JURNAL________________DESEMBER-2008

JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN

Tahun 18, Nomor 2, Desember 2008

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender Laily Maziyah, dkk Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati, dkk Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta) Heri Sudarsono Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialogh dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari, dkk. Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi, dkk
Terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi nomor III/DIKTI/KEP/1998 tanggal 8 April 1998; nomor 395/DIKTI/KEP/2000 tanggal 27 November 2000; dan nomor 49/DIKTI/KEP/2003 tanggal 9 Desember 2003 tentang Hasil Akreditasi Jurnal Ilmiah

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender
Laili Maziyah Syafaat

Abstract: The mufassirs have a notion that polygamy is mubah (permitted). It is required for husband that performs polygamy to do justice in giving charity toward all of his wives and justice in giving sex turning and accompany to his wives. However, no required to do justice in love because it includes heart zone and applied by Rasulullah. The result showed that five forms of gender inequality toward women (marginalization,violence, subordination, stereotype, and double burden), not found generally in "five books", even such mufassirs are likely more moderate than other interpreters, by giving rigid conditions to conduct the polygamy. The reseacher chooses it to unveil pictures about concept, condition, rules of polygamy, and aspects of gender equality in their works. However, Ar-Razi opinion tends to perform stereotype of women because he gives not binding of polygamy conditions and permit husband to get married more than four or no limitation number of wives in polygamy. Key words: mufassir, poligami concept, gender

Kontroversi seputar poligami menyembur lagi ke permukaan setelah da‘I kondang KH. Abdullah Gimnastiar (Aa‘Gym) secara mengejutkan melakukan poligami bulan Nopember 2006, kemudian diikuti oleh anggota DPR Zaenal Maarif dari Partai Bintang Reformasi (FBR) secara terang-terangan di hadapan media (Kompas, 18/1/07). Fakta tersebut tak hanya mengundang gejolak tapi juga membuat bombardir kiriman SMS ke ponsel Presiden.
Laily Maziyah dan Syafaat adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang

Presiden Yudhoyono kemudian secara khusus memanggil Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dan Dirjen Binmas Islam Nazzarudin Umar meminta revisi agar cakupan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 1983 (yang sudah direvisi menjadi PP Nomor 45 tahun 1990 tentang poligami) diperluas tidak hanya berlaku bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) tetapi juga pada pejabat negara dan pejabat pemerintah (Iman, 2006). Poligami merupakan salah satu bentuk perkawinan yang seorang laki-laki menikahi lebih dari satu istri. Menurut Mulia (2004:44-45), poligami sudah ada jauh sebelum Islam datang. Mahmud Syaltut (w. 1963), ulama besar asal Mesir, secara tegas menolak poligami sebagai bagian dari ajaran Islam, dan juga menolak bahwa poligami ditetapkan oleh syari‘ah. Berabad-abad sebelum Islam diwahyukan, masyarakat manusia di berbagai belahan dunia telah mengenal dan mempraktekkan poligami. Poligami dipraktekkan secara luas di kalangan masyarakat Yunani, Persia, dan Mesir kuno. Di Jazirah Arab sendiri jauh sebelum Islam, masyarakatnya telah mempraktekkan poligami, malahan poligami yang tak terbatas. Sejumlah riwayat menceriterakan bahwa rata-rata pemimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit kepala suku mempunyai istri sampai ratusan. Sejumlah riwayat menjelaskan bahwa setelah turun ayat yang membatasi jumlah istri hanya empat orang, yakni QS Al-Nisa‘: [4]:3. Nabi segera memerintahkan semua laki-laki yang memiliki istri lebih dari empat agar menceraikan istri-istrinya sehingga setiap suami maksimal hanya boleh punya empat istri (Ibn Surah, tt:445). Karena itu, A1-Aqqad (1962:107) ulama asal Mesir, menyimpulkan bahwa Islam tidak mengajarkan poligami, tidak juga memandang positif, apalagi mewajibkan, Islam hanya membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Sangat disesalkan bahwa dalam prakteknya di masyarakat, mayoritas umat Islam hanya terpaku pada kebolehan poligami, tetapi mengabaikan sama sekali syarat yang ketat bagi kebolehannya itu. Perkembangan poligami dalam sejarah manusia mengikuti pola pandangan masyarakat terhadap kaum perempuan. Pada masa ketika masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan hina, poligami menjadi subur, sebaliknya pada masa masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan terhormat, poligami pun berkurang. Jadi, perkembangan

poligami mengalami pasang surut mengikuti tinggi-rendahnya kedudukan dan derajat perempuan di mata masyarakat (Abu Zayd, 2003). Ketika Islam datang, kebiasaan poligami itu tidak serta merta dihapuskan. Namun, setelah ayat yang menyinggung soal poligami diwahyukan, Nabi lalu melakukan perubahan yang radikal sesuai dengan petunjuk kandungan ayat. Perubahan mendasar yang dilakukan Nabi, menurut Mulia (2004:46-47) berkaitan dengan dua hal. Pertama, membatasi jumlah bilangan istri hanya sampai empat. Sejumlah riwayat memaparkan pembatasan poligami tersebut di antaranya riwayat dan Naufal ibn Muawiyah. Ia berkata: Ketika aku masuk Islam, aku memiliki lima orang istri. Rasulullah berkata: Ceraikanlah yang.satu dan pertahankan yang empat. Pada riwayat lain Qais ibn Tsabit berkata: Ketika masuk Islam aku punya delapan istri. Aku menyampaikan hal itu kepada Rasul dan beliau berkata: pilih dari mereka empat orang. Riwayat serupa dari Ghailan ibn Salamah Al-Tsaqafi menjelaskan bahwa dirinya punya sepuluh orang istri, lalu Rasul bersabda: “pilih empat orang dan ceraikan yang lainnya.” Kedua, menetapkan syarat yang ketat bagi poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Persyaratan yang ditetapkan bagi kebolehan poligami itu sangat berat, dan hampir dapat dipastikan tidak ada yang mampu memenuhinya. Artinya, Islam memperketat syarat poligami sedemikian rupa sehingga kaum laki-laki tidak boleh lagi semena-mena terhadap istri mereka seperti sediakala. Dengan demikian, terlihat bahwa praktek poligami di masa Islam sangat berbeda dengan praktek poligami sebelumnya. Perbedaan itu menonjol pada dua hal. Pertama, pada bilangan istri, dan tidak terbatas jumlahnya menjadi dibatasi hanya empat. Pembatasan ini dirasakan sangat berat, sebab laki-laki masa itu sudah terbiasa dengan banyak istri, lalu mereka disuruh memilih empat saja dan menceraikan selebihnya. Kedua, pada syarat poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Sebelumnya, poligami itu tidak megenal syarat apa pun, termasuk syarat kesetaraan. Akibatnya, poligami banyak membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi kaum perempuan, karena para suami yang berpoligami tidak terikat pada keharusan berlaku adil, sehingga mereka berlaku aniaya dan semena-mena mengikuti luapan nafsunya.

2% dicerai. sebelum tahap reinterpretasi teks agama dilakukan. diperlukan reinterpretasi ajaran agama secara komprehensif. Jenis kekerasan yang dilaporkan meliputi kekerasan ekonomi sebanyak 29.9%. poligami berimplikasi pada maraknya berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. dan 0. dan kekerasan psikis 46.4% sebagai istri kedua.5% dipoligami resmi. kekerasan seksual 5. juga bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender dalam karya mereka.5% ditinggal suami.Dalam realiatas.1% poligami secara rahasia. hukum poligami. Menurut Subhan (2004). 4.6%. di antara aktor penyebab kesenjangan gender yaitu penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. syarat-syarat dan hukum) poligami. 2. Laporan Rifka Annisa (2001:58). Data-data mengenai status korban mengungkapkan 5. sebuah institusi yang peduli pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. dalam kerangka pelacakan pada asal-muasal produk pemikiran mengenai poligami dan kesetaraan gender. yaitu linguistis dan sosiologis sekaligus. kekerasan fisik 18. untuk meminimalisasi ketidaksetaraan gender yang muncul akibat pemahaman yang keliru terhadap poligami. cenderung dipahami parsial dan kurang kholistik. kontekstual. penelitian terhadap sejumlah kitab tafsir klasik atas ayat-ayat poligami dalam al-Qur‘an yang berkaitan dengan kesetaraan gender sangat penting dilakukan sebagai langkah awal untuk memformulasi pemahaman yang baru dan benar. dan holistik. 36. Dengan melakukan kajian yang mendalam atas sejumlah karya mufassir terkenal akan diperoleh gambaran mengenai penafsirannya tentang konsep.3% korban selingkuh. Oleh karena itu. penelaahan buku-buku tafsir mutlak dilakukan. (b) Bagaimana pandangan para mufassir terhadap konsep (definisi. Jadi. dan (c) bagaimana pandangan para mufassir terhadap poligami dalam konteks kesetaraan gender? . Melalui pendekatan holistik. 2. syarat.4% lainnya sebagai teman kencan. menjelaskan bahwa selama tahun 2001 mencatat sebanyak 234 kasus kekerasan terhadap istri. kusutnya benang permasalahan tersebut akan dapat dikaji secara jernih. Adapun rumusan masalah yang diangkat adalah (a) bagaimana latarbelakang para penafsir dan corak tafsir masing-masing. Namun.1%. 0.4%.

yaitu: (1) An-Nisa‘ ayat 1. yakni (1) Al Tafsir Al Kabir karya Fakhruddin Ar Razi. (6) An-Nisa‘ ayat 129. Sedangkan jenis penelitian ini adalah deskriptif. (2) An-Nisa‘ ayat 2. sedangkan sumber datanya terdiri dan lima kitab tafsir. peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. (5) An-Nisa‘ ayat 128. (3). berikut paparan Tabel 1 variabel dan sub variabel: Tabel 1 Paparan Data Variabel dan Sub-Variabel No 1 Variabel Poligami         Sub-Variabel Konsep poligami Syarat-syarat berpoligami Hukum poligami Tidak ada unsur marginalisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur streotifisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur kekerasan terhadap perempuan Tidak ada unsur subordinasi terhadap perempuan Tidak ada unsur pembebanan ganda terhadap perempuan 2 Kesetaraan Gender . Quraish Syihab (4). Tafsir AlQuran al-Adhim karya Ibn Katsir (5) Tanwir al-Miqbas min tafsir Ibn Abbas karya Ibnu Abbas.. yaitu pemerian secara sistematis dan faktual terhadap pandangan dan penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang memuat tentang relasi gender. (2) Jami‟ul Bayan „an Ta‟wil Ayil Qur'an karya At-Thabari. . Untuk lebih mendapatkan gambaran yang operasional dalam penelitian ini. (4) An-Nisa‘ ayat 127. Data dalam penelitian ini berupa tulisan atau manuskrip yang merupakan karya dari para mufassir Al-Qur‘an. Al-Mishbah karya M.METODE Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh paparan yang jelas dan rinci mengenai pandangan mufasir tentang poligami. maka ada tujuh ayat yang akan diteliti. (7) An-Nisa‘ ayat 130. (3) An-Nisa‘ ayat 3. Untuk mencapai tujuan penelitian secara komprehensif. Oleh karena penelitian ini menganalisis pandangan mufassir tentang ayat-ayat poligami dan munasabah (korelasi)-nya dalam alQur'an.

Namun demikian. yang merupakan sintesa antara temuan dan teori. mengkaji . dan di dalam dijumpai sejumlah perbedaan. Ibn Katsir dan tafsir Ibn Abbas dan pandangan mereka tentang poligami dalam konteks kesetaraan gender. 1984:48). dengan apa yang ditemui dalam mushaf Utsmani tadi. AlMishbah. didefinisikan sebagai tafsir yang menetapkan suatu topik tertentu. dan untuk tujuan itu ia telah ―meminggirkan‖ mushaf versi lainnya.BAHASAN Setelah dilakukan identifikasi data tentang corak penafsiran masing-masing mufassir. Pembahasan metode ini mengikuti urutan kronologis susunan ayat-ayat A1-Qur‘an. Mushaf Utsmani adalah salah satu versi mushaf yang disusun oleh Utsman bin Affan saat ia menjadi khalifah. sesuai dengan urutan bahkan yang terdapal dalam mushaf Utsmani (Al-Almai. tidak saja bacaannya melainkan juga kosakatanya. hukum. Adapun metode maudu‘i adalah metode yang oleh Shihab (1993:114). dan metode muqaran (Umar. maka dalam bab ini akan dipaparkan pembahasan atau diskusi hasil. metode maudu‗i. Corak Tafsir para Mufassir Setidaknya ada empat metode/corak tafsir yang digunakan telah para mufassir dalam menjelaskan maksud dan makna yang terkandung di dalam Al-Qur'an. pandangan para mufassir tentang konsep (definisi. Ath-Thabari. yakni metode tahlili. sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan secara menyeluruh tentang masalah tersebut menurut pandangan Al-Qur'an. Mushaf ini dibuat untuk tujuan menyeragamkan bacaan umat Islam. dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat dan beberapa surah. Metode tahlili adalah metode penafsiran Al-Quran yang munculnya secara kronologis dan memaparkan berbagai aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur‘an. syarat) poligami dalam tafsir Ar-Razi. metode ijmali. Metode tafsir ijmali adalah metode yang menafsirkan ayat-ayat alQur'an dengan mengemukakan makna global. mushaf itu masih saja ada. 1999:188-189). yang berbicara tentang topik tersebut untuk kemudian dikaitkan satu dengan yang lainnya.

Al-Mishbah. maka sepatutnya bisa ditiru. mulai dari kesiapan pribadi. Tafsir-tafsir tersebut digolongkan ke dalam corak tahlili karena setiap kata. 1986:549). Dalam beberapa kasus ada sebagian orang Islam yang menikah tidak hanya dengan satu perempuan. sehingga diharapkan setiap muslim yang menikah mampu menjalani rumah tangganya dengan baik dan bahagia. filsafat dll. Sementara dalam tafsir Ibn Abbas digunakan corak/metode ijmali. dan Ibn Katsir. lebih menekankan pada aspek bahasa dan keagamaan. Biasanya. dan setelah pernikahan. Yakni. Empat tafsir yang menggunakan corak tahlili. kalimat. Dari kelima jenis tafsir yang dianalisis. Kepada mereka yang belum menikah Rasulullah sangat menganjurkan untuk tidak menunda-nunda pernikahan. Mulai dari sudut pandang bahasa. bahkan menyegerakannya. ayat dikupas dengan gamblangnya dari beberapa sudut pandang. dan berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan ayat-ayat lainnya (Al-Rahman. Semua ada aturan mainnya. 1999:200). empat diantaranya menggunakan corak tafsir tahlili dan sisanya menggunakan corak tafsir ijmali. saat. . Namun apabila dipresentasi. dan antara satu penafsiran dengan penafsiran lainnya dalam suatu ayat (Umar. jumlah orang yang memilih berpoligami sangat jauh lebih sedikit dari yang tidak berpoligami. bagi mereka yang memilih pernikahan cara ini beragumentasi bahwa apapun yang dilakukan oleh Rasul termasuk dalam hal berumah tangga. sejarah. sebelum. Pernikahan inilah yang dalam bahasa agama disebut dengan ta‟addud az zawjah atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan poligami. Pada saat yang sama Islam juga menetapkan aturan syar‟i yang jelas tentang pernikahan. Konsep Poligami dalam Pandangan para Mufassir Menikah merupakan sunnah Rasulullah saw yang sangat dianjurkan. Ar-Razi.asbabun nuzulnya. yaitu: tafsir athThabari. maka umatnya yang siap memilih jalan itu sebaiknya juga melakukan poligami. Karena Rasul melakukan poligami. akan tetapi lebih dari satu. makna suatu ayat dengan hadis. Sedangkan metode tafsir muqaran ialah suatu metode tafsir yang berupaya memberikan makna satu ayat dengan ayat lain.

akan tetapi kata ini bermakna ibahah (kebolehan) dan bukan perintah yang harus dilaksanakan. Artinya adalah kewajiban melakukan pembatasan. tiga atau empat. Meskipun redaksi dalam Al-Quran terkait dengan poligami adalah Fankihu. subordinasi (anggapan tidak penting). atau budak-budak wanita yang kamu miliki. Inilah kriteria yang menjadi acuan kaum feminis dalam melihat secara kritis setiap aturan sosial tentang relasi laki-laki dengan perempuan. pangan. papan . Dalam menafsirkan lafadz yang terdapat dalam ayat 3 yang artinya. hukum asal berpoligami adalah kebolehan (jawaz) bisa saja berubah menjadi haram manakala seseorang tidak bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk itu. ―Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil. makna lain yang bisa diambil dari bentuk amar kata fankihu adalah kewajiban. Perintah poligami. yakni dalam bentuk fi‟il amr (kata perintah). maka seorang saja. Adil yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah berbuat adil kepada istri khususnya dalam hal harta. yakni surat An Nisa' ayat 3 dan contoh dari rasulullah SAW. pelabelan negatif (stereotype). bahkan ditentang oleh Shihab (2000:567) dalam tafsirnya. ketidaksetaraan gender bisa diidentifikasi melalui berbagai manifestasi ketidaksetaraan. puasa dan zakat. Sebab ada dalil yang menujukkan hal itu. Bentuk ketidaksetaraan gender berupa marginalisasi ini tidak ada. kekerasan (violence).Menurut Ibn Katsir poligami adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam agama dan berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. dan beban kerja ganda (double burden). Pandangan Para Mufassir dalam Konteks Kesetaraan Gender Menurut analisis gender. terkait dengan adanya potongan ayat setelahnya yang menyebutkan jumlah dua. tak ubahnya perintah makan dan minum seperti yang dimuat juga dalam Al-Qur‘an kuluu wasyrabu. menurut Wahbah. sebagaimana perintah sholat. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada berbuat yang tidak aniaya‖. nafkah yang berupa sandang. Disamping makna ibahah. yakni: marginalisasi (proses pemiskinan ekonomi). termasuk yang lahir dari doktrin agama. Namun demikin. Hal ini tampak sekali dalam penafsiran beliau khususnya mengenai surat An‘Nisa‘ ayat 3 dan 4. Makna ini diambil.

Inilah yang disyaratkan oleh Islam kepada seorang suami dan harus dijalankannya untuk memenuhi hak istri. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan dimata Islam. yaitu membolehkan melakukan poligami tanpa harus memperhatikan unsur . Dalam menafsirkan lanjutan ayat 4 tersebut.yang mewajibkan atas dirinya (Shihab: 2000:328). Ulama kontemporer banyak yang memahami dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. Dalam Islam proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. Ar-Razi (1993: 3/246) juga menolak pandangan subordinasi ini.S. karena dia sendiri -bukan orang lain. Keberadaan umat manusia berasal dari nafsin wahidah yang oleh mayoritas ulama memahaminya dalam arti Adam a. Hal tersebut tampak jelas tatkala beliau menjelaskan tafsir ayat 1 surat An-Nisa. dan ada juga yang memahaminya dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. membolehkan seorang suami menikahi istri yang tak terbatas jumlahnya bahkan melebihi jumlah istri rasulullah.S Al-Baqarah ayat 236. Ath-Thabari (1954: 7/530) menegaskan bahwa maskawin (mahar) itu adalah kewajiban yang harus dibayar suami kepada istri dan bahwa maskawin (mahar) itu adalah hak istri secara penuh. Dia bebas menggunakannya dan bebas pula memberi seluruhnya atau sebagian darinya kepada siapapun. 2000:313). subordinasi tampak ketika Ar-Razi. Sementara Ath-Thabari dan Ibn Katsir cenderung memberikan persyaratan yang mudah bagi suami. tetapi hal tersebut hendaknya diberikan dengan tulus dari lubuk hati sang suami. Oleh karena itu. termasuk kepada suaminya.s. Sisi lain.dan juga perlakuan. lihat Q. sehingga ayat ini sama dengan firman Allah dalam Q. Ini untuk menjelaskan bahwa maskawin (mahar) adalah kewajiban suami yang harus diberikan kepada istri. yaitu pemberian maskawin (mahar) sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nisa‘ ayat 4. Ibn Katsir (1999: 2/207) menafsirkan ayat tersebut. Al-Hujurat ayat 13 (Shihab. wajarlah jika dalam tafsirnya. Pandangan subordinasi dalam pandangan para mufassir bertentangan dengan apa yang disyariatkan oleh agama Islam. Maskawin (mahar) merupakan suatu yang diwajibkan oleh suami terhadap dirinya.

dan (3) bercerai secara baik (ayat 130). Sedangkan Kekerasan (violence) dalam rumah tangga (KDRT) merupakan hal yang sangat ditentang dalam Islam. yang antara lain dapat diselesaikan dengan tiga cara. (2) tidak boleh membiarkan istri terkatung-katung (ayat 129). Bahkan kalau Islam dianggap memberikan kewajiban kepada istri lebih berat (mendapat beban kerja ganda) itu merupakan anggapan yang salah. ―Kullukum raa‟in wakullukum masuulun „an ra‟iyyatihi‖. sehingga suami dan istri punya kewajiban dan haknya masing-masing yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan. akan tetapi akan banyak muncul pada masyarakat yang hanya beorientasi pada duniawi dan materi. 2000: 328). Ibn Katsir (tt:2/207) menafsirkan ayat tersebut. (1) perdamaian yang sebenar-benarnya (ayat 128). Bentuk pembebanan kerja ganda tidak akan ditemui dalam masyarakat yang menjalankan tuntunan Islam secara benar. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan di mata Islam. SIMPULAN Dari kelima mufassir yang diteliti. Hal ini bisa kita lihat contohnya pada ayat surat An-Nisa‘ ayat 4 bahwa proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. Dalam kaitannya dengan penegasan bahwa KDRT ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. yaitu (1) tafsir tahlili. yaitu pemberian maskawin (mahar). maka kita lihat penafsiran Ath-Thabari terhadap ayat 128-130 surat An-Nisa tatkala ada perselisihan antara suami dan istri. . Islam memberikan tuntunan secara umum. Bahkan Islam memerintahkan kepada para suami untuk mempergauli dan memperlakukan istrinya dengan baik. Meskipun pendapat terakhir tersebut mensubordinasi wanita namun terlihat lebih moderat karena tetap membatasi jumlah istri sampai empat. Ibn Abbas masuk kelompok 2. sebagaimana firman-Nya: ― Wa‟aasyiru hunna bil ma‟ruf”.kesetaraan lahir. baik di dunia maupun di akhirat (Shihab. (2) tafsir ijmali. terdapat dua corak penafsiran.

Dari lima bentuk ketidaksetaraan gender terhadap wanita (marginalisasi. Ibn Katsir dan Quraish Shihab) masuk kelompok 1. pembebanan ganda). dan (c) dilandasi kemaslahatan bersama. bahkan jumlahnya tidak terbatas. dan dalam Islam ia merupakan sesuatu yang diperbolehkan. mayoritas menghukumi mubah. kekerasan. semua mufassir tidak berbeda mengenai definisi poligami(ta'addud az-zawjah). . Hanya saja. Adapun syaratsyarat disepakati adalah (a) memiliki kemampuan memberi nafkah. Hal itu tampak dalam penafsiran Ar-Razi. Ia berani melangkah lebih jauh melampaui hadis Nabi. Secara konsep. subordinasi. terdapat dua bentuk.sedangkan mufassir yang lain (Ath-Thabari. streotipisasi. Ar-Razi. Terkait dengan hukum poligami. yakni dengan tidak membatasi jumlah istri dan menggunakan persyaratan sangat longgar yang merugikan kaum perempuan. yakni pernikahan satu suami dengan dua. yaitu subordinasi dan streotipisasi. Hanya Ar-Razi saja yang membolehkan poligami melebihi 4 atau 9. (b) memiliki kayakinan bisa berbuat adil dalam memberi nafkah lahir dan adil memberikan nafkah bathin. Quraish Shihab memberikan batasan bahwa poligami berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. tiga atau empat istri. Jumlah maksimal istri empat orang dalam satu waktu.

Rifka.org.Qarn al Rabi‟ al„Asyr. 2003. Tokoh Islam Kontemporer. Al-Mar‟ah fi al-Qur‟an. 2001. 2005. Laporan Data Kasus Tahun 2001. 1993At-Tafsir al-Kabir. Artikel diambil dari situs http://www. Abbas Mahmud. Surabaya: Percetakan An-nabhan Al-Qathan.).my . Manna‘. Politis. Artikel dikutip dari situs http://www. Ghazali. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ al-turats al-Islami Al-Shadr. Al-‘Aqqad. 1973. Beirut: Dar al-Ta‘aruf li al-Mathba‘ah Amin. Jami'ul Bayan fi Tafsir alQuran. Al-Madrasah al-Qur„aniyyah al-Tafsir al-Maudu„I wa al-Tafsir al-Tajzi„I fi al-Qur„an al-Karim. 2002. Qasim. Dirasat fi al-Tafsir al-Maudu‟i li alQur‟an al-Karim. Muhammad Baqir. 1986. Muhammad Ibn Umar. Zahir Ibn ‗Awad. Mansyurat al ‗Ashr al-Hadis Al-Rahman. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ alturats al-Islami Al-Jawi.abim. Fakhruddin. 2007. Kairo: Dar A1-Ma‘arif Annisa. Mohd Rumaizuddin.org diakses tanggal 4 Nopember 2007 Al-Nawawi. Tahrir Al-Mar‟ah. 1954. Ittijah al-Tafsir fi al. Ath-Thabari. 2007. 1970. M Shiddiq.. 1962. Nashr Hamid. Pertanyaan dalam Terjemahan Al-Quran: Suatu Kajian Pragmatik. Al-Halaby: Mesir. Disertasi tidak dipublikasikan. Mabahits fi „Ulum al-Qur„an.com/reviews/item/ 1 tanggal 25 Oktober 2008 Ainin. Dekonstruksi Jender (Terj. dan Normatif.multiply. tt. 1984.khilafah1924. Fuad Abd. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Ar-Razi. At-Tijariyah: Beirut.DAFTAR RUJUKAN Abu Zayd. Uqud Al-Lujain fi Bayan Huquq al-Jauzain. Kairo: Dar al-Hilal Al-Alma‘I. Tafsir al-mishbah pesan dan kesan dan keserasian AlQuran diakses dari situs: http://afthon. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Afthon. Moh. Mendudukan Poligami dalam Islam : Tinjauan Historis. tt. Muhammad Ibn Jarir.

Penetapan Hukum Islam Secara Tekstual dan Kontekstual: Tinjauan Mufassir. edisi Kamis 18 Januari 2007.blogspot. Analisis Jender dan Tranformasi Sosial (Resensi Buku). Muhammad Quraish.kesrepro. Dikutip dari situs http://members. 1990. Aa Gym: Saya Tidak Kecewa Mulia.com 2006 tanggal 25 Oktober 2008 Rasyid Ridha. Al-Ibnu. 2007.duniaesai-. 1985. Artikel diakses dari situs http://ichwanzt. Aa‟ Gym. Sayyid Muhammad Ali. diakses tanggal 1 April 2007.com/gender/gender2.psq. Artikel dari situs: http://nofieiman-. Mencari Teori Kesetaraan: Analisis Jender Vs Teori Hukum Islam. Jakarta: Gramedia Pustaka utama Nor Ichwan. Al-jami‟ al-Sahih Juz 3. Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum. Siti Musdah. 1997.or. Kairo: Al-Manar Jilid IV Sabiq. Tafsir al-Manar. Sugiri. Peningkatan Kesetaraan dan Kesetaraan Jender dalam membangun Good Governance. dan Islam. Islam Menggugat Poligami.tripod. Artikel diakses dari situs: Http//situs. Tafsir Al-Quran al-Adhim.Ibn Katsir. No. Shihab. Iyazi. 2000.com) diakses tanggal 4 Nopember 2007 Sari. 2006. dalam Jurnal Perempuan. tanggal 15 Februari 2007. tt. 2004. Biografi Quraish Shihab. Edisi 2 Shihab.asp. . Beirut: Dar el-Fikr Iman. Penerbit Mizan: Bandung. Quraish. Tt. Fiqh as-Sunnah. Mohammad. 2003. 2004. Muhammad.htm. dalam Dialog.htm. Artikel diakses dari situs: http://www.id/tafsir detail. Poligami.multiply. 2004. Artikel diakses dari situs http://almudarris. 1992. Artikel dikutip dari situs www. 2008. tanggal 15 Februari 2007. Sulayman Mar'i: Singapura.com2006/12/aa-gym-poligami-dan-islam/ Diakses tanggal 18 Februari 2007.info/gendervaw/agu/-2004/gendervaw01. Abu Isa Muhammad Ibn Isa. Ibn Surah. Koran Kompas. Zaitunah. 35 Th XVI. Mayang. Acep. Sayyid. Imam Fakhruddin Ar-Razi. Nofie. Tafsir Al-Mishbah. Februari Subhan.com/2008/06 tanggal 25 Oktober 2008 Qasim.

2007. Biografi Syeikh Ath-Thabari. 1999. 2000. Artikel diakses dari situs http://id. Damaskus: Penerbit Ahali Tanpa Pengarang. Al-Kitab wa al-Qur'an. or. Az-Zuhaili. Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu. Beirut: Dar el-Fikr . Ahmad. Ibnu Katsir. http://www. Sosok Mufassir Sejati.alsofwah. At-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asySyari'ah wa al-Manhaj. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Wahbah. 1992. 1999. Nasaruddin.org/wiki/ tanggal 25 Oktober 2008 Tohe. 2007. Abdullah bin Abbas. Laporan penelitian dana DIK 2000. Artikel diakses dari situs http://nothingman2run. Muhammad. 64. 2007. 1990.wordpress. Malang: LEMLIT Universitas Negeri Malang Umar. dalam Jurnal A1-Jami‘ah. Beirut: Dar el-Fikr Wahbah.wikipedia. dkk. Az-Zuhaili. No.Syahrur. Relasi Jender dalam al-Qur'an Menurut Pandangan Para Mufassir. Metode Penelitian Berprespektif Jender tentang Literatur Islam.com/ tanggal 25 Oktober 2008 Tanpa Penulis.id/ Tim Wikipedia Indonesia.

Apalagi aparat di tingkat grass roosts dan masyarakat banyak yang belum tahu substansi UU PKDRT. informasi. Namun hukuman yang diputuskan PN untuk pelaku masih belum mencerminkan rasa keadilan. faktor pendukung dan penghambatnya. Namun upaya komunikasi. edukasi dan sosialisasi undang-undang tersebut masih minim. strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengadilan agama menangani kasus secara perdata. edukasi Siti Malikhah Towaf adalah dosen Jurusan Sejarah FS Universitas Negeri Malang . BP-4 lebih berperan sebagai lembaga konseling sebelum kasus masuk di PA dan Unit PPA Kepolisian dalam lembaga andalan penegak UU PKDRT. diharapkan bisa berperan sebagai usaha preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT. bahkan ditingkat aparat penegak hukum belum termotivasi untuk memahami substansi penting dari UU PKDRT. KDRT. sosialisasi.Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Abstrak: Undang-undang Republik Indonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT) disahkan dan diundangkan pada 22 September 2004. Penelitian 3 tahap dilakukan dengan fokus peran lembaga dan kasus-kasus KDRT yang muncul dan bagaimana penylesaiannya di tiap lembaga. Kata-kata kunci: Undang-undang. Diperlukan sosialisasi untuk aparat terkait maupun edukasi untuk masyarakat.

anak-anak yang menyaksikan akan menjadi generasi penerus kekerasan jika mereka berkeluarga kelak. 2003). Krisis rumah tangga. penganiayaan bahkan pembunuhan. manusia mempunyai potensi untuk melakukan kekerasan. jika terjadi dalam dalam keluarga maka ada kecenderungan anggota keluarga yang lain. vertikal antara laki-laki dan perempuan sebagai suami-isteri maupun anggota keluarga. Perubahan sosial dan ketimpangan struktur sosial telah memunculkan kesenjangan sosial. Sebagai individu maupun anggota masyarakat. Kemiskinan. akibatnya lapisan bawah tergantung pada lapisan atas. 2002:24). atas dan bawah. dimana lapisan atas mempunyai kesempatan ―melakukan segala sesuatu‖ untuk menentukan dan mengatur kelompok manusia yang berada di lapisan bawah. pada umumnya korban adalah . Kehidupan keluarga banyak yang masih jauh dari sejahtera baik lahir maupun batin. ketika letupan psikologis tidak terkendali dan meluap keluar dalam bentuk kekerasan atau tindakan agresif yaitu tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. Kekerasan dan tindakan agresif biasanya berlanjut. Perempuan dianggap lebih lemah. gampang memicu pertengkaran. 2003:5). hirarkis. Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) semakin meningkat. sekelompok kecil anggota masyarakat berada pada level "menengah keatas" diuntungkan oleh struktur sosial itu dan sebagian besar anggota masyarakat lainnya "harus bertahan' dalam situasi kemiskinan (Katjasungkana. tidak mampu berperan sebagaimana laki-laki. Kehidupan yang semakin berat menimbulkan berbagai krisis dalam masyarakat. Dalam pola relasi vertikal. Jika terjadi kekerasan dalam keluarga maka akan muncul ancaman bagi keutuhan keluarga dan kesejahteraan anggota-anggotanya. stereotipi/pelabelan negatif sampai berbagai bentuk kekerasan dalam keluarga yang disebut juga gender related violence. Pola hubungan asimetris ini melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan gender seperti marginalisasi. karena kesempatan mengambil keputusan berada pada lapisan atas (Astuti. Ketika budaya masyarakat cenderung patriarkhis maka budaya tersebut juga akan mewarnai kehidupan keluarga dalam bentuk hubungan asimetri. subordinasi.Menurut Fakih (1996) kekerasan adalah serangan atau invasi terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. pengangguran memicu berbagai kriminalitas. sehingga ditempatkan dalam posisi subordinate/pelengkap (Fakih.

diharapkan bisa berperan preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT. dari 7. 1. 2004:1 & UURI no. 801 kekerasan fisik. Aparat terkait kurang faham. Catatan tahunan 2007 Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap perempuan menunjukkan kenaikan jumlah kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP): tahun 2001 ada 3.2005 ada 20. dan masyarakat.659 kasus. 2007:405). psikologi. hasil penelitian ini mendukung hal tersebut. apa yang terjadi pada perempuan? Mengapa semuanya itu terjadi? dan bagaimana kita dapat mengubah dan memperbaiki dunia sosial untuk membuatnya menjadi tempat yang lebih adil bagi perempuan dan semua orang? Undang-undang adalah kebijakan publik yang berfungsi untuk mengubah masyarakat/social engineering.513. Penelitian tahap I/2008 fokus pada eksplorasi kinerja kebijakan.163. 2007).PKDRT.23. 3. Perlindungan anak. 2002).2004 ada 14. Kepala unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Malang sangat mengharapkan ada program sosialisasi kepada para Lurah/Camat di wilayahnya. mencermati kinerja lembaga yang menangani kasus konflik keluarga. lembaga pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi. Harapan tersebut akan terpenuhi pada penelitian tahap II/2009 fokus pada pengembangan . Dari segi bentuk kekerasan. yaitu berbagai kantor pemerintah lokasi penelitian.23.020.787. kebijakan public dan pelaksanaan Undang-undang. namun upaya sosialisasi & edukasi undang-undang tersebut masih minim. 872 kekerasan seksual dan 590 kekerasan psikis (Wartawan kompas. karena mereka terutama lurah adalah ujung tombak untuk menangani kasus-kasus KDRT (Towaf.165. Hasil penelitian akan bermanfaat bagi kepentingan teoritis keilmuan di bidang Sosiologi.099 kekerasan ekonomi. 2006 ada 22. kasus-kasus yang terjadi dan penyelesaiannya serta factor pendukung dan penghambatnya. tahun 2003 ada 7. Dari data-data tersebut lalu muncul pertanyaan krusial yang sering beredar di kalangan teoritisi feminis (Lengerman & Brantley. Hasil penelitian ini juga memiliki manfaat praktis. 2005).2A02 ada 5. tidak tahu bahwa penelantaran ekonomi termasuk dalam kekerasan dalam rumah tangga (Wartawan Kompas. apalagi aparat di tingkat grass roots seperti aparat kepala desa dan stafnya.391. Undang-undang Republik lndonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) diundangkan pada 22 September 2004.perempuan dan anak-anak biasanya tidak tahu harus berbuat apa (UU RI no. 2007).

Creswell. 1997:22. Pendekatan kualitatif multikasus dan multiksitus (Yin.strategi sosialisasi UU PKDRT kepada aparat terkait. 2004 & Sevilla. Kompleksitas dan permasalahan kehidupan keluarga terutama perempuan dalam konteks apapun cukup besar dan memerlukan berbagai pendekatan dalam penelitian kualitatif (Denzin. Penelitian Tahap III fokus pada pengembangan strategi edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat. bagi aparat sasaran maupun berbagai kelompok masyarakat. METODE Rancangan dan Pendekatan Penelitian Rancangan penelitian ini adalah penelitian kebijakan (Dunn. Dalam penelitian ini penggabungan pendekatan kuantitatif bersifat komplementer/untuk melengkapi pendekatan kualitatif yang lebih dominan (Branen. 1997:43) atau base line data bagi pendalaman kasus. NK & Lincoln. Perolehan data kuantitatif dapat memberi landasan (Branen. sehingga wawasan mereka bertambah dan mengetahui apa yang harus dilakukan jika kasus KDRT terjadi di wilayahnya. 1994:163). 200) dan pengembangan yang menggabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kualitatif juga digunakan untuk eksplorasi (Creswell. 1994:21) kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi undang-undang PKDRT. .1994:173--190). Mereka adalah ujung tombak untuk optimalisasi kinerja UU PKDRT. terutama pada tingkat lurah dan bisa juga nantinya kepada aparat yang lain. 1993:73) digunakan untuk menggali data secara lebih mendalam terhadap kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dan faktor-faktor penyebabnya di setiap lokasi penelitian terkait dengan peran perempuan dan wawasan kesetaraan gender dalam keluarga. Pendekatan kuantitatif yang dilakukan dengan mengumpulkan data statistik tentang kasus-kasus KDRT dan faktor penyebabnya.

diskusi Lokasi Penelitian dan Kehadiran Peneliti Ruang lingkup Lokasi penelitian adalah Kota dan Kabupaten Malang. 1993. dan unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Kota dan Kabupaten Malang.wawancara kajian dokumen.Ruang Lingkup Khusus untuk Tahun I/2008 Eksplorasi Kinerja UU PKDRT Luaran/output Profil dan peran lembaga Kasus. Aparat dokumen. wawancara observasi. wawancara kajian dokumen. aparat dokumen. kaj dok. 1992:6). dilakukan kunjungan berikutnya dalam rangka pengumpulan data kuantitatif. Kantor Badan Penasehatan. khususnya Kantor Pengadilan Agama (PA) Kota dan Kabupaten Malang. wawancara kajian dokumen. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian dilakukan baik untuk pengumpulan data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Tim peneliti mengunjungi 6 lokasi tersebut dan mengumpulkan data untuk menjawab semua pertanyaan penelitian yang ditetapkan. Kunjungan ke lokasi penelitian dilakukan beberapa kali sesuai dengan pengumpulan data yang dibutuhkan. 1992). Sebagai upaya melacak kasus yang diberkas P21 dan diajukan untuk diadili. aparat Metode/Teknik Observasi. tersangka lokasi. penghambat Sumber data Lokasi.kasus KDRT Faktor penyebab Penyelesaian kasus KDRT Pendukung. Pelestarian Perkawinan (BP-4) Departemen Agama. Demikian juga peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data dan analisis data penelitian. dok. Pembinaan. Sesuai dengan rancangan penelitian kualitatif multikasus dan multisitus maka penelitian mendalam dilakukan terhadap setiap lokasi (Sevilla. Disamping itu dilakukan juga observasi dan wawancara informal untuk mengawali pengumpuian data kualitatif (Glesne & Peshkin.73. wawancara. peneliti juga mendatangi kantor Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang sebagai lokasi pelengkap. aparat korban.aparat dokumen. Bell. wawancara kajian dokumen. Setelah anjangsana pertama untuk perkenalan dan menyampaikan maksud kedatangan. .

UU PKDRT no 23 tahun 2004 dan berbagai aturan/dokumen mendukungnya dari berbagai kantor terkait. dokumen UU PKDRT. Wawancara informal dan mendalam dilakukan kepada informan kunci yang dijaring dengan menggunakan tehnik purposive. dilakukan needs assessment awal untuk pengembangan strategi sosialisasi dan edukasi untuk aparat dan masyarakat (Pratt. Observasi dilakukan di 6 lokasi untuk memperoleh gambaran prosedur penanganan kasus-kasus keluarga dan khususnya kasus KDRT di masing-masing lokasi. dan bagaimana penyelesaian kasus-kasus tersebut (Sevilla. Gender dalam perspektif Islam. Dokumen tentang berbagai kasus KDRT. 3. 2. 4. Telaah dokumen dilakukan untuk memperoleh informasi tentang profil lokasi. Teknik Pengumpulan Data 1. Kota dan Kabupaten Malang. Telaah buku/literatur yang berkaitan kajian sosiologi tentang kekerasan dan kekerasan dalam rumah tangga. ketimpangan gender yang bisa memicu munculnya kasus KDRT. 5. 2.Sumber Data dan Informan Kunci 1. 1993:85). literature ataupun hasil penelitian terkait kasus-kasus KDRT. 1992:53--58). 4. sebagai langkah awal pemantapan landasan teoritis dan operasionalisasi penelitian (Bell. digali . unit PPA Kepolisian Kota dan Kabupaten ditambah Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang. Pejabat dan staf terkait dari kantor unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang. 1980:52). segala aktifitas dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Pejabat dan staf terkait dari kantor Pengadilan Agama di Kota dan Kabupaten Malang. kasus-kasus KDRT dan penyelesaiannya. serta buku Undang-undang tentang KDRT 3. bagaimana perasaan tersangka maupun korban. Pejabat dan staf terkait dari kantor BP-4 Depag. Lokasi penelitian yaitu 6 kantor: Pengadilan Agama kota dan Kabupaten. BP-4 Depag Kota dan Kabupaten.

3. faktor penghambat. Data dari observasi dianalisis secara diskriptif dan berfungsi sebagai sumber informasi tentang profil kelembagaan.informasi tentang kinerja kebijakan. Kecukupan referensi dapat digunakan untuk membandingkan data yang diperoleh dengan berbagai kritik tertulis yang terkumpul. dokumen dengan data yang diperoleh lewat wawancara informal maupun lewat diskusi. faktorfaktor penyebab terjadinya kasus dan bagaimana UU PKDRT difungsikan untuk mengatasinya. 1984. 1990:135--152). kasus apa yang terjadi. Keabsahan Data 1. 3. Data tersebut dianalisis secara deskriptif komparatif/dibandingkan dikelompokkan menurut variasi jawaban kemudian dibuat rangkuman (Gibbon & Morris. kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi. Keabsahan data kualitatif dilakukan dengan proses trianggulasi antara data yang dijaring lewat telaah literatur. pendukungnya. sarana dan prasarananya dalam menangani kasus-kasus KDRT (Sevilla. Muhajir. 2. Data dari telaah literature dan dokumen dianalisis secara induktifkomparatif dihasilkan komponen-komponen untuk menjawab pertanyaan penelitian (Miles & Hubberman. Moleong. 1990). kinerja/ implementasi UU PKDRT. bagaimana kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi agar UU PKDRT lebih difahami (Moleong. apa pendukung dan penghambatnya. sehingga peneliti bisa memperoleh gambaran yang lebih mantap tentang perolehan data penelitian. 1993:85. 1987:17--24). 1996). Keabsahan data kuantitatif yang dijaga dengan kecermatan penghitungan kasus KDRT yang terjadi di setiap lokasi. pengelompokan kasus yang relevan. Analisis Data 1. 2. Wawancara informal dilakukan berkaitan dengan upaya menjaring data tentang faktor-faktor penyebab kasus KDRT. .

1994:241). 1990:I70--187. Hal tersebut terjadi karena secara kelembagaan PA masih sebagai pengadilan perdata. Ada kemungkinan di masa depan PA juga berfungsi sebagai Pengadilan Pidana. seberat apapun kasus KDRT yang ditangani. HASIL Profil & Peran Kelembagaan Lembaga yang terkait UU PKDRT adalah Pengadilan Agama. yang paling dominan adalah kasus kekerasan psikis dan ekonomi. pologami tak sehat dll. . penganiayaan berat. Ribuan kasus ditangani oleh PA Kabupaten Malang dan ratusan kasus ditangani oleh PA Kota Malang setiap tahun. wawancara staf & ketua pengadilan). Sementara itu jumlah kasus yang di tangani PA Kabupaten jauh lebih banyak lagi yaitu pada tahun ada 7192 kasus. yang sering penyebab konflik dalam rumah tangga bersifat multifactor. yang menangani kasus dan konflik yang terjadi dalam keluarga dengan muatan berbagai bentuk kekerasan ada di dalamnya. Peran kelembagaan PA sebagai pengadilan perdata telah berdampak pada lemahnya perhatian aparat PA terhadap UU PKDRT karena dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka tidak menggunakannya sebagai landasan kerja (wawancara dg staf dan hakim PA 22/7/08). Selain itu juga dilakukan review dengan teman sejawat yaitu antara peneliti dengan tehnisi yang terlibat dalam proses pengumpulan data dalam rangka mencermati keabsahan data (Moleong. Pengadilan Agama merinci factor penyebab mencapai 14 kategori seperti: krisis moral. kekejaman mental. namun kasus-kasus tersebut ditangani secara perdata dengan penyelesaian cerai/rujuk. namun sekarang masih pada tataran wacana di tingkat pusat (wawancara Ketua PA Kota 26/9/08). Denzin.4. tidak ada tanggung jawab. Disini jelas bahwa kinerja lembaga sangat dibatasi oleh status lembaga sebagai pengadilan perdata yang tidak akan membawa kasus sampai ke perkara pidana. Jumlah kasus yang ditangani PA Kota Malang tahun 2006 s/d Agustus 2008 adalah 2789 kasus. penelantaran ekonomi. Oleh karena itu peran PA dalam penanganan kasus KDRT masih dalam lingkup perdata yang berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (Dok PA.

Mereka hanya sekali tempo menggunakan informasi dari UU PKDRT untuk kepentingan konseling dengan klien yang mereka tangani. Rincian jumlah kasus dipaparkan pada Tabel 1. Staf BP-4 juga menyatakan bahwa tidak ada sosialisasi langsung tentang UU PKDRT terhadap mereka. Telah terjadi perubahan paradigma BP-4 yang tercermin dari kepanjangan akronim BP-4. Kasus-kasus yang ditangani banyak yang berlanjut ke Pengadilan Agama menuju perceraian. adalah Badan Penasehatan.Penyelesaian akhir kebanyakan adalah perceraian dan hanya sedikit kasus yang berakhir rujuk. pembinaan dan Pelestarian Perkawinan. Oleh karena itu peran BP-4 hanya pada tahap konseling. Landasan kerjanya juga senada dengan PA yaitu ajaran agama Islam dan hukum Islam. mereka mengetahui UU PKDRT justru dari interaksi dengan orang lain termasuk peneliti. semula sebagai singkatan Badan Penasehatan Perkawinan dan Perselisihan Perceraian menjadi Badan Penasehatan. Kasus-kasus yang ditangani BP-4 Kota pada 3 tahun terakhir berjumlah 183 dengan Di BP-4 Kabupaten Malang ada 43 kasus. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departeman Agama. tidak pernah sampai ke implementasi UU PKDRT sebagai instrument pidana bagi pelaku KDRT. Jumlah . Tabel 1 Kasus KDRT di Pengadilan Agama Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kota Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 9 31 Kekerasan psikis 326 618 267 Kekerasan seksual 15 21 49 Kekerasan ekonomi 430 449 497 Jumlah 788 1097 844 Sumber Dokumen di PA Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kabupaten 2005 8 1472 65 2423 3960 2006 16 1436 158 2316 3926 2007 15 1448 231 2438 4132 2008 55 865 147 1594 2664 Lembaga lain yang terkait dengan kinerja/implementasi UU PKDRT yang menjadi lokasi penelitian. lebih berperan dalam memberi kosultasi/kepenasehatan terhadap kliennya. BP-4 tidak berpihak kepada perceraian tetapi berpihak pada pelestarian perkawinan.

Tabel 2 Kasus KDRT di BP-4 Kota dan Kabupaten Malang BP-4 Kota BP-4 Kabupaten 2008 3 5 8 Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 Kekerasan fisik 2 8 12 5 4 2 Kekerasan psikis 23 22 30 23 5 10 Kekerasan seksual 1 4 7 10 5 8 Kekerasan Ekonomi 7 22 13 27 1 Jumlah 33 56 62 65 15 20 Sumber Dokumen di BP-4 Departemen Agama Kota dan Kabupaten Malang. Rumah sakit. Unit PPA sekarang menjadi tempat pengaduan masyarakat yang mengalami kasus KDRT. Pada awalnya unit PPA ibarat lone ranger yang berjuang sendiri untuk kinerja/implementasi UU PKDRT. Melacak Kinerja/Implementasi UU PKDRT oleh Unit PPA Kepolisian Lembaga yang tanggap paling awal dengan diundangkannya UU PKDRT adalah kepolisian karena disebut secara eksplisit oleh UU PKDRT. perselingkuhan. Oleh karena itu secara kelembagaan unit PPA adalah andalan utama dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. Faktor penyebab konflik rumah tangga antara lain: ketidak cocokan. Untuk kasus-kasus berat yang tidak bisa didamaikan dirujuk ke Pengadilan agama menuju perceraian. dikembangkan RPK (Ruang Pelayanan Khusus) menjadi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak. . masalah ekonomi. kemudian mulai ada kerja sama dengan lembaga terkait seperti Bagian Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten Malang. karena sudah ada kerjasama yang baik dengan Rumah Sakit Kanjuruhan yang membuka Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) sejak tahun 2005 untuk memberi pengobatan dan rawat inap gratis selama 3 hari bagi korban KDRT. Sementara BP-4 Kota Malang menerima semua klien yang datang tanpa membedakan PNS atau bukan. Rincian kasus disajikan di Table 2.kasus di kabupaten relative justru lebih sedikit karena BP-4 Kabupaten lebih memprioritaskan PNS yang sudah membawa surat pengantar dari Badan Pengawas Pemerintah Daerah. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung. Dinas sosial dan LSM.

Layanan kesehatan ini belum dipenuhi secara optimal. Dari sekian banyak kasus yang dominan di Unit PPA Kota maupun Kabupaten adalah kekerasan fisik dan seksual. untuk sementara korban di PPA Kota Malang dirujuk ke RSSA Malang. persetubuhan dengan anak. adik ipar sendiri ataupun dengan remaja tidak berdaya (kasus perstubuhan dengan remaja cacat bisu-tuli). Rincian kasus disajikan pada Tabel 3. penelantaran ekonomi. Jika perlu didampingi . perkosaan. Hak-hak korban dan bentuk pemenuhannya: (1) Perlindungan: korban diberi perlindungan keamanan 1x24 jam di Polres Kota Malang. (2) Kerahasiaan Korban. dijamin dan sudah dipenuhi. mendapat perlindungan hukum dari yang berwewenang dan pelayanan kesehatan. diberikan pelayanan medis gratis. keterlibatan fihak ketiga. perselingkuhan. Dll. korban dirujuk ke Women Crisis Center yang ada di Malang seperti WCC Dian Mutiara. (3) Pendampingan. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang selama 4 tahun terakhir ada 502 kasus. Titian Hati. Tabel 3 Kasus KDRT di PPA Kepolisian Resort Kota dan Kabupaten Malang PPA Kota Malang PPA Kabupaten Malang Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 51 60 60 19 53 87 32 Kekerasan psikis 3 1 16 16 19 9 22 25 Kekerasan seksual 4 17 15 15 51 26 65 18 Kekerasan ekonomi 2 2 2 6 10 36 34 Jumlah 24 71 93 97 85 98 210 109 Sumber Dokumen di Unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang Kasus-kasus KDRT tersebut muncul dengan berbagai penyebab kecemburuan. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang telah punya kerja sama yang baik dengan PPT Rumah Sakit Kanjuruhan yang menggratiskan visum dan rawat inap bagi korban KDRT selama 3 hari. tetapi untuk rawat inap dan visum dokter dalam kasus tertentu belum bisa digratiskan oleh pihak rumah sakit.Jumlah kasus yang ditangani selama 4 tahun terakhir adalah 285 kasus di unit PPA Kota Malang.. perzinaan. namun kadang-kadang bisa muncul/termuat di koran karena kegigihan/kecerobohan wartawan. ketidak puasan.

(3) Kerjasama polisi dengan berbagai fihak untuk perlindungan. saksi. Ketua RT dan Ketua RW. Pemahaman tentang Undang-Undang masih sangat lemah. biasanya pendamping korban dari keluarga atau WCC yang dirujuk (di rujuk PPA). Kerjasama dengan WCC dari psikolog dari UIN Malang. kesehatan. Kesadaran hukum masyarakat masih rendah. dengan cara sosialisasi di lingkungan masyarakat. siapa mereka dan bagaimana peran mereka. Peran Masyarakat. (4) Dalam menjelaskan hak-hak korban. yang disediakan bagi msayarakat yang tertimpa kasus KDRT adalah: (1) Ruang layanan yang cukup mamadai. di lingkungan tempat tinggal misalnya tetangga. dan (4) Membantu proses penetapan perlindungan sudah menjadi bagian dari proses penanganan kasus KDRT hanya saja dalam hal perlindungan peran PPA masih kurang. Kewajiban pemerintah terutama lembaga Unit PPA. (2) Ketersediaan aparat. sosial. paling lama 7 hari korban memperoleh perlindungan keamanan oleh PPA. (2) Memberi perlindungan. unit PPA. dari masyarakat masih kurang. (4) Mekanisme Layanan Standar Kepolisian Unit PPA seperti yang sudah dijelaskan diatas. termasuk kesadaran hukum masyarakat dalam: (1) Mencegah tindak pidana.oleh penasehat hukum. lebih banyak konseling psikologis belum mengarah pada bimbingan keagamaan. (2) Dalam wktu 1x24 jam perlindungan perlu minta surat penetapan perlindungan pengadilan. ada harapan nantinya diwujudkan Pusat Pelayanan terpadu (PP) namun belum maksimal. (3) Sistem mekanisme layanan (kerjasama) yang mudah di akses korban yaitu dengan Women Crisis Center. Perlindungan yang dilakukan oleh unit PPA Kepolisian Kota maupun Kabupaten Malang dengan prosedur: (1) Dalam waktu 1x24 jam sejak laporan. teman korban). Saksi pendamping biasanya mendapat perlindungan dari kepolisian. (3) Memberi pertolongan darurat: yang paling awal adalah orang-orang di lingkungan terdekat terjadinya kasus-kasus. ataupun rohani samapai saat ini mencukupi sesuai dengan kebutuhan. Peran masyarakat masih kurang. dan (5) Perlindungan (pendamping. Perlindungan masih dilakukan oleh petugas kepolisian. belum dapat maksimum karena hanya sebatas memberi nasehat dan melerai agar tidak terjadi kekerasan lebih parah. . keluarga. Demikian juga aparat di tingkat grass roots seperti Lurah dan perangkat desa banyak yang tidak tahu undang-undang PKDRT dan prosedur pelaporan ketika terjadi kasus di wilayahnya. dan (4) Bimbingan Rohani.

dan (4) Untuk kasus bidang ekonomi ada kasus. Bila ternyata korban mencabut laporan. (8) Laporan oleh korban. dan (11) Pelanggaran terhadap perintah perlindungan oleh pelaku belum pernah terjadi. penangkapan pelaku dapat dilakukan tanpa surat perintah jika sudah diyakini sebagai pelaku. tidak ada penangguhan penahanan. paling lama perlindungan 1 tahun bisa diperpanjang sesuai kebutuhan juga belum pernah terjadi. Ketentuan pidana menurut UU PKDRT: (1) Fisik. dengan tuntutan hukuman maksimum: 5th/dan denda 15jt. visum ke RSSA Malang atau Rumah Sakit Kanjuruhan. (10) Dalam waktu 1x24 jam. penuntutan pemeriksaan persidangan. Layanan advocate di PPA Kota Malang. (9) Permohonan perlindungan bisa tertulis/lesan. atau korban memberi kuasa orang lain/kepolisian. mati = 15th/dan denda 45jt. jika kasus berat kerja sama staf PPA dengan Psikolog dan Rumah Sakit Jiwa secara terpadu. dalam 7 hari ketua pengadilan wajib mengeluarkan surat penetapan perlindungan. untuk penyidikan. (2) Jika kasus KDRT Psikis yang menangani adalah staf unit PPA. (6) Pekerja sosial dan layanan konseling. tempat tinggal alternative: kerja sama WCC Dian Mutiara dan Titian Hati. yang dilakukan secara terpadu oleh kepolisian dan Dinas Kesehatan. luka berat = 10th/dan denda 30jt. ada 1 orang. sementara dicari rumah kos yang aman. masalah selesai secara kekeluargaan maka penahanan ditangguhkan. pemulihan korban dilakukan secara terpadu oleh staf PPA dan Dinas Sosial. dengan tuntutan 12th/dan denda 56jt.belum pernah terjadi. pemulihan korban agak sulit ditangani karena menyangkut kemampuan ekonomi keluarga yang mengalami kasus KDRT. memaksa orang dalam rumah tangga melakukan hubungan seksual . ringan= tuntutan 4bl/dan denda 3jt. Pemulihan korban: jika kasus KDRT: (1) Fisik yang menangani adalah RSSA atau di PPT Rumak sakit Kanjuruhan. Rumah aman belum ada. dengan tuntutan maksimum 3th/atau denda 9jt. ringan = 4bl/dan denda 5jt. (2) Psikis. Untuk kasus penelantaran. (5) Pemeriksaan kesehatan. penyelidikan: penyidik atau petugas PPA yang menjelaskan kepada korban.identitas petugas. (7) Layanan pendamping untuk penyidikan dan penuntutan belum ada. yang sering terjadi korban dititipkan ke kerabat yang dipercaya untuk menjaga jarak dari pelaku/tersangka. (3) Untuk kasus seksual maka penanganannya adalah kerjasama staf unit PPA dengan RSSA. (3) Seksual.

5 bulan 7 dan 1 kasus perkosaan yang diputus hukuman 7 tahun. Pengadilan Negeri yang menetapkan hukuman berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. dan (4) Penelantaran: pelaku dituntut hukuman 3th/15jt. masih banyak juga sikap-sikap negatifnya (Irianto & Nurcahyo. 1 kasus dengan terdakwa SS dengan modus menusuk korban sehingga luka berat dituntut hukuman 2 tahun 6 bulan dan diputus hukuman 2 tahun. diadili di Pengadilan Negeri. jika korban mengalami gangguan fisik dan kejiwaan. Sampai saat ini diantara kasus KDRT yang ditangani unit PPA Polresta Malang. Adapun 6 kasus lainnya dengan modus berbagai kekerasan fisik dituntut hukuman bervariasi antara 4 bulan sampai 10 bulan yeng kemudian diputus hukuman 2 bulan 15 hari sampai 9 bulan. Ada 5 kasus yang telah diputus dengan variasi hukuman: 2 bulan 15 hari. 2006: 211--223). disamping bersikap positif.dituntut hukuman 15 th/dan denda 4--15jt. Hal tersebut sejalan dengan sejalan dengan temuan para aktifis hukum bahwa untuk menegakkan hukum yang berperspektif perempuan kesulitan awal adalah pada sumber daya manusia. Kasus yang muncul pada tahun 2008 masih dalam proses pengadilan (Dokumen Pengadilan Negeri Kota Malang). Aparat Polisi. . Bagaimanakah ketentuan tersebut dalam praktek? Lembaga lain sebagai partner Unit PPA dalam penegakan hukum dan implementasi UU PKDRT adalah Kejaksaan dan Pengadilan Negeri. Penelantaran bisa juga pengabaian kewajiban ataupun menciptakan ketergantungan ekonomi pada pelaku. demikian juga Pengadilan Negeri dalam mengadili kasus KDRT masih mengacu pada KUHP. 4 bulan. staf kejaksaan sendiri belum sensitive terhadap UU PKDRT. Untuk Penyelesaian kasus-kasus KDRT. keguguran dan rusak alat reproduksi pelaku dituntut 5--20th/dan denda 25-100jt. Namun dari informasi yang diperoleh. tahun 2006 ada 8 kasus yang telah diputus hukumannya oleh Pengadilan Negeri. Dari kasus-kasus tersebut ada 1 kasus dengan terdakwa WY dengan modus memperkosa korban berulang kali dituntut hukuman 5 tahun dan diputus hukuman 4 tahun. Di Kabupaten Malang. para penegak hukum yang berperspektif perempuan masih kurang. Di berbagai tingkat. ada 9 kasus (tahun 2007) dan 2 kasus (tahun 2008) yang masuk kategori P21 dan diberkas ke Kejaksaan. Jaksa Penuntut Umum dan Hakim dalam menangani kasus.

Ketika hal ini di cross cek ke staf kepolisian unit PPA Kabupaten Malang muncul komentar bahwa putusan tersebut sungguh mengusik rasa keadilan. kasus yang dijatuhi hukuman dalam hitungan tahun adalah kasus perkosaan. tetapi hukuman yang dijatuhkan gletek saja dalam hitungan bulan. pemeriksaan mengikuti ketentuan hukum secara pidana yang berlaku. tidak sepadan dengan proses pemberkasan yang memerlukan kerja keras menyiapkan perlengkapan yang terdiri dari 25 s/d 30 an surat-surat. dan akhirnya kasus-kasus tersebut diputus hukuman terendah 3 bulan 13 hari dan tertinggi hanya satu kasus diputus hukuman 1 tahun 6 bulan sebagaimana tuntutannya. Dari penyelesaian kasus yang masuk kategori P21 dan diproses di Pengadilan Negeri memperoleh putusan yang bervariasi. hanya pasal 44 ayat 4 dan pasal 45 ayat 2. tuntutan hukuman 4 bulan s/d 1 tahun 6 bulan.Tahun 2007 ada 8 kasus yang sudah diputus hukumannya dengan modus operandi berbagai bentuk kekerasan fisik. Ketentuan lain (1) Penyidikan. belum sepenuhnya dipakai sebagai landasan penyelesaian kasus hukum. Pada tahun 2008 s/d bulan Juni ada 6 kasus dengan modus berbagai bentuk kekerasan fisik yang cukup parah dengan tuntutan hukuman 3--5 bulan dan diputus hukuman antara 2 bulan 4 hari s/d 4 bulan. alat bukti sah . Sedangkan kasus dalam berbagai bentuk kekerasan fisik hanya diputus hukuman dalam hitungan bulan saja. Dapat diaktakan jika para penegak hukum sendiri masih belum sensitive dengan peradilan yang berkeadilan gender dan masih dalam proses mengenal dan memahami UU PKDRT. Ada 1 kasus dengan modus perkosaan dituntut 5 tahun yang kemudian diputus 3 tahun 6 bulan. tetapi yang jelas memang kasuskasus KDRT setelah masuk di Pengadilan Negeri diadili dengan KUHP. Dari Ketua unit PPA Kota Malang muncul komentar bahwa proses pengadilan memang ada unsur legal reasoning yang menjadi pertimbangan pemutusan hukuman. selebihnya bukan delik aduan. penuntutan. kendala yang dihadapi adalah saksi KDRT biasanya 1orang sedangkan di KUHP. Dari penelitian ini diperoleh kesan bahwa selama 3-4 tahun kinerja/implementasi UU PKDRT yang diundangkan pada tahun 2004 itu masih dalam tahap pengenalan. jika kasus-kasus diberkas oleh kepolisian dengan UU PKDRT tetapi dalam proses di Pengadilan Negeri lebih berdasarkan KUHP lalu untuk apa UU PKDRT? Untuk menjawabnya diperlukan penelitian lebih lanjut. Nah. Menurut UU PKDRT tindak pidana KDRT adalah delik aduan.

serta kurangnya sarana dan prasarana du unit PPA. atau frustasi karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dsb (Rahayu. Kekerasan adalah wujud perilaku agresif yang pemicunya bisa bersifat eksternal maupun internal. Faktor eksternal seperti kondisi geografis. Berbagai penyebab munculnya kasus KDRT di lembaga lokasi penelitian tersebut sejalan dengan analisis KDRT sebagai fenomena sosiologis dan psikologis. tapi dicabut oleh fihak pelapor. KUHAP seperti sebelum ada UU PKDRT. jika tersangka tidak mengaku maka diperlukan saksi ke-2. kurangnya peran serta masyarakat dan lembaga yang terkait. jadi jaksa minta saksi lagi. sebagai kasus kriminal sangat disayangkan jika ditangani berdasarkan delik aduan. Faktor penghambat utama bagi Pengadilan Agama (PA) dalam optimalisasi kinerja/implementasi UU PKDRT adalah status .jika ada 2 saksi. kemiskinan. maka semakin kuat saja dorongan untuk munculnya tindak kekerasan. termasuk perlunya membangun Musolla yang lebih layak. Untuk kasus penganiayaan berat. peralatan dan ketenagaan yang memadai. penanganan kasus secara pidana merujuk KUHP. 2002) Ada saatnya penyebab perilaku yang bersifat internal dengan eksternal bergabung. rasa tidak suka. merasa dihina. 4/9/08). Hanya saja kantor PA Kota Malang merupakan bangunan yang sudah lama. BAHASAN Faktor Pendukung dan Penghambat Pengadilan Agama Kota maupun Kabupaten Malang memiliki gedung. Sementara faktor internal bisa amarah. kesejangan generasibahkan anonimitas dlam masyarakat perkotaan. Belum. (2) UU PKDRT berlaku sejak 22 September 2004. Dalam hal ini pihak unit PPA menyayangkan terjadinya kasus penganiayaan berat yang layak diproes di Pengadilan Negeri. Kepala PA yang baru merasa sudah saatnya kantor PA Kota Malang direnovasi. diancam. sarana. Muncul wacana yang menyatakan bahwa delik aduan pada UU PKDRT pantas direvisi (Wawancara staf Pengadilan Negeri. Apakah seorang saksi korban cukup untuk menyatakan bersalah jika disertai bukti lain. dan memadai. lingkungan social. dibangun ruang tambahan yang lebih luas untuk kepentingan peningkatan kinerja.

Faktor Penghambat kinerja BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah klien yang datang pada umumnya sudah parah kasusnya. 2006). tidak hanya soal kelembagaan dan pemahaman aparat terhadap undangundang tetapi juga perlunya budaya peradilan yang berperspektif perempuan dan sensitive gender (Irianto & Nurcahyo. hasil observasi peneliti juga menunjukkan bahwa Ketua BP-4 dan staf cukup welcome terhadap klien. tidak sampai ke putusan pidana. tidak ada sosialisasi tentang UU PKDRT ke aparat PA karena rujukan kerja mereka bukan itu. ada ruang khusus untuk kepenasehatan. Penyelesaian kasuskasus yang ditangani hanya diputus cerai atau damai. psikolog. psikiater. Sepanjang informasi yang diperoleh peneliti. Faktor Pendukung di BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah tersedianya kantor yang memadai. Penanganan kasus sudah dilakukan dengan baik. tetapi ruang konseling jarang digunakan. sehingga sulit diarahkan ke rujuk atau damai. (wawancara Pansek PA/16/9/08). Layanan kepenasehatan dilakukan setiap hari pada jam kerja Senin sampai Jumat jam 08. ruang pimpinan dan staf administrasi. mubaligh.00. kasus sudah berat sehingga tujuannya ke perceraian. konselor atau BP.kelembagaan sebagai lembaga pengadilan perdata. Dalam proses kepenasehatan BP-4 melibatkan para volunteer yang terdiri dari ulama. bahkan ketua BP-4 bersedia melakukan konsultasi di ruang kerja. Kasus yang dibawa ke BP-4 Kota berasal dari masyarakat umum baik PNS atau non PNS. Oleh karena itu masih perlu jalan panjang jika bangsa ini memerlukan PA untuk ikut serta menerapkan UU PKDRT.00 sampai dengan 15. Secara kelembagaan di PA sudah mulai muncul wacana di tingkat pusat untuk memfungsikan PA tidak hanya sebagai pengadilan perdata tetapi juga sebagai pengadilan pidana di masa mendatang (wawancara Ketua PA. Kasus pada umumnya disebabkan faktor utama ekonomi dan perbedaan latar . 26/9/08) namun belum ada persiapan kelembagaan maupun ketenagaan dan perangkat hukum pidana dalam keluarga. klien tampaknya lebih senang konsultasi langsung di ruang ketua BP-4 (wawancara staf BP-4 Depag 22/7/08). Oleh karena itu aparat PA kurang termotivasi untuk mempelajari UU PKDRT. Tetapi BP-4 Kabupaten khusus melayani PNS yang sudah diberi pengatar oleh Badan Pengawas Pemerintah Daerah. ketenagaan dan peralatan kantor termasuk computer yang siap digunakan.

fisik dan seksual. rumah inap korban KDRT.belakang keluarga selanjutnya terkait dengan penyebab lainnya seperti kekerasan psikis. diperlukan juga tenaga ahli untuk kasuskasus khusus. BP-4 secara rutin menyelenggarakan ―Suscatin‖ kepanjangan dari kursus calon pengantin. ataupun edukasi kepada muda-mudi calon pengantin sebagai upaya preventif agar mereka tidak terjerumus menjadi pelaku/korban KDRT. ruang kepenasehatan kurang digunakan langsung kemeja kerja ketua. Penampilan para petugas di Unit PPA juga berbeda dari polisi pada umumnya. Dalam Faktor penghambat kinerja Unit PPA. mempunyai desa binaan sebagai desa keluarga sakinah. komunitas yang memerlukan: Panti Asuhan. Belum ada shelter atau tempat penampungan sementara untuk korban yang menunggu kasus disidik atau diselesaikan dan korban belum berani pulang ke rumah. Kanit PPA Kabupaten merasakan perlunya sosialisasi UU PKDRT di tingkat aparat desa seperti lurah dan jajaran aparat desa. semua staf yang berjenis kelamin perempuan bekerja dengan berbagai pakaian seragam non kedinasan sehingga penampilan ramah dan segar tidak menakutkan klien. Mereka memperoleh kesempatan refreshing/professional workshop secara bergilir 2 kali setahun. karena merkalah ujung tombak yang mengawal implementasi UU PKDRT. Disamping itu unit PPA juga didukung oleh tenaga professional dan berdedikasi terhadap tugasnya. Sosialisasi UU KDRT secara insidental dilakukan oleh Kepala Unit PPA Polres Kota maupun Kabupaten Malang lembaga. Faktor pendukung di unit PPA Kepolisian Resor Kota maupun Kabupaten Malang adalah adanya kantor unit tersendiri walaupun tidak luas tetapi cukup fungsional untuk menjalankan aktifitas unit PPA. Dalam implementasi UU PKDRT. Jika ada kasus di daerah mereka. sementara PPA Kota yang mengirim korban ke RSSA masih banyak kendala karena belum terbentuk PPT (Pusat Pelajanan Terpadu) disitu. Sekolah-Sekolah. Kerja sama dengan instansi terkait untuk membantu menangani kasus secara terpadu sangat diperlukan. BP-4 lebih tepat berperan sebagai jalur sosialisasi keberadaan UU PKDRT kepada klien yang datang konsultasi. PJ TKI dsb. diperlukan semacam rumah singgah. mereka . sejumlah 8 orang staf dan 1 orang ketua unit. Komunitas Anak Jalanan. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung karena didukung oleh PPT (Pusat Pelayanan Terpadu) di RS Kanjuruhan.

Oleh karena itu yang paling dominan dilaporkan ke unit PPA adalah kekerasan fisik. tetapi substansi UU PKDRT baik aparat maupun msayarakat di tingkat grass roots tidak tahu. Istilah KDRT memang sudah mulai populer di masyarakat terutama lewat TV. kalau ada kekerasan ekonomi dilaporkan adalah juga karena disertai kekerasan fisik. atau kekerasan seksual. penyelesaian damai banyak terjadi dan jika tidak bisa berdamai lagi diberi pengantar untuk di proses di Pengadilan Agama 3. Di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kota dan Kabupaten Malang adalah lembaga andalan dalam kinerja/ implementtasi UU PKDRT. hampir semua kasus yang masuk jumlahnya mencapai ratusan sampai ribuan setiap tahun ada unsur KDRT. yang paling dominan faktor kekerasan fisik dan ekonomi yang kemudian memicu faktor lainnya penanganan bersifat konseling masih sangat ditonjolkan ditambah dengan penyadaran hukum dengan penahanan dan hukuman kepada tersangka jika tidak mengubah perilakunya. Di Pengadilan Agama baik Kota maupun Kabupaten. penanganan bersifat konseling psikologis dengan pendekatan agama. . namun ditangani secara perdata. Setiap client diberi kesempatan konsultasi 3 kali. 2. kasus yang masuk cukup bervariasi dari segi factor penyebabnya. Faktor penyebab bersifat psikis dan ekonomi paling dominan. kekerasan apa saja yang diancam hukuman pada umumnya mereka mengira hanya kekerasan fisik yang korbannya babak belur. Lembaga ini menangani kasus KDRT yang sangat bervariasi faktor penyebabnya. Di Badan Penasehatan. Sementara kekerasan psikis dan ekonomi sering dianggap bukan kekerasan. penyelesaian berlandaskan hukum perdata dengan putusan cerai dan hanya sebagian kecil saja dengan putusan damai/rujuk.mestinya tahu bagaimana mengurusnya dan kemana melaporkannya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departemen Agama Kota maupun Kabupaten.

untuk kasus seperti ini delik aduan di UU PKDRT dirasa tidak pas digunakan. Ada kasus berat yang bisa masuk kasus criminal tetapi dicabut oleh pihak pelapor. Namun hukuman yang dijatuhkan dengan berdasarkan KUHP dianggap terlalu ringan dan kurang menimbulkan efek jera pada pelaku. Ada beberapa kasus yang masuk kategori P21 yang diberkas untuk dilimpahkan ke kejaksaan dan Pengadilan Negeri dan tersangka benar-benar dijatuhi hukuman. fihak Polres Kota pernah sosialisasi UU PKDRT kepada kepolisian Arhanud dan Brimob. Kehadiran peraturan maupun perundang-undangan adalah merupakan upaya mengubah kehidupan masyarakat/sosial engeenering ke arah kehidupan yang lebih baik. Dinas Sosial Pemkot dan Pemkab Malang. Belum ada unit palayanan terpadu dan shelter. atau dicabut kemudian memproses perceraian. Di unit PPA banyak kasus yang kemudian dicabut/berdamai.4. 6. mereka secara bergilir memperoleh penyegaran 2 X setahun untuk peningkatan profesionalismenya. . 8. Ada beberapa kasus dimana tersangka menghilang dan masuk DPO (Daftar Pencarian Orang/buron). 7. 9 orang tenaga/aparat termasuk kepala unit PPA adalah orang-orang professional dan berdedikasi dalam bidangnya. Oleh karena itu perlu disertai dengan pemembangunan sistem. bantuan ahli untuk kasus-kasus khusus. terbentur keterbatasan dana dan belum adanya strategi/paket untuk sosialisasi/penyuluhan khusus tentang UU PKDRT. Keberadaan UU PKDRT adalah merupakan faktor pendukung paling awal untuk menangani kasus-kasus KDRT. Dalam hal sosialisasi kepada aparat. 5. Saran 1. lembaga dan penyiapkan suamber daya manusia sebagai pelaksananya. ruang konseling masih campur dengan ruang tamu. mengusik rasa keadilan. Sedangkan Polreskab pernah juga mengadakan penyuluhan incidental ke kecamatan. kelurahan dan sekolah-sekolah namun masih sangat jarang. Faktor penghambat yang dirasakan oleh unit PPA adalah belum ada perhatian dari dinas instansi terkait seperti Biro Pemberdayaan Perempuan.

3. 5. Dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. tersedia PPT(Pusat Pelayanan Terpadu) dan shelter bagi korban KDRT. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan perlu ikut serta mendorong kinerja/implementasi dengan mengembangkan strategi/paket sosialisasi UU PKDRT untuk Aparat di tingkat Grass Roots dengan prioritas para lurah dan staf di tingkat desa yang merupakan ujung tombak pengawal aturan. Peran BP-4 juga sangat strategis sebagai lembaga kepenasehatan/ konseling perkawinan yang langsung didatangi masyarakat dari berbagai lapisan.2. siswa/remaja. Perlu ada upaya peningkatan peran kelembagaan PA supaya tidak berhenti pada proses perdata. Pihak Kepolisian yang merupakan pelaksana UU PKDRT utama perlu memperoleh perhatian dan dukungan dari berbagai fihak terkait seperti Biro PP Pemda. Lembaga ini bisa menjadi salah satu jalur sosialisasi UU PKDRT kepada masyarakat. Ide tentang perlunya membangun sistim pengadilan pidana terpadu layak memperoleh perhatian. menghayati pesan UU PKDRT dan prosedur pelaporan kasus ke aparat penegak hukum. Mereka adalah jujukan korban untuk mengadu jika terjadi kasus di wilayahnya. Demikian juga diperlukan strategi/paket edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat seperti guru. 4. 6. Mahkamah Agung perlu juga memikirkan proses sosialisasi ke aparat penegak hukum seperti tidak hanya Polisi tapi juga Jaksa dan Hakim sehingga mereka memahami ruh UU PKDRT dan bisa melaksanakan pengadilan berkeadilan gender. Jika ada kasus yang pantas masuk ke ranah pidana maka dimungkinkan adanya jalur untuk melanjutkan kasus tersebut ke pengadilan pidana. dengan hukuman yang memiliki kekuatan melindungi korban dan membuat jera pelaku. DinasSosial. LSM yang memperhatikan kasus kekerasan dan Rumah Sakit agar ada kerja sama. Mereka harus faham substansi pokok. .

2003. 2001. Noerman K. Dunn. Kemandirian dan Kekerasan Terhadap Isteri. Creswell. Bulletin Psikologi tahun X Nomor 2 Desember 2002. 2007. Harian Kompas. & Lincoln. William N. Himpunan Yurisprudensi Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. 2004. . Yin. Fakih. Denpasar: Yayasan Pustaka Nusantara. Kekerasan Gender dalam pembangunan. Benyamin. Branen. Bria. 20 Maret. Irianto. 1997. Studi Kasus. Puji. hal. Kekerasan terhadap Perempuan dan Bagaimana Menyikapinya. Lidwina Inge. Desain dan Metode. Julia. Irianto. Soka Handinah. Robert K. Pustaka Pelajar. Mansour. London: London Publication. Becoming Qualitatif Researcher. Selasa. New York: Longman Publishing Group. 2000. Sulistyowati & Nurtjahyo. Achie S. Hartiningsih. Glesne & Peskhin. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi. Hoesien. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1992. Edisi kedua. Qualitatif & Quantitatif Approach. John W.DAFTAR RUJUKAN Astuti. Yvonna S. 2004. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Abdul Aziz. Denzin. Kisah Perjalanan Panjang Konvensi Wanita. 2003. Califomia. 2000. Perempuan di Persidangan. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. 2002. Pelatihan Dasar Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Jakarta: Gramedia. Sage Publication.1994. Maria.Yogyakarta. Jakarta: Rajagrafirndo Persada. 1994. Sulistyowati & Luhulima. Jakarta: Kantor Menteri Negara pemberdayaan Perempuan. 35. Katjasungkana. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Jaminan Keadilan Melalui Sistim Peradilan Pidana Terpadu. Handbook of Qualttatif Research. White Plains. Y. Kekerasan Terhadap Perempuan. Kekerasan dalam perspektif Pesantren. Memadu Metode Penelitian Kualitatf dan Kuantitatif. Research Design.

Volume 1/no 2/ Juli 2004. Noeng.2004. Kita Bisa Mendampingi Korban Kekerasan. Dalam Teori Sosiologi Modern. New York Harcourt B. Swabaya: Biro Pemberdayaan Perempuan Sekretarian Daerah Propinsi Jawa Timur. Kekerasan dalam Rumah Tangga. Jakarta. Sinar Grafika. A Practical Introduction. Metodologi Penelitian Kualitatf. Curriculum Design and Developnrent. Rencana Induk P embangunan Nasional Pemberdayaan P erempuan 2000-2004. Jurnal PsikoIslamika. 2004.. . 2004. David. 1990. Pratt. Muhammad. Teori Sosiologi Modern. Bandung: Citra Aditya Bakti. Seccombe. Bandung: Remaja Rosda Karya. 1980. Patricia Madoo & Brantley. hal 167--175.Katjasungkana. 2004. 2007. Undang-undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jurnal Psiko-Islamika. Jill Niebruge. Moleong. California: Wadsworth/Thomson Learning. Metode Penelitian Kualitatf Yogyakarta: Rake Sarasin. 2007. Volume 1/no 2/ Juli 2004. 2000. Teori Feminis Modern. hal 177--187. Relationship in Social Context. Soka Handinah. Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Adalah Tugas Kita Semua. Kekerasan dan Agresifitas. 2004.1984 . Rahayu. K & Warner RL. CM. Qualitatif Data Analysis. Marriage and Families. Jakarta. 1996. Zuhriah. Boston: Pearson Education. Hukum dan Penelitian Hukum. Lengerman. Williams. 2006. 2004. Abdulkadir. George & Goodman. Marriages. AM. Ritzer. Makalah seminar di Dharma Wanita Kabupaten Gresik. Families & Intimate Relationships.J. Siti Malikhah. Prenada Media Group. lexi. 2004. Pemerintah Republik Indonesia. Douglas J. California: Sage Publication Inc. BK &Sawyer SC & Wahlstrom. Jakarta: Kencana Prenada media Group. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Muhajir. Towaf. MB & Hubberman. Iin Tri. Erfaniah. Miles.

PT. Penulisan ini berusaha menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). PLN Puji Handayati adalah dosen Jurusan Manajemen dan Tri Laksiani adalah dosen Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang . PLN (Persero) dalam mengatasi masalah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan (2) Untuk mengetahui bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang dapat mengatasi konflik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Kata-kata kunci: saluran udara ekstra tinggi (SUTET). jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. Berdaasarkan jenis data dan analisis yang digunakan.Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati Tri Laksiani Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan. menguji hipotesis. PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan. dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7) penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau bidang tertentu.

Inggris. bahkan mengakibatkan kematian bagi orang yang menyentuhnya secara langsung. (www. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. bahwa gelombang elektromagnetik dari listrik tegangan tinggi dapat menimbulkan kanker. Finlandia. Denmark. seperti Swedia. pemerintahan dan masyarakat luas. perdagangan. PLN (Perusahaan Listrik Negara) Persero untuk menyediakan tenaga listrik dalam berbagai kebutuhan industri. ekonomi. Selain itu. Namun listrik juga dapat menimbulkan masalah jika dalam penggunaannya tidak tepat. Diakses tanggal 6 Februari 2006) . Bahkan ilmuwan dari ITB juga mengungkapkan medan listrik dapat menimbulkan stres. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan. Hal ini karena kabel bertegangan tinggi bisa menarik partikel gas radon yang tidak berbau dan tidak berwarna di sekitarnya yang kemudian meluruhkannya. Diakses pada 6 Februari 2006) Demikian pula dalam studi tahun 1996 yang dilakukan tim fisikawan Universitas Bristol. Perancis. Inggris mendukung pendapat. Sejak penelitian di Denver ini para peneliti lainnya mulai tertarik. kemudian mentransformasikan sel-sel tubuh yang ditempati menjadi sel kanker (www. termasuk peneliti di luar AS. Pernyataan ini didukung oleh berbagai penelitian antara lain.edu. Sebagian partikel luruhan bersifat karsinogenik dan oleh medan listrik dikonsentrasikan pada bagian tubuh tertentu. Selain itu juga dapat menimbulkan penyakit tumor susunan saraf jika masyarakat tinggal di dekat jaringan tinggi tersebut. penelitian yang dilakukan oleh Nancy Wertheimer dan Ed Leeper (1979) membuktikan bahwa anak-anak di denver. Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa orang yang tinggal dibawah tegangan tinggi bisa terkena kanker otak dan berkaitan dengan penurunan gairah seksual. Aliran tegangan tinggi sangat berbahaya bagi masyarakat.edu.hamline. Berbagai penelitian membuktikan adanya hubungan antara listrik tegangan tinggi dengan penyakti kanker dan leukimia pada anakanak bjkan orang dewasa. Kanada.Pembangunan ekonomi yang tumbuh dengan cepat menuntut PT.hamline. listrik merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Colorado mengalami kemungkinan terserang penyakit leukimia dua atau tiga kali dibandingkan orang dewasa.

M.com. peneliti dari Depkes RI di SUTET Cibinong dan Bekasi.com diakses pada 26 Desember) . Sebuah riset di Washington AS tahun 1950-1982 melaporkan adanya kematian 486 ribu pekerja teknisi listrik. berhasil membedakan kelompok penduduk yang beresiko terpapar dan tidak terpapar berdasarkan jarak tempat tinggal dengan jarak listrik terpasang. Sementara di Swedia. Anies. Tegal (2004). Untung. Pada awal tahun 1980-an dari Selandia Baru dilaporkan ada 546 kasus leukimia pada para perakit alat-alat listrik serta pekerja yang memperbaiki radio dan televisi. Hasil penemuan Anies menyimpulkan bahwa ketiga gejala tersebut dapat dialami sekaligus oleh seseorang. Dr.Kes. dan operator proyektor bioskop meninggal akibat leukimiaa dan limfoma non Hodgkins. pening (dizzines). pekerja di peleburan alumunium. PKK.Di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa selama lima dasawarsa terakhir melaporkan adanya beberapa gangguan kesehatan akibat paparan medan elektromagnetik dan medan magnet secara terusmenerus dalam jangka panjang. Gangguan kesehatan itu terutama menyerang anak-anak antara lain leukimia (kanker darah). Diakses 7 Februari 2006) Berdasarkan hasil penelitian Dr. Pemalang. operator radio dan telegraf. Kab. radius 500 meter diperkirakan masih memiliki risiko terpapar. Menurut Prof.republika. Hasilnya. Baik melalui transmisi. pada penduduk di bawah saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV di Kab. yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache). ditemukakan adanya risiko kanker pada 463 kasus pekerja gardu listrik dan 263 kasus pada pekerja pemasangan kabel transmisi. dan Kab. Tahun 1973. atau peralatan bertenagalistrik. menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome). distribusi listrik tegangan tinggi. sehingga penemuan baru ini diwacanakan sebagai Trias Aniesa (www. (www. dalam penelitian yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto. Pekalongan. Penelitian lain di Inggris dan New South Wales pada 1970-1972 mencatat kematian para pekerja operator telegram dan ahli teknik yang disebabkan oleh leukimia mieloid akut.pikiranrakyat. ditemukan angka risiko leukimia pada pekerja kelistrikan meningkatkan dua kali lipat.

gangguan tidur. (4) kardiovaskuler.Menurut WHO. Tim yang diketuai oleh Guru Besar Bidang Biologi Reproduksi FKUI. (2) reproduksi. (6) psikologis. yaitu kasus yang terjadi di daerah Cibinong dan Bekasi. telinga berdenging. Prof. (3) syaraf. Ini timbul akibat rusak atau kacaunya kerja jaringan endokrin (hormonal) tubuh karena adanya aliran listrik tersebut. gangguan konsentrasi. tanda dan gejala lain yang dapat dijumpai adalah jantung berdebar-debar. kulit meruam. (5) endokrin.pikiranrakyat. Anies Universitas Diponegoro (1993). kebingungan. (www. Jawa Barat.(www. perlu dilakukan penyuluhan yang efektif kepada masyarakat umum. berusaha melihat keadaan hubungan sosial ekonomi dan gangguan SUTET yang dikeluhkan seperti yang diberitakan di media massa. rasa mual dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya. dapat terjadi pada sistem: (1) darah. dari hasil pengukuran ternyata kuat medan listrik dan kuat medan magnet dari SUTET masih jauh di bawah ambang batas rekomendasi WHO/IRPA sehingga dalam batas tertentu. Bergdahl dan Grant.com diakses pada 26 Desember) Sebuah riset dilakukan selama 10 tahun terakhir oleh Tim Bagian Biologi FKUI. serta gangguan kejiwaan berupa depresi. Berdasarkan Diktat Diklat yang dikarang oleh kumpulan pengajar Jasdik PLN Pusat tahun 2004. SUTET tidak akan menimbulkan masalah kesehatan. potensi gangguan kesehatan yang timbul akibat SUTET 500 kV. menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara keterpaparan penduduk yang ada di sekitar maupun yang berada di bawah jaringan .republika. berhasil membuktikan korelasi antara listrik dan beberapa penyakit. Menurut Rea. Dr. menyebutkan bahwa penelitian sosiologi yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto (1995) serta Ganihartono (1995). berhasil menemukan bahwa medan elektomagnetik yang ditimbulkan dari saluran kabel dan gardu listrik tegangan tinggi dan alat-alat listrik di rumah bisa berisiko terhadap kesehatan manusia. dr. dan (7) hipersensitivitas. Oentoeng Soeradi. kejang otot. Namun kekhawatiran masyarakat merupakan hal yang wajar dan sebagai upaya untuk mengurangi dampak negatif SUTET terhadap kesehatan masyarakat. Diakses pada 6 Februari 2006) Tetapi dalam bebarapa penelitian lain mengungkapkan bahwa radiasi elektromagnetik tidak mempunyai korelasi dengan kesehatan. muka terbakar.com. Hal ini didukung dengan berbagai penelitian antara lain penelitian yang dilakukan oleh Dr.

sehingga harus memperhatikan tanggungjawab untuk kepentingan bersama. Di sini terbukti sebuah korporasi atau perusahaan mempunyai tanggungjawab sosial terhadap stakeholder dan lingkungannya. bradycardia. Selain itu.swa. memunculkan pertanyaan mengenai tanggungjawab perusahaan atas lingkungan dan masyarakat sekitar. Setiap keputusan yang akan diambil. Diakses pada 26 Desember 2006) Dari fenomena inilah muncul tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). (Jasdik PLN Pusat: 2004) Melihat adanya dampak dari aktivitas produksi perusahaan (corporation) yang besar pada masyarakat. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ir. CSR muncul akibat tekanan . David C. diperoleh data bahwa kuat medan listrik dan kuat medan magnet masih jauh di bawah level toleransi berdasarkan standar IRPA dan INRC. (www. Gresik serta Dharmahusada Indah Surabaya. Karena setiap tindakan yang diambil korporasi membawa dampak yang nyata terhadap kualitas kehidupan manusia baik terhadap individu. melukiskan bahwa dunia bisnis selama setengah abad terakhir telah menjadi institusi paling berkuasa. dan seluruh kehidupan. kelelahan. Masalah yang dihadapi penduduk lebih mengaraah kepada masalah psikologis dan tuntutan mendapatkan ganti rugi. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Budi Haryanto SKM. keguguran. Syarifudin Mahmudsyah M.id. tindakan yang dilakukan harus mengacu dalam rangka keeangka tanggungjawab tersebut. Msc.SUTET dengan penyakit yang dilaporkan atau tingkat kesehatan masyarakat. Korten. Dr. susah tidur.co. Oleh karena itu muncul pula kesadaran untuk mengurangi dampak negatif tersebut. tachycardia. indikasi tumor dan leukimia terhadap pajanan medan listrik dan medan magnet. masyarakat menginginkan produk-produk yang ramah lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial dan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM). menunjukkan tidak ada korelasi antara gangguan kesehatan seperti sakit kepala. Hal ini menimbulkan kesadaran tentang pentingnya menerapkan tanggungjawab sosial terhadap stakeholder. pusing.Eng dari Fakultas Elektro ITS mengenai dampak medan elektromagnetik akibat pemakaian tenaga listrik SUTET 500 kV di daerah Singosari. Balitbang Depkes RI (1995-1996). masyarakat.

Menurut Bank Dunia. Pada dasarnya PT. serta masyarakat lokal ataupun masyarakat luas. perlindungan kesehatan. standart usaha. namun dalam perkembangannya masih juga terdapat konflik seperti yang telah dipaparkan di atas. komunitas lokal dan masyarakat luas untuk memperbaiki kualitas hidup. perwakilan mereka. sekaligus meningkatkan kualitas hidup karyawannya. dimana keduanya baik untuk bisnis maupun pengembangan. the local community and society at large to improve quality of life. pasar. interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat. in ways that are both good for business and good for development‖. Gagasan CSR menekankan bahwa tanggungjawab perusahaan bukan lagi sekadar kegiatan ekonomi (menciptakan profit demi kelangsungan usaha). tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama. jaminan kerja. hak asasi manusia. Corporate Social Responsibility (CSR) mempunyai definisi dalam beberapa versi karena implementasi yang dilakukan oleh perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya berbeda-beda. 1. kepemimpinan dan pendidikan. yaitu: perlindungan lingkungan.dan desakan berbagai organisasi semacam LSM karena terjadinya malpraktik di dunia bisnis. melainkan juga tanggungjawab sosial dan lingkungan. Definisi Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai sebuah konsep.PLN (Persero) sudah menerapkan CSR. bantuan bencana kemanusiaan. Menurut versi Bank Dunia dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember11 Januari 2006 definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives. pengembangan ekonomi dan badan usaha. Menurut World Council for Sustainable Development definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen berkelanjutan dari bisnis untuk berperilaku dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi. Pemikiran ini didasarkan bahwa perusahaan tidak hanya berkewajiban ekonomis dan legal . CSR adalah komitmen bisnis sebagai kontribusi untuk keberlanjutan perkembangan ekonomi yang bekerja sama dengan pekerja.

lingkungan dan sosial. . komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas (www. CSR adalah adanya segitiga dalam kehidupan stakeholders yang mesti diperhatikan korporasi di tengah usahanya mencari keuntungan. tapi juga pada pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). Menurut Elkington (1997) dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember – 11 Januari 2006. Trinidad and Tobacco Bureau of Standard (TTBS) menyimpulkan bahwa CSR terkait dengan nilai dan standar yang dilakukan berkenaan dengan beroperasinya sebuah korporat. Dan menurut Tony Djogo (2005). Dari berbagai definisi di atas.fajaronline. yang kemudian diilustrasikan dalam bentuk segitiga. co. (www. dengan para stakeholder dengan dasar sukarela.id.id Diakses pada 29 Januari 2006). Sedangkan menurut versi Uni Eropa Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is concept whereby companies intregate social and environmental concerns in their business operations and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basis‖ CSR merupakann konsep di mana perusahaan mengintegrasikan masyarakat dan lingkungan dalam kegiatan bisnis dan interaksi mereka. beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi. sejauh ini definisi yang banyak digunakan adalah pemikiran Elkington tentang triple bottom line.(shareholders).co. masyarakat danlingkungan. yang jangkauannya melebihi kewajiban di atas. bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup karyawan. Diakses pada 29 Januari 2006). yaitu ekonomi. CSR adalah pengambilan keputusan yang dikaitkan dengan nilai-nilai etika. memenuhi kaidah-kaidah dan keputusan hukum dan menghargai manusia.fajaronline. maka CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk bertindak etis.

Menurut Chrysanti Hasibuan Sedyono (2004). Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai Kebijakan Perusahaan Keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri di sebuah kawasan. model CSR membagi kewajiban perusahaan menjadi empat jenis tanggungjawab atau yang dikenal dengan model empat sisi. baik lokal. yaitu adanya empat tanggungjawab perusahaan yang bersifat ekonomis. atas kemampuan perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. (2) misi lingkungan. korporat. (3) tanggung jawab sosial. Selain kewajiban ekonomis dan legal. artinya memperoleh laba bagi pemegang sahamnya. maupun global. di antaranya adalah. dan pemerintah). com. dan sebagainya). menyetujui adanya perubahan pembangunan. mematuhi peraturan dan hukum (berhubungan dengan lingkungan. (4) terimplementasi dalam kebijakan (masyarakat. dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).Gambar 1 Segitiga Dalam Kehidupan Stakeholders Social Lingkungan Ekonomi Sumber: Majalah SWA Edisi 29/XXI/19 Desember 2005 – 11 Januari 2006 2.fajaronline. Diakses pada 25 Januari 2006). komunitas dan stakeholders yang terkait. Ada lima elemen sehingga konsep keberlanjutan menjadi penting. ada kewajiban-kewajiban lain terhadap . nasional. Hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Jeneiro Brazilia (1992). legal. dan (5) mempunyai nilai keuntungan (www. (1) ketersediaan dana. dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholders yang difasilitasi perusahaan tersebut dan menyusun program-program pengembangan masyarakat yang ada di sekitarnya.

merah. seperti masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat. Sehubungan dengan praktik CSR. tetapi dengan terpaksa. Kelompok merah adalah pengusaha yang mulai melaksanakan praktik CSR. Pengusaha ini menempatkan CSR sebagai nilai inti dan menganggap sebagai suatu . Kelompok ini umumnya berasal dari kelompok satu (kelompok hitam) yang mendapat tekanan dari stakeholders-nya. kelompok hijau. dan menilai CSR sebagai investasi. diantaranya: kelompok hitam. bukan biaya. yaitu ethical dimana perusahaan harus memnuhi kaidah-kaidah normatif. Kelompok keempat. Model tanggung jawab selanjutnya bersifat discretionary. dan tidak korupsi. Kelompok ini sama sekali tidak peduli pada aspek lingkungan dan sosial di sekelilingnya dalam menjalankan usaha. kelompok ini secara sukarela dan sungguh-sungguh melaksanakan praktik CSR dan yakin investasi sosial ini akan memperlancar operasional usaha. tidak membeda-bedakan ras dan gender.stakeholders di luar pemegang saham. menurut Rudi Fajar (2005) pengusaha dapat dikelompokkan menjadi empat. Seperti halnya investasi. Perusahaan akan mendapatkan image positif karena masyarakat menilai pengusaha tersebut membantu dengan sungguh-sungguh. transparan. Oleh karena itu. yaitu pengusaha yang menjalankan bisnis hanya untuk kepentingan sendiri. kelompok ini menganggap praktik CSR sebagai investasi sosial jangka panjang. yaitu tanggung jawab yang sebenarnya tidak harus dilakukan. dan biasanya dilakukan setelah mendapat tekanan dari pihak lain. bahkan tidak memperhatikan kesejahteraan karyawannya. CSR jenis ini kurang berdampak pada pembentukan image positif perusahaan karena masyarakat melihat kelompok ini memerlukan tekanan sebelum melakukan praktik CSR. merupakan kelompok yang sungguh-sungguh dan sukarela melaksanakan praktik CSR. tetapi memandangnya hanya sebagai komponen biaya yang akan mengurangi keuntungan. Kelompok ketiga adalah pengusaha yang menganggap praktik CSR akan memberi dampak positif (return) terhadap usahanya. tetapi atas kemauan sendiri misalnya pemberian beasiswaa. Kelompok hitam adalah pengusaha yang tidak melakukan praktik CSR sama sekali. termasuk kesejahteraan karyawan. biru dan hijau. Aspek lingkungan dan sosial mulai dipertimbangkan. Seperti berlaku fair. kemudian dengan terpaksa memperhatikan isu lingkungan dan sosial.

com Diakses pada 29 januari 2006). karena 80% perusahaan menganggap CSR penting bagi perusahaan. strategi perusahaan. sosial dan kesejahteraan karyawannya serta melaksanakan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Menurut Teguh S. CSR dilakukan untuk memberi kesan korporasi yang peduli terhadap kepentingan sosial. Oleh karena itu. legitimasi. nilai tambah bagi stakeholders. dari hasil survey yang dilakukan oleh majalah SWA dalam CSR Award 2005. bahkan kebutuhan. Hamann dan Acutt (2003). kelompok ini tidak saja mendapatkan image positif. yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik. Kelompok ini juga memasukan CSR sebagai bagian yang terintegrasi ke dalam bisnis atas dasar kepercayaan bahwa suatu usaha harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial. yaitu sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan. Pertama. Realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya. Selainitu. agar perusahaan dapat terus beroperasi. yaitu kepercayaan bahwa ada nilai tukar (tradeoff) atas triple bottom line (aspek ekonomi. tetapi juga kepercayaan dari masyarakat yang selalu siap mendukung keberlanjutan usaha kelompok ini. menelaah ada dua motivasi utama yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana. perusahaan-perusahaan di Indonesia banyak yang sudah menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR). lingkungan dan sosial).keharusan. 48. akomodasi. Selain menjadikan CSR sebagai visi dan misi. (www. . dan menjadikannya sebagai modal sosial (ekuitas). dan parsial. Kedua. pengusaha ini yakin bahwa tanpa melaksanakan CSR. superficial.tempo. Pambudi (2005) dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. tumbuh dan berkembang bersam masyarakat. perusahaan juga menjadikannya sebagai strategi bisnis. tidak memiliki modal yang harus dimiliki dalam menjalankan usahanya.89% responden memasukkan unsur-unsur CSR kemudian menjadikan CSR sebagai bagian dari visi dan misi perusahaan. Sebagai hasilnya. implementasi nilai-nilai perusahaan serta karena alasan kewajiban. Pengusaha tersebut sangat memperhatikan aspek lingkungan. Ada beberapa alasan perusahaan menjalankan CSR.

yaitu perusahaan menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan konflik.Menurut Darwina (2005). Pandangan lain tentang CSR oleh Prince of Wales International Business Forum yang dipromosikan oleh IBL (Indonesia Business Links) dalam SWA edisi26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006 lewat pilar antara lain: a. kegiatan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat. artinya perusahaann dijalankann dalam tata pamong yang baik. lingkungan. Ketiga. e. dan ekonomi. dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. c. Pambudi (2005). yaitu menyangkut kemampuan perusahaan untuk memiliki dukungann sumber daya manusia yang handal (internal) dab eksternal (masyarakat sekitar). . kedua. sebagai beyond compliance yaitu perusahaan merasa sebagai sebagian dari komunitas yang secara sadar dianggap sebagai sesuatu yang penting. ketiga. kelima. meningkatkan citra perusahaan. keenam. Protecting the environment. dan terakhir. sebagai kewajiban dan tanggung jawab perusahaan. implementasi nilai-nilai perusahaan. cara perusahaan memandang CSR ada tujuh yaitu: pertama. agar perusahaan dapat terus beroperasi. ada beberapa cara perusahaan dalam memandang aktivitas CSR antara lain: pertama. 3. Encouraging good governance. yaitu memberdayakan ekonomi komunitas. Sedangkan menurut Teguh S. keempat. program-program CSR yang dijalankan perusahaan meliputi bidang sosial. b. Strengthening economies. program untuk menjadikan masyarakat lebih mandiri. sebagai compliance atau kewajiban karena akan ada hukum yang memaksa untuk menerapkan konsep CSR tersebut. Pambudi (2005). hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan lingkungan. Program yang Dijalankan Perusahaan dalam Corporate Social Responsibility (CSR) Menurut Teguh S. d. Building Human Capital. artinya perusahaan harus menjaga kelestarian lingkungan. Assessing social cohession. Kedua. sebagai strategi perusahaan yang pada akhirnya dapat mendatangkan keuntungan.

pengembangan agrobisnis. Program-program CSR ini biasanya dijalankan dalam waktu yang berbeda-beda sesuai dengan perusahaann masing-masing: kurang dari 1 tahun. dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. Pelaksanaan proram-program CSR dapat dilakukan perusahaan dengan cara bekerja sama dengan pihak lain. Menurut Sita Soepomo (2004). Di sini perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholders. kredit pembiayaan dan bantuan modal untuk pengembangan usaha. antara lain dengan memberikan beasiswa dan pemberdayaan ekonomi terhadap lingkungan. Stakeholders Dalam prinsip responsibility. pengelolaan limbah. 6-7 tahun. Sedangkan program CSR dalam bidang lingkungan adalah pembinaan dan kampanye lingkungan hidup. kemitraan dalam penyediaan kebutuhan dan bahan baku produksi. pembangunan sarana air bersih. 3--5 tahun. 1-2 tahun. pembangunan dan renovasi sarana sekolah. serta pemberdayaan dan pengembangan tenaga kerja lokal. Program-program CSR yang dijalankan perusahaan dalam bidang ekonomi antara lain: pemebrdayaan dan pembinaan UKM dan pengusaha. seperti aspek keselamatan kerja. pengelolaan fisik agar lebih asri. yayasan milik perusahaan. pihak ketiga dan dilakukan oleh perusahaan itu sendiri.Program-program bidang sosial antara lain: pelayanan dan kampanye kesehatan. pengembangan skill karyawan dan kepemilikan saham. Di komunitas. 8--10 tahun serta lebih daari 11 tahun. sumbangan sosial untuk bencana alam. penanaman pohon atau penghijauan dan pertanian anorganik. penekanan yang signifikan diberikan pada kepentingan stakeholders perusahaan. beasiswa pendidikan. sekolah binaan serta pendidikan dan pelatihan teknologi informasi. CSR dipraktekkan dalam tiga wilayah atau area antara lain: di tempat kerja. menciptakan nilai tambah (value added) dari produk. stakeholders . 4. antara lain pelestarian lingkungan dan pross produksi yang ramah lingkungan. yayasan yang bekerjasama dengan pihak ketiga. Menurut Gurvy Kavei dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006.

Tetapi tanggung jawab perusahaan harus berpedoman pada triple bottom lines. konsumen. d) Kelompok khusus. c) Pemerintah. struktur yang mengatur perusahaan publik yang memungkinkan pemegang saham untuk . b) Pemegang saham dan dewan direksi. misalnya. b) Pemasok.perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. 2. lingkungan sekitar. CSR sebagai sebuah gagasan. dan pemerintah sebagai regulator. f) Serikat pekerja. misalnya pecinta alam yang peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan. Internal stakeholder Pihak yang berkepentingan internal atau stakeholder. Menurut J. pelanggan bisa perorangan maupun lembaga. bank. lembaga sewa guna yang dapat membantu dalam pemenuhan modal. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpedoman pada single bottom line. menukarkan sumber daya dengan barang atau jasa yang dihasilkan oleh dunia usaha. yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. Di sini bottom lines selain finansial adalah soal dan lingkungan. terdiri dari: a) Karyawan. Eksternal stakeholder Pihak yang berkepentingan eksternal antara lain: a) Pelanggan. dengan keterampilan dan pendidikan yang memadai akan sangat membantu dunia usaha dalam menjalankan usahanya. dengan memperhatikan dan membela hak konsumen. masyarakat. berkenaan dengan penentuan upah kondisi kerja dan sebagainya. bertindak untuk membantu dan melindungi industri dengan peraturan dan undang-undang. pemasok. e) Lembaga konsumen. lingkungan yang berpengaruh langsung terhadap perusahaan adalah pihak yang berkepentingan (stakeholders) dibagi menjadi dua. g) Lembaga keuangan. yaitu: 1. Termasuk di dalamnya adalah karyawan. dengan adanya faktor-faktor produksi memungkinkan dunia usaha melakukan kegiatan produksi. Sudarsono (2002). contoh: lembaga perlindungan konsumen.

usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang. Pertama. transmisi. Kedua. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) didasarkan pada Pasal 8 UU No. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. dan pemeliharaan instalasi.mempengaruhi suatu perusahaan dengan menggunakan hak suara. pembangunan. Industri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik Menurut Rancangan Undang-Undang Tentang Ketenagalistrikan. pengoperasian. serta jasa terkait lainnya. distribusi. pengujian. agen penjualan. penjualan. pengelola pasar dan pengelola sistem. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) adalah transmisi tenaga listrik yang menggunakan konduktor di udara bertegangan nominal 275 kV dan 500 kV yang selanjutnya disebut SUTET. Gambar 2 Model Stakeholder dalam Sebuah Perusahaan Pelanggan Manajemen Komunitas Lokal Perusahaan Pemasok Karyawan Konsumen Sumber : Pengantar Ekonomi Perusahaan (2002) 5. Sedangkan transmisi tenaga listrik adalah penyaluran tenaga listrik dari suatu pembangkitan ke suatu sistem distribusi atau kepada konsumen. pemasangan. .

Konduktor adalah pilihan kawat yang dipergunakan untuk menyalurkan energi listrik. elektron yang membawa arus listrik pada jaringan tegangan tinggi akan bergerak lebih cepat bila perbedaan tegangannya makin tinggi. Akibat ion yang menggandakan diri dan elektron ini (peristiwa avalanche) akan menimbulkan korona berupa percikan busur cahaya yang disertai pula dengan suara mendesis dan bau khusus yang disebut dengan bau ozone. Ionisasi terjadi karena elektron sebagai partikel yang bermuatan negatif dalam gerakannya bertumbukan dengan molekul-molekul udara sehingga timbul ionisasi berupa ion-ion dan elektron baru. akan menyebabkan timbulnya medan magnet maupun medan listrik. Elektron bebas yang terdapat dalam udara dim sekitar jaringan tegangan tinggi.sehingga gerakannya akan makin cepat dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya ionisasi di udara. Proses ini akan terus berjalan selama ada arus pada jaringan tegangan tinggi yang mengakibatkan ion dan elektron menjadi berlipat ganda terlebih lagi bila gradien tegangannya cukup tinggi. Peristiwa avalanche dan timbulnya korona akibat adanya medan magnet dan medan listrik pada jaringan tegangan tinggi inilah yang sering disamakan dengan radiasi gelombang elektromagnet atau radiasi tegangan tinggi. . Secara teoritis. Elektron yang membawa arus listrik pada jaringan interkoneksi dan juga pada jaringan transmisi.atau penyaluran tenaga listrik antar sistem. akan terpengaruh oleh adanya medan magnet dan medan listrik. Udara yang lembab karena adanya pohon di bawah jaringan tegangan tinggi akan lebih mempercepat terbentuknya pelipatan ion dan elektron yang disebut dengan avalanche.

Sedangkan Rusia menetapkan batas aman radiasi tegangan tinggi dengan faktor 1000 lebih rendah dari yang telah ditetapkan Amerika Serikat. telah menetapkan batas aman sebesar 0.2 mikro Weber/m2.Gambar 3 Grafik Perkembangan Daya Listrik Grafik 14 12 10 8 6 4 2 0 1958/69 1973/74 1978/79 1983/84 1988/89 1993/94 Amerika Serikat sebagai negara industri yang banyak menggunakan jaringan tegangan tinggi. GigaWatt Tahun Series1 . Adanya perbedaan penetapan batas aman ini disebabkan oleh penelitian mengenai dampak radiasi tegangan tinggi terhadap manusia masih belum selesai dan terus dilakukan.

Ruang aman adalah ruang yang berada di luar ruang bebas yang tanahnya masih dapat dimanfaatkan. tekanan angin dan suhu penghantar. makin besar tegangan yang bekerja pada penghantar makin besar jarak bebas minimum (clearance) yaitu jarak terpendek antara kawat penghantar dan benda atau kegiatan lainnya sesuai dengan yang tertera pada table. makhluk hidup lain maupun benda apapun demi keselamatan orang. makin besar tekanan angin. makhluk dan benda lain tersebut demikian pula keamanann dari SUTET itu sendiri. penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengnai populasi atau bidang tertentu. sehingga andongannya menjadi lebih besar. dan (3) Suhu kawat penghantar. Ruang tersebut harus dibebaskan dari orang. Bahaya Listrik pada Tegangan Ekstra Tinggi Bahaya listrik pada tegangan ekstra tinggi yang paling dominan adalah gradien tegangan ekstra tinggi itu sendiri terhadap makhluk hidup maupun terhadap benda-benda lain yang berada pada daerah sekitarnya. dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7). Kenaikan suhu tersebut disebabkan oleh suhu keliling dan suhu yang diakibatkan oleh besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar. (2) Angin. Ruang bebas adalah ruang di sekeliling penghantar (kawat listrik) SUTET yang besarnya tergantung besarnya tegangan. METODE Berdasarkan jenis data dan analisis yang digunakan. kekuatan angin dan suhu di sekitar penghantar antara lain: (1)Tegangan.6. Penulisan ini berusaha . Faktor-faktor yang menentukan Ruang Bebas dan Ruang Aman adalah tegangan. makin besar suhu yang mempengaruhi kawat penghantar makin mengendor kawat penghantar tersebut. Sebagai contoh Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dimana saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (penghantar) di udara bertegangan di atas 245 kV sesuai dengan standart di bidang ketenagalistrikan. makin besar ayunan kawat penghantar ke kiri atau ke kanan. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. hal ini sudah diperhitungkan pada saat mendesaian SUTET tersebut.

Data tersebut berupa informasi dari studi pustaka berupa majalah. Pada metode ini peneliti hanya memindahkan data yang relevan daaari sumber informasi atau dokumen yang diperlukan. Dokumentasi Yaitu membaca laporan penelitian-penelitian sebelumnya serta artikel yang diakses dari internet. buku-buku dan hasil penelitian yang mendukung. penulis menggunakan metode: 1. Wawancara Menurut Nazir (199:234) adalah memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatap muka antara pewawancara dengan responden.menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Dalam penulisan ini data primer diperoleh dari Kepala PLN Kota Malang. Penulisan ini menggunakan data kualitatif. Kepala Kelurahan Purwodadi. yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau pernyataan berupa data primer dan data sekunder. Berdasarkan tujuan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi. koran. Sedangkan data sekunder atau data pendukung yaitu. dan warga yang tinggal di sekitar SUTET di Kelurahan Purwodadi. 1997:6). serta artikel atau tulisan yang diakses dari internet. Menurut Subagyo (1997:106) analisis kualitatif adalah analisis yang dilakukan terhadap data yang berupa informasi. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tiddak bermaksud mencari penjelasan. 2. serta warga Kelurahan Purwodadi. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Wawancara dilakukan dengan Kepala PLN Kota Malang. Kepala Kelurahan Purwodadi. Data primer yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan atau langsung melalui objeknya (Supranto. berupa publikasi (Supranto.1997:6). Datadata yang dihimpun merupakan data yang berhubungan dengan berbagai hal mengenai Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan Corporate Social Responsibility (CSR). menguji hipotesis. Penulisan ini dimaksud untuk mendeskripsikan mengenai penerapan CSR dalam mengatasi konflik SUTET. membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap .

dan pada 27 Oktober 1945 dibentuk Jawatan Listrik dan Gas. Kemudian pada I Januari 1961 dikembangkan menjadi BPU Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan 28 Desember 1964 dibentuk PLN dan Perusahaan Gas Nasional (PGN). PLN Persero Listrik telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan primer. Sejak tahun 1945 jasa ketenagalistrikan di Indonesia ditangani oleh negara. . Analisis ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data dari kelompok subjek yang diteliti. Terbukti dengan disahkannnya UU No 20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan yang salah satu tujuannya adalah agar listrik lebih cepat menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Tujuan pemerintah melakukan restrukturisasi sekaligus liberalisasi ketenagalistrikan dilatarbelakangi oleh adanya pemikiran bahwa penyediaan listrik nasional harus diselenggarakan secara efisien melalui transparansi dan kompetisi dalam iklim usaha yang sehat dengan cara memberikan peluang yang sama kepada para pelaku usaha ketenagalistrikan. serta sebagai pendorong dalam berbagai kegiatan ekonomi. Tahun 1972 PLN berstatus sebagai perusahaan umurn (Perum) dan pada Juni 1994 berubah lagi menjadi perusahaan perseroan (Persero) sampai sekarang. Listrik merupakan salah satu infrastruktur yang menjadi tumpuan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. dan pagan. Sehingga beban Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia menjadi berkurang. pangan. Namun pada tahun 1992 pihak swasta mulai diperbolehkan turut serta dalam bisnis penyediaan listrik sehingga monopoli PLN dalam bisnis tersebut berkurang.suatu kebenaran sehingga memperoleh gambaran baru. dengan konsekuensi berorientasi pada profit meskipun tidak bisa lepas dan tugas negara sebagai penyedia jasa layanan listrik bagi masyarakat. HASIL Gambaran Umum Perkembangan PT. yakni sandang. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang.

Memberikan pinjaman dana dari koperasi. agen penjualan. Dalam bidang ekonomi yaitu melakukan penghematan biaya operasional sehingga meringankan beban masyarakat karena tidak perlu membayar listrik dengan harga tinggi dengan meningkatkan kemampuan pembangkit-pembangkit energi terbaru yang ada. pengelola pasar. sebagai dampak karena sudah memanfaatkan sumberdaya. membuat peta potensi energi terbarukan yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara komersial. Bidang sosial antara lain dengan memberikan asuransi kebakaran. usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang. melakukan studi-studi kelayakan tentang aspek teknis dan ekonomis energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar minyak. PLN (Persero) didasarkan pada Pasal 8 UU No 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. lingkungan dan ekonomi. dan pengelola sistem. Dalam bidang lingkungan seperti perbaikan sarana ibadah dan sekolah. pemasangan. PLN (Persero) mempunyai tanggung jawab yang tidak mudah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu dalam hal penyediaan tenaga listrik di berbagai kebutuhan industri. Kedua. pemerintahan dan masyarakat luas. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi. Pertama. ekonomi. membangun pembangkit energi terbaru berdasarkan hasil-hasil studi kelayakan yang sudah ada. transmisi. pemberian beasiswa bagi putra-putri karyawan dalam lingkup internal PLN dan pemberian dana tali asih. dan program pencarian sumber-sumber pendanaan. penjualan. Setiap kegiatan maupun program yang dijalankan oleh PLN harus mempunyai tanggung jawab kepada stakeholders. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. perdagangan. PLN (Persero) selama ini meliputi bidang sosial. distribusi. Bentuk-bentuk CSR yang diterapkan oleh PT. yaitu seluruh pihak yang berkepentingan di dalamnya. Sehingga CSR diperlukan agar kegiatan operasional PLN dapat berjalan dengan baik. PLN (Persero) dalam Mengatasi Konflik SUTET PT. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan dan merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalarn upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Program PT. pembangunan.Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. . serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi.

lndustri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik. Laporan Dewan Perlindungan Radiasi Nasional AS. Selama in] keberadaan industri ketenagalistrikan telah memberikan dampak yang positif bagi para stakeholders. lambatnya pertumbuhan. pemerintah daerah maupun bagi kepentingan nasional secara keseluruhan.pengujian. pengoperasian. leukimia. Namun demikian dalam pelaksanaannya. seperti daerah pemukiman yang tepat. demokratisasi. Di samping itu. Sebagai contoh salah satu konflik yang ditimbulkan akibat SUTET adalah saat ini lahan yang tersedia semakin sempit akibat pesatnya perkembangan di segala bidang. . baik masyarakat lokal. isu-isu mengenai lingkungan hidup. sehingga jalur yang dilalui SUTET kemungkinan tidak dapat menghindari clan terpaksa harus melewati daerah dengan keadaan tertentu. juga timbul permasalahan antara lain dalam hal kesehatan maupun ekonomi. kemandulan. DI sisi lain. Dalam hal kesehatan misalnya. Selain itu juga tidak adanya sosialisasi tentang dampak negatif yang mungkin timbul di kemudian hari. Diakses pada 6 Februari 2006). Oktober 1995 menyebutkan bahwa paparan medan elektromagnetik yang sedikitpun pada tubuh manusia dapat menimbulkan gangguan dalam jangka panjang. Kendala dan hambatan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan terjadinya konflik terutama dengan masyarakat lokal. dan hak asasi manusia juga sangat berpengaruh terhadap sektor ketenagalistrikan. Kesadaran kolektif yang terbangun karena tinggi dan bebasnya arus infomasi selama ini telah menimbulkan berbagai permasalahan di sektor ketenagalistrikan. terdapat isu beredar yang menyebutkan bahwa radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker.hamline. penurunan kekebalan tubuh. (www.edu. juga kelainan otak dan resiko serangan jantung. kendala dalam berbagai bentuk selalu dihadapi. Untuk memenuhi penyediaan tenaga listrik agar distribusi listrik tersebut dapat met jangkau seluruh masyarakat maka diperlukan suatu interkoneksi yang disebut Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Begitu juga pertumbuhan penduduk yang cukup besar. serta jasa terkait lainnya. Kegiatan di sektor ketenagalistrikan sangat berkaitan dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah. dan pemeliharaan instalasi.

Jatim. 21/1/06). dibangun saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 500 KV tahun 1995. Tidak adanya sosialisasi mengenai dampak negatif SUTET juga mendorong timbulnya konflik. Apa yang dilakukan masyarakat itu sebagai wujud kekecewaan atas sikap PT. (Pikiran Rakyat. Waled Kab. PLN (Persero) yang tidak mau bekerjasama saat pembangunan SUTET dan kurang mengkomunikasikan proyek tersebut kepada masyarakat. Kota Malang (2006) menunjukkan bahwa pengaruh radiasi elektromagnetik dapat dirasakan dalam jangka panjang. 22/1/06). bahkan mereka mengirimkan surat kepada badan kesehatan dunia WHO.Bojonggede Kab. Hal ini dikarenakan sejak SUTET tersebut dibangun sampai masyarakat tinggal di daerah tersebut selama 20--30 tahun belum memberikan efek yang benar-benar berarti. karena tanah milik warga yang dilalui jaringan SUTET mempunyai nilai jual yang rendah dan dianggap berbahaya akibat adanya radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET. Kec. Di desa Waringin Jaya. Bandung melakukan aksi pembakaran ban di bawah tower SUTET dan membongkar sebuah besi penyangga tower yang berkekuatan 500 kV. Cirebon. yaitu Kelurahan Purwodadi. Konflik lain yaitu terjadi pada 20 Januari 2006 yang baru lalu sekitar 200 warga Kampung Nagrak Desa Nanjung Mekar Kec. Bahkan masyarakat mengatakan berbagai penderitaan akibat SUTET. perusakan menara SUTET oleh korban lainnya sebelumnya terjadi di Desa Cisaat Kec. Konflik akibat SUTET dalam hal ekonomi adalah banyaknva masyarakat yang menuntut ganti rugi atas tanah yang dirasakan kurang. Bahkan di beberapa daerah telah terjadi aksi mogok makan dan jahit mulut sebagai aksi menuntut ganti rugi yang menurut masyarakat dirasakan kurang. . (Pikiran Rakyat. Banyak keluarga memilih tidur di bawah tenda sebagai pernyataan protes. misalnya ketika permukiman warga Kabupaten Gresik. yaitu telah ada yang meninggal dunia ketika hujan turun tepat di bawah tiang listrik. badan dana anak-anak UNICEF serta Komnas HAM. Konflik akibat SUTET tersebut sudah terjadi di berbagai daerah. masyarakat berusaha menggergaji dan menggali menara listrik yang melintasi pemukiman mereka. Kecamatan Blimbing. Bogor.Setelah peneliti melakukan observasi di salah satu kelurahan. Rancaekek Kab.

I tahun 2002 tentang Terorisme.Konflik-konflik tersebut di atas akan sangat merugikan kedua belah pihak baik masyarakat maupun PLN. akan terjadi pemadaman listrik yang meluas di wilayah Jawa-Bali.OI.K/47/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No. rawan terhadap pemadaman. akibatnya akan melumpuhkan perekonomian dan menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan. permintaan tambah daya konsumen sulit dipenuhi. pelaksanaan UU No. Dari berbagai masalah yang timbul seperti di atas dapat dikatakan bahwa akar permasalahan hanya dua yaitu tuntutan ganti rugi yang kurang dan masalah kesehatan. Di samping itu juga terdapat dampak buruk jika SUTET tidak dibangun antara lain: daya dari pembangkit non BBM yang akan dibangun tidak tersalurkan. penambahan pelanggan baru sulit dipenuhi. Hal ini tidak hanya merugikan PLN yaitu berkurangnya profit karena jika terjadi pemadaman total maka akan menghambat segala aktivitas yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat sendiri. Selain itu juga bisa dijerat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 408 dan pasal 406. dengan ancaman hukuman penjara masing-masing empat tahun penjara dan dua tahun delapan bulan.P/47/MPE/1992 tentang Ruang Bebas bagi Penyaluran Tenaga Listrik. 15 Tahun 2003. 151985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. keandalan sistem menurun (kemungkinan blackout sangat besar). Hal ini terjadi karena ada perbedaan dasar hukum yang dijadikan pedoman antara masyarakat dengan PLN. Karena masyarakat yang mencoba melakukan perusakan tower SUTET bisa dijerat UndangUndang (UU) No. Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No. 151/1985. Selain itu perusakan instalasi SUTET termasuk tindakan sabotase negara. bila tower SUTET 500 k\ sampai roboh atau rusak. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No OI.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975. daya listrik yang disalurkan terbatas. Peraturan ini menyatakan bahwa . dan pertumbuhan sentra industri terhambat yang akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 1992 dikeluarkan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. Karena perbuatan itu termasuk kategori membahayakan obyek vital dan strategis milik negara dengan ancaman pidana hukuman seumur hidup atau pidana mati. Karena.

para korban tetap dapat mengajukan tuntutan atas dasar wanprestasi. bangunan dan tumbuh-tumbuhan di atas tapak penyangga SUTET. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan membentuk joint team yang terdiri dari pemerintah. Tim inilah yang ditugaskan untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di lapangan melalui dialog intensif. Depkeu. Kantor Menneg BUMN. Departemen ESDM dan PT PLN (Persero). 15 Th 1985. Tim ini terdiri dari Kantor Menko Polhukam. apabila dikemudian hari terjadi kecelakaan yang sesuai hasil penelitian disebabkan oleh keberadaan SUTET 500 kV. PLN (Persero) sudah memberikan semacam dana tali asih dan pinjaman dana dari koperasi kepada . PLN maka PT. karena hanya memberi ganti rugi dan membebaskan tanah. Depdagri. Mabes Polri. Depkum dan HAM. baik karena kelalaian atau kesalahan PT. yang nada pokoknya berisi. PLN akan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. PLN telah membuat dan menandatangani surat jaminan. PLN (Persero) untuk mengambil langkah penyelesaian sebagai wujud dari tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Depkes. Sebagai niat baik dan peduli terhadap lingkungan yang terkena proyek untuk publik ini. Apabila dalam kasus SUTET tidak diajukan judicial review. penyuluhan dan upaya-upaya lainnya. PT. BPN. PLN dan elemen masyarakat. Baik Permentamben tahun 1992 maupun Kepmentamben tahun 1999 isinya adalah bertentangan dengan Pasal 12 UU No. Depkominfo.pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan tidak diwajibkan untuk memberikan ganti rugi selama bangunan atau benda apa pun tidak termasuk ke dalam ruang bebas atau dengan kata lain bangunan benda berada di ruang aman. Kejaksaan Agung. Kantor Menneg LH.01. karena PT. Pada tahun 1999 Permentamben No. PLN telah melaksanakan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah dan selalu mengutamakan kepentingan dan keinginan masyarakat. Tanggung jawab tersebut adalah terhadap kesehatan manusia dan atau meninggal dunia serta atas kerusakan rumah dan atau barang-barang elektronik atau alat-alat rumah tangga lainnya. Peristiwa di atas menuntut PT. Terkait dengan ganti rugi dan kompensasi.P/47/MPE/1992 diubah oleh Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No-975 K/47/MPE/1999.

Penyuluhan MI bertujuan memberikan pengertian yang benar tentang pengaruh medan listrik dan medan magnet sehingga masyarakat yang bermukim di sekitar sarana transmisi ini memiliki persepsi yang benar dan rasa aman tinggal di sekitarnya. . maka ruang setinggi 14 meter di atas tanah dianggap aman.com. maka dengan meninggikan sampai 22.5 meter harus membebaskan tanah di bawah kabel listrik.5 meter SUTET. dan pemberian penyuluhan tentang aturan jarak aman kepada masyarakat. PLN (Persero) sendiri telah membuat pagar pembatas untuk menjaga ruang bebas dan jarak aman serta secara periodik melakukan pengukuran kuat medan listrik dengan menggunakan alat Elektromagnetic Field Meter. PLN meninggikan bentangan kabel listrik. Dan jika tidak ada kepentingan tidak dianjurkan berada di luar rumah di bawah SUTET pada malam hari karena pada saat itu arus yang mengalir pada kawat penghantar SUTET lebih tinggi daripada siang hari. Hal ini ditujukan agar masyarakat mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Menurut WHO (World Health Organization) ambang batas kekuatan medan listrik dan medan magnet yang tidak membahayakan tubuh manusia sebesar 5 kV/m untuk medan listrik dan 0. Selain itu dengan adanya peraturan Menteri Pertambangan dan Energi tentang ruang bebas untuk SUTET tahun 1992 pihak PT.republika. upaya untuk meminimalkan dampak negatif radiasi elektromagnetik ini yaitu dari penelitian yang telah dilakukan. PT. Diakses pada 28 lanuari 2006) Oleh karena itu. terutama pada lahan-lahan yang kosong. Bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang lain adalah dilakukan pengukuran berkala. PLN menganjurkan pada masyarakat agar mengusahakan rumah berlangit-langit (plafon). (www.masyarakat yang tempat tinggalnya dilalui jaringan SUTET. jika sebelumnya dengan bentangan di menara setinggi 8. PLN pada saat awal pengoperasian SUTET. dan lebih baik jika menanam pohon sebanyak mungkin di sekitar rumah. tetapi penyuluhan ini juga dapat diberikan pada kesempatan lain jika masyarakat membutuhkanya. Penyuluhan ini biasanya diberikan PT.1 m Tesla untuk medan magnet. kuat medan Iistrik di bawah SUTET di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah. Selain itu.

sehingga . Dampak positif tersebut antara lain dapat meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. BAHASAN CSR menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi. tetapi juga tanggung jawab sosial dan lingkungan. Untuk konflik SUTET terutama yang menyangkut masalah ganti rugi sebaiknya pihak pemerintah mengeluarkan suatu dasar hukum yang sama dan jelas sehingga tidak menimbulkan konflik dan tidak akan merugikan kedua belah pihak yaitu masyarakat dan PT. Dalam pembangunan sarana ketenagalistrikan. PLN tidak sama. Hal ini dikarenakan perusahaan yang hanya mementingkan keuntungan finansial dan mengabaikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. masih belum dapat menyelesaikan secara tuntas konflik-konflik yang terjadi antara masyarakat dengan PT. PLN memiliki tanggung jawab sosial atau CSR. PLN. berbagai penelitian dan jalan keluar untuk mengatasi konflik SUTET ini sangat diperlukan. namun bentuk CSR tersebut ternyata belum memberikan dampak yang nyata karena masih banyak terjadi konflik di berbagai daerah. jika menggantungkan pada finansial saja. _yaitu menciptakan profit demi kelangsungan usaha. tidak menjamin perusahaan akan berkembang secara berkelanjutan. tetapi juga tekanan dari LSM. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut apa yang sudah diterapkan PT. akan mempunyai dampak positif maupun negatif seperti yang telah dijelaskan dalam poin di atas.Namun dari berbagai bentuk CSR yang sudah diterapkan untuk mengatasi masalah SUTET. Alasannya. Sedangkan dampak negatifnya adalah adanya bahaya kesehatan oleh radiasi elektromagnetik. PLN (Persero). PLN merupakan bukti bahwa PT. tidak hanya mendapat tentangan dari masyarakat sekitar. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. Dari berbagai konflik yang timbul akibat keberadaan SUTET dapat dikatakan bahwa akar permasalahannya yaitu tuntutan ganti rugi yang dirasakan masih kurang oleh masyarakat dan adanya ancaman bahaya kesehatan. Untuk itu. Karena selama ini dasar hukum pemberian ganti rugi yang menjadi pedoman masyarakat dan PT.

Oleh karena itu. Masalah utama dalam konflik SUTET yaitu selain kurangnya ganti rugi yang diberikan yaitu berkaitan dengan masalah kesehatan. Pada kenyataannya.tidak ada kesepakatan antara kedua pihak. PLN (Persero).P/47/MPE/1992 lebih rendah dari jumlah ganti rugi yang tertuang dalam UU No. Selama ini masyarakat yang areal pekarangan dan sawahnya telah dibangun tower dan akan dilalui jaringan. jika pihak PLN memberikan sosialisasi secara transparan dan menyeluruh. manajemen PT. Sehingga nantinya tidak akan terjadi masalah di kemudian hari pada saat proyek SUTET tersebut mulai dikerjakan. Namun. sejauh ini belum memperoleh sosialisasi secara transparan tentang kemungkinan dampak buruk yang terjadi akibat pembangunan SUTET. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No Ol. jumlah ganti rugi dari kedua dasar hukum ini berbeda yaitu dasar yang dijadikan patokan oleh PT.15/1985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. masyarakat akan berusaha mencari solusi bersama-sama dengan pihak PT.K147/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. PLN yaitu Permentamben No O1. PLN. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat sebagai Wujud tanggung jawab perusahaan dalam hal kesehatan. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi kurang tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang dampak negatif dan bahaya yang ditimbulkan akibat pembangunan proyek SUTET. yaitu masyarakat yang sakit dan diduga disebabkan karena radiasi elektramagnetik. Untuk itu. dan masing-masing mempunyai pandangan sendiri. Dalarn hal ini PT. sangat diperlukan kesamaan dasar hukum sehingga akan memiliki persamaan pandangan antara masyarakat dan PT. PLN (Persero) sangat perlu untuk segera memberikan informasi yang sebenarbenarnya. maka suatu saat terjadi masalah maupun konflik. 15 Tahun 1985. PLN (Persero) dapat menerapkan salah satu bentuk CSR misalnya berupa jaminan kesehatan.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975. Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No. atas potensi dampak yang mungkin muncul dari proyek tersebut. PLN (Persero) harus menetapkan batasan-batasan . 151/1985. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No. PT. Jaminan kesehatan ini diberikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar area yang dilalui jaringan SUTET.

misalnya untuk jaringan tegangan menengah dan rendah (JTM/JTR) di daerah tersebut dapat digunakan rumus sederhana. PLN. Sedangkan jarak aman horizontal dari as/sumbu menara (D) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 7 m. gangguan tidur.5 m.pikiranrakyat . Jika hal tersebut sudah dilakukan secara rutin dan menjadi salah satu program aktivitas PT. Atau menurut hasil penelitian Dr. Untuk transmisi SUTET aturan jarak aman vertical (C) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 4.2 m. (www. Artinya jika tegangan di kawat jaringan sebesar 20 kV maka jarak amanya adalah 20 cm atau 0. yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache). (3) syaraf. PKK yang menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. (2) reproduksi. misalnya penyakit yang menyerang 1) darah. (5) endokrin.Kes. yaitu I kV = 1 cm. Anies. rasa mual. (6) psikologis. kulit meruam. gangguan konsentrasi. dan (7) hipersensitivitas dengan gejala jantung berdebar-debar.yang jelas misalnya PLN hanya akan memberikan jaminan kesehatan tersebut jika masyarakat yang sakit tersebut benar-benar disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang menurut berbagai penelitian antara lain menurut WHO.5 m.id Diakses pada 7 Februari 2006). misalnya pemberian kredit dan pemberian dana tali asih. untuk 275 kV adalah 13 m dan 500 kV adalah 17 m (www. M. untuk 150 kV adalah 10 m.5 m dan untuk 500 kV adalah 9. Kegiatan yang dilaksanakan oleh PT. untuk 150 kV adalah 5. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome). pening (dizziness).com Diakses pada 26 Desember 2006). untuk 275 kV adalah 7. Selain itu penyuluhan dan sosialisasi mengenai jarak aman kepada masyarakat harus selalu diberikan.co. dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya. (4) kurdiovaskuler. maka ini akan dapat melibatkan hubungan kemitraan . telinga berdenging. serta gangguan kejiwaan berupa depresi. PLN (Persero) pada umumnya masih bersifat hibah dan bukan merupakan program rutin.pln. Sehingga jika suatu saat ada masyarakat yang mempunyai penyakit atau gejala di atas harus mendapat jaminan kesehatan walaupun mungkin penyakit tersebut bukan karena radiasi elektromagnetik. kejang otot. dr.5 m. muka terbakar. kebingungan.

antara pihak PT. PLN dengan masyarakat. Untuk itu tanggung jawab sosial perusahaan diperlukan agar menciptakan keseimbangan dan keberlanjutan hidup dan jalinan kemitraan timbal balik antara perusahaan dan stakeholders. Disini PLN menjadikan masyarakat sebagai mitra, sehingga PLN mempunyai program kegiatan dalam upaya pemberdayaan untuk mendukung kesejahteraan dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. Sehingga antara masyarakat dan PLN terjalin hubungan yang baik dan saling mendukung selama kegiatan tersebut tidak menimbulkan masalah dan dampak negatif. Kemitraan ini bisa tercipta antara lain melalui program yang berupa ekonomi kerakyatan yaitu, PLN menjadi mitra masyarakat dalam hal pemberian hibah untuk kredit usaha. Bentuk-bentuk CSR tersebut dl atas mungkin tidak sepenuhnya dapat mengatasi masalah, namun paling tidak dapat mengurangi adanya konflik SUTET. Agar program-program CSR seperti di atas dapat berjalan dengan lancar, maka sangat diperlukan hubungan maupun kerjasama yang baik antara PT. PLN (Persero), masyarakat, dan Pemerintah, serta seluruh stakeholdernya. Aktivitas CSR yang dilakukan oleh PT. PLN Persero tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga pihak PLN itu sendiri. Manfaat yang diperoleh masyarakat dengan dilaksankannya program CSR oleh PLN misalnya, dapat mengembangkan usaha mereka melalui hibah untuk kredit usaha, adanya jaminan kesehatan, dan masyarakat mendapatkan ganti rugi serta kompensasi atas tanah milik mereka sesuai dengan kesepakatan.Selain itu, aktivitas masyarakat juga tidak akan terganggu karena adanya pemadaman total akibat perusakan tower SUTET. Bagi PT. PLN Persero sendiri, kegiatan operasional perusahaan tidak akan terhambat dan selalu mendapat dukungan dari masyarakat, dan akhirnva tercipta hubungan yang baik antara masyarakat dengan pihak PLN. Di sisi lain, image perusahaan dalam pandangan masyarakat akan tetap baik dan selalu mendapatkan respon yang positi£ Dari manfaat yang dapat diperoleh di atas, semoga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi PT. PLN (Persero) untuk menetapkan CSR dalam kegiatan operasionalnya dan tentunya menjadikan PLN ke arah yang lebih baik.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Akhir-akhir ini banyak perusahaan yang makin sadar akan pentingnya praktik Corporate Social Responsibility (CSR), ataupun mengikuti langkah-Iangkah serupa termasuk perusahaan BUMN seperti PT. PLN (Persero). Hal Ini tentu memerlukan hubungan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat dan para pelaku bisnis sendiri. Misalnya, pemerintah memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang menerapkan program CSR secara serius. Demikian pula Bapepam mewajibkan laporan CSR bag) perusahaan yang akan masuk bursa ataupun yang kini sudah tercatat di bursa, serta langkah-langkah lain yang relevan. Dan masyarakat mendukung program CSR yang diterapkan perusahaan tersebut. Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan, PT. PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial.
Saran

Agar program CSR dapat berjalan dengan baik, maka dapat disarankan (1) Untuk pemerintah sebaiknya memberikan peraturan hukum yang secara tegas dan khusus mengatur tentang tanggung jawab sosial perusahaan; (2) Program diarahkan pada masyarakat yang membutuhkan dan diprioritaskan pada kebutuhan pokok masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup; (3) Program dilaksanakan dengan menyediakan tenaga ahli pendamping; dan (4) Dilakukan evaluasi dan pelaporan, apakah program tersebut berjalan sesuai tujuan.

DAFTAR RUJUKAN

Abdul Rosyid Idris, Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah gagasan dan implementasi. www.fajaronline.co.id. Diakses 29 Januari 2006 Anonim. Kekuatan Ide-ide Bisnis Mujarab. www.swa.co.id. Diakses 30 Desember 2005. ----------. Tanggung Jawab Sosial Bukan Beban Bagi Perusahaan. www.kompas.co,id. Diakses 18 Desember 2005. ----------. Pemerintah Bentuk Tim Tangani SUTET. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Tower SUTET Dirusak. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Awas Listrik Munculkan Penyakit. www.republika.com. Diakses 7 Februari 2006. -----------. Proyek Jaringan SUTET PLN (1). www.suara merdeka.com. Diakses 7 Februari 2006 Azwar, Saifudin,1999. Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Arikunto,Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. PT.Rineka Cipta, Jakarta Djatmiko,Harmanto Edy. Saatnya Menabur. www.swa.co.id. Diakses 26 Desember 2005. Djoko,Tony. Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR). www.pertamina.com. Diakses 18 Desember 2005. Hasibuan, Sedyono Chrisanti. Sekali lagi CSR. Majalah SWA 23/XIX/10/ November 2003. Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis. CV.Alfabeta.Bandung. Wiryosimin, Suwarno. 1995. Mengenal Asas Proteksi Radiasi. ITB Bandung

Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta)
Heri Sudarsono

Abstract: The aims of this research are: (a) Describe financial and non financial compensation, intrinsic motivation and lecture performance; (b) Analyze the effect of financial compensation and intrinsic motivation to lecturer performance; (c) Analyze the effect of non financial compensation on intrinsic motivation; (d) Analyze the effect of non financial compensation and motivation to lecture performance. Based on description and path analysis, it shows that financial compensation and intrinsic motivation was in good condition and affecting lecture performance. Financial compensation as salary, incentive, and wage and intrinsic motivation as achievement knowledgement, the job it self, and responsibility has direct and indirect effect on independent variable, so the main model proposed could be decided as final model in path analysis. Key words: compensation, motivation, performance

Unsur manusia memegang peranan yang penting karena manusia menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, strategi maupun langkah kegiatan operasional suatu kegiatan. Manusia juga merupakan mahluk yang mempunyai pikiran, perasaan, kebutuhan dan harapan yang memerlukan perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi prestasi, dedikasi dan loyalitasnya terhadap organisasi (Hasibuan, 1990:222). Menurut hierarki kebutuhan Maslow (Robins, 1996:1990) manusia mempunyai kebutuhan bertingkat yang mencakup faal, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Heri Sudarsono adalah dosen Jurusan Manajemen FE Universitas Teknologi Surabaya

Hal ini menunjukkan bahwa disamping mengajar. Dalam konteks perguruan tinggi. Tumbuh dan berkembangnya organisasi tergantung pada sumber daya manusia. motivasi yang tinggi akan berdampak pada kinerja peningkatan produktivitas dan efisiensi. disamping sebagai pengajar. Menurut Handoko. cara meningkatkan prestasi. yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi secara umum. menguasai prinsip penelitian serta mampu melaksanakan dan mengkomunikasikan hasil penelitian. Dosen juga dituntut untuk memililiki kemampuan berfikir logis.Untuk memenuhi aneka ragam kebutuhan tersebut. kritis. motivasi dan kepuasan kerja adalah dengan memberikan kompensasi (1993:156). sehingga manusia merupakan asset yang harus ditingkatkan efisiensi dan produktivitasnya. penulisan artikel ilmiah dan penyusunan buku. Berdasar tri dharma perguruan tinggi. prestasi dosen juga ditentukan oleh frekuensinya dalam menyajikan makalah seminar. Untuk mencapai hal itu organisasi harus mampu menciptakan situasi dan kondisi yang mendorong dan memungkinkan pegawai mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki secara optimal. penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Pola penggajian secara proporsional dengan memberikan insentif pada tenaga dosen yang kinerjanya melebihi standart yang ditetapkan oleh organisasi merupakan salah satu metode untuk meningkatkan motivasi berprestasi. Oleh karena itu aspek pembinaan manusia dan motivasi kerja merupakan fokus utama perhatian organisasi. Dengan pemberian insentif yang layak akan meningkatkan motivasi kerja dosen. keberadaan dosen menjadi factor yang sangat penting dalam kelangsungan kegiatan akademik. hal yang dapat dilakukan adalah dengan menjadi anggota organisasi. Salah satu upaya yang ditempuh organisasi untuk menciptakan situasi tersebut yakni dengan memberikan kompensasi yang memuaskan karyawan. Persoalan yang sering mencuat bahwa secara umum kinerja dosen perguruan tinggi swasta (PTS) disinyalir menghasilkan kinerja yang masih dibawah dosen perguruan tinggi negeri (PTN). Berdasarkan latar belakang maka tujuan penelitian ini adalah: (a) Mendeskripsikan kompensasi financial dan finansial. Selanjutnya gaji merupakan salah satu faktor insentif yang sangat penting bagi dosen. motivasi intrinsik . utamanya dosen ekonomi menjadi menarik untuk dilakukan. dosen juga berfungsi sebagai peneliti dan pengabdi. Oleh karena itu maka kajian tentang kinerja dosen PTS.

(d) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. (e) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. peluang promosi. dan (h) Mengurangi Labor Turnover karyawan. lingkungan psikologis atau fisik. (b) Mempertahankan karyawan yang ada. artinya pemberian kompensasi dengan memperhatikan perbandingan antara jumlah gaji tertinggi dan terendah. Kompensasi finansial terdiri dari kompensasi finansial langsung dan tidak langsung. (c) Menganalisis pengaruh kompensasi finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. Pemberian kompensasi yang tepat dan efektif dalam organisasi harus memenuhi syarat adil dan layak pada karyawan. Selanjutnya Simamora (1997). bonus dan komisi. Kompensasi finansial tidak langsung. tidak langsung atau tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi finansial langsung. peluang pengakuan. 1991:185): (a) Prinsip kewajaran. yaitu kompensasi finansial dan kompensasi non-finansial. (c) Prinsip . Kompensasi finansial langsung terdiri dari gaji. (b) Prinsip keadilan. menyebutkan bahwa terminologi atau pembagian dari kompensasi terbagi dalam bentuk kompensasi langsung dan kompensasi tidak langsung. dan sebagainya. upah. Cascio. yang disebut juga tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi langsung. Mondy and Noe (1993:20) yang menjadi dasar penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua jenis. bonus dan komisi. Kompensasi finansial langsung terdiri dari bayaran yang diperoleh dalam bentuk gaji.dan kinerja dosen ekonomi pada PTS. artinya dalam pemberian kompensasi harus terdapat unsur keadilan baik dalam kaitannya dengan waktu kerja maupun prestasi kerja. biaya hidup. (g) Memotivasi karyawan. Agar pemberian kompensasi efektif. Davis &Werther (1996:381) menyebutkan ada beberapa tujuan dari pemberian kompensasi. seperti tanggung jawab. Kompensasi non-finansial adalah kompensasi yang diterima atas dasar pekerjaan itu sendiri. diantaranya: (a) Mendapatkan personal yang kualified. (b) Mengkaji pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsic. (c) Menunjukkan adanya keadilan baik internal equity maupun external equity. (f) Menyesuaikan dengan regulasi upah yang ada. (d) Memberi rewards terhadap perilaku yang sesuai dengan organisasi. upah. (e) Mengontrol dana. organisasi perlu memperhatikan prinsip berikut (Wayne F.

1993: 252). artinya pemberian kompensasi memperhatikan hal yang tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan atau jabatan. artinya pemberian kompensasi harus mampu meransang karyawan untuk memberikan sumbangan yang maksimal atau konstribusi pada organisasi. Terdapat beberapa teori motivasi yang menunjuk pada kebutuhan yang memuaskan dan mendorong semangat bekerja seseorang sebagai berikut. artinya dalam pemberian kompensasi hendaknya merupakan hasil atau kesepakatan bersama antara karyawan dengan pihak manajemen dalam organisasi. dan kebutuhan . (g) Prinsip keseimbangan. Berdasar beberapa definisi motivasi dapat dilihat adanya tiga unsur kunci. Robbins (1996) menyebutkan bahwa motivasi merupakan kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi kebutuhankebutuhan individual. dan (h) Prinsip kesepakatan. yakni kebutuhan manusia dapat disusun dalam hierarki 5 kebutuhan.keamanan. (e) Prinsip Pengendalian biaya. artinya pemberian kompensasi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kompensasi yang diberikan karena kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan. tujuan organisasi dan kebutuhan. Teori Maslow mengemukakan bahwa manusia dimotivasi oleh keinginan untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang ada. atau dengan kata lain motivasi adalah akibat dari interaksi antara situasi dan kondisi yang ada. artinya pemberian kompensasi harus dihindarkan dari unsur pemborosan organisasi. yakni: upaya. Sedangkan Widjaja (1986:12) berpendapat bahwa motivasi adalah kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. dari kebutuhan yang terendah sampai kebutuhan tertinggi. (d) Prinsip kejelasan. dalam pemberian kompensasi mudah dihitung atau mudah dimengerti oleh karyawan. Teori ini mendasarkan konsep hierarki kebutuhan pada dua prinsip. Siagian (1995) menjelaskan motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya. dengan yang tidak terkait dengan pekerjaan atau jabatan. Motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan (Handoko. (f) Prinsip perangsang.

rasa memiliki. 1992:334). ancaman. . appresiasi. faktor motivasional disebut juga faktor intrinsik yang meliputi kondisi intrinsik dan kepuasan pekerjaan. (d) tanggung jawab. faktor motivator yang juga disebut satisfier yang berkenaan dengan isi pekerjaan dan faktor ini sebagai sumber kepuasan kerja yang dapat memotivasi seseorang pada pekerjaan mereka. kebebasan. kedudukan dan sebagainya. Kebutuhan fisiologis. dan sebagainya. Kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan. faktor higienis yang juga disebut dissatisfier yang berhubungan dengan hakekat manusia untuk memperoleh ketentraman lahiriah. 3. seks. keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang.yang telah terpuaskan akan berhenti menjadi motivator utama dari pelaku. Kebutuhan akan aktualisasi diri dengan untuk menunjukkan kemampuan. Kebutuhan ini meliputi penerimaan oleh teman sekerja. Kebutuhan rasa aman. (c) pekerjaan itu sendiri. Menurut Sukanto dan Handoko (1992:271). kemerdekaan. dan berhubungan dengan lingkungan. pengakuan atas kemampuan dan keahliannya. (b) penghargaan. perampasan dan atau juga proteksi terhadap harta kekayaan. dan (e) kemajuan. Pertama. Adapun tingkatan kebutuhan tersebut sebagai berikut: 1. tidur. 4. minum. dihargai atas prestasinya. Aktualisasi diri berkaitan dengan pengembangan akan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. 5. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan. Kebutuhan penghargaan. yakni motivasional dan higieni. tiap orang menginginkan dua macam kebutuhan. Hilangnya faktor pemeliharaan ini akan meningkatkan ketidakpuasan dan tingkat absensi serta labor turnover yang tinggi. kebutuhan akan cinta kasih. Kebutuhan terhadap hubungan lingkungan sosial atau bersosialisasi. Kedua. Kebutuhan sosial. keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. Faktor motivasi kerja intrinsik inilah yang menjadi penekanan peneliti. Kebutuhan aktualisasi diri. kebutuhan akan status. perumahan. Kebutuhan akan rasa aman dalam melaksanakan suatu pekerjaan dan merupakan harapan mendapat perlindungan terhadap bahaya. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan keinginan untuk dihormati. 2. Serangkaian faktor ini meliputi: (a) pengakuan prestasi. Menurut Herzberg (dalam Dressler.

sekaligus juga melihat besarnya penyimpangan dengan cara membandingkan antara hasil pekerjaan secara aktual dengan hasil yang diharapkan. Prestasi kerja merupakan hasil keterkaitan antara usaha. Seymour (dalam Swasto. Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan. Perbaikan faktor higienis akan mencegah. 1996) mengemukakan bahwa kinerja merupakan pelaksanaan tugas yang telah diselesaikan seorang dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur. tetapi tidak akan menimbulkan dorongan dan kepuasan kerja. Artinya apabila perilaku seseorang memberikan hasil pekerjaan yang sesuai dengan standar atau kriteria yang dibakukan organisasi. If performance standart or measures are not job-related. Jadi sistem penilaian yang efektif harus mengidentifikasikan kinerja yang sesuai dengan standar. sistem penilaian kerja yang efektif memiliki beberapa elemen kunci: Appraisal approaches must identify performance-related standart. dan jika sebaliknya berarti kinerjanya buruk. measure those criterias. harming the manager‟s relationship with their employees. Faktor higienis meliputi kebijakan. maka kinerjanya tergolong baik. pengawasan. mengukur kriteria-kriteria yang harus diukur dan selanjutnya memberi feedback kapada pegawai/karyawan dan bagian personalia. and then gives feedback to employees and the Human Resources Departement.Faktor ini juga disebut faktor ekstrinsik yang mempengaruhi ketidakpuasan kerja. the evaluation can lead to inaccurate or biased results. penetapan standar diperlukan untuk mengetahui apakah kinerja karyawan sesuai dengan sasaran yang diharapkan. hubungan antar rekan dan kondisi kerja. Atau dengan kata lain. Menurut Davis & Werther (1996:344). kemampuan dan persepsi tugas (Byars dalam Suharsimi. . administrasi. gaji. Kinerja diartikan sebagai hasil usaha seseorang yang dicapai dengan kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. 1995:29). mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan kerja. Handoko (1992:270) menyebutkan bahwa faktor higienis sendiri tidak menimbulkan motivasi tetapi diperlukan agar motivasi dapat berfungsi atau dengan kata lain berfungsi sebagai landasan motivasi.

Indikator-indikator tersebut meliputi: kesetiaan. dimana daftar tersebut memuat 10 indikator yang ada. dimana p = performance. dan dapat dituliskan sebagai berikut: p = f ( m x a ). Swasto (1996) mengemukakan bahwa prestasi kerja individu merupakan perpaduan antara motivasi yang ada pada diri seseorang. kejujuran. dapat diturunkan menjadi model hipotesis pada Gambar 1. Dalam pendidikan tinggi atau perguruan tinggi. kerjasama. b) kemampuan karyawan untuk melaksanakan pekerjaan. ketaatan. Dengan kata lain. tanggung jawab. prakarsa. dan kepemimpinan. Berdasarkan model kajian penelitian tersebut. m = motivasi.Analisa tentang kinerja karyawan menurut Gomes (1995) senantiasa berkaitan erat dengan dua faktor utama: a) kesediaan atau motivasi seseorang untuk bekerja yang menimbulkan usaha karyawan. bentuk penilaian prestasi kerja atau kinerja terangkum dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan. model hipotesis dapat diuraikan hipotesis berikut: (1) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial terhadap motivasi intrinsic. Berdasarkan beberapa definisi di disimpulkan bahwa ukuran kinerja dosen dalam penelitian ini adalah tingkat kinerja dosen dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya yang menyangkut tri dharma perguruan tinggi yakni dharma pendidikan dan pengajaran. dharma penelitian dan dharma pengabdian pada masyarakat. dan (4) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. dan a = ability. 13/MENPAN/1988 tentang Perincian Kegiatan dan Angka Kredit Jabatan Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi. . (2) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. kemampuannya dalam melaksanakan suatu pekerjaan serta peralatan atau teknologi yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. prestasi kerja. kinerja merupakan fungsi interaksi antara motivasi kerja dengan kemampuan. (3) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. Sesuai dengan Keputusan Menpan No.

Wawancara. 1995). Informasi yang diperoleh memperjelas atau mendukung jawaban yang disampaikan melalui kuesioner. Uji validitas dalam penelitian ini yakni . Dilakukan dengan memberi daftar pertanyaan pada dosen yang menjadi sampel penelitian. jumlah dosen. untuk mendapatkan data primer serta memperoleh informasi tertulis dari responden sebagai obyek penelitian. 3. dan sebagainya. Penulis memperoleh informasi melalui dokumen dari masing-masing PTS seperti program dan struktur kompensasi. Dokumentasi.P41 Kompensasi Finansial (X1) P31 Kompensasi Non Finansial (X2) Motivasi Intrinsik (X3) P43 Tingkat Kinerja Dosen (X4) P32 P42 Gambar 1 Model Hipotesis Penelitian METODE Teknik yang digunakan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian dilakukan dengan berbagai cara: 1. 2. (b) memperoleh informasi dengan reliabilitas dan validitas setinggi mungkin (Singarimbun. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Instrumen dikatakan valid bila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur dan mampu mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tujuan utama dari pemberian kuesioner adalah: (a) memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Kuesioner. Cara memperoleh data dengan jalan mengadakan tanya jawab langsung dengan pihak yang berkepentingan dengan harapan memperoleh informasi yang dibutuhkan.

Karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan beberapa uji asumsi klasik diantaranya sebagai berikut: a) Asumsi normalitas. maka pelaksanaannya harus memenuhi beberapa asumsi klasik (Gujarati. (1) Metode analisis statistik deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan keadaan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dosen. Analisis dilakukan secara kualitatif untuk menjelaskan dan mendeskripsikan hubungan data yang diperoleh dengan landasan teori yang dipakai melalui uraian sistematis. artinya asumsi menginginkan model yang dipakai dapat secara tepat menggambarkan rata-rata variabel terikat dalam observasi. Selanjutnya untuk analisis statistik inferensial dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Path Analysis dengan terlebih dahulu diadakan analisis faktor untuk tiap variabel. (2) Metode analisis statistik inferensial yang digunakan untuk melihat pengaruh diantara variabel-variabelnya.5 atau lebih. Uji ini untuk mengetahui apakah model yang dipakai linier atau tidak. Kriteria pengujian yang digunakan apabila reliabilitas suatu instrumen yang memiliki koefisien reliabilitas 0.menggunakan analisis yang menghitung koefisien korelasi antara skor item dengan skor totalnya. peneliti menggunakan taraf signifikansi 5 persen. Untuk menganalisis data dan menguji hipotesis. dengan taraf signifikansi 5% dan dengan bantuan program komputer SPSS for Windows. c) Uji linieritas. E(e) = 0. . maka dapat dikatakan sebagai pengumpul data yang handal. menggunakan bantuan program komputer SPSS. dimana asumsi ini terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk suatu pola tertentu. dan dilakukan dengan melihat standardized scatterplot. 1991:172). artinya adanya heterokedastisitas akan bertentangan dengan salah satu asumsi peneliti yaitu bahwa variabel residual harus sama untuk semua pengamatan. Untuk memperolah nilai koefisien yang tidak bias dan efisien dari persamaan estimasi menggunakan OLS. rata-rata sama dengan nol. b) Asumsi homokedastisitas. Uji reliabilitas dalam penelitian ini.

0000. Menurut Sugiyono (1994) hasil penelitian valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.7114 0. Bila probabilitas basil uji Chi Square lebih kecil dari 0. Hasil pengujian menunjukkan nilai chi Square sebesar 78.3 (Sugiono. Uji yang dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square terhadap nilai standar residual hasil persamaan regresi.8093 Simpulan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Sumber: Hasil Penelitian. Pengujian Asumsi Klasik Uji Asumsi Normalitas Distribusi normal dalam statistik inferensial sangatlah penting. oleh karena itu perlu diadakan uji asumsi yaitu menguji residual untuk mengetahui apakah data berasal dari distribusi normal atau tidak. Instrumen dikatakan valid apabila memiliki koefisien diatas 0. Diolah. Jadi semua nilai residual data . Valid tidaknya suatu item instrumen dapat diketahui dengan membandingkan antara indeks korelasi produk moment Pearson pada level signifikansi 5 persen dengan nilai kritisnya.0000 dengan nilai probabilitas sebesar 0. Tabel 1 Rekapitilasi Hasil Uji Reliabilitas No 1 2 3 4 Variabel XI. 1998). Kompensai Non Finansial X3. Motivasi intrinsik X4. dan 0.1231.HASIL 1. dan 68. Sedangkan hasil uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach dapat dilihat pada Tabel 1.7151 0. Kompensasi Finansial X2.05 (5 persen) maka distribusinya normal dan apabila sebaliknya maka terdistribusi tidak normal.0000. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen Validitas merupakan unsur penting bagi suatu instrumen karena uji ini menunjukkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan instrument dalam melaksanakan fungsinya. Tingkat Kinerja Dosen Alpha 0.7350 0. 2007 2. Selanjutnya hasil uji validitas instrumen penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.

000 0.000 0.000 0.12 Koefisien Korelasi 0.000 0.2 X2.008 0.407 0.10 X3.001 0.7 Y.2 X3.481 0.3 X3.9 Y.600 0.720 0.000 0.8 X3.515 0.9 Y.576 0.006 0.5 X2.487 0.000 Simpulan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid X2. Kompensasi Non Finansial X3.013 U. Kompensasi finansial Item X1.313 0.4 Y.8 X2.619 0.689 0.006 0.000 0.5 X3.006 0.3 X 1. Tingkat Kinerja Dosen Sumber : Hasil Penelitian.456 0.017 0.000 0.9 X2.6 Y.594 Probabilitas 0.046 0.662 0.720 0.001 0.5 X1.006 0. Tabel 2 Rekapitulasi hasil Uji validitas Variabel X1.7 X1.501 0.455 0.685 0.003 0.542 ).4 X3.563 0.003 0.560 0.002 0.000 0.787 0.000 0.455 0.028 0.6 X2.002 0.000 0.471 0.10 Y.4 X2.689 0.8 Y. Motivasi intrinsik X4. 2007 .000 0.666 0.455 0.7 X2.1 X2.2 X1.1 X3.696 0.004 0.387 0.612 0.000 0.662 0.7 X3.492 0.4 X1.434 0.651 0.767 0.000 0.353 0.001 0.3 Y.004 0.2 Y.3 X2.l Y.001 0.495 0.000 0.5 Y. Diolah. 1 X1.000 0.643 0.543 0.003 0.11 Y.644 0.6 X1.000 0.8 X2.terdistribusi secara normal (Tabel 3).6 X3.000 0.000 0.

diolah. Kesimpulan yang didapat adalah terjadinya homoskedastisitas sehingga pengujian hipotesis dapat dilanjutkan.8308 Signifikansi (P) 0.0000 Simpulan Normal Normal Sumber : Hasil penelitian. Korelasi 0.252 0.366 0.078 0. Berdasarkan data dari rekapitulasi tersebut di atas menunjukkan bahwa semua variabel mempunyai nilai signifikansi di atas taraf kepercayaan 5 persen.0842 0. sehingga variabel bebas tidak menyebabkan terjadinya heterokedastisitas. 2007 Uji Asumsi Heterokedastisitas Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah diantara variabel bebas terjadi hubungan atau tidak. X2.0787 0. Pengujian regresi memenuhi syarat jika diantara variabel bebas tidak terjadi heteroskedastisitas.336 Simpulan ' Homoskedasttsitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Sumber : Hasil Penelitian.0536 Probabilitas 0. Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji koefisiensi korelasi Rank Spearman yaitu mengkorelasikan antara absolut residual hasil regresi dengan semua variabel bebas.Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Variabel X1. Diolah.267 0. 2007 .0000 0.178 0.434 0.7385 62. X3 terhadapX4 Nilai Chi Square 72. Tabel 4 Rekapitulasi Hasil Uji Heteroskedastisitas Variabel bebas XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial X3 : Motivasi Intrinsik Koef. Hasil uji dapat di lihat pada Tabel 4.X2 terhadap X3 Xl.

Deskripsi Variabel yang Mempengaruhi Kinerja Dosen Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui sejauh mana distribusi frekuensi responden berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan kepada 65 responden yakni para dosen tetap di tiga perguruan tinggi swasta di Kediri. . Deskripsi Kompensasi Finansial Untuk melihat distribusi frekuensi jawaban responden dari item yang disampaikan pada 65 orang respoden. 3.Uji Linieritas Pengujian ini dilakukanuntuk mengetahui model yang dibuktikan linier atau tidak.l dan X1. Ternyata hasil penelitian tidak menunjukkan adanya plot tertentu sehingga uji ini terpenuhi. yang secara detail dapat dilihat pada Tabel 5. a.7 sampai X1. variabel dalam penelitian ini meliputi kompensasi finansial (XI) dan kompensasi non finansial (X2). motivasi intrinsik (X3) serta tingkat kinerja dosen (X4) Selanjutnya akan diuraikan masing-masing variabel tersebut. bagian 3 meliputi item (X1. dan dilakukan dengan melihat Standardized Scatterplot. maka pertanyaan dibagi menjadi tiga bagian. bagian 2 terdiri dari item (X1. bagian 1 terdiri dari item (Xl. Sesuai dengan model analisis dalam penelitian ini. Asumsi ini akan terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk pola tertentu (acak).3 sampai X1.6). dimana saling berkorelasi.8).2).

Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kompensasi Finansial Jawaban Responden No. Deskripsi Kompensasi Non-Finansial Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban 65 responden variabel ini. c.00 0.00 0. X2.3).23 69.77 49 50 75.69 6 15 10.7.54 0. X2.54 69. bagian kedua meliputi item (X2.38 76 92 9 3. dan X2.100.00 32. X2. bagian ketiga meliputi item (X2.31 b.2 dan X2.46 15.00 10.31 10 15.31 10. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 Kesesuaian tentang sistem pemberian gaji Kesesuaian tentang besarnya gaji yang diterima Kesesuaian tentang sistem pemberian honor Kesesuaian tentang besarnya honor Kesesuaian tentang macam insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya tunjangan Kesesuaian tentang macam tunjangan 1 % 2 f % 6.54 81.62 18.77 24.15 16 12 10 12 f 21 4 % 0.5.77 10.8. maka item pertanyaan dibagi menjadi empat bagian seperti dapat dilihat pada .23 72. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian. X2.31 66.00 0.15 5 7.85 12. X2.38 f 40 53 45 45 47 43 3 % 61.00 1.77 12. selanjutnya dapat dilihat Tabel 6. bagian pertama meliputi item (X2.4.38 18. Deskripsi Motivasi Intrinsik Untuk mengetahui distribusi jawaban terhadap 65 responden.46 6 7 8 0 00 0.1.9.6).

9 dan bagian ketiga untuk item pertanyaan X4. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Keadilan dalam promosi Pernyataan tentang kesempatan promosi Sistem kenaikan pangkat Kesempatan mengikuti diklat Dorongan studi lanjut Frekuensi mengikuti diklat Dukungan atasan Dukungan rekan kerja Suasana kerja yang mendukung Fasilitas kerja yang diterima 0 2 0 0 0 8 2 6 0 1 1 % 0.54 6 9.54 f 22 16 11 11 11 5 16 8 9 12 Responden 4 % 33. 4.00 3.00 f 3 3 8 4 9 2 % 4.7 sampai X4.62 16.85 18. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian yakni bagian pertama untuk item pertanyaan X4.23 0.00 0.1 sampai X4.62 12.12.77 76.6.46 17 26.92 16.32 27 41.00 61.22 25 38.85 f 40 44 46 50 45 25 41 26 39 40 3 % 61 54 67.85 24.31 6.54 3.68 70. bagian kedua untuk item X4.08 9.46 63.00 1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8.08 40.92 7.23 38.08 0.62 4.69 24.31 13.62 12. Tabel 6 Distribusi Kompensasi Non Finansial Jawaban No.46 . Deskripsi Kinerja Dosen Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban terhadap 6> responden.92 16.15 12 18.46 12.00 0.15 13.Tabel 7.00 60.92 69.10 sampai X4.

54 44 67. modul 12 31 40 61.46 0.69 15 23.23 9.23 14 21.77 44 67.69 14 21.22 3.32 12 18.62 10.62 Membimbing kuliah kerja nyata Membuat diktat.77 12 18.00 0.00 15 23.08 38 58.08 45 69.54 9.00 f 7 2 % f 3 % f 4 % 10.46 12 18.62 0.69 9.46 10.92 47 72.08 35 53.00 0.00 8 7 6 5 6 2 7 23.23 12 18.54 17 26 15 .46 0. Membimbing mahasiswa pendidikan seminar 0 0 0 0 0 0 1 % f 2 % f 3 % f 4 % 0.00 0.31 16 24.Tabel 7 Distribusi Frekuensi Motivasi Instrinsik Jawaban Responden No.00 12 18. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 Keinginan memperoleh Ijazah sampai stratum tertinggi Memberi kuliah Menyelenggarakan di lab.46 45 69.00 0. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pengakuan prestasi dan atasan Prestasi menjadi dorongan Utama Penghargaan yang diterima Keadilan pemberian penghargaan Kesesuaian pekerjaan Beban mengajar yang diterima Senang terhadap pekerjaan Pemberian tanggung jawab Sikap terhadap tanggungjawab 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 % 0.92 16 24.00 7 6 6 4 8 10.08 45 69.77 39 60 00 19 29.23 16 24.77 46 70.00 0.23 7.54 47 72.00 0.46 Tabel 8 Distribusi Frekuensi Kinerja Dosen Jawaban Responden No.77 46 70.54 0.00 0.85 24 36.23 6.77 12 18.00 0.23 14 21.00 1.23 9.15 45 69.46 37 56.

maka signifikan pula koefisien jalurnya. Tahap 1 Uji Jalur P31 Pada dasarnya uji analisis jalur ini. Pengujian analisis jalur dilakukan melalui penyaringan statistik dengan menggunakan koefisien arah beta untuk regresi berdasarkan data dalam bentuk skor baku karena dapat dibuktikan. Hasil Analisis Jalur Menggunakan pengujian analisis jalur (path analysis).00 33 50.22 4.0000.85 41 63.85 14 21. Jika variabel kompensasi intrinsic dinaikkan satu poin.54 0.23 0 00 17 26.62 3 4 % f % f 42 64.00 1 54 f 6 3 9 2 % 9.77 19 29.00 13 20.31 1.54 10 15.54 8 12. Jika beta signifikan. Sebelum analisa jalur.46 5. di mana variabel kompensasi intrinsic ke varibel motivasi intrinsic disebut jalur dengan nilai beta sebesar 0.Tabel 8 (Lanjutan) Jawaban Responden No.15 40 61. motivasi intrinsik dan tingkat kinerja dosen. Artinya bahwa variabel kompensasi finansial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel motivasi intrinsic. dilakukan pengujian hipotesis yang telah diajukan sebelumnya.38 42 64 62 12 18. perlu dilakukan analisa faktor yang digunakan untuk mencari faktor yang menentukan masing-masing variable bebas. maka variabel motivasi intrinsic akan naik sebesar . kompensasi non finansial.08 14 21. Hasil perhitungan regresi antar factor dan identifikasi jalur pada tiap tahap dapat dijelaskan berikut: a.54 13.548876 dan signifikansi t = 0. 7 8 9 10 11 12 Item Pertanyaan Menulis karya ilmiah Menyajikan karya ilmiah Menampilkan karya ilmiah tidak dipublikasikan Memberi penyuluhan masyarakat Memberi pelayanan yang menunjang pemerintah Membuat karya pengabdian f 0 0 1 0 0 1 1 % 0 00 0.62 17 26 15 48 73. Juga dilihat interkorelasi antara variabel penelitian yakni kompensasi finansial.

0005. 354285. Artinya variabel motivasi intrinsik .232731 dengan signifikansi t sebesar 0.354285 dengan signifikansi t sebesar 0. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin.2.2731.0.0005. c. b.398286 dan signifikansi t 0. Artinya variabel kompensasi financial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen. maka varibel motivasi intrinsik akan naik sebesar 0. didapatkan nilai beta 0. Tahap 2 Uji Jalur P41 Dalam uji jalur ini. Tahap 5 Uji Jalur P43 Uji ini merupakan i0i jalur faktor variabel motivasi intrinsik ke variabel tingkat kinerja dosen. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. Jika variabel kompensasi financial dinaikkan satu poin. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap variabel intrinsik. didapatkan nilai beta 0. di mana jalur variabel kompensasi financial ke variabel Tingkat kinerja dosen disebut jalur P41 dengan nilai beta sebesar 0. d.0010.0010.548876. e. Tahap 4 Uji Jalur P42 Uji ini merupakan uji jalur faktor variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel tingkat kinerja dosen. Tahap 3 Uji Jalur P32 Dalam uji jalur full merupakan jalur faktor dari variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel motivasi intrinsik.520431 dengan signifikansi t sebesar 0.0142. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap tingkat kinerja dosen. didapatkan nilai beta sebesar 0.398286 dengan signifikansi t sebesar 0. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin.

59877 0. BAHASAN Pada prinsipnya dalam menjawab hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dilakukan melalui analisa jalur.0000 0.23731 0. Mengacu pada tabel di atas. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. Nilai R2 sebesar 0.0010 0.0000 0.0005 0.30127 0.398286 0.0142 Hipotesis 1: Diduga ada pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik Hasil analisa data menunjukkan bahwa hipotesis dinyatakan diterima. artinya terdapat kontribusi 30.354285 0. Selanjutnya hasil analisa untuk masing-masing hipotesis dapat dilihat pada Tabel 9.54888 yang berarti terdapat hubungan yang kuat.berpengaruh terhadap variabel tingkat kinerja dosen. Apabila variabel motivasi intinsik dinaikkan satu poin.520431 0.59877 0. Hipotesis 2: Diduga ada pengaruh Kompensasi Finansial dan Motivasi Intrinsik Terhadap Kinerja Dosen Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 2 diterima. t R Square 0.13 persen variabel kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik.15863 0. variabel kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik dosen didapatkan koefisien korelasi sebesar 0.0000.548876 0.30 127 dengan signifikansi F 0. Hal ini dibuktikan variabel Kompensasi finansial dan motivasi . Tabel 9 Rekapitulasi Hasil Analisis Jalur Variabel terikat Motivasi Intrinsik (X3) Kinerja dosen (X4) Variabel bebas Kompensasi finansial (X1) Kompensasi non finansial (X2) Kompensasi Finansial (X1) Motivasi lntrinsik (X3) Kompensasi non Finansial (X2) beta Sig.520431.55664 0.

15863.0000.0000. R2 sebesar 0. Hal ini disebabkan variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel motivasi intrinsik dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0. Ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.intrinsik mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap tingkat kinerja dosen.39829 dengan signifikansi t sebesar 0.59877 dapat dikatakan kompensasi finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen.87 persen dan kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik. Hipotesis 4: D duga ada pengaruh Kompensasi non finansial dan motivasi intrinsik terhadap kinerja dosen. .55664 artinya terdapat kontribusi pengaruh sebesar 55.77380 dengan signifikansi F sebesar 0. yang berarti terdapat hubungan yang kuat.67 persen dari kompensasi non finansial dan motivasi instrinsik terhadap kinerja dosen. Nilai R2 sebesar 0. Hasil regresi menunjukkan bahwa hipotesis ketiga dapat diterima. Hipotesis 3: Diduga ada pengaruh Kompensasi non finansial terhadap movitasi instrinsik. pengaruh kompensasi finansial dan motivasi Intrinsik sebesar 59.0010. Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 4 diterima. artinya terdapat kontribusi sebesar 15. Nilai R2 sebesar 0. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0.88 persen.74608 dengan signifikansi F sebesar 0.

0000.0010. kompensasi non finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsic dapat diterima secara statistic.000 Beta = 0.39829 Kompensasi Non Finansial (X1) P42 sig t 0. beta = 0.13 persen terhadap motivasi intrinsik. honor dan insentif secara parsial mempunyai pengaruh sebesar 0. dan tanggungjawab berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen. pekerjaan itu sendiri.0142.520431 Kinerja Dosen (X4) P32 sig t 0. insentif.548876 Motivasi Intrinsik (X3) P43 sig t 0.0005. kompensasi non finansial dan variabel intrinsik mempengaruhi kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada PTS di . 2. kompensasi finansial dan motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen dapat dibuktikan secara statistik.87801. Ini menunjukkan bahwa kompensasi finansial yang terdiri dari gaji. Hipotesis pertama. P41 sig t 0. ditunjukkan oleh nilai F hitung 11.30127 atau 30. beta = 0. beta = 0. 4. Hipotesis keempat. kompensasi finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsik dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta dapat diterima secara statistik.354285 Kompensasi Finansial (X1) P31 sig t 0. Kompensasi finansial yang terdiri dari gaji. beta = 0. Hipotesis ketiga. Hipotesis kedua.Berdasarkan hasil analisis dapat dibangun model empiris pada Gambar 2. dan honor serta motivasi intrinsik yang terdiri dari pengakuan prestasi. 3.232731 Gambar 2 Model Hasil Pengujian Hipotesis SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1.

Saran Berdasar pada hasil kajian diatas sangat jelas bahwa variabel kompensasi baik variabel kompensasi finansial maupun variabel kompensasi non finansial sangat erat hubungannya dengan motivasi intrinsik dosen.Kediri dapat diterima.67 persen terhadap variabel tingkat kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta di Kediri. PTS seyogjanya memperhatikan variabel kompensasi ini guna meningkatkan motivasi intrinsik dosen. sisanya 44. Baik buruknya kinerja dosen akan sangat dipengaruhi oleh motivasi intrinsik dosen. Kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik mempunyai pengaruh yang signifikan sebesar 55.33 persen dipengaruhi oleh variabel lainnya diluar model. Selanjutnya motivasi intrinsik tersebut akan berdampak langsung pada kinerja dosen. Perguruan tinggi harus memperhatikan bagaimana meningkatkan movitasi intrinsik dosen tersebut. Dengan meningkatnya motivasi intrinsik diharapkan kinerja dosen akan bertambah baik pula dalam rangka pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. .

A. Widjaja.T. 1996. Jakarta. Profits.P. 1988. Haji Masagung. Simmamora. Prehalindo. Mc Graw-Hill. Gomes. Hasibuan.DAFTAR RUJUKAN Cascio. 1997. BP STIE YKPN. Suharsimi. BPFE Yogyakarta. Yogyakarta. Handoko. Cetakan kelima. 1995. Jakarta. B. Pressindo. 1994.F. 1989. Pt Rineka Cipta. M. New York. USA. Mondy. Jakarta. Cushway. Massagung. Jilid I.. Robbins. Allyn & Bacon. Human Resources and Personnel Management. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. ANDI Offset. Edisi 2. Hani. Prosedur Penelitian : Suatu pendekatan Praktek. 1995. Swasto. Siagian. The Association for Management Education and Development. Jakarta. Manajemen Sumber Daya Manusia. Quality of Work Life. Second Edition. London. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta. Yogyakarta. Perilaku Organisasi : Konsep. Manajemen Sumber Daya Manusia. 1995. Kontroversi dan Aplikasi. . Mc Grw Hill. 1996. Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi. Keith & Werther. Wayne & Noe. Jakarta.. 1992. 1986. Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan. Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. S. 1990. Human Resources Management. Inc. 1993. W. Henry. Edisi Revisi II. Davis. Robert. Managing Human Resources : Productivity. Human resources Management. P. Manajemen Sumber Daya Manusia. Sondang.

Lembar Kegiatan siswa.The data was collected by questionnaires. PKn. Fenomena yang nampak. documentation.Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialog dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari Suparlan Al Hakim Ktut Diara Astawa Nur Wahyu Rochmadi Abstract: This research aimed to developing book and the sheet activity of student Civics with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach. dan terbatas pada pengembangan pengetahuan (kognitif). The Subyects of this research were 20 teachers of Civics in senior hight school and 20 Experts. The result of this research was model with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach which is pleased to be able to increase dialogue and critical thinking skill Key words: Bahan Ajar. belum mampu memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan dialog mendalam dan berpikir kritis. The research was desained as research and development by Borg & Gall (1982). Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT). Substansi pesan pembelajaran (bahan ajar) selama ini. Sri Untari. and were analyzed by discriptive statistic. Ktut Diara Astawa. Suparlan Al Hakim. dan Nur Wahyu Rochmadi adalah dosen Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang . pesan pembelajaran masih bersifat informatif.

keterbukaan. pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya ditekankan pada pembentukan kepribadian manusia. sehingga menyebabkan rendahnya kesadaran siswa untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan beripikir kritis. Secara programatik. dapat diartikan bahwa percakapan antara orang-orang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal. 2001). praktik pembelajaran seharusnya dikemas dengan menggunakan pendekatan dialog mendalam dan berpikir kritis (deep dialogue/critical thinking). yaitu rasa egoisme kelompok yang tinggi. empati dan mengurangi prasangka siswa. Justru kenyataan ini sebagai kelebihan lain dari penerapan deep dialogue/critical thinking. proses pendidikan yang berlangsung selama ini diduga belum berhasil meningkatkan kemampuan berdialog. karena sifat terbuka dalam diri akan membuka peluang . 2000). Deep dialogue (dialog mendalam). jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI. Hal ini dikarenakan hanya terbatas upaya meningkatkan pengetahuan siswa. Agar deep dialogue/critical thinking dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia (Dikti. kajian deep dialogue/critical thinking sebagai paradigma pengembangan pendidikan berlaku prinsip Unity in policy and deversity in implementation. dan rendahnya empati dan tingginya prasangka terhadap orang lain.Selain itu. Untuk mencapai misi tersebut. berpikir kritis. baik yang ditampakkan dalam proses pembelajaran maupun kemasan materi dalam bentuk bahan ajar dan lembar kegiatan siswa. tanpa ada tindak lanjut dalam bentuk perilaku. Sedangkan ciritical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis. langkah awal untuk melakukan dialog mendalam dan berpikir kritis individu harus membuka diri terhadap mitra dialog. kesenjangan sosial. Dalam kaitan itu Untari (2002) mengidentifikasikan sebagai berikut: Pertama. Bahkan diduga telah menghasilkan hal yang sebaliknya. saling keterbukaan. Dalam tataran praksis. khususnya dalam pembelajaran PPKn perlu diperhatikan kaidah-kaidah DD/CT. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar.

Artinya kita paling mengetahui apa yang kita ketahui. mengubah dan memodifikasi pemahaman mereka. Hal ini penting karena kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama atau dengan bekerjasama akan menghasilkan pemecahan yang menguntungkan pihak-pihak yang bermasalah (win-win solution). selanjutnya memilih pokok-pokok permasalahan yang memungkinkan memberi satu dasar berpijak yang sama. berubah dan berkembang dalam rangka meningkatkan berpikir kritis. untuk memperdalam. belajar dan mengubah diri masing-masing pihak yang berdialog. serta saling percaya diantara mereka. Pemahaman realitas dan bertindak secara tepat merupakan hasil berpikir kritis. dan mitra dialog kita paling mengerti apa yang mereka ketahui. deep dialogue/critical thinking terjadi manakala masing-masing pihak yang berdialog menjunjung tinggi nilai-nilai moral. demokratis yakni dengan memperlakukan mitra dialog sedemikian rupa sehingga berketetapan hati untuk berdialog. harapan. Kedua. menunjung nilai-nilai moral.Artinya masing-masing mengemukakan tujuan. Di samping itu masing-masing saling mempelajari. . langkah awal adalah mencari kesamaan dengan cara bekerjasama dengan orang lain. Dialog sebagai suatu kegiatan memiliki dua sisi yakni dalam masyarakat (intern) dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya (antar). Ketiga. sebab dialog hanya akan bermanfaat manakala pihak-pihak yang melakukan bersikap jujur dan tulus. kesulitan dan cara mengatasinya melalui berpikir kritis secara apa adanya. Dengan demikian kejujuran merupakan prasyarat terjadinya dialog atau dengan kata lain tidak ada kepercayaan berarti tidak ada dialog. kita dapat belajar. etis atau santun. mengubah dan mengembangkan persepsi. saling menghargai. Hal ini dilakukan mengingat bahwa dialog pada hakekatnya bertujuan untuk saling berbicara.untuk belajar. bersikap jujur dan penuh kepercayaan diperlukan dalam deep dialogue/critical thinking. kerjasama. Keempat. sehingga perubahan yang terjadi pada masing-masing pihak merupakan hasil berpikir kritisnya sendiri (self-critical thinking). untuk memperluas wawasan bersama. kejujuran. Selanjutnya melangkah pada permasalahan umum yang dapat dihadapi bersama atau mencari solusinya. Dengan demikian ketika masuk dalam dialog. Untuk menanamkan kepercayaan pribadi.

Global Dialogue Institut merumuskan sebuah pendekatan pembelajaran yang dipandang cocok untuk PKn yakni Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking (DD/CT) yang mengandung prinsip: komunikasi multi arah. Ausubel (dalam Irawan. Jangan menilai sebelum meneliti. merupakan ungkapan yang tepat dalam membangun deep dialogue/critical thinking. saling memberi yang terbaik. membangun empati. Kita jauhkan prasangka.1995) dan guru perlu menguasai ketrampilan dasar mengajar (Wardani dala Endang Danial. (Raka Joni. masing-masing pihak yang berdialog dapat memberi respon kepada mitra dialog secara baik. pengkotbah atau yang mendominasi proses dialog.2002). Oleh karena itu Rianto (2000) berpendapat dalam pandangan teori belajar humanistik. Untuk itu bahan harus: (1) bermakna secara potensial. saling mengakui keunggulan. Untuk itu guru dituntut memiliki kualifikasi baik sebagai inovator sekaligus developer pembelajaran yang dilakukan dengan pembaharuan pembelajarannya maupun melakukan adopsi kritis terhadap inovasi pendidikan (Rogers. masyarakat dan tradisinya. seolah kita yang memiliki kelebihan daripada mitra dialog kita. belajar menekankan pada isi dan proses yang berorientasi pada peserta didik sebagai subyek belajar. bandingkan secara adil dalam berdialog sedapat mungkin kita tidak menduga-duga tentang hal yang disetujui dan hal yang akan ditentang.Kelima. deep dialogue/critical thinking akan terjadi manakala masing-masing pihak menghadirkan hati. menjalin hubungan . dan menghindarkan menjadi penceramah. (2) bertujuan untuk melaksanakan belajar secara bermakna. pengenalan diri sendiri untuk mengenal dunia orang lain. Dengan menghadirkan hati. (Frazee&Rudnitski.1981). sehingga siswa memiliki kesiapan dan minat untuk belajar.1996) dalam teori belajar bermakna (meaningful teaching theory) mengemukakan bahwa kebermaknaan penyajian dan pentingnya pengaturan kemajuan belajar (advance organizer) dimana bahan harus dirancang baik agar menarik minat siswa. Dalam berdialog harus menghadirkan hati dan tidak hanya fisik. Membangun empati dalam dialog mendalam pihak-pihak yang berdialog dapat menyetujui dengan tetap menjaga integritas diri mitra dialog. Oleh karenanya saling mengakui keunggulan masing-masing akan diperoleh pemahaman bersama secara baik Keenam.1995).

dan persentase) untuk data-data yang diambil dengan kuesioner. mode. saling memberadabkan (civilizing) dan memberdayakan (empowering). Analisis domain untuk data yang diambil dengan analisis dokumen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian tahap pertama ini adalah kuesioner. DD/CT mengandung nilai demokratis dan etis sehingga beraitan dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia. Produknya berupa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan . terutama dalam pendidikan anak seutuhnya (PAS). Dengan rancangan penelitian pengembangan.kesederajatan. Lokasi penelitian ini adalah Kota Malang. sehingga akan menunjang pembentukan warga negara yang baik. Rancangan kuantitatif dipergunakan untuk menjelaskan bahan ajar dan LKS Matapelajaran PKn berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking untuk siswa SMA . Penelitian Pengembangan pada tahap kedua adalah bagaimana menyusun bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang bisa berterima secara teoritis maupun praktis. keterbukaan dan kejujuran serta empatisitas yang tinggi ( Al Hakim. dokumentasi. Teknik analisis statistik deskriptif (rerata. Berdasarkan latar belakang di atas tujuan penelitian ini adalah (1) menemukan kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn yang berbasis DD/CT. pedoman wawancara. 2002). demokratis. dan wawancara. (2) tersusunannya bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan pendekatan DD/CT yang berterima baik secara teoritis maupun praktis bagi siswa SMA di Jawa Timur METODE Subyek penelitian ini adalah praktisi (guru PKn di SMA Jawa Timur) sejumlah 10 orang dan pakar PKn berjumlah 10 orang. cerdas dan religius. bertanggung jawab. Swidler menekankan bahwa DD/CT lebih merupakan cara berpikir baru (new way of thinking). Kuesioner dan wawancara dipergunakan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking .

maka bahan ajar dapat digunakan dengan efektif dalam proses pembelajaran. Penelitian dimulai dengan memadukan hasil penelitian tahap pertama dengan dengan kajian teori untuk menghasilkan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA Pengembangan bahan ajar perlu dilakukan secara sistematik berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait untuk menghasilkan bahan ajar yang bermanfaat. Karakteristik Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara yang dilakukan dengan para pakar dan praktisi diketahui sebagai berikut. serta bahan ajar yang digunakan memang baik. buku mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah menurut pakar dan guru dikategorikan seperti dalam Tabel 1. a.kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang berterima secara teoritis maupun praktis. Guru seringkali mengabaikan prosedur pengembangan bahan ajar yang sistematik ini karena berasumsi. Paling tidak ada lima langkah utama dalam prosedur pengembangan bahan ajar yang baik. jika sudah dibuat dengan baik sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Padahal ada beberapa langkah yang harus dilakukan guru sebelum sampai pada kesimpulan bahawa bahan ajar sudah dikembangkan dengan baik. . sebagai berikut Analisis Perancangan Pengembangan Evaluasi Revisi HASIL 1. Struktur Bahan ajar Mata Pelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan struktur bahan ajar.

4. Struktur Buku Teks Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Jumlah Jumlah 21 15 4 0 40 % 53 37 10 0 100% Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa struktur bahan ajar PKn berbsis DD/CT yang digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran. 10% pakar dan praktisi /guru menyatakan sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi.dan 10% menyatakan sistematis tetapi tidak mengacu pada standar isi.5% Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa paparan materi bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 2. sedangkan 37% pakar dan praktisi menyatakan sistematis dan sebagian mengacu pada standar isi.5% 10% 2. dan 2.Tabel 1 Struktur Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. 3. sebanyak 87. Ditinjau dari Paparan materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT menurut guru dan pakar dikategorikan seperti dalam Tabel 2 berikut.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi . 3.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. Paparan Materi Buku Teks Mata Pelajaran PKn Semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Tidak runtut dan tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Jumlah Jumlah 35 4 1 0 40 100% % 87. 2. Tabel 2 Paparan Materi Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. menurut pakar dan praktisi 53% menyatakan sistematis dan semua mengacu pada satandar isi. 4.

dan 2. 5% menyatakan cukup sulit dipahami.Ditinjau dari keluasan (scope) materi bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam Tabel 3 berikut. Tingkat Kesulitan Materi Buku Teks PKn Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 2 20 17 40 % 2. Tabel 4 Tingkat Kesulitan Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. 4. 2. 5.5% 5% 50% 42. Keluasan (scope) Materi Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 10 18 12 0 0 40 % 25% 45% 30% 100% Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa keluasan (scope) materi bahan ajar matapelajaran PKn berbasis DD/CT. . sebanyak 45% menyatakan luas. 5. 4.5% 100% Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. . 3.5% menyatakan sulit dipahami. 42. 3. Tabel 3 Keluasan Materi Bahan Ajar Mata Pelajaran PKn berbasis DD/CT No 1. 20% menyatakan mudah dipahami. 2. Ditinjau dari tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT yang dipergunakan sebagai sumber bahan ajar dalam proses pembelajaran di sekolah dikategorikan seperti dalam Tabel 4 berikut. sebanyak 25% menyatakan sangat luas.5% menyatakan sangat mudah dipahami. dan 30% menyatakan cukup luas.

62.5% bahasa kurang sesuai dan 2.5% 10% 100% . 1 12 23 4 0 40 2. 7. 5.Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa) yang digunakan dalam materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam tabel 5 berikut: Tabel 5 Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1.5% 22. Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa sangat sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 2 3 25 9 1 40 % 5% 7.5% 2.5% menyatakan bahasa sangat sesuai untuk siswa SMA. 5% pakar dan praktisi menyatakan bahasa terlalu tinggi untuk siswa SMA. 4.5% 62. 5. Tabel 6 Paparan Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Paparan Awal Buku Teks PKn menggunakan Cerita. Puisi atau Peristiwa yang Relevan dengan Materi Pokok Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1. 3. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 6 seperti berikut. 3.5% 30% 57. 2.5% menyatakan bahasa sesuai.5% 100% Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa tingkat keterbacaan (bahasa) materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT.5% menyatakan bahasa bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Ditinjau dari paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. 2. Lagus.22. 4.

kalimat naratif Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1. 30% menyatakan sering. kalimat naratif. sebanyak 55% menyatakan selalu.Ditinjau dari apakah materi Awal bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar. 3. 5. atau kalimat naratif. contoh realitas kehidupan.5% menyatakan selalu. contoh realitas kehidupan. apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. Tabel 8 Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam No 1.5% menyatakan sering. dan 2. 57. 2.5% . kadang-kadang. 4.Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT.5% pakar dan praktisi menyatakan tidak ada. 4.5% 12. 2.5% 100% Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memaparkan ilustrasi berupa gambar.5% menyatakan kadang-kadang. Tabel 7 Paparan Ilustrasi dalam Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar. menurut guru dikategorikan dalam Tabel 8 sebagai berikut. 5. Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 12 23 5 0 0 10 % 20% 30% 50% 100% . contoh realitas kehidupan. 2. 22 13 5 0 0 40 55% 32. 32. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 7 seperti berikut. 12. 3.

5% 7. 2.5% responden menyatakan selalu. dan 12. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 9 sebagai berikut. 3. 2. Tabel 10 Keberadaan LKS Berbasis DD/CT dalam Proses Pembelajaran PKn No 1.Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa materi bahan ajaran mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog mendalam. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan responden penelitian ini diketahui bahwa lembar kegiatan siswa (LKS) PKn Berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam tabel 10 sebagai berikut. 30% menyatakan selalu. sebanyak 57. Tabel 9 Materi Bahan Ahar PKn Berbasis DD/CT Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis No 1.5% 30% 12. 2. Materi Bahan Ajar Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 23 12 5 0 0 40 % 57.5% 15% 100% . dan 20% guru menyatakan selalu.5% 100% Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis.5% menyatakan kadang-kadang. 3. Keberadaan LKS Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Lain-lain Jumlah Jumlah 20 11 3 6 0 40 % 50% 27. 5. 4. 5. 4. 30% guru menyatakan sering. sebanyak 50% guru menyatakan kadang-kadang.

3. 7. 4. Tabel 11 LKS Terkait dengan Bahan Ajar PKn No 1. 5% menyatakan LKS dibuat setelah topik. Karakteristik LKS Berbasis DD/CT ditinjau dari struktur LKS PKn yang dipergunakan dapat dikategorikan dalam Tabel 12 sebagai berikut: Tabel 12 Struktur LKS PKn Berbasis DD/CT No 1. 2.5% menyatakan perlu. Struktur LKS PKn Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Lain-lain Jumlah Jumlah 37 2 0 0 1 40 % 92. 25% menyatakan LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan. 5. 3. 50% menyatakan sangat perlu. 27. 15% menyatakan LKS dan Bahan Ajar dibuat terpisah.5% 100% . 4. 2.5% 5% 2. 55% menyatakan LKS diletakkan setelah seluruh materi. dan 15% menyatakan tidak perlu.Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa keberadaan LKS dalam setiap materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran di sekolah. Lembar kegiatan siswa (LKS) PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn menurut pakar dan praktisi terkait dengan bahan ajar PKn berbasis DD/CTi. seperti dalam Tabel 11 berikut.5% menyatakan kurang perlu. Kaitan LKS dan Bahan Ajar LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan LKS dan Bahan Ajar dibuat secara terpisah LKS dimuat setelah materi/topic LKS diletakkan setelah seluruh materi/topik Jumlah Jumlah 10 6 2 22 40 % 25% 15% 5% 55% 100% Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa hubungan lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam setiap materi pembelajaran PKn di sekolah dengan bahan ajar.

Tabel 13 Paparan LKS PKn Berbasis DD/CT No 1. 4.5% 62. dan 10% menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. 5% menyatakan sistematis sebagian mengacu pada standar isi. 5.Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa struktur lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT. 3. Keluasan (scope) Materi LKS Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 0 13 25 2 0 40 % 32. 3. 90% menyatakan runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. 2. 5. 2. sebanyak 92. 4.5% menyatakan lain-lain. Ditinjau dari sisi pemaparan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam Tabel 13 sebagai berikut.5% 5% 100% .5% menyatakan sistematis semua mengacu pada standar isi. Ditinjau dari keluasan (scope) LKS materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 14 sebagai berikut: Tabel 14 Keluasan Materi LKS No 1. dan 2. Paparan LKS Runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi Tidak runtut dengan kompetensi dasar pada kurikulum Lain-lain Jumlah Jumlah 36 0 4 0 0 40 % 90% 10% 100% Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa pemaparan lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT pada mata pelajaran PKn.

5% menyatakan cukup sulit dipahami. dan 60% menyatakan mudah dipahami. 62.5% 97. 3. Tingkat Keterbacaan Materi LKS Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 0 1 39 0 0 40 % 2.5% responden . Tingkat Kesulitan Materi LKS Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 15 24 0 40 % 2. 5.5% menyatakan sulit dipahami. sebanyak 2. sebanyak 97.5% 37. 4.Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa keluasan (scope) materi lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT. Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa yang digunakan) LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 16 sebagai berikut. 2. 3. 5.5% 60% 100% Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 37. 4. dan 5% menyatakan sempit.5% menyatakan cukup luas.5% 100% Berdasarkan Tabel 16 diketahui bahwa tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. Ditinjau dari tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam tabel 14 sebagai berikut: Tabel 15 Tingkat Kesulitan Materi LKS No 1.5% menyatakan luas. sebanyak 32. 2. Tabel 16 Tingkat Keterbacaan Materi LKS No 1.

Tabel 18 Ilustrasi dalam LKS No 1. 3.5% memuat pusi. Ditinjau dari ilustrasi dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut responden dapat dikategorikan dalam Tabel 18 sebagai berikut. 2. 4. 56% memuat contoh .menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. syair lagu daerah (lokal) Peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok Lain-lain Jumlah Jumlah 10 2 1 26 1 40 % 25% 5% 2. 25.5% 65% 2. 5. 3. 2. 2. Ilustrasi dalam LKS Gambar Contoh realitas kehidupan Bagan dan grafik Kalimat naratif (uraian) Lain-lain Jumlah Jumlah 2 25 3 10 5 45 % 4% 56% 6% 22% 12% 100% Berdasarkan Tabel 18 diketahui bahwa ilustrasi dalam LKS PKn berbasis DD/CT. Ditinjau dari pola pemaparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan dalam proses pembelajaran dapat dikategorikan dalam tabel 17 sebagai berikut. 65% memuat peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok.5% menyatakan lain-lain.5% 100% Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa paparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan. 4. dan 2. Paparan Awal LKS Cerita Syair lagu nasional atau local Puisi. 2.5% menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. 4% menyatakan memuat gambar. 5. Tabel 17 Paparan Awal LKS No 1.% responden menyatakan memuat cerita 5% menyatakan memuat syair lagu.

5. 2. 2.5% 100% . menurut guru dapat dikategorikan sebagai berikut. 4. 6% menyatakan memuat bagan.5% menjawab kurang. 12. dan 12% menyatakan memuat lain-lain. Tabel 20 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1. 4. Pertanyaan dan tugas dalam LKS PKn Memfasilitasi Siswa untuk Berpikir Kritis Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 28 10 1 1 40 % 70% 25% 2. sebanyak 52. 3. 5% menjawab tidak memfasilitasi Ditinjau dari apakah pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut responden dapat dikategorikan sebagai berikut.5% 30% 12.realitas kehidupan. Ditinjau dari pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam.5% 5% 100% Berdasarkan Tabel 19 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi terjadinya dialog mendalam diantara siswa. 5. Tabel 19 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1.5% 2. 22% menyatakan memuat kalimat narasi. Pertanyaan dan Tugas LKS Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 21 12 5 2 40 % 52. 30% menyatakan cukup memfasilitasikadang-kadang.5% guru menjawab sangat menfasilitasi. 3.

2. Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan.5% menjawab kurang memfasilitasi. benar dari segi keilmuan. Kelebihan dan Kekurangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan hasil wawancara dengan praktisi dan pakar dapat dijelaskan sebagai berikut: a. sebanyak 70% menjawab sangat memfasilitasi. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia.5% menjawab tidak memfasilitasi 3. . Dapat dilihat dari Tabel sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. 2. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar tidak dikembangkan secara asal-asalan. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu. 25% menjawab cukup memfasilitasi. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya.Berdasarkan Tabel 20 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

keluasan maupun kedalamannya akan berbeda. Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. Dalam hal ini. kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal. sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda. Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. yang menurut pakar dan praktisi. 3. sebagai berikut. .Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. Pengembangan bahan ajar sesuai dengan materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan dalam standar isi atau topik di Sekolah Menengah Atas.

atau penyajian uraian. Dengan demikian. dan juga menuntun siswa untuk terbiasa berpikir runtut. Dengan demikian. 3) Perjelas dengan Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. latihan.hal ini dilihat dari pengorganisasi bahan ajar itu sendiri yang bertanya tentang apa sampai bertanya mengapa. penyajian uraian. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. Dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. Urutan strategi penyajian dapat berubah-ubah sehingga tidak membosankan. Bahan ajar berbasis DD/CT yang dipaparkan secara logis akan memudahkan siswa. Logika pemaparan ini dapat diperkenalkan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis. 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar Pkn berbasis DD/CT disajikan secara sistematis. tidak meloncat-loncat. Misalnya. tidak terkotak-kotak satu sama lain. dari yang mudah ke yang sukar. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. atau contoh. namun setiap bagian perlu diberi penjelasan yang memadai sehingga tidak membingungkan siswa. contoh dan latihan. Logika penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep dalam bahan ajar. latihan.1) Paparan yang Logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. atau dari fakta ke konsep. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. Keruntutan penyajian isi bahan ajar mempermudah siswa dalam belajar. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). siswa diharapkan dengan mudah mengikuti pemaparan. dalam menjelaskan Hak asasi manusia dalam mata .

Melalui guntingan koran tersebut. atau caption dalam program video. Dalam beberapa kasus. tercetak-narasi sebagai bagian dari penyajian isi bahan ajar dalam materi pokok yang berbentuk cetak. atau dari internet. ataupun dari situs-situs di internet. penomoran. siswa akan dapat berdialog sesuai petunjuk dalam LKS. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. petunjuk belajar bagi siswa. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. alat bantu juga dapat berupa rangkuman. guru tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. audio. Dalam bahan ajar cetak. atau dalam bentuk noncetak. Untuk menjelaskan konsep tersebut diperlukan alat peraga yang dapat menggambarkan pelaksanaan dan pengadilan HAM internasional. poster. dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berbentuk tertulis. judul bab yang jelas. Dalam bahan ajar non-cetak.pelajaran PKn di SMA. Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar harus konsistensi. sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah. misalnya nada suara yang berbeda dalam kaset audio. serta tanda-tanda khusus yang diberlakukan serta dapat membantu siswa. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita. serta tanda-tanda khusus. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. kartu-kartu (flipchart). Jadi. Contoh dan ilustrasi dapat dikembangkan dalam beragam bentuk. Guru dapat mencari kasus di koran. atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. seperti video. Koran. untuk memngetahui pengadialan HAM internasional. alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama . yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan (bukan malah membuat siswa semakin bingung). model.

Dalam bahan ajar audio. 6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar perlu ada penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. atau penyajian langsung dapat digunakan sebagai tanda dari rangkuman. diingat. Bahan ajar dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. Dengan demikian. jangan gunakan warna kuning untuk komponen lain dalam bahan ajar. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. gambar ―orang sedang berpikir‖ digunakan untuk arti ―uji kompetensi‖ yang harus dikerjakan oleh siswa secara tertulis. . atau meneruskan pembelajaran. konsistensi istilah sangat diperlukan sehingga siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. Contoh. Peran ini perlu dijelaskan kepada siswa dengan cermat. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. clip video yang berupa grafik. Dalam hal ini. setiap kali siswa melihat warna kertas kuning. atau meneruskan pembelajaran. 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar perlu memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. paket kerja mandiri). atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. tanda perintah berhenti. maka seterusnya gunakanlah warna kertas kuning untuk LKS.hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. mengulang. mengulang. dan dipelajari oleh siswa. jika guru menggunakan kertas kuning untuk lembar kerja siswa. maka siswa akan menandai sebagai LKS. Misalnya. Dalam bahan ajar cetak. intonasi suara dapat digunakan sebagai tanda atau format untuk berhenti. Dalam bahan ajar video.

serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. yang meliputi pemilihan ragam bahasa. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. dan penyusunan paragraph yang bermakna. maka bahan ajar tidak akan bermakna apa-apa. Penggunaan bahasa.Bahan ajar juga perlu menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. dan penjelasan. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. seperti kaset audio. video. dan lain-lain. serta dikemas dengan menarik. lembar kerja siswa. mengerjakan tugas-tugasnya. bahan ajar berbasiskan komputer. menggunakan format yang konsisten. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa. ajakan. Dengan demikian. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. siswa dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain. 4. Dalam bahasa komunikatif. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. pemilihan kata. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. penggunaan kalimat efektif. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar terjadi. namun jika bahasa yang digunakan tidak dimengerti oleh siswa. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. Dengan demikian. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. dan tidak terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendiri-sendiri. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. pertanyaan. Walaupun isi bahan ajar sudah cermat. Hal ini sangat perlu sebagai . Penggunaan bahasa menjadi faktor penting.

Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. kadangkala dapat membingungkan siswa. dan lebih mudah dimengerti. jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. . kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut. serta keterpaduan. Gagasan utama. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar. bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. Pada gilirannya. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. yang berbentuk kalimat topik. Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas.salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya. Di samping itu. dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. Selain itu. Selanjutnya. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. singkat. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis.

5. Perwajahan/Pengemasan

Perwajahan dan atau pengemasan berperan dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak, serta pengemasan dalam paket bahan ajar multimedia. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. 3) Padukan grafik, poin, dan kalimat-kalimat pendek, tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan, karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu, jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian, tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan.  Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar, sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri, atau dengan teman-teman dalam kelompok).
6. Ilustrasi

Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar memiliki ragam manfaat, antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar, jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. Namun, ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis, yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. Selain itu, ilustrasi juga dapat diambil dari sumber

langsung (misalnya foto), sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). Jika ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain, penulis berkewajiban memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. Selain itu, ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik, memotivasi, komunikatif, membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar, antara lain daftar atau tabel, diagram, grafik, kartun, foto, gambar, sketsa, simbol, dan skema.
7. Kelengkapan Komponen

Idealnya, bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik, meliputi penyampaian tujuan belajar, memberi bimbingan tentang strategi belajar, menyediakan latihan yang cukup banyak, memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci, soal, tugas, kegiatan), serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket, atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet, atau buku lain), panduan belajar/siswa, serta panduan guru. Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti, yaitu komponen utama, komponen pelengkap, dan komponen evaluasi hasil belajar. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa, atau harus dikuasai siswa. Kebanyakan, bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak, misalnya buku teks, buku pelajaran, modul, dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama, atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa.

Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan, bacaan, jadwal, silabus, peta materi, kliping kasus), bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak, peta materi dalam bentuk program komputer, video, kaset, web suplemen, simulasi komputer, kit), panduan siswa (peta materi, petunjuk belajar, latihan dan tugas, tips, kata-kata sukar, pemilahan materi), panduan guru (peta materi, petunjuk bagi guru, konsep inti topik atau pokok bahasan, latihan dan tugas, rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik, yang disajikan melalui beragam media, secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
a. Bahan Ajar PKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
b.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

2. Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga Beberapa usulan pakar dan praktisi agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
c. Bahan Ajar PPKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
d.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

Struktur bahan ajar dan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT . Semboyan tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya buku pelajaran. dengan guru. Semboyan bahwa ―buku adalah salah satu sumber ilmu‖. Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Karena buku pelajaran merupakan sumber . Karakteristik Bahan Ajar Mata Pelajaran Pkn berbasis DD/CT Hasil penelitian ditemukan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT menjadi salah satu alternatif pilihan guru dalam pembelajaran PKn yang memberikan kesempatan lebih banyak pada siswa untuk berdialog dengan teman. Hal ini dimaksudkan untuk dapat dipergunakan oleh guru dan siswa sesuai dengan jenjang kelasnya. Disamping itu bahan ajar berbasis DD/CT dipandang akan mampu merangsang siswa untuk berpikir kritis. secara umum memiliki struktur yang mengacu pada kompetensi dasar dan indikator sebagaimana yang terdapat dalam standar isi. dengan orang tua. Tuntutan pendidikan dewasa ini yang memberikan otonomi pada sekolah dan guru dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk menyusun bahan ajar yang tepat. ―buku adalah guru yang baik tanpa tatap muka‖. Dengan demikian kedepan guru dituntut dapat menyusun bahan ajar mata pelajaran yang diampunya. seni dan agama serta ide-ide‖ (Pusbuk. buku adalah media komunikasi tentang IPTEK. sesuai dengan standar kompetensi. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga BAHASAN 1. dengan masyrakat disekitarnya.2. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. ―buku adalah jendela informasi dunia‖. 2003). Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. kompetensi dasar dan kemampuan siswanya.

dan tugas-tugas pengembangan. dan (c) keakuratan: bahwa isi materi yang disajikan harus benar secara keilmuan. (b) sistematika sajian. karena isi materi relevan dengan standar isi yang dikembangkan dalam KTSP. Dengan kriteria ini maka hasil penelitian menunjukkan bahwa keakurasian materi bahan ajar PKn berbasis DD/CT tercapai ini tebukti banyak pendapat yang menyatakan materi yang disajikan sebagai sesuai dengan kompetensi dasar. Kalau dengan KTSP terdapat cukup tepat dengan kompetensi dasar tentunya dalam pemanfaatannya perlu penyesuaian dengan KTSPnya (2) Aspek penyajian. serta grafika. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas dan hasil penelitian . mutahir atau sesuai dengan perkembangan yang terbaru. memerhatikan ilustrasi dan format. (c) kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Ini berarti untuk dipergunakan dengan dalam rangka implementasi kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat dipergunakan.belajar dan media yang sangat penting untuk mendukung tercapainya kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran. penyajian. Davis (1955) dalam Puskur (2003) menyatakan bahwa buku pelajaran yang baik berisi materi yang sesuai dengan kurikulum. berdasarkan hasil penelitian menunjukkan cukup sistematis. Aspek penting yang diperhatikan adalah materi. bermanfaat bagi kehidupan dan pengemasan materi sesuai dengan hakekat PKn. Aspek penyajian bahan ajar PKn berbasis DD/CT dapat dijabarkan sebagai berikut (a) kelengkapan sajian. bahasa dan keterbacaan. hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT cukup memiliki kecukupan. Hasil penelitian dan analisis bahan ajar berbasis . di dalamnya memuat kompetensi dasar. yakni materi pokok yang disajikan dalam buku pelajaran PKn umumnya adalah (a) relevansi: bahwa isi materi bahan ajar sesuai dengan standar isi. Berdasarkan analisis bahan ajar berbasis DD/CT telah cukup lengkap dalam sajian. Buku pelajaran PKn berbasis DD/CT dapat secara efektif menunjang pencapaian kompetensi pembelajaran PKn dibuat sedemikian rupa untuk memenuhi standar . disesuaikan dengan usia dan kematangan siswa. maka dapat dikemukakan bahwa bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT untu SMA: (1) aspek materi pelajaran . Bahan ajar PKn berbasis DD/CT. materi pokok. (b) kecukupan: muatan materi bahan ajar telah memadai untuk mencapai kompetensi. disusun oleh penulis yang kompeten.

kalimat. warna dan ilustrasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bahan ajar yang dipergunakan dalam hal ukuran cukup bagus. 2. Keterbacaan. materi luas hal ini dikemukakan baik oleh guru sebagai praktis maupun pakar. hanya ilustrasi kurang. sedangkan beberapa menggunakan kertas yang agak buram. Yakni yang berkaitan dengan ukuran bahan. jenis kertas. Secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih kering ilustrasi yang merangsang siswa untuk membicarakan dengan orang lain dan memikirkan lebih kritis. (3) Aspek bahasa dan keterbacaan. dan (d) cara penyajian. yakni sebagaimana bahan ajar atau buku yang memberi nuasa berdialog siswa. ukuran huruf. misalnya Bu Yayuk dari SMA di Magetan menyatakan LKS berbasis DD/CT ini saya kita lumayan merangsang siswa untuk berpikir dan berdiskusi. cetakan. meskipun secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah menggunakan kaidah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. jenis kertas menunjukkan beberapa menggunakan kertas putih. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Mata Pelajaran PKn yang Berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking Hasil wawancara dengan beberapa guru. terdapat buku yang contoh yang diangkat kurang kontekstual artinya beberapa gambar yang disajikan tidak dipahami oleh siswa karena dari negara lain. Hasil penelitian menunjukkan bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat wacana yang membuka wawasan siswa tentang materi yang akan dipelajari. (4) Aspek grafika. cetakan dan ukura huruf bagus. Bahasa disini berarti dalam penyajian bahan tepat dalam penggunaan kosakata. namun menurut saya perlu pedoman yang jelas bagaimana dan dimana jawaban harus dibuat sedangkan Pak Wayan mengemukakan bahan ajar . Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bahasa yang dipergunakan cukup dipahami siswa SMA. paragraf dan wacana.DD/CT menunjukkan bahwa bahan ajar PKn.Sehingga bahan ajar PKn berbasis DD/CT ini sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa student centered. Dengan sajian materi yang luas cukup memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya untuk berpikir kritis. Hasil penelitian juga menunjukkan cara penyajian yang dikemas dalam bahan ajar Pknberbasis DD/CT relative kontekstual.

sebagian responden menyatakan mudah dipahami. LKS PKn berbasis DD/CT tidak sulit bagi siswa SMA. Sedangkan tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menyatakan cukup sulit dipahami. meskipun demikian banyak menyatakan bahwa struktur LKS matapelajaran PKn runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. dan sedikit yang menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. sulit dipahami.dan LKS berbasis DD/CT. menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada satandar isi Tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. sangat sulit dipahami. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1) Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada . Lainnya mengatakan paparan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi. banyak responden menyatakan cukup sulit dipahami. Dengan demikian dari segi bahasa. sebagian besar responden menyatakan runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi. sebagaian kecil siswa menyatakan mudah dipahami. Sehingga beberapa siswa menyatakan‖ bahwa LKS berbasis DD/CT ini mengasikkan karena dapat dikerjakan sendiri ‖ 3. sebagian besar responden menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. dan tidak runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. Struktur lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn di sekolah. Kondisi ini disebabkan LKS berisi rangkuman materi dan soal-soal yang harus dikerjakan secara individual oleh siswa. dan siswa menyatakan sangat mudah dipahami. dan hanya sedikit menyatakan sulit dipahami.sudah match jadi materi yang ada di bahan ajar sama dengan yang di LKS. namun tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran PKn .

sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu.dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya. benar dari segi keilmuan. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia sebagaimana Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar berbasis DD/CT tidak dikembangkan secara asal-asalan. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal. . Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu.

dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. dan utuh topik yang akan disajikan kepada siswa. atau dari fakta ke konsep. Tentunya. Dalam hal ini seberapa banyak atau luas suatu topik yang akan disajikan? Seberapa dalam suatu topik yang perlu dibahas? Bagaimana keutuhan konsep yang disajikan? Banyak pertimbangan yang perlu diperhatikan. 3.. sebagai berikut. Dalam hal ini. siswa dengan mudah mengikuti pemaparan. tujuan pembelajaran atau topik tertentu di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama akan berbeda dengan tujuan pembelajaran atau topik yang sama di Sekolah Menengah Atas. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). Setiap guru pasti mempunyai tujuan pembelajaran yang dijabarkan dari kompetensi dasar dan indikator. Dengan demikian. sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda. dari yang mudah ke yang sukar. 1) Paparan yang logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis.Keluasan dan kedalaman isi bahan ajar sangat berhubungan dengan keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu. Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. Lihatlah tujuan tersebut. keluasan maupun kedalamannya akan berbeda. Dalam Bahan ajar PKn berbasis DD/CT penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep. kemudian berlandaskan pada tujuan tersebut dapat menentukan seberapa luas. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. Dengan . antara lain yang paling utama adalah kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran. Kemudian kembangkanlah bahan ajar – materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan tersebut. Bahan ajar yang dipaparkan secara tidak logis akan menyulitkan siswa. dalam. Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah.

atau penyajian uraian. sekaligus merangsang untuk berdialog mendalam. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. Tampaknya belum banyak contoh-contoh yang mempermudah siswa lebih memahami bahan ajar. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. audio. Misalnya. atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. kartu-kartu (flipchart). tidak meloncat-loncat. Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan . tidak terkotak-kotak satu sama lain. seperti video. atau dalam bentuk noncetak. latihan. 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah disajikan secara sistematis. penyajian uraian.demikian. contoh dan latihan. bahan ajar tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. yang mendorong siswa mencari sumber lain. model. Kelemahannya belum banyak contoh-contoh dan latihan yang kontestual. Padahal dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. latihan. Kelemahan dari pemaparan bahan ajar berbasis DD/CT ini karena keruntutannya dapat menyebabkan siswa kurang dapat mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis. dalam menjelaskan Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. 3) Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. Contoh dan ilustrasi yang dikembangkan dalam bahan ajar berbasis DD/CT dalam penyajian isi bahan ajar belum bervariatif mestinya bisa poster. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. atau contoh.

alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. . Dalam bahan ajar Pkn DD/CT sebagai bahan cetak. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki format yang memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. konsistensi yang dipelihatra adalah mengenai istilah dengan harapan siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). Jadi. Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah dibuat dengan cetak. sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah. penomoran. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. diingat. Koran. Dalam hal ini. serta tanda-tanda khusus. Misalnya. Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar Pkn berbasis DD/CT belum konsistensi. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. dan dipelajari oleh siswa. Dalam beberapa kasus. ataupun dari situs-situs di internet.(bukan malah membuat siswa semakin bingung). judul bab yang jelas. kotak bahan dialog. alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. gambar ―orang sedang berdemontrasi‖ digunakan untuk arti ―rapat‖ . 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut..

yang meliputi pemilihan ragam bahasa. video. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. pertanyaan. bahan ajar berbasiskan komputer. Dalam bahasa komunikatif. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa. siswa kurang dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain. mengerjakan tugas-tugasnya. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan.6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. pemilihan kata. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. agar bahan ajar bermakna bagi siswa. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. dan lain-lain. Kelemahan bahan ajar Pkn berbasis DD/CT ini belum menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. dan penjelasan. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. lembar kerja siswa. dan terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendirisendiri. ajakan. penggunaan kalimat efektif. Bahan ajar PKn dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. 4. seperti kaset audio. dan penyusunan paragraph yang bermakna. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. Dengan demikian. Dengan demikian. paket kerja mandiri). Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT cukup memadai dalam penggunaan bahasa yang dimengerti oleh siswa. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. Peran ini telah dijelaskan dalam bahan ajar PKn tersebut dijelaskan kepada siswa dengan cermat. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar . Penggunaan bahasa.

. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. Selain itu. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. Hal ini sangat perlu sebagai salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. serta keterpaduan. dan lebih mudah dimengerti. Selanjutnya. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. kadangkala dapat membingungkan siswa.terjadi. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. yang berbentuk kalimat topik. Gagasan utama. singkat. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. Di samping itu. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif.

 Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut. karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. Pada gilirannya.. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. Perwajahan/Pengemasan Dalam Hal perwajahan dan atau pengemasan bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih banyak kelemahan terutama dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak. . poin. dan kalimat-kalimat pendek. tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan. 5. 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. atau dengan teman-teman dalam kelompok). jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian. sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri.Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. 3) Padukan grafik. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan.

serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. Kelengkapan Komponen Bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT cukup memiliki kelengkapan komponen. sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. atau buku lain).Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT ilustrasinya kurang bervariasi. memberi bimbingan tentang strategi belajar.6. kegiatan). antara lain daftar atau tabel. menyediakan latihan yang cukup banyak. ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis. yakni informasi . komunikatif. memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. memotivasi. sketsa. diagram. Kelemahan dalam bahan ajar ini ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain. bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. penulis belum memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. 7. soal. Selain itu. . dan skema. gambar. atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet. meliputi penyampaian tujuan belajar. foto. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket. kartun. simbol. ilustrasi juga dapat diambil dari sumber langsung (misalnya foto). tugas. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar. jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik. serta panduan guru. Selain itu. Namun. grafik. Ilustrasi Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki ragam manfaat. pelengkap dan evaluasi Idealnya. ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik. Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar. panduan belajar/siswa.

web suplemen.Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti. silabus. perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan  Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar  Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik  Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis . buku pelajaran. peta materi dalam bentuk program komputer. kliping kasus). komponen pelengkap. kata-kata sukar. video. bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak. atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa. Kebanyakan. secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. atau harus dikuasai siswa. konsep inti topik atau pokok bahasan. Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan. peta materi. jadwal. bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS berbasis DD/CT ini dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut: 1. modul. tips. latihan dan tugas. yaitu komponen utama. dan komponen evaluasi hasil belajar. petunjuk belajar. kaset. dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. latihan dan tugas. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama. panduan guru (peta materi. Bahan Ajar PPKn     Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak. panduan siswa (peta materi. yang disajikan melalui beragam media. misalnya buku teks. simulasi komputer. pemilahan materi). bacaan. kit). petunjuk bagi guru. rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik.

DD/CT "dicita-citakan" menjadi sebuah pendekatan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn alternatif. Lembar Kerja Siswa (LKS)  Soal-soal jangan di luar materi  Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang  Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari  Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa  Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir  Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar  LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga 4. Menyusun buku dengan bahasa yang menarik. dimana melalui DD/CT diharapkan siswa belajar melalui "mengalami. namun demikian guru harus tetap memantau dan mengarahkan untuk mencapai kompetensi. Dalam pendekatan ini bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsedapat mungkin mengurangi pengajaran yang terpusat pada guru (teacher centered) dan sebanyak mungkin pengajaran yang terpusat pada siswa (Student centered). merasakan. medialogkan" bukan hanya "menghafalkan".Hal ini sesuai dengan pandangan Gross ( 2000) bahwa dengan mengalami sendiri. mudah difahami dan mengajak siswa berpikir  Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir  Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi. . Dengan landasan filosofi konstruktivisme. Model Bahan Ajar dan Lembar Kegitan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) merupakan model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn yang membantu guru untuk menjadikan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn bermakna bagi siswa. 2.

selain itu juga dapat menghadirkan hati dan pikiran siswa-guru pada bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsaat itu. dan mengembangkan kecakapan hidupnya. Untuk menjabarkan topik sebaiknya dilaksanakan dengan kegiatan menggali dan menemukan sendiri 3. mendialogkan dan akhirnya mekonstruksikan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan baru. Sebagaimana . maka pengetahuan dan pemahaman siswa akan sesuatu yang baru akan mengendap dalam pikiran siswa dalam jangka panjang yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk bekal siswa dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. 2. Pergunakan berbagai media dan sumber belajar untuk memperluas wawasan 6. Hal ini selain dapat menciptakan situasi tenang sebelum perkuliahan.merasakan. Berilah siswa kesempatan untuk melakukan refleksi sebelum pelajaran berakhir 7. refleksi dan evaluasi. kegiatan inti dengan strategi penemuan konsep (Concept Attainment) dan Cooperative Learning. Penilaian hendaknya tidak hanya berdasarkan tes Lima komponen yang terdapat dalam model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan pendekatan DD/CT yakni hening. menganalisis. untuk mengamati. membangun komunitas. mendialogkan dengan orang lain. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan DD/CT di kelas cukup mudah. Berdayakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan bertanya secara terbuka 4. Perubahan pandangan guru bahwa pemberdayaan siswa dalam bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan memberi kesempatan pada siswa. maka dapat dikemukakan bahwa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan DD/CT memiliki beberapa keunggulan seperti bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn diawali dan diakhiri dengan "hening". Ciptakan suasana dialog mendalam ' antar siswa" dan "antara siswaguru" oleh karenanya upayakan untuk selalu belajar dalam kelompok 5. Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan di bab sebelumnya. apabila guru telah memahami kaidahkaidahnya sebagai berikut: 1.

Kegiatan membangun komunitas juga merupakan sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat majemuk oleh karena itu apabila dalam pembelajaran telah dibangun keterikatan terhadap komunitas kecil (kelas).dikemukakan oleh Swidler (2000) yang menekankan pentingnya hening dalam segala aktifitas. Ini menjadi tatantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan . dan mengambil keputusan yang tepat dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Kegiatan refleksi juga merupakan sesuatu yang dapat dipandang keunggulan pendekatan DD/CT. dan sikap terpuji lainnya akan dapat mengantarkan siswa menjadi warga negara demokratis.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). Kebiasaan selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan termasuk kegiatan belajar mengajar. maka pada skala makro sikap dan perilaku toleransi. Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. Refleksi memiliki fungsi mendidik pada siswa untuk menyukai belajar dari pengalaman yang telah dilaluinya. karena menurutnya dengan hening seseorang telah menjalin interaksi intern yakni dengan dirinya maupun ekstern yakni dengan Tuhan. telah dapat menciptakan kebersamaan. juga ungkapan bebas dari pandangan. Demikian juga kegiatan penemuan konsep dan cooperative learning. dan dialog mendalam tentang segala hal baru yang diterima mahasiswa. Lebih lanjut dikemukakan bahwa hening membawa manusia pada pengendapan hati dan pikiran. mencari solusi permasalahan dengan caranya sendiri dan bantuan orang lain. Ini sejalan dengan pendapat Gross (2000) bahwa dengan refleksi terjadi proses penajaman pengalaman yang peroleh dan mereproduksi ketika menyampaikan secara lesan. kegiatan ini juga merangsang daya kritis siswa dalam menangkap permasalahan. berani tampil beda. sehingga akan mendukung upaya pendidikan anak seutuhnya (PAS) yang pada gilirannya akan sangat mendukung upaya mewujudkan manusia Indonesia Seutuhnya (MIS). sehingga memudahkan proses dialog mendalam. karena dapat sebagai sarana saling introspeksi baik dosen mapun mahasiswa. secara langsung telah membimbing dan mengajarkan mahasiswa menjadi insan religius. usul terbaiknya demi kebaikan bersama. menghargai perbedaan. terbuka terhadap kritik.

Dengan model bahan ajar dan LKS bernuansa DD/CT diharapkan prestasi siswa juga semakin meningkat. utamanya implementasi pembelajaran inovatif dengan menggunakan sarana bahan ajar dan LKS Berbasis DD/CT ini.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). refleksi dan doa. mulai dari hening sampai evaluasi. . Interaksi belajar-mengajar juga semakin meluas tidak hanya satu arah yakni guru-siswa.bahkan kalau perlu dengan nara sumber yang berada di luar lingkungan sekolahnya. Bahan ajar dan LKS PKn dengan DD/CT dibuat dipandang mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. Ini menjadi tantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya. namun multi arah. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Bahan ajar dan LKS PKn dengan pendekatan DD/CT adalah model bahan ajar dan LKS dengan lima komponen utama yakni hening (doa). serta memuat hasil penelitian dalam jurnal-jurnal baik yang nasional maupun internasional Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. Pembelajaran berbasis DD/CT terus melakukan penelitian lanjutan. model ini dapat mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif.model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya. membangun komunitas. karena bahan ajar ini memberi peluang dan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk ambil bagian dalam proses pembelajaran. Saran Bahan Ajar dan LKS Mata pelajaran PKn Berbasis DD/CT ini perlu sempurnakan dengan cara mengimplementasikannya ke sekolahsekolah yang lebih beragam. paparan materi pokok.

Diknas. Dirjen Dikdasmen Depdiknas. 2000. E. Surakhmad. PUSKUR-Dirjendikdasmen Frazee. Jembatan Swidler. 2002. Jakarta. Del mar Publishers. Curricullun in Turbelence Era. Bahan pelatihan Pendidikan Anak seutuhnya (PAS) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Global dialogue Institute dan UNICEF. Classroom Applications. and Field-based Connection. 2000. Strategi Pembelajaran Berdasarkan Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking. Jakarta. Pembelajaran Kewarganegaraan dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Menyongsong KBK. 1979.J. Malang. 2001. 1995. B. Makalah pelatihan guru PPKn MA se kabupaten Pasuruan. Malang. Philadelphia. Jakarta. & Rudnitski. 2002. Dirjendikdasmen Depdiknas. Sri Suntari dan Sri Untari . Suparlan dan Milan Rianto. Model Pengintegrasian Budi Pekerti ke dalam PPKn untuk Guru SLTP. Integreted Teaching Methods: theory.2000. Temple University Press . Kompetensi guru. PPPG PMP-IPS Danial. 2002.L and paul Mojzes. Dilaksanakan di Malang tanggal 1--11 Juli 2001 Gross. The Study of Religion in an Age Global Dialogue. Direktorat SLTP. PPPg PMP-IPS Sri Untari. Metode Pengajaran Nasional. New York. 2000.M. Ar. Penulisan Karya Ilmiah. Philadelphia University Press. GDI. Jakarta. Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking dalam Pendidikan Indonesia.W. Deep Dialogue and Critical Thinking as Instructional Approach. Steven.DAFTAR RUJUKAN Al Hakim.2000.

Eddy Supramono adalah dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang . Students obtain the concepts in the form of clarification and information from lecturer and then ones will be applied to some problems. Penguasaan Konsep Fisika. giving opportunity for students for fundamental physics concept mastering through laboratory activities. Some Various study strategy have been strived to increase student concept domination. integrating erudite process and physics concept. One of the strategy is decanted in the module of Physics by Inquiry. According to the observation of study process of fundamental physics and interviewing with some students. Key words: Modul Physics by Inquiry. The Module applies study strategy. Model Pembelajaran Investigasi Kelompok Mata Kuliah Fisika Dasar merupakan salah satu mata kuliah yang termasuk pada rumpun Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK) yang diwajibkan bagi mahasiswa tahun pertama di FMIPA Universitas Negeri Malang. The Concepts acquirement is not constitute to the understanding of erudite process which ought to student experience.Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Abstrac: The quality of physics conception domination is very determined by study process which is done by students. it indicates that the students difficulty is located in the way of comprehending and mastering The fundamental physics lecture concepts.

mata kuliah ini memiliki bobot 6 SKS yang terbagi dalam mata kuliah Fisika Dasar I (3 SKS) pada semester I dan Fisika Dasar II pada semester II (3 SKS). Melalui pembentukan kelompok-kelompok dengan pola tertentu. yaitu pola tutorial sebaya. Penelitian ini berorientasi pada Teori Kognitif Sosial. penelitian ini akan menghasilkan teori yang lebih rinci dalam cakupan Teori Kognitif Sosial. sehuigga struktur kognitif siswa akan tumbuh dan berkembang dengan kecenderungan-kecenderungan tertentu pula. Mata kuliah ini secara langsung didukung oleh mata kuliah praktikum Fisika Dasar I pada semester I (1 SKS) dan praktikum Fisika Dasar II (1 SKS) pada semester II. kooperatif dan kolaborasi teman sebaya akan tercipta interaksi sosial di antara siswa dengan pola tertentu pula. Modul ini menggunakan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan proses ilmiah dan konsep Fisika yang memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menguasai konsep Fisika Dasar melalui kegiatan laboratorium. dan diberikan pada kelas kecil dengan jumlah mahasiswa per kelas 20 orang mahasiswa.Berdasarkan kurikulum di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Salah satu strategi pembelajaran tersebut diantaranya tertuang dalam modul Physics by Inquiry. Berdasarkan pengamatan pada proses pembelajaran Fisika Dasar dan wawancara dengan mahasiswa menunjukkan bahwa kesulitan mahasiswa terletak dalam cara memahami dan cara menguasai konsep-konsep yang ada dalam mata kuliah Fisika Dasar. Strategi pembelajaran yang digunakan dalam modul Physics by Inquiry ini didasarkan pada kurikulum berbasis laboratorium. Berbagai strategi pembelajaran telah diupayakan untuk meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa. . Dengan demikian. Mahasiswa memperoleh konsep dalam bentuk informasi dan penjelasan dari dosen yang kemudian diterapkan dalam bentuk latihan soal. Modul ini pertama kali dikembangkan oleh The Physics Education Group di the University of Washington. Hasilnya menunjukkan peningkatan penguasaan konsep Fisika yang cukup signifikan serta mahasiswa memperoleh pengalaman langsung tentang proses ilmiah.. Perolehan konsep tersebut tidak didasari pemahaman proses ilmiah yang seharusnya dialami mahasiswa. Kualitas penguasaan konsep Fisika sangat ditentukan oleh proses pembelajaran yang dialami mahasiswa.

a. O2. O4 dan O5 adalah pengukuran pertumbuhan konsep Fisika dengan periode dua mingguan. Tabel 1 Rancangan Penelitian GI G2 G3 G4 O1 O1 O1 O1 XI X2 X3 X4 O2 O2 O2 O2 X1 X2 X3 X4 O3 O3 O3 O3 XI X2 X3 X4 O4 O4 O4 O4 XI X2 X3 X4 O5 O5 O5 O5 Keterangan: G1 = kelompok pertama G2 = kelompok kedua G3 = kelompok ketiga G4 = kelompok keempat X1 X2 X3 X4 = = = = perlakuan tutorial perlakuan kooperatif perlakuan kolaboratif perlakuan acak . Bagaimanakah interaksi dari dampak Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi kelompok yang dirancang dengan pola tutorial sebaya. yang diperluas dengan melibatkan lebih dari satu variable O1. disajikan pada Tabel 1 berikut. O3. masalah pelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.Untuk lebih tegasnya berdasarkan latar belakang di atas. 1968).Design (Caenphell dan Stanley. kooperatif dan kolaborasi teman sebaya pada Calon Guru Universitas Negeri Malang? METODE Penelitian ini dilakukan dengan mengambil jenis penelitian Quasy Experimentation (semi eksperimen) dengan mengambil model Randomized Control-Group Pretest-Paster . Adakah pengaruh dampak dari Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi Kelompok terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika Dasar para calon Guru Universitas Negeri Malang? b.

Untuk melihat dampak yang muncul selama mahasiswa para calon guru bekerja dengan model investigasi kelompok. 1984) dengan menggunakan program SPSS Release-10 for windows.Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa dijaring lewat hasil tes dengan menggunakan instrumen prestasi. data interaksi antar mahasiswa akan dianalisis secara deskriptif yang meliputi keterampilan kelompok dasar. satu kelas sebagai kelas kontrol. yaitu waktu yang digunakan belajar. yaitu tutorial sebaya. Selanjutnya. yaitu penguasaan konsep Fisika dan variabel independen. kooperatif dan kolaborasi. pola pengelompokkan belajar mahasiswa untuk kelas eksperimen akan dibentuk mengikuti aturan pengelompokkan secara pola . Analisis butir soal dilakukan dengan mengambil sekor pretes dari 2 kelas sampel penelitian. Dalam hal ini ingin diselidiki apakah pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa tergantung atau tidak dengan banyaknya waktu yang digunakan dalam penyampaian materi. apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry. Artinya. dimana dalam model tersebut ada sebuah variabel dependen. selengkapnya dapat diperiksa pada Lampiran-5. intermediate dan lanjut untuk masing-masing pola. Analisis regresi ini dimaksudkan untuk tujuan peramalan. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru jurusan Fisika Universitas Negeri Malang yang terdiri dari 6 kelas.yang dipilih secara purposif dengan pertimbangan tertentu dimana masing-masing kelas terdiri atas 25--30 mahasiswa. Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika mahasiswa dianalisis dengan regresi (Kleinbaum dan Kupper. sedangkan data tentang pengamatan interaksi mahasiswa dikumpulkan melalui instrumen pengamatan interaksi dalam kelompok. Sedangkan. Instrumen kegiatan akan dikembangkan dengan mengadopsi Modul Physics by Inquiry untuk materi Fisika Dasar I. sedang sebagai sampelnya digunakan sebanyak 4 kelas secara purposif dengan pertimbangan bahwa kesulitan teknis pelaksanaan selama eksperimen dapat dihindarkan. sampel sebanyak 4 kelas di atas akan diambil 3 kelas sebagai kelas eksperimen.

. Instrumen perlakuan dikembangkan dengan mengikuti pola pembelajaran kelompok. Lembar Kerja Mahasiswa pada kegiatan praktikum dengan mengimplementasikan Modul Physics by Inquiry Hasil uji coba instrumen penguasaan konsep Fisika menunjukkan bahwa validitas telah memenuhi syarat instrumen yang cukup baik. Analis yang digunakan adalah Anova dengan mengggunakan program SPSS Release-10 for Windows dengan terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analis.57. Dari 20 butir soal sebanyak 1 soal gugur. proses pembelajaran mengikuti alur yang sama. Reliabilitas tes tersebut ternyata cukup baik dengan koefisien reliabilitas sebesar 0. Kelas kontrol akan dikelompokkan secara acak dengan berpedoman dari absensi kelas. Tabel 3. kecuali pola pembentukan kelompoknya. HASIL Seperti telah dijelaskan di atas. pola kooperatif dan pola kolaboratif sebaya.tutorial. Dengan demikian tes penguasaan konsep Fisika yang digunakan sebanyak 19 butir soal.. dan Tabel 4 berikut. sedangkan instrumen kegiatan yang dikembangkan terdiri atas: a. Instrumen pengukuran penguasan konsep Fisika yang berupa tes dikembangkan berdasar materi Fisika Dasar I c. bahwa untuk mengetahui apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry. Dengan demikian. pertama kali yang dikerjakan adalah: 1. yaitu uji normalitas dan homogenitas varians dan hasilnya seperti pada Tabel 2. Instrumen pengamatan interaksi mahasiswa dalam kelompok b. Uji Kesamaan Kemampuan Awal mahasiswa Data yang digunakan untuk menguji kesamaan kemampuan awal ini adalah hasil tes awal atau pretes dari masing-masing kelompok.

.079. terbaca >0. dan Tabel 4 terbukti bahwa sebaran data kemampuan awal keempat kelompok data adalah normal karena harga Sig.381 . .964>0.170 25 . pola tutorial dengan sig. . 0.060 .014 .954 . sig.093 df 1 3 df 2 102 Sig.216 df 3 102 105 Mean Square 49. Tabel 3.079 .Tabel 2 Uji Normalitas Data Tes ts of Nor m ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.079 .161 25 .05. . 0.196 25 .176.157 Total 10763. Lillief ors Signif icance Correc tion Tabel 3 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRETES Levene Statistic . yaitu pola acak. 0. Dengan demikian langkah selanjutnya adalah uji kesamaan kemampuan awal masing-masing kelompok data dengan statistik Anova. pola kooperatif.059 Within Groups 10614.165 25 . . .686 104.190 a.938 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.381 dan pola kolaborasi dengan harga sig.05).190 dan persyaratan homogen variannya juga terpenuhi (sign.0. sig.095 a ACAK TUTORIAL KOOPERAT KOLABORA Statistic .178 .925 . 0.477 Sig.699 Dari Tabel 2.060 F .964 Tabel 4 Uji Kesamaan Kemampuan Awal ANOVA PRETES Sum of Squares Betw een Groups 149.937 .

931 . untuk factor 1.05 artinya bahwa kempat harga postes dari masing-masing kelompok berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%. .971 . hasil pretesnya menunjukkan tidak berbeda pada taraf signifikansi 5% atau sama. Lilliefors Significance Correction . dan 4 atau factor pola acak. Dengan demikian uji beda postes dari keempat kelompok dapat dilakukan. a. Kenyataan ini terbaca bahwa harga Sig. yang muncul adalah sebesar 0.208 25 . kenyataan ini terbaca pada Tabel 7. terbaca pada Tabel 5.Uji prasyarat analis menunjukkan bahwa keempat kelompok berdistribusi normal. 2. This is a low er bound of the true significance. Pada bagian Post Hoc Tests untuk menu Multiple Comparisons harga Turkey HSD dan Bonferroni. tutorial. sedangkan uji prasyarat homogenitas data dapat dibaca pada Tabel 6. terbaca harga sign.007 . Hasil menunjukkan bahwa kempat kelompok data adalah homogen. .943 . kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok mempunyai harga pretes yang sama atau tidak berbeda pada taraf signifikansi 5%.665 .200* .05. 2. 3.104 . maka langkah selanjutnya adalah menguji hasil postes masing-masing kelompok dengan statistik Anova.Hasil uji terlihat pada Tabel 4 yang menunjukkan bahwa kemampuan awal keempat kelompok tidak berbeda atau sama. kooperatif dan kolaborasi adalah lebih besar dari 0.955 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.000.191 25 . Tabel 5 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.019 .394 *. Selanjutnya akan dilakukan uji beda postes dari masing-masing kelompok.142 25 . sebesar 0.105 25 .243 .699 pada taraf signifikansi 5%. Hasil analisis menunjukkan bahwa harga Sign. Uji Beda Postes Antar Kelompok Oleh karena keempat kelompok. Harga ini adalah lebih kecil dari 0.200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic .

Untuk keperluan uji ini. Bila diperhatikan harga mean postes yang paling tinggi ada pada kelompok kolaborasi. Tabel 9.120 df 1 3 df 2 102 Sig. atau tutorial apalagi belajar kelompok dengan pola acak. dilakukan terlebih dulu uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas varians masing-masing kelompok data dan hasilnya seperti ditunjukkan pada Tabel 8. selanjutnya dilakukan uji beda pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I. .526 df 3 102 105 Mean Square 1146. dan Tabel 10 berikut. .345 Tabel 7 Uji Beda Postes ANOVA POSTES Sum of Squares Betw een Groups 3438. 3.934 Total 14873.Tabel 6 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s POSTES Levene Statistic 1. maka akan tepat bila kelompok tersebut dibentuk dengan mengikuti aturan pola kolaborasi.224 Sig.000 Kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok memang mempunyai harga postes yang berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%. Sebelumnya. . daripada kooperatif.592 Within Groups 11434. data-data yang diperlukan adalah sekor pretes dan postes masing-masing kelompok. artinya bahwa kalau akan membentuk kelompok belajar mahasiswa.107 F 10.197 112. Pertumbuhan Penguasaaan Konsep Fisika Dasar I Mahasiswa Setelah tahap-tahap di atas dilakukan dan hasilnya telah jelas.

495 196.165 1.129 25 .051 .527 Tabel 10 Uji Beda Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika ANOVA PRTBH Sum of Squares 48.918 . Lillief ors Signif icance Correction Tabel 9 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRTBH Levene Statistic .473 *.410 Sig. . This is a low er bound of the true signif icance.123 25 .Tabel 8 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Norm ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.002 .228 25 . . .000 Betw een Groups Within Groups Total Hasil uji yang ditunjukkan pada Tabel 8 menghasilkan bahwa data pertumbuhan masing-masing kelompok adalah normal dan uji homogenitas varians pada Tabel 9 menunjukkan bahwa keempat kelompok data adalah berasal dari varians yang sama.185 . a. Dengan demikian.954 .145 25 .382 .200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic .949 .922 F 8. .316 .746 df 1 3 df 2 102 Sig.538 df 3 102 105 Mean Square 16.044 244.200* . uji beda pertumbuhan dapat dilakukan yaitu dengan statistik Anova dan hasilnya dapat diperiksa pada Tabel 10 di atas yang terbaca bahwa harga .962 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.

24726. sebesar 0. Linier sebesar 0. maka dapat disimpulkan bahwa penguasaaan konsep Fisika mahasiswa untuk pola kelompok acak .000. Hasil olahan menunjukkan gambaran-gambaran pola pertumbuhan yang terjadi untuk masingmasing pola kelompok yang dibentuk. 0. Pola acak. yaitu uji normalitas dan homogenitas pretes dan postes yang hhasilnya telah memnuhi persyaratan. Sedangkan. data pretes.12672 seperti disajikan pada Tabel 11 di bawah. tes-3 dan postes (dilakukan setiap 2 minggu) diolah..916. Growth dan Exponent sebesar 0.26153. harga F untuk Method. namun pertumbuhan untuk masing-masing pola terhadap pola lain pada kelas eksperimen nampaknya tidak ada perbedaan. Masalahnya sekarang adalah bagaimanakah bentuk pola pertumbuhan tersebut untuk masing-masing pola? Untuk menjawab pertanyaan ini langkah-langkah yang dilakukan adalah:  Uji prasyarat analisis.sign. Hasil analisis dapat ditunjukkan seperti berikut.999 dan sebesar 0. method. bila kooperatif dibandingkan dengan kolaborasi mendapatkan harga sign. 4. tetapi tidak ada perbedaan untuk masing-masing pola kelompok. Compound. Pada bagian Post Hoc Tests pada Multiple Comparisons memperkuat pernyataan di atas. yang ditandai dengan tanda *.. Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Di bagian atas telah dihasilkan perhitungan statistik tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika pada masing-masing pola. Tampak bahwa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen secara keseluruhan berbeda secara signifikans.  Dengan menggunakan program SPSS pada statistik regresi dengan mengambil menu Curve Fit. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa walaupun pertumbuhan untuk masing-masing pola berbeda tetapi mean dari masing-masing pola hampir sama. tes-1. tes-2.865 dengan kolaborasi. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan keempat pola kelompok adalah berbeda secara signifikans pada taraf signifikansi 5%. sehingga setelah dilakukan Post Hoc Tests nampak bahwa perbedaan pertumbuhan penguasaan tersebut akan nyata bila kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini karena harga sign antara tutorial dengan kooperatif sebesar 0. sedangkan method Quadrati F = 1.

Growth.12268. Tabel 11 Curve Fit Pola Pertumbuhan Acak Analysis of Variance Method.02156 dengan beda sebesar 0.12672 0. sehingga dapat disimpulkan bahwa per- .71022 22. yaitu 45.02156 45. dan Exponent sebesar 25..12672 0.40123 yang mana harga ini masih lebih kecil dari Method Compound.36603 (Tabel 13). harga F untuk Method. harga F untuk method.62033. Linier sebesar 44.12672 0.12672 Pola tutorial sebaya.64375 1. Tabel 12 Curve Fit Pola Pertumbuhan Tutorial Sebaya Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 44. sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan penguasaan konsep pola tutorial adalah linier namun lebih mendekati kearah eksponensial disajikan pada Tabel 12.16240. Linier sebesar 25.02156 45. Growth dan Exponent.02156 Pola kooperatif. tetapi cenderung kearah pola Quadrati.40123 37.05305 45.. sedangkan Metod Compound.26153 0. Qudrati 14. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 0.tidak linier terhadap waktu yang digunakan.

81884 14.92697 (Tabel 14).12268 18. Tabel-15 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kolaborasi Analysis of Variance Method.92697 . dan Exponent harga F-nya sebesar 39. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil.36603 25. Growth dan Exponent harga F-nya sebesar 39.36603 25. perbedaaan tersebut adalah nyata. sedangkan Metod Compound. Growth. Linier sebesar 39. Pola Kolaborasi..92697 39.92937. Growth dan Exponent Metod.86311 20.92697 39.92937 30.92697 (Tabel 15). perbedaaan tersebut adalah nyata.92937. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 39. Growth dan Exponent. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil. Tabel 13 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kooperatif Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 25. Pola Kolaborasi.. sedangkan Metod Compound. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%.16240 25.92887 39. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%.tumbuhan penguasaan konsep Fisika kelompok kooperatif adalah linier cenderung kearah Metod Compound. harga F untuk Method Linier sebesar 39. harga F untuk Method.36603 Compound.

yaitu kelompok acak. Keterampilan Kelompok Lanjut: Bahwa kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi seperti ditunjukkan di atas. .Dengan demikian pola kolaborasi pertumbuhan penguasaan konsepnya lebih kearah linier dibandingkan dengan Metod.002.. Pola Tutorial Sebaya a. tutorial sebaya. Hasil Pengamatan Interaksi Di atas telah dipaparkan hasil penguasaan konsep pada masingmasing pola kelompok belajar.33%) b. Keterampilan Kelompok Intermediate: Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 83. Compound. kooperatif dan kolaborasi. (83.33%). pada akhirnya tutorlah yang berusaha untuk memperdalam permasalahan sehingga memperoleh jawaban akhir yang dianggap benar (83.33%). artinya ada kesadaran bahwa pendapat orang lain mungkin akan berguna bagi dirinya sehingga perlu untuk dicermati. namun setiap keputusan yang diambil kelompok selalu berdasar keputusan kelompok (66.33% akan mendengarkan secara seksama pendapat dari anggota kelompok.67%). sehingga kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi (66. c. Keterampilan Kelompok Dasar: Tutor berperanan aktif dalam mengawali pengambilan kesepakatan (83. Growth dan Exponent dengan beda yang cukup kecil yaitu sebesar 0.33%) dan terakhir tutor menunjukkan bukti pada anggota kelompok disertai alasan-alasannya (83.67%) artinya sifat individu tidak muncul. Bagaimana halnya sekarang dengan hasil pengamatan interaksinya? 1. Disini tampak peranan tutor yang cukup dominan (50%) yaitu megajak anggota kelompok untuk berpartisipasi.

sedangkan anggota berprestasi tinggi dan sedang justru lebih rendah (16.57%). b.86%).67%). Pola Kooperatif a.2. Poin inilah yang utama dan penting dilakukan oleh separoh dari kelompok yang melakukan kegiatan (50%). Anggota dengan prestasi paling tinggi nampaknya memegang kendali saat diskusi kelompok. bersuara pelan dalam mengemukakan pendapat (33. Keterampilan Kelompok Lanjut: Memperdalam permasalahan dalam upaya memperoleh jawaban yang benar rupanya masih dikendalikan oleh anggota yang berkemampuan tinggi (66. Keterampilan Kelompok Dasar: Mengawali pengambilan kesepakatan muncul dari anggota dengan predikat berprestasi tinggi (42. Jadi. Namun demikian setiap anggota bersedia berkompromi untuk mencapai jawaban akhir. Untuk menyumbangkan pemikiran rupanya diprakarsai oleh setiap anggota kelompok (28.29%). namun dia tetap mengarahkan kerja kelompoknya (50%). kecuali yang berprestasi rendah (14. 3.67%). Keterampilan Kelompok Dasar: Mahasiswa yang berprestasi tinggi dominan untuk mengawali pengambilan kesepakatan (50%).67%). itulah pertanyaannya. Masalahnya adalah apakah penjelasan ini benar atau salah.67%). namun dia tidak berusaha menunjukkan bukti dan alasannya mengapa jawaban bisa demikian justru yang berkemampuan sedang (83. Inilah yang penting karena dengan demikian yang .33%).33%) dan justru anggota kelompoknya yang mengajak mengemukakan pendapat (50%). Pola Kolaborasi a. namun tidak menyumbangkan banyak pemikiran dalam memecahkan masalah (16. Keterampilan Kelompok Intermediate: Menunjukkan penghargaan dan empati pada penampilan anggota ditunjukkan oleh anggota yang berprestasi rendah (33. nampak disini bahwa anggota yang merasa berprestasi tinggi merasa tidak begitu memerlukan akan pendapat anggota yang berprestasi rendah c. Kelompok ini mengarahkan bagaimana kelompok harus bekerja (66.33%) yang lebih dominan.

dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.86%). pola tutorial sebaya mahasiswa cenderung kearah pola Compound.57%. Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok belajar menunjukkan bahwa semakin tinggi kebersamaan dalam . Growth dan Exponent.14% SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil kajian disertai dengan analisis statistik dari data-data yang didapatkan. c. 14. b. Dalam menentukan prioritas dalam memecahkan masalah.57%. Untuk pola acak cenderung kearah pola quadrati. demikian juga saat menunjukkan bukti atau memberi alasan terhadap jawaban yang dikemukakannya ((42. anggota yang berprestasi tinggi kembali memegang kendali.merasa punya prestasi rendah akan menjadi terhimbas untuk belajar. Hasil ini sama saat kelompok merinci tugas dan jawaban. Keterampilan Kelompok Lanjut: pada poin untuk merinci tugas dan jawaban hampir semua kelompok anggotanya aktif melakukan ini yang hasil pengamatannya adalah 28.57% tetapi untuk memperdalam permasalahan anggota kelompok yang berprestasi paling tinggi yang lebih berperanan (42.29% dan 28. 2. sedangkan yang mengikuti pola linier adalah pola kolaborasi.57%. 28.57%. Hal ini tampak dari hasil urutan pengamatan interaksinya yaitu sebesar 28. yaitu sebesar 57. hampir semua kelompok baik yang anggotanya berprestasi tinggi ataupun kelompok yang berprestasi pada urutan yang lebih rendah semua memegang kendali pengambilan keputusan. 1. Keterampilan Kelompok Intermediate: Yang menarik pada tingkat keterampilan ini adalah bahwa dalam mengambil kesimpulan tugas-tugas kelompok. Pola pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA UM untuk masing-masing pola pengelompokkan menunjukkan pola yang berbeda-beda.29% dan 28. 28.57%. 14.86%).

memecahkan permasalahan yang dihadapi. maka akan membuat semakin baik pola pertumbuhan penguasaan konsep mereka. saling menghargai pendapat orang lain merupakan faktor penting untuk diperhatikan karena erat kaitannya dengan hasil yang didapatkan nantinya. berdiskusi. 2. 1. dapat disarankan hal-hal sebagai berikut. utamanya prestasi belajar mereka. Inilah hal utama untuk itu ditekankan sebelum kelompok terbentuk. Mencermati hasil perhitungan statistik yang telah dilakukan. maka disarankan kepada siapapun sekiranya akan membentuk kelompok belajar seyogyanya membentuk kelompok belajar dengan pola kolaborasi. . Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok menunjukkan bahwa kebersamaan untuk mau bekerja bersama-sama. Saran Dari kesimpulan yang didapatkan seperti diungkap di atas. bahwa pola kolaborasi ternyata mampu membuat pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Malang linier terhadap waktu yang digunakan belajar.

P. Buku Materi Pokok 4 Universitas Terbuka. National Research Council. L. Shafferi. J. Ohio. & Trowbridge.. Virginia. Ohio . 1986. Rohandi.. Jakarta McDermott. P. W. Penerbit Karunika. New York McDermott. C. J.. Yogyakarta.DAFTAR RUJUKAN Dahar. Preparing Teachers to Teach Physics and Physical Science by Inquiry. 1996. B. L. Physics Education. & Sund. R. R.L. M. W 1973. Columbus. A Bell & Howell Company. Menuju Kebiasaan Bertanya dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar. Washington DC. McDermott. Marzano. ASCD Publications. W. S. L. Physics by Inquiry: An Introduction to Physics and the Physical Sciences. 1996. Trowbridge. L.. Sund. Assessing Student Outcome: Performance Assessment Using the Dimensions of Learning Model. S. 2001.. Columbus.. National Academy Press. Penerbit Kanisius. Inc. Third Edition. 58 (8). R.. A Bell & Howell Company. & Constantinou. Bybee. Teaching Science by Inquiry in the Secondary School. B. A Perspective on Teacher Preparation in Physics and Other Sciences: The Need for Special Science Course for Teacher...1981. P. John Wiley & Sons. American Journal of Physics. Pickering. R. Second Edition. 1990. R. L. National Science Education Standard. C. 1993. Shafferi. W. Becoming a Secondary School Science Teacher. C. R. D. 2000. & Rosenquist. Interaksi Belajar Mengajar IPA. 35(6).C. & McTighe.

ada beberapa strategi pemrosesan kata lain yang dapat diterapkan oleh para pembelajar bahasa Inggris. Richek. menggunakan kamus. The findings reveal that most proficient readers do skip unknown words. yaitu membaca secara ekstensif (wide reading). skipping. strategy. Kusumarasdyati adalah dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Surabaya . List dan Lerner (1983). vocabulary. Untuk mengatasi masalah kosakata seperti ini. misalnya melihat kamus untuk mencari makna kata tersebut. dan menebak makna kata berdasarkan konteks. yaitu analisis terhadap struktur kata dan penggunaan konteks untuk menebak makna kata. pembelajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing acapkali menemui kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. This study attempts to examine the use of skipping as a lexical processing strategy in reading comprehension and explore the reasons for utilizing this strategy. misalnya. Namun taksonomi yang disusun oleh Robinson (1977) terdiri dari tiga strategi. Some recommendations are made based on these findings. mengusulkan taksonomi yang terdiri dari dua strategi saja. unknown words Dalam membaca pemahaman. and there are five reasons underlying the application of this strategy. Selain penggunaan kamus. Key words: reading. mereka menerapkan berbagai macam strategi pemrosesan kata (lexical processing strategies). dan strategistrategi tersebut telah disusun menjadi taksonomi oleh beberapa pakar.Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Abstract: Proficient readers usually skip unknown words that they encounter in a reading text.

sedangkan proses melompatnya pandangan ke titik lain disebut saccade. Karena itu penelitian ini berpijak pada taksonomi strategi pemrosesan kata yang disusun oleh Fraser. Skipping dalam membaca pemahaman sebenarnya telah diketahui oleh para pakar sejak dekade 1970-an. Berdasarkan latar belakang tersebut. Karena anggapan yang kurang tepat seperti ini. nampak bahwa klasifikasi strategi yang paling lengkap disusun oleh Fraser (1999). Penelitian mengenai gerakan mata (eye movement) menemukan bahwa mata tidak bergerak secara kontinyu dari satu kata ke kata berikutnya ketika membaca. yaitu mengakui ignore sebagai salah satu strategi. sedangkan wide reading yang dikemukakan oleh Robinson sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai strategi tersendiri karena pembelajar biasanya menebak makna kata atau menggunakan kamus ketika sedang membaca secara ekstensif. Rayner dan Pollatsek. Proses berhentinya mata pada suatu titik disebut fixation. melainkan berhenti sebentar pada suatu titik dalam teks kemudian melompat dengan cepat ke titik yang lain dalam teks yang sama (Rayner dan McConkie. Reichele et al. penelitian ini mencoba untuk mendalami skipping sebagai salah satu strategi pemrosesan kata yang digunakan oleh pembelajar bahasa. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pembelajar mengumpulkan informasi lebih banyak mengenai teks pada tahap fixation di suatu kata. 1998). taksonomi Fraser juga memiliki kelebihan lain. strategi berupa melewati kata-kata sulit-atau skipping unknown words-tidak terlalu diperhatikan oleh para peneliti dan pengajar bahasa. Mereka tidak menyadari bahwa melewati kata yang tidak ditemukan maknanya sebenarnya juga merupakan strategi atau teknik yang dilakukan oleh pembelajar dalam menghadapi kata-kata sulit. Dua strategi yang diusulkan oleh Richek et al dapat dimasukkan ke dalam kategori infer. Dari beberapa taksonomi di atas. consult (melihat makna kata di kamus) dan ignore atau skipping (mengabaikan makna kata). dan menurut mereka apabila kedua strategi ini gagal dalam membantu pembelajar untuk menemukan makna kata maka kata tersebut ‗cukup‘ dilewati saja. 1976. Selain lebih lengkap dibandingkan dengan yang lain. 1989. dan amat sedikit informasi yang .Fraser (1999) juga membagi strategi pemrosesan kata menjadi tiga: infer (menebak makna kata). Selama ini banyak peneliti dan pengajar bahasa yang menganggap bahwa menebak makna kata atau melihat kamus saja yang bisa dikategorikan sebagai strategi.

Menurut Fraser. Meskipun hasil penelitian di atas memberikan bukti empiris akan adanya strategi skipping dalam menghadapi kata-kata sulit di bacaan. misalnya. yang menunjukkan bahwa para subjek penelitiannya mengabaikan sekitar separuh dari kata-kata sulit yang mereka temukan dalam bacaan karena mereka menganggap kata-kata tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk pemahaman keseluruhan bacaan. pembelajar melewati 24% kata yang tidak mereka ketahui maknanya. Kalau pun ada kata yang terbaca. bukti lain diberikan oleh penelitian mengenai penggunaan strategi dari sudut psikolinguistik. Selain itu. Hasil penelitian kuantitatif Fraser (1999) mendukung temuan di atas. sedangkan 35% merupakan strategi yang digunakan setelah gagal menebak makna kata. Pressley . Penelitian Hosenfeld (1976). Jumlah ini lebih rendah daripada pemakaian strategi menebak makna kata (44%) dan melihat kamus (29%). pembelajar biasanya tidak memberikan perhatian yang terlalu banyak pada kata tersebut (Reichele et al. hingga saat ini tidak banyak yang meneliti secara mendalam mengapa pembelajar melewati begitu saja kata-kata sulit dalam teks yang mereka baca. Sekitar 62% dari penggunaan strategi melewati kata ini merupakan strategi tunggal (tanpa didahului atau diikuti oleh menebak atau melihat kamus). menunjukkan bahwa pembelajar yang kemampuan membacanya baik biasanya melewati kata-kata yang tak diketahui maknanya karena kata-kata tersebut dipandang tidak terlalu penting untuk memahami makna keseluruhan bacaan. Hosenfeld (1976) serta Paribakht dan Wesche (1999) menemukan bahwa alasan skipping adalah anggapan pembelajar bahwa kata-kata sulit tersebut tidak penting untuk pemahaman bacaan keseluruhan. hanya saja data numerik yang dihasilkan agak berbeda. Hasil pengamatan terhadap gerakan mata di atas memberikan bukti yang kuat bahwa pembelajar memang melakukan skipping atau melewati beberapa kata ketika membaca suatu teks. Hosenfeld juga menemukan bahwa kata-kata yang dianggap penting pun terkadang dilewati saja oleh para pembelajar karena gagal mendapatkan makna yang sesuai setelah mencoba beberapa kali untuk melihat kamus atau menebak dari konteks.diperoleh pada tahap saccade karena pembelajar melewati beberapa kata begitu saja selama pandangan melompat dari satu titik ke titik lain. Hal ini sejalan dengan temuan dari penelitian Paribakht dan Wesche (1999). 1998). Selain bukti dari sudut fisik pembelajar.

Data kualitatif diambil dari 8 mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang terpilih menjadi subjek penelitian dengan memakai metode purposive sampling dari populasi sejumlah 74 mahasiswa. Selain itu. Dengan demikian. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan secara mendalam alasan mengapa para pembaca yang kemampuannya baik mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam bacaan berbahasa Inggris. sehingga perlu diteliti lebih jauh apakah hanya kedua alasan itu yang memicu terjadinya skipping. penelitian ini diharapkan dapat mendukung pandangan yang menyatakan bahwa membaca pemahaman berlangsung secara top-down (pembelajar menggunakan pengetahuan yang telah dia miliki untuk memahami bacaan) dan bukannya secara bottom-up (pembaca memproses setiap kata satu persatu kemudian menggabungkan semua kata tersebut untuk memahami bacaan secara keseluruhan). selain alasan yang disebut di atas.dan Afflerbach (1995) menyatakan bahwa pembelajar melewati kata sulit karena gagal menebak maknanya dari konteks. sehingga diperoleh skor yang merefleksikan . Sampel ini diambil dari populasi berdasarkan kriteria berupa kemampuan membaca pemahaman yang baik. Untuk mengetahui kemampuan tersebut. Maka dari itu.org) yang telah menjadi standardized test kepada semua anggota populasi. penelitian ini juga memberikan manfaat praktis bagi para pengajar bahasa Inggris karena hasilnya dapat memberikan gambaran mengenai penggunaan strategi skipping yang efektif oleh para pembelajar yang kemampuan membacanya baik. pengajar dapat membimbing pembelajar yang kemampuan membacanya sedang atau kurang dengan jalan meminta mereka untuk menerapkan strategi yang digunakan oleh pembaca yang lebih baik kemampuannya. diberikan tes membaca pemahaman DIALANG (dapat diunduh dari http://www.dialang. Penelitian-penelitian mereka tidak secara khusus mendalami strategi skipping. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya baik melewati kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya dalam membaca pemahaman. Secara teoritis.

concurrent verbal protocols. wawancara retrospektif. Gambar 1 Cara seleksi sampel menggunakan persentil 10% Skor tertinggi (sampel) 10% Skor terendah Persentil teratas terdiri dari 10% dari mahasiswa yang mendapat skor tertinggi dalam tes membaca pemahaman DIALANG. Proses seleksi ini dapat dijelaskan di Gambar 1. namun persentil teratas dibulatkan menjadi 8 (dari 7. yaitu proses berpikir yang diucapkan dengan suara keras. Untuk mendapatkan data dari subjek penelitian ini. Informasi lebih jauh mengenai tes ini dapat diperoleh dari laman (website) yang disebut di atas. diperlukan empat instrumen penelitian: tes membaca pemahaman DIALANG. Mahasiswa yang menduduki persentil paling atas dipilih menjadi sampel penelitian. dan selama membaca mereka diminta untuk mengucapkan kata-kata sulit yang mereka temui dan strategi mereka dalam mengatasi kata-kata sulit tersebut. Dalam menggunakan instrumen ini. Kedelapan mahasiswa ini diasumsikan memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik karena skor tinggi yang mereka capai.4) sehingga didapat sampel sejumlah 8 mahasiswa. Ucapan mereka direkam dalam kaset oleh peneliti.kemampuan membaca mereka. peneliti memberikan dua teks (masing-masing terdiri dari 812 dan 344 kata) kepada para mahasiswa untuk dibaca dengan keras. Dengan kata lain. Instrumen kedua adalah concurrent verbal protocols. apa pun yang mereka pikirkan selama membaca harus mereka ucapkan dengan suara keras sehingga dapat diketahui secara persis proses berpikir mereka ketika mereka mengatasi kata-kata sulit. dan observasi. Selanjutnya. kemudian ditulis transkripnya dengan menggunakan . Telah disebutkan sebelumnya bahwa populasi terdiri dari 74 mahasiswa. Instrumen pertama (tes membaca pemahaman) tidak dibahas secara rinci di sini karena hanya digunakan untuk memilih sampel dari populasi. skor ini diurutkan dari tertinggi hingga terendah dan disusun menjadi persentil.

karena itu peneliti memberi setrip pendek di bawah kata-kata tersebut. di dalam kurung] Garis bawah (0. Wawancara yang semi terstruktur ini berpegang kepada dua pertanyaan dasar. semua wawancara dengan subjek penelitian direkam dalam kaset dan dibuat transkripnya. di teks terdapat kalimat berikut: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end the previous summer. Misalnya. Seperti instrumen kedua. di dalam kurung] [Cetak tebal. dan (2) Apabila anda tidak mengetahui maknanya. Apabila mahasiswa mencoba menebak makna tranquility ketika membaca teks dan tidak menebak atau melihat kamus ketika membaca tramping dan loose. di mana peneliti mewawancarai mahasiswa mengenai hal-hal yang perlu diklarifikasi dari hasil concurrent verbal protocols setelah mahasiswa selesai membaca dua teks. Ketika mahasiswa membaca teks. mengapa anda lewati kata ini sewaktu membaca tadi? Pertanyaan tambahan dapat diajukan sesuai kebutuhan.‖ Kata-kata tranquility. Instrumen yang keempat adalah observasi. maka peneliti memberi tanda sebagai berikut di teks yang dia pegang: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end . di mana peneliti mengamati segala perilaku mahasiswa selama membaca dua teks dan mencatat hal-hal yang relevan dengan strategi skipping.0) Deskripsi Kata-kata yang diucapkan oleh subjek penelitian Kata-kata dari bacaan yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata dari kamus yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata sulit yang tidak diketahui maknanya Panjangnya jeda dalam menit dan detik Instrumen ketiga adalah wawancara retrospektif. Tabel 1 Notasi untuk transkrip hasil concurrent verbal protocols Format Huruf biasa [Cetak miring. tramping dan loose diperkirakan tidak diketahui maknanya oleh mahasiswa. peneliti memegang teks yang sama dan telah dibubuhi tanda pada beberapa kata yang diprediksi sulit bagi mahasiswa. yaitu: (1) Apakah anda mengetahui makna kata ini?.notasi seperti yang terdapat di Tabel 1.

Hanya satu mahasiswa (Catrin) tidak pernah mengabaikan kata-kata sulit dan cenderung melihat kamus untuk mencari makna kata-kata tersebut. Hanya data yang masuk kategori terakhir ini lah yang dianalisis lebih lanjut. atau memasukkan ujaran mahasiswa selama membaca ke kategori yang sesuai: menebak makna kata (guessing). tetapi nampaknya melewati kata tramping dan loose karena keduanya masih ditandai setrip pendek. Dari 8 mahasiswa yang menjadi subjek penelitian ini. sehingga didapat analisis yang lengkap mengenai kata yang dilewati beserta alasan melakukan skipping. Dalam arti. sehingga penelitian ini mendukung temuan Hosenfeld (1976) yang telah dibahas di atas. ujaran yang dikategorikan skipping seharusnya cocok dengan hasil observasi.‖ Garis bawah di keseluruhan kata menandakan bahwa mahasiswa mencoba mencari makna tranquility. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 2. Data yang diperoleh dari concurrent verbal protocols akan dianalisis terlebih dahulu dengan cara coding.the previous summer. yaitu kata-kata yang diberi setrip pendek di bawahnya. Hasil coding ini akan ditriangulasikan dengan hasil observasi. Setelah didapat daftar kata-kata yang dilewati oleh setiap mahasiswa. tujuh diantaranya melewati begitu saja kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. HASIL Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang kemampuan membacanya tergolong baik melewati kata-kata sulit yang ditemui dalam bacaan. atau melewati kata-kata sulit (skipping). seperti yang telah dijelaskan dalam bahasan mengenai instrumen ketiga di atas. melihat kamus (consulting). Kata-kata yang ditandai setrip pendek ini akan ditanyakan dalam wawancara retrospektif setelah proses membaca selesai. dicari alasan-alasannya dari hasil wawancara. .

.Tabel 2 Jumlah Kata-kata yang Sulit dan Dilewati oleh Mahasiswa Nama mahasiswa* Selena Rita Homer Melisa Andra Yulia Catrin Didin * Nama samaran Σ kata sulit 45 35 54 57 37 52 96 49 Σ kata dilewati 25 2 27 35 25 43 0 18 Ada sebagian mahasiswa yang mengabaikan hanya 2 kata yang tidak diketahui maknanya. P : Yang anda tidak tahu artinya. Para mahasiswa yang mengabaikan kata tersebut berpendapat mereka masih bisa memahami apa yang disampaikan di dalam teks walaupun mereka tidak mengetahui makna kata-kata yang dilewati. ngerti maksudnya. Jumlah yang bervariasi ini tentunya dilatarbelakangi oleh alasan-alasan yang berbeda pula. ―Saya tidak tahu artinya tapi saya lewati aja‖? A : Ada yang merasa terus ditebak-tebak. saya nggak mau nyari. Biarpun itu katanya susah. kalo bukan key of the sentence. Jadi yang penting kata kunci dari sentence itu udah dapet. A : He eh. Sentencenya nyambung. anda tadi merasa. ya udah diambil. Jadi selama kata itu nggak penting saya nggak mau. misalnya seperti yang dijelaskan oleh Andra (A) dalam wawancara retrospektif dengan peneliti (P). P : Jadi yang anda cari itu. Nggak memperdulikan. kalo itu kata kunci? A : Ya. tetapi ada juga yang melewati hingga 43 kata. P : Ada beberapa tadi yang anda tidak tahu artinya tapi anda tetap baca.

Pembaca yang baik memiliki kemampuan untuk memilah mana kata-kata kunci (keywords) yang penting untuk pemahaman bacaan secara keseluruhan dan mana kata-kata yang kurang penting. Apabila kata-kata sulit dipandang kurang penting, maka pembaca akan menerapkan strategi skipping agar dia dapat membaca secara lebih efisien dan tidak terhambat oleh kata-kata sulit tersebut. Walaupun kata-kata yang tidak dipandang penting pada umumnya diabaikan, ada juga mahasiswa yang mengabaikan kata-kata sulit yang sebetulnya dianggap penting. Contoh konkrit dapat dilihat dalam ujaran Yulia ketika membaca teks dalam concurrent verbal protocols.
Yulia: [I would see him waiting for the whirring (0.1) whirring (0.1) whirring of wings, violin in hand. Several times now…]

Ketika Yulia membaca kalimat di atas, sebenarnya perhatiannya tertuju pada kata whirring yang tidak dia ketahui maknanya dan dia melakukan upaya untuk mengetahui makna kata tersebut, seperti yang ditunjukkan oleh pengucapaan kata ini berulang-ulang dengan jeda 1 detik. Hal ini dikonfirmasi dalam wawancara retrospektif yang dilakukan setelah verbal protocols di atas. Hasil wawancara menunjukkan bahwa Yulia memang tidak mengetahui makna whirring dan bermaksud untuk menebaknya berdasarkan konteks. Dia membaca kalimat selanjutnya (Several times now…dst.) untuk mengetahui dalam konteks apa kata whirring digunakan, namun karena kapasitas memori jangka pendek (short-term memory) Yulia yang amat terbatas maka kata tersebut terlupakan ketika membaca kalimat selanjutnya. Kata whirring masuk ke dalam memori jangka pendeknya tetapi tidak disimpan terlalu lama dan kemudian hilang, sehingga dia tidak melanjutkan upaya untuk menemukan maknanya dan mengabaikan kata tersebut hingga proses membaca teks berakhir. Salah satu mahasiswa yang melakukan strategi guessing diikuti skipping adalah Andra.
Andra: […but the publishers did not hear his uprush of wings. Uprush of wing.] What is that? Uprush of wing. An idiom? Uprush of wing (0.1) mungkin musik yang aneh, maybe. (0.4) Ah lewat. [The child came to live…]

Dalam verbalisasi di atas terlihat jalan pikiran Andra ketika menemukan kata uprush yang tidak dia ketahui maknanya. Pada awalnya dia berusaha mengidentifikasi apakah frasa uprush of wings adalah

sebuah idiom, kemudian lebih jauh dia mencoba untuk menebak makna frasa tersebut sebagai ‗musik yang aneh.‘ Namun nampak jelas bahwa dia tidak yakin akan akurasi makna yang dia tebak, seperti yang ditunjukkan pada kata mungkin dan maybe. Setelah empat detik berlalu, dia memutuskan untuk melewati saja frasa ini, seperti yang dia nyatakan secara eksplisit dengan ucapan ah lewat. Temuan ini merupakan alasan keempat yang menyebabkan terjadinya skipping. Didin, misalnya, memutuskan untuk mengabaikan saja kata yang sama, yaitu uprush, setelah beberapa kali mencari maknanya di kamus namun tidak berhasil.
Didin: [Long ago, she confided, her brother had tried to get his strange music down on paper, but the publishers did not hear his uprush of wings.] Uprush (0.5) uprush (0.23) uprush (0.6) uprush (0.20) uprush uprush (0.5). [The child came to live…]

Ketika Didin menemukan kata sulit, yaitu uprush, dia meraih kamus saku elektroniknya dan berusaha mencari makna kata ini selama 5 detik, namun di kamus tersebut tidak tercantum entri uprush. Kemudian dia beralih ke kamus bilingual Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan mencari selama 23 detik, tetapi di kamus tersebut juga tidak terdapat entri uprush. Hal yang sama juga terjadi ketika dia menggunakan kamus monolingual selama 6 dan 20 detik. Karena ketiga kamus yang dia gunakan tidak memuat kata uprush sebagai salah satu entrinya, dia gagal mendapatkan maknanya dan memutuskan untuk melewati kata ini dan meneruskan membaca kalimat-kalimat berikutnya. Sebagai contoh, Andra melakukan miscue ketika membaca teks dan ini terlacak dari wawancara retrospektif yang dilakukan peneliti dengannya. P A P A : : : : ‗Confided‘ artinya? Oh, ‗confided,‘ tak pikir ‗convinced.‘ Anda salah baca? Ya, salah baca tadi, tak kira ‗convinced.‘

Dalam wawancara di atas, peneliti menunjuk kata confided di teks dan meminta Andra untuk menyebutkan maknanya, karena dia melewati kata tersebut ketika membaca teks sebelum wawancara dilakukan. Saat

mendengar peneliti menyebut kata confided, Andra baru menyadari bahwa dia telah salah membaca kata tersebut sebagai convinced. Karena dia mengetahui makna kata convinced, dia tidak terlalu memperhatikan kata confided dan mengasumsikan bahwa kata tersebut dikenalnya dengan baik. Kasus miscue atau salah baca seperti ini menunjukkan bahwa pembaca ternyata tidak memberikan perhatian dalam kadar yang sama ke setiap kata di dalam suatu teks. Dia mungkin memberikan perhatian yang lebih banyak pada kata-kata kunci dan beberapa kata-kata sulit, namun kata-kata yang dia anggap familiar (dikenal dengan baik maknanya) hanya dibaca sekilas saja dan dia merasa masih bisa memahami teks secara keseluruhan dengan baik. Kasus ini mendukung hasil penelitian mengenai gerakan mata atau eye movement (Rayner dan McConkie, 1976; Rayner dan Pollatsek, 1989; Reichele et al, 1998) yang telah dijelaskan sebelumnya dengan hasil berupa fase fixation dan saccade. Dengan demikian, penelitian dari sudut psikolinguistik ini melengkapi hasil penelitian dari sudut fisik (gerakan mata) yang telah dilakukan untuk mengetahui proses yang terjadi selama membaca pemahaman.
BAHASAN

Penelitian yang mendalam terhadap strategi dalam menghadapi kata-kata sulit menghasilkan temuan berupa lima alasan yang mendasari skipping dalam membaca pemahaman. (1) Alasan pertama adalah katakata yang dilewati tersebut memiliki kontribusi yang amat kecil terhadap makna keseluruhan teks; (2) Alasan kedua, pada awalnya mereka mengidentifikasi suatu kata sulit sebagai kata yang penting untuk pemahaman bacaan dan berupaya untuk mencari maknanya, akan tetapi kata tersebut terlupakan oleh mereka ketika mereka membaca kalimat berikutnya. Hal ini yang menjadi alasan kedua mengapa mereka menerapkan strategi skipping; (3) Alasan ketiga, untuk skipping adalah pemakaian strategi menebak yang gagal. Pada awalnya mahasiswa berusaha untuk mengetahui makna kata dengan cara menebaknya dari konteks, tetapi nampaknya mereka tidak berhasil mengira-ngira makna yang tepat untuk kata tersebut. Akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk melewati saja kata itu; (4) Alasan keempat, tidak

hanya kegagalan dalam menebak kata, tidak berhasilnya upaya mereka untuk mencari makna kata di kamus dapat memicu terjadinya skipping selama proses membaca pemahaman berlangsung; dan (5) Alasan kelima, untuk skipping adalah miscue. Istilah miscue dipakai untuk pertama kalinya oleh Goodman (1996) untuk menyebut kesilapan yang dibuat oleh pembaca ketika sedang memahami suatu teks.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Dari penjelasan di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut. Para pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya tergolong baik pada umumnya melakukan strategi skipping atau mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam suatu teks, dan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya. Jumlah kata yang mereka abaikan beragam, ada yang amat sedikit, namun ada juga yang cukup banyak. Alasan yang mendasari penggunaan strategi skipping ini juga bermacam-macam, dan penelitian ini berhasil mengeksplorasi lima alasan. Alasan tersebut meliputi: (1) kata tersebut tidak terlalu penting untuk memahami makna teks secara keseluruhan, (2) kata tersebut penting, tetapi pembelajar lupa mencari artinya karena keterbatasan kapasitas memori jangka pendek, (3) kata tersebut sudah diupayakan untuk ditebak maknanya, namun gagal, (4) kata tersebut sudah diupayakan untuk dicari maknanya di kamus, namun gagal, dan (5) miscue atau salah baca, dan diasumsikan kata tersebut diketahui maknanya padahal tidak. Alasan pertama dan ketiga mendukung temuan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sedangkan tiga alasan lainnya merupakan temuan orisinil dari penelitian ini.
Saran

Berdasarkan simpulan yang diuraikan di atas, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut kepada para pengajar bahasa Inggris dalam mengajarkan membaca pemahaman. Pertama, pembelajar dengan kemampuan membaca pemahaman yang baik hendaknya dianjurkan untuk menerapkan strategi skipping terhadap beberapa kata sulit yang

sehingga skipping akan membuat proses tersebut lebih maksimal apabila dilakukan dengan alasan yang tepat. apakah memiliki alasan yang sama dengan mahasiswa yang baik kemampuan membacanya. dan (3) menurunkan motivasi untuk membaca lebih jauh. . karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap pembaca pada tingkat dasar (elementary) dan lanjut (advanced) untuk mengetahui apakah penerapan strategi skipping memang berbeda karena tingkat membaca pemahamannya berlainan. Skipping nampaknya merupakan suatu strategi yang tak dapat dipisahkan dari proses membaca pemahaman. Selain itu. perlu diadakan investigasi lebih lanjut mengenai strategi skipping. karena mencari makna setiap kata yang tidak diketahui kemungkinan akan: (1) memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk membaca pemahaman. subjek penelitian ini adalah pembelajar yang kemampuan membaca pemahamannya berada di tingkat menengah (intermediate). Dari lima alasan yang telah disebutkan sebelumnya. namun untuk lebih jelasnya diperlukan bukti empiris dari penelitian. pembelajar hendaknya diajarkan untuk memilah katakata sulit yang perlu dicari maknanya dan yang dilewati begitu saja. karena itu perlu diteliti: (1) apakah mahasiswa dengan kemampuan membaca pemahaman yang kurang juga menerapkan strategi skipping dan (2) apabila memang menerapkannya. hendaknya pengajar dapat memetik manfaatnya dengan memberikan pengetahuan yang cukup kepada pembelajar agar dapat memilih kata mana yang dilewati dengan alasan yang sesuai. (2) menghambat proses membaca pemahaman. Bagi para peneliti yang berkecimpung di bidang membaca pemahaman dan pengajarannya. Perbedaan kemampuan ini diperkirakan akan menghasilkan temuan yang berbeda pula.mereka temui dalam teks. Kedua. Penelitian ini hanya menggunakan mahasiswa yang memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik sebagai subjeknya.

On Reading. . P. K. & Pollatsek. 16(8). E. Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates. Lexical Processing Strategy Use and Vocabulary Learning through Reading. H. Pressley. Fisher. A Preliminary Investigation of the Reading Strategies of Successful and Nonsuccessful Second Language Learners. 1995.DAFTAR RUJUKAN Fraser. 125--157. Vision Res. System. Hillsdale: Erlbaum. W. K. 1976. Goodman. 195-224. A.. The Psychology of Reading. A. K.. 1996. Boston: Allyn and Bacon. 225--241. D. Ontario: Scholastic. S.. B. What Guides a Reader's Eye Movements. 1976.. 829-837. 1977. 1989. Psychological Review. A. T. & McConkie. Paribakht. 1999. Studies in Second Language Acquisition. 1998. C. Rayner. A. Robinson. M. Teaching Reading and Study Strategies: The Content Areas. 105(1). & Wesche. G. Hosenfeld. 21(2). Verbal Protocols of Reading: the Nature of Constructively Responsive Reading. D. C. Toward a Model of Eye Movement Control in Reading. Studies in Second Language Acquisition. M. Rayner. 110--213. Reading and "Incidental" L2 Vocabulary Acquisition: An Introspective Study of Lexical Inferencing. L... & Rayner. Pollatsek. Reichele. 1999. K. & Afflerbach. 21(2).. 5(2).

Namun dalam realisasi di lapangan masih sering saja dijumpai ada pasangan yang memutuskan untuk bercerai. Perceraian Suami Istri Muslim Belakangan ini.Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Abstrak: Perceraian bagi setiap pasangan suami istri adalah sesuatu yang paling tidak diinginkan. Kata-kata kunci: Pengembangan Model Pendidikan. kasus perceraian yang terjadi karena inisiatif pihak istri (gugat cerai) jumlahnya lebih besar daripada perceraian karena inisiatif pihak suami (talak) lihat pada Tabel 1. baik lokal maupun nasional. Ironisnya. namun juga menimpa keluarga dari semua kelas sosial. yakni keluarga harmonis. Tampaknya masalah ini bukan hanya terjadi pada keluarga dari kelas tertentu. Hal ini bisa dilihat dari seringnya masalah tersebut menjadi berita hangat di media masa. "Luka" akibat perceraian tidak dipungkiri akan mewarnai perjalanan kehidupan mereka dan keluarganya setelah bercerai. Ahmad Munjin Nasih adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang . Dan anak adalah korban terbesar dari perceraian yang dilakukan oleh ibu dan bapaknya. Perceraian sebenarnya dapat dihindari apabila suami atau istri mau mengkompromikan segala kepentingan yang mereka miliki untuk kepentingan bersama yang lebih besar. meskipun rumah tangga yang mereka bina telah berusia lebih dari 20 atau 30 tahun. kasus perceraian seakan merupakan tren yang sangat menyita perhatian publik. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Kota Malang angka perceraian dari tahun ke tahun meningkat.

5. Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Talak 335 358 371 434 408 Gugat Cerai 627 664 733 796 764 Jumlah 962 1022 1104 1230 1172 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Bahkan tren naiknya jumlah gugat cerai daripada talak ternyata tidak berubah sampai bulan Januari 2007 lihat pada Tabel 2. bisa jadi. telah gagal mencapai cita-cita yang mereka dambakan ketika mengawali membangun rumah tangga. 2. bahkan mungkin akan membuat anak trauma terhadap institusi keluarga. 4. tidak hanya mengena pada anak dari pasangan yang . terjadinya perceraian itu menunjukkan bahwa pasangan suami-istri yang telah mengikat janji membangun keluarga. Trauma yang demikian. jika pasangan-pasangan yang bercerai tersebut sudah dikaruniai anak sebagai buah pernikahan mereka. perceraian yang demikian hampir bisa dipastikan meninggalkan kesan negatif terhadap anak.Tabel 1 Angka Talak dan Gugat Cerai di Kota Malang No 1. Tentu saja hal ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk membenarkan perceraian tersebut. sebab bagaimanapun juga. Akan tetapi. 3. Tabel 2 Angka Talak dan Gugat Cerai bulan Januari 2007 di Kota Malang Bulan/Tahun Januari/2007 Talak 46 Gugat Cerai 79 Jumlah 125 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Kondisi yang terjadi di Kota Malang tidak menutup kemungkinan terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Kalau pasangan yang bercerai tersebut belum dikaruniai anak barangkali dapat dikatakan bahwa hanya pasangan tersebut sajalah yang terkena dampak negatif dari perceraian itu. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan.

Namun. METODE Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya. (3) mengetahui langkah-langkah yang selama ini telah ditempuh oleh suami dan istri dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga. Oleh karena itu. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui data tentang faktorfaktor penyebab terjadinya perceraian. Pembatasan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mayoritas penduduk Malang Raya secara khusus dan Indonesia secara umum memeluk agama Islam. penelitian ini hanya terbatas pada keluargakeluarga muslim. Selaras dengan uraian di atas. Oleh karena itu. perlu dilakukan penelitian pengembangan untuk mewujudkannya. dan (4) mengetahui dampak yang terjadi pada anak-anak korban perceraian. pencegahan terhadap terjadinya perceraian menjadi sangat penting untuk dilakukan. Sehingga diasumsikan jumlah perceraian terbanyak dialami oleh pemeluk agama Islam. Dalam penelitian studi kasus ini digunakan rancangan studi kasus observasional (Yin. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan penyadaran kepada semua pihak terutama pasangan suami istri akan pentingnya menjaga rumah tangga dari perceraian. (2) mengetahui kebutuhan dan persepsi pasangan suami istri yang telah bercerai terhadap bangunan keluarga sakinah. Namun demikian. maka rancangan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Rancangan studi kasus dapat digunakan untuk pengembangan teori yang diangkat dari sebuah latar penelitian (Bogdan & Biklen. 1999) Rancangan metode .bersangkutan tetapi bisa meluas kepada anak secara umum. model pendidikan seperti apa yang sesuai dengan tujuan ini belum berhasil dibangun. Rancangan ini diharapkan dapat menghasilkan teori dengan generalisasi lebih luas dan lebih umum penerapannya untuk kasus pencegahan perceraian. Dengan langkah ini diharapkan pasangan tersebut akan menjadikan keluarganya sebagai keluarga yang sakinah (harmonis) melalui pendidikan pencegahan perceraian bagi pasangan suami istri. Jika ini terjadi tentu akan semakin mengkhawatirkan. 1998).

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama peneliti melakukan penjajakan ke lokasi dalam rangka memperoleh gambaran secara umum tentang situs yang akan diteliti. serta berusaha mencari sumber-sumber data atau informan yang kompeten dan memiliki pengetahuan. digunakan beberapa alat. Kabupaten Malang. baik menggunakan teknik wawancara mendalam maupun dengan teknik observasi. Adapun teknik penjaringan informasi yang digunakan adalah teknik bola salju (snowball). situasi setting dan beberapa dokumen yang berhubungan dengan fokus penelitian. Subjek penelitian sekaligus akan dijadikan informan penelitian dengan kesempatan yang sama. yaitu Kota Malang. Di samping itu . Kabupaten Malang dan Kota Batu yang tercatat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Informasi tersebut akan digali melalui wawancara bebas. dan Kota Batu. akan dikumpulkan informasi berupa katakata. Adapun subyek penelitian ini adalah suami. pemahaman serta kepedulian yang tinggi terhadap pemasalahan yang sedang diteliti. Di samping itu juga akan diambil data berupa situasi setting penelitian serta kegiatankegiatan yang berkaitan dengan fokus penelitian. Dalam setiap kesempatan mengadakan wawancara mendalam digunakan buku catatan. Dalam pelaksanaannya dilakukan beberapa kali pengumpulan data dan hasilnya dianalisis sehingga tersusun teori sementara. Untuk menjaring data tersebut akan dilakukan pengamatan. serta anak-anak korban perceraian di Malang Raya.tersebut digunakan untuk menelaah sebuah fenomena dalam sebuah organisasi tertentu. Sementara itu lokasi penelitian ini adalah wilayah Malang Raya. Data subjek penelitian akan diperoleh dari Pengadilan Agama Kota Malang. 1989). Kata-kata dimaksud adalah berasal dari para informan. Dalam penelitian kualitatif teknik untuk memperoleh data di lapangan dilakukan dengan tiga cara. observasi dan dokumentasi (Marshall. dimana dalam tahap ini peneliti mengumpulkan data secara lebih mendalam dan terarah dengan fokus penelitian. Dalam setiap kali melakukan pengumpulan data. Dalam penelitian ini. FGD. istri yang sedang dalam proses perceraian dan sudah bercerai. Tahap berikutnya adalah melakukan eksplorasi. yaitu: teknik wawancara terfokus. Hal ini diterapkan untuk mendapatkan data yang memadai dan sesuai dengan fukos penelitian dan tujuan penelitian.

psikolog. dan hakim agama. peneliti juga mencari istilah-istilah kunci yang menjadi data inti. Peneliti mengikuti saran Spradley untuk menggunakan model analisis domain dan analisis komponensial. kemudian dirangkai secara sistematis sesuai dengan susunan tema fokus dan disajikan sebagai paparan data. peneliti merumuskan temuan penelitian dari data yang dianggap bersifat spesifik setelah melalui analisis etnografi. dan (3) konfirmabilitas. dan (4) Penarikan Kesimpulan Pertama. (3) Penentuan Temuan Penelitian. semua data hasil wawancara terbuka dengan semua subjek penelitian. (2) Penyajian Data (Display). Ketiga. Untuk menganalisis data. selain format lapangan juga akan digunakan alat dokumentasi yang berfungsi untuk mendokumentasikan perilaku-perilaku atau peristiwa-peristiwa penting yang muncul selama pelaksanaan observasi. Sedangkan untuk kegiatan observasi. peneliti memberikan catatan reflektif yang sesuai dengan isi data. data yang telah dikelompokkan. Data inti yang ditemukan dimasukkan format model analisis data etnografi yang dikembangkan oleh Spradley (1980). dipilah dan digolongkan sesuai tema-tema dalam fokus penelitian. Selanjutnya dalam setiap melakukan observasi digunakan format catatan lapangan. tanpa mengurangi esensi data tersebut. peneliti menganalisis data dengan empat langkah yaitu: (1) Reduksi Data. (2) dependabilitas. Kesimpulan dirangkum dari proses analisis data. yaitu: (1) kredibilitas. Dalam paparan data. ulama. dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi baik triangulasi teknik data maupun triangulasi informan. tempat dan inisial informan. Kesimpulan penelitian . dilakukan dengan meminta bantuan para ahli dan berbagai pihak yang memahami penelitian ini. yakni ahli pendidikan. Kedua alat tersebut digunakan untuk mencatat dan merekam jawaban-jawaban informan yang selanjutnya ditulis ulang ke dalam format transkrip wawancara dengan menyertakan koding yang terdiri dari tanggal. Pemilahan data ini juga bertujuan untuk membuang data yang tidak diperlukan karena searah dengan tujuan penelitian. kegiatan ini merupakan akhir dalam proses penelitian. Kedua.apabila yang diwawancarai banyak maka digunakan alat perekam.. dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan ulang terhadap data yang diperoleh dengan meminta konfirmasi lebih lanjut kepada para informan dan para ahli terkait. Dalam proses reduksi data. Keempat. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan tiga cara.

tanpa berlebih-lebihan atau kekurangan. jika ini tidak terpenuhi Islam menganjurkan agar dia menundanya dengan melakukan pengendalian diri antara lain dengan berpuasa. pada hakikatnya adalah kesimpulan yang diperoleh peneliti. ini yang mendatangkan ketenangan isteri dalam menjalani hidup berkeluarga.34) karena kelebihan itu suami mempunyai kewajiban menyejahterakan kehidupan keluarga. Temuan penelitian. Hidup berkekurangan bisa membawa keluarga ke gerbang kehancuran sebagaimana sabda Rasulullah SAW ―kaada al-faqru an yakuuna . mencukupi kebutuhan mereka dengan memberikan nafkah yang layak. Para responden menyatakan bahwa penyebab perceraian yang paling menonjol adalah masalah ekonomi. fakta seringkali berkata lain. idealitas yang dimiliki harus berhadapan dengan fakta yang sangat tidak diharapkan.sebelumnya dirumuskan dalam temuan penelitian. Suami berkewajiban memenuhinya dalam batas kewajaran. Namun. Terlebih jika diingat bahwa anjuran untuk menikah bagi seorang laki-laki adalah ketika dia sudah mempunyai kemampuan (alba‟ah) untuk memenuhi kebutuhan keluarganya baik lahir maupun batin. suami dilebihkan dari isteriisterinya karena kelebihan yang diberikan Allah kepadanya (alNisa‟. Begitupun sebuah perceraian. ia tidak akan terjadi begitu saja tanpa diawali oleh berbagai persoalan yang melatarbelakanginya. istri dan anakanak. halal dan dibenarkan oleh agama dan negara. Hampir bisa dipastikan seseorang yang memasuki dunia rumah tangga berharap bisa menjadikan rumah tangganya sebagai tempat memadu kasih yang sangat membahagiakan antara suami. ini dapat dimaklumi karena pemenuhan kebutuhan keluarga terkait dengan kedudukan suami sebagai penanggung jawab keluarga. Suami berkewajiban memberi belanja yang cukup dan tidak mempersempit nafkah keluarganya. dan apabila hal tidak bisa dimenej dengan baik bukan mustahil semuanya berujung pada perceraian. Berbagai persoalan selalu mengiringi perjalanan rumah tangga. HASIL Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian Hukum alam mengatakan bahwa tidak ada asap bila tidak ada api. Dalam Islam.

Rapuhnya perkawinan yang berakhir dengan cerai karena hadirnya pihak ketiga tidak saja dialami oleh suami tetapi terjadi pula pada isteri sehingga suami terpaksa menceraikannya. ― . Keinginan untuk lepas dari ikatan perkawinan dengan suami makin menguat ketika menemukan suami sudah tidak lagi jujur dalam memegang janjinya. Hadirnya pihak ketiga ini menjadi sebab terjadinya perceraian. Hilangnya status qawwamuuna ala an-nisa‟ dari suami memaksa isteri bekerja. . . 228). seperti yang terjadi pada ibunda DM. Ketidaksabaran ini yang sering membawa suami isteri pada perceraian. terlebih jika laki-laki itu berharta. bahkan karena itu kesetiaannya pada suami hilang dan menggugatnya untuk menceraikannya seperti pada kasus ibu IT dan ibu UL.kufran”. seperti kasus ibunda DM ini. di sini pentingnya suami memenuhi kebutuhan keluarga sebab dengan terpenuhinya kebutuhan. Pada suami melekat kedudukan sebagai pelindung keluarga (qawwamuuna ala an-nisa‟) karena itu kesetiaan isteri tetap terjaga manakala suami dapat memerankan dirinya sesuai dengan kedudukannya. mereka tidak sabar dalam menerima kekurangan yang ada. ibunya tergoda oleh laki-laki lain karena dia melihatnya lebih keren dari pada suaminya. kenyataan ini dapat dilihat pada kasus ibu IT dan ibu UL. lebih-lebih jika pasangan suami isteri tidak tabah menghadapinya. isteri dapat menjalani kehidupan keluarga dengan baik. 30-31). Godaan ini sangat mempengaruhi langgengnya perkawinan sehingga agama Islam meminta setiap suami atau isteri untuk menahan pandangannya dan menutup mata serta memelihara kemaluannya (An-Nur. Isteri melihat laki-laki itu dapat memenuhi kebahagiaan yang diimpikannya karena dia dipandang ―lebih‖ dari pada suaminya karena itu isteri rela menggugat agar suaminya menceraikannya. . suami bermain api di belakang isteri dengan berselingkuh bersama wanita lain. dengan itu dia dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan merasa dapat hidup mandiri tanpa bantuan suami. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara-cara yang baik‖ (Al-Baqa rah. Permainan api ini melukai hati isteri dan mengecewakannya sehingga isteri terdorong melakukan gugatan cerai karena dia melihat hilangnya kejujuran suami pada janji setianya yang diikrarkan pada waktu menikah.

Persepsi terhadap Keluarga Sakinah Perceraian bukanlah keinginan dasar para isteri. diseret-seret. Penistaan suami karena kemiskinannya. Isteri akan sabar dan rela mendampingi suami meski dalam kondisi ekonomi yang kurang jika suami benar-benar bertindak dan bersikap dengan elegan. yang demikian itu lebih suci bagi mereka. “ Akibat lain dari hadirnya pihak ketiga ini adalah hilangnya kasih sayang antara suami isteri. karena sakitnya terasa lebih dalam dan lama di hati. sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui apa yang mereka perbuat. penistaan. kekerasan pisik dan psikis dapat terjadi karenanya. Kekerasan pisik bisa berupa pemukulan. meski mereka menjalani hidup yang sulit mereka rela menerimanya selama suami yang mendampinginya dapat mengayomi mereka sebagai kepala rumah tangga . katakata kotor dan penisbatan kepada pezina diterima oleh isteri sebagaimana dalam kasus ibu IT. dan memelihara kemaluannya. Katakanlah kepada wanita yang beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya. perselingkuhan dan kekerasan tidak akan terjadi jika masing-masing suami isteri taat asas pada janji mereka. Tak jarang kekerasan psikis mengiringi perlakuan kasar suami pada isteri nya. dan janganlah menampakkan perhiasannya.Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman “Hendaklah me reka menahan pandangannya. Masih ada jalan untuk menghindari perceraian yang tidak diharapkan oleh siapapun. agama bahkan melarangnya kalau tidak terpaksa benar. Kekerasan dapat dihindari manakala suami dapat bersabar diri atas kekhilafan dan kekurangan isteri dalam melayaninya. Dalam kondisi seperti ini suami tidak lagi memegang prinsip mu‟asyarah bil ma‟ruf yang dapat melanggengkan kehidupan rumah tangga. . Beberapa faktor penyebab gugatan cerai di atas adalah imbas dari tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga. Bagi seorang isteri penistaan ini lebih menyakit kan dari pada tindak kekerasan pisik. sampai pada ancaman pembunuhan seperti terlihat dalam kasus yang dialami oleh ibu UL dan ibu TS. sementara isteri teguh berimannya dan setia memegang janji tidak akan berpaling kepada orang lain yang mungkin hadir setelah mereka menikah. . dan me meli-hara kemaluannya. dilempar dengan kursi.

bimbingan (arri‟ayah) dan mencukupi (al-kifayah) kebutuhan mereka. dan berwibawa. apalagi jika isteri berasal dari keluarga yang mempunyai cetak biru bahwa pendidikan sangat penting. Suami tidak dapat nyambung bila diajak ngobrol dan sering minder. seperti yang terjadi pada ibu IT. anak-anak misalnya. Ibu UL dan ibu IT mengalami hal ini padahal . yaitu keseimbangan antara keduanya baik dalam hal agama maupun status sosial.yang dapat memberikan perlindungan (al-wilayah). Di sini perlunya suami isteri se-kufu. baginya laki-laki yang ideal adalah bapaknya dia mengidolakan bapaknya sebagai suami yang baik. pekerjaan. saling mengerti. sebagaimana yang diungkapkan olah ibu IT. pendidikan dan keturunan. Di bawah suami yang seperti itu cita-cita keluarga sakinah dapat terwujud. Ini yang terjadi pada ibu IT sehingga tidak dapat menemukan keluarga sakinah. sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abdullah bin Mas‘ud. karena nilai-nilai yang dianut keluarga di mana seseorang dibesarkan secara tidak sadar akan diserap (absorbs) dalam dirinya. konflik antara suami isteri tidak dapat menemukan titik kesamaan karena tidak se-kufu. Ketergantungan suami kepada isteri menyebabkan pincang nya status dan fungsi suami sebagai seseorang yang harus mencukupi (al-kifayah) keluarganya. dia akan menggerogoti isterinya apalagi jika isteri telah mapan. Ketika terjadi konflik yang keluar dari suami adalah ucapan-ucapan yang tidak layak. keluarga yang di pimpin oleh suami bertanggung jawab. Kasus ibu UL adalah contohnya. Kufu ini menumbuhkan kebanggaan isteri untuk berjalan bersama suaminya. Bahkan anggota keluarga yang lain. ibu UL. dan ibu TS. juga kasus ibu IT. Kewibawaan suami diapresiasi oleh isteri manakala suami mempunyai al-ba‟ah (kemampuan) sebagaimana dituntun oleh agama yaitu kemampuan lahiriah batiniah. Suami yang tidak mempunyai pekerjaan (menganggur) bisa menjauhkan tercapainya cita-cita keluarga sakinah. kecantikan. misalnya. kotor dan menista. Perbedaan pendidikan yang jauh antara isteri dengan suami misalnya menjadi masalah yang susah ditoleransi dalam menjemba tani perbedaan pendidikan antara isteri dengan suami agar tidak menjadi potensi konflik. Karena ketergantungan itu pula yang mendorong suami tidak bisa fair (jujur) kepada isteri. mendambakan hal itu seperti harapan yang diungkapkan oleh DM.

perceraian baru terjadi jika suami isteri sebagai pasangan hidup tidak memenuhi kriteria yang diharapkan. mereka berusaha menyelesaikan sendiri persoalan rumah tangganya tanpa . Adakalanya kepada orang tua. mertua. teman bahkan ke lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah untuk mengatasi persoaln perceraian. saling membutuhkan. Meskipun suami dan isteri telah bercerai namun cita-cita dan keinginan untuk membangun keluarga sakinah tetap tertanam dalam hati masing-masing. Namun demikian ada juga pasutri yang tidak melibatkan pihak di luar keluarga inti. Isteri yang terlalu mengatur (too care) suaminya ternyata tidak disukai suami seperti kasus LQ. Langkah-langkah Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga Secara umum setiap pasangan suami istri (pasutri) di Malang menyadari betapa pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga. seperti BP4 dan KUA. Manakala masing-masing suami dan isteri dapat memerankan dirinya dengan melaksanakan kewajiban dan haknya maka perceraian tidak perlu terjadi. Berkonsultasi kepada pihak di luar anggota keluarga inti (suami. saudara. Perceraian bisa pula terjadi karena kurangnya pemahaman pasangan suami isteri tentang makna perkawinan dan upaya yang harus dilakukan untuk membangun keluarga sakinah. manakala isteri mengambil peranannya terlalu banyak maka cita-cita keluarga sakinah tidak dapat terwujud. Hal ini bisa dilihat betapa pasutri selalu berusaha mempertahanhan rumah tangganya dengan berbagai cara yang mereka anggap efektif agar perselisihan dan pertengkaran yang terjadi di antara pasutri tidak berujung kepada perceraian. Hal lain yang menarik untuk diperhatikan bahwa sebesar apapun cinta isteri kepada suaminya. dia diharapkan tetap memainkan peranannya sebagai pendamping suami yang berfungsi sebagai perawat dan pemelihara (al-hafidzat) bagi suaminya bukan sebagai penjaga baginya. Bagaimanapun suami adalah penanggung jawab keluarga. saling respek. istri dan anak) adalah cara yang paling umum. dan membuatnya aman serta nyaman.mereka mengharapkan suaminya bisa menjadi teman hidup yang menyenangkan. Suaminya bisa menjadi belahan jiwanya (soulmate) tempat mencurahkan segala rasa dan cinta sepenuh hati.

keberadaan keuarga tak lebih hanya sekedar membantu memecahkan persoalan yang dialami. Dalam konteks perceraian. Karena bagimanpun pasutri adalah pihak-pihak yang paling mengetahui persoalan yang dialami. Mereka selalu terlibat dalam hal ini. Sementara itu dari pihak pasutri sendiri juga tidak merasa sungkan dan terbebani jika meminta bantuan kepada keluarga. keterlibatan mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok. Dari paparan data sebelumnya dapat diketahui bahwa langkahlangkah yang ditempuh oleh pasutri di Malang dalam memproses perceraian sangat beragam. Namun. Hasilnya. Pasutri yang melibatkan pihak keluarga secara penuh biasanya adalah pasutri yang memulai proses pernikahan dengan cara yang wajar dan mendapatkan restu dari keluarga kedua belah pihak. Bantuan penyelesaian . Tidak semua persoalan harus diselesaikan oleh pihak keluarga. Keterlibatan Keluarga Sudah menjadi kelaziman bahwa anggota keluarga adalah bagian tak terpisahkan dari sepasang suami istri. keterlibatan keluarga pun tidak bisa dihindari. sebab pihak keluarga merasa dilibatkan dalam proses perkawinan. sehingga mereka juga merasa perlu membantu pasutri yang sedang mempunyai persoalan rumah tangga dan membutuhkan bantuan penyelesaian. yakni keluarga yang secara penuh dilibatkan dan sebagian lagi tidak penuh. Hal ini sangat wajar. sebab perkawinan mereka juga atas restu keluarga.melibatkan pihak lain. Meskipun demikian pihak keluarga biasanya juga mengetahui kapan mereka bisa terlibat dan kapan tidak. Sebagian diantara mereka bisa melibatkan pihak keluarga masing-masing secara penuh. sebagian lagi hanya melibatkan salah satu keluarga saja. Ada juga yang berkonsultasi ke KUA. Keluargalah yang biasa memberikan suport kepada pasutri apabila mengalami problem keluarga yang sulit diatasi. sebagian berhasil tidak meneruskan ke tingkat perceraian dan sebagian lagi justru gagal. 1. Namun dari responden yang dihubungi hampir tidak ada yang melibatkan lembaga BP4 yang sengaja dibentuk oleh pemerintah untuk memberikan solusi terhadap pasutri yang sedang mengalami problem keluarga.

Adapun faktor yang mngemuka adalah tidak direstuinya hubungan perkawinan mereka oleh kedua belah pihak. karena proses pernikahan yang mereka jalani pada awalnya tidak ‖direstui‖ oleh orang tua. Keterlibatan BP4 BP4 adalah lembaga resmi pemerintah yang didirikan untuk membantu pasutri dalam menemukan solusi atas persoalan rumah tangga yang dialaminya. yang mengemuka adalah aspek emosi. Apabila mereka telah merasa tidak mampu barulah melibatkan orang tua atau mertua. Tujuannya jelas. baik keduanya atau salah satunya. Idealisme lembaga ini ternyata bertepuk sebelah tangan. Banyak faktor yang menjadi penyebab mereka melakukan ha lni. Ketakutan terutama diarahkan kepada orang tua dan mertua. Akibatnya masyarakat tidak memanfaatkan lembaga ini sebagai media penyelesaian problem keluarga yang mereka hadapi. Karena pertimbangan inilah mereka lebih memilih menyelesaikan persoalan keluarganya tanpa campur tangan keluarga terlebih dahulu. kalaupun direstui hal itu disebabkan adanya ‖kecelakaan‖ sebelumnya dari pihak istri. sebagian pasutri tidak memanfaatkan peran senioritas keluarga. . mengingat ketika pasutri mengalami pertengkaran. Tidak termanfaatkannya BP4 oleh pasutri. Berbeda dengan pelibatan sebelumnya. sehingga aspek nalar tidak bisa berfungsi secara maksimal.persoalan adalah sesuatu yang penting. 2. Pasutri ini merasa bahwa mereka telah berbuat tidak baik kepada orang tua dan pihak keuarga. Ketidaktahuan masyarakat tentang BP4 ini bisa jadi karena minimnya sosialiasi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait kepada masyarakat. menurut para responden karena mereka tidak banyak mengenal keberadaan lembaga ini termasuk peran dan fungsinya. Bahkan ada pasutri di Malang Raya yang tidak mengerti tentang BP4 sama sekali. agar pasutri tidak sampai masuk dalam kubang perceraian. Pasutri yang menempuh langkah ini biasanya didasari oleh perasaan minder dan takut. banyak pasutri yang sedang mengalami persoalan rumah tangga tidak memanfaatkan lembaga ini untuk menyelesaikan persoalannnya.

Ketua KUA di semua tempat adalah kepala BP4 itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pengakuan salah satu kepala KUA di Kab Malang bahwa sebagian PNS yang berkonsultasi ke BP4 ada yang kembali rukun. Sebab. Prosedur perceraian yang diterapkan oleh pengadilan agama terhadap pasutri PNS. dimana mereka harus mendapatkan rekomendasi BP4 terlebih dahulu. tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Undang-undang nomor 7 tahun 1989 tentang peradilan agama. Posisi BP4 yang demikian.Sebenarnya secara kelembagaan. Tanpa rekomendasi dari BP4 pengadilan tidak akan meneruskan sidang perceraian mereka. BP4 yang ada di setiap level. . setidaknya bisa meredam gejolak mereka untuk meneruskan perceraiannya. bagi pasutri PNS rekomendasi BP4 akan sangat berarti bagi kelangsungan proses perceraian di pengadilan agama. pemerintah tetap memposisikan BP4 masih terikat kuat dengan struktur KUA di kecamatan. Melihat eksistensi BP4 yang demikian. Namun eksistensi BP4 bisa dibilang wujuduhu ka‟adimihi (adanya seperti tidak adanya). pada saat yang sama. secara formal BP4 memiliki struktur mulai dari pusat sampai tingkat desa. Ketika aturan tersebut diberlakukan. Selain pasutri PNS. Dan yang demikian pada gilirannya akan memacu peningkatan angka perceraian di masyarakat. demikian sebagaimana dituturkan oleh salah satu pejabat PA dan kepala KUA di Malang. Namun. biasanya sudah pasti cerai. dimana peranan KUA dibatasi pada persolan nikah dan ruju‘. Dan kalau sudah di pengadilan agama. hampir dipastikan tidak dikunjungi masyarakat. masyarakat secara umum lebih suka menyelesaikan problem keluarganya tanpa melibatkan BP4. namun ada juga yang tetap bercerai. maka pemerintah dalam hal ini Departemen Agama dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia sudah selayaknya duduk bersama merumuskan kembali posisi BP4. mereka langsung menyelesaikannya di pengadilan. kecuali pasutri yang berstatus PNS. maka bisa dipastikan BP4 tidak memiliki peranan lagi. khususunya yang ada di kecamatan. maka persoalan perceraian yang menimpa banyak umat Islam akan meningkat. Sebab apabila BP4 dibiarkan tanpa tugas dan kewenangan yang jelas.

Keluarga yang telah bercerai berpotensi membentuk pribadi bermasalah karena lingkungan inilah yang pertama kali dihadapi oleh sang anak. Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif.BAHASAN Secara taksonomis. Orang tua yang sedang kalut dan marah pada pasangannya sering kali menampakkan perilaku tidak dewasa dan emosional. interaksi yang dapat menimbulkan pengalaman afektif dalam kehidupan anak juga terkurangi. penurunan prestasi belajar. serta nilai-nilai budaya. namun perceraian—terutama yang disertai kekerasan—malah mengajarkan sikap antipati. perilaku agresif. dampak perceraian yang tampak pada anakanak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis. solidaritas. Perceraian secara tiba-tiba mencerabut kebutuhan anak tersebut. di tengah keluarga. Apabila keluarga menjadi berantakan disebabkan perceraian. tidak loyal dan acuh. Perceraian dalam keluarga membuat anak kebilangan harapan dalam memperoleh kebahagiaan padahal secara teoritis dan realitas. Perilaku tersebut akan menjadi model bagi anak. suka berbohong dan perilaku proyeksi. kecewa. rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. atau salah satu dari pasangan tersebut (baca orang tua anak-anak) ―kabur‖. Pada keluarga yang telah pecah akibat perceraian. seorang anak belajar beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Kondisi ini menimpa AZ dan Wim dan S yang . Maka akan muncul serentetan masalah baru bagi anak-anak mereka. curiga. loyalitas. Mereka juga belajar mengenal normanorma dan aturan-aturan hidup. Bermula dari keluarga. bimbingan dan perlindungan. seorang anak idealnya memperoleh kehangatan cinta. kasih sayang. Seharusnya anak dapat memahami sikap simpati. Perceraian dapat menghambat proses belajar tersebut. Kehangatan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh anak dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Pertikaian antara ayah dan ibunya ketika kondisi ―retak‖ hingga proses perceraian dapat mengacaukan kondisi emosi anak. perilaku regresi dan obsesif.

semuanya akan nampak dari perilaku anak ketika beranjak remaja dan dewasa apabila tanpa bimbingan dari salah satu dari orang tua atau pengganti orang tuanya (Nawawi: 1998). Win dan S akan mengalami gangguan perkambangan intelektual. Dikhawatirkan. Akibatnya PR merasa tidak pernah belajar menjadi figur perempuan sebenarnya. sekarang merupakan hal yang biasa. prosentase perceraian dengan gugat cerai berlipat ganda. Mungkin perkiraan bahwa perceraian dapat mempengaruhi 15 persen anak-anak yang lahir di tahun 1955 di Inggris dan Amerika. telah terjadi pula di Malang Raya. Anak-anak dari korban perceraian semakin banyak dan. Kasus S menunjukkan bahwa anak anak yang berupaya dengan keyakinannya ingin menyelamatkan perkawinan orang tuanya meskipun . Lebih lanjut.mengalami masalah emosional setelah proses perceraian orang tuanya yang disertai kekerasan. meskipun S dan AZ diasuh oleh si ibu. bahkan spiritual. Perceraian yang terjadi melibatkan anak-anak dibawah usia 18 tahun. dan sebagian besar perceraian dewasa ini melibatkan keluarga yang mempunyai anak. Semua kasus diatas bahkan dapat dikatakan mengalami deprivasi parental atau kehilangan fungsi pengasuhan. perkembangan sosio-emosional. Bagi PR yang menjadi saksi pecahnya harmoni keluarga. Di samping karena AZ juga menjadi saksi pertikaian orang tuanya yang pebuh dengan kekerasan sehingga dia mengimitasi peristiwa itu lalu mentrasfernya dalam hubungan dengan teman-temannya. Kasus PR menunjukkan bahwa kehadiran orang tua dalam perkembangan kepribadian anak sangat penting. Angka perceraian yang cenderung meningkat di Malang Raya khususnya tahun 2000-an membuat kasus perceraian yang dulu merupakan kejadian luar biasa. Sementara AZ mungkin merasa kehilangan kepercayaan diri dalam pergaulan sosial sebagai akibat perasaan malu karena memiliki keluarga yang tidak utuh. Dewasa ini. kehilangan figur model perilaku. PR telah merasakan pahitnya kehilangan fungsi ibu dan ia mengalami deprivasi maternal atau kehilangan bimbingan ibu. PR dan saudara-saudaranya masih beruntung karena figur sang ayah dan keluarganya yang lain memberikan penguatan sehingga dampak psikologis akibat perceraian kedua orang tuanya tidak terlalu berat dirasakan PR. dia juga merasa tidak aman secara emosional (emotional insecurity). anak-anak seperti AZ.

Dia belajar mengenai sosok-sosok pribadi dengan ciri-ciri yang terkesan negatif dalam benaknya untuk ditolak dan tidak dapat di percaya. Dalam menyelesaikan problem rumah tangga yang menjurus ke arah perceraian. sebagian lagi hanya memahaminya sebatas aspek lahiriyah. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan paparan data pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. (2) hadirnya orang ketiga. (4) perbedaan keyakinan. bahkan ada yang tidak mengenal konsep keluarga sakinah. (5) ketimpangan pola pikir. PR lebih mampu memahami bahwa perceraian orang tuanya dan tahu asal muasal penyebab perceraian tersebut. 3. (3) kekerasan dalam rumah tangga. 2. AZ menjadi berperilaku terpusat pada diri sendiri (egosentris) dan menghawatirkan karena sering kasar dan agresif pada teman-teman sebayanya. sebagian pasutri Muslim di Malang Raya melibatkan keluarga (orang tua. R dalam hal telah menempatkan ibunya sebagai orang yang kurang dapat dipercaya. Persepsi pasutri Muslim di Malang Raya tentang keluarga sakinah sangat beragam. Ia mempersepsi sang ibu sebagai orang yang tidak tanggap atau menimbulkan frustasi karena tidak bersikap kasih..usahanya menjadi sia-sia. Anak-anak korban perceraian baik AZ dan S kemungkinan akan berkembang memiliki cara pandang yang selektif pada orang lain sebagai bagian dari kepribadiannya. Sebagian diantara mereka dapat memahami kosep keluarga sakinah sama seperti yang dimaksud oleh agama. Perceraian yang terjadi diantara pasutri muslim di Malang Raya disebabkan oleh beberapa faktor. dan (6) tidak saling percaya. Kondisi ini sesuai dengan analisa Sears (1988). PR lebih bisa memahami kasus orang tuanya karena dia mengetahui kejadian itu setelah beranjak dewasa. Kasus S memberikan gambaran bahwa S berpotensi menjadi kurang matang (Immature) akibat kerinduan pada sosok ayah. Sementara itu. atau yang dituakan) sejak awal untuk . kakak. diantaranya (1) ketidakberdayaan suami dalam membahagiakan isteri.

Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. Mereka menjadi lebih selektif dalam memutuskan masalah masa depan. perilaku regresi dan obsesif. biasanya pasutri yang proses pembentukan rumah tangganya tidak mendapat restu dari keluarga. jika tidak ada rekomendasi dari BP4. Kecuali pasutri PNS. 4. khususnya mereka yang mendapatkan bimbingan yang memadai. bagi sebagian kecil diantara anak-anak korban perceraian. rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). Selain kedua model tersebut. suka berbohong dan perilaku proyeksi. Penelitian ini akan membawa manfaat yang lebih besar jika ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan yang diarahkan kepada . Sebab pihak Pengadilan Agama tidak akan memproses. selain itu mereka juga lebih bijak Saran Setelah diketahui beberapa kesimpulan di atas. Selain dampak yang negatif. merasakan dampak positif. Sebaliknya yang tidak melibatkan keluarga sejak awal. dampak perceraian yang tampak pada anak-anak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis.membantu mencari solusi yang terbaik. perilaku agresif. pasutri di Malang Raya yang sedang bermasalah hampir seluruhnya tidak memanfaatkan keberadaan BP4 sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah untuk membantu mencarikan solusi atas persoalan rumah tangga. penurunan prestasi belajar. ada keharusan bagi mereka untuk berkonsultasi kepada BP4 kabupaten terlebih dahulu jika ingin memproses ke arah perceraian. Sebagian lagi hanya melibatkan pihak keluarga pada saat mereka tidak mampu lagi mengatasinya. Pasutri yang meibatkan keluarga sejak awal biasanya adalah pasutri yang mendapatkan restu dari keluarga untuk membentuk rumah tangga. saran yang dapat dikemukakan adalah: 1. Secara taksonomis. Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok.

Pihak universitas bekerja sama dengan pihak-pihak terkait hendaknya melakukan kajian secara komprehensif mengenai persoalan perceraian dan langkah-langkah kongkrit untuk mengatasinya. maupun administratif. baik secara akademis. 3. . sosiologis. Pihak-pihak yang terkait dalam pemerintah sudah saatnya meninjau kembali beberapa peraturan yang tidak memberikan peluang kepada BP4 mengembangkan diri dan ikut andil dalam mencegah terjadinya perceraian di masyarakat. agamis.pembuatan model pencegahan perceraian bagi pasutri muslim yang diwujudkan dalam penerbitan buku saku pencegahan perceraian 2.

Jakarta. Tafsir Al Maraghi. Qualitative Research In Education: An Introduction to Theory and Methods. Bogdan. Beirut. Ahmad Musthafa. dan Biklen. Darul Fikr. Upaya Mengatasinya Menurut Qur‘an Hadits dan Ilmu pengetahuan. S. Shahih Muslim. T. C. Medinah Munawwarah.1980. K. Muhamad Usman. Maraghi. Boston: Allyn and Bacon. Imam Muslim. Darul Fikr . Al Khasyt.th. Mujamma‟ Al Malik Fahd Li Thinba‟at Al Mushh-haf. 1995. 1999. GIP.DAFTAR RUJUKAN Al Qur‘an dan Terjemahannya. R. Beirut. 1998. Sulitnya Berumah Tangga.

sikap sebagian besar lulusan perguruan tinggi kita yang masih mengharapkan bekerja di instansi pemerintah dan tidak mampu menciptakan lapangan kerja. Based on the data obtained through observation and questionaires. industrial practical. the CAR was succesfull in (a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject Key words: Project Based Learning. minimal untuk dirinya sendiri. This Research is conducted in Departement of Building Education FT UM. Pengamat pendidikan dan dunia industri mensinyalir bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia secara umum masih rendah.Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi Wasis Abstract: This Research aim to to ( a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based` Learning and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based Learning. Hal ini merupakan salah satu indikator proses pembelajarandi perguruan tinggi masih belum optimal. Hal ini nampak dari. having the collaaborative character. This Research use of class action research (CAR). Pribadi dan Wasis adalah dosen Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Negeri Malang . building education.

untuk memahami konsep-konsep teknik yang bersifat rumit dan abstrak diperlukan tugas-tugas yang bersifat lebih komplek.. setiap mahasiswa harus menempuh matakuliah Praktik Industri (PI) sebagai persyaratan untuk lulus. Hal tersebut. kemampuan dan keterampilan mahasiswa. menganalisis masalah dan mampu memberi solusi terhadap masalah yang terjadi di lapangan. PI merupakan matakuliah yang bertujuan untuk membekali mahasiswa agar memiliki kemampuan komprehensip dalam memecahkan masalah yang yang terjadi di lapangan. Kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan masih banyak mengalami kekurangan-kekurangan dan masih perlu dilakukan pembenahan-pembenahan. pada pembelajaran bidang studi teknik. Dengan demikian mahasiswa yang boleh mengambil PI adalah mahasiswa di atas semester 6. Pada kuliah tatap muka di kelas yang dilakukan pada minggu pertama dan kedua awal semester hanya terkait dengan masalah wawasan PI dan mekanisme pelaksanaan PI di lapangan. mengakibatkan banyak mahasiswa yang merasa terpaksa dalam menjalani proses pembelajaran (Suhartadi. Setelah itu mahasiswa. Metode penyelesaian PI yang selama ini dilakukan dengan 10% kuliah tatap muka di kelas dan 80% melalui kerja praktik pada industri jasa konstruksi. Di lapangan mahasiswa diharapkan dapat belajar dengan pelaksana. pemahaman terhadap konsep-konsep maupun teoriteori teknik tidak cukup dilatih dengan pemberian soal-soal saja. mandor dan tukang tentang masalah- . Dalam pelaksanaannya PI dilakukan dengan cara praktik langsung di lapangan pada proyek konstruksi yang sedang berjalan. Kasus yang demikian dijumpai pula pada mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Bangunan (PTB) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Malang (UM). Dalam kegiatan praktik ini diharapkan mahasiswa mampu memahami prosedur kerja. Guna mencapai tujuan tersebut pada program S-1 Pendidikan Teknik Bangunan FT UM. akan berakibat pada rendahnya gairah belajar mahasiswa. 2001). Namun lebih dari itu.Pada pihak lain model pembelajaran di perguruan tinggi yang masih mengacu pada prinsip behavioristik yang lebih menekankan bagaimana pengajar merubah sikap. diberi kebebasan untuk mengerjakan tugasnya ke lapangan serta diberi jadwal tertentu untuk berkonsultasi dengan dua orang dosen pembimbing yang telah ditentukan. Misalnya. Matakuliah PI boleh diambil mahasiswa bila sudah menyelesaikan kumulatif 90 sks atau telah menempuh 80% matakuliah keteknikan.

sehingga waktu konsultasi dengan dosen. 20% mahasiswa mendapat nilai B dan 80% mahasiswa mendapat nilai C. Pada pihak lain. sistem pembelajaran PI dengan memberi kebebasan waktu pada mahasiswa untuk berkonsultasi pada dosen pembimbing ternyata menjadi masalah tersendiri. (2) tidak mampu menyelesaikan tugas yang telah ditargetkan.masalah konstruksi bangunan. Dari mahasiswa yang berhasil menyelesaikan PI tersebut tidak ada (0%) mahasiswa yang mampu meraih nilia A. Pada awal-awal semester hanya sekitar 15% mahasiswa yang memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing. ternyata tidak mengerti akan tugas-tugas yang dikerjakan. Berdasarkan data yang ada pada jurusan ternyata mahasiswa yang mampu menyelesaikan PI tepat waktu adalah (l) angkatan 2001 dari sebanyak 24 orang hanya 9 orang mahasiswa. dan (4) sering mengupahkan atau menyuruh mahasiswa lain untuk mengerjakan tugasnya. angkatan 2002 dari sebanyak 35 orang hanya 10 orang mahasiswa dan angkatan 2003 dari sebanyak 36 orang hanya 11 orang mahasiswa. Di samping itu. Dari data-data tersebut nampak bahwa hampir sebagian besar mahasiswa. Mahasiswa yang memprogram PI tidak teratur memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi sesuai jadwal yang ditetapkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan tim pembimbing PI dan juga pengamatan tim peneliti. mengalami masalah dalam penyelesaian tugas PI. Dalam hal ini tidak ada kontrol terstruktur dari dosen pembimbing pada mahasiswa yang memprogram . hampir semua mahasiswa berbondong-bondong berkonsultasi. (3) malas atau tidak mau mencari buku rujukan yang disarankan dosen. ternyata keterlambatan mahasiswa dalam menyelesaikan PI disebabkan kurangnya kemandirian dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada. kalau tidak datang untuk berkonsultasi ya terserah mahasiswa‖. Akibatnya hampir 90% mahasiswa tidak mampu menyelesaikan PI dengan tepat. ternyata penyelesaian PI menjadi kendala utama kelulusan mahasiswa. Dalam pelaksanaan pendidikan pada program S-1 PTB FT UM. Dosen pembimbing beranggapan bahwa ―kalau mahasiswa konsultasi ya dilayani. nampaknya dosen pembimbing juga jarang memperhatikan kegiatan penyelesaian PI mahasiswa. Kurangnya kemandirian mahasiswa dapat dilihat dari beberapa indikator seperti (l) tidak menepati jadwal konsultasi yang telah ditentukan. dan sebaliknya pada akhir semester di mana jadwal pengerjaan PI harus berakhir.

motivator dan inspirator. dan hasilnya membentuk suatu produk nyata. sehingga mahasiswa memiliki kemandirian dalam menyelesaikan PI yang memang cukup berat. maka cara yang dianggap paling baik untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. Di samping itu dosen pembimbing PI. sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan. sehingga kemandirian mahasiswa dalam menyelesaikan PI tumbuh.PI. Sebagai fasilitator pengajar harus dapat memberi berbagai kemudahan. Metode Pembelajaran Berbasis Proyek dipilih untuk memecahkan masalah ini karena sesuai dengan konteks dan tujuan dari matakuliah PI. bantuan. tanpa memandang taraf kemampuan intelektual mahasiswa. maka upaya yang dianggap sesuai untuk penyelesaikan permasalahan pembelajaran tersebut adalah melalui penerapan pembelajaran berbasis proyek (project based learning). dengan penerapan pembelajaran berbasis proyek akan dapat berperan sebagai fasilitator. Melihat permasalahan dalam pembelajaran PI tersebut. Berpijak pada latar belakang masalah di atas. Sudah menjadi kewajiban dosen untuk meningkatkan perannya sebagai fasilitator. Kondisi dosen yang demikian. dan (4) . Melalui pembelajaran berbasis proyek akan mampu mendorong mahasiswa untuk melakukan invesitigasi pemecahan masalah terhadap tugas-tugas yang bermakna. maka harus ada upaya-upaya sistematis untuk memperbaikinya. (3) meningkatkan sikap kerjasama. motivator dan insprirator. Memberi petunjuk dalam penyelesaian PI atau mengarahkan bagaimana agar mahasiswa dapat menyelesaikan tugas dengan mudah dan sekaligus memberi dorongan-dorongan yang diperlukan. Sebagai inspirator pengajar harus dapat memberikan semangat. juga merupakan salah satu masalah yang mengakibatkan efektifitas pengerjaan PI rendah. Melihat sistem pembelajaran matakuliah PI yang demikian. dorongan pada mahasiswa dalam penyelesaian PI. mendorong mahasiswa bekerja secara mandiri. yang berfokus pada pertanyaan atau masalah nyata serta pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya. (2) meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. petunjuk. Di samping itu metode Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa keunggulan seperti (1) mampu meningkatkan motivasi mahasiswa. yaitu melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata.

kondisi dan hasil. 2001. Secara umum karakteristik project based learning mencakup isi. (3) mahasiswa membuat hubungan/keterkaitan antar ide-ide dan memperoleh ketrampilan baru seperti melakukan kerja pada tugas-tuga yang berbeda. Van-Duze. (3) mahasiswa berjuang dengan ambiguitas. aktivitas. (2) mahasiswa menemukan hubungan anta ride secara indispliner. (4) mahasiswa menggunakan perlengkapan. dan (5) mahasiswa melakukan umpan balik (refleksi) tentang nilai idenya dari ahli lain/melalui tes realistik Kondisi. dan mencapai puncaknya untuk menghasilkan produk nyata (Thomas.meningkatkan keterampilan mengelola sumber (Moursund (1997). dan lebih menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang komplek. dukungan terhadap otonomi mahasiswa seperti (l) mahasiswa mengambil bagian dalam masyarakat inkuiri dan meneruskan latihan kerjanya di dalam konterk social. (3) mahasiswa mengarahkan kerjanya . (CORD. Moss. pencarian sumber dan pemecahan masalah dalam merespon tantangan secara keseluruhan. 1999. Carol. Karakteristik aktivitas. Secara operasional hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Karakteristik isi: memuat ide-ide seperti (l) masalah disajikan dalam bentuk keutuhan kompleksitas. melibatkan mahasiswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang amat besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi mahasiswa (Gaer. (2) mahasiswa dihadapkan pada suatu kesulitan. 1998). Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebuah model pembelajaran yang inovatif. Memuat ide-ide investigatif seperti (l) mahasiswa melakukan investigasi selama periode tertentu.alat otentik/sesungguhnya (misalnya. 2000). teknologi/sumber-sumber nyata). & Michaelson. Thomas. Fokus pembelajaran terletak pada prinsip-prinsip dan konsep-konsep inti dari suatu displin ilmu. Mergendoller. Adanya keunggulan-keunggulan metode Pembelajaran Berbasis Proyek tersebut dianggap tepat untuk memecahkan masalah pembelajaranpada matakuliah PI. memberi kesempatan mahasiswa bekerja secara otonom dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. dan (4) pertanyaan dunia nyata dan menarik perhatian mahasiswa. 1998). (2) mahasiswa diminta memperagakan tingkah laku manajemen waktu dan tugasnya baik secara individu maupun kelompok.

Penelitian ini berpedoman pada model yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart (Dalam Hopkins. yang dari awal sampai akhir kegiatan terlibat langsung sebagai peneliti pelaksana. peneliti. ketrampilan teknik dan sebagainya. (3) contructive investigation. engineer dan praktisi-praktisin lainnya. laporan dan sejenisnya). (3) mahasiswa bertanggung jawab terhadap pilihannya tentang bagaimana akan mendemonstrasikan kompetensi mereka. (4) autonomy. produk nyata seperti: (l) mahasiswa menghasilkan produk intelektual yang kompleks yang menunjukkan hasil belajarnya (misalnya model. dan (4) mahasiswa memperagakan kompetensi nyata mereka seperti: keterampilan sosial. Sebagai sebuah model pembelajaran. Pembelajaran Berbasis Proyek mempunyai beberapa prinsip. Waktu pelaksanaan penelitian ini direncanakan dilaksanakan mulai bulan Pebruari 2008 sampai dengan bulan November 2008. disamping itu dilibatkan 15 mahasiswa semester 7 dan 8 prodi S-1 PTB FT UM yang memprogram matakuliah PI. dan (5) realism (Thomas. dan (4) mahasiswa melakukan simulasi kerja profesional dari seorang sarjana. Hasil.sendiri dan melakukan kontrol belajarnya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bersifat kolaboratif. Subjek penelitian ini melibatkan 2 orang dosen. 1992) merupakan alur pelaksanaan tindakan dan berlangsung dalam siklus-siklus yang terdiri . (2) driving question. Artinya penelitian ini melibatkan tim pengajar sebagai anggota peneliti. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas penelitian ini bertujuan untuk (1) Meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek dan (2) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek METODE Penelitian ini dilakukan di Program Studi S-1 Teknik Bangunan FT UM. yaitu (1) centrality. 2000). keterampilan manajemen. (2) mahasiswa terlibat dalam melakukan self assessment. benda nyata.

atas rencana tindakan. Hal ini dilakukan dalam rangka menciptakan suatu iklim yang baik antara peneliti dengan pengajar dan mahasiswa. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. memfokuskan. dan sebagainya. representatif tabular termasuk dalam format matriks. mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap penelitian tindakan kelas. dan penyimpulan (PGSM. yaitu reduksi data. mengabstraksikan. analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus penelitian tindakan kelas sebagai keseluruhan (PGSM. HASIL Siklus 1 a. Dalam hubungan ini. Berbeda dari interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dari suatu observasi. Perencanaan Sebagai langkah awal kegiatan tim Peneliti melakukan bekerjasama dengan tim pengajar Praktik Industri. observasi dan refleksi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. Tahap perencanaan ini meliputi kegiatan sebagai berikut: . Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. Sedangkan penyimpulannya adalah proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan atau formula yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas (PGSM). paparan data. pemfokusan. dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Hasil refleksi pada siklus ini digunakan sebagai dasar pelaksanaan siklus berikutnya. 1999). 1999). analisis data adalah proses menyeleksi. Kegiatan pertama dalam siklus I ini adalah dilakukan perencanaan pembelajaran Praktik Industri dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. pelaksanaan tindakan. representatif grafis. menyederhanakan.

Active Exploration: yang terkait dengan efektifitas penggunaan waktu. kerja tim dan penggunakan teknologi yang tepat (l) pembuatan tim work untuk menyelesaikan tugas-tugas. b. metode ilmiah yang digunakan memecahkan masalah dan. sumber dan media. Pembuatan pedoman petunjuk praktik industri. 2. Pembuatan rancangan operasional metode Pembelajaran Berbasis Proyek yang meliputi: Authenticity: terkait dengan kebermaknaan tugas bagi mahasiswa. Tindakan Pada tahap ini diawali dengan pertemuan dengan dosen pembimbing dan mahasiswa yang menjadi subyek penelitian ini. dan bentuk Buku pegangan mahasiswa dan pedoman pembimbingan dosen. Penjelasan oleh ketua tim pengajar tentang tujuan umum dan khusus matakuliah Praktik Industri. bekerja/berdiskuasi dengan seorang teman. (2) analisi teknikteknik yang digunakan untuk memecahkan masalah. penilaian hasil kerja mahasiswa oleh orang luar Assessment: yaitu terkait dengan kemampuan untuk melakukan penilaian mandiri terhadap unjuk kerjanya. penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode. analisis dari berbagai aspek dalam pemecahan masalah Applied Learning: yang terkait dengan konteks permasalahan. keterlibatan pihak luar untuk pengembangkan standar kerja dan penilaian reguler/teratur terhadap unjuk kerja mahasiswa. . (3) pengembangkan organisasi kerja. tingkat kesulitan tugas dan kemampuan mahasiswa dan produk yang akan dihasilkan dari proyek akhir tersebut Academic Rigor: terkait dengan ilmu-ilmu yang terkait dan digunakan dalam penyelesaian proyek. dan melakukan presentasi ilmiah Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan akhli dari luar. Kegiatan pertemuan awal ini dilakukan dengan tahap kegiatan sebagai berikut: 1.1. materi atau topik-topik Praktik Industri.

c. 5.2. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada (1) penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek dan (2) pengembangkan topik Praktik Industri. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Penjelasan penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode proyek yang meliputi tahap-tahap prosedur Metode Proyek. Demikian pula mahasiswa telah mampu mengembangkan topiktopik yang dijadikan kajian Praktik Industri. Pada tahap ini peneliti mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran penyelesaian Praktik Industri. waktu penyelesaian dan persyaratan-persyaratan lainnya sesuai buku pegangan mahasiswa. . d. Berdasarkan diskusi antara tim pembimbing dan mahasiswa disepakati bahwa jadual pembimbingan terstruktur dilakukan 2 kali dalam seminggu. Dengan demikian mahasiswa telah siap untuk melakukan kerja praktik industri di lapangan. Setelah diadakan forum tanya jawab kemudian mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan topik Praktik Industri Penentuan jadual pembimbingan. 3. Penentuan topik tugas Praktik Industri. Refleksi Berdasarkan tahap tindakan yang telah dilakukan diperoleh gambaran bahwa 90% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode proyek yang akan digunakan dalam menyelesaikan tugas Praktik Industri. 4. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Setelah selesai penjelasan tersebut dilakukan tanya jawab dengan mahasiswa dan dosen pembimbing.

Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. Pembimbingan di kampus. dan 2 kali pembimbingan di kampus. c. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. Tindakan Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan baik di lapangan maupun di kampus berlangsung tim peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran. diawali presentasi mahasiswa tentang topik-topik bahasan. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Maka dalam perencanaan siklus 2 dilakukan langkah-langkah perencanaan yang terkait dengan: 1. Menentukan lokasi tempat praktik industri bagi masing-masing kelompok mahasiswa. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Pengembangan pedoman kegiatan pembimbingan di kampus b. Perencanaan Berdasarkan temuan pada siklus 1 diketahui bahwa sebagian besar (90)% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode Pembelajaran Berbasis Proyek. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang . 2. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas.Siklus 2 a. Pengembangan pedoman pembimbingan di lapangan 5. Pengembangan tahap-tahap kegiatan praktik 4. Pengembangan pokok bahasan praktik industri (pengerjaan pondasi bangunan) 3. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa dilakukan selama 3 minggu. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek.

kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Kelemahan mendasar yang masih dilakukan mahasiswa dalam tahap ini adalah masih belum mampu menerapkan (1) Applied Learning: yang terkait pembentukan tim work dan aktivitas kerja kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas.berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. dan (3) Adult Relationship. Siklus 3 a. dan (3) Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan para manajer proyek dan pelaksanaan lapangan. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 2 maka pada siklus 3 pada siklus ini akan lebih difokuskan pada pengembangan dan perbaikan pada komponen (1) Applied Learning. Demikian pula baru 65% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan subsub topik yang dibahas. (2) Active Exploration. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. (2) Active Exploration: yang terkait dengan penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode dalam menganalisis kegiatan lapangan. Demikian pula pada tahap ini peneliti mulai mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran praktik. Untuk itu sebelum praktik ke lapangan mahasiswa harus di beri pembekalan (penjelasan) kembali tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. d. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa baru 60 % mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. Oleh karena itu pada siklus berikutnya hal tersebut perlu dikembangkan dan diperbaiki. Dengan demikian perencanaan pada siklus ini dilakukan dengan: .

kondisi dan hasil 4. Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 4 jam pelajaran. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada . (2) Active Exploration: dan (3) Adult Relationship dalam penyelesaian tugastugas PI 3. Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan kolom dan balok bangunan. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai prakltik ke lapangan lagi.1. Tindakan Sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. Pembimbingan di kampus. dan 2 kali pembimbingan di kampus. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. Pengembangan komponen (1) Applied Learning. c. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan kolom dan balok bangunan 2. Pengembangan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. pada tugas-tugas di lapangan b. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu. Pengembangan karakteristik aktivitas.

Dalam siklus ini nampak masih ada kurang-lebih 20% mahasiswa belum mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek. pelaksana lapangan. Masih ada beberapa kelemahan mahasiswa pada siklus ini yaitu khususnya dalam hal menjalin hubungan dengan pihak proyek yaitu manajer proyek. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan pelat lantai bangunan. Mahasiswa masih kurang maksimal memanfaatkan pihak-pihak tersebut sebagai sumber belajar di lapangan. Siklus 4 a. . dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 4 pada siklus ini akan dilakukan perencanaan dalam hal: 1. mandor maupun tukang dan pembantu tukang. Demikian pula 80% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/ sangat baik. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Pengembangan karakteristik aktivitas.pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. 2. d. Pada siklus berikutnya kelompok mahasiswa tersebut diharapkan ada perbaikan dan pengembangan kerja dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek . Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 80% mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. kondisi dan hasil.

c. secara lebih operasional. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek dan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. Tindakan Sama seperti pada`siklus 3.3. Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai praktik ke lapangan lagiPada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan pelat lantai bangunan. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam . Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. dan 2 kali pembimbingan di kampus. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Pembimbingan di kampus. e. sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. 4. Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 3 jam pelajaran. Pengembangan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Pengembangan dan perbaikan pedoman praktik khususnya yang berhubungan dengan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu.

(4) active exploration. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 95% mahasiswa telah mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. tugas tersebut dapat dijadikan bekal untuk kehidupannya. Disamping itu mahaisswa telah mampu menjalin hubungan dengan pihak proyek. (5) adult relationship. Suatu tugas yang memiliki makna adalah tugas dimana mahasiswa merasa bahwa tugas tersebut sangat berguna bagi mahasiswa setelah ia terjun di dunia kerja. f. 1. proyek atau tugas yang dikerjakan mahasiswa harus memiliki makna bagi mahasiswa. Dengan dipahaminya ―kebermaknaan‖ suatu tugas. (2) academic rigor. Tugas tersebut terkait dengan kebutuhan dunia kerja. Authenticity Authenticity merupakan langkah awal dalam perancangan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek. Demikian pula 95% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik. dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri.penyelesaian tugas Praktik Industri. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. BAHASAN Dalam pembahasan ini akan dikaji tiap-tiap strategi yang digunakan dalam metode proyek yaitu (l) authenticity. Dalam konsep authenticity. dan memanfaatkan pihak proyek sebagai sumber belajar. (3) applied learning. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Mengingat indikator pencapaian tujuan penelitian ini telah tercapai maka siklus penelitian dihentikan. maka motivasi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akan . dan (6) assessment.

meningkat (ISTE, 2002), dengan demikian mahasiswa akan dapat menyelesaiakan tugasnya dan pada akhirnya mahasiswa akan mampu menghasilkan sesuatu dari tugas tersebut. Oleh karena itu tugas seorang pengajar dalam tahap ini adalah menjelaskan kebermaknaan suatu tugas bagi mahasiswa; pengajar harus bisa memilih dan memberi tugas yang bermakna untuk mahasiswa. Pada siklus I pada proses penelitian ini, masalah authenticity, merupakan tahap awal yang ditekankan pada mahasiswa; dalam tahap ini pengajar harus mampu menjelaskan kebermaknaan tugas, baik dari segi teknik maupun ekonomi.
2. Academic Rigor

Academin rigor adalah penerapan konsep-konsep akademis dalam menyelesaikan suatu tugas. Dalam pembelajaran berbasis proyek academic rigor, merupakan bagian yang amat penting karena mengharuskan mahasiswa menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian suatu tugas. Pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek akan melatih dan membiasakan mahasiswa untuk menerapkan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah dalam kehidupan. ISTE (2002) mengatakan bahwa dalam metode pembelajaran berbasis proyek mahasiswa dilatih melakukan penelitian, menggunakan berbagai sumber informasi dan mampu berpikir lintas keilmuan. Dalam tahap ini pengajar harus mampu merancang pembelajaran yang dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan dan menggunakan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
3. Applied Learning

Aplied learning adalah usaha untuk mengarahkan kegiatan belajar mahasiswa ker arah situasi belajar yang mengacu pada kehidupan nyata yang berada di luar lingkungan sekolah dan Kraf (1998) menyebut sebagai ―real world oriented”. Salah satu bentuk belajar dalam kehidupan nyata adalah agar mahasiswa mampu bekerja dalam organisasi modern yang menuntut disiplin tinggi, penggunaan teknologi yang tepat,

dan mampu berkomunikasi dengan rekan kerja, dan inilah yang disebut dengan real learning dan real work (Steinberg, 2001).
4. Active Exploration

Active exploration adalah usaha untuk mendorong mahasiswa agar aktif melakukan ekplorasi/penelitian, dengan menggunakan waktu secara efektif. Dalam tahap ini pengajar harus mampu memacu dan sekaligus mendorong mahasiswa untuk selalu berusaha memecahkan masalah secara kontinyu dan jangan putus asa. Menurut Buck Institute for Education (2001) dalam pembelajaran berbasis proyek mahasiswa harus mampu sebagai ―discoverer, integrator, and presenter of ideas. Dalam pelaksanaan penelitian ini, mendorong sikap dan tindakan mahasiswa agar selalu active exploration, ternyata merupakan sesuatu yang amat sulit. Hal ini mungkin disebabkan oleh perilaku mahasiswa selama ini lebih banyak bersikap pasif dalam setiap pembelajaran, dan sering dijumpai pengajar hanya bersikap sebagai penyampai materi belaka, dan kurang mendorong keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran.
5. Adult Relationship

Adult Relationship, terkait usaha memacu mahasiswa agar mampu belajar dari orang lain yaitu pada para praktisi expert dan bahkan pada para pekerja yang terkait dengan masalah yang dikaji. Dalam proses adult relationship ini para pengajar harus mendorong mahasiswa untuk mampu bertanya, berdiskusi dan juga mengajak merancang serta menilai kerja mahasiswa. Dengan model belajar yang demikian diharapkan mahasiswa memiliki pemahaman, pengetahuan dan keterampilan yang mendalam terhadap tugas yang sedang dikajinya.
6. Assesment

Assesment, adalah usaha agar mahasiswa mampu melakukan penilaian secara teratur terhadap proses belajar yang dilakukan. Disamping itu mahasiswa juga harus mampu mengembangakan kriteria penilaian sesuai standar yang berlaku di dunia kerja. Penilain yang harus

dilakukan mahasiswa mencakup prosedur kerja/metode yang dilakukan, waktu yang digunakan, hasil kerja dan hal-hal lain yang terkait dengan penyelesian tugasnya. Dari hasil penilaian yang dilakukan mahasiswa diharapkan mahasiswa dapat melihat kekurangan-kekurangannya, mampu memperbaikinya pada proses berikutnya. Dalam salah satu kriteria pembelajaran berbasis proyek Kraf (1998) menyebut hal ini sebagai ―student self-assesment of learning is encourage‖
7. Peran Pembimbing/Pengajar

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek peran dan tugas pengajar sangat jauh berbeda dengan peran dan tugas pengajar dalam pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar diharapkan sebagai ―resource provider and participant in learning activities,‖ berbeda dalam pembelajaran konvensional pengajar lebih sebagai “lecturer and director of instruction‖ dan dalam pembelajaran konvensional pengajar menganggap dirinya sebagai ―expert‖ sedang dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar harus mampu berperan sebagai ―advisor/colleague‖ (Buck Institute for Education, 2001). Perubahan peran dan fungsi pengajar dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran pembelajaran berbasis proyek tentu bukan merupakan sesuatu yang mudah, khususnya bagi pengajar yang telah terbiasa dengan model pembelajaran konvensional. Bagi pengajar yang telah terbiasa dengan pembelajaran konvensional, perlu memahami hakekat dan filsafat pembelajaran berbasis proyek lebih mendalam, dengan demikian diharapkan mampu memahami peran dan fungsinya sebagai pengajar.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut: (l) Pembelajaran Berbasis Proyek secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1

PTB FT UM dan (2) Penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM.
Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan beberapa saran sebagai berikut (l) Mengingat metode Pembelajaran Berbasis Proyek sangat berbeda dengan metode pembelajaran konvensional maka dalam penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek pengajar harus memahami hakekat dan prinsip-prinsip dasar PBL secara benar, dan (2) Guna mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang kehandalan metode Pembelajaran Berbasis Proyek diperlukan penelitian lanjutan pada bidang-bidang studi yang lain.

Toronto:Ontario Institute for Studies in Education. B & Berch. 1997. Teraedia pada: http://www.L. Washington DC: American Psychological Association. J. D. B. Supporting the Learning. 40(2). CORD. What is Project-Based Learning? Tersedia pada: http:// members . Ed427556/html Moore. B. M. ERIC Gigest. Moss. 26 (3 &4). & Moffit. Motivating Project Base Learning: Sustaining Doing. Instance Crativity. M. Moursund. Rasmussen. 1998. . Project: Road Ahead (Project-Based Learning). Hung. Real Life Problem Solving: A Collaborative Aproach to Indisciplinary Learning. Mark. Tersedia pada: http://www. Toward a Theory of Work-Base Learning. Philadelpia: Open University. Bandung: Kaifa Gaer.iste.M. M dan Palinscar.. D. [Online). Process and Product in PBL Research. 2001. 2000. Diakses tanggal 10 Desember 1997..html.org/lev2. Project Base Learning for Adult English Language Learner.. J. D. Contextual Learning Resource. A. 1991. Educational Psychologist. C.F. P.org/research/roadahead/PBL. Diakses tanggal 12 Juli 1998. 389--398. Krajick. cord.com /CulebraMom/ PBLprt. E. C. P. Jakarta: Penerbit Erlangga Bereiter. Guzdial. D. & Vos. 1999. 1998. C & Scardamalia.cfm/65. Activity Theory as a Framework for Project Work in Learning Environment. 1977. ED427556. S. Dryden C. A. Diakses tanggal: 2 Maret 2001.& Wong. R.. IEE Brief. University of Toronto.aol.W. Jakarta: Penerbit Erlangga Clegg. A Teacher`s Guide to Classroom Research. 33-37 Jones.F. Soloway. The Learning Revolution. Instance Motivation.html. 1992. Hopkins. Blumenfeld. 23 (January). 2000. Educational Technology. 2001. 2001. D & Van-Duzer. 2001.C.DAFTAR RUJUKAN Clegg.

kn. W. A Review of Research on Project-Based Learning. Project Base Learning: A handbook of Midle and High School Teacher. Jakarta: Depdikbud Penuel. California: The Autodesk Foundation. & Striley. L. designworlds. 2001. Cambridge. S. Yang diselenggarakan pada tanggal 4 September 2001 di kampus Universitas Negeri Malang. Project-Based Learning. Diakses tangal 23 Januari 2002 Stepien. J. 2001. Educational Leadership. W & Gallagher. Making Meaning in Classroom: Social Processes in Small-Group Discourse and Scientific Knowledge Building. Novato CA: The Buck Institute for Education. 2001.com/ techcape/sherm. S. Mind in Society. com/foundation. JW. 1999. Richmond.Rosenfeld.us/PBL guide/why. Vygotsky. Penelitian Tindakan Kelas.html . 1996.S. 51. Thomas.PBL. autodesk. JW.R. B. MA: Harvard University Press. 1978.. Y. Mahakalah disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Nasional Peningkatan Profesionalitas Guru SMK Melalui Kajian Kelas. 839-858 Thomas. PGSM. Available on:http://www. G. 1999. Menumbuhkan Kemandirian dan Kegairahan Belajar Mahasiswa Melalui PembelajaranTeknologi di SMK. 1993. Journal of Research in Science Teaching. A. 25--28 Suhartadi. Center for Technology in Leraning SRI International. & Means. 1999. JR & Michaelson. Observing Classroom Process in Project-Base Learning Using Multimedia: A Tool for Evaluator. Mergendoller.. & Ben-Hur. Wetern Kentucky University Center for Teaching and Learning. PBL in Science and Technology: A Case Stu dy of Professional Development.inservicer. Problem Base Learning: As Authentic as it Gets.. Tersedia pada: http://www.. 2000. http://PBLmm. 33(8).html. S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful