. sosiologis. baik secara akademis. Pihak-pihak yang terkait dalam pemerintah sudah saatnya meninjau kembali beberapa peraturan yang tidak memberikan peluang kepada BP4 mengembangkan diri dan ikut andil dalam mencegah terjadinya perceraian di masyarakat. maupun administratif. Pihak universitas bekerja sama dengan pihak-pihak terkait hendaknya melakukan kajian secara komprehensif mengenai persoalan perceraian dan langkah-langkah kongkrit untuk mengatasinya. 3. agamis. .

Jakarta. Shahih Muslim. C. Imam Muslim. Medinah Munawwarah.1980. 1998. T. Boston: Allyn and Bacon. Beirut. Qualitative Research In Education: An Introduction to Theory and Methods. 1999. K. Bogdan. GIP. Tafsir Al Maraghi. Beirut. Darul Fikr. Ahmad Musthafa. S. Mujamma‟ Al Malik Fahd Li Thinba‟at Al Mushh-haf. dan Biklen.DAFTAR RUJUKAN Al Qur‘an dan Terjemahannya. Darul Fikr . 1995. Muhamad Usman. Maraghi. Sulitnya Berumah Tangga.th. Upaya Mengatasinya Menurut Qur‘an Hadits dan Ilmu pengetahuan. Al Khasyt. R.

Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi Wasis Abstract: This Research aim to to ( a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based` Learning and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based Learning. sikap sebagian besar lulusan perguruan tinggi kita yang masih mengharapkan bekerja di instansi pemerintah dan tidak mampu menciptakan lapangan kerja. This Research is conducted in Departement of Building Education FT UM. having the collaaborative character. Hal ini nampak dari. minimal untuk dirinya sendiri. Pengamat pendidikan dan dunia industri mensinyalir bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia secara umum masih rendah. the CAR was succesfull in (a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject Key words: Project Based Learning. Hal ini merupakan salah satu indikator proses pembelajarandi perguruan tinggi masih belum optimal. This Research use of class action research (CAR). industrial practical. building education. Based on the data obtained through observation and questionaires. Pribadi dan Wasis adalah dosen Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Negeri Malang .

Metode penyelesaian PI yang selama ini dilakukan dengan 10% kuliah tatap muka di kelas dan 80% melalui kerja praktik pada industri jasa konstruksi. Misalnya. mengakibatkan banyak mahasiswa yang merasa terpaksa dalam menjalani proses pembelajaran (Suhartadi. diberi kebebasan untuk mengerjakan tugasnya ke lapangan serta diberi jadwal tertentu untuk berkonsultasi dengan dua orang dosen pembimbing yang telah ditentukan. Kasus yang demikian dijumpai pula pada mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Bangunan (PTB) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Malang (UM). mandor dan tukang tentang masalah- . PI merupakan matakuliah yang bertujuan untuk membekali mahasiswa agar memiliki kemampuan komprehensip dalam memecahkan masalah yang yang terjadi di lapangan. menganalisis masalah dan mampu memberi solusi terhadap masalah yang terjadi di lapangan. Di lapangan mahasiswa diharapkan dapat belajar dengan pelaksana. Dengan demikian mahasiswa yang boleh mengambil PI adalah mahasiswa di atas semester 6. pada pembelajaran bidang studi teknik. Hal tersebut.. pemahaman terhadap konsep-konsep maupun teoriteori teknik tidak cukup dilatih dengan pemberian soal-soal saja. Dalam pelaksanaannya PI dilakukan dengan cara praktik langsung di lapangan pada proyek konstruksi yang sedang berjalan. Kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan masih banyak mengalami kekurangan-kekurangan dan masih perlu dilakukan pembenahan-pembenahan. Matakuliah PI boleh diambil mahasiswa bila sudah menyelesaikan kumulatif 90 sks atau telah menempuh 80% matakuliah keteknikan. Namun lebih dari itu. 2001). Setelah itu mahasiswa. Pada kuliah tatap muka di kelas yang dilakukan pada minggu pertama dan kedua awal semester hanya terkait dengan masalah wawasan PI dan mekanisme pelaksanaan PI di lapangan. Dalam kegiatan praktik ini diharapkan mahasiswa mampu memahami prosedur kerja. akan berakibat pada rendahnya gairah belajar mahasiswa. kemampuan dan keterampilan mahasiswa. untuk memahami konsep-konsep teknik yang bersifat rumit dan abstrak diperlukan tugas-tugas yang bersifat lebih komplek. setiap mahasiswa harus menempuh matakuliah Praktik Industri (PI) sebagai persyaratan untuk lulus. Guna mencapai tujuan tersebut pada program S-1 Pendidikan Teknik Bangunan FT UM.Pada pihak lain model pembelajaran di perguruan tinggi yang masih mengacu pada prinsip behavioristik yang lebih menekankan bagaimana pengajar merubah sikap.

20% mahasiswa mendapat nilai B dan 80% mahasiswa mendapat nilai C. Dalam pelaksanaan pendidikan pada program S-1 PTB FT UM. Dari mahasiswa yang berhasil menyelesaikan PI tersebut tidak ada (0%) mahasiswa yang mampu meraih nilia A. kalau tidak datang untuk berkonsultasi ya terserah mahasiswa‖. ternyata keterlambatan mahasiswa dalam menyelesaikan PI disebabkan kurangnya kemandirian dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada. Dosen pembimbing beranggapan bahwa ―kalau mahasiswa konsultasi ya dilayani. Pada pihak lain. dan (4) sering mengupahkan atau menyuruh mahasiswa lain untuk mengerjakan tugasnya. ternyata tidak mengerti akan tugas-tugas yang dikerjakan. Dari data-data tersebut nampak bahwa hampir sebagian besar mahasiswa. angkatan 2002 dari sebanyak 35 orang hanya 10 orang mahasiswa dan angkatan 2003 dari sebanyak 36 orang hanya 11 orang mahasiswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan tim pembimbing PI dan juga pengamatan tim peneliti. Akibatnya hampir 90% mahasiswa tidak mampu menyelesaikan PI dengan tepat. Mahasiswa yang memprogram PI tidak teratur memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi sesuai jadwal yang ditetapkan. nampaknya dosen pembimbing juga jarang memperhatikan kegiatan penyelesaian PI mahasiswa. Kurangnya kemandirian mahasiswa dapat dilihat dari beberapa indikator seperti (l) tidak menepati jadwal konsultasi yang telah ditentukan. ternyata penyelesaian PI menjadi kendala utama kelulusan mahasiswa. (3) malas atau tidak mau mencari buku rujukan yang disarankan dosen. sistem pembelajaran PI dengan memberi kebebasan waktu pada mahasiswa untuk berkonsultasi pada dosen pembimbing ternyata menjadi masalah tersendiri.masalah konstruksi bangunan. Dalam hal ini tidak ada kontrol terstruktur dari dosen pembimbing pada mahasiswa yang memprogram . Pada awal-awal semester hanya sekitar 15% mahasiswa yang memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing. (2) tidak mampu menyelesaikan tugas yang telah ditargetkan. Berdasarkan data yang ada pada jurusan ternyata mahasiswa yang mampu menyelesaikan PI tepat waktu adalah (l) angkatan 2001 dari sebanyak 24 orang hanya 9 orang mahasiswa. dan sebaliknya pada akhir semester di mana jadwal pengerjaan PI harus berakhir. sehingga waktu konsultasi dengan dosen. hampir semua mahasiswa berbondong-bondong berkonsultasi. mengalami masalah dalam penyelesaian tugas PI. Di samping itu.

Kondisi dosen yang demikian. (2) meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Melalui pembelajaran berbasis proyek akan mampu mendorong mahasiswa untuk melakukan invesitigasi pemecahan masalah terhadap tugas-tugas yang bermakna. maka harus ada upaya-upaya sistematis untuk memperbaikinya. sehingga mahasiswa memiliki kemandirian dalam menyelesaikan PI yang memang cukup berat. Di samping itu dosen pembimbing PI. Memberi petunjuk dalam penyelesaian PI atau mengarahkan bagaimana agar mahasiswa dapat menyelesaikan tugas dengan mudah dan sekaligus memberi dorongan-dorongan yang diperlukan. motivator dan insprirator. dan hasilnya membentuk suatu produk nyata.PI. mendorong mahasiswa bekerja secara mandiri. petunjuk. (3) meningkatkan sikap kerjasama. yang berfokus pada pertanyaan atau masalah nyata serta pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya. motivator dan inspirator. tanpa memandang taraf kemampuan intelektual mahasiswa. dorongan pada mahasiswa dalam penyelesaian PI. sehingga kemandirian mahasiswa dalam menyelesaikan PI tumbuh. dan (4) . Sudah menjadi kewajiban dosen untuk meningkatkan perannya sebagai fasilitator. juga merupakan salah satu masalah yang mengakibatkan efektifitas pengerjaan PI rendah. Sebagai fasilitator pengajar harus dapat memberi berbagai kemudahan. Sebagai inspirator pengajar harus dapat memberikan semangat. maka upaya yang dianggap sesuai untuk penyelesaikan permasalahan pembelajaran tersebut adalah melalui penerapan pembelajaran berbasis proyek (project based learning). Melihat sistem pembelajaran matakuliah PI yang demikian. sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan. Metode Pembelajaran Berbasis Proyek dipilih untuk memecahkan masalah ini karena sesuai dengan konteks dan tujuan dari matakuliah PI. Di samping itu metode Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa keunggulan seperti (1) mampu meningkatkan motivasi mahasiswa. Berpijak pada latar belakang masalah di atas. yaitu melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata. bantuan. maka cara yang dianggap paling baik untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. Melihat permasalahan dalam pembelajaran PI tersebut. dengan penerapan pembelajaran berbasis proyek akan dapat berperan sebagai fasilitator.

2001. Moss. & Michaelson.alat otentik/sesungguhnya (misalnya. dan lebih menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang komplek. Secara umum karakteristik project based learning mencakup isi. (3) mahasiswa mengarahkan kerjanya . melibatkan mahasiswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain. teknologi/sumber-sumber nyata). 1999. (3) mahasiswa membuat hubungan/keterkaitan antar ide-ide dan memperoleh ketrampilan baru seperti melakukan kerja pada tugas-tuga yang berbeda. Adanya keunggulan-keunggulan metode Pembelajaran Berbasis Proyek tersebut dianggap tepat untuk memecahkan masalah pembelajaranpada matakuliah PI. Secara operasional hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Karakteristik isi: memuat ide-ide seperti (l) masalah disajikan dalam bentuk keutuhan kompleksitas.meningkatkan keterampilan mengelola sumber (Moursund (1997). (2) mahasiswa dihadapkan pada suatu kesulitan. pencarian sumber dan pemecahan masalah dalam merespon tantangan secara keseluruhan. 1998). dan mencapai puncaknya untuk menghasilkan produk nyata (Thomas. Thomas. (2) mahasiswa diminta memperagakan tingkah laku manajemen waktu dan tugasnya baik secara individu maupun kelompok. (2) mahasiswa menemukan hubungan anta ride secara indispliner. (CORD. Fokus pembelajaran terletak pada prinsip-prinsip dan konsep-konsep inti dari suatu displin ilmu. Mergendoller. (3) mahasiswa berjuang dengan ambiguitas. 1998). memberi kesempatan mahasiswa bekerja secara otonom dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. aktivitas. Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebuah model pembelajaran yang inovatif. Memuat ide-ide investigatif seperti (l) mahasiswa melakukan investigasi selama periode tertentu. 2000). Van-Duze. kondisi dan hasil. dan (4) pertanyaan dunia nyata dan menarik perhatian mahasiswa. dan (5) mahasiswa melakukan umpan balik (refleksi) tentang nilai idenya dari ahli lain/melalui tes realistik Kondisi. Karakteristik aktivitas. dukungan terhadap otonomi mahasiswa seperti (l) mahasiswa mengambil bagian dalam masyarakat inkuiri dan meneruskan latihan kerjanya di dalam konterk social. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang amat besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi mahasiswa (Gaer. Carol. (4) mahasiswa menggunakan perlengkapan.

peneliti. yaitu (1) centrality. (2) driving question. dan (4) mahasiswa memperagakan kompetensi nyata mereka seperti: keterampilan sosial. (3) contructive investigation. Pembelajaran Berbasis Proyek mempunyai beberapa prinsip. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas penelitian ini bertujuan untuk (1) Meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek dan (2) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek METODE Penelitian ini dilakukan di Program Studi S-1 Teknik Bangunan FT UM. Penelitian ini berpedoman pada model yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart (Dalam Hopkins. disamping itu dilibatkan 15 mahasiswa semester 7 dan 8 prodi S-1 PTB FT UM yang memprogram matakuliah PI. yang dari awal sampai akhir kegiatan terlibat langsung sebagai peneliti pelaksana. benda nyata. (3) mahasiswa bertanggung jawab terhadap pilihannya tentang bagaimana akan mendemonstrasikan kompetensi mereka.sendiri dan melakukan kontrol belajarnya. engineer dan praktisi-praktisin lainnya. Sebagai sebuah model pembelajaran. (2) mahasiswa terlibat dalam melakukan self assessment. produk nyata seperti: (l) mahasiswa menghasilkan produk intelektual yang kompleks yang menunjukkan hasil belajarnya (misalnya model. ketrampilan teknik dan sebagainya. dan (4) mahasiswa melakukan simulasi kerja profesional dari seorang sarjana. Artinya penelitian ini melibatkan tim pengajar sebagai anggota peneliti. laporan dan sejenisnya). 2000). (4) autonomy. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bersifat kolaboratif. dan (5) realism (Thomas. Subjek penelitian ini melibatkan 2 orang dosen. keterampilan manajemen. Waktu pelaksanaan penelitian ini direncanakan dilaksanakan mulai bulan Pebruari 2008 sampai dengan bulan November 2008. Hasil. 1992) merupakan alur pelaksanaan tindakan dan berlangsung dalam siklus-siklus yang terdiri .

analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus penelitian tindakan kelas sebagai keseluruhan (PGSM. menyederhanakan. Sedangkan penyimpulannya adalah proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan atau formula yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas (PGSM). Dalam hubungan ini. Kegiatan pertama dalam siklus I ini adalah dilakukan perencanaan pembelajaran Praktik Industri dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. memfokuskan. analisis data adalah proses menyeleksi. Perencanaan Sebagai langkah awal kegiatan tim Peneliti melakukan bekerjasama dengan tim pengajar Praktik Industri. mengabstraksikan. Hal ini dilakukan dalam rangka menciptakan suatu iklim yang baik antara peneliti dengan pengajar dan mahasiswa. pemfokusan. Tahap perencanaan ini meliputi kegiatan sebagai berikut: . 1999). Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. representatif grafis. dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. dan sebagainya.atas rencana tindakan. dan penyimpulan (PGSM. observasi dan refleksi. pelaksanaan tindakan. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. Berbeda dari interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dari suatu observasi. 1999). mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap penelitian tindakan kelas. Hasil refleksi pada siklus ini digunakan sebagai dasar pelaksanaan siklus berikutnya. yaitu reduksi data. paparan data. representatif tabular termasuk dalam format matriks. HASIL Siklus 1 a.

(3) pengembangkan organisasi kerja. tingkat kesulitan tugas dan kemampuan mahasiswa dan produk yang akan dihasilkan dari proyek akhir tersebut Academic Rigor: terkait dengan ilmu-ilmu yang terkait dan digunakan dalam penyelesaian proyek. Kegiatan pertemuan awal ini dilakukan dengan tahap kegiatan sebagai berikut: 1. sumber dan media. Tindakan Pada tahap ini diawali dengan pertemuan dengan dosen pembimbing dan mahasiswa yang menjadi subyek penelitian ini. 2. (2) analisi teknikteknik yang digunakan untuk memecahkan masalah. metode ilmiah yang digunakan memecahkan masalah dan. dan bentuk Buku pegangan mahasiswa dan pedoman pembimbingan dosen. bekerja/berdiskuasi dengan seorang teman.1. penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode. analisis dari berbagai aspek dalam pemecahan masalah Applied Learning: yang terkait dengan konteks permasalahan. Pembuatan pedoman petunjuk praktik industri. Active Exploration: yang terkait dengan efektifitas penggunaan waktu. dan melakukan presentasi ilmiah Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan akhli dari luar. b. . keterlibatan pihak luar untuk pengembangkan standar kerja dan penilaian reguler/teratur terhadap unjuk kerja mahasiswa. Pembuatan rancangan operasional metode Pembelajaran Berbasis Proyek yang meliputi: Authenticity: terkait dengan kebermaknaan tugas bagi mahasiswa. penilaian hasil kerja mahasiswa oleh orang luar Assessment: yaitu terkait dengan kemampuan untuk melakukan penilaian mandiri terhadap unjuk kerjanya. materi atau topik-topik Praktik Industri. kerja tim dan penggunakan teknologi yang tepat (l) pembuatan tim work untuk menyelesaikan tugas-tugas. Penjelasan oleh ketua tim pengajar tentang tujuan umum dan khusus matakuliah Praktik Industri.

Berdasarkan diskusi antara tim pembimbing dan mahasiswa disepakati bahwa jadual pembimbingan terstruktur dilakukan 2 kali dalam seminggu. . Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada (1) penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek dan (2) pengembangkan topik Praktik Industri. Pada tahap ini peneliti mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran penyelesaian Praktik Industri. c. Setelah diadakan forum tanya jawab kemudian mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan topik Praktik Industri Penentuan jadual pembimbingan. 3. Dengan demikian mahasiswa telah siap untuk melakukan kerja praktik industri di lapangan. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan. d.2. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Penjelasan penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode proyek yang meliputi tahap-tahap prosedur Metode Proyek. Refleksi Berdasarkan tahap tindakan yang telah dilakukan diperoleh gambaran bahwa 90% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode proyek yang akan digunakan dalam menyelesaikan tugas Praktik Industri. Demikian pula mahasiswa telah mampu mengembangkan topiktopik yang dijadikan kajian Praktik Industri. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Setelah selesai penjelasan tersebut dilakukan tanya jawab dengan mahasiswa dan dosen pembimbing. waktu penyelesaian dan persyaratan-persyaratan lainnya sesuai buku pegangan mahasiswa. 5. Penentuan topik tugas Praktik Industri. 4.

dan 2 kali pembimbingan di kampus. Maka dalam perencanaan siklus 2 dilakukan langkah-langkah perencanaan yang terkait dengan: 1. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang . Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan baik di lapangan maupun di kampus berlangsung tim peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran. Pengembangan tahap-tahap kegiatan praktik 4. Pengembangan pokok bahasan praktik industri (pengerjaan pondasi bangunan) 3. diawali presentasi mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Perencanaan Berdasarkan temuan pada siklus 1 diketahui bahwa sebagian besar (90)% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode Pembelajaran Berbasis Proyek. Pembimbingan di kampus. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. 2. Menentukan lokasi tempat praktik industri bagi masing-masing kelompok mahasiswa. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. Pengembangan pedoman pembimbingan di lapangan 5. Pengembangan pedoman kegiatan pembimbingan di kampus b.Siklus 2 a. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa dilakukan selama 3 minggu. c. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Tindakan Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan.

Oleh karena itu pada siklus berikutnya hal tersebut perlu dikembangkan dan diperbaiki. dan (3) Adult Relationship. d. Dengan demikian perencanaan pada siklus ini dilakukan dengan: . dan (3) Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan para manajer proyek dan pelaksanaan lapangan. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan subsub topik yang dibahas. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa baru 60 % mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Siklus 3 a.berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. Kelemahan mendasar yang masih dilakukan mahasiswa dalam tahap ini adalah masih belum mampu menerapkan (1) Applied Learning: yang terkait pembentukan tim work dan aktivitas kerja kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas. Demikian pula pada tahap ini peneliti mulai mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran praktik. (2) Active Exploration. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Untuk itu sebelum praktik ke lapangan mahasiswa harus di beri pembekalan (penjelasan) kembali tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. (2) Active Exploration: yang terkait dengan penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode dalam menganalisis kegiatan lapangan. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 2 maka pada siklus 3 pada siklus ini akan lebih difokuskan pada pengembangan dan perbaikan pada komponen (1) Applied Learning. Demikian pula baru 65% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik.

Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai prakltik ke lapangan lagi. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada . Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 4 jam pelajaran. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. c. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Tindakan Sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. dan 2 kali pembimbingan di kampus. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. Pengembangan karakteristik aktivitas. Pengembangan komponen (1) Applied Learning. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. pada tugas-tugas di lapangan b. Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan kolom dan balok bangunan 2. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan kolom dan balok bangunan. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi.1. Pembimbingan di kampus. Pengembangan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek. (2) Active Exploration: dan (3) Adult Relationship dalam penyelesaian tugastugas PI 3. kondisi dan hasil 4.

Mahasiswa masih kurang maksimal memanfaatkan pihak-pihak tersebut sebagai sumber belajar di lapangan.pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. d. pelaksana lapangan. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 4 pada siklus ini akan dilakukan perencanaan dalam hal: 1. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 80% mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. Pada siklus berikutnya kelompok mahasiswa tersebut diharapkan ada perbaikan dan pengembangan kerja dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek . Siklus 4 a. 2. mandor maupun tukang dan pembantu tukang. . kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan pelat lantai bangunan. kondisi dan hasil. Masih ada beberapa kelemahan mahasiswa pada siklus ini yaitu khususnya dalam hal menjalin hubungan dengan pihak proyek yaitu manajer proyek. dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Pengembangan karakteristik aktivitas. Demikian pula 80% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/ sangat baik. Dalam siklus ini nampak masih ada kurang-lebih 20% mahasiswa belum mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek.

Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam . Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. e. Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 3 jam pelajaran.3. c. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. 4. dan 2 kali pembimbingan di kampus. secara lebih operasional. sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Pengembangan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. Pembimbingan di kampus. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai praktik ke lapangan lagiPada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan pelat lantai bangunan. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Tindakan Sama seperti pada`siklus 3. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek dan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Pengembangan dan perbaikan pedoman praktik khususnya yang berhubungan dengan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek.

(4) active exploration. (5) adult relationship.penyelesaian tugas Praktik Industri. (2) academic rigor. dan (6) assessment. maka motivasi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akan . dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. dan memanfaatkan pihak proyek sebagai sumber belajar. BAHASAN Dalam pembahasan ini akan dikaji tiap-tiap strategi yang digunakan dalam metode proyek yaitu (l) authenticity. Tugas tersebut terkait dengan kebutuhan dunia kerja. Suatu tugas yang memiliki makna adalah tugas dimana mahasiswa merasa bahwa tugas tersebut sangat berguna bagi mahasiswa setelah ia terjun di dunia kerja. Authenticity Authenticity merupakan langkah awal dalam perancangan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 95% mahasiswa telah mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. 1. tugas tersebut dapat dijadikan bekal untuk kehidupannya. proyek atau tugas yang dikerjakan mahasiswa harus memiliki makna bagi mahasiswa. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. f. Dengan dipahaminya ―kebermaknaan‖ suatu tugas. Dalam konsep authenticity. (3) applied learning. Mengingat indikator pencapaian tujuan penelitian ini telah tercapai maka siklus penelitian dihentikan. Demikian pula 95% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik. Disamping itu mahaisswa telah mampu menjalin hubungan dengan pihak proyek.

meningkat (ISTE, 2002), dengan demikian mahasiswa akan dapat menyelesaiakan tugasnya dan pada akhirnya mahasiswa akan mampu menghasilkan sesuatu dari tugas tersebut. Oleh karena itu tugas seorang pengajar dalam tahap ini adalah menjelaskan kebermaknaan suatu tugas bagi mahasiswa; pengajar harus bisa memilih dan memberi tugas yang bermakna untuk mahasiswa. Pada siklus I pada proses penelitian ini, masalah authenticity, merupakan tahap awal yang ditekankan pada mahasiswa; dalam tahap ini pengajar harus mampu menjelaskan kebermaknaan tugas, baik dari segi teknik maupun ekonomi.
2. Academic Rigor

Academin rigor adalah penerapan konsep-konsep akademis dalam menyelesaikan suatu tugas. Dalam pembelajaran berbasis proyek academic rigor, merupakan bagian yang amat penting karena mengharuskan mahasiswa menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian suatu tugas. Pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek akan melatih dan membiasakan mahasiswa untuk menerapkan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah dalam kehidupan. ISTE (2002) mengatakan bahwa dalam metode pembelajaran berbasis proyek mahasiswa dilatih melakukan penelitian, menggunakan berbagai sumber informasi dan mampu berpikir lintas keilmuan. Dalam tahap ini pengajar harus mampu merancang pembelajaran yang dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan dan menggunakan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
3. Applied Learning

Aplied learning adalah usaha untuk mengarahkan kegiatan belajar mahasiswa ker arah situasi belajar yang mengacu pada kehidupan nyata yang berada di luar lingkungan sekolah dan Kraf (1998) menyebut sebagai ―real world oriented”. Salah satu bentuk belajar dalam kehidupan nyata adalah agar mahasiswa mampu bekerja dalam organisasi modern yang menuntut disiplin tinggi, penggunaan teknologi yang tepat,

dan mampu berkomunikasi dengan rekan kerja, dan inilah yang disebut dengan real learning dan real work (Steinberg, 2001).
4. Active Exploration

Active exploration adalah usaha untuk mendorong mahasiswa agar aktif melakukan ekplorasi/penelitian, dengan menggunakan waktu secara efektif. Dalam tahap ini pengajar harus mampu memacu dan sekaligus mendorong mahasiswa untuk selalu berusaha memecahkan masalah secara kontinyu dan jangan putus asa. Menurut Buck Institute for Education (2001) dalam pembelajaran berbasis proyek mahasiswa harus mampu sebagai ―discoverer, integrator, and presenter of ideas. Dalam pelaksanaan penelitian ini, mendorong sikap dan tindakan mahasiswa agar selalu active exploration, ternyata merupakan sesuatu yang amat sulit. Hal ini mungkin disebabkan oleh perilaku mahasiswa selama ini lebih banyak bersikap pasif dalam setiap pembelajaran, dan sering dijumpai pengajar hanya bersikap sebagai penyampai materi belaka, dan kurang mendorong keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran.
5. Adult Relationship

Adult Relationship, terkait usaha memacu mahasiswa agar mampu belajar dari orang lain yaitu pada para praktisi expert dan bahkan pada para pekerja yang terkait dengan masalah yang dikaji. Dalam proses adult relationship ini para pengajar harus mendorong mahasiswa untuk mampu bertanya, berdiskusi dan juga mengajak merancang serta menilai kerja mahasiswa. Dengan model belajar yang demikian diharapkan mahasiswa memiliki pemahaman, pengetahuan dan keterampilan yang mendalam terhadap tugas yang sedang dikajinya.
6. Assesment

Assesment, adalah usaha agar mahasiswa mampu melakukan penilaian secara teratur terhadap proses belajar yang dilakukan. Disamping itu mahasiswa juga harus mampu mengembangakan kriteria penilaian sesuai standar yang berlaku di dunia kerja. Penilain yang harus

dilakukan mahasiswa mencakup prosedur kerja/metode yang dilakukan, waktu yang digunakan, hasil kerja dan hal-hal lain yang terkait dengan penyelesian tugasnya. Dari hasil penilaian yang dilakukan mahasiswa diharapkan mahasiswa dapat melihat kekurangan-kekurangannya, mampu memperbaikinya pada proses berikutnya. Dalam salah satu kriteria pembelajaran berbasis proyek Kraf (1998) menyebut hal ini sebagai ―student self-assesment of learning is encourage‖
7. Peran Pembimbing/Pengajar

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek peran dan tugas pengajar sangat jauh berbeda dengan peran dan tugas pengajar dalam pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar diharapkan sebagai ―resource provider and participant in learning activities,‖ berbeda dalam pembelajaran konvensional pengajar lebih sebagai “lecturer and director of instruction‖ dan dalam pembelajaran konvensional pengajar menganggap dirinya sebagai ―expert‖ sedang dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar harus mampu berperan sebagai ―advisor/colleague‖ (Buck Institute for Education, 2001). Perubahan peran dan fungsi pengajar dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran pembelajaran berbasis proyek tentu bukan merupakan sesuatu yang mudah, khususnya bagi pengajar yang telah terbiasa dengan model pembelajaran konvensional. Bagi pengajar yang telah terbiasa dengan pembelajaran konvensional, perlu memahami hakekat dan filsafat pembelajaran berbasis proyek lebih mendalam, dengan demikian diharapkan mampu memahami peran dan fungsinya sebagai pengajar.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut: (l) Pembelajaran Berbasis Proyek secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1

PTB FT UM dan (2) Penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM.
Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan beberapa saran sebagai berikut (l) Mengingat metode Pembelajaran Berbasis Proyek sangat berbeda dengan metode pembelajaran konvensional maka dalam penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek pengajar harus memahami hakekat dan prinsip-prinsip dasar PBL secara benar, dan (2) Guna mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang kehandalan metode Pembelajaran Berbasis Proyek diperlukan penelitian lanjutan pada bidang-bidang studi yang lain.

A. Project Base Learning for Adult English Language Learner. D. C & Scardamalia. S.aol. J. C. B. Hung.. 2000.L. E. D & Van-Duzer. 2000. D. Educational Psychologist. Soloway. . 1999. D. Supporting the Learning.F. 2001.C. cord. CORD. Dryden C. Project: Road Ahead (Project-Based Learning). ED427556. Hopkins. 2001. Toronto:Ontario Institute for Studies in Education. Instance Crativity.. 389--398. Process and Product in PBL Research. Diakses tanggal: 2 Maret 2001.W. A. ERIC Gigest.M. What is Project-Based Learning? Tersedia pada: http:// members . Moursund. Contextual Learning Resource. 23 (January). Teraedia pada: http://www. Activity Theory as a Framework for Project Work in Learning Environment. 1998. Educational Technology. Philadelpia: Open University.org/research/roadahead/PBL. Blumenfeld. Guzdial. & Moffit.. Real Life Problem Solving: A Collaborative Aproach to Indisciplinary Learning.F. P. M. Diakses tanggal 12 Juli 1998. M.html. B.org/lev2. & Vos. D. Moss.com /CulebraMom/ PBLprt. Ed427556/html Moore. Krajick.iste.. R. Diakses tanggal 10 Desember 1997. IEE Brief. 1997. Rasmussen. The Learning Revolution. Motivating Project Base Learning: Sustaining Doing. C. 40(2). 1977.DAFTAR RUJUKAN Clegg. Jakarta: Penerbit Erlangga Clegg. P. 33-37 Jones. 26 (3 &4). Toward a Theory of Work-Base Learning. A Teacher`s Guide to Classroom Research. 1991. 2001. Jakarta: Penerbit Erlangga Bereiter. Instance Motivation. Mark. 1998. Bandung: Kaifa Gaer. Tersedia pada: http://www.html. 1992. M dan Palinscar. University of Toronto. J.cfm/65.& Wong. 2001. B & Berch. Washington DC: American Psychological Association. [Online).

Yang diselenggarakan pada tanggal 4 September 2001 di kampus Universitas Negeri Malang. Penelitian Tindakan Kelas. Project-Based Learning. Vygotsky. W & Gallagher. autodesk. designworlds. 1978. JW.. Mergendoller.us/PBL guide/why. http://PBLmm. Mind in Society.. JW. & Striley. 1999.. 1999. MA: Harvard University Press. S. Novato CA: The Buck Institute for Education. Tersedia pada: http://www. com/foundation. G. 2001. 25--28 Suhartadi. JR & Michaelson. 33(8). 839-858 Thomas. Mahakalah disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Nasional Peningkatan Profesionalitas Guru SMK Melalui Kajian Kelas. Available on:http://www.inservicer.kn. A Review of Research on Project-Based Learning. W. Y. 1993. Diakses tangal 23 Januari 2002 Stepien.html .. Educational Leadership. Menumbuhkan Kemandirian dan Kegairahan Belajar Mahasiswa Melalui PembelajaranTeknologi di SMK. & Means. S. Journal of Research in Science Teaching. PBL in Science and Technology: A Case Stu dy of Professional Development. Thomas. A.Rosenfeld. California: The Autodesk Foundation. 2001. L.PBL.S.com/ techcape/sherm. Problem Base Learning: As Authentic as it Gets. Wetern Kentucky University Center for Teaching and Learning. Center for Technology in Leraning SRI International. J. 51. PGSM. Making Meaning in Classroom: Social Processes in Small-Group Discourse and Scientific Knowledge Building. B. & Ben-Hur. 1999. Project Base Learning: A handbook of Midle and High School Teacher. Cambridge. S. 2000. 1996.R. Richmond. Observing Classroom Process in Project-Base Learning Using Multimedia: A Tool for Evaluator. 2001.html. Jakarta: Depdikbud Penuel.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful