P. 1
JURNAL________________DESEMBER-2008

JURNAL________________DESEMBER-2008

|Views: 586|Likes:
Published by riputra

More info:

Published by: riputra on Dec 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2013

pdf

text

original

JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN

Tahun 18, Nomor 2, Desember 2008

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender Laily Maziyah, dkk Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati, dkk Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta) Heri Sudarsono Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialogh dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari, dkk. Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi, dkk
Terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi nomor III/DIKTI/KEP/1998 tanggal 8 April 1998; nomor 395/DIKTI/KEP/2000 tanggal 27 November 2000; dan nomor 49/DIKTI/KEP/2003 tanggal 9 Desember 2003 tentang Hasil Akreditasi Jurnal Ilmiah

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender
Laili Maziyah Syafaat

Abstract: The mufassirs have a notion that polygamy is mubah (permitted). It is required for husband that performs polygamy to do justice in giving charity toward all of his wives and justice in giving sex turning and accompany to his wives. However, no required to do justice in love because it includes heart zone and applied by Rasulullah. The result showed that five forms of gender inequality toward women (marginalization,violence, subordination, stereotype, and double burden), not found generally in "five books", even such mufassirs are likely more moderate than other interpreters, by giving rigid conditions to conduct the polygamy. The reseacher chooses it to unveil pictures about concept, condition, rules of polygamy, and aspects of gender equality in their works. However, Ar-Razi opinion tends to perform stereotype of women because he gives not binding of polygamy conditions and permit husband to get married more than four or no limitation number of wives in polygamy. Key words: mufassir, poligami concept, gender

Kontroversi seputar poligami menyembur lagi ke permukaan setelah da‘I kondang KH. Abdullah Gimnastiar (Aa‘Gym) secara mengejutkan melakukan poligami bulan Nopember 2006, kemudian diikuti oleh anggota DPR Zaenal Maarif dari Partai Bintang Reformasi (FBR) secara terang-terangan di hadapan media (Kompas, 18/1/07). Fakta tersebut tak hanya mengundang gejolak tapi juga membuat bombardir kiriman SMS ke ponsel Presiden.
Laily Maziyah dan Syafaat adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang

Presiden Yudhoyono kemudian secara khusus memanggil Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dan Dirjen Binmas Islam Nazzarudin Umar meminta revisi agar cakupan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 1983 (yang sudah direvisi menjadi PP Nomor 45 tahun 1990 tentang poligami) diperluas tidak hanya berlaku bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) tetapi juga pada pejabat negara dan pejabat pemerintah (Iman, 2006). Poligami merupakan salah satu bentuk perkawinan yang seorang laki-laki menikahi lebih dari satu istri. Menurut Mulia (2004:44-45), poligami sudah ada jauh sebelum Islam datang. Mahmud Syaltut (w. 1963), ulama besar asal Mesir, secara tegas menolak poligami sebagai bagian dari ajaran Islam, dan juga menolak bahwa poligami ditetapkan oleh syari‘ah. Berabad-abad sebelum Islam diwahyukan, masyarakat manusia di berbagai belahan dunia telah mengenal dan mempraktekkan poligami. Poligami dipraktekkan secara luas di kalangan masyarakat Yunani, Persia, dan Mesir kuno. Di Jazirah Arab sendiri jauh sebelum Islam, masyarakatnya telah mempraktekkan poligami, malahan poligami yang tak terbatas. Sejumlah riwayat menceriterakan bahwa rata-rata pemimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit kepala suku mempunyai istri sampai ratusan. Sejumlah riwayat menjelaskan bahwa setelah turun ayat yang membatasi jumlah istri hanya empat orang, yakni QS Al-Nisa‘: [4]:3. Nabi segera memerintahkan semua laki-laki yang memiliki istri lebih dari empat agar menceraikan istri-istrinya sehingga setiap suami maksimal hanya boleh punya empat istri (Ibn Surah, tt:445). Karena itu, A1-Aqqad (1962:107) ulama asal Mesir, menyimpulkan bahwa Islam tidak mengajarkan poligami, tidak juga memandang positif, apalagi mewajibkan, Islam hanya membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Sangat disesalkan bahwa dalam prakteknya di masyarakat, mayoritas umat Islam hanya terpaku pada kebolehan poligami, tetapi mengabaikan sama sekali syarat yang ketat bagi kebolehannya itu. Perkembangan poligami dalam sejarah manusia mengikuti pola pandangan masyarakat terhadap kaum perempuan. Pada masa ketika masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan hina, poligami menjadi subur, sebaliknya pada masa masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan terhormat, poligami pun berkurang. Jadi, perkembangan

poligami mengalami pasang surut mengikuti tinggi-rendahnya kedudukan dan derajat perempuan di mata masyarakat (Abu Zayd, 2003). Ketika Islam datang, kebiasaan poligami itu tidak serta merta dihapuskan. Namun, setelah ayat yang menyinggung soal poligami diwahyukan, Nabi lalu melakukan perubahan yang radikal sesuai dengan petunjuk kandungan ayat. Perubahan mendasar yang dilakukan Nabi, menurut Mulia (2004:46-47) berkaitan dengan dua hal. Pertama, membatasi jumlah bilangan istri hanya sampai empat. Sejumlah riwayat memaparkan pembatasan poligami tersebut di antaranya riwayat dan Naufal ibn Muawiyah. Ia berkata: Ketika aku masuk Islam, aku memiliki lima orang istri. Rasulullah berkata: Ceraikanlah yang.satu dan pertahankan yang empat. Pada riwayat lain Qais ibn Tsabit berkata: Ketika masuk Islam aku punya delapan istri. Aku menyampaikan hal itu kepada Rasul dan beliau berkata: pilih dari mereka empat orang. Riwayat serupa dari Ghailan ibn Salamah Al-Tsaqafi menjelaskan bahwa dirinya punya sepuluh orang istri, lalu Rasul bersabda: “pilih empat orang dan ceraikan yang lainnya.” Kedua, menetapkan syarat yang ketat bagi poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Persyaratan yang ditetapkan bagi kebolehan poligami itu sangat berat, dan hampir dapat dipastikan tidak ada yang mampu memenuhinya. Artinya, Islam memperketat syarat poligami sedemikian rupa sehingga kaum laki-laki tidak boleh lagi semena-mena terhadap istri mereka seperti sediakala. Dengan demikian, terlihat bahwa praktek poligami di masa Islam sangat berbeda dengan praktek poligami sebelumnya. Perbedaan itu menonjol pada dua hal. Pertama, pada bilangan istri, dan tidak terbatas jumlahnya menjadi dibatasi hanya empat. Pembatasan ini dirasakan sangat berat, sebab laki-laki masa itu sudah terbiasa dengan banyak istri, lalu mereka disuruh memilih empat saja dan menceraikan selebihnya. Kedua, pada syarat poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Sebelumnya, poligami itu tidak megenal syarat apa pun, termasuk syarat kesetaraan. Akibatnya, poligami banyak membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi kaum perempuan, karena para suami yang berpoligami tidak terikat pada keharusan berlaku adil, sehingga mereka berlaku aniaya dan semena-mena mengikuti luapan nafsunya.

36. yaitu linguistis dan sosiologis sekaligus. 4. kekerasan seksual 5. kekerasan fisik 18. cenderung dipahami parsial dan kurang kholistik.4%. Melalui pendekatan holistik.3% korban selingkuh. diperlukan reinterpretasi ajaran agama secara komprehensif. sebelum tahap reinterpretasi teks agama dilakukan. Laporan Rifka Annisa (2001:58). Adapun rumusan masalah yang diangkat adalah (a) bagaimana latarbelakang para penafsir dan corak tafsir masing-masing. menjelaskan bahwa selama tahun 2001 mencatat sebanyak 234 kasus kekerasan terhadap istri.Dalam realiatas. dan kekerasan psikis 46.2% dicerai. kusutnya benang permasalahan tersebut akan dapat dikaji secara jernih.4% sebagai istri kedua. dan 0. juga bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender dalam karya mereka. syarat. 2.1% poligami secara rahasia.5% dipoligami resmi. Data-data mengenai status korban mengungkapkan 5. dan (c) bagaimana pandangan para mufassir terhadap poligami dalam konteks kesetaraan gender? . kontekstual.9%. dan holistik. untuk meminimalisasi ketidaksetaraan gender yang muncul akibat pemahaman yang keliru terhadap poligami. Dengan melakukan kajian yang mendalam atas sejumlah karya mufassir terkenal akan diperoleh gambaran mengenai penafsirannya tentang konsep. 0. penelaahan buku-buku tafsir mutlak dilakukan. Jadi. hukum poligami.4% lainnya sebagai teman kencan. sebuah institusi yang peduli pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. di antara aktor penyebab kesenjangan gender yaitu penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. penelitian terhadap sejumlah kitab tafsir klasik atas ayat-ayat poligami dalam al-Qur‘an yang berkaitan dengan kesetaraan gender sangat penting dilakukan sebagai langkah awal untuk memformulasi pemahaman yang baru dan benar.6%. Oleh karena itu. dalam kerangka pelacakan pada asal-muasal produk pemikiran mengenai poligami dan kesetaraan gender.1%. syarat-syarat dan hukum) poligami. 2. Namun. (b) Bagaimana pandangan para mufassir terhadap konsep (definisi. poligami berimplikasi pada maraknya berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan.5% ditinggal suami. Menurut Subhan (2004). Jenis kekerasan yang dilaporkan meliputi kekerasan ekonomi sebanyak 29.

Oleh karena penelitian ini menganalisis pandangan mufassir tentang ayat-ayat poligami dan munasabah (korelasi)-nya dalam alQur'an. (7) An-Nisa‘ ayat 130. . Al-Mishbah karya M. (2) Jami‟ul Bayan „an Ta‟wil Ayil Qur'an karya At-Thabari.METODE Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh paparan yang jelas dan rinci mengenai pandangan mufasir tentang poligami. (5) An-Nisa‘ ayat 128. (3) An-Nisa‘ ayat 3. yaitu: (1) An-Nisa‘ ayat 1. peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. sedangkan sumber datanya terdiri dan lima kitab tafsir. Data dalam penelitian ini berupa tulisan atau manuskrip yang merupakan karya dari para mufassir Al-Qur‘an. Untuk lebih mendapatkan gambaran yang operasional dalam penelitian ini.. Untuk mencapai tujuan penelitian secara komprehensif. Quraish Syihab (4). yaitu pemerian secara sistematis dan faktual terhadap pandangan dan penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang memuat tentang relasi gender. Sedangkan jenis penelitian ini adalah deskriptif. (6) An-Nisa‘ ayat 129. berikut paparan Tabel 1 variabel dan sub variabel: Tabel 1 Paparan Data Variabel dan Sub-Variabel No 1 Variabel Poligami         Sub-Variabel Konsep poligami Syarat-syarat berpoligami Hukum poligami Tidak ada unsur marginalisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur streotifisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur kekerasan terhadap perempuan Tidak ada unsur subordinasi terhadap perempuan Tidak ada unsur pembebanan ganda terhadap perempuan 2 Kesetaraan Gender . (3). (2) An-Nisa‘ ayat 2. Tafsir AlQuran al-Adhim karya Ibn Katsir (5) Tanwir al-Miqbas min tafsir Ibn Abbas karya Ibnu Abbas. yakni (1) Al Tafsir Al Kabir karya Fakhruddin Ar Razi. maka ada tujuh ayat yang akan diteliti. (4) An-Nisa‘ ayat 127.

sesuai dengan urutan bahkan yang terdapal dalam mushaf Utsmani (Al-Almai. syarat) poligami dalam tafsir Ar-Razi. Pembahasan metode ini mengikuti urutan kronologis susunan ayat-ayat A1-Qur‘an. metode maudu‗i. Ath-Thabari. Adapun metode maudu‘i adalah metode yang oleh Shihab (1993:114). dan metode muqaran (Umar. mushaf itu masih saja ada. didefinisikan sebagai tafsir yang menetapkan suatu topik tertentu. Ibn Katsir dan tafsir Ibn Abbas dan pandangan mereka tentang poligami dalam konteks kesetaraan gender. Corak Tafsir para Mufassir Setidaknya ada empat metode/corak tafsir yang digunakan telah para mufassir dalam menjelaskan maksud dan makna yang terkandung di dalam Al-Qur'an. Mushaf Utsmani adalah salah satu versi mushaf yang disusun oleh Utsman bin Affan saat ia menjadi khalifah. dan di dalam dijumpai sejumlah perbedaan. yang berbicara tentang topik tersebut untuk kemudian dikaitkan satu dengan yang lainnya. maka dalam bab ini akan dipaparkan pembahasan atau diskusi hasil.BAHASAN Setelah dilakukan identifikasi data tentang corak penafsiran masing-masing mufassir. hukum. yakni metode tahlili. yang merupakan sintesa antara temuan dan teori. 1999:188-189). Namun demikian. Mushaf ini dibuat untuk tujuan menyeragamkan bacaan umat Islam. AlMishbah. metode ijmali. mengkaji . dengan apa yang ditemui dalam mushaf Utsmani tadi. dan untuk tujuan itu ia telah ―meminggirkan‖ mushaf versi lainnya. Metode tafsir ijmali adalah metode yang menafsirkan ayat-ayat alQur'an dengan mengemukakan makna global. pandangan para mufassir tentang konsep (definisi. sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan secara menyeluruh tentang masalah tersebut menurut pandangan Al-Qur'an. tidak saja bacaannya melainkan juga kosakatanya. dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat dan beberapa surah. 1984:48). Metode tahlili adalah metode penafsiran Al-Quran yang munculnya secara kronologis dan memaparkan berbagai aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur‘an.

bahkan menyegerakannya. maka sepatutnya bisa ditiru. lebih menekankan pada aspek bahasa dan keagamaan. Dalam beberapa kasus ada sebagian orang Islam yang menikah tidak hanya dengan satu perempuan. Mulai dari sudut pandang bahasa. Empat tafsir yang menggunakan corak tahlili. Namun apabila dipresentasi. yaitu: tafsir athThabari. sejarah. filsafat dll. empat diantaranya menggunakan corak tafsir tahlili dan sisanya menggunakan corak tafsir ijmali. 1999:200). Ar-Razi. . Sedangkan metode tafsir muqaran ialah suatu metode tafsir yang berupaya memberikan makna satu ayat dengan ayat lain. 1986:549). Karena Rasul melakukan poligami.asbabun nuzulnya. makna suatu ayat dengan hadis. kalimat. Semua ada aturan mainnya. Yakni. ayat dikupas dengan gamblangnya dari beberapa sudut pandang. Biasanya. Tafsir-tafsir tersebut digolongkan ke dalam corak tahlili karena setiap kata. akan tetapi lebih dari satu. maka umatnya yang siap memilih jalan itu sebaiknya juga melakukan poligami. Konsep Poligami dalam Pandangan para Mufassir Menikah merupakan sunnah Rasulullah saw yang sangat dianjurkan. dan berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan ayat-ayat lainnya (Al-Rahman. dan antara satu penafsiran dengan penafsiran lainnya dalam suatu ayat (Umar. saat. bagi mereka yang memilih pernikahan cara ini beragumentasi bahwa apapun yang dilakukan oleh Rasul termasuk dalam hal berumah tangga. Al-Mishbah. Dari kelima jenis tafsir yang dianalisis. dan setelah pernikahan. Pernikahan inilah yang dalam bahasa agama disebut dengan ta‟addud az zawjah atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan poligami. Kepada mereka yang belum menikah Rasulullah sangat menganjurkan untuk tidak menunda-nunda pernikahan. Pada saat yang sama Islam juga menetapkan aturan syar‟i yang jelas tentang pernikahan. mulai dari kesiapan pribadi. sebelum. sehingga diharapkan setiap muslim yang menikah mampu menjalani rumah tangganya dengan baik dan bahagia. Sementara dalam tafsir Ibn Abbas digunakan corak/metode ijmali. dan Ibn Katsir. jumlah orang yang memilih berpoligami sangat jauh lebih sedikit dari yang tidak berpoligami.

bahkan ditentang oleh Shihab (2000:567) dalam tafsirnya. puasa dan zakat. dan beban kerja ganda (double burden). nafkah yang berupa sandang. menurut Wahbah. papan . kekerasan (violence). Inilah kriteria yang menjadi acuan kaum feminis dalam melihat secara kritis setiap aturan sosial tentang relasi laki-laki dengan perempuan. Pandangan Para Mufassir dalam Konteks Kesetaraan Gender Menurut analisis gender. Hal ini tampak sekali dalam penafsiran beliau khususnya mengenai surat An‘Nisa‘ ayat 3 dan 4. Disamping makna ibahah. maka seorang saja. Perintah poligami. pangan. termasuk yang lahir dari doktrin agama. yakni dalam bentuk fi‟il amr (kata perintah). terkait dengan adanya potongan ayat setelahnya yang menyebutkan jumlah dua. Bentuk ketidaksetaraan gender berupa marginalisasi ini tidak ada. Dalam menafsirkan lafadz yang terdapat dalam ayat 3 yang artinya. Meskipun redaksi dalam Al-Quran terkait dengan poligami adalah Fankihu. makna lain yang bisa diambil dari bentuk amar kata fankihu adalah kewajiban. sebagaimana perintah sholat. Sebab ada dalil yang menujukkan hal itu. Adil yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah berbuat adil kepada istri khususnya dalam hal harta. tiga atau empat. Namun demikin. Artinya adalah kewajiban melakukan pembatasan. yakni surat An Nisa' ayat 3 dan contoh dari rasulullah SAW. ketidaksetaraan gender bisa diidentifikasi melalui berbagai manifestasi ketidaksetaraan. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada berbuat yang tidak aniaya‖. ―Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil. atau budak-budak wanita yang kamu miliki. yakni: marginalisasi (proses pemiskinan ekonomi). akan tetapi kata ini bermakna ibahah (kebolehan) dan bukan perintah yang harus dilaksanakan. subordinasi (anggapan tidak penting). pelabelan negatif (stereotype). tak ubahnya perintah makan dan minum seperti yang dimuat juga dalam Al-Qur‘an kuluu wasyrabu. hukum asal berpoligami adalah kebolehan (jawaz) bisa saja berubah menjadi haram manakala seseorang tidak bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk itu.Menurut Ibn Katsir poligami adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam agama dan berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. Makna ini diambil.

2000:313). karena dia sendiri -bukan orang lain.s.S. Dalam menafsirkan lanjutan ayat 4 tersebut. Ulama kontemporer banyak yang memahami dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. Sisi lain. wajarlah jika dalam tafsirnya. termasuk kepada suaminya. Ini untuk menjelaskan bahwa maskawin (mahar) adalah kewajiban suami yang harus diberikan kepada istri. lihat Q. subordinasi tampak ketika Ar-Razi. sehingga ayat ini sama dengan firman Allah dalam Q.yang mewajibkan atas dirinya (Shihab: 2000:328). Sementara Ath-Thabari dan Ibn Katsir cenderung memberikan persyaratan yang mudah bagi suami.S Al-Baqarah ayat 236. Inilah yang disyaratkan oleh Islam kepada seorang suami dan harus dijalankannya untuk memenuhi hak istri. membolehkan seorang suami menikahi istri yang tak terbatas jumlahnya bahkan melebihi jumlah istri rasulullah. Al-Hujurat ayat 13 (Shihab. Oleh karena itu. tetapi hal tersebut hendaknya diberikan dengan tulus dari lubuk hati sang suami. dan ada juga yang memahaminya dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan dimata Islam. Dalam Islam proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. yaitu membolehkan melakukan poligami tanpa harus memperhatikan unsur . Maskawin (mahar) merupakan suatu yang diwajibkan oleh suami terhadap dirinya. yaitu pemberian maskawin (mahar) sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nisa‘ ayat 4. Keberadaan umat manusia berasal dari nafsin wahidah yang oleh mayoritas ulama memahaminya dalam arti Adam a. Hal tersebut tampak jelas tatkala beliau menjelaskan tafsir ayat 1 surat An-Nisa. Dia bebas menggunakannya dan bebas pula memberi seluruhnya atau sebagian darinya kepada siapapun. Ibn Katsir (1999: 2/207) menafsirkan ayat tersebut. Ar-Razi (1993: 3/246) juga menolak pandangan subordinasi ini. Ath-Thabari (1954: 7/530) menegaskan bahwa maskawin (mahar) itu adalah kewajiban yang harus dibayar suami kepada istri dan bahwa maskawin (mahar) itu adalah hak istri secara penuh.dan juga perlakuan. Pandangan subordinasi dalam pandangan para mufassir bertentangan dengan apa yang disyariatkan oleh agama Islam.

(2) tafsir ijmali. baik di dunia maupun di akhirat (Shihab. Bahkan kalau Islam dianggap memberikan kewajiban kepada istri lebih berat (mendapat beban kerja ganda) itu merupakan anggapan yang salah. yaitu (1) tafsir tahlili. dan (3) bercerai secara baik (ayat 130). (2) tidak boleh membiarkan istri terkatung-katung (ayat 129). Meskipun pendapat terakhir tersebut mensubordinasi wanita namun terlihat lebih moderat karena tetap membatasi jumlah istri sampai empat. yang antara lain dapat diselesaikan dengan tiga cara. terdapat dua corak penafsiran. Islam memberikan tuntunan secara umum.kesetaraan lahir. ―Kullukum raa‟in wakullukum masuulun „an ra‟iyyatihi‖. Hal ini bisa kita lihat contohnya pada ayat surat An-Nisa‘ ayat 4 bahwa proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. sehingga suami dan istri punya kewajiban dan haknya masing-masing yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan. akan tetapi akan banyak muncul pada masyarakat yang hanya beorientasi pada duniawi dan materi. . (1) perdamaian yang sebenar-benarnya (ayat 128). Ibn Abbas masuk kelompok 2. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan di mata Islam. Dalam kaitannya dengan penegasan bahwa KDRT ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. 2000: 328). Bentuk pembebanan kerja ganda tidak akan ditemui dalam masyarakat yang menjalankan tuntunan Islam secara benar. SIMPULAN Dari kelima mufassir yang diteliti. yaitu pemberian maskawin (mahar). sebagaimana firman-Nya: ― Wa‟aasyiru hunna bil ma‟ruf”. Ibn Katsir (tt:2/207) menafsirkan ayat tersebut. Bahkan Islam memerintahkan kepada para suami untuk mempergauli dan memperlakukan istrinya dengan baik. maka kita lihat penafsiran Ath-Thabari terhadap ayat 128-130 surat An-Nisa tatkala ada perselisihan antara suami dan istri. Sedangkan Kekerasan (violence) dalam rumah tangga (KDRT) merupakan hal yang sangat ditentang dalam Islam.

sedangkan mufassir yang lain (Ath-Thabari. yaitu subordinasi dan streotipisasi. semua mufassir tidak berbeda mengenai definisi poligami(ta'addud az-zawjah). Terkait dengan hukum poligami. kekerasan. subordinasi. (b) memiliki kayakinan bisa berbuat adil dalam memberi nafkah lahir dan adil memberikan nafkah bathin. Hal itu tampak dalam penafsiran Ar-Razi. Ia berani melangkah lebih jauh melampaui hadis Nabi. Hanya saja. . Jumlah maksimal istri empat orang dalam satu waktu. Quraish Shihab memberikan batasan bahwa poligami berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. yakni dengan tidak membatasi jumlah istri dan menggunakan persyaratan sangat longgar yang merugikan kaum perempuan. yakni pernikahan satu suami dengan dua. tiga atau empat istri. dan dalam Islam ia merupakan sesuatu yang diperbolehkan. pembebanan ganda). Ibn Katsir dan Quraish Shihab) masuk kelompok 1. terdapat dua bentuk. dan (c) dilandasi kemaslahatan bersama. Secara konsep. Adapun syaratsyarat disepakati adalah (a) memiliki kemampuan memberi nafkah. Ar-Razi. mayoritas menghukumi mubah. bahkan jumlahnya tidak terbatas. streotipisasi. Dari lima bentuk ketidaksetaraan gender terhadap wanita (marginalisasi. Hanya Ar-Razi saja yang membolehkan poligami melebihi 4 atau 9.

Beirut: Dar al-Ta‘aruf li al-Mathba‘ah Amin. Moh. Dekonstruksi Jender (Terj. Artikel diambil dari situs http://www. Zahir Ibn ‗Awad. Tafsir al-mishbah pesan dan kesan dan keserasian AlQuran diakses dari situs: http://afthon. 2005. Uqud Al-Lujain fi Bayan Huquq al-Jauzain. 1993At-Tafsir al-Kabir. Mansyurat al ‗Ashr al-Hadis Al-Rahman. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ alturats al-Islami Al-Jawi..abim. Al-‘Aqqad. tt. Kairo: Dar al-Hilal Al-Alma‘I.my . Ath-Thabari.DAFTAR RUJUKAN Abu Zayd. Tahrir Al-Mar‟ah. Muhammad Ibn Umar. Dirasat fi al-Tafsir al-Maudu‟i li alQur‟an al-Karim.org. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Ar-Razi. Jami'ul Bayan fi Tafsir alQuran. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ al-turats al-Islami Al-Shadr. 1970. Qasim. Rifka. At-Tijariyah: Beirut. Abbas Mahmud. Disertasi tidak dipublikasikan. Muhammad Baqir. Artikel dikutip dari situs http://www. Politis. Mabahits fi „Ulum al-Qur„an. Fakhruddin. Al-Mar‟ah fi al-Qur‟an. Nashr Hamid. Kairo: Dar A1-Ma‘arif Annisa. Ghazali. M Shiddiq. 1984.). tt. Al-Madrasah al-Qur„aniyyah al-Tafsir al-Maudu„I wa al-Tafsir al-Tajzi„I fi al-Qur„an al-Karim.Qarn al Rabi‟ al„Asyr. 1962.com/reviews/item/ 1 tanggal 25 Oktober 2008 Ainin. Manna‘. Mohd Rumaizuddin. Ittijah al-Tafsir fi al. 1973.org diakses tanggal 4 Nopember 2007 Al-Nawawi. Muhammad Ibn Jarir. Tokoh Islam Kontemporer. dan Normatif. Al-Halaby: Mesir. 1986. Pertanyaan dalam Terjemahan Al-Quran: Suatu Kajian Pragmatik.multiply. Surabaya: Percetakan An-nabhan Al-Qathan. 2007. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Afthon. 2003. 1954. Laporan Data Kasus Tahun 2001. 2001.khilafah1924. 2002. Fuad Abd. 2007. Mendudukan Poligami dalam Islam : Tinjauan Historis.

Aa‟ Gym. Tafsir Al-Quran al-Adhim. Iyazi. Koran Kompas. 2004. 2007. 1992.com/2008/06 tanggal 25 Oktober 2008 Qasim.psq. Peningkatan Kesetaraan dan Kesetaraan Jender dalam membangun Good Governance. Sugiri.htm. Analisis Jender dan Tranformasi Sosial (Resensi Buku). Poligami. Biografi Quraish Shihab. 2000. Sayyid Muhammad Ali. Al-jami‟ al-Sahih Juz 3. Penetapan Hukum Islam Secara Tekstual dan Kontekstual: Tinjauan Mufassir. 2008. Tafsir Al-Mishbah. Islam Menggugat Poligami. Artikel diakses dari situs http://ichwanzt. Abu Isa Muhammad Ibn Isa. Jakarta: Gramedia Pustaka utama Nor Ichwan. Tt. 2003.id/tafsir detail.Ibn Katsir. Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum. Artikel diakses dari situs: Http//situs. 1985. Siti Musdah. 35 Th XVI. Artikel diakses dari situs: http://www.com) diakses tanggal 4 Nopember 2007 Sari.or. tt. dan Islam. Aa Gym: Saya Tidak Kecewa Mulia. Muhammad. dalam Jurnal Perempuan.duniaesai-.com2006/12/aa-gym-poligami-dan-islam/ Diakses tanggal 18 Februari 2007. 2006. Mayang. 1997. .com 2006 tanggal 25 Oktober 2008 Rasyid Ridha. Shihab. Artikel diakses dari situs http://almudarris. Mohammad. Artikel dikutip dari situs www. Artikel dari situs: http://nofieiman-. Quraish. Mencari Teori Kesetaraan: Analisis Jender Vs Teori Hukum Islam. No. Fiqh as-Sunnah. edisi Kamis 18 Januari 2007. Februari Subhan. dalam Dialog. 2004.tripod. Edisi 2 Shihab. Al-Ibnu. Acep. Zaitunah. Penerbit Mizan: Bandung. Beirut: Dar el-Fikr Iman. Sulayman Mar'i: Singapura. 2004.htm. tanggal 15 Februari 2007. Tafsir al-Manar.kesrepro. Muhammad Quraish.multiply.asp.blogspot. Nofie.info/gendervaw/agu/-2004/gendervaw01. diakses tanggal 1 April 2007. 1990. Kairo: Al-Manar Jilid IV Sabiq. Imam Fakhruddin Ar-Razi. Ibn Surah. Dikutip dari situs http://members.com/gender/gender2. tanggal 15 Februari 2007. Sayyid.

Muhammad.org/wiki/ tanggal 25 Oktober 2008 Tohe. 2007. Az-Zuhaili. Sosok Mufassir Sejati. 2007. 2007. Laporan penelitian dana DIK 2000. 1999. Ahmad.wikipedia.com/ tanggal 25 Oktober 2008 Tanpa Penulis. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Wahbah. Nasaruddin. dalam Jurnal A1-Jami‘ah. 1999. http://www. Metode Penelitian Berprespektif Jender tentang Literatur Islam. Beirut: Dar el-Fikr .Syahrur. 1990. 64. No. Ibnu Katsir. Abdullah bin Abbas. Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu.wordpress. 1992. Damaskus: Penerbit Ahali Tanpa Pengarang.alsofwah. Relasi Jender dalam al-Qur'an Menurut Pandangan Para Mufassir.id/ Tim Wikipedia Indonesia. Artikel diakses dari situs http://nothingman2run. Malang: LEMLIT Universitas Negeri Malang Umar. Beirut: Dar el-Fikr Wahbah. Al-Kitab wa al-Qur'an. dkk. Biografi Syeikh Ath-Thabari. 2000. At-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asySyari'ah wa al-Manhaj. Artikel diakses dari situs http://id. or. Az-Zuhaili.

strategi. Diperlukan sosialisasi untuk aparat terkait maupun edukasi untuk masyarakat. Kata-kata kunci: Undang-undang. Namun upaya komunikasi. Penelitian 3 tahap dilakukan dengan fokus peran lembaga dan kasus-kasus KDRT yang muncul dan bagaimana penylesaiannya di tiap lembaga. Apalagi aparat di tingkat grass roosts dan masyarakat banyak yang belum tahu substansi UU PKDRT. edukasi dan sosialisasi undang-undang tersebut masih minim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengadilan agama menangani kasus secara perdata.Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Abstrak: Undang-undang Republik Indonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT) disahkan dan diundangkan pada 22 September 2004. BP-4 lebih berperan sebagai lembaga konseling sebelum kasus masuk di PA dan Unit PPA Kepolisian dalam lembaga andalan penegak UU PKDRT. sosialisasi. faktor pendukung dan penghambatnya. diharapkan bisa berperan sebagai usaha preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT. KDRT. edukasi Siti Malikhah Towaf adalah dosen Jurusan Sejarah FS Universitas Negeri Malang . bahkan ditingkat aparat penegak hukum belum termotivasi untuk memahami substansi penting dari UU PKDRT. informasi. Namun hukuman yang diputuskan PN untuk pelaku masih belum mencerminkan rasa keadilan.

Kekerasan dan tindakan agresif biasanya berlanjut. Kemiskinan. sekelompok kecil anggota masyarakat berada pada level "menengah keatas" diuntungkan oleh struktur sosial itu dan sebagian besar anggota masyarakat lainnya "harus bertahan' dalam situasi kemiskinan (Katjasungkana. Perempuan dianggap lebih lemah. penganiayaan bahkan pembunuhan. pada umumnya korban adalah . akibatnya lapisan bawah tergantung pada lapisan atas. Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) semakin meningkat. Krisis rumah tangga. sehingga ditempatkan dalam posisi subordinate/pelengkap (Fakih. Ketika budaya masyarakat cenderung patriarkhis maka budaya tersebut juga akan mewarnai kehidupan keluarga dalam bentuk hubungan asimetri. vertikal antara laki-laki dan perempuan sebagai suami-isteri maupun anggota keluarga. Jika terjadi kekerasan dalam keluarga maka akan muncul ancaman bagi keutuhan keluarga dan kesejahteraan anggota-anggotanya. gampang memicu pertengkaran. dimana lapisan atas mempunyai kesempatan ―melakukan segala sesuatu‖ untuk menentukan dan mengatur kelompok manusia yang berada di lapisan bawah. subordinasi. karena kesempatan mengambil keputusan berada pada lapisan atas (Astuti. Kehidupan yang semakin berat menimbulkan berbagai krisis dalam masyarakat. anak-anak yang menyaksikan akan menjadi generasi penerus kekerasan jika mereka berkeluarga kelak. stereotipi/pelabelan negatif sampai berbagai bentuk kekerasan dalam keluarga yang disebut juga gender related violence. ketika letupan psikologis tidak terkendali dan meluap keluar dalam bentuk kekerasan atau tindakan agresif yaitu tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. Perubahan sosial dan ketimpangan struktur sosial telah memunculkan kesenjangan sosial. Kehidupan keluarga banyak yang masih jauh dari sejahtera baik lahir maupun batin. 2002:24). manusia mempunyai potensi untuk melakukan kekerasan.Menurut Fakih (1996) kekerasan adalah serangan atau invasi terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. atas dan bawah. Sebagai individu maupun anggota masyarakat. Pola hubungan asimetris ini melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan gender seperti marginalisasi. Dalam pola relasi vertikal. jika terjadi dalam dalam keluarga maka ada kecenderungan anggota keluarga yang lain. pengangguran memicu berbagai kriminalitas. hirarkis. tidak mampu berperan sebagaimana laki-laki. 2003:5). 2003).

2A02 ada 5. yaitu berbagai kantor pemerintah lokasi penelitian.391. Undang-undang Republik lndonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) diundangkan pada 22 September 2004. apa yang terjadi pada perempuan? Mengapa semuanya itu terjadi? dan bagaimana kita dapat mengubah dan memperbaiki dunia sosial untuk membuatnya menjadi tempat yang lebih adil bagi perempuan dan semua orang? Undang-undang adalah kebijakan publik yang berfungsi untuk mengubah masyarakat/social engineering. 2007). psikologi. hasil penelitian ini mendukung hal tersebut. 3. 2004:1 & UURI no. Hasil penelitian akan bermanfaat bagi kepentingan teoritis keilmuan di bidang Sosiologi. 2006 ada 22. 801 kekerasan fisik.020. tahun 2003 ada 7. 872 kekerasan seksual dan 590 kekerasan psikis (Wartawan kompas. Hasil penelitian ini juga memiliki manfaat praktis. karena mereka terutama lurah adalah ujung tombak untuk menangani kasus-kasus KDRT (Towaf. kasus-kasus yang terjadi dan penyelesaiannya serta factor pendukung dan penghambatnya. Kepala unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Malang sangat mengharapkan ada program sosialisasi kepada para Lurah/Camat di wilayahnya.2004 ada 14.PKDRT.165. kebijakan public dan pelaksanaan Undang-undang. Perlindungan anak. dan masyarakat.perempuan dan anak-anak biasanya tidak tahu harus berbuat apa (UU RI no.513. Dari segi bentuk kekerasan. namun upaya sosialisasi & edukasi undang-undang tersebut masih minim.2005 ada 20. mencermati kinerja lembaga yang menangani kasus konflik keluarga. Dari data-data tersebut lalu muncul pertanyaan krusial yang sering beredar di kalangan teoritisi feminis (Lengerman & Brantley.659 kasus.23. 2007:405). Penelitian tahap I/2008 fokus pada eksplorasi kinerja kebijakan. 1.787. tidak tahu bahwa penelantaran ekonomi termasuk dalam kekerasan dalam rumah tangga (Wartawan Kompas.23. apalagi aparat di tingkat grass roots seperti aparat kepala desa dan stafnya. 2007). Aparat terkait kurang faham. 2002). lembaga pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi. Harapan tersebut akan terpenuhi pada penelitian tahap II/2009 fokus pada pengembangan . dari 7.163. Catatan tahunan 2007 Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap perempuan menunjukkan kenaikan jumlah kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP): tahun 2001 ada 3. 2005).099 kekerasan ekonomi. diharapkan bisa berperan preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT.

Penelitian Tahap III fokus pada pengembangan strategi edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat. Pendekatan kualitatif multikasus dan multiksitus (Yin. NK & Lincoln. METODE Rancangan dan Pendekatan Penelitian Rancangan penelitian ini adalah penelitian kebijakan (Dunn. 1994:21) kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi undang-undang PKDRT. Dalam penelitian ini penggabungan pendekatan kuantitatif bersifat komplementer/untuk melengkapi pendekatan kualitatif yang lebih dominan (Branen. Creswell. 1993:73) digunakan untuk menggali data secara lebih mendalam terhadap kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dan faktor-faktor penyebabnya di setiap lokasi penelitian terkait dengan peran perempuan dan wawasan kesetaraan gender dalam keluarga. Perolehan data kuantitatif dapat memberi landasan (Branen. Pendekatan kualitatif juga digunakan untuk eksplorasi (Creswell. sehingga wawasan mereka bertambah dan mengetahui apa yang harus dilakukan jika kasus KDRT terjadi di wilayahnya. Kompleksitas dan permasalahan kehidupan keluarga terutama perempuan dalam konteks apapun cukup besar dan memerlukan berbagai pendekatan dalam penelitian kualitatif (Denzin. 200) dan pengembangan yang menggabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.1994:173--190). 1997:22.strategi sosialisasi UU PKDRT kepada aparat terkait. Mereka adalah ujung tombak untuk optimalisasi kinerja UU PKDRT. 1994:163). 1997:43) atau base line data bagi pendalaman kasus. . 2004 & Sevilla. terutama pada tingkat lurah dan bisa juga nantinya kepada aparat yang lain. Pendekatan kuantitatif yang dilakukan dengan mengumpulkan data statistik tentang kasus-kasus KDRT dan faktor penyebabnya. bagi aparat sasaran maupun berbagai kelompok masyarakat.

Setelah anjangsana pertama untuk perkenalan dan menyampaikan maksud kedatangan. Demikian juga peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data dan analisis data penelitian. tersangka lokasi. Kantor Badan Penasehatan. wawancara kajian dokumen. khususnya Kantor Pengadilan Agama (PA) Kota dan Kabupaten Malang. aparat korban. kaj dok. dan unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Kota dan Kabupaten Malang.73. penghambat Sumber data Lokasi. Sebagai upaya melacak kasus yang diberkas P21 dan diajukan untuk diadili. Pembinaan. Disamping itu dilakukan juga observasi dan wawancara informal untuk mengawali pengumpuian data kualitatif (Glesne & Peshkin. wawancara.kasus KDRT Faktor penyebab Penyelesaian kasus KDRT Pendukung. dok. 1992:6). dilakukan kunjungan berikutnya dalam rangka pengumpulan data kuantitatif. wawancara kajian dokumen. diskusi Lokasi Penelitian dan Kehadiran Peneliti Ruang lingkup Lokasi penelitian adalah Kota dan Kabupaten Malang. wawancara kajian dokumen. peneliti juga mendatangi kantor Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang sebagai lokasi pelengkap. aparat dokumen. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian dilakukan baik untuk pengumpulan data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. aparat Metode/Teknik Observasi. . Pelestarian Perkawinan (BP-4) Departemen Agama. Sesuai dengan rancangan penelitian kualitatif multikasus dan multisitus maka penelitian mendalam dilakukan terhadap setiap lokasi (Sevilla. Bell.Ruang Lingkup Khusus untuk Tahun I/2008 Eksplorasi Kinerja UU PKDRT Luaran/output Profil dan peran lembaga Kasus. 1993. wawancara observasi. Aparat dokumen. 1992).aparat dokumen.wawancara kajian dokumen. Kunjungan ke lokasi penelitian dilakukan beberapa kali sesuai dengan pengumpulan data yang dibutuhkan. Tim peneliti mengunjungi 6 lokasi tersebut dan mengumpulkan data untuk menjawab semua pertanyaan penelitian yang ditetapkan.

serta buku Undang-undang tentang KDRT 3. unit PPA Kepolisian Kota dan Kabupaten ditambah Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang. sebagai langkah awal pemantapan landasan teoritis dan operasionalisasi penelitian (Bell. Telaah buku/literatur yang berkaitan kajian sosiologi tentang kekerasan dan kekerasan dalam rumah tangga. Pejabat dan staf terkait dari kantor unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang. 1980:52). kasus-kasus KDRT dan penyelesaiannya.Sumber Data dan Informan Kunci 1. dan bagaimana penyelesaian kasus-kasus tersebut (Sevilla. dilakukan needs assessment awal untuk pengembangan strategi sosialisasi dan edukasi untuk aparat dan masyarakat (Pratt. Gender dalam perspektif Islam. 4. 2. segala aktifitas dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. BP-4 Depag Kota dan Kabupaten. digali . Wawancara informal dan mendalam dilakukan kepada informan kunci yang dijaring dengan menggunakan tehnik purposive. bagaimana perasaan tersangka maupun korban. Telaah dokumen dilakukan untuk memperoleh informasi tentang profil lokasi. Teknik Pengumpulan Data 1. 1992:53--58). literature ataupun hasil penelitian terkait kasus-kasus KDRT. Pejabat dan staf terkait dari kantor Pengadilan Agama di Kota dan Kabupaten Malang. dokumen UU PKDRT. 4. 3. Kota dan Kabupaten Malang. Pejabat dan staf terkait dari kantor BP-4 Depag. Lokasi penelitian yaitu 6 kantor: Pengadilan Agama kota dan Kabupaten. 2. UU PKDRT no 23 tahun 2004 dan berbagai aturan/dokumen mendukungnya dari berbagai kantor terkait. ketimpangan gender yang bisa memicu munculnya kasus KDRT. Observasi dilakukan di 6 lokasi untuk memperoleh gambaran prosedur penanganan kasus-kasus keluarga dan khususnya kasus KDRT di masing-masing lokasi. 5. 1993:85). Dokumen tentang berbagai kasus KDRT.

pengelompokan kasus yang relevan. Wawancara informal dilakukan berkaitan dengan upaya menjaring data tentang faktor-faktor penyebab kasus KDRT. 1993:85. 3. sarana dan prasarananya dalam menangani kasus-kasus KDRT (Sevilla. faktor penghambat. Data dari observasi dianalisis secara diskriptif dan berfungsi sebagai sumber informasi tentang profil kelembagaan. 2. apa pendukung dan penghambatnya.informasi tentang kinerja kebijakan. Analisis Data 1. 1990). Keabsahan data kualitatif dilakukan dengan proses trianggulasi antara data yang dijaring lewat telaah literatur. kinerja/ implementasi UU PKDRT. Moleong. Muhajir. 1996). Kecukupan referensi dapat digunakan untuk membandingkan data yang diperoleh dengan berbagai kritik tertulis yang terkumpul. Data tersebut dianalisis secara deskriptif komparatif/dibandingkan dikelompokkan menurut variasi jawaban kemudian dibuat rangkuman (Gibbon & Morris. Keabsahan data kuantitatif yang dijaga dengan kecermatan penghitungan kasus KDRT yang terjadi di setiap lokasi. faktorfaktor penyebab terjadinya kasus dan bagaimana UU PKDRT difungsikan untuk mengatasinya. kasus apa yang terjadi. 1990:135--152). Keabsahan Data 1. 3. 1984. pendukungnya. 2. dokumen dengan data yang diperoleh lewat wawancara informal maupun lewat diskusi. sehingga peneliti bisa memperoleh gambaran yang lebih mantap tentang perolehan data penelitian. bagaimana kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi agar UU PKDRT lebih difahami (Moleong. Data dari telaah literature dan dokumen dianalisis secara induktifkomparatif dihasilkan komponen-komponen untuk menjawab pertanyaan penelitian (Miles & Hubberman. kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi. 1987:17--24). .

HASIL Profil & Peran Kelembagaan Lembaga yang terkait UU PKDRT adalah Pengadilan Agama. Disini jelas bahwa kinerja lembaga sangat dibatasi oleh status lembaga sebagai pengadilan perdata yang tidak akan membawa kasus sampai ke perkara pidana. Peran kelembagaan PA sebagai pengadilan perdata telah berdampak pada lemahnya perhatian aparat PA terhadap UU PKDRT karena dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka tidak menggunakannya sebagai landasan kerja (wawancara dg staf dan hakim PA 22/7/08). namun kasus-kasus tersebut ditangani secara perdata dengan penyelesaian cerai/rujuk. 1990:I70--187. Selain itu juga dilakukan review dengan teman sejawat yaitu antara peneliti dengan tehnisi yang terlibat dalam proses pengumpulan data dalam rangka mencermati keabsahan data (Moleong. . wawancara staf & ketua pengadilan).4. kekejaman mental. tidak ada tanggung jawab. yang paling dominan adalah kasus kekerasan psikis dan ekonomi. Jumlah kasus yang ditangani PA Kota Malang tahun 2006 s/d Agustus 2008 adalah 2789 kasus. Denzin. Ribuan kasus ditangani oleh PA Kabupaten Malang dan ratusan kasus ditangani oleh PA Kota Malang setiap tahun. yang menangani kasus dan konflik yang terjadi dalam keluarga dengan muatan berbagai bentuk kekerasan ada di dalamnya. pologami tak sehat dll. yang sering penyebab konflik dalam rumah tangga bersifat multifactor. Hal tersebut terjadi karena secara kelembagaan PA masih sebagai pengadilan perdata. Sementara itu jumlah kasus yang di tangani PA Kabupaten jauh lebih banyak lagi yaitu pada tahun ada 7192 kasus. Ada kemungkinan di masa depan PA juga berfungsi sebagai Pengadilan Pidana. Pengadilan Agama merinci factor penyebab mencapai 14 kategori seperti: krisis moral. seberat apapun kasus KDRT yang ditangani. penelantaran ekonomi. 1994:241). Oleh karena itu peran PA dalam penanganan kasus KDRT masih dalam lingkup perdata yang berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (Dok PA. penganiayaan berat. namun sekarang masih pada tataran wacana di tingkat pusat (wawancara Ketua PA Kota 26/9/08).

Landasan kerjanya juga senada dengan PA yaitu ajaran agama Islam dan hukum Islam. Kasus-kasus yang ditangani banyak yang berlanjut ke Pengadilan Agama menuju perceraian. adalah Badan Penasehatan. Oleh karena itu peran BP-4 hanya pada tahap konseling. Rincian jumlah kasus dipaparkan pada Tabel 1. Staf BP-4 juga menyatakan bahwa tidak ada sosialisasi langsung tentang UU PKDRT terhadap mereka. mereka mengetahui UU PKDRT justru dari interaksi dengan orang lain termasuk peneliti.Penyelesaian akhir kebanyakan adalah perceraian dan hanya sedikit kasus yang berakhir rujuk. BP-4 tidak berpihak kepada perceraian tetapi berpihak pada pelestarian perkawinan. Jumlah . pembinaan dan Pelestarian Perkawinan. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departeman Agama. semula sebagai singkatan Badan Penasehatan Perkawinan dan Perselisihan Perceraian menjadi Badan Penasehatan. Kasus-kasus yang ditangani BP-4 Kota pada 3 tahun terakhir berjumlah 183 dengan Di BP-4 Kabupaten Malang ada 43 kasus. Mereka hanya sekali tempo menggunakan informasi dari UU PKDRT untuk kepentingan konseling dengan klien yang mereka tangani. tidak pernah sampai ke implementasi UU PKDRT sebagai instrument pidana bagi pelaku KDRT. Telah terjadi perubahan paradigma BP-4 yang tercermin dari kepanjangan akronim BP-4. lebih berperan dalam memberi kosultasi/kepenasehatan terhadap kliennya. Tabel 1 Kasus KDRT di Pengadilan Agama Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kota Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 9 31 Kekerasan psikis 326 618 267 Kekerasan seksual 15 21 49 Kekerasan ekonomi 430 449 497 Jumlah 788 1097 844 Sumber Dokumen di PA Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kabupaten 2005 8 1472 65 2423 3960 2006 16 1436 158 2316 3926 2007 15 1448 231 2438 4132 2008 55 865 147 1594 2664 Lembaga lain yang terkait dengan kinerja/implementasi UU PKDRT yang menjadi lokasi penelitian.

Faktor penyebab konflik rumah tangga antara lain: ketidak cocokan. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung. . perselingkuhan. Melacak Kinerja/Implementasi UU PKDRT oleh Unit PPA Kepolisian Lembaga yang tanggap paling awal dengan diundangkannya UU PKDRT adalah kepolisian karena disebut secara eksplisit oleh UU PKDRT. Tabel 2 Kasus KDRT di BP-4 Kota dan Kabupaten Malang BP-4 Kota BP-4 Kabupaten 2008 3 5 8 Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 Kekerasan fisik 2 8 12 5 4 2 Kekerasan psikis 23 22 30 23 5 10 Kekerasan seksual 1 4 7 10 5 8 Kekerasan Ekonomi 7 22 13 27 1 Jumlah 33 56 62 65 15 20 Sumber Dokumen di BP-4 Departemen Agama Kota dan Kabupaten Malang. masalah ekonomi. Sementara BP-4 Kota Malang menerima semua klien yang datang tanpa membedakan PNS atau bukan. kemudian mulai ada kerja sama dengan lembaga terkait seperti Bagian Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten Malang. Untuk kasus-kasus berat yang tidak bisa didamaikan dirujuk ke Pengadilan agama menuju perceraian. Pada awalnya unit PPA ibarat lone ranger yang berjuang sendiri untuk kinerja/implementasi UU PKDRT. dikembangkan RPK (Ruang Pelayanan Khusus) menjadi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak. Dinas sosial dan LSM. Rincian kasus disajikan di Table 2. Oleh karena itu secara kelembagaan unit PPA adalah andalan utama dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. karena sudah ada kerjasama yang baik dengan Rumah Sakit Kanjuruhan yang membuka Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) sejak tahun 2005 untuk memberi pengobatan dan rawat inap gratis selama 3 hari bagi korban KDRT. Unit PPA sekarang menjadi tempat pengaduan masyarakat yang mengalami kasus KDRT.kasus di kabupaten relative justru lebih sedikit karena BP-4 Kabupaten lebih memprioritaskan PNS yang sudah membawa surat pengantar dari Badan Pengawas Pemerintah Daerah. Rumah sakit.

Titian Hati. namun kadang-kadang bisa muncul/termuat di koran karena kegigihan/kecerobohan wartawan. (3) Pendampingan. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang telah punya kerja sama yang baik dengan PPT Rumah Sakit Kanjuruhan yang menggratiskan visum dan rawat inap bagi korban KDRT selama 3 hari. penelantaran ekonomi. Dll. Dari sekian banyak kasus yang dominan di Unit PPA Kota maupun Kabupaten adalah kekerasan fisik dan seksual.. Tabel 3 Kasus KDRT di PPA Kepolisian Resort Kota dan Kabupaten Malang PPA Kota Malang PPA Kabupaten Malang Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 51 60 60 19 53 87 32 Kekerasan psikis 3 1 16 16 19 9 22 25 Kekerasan seksual 4 17 15 15 51 26 65 18 Kekerasan ekonomi 2 2 2 6 10 36 34 Jumlah 24 71 93 97 85 98 210 109 Sumber Dokumen di Unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang Kasus-kasus KDRT tersebut muncul dengan berbagai penyebab kecemburuan. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang selama 4 tahun terakhir ada 502 kasus. persetubuhan dengan anak. Layanan kesehatan ini belum dipenuhi secara optimal. korban dirujuk ke Women Crisis Center yang ada di Malang seperti WCC Dian Mutiara. perselingkuhan. perzinaan. Rincian kasus disajikan pada Tabel 3. perkosaan. diberikan pelayanan medis gratis. (2) Kerahasiaan Korban. adik ipar sendiri ataupun dengan remaja tidak berdaya (kasus perstubuhan dengan remaja cacat bisu-tuli). Hak-hak korban dan bentuk pemenuhannya: (1) Perlindungan: korban diberi perlindungan keamanan 1x24 jam di Polres Kota Malang.Jumlah kasus yang ditangani selama 4 tahun terakhir adalah 285 kasus di unit PPA Kota Malang. untuk sementara korban di PPA Kota Malang dirujuk ke RSSA Malang. ketidak puasan. dijamin dan sudah dipenuhi. mendapat perlindungan hukum dari yang berwewenang dan pelayanan kesehatan. tetapi untuk rawat inap dan visum dokter dalam kasus tertentu belum bisa digratiskan oleh pihak rumah sakit. Jika perlu didampingi . keterlibatan fihak ketiga.

Saksi pendamping biasanya mendapat perlindungan dari kepolisian. dan (5) Perlindungan (pendamping. Kesadaran hukum masyarakat masih rendah. (3) Sistem mekanisme layanan (kerjasama) yang mudah di akses korban yaitu dengan Women Crisis Center. lebih banyak konseling psikologis belum mengarah pada bimbingan keagamaan. siapa mereka dan bagaimana peran mereka. dan (4) Bimbingan Rohani. unit PPA. termasuk kesadaran hukum masyarakat dalam: (1) Mencegah tindak pidana. teman korban). yang disediakan bagi msayarakat yang tertimpa kasus KDRT adalah: (1) Ruang layanan yang cukup mamadai. Demikian juga aparat di tingkat grass roots seperti Lurah dan perangkat desa banyak yang tidak tahu undang-undang PKDRT dan prosedur pelaporan ketika terjadi kasus di wilayahnya. (2) Dalam wktu 1x24 jam perlindungan perlu minta surat penetapan perlindungan pengadilan. keluarga. Kewajiban pemerintah terutama lembaga Unit PPA. (4) Dalam menjelaskan hak-hak korban. Perlindungan masih dilakukan oleh petugas kepolisian. (4) Mekanisme Layanan Standar Kepolisian Unit PPA seperti yang sudah dijelaskan diatas. (3) Kerjasama polisi dengan berbagai fihak untuk perlindungan. Ketua RT dan Ketua RW. (3) Memberi pertolongan darurat: yang paling awal adalah orang-orang di lingkungan terdekat terjadinya kasus-kasus. ada harapan nantinya diwujudkan Pusat Pelayanan terpadu (PP) namun belum maksimal. sosial.oleh penasehat hukum. belum dapat maksimum karena hanya sebatas memberi nasehat dan melerai agar tidak terjadi kekerasan lebih parah. di lingkungan tempat tinggal misalnya tetangga. saksi. biasanya pendamping korban dari keluarga atau WCC yang dirujuk (di rujuk PPA). paling lama 7 hari korban memperoleh perlindungan keamanan oleh PPA. kesehatan. ataupun rohani samapai saat ini mencukupi sesuai dengan kebutuhan. Kerjasama dengan WCC dari psikolog dari UIN Malang. dengan cara sosialisasi di lingkungan masyarakat. (2) Memberi perlindungan. (2) Ketersediaan aparat. Peran Masyarakat. Pemahaman tentang Undang-Undang masih sangat lemah. Peran masyarakat masih kurang. dari masyarakat masih kurang. Perlindungan yang dilakukan oleh unit PPA Kepolisian Kota maupun Kabupaten Malang dengan prosedur: (1) Dalam waktu 1x24 jam sejak laporan. dan (4) Membantu proses penetapan perlindungan sudah menjadi bagian dari proses penanganan kasus KDRT hanya saja dalam hal perlindungan peran PPA masih kurang. .

Ketentuan pidana menurut UU PKDRT: (1) Fisik. (2) Psikis. penangkapan pelaku dapat dilakukan tanpa surat perintah jika sudah diyakini sebagai pelaku. (3) Untuk kasus seksual maka penanganannya adalah kerjasama staf unit PPA dengan RSSA. dengan tuntutan maksimum 3th/atau denda 9jt. ringan = 4bl/dan denda 5jt. untuk penyidikan. yang sering terjadi korban dititipkan ke kerabat yang dipercaya untuk menjaga jarak dari pelaku/tersangka. Layanan advocate di PPA Kota Malang. paling lama perlindungan 1 tahun bisa diperpanjang sesuai kebutuhan juga belum pernah terjadi. ringan= tuntutan 4bl/dan denda 3jt. (6) Pekerja sosial dan layanan konseling. luka berat = 10th/dan denda 30jt. dengan tuntutan 12th/dan denda 56jt. yang dilakukan secara terpadu oleh kepolisian dan Dinas Kesehatan. (8) Laporan oleh korban. Pemulihan korban: jika kasus KDRT: (1) Fisik yang menangani adalah RSSA atau di PPT Rumak sakit Kanjuruhan. penyelidikan: penyidik atau petugas PPA yang menjelaskan kepada korban. Rumah aman belum ada. Bila ternyata korban mencabut laporan. tidak ada penangguhan penahanan. (3) Seksual. masalah selesai secara kekeluargaan maka penahanan ditangguhkan. sementara dicari rumah kos yang aman. mati = 15th/dan denda 45jt. pemulihan korban dilakukan secara terpadu oleh staf PPA dan Dinas Sosial. (7) Layanan pendamping untuk penyidikan dan penuntutan belum ada. jika kasus berat kerja sama staf PPA dengan Psikolog dan Rumah Sakit Jiwa secara terpadu. (5) Pemeriksaan kesehatan. pemulihan korban agak sulit ditangani karena menyangkut kemampuan ekonomi keluarga yang mengalami kasus KDRT. atau korban memberi kuasa orang lain/kepolisian.belum pernah terjadi. (10) Dalam waktu 1x24 jam.identitas petugas. penuntutan pemeriksaan persidangan. (9) Permohonan perlindungan bisa tertulis/lesan. (2) Jika kasus KDRT Psikis yang menangani adalah staf unit PPA. dan (11) Pelanggaran terhadap perintah perlindungan oleh pelaku belum pernah terjadi. memaksa orang dalam rumah tangga melakukan hubungan seksual . dalam 7 hari ketua pengadilan wajib mengeluarkan surat penetapan perlindungan. tempat tinggal alternative: kerja sama WCC Dian Mutiara dan Titian Hati. dengan tuntutan hukuman maksimum: 5th/dan denda 15jt. ada 1 orang. dan (4) Untuk kasus bidang ekonomi ada kasus. visum ke RSSA Malang atau Rumah Sakit Kanjuruhan. Untuk kasus penelantaran.

Untuk Penyelesaian kasus-kasus KDRT.dituntut hukuman 15 th/dan denda 4--15jt. diadili di Pengadilan Negeri. ada 9 kasus (tahun 2007) dan 2 kasus (tahun 2008) yang masuk kategori P21 dan diberkas ke Kejaksaan. Sampai saat ini diantara kasus KDRT yang ditangani unit PPA Polresta Malang. staf kejaksaan sendiri belum sensitive terhadap UU PKDRT. Pengadilan Negeri yang menetapkan hukuman berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Penelantaran bisa juga pengabaian kewajiban ataupun menciptakan ketergantungan ekonomi pada pelaku. 5 bulan 7 dan 1 kasus perkosaan yang diputus hukuman 7 tahun. Bagaimanakah ketentuan tersebut dalam praktek? Lembaga lain sebagai partner Unit PPA dalam penegakan hukum dan implementasi UU PKDRT adalah Kejaksaan dan Pengadilan Negeri. Di berbagai tingkat. masih banyak juga sikap-sikap negatifnya (Irianto & Nurcahyo. tahun 2006 ada 8 kasus yang telah diputus hukumannya oleh Pengadilan Negeri. demikian juga Pengadilan Negeri dalam mengadili kasus KDRT masih mengacu pada KUHP. jika korban mengalami gangguan fisik dan kejiwaan. Adapun 6 kasus lainnya dengan modus berbagai kekerasan fisik dituntut hukuman bervariasi antara 4 bulan sampai 10 bulan yeng kemudian diputus hukuman 2 bulan 15 hari sampai 9 bulan. dan (4) Penelantaran: pelaku dituntut hukuman 3th/15jt. Kasus yang muncul pada tahun 2008 masih dalam proses pengadilan (Dokumen Pengadilan Negeri Kota Malang). 4 bulan. Dari kasus-kasus tersebut ada 1 kasus dengan terdakwa WY dengan modus memperkosa korban berulang kali dituntut hukuman 5 tahun dan diputus hukuman 4 tahun. 1 kasus dengan terdakwa SS dengan modus menusuk korban sehingga luka berat dituntut hukuman 2 tahun 6 bulan dan diputus hukuman 2 tahun. Hal tersebut sejalan dengan sejalan dengan temuan para aktifis hukum bahwa untuk menegakkan hukum yang berperspektif perempuan kesulitan awal adalah pada sumber daya manusia. para penegak hukum yang berperspektif perempuan masih kurang. . Ada 5 kasus yang telah diputus dengan variasi hukuman: 2 bulan 15 hari. Aparat Polisi. keguguran dan rusak alat reproduksi pelaku dituntut 5--20th/dan denda 25-100jt. Jaksa Penuntut Umum dan Hakim dalam menangani kasus. Namun dari informasi yang diperoleh. 2006: 211--223). disamping bersikap positif. Di Kabupaten Malang.

pemeriksaan mengikuti ketentuan hukum secara pidana yang berlaku. Ada 1 kasus dengan modus perkosaan dituntut 5 tahun yang kemudian diputus 3 tahun 6 bulan. Dari penyelesaian kasus yang masuk kategori P21 dan diproses di Pengadilan Negeri memperoleh putusan yang bervariasi. Dapat diaktakan jika para penegak hukum sendiri masih belum sensitive dengan peradilan yang berkeadilan gender dan masih dalam proses mengenal dan memahami UU PKDRT. kasus yang dijatuhi hukuman dalam hitungan tahun adalah kasus perkosaan. alat bukti sah . Pada tahun 2008 s/d bulan Juni ada 6 kasus dengan modus berbagai bentuk kekerasan fisik yang cukup parah dengan tuntutan hukuman 3--5 bulan dan diputus hukuman antara 2 bulan 4 hari s/d 4 bulan. tetapi yang jelas memang kasuskasus KDRT setelah masuk di Pengadilan Negeri diadili dengan KUHP. hanya pasal 44 ayat 4 dan pasal 45 ayat 2. selebihnya bukan delik aduan. Dari Ketua unit PPA Kota Malang muncul komentar bahwa proses pengadilan memang ada unsur legal reasoning yang menjadi pertimbangan pemutusan hukuman. Nah. Dari penelitian ini diperoleh kesan bahwa selama 3-4 tahun kinerja/implementasi UU PKDRT yang diundangkan pada tahun 2004 itu masih dalam tahap pengenalan. Sedangkan kasus dalam berbagai bentuk kekerasan fisik hanya diputus hukuman dalam hitungan bulan saja.Tahun 2007 ada 8 kasus yang sudah diputus hukumannya dengan modus operandi berbagai bentuk kekerasan fisik. tuntutan hukuman 4 bulan s/d 1 tahun 6 bulan. belum sepenuhnya dipakai sebagai landasan penyelesaian kasus hukum. jika kasus-kasus diberkas oleh kepolisian dengan UU PKDRT tetapi dalam proses di Pengadilan Negeri lebih berdasarkan KUHP lalu untuk apa UU PKDRT? Untuk menjawabnya diperlukan penelitian lebih lanjut. tetapi hukuman yang dijatuhkan gletek saja dalam hitungan bulan. penuntutan. tidak sepadan dengan proses pemberkasan yang memerlukan kerja keras menyiapkan perlengkapan yang terdiri dari 25 s/d 30 an surat-surat. kendala yang dihadapi adalah saksi KDRT biasanya 1orang sedangkan di KUHP. Ketika hal ini di cross cek ke staf kepolisian unit PPA Kabupaten Malang muncul komentar bahwa putusan tersebut sungguh mengusik rasa keadilan. dan akhirnya kasus-kasus tersebut diputus hukuman terendah 3 bulan 13 hari dan tertinggi hanya satu kasus diputus hukuman 1 tahun 6 bulan sebagaimana tuntutannya. Ketentuan lain (1) Penyidikan. Menurut UU PKDRT tindak pidana KDRT adalah delik aduan.

peralatan dan ketenagaan yang memadai. Untuk kasus penganiayaan berat. Faktor penghambat utama bagi Pengadilan Agama (PA) dalam optimalisasi kinerja/implementasi UU PKDRT adalah status . Kepala PA yang baru merasa sudah saatnya kantor PA Kota Malang direnovasi. penanganan kasus secara pidana merujuk KUHP. maka semakin kuat saja dorongan untuk munculnya tindak kekerasan. tapi dicabut oleh fihak pelapor. dibangun ruang tambahan yang lebih luas untuk kepentingan peningkatan kinerja. diancam. 2002) Ada saatnya penyebab perilaku yang bersifat internal dengan eksternal bergabung. Sementara faktor internal bisa amarah. Dalam hal ini pihak unit PPA menyayangkan terjadinya kasus penganiayaan berat yang layak diproes di Pengadilan Negeri. 4/9/08). jika tersangka tidak mengaku maka diperlukan saksi ke-2. dan memadai. termasuk perlunya membangun Musolla yang lebih layak. kurangnya peran serta masyarakat dan lembaga yang terkait. Berbagai penyebab munculnya kasus KDRT di lembaga lokasi penelitian tersebut sejalan dengan analisis KDRT sebagai fenomena sosiologis dan psikologis. Faktor eksternal seperti kondisi geografis. kesejangan generasibahkan anonimitas dlam masyarakat perkotaan. Belum. merasa dihina. serta kurangnya sarana dan prasarana du unit PPA. BAHASAN Faktor Pendukung dan Penghambat Pengadilan Agama Kota maupun Kabupaten Malang memiliki gedung. sarana.jika ada 2 saksi. KUHAP seperti sebelum ada UU PKDRT. sebagai kasus kriminal sangat disayangkan jika ditangani berdasarkan delik aduan. kemiskinan. (2) UU PKDRT berlaku sejak 22 September 2004. Hanya saja kantor PA Kota Malang merupakan bangunan yang sudah lama. Kekerasan adalah wujud perilaku agresif yang pemicunya bisa bersifat eksternal maupun internal. lingkungan social. Muncul wacana yang menyatakan bahwa delik aduan pada UU PKDRT pantas direvisi (Wawancara staf Pengadilan Negeri. atau frustasi karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dsb (Rahayu. jadi jaksa minta saksi lagi. rasa tidak suka. Apakah seorang saksi korban cukup untuk menyatakan bersalah jika disertai bukti lain.

psikiater. Penanganan kasus sudah dilakukan dengan baik. hasil observasi peneliti juga menunjukkan bahwa Ketua BP-4 dan staf cukup welcome terhadap klien. psikolog. ketenagaan dan peralatan kantor termasuk computer yang siap digunakan.00. Penyelesaian kasuskasus yang ditangani hanya diputus cerai atau damai. Kasus pada umumnya disebabkan faktor utama ekonomi dan perbedaan latar . kasus sudah berat sehingga tujuannya ke perceraian. Layanan kepenasehatan dilakukan setiap hari pada jam kerja Senin sampai Jumat jam 08. tidak hanya soal kelembagaan dan pemahaman aparat terhadap undangundang tetapi juga perlunya budaya peradilan yang berperspektif perempuan dan sensitive gender (Irianto & Nurcahyo. Secara kelembagaan di PA sudah mulai muncul wacana di tingkat pusat untuk memfungsikan PA tidak hanya sebagai pengadilan perdata tetapi juga sebagai pengadilan pidana di masa mendatang (wawancara Ketua PA. tidak ada sosialisasi tentang UU PKDRT ke aparat PA karena rujukan kerja mereka bukan itu. Faktor Penghambat kinerja BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah klien yang datang pada umumnya sudah parah kasusnya. sehingga sulit diarahkan ke rujuk atau damai. Kasus yang dibawa ke BP-4 Kota berasal dari masyarakat umum baik PNS atau non PNS.kelembagaan sebagai lembaga pengadilan perdata. Oleh karena itu masih perlu jalan panjang jika bangsa ini memerlukan PA untuk ikut serta menerapkan UU PKDRT. mubaligh. bahkan ketua BP-4 bersedia melakukan konsultasi di ruang kerja. konselor atau BP. (wawancara Pansek PA/16/9/08). Dalam proses kepenasehatan BP-4 melibatkan para volunteer yang terdiri dari ulama. Tetapi BP-4 Kabupaten khusus melayani PNS yang sudah diberi pengatar oleh Badan Pengawas Pemerintah Daerah. Sepanjang informasi yang diperoleh peneliti. tidak sampai ke putusan pidana. klien tampaknya lebih senang konsultasi langsung di ruang ketua BP-4 (wawancara staf BP-4 Depag 22/7/08). ada ruang khusus untuk kepenasehatan. 2006).00 sampai dengan 15. Faktor Pendukung di BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah tersedianya kantor yang memadai. ruang pimpinan dan staf administrasi. 26/9/08) namun belum ada persiapan kelembagaan maupun ketenagaan dan perangkat hukum pidana dalam keluarga. tetapi ruang konseling jarang digunakan. Oleh karena itu aparat PA kurang termotivasi untuk mempelajari UU PKDRT.

mempunyai desa binaan sebagai desa keluarga sakinah. Sekolah-Sekolah. Belum ada shelter atau tempat penampungan sementara untuk korban yang menunggu kasus disidik atau diselesaikan dan korban belum berani pulang ke rumah. komunitas yang memerlukan: Panti Asuhan. fisik dan seksual. Faktor pendukung di unit PPA Kepolisian Resor Kota maupun Kabupaten Malang adalah adanya kantor unit tersendiri walaupun tidak luas tetapi cukup fungsional untuk menjalankan aktifitas unit PPA. Disamping itu unit PPA juga didukung oleh tenaga professional dan berdedikasi terhadap tugasnya. BP-4 lebih tepat berperan sebagai jalur sosialisasi keberadaan UU PKDRT kepada klien yang datang konsultasi. Dalam Faktor penghambat kinerja Unit PPA. Sosialisasi UU KDRT secara insidental dilakukan oleh Kepala Unit PPA Polres Kota maupun Kabupaten Malang lembaga. ruang kepenasehatan kurang digunakan langsung kemeja kerja ketua. PJ TKI dsb. Kanit PPA Kabupaten merasakan perlunya sosialisasi UU PKDRT di tingkat aparat desa seperti lurah dan jajaran aparat desa. sejumlah 8 orang staf dan 1 orang ketua unit. sementara PPA Kota yang mengirim korban ke RSSA masih banyak kendala karena belum terbentuk PPT (Pusat Pelajanan Terpadu) disitu. Mereka memperoleh kesempatan refreshing/professional workshop secara bergilir 2 kali setahun. karena merkalah ujung tombak yang mengawal implementasi UU PKDRT. mereka . diperlukan juga tenaga ahli untuk kasuskasus khusus. rumah inap korban KDRT. Penampilan para petugas di Unit PPA juga berbeda dari polisi pada umumnya. diperlukan semacam rumah singgah. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung karena didukung oleh PPT (Pusat Pelayanan Terpadu) di RS Kanjuruhan. Jika ada kasus di daerah mereka. Kerja sama dengan instansi terkait untuk membantu menangani kasus secara terpadu sangat diperlukan. Komunitas Anak Jalanan.belakang keluarga selanjutnya terkait dengan penyebab lainnya seperti kekerasan psikis. BP-4 secara rutin menyelenggarakan ―Suscatin‖ kepanjangan dari kursus calon pengantin. Dalam implementasi UU PKDRT. ataupun edukasi kepada muda-mudi calon pengantin sebagai upaya preventif agar mereka tidak terjerumus menjadi pelaku/korban KDRT. semua staf yang berjenis kelamin perempuan bekerja dengan berbagai pakaian seragam non kedinasan sehingga penampilan ramah dan segar tidak menakutkan klien.

. penyelesaian berlandaskan hukum perdata dengan putusan cerai dan hanya sebagian kecil saja dengan putusan damai/rujuk. Oleh karena itu yang paling dominan dilaporkan ke unit PPA adalah kekerasan fisik. penanganan bersifat konseling psikologis dengan pendekatan agama. yang paling dominan faktor kekerasan fisik dan ekonomi yang kemudian memicu faktor lainnya penanganan bersifat konseling masih sangat ditonjolkan ditambah dengan penyadaran hukum dengan penahanan dan hukuman kepada tersangka jika tidak mengubah perilakunya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. kalau ada kekerasan ekonomi dilaporkan adalah juga karena disertai kekerasan fisik. Faktor penyebab bersifat psikis dan ekonomi paling dominan. hampir semua kasus yang masuk jumlahnya mencapai ratusan sampai ribuan setiap tahun ada unsur KDRT. 2. Sementara kekerasan psikis dan ekonomi sering dianggap bukan kekerasan. Setiap client diberi kesempatan konsultasi 3 kali. Istilah KDRT memang sudah mulai populer di masyarakat terutama lewat TV. Di Badan Penasehatan. Di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kota dan Kabupaten Malang adalah lembaga andalan dalam kinerja/ implementtasi UU PKDRT. Di Pengadilan Agama baik Kota maupun Kabupaten. kasus yang masuk cukup bervariasi dari segi factor penyebabnya. kekerasan apa saja yang diancam hukuman pada umumnya mereka mengira hanya kekerasan fisik yang korbannya babak belur. namun ditangani secara perdata. tetapi substansi UU PKDRT baik aparat maupun msayarakat di tingkat grass roots tidak tahu. atau kekerasan seksual. penyelesaian damai banyak terjadi dan jika tidak bisa berdamai lagi diberi pengantar untuk di proses di Pengadilan Agama 3. Lembaga ini menangani kasus KDRT yang sangat bervariasi faktor penyebabnya.mestinya tahu bagaimana mengurusnya dan kemana melaporkannya. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departemen Agama Kota maupun Kabupaten.

Ada kasus berat yang bisa masuk kasus criminal tetapi dicabut oleh pihak pelapor. Namun hukuman yang dijatuhkan dengan berdasarkan KUHP dianggap terlalu ringan dan kurang menimbulkan efek jera pada pelaku. atau dicabut kemudian memproses perceraian. Oleh karena itu perlu disertai dengan pemembangunan sistem. terbentur keterbatasan dana dan belum adanya strategi/paket untuk sosialisasi/penyuluhan khusus tentang UU PKDRT. Keberadaan UU PKDRT adalah merupakan faktor pendukung paling awal untuk menangani kasus-kasus KDRT. untuk kasus seperti ini delik aduan di UU PKDRT dirasa tidak pas digunakan. Belum ada unit palayanan terpadu dan shelter. Ada beberapa kasus dimana tersangka menghilang dan masuk DPO (Daftar Pencarian Orang/buron). Dalam hal sosialisasi kepada aparat. 7. kelurahan dan sekolah-sekolah namun masih sangat jarang. 9 orang tenaga/aparat termasuk kepala unit PPA adalah orang-orang professional dan berdedikasi dalam bidangnya. Dinas Sosial Pemkot dan Pemkab Malang. Di unit PPA banyak kasus yang kemudian dicabut/berdamai. mengusik rasa keadilan. 8. Faktor penghambat yang dirasakan oleh unit PPA adalah belum ada perhatian dari dinas instansi terkait seperti Biro Pemberdayaan Perempuan. Kehadiran peraturan maupun perundang-undangan adalah merupakan upaya mengubah kehidupan masyarakat/sosial engeenering ke arah kehidupan yang lebih baik. . lembaga dan penyiapkan suamber daya manusia sebagai pelaksananya. 5. Saran 1. fihak Polres Kota pernah sosialisasi UU PKDRT kepada kepolisian Arhanud dan Brimob. bantuan ahli untuk kasus-kasus khusus. Ada beberapa kasus yang masuk kategori P21 yang diberkas untuk dilimpahkan ke kejaksaan dan Pengadilan Negeri dan tersangka benar-benar dijatuhi hukuman. Sedangkan Polreskab pernah juga mengadakan penyuluhan incidental ke kecamatan.4. 6. mereka secara bergilir memperoleh penyegaran 2 X setahun untuk peningkatan profesionalismenya. ruang konseling masih campur dengan ruang tamu.

Perlu ada upaya peningkatan peran kelembagaan PA supaya tidak berhenti pada proses perdata.2. Ide tentang perlunya membangun sistim pengadilan pidana terpadu layak memperoleh perhatian. Lembaga ini bisa menjadi salah satu jalur sosialisasi UU PKDRT kepada masyarakat. tersedia PPT(Pusat Pelayanan Terpadu) dan shelter bagi korban KDRT. Jika ada kasus yang pantas masuk ke ranah pidana maka dimungkinkan adanya jalur untuk melanjutkan kasus tersebut ke pengadilan pidana. Mahkamah Agung perlu juga memikirkan proses sosialisasi ke aparat penegak hukum seperti tidak hanya Polisi tapi juga Jaksa dan Hakim sehingga mereka memahami ruh UU PKDRT dan bisa melaksanakan pengadilan berkeadilan gender. . 6. siswa/remaja. 5. 3. Peran BP-4 juga sangat strategis sebagai lembaga kepenasehatan/ konseling perkawinan yang langsung didatangi masyarakat dari berbagai lapisan. LSM yang memperhatikan kasus kekerasan dan Rumah Sakit agar ada kerja sama. Mereka harus faham substansi pokok. Dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. Pihak Kepolisian yang merupakan pelaksana UU PKDRT utama perlu memperoleh perhatian dan dukungan dari berbagai fihak terkait seperti Biro PP Pemda. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan perlu ikut serta mendorong kinerja/implementasi dengan mengembangkan strategi/paket sosialisasi UU PKDRT untuk Aparat di tingkat Grass Roots dengan prioritas para lurah dan staf di tingkat desa yang merupakan ujung tombak pengawal aturan. menghayati pesan UU PKDRT dan prosedur pelaporan kasus ke aparat penegak hukum. dengan hukuman yang memiliki kekuatan melindungi korban dan membuat jera pelaku. Demikian juga diperlukan strategi/paket edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat seperti guru. Mereka adalah jujukan korban untuk mengadu jika terjadi kasus di wilayahnya. DinasSosial. 4.

Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. 2000. Pelatihan Dasar Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Dunn. Soka Handinah. Kemandirian dan Kekerasan Terhadap Isteri. Jakarta: Rajagrafirndo Persada. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. Abdul Aziz. Perempuan di Persidangan. Irianto. Pustaka Pelajar. Branen. White Plains. New York: Longman Publishing Group. 2002. Denpasar: Yayasan Pustaka Nusantara. Desain dan Metode. Sulistyowati & Luhulima. Kekerasan terhadap Perempuan dan Bagaimana Menyikapinya. Research Design. Memadu Metode Penelitian Kualitatf dan Kuantitatif. Irianto. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Jakarta: Gramedia. Jaminan Keadilan Melalui Sistim Peradilan Pidana Terpadu. Jakarta: Kantor Menteri Negara pemberdayaan Perempuan. Julia. 20 Maret. 1994. 2004. John W. & Lincoln. 2007. Kekerasan Gender dalam pembangunan. Harian Kompas. Katjasungkana. Puji. Sage Publication. Bria. Kekerasan dalam perspektif Pesantren. Kekerasan Terhadap Perempuan. Sulistyowati & Nurtjahyo. Lidwina Inge. Handbook of Qualttatif Research.1994. Hartiningsih. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi. 1997. 35. Studi Kasus. 2003. Himpunan Yurisprudensi Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. 2001. 2004. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Edisi kedua. Y. Creswell. Yin. Fakih. hal. 1992. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Benyamin. Bulletin Psikologi tahun X Nomor 2 Desember 2002.DAFTAR RUJUKAN Astuti. Yvonna S. Mansour. Qualitatif & Quantitatif Approach. London: London Publication. Achie S. 2000. Kisah Perjalanan Panjang Konvensi Wanita. Hoesien.Yogyakarta. . Selasa. 2003. Califomia. Denzin. Noerman K. Maria. Robert K. Becoming Qualitatif Researcher. Glesne & Peskhin. William N.

CM. Bandung: Remaja Rosda Karya. Curriculum Design and Developnrent. California: Wadsworth/Thomson Learning. 2004. 2004. Noeng. Marriage and Families. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Muhajir. 2006. Sinar Grafika. Undang-undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. 1996. David. 1990. Qualitatif Data Analysis.J. Towaf. Kita Bisa Mendampingi Korban Kekerasan. Muhammad. Bandung: Citra Aditya Bakti. Swabaya: Biro Pemberdayaan Perempuan Sekretarian Daerah Propinsi Jawa Timur. Lengerman. AM. Kekerasan dalam Rumah Tangga.Katjasungkana. Ritzer. Marriages. Boston: Pearson Education. 2007. George & Goodman. . Volume 1/no 2/ Juli 2004. Kekerasan dan Agresifitas. Jurnal PsikoIslamika.1984 . MB & Hubberman. Teori Feminis Modern. Metode Penelitian Kualitatf Yogyakarta: Rake Sarasin. 2004. Makalah seminar di Dharma Wanita Kabupaten Gresik. lexi. Siti Malikhah. K & Warner RL. hal 177--187. Hukum dan Penelitian Hukum. A Practical Introduction. 2004. Dalam Teori Sosiologi Modern. 2004. Zuhriah. Rencana Induk P embangunan Nasional Pemberdayaan P erempuan 2000-2004. Teori Sosiologi Modern. Prenada Media Group. Patricia Madoo & Brantley. Metodologi Penelitian Kualitatf. Volume 1/no 2/ Juli 2004. California: Sage Publication Inc. Douglas J. 2000. Williams. Jill Niebruge. Miles. Soka Handinah. Erfaniah. Pemerintah Republik Indonesia.. Iin Tri. Jurnal Psiko-Islamika. New York Harcourt B. BK &Sawyer SC & Wahlstrom. 1980. Jakarta: Kencana Prenada media Group. Families & Intimate Relationships. Pratt. hal 167--175. Abdulkadir. Moleong.2004. Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Adalah Tugas Kita Semua. 2007. Jakarta. Relationship in Social Context. Jakarta. Rahayu. Seccombe. 2004.

Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. PT. PLN Puji Handayati adalah dosen Jurusan Manajemen dan Tri Laksiani adalah dosen Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang . menguji hipotesis. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7) penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau bidang tertentu. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial. Berdaasarkan jenis data dan analisis yang digunakan. Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan. membuat prediksi maupun mempelajari implikasi.Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati Tri Laksiani Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. Penulisan ini berusaha menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Kata-kata kunci: saluran udara ekstra tinggi (SUTET). PLN (Persero) dalam mengatasi masalah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan (2) Untuk mengetahui bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang dapat mengatasi konflik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

edu. perdagangan. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. Berbagai penelitian membuktikan adanya hubungan antara listrik tegangan tinggi dengan penyakti kanker dan leukimia pada anakanak bjkan orang dewasa. Pernyataan ini didukung oleh berbagai penelitian antara lain. penelitian yang dilakukan oleh Nancy Wertheimer dan Ed Leeper (1979) membuktikan bahwa anak-anak di denver. Inggris mendukung pendapat. Aliran tegangan tinggi sangat berbahaya bagi masyarakat. Sebagian partikel luruhan bersifat karsinogenik dan oleh medan listrik dikonsentrasikan pada bagian tubuh tertentu. Namun listrik juga dapat menimbulkan masalah jika dalam penggunaannya tidak tepat. kemudian mentransformasikan sel-sel tubuh yang ditempati menjadi sel kanker (www.Pembangunan ekonomi yang tumbuh dengan cepat menuntut PT. Diakses tanggal 6 Februari 2006) . Perancis. pemerintahan dan masyarakat luas. bahwa gelombang elektromagnetik dari listrik tegangan tinggi dapat menimbulkan kanker. Selain itu juga dapat menimbulkan penyakit tumor susunan saraf jika masyarakat tinggal di dekat jaringan tinggi tersebut. Selain itu. termasuk peneliti di luar AS. Sejak penelitian di Denver ini para peneliti lainnya mulai tertarik. Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa orang yang tinggal dibawah tegangan tinggi bisa terkena kanker otak dan berkaitan dengan penurunan gairah seksual. bahkan mengakibatkan kematian bagi orang yang menyentuhnya secara langsung. Finlandia. Hal ini karena kabel bertegangan tinggi bisa menarik partikel gas radon yang tidak berbau dan tidak berwarna di sekitarnya yang kemudian meluruhkannya. Diakses pada 6 Februari 2006) Demikian pula dalam studi tahun 1996 yang dilakukan tim fisikawan Universitas Bristol. seperti Swedia. Colorado mengalami kemungkinan terserang penyakit leukimia dua atau tiga kali dibandingkan orang dewasa.hamline.edu. Inggris. Denmark. Kanada. ekonomi. (www. PLN (Perusahaan Listrik Negara) Persero untuk menyediakan tenaga listrik dalam berbagai kebutuhan industri. listrik merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia.hamline. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan. Bahkan ilmuwan dari ITB juga mengungkapkan medan listrik dapat menimbulkan stres.

Anies. Pekalongan. ditemukakan adanya risiko kanker pada 463 kasus pekerja gardu listrik dan 263 kasus pada pekerja pemasangan kabel transmisi. distribusi listrik tegangan tinggi. Pemalang. Diakses 7 Februari 2006) Berdasarkan hasil penelitian Dr. pening (dizzines). Tegal (2004). M. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome). dan operator proyektor bioskop meninggal akibat leukimiaa dan limfoma non Hodgkins.Di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa selama lima dasawarsa terakhir melaporkan adanya beberapa gangguan kesehatan akibat paparan medan elektromagnetik dan medan magnet secara terusmenerus dalam jangka panjang. atau peralatan bertenagalistrik. pada penduduk di bawah saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV di Kab. yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache).com diakses pada 26 Desember) .republika. sehingga penemuan baru ini diwacanakan sebagai Trias Aniesa (www.pikiranrakyat.com. operator radio dan telegraf. ditemukan angka risiko leukimia pada pekerja kelistrikan meningkatkan dua kali lipat. PKK. Sebuah riset di Washington AS tahun 1950-1982 melaporkan adanya kematian 486 ribu pekerja teknisi listrik. Baik melalui transmisi. Pada awal tahun 1980-an dari Selandia Baru dilaporkan ada 546 kasus leukimia pada para perakit alat-alat listrik serta pekerja yang memperbaiki radio dan televisi. peneliti dari Depkes RI di SUTET Cibinong dan Bekasi. Kab. menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. Gangguan kesehatan itu terutama menyerang anak-anak antara lain leukimia (kanker darah). berhasil membedakan kelompok penduduk yang beresiko terpapar dan tidak terpapar berdasarkan jarak tempat tinggal dengan jarak listrik terpasang. (www. Tahun 1973. Dr. Untung. Hasilnya.Kes. dan Kab. Penelitian lain di Inggris dan New South Wales pada 1970-1972 mencatat kematian para pekerja operator telegram dan ahli teknik yang disebabkan oleh leukimia mieloid akut. radius 500 meter diperkirakan masih memiliki risiko terpapar. pekerja di peleburan alumunium. Hasil penemuan Anies menyimpulkan bahwa ketiga gejala tersebut dapat dialami sekaligus oleh seseorang. dalam penelitian yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto. Sementara di Swedia. Menurut Prof.

(www. muka terbakar. Ini timbul akibat rusak atau kacaunya kerja jaringan endokrin (hormonal) tubuh karena adanya aliran listrik tersebut. berusaha melihat keadaan hubungan sosial ekonomi dan gangguan SUTET yang dikeluhkan seperti yang diberitakan di media massa. tanda dan gejala lain yang dapat dijumpai adalah jantung berdebar-debar. serta gangguan kejiwaan berupa depresi. Oentoeng Soeradi. Menurut Rea. Prof.com diakses pada 26 Desember) Sebuah riset dilakukan selama 10 tahun terakhir oleh Tim Bagian Biologi FKUI. menyebutkan bahwa penelitian sosiologi yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto (1995) serta Ganihartono (1995). (5) endokrin. Hal ini didukung dengan berbagai penelitian antara lain penelitian yang dilakukan oleh Dr. gangguan tidur. Namun kekhawatiran masyarakat merupakan hal yang wajar dan sebagai upaya untuk mengurangi dampak negatif SUTET terhadap kesehatan masyarakat. (3) syaraf. kulit meruam.com. SUTET tidak akan menimbulkan masalah kesehatan. Bergdahl dan Grant. dapat terjadi pada sistem: (1) darah. rasa mual dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya. yaitu kasus yang terjadi di daerah Cibinong dan Bekasi.pikiranrakyat. (2) reproduksi. Berdasarkan Diktat Diklat yang dikarang oleh kumpulan pengajar Jasdik PLN Pusat tahun 2004. dr. perlu dilakukan penyuluhan yang efektif kepada masyarakat umum.Menurut WHO. (www. Diakses pada 6 Februari 2006) Tetapi dalam bebarapa penelitian lain mengungkapkan bahwa radiasi elektromagnetik tidak mempunyai korelasi dengan kesehatan. Tim yang diketuai oleh Guru Besar Bidang Biologi Reproduksi FKUI. (4) kardiovaskuler. Dr. berhasil menemukan bahwa medan elektomagnetik yang ditimbulkan dari saluran kabel dan gardu listrik tegangan tinggi dan alat-alat listrik di rumah bisa berisiko terhadap kesehatan manusia. Anies Universitas Diponegoro (1993).republika. potensi gangguan kesehatan yang timbul akibat SUTET 500 kV. gangguan konsentrasi. dan (7) hipersensitivitas. menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara keterpaparan penduduk yang ada di sekitar maupun yang berada di bawah jaringan . (6) psikologis. kebingungan. dari hasil pengukuran ternyata kuat medan listrik dan kuat medan magnet dari SUTET masih jauh di bawah ambang batas rekomendasi WHO/IRPA sehingga dalam batas tertentu. berhasil membuktikan korelasi antara listrik dan beberapa penyakit. kejang otot. telinga berdenging. Jawa Barat.

indikasi tumor dan leukimia terhadap pajanan medan listrik dan medan magnet. diperoleh data bahwa kuat medan listrik dan kuat medan magnet masih jauh di bawah level toleransi berdasarkan standar IRPA dan INRC. dan seluruh kehidupan. Korten. masyarakat. tindakan yang dilakukan harus mengacu dalam rangka keeangka tanggungjawab tersebut. CSR muncul akibat tekanan . Dr.Eng dari Fakultas Elektro ITS mengenai dampak medan elektromagnetik akibat pemakaian tenaga listrik SUTET 500 kV di daerah Singosari. memunculkan pertanyaan mengenai tanggungjawab perusahaan atas lingkungan dan masyarakat sekitar. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ir. keguguran. Oleh karena itu muncul pula kesadaran untuk mengurangi dampak negatif tersebut. (www. menunjukkan tidak ada korelasi antara gangguan kesehatan seperti sakit kepala. Selain itu. Di sini terbukti sebuah korporasi atau perusahaan mempunyai tanggungjawab sosial terhadap stakeholder dan lingkungannya. Gresik serta Dharmahusada Indah Surabaya. sehingga harus memperhatikan tanggungjawab untuk kepentingan bersama. masyarakat menginginkan produk-produk yang ramah lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial dan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM).co. Balitbang Depkes RI (1995-1996). tachycardia. Setiap keputusan yang akan diambil. Masalah yang dihadapi penduduk lebih mengaraah kepada masalah psikologis dan tuntutan mendapatkan ganti rugi. (Jasdik PLN Pusat: 2004) Melihat adanya dampak dari aktivitas produksi perusahaan (corporation) yang besar pada masyarakat. Hal ini menimbulkan kesadaran tentang pentingnya menerapkan tanggungjawab sosial terhadap stakeholder. Msc. bradycardia. kelelahan. Syarifudin Mahmudsyah M. David C.SUTET dengan penyakit yang dilaporkan atau tingkat kesehatan masyarakat.swa. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Budi Haryanto SKM.id. Diakses pada 26 Desember 2006) Dari fenomena inilah muncul tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). susah tidur. Karena setiap tindakan yang diambil korporasi membawa dampak yang nyata terhadap kualitas kehidupan manusia baik terhadap individu. pusing. melukiskan bahwa dunia bisnis selama setengah abad terakhir telah menjadi institusi paling berkuasa.

sekaligus meningkatkan kualitas hidup karyawannya. Definisi Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai sebuah konsep. interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat. in ways that are both good for business and good for development‖.PLN (Persero) sudah menerapkan CSR. komunitas lokal dan masyarakat luas untuk memperbaiki kualitas hidup. Gagasan CSR menekankan bahwa tanggungjawab perusahaan bukan lagi sekadar kegiatan ekonomi (menciptakan profit demi kelangsungan usaha). yaitu: perlindungan lingkungan. Menurut versi Bank Dunia dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember11 Januari 2006 definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives. dimana keduanya baik untuk bisnis maupun pengembangan. Pada dasarnya PT. Menurut Bank Dunia. perlindungan kesehatan.dan desakan berbagai organisasi semacam LSM karena terjadinya malpraktik di dunia bisnis. the local community and society at large to improve quality of life. pasar. 1. CSR adalah komitmen bisnis sebagai kontribusi untuk keberlanjutan perkembangan ekonomi yang bekerja sama dengan pekerja. melainkan juga tanggungjawab sosial dan lingkungan. perwakilan mereka. namun dalam perkembangannya masih juga terdapat konflik seperti yang telah dipaparkan di atas. kepemimpinan dan pendidikan. jaminan kerja. serta masyarakat lokal ataupun masyarakat luas. tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama. hak asasi manusia. bantuan bencana kemanusiaan. standart usaha. Menurut World Council for Sustainable Development definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen berkelanjutan dari bisnis untuk berperilaku dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi. pengembangan ekonomi dan badan usaha. Pemikiran ini didasarkan bahwa perusahaan tidak hanya berkewajiban ekonomis dan legal . Corporate Social Responsibility (CSR) mempunyai definisi dalam beberapa versi karena implementasi yang dilakukan oleh perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya berbeda-beda.

yaitu ekonomi.id Diakses pada 29 Januari 2006). Dan menurut Tony Djogo (2005).fajaronline.(shareholders). sejauh ini definisi yang banyak digunakan adalah pemikiran Elkington tentang triple bottom line.co. tapi juga pada pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). Diakses pada 29 Januari 2006). lingkungan dan sosial. CSR adalah pengambilan keputusan yang dikaitkan dengan nilai-nilai etika. . dengan para stakeholder dengan dasar sukarela. Menurut Elkington (1997) dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember – 11 Januari 2006. maka CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk bertindak etis. Sedangkan menurut versi Uni Eropa Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is concept whereby companies intregate social and environmental concerns in their business operations and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basis‖ CSR merupakann konsep di mana perusahaan mengintegrasikan masyarakat dan lingkungan dalam kegiatan bisnis dan interaksi mereka. masyarakat danlingkungan.fajaronline. Trinidad and Tobacco Bureau of Standard (TTBS) menyimpulkan bahwa CSR terkait dengan nilai dan standar yang dilakukan berkenaan dengan beroperasinya sebuah korporat. yang kemudian diilustrasikan dalam bentuk segitiga. komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas (www. bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup karyawan. CSR adalah adanya segitiga dalam kehidupan stakeholders yang mesti diperhatikan korporasi di tengah usahanya mencari keuntungan.id. memenuhi kaidah-kaidah dan keputusan hukum dan menghargai manusia. beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi. (www. Dari berbagai definisi di atas. yang jangkauannya melebihi kewajiban di atas. co.

nasional. (1) ketersediaan dana. Selain kewajiban ekonomis dan legal. dan pemerintah). maupun global. (3) tanggung jawab sosial.fajaronline.Gambar 1 Segitiga Dalam Kehidupan Stakeholders Social Lingkungan Ekonomi Sumber: Majalah SWA Edisi 29/XXI/19 Desember 2005 – 11 Januari 2006 2. korporat. Hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Jeneiro Brazilia (1992). Menurut Chrysanti Hasibuan Sedyono (2004). di antaranya adalah. dan (5) mempunyai nilai keuntungan (www. dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). (4) terimplementasi dalam kebijakan (masyarakat. menyetujui adanya perubahan pembangunan. Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai Kebijakan Perusahaan Keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri di sebuah kawasan. mematuhi peraturan dan hukum (berhubungan dengan lingkungan. baik lokal. artinya memperoleh laba bagi pemegang sahamnya. com. Diakses pada 25 Januari 2006). legal. dan sebagainya). Ada lima elemen sehingga konsep keberlanjutan menjadi penting. atas kemampuan perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. model CSR membagi kewajiban perusahaan menjadi empat jenis tanggungjawab atau yang dikenal dengan model empat sisi. ada kewajiban-kewajiban lain terhadap . (2) misi lingkungan. komunitas dan stakeholders yang terkait. yaitu adanya empat tanggungjawab perusahaan yang bersifat ekonomis. dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholders yang difasilitasi perusahaan tersebut dan menyusun program-program pengembangan masyarakat yang ada di sekitarnya.

biru dan hijau. Oleh karena itu. Kelompok merah adalah pengusaha yang mulai melaksanakan praktik CSR. Kelompok keempat. termasuk kesejahteraan karyawan. Model tanggung jawab selanjutnya bersifat discretionary. bahkan tidak memperhatikan kesejahteraan karyawannya. tetapi atas kemauan sendiri misalnya pemberian beasiswaa. bukan biaya. transparan. merupakan kelompok yang sungguh-sungguh dan sukarela melaksanakan praktik CSR.stakeholders di luar pemegang saham. tidak membeda-bedakan ras dan gender. yaitu tanggung jawab yang sebenarnya tidak harus dilakukan. Kelompok hitam adalah pengusaha yang tidak melakukan praktik CSR sama sekali. diantaranya: kelompok hitam. Perusahaan akan mendapatkan image positif karena masyarakat menilai pengusaha tersebut membantu dengan sungguh-sungguh. seperti masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat. Aspek lingkungan dan sosial mulai dipertimbangkan. kelompok ini menganggap praktik CSR sebagai investasi sosial jangka panjang. yaitu pengusaha yang menjalankan bisnis hanya untuk kepentingan sendiri. yaitu ethical dimana perusahaan harus memnuhi kaidah-kaidah normatif. kemudian dengan terpaksa memperhatikan isu lingkungan dan sosial. dan tidak korupsi. Kelompok ini umumnya berasal dari kelompok satu (kelompok hitam) yang mendapat tekanan dari stakeholders-nya. menurut Rudi Fajar (2005) pengusaha dapat dikelompokkan menjadi empat. dan menilai CSR sebagai investasi. Kelompok ketiga adalah pengusaha yang menganggap praktik CSR akan memberi dampak positif (return) terhadap usahanya. CSR jenis ini kurang berdampak pada pembentukan image positif perusahaan karena masyarakat melihat kelompok ini memerlukan tekanan sebelum melakukan praktik CSR. dan biasanya dilakukan setelah mendapat tekanan dari pihak lain. kelompok ini secara sukarela dan sungguh-sungguh melaksanakan praktik CSR dan yakin investasi sosial ini akan memperlancar operasional usaha. Seperti berlaku fair. merah. Seperti halnya investasi. tetapi dengan terpaksa. Pengusaha ini menempatkan CSR sebagai nilai inti dan menganggap sebagai suatu . kelompok hijau. Kelompok ini sama sekali tidak peduli pada aspek lingkungan dan sosial di sekelilingnya dalam menjalankan usaha. Sehubungan dengan praktik CSR. tetapi memandangnya hanya sebagai komponen biaya yang akan mengurangi keuntungan.

Sebagai hasilnya. tumbuh dan berkembang bersam masyarakat. bahkan kebutuhan. tidak memiliki modal yang harus dimiliki dalam menjalankan usahanya. Oleh karena itu. Pambudi (2005) dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. akomodasi. tetapi juga kepercayaan dari masyarakat yang selalu siap mendukung keberlanjutan usaha kelompok ini. Menurut Teguh S.89% responden memasukkan unsur-unsur CSR kemudian menjadikan CSR sebagai bagian dari visi dan misi perusahaan. dari hasil survey yang dilakukan oleh majalah SWA dalam CSR Award 2005. agar perusahaan dapat terus beroperasi. Kelompok ini juga memasukan CSR sebagai bagian yang terintegrasi ke dalam bisnis atas dasar kepercayaan bahwa suatu usaha harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial. . nilai tambah bagi stakeholders. strategi perusahaan. Pertama. Hamann dan Acutt (2003). kelompok ini tidak saja mendapatkan image positif. yaitu sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan.tempo. sosial dan kesejahteraan karyawannya serta melaksanakan prinsip transparansi dan akuntabilitas.keharusan. menelaah ada dua motivasi utama yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana. yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik. (www. superficial.com Diakses pada 29 januari 2006). legitimasi. Selainitu. Realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya. implementasi nilai-nilai perusahaan serta karena alasan kewajiban. Pengusaha tersebut sangat memperhatikan aspek lingkungan. Selain menjadikan CSR sebagai visi dan misi. pengusaha ini yakin bahwa tanpa melaksanakan CSR. dan menjadikannya sebagai modal sosial (ekuitas). perusahaan-perusahaan di Indonesia banyak yang sudah menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR). lingkungan dan sosial). dan parsial. perusahaan juga menjadikannya sebagai strategi bisnis. Kedua. Ada beberapa alasan perusahaan menjalankan CSR. yaitu kepercayaan bahwa ada nilai tukar (tradeoff) atas triple bottom line (aspek ekonomi. karena 80% perusahaan menganggap CSR penting bagi perusahaan. 48. CSR dilakukan untuk memberi kesan korporasi yang peduli terhadap kepentingan sosial.

Building Human Capital. Kedua. ada beberapa cara perusahaan dalam memandang aktivitas CSR antara lain: pertama.Menurut Darwina (2005). program untuk menjadikan masyarakat lebih mandiri. sebagai strategi perusahaan yang pada akhirnya dapat mendatangkan keuntungan. Encouraging good governance. Pambudi (2005). Ketiga. sebagai compliance atau kewajiban karena akan ada hukum yang memaksa untuk menerapkan konsep CSR tersebut. sebagai beyond compliance yaitu perusahaan merasa sebagai sebagian dari komunitas yang secara sadar dianggap sebagai sesuatu yang penting. meningkatkan citra perusahaan. e. Protecting the environment. keenam. Pambudi (2005). implementasi nilai-nilai perusahaan. Assessing social cohession. artinya perusahaann dijalankann dalam tata pamong yang baik. c. kedua. kegiatan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat. Program yang Dijalankan Perusahaan dalam Corporate Social Responsibility (CSR) Menurut Teguh S. Sedangkan menurut Teguh S. kelima. yaitu perusahaan menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan konflik. program-program CSR yang dijalankan perusahaan meliputi bidang sosial. dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. lingkungan. sebagai kewajiban dan tanggung jawab perusahaan. 3. agar perusahaan dapat terus beroperasi. b. dan terakhir. cara perusahaan memandang CSR ada tujuh yaitu: pertama. dan ekonomi. ketiga. yaitu menyangkut kemampuan perusahaan untuk memiliki dukungann sumber daya manusia yang handal (internal) dab eksternal (masyarakat sekitar). artinya perusahaan harus menjaga kelestarian lingkungan. d. Pandangan lain tentang CSR oleh Prince of Wales International Business Forum yang dipromosikan oleh IBL (Indonesia Business Links) dalam SWA edisi26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006 lewat pilar antara lain: a. . hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan lingkungan. keempat. Strengthening economies. yaitu memberdayakan ekonomi komunitas.

menciptakan nilai tambah (value added) dari produk. pengembangan skill karyawan dan kepemilikan saham. kemitraan dalam penyediaan kebutuhan dan bahan baku produksi. 1-2 tahun. pihak ketiga dan dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. Di komunitas. penekanan yang signifikan diberikan pada kepentingan stakeholders perusahaan. seperti aspek keselamatan kerja. Di sini perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholders. antara lain pelestarian lingkungan dan pross produksi yang ramah lingkungan. antara lain dengan memberikan beasiswa dan pemberdayaan ekonomi terhadap lingkungan. stakeholders . penanaman pohon atau penghijauan dan pertanian anorganik. beasiswa pendidikan. pembangunan dan renovasi sarana sekolah. Menurut Sita Soepomo (2004). sumbangan sosial untuk bencana alam. pengembangan agrobisnis. serta pemberdayaan dan pengembangan tenaga kerja lokal.Program-program bidang sosial antara lain: pelayanan dan kampanye kesehatan. Stakeholders Dalam prinsip responsibility. sekolah binaan serta pendidikan dan pelatihan teknologi informasi. yayasan milik perusahaan. 3--5 tahun. Program-program CSR yang dijalankan perusahaan dalam bidang ekonomi antara lain: pemebrdayaan dan pembinaan UKM dan pengusaha. 6-7 tahun. pembangunan sarana air bersih. Pelaksanaan proram-program CSR dapat dilakukan perusahaan dengan cara bekerja sama dengan pihak lain. pengelolaan limbah. Menurut Gurvy Kavei dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. kredit pembiayaan dan bantuan modal untuk pengembangan usaha. Sedangkan program CSR dalam bidang lingkungan adalah pembinaan dan kampanye lingkungan hidup. Program-program CSR ini biasanya dijalankan dalam waktu yang berbeda-beda sesuai dengan perusahaann masing-masing: kurang dari 1 tahun. yayasan yang bekerjasama dengan pihak ketiga. CSR dipraktekkan dalam tiga wilayah atau area antara lain: di tempat kerja. pengelolaan fisik agar lebih asri. dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. 8--10 tahun serta lebih daari 11 tahun. 4.

dengan keterampilan dan pendidikan yang memadai akan sangat membantu dunia usaha dalam menjalankan usahanya. konsumen. Sudarsono (2002). perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpedoman pada single bottom line. lembaga sewa guna yang dapat membantu dalam pemenuhan modal. f) Serikat pekerja. Internal stakeholder Pihak yang berkepentingan internal atau stakeholder. pemasok. yaitu: 1. struktur yang mengatur perusahaan publik yang memungkinkan pemegang saham untuk . menukarkan sumber daya dengan barang atau jasa yang dihasilkan oleh dunia usaha. pelanggan bisa perorangan maupun lembaga. dengan memperhatikan dan membela hak konsumen. Eksternal stakeholder Pihak yang berkepentingan eksternal antara lain: a) Pelanggan. bank. dengan adanya faktor-faktor produksi memungkinkan dunia usaha melakukan kegiatan produksi. b) Pemegang saham dan dewan direksi. berkenaan dengan penentuan upah kondisi kerja dan sebagainya.perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. 2. Tetapi tanggung jawab perusahaan harus berpedoman pada triple bottom lines. CSR sebagai sebuah gagasan. g) Lembaga keuangan. yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. terdiri dari: a) Karyawan. dan pemerintah sebagai regulator. e) Lembaga konsumen. misalnya pecinta alam yang peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan. Termasuk di dalamnya adalah karyawan. masyarakat. c) Pemerintah. lingkungan sekitar. Di sini bottom lines selain finansial adalah soal dan lingkungan. d) Kelompok khusus. misalnya. Menurut J. contoh: lembaga perlindungan konsumen. bertindak untuk membantu dan melindungi industri dengan peraturan dan undang-undang. lingkungan yang berpengaruh langsung terhadap perusahaan adalah pihak yang berkepentingan (stakeholders) dibagi menjadi dua. b) Pemasok.

pengelola pasar dan pengelola sistem. agen penjualan. pembangunan. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) adalah transmisi tenaga listrik yang menggunakan konduktor di udara bertegangan nominal 275 kV dan 500 kV yang selanjutnya disebut SUTET. Kedua.mempengaruhi suatu perusahaan dengan menggunakan hak suara. transmisi. pemasangan. 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. Sedangkan transmisi tenaga listrik adalah penyaluran tenaga listrik dari suatu pembangkitan ke suatu sistem distribusi atau kepada konsumen. Industri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik Menurut Rancangan Undang-Undang Tentang Ketenagalistrikan. dan pemeliharaan instalasi. penjualan. Gambar 2 Model Stakeholder dalam Sebuah Perusahaan Pelanggan Manajemen Komunitas Lokal Perusahaan Pemasok Karyawan Konsumen Sumber : Pengantar Ekonomi Perusahaan (2002) 5. pengoperasian. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. Pertama. usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang. serta jasa terkait lainnya. distribusi. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) didasarkan pada Pasal 8 UU No. . pengujian.

sehingga gerakannya akan makin cepat dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya ionisasi di udara. Secara teoritis. akan terpengaruh oleh adanya medan magnet dan medan listrik. Peristiwa avalanche dan timbulnya korona akibat adanya medan magnet dan medan listrik pada jaringan tegangan tinggi inilah yang sering disamakan dengan radiasi gelombang elektromagnet atau radiasi tegangan tinggi.atau penyaluran tenaga listrik antar sistem. Ionisasi terjadi karena elektron sebagai partikel yang bermuatan negatif dalam gerakannya bertumbukan dengan molekul-molekul udara sehingga timbul ionisasi berupa ion-ion dan elektron baru. elektron yang membawa arus listrik pada jaringan tegangan tinggi akan bergerak lebih cepat bila perbedaan tegangannya makin tinggi. Elektron bebas yang terdapat dalam udara dim sekitar jaringan tegangan tinggi. . Elektron yang membawa arus listrik pada jaringan interkoneksi dan juga pada jaringan transmisi. Konduktor adalah pilihan kawat yang dipergunakan untuk menyalurkan energi listrik. Proses ini akan terus berjalan selama ada arus pada jaringan tegangan tinggi yang mengakibatkan ion dan elektron menjadi berlipat ganda terlebih lagi bila gradien tegangannya cukup tinggi. akan menyebabkan timbulnya medan magnet maupun medan listrik. Udara yang lembab karena adanya pohon di bawah jaringan tegangan tinggi akan lebih mempercepat terbentuknya pelipatan ion dan elektron yang disebut dengan avalanche. Akibat ion yang menggandakan diri dan elektron ini (peristiwa avalanche) akan menimbulkan korona berupa percikan busur cahaya yang disertai pula dengan suara mendesis dan bau khusus yang disebut dengan bau ozone.

Sedangkan Rusia menetapkan batas aman radiasi tegangan tinggi dengan faktor 1000 lebih rendah dari yang telah ditetapkan Amerika Serikat. GigaWatt Tahun Series1 .2 mikro Weber/m2.Gambar 3 Grafik Perkembangan Daya Listrik Grafik 14 12 10 8 6 4 2 0 1958/69 1973/74 1978/79 1983/84 1988/89 1993/94 Amerika Serikat sebagai negara industri yang banyak menggunakan jaringan tegangan tinggi. Adanya perbedaan penetapan batas aman ini disebabkan oleh penelitian mengenai dampak radiasi tegangan tinggi terhadap manusia masih belum selesai dan terus dilakukan. telah menetapkan batas aman sebesar 0.

Ruang tersebut harus dibebaskan dari orang. Bahaya Listrik pada Tegangan Ekstra Tinggi Bahaya listrik pada tegangan ekstra tinggi yang paling dominan adalah gradien tegangan ekstra tinggi itu sendiri terhadap makhluk hidup maupun terhadap benda-benda lain yang berada pada daerah sekitarnya. sehingga andongannya menjadi lebih besar. makhluk hidup lain maupun benda apapun demi keselamatan orang. dan (3) Suhu kawat penghantar. METODE Berdasarkan jenis data dan analisis yang digunakan. tekanan angin dan suhu penghantar. Ruang bebas adalah ruang di sekeliling penghantar (kawat listrik) SUTET yang besarnya tergantung besarnya tegangan. makin besar suhu yang mempengaruhi kawat penghantar makin mengendor kawat penghantar tersebut. Ruang aman adalah ruang yang berada di luar ruang bebas yang tanahnya masih dapat dimanfaatkan. dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7). (2) Angin.6. makhluk dan benda lain tersebut demikian pula keamanann dari SUTET itu sendiri. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. hal ini sudah diperhitungkan pada saat mendesaian SUTET tersebut. Faktor-faktor yang menentukan Ruang Bebas dan Ruang Aman adalah tegangan. Kenaikan suhu tersebut disebabkan oleh suhu keliling dan suhu yang diakibatkan oleh besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar. Sebagai contoh Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dimana saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (penghantar) di udara bertegangan di atas 245 kV sesuai dengan standart di bidang ketenagalistrikan. penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengnai populasi atau bidang tertentu. Penulisan ini berusaha . makin besar ayunan kawat penghantar ke kiri atau ke kanan. kekuatan angin dan suhu di sekitar penghantar antara lain: (1)Tegangan. makin besar tekanan angin. makin besar tegangan yang bekerja pada penghantar makin besar jarak bebas minimum (clearance) yaitu jarak terpendek antara kawat penghantar dan benda atau kegiatan lainnya sesuai dengan yang tertera pada table.

berupa publikasi (Supranto. serta warga Kelurahan Purwodadi. Berdasarkan tujuan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. buku-buku dan hasil penelitian yang mendukung. Dokumentasi Yaitu membaca laporan penelitian-penelitian sebelumnya serta artikel yang diakses dari internet. Menurut Subagyo (1997:106) analisis kualitatif adalah analisis yang dilakukan terhadap data yang berupa informasi. Penulisan ini dimaksud untuk mendeskripsikan mengenai penerapan CSR dalam mengatasi konflik SUTET. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Wawancara dilakukan dengan Kepala PLN Kota Malang. Penulisan ini menggunakan data kualitatif. Kepala Kelurahan Purwodadi. Data tersebut berupa informasi dari studi pustaka berupa majalah. menguji hipotesis. data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi. Pada metode ini peneliti hanya memindahkan data yang relevan daaari sumber informasi atau dokumen yang diperlukan. yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau pernyataan berupa data primer dan data sekunder. 1997:6). Dalam penulisan ini data primer diperoleh dari Kepala PLN Kota Malang. koran. uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap . penulis menggunakan metode: 1. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tiddak bermaksud mencari penjelasan. dan warga yang tinggal di sekitar SUTET di Kelurahan Purwodadi. 2.1997:6). Datadata yang dihimpun merupakan data yang berhubungan dengan berbagai hal mengenai Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan Corporate Social Responsibility (CSR). Sedangkan data sekunder atau data pendukung yaitu. serta artikel atau tulisan yang diakses dari internet. membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. Data primer yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan atau langsung melalui objeknya (Supranto. Wawancara Menurut Nazir (199:234) adalah memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatap muka antara pewawancara dengan responden. Kepala Kelurahan Purwodadi.menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

. dan pagan. Sehingga beban Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia menjadi berkurang. dengan konsekuensi berorientasi pada profit meskipun tidak bisa lepas dan tugas negara sebagai penyedia jasa layanan listrik bagi masyarakat. pangan. Sejak tahun 1945 jasa ketenagalistrikan di Indonesia ditangani oleh negara. serta sebagai pendorong dalam berbagai kegiatan ekonomi. Analisis ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data dari kelompok subjek yang diteliti. Namun pada tahun 1992 pihak swasta mulai diperbolehkan turut serta dalam bisnis penyediaan listrik sehingga monopoli PLN dalam bisnis tersebut berkurang. Listrik merupakan salah satu infrastruktur yang menjadi tumpuan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang. dan pada 27 Oktober 1945 dibentuk Jawatan Listrik dan Gas. Terbukti dengan disahkannnya UU No 20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan yang salah satu tujuannya adalah agar listrik lebih cepat menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Kemudian pada I Januari 1961 dikembangkan menjadi BPU Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan 28 Desember 1964 dibentuk PLN dan Perusahaan Gas Nasional (PGN). HASIL Gambaran Umum Perkembangan PT. Tahun 1972 PLN berstatus sebagai perusahaan umurn (Perum) dan pada Juni 1994 berubah lagi menjadi perusahaan perseroan (Persero) sampai sekarang. yakni sandang.suatu kebenaran sehingga memperoleh gambaran baru. PLN Persero Listrik telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan primer. Tujuan pemerintah melakukan restrukturisasi sekaligus liberalisasi ketenagalistrikan dilatarbelakangi oleh adanya pemikiran bahwa penyediaan listrik nasional harus diselenggarakan secara efisien melalui transparansi dan kompetisi dalam iklim usaha yang sehat dengan cara memberikan peluang yang sama kepada para pelaku usaha ketenagalistrikan.

Bentuk-bentuk CSR yang diterapkan oleh PT. perdagangan. membangun pembangkit energi terbaru berdasarkan hasil-hasil studi kelayakan yang sudah ada. Dalam bidang lingkungan seperti perbaikan sarana ibadah dan sekolah. pemerintahan dan masyarakat luas. PLN (Persero) dalam Mengatasi Konflik SUTET PT. pembangunan. . Setiap kegiatan maupun program yang dijalankan oleh PLN harus mempunyai tanggung jawab kepada stakeholders. Kedua. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan dan merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalarn upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. ekonomi. penjualan. dan pengelola sistem. agen penjualan. lingkungan dan ekonomi. sebagai dampak karena sudah memanfaatkan sumberdaya. distribusi. usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang. PLN (Persero) didasarkan pada Pasal 8 UU No 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. pemberian beasiswa bagi putra-putri karyawan dalam lingkup internal PLN dan pemberian dana tali asih. PLN (Persero) mempunyai tanggung jawab yang tidak mudah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu dalam hal penyediaan tenaga listrik di berbagai kebutuhan industri. Program PT. PLN (Persero) selama ini meliputi bidang sosial. pemasangan. Dalam bidang ekonomi yaitu melakukan penghematan biaya operasional sehingga meringankan beban masyarakat karena tidak perlu membayar listrik dengan harga tinggi dengan meningkatkan kemampuan pembangkit-pembangkit energi terbaru yang ada. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. Bidang sosial antara lain dengan memberikan asuransi kebakaran. Memberikan pinjaman dana dari koperasi. melakukan studi-studi kelayakan tentang aspek teknis dan ekonomis energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar minyak.Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. membuat peta potensi energi terbarukan yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara komersial. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. Pertama. Sehingga CSR diperlukan agar kegiatan operasional PLN dapat berjalan dengan baik. transmisi. dan program pencarian sumber-sumber pendanaan. yaitu seluruh pihak yang berkepentingan di dalamnya. pengelola pasar. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi.

Selain itu juga tidak adanya sosialisasi tentang dampak negatif yang mungkin timbul di kemudian hari. baik masyarakat lokal. juga kelainan otak dan resiko serangan jantung. juga timbul permasalahan antara lain dalam hal kesehatan maupun ekonomi.pengujian. isu-isu mengenai lingkungan hidup. terdapat isu beredar yang menyebutkan bahwa radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker. DI sisi lain. Dalam hal kesehatan misalnya. leukimia. Namun demikian dalam pelaksanaannya. penurunan kekebalan tubuh. Laporan Dewan Perlindungan Radiasi Nasional AS. demokratisasi. lndustri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik. sehingga jalur yang dilalui SUTET kemungkinan tidak dapat menghindari clan terpaksa harus melewati daerah dengan keadaan tertentu. Diakses pada 6 Februari 2006). seperti daerah pemukiman yang tepat.edu. (www. Begitu juga pertumbuhan penduduk yang cukup besar. Kesadaran kolektif yang terbangun karena tinggi dan bebasnya arus infomasi selama ini telah menimbulkan berbagai permasalahan di sektor ketenagalistrikan. Kegiatan di sektor ketenagalistrikan sangat berkaitan dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah. Kendala dan hambatan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan terjadinya konflik terutama dengan masyarakat lokal. pemerintah daerah maupun bagi kepentingan nasional secara keseluruhan. lambatnya pertumbuhan. pengoperasian. . Oktober 1995 menyebutkan bahwa paparan medan elektromagnetik yang sedikitpun pada tubuh manusia dapat menimbulkan gangguan dalam jangka panjang. dan pemeliharaan instalasi. serta jasa terkait lainnya.hamline. Untuk memenuhi penyediaan tenaga listrik agar distribusi listrik tersebut dapat met jangkau seluruh masyarakat maka diperlukan suatu interkoneksi yang disebut Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Sebagai contoh salah satu konflik yang ditimbulkan akibat SUTET adalah saat ini lahan yang tersedia semakin sempit akibat pesatnya perkembangan di segala bidang. dan hak asasi manusia juga sangat berpengaruh terhadap sektor ketenagalistrikan. Selama in] keberadaan industri ketenagalistrikan telah memberikan dampak yang positif bagi para stakeholders. Di samping itu. kemandulan. kendala dalam berbagai bentuk selalu dihadapi.

dibangun saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 500 KV tahun 1995. Hal ini dikarenakan sejak SUTET tersebut dibangun sampai masyarakat tinggal di daerah tersebut selama 20--30 tahun belum memberikan efek yang benar-benar berarti. perusakan menara SUTET oleh korban lainnya sebelumnya terjadi di Desa Cisaat Kec. Kota Malang (2006) menunjukkan bahwa pengaruh radiasi elektromagnetik dapat dirasakan dalam jangka panjang. Tidak adanya sosialisasi mengenai dampak negatif SUTET juga mendorong timbulnya konflik.Bojonggede Kab. 22/1/06). Kec. Waled Kab.Setelah peneliti melakukan observasi di salah satu kelurahan. (Pikiran Rakyat. Kecamatan Blimbing. badan dana anak-anak UNICEF serta Komnas HAM. misalnya ketika permukiman warga Kabupaten Gresik. Bandung melakukan aksi pembakaran ban di bawah tower SUTET dan membongkar sebuah besi penyangga tower yang berkekuatan 500 kV. yaitu Kelurahan Purwodadi. Rancaekek Kab. 21/1/06). Konflik akibat SUTET tersebut sudah terjadi di berbagai daerah. yaitu telah ada yang meninggal dunia ketika hujan turun tepat di bawah tiang listrik. PLN (Persero) yang tidak mau bekerjasama saat pembangunan SUTET dan kurang mengkomunikasikan proyek tersebut kepada masyarakat. Banyak keluarga memilih tidur di bawah tenda sebagai pernyataan protes. Bahkan masyarakat mengatakan berbagai penderitaan akibat SUTET. Jatim. Konflik akibat SUTET dalam hal ekonomi adalah banyaknva masyarakat yang menuntut ganti rugi atas tanah yang dirasakan kurang. Bahkan di beberapa daerah telah terjadi aksi mogok makan dan jahit mulut sebagai aksi menuntut ganti rugi yang menurut masyarakat dirasakan kurang. karena tanah milik warga yang dilalui jaringan SUTET mempunyai nilai jual yang rendah dan dianggap berbahaya akibat adanya radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET. Konflik lain yaitu terjadi pada 20 Januari 2006 yang baru lalu sekitar 200 warga Kampung Nagrak Desa Nanjung Mekar Kec. (Pikiran Rakyat. bahkan mereka mengirimkan surat kepada badan kesehatan dunia WHO. masyarakat berusaha menggergaji dan menggali menara listrik yang melintasi pemukiman mereka. Cirebon. Di desa Waringin Jaya. . Apa yang dilakukan masyarakat itu sebagai wujud kekecewaan atas sikap PT. Bogor.

Hal ini tidak hanya merugikan PLN yaitu berkurangnya profit karena jika terjadi pemadaman total maka akan menghambat segala aktivitas yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat sendiri. Hal ini terjadi karena ada perbedaan dasar hukum yang dijadikan pedoman antara masyarakat dengan PLN.OI.Konflik-konflik tersebut di atas akan sangat merugikan kedua belah pihak baik masyarakat maupun PLN. rawan terhadap pemadaman. Karena.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975. pelaksanaan UU No.P/47/MPE/1992 tentang Ruang Bebas bagi Penyaluran Tenaga Listrik. keandalan sistem menurun (kemungkinan blackout sangat besar). Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No. dan pertumbuhan sentra industri terhambat yang akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Karena masyarakat yang mencoba melakukan perusakan tower SUTET bisa dijerat UndangUndang (UU) No. Peraturan ini menyatakan bahwa . Di samping itu juga terdapat dampak buruk jika SUTET tidak dibangun antara lain: daya dari pembangkit non BBM yang akan dibangun tidak tersalurkan.K/47/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. Pada tahun 1992 dikeluarkan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. permintaan tambah daya konsumen sulit dipenuhi. bila tower SUTET 500 k\ sampai roboh atau rusak. Karena perbuatan itu termasuk kategori membahayakan obyek vital dan strategis milik negara dengan ancaman pidana hukuman seumur hidup atau pidana mati. 15 Tahun 2003. daya listrik yang disalurkan terbatas. dengan ancaman hukuman penjara masing-masing empat tahun penjara dan dua tahun delapan bulan. Selain itu perusakan instalasi SUTET termasuk tindakan sabotase negara. Selain itu juga bisa dijerat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 408 dan pasal 406. penambahan pelanggan baru sulit dipenuhi. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No OI. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No. I tahun 2002 tentang Terorisme. akan terjadi pemadaman listrik yang meluas di wilayah Jawa-Bali. Dari berbagai masalah yang timbul seperti di atas dapat dikatakan bahwa akar permasalahan hanya dua yaitu tuntutan ganti rugi yang kurang dan masalah kesehatan. 151985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. akibatnya akan melumpuhkan perekonomian dan menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan. 151/1985.

Depdagri. Depkes. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan membentuk joint team yang terdiri dari pemerintah. yang nada pokoknya berisi. BPN. Departemen ESDM dan PT PLN (Persero). Kantor Menneg BUMN. Mabes Polri. Sebagai niat baik dan peduli terhadap lingkungan yang terkena proyek untuk publik ini. Baik Permentamben tahun 1992 maupun Kepmentamben tahun 1999 isinya adalah bertentangan dengan Pasal 12 UU No. Kejaksaan Agung. karena PT. penyuluhan dan upaya-upaya lainnya. Pada tahun 1999 Permentamben No. apabila dikemudian hari terjadi kecelakaan yang sesuai hasil penelitian disebabkan oleh keberadaan SUTET 500 kV. Kantor Menneg LH. PLN dan elemen masyarakat. karena hanya memberi ganti rugi dan membebaskan tanah. baik karena kelalaian atau kesalahan PT. PT. Depkominfo. PLN telah melaksanakan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah dan selalu mengutamakan kepentingan dan keinginan masyarakat.01. Tim inilah yang ditugaskan untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di lapangan melalui dialog intensif. PLN maka PT. Tanggung jawab tersebut adalah terhadap kesehatan manusia dan atau meninggal dunia serta atas kerusakan rumah dan atau barang-barang elektronik atau alat-alat rumah tangga lainnya. PLN telah membuat dan menandatangani surat jaminan. PLN (Persero) sudah memberikan semacam dana tali asih dan pinjaman dana dari koperasi kepada . PLN akan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. Terkait dengan ganti rugi dan kompensasi. Tim ini terdiri dari Kantor Menko Polhukam. Peristiwa di atas menuntut PT. bangunan dan tumbuh-tumbuhan di atas tapak penyangga SUTET.pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan tidak diwajibkan untuk memberikan ganti rugi selama bangunan atau benda apa pun tidak termasuk ke dalam ruang bebas atau dengan kata lain bangunan benda berada di ruang aman. Depkum dan HAM. Depkeu. Apabila dalam kasus SUTET tidak diajukan judicial review. 15 Th 1985. para korban tetap dapat mengajukan tuntutan atas dasar wanprestasi.P/47/MPE/1992 diubah oleh Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No-975 K/47/MPE/1999. PLN (Persero) untuk mengambil langkah penyelesaian sebagai wujud dari tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

dan lebih baik jika menanam pohon sebanyak mungkin di sekitar rumah. PLN meninggikan bentangan kabel listrik. jika sebelumnya dengan bentangan di menara setinggi 8. dan pemberian penyuluhan tentang aturan jarak aman kepada masyarakat.5 meter harus membebaskan tanah di bawah kabel listrik.republika.masyarakat yang tempat tinggalnya dilalui jaringan SUTET. Menurut WHO (World Health Organization) ambang batas kekuatan medan listrik dan medan magnet yang tidak membahayakan tubuh manusia sebesar 5 kV/m untuk medan listrik dan 0. maka ruang setinggi 14 meter di atas tanah dianggap aman. . Penyuluhan ini biasanya diberikan PT. Bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang lain adalah dilakukan pengukuran berkala. kuat medan Iistrik di bawah SUTET di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah.com. Selain itu. terutama pada lahan-lahan yang kosong. PLN (Persero) sendiri telah membuat pagar pembatas untuk menjaga ruang bebas dan jarak aman serta secara periodik melakukan pengukuran kuat medan listrik dengan menggunakan alat Elektromagnetic Field Meter. maka dengan meninggikan sampai 22. Diakses pada 28 lanuari 2006) Oleh karena itu. PLN pada saat awal pengoperasian SUTET. tetapi penyuluhan ini juga dapat diberikan pada kesempatan lain jika masyarakat membutuhkanya. Selain itu dengan adanya peraturan Menteri Pertambangan dan Energi tentang ruang bebas untuk SUTET tahun 1992 pihak PT.5 meter SUTET. upaya untuk meminimalkan dampak negatif radiasi elektromagnetik ini yaitu dari penelitian yang telah dilakukan. Penyuluhan MI bertujuan memberikan pengertian yang benar tentang pengaruh medan listrik dan medan magnet sehingga masyarakat yang bermukim di sekitar sarana transmisi ini memiliki persepsi yang benar dan rasa aman tinggal di sekitarnya. PLN menganjurkan pada masyarakat agar mengusahakan rumah berlangit-langit (plafon).1 m Tesla untuk medan magnet. Hal ini ditujukan agar masyarakat mampu meningkatkan kualitas hidupnya. (www. PT. Dan jika tidak ada kepentingan tidak dianjurkan berada di luar rumah di bawah SUTET pada malam hari karena pada saat itu arus yang mengalir pada kawat penghantar SUTET lebih tinggi daripada siang hari.

Dari berbagai konflik yang timbul akibat keberadaan SUTET dapat dikatakan bahwa akar permasalahannya yaitu tuntutan ganti rugi yang dirasakan masih kurang oleh masyarakat dan adanya ancaman bahaya kesehatan. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut apa yang sudah diterapkan PT. sehingga . serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. akan mempunyai dampak positif maupun negatif seperti yang telah dijelaskan dalam poin di atas. tidak menjamin perusahaan akan berkembang secara berkelanjutan. Sedangkan dampak negatifnya adalah adanya bahaya kesehatan oleh radiasi elektromagnetik. jika menggantungkan pada finansial saja. Untuk itu. namun bentuk CSR tersebut ternyata belum memberikan dampak yang nyata karena masih banyak terjadi konflik di berbagai daerah. Dampak positif tersebut antara lain dapat meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. tetapi juga tanggung jawab sosial dan lingkungan. PLN tidak sama. Alasannya. BAHASAN CSR menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi. Hal ini dikarenakan perusahaan yang hanya mementingkan keuntungan finansial dan mengabaikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. berbagai penelitian dan jalan keluar untuk mengatasi konflik SUTET ini sangat diperlukan. _yaitu menciptakan profit demi kelangsungan usaha. PLN merupakan bukti bahwa PT. tidak hanya mendapat tentangan dari masyarakat sekitar. Dalam pembangunan sarana ketenagalistrikan. PLN (Persero).Namun dari berbagai bentuk CSR yang sudah diterapkan untuk mengatasi masalah SUTET. PLN memiliki tanggung jawab sosial atau CSR. masih belum dapat menyelesaikan secara tuntas konflik-konflik yang terjadi antara masyarakat dengan PT. Untuk konflik SUTET terutama yang menyangkut masalah ganti rugi sebaiknya pihak pemerintah mengeluarkan suatu dasar hukum yang sama dan jelas sehingga tidak menimbulkan konflik dan tidak akan merugikan kedua belah pihak yaitu masyarakat dan PT. PLN. Karena selama ini dasar hukum pemberian ganti rugi yang menjadi pedoman masyarakat dan PT. tetapi juga tekanan dari LSM.

jika pihak PLN memberikan sosialisasi secara transparan dan menyeluruh. PLN (Persero) sangat perlu untuk segera memberikan informasi yang sebenarbenarnya. PLN (Persero). 151/1985. sangat diperlukan kesamaan dasar hukum sehingga akan memiliki persamaan pandangan antara masyarakat dan PT. sejauh ini belum memperoleh sosialisasi secara transparan tentang kemungkinan dampak buruk yang terjadi akibat pembangunan SUTET.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975.P/47/MPE/1992 lebih rendah dari jumlah ganti rugi yang tertuang dalam UU No. Oleh karena itu. yaitu masyarakat yang sakit dan diduga disebabkan karena radiasi elektramagnetik. manajemen PT. Selama ini masyarakat yang areal pekarangan dan sawahnya telah dibangun tower dan akan dilalui jaringan. jumlah ganti rugi dari kedua dasar hukum ini berbeda yaitu dasar yang dijadikan patokan oleh PT. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi kurang tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang dampak negatif dan bahaya yang ditimbulkan akibat pembangunan proyek SUTET. Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No.tidak ada kesepakatan antara kedua pihak. atas potensi dampak yang mungkin muncul dari proyek tersebut. PLN (Persero) harus menetapkan batasan-batasan . 15 Tahun 1985. Dalarn hal ini PT. Sehingga nantinya tidak akan terjadi masalah di kemudian hari pada saat proyek SUTET tersebut mulai dikerjakan. PLN. PLN (Persero) dapat menerapkan salah satu bentuk CSR misalnya berupa jaminan kesehatan. Pada kenyataannya. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No Ol. Untuk itu. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat sebagai Wujud tanggung jawab perusahaan dalam hal kesehatan. PT. PLN yaitu Permentamben No O1. Jaminan kesehatan ini diberikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar area yang dilalui jaringan SUTET. dan masing-masing mempunyai pandangan sendiri.K147/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. maka suatu saat terjadi masalah maupun konflik.15/1985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. Namun. Masalah utama dalam konflik SUTET yaitu selain kurangnya ganti rugi yang diberikan yaitu berkaitan dengan masalah kesehatan. masyarakat akan berusaha mencari solusi bersama-sama dengan pihak PT. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No.

Untuk transmisi SUTET aturan jarak aman vertical (C) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 4. misalnya untuk jaringan tegangan menengah dan rendah (JTM/JTR) di daerah tersebut dapat digunakan rumus sederhana. dr. dan (7) hipersensitivitas dengan gejala jantung berdebar-debar.co. Jika hal tersebut sudah dilakukan secara rutin dan menjadi salah satu program aktivitas PT. PLN.com Diakses pada 26 Desember 2006). dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome). PLN (Persero) pada umumnya masih bersifat hibah dan bukan merupakan program rutin.5 m. PKK yang menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk.id Diakses pada 7 Februari 2006). kebingungan. (www. muka terbakar.pikiranrakyat . (6) psikologis. Sehingga jika suatu saat ada masyarakat yang mempunyai penyakit atau gejala di atas harus mendapat jaminan kesehatan walaupun mungkin penyakit tersebut bukan karena radiasi elektromagnetik. Anies. rasa mual.5 m. Atau menurut hasil penelitian Dr. misalnya penyakit yang menyerang 1) darah. gangguan tidur. misalnya pemberian kredit dan pemberian dana tali asih. pening (dizziness).pln. maka ini akan dapat melibatkan hubungan kemitraan . serta gangguan kejiwaan berupa depresi. (5) endokrin. M. yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache). yaitu I kV = 1 cm. Selain itu penyuluhan dan sosialisasi mengenai jarak aman kepada masyarakat harus selalu diberikan.5 m dan untuk 500 kV adalah 9.Kes. untuk 275 kV adalah 7. gangguan konsentrasi.2 m. untuk 275 kV adalah 13 m dan 500 kV adalah 17 m (www. untuk 150 kV adalah 5. (3) syaraf. (2) reproduksi.yang jelas misalnya PLN hanya akan memberikan jaminan kesehatan tersebut jika masyarakat yang sakit tersebut benar-benar disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang menurut berbagai penelitian antara lain menurut WHO. Kegiatan yang dilaksanakan oleh PT.5 m. telinga berdenging. Artinya jika tegangan di kawat jaringan sebesar 20 kV maka jarak amanya adalah 20 cm atau 0. untuk 150 kV adalah 10 m. (4) kurdiovaskuler. kulit meruam. kejang otot. Sedangkan jarak aman horizontal dari as/sumbu menara (D) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 7 m. dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya.

antara pihak PT. PLN dengan masyarakat. Untuk itu tanggung jawab sosial perusahaan diperlukan agar menciptakan keseimbangan dan keberlanjutan hidup dan jalinan kemitraan timbal balik antara perusahaan dan stakeholders. Disini PLN menjadikan masyarakat sebagai mitra, sehingga PLN mempunyai program kegiatan dalam upaya pemberdayaan untuk mendukung kesejahteraan dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. Sehingga antara masyarakat dan PLN terjalin hubungan yang baik dan saling mendukung selama kegiatan tersebut tidak menimbulkan masalah dan dampak negatif. Kemitraan ini bisa tercipta antara lain melalui program yang berupa ekonomi kerakyatan yaitu, PLN menjadi mitra masyarakat dalam hal pemberian hibah untuk kredit usaha. Bentuk-bentuk CSR tersebut dl atas mungkin tidak sepenuhnya dapat mengatasi masalah, namun paling tidak dapat mengurangi adanya konflik SUTET. Agar program-program CSR seperti di atas dapat berjalan dengan lancar, maka sangat diperlukan hubungan maupun kerjasama yang baik antara PT. PLN (Persero), masyarakat, dan Pemerintah, serta seluruh stakeholdernya. Aktivitas CSR yang dilakukan oleh PT. PLN Persero tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga pihak PLN itu sendiri. Manfaat yang diperoleh masyarakat dengan dilaksankannya program CSR oleh PLN misalnya, dapat mengembangkan usaha mereka melalui hibah untuk kredit usaha, adanya jaminan kesehatan, dan masyarakat mendapatkan ganti rugi serta kompensasi atas tanah milik mereka sesuai dengan kesepakatan.Selain itu, aktivitas masyarakat juga tidak akan terganggu karena adanya pemadaman total akibat perusakan tower SUTET. Bagi PT. PLN Persero sendiri, kegiatan operasional perusahaan tidak akan terhambat dan selalu mendapat dukungan dari masyarakat, dan akhirnva tercipta hubungan yang baik antara masyarakat dengan pihak PLN. Di sisi lain, image perusahaan dalam pandangan masyarakat akan tetap baik dan selalu mendapatkan respon yang positi£ Dari manfaat yang dapat diperoleh di atas, semoga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi PT. PLN (Persero) untuk menetapkan CSR dalam kegiatan operasionalnya dan tentunya menjadikan PLN ke arah yang lebih baik.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Akhir-akhir ini banyak perusahaan yang makin sadar akan pentingnya praktik Corporate Social Responsibility (CSR), ataupun mengikuti langkah-Iangkah serupa termasuk perusahaan BUMN seperti PT. PLN (Persero). Hal Ini tentu memerlukan hubungan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat dan para pelaku bisnis sendiri. Misalnya, pemerintah memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang menerapkan program CSR secara serius. Demikian pula Bapepam mewajibkan laporan CSR bag) perusahaan yang akan masuk bursa ataupun yang kini sudah tercatat di bursa, serta langkah-langkah lain yang relevan. Dan masyarakat mendukung program CSR yang diterapkan perusahaan tersebut. Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan, PT. PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial.
Saran

Agar program CSR dapat berjalan dengan baik, maka dapat disarankan (1) Untuk pemerintah sebaiknya memberikan peraturan hukum yang secara tegas dan khusus mengatur tentang tanggung jawab sosial perusahaan; (2) Program diarahkan pada masyarakat yang membutuhkan dan diprioritaskan pada kebutuhan pokok masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup; (3) Program dilaksanakan dengan menyediakan tenaga ahli pendamping; dan (4) Dilakukan evaluasi dan pelaporan, apakah program tersebut berjalan sesuai tujuan.

DAFTAR RUJUKAN

Abdul Rosyid Idris, Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah gagasan dan implementasi. www.fajaronline.co.id. Diakses 29 Januari 2006 Anonim. Kekuatan Ide-ide Bisnis Mujarab. www.swa.co.id. Diakses 30 Desember 2005. ----------. Tanggung Jawab Sosial Bukan Beban Bagi Perusahaan. www.kompas.co,id. Diakses 18 Desember 2005. ----------. Pemerintah Bentuk Tim Tangani SUTET. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Tower SUTET Dirusak. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Awas Listrik Munculkan Penyakit. www.republika.com. Diakses 7 Februari 2006. -----------. Proyek Jaringan SUTET PLN (1). www.suara merdeka.com. Diakses 7 Februari 2006 Azwar, Saifudin,1999. Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Arikunto,Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. PT.Rineka Cipta, Jakarta Djatmiko,Harmanto Edy. Saatnya Menabur. www.swa.co.id. Diakses 26 Desember 2005. Djoko,Tony. Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR). www.pertamina.com. Diakses 18 Desember 2005. Hasibuan, Sedyono Chrisanti. Sekali lagi CSR. Majalah SWA 23/XIX/10/ November 2003. Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis. CV.Alfabeta.Bandung. Wiryosimin, Suwarno. 1995. Mengenal Asas Proteksi Radiasi. ITB Bandung

Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta)
Heri Sudarsono

Abstract: The aims of this research are: (a) Describe financial and non financial compensation, intrinsic motivation and lecture performance; (b) Analyze the effect of financial compensation and intrinsic motivation to lecturer performance; (c) Analyze the effect of non financial compensation on intrinsic motivation; (d) Analyze the effect of non financial compensation and motivation to lecture performance. Based on description and path analysis, it shows that financial compensation and intrinsic motivation was in good condition and affecting lecture performance. Financial compensation as salary, incentive, and wage and intrinsic motivation as achievement knowledgement, the job it self, and responsibility has direct and indirect effect on independent variable, so the main model proposed could be decided as final model in path analysis. Key words: compensation, motivation, performance

Unsur manusia memegang peranan yang penting karena manusia menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, strategi maupun langkah kegiatan operasional suatu kegiatan. Manusia juga merupakan mahluk yang mempunyai pikiran, perasaan, kebutuhan dan harapan yang memerlukan perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi prestasi, dedikasi dan loyalitasnya terhadap organisasi (Hasibuan, 1990:222). Menurut hierarki kebutuhan Maslow (Robins, 1996:1990) manusia mempunyai kebutuhan bertingkat yang mencakup faal, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Heri Sudarsono adalah dosen Jurusan Manajemen FE Universitas Teknologi Surabaya

Pola penggajian secara proporsional dengan memberikan insentif pada tenaga dosen yang kinerjanya melebihi standart yang ditetapkan oleh organisasi merupakan salah satu metode untuk meningkatkan motivasi berprestasi. Persoalan yang sering mencuat bahwa secara umum kinerja dosen perguruan tinggi swasta (PTS) disinyalir menghasilkan kinerja yang masih dibawah dosen perguruan tinggi negeri (PTN). Oleh karena itu aspek pembinaan manusia dan motivasi kerja merupakan fokus utama perhatian organisasi. utamanya dosen ekonomi menjadi menarik untuk dilakukan. dosen juga berfungsi sebagai peneliti dan pengabdi. Berdasarkan latar belakang maka tujuan penelitian ini adalah: (a) Mendeskripsikan kompensasi financial dan finansial. Menurut Handoko. Dosen juga dituntut untuk memililiki kemampuan berfikir logis. menguasai prinsip penelitian serta mampu melaksanakan dan mengkomunikasikan hasil penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa disamping mengajar. Dalam konteks perguruan tinggi. penelitian dan pengabdian pada masyarakat. sehingga manusia merupakan asset yang harus ditingkatkan efisiensi dan produktivitasnya.Untuk memenuhi aneka ragam kebutuhan tersebut. yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi secara umum. keberadaan dosen menjadi factor yang sangat penting dalam kelangsungan kegiatan akademik. prestasi dosen juga ditentukan oleh frekuensinya dalam menyajikan makalah seminar. cara meningkatkan prestasi. hal yang dapat dilakukan adalah dengan menjadi anggota organisasi. Dengan pemberian insentif yang layak akan meningkatkan motivasi kerja dosen. Tumbuh dan berkembangnya organisasi tergantung pada sumber daya manusia. motivasi yang tinggi akan berdampak pada kinerja peningkatan produktivitas dan efisiensi. Untuk mencapai hal itu organisasi harus mampu menciptakan situasi dan kondisi yang mendorong dan memungkinkan pegawai mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki secara optimal. Berdasar tri dharma perguruan tinggi. disamping sebagai pengajar. Selanjutnya gaji merupakan salah satu faktor insentif yang sangat penting bagi dosen. motivasi intrinsik . Salah satu upaya yang ditempuh organisasi untuk menciptakan situasi tersebut yakni dengan memberikan kompensasi yang memuaskan karyawan. kritis. penulisan artikel ilmiah dan penyusunan buku. Oleh karena itu maka kajian tentang kinerja dosen PTS. motivasi dan kepuasan kerja adalah dengan memberikan kompensasi (1993:156).

upah. artinya dalam pemberian kompensasi harus terdapat unsur keadilan baik dalam kaitannya dengan waktu kerja maupun prestasi kerja. (e) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. (g) Memotivasi karyawan. (b) Prinsip keadilan. artinya pemberian kompensasi dengan memperhatikan perbandingan antara jumlah gaji tertinggi dan terendah. upah. seperti tanggung jawab. (d) Memberi rewards terhadap perilaku yang sesuai dengan organisasi. bonus dan komisi. (c) Prinsip . Agar pemberian kompensasi efektif. dan (h) Mengurangi Labor Turnover karyawan. tidak langsung atau tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi finansial langsung. (d) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. (b) Mempertahankan karyawan yang ada. 1991:185): (a) Prinsip kewajaran. (c) Menunjukkan adanya keadilan baik internal equity maupun external equity. Kompensasi finansial langsung terdiri dari bayaran yang diperoleh dalam bentuk gaji. Kompensasi finansial terdiri dari kompensasi finansial langsung dan tidak langsung. Kompensasi finansial langsung terdiri dari gaji. Davis &Werther (1996:381) menyebutkan ada beberapa tujuan dari pemberian kompensasi. Pemberian kompensasi yang tepat dan efektif dalam organisasi harus memenuhi syarat adil dan layak pada karyawan. Selanjutnya Simamora (1997). peluang pengakuan. (b) Mengkaji pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsic. organisasi perlu memperhatikan prinsip berikut (Wayne F. biaya hidup. peluang promosi. Kompensasi non-finansial adalah kompensasi yang diterima atas dasar pekerjaan itu sendiri. yang disebut juga tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi langsung. dan sebagainya.dan kinerja dosen ekonomi pada PTS. bonus dan komisi. Cascio. menyebutkan bahwa terminologi atau pembagian dari kompensasi terbagi dalam bentuk kompensasi langsung dan kompensasi tidak langsung. (e) Mengontrol dana. Kompensasi finansial tidak langsung. diantaranya: (a) Mendapatkan personal yang kualified. (c) Menganalisis pengaruh kompensasi finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. lingkungan psikologis atau fisik. yaitu kompensasi finansial dan kompensasi non-finansial. (f) Menyesuaikan dengan regulasi upah yang ada. Mondy and Noe (1993:20) yang menjadi dasar penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua jenis.

dengan yang tidak terkait dengan pekerjaan atau jabatan. yakni kebutuhan manusia dapat disusun dalam hierarki 5 kebutuhan. artinya pemberian kompensasi harus dihindarkan dari unsur pemborosan organisasi. (d) Prinsip kejelasan. Teori Maslow mengemukakan bahwa manusia dimotivasi oleh keinginan untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang ada.keamanan. dan kebutuhan . Motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan (Handoko. Terdapat beberapa teori motivasi yang menunjuk pada kebutuhan yang memuaskan dan mendorong semangat bekerja seseorang sebagai berikut. dalam pemberian kompensasi mudah dihitung atau mudah dimengerti oleh karyawan. yakni: upaya. Robbins (1996) menyebutkan bahwa motivasi merupakan kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi kebutuhankebutuhan individual. (e) Prinsip Pengendalian biaya. Sedangkan Widjaja (1986:12) berpendapat bahwa motivasi adalah kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. 1993: 252). artinya pemberian kompensasi memperhatikan hal yang tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan atau jabatan. (g) Prinsip keseimbangan. artinya dalam pemberian kompensasi hendaknya merupakan hasil atau kesepakatan bersama antara karyawan dengan pihak manajemen dalam organisasi. dari kebutuhan yang terendah sampai kebutuhan tertinggi. tujuan organisasi dan kebutuhan. (f) Prinsip perangsang. atau dengan kata lain motivasi adalah akibat dari interaksi antara situasi dan kondisi yang ada. artinya pemberian kompensasi harus mampu meransang karyawan untuk memberikan sumbangan yang maksimal atau konstribusi pada organisasi. Teori ini mendasarkan konsep hierarki kebutuhan pada dua prinsip. Siagian (1995) menjelaskan motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya. Berdasar beberapa definisi motivasi dapat dilihat adanya tiga unsur kunci. artinya pemberian kompensasi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kompensasi yang diberikan karena kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan. dan (h) Prinsip kesepakatan.

yakni motivasional dan higieni. pengakuan atas kemampuan dan keahliannya. Kebutuhan penghargaan. Kebutuhan akan aktualisasi diri dengan untuk menunjukkan kemampuan. Kebutuhan akan rasa aman dalam melaksanakan suatu pekerjaan dan merupakan harapan mendapat perlindungan terhadap bahaya. keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. Kebutuhan aktualisasi diri. (b) penghargaan. Faktor motivasi kerja intrinsik inilah yang menjadi penekanan peneliti. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan keinginan untuk dihormati. Menurut Herzberg (dalam Dressler. kebutuhan akan status. perumahan. Adapun tingkatan kebutuhan tersebut sebagai berikut: 1.yang telah terpuaskan akan berhenti menjadi motivator utama dari pelaku. Menurut Sukanto dan Handoko (1992:271). Kebutuhan sosial. kebebasan. dan sebagainya. minum. ancaman. tiap orang menginginkan dua macam kebutuhan. faktor motivator yang juga disebut satisfier yang berkenaan dengan isi pekerjaan dan faktor ini sebagai sumber kepuasan kerja yang dapat memotivasi seseorang pada pekerjaan mereka. seks. kemerdekaan. Hilangnya faktor pemeliharaan ini akan meningkatkan ketidakpuasan dan tingkat absensi serta labor turnover yang tinggi. kebutuhan akan cinta kasih. faktor higienis yang juga disebut dissatisfier yang berhubungan dengan hakekat manusia untuk memperoleh ketentraman lahiriah. kedudukan dan sebagainya. Kebutuhan ini meliputi penerimaan oleh teman sekerja. dihargai atas prestasinya. 3. Pertama. Serangkaian faktor ini meliputi: (a) pengakuan prestasi. perampasan dan atau juga proteksi terhadap harta kekayaan. Kebutuhan fisiologis. Kedua. 1992:334). (d) tanggung jawab. 5. dan berhubungan dengan lingkungan. 4. (c) pekerjaan itu sendiri. Kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan. Kebutuhan rasa aman. faktor motivasional disebut juga faktor intrinsik yang meliputi kondisi intrinsik dan kepuasan pekerjaan. dan (e) kemajuan. appresiasi. 2. Aktualisasi diri berkaitan dengan pengembangan akan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. Kebutuhan terhadap hubungan lingkungan sosial atau bersosialisasi. rasa memiliki. keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. . tidur.

sekaligus juga melihat besarnya penyimpangan dengan cara membandingkan antara hasil pekerjaan secara aktual dengan hasil yang diharapkan. 1996) mengemukakan bahwa kinerja merupakan pelaksanaan tugas yang telah diselesaikan seorang dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur. and then gives feedback to employees and the Human Resources Departement. pengawasan. hubungan antar rekan dan kondisi kerja. Handoko (1992:270) menyebutkan bahwa faktor higienis sendiri tidak menimbulkan motivasi tetapi diperlukan agar motivasi dapat berfungsi atau dengan kata lain berfungsi sebagai landasan motivasi. Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan. Atau dengan kata lain. harming the manager‟s relationship with their employees. If performance standart or measures are not job-related. administrasi. penetapan standar diperlukan untuk mengetahui apakah kinerja karyawan sesuai dengan sasaran yang diharapkan. mengukur kriteria-kriteria yang harus diukur dan selanjutnya memberi feedback kapada pegawai/karyawan dan bagian personalia. Prestasi kerja merupakan hasil keterkaitan antara usaha. Menurut Davis & Werther (1996:344). 1995:29).Faktor ini juga disebut faktor ekstrinsik yang mempengaruhi ketidakpuasan kerja. gaji. the evaluation can lead to inaccurate or biased results. measure those criterias. Artinya apabila perilaku seseorang memberikan hasil pekerjaan yang sesuai dengan standar atau kriteria yang dibakukan organisasi. tetapi tidak akan menimbulkan dorongan dan kepuasan kerja. dan jika sebaliknya berarti kinerjanya buruk. Jadi sistem penilaian yang efektif harus mengidentifikasikan kinerja yang sesuai dengan standar. Seymour (dalam Swasto. Faktor higienis meliputi kebijakan. Kinerja diartikan sebagai hasil usaha seseorang yang dicapai dengan kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. kemampuan dan persepsi tugas (Byars dalam Suharsimi. mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan kerja. maka kinerjanya tergolong baik. sistem penilaian kerja yang efektif memiliki beberapa elemen kunci: Appraisal approaches must identify performance-related standart. Perbaikan faktor higienis akan mencegah. .

Swasto (1996) mengemukakan bahwa prestasi kerja individu merupakan perpaduan antara motivasi yang ada pada diri seseorang. kemampuannya dalam melaksanakan suatu pekerjaan serta peralatan atau teknologi yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. kinerja merupakan fungsi interaksi antara motivasi kerja dengan kemampuan. model hipotesis dapat diuraikan hipotesis berikut: (1) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial terhadap motivasi intrinsic. bentuk penilaian prestasi kerja atau kinerja terangkum dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan. prestasi kerja. Dengan kata lain. dan dapat dituliskan sebagai berikut: p = f ( m x a ). ketaatan. prakarsa. (3) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. m = motivasi. kerjasama. kejujuran.Analisa tentang kinerja karyawan menurut Gomes (1995) senantiasa berkaitan erat dengan dua faktor utama: a) kesediaan atau motivasi seseorang untuk bekerja yang menimbulkan usaha karyawan. Berdasarkan model kajian penelitian tersebut. dharma penelitian dan dharma pengabdian pada masyarakat. . b) kemampuan karyawan untuk melaksanakan pekerjaan. dan kepemimpinan. tanggung jawab. (2) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. Indikator-indikator tersebut meliputi: kesetiaan. dimana p = performance. 13/MENPAN/1988 tentang Perincian Kegiatan dan Angka Kredit Jabatan Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi. dapat diturunkan menjadi model hipotesis pada Gambar 1. Dalam pendidikan tinggi atau perguruan tinggi. Berdasarkan beberapa definisi di disimpulkan bahwa ukuran kinerja dosen dalam penelitian ini adalah tingkat kinerja dosen dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya yang menyangkut tri dharma perguruan tinggi yakni dharma pendidikan dan pengajaran. dimana daftar tersebut memuat 10 indikator yang ada. dan (4) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. dan a = ability. Sesuai dengan Keputusan Menpan No.

untuk mendapatkan data primer serta memperoleh informasi tertulis dari responden sebagai obyek penelitian. Penulis memperoleh informasi melalui dokumen dari masing-masing PTS seperti program dan struktur kompensasi. Informasi yang diperoleh memperjelas atau mendukung jawaban yang disampaikan melalui kuesioner. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. dan sebagainya. (b) memperoleh informasi dengan reliabilitas dan validitas setinggi mungkin (Singarimbun. Wawancara. Kuesioner. Dilakukan dengan memberi daftar pertanyaan pada dosen yang menjadi sampel penelitian. jumlah dosen. Uji validitas dalam penelitian ini yakni . Instrumen dikatakan valid bila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur dan mampu mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tujuan utama dari pemberian kuesioner adalah: (a) memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Cara memperoleh data dengan jalan mengadakan tanya jawab langsung dengan pihak yang berkepentingan dengan harapan memperoleh informasi yang dibutuhkan. 1995). 2. Dokumentasi.P41 Kompensasi Finansial (X1) P31 Kompensasi Non Finansial (X2) Motivasi Intrinsik (X3) P43 Tingkat Kinerja Dosen (X4) P32 P42 Gambar 1 Model Hipotesis Penelitian METODE Teknik yang digunakan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian dilakukan dengan berbagai cara: 1. 3.

dan dilakukan dengan melihat standardized scatterplot. rata-rata sama dengan nol. (2) Metode analisis statistik inferensial yang digunakan untuk melihat pengaruh diantara variabel-variabelnya. 1991:172). Kriteria pengujian yang digunakan apabila reliabilitas suatu instrumen yang memiliki koefisien reliabilitas 0. menggunakan bantuan program komputer SPSS. artinya asumsi menginginkan model yang dipakai dapat secara tepat menggambarkan rata-rata variabel terikat dalam observasi.5 atau lebih. maka pelaksanaannya harus memenuhi beberapa asumsi klasik (Gujarati. . maka dapat dikatakan sebagai pengumpul data yang handal. Uji reliabilitas dalam penelitian ini. Karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan beberapa uji asumsi klasik diantaranya sebagai berikut: a) Asumsi normalitas. dimana asumsi ini terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk suatu pola tertentu. Untuk memperolah nilai koefisien yang tidak bias dan efisien dari persamaan estimasi menggunakan OLS. artinya adanya heterokedastisitas akan bertentangan dengan salah satu asumsi peneliti yaitu bahwa variabel residual harus sama untuk semua pengamatan. Analisis dilakukan secara kualitatif untuk menjelaskan dan mendeskripsikan hubungan data yang diperoleh dengan landasan teori yang dipakai melalui uraian sistematis. E(e) = 0.menggunakan analisis yang menghitung koefisien korelasi antara skor item dengan skor totalnya. Selanjutnya untuk analisis statistik inferensial dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Path Analysis dengan terlebih dahulu diadakan analisis faktor untuk tiap variabel. dengan taraf signifikansi 5% dan dengan bantuan program komputer SPSS for Windows. Untuk menganalisis data dan menguji hipotesis. c) Uji linieritas. (1) Metode analisis statistik deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan keadaan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dosen. b) Asumsi homokedastisitas. peneliti menggunakan taraf signifikansi 5 persen. Uji ini untuk mengetahui apakah model yang dipakai linier atau tidak.

Sedangkan hasil uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach dapat dilihat pada Tabel 1. 1998). Tingkat Kinerja Dosen Alpha 0. Pengujian Asumsi Klasik Uji Asumsi Normalitas Distribusi normal dalam statistik inferensial sangatlah penting. dan 0. Selanjutnya hasil uji validitas instrumen penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Valid tidaknya suatu item instrumen dapat diketahui dengan membandingkan antara indeks korelasi produk moment Pearson pada level signifikansi 5 persen dengan nilai kritisnya.1231. Jadi semua nilai residual data .8093 Simpulan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Sumber: Hasil Penelitian.0000. Menurut Sugiyono (1994) hasil penelitian valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.0000. Tabel 1 Rekapitilasi Hasil Uji Reliabilitas No 1 2 3 4 Variabel XI.7151 0. Hasil pengujian menunjukkan nilai chi Square sebesar 78. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen Validitas merupakan unsur penting bagi suatu instrumen karena uji ini menunjukkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan instrument dalam melaksanakan fungsinya. Instrumen dikatakan valid apabila memiliki koefisien diatas 0.0000 dengan nilai probabilitas sebesar 0. Bila probabilitas basil uji Chi Square lebih kecil dari 0. 2007 2.3 (Sugiono. Diolah.7350 0.HASIL 1. Motivasi intrinsik X4. oleh karena itu perlu diadakan uji asumsi yaitu menguji residual untuk mengetahui apakah data berasal dari distribusi normal atau tidak. Kompensai Non Finansial X3. Kompensasi Finansial X2.7114 0.05 (5 persen) maka distribusinya normal dan apabila sebaliknya maka terdistribusi tidak normal. dan 68. Uji yang dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square terhadap nilai standar residual hasil persamaan regresi.

685 0.002 0.501 0. Tabel 2 Rekapitulasi hasil Uji validitas Variabel X1.000 0.4 Y.7 X3.2 X2.001 0.3 Y.9 Y.5 Y.8 Y.9 X2.4 X2.576 0.000 0.013 U.767 0.7 X1.387 0. Motivasi intrinsik X4.643 0.2 X3.8 X3.4 X3.001 0. Tingkat Kinerja Dosen Sumber : Hasil Penelitian.000 0.046 0.662 0.689 0.9 Y.644 0.004 0.003 0.000 0.515 0.434 0.000 0.5 X2.001 0.542 ).004 0.000 0.000 0.7 X2.666 0.000 0.006 0. Kompensasi Non Finansial X3.10 Y.017 0.5 X3.651 0.6 X3.3 X2.003 0.563 0.492 0. Kompensasi finansial Item X1.6 X1.000 0.353 0.4 X1.000 0.455 0.8 X2.002 0.1 X2.495 0.455 0.619 0.456 0.543 0.10 X3.7 Y.11 Y. 1 X1.787 0.terdistribusi secara normal (Tabel 3).001 0.720 0.720 0.612 0.12 Koefisien Korelasi 0.313 0.600 0.696 0.481 0.5 X1.000 0.006 0.006 0.3 X3. 2007 .662 0. Diolah.455 0.471 0.407 0.000 0.000 Simpulan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid X2.028 0.689 0.6 X2.1 X3.006 0.l Y.003 0.2 Y.000 0.3 X 1.000 0.000 0.594 Probabilitas 0.2 X1.000 0.000 0.008 0.000 0.487 0.6 Y.8 X2.560 0.

sehingga variabel bebas tidak menyebabkan terjadinya heterokedastisitas. Kesimpulan yang didapat adalah terjadinya homoskedastisitas sehingga pengujian hipotesis dapat dilanjutkan.Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Variabel X1.252 0.178 0. Hasil uji dapat di lihat pada Tabel 4. 2007 .078 0.0000 Simpulan Normal Normal Sumber : Hasil penelitian. diolah. Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji koefisiensi korelasi Rank Spearman yaitu mengkorelasikan antara absolut residual hasil regresi dengan semua variabel bebas. Berdasarkan data dari rekapitulasi tersebut di atas menunjukkan bahwa semua variabel mempunyai nilai signifikansi di atas taraf kepercayaan 5 persen.434 0.7385 62.267 0. X3 terhadapX4 Nilai Chi Square 72. Diolah.X2 terhadap X3 Xl. Pengujian regresi memenuhi syarat jika diantara variabel bebas tidak terjadi heteroskedastisitas.0787 0.366 0.0000 0.0536 Probabilitas 0. Korelasi 0. X2. 2007 Uji Asumsi Heterokedastisitas Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah diantara variabel bebas terjadi hubungan atau tidak. Tabel 4 Rekapitulasi Hasil Uji Heteroskedastisitas Variabel bebas XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial X3 : Motivasi Intrinsik Koef.8308 Signifikansi (P) 0.336 Simpulan ' Homoskedasttsitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Sumber : Hasil Penelitian.0842 0.

Asumsi ini akan terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk pola tertentu (acak).7 sampai X1. 3. Deskripsi Kompensasi Finansial Untuk melihat distribusi frekuensi jawaban responden dari item yang disampaikan pada 65 orang respoden. Deskripsi Variabel yang Mempengaruhi Kinerja Dosen Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui sejauh mana distribusi frekuensi responden berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan kepada 65 responden yakni para dosen tetap di tiga perguruan tinggi swasta di Kediri. bagian 1 terdiri dari item (Xl. dan dilakukan dengan melihat Standardized Scatterplot. a. . dimana saling berkorelasi. maka pertanyaan dibagi menjadi tiga bagian. Ternyata hasil penelitian tidak menunjukkan adanya plot tertentu sehingga uji ini terpenuhi. yang secara detail dapat dilihat pada Tabel 5. variabel dalam penelitian ini meliputi kompensasi finansial (XI) dan kompensasi non finansial (X2).3 sampai X1.6).l dan X1.2). Sesuai dengan model analisis dalam penelitian ini. motivasi intrinsik (X3) serta tingkat kinerja dosen (X4) Selanjutnya akan diuraikan masing-masing variabel tersebut.8). bagian 2 terdiri dari item (X1. bagian 3 meliputi item (X1.Uji Linieritas Pengujian ini dilakukanuntuk mengetahui model yang dibuktikan linier atau tidak.

1.9. X2.77 10.Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kompensasi Finansial Jawaban Responden No. X2. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 Kesesuaian tentang sistem pemberian gaji Kesesuaian tentang besarnya gaji yang diterima Kesesuaian tentang sistem pemberian honor Kesesuaian tentang besarnya honor Kesesuaian tentang macam insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya tunjangan Kesesuaian tentang macam tunjangan 1 % 2 f % 6.00 0. dan X2. maka item pertanyaan dibagi menjadi empat bagian seperti dapat dilihat pada .31 b. X2.00 32.38 f 40 53 45 45 47 43 3 % 61.62 18.69 6 15 10. Deskripsi Motivasi Intrinsik Untuk mengetahui distribusi jawaban terhadap 65 responden.77 24.54 69.23 72. X2.54 81.38 76 92 9 3. bagian kedua meliputi item (X2. c.31 10.85 12.31 66.8.77 12. bagian pertama meliputi item (X2.46 6 7 8 0 00 0.46 15.23 69.7.54 0.4.2 dan X2. bagian ketiga meliputi item (X2.00 0.100.15 16 12 10 12 f 21 4 % 0. selanjutnya dapat dilihat Tabel 6.00 1.00 0.5. X2.77 49 50 75.31 10 15.3).38 18. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian.00 10.15 5 7. Deskripsi Kompensasi Non-Finansial Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban 65 responden variabel ini.6).

Tabel 6 Distribusi Kompensasi Non Finansial Jawaban No.85 24.92 16.31 6.10 sampai X4.00 60.62 16.00 61. Deskripsi Kinerja Dosen Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban terhadap 6> responden.22 25 38.46 17 26.46 .00 3.6.32 27 41.23 38.62 4.15 13.69 24.1 sampai X4.08 40.54 3. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8.92 7.31 13.7 sampai X4.Tabel 7.46 12. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Keadilan dalam promosi Pernyataan tentang kesempatan promosi Sistem kenaikan pangkat Kesempatan mengikuti diklat Dorongan studi lanjut Frekuensi mengikuti diklat Dukungan atasan Dukungan rekan kerja Suasana kerja yang mendukung Fasilitas kerja yang diterima 0 2 0 0 0 8 2 6 0 1 1 % 0.77 76.92 69. 4.62 12.00 0.54 f 22 16 11 11 11 5 16 8 9 12 Responden 4 % 33.08 0.00 1.00 0.23 0.9 dan bagian ketiga untuk item pertanyaan X4.46 63.15 12 18.85 f 40 44 46 50 45 25 41 26 39 40 3 % 61 54 67. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian yakni bagian pertama untuk item pertanyaan X4.00 f 3 3 8 4 9 2 % 4.68 70.85 18.08 9.92 16.62 12.12. bagian kedua untuk item X4.54 6 9.

54 9.69 14 21.00 0.62 0.23 9.08 38 58.69 9.00 0. modul 12 31 40 61.62 Membimbing kuliah kerja nyata Membuat diktat.00 12 18.23 12 18.85 24 36.54 44 67.23 9.23 7.23 6.08 45 69.77 44 67.77 12 18.22 3.00 0.92 47 72.77 46 70.Tabel 7 Distribusi Frekuensi Motivasi Instrinsik Jawaban Responden No.54 0.46 37 56. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pengakuan prestasi dan atasan Prestasi menjadi dorongan Utama Penghargaan yang diterima Keadilan pemberian penghargaan Kesesuaian pekerjaan Beban mengajar yang diterima Senang terhadap pekerjaan Pemberian tanggung jawab Sikap terhadap tanggungjawab 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 % 0.23 16 24.00 0.54 47 72.00 0.46 0.62 10.00 0.00 0.46 10.32 12 18.00 0.92 16 24.00 7 6 6 4 8 10.23 14 21. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 Keinginan memperoleh Ijazah sampai stratum tertinggi Memberi kuliah Menyelenggarakan di lab.69 15 23.00 1.54 17 26 15 .77 46 70.00 f 7 2 % f 3 % f 4 % 10.77 12 18.46 45 69.00 15 23.23 14 21.46 Tabel 8 Distribusi Frekuensi Kinerja Dosen Jawaban Responden No.00 8 7 6 5 6 2 7 23.31 16 24.15 45 69.46 0.77 39 60 00 19 29.46 12 18.08 45 69.08 35 53. Membimbing mahasiswa pendidikan seminar 0 0 0 0 0 0 1 % f 2 % f 3 % f 4 % 0.

Jika beta signifikan.0000.00 33 50. Artinya bahwa variabel kompensasi finansial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel motivasi intrinsic.15 40 61.54 10 15. kompensasi non finansial. maka signifikan pula koefisien jalurnya. Hasil perhitungan regresi antar factor dan identifikasi jalur pada tiap tahap dapat dijelaskan berikut: a.85 41 63.08 14 21.62 3 4 % f % f 42 64.54 0.85 14 21.00 1 54 f 6 3 9 2 % 9. Sebelum analisa jalur.38 42 64 62 12 18.77 19 29.46 5.31 1.54 13.23 0 00 17 26. Pengujian analisis jalur dilakukan melalui penyaringan statistik dengan menggunakan koefisien arah beta untuk regresi berdasarkan data dalam bentuk skor baku karena dapat dibuktikan. Tahap 1 Uji Jalur P31 Pada dasarnya uji analisis jalur ini.548876 dan signifikansi t = 0.54 8 12. di mana variabel kompensasi intrinsic ke varibel motivasi intrinsic disebut jalur dengan nilai beta sebesar 0. Jika variabel kompensasi intrinsic dinaikkan satu poin. Juga dilihat interkorelasi antara variabel penelitian yakni kompensasi finansial.Tabel 8 (Lanjutan) Jawaban Responden No.62 17 26 15 48 73. maka variabel motivasi intrinsic akan naik sebesar . 7 8 9 10 11 12 Item Pertanyaan Menulis karya ilmiah Menyajikan karya ilmiah Menampilkan karya ilmiah tidak dipublikasikan Memberi penyuluhan masyarakat Memberi pelayanan yang menunjang pemerintah Membuat karya pengabdian f 0 0 1 0 0 1 1 % 0 00 0. Hasil Analisis Jalur Menggunakan pengujian analisis jalur (path analysis).00 13 20. motivasi intrinsik dan tingkat kinerja dosen.22 4. dilakukan pengujian hipotesis yang telah diajukan sebelumnya. perlu dilakukan analisa faktor yang digunakan untuk mencari faktor yang menentukan masing-masing variable bebas.

didapatkan nilai beta sebesar 0. di mana jalur variabel kompensasi financial ke variabel Tingkat kinerja dosen disebut jalur P41 dengan nilai beta sebesar 0. 354285. Tahap 3 Uji Jalur P32 Dalam uji jalur full merupakan jalur faktor dari variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel motivasi intrinsik. e. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin.0010. Artinya variabel motivasi intrinsik . maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. d.520431 dengan signifikansi t sebesar 0.398286 dan signifikansi t 0.2731. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin. didapatkan nilai beta 0. Tahap 4 Uji Jalur P42 Uji ini merupakan uji jalur faktor variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel tingkat kinerja dosen. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. Jika variabel kompensasi financial dinaikkan satu poin. Artinya variabel kompensasi financial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen. didapatkan nilai beta 0. Tahap 5 Uji Jalur P43 Uji ini merupakan i0i jalur faktor variabel motivasi intrinsik ke variabel tingkat kinerja dosen.354285 dengan signifikansi t sebesar 0. c.548876.0005. b.0005.0. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap variabel intrinsik.398286 dengan signifikansi t sebesar 0. Tahap 2 Uji Jalur P41 Dalam uji jalur ini.0142. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap tingkat kinerja dosen. maka varibel motivasi intrinsik akan naik sebesar 0.2.0010.232731 dengan signifikansi t sebesar 0.

13 persen variabel kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik.0005 0. artinya terdapat kontribusi 30.30 127 dengan signifikansi F 0. Tabel 9 Rekapitulasi Hasil Analisis Jalur Variabel terikat Motivasi Intrinsik (X3) Kinerja dosen (X4) Variabel bebas Kompensasi finansial (X1) Kompensasi non finansial (X2) Kompensasi Finansial (X1) Motivasi lntrinsik (X3) Kompensasi non Finansial (X2) beta Sig.0000 0.23731 0. Hipotesis 2: Diduga ada pengaruh Kompensasi Finansial dan Motivasi Intrinsik Terhadap Kinerja Dosen Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 2 diterima. t R Square 0. variabel kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik dosen didapatkan koefisien korelasi sebesar 0.520431. Mengacu pada tabel di atas. BAHASAN Pada prinsipnya dalam menjawab hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dilakukan melalui analisa jalur.398286 0. Hal ini dibuktikan variabel Kompensasi finansial dan motivasi .0000 0. Selanjutnya hasil analisa untuk masing-masing hipotesis dapat dilihat pada Tabel 9.520431 0.354285 0.548876 0. Apabila variabel motivasi intinsik dinaikkan satu poin.0142 Hipotesis 1: Diduga ada pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik Hasil analisa data menunjukkan bahwa hipotesis dinyatakan diterima. Nilai R2 sebesar 0. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0.15863 0.0010 0.59877 0.30127 0.54888 yang berarti terdapat hubungan yang kuat.0000.59877 0.55664 0.berpengaruh terhadap variabel tingkat kinerja dosen.

R2 sebesar 0. Nilai R2 sebesar 0. Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 4 diterima.74608 dengan signifikansi F sebesar 0.0000. Nilai R2 sebesar 0. yang berarti terdapat hubungan yang kuat. artinya terdapat kontribusi sebesar 15.88 persen. Hipotesis 3: Diduga ada pengaruh Kompensasi non finansial terhadap movitasi instrinsik.15863.67 persen dari kompensasi non finansial dan motivasi instrinsik terhadap kinerja dosen. Ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0. pengaruh kompensasi finansial dan motivasi Intrinsik sebesar 59.59877 dapat dikatakan kompensasi finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen. Hal ini disebabkan variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel motivasi intrinsik dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0.87 persen dan kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik. Hipotesis 4: D duga ada pengaruh Kompensasi non finansial dan motivasi intrinsik terhadap kinerja dosen. Hasil regresi menunjukkan bahwa hipotesis ketiga dapat diterima. .0010.55664 artinya terdapat kontribusi pengaruh sebesar 55.intrinsik mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap tingkat kinerja dosen.0000.39829 dengan signifikansi t sebesar 0. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0.77380 dengan signifikansi F sebesar 0.

pekerjaan itu sendiri. kompensasi finansial dan motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen dapat dibuktikan secara statistik. kompensasi non finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsic dapat diterima secara statistic.000 Beta = 0. honor dan insentif secara parsial mempunyai pengaruh sebesar 0.548876 Motivasi Intrinsik (X3) P43 sig t 0. Hipotesis kedua. dan tanggungjawab berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen.0005. beta = 0. Hipotesis keempat.30127 atau 30. Ini menunjukkan bahwa kompensasi finansial yang terdiri dari gaji.232731 Gambar 2 Model Hasil Pengujian Hipotesis SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1.0142.13 persen terhadap motivasi intrinsik. beta = 0.354285 Kompensasi Finansial (X1) P31 sig t 0. 2. beta = 0.Berdasarkan hasil analisis dapat dibangun model empiris pada Gambar 2. kompensasi non finansial dan variabel intrinsik mempengaruhi kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada PTS di . Kompensasi finansial yang terdiri dari gaji. Hipotesis ketiga. dan honor serta motivasi intrinsik yang terdiri dari pengakuan prestasi.0010. ditunjukkan oleh nilai F hitung 11.87801. beta = 0.520431 Kinerja Dosen (X4) P32 sig t 0. P41 sig t 0. 3.39829 Kompensasi Non Finansial (X1) P42 sig t 0.0000. 4. kompensasi finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsik dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta dapat diterima secara statistik. Hipotesis pertama. insentif.

67 persen terhadap variabel tingkat kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta di Kediri. PTS seyogjanya memperhatikan variabel kompensasi ini guna meningkatkan motivasi intrinsik dosen. sisanya 44. Saran Berdasar pada hasil kajian diatas sangat jelas bahwa variabel kompensasi baik variabel kompensasi finansial maupun variabel kompensasi non finansial sangat erat hubungannya dengan motivasi intrinsik dosen. Selanjutnya motivasi intrinsik tersebut akan berdampak langsung pada kinerja dosen.Kediri dapat diterima. . Kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik mempunyai pengaruh yang signifikan sebesar 55. Perguruan tinggi harus memperhatikan bagaimana meningkatkan movitasi intrinsik dosen tersebut. Dengan meningkatnya motivasi intrinsik diharapkan kinerja dosen akan bertambah baik pula dalam rangka pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Baik buruknya kinerja dosen akan sangat dipengaruhi oleh motivasi intrinsik dosen.33 persen dipengaruhi oleh variabel lainnya diluar model.

Swasto. Hasibuan. Mc Grw Hill. New York. Jakarta. Prosedur Penelitian : Suatu pendekatan Praktek. Manajemen Sumber Daya Manusia. Robert. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. . 1996. S. BPFE Yogyakarta. Siagian. ANDI Offset. Allyn & Bacon. Edisi Revisi II. Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan. Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi. Mondy. Widjaja.F. P. Manajemen Sumber Daya Manusia. 1990..P. W. USA. Yogyakarta. Jakarta. Prehalindo. Second Edition. Managing Human Resources : Productivity. Davis. Keith & Werther. Cetakan kelima. Haji Masagung. Suharsimi. 1995. Yogyakarta. Manajemen Sumber Daya Manusia. 1988. Perilaku Organisasi : Konsep. M. Jakarta. Mc Graw-Hill. 1986. Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. Cushway. Yogyakarta. Pt Rineka Cipta. Human Resources Management. Jakarta.T. Massagung. Wayne & Noe. Hani. Inc. B. 1989. Pressindo. Edisi 2. Human resources Management. 1993. 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia. Kontroversi dan Aplikasi. Gomes. Sondang. Jakarta. The Association for Management Education and Development. Jilid I. 1997. Henry. 1994. Simmamora. 1995. BP STIE YKPN. 1996. A. Quality of Work Life. Robbins. 1992. Human Resources and Personnel Management.DAFTAR RUJUKAN Cascio. London.. Handoko. Profits.

PKn. Substansi pesan pembelajaran (bahan ajar) selama ini. belum mampu memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan dialog mendalam dan berpikir kritis. documentation. Ktut Diara Astawa. dan terbatas pada pengembangan pengetahuan (kognitif). The result of this research was model with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach which is pleased to be able to increase dialogue and critical thinking skill Key words: Bahan Ajar. pesan pembelajaran masih bersifat informatif. and were analyzed by discriptive statistic.The data was collected by questionnaires. The Subyects of this research were 20 teachers of Civics in senior hight school and 20 Experts. Lembar Kegiatan siswa. The research was desained as research and development by Borg & Gall (1982). Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT). Sri Untari.Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialog dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari Suparlan Al Hakim Ktut Diara Astawa Nur Wahyu Rochmadi Abstract: This research aimed to developing book and the sheet activity of student Civics with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach. Suparlan Al Hakim. Fenomena yang nampak. dan Nur Wahyu Rochmadi adalah dosen Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang .

sehingga menyebabkan rendahnya kesadaran siswa untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan beripikir kritis. tanpa ada tindak lanjut dalam bentuk perilaku. kajian deep dialogue/critical thinking sebagai paradigma pengembangan pendidikan berlaku prinsip Unity in policy and deversity in implementation. empati dan mengurangi prasangka siswa. Dalam tataran praksis. keterbukaan. berpikir kritis. praktik pembelajaran seharusnya dikemas dengan menggunakan pendekatan dialog mendalam dan berpikir kritis (deep dialogue/critical thinking). yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Hal ini dikarenakan hanya terbatas upaya meningkatkan pengetahuan siswa. khususnya dalam pembelajaran PPKn perlu diperhatikan kaidah-kaidah DD/CT. pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya ditekankan pada pembentukan kepribadian manusia. dapat diartikan bahwa percakapan antara orang-orang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal. Dalam kaitan itu Untari (2002) mengidentifikasikan sebagai berikut: Pertama. Secara programatik. saling keterbukaan. Agar deep dialogue/critical thinking dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. proses pendidikan yang berlangsung selama ini diduga belum berhasil meningkatkan kemampuan berdialog. kesenjangan sosial. Untuk mencapai misi tersebut. dan rendahnya empati dan tingginya prasangka terhadap orang lain. yaitu rasa egoisme kelompok yang tinggi. 2001). terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia (Dikti. membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar.Selain itu. karena sifat terbuka dalam diri akan membuka peluang . Deep dialogue (dialog mendalam). langkah awal untuk melakukan dialog mendalam dan berpikir kritis individu harus membuka diri terhadap mitra dialog. baik yang ditampakkan dalam proses pembelajaran maupun kemasan materi dalam bentuk bahan ajar dan lembar kegiatan siswa. Bahkan diduga telah menghasilkan hal yang sebaliknya. 2000). Justru kenyataan ini sebagai kelebihan lain dari penerapan deep dialogue/critical thinking. Sedangkan ciritical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis. jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI.

bersikap jujur dan penuh kepercayaan diperlukan dalam deep dialogue/critical thinking. Keempat. menunjung nilai-nilai moral. mengubah dan memodifikasi pemahaman mereka. Artinya kita paling mengetahui apa yang kita ketahui. . untuk memperdalam. sebab dialog hanya akan bermanfaat manakala pihak-pihak yang melakukan bersikap jujur dan tulus. Selanjutnya melangkah pada permasalahan umum yang dapat dihadapi bersama atau mencari solusinya. demokratis yakni dengan memperlakukan mitra dialog sedemikian rupa sehingga berketetapan hati untuk berdialog. Untuk menanamkan kepercayaan pribadi. harapan. Hal ini penting karena kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama atau dengan bekerjasama akan menghasilkan pemecahan yang menguntungkan pihak-pihak yang bermasalah (win-win solution).Artinya masing-masing mengemukakan tujuan. dan mitra dialog kita paling mengerti apa yang mereka ketahui. Kedua. Hal ini dilakukan mengingat bahwa dialog pada hakekatnya bertujuan untuk saling berbicara. etis atau santun. Dengan demikian kejujuran merupakan prasyarat terjadinya dialog atau dengan kata lain tidak ada kepercayaan berarti tidak ada dialog. Dialog sebagai suatu kegiatan memiliki dua sisi yakni dalam masyarakat (intern) dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya (antar). selanjutnya memilih pokok-pokok permasalahan yang memungkinkan memberi satu dasar berpijak yang sama. serta saling percaya diantara mereka. Pemahaman realitas dan bertindak secara tepat merupakan hasil berpikir kritis. deep dialogue/critical thinking terjadi manakala masing-masing pihak yang berdialog menjunjung tinggi nilai-nilai moral. belajar dan mengubah diri masing-masing pihak yang berdialog. kejujuran. Di samping itu masing-masing saling mempelajari. kita dapat belajar. Dengan demikian ketika masuk dalam dialog.untuk belajar. sehingga perubahan yang terjadi pada masing-masing pihak merupakan hasil berpikir kritisnya sendiri (self-critical thinking). Ketiga. saling menghargai. mengubah dan mengembangkan persepsi. untuk memperluas wawasan bersama. kesulitan dan cara mengatasinya melalui berpikir kritis secara apa adanya. berubah dan berkembang dalam rangka meningkatkan berpikir kritis. langkah awal adalah mencari kesamaan dengan cara bekerjasama dengan orang lain. kerjasama.

(2) bertujuan untuk melaksanakan belajar secara bermakna. Dalam berdialog harus menghadirkan hati dan tidak hanya fisik. Jangan menilai sebelum meneliti. masing-masing pihak yang berdialog dapat memberi respon kepada mitra dialog secara baik.1995). Untuk itu bahan harus: (1) bermakna secara potensial. deep dialogue/critical thinking akan terjadi manakala masing-masing pihak menghadirkan hati. Ausubel (dalam Irawan. Oleh karenanya saling mengakui keunggulan masing-masing akan diperoleh pemahaman bersama secara baik Keenam. masyarakat dan tradisinya. dan menghindarkan menjadi penceramah. bandingkan secara adil dalam berdialog sedapat mungkin kita tidak menduga-duga tentang hal yang disetujui dan hal yang akan ditentang. saling memberi yang terbaik. Dengan menghadirkan hati. merupakan ungkapan yang tepat dalam membangun deep dialogue/critical thinking. Global Dialogue Institut merumuskan sebuah pendekatan pembelajaran yang dipandang cocok untuk PKn yakni Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking (DD/CT) yang mengandung prinsip: komunikasi multi arah. menjalin hubungan .2002).Kelima. Kita jauhkan prasangka. Untuk itu guru dituntut memiliki kualifikasi baik sebagai inovator sekaligus developer pembelajaran yang dilakukan dengan pembaharuan pembelajarannya maupun melakukan adopsi kritis terhadap inovasi pendidikan (Rogers. (Frazee&Rudnitski. pengkotbah atau yang mendominasi proses dialog. seolah kita yang memiliki kelebihan daripada mitra dialog kita. pengenalan diri sendiri untuk mengenal dunia orang lain. (Raka Joni.1981). Oleh karena itu Rianto (2000) berpendapat dalam pandangan teori belajar humanistik. membangun empati.1995) dan guru perlu menguasai ketrampilan dasar mengajar (Wardani dala Endang Danial.1996) dalam teori belajar bermakna (meaningful teaching theory) mengemukakan bahwa kebermaknaan penyajian dan pentingnya pengaturan kemajuan belajar (advance organizer) dimana bahan harus dirancang baik agar menarik minat siswa. belajar menekankan pada isi dan proses yang berorientasi pada peserta didik sebagai subyek belajar. saling mengakui keunggulan. sehingga siswa memiliki kesiapan dan minat untuk belajar. Membangun empati dalam dialog mendalam pihak-pihak yang berdialog dapat menyetujui dengan tetap menjaga integritas diri mitra dialog.

bertanggung jawab. Penelitian Pengembangan pada tahap kedua adalah bagaimana menyusun bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang bisa berterima secara teoritis maupun praktis.kesederajatan. dokumentasi. pedoman wawancara. Instrumen yang digunakan dalam penelitian tahap pertama ini adalah kuesioner. 2002). (2) tersusunannya bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan pendekatan DD/CT yang berterima baik secara teoritis maupun praktis bagi siswa SMA di Jawa Timur METODE Subyek penelitian ini adalah praktisi (guru PKn di SMA Jawa Timur) sejumlah 10 orang dan pakar PKn berjumlah 10 orang. dan persentase) untuk data-data yang diambil dengan kuesioner. mode. saling memberadabkan (civilizing) dan memberdayakan (empowering). Lokasi penelitian ini adalah Kota Malang. Rancangan kuantitatif dipergunakan untuk menjelaskan bahan ajar dan LKS Matapelajaran PKn berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking untuk siswa SMA . terutama dalam pendidikan anak seutuhnya (PAS). DD/CT mengandung nilai demokratis dan etis sehingga beraitan dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia. demokratis. Kuesioner dan wawancara dipergunakan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking . cerdas dan religius. dan wawancara. Teknik analisis statistik deskriptif (rerata. Berdasarkan latar belakang di atas tujuan penelitian ini adalah (1) menemukan kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn yang berbasis DD/CT. Dengan rancangan penelitian pengembangan. Produknya berupa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan . Swidler menekankan bahwa DD/CT lebih merupakan cara berpikir baru (new way of thinking). Analisis domain untuk data yang diambil dengan analisis dokumen. sehingga akan menunjang pembentukan warga negara yang baik. keterbukaan dan kejujuran serta empatisitas yang tinggi ( Al Hakim.

kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang berterima secara teoritis maupun praktis. jika sudah dibuat dengan baik sesuai dengan materi yang akan diajarkan. a. . buku mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah menurut pakar dan guru dikategorikan seperti dalam Tabel 1. Paling tidak ada lima langkah utama dalam prosedur pengembangan bahan ajar yang baik. Penelitian dimulai dengan memadukan hasil penelitian tahap pertama dengan dengan kajian teori untuk menghasilkan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA Pengembangan bahan ajar perlu dilakukan secara sistematik berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait untuk menghasilkan bahan ajar yang bermanfaat. maka bahan ajar dapat digunakan dengan efektif dalam proses pembelajaran. Padahal ada beberapa langkah yang harus dilakukan guru sebelum sampai pada kesimpulan bahawa bahan ajar sudah dikembangkan dengan baik. Guru seringkali mengabaikan prosedur pengembangan bahan ajar yang sistematik ini karena berasumsi. Struktur Bahan ajar Mata Pelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan struktur bahan ajar. sebagai berikut Analisis Perancangan Pengembangan Evaluasi Revisi HASIL 1. serta bahan ajar yang digunakan memang baik. Karakteristik Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara yang dilakukan dengan para pakar dan praktisi diketahui sebagai berikut.

4. menurut pakar dan praktisi 53% menyatakan sistematis dan semua mengacu pada satandar isi.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. 3. Ditinjau dari Paparan materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT menurut guru dan pakar dikategorikan seperti dalam Tabel 2 berikut. 2.dan 10% menyatakan sistematis tetapi tidak mengacu pada standar isi. 4. Paparan Materi Buku Teks Mata Pelajaran PKn Semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Tidak runtut dan tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Jumlah Jumlah 35 4 1 0 40 100% % 87. sebanyak 87. dan 2.5% 10% 2.5% Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa paparan materi bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 2. 10% pakar dan praktisi /guru menyatakan sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi.Tabel 1 Struktur Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. sedangkan 37% pakar dan praktisi menyatakan sistematis dan sebagian mengacu pada standar isi. Tabel 2 Paparan Materi Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi . Struktur Buku Teks Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Jumlah Jumlah 21 15 4 0 40 % 53 37 10 0 100% Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa struktur bahan ajar PKn berbsis DD/CT yang digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran. 3.

5% menyatakan sangat mudah dipahami. dan 30% menyatakan cukup luas. 5. Tabel 3 Keluasan Materi Bahan Ajar Mata Pelajaran PKn berbasis DD/CT No 1. 4. 4.5% 5% 50% 42. 42. Tabel 4 Tingkat Kesulitan Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. Tingkat Kesulitan Materi Buku Teks PKn Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 2 20 17 40 % 2. 2. 2. 20% menyatakan mudah dipahami. 5. 5% menyatakan cukup sulit dipahami. Ditinjau dari tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT yang dipergunakan sebagai sumber bahan ajar dalam proses pembelajaran di sekolah dikategorikan seperti dalam Tabel 4 berikut. . Keluasan (scope) Materi Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 10 18 12 0 0 40 % 25% 45% 30% 100% Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa keluasan (scope) materi bahan ajar matapelajaran PKn berbasis DD/CT. dan 2. sebanyak 45% menyatakan luas.5% 100% Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 3. sebanyak 25% menyatakan sangat luas.Ditinjau dari keluasan (scope) materi bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam Tabel 3 berikut. .5% menyatakan sulit dipahami. 3.

2. 4. 5% pakar dan praktisi menyatakan bahasa terlalu tinggi untuk siswa SMA.5% bahasa kurang sesuai dan 2. 1 12 23 4 0 40 2. 7. 5. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 6 seperti berikut. Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa sangat sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 2 3 25 9 1 40 % 5% 7.22.5% 62.5% menyatakan bahasa bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Ditinjau dari paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. 4.5% 100% Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa tingkat keterbacaan (bahasa) materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT.5% 2. Tabel 6 Paparan Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Paparan Awal Buku Teks PKn menggunakan Cerita. 62. 5. 3. Puisi atau Peristiwa yang Relevan dengan Materi Pokok Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1.5% 22.5% 30% 57.5% menyatakan bahasa sangat sesuai untuk siswa SMA.Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa) yang digunakan dalam materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam tabel 5 berikut: Tabel 5 Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. 3.5% 10% 100% . 2. Lagus.5% menyatakan bahasa sesuai.

12. contoh realitas kehidupan. menurut guru dikategorikan dalam Tabel 8 sebagai berikut.5% menyatakan kadang-kadang. 5. atau kalimat naratif.5% pakar dan praktisi menyatakan tidak ada. kalimat naratif. 30% menyatakan sering. 4.Ditinjau dari apakah materi Awal bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar. 3. 2. 5. kadang-kadang. 32. 22 13 5 0 0 40 55% 32. 2. apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. 2.5% 100% Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memaparkan ilustrasi berupa gambar.Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT. contoh realitas kehidupan. Tabel 8 Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam No 1.5% menyatakan selalu.5% menyatakan sering. 4. 3. kalimat naratif Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1. Tabel 7 Paparan Ilustrasi dalam Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar. dan 2. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 7 seperti berikut.5% 12. sebanyak 55% menyatakan selalu. Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 12 23 5 0 0 10 % 20% 30% 50% 100% . 57. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam. contoh realitas kehidupan.5% .

4. 30% guru menyatakan sering. 2.5% menyatakan kadang-kadang. Materi Bahan Ajar Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 23 12 5 0 0 40 % 57. 3. 5. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 9 sebagai berikut. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan responden penelitian ini diketahui bahwa lembar kegiatan siswa (LKS) PKn Berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam tabel 10 sebagai berikut.5% responden menyatakan selalu.5% 100% Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis. 5. 3.5% 15% 100% . dan 20% guru menyatakan selalu. Tabel 9 Materi Bahan Ahar PKn Berbasis DD/CT Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis No 1. Tabel 10 Keberadaan LKS Berbasis DD/CT dalam Proses Pembelajaran PKn No 1. Keberadaan LKS Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Lain-lain Jumlah Jumlah 20 11 3 6 0 40 % 50% 27. 30% menyatakan selalu. sebanyak 50% guru menyatakan kadang-kadang.Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa materi bahan ajaran mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog mendalam.5% 7. dan 12. 2. sebanyak 57. 4.5% 30% 12. 2.

seperti dalam Tabel 11 berikut. 2. Karakteristik LKS Berbasis DD/CT ditinjau dari struktur LKS PKn yang dipergunakan dapat dikategorikan dalam Tabel 12 sebagai berikut: Tabel 12 Struktur LKS PKn Berbasis DD/CT No 1. 27.Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa keberadaan LKS dalam setiap materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran di sekolah. 5.5% menyatakan kurang perlu. 50% menyatakan sangat perlu.5% 100% . dan 15% menyatakan tidak perlu. 5% menyatakan LKS dibuat setelah topik. 25% menyatakan LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan. 4. Struktur LKS PKn Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Lain-lain Jumlah Jumlah 37 2 0 0 1 40 % 92. 7. Kaitan LKS dan Bahan Ajar LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan LKS dan Bahan Ajar dibuat secara terpisah LKS dimuat setelah materi/topic LKS diletakkan setelah seluruh materi/topik Jumlah Jumlah 10 6 2 22 40 % 25% 15% 5% 55% 100% Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa hubungan lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam setiap materi pembelajaran PKn di sekolah dengan bahan ajar. 55% menyatakan LKS diletakkan setelah seluruh materi. 15% menyatakan LKS dan Bahan Ajar dibuat terpisah. 4. Tabel 11 LKS Terkait dengan Bahan Ajar PKn No 1. 2. 3. Lembar kegiatan siswa (LKS) PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn menurut pakar dan praktisi terkait dengan bahan ajar PKn berbasis DD/CTi.5% 5% 2.5% menyatakan perlu. 3.

4.5% menyatakan sistematis semua mengacu pada standar isi. 90% menyatakan runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi.5% 62. 5. 4. 5. 3. dan 10% menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. dan 2.5% menyatakan lain-lain. 3. sebanyak 92. Tabel 13 Paparan LKS PKn Berbasis DD/CT No 1. 5% menyatakan sistematis sebagian mengacu pada standar isi. Ditinjau dari keluasan (scope) LKS materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 14 sebagai berikut: Tabel 14 Keluasan Materi LKS No 1.Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa struktur lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT. 2. Ditinjau dari sisi pemaparan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam Tabel 13 sebagai berikut.5% 5% 100% . 2. Keluasan (scope) Materi LKS Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 0 13 25 2 0 40 % 32. Paparan LKS Runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi Tidak runtut dengan kompetensi dasar pada kurikulum Lain-lain Jumlah Jumlah 36 0 4 0 0 40 % 90% 10% 100% Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa pemaparan lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT pada mata pelajaran PKn.

2. Tabel 16 Tingkat Keterbacaan Materi LKS No 1.5% 100% Berdasarkan Tabel 16 diketahui bahwa tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. dan 5% menyatakan sempit.5% menyatakan cukup luas. 5. 4.5% menyatakan luas. Ditinjau dari tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam tabel 14 sebagai berikut: Tabel 15 Tingkat Kesulitan Materi LKS No 1.5% menyatakan sulit dipahami. sebanyak 2. sebanyak 97. 37. 4. 5. dan 60% menyatakan mudah dipahami. Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa yang digunakan) LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 16 sebagai berikut. Tingkat Keterbacaan Materi LKS Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 0 1 39 0 0 40 % 2.5% menyatakan cukup sulit dipahami. 2. Tingkat Kesulitan Materi LKS Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 15 24 0 40 % 2. sebanyak 32.5% 60% 100% Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 3. 3.Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa keluasan (scope) materi lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT.5% 97.5% responden .5% 37. 62.

syair lagu daerah (lokal) Peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok Lain-lain Jumlah Jumlah 10 2 1 26 1 40 % 25% 5% 2. 2.5% menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. 65% memuat peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok. Tabel 17 Paparan Awal LKS No 1. Tabel 18 Ilustrasi dalam LKS No 1. 25.5% 65% 2.5% menyatakan lain-lain.% responden menyatakan memuat cerita 5% menyatakan memuat syair lagu. 4. dan 2. 2. Paparan Awal LKS Cerita Syair lagu nasional atau local Puisi. 56% memuat contoh . Ditinjau dari pola pemaparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan dalam proses pembelajaran dapat dikategorikan dalam tabel 17 sebagai berikut.5% memuat pusi.menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. 2. 3. 4. 3. 5.5% 100% Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa paparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan. 5. Ditinjau dari ilustrasi dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut responden dapat dikategorikan dalam Tabel 18 sebagai berikut. Ilustrasi dalam LKS Gambar Contoh realitas kehidupan Bagan dan grafik Kalimat naratif (uraian) Lain-lain Jumlah Jumlah 2 25 3 10 5 45 % 4% 56% 6% 22% 12% 100% Berdasarkan Tabel 18 diketahui bahwa ilustrasi dalam LKS PKn berbasis DD/CT. 4% menyatakan memuat gambar. 2.

Tabel 19 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1. Tabel 20 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1.5% menjawab kurang. 22% menyatakan memuat kalimat narasi. 3. 30% menyatakan cukup memfasilitasikadang-kadang. menurut guru dapat dikategorikan sebagai berikut. 6% menyatakan memuat bagan. Pertanyaan dan Tugas LKS Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 21 12 5 2 40 % 52.5% guru menjawab sangat menfasilitasi.5% 2. 4.5% 5% 100% Berdasarkan Tabel 19 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi terjadinya dialog mendalam diantara siswa.5% 30% 12. 2. 5. 3. 4. dan 12% menyatakan memuat lain-lain. 5% menjawab tidak memfasilitasi Ditinjau dari apakah pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut responden dapat dikategorikan sebagai berikut. 5.5% 100% . Pertanyaan dan tugas dalam LKS PKn Memfasilitasi Siswa untuk Berpikir Kritis Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 28 10 1 1 40 % 70% 25% 2. 2. sebanyak 52.realitas kehidupan. Ditinjau dari pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam. 12.

Kelebihan dan Kekurangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan hasil wawancara dengan praktisi dan pakar dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. benar dari segi keilmuan. . Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar tidak dikembangkan secara asal-asalan. Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.5% menjawab tidak memfasilitasi 3. Dapat dilihat dari Tabel sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa.Berdasarkan Tabel 20 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1. sebanyak 70% menjawab sangat memfasilitasi. Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan. 2. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia.5% menjawab kurang memfasilitasi. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. 25% menjawab cukup memfasilitasi. 2.

Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. Dalam hal ini. sebagai berikut. kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal. Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. 3. Pengembangan bahan ajar sesuai dengan materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan dalam standar isi atau topik di Sekolah Menengah Atas. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. . sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda. yang menurut pakar dan praktisi. keluasan maupun kedalamannya akan berbeda. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai.

hal ini dilihat dari pengorganisasi bahan ajar itu sendiri yang bertanya tentang apa sampai bertanya mengapa. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. atau dari fakta ke konsep. latihan. Misalnya. dari yang mudah ke yang sukar. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). dan juga menuntun siswa untuk terbiasa berpikir runtut. atau penyajian uraian. latihan. 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar Pkn berbasis DD/CT disajikan secara sistematis. Dengan demikian. Logika penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep dalam bahan ajar. dalam menjelaskan Hak asasi manusia dalam mata . 3) Perjelas dengan Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. Urutan strategi penyajian dapat berubah-ubah sehingga tidak membosankan. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. Keruntutan penyajian isi bahan ajar mempermudah siswa dalam belajar. siswa diharapkan dengan mudah mengikuti pemaparan. penyajian uraian. tidak terkotak-kotak satu sama lain.1) Paparan yang Logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. Logika pemaparan ini dapat diperkenalkan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. namun setiap bagian perlu diberi penjelasan yang memadai sehingga tidak membingungkan siswa. Dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. tidak meloncat-loncat. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. contoh dan latihan. atau contoh. Bahan ajar berbasis DD/CT yang dipaparkan secara logis akan memudahkan siswa. Dengan demikian.

model. sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita. Melalui guntingan koran tersebut. serta tanda-tanda khusus yang diberlakukan serta dapat membantu siswa. Jadi. atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama .pelajaran PKn di SMA. petunjuk belajar bagi siswa. Untuk menjelaskan konsep tersebut diperlukan alat peraga yang dapat menggambarkan pelaksanaan dan pengadilan HAM internasional. atau dalam bentuk noncetak. judul bab yang jelas. seperti video. atau dari internet. siswa akan dapat berdialog sesuai petunjuk dalam LKS. guru tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. atau caption dalam program video. alat bantu juga dapat berupa rangkuman. ataupun dari situs-situs di internet. Dalam bahan ajar non-cetak. poster. Guru dapat mencari kasus di koran. kartu-kartu (flipchart). tercetak-narasi sebagai bagian dari penyajian isi bahan ajar dalam materi pokok yang berbentuk cetak. alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar harus konsistensi. Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan (bukan malah membuat siswa semakin bingung). misalnya nada suara yang berbeda dalam kaset audio. Dalam bahan ajar cetak. penomoran. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. Dalam beberapa kasus. audio. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. Contoh dan ilustrasi dapat dikembangkan dalam beragam bentuk. dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berbentuk tertulis. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. serta tanda-tanda khusus. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. Koran. untuk memngetahui pengadialan HAM internasional.

setiap kali siswa melihat warna kertas kuning. dan dipelajari oleh siswa. . 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar perlu memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. Contoh. sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. tanda perintah berhenti.hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. intonasi suara dapat digunakan sebagai tanda atau format untuk berhenti. atau meneruskan pembelajaran. jangan gunakan warna kuning untuk komponen lain dalam bahan ajar. atau penyajian langsung dapat digunakan sebagai tanda dari rangkuman. atau meneruskan pembelajaran. Dengan demikian. mengulang. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. gambar ―orang sedang berpikir‖ digunakan untuk arti ―uji kompetensi‖ yang harus dikerjakan oleh siswa secara tertulis. Dalam bahan ajar cetak. Dalam hal ini. 6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar perlu ada penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. clip video yang berupa grafik. konsistensi istilah sangat diperlukan sehingga siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. Misalnya. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. maka seterusnya gunakanlah warna kertas kuning untuk LKS. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. Peran ini perlu dijelaskan kepada siswa dengan cermat. Dalam bahan ajar audio. mengulang. diingat. jika guru menggunakan kertas kuning untuk lembar kerja siswa. Dalam bahan ajar video. Bahan ajar dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. paket kerja mandiri). maka siswa akan menandai sebagai LKS.

seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar terjadi. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. 4. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. namun jika bahasa yang digunakan tidak dimengerti oleh siswa. dan tidak terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendiri-sendiri. Hal ini sangat perlu sebagai . ajakan. maka bahan ajar tidak akan bermakna apa-apa. Walaupun isi bahan ajar sudah cermat. Penggunaan bahasa. lembar kerja siswa. pertanyaan. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. yang meliputi pemilihan ragam bahasa. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. serta dikemas dengan menarik. Dalam bahasa komunikatif. video. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. seperti kaset audio. dan penjelasan.Bahan ajar juga perlu menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. siswa dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain. menggunakan format yang konsisten. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. Dengan demikian. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. mengerjakan tugas-tugasnya. Dengan demikian. penggunaan kalimat efektif. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. dan penyusunan paragraph yang bermakna. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. bahan ajar berbasiskan komputer. dan lain-lain. pemilihan kata.

kadangkala dapat membingungkan siswa. . bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. Gagasan utama. Selain itu. kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. Di samping itu. Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan.salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. serta keterpaduan. dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. Pada gilirannya. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya. yang berbentuk kalimat topik. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. Selanjutnya. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. singkat. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. dan lebih mudah dimengerti. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas.

5. Perwajahan/Pengemasan

Perwajahan dan atau pengemasan berperan dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak, serta pengemasan dalam paket bahan ajar multimedia. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. 3) Padukan grafik, poin, dan kalimat-kalimat pendek, tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan, karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu, jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian, tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan.  Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar, sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri, atau dengan teman-teman dalam kelompok).
6. Ilustrasi

Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar memiliki ragam manfaat, antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar, jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. Namun, ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis, yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. Selain itu, ilustrasi juga dapat diambil dari sumber

langsung (misalnya foto), sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). Jika ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain, penulis berkewajiban memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. Selain itu, ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik, memotivasi, komunikatif, membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar, antara lain daftar atau tabel, diagram, grafik, kartun, foto, gambar, sketsa, simbol, dan skema.
7. Kelengkapan Komponen

Idealnya, bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik, meliputi penyampaian tujuan belajar, memberi bimbingan tentang strategi belajar, menyediakan latihan yang cukup banyak, memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci, soal, tugas, kegiatan), serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket, atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet, atau buku lain), panduan belajar/siswa, serta panduan guru. Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti, yaitu komponen utama, komponen pelengkap, dan komponen evaluasi hasil belajar. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa, atau harus dikuasai siswa. Kebanyakan, bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak, misalnya buku teks, buku pelajaran, modul, dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama, atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa.

Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan, bacaan, jadwal, silabus, peta materi, kliping kasus), bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak, peta materi dalam bentuk program komputer, video, kaset, web suplemen, simulasi komputer, kit), panduan siswa (peta materi, petunjuk belajar, latihan dan tugas, tips, kata-kata sukar, pemilahan materi), panduan guru (peta materi, petunjuk bagi guru, konsep inti topik atau pokok bahasan, latihan dan tugas, rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik, yang disajikan melalui beragam media, secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
a. Bahan Ajar PKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
b.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

2. Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga Beberapa usulan pakar dan praktisi agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
c. Bahan Ajar PPKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
d.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. kompetensi dasar dan kemampuan siswanya. 2003). Dengan demikian kedepan guru dituntut dapat menyusun bahan ajar mata pelajaran yang diampunya. dengan masyrakat disekitarnya. Hal ini dimaksudkan untuk dapat dipergunakan oleh guru dan siswa sesuai dengan jenjang kelasnya. Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Tuntutan pendidikan dewasa ini yang memberikan otonomi pada sekolah dan guru dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk menyusun bahan ajar yang tepat. buku adalah media komunikasi tentang IPTEK. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. secara umum memiliki struktur yang mengacu pada kompetensi dasar dan indikator sebagaimana yang terdapat dalam standar isi. Semboyan tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya buku pelajaran. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. sesuai dengan standar kompetensi. ―buku adalah guru yang baik tanpa tatap muka‖. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga BAHASAN 1. Disamping itu bahan ajar berbasis DD/CT dipandang akan mampu merangsang siswa untuk berpikir kritis. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. seni dan agama serta ide-ide‖ (Pusbuk. Karakteristik Bahan Ajar Mata Pelajaran Pkn berbasis DD/CT Hasil penelitian ditemukan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT menjadi salah satu alternatif pilihan guru dalam pembelajaran PKn yang memberikan kesempatan lebih banyak pada siswa untuk berdialog dengan teman. dengan orang tua. Semboyan bahwa ―buku adalah salah satu sumber ilmu‖. Struktur bahan ajar dan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT . dengan guru.2. ―buku adalah jendela informasi dunia‖. Karena buku pelajaran merupakan sumber .

Ini berarti untuk dipergunakan dengan dalam rangka implementasi kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat dipergunakan. Aspek penyajian bahan ajar PKn berbasis DD/CT dapat dijabarkan sebagai berikut (a) kelengkapan sajian. penyajian. Bahan ajar PKn berbasis DD/CT. serta grafika. memerhatikan ilustrasi dan format. materi pokok. karena isi materi relevan dengan standar isi yang dikembangkan dalam KTSP. yakni materi pokok yang disajikan dalam buku pelajaran PKn umumnya adalah (a) relevansi: bahwa isi materi bahan ajar sesuai dengan standar isi. bahasa dan keterbacaan. Dengan kriteria ini maka hasil penelitian menunjukkan bahwa keakurasian materi bahan ajar PKn berbasis DD/CT tercapai ini tebukti banyak pendapat yang menyatakan materi yang disajikan sebagai sesuai dengan kompetensi dasar. dan tugas-tugas pengembangan. mutahir atau sesuai dengan perkembangan yang terbaru.belajar dan media yang sangat penting untuk mendukung tercapainya kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran. (b) kecukupan: muatan materi bahan ajar telah memadai untuk mencapai kompetensi. di dalamnya memuat kompetensi dasar. Kalau dengan KTSP terdapat cukup tepat dengan kompetensi dasar tentunya dalam pemanfaatannya perlu penyesuaian dengan KTSPnya (2) Aspek penyajian. berdasarkan hasil penelitian menunjukkan cukup sistematis. dan (c) keakuratan: bahwa isi materi yang disajikan harus benar secara keilmuan. Aspek penting yang diperhatikan adalah materi. disesuaikan dengan usia dan kematangan siswa. maka dapat dikemukakan bahwa bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT untu SMA: (1) aspek materi pelajaran . Hasil penelitian dan analisis bahan ajar berbasis . (b) sistematika sajian. Berdasarkan analisis bahan ajar berbasis DD/CT telah cukup lengkap dalam sajian. bermanfaat bagi kehidupan dan pengemasan materi sesuai dengan hakekat PKn. hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT cukup memiliki kecukupan. (c) kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas dan hasil penelitian . Buku pelajaran PKn berbasis DD/CT dapat secara efektif menunjang pencapaian kompetensi pembelajaran PKn dibuat sedemikian rupa untuk memenuhi standar . disusun oleh penulis yang kompeten. Davis (1955) dalam Puskur (2003) menyatakan bahwa buku pelajaran yang baik berisi materi yang sesuai dengan kurikulum.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bahan ajar yang dipergunakan dalam hal ukuran cukup bagus. 2. Dengan sajian materi yang luas cukup memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya untuk berpikir kritis. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Mata Pelajaran PKn yang Berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking Hasil wawancara dengan beberapa guru. Keterbacaan. dan (d) cara penyajian. ukuran huruf. (3) Aspek bahasa dan keterbacaan. terdapat buku yang contoh yang diangkat kurang kontekstual artinya beberapa gambar yang disajikan tidak dipahami oleh siswa karena dari negara lain. cetakan dan ukura huruf bagus. yakni sebagaimana bahan ajar atau buku yang memberi nuasa berdialog siswa. paragraf dan wacana. cetakan. meskipun secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah menggunakan kaidah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Yakni yang berkaitan dengan ukuran bahan.Sehingga bahan ajar PKn berbasis DD/CT ini sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa student centered. warna dan ilustrasi. jenis kertas menunjukkan beberapa menggunakan kertas putih.DD/CT menunjukkan bahwa bahan ajar PKn. kalimat. Hasil penelitian juga menunjukkan cara penyajian yang dikemas dalam bahan ajar Pknberbasis DD/CT relative kontekstual. misalnya Bu Yayuk dari SMA di Magetan menyatakan LKS berbasis DD/CT ini saya kita lumayan merangsang siswa untuk berpikir dan berdiskusi. sedangkan beberapa menggunakan kertas yang agak buram. namun menurut saya perlu pedoman yang jelas bagaimana dan dimana jawaban harus dibuat sedangkan Pak Wayan mengemukakan bahan ajar . Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bahasa yang dipergunakan cukup dipahami siswa SMA. Bahasa disini berarti dalam penyajian bahan tepat dalam penggunaan kosakata. materi luas hal ini dikemukakan baik oleh guru sebagai praktis maupun pakar. Secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih kering ilustrasi yang merangsang siswa untuk membicarakan dengan orang lain dan memikirkan lebih kritis. jenis kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat wacana yang membuka wawasan siswa tentang materi yang akan dipelajari. (4) Aspek grafika. hanya ilustrasi kurang.

sebagaian kecil siswa menyatakan mudah dipahami. namun tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran PKn . Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1) Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. sebagian besar responden menyatakan runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada . sebagian besar responden menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. Kondisi ini disebabkan LKS berisi rangkuman materi dan soal-soal yang harus dikerjakan secara individual oleh siswa. Lainnya mengatakan paparan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi. menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada satandar isi Tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. sebagian responden menyatakan mudah dipahami. banyak responden menyatakan cukup sulit dipahami. dan siswa menyatakan sangat mudah dipahami. Sehingga beberapa siswa menyatakan‖ bahwa LKS berbasis DD/CT ini mengasikkan karena dapat dikerjakan sendiri ‖ 3. Struktur lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn di sekolah. sulit dipahami. meskipun demikian banyak menyatakan bahwa struktur LKS matapelajaran PKn runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. dan sedikit yang menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA.dan LKS berbasis DD/CT. Sedangkan tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menyatakan cukup sulit dipahami. sangat sulit dipahami. Dengan demikian dari segi bahasa. dan tidak runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi.sudah match jadi materi yang ada di bahan ajar sama dengan yang di LKS. dan hanya sedikit menyatakan sulit dipahami. LKS PKn berbasis DD/CT tidak sulit bagi siswa SMA.

Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia sebagaimana Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar berbasis DD/CT tidak dikembangkan secara asal-asalan.dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. benar dari segi keilmuan. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. . Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban.

Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. Kemudian kembangkanlah bahan ajar – materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan tersebut. dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tentunya. dan utuh topik yang akan disajikan kepada siswa. Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. 1) Paparan yang logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. Dengan .. keluasan maupun kedalamannya akan berbeda. tujuan pembelajaran atau topik tertentu di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama akan berbeda dengan tujuan pembelajaran atau topik yang sama di Sekolah Menengah Atas. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). Dalam hal ini seberapa banyak atau luas suatu topik yang akan disajikan? Seberapa dalam suatu topik yang perlu dibahas? Bagaimana keutuhan konsep yang disajikan? Banyak pertimbangan yang perlu diperhatikan. antara lain yang paling utama adalah kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran. Lihatlah tujuan tersebut. dalam.Keluasan dan kedalaman isi bahan ajar sangat berhubungan dengan keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu. sebagai berikut. Setiap guru pasti mempunyai tujuan pembelajaran yang dijabarkan dari kompetensi dasar dan indikator. dari yang mudah ke yang sukar. Bahan ajar yang dipaparkan secara tidak logis akan menyulitkan siswa. atau dari fakta ke konsep. Dalam Bahan ajar PKn berbasis DD/CT penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep. kemudian berlandaskan pada tujuan tersebut dapat menentukan seberapa luas. siswa dengan mudah mengikuti pemaparan. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. Dengan demikian. 3. Dalam hal ini. sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda.

kartu-kartu (flipchart). tidak terkotak-kotak satu sama lain. 3) Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan . bahan ajar tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. atau contoh. atau penyajian uraian. Misalnya. contoh dan latihan. latihan. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. tidak meloncat-loncat. audio. sekaligus merangsang untuk berdialog mendalam. Kelemahannya belum banyak contoh-contoh dan latihan yang kontestual. penyajian uraian. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. Kelemahan dari pemaparan bahan ajar berbasis DD/CT ini karena keruntutannya dapat menyebabkan siswa kurang dapat mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis.demikian. seperti video. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. Tampaknya belum banyak contoh-contoh yang mempermudah siswa lebih memahami bahan ajar. latihan. atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. dalam menjelaskan Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. model. 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah disajikan secara sistematis. yang mendorong siswa mencari sumber lain. Padahal dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita. atau dalam bentuk noncetak. Contoh dan ilustrasi yang dikembangkan dalam bahan ajar berbasis DD/CT dalam penyajian isi bahan ajar belum bervariatif mestinya bisa poster.

penomoran. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). Dalam bahan ajar Pkn DD/CT sebagai bahan cetak. alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. Koran.. gambar ―orang sedang berdemontrasi‖ digunakan untuk arti ―rapat‖ . Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah dibuat dengan cetak.(bukan malah membuat siswa semakin bingung). konsistensi yang dipelihatra adalah mengenai istilah dengan harapan siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar Pkn berbasis DD/CT belum konsistensi. Dalam beberapa kasus. Misalnya. kotak bahan dialog. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. . ataupun dari situs-situs di internet. 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki format yang memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. judul bab yang jelas. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. dan dipelajari oleh siswa. serta tanda-tanda khusus. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. Dalam hal ini. diingat. Jadi. alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab.

Dalam bahasa komunikatif. seperti kaset audio. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. mengerjakan tugas-tugasnya. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. dan terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendirisendiri. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa.6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. dan penjelasan. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. agar bahan ajar bermakna bagi siswa. video. sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar . siswa kurang dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain. pertanyaan. paket kerja mandiri). lembar kerja siswa. bahan ajar berbasiskan komputer. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. Dengan demikian. Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT cukup memadai dalam penggunaan bahasa yang dimengerti oleh siswa. yang meliputi pemilihan ragam bahasa. pemilihan kata. ajakan. penggunaan kalimat efektif. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. dan lain-lain. Bahan ajar PKn dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. dan penyusunan paragraph yang bermakna. Dengan demikian. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. Kelemahan bahan ajar Pkn berbasis DD/CT ini belum menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. Penggunaan bahasa. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. 4. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. Peran ini telah dijelaskan dalam bahan ajar PKn tersebut dijelaskan kepada siswa dengan cermat.

Gagasan utama. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. . bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. kadangkala dapat membingungkan siswa. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. singkat. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. serta keterpaduan. yang berbentuk kalimat topik. Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. Hal ini sangat perlu sebagai salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. Selain itu. dan lebih mudah dimengerti. Selanjutnya. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf.terjadi. Di samping itu. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan.

 Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar. tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan. tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. atau dengan teman-teman dalam kelompok). Pada gilirannya. . 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian. sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri. karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. poin. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut..Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. Perwajahan/Pengemasan Dalam Hal perwajahan dan atau pengemasan bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih banyak kelemahan terutama dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu. 5. 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. dan kalimat-kalimat pendek. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. 3) Padukan grafik. jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan.

7. Selain itu. panduan belajar/siswa. komunikatif. ilustrasi juga dapat diambil dari sumber langsung (misalnya foto). diagram. menyediakan latihan yang cukup banyak. Selain itu. bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket. Kelemahan dalam bahan ajar ini ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain. antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). antara lain daftar atau tabel. gambar. memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci. Ilustrasi Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki ragam manfaat. jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik. memotivasi. serta panduan guru. pelengkap dan evaluasi Idealnya.Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT ilustrasinya kurang bervariasi. memberi bimbingan tentang strategi belajar. tugas. atau buku lain). Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar. yakni informasi . sketsa. grafik.6. penulis belum memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. Namun. ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik. kegiatan). Kelengkapan Komponen Bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT cukup memiliki kelengkapan komponen. serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. . simbol. foto. membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. meliputi penyampaian tujuan belajar. dan skema. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar. ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis. kartun. soal.

jadwal. konsep inti topik atau pokok bahasan. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama. secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. silabus. dan komponen evaluasi hasil belajar. Kebanyakan. latihan dan tugas. bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa. kit). modul. atau harus dikuasai siswa. petunjuk bagi guru. simulasi komputer. peta materi. panduan guru (peta materi. web suplemen. video. bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak. kliping kasus). yaitu komponen utama. latihan dan tugas. misalnya buku teks. rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik. panduan siswa (peta materi. atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa. Bahan Ajar PPKn     Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak. perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan  Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar  Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik  Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis . peta materi dalam bentuk program komputer. buku pelajaran.Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti. dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS berbasis DD/CT ini dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut: 1. pemilahan materi). kata-kata sukar. petunjuk belajar. komponen pelengkap. kaset. Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan. yang disajikan melalui beragam media. tips. bacaan.

DD/CT "dicita-citakan" menjadi sebuah pendekatan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn alternatif. mudah difahami dan mengajak siswa berpikir  Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir  Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi. medialogkan" bukan hanya "menghafalkan". Model Bahan Ajar dan Lembar Kegitan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) merupakan model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn yang membantu guru untuk menjadikan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn bermakna bagi siswa.Hal ini sesuai dengan pandangan Gross ( 2000) bahwa dengan mengalami sendiri. merasakan. . Dalam pendekatan ini bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsedapat mungkin mengurangi pengajaran yang terpusat pada guru (teacher centered) dan sebanyak mungkin pengajaran yang terpusat pada siswa (Student centered). 2. Menyusun buku dengan bahasa yang menarik. namun demikian guru harus tetap memantau dan mengarahkan untuk mencapai kompetensi. Lembar Kerja Siswa (LKS)  Soal-soal jangan di luar materi  Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang  Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari  Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa  Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir  Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar  LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga 4. dimana melalui DD/CT diharapkan siswa belajar melalui "mengalami. Dengan landasan filosofi konstruktivisme.

Penilaian hendaknya tidak hanya berdasarkan tes Lima komponen yang terdapat dalam model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan pendekatan DD/CT yakni hening. maka pengetahuan dan pemahaman siswa akan sesuatu yang baru akan mengendap dalam pikiran siswa dalam jangka panjang yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk bekal siswa dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan DD/CT di kelas cukup mudah. membangun komunitas. Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan di bab sebelumnya. dan mengembangkan kecakapan hidupnya.merasakan. 2. Perubahan pandangan guru bahwa pemberdayaan siswa dalam bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan memberi kesempatan pada siswa. apabila guru telah memahami kaidahkaidahnya sebagai berikut: 1. untuk mengamati. menganalisis. Pergunakan berbagai media dan sumber belajar untuk memperluas wawasan 6. Sebagaimana . refleksi dan evaluasi. kegiatan inti dengan strategi penemuan konsep (Concept Attainment) dan Cooperative Learning. Untuk menjabarkan topik sebaiknya dilaksanakan dengan kegiatan menggali dan menemukan sendiri 3. mendialogkan dan akhirnya mekonstruksikan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan baru. Hal ini selain dapat menciptakan situasi tenang sebelum perkuliahan. Berilah siswa kesempatan untuk melakukan refleksi sebelum pelajaran berakhir 7. maka dapat dikemukakan bahwa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan DD/CT memiliki beberapa keunggulan seperti bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn diawali dan diakhiri dengan "hening". mendialogkan dengan orang lain. Ciptakan suasana dialog mendalam ' antar siswa" dan "antara siswaguru" oleh karenanya upayakan untuk selalu belajar dalam kelompok 5. Berdayakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan bertanya secara terbuka 4. selain itu juga dapat menghadirkan hati dan pikiran siswa-guru pada bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsaat itu.

Kebiasaan selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan termasuk kegiatan belajar mengajar. terbuka terhadap kritik. secara langsung telah membimbing dan mengajarkan mahasiswa menjadi insan religius. Refleksi memiliki fungsi mendidik pada siswa untuk menyukai belajar dari pengalaman yang telah dilaluinya. juga ungkapan bebas dari pandangan. dan dialog mendalam tentang segala hal baru yang diterima mahasiswa. Lebih lanjut dikemukakan bahwa hening membawa manusia pada pengendapan hati dan pikiran. Demikian juga kegiatan penemuan konsep dan cooperative learning. Kegiatan refleksi juga merupakan sesuatu yang dapat dipandang keunggulan pendekatan DD/CT. Ini menjadi tatantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan . Ini sejalan dengan pendapat Gross (2000) bahwa dengan refleksi terjadi proses penajaman pengalaman yang peroleh dan mereproduksi ketika menyampaikan secara lesan. karena dapat sebagai sarana saling introspeksi baik dosen mapun mahasiswa. dan sikap terpuji lainnya akan dapat mengantarkan siswa menjadi warga negara demokratis. kegiatan ini juga merangsang daya kritis siswa dalam menangkap permasalahan.dikemukakan oleh Swidler (2000) yang menekankan pentingnya hening dalam segala aktifitas. Kegiatan membangun komunitas juga merupakan sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat majemuk oleh karena itu apabila dalam pembelajaran telah dibangun keterikatan terhadap komunitas kecil (kelas). dan mengambil keputusan yang tepat dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. telah dapat menciptakan kebersamaan. Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. menghargai perbedaan.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). berani tampil beda. sehingga akan mendukung upaya pendidikan anak seutuhnya (PAS) yang pada gilirannya akan sangat mendukung upaya mewujudkan manusia Indonesia Seutuhnya (MIS). maka pada skala makro sikap dan perilaku toleransi. usul terbaiknya demi kebaikan bersama. sehingga memudahkan proses dialog mendalam. karena menurutnya dengan hening seseorang telah menjalin interaksi intern yakni dengan dirinya maupun ekstern yakni dengan Tuhan. mencari solusi permasalahan dengan caranya sendiri dan bantuan orang lain.

membangun komunitas. Saran Bahan Ajar dan LKS Mata pelajaran PKn Berbasis DD/CT ini perlu sempurnakan dengan cara mengimplementasikannya ke sekolahsekolah yang lebih beragam. Interaksi belajar-mengajar juga semakin meluas tidak hanya satu arah yakni guru-siswa. serta memuat hasil penelitian dalam jurnal-jurnal baik yang nasional maupun internasional Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. Bahan ajar dan LKS PKn dengan DD/CT dibuat dipandang mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Bahan ajar dan LKS PKn dengan pendekatan DD/CT adalah model bahan ajar dan LKS dengan lima komponen utama yakni hening (doa). .model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya. karena bahan ajar ini memberi peluang dan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk ambil bagian dalam proses pembelajaran. model ini dapat mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif. refleksi dan doa. mulai dari hening sampai evaluasi.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). paparan materi pokok. utamanya implementasi pembelajaran inovatif dengan menggunakan sarana bahan ajar dan LKS Berbasis DD/CT ini. namun multi arah. Ini menjadi tantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya. Pembelajaran berbasis DD/CT terus melakukan penelitian lanjutan.bahkan kalau perlu dengan nara sumber yang berada di luar lingkungan sekolahnya. Dengan model bahan ajar dan LKS bernuansa DD/CT diharapkan prestasi siswa juga semakin meningkat.

2000. Pembelajaran Kewarganegaraan dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Menyongsong KBK. Philadelphia. 2000. 2002. B. Deep Dialogue and Critical Thinking as Instructional Approach. Jakarta. PPPG PMP-IPS Danial. 2000. Jakarta. Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Jembatan Swidler. Penulisan Karya Ilmiah. Bahan pelatihan Pendidikan Anak seutuhnya (PAS) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Global dialogue Institute dan UNICEF. Jakarta. Classroom Applications. Kompetensi guru. Malang. 2002. PUSKUR-Dirjendikdasmen Frazee. E. Jakarta. Dilaksanakan di Malang tanggal 1--11 Juli 2001 Gross. Malang. 2000.2000. Makalah pelatihan guru PPKn MA se kabupaten Pasuruan. Curricullun in Turbelence Era. Strategi Pembelajaran Berdasarkan Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking. 1979. Diknas. Ar. Philadelphia University Press. & Rudnitski. New York.M. Dirjendikdasmen Depdiknas. Metode Pengajaran Nasional. 1995. Model Pengintegrasian Budi Pekerti ke dalam PPKn untuk Guru SLTP.W. Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking dalam Pendidikan Indonesia. 2002.L and paul Mojzes.J. Suparlan dan Milan Rianto. The Study of Religion in an Age Global Dialogue. Integreted Teaching Methods: theory. Steven. Direktorat SLTP. Temple University Press . PPPg PMP-IPS Sri Untari. Sri Suntari dan Sri Untari . Del mar Publishers. and Field-based Connection. Surakhmad.DAFTAR RUJUKAN Al Hakim. GDI. 2001.

Eddy Supramono adalah dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang . Students obtain the concepts in the form of clarification and information from lecturer and then ones will be applied to some problems. Some Various study strategy have been strived to increase student concept domination. According to the observation of study process of fundamental physics and interviewing with some students. The Module applies study strategy. One of the strategy is decanted in the module of Physics by Inquiry. it indicates that the students difficulty is located in the way of comprehending and mastering The fundamental physics lecture concepts. Key words: Modul Physics by Inquiry. Model Pembelajaran Investigasi Kelompok Mata Kuliah Fisika Dasar merupakan salah satu mata kuliah yang termasuk pada rumpun Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK) yang diwajibkan bagi mahasiswa tahun pertama di FMIPA Universitas Negeri Malang. The Concepts acquirement is not constitute to the understanding of erudite process which ought to student experience. Penguasaan Konsep Fisika. integrating erudite process and physics concept.Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Abstrac: The quality of physics conception domination is very determined by study process which is done by students. giving opportunity for students for fundamental physics concept mastering through laboratory activities.

Strategi pembelajaran yang digunakan dalam modul Physics by Inquiry ini didasarkan pada kurikulum berbasis laboratorium. Melalui pembentukan kelompok-kelompok dengan pola tertentu. mata kuliah ini memiliki bobot 6 SKS yang terbagi dalam mata kuliah Fisika Dasar I (3 SKS) pada semester I dan Fisika Dasar II pada semester II (3 SKS). Berbagai strategi pembelajaran telah diupayakan untuk meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa. Dengan demikian. Salah satu strategi pembelajaran tersebut diantaranya tertuang dalam modul Physics by Inquiry. penelitian ini akan menghasilkan teori yang lebih rinci dalam cakupan Teori Kognitif Sosial. Penelitian ini berorientasi pada Teori Kognitif Sosial.Berdasarkan kurikulum di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. . dan diberikan pada kelas kecil dengan jumlah mahasiswa per kelas 20 orang mahasiswa. yaitu pola tutorial sebaya. Berdasarkan pengamatan pada proses pembelajaran Fisika Dasar dan wawancara dengan mahasiswa menunjukkan bahwa kesulitan mahasiswa terletak dalam cara memahami dan cara menguasai konsep-konsep yang ada dalam mata kuliah Fisika Dasar. sehuigga struktur kognitif siswa akan tumbuh dan berkembang dengan kecenderungan-kecenderungan tertentu pula.. Kualitas penguasaan konsep Fisika sangat ditentukan oleh proses pembelajaran yang dialami mahasiswa. Modul ini pertama kali dikembangkan oleh The Physics Education Group di the University of Washington. Mata kuliah ini secara langsung didukung oleh mata kuliah praktikum Fisika Dasar I pada semester I (1 SKS) dan praktikum Fisika Dasar II (1 SKS) pada semester II. Hasilnya menunjukkan peningkatan penguasaan konsep Fisika yang cukup signifikan serta mahasiswa memperoleh pengalaman langsung tentang proses ilmiah. kooperatif dan kolaborasi teman sebaya akan tercipta interaksi sosial di antara siswa dengan pola tertentu pula. Mahasiswa memperoleh konsep dalam bentuk informasi dan penjelasan dari dosen yang kemudian diterapkan dalam bentuk latihan soal. Modul ini menggunakan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan proses ilmiah dan konsep Fisika yang memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menguasai konsep Fisika Dasar melalui kegiatan laboratorium. Perolehan konsep tersebut tidak didasari pemahaman proses ilmiah yang seharusnya dialami mahasiswa.

yang diperluas dengan melibatkan lebih dari satu variable O1.Design (Caenphell dan Stanley. kooperatif dan kolaborasi teman sebaya pada Calon Guru Universitas Negeri Malang? METODE Penelitian ini dilakukan dengan mengambil jenis penelitian Quasy Experimentation (semi eksperimen) dengan mengambil model Randomized Control-Group Pretest-Paster . masalah pelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.Untuk lebih tegasnya berdasarkan latar belakang di atas. 1968). O4 dan O5 adalah pengukuran pertumbuhan konsep Fisika dengan periode dua mingguan. O3. Tabel 1 Rancangan Penelitian GI G2 G3 G4 O1 O1 O1 O1 XI X2 X3 X4 O2 O2 O2 O2 X1 X2 X3 X4 O3 O3 O3 O3 XI X2 X3 X4 O4 O4 O4 O4 XI X2 X3 X4 O5 O5 O5 O5 Keterangan: G1 = kelompok pertama G2 = kelompok kedua G3 = kelompok ketiga G4 = kelompok keempat X1 X2 X3 X4 = = = = perlakuan tutorial perlakuan kooperatif perlakuan kolaboratif perlakuan acak . disajikan pada Tabel 1 berikut. O2. Adakah pengaruh dampak dari Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi Kelompok terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika Dasar para calon Guru Universitas Negeri Malang? b. Bagaimanakah interaksi dari dampak Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi kelompok yang dirancang dengan pola tutorial sebaya. a.

yaitu tutorial sebaya. sampel sebanyak 4 kelas di atas akan diambil 3 kelas sebagai kelas eksperimen. kooperatif dan kolaborasi. Artinya. Sedangkan. sedang sebagai sampelnya digunakan sebanyak 4 kelas secara purposif dengan pertimbangan bahwa kesulitan teknis pelaksanaan selama eksperimen dapat dihindarkan. intermediate dan lanjut untuk masing-masing pola. Dalam hal ini ingin diselidiki apakah pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa tergantung atau tidak dengan banyaknya waktu yang digunakan dalam penyampaian materi.Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa dijaring lewat hasil tes dengan menggunakan instrumen prestasi. data interaksi antar mahasiswa akan dianalisis secara deskriptif yang meliputi keterampilan kelompok dasar. Untuk melihat dampak yang muncul selama mahasiswa para calon guru bekerja dengan model investigasi kelompok. Selanjutnya. Analisis regresi ini dimaksudkan untuk tujuan peramalan. sedangkan data tentang pengamatan interaksi mahasiswa dikumpulkan melalui instrumen pengamatan interaksi dalam kelompok. 1984) dengan menggunakan program SPSS Release-10 for windows. apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry. pola pengelompokkan belajar mahasiswa untuk kelas eksperimen akan dibentuk mengikuti aturan pengelompokkan secara pola . Analisis butir soal dilakukan dengan mengambil sekor pretes dari 2 kelas sampel penelitian. satu kelas sebagai kelas kontrol. selengkapnya dapat diperiksa pada Lampiran-5. Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika mahasiswa dianalisis dengan regresi (Kleinbaum dan Kupper. yaitu penguasaan konsep Fisika dan variabel independen. yaitu waktu yang digunakan belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru jurusan Fisika Universitas Negeri Malang yang terdiri dari 6 kelas. Instrumen kegiatan akan dikembangkan dengan mengadopsi Modul Physics by Inquiry untuk materi Fisika Dasar I. dimana dalam model tersebut ada sebuah variabel dependen.yang dipilih secara purposif dengan pertimbangan tertentu dimana masing-masing kelas terdiri atas 25--30 mahasiswa.

Lembar Kerja Mahasiswa pada kegiatan praktikum dengan mengimplementasikan Modul Physics by Inquiry Hasil uji coba instrumen penguasaan konsep Fisika menunjukkan bahwa validitas telah memenuhi syarat instrumen yang cukup baik.. yaitu uji normalitas dan homogenitas varians dan hasilnya seperti pada Tabel 2. HASIL Seperti telah dijelaskan di atas. Uji Kesamaan Kemampuan Awal mahasiswa Data yang digunakan untuk menguji kesamaan kemampuan awal ini adalah hasil tes awal atau pretes dari masing-masing kelompok. Instrumen pengukuran penguasan konsep Fisika yang berupa tes dikembangkan berdasar materi Fisika Dasar I c. proses pembelajaran mengikuti alur yang sama. bahwa untuk mengetahui apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry. Analis yang digunakan adalah Anova dengan mengggunakan program SPSS Release-10 for Windows dengan terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analis. Dari 20 butir soal sebanyak 1 soal gugur. sedangkan instrumen kegiatan yang dikembangkan terdiri atas: a. Instrumen perlakuan dikembangkan dengan mengikuti pola pembelajaran kelompok. kecuali pola pembentukan kelompoknya. Dengan demikian. Tabel 3. pola kooperatif dan pola kolaboratif sebaya. dan Tabel 4 berikut.tutorial. Kelas kontrol akan dikelompokkan secara acak dengan berpedoman dari absensi kelas.57. pertama kali yang dikerjakan adalah: 1. . Dengan demikian tes penguasaan konsep Fisika yang digunakan sebanyak 19 butir soal. Reliabilitas tes tersebut ternyata cukup baik dengan koefisien reliabilitas sebesar 0. Instrumen pengamatan interaksi mahasiswa dalam kelompok b.

yaitu pola acak.060 .161 25 . Lillief ors Signif icance Correc tion Tabel 3 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRETES Levene Statistic . . .014 . 0.954 . .05.176.686 104.381 dan pola kolaborasi dengan harga sig.190 a.170 25 .Tabel 2 Uji Normalitas Data Tes ts of Nor m ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.095 a ACAK TUTORIAL KOOPERAT KOLABORA Statistic .216 df 3 102 105 Mean Square 49..190 dan persyaratan homogen variannya juga terpenuhi (sign.157 Total 10763. dan Tabel 4 terbukti bahwa sebaran data kemampuan awal keempat kelompok data adalah normal karena harga Sig.059 Within Groups 10614.093 df 1 3 df 2 102 Sig. Tabel 3.0. 0.178 . .079 .937 .925 . pola tutorial dengan sig. sig.165 25 .964 Tabel 4 Uji Kesamaan Kemampuan Awal ANOVA PRETES Sum of Squares Betw een Groups 149.699 Dari Tabel 2. Dengan demikian langkah selanjutnya adalah uji kesamaan kemampuan awal masing-masing kelompok data dengan statistik Anova.060 F .079 .477 Sig. sig.196 25 .079. 0. terbaca >0.05).964>0.938 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.381 . 0. . pola kooperatif.

104 . tutorial. 2.191 25 .Uji prasyarat analis menunjukkan bahwa keempat kelompok berdistribusi normal. Hasil menunjukkan bahwa kempat kelompok data adalah homogen. untuk factor 1. sebesar 0.955 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.243 .05.665 . sedangkan uji prasyarat homogenitas data dapat dibaca pada Tabel 6. Harga ini adalah lebih kecil dari 0. 2. Hasil analisis menunjukkan bahwa harga Sign.699 pada taraf signifikansi 5%.971 . dan 4 atau factor pola acak. yang muncul adalah sebesar 0. Kenyataan ini terbaca bahwa harga Sig. kooperatif dan kolaborasi adalah lebih besar dari 0.142 25 . Dengan demikian uji beda postes dari keempat kelompok dapat dilakukan.208 25 . . Tabel 5 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig. This is a low er bound of the true significance.943 .200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic .007 . a.000. hasil pretesnya menunjukkan tidak berbeda pada taraf signifikansi 5% atau sama. kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok mempunyai harga pretes yang sama atau tidak berbeda pada taraf signifikansi 5%. Pada bagian Post Hoc Tests untuk menu Multiple Comparisons harga Turkey HSD dan Bonferroni.200* .931 .Hasil uji terlihat pada Tabel 4 yang menunjukkan bahwa kemampuan awal keempat kelompok tidak berbeda atau sama. Selanjutnya akan dilakukan uji beda postes dari masing-masing kelompok. terbaca pada Tabel 5.394 *. . Uji Beda Postes Antar Kelompok Oleh karena keempat kelompok. Lilliefors Significance Correction .019 . terbaca harga sign. kenyataan ini terbaca pada Tabel 7.05 artinya bahwa kempat harga postes dari masing-masing kelompok berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%. maka langkah selanjutnya adalah menguji hasil postes masing-masing kelompok dengan statistik Anova.105 25 . 3.

Tabel 6 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s POSTES Levene Statistic 1. . daripada kooperatif. . atau tutorial apalagi belajar kelompok dengan pola acak. Bila diperhatikan harga mean postes yang paling tinggi ada pada kelompok kolaborasi.000 Kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok memang mempunyai harga postes yang berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%. selanjutnya dilakukan uji beda pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I.345 Tabel 7 Uji Beda Postes ANOVA POSTES Sum of Squares Betw een Groups 3438. dan Tabel 10 berikut.107 F 10. Tabel 9.934 Total 14873. 3. Sebelumnya.224 Sig. data-data yang diperlukan adalah sekor pretes dan postes masing-masing kelompok. Pertumbuhan Penguasaaan Konsep Fisika Dasar I Mahasiswa Setelah tahap-tahap di atas dilakukan dan hasilnya telah jelas. . maka akan tepat bila kelompok tersebut dibentuk dengan mengikuti aturan pola kolaborasi.592 Within Groups 11434. artinya bahwa kalau akan membentuk kelompok belajar mahasiswa.197 112.120 df 1 3 df 2 102 Sig. Untuk keperluan uji ini. dilakukan terlebih dulu uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas varians masing-masing kelompok data dan hasilnya seperti ditunjukkan pada Tabel 8.526 df 3 102 105 Mean Square 1146.

Dengan demikian.145 25 .051 . .000 Betw een Groups Within Groups Total Hasil uji yang ditunjukkan pada Tabel 8 menghasilkan bahwa data pertumbuhan masing-masing kelompok adalah normal dan uji homogenitas varians pada Tabel 9 menunjukkan bahwa keempat kelompok data adalah berasal dari varians yang sama.473 *.185 .962 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.123 25 . .495 196. . uji beda pertumbuhan dapat dilakukan yaitu dengan statistik Anova dan hasilnya dapat diperiksa pada Tabel 10 di atas yang terbaca bahwa harga .918 . a.002 .Tabel 8 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Norm ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.129 25 .746 df 1 3 df 2 102 Sig.949 .527 Tabel 10 Uji Beda Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika ANOVA PRTBH Sum of Squares 48.538 df 3 102 105 Mean Square 16.382 .044 244.410 Sig.316 . This is a low er bound of the true signif icance. Lillief ors Signif icance Correction Tabel 9 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRTBH Levene Statistic .922 F 8.165 1.200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic .954 .228 25 .200* . .

Growth dan Exponent sebesar 0. Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Di bagian atas telah dihasilkan perhitungan statistik tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika pada masing-masing pola. yaitu uji normalitas dan homogenitas pretes dan postes yang hhasilnya telah memnuhi persyaratan. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa walaupun pertumbuhan untuk masing-masing pola berbeda tetapi mean dari masing-masing pola hampir sama..000. maka dapat disimpulkan bahwa penguasaaan konsep Fisika mahasiswa untuk pola kelompok acak . Pola acak. Sedangkan. namun pertumbuhan untuk masing-masing pola terhadap pola lain pada kelas eksperimen nampaknya tidak ada perbedaan.865 dengan kolaborasi. Compound. Pada bagian Post Hoc Tests pada Multiple Comparisons memperkuat pernyataan di atas. harga F untuk Method. Hasil olahan menunjukkan gambaran-gambaran pola pertumbuhan yang terjadi untuk masingmasing pola kelompok yang dibentuk. Tampak bahwa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen secara keseluruhan berbeda secara signifikans. tetapi tidak ada perbedaan untuk masing-masing pola kelompok.24726. method. data pretes. Hasil analisis dapat ditunjukkan seperti berikut. sebesar 0. sedangkan method Quadrati F = 1.999 dan sebesar 0.12672 seperti disajikan pada Tabel 11 di bawah.916. Hal ini karena harga sign antara tutorial dengan kooperatif sebesar 0.sign. tes-3 dan postes (dilakukan setiap 2 minggu) diolah..  Dengan menggunakan program SPSS pada statistik regresi dengan mengambil menu Curve Fit. bila kooperatif dibandingkan dengan kolaborasi mendapatkan harga sign. Masalahnya sekarang adalah bagaimanakah bentuk pola pertumbuhan tersebut untuk masing-masing pola? Untuk menjawab pertanyaan ini langkah-langkah yang dilakukan adalah:  Uji prasyarat analisis. tes-2. 4. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan keempat pola kelompok adalah berbeda secara signifikans pada taraf signifikansi 5%. Linier sebesar 0. yang ditandai dengan tanda *.26153. sehingga setelah dilakukan Post Hoc Tests nampak bahwa perbedaan pertumbuhan penguasaan tersebut akan nyata bila kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. tes-1. 0.

sehingga dapat disimpulkan bahwa per- . dan Exponent sebesar 25. Tabel 11 Curve Fit Pola Pertumbuhan Acak Analysis of Variance Method.62033.tidak linier terhadap waktu yang digunakan.02156 Pola kooperatif.12268. harga F untuk method.40123 yang mana harga ini masih lebih kecil dari Method Compound.64375 1. yaitu 45.12672 Pola tutorial sebaya. tetapi cenderung kearah pola Quadrati.12672 0. sedangkan Metod Compound. Linier sebesar 44.36603 (Tabel 13). sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan penguasaan konsep pola tutorial adalah linier namun lebih mendekati kearah eksponensial disajikan pada Tabel 12. Growth. Tabel 12 Curve Fit Pola Pertumbuhan Tutorial Sebaya Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 44.26153 0.40123 37..71022 22.12672 0. Linier sebesar 25.02156 dengan beda sebesar 0. Growth dan Exponent.. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 0. harga F untuk Method.12672 0.02156 45.05305 45. Qudrati 14.02156 45.16240.

92697 (Tabel 15)..92697 . Tabel 13 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kooperatif Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 25.tumbuhan penguasaan konsep Fisika kelompok kooperatif adalah linier cenderung kearah Metod Compound.86311 20.16240 25. sedangkan Metod Compound.81884 14.12268 18. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil.36603 25. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil. Tabel-15 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kolaborasi Analysis of Variance Method. Linier sebesar 39. Growth dan Exponent harga F-nya sebesar 39.92937. perbedaaan tersebut adalah nyata. Pola Kolaborasi. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%. sedangkan Metod Compound.92937 30.92697 39.36603 25. Growth. dan Exponent harga F-nya sebesar 39. Growth dan Exponent. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%.92887 39. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 39.92697 39.92937. harga F untuk Method Linier sebesar 39. harga F untuk Method.92697 (Tabel 14). perbedaaan tersebut adalah nyata.36603 Compound. Growth dan Exponent Metod.. Pola Kolaborasi.

. Growth dan Exponent dengan beda yang cukup kecil yaitu sebesar 0.33%).. Compound. Keterampilan Kelompok Dasar: Tutor berperanan aktif dalam mengawali pengambilan kesepakatan (83. artinya ada kesadaran bahwa pendapat orang lain mungkin akan berguna bagi dirinya sehingga perlu untuk dicermati. (83. kooperatif dan kolaborasi. tutorial sebaya. Pola Tutorial Sebaya a.33%) dan terakhir tutor menunjukkan bukti pada anggota kelompok disertai alasan-alasannya (83.002. yaitu kelompok acak. c.33%). pada akhirnya tutorlah yang berusaha untuk memperdalam permasalahan sehingga memperoleh jawaban akhir yang dianggap benar (83.67%) artinya sifat individu tidak muncul.67%). Keterampilan Kelompok Lanjut: Bahwa kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi seperti ditunjukkan di atas. Keterampilan Kelompok Intermediate: Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 83.33% akan mendengarkan secara seksama pendapat dari anggota kelompok.Dengan demikian pola kolaborasi pertumbuhan penguasaan konsepnya lebih kearah linier dibandingkan dengan Metod. Hasil Pengamatan Interaksi Di atas telah dipaparkan hasil penguasaan konsep pada masingmasing pola kelompok belajar.33%) b. Disini tampak peranan tutor yang cukup dominan (50%) yaitu megajak anggota kelompok untuk berpartisipasi. Bagaimana halnya sekarang dengan hasil pengamatan interaksinya? 1. sehingga kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi (66. namun setiap keputusan yang diambil kelompok selalu berdasar keputusan kelompok (66.

Keterampilan Kelompok Intermediate: Menunjukkan penghargaan dan empati pada penampilan anggota ditunjukkan oleh anggota yang berprestasi rendah (33.67%). 3.86%). Poin inilah yang utama dan penting dilakukan oleh separoh dari kelompok yang melakukan kegiatan (50%). namun dia tetap mengarahkan kerja kelompoknya (50%). Masalahnya adalah apakah penjelasan ini benar atau salah. Keterampilan Kelompok Lanjut: Memperdalam permasalahan dalam upaya memperoleh jawaban yang benar rupanya masih dikendalikan oleh anggota yang berkemampuan tinggi (66.33%).2. bersuara pelan dalam mengemukakan pendapat (33. b.67%). Keterampilan Kelompok Dasar: Mengawali pengambilan kesepakatan muncul dari anggota dengan predikat berprestasi tinggi (42. Kelompok ini mengarahkan bagaimana kelompok harus bekerja (66. sedangkan anggota berprestasi tinggi dan sedang justru lebih rendah (16. itulah pertanyaannya. Pola Kooperatif a. namun tidak menyumbangkan banyak pemikiran dalam memecahkan masalah (16. Anggota dengan prestasi paling tinggi nampaknya memegang kendali saat diskusi kelompok.67%). nampak disini bahwa anggota yang merasa berprestasi tinggi merasa tidak begitu memerlukan akan pendapat anggota yang berprestasi rendah c.29%).57%). Inilah yang penting karena dengan demikian yang . Pola Kolaborasi a. Untuk menyumbangkan pemikiran rupanya diprakarsai oleh setiap anggota kelompok (28.33%) yang lebih dominan.33%) dan justru anggota kelompoknya yang mengajak mengemukakan pendapat (50%). Keterampilan Kelompok Dasar: Mahasiswa yang berprestasi tinggi dominan untuk mengawali pengambilan kesepakatan (50%). kecuali yang berprestasi rendah (14. Jadi. namun dia tidak berusaha menunjukkan bukti dan alasannya mengapa jawaban bisa demikian justru yang berkemampuan sedang (83.67%). Namun demikian setiap anggota bersedia berkompromi untuk mencapai jawaban akhir.

1. 14.86%). Keterampilan Kelompok Intermediate: Yang menarik pada tingkat keterampilan ini adalah bahwa dalam mengambil kesimpulan tugas-tugas kelompok. Pola pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA UM untuk masing-masing pola pengelompokkan menunjukkan pola yang berbeda-beda. 2. Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok belajar menunjukkan bahwa semakin tinggi kebersamaan dalam .57%. Untuk pola acak cenderung kearah pola quadrati.57%.14% SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil kajian disertai dengan analisis statistik dari data-data yang didapatkan.29% dan 28. c.57% tetapi untuk memperdalam permasalahan anggota kelompok yang berprestasi paling tinggi yang lebih berperanan (42. sedangkan yang mengikuti pola linier adalah pola kolaborasi. pola tutorial sebaya mahasiswa cenderung kearah pola Compound. demikian juga saat menunjukkan bukti atau memberi alasan terhadap jawaban yang dikemukakannya ((42. 28. Hal ini tampak dari hasil urutan pengamatan interaksinya yaitu sebesar 28.86%).29% dan 28.57%. Growth dan Exponent. yaitu sebesar 57. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 14. Keterampilan Kelompok Lanjut: pada poin untuk merinci tugas dan jawaban hampir semua kelompok anggotanya aktif melakukan ini yang hasil pengamatannya adalah 28.57%. Dalam menentukan prioritas dalam memecahkan masalah. Hasil ini sama saat kelompok merinci tugas dan jawaban.57%. anggota yang berprestasi tinggi kembali memegang kendali. b. hampir semua kelompok baik yang anggotanya berprestasi tinggi ataupun kelompok yang berprestasi pada urutan yang lebih rendah semua memegang kendali pengambilan keputusan.merasa punya prestasi rendah akan menjadi terhimbas untuk belajar. 28.

.memecahkan permasalahan yang dihadapi. berdiskusi. Saran Dari kesimpulan yang didapatkan seperti diungkap di atas. dapat disarankan hal-hal sebagai berikut. maka disarankan kepada siapapun sekiranya akan membentuk kelompok belajar seyogyanya membentuk kelompok belajar dengan pola kolaborasi. Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok menunjukkan bahwa kebersamaan untuk mau bekerja bersama-sama. Inilah hal utama untuk itu ditekankan sebelum kelompok terbentuk. utamanya prestasi belajar mereka. bahwa pola kolaborasi ternyata mampu membuat pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Malang linier terhadap waktu yang digunakan belajar. saling menghargai pendapat orang lain merupakan faktor penting untuk diperhatikan karena erat kaitannya dengan hasil yang didapatkan nantinya. 2. 1. Mencermati hasil perhitungan statistik yang telah dilakukan. maka akan membuat semakin baik pola pertumbuhan penguasaan konsep mereka.

C. W.C.1981. Shafferi.. ASCD Publications. Becoming a Secondary School Science Teacher. Columbus.. A Bell & Howell Company. Shafferi. Pickering. Ohio . National Research Council. B.. 1986. A Bell & Howell Company. Sund. 58 (8). S. Preparing Teachers to Teach Physics and Physical Science by Inquiry. L.. Trowbridge. W 1973. P. D. New York McDermott. P. W. 35(6). Physics Education.. 2000. L. Ohio. 2001.DAFTAR RUJUKAN Dahar. 1990. R. Washington DC. C. Columbus. J. Yogyakarta. B. L. Interaksi Belajar Mengajar IPA. C. McDermott. L. A Perspective on Teacher Preparation in Physics and Other Sciences: The Need for Special Science Course for Teacher. Teaching Science by Inquiry in the Secondary School. Menuju Kebiasaan Bertanya dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar.. J. S. Penerbit Kanisius. Marzano. 1993. National Academy Press.. & Constantinou.L. R. Penerbit Karunika. Rohandi. & Rosenquist. Second Edition. R. L. M. Third Edition. R. P... 1996. Buku Materi Pokok 4 Universitas Terbuka. Jakarta McDermott. W. Bybee. & Trowbridge. 1996. John Wiley & Sons. Virginia. & Sund. R. & McTighe. American Journal of Physics. National Science Education Standard. Inc. Assessing Student Outcome: Performance Assessment Using the Dimensions of Learning Model. R. Physics by Inquiry: An Introduction to Physics and the Physical Sciences.

vocabulary. mereka menerapkan berbagai macam strategi pemrosesan kata (lexical processing strategies). mengusulkan taksonomi yang terdiri dari dua strategi saja. This study attempts to examine the use of skipping as a lexical processing strategy in reading comprehension and explore the reasons for utilizing this strategy. and there are five reasons underlying the application of this strategy. Kusumarasdyati adalah dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Surabaya . strategy. Namun taksonomi yang disusun oleh Robinson (1977) terdiri dari tiga strategi. yaitu membaca secara ekstensif (wide reading).Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Abstract: Proficient readers usually skip unknown words that they encounter in a reading text. Some recommendations are made based on these findings. dan menebak makna kata berdasarkan konteks. misalnya. skipping. Richek. yaitu analisis terhadap struktur kata dan penggunaan konteks untuk menebak makna kata. Key words: reading. Untuk mengatasi masalah kosakata seperti ini. misalnya melihat kamus untuk mencari makna kata tersebut. dan strategistrategi tersebut telah disusun menjadi taksonomi oleh beberapa pakar. List dan Lerner (1983). pembelajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing acapkali menemui kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. menggunakan kamus. ada beberapa strategi pemrosesan kata lain yang dapat diterapkan oleh para pembelajar bahasa Inggris. The findings reveal that most proficient readers do skip unknown words. unknown words Dalam membaca pemahaman. Selain penggunaan kamus.

Karena anggapan yang kurang tepat seperti ini. consult (melihat makna kata di kamus) dan ignore atau skipping (mengabaikan makna kata). Berdasarkan latar belakang tersebut. dan amat sedikit informasi yang . Selain lebih lengkap dibandingkan dengan yang lain. 1989. Mereka tidak menyadari bahwa melewati kata yang tidak ditemukan maknanya sebenarnya juga merupakan strategi atau teknik yang dilakukan oleh pembelajar dalam menghadapi kata-kata sulit. taksonomi Fraser juga memiliki kelebihan lain. Dari beberapa taksonomi di atas.Fraser (1999) juga membagi strategi pemrosesan kata menjadi tiga: infer (menebak makna kata). Reichele et al. yaitu mengakui ignore sebagai salah satu strategi. penelitian ini mencoba untuk mendalami skipping sebagai salah satu strategi pemrosesan kata yang digunakan oleh pembelajar bahasa. sedangkan proses melompatnya pandangan ke titik lain disebut saccade. melainkan berhenti sebentar pada suatu titik dalam teks kemudian melompat dengan cepat ke titik yang lain dalam teks yang sama (Rayner dan McConkie. strategi berupa melewati kata-kata sulit-atau skipping unknown words-tidak terlalu diperhatikan oleh para peneliti dan pengajar bahasa. Skipping dalam membaca pemahaman sebenarnya telah diketahui oleh para pakar sejak dekade 1970-an. Dua strategi yang diusulkan oleh Richek et al dapat dimasukkan ke dalam kategori infer. nampak bahwa klasifikasi strategi yang paling lengkap disusun oleh Fraser (1999). sedangkan wide reading yang dikemukakan oleh Robinson sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai strategi tersendiri karena pembelajar biasanya menebak makna kata atau menggunakan kamus ketika sedang membaca secara ekstensif. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pembelajar mengumpulkan informasi lebih banyak mengenai teks pada tahap fixation di suatu kata. dan menurut mereka apabila kedua strategi ini gagal dalam membantu pembelajar untuk menemukan makna kata maka kata tersebut ‗cukup‘ dilewati saja. Proses berhentinya mata pada suatu titik disebut fixation. Selama ini banyak peneliti dan pengajar bahasa yang menganggap bahwa menebak makna kata atau melihat kamus saja yang bisa dikategorikan sebagai strategi. Rayner dan Pollatsek. Penelitian mengenai gerakan mata (eye movement) menemukan bahwa mata tidak bergerak secara kontinyu dari satu kata ke kata berikutnya ketika membaca. 1976. 1998). Karena itu penelitian ini berpijak pada taksonomi strategi pemrosesan kata yang disusun oleh Fraser.

Selain itu. Hosenfeld (1976) serta Paribakht dan Wesche (1999) menemukan bahwa alasan skipping adalah anggapan pembelajar bahwa kata-kata sulit tersebut tidak penting untuk pemahaman bacaan keseluruhan. Kalau pun ada kata yang terbaca. Penelitian Hosenfeld (1976). pembelajar melewati 24% kata yang tidak mereka ketahui maknanya. yang menunjukkan bahwa para subjek penelitiannya mengabaikan sekitar separuh dari kata-kata sulit yang mereka temukan dalam bacaan karena mereka menganggap kata-kata tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk pemahaman keseluruhan bacaan. Hal ini sejalan dengan temuan dari penelitian Paribakht dan Wesche (1999). hanya saja data numerik yang dihasilkan agak berbeda. sedangkan 35% merupakan strategi yang digunakan setelah gagal menebak makna kata. 1998). menunjukkan bahwa pembelajar yang kemampuan membacanya baik biasanya melewati kata-kata yang tak diketahui maknanya karena kata-kata tersebut dipandang tidak terlalu penting untuk memahami makna keseluruhan bacaan. Menurut Fraser. Pressley . pembelajar biasanya tidak memberikan perhatian yang terlalu banyak pada kata tersebut (Reichele et al. bukti lain diberikan oleh penelitian mengenai penggunaan strategi dari sudut psikolinguistik. Meskipun hasil penelitian di atas memberikan bukti empiris akan adanya strategi skipping dalam menghadapi kata-kata sulit di bacaan. hingga saat ini tidak banyak yang meneliti secara mendalam mengapa pembelajar melewati begitu saja kata-kata sulit dalam teks yang mereka baca. Hasil pengamatan terhadap gerakan mata di atas memberikan bukti yang kuat bahwa pembelajar memang melakukan skipping atau melewati beberapa kata ketika membaca suatu teks. Hasil penelitian kuantitatif Fraser (1999) mendukung temuan di atas. Selain bukti dari sudut fisik pembelajar. misalnya. Hosenfeld juga menemukan bahwa kata-kata yang dianggap penting pun terkadang dilewati saja oleh para pembelajar karena gagal mendapatkan makna yang sesuai setelah mencoba beberapa kali untuk melihat kamus atau menebak dari konteks. Jumlah ini lebih rendah daripada pemakaian strategi menebak makna kata (44%) dan melihat kamus (29%). Sekitar 62% dari penggunaan strategi melewati kata ini merupakan strategi tunggal (tanpa didahului atau diikuti oleh menebak atau melihat kamus).diperoleh pada tahap saccade karena pembelajar melewati beberapa kata begitu saja selama pandangan melompat dari satu titik ke titik lain.

penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya baik melewati kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya dalam membaca pemahaman. selain alasan yang disebut di atas. diberikan tes membaca pemahaman DIALANG (dapat diunduh dari http://www. penelitian ini juga memberikan manfaat praktis bagi para pengajar bahasa Inggris karena hasilnya dapat memberikan gambaran mengenai penggunaan strategi skipping yang efektif oleh para pembelajar yang kemampuan membacanya baik. pengajar dapat membimbing pembelajar yang kemampuan membacanya sedang atau kurang dengan jalan meminta mereka untuk menerapkan strategi yang digunakan oleh pembaca yang lebih baik kemampuannya. Sampel ini diambil dari populasi berdasarkan kriteria berupa kemampuan membaca pemahaman yang baik.dialang. sehingga perlu diteliti lebih jauh apakah hanya kedua alasan itu yang memicu terjadinya skipping.dan Afflerbach (1995) menyatakan bahwa pembelajar melewati kata sulit karena gagal menebak maknanya dari konteks. Penelitian-penelitian mereka tidak secara khusus mendalami strategi skipping.org) yang telah menjadi standardized test kepada semua anggota populasi. Untuk mengetahui kemampuan tersebut. sehingga diperoleh skor yang merefleksikan . Data kualitatif diambil dari 8 mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang terpilih menjadi subjek penelitian dengan memakai metode purposive sampling dari populasi sejumlah 74 mahasiswa. penelitian ini diharapkan dapat mendukung pandangan yang menyatakan bahwa membaca pemahaman berlangsung secara top-down (pembelajar menggunakan pengetahuan yang telah dia miliki untuk memahami bacaan) dan bukannya secara bottom-up (pembaca memproses setiap kata satu persatu kemudian menggabungkan semua kata tersebut untuk memahami bacaan secara keseluruhan). Dengan demikian. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan secara mendalam alasan mengapa para pembaca yang kemampuannya baik mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam bacaan berbahasa Inggris. Selain itu. Maka dari itu. Secara teoritis.

peneliti memberikan dua teks (masing-masing terdiri dari 812 dan 344 kata) kepada para mahasiswa untuk dibaca dengan keras. Mahasiswa yang menduduki persentil paling atas dipilih menjadi sampel penelitian. kemudian ditulis transkripnya dengan menggunakan . Untuk mendapatkan data dari subjek penelitian ini. skor ini diurutkan dari tertinggi hingga terendah dan disusun menjadi persentil. Dalam menggunakan instrumen ini. Instrumen kedua adalah concurrent verbal protocols. concurrent verbal protocols. dan selama membaca mereka diminta untuk mengucapkan kata-kata sulit yang mereka temui dan strategi mereka dalam mengatasi kata-kata sulit tersebut. Instrumen pertama (tes membaca pemahaman) tidak dibahas secara rinci di sini karena hanya digunakan untuk memilih sampel dari populasi. namun persentil teratas dibulatkan menjadi 8 (dari 7. Informasi lebih jauh mengenai tes ini dapat diperoleh dari laman (website) yang disebut di atas. Gambar 1 Cara seleksi sampel menggunakan persentil 10% Skor tertinggi (sampel) 10% Skor terendah Persentil teratas terdiri dari 10% dari mahasiswa yang mendapat skor tertinggi dalam tes membaca pemahaman DIALANG. dan observasi.4) sehingga didapat sampel sejumlah 8 mahasiswa. apa pun yang mereka pikirkan selama membaca harus mereka ucapkan dengan suara keras sehingga dapat diketahui secara persis proses berpikir mereka ketika mereka mengatasi kata-kata sulit. Selanjutnya. diperlukan empat instrumen penelitian: tes membaca pemahaman DIALANG. Kedelapan mahasiswa ini diasumsikan memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik karena skor tinggi yang mereka capai. Dengan kata lain. wawancara retrospektif. Telah disebutkan sebelumnya bahwa populasi terdiri dari 74 mahasiswa. Ucapan mereka direkam dalam kaset oleh peneliti.kemampuan membaca mereka. yaitu proses berpikir yang diucapkan dengan suara keras. Proses seleksi ini dapat dijelaskan di Gambar 1.

0) Deskripsi Kata-kata yang diucapkan oleh subjek penelitian Kata-kata dari bacaan yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata dari kamus yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata sulit yang tidak diketahui maknanya Panjangnya jeda dalam menit dan detik Instrumen ketiga adalah wawancara retrospektif. dan (2) Apabila anda tidak mengetahui maknanya. di mana peneliti mengamati segala perilaku mahasiswa selama membaca dua teks dan mencatat hal-hal yang relevan dengan strategi skipping. Tabel 1 Notasi untuk transkrip hasil concurrent verbal protocols Format Huruf biasa [Cetak miring. di dalam kurung] Garis bawah (0. yaitu: (1) Apakah anda mengetahui makna kata ini?. di mana peneliti mewawancarai mahasiswa mengenai hal-hal yang perlu diklarifikasi dari hasil concurrent verbal protocols setelah mahasiswa selesai membaca dua teks. semua wawancara dengan subjek penelitian direkam dalam kaset dan dibuat transkripnya. Misalnya. karena itu peneliti memberi setrip pendek di bawah kata-kata tersebut. Wawancara yang semi terstruktur ini berpegang kepada dua pertanyaan dasar. tramping dan loose diperkirakan tidak diketahui maknanya oleh mahasiswa.‖ Kata-kata tranquility. Instrumen yang keempat adalah observasi.notasi seperti yang terdapat di Tabel 1. di dalam kurung] [Cetak tebal. di teks terdapat kalimat berikut: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end the previous summer. mengapa anda lewati kata ini sewaktu membaca tadi? Pertanyaan tambahan dapat diajukan sesuai kebutuhan. maka peneliti memberi tanda sebagai berikut di teks yang dia pegang: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end . Apabila mahasiswa mencoba menebak makna tranquility ketika membaca teks dan tidak menebak atau melihat kamus ketika membaca tramping dan loose. peneliti memegang teks yang sama dan telah dibubuhi tanda pada beberapa kata yang diprediksi sulit bagi mahasiswa. Seperti instrumen kedua. Ketika mahasiswa membaca teks.

Hasil coding ini akan ditriangulasikan dengan hasil observasi. atau memasukkan ujaran mahasiswa selama membaca ke kategori yang sesuai: menebak makna kata (guessing). . atau melewati kata-kata sulit (skipping). Hanya data yang masuk kategori terakhir ini lah yang dianalisis lebih lanjut. yaitu kata-kata yang diberi setrip pendek di bawahnya. HASIL Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang kemampuan membacanya tergolong baik melewati kata-kata sulit yang ditemui dalam bacaan. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 2. seperti yang telah dijelaskan dalam bahasan mengenai instrumen ketiga di atas. dicari alasan-alasannya dari hasil wawancara. Dari 8 mahasiswa yang menjadi subjek penelitian ini. Setelah didapat daftar kata-kata yang dilewati oleh setiap mahasiswa. sehingga didapat analisis yang lengkap mengenai kata yang dilewati beserta alasan melakukan skipping. ujaran yang dikategorikan skipping seharusnya cocok dengan hasil observasi. Kata-kata yang ditandai setrip pendek ini akan ditanyakan dalam wawancara retrospektif setelah proses membaca selesai. tujuh diantaranya melewati begitu saja kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. tetapi nampaknya melewati kata tramping dan loose karena keduanya masih ditandai setrip pendek.the previous summer.‖ Garis bawah di keseluruhan kata menandakan bahwa mahasiswa mencoba mencari makna tranquility. melihat kamus (consulting). Data yang diperoleh dari concurrent verbal protocols akan dianalisis terlebih dahulu dengan cara coding. Dalam arti. Hanya satu mahasiswa (Catrin) tidak pernah mengabaikan kata-kata sulit dan cenderung melihat kamus untuk mencari makna kata-kata tersebut. sehingga penelitian ini mendukung temuan Hosenfeld (1976) yang telah dibahas di atas.

tetapi ada juga yang melewati hingga 43 kata. kalo itu kata kunci? A : Ya. misalnya seperti yang dijelaskan oleh Andra (A) dalam wawancara retrospektif dengan peneliti (P). anda tadi merasa. A : He eh. P : Yang anda tidak tahu artinya. ngerti maksudnya. Biarpun itu katanya susah. P : Ada beberapa tadi yang anda tidak tahu artinya tapi anda tetap baca. Nggak memperdulikan. kalo bukan key of the sentence. saya nggak mau nyari. Jadi yang penting kata kunci dari sentence itu udah dapet. P : Jadi yang anda cari itu. . ―Saya tidak tahu artinya tapi saya lewati aja‖? A : Ada yang merasa terus ditebak-tebak. Sentencenya nyambung.Tabel 2 Jumlah Kata-kata yang Sulit dan Dilewati oleh Mahasiswa Nama mahasiswa* Selena Rita Homer Melisa Andra Yulia Catrin Didin * Nama samaran Σ kata sulit 45 35 54 57 37 52 96 49 Σ kata dilewati 25 2 27 35 25 43 0 18 Ada sebagian mahasiswa yang mengabaikan hanya 2 kata yang tidak diketahui maknanya. Jumlah yang bervariasi ini tentunya dilatarbelakangi oleh alasan-alasan yang berbeda pula. Para mahasiswa yang mengabaikan kata tersebut berpendapat mereka masih bisa memahami apa yang disampaikan di dalam teks walaupun mereka tidak mengetahui makna kata-kata yang dilewati. ya udah diambil. Jadi selama kata itu nggak penting saya nggak mau.

Pembaca yang baik memiliki kemampuan untuk memilah mana kata-kata kunci (keywords) yang penting untuk pemahaman bacaan secara keseluruhan dan mana kata-kata yang kurang penting. Apabila kata-kata sulit dipandang kurang penting, maka pembaca akan menerapkan strategi skipping agar dia dapat membaca secara lebih efisien dan tidak terhambat oleh kata-kata sulit tersebut. Walaupun kata-kata yang tidak dipandang penting pada umumnya diabaikan, ada juga mahasiswa yang mengabaikan kata-kata sulit yang sebetulnya dianggap penting. Contoh konkrit dapat dilihat dalam ujaran Yulia ketika membaca teks dalam concurrent verbal protocols.
Yulia: [I would see him waiting for the whirring (0.1) whirring (0.1) whirring of wings, violin in hand. Several times now…]

Ketika Yulia membaca kalimat di atas, sebenarnya perhatiannya tertuju pada kata whirring yang tidak dia ketahui maknanya dan dia melakukan upaya untuk mengetahui makna kata tersebut, seperti yang ditunjukkan oleh pengucapaan kata ini berulang-ulang dengan jeda 1 detik. Hal ini dikonfirmasi dalam wawancara retrospektif yang dilakukan setelah verbal protocols di atas. Hasil wawancara menunjukkan bahwa Yulia memang tidak mengetahui makna whirring dan bermaksud untuk menebaknya berdasarkan konteks. Dia membaca kalimat selanjutnya (Several times now…dst.) untuk mengetahui dalam konteks apa kata whirring digunakan, namun karena kapasitas memori jangka pendek (short-term memory) Yulia yang amat terbatas maka kata tersebut terlupakan ketika membaca kalimat selanjutnya. Kata whirring masuk ke dalam memori jangka pendeknya tetapi tidak disimpan terlalu lama dan kemudian hilang, sehingga dia tidak melanjutkan upaya untuk menemukan maknanya dan mengabaikan kata tersebut hingga proses membaca teks berakhir. Salah satu mahasiswa yang melakukan strategi guessing diikuti skipping adalah Andra.
Andra: […but the publishers did not hear his uprush of wings. Uprush of wing.] What is that? Uprush of wing. An idiom? Uprush of wing (0.1) mungkin musik yang aneh, maybe. (0.4) Ah lewat. [The child came to live…]

Dalam verbalisasi di atas terlihat jalan pikiran Andra ketika menemukan kata uprush yang tidak dia ketahui maknanya. Pada awalnya dia berusaha mengidentifikasi apakah frasa uprush of wings adalah

sebuah idiom, kemudian lebih jauh dia mencoba untuk menebak makna frasa tersebut sebagai ‗musik yang aneh.‘ Namun nampak jelas bahwa dia tidak yakin akan akurasi makna yang dia tebak, seperti yang ditunjukkan pada kata mungkin dan maybe. Setelah empat detik berlalu, dia memutuskan untuk melewati saja frasa ini, seperti yang dia nyatakan secara eksplisit dengan ucapan ah lewat. Temuan ini merupakan alasan keempat yang menyebabkan terjadinya skipping. Didin, misalnya, memutuskan untuk mengabaikan saja kata yang sama, yaitu uprush, setelah beberapa kali mencari maknanya di kamus namun tidak berhasil.
Didin: [Long ago, she confided, her brother had tried to get his strange music down on paper, but the publishers did not hear his uprush of wings.] Uprush (0.5) uprush (0.23) uprush (0.6) uprush (0.20) uprush uprush (0.5). [The child came to live…]

Ketika Didin menemukan kata sulit, yaitu uprush, dia meraih kamus saku elektroniknya dan berusaha mencari makna kata ini selama 5 detik, namun di kamus tersebut tidak tercantum entri uprush. Kemudian dia beralih ke kamus bilingual Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan mencari selama 23 detik, tetapi di kamus tersebut juga tidak terdapat entri uprush. Hal yang sama juga terjadi ketika dia menggunakan kamus monolingual selama 6 dan 20 detik. Karena ketiga kamus yang dia gunakan tidak memuat kata uprush sebagai salah satu entrinya, dia gagal mendapatkan maknanya dan memutuskan untuk melewati kata ini dan meneruskan membaca kalimat-kalimat berikutnya. Sebagai contoh, Andra melakukan miscue ketika membaca teks dan ini terlacak dari wawancara retrospektif yang dilakukan peneliti dengannya. P A P A : : : : ‗Confided‘ artinya? Oh, ‗confided,‘ tak pikir ‗convinced.‘ Anda salah baca? Ya, salah baca tadi, tak kira ‗convinced.‘

Dalam wawancara di atas, peneliti menunjuk kata confided di teks dan meminta Andra untuk menyebutkan maknanya, karena dia melewati kata tersebut ketika membaca teks sebelum wawancara dilakukan. Saat

mendengar peneliti menyebut kata confided, Andra baru menyadari bahwa dia telah salah membaca kata tersebut sebagai convinced. Karena dia mengetahui makna kata convinced, dia tidak terlalu memperhatikan kata confided dan mengasumsikan bahwa kata tersebut dikenalnya dengan baik. Kasus miscue atau salah baca seperti ini menunjukkan bahwa pembaca ternyata tidak memberikan perhatian dalam kadar yang sama ke setiap kata di dalam suatu teks. Dia mungkin memberikan perhatian yang lebih banyak pada kata-kata kunci dan beberapa kata-kata sulit, namun kata-kata yang dia anggap familiar (dikenal dengan baik maknanya) hanya dibaca sekilas saja dan dia merasa masih bisa memahami teks secara keseluruhan dengan baik. Kasus ini mendukung hasil penelitian mengenai gerakan mata atau eye movement (Rayner dan McConkie, 1976; Rayner dan Pollatsek, 1989; Reichele et al, 1998) yang telah dijelaskan sebelumnya dengan hasil berupa fase fixation dan saccade. Dengan demikian, penelitian dari sudut psikolinguistik ini melengkapi hasil penelitian dari sudut fisik (gerakan mata) yang telah dilakukan untuk mengetahui proses yang terjadi selama membaca pemahaman.
BAHASAN

Penelitian yang mendalam terhadap strategi dalam menghadapi kata-kata sulit menghasilkan temuan berupa lima alasan yang mendasari skipping dalam membaca pemahaman. (1) Alasan pertama adalah katakata yang dilewati tersebut memiliki kontribusi yang amat kecil terhadap makna keseluruhan teks; (2) Alasan kedua, pada awalnya mereka mengidentifikasi suatu kata sulit sebagai kata yang penting untuk pemahaman bacaan dan berupaya untuk mencari maknanya, akan tetapi kata tersebut terlupakan oleh mereka ketika mereka membaca kalimat berikutnya. Hal ini yang menjadi alasan kedua mengapa mereka menerapkan strategi skipping; (3) Alasan ketiga, untuk skipping adalah pemakaian strategi menebak yang gagal. Pada awalnya mahasiswa berusaha untuk mengetahui makna kata dengan cara menebaknya dari konteks, tetapi nampaknya mereka tidak berhasil mengira-ngira makna yang tepat untuk kata tersebut. Akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk melewati saja kata itu; (4) Alasan keempat, tidak

hanya kegagalan dalam menebak kata, tidak berhasilnya upaya mereka untuk mencari makna kata di kamus dapat memicu terjadinya skipping selama proses membaca pemahaman berlangsung; dan (5) Alasan kelima, untuk skipping adalah miscue. Istilah miscue dipakai untuk pertama kalinya oleh Goodman (1996) untuk menyebut kesilapan yang dibuat oleh pembaca ketika sedang memahami suatu teks.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Dari penjelasan di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut. Para pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya tergolong baik pada umumnya melakukan strategi skipping atau mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam suatu teks, dan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya. Jumlah kata yang mereka abaikan beragam, ada yang amat sedikit, namun ada juga yang cukup banyak. Alasan yang mendasari penggunaan strategi skipping ini juga bermacam-macam, dan penelitian ini berhasil mengeksplorasi lima alasan. Alasan tersebut meliputi: (1) kata tersebut tidak terlalu penting untuk memahami makna teks secara keseluruhan, (2) kata tersebut penting, tetapi pembelajar lupa mencari artinya karena keterbatasan kapasitas memori jangka pendek, (3) kata tersebut sudah diupayakan untuk ditebak maknanya, namun gagal, (4) kata tersebut sudah diupayakan untuk dicari maknanya di kamus, namun gagal, dan (5) miscue atau salah baca, dan diasumsikan kata tersebut diketahui maknanya padahal tidak. Alasan pertama dan ketiga mendukung temuan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sedangkan tiga alasan lainnya merupakan temuan orisinil dari penelitian ini.
Saran

Berdasarkan simpulan yang diuraikan di atas, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut kepada para pengajar bahasa Inggris dalam mengajarkan membaca pemahaman. Pertama, pembelajar dengan kemampuan membaca pemahaman yang baik hendaknya dianjurkan untuk menerapkan strategi skipping terhadap beberapa kata sulit yang

namun untuk lebih jelasnya diperlukan bukti empiris dari penelitian. karena mencari makna setiap kata yang tidak diketahui kemungkinan akan: (1) memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk membaca pemahaman.mereka temui dalam teks. Skipping nampaknya merupakan suatu strategi yang tak dapat dipisahkan dari proses membaca pemahaman. Selain itu. Kedua. perlu diadakan investigasi lebih lanjut mengenai strategi skipping. Penelitian ini hanya menggunakan mahasiswa yang memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik sebagai subjeknya. subjek penelitian ini adalah pembelajar yang kemampuan membaca pemahamannya berada di tingkat menengah (intermediate). Dari lima alasan yang telah disebutkan sebelumnya. . Perbedaan kemampuan ini diperkirakan akan menghasilkan temuan yang berbeda pula. dan (3) menurunkan motivasi untuk membaca lebih jauh. pembelajar hendaknya diajarkan untuk memilah katakata sulit yang perlu dicari maknanya dan yang dilewati begitu saja. (2) menghambat proses membaca pemahaman. sehingga skipping akan membuat proses tersebut lebih maksimal apabila dilakukan dengan alasan yang tepat. karena itu perlu diteliti: (1) apakah mahasiswa dengan kemampuan membaca pemahaman yang kurang juga menerapkan strategi skipping dan (2) apabila memang menerapkannya. apakah memiliki alasan yang sama dengan mahasiswa yang baik kemampuan membacanya. karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap pembaca pada tingkat dasar (elementary) dan lanjut (advanced) untuk mengetahui apakah penerapan strategi skipping memang berbeda karena tingkat membaca pemahamannya berlainan. Bagi para peneliti yang berkecimpung di bidang membaca pemahaman dan pengajarannya. hendaknya pengajar dapat memetik manfaatnya dengan memberikan pengetahuan yang cukup kepada pembelajar agar dapat memilih kata mana yang dilewati dengan alasan yang sesuai.

What Guides a Reader's Eye Movements. Goodman. & Pollatsek. 1996. S. Verbal Protocols of Reading: the Nature of Constructively Responsive Reading. K. 125--157. Teaching Reading and Study Strategies: The Content Areas. 5(2). 1995. Rayner. M. D. A. 1976. Reading and "Incidental" L2 Vocabulary Acquisition: An Introspective Study of Lexical Inferencing.. 195-224. . Pollatsek. On Reading.. & Rayner. The Psychology of Reading. Boston: Allyn and Bacon. B. K. 21(2). Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates.. 1989. A. G. D.DAFTAR RUJUKAN Fraser. Hosenfeld. Pressley. K. System. A Preliminary Investigation of the Reading Strategies of Successful and Nonsuccessful Second Language Learners. 1976. K. 225--241. E. 1977.. Fisher.. Vision Res. C. T. Ontario: Scholastic. A. Rayner. 21(2). P. 1999. & Wesche.. Reichele. & Afflerbach. 105(1). H. M.. Robinson. W. Toward a Model of Eye Movement Control in Reading. Lexical Processing Strategy Use and Vocabulary Learning through Reading. 110--213. Studies in Second Language Acquisition. L. C. Paribakht. Psychological Review. & McConkie. Hillsdale: Erlbaum. 1999. A. Studies in Second Language Acquisition. 16(8). 829-837. 1998.

Dan anak adalah korban terbesar dari perceraian yang dilakukan oleh ibu dan bapaknya. Tampaknya masalah ini bukan hanya terjadi pada keluarga dari kelas tertentu. kasus perceraian seakan merupakan tren yang sangat menyita perhatian publik. Hal ini bisa dilihat dari seringnya masalah tersebut menjadi berita hangat di media masa. baik lokal maupun nasional. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Kota Malang angka perceraian dari tahun ke tahun meningkat. "Luka" akibat perceraian tidak dipungkiri akan mewarnai perjalanan kehidupan mereka dan keluarganya setelah bercerai. meskipun rumah tangga yang mereka bina telah berusia lebih dari 20 atau 30 tahun.Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Abstrak: Perceraian bagi setiap pasangan suami istri adalah sesuatu yang paling tidak diinginkan. yakni keluarga harmonis. namun juga menimpa keluarga dari semua kelas sosial. Perceraian sebenarnya dapat dihindari apabila suami atau istri mau mengkompromikan segala kepentingan yang mereka miliki untuk kepentingan bersama yang lebih besar. Perceraian Suami Istri Muslim Belakangan ini. Kata-kata kunci: Pengembangan Model Pendidikan. Ahmad Munjin Nasih adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang . Namun dalam realisasi di lapangan masih sering saja dijumpai ada pasangan yang memutuskan untuk bercerai. Ironisnya. kasus perceraian yang terjadi karena inisiatif pihak istri (gugat cerai) jumlahnya lebih besar daripada perceraian karena inisiatif pihak suami (talak) lihat pada Tabel 1.

sebab bagaimanapun juga. Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Talak 335 358 371 434 408 Gugat Cerai 627 664 733 796 764 Jumlah 962 1022 1104 1230 1172 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Bahkan tren naiknya jumlah gugat cerai daripada talak ternyata tidak berubah sampai bulan Januari 2007 lihat pada Tabel 2. jika pasangan-pasangan yang bercerai tersebut sudah dikaruniai anak sebagai buah pernikahan mereka. Akan tetapi. tidak hanya mengena pada anak dari pasangan yang . Tentu saja hal ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk membenarkan perceraian tersebut. Tabel 2 Angka Talak dan Gugat Cerai bulan Januari 2007 di Kota Malang Bulan/Tahun Januari/2007 Talak 46 Gugat Cerai 79 Jumlah 125 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Kondisi yang terjadi di Kota Malang tidak menutup kemungkinan terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Trauma yang demikian. perceraian yang demikian hampir bisa dipastikan meninggalkan kesan negatif terhadap anak. 2.Tabel 1 Angka Talak dan Gugat Cerai di Kota Malang No 1. telah gagal mencapai cita-cita yang mereka dambakan ketika mengawali membangun rumah tangga. bahkan mungkin akan membuat anak trauma terhadap institusi keluarga. 4. Kalau pasangan yang bercerai tersebut belum dikaruniai anak barangkali dapat dikatakan bahwa hanya pasangan tersebut sajalah yang terkena dampak negatif dari perceraian itu. 5. 3. terjadinya perceraian itu menunjukkan bahwa pasangan suami-istri yang telah mengikat janji membangun keluarga. bisa jadi. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan penyadaran kepada semua pihak terutama pasangan suami istri akan pentingnya menjaga rumah tangga dari perceraian. Oleh karena itu. Dalam penelitian studi kasus ini digunakan rancangan studi kasus observasional (Yin. Dengan langkah ini diharapkan pasangan tersebut akan menjadikan keluarganya sebagai keluarga yang sakinah (harmonis) melalui pendidikan pencegahan perceraian bagi pasangan suami istri. Pembatasan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mayoritas penduduk Malang Raya secara khusus dan Indonesia secara umum memeluk agama Islam. Namun demikian. (2) mengetahui kebutuhan dan persepsi pasangan suami istri yang telah bercerai terhadap bangunan keluarga sakinah. model pendidikan seperti apa yang sesuai dengan tujuan ini belum berhasil dibangun. 1999) Rancangan metode . pencegahan terhadap terjadinya perceraian menjadi sangat penting untuk dilakukan. Sehingga diasumsikan jumlah perceraian terbanyak dialami oleh pemeluk agama Islam. 1998). Oleh karena itu.bersangkutan tetapi bisa meluas kepada anak secara umum. (3) mengetahui langkah-langkah yang selama ini telah ditempuh oleh suami dan istri dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga. perlu dilakukan penelitian pengembangan untuk mewujudkannya. Rancangan ini diharapkan dapat menghasilkan teori dengan generalisasi lebih luas dan lebih umum penerapannya untuk kasus pencegahan perceraian. dan (4) mengetahui dampak yang terjadi pada anak-anak korban perceraian. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui data tentang faktorfaktor penyebab terjadinya perceraian. METODE Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya. Rancangan studi kasus dapat digunakan untuk pengembangan teori yang diangkat dari sebuah latar penelitian (Bogdan & Biklen. Selaras dengan uraian di atas. maka rancangan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Jika ini terjadi tentu akan semakin mengkhawatirkan. Namun. penelitian ini hanya terbatas pada keluargakeluarga muslim.

dimana dalam tahap ini peneliti mengumpulkan data secara lebih mendalam dan terarah dengan fokus penelitian. Adapun subyek penelitian ini adalah suami. observasi dan dokumentasi (Marshall. Adapun teknik penjaringan informasi yang digunakan adalah teknik bola salju (snowball). Kata-kata dimaksud adalah berasal dari para informan. Dalam pelaksanaannya dilakukan beberapa kali pengumpulan data dan hasilnya dianalisis sehingga tersusun teori sementara. Di samping itu . akan dikumpulkan informasi berupa katakata. istri yang sedang dalam proses perceraian dan sudah bercerai. digunakan beberapa alat. Sementara itu lokasi penelitian ini adalah wilayah Malang Raya. Data subjek penelitian akan diperoleh dari Pengadilan Agama Kota Malang. FGD. yaitu: teknik wawancara terfokus. pemahaman serta kepedulian yang tinggi terhadap pemasalahan yang sedang diteliti. Kabupaten Malang dan Kota Batu yang tercatat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Pada tahap pertama peneliti melakukan penjajakan ke lokasi dalam rangka memperoleh gambaran secara umum tentang situs yang akan diteliti. Dalam setiap kali melakukan pengumpulan data. serta anak-anak korban perceraian di Malang Raya. dan Kota Batu. Untuk menjaring data tersebut akan dilakukan pengamatan. baik menggunakan teknik wawancara mendalam maupun dengan teknik observasi. Kabupaten Malang. 1989). Hal ini diterapkan untuk mendapatkan data yang memadai dan sesuai dengan fukos penelitian dan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini. serta berusaha mencari sumber-sumber data atau informan yang kompeten dan memiliki pengetahuan. Di samping itu juga akan diambil data berupa situasi setting penelitian serta kegiatankegiatan yang berkaitan dengan fokus penelitian.tersebut digunakan untuk menelaah sebuah fenomena dalam sebuah organisasi tertentu. Tahap berikutnya adalah melakukan eksplorasi. Subjek penelitian sekaligus akan dijadikan informan penelitian dengan kesempatan yang sama. yaitu Kota Malang. Informasi tersebut akan digali melalui wawancara bebas. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap. Dalam setiap kesempatan mengadakan wawancara mendalam digunakan buku catatan. situasi setting dan beberapa dokumen yang berhubungan dengan fokus penelitian. Dalam penelitian kualitatif teknik untuk memperoleh data di lapangan dilakukan dengan tiga cara.

ulama. Keempat. dan hakim agama. Kesimpulan dirangkum dari proses analisis data. peneliti merumuskan temuan penelitian dari data yang dianggap bersifat spesifik setelah melalui analisis etnografi.. yaitu: (1) kredibilitas. tanpa mengurangi esensi data tersebut. (2) Penyajian Data (Display). Sedangkan untuk kegiatan observasi. selain format lapangan juga akan digunakan alat dokumentasi yang berfungsi untuk mendokumentasikan perilaku-perilaku atau peristiwa-peristiwa penting yang muncul selama pelaksanaan observasi. data yang telah dikelompokkan. dipilah dan digolongkan sesuai tema-tema dalam fokus penelitian. psikolog. yakni ahli pendidikan. kemudian dirangkai secara sistematis sesuai dengan susunan tema fokus dan disajikan sebagai paparan data. Data inti yang ditemukan dimasukkan format model analisis data etnografi yang dikembangkan oleh Spradley (1980). peneliti menganalisis data dengan empat langkah yaitu: (1) Reduksi Data. dan (3) konfirmabilitas. Ketiga. Kesimpulan penelitian . dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan ulang terhadap data yang diperoleh dengan meminta konfirmasi lebih lanjut kepada para informan dan para ahli terkait. Kedua alat tersebut digunakan untuk mencatat dan merekam jawaban-jawaban informan yang selanjutnya ditulis ulang ke dalam format transkrip wawancara dengan menyertakan koding yang terdiri dari tanggal. (3) Penentuan Temuan Penelitian. dilakukan dengan meminta bantuan para ahli dan berbagai pihak yang memahami penelitian ini. Kedua. (2) dependabilitas. tempat dan inisial informan.apabila yang diwawancarai banyak maka digunakan alat perekam. dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi baik triangulasi teknik data maupun triangulasi informan. peneliti memberikan catatan reflektif yang sesuai dengan isi data. peneliti juga mencari istilah-istilah kunci yang menjadi data inti. Dalam proses reduksi data. Pemilahan data ini juga bertujuan untuk membuang data yang tidak diperlukan karena searah dengan tujuan penelitian. Dalam paparan data. dan (4) Penarikan Kesimpulan Pertama. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan tiga cara. semua data hasil wawancara terbuka dengan semua subjek penelitian. Untuk menganalisis data. Selanjutnya dalam setiap melakukan observasi digunakan format catatan lapangan. kegiatan ini merupakan akhir dalam proses penelitian. Peneliti mengikuti saran Spradley untuk menggunakan model analisis domain dan analisis komponensial.

mencukupi kebutuhan mereka dengan memberikan nafkah yang layak. dan apabila hal tidak bisa dimenej dengan baik bukan mustahil semuanya berujung pada perceraian. Suami berkewajiban memberi belanja yang cukup dan tidak mempersempit nafkah keluarganya. Temuan penelitian. halal dan dibenarkan oleh agama dan negara.34) karena kelebihan itu suami mempunyai kewajiban menyejahterakan kehidupan keluarga. idealitas yang dimiliki harus berhadapan dengan fakta yang sangat tidak diharapkan. fakta seringkali berkata lain. Para responden menyatakan bahwa penyebab perceraian yang paling menonjol adalah masalah ekonomi. Hidup berkekurangan bisa membawa keluarga ke gerbang kehancuran sebagaimana sabda Rasulullah SAW ―kaada al-faqru an yakuuna . tanpa berlebih-lebihan atau kekurangan. Terlebih jika diingat bahwa anjuran untuk menikah bagi seorang laki-laki adalah ketika dia sudah mempunyai kemampuan (alba‟ah) untuk memenuhi kebutuhan keluarganya baik lahir maupun batin. Namun. istri dan anakanak. ia tidak akan terjadi begitu saja tanpa diawali oleh berbagai persoalan yang melatarbelakanginya. Hampir bisa dipastikan seseorang yang memasuki dunia rumah tangga berharap bisa menjadikan rumah tangganya sebagai tempat memadu kasih yang sangat membahagiakan antara suami. Dalam Islam.sebelumnya dirumuskan dalam temuan penelitian. Begitupun sebuah perceraian. pada hakikatnya adalah kesimpulan yang diperoleh peneliti. jika ini tidak terpenuhi Islam menganjurkan agar dia menundanya dengan melakukan pengendalian diri antara lain dengan berpuasa. suami dilebihkan dari isteriisterinya karena kelebihan yang diberikan Allah kepadanya (alNisa‟. Suami berkewajiban memenuhinya dalam batas kewajaran. ini dapat dimaklumi karena pemenuhan kebutuhan keluarga terkait dengan kedudukan suami sebagai penanggung jawab keluarga. HASIL Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian Hukum alam mengatakan bahwa tidak ada asap bila tidak ada api. ini yang mendatangkan ketenangan isteri dalam menjalani hidup berkeluarga. Berbagai persoalan selalu mengiringi perjalanan rumah tangga.

. ― . di sini pentingnya suami memenuhi kebutuhan keluarga sebab dengan terpenuhinya kebutuhan. Pada suami melekat kedudukan sebagai pelindung keluarga (qawwamuuna ala an-nisa‟) karena itu kesetiaan isteri tetap terjaga manakala suami dapat memerankan dirinya sesuai dengan kedudukannya. seperti kasus ibunda DM ini. . . Permainan api ini melukai hati isteri dan mengecewakannya sehingga isteri terdorong melakukan gugatan cerai karena dia melihat hilangnya kejujuran suami pada janji setianya yang diikrarkan pada waktu menikah. Ketidaksabaran ini yang sering membawa suami isteri pada perceraian. Godaan ini sangat mempengaruhi langgengnya perkawinan sehingga agama Islam meminta setiap suami atau isteri untuk menahan pandangannya dan menutup mata serta memelihara kemaluannya (An-Nur. bahkan karena itu kesetiaannya pada suami hilang dan menggugatnya untuk menceraikannya seperti pada kasus ibu IT dan ibu UL. lebih-lebih jika pasangan suami isteri tidak tabah menghadapinya. Isteri melihat laki-laki itu dapat memenuhi kebahagiaan yang diimpikannya karena dia dipandang ―lebih‖ dari pada suaminya karena itu isteri rela menggugat agar suaminya menceraikannya. dengan itu dia dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan merasa dapat hidup mandiri tanpa bantuan suami. Rapuhnya perkawinan yang berakhir dengan cerai karena hadirnya pihak ketiga tidak saja dialami oleh suami tetapi terjadi pula pada isteri sehingga suami terpaksa menceraikannya. mereka tidak sabar dalam menerima kekurangan yang ada. terlebih jika laki-laki itu berharta. Keinginan untuk lepas dari ikatan perkawinan dengan suami makin menguat ketika menemukan suami sudah tidak lagi jujur dalam memegang janjinya. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara-cara yang baik‖ (Al-Baqa rah. Hilangnya status qawwamuuna ala an-nisa‟ dari suami memaksa isteri bekerja. Hadirnya pihak ketiga ini menjadi sebab terjadinya perceraian. isteri dapat menjalani kehidupan keluarga dengan baik. seperti yang terjadi pada ibunda DM.kufran”. 228). suami bermain api di belakang isteri dengan berselingkuh bersama wanita lain. 30-31). ibunya tergoda oleh laki-laki lain karena dia melihatnya lebih keren dari pada suaminya. kenyataan ini dapat dilihat pada kasus ibu IT dan ibu UL.

meski mereka menjalani hidup yang sulit mereka rela menerimanya selama suami yang mendampinginya dapat mengayomi mereka sebagai kepala rumah tangga . Bagi seorang isteri penistaan ini lebih menyakit kan dari pada tindak kekerasan pisik. . . Kekerasan dapat dihindari manakala suami dapat bersabar diri atas kekhilafan dan kekurangan isteri dalam melayaninya. Masih ada jalan untuk menghindari perceraian yang tidak diharapkan oleh siapapun. Kekerasan pisik bisa berupa pemukulan. karena sakitnya terasa lebih dalam dan lama di hati. sampai pada ancaman pembunuhan seperti terlihat dalam kasus yang dialami oleh ibu UL dan ibu TS. Penistaan suami karena kemiskinannya. agama bahkan melarangnya kalau tidak terpaksa benar. “ Akibat lain dari hadirnya pihak ketiga ini adalah hilangnya kasih sayang antara suami isteri. sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui apa yang mereka perbuat. diseret-seret. dan janganlah menampakkan perhiasannya. Beberapa faktor penyebab gugatan cerai di atas adalah imbas dari tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga. kekerasan pisik dan psikis dapat terjadi karenanya. yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Katakanlah kepada wanita yang beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya. sementara isteri teguh berimannya dan setia memegang janji tidak akan berpaling kepada orang lain yang mungkin hadir setelah mereka menikah. Isteri akan sabar dan rela mendampingi suami meski dalam kondisi ekonomi yang kurang jika suami benar-benar bertindak dan bersikap dengan elegan. katakata kotor dan penisbatan kepada pezina diterima oleh isteri sebagaimana dalam kasus ibu IT. penistaan. dan memelihara kemaluannya. Dalam kondisi seperti ini suami tidak lagi memegang prinsip mu‟asyarah bil ma‟ruf yang dapat melanggengkan kehidupan rumah tangga. dilempar dengan kursi. dan me meli-hara kemaluannya. Tak jarang kekerasan psikis mengiringi perlakuan kasar suami pada isteri nya. Persepsi terhadap Keluarga Sakinah Perceraian bukanlah keinginan dasar para isteri. perselingkuhan dan kekerasan tidak akan terjadi jika masing-masing suami isteri taat asas pada janji mereka.Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman “Hendaklah me reka menahan pandangannya.

dia akan menggerogoti isterinya apalagi jika isteri telah mapan. Suami yang tidak mempunyai pekerjaan (menganggur) bisa menjauhkan tercapainya cita-cita keluarga sakinah. Ini yang terjadi pada ibu IT sehingga tidak dapat menemukan keluarga sakinah. kecantikan. pekerjaan. Di bawah suami yang seperti itu cita-cita keluarga sakinah dapat terwujud. seperti yang terjadi pada ibu IT. kotor dan menista. sebagaimana yang diungkapkan olah ibu IT. dan ibu TS. Kewibawaan suami diapresiasi oleh isteri manakala suami mempunyai al-ba‟ah (kemampuan) sebagaimana dituntun oleh agama yaitu kemampuan lahiriah batiniah. yaitu keseimbangan antara keduanya baik dalam hal agama maupun status sosial. Di sini perlunya suami isteri se-kufu. apalagi jika isteri berasal dari keluarga yang mempunyai cetak biru bahwa pendidikan sangat penting. Ketika terjadi konflik yang keluar dari suami adalah ucapan-ucapan yang tidak layak. Kasus ibu UL adalah contohnya. baginya laki-laki yang ideal adalah bapaknya dia mengidolakan bapaknya sebagai suami yang baik. Perbedaan pendidikan yang jauh antara isteri dengan suami misalnya menjadi masalah yang susah ditoleransi dalam menjemba tani perbedaan pendidikan antara isteri dengan suami agar tidak menjadi potensi konflik. Kufu ini menumbuhkan kebanggaan isteri untuk berjalan bersama suaminya. karena nilai-nilai yang dianut keluarga di mana seseorang dibesarkan secara tidak sadar akan diserap (absorbs) dalam dirinya. sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abdullah bin Mas‘ud. keluarga yang di pimpin oleh suami bertanggung jawab. Karena ketergantungan itu pula yang mendorong suami tidak bisa fair (jujur) kepada isteri. Bahkan anggota keluarga yang lain. dan berwibawa. misalnya. mendambakan hal itu seperti harapan yang diungkapkan oleh DM. juga kasus ibu IT. Ibu UL dan ibu IT mengalami hal ini padahal . anak-anak misalnya.yang dapat memberikan perlindungan (al-wilayah). Ketergantungan suami kepada isteri menyebabkan pincang nya status dan fungsi suami sebagai seseorang yang harus mencukupi (al-kifayah) keluarganya. ibu UL. saling mengerti. pendidikan dan keturunan. Suami tidak dapat nyambung bila diajak ngobrol dan sering minder. bimbingan (arri‟ayah) dan mencukupi (al-kifayah) kebutuhan mereka. konflik antara suami isteri tidak dapat menemukan titik kesamaan karena tidak se-kufu.

manakala isteri mengambil peranannya terlalu banyak maka cita-cita keluarga sakinah tidak dapat terwujud. Manakala masing-masing suami dan isteri dapat memerankan dirinya dengan melaksanakan kewajiban dan haknya maka perceraian tidak perlu terjadi. Perceraian bisa pula terjadi karena kurangnya pemahaman pasangan suami isteri tentang makna perkawinan dan upaya yang harus dilakukan untuk membangun keluarga sakinah. Isteri yang terlalu mengatur (too care) suaminya ternyata tidak disukai suami seperti kasus LQ. saling membutuhkan. saudara. Langkah-langkah Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga Secara umum setiap pasangan suami istri (pasutri) di Malang menyadari betapa pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga. saling respek. Namun demikian ada juga pasutri yang tidak melibatkan pihak di luar keluarga inti. teman bahkan ke lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah untuk mengatasi persoaln perceraian. mereka berusaha menyelesaikan sendiri persoalan rumah tangganya tanpa . Suaminya bisa menjadi belahan jiwanya (soulmate) tempat mencurahkan segala rasa dan cinta sepenuh hati. istri dan anak) adalah cara yang paling umum. Adakalanya kepada orang tua. seperti BP4 dan KUA. mertua. Hal lain yang menarik untuk diperhatikan bahwa sebesar apapun cinta isteri kepada suaminya. perceraian baru terjadi jika suami isteri sebagai pasangan hidup tidak memenuhi kriteria yang diharapkan. Berkonsultasi kepada pihak di luar anggota keluarga inti (suami. Hal ini bisa dilihat betapa pasutri selalu berusaha mempertahanhan rumah tangganya dengan berbagai cara yang mereka anggap efektif agar perselisihan dan pertengkaran yang terjadi di antara pasutri tidak berujung kepada perceraian.mereka mengharapkan suaminya bisa menjadi teman hidup yang menyenangkan. Bagaimanapun suami adalah penanggung jawab keluarga. dan membuatnya aman serta nyaman. Meskipun suami dan isteri telah bercerai namun cita-cita dan keinginan untuk membangun keluarga sakinah tetap tertanam dalam hati masing-masing. dia diharapkan tetap memainkan peranannya sebagai pendamping suami yang berfungsi sebagai perawat dan pemelihara (al-hafidzat) bagi suaminya bukan sebagai penjaga baginya.

Hasilnya. Namun. Mereka selalu terlibat dalam hal ini. Dari paparan data sebelumnya dapat diketahui bahwa langkahlangkah yang ditempuh oleh pasutri di Malang dalam memproses perceraian sangat beragam. Karena bagimanpun pasutri adalah pihak-pihak yang paling mengetahui persoalan yang dialami. keterlibatan mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok. sebab pihak keluarga merasa dilibatkan dalam proses perkawinan. yakni keluarga yang secara penuh dilibatkan dan sebagian lagi tidak penuh.melibatkan pihak lain. keterlibatan keluarga pun tidak bisa dihindari. sebagian lagi hanya melibatkan salah satu keluarga saja. sebagian berhasil tidak meneruskan ke tingkat perceraian dan sebagian lagi justru gagal. keberadaan keuarga tak lebih hanya sekedar membantu memecahkan persoalan yang dialami. Bantuan penyelesaian . Dalam konteks perceraian. 1. Pasutri yang melibatkan pihak keluarga secara penuh biasanya adalah pasutri yang memulai proses pernikahan dengan cara yang wajar dan mendapatkan restu dari keluarga kedua belah pihak. sehingga mereka juga merasa perlu membantu pasutri yang sedang mempunyai persoalan rumah tangga dan membutuhkan bantuan penyelesaian. Sementara itu dari pihak pasutri sendiri juga tidak merasa sungkan dan terbebani jika meminta bantuan kepada keluarga. Ada juga yang berkonsultasi ke KUA. sebab perkawinan mereka juga atas restu keluarga. Keluargalah yang biasa memberikan suport kepada pasutri apabila mengalami problem keluarga yang sulit diatasi. Sebagian diantara mereka bisa melibatkan pihak keluarga masing-masing secara penuh. Namun dari responden yang dihubungi hampir tidak ada yang melibatkan lembaga BP4 yang sengaja dibentuk oleh pemerintah untuk memberikan solusi terhadap pasutri yang sedang mengalami problem keluarga. Hal ini sangat wajar. Meskipun demikian pihak keluarga biasanya juga mengetahui kapan mereka bisa terlibat dan kapan tidak. Tidak semua persoalan harus diselesaikan oleh pihak keluarga. Keterlibatan Keluarga Sudah menjadi kelaziman bahwa anggota keluarga adalah bagian tak terpisahkan dari sepasang suami istri.

baik keduanya atau salah satunya. Idealisme lembaga ini ternyata bertepuk sebelah tangan. Tujuannya jelas. Karena pertimbangan inilah mereka lebih memilih menyelesaikan persoalan keluarganya tanpa campur tangan keluarga terlebih dahulu. Pasutri ini merasa bahwa mereka telah berbuat tidak baik kepada orang tua dan pihak keuarga. Ketakutan terutama diarahkan kepada orang tua dan mertua. . yang mengemuka adalah aspek emosi. Bahkan ada pasutri di Malang Raya yang tidak mengerti tentang BP4 sama sekali. 2. Tidak termanfaatkannya BP4 oleh pasutri. Keterlibatan BP4 BP4 adalah lembaga resmi pemerintah yang didirikan untuk membantu pasutri dalam menemukan solusi atas persoalan rumah tangga yang dialaminya. banyak pasutri yang sedang mengalami persoalan rumah tangga tidak memanfaatkan lembaga ini untuk menyelesaikan persoalannnya.persoalan adalah sesuatu yang penting. karena proses pernikahan yang mereka jalani pada awalnya tidak ‖direstui‖ oleh orang tua. Adapun faktor yang mngemuka adalah tidak direstuinya hubungan perkawinan mereka oleh kedua belah pihak. agar pasutri tidak sampai masuk dalam kubang perceraian. sebagian pasutri tidak memanfaatkan peran senioritas keluarga. menurut para responden karena mereka tidak banyak mengenal keberadaan lembaga ini termasuk peran dan fungsinya. Pasutri yang menempuh langkah ini biasanya didasari oleh perasaan minder dan takut. Akibatnya masyarakat tidak memanfaatkan lembaga ini sebagai media penyelesaian problem keluarga yang mereka hadapi. kalaupun direstui hal itu disebabkan adanya ‖kecelakaan‖ sebelumnya dari pihak istri. Banyak faktor yang menjadi penyebab mereka melakukan ha lni. mengingat ketika pasutri mengalami pertengkaran. sehingga aspek nalar tidak bisa berfungsi secara maksimal. Berbeda dengan pelibatan sebelumnya. Ketidaktahuan masyarakat tentang BP4 ini bisa jadi karena minimnya sosialiasi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait kepada masyarakat. Apabila mereka telah merasa tidak mampu barulah melibatkan orang tua atau mertua.

Sebab. hampir dipastikan tidak dikunjungi masyarakat. BP4 yang ada di setiap level. Hal ini sesuai dengan pengakuan salah satu kepala KUA di Kab Malang bahwa sebagian PNS yang berkonsultasi ke BP4 ada yang kembali rukun. pada saat yang sama. kecuali pasutri yang berstatus PNS. Sebab apabila BP4 dibiarkan tanpa tugas dan kewenangan yang jelas. dimana peranan KUA dibatasi pada persolan nikah dan ruju‘. Tanpa rekomendasi dari BP4 pengadilan tidak akan meneruskan sidang perceraian mereka. setidaknya bisa meredam gejolak mereka untuk meneruskan perceraiannya. maka bisa dipastikan BP4 tidak memiliki peranan lagi. mereka langsung menyelesaikannya di pengadilan. maka pemerintah dalam hal ini Departemen Agama dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia sudah selayaknya duduk bersama merumuskan kembali posisi BP4. bagi pasutri PNS rekomendasi BP4 akan sangat berarti bagi kelangsungan proses perceraian di pengadilan agama.Sebenarnya secara kelembagaan. Dan yang demikian pada gilirannya akan memacu peningkatan angka perceraian di masyarakat. Prosedur perceraian yang diterapkan oleh pengadilan agama terhadap pasutri PNS. Namun. khususunya yang ada di kecamatan. tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Undang-undang nomor 7 tahun 1989 tentang peradilan agama. Ketika aturan tersebut diberlakukan. namun ada juga yang tetap bercerai. Posisi BP4 yang demikian. Ketua KUA di semua tempat adalah kepala BP4 itu sendiri. secara formal BP4 memiliki struktur mulai dari pusat sampai tingkat desa. Dan kalau sudah di pengadilan agama. Melihat eksistensi BP4 yang demikian. Namun eksistensi BP4 bisa dibilang wujuduhu ka‟adimihi (adanya seperti tidak adanya). Selain pasutri PNS. demikian sebagaimana dituturkan oleh salah satu pejabat PA dan kepala KUA di Malang. masyarakat secara umum lebih suka menyelesaikan problem keluarganya tanpa melibatkan BP4. . pemerintah tetap memposisikan BP4 masih terikat kuat dengan struktur KUA di kecamatan. maka persoalan perceraian yang menimpa banyak umat Islam akan meningkat. biasanya sudah pasti cerai. dimana mereka harus mendapatkan rekomendasi BP4 terlebih dahulu.

Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. seorang anak belajar beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. kasih sayang. loyalitas. suka berbohong dan perilaku proyeksi. curiga. Mereka juga belajar mengenal normanorma dan aturan-aturan hidup. Perceraian dalam keluarga membuat anak kebilangan harapan dalam memperoleh kebahagiaan padahal secara teoritis dan realitas. di tengah keluarga. Seharusnya anak dapat memahami sikap simpati. Perilaku tersebut akan menjadi model bagi anak. Kehangatan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh anak dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. atau salah satu dari pasangan tersebut (baca orang tua anak-anak) ―kabur‖. perilaku regresi dan obsesif. Keluarga yang telah bercerai berpotensi membentuk pribadi bermasalah karena lingkungan inilah yang pertama kali dihadapi oleh sang anak. Pertikaian antara ayah dan ibunya ketika kondisi ―retak‖ hingga proses perceraian dapat mengacaukan kondisi emosi anak. Apabila keluarga menjadi berantakan disebabkan perceraian. penurunan prestasi belajar. perilaku agresif. interaksi yang dapat menimbulkan pengalaman afektif dalam kehidupan anak juga terkurangi. tidak loyal dan acuh. Perceraian secara tiba-tiba mencerabut kebutuhan anak tersebut. Perceraian dapat menghambat proses belajar tersebut. Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. Orang tua yang sedang kalut dan marah pada pasangannya sering kali menampakkan perilaku tidak dewasa dan emosional. serta nilai-nilai budaya. kecewa.BAHASAN Secara taksonomis. seorang anak idealnya memperoleh kehangatan cinta. Maka akan muncul serentetan masalah baru bagi anak-anak mereka. bimbingan dan perlindungan. dampak perceraian yang tampak pada anakanak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis. namun perceraian—terutama yang disertai kekerasan—malah mengajarkan sikap antipati. solidaritas. Bermula dari keluarga. Pada keluarga yang telah pecah akibat perceraian. Kondisi ini menimpa AZ dan Wim dan S yang . rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri).

anak-anak seperti AZ. dan sebagian besar perceraian dewasa ini melibatkan keluarga yang mempunyai anak. Kasus S menunjukkan bahwa anak anak yang berupaya dengan keyakinannya ingin menyelamatkan perkawinan orang tuanya meskipun . telah terjadi pula di Malang Raya. Lebih lanjut. meskipun S dan AZ diasuh oleh si ibu. PR dan saudara-saudaranya masih beruntung karena figur sang ayah dan keluarganya yang lain memberikan penguatan sehingga dampak psikologis akibat perceraian kedua orang tuanya tidak terlalu berat dirasakan PR. prosentase perceraian dengan gugat cerai berlipat ganda. Anak-anak dari korban perceraian semakin banyak dan. Win dan S akan mengalami gangguan perkambangan intelektual. Dikhawatirkan. Semua kasus diatas bahkan dapat dikatakan mengalami deprivasi parental atau kehilangan fungsi pengasuhan. Perceraian yang terjadi melibatkan anak-anak dibawah usia 18 tahun. dia juga merasa tidak aman secara emosional (emotional insecurity). semuanya akan nampak dari perilaku anak ketika beranjak remaja dan dewasa apabila tanpa bimbingan dari salah satu dari orang tua atau pengganti orang tuanya (Nawawi: 1998). Sementara AZ mungkin merasa kehilangan kepercayaan diri dalam pergaulan sosial sebagai akibat perasaan malu karena memiliki keluarga yang tidak utuh. Dewasa ini. sekarang merupakan hal yang biasa. bahkan spiritual. PR telah merasakan pahitnya kehilangan fungsi ibu dan ia mengalami deprivasi maternal atau kehilangan bimbingan ibu. perkembangan sosio-emosional. Mungkin perkiraan bahwa perceraian dapat mempengaruhi 15 persen anak-anak yang lahir di tahun 1955 di Inggris dan Amerika. Bagi PR yang menjadi saksi pecahnya harmoni keluarga. Di samping karena AZ juga menjadi saksi pertikaian orang tuanya yang pebuh dengan kekerasan sehingga dia mengimitasi peristiwa itu lalu mentrasfernya dalam hubungan dengan teman-temannya. kehilangan figur model perilaku.mengalami masalah emosional setelah proses perceraian orang tuanya yang disertai kekerasan. Kasus PR menunjukkan bahwa kehadiran orang tua dalam perkembangan kepribadian anak sangat penting. Angka perceraian yang cenderung meningkat di Malang Raya khususnya tahun 2000-an membuat kasus perceraian yang dulu merupakan kejadian luar biasa. Akibatnya PR merasa tidak pernah belajar menjadi figur perempuan sebenarnya.

diantaranya (1) ketidakberdayaan suami dalam membahagiakan isteri. (2) hadirnya orang ketiga. Persepsi pasutri Muslim di Malang Raya tentang keluarga sakinah sangat beragam. sebagian pasutri Muslim di Malang Raya melibatkan keluarga (orang tua. Sementara itu. (4) perbedaan keyakinan. atau yang dituakan) sejak awal untuk . Ia mempersepsi sang ibu sebagai orang yang tidak tanggap atau menimbulkan frustasi karena tidak bersikap kasih. bahkan ada yang tidak mengenal konsep keluarga sakinah. PR lebih bisa memahami kasus orang tuanya karena dia mengetahui kejadian itu setelah beranjak dewasa. PR lebih mampu memahami bahwa perceraian orang tuanya dan tahu asal muasal penyebab perceraian tersebut.. 2. kakak. (3) kekerasan dalam rumah tangga. 3. Dalam menyelesaikan problem rumah tangga yang menjurus ke arah perceraian. R dalam hal telah menempatkan ibunya sebagai orang yang kurang dapat dipercaya. Kondisi ini sesuai dengan analisa Sears (1988). (5) ketimpangan pola pikir. Perceraian yang terjadi diantara pasutri muslim di Malang Raya disebabkan oleh beberapa faktor. Sebagian diantara mereka dapat memahami kosep keluarga sakinah sama seperti yang dimaksud oleh agama. Kasus S memberikan gambaran bahwa S berpotensi menjadi kurang matang (Immature) akibat kerinduan pada sosok ayah. AZ menjadi berperilaku terpusat pada diri sendiri (egosentris) dan menghawatirkan karena sering kasar dan agresif pada teman-teman sebayanya. sebagian lagi hanya memahaminya sebatas aspek lahiriyah. Dia belajar mengenai sosok-sosok pribadi dengan ciri-ciri yang terkesan negatif dalam benaknya untuk ditolak dan tidak dapat di percaya.usahanya menjadi sia-sia. dan (6) tidak saling percaya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan paparan data pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Anak-anak korban perceraian baik AZ dan S kemungkinan akan berkembang memiliki cara pandang yang selektif pada orang lain sebagai bagian dari kepribadiannya.

ada keharusan bagi mereka untuk berkonsultasi kepada BP4 kabupaten terlebih dahulu jika ingin memproses ke arah perceraian. saran yang dapat dikemukakan adalah: 1.membantu mencari solusi yang terbaik. Pasutri yang meibatkan keluarga sejak awal biasanya adalah pasutri yang mendapatkan restu dari keluarga untuk membentuk rumah tangga. Selain kedua model tersebut. penurunan prestasi belajar. khususnya mereka yang mendapatkan bimbingan yang memadai. perilaku regresi dan obsesif. Secara taksonomis. suka berbohong dan perilaku proyeksi. perilaku agresif. Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. jika tidak ada rekomendasi dari BP4. Selain dampak yang negatif. Kecuali pasutri PNS. rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). Mereka menjadi lebih selektif dalam memutuskan masalah masa depan. 4. Sebab pihak Pengadilan Agama tidak akan memproses. merasakan dampak positif. Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. bagi sebagian kecil diantara anak-anak korban perceraian. Sebaliknya yang tidak melibatkan keluarga sejak awal. biasanya pasutri yang proses pembentukan rumah tangganya tidak mendapat restu dari keluarga. pasutri di Malang Raya yang sedang bermasalah hampir seluruhnya tidak memanfaatkan keberadaan BP4 sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah untuk membantu mencarikan solusi atas persoalan rumah tangga. Penelitian ini akan membawa manfaat yang lebih besar jika ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan yang diarahkan kepada . Sebagian lagi hanya melibatkan pihak keluarga pada saat mereka tidak mampu lagi mengatasinya. dampak perceraian yang tampak pada anak-anak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis. selain itu mereka juga lebih bijak Saran Setelah diketahui beberapa kesimpulan di atas.

pembuatan model pencegahan perceraian bagi pasutri muslim yang diwujudkan dalam penerbitan buku saku pencegahan perceraian 2. . Pihak universitas bekerja sama dengan pihak-pihak terkait hendaknya melakukan kajian secara komprehensif mengenai persoalan perceraian dan langkah-langkah kongkrit untuk mengatasinya. agamis. sosiologis. baik secara akademis. Pihak-pihak yang terkait dalam pemerintah sudah saatnya meninjau kembali beberapa peraturan yang tidak memberikan peluang kepada BP4 mengembangkan diri dan ikut andil dalam mencegah terjadinya perceraian di masyarakat. 3. maupun administratif.

Sulitnya Berumah Tangga. 1999. C. Bogdan. Shahih Muslim. Darul Fikr . Darul Fikr. Tafsir Al Maraghi. K. Beirut. Ahmad Musthafa. Jakarta. 1998. Medinah Munawwarah. Muhamad Usman. Beirut. Mujamma‟ Al Malik Fahd Li Thinba‟at Al Mushh-haf. GIP.1980. Maraghi. Upaya Mengatasinya Menurut Qur‘an Hadits dan Ilmu pengetahuan. dan Biklen. S.DAFTAR RUJUKAN Al Qur‘an dan Terjemahannya. Al Khasyt. Imam Muslim. 1995.th. Boston: Allyn and Bacon. R. T. Qualitative Research In Education: An Introduction to Theory and Methods.

Hal ini merupakan salah satu indikator proses pembelajarandi perguruan tinggi masih belum optimal. Based on the data obtained through observation and questionaires. This Research is conducted in Departement of Building Education FT UM.Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi Wasis Abstract: This Research aim to to ( a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based` Learning and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based Learning. minimal untuk dirinya sendiri. building education. Pengamat pendidikan dan dunia industri mensinyalir bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia secara umum masih rendah. Pribadi dan Wasis adalah dosen Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Negeri Malang . Hal ini nampak dari. having the collaaborative character. This Research use of class action research (CAR). sikap sebagian besar lulusan perguruan tinggi kita yang masih mengharapkan bekerja di instansi pemerintah dan tidak mampu menciptakan lapangan kerja. industrial practical. the CAR was succesfull in (a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject Key words: Project Based Learning.

Kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan masih banyak mengalami kekurangan-kekurangan dan masih perlu dilakukan pembenahan-pembenahan. mandor dan tukang tentang masalah- . Pada kuliah tatap muka di kelas yang dilakukan pada minggu pertama dan kedua awal semester hanya terkait dengan masalah wawasan PI dan mekanisme pelaksanaan PI di lapangan. 2001). kemampuan dan keterampilan mahasiswa.Pada pihak lain model pembelajaran di perguruan tinggi yang masih mengacu pada prinsip behavioristik yang lebih menekankan bagaimana pengajar merubah sikap. Setelah itu mahasiswa. mengakibatkan banyak mahasiswa yang merasa terpaksa dalam menjalani proses pembelajaran (Suhartadi. Di lapangan mahasiswa diharapkan dapat belajar dengan pelaksana. Kasus yang demikian dijumpai pula pada mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Bangunan (PTB) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Malang (UM). Dalam pelaksanaannya PI dilakukan dengan cara praktik langsung di lapangan pada proyek konstruksi yang sedang berjalan. akan berakibat pada rendahnya gairah belajar mahasiswa.. Dalam kegiatan praktik ini diharapkan mahasiswa mampu memahami prosedur kerja. untuk memahami konsep-konsep teknik yang bersifat rumit dan abstrak diperlukan tugas-tugas yang bersifat lebih komplek. Misalnya. pemahaman terhadap konsep-konsep maupun teoriteori teknik tidak cukup dilatih dengan pemberian soal-soal saja. Guna mencapai tujuan tersebut pada program S-1 Pendidikan Teknik Bangunan FT UM. Dengan demikian mahasiswa yang boleh mengambil PI adalah mahasiswa di atas semester 6. Namun lebih dari itu. menganalisis masalah dan mampu memberi solusi terhadap masalah yang terjadi di lapangan. Hal tersebut. Matakuliah PI boleh diambil mahasiswa bila sudah menyelesaikan kumulatif 90 sks atau telah menempuh 80% matakuliah keteknikan. pada pembelajaran bidang studi teknik. Metode penyelesaian PI yang selama ini dilakukan dengan 10% kuliah tatap muka di kelas dan 80% melalui kerja praktik pada industri jasa konstruksi. diberi kebebasan untuk mengerjakan tugasnya ke lapangan serta diberi jadwal tertentu untuk berkonsultasi dengan dua orang dosen pembimbing yang telah ditentukan. PI merupakan matakuliah yang bertujuan untuk membekali mahasiswa agar memiliki kemampuan komprehensip dalam memecahkan masalah yang yang terjadi di lapangan. setiap mahasiswa harus menempuh matakuliah Praktik Industri (PI) sebagai persyaratan untuk lulus.

dan (4) sering mengupahkan atau menyuruh mahasiswa lain untuk mengerjakan tugasnya. Kurangnya kemandirian mahasiswa dapat dilihat dari beberapa indikator seperti (l) tidak menepati jadwal konsultasi yang telah ditentukan. nampaknya dosen pembimbing juga jarang memperhatikan kegiatan penyelesaian PI mahasiswa. ternyata tidak mengerti akan tugas-tugas yang dikerjakan. mengalami masalah dalam penyelesaian tugas PI. Mahasiswa yang memprogram PI tidak teratur memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi sesuai jadwal yang ditetapkan. sehingga waktu konsultasi dengan dosen. sistem pembelajaran PI dengan memberi kebebasan waktu pada mahasiswa untuk berkonsultasi pada dosen pembimbing ternyata menjadi masalah tersendiri. (3) malas atau tidak mau mencari buku rujukan yang disarankan dosen. Dari data-data tersebut nampak bahwa hampir sebagian besar mahasiswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan tim pembimbing PI dan juga pengamatan tim peneliti. hampir semua mahasiswa berbondong-bondong berkonsultasi. ternyata penyelesaian PI menjadi kendala utama kelulusan mahasiswa. Akibatnya hampir 90% mahasiswa tidak mampu menyelesaikan PI dengan tepat. Di samping itu. Berdasarkan data yang ada pada jurusan ternyata mahasiswa yang mampu menyelesaikan PI tepat waktu adalah (l) angkatan 2001 dari sebanyak 24 orang hanya 9 orang mahasiswa. angkatan 2002 dari sebanyak 35 orang hanya 10 orang mahasiswa dan angkatan 2003 dari sebanyak 36 orang hanya 11 orang mahasiswa. Pada awal-awal semester hanya sekitar 15% mahasiswa yang memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Dosen pembimbing beranggapan bahwa ―kalau mahasiswa konsultasi ya dilayani. Dari mahasiswa yang berhasil menyelesaikan PI tersebut tidak ada (0%) mahasiswa yang mampu meraih nilia A.masalah konstruksi bangunan. Pada pihak lain. ternyata keterlambatan mahasiswa dalam menyelesaikan PI disebabkan kurangnya kemandirian dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada. 20% mahasiswa mendapat nilai B dan 80% mahasiswa mendapat nilai C. (2) tidak mampu menyelesaikan tugas yang telah ditargetkan. kalau tidak datang untuk berkonsultasi ya terserah mahasiswa‖. Dalam hal ini tidak ada kontrol terstruktur dari dosen pembimbing pada mahasiswa yang memprogram . dan sebaliknya pada akhir semester di mana jadwal pengerjaan PI harus berakhir. Dalam pelaksanaan pendidikan pada program S-1 PTB FT UM.

Berpijak pada latar belakang masalah di atas. Melihat permasalahan dalam pembelajaran PI tersebut. Sebagai fasilitator pengajar harus dapat memberi berbagai kemudahan. Di samping itu metode Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa keunggulan seperti (1) mampu meningkatkan motivasi mahasiswa. maka harus ada upaya-upaya sistematis untuk memperbaikinya. dorongan pada mahasiswa dalam penyelesaian PI. maka upaya yang dianggap sesuai untuk penyelesaikan permasalahan pembelajaran tersebut adalah melalui penerapan pembelajaran berbasis proyek (project based learning). maka cara yang dianggap paling baik untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek.PI. (3) meningkatkan sikap kerjasama. Metode Pembelajaran Berbasis Proyek dipilih untuk memecahkan masalah ini karena sesuai dengan konteks dan tujuan dari matakuliah PI. Di samping itu dosen pembimbing PI. sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan. Memberi petunjuk dalam penyelesaian PI atau mengarahkan bagaimana agar mahasiswa dapat menyelesaikan tugas dengan mudah dan sekaligus memberi dorongan-dorongan yang diperlukan. Kondisi dosen yang demikian. motivator dan inspirator. Sebagai inspirator pengajar harus dapat memberikan semangat. sehingga mahasiswa memiliki kemandirian dalam menyelesaikan PI yang memang cukup berat. Melalui pembelajaran berbasis proyek akan mampu mendorong mahasiswa untuk melakukan invesitigasi pemecahan masalah terhadap tugas-tugas yang bermakna. Sudah menjadi kewajiban dosen untuk meningkatkan perannya sebagai fasilitator. bantuan. dan hasilnya membentuk suatu produk nyata. dengan penerapan pembelajaran berbasis proyek akan dapat berperan sebagai fasilitator. dan (4) . motivator dan insprirator. tanpa memandang taraf kemampuan intelektual mahasiswa. mendorong mahasiswa bekerja secara mandiri. sehingga kemandirian mahasiswa dalam menyelesaikan PI tumbuh. petunjuk. yang berfokus pada pertanyaan atau masalah nyata serta pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya. juga merupakan salah satu masalah yang mengakibatkan efektifitas pengerjaan PI rendah. Melihat sistem pembelajaran matakuliah PI yang demikian. (2) meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. yaitu melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata.

dan mencapai puncaknya untuk menghasilkan produk nyata (Thomas. aktivitas. 2001. (3) mahasiswa membuat hubungan/keterkaitan antar ide-ide dan memperoleh ketrampilan baru seperti melakukan kerja pada tugas-tuga yang berbeda. dukungan terhadap otonomi mahasiswa seperti (l) mahasiswa mengambil bagian dalam masyarakat inkuiri dan meneruskan latihan kerjanya di dalam konterk social. pencarian sumber dan pemecahan masalah dalam merespon tantangan secara keseluruhan. (CORD. teknologi/sumber-sumber nyata). Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebuah model pembelajaran yang inovatif. dan (4) pertanyaan dunia nyata dan menarik perhatian mahasiswa. memberi kesempatan mahasiswa bekerja secara otonom dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Fokus pembelajaran terletak pada prinsip-prinsip dan konsep-konsep inti dari suatu displin ilmu. Karakteristik aktivitas. Memuat ide-ide investigatif seperti (l) mahasiswa melakukan investigasi selama periode tertentu. (2) mahasiswa menemukan hubungan anta ride secara indispliner. 1999. (2) mahasiswa diminta memperagakan tingkah laku manajemen waktu dan tugasnya baik secara individu maupun kelompok. (3) mahasiswa mengarahkan kerjanya . melibatkan mahasiswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain. 1998). (2) mahasiswa dihadapkan pada suatu kesulitan.alat otentik/sesungguhnya (misalnya. Secara umum karakteristik project based learning mencakup isi. Secara operasional hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Karakteristik isi: memuat ide-ide seperti (l) masalah disajikan dalam bentuk keutuhan kompleksitas. Moss. dan lebih menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang komplek. Thomas. (4) mahasiswa menggunakan perlengkapan.meningkatkan keterampilan mengelola sumber (Moursund (1997). Adanya keunggulan-keunggulan metode Pembelajaran Berbasis Proyek tersebut dianggap tepat untuk memecahkan masalah pembelajaranpada matakuliah PI. & Michaelson. kondisi dan hasil. 2000). Mergendoller. (3) mahasiswa berjuang dengan ambiguitas. Carol. Van-Duze. dan (5) mahasiswa melakukan umpan balik (refleksi) tentang nilai idenya dari ahli lain/melalui tes realistik Kondisi. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang amat besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi mahasiswa (Gaer. 1998).

dan (5) realism (Thomas. 1992) merupakan alur pelaksanaan tindakan dan berlangsung dalam siklus-siklus yang terdiri . Pembelajaran Berbasis Proyek mempunyai beberapa prinsip. 2000). Sebagai sebuah model pembelajaran. dan (4) mahasiswa memperagakan kompetensi nyata mereka seperti: keterampilan sosial. Artinya penelitian ini melibatkan tim pengajar sebagai anggota peneliti. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bersifat kolaboratif. (3) mahasiswa bertanggung jawab terhadap pilihannya tentang bagaimana akan mendemonstrasikan kompetensi mereka. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas penelitian ini bertujuan untuk (1) Meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek dan (2) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek METODE Penelitian ini dilakukan di Program Studi S-1 Teknik Bangunan FT UM. Waktu pelaksanaan penelitian ini direncanakan dilaksanakan mulai bulan Pebruari 2008 sampai dengan bulan November 2008.sendiri dan melakukan kontrol belajarnya. engineer dan praktisi-praktisin lainnya. (2) driving question. (2) mahasiswa terlibat dalam melakukan self assessment. (3) contructive investigation. keterampilan manajemen. produk nyata seperti: (l) mahasiswa menghasilkan produk intelektual yang kompleks yang menunjukkan hasil belajarnya (misalnya model. benda nyata. (4) autonomy. ketrampilan teknik dan sebagainya. Subjek penelitian ini melibatkan 2 orang dosen. yaitu (1) centrality. peneliti. Penelitian ini berpedoman pada model yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart (Dalam Hopkins. disamping itu dilibatkan 15 mahasiswa semester 7 dan 8 prodi S-1 PTB FT UM yang memprogram matakuliah PI. yang dari awal sampai akhir kegiatan terlibat langsung sebagai peneliti pelaksana. Hasil. laporan dan sejenisnya). dan (4) mahasiswa melakukan simulasi kerja profesional dari seorang sarjana.

Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. pemfokusan. dan penyimpulan (PGSM. mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap penelitian tindakan kelas. HASIL Siklus 1 a. analisis data adalah proses menyeleksi. dan sebagainya. Hal ini dilakukan dalam rangka menciptakan suatu iklim yang baik antara peneliti dengan pengajar dan mahasiswa. Dalam hubungan ini. 1999). representatif tabular termasuk dalam format matriks.atas rencana tindakan. 1999). yaitu reduksi data. mengabstraksikan. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. menyederhanakan. analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus penelitian tindakan kelas sebagai keseluruhan (PGSM. Perencanaan Sebagai langkah awal kegiatan tim Peneliti melakukan bekerjasama dengan tim pengajar Praktik Industri. paparan data. Hasil refleksi pada siklus ini digunakan sebagai dasar pelaksanaan siklus berikutnya. Kegiatan pertama dalam siklus I ini adalah dilakukan perencanaan pembelajaran Praktik Industri dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. representatif grafis. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Tahap perencanaan ini meliputi kegiatan sebagai berikut: . Berbeda dari interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dari suatu observasi. observasi dan refleksi. memfokuskan. Sedangkan penyimpulannya adalah proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan atau formula yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas (PGSM). pelaksanaan tindakan.

keterlibatan pihak luar untuk pengembangkan standar kerja dan penilaian reguler/teratur terhadap unjuk kerja mahasiswa. kerja tim dan penggunakan teknologi yang tepat (l) pembuatan tim work untuk menyelesaikan tugas-tugas. analisis dari berbagai aspek dalam pemecahan masalah Applied Learning: yang terkait dengan konteks permasalahan. . penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode. dan melakukan presentasi ilmiah Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan akhli dari luar. Kegiatan pertemuan awal ini dilakukan dengan tahap kegiatan sebagai berikut: 1. penilaian hasil kerja mahasiswa oleh orang luar Assessment: yaitu terkait dengan kemampuan untuk melakukan penilaian mandiri terhadap unjuk kerjanya. Tindakan Pada tahap ini diawali dengan pertemuan dengan dosen pembimbing dan mahasiswa yang menjadi subyek penelitian ini.1. Pembuatan pedoman petunjuk praktik industri. b. 2. (2) analisi teknikteknik yang digunakan untuk memecahkan masalah. metode ilmiah yang digunakan memecahkan masalah dan. materi atau topik-topik Praktik Industri. Active Exploration: yang terkait dengan efektifitas penggunaan waktu. Penjelasan oleh ketua tim pengajar tentang tujuan umum dan khusus matakuliah Praktik Industri. dan bentuk Buku pegangan mahasiswa dan pedoman pembimbingan dosen. (3) pengembangkan organisasi kerja. sumber dan media. bekerja/berdiskuasi dengan seorang teman. tingkat kesulitan tugas dan kemampuan mahasiswa dan produk yang akan dihasilkan dari proyek akhir tersebut Academic Rigor: terkait dengan ilmu-ilmu yang terkait dan digunakan dalam penyelesaian proyek. Pembuatan rancangan operasional metode Pembelajaran Berbasis Proyek yang meliputi: Authenticity: terkait dengan kebermaknaan tugas bagi mahasiswa.

Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Setelah selesai penjelasan tersebut dilakukan tanya jawab dengan mahasiswa dan dosen pembimbing. d. Dengan demikian mahasiswa telah siap untuk melakukan kerja praktik industri di lapangan. Pada tahap ini peneliti mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran penyelesaian Praktik Industri. waktu penyelesaian dan persyaratan-persyaratan lainnya sesuai buku pegangan mahasiswa. . Setelah diadakan forum tanya jawab kemudian mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan topik Praktik Industri Penentuan jadual pembimbingan. Penentuan topik tugas Praktik Industri.2. 5. Refleksi Berdasarkan tahap tindakan yang telah dilakukan diperoleh gambaran bahwa 90% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode proyek yang akan digunakan dalam menyelesaikan tugas Praktik Industri. 4. Berdasarkan diskusi antara tim pembimbing dan mahasiswa disepakati bahwa jadual pembimbingan terstruktur dilakukan 2 kali dalam seminggu. Demikian pula mahasiswa telah mampu mengembangkan topiktopik yang dijadikan kajian Praktik Industri. c. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Penjelasan penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode proyek yang meliputi tahap-tahap prosedur Metode Proyek. 3. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada (1) penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek dan (2) pengembangkan topik Praktik Industri.

kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Tindakan Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan. dan 2 kali pembimbingan di kampus. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. Pengembangan pedoman pembimbingan di lapangan 5. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang . Maka dalam perencanaan siklus 2 dilakukan langkah-langkah perencanaan yang terkait dengan: 1. Pengembangan pokok bahasan praktik industri (pengerjaan pondasi bangunan) 3. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa dilakukan selama 3 minggu. Pembimbingan di kampus. Perencanaan Berdasarkan temuan pada siklus 1 diketahui bahwa sebagian besar (90)% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode Pembelajaran Berbasis Proyek.Siklus 2 a. 2. Pengembangan tahap-tahap kegiatan praktik 4. Pengembangan pedoman kegiatan pembimbingan di kampus b. diawali presentasi mahasiswa tentang topik-topik bahasan. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan baik di lapangan maupun di kampus berlangsung tim peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. c. Menentukan lokasi tempat praktik industri bagi masing-masing kelompok mahasiswa. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas.

Kelemahan mendasar yang masih dilakukan mahasiswa dalam tahap ini adalah masih belum mampu menerapkan (1) Applied Learning: yang terkait pembentukan tim work dan aktivitas kerja kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas. (2) Active Exploration: yang terkait dengan penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode dalam menganalisis kegiatan lapangan. dan (3) Adult Relationship.berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. dan (3) Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan para manajer proyek dan pelaksanaan lapangan. Demikian pula baru 65% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan subsub topik yang dibahas. d. Oleh karena itu pada siklus berikutnya hal tersebut perlu dikembangkan dan diperbaiki. Untuk itu sebelum praktik ke lapangan mahasiswa harus di beri pembekalan (penjelasan) kembali tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. (2) Active Exploration. Demikian pula pada tahap ini peneliti mulai mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran praktik. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Dengan demikian perencanaan pada siklus ini dilakukan dengan: . Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa baru 60 % mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 2 maka pada siklus 3 pada siklus ini akan lebih difokuskan pada pengembangan dan perbaikan pada komponen (1) Applied Learning. Siklus 3 a.

Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan kolom dan balok bangunan 2. Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 4 jam pelajaran. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. kondisi dan hasil 4. Pengembangan komponen (1) Applied Learning. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. Pengembangan karakteristik aktivitas. pada tugas-tugas di lapangan b. c. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada . (2) Active Exploration: dan (3) Adult Relationship dalam penyelesaian tugastugas PI 3. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. Pengembangan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Tindakan Sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek.1. Pembimbingan di kampus. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. dan 2 kali pembimbingan di kampus. Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan kolom dan balok bangunan. Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai prakltik ke lapangan lagi. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan.

mandor maupun tukang dan pembantu tukang. Masih ada beberapa kelemahan mahasiswa pada siklus ini yaitu khususnya dalam hal menjalin hubungan dengan pihak proyek yaitu manajer proyek. Siklus 4 a. d. . pelaksana lapangan. 2. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 80% mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 4 pada siklus ini akan dilakukan perencanaan dalam hal: 1. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Mahasiswa masih kurang maksimal memanfaatkan pihak-pihak tersebut sebagai sumber belajar di lapangan. Demikian pula 80% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/ sangat baik. kondisi dan hasil. Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan pelat lantai bangunan. dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Dalam siklus ini nampak masih ada kurang-lebih 20% mahasiswa belum mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek. Pada siklus berikutnya kelompok mahasiswa tersebut diharapkan ada perbaikan dan pengembangan kerja dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek .pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Pengembangan karakteristik aktivitas.

dan 2 kali pembimbingan di kampus. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek dan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam . Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai praktik ke lapangan lagiPada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan pelat lantai bangunan. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu. sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 3 jam pelajaran. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. secara lebih operasional. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. Tindakan Sama seperti pada`siklus 3. Pengembangan dan perbaikan pedoman praktik khususnya yang berhubungan dengan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. e.3. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Pengembangan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. 4. c. Pembimbingan di kampus. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek.

(2) academic rigor. (3) applied learning. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. f. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 95% mahasiswa telah mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. Suatu tugas yang memiliki makna adalah tugas dimana mahasiswa merasa bahwa tugas tersebut sangat berguna bagi mahasiswa setelah ia terjun di dunia kerja. dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. 1. Tugas tersebut terkait dengan kebutuhan dunia kerja.penyelesaian tugas Praktik Industri. (4) active exploration. tugas tersebut dapat dijadikan bekal untuk kehidupannya. Mengingat indikator pencapaian tujuan penelitian ini telah tercapai maka siklus penelitian dihentikan. BAHASAN Dalam pembahasan ini akan dikaji tiap-tiap strategi yang digunakan dalam metode proyek yaitu (l) authenticity. dan memanfaatkan pihak proyek sebagai sumber belajar. Demikian pula 95% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik. Dalam konsep authenticity. Disamping itu mahaisswa telah mampu menjalin hubungan dengan pihak proyek. Dengan dipahaminya ―kebermaknaan‖ suatu tugas. dan (6) assessment. proyek atau tugas yang dikerjakan mahasiswa harus memiliki makna bagi mahasiswa. maka motivasi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akan . (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. (5) adult relationship. Authenticity Authenticity merupakan langkah awal dalam perancangan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek.

meningkat (ISTE, 2002), dengan demikian mahasiswa akan dapat menyelesaiakan tugasnya dan pada akhirnya mahasiswa akan mampu menghasilkan sesuatu dari tugas tersebut. Oleh karena itu tugas seorang pengajar dalam tahap ini adalah menjelaskan kebermaknaan suatu tugas bagi mahasiswa; pengajar harus bisa memilih dan memberi tugas yang bermakna untuk mahasiswa. Pada siklus I pada proses penelitian ini, masalah authenticity, merupakan tahap awal yang ditekankan pada mahasiswa; dalam tahap ini pengajar harus mampu menjelaskan kebermaknaan tugas, baik dari segi teknik maupun ekonomi.
2. Academic Rigor

Academin rigor adalah penerapan konsep-konsep akademis dalam menyelesaikan suatu tugas. Dalam pembelajaran berbasis proyek academic rigor, merupakan bagian yang amat penting karena mengharuskan mahasiswa menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian suatu tugas. Pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek akan melatih dan membiasakan mahasiswa untuk menerapkan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah dalam kehidupan. ISTE (2002) mengatakan bahwa dalam metode pembelajaran berbasis proyek mahasiswa dilatih melakukan penelitian, menggunakan berbagai sumber informasi dan mampu berpikir lintas keilmuan. Dalam tahap ini pengajar harus mampu merancang pembelajaran yang dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan dan menggunakan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
3. Applied Learning

Aplied learning adalah usaha untuk mengarahkan kegiatan belajar mahasiswa ker arah situasi belajar yang mengacu pada kehidupan nyata yang berada di luar lingkungan sekolah dan Kraf (1998) menyebut sebagai ―real world oriented”. Salah satu bentuk belajar dalam kehidupan nyata adalah agar mahasiswa mampu bekerja dalam organisasi modern yang menuntut disiplin tinggi, penggunaan teknologi yang tepat,

dan mampu berkomunikasi dengan rekan kerja, dan inilah yang disebut dengan real learning dan real work (Steinberg, 2001).
4. Active Exploration

Active exploration adalah usaha untuk mendorong mahasiswa agar aktif melakukan ekplorasi/penelitian, dengan menggunakan waktu secara efektif. Dalam tahap ini pengajar harus mampu memacu dan sekaligus mendorong mahasiswa untuk selalu berusaha memecahkan masalah secara kontinyu dan jangan putus asa. Menurut Buck Institute for Education (2001) dalam pembelajaran berbasis proyek mahasiswa harus mampu sebagai ―discoverer, integrator, and presenter of ideas. Dalam pelaksanaan penelitian ini, mendorong sikap dan tindakan mahasiswa agar selalu active exploration, ternyata merupakan sesuatu yang amat sulit. Hal ini mungkin disebabkan oleh perilaku mahasiswa selama ini lebih banyak bersikap pasif dalam setiap pembelajaran, dan sering dijumpai pengajar hanya bersikap sebagai penyampai materi belaka, dan kurang mendorong keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran.
5. Adult Relationship

Adult Relationship, terkait usaha memacu mahasiswa agar mampu belajar dari orang lain yaitu pada para praktisi expert dan bahkan pada para pekerja yang terkait dengan masalah yang dikaji. Dalam proses adult relationship ini para pengajar harus mendorong mahasiswa untuk mampu bertanya, berdiskusi dan juga mengajak merancang serta menilai kerja mahasiswa. Dengan model belajar yang demikian diharapkan mahasiswa memiliki pemahaman, pengetahuan dan keterampilan yang mendalam terhadap tugas yang sedang dikajinya.
6. Assesment

Assesment, adalah usaha agar mahasiswa mampu melakukan penilaian secara teratur terhadap proses belajar yang dilakukan. Disamping itu mahasiswa juga harus mampu mengembangakan kriteria penilaian sesuai standar yang berlaku di dunia kerja. Penilain yang harus

dilakukan mahasiswa mencakup prosedur kerja/metode yang dilakukan, waktu yang digunakan, hasil kerja dan hal-hal lain yang terkait dengan penyelesian tugasnya. Dari hasil penilaian yang dilakukan mahasiswa diharapkan mahasiswa dapat melihat kekurangan-kekurangannya, mampu memperbaikinya pada proses berikutnya. Dalam salah satu kriteria pembelajaran berbasis proyek Kraf (1998) menyebut hal ini sebagai ―student self-assesment of learning is encourage‖
7. Peran Pembimbing/Pengajar

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek peran dan tugas pengajar sangat jauh berbeda dengan peran dan tugas pengajar dalam pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar diharapkan sebagai ―resource provider and participant in learning activities,‖ berbeda dalam pembelajaran konvensional pengajar lebih sebagai “lecturer and director of instruction‖ dan dalam pembelajaran konvensional pengajar menganggap dirinya sebagai ―expert‖ sedang dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar harus mampu berperan sebagai ―advisor/colleague‖ (Buck Institute for Education, 2001). Perubahan peran dan fungsi pengajar dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran pembelajaran berbasis proyek tentu bukan merupakan sesuatu yang mudah, khususnya bagi pengajar yang telah terbiasa dengan model pembelajaran konvensional. Bagi pengajar yang telah terbiasa dengan pembelajaran konvensional, perlu memahami hakekat dan filsafat pembelajaran berbasis proyek lebih mendalam, dengan demikian diharapkan mampu memahami peran dan fungsinya sebagai pengajar.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut: (l) Pembelajaran Berbasis Proyek secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1

PTB FT UM dan (2) Penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM.
Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan beberapa saran sebagai berikut (l) Mengingat metode Pembelajaran Berbasis Proyek sangat berbeda dengan metode pembelajaran konvensional maka dalam penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek pengajar harus memahami hakekat dan prinsip-prinsip dasar PBL secara benar, dan (2) Guna mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang kehandalan metode Pembelajaran Berbasis Proyek diperlukan penelitian lanjutan pada bidang-bidang studi yang lain.

Bandung: Kaifa Gaer. Contextual Learning Resource. E. 2000. 2001. B & Berch. University of Toronto.html. What is Project-Based Learning? Tersedia pada: http:// members . Mark.org/research/roadahead/PBL. B.W. C. Jakarta: Penerbit Erlangga Bereiter. B. D. & Moffit. Krajick. Moss.C.DAFTAR RUJUKAN Clegg. cord. Washington DC: American Psychological Association. 2001. 1991. A Teacher`s Guide to Classroom Research.cfm/65. Blumenfeld. Jakarta: Penerbit Erlangga Clegg.iste. C.html. D. P. M dan Palinscar. Philadelpia: Open University. Real Life Problem Solving: A Collaborative Aproach to Indisciplinary Learning. Soloway. Teraedia pada: http://www. Instance Crativity... M. Project: Road Ahead (Project-Based Learning).. Diakses tanggal: 2 Maret 2001.aol. J. A. ED427556. 33-37 Jones. D. 2001. Guzdial. Rasmussen. Hung. Project Base Learning for Adult English Language Learner. & Vos. Ed427556/html Moore. Hopkins.F.M. S. P. D & Van-Duzer. 2001.F. Process and Product in PBL Research. [Online). Diakses tanggal 10 Desember 1997. M. Educational Psychologist.L. D. 1998. Dryden C. 1977.org/lev2. The Learning Revolution. Toward a Theory of Work-Base Learning.& Wong.com /CulebraMom/ PBLprt. A. Motivating Project Base Learning: Sustaining Doing. J. C & Scardamalia. 23 (January).. 1992. Educational Technology. ERIC Gigest. Moursund. 2000. Tersedia pada: http://www. Instance Motivation. Toronto:Ontario Institute for Studies in Education. Diakses tanggal 12 Juli 1998. . 1998. 389--398. Activity Theory as a Framework for Project Work in Learning Environment. CORD. Supporting the Learning. IEE Brief. 1999. R. 40(2). 1997. 26 (3 &4).

PBL in Science and Technology: A Case Stu dy of Professional Development. PGSM. 51. 1978. J. Penelitian Tindakan Kelas. Available on:http://www. Menumbuhkan Kemandirian dan Kegairahan Belajar Mahasiswa Melalui PembelajaranTeknologi di SMK.PBL. 1999. Tersedia pada: http://www. Journal of Research in Science Teaching. JW. S. G. 33(8).html .Rosenfeld. 1996. Thomas. & Means.inservicer.html. MA: Harvard University Press.. Diakses tangal 23 Januari 2002 Stepien.R. Y. California: The Autodesk Foundation. Project Base Learning: A handbook of Midle and High School Teacher. 2001. Observing Classroom Process in Project-Base Learning Using Multimedia: A Tool for Evaluator.com/ techcape/sherm. A. Educational Leadership.. autodesk. 2001. Center for Technology in Leraning SRI International. com/foundation. Mergendoller. W. JW. Jakarta: Depdikbud Penuel. 1999. designworlds. W & Gallagher. & Ben-Hur. Cambridge.S. Problem Base Learning: As Authentic as it Gets. Mind in Society. L. Vygotsky. S. 2000. http://PBLmm. JR & Michaelson. 1999.. A Review of Research on Project-Based Learning. Project-Based Learning. Making Meaning in Classroom: Social Processes in Small-Group Discourse and Scientific Knowledge Building. 1993.us/PBL guide/why. 25--28 Suhartadi. 2001. S. B. & Striley..kn. Richmond. 839-858 Thomas. Yang diselenggarakan pada tanggal 4 September 2001 di kampus Universitas Negeri Malang. Wetern Kentucky University Center for Teaching and Learning. Novato CA: The Buck Institute for Education. Mahakalah disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Nasional Peningkatan Profesionalitas Guru SMK Melalui Kajian Kelas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->