JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN

Tahun 18, Nomor 2, Desember 2008

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender Laily Maziyah, dkk Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati, dkk Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta) Heri Sudarsono Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialogh dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari, dkk. Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi, dkk
Terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi nomor III/DIKTI/KEP/1998 tanggal 8 April 1998; nomor 395/DIKTI/KEP/2000 tanggal 27 November 2000; dan nomor 49/DIKTI/KEP/2003 tanggal 9 Desember 2003 tentang Hasil Akreditasi Jurnal Ilmiah

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender
Laili Maziyah Syafaat

Abstract: The mufassirs have a notion that polygamy is mubah (permitted). It is required for husband that performs polygamy to do justice in giving charity toward all of his wives and justice in giving sex turning and accompany to his wives. However, no required to do justice in love because it includes heart zone and applied by Rasulullah. The result showed that five forms of gender inequality toward women (marginalization,violence, subordination, stereotype, and double burden), not found generally in "five books", even such mufassirs are likely more moderate than other interpreters, by giving rigid conditions to conduct the polygamy. The reseacher chooses it to unveil pictures about concept, condition, rules of polygamy, and aspects of gender equality in their works. However, Ar-Razi opinion tends to perform stereotype of women because he gives not binding of polygamy conditions and permit husband to get married more than four or no limitation number of wives in polygamy. Key words: mufassir, poligami concept, gender

Kontroversi seputar poligami menyembur lagi ke permukaan setelah da‘I kondang KH. Abdullah Gimnastiar (Aa‘Gym) secara mengejutkan melakukan poligami bulan Nopember 2006, kemudian diikuti oleh anggota DPR Zaenal Maarif dari Partai Bintang Reformasi (FBR) secara terang-terangan di hadapan media (Kompas, 18/1/07). Fakta tersebut tak hanya mengundang gejolak tapi juga membuat bombardir kiriman SMS ke ponsel Presiden.
Laily Maziyah dan Syafaat adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang

Presiden Yudhoyono kemudian secara khusus memanggil Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dan Dirjen Binmas Islam Nazzarudin Umar meminta revisi agar cakupan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 1983 (yang sudah direvisi menjadi PP Nomor 45 tahun 1990 tentang poligami) diperluas tidak hanya berlaku bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) tetapi juga pada pejabat negara dan pejabat pemerintah (Iman, 2006). Poligami merupakan salah satu bentuk perkawinan yang seorang laki-laki menikahi lebih dari satu istri. Menurut Mulia (2004:44-45), poligami sudah ada jauh sebelum Islam datang. Mahmud Syaltut (w. 1963), ulama besar asal Mesir, secara tegas menolak poligami sebagai bagian dari ajaran Islam, dan juga menolak bahwa poligami ditetapkan oleh syari‘ah. Berabad-abad sebelum Islam diwahyukan, masyarakat manusia di berbagai belahan dunia telah mengenal dan mempraktekkan poligami. Poligami dipraktekkan secara luas di kalangan masyarakat Yunani, Persia, dan Mesir kuno. Di Jazirah Arab sendiri jauh sebelum Islam, masyarakatnya telah mempraktekkan poligami, malahan poligami yang tak terbatas. Sejumlah riwayat menceriterakan bahwa rata-rata pemimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit kepala suku mempunyai istri sampai ratusan. Sejumlah riwayat menjelaskan bahwa setelah turun ayat yang membatasi jumlah istri hanya empat orang, yakni QS Al-Nisa‘: [4]:3. Nabi segera memerintahkan semua laki-laki yang memiliki istri lebih dari empat agar menceraikan istri-istrinya sehingga setiap suami maksimal hanya boleh punya empat istri (Ibn Surah, tt:445). Karena itu, A1-Aqqad (1962:107) ulama asal Mesir, menyimpulkan bahwa Islam tidak mengajarkan poligami, tidak juga memandang positif, apalagi mewajibkan, Islam hanya membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Sangat disesalkan bahwa dalam prakteknya di masyarakat, mayoritas umat Islam hanya terpaku pada kebolehan poligami, tetapi mengabaikan sama sekali syarat yang ketat bagi kebolehannya itu. Perkembangan poligami dalam sejarah manusia mengikuti pola pandangan masyarakat terhadap kaum perempuan. Pada masa ketika masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan hina, poligami menjadi subur, sebaliknya pada masa masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan terhormat, poligami pun berkurang. Jadi, perkembangan

poligami mengalami pasang surut mengikuti tinggi-rendahnya kedudukan dan derajat perempuan di mata masyarakat (Abu Zayd, 2003). Ketika Islam datang, kebiasaan poligami itu tidak serta merta dihapuskan. Namun, setelah ayat yang menyinggung soal poligami diwahyukan, Nabi lalu melakukan perubahan yang radikal sesuai dengan petunjuk kandungan ayat. Perubahan mendasar yang dilakukan Nabi, menurut Mulia (2004:46-47) berkaitan dengan dua hal. Pertama, membatasi jumlah bilangan istri hanya sampai empat. Sejumlah riwayat memaparkan pembatasan poligami tersebut di antaranya riwayat dan Naufal ibn Muawiyah. Ia berkata: Ketika aku masuk Islam, aku memiliki lima orang istri. Rasulullah berkata: Ceraikanlah yang.satu dan pertahankan yang empat. Pada riwayat lain Qais ibn Tsabit berkata: Ketika masuk Islam aku punya delapan istri. Aku menyampaikan hal itu kepada Rasul dan beliau berkata: pilih dari mereka empat orang. Riwayat serupa dari Ghailan ibn Salamah Al-Tsaqafi menjelaskan bahwa dirinya punya sepuluh orang istri, lalu Rasul bersabda: “pilih empat orang dan ceraikan yang lainnya.” Kedua, menetapkan syarat yang ketat bagi poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Persyaratan yang ditetapkan bagi kebolehan poligami itu sangat berat, dan hampir dapat dipastikan tidak ada yang mampu memenuhinya. Artinya, Islam memperketat syarat poligami sedemikian rupa sehingga kaum laki-laki tidak boleh lagi semena-mena terhadap istri mereka seperti sediakala. Dengan demikian, terlihat bahwa praktek poligami di masa Islam sangat berbeda dengan praktek poligami sebelumnya. Perbedaan itu menonjol pada dua hal. Pertama, pada bilangan istri, dan tidak terbatas jumlahnya menjadi dibatasi hanya empat. Pembatasan ini dirasakan sangat berat, sebab laki-laki masa itu sudah terbiasa dengan banyak istri, lalu mereka disuruh memilih empat saja dan menceraikan selebihnya. Kedua, pada syarat poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Sebelumnya, poligami itu tidak megenal syarat apa pun, termasuk syarat kesetaraan. Akibatnya, poligami banyak membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi kaum perempuan, karena para suami yang berpoligami tidak terikat pada keharusan berlaku adil, sehingga mereka berlaku aniaya dan semena-mena mengikuti luapan nafsunya.

menjelaskan bahwa selama tahun 2001 mencatat sebanyak 234 kasus kekerasan terhadap istri. syarat-syarat dan hukum) poligami. dalam kerangka pelacakan pada asal-muasal produk pemikiran mengenai poligami dan kesetaraan gender. Dengan melakukan kajian yang mendalam atas sejumlah karya mufassir terkenal akan diperoleh gambaran mengenai penafsirannya tentang konsep. yaitu linguistis dan sosiologis sekaligus.1% poligami secara rahasia. (b) Bagaimana pandangan para mufassir terhadap konsep (definisi. untuk meminimalisasi ketidaksetaraan gender yang muncul akibat pemahaman yang keliru terhadap poligami.5% dipoligami resmi. kekerasan fisik 18. dan 0.6%. Data-data mengenai status korban mengungkapkan 5. sebuah institusi yang peduli pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Melalui pendekatan holistik. 0. dan (c) bagaimana pandangan para mufassir terhadap poligami dalam konteks kesetaraan gender? . sebelum tahap reinterpretasi teks agama dilakukan. Menurut Subhan (2004). dan holistik. kusutnya benang permasalahan tersebut akan dapat dikaji secara jernih.2% dicerai. Jenis kekerasan yang dilaporkan meliputi kekerasan ekonomi sebanyak 29. dan kekerasan psikis 46. syarat. kontekstual.5% ditinggal suami. hukum poligami.4% sebagai istri kedua. Adapun rumusan masalah yang diangkat adalah (a) bagaimana latarbelakang para penafsir dan corak tafsir masing-masing. juga bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender dalam karya mereka. Jadi. 4.4% lainnya sebagai teman kencan.4%. penelaahan buku-buku tafsir mutlak dilakukan. Namun. 2. 2.9%. Oleh karena itu. penelitian terhadap sejumlah kitab tafsir klasik atas ayat-ayat poligami dalam al-Qur‘an yang berkaitan dengan kesetaraan gender sangat penting dilakukan sebagai langkah awal untuk memformulasi pemahaman yang baru dan benar. poligami berimplikasi pada maraknya berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan.1%. di antara aktor penyebab kesenjangan gender yaitu penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. diperlukan reinterpretasi ajaran agama secara komprehensif.3% korban selingkuh. kekerasan seksual 5.Dalam realiatas. 36. cenderung dipahami parsial dan kurang kholistik. Laporan Rifka Annisa (2001:58).

(2) Jami‟ul Bayan „an Ta‟wil Ayil Qur'an karya At-Thabari. Untuk lebih mendapatkan gambaran yang operasional dalam penelitian ini.METODE Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh paparan yang jelas dan rinci mengenai pandangan mufasir tentang poligami. (5) An-Nisa‘ ayat 128. Data dalam penelitian ini berupa tulisan atau manuskrip yang merupakan karya dari para mufassir Al-Qur‘an. (4) An-Nisa‘ ayat 127. (7) An-Nisa‘ ayat 130. (6) An-Nisa‘ ayat 129. peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Untuk mencapai tujuan penelitian secara komprehensif. yakni (1) Al Tafsir Al Kabir karya Fakhruddin Ar Razi. Al-Mishbah karya M. maka ada tujuh ayat yang akan diteliti. (2) An-Nisa‘ ayat 2. yaitu pemerian secara sistematis dan faktual terhadap pandangan dan penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang memuat tentang relasi gender. sedangkan sumber datanya terdiri dan lima kitab tafsir. (3). . (3) An-Nisa‘ ayat 3. Oleh karena penelitian ini menganalisis pandangan mufassir tentang ayat-ayat poligami dan munasabah (korelasi)-nya dalam alQur'an. Tafsir AlQuran al-Adhim karya Ibn Katsir (5) Tanwir al-Miqbas min tafsir Ibn Abbas karya Ibnu Abbas.. Quraish Syihab (4). Sedangkan jenis penelitian ini adalah deskriptif. berikut paparan Tabel 1 variabel dan sub variabel: Tabel 1 Paparan Data Variabel dan Sub-Variabel No 1 Variabel Poligami         Sub-Variabel Konsep poligami Syarat-syarat berpoligami Hukum poligami Tidak ada unsur marginalisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur streotifisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur kekerasan terhadap perempuan Tidak ada unsur subordinasi terhadap perempuan Tidak ada unsur pembebanan ganda terhadap perempuan 2 Kesetaraan Gender . yaitu: (1) An-Nisa‘ ayat 1.

Adapun metode maudu‘i adalah metode yang oleh Shihab (1993:114). 1984:48). dan di dalam dijumpai sejumlah perbedaan. dengan apa yang ditemui dalam mushaf Utsmani tadi. 1999:188-189). Pembahasan metode ini mengikuti urutan kronologis susunan ayat-ayat A1-Qur‘an. dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat dan beberapa surah. Mushaf Utsmani adalah salah satu versi mushaf yang disusun oleh Utsman bin Affan saat ia menjadi khalifah. sesuai dengan urutan bahkan yang terdapal dalam mushaf Utsmani (Al-Almai. Namun demikian. Corak Tafsir para Mufassir Setidaknya ada empat metode/corak tafsir yang digunakan telah para mufassir dalam menjelaskan maksud dan makna yang terkandung di dalam Al-Qur'an. pandangan para mufassir tentang konsep (definisi. mengkaji . syarat) poligami dalam tafsir Ar-Razi. AlMishbah. Ibn Katsir dan tafsir Ibn Abbas dan pandangan mereka tentang poligami dalam konteks kesetaraan gender. metode ijmali. Ath-Thabari. Mushaf ini dibuat untuk tujuan menyeragamkan bacaan umat Islam. hukum. yakni metode tahlili. maka dalam bab ini akan dipaparkan pembahasan atau diskusi hasil. metode maudu‗i. tidak saja bacaannya melainkan juga kosakatanya. Metode tafsir ijmali adalah metode yang menafsirkan ayat-ayat alQur'an dengan mengemukakan makna global. sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan secara menyeluruh tentang masalah tersebut menurut pandangan Al-Qur'an. mushaf itu masih saja ada. dan untuk tujuan itu ia telah ―meminggirkan‖ mushaf versi lainnya.BAHASAN Setelah dilakukan identifikasi data tentang corak penafsiran masing-masing mufassir. yang berbicara tentang topik tersebut untuk kemudian dikaitkan satu dengan yang lainnya. Metode tahlili adalah metode penafsiran Al-Quran yang munculnya secara kronologis dan memaparkan berbagai aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur‘an. didefinisikan sebagai tafsir yang menetapkan suatu topik tertentu. dan metode muqaran (Umar. yang merupakan sintesa antara temuan dan teori.

dan setelah pernikahan. Tafsir-tafsir tersebut digolongkan ke dalam corak tahlili karena setiap kata. maka sepatutnya bisa ditiru. mulai dari kesiapan pribadi. Mulai dari sudut pandang bahasa. Sedangkan metode tafsir muqaran ialah suatu metode tafsir yang berupaya memberikan makna satu ayat dengan ayat lain. bahkan menyegerakannya. Yakni. akan tetapi lebih dari satu. Pada saat yang sama Islam juga menetapkan aturan syar‟i yang jelas tentang pernikahan. Karena Rasul melakukan poligami. dan berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan ayat-ayat lainnya (Al-Rahman. maka umatnya yang siap memilih jalan itu sebaiknya juga melakukan poligami. Namun apabila dipresentasi. 1999:200). . dan Ibn Katsir. saat. Sementara dalam tafsir Ibn Abbas digunakan corak/metode ijmali. Empat tafsir yang menggunakan corak tahlili. filsafat dll. ayat dikupas dengan gamblangnya dari beberapa sudut pandang. dan antara satu penafsiran dengan penafsiran lainnya dalam suatu ayat (Umar. empat diantaranya menggunakan corak tafsir tahlili dan sisanya menggunakan corak tafsir ijmali. Dari kelima jenis tafsir yang dianalisis. kalimat. yaitu: tafsir athThabari. Dalam beberapa kasus ada sebagian orang Islam yang menikah tidak hanya dengan satu perempuan. Kepada mereka yang belum menikah Rasulullah sangat menganjurkan untuk tidak menunda-nunda pernikahan. sebelum.asbabun nuzulnya. sehingga diharapkan setiap muslim yang menikah mampu menjalani rumah tangganya dengan baik dan bahagia. sejarah. lebih menekankan pada aspek bahasa dan keagamaan. 1986:549). Al-Mishbah. jumlah orang yang memilih berpoligami sangat jauh lebih sedikit dari yang tidak berpoligami. Konsep Poligami dalam Pandangan para Mufassir Menikah merupakan sunnah Rasulullah saw yang sangat dianjurkan. Ar-Razi. Biasanya. Pernikahan inilah yang dalam bahasa agama disebut dengan ta‟addud az zawjah atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan poligami. bagi mereka yang memilih pernikahan cara ini beragumentasi bahwa apapun yang dilakukan oleh Rasul termasuk dalam hal berumah tangga. Semua ada aturan mainnya. makna suatu ayat dengan hadis.

yakni surat An Nisa' ayat 3 dan contoh dari rasulullah SAW.Menurut Ibn Katsir poligami adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam agama dan berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. Artinya adalah kewajiban melakukan pembatasan. menurut Wahbah. dan beban kerja ganda (double burden). bahkan ditentang oleh Shihab (2000:567) dalam tafsirnya. Inilah kriteria yang menjadi acuan kaum feminis dalam melihat secara kritis setiap aturan sosial tentang relasi laki-laki dengan perempuan. atau budak-budak wanita yang kamu miliki. hukum asal berpoligami adalah kebolehan (jawaz) bisa saja berubah menjadi haram manakala seseorang tidak bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk itu. pangan. terkait dengan adanya potongan ayat setelahnya yang menyebutkan jumlah dua. makna lain yang bisa diambil dari bentuk amar kata fankihu adalah kewajiban. ―Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil. yakni: marginalisasi (proses pemiskinan ekonomi). papan . sebagaimana perintah sholat. ketidaksetaraan gender bisa diidentifikasi melalui berbagai manifestasi ketidaksetaraan. kekerasan (violence). Bentuk ketidaksetaraan gender berupa marginalisasi ini tidak ada. pelabelan negatif (stereotype). subordinasi (anggapan tidak penting). Sebab ada dalil yang menujukkan hal itu. Pandangan Para Mufassir dalam Konteks Kesetaraan Gender Menurut analisis gender. Namun demikin. akan tetapi kata ini bermakna ibahah (kebolehan) dan bukan perintah yang harus dilaksanakan. yakni dalam bentuk fi‟il amr (kata perintah). puasa dan zakat. Perintah poligami. nafkah yang berupa sandang. tiga atau empat. Adil yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah berbuat adil kepada istri khususnya dalam hal harta. Dalam menafsirkan lafadz yang terdapat dalam ayat 3 yang artinya. termasuk yang lahir dari doktrin agama. Hal ini tampak sekali dalam penafsiran beliau khususnya mengenai surat An‘Nisa‘ ayat 3 dan 4. Makna ini diambil. Disamping makna ibahah. maka seorang saja. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada berbuat yang tidak aniaya‖. tak ubahnya perintah makan dan minum seperti yang dimuat juga dalam Al-Qur‘an kuluu wasyrabu. Meskipun redaksi dalam Al-Quran terkait dengan poligami adalah Fankihu.

dan ada juga yang memahaminya dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. Sementara Ath-Thabari dan Ibn Katsir cenderung memberikan persyaratan yang mudah bagi suami.S Al-Baqarah ayat 236. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan dimata Islam. Pandangan subordinasi dalam pandangan para mufassir bertentangan dengan apa yang disyariatkan oleh agama Islam. Ibn Katsir (1999: 2/207) menafsirkan ayat tersebut. Al-Hujurat ayat 13 (Shihab. lihat Q. Sisi lain.yang mewajibkan atas dirinya (Shihab: 2000:328). 2000:313). karena dia sendiri -bukan orang lain. Oleh karena itu. yaitu pemberian maskawin (mahar) sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nisa‘ ayat 4. Ulama kontemporer banyak yang memahami dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita.s. sehingga ayat ini sama dengan firman Allah dalam Q. Dia bebas menggunakannya dan bebas pula memberi seluruhnya atau sebagian darinya kepada siapapun. Dalam menafsirkan lanjutan ayat 4 tersebut. Ar-Razi (1993: 3/246) juga menolak pandangan subordinasi ini. Inilah yang disyaratkan oleh Islam kepada seorang suami dan harus dijalankannya untuk memenuhi hak istri. termasuk kepada suaminya. subordinasi tampak ketika Ar-Razi. membolehkan seorang suami menikahi istri yang tak terbatas jumlahnya bahkan melebihi jumlah istri rasulullah. wajarlah jika dalam tafsirnya. tetapi hal tersebut hendaknya diberikan dengan tulus dari lubuk hati sang suami. Ath-Thabari (1954: 7/530) menegaskan bahwa maskawin (mahar) itu adalah kewajiban yang harus dibayar suami kepada istri dan bahwa maskawin (mahar) itu adalah hak istri secara penuh. Keberadaan umat manusia berasal dari nafsin wahidah yang oleh mayoritas ulama memahaminya dalam arti Adam a. yaitu membolehkan melakukan poligami tanpa harus memperhatikan unsur . Hal tersebut tampak jelas tatkala beliau menjelaskan tafsir ayat 1 surat An-Nisa. Dalam Islam proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. Maskawin (mahar) merupakan suatu yang diwajibkan oleh suami terhadap dirinya.dan juga perlakuan.S. Ini untuk menjelaskan bahwa maskawin (mahar) adalah kewajiban suami yang harus diberikan kepada istri.

Islam memberikan tuntunan secara umum. yang antara lain dapat diselesaikan dengan tiga cara.kesetaraan lahir. Hal ini bisa kita lihat contohnya pada ayat surat An-Nisa‘ ayat 4 bahwa proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. Dalam kaitannya dengan penegasan bahwa KDRT ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. (2) tidak boleh membiarkan istri terkatung-katung (ayat 129). . (1) perdamaian yang sebenar-benarnya (ayat 128). maka kita lihat penafsiran Ath-Thabari terhadap ayat 128-130 surat An-Nisa tatkala ada perselisihan antara suami dan istri. Bahkan kalau Islam dianggap memberikan kewajiban kepada istri lebih berat (mendapat beban kerja ganda) itu merupakan anggapan yang salah. 2000: 328). ―Kullukum raa‟in wakullukum masuulun „an ra‟iyyatihi‖. akan tetapi akan banyak muncul pada masyarakat yang hanya beorientasi pada duniawi dan materi. dan (3) bercerai secara baik (ayat 130). Meskipun pendapat terakhir tersebut mensubordinasi wanita namun terlihat lebih moderat karena tetap membatasi jumlah istri sampai empat. sehingga suami dan istri punya kewajiban dan haknya masing-masing yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan. SIMPULAN Dari kelima mufassir yang diteliti. Ibn Katsir (tt:2/207) menafsirkan ayat tersebut. Sedangkan Kekerasan (violence) dalam rumah tangga (KDRT) merupakan hal yang sangat ditentang dalam Islam. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan di mata Islam. sebagaimana firman-Nya: ― Wa‟aasyiru hunna bil ma‟ruf”. terdapat dua corak penafsiran. Bentuk pembebanan kerja ganda tidak akan ditemui dalam masyarakat yang menjalankan tuntunan Islam secara benar. Bahkan Islam memerintahkan kepada para suami untuk mempergauli dan memperlakukan istrinya dengan baik. baik di dunia maupun di akhirat (Shihab. (2) tafsir ijmali. yaitu pemberian maskawin (mahar). Ibn Abbas masuk kelompok 2. yaitu (1) tafsir tahlili.

pembebanan ganda). bahkan jumlahnya tidak terbatas. (b) memiliki kayakinan bisa berbuat adil dalam memberi nafkah lahir dan adil memberikan nafkah bathin. Secara konsep. dan (c) dilandasi kemaslahatan bersama. Quraish Shihab memberikan batasan bahwa poligami berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. streotipisasi. Hanya Ar-Razi saja yang membolehkan poligami melebihi 4 atau 9. tiga atau empat istri. Dari lima bentuk ketidaksetaraan gender terhadap wanita (marginalisasi. Ibn Katsir dan Quraish Shihab) masuk kelompok 1. yaitu subordinasi dan streotipisasi. yakni pernikahan satu suami dengan dua. Ia berani melangkah lebih jauh melampaui hadis Nabi. subordinasi. Adapun syaratsyarat disepakati adalah (a) memiliki kemampuan memberi nafkah. . kekerasan. Hanya saja. dan dalam Islam ia merupakan sesuatu yang diperbolehkan.sedangkan mufassir yang lain (Ath-Thabari. Jumlah maksimal istri empat orang dalam satu waktu. Ar-Razi. Terkait dengan hukum poligami. yakni dengan tidak membatasi jumlah istri dan menggunakan persyaratan sangat longgar yang merugikan kaum perempuan. terdapat dua bentuk. semua mufassir tidak berbeda mengenai definisi poligami(ta'addud az-zawjah). mayoritas menghukumi mubah. Hal itu tampak dalam penafsiran Ar-Razi.

Tahrir Al-Mar‟ah. Artikel dikutip dari situs http://www. Dirasat fi al-Tafsir al-Maudu‟i li alQur‟an al-Karim. Politis. Mabahits fi „Ulum al-Qur„an. 2003.khilafah1924. Disertasi tidak dipublikasikan. Surabaya: Percetakan An-nabhan Al-Qathan. Fakhruddin.DAFTAR RUJUKAN Abu Zayd. Qasim. Al-Mar‟ah fi al-Qur‟an.org diakses tanggal 4 Nopember 2007 Al-Nawawi. 2007.com/reviews/item/ 1 tanggal 25 Oktober 2008 Ainin. Rifka. Mohd Rumaizuddin. dan Normatif. Nashr Hamid.abim. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Afthon. Abbas Mahmud. Beirut: Dar al-Ta‘aruf li al-Mathba‘ah Amin. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ al-turats al-Islami Al-Shadr. 2002. At-Tijariyah: Beirut. Pertanyaan dalam Terjemahan Al-Quran: Suatu Kajian Pragmatik. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Ar-Razi. Muhammad Baqir..org. Ath-Thabari. Uqud Al-Lujain fi Bayan Huquq al-Jauzain. tt. Fuad Abd. Al-‘Aqqad. Moh.multiply.my . 1970. 1962. Manna‘. 1986. Ittijah al-Tafsir fi al. Al-Halaby: Mesir. Jami'ul Bayan fi Tafsir alQuran. 1984. 2005.Qarn al Rabi‟ al„Asyr. Zahir Ibn ‗Awad. Muhammad Ibn Umar. 1973. tt. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ alturats al-Islami Al-Jawi. Kairo: Dar al-Hilal Al-Alma‘I. 1993At-Tafsir al-Kabir. M Shiddiq. Dekonstruksi Jender (Terj.). Mansyurat al ‗Ashr al-Hadis Al-Rahman. Tokoh Islam Kontemporer. Al-Madrasah al-Qur„aniyyah al-Tafsir al-Maudu„I wa al-Tafsir al-Tajzi„I fi al-Qur„an al-Karim. Kairo: Dar A1-Ma‘arif Annisa. Mendudukan Poligami dalam Islam : Tinjauan Historis. 2007. Muhammad Ibn Jarir. 2001. 1954. Artikel diambil dari situs http://www. Ghazali. Laporan Data Kasus Tahun 2001. Tafsir al-mishbah pesan dan kesan dan keserasian AlQuran diakses dari situs: http://afthon.

Fiqh as-Sunnah. Ibn Surah.htm. Sayyid Muhammad Ali. Imam Fakhruddin Ar-Razi.duniaesai-.id/tafsir detail. Islam Menggugat Poligami. Dikutip dari situs http://members. 1990. edisi Kamis 18 Januari 2007. Edisi 2 Shihab.com 2006 tanggal 25 Oktober 2008 Rasyid Ridha. Siti Musdah. Acep. Penetapan Hukum Islam Secara Tekstual dan Kontekstual: Tinjauan Mufassir. Analisis Jender dan Tranformasi Sosial (Resensi Buku).htm. Beirut: Dar el-Fikr Iman. 2004. . Peningkatan Kesetaraan dan Kesetaraan Jender dalam membangun Good Governance. 2000.com/gender/gender2.Ibn Katsir. 2006.com2006/12/aa-gym-poligami-dan-islam/ Diakses tanggal 18 Februari 2007. tanggal 15 Februari 2007. Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum. Muhammad. Artikel diakses dari situs http://almudarris. Nofie. 1985. Tafsir al-Manar. Kairo: Al-Manar Jilid IV Sabiq.com/2008/06 tanggal 25 Oktober 2008 Qasim. 2004.kesrepro. 2007.tripod. Abu Isa Muhammad Ibn Isa. Mohammad. No. Tafsir Al-Mishbah. Shihab. 2003. Poligami. Artikel diakses dari situs: Http//situs. Tafsir Al-Quran al-Adhim. diakses tanggal 1 April 2007. Sayyid.psq. dan Islam. Artikel diakses dari situs http://ichwanzt. Aa‟ Gym. Artikel diakses dari situs: http://www. tt. Artikel dari situs: http://nofieiman-. Biografi Quraish Shihab. Penerbit Mizan: Bandung. dalam Jurnal Perempuan. Februari Subhan. Al-Ibnu. Jakarta: Gramedia Pustaka utama Nor Ichwan. Quraish.asp. Iyazi. 35 Th XVI. Artikel dikutip dari situs www.com) diakses tanggal 4 Nopember 2007 Sari.multiply. Mencari Teori Kesetaraan: Analisis Jender Vs Teori Hukum Islam.info/gendervaw/agu/-2004/gendervaw01. Zaitunah. Koran Kompas.blogspot. 2008. 1997. Mayang. tanggal 15 Februari 2007. 1992. 2004.or. Aa Gym: Saya Tidak Kecewa Mulia. Sugiri. Muhammad Quraish. Tt. Al-jami‟ al-Sahih Juz 3. dalam Dialog. Sulayman Mar'i: Singapura.

Ibnu Katsir. Biografi Syeikh Ath-Thabari.Syahrur. http://www. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Wahbah. 1999. Nasaruddin. Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu. Artikel diakses dari situs http://nothingman2run. Az-Zuhaili. Metode Penelitian Berprespektif Jender tentang Literatur Islam. 1990.org/wiki/ tanggal 25 Oktober 2008 Tohe. Sosok Mufassir Sejati. 1999. Beirut: Dar el-Fikr Wahbah. Beirut: Dar el-Fikr . 1992. Malang: LEMLIT Universitas Negeri Malang Umar.com/ tanggal 25 Oktober 2008 Tanpa Penulis. At-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asySyari'ah wa al-Manhaj. Al-Kitab wa al-Qur'an.wikipedia. 2007. 2007. dkk. or. Artikel diakses dari situs http://id.alsofwah. Muhammad. dalam Jurnal A1-Jami‘ah. No.id/ Tim Wikipedia Indonesia. 64. 2000. Ahmad. Abdullah bin Abbas. 2007. Laporan penelitian dana DIK 2000. Az-Zuhaili. Damaskus: Penerbit Ahali Tanpa Pengarang. Relasi Jender dalam al-Qur'an Menurut Pandangan Para Mufassir.wordpress.

diharapkan bisa berperan sebagai usaha preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT. Penelitian 3 tahap dilakukan dengan fokus peran lembaga dan kasus-kasus KDRT yang muncul dan bagaimana penylesaiannya di tiap lembaga. strategi. sosialisasi. faktor pendukung dan penghambatnya. Diperlukan sosialisasi untuk aparat terkait maupun edukasi untuk masyarakat. bahkan ditingkat aparat penegak hukum belum termotivasi untuk memahami substansi penting dari UU PKDRT. Namun upaya komunikasi. Namun hukuman yang diputuskan PN untuk pelaku masih belum mencerminkan rasa keadilan. informasi. BP-4 lebih berperan sebagai lembaga konseling sebelum kasus masuk di PA dan Unit PPA Kepolisian dalam lembaga andalan penegak UU PKDRT. Kata-kata kunci: Undang-undang.Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Abstrak: Undang-undang Republik Indonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT) disahkan dan diundangkan pada 22 September 2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengadilan agama menangani kasus secara perdata. edukasi Siti Malikhah Towaf adalah dosen Jurusan Sejarah FS Universitas Negeri Malang . Apalagi aparat di tingkat grass roosts dan masyarakat banyak yang belum tahu substansi UU PKDRT. KDRT. edukasi dan sosialisasi undang-undang tersebut masih minim.

akibatnya lapisan bawah tergantung pada lapisan atas. Kehidupan keluarga banyak yang masih jauh dari sejahtera baik lahir maupun batin. jika terjadi dalam dalam keluarga maka ada kecenderungan anggota keluarga yang lain. stereotipi/pelabelan negatif sampai berbagai bentuk kekerasan dalam keluarga yang disebut juga gender related violence. karena kesempatan mengambil keputusan berada pada lapisan atas (Astuti. Sebagai individu maupun anggota masyarakat. vertikal antara laki-laki dan perempuan sebagai suami-isteri maupun anggota keluarga. Jika terjadi kekerasan dalam keluarga maka akan muncul ancaman bagi keutuhan keluarga dan kesejahteraan anggota-anggotanya. anak-anak yang menyaksikan akan menjadi generasi penerus kekerasan jika mereka berkeluarga kelak. Dalam pola relasi vertikal. sehingga ditempatkan dalam posisi subordinate/pelengkap (Fakih. 2003:5). Krisis rumah tangga. Kemiskinan. 2003). Perempuan dianggap lebih lemah. Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) semakin meningkat. gampang memicu pertengkaran. penganiayaan bahkan pembunuhan. Perubahan sosial dan ketimpangan struktur sosial telah memunculkan kesenjangan sosial. 2002:24). pengangguran memicu berbagai kriminalitas. tidak mampu berperan sebagaimana laki-laki. subordinasi. dimana lapisan atas mempunyai kesempatan ―melakukan segala sesuatu‖ untuk menentukan dan mengatur kelompok manusia yang berada di lapisan bawah. ketika letupan psikologis tidak terkendali dan meluap keluar dalam bentuk kekerasan atau tindakan agresif yaitu tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. pada umumnya korban adalah . atas dan bawah. manusia mempunyai potensi untuk melakukan kekerasan. Pola hubungan asimetris ini melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan gender seperti marginalisasi.Menurut Fakih (1996) kekerasan adalah serangan atau invasi terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. sekelompok kecil anggota masyarakat berada pada level "menengah keatas" diuntungkan oleh struktur sosial itu dan sebagian besar anggota masyarakat lainnya "harus bertahan' dalam situasi kemiskinan (Katjasungkana. Ketika budaya masyarakat cenderung patriarkhis maka budaya tersebut juga akan mewarnai kehidupan keluarga dalam bentuk hubungan asimetri. Kekerasan dan tindakan agresif biasanya berlanjut. hirarkis. Kehidupan yang semakin berat menimbulkan berbagai krisis dalam masyarakat.

2A02 ada 5.787.099 kekerasan ekonomi. karena mereka terutama lurah adalah ujung tombak untuk menangani kasus-kasus KDRT (Towaf. Perlindungan anak. 2007).659 kasus. 3. lembaga pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi. dan masyarakat.2005 ada 20. tidak tahu bahwa penelantaran ekonomi termasuk dalam kekerasan dalam rumah tangga (Wartawan Kompas. Undang-undang Republik lndonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) diundangkan pada 22 September 2004. apalagi aparat di tingkat grass roots seperti aparat kepala desa dan stafnya. 2002). Hasil penelitian akan bermanfaat bagi kepentingan teoritis keilmuan di bidang Sosiologi. 801 kekerasan fisik. Kepala unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Malang sangat mengharapkan ada program sosialisasi kepada para Lurah/Camat di wilayahnya.23. apa yang terjadi pada perempuan? Mengapa semuanya itu terjadi? dan bagaimana kita dapat mengubah dan memperbaiki dunia sosial untuk membuatnya menjadi tempat yang lebih adil bagi perempuan dan semua orang? Undang-undang adalah kebijakan publik yang berfungsi untuk mengubah masyarakat/social engineering.165. tahun 2003 ada 7. 2006 ada 22. 2007). Hasil penelitian ini juga memiliki manfaat praktis. hasil penelitian ini mendukung hal tersebut. 2005). kasus-kasus yang terjadi dan penyelesaiannya serta factor pendukung dan penghambatnya.391. Harapan tersebut akan terpenuhi pada penelitian tahap II/2009 fokus pada pengembangan . diharapkan bisa berperan preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT. 872 kekerasan seksual dan 590 kekerasan psikis (Wartawan kompas.163. psikologi. dari 7. 2004:1 & UURI no. Penelitian tahap I/2008 fokus pada eksplorasi kinerja kebijakan. namun upaya sosialisasi & edukasi undang-undang tersebut masih minim. mencermati kinerja lembaga yang menangani kasus konflik keluarga. yaitu berbagai kantor pemerintah lokasi penelitian. kebijakan public dan pelaksanaan Undang-undang.PKDRT.513.2004 ada 14. Dari segi bentuk kekerasan. Aparat terkait kurang faham.perempuan dan anak-anak biasanya tidak tahu harus berbuat apa (UU RI no. Catatan tahunan 2007 Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap perempuan menunjukkan kenaikan jumlah kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP): tahun 2001 ada 3. 1. Dari data-data tersebut lalu muncul pertanyaan krusial yang sering beredar di kalangan teoritisi feminis (Lengerman & Brantley.23.020. 2007:405).

1993:73) digunakan untuk menggali data secara lebih mendalam terhadap kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dan faktor-faktor penyebabnya di setiap lokasi penelitian terkait dengan peran perempuan dan wawasan kesetaraan gender dalam keluarga. 200) dan pengembangan yang menggabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. . sehingga wawasan mereka bertambah dan mengetahui apa yang harus dilakukan jika kasus KDRT terjadi di wilayahnya. terutama pada tingkat lurah dan bisa juga nantinya kepada aparat yang lain. Kompleksitas dan permasalahan kehidupan keluarga terutama perempuan dalam konteks apapun cukup besar dan memerlukan berbagai pendekatan dalam penelitian kualitatif (Denzin. 1997:22. Creswell. Mereka adalah ujung tombak untuk optimalisasi kinerja UU PKDRT. Dalam penelitian ini penggabungan pendekatan kuantitatif bersifat komplementer/untuk melengkapi pendekatan kualitatif yang lebih dominan (Branen. 2004 & Sevilla. Penelitian Tahap III fokus pada pengembangan strategi edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat. Perolehan data kuantitatif dapat memberi landasan (Branen. NK & Lincoln. Pendekatan kuantitatif yang dilakukan dengan mengumpulkan data statistik tentang kasus-kasus KDRT dan faktor penyebabnya. Pendekatan kualitatif multikasus dan multiksitus (Yin.1994:173--190). 1994:21) kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi undang-undang PKDRT. 1997:43) atau base line data bagi pendalaman kasus. METODE Rancangan dan Pendekatan Penelitian Rancangan penelitian ini adalah penelitian kebijakan (Dunn.strategi sosialisasi UU PKDRT kepada aparat terkait. bagi aparat sasaran maupun berbagai kelompok masyarakat. 1994:163). Pendekatan kualitatif juga digunakan untuk eksplorasi (Creswell.

Sesuai dengan rancangan penelitian kualitatif multikasus dan multisitus maka penelitian mendalam dilakukan terhadap setiap lokasi (Sevilla. aparat dokumen. wawancara kajian dokumen. Disamping itu dilakukan juga observasi dan wawancara informal untuk mengawali pengumpuian data kualitatif (Glesne & Peshkin. wawancara kajian dokumen. Tim peneliti mengunjungi 6 lokasi tersebut dan mengumpulkan data untuk menjawab semua pertanyaan penelitian yang ditetapkan. Sebagai upaya melacak kasus yang diberkas P21 dan diajukan untuk diadili. khususnya Kantor Pengadilan Agama (PA) Kota dan Kabupaten Malang. dan unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Kota dan Kabupaten Malang. penghambat Sumber data Lokasi. Pelestarian Perkawinan (BP-4) Departemen Agama. Setelah anjangsana pertama untuk perkenalan dan menyampaikan maksud kedatangan. Bell. dilakukan kunjungan berikutnya dalam rangka pengumpulan data kuantitatif. kaj dok. dok. aparat Metode/Teknik Observasi. 1993.aparat dokumen. tersangka lokasi.kasus KDRT Faktor penyebab Penyelesaian kasus KDRT Pendukung. peneliti juga mendatangi kantor Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang sebagai lokasi pelengkap. Demikian juga peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data dan analisis data penelitian. wawancara kajian dokumen. Kunjungan ke lokasi penelitian dilakukan beberapa kali sesuai dengan pengumpulan data yang dibutuhkan.wawancara kajian dokumen. 1992). Kehadiran peneliti di lokasi penelitian dilakukan baik untuk pengumpulan data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. diskusi Lokasi Penelitian dan Kehadiran Peneliti Ruang lingkup Lokasi penelitian adalah Kota dan Kabupaten Malang. 1992:6). wawancara. Aparat dokumen. wawancara observasi.73. aparat korban.Ruang Lingkup Khusus untuk Tahun I/2008 Eksplorasi Kinerja UU PKDRT Luaran/output Profil dan peran lembaga Kasus. Pembinaan. Kantor Badan Penasehatan. .

serta buku Undang-undang tentang KDRT 3. kasus-kasus KDRT dan penyelesaiannya. Lokasi penelitian yaitu 6 kantor: Pengadilan Agama kota dan Kabupaten. 4. 1980:52). Telaah buku/literatur yang berkaitan kajian sosiologi tentang kekerasan dan kekerasan dalam rumah tangga. Pejabat dan staf terkait dari kantor unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang. Observasi dilakukan di 6 lokasi untuk memperoleh gambaran prosedur penanganan kasus-kasus keluarga dan khususnya kasus KDRT di masing-masing lokasi. 5. Dokumen tentang berbagai kasus KDRT. UU PKDRT no 23 tahun 2004 dan berbagai aturan/dokumen mendukungnya dari berbagai kantor terkait. bagaimana perasaan tersangka maupun korban.Sumber Data dan Informan Kunci 1. segala aktifitas dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. 4. Telaah dokumen dilakukan untuk memperoleh informasi tentang profil lokasi. 1993:85). Kota dan Kabupaten Malang. sebagai langkah awal pemantapan landasan teoritis dan operasionalisasi penelitian (Bell. Pejabat dan staf terkait dari kantor Pengadilan Agama di Kota dan Kabupaten Malang. Wawancara informal dan mendalam dilakukan kepada informan kunci yang dijaring dengan menggunakan tehnik purposive. unit PPA Kepolisian Kota dan Kabupaten ditambah Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang. dokumen UU PKDRT. 3. Gender dalam perspektif Islam. ketimpangan gender yang bisa memicu munculnya kasus KDRT. dan bagaimana penyelesaian kasus-kasus tersebut (Sevilla. literature ataupun hasil penelitian terkait kasus-kasus KDRT. 1992:53--58). Teknik Pengumpulan Data 1. 2. dilakukan needs assessment awal untuk pengembangan strategi sosialisasi dan edukasi untuk aparat dan masyarakat (Pratt. Pejabat dan staf terkait dari kantor BP-4 Depag. digali . 2. BP-4 Depag Kota dan Kabupaten.

pengelompokan kasus yang relevan. Wawancara informal dilakukan berkaitan dengan upaya menjaring data tentang faktor-faktor penyebab kasus KDRT. 1993:85. kinerja/ implementasi UU PKDRT. sarana dan prasarananya dalam menangani kasus-kasus KDRT (Sevilla. Data dari telaah literature dan dokumen dianalisis secara induktifkomparatif dihasilkan komponen-komponen untuk menjawab pertanyaan penelitian (Miles & Hubberman. kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi. kasus apa yang terjadi. faktor penghambat. 3. Muhajir. 1990:135--152). 1990). 1996). 1987:17--24). Data dari observasi dianalisis secara diskriptif dan berfungsi sebagai sumber informasi tentang profil kelembagaan. pendukungnya. Data tersebut dianalisis secara deskriptif komparatif/dibandingkan dikelompokkan menurut variasi jawaban kemudian dibuat rangkuman (Gibbon & Morris. Analisis Data 1. 1984. Keabsahan data kualitatif dilakukan dengan proses trianggulasi antara data yang dijaring lewat telaah literatur. faktorfaktor penyebab terjadinya kasus dan bagaimana UU PKDRT difungsikan untuk mengatasinya. apa pendukung dan penghambatnya. . Moleong. 3. Keabsahan data kuantitatif yang dijaga dengan kecermatan penghitungan kasus KDRT yang terjadi di setiap lokasi. 2. bagaimana kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi agar UU PKDRT lebih difahami (Moleong. 2. Kecukupan referensi dapat digunakan untuk membandingkan data yang diperoleh dengan berbagai kritik tertulis yang terkumpul.informasi tentang kinerja kebijakan. Keabsahan Data 1. dokumen dengan data yang diperoleh lewat wawancara informal maupun lewat diskusi. sehingga peneliti bisa memperoleh gambaran yang lebih mantap tentang perolehan data penelitian.

penelantaran ekonomi. yang sering penyebab konflik dalam rumah tangga bersifat multifactor. Pengadilan Agama merinci factor penyebab mencapai 14 kategori seperti: krisis moral. Ada kemungkinan di masa depan PA juga berfungsi sebagai Pengadilan Pidana. namun sekarang masih pada tataran wacana di tingkat pusat (wawancara Ketua PA Kota 26/9/08). kekejaman mental. Selain itu juga dilakukan review dengan teman sejawat yaitu antara peneliti dengan tehnisi yang terlibat dalam proses pengumpulan data dalam rangka mencermati keabsahan data (Moleong. Hal tersebut terjadi karena secara kelembagaan PA masih sebagai pengadilan perdata. Jumlah kasus yang ditangani PA Kota Malang tahun 2006 s/d Agustus 2008 adalah 2789 kasus. 1994:241). . Disini jelas bahwa kinerja lembaga sangat dibatasi oleh status lembaga sebagai pengadilan perdata yang tidak akan membawa kasus sampai ke perkara pidana. Ribuan kasus ditangani oleh PA Kabupaten Malang dan ratusan kasus ditangani oleh PA Kota Malang setiap tahun. Sementara itu jumlah kasus yang di tangani PA Kabupaten jauh lebih banyak lagi yaitu pada tahun ada 7192 kasus. wawancara staf & ketua pengadilan). yang paling dominan adalah kasus kekerasan psikis dan ekonomi. namun kasus-kasus tersebut ditangani secara perdata dengan penyelesaian cerai/rujuk. yang menangani kasus dan konflik yang terjadi dalam keluarga dengan muatan berbagai bentuk kekerasan ada di dalamnya. tidak ada tanggung jawab. Denzin. HASIL Profil & Peran Kelembagaan Lembaga yang terkait UU PKDRT adalah Pengadilan Agama. seberat apapun kasus KDRT yang ditangani.4. penganiayaan berat. Oleh karena itu peran PA dalam penanganan kasus KDRT masih dalam lingkup perdata yang berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (Dok PA. pologami tak sehat dll. Peran kelembagaan PA sebagai pengadilan perdata telah berdampak pada lemahnya perhatian aparat PA terhadap UU PKDRT karena dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka tidak menggunakannya sebagai landasan kerja (wawancara dg staf dan hakim PA 22/7/08). 1990:I70--187.

pembinaan dan Pelestarian Perkawinan. Jumlah . Mereka hanya sekali tempo menggunakan informasi dari UU PKDRT untuk kepentingan konseling dengan klien yang mereka tangani. adalah Badan Penasehatan. mereka mengetahui UU PKDRT justru dari interaksi dengan orang lain termasuk peneliti. Tabel 1 Kasus KDRT di Pengadilan Agama Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kota Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 9 31 Kekerasan psikis 326 618 267 Kekerasan seksual 15 21 49 Kekerasan ekonomi 430 449 497 Jumlah 788 1097 844 Sumber Dokumen di PA Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kabupaten 2005 8 1472 65 2423 3960 2006 16 1436 158 2316 3926 2007 15 1448 231 2438 4132 2008 55 865 147 1594 2664 Lembaga lain yang terkait dengan kinerja/implementasi UU PKDRT yang menjadi lokasi penelitian. BP-4 tidak berpihak kepada perceraian tetapi berpihak pada pelestarian perkawinan. Kasus-kasus yang ditangani BP-4 Kota pada 3 tahun terakhir berjumlah 183 dengan Di BP-4 Kabupaten Malang ada 43 kasus. Telah terjadi perubahan paradigma BP-4 yang tercermin dari kepanjangan akronim BP-4.Penyelesaian akhir kebanyakan adalah perceraian dan hanya sedikit kasus yang berakhir rujuk. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departeman Agama. Rincian jumlah kasus dipaparkan pada Tabel 1. Staf BP-4 juga menyatakan bahwa tidak ada sosialisasi langsung tentang UU PKDRT terhadap mereka. semula sebagai singkatan Badan Penasehatan Perkawinan dan Perselisihan Perceraian menjadi Badan Penasehatan. Oleh karena itu peran BP-4 hanya pada tahap konseling. tidak pernah sampai ke implementasi UU PKDRT sebagai instrument pidana bagi pelaku KDRT. Landasan kerjanya juga senada dengan PA yaitu ajaran agama Islam dan hukum Islam. Kasus-kasus yang ditangani banyak yang berlanjut ke Pengadilan Agama menuju perceraian. lebih berperan dalam memberi kosultasi/kepenasehatan terhadap kliennya.

Tabel 2 Kasus KDRT di BP-4 Kota dan Kabupaten Malang BP-4 Kota BP-4 Kabupaten 2008 3 5 8 Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 Kekerasan fisik 2 8 12 5 4 2 Kekerasan psikis 23 22 30 23 5 10 Kekerasan seksual 1 4 7 10 5 8 Kekerasan Ekonomi 7 22 13 27 1 Jumlah 33 56 62 65 15 20 Sumber Dokumen di BP-4 Departemen Agama Kota dan Kabupaten Malang. Melacak Kinerja/Implementasi UU PKDRT oleh Unit PPA Kepolisian Lembaga yang tanggap paling awal dengan diundangkannya UU PKDRT adalah kepolisian karena disebut secara eksplisit oleh UU PKDRT. Untuk kasus-kasus berat yang tidak bisa didamaikan dirujuk ke Pengadilan agama menuju perceraian. karena sudah ada kerjasama yang baik dengan Rumah Sakit Kanjuruhan yang membuka Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) sejak tahun 2005 untuk memberi pengobatan dan rawat inap gratis selama 3 hari bagi korban KDRT. Faktor penyebab konflik rumah tangga antara lain: ketidak cocokan. Pada awalnya unit PPA ibarat lone ranger yang berjuang sendiri untuk kinerja/implementasi UU PKDRT. Unit PPA sekarang menjadi tempat pengaduan masyarakat yang mengalami kasus KDRT. masalah ekonomi. Rumah sakit. Oleh karena itu secara kelembagaan unit PPA adalah andalan utama dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung.kasus di kabupaten relative justru lebih sedikit karena BP-4 Kabupaten lebih memprioritaskan PNS yang sudah membawa surat pengantar dari Badan Pengawas Pemerintah Daerah. dikembangkan RPK (Ruang Pelayanan Khusus) menjadi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak. Dinas sosial dan LSM. kemudian mulai ada kerja sama dengan lembaga terkait seperti Bagian Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten Malang. . Sementara BP-4 Kota Malang menerima semua klien yang datang tanpa membedakan PNS atau bukan. perselingkuhan. Rincian kasus disajikan di Table 2.

perselingkuhan. Dari sekian banyak kasus yang dominan di Unit PPA Kota maupun Kabupaten adalah kekerasan fisik dan seksual.Jumlah kasus yang ditangani selama 4 tahun terakhir adalah 285 kasus di unit PPA Kota Malang. korban dirujuk ke Women Crisis Center yang ada di Malang seperti WCC Dian Mutiara. mendapat perlindungan hukum dari yang berwewenang dan pelayanan kesehatan. Tabel 3 Kasus KDRT di PPA Kepolisian Resort Kota dan Kabupaten Malang PPA Kota Malang PPA Kabupaten Malang Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 51 60 60 19 53 87 32 Kekerasan psikis 3 1 16 16 19 9 22 25 Kekerasan seksual 4 17 15 15 51 26 65 18 Kekerasan ekonomi 2 2 2 6 10 36 34 Jumlah 24 71 93 97 85 98 210 109 Sumber Dokumen di Unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang Kasus-kasus KDRT tersebut muncul dengan berbagai penyebab kecemburuan. perzinaan. Layanan kesehatan ini belum dipenuhi secara optimal. penelantaran ekonomi. diberikan pelayanan medis gratis. (3) Pendampingan. keterlibatan fihak ketiga. Titian Hati. untuk sementara korban di PPA Kota Malang dirujuk ke RSSA Malang. dijamin dan sudah dipenuhi. Rincian kasus disajikan pada Tabel 3. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang selama 4 tahun terakhir ada 502 kasus. perkosaan. (2) Kerahasiaan Korban. ketidak puasan. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang telah punya kerja sama yang baik dengan PPT Rumah Sakit Kanjuruhan yang menggratiskan visum dan rawat inap bagi korban KDRT selama 3 hari. Dll.. namun kadang-kadang bisa muncul/termuat di koran karena kegigihan/kecerobohan wartawan. Hak-hak korban dan bentuk pemenuhannya: (1) Perlindungan: korban diberi perlindungan keamanan 1x24 jam di Polres Kota Malang. Jika perlu didampingi . tetapi untuk rawat inap dan visum dokter dalam kasus tertentu belum bisa digratiskan oleh pihak rumah sakit. persetubuhan dengan anak. adik ipar sendiri ataupun dengan remaja tidak berdaya (kasus perstubuhan dengan remaja cacat bisu-tuli).

keluarga. (3) Sistem mekanisme layanan (kerjasama) yang mudah di akses korban yaitu dengan Women Crisis Center. lebih banyak konseling psikologis belum mengarah pada bimbingan keagamaan. siapa mereka dan bagaimana peran mereka. Saksi pendamping biasanya mendapat perlindungan dari kepolisian. kesehatan. Demikian juga aparat di tingkat grass roots seperti Lurah dan perangkat desa banyak yang tidak tahu undang-undang PKDRT dan prosedur pelaporan ketika terjadi kasus di wilayahnya. paling lama 7 hari korban memperoleh perlindungan keamanan oleh PPA. (2) Dalam wktu 1x24 jam perlindungan perlu minta surat penetapan perlindungan pengadilan. (2) Ketersediaan aparat. dan (4) Membantu proses penetapan perlindungan sudah menjadi bagian dari proses penanganan kasus KDRT hanya saja dalam hal perlindungan peran PPA masih kurang. yang disediakan bagi msayarakat yang tertimpa kasus KDRT adalah: (1) Ruang layanan yang cukup mamadai. dari masyarakat masih kurang. Ketua RT dan Ketua RW. biasanya pendamping korban dari keluarga atau WCC yang dirujuk (di rujuk PPA). (3) Kerjasama polisi dengan berbagai fihak untuk perlindungan. dengan cara sosialisasi di lingkungan masyarakat. dan (4) Bimbingan Rohani. ataupun rohani samapai saat ini mencukupi sesuai dengan kebutuhan. unit PPA.oleh penasehat hukum. di lingkungan tempat tinggal misalnya tetangga. saksi. belum dapat maksimum karena hanya sebatas memberi nasehat dan melerai agar tidak terjadi kekerasan lebih parah. Perlindungan masih dilakukan oleh petugas kepolisian. Peran masyarakat masih kurang. termasuk kesadaran hukum masyarakat dalam: (1) Mencegah tindak pidana. Kewajiban pemerintah terutama lembaga Unit PPA. Kesadaran hukum masyarakat masih rendah. teman korban). (4) Mekanisme Layanan Standar Kepolisian Unit PPA seperti yang sudah dijelaskan diatas. dan (5) Perlindungan (pendamping. ada harapan nantinya diwujudkan Pusat Pelayanan terpadu (PP) namun belum maksimal. . Perlindungan yang dilakukan oleh unit PPA Kepolisian Kota maupun Kabupaten Malang dengan prosedur: (1) Dalam waktu 1x24 jam sejak laporan. (4) Dalam menjelaskan hak-hak korban. (3) Memberi pertolongan darurat: yang paling awal adalah orang-orang di lingkungan terdekat terjadinya kasus-kasus. Kerjasama dengan WCC dari psikolog dari UIN Malang. sosial. Peran Masyarakat. (2) Memberi perlindungan. Pemahaman tentang Undang-Undang masih sangat lemah.

Layanan advocate di PPA Kota Malang. penangkapan pelaku dapat dilakukan tanpa surat perintah jika sudah diyakini sebagai pelaku.belum pernah terjadi. ringan= tuntutan 4bl/dan denda 3jt. penuntutan pemeriksaan persidangan. dengan tuntutan hukuman maksimum: 5th/dan denda 15jt. luka berat = 10th/dan denda 30jt. Ketentuan pidana menurut UU PKDRT: (1) Fisik.identitas petugas. penyelidikan: penyidik atau petugas PPA yang menjelaskan kepada korban. untuk penyidikan. mati = 15th/dan denda 45jt. masalah selesai secara kekeluargaan maka penahanan ditangguhkan. (5) Pemeriksaan kesehatan. (6) Pekerja sosial dan layanan konseling. jika kasus berat kerja sama staf PPA dengan Psikolog dan Rumah Sakit Jiwa secara terpadu. pemulihan korban agak sulit ditangani karena menyangkut kemampuan ekonomi keluarga yang mengalami kasus KDRT. Rumah aman belum ada. (3) Seksual. paling lama perlindungan 1 tahun bisa diperpanjang sesuai kebutuhan juga belum pernah terjadi. (7) Layanan pendamping untuk penyidikan dan penuntutan belum ada. memaksa orang dalam rumah tangga melakukan hubungan seksual . atau korban memberi kuasa orang lain/kepolisian. Untuk kasus penelantaran. (3) Untuk kasus seksual maka penanganannya adalah kerjasama staf unit PPA dengan RSSA. visum ke RSSA Malang atau Rumah Sakit Kanjuruhan. Pemulihan korban: jika kasus KDRT: (1) Fisik yang menangani adalah RSSA atau di PPT Rumak sakit Kanjuruhan. sementara dicari rumah kos yang aman. (8) Laporan oleh korban. yang sering terjadi korban dititipkan ke kerabat yang dipercaya untuk menjaga jarak dari pelaku/tersangka. pemulihan korban dilakukan secara terpadu oleh staf PPA dan Dinas Sosial. (9) Permohonan perlindungan bisa tertulis/lesan. (2) Jika kasus KDRT Psikis yang menangani adalah staf unit PPA. tidak ada penangguhan penahanan. tempat tinggal alternative: kerja sama WCC Dian Mutiara dan Titian Hati. dan (11) Pelanggaran terhadap perintah perlindungan oleh pelaku belum pernah terjadi. (10) Dalam waktu 1x24 jam. dan (4) Untuk kasus bidang ekonomi ada kasus. dalam 7 hari ketua pengadilan wajib mengeluarkan surat penetapan perlindungan. (2) Psikis. Bila ternyata korban mencabut laporan. ringan = 4bl/dan denda 5jt. yang dilakukan secara terpadu oleh kepolisian dan Dinas Kesehatan. dengan tuntutan 12th/dan denda 56jt. dengan tuntutan maksimum 3th/atau denda 9jt. ada 1 orang.

Bagaimanakah ketentuan tersebut dalam praktek? Lembaga lain sebagai partner Unit PPA dalam penegakan hukum dan implementasi UU PKDRT adalah Kejaksaan dan Pengadilan Negeri. 2006: 211--223). Jaksa Penuntut Umum dan Hakim dalam menangani kasus. Kasus yang muncul pada tahun 2008 masih dalam proses pengadilan (Dokumen Pengadilan Negeri Kota Malang). jika korban mengalami gangguan fisik dan kejiwaan. demikian juga Pengadilan Negeri dalam mengadili kasus KDRT masih mengacu pada KUHP. Penelantaran bisa juga pengabaian kewajiban ataupun menciptakan ketergantungan ekonomi pada pelaku. disamping bersikap positif. Di Kabupaten Malang. Adapun 6 kasus lainnya dengan modus berbagai kekerasan fisik dituntut hukuman bervariasi antara 4 bulan sampai 10 bulan yeng kemudian diputus hukuman 2 bulan 15 hari sampai 9 bulan. 4 bulan. Hal tersebut sejalan dengan sejalan dengan temuan para aktifis hukum bahwa untuk menegakkan hukum yang berperspektif perempuan kesulitan awal adalah pada sumber daya manusia. tahun 2006 ada 8 kasus yang telah diputus hukumannya oleh Pengadilan Negeri. 5 bulan 7 dan 1 kasus perkosaan yang diputus hukuman 7 tahun. staf kejaksaan sendiri belum sensitive terhadap UU PKDRT. masih banyak juga sikap-sikap negatifnya (Irianto & Nurcahyo. Sampai saat ini diantara kasus KDRT yang ditangani unit PPA Polresta Malang. Ada 5 kasus yang telah diputus dengan variasi hukuman: 2 bulan 15 hari. 1 kasus dengan terdakwa SS dengan modus menusuk korban sehingga luka berat dituntut hukuman 2 tahun 6 bulan dan diputus hukuman 2 tahun. diadili di Pengadilan Negeri. dan (4) Penelantaran: pelaku dituntut hukuman 3th/15jt. Aparat Polisi. ada 9 kasus (tahun 2007) dan 2 kasus (tahun 2008) yang masuk kategori P21 dan diberkas ke Kejaksaan. Dari kasus-kasus tersebut ada 1 kasus dengan terdakwa WY dengan modus memperkosa korban berulang kali dituntut hukuman 5 tahun dan diputus hukuman 4 tahun. keguguran dan rusak alat reproduksi pelaku dituntut 5--20th/dan denda 25-100jt.dituntut hukuman 15 th/dan denda 4--15jt. para penegak hukum yang berperspektif perempuan masih kurang. Pengadilan Negeri yang menetapkan hukuman berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. . Di berbagai tingkat. Namun dari informasi yang diperoleh. Untuk Penyelesaian kasus-kasus KDRT.

tetapi hukuman yang dijatuhkan gletek saja dalam hitungan bulan. alat bukti sah . Ada 1 kasus dengan modus perkosaan dituntut 5 tahun yang kemudian diputus 3 tahun 6 bulan. Menurut UU PKDRT tindak pidana KDRT adalah delik aduan. selebihnya bukan delik aduan. Dari penyelesaian kasus yang masuk kategori P21 dan diproses di Pengadilan Negeri memperoleh putusan yang bervariasi. penuntutan. Dapat diaktakan jika para penegak hukum sendiri masih belum sensitive dengan peradilan yang berkeadilan gender dan masih dalam proses mengenal dan memahami UU PKDRT. Ketika hal ini di cross cek ke staf kepolisian unit PPA Kabupaten Malang muncul komentar bahwa putusan tersebut sungguh mengusik rasa keadilan. Dari penelitian ini diperoleh kesan bahwa selama 3-4 tahun kinerja/implementasi UU PKDRT yang diundangkan pada tahun 2004 itu masih dalam tahap pengenalan.Tahun 2007 ada 8 kasus yang sudah diputus hukumannya dengan modus operandi berbagai bentuk kekerasan fisik. hanya pasal 44 ayat 4 dan pasal 45 ayat 2. tuntutan hukuman 4 bulan s/d 1 tahun 6 bulan. tidak sepadan dengan proses pemberkasan yang memerlukan kerja keras menyiapkan perlengkapan yang terdiri dari 25 s/d 30 an surat-surat. Dari Ketua unit PPA Kota Malang muncul komentar bahwa proses pengadilan memang ada unsur legal reasoning yang menjadi pertimbangan pemutusan hukuman. kasus yang dijatuhi hukuman dalam hitungan tahun adalah kasus perkosaan. pemeriksaan mengikuti ketentuan hukum secara pidana yang berlaku. jika kasus-kasus diberkas oleh kepolisian dengan UU PKDRT tetapi dalam proses di Pengadilan Negeri lebih berdasarkan KUHP lalu untuk apa UU PKDRT? Untuk menjawabnya diperlukan penelitian lebih lanjut. tetapi yang jelas memang kasuskasus KDRT setelah masuk di Pengadilan Negeri diadili dengan KUHP. kendala yang dihadapi adalah saksi KDRT biasanya 1orang sedangkan di KUHP. dan akhirnya kasus-kasus tersebut diputus hukuman terendah 3 bulan 13 hari dan tertinggi hanya satu kasus diputus hukuman 1 tahun 6 bulan sebagaimana tuntutannya. belum sepenuhnya dipakai sebagai landasan penyelesaian kasus hukum. Nah. Ketentuan lain (1) Penyidikan. Sedangkan kasus dalam berbagai bentuk kekerasan fisik hanya diputus hukuman dalam hitungan bulan saja. Pada tahun 2008 s/d bulan Juni ada 6 kasus dengan modus berbagai bentuk kekerasan fisik yang cukup parah dengan tuntutan hukuman 3--5 bulan dan diputus hukuman antara 2 bulan 4 hari s/d 4 bulan.

Dalam hal ini pihak unit PPA menyayangkan terjadinya kasus penganiayaan berat yang layak diproes di Pengadilan Negeri. Sementara faktor internal bisa amarah. Muncul wacana yang menyatakan bahwa delik aduan pada UU PKDRT pantas direvisi (Wawancara staf Pengadilan Negeri. serta kurangnya sarana dan prasarana du unit PPA. Berbagai penyebab munculnya kasus KDRT di lembaga lokasi penelitian tersebut sejalan dengan analisis KDRT sebagai fenomena sosiologis dan psikologis. termasuk perlunya membangun Musolla yang lebih layak. sebagai kasus kriminal sangat disayangkan jika ditangani berdasarkan delik aduan. dibangun ruang tambahan yang lebih luas untuk kepentingan peningkatan kinerja. Kekerasan adalah wujud perilaku agresif yang pemicunya bisa bersifat eksternal maupun internal. Hanya saja kantor PA Kota Malang merupakan bangunan yang sudah lama. lingkungan social. Belum. penanganan kasus secara pidana merujuk KUHP. Faktor eksternal seperti kondisi geografis. Faktor penghambat utama bagi Pengadilan Agama (PA) dalam optimalisasi kinerja/implementasi UU PKDRT adalah status . dan memadai. Kepala PA yang baru merasa sudah saatnya kantor PA Kota Malang direnovasi. jika tersangka tidak mengaku maka diperlukan saksi ke-2. maka semakin kuat saja dorongan untuk munculnya tindak kekerasan. diancam. BAHASAN Faktor Pendukung dan Penghambat Pengadilan Agama Kota maupun Kabupaten Malang memiliki gedung. peralatan dan ketenagaan yang memadai. 2002) Ada saatnya penyebab perilaku yang bersifat internal dengan eksternal bergabung. merasa dihina. Apakah seorang saksi korban cukup untuk menyatakan bersalah jika disertai bukti lain.jika ada 2 saksi. rasa tidak suka. atau frustasi karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dsb (Rahayu. sarana. jadi jaksa minta saksi lagi. 4/9/08). (2) UU PKDRT berlaku sejak 22 September 2004. kesejangan generasibahkan anonimitas dlam masyarakat perkotaan. kemiskinan. KUHAP seperti sebelum ada UU PKDRT. Untuk kasus penganiayaan berat. kurangnya peran serta masyarakat dan lembaga yang terkait. tapi dicabut oleh fihak pelapor.

Layanan kepenasehatan dilakukan setiap hari pada jam kerja Senin sampai Jumat jam 08. psikiater. Oleh karena itu aparat PA kurang termotivasi untuk mempelajari UU PKDRT. mubaligh. hasil observasi peneliti juga menunjukkan bahwa Ketua BP-4 dan staf cukup welcome terhadap klien. (wawancara Pansek PA/16/9/08). tidak sampai ke putusan pidana. Oleh karena itu masih perlu jalan panjang jika bangsa ini memerlukan PA untuk ikut serta menerapkan UU PKDRT.kelembagaan sebagai lembaga pengadilan perdata. Sepanjang informasi yang diperoleh peneliti. 2006). tidak hanya soal kelembagaan dan pemahaman aparat terhadap undangundang tetapi juga perlunya budaya peradilan yang berperspektif perempuan dan sensitive gender (Irianto & Nurcahyo. sehingga sulit diarahkan ke rujuk atau damai. ketenagaan dan peralatan kantor termasuk computer yang siap digunakan. tidak ada sosialisasi tentang UU PKDRT ke aparat PA karena rujukan kerja mereka bukan itu. bahkan ketua BP-4 bersedia melakukan konsultasi di ruang kerja. kasus sudah berat sehingga tujuannya ke perceraian. 26/9/08) namun belum ada persiapan kelembagaan maupun ketenagaan dan perangkat hukum pidana dalam keluarga. Penyelesaian kasuskasus yang ditangani hanya diputus cerai atau damai. ruang pimpinan dan staf administrasi. Faktor Pendukung di BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah tersedianya kantor yang memadai. Faktor Penghambat kinerja BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah klien yang datang pada umumnya sudah parah kasusnya. Dalam proses kepenasehatan BP-4 melibatkan para volunteer yang terdiri dari ulama. klien tampaknya lebih senang konsultasi langsung di ruang ketua BP-4 (wawancara staf BP-4 Depag 22/7/08). psikolog. tetapi ruang konseling jarang digunakan. Kasus yang dibawa ke BP-4 Kota berasal dari masyarakat umum baik PNS atau non PNS. ada ruang khusus untuk kepenasehatan. Penanganan kasus sudah dilakukan dengan baik.00. Tetapi BP-4 Kabupaten khusus melayani PNS yang sudah diberi pengatar oleh Badan Pengawas Pemerintah Daerah.00 sampai dengan 15. konselor atau BP. Secara kelembagaan di PA sudah mulai muncul wacana di tingkat pusat untuk memfungsikan PA tidak hanya sebagai pengadilan perdata tetapi juga sebagai pengadilan pidana di masa mendatang (wawancara Ketua PA. Kasus pada umumnya disebabkan faktor utama ekonomi dan perbedaan latar .

PJ TKI dsb. BP-4 lebih tepat berperan sebagai jalur sosialisasi keberadaan UU PKDRT kepada klien yang datang konsultasi. mereka . ruang kepenasehatan kurang digunakan langsung kemeja kerja ketua. sejumlah 8 orang staf dan 1 orang ketua unit. ataupun edukasi kepada muda-mudi calon pengantin sebagai upaya preventif agar mereka tidak terjerumus menjadi pelaku/korban KDRT.belakang keluarga selanjutnya terkait dengan penyebab lainnya seperti kekerasan psikis. fisik dan seksual. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung karena didukung oleh PPT (Pusat Pelayanan Terpadu) di RS Kanjuruhan. Kanit PPA Kabupaten merasakan perlunya sosialisasi UU PKDRT di tingkat aparat desa seperti lurah dan jajaran aparat desa. Dalam implementasi UU PKDRT. Sekolah-Sekolah. karena merkalah ujung tombak yang mengawal implementasi UU PKDRT. semua staf yang berjenis kelamin perempuan bekerja dengan berbagai pakaian seragam non kedinasan sehingga penampilan ramah dan segar tidak menakutkan klien. sementara PPA Kota yang mengirim korban ke RSSA masih banyak kendala karena belum terbentuk PPT (Pusat Pelajanan Terpadu) disitu. Kerja sama dengan instansi terkait untuk membantu menangani kasus secara terpadu sangat diperlukan. Belum ada shelter atau tempat penampungan sementara untuk korban yang menunggu kasus disidik atau diselesaikan dan korban belum berani pulang ke rumah. Dalam Faktor penghambat kinerja Unit PPA. Jika ada kasus di daerah mereka. BP-4 secara rutin menyelenggarakan ―Suscatin‖ kepanjangan dari kursus calon pengantin. mempunyai desa binaan sebagai desa keluarga sakinah. diperlukan semacam rumah singgah. Disamping itu unit PPA juga didukung oleh tenaga professional dan berdedikasi terhadap tugasnya. Mereka memperoleh kesempatan refreshing/professional workshop secara bergilir 2 kali setahun. rumah inap korban KDRT. Sosialisasi UU KDRT secara insidental dilakukan oleh Kepala Unit PPA Polres Kota maupun Kabupaten Malang lembaga. Faktor pendukung di unit PPA Kepolisian Resor Kota maupun Kabupaten Malang adalah adanya kantor unit tersendiri walaupun tidak luas tetapi cukup fungsional untuk menjalankan aktifitas unit PPA. Komunitas Anak Jalanan. komunitas yang memerlukan: Panti Asuhan. diperlukan juga tenaga ahli untuk kasuskasus khusus. Penampilan para petugas di Unit PPA juga berbeda dari polisi pada umumnya.

tetapi substansi UU PKDRT baik aparat maupun msayarakat di tingkat grass roots tidak tahu. kekerasan apa saja yang diancam hukuman pada umumnya mereka mengira hanya kekerasan fisik yang korbannya babak belur. Faktor penyebab bersifat psikis dan ekonomi paling dominan. Di Badan Penasehatan. penanganan bersifat konseling psikologis dengan pendekatan agama. Sementara kekerasan psikis dan ekonomi sering dianggap bukan kekerasan. . Di Pengadilan Agama baik Kota maupun Kabupaten. penyelesaian damai banyak terjadi dan jika tidak bisa berdamai lagi diberi pengantar untuk di proses di Pengadilan Agama 3. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departemen Agama Kota maupun Kabupaten. penyelesaian berlandaskan hukum perdata dengan putusan cerai dan hanya sebagian kecil saja dengan putusan damai/rujuk. hampir semua kasus yang masuk jumlahnya mencapai ratusan sampai ribuan setiap tahun ada unsur KDRT. atau kekerasan seksual. Lembaga ini menangani kasus KDRT yang sangat bervariasi faktor penyebabnya. yang paling dominan faktor kekerasan fisik dan ekonomi yang kemudian memicu faktor lainnya penanganan bersifat konseling masih sangat ditonjolkan ditambah dengan penyadaran hukum dengan penahanan dan hukuman kepada tersangka jika tidak mengubah perilakunya.mestinya tahu bagaimana mengurusnya dan kemana melaporkannya. Setiap client diberi kesempatan konsultasi 3 kali. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kota dan Kabupaten Malang adalah lembaga andalan dalam kinerja/ implementtasi UU PKDRT. kalau ada kekerasan ekonomi dilaporkan adalah juga karena disertai kekerasan fisik. kasus yang masuk cukup bervariasi dari segi factor penyebabnya. namun ditangani secara perdata. 2. Istilah KDRT memang sudah mulai populer di masyarakat terutama lewat TV. Oleh karena itu yang paling dominan dilaporkan ke unit PPA adalah kekerasan fisik.

bantuan ahli untuk kasus-kasus khusus. Ada kasus berat yang bisa masuk kasus criminal tetapi dicabut oleh pihak pelapor. Sedangkan Polreskab pernah juga mengadakan penyuluhan incidental ke kecamatan. mengusik rasa keadilan. fihak Polres Kota pernah sosialisasi UU PKDRT kepada kepolisian Arhanud dan Brimob. ruang konseling masih campur dengan ruang tamu. Ada beberapa kasus dimana tersangka menghilang dan masuk DPO (Daftar Pencarian Orang/buron). . Ada beberapa kasus yang masuk kategori P21 yang diberkas untuk dilimpahkan ke kejaksaan dan Pengadilan Negeri dan tersangka benar-benar dijatuhi hukuman. Faktor penghambat yang dirasakan oleh unit PPA adalah belum ada perhatian dari dinas instansi terkait seperti Biro Pemberdayaan Perempuan. mereka secara bergilir memperoleh penyegaran 2 X setahun untuk peningkatan profesionalismenya. untuk kasus seperti ini delik aduan di UU PKDRT dirasa tidak pas digunakan. Di unit PPA banyak kasus yang kemudian dicabut/berdamai. lembaga dan penyiapkan suamber daya manusia sebagai pelaksananya. kelurahan dan sekolah-sekolah namun masih sangat jarang. 8. Keberadaan UU PKDRT adalah merupakan faktor pendukung paling awal untuk menangani kasus-kasus KDRT. 9 orang tenaga/aparat termasuk kepala unit PPA adalah orang-orang professional dan berdedikasi dalam bidangnya. Dalam hal sosialisasi kepada aparat. terbentur keterbatasan dana dan belum adanya strategi/paket untuk sosialisasi/penyuluhan khusus tentang UU PKDRT. Namun hukuman yang dijatuhkan dengan berdasarkan KUHP dianggap terlalu ringan dan kurang menimbulkan efek jera pada pelaku. Saran 1. Dinas Sosial Pemkot dan Pemkab Malang.4. 7. Oleh karena itu perlu disertai dengan pemembangunan sistem. 5. 6. Kehadiran peraturan maupun perundang-undangan adalah merupakan upaya mengubah kehidupan masyarakat/sosial engeenering ke arah kehidupan yang lebih baik. Belum ada unit palayanan terpadu dan shelter. atau dicabut kemudian memproses perceraian.

LSM yang memperhatikan kasus kekerasan dan Rumah Sakit agar ada kerja sama. . menghayati pesan UU PKDRT dan prosedur pelaporan kasus ke aparat penegak hukum. Lembaga ini bisa menjadi salah satu jalur sosialisasi UU PKDRT kepada masyarakat. DinasSosial. 6.2. 5. Peran BP-4 juga sangat strategis sebagai lembaga kepenasehatan/ konseling perkawinan yang langsung didatangi masyarakat dari berbagai lapisan. Jika ada kasus yang pantas masuk ke ranah pidana maka dimungkinkan adanya jalur untuk melanjutkan kasus tersebut ke pengadilan pidana. Ide tentang perlunya membangun sistim pengadilan pidana terpadu layak memperoleh perhatian. Mahkamah Agung perlu juga memikirkan proses sosialisasi ke aparat penegak hukum seperti tidak hanya Polisi tapi juga Jaksa dan Hakim sehingga mereka memahami ruh UU PKDRT dan bisa melaksanakan pengadilan berkeadilan gender. Mereka harus faham substansi pokok. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan perlu ikut serta mendorong kinerja/implementasi dengan mengembangkan strategi/paket sosialisasi UU PKDRT untuk Aparat di tingkat Grass Roots dengan prioritas para lurah dan staf di tingkat desa yang merupakan ujung tombak pengawal aturan. Demikian juga diperlukan strategi/paket edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat seperti guru. 3. Pihak Kepolisian yang merupakan pelaksana UU PKDRT utama perlu memperoleh perhatian dan dukungan dari berbagai fihak terkait seperti Biro PP Pemda. dengan hukuman yang memiliki kekuatan melindungi korban dan membuat jera pelaku. siswa/remaja. Dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. tersedia PPT(Pusat Pelayanan Terpadu) dan shelter bagi korban KDRT. Mereka adalah jujukan korban untuk mengadu jika terjadi kasus di wilayahnya. 4. Perlu ada upaya peningkatan peran kelembagaan PA supaya tidak berhenti pada proses perdata.

Fakih. Memadu Metode Penelitian Kualitatf dan Kuantitatif. Yvonna S. Robert K. William N. Bulletin Psikologi tahun X Nomor 2 Desember 2002. Jakarta: Rajagrafirndo Persada. Pelatihan Dasar Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Hoesien. Y. Mansour. Studi Kasus. Bria. Pengantar Analisis Kebijakan Publik.1994. Himpunan Yurisprudensi Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. Edisi kedua. Kekerasan terhadap Perempuan dan Bagaimana Menyikapinya. Selasa. John W. Noerman K. Irianto. Puji. 20 Maret. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hal. 2007.DAFTAR RUJUKAN Astuti. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. Handbook of Qualttatif Research. Yin. Glesne & Peskhin. Maria. Benyamin. 2003. Branen. Kekerasan Terhadap Perempuan. Jakarta: Kantor Menteri Negara pemberdayaan Perempuan. Becoming Qualitatif Researcher. Jaminan Keadilan Melalui Sistim Peradilan Pidana Terpadu. 1997. 2000. 2003. 2004. 2001. London: London Publication. Califomia.Yogyakarta. New York: Longman Publishing Group. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Kekerasan dalam perspektif Pesantren. Sulistyowati & Luhulima. Lidwina Inge. 1992. Jakarta: Gramedia. Irianto. Pustaka Pelajar. 2000. Achie S. Harian Kompas. Katjasungkana. Creswell. Denpasar: Yayasan Pustaka Nusantara. 1994. & Lincoln. 2002. Desain dan Metode. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi. Research Design. Denzin. 2004. Sulistyowati & Nurtjahyo. Sage Publication. Soka Handinah. Perempuan di Persidangan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Kekerasan Gender dalam pembangunan. Hartiningsih. 35. Julia. Dunn. Abdul Aziz. . Kemandirian dan Kekerasan Terhadap Isteri. White Plains. Kisah Perjalanan Panjang Konvensi Wanita. Qualitatif & Quantitatif Approach.

Rahayu. Kekerasan dan Agresifitas. hal 167--175. Patricia Madoo & Brantley. California: Wadsworth/Thomson Learning. . K & Warner RL. Williams. Kekerasan dalam Rumah Tangga. Metode Penelitian Kualitatf Yogyakarta: Rake Sarasin. Relationship in Social Context. Jurnal PsikoIslamika.Katjasungkana. 2004. Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Adalah Tugas Kita Semua. Volume 1/no 2/ Juli 2004. Teori Feminis Modern. 2007. Soka Handinah. BK &Sawyer SC & Wahlstrom. Curriculum Design and Developnrent. 2004. 2007. Teori Sosiologi Modern. Metodologi Penelitian Kualitatf. Moleong. 2004. Noeng. Miles. California: Sage Publication Inc. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Erfaniah. Rencana Induk P embangunan Nasional Pemberdayaan P erempuan 2000-2004. Jill Niebruge. Muhammad. Seccombe. Zuhriah. 1980.1984 .2004. Muhajir. 2006. George & Goodman. Families & Intimate Relationships. Lengerman. Pemerintah Republik Indonesia. Kita Bisa Mendampingi Korban Kekerasan. Iin Tri. Undang-undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. 1990. 2004. Makalah seminar di Dharma Wanita Kabupaten Gresik.. 2004. Hukum dan Penelitian Hukum. Marriages. Jakarta. lexi. 2004. Towaf. MB & Hubberman. Pratt. David. Qualitatif Data Analysis.J. Bandung: Remaja Rosda Karya. Jakarta. Marriage and Families. Volume 1/no 2/ Juli 2004. CM. Siti Malikhah. Prenada Media Group. 2000. Bandung: Citra Aditya Bakti. Ritzer. Swabaya: Biro Pemberdayaan Perempuan Sekretarian Daerah Propinsi Jawa Timur. Dalam Teori Sosiologi Modern. 1996. Douglas J. Jurnal Psiko-Islamika. hal 177--187. A Practical Introduction. Jakarta: Kencana Prenada media Group. Abdulkadir. New York Harcourt B. AM. Sinar Grafika. Boston: Pearson Education.

PLN Puji Handayati adalah dosen Jurusan Manajemen dan Tri Laksiani adalah dosen Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang . PLN (Persero) dalam mengatasi masalah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan (2) Untuk mengetahui bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang dapat mengatasi konflik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Penulisan ini berusaha menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7) penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau bidang tertentu. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial. menguji hipotesis. Kata-kata kunci: saluran udara ekstra tinggi (SUTET). membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. PT. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif.Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati Tri Laksiani Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan. Berdaasarkan jenis data dan analisis yang digunakan.

penelitian yang dilakukan oleh Nancy Wertheimer dan Ed Leeper (1979) membuktikan bahwa anak-anak di denver. Perancis. Sejak penelitian di Denver ini para peneliti lainnya mulai tertarik. Aliran tegangan tinggi sangat berbahaya bagi masyarakat. Denmark. Sebagian partikel luruhan bersifat karsinogenik dan oleh medan listrik dikonsentrasikan pada bagian tubuh tertentu. Hal ini karena kabel bertegangan tinggi bisa menarik partikel gas radon yang tidak berbau dan tidak berwarna di sekitarnya yang kemudian meluruhkannya. bahwa gelombang elektromagnetik dari listrik tegangan tinggi dapat menimbulkan kanker. Finlandia.edu. Kanada. ekonomi.Pembangunan ekonomi yang tumbuh dengan cepat menuntut PT. listrik merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia.edu. Berbagai penelitian membuktikan adanya hubungan antara listrik tegangan tinggi dengan penyakti kanker dan leukimia pada anakanak bjkan orang dewasa. Inggris mendukung pendapat. pemerintahan dan masyarakat luas. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. Diakses tanggal 6 Februari 2006) . PLN (Perusahaan Listrik Negara) Persero untuk menyediakan tenaga listrik dalam berbagai kebutuhan industri. kemudian mentransformasikan sel-sel tubuh yang ditempati menjadi sel kanker (www. Colorado mengalami kemungkinan terserang penyakit leukimia dua atau tiga kali dibandingkan orang dewasa. Namun listrik juga dapat menimbulkan masalah jika dalam penggunaannya tidak tepat.hamline.hamline. seperti Swedia. termasuk peneliti di luar AS. bahkan mengakibatkan kematian bagi orang yang menyentuhnya secara langsung. Bahkan ilmuwan dari ITB juga mengungkapkan medan listrik dapat menimbulkan stres. Pernyataan ini didukung oleh berbagai penelitian antara lain. Selain itu. (www. perdagangan. Selain itu juga dapat menimbulkan penyakit tumor susunan saraf jika masyarakat tinggal di dekat jaringan tinggi tersebut. Diakses pada 6 Februari 2006) Demikian pula dalam studi tahun 1996 yang dilakukan tim fisikawan Universitas Bristol. Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa orang yang tinggal dibawah tegangan tinggi bisa terkena kanker otak dan berkaitan dengan penurunan gairah seksual. Inggris.

republika. Anies.com diakses pada 26 Desember) . ditemukakan adanya risiko kanker pada 463 kasus pekerja gardu listrik dan 263 kasus pada pekerja pemasangan kabel transmisi. Hasil penemuan Anies menyimpulkan bahwa ketiga gejala tersebut dapat dialami sekaligus oleh seseorang. Hasilnya. distribusi listrik tegangan tinggi.com. Kab. Pemalang. Pada awal tahun 1980-an dari Selandia Baru dilaporkan ada 546 kasus leukimia pada para perakit alat-alat listrik serta pekerja yang memperbaiki radio dan televisi. Menurut Prof.pikiranrakyat. pada penduduk di bawah saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV di Kab. Tegal (2004). peneliti dari Depkes RI di SUTET Cibinong dan Bekasi. Tahun 1973. Dr.Kes. pening (dizzines). Gangguan kesehatan itu terutama menyerang anak-anak antara lain leukimia (kanker darah). yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache). Sementara di Swedia. dalam penelitian yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto. sehingga penemuan baru ini diwacanakan sebagai Trias Aniesa (www. operator radio dan telegraf. menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. M.Di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa selama lima dasawarsa terakhir melaporkan adanya beberapa gangguan kesehatan akibat paparan medan elektromagnetik dan medan magnet secara terusmenerus dalam jangka panjang. Baik melalui transmisi. Diakses 7 Februari 2006) Berdasarkan hasil penelitian Dr. Penelitian lain di Inggris dan New South Wales pada 1970-1972 mencatat kematian para pekerja operator telegram dan ahli teknik yang disebabkan oleh leukimia mieloid akut. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome). pekerja di peleburan alumunium. (www. PKK. atau peralatan bertenagalistrik. Pekalongan. Untung. dan Kab. Sebuah riset di Washington AS tahun 1950-1982 melaporkan adanya kematian 486 ribu pekerja teknisi listrik. radius 500 meter diperkirakan masih memiliki risiko terpapar. dan operator proyektor bioskop meninggal akibat leukimiaa dan limfoma non Hodgkins. berhasil membedakan kelompok penduduk yang beresiko terpapar dan tidak terpapar berdasarkan jarak tempat tinggal dengan jarak listrik terpasang. ditemukan angka risiko leukimia pada pekerja kelistrikan meningkatkan dua kali lipat.

kulit meruam. berhasil membuktikan korelasi antara listrik dan beberapa penyakit. (5) endokrin. (6) psikologis. Menurut Rea. (2) reproduksi. dapat terjadi pada sistem: (1) darah. rasa mual dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya. dari hasil pengukuran ternyata kuat medan listrik dan kuat medan magnet dari SUTET masih jauh di bawah ambang batas rekomendasi WHO/IRPA sehingga dalam batas tertentu. berhasil menemukan bahwa medan elektomagnetik yang ditimbulkan dari saluran kabel dan gardu listrik tegangan tinggi dan alat-alat listrik di rumah bisa berisiko terhadap kesehatan manusia. Hal ini didukung dengan berbagai penelitian antara lain penelitian yang dilakukan oleh Dr. Tim yang diketuai oleh Guru Besar Bidang Biologi Reproduksi FKUI. Namun kekhawatiran masyarakat merupakan hal yang wajar dan sebagai upaya untuk mengurangi dampak negatif SUTET terhadap kesehatan masyarakat. (3) syaraf. Dr. tanda dan gejala lain yang dapat dijumpai adalah jantung berdebar-debar. (www. Anies Universitas Diponegoro (1993). Berdasarkan Diktat Diklat yang dikarang oleh kumpulan pengajar Jasdik PLN Pusat tahun 2004. menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara keterpaparan penduduk yang ada di sekitar maupun yang berada di bawah jaringan . muka terbakar.republika.com diakses pada 26 Desember) Sebuah riset dilakukan selama 10 tahun terakhir oleh Tim Bagian Biologi FKUI.(www.com. berusaha melihat keadaan hubungan sosial ekonomi dan gangguan SUTET yang dikeluhkan seperti yang diberitakan di media massa. Prof. Jawa Barat. kejang otot. Ini timbul akibat rusak atau kacaunya kerja jaringan endokrin (hormonal) tubuh karena adanya aliran listrik tersebut. dan (7) hipersensitivitas. menyebutkan bahwa penelitian sosiologi yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto (1995) serta Ganihartono (1995). Bergdahl dan Grant. yaitu kasus yang terjadi di daerah Cibinong dan Bekasi. Oentoeng Soeradi. SUTET tidak akan menimbulkan masalah kesehatan. kebingungan. Diakses pada 6 Februari 2006) Tetapi dalam bebarapa penelitian lain mengungkapkan bahwa radiasi elektromagnetik tidak mempunyai korelasi dengan kesehatan. dr. potensi gangguan kesehatan yang timbul akibat SUTET 500 kV. (4) kardiovaskuler. serta gangguan kejiwaan berupa depresi. perlu dilakukan penyuluhan yang efektif kepada masyarakat umum. telinga berdenging.Menurut WHO. gangguan konsentrasi. gangguan tidur.pikiranrakyat.

SUTET dengan penyakit yang dilaporkan atau tingkat kesehatan masyarakat. memunculkan pertanyaan mengenai tanggungjawab perusahaan atas lingkungan dan masyarakat sekitar. Karena setiap tindakan yang diambil korporasi membawa dampak yang nyata terhadap kualitas kehidupan manusia baik terhadap individu. Msc. Diakses pada 26 Desember 2006) Dari fenomena inilah muncul tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Oleh karena itu muncul pula kesadaran untuk mengurangi dampak negatif tersebut. melukiskan bahwa dunia bisnis selama setengah abad terakhir telah menjadi institusi paling berkuasa. dan seluruh kehidupan. Dr. Korten. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ir. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Budi Haryanto SKM.id. Di sini terbukti sebuah korporasi atau perusahaan mempunyai tanggungjawab sosial terhadap stakeholder dan lingkungannya. Setiap keputusan yang akan diambil. masyarakat. kelelahan. Balitbang Depkes RI (1995-1996). menunjukkan tidak ada korelasi antara gangguan kesehatan seperti sakit kepala. bradycardia.Eng dari Fakultas Elektro ITS mengenai dampak medan elektromagnetik akibat pemakaian tenaga listrik SUTET 500 kV di daerah Singosari. (Jasdik PLN Pusat: 2004) Melihat adanya dampak dari aktivitas produksi perusahaan (corporation) yang besar pada masyarakat. sehingga harus memperhatikan tanggungjawab untuk kepentingan bersama. David C. Syarifudin Mahmudsyah M. Selain itu. tindakan yang dilakukan harus mengacu dalam rangka keeangka tanggungjawab tersebut. indikasi tumor dan leukimia terhadap pajanan medan listrik dan medan magnet. CSR muncul akibat tekanan . Masalah yang dihadapi penduduk lebih mengaraah kepada masalah psikologis dan tuntutan mendapatkan ganti rugi. masyarakat menginginkan produk-produk yang ramah lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial dan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM). (www. diperoleh data bahwa kuat medan listrik dan kuat medan magnet masih jauh di bawah level toleransi berdasarkan standar IRPA dan INRC. Gresik serta Dharmahusada Indah Surabaya.co. pusing. keguguran. tachycardia.swa. Hal ini menimbulkan kesadaran tentang pentingnya menerapkan tanggungjawab sosial terhadap stakeholder. susah tidur.

pasar. bantuan bencana kemanusiaan. in ways that are both good for business and good for development‖. melainkan juga tanggungjawab sosial dan lingkungan. perwakilan mereka. Menurut World Council for Sustainable Development definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen berkelanjutan dari bisnis untuk berperilaku dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi.dan desakan berbagai organisasi semacam LSM karena terjadinya malpraktik di dunia bisnis. Definisi Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai sebuah konsep. 1. Pada dasarnya PT. sekaligus meningkatkan kualitas hidup karyawannya. standart usaha. komunitas lokal dan masyarakat luas untuk memperbaiki kualitas hidup. pengembangan ekonomi dan badan usaha. yaitu: perlindungan lingkungan. kepemimpinan dan pendidikan. Menurut Bank Dunia. Gagasan CSR menekankan bahwa tanggungjawab perusahaan bukan lagi sekadar kegiatan ekonomi (menciptakan profit demi kelangsungan usaha). Menurut versi Bank Dunia dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember11 Januari 2006 definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives.PLN (Persero) sudah menerapkan CSR. Pemikiran ini didasarkan bahwa perusahaan tidak hanya berkewajiban ekonomis dan legal . hak asasi manusia. tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama. interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat. Corporate Social Responsibility (CSR) mempunyai definisi dalam beberapa versi karena implementasi yang dilakukan oleh perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya berbeda-beda. jaminan kerja. namun dalam perkembangannya masih juga terdapat konflik seperti yang telah dipaparkan di atas. perlindungan kesehatan. CSR adalah komitmen bisnis sebagai kontribusi untuk keberlanjutan perkembangan ekonomi yang bekerja sama dengan pekerja. the local community and society at large to improve quality of life. dimana keduanya baik untuk bisnis maupun pengembangan. serta masyarakat lokal ataupun masyarakat luas.

CSR adalah pengambilan keputusan yang dikaitkan dengan nilai-nilai etika.(shareholders). yaitu ekonomi.id. Dan menurut Tony Djogo (2005). . sejauh ini definisi yang banyak digunakan adalah pemikiran Elkington tentang triple bottom line. CSR adalah adanya segitiga dalam kehidupan stakeholders yang mesti diperhatikan korporasi di tengah usahanya mencari keuntungan. maka CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk bertindak etis. Sedangkan menurut versi Uni Eropa Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is concept whereby companies intregate social and environmental concerns in their business operations and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basis‖ CSR merupakann konsep di mana perusahaan mengintegrasikan masyarakat dan lingkungan dalam kegiatan bisnis dan interaksi mereka. Menurut Elkington (1997) dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember – 11 Januari 2006.fajaronline.co. bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup karyawan. co. (www. beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi. Dari berbagai definisi di atas. Trinidad and Tobacco Bureau of Standard (TTBS) menyimpulkan bahwa CSR terkait dengan nilai dan standar yang dilakukan berkenaan dengan beroperasinya sebuah korporat. yang kemudian diilustrasikan dalam bentuk segitiga. yang jangkauannya melebihi kewajiban di atas. masyarakat danlingkungan. Diakses pada 29 Januari 2006). tapi juga pada pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). dengan para stakeholder dengan dasar sukarela. memenuhi kaidah-kaidah dan keputusan hukum dan menghargai manusia.fajaronline.id Diakses pada 29 Januari 2006). lingkungan dan sosial. komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas (www.

atas kemampuan perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. model CSR membagi kewajiban perusahaan menjadi empat jenis tanggungjawab atau yang dikenal dengan model empat sisi. di antaranya adalah. Diakses pada 25 Januari 2006).Gambar 1 Segitiga Dalam Kehidupan Stakeholders Social Lingkungan Ekonomi Sumber: Majalah SWA Edisi 29/XXI/19 Desember 2005 – 11 Januari 2006 2. Menurut Chrysanti Hasibuan Sedyono (2004). dan pemerintah). baik lokal. Selain kewajiban ekonomis dan legal. dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). legal. menyetujui adanya perubahan pembangunan. maupun global. (1) ketersediaan dana. komunitas dan stakeholders yang terkait. korporat.fajaronline. dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholders yang difasilitasi perusahaan tersebut dan menyusun program-program pengembangan masyarakat yang ada di sekitarnya. artinya memperoleh laba bagi pemegang sahamnya. dan sebagainya). dan (5) mempunyai nilai keuntungan (www. nasional. Hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Jeneiro Brazilia (1992). com. Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai Kebijakan Perusahaan Keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri di sebuah kawasan. (2) misi lingkungan. (3) tanggung jawab sosial. (4) terimplementasi dalam kebijakan (masyarakat. Ada lima elemen sehingga konsep keberlanjutan menjadi penting. yaitu adanya empat tanggungjawab perusahaan yang bersifat ekonomis. ada kewajiban-kewajiban lain terhadap . mematuhi peraturan dan hukum (berhubungan dengan lingkungan.

termasuk kesejahteraan karyawan. yaitu tanggung jawab yang sebenarnya tidak harus dilakukan. transparan. CSR jenis ini kurang berdampak pada pembentukan image positif perusahaan karena masyarakat melihat kelompok ini memerlukan tekanan sebelum melakukan praktik CSR. Kelompok ini sama sekali tidak peduli pada aspek lingkungan dan sosial di sekelilingnya dalam menjalankan usaha. tetapi dengan terpaksa. tidak membeda-bedakan ras dan gender. Perusahaan akan mendapatkan image positif karena masyarakat menilai pengusaha tersebut membantu dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu. Seperti berlaku fair. kelompok hijau. tetapi atas kemauan sendiri misalnya pemberian beasiswaa. Kelompok hitam adalah pengusaha yang tidak melakukan praktik CSR sama sekali. dan tidak korupsi. Kelompok keempat. Seperti halnya investasi. merupakan kelompok yang sungguh-sungguh dan sukarela melaksanakan praktik CSR. bukan biaya. yaitu pengusaha yang menjalankan bisnis hanya untuk kepentingan sendiri. merah. kemudian dengan terpaksa memperhatikan isu lingkungan dan sosial. tetapi memandangnya hanya sebagai komponen biaya yang akan mengurangi keuntungan. Kelompok merah adalah pengusaha yang mulai melaksanakan praktik CSR. bahkan tidak memperhatikan kesejahteraan karyawannya. kelompok ini menganggap praktik CSR sebagai investasi sosial jangka panjang. yaitu ethical dimana perusahaan harus memnuhi kaidah-kaidah normatif. kelompok ini secara sukarela dan sungguh-sungguh melaksanakan praktik CSR dan yakin investasi sosial ini akan memperlancar operasional usaha. Kelompok ini umumnya berasal dari kelompok satu (kelompok hitam) yang mendapat tekanan dari stakeholders-nya. Sehubungan dengan praktik CSR. seperti masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat. Pengusaha ini menempatkan CSR sebagai nilai inti dan menganggap sebagai suatu . diantaranya: kelompok hitam. biru dan hijau.stakeholders di luar pemegang saham. dan biasanya dilakukan setelah mendapat tekanan dari pihak lain. Model tanggung jawab selanjutnya bersifat discretionary. Aspek lingkungan dan sosial mulai dipertimbangkan. menurut Rudi Fajar (2005) pengusaha dapat dikelompokkan menjadi empat. Kelompok ketiga adalah pengusaha yang menganggap praktik CSR akan memberi dampak positif (return) terhadap usahanya. dan menilai CSR sebagai investasi.

lingkungan dan sosial). tetapi juga kepercayaan dari masyarakat yang selalu siap mendukung keberlanjutan usaha kelompok ini. superficial. menelaah ada dua motivasi utama yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. tumbuh dan berkembang bersam masyarakat. yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik. karena 80% perusahaan menganggap CSR penting bagi perusahaan. yaitu sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan. agar perusahaan dapat terus beroperasi. Realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya. dan parsial. Menurut Teguh S. bahkan kebutuhan. dari hasil survey yang dilakukan oleh majalah SWA dalam CSR Award 2005. Pengusaha tersebut sangat memperhatikan aspek lingkungan. yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana. 48. Kedua. sosial dan kesejahteraan karyawannya serta melaksanakan prinsip transparansi dan akuntabilitas.com Diakses pada 29 januari 2006). Selain menjadikan CSR sebagai visi dan misi. Ada beberapa alasan perusahaan menjalankan CSR. nilai tambah bagi stakeholders. legitimasi. CSR dilakukan untuk memberi kesan korporasi yang peduli terhadap kepentingan sosial. Hamann dan Acutt (2003). Oleh karena itu. dan menjadikannya sebagai modal sosial (ekuitas). Selainitu. . tidak memiliki modal yang harus dimiliki dalam menjalankan usahanya. strategi perusahaan. Kelompok ini juga memasukan CSR sebagai bagian yang terintegrasi ke dalam bisnis atas dasar kepercayaan bahwa suatu usaha harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial.keharusan. pengusaha ini yakin bahwa tanpa melaksanakan CSR. perusahaan-perusahaan di Indonesia banyak yang sudah menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR). implementasi nilai-nilai perusahaan serta karena alasan kewajiban. Pambudi (2005) dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. Sebagai hasilnya. Pertama. akomodasi. (www. yaitu kepercayaan bahwa ada nilai tukar (tradeoff) atas triple bottom line (aspek ekonomi.89% responden memasukkan unsur-unsur CSR kemudian menjadikan CSR sebagai bagian dari visi dan misi perusahaan.tempo. perusahaan juga menjadikannya sebagai strategi bisnis. kelompok ini tidak saja mendapatkan image positif.

. ada beberapa cara perusahaan dalam memandang aktivitas CSR antara lain: pertama. sebagai strategi perusahaan yang pada akhirnya dapat mendatangkan keuntungan. e. sebagai compliance atau kewajiban karena akan ada hukum yang memaksa untuk menerapkan konsep CSR tersebut. agar perusahaan dapat terus beroperasi. sebagai beyond compliance yaitu perusahaan merasa sebagai sebagian dari komunitas yang secara sadar dianggap sebagai sesuatu yang penting. program untuk menjadikan masyarakat lebih mandiri. program-program CSR yang dijalankan perusahaan meliputi bidang sosial. kegiatan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat. artinya perusahaan harus menjaga kelestarian lingkungan. ketiga. Pandangan lain tentang CSR oleh Prince of Wales International Business Forum yang dipromosikan oleh IBL (Indonesia Business Links) dalam SWA edisi26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006 lewat pilar antara lain: a. d. kedua. 3. Sedangkan menurut Teguh S. Strengthening economies. artinya perusahaann dijalankann dalam tata pamong yang baik. Encouraging good governance. Assessing social cohession. Program yang Dijalankan Perusahaan dalam Corporate Social Responsibility (CSR) Menurut Teguh S. b. Building Human Capital. implementasi nilai-nilai perusahaan. yaitu memberdayakan ekonomi komunitas. keenam. Pambudi (2005). meningkatkan citra perusahaan. keempat.Menurut Darwina (2005). dan ekonomi. yaitu perusahaan menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan konflik. lingkungan. yaitu menyangkut kemampuan perusahaan untuk memiliki dukungann sumber daya manusia yang handal (internal) dab eksternal (masyarakat sekitar). Protecting the environment. Kedua. dan terakhir. hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan lingkungan. cara perusahaan memandang CSR ada tujuh yaitu: pertama. Pambudi (2005). Ketiga. sebagai kewajiban dan tanggung jawab perusahaan. kelima. dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. c.

pembangunan dan renovasi sarana sekolah. Program-program CSR yang dijalankan perusahaan dalam bidang ekonomi antara lain: pemebrdayaan dan pembinaan UKM dan pengusaha. yayasan milik perusahaan. 4. serta pemberdayaan dan pengembangan tenaga kerja lokal. Pelaksanaan proram-program CSR dapat dilakukan perusahaan dengan cara bekerja sama dengan pihak lain. 6-7 tahun. sekolah binaan serta pendidikan dan pelatihan teknologi informasi. dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. Menurut Gurvy Kavei dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. pengembangan skill karyawan dan kepemilikan saham. pihak ketiga dan dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. antara lain pelestarian lingkungan dan pross produksi yang ramah lingkungan. 3--5 tahun. Di komunitas. 8--10 tahun serta lebih daari 11 tahun. penanaman pohon atau penghijauan dan pertanian anorganik. seperti aspek keselamatan kerja. Program-program CSR ini biasanya dijalankan dalam waktu yang berbeda-beda sesuai dengan perusahaann masing-masing: kurang dari 1 tahun. kredit pembiayaan dan bantuan modal untuk pengembangan usaha. antara lain dengan memberikan beasiswa dan pemberdayaan ekonomi terhadap lingkungan. menciptakan nilai tambah (value added) dari produk. stakeholders . CSR dipraktekkan dalam tiga wilayah atau area antara lain: di tempat kerja. kemitraan dalam penyediaan kebutuhan dan bahan baku produksi. yayasan yang bekerjasama dengan pihak ketiga. Stakeholders Dalam prinsip responsibility. Sedangkan program CSR dalam bidang lingkungan adalah pembinaan dan kampanye lingkungan hidup. penekanan yang signifikan diberikan pada kepentingan stakeholders perusahaan. pengelolaan limbah. pembangunan sarana air bersih. pengembangan agrobisnis. 1-2 tahun. sumbangan sosial untuk bencana alam. Menurut Sita Soepomo (2004). pengelolaan fisik agar lebih asri. Di sini perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholders.Program-program bidang sosial antara lain: pelayanan dan kampanye kesehatan. beasiswa pendidikan.

lingkungan sekitar. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpedoman pada single bottom line. pemasok. pelanggan bisa perorangan maupun lembaga. masyarakat. bank. b) Pemasok. e) Lembaga konsumen. menukarkan sumber daya dengan barang atau jasa yang dihasilkan oleh dunia usaha. berkenaan dengan penentuan upah kondisi kerja dan sebagainya. misalnya pecinta alam yang peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan. Tetapi tanggung jawab perusahaan harus berpedoman pada triple bottom lines. lembaga sewa guna yang dapat membantu dalam pemenuhan modal.perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. lingkungan yang berpengaruh langsung terhadap perusahaan adalah pihak yang berkepentingan (stakeholders) dibagi menjadi dua. bertindak untuk membantu dan melindungi industri dengan peraturan dan undang-undang. misalnya. b) Pemegang saham dan dewan direksi. Termasuk di dalamnya adalah karyawan. dengan keterampilan dan pendidikan yang memadai akan sangat membantu dunia usaha dalam menjalankan usahanya. c) Pemerintah. Di sini bottom lines selain finansial adalah soal dan lingkungan. struktur yang mengatur perusahaan publik yang memungkinkan pemegang saham untuk . Menurut J. Internal stakeholder Pihak yang berkepentingan internal atau stakeholder. dengan memperhatikan dan membela hak konsumen. dan pemerintah sebagai regulator. konsumen. dengan adanya faktor-faktor produksi memungkinkan dunia usaha melakukan kegiatan produksi. g) Lembaga keuangan. CSR sebagai sebuah gagasan. Eksternal stakeholder Pihak yang berkepentingan eksternal antara lain: a) Pelanggan. Sudarsono (2002). terdiri dari: a) Karyawan. d) Kelompok khusus. yaitu: 1. f) Serikat pekerja. contoh: lembaga perlindungan konsumen. 2. yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja.

pemasangan. pengelola pasar dan pengelola sistem. Gambar 2 Model Stakeholder dalam Sebuah Perusahaan Pelanggan Manajemen Komunitas Lokal Perusahaan Pemasok Karyawan Konsumen Sumber : Pengantar Ekonomi Perusahaan (2002) 5. pembangunan. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) didasarkan pada Pasal 8 UU No. serta jasa terkait lainnya. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. distribusi. Industri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik Menurut Rancangan Undang-Undang Tentang Ketenagalistrikan. . usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang. Sedangkan transmisi tenaga listrik adalah penyaluran tenaga listrik dari suatu pembangkitan ke suatu sistem distribusi atau kepada konsumen. agen penjualan. pengoperasian.mempengaruhi suatu perusahaan dengan menggunakan hak suara. penjualan. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) adalah transmisi tenaga listrik yang menggunakan konduktor di udara bertegangan nominal 275 kV dan 500 kV yang selanjutnya disebut SUTET. transmisi. 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. Kedua. dan pemeliharaan instalasi. Pertama. pengujian. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi.

elektron yang membawa arus listrik pada jaringan tegangan tinggi akan bergerak lebih cepat bila perbedaan tegangannya makin tinggi. Akibat ion yang menggandakan diri dan elektron ini (peristiwa avalanche) akan menimbulkan korona berupa percikan busur cahaya yang disertai pula dengan suara mendesis dan bau khusus yang disebut dengan bau ozone. Peristiwa avalanche dan timbulnya korona akibat adanya medan magnet dan medan listrik pada jaringan tegangan tinggi inilah yang sering disamakan dengan radiasi gelombang elektromagnet atau radiasi tegangan tinggi. akan menyebabkan timbulnya medan magnet maupun medan listrik. Proses ini akan terus berjalan selama ada arus pada jaringan tegangan tinggi yang mengakibatkan ion dan elektron menjadi berlipat ganda terlebih lagi bila gradien tegangannya cukup tinggi. Ionisasi terjadi karena elektron sebagai partikel yang bermuatan negatif dalam gerakannya bertumbukan dengan molekul-molekul udara sehingga timbul ionisasi berupa ion-ion dan elektron baru. Udara yang lembab karena adanya pohon di bawah jaringan tegangan tinggi akan lebih mempercepat terbentuknya pelipatan ion dan elektron yang disebut dengan avalanche.sehingga gerakannya akan makin cepat dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya ionisasi di udara. Konduktor adalah pilihan kawat yang dipergunakan untuk menyalurkan energi listrik. . akan terpengaruh oleh adanya medan magnet dan medan listrik. Elektron yang membawa arus listrik pada jaringan interkoneksi dan juga pada jaringan transmisi.atau penyaluran tenaga listrik antar sistem. Secara teoritis. Elektron bebas yang terdapat dalam udara dim sekitar jaringan tegangan tinggi.

2 mikro Weber/m2. Sedangkan Rusia menetapkan batas aman radiasi tegangan tinggi dengan faktor 1000 lebih rendah dari yang telah ditetapkan Amerika Serikat. telah menetapkan batas aman sebesar 0.Gambar 3 Grafik Perkembangan Daya Listrik Grafik 14 12 10 8 6 4 2 0 1958/69 1973/74 1978/79 1983/84 1988/89 1993/94 Amerika Serikat sebagai negara industri yang banyak menggunakan jaringan tegangan tinggi. Adanya perbedaan penetapan batas aman ini disebabkan oleh penelitian mengenai dampak radiasi tegangan tinggi terhadap manusia masih belum selesai dan terus dilakukan. GigaWatt Tahun Series1 .

makhluk hidup lain maupun benda apapun demi keselamatan orang. METODE Berdasarkan jenis data dan analisis yang digunakan. tekanan angin dan suhu penghantar. Ruang bebas adalah ruang di sekeliling penghantar (kawat listrik) SUTET yang besarnya tergantung besarnya tegangan. Ruang aman adalah ruang yang berada di luar ruang bebas yang tanahnya masih dapat dimanfaatkan. Penulisan ini berusaha . dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7). Ruang tersebut harus dibebaskan dari orang. Faktor-faktor yang menentukan Ruang Bebas dan Ruang Aman adalah tegangan. makin besar tegangan yang bekerja pada penghantar makin besar jarak bebas minimum (clearance) yaitu jarak terpendek antara kawat penghantar dan benda atau kegiatan lainnya sesuai dengan yang tertera pada table. makin besar tekanan angin. Kenaikan suhu tersebut disebabkan oleh suhu keliling dan suhu yang diakibatkan oleh besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar. (2) Angin.6. sehingga andongannya menjadi lebih besar. penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengnai populasi atau bidang tertentu. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. Sebagai contoh Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dimana saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (penghantar) di udara bertegangan di atas 245 kV sesuai dengan standart di bidang ketenagalistrikan. kekuatan angin dan suhu di sekitar penghantar antara lain: (1)Tegangan. makin besar ayunan kawat penghantar ke kiri atau ke kanan. Bahaya Listrik pada Tegangan Ekstra Tinggi Bahaya listrik pada tegangan ekstra tinggi yang paling dominan adalah gradien tegangan ekstra tinggi itu sendiri terhadap makhluk hidup maupun terhadap benda-benda lain yang berada pada daerah sekitarnya. makin besar suhu yang mempengaruhi kawat penghantar makin mengendor kawat penghantar tersebut. dan (3) Suhu kawat penghantar. hal ini sudah diperhitungkan pada saat mendesaian SUTET tersebut. makhluk dan benda lain tersebut demikian pula keamanann dari SUTET itu sendiri.

penulis menggunakan metode: 1. uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap . buku-buku dan hasil penelitian yang mendukung. Berdasarkan tujuan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Menurut Subagyo (1997:106) analisis kualitatif adalah analisis yang dilakukan terhadap data yang berupa informasi. Dalam penulisan ini data primer diperoleh dari Kepala PLN Kota Malang. 2. Kepala Kelurahan Purwodadi. data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi.1997:6). menguji hipotesis. Wawancara Menurut Nazir (199:234) adalah memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatap muka antara pewawancara dengan responden. Penulisan ini menggunakan data kualitatif. dan warga yang tinggal di sekitar SUTET di Kelurahan Purwodadi. berupa publikasi (Supranto. koran. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tiddak bermaksud mencari penjelasan. 1997:6).menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Data primer yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan atau langsung melalui objeknya (Supranto. Dokumentasi Yaitu membaca laporan penelitian-penelitian sebelumnya serta artikel yang diakses dari internet. Sedangkan data sekunder atau data pendukung yaitu. Wawancara dilakukan dengan Kepala PLN Kota Malang. Kepala Kelurahan Purwodadi. Data tersebut berupa informasi dari studi pustaka berupa majalah. membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. Pada metode ini peneliti hanya memindahkan data yang relevan daaari sumber informasi atau dokumen yang diperlukan. Datadata yang dihimpun merupakan data yang berhubungan dengan berbagai hal mengenai Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan Corporate Social Responsibility (CSR). yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau pernyataan berupa data primer dan data sekunder. serta artikel atau tulisan yang diakses dari internet. Penulisan ini dimaksud untuk mendeskripsikan mengenai penerapan CSR dalam mengatasi konflik SUTET. serta warga Kelurahan Purwodadi.

Kemudian pada I Januari 1961 dikembangkan menjadi BPU Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan 28 Desember 1964 dibentuk PLN dan Perusahaan Gas Nasional (PGN). Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang. Tahun 1972 PLN berstatus sebagai perusahaan umurn (Perum) dan pada Juni 1994 berubah lagi menjadi perusahaan perseroan (Persero) sampai sekarang. PLN Persero Listrik telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan primer. Terbukti dengan disahkannnya UU No 20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan yang salah satu tujuannya adalah agar listrik lebih cepat menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Analisis ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data dari kelompok subjek yang diteliti. dan pagan. Namun pada tahun 1992 pihak swasta mulai diperbolehkan turut serta dalam bisnis penyediaan listrik sehingga monopoli PLN dalam bisnis tersebut berkurang. Sejak tahun 1945 jasa ketenagalistrikan di Indonesia ditangani oleh negara. . yakni sandang. dengan konsekuensi berorientasi pada profit meskipun tidak bisa lepas dan tugas negara sebagai penyedia jasa layanan listrik bagi masyarakat. HASIL Gambaran Umum Perkembangan PT. serta sebagai pendorong dalam berbagai kegiatan ekonomi. Sehingga beban Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia menjadi berkurang. dan pada 27 Oktober 1945 dibentuk Jawatan Listrik dan Gas. pangan. Listrik merupakan salah satu infrastruktur yang menjadi tumpuan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia.suatu kebenaran sehingga memperoleh gambaran baru. Tujuan pemerintah melakukan restrukturisasi sekaligus liberalisasi ketenagalistrikan dilatarbelakangi oleh adanya pemikiran bahwa penyediaan listrik nasional harus diselenggarakan secara efisien melalui transparansi dan kompetisi dalam iklim usaha yang sehat dengan cara memberikan peluang yang sama kepada para pelaku usaha ketenagalistrikan.

sebagai dampak karena sudah memanfaatkan sumberdaya. PLN (Persero) didasarkan pada Pasal 8 UU No 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. membuat peta potensi energi terbarukan yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara komersial. perdagangan. Memberikan pinjaman dana dari koperasi.Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. pemerintahan dan masyarakat luas. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi. pengelola pasar. Dalam bidang ekonomi yaitu melakukan penghematan biaya operasional sehingga meringankan beban masyarakat karena tidak perlu membayar listrik dengan harga tinggi dengan meningkatkan kemampuan pembangkit-pembangkit energi terbaru yang ada. distribusi. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. ekonomi. lingkungan dan ekonomi. yaitu seluruh pihak yang berkepentingan di dalamnya. PLN (Persero) selama ini meliputi bidang sosial. PLN (Persero) dalam Mengatasi Konflik SUTET PT. Sehingga CSR diperlukan agar kegiatan operasional PLN dapat berjalan dengan baik. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. PLN (Persero) mempunyai tanggung jawab yang tidak mudah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu dalam hal penyediaan tenaga listrik di berbagai kebutuhan industri. transmisi. Dalam bidang lingkungan seperti perbaikan sarana ibadah dan sekolah. penjualan. pembangunan. membangun pembangkit energi terbaru berdasarkan hasil-hasil studi kelayakan yang sudah ada. dan pengelola sistem. dan program pencarian sumber-sumber pendanaan. pemasangan. Kedua. Program PT. agen penjualan. pemberian beasiswa bagi putra-putri karyawan dalam lingkup internal PLN dan pemberian dana tali asih. usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang. . Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan dan merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalarn upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Setiap kegiatan maupun program yang dijalankan oleh PLN harus mempunyai tanggung jawab kepada stakeholders. Pertama. Bidang sosial antara lain dengan memberikan asuransi kebakaran. Bentuk-bentuk CSR yang diterapkan oleh PT. melakukan studi-studi kelayakan tentang aspek teknis dan ekonomis energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar minyak.

dan pemeliharaan instalasi. pengoperasian. lndustri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik. kendala dalam berbagai bentuk selalu dihadapi. dan hak asasi manusia juga sangat berpengaruh terhadap sektor ketenagalistrikan. Untuk memenuhi penyediaan tenaga listrik agar distribusi listrik tersebut dapat met jangkau seluruh masyarakat maka diperlukan suatu interkoneksi yang disebut Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Namun demikian dalam pelaksanaannya. (www. pemerintah daerah maupun bagi kepentingan nasional secara keseluruhan.edu. Oktober 1995 menyebutkan bahwa paparan medan elektromagnetik yang sedikitpun pada tubuh manusia dapat menimbulkan gangguan dalam jangka panjang. isu-isu mengenai lingkungan hidup. kemandulan. sehingga jalur yang dilalui SUTET kemungkinan tidak dapat menghindari clan terpaksa harus melewati daerah dengan keadaan tertentu. penurunan kekebalan tubuh. juga kelainan otak dan resiko serangan jantung. leukimia. Kendala dan hambatan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan terjadinya konflik terutama dengan masyarakat lokal. . Dalam hal kesehatan misalnya. Diakses pada 6 Februari 2006). Kesadaran kolektif yang terbangun karena tinggi dan bebasnya arus infomasi selama ini telah menimbulkan berbagai permasalahan di sektor ketenagalistrikan. Di samping itu.pengujian. juga timbul permasalahan antara lain dalam hal kesehatan maupun ekonomi. Selain itu juga tidak adanya sosialisasi tentang dampak negatif yang mungkin timbul di kemudian hari. Laporan Dewan Perlindungan Radiasi Nasional AS. lambatnya pertumbuhan. seperti daerah pemukiman yang tepat. Kegiatan di sektor ketenagalistrikan sangat berkaitan dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah. baik masyarakat lokal. Begitu juga pertumbuhan penduduk yang cukup besar. DI sisi lain.hamline. demokratisasi. serta jasa terkait lainnya. Selama in] keberadaan industri ketenagalistrikan telah memberikan dampak yang positif bagi para stakeholders. terdapat isu beredar yang menyebutkan bahwa radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker. Sebagai contoh salah satu konflik yang ditimbulkan akibat SUTET adalah saat ini lahan yang tersedia semakin sempit akibat pesatnya perkembangan di segala bidang.

Tidak adanya sosialisasi mengenai dampak negatif SUTET juga mendorong timbulnya konflik. Rancaekek Kab. misalnya ketika permukiman warga Kabupaten Gresik. Bogor. Bahkan masyarakat mengatakan berbagai penderitaan akibat SUTET. Kota Malang (2006) menunjukkan bahwa pengaruh radiasi elektromagnetik dapat dirasakan dalam jangka panjang. 22/1/06). Banyak keluarga memilih tidur di bawah tenda sebagai pernyataan protes. (Pikiran Rakyat. yaitu telah ada yang meninggal dunia ketika hujan turun tepat di bawah tiang listrik. bahkan mereka mengirimkan surat kepada badan kesehatan dunia WHO. Kec.Bojonggede Kab. dibangun saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 500 KV tahun 1995. masyarakat berusaha menggergaji dan menggali menara listrik yang melintasi pemukiman mereka. Bahkan di beberapa daerah telah terjadi aksi mogok makan dan jahit mulut sebagai aksi menuntut ganti rugi yang menurut masyarakat dirasakan kurang. Bandung melakukan aksi pembakaran ban di bawah tower SUTET dan membongkar sebuah besi penyangga tower yang berkekuatan 500 kV. badan dana anak-anak UNICEF serta Komnas HAM. 21/1/06). . Di desa Waringin Jaya. Apa yang dilakukan masyarakat itu sebagai wujud kekecewaan atas sikap PT. Waled Kab. PLN (Persero) yang tidak mau bekerjasama saat pembangunan SUTET dan kurang mengkomunikasikan proyek tersebut kepada masyarakat. (Pikiran Rakyat.Setelah peneliti melakukan observasi di salah satu kelurahan. Kecamatan Blimbing. Konflik akibat SUTET tersebut sudah terjadi di berbagai daerah. Cirebon. Hal ini dikarenakan sejak SUTET tersebut dibangun sampai masyarakat tinggal di daerah tersebut selama 20--30 tahun belum memberikan efek yang benar-benar berarti. perusakan menara SUTET oleh korban lainnya sebelumnya terjadi di Desa Cisaat Kec. karena tanah milik warga yang dilalui jaringan SUTET mempunyai nilai jual yang rendah dan dianggap berbahaya akibat adanya radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET. yaitu Kelurahan Purwodadi. Konflik akibat SUTET dalam hal ekonomi adalah banyaknva masyarakat yang menuntut ganti rugi atas tanah yang dirasakan kurang. Jatim. Konflik lain yaitu terjadi pada 20 Januari 2006 yang baru lalu sekitar 200 warga Kampung Nagrak Desa Nanjung Mekar Kec.

Karena. daya listrik yang disalurkan terbatas.Konflik-konflik tersebut di atas akan sangat merugikan kedua belah pihak baik masyarakat maupun PLN. permintaan tambah daya konsumen sulit dipenuhi.K/47/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. Pada tahun 1992 dikeluarkan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. dengan ancaman hukuman penjara masing-masing empat tahun penjara dan dua tahun delapan bulan. Dari berbagai masalah yang timbul seperti di atas dapat dikatakan bahwa akar permasalahan hanya dua yaitu tuntutan ganti rugi yang kurang dan masalah kesehatan.P/47/MPE/1992 tentang Ruang Bebas bagi Penyaluran Tenaga Listrik. bila tower SUTET 500 k\ sampai roboh atau rusak.OI. akibatnya akan melumpuhkan perekonomian dan menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan. Karena perbuatan itu termasuk kategori membahayakan obyek vital dan strategis milik negara dengan ancaman pidana hukuman seumur hidup atau pidana mati. Di samping itu juga terdapat dampak buruk jika SUTET tidak dibangun antara lain: daya dari pembangkit non BBM yang akan dibangun tidak tersalurkan. rawan terhadap pemadaman. Peraturan ini menyatakan bahwa . 151/1985. akan terjadi pemadaman listrik yang meluas di wilayah Jawa-Bali. Selain itu juga bisa dijerat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 408 dan pasal 406. Selain itu perusakan instalasi SUTET termasuk tindakan sabotase negara. 151985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No. Karena masyarakat yang mencoba melakukan perusakan tower SUTET bisa dijerat UndangUndang (UU) No. I tahun 2002 tentang Terorisme. keandalan sistem menurun (kemungkinan blackout sangat besar). Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No. Hal ini terjadi karena ada perbedaan dasar hukum yang dijadikan pedoman antara masyarakat dengan PLN. pelaksanaan UU No. Hal ini tidak hanya merugikan PLN yaitu berkurangnya profit karena jika terjadi pemadaman total maka akan menghambat segala aktivitas yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat sendiri. penambahan pelanggan baru sulit dipenuhi. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No OI. dan pertumbuhan sentra industri terhambat yang akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. 15 Tahun 2003.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975.

P/47/MPE/1992 diubah oleh Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No-975 K/47/MPE/1999. PLN akan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. Tim inilah yang ditugaskan untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di lapangan melalui dialog intensif.pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan tidak diwajibkan untuk memberikan ganti rugi selama bangunan atau benda apa pun tidak termasuk ke dalam ruang bebas atau dengan kata lain bangunan benda berada di ruang aman. Depdagri. PT. Depkes. para korban tetap dapat mengajukan tuntutan atas dasar wanprestasi. Kantor Menneg BUMN. penyuluhan dan upaya-upaya lainnya. Departemen ESDM dan PT PLN (Persero). yang nada pokoknya berisi. karena hanya memberi ganti rugi dan membebaskan tanah. Kantor Menneg LH. PLN maka PT. Sebagai niat baik dan peduli terhadap lingkungan yang terkena proyek untuk publik ini. apabila dikemudian hari terjadi kecelakaan yang sesuai hasil penelitian disebabkan oleh keberadaan SUTET 500 kV.01. 15 Th 1985. Tim ini terdiri dari Kantor Menko Polhukam. Peristiwa di atas menuntut PT. PLN telah melaksanakan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah dan selalu mengutamakan kepentingan dan keinginan masyarakat. BPN. PLN (Persero) untuk mengambil langkah penyelesaian sebagai wujud dari tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Tanggung jawab tersebut adalah terhadap kesehatan manusia dan atau meninggal dunia serta atas kerusakan rumah dan atau barang-barang elektronik atau alat-alat rumah tangga lainnya. karena PT. Mabes Polri. PLN dan elemen masyarakat. bangunan dan tumbuh-tumbuhan di atas tapak penyangga SUTET. baik karena kelalaian atau kesalahan PT. Terkait dengan ganti rugi dan kompensasi. Kejaksaan Agung. PLN telah membuat dan menandatangani surat jaminan. PLN (Persero) sudah memberikan semacam dana tali asih dan pinjaman dana dari koperasi kepada . Depkum dan HAM. Depkeu. Baik Permentamben tahun 1992 maupun Kepmentamben tahun 1999 isinya adalah bertentangan dengan Pasal 12 UU No. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan membentuk joint team yang terdiri dari pemerintah. Depkominfo. Pada tahun 1999 Permentamben No. Apabila dalam kasus SUTET tidak diajukan judicial review.

Diakses pada 28 lanuari 2006) Oleh karena itu. PLN pada saat awal pengoperasian SUTET. PLN menganjurkan pada masyarakat agar mengusahakan rumah berlangit-langit (plafon). (www. PLN meninggikan bentangan kabel listrik. Menurut WHO (World Health Organization) ambang batas kekuatan medan listrik dan medan magnet yang tidak membahayakan tubuh manusia sebesar 5 kV/m untuk medan listrik dan 0.1 m Tesla untuk medan magnet. terutama pada lahan-lahan yang kosong. PLN (Persero) sendiri telah membuat pagar pembatas untuk menjaga ruang bebas dan jarak aman serta secara periodik melakukan pengukuran kuat medan listrik dengan menggunakan alat Elektromagnetic Field Meter. maka ruang setinggi 14 meter di atas tanah dianggap aman. jika sebelumnya dengan bentangan di menara setinggi 8. PT. . Hal ini ditujukan agar masyarakat mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Penyuluhan ini biasanya diberikan PT. kuat medan Iistrik di bawah SUTET di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah. maka dengan meninggikan sampai 22. upaya untuk meminimalkan dampak negatif radiasi elektromagnetik ini yaitu dari penelitian yang telah dilakukan. dan pemberian penyuluhan tentang aturan jarak aman kepada masyarakat. Penyuluhan MI bertujuan memberikan pengertian yang benar tentang pengaruh medan listrik dan medan magnet sehingga masyarakat yang bermukim di sekitar sarana transmisi ini memiliki persepsi yang benar dan rasa aman tinggal di sekitarnya. Dan jika tidak ada kepentingan tidak dianjurkan berada di luar rumah di bawah SUTET pada malam hari karena pada saat itu arus yang mengalir pada kawat penghantar SUTET lebih tinggi daripada siang hari.5 meter harus membebaskan tanah di bawah kabel listrik. Selain itu dengan adanya peraturan Menteri Pertambangan dan Energi tentang ruang bebas untuk SUTET tahun 1992 pihak PT.republika.com.masyarakat yang tempat tinggalnya dilalui jaringan SUTET. Bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang lain adalah dilakukan pengukuran berkala.5 meter SUTET. dan lebih baik jika menanam pohon sebanyak mungkin di sekitar rumah. tetapi penyuluhan ini juga dapat diberikan pada kesempatan lain jika masyarakat membutuhkanya. Selain itu.

tidak hanya mendapat tentangan dari masyarakat sekitar. Karena selama ini dasar hukum pemberian ganti rugi yang menjadi pedoman masyarakat dan PT. namun bentuk CSR tersebut ternyata belum memberikan dampak yang nyata karena masih banyak terjadi konflik di berbagai daerah.Namun dari berbagai bentuk CSR yang sudah diterapkan untuk mengatasi masalah SUTET. Hal ini dikarenakan perusahaan yang hanya mementingkan keuntungan finansial dan mengabaikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Untuk konflik SUTET terutama yang menyangkut masalah ganti rugi sebaiknya pihak pemerintah mengeluarkan suatu dasar hukum yang sama dan jelas sehingga tidak menimbulkan konflik dan tidak akan merugikan kedua belah pihak yaitu masyarakat dan PT. sehingga . serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. PLN tidak sama. tetapi juga tanggung jawab sosial dan lingkungan. Sedangkan dampak negatifnya adalah adanya bahaya kesehatan oleh radiasi elektromagnetik. tidak menjamin perusahaan akan berkembang secara berkelanjutan. Dalam pembangunan sarana ketenagalistrikan. Untuk itu. BAHASAN CSR menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi. berbagai penelitian dan jalan keluar untuk mengatasi konflik SUTET ini sangat diperlukan. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut apa yang sudah diterapkan PT. Dampak positif tersebut antara lain dapat meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. PLN. PLN merupakan bukti bahwa PT. akan mempunyai dampak positif maupun negatif seperti yang telah dijelaskan dalam poin di atas. PLN (Persero). PLN memiliki tanggung jawab sosial atau CSR. _yaitu menciptakan profit demi kelangsungan usaha. masih belum dapat menyelesaikan secara tuntas konflik-konflik yang terjadi antara masyarakat dengan PT. tetapi juga tekanan dari LSM. Alasannya. jika menggantungkan pada finansial saja. Dari berbagai konflik yang timbul akibat keberadaan SUTET dapat dikatakan bahwa akar permasalahannya yaitu tuntutan ganti rugi yang dirasakan masih kurang oleh masyarakat dan adanya ancaman bahaya kesehatan.

Masalah utama dalam konflik SUTET yaitu selain kurangnya ganti rugi yang diberikan yaitu berkaitan dengan masalah kesehatan. maka suatu saat terjadi masalah maupun konflik. Pada kenyataannya. Sehingga nantinya tidak akan terjadi masalah di kemudian hari pada saat proyek SUTET tersebut mulai dikerjakan. sangat diperlukan kesamaan dasar hukum sehingga akan memiliki persamaan pandangan antara masyarakat dan PT.K147/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. Untuk itu. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi kurang tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang dampak negatif dan bahaya yang ditimbulkan akibat pembangunan proyek SUTET. PLN (Persero) harus menetapkan batasan-batasan . sejauh ini belum memperoleh sosialisasi secara transparan tentang kemungkinan dampak buruk yang terjadi akibat pembangunan SUTET. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No Ol. PLN.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975. PLN yaitu Permentamben No O1. yaitu masyarakat yang sakit dan diduga disebabkan karena radiasi elektramagnetik. PLN (Persero). dan masing-masing mempunyai pandangan sendiri. 15 Tahun 1985.P/47/MPE/1992 lebih rendah dari jumlah ganti rugi yang tertuang dalam UU No. Oleh karena itu. Dalarn hal ini PT.15/1985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat sebagai Wujud tanggung jawab perusahaan dalam hal kesehatan. jumlah ganti rugi dari kedua dasar hukum ini berbeda yaitu dasar yang dijadikan patokan oleh PT.tidak ada kesepakatan antara kedua pihak. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No. masyarakat akan berusaha mencari solusi bersama-sama dengan pihak PT. atas potensi dampak yang mungkin muncul dari proyek tersebut. PLN (Persero) dapat menerapkan salah satu bentuk CSR misalnya berupa jaminan kesehatan. Selama ini masyarakat yang areal pekarangan dan sawahnya telah dibangun tower dan akan dilalui jaringan. PLN (Persero) sangat perlu untuk segera memberikan informasi yang sebenarbenarnya. Namun. manajemen PT. Jaminan kesehatan ini diberikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar area yang dilalui jaringan SUTET. jika pihak PLN memberikan sosialisasi secara transparan dan menyeluruh. 151/1985. PT. Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No.

co. (www. yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache). yaitu I kV = 1 cm. Jika hal tersebut sudah dilakukan secara rutin dan menjadi salah satu program aktivitas PT. telinga berdenging. (4) kurdiovaskuler. kulit meruam.5 m. untuk 275 kV adalah 13 m dan 500 kV adalah 17 m (www. (5) endokrin. misalnya penyakit yang menyerang 1) darah. Selain itu penyuluhan dan sosialisasi mengenai jarak aman kepada masyarakat harus selalu diberikan.yang jelas misalnya PLN hanya akan memberikan jaminan kesehatan tersebut jika masyarakat yang sakit tersebut benar-benar disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang menurut berbagai penelitian antara lain menurut WHO. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome).com Diakses pada 26 Desember 2006). misalnya untuk jaringan tegangan menengah dan rendah (JTM/JTR) di daerah tersebut dapat digunakan rumus sederhana. dr.Kes.pikiranrakyat . rasa mual. Sehingga jika suatu saat ada masyarakat yang mempunyai penyakit atau gejala di atas harus mendapat jaminan kesehatan walaupun mungkin penyakit tersebut bukan karena radiasi elektromagnetik. untuk 150 kV adalah 10 m. untuk 275 kV adalah 7. Sedangkan jarak aman horizontal dari as/sumbu menara (D) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 7 m. gangguan konsentrasi. (3) syaraf. PKK yang menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. dan (7) hipersensitivitas dengan gejala jantung berdebar-debar. muka terbakar. Kegiatan yang dilaksanakan oleh PT. Artinya jika tegangan di kawat jaringan sebesar 20 kV maka jarak amanya adalah 20 cm atau 0. pening (dizziness).5 m.2 m. misalnya pemberian kredit dan pemberian dana tali asih. kebingungan. gangguan tidur.pln. Untuk transmisi SUTET aturan jarak aman vertical (C) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 4. maka ini akan dapat melibatkan hubungan kemitraan . dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya. (6) psikologis.5 m dan untuk 500 kV adalah 9. (2) reproduksi. serta gangguan kejiwaan berupa depresi. PLN.id Diakses pada 7 Februari 2006). Anies.5 m. Atau menurut hasil penelitian Dr. PLN (Persero) pada umumnya masih bersifat hibah dan bukan merupakan program rutin. kejang otot. M. untuk 150 kV adalah 5.

antara pihak PT. PLN dengan masyarakat. Untuk itu tanggung jawab sosial perusahaan diperlukan agar menciptakan keseimbangan dan keberlanjutan hidup dan jalinan kemitraan timbal balik antara perusahaan dan stakeholders. Disini PLN menjadikan masyarakat sebagai mitra, sehingga PLN mempunyai program kegiatan dalam upaya pemberdayaan untuk mendukung kesejahteraan dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. Sehingga antara masyarakat dan PLN terjalin hubungan yang baik dan saling mendukung selama kegiatan tersebut tidak menimbulkan masalah dan dampak negatif. Kemitraan ini bisa tercipta antara lain melalui program yang berupa ekonomi kerakyatan yaitu, PLN menjadi mitra masyarakat dalam hal pemberian hibah untuk kredit usaha. Bentuk-bentuk CSR tersebut dl atas mungkin tidak sepenuhnya dapat mengatasi masalah, namun paling tidak dapat mengurangi adanya konflik SUTET. Agar program-program CSR seperti di atas dapat berjalan dengan lancar, maka sangat diperlukan hubungan maupun kerjasama yang baik antara PT. PLN (Persero), masyarakat, dan Pemerintah, serta seluruh stakeholdernya. Aktivitas CSR yang dilakukan oleh PT. PLN Persero tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga pihak PLN itu sendiri. Manfaat yang diperoleh masyarakat dengan dilaksankannya program CSR oleh PLN misalnya, dapat mengembangkan usaha mereka melalui hibah untuk kredit usaha, adanya jaminan kesehatan, dan masyarakat mendapatkan ganti rugi serta kompensasi atas tanah milik mereka sesuai dengan kesepakatan.Selain itu, aktivitas masyarakat juga tidak akan terganggu karena adanya pemadaman total akibat perusakan tower SUTET. Bagi PT. PLN Persero sendiri, kegiatan operasional perusahaan tidak akan terhambat dan selalu mendapat dukungan dari masyarakat, dan akhirnva tercipta hubungan yang baik antara masyarakat dengan pihak PLN. Di sisi lain, image perusahaan dalam pandangan masyarakat akan tetap baik dan selalu mendapatkan respon yang positi£ Dari manfaat yang dapat diperoleh di atas, semoga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi PT. PLN (Persero) untuk menetapkan CSR dalam kegiatan operasionalnya dan tentunya menjadikan PLN ke arah yang lebih baik.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Akhir-akhir ini banyak perusahaan yang makin sadar akan pentingnya praktik Corporate Social Responsibility (CSR), ataupun mengikuti langkah-Iangkah serupa termasuk perusahaan BUMN seperti PT. PLN (Persero). Hal Ini tentu memerlukan hubungan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat dan para pelaku bisnis sendiri. Misalnya, pemerintah memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang menerapkan program CSR secara serius. Demikian pula Bapepam mewajibkan laporan CSR bag) perusahaan yang akan masuk bursa ataupun yang kini sudah tercatat di bursa, serta langkah-langkah lain yang relevan. Dan masyarakat mendukung program CSR yang diterapkan perusahaan tersebut. Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan, PT. PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial.
Saran

Agar program CSR dapat berjalan dengan baik, maka dapat disarankan (1) Untuk pemerintah sebaiknya memberikan peraturan hukum yang secara tegas dan khusus mengatur tentang tanggung jawab sosial perusahaan; (2) Program diarahkan pada masyarakat yang membutuhkan dan diprioritaskan pada kebutuhan pokok masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup; (3) Program dilaksanakan dengan menyediakan tenaga ahli pendamping; dan (4) Dilakukan evaluasi dan pelaporan, apakah program tersebut berjalan sesuai tujuan.

DAFTAR RUJUKAN

Abdul Rosyid Idris, Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah gagasan dan implementasi. www.fajaronline.co.id. Diakses 29 Januari 2006 Anonim. Kekuatan Ide-ide Bisnis Mujarab. www.swa.co.id. Diakses 30 Desember 2005. ----------. Tanggung Jawab Sosial Bukan Beban Bagi Perusahaan. www.kompas.co,id. Diakses 18 Desember 2005. ----------. Pemerintah Bentuk Tim Tangani SUTET. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Tower SUTET Dirusak. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Awas Listrik Munculkan Penyakit. www.republika.com. Diakses 7 Februari 2006. -----------. Proyek Jaringan SUTET PLN (1). www.suara merdeka.com. Diakses 7 Februari 2006 Azwar, Saifudin,1999. Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Arikunto,Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. PT.Rineka Cipta, Jakarta Djatmiko,Harmanto Edy. Saatnya Menabur. www.swa.co.id. Diakses 26 Desember 2005. Djoko,Tony. Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR). www.pertamina.com. Diakses 18 Desember 2005. Hasibuan, Sedyono Chrisanti. Sekali lagi CSR. Majalah SWA 23/XIX/10/ November 2003. Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis. CV.Alfabeta.Bandung. Wiryosimin, Suwarno. 1995. Mengenal Asas Proteksi Radiasi. ITB Bandung

Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta)
Heri Sudarsono

Abstract: The aims of this research are: (a) Describe financial and non financial compensation, intrinsic motivation and lecture performance; (b) Analyze the effect of financial compensation and intrinsic motivation to lecturer performance; (c) Analyze the effect of non financial compensation on intrinsic motivation; (d) Analyze the effect of non financial compensation and motivation to lecture performance. Based on description and path analysis, it shows that financial compensation and intrinsic motivation was in good condition and affecting lecture performance. Financial compensation as salary, incentive, and wage and intrinsic motivation as achievement knowledgement, the job it self, and responsibility has direct and indirect effect on independent variable, so the main model proposed could be decided as final model in path analysis. Key words: compensation, motivation, performance

Unsur manusia memegang peranan yang penting karena manusia menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, strategi maupun langkah kegiatan operasional suatu kegiatan. Manusia juga merupakan mahluk yang mempunyai pikiran, perasaan, kebutuhan dan harapan yang memerlukan perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi prestasi, dedikasi dan loyalitasnya terhadap organisasi (Hasibuan, 1990:222). Menurut hierarki kebutuhan Maslow (Robins, 1996:1990) manusia mempunyai kebutuhan bertingkat yang mencakup faal, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Heri Sudarsono adalah dosen Jurusan Manajemen FE Universitas Teknologi Surabaya

Pola penggajian secara proporsional dengan memberikan insentif pada tenaga dosen yang kinerjanya melebihi standart yang ditetapkan oleh organisasi merupakan salah satu metode untuk meningkatkan motivasi berprestasi. prestasi dosen juga ditentukan oleh frekuensinya dalam menyajikan makalah seminar. keberadaan dosen menjadi factor yang sangat penting dalam kelangsungan kegiatan akademik. yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi secara umum. Persoalan yang sering mencuat bahwa secara umum kinerja dosen perguruan tinggi swasta (PTS) disinyalir menghasilkan kinerja yang masih dibawah dosen perguruan tinggi negeri (PTN). Dengan pemberian insentif yang layak akan meningkatkan motivasi kerja dosen. Dosen juga dituntut untuk memililiki kemampuan berfikir logis. hal yang dapat dilakukan adalah dengan menjadi anggota organisasi. dosen juga berfungsi sebagai peneliti dan pengabdi. Salah satu upaya yang ditempuh organisasi untuk menciptakan situasi tersebut yakni dengan memberikan kompensasi yang memuaskan karyawan. Untuk mencapai hal itu organisasi harus mampu menciptakan situasi dan kondisi yang mendorong dan memungkinkan pegawai mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki secara optimal. Dalam konteks perguruan tinggi. menguasai prinsip penelitian serta mampu melaksanakan dan mengkomunikasikan hasil penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa disamping mengajar. disamping sebagai pengajar. Menurut Handoko. Oleh karena itu maka kajian tentang kinerja dosen PTS. motivasi yang tinggi akan berdampak pada kinerja peningkatan produktivitas dan efisiensi. motivasi intrinsik . Selanjutnya gaji merupakan salah satu faktor insentif yang sangat penting bagi dosen. Berdasarkan latar belakang maka tujuan penelitian ini adalah: (a) Mendeskripsikan kompensasi financial dan finansial. penulisan artikel ilmiah dan penyusunan buku. utamanya dosen ekonomi menjadi menarik untuk dilakukan. kritis.Untuk memenuhi aneka ragam kebutuhan tersebut. Tumbuh dan berkembangnya organisasi tergantung pada sumber daya manusia. penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Berdasar tri dharma perguruan tinggi. cara meningkatkan prestasi. motivasi dan kepuasan kerja adalah dengan memberikan kompensasi (1993:156). sehingga manusia merupakan asset yang harus ditingkatkan efisiensi dan produktivitasnya. Oleh karena itu aspek pembinaan manusia dan motivasi kerja merupakan fokus utama perhatian organisasi.

upah. artinya pemberian kompensasi dengan memperhatikan perbandingan antara jumlah gaji tertinggi dan terendah. lingkungan psikologis atau fisik. Kompensasi finansial tidak langsung. artinya dalam pemberian kompensasi harus terdapat unsur keadilan baik dalam kaitannya dengan waktu kerja maupun prestasi kerja. Mondy and Noe (1993:20) yang menjadi dasar penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua jenis. (e) Mengontrol dana. peluang pengakuan. yang disebut juga tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi langsung. Cascio. (c) Menganalisis pengaruh kompensasi finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. (c) Menunjukkan adanya keadilan baik internal equity maupun external equity. menyebutkan bahwa terminologi atau pembagian dari kompensasi terbagi dalam bentuk kompensasi langsung dan kompensasi tidak langsung. bonus dan komisi. (g) Memotivasi karyawan. seperti tanggung jawab. (d) Memberi rewards terhadap perilaku yang sesuai dengan organisasi. (f) Menyesuaikan dengan regulasi upah yang ada. (e) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. (b) Prinsip keadilan. Kompensasi finansial langsung terdiri dari gaji. tidak langsung atau tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi finansial langsung. Agar pemberian kompensasi efektif. upah.dan kinerja dosen ekonomi pada PTS. Kompensasi finansial langsung terdiri dari bayaran yang diperoleh dalam bentuk gaji. peluang promosi. dan (h) Mengurangi Labor Turnover karyawan. (b) Mengkaji pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsic. Kompensasi non-finansial adalah kompensasi yang diterima atas dasar pekerjaan itu sendiri. diantaranya: (a) Mendapatkan personal yang kualified. (c) Prinsip . Kompensasi finansial terdiri dari kompensasi finansial langsung dan tidak langsung. biaya hidup. Pemberian kompensasi yang tepat dan efektif dalam organisasi harus memenuhi syarat adil dan layak pada karyawan. (b) Mempertahankan karyawan yang ada. dan sebagainya. bonus dan komisi. organisasi perlu memperhatikan prinsip berikut (Wayne F. yaitu kompensasi finansial dan kompensasi non-finansial. (d) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. 1991:185): (a) Prinsip kewajaran. Selanjutnya Simamora (1997). Davis &Werther (1996:381) menyebutkan ada beberapa tujuan dari pemberian kompensasi.

yakni kebutuhan manusia dapat disusun dalam hierarki 5 kebutuhan. artinya pemberian kompensasi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kompensasi yang diberikan karena kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan. Sedangkan Widjaja (1986:12) berpendapat bahwa motivasi adalah kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. yakni: upaya. Robbins (1996) menyebutkan bahwa motivasi merupakan kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi kebutuhankebutuhan individual. artinya pemberian kompensasi harus mampu meransang karyawan untuk memberikan sumbangan yang maksimal atau konstribusi pada organisasi. dari kebutuhan yang terendah sampai kebutuhan tertinggi. (f) Prinsip perangsang. Terdapat beberapa teori motivasi yang menunjuk pada kebutuhan yang memuaskan dan mendorong semangat bekerja seseorang sebagai berikut. Teori ini mendasarkan konsep hierarki kebutuhan pada dua prinsip. Motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan (Handoko. Berdasar beberapa definisi motivasi dapat dilihat adanya tiga unsur kunci. dengan yang tidak terkait dengan pekerjaan atau jabatan. (e) Prinsip Pengendalian biaya. artinya pemberian kompensasi harus dihindarkan dari unsur pemborosan organisasi. tujuan organisasi dan kebutuhan.keamanan. dan kebutuhan . dan (h) Prinsip kesepakatan. (g) Prinsip keseimbangan. Teori Maslow mengemukakan bahwa manusia dimotivasi oleh keinginan untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang ada. dalam pemberian kompensasi mudah dihitung atau mudah dimengerti oleh karyawan. atau dengan kata lain motivasi adalah akibat dari interaksi antara situasi dan kondisi yang ada. artinya pemberian kompensasi memperhatikan hal yang tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan atau jabatan. Siagian (1995) menjelaskan motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya. 1993: 252). (d) Prinsip kejelasan. artinya dalam pemberian kompensasi hendaknya merupakan hasil atau kesepakatan bersama antara karyawan dengan pihak manajemen dalam organisasi.

rasa memiliki. kebebasan. tidur. pengakuan atas kemampuan dan keahliannya. Faktor motivasi kerja intrinsik inilah yang menjadi penekanan peneliti. kemerdekaan. Kebutuhan aktualisasi diri. tiap orang menginginkan dua macam kebutuhan. 4. faktor higienis yang juga disebut dissatisfier yang berhubungan dengan hakekat manusia untuk memperoleh ketentraman lahiriah. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan. ancaman. 2. (c) pekerjaan itu sendiri. 1992:334). Aktualisasi diri berkaitan dengan pengembangan akan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. Menurut Herzberg (dalam Dressler. Kebutuhan akan aktualisasi diri dengan untuk menunjukkan kemampuan. 5. appresiasi. kedudukan dan sebagainya. Hilangnya faktor pemeliharaan ini akan meningkatkan ketidakpuasan dan tingkat absensi serta labor turnover yang tinggi. Kebutuhan akan rasa aman dalam melaksanakan suatu pekerjaan dan merupakan harapan mendapat perlindungan terhadap bahaya. . keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. Serangkaian faktor ini meliputi: (a) pengakuan prestasi. dan berhubungan dengan lingkungan. Kebutuhan sosial. Kebutuhan terhadap hubungan lingkungan sosial atau bersosialisasi. Kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan keinginan untuk dihormati. seks. 3. Adapun tingkatan kebutuhan tersebut sebagai berikut: 1. perampasan dan atau juga proteksi terhadap harta kekayaan. Kebutuhan rasa aman. kebutuhan akan cinta kasih. dan (e) kemajuan. dan sebagainya. Kedua. Menurut Sukanto dan Handoko (1992:271). Kebutuhan penghargaan. faktor motivator yang juga disebut satisfier yang berkenaan dengan isi pekerjaan dan faktor ini sebagai sumber kepuasan kerja yang dapat memotivasi seseorang pada pekerjaan mereka. dihargai atas prestasinya. keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. Kebutuhan fisiologis. minum. (b) penghargaan. Pertama. perumahan. yakni motivasional dan higieni. Kebutuhan ini meliputi penerimaan oleh teman sekerja. faktor motivasional disebut juga faktor intrinsik yang meliputi kondisi intrinsik dan kepuasan pekerjaan. kebutuhan akan status. (d) tanggung jawab.yang telah terpuaskan akan berhenti menjadi motivator utama dari pelaku.

Seymour (dalam Swasto. Artinya apabila perilaku seseorang memberikan hasil pekerjaan yang sesuai dengan standar atau kriteria yang dibakukan organisasi. and then gives feedback to employees and the Human Resources Departement. Jadi sistem penilaian yang efektif harus mengidentifikasikan kinerja yang sesuai dengan standar. kemampuan dan persepsi tugas (Byars dalam Suharsimi. Handoko (1992:270) menyebutkan bahwa faktor higienis sendiri tidak menimbulkan motivasi tetapi diperlukan agar motivasi dapat berfungsi atau dengan kata lain berfungsi sebagai landasan motivasi. sistem penilaian kerja yang efektif memiliki beberapa elemen kunci: Appraisal approaches must identify performance-related standart. Atau dengan kata lain. . Prestasi kerja merupakan hasil keterkaitan antara usaha. harming the manager‟s relationship with their employees. the evaluation can lead to inaccurate or biased results. mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan kerja. gaji. If performance standart or measures are not job-related. maka kinerjanya tergolong baik. mengukur kriteria-kriteria yang harus diukur dan selanjutnya memberi feedback kapada pegawai/karyawan dan bagian personalia. Menurut Davis & Werther (1996:344). hubungan antar rekan dan kondisi kerja. Faktor higienis meliputi kebijakan. pengawasan. tetapi tidak akan menimbulkan dorongan dan kepuasan kerja. sekaligus juga melihat besarnya penyimpangan dengan cara membandingkan antara hasil pekerjaan secara aktual dengan hasil yang diharapkan. penetapan standar diperlukan untuk mengetahui apakah kinerja karyawan sesuai dengan sasaran yang diharapkan. 1995:29). dan jika sebaliknya berarti kinerjanya buruk. measure those criterias. 1996) mengemukakan bahwa kinerja merupakan pelaksanaan tugas yang telah diselesaikan seorang dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur. administrasi. Kinerja diartikan sebagai hasil usaha seseorang yang dicapai dengan kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu.Faktor ini juga disebut faktor ekstrinsik yang mempengaruhi ketidakpuasan kerja. Perbaikan faktor higienis akan mencegah. Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan.

dapat diturunkan menjadi model hipotesis pada Gambar 1. Indikator-indikator tersebut meliputi: kesetiaan. Berdasarkan model kajian penelitian tersebut. Dengan kata lain. prestasi kerja. dan dapat dituliskan sebagai berikut: p = f ( m x a ). kemampuannya dalam melaksanakan suatu pekerjaan serta peralatan atau teknologi yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Sesuai dengan Keputusan Menpan No. tanggung jawab. bentuk penilaian prestasi kerja atau kinerja terangkum dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan. dan a = ability. dan (4) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. dan kepemimpinan. Swasto (1996) mengemukakan bahwa prestasi kerja individu merupakan perpaduan antara motivasi yang ada pada diri seseorang. dimana p = performance. Dalam pendidikan tinggi atau perguruan tinggi. dharma penelitian dan dharma pengabdian pada masyarakat. (2) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. (3) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. ketaatan. prakarsa. model hipotesis dapat diuraikan hipotesis berikut: (1) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial terhadap motivasi intrinsic. kinerja merupakan fungsi interaksi antara motivasi kerja dengan kemampuan. dimana daftar tersebut memuat 10 indikator yang ada. kerjasama. kejujuran.Analisa tentang kinerja karyawan menurut Gomes (1995) senantiasa berkaitan erat dengan dua faktor utama: a) kesediaan atau motivasi seseorang untuk bekerja yang menimbulkan usaha karyawan. 13/MENPAN/1988 tentang Perincian Kegiatan dan Angka Kredit Jabatan Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi. m = motivasi. Berdasarkan beberapa definisi di disimpulkan bahwa ukuran kinerja dosen dalam penelitian ini adalah tingkat kinerja dosen dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya yang menyangkut tri dharma perguruan tinggi yakni dharma pendidikan dan pengajaran. . b) kemampuan karyawan untuk melaksanakan pekerjaan.

P41 Kompensasi Finansial (X1) P31 Kompensasi Non Finansial (X2) Motivasi Intrinsik (X3) P43 Tingkat Kinerja Dosen (X4) P32 P42 Gambar 1 Model Hipotesis Penelitian METODE Teknik yang digunakan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian dilakukan dengan berbagai cara: 1. 2. Tujuan utama dari pemberian kuesioner adalah: (a) memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. jumlah dosen. 1995). Dokumentasi. 3. Penulis memperoleh informasi melalui dokumen dari masing-masing PTS seperti program dan struktur kompensasi. Cara memperoleh data dengan jalan mengadakan tanya jawab langsung dengan pihak yang berkepentingan dengan harapan memperoleh informasi yang dibutuhkan. Wawancara. Informasi yang diperoleh memperjelas atau mendukung jawaban yang disampaikan melalui kuesioner. Uji validitas dalam penelitian ini yakni . (b) memperoleh informasi dengan reliabilitas dan validitas setinggi mungkin (Singarimbun. dan sebagainya. Kuesioner. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Instrumen dikatakan valid bila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur dan mampu mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. untuk mendapatkan data primer serta memperoleh informasi tertulis dari responden sebagai obyek penelitian. Dilakukan dengan memberi daftar pertanyaan pada dosen yang menjadi sampel penelitian.

Uji ini untuk mengetahui apakah model yang dipakai linier atau tidak. b) Asumsi homokedastisitas. menggunakan bantuan program komputer SPSS. Karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan beberapa uji asumsi klasik diantaranya sebagai berikut: a) Asumsi normalitas. Untuk memperolah nilai koefisien yang tidak bias dan efisien dari persamaan estimasi menggunakan OLS. E(e) = 0. dengan taraf signifikansi 5% dan dengan bantuan program komputer SPSS for Windows. maka pelaksanaannya harus memenuhi beberapa asumsi klasik (Gujarati. Selanjutnya untuk analisis statistik inferensial dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Path Analysis dengan terlebih dahulu diadakan analisis faktor untuk tiap variabel. Kriteria pengujian yang digunakan apabila reliabilitas suatu instrumen yang memiliki koefisien reliabilitas 0. (1) Metode analisis statistik deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan keadaan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dosen. (2) Metode analisis statistik inferensial yang digunakan untuk melihat pengaruh diantara variabel-variabelnya.menggunakan analisis yang menghitung koefisien korelasi antara skor item dengan skor totalnya. artinya asumsi menginginkan model yang dipakai dapat secara tepat menggambarkan rata-rata variabel terikat dalam observasi. maka dapat dikatakan sebagai pengumpul data yang handal. 1991:172). dimana asumsi ini terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk suatu pola tertentu.5 atau lebih. Uji reliabilitas dalam penelitian ini. dan dilakukan dengan melihat standardized scatterplot. . Analisis dilakukan secara kualitatif untuk menjelaskan dan mendeskripsikan hubungan data yang diperoleh dengan landasan teori yang dipakai melalui uraian sistematis. artinya adanya heterokedastisitas akan bertentangan dengan salah satu asumsi peneliti yaitu bahwa variabel residual harus sama untuk semua pengamatan. c) Uji linieritas. Untuk menganalisis data dan menguji hipotesis. peneliti menggunakan taraf signifikansi 5 persen. rata-rata sama dengan nol.

7350 0. 2007 2. Motivasi intrinsik X4. Selanjutnya hasil uji validitas instrumen penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Diolah. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen Validitas merupakan unsur penting bagi suatu instrumen karena uji ini menunjukkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan instrument dalam melaksanakan fungsinya. Valid tidaknya suatu item instrumen dapat diketahui dengan membandingkan antara indeks korelasi produk moment Pearson pada level signifikansi 5 persen dengan nilai kritisnya. 1998).7114 0. Kompensai Non Finansial X3. Bila probabilitas basil uji Chi Square lebih kecil dari 0. dan 68.8093 Simpulan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Sumber: Hasil Penelitian. oleh karena itu perlu diadakan uji asumsi yaitu menguji residual untuk mengetahui apakah data berasal dari distribusi normal atau tidak. Jadi semua nilai residual data .05 (5 persen) maka distribusinya normal dan apabila sebaliknya maka terdistribusi tidak normal.1231.3 (Sugiono. Instrumen dikatakan valid apabila memiliki koefisien diatas 0.0000 dengan nilai probabilitas sebesar 0. Hasil pengujian menunjukkan nilai chi Square sebesar 78. Kompensasi Finansial X2. Sedangkan hasil uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach dapat dilihat pada Tabel 1. Uji yang dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square terhadap nilai standar residual hasil persamaan regresi. dan 0. Tingkat Kinerja Dosen Alpha 0.0000. Tabel 1 Rekapitilasi Hasil Uji Reliabilitas No 1 2 3 4 Variabel XI. Pengujian Asumsi Klasik Uji Asumsi Normalitas Distribusi normal dalam statistik inferensial sangatlah penting.HASIL 1.7151 0. Menurut Sugiyono (1994) hasil penelitian valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.0000.

689 0.028 0.8 X3.003 0.001 0.6 X1.543 0.000 0.000 0.662 0.000 0.576 0.495 0.8 X2.481 0.006 0.000 0.501 0.662 0.000 0.720 0.2 Y.006 0.2 X2.612 0.643 0.6 X2.5 Y.600 0.3 X 1.004 0.000 0.4 Y.3 X3.3 Y.787 0.1 X2.471 0.001 0.000 Simpulan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid X2.1 X3.12 Koefisien Korelasi 0.9 Y.000 0.560 0.000 0.10 Y.4 X3.387 0.767 0.6 X3.4 X1. Tingkat Kinerja Dosen Sumber : Hasil Penelitian.487 0.000 0.000 0.7 X2.terdistribusi secara normal (Tabel 3).492 0.000 0.666 0.000 0.455 0.689 0.013 U.000 0.5 X1.10 X3.l Y.515 0.313 0.2 X1.6 Y.046 0.006 0.000 0.003 0.8 Y.3 X2.7 X3.11 Y. Tabel 2 Rekapitulasi hasil Uji validitas Variabel X1.001 0.455 0.434 0.9 Y.000 0. Diolah. Motivasi intrinsik X4.000 0.353 0.619 0.000 0.4 X2.003 0. 2007 .563 0.594 Probabilitas 0.696 0.7 X1.407 0.002 0.2 X3.685 0.008 0. 1 X1.7 Y.006 0. Kompensasi finansial Item X1.8 X2.720 0.456 0. Kompensasi Non Finansial X3.651 0.001 0.5 X2.5 X3.542 ).9 X2.000 0.644 0.002 0.017 0.455 0.004 0.

0787 0.7385 62. Berdasarkan data dari rekapitulasi tersebut di atas menunjukkan bahwa semua variabel mempunyai nilai signifikansi di atas taraf kepercayaan 5 persen. X2. 2007 .0000 Simpulan Normal Normal Sumber : Hasil penelitian. Diolah.434 0. Kesimpulan yang didapat adalah terjadinya homoskedastisitas sehingga pengujian hipotesis dapat dilanjutkan. diolah.8308 Signifikansi (P) 0.252 0. Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji koefisiensi korelasi Rank Spearman yaitu mengkorelasikan antara absolut residual hasil regresi dengan semua variabel bebas. 2007 Uji Asumsi Heterokedastisitas Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah diantara variabel bebas terjadi hubungan atau tidak.0000 0.0536 Probabilitas 0.336 Simpulan ' Homoskedasttsitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Sumber : Hasil Penelitian.X2 terhadap X3 Xl. Korelasi 0. sehingga variabel bebas tidak menyebabkan terjadinya heterokedastisitas.178 0.078 0. Pengujian regresi memenuhi syarat jika diantara variabel bebas tidak terjadi heteroskedastisitas.366 0.267 0. X3 terhadapX4 Nilai Chi Square 72.0842 0. Hasil uji dapat di lihat pada Tabel 4.Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Variabel X1. Tabel 4 Rekapitulasi Hasil Uji Heteroskedastisitas Variabel bebas XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial X3 : Motivasi Intrinsik Koef.

bagian 1 terdiri dari item (Xl.Uji Linieritas Pengujian ini dilakukanuntuk mengetahui model yang dibuktikan linier atau tidak. Deskripsi Variabel yang Mempengaruhi Kinerja Dosen Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui sejauh mana distribusi frekuensi responden berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan kepada 65 responden yakni para dosen tetap di tiga perguruan tinggi swasta di Kediri. variabel dalam penelitian ini meliputi kompensasi finansial (XI) dan kompensasi non finansial (X2).2). Deskripsi Kompensasi Finansial Untuk melihat distribusi frekuensi jawaban responden dari item yang disampaikan pada 65 orang respoden.6). yang secara detail dapat dilihat pada Tabel 5. 3. Ternyata hasil penelitian tidak menunjukkan adanya plot tertentu sehingga uji ini terpenuhi. a. .7 sampai X1. Asumsi ini akan terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk pola tertentu (acak). motivasi intrinsik (X3) serta tingkat kinerja dosen (X4) Selanjutnya akan diuraikan masing-masing variabel tersebut.8). dimana saling berkorelasi. dan dilakukan dengan melihat Standardized Scatterplot.l dan X1. bagian 3 meliputi item (X1. maka pertanyaan dibagi menjadi tiga bagian. Sesuai dengan model analisis dalam penelitian ini.3 sampai X1. bagian 2 terdiri dari item (X1.

62 18.23 69.54 0.00 0. X2.15 16 12 10 12 f 21 4 % 0.15 5 7.100.4.00 0.38 18. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian.Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kompensasi Finansial Jawaban Responden No. c. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 Kesesuaian tentang sistem pemberian gaji Kesesuaian tentang besarnya gaji yang diterima Kesesuaian tentang sistem pemberian honor Kesesuaian tentang besarnya honor Kesesuaian tentang macam insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya tunjangan Kesesuaian tentang macam tunjangan 1 % 2 f % 6.46 15.69 6 15 10. X2. bagian kedua meliputi item (X2. bagian ketiga meliputi item (X2. Deskripsi Motivasi Intrinsik Untuk mengetahui distribusi jawaban terhadap 65 responden.54 81.2 dan X2. selanjutnya dapat dilihat Tabel 6.9.1.7. Deskripsi Kompensasi Non-Finansial Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban 65 responden variabel ini. X2.00 0.23 72.00 1. X2.8.3).6).85 12.31 10.5.31 66.38 f 40 53 45 45 47 43 3 % 61.00 10.54 69.38 76 92 9 3.77 10.00 32.46 6 7 8 0 00 0. maka item pertanyaan dibagi menjadi empat bagian seperti dapat dilihat pada . X2. dan X2.31 10 15.31 b.77 12.77 49 50 75. bagian pertama meliputi item (X2.77 24.

32 27 41.92 7.85 f 40 44 46 50 45 25 41 26 39 40 3 % 61 54 67.10 sampai X4. Deskripsi Kinerja Dosen Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban terhadap 6> responden.00 60. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Keadilan dalam promosi Pernyataan tentang kesempatan promosi Sistem kenaikan pangkat Kesempatan mengikuti diklat Dorongan studi lanjut Frekuensi mengikuti diklat Dukungan atasan Dukungan rekan kerja Suasana kerja yang mendukung Fasilitas kerja yang diterima 0 2 0 0 0 8 2 6 0 1 1 % 0.9 dan bagian ketiga untuk item pertanyaan X4.22 25 38.92 69.62 16. Tabel 6 Distribusi Kompensasi Non Finansial Jawaban No.08 9.85 24.12.00 0.15 12 18.6. bagian kedua untuk item X4.08 40.92 16.54 6 9.62 12.08 0. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8.00 1.77 76.46 12.62 12.00 61.92 16. 4.85 18.62 4.54 f 22 16 11 11 11 5 16 8 9 12 Responden 4 % 33.23 0.69 24.46 17 26.00 3.1 sampai X4.00 0.46 63.46 .31 13.7 sampai X4.68 70.00 f 3 3 8 4 9 2 % 4.31 6.54 3.23 38.15 13.Tabel 7. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian yakni bagian pertama untuk item pertanyaan X4.

23 6.08 45 69.46 0.23 7.00 7 6 6 4 8 10. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pengakuan prestasi dan atasan Prestasi menjadi dorongan Utama Penghargaan yang diterima Keadilan pemberian penghargaan Kesesuaian pekerjaan Beban mengajar yang diterima Senang terhadap pekerjaan Pemberian tanggung jawab Sikap terhadap tanggungjawab 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 % 0.62 0.15 45 69. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 Keinginan memperoleh Ijazah sampai stratum tertinggi Memberi kuliah Menyelenggarakan di lab.23 9.31 16 24.92 47 72.23 14 21.00 0.69 9.00 0.00 12 18.77 12 18.54 47 72.85 24 36.00 8 7 6 5 6 2 7 23.23 12 18.00 15 23.23 14 21.08 45 69.54 17 26 15 .77 39 60 00 19 29.54 44 67.22 3. modul 12 31 40 61.54 0.77 46 70.Tabel 7 Distribusi Frekuensi Motivasi Instrinsik Jawaban Responden No.23 16 24.62 10.00 0.08 38 58.00 0.54 9. Membimbing mahasiswa pendidikan seminar 0 0 0 0 0 0 1 % f 2 % f 3 % f 4 % 0.77 46 70.46 0.92 16 24.00 0.46 Tabel 8 Distribusi Frekuensi Kinerja Dosen Jawaban Responden No.46 10.00 0.00 1.00 0.77 12 18.00 f 7 2 % f 3 % f 4 % 10.69 15 23.08 35 53.46 45 69.00 0.46 37 56.32 12 18.46 12 18.62 Membimbing kuliah kerja nyata Membuat diktat.23 9.69 14 21.77 44 67.

85 14 21. maka variabel motivasi intrinsic akan naik sebesar . Juga dilihat interkorelasi antara variabel penelitian yakni kompensasi finansial.38 42 64 62 12 18.46 5.62 3 4 % f % f 42 64. Hasil perhitungan regresi antar factor dan identifikasi jalur pada tiap tahap dapat dijelaskan berikut: a. di mana variabel kompensasi intrinsic ke varibel motivasi intrinsic disebut jalur dengan nilai beta sebesar 0.54 13.00 33 50.00 1 54 f 6 3 9 2 % 9.77 19 29. kompensasi non finansial. Sebelum analisa jalur.31 1.22 4.23 0 00 17 26. maka signifikan pula koefisien jalurnya. Jika beta signifikan. Pengujian analisis jalur dilakukan melalui penyaringan statistik dengan menggunakan koefisien arah beta untuk regresi berdasarkan data dalam bentuk skor baku karena dapat dibuktikan.62 17 26 15 48 73.54 8 12.Tabel 8 (Lanjutan) Jawaban Responden No.85 41 63. 7 8 9 10 11 12 Item Pertanyaan Menulis karya ilmiah Menyajikan karya ilmiah Menampilkan karya ilmiah tidak dipublikasikan Memberi penyuluhan masyarakat Memberi pelayanan yang menunjang pemerintah Membuat karya pengabdian f 0 0 1 0 0 1 1 % 0 00 0. Jika variabel kompensasi intrinsic dinaikkan satu poin. dilakukan pengujian hipotesis yang telah diajukan sebelumnya. Hasil Analisis Jalur Menggunakan pengujian analisis jalur (path analysis).0000. Artinya bahwa variabel kompensasi finansial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel motivasi intrinsic.00 13 20. perlu dilakukan analisa faktor yang digunakan untuk mencari faktor yang menentukan masing-masing variable bebas. motivasi intrinsik dan tingkat kinerja dosen.08 14 21.15 40 61.548876 dan signifikansi t = 0. Tahap 1 Uji Jalur P31 Pada dasarnya uji analisis jalur ini.54 0.54 10 15.

maka varibel motivasi intrinsik akan naik sebesar 0.0005.0.0142. Artinya variabel motivasi intrinsik .354285 dengan signifikansi t sebesar 0. e. Tahap 5 Uji Jalur P43 Uji ini merupakan i0i jalur faktor variabel motivasi intrinsik ke variabel tingkat kinerja dosen.2. didapatkan nilai beta 0. didapatkan nilai beta 0.2731. didapatkan nilai beta sebesar 0.520431 dengan signifikansi t sebesar 0. b. Tahap 4 Uji Jalur P42 Uji ini merupakan uji jalur faktor variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel tingkat kinerja dosen. Artinya variabel kompensasi financial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. d. c.0005. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap tingkat kinerja dosen. di mana jalur variabel kompensasi financial ke variabel Tingkat kinerja dosen disebut jalur P41 dengan nilai beta sebesar 0. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin.548876. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap variabel intrinsik. 354285. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0.398286 dengan signifikansi t sebesar 0. Jika variabel kompensasi financial dinaikkan satu poin. Tahap 2 Uji Jalur P41 Dalam uji jalur ini.0010.0010.232731 dengan signifikansi t sebesar 0. Tahap 3 Uji Jalur P32 Dalam uji jalur full merupakan jalur faktor dari variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel motivasi intrinsik.398286 dan signifikansi t 0. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin.

354285 0. Tabel 9 Rekapitulasi Hasil Analisis Jalur Variabel terikat Motivasi Intrinsik (X3) Kinerja dosen (X4) Variabel bebas Kompensasi finansial (X1) Kompensasi non finansial (X2) Kompensasi Finansial (X1) Motivasi lntrinsik (X3) Kompensasi non Finansial (X2) beta Sig.398286 0. Selanjutnya hasil analisa untuk masing-masing hipotesis dapat dilihat pada Tabel 9.55664 0.59877 0.0000. artinya terdapat kontribusi 30.30 127 dengan signifikansi F 0.0000 0. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0.520431. BAHASAN Pada prinsipnya dalam menjawab hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dilakukan melalui analisa jalur. Nilai R2 sebesar 0.54888 yang berarti terdapat hubungan yang kuat.13 persen variabel kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik. Mengacu pada tabel di atas.15863 0.23731 0. Apabila variabel motivasi intinsik dinaikkan satu poin. variabel kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik dosen didapatkan koefisien korelasi sebesar 0.0000 0.548876 0.520431 0. Hal ini dibuktikan variabel Kompensasi finansial dan motivasi . Hipotesis 2: Diduga ada pengaruh Kompensasi Finansial dan Motivasi Intrinsik Terhadap Kinerja Dosen Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 2 diterima.59877 0.30127 0.berpengaruh terhadap variabel tingkat kinerja dosen.0142 Hipotesis 1: Diduga ada pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik Hasil analisa data menunjukkan bahwa hipotesis dinyatakan diterima.0005 0. t R Square 0.0010 0.

pengaruh kompensasi finansial dan motivasi Intrinsik sebesar 59. . yang berarti terdapat hubungan yang kuat. Hasil regresi menunjukkan bahwa hipotesis ketiga dapat diterima. artinya terdapat kontribusi sebesar 15. Ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.74608 dengan signifikansi F sebesar 0.39829 dengan signifikansi t sebesar 0.0000.0000.15863.59877 dapat dikatakan kompensasi finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen.67 persen dari kompensasi non finansial dan motivasi instrinsik terhadap kinerja dosen.55664 artinya terdapat kontribusi pengaruh sebesar 55.88 persen. Hipotesis 3: Diduga ada pengaruh Kompensasi non finansial terhadap movitasi instrinsik.77380 dengan signifikansi F sebesar 0.0010.intrinsik mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap tingkat kinerja dosen. Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 4 diterima. Nilai R2 sebesar 0. R2 sebesar 0. Hipotesis 4: D duga ada pengaruh Kompensasi non finansial dan motivasi intrinsik terhadap kinerja dosen.87 persen dan kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik. Hal ini disebabkan variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel motivasi intrinsik dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0. Nilai R2 sebesar 0.

kompensasi finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsik dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta dapat diterima secara statistik.13 persen terhadap motivasi intrinsik.000 Beta = 0.0000. P41 sig t 0. beta = 0.0005. honor dan insentif secara parsial mempunyai pengaruh sebesar 0. Hipotesis keempat. insentif.232731 Gambar 2 Model Hasil Pengujian Hipotesis SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. 3.39829 Kompensasi Non Finansial (X1) P42 sig t 0. kompensasi finansial dan motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen dapat dibuktikan secara statistik. Hipotesis ketiga. kompensasi non finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsic dapat diterima secara statistic. pekerjaan itu sendiri.30127 atau 30.Berdasarkan hasil analisis dapat dibangun model empiris pada Gambar 2.0142.354285 Kompensasi Finansial (X1) P31 sig t 0. dan honor serta motivasi intrinsik yang terdiri dari pengakuan prestasi. Hipotesis pertama. Kompensasi finansial yang terdiri dari gaji. 4. 2. Ini menunjukkan bahwa kompensasi finansial yang terdiri dari gaji.87801.0010. kompensasi non finansial dan variabel intrinsik mempengaruhi kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada PTS di . beta = 0. beta = 0. ditunjukkan oleh nilai F hitung 11.520431 Kinerja Dosen (X4) P32 sig t 0. Hipotesis kedua.548876 Motivasi Intrinsik (X3) P43 sig t 0. dan tanggungjawab berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen. beta = 0.

Baik buruknya kinerja dosen akan sangat dipengaruhi oleh motivasi intrinsik dosen.67 persen terhadap variabel tingkat kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta di Kediri.33 persen dipengaruhi oleh variabel lainnya diluar model. Dengan meningkatnya motivasi intrinsik diharapkan kinerja dosen akan bertambah baik pula dalam rangka pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik mempunyai pengaruh yang signifikan sebesar 55. . PTS seyogjanya memperhatikan variabel kompensasi ini guna meningkatkan motivasi intrinsik dosen.Kediri dapat diterima. sisanya 44. Perguruan tinggi harus memperhatikan bagaimana meningkatkan movitasi intrinsik dosen tersebut. Selanjutnya motivasi intrinsik tersebut akan berdampak langsung pada kinerja dosen. Saran Berdasar pada hasil kajian diatas sangat jelas bahwa variabel kompensasi baik variabel kompensasi finansial maupun variabel kompensasi non finansial sangat erat hubungannya dengan motivasi intrinsik dosen.

Simmamora. 1993. Prosedur Penelitian : Suatu pendekatan Praktek. Wayne & Noe. Manajemen Sumber Daya Manusia. Robbins. Jakarta. Allyn & Bacon. Jakarta. Mc Graw-Hill. Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi. Hasibuan. 1995. 1990. Edisi Revisi II. Manajemen Sumber Daya Manusia. 1986. Gomes. Suharsimi. Yogyakarta. Human resources Management.T. Jilid I. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. A. BP STIE YKPN. Inc. Kontroversi dan Aplikasi. Second Edition. Mc Grw Hill. Davis. Massagung.. Jakarta. Henry.F. Manajemen Sumber Daya Manusia. Siagian. B.DAFTAR RUJUKAN Cascio. P. Quality of Work Life. . Swasto. 1992. Edisi 2. M. Handoko. Cushway. Haji Masagung. 1995. Cetakan kelima. Prehalindo. Human Resources Management. 1995. ANDI Offset. BPFE Yogyakarta. 1989. Yogyakarta. London. The Association for Management Education and Development. Jakarta. Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. 1996.P. Perilaku Organisasi : Konsep. Yogyakarta. Manajemen Sumber Daya Manusia. Hani. New York. 1994. 1997. Pt Rineka Cipta. Mondy. Human Resources and Personnel Management. 1996. Pressindo. Keith & Werther.. W. Widjaja. Managing Human Resources : Productivity. S. Sondang. 1988. Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan. Profits. USA. Jakarta. Robert.

documentation. Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT). PKn. The result of this research was model with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach which is pleased to be able to increase dialogue and critical thinking skill Key words: Bahan Ajar.Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialog dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari Suparlan Al Hakim Ktut Diara Astawa Nur Wahyu Rochmadi Abstract: This research aimed to developing book and the sheet activity of student Civics with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach. Lembar Kegiatan siswa. and were analyzed by discriptive statistic. The Subyects of this research were 20 teachers of Civics in senior hight school and 20 Experts. Sri Untari. dan terbatas pada pengembangan pengetahuan (kognitif). dan Nur Wahyu Rochmadi adalah dosen Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang . Ktut Diara Astawa. The research was desained as research and development by Borg & Gall (1982). Substansi pesan pembelajaran (bahan ajar) selama ini. pesan pembelajaran masih bersifat informatif. belum mampu memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan dialog mendalam dan berpikir kritis. Fenomena yang nampak. Suparlan Al Hakim.The data was collected by questionnaires.

terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia (Dikti. Agar deep dialogue/critical thinking dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tataran praksis. 2001). proses pendidikan yang berlangsung selama ini diduga belum berhasil meningkatkan kemampuan berdialog. pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya ditekankan pada pembentukan kepribadian manusia. karena sifat terbuka dalam diri akan membuka peluang . tanpa ada tindak lanjut dalam bentuk perilaku. Bahkan diduga telah menghasilkan hal yang sebaliknya. baik yang ditampakkan dalam proses pembelajaran maupun kemasan materi dalam bentuk bahan ajar dan lembar kegiatan siswa. sehingga menyebabkan rendahnya kesadaran siswa untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan beripikir kritis. Hal ini dikarenakan hanya terbatas upaya meningkatkan pengetahuan siswa. dapat diartikan bahwa percakapan antara orang-orang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal. praktik pembelajaran seharusnya dikemas dengan menggunakan pendekatan dialog mendalam dan berpikir kritis (deep dialogue/critical thinking). saling keterbukaan. membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar. keterbukaan. Sedangkan ciritical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis. dan rendahnya empati dan tingginya prasangka terhadap orang lain. kesenjangan sosial. 2000). empati dan mengurangi prasangka siswa. kajian deep dialogue/critical thinking sebagai paradigma pengembangan pendidikan berlaku prinsip Unity in policy and deversity in implementation. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Dalam kaitan itu Untari (2002) mengidentifikasikan sebagai berikut: Pertama. langkah awal untuk melakukan dialog mendalam dan berpikir kritis individu harus membuka diri terhadap mitra dialog.Selain itu. berpikir kritis. jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI. khususnya dalam pembelajaran PPKn perlu diperhatikan kaidah-kaidah DD/CT. Deep dialogue (dialog mendalam). yaitu rasa egoisme kelompok yang tinggi. Secara programatik. Untuk mencapai misi tersebut. Justru kenyataan ini sebagai kelebihan lain dari penerapan deep dialogue/critical thinking.

sebab dialog hanya akan bermanfaat manakala pihak-pihak yang melakukan bersikap jujur dan tulus. berubah dan berkembang dalam rangka meningkatkan berpikir kritis. Kedua. Ketiga. Di samping itu masing-masing saling mempelajari.untuk belajar. untuk memperluas wawasan bersama. mengubah dan memodifikasi pemahaman mereka. selanjutnya memilih pokok-pokok permasalahan yang memungkinkan memberi satu dasar berpijak yang sama.Artinya masing-masing mengemukakan tujuan. bersikap jujur dan penuh kepercayaan diperlukan dalam deep dialogue/critical thinking. untuk memperdalam. mengubah dan mengembangkan persepsi. serta saling percaya diantara mereka. Dialog sebagai suatu kegiatan memiliki dua sisi yakni dalam masyarakat (intern) dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya (antar). etis atau santun. menunjung nilai-nilai moral. Pemahaman realitas dan bertindak secara tepat merupakan hasil berpikir kritis. kita dapat belajar. kerjasama. deep dialogue/critical thinking terjadi manakala masing-masing pihak yang berdialog menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Untuk menanamkan kepercayaan pribadi. langkah awal adalah mencari kesamaan dengan cara bekerjasama dengan orang lain. . saling menghargai. Artinya kita paling mengetahui apa yang kita ketahui. Dengan demikian kejujuran merupakan prasyarat terjadinya dialog atau dengan kata lain tidak ada kepercayaan berarti tidak ada dialog. kesulitan dan cara mengatasinya melalui berpikir kritis secara apa adanya. demokratis yakni dengan memperlakukan mitra dialog sedemikian rupa sehingga berketetapan hati untuk berdialog. Selanjutnya melangkah pada permasalahan umum yang dapat dihadapi bersama atau mencari solusinya. belajar dan mengubah diri masing-masing pihak yang berdialog. harapan. sehingga perubahan yang terjadi pada masing-masing pihak merupakan hasil berpikir kritisnya sendiri (self-critical thinking). Hal ini penting karena kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama atau dengan bekerjasama akan menghasilkan pemecahan yang menguntungkan pihak-pihak yang bermasalah (win-win solution). Dengan demikian ketika masuk dalam dialog. Hal ini dilakukan mengingat bahwa dialog pada hakekatnya bertujuan untuk saling berbicara. Keempat. kejujuran. dan mitra dialog kita paling mengerti apa yang mereka ketahui.

masyarakat dan tradisinya. bandingkan secara adil dalam berdialog sedapat mungkin kita tidak menduga-duga tentang hal yang disetujui dan hal yang akan ditentang. Oleh karenanya saling mengakui keunggulan masing-masing akan diperoleh pemahaman bersama secara baik Keenam.1995). Kita jauhkan prasangka. dan menghindarkan menjadi penceramah. (Frazee&Rudnitski.2002). Dalam berdialog harus menghadirkan hati dan tidak hanya fisik. saling memberi yang terbaik. (2) bertujuan untuk melaksanakan belajar secara bermakna. saling mengakui keunggulan. merupakan ungkapan yang tepat dalam membangun deep dialogue/critical thinking. sehingga siswa memiliki kesiapan dan minat untuk belajar. Jangan menilai sebelum meneliti. Global Dialogue Institut merumuskan sebuah pendekatan pembelajaran yang dipandang cocok untuk PKn yakni Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking (DD/CT) yang mengandung prinsip: komunikasi multi arah. membangun empati. Ausubel (dalam Irawan.1995) dan guru perlu menguasai ketrampilan dasar mengajar (Wardani dala Endang Danial. Dengan menghadirkan hati. Untuk itu bahan harus: (1) bermakna secara potensial. Oleh karena itu Rianto (2000) berpendapat dalam pandangan teori belajar humanistik. seolah kita yang memiliki kelebihan daripada mitra dialog kita. Untuk itu guru dituntut memiliki kualifikasi baik sebagai inovator sekaligus developer pembelajaran yang dilakukan dengan pembaharuan pembelajarannya maupun melakukan adopsi kritis terhadap inovasi pendidikan (Rogers. pengenalan diri sendiri untuk mengenal dunia orang lain. pengkotbah atau yang mendominasi proses dialog.Kelima. (Raka Joni. menjalin hubungan . Membangun empati dalam dialog mendalam pihak-pihak yang berdialog dapat menyetujui dengan tetap menjaga integritas diri mitra dialog. masing-masing pihak yang berdialog dapat memberi respon kepada mitra dialog secara baik. deep dialogue/critical thinking akan terjadi manakala masing-masing pihak menghadirkan hati. belajar menekankan pada isi dan proses yang berorientasi pada peserta didik sebagai subyek belajar.1996) dalam teori belajar bermakna (meaningful teaching theory) mengemukakan bahwa kebermaknaan penyajian dan pentingnya pengaturan kemajuan belajar (advance organizer) dimana bahan harus dirancang baik agar menarik minat siswa.1981).

Lokasi penelitian ini adalah Kota Malang. demokratis. Produknya berupa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan . Dengan rancangan penelitian pengembangan. (2) tersusunannya bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan pendekatan DD/CT yang berterima baik secara teoritis maupun praktis bagi siswa SMA di Jawa Timur METODE Subyek penelitian ini adalah praktisi (guru PKn di SMA Jawa Timur) sejumlah 10 orang dan pakar PKn berjumlah 10 orang. Rancangan kuantitatif dipergunakan untuk menjelaskan bahan ajar dan LKS Matapelajaran PKn berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking untuk siswa SMA . pedoman wawancara. saling memberadabkan (civilizing) dan memberdayakan (empowering). DD/CT mengandung nilai demokratis dan etis sehingga beraitan dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia. dan wawancara. bertanggung jawab. Kuesioner dan wawancara dipergunakan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking . keterbukaan dan kejujuran serta empatisitas yang tinggi ( Al Hakim. Berdasarkan latar belakang di atas tujuan penelitian ini adalah (1) menemukan kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn yang berbasis DD/CT. cerdas dan religius. Penelitian Pengembangan pada tahap kedua adalah bagaimana menyusun bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang bisa berterima secara teoritis maupun praktis. Swidler menekankan bahwa DD/CT lebih merupakan cara berpikir baru (new way of thinking).kesederajatan. terutama dalam pendidikan anak seutuhnya (PAS). Analisis domain untuk data yang diambil dengan analisis dokumen. Teknik analisis statistik deskriptif (rerata. sehingga akan menunjang pembentukan warga negara yang baik. 2002). Instrumen yang digunakan dalam penelitian tahap pertama ini adalah kuesioner. mode. dan persentase) untuk data-data yang diambil dengan kuesioner. dokumentasi.

buku mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah menurut pakar dan guru dikategorikan seperti dalam Tabel 1. Padahal ada beberapa langkah yang harus dilakukan guru sebelum sampai pada kesimpulan bahawa bahan ajar sudah dikembangkan dengan baik. Struktur Bahan ajar Mata Pelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan struktur bahan ajar. . serta bahan ajar yang digunakan memang baik. Penelitian dimulai dengan memadukan hasil penelitian tahap pertama dengan dengan kajian teori untuk menghasilkan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA Pengembangan bahan ajar perlu dilakukan secara sistematik berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait untuk menghasilkan bahan ajar yang bermanfaat. Paling tidak ada lima langkah utama dalam prosedur pengembangan bahan ajar yang baik. a. maka bahan ajar dapat digunakan dengan efektif dalam proses pembelajaran. sebagai berikut Analisis Perancangan Pengembangan Evaluasi Revisi HASIL 1. Karakteristik Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara yang dilakukan dengan para pakar dan praktisi diketahui sebagai berikut. jika sudah dibuat dengan baik sesuai dengan materi yang akan diajarkan.kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang berterima secara teoritis maupun praktis. Guru seringkali mengabaikan prosedur pengembangan bahan ajar yang sistematik ini karena berasumsi.

4. menurut pakar dan praktisi 53% menyatakan sistematis dan semua mengacu pada satandar isi. dan 2. 10% pakar dan praktisi /guru menyatakan sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi.5% 10% 2. Ditinjau dari Paparan materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT menurut guru dan pakar dikategorikan seperti dalam Tabel 2 berikut.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi . 4.dan 10% menyatakan sistematis tetapi tidak mengacu pada standar isi.Tabel 1 Struktur Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. 2.5% Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa paparan materi bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. sedangkan 37% pakar dan praktisi menyatakan sistematis dan sebagian mengacu pada standar isi. 3. Paparan Materi Buku Teks Mata Pelajaran PKn Semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Tidak runtut dan tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Jumlah Jumlah 35 4 1 0 40 100% % 87. 3. Struktur Buku Teks Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Jumlah Jumlah 21 15 4 0 40 % 53 37 10 0 100% Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa struktur bahan ajar PKn berbsis DD/CT yang digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran. Tabel 2 Paparan Materi Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. sebanyak 87. 2.

5. Tabel 3 Keluasan Materi Bahan Ajar Mata Pelajaran PKn berbasis DD/CT No 1. 3. 5. 4. Keluasan (scope) Materi Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 10 18 12 0 0 40 % 25% 45% 30% 100% Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa keluasan (scope) materi bahan ajar matapelajaran PKn berbasis DD/CT. 2. sebanyak 25% menyatakan sangat luas.5% 100% Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 4. sebanyak 45% menyatakan luas. . 3.5% menyatakan sulit dipahami.Ditinjau dari keluasan (scope) materi bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam Tabel 3 berikut.5% 5% 50% 42.5% menyatakan sangat mudah dipahami. 42. dan 30% menyatakan cukup luas. 20% menyatakan mudah dipahami. . dan 2. 2. Tabel 4 Tingkat Kesulitan Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. Tingkat Kesulitan Materi Buku Teks PKn Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 2 20 17 40 % 2. Ditinjau dari tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT yang dipergunakan sebagai sumber bahan ajar dalam proses pembelajaran di sekolah dikategorikan seperti dalam Tabel 4 berikut. 5% menyatakan cukup sulit dipahami.

4. 7.22.5% 62. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 6 seperti berikut. Tabel 6 Paparan Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Paparan Awal Buku Teks PKn menggunakan Cerita. 4.Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa) yang digunakan dalam materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam tabel 5 berikut: Tabel 5 Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1.5% menyatakan bahasa sesuai. Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa sangat sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 2 3 25 9 1 40 % 5% 7.5% 30% 57. 3. 1 12 23 4 0 40 2. 5.5% menyatakan bahasa bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Ditinjau dari paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. 5% pakar dan praktisi menyatakan bahasa terlalu tinggi untuk siswa SMA. 3. Puisi atau Peristiwa yang Relevan dengan Materi Pokok Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1. Lagus. 62.5% 2. 5.5% 22.5% 100% Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa tingkat keterbacaan (bahasa) materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT.5% bahasa kurang sesuai dan 2.5% menyatakan bahasa sangat sesuai untuk siswa SMA. 2. 2.5% 10% 100% .

12. 3. 2.5% 100% Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memaparkan ilustrasi berupa gambar. kalimat naratif Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1.Ditinjau dari apakah materi Awal bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar. Tabel 8 Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam No 1.5% menyatakan sering. Tabel 7 Paparan Ilustrasi dalam Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar. sebanyak 55% menyatakan selalu. 30% menyatakan sering.5% menyatakan selalu. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 7 seperti berikut. 4. 22 13 5 0 0 40 55% 32. 4.5% 12. atau kalimat naratif. 5. 3. menurut guru dikategorikan dalam Tabel 8 sebagai berikut. 32.5% . contoh realitas kehidupan. contoh realitas kehidupan. 2. 2. kadang-kadang. Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 12 23 5 0 0 10 % 20% 30% 50% 100% . 57. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam.Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT. kalimat naratif.5% pakar dan praktisi menyatakan tidak ada. 5. apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. dan 2.5% menyatakan kadang-kadang. contoh realitas kehidupan.

30% menyatakan selalu. 4. 2. sebanyak 57. 5.5% 7.5% menyatakan kadang-kadang. Keberadaan LKS Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Lain-lain Jumlah Jumlah 20 11 3 6 0 40 % 50% 27. sebanyak 50% guru menyatakan kadang-kadang.5% 100% Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis. Tabel 9 Materi Bahan Ahar PKn Berbasis DD/CT Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis No 1.5% 15% 100% .5% responden menyatakan selalu. dan 20% guru menyatakan selalu.Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa materi bahan ajaran mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog mendalam.5% 30% 12. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 9 sebagai berikut. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan responden penelitian ini diketahui bahwa lembar kegiatan siswa (LKS) PKn Berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam tabel 10 sebagai berikut. 2. 3. dan 12. 30% guru menyatakan sering. 4. 3. Tabel 10 Keberadaan LKS Berbasis DD/CT dalam Proses Pembelajaran PKn No 1. 2. Materi Bahan Ajar Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 23 12 5 0 0 40 % 57. 5.

5% menyatakan perlu.Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa keberadaan LKS dalam setiap materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran di sekolah.5% menyatakan kurang perlu.5% 100% . 4.5% 5% 2. Lembar kegiatan siswa (LKS) PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn menurut pakar dan praktisi terkait dengan bahan ajar PKn berbasis DD/CTi. 50% menyatakan sangat perlu. 27. Kaitan LKS dan Bahan Ajar LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan LKS dan Bahan Ajar dibuat secara terpisah LKS dimuat setelah materi/topic LKS diletakkan setelah seluruh materi/topik Jumlah Jumlah 10 6 2 22 40 % 25% 15% 5% 55% 100% Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa hubungan lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam setiap materi pembelajaran PKn di sekolah dengan bahan ajar. 3. seperti dalam Tabel 11 berikut. 4. 5. Tabel 11 LKS Terkait dengan Bahan Ajar PKn No 1. Struktur LKS PKn Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Lain-lain Jumlah Jumlah 37 2 0 0 1 40 % 92. 2. 25% menyatakan LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan. 2. dan 15% menyatakan tidak perlu. 55% menyatakan LKS diletakkan setelah seluruh materi. 5% menyatakan LKS dibuat setelah topik. 3. 7. 15% menyatakan LKS dan Bahan Ajar dibuat terpisah. Karakteristik LKS Berbasis DD/CT ditinjau dari struktur LKS PKn yang dipergunakan dapat dikategorikan dalam Tabel 12 sebagai berikut: Tabel 12 Struktur LKS PKn Berbasis DD/CT No 1.

5% 5% 100% . 5. 90% menyatakan runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. 3. 5% menyatakan sistematis sebagian mengacu pada standar isi. Ditinjau dari keluasan (scope) LKS materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 14 sebagai berikut: Tabel 14 Keluasan Materi LKS No 1.Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa struktur lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT. dan 2. Paparan LKS Runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi Tidak runtut dengan kompetensi dasar pada kurikulum Lain-lain Jumlah Jumlah 36 0 4 0 0 40 % 90% 10% 100% Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa pemaparan lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT pada mata pelajaran PKn. 2.5% menyatakan sistematis semua mengacu pada standar isi. 2. dan 10% menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. Tabel 13 Paparan LKS PKn Berbasis DD/CT No 1.5% 62. 4. 3. Ditinjau dari sisi pemaparan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam Tabel 13 sebagai berikut. sebanyak 92. 4.5% menyatakan lain-lain. Keluasan (scope) Materi LKS Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 0 13 25 2 0 40 % 32. 5.

5% responden . 4. 62. Tingkat Kesulitan Materi LKS Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 15 24 0 40 % 2.5% menyatakan luas. Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa yang digunakan) LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 16 sebagai berikut.5% 37. 37. dan 5% menyatakan sempit.5% 97.5% 60% 100% Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 3.5% menyatakan cukup luas. 2.5% 100% Berdasarkan Tabel 16 diketahui bahwa tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. dan 60% menyatakan mudah dipahami.Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa keluasan (scope) materi lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT. 3.5% menyatakan cukup sulit dipahami.5% menyatakan sulit dipahami. 2. Tabel 16 Tingkat Keterbacaan Materi LKS No 1. 5. 5. sebanyak 32. 4. sebanyak 2. Tingkat Keterbacaan Materi LKS Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 0 1 39 0 0 40 % 2. Ditinjau dari tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam tabel 14 sebagai berikut: Tabel 15 Tingkat Kesulitan Materi LKS No 1. sebanyak 97.

Tabel 17 Paparan Awal LKS No 1.menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. Ditinjau dari pola pemaparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan dalam proses pembelajaran dapat dikategorikan dalam tabel 17 sebagai berikut. 2. dan 2. syair lagu daerah (lokal) Peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok Lain-lain Jumlah Jumlah 10 2 1 26 1 40 % 25% 5% 2.5% menyatakan lain-lain. 2. 4. 2. Paparan Awal LKS Cerita Syair lagu nasional atau local Puisi. 2. 4% menyatakan memuat gambar.5% 65% 2. 56% memuat contoh . 3. 5.% responden menyatakan memuat cerita 5% menyatakan memuat syair lagu.5% 100% Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa paparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan. Tabel 18 Ilustrasi dalam LKS No 1. 25. Ditinjau dari ilustrasi dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut responden dapat dikategorikan dalam Tabel 18 sebagai berikut. 5.5% menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. 4. Ilustrasi dalam LKS Gambar Contoh realitas kehidupan Bagan dan grafik Kalimat naratif (uraian) Lain-lain Jumlah Jumlah 2 25 3 10 5 45 % 4% 56% 6% 22% 12% 100% Berdasarkan Tabel 18 diketahui bahwa ilustrasi dalam LKS PKn berbasis DD/CT. 3. 65% memuat peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok.5% memuat pusi.

5. Tabel 20 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1. 6% menyatakan memuat bagan. 2. sebanyak 52. 30% menyatakan cukup memfasilitasikadang-kadang.realitas kehidupan. 2. 4.5% 30% 12.5% menjawab kurang. Ditinjau dari pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam. 3.5% 2. dan 12% menyatakan memuat lain-lain. Pertanyaan dan Tugas LKS Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 21 12 5 2 40 % 52.5% guru menjawab sangat menfasilitasi. 22% menyatakan memuat kalimat narasi. Pertanyaan dan tugas dalam LKS PKn Memfasilitasi Siswa untuk Berpikir Kritis Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 28 10 1 1 40 % 70% 25% 2. 4. 5. Tabel 19 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1. 3.5% 5% 100% Berdasarkan Tabel 19 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi terjadinya dialog mendalam diantara siswa. 5% menjawab tidak memfasilitasi Ditinjau dari apakah pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut responden dapat dikategorikan sebagai berikut. 12. menurut guru dapat dikategorikan sebagai berikut.5% 100% .

sebanyak 70% menjawab sangat memfasilitasi. Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.5% menjawab tidak memfasilitasi 3. 2. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan. Kelebihan dan Kekurangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan hasil wawancara dengan praktisi dan pakar dapat dijelaskan sebagai berikut: a. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. 25% menjawab cukup memfasilitasi. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. benar dari segi keilmuan. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya.Berdasarkan Tabel 20 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis. . 2. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu.5% menjawab kurang memfasilitasi. Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar tidak dikembangkan secara asal-asalan. Dapat dilihat dari Tabel sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa.

Pengembangan bahan ajar sesuai dengan materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan dalam standar isi atau topik di Sekolah Menengah Atas. keluasan maupun kedalamannya akan berbeda. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. Dalam hal ini. sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda. 3. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. .Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. yang menurut pakar dan praktisi. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. sebagai berikut. kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal.

Logika penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep dalam bahan ajar.hal ini dilihat dari pengorganisasi bahan ajar itu sendiri yang bertanya tentang apa sampai bertanya mengapa. dari yang mudah ke yang sukar. dan juga menuntun siswa untuk terbiasa berpikir runtut. 3) Perjelas dengan Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. siswa diharapkan dengan mudah mengikuti pemaparan. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. latihan. Keruntutan penyajian isi bahan ajar mempermudah siswa dalam belajar. Bahan ajar berbasis DD/CT yang dipaparkan secara logis akan memudahkan siswa. tidak meloncat-loncat. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. Misalnya. Logika pemaparan ini dapat diperkenalkan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis. 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar Pkn berbasis DD/CT disajikan secara sistematis. atau penyajian uraian. Dengan demikian. atau contoh. Dengan demikian. tidak terkotak-kotak satu sama lain. Dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. contoh dan latihan. namun setiap bagian perlu diberi penjelasan yang memadai sehingga tidak membingungkan siswa. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. penyajian uraian. dalam menjelaskan Hak asasi manusia dalam mata . atau dari fakta ke konsep.1) Paparan yang Logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. latihan. Urutan strategi penyajian dapat berubah-ubah sehingga tidak membosankan.

Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan (bukan malah membuat siswa semakin bingung).pelajaran PKn di SMA. dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berbentuk tertulis. Contoh dan ilustrasi dapat dikembangkan dalam beragam bentuk. penomoran. audio. serta tanda-tanda khusus yang diberlakukan serta dapat membantu siswa. alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. atau caption dalam program video. Guru dapat mencari kasus di koran. Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar harus konsistensi. Dalam beberapa kasus. ataupun dari situs-situs di internet. misalnya nada suara yang berbeda dalam kaset audio. serta tanda-tanda khusus. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. siswa akan dapat berdialog sesuai petunjuk dalam LKS. model. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. guru tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah. alat bantu juga dapat berupa rangkuman. untuk memngetahui pengadialan HAM internasional. Melalui guntingan koran tersebut. seperti video. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama . Jadi. Untuk menjelaskan konsep tersebut diperlukan alat peraga yang dapat menggambarkan pelaksanaan dan pengadilan HAM internasional. kartu-kartu (flipchart). poster. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. judul bab yang jelas. Dalam bahan ajar cetak. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita. atau dari internet. Dalam bahan ajar non-cetak. Koran. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. tercetak-narasi sebagai bagian dari penyajian isi bahan ajar dalam materi pokok yang berbentuk cetak. atau dalam bentuk noncetak. petunjuk belajar bagi siswa.

sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. Contoh. jika guru menggunakan kertas kuning untuk lembar kerja siswa. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. paket kerja mandiri). maka seterusnya gunakanlah warna kertas kuning untuk LKS. Dengan demikian. dan dipelajari oleh siswa. maka siswa akan menandai sebagai LKS. tanda perintah berhenti. Dalam bahan ajar cetak. atau penyajian langsung dapat digunakan sebagai tanda dari rangkuman. mengulang. jangan gunakan warna kuning untuk komponen lain dalam bahan ajar. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. atau meneruskan pembelajaran. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. Dalam bahan ajar video. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. konsistensi istilah sangat diperlukan sehingga siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. 6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar perlu ada penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. diingat. atau meneruskan pembelajaran. gambar ―orang sedang berpikir‖ digunakan untuk arti ―uji kompetensi‖ yang harus dikerjakan oleh siswa secara tertulis. 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar perlu memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. Dalam bahan ajar audio. clip video yang berupa grafik. mengulang. setiap kali siswa melihat warna kertas kuning. . Bahan ajar dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas.hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. intonasi suara dapat digunakan sebagai tanda atau format untuk berhenti. Peran ini perlu dijelaskan kepada siswa dengan cermat. Misalnya. Dalam hal ini.

lembar kerja siswa. maka bahan ajar tidak akan bermakna apa-apa. bahan ajar berbasiskan komputer. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar terjadi. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. dan lain-lain. dan penyusunan paragraph yang bermakna. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. 4. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. dan tidak terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendiri-sendiri. pemilihan kata. Dalam bahasa komunikatif. dan penjelasan.Bahan ajar juga perlu menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. mengerjakan tugas-tugasnya. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. serta dikemas dengan menarik. pertanyaan. Hal ini sangat perlu sebagai . Dengan demikian. namun jika bahasa yang digunakan tidak dimengerti oleh siswa. ajakan. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. yang meliputi pemilihan ragam bahasa. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. penggunaan kalimat efektif. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. Dengan demikian. seperti kaset audio. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. Penggunaan bahasa. Walaupun isi bahan ajar sudah cermat. video. menggunakan format yang konsisten. siswa dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain.

Selanjutnya. serta keterpaduan. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya.salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. Pada gilirannya. kadangkala dapat membingungkan siswa. yang berbentuk kalimat topik. Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. . Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. dan lebih mudah dimengerti. Selain itu. jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. Gagasan utama. Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. Di samping itu. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. singkat. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar.

5. Perwajahan/Pengemasan

Perwajahan dan atau pengemasan berperan dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak, serta pengemasan dalam paket bahan ajar multimedia. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. 3) Padukan grafik, poin, dan kalimat-kalimat pendek, tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan, karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu, jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian, tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan.  Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar, sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri, atau dengan teman-teman dalam kelompok).
6. Ilustrasi

Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar memiliki ragam manfaat, antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar, jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. Namun, ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis, yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. Selain itu, ilustrasi juga dapat diambil dari sumber

langsung (misalnya foto), sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). Jika ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain, penulis berkewajiban memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. Selain itu, ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik, memotivasi, komunikatif, membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar, antara lain daftar atau tabel, diagram, grafik, kartun, foto, gambar, sketsa, simbol, dan skema.
7. Kelengkapan Komponen

Idealnya, bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik, meliputi penyampaian tujuan belajar, memberi bimbingan tentang strategi belajar, menyediakan latihan yang cukup banyak, memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci, soal, tugas, kegiatan), serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket, atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet, atau buku lain), panduan belajar/siswa, serta panduan guru. Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti, yaitu komponen utama, komponen pelengkap, dan komponen evaluasi hasil belajar. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa, atau harus dikuasai siswa. Kebanyakan, bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak, misalnya buku teks, buku pelajaran, modul, dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama, atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa.

Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan, bacaan, jadwal, silabus, peta materi, kliping kasus), bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak, peta materi dalam bentuk program komputer, video, kaset, web suplemen, simulasi komputer, kit), panduan siswa (peta materi, petunjuk belajar, latihan dan tugas, tips, kata-kata sukar, pemilahan materi), panduan guru (peta materi, petunjuk bagi guru, konsep inti topik atau pokok bahasan, latihan dan tugas, rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik, yang disajikan melalui beragam media, secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
a. Bahan Ajar PKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
b.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

2. Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga Beberapa usulan pakar dan praktisi agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
c. Bahan Ajar PPKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
d.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

kompetensi dasar dan kemampuan siswanya. ―buku adalah guru yang baik tanpa tatap muka‖. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. buku adalah media komunikasi tentang IPTEK. Semboyan tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya buku pelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk dapat dipergunakan oleh guru dan siswa sesuai dengan jenjang kelasnya. dengan masyrakat disekitarnya.2. Karena buku pelajaran merupakan sumber . 2003). Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. dengan guru. secara umum memiliki struktur yang mengacu pada kompetensi dasar dan indikator sebagaimana yang terdapat dalam standar isi. seni dan agama serta ide-ide‖ (Pusbuk. dengan orang tua. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga BAHASAN 1. Semboyan bahwa ―buku adalah salah satu sumber ilmu‖. ―buku adalah jendela informasi dunia‖. Disamping itu bahan ajar berbasis DD/CT dipandang akan mampu merangsang siswa untuk berpikir kritis. Karakteristik Bahan Ajar Mata Pelajaran Pkn berbasis DD/CT Hasil penelitian ditemukan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT menjadi salah satu alternatif pilihan guru dalam pembelajaran PKn yang memberikan kesempatan lebih banyak pada siswa untuk berdialog dengan teman. sesuai dengan standar kompetensi. Tuntutan pendidikan dewasa ini yang memberikan otonomi pada sekolah dan guru dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk menyusun bahan ajar yang tepat. Struktur bahan ajar dan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT . Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Dengan demikian kedepan guru dituntut dapat menyusun bahan ajar mata pelajaran yang diampunya.

yakni materi pokok yang disajikan dalam buku pelajaran PKn umumnya adalah (a) relevansi: bahwa isi materi bahan ajar sesuai dengan standar isi. (b) kecukupan: muatan materi bahan ajar telah memadai untuk mencapai kompetensi. disusun oleh penulis yang kompeten. Berdasarkan analisis bahan ajar berbasis DD/CT telah cukup lengkap dalam sajian. disesuaikan dengan usia dan kematangan siswa. Aspek penting yang diperhatikan adalah materi. maka dapat dikemukakan bahwa bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT untu SMA: (1) aspek materi pelajaran . Dengan kriteria ini maka hasil penelitian menunjukkan bahwa keakurasian materi bahan ajar PKn berbasis DD/CT tercapai ini tebukti banyak pendapat yang menyatakan materi yang disajikan sebagai sesuai dengan kompetensi dasar. serta grafika. memerhatikan ilustrasi dan format. di dalamnya memuat kompetensi dasar. dan tugas-tugas pengembangan. (b) sistematika sajian. (c) kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa. mutahir atau sesuai dengan perkembangan yang terbaru. Kalau dengan KTSP terdapat cukup tepat dengan kompetensi dasar tentunya dalam pemanfaatannya perlu penyesuaian dengan KTSPnya (2) Aspek penyajian. berdasarkan hasil penelitian menunjukkan cukup sistematis. Aspek penyajian bahan ajar PKn berbasis DD/CT dapat dijabarkan sebagai berikut (a) kelengkapan sajian. Bahan ajar PKn berbasis DD/CT. materi pokok. bermanfaat bagi kehidupan dan pengemasan materi sesuai dengan hakekat PKn. karena isi materi relevan dengan standar isi yang dikembangkan dalam KTSP. bahasa dan keterbacaan. Hasil penelitian dan analisis bahan ajar berbasis . dan (c) keakuratan: bahwa isi materi yang disajikan harus benar secara keilmuan.belajar dan media yang sangat penting untuk mendukung tercapainya kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas dan hasil penelitian . Buku pelajaran PKn berbasis DD/CT dapat secara efektif menunjang pencapaian kompetensi pembelajaran PKn dibuat sedemikian rupa untuk memenuhi standar . penyajian. hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT cukup memiliki kecukupan. Davis (1955) dalam Puskur (2003) menyatakan bahwa buku pelajaran yang baik berisi materi yang sesuai dengan kurikulum. Ini berarti untuk dipergunakan dengan dalam rangka implementasi kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat dipergunakan.

dan (d) cara penyajian. Yakni yang berkaitan dengan ukuran bahan.DD/CT menunjukkan bahwa bahan ajar PKn. yakni sebagaimana bahan ajar atau buku yang memberi nuasa berdialog siswa. jenis kertas. namun menurut saya perlu pedoman yang jelas bagaimana dan dimana jawaban harus dibuat sedangkan Pak Wayan mengemukakan bahan ajar . Bahasa disini berarti dalam penyajian bahan tepat dalam penggunaan kosakata. cetakan. Hasil penelitian menunjukkan bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat wacana yang membuka wawasan siswa tentang materi yang akan dipelajari. (3) Aspek bahasa dan keterbacaan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bahasa yang dipergunakan cukup dipahami siswa SMA. Keterbacaan. hanya ilustrasi kurang.Sehingga bahan ajar PKn berbasis DD/CT ini sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa student centered.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bahan ajar yang dipergunakan dalam hal ukuran cukup bagus. Dengan sajian materi yang luas cukup memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya untuk berpikir kritis. meskipun secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah menggunakan kaidah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. sedangkan beberapa menggunakan kertas yang agak buram. materi luas hal ini dikemukakan baik oleh guru sebagai praktis maupun pakar. ukuran huruf. Hasil penelitian juga menunjukkan cara penyajian yang dikemas dalam bahan ajar Pknberbasis DD/CT relative kontekstual. misalnya Bu Yayuk dari SMA di Magetan menyatakan LKS berbasis DD/CT ini saya kita lumayan merangsang siswa untuk berpikir dan berdiskusi. Secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih kering ilustrasi yang merangsang siswa untuk membicarakan dengan orang lain dan memikirkan lebih kritis. kalimat. cetakan dan ukura huruf bagus. (4) Aspek grafika. terdapat buku yang contoh yang diangkat kurang kontekstual artinya beberapa gambar yang disajikan tidak dipahami oleh siswa karena dari negara lain. jenis kertas menunjukkan beberapa menggunakan kertas putih. paragraf dan wacana. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Mata Pelajaran PKn yang Berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking Hasil wawancara dengan beberapa guru. 2. warna dan ilustrasi.

dan sedikit yang menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. banyak responden menyatakan cukup sulit dipahami. meskipun demikian banyak menyatakan bahwa struktur LKS matapelajaran PKn runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada satandar isi Tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. LKS PKn berbasis DD/CT tidak sulit bagi siswa SMA. sebagian responden menyatakan mudah dipahami.sudah match jadi materi yang ada di bahan ajar sama dengan yang di LKS. dan siswa menyatakan sangat mudah dipahami.dan LKS berbasis DD/CT. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1) Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada . namun tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran PKn . sebagaian kecil siswa menyatakan mudah dipahami. Sedangkan tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menyatakan cukup sulit dipahami. dan hanya sedikit menyatakan sulit dipahami. sulit dipahami. Sehingga beberapa siswa menyatakan‖ bahwa LKS berbasis DD/CT ini mengasikkan karena dapat dikerjakan sendiri ‖ 3. Kondisi ini disebabkan LKS berisi rangkuman materi dan soal-soal yang harus dikerjakan secara individual oleh siswa. sebagian besar responden menyatakan runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi. dan tidak runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. Struktur lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn di sekolah. Lainnya mengatakan paparan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi. sangat sulit dipahami. sebagian besar responden menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. Dengan demikian dari segi bahasa.

. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia sebagaimana Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar berbasis DD/CT tidak dikembangkan secara asal-asalan. Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. benar dari segi keilmuan.dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia.

sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda. Bahan ajar yang dipaparkan secara tidak logis akan menyulitkan siswa. Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. Kemudian kembangkanlah bahan ajar – materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan tersebut. kemudian berlandaskan pada tujuan tersebut dapat menentukan seberapa luas. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). dan utuh topik yang akan disajikan kepada siswa. 1) Paparan yang logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. Dengan . Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. tujuan pembelajaran atau topik tertentu di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama akan berbeda dengan tujuan pembelajaran atau topik yang sama di Sekolah Menengah Atas. Tentunya. Dengan demikian.Keluasan dan kedalaman isi bahan ajar sangat berhubungan dengan keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu. siswa dengan mudah mengikuti pemaparan. Dalam hal ini. keluasan maupun kedalamannya akan berbeda. Dalam hal ini seberapa banyak atau luas suatu topik yang akan disajikan? Seberapa dalam suatu topik yang perlu dibahas? Bagaimana keutuhan konsep yang disajikan? Banyak pertimbangan yang perlu diperhatikan. Lihatlah tujuan tersebut. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. dalam. Dalam Bahan ajar PKn berbasis DD/CT penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep. sebagai berikut. dari yang mudah ke yang sukar. antara lain yang paling utama adalah kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran. atau dari fakta ke konsep.. 3. dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Setiap guru pasti mempunyai tujuan pembelajaran yang dijabarkan dari kompetensi dasar dan indikator.

kartu-kartu (flipchart). 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah disajikan secara sistematis. Padahal dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. atau dalam bentuk noncetak. Misalnya. tidak terkotak-kotak satu sama lain. Contoh dan ilustrasi yang dikembangkan dalam bahan ajar berbasis DD/CT dalam penyajian isi bahan ajar belum bervariatif mestinya bisa poster. seperti video. audio. Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan . Tampaknya belum banyak contoh-contoh yang mempermudah siswa lebih memahami bahan ajar. atau penyajian uraian. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita.demikian. Kelemahannya belum banyak contoh-contoh dan latihan yang kontestual. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. latihan. tidak meloncat-loncat. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. bahan ajar tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. yang mendorong siswa mencari sumber lain. Kelemahan dari pemaparan bahan ajar berbasis DD/CT ini karena keruntutannya dapat menyebabkan siswa kurang dapat mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis. sekaligus merangsang untuk berdialog mendalam. 3) Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. latihan. atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. atau contoh. model. dalam menjelaskan Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. penyajian uraian. contoh dan latihan. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian.

kotak bahan dialog. Dalam bahan ajar Pkn DD/CT sebagai bahan cetak. diingat. Jadi.(bukan malah membuat siswa semakin bingung). Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah dibuat dengan cetak. Dalam beberapa kasus. dan dipelajari oleh siswa.. penomoran. serta tanda-tanda khusus. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. gambar ―orang sedang berdemontrasi‖ digunakan untuk arti ―rapat‖ . Dalam hal ini. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. . alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. ataupun dari situs-situs di internet. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki format yang memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. judul bab yang jelas. Misalnya. Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar Pkn berbasis DD/CT belum konsistensi. konsistensi yang dipelihatra adalah mengenai istilah dengan harapan siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. Koran. sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah.

bahan ajar berbasiskan komputer. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. Dalam bahasa komunikatif. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. mengerjakan tugas-tugasnya. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT cukup memadai dalam penggunaan bahasa yang dimengerti oleh siswa. dan terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendirisendiri. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. dan lain-lain. video. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. Dengan demikian. Penggunaan bahasa. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. Dengan demikian. agar bahan ajar bermakna bagi siswa. yang meliputi pemilihan ragam bahasa. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa.6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. Bahan ajar PKn dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. Peran ini telah dijelaskan dalam bahan ajar PKn tersebut dijelaskan kepada siswa dengan cermat. pertanyaan. 4. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar . sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. dan penjelasan. lembar kerja siswa. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. siswa kurang dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain. penggunaan kalimat efektif. Kelemahan bahan ajar Pkn berbasis DD/CT ini belum menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. paket kerja mandiri). pemilihan kata. dan penyusunan paragraph yang bermakna. ajakan. seperti kaset audio.

jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. kadangkala dapat membingungkan siswa. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya.terjadi. Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. Hal ini sangat perlu sebagai salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. Di samping itu. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). Gagasan utama. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. . penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. Selanjutnya. serta keterpaduan. singkat. Selain itu. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. dan lebih mudah dimengerti. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. yang berbentuk kalimat topik. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan.

. tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan. poin. dan kalimat-kalimat pendek. karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca.  Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. Perwajahan/Pengemasan Dalam Hal perwajahan dan atau pengemasan bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih banyak kelemahan terutama dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri.. tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. 5. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut.Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian. jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. 3) Padukan grafik. Pada gilirannya. atau dengan teman-teman dalam kelompok).

pelengkap dan evaluasi Idealnya. jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. komunikatif.Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT ilustrasinya kurang bervariasi. menyediakan latihan yang cukup banyak. memberi bimbingan tentang strategi belajar.6. antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket. . penulis belum memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. soal. tugas. yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet. Kelengkapan Komponen Bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT cukup memiliki kelengkapan komponen. serta panduan guru. Selain itu. diagram. Kelemahan dalam bahan ajar ini ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain. antara lain daftar atau tabel. serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. sketsa. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar. Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar. gambar. sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci. simbol. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. meliputi penyampaian tujuan belajar. ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik. kegiatan). dan skema. membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. panduan belajar/siswa. Namun. 7. ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis. memotivasi. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik. kartun. foto. yakni informasi . ilustrasi juga dapat diambil dari sumber langsung (misalnya foto). Ilustrasi Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki ragam manfaat. Selain itu. atau buku lain). grafik.

Kebanyakan. misalnya buku teks. modul. kata-kata sukar. Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan. pemilahan materi). silabus. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama. rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik. latihan dan tugas. buku pelajaran. tips. video. petunjuk bagi guru. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa. peta materi. kit). panduan guru (peta materi. peta materi dalam bentuk program komputer. konsep inti topik atau pokok bahasan. petunjuk belajar. bacaan. yaitu komponen utama. yang disajikan melalui beragam media. atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa.Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti. komponen pelengkap. bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak. secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak. simulasi komputer. Bahan Ajar PPKn     Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak. dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. dan komponen evaluasi hasil belajar. panduan siswa (peta materi. web suplemen. jadwal. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS berbasis DD/CT ini dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut: 1. perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan  Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar  Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik  Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis . atau harus dikuasai siswa. latihan dan tugas. kaset. kliping kasus).

Dengan landasan filosofi konstruktivisme. Dalam pendekatan ini bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsedapat mungkin mengurangi pengajaran yang terpusat pada guru (teacher centered) dan sebanyak mungkin pengajaran yang terpusat pada siswa (Student centered). 2. Model Bahan Ajar dan Lembar Kegitan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) merupakan model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn yang membantu guru untuk menjadikan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn bermakna bagi siswa. mudah difahami dan mengajak siswa berpikir  Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir  Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi. dimana melalui DD/CT diharapkan siswa belajar melalui "mengalami. DD/CT "dicita-citakan" menjadi sebuah pendekatan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn alternatif. . Lembar Kerja Siswa (LKS)  Soal-soal jangan di luar materi  Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang  Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari  Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa  Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir  Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar  LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga 4.Hal ini sesuai dengan pandangan Gross ( 2000) bahwa dengan mengalami sendiri. medialogkan" bukan hanya "menghafalkan". namun demikian guru harus tetap memantau dan mengarahkan untuk mencapai kompetensi. merasakan. Menyusun buku dengan bahasa yang menarik.

Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan di bab sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan DD/CT di kelas cukup mudah. maka dapat dikemukakan bahwa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan DD/CT memiliki beberapa keunggulan seperti bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn diawali dan diakhiri dengan "hening". Perubahan pandangan guru bahwa pemberdayaan siswa dalam bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan memberi kesempatan pada siswa. membangun komunitas. dan mengembangkan kecakapan hidupnya. Hal ini selain dapat menciptakan situasi tenang sebelum perkuliahan. mendialogkan dan akhirnya mekonstruksikan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan baru. apabila guru telah memahami kaidahkaidahnya sebagai berikut: 1. maka pengetahuan dan pemahaman siswa akan sesuatu yang baru akan mengendap dalam pikiran siswa dalam jangka panjang yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk bekal siswa dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. refleksi dan evaluasi. Berilah siswa kesempatan untuk melakukan refleksi sebelum pelajaran berakhir 7. menganalisis. Berdayakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan bertanya secara terbuka 4. Penilaian hendaknya tidak hanya berdasarkan tes Lima komponen yang terdapat dalam model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan pendekatan DD/CT yakni hening. Ciptakan suasana dialog mendalam ' antar siswa" dan "antara siswaguru" oleh karenanya upayakan untuk selalu belajar dalam kelompok 5. Pergunakan berbagai media dan sumber belajar untuk memperluas wawasan 6. mendialogkan dengan orang lain. 2. Sebagaimana . untuk mengamati. kegiatan inti dengan strategi penemuan konsep (Concept Attainment) dan Cooperative Learning. selain itu juga dapat menghadirkan hati dan pikiran siswa-guru pada bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsaat itu.merasakan. Untuk menjabarkan topik sebaiknya dilaksanakan dengan kegiatan menggali dan menemukan sendiri 3.

Kegiatan refleksi juga merupakan sesuatu yang dapat dipandang keunggulan pendekatan DD/CT. sehingga memudahkan proses dialog mendalam. dan sikap terpuji lainnya akan dapat mengantarkan siswa menjadi warga negara demokratis. juga ungkapan bebas dari pandangan. menghargai perbedaan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa hening membawa manusia pada pengendapan hati dan pikiran. Ini sejalan dengan pendapat Gross (2000) bahwa dengan refleksi terjadi proses penajaman pengalaman yang peroleh dan mereproduksi ketika menyampaikan secara lesan. karena menurutnya dengan hening seseorang telah menjalin interaksi intern yakni dengan dirinya maupun ekstern yakni dengan Tuhan. Refleksi memiliki fungsi mendidik pada siswa untuk menyukai belajar dari pengalaman yang telah dilaluinya. Kegiatan membangun komunitas juga merupakan sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat majemuk oleh karena itu apabila dalam pembelajaran telah dibangun keterikatan terhadap komunitas kecil (kelas). berani tampil beda. telah dapat menciptakan kebersamaan. Demikian juga kegiatan penemuan konsep dan cooperative learning. Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. kegiatan ini juga merangsang daya kritis siswa dalam menangkap permasalahan. Kebiasaan selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan termasuk kegiatan belajar mengajar. dan dialog mendalam tentang segala hal baru yang diterima mahasiswa. mencari solusi permasalahan dengan caranya sendiri dan bantuan orang lain. Ini menjadi tatantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan . maka pada skala makro sikap dan perilaku toleransi. terbuka terhadap kritik.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). usul terbaiknya demi kebaikan bersama.dikemukakan oleh Swidler (2000) yang menekankan pentingnya hening dalam segala aktifitas. karena dapat sebagai sarana saling introspeksi baik dosen mapun mahasiswa. secara langsung telah membimbing dan mengajarkan mahasiswa menjadi insan religius. dan mengambil keputusan yang tepat dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. sehingga akan mendukung upaya pendidikan anak seutuhnya (PAS) yang pada gilirannya akan sangat mendukung upaya mewujudkan manusia Indonesia Seutuhnya (MIS).

model ini dapat mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif.bahkan kalau perlu dengan nara sumber yang berada di luar lingkungan sekolahnya. utamanya implementasi pembelajaran inovatif dengan menggunakan sarana bahan ajar dan LKS Berbasis DD/CT ini. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Bahan ajar dan LKS PKn dengan pendekatan DD/CT adalah model bahan ajar dan LKS dengan lima komponen utama yakni hening (doa). Interaksi belajar-mengajar juga semakin meluas tidak hanya satu arah yakni guru-siswa. Ini menjadi tantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya.model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya. . mulai dari hening sampai evaluasi. refleksi dan doa. Bahan ajar dan LKS PKn dengan DD/CT dibuat dipandang mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). paparan materi pokok. Pembelajaran berbasis DD/CT terus melakukan penelitian lanjutan. Dengan model bahan ajar dan LKS bernuansa DD/CT diharapkan prestasi siswa juga semakin meningkat. karena bahan ajar ini memberi peluang dan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk ambil bagian dalam proses pembelajaran. namun multi arah. serta memuat hasil penelitian dalam jurnal-jurnal baik yang nasional maupun internasional Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. Saran Bahan Ajar dan LKS Mata pelajaran PKn Berbasis DD/CT ini perlu sempurnakan dengan cara mengimplementasikannya ke sekolahsekolah yang lebih beragam. membangun komunitas.

Integreted Teaching Methods: theory. Strategi Pembelajaran Berdasarkan Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking. Suparlan dan Milan Rianto. Jakarta. Surakhmad. Jakarta. 2000. Model Pengintegrasian Budi Pekerti ke dalam PPKn untuk Guru SLTP. 1979. E. GDI. Malang. Dirjendikdasmen Depdiknas. 2000. Kompetensi guru. Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking dalam Pendidikan Indonesia. PUSKUR-Dirjendikdasmen Frazee. 2002. Philadelphia. Makalah pelatihan guru PPKn MA se kabupaten Pasuruan.J. Jembatan Swidler. Pembelajaran Kewarganegaraan dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Menyongsong KBK.M. Deep Dialogue and Critical Thinking as Instructional Approach. Direktorat SLTP. PPPG PMP-IPS Danial. Malang. Bahan pelatihan Pendidikan Anak seutuhnya (PAS) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Global dialogue Institute dan UNICEF. & Rudnitski.DAFTAR RUJUKAN Al Hakim. B. Dirjen Dikdasmen Depdiknas. 2002.2000. Curricullun in Turbelence Era. Steven. Ar. Del mar Publishers. Jakarta. 1995. Diknas.L and paul Mojzes. PPPg PMP-IPS Sri Untari. and Field-based Connection. 2002. Temple University Press . Metode Pengajaran Nasional. 2001. Philadelphia University Press. Classroom Applications. Sri Suntari dan Sri Untari .2000.W. Penulisan Karya Ilmiah. 2000. New York. The Study of Religion in an Age Global Dialogue. Jakarta. Dilaksanakan di Malang tanggal 1--11 Juli 2001 Gross.

The Concepts acquirement is not constitute to the understanding of erudite process which ought to student experience. Key words: Modul Physics by Inquiry. The Module applies study strategy. Eddy Supramono adalah dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang .Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Abstrac: The quality of physics conception domination is very determined by study process which is done by students. giving opportunity for students for fundamental physics concept mastering through laboratory activities. integrating erudite process and physics concept. One of the strategy is decanted in the module of Physics by Inquiry. Model Pembelajaran Investigasi Kelompok Mata Kuliah Fisika Dasar merupakan salah satu mata kuliah yang termasuk pada rumpun Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK) yang diwajibkan bagi mahasiswa tahun pertama di FMIPA Universitas Negeri Malang. Penguasaan Konsep Fisika. it indicates that the students difficulty is located in the way of comprehending and mastering The fundamental physics lecture concepts. Students obtain the concepts in the form of clarification and information from lecturer and then ones will be applied to some problems. According to the observation of study process of fundamental physics and interviewing with some students. Some Various study strategy have been strived to increase student concept domination.

. Dengan demikian. Salah satu strategi pembelajaran tersebut diantaranya tertuang dalam modul Physics by Inquiry. Mata kuliah ini secara langsung didukung oleh mata kuliah praktikum Fisika Dasar I pada semester I (1 SKS) dan praktikum Fisika Dasar II (1 SKS) pada semester II. . dan diberikan pada kelas kecil dengan jumlah mahasiswa per kelas 20 orang mahasiswa. Melalui pembentukan kelompok-kelompok dengan pola tertentu. Kualitas penguasaan konsep Fisika sangat ditentukan oleh proses pembelajaran yang dialami mahasiswa. Modul ini menggunakan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan proses ilmiah dan konsep Fisika yang memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menguasai konsep Fisika Dasar melalui kegiatan laboratorium. sehuigga struktur kognitif siswa akan tumbuh dan berkembang dengan kecenderungan-kecenderungan tertentu pula. Strategi pembelajaran yang digunakan dalam modul Physics by Inquiry ini didasarkan pada kurikulum berbasis laboratorium. yaitu pola tutorial sebaya. mata kuliah ini memiliki bobot 6 SKS yang terbagi dalam mata kuliah Fisika Dasar I (3 SKS) pada semester I dan Fisika Dasar II pada semester II (3 SKS).Berdasarkan kurikulum di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini berorientasi pada Teori Kognitif Sosial. Berbagai strategi pembelajaran telah diupayakan untuk meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa. Mahasiswa memperoleh konsep dalam bentuk informasi dan penjelasan dari dosen yang kemudian diterapkan dalam bentuk latihan soal. kooperatif dan kolaborasi teman sebaya akan tercipta interaksi sosial di antara siswa dengan pola tertentu pula. Perolehan konsep tersebut tidak didasari pemahaman proses ilmiah yang seharusnya dialami mahasiswa. penelitian ini akan menghasilkan teori yang lebih rinci dalam cakupan Teori Kognitif Sosial. Hasilnya menunjukkan peningkatan penguasaan konsep Fisika yang cukup signifikan serta mahasiswa memperoleh pengalaman langsung tentang proses ilmiah. Berdasarkan pengamatan pada proses pembelajaran Fisika Dasar dan wawancara dengan mahasiswa menunjukkan bahwa kesulitan mahasiswa terletak dalam cara memahami dan cara menguasai konsep-konsep yang ada dalam mata kuliah Fisika Dasar. Modul ini pertama kali dikembangkan oleh The Physics Education Group di the University of Washington.

Adakah pengaruh dampak dari Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi Kelompok terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika Dasar para calon Guru Universitas Negeri Malang? b. 1968). O3. a. kooperatif dan kolaborasi teman sebaya pada Calon Guru Universitas Negeri Malang? METODE Penelitian ini dilakukan dengan mengambil jenis penelitian Quasy Experimentation (semi eksperimen) dengan mengambil model Randomized Control-Group Pretest-Paster . O4 dan O5 adalah pengukuran pertumbuhan konsep Fisika dengan periode dua mingguan. Bagaimanakah interaksi dari dampak Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi kelompok yang dirancang dengan pola tutorial sebaya. disajikan pada Tabel 1 berikut. O2.Untuk lebih tegasnya berdasarkan latar belakang di atas. masalah pelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. Tabel 1 Rancangan Penelitian GI G2 G3 G4 O1 O1 O1 O1 XI X2 X3 X4 O2 O2 O2 O2 X1 X2 X3 X4 O3 O3 O3 O3 XI X2 X3 X4 O4 O4 O4 O4 XI X2 X3 X4 O5 O5 O5 O5 Keterangan: G1 = kelompok pertama G2 = kelompok kedua G3 = kelompok ketiga G4 = kelompok keempat X1 X2 X3 X4 = = = = perlakuan tutorial perlakuan kooperatif perlakuan kolaboratif perlakuan acak . yang diperluas dengan melibatkan lebih dari satu variable O1.Design (Caenphell dan Stanley.

pola pengelompokkan belajar mahasiswa untuk kelas eksperimen akan dibentuk mengikuti aturan pengelompokkan secara pola . apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry. Analisis butir soal dilakukan dengan mengambil sekor pretes dari 2 kelas sampel penelitian. kooperatif dan kolaborasi. intermediate dan lanjut untuk masing-masing pola. data interaksi antar mahasiswa akan dianalisis secara deskriptif yang meliputi keterampilan kelompok dasar. Selanjutnya. yaitu tutorial sebaya. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru jurusan Fisika Universitas Negeri Malang yang terdiri dari 6 kelas. sedangkan data tentang pengamatan interaksi mahasiswa dikumpulkan melalui instrumen pengamatan interaksi dalam kelompok. 1984) dengan menggunakan program SPSS Release-10 for windows. Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika mahasiswa dianalisis dengan regresi (Kleinbaum dan Kupper. yaitu penguasaan konsep Fisika dan variabel independen. Untuk melihat dampak yang muncul selama mahasiswa para calon guru bekerja dengan model investigasi kelompok. satu kelas sebagai kelas kontrol. selengkapnya dapat diperiksa pada Lampiran-5.yang dipilih secara purposif dengan pertimbangan tertentu dimana masing-masing kelas terdiri atas 25--30 mahasiswa.Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa dijaring lewat hasil tes dengan menggunakan instrumen prestasi. Instrumen kegiatan akan dikembangkan dengan mengadopsi Modul Physics by Inquiry untuk materi Fisika Dasar I. Dalam hal ini ingin diselidiki apakah pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa tergantung atau tidak dengan banyaknya waktu yang digunakan dalam penyampaian materi. Analisis regresi ini dimaksudkan untuk tujuan peramalan. Artinya. sampel sebanyak 4 kelas di atas akan diambil 3 kelas sebagai kelas eksperimen. dimana dalam model tersebut ada sebuah variabel dependen. Sedangkan. yaitu waktu yang digunakan belajar. sedang sebagai sampelnya digunakan sebanyak 4 kelas secara purposif dengan pertimbangan bahwa kesulitan teknis pelaksanaan selama eksperimen dapat dihindarkan.

Dari 20 butir soal sebanyak 1 soal gugur. Kelas kontrol akan dikelompokkan secara acak dengan berpedoman dari absensi kelas. .. Analis yang digunakan adalah Anova dengan mengggunakan program SPSS Release-10 for Windows dengan terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analis. Instrumen pengukuran penguasan konsep Fisika yang berupa tes dikembangkan berdasar materi Fisika Dasar I c.tutorial. Lembar Kerja Mahasiswa pada kegiatan praktikum dengan mengimplementasikan Modul Physics by Inquiry Hasil uji coba instrumen penguasaan konsep Fisika menunjukkan bahwa validitas telah memenuhi syarat instrumen yang cukup baik. pola kooperatif dan pola kolaboratif sebaya. pertama kali yang dikerjakan adalah: 1. yaitu uji normalitas dan homogenitas varians dan hasilnya seperti pada Tabel 2. proses pembelajaran mengikuti alur yang sama. Dengan demikian tes penguasaan konsep Fisika yang digunakan sebanyak 19 butir soal. bahwa untuk mengetahui apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry.57. Uji Kesamaan Kemampuan Awal mahasiswa Data yang digunakan untuk menguji kesamaan kemampuan awal ini adalah hasil tes awal atau pretes dari masing-masing kelompok. Instrumen perlakuan dikembangkan dengan mengikuti pola pembelajaran kelompok. HASIL Seperti telah dijelaskan di atas. sedangkan instrumen kegiatan yang dikembangkan terdiri atas: a. Instrumen pengamatan interaksi mahasiswa dalam kelompok b. kecuali pola pembentukan kelompoknya. Reliabilitas tes tersebut ternyata cukup baik dengan koefisien reliabilitas sebesar 0. dan Tabel 4 berikut. Tabel 3. Dengan demikian.

sig.165 25 . Dengan demikian langkah selanjutnya adalah uji kesamaan kemampuan awal masing-masing kelompok data dengan statistik Anova. Lillief ors Signif icance Correc tion Tabel 3 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRETES Levene Statistic . .216 df 3 102 105 Mean Square 49. . Tabel 3.060 F .381 dan pola kolaborasi dengan harga sig. pola tutorial dengan sig.178 .954 . dan Tabel 4 terbukti bahwa sebaran data kemampuan awal keempat kelompok data adalah normal karena harga Sig.190 dan persyaratan homogen variannya juga terpenuhi (sign. .190 a.196 25 .477 Sig.093 df 1 3 df 2 102 Sig.079 .964>0. pola kooperatif.Tabel 2 Uji Normalitas Data Tes ts of Nor m ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig..0.937 .964 Tabel 4 Uji Kesamaan Kemampuan Awal ANOVA PRETES Sum of Squares Betw een Groups 149.161 25 . . 0. 0.925 . sig.079 . 0. yaitu pola acak.157 Total 10763.095 a ACAK TUTORIAL KOOPERAT KOLABORA Statistic . 0.938 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.686 104.059 Within Groups 10614.05).060 . terbaca >0.381 . .014 .170 25 .05.176.079.699 Dari Tabel 2.

. kenyataan ini terbaca pada Tabel 7. maka langkah selanjutnya adalah menguji hasil postes masing-masing kelompok dengan statistik Anova. untuk factor 1. kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok mempunyai harga pretes yang sama atau tidak berbeda pada taraf signifikansi 5%.05.665 . Selanjutnya akan dilakukan uji beda postes dari masing-masing kelompok.971 . Hasil analisis menunjukkan bahwa harga Sign.019 . Pada bagian Post Hoc Tests untuk menu Multiple Comparisons harga Turkey HSD dan Bonferroni.007 .191 25 . hasil pretesnya menunjukkan tidak berbeda pada taraf signifikansi 5% atau sama. sebesar 0. sedangkan uji prasyarat homogenitas data dapat dibaca pada Tabel 6. This is a low er bound of the true significance.943 .05 artinya bahwa kempat harga postes dari masing-masing kelompok berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%.931 . a.Hasil uji terlihat pada Tabel 4 yang menunjukkan bahwa kemampuan awal keempat kelompok tidak berbeda atau sama.105 25 . kooperatif dan kolaborasi adalah lebih besar dari 0. Hasil menunjukkan bahwa kempat kelompok data adalah homogen. terbaca pada Tabel 5. Lilliefors Significance Correction . tutorial.200* . 2.208 25 . Tabel 5 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.955 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig. Dengan demikian uji beda postes dari keempat kelompok dapat dilakukan. 2.699 pada taraf signifikansi 5%. yang muncul adalah sebesar 0. dan 4 atau factor pola acak.000. Harga ini adalah lebih kecil dari 0. terbaca harga sign. 3.200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic .Uji prasyarat analis menunjukkan bahwa keempat kelompok berdistribusi normal.394 *.104 .243 .142 25 . Uji Beda Postes Antar Kelompok Oleh karena keempat kelompok. . Kenyataan ini terbaca bahwa harga Sig.

934 Total 14873.592 Within Groups 11434.000 Kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok memang mempunyai harga postes yang berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%.526 df 3 102 105 Mean Square 1146. daripada kooperatif. artinya bahwa kalau akan membentuk kelompok belajar mahasiswa. atau tutorial apalagi belajar kelompok dengan pola acak.Tabel 6 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s POSTES Levene Statistic 1.345 Tabel 7 Uji Beda Postes ANOVA POSTES Sum of Squares Betw een Groups 3438. 3. Untuk keperluan uji ini. . dan Tabel 10 berikut. .120 df 1 3 df 2 102 Sig. selanjutnya dilakukan uji beda pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I. . Tabel 9. Sebelumnya.107 F 10. maka akan tepat bila kelompok tersebut dibentuk dengan mengikuti aturan pola kolaborasi. dilakukan terlebih dulu uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas varians masing-masing kelompok data dan hasilnya seperti ditunjukkan pada Tabel 8.197 112.224 Sig. Bila diperhatikan harga mean postes yang paling tinggi ada pada kelompok kolaborasi. Pertumbuhan Penguasaaan Konsep Fisika Dasar I Mahasiswa Setelah tahap-tahap di atas dilakukan dan hasilnya telah jelas. data-data yang diperlukan adalah sekor pretes dan postes masing-masing kelompok.

.185 .051 .495 196.002 .746 df 1 3 df 2 102 Sig.538 df 3 102 105 Mean Square 16.382 . .954 . This is a low er bound of the true signif icance.123 25 .918 .922 F 8.949 . uji beda pertumbuhan dapat dilakukan yaitu dengan statistik Anova dan hasilnya dapat diperiksa pada Tabel 10 di atas yang terbaca bahwa harga .200* . .473 *.145 25 . Dengan demikian.228 25 . Lillief ors Signif icance Correction Tabel 9 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRTBH Levene Statistic .Tabel 8 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Norm ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.044 244.165 1. a. .316 .962 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.527 Tabel 10 Uji Beda Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika ANOVA PRTBH Sum of Squares 48.410 Sig.129 25 .000 Betw een Groups Within Groups Total Hasil uji yang ditunjukkan pada Tabel 8 menghasilkan bahwa data pertumbuhan masing-masing kelompok adalah normal dan uji homogenitas varians pada Tabel 9 menunjukkan bahwa keempat kelompok data adalah berasal dari varians yang sama.200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic .

tes-3 dan postes (dilakukan setiap 2 minggu) diolah. namun pertumbuhan untuk masing-masing pola terhadap pola lain pada kelas eksperimen nampaknya tidak ada perbedaan.24726. tes-1.26153. sedangkan method Quadrati F = 1. Growth dan Exponent sebesar 0.916. Linier sebesar 0. bila kooperatif dibandingkan dengan kolaborasi mendapatkan harga sign.12672 seperti disajikan pada Tabel 11 di bawah. Hasil analisis dapat ditunjukkan seperti berikut. yang ditandai dengan tanda *. Pola acak. sehingga setelah dilakukan Post Hoc Tests nampak bahwa perbedaan pertumbuhan penguasaan tersebut akan nyata bila kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Hasil olahan menunjukkan gambaran-gambaran pola pertumbuhan yang terjadi untuk masingmasing pola kelompok yang dibentuk.. tes-2. harga F untuk Method. Sedangkan. Pada bagian Post Hoc Tests pada Multiple Comparisons memperkuat pernyataan di atas. method. yaitu uji normalitas dan homogenitas pretes dan postes yang hhasilnya telah memnuhi persyaratan. 0. sebesar 0. tetapi tidak ada perbedaan untuk masing-masing pola kelompok.sign. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan keempat pola kelompok adalah berbeda secara signifikans pada taraf signifikansi 5%. Hal ini karena harga sign antara tutorial dengan kooperatif sebesar 0. data pretes. maka dapat disimpulkan bahwa penguasaaan konsep Fisika mahasiswa untuk pola kelompok acak .  Dengan menggunakan program SPSS pada statistik regresi dengan mengambil menu Curve Fit. Masalahnya sekarang adalah bagaimanakah bentuk pola pertumbuhan tersebut untuk masing-masing pola? Untuk menjawab pertanyaan ini langkah-langkah yang dilakukan adalah:  Uji prasyarat analisis. Tampak bahwa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen secara keseluruhan berbeda secara signifikans. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa walaupun pertumbuhan untuk masing-masing pola berbeda tetapi mean dari masing-masing pola hampir sama.865 dengan kolaborasi.. Compound.999 dan sebesar 0.000. Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Di bagian atas telah dihasilkan perhitungan statistik tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika pada masing-masing pola. 4.

harga F untuk Method. Tabel 11 Curve Fit Pola Pertumbuhan Acak Analysis of Variance Method.40123 37.02156 Pola kooperatif. dan Exponent sebesar 25.26153 0. Growth.02156 45.12672 Pola tutorial sebaya..02156 dengan beda sebesar 0. Growth dan Exponent.12268. Linier sebesar 25. sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan penguasaan konsep pola tutorial adalah linier namun lebih mendekati kearah eksponensial disajikan pada Tabel 12.02156 45. tetapi cenderung kearah pola Quadrati.40123 yang mana harga ini masih lebih kecil dari Method Compound. Tabel 12 Curve Fit Pola Pertumbuhan Tutorial Sebaya Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 44.16240. sedangkan Metod Compound.36603 (Tabel 13). harga F untuk method. sehingga dapat disimpulkan bahwa per- .05305 45.62033.12672 0. Linier sebesar 44.71022 22.12672 0.tidak linier terhadap waktu yang digunakan.64375 1. yaitu 45.12672 0.. Qudrati 14. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 0.

92697 .36603 25.92937 30.92697 (Tabel 15). Pola Kolaborasi. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil.92887 39.92697 39.92937.36603 Compound.86311 20.81884 14.. Growth. Growth dan Exponent harga F-nya sebesar 39. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%. harga F untuk Method Linier sebesar 39.92697 (Tabel 14). harga F untuk Method. Pola Kolaborasi. Growth dan Exponent Metod.12268 18. Growth dan Exponent. dan Exponent harga F-nya sebesar 39. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 39.16240 25.36603 25. sedangkan Metod Compound. Tabel 13 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kooperatif Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 25. perbedaaan tersebut adalah nyata.92697 39. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%. Linier sebesar 39.tumbuhan penguasaan konsep Fisika kelompok kooperatif adalah linier cenderung kearah Metod Compound..92937. sedangkan Metod Compound. Tabel-15 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kolaborasi Analysis of Variance Method. perbedaaan tersebut adalah nyata.

Keterampilan Kelompok Dasar: Tutor berperanan aktif dalam mengawali pengambilan kesepakatan (83. namun setiap keputusan yang diambil kelompok selalu berdasar keputusan kelompok (66.002.. (83.33% akan mendengarkan secara seksama pendapat dari anggota kelompok.33%). pada akhirnya tutorlah yang berusaha untuk memperdalam permasalahan sehingga memperoleh jawaban akhir yang dianggap benar (83. tutorial sebaya. Pola Tutorial Sebaya a. . artinya ada kesadaran bahwa pendapat orang lain mungkin akan berguna bagi dirinya sehingga perlu untuk dicermati. Bagaimana halnya sekarang dengan hasil pengamatan interaksinya? 1.33%) b.33%). Hasil Pengamatan Interaksi Di atas telah dipaparkan hasil penguasaan konsep pada masingmasing pola kelompok belajar. Keterampilan Kelompok Intermediate: Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 83. sehingga kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi (66.67%). yaitu kelompok acak. kooperatif dan kolaborasi.33%) dan terakhir tutor menunjukkan bukti pada anggota kelompok disertai alasan-alasannya (83. c.67%) artinya sifat individu tidak muncul. Growth dan Exponent dengan beda yang cukup kecil yaitu sebesar 0.Dengan demikian pola kolaborasi pertumbuhan penguasaan konsepnya lebih kearah linier dibandingkan dengan Metod. Keterampilan Kelompok Lanjut: Bahwa kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi seperti ditunjukkan di atas. Disini tampak peranan tutor yang cukup dominan (50%) yaitu megajak anggota kelompok untuk berpartisipasi. Compound.

Masalahnya adalah apakah penjelasan ini benar atau salah. namun tidak menyumbangkan banyak pemikiran dalam memecahkan masalah (16. bersuara pelan dalam mengemukakan pendapat (33. Pola Kooperatif a.67%). Keterampilan Kelompok Lanjut: Memperdalam permasalahan dalam upaya memperoleh jawaban yang benar rupanya masih dikendalikan oleh anggota yang berkemampuan tinggi (66. sedangkan anggota berprestasi tinggi dan sedang justru lebih rendah (16. Kelompok ini mengarahkan bagaimana kelompok harus bekerja (66. itulah pertanyaannya. Poin inilah yang utama dan penting dilakukan oleh separoh dari kelompok yang melakukan kegiatan (50%). Untuk menyumbangkan pemikiran rupanya diprakarsai oleh setiap anggota kelompok (28. 3. nampak disini bahwa anggota yang merasa berprestasi tinggi merasa tidak begitu memerlukan akan pendapat anggota yang berprestasi rendah c.33%) dan justru anggota kelompoknya yang mengajak mengemukakan pendapat (50%).67%).2. Jadi. kecuali yang berprestasi rendah (14. Namun demikian setiap anggota bersedia berkompromi untuk mencapai jawaban akhir. Anggota dengan prestasi paling tinggi nampaknya memegang kendali saat diskusi kelompok. Keterampilan Kelompok Dasar: Mengawali pengambilan kesepakatan muncul dari anggota dengan predikat berprestasi tinggi (42.33%) yang lebih dominan. b. namun dia tidak berusaha menunjukkan bukti dan alasannya mengapa jawaban bisa demikian justru yang berkemampuan sedang (83. Keterampilan Kelompok Dasar: Mahasiswa yang berprestasi tinggi dominan untuk mengawali pengambilan kesepakatan (50%). Keterampilan Kelompok Intermediate: Menunjukkan penghargaan dan empati pada penampilan anggota ditunjukkan oleh anggota yang berprestasi rendah (33. Inilah yang penting karena dengan demikian yang . Pola Kolaborasi a.67%).33%).57%).67%). namun dia tetap mengarahkan kerja kelompoknya (50%).29%).86%).

1.14% SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil kajian disertai dengan analisis statistik dari data-data yang didapatkan.57%. b. Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok belajar menunjukkan bahwa semakin tinggi kebersamaan dalam .29% dan 28.57%. Dalam menentukan prioritas dalam memecahkan masalah. demikian juga saat menunjukkan bukti atau memberi alasan terhadap jawaban yang dikemukakannya ((42. Keterampilan Kelompok Intermediate: Yang menarik pada tingkat keterampilan ini adalah bahwa dalam mengambil kesimpulan tugas-tugas kelompok. 14.57%.57%. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Keterampilan Kelompok Lanjut: pada poin untuk merinci tugas dan jawaban hampir semua kelompok anggotanya aktif melakukan ini yang hasil pengamatannya adalah 28.57%. 2. Growth dan Exponent. Hasil ini sama saat kelompok merinci tugas dan jawaban. sedangkan yang mengikuti pola linier adalah pola kolaborasi. c. Pola pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA UM untuk masing-masing pola pengelompokkan menunjukkan pola yang berbeda-beda.86%).57% tetapi untuk memperdalam permasalahan anggota kelompok yang berprestasi paling tinggi yang lebih berperanan (42. Untuk pola acak cenderung kearah pola quadrati.merasa punya prestasi rendah akan menjadi terhimbas untuk belajar. yaitu sebesar 57. 28.86%).29% dan 28. pola tutorial sebaya mahasiswa cenderung kearah pola Compound. Hal ini tampak dari hasil urutan pengamatan interaksinya yaitu sebesar 28. 28. anggota yang berprestasi tinggi kembali memegang kendali. 14. hampir semua kelompok baik yang anggotanya berprestasi tinggi ataupun kelompok yang berprestasi pada urutan yang lebih rendah semua memegang kendali pengambilan keputusan.

Inilah hal utama untuk itu ditekankan sebelum kelompok terbentuk. 2.memecahkan permasalahan yang dihadapi. utamanya prestasi belajar mereka. maka akan membuat semakin baik pola pertumbuhan penguasaan konsep mereka. Mencermati hasil perhitungan statistik yang telah dilakukan. dapat disarankan hal-hal sebagai berikut. Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok menunjukkan bahwa kebersamaan untuk mau bekerja bersama-sama. saling menghargai pendapat orang lain merupakan faktor penting untuk diperhatikan karena erat kaitannya dengan hasil yang didapatkan nantinya. 1. maka disarankan kepada siapapun sekiranya akan membentuk kelompok belajar seyogyanya membentuk kelompok belajar dengan pola kolaborasi. . Saran Dari kesimpulan yang didapatkan seperti diungkap di atas. berdiskusi. bahwa pola kolaborasi ternyata mampu membuat pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Malang linier terhadap waktu yang digunakan belajar.

1981. B. 1990. W. M.C. Becoming a Secondary School Science Teacher. National Science Education Standard. Interaksi Belajar Mengajar IPA. A Bell & Howell Company. Rohandi. National Academy Press. P. 2001. R. Trowbridge. & McTighe.. New York McDermott. P.. Shafferi. R. 1996. S. Preparing Teachers to Teach Physics and Physical Science by Inquiry. L. Bybee. L. W. R. Buku Materi Pokok 4 Universitas Terbuka. Columbus. Ohio. Pickering. 1993. C. R. Third Edition. J. Sund. Penerbit Kanisius. B. 1996. Ohio . R. 2000. R. & Sund. W 1973. & Constantinou. L. Columbus. 58 (8). McDermott. W. P. D. & Trowbridge. C. Physics by Inquiry: An Introduction to Physics and the Physical Sciences. 35(6). Physics Education.. Washington DC. C. American Journal of Physics.L. A Perspective on Teacher Preparation in Physics and Other Sciences: The Need for Special Science Course for Teacher. Assessing Student Outcome: Performance Assessment Using the Dimensions of Learning Model... Marzano. Teaching Science by Inquiry in the Secondary School. Yogyakarta. & Rosenquist. J..DAFTAR RUJUKAN Dahar.. L. A Bell & Howell Company. Jakarta McDermott. John Wiley & Sons. Inc.. S. 1986. National Research Council. Penerbit Karunika.. Menuju Kebiasaan Bertanya dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar. L. Second Edition. ASCD Publications. Virginia. Shafferi.

and there are five reasons underlying the application of this strategy. menggunakan kamus. Kusumarasdyati adalah dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Surabaya . ada beberapa strategi pemrosesan kata lain yang dapat diterapkan oleh para pembelajar bahasa Inggris. Selain penggunaan kamus. Untuk mengatasi masalah kosakata seperti ini. List dan Lerner (1983). mengusulkan taksonomi yang terdiri dari dua strategi saja. mereka menerapkan berbagai macam strategi pemrosesan kata (lexical processing strategies). unknown words Dalam membaca pemahaman. This study attempts to examine the use of skipping as a lexical processing strategy in reading comprehension and explore the reasons for utilizing this strategy. Key words: reading. yaitu analisis terhadap struktur kata dan penggunaan konteks untuk menebak makna kata. misalnya melihat kamus untuk mencari makna kata tersebut. skipping. yaitu membaca secara ekstensif (wide reading). dan menebak makna kata berdasarkan konteks. The findings reveal that most proficient readers do skip unknown words. misalnya. Some recommendations are made based on these findings. dan strategistrategi tersebut telah disusun menjadi taksonomi oleh beberapa pakar.Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Abstract: Proficient readers usually skip unknown words that they encounter in a reading text. Richek. pembelajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing acapkali menemui kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. Namun taksonomi yang disusun oleh Robinson (1977) terdiri dari tiga strategi. strategy. vocabulary.

sedangkan wide reading yang dikemukakan oleh Robinson sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai strategi tersendiri karena pembelajar biasanya menebak makna kata atau menggunakan kamus ketika sedang membaca secara ekstensif. melainkan berhenti sebentar pada suatu titik dalam teks kemudian melompat dengan cepat ke titik yang lain dalam teks yang sama (Rayner dan McConkie. consult (melihat makna kata di kamus) dan ignore atau skipping (mengabaikan makna kata). Reichele et al. Selama ini banyak peneliti dan pengajar bahasa yang menganggap bahwa menebak makna kata atau melihat kamus saja yang bisa dikategorikan sebagai strategi. 1998). nampak bahwa klasifikasi strategi yang paling lengkap disusun oleh Fraser (1999). Dua strategi yang diusulkan oleh Richek et al dapat dimasukkan ke dalam kategori infer. Karena anggapan yang kurang tepat seperti ini. Penelitian mengenai gerakan mata (eye movement) menemukan bahwa mata tidak bergerak secara kontinyu dari satu kata ke kata berikutnya ketika membaca. Mereka tidak menyadari bahwa melewati kata yang tidak ditemukan maknanya sebenarnya juga merupakan strategi atau teknik yang dilakukan oleh pembelajar dalam menghadapi kata-kata sulit. Proses berhentinya mata pada suatu titik disebut fixation. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pembelajar mengumpulkan informasi lebih banyak mengenai teks pada tahap fixation di suatu kata. dan menurut mereka apabila kedua strategi ini gagal dalam membantu pembelajar untuk menemukan makna kata maka kata tersebut ‗cukup‘ dilewati saja. 1989. 1976. Skipping dalam membaca pemahaman sebenarnya telah diketahui oleh para pakar sejak dekade 1970-an. yaitu mengakui ignore sebagai salah satu strategi. Selain lebih lengkap dibandingkan dengan yang lain. taksonomi Fraser juga memiliki kelebihan lain. strategi berupa melewati kata-kata sulit-atau skipping unknown words-tidak terlalu diperhatikan oleh para peneliti dan pengajar bahasa.Fraser (1999) juga membagi strategi pemrosesan kata menjadi tiga: infer (menebak makna kata). sedangkan proses melompatnya pandangan ke titik lain disebut saccade. Berdasarkan latar belakang tersebut. dan amat sedikit informasi yang . penelitian ini mencoba untuk mendalami skipping sebagai salah satu strategi pemrosesan kata yang digunakan oleh pembelajar bahasa. Dari beberapa taksonomi di atas. Karena itu penelitian ini berpijak pada taksonomi strategi pemrosesan kata yang disusun oleh Fraser. Rayner dan Pollatsek.

Meskipun hasil penelitian di atas memberikan bukti empiris akan adanya strategi skipping dalam menghadapi kata-kata sulit di bacaan. misalnya. Menurut Fraser. 1998).diperoleh pada tahap saccade karena pembelajar melewati beberapa kata begitu saja selama pandangan melompat dari satu titik ke titik lain. Hasil pengamatan terhadap gerakan mata di atas memberikan bukti yang kuat bahwa pembelajar memang melakukan skipping atau melewati beberapa kata ketika membaca suatu teks. Hosenfeld juga menemukan bahwa kata-kata yang dianggap penting pun terkadang dilewati saja oleh para pembelajar karena gagal mendapatkan makna yang sesuai setelah mencoba beberapa kali untuk melihat kamus atau menebak dari konteks. hingga saat ini tidak banyak yang meneliti secara mendalam mengapa pembelajar melewati begitu saja kata-kata sulit dalam teks yang mereka baca. Selain bukti dari sudut fisik pembelajar. sedangkan 35% merupakan strategi yang digunakan setelah gagal menebak makna kata. menunjukkan bahwa pembelajar yang kemampuan membacanya baik biasanya melewati kata-kata yang tak diketahui maknanya karena kata-kata tersebut dipandang tidak terlalu penting untuk memahami makna keseluruhan bacaan. Penelitian Hosenfeld (1976). Selain itu. Hal ini sejalan dengan temuan dari penelitian Paribakht dan Wesche (1999). yang menunjukkan bahwa para subjek penelitiannya mengabaikan sekitar separuh dari kata-kata sulit yang mereka temukan dalam bacaan karena mereka menganggap kata-kata tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk pemahaman keseluruhan bacaan. Kalau pun ada kata yang terbaca. Hosenfeld (1976) serta Paribakht dan Wesche (1999) menemukan bahwa alasan skipping adalah anggapan pembelajar bahwa kata-kata sulit tersebut tidak penting untuk pemahaman bacaan keseluruhan. pembelajar melewati 24% kata yang tidak mereka ketahui maknanya. Jumlah ini lebih rendah daripada pemakaian strategi menebak makna kata (44%) dan melihat kamus (29%). Hasil penelitian kuantitatif Fraser (1999) mendukung temuan di atas. pembelajar biasanya tidak memberikan perhatian yang terlalu banyak pada kata tersebut (Reichele et al. Pressley . Sekitar 62% dari penggunaan strategi melewati kata ini merupakan strategi tunggal (tanpa didahului atau diikuti oleh menebak atau melihat kamus). hanya saja data numerik yang dihasilkan agak berbeda. bukti lain diberikan oleh penelitian mengenai penggunaan strategi dari sudut psikolinguistik.

Dengan demikian. penelitian ini juga memberikan manfaat praktis bagi para pengajar bahasa Inggris karena hasilnya dapat memberikan gambaran mengenai penggunaan strategi skipping yang efektif oleh para pembelajar yang kemampuan membacanya baik. diberikan tes membaca pemahaman DIALANG (dapat diunduh dari http://www. penelitian ini diharapkan dapat mendukung pandangan yang menyatakan bahwa membaca pemahaman berlangsung secara top-down (pembelajar menggunakan pengetahuan yang telah dia miliki untuk memahami bacaan) dan bukannya secara bottom-up (pembaca memproses setiap kata satu persatu kemudian menggabungkan semua kata tersebut untuk memahami bacaan secara keseluruhan). Secara teoritis. Maka dari itu.dialang. Data kualitatif diambil dari 8 mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang terpilih menjadi subjek penelitian dengan memakai metode purposive sampling dari populasi sejumlah 74 mahasiswa. selain alasan yang disebut di atas.dan Afflerbach (1995) menyatakan bahwa pembelajar melewati kata sulit karena gagal menebak maknanya dari konteks. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan secara mendalam alasan mengapa para pembaca yang kemampuannya baik mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam bacaan berbahasa Inggris. sehingga diperoleh skor yang merefleksikan . Selain itu. Untuk mengetahui kemampuan tersebut. pengajar dapat membimbing pembelajar yang kemampuan membacanya sedang atau kurang dengan jalan meminta mereka untuk menerapkan strategi yang digunakan oleh pembaca yang lebih baik kemampuannya. Penelitian-penelitian mereka tidak secara khusus mendalami strategi skipping. Sampel ini diambil dari populasi berdasarkan kriteria berupa kemampuan membaca pemahaman yang baik. sehingga perlu diteliti lebih jauh apakah hanya kedua alasan itu yang memicu terjadinya skipping. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya baik melewati kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya dalam membaca pemahaman.org) yang telah menjadi standardized test kepada semua anggota populasi.

peneliti memberikan dua teks (masing-masing terdiri dari 812 dan 344 kata) kepada para mahasiswa untuk dibaca dengan keras. wawancara retrospektif. Untuk mendapatkan data dari subjek penelitian ini. namun persentil teratas dibulatkan menjadi 8 (dari 7. Kedelapan mahasiswa ini diasumsikan memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik karena skor tinggi yang mereka capai. apa pun yang mereka pikirkan selama membaca harus mereka ucapkan dengan suara keras sehingga dapat diketahui secara persis proses berpikir mereka ketika mereka mengatasi kata-kata sulit. Gambar 1 Cara seleksi sampel menggunakan persentil 10% Skor tertinggi (sampel) 10% Skor terendah Persentil teratas terdiri dari 10% dari mahasiswa yang mendapat skor tertinggi dalam tes membaca pemahaman DIALANG. diperlukan empat instrumen penelitian: tes membaca pemahaman DIALANG. Proses seleksi ini dapat dijelaskan di Gambar 1. dan selama membaca mereka diminta untuk mengucapkan kata-kata sulit yang mereka temui dan strategi mereka dalam mengatasi kata-kata sulit tersebut. Instrumen kedua adalah concurrent verbal protocols. Selanjutnya. concurrent verbal protocols. Dengan kata lain. skor ini diurutkan dari tertinggi hingga terendah dan disusun menjadi persentil. Telah disebutkan sebelumnya bahwa populasi terdiri dari 74 mahasiswa. Instrumen pertama (tes membaca pemahaman) tidak dibahas secara rinci di sini karena hanya digunakan untuk memilih sampel dari populasi. Informasi lebih jauh mengenai tes ini dapat diperoleh dari laman (website) yang disebut di atas. kemudian ditulis transkripnya dengan menggunakan . Ucapan mereka direkam dalam kaset oleh peneliti.kemampuan membaca mereka. yaitu proses berpikir yang diucapkan dengan suara keras.4) sehingga didapat sampel sejumlah 8 mahasiswa. Mahasiswa yang menduduki persentil paling atas dipilih menjadi sampel penelitian. dan observasi. Dalam menggunakan instrumen ini.

semua wawancara dengan subjek penelitian direkam dalam kaset dan dibuat transkripnya. maka peneliti memberi tanda sebagai berikut di teks yang dia pegang: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end . Tabel 1 Notasi untuk transkrip hasil concurrent verbal protocols Format Huruf biasa [Cetak miring. Instrumen yang keempat adalah observasi.notasi seperti yang terdapat di Tabel 1. di dalam kurung] [Cetak tebal. Ketika mahasiswa membaca teks. yaitu: (1) Apakah anda mengetahui makna kata ini?. di mana peneliti mengamati segala perilaku mahasiswa selama membaca dua teks dan mencatat hal-hal yang relevan dengan strategi skipping. di teks terdapat kalimat berikut: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end the previous summer. di dalam kurung] Garis bawah (0.0) Deskripsi Kata-kata yang diucapkan oleh subjek penelitian Kata-kata dari bacaan yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata dari kamus yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata sulit yang tidak diketahui maknanya Panjangnya jeda dalam menit dan detik Instrumen ketiga adalah wawancara retrospektif. di mana peneliti mewawancarai mahasiswa mengenai hal-hal yang perlu diklarifikasi dari hasil concurrent verbal protocols setelah mahasiswa selesai membaca dua teks. peneliti memegang teks yang sama dan telah dibubuhi tanda pada beberapa kata yang diprediksi sulit bagi mahasiswa. tramping dan loose diperkirakan tidak diketahui maknanya oleh mahasiswa. dan (2) Apabila anda tidak mengetahui maknanya. mengapa anda lewati kata ini sewaktu membaca tadi? Pertanyaan tambahan dapat diajukan sesuai kebutuhan.‖ Kata-kata tranquility. Misalnya. Apabila mahasiswa mencoba menebak makna tranquility ketika membaca teks dan tidak menebak atau melihat kamus ketika membaca tramping dan loose. Wawancara yang semi terstruktur ini berpegang kepada dua pertanyaan dasar. Seperti instrumen kedua. karena itu peneliti memberi setrip pendek di bawah kata-kata tersebut.

Hanya data yang masuk kategori terakhir ini lah yang dianalisis lebih lanjut.‖ Garis bawah di keseluruhan kata menandakan bahwa mahasiswa mencoba mencari makna tranquility. . HASIL Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang kemampuan membacanya tergolong baik melewati kata-kata sulit yang ditemui dalam bacaan. Dalam arti. Setelah didapat daftar kata-kata yang dilewati oleh setiap mahasiswa. tujuh diantaranya melewati begitu saja kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. seperti yang telah dijelaskan dalam bahasan mengenai instrumen ketiga di atas. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 2.the previous summer. atau memasukkan ujaran mahasiswa selama membaca ke kategori yang sesuai: menebak makna kata (guessing). Hanya satu mahasiswa (Catrin) tidak pernah mengabaikan kata-kata sulit dan cenderung melihat kamus untuk mencari makna kata-kata tersebut. dicari alasan-alasannya dari hasil wawancara. ujaran yang dikategorikan skipping seharusnya cocok dengan hasil observasi. Kata-kata yang ditandai setrip pendek ini akan ditanyakan dalam wawancara retrospektif setelah proses membaca selesai. Dari 8 mahasiswa yang menjadi subjek penelitian ini. Hasil coding ini akan ditriangulasikan dengan hasil observasi. tetapi nampaknya melewati kata tramping dan loose karena keduanya masih ditandai setrip pendek. atau melewati kata-kata sulit (skipping). Data yang diperoleh dari concurrent verbal protocols akan dianalisis terlebih dahulu dengan cara coding. melihat kamus (consulting). sehingga didapat analisis yang lengkap mengenai kata yang dilewati beserta alasan melakukan skipping. sehingga penelitian ini mendukung temuan Hosenfeld (1976) yang telah dibahas di atas. yaitu kata-kata yang diberi setrip pendek di bawahnya.

. Para mahasiswa yang mengabaikan kata tersebut berpendapat mereka masih bisa memahami apa yang disampaikan di dalam teks walaupun mereka tidak mengetahui makna kata-kata yang dilewati. P : Yang anda tidak tahu artinya. Biarpun itu katanya susah.Tabel 2 Jumlah Kata-kata yang Sulit dan Dilewati oleh Mahasiswa Nama mahasiswa* Selena Rita Homer Melisa Andra Yulia Catrin Didin * Nama samaran Σ kata sulit 45 35 54 57 37 52 96 49 Σ kata dilewati 25 2 27 35 25 43 0 18 Ada sebagian mahasiswa yang mengabaikan hanya 2 kata yang tidak diketahui maknanya. Sentencenya nyambung. ―Saya tidak tahu artinya tapi saya lewati aja‖? A : Ada yang merasa terus ditebak-tebak. Jadi yang penting kata kunci dari sentence itu udah dapet. kalo itu kata kunci? A : Ya. saya nggak mau nyari. kalo bukan key of the sentence. Jadi selama kata itu nggak penting saya nggak mau. misalnya seperti yang dijelaskan oleh Andra (A) dalam wawancara retrospektif dengan peneliti (P). anda tadi merasa. P : Jadi yang anda cari itu. ngerti maksudnya. ya udah diambil. P : Ada beberapa tadi yang anda tidak tahu artinya tapi anda tetap baca. Nggak memperdulikan. A : He eh. Jumlah yang bervariasi ini tentunya dilatarbelakangi oleh alasan-alasan yang berbeda pula. tetapi ada juga yang melewati hingga 43 kata.

Pembaca yang baik memiliki kemampuan untuk memilah mana kata-kata kunci (keywords) yang penting untuk pemahaman bacaan secara keseluruhan dan mana kata-kata yang kurang penting. Apabila kata-kata sulit dipandang kurang penting, maka pembaca akan menerapkan strategi skipping agar dia dapat membaca secara lebih efisien dan tidak terhambat oleh kata-kata sulit tersebut. Walaupun kata-kata yang tidak dipandang penting pada umumnya diabaikan, ada juga mahasiswa yang mengabaikan kata-kata sulit yang sebetulnya dianggap penting. Contoh konkrit dapat dilihat dalam ujaran Yulia ketika membaca teks dalam concurrent verbal protocols.
Yulia: [I would see him waiting for the whirring (0.1) whirring (0.1) whirring of wings, violin in hand. Several times now…]

Ketika Yulia membaca kalimat di atas, sebenarnya perhatiannya tertuju pada kata whirring yang tidak dia ketahui maknanya dan dia melakukan upaya untuk mengetahui makna kata tersebut, seperti yang ditunjukkan oleh pengucapaan kata ini berulang-ulang dengan jeda 1 detik. Hal ini dikonfirmasi dalam wawancara retrospektif yang dilakukan setelah verbal protocols di atas. Hasil wawancara menunjukkan bahwa Yulia memang tidak mengetahui makna whirring dan bermaksud untuk menebaknya berdasarkan konteks. Dia membaca kalimat selanjutnya (Several times now…dst.) untuk mengetahui dalam konteks apa kata whirring digunakan, namun karena kapasitas memori jangka pendek (short-term memory) Yulia yang amat terbatas maka kata tersebut terlupakan ketika membaca kalimat selanjutnya. Kata whirring masuk ke dalam memori jangka pendeknya tetapi tidak disimpan terlalu lama dan kemudian hilang, sehingga dia tidak melanjutkan upaya untuk menemukan maknanya dan mengabaikan kata tersebut hingga proses membaca teks berakhir. Salah satu mahasiswa yang melakukan strategi guessing diikuti skipping adalah Andra.
Andra: […but the publishers did not hear his uprush of wings. Uprush of wing.] What is that? Uprush of wing. An idiom? Uprush of wing (0.1) mungkin musik yang aneh, maybe. (0.4) Ah lewat. [The child came to live…]

Dalam verbalisasi di atas terlihat jalan pikiran Andra ketika menemukan kata uprush yang tidak dia ketahui maknanya. Pada awalnya dia berusaha mengidentifikasi apakah frasa uprush of wings adalah

sebuah idiom, kemudian lebih jauh dia mencoba untuk menebak makna frasa tersebut sebagai ‗musik yang aneh.‘ Namun nampak jelas bahwa dia tidak yakin akan akurasi makna yang dia tebak, seperti yang ditunjukkan pada kata mungkin dan maybe. Setelah empat detik berlalu, dia memutuskan untuk melewati saja frasa ini, seperti yang dia nyatakan secara eksplisit dengan ucapan ah lewat. Temuan ini merupakan alasan keempat yang menyebabkan terjadinya skipping. Didin, misalnya, memutuskan untuk mengabaikan saja kata yang sama, yaitu uprush, setelah beberapa kali mencari maknanya di kamus namun tidak berhasil.
Didin: [Long ago, she confided, her brother had tried to get his strange music down on paper, but the publishers did not hear his uprush of wings.] Uprush (0.5) uprush (0.23) uprush (0.6) uprush (0.20) uprush uprush (0.5). [The child came to live…]

Ketika Didin menemukan kata sulit, yaitu uprush, dia meraih kamus saku elektroniknya dan berusaha mencari makna kata ini selama 5 detik, namun di kamus tersebut tidak tercantum entri uprush. Kemudian dia beralih ke kamus bilingual Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan mencari selama 23 detik, tetapi di kamus tersebut juga tidak terdapat entri uprush. Hal yang sama juga terjadi ketika dia menggunakan kamus monolingual selama 6 dan 20 detik. Karena ketiga kamus yang dia gunakan tidak memuat kata uprush sebagai salah satu entrinya, dia gagal mendapatkan maknanya dan memutuskan untuk melewati kata ini dan meneruskan membaca kalimat-kalimat berikutnya. Sebagai contoh, Andra melakukan miscue ketika membaca teks dan ini terlacak dari wawancara retrospektif yang dilakukan peneliti dengannya. P A P A : : : : ‗Confided‘ artinya? Oh, ‗confided,‘ tak pikir ‗convinced.‘ Anda salah baca? Ya, salah baca tadi, tak kira ‗convinced.‘

Dalam wawancara di atas, peneliti menunjuk kata confided di teks dan meminta Andra untuk menyebutkan maknanya, karena dia melewati kata tersebut ketika membaca teks sebelum wawancara dilakukan. Saat

mendengar peneliti menyebut kata confided, Andra baru menyadari bahwa dia telah salah membaca kata tersebut sebagai convinced. Karena dia mengetahui makna kata convinced, dia tidak terlalu memperhatikan kata confided dan mengasumsikan bahwa kata tersebut dikenalnya dengan baik. Kasus miscue atau salah baca seperti ini menunjukkan bahwa pembaca ternyata tidak memberikan perhatian dalam kadar yang sama ke setiap kata di dalam suatu teks. Dia mungkin memberikan perhatian yang lebih banyak pada kata-kata kunci dan beberapa kata-kata sulit, namun kata-kata yang dia anggap familiar (dikenal dengan baik maknanya) hanya dibaca sekilas saja dan dia merasa masih bisa memahami teks secara keseluruhan dengan baik. Kasus ini mendukung hasil penelitian mengenai gerakan mata atau eye movement (Rayner dan McConkie, 1976; Rayner dan Pollatsek, 1989; Reichele et al, 1998) yang telah dijelaskan sebelumnya dengan hasil berupa fase fixation dan saccade. Dengan demikian, penelitian dari sudut psikolinguistik ini melengkapi hasil penelitian dari sudut fisik (gerakan mata) yang telah dilakukan untuk mengetahui proses yang terjadi selama membaca pemahaman.
BAHASAN

Penelitian yang mendalam terhadap strategi dalam menghadapi kata-kata sulit menghasilkan temuan berupa lima alasan yang mendasari skipping dalam membaca pemahaman. (1) Alasan pertama adalah katakata yang dilewati tersebut memiliki kontribusi yang amat kecil terhadap makna keseluruhan teks; (2) Alasan kedua, pada awalnya mereka mengidentifikasi suatu kata sulit sebagai kata yang penting untuk pemahaman bacaan dan berupaya untuk mencari maknanya, akan tetapi kata tersebut terlupakan oleh mereka ketika mereka membaca kalimat berikutnya. Hal ini yang menjadi alasan kedua mengapa mereka menerapkan strategi skipping; (3) Alasan ketiga, untuk skipping adalah pemakaian strategi menebak yang gagal. Pada awalnya mahasiswa berusaha untuk mengetahui makna kata dengan cara menebaknya dari konteks, tetapi nampaknya mereka tidak berhasil mengira-ngira makna yang tepat untuk kata tersebut. Akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk melewati saja kata itu; (4) Alasan keempat, tidak

hanya kegagalan dalam menebak kata, tidak berhasilnya upaya mereka untuk mencari makna kata di kamus dapat memicu terjadinya skipping selama proses membaca pemahaman berlangsung; dan (5) Alasan kelima, untuk skipping adalah miscue. Istilah miscue dipakai untuk pertama kalinya oleh Goodman (1996) untuk menyebut kesilapan yang dibuat oleh pembaca ketika sedang memahami suatu teks.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Dari penjelasan di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut. Para pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya tergolong baik pada umumnya melakukan strategi skipping atau mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam suatu teks, dan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya. Jumlah kata yang mereka abaikan beragam, ada yang amat sedikit, namun ada juga yang cukup banyak. Alasan yang mendasari penggunaan strategi skipping ini juga bermacam-macam, dan penelitian ini berhasil mengeksplorasi lima alasan. Alasan tersebut meliputi: (1) kata tersebut tidak terlalu penting untuk memahami makna teks secara keseluruhan, (2) kata tersebut penting, tetapi pembelajar lupa mencari artinya karena keterbatasan kapasitas memori jangka pendek, (3) kata tersebut sudah diupayakan untuk ditebak maknanya, namun gagal, (4) kata tersebut sudah diupayakan untuk dicari maknanya di kamus, namun gagal, dan (5) miscue atau salah baca, dan diasumsikan kata tersebut diketahui maknanya padahal tidak. Alasan pertama dan ketiga mendukung temuan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sedangkan tiga alasan lainnya merupakan temuan orisinil dari penelitian ini.
Saran

Berdasarkan simpulan yang diuraikan di atas, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut kepada para pengajar bahasa Inggris dalam mengajarkan membaca pemahaman. Pertama, pembelajar dengan kemampuan membaca pemahaman yang baik hendaknya dianjurkan untuk menerapkan strategi skipping terhadap beberapa kata sulit yang

pembelajar hendaknya diajarkan untuk memilah katakata sulit yang perlu dicari maknanya dan yang dilewati begitu saja. karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap pembaca pada tingkat dasar (elementary) dan lanjut (advanced) untuk mengetahui apakah penerapan strategi skipping memang berbeda karena tingkat membaca pemahamannya berlainan. Bagi para peneliti yang berkecimpung di bidang membaca pemahaman dan pengajarannya. namun untuk lebih jelasnya diperlukan bukti empiris dari penelitian. subjek penelitian ini adalah pembelajar yang kemampuan membaca pemahamannya berada di tingkat menengah (intermediate). . sehingga skipping akan membuat proses tersebut lebih maksimal apabila dilakukan dengan alasan yang tepat. Perbedaan kemampuan ini diperkirakan akan menghasilkan temuan yang berbeda pula. hendaknya pengajar dapat memetik manfaatnya dengan memberikan pengetahuan yang cukup kepada pembelajar agar dapat memilih kata mana yang dilewati dengan alasan yang sesuai. Kedua. (2) menghambat proses membaca pemahaman. perlu diadakan investigasi lebih lanjut mengenai strategi skipping. Dari lima alasan yang telah disebutkan sebelumnya.mereka temui dalam teks. dan (3) menurunkan motivasi untuk membaca lebih jauh. karena itu perlu diteliti: (1) apakah mahasiswa dengan kemampuan membaca pemahaman yang kurang juga menerapkan strategi skipping dan (2) apabila memang menerapkannya. Penelitian ini hanya menggunakan mahasiswa yang memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik sebagai subjeknya. karena mencari makna setiap kata yang tidak diketahui kemungkinan akan: (1) memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk membaca pemahaman. Selain itu. apakah memiliki alasan yang sama dengan mahasiswa yang baik kemampuan membacanya. Skipping nampaknya merupakan suatu strategi yang tak dapat dipisahkan dari proses membaca pemahaman.

1999. B.. 1996. Pollatsek. A Preliminary Investigation of the Reading Strategies of Successful and Nonsuccessful Second Language Learners. 1989. Boston: Allyn and Bacon. Fisher. Teaching Reading and Study Strategies: The Content Areas.. & McConkie. Studies in Second Language Acquisition. M. On Reading. & Afflerbach. Verbal Protocols of Reading: the Nature of Constructively Responsive Reading. & Wesche. G. 21(2). 5(2). 125--157. C. Pressley. 1998. 1976. Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates.. K. M.. Vision Res. Ontario: Scholastic. Goodman. & Rayner. A. E. System. S. 225--241. D.. 1977. T. K. Robinson. Paribakht. Reading and "Incidental" L2 Vocabulary Acquisition: An Introspective Study of Lexical Inferencing.DAFTAR RUJUKAN Fraser. Rayner.. 110--213. 1976. 1999. 16(8). A. L. Hosenfeld. The Psychology of Reading. What Guides a Reader's Eye Movements. Lexical Processing Strategy Use and Vocabulary Learning through Reading. P. 105(1). Studies in Second Language Acquisition. 829-837.. Rayner. 21(2). Reichele. H. & Pollatsek. A. 195-224. Hillsdale: Erlbaum. W. Psychological Review. K. 1995. D. C. Toward a Model of Eye Movement Control in Reading. . K. A.

Dan anak adalah korban terbesar dari perceraian yang dilakukan oleh ibu dan bapaknya. Perceraian sebenarnya dapat dihindari apabila suami atau istri mau mengkompromikan segala kepentingan yang mereka miliki untuk kepentingan bersama yang lebih besar. Namun dalam realisasi di lapangan masih sering saja dijumpai ada pasangan yang memutuskan untuk bercerai. Hal ini bisa dilihat dari seringnya masalah tersebut menjadi berita hangat di media masa. meskipun rumah tangga yang mereka bina telah berusia lebih dari 20 atau 30 tahun. Tampaknya masalah ini bukan hanya terjadi pada keluarga dari kelas tertentu. baik lokal maupun nasional. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Kota Malang angka perceraian dari tahun ke tahun meningkat. Perceraian Suami Istri Muslim Belakangan ini. namun juga menimpa keluarga dari semua kelas sosial. Ironisnya. Ahmad Munjin Nasih adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang .Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Abstrak: Perceraian bagi setiap pasangan suami istri adalah sesuatu yang paling tidak diinginkan. "Luka" akibat perceraian tidak dipungkiri akan mewarnai perjalanan kehidupan mereka dan keluarganya setelah bercerai. yakni keluarga harmonis. kasus perceraian seakan merupakan tren yang sangat menyita perhatian publik. Kata-kata kunci: Pengembangan Model Pendidikan. kasus perceraian yang terjadi karena inisiatif pihak istri (gugat cerai) jumlahnya lebih besar daripada perceraian karena inisiatif pihak suami (talak) lihat pada Tabel 1.

4. Tabel 2 Angka Talak dan Gugat Cerai bulan Januari 2007 di Kota Malang Bulan/Tahun Januari/2007 Talak 46 Gugat Cerai 79 Jumlah 125 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Kondisi yang terjadi di Kota Malang tidak menutup kemungkinan terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. perceraian yang demikian hampir bisa dipastikan meninggalkan kesan negatif terhadap anak. tidak hanya mengena pada anak dari pasangan yang . Tentu saja hal ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk membenarkan perceraian tersebut. terjadinya perceraian itu menunjukkan bahwa pasangan suami-istri yang telah mengikat janji membangun keluarga. 2. bisa jadi. Trauma yang demikian. Kalau pasangan yang bercerai tersebut belum dikaruniai anak barangkali dapat dikatakan bahwa hanya pasangan tersebut sajalah yang terkena dampak negatif dari perceraian itu. telah gagal mencapai cita-cita yang mereka dambakan ketika mengawali membangun rumah tangga. Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Talak 335 358 371 434 408 Gugat Cerai 627 664 733 796 764 Jumlah 962 1022 1104 1230 1172 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Bahkan tren naiknya jumlah gugat cerai daripada talak ternyata tidak berubah sampai bulan Januari 2007 lihat pada Tabel 2. sebab bagaimanapun juga. Akan tetapi. bahkan mungkin akan membuat anak trauma terhadap institusi keluarga. jika pasangan-pasangan yang bercerai tersebut sudah dikaruniai anak sebagai buah pernikahan mereka. 3. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan.Tabel 1 Angka Talak dan Gugat Cerai di Kota Malang No 1. 5.

pencegahan terhadap terjadinya perceraian menjadi sangat penting untuk dilakukan. 1999) Rancangan metode . Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan penyadaran kepada semua pihak terutama pasangan suami istri akan pentingnya menjaga rumah tangga dari perceraian. METODE Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya. (3) mengetahui langkah-langkah yang selama ini telah ditempuh oleh suami dan istri dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga. dan (4) mengetahui dampak yang terjadi pada anak-anak korban perceraian. Namun.bersangkutan tetapi bisa meluas kepada anak secara umum. Jika ini terjadi tentu akan semakin mengkhawatirkan. Rancangan studi kasus dapat digunakan untuk pengembangan teori yang diangkat dari sebuah latar penelitian (Bogdan & Biklen. model pendidikan seperti apa yang sesuai dengan tujuan ini belum berhasil dibangun. Namun demikian. Dalam penelitian studi kasus ini digunakan rancangan studi kasus observasional (Yin. Sehingga diasumsikan jumlah perceraian terbanyak dialami oleh pemeluk agama Islam. Rancangan ini diharapkan dapat menghasilkan teori dengan generalisasi lebih luas dan lebih umum penerapannya untuk kasus pencegahan perceraian. Selaras dengan uraian di atas. Dengan langkah ini diharapkan pasangan tersebut akan menjadikan keluarganya sebagai keluarga yang sakinah (harmonis) melalui pendidikan pencegahan perceraian bagi pasangan suami istri. Pembatasan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mayoritas penduduk Malang Raya secara khusus dan Indonesia secara umum memeluk agama Islam. maka rancangan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Oleh karena itu. penelitian ini hanya terbatas pada keluargakeluarga muslim. perlu dilakukan penelitian pengembangan untuk mewujudkannya. Oleh karena itu. 1998). (2) mengetahui kebutuhan dan persepsi pasangan suami istri yang telah bercerai terhadap bangunan keluarga sakinah. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui data tentang faktorfaktor penyebab terjadinya perceraian.

Subjek penelitian sekaligus akan dijadikan informan penelitian dengan kesempatan yang sama. Kabupaten Malang dan Kota Batu yang tercatat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. observasi dan dokumentasi (Marshall. serta berusaha mencari sumber-sumber data atau informan yang kompeten dan memiliki pengetahuan. Tahap berikutnya adalah melakukan eksplorasi. dimana dalam tahap ini peneliti mengumpulkan data secara lebih mendalam dan terarah dengan fokus penelitian. Di samping itu juga akan diambil data berupa situasi setting penelitian serta kegiatankegiatan yang berkaitan dengan fokus penelitian. pemahaman serta kepedulian yang tinggi terhadap pemasalahan yang sedang diteliti. Dalam setiap kesempatan mengadakan wawancara mendalam digunakan buku catatan. serta anak-anak korban perceraian di Malang Raya. yaitu Kota Malang.tersebut digunakan untuk menelaah sebuah fenomena dalam sebuah organisasi tertentu. Untuk menjaring data tersebut akan dilakukan pengamatan. yaitu: teknik wawancara terfokus. Pada tahap pertama peneliti melakukan penjajakan ke lokasi dalam rangka memperoleh gambaran secara umum tentang situs yang akan diteliti. digunakan beberapa alat. akan dikumpulkan informasi berupa katakata. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap. baik menggunakan teknik wawancara mendalam maupun dengan teknik observasi. Adapun teknik penjaringan informasi yang digunakan adalah teknik bola salju (snowball). Kabupaten Malang. Data subjek penelitian akan diperoleh dari Pengadilan Agama Kota Malang. Dalam penelitian ini. Dalam penelitian kualitatif teknik untuk memperoleh data di lapangan dilakukan dengan tiga cara. Informasi tersebut akan digali melalui wawancara bebas. Di samping itu . Adapun subyek penelitian ini adalah suami. Dalam pelaksanaannya dilakukan beberapa kali pengumpulan data dan hasilnya dianalisis sehingga tersusun teori sementara. situasi setting dan beberapa dokumen yang berhubungan dengan fokus penelitian. istri yang sedang dalam proses perceraian dan sudah bercerai. Kata-kata dimaksud adalah berasal dari para informan. FGD. dan Kota Batu. Sementara itu lokasi penelitian ini adalah wilayah Malang Raya. Dalam setiap kali melakukan pengumpulan data. Hal ini diterapkan untuk mendapatkan data yang memadai dan sesuai dengan fukos penelitian dan tujuan penelitian. 1989).

Ketiga. (3) Penentuan Temuan Penelitian. Kesimpulan dirangkum dari proses analisis data.apabila yang diwawancarai banyak maka digunakan alat perekam. Sedangkan untuk kegiatan observasi. peneliti merumuskan temuan penelitian dari data yang dianggap bersifat spesifik setelah melalui analisis etnografi. dan (3) konfirmabilitas. peneliti memberikan catatan reflektif yang sesuai dengan isi data. Kesimpulan penelitian . Dalam proses reduksi data. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan tiga cara. Keempat. Kedua alat tersebut digunakan untuk mencatat dan merekam jawaban-jawaban informan yang selanjutnya ditulis ulang ke dalam format transkrip wawancara dengan menyertakan koding yang terdiri dari tanggal. Kedua. dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi baik triangulasi teknik data maupun triangulasi informan. dilakukan dengan meminta bantuan para ahli dan berbagai pihak yang memahami penelitian ini. Peneliti mengikuti saran Spradley untuk menggunakan model analisis domain dan analisis komponensial. Pemilahan data ini juga bertujuan untuk membuang data yang tidak diperlukan karena searah dengan tujuan penelitian. kegiatan ini merupakan akhir dalam proses penelitian. psikolog. Selanjutnya dalam setiap melakukan observasi digunakan format catatan lapangan.. Untuk menganalisis data. peneliti menganalisis data dengan empat langkah yaitu: (1) Reduksi Data. peneliti juga mencari istilah-istilah kunci yang menjadi data inti. kemudian dirangkai secara sistematis sesuai dengan susunan tema fokus dan disajikan sebagai paparan data. dan hakim agama. (2) dependabilitas. yakni ahli pendidikan. tanpa mengurangi esensi data tersebut. yaitu: (1) kredibilitas. data yang telah dikelompokkan. dipilah dan digolongkan sesuai tema-tema dalam fokus penelitian. semua data hasil wawancara terbuka dengan semua subjek penelitian. (2) Penyajian Data (Display). dan (4) Penarikan Kesimpulan Pertama. dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan ulang terhadap data yang diperoleh dengan meminta konfirmasi lebih lanjut kepada para informan dan para ahli terkait. ulama. Dalam paparan data. selain format lapangan juga akan digunakan alat dokumentasi yang berfungsi untuk mendokumentasikan perilaku-perilaku atau peristiwa-peristiwa penting yang muncul selama pelaksanaan observasi. Data inti yang ditemukan dimasukkan format model analisis data etnografi yang dikembangkan oleh Spradley (1980). tempat dan inisial informan.

ia tidak akan terjadi begitu saja tanpa diawali oleh berbagai persoalan yang melatarbelakanginya. Para responden menyatakan bahwa penyebab perceraian yang paling menonjol adalah masalah ekonomi. ini yang mendatangkan ketenangan isteri dalam menjalani hidup berkeluarga. pada hakikatnya adalah kesimpulan yang diperoleh peneliti. Temuan penelitian. suami dilebihkan dari isteriisterinya karena kelebihan yang diberikan Allah kepadanya (alNisa‟.34) karena kelebihan itu suami mempunyai kewajiban menyejahterakan kehidupan keluarga. Begitupun sebuah perceraian.sebelumnya dirumuskan dalam temuan penelitian. istri dan anakanak. Hidup berkekurangan bisa membawa keluarga ke gerbang kehancuran sebagaimana sabda Rasulullah SAW ―kaada al-faqru an yakuuna . ini dapat dimaklumi karena pemenuhan kebutuhan keluarga terkait dengan kedudukan suami sebagai penanggung jawab keluarga. Dalam Islam. halal dan dibenarkan oleh agama dan negara. dan apabila hal tidak bisa dimenej dengan baik bukan mustahil semuanya berujung pada perceraian. Berbagai persoalan selalu mengiringi perjalanan rumah tangga. Suami berkewajiban memenuhinya dalam batas kewajaran. Namun. idealitas yang dimiliki harus berhadapan dengan fakta yang sangat tidak diharapkan. Suami berkewajiban memberi belanja yang cukup dan tidak mempersempit nafkah keluarganya. fakta seringkali berkata lain. HASIL Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian Hukum alam mengatakan bahwa tidak ada asap bila tidak ada api. jika ini tidak terpenuhi Islam menganjurkan agar dia menundanya dengan melakukan pengendalian diri antara lain dengan berpuasa. mencukupi kebutuhan mereka dengan memberikan nafkah yang layak. Terlebih jika diingat bahwa anjuran untuk menikah bagi seorang laki-laki adalah ketika dia sudah mempunyai kemampuan (alba‟ah) untuk memenuhi kebutuhan keluarganya baik lahir maupun batin. tanpa berlebih-lebihan atau kekurangan. Hampir bisa dipastikan seseorang yang memasuki dunia rumah tangga berharap bisa menjadikan rumah tangganya sebagai tempat memadu kasih yang sangat membahagiakan antara suami.

suami bermain api di belakang isteri dengan berselingkuh bersama wanita lain. dengan itu dia dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan merasa dapat hidup mandiri tanpa bantuan suami. 228). seperti kasus ibunda DM ini. seperti yang terjadi pada ibunda DM. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara-cara yang baik‖ (Al-Baqa rah. isteri dapat menjalani kehidupan keluarga dengan baik. . mereka tidak sabar dalam menerima kekurangan yang ada. ibunya tergoda oleh laki-laki lain karena dia melihatnya lebih keren dari pada suaminya. Keinginan untuk lepas dari ikatan perkawinan dengan suami makin menguat ketika menemukan suami sudah tidak lagi jujur dalam memegang janjinya. Rapuhnya perkawinan yang berakhir dengan cerai karena hadirnya pihak ketiga tidak saja dialami oleh suami tetapi terjadi pula pada isteri sehingga suami terpaksa menceraikannya. Hilangnya status qawwamuuna ala an-nisa‟ dari suami memaksa isteri bekerja. di sini pentingnya suami memenuhi kebutuhan keluarga sebab dengan terpenuhinya kebutuhan. ― . kenyataan ini dapat dilihat pada kasus ibu IT dan ibu UL. 30-31). terlebih jika laki-laki itu berharta. . Ketidaksabaran ini yang sering membawa suami isteri pada perceraian. Permainan api ini melukai hati isteri dan mengecewakannya sehingga isteri terdorong melakukan gugatan cerai karena dia melihat hilangnya kejujuran suami pada janji setianya yang diikrarkan pada waktu menikah. Pada suami melekat kedudukan sebagai pelindung keluarga (qawwamuuna ala an-nisa‟) karena itu kesetiaan isteri tetap terjaga manakala suami dapat memerankan dirinya sesuai dengan kedudukannya. Godaan ini sangat mempengaruhi langgengnya perkawinan sehingga agama Islam meminta setiap suami atau isteri untuk menahan pandangannya dan menutup mata serta memelihara kemaluannya (An-Nur. Hadirnya pihak ketiga ini menjadi sebab terjadinya perceraian. lebih-lebih jika pasangan suami isteri tidak tabah menghadapinya.kufran”. . bahkan karena itu kesetiaannya pada suami hilang dan menggugatnya untuk menceraikannya seperti pada kasus ibu IT dan ibu UL. Isteri melihat laki-laki itu dapat memenuhi kebahagiaan yang diimpikannya karena dia dipandang ―lebih‖ dari pada suaminya karena itu isteri rela menggugat agar suaminya menceraikannya.

sampai pada ancaman pembunuhan seperti terlihat dalam kasus yang dialami oleh ibu UL dan ibu TS. Masih ada jalan untuk menghindari perceraian yang tidak diharapkan oleh siapapun. karena sakitnya terasa lebih dalam dan lama di hati. perselingkuhan dan kekerasan tidak akan terjadi jika masing-masing suami isteri taat asas pada janji mereka. . dan janganlah menampakkan perhiasannya. Kekerasan pisik bisa berupa pemukulan. dilempar dengan kursi. Kekerasan dapat dihindari manakala suami dapat bersabar diri atas kekhilafan dan kekurangan isteri dalam melayaninya. Penistaan suami karena kemiskinannya. Tak jarang kekerasan psikis mengiringi perlakuan kasar suami pada isteri nya. sementara isteri teguh berimannya dan setia memegang janji tidak akan berpaling kepada orang lain yang mungkin hadir setelah mereka menikah. yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Katakanlah kepada wanita yang beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya. agama bahkan melarangnya kalau tidak terpaksa benar. penistaan. “ Akibat lain dari hadirnya pihak ketiga ini adalah hilangnya kasih sayang antara suami isteri. Bagi seorang isteri penistaan ini lebih menyakit kan dari pada tindak kekerasan pisik. . Isteri akan sabar dan rela mendampingi suami meski dalam kondisi ekonomi yang kurang jika suami benar-benar bertindak dan bersikap dengan elegan. Persepsi terhadap Keluarga Sakinah Perceraian bukanlah keinginan dasar para isteri. Beberapa faktor penyebab gugatan cerai di atas adalah imbas dari tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga. meski mereka menjalani hidup yang sulit mereka rela menerimanya selama suami yang mendampinginya dapat mengayomi mereka sebagai kepala rumah tangga . dan me meli-hara kemaluannya. diseret-seret.Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman “Hendaklah me reka menahan pandangannya. katakata kotor dan penisbatan kepada pezina diterima oleh isteri sebagaimana dalam kasus ibu IT. Dalam kondisi seperti ini suami tidak lagi memegang prinsip mu‟asyarah bil ma‟ruf yang dapat melanggengkan kehidupan rumah tangga. sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui apa yang mereka perbuat. dan memelihara kemaluannya. kekerasan pisik dan psikis dapat terjadi karenanya.

sebagaimana yang diungkapkan olah ibu IT. Ketergantungan suami kepada isteri menyebabkan pincang nya status dan fungsi suami sebagai seseorang yang harus mencukupi (al-kifayah) keluarganya. apalagi jika isteri berasal dari keluarga yang mempunyai cetak biru bahwa pendidikan sangat penting. bimbingan (arri‟ayah) dan mencukupi (al-kifayah) kebutuhan mereka. Suami yang tidak mempunyai pekerjaan (menganggur) bisa menjauhkan tercapainya cita-cita keluarga sakinah. Perbedaan pendidikan yang jauh antara isteri dengan suami misalnya menjadi masalah yang susah ditoleransi dalam menjemba tani perbedaan pendidikan antara isteri dengan suami agar tidak menjadi potensi konflik. saling mengerti. ibu UL. sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abdullah bin Mas‘ud. misalnya.yang dapat memberikan perlindungan (al-wilayah). Ini yang terjadi pada ibu IT sehingga tidak dapat menemukan keluarga sakinah. Kufu ini menumbuhkan kebanggaan isteri untuk berjalan bersama suaminya. pekerjaan. baginya laki-laki yang ideal adalah bapaknya dia mengidolakan bapaknya sebagai suami yang baik. Bahkan anggota keluarga yang lain. Ketika terjadi konflik yang keluar dari suami adalah ucapan-ucapan yang tidak layak. Karena ketergantungan itu pula yang mendorong suami tidak bisa fair (jujur) kepada isteri. yaitu keseimbangan antara keduanya baik dalam hal agama maupun status sosial. dan ibu TS. seperti yang terjadi pada ibu IT. dan berwibawa. juga kasus ibu IT. Kasus ibu UL adalah contohnya. pendidikan dan keturunan. Ibu UL dan ibu IT mengalami hal ini padahal . konflik antara suami isteri tidak dapat menemukan titik kesamaan karena tidak se-kufu. Suami tidak dapat nyambung bila diajak ngobrol dan sering minder. anak-anak misalnya. mendambakan hal itu seperti harapan yang diungkapkan oleh DM. keluarga yang di pimpin oleh suami bertanggung jawab. kecantikan. kotor dan menista. Di bawah suami yang seperti itu cita-cita keluarga sakinah dapat terwujud. karena nilai-nilai yang dianut keluarga di mana seseorang dibesarkan secara tidak sadar akan diserap (absorbs) dalam dirinya. Kewibawaan suami diapresiasi oleh isteri manakala suami mempunyai al-ba‟ah (kemampuan) sebagaimana dituntun oleh agama yaitu kemampuan lahiriah batiniah. Di sini perlunya suami isteri se-kufu. dia akan menggerogoti isterinya apalagi jika isteri telah mapan.

saudara.mereka mengharapkan suaminya bisa menjadi teman hidup yang menyenangkan. Isteri yang terlalu mengatur (too care) suaminya ternyata tidak disukai suami seperti kasus LQ. istri dan anak) adalah cara yang paling umum. saling respek. mertua. Berkonsultasi kepada pihak di luar anggota keluarga inti (suami. saling membutuhkan. Namun demikian ada juga pasutri yang tidak melibatkan pihak di luar keluarga inti. Hal lain yang menarik untuk diperhatikan bahwa sebesar apapun cinta isteri kepada suaminya. Perceraian bisa pula terjadi karena kurangnya pemahaman pasangan suami isteri tentang makna perkawinan dan upaya yang harus dilakukan untuk membangun keluarga sakinah. Hal ini bisa dilihat betapa pasutri selalu berusaha mempertahanhan rumah tangganya dengan berbagai cara yang mereka anggap efektif agar perselisihan dan pertengkaran yang terjadi di antara pasutri tidak berujung kepada perceraian. perceraian baru terjadi jika suami isteri sebagai pasangan hidup tidak memenuhi kriteria yang diharapkan. mereka berusaha menyelesaikan sendiri persoalan rumah tangganya tanpa . Suaminya bisa menjadi belahan jiwanya (soulmate) tempat mencurahkan segala rasa dan cinta sepenuh hati. Manakala masing-masing suami dan isteri dapat memerankan dirinya dengan melaksanakan kewajiban dan haknya maka perceraian tidak perlu terjadi. Meskipun suami dan isteri telah bercerai namun cita-cita dan keinginan untuk membangun keluarga sakinah tetap tertanam dalam hati masing-masing. dan membuatnya aman serta nyaman. manakala isteri mengambil peranannya terlalu banyak maka cita-cita keluarga sakinah tidak dapat terwujud. seperti BP4 dan KUA. teman bahkan ke lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah untuk mengatasi persoaln perceraian. dia diharapkan tetap memainkan peranannya sebagai pendamping suami yang berfungsi sebagai perawat dan pemelihara (al-hafidzat) bagi suaminya bukan sebagai penjaga baginya. Langkah-langkah Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga Secara umum setiap pasangan suami istri (pasutri) di Malang menyadari betapa pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga. Adakalanya kepada orang tua. Bagaimanapun suami adalah penanggung jawab keluarga.

Sementara itu dari pihak pasutri sendiri juga tidak merasa sungkan dan terbebani jika meminta bantuan kepada keluarga. Dari paparan data sebelumnya dapat diketahui bahwa langkahlangkah yang ditempuh oleh pasutri di Malang dalam memproses perceraian sangat beragam. sebagian berhasil tidak meneruskan ke tingkat perceraian dan sebagian lagi justru gagal. Tidak semua persoalan harus diselesaikan oleh pihak keluarga. Namun dari responden yang dihubungi hampir tidak ada yang melibatkan lembaga BP4 yang sengaja dibentuk oleh pemerintah untuk memberikan solusi terhadap pasutri yang sedang mengalami problem keluarga. keterlibatan keluarga pun tidak bisa dihindari. Namun. Hasilnya. sehingga mereka juga merasa perlu membantu pasutri yang sedang mempunyai persoalan rumah tangga dan membutuhkan bantuan penyelesaian. keterlibatan mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok. yakni keluarga yang secara penuh dilibatkan dan sebagian lagi tidak penuh. sebab pihak keluarga merasa dilibatkan dalam proses perkawinan. Mereka selalu terlibat dalam hal ini. keberadaan keuarga tak lebih hanya sekedar membantu memecahkan persoalan yang dialami. sebagian lagi hanya melibatkan salah satu keluarga saja. Bantuan penyelesaian . Karena bagimanpun pasutri adalah pihak-pihak yang paling mengetahui persoalan yang dialami. Ada juga yang berkonsultasi ke KUA. Dalam konteks perceraian. Keluargalah yang biasa memberikan suport kepada pasutri apabila mengalami problem keluarga yang sulit diatasi. 1. Pasutri yang melibatkan pihak keluarga secara penuh biasanya adalah pasutri yang memulai proses pernikahan dengan cara yang wajar dan mendapatkan restu dari keluarga kedua belah pihak. Hal ini sangat wajar. Sebagian diantara mereka bisa melibatkan pihak keluarga masing-masing secara penuh. sebab perkawinan mereka juga atas restu keluarga.melibatkan pihak lain. Meskipun demikian pihak keluarga biasanya juga mengetahui kapan mereka bisa terlibat dan kapan tidak. Keterlibatan Keluarga Sudah menjadi kelaziman bahwa anggota keluarga adalah bagian tak terpisahkan dari sepasang suami istri.

banyak pasutri yang sedang mengalami persoalan rumah tangga tidak memanfaatkan lembaga ini untuk menyelesaikan persoalannnya. baik keduanya atau salah satunya. Berbeda dengan pelibatan sebelumnya. Akibatnya masyarakat tidak memanfaatkan lembaga ini sebagai media penyelesaian problem keluarga yang mereka hadapi. sehingga aspek nalar tidak bisa berfungsi secara maksimal. Bahkan ada pasutri di Malang Raya yang tidak mengerti tentang BP4 sama sekali. Keterlibatan BP4 BP4 adalah lembaga resmi pemerintah yang didirikan untuk membantu pasutri dalam menemukan solusi atas persoalan rumah tangga yang dialaminya. agar pasutri tidak sampai masuk dalam kubang perceraian. Pasutri yang menempuh langkah ini biasanya didasari oleh perasaan minder dan takut. Apabila mereka telah merasa tidak mampu barulah melibatkan orang tua atau mertua. Karena pertimbangan inilah mereka lebih memilih menyelesaikan persoalan keluarganya tanpa campur tangan keluarga terlebih dahulu. 2. mengingat ketika pasutri mengalami pertengkaran. Banyak faktor yang menjadi penyebab mereka melakukan ha lni.persoalan adalah sesuatu yang penting. Tidak termanfaatkannya BP4 oleh pasutri. Idealisme lembaga ini ternyata bertepuk sebelah tangan. Tujuannya jelas. Ketakutan terutama diarahkan kepada orang tua dan mertua. Adapun faktor yang mngemuka adalah tidak direstuinya hubungan perkawinan mereka oleh kedua belah pihak. . karena proses pernikahan yang mereka jalani pada awalnya tidak ‖direstui‖ oleh orang tua. kalaupun direstui hal itu disebabkan adanya ‖kecelakaan‖ sebelumnya dari pihak istri. menurut para responden karena mereka tidak banyak mengenal keberadaan lembaga ini termasuk peran dan fungsinya. yang mengemuka adalah aspek emosi. sebagian pasutri tidak memanfaatkan peran senioritas keluarga. Pasutri ini merasa bahwa mereka telah berbuat tidak baik kepada orang tua dan pihak keuarga. Ketidaktahuan masyarakat tentang BP4 ini bisa jadi karena minimnya sosialiasi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait kepada masyarakat.

Ketua KUA di semua tempat adalah kepala BP4 itu sendiri. . maka pemerintah dalam hal ini Departemen Agama dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia sudah selayaknya duduk bersama merumuskan kembali posisi BP4. khususunya yang ada di kecamatan. Sebab. Ketika aturan tersebut diberlakukan. mereka langsung menyelesaikannya di pengadilan. Namun eksistensi BP4 bisa dibilang wujuduhu ka‟adimihi (adanya seperti tidak adanya). namun ada juga yang tetap bercerai. Dan yang demikian pada gilirannya akan memacu peningkatan angka perceraian di masyarakat. bagi pasutri PNS rekomendasi BP4 akan sangat berarti bagi kelangsungan proses perceraian di pengadilan agama. Melihat eksistensi BP4 yang demikian. Prosedur perceraian yang diterapkan oleh pengadilan agama terhadap pasutri PNS. tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Undang-undang nomor 7 tahun 1989 tentang peradilan agama. pemerintah tetap memposisikan BP4 masih terikat kuat dengan struktur KUA di kecamatan. maka bisa dipastikan BP4 tidak memiliki peranan lagi. dimana mereka harus mendapatkan rekomendasi BP4 terlebih dahulu.Sebenarnya secara kelembagaan. BP4 yang ada di setiap level. secara formal BP4 memiliki struktur mulai dari pusat sampai tingkat desa. hampir dipastikan tidak dikunjungi masyarakat. Sebab apabila BP4 dibiarkan tanpa tugas dan kewenangan yang jelas. Selain pasutri PNS. demikian sebagaimana dituturkan oleh salah satu pejabat PA dan kepala KUA di Malang. setidaknya bisa meredam gejolak mereka untuk meneruskan perceraiannya. Tanpa rekomendasi dari BP4 pengadilan tidak akan meneruskan sidang perceraian mereka. Dan kalau sudah di pengadilan agama. dimana peranan KUA dibatasi pada persolan nikah dan ruju‘. Namun. pada saat yang sama. kecuali pasutri yang berstatus PNS. maka persoalan perceraian yang menimpa banyak umat Islam akan meningkat. biasanya sudah pasti cerai. Posisi BP4 yang demikian. Hal ini sesuai dengan pengakuan salah satu kepala KUA di Kab Malang bahwa sebagian PNS yang berkonsultasi ke BP4 ada yang kembali rukun. masyarakat secara umum lebih suka menyelesaikan problem keluarganya tanpa melibatkan BP4.

Seharusnya anak dapat memahami sikap simpati.BAHASAN Secara taksonomis. Kehangatan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh anak dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Pertikaian antara ayah dan ibunya ketika kondisi ―retak‖ hingga proses perceraian dapat mengacaukan kondisi emosi anak. Apabila keluarga menjadi berantakan disebabkan perceraian. Keluarga yang telah bercerai berpotensi membentuk pribadi bermasalah karena lingkungan inilah yang pertama kali dihadapi oleh sang anak. Perceraian dalam keluarga membuat anak kebilangan harapan dalam memperoleh kebahagiaan padahal secara teoritis dan realitas. Maka akan muncul serentetan masalah baru bagi anak-anak mereka. perilaku agresif. rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). interaksi yang dapat menimbulkan pengalaman afektif dalam kehidupan anak juga terkurangi. atau salah satu dari pasangan tersebut (baca orang tua anak-anak) ―kabur‖. kasih sayang. namun perceraian—terutama yang disertai kekerasan—malah mengajarkan sikap antipati. Orang tua yang sedang kalut dan marah pada pasangannya sering kali menampakkan perilaku tidak dewasa dan emosional. tidak loyal dan acuh. dampak perceraian yang tampak pada anakanak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis. kecewa. perilaku regresi dan obsesif. Perceraian secara tiba-tiba mencerabut kebutuhan anak tersebut. curiga. solidaritas. Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. seorang anak idealnya memperoleh kehangatan cinta. penurunan prestasi belajar. Kondisi ini menimpa AZ dan Wim dan S yang . Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. Pada keluarga yang telah pecah akibat perceraian. serta nilai-nilai budaya. bimbingan dan perlindungan. seorang anak belajar beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. suka berbohong dan perilaku proyeksi. Perilaku tersebut akan menjadi model bagi anak. Bermula dari keluarga. di tengah keluarga. loyalitas. Perceraian dapat menghambat proses belajar tersebut. Mereka juga belajar mengenal normanorma dan aturan-aturan hidup.

Bagi PR yang menjadi saksi pecahnya harmoni keluarga. Kasus PR menunjukkan bahwa kehadiran orang tua dalam perkembangan kepribadian anak sangat penting. dan sebagian besar perceraian dewasa ini melibatkan keluarga yang mempunyai anak.mengalami masalah emosional setelah proses perceraian orang tuanya yang disertai kekerasan. Anak-anak dari korban perceraian semakin banyak dan. Mungkin perkiraan bahwa perceraian dapat mempengaruhi 15 persen anak-anak yang lahir di tahun 1955 di Inggris dan Amerika. sekarang merupakan hal yang biasa. Angka perceraian yang cenderung meningkat di Malang Raya khususnya tahun 2000-an membuat kasus perceraian yang dulu merupakan kejadian luar biasa. semuanya akan nampak dari perilaku anak ketika beranjak remaja dan dewasa apabila tanpa bimbingan dari salah satu dari orang tua atau pengganti orang tuanya (Nawawi: 1998). kehilangan figur model perilaku. perkembangan sosio-emosional. meskipun S dan AZ diasuh oleh si ibu. Lebih lanjut. telah terjadi pula di Malang Raya. Dikhawatirkan. Akibatnya PR merasa tidak pernah belajar menjadi figur perempuan sebenarnya. Semua kasus diatas bahkan dapat dikatakan mengalami deprivasi parental atau kehilangan fungsi pengasuhan. PR dan saudara-saudaranya masih beruntung karena figur sang ayah dan keluarganya yang lain memberikan penguatan sehingga dampak psikologis akibat perceraian kedua orang tuanya tidak terlalu berat dirasakan PR. Win dan S akan mengalami gangguan perkambangan intelektual. Dewasa ini. Perceraian yang terjadi melibatkan anak-anak dibawah usia 18 tahun. Sementara AZ mungkin merasa kehilangan kepercayaan diri dalam pergaulan sosial sebagai akibat perasaan malu karena memiliki keluarga yang tidak utuh. prosentase perceraian dengan gugat cerai berlipat ganda. dia juga merasa tidak aman secara emosional (emotional insecurity). anak-anak seperti AZ. Kasus S menunjukkan bahwa anak anak yang berupaya dengan keyakinannya ingin menyelamatkan perkawinan orang tuanya meskipun . Di samping karena AZ juga menjadi saksi pertikaian orang tuanya yang pebuh dengan kekerasan sehingga dia mengimitasi peristiwa itu lalu mentrasfernya dalam hubungan dengan teman-temannya. PR telah merasakan pahitnya kehilangan fungsi ibu dan ia mengalami deprivasi maternal atau kehilangan bimbingan ibu. bahkan spiritual.

sebagian lagi hanya memahaminya sebatas aspek lahiriyah. Dia belajar mengenai sosok-sosok pribadi dengan ciri-ciri yang terkesan negatif dalam benaknya untuk ditolak dan tidak dapat di percaya. (2) hadirnya orang ketiga. Sementara itu. Kasus S memberikan gambaran bahwa S berpotensi menjadi kurang matang (Immature) akibat kerinduan pada sosok ayah. diantaranya (1) ketidakberdayaan suami dalam membahagiakan isteri. Persepsi pasutri Muslim di Malang Raya tentang keluarga sakinah sangat beragam. Dalam menyelesaikan problem rumah tangga yang menjurus ke arah perceraian. 2. 3. (4) perbedaan keyakinan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan paparan data pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. sebagian pasutri Muslim di Malang Raya melibatkan keluarga (orang tua. atau yang dituakan) sejak awal untuk . R dalam hal telah menempatkan ibunya sebagai orang yang kurang dapat dipercaya. Ia mempersepsi sang ibu sebagai orang yang tidak tanggap atau menimbulkan frustasi karena tidak bersikap kasih.usahanya menjadi sia-sia. PR lebih mampu memahami bahwa perceraian orang tuanya dan tahu asal muasal penyebab perceraian tersebut. Sebagian diantara mereka dapat memahami kosep keluarga sakinah sama seperti yang dimaksud oleh agama. AZ menjadi berperilaku terpusat pada diri sendiri (egosentris) dan menghawatirkan karena sering kasar dan agresif pada teman-teman sebayanya. (3) kekerasan dalam rumah tangga. PR lebih bisa memahami kasus orang tuanya karena dia mengetahui kejadian itu setelah beranjak dewasa.. Kondisi ini sesuai dengan analisa Sears (1988). (5) ketimpangan pola pikir. Perceraian yang terjadi diantara pasutri muslim di Malang Raya disebabkan oleh beberapa faktor. kakak. bahkan ada yang tidak mengenal konsep keluarga sakinah. Anak-anak korban perceraian baik AZ dan S kemungkinan akan berkembang memiliki cara pandang yang selektif pada orang lain sebagai bagian dari kepribadiannya. dan (6) tidak saling percaya.

saran yang dapat dikemukakan adalah: 1. selain itu mereka juga lebih bijak Saran Setelah diketahui beberapa kesimpulan di atas. Sebaliknya yang tidak melibatkan keluarga sejak awal. bagi sebagian kecil diantara anak-anak korban perceraian. merasakan dampak positif. Penelitian ini akan membawa manfaat yang lebih besar jika ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan yang diarahkan kepada . biasanya pasutri yang proses pembentukan rumah tangganya tidak mendapat restu dari keluarga. Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. Selain kedua model tersebut. Pasutri yang meibatkan keluarga sejak awal biasanya adalah pasutri yang mendapatkan restu dari keluarga untuk membentuk rumah tangga. dampak perceraian yang tampak pada anak-anak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis. perilaku regresi dan obsesif. rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). suka berbohong dan perilaku proyeksi. Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. Mereka menjadi lebih selektif dalam memutuskan masalah masa depan. Selain dampak yang negatif. jika tidak ada rekomendasi dari BP4. perilaku agresif. khususnya mereka yang mendapatkan bimbingan yang memadai. Secara taksonomis. ada keharusan bagi mereka untuk berkonsultasi kepada BP4 kabupaten terlebih dahulu jika ingin memproses ke arah perceraian. pasutri di Malang Raya yang sedang bermasalah hampir seluruhnya tidak memanfaatkan keberadaan BP4 sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah untuk membantu mencarikan solusi atas persoalan rumah tangga. penurunan prestasi belajar.membantu mencari solusi yang terbaik. Kecuali pasutri PNS. 4. Sebab pihak Pengadilan Agama tidak akan memproses. Sebagian lagi hanya melibatkan pihak keluarga pada saat mereka tidak mampu lagi mengatasinya.

. 3. baik secara akademis.pembuatan model pencegahan perceraian bagi pasutri muslim yang diwujudkan dalam penerbitan buku saku pencegahan perceraian 2. Pihak universitas bekerja sama dengan pihak-pihak terkait hendaknya melakukan kajian secara komprehensif mengenai persoalan perceraian dan langkah-langkah kongkrit untuk mengatasinya. agamis. sosiologis. Pihak-pihak yang terkait dalam pemerintah sudah saatnya meninjau kembali beberapa peraturan yang tidak memberikan peluang kepada BP4 mengembangkan diri dan ikut andil dalam mencegah terjadinya perceraian di masyarakat. maupun administratif.

1998.DAFTAR RUJUKAN Al Qur‘an dan Terjemahannya. R.th. Darul Fikr. Beirut. Medinah Munawwarah. K. dan Biklen. Al Khasyt. Muhamad Usman. Qualitative Research In Education: An Introduction to Theory and Methods. Shahih Muslim. Upaya Mengatasinya Menurut Qur‘an Hadits dan Ilmu pengetahuan. C. Mujamma‟ Al Malik Fahd Li Thinba‟at Al Mushh-haf. Ahmad Musthafa. T. Jakarta. Darul Fikr . Beirut. Bogdan. 1999. S. 1995. GIP. Tafsir Al Maraghi. Maraghi.1980. Imam Muslim. Sulitnya Berumah Tangga. Boston: Allyn and Bacon.

This Research is conducted in Departement of Building Education FT UM. Pengamat pendidikan dan dunia industri mensinyalir bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia secara umum masih rendah. building education. Pribadi dan Wasis adalah dosen Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Negeri Malang . Based on the data obtained through observation and questionaires. minimal untuk dirinya sendiri. Hal ini nampak dari. This Research use of class action research (CAR). Hal ini merupakan salah satu indikator proses pembelajarandi perguruan tinggi masih belum optimal. sikap sebagian besar lulusan perguruan tinggi kita yang masih mengharapkan bekerja di instansi pemerintah dan tidak mampu menciptakan lapangan kerja.Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi Wasis Abstract: This Research aim to to ( a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based` Learning and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based Learning. the CAR was succesfull in (a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject Key words: Project Based Learning. having the collaaborative character. industrial practical.

2001). Setelah itu mahasiswa. Metode penyelesaian PI yang selama ini dilakukan dengan 10% kuliah tatap muka di kelas dan 80% melalui kerja praktik pada industri jasa konstruksi. Guna mencapai tujuan tersebut pada program S-1 Pendidikan Teknik Bangunan FT UM. setiap mahasiswa harus menempuh matakuliah Praktik Industri (PI) sebagai persyaratan untuk lulus. Pada kuliah tatap muka di kelas yang dilakukan pada minggu pertama dan kedua awal semester hanya terkait dengan masalah wawasan PI dan mekanisme pelaksanaan PI di lapangan. Dengan demikian mahasiswa yang boleh mengambil PI adalah mahasiswa di atas semester 6. Misalnya. akan berakibat pada rendahnya gairah belajar mahasiswa. kemampuan dan keterampilan mahasiswa. menganalisis masalah dan mampu memberi solusi terhadap masalah yang terjadi di lapangan. Hal tersebut. PI merupakan matakuliah yang bertujuan untuk membekali mahasiswa agar memiliki kemampuan komprehensip dalam memecahkan masalah yang yang terjadi di lapangan. Matakuliah PI boleh diambil mahasiswa bila sudah menyelesaikan kumulatif 90 sks atau telah menempuh 80% matakuliah keteknikan. Dalam kegiatan praktik ini diharapkan mahasiswa mampu memahami prosedur kerja. mandor dan tukang tentang masalah- . mengakibatkan banyak mahasiswa yang merasa terpaksa dalam menjalani proses pembelajaran (Suhartadi. Dalam pelaksanaannya PI dilakukan dengan cara praktik langsung di lapangan pada proyek konstruksi yang sedang berjalan. untuk memahami konsep-konsep teknik yang bersifat rumit dan abstrak diperlukan tugas-tugas yang bersifat lebih komplek. pada pembelajaran bidang studi teknik. Kasus yang demikian dijumpai pula pada mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Bangunan (PTB) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Malang (UM).Pada pihak lain model pembelajaran di perguruan tinggi yang masih mengacu pada prinsip behavioristik yang lebih menekankan bagaimana pengajar merubah sikap. Kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan masih banyak mengalami kekurangan-kekurangan dan masih perlu dilakukan pembenahan-pembenahan. pemahaman terhadap konsep-konsep maupun teoriteori teknik tidak cukup dilatih dengan pemberian soal-soal saja.. Di lapangan mahasiswa diharapkan dapat belajar dengan pelaksana. Namun lebih dari itu. diberi kebebasan untuk mengerjakan tugasnya ke lapangan serta diberi jadwal tertentu untuk berkonsultasi dengan dua orang dosen pembimbing yang telah ditentukan.

Di samping itu. angkatan 2002 dari sebanyak 35 orang hanya 10 orang mahasiswa dan angkatan 2003 dari sebanyak 36 orang hanya 11 orang mahasiswa. Dari mahasiswa yang berhasil menyelesaikan PI tersebut tidak ada (0%) mahasiswa yang mampu meraih nilia A. Pada awal-awal semester hanya sekitar 15% mahasiswa yang memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Dalam hal ini tidak ada kontrol terstruktur dari dosen pembimbing pada mahasiswa yang memprogram . Dari data-data tersebut nampak bahwa hampir sebagian besar mahasiswa. sistem pembelajaran PI dengan memberi kebebasan waktu pada mahasiswa untuk berkonsultasi pada dosen pembimbing ternyata menjadi masalah tersendiri. Pada pihak lain. nampaknya dosen pembimbing juga jarang memperhatikan kegiatan penyelesaian PI mahasiswa. mengalami masalah dalam penyelesaian tugas PI. (3) malas atau tidak mau mencari buku rujukan yang disarankan dosen. sehingga waktu konsultasi dengan dosen. hampir semua mahasiswa berbondong-bondong berkonsultasi.masalah konstruksi bangunan. Berdasarkan data yang ada pada jurusan ternyata mahasiswa yang mampu menyelesaikan PI tepat waktu adalah (l) angkatan 2001 dari sebanyak 24 orang hanya 9 orang mahasiswa. Akibatnya hampir 90% mahasiswa tidak mampu menyelesaikan PI dengan tepat. Mahasiswa yang memprogram PI tidak teratur memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi sesuai jadwal yang ditetapkan. ternyata keterlambatan mahasiswa dalam menyelesaikan PI disebabkan kurangnya kemandirian dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada. Dosen pembimbing beranggapan bahwa ―kalau mahasiswa konsultasi ya dilayani. Dalam pelaksanaan pendidikan pada program S-1 PTB FT UM. dan (4) sering mengupahkan atau menyuruh mahasiswa lain untuk mengerjakan tugasnya. (2) tidak mampu menyelesaikan tugas yang telah ditargetkan. ternyata penyelesaian PI menjadi kendala utama kelulusan mahasiswa. dan sebaliknya pada akhir semester di mana jadwal pengerjaan PI harus berakhir. kalau tidak datang untuk berkonsultasi ya terserah mahasiswa‖. 20% mahasiswa mendapat nilai B dan 80% mahasiswa mendapat nilai C. ternyata tidak mengerti akan tugas-tugas yang dikerjakan. Kurangnya kemandirian mahasiswa dapat dilihat dari beberapa indikator seperti (l) tidak menepati jadwal konsultasi yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil wawancara dengan tim pembimbing PI dan juga pengamatan tim peneliti.

tanpa memandang taraf kemampuan intelektual mahasiswa. motivator dan insprirator. yaitu melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata. Metode Pembelajaran Berbasis Proyek dipilih untuk memecahkan masalah ini karena sesuai dengan konteks dan tujuan dari matakuliah PI. Kondisi dosen yang demikian. dengan penerapan pembelajaran berbasis proyek akan dapat berperan sebagai fasilitator. maka upaya yang dianggap sesuai untuk penyelesaikan permasalahan pembelajaran tersebut adalah melalui penerapan pembelajaran berbasis proyek (project based learning). Sebagai inspirator pengajar harus dapat memberikan semangat. dan hasilnya membentuk suatu produk nyata. dan (4) . maka cara yang dianggap paling baik untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. mendorong mahasiswa bekerja secara mandiri. (2) meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Melihat permasalahan dalam pembelajaran PI tersebut. Melihat sistem pembelajaran matakuliah PI yang demikian. Memberi petunjuk dalam penyelesaian PI atau mengarahkan bagaimana agar mahasiswa dapat menyelesaikan tugas dengan mudah dan sekaligus memberi dorongan-dorongan yang diperlukan. yang berfokus pada pertanyaan atau masalah nyata serta pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya. Di samping itu dosen pembimbing PI. Berpijak pada latar belakang masalah di atas. (3) meningkatkan sikap kerjasama. sehingga mahasiswa memiliki kemandirian dalam menyelesaikan PI yang memang cukup berat. Sudah menjadi kewajiban dosen untuk meningkatkan perannya sebagai fasilitator. bantuan. sehingga kemandirian mahasiswa dalam menyelesaikan PI tumbuh. petunjuk.PI. Melalui pembelajaran berbasis proyek akan mampu mendorong mahasiswa untuk melakukan invesitigasi pemecahan masalah terhadap tugas-tugas yang bermakna. dorongan pada mahasiswa dalam penyelesaian PI. juga merupakan salah satu masalah yang mengakibatkan efektifitas pengerjaan PI rendah. Sebagai fasilitator pengajar harus dapat memberi berbagai kemudahan. maka harus ada upaya-upaya sistematis untuk memperbaikinya. motivator dan inspirator. Di samping itu metode Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa keunggulan seperti (1) mampu meningkatkan motivasi mahasiswa. sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan.

pencarian sumber dan pemecahan masalah dalam merespon tantangan secara keseluruhan. (3) mahasiswa mengarahkan kerjanya . (2) mahasiswa diminta memperagakan tingkah laku manajemen waktu dan tugasnya baik secara individu maupun kelompok. & Michaelson. (2) mahasiswa dihadapkan pada suatu kesulitan. teknologi/sumber-sumber nyata).alat otentik/sesungguhnya (misalnya. Carol. (CORD. melibatkan mahasiswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain. Memuat ide-ide investigatif seperti (l) mahasiswa melakukan investigasi selama periode tertentu. Moss. kondisi dan hasil. dukungan terhadap otonomi mahasiswa seperti (l) mahasiswa mengambil bagian dalam masyarakat inkuiri dan meneruskan latihan kerjanya di dalam konterk social. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang amat besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi mahasiswa (Gaer.meningkatkan keterampilan mengelola sumber (Moursund (1997). (4) mahasiswa menggunakan perlengkapan. 2000). dan mencapai puncaknya untuk menghasilkan produk nyata (Thomas. Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebuah model pembelajaran yang inovatif. memberi kesempatan mahasiswa bekerja secara otonom dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. dan (5) mahasiswa melakukan umpan balik (refleksi) tentang nilai idenya dari ahli lain/melalui tes realistik Kondisi. Karakteristik aktivitas. (2) mahasiswa menemukan hubungan anta ride secara indispliner. dan lebih menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang komplek. 1998). Van-Duze. Mergendoller. aktivitas. 1999. Adanya keunggulan-keunggulan metode Pembelajaran Berbasis Proyek tersebut dianggap tepat untuk memecahkan masalah pembelajaranpada matakuliah PI. Secara operasional hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Karakteristik isi: memuat ide-ide seperti (l) masalah disajikan dalam bentuk keutuhan kompleksitas. 1998). (3) mahasiswa membuat hubungan/keterkaitan antar ide-ide dan memperoleh ketrampilan baru seperti melakukan kerja pada tugas-tuga yang berbeda. dan (4) pertanyaan dunia nyata dan menarik perhatian mahasiswa. Thomas. Secara umum karakteristik project based learning mencakup isi. Fokus pembelajaran terletak pada prinsip-prinsip dan konsep-konsep inti dari suatu displin ilmu. 2001. (3) mahasiswa berjuang dengan ambiguitas.

(2) mahasiswa terlibat dalam melakukan self assessment. dan (4) mahasiswa memperagakan kompetensi nyata mereka seperti: keterampilan sosial. engineer dan praktisi-praktisin lainnya. dan (4) mahasiswa melakukan simulasi kerja profesional dari seorang sarjana. 2000). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bersifat kolaboratif. Sebagai sebuah model pembelajaran. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas penelitian ini bertujuan untuk (1) Meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek dan (2) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek METODE Penelitian ini dilakukan di Program Studi S-1 Teknik Bangunan FT UM. keterampilan manajemen. (2) driving question. Waktu pelaksanaan penelitian ini direncanakan dilaksanakan mulai bulan Pebruari 2008 sampai dengan bulan November 2008. (3) mahasiswa bertanggung jawab terhadap pilihannya tentang bagaimana akan mendemonstrasikan kompetensi mereka. yang dari awal sampai akhir kegiatan terlibat langsung sebagai peneliti pelaksana. laporan dan sejenisnya). benda nyata. disamping itu dilibatkan 15 mahasiswa semester 7 dan 8 prodi S-1 PTB FT UM yang memprogram matakuliah PI. Hasil. (4) autonomy. (3) contructive investigation. Penelitian ini berpedoman pada model yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart (Dalam Hopkins. Subjek penelitian ini melibatkan 2 orang dosen. ketrampilan teknik dan sebagainya. produk nyata seperti: (l) mahasiswa menghasilkan produk intelektual yang kompleks yang menunjukkan hasil belajarnya (misalnya model. Pembelajaran Berbasis Proyek mempunyai beberapa prinsip. peneliti. dan (5) realism (Thomas. yaitu (1) centrality. Artinya penelitian ini melibatkan tim pengajar sebagai anggota peneliti. 1992) merupakan alur pelaksanaan tindakan dan berlangsung dalam siklus-siklus yang terdiri .sendiri dan melakukan kontrol belajarnya.

dan penyimpulan (PGSM. Perencanaan Sebagai langkah awal kegiatan tim Peneliti melakukan bekerjasama dengan tim pengajar Praktik Industri. mengabstraksikan. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. 1999). pemfokusan. Berbeda dari interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dari suatu observasi. analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus penelitian tindakan kelas sebagai keseluruhan (PGSM. representatif grafis. Dalam hubungan ini. analisis data adalah proses menyeleksi. 1999). observasi dan refleksi. HASIL Siklus 1 a. Hal ini dilakukan dalam rangka menciptakan suatu iklim yang baik antara peneliti dengan pengajar dan mahasiswa. pelaksanaan tindakan. Tahap perencanaan ini meliputi kegiatan sebagai berikut: . mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap penelitian tindakan kelas. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. Hasil refleksi pada siklus ini digunakan sebagai dasar pelaksanaan siklus berikutnya. yaitu reduksi data. paparan data. dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. memfokuskan. representatif tabular termasuk dalam format matriks. menyederhanakan. Sedangkan penyimpulannya adalah proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan atau formula yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas (PGSM). dan sebagainya.atas rencana tindakan. Kegiatan pertama dalam siklus I ini adalah dilakukan perencanaan pembelajaran Praktik Industri dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Proyek.

Penjelasan oleh ketua tim pengajar tentang tujuan umum dan khusus matakuliah Praktik Industri. sumber dan media. tingkat kesulitan tugas dan kemampuan mahasiswa dan produk yang akan dihasilkan dari proyek akhir tersebut Academic Rigor: terkait dengan ilmu-ilmu yang terkait dan digunakan dalam penyelesaian proyek. bekerja/berdiskuasi dengan seorang teman. analisis dari berbagai aspek dalam pemecahan masalah Applied Learning: yang terkait dengan konteks permasalahan. (2) analisi teknikteknik yang digunakan untuk memecahkan masalah. Kegiatan pertemuan awal ini dilakukan dengan tahap kegiatan sebagai berikut: 1. Pembuatan pedoman petunjuk praktik industri. Pembuatan rancangan operasional metode Pembelajaran Berbasis Proyek yang meliputi: Authenticity: terkait dengan kebermaknaan tugas bagi mahasiswa. . kerja tim dan penggunakan teknologi yang tepat (l) pembuatan tim work untuk menyelesaikan tugas-tugas. metode ilmiah yang digunakan memecahkan masalah dan. (3) pengembangkan organisasi kerja.1. penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode. 2. penilaian hasil kerja mahasiswa oleh orang luar Assessment: yaitu terkait dengan kemampuan untuk melakukan penilaian mandiri terhadap unjuk kerjanya. Tindakan Pada tahap ini diawali dengan pertemuan dengan dosen pembimbing dan mahasiswa yang menjadi subyek penelitian ini. Active Exploration: yang terkait dengan efektifitas penggunaan waktu. dan melakukan presentasi ilmiah Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan akhli dari luar. keterlibatan pihak luar untuk pengembangkan standar kerja dan penilaian reguler/teratur terhadap unjuk kerja mahasiswa. dan bentuk Buku pegangan mahasiswa dan pedoman pembimbingan dosen. b. materi atau topik-topik Praktik Industri.

Pada tahap ini peneliti mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran penyelesaian Praktik Industri. Dengan demikian mahasiswa telah siap untuk melakukan kerja praktik industri di lapangan. waktu penyelesaian dan persyaratan-persyaratan lainnya sesuai buku pegangan mahasiswa.2. Berdasarkan diskusi antara tim pembimbing dan mahasiswa disepakati bahwa jadual pembimbingan terstruktur dilakukan 2 kali dalam seminggu. Penentuan topik tugas Praktik Industri. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada (1) penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek dan (2) pengembangkan topik Praktik Industri. 3. c. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan. Demikian pula mahasiswa telah mampu mengembangkan topiktopik yang dijadikan kajian Praktik Industri. 4. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Setelah selesai penjelasan tersebut dilakukan tanya jawab dengan mahasiswa dan dosen pembimbing. 5. Setelah diadakan forum tanya jawab kemudian mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan topik Praktik Industri Penentuan jadual pembimbingan. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Penjelasan penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode proyek yang meliputi tahap-tahap prosedur Metode Proyek. d. . Refleksi Berdasarkan tahap tindakan yang telah dilakukan diperoleh gambaran bahwa 90% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode proyek yang akan digunakan dalam menyelesaikan tugas Praktik Industri.

dan 2 kali pembimbingan di kampus. Tindakan Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan. Pengembangan pedoman kegiatan pembimbingan di kampus b. Pengembangan tahap-tahap kegiatan praktik 4. Perencanaan Berdasarkan temuan pada siklus 1 diketahui bahwa sebagian besar (90)% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode Pembelajaran Berbasis Proyek. Maka dalam perencanaan siklus 2 dilakukan langkah-langkah perencanaan yang terkait dengan: 1. Menentukan lokasi tempat praktik industri bagi masing-masing kelompok mahasiswa. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas.Siklus 2 a. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. Pembimbingan di kampus. 2. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa dilakukan selama 3 minggu. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Pengembangan pedoman pembimbingan di lapangan 5. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang . c. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan baik di lapangan maupun di kampus berlangsung tim peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran. diawali presentasi mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Pengembangan pokok bahasan praktik industri (pengerjaan pondasi bangunan) 3. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik.

Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 2 maka pada siklus 3 pada siklus ini akan lebih difokuskan pada pengembangan dan perbaikan pada komponen (1) Applied Learning.berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Kelemahan mendasar yang masih dilakukan mahasiswa dalam tahap ini adalah masih belum mampu menerapkan (1) Applied Learning: yang terkait pembentukan tim work dan aktivitas kerja kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas. Untuk itu sebelum praktik ke lapangan mahasiswa harus di beri pembekalan (penjelasan) kembali tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan subsub topik yang dibahas. d. Oleh karena itu pada siklus berikutnya hal tersebut perlu dikembangkan dan diperbaiki. (2) Active Exploration: yang terkait dengan penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode dalam menganalisis kegiatan lapangan. dan (3) Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan para manajer proyek dan pelaksanaan lapangan. Dengan demikian perencanaan pada siklus ini dilakukan dengan: . kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. (2) Active Exploration. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa baru 60 % mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. Siklus 3 a. dan (3) Adult Relationship. Demikian pula pada tahap ini peneliti mulai mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran praktik. Demikian pula baru 65% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik.

diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. c. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. kondisi dan hasil 4. Pembimbingan di kampus. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada . Pengembangan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek. pada tugas-tugas di lapangan b. dan 2 kali pembimbingan di kampus. Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan kolom dan balok bangunan 2. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. (2) Active Exploration: dan (3) Adult Relationship dalam penyelesaian tugastugas PI 3. Tindakan Sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas.1. Pengembangan karakteristik aktivitas. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. Pengembangan komponen (1) Applied Learning. Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan kolom dan balok bangunan. Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai prakltik ke lapangan lagi. Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 4 jam pelajaran. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek.

Dalam siklus ini nampak masih ada kurang-lebih 20% mahasiswa belum mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek. Masih ada beberapa kelemahan mahasiswa pada siklus ini yaitu khususnya dalam hal menjalin hubungan dengan pihak proyek yaitu manajer proyek. dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Siklus 4 a. Mahasiswa masih kurang maksimal memanfaatkan pihak-pihak tersebut sebagai sumber belajar di lapangan. kondisi dan hasil. 2.pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 4 pada siklus ini akan dilakukan perencanaan dalam hal: 1. Pengembangan karakteristik aktivitas. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Pada siklus berikutnya kelompok mahasiswa tersebut diharapkan ada perbaikan dan pengembangan kerja dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek . Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan pelat lantai bangunan. pelaksana lapangan. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. d. . Demikian pula 80% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/ sangat baik. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 80% mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. mandor maupun tukang dan pembantu tukang.

Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. dan 2 kali pembimbingan di kampus. Pembimbingan di kampus. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai praktik ke lapangan lagiPada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan pelat lantai bangunan.3. Pengembangan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam . dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. c. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. secara lebih operasional. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu. Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 3 jam pelajaran. sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. 4. e. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. Tindakan Sama seperti pada`siklus 3. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek dan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. Pengembangan dan perbaikan pedoman praktik khususnya yang berhubungan dengan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek.

Mengingat indikator pencapaian tujuan penelitian ini telah tercapai maka siklus penelitian dihentikan. tugas tersebut dapat dijadikan bekal untuk kehidupannya. (3) applied learning. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Dengan dipahaminya ―kebermaknaan‖ suatu tugas. (5) adult relationship. BAHASAN Dalam pembahasan ini akan dikaji tiap-tiap strategi yang digunakan dalam metode proyek yaitu (l) authenticity. Demikian pula 95% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik. dan memanfaatkan pihak proyek sebagai sumber belajar. maka motivasi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akan . Suatu tugas yang memiliki makna adalah tugas dimana mahasiswa merasa bahwa tugas tersebut sangat berguna bagi mahasiswa setelah ia terjun di dunia kerja. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. proyek atau tugas yang dikerjakan mahasiswa harus memiliki makna bagi mahasiswa. (2) academic rigor. dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Tugas tersebut terkait dengan kebutuhan dunia kerja.penyelesaian tugas Praktik Industri. Disamping itu mahaisswa telah mampu menjalin hubungan dengan pihak proyek. Authenticity Authenticity merupakan langkah awal dalam perancangan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek. Dalam konsep authenticity. (4) active exploration. 1. f. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 95% mahasiswa telah mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. dan (6) assessment.

meningkat (ISTE, 2002), dengan demikian mahasiswa akan dapat menyelesaiakan tugasnya dan pada akhirnya mahasiswa akan mampu menghasilkan sesuatu dari tugas tersebut. Oleh karena itu tugas seorang pengajar dalam tahap ini adalah menjelaskan kebermaknaan suatu tugas bagi mahasiswa; pengajar harus bisa memilih dan memberi tugas yang bermakna untuk mahasiswa. Pada siklus I pada proses penelitian ini, masalah authenticity, merupakan tahap awal yang ditekankan pada mahasiswa; dalam tahap ini pengajar harus mampu menjelaskan kebermaknaan tugas, baik dari segi teknik maupun ekonomi.
2. Academic Rigor

Academin rigor adalah penerapan konsep-konsep akademis dalam menyelesaikan suatu tugas. Dalam pembelajaran berbasis proyek academic rigor, merupakan bagian yang amat penting karena mengharuskan mahasiswa menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian suatu tugas. Pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek akan melatih dan membiasakan mahasiswa untuk menerapkan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah dalam kehidupan. ISTE (2002) mengatakan bahwa dalam metode pembelajaran berbasis proyek mahasiswa dilatih melakukan penelitian, menggunakan berbagai sumber informasi dan mampu berpikir lintas keilmuan. Dalam tahap ini pengajar harus mampu merancang pembelajaran yang dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan dan menggunakan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
3. Applied Learning

Aplied learning adalah usaha untuk mengarahkan kegiatan belajar mahasiswa ker arah situasi belajar yang mengacu pada kehidupan nyata yang berada di luar lingkungan sekolah dan Kraf (1998) menyebut sebagai ―real world oriented”. Salah satu bentuk belajar dalam kehidupan nyata adalah agar mahasiswa mampu bekerja dalam organisasi modern yang menuntut disiplin tinggi, penggunaan teknologi yang tepat,

dan mampu berkomunikasi dengan rekan kerja, dan inilah yang disebut dengan real learning dan real work (Steinberg, 2001).
4. Active Exploration

Active exploration adalah usaha untuk mendorong mahasiswa agar aktif melakukan ekplorasi/penelitian, dengan menggunakan waktu secara efektif. Dalam tahap ini pengajar harus mampu memacu dan sekaligus mendorong mahasiswa untuk selalu berusaha memecahkan masalah secara kontinyu dan jangan putus asa. Menurut Buck Institute for Education (2001) dalam pembelajaran berbasis proyek mahasiswa harus mampu sebagai ―discoverer, integrator, and presenter of ideas. Dalam pelaksanaan penelitian ini, mendorong sikap dan tindakan mahasiswa agar selalu active exploration, ternyata merupakan sesuatu yang amat sulit. Hal ini mungkin disebabkan oleh perilaku mahasiswa selama ini lebih banyak bersikap pasif dalam setiap pembelajaran, dan sering dijumpai pengajar hanya bersikap sebagai penyampai materi belaka, dan kurang mendorong keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran.
5. Adult Relationship

Adult Relationship, terkait usaha memacu mahasiswa agar mampu belajar dari orang lain yaitu pada para praktisi expert dan bahkan pada para pekerja yang terkait dengan masalah yang dikaji. Dalam proses adult relationship ini para pengajar harus mendorong mahasiswa untuk mampu bertanya, berdiskusi dan juga mengajak merancang serta menilai kerja mahasiswa. Dengan model belajar yang demikian diharapkan mahasiswa memiliki pemahaman, pengetahuan dan keterampilan yang mendalam terhadap tugas yang sedang dikajinya.
6. Assesment

Assesment, adalah usaha agar mahasiswa mampu melakukan penilaian secara teratur terhadap proses belajar yang dilakukan. Disamping itu mahasiswa juga harus mampu mengembangakan kriteria penilaian sesuai standar yang berlaku di dunia kerja. Penilain yang harus

dilakukan mahasiswa mencakup prosedur kerja/metode yang dilakukan, waktu yang digunakan, hasil kerja dan hal-hal lain yang terkait dengan penyelesian tugasnya. Dari hasil penilaian yang dilakukan mahasiswa diharapkan mahasiswa dapat melihat kekurangan-kekurangannya, mampu memperbaikinya pada proses berikutnya. Dalam salah satu kriteria pembelajaran berbasis proyek Kraf (1998) menyebut hal ini sebagai ―student self-assesment of learning is encourage‖
7. Peran Pembimbing/Pengajar

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek peran dan tugas pengajar sangat jauh berbeda dengan peran dan tugas pengajar dalam pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar diharapkan sebagai ―resource provider and participant in learning activities,‖ berbeda dalam pembelajaran konvensional pengajar lebih sebagai “lecturer and director of instruction‖ dan dalam pembelajaran konvensional pengajar menganggap dirinya sebagai ―expert‖ sedang dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar harus mampu berperan sebagai ―advisor/colleague‖ (Buck Institute for Education, 2001). Perubahan peran dan fungsi pengajar dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran pembelajaran berbasis proyek tentu bukan merupakan sesuatu yang mudah, khususnya bagi pengajar yang telah terbiasa dengan model pembelajaran konvensional. Bagi pengajar yang telah terbiasa dengan pembelajaran konvensional, perlu memahami hakekat dan filsafat pembelajaran berbasis proyek lebih mendalam, dengan demikian diharapkan mampu memahami peran dan fungsinya sebagai pengajar.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut: (l) Pembelajaran Berbasis Proyek secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1

PTB FT UM dan (2) Penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM.
Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan beberapa saran sebagai berikut (l) Mengingat metode Pembelajaran Berbasis Proyek sangat berbeda dengan metode pembelajaran konvensional maka dalam penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek pengajar harus memahami hakekat dan prinsip-prinsip dasar PBL secara benar, dan (2) Guna mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang kehandalan metode Pembelajaran Berbasis Proyek diperlukan penelitian lanjutan pada bidang-bidang studi yang lain.

389--398. D. P.F. Diakses tanggal 12 Juli 1998..F. Instance Crativity. Process and Product in PBL Research.M. & Moffit. 1991. Project Base Learning for Adult English Language Learner. . Philadelpia: Open University. Soloway. Motivating Project Base Learning: Sustaining Doing.L. 2001. 1998. Instance Motivation. Bandung: Kaifa Gaer. Diakses tanggal 10 Desember 1997. M. 1999. 2001. Guzdial. S. 2001.DAFTAR RUJUKAN Clegg. 2000. Moursund.& Wong. Hopkins.html. Mark. Contextual Learning Resource. Teraedia pada: http://www. 1992. Moss.iste. E. Project: Road Ahead (Project-Based Learning). B. 2001. University of Toronto. Blumenfeld. Real Life Problem Solving: A Collaborative Aproach to Indisciplinary Learning. Jakarta: Penerbit Erlangga Clegg. D. C & Scardamalia. 1997. J. 23 (January). 33-37 Jones.. Supporting the Learning. Toward a Theory of Work-Base Learning.W. 1977. Dryden C. B. Diakses tanggal: 2 Maret 2001. 40(2).org/research/roadahead/PBL.C. R.aol. Ed427556/html Moore. ED427556. 26 (3 &4). Hung.com /CulebraMom/ PBLprt.. Krajick. Educational Technology. C. What is Project-Based Learning? Tersedia pada: http:// members . 1998.org/lev2.. A Teacher`s Guide to Classroom Research. C. CORD. Washington DC: American Psychological Association. IEE Brief. & Vos. M. Toronto:Ontario Institute for Studies in Education. D & Van-Duzer. J. A. P. Jakarta: Penerbit Erlangga Bereiter. B & Berch. The Learning Revolution. Rasmussen. cord. Educational Psychologist. A.html. Tersedia pada: http://www. D. M dan Palinscar.cfm/65. D. [Online). 2000. ERIC Gigest. Activity Theory as a Framework for Project Work in Learning Environment.

R. com/foundation. Tersedia pada: http://www. Mahakalah disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Nasional Peningkatan Profesionalitas Guru SMK Melalui Kajian Kelas. A. 2001. 1996.com/ techcape/sherm. 1999. A Review of Research on Project-Based Learning. L. G. Observing Classroom Process in Project-Base Learning Using Multimedia: A Tool for Evaluator.. 25--28 Suhartadi.inservicer. 2001. JW.Rosenfeld.html. Problem Base Learning: As Authentic as it Gets. Educational Leadership. Y. Jakarta: Depdikbud Penuel. Center for Technology in Leraning SRI International. PGSM.. JR & Michaelson. Making Meaning in Classroom: Social Processes in Small-Group Discourse and Scientific Knowledge Building. designworlds. 1978. Mergendoller.html . & Means. Available on:http://www. Menumbuhkan Kemandirian dan Kegairahan Belajar Mahasiswa Melalui PembelajaranTeknologi di SMK. Wetern Kentucky University Center for Teaching and Learning. Thomas.. JW. 1999. Project-Based Learning. Penelitian Tindakan Kelas.us/PBL guide/why. autodesk. 51. & Ben-Hur. Richmond. 1993. 33(8). 2001. 2000. & Striley. PBL in Science and Technology: A Case Stu dy of Professional Development. Mind in Society. Cambridge. http://PBLmm. Vygotsky.PBL. Yang diselenggarakan pada tanggal 4 September 2001 di kampus Universitas Negeri Malang. W & Gallagher. S. J. Journal of Research in Science Teaching. Novato CA: The Buck Institute for Education. 839-858 Thomas. S. Project Base Learning: A handbook of Midle and High School Teacher.S. W. B.. California: The Autodesk Foundation. MA: Harvard University Press. 1999. S.kn. Diakses tangal 23 Januari 2002 Stepien.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful