JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN

Tahun 18, Nomor 2, Desember 2008

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender Laily Maziyah, dkk Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati, dkk Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta) Heri Sudarsono Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialogh dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari, dkk. Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi, dkk
Terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi nomor III/DIKTI/KEP/1998 tanggal 8 April 1998; nomor 395/DIKTI/KEP/2000 tanggal 27 November 2000; dan nomor 49/DIKTI/KEP/2003 tanggal 9 Desember 2003 tentang Hasil Akreditasi Jurnal Ilmiah

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender
Laili Maziyah Syafaat

Abstract: The mufassirs have a notion that polygamy is mubah (permitted). It is required for husband that performs polygamy to do justice in giving charity toward all of his wives and justice in giving sex turning and accompany to his wives. However, no required to do justice in love because it includes heart zone and applied by Rasulullah. The result showed that five forms of gender inequality toward women (marginalization,violence, subordination, stereotype, and double burden), not found generally in "five books", even such mufassirs are likely more moderate than other interpreters, by giving rigid conditions to conduct the polygamy. The reseacher chooses it to unveil pictures about concept, condition, rules of polygamy, and aspects of gender equality in their works. However, Ar-Razi opinion tends to perform stereotype of women because he gives not binding of polygamy conditions and permit husband to get married more than four or no limitation number of wives in polygamy. Key words: mufassir, poligami concept, gender

Kontroversi seputar poligami menyembur lagi ke permukaan setelah da‘I kondang KH. Abdullah Gimnastiar (Aa‘Gym) secara mengejutkan melakukan poligami bulan Nopember 2006, kemudian diikuti oleh anggota DPR Zaenal Maarif dari Partai Bintang Reformasi (FBR) secara terang-terangan di hadapan media (Kompas, 18/1/07). Fakta tersebut tak hanya mengundang gejolak tapi juga membuat bombardir kiriman SMS ke ponsel Presiden.
Laily Maziyah dan Syafaat adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang

Presiden Yudhoyono kemudian secara khusus memanggil Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dan Dirjen Binmas Islam Nazzarudin Umar meminta revisi agar cakupan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 1983 (yang sudah direvisi menjadi PP Nomor 45 tahun 1990 tentang poligami) diperluas tidak hanya berlaku bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) tetapi juga pada pejabat negara dan pejabat pemerintah (Iman, 2006). Poligami merupakan salah satu bentuk perkawinan yang seorang laki-laki menikahi lebih dari satu istri. Menurut Mulia (2004:44-45), poligami sudah ada jauh sebelum Islam datang. Mahmud Syaltut (w. 1963), ulama besar asal Mesir, secara tegas menolak poligami sebagai bagian dari ajaran Islam, dan juga menolak bahwa poligami ditetapkan oleh syari‘ah. Berabad-abad sebelum Islam diwahyukan, masyarakat manusia di berbagai belahan dunia telah mengenal dan mempraktekkan poligami. Poligami dipraktekkan secara luas di kalangan masyarakat Yunani, Persia, dan Mesir kuno. Di Jazirah Arab sendiri jauh sebelum Islam, masyarakatnya telah mempraktekkan poligami, malahan poligami yang tak terbatas. Sejumlah riwayat menceriterakan bahwa rata-rata pemimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit kepala suku mempunyai istri sampai ratusan. Sejumlah riwayat menjelaskan bahwa setelah turun ayat yang membatasi jumlah istri hanya empat orang, yakni QS Al-Nisa‘: [4]:3. Nabi segera memerintahkan semua laki-laki yang memiliki istri lebih dari empat agar menceraikan istri-istrinya sehingga setiap suami maksimal hanya boleh punya empat istri (Ibn Surah, tt:445). Karena itu, A1-Aqqad (1962:107) ulama asal Mesir, menyimpulkan bahwa Islam tidak mengajarkan poligami, tidak juga memandang positif, apalagi mewajibkan, Islam hanya membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Sangat disesalkan bahwa dalam prakteknya di masyarakat, mayoritas umat Islam hanya terpaku pada kebolehan poligami, tetapi mengabaikan sama sekali syarat yang ketat bagi kebolehannya itu. Perkembangan poligami dalam sejarah manusia mengikuti pola pandangan masyarakat terhadap kaum perempuan. Pada masa ketika masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan hina, poligami menjadi subur, sebaliknya pada masa masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan terhormat, poligami pun berkurang. Jadi, perkembangan

poligami mengalami pasang surut mengikuti tinggi-rendahnya kedudukan dan derajat perempuan di mata masyarakat (Abu Zayd, 2003). Ketika Islam datang, kebiasaan poligami itu tidak serta merta dihapuskan. Namun, setelah ayat yang menyinggung soal poligami diwahyukan, Nabi lalu melakukan perubahan yang radikal sesuai dengan petunjuk kandungan ayat. Perubahan mendasar yang dilakukan Nabi, menurut Mulia (2004:46-47) berkaitan dengan dua hal. Pertama, membatasi jumlah bilangan istri hanya sampai empat. Sejumlah riwayat memaparkan pembatasan poligami tersebut di antaranya riwayat dan Naufal ibn Muawiyah. Ia berkata: Ketika aku masuk Islam, aku memiliki lima orang istri. Rasulullah berkata: Ceraikanlah yang.satu dan pertahankan yang empat. Pada riwayat lain Qais ibn Tsabit berkata: Ketika masuk Islam aku punya delapan istri. Aku menyampaikan hal itu kepada Rasul dan beliau berkata: pilih dari mereka empat orang. Riwayat serupa dari Ghailan ibn Salamah Al-Tsaqafi menjelaskan bahwa dirinya punya sepuluh orang istri, lalu Rasul bersabda: “pilih empat orang dan ceraikan yang lainnya.” Kedua, menetapkan syarat yang ketat bagi poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Persyaratan yang ditetapkan bagi kebolehan poligami itu sangat berat, dan hampir dapat dipastikan tidak ada yang mampu memenuhinya. Artinya, Islam memperketat syarat poligami sedemikian rupa sehingga kaum laki-laki tidak boleh lagi semena-mena terhadap istri mereka seperti sediakala. Dengan demikian, terlihat bahwa praktek poligami di masa Islam sangat berbeda dengan praktek poligami sebelumnya. Perbedaan itu menonjol pada dua hal. Pertama, pada bilangan istri, dan tidak terbatas jumlahnya menjadi dibatasi hanya empat. Pembatasan ini dirasakan sangat berat, sebab laki-laki masa itu sudah terbiasa dengan banyak istri, lalu mereka disuruh memilih empat saja dan menceraikan selebihnya. Kedua, pada syarat poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Sebelumnya, poligami itu tidak megenal syarat apa pun, termasuk syarat kesetaraan. Akibatnya, poligami banyak membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi kaum perempuan, karena para suami yang berpoligami tidak terikat pada keharusan berlaku adil, sehingga mereka berlaku aniaya dan semena-mena mengikuti luapan nafsunya.

diperlukan reinterpretasi ajaran agama secara komprehensif. syarat.5% ditinggal suami. 0. dan kekerasan psikis 46.6%.1%. syarat-syarat dan hukum) poligami. dan 0. menjelaskan bahwa selama tahun 2001 mencatat sebanyak 234 kasus kekerasan terhadap istri. Jenis kekerasan yang dilaporkan meliputi kekerasan ekonomi sebanyak 29. Melalui pendekatan holistik. penelitian terhadap sejumlah kitab tafsir klasik atas ayat-ayat poligami dalam al-Qur‘an yang berkaitan dengan kesetaraan gender sangat penting dilakukan sebagai langkah awal untuk memformulasi pemahaman yang baru dan benar.9%. poligami berimplikasi pada maraknya berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. dalam kerangka pelacakan pada asal-muasal produk pemikiran mengenai poligami dan kesetaraan gender. di antara aktor penyebab kesenjangan gender yaitu penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual.3% korban selingkuh. Namun. Oleh karena itu. cenderung dipahami parsial dan kurang kholistik.4% lainnya sebagai teman kencan. 2. kusutnya benang permasalahan tersebut akan dapat dikaji secara jernih. hukum poligami. penelaahan buku-buku tafsir mutlak dilakukan.4% sebagai istri kedua. kekerasan seksual 5.2% dicerai.5% dipoligami resmi. 2. Dengan melakukan kajian yang mendalam atas sejumlah karya mufassir terkenal akan diperoleh gambaran mengenai penafsirannya tentang konsep. kekerasan fisik 18. Data-data mengenai status korban mengungkapkan 5. kontekstual.1% poligami secara rahasia. 36.Dalam realiatas. yaitu linguistis dan sosiologis sekaligus. sebelum tahap reinterpretasi teks agama dilakukan. Laporan Rifka Annisa (2001:58). untuk meminimalisasi ketidaksetaraan gender yang muncul akibat pemahaman yang keliru terhadap poligami. juga bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender dalam karya mereka.4%. Jadi. dan holistik. 4. dan (c) bagaimana pandangan para mufassir terhadap poligami dalam konteks kesetaraan gender? . sebuah institusi yang peduli pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Adapun rumusan masalah yang diangkat adalah (a) bagaimana latarbelakang para penafsir dan corak tafsir masing-masing. Menurut Subhan (2004). (b) Bagaimana pandangan para mufassir terhadap konsep (definisi.

METODE Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh paparan yang jelas dan rinci mengenai pandangan mufasir tentang poligami. Data dalam penelitian ini berupa tulisan atau manuskrip yang merupakan karya dari para mufassir Al-Qur‘an.. Quraish Syihab (4). (2) An-Nisa‘ ayat 2. Al-Mishbah karya M. Oleh karena penelitian ini menganalisis pandangan mufassir tentang ayat-ayat poligami dan munasabah (korelasi)-nya dalam alQur'an. (3) An-Nisa‘ ayat 3. (7) An-Nisa‘ ayat 130. (2) Jami‟ul Bayan „an Ta‟wil Ayil Qur'an karya At-Thabari. Tafsir AlQuran al-Adhim karya Ibn Katsir (5) Tanwir al-Miqbas min tafsir Ibn Abbas karya Ibnu Abbas. Untuk lebih mendapatkan gambaran yang operasional dalam penelitian ini. Untuk mencapai tujuan penelitian secara komprehensif. . maka ada tujuh ayat yang akan diteliti. sedangkan sumber datanya terdiri dan lima kitab tafsir. (6) An-Nisa‘ ayat 129. berikut paparan Tabel 1 variabel dan sub variabel: Tabel 1 Paparan Data Variabel dan Sub-Variabel No 1 Variabel Poligami         Sub-Variabel Konsep poligami Syarat-syarat berpoligami Hukum poligami Tidak ada unsur marginalisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur streotifisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur kekerasan terhadap perempuan Tidak ada unsur subordinasi terhadap perempuan Tidak ada unsur pembebanan ganda terhadap perempuan 2 Kesetaraan Gender . yakni (1) Al Tafsir Al Kabir karya Fakhruddin Ar Razi. peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. (3). Sedangkan jenis penelitian ini adalah deskriptif. (5) An-Nisa‘ ayat 128. (4) An-Nisa‘ ayat 127. yaitu: (1) An-Nisa‘ ayat 1. yaitu pemerian secara sistematis dan faktual terhadap pandangan dan penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang memuat tentang relasi gender.

1984:48). mushaf itu masih saja ada. yakni metode tahlili. Ath-Thabari. metode ijmali. mengkaji . 1999:188-189). tidak saja bacaannya melainkan juga kosakatanya. yang merupakan sintesa antara temuan dan teori.BAHASAN Setelah dilakukan identifikasi data tentang corak penafsiran masing-masing mufassir. Corak Tafsir para Mufassir Setidaknya ada empat metode/corak tafsir yang digunakan telah para mufassir dalam menjelaskan maksud dan makna yang terkandung di dalam Al-Qur'an. sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan secara menyeluruh tentang masalah tersebut menurut pandangan Al-Qur'an. AlMishbah. yang berbicara tentang topik tersebut untuk kemudian dikaitkan satu dengan yang lainnya. Namun demikian. metode maudu‗i. dan metode muqaran (Umar. dan di dalam dijumpai sejumlah perbedaan. sesuai dengan urutan bahkan yang terdapal dalam mushaf Utsmani (Al-Almai. dengan apa yang ditemui dalam mushaf Utsmani tadi. Pembahasan metode ini mengikuti urutan kronologis susunan ayat-ayat A1-Qur‘an. syarat) poligami dalam tafsir Ar-Razi. Metode tahlili adalah metode penafsiran Al-Quran yang munculnya secara kronologis dan memaparkan berbagai aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur‘an. Mushaf Utsmani adalah salah satu versi mushaf yang disusun oleh Utsman bin Affan saat ia menjadi khalifah. pandangan para mufassir tentang konsep (definisi. didefinisikan sebagai tafsir yang menetapkan suatu topik tertentu. dan untuk tujuan itu ia telah ―meminggirkan‖ mushaf versi lainnya. Adapun metode maudu‘i adalah metode yang oleh Shihab (1993:114). maka dalam bab ini akan dipaparkan pembahasan atau diskusi hasil. Metode tafsir ijmali adalah metode yang menafsirkan ayat-ayat alQur'an dengan mengemukakan makna global. dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat dan beberapa surah. Ibn Katsir dan tafsir Ibn Abbas dan pandangan mereka tentang poligami dalam konteks kesetaraan gender. Mushaf ini dibuat untuk tujuan menyeragamkan bacaan umat Islam. hukum.

Pada saat yang sama Islam juga menetapkan aturan syar‟i yang jelas tentang pernikahan. Sementara dalam tafsir Ibn Abbas digunakan corak/metode ijmali. makna suatu ayat dengan hadis. Ar-Razi. 1986:549). lebih menekankan pada aspek bahasa dan keagamaan. sejarah. Mulai dari sudut pandang bahasa. 1999:200). Kepada mereka yang belum menikah Rasulullah sangat menganjurkan untuk tidak menunda-nunda pernikahan. yaitu: tafsir athThabari. Al-Mishbah. bagi mereka yang memilih pernikahan cara ini beragumentasi bahwa apapun yang dilakukan oleh Rasul termasuk dalam hal berumah tangga. saat. dan Ibn Katsir. sehingga diharapkan setiap muslim yang menikah mampu menjalani rumah tangganya dengan baik dan bahagia. Biasanya. Konsep Poligami dalam Pandangan para Mufassir Menikah merupakan sunnah Rasulullah saw yang sangat dianjurkan. Semua ada aturan mainnya.asbabun nuzulnya. akan tetapi lebih dari satu. kalimat. Sedangkan metode tafsir muqaran ialah suatu metode tafsir yang berupaya memberikan makna satu ayat dengan ayat lain. mulai dari kesiapan pribadi. Empat tafsir yang menggunakan corak tahlili. filsafat dll. sebelum. Tafsir-tafsir tersebut digolongkan ke dalam corak tahlili karena setiap kata. jumlah orang yang memilih berpoligami sangat jauh lebih sedikit dari yang tidak berpoligami. dan antara satu penafsiran dengan penafsiran lainnya dalam suatu ayat (Umar. empat diantaranya menggunakan corak tafsir tahlili dan sisanya menggunakan corak tafsir ijmali. dan berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan ayat-ayat lainnya (Al-Rahman. dan setelah pernikahan. Dalam beberapa kasus ada sebagian orang Islam yang menikah tidak hanya dengan satu perempuan. Yakni. ayat dikupas dengan gamblangnya dari beberapa sudut pandang. maka umatnya yang siap memilih jalan itu sebaiknya juga melakukan poligami. Karena Rasul melakukan poligami. bahkan menyegerakannya. Pernikahan inilah yang dalam bahasa agama disebut dengan ta‟addud az zawjah atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan poligami. maka sepatutnya bisa ditiru. Namun apabila dipresentasi. . Dari kelima jenis tafsir yang dianalisis.

terkait dengan adanya potongan ayat setelahnya yang menyebutkan jumlah dua. pangan. Perintah poligami. Meskipun redaksi dalam Al-Quran terkait dengan poligami adalah Fankihu. Makna ini diambil. hukum asal berpoligami adalah kebolehan (jawaz) bisa saja berubah menjadi haram manakala seseorang tidak bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk itu. pelabelan negatif (stereotype). Inilah kriteria yang menjadi acuan kaum feminis dalam melihat secara kritis setiap aturan sosial tentang relasi laki-laki dengan perempuan. Bentuk ketidaksetaraan gender berupa marginalisasi ini tidak ada. Hal ini tampak sekali dalam penafsiran beliau khususnya mengenai surat An‘Nisa‘ ayat 3 dan 4.Menurut Ibn Katsir poligami adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam agama dan berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. Pandangan Para Mufassir dalam Konteks Kesetaraan Gender Menurut analisis gender. ketidaksetaraan gender bisa diidentifikasi melalui berbagai manifestasi ketidaksetaraan. yakni: marginalisasi (proses pemiskinan ekonomi). papan . Artinya adalah kewajiban melakukan pembatasan. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada berbuat yang tidak aniaya‖. subordinasi (anggapan tidak penting). tiga atau empat. maka seorang saja. tak ubahnya perintah makan dan minum seperti yang dimuat juga dalam Al-Qur‘an kuluu wasyrabu. Dalam menafsirkan lafadz yang terdapat dalam ayat 3 yang artinya. menurut Wahbah. Namun demikin. Disamping makna ibahah. sebagaimana perintah sholat. atau budak-budak wanita yang kamu miliki. akan tetapi kata ini bermakna ibahah (kebolehan) dan bukan perintah yang harus dilaksanakan. puasa dan zakat. kekerasan (violence). bahkan ditentang oleh Shihab (2000:567) dalam tafsirnya. makna lain yang bisa diambil dari bentuk amar kata fankihu adalah kewajiban. yakni dalam bentuk fi‟il amr (kata perintah). yakni surat An Nisa' ayat 3 dan contoh dari rasulullah SAW. ―Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil. nafkah yang berupa sandang. dan beban kerja ganda (double burden). Sebab ada dalil yang menujukkan hal itu. Adil yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah berbuat adil kepada istri khususnya dalam hal harta. termasuk yang lahir dari doktrin agama.

Ibn Katsir (1999: 2/207) menafsirkan ayat tersebut. Al-Hujurat ayat 13 (Shihab. karena dia sendiri -bukan orang lain. Dia bebas menggunakannya dan bebas pula memberi seluruhnya atau sebagian darinya kepada siapapun. Maskawin (mahar) merupakan suatu yang diwajibkan oleh suami terhadap dirinya. sehingga ayat ini sama dengan firman Allah dalam Q. Ar-Razi (1993: 3/246) juga menolak pandangan subordinasi ini.s. 2000:313). yaitu membolehkan melakukan poligami tanpa harus memperhatikan unsur .S Al-Baqarah ayat 236. membolehkan seorang suami menikahi istri yang tak terbatas jumlahnya bahkan melebihi jumlah istri rasulullah. lihat Q. Keberadaan umat manusia berasal dari nafsin wahidah yang oleh mayoritas ulama memahaminya dalam arti Adam a. Pandangan subordinasi dalam pandangan para mufassir bertentangan dengan apa yang disyariatkan oleh agama Islam. tetapi hal tersebut hendaknya diberikan dengan tulus dari lubuk hati sang suami.S. termasuk kepada suaminya. dan ada juga yang memahaminya dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. Inilah yang disyaratkan oleh Islam kepada seorang suami dan harus dijalankannya untuk memenuhi hak istri. Ulama kontemporer banyak yang memahami dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. Sisi lain. Oleh karena itu. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan dimata Islam. Dalam menafsirkan lanjutan ayat 4 tersebut. yaitu pemberian maskawin (mahar) sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nisa‘ ayat 4. Ini untuk menjelaskan bahwa maskawin (mahar) adalah kewajiban suami yang harus diberikan kepada istri.dan juga perlakuan. Dalam Islam proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. wajarlah jika dalam tafsirnya. Hal tersebut tampak jelas tatkala beliau menjelaskan tafsir ayat 1 surat An-Nisa.yang mewajibkan atas dirinya (Shihab: 2000:328). subordinasi tampak ketika Ar-Razi. Ath-Thabari (1954: 7/530) menegaskan bahwa maskawin (mahar) itu adalah kewajiban yang harus dibayar suami kepada istri dan bahwa maskawin (mahar) itu adalah hak istri secara penuh. Sementara Ath-Thabari dan Ibn Katsir cenderung memberikan persyaratan yang mudah bagi suami.

Meskipun pendapat terakhir tersebut mensubordinasi wanita namun terlihat lebih moderat karena tetap membatasi jumlah istri sampai empat. maka kita lihat penafsiran Ath-Thabari terhadap ayat 128-130 surat An-Nisa tatkala ada perselisihan antara suami dan istri. Bahkan kalau Islam dianggap memberikan kewajiban kepada istri lebih berat (mendapat beban kerja ganda) itu merupakan anggapan yang salah. yang antara lain dapat diselesaikan dengan tiga cara. (2) tafsir ijmali. Dalam kaitannya dengan penegasan bahwa KDRT ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. (1) perdamaian yang sebenar-benarnya (ayat 128). dan (3) bercerai secara baik (ayat 130). 2000: 328). sebagaimana firman-Nya: ― Wa‟aasyiru hunna bil ma‟ruf”. SIMPULAN Dari kelima mufassir yang diteliti. Bentuk pembebanan kerja ganda tidak akan ditemui dalam masyarakat yang menjalankan tuntunan Islam secara benar. Ibn Katsir (tt:2/207) menafsirkan ayat tersebut. Ibn Abbas masuk kelompok 2.kesetaraan lahir. terdapat dua corak penafsiran. sehingga suami dan istri punya kewajiban dan haknya masing-masing yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan. Sedangkan Kekerasan (violence) dalam rumah tangga (KDRT) merupakan hal yang sangat ditentang dalam Islam. ―Kullukum raa‟in wakullukum masuulun „an ra‟iyyatihi‖. baik di dunia maupun di akhirat (Shihab. yaitu (1) tafsir tahlili. . Islam memberikan tuntunan secara umum. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan di mata Islam. Hal ini bisa kita lihat contohnya pada ayat surat An-Nisa‘ ayat 4 bahwa proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. (2) tidak boleh membiarkan istri terkatung-katung (ayat 129). akan tetapi akan banyak muncul pada masyarakat yang hanya beorientasi pada duniawi dan materi. yaitu pemberian maskawin (mahar). Bahkan Islam memerintahkan kepada para suami untuk mempergauli dan memperlakukan istrinya dengan baik.

Terkait dengan hukum poligami. Ibn Katsir dan Quraish Shihab) masuk kelompok 1. kekerasan. Ar-Razi. Dari lima bentuk ketidaksetaraan gender terhadap wanita (marginalisasi. . (b) memiliki kayakinan bisa berbuat adil dalam memberi nafkah lahir dan adil memberikan nafkah bathin. yakni pernikahan satu suami dengan dua. Hanya Ar-Razi saja yang membolehkan poligami melebihi 4 atau 9. Hal itu tampak dalam penafsiran Ar-Razi. subordinasi. semua mufassir tidak berbeda mengenai definisi poligami(ta'addud az-zawjah). Ia berani melangkah lebih jauh melampaui hadis Nabi. Quraish Shihab memberikan batasan bahwa poligami berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. Jumlah maksimal istri empat orang dalam satu waktu. Hanya saja. mayoritas menghukumi mubah. bahkan jumlahnya tidak terbatas. streotipisasi. yakni dengan tidak membatasi jumlah istri dan menggunakan persyaratan sangat longgar yang merugikan kaum perempuan.sedangkan mufassir yang lain (Ath-Thabari. dan dalam Islam ia merupakan sesuatu yang diperbolehkan. tiga atau empat istri. terdapat dua bentuk. dan (c) dilandasi kemaslahatan bersama. yaitu subordinasi dan streotipisasi. pembebanan ganda). Adapun syaratsyarat disepakati adalah (a) memiliki kemampuan memberi nafkah. Secara konsep.

Abbas Mahmud.com/reviews/item/ 1 tanggal 25 Oktober 2008 Ainin. Al-‘Aqqad. Kairo: Dar A1-Ma‘arif Annisa. 1984. Tokoh Islam Kontemporer. Tahrir Al-Mar‟ah. Fakhruddin. Politis. Qasim. 2002. Zahir Ibn ‗Awad. tt. 2007.abim. Al-Mar‟ah fi al-Qur‟an. Manna‘. Surabaya: Percetakan An-nabhan Al-Qathan. Muhammad Baqir. Muhammad Ibn Jarir. M Shiddiq.org diakses tanggal 4 Nopember 2007 Al-Nawawi. 2007. 2003.Qarn al Rabi‟ al„Asyr. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Afthon. Al-Halaby: Mesir. Dekonstruksi Jender (Terj.khilafah1924. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ al-turats al-Islami Al-Shadr.). Ghazali. Tafsir al-mishbah pesan dan kesan dan keserasian AlQuran diakses dari situs: http://afthon. Mabahits fi „Ulum al-Qur„an. Rifka. 1986. Muhammad Ibn Umar. Jami'ul Bayan fi Tafsir alQuran. Dirasat fi al-Tafsir al-Maudu‟i li alQur‟an al-Karim. Moh. 1973. Laporan Data Kasus Tahun 2001. 2001. dan Normatif.multiply.. Fuad Abd. Nashr Hamid. 2005. 1993At-Tafsir al-Kabir. Pertanyaan dalam Terjemahan Al-Quran: Suatu Kajian Pragmatik. At-Tijariyah: Beirut. Mohd Rumaizuddin. Al-Madrasah al-Qur„aniyyah al-Tafsir al-Maudu„I wa al-Tafsir al-Tajzi„I fi al-Qur„an al-Karim. 1962. Mansyurat al ‗Ashr al-Hadis Al-Rahman.org. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Ar-Razi. Disertasi tidak dipublikasikan. 1970. Ittijah al-Tafsir fi al. Artikel diambil dari situs http://www.my . tt. Beirut: Dar al-Ta‘aruf li al-Mathba‘ah Amin. Mendudukan Poligami dalam Islam : Tinjauan Historis.DAFTAR RUJUKAN Abu Zayd. Kairo: Dar al-Hilal Al-Alma‘I. Artikel dikutip dari situs http://www. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ alturats al-Islami Al-Jawi. Ath-Thabari. Uqud Al-Lujain fi Bayan Huquq al-Jauzain. 1954.

Sayyid. Sulayman Mar'i: Singapura.com) diakses tanggal 4 Nopember 2007 Sari. Tafsir al-Manar. tt.Ibn Katsir. Peningkatan Kesetaraan dan Kesetaraan Jender dalam membangun Good Governance. Quraish. Mohammad.or.multiply. dalam Dialog. 1985. 2004.psq. Shihab. 35 Th XVI. Analisis Jender dan Tranformasi Sosial (Resensi Buku). Artikel diakses dari situs http://almudarris. Mayang. Acep.kesrepro. Jakarta: Gramedia Pustaka utama Nor Ichwan. Sayyid Muhammad Ali. Imam Fakhruddin Ar-Razi. Tafsir Al-Quran al-Adhim. Ibn Surah. Islam Menggugat Poligami.blogspot. 2008. 2000. .info/gendervaw/agu/-2004/gendervaw01. 2004. 1992. Muhammad. Aa‟ Gym. Muhammad Quraish.id/tafsir detail. Beirut: Dar el-Fikr Iman. Zaitunah.htm. Tafsir Al-Mishbah. diakses tanggal 1 April 2007. 1990. dalam Jurnal Perempuan. Iyazi. tanggal 15 Februari 2007.com/gender/gender2. Edisi 2 Shihab. 2006. Dikutip dari situs http://members. Siti Musdah. Februari Subhan. dan Islam. Artikel dikutip dari situs www. 2003. Biografi Quraish Shihab.asp. Al-jami‟ al-Sahih Juz 3. Al-Ibnu.com/2008/06 tanggal 25 Oktober 2008 Qasim. Poligami.tripod. tanggal 15 Februari 2007. Artikel diakses dari situs: http://www. Abu Isa Muhammad Ibn Isa. Kairo: Al-Manar Jilid IV Sabiq. Mencari Teori Kesetaraan: Analisis Jender Vs Teori Hukum Islam. Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum. 2004.duniaesai-.com2006/12/aa-gym-poligami-dan-islam/ Diakses tanggal 18 Februari 2007. 2007.com 2006 tanggal 25 Oktober 2008 Rasyid Ridha. Fiqh as-Sunnah. Artikel dari situs: http://nofieiman-. Artikel diakses dari situs: Http//situs. Koran Kompas. Penerbit Mizan: Bandung. Aa Gym: Saya Tidak Kecewa Mulia. Sugiri. 1997. Penetapan Hukum Islam Secara Tekstual dan Kontekstual: Tinjauan Mufassir. Nofie. edisi Kamis 18 Januari 2007. No. Tt.htm. Artikel diakses dari situs http://ichwanzt.

Ibnu Katsir.Syahrur.id/ Tim Wikipedia Indonesia. or. Artikel diakses dari situs http://id. Damaskus: Penerbit Ahali Tanpa Pengarang.wordpress.org/wiki/ tanggal 25 Oktober 2008 Tohe. 1992. Nasaruddin. Artikel diakses dari situs http://nothingman2run. Laporan penelitian dana DIK 2000. Az-Zuhaili. 64. dkk. Relasi Jender dalam al-Qur'an Menurut Pandangan Para Mufassir. Beirut: Dar el-Fikr Wahbah.alsofwah.wikipedia. Metode Penelitian Berprespektif Jender tentang Literatur Islam. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Wahbah. 2007. Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu. Az-Zuhaili. Al-Kitab wa al-Qur'an. Biografi Syeikh Ath-Thabari. 1990. Abdullah bin Abbas. Sosok Mufassir Sejati. No. Ahmad. 1999. Beirut: Dar el-Fikr . At-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asySyari'ah wa al-Manhaj. dalam Jurnal A1-Jami‘ah. http://www. 1999. 2007. 2007. Malang: LEMLIT Universitas Negeri Malang Umar.com/ tanggal 25 Oktober 2008 Tanpa Penulis. Muhammad. 2000.

strategi. diharapkan bisa berperan sebagai usaha preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT.Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Abstrak: Undang-undang Republik Indonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT) disahkan dan diundangkan pada 22 September 2004. sosialisasi. Apalagi aparat di tingkat grass roosts dan masyarakat banyak yang belum tahu substansi UU PKDRT. Penelitian 3 tahap dilakukan dengan fokus peran lembaga dan kasus-kasus KDRT yang muncul dan bagaimana penylesaiannya di tiap lembaga. BP-4 lebih berperan sebagai lembaga konseling sebelum kasus masuk di PA dan Unit PPA Kepolisian dalam lembaga andalan penegak UU PKDRT. KDRT. edukasi dan sosialisasi undang-undang tersebut masih minim. Namun upaya komunikasi. informasi. Namun hukuman yang diputuskan PN untuk pelaku masih belum mencerminkan rasa keadilan. edukasi Siti Malikhah Towaf adalah dosen Jurusan Sejarah FS Universitas Negeri Malang . faktor pendukung dan penghambatnya. bahkan ditingkat aparat penegak hukum belum termotivasi untuk memahami substansi penting dari UU PKDRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengadilan agama menangani kasus secara perdata. Kata-kata kunci: Undang-undang. Diperlukan sosialisasi untuk aparat terkait maupun edukasi untuk masyarakat.

Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) semakin meningkat. 2003:5). gampang memicu pertengkaran. manusia mempunyai potensi untuk melakukan kekerasan. atas dan bawah. Kehidupan yang semakin berat menimbulkan berbagai krisis dalam masyarakat. jika terjadi dalam dalam keluarga maka ada kecenderungan anggota keluarga yang lain. pada umumnya korban adalah . sehingga ditempatkan dalam posisi subordinate/pelengkap (Fakih. pengangguran memicu berbagai kriminalitas. tidak mampu berperan sebagaimana laki-laki. anak-anak yang menyaksikan akan menjadi generasi penerus kekerasan jika mereka berkeluarga kelak. Kekerasan dan tindakan agresif biasanya berlanjut. 2002:24). Krisis rumah tangga. Kemiskinan. hirarkis. Dalam pola relasi vertikal. Ketika budaya masyarakat cenderung patriarkhis maka budaya tersebut juga akan mewarnai kehidupan keluarga dalam bentuk hubungan asimetri. Perempuan dianggap lebih lemah.Menurut Fakih (1996) kekerasan adalah serangan atau invasi terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. ketika letupan psikologis tidak terkendali dan meluap keluar dalam bentuk kekerasan atau tindakan agresif yaitu tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. stereotipi/pelabelan negatif sampai berbagai bentuk kekerasan dalam keluarga yang disebut juga gender related violence. akibatnya lapisan bawah tergantung pada lapisan atas. vertikal antara laki-laki dan perempuan sebagai suami-isteri maupun anggota keluarga. Kehidupan keluarga banyak yang masih jauh dari sejahtera baik lahir maupun batin. sekelompok kecil anggota masyarakat berada pada level "menengah keatas" diuntungkan oleh struktur sosial itu dan sebagian besar anggota masyarakat lainnya "harus bertahan' dalam situasi kemiskinan (Katjasungkana. Pola hubungan asimetris ini melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan gender seperti marginalisasi. Jika terjadi kekerasan dalam keluarga maka akan muncul ancaman bagi keutuhan keluarga dan kesejahteraan anggota-anggotanya. Perubahan sosial dan ketimpangan struktur sosial telah memunculkan kesenjangan sosial. subordinasi. penganiayaan bahkan pembunuhan. 2003). karena kesempatan mengambil keputusan berada pada lapisan atas (Astuti. dimana lapisan atas mempunyai kesempatan ―melakukan segala sesuatu‖ untuk menentukan dan mengatur kelompok manusia yang berada di lapisan bawah. Sebagai individu maupun anggota masyarakat.

tahun 2003 ada 7. 2005). kasus-kasus yang terjadi dan penyelesaiannya serta factor pendukung dan penghambatnya.PKDRT. Harapan tersebut akan terpenuhi pada penelitian tahap II/2009 fokus pada pengembangan . apalagi aparat di tingkat grass roots seperti aparat kepala desa dan stafnya. kebijakan public dan pelaksanaan Undang-undang.659 kasus.787.099 kekerasan ekonomi. Dari segi bentuk kekerasan. psikologi. Perlindungan anak. 801 kekerasan fisik. 2007). karena mereka terutama lurah adalah ujung tombak untuk menangani kasus-kasus KDRT (Towaf.2004 ada 14. 1. namun upaya sosialisasi & edukasi undang-undang tersebut masih minim. Kepala unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Malang sangat mengharapkan ada program sosialisasi kepada para Lurah/Camat di wilayahnya.163. 2007:405).391. 2006 ada 22.165. diharapkan bisa berperan preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT. Hasil penelitian ini juga memiliki manfaat praktis. Hasil penelitian akan bermanfaat bagi kepentingan teoritis keilmuan di bidang Sosiologi. dan masyarakat.2005 ada 20. dari 7. Catatan tahunan 2007 Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap perempuan menunjukkan kenaikan jumlah kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP): tahun 2001 ada 3. 3. Undang-undang Republik lndonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) diundangkan pada 22 September 2004.2A02 ada 5. lembaga pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi. tidak tahu bahwa penelantaran ekonomi termasuk dalam kekerasan dalam rumah tangga (Wartawan Kompas. mencermati kinerja lembaga yang menangani kasus konflik keluarga.020. apa yang terjadi pada perempuan? Mengapa semuanya itu terjadi? dan bagaimana kita dapat mengubah dan memperbaiki dunia sosial untuk membuatnya menjadi tempat yang lebih adil bagi perempuan dan semua orang? Undang-undang adalah kebijakan publik yang berfungsi untuk mengubah masyarakat/social engineering. Penelitian tahap I/2008 fokus pada eksplorasi kinerja kebijakan. 872 kekerasan seksual dan 590 kekerasan psikis (Wartawan kompas. Aparat terkait kurang faham. Dari data-data tersebut lalu muncul pertanyaan krusial yang sering beredar di kalangan teoritisi feminis (Lengerman & Brantley.513.perempuan dan anak-anak biasanya tidak tahu harus berbuat apa (UU RI no. 2002). yaitu berbagai kantor pemerintah lokasi penelitian. hasil penelitian ini mendukung hal tersebut.23.23. 2004:1 & UURI no. 2007).

bagi aparat sasaran maupun berbagai kelompok masyarakat. . terutama pada tingkat lurah dan bisa juga nantinya kepada aparat yang lain. Perolehan data kuantitatif dapat memberi landasan (Branen.strategi sosialisasi UU PKDRT kepada aparat terkait. Pendekatan kualitatif juga digunakan untuk eksplorasi (Creswell. 1993:73) digunakan untuk menggali data secara lebih mendalam terhadap kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dan faktor-faktor penyebabnya di setiap lokasi penelitian terkait dengan peran perempuan dan wawasan kesetaraan gender dalam keluarga. NK & Lincoln. Kompleksitas dan permasalahan kehidupan keluarga terutama perempuan dalam konteks apapun cukup besar dan memerlukan berbagai pendekatan dalam penelitian kualitatif (Denzin. Pendekatan kuantitatif yang dilakukan dengan mengumpulkan data statistik tentang kasus-kasus KDRT dan faktor penyebabnya. 200) dan pengembangan yang menggabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. 2004 & Sevilla. sehingga wawasan mereka bertambah dan mengetahui apa yang harus dilakukan jika kasus KDRT terjadi di wilayahnya. 1994:163).1994:173--190). Creswell. METODE Rancangan dan Pendekatan Penelitian Rancangan penelitian ini adalah penelitian kebijakan (Dunn. Dalam penelitian ini penggabungan pendekatan kuantitatif bersifat komplementer/untuk melengkapi pendekatan kualitatif yang lebih dominan (Branen. Penelitian Tahap III fokus pada pengembangan strategi edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat. Mereka adalah ujung tombak untuk optimalisasi kinerja UU PKDRT. Pendekatan kualitatif multikasus dan multiksitus (Yin. 1994:21) kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi undang-undang PKDRT. 1997:22. 1997:43) atau base line data bagi pendalaman kasus.

Pelestarian Perkawinan (BP-4) Departemen Agama. wawancara kajian dokumen. diskusi Lokasi Penelitian dan Kehadiran Peneliti Ruang lingkup Lokasi penelitian adalah Kota dan Kabupaten Malang. 1992). dan unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Kota dan Kabupaten Malang. Bell. tersangka lokasi. 1993. wawancara kajian dokumen. kaj dok. Setelah anjangsana pertama untuk perkenalan dan menyampaikan maksud kedatangan. wawancara kajian dokumen. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian dilakukan baik untuk pengumpulan data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Demikian juga peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data dan analisis data penelitian. Sesuai dengan rancangan penelitian kualitatif multikasus dan multisitus maka penelitian mendalam dilakukan terhadap setiap lokasi (Sevilla. Sebagai upaya melacak kasus yang diberkas P21 dan diajukan untuk diadili. Kunjungan ke lokasi penelitian dilakukan beberapa kali sesuai dengan pengumpulan data yang dibutuhkan.wawancara kajian dokumen. Aparat dokumen. .kasus KDRT Faktor penyebab Penyelesaian kasus KDRT Pendukung. peneliti juga mendatangi kantor Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang sebagai lokasi pelengkap. aparat Metode/Teknik Observasi. wawancara.73. Tim peneliti mengunjungi 6 lokasi tersebut dan mengumpulkan data untuk menjawab semua pertanyaan penelitian yang ditetapkan. penghambat Sumber data Lokasi. aparat korban. aparat dokumen. 1992:6). dok.aparat dokumen. khususnya Kantor Pengadilan Agama (PA) Kota dan Kabupaten Malang. Pembinaan. wawancara observasi.Ruang Lingkup Khusus untuk Tahun I/2008 Eksplorasi Kinerja UU PKDRT Luaran/output Profil dan peran lembaga Kasus. Kantor Badan Penasehatan. dilakukan kunjungan berikutnya dalam rangka pengumpulan data kuantitatif. Disamping itu dilakukan juga observasi dan wawancara informal untuk mengawali pengumpuian data kualitatif (Glesne & Peshkin.

kasus-kasus KDRT dan penyelesaiannya. 5. 2. sebagai langkah awal pemantapan landasan teoritis dan operasionalisasi penelitian (Bell. digali . Kota dan Kabupaten Malang. 1992:53--58). Pejabat dan staf terkait dari kantor BP-4 Depag. Wawancara informal dan mendalam dilakukan kepada informan kunci yang dijaring dengan menggunakan tehnik purposive.Sumber Data dan Informan Kunci 1. Telaah buku/literatur yang berkaitan kajian sosiologi tentang kekerasan dan kekerasan dalam rumah tangga. 3. serta buku Undang-undang tentang KDRT 3. Teknik Pengumpulan Data 1. Dokumen tentang berbagai kasus KDRT. Gender dalam perspektif Islam. 1993:85). Observasi dilakukan di 6 lokasi untuk memperoleh gambaran prosedur penanganan kasus-kasus keluarga dan khususnya kasus KDRT di masing-masing lokasi. dilakukan needs assessment awal untuk pengembangan strategi sosialisasi dan edukasi untuk aparat dan masyarakat (Pratt. UU PKDRT no 23 tahun 2004 dan berbagai aturan/dokumen mendukungnya dari berbagai kantor terkait. ketimpangan gender yang bisa memicu munculnya kasus KDRT. BP-4 Depag Kota dan Kabupaten. 4. Pejabat dan staf terkait dari kantor Pengadilan Agama di Kota dan Kabupaten Malang. literature ataupun hasil penelitian terkait kasus-kasus KDRT. 4. 1980:52). Telaah dokumen dilakukan untuk memperoleh informasi tentang profil lokasi. 2. dokumen UU PKDRT. dan bagaimana penyelesaian kasus-kasus tersebut (Sevilla. Pejabat dan staf terkait dari kantor unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang. Lokasi penelitian yaitu 6 kantor: Pengadilan Agama kota dan Kabupaten. segala aktifitas dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. unit PPA Kepolisian Kota dan Kabupaten ditambah Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang. bagaimana perasaan tersangka maupun korban.

Muhajir. 3. Keabsahan Data 1. Wawancara informal dilakukan berkaitan dengan upaya menjaring data tentang faktor-faktor penyebab kasus KDRT. . 3.informasi tentang kinerja kebijakan. bagaimana kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi agar UU PKDRT lebih difahami (Moleong. 1987:17--24). 1993:85. Moleong. kinerja/ implementasi UU PKDRT. 2. sehingga peneliti bisa memperoleh gambaran yang lebih mantap tentang perolehan data penelitian. apa pendukung dan penghambatnya. 1990:135--152). pengelompokan kasus yang relevan. faktor penghambat. 2. dokumen dengan data yang diperoleh lewat wawancara informal maupun lewat diskusi. 1990). Keabsahan data kualitatif dilakukan dengan proses trianggulasi antara data yang dijaring lewat telaah literatur. Data dari telaah literature dan dokumen dianalisis secara induktifkomparatif dihasilkan komponen-komponen untuk menjawab pertanyaan penelitian (Miles & Hubberman. Data dari observasi dianalisis secara diskriptif dan berfungsi sebagai sumber informasi tentang profil kelembagaan. faktorfaktor penyebab terjadinya kasus dan bagaimana UU PKDRT difungsikan untuk mengatasinya. pendukungnya. sarana dan prasarananya dalam menangani kasus-kasus KDRT (Sevilla. kasus apa yang terjadi. 1996). Kecukupan referensi dapat digunakan untuk membandingkan data yang diperoleh dengan berbagai kritik tertulis yang terkumpul. Analisis Data 1. 1984. kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi. Keabsahan data kuantitatif yang dijaga dengan kecermatan penghitungan kasus KDRT yang terjadi di setiap lokasi. Data tersebut dianalisis secara deskriptif komparatif/dibandingkan dikelompokkan menurut variasi jawaban kemudian dibuat rangkuman (Gibbon & Morris.

wawancara staf & ketua pengadilan). Selain itu juga dilakukan review dengan teman sejawat yaitu antara peneliti dengan tehnisi yang terlibat dalam proses pengumpulan data dalam rangka mencermati keabsahan data (Moleong. Oleh karena itu peran PA dalam penanganan kasus KDRT masih dalam lingkup perdata yang berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (Dok PA. yang sering penyebab konflik dalam rumah tangga bersifat multifactor. . Hal tersebut terjadi karena secara kelembagaan PA masih sebagai pengadilan perdata. Ribuan kasus ditangani oleh PA Kabupaten Malang dan ratusan kasus ditangani oleh PA Kota Malang setiap tahun. Pengadilan Agama merinci factor penyebab mencapai 14 kategori seperti: krisis moral. 1994:241). Disini jelas bahwa kinerja lembaga sangat dibatasi oleh status lembaga sebagai pengadilan perdata yang tidak akan membawa kasus sampai ke perkara pidana. HASIL Profil & Peran Kelembagaan Lembaga yang terkait UU PKDRT adalah Pengadilan Agama. namun sekarang masih pada tataran wacana di tingkat pusat (wawancara Ketua PA Kota 26/9/08). yang menangani kasus dan konflik yang terjadi dalam keluarga dengan muatan berbagai bentuk kekerasan ada di dalamnya. Peran kelembagaan PA sebagai pengadilan perdata telah berdampak pada lemahnya perhatian aparat PA terhadap UU PKDRT karena dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka tidak menggunakannya sebagai landasan kerja (wawancara dg staf dan hakim PA 22/7/08). seberat apapun kasus KDRT yang ditangani. yang paling dominan adalah kasus kekerasan psikis dan ekonomi. namun kasus-kasus tersebut ditangani secara perdata dengan penyelesaian cerai/rujuk. penganiayaan berat. 1990:I70--187. Sementara itu jumlah kasus yang di tangani PA Kabupaten jauh lebih banyak lagi yaitu pada tahun ada 7192 kasus. tidak ada tanggung jawab. kekejaman mental. Jumlah kasus yang ditangani PA Kota Malang tahun 2006 s/d Agustus 2008 adalah 2789 kasus. Denzin. Ada kemungkinan di masa depan PA juga berfungsi sebagai Pengadilan Pidana. pologami tak sehat dll. penelantaran ekonomi.4.

Mereka hanya sekali tempo menggunakan informasi dari UU PKDRT untuk kepentingan konseling dengan klien yang mereka tangani. Staf BP-4 juga menyatakan bahwa tidak ada sosialisasi langsung tentang UU PKDRT terhadap mereka. BP-4 tidak berpihak kepada perceraian tetapi berpihak pada pelestarian perkawinan. lebih berperan dalam memberi kosultasi/kepenasehatan terhadap kliennya. Landasan kerjanya juga senada dengan PA yaitu ajaran agama Islam dan hukum Islam. Oleh karena itu peran BP-4 hanya pada tahap konseling. Kasus-kasus yang ditangani BP-4 Kota pada 3 tahun terakhir berjumlah 183 dengan Di BP-4 Kabupaten Malang ada 43 kasus. tidak pernah sampai ke implementasi UU PKDRT sebagai instrument pidana bagi pelaku KDRT. Kasus-kasus yang ditangani banyak yang berlanjut ke Pengadilan Agama menuju perceraian. pembinaan dan Pelestarian Perkawinan. Telah terjadi perubahan paradigma BP-4 yang tercermin dari kepanjangan akronim BP-4. adalah Badan Penasehatan. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departeman Agama. Tabel 1 Kasus KDRT di Pengadilan Agama Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kota Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 9 31 Kekerasan psikis 326 618 267 Kekerasan seksual 15 21 49 Kekerasan ekonomi 430 449 497 Jumlah 788 1097 844 Sumber Dokumen di PA Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kabupaten 2005 8 1472 65 2423 3960 2006 16 1436 158 2316 3926 2007 15 1448 231 2438 4132 2008 55 865 147 1594 2664 Lembaga lain yang terkait dengan kinerja/implementasi UU PKDRT yang menjadi lokasi penelitian. semula sebagai singkatan Badan Penasehatan Perkawinan dan Perselisihan Perceraian menjadi Badan Penasehatan. mereka mengetahui UU PKDRT justru dari interaksi dengan orang lain termasuk peneliti. Jumlah .Penyelesaian akhir kebanyakan adalah perceraian dan hanya sedikit kasus yang berakhir rujuk. Rincian jumlah kasus dipaparkan pada Tabel 1.

. Dinas sosial dan LSM. masalah ekonomi. kemudian mulai ada kerja sama dengan lembaga terkait seperti Bagian Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten Malang. dikembangkan RPK (Ruang Pelayanan Khusus) menjadi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak. karena sudah ada kerjasama yang baik dengan Rumah Sakit Kanjuruhan yang membuka Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) sejak tahun 2005 untuk memberi pengobatan dan rawat inap gratis selama 3 hari bagi korban KDRT. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung. Sementara BP-4 Kota Malang menerima semua klien yang datang tanpa membedakan PNS atau bukan. Unit PPA sekarang menjadi tempat pengaduan masyarakat yang mengalami kasus KDRT. Tabel 2 Kasus KDRT di BP-4 Kota dan Kabupaten Malang BP-4 Kota BP-4 Kabupaten 2008 3 5 8 Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 Kekerasan fisik 2 8 12 5 4 2 Kekerasan psikis 23 22 30 23 5 10 Kekerasan seksual 1 4 7 10 5 8 Kekerasan Ekonomi 7 22 13 27 1 Jumlah 33 56 62 65 15 20 Sumber Dokumen di BP-4 Departemen Agama Kota dan Kabupaten Malang. Melacak Kinerja/Implementasi UU PKDRT oleh Unit PPA Kepolisian Lembaga yang tanggap paling awal dengan diundangkannya UU PKDRT adalah kepolisian karena disebut secara eksplisit oleh UU PKDRT. Rincian kasus disajikan di Table 2. Untuk kasus-kasus berat yang tidak bisa didamaikan dirujuk ke Pengadilan agama menuju perceraian. Rumah sakit. perselingkuhan. Oleh karena itu secara kelembagaan unit PPA adalah andalan utama dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. Pada awalnya unit PPA ibarat lone ranger yang berjuang sendiri untuk kinerja/implementasi UU PKDRT. Faktor penyebab konflik rumah tangga antara lain: ketidak cocokan.kasus di kabupaten relative justru lebih sedikit karena BP-4 Kabupaten lebih memprioritaskan PNS yang sudah membawa surat pengantar dari Badan Pengawas Pemerintah Daerah.

Jika perlu didampingi . diberikan pelayanan medis gratis. mendapat perlindungan hukum dari yang berwewenang dan pelayanan kesehatan. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang selama 4 tahun terakhir ada 502 kasus. korban dirujuk ke Women Crisis Center yang ada di Malang seperti WCC Dian Mutiara. Hak-hak korban dan bentuk pemenuhannya: (1) Perlindungan: korban diberi perlindungan keamanan 1x24 jam di Polres Kota Malang. (2) Kerahasiaan Korban.. Dll. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang telah punya kerja sama yang baik dengan PPT Rumah Sakit Kanjuruhan yang menggratiskan visum dan rawat inap bagi korban KDRT selama 3 hari. Tabel 3 Kasus KDRT di PPA Kepolisian Resort Kota dan Kabupaten Malang PPA Kota Malang PPA Kabupaten Malang Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 51 60 60 19 53 87 32 Kekerasan psikis 3 1 16 16 19 9 22 25 Kekerasan seksual 4 17 15 15 51 26 65 18 Kekerasan ekonomi 2 2 2 6 10 36 34 Jumlah 24 71 93 97 85 98 210 109 Sumber Dokumen di Unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang Kasus-kasus KDRT tersebut muncul dengan berbagai penyebab kecemburuan. Dari sekian banyak kasus yang dominan di Unit PPA Kota maupun Kabupaten adalah kekerasan fisik dan seksual. Titian Hati. perzinaan. penelantaran ekonomi. Rincian kasus disajikan pada Tabel 3. adik ipar sendiri ataupun dengan remaja tidak berdaya (kasus perstubuhan dengan remaja cacat bisu-tuli).Jumlah kasus yang ditangani selama 4 tahun terakhir adalah 285 kasus di unit PPA Kota Malang. dijamin dan sudah dipenuhi. tetapi untuk rawat inap dan visum dokter dalam kasus tertentu belum bisa digratiskan oleh pihak rumah sakit. perkosaan. namun kadang-kadang bisa muncul/termuat di koran karena kegigihan/kecerobohan wartawan. keterlibatan fihak ketiga. Layanan kesehatan ini belum dipenuhi secara optimal. perselingkuhan. ketidak puasan. untuk sementara korban di PPA Kota Malang dirujuk ke RSSA Malang. persetubuhan dengan anak. (3) Pendampingan.

(2) Dalam wktu 1x24 jam perlindungan perlu minta surat penetapan perlindungan pengadilan. dan (4) Membantu proses penetapan perlindungan sudah menjadi bagian dari proses penanganan kasus KDRT hanya saja dalam hal perlindungan peran PPA masih kurang. dan (5) Perlindungan (pendamping. Perlindungan yang dilakukan oleh unit PPA Kepolisian Kota maupun Kabupaten Malang dengan prosedur: (1) Dalam waktu 1x24 jam sejak laporan. belum dapat maksimum karena hanya sebatas memberi nasehat dan melerai agar tidak terjadi kekerasan lebih parah. siapa mereka dan bagaimana peran mereka. Peran masyarakat masih kurang. Pemahaman tentang Undang-Undang masih sangat lemah. sosial. (3) Kerjasama polisi dengan berbagai fihak untuk perlindungan. ada harapan nantinya diwujudkan Pusat Pelayanan terpadu (PP) namun belum maksimal. Kerjasama dengan WCC dari psikolog dari UIN Malang. Ketua RT dan Ketua RW. (3) Memberi pertolongan darurat: yang paling awal adalah orang-orang di lingkungan terdekat terjadinya kasus-kasus. saksi. biasanya pendamping korban dari keluarga atau WCC yang dirujuk (di rujuk PPA). dan (4) Bimbingan Rohani. (3) Sistem mekanisme layanan (kerjasama) yang mudah di akses korban yaitu dengan Women Crisis Center. (2) Ketersediaan aparat. . termasuk kesadaran hukum masyarakat dalam: (1) Mencegah tindak pidana. dari masyarakat masih kurang. Perlindungan masih dilakukan oleh petugas kepolisian. unit PPA. (4) Dalam menjelaskan hak-hak korban. Saksi pendamping biasanya mendapat perlindungan dari kepolisian. dengan cara sosialisasi di lingkungan masyarakat.oleh penasehat hukum. Kewajiban pemerintah terutama lembaga Unit PPA. (4) Mekanisme Layanan Standar Kepolisian Unit PPA seperti yang sudah dijelaskan diatas. ataupun rohani samapai saat ini mencukupi sesuai dengan kebutuhan. paling lama 7 hari korban memperoleh perlindungan keamanan oleh PPA. Peran Masyarakat. di lingkungan tempat tinggal misalnya tetangga. yang disediakan bagi msayarakat yang tertimpa kasus KDRT adalah: (1) Ruang layanan yang cukup mamadai. Kesadaran hukum masyarakat masih rendah. lebih banyak konseling psikologis belum mengarah pada bimbingan keagamaan. Demikian juga aparat di tingkat grass roots seperti Lurah dan perangkat desa banyak yang tidak tahu undang-undang PKDRT dan prosedur pelaporan ketika terjadi kasus di wilayahnya. (2) Memberi perlindungan. kesehatan. keluarga. teman korban).

(2) Jika kasus KDRT Psikis yang menangani adalah staf unit PPA. masalah selesai secara kekeluargaan maka penahanan ditangguhkan. Untuk kasus penelantaran. pemulihan korban agak sulit ditangani karena menyangkut kemampuan ekonomi keluarga yang mengalami kasus KDRT. (3) Seksual. Bila ternyata korban mencabut laporan. Layanan advocate di PPA Kota Malang. visum ke RSSA Malang atau Rumah Sakit Kanjuruhan. yang dilakukan secara terpadu oleh kepolisian dan Dinas Kesehatan. dengan tuntutan maksimum 3th/atau denda 9jt. jika kasus berat kerja sama staf PPA dengan Psikolog dan Rumah Sakit Jiwa secara terpadu. (5) Pemeriksaan kesehatan.belum pernah terjadi. (10) Dalam waktu 1x24 jam. (6) Pekerja sosial dan layanan konseling. dalam 7 hari ketua pengadilan wajib mengeluarkan surat penetapan perlindungan. Pemulihan korban: jika kasus KDRT: (1) Fisik yang menangani adalah RSSA atau di PPT Rumak sakit Kanjuruhan. pemulihan korban dilakukan secara terpadu oleh staf PPA dan Dinas Sosial. paling lama perlindungan 1 tahun bisa diperpanjang sesuai kebutuhan juga belum pernah terjadi. ada 1 orang. dan (11) Pelanggaran terhadap perintah perlindungan oleh pelaku belum pernah terjadi. mati = 15th/dan denda 45jt. penyelidikan: penyidik atau petugas PPA yang menjelaskan kepada korban. ringan = 4bl/dan denda 5jt. yang sering terjadi korban dititipkan ke kerabat yang dipercaya untuk menjaga jarak dari pelaku/tersangka. atau korban memberi kuasa orang lain/kepolisian. (3) Untuk kasus seksual maka penanganannya adalah kerjasama staf unit PPA dengan RSSA. dengan tuntutan 12th/dan denda 56jt. Rumah aman belum ada. luka berat = 10th/dan denda 30jt. tidak ada penangguhan penahanan. dengan tuntutan hukuman maksimum: 5th/dan denda 15jt. (2) Psikis. dan (4) Untuk kasus bidang ekonomi ada kasus. memaksa orang dalam rumah tangga melakukan hubungan seksual . untuk penyidikan. penuntutan pemeriksaan persidangan. tempat tinggal alternative: kerja sama WCC Dian Mutiara dan Titian Hati. penangkapan pelaku dapat dilakukan tanpa surat perintah jika sudah diyakini sebagai pelaku. ringan= tuntutan 4bl/dan denda 3jt. (7) Layanan pendamping untuk penyidikan dan penuntutan belum ada. (8) Laporan oleh korban. Ketentuan pidana menurut UU PKDRT: (1) Fisik.identitas petugas. (9) Permohonan perlindungan bisa tertulis/lesan. sementara dicari rumah kos yang aman.

2006: 211--223). . 1 kasus dengan terdakwa SS dengan modus menusuk korban sehingga luka berat dituntut hukuman 2 tahun 6 bulan dan diputus hukuman 2 tahun. Untuk Penyelesaian kasus-kasus KDRT. Di Kabupaten Malang. 4 bulan. Ada 5 kasus yang telah diputus dengan variasi hukuman: 2 bulan 15 hari. disamping bersikap positif. keguguran dan rusak alat reproduksi pelaku dituntut 5--20th/dan denda 25-100jt. staf kejaksaan sendiri belum sensitive terhadap UU PKDRT. diadili di Pengadilan Negeri. Penelantaran bisa juga pengabaian kewajiban ataupun menciptakan ketergantungan ekonomi pada pelaku. Hal tersebut sejalan dengan sejalan dengan temuan para aktifis hukum bahwa untuk menegakkan hukum yang berperspektif perempuan kesulitan awal adalah pada sumber daya manusia. 5 bulan 7 dan 1 kasus perkosaan yang diputus hukuman 7 tahun. Adapun 6 kasus lainnya dengan modus berbagai kekerasan fisik dituntut hukuman bervariasi antara 4 bulan sampai 10 bulan yeng kemudian diputus hukuman 2 bulan 15 hari sampai 9 bulan. Pengadilan Negeri yang menetapkan hukuman berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. para penegak hukum yang berperspektif perempuan masih kurang. Di berbagai tingkat. Namun dari informasi yang diperoleh. Sampai saat ini diantara kasus KDRT yang ditangani unit PPA Polresta Malang. tahun 2006 ada 8 kasus yang telah diputus hukumannya oleh Pengadilan Negeri. Aparat Polisi. demikian juga Pengadilan Negeri dalam mengadili kasus KDRT masih mengacu pada KUHP. masih banyak juga sikap-sikap negatifnya (Irianto & Nurcahyo. Bagaimanakah ketentuan tersebut dalam praktek? Lembaga lain sebagai partner Unit PPA dalam penegakan hukum dan implementasi UU PKDRT adalah Kejaksaan dan Pengadilan Negeri.dituntut hukuman 15 th/dan denda 4--15jt. Dari kasus-kasus tersebut ada 1 kasus dengan terdakwa WY dengan modus memperkosa korban berulang kali dituntut hukuman 5 tahun dan diputus hukuman 4 tahun. Kasus yang muncul pada tahun 2008 masih dalam proses pengadilan (Dokumen Pengadilan Negeri Kota Malang). ada 9 kasus (tahun 2007) dan 2 kasus (tahun 2008) yang masuk kategori P21 dan diberkas ke Kejaksaan. jika korban mengalami gangguan fisik dan kejiwaan. Jaksa Penuntut Umum dan Hakim dalam menangani kasus. dan (4) Penelantaran: pelaku dituntut hukuman 3th/15jt.

Dari penelitian ini diperoleh kesan bahwa selama 3-4 tahun kinerja/implementasi UU PKDRT yang diundangkan pada tahun 2004 itu masih dalam tahap pengenalan. tidak sepadan dengan proses pemberkasan yang memerlukan kerja keras menyiapkan perlengkapan yang terdiri dari 25 s/d 30 an surat-surat. Dari penyelesaian kasus yang masuk kategori P21 dan diproses di Pengadilan Negeri memperoleh putusan yang bervariasi. tetapi yang jelas memang kasuskasus KDRT setelah masuk di Pengadilan Negeri diadili dengan KUHP. Ketentuan lain (1) Penyidikan. penuntutan. Dapat diaktakan jika para penegak hukum sendiri masih belum sensitive dengan peradilan yang berkeadilan gender dan masih dalam proses mengenal dan memahami UU PKDRT. pemeriksaan mengikuti ketentuan hukum secara pidana yang berlaku. dan akhirnya kasus-kasus tersebut diputus hukuman terendah 3 bulan 13 hari dan tertinggi hanya satu kasus diputus hukuman 1 tahun 6 bulan sebagaimana tuntutannya. jika kasus-kasus diberkas oleh kepolisian dengan UU PKDRT tetapi dalam proses di Pengadilan Negeri lebih berdasarkan KUHP lalu untuk apa UU PKDRT? Untuk menjawabnya diperlukan penelitian lebih lanjut. Dari Ketua unit PPA Kota Malang muncul komentar bahwa proses pengadilan memang ada unsur legal reasoning yang menjadi pertimbangan pemutusan hukuman. Menurut UU PKDRT tindak pidana KDRT adalah delik aduan. Ada 1 kasus dengan modus perkosaan dituntut 5 tahun yang kemudian diputus 3 tahun 6 bulan. hanya pasal 44 ayat 4 dan pasal 45 ayat 2. kasus yang dijatuhi hukuman dalam hitungan tahun adalah kasus perkosaan.Tahun 2007 ada 8 kasus yang sudah diputus hukumannya dengan modus operandi berbagai bentuk kekerasan fisik. Ketika hal ini di cross cek ke staf kepolisian unit PPA Kabupaten Malang muncul komentar bahwa putusan tersebut sungguh mengusik rasa keadilan. kendala yang dihadapi adalah saksi KDRT biasanya 1orang sedangkan di KUHP. belum sepenuhnya dipakai sebagai landasan penyelesaian kasus hukum. Pada tahun 2008 s/d bulan Juni ada 6 kasus dengan modus berbagai bentuk kekerasan fisik yang cukup parah dengan tuntutan hukuman 3--5 bulan dan diputus hukuman antara 2 bulan 4 hari s/d 4 bulan. tuntutan hukuman 4 bulan s/d 1 tahun 6 bulan. alat bukti sah . Sedangkan kasus dalam berbagai bentuk kekerasan fisik hanya diputus hukuman dalam hitungan bulan saja. Nah. tetapi hukuman yang dijatuhkan gletek saja dalam hitungan bulan. selebihnya bukan delik aduan.

Kekerasan adalah wujud perilaku agresif yang pemicunya bisa bersifat eksternal maupun internal. termasuk perlunya membangun Musolla yang lebih layak. 2002) Ada saatnya penyebab perilaku yang bersifat internal dengan eksternal bergabung. Belum. serta kurangnya sarana dan prasarana du unit PPA. kesejangan generasibahkan anonimitas dlam masyarakat perkotaan. Dalam hal ini pihak unit PPA menyayangkan terjadinya kasus penganiayaan berat yang layak diproes di Pengadilan Negeri. KUHAP seperti sebelum ada UU PKDRT. tapi dicabut oleh fihak pelapor. Sementara faktor internal bisa amarah. sarana. Untuk kasus penganiayaan berat. merasa dihina. penanganan kasus secara pidana merujuk KUHP. kurangnya peran serta masyarakat dan lembaga yang terkait. jadi jaksa minta saksi lagi. maka semakin kuat saja dorongan untuk munculnya tindak kekerasan. Apakah seorang saksi korban cukup untuk menyatakan bersalah jika disertai bukti lain. dan memadai.jika ada 2 saksi. Faktor eksternal seperti kondisi geografis. (2) UU PKDRT berlaku sejak 22 September 2004. 4/9/08). peralatan dan ketenagaan yang memadai. lingkungan social. kemiskinan. Kepala PA yang baru merasa sudah saatnya kantor PA Kota Malang direnovasi. Berbagai penyebab munculnya kasus KDRT di lembaga lokasi penelitian tersebut sejalan dengan analisis KDRT sebagai fenomena sosiologis dan psikologis. Muncul wacana yang menyatakan bahwa delik aduan pada UU PKDRT pantas direvisi (Wawancara staf Pengadilan Negeri. BAHASAN Faktor Pendukung dan Penghambat Pengadilan Agama Kota maupun Kabupaten Malang memiliki gedung. rasa tidak suka. sebagai kasus kriminal sangat disayangkan jika ditangani berdasarkan delik aduan. jika tersangka tidak mengaku maka diperlukan saksi ke-2. diancam. Faktor penghambat utama bagi Pengadilan Agama (PA) dalam optimalisasi kinerja/implementasi UU PKDRT adalah status . Hanya saja kantor PA Kota Malang merupakan bangunan yang sudah lama. atau frustasi karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dsb (Rahayu. dibangun ruang tambahan yang lebih luas untuk kepentingan peningkatan kinerja.

tidak ada sosialisasi tentang UU PKDRT ke aparat PA karena rujukan kerja mereka bukan itu. hasil observasi peneliti juga menunjukkan bahwa Ketua BP-4 dan staf cukup welcome terhadap klien. kasus sudah berat sehingga tujuannya ke perceraian. psikolog. tidak hanya soal kelembagaan dan pemahaman aparat terhadap undangundang tetapi juga perlunya budaya peradilan yang berperspektif perempuan dan sensitive gender (Irianto & Nurcahyo. ketenagaan dan peralatan kantor termasuk computer yang siap digunakan. Penyelesaian kasuskasus yang ditangani hanya diputus cerai atau damai. tetapi ruang konseling jarang digunakan. Faktor Pendukung di BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah tersedianya kantor yang memadai. klien tampaknya lebih senang konsultasi langsung di ruang ketua BP-4 (wawancara staf BP-4 Depag 22/7/08). mubaligh. psikiater. Penanganan kasus sudah dilakukan dengan baik. Dalam proses kepenasehatan BP-4 melibatkan para volunteer yang terdiri dari ulama. Oleh karena itu masih perlu jalan panjang jika bangsa ini memerlukan PA untuk ikut serta menerapkan UU PKDRT. 26/9/08) namun belum ada persiapan kelembagaan maupun ketenagaan dan perangkat hukum pidana dalam keluarga.00. Layanan kepenasehatan dilakukan setiap hari pada jam kerja Senin sampai Jumat jam 08. bahkan ketua BP-4 bersedia melakukan konsultasi di ruang kerja.00 sampai dengan 15. Faktor Penghambat kinerja BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah klien yang datang pada umumnya sudah parah kasusnya. sehingga sulit diarahkan ke rujuk atau damai. ruang pimpinan dan staf administrasi. Kasus pada umumnya disebabkan faktor utama ekonomi dan perbedaan latar . konselor atau BP. Oleh karena itu aparat PA kurang termotivasi untuk mempelajari UU PKDRT. 2006). Sepanjang informasi yang diperoleh peneliti. (wawancara Pansek PA/16/9/08). Tetapi BP-4 Kabupaten khusus melayani PNS yang sudah diberi pengatar oleh Badan Pengawas Pemerintah Daerah. Kasus yang dibawa ke BP-4 Kota berasal dari masyarakat umum baik PNS atau non PNS.kelembagaan sebagai lembaga pengadilan perdata. ada ruang khusus untuk kepenasehatan. tidak sampai ke putusan pidana. Secara kelembagaan di PA sudah mulai muncul wacana di tingkat pusat untuk memfungsikan PA tidak hanya sebagai pengadilan perdata tetapi juga sebagai pengadilan pidana di masa mendatang (wawancara Ketua PA.

mereka . sementara PPA Kota yang mengirim korban ke RSSA masih banyak kendala karena belum terbentuk PPT (Pusat Pelajanan Terpadu) disitu. komunitas yang memerlukan: Panti Asuhan. Belum ada shelter atau tempat penampungan sementara untuk korban yang menunggu kasus disidik atau diselesaikan dan korban belum berani pulang ke rumah. Penampilan para petugas di Unit PPA juga berbeda dari polisi pada umumnya. Komunitas Anak Jalanan. diperlukan semacam rumah singgah. BP-4 lebih tepat berperan sebagai jalur sosialisasi keberadaan UU PKDRT kepada klien yang datang konsultasi. Mereka memperoleh kesempatan refreshing/professional workshop secara bergilir 2 kali setahun. ruang kepenasehatan kurang digunakan langsung kemeja kerja ketua. Sosialisasi UU KDRT secara insidental dilakukan oleh Kepala Unit PPA Polres Kota maupun Kabupaten Malang lembaga. fisik dan seksual. karena merkalah ujung tombak yang mengawal implementasi UU PKDRT. Disamping itu unit PPA juga didukung oleh tenaga professional dan berdedikasi terhadap tugasnya.belakang keluarga selanjutnya terkait dengan penyebab lainnya seperti kekerasan psikis. mempunyai desa binaan sebagai desa keluarga sakinah. Dalam implementasi UU PKDRT. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung karena didukung oleh PPT (Pusat Pelayanan Terpadu) di RS Kanjuruhan. Jika ada kasus di daerah mereka. PJ TKI dsb. Kanit PPA Kabupaten merasakan perlunya sosialisasi UU PKDRT di tingkat aparat desa seperti lurah dan jajaran aparat desa. Sekolah-Sekolah. ataupun edukasi kepada muda-mudi calon pengantin sebagai upaya preventif agar mereka tidak terjerumus menjadi pelaku/korban KDRT. sejumlah 8 orang staf dan 1 orang ketua unit. rumah inap korban KDRT. semua staf yang berjenis kelamin perempuan bekerja dengan berbagai pakaian seragam non kedinasan sehingga penampilan ramah dan segar tidak menakutkan klien. Dalam Faktor penghambat kinerja Unit PPA. Faktor pendukung di unit PPA Kepolisian Resor Kota maupun Kabupaten Malang adalah adanya kantor unit tersendiri walaupun tidak luas tetapi cukup fungsional untuk menjalankan aktifitas unit PPA. BP-4 secara rutin menyelenggarakan ―Suscatin‖ kepanjangan dari kursus calon pengantin. Kerja sama dengan instansi terkait untuk membantu menangani kasus secara terpadu sangat diperlukan. diperlukan juga tenaga ahli untuk kasuskasus khusus.

. Lembaga ini menangani kasus KDRT yang sangat bervariasi faktor penyebabnya. Di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kota dan Kabupaten Malang adalah lembaga andalan dalam kinerja/ implementtasi UU PKDRT.mestinya tahu bagaimana mengurusnya dan kemana melaporkannya. Sementara kekerasan psikis dan ekonomi sering dianggap bukan kekerasan. Setiap client diberi kesempatan konsultasi 3 kali. penyelesaian damai banyak terjadi dan jika tidak bisa berdamai lagi diberi pengantar untuk di proses di Pengadilan Agama 3. Faktor penyebab bersifat psikis dan ekonomi paling dominan. namun ditangani secara perdata. Istilah KDRT memang sudah mulai populer di masyarakat terutama lewat TV. yang paling dominan faktor kekerasan fisik dan ekonomi yang kemudian memicu faktor lainnya penanganan bersifat konseling masih sangat ditonjolkan ditambah dengan penyadaran hukum dengan penahanan dan hukuman kepada tersangka jika tidak mengubah perilakunya. hampir semua kasus yang masuk jumlahnya mencapai ratusan sampai ribuan setiap tahun ada unsur KDRT. atau kekerasan seksual. Di Pengadilan Agama baik Kota maupun Kabupaten. Oleh karena itu yang paling dominan dilaporkan ke unit PPA adalah kekerasan fisik. Di Badan Penasehatan. 2. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departemen Agama Kota maupun Kabupaten. penanganan bersifat konseling psikologis dengan pendekatan agama. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. kalau ada kekerasan ekonomi dilaporkan adalah juga karena disertai kekerasan fisik. kasus yang masuk cukup bervariasi dari segi factor penyebabnya. penyelesaian berlandaskan hukum perdata dengan putusan cerai dan hanya sebagian kecil saja dengan putusan damai/rujuk. tetapi substansi UU PKDRT baik aparat maupun msayarakat di tingkat grass roots tidak tahu. kekerasan apa saja yang diancam hukuman pada umumnya mereka mengira hanya kekerasan fisik yang korbannya babak belur.

fihak Polres Kota pernah sosialisasi UU PKDRT kepada kepolisian Arhanud dan Brimob. Oleh karena itu perlu disertai dengan pemembangunan sistem. Dinas Sosial Pemkot dan Pemkab Malang. Namun hukuman yang dijatuhkan dengan berdasarkan KUHP dianggap terlalu ringan dan kurang menimbulkan efek jera pada pelaku. 5. Ada kasus berat yang bisa masuk kasus criminal tetapi dicabut oleh pihak pelapor.4. 6. Faktor penghambat yang dirasakan oleh unit PPA adalah belum ada perhatian dari dinas instansi terkait seperti Biro Pemberdayaan Perempuan. bantuan ahli untuk kasus-kasus khusus. Sedangkan Polreskab pernah juga mengadakan penyuluhan incidental ke kecamatan. 9 orang tenaga/aparat termasuk kepala unit PPA adalah orang-orang professional dan berdedikasi dalam bidangnya. Ada beberapa kasus dimana tersangka menghilang dan masuk DPO (Daftar Pencarian Orang/buron). lembaga dan penyiapkan suamber daya manusia sebagai pelaksananya. Di unit PPA banyak kasus yang kemudian dicabut/berdamai. kelurahan dan sekolah-sekolah namun masih sangat jarang. . mengusik rasa keadilan. ruang konseling masih campur dengan ruang tamu. mereka secara bergilir memperoleh penyegaran 2 X setahun untuk peningkatan profesionalismenya. terbentur keterbatasan dana dan belum adanya strategi/paket untuk sosialisasi/penyuluhan khusus tentang UU PKDRT. untuk kasus seperti ini delik aduan di UU PKDRT dirasa tidak pas digunakan. 7. Dalam hal sosialisasi kepada aparat. Keberadaan UU PKDRT adalah merupakan faktor pendukung paling awal untuk menangani kasus-kasus KDRT. Ada beberapa kasus yang masuk kategori P21 yang diberkas untuk dilimpahkan ke kejaksaan dan Pengadilan Negeri dan tersangka benar-benar dijatuhi hukuman. Belum ada unit palayanan terpadu dan shelter. Kehadiran peraturan maupun perundang-undangan adalah merupakan upaya mengubah kehidupan masyarakat/sosial engeenering ke arah kehidupan yang lebih baik. atau dicabut kemudian memproses perceraian. Saran 1. 8.

Dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. dengan hukuman yang memiliki kekuatan melindungi korban dan membuat jera pelaku. tersedia PPT(Pusat Pelayanan Terpadu) dan shelter bagi korban KDRT. Demikian juga diperlukan strategi/paket edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat seperti guru. 3.2. Perlu ada upaya peningkatan peran kelembagaan PA supaya tidak berhenti pada proses perdata. Mahkamah Agung perlu juga memikirkan proses sosialisasi ke aparat penegak hukum seperti tidak hanya Polisi tapi juga Jaksa dan Hakim sehingga mereka memahami ruh UU PKDRT dan bisa melaksanakan pengadilan berkeadilan gender. Mereka adalah jujukan korban untuk mengadu jika terjadi kasus di wilayahnya. Jika ada kasus yang pantas masuk ke ranah pidana maka dimungkinkan adanya jalur untuk melanjutkan kasus tersebut ke pengadilan pidana. Mereka harus faham substansi pokok. Pihak Kepolisian yang merupakan pelaksana UU PKDRT utama perlu memperoleh perhatian dan dukungan dari berbagai fihak terkait seperti Biro PP Pemda. . siswa/remaja. Lembaga ini bisa menjadi salah satu jalur sosialisasi UU PKDRT kepada masyarakat. 5. 4. LSM yang memperhatikan kasus kekerasan dan Rumah Sakit agar ada kerja sama. menghayati pesan UU PKDRT dan prosedur pelaporan kasus ke aparat penegak hukum. Peran BP-4 juga sangat strategis sebagai lembaga kepenasehatan/ konseling perkawinan yang langsung didatangi masyarakat dari berbagai lapisan. 6. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan perlu ikut serta mendorong kinerja/implementasi dengan mengembangkan strategi/paket sosialisasi UU PKDRT untuk Aparat di tingkat Grass Roots dengan prioritas para lurah dan staf di tingkat desa yang merupakan ujung tombak pengawal aturan. Ide tentang perlunya membangun sistim pengadilan pidana terpadu layak memperoleh perhatian. DinasSosial.

Jaminan Keadilan Melalui Sistim Peradilan Pidana Terpadu. Perempuan di Persidangan. 2000. Branen. Irianto. Dunn. London: London Publication. Handbook of Qualttatif Research.Yogyakarta. Qualitatif & Quantitatif Approach. Puji. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi. Hoesien. 2003. 2004. Fakih. Kekerasan Gender dalam pembangunan. Denzin. White Plains. Yin. Kisah Perjalanan Panjang Konvensi Wanita. Katjasungkana. Lidwina Inge. hal. Robert K. William N. Maria. John W. Creswell. 2002. Irianto. 1997. 1992. Sulistyowati & Luhulima. New York: Longman Publishing Group. Sulistyowati & Nurtjahyo. 35. Studi Kasus. Y. Memadu Metode Penelitian Kualitatf dan Kuantitatif. Harian Kompas. Achie S. Kekerasan dalam perspektif Pesantren. Hartiningsih. Denpasar: Yayasan Pustaka Nusantara. Jakarta: Kantor Menteri Negara pemberdayaan Perempuan. Sage Publication. Bulletin Psikologi tahun X Nomor 2 Desember 2002. Himpunan Yurisprudensi Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. Becoming Qualitatif Researcher. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2007. 2004. Jakarta: Rajagrafirndo Persada. Pelatihan Dasar Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.DAFTAR RUJUKAN Astuti. 2001. Noerman K. Yvonna S. Edisi kedua. Abdul Aziz. Pustaka Pelajar. 20 Maret. Research Design. Kekerasan Terhadap Perempuan. . Bria. Soka Handinah. Califomia. Benyamin. 1994. Kemandirian dan Kekerasan Terhadap Isteri. Jakarta: Gramedia. Mansour. 2000. Selasa. Julia. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. Desain dan Metode. Pengantar Analisis Kebijakan Publik.1994. Glesne & Peskhin. & Lincoln. 2003. Kekerasan terhadap Perempuan dan Bagaimana Menyikapinya.

K & Warner RL. Moleong. Marriages. 2004. BK &Sawyer SC & Wahlstrom. Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Adalah Tugas Kita Semua. Pemerintah Republik Indonesia. Erfaniah. Curriculum Design and Developnrent. 2004. Jakarta. Jakarta. Rencana Induk P embangunan Nasional Pemberdayaan P erempuan 2000-2004. 2004. Seccombe. Pratt. Jurnal PsikoIslamika. Jakarta: Kencana Prenada media Group. Metodologi Penelitian Kualitatf.2004. Sinar Grafika. AM. Noeng. 2007. Swabaya: Biro Pemberdayaan Perempuan Sekretarian Daerah Propinsi Jawa Timur. California: Sage Publication Inc. Towaf. Zuhriah. 2007. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Abdulkadir. Bandung: Remaja Rosda Karya. Kekerasan dalam Rumah Tangga. Metode Penelitian Kualitatf Yogyakarta: Rake Sarasin. Rahayu. Kekerasan dan Agresifitas. California: Wadsworth/Thomson Learning. Boston: Pearson Education. Qualitatif Data Analysis. Patricia Madoo & Brantley. Relationship in Social Context. George & Goodman. MB & Hubberman. Kita Bisa Mendampingi Korban Kekerasan. CM. Prenada Media Group. Muhammad. Iin Tri. Volume 1/no 2/ Juli 2004.. 2004. Jurnal Psiko-Islamika. Siti Malikhah.1984 .Katjasungkana. Douglas J. 2000. Ritzer. Williams. Families & Intimate Relationships. Undang-undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. . Miles. lexi. hal 167--175. Dalam Teori Sosiologi Modern. 1996. Teori Sosiologi Modern. Marriage and Families. David. 2004. Jill Niebruge.J. Teori Feminis Modern. New York Harcourt B. A Practical Introduction. Hukum dan Penelitian Hukum. Lengerman. 1980. 2006. Volume 1/no 2/ Juli 2004. Muhajir. Makalah seminar di Dharma Wanita Kabupaten Gresik. Soka Handinah. 2004. Bandung: Citra Aditya Bakti. hal 177--187. 1990.

Kata-kata kunci: saluran udara ekstra tinggi (SUTET). PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7) penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau bidang tertentu. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. PLN (Persero) dalam mengatasi masalah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan (2) Untuk mengetahui bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang dapat mengatasi konflik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Berdaasarkan jenis data dan analisis yang digunakan. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan. menguji hipotesis. PT.Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati Tri Laksiani Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. Penulisan ini berusaha menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan. PLN Puji Handayati adalah dosen Jurusan Manajemen dan Tri Laksiani adalah dosen Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang .

Diakses tanggal 6 Februari 2006) . pemerintahan dan masyarakat luas. Hal ini karena kabel bertegangan tinggi bisa menarik partikel gas radon yang tidak berbau dan tidak berwarna di sekitarnya yang kemudian meluruhkannya. Aliran tegangan tinggi sangat berbahaya bagi masyarakat. Bahkan ilmuwan dari ITB juga mengungkapkan medan listrik dapat menimbulkan stres. bahwa gelombang elektromagnetik dari listrik tegangan tinggi dapat menimbulkan kanker. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan. termasuk peneliti di luar AS. Berbagai penelitian membuktikan adanya hubungan antara listrik tegangan tinggi dengan penyakti kanker dan leukimia pada anakanak bjkan orang dewasa. Inggris. Finlandia. Pernyataan ini didukung oleh berbagai penelitian antara lain. Colorado mengalami kemungkinan terserang penyakit leukimia dua atau tiga kali dibandingkan orang dewasa.edu.edu. (www. Kanada. Sebagian partikel luruhan bersifat karsinogenik dan oleh medan listrik dikonsentrasikan pada bagian tubuh tertentu. Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa orang yang tinggal dibawah tegangan tinggi bisa terkena kanker otak dan berkaitan dengan penurunan gairah seksual.hamline.hamline. Perancis. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. Selain itu. listrik merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Namun listrik juga dapat menimbulkan masalah jika dalam penggunaannya tidak tepat. Inggris mendukung pendapat. PLN (Perusahaan Listrik Negara) Persero untuk menyediakan tenaga listrik dalam berbagai kebutuhan industri. Denmark. ekonomi. Diakses pada 6 Februari 2006) Demikian pula dalam studi tahun 1996 yang dilakukan tim fisikawan Universitas Bristol. bahkan mengakibatkan kematian bagi orang yang menyentuhnya secara langsung.Pembangunan ekonomi yang tumbuh dengan cepat menuntut PT. penelitian yang dilakukan oleh Nancy Wertheimer dan Ed Leeper (1979) membuktikan bahwa anak-anak di denver. perdagangan. Selain itu juga dapat menimbulkan penyakit tumor susunan saraf jika masyarakat tinggal di dekat jaringan tinggi tersebut. kemudian mentransformasikan sel-sel tubuh yang ditempati menjadi sel kanker (www. seperti Swedia. Sejak penelitian di Denver ini para peneliti lainnya mulai tertarik.

PKK. Untung. ditemukakan adanya risiko kanker pada 463 kasus pekerja gardu listrik dan 263 kasus pada pekerja pemasangan kabel transmisi. Gangguan kesehatan itu terutama menyerang anak-anak antara lain leukimia (kanker darah). pekerja di peleburan alumunium. Tahun 1973. Sementara di Swedia. pada penduduk di bawah saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV di Kab. Sebuah riset di Washington AS tahun 1950-1982 melaporkan adanya kematian 486 ribu pekerja teknisi listrik. Pada awal tahun 1980-an dari Selandia Baru dilaporkan ada 546 kasus leukimia pada para perakit alat-alat listrik serta pekerja yang memperbaiki radio dan televisi. atau peralatan bertenagalistrik. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome). berhasil membedakan kelompok penduduk yang beresiko terpapar dan tidak terpapar berdasarkan jarak tempat tinggal dengan jarak listrik terpasang. Menurut Prof.com. menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. Kab.Kes. yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache). radius 500 meter diperkirakan masih memiliki risiko terpapar.Di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa selama lima dasawarsa terakhir melaporkan adanya beberapa gangguan kesehatan akibat paparan medan elektromagnetik dan medan magnet secara terusmenerus dalam jangka panjang. dan Kab. peneliti dari Depkes RI di SUTET Cibinong dan Bekasi. Diakses 7 Februari 2006) Berdasarkan hasil penelitian Dr. ditemukan angka risiko leukimia pada pekerja kelistrikan meningkatkan dua kali lipat. Tegal (2004). Penelitian lain di Inggris dan New South Wales pada 1970-1972 mencatat kematian para pekerja operator telegram dan ahli teknik yang disebabkan oleh leukimia mieloid akut. M. (www. Hasil penemuan Anies menyimpulkan bahwa ketiga gejala tersebut dapat dialami sekaligus oleh seseorang. Pemalang. Pekalongan. Dr. operator radio dan telegraf. Anies. distribusi listrik tegangan tinggi. sehingga penemuan baru ini diwacanakan sebagai Trias Aniesa (www.pikiranrakyat. pening (dizzines).republika. dan operator proyektor bioskop meninggal akibat leukimiaa dan limfoma non Hodgkins. dalam penelitian yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto. Hasilnya.com diakses pada 26 Desember) . Baik melalui transmisi.

Oentoeng Soeradi. Dr. Jawa Barat. Prof. tanda dan gejala lain yang dapat dijumpai adalah jantung berdebar-debar. (4) kardiovaskuler. serta gangguan kejiwaan berupa depresi. Ini timbul akibat rusak atau kacaunya kerja jaringan endokrin (hormonal) tubuh karena adanya aliran listrik tersebut.(www. perlu dilakukan penyuluhan yang efektif kepada masyarakat umum. telinga berdenging.pikiranrakyat. (3) syaraf. dr. Namun kekhawatiran masyarakat merupakan hal yang wajar dan sebagai upaya untuk mengurangi dampak negatif SUTET terhadap kesehatan masyarakat. Diakses pada 6 Februari 2006) Tetapi dalam bebarapa penelitian lain mengungkapkan bahwa radiasi elektromagnetik tidak mempunyai korelasi dengan kesehatan. gangguan konsentrasi. berhasil membuktikan korelasi antara listrik dan beberapa penyakit. dan (7) hipersensitivitas. potensi gangguan kesehatan yang timbul akibat SUTET 500 kV. dapat terjadi pada sistem: (1) darah.Menurut WHO. yaitu kasus yang terjadi di daerah Cibinong dan Bekasi. berusaha melihat keadaan hubungan sosial ekonomi dan gangguan SUTET yang dikeluhkan seperti yang diberitakan di media massa. (5) endokrin.republika. Anies Universitas Diponegoro (1993). Menurut Rea. dari hasil pengukuran ternyata kuat medan listrik dan kuat medan magnet dari SUTET masih jauh di bawah ambang batas rekomendasi WHO/IRPA sehingga dalam batas tertentu. menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara keterpaparan penduduk yang ada di sekitar maupun yang berada di bawah jaringan . Bergdahl dan Grant. SUTET tidak akan menimbulkan masalah kesehatan. (6) psikologis. Tim yang diketuai oleh Guru Besar Bidang Biologi Reproduksi FKUI. kebingungan.com diakses pada 26 Desember) Sebuah riset dilakukan selama 10 tahun terakhir oleh Tim Bagian Biologi FKUI. kulit meruam. (www. muka terbakar. gangguan tidur. menyebutkan bahwa penelitian sosiologi yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto (1995) serta Ganihartono (1995). (2) reproduksi. rasa mual dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya.com. kejang otot. Hal ini didukung dengan berbagai penelitian antara lain penelitian yang dilakukan oleh Dr. Berdasarkan Diktat Diklat yang dikarang oleh kumpulan pengajar Jasdik PLN Pusat tahun 2004. berhasil menemukan bahwa medan elektomagnetik yang ditimbulkan dari saluran kabel dan gardu listrik tegangan tinggi dan alat-alat listrik di rumah bisa berisiko terhadap kesehatan manusia.

keguguran. pusing. kelelahan. David C. bradycardia. dan seluruh kehidupan. (Jasdik PLN Pusat: 2004) Melihat adanya dampak dari aktivitas produksi perusahaan (corporation) yang besar pada masyarakat. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Budi Haryanto SKM. Karena setiap tindakan yang diambil korporasi membawa dampak yang nyata terhadap kualitas kehidupan manusia baik terhadap individu. Syarifudin Mahmudsyah M. Msc.swa. CSR muncul akibat tekanan . tachycardia. Selain itu. melukiskan bahwa dunia bisnis selama setengah abad terakhir telah menjadi institusi paling berkuasa. masyarakat. masyarakat menginginkan produk-produk yang ramah lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial dan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM).Eng dari Fakultas Elektro ITS mengenai dampak medan elektromagnetik akibat pemakaian tenaga listrik SUTET 500 kV di daerah Singosari. memunculkan pertanyaan mengenai tanggungjawab perusahaan atas lingkungan dan masyarakat sekitar.SUTET dengan penyakit yang dilaporkan atau tingkat kesehatan masyarakat.co. Balitbang Depkes RI (1995-1996). Hal ini menimbulkan kesadaran tentang pentingnya menerapkan tanggungjawab sosial terhadap stakeholder. Gresik serta Dharmahusada Indah Surabaya. diperoleh data bahwa kuat medan listrik dan kuat medan magnet masih jauh di bawah level toleransi berdasarkan standar IRPA dan INRC. tindakan yang dilakukan harus mengacu dalam rangka keeangka tanggungjawab tersebut. Diakses pada 26 Desember 2006) Dari fenomena inilah muncul tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ir. Masalah yang dihadapi penduduk lebih mengaraah kepada masalah psikologis dan tuntutan mendapatkan ganti rugi.id. susah tidur. (www. sehingga harus memperhatikan tanggungjawab untuk kepentingan bersama. Setiap keputusan yang akan diambil. Dr. Korten. indikasi tumor dan leukimia terhadap pajanan medan listrik dan medan magnet. Di sini terbukti sebuah korporasi atau perusahaan mempunyai tanggungjawab sosial terhadap stakeholder dan lingkungannya. Oleh karena itu muncul pula kesadaran untuk mengurangi dampak negatif tersebut. menunjukkan tidak ada korelasi antara gangguan kesehatan seperti sakit kepala.

Pemikiran ini didasarkan bahwa perusahaan tidak hanya berkewajiban ekonomis dan legal . pengembangan ekonomi dan badan usaha. yaitu: perlindungan lingkungan. jaminan kerja. kepemimpinan dan pendidikan. the local community and society at large to improve quality of life. pasar. perwakilan mereka. melainkan juga tanggungjawab sosial dan lingkungan. serta masyarakat lokal ataupun masyarakat luas. in ways that are both good for business and good for development‖. komunitas lokal dan masyarakat luas untuk memperbaiki kualitas hidup. Gagasan CSR menekankan bahwa tanggungjawab perusahaan bukan lagi sekadar kegiatan ekonomi (menciptakan profit demi kelangsungan usaha). Menurut World Council for Sustainable Development definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen berkelanjutan dari bisnis untuk berperilaku dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi. Definisi Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai sebuah konsep. CSR adalah komitmen bisnis sebagai kontribusi untuk keberlanjutan perkembangan ekonomi yang bekerja sama dengan pekerja. hak asasi manusia. interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat. Menurut versi Bank Dunia dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember11 Januari 2006 definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives. standart usaha.dan desakan berbagai organisasi semacam LSM karena terjadinya malpraktik di dunia bisnis. Corporate Social Responsibility (CSR) mempunyai definisi dalam beberapa versi karena implementasi yang dilakukan oleh perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya berbeda-beda. namun dalam perkembangannya masih juga terdapat konflik seperti yang telah dipaparkan di atas.PLN (Persero) sudah menerapkan CSR. 1. bantuan bencana kemanusiaan. tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama. dimana keduanya baik untuk bisnis maupun pengembangan. Pada dasarnya PT. sekaligus meningkatkan kualitas hidup karyawannya. Menurut Bank Dunia. perlindungan kesehatan.

Trinidad and Tobacco Bureau of Standard (TTBS) menyimpulkan bahwa CSR terkait dengan nilai dan standar yang dilakukan berkenaan dengan beroperasinya sebuah korporat.(shareholders).fajaronline. komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas (www. Dan menurut Tony Djogo (2005).co. tapi juga pada pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). (www. yang kemudian diilustrasikan dalam bentuk segitiga. Sedangkan menurut versi Uni Eropa Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is concept whereby companies intregate social and environmental concerns in their business operations and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basis‖ CSR merupakann konsep di mana perusahaan mengintegrasikan masyarakat dan lingkungan dalam kegiatan bisnis dan interaksi mereka. maka CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk bertindak etis. beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi. memenuhi kaidah-kaidah dan keputusan hukum dan menghargai manusia. bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup karyawan. dengan para stakeholder dengan dasar sukarela. yang jangkauannya melebihi kewajiban di atas. Diakses pada 29 Januari 2006). CSR adalah adanya segitiga dalam kehidupan stakeholders yang mesti diperhatikan korporasi di tengah usahanya mencari keuntungan. co. yaitu ekonomi. Menurut Elkington (1997) dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember – 11 Januari 2006. CSR adalah pengambilan keputusan yang dikaitkan dengan nilai-nilai etika. Dari berbagai definisi di atas. sejauh ini definisi yang banyak digunakan adalah pemikiran Elkington tentang triple bottom line.fajaronline.id Diakses pada 29 Januari 2006). . masyarakat danlingkungan. lingkungan dan sosial.id.

dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). model CSR membagi kewajiban perusahaan menjadi empat jenis tanggungjawab atau yang dikenal dengan model empat sisi. Hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Jeneiro Brazilia (1992). Selain kewajiban ekonomis dan legal. di antaranya adalah. korporat. ada kewajiban-kewajiban lain terhadap . (3) tanggung jawab sosial. artinya memperoleh laba bagi pemegang sahamnya. (1) ketersediaan dana.fajaronline. com. legal. maupun global. nasional. komunitas dan stakeholders yang terkait. (2) misi lingkungan. dan sebagainya).Gambar 1 Segitiga Dalam Kehidupan Stakeholders Social Lingkungan Ekonomi Sumber: Majalah SWA Edisi 29/XXI/19 Desember 2005 – 11 Januari 2006 2. yaitu adanya empat tanggungjawab perusahaan yang bersifat ekonomis. mematuhi peraturan dan hukum (berhubungan dengan lingkungan. Ada lima elemen sehingga konsep keberlanjutan menjadi penting. (4) terimplementasi dalam kebijakan (masyarakat. Diakses pada 25 Januari 2006). Menurut Chrysanti Hasibuan Sedyono (2004). dan pemerintah). baik lokal. menyetujui adanya perubahan pembangunan. Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai Kebijakan Perusahaan Keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri di sebuah kawasan. dan (5) mempunyai nilai keuntungan (www. atas kemampuan perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholders yang difasilitasi perusahaan tersebut dan menyusun program-program pengembangan masyarakat yang ada di sekitarnya.

dan biasanya dilakukan setelah mendapat tekanan dari pihak lain. yaitu ethical dimana perusahaan harus memnuhi kaidah-kaidah normatif. yaitu tanggung jawab yang sebenarnya tidak harus dilakukan. Kelompok merah adalah pengusaha yang mulai melaksanakan praktik CSR. Kelompok ini umumnya berasal dari kelompok satu (kelompok hitam) yang mendapat tekanan dari stakeholders-nya. termasuk kesejahteraan karyawan. Model tanggung jawab selanjutnya bersifat discretionary. Kelompok keempat. tidak membeda-bedakan ras dan gender. Kelompok ketiga adalah pengusaha yang menganggap praktik CSR akan memberi dampak positif (return) terhadap usahanya. dan menilai CSR sebagai investasi. seperti masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat. kemudian dengan terpaksa memperhatikan isu lingkungan dan sosial. Seperti berlaku fair. Seperti halnya investasi. biru dan hijau.stakeholders di luar pemegang saham. tetapi memandangnya hanya sebagai komponen biaya yang akan mengurangi keuntungan. kelompok hijau. Pengusaha ini menempatkan CSR sebagai nilai inti dan menganggap sebagai suatu . Oleh karena itu. Sehubungan dengan praktik CSR. merupakan kelompok yang sungguh-sungguh dan sukarela melaksanakan praktik CSR. Aspek lingkungan dan sosial mulai dipertimbangkan. Kelompok ini sama sekali tidak peduli pada aspek lingkungan dan sosial di sekelilingnya dalam menjalankan usaha. kelompok ini secara sukarela dan sungguh-sungguh melaksanakan praktik CSR dan yakin investasi sosial ini akan memperlancar operasional usaha. merah. Perusahaan akan mendapatkan image positif karena masyarakat menilai pengusaha tersebut membantu dengan sungguh-sungguh. bahkan tidak memperhatikan kesejahteraan karyawannya. yaitu pengusaha yang menjalankan bisnis hanya untuk kepentingan sendiri. dan tidak korupsi. tetapi atas kemauan sendiri misalnya pemberian beasiswaa. diantaranya: kelompok hitam. CSR jenis ini kurang berdampak pada pembentukan image positif perusahaan karena masyarakat melihat kelompok ini memerlukan tekanan sebelum melakukan praktik CSR. kelompok ini menganggap praktik CSR sebagai investasi sosial jangka panjang. transparan. bukan biaya. Kelompok hitam adalah pengusaha yang tidak melakukan praktik CSR sama sekali. menurut Rudi Fajar (2005) pengusaha dapat dikelompokkan menjadi empat. tetapi dengan terpaksa.

CSR dilakukan untuk memberi kesan korporasi yang peduli terhadap kepentingan sosial. agar perusahaan dapat terus beroperasi. perusahaan juga menjadikannya sebagai strategi bisnis. yaitu sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan. Selain menjadikan CSR sebagai visi dan misi. superficial. sosial dan kesejahteraan karyawannya serta melaksanakan prinsip transparansi dan akuntabilitas. menelaah ada dua motivasi utama yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. Hamann dan Acutt (2003). Kedua. yaitu kepercayaan bahwa ada nilai tukar (tradeoff) atas triple bottom line (aspek ekonomi. yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik. tidak memiliki modal yang harus dimiliki dalam menjalankan usahanya. karena 80% perusahaan menganggap CSR penting bagi perusahaan. Sebagai hasilnya. tumbuh dan berkembang bersam masyarakat. (www.89% responden memasukkan unsur-unsur CSR kemudian menjadikan CSR sebagai bagian dari visi dan misi perusahaan. 48. dari hasil survey yang dilakukan oleh majalah SWA dalam CSR Award 2005. dan menjadikannya sebagai modal sosial (ekuitas). Selainitu. legitimasi. Menurut Teguh S.keharusan. Ada beberapa alasan perusahaan menjalankan CSR. Kelompok ini juga memasukan CSR sebagai bagian yang terintegrasi ke dalam bisnis atas dasar kepercayaan bahwa suatu usaha harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial. pengusaha ini yakin bahwa tanpa melaksanakan CSR. lingkungan dan sosial). tetapi juga kepercayaan dari masyarakat yang selalu siap mendukung keberlanjutan usaha kelompok ini. yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana. Realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya. kelompok ini tidak saja mendapatkan image positif. akomodasi. . Pertama. strategi perusahaan.tempo. Pengusaha tersebut sangat memperhatikan aspek lingkungan. nilai tambah bagi stakeholders.com Diakses pada 29 januari 2006). implementasi nilai-nilai perusahaan serta karena alasan kewajiban. Pambudi (2005) dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. perusahaan-perusahaan di Indonesia banyak yang sudah menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR). bahkan kebutuhan. Oleh karena itu. dan parsial.

Protecting the environment. keenam. sebagai beyond compliance yaitu perusahaan merasa sebagai sebagian dari komunitas yang secara sadar dianggap sebagai sesuatu yang penting. Ketiga. dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. ada beberapa cara perusahaan dalam memandang aktivitas CSR antara lain: pertama. . d. hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan lingkungan. Sedangkan menurut Teguh S. yaitu memberdayakan ekonomi komunitas. Program yang Dijalankan Perusahaan dalam Corporate Social Responsibility (CSR) Menurut Teguh S. kegiatan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat. kelima. e. sebagai strategi perusahaan yang pada akhirnya dapat mendatangkan keuntungan. agar perusahaan dapat terus beroperasi. Pandangan lain tentang CSR oleh Prince of Wales International Business Forum yang dipromosikan oleh IBL (Indonesia Business Links) dalam SWA edisi26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006 lewat pilar antara lain: a. Encouraging good governance. cara perusahaan memandang CSR ada tujuh yaitu: pertama. sebagai kewajiban dan tanggung jawab perusahaan. ketiga. Assessing social cohession. meningkatkan citra perusahaan. sebagai compliance atau kewajiban karena akan ada hukum yang memaksa untuk menerapkan konsep CSR tersebut. Strengthening economies. yaitu menyangkut kemampuan perusahaan untuk memiliki dukungann sumber daya manusia yang handal (internal) dab eksternal (masyarakat sekitar). lingkungan. c. dan terakhir. artinya perusahaan harus menjaga kelestarian lingkungan. dan ekonomi.Menurut Darwina (2005). kedua. implementasi nilai-nilai perusahaan. artinya perusahaann dijalankann dalam tata pamong yang baik. Building Human Capital. Pambudi (2005). yaitu perusahaan menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan konflik. program-program CSR yang dijalankan perusahaan meliputi bidang sosial. keempat. Kedua. program untuk menjadikan masyarakat lebih mandiri. 3. Pambudi (2005). b.

serta pemberdayaan dan pengembangan tenaga kerja lokal. yayasan yang bekerjasama dengan pihak ketiga. Di sini perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholders. Di komunitas. 6-7 tahun. pengelolaan limbah. penekanan yang signifikan diberikan pada kepentingan stakeholders perusahaan. stakeholders . Pelaksanaan proram-program CSR dapat dilakukan perusahaan dengan cara bekerja sama dengan pihak lain. CSR dipraktekkan dalam tiga wilayah atau area antara lain: di tempat kerja. sumbangan sosial untuk bencana alam. kemitraan dalam penyediaan kebutuhan dan bahan baku produksi. pengembangan agrobisnis. menciptakan nilai tambah (value added) dari produk. Program-program CSR yang dijalankan perusahaan dalam bidang ekonomi antara lain: pemebrdayaan dan pembinaan UKM dan pengusaha. Stakeholders Dalam prinsip responsibility. sekolah binaan serta pendidikan dan pelatihan teknologi informasi. pengelolaan fisik agar lebih asri. Sedangkan program CSR dalam bidang lingkungan adalah pembinaan dan kampanye lingkungan hidup. 4. yayasan milik perusahaan. 1-2 tahun. pihak ketiga dan dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. antara lain dengan memberikan beasiswa dan pemberdayaan ekonomi terhadap lingkungan. antara lain pelestarian lingkungan dan pross produksi yang ramah lingkungan. kredit pembiayaan dan bantuan modal untuk pengembangan usaha. pembangunan dan renovasi sarana sekolah. 8--10 tahun serta lebih daari 11 tahun. pengembangan skill karyawan dan kepemilikan saham. Menurut Sita Soepomo (2004). Menurut Gurvy Kavei dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. seperti aspek keselamatan kerja. dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. 3--5 tahun. pembangunan sarana air bersih. beasiswa pendidikan.Program-program bidang sosial antara lain: pelayanan dan kampanye kesehatan. penanaman pohon atau penghijauan dan pertanian anorganik. Program-program CSR ini biasanya dijalankan dalam waktu yang berbeda-beda sesuai dengan perusahaann masing-masing: kurang dari 1 tahun.

lingkungan yang berpengaruh langsung terhadap perusahaan adalah pihak yang berkepentingan (stakeholders) dibagi menjadi dua. dan pemerintah sebagai regulator. e) Lembaga konsumen. bertindak untuk membantu dan melindungi industri dengan peraturan dan undang-undang. masyarakat. 2. lingkungan sekitar. konsumen. terdiri dari: a) Karyawan. pelanggan bisa perorangan maupun lembaga. Eksternal stakeholder Pihak yang berkepentingan eksternal antara lain: a) Pelanggan. b) Pemegang saham dan dewan direksi. contoh: lembaga perlindungan konsumen. pemasok. Menurut J. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpedoman pada single bottom line. Tetapi tanggung jawab perusahaan harus berpedoman pada triple bottom lines. dengan keterampilan dan pendidikan yang memadai akan sangat membantu dunia usaha dalam menjalankan usahanya. struktur yang mengatur perusahaan publik yang memungkinkan pemegang saham untuk . d) Kelompok khusus. bank. berkenaan dengan penentuan upah kondisi kerja dan sebagainya. misalnya. Sudarsono (2002). g) Lembaga keuangan. CSR sebagai sebuah gagasan. Termasuk di dalamnya adalah karyawan. yaitu: 1. b) Pemasok. c) Pemerintah. misalnya pecinta alam yang peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan. Di sini bottom lines selain finansial adalah soal dan lingkungan. lembaga sewa guna yang dapat membantu dalam pemenuhan modal. f) Serikat pekerja.perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. Internal stakeholder Pihak yang berkepentingan internal atau stakeholder. dengan adanya faktor-faktor produksi memungkinkan dunia usaha melakukan kegiatan produksi. yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. menukarkan sumber daya dengan barang atau jasa yang dihasilkan oleh dunia usaha. dengan memperhatikan dan membela hak konsumen.

Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) adalah transmisi tenaga listrik yang menggunakan konduktor di udara bertegangan nominal 275 kV dan 500 kV yang selanjutnya disebut SUTET. Gambar 2 Model Stakeholder dalam Sebuah Perusahaan Pelanggan Manajemen Komunitas Lokal Perusahaan Pemasok Karyawan Konsumen Sumber : Pengantar Ekonomi Perusahaan (2002) 5. Kedua. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. Sedangkan transmisi tenaga listrik adalah penyaluran tenaga listrik dari suatu pembangkitan ke suatu sistem distribusi atau kepada konsumen. . Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) didasarkan pada Pasal 8 UU No. Industri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik Menurut Rancangan Undang-Undang Tentang Ketenagalistrikan. pengoperasian. pengelola pasar dan pengelola sistem. pembangunan. Pertama. penjualan. agen penjualan. 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. pengujian. distribusi. pemasangan. usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang. dan pemeliharaan instalasi. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi. serta jasa terkait lainnya.mempengaruhi suatu perusahaan dengan menggunakan hak suara. transmisi.

sehingga gerakannya akan makin cepat dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya ionisasi di udara. Proses ini akan terus berjalan selama ada arus pada jaringan tegangan tinggi yang mengakibatkan ion dan elektron menjadi berlipat ganda terlebih lagi bila gradien tegangannya cukup tinggi. akan terpengaruh oleh adanya medan magnet dan medan listrik. elektron yang membawa arus listrik pada jaringan tegangan tinggi akan bergerak lebih cepat bila perbedaan tegangannya makin tinggi. Secara teoritis. Elektron yang membawa arus listrik pada jaringan interkoneksi dan juga pada jaringan transmisi. Udara yang lembab karena adanya pohon di bawah jaringan tegangan tinggi akan lebih mempercepat terbentuknya pelipatan ion dan elektron yang disebut dengan avalanche. . Konduktor adalah pilihan kawat yang dipergunakan untuk menyalurkan energi listrik. Elektron bebas yang terdapat dalam udara dim sekitar jaringan tegangan tinggi. akan menyebabkan timbulnya medan magnet maupun medan listrik. Akibat ion yang menggandakan diri dan elektron ini (peristiwa avalanche) akan menimbulkan korona berupa percikan busur cahaya yang disertai pula dengan suara mendesis dan bau khusus yang disebut dengan bau ozone.atau penyaluran tenaga listrik antar sistem. Ionisasi terjadi karena elektron sebagai partikel yang bermuatan negatif dalam gerakannya bertumbukan dengan molekul-molekul udara sehingga timbul ionisasi berupa ion-ion dan elektron baru. Peristiwa avalanche dan timbulnya korona akibat adanya medan magnet dan medan listrik pada jaringan tegangan tinggi inilah yang sering disamakan dengan radiasi gelombang elektromagnet atau radiasi tegangan tinggi.

telah menetapkan batas aman sebesar 0. GigaWatt Tahun Series1 .2 mikro Weber/m2. Adanya perbedaan penetapan batas aman ini disebabkan oleh penelitian mengenai dampak radiasi tegangan tinggi terhadap manusia masih belum selesai dan terus dilakukan.Gambar 3 Grafik Perkembangan Daya Listrik Grafik 14 12 10 8 6 4 2 0 1958/69 1973/74 1978/79 1983/84 1988/89 1993/94 Amerika Serikat sebagai negara industri yang banyak menggunakan jaringan tegangan tinggi. Sedangkan Rusia menetapkan batas aman radiasi tegangan tinggi dengan faktor 1000 lebih rendah dari yang telah ditetapkan Amerika Serikat.

makhluk hidup lain maupun benda apapun demi keselamatan orang. makin besar ayunan kawat penghantar ke kiri atau ke kanan. Kenaikan suhu tersebut disebabkan oleh suhu keliling dan suhu yang diakibatkan oleh besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar. makin besar tekanan angin. hal ini sudah diperhitungkan pada saat mendesaian SUTET tersebut. kekuatan angin dan suhu di sekitar penghantar antara lain: (1)Tegangan. makhluk dan benda lain tersebut demikian pula keamanann dari SUTET itu sendiri. Faktor-faktor yang menentukan Ruang Bebas dan Ruang Aman adalah tegangan.6. Bahaya Listrik pada Tegangan Ekstra Tinggi Bahaya listrik pada tegangan ekstra tinggi yang paling dominan adalah gradien tegangan ekstra tinggi itu sendiri terhadap makhluk hidup maupun terhadap benda-benda lain yang berada pada daerah sekitarnya. penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengnai populasi atau bidang tertentu. Ruang tersebut harus dibebaskan dari orang. Sebagai contoh Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dimana saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (penghantar) di udara bertegangan di atas 245 kV sesuai dengan standart di bidang ketenagalistrikan. Penulisan ini berusaha . dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7). Ruang bebas adalah ruang di sekeliling penghantar (kawat listrik) SUTET yang besarnya tergantung besarnya tegangan. sehingga andongannya menjadi lebih besar. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. makin besar suhu yang mempengaruhi kawat penghantar makin mengendor kawat penghantar tersebut. makin besar tegangan yang bekerja pada penghantar makin besar jarak bebas minimum (clearance) yaitu jarak terpendek antara kawat penghantar dan benda atau kegiatan lainnya sesuai dengan yang tertera pada table. (2) Angin. METODE Berdasarkan jenis data dan analisis yang digunakan. tekanan angin dan suhu penghantar. dan (3) Suhu kawat penghantar. Ruang aman adalah ruang yang berada di luar ruang bebas yang tanahnya masih dapat dimanfaatkan.

Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. berupa publikasi (Supranto. Kepala Kelurahan Purwodadi. Dalam penulisan ini data primer diperoleh dari Kepala PLN Kota Malang. membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. Pada metode ini peneliti hanya memindahkan data yang relevan daaari sumber informasi atau dokumen yang diperlukan. Sedangkan data sekunder atau data pendukung yaitu. menguji hipotesis. Penulisan ini dimaksud untuk mendeskripsikan mengenai penerapan CSR dalam mengatasi konflik SUTET. Kepala Kelurahan Purwodadi. Wawancara Menurut Nazir (199:234) adalah memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatap muka antara pewawancara dengan responden. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tiddak bermaksud mencari penjelasan. Penulisan ini menggunakan data kualitatif. 1997:6).1997:6). Wawancara dilakukan dengan Kepala PLN Kota Malang. Data tersebut berupa informasi dari studi pustaka berupa majalah. buku-buku dan hasil penelitian yang mendukung. dan warga yang tinggal di sekitar SUTET di Kelurahan Purwodadi. Berdasarkan tujuan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Menurut Subagyo (1997:106) analisis kualitatif adalah analisis yang dilakukan terhadap data yang berupa informasi. yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau pernyataan berupa data primer dan data sekunder. uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap . Data primer yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan atau langsung melalui objeknya (Supranto. penulis menggunakan metode: 1. serta artikel atau tulisan yang diakses dari internet. data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi. Datadata yang dihimpun merupakan data yang berhubungan dengan berbagai hal mengenai Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan Corporate Social Responsibility (CSR). 2.menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). serta warga Kelurahan Purwodadi. Dokumentasi Yaitu membaca laporan penelitian-penelitian sebelumnya serta artikel yang diakses dari internet. koran.

pangan. Kemudian pada I Januari 1961 dikembangkan menjadi BPU Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan 28 Desember 1964 dibentuk PLN dan Perusahaan Gas Nasional (PGN). Sejak tahun 1945 jasa ketenagalistrikan di Indonesia ditangani oleh negara.suatu kebenaran sehingga memperoleh gambaran baru. serta sebagai pendorong dalam berbagai kegiatan ekonomi. PLN Persero Listrik telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan primer. dengan konsekuensi berorientasi pada profit meskipun tidak bisa lepas dan tugas negara sebagai penyedia jasa layanan listrik bagi masyarakat. Terbukti dengan disahkannnya UU No 20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan yang salah satu tujuannya adalah agar listrik lebih cepat menjangkau seluruh wilayah Indonesia. . Sehingga beban Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia menjadi berkurang. Namun pada tahun 1992 pihak swasta mulai diperbolehkan turut serta dalam bisnis penyediaan listrik sehingga monopoli PLN dalam bisnis tersebut berkurang. Tujuan pemerintah melakukan restrukturisasi sekaligus liberalisasi ketenagalistrikan dilatarbelakangi oleh adanya pemikiran bahwa penyediaan listrik nasional harus diselenggarakan secara efisien melalui transparansi dan kompetisi dalam iklim usaha yang sehat dengan cara memberikan peluang yang sama kepada para pelaku usaha ketenagalistrikan. Listrik merupakan salah satu infrastruktur yang menjadi tumpuan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Tahun 1972 PLN berstatus sebagai perusahaan umurn (Perum) dan pada Juni 1994 berubah lagi menjadi perusahaan perseroan (Persero) sampai sekarang. HASIL Gambaran Umum Perkembangan PT. yakni sandang. dan pada 27 Oktober 1945 dibentuk Jawatan Listrik dan Gas. dan pagan. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang. Analisis ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data dari kelompok subjek yang diteliti.

Bentuk-bentuk CSR yang diterapkan oleh PT. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. Bidang sosial antara lain dengan memberikan asuransi kebakaran. distribusi. lingkungan dan ekonomi. PLN (Persero) didasarkan pada Pasal 8 UU No 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. Dalam bidang ekonomi yaitu melakukan penghematan biaya operasional sehingga meringankan beban masyarakat karena tidak perlu membayar listrik dengan harga tinggi dengan meningkatkan kemampuan pembangkit-pembangkit energi terbaru yang ada. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan dan merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalarn upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. ekonomi. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. Sehingga CSR diperlukan agar kegiatan operasional PLN dapat berjalan dengan baik.Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. Dalam bidang lingkungan seperti perbaikan sarana ibadah dan sekolah. PLN (Persero) mempunyai tanggung jawab yang tidak mudah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu dalam hal penyediaan tenaga listrik di berbagai kebutuhan industri. Pertama. Memberikan pinjaman dana dari koperasi. agen penjualan. perdagangan. usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang. penjualan. PLN (Persero) selama ini meliputi bidang sosial. sebagai dampak karena sudah memanfaatkan sumberdaya. PLN (Persero) dalam Mengatasi Konflik SUTET PT. yaitu seluruh pihak yang berkepentingan di dalamnya. pemberian beasiswa bagi putra-putri karyawan dalam lingkup internal PLN dan pemberian dana tali asih. membuat peta potensi energi terbarukan yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara komersial. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi. pemerintahan dan masyarakat luas. pengelola pasar. transmisi. pembangunan. Setiap kegiatan maupun program yang dijalankan oleh PLN harus mempunyai tanggung jawab kepada stakeholders. Program PT. pemasangan. Kedua. melakukan studi-studi kelayakan tentang aspek teknis dan ekonomis energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar minyak. membangun pembangkit energi terbaru berdasarkan hasil-hasil studi kelayakan yang sudah ada. dan program pencarian sumber-sumber pendanaan. . dan pengelola sistem.

pengujian. Sebagai contoh salah satu konflik yang ditimbulkan akibat SUTET adalah saat ini lahan yang tersedia semakin sempit akibat pesatnya perkembangan di segala bidang. Untuk memenuhi penyediaan tenaga listrik agar distribusi listrik tersebut dapat met jangkau seluruh masyarakat maka diperlukan suatu interkoneksi yang disebut Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). leukimia. serta jasa terkait lainnya. Oktober 1995 menyebutkan bahwa paparan medan elektromagnetik yang sedikitpun pada tubuh manusia dapat menimbulkan gangguan dalam jangka panjang. dan hak asasi manusia juga sangat berpengaruh terhadap sektor ketenagalistrikan. Selain itu juga tidak adanya sosialisasi tentang dampak negatif yang mungkin timbul di kemudian hari. demokratisasi. terdapat isu beredar yang menyebutkan bahwa radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker. seperti daerah pemukiman yang tepat. DI sisi lain. Laporan Dewan Perlindungan Radiasi Nasional AS. kendala dalam berbagai bentuk selalu dihadapi. juga timbul permasalahan antara lain dalam hal kesehatan maupun ekonomi. . baik masyarakat lokal. kemandulan.edu.hamline. (www. Di samping itu. sehingga jalur yang dilalui SUTET kemungkinan tidak dapat menghindari clan terpaksa harus melewati daerah dengan keadaan tertentu. dan pemeliharaan instalasi. Selama in] keberadaan industri ketenagalistrikan telah memberikan dampak yang positif bagi para stakeholders. Dalam hal kesehatan misalnya. Kesadaran kolektif yang terbangun karena tinggi dan bebasnya arus infomasi selama ini telah menimbulkan berbagai permasalahan di sektor ketenagalistrikan. pengoperasian. Diakses pada 6 Februari 2006). Namun demikian dalam pelaksanaannya. Kendala dan hambatan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan terjadinya konflik terutama dengan masyarakat lokal. lndustri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik. Begitu juga pertumbuhan penduduk yang cukup besar. juga kelainan otak dan resiko serangan jantung. penurunan kekebalan tubuh. isu-isu mengenai lingkungan hidup. Kegiatan di sektor ketenagalistrikan sangat berkaitan dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah. pemerintah daerah maupun bagi kepentingan nasional secara keseluruhan. lambatnya pertumbuhan.

Bahkan masyarakat mengatakan berbagai penderitaan akibat SUTET. Bahkan di beberapa daerah telah terjadi aksi mogok makan dan jahit mulut sebagai aksi menuntut ganti rugi yang menurut masyarakat dirasakan kurang. Cirebon. karena tanah milik warga yang dilalui jaringan SUTET mempunyai nilai jual yang rendah dan dianggap berbahaya akibat adanya radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET. yaitu telah ada yang meninggal dunia ketika hujan turun tepat di bawah tiang listrik. . masyarakat berusaha menggergaji dan menggali menara listrik yang melintasi pemukiman mereka. Hal ini dikarenakan sejak SUTET tersebut dibangun sampai masyarakat tinggal di daerah tersebut selama 20--30 tahun belum memberikan efek yang benar-benar berarti. (Pikiran Rakyat. (Pikiran Rakyat. perusakan menara SUTET oleh korban lainnya sebelumnya terjadi di Desa Cisaat Kec. Kec. 21/1/06).Setelah peneliti melakukan observasi di salah satu kelurahan. yaitu Kelurahan Purwodadi. Apa yang dilakukan masyarakat itu sebagai wujud kekecewaan atas sikap PT. badan dana anak-anak UNICEF serta Komnas HAM. Kecamatan Blimbing. Konflik lain yaitu terjadi pada 20 Januari 2006 yang baru lalu sekitar 200 warga Kampung Nagrak Desa Nanjung Mekar Kec. Bogor. misalnya ketika permukiman warga Kabupaten Gresik. Jatim. Di desa Waringin Jaya. Konflik akibat SUTET tersebut sudah terjadi di berbagai daerah. Banyak keluarga memilih tidur di bawah tenda sebagai pernyataan protes. 22/1/06). PLN (Persero) yang tidak mau bekerjasama saat pembangunan SUTET dan kurang mengkomunikasikan proyek tersebut kepada masyarakat. bahkan mereka mengirimkan surat kepada badan kesehatan dunia WHO. Waled Kab.Bojonggede Kab. dibangun saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 500 KV tahun 1995. Konflik akibat SUTET dalam hal ekonomi adalah banyaknva masyarakat yang menuntut ganti rugi atas tanah yang dirasakan kurang. Bandung melakukan aksi pembakaran ban di bawah tower SUTET dan membongkar sebuah besi penyangga tower yang berkekuatan 500 kV. Kota Malang (2006) menunjukkan bahwa pengaruh radiasi elektromagnetik dapat dirasakan dalam jangka panjang. Rancaekek Kab. Tidak adanya sosialisasi mengenai dampak negatif SUTET juga mendorong timbulnya konflik.

Di samping itu juga terdapat dampak buruk jika SUTET tidak dibangun antara lain: daya dari pembangkit non BBM yang akan dibangun tidak tersalurkan. Dari berbagai masalah yang timbul seperti di atas dapat dikatakan bahwa akar permasalahan hanya dua yaitu tuntutan ganti rugi yang kurang dan masalah kesehatan. Selain itu juga bisa dijerat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 408 dan pasal 406. akan terjadi pemadaman listrik yang meluas di wilayah Jawa-Bali. Selain itu perusakan instalasi SUTET termasuk tindakan sabotase negara. permintaan tambah daya konsumen sulit dipenuhi. Karena masyarakat yang mencoba melakukan perusakan tower SUTET bisa dijerat UndangUndang (UU) No. Peraturan ini menyatakan bahwa . Karena. Pada tahun 1992 dikeluarkan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No. 151/1985. Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No.K/47/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. Hal ini tidak hanya merugikan PLN yaitu berkurangnya profit karena jika terjadi pemadaman total maka akan menghambat segala aktivitas yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat sendiri.P/47/MPE/1992 tentang Ruang Bebas bagi Penyaluran Tenaga Listrik. keandalan sistem menurun (kemungkinan blackout sangat besar). dan pertumbuhan sentra industri terhambat yang akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. dengan ancaman hukuman penjara masing-masing empat tahun penjara dan dua tahun delapan bulan. Karena perbuatan itu termasuk kategori membahayakan obyek vital dan strategis milik negara dengan ancaman pidana hukuman seumur hidup atau pidana mati. pelaksanaan UU No. daya listrik yang disalurkan terbatas. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No OI. I tahun 2002 tentang Terorisme. 15 Tahun 2003. Hal ini terjadi karena ada perbedaan dasar hukum yang dijadikan pedoman antara masyarakat dengan PLN.OI. 151985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. rawan terhadap pemadaman. akibatnya akan melumpuhkan perekonomian dan menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan. bila tower SUTET 500 k\ sampai roboh atau rusak. penambahan pelanggan baru sulit dipenuhi.Konflik-konflik tersebut di atas akan sangat merugikan kedua belah pihak baik masyarakat maupun PLN.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975.

Terkait dengan ganti rugi dan kompensasi. PLN akan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. karena hanya memberi ganti rugi dan membebaskan tanah. Apabila dalam kasus SUTET tidak diajukan judicial review. Departemen ESDM dan PT PLN (Persero). Tim inilah yang ditugaskan untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di lapangan melalui dialog intensif. bangunan dan tumbuh-tumbuhan di atas tapak penyangga SUTET. Kejaksaan Agung. Depkes. PLN maka PT.01. Peristiwa di atas menuntut PT. Depkum dan HAM. Kantor Menneg LH. Depkominfo. yang nada pokoknya berisi.pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan tidak diwajibkan untuk memberikan ganti rugi selama bangunan atau benda apa pun tidak termasuk ke dalam ruang bebas atau dengan kata lain bangunan benda berada di ruang aman. para korban tetap dapat mengajukan tuntutan atas dasar wanprestasi. Depdagri. Tanggung jawab tersebut adalah terhadap kesehatan manusia dan atau meninggal dunia serta atas kerusakan rumah dan atau barang-barang elektronik atau alat-alat rumah tangga lainnya.P/47/MPE/1992 diubah oleh Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No-975 K/47/MPE/1999. PLN dan elemen masyarakat. PLN telah membuat dan menandatangani surat jaminan. Baik Permentamben tahun 1992 maupun Kepmentamben tahun 1999 isinya adalah bertentangan dengan Pasal 12 UU No. BPN. baik karena kelalaian atau kesalahan PT. Mabes Polri. Kantor Menneg BUMN. 15 Th 1985. PLN (Persero) sudah memberikan semacam dana tali asih dan pinjaman dana dari koperasi kepada . Depkeu. PLN telah melaksanakan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah dan selalu mengutamakan kepentingan dan keinginan masyarakat. Tim ini terdiri dari Kantor Menko Polhukam. penyuluhan dan upaya-upaya lainnya. karena PT. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan membentuk joint team yang terdiri dari pemerintah. PT. PLN (Persero) untuk mengambil langkah penyelesaian sebagai wujud dari tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. apabila dikemudian hari terjadi kecelakaan yang sesuai hasil penelitian disebabkan oleh keberadaan SUTET 500 kV. Pada tahun 1999 Permentamben No. Sebagai niat baik dan peduli terhadap lingkungan yang terkena proyek untuk publik ini.

Diakses pada 28 lanuari 2006) Oleh karena itu. PLN (Persero) sendiri telah membuat pagar pembatas untuk menjaga ruang bebas dan jarak aman serta secara periodik melakukan pengukuran kuat medan listrik dengan menggunakan alat Elektromagnetic Field Meter.5 meter harus membebaskan tanah di bawah kabel listrik. PLN menganjurkan pada masyarakat agar mengusahakan rumah berlangit-langit (plafon). jika sebelumnya dengan bentangan di menara setinggi 8.masyarakat yang tempat tinggalnya dilalui jaringan SUTET. dan lebih baik jika menanam pohon sebanyak mungkin di sekitar rumah. PLN meninggikan bentangan kabel listrik. kuat medan Iistrik di bawah SUTET di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah. Bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang lain adalah dilakukan pengukuran berkala. maka dengan meninggikan sampai 22. Hal ini ditujukan agar masyarakat mampu meningkatkan kualitas hidupnya. upaya untuk meminimalkan dampak negatif radiasi elektromagnetik ini yaitu dari penelitian yang telah dilakukan. maka ruang setinggi 14 meter di atas tanah dianggap aman.com. Selain itu. dan pemberian penyuluhan tentang aturan jarak aman kepada masyarakat.1 m Tesla untuk medan magnet. Penyuluhan ini biasanya diberikan PT. PLN pada saat awal pengoperasian SUTET. tetapi penyuluhan ini juga dapat diberikan pada kesempatan lain jika masyarakat membutuhkanya. Selain itu dengan adanya peraturan Menteri Pertambangan dan Energi tentang ruang bebas untuk SUTET tahun 1992 pihak PT.5 meter SUTET. Menurut WHO (World Health Organization) ambang batas kekuatan medan listrik dan medan magnet yang tidak membahayakan tubuh manusia sebesar 5 kV/m untuk medan listrik dan 0. Penyuluhan MI bertujuan memberikan pengertian yang benar tentang pengaruh medan listrik dan medan magnet sehingga masyarakat yang bermukim di sekitar sarana transmisi ini memiliki persepsi yang benar dan rasa aman tinggal di sekitarnya. .republika. Dan jika tidak ada kepentingan tidak dianjurkan berada di luar rumah di bawah SUTET pada malam hari karena pada saat itu arus yang mengalir pada kawat penghantar SUTET lebih tinggi daripada siang hari. (www. terutama pada lahan-lahan yang kosong. PT.

Sedangkan dampak negatifnya adalah adanya bahaya kesehatan oleh radiasi elektromagnetik. berbagai penelitian dan jalan keluar untuk mengatasi konflik SUTET ini sangat diperlukan. Untuk konflik SUTET terutama yang menyangkut masalah ganti rugi sebaiknya pihak pemerintah mengeluarkan suatu dasar hukum yang sama dan jelas sehingga tidak menimbulkan konflik dan tidak akan merugikan kedua belah pihak yaitu masyarakat dan PT. Alasannya. tidak hanya mendapat tentangan dari masyarakat sekitar. namun bentuk CSR tersebut ternyata belum memberikan dampak yang nyata karena masih banyak terjadi konflik di berbagai daerah. jika menggantungkan pada finansial saja. tetapi juga tanggung jawab sosial dan lingkungan. sehingga . PLN merupakan bukti bahwa PT. Dalam pembangunan sarana ketenagalistrikan. BAHASAN CSR menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi. Dampak positif tersebut antara lain dapat meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Dari berbagai konflik yang timbul akibat keberadaan SUTET dapat dikatakan bahwa akar permasalahannya yaitu tuntutan ganti rugi yang dirasakan masih kurang oleh masyarakat dan adanya ancaman bahaya kesehatan. PLN (Persero). PLN memiliki tanggung jawab sosial atau CSR. _yaitu menciptakan profit demi kelangsungan usaha. Hal ini dikarenakan perusahaan yang hanya mementingkan keuntungan finansial dan mengabaikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Karena selama ini dasar hukum pemberian ganti rugi yang menjadi pedoman masyarakat dan PT. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut apa yang sudah diterapkan PT. tidak menjamin perusahaan akan berkembang secara berkelanjutan. masih belum dapat menyelesaikan secara tuntas konflik-konflik yang terjadi antara masyarakat dengan PT. tetapi juga tekanan dari LSM. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. Untuk itu. PLN tidak sama.Namun dari berbagai bentuk CSR yang sudah diterapkan untuk mengatasi masalah SUTET. akan mempunyai dampak positif maupun negatif seperti yang telah dijelaskan dalam poin di atas. PLN.

P/47/MPE/1992 lebih rendah dari jumlah ganti rugi yang tertuang dalam UU No. Untuk itu. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No Ol. jumlah ganti rugi dari kedua dasar hukum ini berbeda yaitu dasar yang dijadikan patokan oleh PT. PLN (Persero).K147/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. Sehingga nantinya tidak akan terjadi masalah di kemudian hari pada saat proyek SUTET tersebut mulai dikerjakan. maka suatu saat terjadi masalah maupun konflik. PLN. jika pihak PLN memberikan sosialisasi secara transparan dan menyeluruh.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975. PT. PLN yaitu Permentamben No O1. PLN (Persero) sangat perlu untuk segera memberikan informasi yang sebenarbenarnya. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi kurang tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang dampak negatif dan bahaya yang ditimbulkan akibat pembangunan proyek SUTET. dan masing-masing mempunyai pandangan sendiri. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat sebagai Wujud tanggung jawab perusahaan dalam hal kesehatan.tidak ada kesepakatan antara kedua pihak. Namun. Selama ini masyarakat yang areal pekarangan dan sawahnya telah dibangun tower dan akan dilalui jaringan. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No. atas potensi dampak yang mungkin muncul dari proyek tersebut. Jaminan kesehatan ini diberikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar area yang dilalui jaringan SUTET. Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No. PLN (Persero) harus menetapkan batasan-batasan . Masalah utama dalam konflik SUTET yaitu selain kurangnya ganti rugi yang diberikan yaitu berkaitan dengan masalah kesehatan. yaitu masyarakat yang sakit dan diduga disebabkan karena radiasi elektramagnetik. 151/1985.15/1985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. manajemen PT. PLN (Persero) dapat menerapkan salah satu bentuk CSR misalnya berupa jaminan kesehatan. Pada kenyataannya. sejauh ini belum memperoleh sosialisasi secara transparan tentang kemungkinan dampak buruk yang terjadi akibat pembangunan SUTET. masyarakat akan berusaha mencari solusi bersama-sama dengan pihak PT. Dalarn hal ini PT. sangat diperlukan kesamaan dasar hukum sehingga akan memiliki persamaan pandangan antara masyarakat dan PT. 15 Tahun 1985. Oleh karena itu.

PLN (Persero) pada umumnya masih bersifat hibah dan bukan merupakan program rutin. misalnya pemberian kredit dan pemberian dana tali asih.5 m. dr. PKK yang menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. rasa mual.2 m. (4) kurdiovaskuler.yang jelas misalnya PLN hanya akan memberikan jaminan kesehatan tersebut jika masyarakat yang sakit tersebut benar-benar disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang menurut berbagai penelitian antara lain menurut WHO. Artinya jika tegangan di kawat jaringan sebesar 20 kV maka jarak amanya adalah 20 cm atau 0. serta gangguan kejiwaan berupa depresi. (5) endokrin. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome). Untuk transmisi SUTET aturan jarak aman vertical (C) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 4. maka ini akan dapat melibatkan hubungan kemitraan .5 m dan untuk 500 kV adalah 9. pening (dizziness). Sehingga jika suatu saat ada masyarakat yang mempunyai penyakit atau gejala di atas harus mendapat jaminan kesehatan walaupun mungkin penyakit tersebut bukan karena radiasi elektromagnetik. dan (7) hipersensitivitas dengan gejala jantung berdebar-debar. gangguan tidur.com Diakses pada 26 Desember 2006). gangguan konsentrasi. Jika hal tersebut sudah dilakukan secara rutin dan menjadi salah satu program aktivitas PT. untuk 275 kV adalah 7. PLN. Kegiatan yang dilaksanakan oleh PT. muka terbakar. yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache). telinga berdenging. misalnya penyakit yang menyerang 1) darah. Selain itu penyuluhan dan sosialisasi mengenai jarak aman kepada masyarakat harus selalu diberikan. kebingungan.5 m. untuk 150 kV adalah 5.pikiranrakyat . Anies. kejang otot. untuk 150 kV adalah 10 m.id Diakses pada 7 Februari 2006). M.Kes. untuk 275 kV adalah 13 m dan 500 kV adalah 17 m (www. (6) psikologis.5 m. Sedangkan jarak aman horizontal dari as/sumbu menara (D) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 7 m. Atau menurut hasil penelitian Dr. (2) reproduksi.co. (3) syaraf. kulit meruam. (www.pln. dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya. misalnya untuk jaringan tegangan menengah dan rendah (JTM/JTR) di daerah tersebut dapat digunakan rumus sederhana. yaitu I kV = 1 cm.

antara pihak PT. PLN dengan masyarakat. Untuk itu tanggung jawab sosial perusahaan diperlukan agar menciptakan keseimbangan dan keberlanjutan hidup dan jalinan kemitraan timbal balik antara perusahaan dan stakeholders. Disini PLN menjadikan masyarakat sebagai mitra, sehingga PLN mempunyai program kegiatan dalam upaya pemberdayaan untuk mendukung kesejahteraan dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. Sehingga antara masyarakat dan PLN terjalin hubungan yang baik dan saling mendukung selama kegiatan tersebut tidak menimbulkan masalah dan dampak negatif. Kemitraan ini bisa tercipta antara lain melalui program yang berupa ekonomi kerakyatan yaitu, PLN menjadi mitra masyarakat dalam hal pemberian hibah untuk kredit usaha. Bentuk-bentuk CSR tersebut dl atas mungkin tidak sepenuhnya dapat mengatasi masalah, namun paling tidak dapat mengurangi adanya konflik SUTET. Agar program-program CSR seperti di atas dapat berjalan dengan lancar, maka sangat diperlukan hubungan maupun kerjasama yang baik antara PT. PLN (Persero), masyarakat, dan Pemerintah, serta seluruh stakeholdernya. Aktivitas CSR yang dilakukan oleh PT. PLN Persero tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga pihak PLN itu sendiri. Manfaat yang diperoleh masyarakat dengan dilaksankannya program CSR oleh PLN misalnya, dapat mengembangkan usaha mereka melalui hibah untuk kredit usaha, adanya jaminan kesehatan, dan masyarakat mendapatkan ganti rugi serta kompensasi atas tanah milik mereka sesuai dengan kesepakatan.Selain itu, aktivitas masyarakat juga tidak akan terganggu karena adanya pemadaman total akibat perusakan tower SUTET. Bagi PT. PLN Persero sendiri, kegiatan operasional perusahaan tidak akan terhambat dan selalu mendapat dukungan dari masyarakat, dan akhirnva tercipta hubungan yang baik antara masyarakat dengan pihak PLN. Di sisi lain, image perusahaan dalam pandangan masyarakat akan tetap baik dan selalu mendapatkan respon yang positi£ Dari manfaat yang dapat diperoleh di atas, semoga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi PT. PLN (Persero) untuk menetapkan CSR dalam kegiatan operasionalnya dan tentunya menjadikan PLN ke arah yang lebih baik.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Akhir-akhir ini banyak perusahaan yang makin sadar akan pentingnya praktik Corporate Social Responsibility (CSR), ataupun mengikuti langkah-Iangkah serupa termasuk perusahaan BUMN seperti PT. PLN (Persero). Hal Ini tentu memerlukan hubungan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat dan para pelaku bisnis sendiri. Misalnya, pemerintah memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang menerapkan program CSR secara serius. Demikian pula Bapepam mewajibkan laporan CSR bag) perusahaan yang akan masuk bursa ataupun yang kini sudah tercatat di bursa, serta langkah-langkah lain yang relevan. Dan masyarakat mendukung program CSR yang diterapkan perusahaan tersebut. Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan, PT. PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial.
Saran

Agar program CSR dapat berjalan dengan baik, maka dapat disarankan (1) Untuk pemerintah sebaiknya memberikan peraturan hukum yang secara tegas dan khusus mengatur tentang tanggung jawab sosial perusahaan; (2) Program diarahkan pada masyarakat yang membutuhkan dan diprioritaskan pada kebutuhan pokok masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup; (3) Program dilaksanakan dengan menyediakan tenaga ahli pendamping; dan (4) Dilakukan evaluasi dan pelaporan, apakah program tersebut berjalan sesuai tujuan.

DAFTAR RUJUKAN

Abdul Rosyid Idris, Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah gagasan dan implementasi. www.fajaronline.co.id. Diakses 29 Januari 2006 Anonim. Kekuatan Ide-ide Bisnis Mujarab. www.swa.co.id. Diakses 30 Desember 2005. ----------. Tanggung Jawab Sosial Bukan Beban Bagi Perusahaan. www.kompas.co,id. Diakses 18 Desember 2005. ----------. Pemerintah Bentuk Tim Tangani SUTET. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Tower SUTET Dirusak. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Awas Listrik Munculkan Penyakit. www.republika.com. Diakses 7 Februari 2006. -----------. Proyek Jaringan SUTET PLN (1). www.suara merdeka.com. Diakses 7 Februari 2006 Azwar, Saifudin,1999. Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Arikunto,Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. PT.Rineka Cipta, Jakarta Djatmiko,Harmanto Edy. Saatnya Menabur. www.swa.co.id. Diakses 26 Desember 2005. Djoko,Tony. Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR). www.pertamina.com. Diakses 18 Desember 2005. Hasibuan, Sedyono Chrisanti. Sekali lagi CSR. Majalah SWA 23/XIX/10/ November 2003. Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis. CV.Alfabeta.Bandung. Wiryosimin, Suwarno. 1995. Mengenal Asas Proteksi Radiasi. ITB Bandung

Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta)
Heri Sudarsono

Abstract: The aims of this research are: (a) Describe financial and non financial compensation, intrinsic motivation and lecture performance; (b) Analyze the effect of financial compensation and intrinsic motivation to lecturer performance; (c) Analyze the effect of non financial compensation on intrinsic motivation; (d) Analyze the effect of non financial compensation and motivation to lecture performance. Based on description and path analysis, it shows that financial compensation and intrinsic motivation was in good condition and affecting lecture performance. Financial compensation as salary, incentive, and wage and intrinsic motivation as achievement knowledgement, the job it self, and responsibility has direct and indirect effect on independent variable, so the main model proposed could be decided as final model in path analysis. Key words: compensation, motivation, performance

Unsur manusia memegang peranan yang penting karena manusia menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, strategi maupun langkah kegiatan operasional suatu kegiatan. Manusia juga merupakan mahluk yang mempunyai pikiran, perasaan, kebutuhan dan harapan yang memerlukan perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi prestasi, dedikasi dan loyalitasnya terhadap organisasi (Hasibuan, 1990:222). Menurut hierarki kebutuhan Maslow (Robins, 1996:1990) manusia mempunyai kebutuhan bertingkat yang mencakup faal, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Heri Sudarsono adalah dosen Jurusan Manajemen FE Universitas Teknologi Surabaya

Persoalan yang sering mencuat bahwa secara umum kinerja dosen perguruan tinggi swasta (PTS) disinyalir menghasilkan kinerja yang masih dibawah dosen perguruan tinggi negeri (PTN). keberadaan dosen menjadi factor yang sangat penting dalam kelangsungan kegiatan akademik. motivasi dan kepuasan kerja adalah dengan memberikan kompensasi (1993:156). dosen juga berfungsi sebagai peneliti dan pengabdi. Berdasar tri dharma perguruan tinggi. penulisan artikel ilmiah dan penyusunan buku. Tumbuh dan berkembangnya organisasi tergantung pada sumber daya manusia. prestasi dosen juga ditentukan oleh frekuensinya dalam menyajikan makalah seminar. Selanjutnya gaji merupakan salah satu faktor insentif yang sangat penting bagi dosen. sehingga manusia merupakan asset yang harus ditingkatkan efisiensi dan produktivitasnya. Untuk mencapai hal itu organisasi harus mampu menciptakan situasi dan kondisi yang mendorong dan memungkinkan pegawai mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki secara optimal. Pola penggajian secara proporsional dengan memberikan insentif pada tenaga dosen yang kinerjanya melebihi standart yang ditetapkan oleh organisasi merupakan salah satu metode untuk meningkatkan motivasi berprestasi. Dengan pemberian insentif yang layak akan meningkatkan motivasi kerja dosen. Oleh karena itu maka kajian tentang kinerja dosen PTS. disamping sebagai pengajar. motivasi intrinsik . Salah satu upaya yang ditempuh organisasi untuk menciptakan situasi tersebut yakni dengan memberikan kompensasi yang memuaskan karyawan. utamanya dosen ekonomi menjadi menarik untuk dilakukan. menguasai prinsip penelitian serta mampu melaksanakan dan mengkomunikasikan hasil penelitian. Menurut Handoko. Oleh karena itu aspek pembinaan manusia dan motivasi kerja merupakan fokus utama perhatian organisasi. motivasi yang tinggi akan berdampak pada kinerja peningkatan produktivitas dan efisiensi. Dosen juga dituntut untuk memililiki kemampuan berfikir logis. kritis. Dalam konteks perguruan tinggi. yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi secara umum. Berdasarkan latar belakang maka tujuan penelitian ini adalah: (a) Mendeskripsikan kompensasi financial dan finansial. cara meningkatkan prestasi. penelitian dan pengabdian pada masyarakat.Untuk memenuhi aneka ragam kebutuhan tersebut. hal yang dapat dilakukan adalah dengan menjadi anggota organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa disamping mengajar.

Selanjutnya Simamora (1997). Pemberian kompensasi yang tepat dan efektif dalam organisasi harus memenuhi syarat adil dan layak pada karyawan. Kompensasi non-finansial adalah kompensasi yang diterima atas dasar pekerjaan itu sendiri. Davis &Werther (1996:381) menyebutkan ada beberapa tujuan dari pemberian kompensasi. dan sebagainya. Mondy and Noe (1993:20) yang menjadi dasar penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua jenis. diantaranya: (a) Mendapatkan personal yang kualified.dan kinerja dosen ekonomi pada PTS. artinya pemberian kompensasi dengan memperhatikan perbandingan antara jumlah gaji tertinggi dan terendah. seperti tanggung jawab. (c) Menganalisis pengaruh kompensasi finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. upah. (f) Menyesuaikan dengan regulasi upah yang ada. dan (h) Mengurangi Labor Turnover karyawan. (b) Mengkaji pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsic. lingkungan psikologis atau fisik. yaitu kompensasi finansial dan kompensasi non-finansial. Kompensasi finansial terdiri dari kompensasi finansial langsung dan tidak langsung. yang disebut juga tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi langsung. (b) Mempertahankan karyawan yang ada. Kompensasi finansial tidak langsung. (c) Menunjukkan adanya keadilan baik internal equity maupun external equity. bonus dan komisi. upah. Kompensasi finansial langsung terdiri dari gaji. menyebutkan bahwa terminologi atau pembagian dari kompensasi terbagi dalam bentuk kompensasi langsung dan kompensasi tidak langsung. Agar pemberian kompensasi efektif. organisasi perlu memperhatikan prinsip berikut (Wayne F. (b) Prinsip keadilan. peluang pengakuan. (g) Memotivasi karyawan. Cascio. bonus dan komisi. 1991:185): (a) Prinsip kewajaran. (d) Memberi rewards terhadap perilaku yang sesuai dengan organisasi. (c) Prinsip . (e) Mengontrol dana. artinya dalam pemberian kompensasi harus terdapat unsur keadilan baik dalam kaitannya dengan waktu kerja maupun prestasi kerja. biaya hidup. Kompensasi finansial langsung terdiri dari bayaran yang diperoleh dalam bentuk gaji. (d) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. peluang promosi. tidak langsung atau tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi finansial langsung. (e) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen.

tujuan organisasi dan kebutuhan.keamanan. Robbins (1996) menyebutkan bahwa motivasi merupakan kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi kebutuhankebutuhan individual. Sedangkan Widjaja (1986:12) berpendapat bahwa motivasi adalah kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasar beberapa definisi motivasi dapat dilihat adanya tiga unsur kunci. dalam pemberian kompensasi mudah dihitung atau mudah dimengerti oleh karyawan. artinya pemberian kompensasi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kompensasi yang diberikan karena kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan. 1993: 252). Teori ini mendasarkan konsep hierarki kebutuhan pada dua prinsip. dari kebutuhan yang terendah sampai kebutuhan tertinggi. Teori Maslow mengemukakan bahwa manusia dimotivasi oleh keinginan untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang ada. artinya pemberian kompensasi harus dihindarkan dari unsur pemborosan organisasi. (g) Prinsip keseimbangan. atau dengan kata lain motivasi adalah akibat dari interaksi antara situasi dan kondisi yang ada. artinya pemberian kompensasi harus mampu meransang karyawan untuk memberikan sumbangan yang maksimal atau konstribusi pada organisasi. artinya dalam pemberian kompensasi hendaknya merupakan hasil atau kesepakatan bersama antara karyawan dengan pihak manajemen dalam organisasi. dengan yang tidak terkait dengan pekerjaan atau jabatan. (d) Prinsip kejelasan. (e) Prinsip Pengendalian biaya. (f) Prinsip perangsang. yakni kebutuhan manusia dapat disusun dalam hierarki 5 kebutuhan. Siagian (1995) menjelaskan motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya. artinya pemberian kompensasi memperhatikan hal yang tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan atau jabatan. Terdapat beberapa teori motivasi yang menunjuk pada kebutuhan yang memuaskan dan mendorong semangat bekerja seseorang sebagai berikut. yakni: upaya. dan kebutuhan . Motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan (Handoko. dan (h) Prinsip kesepakatan.

dihargai atas prestasinya. 3. (c) pekerjaan itu sendiri. Hilangnya faktor pemeliharaan ini akan meningkatkan ketidakpuasan dan tingkat absensi serta labor turnover yang tinggi. Serangkaian faktor ini meliputi: (a) pengakuan prestasi. 2. Kebutuhan fisiologis. Kebutuhan rasa aman. 4. Faktor motivasi kerja intrinsik inilah yang menjadi penekanan peneliti. Adapun tingkatan kebutuhan tersebut sebagai berikut: 1. Kebutuhan ini meliputi penerimaan oleh teman sekerja. pengakuan atas kemampuan dan keahliannya. Kebutuhan sosial. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan. dan berhubungan dengan lingkungan. kebutuhan akan status. Pertama. Kebutuhan aktualisasi diri. kebebasan. dan sebagainya. Kebutuhan akan rasa aman dalam melaksanakan suatu pekerjaan dan merupakan harapan mendapat perlindungan terhadap bahaya. yakni motivasional dan higieni. . (b) penghargaan. Kebutuhan penghargaan.yang telah terpuaskan akan berhenti menjadi motivator utama dari pelaku. kemerdekaan. Kedua. seks. 1992:334). (d) tanggung jawab. keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. kebutuhan akan cinta kasih. Menurut Sukanto dan Handoko (1992:271). rasa memiliki. perumahan. tidur. 5. Kebutuhan terhadap hubungan lingkungan sosial atau bersosialisasi. faktor motivasional disebut juga faktor intrinsik yang meliputi kondisi intrinsik dan kepuasan pekerjaan. appresiasi. faktor higienis yang juga disebut dissatisfier yang berhubungan dengan hakekat manusia untuk memperoleh ketentraman lahiriah. kedudukan dan sebagainya. Aktualisasi diri berkaitan dengan pengembangan akan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. perampasan dan atau juga proteksi terhadap harta kekayaan. minum. Kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan. ancaman. Menurut Herzberg (dalam Dressler. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan keinginan untuk dihormati. faktor motivator yang juga disebut satisfier yang berkenaan dengan isi pekerjaan dan faktor ini sebagai sumber kepuasan kerja yang dapat memotivasi seseorang pada pekerjaan mereka. Kebutuhan akan aktualisasi diri dengan untuk menunjukkan kemampuan. tiap orang menginginkan dua macam kebutuhan. dan (e) kemajuan.

Menurut Davis & Werther (1996:344). 1996) mengemukakan bahwa kinerja merupakan pelaksanaan tugas yang telah diselesaikan seorang dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur. administrasi. Kinerja diartikan sebagai hasil usaha seseorang yang dicapai dengan kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. 1995:29). tetapi tidak akan menimbulkan dorongan dan kepuasan kerja. measure those criterias. pengawasan.Faktor ini juga disebut faktor ekstrinsik yang mempengaruhi ketidakpuasan kerja. mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan kerja. . Atau dengan kata lain. gaji. hubungan antar rekan dan kondisi kerja. kemampuan dan persepsi tugas (Byars dalam Suharsimi. Artinya apabila perilaku seseorang memberikan hasil pekerjaan yang sesuai dengan standar atau kriteria yang dibakukan organisasi. If performance standart or measures are not job-related. sistem penilaian kerja yang efektif memiliki beberapa elemen kunci: Appraisal approaches must identify performance-related standart. harming the manager‟s relationship with their employees. Jadi sistem penilaian yang efektif harus mengidentifikasikan kinerja yang sesuai dengan standar. Faktor higienis meliputi kebijakan. Handoko (1992:270) menyebutkan bahwa faktor higienis sendiri tidak menimbulkan motivasi tetapi diperlukan agar motivasi dapat berfungsi atau dengan kata lain berfungsi sebagai landasan motivasi. Seymour (dalam Swasto. the evaluation can lead to inaccurate or biased results. mengukur kriteria-kriteria yang harus diukur dan selanjutnya memberi feedback kapada pegawai/karyawan dan bagian personalia. Perbaikan faktor higienis akan mencegah. Prestasi kerja merupakan hasil keterkaitan antara usaha. maka kinerjanya tergolong baik. and then gives feedback to employees and the Human Resources Departement. sekaligus juga melihat besarnya penyimpangan dengan cara membandingkan antara hasil pekerjaan secara aktual dengan hasil yang diharapkan. Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan. dan jika sebaliknya berarti kinerjanya buruk. penetapan standar diperlukan untuk mengetahui apakah kinerja karyawan sesuai dengan sasaran yang diharapkan.

dan (4) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. m = motivasi. Berdasarkan model kajian penelitian tersebut. Indikator-indikator tersebut meliputi: kesetiaan. dharma penelitian dan dharma pengabdian pada masyarakat. . dan a = ability. bentuk penilaian prestasi kerja atau kinerja terangkum dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan. ketaatan. b) kemampuan karyawan untuk melaksanakan pekerjaan. kinerja merupakan fungsi interaksi antara motivasi kerja dengan kemampuan. Swasto (1996) mengemukakan bahwa prestasi kerja individu merupakan perpaduan antara motivasi yang ada pada diri seseorang. kerjasama. kemampuannya dalam melaksanakan suatu pekerjaan serta peralatan atau teknologi yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. dan dapat dituliskan sebagai berikut: p = f ( m x a ). prestasi kerja. 13/MENPAN/1988 tentang Perincian Kegiatan dan Angka Kredit Jabatan Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi.Analisa tentang kinerja karyawan menurut Gomes (1995) senantiasa berkaitan erat dengan dua faktor utama: a) kesediaan atau motivasi seseorang untuk bekerja yang menimbulkan usaha karyawan. dan kepemimpinan. dapat diturunkan menjadi model hipotesis pada Gambar 1. dimana p = performance. model hipotesis dapat diuraikan hipotesis berikut: (1) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial terhadap motivasi intrinsic. prakarsa. kejujuran. (2) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. Dalam pendidikan tinggi atau perguruan tinggi. dimana daftar tersebut memuat 10 indikator yang ada. tanggung jawab. (3) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. Sesuai dengan Keputusan Menpan No. Dengan kata lain. Berdasarkan beberapa definisi di disimpulkan bahwa ukuran kinerja dosen dalam penelitian ini adalah tingkat kinerja dosen dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya yang menyangkut tri dharma perguruan tinggi yakni dharma pendidikan dan pengajaran.

2. Dilakukan dengan memberi daftar pertanyaan pada dosen yang menjadi sampel penelitian. Cara memperoleh data dengan jalan mengadakan tanya jawab langsung dengan pihak yang berkepentingan dengan harapan memperoleh informasi yang dibutuhkan. Tujuan utama dari pemberian kuesioner adalah: (a) memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Uji validitas dalam penelitian ini yakni . Wawancara. 1995). Dokumentasi. Penulis memperoleh informasi melalui dokumen dari masing-masing PTS seperti program dan struktur kompensasi. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Instrumen dikatakan valid bila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur dan mampu mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Kuesioner. jumlah dosen.P41 Kompensasi Finansial (X1) P31 Kompensasi Non Finansial (X2) Motivasi Intrinsik (X3) P43 Tingkat Kinerja Dosen (X4) P32 P42 Gambar 1 Model Hipotesis Penelitian METODE Teknik yang digunakan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian dilakukan dengan berbagai cara: 1. untuk mendapatkan data primer serta memperoleh informasi tertulis dari responden sebagai obyek penelitian. (b) memperoleh informasi dengan reliabilitas dan validitas setinggi mungkin (Singarimbun. Informasi yang diperoleh memperjelas atau mendukung jawaban yang disampaikan melalui kuesioner. 3. dan sebagainya.

5 atau lebih. . Uji ini untuk mengetahui apakah model yang dipakai linier atau tidak. artinya asumsi menginginkan model yang dipakai dapat secara tepat menggambarkan rata-rata variabel terikat dalam observasi. peneliti menggunakan taraf signifikansi 5 persen. b) Asumsi homokedastisitas. Karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan beberapa uji asumsi klasik diantaranya sebagai berikut: a) Asumsi normalitas. rata-rata sama dengan nol. Untuk menganalisis data dan menguji hipotesis. maka dapat dikatakan sebagai pengumpul data yang handal. 1991:172). dengan taraf signifikansi 5% dan dengan bantuan program komputer SPSS for Windows. (2) Metode analisis statistik inferensial yang digunakan untuk melihat pengaruh diantara variabel-variabelnya. Analisis dilakukan secara kualitatif untuk menjelaskan dan mendeskripsikan hubungan data yang diperoleh dengan landasan teori yang dipakai melalui uraian sistematis. menggunakan bantuan program komputer SPSS. dan dilakukan dengan melihat standardized scatterplot. E(e) = 0. maka pelaksanaannya harus memenuhi beberapa asumsi klasik (Gujarati. c) Uji linieritas. Kriteria pengujian yang digunakan apabila reliabilitas suatu instrumen yang memiliki koefisien reliabilitas 0. Untuk memperolah nilai koefisien yang tidak bias dan efisien dari persamaan estimasi menggunakan OLS. Uji reliabilitas dalam penelitian ini. dimana asumsi ini terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk suatu pola tertentu. (1) Metode analisis statistik deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan keadaan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dosen.menggunakan analisis yang menghitung koefisien korelasi antara skor item dengan skor totalnya. Selanjutnya untuk analisis statistik inferensial dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Path Analysis dengan terlebih dahulu diadakan analisis faktor untuk tiap variabel. artinya adanya heterokedastisitas akan bertentangan dengan salah satu asumsi peneliti yaitu bahwa variabel residual harus sama untuk semua pengamatan.

8093 Simpulan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Sumber: Hasil Penelitian. Kompensai Non Finansial X3.3 (Sugiono. oleh karena itu perlu diadakan uji asumsi yaitu menguji residual untuk mengetahui apakah data berasal dari distribusi normal atau tidak.0000. Valid tidaknya suatu item instrumen dapat diketahui dengan membandingkan antara indeks korelasi produk moment Pearson pada level signifikansi 5 persen dengan nilai kritisnya. dan 0.0000 dengan nilai probabilitas sebesar 0. Uji yang dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square terhadap nilai standar residual hasil persamaan regresi.05 (5 persen) maka distribusinya normal dan apabila sebaliknya maka terdistribusi tidak normal. Menurut Sugiyono (1994) hasil penelitian valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Tingkat Kinerja Dosen Alpha 0. Motivasi intrinsik X4. Diolah. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen Validitas merupakan unsur penting bagi suatu instrumen karena uji ini menunjukkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan instrument dalam melaksanakan fungsinya. 1998).HASIL 1. dan 68.7350 0. Sedangkan hasil uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach dapat dilihat pada Tabel 1. Instrumen dikatakan valid apabila memiliki koefisien diatas 0. 2007 2.7151 0. Pengujian Asumsi Klasik Uji Asumsi Normalitas Distribusi normal dalam statistik inferensial sangatlah penting.1231. Hasil pengujian menunjukkan nilai chi Square sebesar 78. Kompensasi Finansial X2. Bila probabilitas basil uji Chi Square lebih kecil dari 0.7114 0.0000. Tabel 1 Rekapitilasi Hasil Uji Reliabilitas No 1 2 3 4 Variabel XI. Selanjutnya hasil uji validitas instrumen penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Jadi semua nilai residual data .

643 0.003 0.481 0. Kompensasi Non Finansial X3.576 0.3 X 1.8 X2.000 0.008 0.006 0.9 X2.001 0.455 0.9 Y.001 0.6 X3.000 0.3 Y.028 0.720 0.000 0.619 0.10 X3.563 0.006 0.1 X2.662 0.6 Y.594 Probabilitas 0.4 Y.560 0. 2007 .000 0.767 0.017 0.434 0.000 0.000 0. Tabel 2 Rekapitulasi hasil Uji validitas Variabel X1.4 X2.10 Y.000 0.004 0.000 0.013 U.5 X2.600 0.002 0.terdistribusi secara normal (Tabel 3).006 0.543 0.11 Y.542 ).7 X2.3 X2.8 X3.501 0.000 0.5 Y.003 0.2 Y.6 X2.492 0.471 0.2 X2.001 0. Kompensasi finansial Item X1.000 Simpulan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid X2.001 0. Motivasi intrinsik X4.515 0. 1 X1.002 0.662 0.455 0.046 0.12 Koefisien Korelasi 0.6 X1.407 0.644 0.487 0.2 X3.l Y.666 0.4 X1.696 0.003 0.455 0.000 0.313 0.000 0.689 0.689 0.000 0.8 X2.2 X1.720 0.7 X1.3 X3.495 0.000 0.7 X3.1 X3.787 0.7 Y.000 0.9 Y.5 X3.006 0.8 Y.685 0.000 0.456 0.5 X1.353 0.000 0.004 0. Diolah.000 0.4 X3.651 0.387 0.000 0.612 0. Tingkat Kinerja Dosen Sumber : Hasil Penelitian.

Kesimpulan yang didapat adalah terjadinya homoskedastisitas sehingga pengujian hipotesis dapat dilanjutkan. Hasil uji dapat di lihat pada Tabel 4. Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji koefisiensi korelasi Rank Spearman yaitu mengkorelasikan antara absolut residual hasil regresi dengan semua variabel bebas. X3 terhadapX4 Nilai Chi Square 72.0000 Simpulan Normal Normal Sumber : Hasil penelitian.0536 Probabilitas 0. sehingga variabel bebas tidak menyebabkan terjadinya heterokedastisitas.336 Simpulan ' Homoskedasttsitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Sumber : Hasil Penelitian. Tabel 4 Rekapitulasi Hasil Uji Heteroskedastisitas Variabel bebas XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial X3 : Motivasi Intrinsik Koef.0787 0. Diolah.078 0. Berdasarkan data dari rekapitulasi tersebut di atas menunjukkan bahwa semua variabel mempunyai nilai signifikansi di atas taraf kepercayaan 5 persen.434 0. Pengujian regresi memenuhi syarat jika diantara variabel bebas tidak terjadi heteroskedastisitas. X2.7385 62.366 0.0000 0. 2007 Uji Asumsi Heterokedastisitas Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah diantara variabel bebas terjadi hubungan atau tidak. diolah.8308 Signifikansi (P) 0.252 0. Korelasi 0.Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Variabel X1. 2007 .178 0.0842 0.267 0.X2 terhadap X3 Xl.

Sesuai dengan model analisis dalam penelitian ini. motivasi intrinsik (X3) serta tingkat kinerja dosen (X4) Selanjutnya akan diuraikan masing-masing variabel tersebut. a. bagian 3 meliputi item (X1. bagian 1 terdiri dari item (Xl. Deskripsi Variabel yang Mempengaruhi Kinerja Dosen Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui sejauh mana distribusi frekuensi responden berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan kepada 65 responden yakni para dosen tetap di tiga perguruan tinggi swasta di Kediri. bagian 2 terdiri dari item (X1. maka pertanyaan dibagi menjadi tiga bagian. Asumsi ini akan terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk pola tertentu (acak).2).6).l dan X1. .3 sampai X1. 3.Uji Linieritas Pengujian ini dilakukanuntuk mengetahui model yang dibuktikan linier atau tidak. dan dilakukan dengan melihat Standardized Scatterplot.7 sampai X1. variabel dalam penelitian ini meliputi kompensasi finansial (XI) dan kompensasi non finansial (X2). dimana saling berkorelasi. yang secara detail dapat dilihat pada Tabel 5. Ternyata hasil penelitian tidak menunjukkan adanya plot tertentu sehingga uji ini terpenuhi. Deskripsi Kompensasi Finansial Untuk melihat distribusi frekuensi jawaban responden dari item yang disampaikan pada 65 orang respoden.8).

5. Deskripsi Motivasi Intrinsik Untuk mengetahui distribusi jawaban terhadap 65 responden.6).69 6 15 10.54 0.3).Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kompensasi Finansial Jawaban Responden No.9.1.31 10. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 Kesesuaian tentang sistem pemberian gaji Kesesuaian tentang besarnya gaji yang diterima Kesesuaian tentang sistem pemberian honor Kesesuaian tentang besarnya honor Kesesuaian tentang macam insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya tunjangan Kesesuaian tentang macam tunjangan 1 % 2 f % 6.2 dan X2.00 0.38 18. X2. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian.54 81. dan X2. maka item pertanyaan dibagi menjadi empat bagian seperti dapat dilihat pada .77 49 50 75. selanjutnya dapat dilihat Tabel 6.00 0. bagian ketiga meliputi item (X2.15 16 12 10 12 f 21 4 % 0.31 66.23 72.00 32.85 12.8.77 10.100. bagian pertama meliputi item (X2. X2. c.62 18.54 69.46 6 7 8 0 00 0.31 b.77 12. Deskripsi Kompensasi Non-Finansial Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban 65 responden variabel ini. bagian kedua meliputi item (X2.00 10.7.77 24.00 0.38 f 40 53 45 45 47 43 3 % 61.4.38 76 92 9 3.00 1.46 15. X2.15 5 7. X2.23 69.31 10 15. X2.

23 38.08 0.54 f 22 16 11 11 11 5 16 8 9 12 Responden 4 % 33.00 61.92 7.10 sampai X4.92 16.46 63.62 12.46 17 26.00 3. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian yakni bagian pertama untuk item pertanyaan X4. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Keadilan dalam promosi Pernyataan tentang kesempatan promosi Sistem kenaikan pangkat Kesempatan mengikuti diklat Dorongan studi lanjut Frekuensi mengikuti diklat Dukungan atasan Dukungan rekan kerja Suasana kerja yang mendukung Fasilitas kerja yang diterima 0 2 0 0 0 8 2 6 0 1 1 % 0. 4.85 f 40 44 46 50 45 25 41 26 39 40 3 % 61 54 67.00 1.69 24.31 13. Deskripsi Kinerja Dosen Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban terhadap 6> responden.62 16.77 76.54 3.92 69.62 12.12.15 12 18.62 4. bagian kedua untuk item X4.54 6 9.08 9.6.46 12.15 13. Tabel 6 Distribusi Kompensasi Non Finansial Jawaban No.68 70.32 27 41.7 sampai X4.08 40.92 16.23 0.22 25 38.85 18.00 0.1 sampai X4.31 6.00 0. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8.46 .9 dan bagian ketiga untuk item pertanyaan X4.00 60.Tabel 7.00 f 3 3 8 4 9 2 % 4.85 24.

46 Tabel 8 Distribusi Frekuensi Kinerja Dosen Jawaban Responden No.54 9. modul 12 31 40 61.00 7 6 6 4 8 10.00 0.62 10.46 45 69.23 9. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pengakuan prestasi dan atasan Prestasi menjadi dorongan Utama Penghargaan yang diterima Keadilan pemberian penghargaan Kesesuaian pekerjaan Beban mengajar yang diterima Senang terhadap pekerjaan Pemberian tanggung jawab Sikap terhadap tanggungjawab 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 % 0.69 9.77 39 60 00 19 29.08 45 69.23 14 21.69 14 21.00 15 23.62 Membimbing kuliah kerja nyata Membuat diktat.Tabel 7 Distribusi Frekuensi Motivasi Instrinsik Jawaban Responden No.54 47 72.46 0.00 f 7 2 % f 3 % f 4 % 10.00 0.46 0.46 37 56.23 6.31 16 24.00 1.54 44 67.46 10.32 12 18. Membimbing mahasiswa pendidikan seminar 0 0 0 0 0 0 1 % f 2 % f 3 % f 4 % 0.92 16 24.54 17 26 15 .23 7.00 0.77 46 70.23 12 18.00 0.00 12 18.08 38 58.77 46 70.54 0.08 35 53.00 0.85 24 36.62 0.22 3.69 15 23.77 12 18.00 0. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 Keinginan memperoleh Ijazah sampai stratum tertinggi Memberi kuliah Menyelenggarakan di lab.15 45 69.00 8 7 6 5 6 2 7 23.23 9.23 16 24.46 12 18.77 12 18.92 47 72.00 0.23 14 21.08 45 69.77 44 67.00 0.

Hasil Analisis Jalur Menggunakan pengujian analisis jalur (path analysis). Juga dilihat interkorelasi antara variabel penelitian yakni kompensasi finansial.15 40 61.62 17 26 15 48 73.62 3 4 % f % f 42 64.0000.Tabel 8 (Lanjutan) Jawaban Responden No. Hasil perhitungan regresi antar factor dan identifikasi jalur pada tiap tahap dapat dijelaskan berikut: a.54 0.00 1 54 f 6 3 9 2 % 9. motivasi intrinsik dan tingkat kinerja dosen.85 14 21.38 42 64 62 12 18. dilakukan pengujian hipotesis yang telah diajukan sebelumnya.54 8 12. Tahap 1 Uji Jalur P31 Pada dasarnya uji analisis jalur ini.00 33 50.00 13 20. perlu dilakukan analisa faktor yang digunakan untuk mencari faktor yang menentukan masing-masing variable bebas. maka signifikan pula koefisien jalurnya.23 0 00 17 26.54 13. Artinya bahwa variabel kompensasi finansial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel motivasi intrinsic. maka variabel motivasi intrinsic akan naik sebesar .08 14 21. Jika variabel kompensasi intrinsic dinaikkan satu poin.22 4. Pengujian analisis jalur dilakukan melalui penyaringan statistik dengan menggunakan koefisien arah beta untuk regresi berdasarkan data dalam bentuk skor baku karena dapat dibuktikan.31 1.54 10 15. di mana variabel kompensasi intrinsic ke varibel motivasi intrinsic disebut jalur dengan nilai beta sebesar 0. kompensasi non finansial. 7 8 9 10 11 12 Item Pertanyaan Menulis karya ilmiah Menyajikan karya ilmiah Menampilkan karya ilmiah tidak dipublikasikan Memberi penyuluhan masyarakat Memberi pelayanan yang menunjang pemerintah Membuat karya pengabdian f 0 0 1 0 0 1 1 % 0 00 0.85 41 63. Jika beta signifikan. Sebelum analisa jalur.77 19 29.548876 dan signifikansi t = 0.46 5.

di mana jalur variabel kompensasi financial ke variabel Tingkat kinerja dosen disebut jalur P41 dengan nilai beta sebesar 0. didapatkan nilai beta 0. Tahap 2 Uji Jalur P41 Dalam uji jalur ini. Tahap 5 Uji Jalur P43 Uji ini merupakan i0i jalur faktor variabel motivasi intrinsik ke variabel tingkat kinerja dosen. Jika variabel kompensasi financial dinaikkan satu poin.0005. maka varibel motivasi intrinsik akan naik sebesar 0.0010.0010. Artinya variabel motivasi intrinsik .0005.2731.398286 dengan signifikansi t sebesar 0. didapatkan nilai beta sebesar 0. d. c.2. b.398286 dan signifikansi t 0.548876. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin.0. Tahap 4 Uji Jalur P42 Uji ini merupakan uji jalur faktor variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel tingkat kinerja dosen. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap tingkat kinerja dosen.354285 dengan signifikansi t sebesar 0. Artinya variabel kompensasi financial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen. e.520431 dengan signifikansi t sebesar 0. didapatkan nilai beta 0. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin.0142. 354285. Tahap 3 Uji Jalur P32 Dalam uji jalur full merupakan jalur faktor dari variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel motivasi intrinsik. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap variabel intrinsik. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0.232731 dengan signifikansi t sebesar 0.

0000 0. Tabel 9 Rekapitulasi Hasil Analisis Jalur Variabel terikat Motivasi Intrinsik (X3) Kinerja dosen (X4) Variabel bebas Kompensasi finansial (X1) Kompensasi non finansial (X2) Kompensasi Finansial (X1) Motivasi lntrinsik (X3) Kompensasi non Finansial (X2) beta Sig. Apabila variabel motivasi intinsik dinaikkan satu poin.30 127 dengan signifikansi F 0.520431 0.548876 0. Selanjutnya hasil analisa untuk masing-masing hipotesis dapat dilihat pada Tabel 9. Hal ini dibuktikan variabel Kompensasi finansial dan motivasi .0005 0. Nilai R2 sebesar 0.0010 0. BAHASAN Pada prinsipnya dalam menjawab hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dilakukan melalui analisa jalur.0000 0.59877 0.berpengaruh terhadap variabel tingkat kinerja dosen. t R Square 0. Mengacu pada tabel di atas.59877 0. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0.23731 0.15863 0.398286 0.30127 0.0000. artinya terdapat kontribusi 30.0142 Hipotesis 1: Diduga ada pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik Hasil analisa data menunjukkan bahwa hipotesis dinyatakan diterima.54888 yang berarti terdapat hubungan yang kuat.13 persen variabel kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik.354285 0. variabel kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik dosen didapatkan koefisien korelasi sebesar 0. Hipotesis 2: Diduga ada pengaruh Kompensasi Finansial dan Motivasi Intrinsik Terhadap Kinerja Dosen Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 2 diterima.520431.55664 0.

Hal ini menunjukkan bahwa variabel kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0. yang berarti terdapat hubungan yang kuat.15863. Ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.59877 dapat dikatakan kompensasi finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen. .88 persen. artinya terdapat kontribusi sebesar 15. Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 4 diterima.intrinsik mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap tingkat kinerja dosen.87 persen dan kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik.0000. Nilai R2 sebesar 0. Hasil regresi menunjukkan bahwa hipotesis ketiga dapat diterima.55664 artinya terdapat kontribusi pengaruh sebesar 55.74608 dengan signifikansi F sebesar 0.67 persen dari kompensasi non finansial dan motivasi instrinsik terhadap kinerja dosen. Hal ini disebabkan variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel motivasi intrinsik dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0.77380 dengan signifikansi F sebesar 0. R2 sebesar 0.0000. Nilai R2 sebesar 0.0010. Hipotesis 4: D duga ada pengaruh Kompensasi non finansial dan motivasi intrinsik terhadap kinerja dosen. Hipotesis 3: Diduga ada pengaruh Kompensasi non finansial terhadap movitasi instrinsik. pengaruh kompensasi finansial dan motivasi Intrinsik sebesar 59.39829 dengan signifikansi t sebesar 0.

Hipotesis ketiga.Berdasarkan hasil analisis dapat dibangun model empiris pada Gambar 2. pekerjaan itu sendiri.232731 Gambar 2 Model Hasil Pengujian Hipotesis SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1.0000. ditunjukkan oleh nilai F hitung 11. kompensasi non finansial dan variabel intrinsik mempengaruhi kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada PTS di . Hipotesis pertama.0010. kompensasi finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsik dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta dapat diterima secara statistik. Hipotesis keempat. dan honor serta motivasi intrinsik yang terdiri dari pengakuan prestasi. 3. Ini menunjukkan bahwa kompensasi finansial yang terdiri dari gaji. beta = 0. kompensasi finansial dan motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen dapat dibuktikan secara statistik. 4. 2.000 Beta = 0. beta = 0.39829 Kompensasi Non Finansial (X1) P42 sig t 0.520431 Kinerja Dosen (X4) P32 sig t 0. insentif. kompensasi non finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsic dapat diterima secara statistic.30127 atau 30.0142.87801.0005. dan tanggungjawab berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen.13 persen terhadap motivasi intrinsik. beta = 0. honor dan insentif secara parsial mempunyai pengaruh sebesar 0. beta = 0.548876 Motivasi Intrinsik (X3) P43 sig t 0. Hipotesis kedua. Kompensasi finansial yang terdiri dari gaji. P41 sig t 0.354285 Kompensasi Finansial (X1) P31 sig t 0.

Kediri dapat diterima. PTS seyogjanya memperhatikan variabel kompensasi ini guna meningkatkan motivasi intrinsik dosen.33 persen dipengaruhi oleh variabel lainnya diluar model. Baik buruknya kinerja dosen akan sangat dipengaruhi oleh motivasi intrinsik dosen.67 persen terhadap variabel tingkat kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta di Kediri. Kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik mempunyai pengaruh yang signifikan sebesar 55. sisanya 44. Perguruan tinggi harus memperhatikan bagaimana meningkatkan movitasi intrinsik dosen tersebut. Saran Berdasar pada hasil kajian diatas sangat jelas bahwa variabel kompensasi baik variabel kompensasi finansial maupun variabel kompensasi non finansial sangat erat hubungannya dengan motivasi intrinsik dosen. Dengan meningkatnya motivasi intrinsik diharapkan kinerja dosen akan bertambah baik pula dalam rangka pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. . Selanjutnya motivasi intrinsik tersebut akan berdampak langsung pada kinerja dosen.

Human resources Management.T. Prehalindo. A. B. Robert. Davis. 1995. Simmamora. Allyn & Bacon. Robbins. Mondy. Jakarta. Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan.P. Massagung. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Profits. Swasto. Sondang. 1993. Pt Rineka Cipta.DAFTAR RUJUKAN Cascio. 1989. Quality of Work Life. Haji Masagung. Hasibuan. Cushway. Manajemen Sumber Daya Manusia. Manajemen Sumber Daya Manusia. Keith & Werther. Cetakan kelima. P. Yogyakarta. Second Edition. Wayne & Noe. Manajemen Sumber Daya Manusia. Kontroversi dan Aplikasi. M. Jakarta. . The Association for Management Education and Development. Perilaku Organisasi : Konsep. Siagian. Managing Human Resources : Productivity. Henry. Prosedur Penelitian : Suatu pendekatan Praktek. Mc Graw-Hill. USA. London. 1995. Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia.F. Edisi Revisi II. Handoko. 1994. Jakarta. Yogyakarta. 1996. 1995. Human Resources and Personnel Management. BP STIE YKPN. 1986. Inc. 1990. W. ANDI Offset. Yogyakarta. Hani. Widjaja.. 1992. 1988. Jilid I. BPFE Yogyakarta. Edisi 2. New York. Suharsimi. S. Pressindo. Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi. Jakarta. Human Resources Management. Mc Grw Hill. 1996.. Jakarta. Gomes.

Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT). The research was desained as research and development by Borg & Gall (1982). dan terbatas pada pengembangan pengetahuan (kognitif). Sri Untari. belum mampu memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan dialog mendalam dan berpikir kritis. pesan pembelajaran masih bersifat informatif. Lembar Kegiatan siswa. dan Nur Wahyu Rochmadi adalah dosen Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang . documentation. and were analyzed by discriptive statistic. Fenomena yang nampak. The result of this research was model with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach which is pleased to be able to increase dialogue and critical thinking skill Key words: Bahan Ajar.Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialog dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari Suparlan Al Hakim Ktut Diara Astawa Nur Wahyu Rochmadi Abstract: This research aimed to developing book and the sheet activity of student Civics with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach.The data was collected by questionnaires. PKn. Ktut Diara Astawa. Suparlan Al Hakim. Substansi pesan pembelajaran (bahan ajar) selama ini. The Subyects of this research were 20 teachers of Civics in senior hight school and 20 Experts.

saling keterbukaan. Agar deep dialogue/critical thinking dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. dan rendahnya empati dan tingginya prasangka terhadap orang lain. jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI.Selain itu. Dalam tataran praksis. proses pendidikan yang berlangsung selama ini diduga belum berhasil meningkatkan kemampuan berdialog. langkah awal untuk melakukan dialog mendalam dan berpikir kritis individu harus membuka diri terhadap mitra dialog. Dalam kaitan itu Untari (2002) mengidentifikasikan sebagai berikut: Pertama. karena sifat terbuka dalam diri akan membuka peluang . kajian deep dialogue/critical thinking sebagai paradigma pengembangan pendidikan berlaku prinsip Unity in policy and deversity in implementation. yaitu rasa egoisme kelompok yang tinggi. praktik pembelajaran seharusnya dikemas dengan menggunakan pendekatan dialog mendalam dan berpikir kritis (deep dialogue/critical thinking). Bahkan diduga telah menghasilkan hal yang sebaliknya. tanpa ada tindak lanjut dalam bentuk perilaku. 2000). dapat diartikan bahwa percakapan antara orang-orang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal. Hal ini dikarenakan hanya terbatas upaya meningkatkan pengetahuan siswa. Sedangkan ciritical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis. Untuk mencapai misi tersebut. Secara programatik. 2001). membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia (Dikti. kesenjangan sosial. pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya ditekankan pada pembentukan kepribadian manusia. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. berpikir kritis. baik yang ditampakkan dalam proses pembelajaran maupun kemasan materi dalam bentuk bahan ajar dan lembar kegiatan siswa. Deep dialogue (dialog mendalam). sehingga menyebabkan rendahnya kesadaran siswa untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan beripikir kritis. empati dan mengurangi prasangka siswa. keterbukaan. khususnya dalam pembelajaran PPKn perlu diperhatikan kaidah-kaidah DD/CT. Justru kenyataan ini sebagai kelebihan lain dari penerapan deep dialogue/critical thinking.

kita dapat belajar. etis atau santun. kesulitan dan cara mengatasinya melalui berpikir kritis secara apa adanya. menunjung nilai-nilai moral. . harapan. Artinya kita paling mengetahui apa yang kita ketahui. Untuk menanamkan kepercayaan pribadi. mengubah dan mengembangkan persepsi. belajar dan mengubah diri masing-masing pihak yang berdialog. untuk memperdalam. demokratis yakni dengan memperlakukan mitra dialog sedemikian rupa sehingga berketetapan hati untuk berdialog. serta saling percaya diantara mereka. Dialog sebagai suatu kegiatan memiliki dua sisi yakni dalam masyarakat (intern) dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya (antar). selanjutnya memilih pokok-pokok permasalahan yang memungkinkan memberi satu dasar berpijak yang sama. berubah dan berkembang dalam rangka meningkatkan berpikir kritis. bersikap jujur dan penuh kepercayaan diperlukan dalam deep dialogue/critical thinking. sehingga perubahan yang terjadi pada masing-masing pihak merupakan hasil berpikir kritisnya sendiri (self-critical thinking). Di samping itu masing-masing saling mempelajari. Kedua. untuk memperluas wawasan bersama. langkah awal adalah mencari kesamaan dengan cara bekerjasama dengan orang lain. kejujuran.untuk belajar.Artinya masing-masing mengemukakan tujuan. sebab dialog hanya akan bermanfaat manakala pihak-pihak yang melakukan bersikap jujur dan tulus. Dengan demikian ketika masuk dalam dialog. saling menghargai. kerjasama. Pemahaman realitas dan bertindak secara tepat merupakan hasil berpikir kritis. Ketiga. Keempat. Hal ini dilakukan mengingat bahwa dialog pada hakekatnya bertujuan untuk saling berbicara. Selanjutnya melangkah pada permasalahan umum yang dapat dihadapi bersama atau mencari solusinya. dan mitra dialog kita paling mengerti apa yang mereka ketahui. Hal ini penting karena kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama atau dengan bekerjasama akan menghasilkan pemecahan yang menguntungkan pihak-pihak yang bermasalah (win-win solution). deep dialogue/critical thinking terjadi manakala masing-masing pihak yang berdialog menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Dengan demikian kejujuran merupakan prasyarat terjadinya dialog atau dengan kata lain tidak ada kepercayaan berarti tidak ada dialog. mengubah dan memodifikasi pemahaman mereka.

(Frazee&Rudnitski. (2) bertujuan untuk melaksanakan belajar secara bermakna. Oleh karenanya saling mengakui keunggulan masing-masing akan diperoleh pemahaman bersama secara baik Keenam. Untuk itu bahan harus: (1) bermakna secara potensial.1995). Jangan menilai sebelum meneliti.1996) dalam teori belajar bermakna (meaningful teaching theory) mengemukakan bahwa kebermaknaan penyajian dan pentingnya pengaturan kemajuan belajar (advance organizer) dimana bahan harus dirancang baik agar menarik minat siswa.2002).1981). seolah kita yang memiliki kelebihan daripada mitra dialog kita. pengenalan diri sendiri untuk mengenal dunia orang lain. saling memberi yang terbaik. saling mengakui keunggulan. masyarakat dan tradisinya. belajar menekankan pada isi dan proses yang berorientasi pada peserta didik sebagai subyek belajar. Kita jauhkan prasangka. Ausubel (dalam Irawan. Oleh karena itu Rianto (2000) berpendapat dalam pandangan teori belajar humanistik. masing-masing pihak yang berdialog dapat memberi respon kepada mitra dialog secara baik. sehingga siswa memiliki kesiapan dan minat untuk belajar. dan menghindarkan menjadi penceramah. deep dialogue/critical thinking akan terjadi manakala masing-masing pihak menghadirkan hati. menjalin hubungan .1995) dan guru perlu menguasai ketrampilan dasar mengajar (Wardani dala Endang Danial. Global Dialogue Institut merumuskan sebuah pendekatan pembelajaran yang dipandang cocok untuk PKn yakni Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking (DD/CT) yang mengandung prinsip: komunikasi multi arah. (Raka Joni. Dengan menghadirkan hati.Kelima. Membangun empati dalam dialog mendalam pihak-pihak yang berdialog dapat menyetujui dengan tetap menjaga integritas diri mitra dialog. Dalam berdialog harus menghadirkan hati dan tidak hanya fisik. merupakan ungkapan yang tepat dalam membangun deep dialogue/critical thinking. membangun empati. pengkotbah atau yang mendominasi proses dialog. bandingkan secara adil dalam berdialog sedapat mungkin kita tidak menduga-duga tentang hal yang disetujui dan hal yang akan ditentang. Untuk itu guru dituntut memiliki kualifikasi baik sebagai inovator sekaligus developer pembelajaran yang dilakukan dengan pembaharuan pembelajarannya maupun melakukan adopsi kritis terhadap inovasi pendidikan (Rogers.

bertanggung jawab. Dengan rancangan penelitian pengembangan. Penelitian Pengembangan pada tahap kedua adalah bagaimana menyusun bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang bisa berterima secara teoritis maupun praktis. Instrumen yang digunakan dalam penelitian tahap pertama ini adalah kuesioner. DD/CT mengandung nilai demokratis dan etis sehingga beraitan dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia. Swidler menekankan bahwa DD/CT lebih merupakan cara berpikir baru (new way of thinking). keterbukaan dan kejujuran serta empatisitas yang tinggi ( Al Hakim. Kuesioner dan wawancara dipergunakan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking . demokratis. Berdasarkan latar belakang di atas tujuan penelitian ini adalah (1) menemukan kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn yang berbasis DD/CT. cerdas dan religius. 2002). Analisis domain untuk data yang diambil dengan analisis dokumen. Teknik analisis statistik deskriptif (rerata. dokumentasi. Rancangan kuantitatif dipergunakan untuk menjelaskan bahan ajar dan LKS Matapelajaran PKn berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking untuk siswa SMA .kesederajatan. dan wawancara. Produknya berupa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan . mode. (2) tersusunannya bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan pendekatan DD/CT yang berterima baik secara teoritis maupun praktis bagi siswa SMA di Jawa Timur METODE Subyek penelitian ini adalah praktisi (guru PKn di SMA Jawa Timur) sejumlah 10 orang dan pakar PKn berjumlah 10 orang. saling memberadabkan (civilizing) dan memberdayakan (empowering). dan persentase) untuk data-data yang diambil dengan kuesioner. Lokasi penelitian ini adalah Kota Malang. pedoman wawancara. sehingga akan menunjang pembentukan warga negara yang baik. terutama dalam pendidikan anak seutuhnya (PAS).

Penelitian dimulai dengan memadukan hasil penelitian tahap pertama dengan dengan kajian teori untuk menghasilkan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA Pengembangan bahan ajar perlu dilakukan secara sistematik berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait untuk menghasilkan bahan ajar yang bermanfaat. Padahal ada beberapa langkah yang harus dilakukan guru sebelum sampai pada kesimpulan bahawa bahan ajar sudah dikembangkan dengan baik. maka bahan ajar dapat digunakan dengan efektif dalam proses pembelajaran. Guru seringkali mengabaikan prosedur pengembangan bahan ajar yang sistematik ini karena berasumsi. buku mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah menurut pakar dan guru dikategorikan seperti dalam Tabel 1. serta bahan ajar yang digunakan memang baik. Struktur Bahan ajar Mata Pelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan struktur bahan ajar. sebagai berikut Analisis Perancangan Pengembangan Evaluasi Revisi HASIL 1.kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang berterima secara teoritis maupun praktis. jika sudah dibuat dengan baik sesuai dengan materi yang akan diajarkan. a. Karakteristik Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara yang dilakukan dengan para pakar dan praktisi diketahui sebagai berikut. Paling tidak ada lima langkah utama dalam prosedur pengembangan bahan ajar yang baik. .

3. 4.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi . 4. 2.Tabel 1 Struktur Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. dan 2.dan 10% menyatakan sistematis tetapi tidak mengacu pada standar isi.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi.5% 10% 2. Ditinjau dari Paparan materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT menurut guru dan pakar dikategorikan seperti dalam Tabel 2 berikut. menurut pakar dan praktisi 53% menyatakan sistematis dan semua mengacu pada satandar isi. Paparan Materi Buku Teks Mata Pelajaran PKn Semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Tidak runtut dan tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Jumlah Jumlah 35 4 1 0 40 100% % 87. 3. sebanyak 87. sedangkan 37% pakar dan praktisi menyatakan sistematis dan sebagian mengacu pada standar isi. Struktur Buku Teks Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Jumlah Jumlah 21 15 4 0 40 % 53 37 10 0 100% Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa struktur bahan ajar PKn berbsis DD/CT yang digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran.5% Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa paparan materi bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 10% pakar dan praktisi /guru menyatakan sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi. 2. Tabel 2 Paparan Materi Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1.

Tabel 4 Tingkat Kesulitan Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. . Ditinjau dari tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT yang dipergunakan sebagai sumber bahan ajar dalam proses pembelajaran di sekolah dikategorikan seperti dalam Tabel 4 berikut. sebanyak 45% menyatakan luas.5% 100% Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 4. 4. Keluasan (scope) Materi Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 10 18 12 0 0 40 % 25% 45% 30% 100% Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa keluasan (scope) materi bahan ajar matapelajaran PKn berbasis DD/CT. .5% menyatakan sangat mudah dipahami. Tabel 3 Keluasan Materi Bahan Ajar Mata Pelajaran PKn berbasis DD/CT No 1.5% menyatakan sulit dipahami. dan 2. 20% menyatakan mudah dipahami. 3. 5. 5.Ditinjau dari keluasan (scope) materi bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam Tabel 3 berikut. 42. 5% menyatakan cukup sulit dipahami. 3. dan 30% menyatakan cukup luas. sebanyak 25% menyatakan sangat luas.5% 5% 50% 42. 2. 2. Tingkat Kesulitan Materi Buku Teks PKn Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 2 20 17 40 % 2.

5% 100% Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa tingkat keterbacaan (bahasa) materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT. 3. 62. Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa sangat sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 2 3 25 9 1 40 % 5% 7. 3.Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa) yang digunakan dalam materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam tabel 5 berikut: Tabel 5 Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. 2. 1 12 23 4 0 40 2.5% menyatakan bahasa sangat sesuai untuk siswa SMA. 4. 5% pakar dan praktisi menyatakan bahasa terlalu tinggi untuk siswa SMA.22. 2. Tabel 6 Paparan Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Paparan Awal Buku Teks PKn menggunakan Cerita.5% 30% 57. Puisi atau Peristiwa yang Relevan dengan Materi Pokok Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1. 5.5% bahasa kurang sesuai dan 2. Lagus.5% 62.5% 2.5% menyatakan bahasa bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Ditinjau dari paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 6 seperti berikut.5% 22.5% menyatakan bahasa sesuai.5% 10% 100% . 4. 5. 7.

contoh realitas kehidupan. 57. 4. apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. 3. 2.5% menyatakan sering.5% menyatakan kadang-kadang. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 7 seperti berikut. 32.5% pakar dan praktisi menyatakan tidak ada. Tabel 8 Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam No 1. kalimat naratif Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1. 5. menurut guru dikategorikan dalam Tabel 8 sebagai berikut. 22 13 5 0 0 40 55% 32. 2. 2. atau kalimat naratif. contoh realitas kehidupan. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam.Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT. Tabel 7 Paparan Ilustrasi dalam Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar. 4. 12. 5. Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 12 23 5 0 0 10 % 20% 30% 50% 100% . 30% menyatakan sering.5% 12.5% menyatakan selalu. dan 2. 3.5% . sebanyak 55% menyatakan selalu. kadang-kadang. contoh realitas kehidupan.5% 100% Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memaparkan ilustrasi berupa gambar. kalimat naratif.Ditinjau dari apakah materi Awal bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar.

Materi Bahan Ajar Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 23 12 5 0 0 40 % 57. 3. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 9 sebagai berikut. 5. Keberadaan LKS Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Lain-lain Jumlah Jumlah 20 11 3 6 0 40 % 50% 27.5% 7. sebanyak 50% guru menyatakan kadang-kadang. 2. 30% guru menyatakan sering. 2. Tabel 10 Keberadaan LKS Berbasis DD/CT dalam Proses Pembelajaran PKn No 1. 3. 2. dan 12. Tabel 9 Materi Bahan Ahar PKn Berbasis DD/CT Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis No 1.5% responden menyatakan selalu.5% menyatakan kadang-kadang. sebanyak 57. 4.5% 15% 100% . 4. 30% menyatakan selalu. dan 20% guru menyatakan selalu.5% 30% 12.Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa materi bahan ajaran mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog mendalam.5% 100% Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis. 5. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan responden penelitian ini diketahui bahwa lembar kegiatan siswa (LKS) PKn Berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam tabel 10 sebagai berikut.

25% menyatakan LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan. Struktur LKS PKn Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Lain-lain Jumlah Jumlah 37 2 0 0 1 40 % 92. Tabel 11 LKS Terkait dengan Bahan Ajar PKn No 1.5% 100% . Lembar kegiatan siswa (LKS) PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn menurut pakar dan praktisi terkait dengan bahan ajar PKn berbasis DD/CTi. dan 15% menyatakan tidak perlu. Kaitan LKS dan Bahan Ajar LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan LKS dan Bahan Ajar dibuat secara terpisah LKS dimuat setelah materi/topic LKS diletakkan setelah seluruh materi/topik Jumlah Jumlah 10 6 2 22 40 % 25% 15% 5% 55% 100% Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa hubungan lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam setiap materi pembelajaran PKn di sekolah dengan bahan ajar.Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa keberadaan LKS dalam setiap materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran di sekolah. 4. 27. 4.5% 5% 2. 7. 50% menyatakan sangat perlu. 5. 15% menyatakan LKS dan Bahan Ajar dibuat terpisah. 3. Karakteristik LKS Berbasis DD/CT ditinjau dari struktur LKS PKn yang dipergunakan dapat dikategorikan dalam Tabel 12 sebagai berikut: Tabel 12 Struktur LKS PKn Berbasis DD/CT No 1. seperti dalam Tabel 11 berikut. 55% menyatakan LKS diletakkan setelah seluruh materi.5% menyatakan kurang perlu. 5% menyatakan LKS dibuat setelah topik. 2. 3. 2.5% menyatakan perlu.

5. Ditinjau dari keluasan (scope) LKS materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 14 sebagai berikut: Tabel 14 Keluasan Materi LKS No 1. 2.5% menyatakan sistematis semua mengacu pada standar isi. 90% menyatakan runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. 3.Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa struktur lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT. 2. 3. dan 2. sebanyak 92. Tabel 13 Paparan LKS PKn Berbasis DD/CT No 1. 5% menyatakan sistematis sebagian mengacu pada standar isi.5% 62. Keluasan (scope) Materi LKS Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 0 13 25 2 0 40 % 32. dan 10% menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. Ditinjau dari sisi pemaparan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam Tabel 13 sebagai berikut.5% menyatakan lain-lain. 5. 4. Paparan LKS Runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi Tidak runtut dengan kompetensi dasar pada kurikulum Lain-lain Jumlah Jumlah 36 0 4 0 0 40 % 90% 10% 100% Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa pemaparan lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT pada mata pelajaran PKn. 4.5% 5% 100% .

Tingkat Keterbacaan Materi LKS Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 0 1 39 0 0 40 % 2. Tingkat Kesulitan Materi LKS Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 15 24 0 40 % 2. 37. 5. 62. 2. 2. Tabel 16 Tingkat Keterbacaan Materi LKS No 1. dan 5% menyatakan sempit. sebanyak 2.5% responden .5% 97. 5.5% menyatakan cukup sulit dipahami. Ditinjau dari tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam tabel 14 sebagai berikut: Tabel 15 Tingkat Kesulitan Materi LKS No 1. 4.5% menyatakan sulit dipahami. 3.5% menyatakan luas.Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa keluasan (scope) materi lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT.5% 37. sebanyak 97. Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa yang digunakan) LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 16 sebagai berikut. 3. sebanyak 32. dan 60% menyatakan mudah dipahami.5% 100% Berdasarkan Tabel 16 diketahui bahwa tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 4.5% menyatakan cukup luas.5% 60% 100% Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT.

5% memuat pusi. 2. 25.5% menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. Tabel 17 Paparan Awal LKS No 1. 3. 5. 2. Paparan Awal LKS Cerita Syair lagu nasional atau local Puisi. 5.5% 65% 2. dan 2.% responden menyatakan memuat cerita 5% menyatakan memuat syair lagu. 56% memuat contoh . Ilustrasi dalam LKS Gambar Contoh realitas kehidupan Bagan dan grafik Kalimat naratif (uraian) Lain-lain Jumlah Jumlah 2 25 3 10 5 45 % 4% 56% 6% 22% 12% 100% Berdasarkan Tabel 18 diketahui bahwa ilustrasi dalam LKS PKn berbasis DD/CT.5% menyatakan lain-lain. 3. 2. Ditinjau dari ilustrasi dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut responden dapat dikategorikan dalam Tabel 18 sebagai berikut. 65% memuat peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok.menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. 4. Tabel 18 Ilustrasi dalam LKS No 1. 4% menyatakan memuat gambar. 2. Ditinjau dari pola pemaparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan dalam proses pembelajaran dapat dikategorikan dalam tabel 17 sebagai berikut. syair lagu daerah (lokal) Peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok Lain-lain Jumlah Jumlah 10 2 1 26 1 40 % 25% 5% 2. 4.5% 100% Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa paparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan.

4. 2. Ditinjau dari pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam.5% 30% 12. 5.5% 5% 100% Berdasarkan Tabel 19 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi terjadinya dialog mendalam diantara siswa. 3. menurut guru dapat dikategorikan sebagai berikut. Pertanyaan dan tugas dalam LKS PKn Memfasilitasi Siswa untuk Berpikir Kritis Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 28 10 1 1 40 % 70% 25% 2. 4. 5% menjawab tidak memfasilitasi Ditinjau dari apakah pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut responden dapat dikategorikan sebagai berikut. 2. 30% menyatakan cukup memfasilitasikadang-kadang. 5. Tabel 20 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1. 3.5% 2. sebanyak 52.realitas kehidupan. Pertanyaan dan Tugas LKS Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 21 12 5 2 40 % 52. 12. 6% menyatakan memuat bagan.5% menjawab kurang. dan 12% menyatakan memuat lain-lain. Tabel 19 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1.5% guru menjawab sangat menfasilitasi. 22% menyatakan memuat kalimat narasi.5% 100% .

2. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia. . sebanyak 70% menjawab sangat memfasilitasi.5% menjawab kurang memfasilitasi. benar dari segi keilmuan. 2. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar tidak dikembangkan secara asal-asalan. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1. Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan. 25% menjawab cukup memfasilitasi.Berdasarkan Tabel 20 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis.5% menjawab tidak memfasilitasi 3. Kelebihan dan Kekurangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan hasil wawancara dengan praktisi dan pakar dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Dapat dilihat dari Tabel sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya.

Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. Pengembangan bahan ajar sesuai dengan materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan dalam standar isi atau topik di Sekolah Menengah Atas. Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. 3. sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda.Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. yang menurut pakar dan praktisi. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. sebagai berikut. . kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal. Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. Dalam hal ini. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. keluasan maupun kedalamannya akan berbeda.

Dengan demikian.1) Paparan yang Logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. tidak terkotak-kotak satu sama lain. latihan. Bahan ajar berbasis DD/CT yang dipaparkan secara logis akan memudahkan siswa. contoh dan latihan. 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar Pkn berbasis DD/CT disajikan secara sistematis. Logika pemaparan ini dapat diperkenalkan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). Keruntutan penyajian isi bahan ajar mempermudah siswa dalam belajar.hal ini dilihat dari pengorganisasi bahan ajar itu sendiri yang bertanya tentang apa sampai bertanya mengapa. Dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. atau dari fakta ke konsep. Logika penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep dalam bahan ajar. latihan. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. 3) Perjelas dengan Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. Misalnya. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. tidak meloncat-loncat. penyajian uraian. dari yang mudah ke yang sukar. Dengan demikian. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. namun setiap bagian perlu diberi penjelasan yang memadai sehingga tidak membingungkan siswa. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. atau penyajian uraian. siswa diharapkan dengan mudah mengikuti pemaparan. atau contoh. Urutan strategi penyajian dapat berubah-ubah sehingga tidak membosankan. dan juga menuntun siswa untuk terbiasa berpikir runtut. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. dalam menjelaskan Hak asasi manusia dalam mata .

Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar harus konsistensi. ataupun dari situs-situs di internet. Guru dapat mencari kasus di koran. alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. Untuk menjelaskan konsep tersebut diperlukan alat peraga yang dapat menggambarkan pelaksanaan dan pengadilan HAM internasional. tercetak-narasi sebagai bagian dari penyajian isi bahan ajar dalam materi pokok yang berbentuk cetak. petunjuk belajar bagi siswa. serta tanda-tanda khusus yang diberlakukan serta dapat membantu siswa. atau dalam bentuk noncetak. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. Dalam bahan ajar non-cetak. model. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita. siswa akan dapat berdialog sesuai petunjuk dalam LKS. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. penomoran. audio. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. Koran. atau dari internet. Jadi. poster. guru tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. alat bantu juga dapat berupa rangkuman. misalnya nada suara yang berbeda dalam kaset audio. dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berbentuk tertulis. Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan (bukan malah membuat siswa semakin bingung). kartu-kartu (flipchart). seperti video. serta tanda-tanda khusus. atau caption dalam program video. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. Melalui guntingan koran tersebut. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). Contoh dan ilustrasi dapat dikembangkan dalam beragam bentuk. Dalam beberapa kasus. Dalam bahan ajar cetak. alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama . atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. untuk memngetahui pengadialan HAM internasional. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. judul bab yang jelas.pelajaran PKn di SMA. sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah.

jika guru menggunakan kertas kuning untuk lembar kerja siswa. intonasi suara dapat digunakan sebagai tanda atau format untuk berhenti. jangan gunakan warna kuning untuk komponen lain dalam bahan ajar. 6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar perlu ada penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. Contoh. Dalam bahan ajar audio. Misalnya. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. . maka siswa akan menandai sebagai LKS. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. tanda perintah berhenti. mengulang. Dalam hal ini. clip video yang berupa grafik. atau penyajian langsung dapat digunakan sebagai tanda dari rangkuman. dan dipelajari oleh siswa. Dengan demikian. paket kerja mandiri). Dalam bahan ajar cetak. setiap kali siswa melihat warna kertas kuning. Dalam bahan ajar video. sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar perlu memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. Bahan ajar dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. atau meneruskan pembelajaran. atau meneruskan pembelajaran. diingat. Peran ini perlu dijelaskan kepada siswa dengan cermat. maka seterusnya gunakanlah warna kertas kuning untuk LKS.hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. mengulang. konsistensi istilah sangat diperlukan sehingga siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. gambar ―orang sedang berpikir‖ digunakan untuk arti ―uji kompetensi‖ yang harus dikerjakan oleh siswa secara tertulis. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar.

video. Walaupun isi bahan ajar sudah cermat. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. penggunaan kalimat efektif. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. Penggunaan bahasa. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. menggunakan format yang konsisten. namun jika bahasa yang digunakan tidak dimengerti oleh siswa. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. dan tidak terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendiri-sendiri. 4. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. seperti kaset audio. bahan ajar berbasiskan komputer. Dengan demikian. dan lain-lain. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. serta dikemas dengan menarik. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. Hal ini sangat perlu sebagai . Dengan demikian. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. pertanyaan. dan penjelasan. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. maka bahan ajar tidak akan bermakna apa-apa. Dalam bahasa komunikatif. dan penyusunan paragraph yang bermakna. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar terjadi. lembar kerja siswa. pemilihan kata. siswa dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain.Bahan ajar juga perlu menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. ajakan. mengerjakan tugas-tugasnya. yang meliputi pemilihan ragam bahasa.

Pada gilirannya.salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut. jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. yang berbentuk kalimat topik. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. serta keterpaduan. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. singkat. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. Selanjutnya. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). . dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. dan lebih mudah dimengerti. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan. Di samping itu. Selain itu. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. Gagasan utama. kadangkala dapat membingungkan siswa.

5. Perwajahan/Pengemasan

Perwajahan dan atau pengemasan berperan dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak, serta pengemasan dalam paket bahan ajar multimedia. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. 3) Padukan grafik, poin, dan kalimat-kalimat pendek, tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan, karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu, jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian, tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan.  Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar, sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri, atau dengan teman-teman dalam kelompok).
6. Ilustrasi

Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar memiliki ragam manfaat, antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar, jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. Namun, ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis, yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. Selain itu, ilustrasi juga dapat diambil dari sumber

langsung (misalnya foto), sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). Jika ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain, penulis berkewajiban memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. Selain itu, ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik, memotivasi, komunikatif, membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar, antara lain daftar atau tabel, diagram, grafik, kartun, foto, gambar, sketsa, simbol, dan skema.
7. Kelengkapan Komponen

Idealnya, bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik, meliputi penyampaian tujuan belajar, memberi bimbingan tentang strategi belajar, menyediakan latihan yang cukup banyak, memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci, soal, tugas, kegiatan), serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket, atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet, atau buku lain), panduan belajar/siswa, serta panduan guru. Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti, yaitu komponen utama, komponen pelengkap, dan komponen evaluasi hasil belajar. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa, atau harus dikuasai siswa. Kebanyakan, bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak, misalnya buku teks, buku pelajaran, modul, dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama, atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa.

Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan, bacaan, jadwal, silabus, peta materi, kliping kasus), bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak, peta materi dalam bentuk program komputer, video, kaset, web suplemen, simulasi komputer, kit), panduan siswa (peta materi, petunjuk belajar, latihan dan tugas, tips, kata-kata sukar, pemilahan materi), panduan guru (peta materi, petunjuk bagi guru, konsep inti topik atau pokok bahasan, latihan dan tugas, rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik, yang disajikan melalui beragam media, secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
a. Bahan Ajar PKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
b.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

2. Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga Beberapa usulan pakar dan praktisi agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
c. Bahan Ajar PPKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
d.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

sesuai dengan standar kompetensi. Karakteristik Bahan Ajar Mata Pelajaran Pkn berbasis DD/CT Hasil penelitian ditemukan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT menjadi salah satu alternatif pilihan guru dalam pembelajaran PKn yang memberikan kesempatan lebih banyak pada siswa untuk berdialog dengan teman. Dengan demikian kedepan guru dituntut dapat menyusun bahan ajar mata pelajaran yang diampunya. ―buku adalah guru yang baik tanpa tatap muka‖. ―buku adalah jendela informasi dunia‖. secara umum memiliki struktur yang mengacu pada kompetensi dasar dan indikator sebagaimana yang terdapat dalam standar isi. Disamping itu bahan ajar berbasis DD/CT dipandang akan mampu merangsang siswa untuk berpikir kritis. Hal ini dimaksudkan untuk dapat dipergunakan oleh guru dan siswa sesuai dengan jenjang kelasnya. 2003). Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga BAHASAN 1. Struktur bahan ajar dan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT . Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. dengan orang tua. Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. Semboyan tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya buku pelajaran. Tuntutan pendidikan dewasa ini yang memberikan otonomi pada sekolah dan guru dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk menyusun bahan ajar yang tepat. seni dan agama serta ide-ide‖ (Pusbuk.2. dengan guru. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. Semboyan bahwa ―buku adalah salah satu sumber ilmu‖. kompetensi dasar dan kemampuan siswanya. dengan masyrakat disekitarnya. buku adalah media komunikasi tentang IPTEK. Karena buku pelajaran merupakan sumber .

mutahir atau sesuai dengan perkembangan yang terbaru. Berdasarkan analisis bahan ajar berbasis DD/CT telah cukup lengkap dalam sajian. dan (c) keakuratan: bahwa isi materi yang disajikan harus benar secara keilmuan. berdasarkan hasil penelitian menunjukkan cukup sistematis. dan tugas-tugas pengembangan. (b) kecukupan: muatan materi bahan ajar telah memadai untuk mencapai kompetensi.belajar dan media yang sangat penting untuk mendukung tercapainya kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran. Hasil penelitian dan analisis bahan ajar berbasis . materi pokok. Aspek penyajian bahan ajar PKn berbasis DD/CT dapat dijabarkan sebagai berikut (a) kelengkapan sajian. karena isi materi relevan dengan standar isi yang dikembangkan dalam KTSP. yakni materi pokok yang disajikan dalam buku pelajaran PKn umumnya adalah (a) relevansi: bahwa isi materi bahan ajar sesuai dengan standar isi. Buku pelajaran PKn berbasis DD/CT dapat secara efektif menunjang pencapaian kompetensi pembelajaran PKn dibuat sedemikian rupa untuk memenuhi standar . Davis (1955) dalam Puskur (2003) menyatakan bahwa buku pelajaran yang baik berisi materi yang sesuai dengan kurikulum. bahasa dan keterbacaan. hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT cukup memiliki kecukupan. Ini berarti untuk dipergunakan dengan dalam rangka implementasi kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat dipergunakan. di dalamnya memuat kompetensi dasar. maka dapat dikemukakan bahwa bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT untu SMA: (1) aspek materi pelajaran . (b) sistematika sajian. memerhatikan ilustrasi dan format. penyajian. disesuaikan dengan usia dan kematangan siswa. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas dan hasil penelitian . (c) kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa. disusun oleh penulis yang kompeten. Bahan ajar PKn berbasis DD/CT. serta grafika. bermanfaat bagi kehidupan dan pengemasan materi sesuai dengan hakekat PKn. Aspek penting yang diperhatikan adalah materi. Kalau dengan KTSP terdapat cukup tepat dengan kompetensi dasar tentunya dalam pemanfaatannya perlu penyesuaian dengan KTSPnya (2) Aspek penyajian. Dengan kriteria ini maka hasil penelitian menunjukkan bahwa keakurasian materi bahan ajar PKn berbasis DD/CT tercapai ini tebukti banyak pendapat yang menyatakan materi yang disajikan sebagai sesuai dengan kompetensi dasar.

misalnya Bu Yayuk dari SMA di Magetan menyatakan LKS berbasis DD/CT ini saya kita lumayan merangsang siswa untuk berpikir dan berdiskusi. Hasil penelitian juga menunjukkan cara penyajian yang dikemas dalam bahan ajar Pknberbasis DD/CT relative kontekstual. paragraf dan wacana. Secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih kering ilustrasi yang merangsang siswa untuk membicarakan dengan orang lain dan memikirkan lebih kritis. Bahasa disini berarti dalam penyajian bahan tepat dalam penggunaan kosakata.DD/CT menunjukkan bahwa bahan ajar PKn. terdapat buku yang contoh yang diangkat kurang kontekstual artinya beberapa gambar yang disajikan tidak dipahami oleh siswa karena dari negara lain. Keterbacaan. (4) Aspek grafika. Hasil penelitian menunjukkan bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat wacana yang membuka wawasan siswa tentang materi yang akan dipelajari. jenis kertas. (3) Aspek bahasa dan keterbacaan. Dengan sajian materi yang luas cukup memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya untuk berpikir kritis. hanya ilustrasi kurang. ukuran huruf. jenis kertas menunjukkan beberapa menggunakan kertas putih. yakni sebagaimana bahan ajar atau buku yang memberi nuasa berdialog siswa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bahan ajar yang dipergunakan dalam hal ukuran cukup bagus. 2. warna dan ilustrasi. cetakan. kalimat. meskipun secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah menggunakan kaidah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. namun menurut saya perlu pedoman yang jelas bagaimana dan dimana jawaban harus dibuat sedangkan Pak Wayan mengemukakan bahan ajar . Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bahasa yang dipergunakan cukup dipahami siswa SMA. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Mata Pelajaran PKn yang Berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking Hasil wawancara dengan beberapa guru. dan (d) cara penyajian. Yakni yang berkaitan dengan ukuran bahan. cetakan dan ukura huruf bagus. materi luas hal ini dikemukakan baik oleh guru sebagai praktis maupun pakar.Sehingga bahan ajar PKn berbasis DD/CT ini sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa student centered. sedangkan beberapa menggunakan kertas yang agak buram.

meskipun demikian banyak menyatakan bahwa struktur LKS matapelajaran PKn runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi.sudah match jadi materi yang ada di bahan ajar sama dengan yang di LKS. dan siswa menyatakan sangat mudah dipahami. sebagian responden menyatakan mudah dipahami. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada . Dengan demikian dari segi bahasa. Lainnya mengatakan paparan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi. Struktur lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn di sekolah. sebagian besar responden menyatakan runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi. namun tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran PKn . banyak responden menyatakan cukup sulit dipahami. Sehingga beberapa siswa menyatakan‖ bahwa LKS berbasis DD/CT ini mengasikkan karena dapat dikerjakan sendiri ‖ 3. Sedangkan tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menyatakan cukup sulit dipahami. sulit dipahami. dan tidak runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. LKS PKn berbasis DD/CT tidak sulit bagi siswa SMA.dan LKS berbasis DD/CT. Kondisi ini disebabkan LKS berisi rangkuman materi dan soal-soal yang harus dikerjakan secara individual oleh siswa. dan sedikit yang menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. sebagaian kecil siswa menyatakan mudah dipahami. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1) Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. dan hanya sedikit menyatakan sulit dipahami. sangat sulit dipahami. sebagian besar responden menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada satandar isi Tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT.

Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. . kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu. benar dari segi keilmuan. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat.dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia sebagaimana Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar berbasis DD/CT tidak dikembangkan secara asal-asalan. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya.

. Dalam hal ini. keluasan maupun kedalamannya akan berbeda. Setiap guru pasti mempunyai tujuan pembelajaran yang dijabarkan dari kompetensi dasar dan indikator. Dengan . dari yang mudah ke yang sukar. dalam. Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. siswa dengan mudah mengikuti pemaparan. 1) Paparan yang logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. Dalam Bahan ajar PKn berbasis DD/CT penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep. Dalam hal ini seberapa banyak atau luas suatu topik yang akan disajikan? Seberapa dalam suatu topik yang perlu dibahas? Bagaimana keutuhan konsep yang disajikan? Banyak pertimbangan yang perlu diperhatikan. sebagai berikut. Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. Tentunya. Bahan ajar yang dipaparkan secara tidak logis akan menyulitkan siswa. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). antara lain yang paling utama adalah kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran. kemudian berlandaskan pada tujuan tersebut dapat menentukan seberapa luas. Dengan demikian. dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kemudian kembangkanlah bahan ajar – materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan tersebut. sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda. Lihatlah tujuan tersebut. atau dari fakta ke konsep. 3. dan utuh topik yang akan disajikan kepada siswa. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. tujuan pembelajaran atau topik tertentu di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama akan berbeda dengan tujuan pembelajaran atau topik yang sama di Sekolah Menengah Atas.Keluasan dan kedalaman isi bahan ajar sangat berhubungan dengan keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu.

yang mendorong siswa mencari sumber lain. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. Tampaknya belum banyak contoh-contoh yang mempermudah siswa lebih memahami bahan ajar. dalam menjelaskan Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita. Kelemahannya belum banyak contoh-contoh dan latihan yang kontestual. atau dalam bentuk noncetak. atau contoh. sekaligus merangsang untuk berdialog mendalam. bahan ajar tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis.demikian. tidak meloncat-loncat. contoh dan latihan. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. penyajian uraian. atau penyajian uraian. 3) Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. seperti video. Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan . latihan. tidak terkotak-kotak satu sama lain. 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah disajikan secara sistematis. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. latihan. Kelemahan dari pemaparan bahan ajar berbasis DD/CT ini karena keruntutannya dapat menyebabkan siswa kurang dapat mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis. Contoh dan ilustrasi yang dikembangkan dalam bahan ajar berbasis DD/CT dalam penyajian isi bahan ajar belum bervariatif mestinya bisa poster. atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. audio. Misalnya. kartu-kartu (flipchart). Padahal dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. model.

diingat. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. Koran..(bukan malah membuat siswa semakin bingung). alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. ataupun dari situs-situs di internet. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. konsistensi yang dipelihatra adalah mengenai istilah dengan harapan siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. kotak bahan dialog. Dalam hal ini. gambar ―orang sedang berdemontrasi‖ digunakan untuk arti ―rapat‖ . siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. penomoran. . Dalam bahan ajar Pkn DD/CT sebagai bahan cetak. Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar Pkn berbasis DD/CT belum konsistensi. Dalam beberapa kasus. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. Misalnya. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. Jadi. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah. 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki format yang memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. judul bab yang jelas. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. serta tanda-tanda khusus. alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah dibuat dengan cetak. dan dipelajari oleh siswa.

Dengan demikian. Penggunaan bahasa. paket kerja mandiri). video. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. pemilihan kata. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. seperti kaset audio. lembar kerja siswa. Peran ini telah dijelaskan dalam bahan ajar PKn tersebut dijelaskan kepada siswa dengan cermat. sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. yang meliputi pemilihan ragam bahasa. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar . dan penjelasan. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. 4. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa. penggunaan kalimat efektif. Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT cukup memadai dalam penggunaan bahasa yang dimengerti oleh siswa. dan lain-lain. dan penyusunan paragraph yang bermakna. bahan ajar berbasiskan komputer. Dengan demikian. Bahan ajar PKn dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. mengerjakan tugas-tugasnya. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. Kelemahan bahan ajar Pkn berbasis DD/CT ini belum menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya.6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. siswa kurang dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. pertanyaan. Dalam bahasa komunikatif. agar bahan ajar bermakna bagi siswa. ajakan. dan terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendirisendiri. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca.

sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. singkat. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. Hal ini sangat perlu sebagai salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. kadangkala dapat membingungkan siswa. yang berbentuk kalimat topik. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. dan lebih mudah dimengerti. serta keterpaduan. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar. Selanjutnya. Selain itu. Di samping itu. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf.terjadi. Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. . Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan. bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. Gagasan utama.

6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. Pada gilirannya. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan.  Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian. tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan.. 3) Padukan grafik. . dan kalimat-kalimat pendek. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar.Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. atau dengan teman-teman dalam kelompok). jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. poin. 5. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan. sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu. karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. Perwajahan/Pengemasan Dalam Hal perwajahan dan atau pengemasan bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih banyak kelemahan terutama dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak.

diagram. . ilustrasi juga dapat diambil dari sumber langsung (misalnya foto). Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket. grafik. antara lain daftar atau tabel. menyediakan latihan yang cukup banyak. Kelengkapan Komponen Bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT cukup memiliki kelengkapan komponen. yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik. gambar. antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan.6. Kelemahan dalam bahan ajar ini ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain. kartun. dan skema. 7. komunikatif. Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar. membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. atau buku lain). simbol. tugas. penulis belum memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. kegiatan). sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). meliputi penyampaian tujuan belajar. serta panduan guru. memberi bimbingan tentang strategi belajar. sketsa. atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet. Ilustrasi Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki ragam manfaat. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar. Namun. Selain itu. jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik.Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT ilustrasinya kurang bervariasi. soal. memotivasi. bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. pelengkap dan evaluasi Idealnya. panduan belajar/siswa. ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis. yakni informasi . foto. ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik. Selain itu.

yaitu komponen utama. bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak. kliping kasus). jadwal. web suplemen. panduan siswa (peta materi. Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS berbasis DD/CT ini dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut: 1. atau harus dikuasai siswa. Kebanyakan. pemilahan materi). yang disajikan melalui beragam media. kaset. dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. dan komponen evaluasi hasil belajar. simulasi komputer. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama. latihan dan tugas.Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti. perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan  Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar  Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik  Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis . Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa. kit). kata-kata sukar. misalnya buku teks. peta materi dalam bentuk program komputer. komponen pelengkap. modul. silabus. bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak. rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik. peta materi. petunjuk belajar. buku pelajaran. atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa. konsep inti topik atau pokok bahasan. petunjuk bagi guru. tips. video. bacaan. panduan guru (peta materi. Bahan Ajar PPKn     Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak. latihan dan tugas.

Dalam pendekatan ini bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsedapat mungkin mengurangi pengajaran yang terpusat pada guru (teacher centered) dan sebanyak mungkin pengajaran yang terpusat pada siswa (Student centered). 2. Dengan landasan filosofi konstruktivisme. medialogkan" bukan hanya "menghafalkan". dimana melalui DD/CT diharapkan siswa belajar melalui "mengalami.Hal ini sesuai dengan pandangan Gross ( 2000) bahwa dengan mengalami sendiri. Lembar Kerja Siswa (LKS)  Soal-soal jangan di luar materi  Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang  Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari  Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa  Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir  Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar  LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga 4. Menyusun buku dengan bahasa yang menarik. mudah difahami dan mengajak siswa berpikir  Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir  Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi. DD/CT "dicita-citakan" menjadi sebuah pendekatan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn alternatif. . merasakan. Model Bahan Ajar dan Lembar Kegitan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) merupakan model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn yang membantu guru untuk menjadikan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn bermakna bagi siswa. namun demikian guru harus tetap memantau dan mengarahkan untuk mencapai kompetensi.

untuk mengamati. Berilah siswa kesempatan untuk melakukan refleksi sebelum pelajaran berakhir 7. Hal ini selain dapat menciptakan situasi tenang sebelum perkuliahan. menganalisis. selain itu juga dapat menghadirkan hati dan pikiran siswa-guru pada bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsaat itu. refleksi dan evaluasi. 2. maka dapat dikemukakan bahwa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan DD/CT memiliki beberapa keunggulan seperti bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn diawali dan diakhiri dengan "hening".merasakan. kegiatan inti dengan strategi penemuan konsep (Concept Attainment) dan Cooperative Learning. Untuk menjabarkan topik sebaiknya dilaksanakan dengan kegiatan menggali dan menemukan sendiri 3. Sebagaimana . Berdayakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan bertanya secara terbuka 4. maka pengetahuan dan pemahaman siswa akan sesuatu yang baru akan mengendap dalam pikiran siswa dalam jangka panjang yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk bekal siswa dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan DD/CT di kelas cukup mudah. Pergunakan berbagai media dan sumber belajar untuk memperluas wawasan 6. dan mengembangkan kecakapan hidupnya. mendialogkan dan akhirnya mekonstruksikan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan baru. Ciptakan suasana dialog mendalam ' antar siswa" dan "antara siswaguru" oleh karenanya upayakan untuk selalu belajar dalam kelompok 5. mendialogkan dengan orang lain. membangun komunitas. apabila guru telah memahami kaidahkaidahnya sebagai berikut: 1. Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan di bab sebelumnya. Perubahan pandangan guru bahwa pemberdayaan siswa dalam bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan memberi kesempatan pada siswa. Penilaian hendaknya tidak hanya berdasarkan tes Lima komponen yang terdapat dalam model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan pendekatan DD/CT yakni hening.

berani tampil beda. Kegiatan membangun komunitas juga merupakan sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat majemuk oleh karena itu apabila dalam pembelajaran telah dibangun keterikatan terhadap komunitas kecil (kelas). juga ungkapan bebas dari pandangan.dikemukakan oleh Swidler (2000) yang menekankan pentingnya hening dalam segala aktifitas. dan mengambil keputusan yang tepat dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). maka pada skala makro sikap dan perilaku toleransi. Kegiatan refleksi juga merupakan sesuatu yang dapat dipandang keunggulan pendekatan DD/CT. dan dialog mendalam tentang segala hal baru yang diterima mahasiswa. karena menurutnya dengan hening seseorang telah menjalin interaksi intern yakni dengan dirinya maupun ekstern yakni dengan Tuhan. menghargai perbedaan. Ini menjadi tatantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan . usul terbaiknya demi kebaikan bersama. Ini sejalan dengan pendapat Gross (2000) bahwa dengan refleksi terjadi proses penajaman pengalaman yang peroleh dan mereproduksi ketika menyampaikan secara lesan. telah dapat menciptakan kebersamaan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa hening membawa manusia pada pengendapan hati dan pikiran. terbuka terhadap kritik. secara langsung telah membimbing dan mengajarkan mahasiswa menjadi insan religius. sehingga memudahkan proses dialog mendalam. sehingga akan mendukung upaya pendidikan anak seutuhnya (PAS) yang pada gilirannya akan sangat mendukung upaya mewujudkan manusia Indonesia Seutuhnya (MIS). mencari solusi permasalahan dengan caranya sendiri dan bantuan orang lain. dan sikap terpuji lainnya akan dapat mengantarkan siswa menjadi warga negara demokratis. Kebiasaan selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan termasuk kegiatan belajar mengajar. Refleksi memiliki fungsi mendidik pada siswa untuk menyukai belajar dari pengalaman yang telah dilaluinya. karena dapat sebagai sarana saling introspeksi baik dosen mapun mahasiswa. kegiatan ini juga merangsang daya kritis siswa dalam menangkap permasalahan. Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. Demikian juga kegiatan penemuan konsep dan cooperative learning.

Ini menjadi tantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya. serta memuat hasil penelitian dalam jurnal-jurnal baik yang nasional maupun internasional Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. mulai dari hening sampai evaluasi. membangun komunitas. Pembelajaran berbasis DD/CT terus melakukan penelitian lanjutan. karena bahan ajar ini memberi peluang dan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk ambil bagian dalam proses pembelajaran.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). paparan materi pokok. utamanya implementasi pembelajaran inovatif dengan menggunakan sarana bahan ajar dan LKS Berbasis DD/CT ini. namun multi arah. refleksi dan doa. model ini dapat mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Bahan ajar dan LKS PKn dengan pendekatan DD/CT adalah model bahan ajar dan LKS dengan lima komponen utama yakni hening (doa).model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya. . Dengan model bahan ajar dan LKS bernuansa DD/CT diharapkan prestasi siswa juga semakin meningkat. Interaksi belajar-mengajar juga semakin meluas tidak hanya satu arah yakni guru-siswa.bahkan kalau perlu dengan nara sumber yang berada di luar lingkungan sekolahnya. Bahan ajar dan LKS PKn dengan DD/CT dibuat dipandang mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. Saran Bahan Ajar dan LKS Mata pelajaran PKn Berbasis DD/CT ini perlu sempurnakan dengan cara mengimplementasikannya ke sekolahsekolah yang lebih beragam.

2000.L and paul Mojzes. Penulisan Karya Ilmiah. Malang. Deep Dialogue and Critical Thinking as Instructional Approach. 1979. 1995. 2002. Del mar Publishers. B. The Study of Religion in an Age Global Dialogue. Jakarta. New York. Diknas. Suparlan dan Milan Rianto. 2002. Model Pengintegrasian Budi Pekerti ke dalam PPKn untuk Guru SLTP. Strategi Pembelajaran Berdasarkan Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking. GDI. 2000.W. Ar. Integreted Teaching Methods: theory.J. Jakarta. Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Jakarta. Philadelphia University Press. and Field-based Connection. Jembatan Swidler. Kompetensi guru. Steven. PUSKUR-Dirjendikdasmen Frazee. Temple University Press . Bahan pelatihan Pendidikan Anak seutuhnya (PAS) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Global dialogue Institute dan UNICEF.DAFTAR RUJUKAN Al Hakim. Malang. Classroom Applications. Makalah pelatihan guru PPKn MA se kabupaten Pasuruan. PPPg PMP-IPS Sri Untari. Surakhmad. Dirjendikdasmen Depdiknas. Metode Pengajaran Nasional. Jakarta.2000. PPPG PMP-IPS Danial. Pembelajaran Kewarganegaraan dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Menyongsong KBK. & Rudnitski. 2000. Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking dalam Pendidikan Indonesia. Dilaksanakan di Malang tanggal 1--11 Juli 2001 Gross. Curricullun in Turbelence Era. Direktorat SLTP.2000.M. Philadelphia. 2001. Sri Suntari dan Sri Untari . E. 2002.

Penguasaan Konsep Fisika. it indicates that the students difficulty is located in the way of comprehending and mastering The fundamental physics lecture concepts. integrating erudite process and physics concept. The Concepts acquirement is not constitute to the understanding of erudite process which ought to student experience. Eddy Supramono adalah dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang .Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Abstrac: The quality of physics conception domination is very determined by study process which is done by students. One of the strategy is decanted in the module of Physics by Inquiry. Model Pembelajaran Investigasi Kelompok Mata Kuliah Fisika Dasar merupakan salah satu mata kuliah yang termasuk pada rumpun Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK) yang diwajibkan bagi mahasiswa tahun pertama di FMIPA Universitas Negeri Malang. Students obtain the concepts in the form of clarification and information from lecturer and then ones will be applied to some problems. According to the observation of study process of fundamental physics and interviewing with some students. The Module applies study strategy. Key words: Modul Physics by Inquiry. Some Various study strategy have been strived to increase student concept domination. giving opportunity for students for fundamental physics concept mastering through laboratory activities.

Salah satu strategi pembelajaran tersebut diantaranya tertuang dalam modul Physics by Inquiry. Mata kuliah ini secara langsung didukung oleh mata kuliah praktikum Fisika Dasar I pada semester I (1 SKS) dan praktikum Fisika Dasar II (1 SKS) pada semester II. Perolehan konsep tersebut tidak didasari pemahaman proses ilmiah yang seharusnya dialami mahasiswa.. Berbagai strategi pembelajaran telah diupayakan untuk meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa. Mahasiswa memperoleh konsep dalam bentuk informasi dan penjelasan dari dosen yang kemudian diterapkan dalam bentuk latihan soal. Penelitian ini berorientasi pada Teori Kognitif Sosial. Hasilnya menunjukkan peningkatan penguasaan konsep Fisika yang cukup signifikan serta mahasiswa memperoleh pengalaman langsung tentang proses ilmiah. Modul ini menggunakan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan proses ilmiah dan konsep Fisika yang memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menguasai konsep Fisika Dasar melalui kegiatan laboratorium. Dengan demikian. Kualitas penguasaan konsep Fisika sangat ditentukan oleh proses pembelajaran yang dialami mahasiswa. sehuigga struktur kognitif siswa akan tumbuh dan berkembang dengan kecenderungan-kecenderungan tertentu pula. yaitu pola tutorial sebaya. Berdasarkan pengamatan pada proses pembelajaran Fisika Dasar dan wawancara dengan mahasiswa menunjukkan bahwa kesulitan mahasiswa terletak dalam cara memahami dan cara menguasai konsep-konsep yang ada dalam mata kuliah Fisika Dasar.Berdasarkan kurikulum di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Modul ini pertama kali dikembangkan oleh The Physics Education Group di the University of Washington. dan diberikan pada kelas kecil dengan jumlah mahasiswa per kelas 20 orang mahasiswa. Strategi pembelajaran yang digunakan dalam modul Physics by Inquiry ini didasarkan pada kurikulum berbasis laboratorium. penelitian ini akan menghasilkan teori yang lebih rinci dalam cakupan Teori Kognitif Sosial. . mata kuliah ini memiliki bobot 6 SKS yang terbagi dalam mata kuliah Fisika Dasar I (3 SKS) pada semester I dan Fisika Dasar II pada semester II (3 SKS). kooperatif dan kolaborasi teman sebaya akan tercipta interaksi sosial di antara siswa dengan pola tertentu pula. Melalui pembentukan kelompok-kelompok dengan pola tertentu.

masalah pelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.Untuk lebih tegasnya berdasarkan latar belakang di atas. O4 dan O5 adalah pengukuran pertumbuhan konsep Fisika dengan periode dua mingguan. disajikan pada Tabel 1 berikut. yang diperluas dengan melibatkan lebih dari satu variable O1. Bagaimanakah interaksi dari dampak Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi kelompok yang dirancang dengan pola tutorial sebaya. O2. kooperatif dan kolaborasi teman sebaya pada Calon Guru Universitas Negeri Malang? METODE Penelitian ini dilakukan dengan mengambil jenis penelitian Quasy Experimentation (semi eksperimen) dengan mengambil model Randomized Control-Group Pretest-Paster . Adakah pengaruh dampak dari Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi Kelompok terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika Dasar para calon Guru Universitas Negeri Malang? b. Tabel 1 Rancangan Penelitian GI G2 G3 G4 O1 O1 O1 O1 XI X2 X3 X4 O2 O2 O2 O2 X1 X2 X3 X4 O3 O3 O3 O3 XI X2 X3 X4 O4 O4 O4 O4 XI X2 X3 X4 O5 O5 O5 O5 Keterangan: G1 = kelompok pertama G2 = kelompok kedua G3 = kelompok ketiga G4 = kelompok keempat X1 X2 X3 X4 = = = = perlakuan tutorial perlakuan kooperatif perlakuan kolaboratif perlakuan acak . O3. 1968).Design (Caenphell dan Stanley. a.

Dalam hal ini ingin diselidiki apakah pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa tergantung atau tidak dengan banyaknya waktu yang digunakan dalam penyampaian materi.yang dipilih secara purposif dengan pertimbangan tertentu dimana masing-masing kelas terdiri atas 25--30 mahasiswa. yaitu waktu yang digunakan belajar. Instrumen kegiatan akan dikembangkan dengan mengadopsi Modul Physics by Inquiry untuk materi Fisika Dasar I. sedangkan data tentang pengamatan interaksi mahasiswa dikumpulkan melalui instrumen pengamatan interaksi dalam kelompok. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru jurusan Fisika Universitas Negeri Malang yang terdiri dari 6 kelas. Untuk melihat dampak yang muncul selama mahasiswa para calon guru bekerja dengan model investigasi kelompok. sedang sebagai sampelnya digunakan sebanyak 4 kelas secara purposif dengan pertimbangan bahwa kesulitan teknis pelaksanaan selama eksperimen dapat dihindarkan. sampel sebanyak 4 kelas di atas akan diambil 3 kelas sebagai kelas eksperimen. Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika mahasiswa dianalisis dengan regresi (Kleinbaum dan Kupper. satu kelas sebagai kelas kontrol. selengkapnya dapat diperiksa pada Lampiran-5. dimana dalam model tersebut ada sebuah variabel dependen. apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry. yaitu tutorial sebaya. yaitu penguasaan konsep Fisika dan variabel independen. pola pengelompokkan belajar mahasiswa untuk kelas eksperimen akan dibentuk mengikuti aturan pengelompokkan secara pola . 1984) dengan menggunakan program SPSS Release-10 for windows. data interaksi antar mahasiswa akan dianalisis secara deskriptif yang meliputi keterampilan kelompok dasar. Analisis butir soal dilakukan dengan mengambil sekor pretes dari 2 kelas sampel penelitian. Selanjutnya. Analisis regresi ini dimaksudkan untuk tujuan peramalan. intermediate dan lanjut untuk masing-masing pola. Sedangkan.Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa dijaring lewat hasil tes dengan menggunakan instrumen prestasi. kooperatif dan kolaborasi. Artinya.

proses pembelajaran mengikuti alur yang sama. yaitu uji normalitas dan homogenitas varians dan hasilnya seperti pada Tabel 2. Dengan demikian. Tabel 3. pola kooperatif dan pola kolaboratif sebaya. Uji Kesamaan Kemampuan Awal mahasiswa Data yang digunakan untuk menguji kesamaan kemampuan awal ini adalah hasil tes awal atau pretes dari masing-masing kelompok. Kelas kontrol akan dikelompokkan secara acak dengan berpedoman dari absensi kelas. dan Tabel 4 berikut. Analis yang digunakan adalah Anova dengan mengggunakan program SPSS Release-10 for Windows dengan terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analis. sedangkan instrumen kegiatan yang dikembangkan terdiri atas: a. Instrumen pengukuran penguasan konsep Fisika yang berupa tes dikembangkan berdasar materi Fisika Dasar I c.tutorial. Reliabilitas tes tersebut ternyata cukup baik dengan koefisien reliabilitas sebesar 0. bahwa untuk mengetahui apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry. pertama kali yang dikerjakan adalah: 1. kecuali pola pembentukan kelompoknya. Lembar Kerja Mahasiswa pada kegiatan praktikum dengan mengimplementasikan Modul Physics by Inquiry Hasil uji coba instrumen penguasaan konsep Fisika menunjukkan bahwa validitas telah memenuhi syarat instrumen yang cukup baik. Dari 20 butir soal sebanyak 1 soal gugur. .57. HASIL Seperti telah dijelaskan di atas.. Instrumen pengamatan interaksi mahasiswa dalam kelompok b. Instrumen perlakuan dikembangkan dengan mengikuti pola pembelajaran kelompok. Dengan demikian tes penguasaan konsep Fisika yang digunakan sebanyak 19 butir soal.

079.093 df 1 3 df 2 102 Sig.05.216 df 3 102 105 Mean Square 49. 0.079 .190 dan persyaratan homogen variannya juga terpenuhi (sign.161 25 .060 . .165 25 .196 25 .938 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.176.178 .686 104.079 . pola kooperatif.954 .937 .170 25 .964>0.157 Total 10763. .925 . sig. 0.699 Dari Tabel 2.095 a ACAK TUTORIAL KOOPERAT KOLABORA Statistic . 0. . .381 dan pola kolaborasi dengan harga sig. sig. ..060 F . Lillief ors Signif icance Correc tion Tabel 3 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRETES Levene Statistic .477 Sig.05). Dengan demikian langkah selanjutnya adalah uji kesamaan kemampuan awal masing-masing kelompok data dengan statistik Anova. dan Tabel 4 terbukti bahwa sebaran data kemampuan awal keempat kelompok data adalah normal karena harga Sig.0. 0.964 Tabel 4 Uji Kesamaan Kemampuan Awal ANOVA PRETES Sum of Squares Betw een Groups 149. pola tutorial dengan sig. Tabel 3.014 .059 Within Groups 10614.190 a. yaitu pola acak.381 .Tabel 2 Uji Normalitas Data Tes ts of Nor m ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig. terbaca >0.

sedangkan uji prasyarat homogenitas data dapat dibaca pada Tabel 6. kooperatif dan kolaborasi adalah lebih besar dari 0.000. maka langkah selanjutnya adalah menguji hasil postes masing-masing kelompok dengan statistik Anova.699 pada taraf signifikansi 5%. .931 . kenyataan ini terbaca pada Tabel 7.955 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.05 artinya bahwa kempat harga postes dari masing-masing kelompok berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%. 2. Kenyataan ini terbaca bahwa harga Sig.243 . dan 4 atau factor pola acak. tutorial. . 2. Harga ini adalah lebih kecil dari 0. 3. Hasil menunjukkan bahwa kempat kelompok data adalah homogen.142 25 . Uji Beda Postes Antar Kelompok Oleh karena keempat kelompok.200* . Pada bagian Post Hoc Tests untuk menu Multiple Comparisons harga Turkey HSD dan Bonferroni.019 . Lilliefors Significance Correction . terbaca harga sign. Dengan demikian uji beda postes dari keempat kelompok dapat dilakukan. untuk factor 1. hasil pretesnya menunjukkan tidak berbeda pada taraf signifikansi 5% atau sama.665 .104 .191 25 . Selanjutnya akan dilakukan uji beda postes dari masing-masing kelompok.394 *.105 25 .007 . This is a low er bound of the true significance.208 25 .200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic .Hasil uji terlihat pada Tabel 4 yang menunjukkan bahwa kemampuan awal keempat kelompok tidak berbeda atau sama.05. Hasil analisis menunjukkan bahwa harga Sign. kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok mempunyai harga pretes yang sama atau tidak berbeda pada taraf signifikansi 5%. sebesar 0.943 . a. Tabel 5 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig. terbaca pada Tabel 5.971 .Uji prasyarat analis menunjukkan bahwa keempat kelompok berdistribusi normal. yang muncul adalah sebesar 0.

dilakukan terlebih dulu uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas varians masing-masing kelompok data dan hasilnya seperti ditunjukkan pada Tabel 8.197 112. . artinya bahwa kalau akan membentuk kelompok belajar mahasiswa. 3. Untuk keperluan uji ini. Tabel 9.592 Within Groups 11434. dan Tabel 10 berikut.107 F 10. atau tutorial apalagi belajar kelompok dengan pola acak.Tabel 6 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s POSTES Levene Statistic 1. Bila diperhatikan harga mean postes yang paling tinggi ada pada kelompok kolaborasi.934 Total 14873. Pertumbuhan Penguasaaan Konsep Fisika Dasar I Mahasiswa Setelah tahap-tahap di atas dilakukan dan hasilnya telah jelas.345 Tabel 7 Uji Beda Postes ANOVA POSTES Sum of Squares Betw een Groups 3438. Sebelumnya.224 Sig.526 df 3 102 105 Mean Square 1146. maka akan tepat bila kelompok tersebut dibentuk dengan mengikuti aturan pola kolaborasi. . daripada kooperatif. data-data yang diperlukan adalah sekor pretes dan postes masing-masing kelompok.120 df 1 3 df 2 102 Sig.000 Kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok memang mempunyai harga postes yang berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%. . selanjutnya dilakukan uji beda pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I.

002 . .382 . uji beda pertumbuhan dapat dilakukan yaitu dengan statistik Anova dan hasilnya dapat diperiksa pada Tabel 10 di atas yang terbaca bahwa harga . This is a low er bound of the true signif icance.123 25 .949 .954 .918 .185 . Dengan demikian.410 Sig.Tabel 8 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Norm ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig. .200* .495 196.145 25 .051 .962 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.165 1.922 F 8.228 25 .527 Tabel 10 Uji Beda Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika ANOVA PRTBH Sum of Squares 48. .538 df 3 102 105 Mean Square 16. Lillief ors Signif icance Correction Tabel 9 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRTBH Levene Statistic .473 *.129 25 .316 . .044 244.000 Betw een Groups Within Groups Total Hasil uji yang ditunjukkan pada Tabel 8 menghasilkan bahwa data pertumbuhan masing-masing kelompok adalah normal dan uji homogenitas varians pada Tabel 9 menunjukkan bahwa keempat kelompok data adalah berasal dari varians yang sama.746 df 1 3 df 2 102 Sig.200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic . a.

865 dengan kolaborasi.916.. method. Linier sebesar 0. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan keempat pola kelompok adalah berbeda secara signifikans pada taraf signifikansi 5%. Tampak bahwa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen secara keseluruhan berbeda secara signifikans. namun pertumbuhan untuk masing-masing pola terhadap pola lain pada kelas eksperimen nampaknya tidak ada perbedaan. Hal ini karena harga sign antara tutorial dengan kooperatif sebesar 0. data pretes.  Dengan menggunakan program SPSS pada statistik regresi dengan mengambil menu Curve Fit.999 dan sebesar 0.000. Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Di bagian atas telah dihasilkan perhitungan statistik tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika pada masing-masing pola. 0. bila kooperatif dibandingkan dengan kolaborasi mendapatkan harga sign. sebesar 0. Compound. tes-2. Hasil olahan menunjukkan gambaran-gambaran pola pertumbuhan yang terjadi untuk masingmasing pola kelompok yang dibentuk. Sedangkan. Pola acak.12672 seperti disajikan pada Tabel 11 di bawah. 4. yang ditandai dengan tanda *. sehingga setelah dilakukan Post Hoc Tests nampak bahwa perbedaan pertumbuhan penguasaan tersebut akan nyata bila kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. maka dapat disimpulkan bahwa penguasaaan konsep Fisika mahasiswa untuk pola kelompok acak . sedangkan method Quadrati F = 1. tes-3 dan postes (dilakukan setiap 2 minggu) diolah. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa walaupun pertumbuhan untuk masing-masing pola berbeda tetapi mean dari masing-masing pola hampir sama.26153. Pada bagian Post Hoc Tests pada Multiple Comparisons memperkuat pernyataan di atas. tes-1.sign. tetapi tidak ada perbedaan untuk masing-masing pola kelompok. yaitu uji normalitas dan homogenitas pretes dan postes yang hhasilnya telah memnuhi persyaratan. Growth dan Exponent sebesar 0. harga F untuk Method. Masalahnya sekarang adalah bagaimanakah bentuk pola pertumbuhan tersebut untuk masing-masing pola? Untuk menjawab pertanyaan ini langkah-langkah yang dilakukan adalah:  Uji prasyarat analisis..24726. Hasil analisis dapat ditunjukkan seperti berikut.

tetapi cenderung kearah pola Quadrati. Linier sebesar 44.05305 45. harga F untuk method. Tabel 12 Curve Fit Pola Pertumbuhan Tutorial Sebaya Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 44.40123 37. dan Exponent sebesar 25.12672 0.40123 yang mana harga ini masih lebih kecil dari Method Compound. sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan penguasaan konsep pola tutorial adalah linier namun lebih mendekati kearah eksponensial disajikan pada Tabel 12. yaitu 45. sehingga dapat disimpulkan bahwa per- .02156 Pola kooperatif.02156 45.64375 1.12672 0.12672 0. harga F untuk Method.12672 Pola tutorial sebaya. Qudrati 14.62033.71022 22. Tabel 11 Curve Fit Pola Pertumbuhan Acak Analysis of Variance Method.12268. sedangkan Metod Compound.26153 0.tidak linier terhadap waktu yang digunakan.02156 dengan beda sebesar 0. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 0..02156 45. Linier sebesar 25.. Growth. Growth dan Exponent.16240.36603 (Tabel 13).

dan Exponent harga F-nya sebesar 39.36603 Compound. sedangkan Metod Compound. Tabel 13 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kooperatif Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 25.36603 25.92697 .12268 18. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil. perbedaaan tersebut adalah nyata.92697 39.16240 25.92697 39.92697 (Tabel 14). sedangkan Metod Compound.92887 39. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 39. Growth dan Exponent harga F-nya sebesar 39.. Tabel-15 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kolaborasi Analysis of Variance Method. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%.92697 (Tabel 15). Growth.92937 30. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil. Linier sebesar 39. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%.86311 20. Pola Kolaborasi. Pola Kolaborasi. harga F untuk Method Linier sebesar 39.81884 14.92937.. harga F untuk Method.36603 25. Growth dan Exponent Metod.92937.tumbuhan penguasaan konsep Fisika kelompok kooperatif adalah linier cenderung kearah Metod Compound. perbedaaan tersebut adalah nyata. Growth dan Exponent.

Dengan demikian pola kolaborasi pertumbuhan penguasaan konsepnya lebih kearah linier dibandingkan dengan Metod.33%) dan terakhir tutor menunjukkan bukti pada anggota kelompok disertai alasan-alasannya (83. Keterampilan Kelompok Lanjut: Bahwa kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi seperti ditunjukkan di atas. namun setiap keputusan yang diambil kelompok selalu berdasar keputusan kelompok (66.33% akan mendengarkan secara seksama pendapat dari anggota kelompok. kooperatif dan kolaborasi. Compound. sehingga kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi (66. c.33%) b. Bagaimana halnya sekarang dengan hasil pengamatan interaksinya? 1. Disini tampak peranan tutor yang cukup dominan (50%) yaitu megajak anggota kelompok untuk berpartisipasi. Keterampilan Kelompok Intermediate: Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 83. yaitu kelompok acak. tutorial sebaya. Growth dan Exponent dengan beda yang cukup kecil yaitu sebesar 0. pada akhirnya tutorlah yang berusaha untuk memperdalam permasalahan sehingga memperoleh jawaban akhir yang dianggap benar (83. Keterampilan Kelompok Dasar: Tutor berperanan aktif dalam mengawali pengambilan kesepakatan (83. Pola Tutorial Sebaya a. artinya ada kesadaran bahwa pendapat orang lain mungkin akan berguna bagi dirinya sehingga perlu untuk dicermati. . Hasil Pengamatan Interaksi Di atas telah dipaparkan hasil penguasaan konsep pada masingmasing pola kelompok belajar.002. (83.33%).67%).67%) artinya sifat individu tidak muncul..33%).

itulah pertanyaannya.67%). namun dia tetap mengarahkan kerja kelompoknya (50%). namun dia tidak berusaha menunjukkan bukti dan alasannya mengapa jawaban bisa demikian justru yang berkemampuan sedang (83. Keterampilan Kelompok Intermediate: Menunjukkan penghargaan dan empati pada penampilan anggota ditunjukkan oleh anggota yang berprestasi rendah (33. nampak disini bahwa anggota yang merasa berprestasi tinggi merasa tidak begitu memerlukan akan pendapat anggota yang berprestasi rendah c. Masalahnya adalah apakah penjelasan ini benar atau salah. Inilah yang penting karena dengan demikian yang . Anggota dengan prestasi paling tinggi nampaknya memegang kendali saat diskusi kelompok. Keterampilan Kelompok Lanjut: Memperdalam permasalahan dalam upaya memperoleh jawaban yang benar rupanya masih dikendalikan oleh anggota yang berkemampuan tinggi (66.33%). Namun demikian setiap anggota bersedia berkompromi untuk mencapai jawaban akhir. Pola Kolaborasi a.86%). Kelompok ini mengarahkan bagaimana kelompok harus bekerja (66. Keterampilan Kelompok Dasar: Mengawali pengambilan kesepakatan muncul dari anggota dengan predikat berprestasi tinggi (42.33%) yang lebih dominan.29%).57%). bersuara pelan dalam mengemukakan pendapat (33. Poin inilah yang utama dan penting dilakukan oleh separoh dari kelompok yang melakukan kegiatan (50%).67%). sedangkan anggota berprestasi tinggi dan sedang justru lebih rendah (16. kecuali yang berprestasi rendah (14. Keterampilan Kelompok Dasar: Mahasiswa yang berprestasi tinggi dominan untuk mengawali pengambilan kesepakatan (50%). 3. Pola Kooperatif a. namun tidak menyumbangkan banyak pemikiran dalam memecahkan masalah (16.67%).2.67%).33%) dan justru anggota kelompoknya yang mengajak mengemukakan pendapat (50%). Untuk menyumbangkan pemikiran rupanya diprakarsai oleh setiap anggota kelompok (28. Jadi. b.

28. yaitu sebesar 57. Keterampilan Kelompok Lanjut: pada poin untuk merinci tugas dan jawaban hampir semua kelompok anggotanya aktif melakukan ini yang hasil pengamatannya adalah 28.14% SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil kajian disertai dengan analisis statistik dari data-data yang didapatkan.29% dan 28. 14. Hal ini tampak dari hasil urutan pengamatan interaksinya yaitu sebesar 28.86%). Keterampilan Kelompok Intermediate: Yang menarik pada tingkat keterampilan ini adalah bahwa dalam mengambil kesimpulan tugas-tugas kelompok. Dalam menentukan prioritas dalam memecahkan masalah.57%. Pola pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA UM untuk masing-masing pola pengelompokkan menunjukkan pola yang berbeda-beda. anggota yang berprestasi tinggi kembali memegang kendali. 1.57%.merasa punya prestasi rendah akan menjadi terhimbas untuk belajar.57%. Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok belajar menunjukkan bahwa semakin tinggi kebersamaan dalam . b. c.86%). dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 14. Untuk pola acak cenderung kearah pola quadrati. sedangkan yang mengikuti pola linier adalah pola kolaborasi.57% tetapi untuk memperdalam permasalahan anggota kelompok yang berprestasi paling tinggi yang lebih berperanan (42. 2. demikian juga saat menunjukkan bukti atau memberi alasan terhadap jawaban yang dikemukakannya ((42. hampir semua kelompok baik yang anggotanya berprestasi tinggi ataupun kelompok yang berprestasi pada urutan yang lebih rendah semua memegang kendali pengambilan keputusan. 28.29% dan 28. Hasil ini sama saat kelompok merinci tugas dan jawaban.57%. pola tutorial sebaya mahasiswa cenderung kearah pola Compound.57%. Growth dan Exponent.

Mencermati hasil perhitungan statistik yang telah dilakukan. Inilah hal utama untuk itu ditekankan sebelum kelompok terbentuk. bahwa pola kolaborasi ternyata mampu membuat pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Malang linier terhadap waktu yang digunakan belajar. 2. . berdiskusi. Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok menunjukkan bahwa kebersamaan untuk mau bekerja bersama-sama.memecahkan permasalahan yang dihadapi. maka akan membuat semakin baik pola pertumbuhan penguasaan konsep mereka. maka disarankan kepada siapapun sekiranya akan membentuk kelompok belajar seyogyanya membentuk kelompok belajar dengan pola kolaborasi. dapat disarankan hal-hal sebagai berikut. 1. Saran Dari kesimpulan yang didapatkan seperti diungkap di atas. utamanya prestasi belajar mereka. saling menghargai pendapat orang lain merupakan faktor penting untuk diperhatikan karena erat kaitannya dengan hasil yang didapatkan nantinya.

Inc. R. Second Edition. Physics Education. A Bell & Howell Company. Shafferi. Assessing Student Outcome: Performance Assessment Using the Dimensions of Learning Model.. Yogyakarta. W. American Journal of Physics. 2001. & Trowbridge. Preparing Teachers to Teach Physics and Physical Science by Inquiry. 35(6). Becoming a Secondary School Science Teacher. & Sund.. Teaching Science by Inquiry in the Secondary School. Penerbit Karunika... D. New York McDermott.DAFTAR RUJUKAN Dahar.. Trowbridge. & McTighe. Columbus.. Menuju Kebiasaan Bertanya dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar. Buku Materi Pokok 4 Universitas Terbuka. ASCD Publications. Pickering. Ohio . W 1973. W.L. 1993. C. P. 1986. National Science Education Standard. R. Columbus. Bybee. L. Shafferi. 2000. R. J. R. Marzano. J. B. A Perspective on Teacher Preparation in Physics and Other Sciences: The Need for Special Science Course for Teacher. L. Virginia. A Bell & Howell Company. John Wiley & Sons. Sund.. Interaksi Belajar Mengajar IPA. & Constantinou. M. C. P. L. R. C. Rohandi. L. W. 1990. & Rosenquist. National Academy Press. Washington DC.1981. Ohio. Jakarta McDermott.. McDermott.C. P. Third Edition. R. National Research Council. 1996. S. S. 58 (8). Physics by Inquiry: An Introduction to Physics and the Physical Sciences. L. 1996.. Penerbit Kanisius. B.

misalnya.Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Abstract: Proficient readers usually skip unknown words that they encounter in a reading text. Untuk mengatasi masalah kosakata seperti ini. vocabulary. and there are five reasons underlying the application of this strategy. The findings reveal that most proficient readers do skip unknown words. Namun taksonomi yang disusun oleh Robinson (1977) terdiri dari tiga strategi. dan strategistrategi tersebut telah disusun menjadi taksonomi oleh beberapa pakar. mereka menerapkan berbagai macam strategi pemrosesan kata (lexical processing strategies). mengusulkan taksonomi yang terdiri dari dua strategi saja. Selain penggunaan kamus. dan menebak makna kata berdasarkan konteks. misalnya melihat kamus untuk mencari makna kata tersebut. menggunakan kamus. ada beberapa strategi pemrosesan kata lain yang dapat diterapkan oleh para pembelajar bahasa Inggris. Richek. List dan Lerner (1983). Some recommendations are made based on these findings. pembelajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing acapkali menemui kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. skipping. Key words: reading. yaitu membaca secara ekstensif (wide reading). yaitu analisis terhadap struktur kata dan penggunaan konteks untuk menebak makna kata. Kusumarasdyati adalah dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Surabaya . unknown words Dalam membaca pemahaman. strategy. This study attempts to examine the use of skipping as a lexical processing strategy in reading comprehension and explore the reasons for utilizing this strategy.

penelitian ini mencoba untuk mendalami skipping sebagai salah satu strategi pemrosesan kata yang digunakan oleh pembelajar bahasa. sedangkan wide reading yang dikemukakan oleh Robinson sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai strategi tersendiri karena pembelajar biasanya menebak makna kata atau menggunakan kamus ketika sedang membaca secara ekstensif. Dari beberapa taksonomi di atas. consult (melihat makna kata di kamus) dan ignore atau skipping (mengabaikan makna kata). nampak bahwa klasifikasi strategi yang paling lengkap disusun oleh Fraser (1999). Selain lebih lengkap dibandingkan dengan yang lain. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pembelajar mengumpulkan informasi lebih banyak mengenai teks pada tahap fixation di suatu kata. Penelitian mengenai gerakan mata (eye movement) menemukan bahwa mata tidak bergerak secara kontinyu dari satu kata ke kata berikutnya ketika membaca. melainkan berhenti sebentar pada suatu titik dalam teks kemudian melompat dengan cepat ke titik yang lain dalam teks yang sama (Rayner dan McConkie. Berdasarkan latar belakang tersebut. Rayner dan Pollatsek. Dua strategi yang diusulkan oleh Richek et al dapat dimasukkan ke dalam kategori infer. Karena anggapan yang kurang tepat seperti ini. dan amat sedikit informasi yang . dan menurut mereka apabila kedua strategi ini gagal dalam membantu pembelajar untuk menemukan makna kata maka kata tersebut ‗cukup‘ dilewati saja.Fraser (1999) juga membagi strategi pemrosesan kata menjadi tiga: infer (menebak makna kata). yaitu mengakui ignore sebagai salah satu strategi. 1989. sedangkan proses melompatnya pandangan ke titik lain disebut saccade. strategi berupa melewati kata-kata sulit-atau skipping unknown words-tidak terlalu diperhatikan oleh para peneliti dan pengajar bahasa. 1976. Karena itu penelitian ini berpijak pada taksonomi strategi pemrosesan kata yang disusun oleh Fraser. Reichele et al. taksonomi Fraser juga memiliki kelebihan lain. 1998). Proses berhentinya mata pada suatu titik disebut fixation. Selama ini banyak peneliti dan pengajar bahasa yang menganggap bahwa menebak makna kata atau melihat kamus saja yang bisa dikategorikan sebagai strategi. Skipping dalam membaca pemahaman sebenarnya telah diketahui oleh para pakar sejak dekade 1970-an. Mereka tidak menyadari bahwa melewati kata yang tidak ditemukan maknanya sebenarnya juga merupakan strategi atau teknik yang dilakukan oleh pembelajar dalam menghadapi kata-kata sulit.

Selain bukti dari sudut fisik pembelajar.diperoleh pada tahap saccade karena pembelajar melewati beberapa kata begitu saja selama pandangan melompat dari satu titik ke titik lain. pembelajar biasanya tidak memberikan perhatian yang terlalu banyak pada kata tersebut (Reichele et al. Jumlah ini lebih rendah daripada pemakaian strategi menebak makna kata (44%) dan melihat kamus (29%). sedangkan 35% merupakan strategi yang digunakan setelah gagal menebak makna kata. Selain itu. 1998). Meskipun hasil penelitian di atas memberikan bukti empiris akan adanya strategi skipping dalam menghadapi kata-kata sulit di bacaan. yang menunjukkan bahwa para subjek penelitiannya mengabaikan sekitar separuh dari kata-kata sulit yang mereka temukan dalam bacaan karena mereka menganggap kata-kata tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk pemahaman keseluruhan bacaan. bukti lain diberikan oleh penelitian mengenai penggunaan strategi dari sudut psikolinguistik. menunjukkan bahwa pembelajar yang kemampuan membacanya baik biasanya melewati kata-kata yang tak diketahui maknanya karena kata-kata tersebut dipandang tidak terlalu penting untuk memahami makna keseluruhan bacaan. misalnya. Hosenfeld juga menemukan bahwa kata-kata yang dianggap penting pun terkadang dilewati saja oleh para pembelajar karena gagal mendapatkan makna yang sesuai setelah mencoba beberapa kali untuk melihat kamus atau menebak dari konteks. Pressley . Hal ini sejalan dengan temuan dari penelitian Paribakht dan Wesche (1999). Menurut Fraser. Hasil pengamatan terhadap gerakan mata di atas memberikan bukti yang kuat bahwa pembelajar memang melakukan skipping atau melewati beberapa kata ketika membaca suatu teks. hanya saja data numerik yang dihasilkan agak berbeda. Sekitar 62% dari penggunaan strategi melewati kata ini merupakan strategi tunggal (tanpa didahului atau diikuti oleh menebak atau melihat kamus). Hosenfeld (1976) serta Paribakht dan Wesche (1999) menemukan bahwa alasan skipping adalah anggapan pembelajar bahwa kata-kata sulit tersebut tidak penting untuk pemahaman bacaan keseluruhan. hingga saat ini tidak banyak yang meneliti secara mendalam mengapa pembelajar melewati begitu saja kata-kata sulit dalam teks yang mereka baca. pembelajar melewati 24% kata yang tidak mereka ketahui maknanya. Hasil penelitian kuantitatif Fraser (1999) mendukung temuan di atas. Penelitian Hosenfeld (1976). Kalau pun ada kata yang terbaca.

dan Afflerbach (1995) menyatakan bahwa pembelajar melewati kata sulit karena gagal menebak maknanya dari konteks. pengajar dapat membimbing pembelajar yang kemampuan membacanya sedang atau kurang dengan jalan meminta mereka untuk menerapkan strategi yang digunakan oleh pembaca yang lebih baik kemampuannya. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan secara mendalam alasan mengapa para pembaca yang kemampuannya baik mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam bacaan berbahasa Inggris. Penelitian-penelitian mereka tidak secara khusus mendalami strategi skipping. sehingga perlu diteliti lebih jauh apakah hanya kedua alasan itu yang memicu terjadinya skipping. diberikan tes membaca pemahaman DIALANG (dapat diunduh dari http://www. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya baik melewati kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya dalam membaca pemahaman. Selain itu.dialang. penelitian ini juga memberikan manfaat praktis bagi para pengajar bahasa Inggris karena hasilnya dapat memberikan gambaran mengenai penggunaan strategi skipping yang efektif oleh para pembelajar yang kemampuan membacanya baik. Untuk mengetahui kemampuan tersebut. Maka dari itu. Secara teoritis. Dengan demikian. sehingga diperoleh skor yang merefleksikan .org) yang telah menjadi standardized test kepada semua anggota populasi. Sampel ini diambil dari populasi berdasarkan kriteria berupa kemampuan membaca pemahaman yang baik. Data kualitatif diambil dari 8 mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang terpilih menjadi subjek penelitian dengan memakai metode purposive sampling dari populasi sejumlah 74 mahasiswa. penelitian ini diharapkan dapat mendukung pandangan yang menyatakan bahwa membaca pemahaman berlangsung secara top-down (pembelajar menggunakan pengetahuan yang telah dia miliki untuk memahami bacaan) dan bukannya secara bottom-up (pembaca memproses setiap kata satu persatu kemudian menggabungkan semua kata tersebut untuk memahami bacaan secara keseluruhan). selain alasan yang disebut di atas.

peneliti memberikan dua teks (masing-masing terdiri dari 812 dan 344 kata) kepada para mahasiswa untuk dibaca dengan keras. wawancara retrospektif. dan observasi. diperlukan empat instrumen penelitian: tes membaca pemahaman DIALANG. Gambar 1 Cara seleksi sampel menggunakan persentil 10% Skor tertinggi (sampel) 10% Skor terendah Persentil teratas terdiri dari 10% dari mahasiswa yang mendapat skor tertinggi dalam tes membaca pemahaman DIALANG. dan selama membaca mereka diminta untuk mengucapkan kata-kata sulit yang mereka temui dan strategi mereka dalam mengatasi kata-kata sulit tersebut. Dengan kata lain. Untuk mendapatkan data dari subjek penelitian ini. Instrumen pertama (tes membaca pemahaman) tidak dibahas secara rinci di sini karena hanya digunakan untuk memilih sampel dari populasi. skor ini diurutkan dari tertinggi hingga terendah dan disusun menjadi persentil. kemudian ditulis transkripnya dengan menggunakan . Instrumen kedua adalah concurrent verbal protocols. namun persentil teratas dibulatkan menjadi 8 (dari 7. Proses seleksi ini dapat dijelaskan di Gambar 1. Kedelapan mahasiswa ini diasumsikan memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik karena skor tinggi yang mereka capai. Mahasiswa yang menduduki persentil paling atas dipilih menjadi sampel penelitian. Ucapan mereka direkam dalam kaset oleh peneliti. Dalam menggunakan instrumen ini. apa pun yang mereka pikirkan selama membaca harus mereka ucapkan dengan suara keras sehingga dapat diketahui secara persis proses berpikir mereka ketika mereka mengatasi kata-kata sulit.kemampuan membaca mereka. yaitu proses berpikir yang diucapkan dengan suara keras.4) sehingga didapat sampel sejumlah 8 mahasiswa. Informasi lebih jauh mengenai tes ini dapat diperoleh dari laman (website) yang disebut di atas. Selanjutnya. Telah disebutkan sebelumnya bahwa populasi terdiri dari 74 mahasiswa. concurrent verbal protocols.

Apabila mahasiswa mencoba menebak makna tranquility ketika membaca teks dan tidak menebak atau melihat kamus ketika membaca tramping dan loose. mengapa anda lewati kata ini sewaktu membaca tadi? Pertanyaan tambahan dapat diajukan sesuai kebutuhan. Seperti instrumen kedua. maka peneliti memberi tanda sebagai berikut di teks yang dia pegang: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end . di teks terdapat kalimat berikut: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end the previous summer. peneliti memegang teks yang sama dan telah dibubuhi tanda pada beberapa kata yang diprediksi sulit bagi mahasiswa. di dalam kurung] [Cetak tebal. tramping dan loose diperkirakan tidak diketahui maknanya oleh mahasiswa. Misalnya. Ketika mahasiswa membaca teks.‖ Kata-kata tranquility. karena itu peneliti memberi setrip pendek di bawah kata-kata tersebut.0) Deskripsi Kata-kata yang diucapkan oleh subjek penelitian Kata-kata dari bacaan yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata dari kamus yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata sulit yang tidak diketahui maknanya Panjangnya jeda dalam menit dan detik Instrumen ketiga adalah wawancara retrospektif. dan (2) Apabila anda tidak mengetahui maknanya. di dalam kurung] Garis bawah (0. semua wawancara dengan subjek penelitian direkam dalam kaset dan dibuat transkripnya. di mana peneliti mewawancarai mahasiswa mengenai hal-hal yang perlu diklarifikasi dari hasil concurrent verbal protocols setelah mahasiswa selesai membaca dua teks. Wawancara yang semi terstruktur ini berpegang kepada dua pertanyaan dasar.notasi seperti yang terdapat di Tabel 1. Instrumen yang keempat adalah observasi. di mana peneliti mengamati segala perilaku mahasiswa selama membaca dua teks dan mencatat hal-hal yang relevan dengan strategi skipping. Tabel 1 Notasi untuk transkrip hasil concurrent verbal protocols Format Huruf biasa [Cetak miring. yaitu: (1) Apakah anda mengetahui makna kata ini?.

‖ Garis bawah di keseluruhan kata menandakan bahwa mahasiswa mencoba mencari makna tranquility. Data yang diperoleh dari concurrent verbal protocols akan dianalisis terlebih dahulu dengan cara coding. dicari alasan-alasannya dari hasil wawancara. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 2. melihat kamus (consulting). ujaran yang dikategorikan skipping seharusnya cocok dengan hasil observasi. Kata-kata yang ditandai setrip pendek ini akan ditanyakan dalam wawancara retrospektif setelah proses membaca selesai. Dalam arti.the previous summer. HASIL Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang kemampuan membacanya tergolong baik melewati kata-kata sulit yang ditemui dalam bacaan. atau melewati kata-kata sulit (skipping). Hanya satu mahasiswa (Catrin) tidak pernah mengabaikan kata-kata sulit dan cenderung melihat kamus untuk mencari makna kata-kata tersebut. Hasil coding ini akan ditriangulasikan dengan hasil observasi. . Setelah didapat daftar kata-kata yang dilewati oleh setiap mahasiswa. seperti yang telah dijelaskan dalam bahasan mengenai instrumen ketiga di atas. yaitu kata-kata yang diberi setrip pendek di bawahnya. Hanya data yang masuk kategori terakhir ini lah yang dianalisis lebih lanjut. sehingga didapat analisis yang lengkap mengenai kata yang dilewati beserta alasan melakukan skipping. tujuh diantaranya melewati begitu saja kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. sehingga penelitian ini mendukung temuan Hosenfeld (1976) yang telah dibahas di atas. tetapi nampaknya melewati kata tramping dan loose karena keduanya masih ditandai setrip pendek. atau memasukkan ujaran mahasiswa selama membaca ke kategori yang sesuai: menebak makna kata (guessing). Dari 8 mahasiswa yang menjadi subjek penelitian ini.

ya udah diambil. Nggak memperdulikan. ngerti maksudnya.Tabel 2 Jumlah Kata-kata yang Sulit dan Dilewati oleh Mahasiswa Nama mahasiswa* Selena Rita Homer Melisa Andra Yulia Catrin Didin * Nama samaran Σ kata sulit 45 35 54 57 37 52 96 49 Σ kata dilewati 25 2 27 35 25 43 0 18 Ada sebagian mahasiswa yang mengabaikan hanya 2 kata yang tidak diketahui maknanya. Jadi yang penting kata kunci dari sentence itu udah dapet. A : He eh. misalnya seperti yang dijelaskan oleh Andra (A) dalam wawancara retrospektif dengan peneliti (P). P : Ada beberapa tadi yang anda tidak tahu artinya tapi anda tetap baca. Jadi selama kata itu nggak penting saya nggak mau. P : Jadi yang anda cari itu. anda tadi merasa. ―Saya tidak tahu artinya tapi saya lewati aja‖? A : Ada yang merasa terus ditebak-tebak. Para mahasiswa yang mengabaikan kata tersebut berpendapat mereka masih bisa memahami apa yang disampaikan di dalam teks walaupun mereka tidak mengetahui makna kata-kata yang dilewati. kalo bukan key of the sentence. . saya nggak mau nyari. Sentencenya nyambung. P : Yang anda tidak tahu artinya. kalo itu kata kunci? A : Ya. tetapi ada juga yang melewati hingga 43 kata. Biarpun itu katanya susah. Jumlah yang bervariasi ini tentunya dilatarbelakangi oleh alasan-alasan yang berbeda pula.

Pembaca yang baik memiliki kemampuan untuk memilah mana kata-kata kunci (keywords) yang penting untuk pemahaman bacaan secara keseluruhan dan mana kata-kata yang kurang penting. Apabila kata-kata sulit dipandang kurang penting, maka pembaca akan menerapkan strategi skipping agar dia dapat membaca secara lebih efisien dan tidak terhambat oleh kata-kata sulit tersebut. Walaupun kata-kata yang tidak dipandang penting pada umumnya diabaikan, ada juga mahasiswa yang mengabaikan kata-kata sulit yang sebetulnya dianggap penting. Contoh konkrit dapat dilihat dalam ujaran Yulia ketika membaca teks dalam concurrent verbal protocols.
Yulia: [I would see him waiting for the whirring (0.1) whirring (0.1) whirring of wings, violin in hand. Several times now…]

Ketika Yulia membaca kalimat di atas, sebenarnya perhatiannya tertuju pada kata whirring yang tidak dia ketahui maknanya dan dia melakukan upaya untuk mengetahui makna kata tersebut, seperti yang ditunjukkan oleh pengucapaan kata ini berulang-ulang dengan jeda 1 detik. Hal ini dikonfirmasi dalam wawancara retrospektif yang dilakukan setelah verbal protocols di atas. Hasil wawancara menunjukkan bahwa Yulia memang tidak mengetahui makna whirring dan bermaksud untuk menebaknya berdasarkan konteks. Dia membaca kalimat selanjutnya (Several times now…dst.) untuk mengetahui dalam konteks apa kata whirring digunakan, namun karena kapasitas memori jangka pendek (short-term memory) Yulia yang amat terbatas maka kata tersebut terlupakan ketika membaca kalimat selanjutnya. Kata whirring masuk ke dalam memori jangka pendeknya tetapi tidak disimpan terlalu lama dan kemudian hilang, sehingga dia tidak melanjutkan upaya untuk menemukan maknanya dan mengabaikan kata tersebut hingga proses membaca teks berakhir. Salah satu mahasiswa yang melakukan strategi guessing diikuti skipping adalah Andra.
Andra: […but the publishers did not hear his uprush of wings. Uprush of wing.] What is that? Uprush of wing. An idiom? Uprush of wing (0.1) mungkin musik yang aneh, maybe. (0.4) Ah lewat. [The child came to live…]

Dalam verbalisasi di atas terlihat jalan pikiran Andra ketika menemukan kata uprush yang tidak dia ketahui maknanya. Pada awalnya dia berusaha mengidentifikasi apakah frasa uprush of wings adalah

sebuah idiom, kemudian lebih jauh dia mencoba untuk menebak makna frasa tersebut sebagai ‗musik yang aneh.‘ Namun nampak jelas bahwa dia tidak yakin akan akurasi makna yang dia tebak, seperti yang ditunjukkan pada kata mungkin dan maybe. Setelah empat detik berlalu, dia memutuskan untuk melewati saja frasa ini, seperti yang dia nyatakan secara eksplisit dengan ucapan ah lewat. Temuan ini merupakan alasan keempat yang menyebabkan terjadinya skipping. Didin, misalnya, memutuskan untuk mengabaikan saja kata yang sama, yaitu uprush, setelah beberapa kali mencari maknanya di kamus namun tidak berhasil.
Didin: [Long ago, she confided, her brother had tried to get his strange music down on paper, but the publishers did not hear his uprush of wings.] Uprush (0.5) uprush (0.23) uprush (0.6) uprush (0.20) uprush uprush (0.5). [The child came to live…]

Ketika Didin menemukan kata sulit, yaitu uprush, dia meraih kamus saku elektroniknya dan berusaha mencari makna kata ini selama 5 detik, namun di kamus tersebut tidak tercantum entri uprush. Kemudian dia beralih ke kamus bilingual Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan mencari selama 23 detik, tetapi di kamus tersebut juga tidak terdapat entri uprush. Hal yang sama juga terjadi ketika dia menggunakan kamus monolingual selama 6 dan 20 detik. Karena ketiga kamus yang dia gunakan tidak memuat kata uprush sebagai salah satu entrinya, dia gagal mendapatkan maknanya dan memutuskan untuk melewati kata ini dan meneruskan membaca kalimat-kalimat berikutnya. Sebagai contoh, Andra melakukan miscue ketika membaca teks dan ini terlacak dari wawancara retrospektif yang dilakukan peneliti dengannya. P A P A : : : : ‗Confided‘ artinya? Oh, ‗confided,‘ tak pikir ‗convinced.‘ Anda salah baca? Ya, salah baca tadi, tak kira ‗convinced.‘

Dalam wawancara di atas, peneliti menunjuk kata confided di teks dan meminta Andra untuk menyebutkan maknanya, karena dia melewati kata tersebut ketika membaca teks sebelum wawancara dilakukan. Saat

mendengar peneliti menyebut kata confided, Andra baru menyadari bahwa dia telah salah membaca kata tersebut sebagai convinced. Karena dia mengetahui makna kata convinced, dia tidak terlalu memperhatikan kata confided dan mengasumsikan bahwa kata tersebut dikenalnya dengan baik. Kasus miscue atau salah baca seperti ini menunjukkan bahwa pembaca ternyata tidak memberikan perhatian dalam kadar yang sama ke setiap kata di dalam suatu teks. Dia mungkin memberikan perhatian yang lebih banyak pada kata-kata kunci dan beberapa kata-kata sulit, namun kata-kata yang dia anggap familiar (dikenal dengan baik maknanya) hanya dibaca sekilas saja dan dia merasa masih bisa memahami teks secara keseluruhan dengan baik. Kasus ini mendukung hasil penelitian mengenai gerakan mata atau eye movement (Rayner dan McConkie, 1976; Rayner dan Pollatsek, 1989; Reichele et al, 1998) yang telah dijelaskan sebelumnya dengan hasil berupa fase fixation dan saccade. Dengan demikian, penelitian dari sudut psikolinguistik ini melengkapi hasil penelitian dari sudut fisik (gerakan mata) yang telah dilakukan untuk mengetahui proses yang terjadi selama membaca pemahaman.
BAHASAN

Penelitian yang mendalam terhadap strategi dalam menghadapi kata-kata sulit menghasilkan temuan berupa lima alasan yang mendasari skipping dalam membaca pemahaman. (1) Alasan pertama adalah katakata yang dilewati tersebut memiliki kontribusi yang amat kecil terhadap makna keseluruhan teks; (2) Alasan kedua, pada awalnya mereka mengidentifikasi suatu kata sulit sebagai kata yang penting untuk pemahaman bacaan dan berupaya untuk mencari maknanya, akan tetapi kata tersebut terlupakan oleh mereka ketika mereka membaca kalimat berikutnya. Hal ini yang menjadi alasan kedua mengapa mereka menerapkan strategi skipping; (3) Alasan ketiga, untuk skipping adalah pemakaian strategi menebak yang gagal. Pada awalnya mahasiswa berusaha untuk mengetahui makna kata dengan cara menebaknya dari konteks, tetapi nampaknya mereka tidak berhasil mengira-ngira makna yang tepat untuk kata tersebut. Akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk melewati saja kata itu; (4) Alasan keempat, tidak

hanya kegagalan dalam menebak kata, tidak berhasilnya upaya mereka untuk mencari makna kata di kamus dapat memicu terjadinya skipping selama proses membaca pemahaman berlangsung; dan (5) Alasan kelima, untuk skipping adalah miscue. Istilah miscue dipakai untuk pertama kalinya oleh Goodman (1996) untuk menyebut kesilapan yang dibuat oleh pembaca ketika sedang memahami suatu teks.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Dari penjelasan di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut. Para pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya tergolong baik pada umumnya melakukan strategi skipping atau mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam suatu teks, dan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya. Jumlah kata yang mereka abaikan beragam, ada yang amat sedikit, namun ada juga yang cukup banyak. Alasan yang mendasari penggunaan strategi skipping ini juga bermacam-macam, dan penelitian ini berhasil mengeksplorasi lima alasan. Alasan tersebut meliputi: (1) kata tersebut tidak terlalu penting untuk memahami makna teks secara keseluruhan, (2) kata tersebut penting, tetapi pembelajar lupa mencari artinya karena keterbatasan kapasitas memori jangka pendek, (3) kata tersebut sudah diupayakan untuk ditebak maknanya, namun gagal, (4) kata tersebut sudah diupayakan untuk dicari maknanya di kamus, namun gagal, dan (5) miscue atau salah baca, dan diasumsikan kata tersebut diketahui maknanya padahal tidak. Alasan pertama dan ketiga mendukung temuan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sedangkan tiga alasan lainnya merupakan temuan orisinil dari penelitian ini.
Saran

Berdasarkan simpulan yang diuraikan di atas, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut kepada para pengajar bahasa Inggris dalam mengajarkan membaca pemahaman. Pertama, pembelajar dengan kemampuan membaca pemahaman yang baik hendaknya dianjurkan untuk menerapkan strategi skipping terhadap beberapa kata sulit yang

Dari lima alasan yang telah disebutkan sebelumnya. karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap pembaca pada tingkat dasar (elementary) dan lanjut (advanced) untuk mengetahui apakah penerapan strategi skipping memang berbeda karena tingkat membaca pemahamannya berlainan.mereka temui dalam teks. Skipping nampaknya merupakan suatu strategi yang tak dapat dipisahkan dari proses membaca pemahaman. sehingga skipping akan membuat proses tersebut lebih maksimal apabila dilakukan dengan alasan yang tepat. . Bagi para peneliti yang berkecimpung di bidang membaca pemahaman dan pengajarannya. Kedua. perlu diadakan investigasi lebih lanjut mengenai strategi skipping. (2) menghambat proses membaca pemahaman. apakah memiliki alasan yang sama dengan mahasiswa yang baik kemampuan membacanya. namun untuk lebih jelasnya diperlukan bukti empiris dari penelitian. Penelitian ini hanya menggunakan mahasiswa yang memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik sebagai subjeknya. karena itu perlu diteliti: (1) apakah mahasiswa dengan kemampuan membaca pemahaman yang kurang juga menerapkan strategi skipping dan (2) apabila memang menerapkannya. Perbedaan kemampuan ini diperkirakan akan menghasilkan temuan yang berbeda pula. hendaknya pengajar dapat memetik manfaatnya dengan memberikan pengetahuan yang cukup kepada pembelajar agar dapat memilih kata mana yang dilewati dengan alasan yang sesuai. pembelajar hendaknya diajarkan untuk memilah katakata sulit yang perlu dicari maknanya dan yang dilewati begitu saja. karena mencari makna setiap kata yang tidak diketahui kemungkinan akan: (1) memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk membaca pemahaman. Selain itu. subjek penelitian ini adalah pembelajar yang kemampuan membaca pemahamannya berada di tingkat menengah (intermediate). dan (3) menurunkan motivasi untuk membaca lebih jauh.

On Reading. W. C. . C. 1998. K. S. & Pollatsek. M.. 1977. G. A. Toward a Model of Eye Movement Control in Reading. A. 125--157. 21(2). 1989. 21(2). Reichele. 105(1). 5(2).. 1996. & McConkie. Vision Res. A. A Preliminary Investigation of the Reading Strategies of Successful and Nonsuccessful Second Language Learners. Pollatsek. 1976. & Wesche.. Rayner. 1995. K. 1999. H. M. Hosenfeld. Ontario: Scholastic. T. What Guides a Reader's Eye Movements. K. Psychological Review. Reading and "Incidental" L2 Vocabulary Acquisition: An Introspective Study of Lexical Inferencing. 16(8). Goodman. 829-837. 1999. D. P. The Psychology of Reading. Lexical Processing Strategy Use and Vocabulary Learning through Reading.. Robinson. Pressley. & Rayner. K. Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates. System. 1976. E. 110--213. Rayner. Boston: Allyn and Bacon. & Afflerbach. Paribakht. Verbal Protocols of Reading: the Nature of Constructively Responsive Reading. D. 225--241.DAFTAR RUJUKAN Fraser. Studies in Second Language Acquisition.. 195-224.. Studies in Second Language Acquisition. A.. Teaching Reading and Study Strategies: The Content Areas. B. Hillsdale: Erlbaum. Fisher. L.

Kata-kata kunci: Pengembangan Model Pendidikan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Kota Malang angka perceraian dari tahun ke tahun meningkat. namun juga menimpa keluarga dari semua kelas sosial.Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Abstrak: Perceraian bagi setiap pasangan suami istri adalah sesuatu yang paling tidak diinginkan. Namun dalam realisasi di lapangan masih sering saja dijumpai ada pasangan yang memutuskan untuk bercerai. Hal ini bisa dilihat dari seringnya masalah tersebut menjadi berita hangat di media masa. Tampaknya masalah ini bukan hanya terjadi pada keluarga dari kelas tertentu. baik lokal maupun nasional. kasus perceraian yang terjadi karena inisiatif pihak istri (gugat cerai) jumlahnya lebih besar daripada perceraian karena inisiatif pihak suami (talak) lihat pada Tabel 1. Dan anak adalah korban terbesar dari perceraian yang dilakukan oleh ibu dan bapaknya. Perceraian sebenarnya dapat dihindari apabila suami atau istri mau mengkompromikan segala kepentingan yang mereka miliki untuk kepentingan bersama yang lebih besar. yakni keluarga harmonis. Ironisnya. Ahmad Munjin Nasih adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang . Perceraian Suami Istri Muslim Belakangan ini. meskipun rumah tangga yang mereka bina telah berusia lebih dari 20 atau 30 tahun. kasus perceraian seakan merupakan tren yang sangat menyita perhatian publik. "Luka" akibat perceraian tidak dipungkiri akan mewarnai perjalanan kehidupan mereka dan keluarganya setelah bercerai.

5. 2. bisa jadi. telah gagal mencapai cita-cita yang mereka dambakan ketika mengawali membangun rumah tangga. Tentu saja hal ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk membenarkan perceraian tersebut. jika pasangan-pasangan yang bercerai tersebut sudah dikaruniai anak sebagai buah pernikahan mereka. Trauma yang demikian. 3. terjadinya perceraian itu menunjukkan bahwa pasangan suami-istri yang telah mengikat janji membangun keluarga.Tabel 1 Angka Talak dan Gugat Cerai di Kota Malang No 1. perceraian yang demikian hampir bisa dipastikan meninggalkan kesan negatif terhadap anak. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan. sebab bagaimanapun juga. 4. Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Talak 335 358 371 434 408 Gugat Cerai 627 664 733 796 764 Jumlah 962 1022 1104 1230 1172 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Bahkan tren naiknya jumlah gugat cerai daripada talak ternyata tidak berubah sampai bulan Januari 2007 lihat pada Tabel 2. Tabel 2 Angka Talak dan Gugat Cerai bulan Januari 2007 di Kota Malang Bulan/Tahun Januari/2007 Talak 46 Gugat Cerai 79 Jumlah 125 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Kondisi yang terjadi di Kota Malang tidak menutup kemungkinan terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. bahkan mungkin akan membuat anak trauma terhadap institusi keluarga. Kalau pasangan yang bercerai tersebut belum dikaruniai anak barangkali dapat dikatakan bahwa hanya pasangan tersebut sajalah yang terkena dampak negatif dari perceraian itu. tidak hanya mengena pada anak dari pasangan yang . Akan tetapi.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan penyadaran kepada semua pihak terutama pasangan suami istri akan pentingnya menjaga rumah tangga dari perceraian. model pendidikan seperti apa yang sesuai dengan tujuan ini belum berhasil dibangun. dan (4) mengetahui dampak yang terjadi pada anak-anak korban perceraian. Namun. Dalam penelitian studi kasus ini digunakan rancangan studi kasus observasional (Yin. Pembatasan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mayoritas penduduk Malang Raya secara khusus dan Indonesia secara umum memeluk agama Islam. pencegahan terhadap terjadinya perceraian menjadi sangat penting untuk dilakukan. (2) mengetahui kebutuhan dan persepsi pasangan suami istri yang telah bercerai terhadap bangunan keluarga sakinah. (3) mengetahui langkah-langkah yang selama ini telah ditempuh oleh suami dan istri dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga. Namun demikian. Selaras dengan uraian di atas. METODE Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya. maka rancangan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui data tentang faktorfaktor penyebab terjadinya perceraian. Rancangan ini diharapkan dapat menghasilkan teori dengan generalisasi lebih luas dan lebih umum penerapannya untuk kasus pencegahan perceraian. perlu dilakukan penelitian pengembangan untuk mewujudkannya. Sehingga diasumsikan jumlah perceraian terbanyak dialami oleh pemeluk agama Islam. Oleh karena itu. Dengan langkah ini diharapkan pasangan tersebut akan menjadikan keluarganya sebagai keluarga yang sakinah (harmonis) melalui pendidikan pencegahan perceraian bagi pasangan suami istri. Rancangan studi kasus dapat digunakan untuk pengembangan teori yang diangkat dari sebuah latar penelitian (Bogdan & Biklen. Jika ini terjadi tentu akan semakin mengkhawatirkan. 1999) Rancangan metode . penelitian ini hanya terbatas pada keluargakeluarga muslim. 1998). Oleh karena itu.bersangkutan tetapi bisa meluas kepada anak secara umum.

Dalam penelitian kualitatif teknik untuk memperoleh data di lapangan dilakukan dengan tiga cara. yaitu Kota Malang. baik menggunakan teknik wawancara mendalam maupun dengan teknik observasi. dimana dalam tahap ini peneliti mengumpulkan data secara lebih mendalam dan terarah dengan fokus penelitian. akan dikumpulkan informasi berupa katakata. FGD. Hal ini diterapkan untuk mendapatkan data yang memadai dan sesuai dengan fukos penelitian dan tujuan penelitian. yaitu: teknik wawancara terfokus. Kabupaten Malang. istri yang sedang dalam proses perceraian dan sudah bercerai. Sementara itu lokasi penelitian ini adalah wilayah Malang Raya. dan Kota Batu. Adapun teknik penjaringan informasi yang digunakan adalah teknik bola salju (snowball). Dalam setiap kali melakukan pengumpulan data. Dalam pelaksanaannya dilakukan beberapa kali pengumpulan data dan hasilnya dianalisis sehingga tersusun teori sementara. serta berusaha mencari sumber-sumber data atau informan yang kompeten dan memiliki pengetahuan. Di samping itu juga akan diambil data berupa situasi setting penelitian serta kegiatankegiatan yang berkaitan dengan fokus penelitian. Subjek penelitian sekaligus akan dijadikan informan penelitian dengan kesempatan yang sama. digunakan beberapa alat. Data subjek penelitian akan diperoleh dari Pengadilan Agama Kota Malang. Untuk menjaring data tersebut akan dilakukan pengamatan. Pada tahap pertama peneliti melakukan penjajakan ke lokasi dalam rangka memperoleh gambaran secara umum tentang situs yang akan diteliti. observasi dan dokumentasi (Marshall.tersebut digunakan untuk menelaah sebuah fenomena dalam sebuah organisasi tertentu. Di samping itu . Dalam penelitian ini. Tahap berikutnya adalah melakukan eksplorasi. Dalam setiap kesempatan mengadakan wawancara mendalam digunakan buku catatan. 1989). Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap. Kata-kata dimaksud adalah berasal dari para informan. Adapun subyek penelitian ini adalah suami. serta anak-anak korban perceraian di Malang Raya. situasi setting dan beberapa dokumen yang berhubungan dengan fokus penelitian. Informasi tersebut akan digali melalui wawancara bebas. pemahaman serta kepedulian yang tinggi terhadap pemasalahan yang sedang diteliti. Kabupaten Malang dan Kota Batu yang tercatat dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

peneliti memberikan catatan reflektif yang sesuai dengan isi data. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan tiga cara. Dalam paparan data. ulama. Kedua. yakni ahli pendidikan. dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi baik triangulasi teknik data maupun triangulasi informan. (3) Penentuan Temuan Penelitian. dan (3) konfirmabilitas. kemudian dirangkai secara sistematis sesuai dengan susunan tema fokus dan disajikan sebagai paparan data. (2) dependabilitas. Dalam proses reduksi data. data yang telah dikelompokkan. dilakukan dengan meminta bantuan para ahli dan berbagai pihak yang memahami penelitian ini. Untuk menganalisis data. Kesimpulan dirangkum dari proses analisis data. dipilah dan digolongkan sesuai tema-tema dalam fokus penelitian. dan (4) Penarikan Kesimpulan Pertama. selain format lapangan juga akan digunakan alat dokumentasi yang berfungsi untuk mendokumentasikan perilaku-perilaku atau peristiwa-peristiwa penting yang muncul selama pelaksanaan observasi. Peneliti mengikuti saran Spradley untuk menggunakan model analisis domain dan analisis komponensial. Data inti yang ditemukan dimasukkan format model analisis data etnografi yang dikembangkan oleh Spradley (1980). kegiatan ini merupakan akhir dalam proses penelitian. peneliti merumuskan temuan penelitian dari data yang dianggap bersifat spesifik setelah melalui analisis etnografi. Pemilahan data ini juga bertujuan untuk membuang data yang tidak diperlukan karena searah dengan tujuan penelitian.apabila yang diwawancarai banyak maka digunakan alat perekam. yaitu: (1) kredibilitas. Selanjutnya dalam setiap melakukan observasi digunakan format catatan lapangan. peneliti menganalisis data dengan empat langkah yaitu: (1) Reduksi Data.. tanpa mengurangi esensi data tersebut. Ketiga. (2) Penyajian Data (Display). Kesimpulan penelitian . Sedangkan untuk kegiatan observasi. semua data hasil wawancara terbuka dengan semua subjek penelitian. dan hakim agama. Keempat. tempat dan inisial informan. psikolog. dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan ulang terhadap data yang diperoleh dengan meminta konfirmasi lebih lanjut kepada para informan dan para ahli terkait. Kedua alat tersebut digunakan untuk mencatat dan merekam jawaban-jawaban informan yang selanjutnya ditulis ulang ke dalam format transkrip wawancara dengan menyertakan koding yang terdiri dari tanggal. peneliti juga mencari istilah-istilah kunci yang menjadi data inti.

Dalam Islam. fakta seringkali berkata lain. Terlebih jika diingat bahwa anjuran untuk menikah bagi seorang laki-laki adalah ketika dia sudah mempunyai kemampuan (alba‟ah) untuk memenuhi kebutuhan keluarganya baik lahir maupun batin. ini yang mendatangkan ketenangan isteri dalam menjalani hidup berkeluarga. Suami berkewajiban memberi belanja yang cukup dan tidak mempersempit nafkah keluarganya.34) karena kelebihan itu suami mempunyai kewajiban menyejahterakan kehidupan keluarga.sebelumnya dirumuskan dalam temuan penelitian. mencukupi kebutuhan mereka dengan memberikan nafkah yang layak. istri dan anakanak. Hampir bisa dipastikan seseorang yang memasuki dunia rumah tangga berharap bisa menjadikan rumah tangganya sebagai tempat memadu kasih yang sangat membahagiakan antara suami. Para responden menyatakan bahwa penyebab perceraian yang paling menonjol adalah masalah ekonomi. Begitupun sebuah perceraian. HASIL Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian Hukum alam mengatakan bahwa tidak ada asap bila tidak ada api. Namun. Temuan penelitian. halal dan dibenarkan oleh agama dan negara. Suami berkewajiban memenuhinya dalam batas kewajaran. jika ini tidak terpenuhi Islam menganjurkan agar dia menundanya dengan melakukan pengendalian diri antara lain dengan berpuasa. ini dapat dimaklumi karena pemenuhan kebutuhan keluarga terkait dengan kedudukan suami sebagai penanggung jawab keluarga. Berbagai persoalan selalu mengiringi perjalanan rumah tangga. ia tidak akan terjadi begitu saja tanpa diawali oleh berbagai persoalan yang melatarbelakanginya. suami dilebihkan dari isteriisterinya karena kelebihan yang diberikan Allah kepadanya (alNisa‟. Hidup berkekurangan bisa membawa keluarga ke gerbang kehancuran sebagaimana sabda Rasulullah SAW ―kaada al-faqru an yakuuna . tanpa berlebih-lebihan atau kekurangan. dan apabila hal tidak bisa dimenej dengan baik bukan mustahil semuanya berujung pada perceraian. pada hakikatnya adalah kesimpulan yang diperoleh peneliti. idealitas yang dimiliki harus berhadapan dengan fakta yang sangat tidak diharapkan.

Permainan api ini melukai hati isteri dan mengecewakannya sehingga isteri terdorong melakukan gugatan cerai karena dia melihat hilangnya kejujuran suami pada janji setianya yang diikrarkan pada waktu menikah.kufran”. ― . suami bermain api di belakang isteri dengan berselingkuh bersama wanita lain. Rapuhnya perkawinan yang berakhir dengan cerai karena hadirnya pihak ketiga tidak saja dialami oleh suami tetapi terjadi pula pada isteri sehingga suami terpaksa menceraikannya. 228). dengan itu dia dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan merasa dapat hidup mandiri tanpa bantuan suami. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara-cara yang baik‖ (Al-Baqa rah. Keinginan untuk lepas dari ikatan perkawinan dengan suami makin menguat ketika menemukan suami sudah tidak lagi jujur dalam memegang janjinya. terlebih jika laki-laki itu berharta. mereka tidak sabar dalam menerima kekurangan yang ada. 30-31). Pada suami melekat kedudukan sebagai pelindung keluarga (qawwamuuna ala an-nisa‟) karena itu kesetiaan isteri tetap terjaga manakala suami dapat memerankan dirinya sesuai dengan kedudukannya. seperti kasus ibunda DM ini. . isteri dapat menjalani kehidupan keluarga dengan baik. Isteri melihat laki-laki itu dapat memenuhi kebahagiaan yang diimpikannya karena dia dipandang ―lebih‖ dari pada suaminya karena itu isteri rela menggugat agar suaminya menceraikannya. . seperti yang terjadi pada ibunda DM. . Hadirnya pihak ketiga ini menjadi sebab terjadinya perceraian. Godaan ini sangat mempengaruhi langgengnya perkawinan sehingga agama Islam meminta setiap suami atau isteri untuk menahan pandangannya dan menutup mata serta memelihara kemaluannya (An-Nur. bahkan karena itu kesetiaannya pada suami hilang dan menggugatnya untuk menceraikannya seperti pada kasus ibu IT dan ibu UL. di sini pentingnya suami memenuhi kebutuhan keluarga sebab dengan terpenuhinya kebutuhan. ibunya tergoda oleh laki-laki lain karena dia melihatnya lebih keren dari pada suaminya. Ketidaksabaran ini yang sering membawa suami isteri pada perceraian. Hilangnya status qawwamuuna ala an-nisa‟ dari suami memaksa isteri bekerja. lebih-lebih jika pasangan suami isteri tidak tabah menghadapinya. kenyataan ini dapat dilihat pada kasus ibu IT dan ibu UL.

Kekerasan dapat dihindari manakala suami dapat bersabar diri atas kekhilafan dan kekurangan isteri dalam melayaninya. Masih ada jalan untuk menghindari perceraian yang tidak diharapkan oleh siapapun. dan janganlah menampakkan perhiasannya. Persepsi terhadap Keluarga Sakinah Perceraian bukanlah keinginan dasar para isteri. Isteri akan sabar dan rela mendampingi suami meski dalam kondisi ekonomi yang kurang jika suami benar-benar bertindak dan bersikap dengan elegan. Katakanlah kepada wanita yang beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya. sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui apa yang mereka perbuat.Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman “Hendaklah me reka menahan pandangannya. . karena sakitnya terasa lebih dalam dan lama di hati. Tak jarang kekerasan psikis mengiringi perlakuan kasar suami pada isteri nya. “ Akibat lain dari hadirnya pihak ketiga ini adalah hilangnya kasih sayang antara suami isteri. yang demikian itu lebih suci bagi mereka. . katakata kotor dan penisbatan kepada pezina diterima oleh isteri sebagaimana dalam kasus ibu IT. meski mereka menjalani hidup yang sulit mereka rela menerimanya selama suami yang mendampinginya dapat mengayomi mereka sebagai kepala rumah tangga . diseret-seret. dilempar dengan kursi. sementara isteri teguh berimannya dan setia memegang janji tidak akan berpaling kepada orang lain yang mungkin hadir setelah mereka menikah. Kekerasan pisik bisa berupa pemukulan. agama bahkan melarangnya kalau tidak terpaksa benar. perselingkuhan dan kekerasan tidak akan terjadi jika masing-masing suami isteri taat asas pada janji mereka. kekerasan pisik dan psikis dapat terjadi karenanya. Beberapa faktor penyebab gugatan cerai di atas adalah imbas dari tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga. Dalam kondisi seperti ini suami tidak lagi memegang prinsip mu‟asyarah bil ma‟ruf yang dapat melanggengkan kehidupan rumah tangga. Bagi seorang isteri penistaan ini lebih menyakit kan dari pada tindak kekerasan pisik. sampai pada ancaman pembunuhan seperti terlihat dalam kasus yang dialami oleh ibu UL dan ibu TS. dan me meli-hara kemaluannya. Penistaan suami karena kemiskinannya. dan memelihara kemaluannya. penistaan.

yaitu keseimbangan antara keduanya baik dalam hal agama maupun status sosial. bimbingan (arri‟ayah) dan mencukupi (al-kifayah) kebutuhan mereka. Suami yang tidak mempunyai pekerjaan (menganggur) bisa menjauhkan tercapainya cita-cita keluarga sakinah. mendambakan hal itu seperti harapan yang diungkapkan oleh DM. anak-anak misalnya. apalagi jika isteri berasal dari keluarga yang mempunyai cetak biru bahwa pendidikan sangat penting. juga kasus ibu IT. karena nilai-nilai yang dianut keluarga di mana seseorang dibesarkan secara tidak sadar akan diserap (absorbs) dalam dirinya. Ketika terjadi konflik yang keluar dari suami adalah ucapan-ucapan yang tidak layak. dan berwibawa. seperti yang terjadi pada ibu IT. kotor dan menista. keluarga yang di pimpin oleh suami bertanggung jawab. Di sini perlunya suami isteri se-kufu. Suami tidak dapat nyambung bila diajak ngobrol dan sering minder. sebagaimana yang diungkapkan olah ibu IT. konflik antara suami isteri tidak dapat menemukan titik kesamaan karena tidak se-kufu. Ini yang terjadi pada ibu IT sehingga tidak dapat menemukan keluarga sakinah.yang dapat memberikan perlindungan (al-wilayah). Kasus ibu UL adalah contohnya. Karena ketergantungan itu pula yang mendorong suami tidak bisa fair (jujur) kepada isteri. kecantikan. dia akan menggerogoti isterinya apalagi jika isteri telah mapan. Kewibawaan suami diapresiasi oleh isteri manakala suami mempunyai al-ba‟ah (kemampuan) sebagaimana dituntun oleh agama yaitu kemampuan lahiriah batiniah. Kufu ini menumbuhkan kebanggaan isteri untuk berjalan bersama suaminya. Perbedaan pendidikan yang jauh antara isteri dengan suami misalnya menjadi masalah yang susah ditoleransi dalam menjemba tani perbedaan pendidikan antara isteri dengan suami agar tidak menjadi potensi konflik. pendidikan dan keturunan. baginya laki-laki yang ideal adalah bapaknya dia mengidolakan bapaknya sebagai suami yang baik. misalnya. pekerjaan. Di bawah suami yang seperti itu cita-cita keluarga sakinah dapat terwujud. ibu UL. Bahkan anggota keluarga yang lain. Ibu UL dan ibu IT mengalami hal ini padahal . saling mengerti. sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abdullah bin Mas‘ud. dan ibu TS. Ketergantungan suami kepada isteri menyebabkan pincang nya status dan fungsi suami sebagai seseorang yang harus mencukupi (al-kifayah) keluarganya.

Meskipun suami dan isteri telah bercerai namun cita-cita dan keinginan untuk membangun keluarga sakinah tetap tertanam dalam hati masing-masing. Adakalanya kepada orang tua. Bagaimanapun suami adalah penanggung jawab keluarga. Namun demikian ada juga pasutri yang tidak melibatkan pihak di luar keluarga inti. Manakala masing-masing suami dan isteri dapat memerankan dirinya dengan melaksanakan kewajiban dan haknya maka perceraian tidak perlu terjadi. mertua. manakala isteri mengambil peranannya terlalu banyak maka cita-cita keluarga sakinah tidak dapat terwujud. seperti BP4 dan KUA. dan membuatnya aman serta nyaman.mereka mengharapkan suaminya bisa menjadi teman hidup yang menyenangkan. istri dan anak) adalah cara yang paling umum. teman bahkan ke lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah untuk mengatasi persoaln perceraian. Hal lain yang menarik untuk diperhatikan bahwa sebesar apapun cinta isteri kepada suaminya. Suaminya bisa menjadi belahan jiwanya (soulmate) tempat mencurahkan segala rasa dan cinta sepenuh hati. Isteri yang terlalu mengatur (too care) suaminya ternyata tidak disukai suami seperti kasus LQ. Berkonsultasi kepada pihak di luar anggota keluarga inti (suami. mereka berusaha menyelesaikan sendiri persoalan rumah tangganya tanpa . perceraian baru terjadi jika suami isteri sebagai pasangan hidup tidak memenuhi kriteria yang diharapkan. dia diharapkan tetap memainkan peranannya sebagai pendamping suami yang berfungsi sebagai perawat dan pemelihara (al-hafidzat) bagi suaminya bukan sebagai penjaga baginya. saudara. saling respek. saling membutuhkan. Perceraian bisa pula terjadi karena kurangnya pemahaman pasangan suami isteri tentang makna perkawinan dan upaya yang harus dilakukan untuk membangun keluarga sakinah. Langkah-langkah Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga Secara umum setiap pasangan suami istri (pasutri) di Malang menyadari betapa pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga. Hal ini bisa dilihat betapa pasutri selalu berusaha mempertahanhan rumah tangganya dengan berbagai cara yang mereka anggap efektif agar perselisihan dan pertengkaran yang terjadi di antara pasutri tidak berujung kepada perceraian.

keterlibatan mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok. Karena bagimanpun pasutri adalah pihak-pihak yang paling mengetahui persoalan yang dialami. 1. sebagian lagi hanya melibatkan salah satu keluarga saja. Pasutri yang melibatkan pihak keluarga secara penuh biasanya adalah pasutri yang memulai proses pernikahan dengan cara yang wajar dan mendapatkan restu dari keluarga kedua belah pihak. Keluargalah yang biasa memberikan suport kepada pasutri apabila mengalami problem keluarga yang sulit diatasi. sebab pihak keluarga merasa dilibatkan dalam proses perkawinan.melibatkan pihak lain. Sementara itu dari pihak pasutri sendiri juga tidak merasa sungkan dan terbebani jika meminta bantuan kepada keluarga. Namun. keberadaan keuarga tak lebih hanya sekedar membantu memecahkan persoalan yang dialami. Bantuan penyelesaian . yakni keluarga yang secara penuh dilibatkan dan sebagian lagi tidak penuh. Hal ini sangat wajar. Namun dari responden yang dihubungi hampir tidak ada yang melibatkan lembaga BP4 yang sengaja dibentuk oleh pemerintah untuk memberikan solusi terhadap pasutri yang sedang mengalami problem keluarga. Dalam konteks perceraian. Tidak semua persoalan harus diselesaikan oleh pihak keluarga. sehingga mereka juga merasa perlu membantu pasutri yang sedang mempunyai persoalan rumah tangga dan membutuhkan bantuan penyelesaian. Mereka selalu terlibat dalam hal ini. Sebagian diantara mereka bisa melibatkan pihak keluarga masing-masing secara penuh. Ada juga yang berkonsultasi ke KUA. sebab perkawinan mereka juga atas restu keluarga. Meskipun demikian pihak keluarga biasanya juga mengetahui kapan mereka bisa terlibat dan kapan tidak. sebagian berhasil tidak meneruskan ke tingkat perceraian dan sebagian lagi justru gagal. keterlibatan keluarga pun tidak bisa dihindari. Dari paparan data sebelumnya dapat diketahui bahwa langkahlangkah yang ditempuh oleh pasutri di Malang dalam memproses perceraian sangat beragam. Keterlibatan Keluarga Sudah menjadi kelaziman bahwa anggota keluarga adalah bagian tak terpisahkan dari sepasang suami istri. Hasilnya.

kalaupun direstui hal itu disebabkan adanya ‖kecelakaan‖ sebelumnya dari pihak istri. Bahkan ada pasutri di Malang Raya yang tidak mengerti tentang BP4 sama sekali. Tidak termanfaatkannya BP4 oleh pasutri. Akibatnya masyarakat tidak memanfaatkan lembaga ini sebagai media penyelesaian problem keluarga yang mereka hadapi. . Ketidaktahuan masyarakat tentang BP4 ini bisa jadi karena minimnya sosialiasi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait kepada masyarakat. menurut para responden karena mereka tidak banyak mengenal keberadaan lembaga ini termasuk peran dan fungsinya. baik keduanya atau salah satunya. mengingat ketika pasutri mengalami pertengkaran. Berbeda dengan pelibatan sebelumnya. Ketakutan terutama diarahkan kepada orang tua dan mertua. Adapun faktor yang mngemuka adalah tidak direstuinya hubungan perkawinan mereka oleh kedua belah pihak. Banyak faktor yang menjadi penyebab mereka melakukan ha lni.persoalan adalah sesuatu yang penting. sebagian pasutri tidak memanfaatkan peran senioritas keluarga. Idealisme lembaga ini ternyata bertepuk sebelah tangan. banyak pasutri yang sedang mengalami persoalan rumah tangga tidak memanfaatkan lembaga ini untuk menyelesaikan persoalannnya. Pasutri ini merasa bahwa mereka telah berbuat tidak baik kepada orang tua dan pihak keuarga. yang mengemuka adalah aspek emosi. Apabila mereka telah merasa tidak mampu barulah melibatkan orang tua atau mertua. Pasutri yang menempuh langkah ini biasanya didasari oleh perasaan minder dan takut. Keterlibatan BP4 BP4 adalah lembaga resmi pemerintah yang didirikan untuk membantu pasutri dalam menemukan solusi atas persoalan rumah tangga yang dialaminya. 2. karena proses pernikahan yang mereka jalani pada awalnya tidak ‖direstui‖ oleh orang tua. Tujuannya jelas. Karena pertimbangan inilah mereka lebih memilih menyelesaikan persoalan keluarganya tanpa campur tangan keluarga terlebih dahulu. agar pasutri tidak sampai masuk dalam kubang perceraian. sehingga aspek nalar tidak bisa berfungsi secara maksimal.

hampir dipastikan tidak dikunjungi masyarakat. khususunya yang ada di kecamatan. maka persoalan perceraian yang menimpa banyak umat Islam akan meningkat. maka bisa dipastikan BP4 tidak memiliki peranan lagi. Dan kalau sudah di pengadilan agama. Sebab apabila BP4 dibiarkan tanpa tugas dan kewenangan yang jelas. maka pemerintah dalam hal ini Departemen Agama dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia sudah selayaknya duduk bersama merumuskan kembali posisi BP4. Tanpa rekomendasi dari BP4 pengadilan tidak akan meneruskan sidang perceraian mereka. Hal ini sesuai dengan pengakuan salah satu kepala KUA di Kab Malang bahwa sebagian PNS yang berkonsultasi ke BP4 ada yang kembali rukun. kecuali pasutri yang berstatus PNS. Prosedur perceraian yang diterapkan oleh pengadilan agama terhadap pasutri PNS. Namun. BP4 yang ada di setiap level. bagi pasutri PNS rekomendasi BP4 akan sangat berarti bagi kelangsungan proses perceraian di pengadilan agama. Sebab. Dan yang demikian pada gilirannya akan memacu peningkatan angka perceraian di masyarakat. biasanya sudah pasti cerai. dimana peranan KUA dibatasi pada persolan nikah dan ruju‘. Namun eksistensi BP4 bisa dibilang wujuduhu ka‟adimihi (adanya seperti tidak adanya). Melihat eksistensi BP4 yang demikian. Posisi BP4 yang demikian. mereka langsung menyelesaikannya di pengadilan. setidaknya bisa meredam gejolak mereka untuk meneruskan perceraiannya. dimana mereka harus mendapatkan rekomendasi BP4 terlebih dahulu. pemerintah tetap memposisikan BP4 masih terikat kuat dengan struktur KUA di kecamatan. Ketika aturan tersebut diberlakukan. tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Undang-undang nomor 7 tahun 1989 tentang peradilan agama. demikian sebagaimana dituturkan oleh salah satu pejabat PA dan kepala KUA di Malang. pada saat yang sama. Ketua KUA di semua tempat adalah kepala BP4 itu sendiri.Sebenarnya secara kelembagaan. secara formal BP4 memiliki struktur mulai dari pusat sampai tingkat desa. masyarakat secara umum lebih suka menyelesaikan problem keluarganya tanpa melibatkan BP4. . namun ada juga yang tetap bercerai. Selain pasutri PNS.

perilaku regresi dan obsesif. Orang tua yang sedang kalut dan marah pada pasangannya sering kali menampakkan perilaku tidak dewasa dan emosional. seorang anak belajar beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Perceraian dapat menghambat proses belajar tersebut. Mereka juga belajar mengenal normanorma dan aturan-aturan hidup. Pertikaian antara ayah dan ibunya ketika kondisi ―retak‖ hingga proses perceraian dapat mengacaukan kondisi emosi anak. kasih sayang. curiga. Kondisi ini menimpa AZ dan Wim dan S yang .BAHASAN Secara taksonomis. bimbingan dan perlindungan. Bermula dari keluarga. di tengah keluarga. Kehangatan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh anak dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. dampak perceraian yang tampak pada anakanak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis. Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. Seharusnya anak dapat memahami sikap simpati. penurunan prestasi belajar. Maka akan muncul serentetan masalah baru bagi anak-anak mereka. seorang anak idealnya memperoleh kehangatan cinta. Perceraian secara tiba-tiba mencerabut kebutuhan anak tersebut. atau salah satu dari pasangan tersebut (baca orang tua anak-anak) ―kabur‖. loyalitas. namun perceraian—terutama yang disertai kekerasan—malah mengajarkan sikap antipati. tidak loyal dan acuh. Pada keluarga yang telah pecah akibat perceraian. Perilaku tersebut akan menjadi model bagi anak. kecewa. Keluarga yang telah bercerai berpotensi membentuk pribadi bermasalah karena lingkungan inilah yang pertama kali dihadapi oleh sang anak. perilaku agresif. suka berbohong dan perilaku proyeksi. rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). solidaritas. interaksi yang dapat menimbulkan pengalaman afektif dalam kehidupan anak juga terkurangi. Perceraian dalam keluarga membuat anak kebilangan harapan dalam memperoleh kebahagiaan padahal secara teoritis dan realitas. serta nilai-nilai budaya. Apabila keluarga menjadi berantakan disebabkan perceraian.

Angka perceraian yang cenderung meningkat di Malang Raya khususnya tahun 2000-an membuat kasus perceraian yang dulu merupakan kejadian luar biasa. Win dan S akan mengalami gangguan perkambangan intelektual.mengalami masalah emosional setelah proses perceraian orang tuanya yang disertai kekerasan. perkembangan sosio-emosional. kehilangan figur model perilaku. semuanya akan nampak dari perilaku anak ketika beranjak remaja dan dewasa apabila tanpa bimbingan dari salah satu dari orang tua atau pengganti orang tuanya (Nawawi: 1998). Anak-anak dari korban perceraian semakin banyak dan. anak-anak seperti AZ. Kasus S menunjukkan bahwa anak anak yang berupaya dengan keyakinannya ingin menyelamatkan perkawinan orang tuanya meskipun . telah terjadi pula di Malang Raya. Akibatnya PR merasa tidak pernah belajar menjadi figur perempuan sebenarnya. Di samping karena AZ juga menjadi saksi pertikaian orang tuanya yang pebuh dengan kekerasan sehingga dia mengimitasi peristiwa itu lalu mentrasfernya dalam hubungan dengan teman-temannya. PR telah merasakan pahitnya kehilangan fungsi ibu dan ia mengalami deprivasi maternal atau kehilangan bimbingan ibu. Sementara AZ mungkin merasa kehilangan kepercayaan diri dalam pergaulan sosial sebagai akibat perasaan malu karena memiliki keluarga yang tidak utuh. Kasus PR menunjukkan bahwa kehadiran orang tua dalam perkembangan kepribadian anak sangat penting. prosentase perceraian dengan gugat cerai berlipat ganda. Bagi PR yang menjadi saksi pecahnya harmoni keluarga. dia juga merasa tidak aman secara emosional (emotional insecurity). PR dan saudara-saudaranya masih beruntung karena figur sang ayah dan keluarganya yang lain memberikan penguatan sehingga dampak psikologis akibat perceraian kedua orang tuanya tidak terlalu berat dirasakan PR. Semua kasus diatas bahkan dapat dikatakan mengalami deprivasi parental atau kehilangan fungsi pengasuhan. Dewasa ini. dan sebagian besar perceraian dewasa ini melibatkan keluarga yang mempunyai anak. Perceraian yang terjadi melibatkan anak-anak dibawah usia 18 tahun. Lebih lanjut. Dikhawatirkan. bahkan spiritual. meskipun S dan AZ diasuh oleh si ibu. sekarang merupakan hal yang biasa. Mungkin perkiraan bahwa perceraian dapat mempengaruhi 15 persen anak-anak yang lahir di tahun 1955 di Inggris dan Amerika.

bahkan ada yang tidak mengenal konsep keluarga sakinah. 3. (5) ketimpangan pola pikir. sebagian pasutri Muslim di Malang Raya melibatkan keluarga (orang tua. Dalam menyelesaikan problem rumah tangga yang menjurus ke arah perceraian. Sementara itu. AZ menjadi berperilaku terpusat pada diri sendiri (egosentris) dan menghawatirkan karena sering kasar dan agresif pada teman-teman sebayanya. sebagian lagi hanya memahaminya sebatas aspek lahiriyah. 2. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan paparan data pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. R dalam hal telah menempatkan ibunya sebagai orang yang kurang dapat dipercaya. diantaranya (1) ketidakberdayaan suami dalam membahagiakan isteri.. Kondisi ini sesuai dengan analisa Sears (1988). kakak. Perceraian yang terjadi diantara pasutri muslim di Malang Raya disebabkan oleh beberapa faktor. Persepsi pasutri Muslim di Malang Raya tentang keluarga sakinah sangat beragam. Kasus S memberikan gambaran bahwa S berpotensi menjadi kurang matang (Immature) akibat kerinduan pada sosok ayah. Ia mempersepsi sang ibu sebagai orang yang tidak tanggap atau menimbulkan frustasi karena tidak bersikap kasih.usahanya menjadi sia-sia. PR lebih mampu memahami bahwa perceraian orang tuanya dan tahu asal muasal penyebab perceraian tersebut. Sebagian diantara mereka dapat memahami kosep keluarga sakinah sama seperti yang dimaksud oleh agama. (2) hadirnya orang ketiga. PR lebih bisa memahami kasus orang tuanya karena dia mengetahui kejadian itu setelah beranjak dewasa. atau yang dituakan) sejak awal untuk . (4) perbedaan keyakinan. Anak-anak korban perceraian baik AZ dan S kemungkinan akan berkembang memiliki cara pandang yang selektif pada orang lain sebagai bagian dari kepribadiannya. (3) kekerasan dalam rumah tangga. Dia belajar mengenai sosok-sosok pribadi dengan ciri-ciri yang terkesan negatif dalam benaknya untuk ditolak dan tidak dapat di percaya. dan (6) tidak saling percaya.

suka berbohong dan perilaku proyeksi. selain itu mereka juga lebih bijak Saran Setelah diketahui beberapa kesimpulan di atas. khususnya mereka yang mendapatkan bimbingan yang memadai. merasakan dampak positif. Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. biasanya pasutri yang proses pembentukan rumah tangganya tidak mendapat restu dari keluarga. 4. penurunan prestasi belajar. saran yang dapat dikemukakan adalah: 1. Selain kedua model tersebut. Sebab pihak Pengadilan Agama tidak akan memproses. Pasutri yang meibatkan keluarga sejak awal biasanya adalah pasutri yang mendapatkan restu dari keluarga untuk membentuk rumah tangga. ada keharusan bagi mereka untuk berkonsultasi kepada BP4 kabupaten terlebih dahulu jika ingin memproses ke arah perceraian. Sebaliknya yang tidak melibatkan keluarga sejak awal. Sebagian lagi hanya melibatkan pihak keluarga pada saat mereka tidak mampu lagi mengatasinya. dampak perceraian yang tampak pada anak-anak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis.membantu mencari solusi yang terbaik. jika tidak ada rekomendasi dari BP4. Selain dampak yang negatif. perilaku agresif. perilaku regresi dan obsesif. Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). Penelitian ini akan membawa manfaat yang lebih besar jika ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan yang diarahkan kepada . Secara taksonomis. Mereka menjadi lebih selektif dalam memutuskan masalah masa depan. bagi sebagian kecil diantara anak-anak korban perceraian. Kecuali pasutri PNS. pasutri di Malang Raya yang sedang bermasalah hampir seluruhnya tidak memanfaatkan keberadaan BP4 sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah untuk membantu mencarikan solusi atas persoalan rumah tangga.

maupun administratif. sosiologis. Pihak universitas bekerja sama dengan pihak-pihak terkait hendaknya melakukan kajian secara komprehensif mengenai persoalan perceraian dan langkah-langkah kongkrit untuk mengatasinya. 3. agamis. . Pihak-pihak yang terkait dalam pemerintah sudah saatnya meninjau kembali beberapa peraturan yang tidak memberikan peluang kepada BP4 mengembangkan diri dan ikut andil dalam mencegah terjadinya perceraian di masyarakat. baik secara akademis.pembuatan model pencegahan perceraian bagi pasutri muslim yang diwujudkan dalam penerbitan buku saku pencegahan perceraian 2.

Darul Fikr . C. S. 1995.DAFTAR RUJUKAN Al Qur‘an dan Terjemahannya. Darul Fikr. Al Khasyt. Boston: Allyn and Bacon. Jakarta.1980. T. Beirut. Imam Muslim. Shahih Muslim. R. 1999. Tafsir Al Maraghi. Qualitative Research In Education: An Introduction to Theory and Methods. 1998.th. Maraghi. Muhamad Usman. GIP. dan Biklen. Medinah Munawwarah. Beirut. Mujamma‟ Al Malik Fahd Li Thinba‟at Al Mushh-haf. K. Bogdan. Ahmad Musthafa. Sulitnya Berumah Tangga. Upaya Mengatasinya Menurut Qur‘an Hadits dan Ilmu pengetahuan.

Pribadi dan Wasis adalah dosen Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Negeri Malang . building education. Pengamat pendidikan dan dunia industri mensinyalir bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia secara umum masih rendah.Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi Wasis Abstract: This Research aim to to ( a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based` Learning and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based Learning. sikap sebagian besar lulusan perguruan tinggi kita yang masih mengharapkan bekerja di instansi pemerintah dan tidak mampu menciptakan lapangan kerja. Based on the data obtained through observation and questionaires. This Research is conducted in Departement of Building Education FT UM. Hal ini merupakan salah satu indikator proses pembelajarandi perguruan tinggi masih belum optimal. having the collaaborative character. Hal ini nampak dari. industrial practical. minimal untuk dirinya sendiri. This Research use of class action research (CAR). the CAR was succesfull in (a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject Key words: Project Based Learning.

Setelah itu mahasiswa. PI merupakan matakuliah yang bertujuan untuk membekali mahasiswa agar memiliki kemampuan komprehensip dalam memecahkan masalah yang yang terjadi di lapangan. Matakuliah PI boleh diambil mahasiswa bila sudah menyelesaikan kumulatif 90 sks atau telah menempuh 80% matakuliah keteknikan. diberi kebebasan untuk mengerjakan tugasnya ke lapangan serta diberi jadwal tertentu untuk berkonsultasi dengan dua orang dosen pembimbing yang telah ditentukan. pada pembelajaran bidang studi teknik. 2001). Hal tersebut. Misalnya. Dalam pelaksanaannya PI dilakukan dengan cara praktik langsung di lapangan pada proyek konstruksi yang sedang berjalan.Pada pihak lain model pembelajaran di perguruan tinggi yang masih mengacu pada prinsip behavioristik yang lebih menekankan bagaimana pengajar merubah sikap. kemampuan dan keterampilan mahasiswa. mengakibatkan banyak mahasiswa yang merasa terpaksa dalam menjalani proses pembelajaran (Suhartadi. akan berakibat pada rendahnya gairah belajar mahasiswa. mandor dan tukang tentang masalah- . Dengan demikian mahasiswa yang boleh mengambil PI adalah mahasiswa di atas semester 6. Metode penyelesaian PI yang selama ini dilakukan dengan 10% kuliah tatap muka di kelas dan 80% melalui kerja praktik pada industri jasa konstruksi. setiap mahasiswa harus menempuh matakuliah Praktik Industri (PI) sebagai persyaratan untuk lulus. Namun lebih dari itu. Pada kuliah tatap muka di kelas yang dilakukan pada minggu pertama dan kedua awal semester hanya terkait dengan masalah wawasan PI dan mekanisme pelaksanaan PI di lapangan. untuk memahami konsep-konsep teknik yang bersifat rumit dan abstrak diperlukan tugas-tugas yang bersifat lebih komplek. Kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan masih banyak mengalami kekurangan-kekurangan dan masih perlu dilakukan pembenahan-pembenahan. menganalisis masalah dan mampu memberi solusi terhadap masalah yang terjadi di lapangan. Guna mencapai tujuan tersebut pada program S-1 Pendidikan Teknik Bangunan FT UM. Dalam kegiatan praktik ini diharapkan mahasiswa mampu memahami prosedur kerja. Kasus yang demikian dijumpai pula pada mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Bangunan (PTB) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Malang (UM).. pemahaman terhadap konsep-konsep maupun teoriteori teknik tidak cukup dilatih dengan pemberian soal-soal saja. Di lapangan mahasiswa diharapkan dapat belajar dengan pelaksana.

Dalam pelaksanaan pendidikan pada program S-1 PTB FT UM. Mahasiswa yang memprogram PI tidak teratur memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi sesuai jadwal yang ditetapkan. ternyata penyelesaian PI menjadi kendala utama kelulusan mahasiswa. Dari data-data tersebut nampak bahwa hampir sebagian besar mahasiswa. sistem pembelajaran PI dengan memberi kebebasan waktu pada mahasiswa untuk berkonsultasi pada dosen pembimbing ternyata menjadi masalah tersendiri. Berdasarkan data yang ada pada jurusan ternyata mahasiswa yang mampu menyelesaikan PI tepat waktu adalah (l) angkatan 2001 dari sebanyak 24 orang hanya 9 orang mahasiswa. angkatan 2002 dari sebanyak 35 orang hanya 10 orang mahasiswa dan angkatan 2003 dari sebanyak 36 orang hanya 11 orang mahasiswa. Kurangnya kemandirian mahasiswa dapat dilihat dari beberapa indikator seperti (l) tidak menepati jadwal konsultasi yang telah ditentukan. sehingga waktu konsultasi dengan dosen.masalah konstruksi bangunan. Berdasarkan hasil wawancara dengan tim pembimbing PI dan juga pengamatan tim peneliti. (2) tidak mampu menyelesaikan tugas yang telah ditargetkan. Dalam hal ini tidak ada kontrol terstruktur dari dosen pembimbing pada mahasiswa yang memprogram . ternyata keterlambatan mahasiswa dalam menyelesaikan PI disebabkan kurangnya kemandirian dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada. dan (4) sering mengupahkan atau menyuruh mahasiswa lain untuk mengerjakan tugasnya. Pada pihak lain. Di samping itu. hampir semua mahasiswa berbondong-bondong berkonsultasi. Dosen pembimbing beranggapan bahwa ―kalau mahasiswa konsultasi ya dilayani. dan sebaliknya pada akhir semester di mana jadwal pengerjaan PI harus berakhir. kalau tidak datang untuk berkonsultasi ya terserah mahasiswa‖. Pada awal-awal semester hanya sekitar 15% mahasiswa yang memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing. ternyata tidak mengerti akan tugas-tugas yang dikerjakan. Dari mahasiswa yang berhasil menyelesaikan PI tersebut tidak ada (0%) mahasiswa yang mampu meraih nilia A. (3) malas atau tidak mau mencari buku rujukan yang disarankan dosen. nampaknya dosen pembimbing juga jarang memperhatikan kegiatan penyelesaian PI mahasiswa. mengalami masalah dalam penyelesaian tugas PI. 20% mahasiswa mendapat nilai B dan 80% mahasiswa mendapat nilai C. Akibatnya hampir 90% mahasiswa tidak mampu menyelesaikan PI dengan tepat.

dengan penerapan pembelajaran berbasis proyek akan dapat berperan sebagai fasilitator. (3) meningkatkan sikap kerjasama. maka cara yang dianggap paling baik untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. petunjuk. motivator dan inspirator. sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan. bantuan. dan hasilnya membentuk suatu produk nyata. Melihat permasalahan dalam pembelajaran PI tersebut. Melihat sistem pembelajaran matakuliah PI yang demikian. (2) meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Sudah menjadi kewajiban dosen untuk meningkatkan perannya sebagai fasilitator. Di samping itu metode Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa keunggulan seperti (1) mampu meningkatkan motivasi mahasiswa.PI. dan (4) . Berpijak pada latar belakang masalah di atas. Di samping itu dosen pembimbing PI. Sebagai inspirator pengajar harus dapat memberikan semangat. maka upaya yang dianggap sesuai untuk penyelesaikan permasalahan pembelajaran tersebut adalah melalui penerapan pembelajaran berbasis proyek (project based learning). motivator dan insprirator. Sebagai fasilitator pengajar harus dapat memberi berbagai kemudahan. dorongan pada mahasiswa dalam penyelesaian PI. maka harus ada upaya-upaya sistematis untuk memperbaikinya. sehingga mahasiswa memiliki kemandirian dalam menyelesaikan PI yang memang cukup berat. mendorong mahasiswa bekerja secara mandiri. Memberi petunjuk dalam penyelesaian PI atau mengarahkan bagaimana agar mahasiswa dapat menyelesaikan tugas dengan mudah dan sekaligus memberi dorongan-dorongan yang diperlukan. Kondisi dosen yang demikian. tanpa memandang taraf kemampuan intelektual mahasiswa. yaitu melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata. Melalui pembelajaran berbasis proyek akan mampu mendorong mahasiswa untuk melakukan invesitigasi pemecahan masalah terhadap tugas-tugas yang bermakna. sehingga kemandirian mahasiswa dalam menyelesaikan PI tumbuh. juga merupakan salah satu masalah yang mengakibatkan efektifitas pengerjaan PI rendah. Metode Pembelajaran Berbasis Proyek dipilih untuk memecahkan masalah ini karena sesuai dengan konteks dan tujuan dari matakuliah PI. yang berfokus pada pertanyaan atau masalah nyata serta pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya.

Secara operasional hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Karakteristik isi: memuat ide-ide seperti (l) masalah disajikan dalam bentuk keutuhan kompleksitas. Fokus pembelajaran terletak pada prinsip-prinsip dan konsep-konsep inti dari suatu displin ilmu. 1998). Mergendoller. Moss. (2) mahasiswa diminta memperagakan tingkah laku manajemen waktu dan tugasnya baik secara individu maupun kelompok. memberi kesempatan mahasiswa bekerja secara otonom dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. melibatkan mahasiswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain. & Michaelson. dan (5) mahasiswa melakukan umpan balik (refleksi) tentang nilai idenya dari ahli lain/melalui tes realistik Kondisi.alat otentik/sesungguhnya (misalnya. dukungan terhadap otonomi mahasiswa seperti (l) mahasiswa mengambil bagian dalam masyarakat inkuiri dan meneruskan latihan kerjanya di dalam konterk social. (4) mahasiswa menggunakan perlengkapan. Adanya keunggulan-keunggulan metode Pembelajaran Berbasis Proyek tersebut dianggap tepat untuk memecahkan masalah pembelajaranpada matakuliah PI. (3) mahasiswa mengarahkan kerjanya . 1999. dan lebih menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang komplek. kondisi dan hasil. Memuat ide-ide investigatif seperti (l) mahasiswa melakukan investigasi selama periode tertentu. Karakteristik aktivitas.meningkatkan keterampilan mengelola sumber (Moursund (1997). pencarian sumber dan pemecahan masalah dalam merespon tantangan secara keseluruhan. Van-Duze. Carol. (CORD. (3) mahasiswa berjuang dengan ambiguitas. (2) mahasiswa dihadapkan pada suatu kesulitan. 2000). dan mencapai puncaknya untuk menghasilkan produk nyata (Thomas. 2001. Secara umum karakteristik project based learning mencakup isi. 1998). (2) mahasiswa menemukan hubungan anta ride secara indispliner. Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebuah model pembelajaran yang inovatif. Thomas. teknologi/sumber-sumber nyata). (3) mahasiswa membuat hubungan/keterkaitan antar ide-ide dan memperoleh ketrampilan baru seperti melakukan kerja pada tugas-tuga yang berbeda. aktivitas. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang amat besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi mahasiswa (Gaer. dan (4) pertanyaan dunia nyata dan menarik perhatian mahasiswa.

Penelitian ini berpedoman pada model yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart (Dalam Hopkins. Artinya penelitian ini melibatkan tim pengajar sebagai anggota peneliti. yang dari awal sampai akhir kegiatan terlibat langsung sebagai peneliti pelaksana. peneliti. Pembelajaran Berbasis Proyek mempunyai beberapa prinsip. engineer dan praktisi-praktisin lainnya.sendiri dan melakukan kontrol belajarnya. produk nyata seperti: (l) mahasiswa menghasilkan produk intelektual yang kompleks yang menunjukkan hasil belajarnya (misalnya model. dan (4) mahasiswa melakukan simulasi kerja profesional dari seorang sarjana. yaitu (1) centrality. (2) mahasiswa terlibat dalam melakukan self assessment. Waktu pelaksanaan penelitian ini direncanakan dilaksanakan mulai bulan Pebruari 2008 sampai dengan bulan November 2008. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas penelitian ini bertujuan untuk (1) Meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek dan (2) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek METODE Penelitian ini dilakukan di Program Studi S-1 Teknik Bangunan FT UM. benda nyata. dan (5) realism (Thomas. (3) contructive investigation. Hasil. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bersifat kolaboratif. ketrampilan teknik dan sebagainya. disamping itu dilibatkan 15 mahasiswa semester 7 dan 8 prodi S-1 PTB FT UM yang memprogram matakuliah PI. Subjek penelitian ini melibatkan 2 orang dosen. 1992) merupakan alur pelaksanaan tindakan dan berlangsung dalam siklus-siklus yang terdiri . 2000). Sebagai sebuah model pembelajaran. (4) autonomy. dan (4) mahasiswa memperagakan kompetensi nyata mereka seperti: keterampilan sosial. (3) mahasiswa bertanggung jawab terhadap pilihannya tentang bagaimana akan mendemonstrasikan kompetensi mereka. keterampilan manajemen. laporan dan sejenisnya). (2) driving question.

Perencanaan Sebagai langkah awal kegiatan tim Peneliti melakukan bekerjasama dengan tim pengajar Praktik Industri. paparan data. Kegiatan pertama dalam siklus I ini adalah dilakukan perencanaan pembelajaran Praktik Industri dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. representatif tabular termasuk dalam format matriks. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. Hal ini dilakukan dalam rangka menciptakan suatu iklim yang baik antara peneliti dengan pengajar dan mahasiswa. 1999). Tahap perencanaan ini meliputi kegiatan sebagai berikut: . mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap penelitian tindakan kelas. memfokuskan. menyederhanakan. Hasil refleksi pada siklus ini digunakan sebagai dasar pelaksanaan siklus berikutnya. pemfokusan. Berbeda dari interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dari suatu observasi. analisis data adalah proses menyeleksi. HASIL Siklus 1 a. dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna.atas rencana tindakan. Dalam hubungan ini. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. 1999). analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus penelitian tindakan kelas sebagai keseluruhan (PGSM. pelaksanaan tindakan. yaitu reduksi data. mengabstraksikan. representatif grafis. dan sebagainya. Sedangkan penyimpulannya adalah proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan atau formula yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas (PGSM). observasi dan refleksi. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. dan penyimpulan (PGSM.

keterlibatan pihak luar untuk pengembangkan standar kerja dan penilaian reguler/teratur terhadap unjuk kerja mahasiswa. . Pembuatan rancangan operasional metode Pembelajaran Berbasis Proyek yang meliputi: Authenticity: terkait dengan kebermaknaan tugas bagi mahasiswa. Penjelasan oleh ketua tim pengajar tentang tujuan umum dan khusus matakuliah Praktik Industri. dan melakukan presentasi ilmiah Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan akhli dari luar. (3) pengembangkan organisasi kerja. metode ilmiah yang digunakan memecahkan masalah dan. penilaian hasil kerja mahasiswa oleh orang luar Assessment: yaitu terkait dengan kemampuan untuk melakukan penilaian mandiri terhadap unjuk kerjanya. b. kerja tim dan penggunakan teknologi yang tepat (l) pembuatan tim work untuk menyelesaikan tugas-tugas. Active Exploration: yang terkait dengan efektifitas penggunaan waktu. (2) analisi teknikteknik yang digunakan untuk memecahkan masalah. bekerja/berdiskuasi dengan seorang teman. 2. Tindakan Pada tahap ini diawali dengan pertemuan dengan dosen pembimbing dan mahasiswa yang menjadi subyek penelitian ini. Kegiatan pertemuan awal ini dilakukan dengan tahap kegiatan sebagai berikut: 1. Pembuatan pedoman petunjuk praktik industri. penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode. analisis dari berbagai aspek dalam pemecahan masalah Applied Learning: yang terkait dengan konteks permasalahan. tingkat kesulitan tugas dan kemampuan mahasiswa dan produk yang akan dihasilkan dari proyek akhir tersebut Academic Rigor: terkait dengan ilmu-ilmu yang terkait dan digunakan dalam penyelesaian proyek. sumber dan media. dan bentuk Buku pegangan mahasiswa dan pedoman pembimbingan dosen.1. materi atau topik-topik Praktik Industri.

Berdasarkan diskusi antara tim pembimbing dan mahasiswa disepakati bahwa jadual pembimbingan terstruktur dilakukan 2 kali dalam seminggu. Refleksi Berdasarkan tahap tindakan yang telah dilakukan diperoleh gambaran bahwa 90% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode proyek yang akan digunakan dalam menyelesaikan tugas Praktik Industri. waktu penyelesaian dan persyaratan-persyaratan lainnya sesuai buku pegangan mahasiswa. 4. . Pada tahap ini peneliti mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran penyelesaian Praktik Industri.2. 3. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada (1) penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek dan (2) pengembangkan topik Praktik Industri. d. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Setelah selesai penjelasan tersebut dilakukan tanya jawab dengan mahasiswa dan dosen pembimbing. Demikian pula mahasiswa telah mampu mengembangkan topiktopik yang dijadikan kajian Praktik Industri. Penentuan topik tugas Praktik Industri. Dengan demikian mahasiswa telah siap untuk melakukan kerja praktik industri di lapangan. c. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Penjelasan penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode proyek yang meliputi tahap-tahap prosedur Metode Proyek. 5. Setelah diadakan forum tanya jawab kemudian mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan topik Praktik Industri Penentuan jadual pembimbingan.

dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Maka dalam perencanaan siklus 2 dilakukan langkah-langkah perencanaan yang terkait dengan: 1. Pengembangan pedoman kegiatan pembimbingan di kampus b. Perencanaan Berdasarkan temuan pada siklus 1 diketahui bahwa sebagian besar (90)% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode Pembelajaran Berbasis Proyek. Menentukan lokasi tempat praktik industri bagi masing-masing kelompok mahasiswa. Pengembangan pedoman pembimbingan di lapangan 5. dan 2 kali pembimbingan di kampus. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa dilakukan selama 3 minggu. Pembimbingan di kampus. Pengembangan pokok bahasan praktik industri (pengerjaan pondasi bangunan) 3. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. diawali presentasi mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Tindakan Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang . Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. Pengembangan tahap-tahap kegiatan praktik 4.Siklus 2 a. c. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan baik di lapangan maupun di kampus berlangsung tim peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. 2. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik.

Siklus 3 a. (2) Active Exploration: yang terkait dengan penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode dalam menganalisis kegiatan lapangan. Dengan demikian perencanaan pada siklus ini dilakukan dengan: . (2) Active Exploration. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa baru 60 % mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. dan (3) Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan para manajer proyek dan pelaksanaan lapangan. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 2 maka pada siklus 3 pada siklus ini akan lebih difokuskan pada pengembangan dan perbaikan pada komponen (1) Applied Learning. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan subsub topik yang dibahas. dan (3) Adult Relationship. Untuk itu sebelum praktik ke lapangan mahasiswa harus di beri pembekalan (penjelasan) kembali tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. Demikian pula pada tahap ini peneliti mulai mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran praktik.berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. Oleh karena itu pada siklus berikutnya hal tersebut perlu dikembangkan dan diperbaiki. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Kelemahan mendasar yang masih dilakukan mahasiswa dalam tahap ini adalah masih belum mampu menerapkan (1) Applied Learning: yang terkait pembentukan tim work dan aktivitas kerja kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas. d. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Demikian pula baru 65% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik.

1. Pengembangan karakteristik aktivitas. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. kondisi dan hasil 4. Tindakan Sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada . Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 4 jam pelajaran. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. c. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. pada tugas-tugas di lapangan b. Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan kolom dan balok bangunan. dan 2 kali pembimbingan di kampus. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai prakltik ke lapangan lagi. Pembimbingan di kampus. (2) Active Exploration: dan (3) Adult Relationship dalam penyelesaian tugastugas PI 3. Pengembangan komponen (1) Applied Learning. Pengembangan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan kolom dan balok bangunan 2. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu.

2. Dalam siklus ini nampak masih ada kurang-lebih 20% mahasiswa belum mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek. Masih ada beberapa kelemahan mahasiswa pada siklus ini yaitu khususnya dalam hal menjalin hubungan dengan pihak proyek yaitu manajer proyek. d. pelaksana lapangan. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 4 pada siklus ini akan dilakukan perencanaan dalam hal: 1. Siklus 4 a. Pengembangan karakteristik aktivitas. Mahasiswa masih kurang maksimal memanfaatkan pihak-pihak tersebut sebagai sumber belajar di lapangan.pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 80% mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. Pada siklus berikutnya kelompok mahasiswa tersebut diharapkan ada perbaikan dan pengembangan kerja dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek . kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Demikian pula 80% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/ sangat baik. kondisi dan hasil. . Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan pelat lantai bangunan. mandor maupun tukang dan pembantu tukang. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri.

Pembimbingan di kampus.3. c. Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai praktik ke lapangan lagiPada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan pelat lantai bangunan. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. dan 2 kali pembimbingan di kampus. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam . Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 3 jam pelajaran. sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek dan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. secara lebih operasional. 4. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. Pengembangan dan perbaikan pedoman praktik khususnya yang berhubungan dengan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek. Tindakan Sama seperti pada`siklus 3. Pengembangan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. e.

(4) active exploration. Mengingat indikator pencapaian tujuan penelitian ini telah tercapai maka siklus penelitian dihentikan. dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Demikian pula 95% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik. 1. (2) academic rigor. Disamping itu mahaisswa telah mampu menjalin hubungan dengan pihak proyek. BAHASAN Dalam pembahasan ini akan dikaji tiap-tiap strategi yang digunakan dalam metode proyek yaitu (l) authenticity. f. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 95% mahasiswa telah mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. proyek atau tugas yang dikerjakan mahasiswa harus memiliki makna bagi mahasiswa. tugas tersebut dapat dijadikan bekal untuk kehidupannya. Dengan dipahaminya ―kebermaknaan‖ suatu tugas. (3) applied learning. dan (6) assessment. Tugas tersebut terkait dengan kebutuhan dunia kerja. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Dalam konsep authenticity. Suatu tugas yang memiliki makna adalah tugas dimana mahasiswa merasa bahwa tugas tersebut sangat berguna bagi mahasiswa setelah ia terjun di dunia kerja. Authenticity Authenticity merupakan langkah awal dalam perancangan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. dan memanfaatkan pihak proyek sebagai sumber belajar.penyelesaian tugas Praktik Industri. maka motivasi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akan . (5) adult relationship.

meningkat (ISTE, 2002), dengan demikian mahasiswa akan dapat menyelesaiakan tugasnya dan pada akhirnya mahasiswa akan mampu menghasilkan sesuatu dari tugas tersebut. Oleh karena itu tugas seorang pengajar dalam tahap ini adalah menjelaskan kebermaknaan suatu tugas bagi mahasiswa; pengajar harus bisa memilih dan memberi tugas yang bermakna untuk mahasiswa. Pada siklus I pada proses penelitian ini, masalah authenticity, merupakan tahap awal yang ditekankan pada mahasiswa; dalam tahap ini pengajar harus mampu menjelaskan kebermaknaan tugas, baik dari segi teknik maupun ekonomi.
2. Academic Rigor

Academin rigor adalah penerapan konsep-konsep akademis dalam menyelesaikan suatu tugas. Dalam pembelajaran berbasis proyek academic rigor, merupakan bagian yang amat penting karena mengharuskan mahasiswa menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian suatu tugas. Pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek akan melatih dan membiasakan mahasiswa untuk menerapkan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah dalam kehidupan. ISTE (2002) mengatakan bahwa dalam metode pembelajaran berbasis proyek mahasiswa dilatih melakukan penelitian, menggunakan berbagai sumber informasi dan mampu berpikir lintas keilmuan. Dalam tahap ini pengajar harus mampu merancang pembelajaran yang dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan dan menggunakan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
3. Applied Learning

Aplied learning adalah usaha untuk mengarahkan kegiatan belajar mahasiswa ker arah situasi belajar yang mengacu pada kehidupan nyata yang berada di luar lingkungan sekolah dan Kraf (1998) menyebut sebagai ―real world oriented”. Salah satu bentuk belajar dalam kehidupan nyata adalah agar mahasiswa mampu bekerja dalam organisasi modern yang menuntut disiplin tinggi, penggunaan teknologi yang tepat,

dan mampu berkomunikasi dengan rekan kerja, dan inilah yang disebut dengan real learning dan real work (Steinberg, 2001).
4. Active Exploration

Active exploration adalah usaha untuk mendorong mahasiswa agar aktif melakukan ekplorasi/penelitian, dengan menggunakan waktu secara efektif. Dalam tahap ini pengajar harus mampu memacu dan sekaligus mendorong mahasiswa untuk selalu berusaha memecahkan masalah secara kontinyu dan jangan putus asa. Menurut Buck Institute for Education (2001) dalam pembelajaran berbasis proyek mahasiswa harus mampu sebagai ―discoverer, integrator, and presenter of ideas. Dalam pelaksanaan penelitian ini, mendorong sikap dan tindakan mahasiswa agar selalu active exploration, ternyata merupakan sesuatu yang amat sulit. Hal ini mungkin disebabkan oleh perilaku mahasiswa selama ini lebih banyak bersikap pasif dalam setiap pembelajaran, dan sering dijumpai pengajar hanya bersikap sebagai penyampai materi belaka, dan kurang mendorong keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran.
5. Adult Relationship

Adult Relationship, terkait usaha memacu mahasiswa agar mampu belajar dari orang lain yaitu pada para praktisi expert dan bahkan pada para pekerja yang terkait dengan masalah yang dikaji. Dalam proses adult relationship ini para pengajar harus mendorong mahasiswa untuk mampu bertanya, berdiskusi dan juga mengajak merancang serta menilai kerja mahasiswa. Dengan model belajar yang demikian diharapkan mahasiswa memiliki pemahaman, pengetahuan dan keterampilan yang mendalam terhadap tugas yang sedang dikajinya.
6. Assesment

Assesment, adalah usaha agar mahasiswa mampu melakukan penilaian secara teratur terhadap proses belajar yang dilakukan. Disamping itu mahasiswa juga harus mampu mengembangakan kriteria penilaian sesuai standar yang berlaku di dunia kerja. Penilain yang harus

dilakukan mahasiswa mencakup prosedur kerja/metode yang dilakukan, waktu yang digunakan, hasil kerja dan hal-hal lain yang terkait dengan penyelesian tugasnya. Dari hasil penilaian yang dilakukan mahasiswa diharapkan mahasiswa dapat melihat kekurangan-kekurangannya, mampu memperbaikinya pada proses berikutnya. Dalam salah satu kriteria pembelajaran berbasis proyek Kraf (1998) menyebut hal ini sebagai ―student self-assesment of learning is encourage‖
7. Peran Pembimbing/Pengajar

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek peran dan tugas pengajar sangat jauh berbeda dengan peran dan tugas pengajar dalam pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar diharapkan sebagai ―resource provider and participant in learning activities,‖ berbeda dalam pembelajaran konvensional pengajar lebih sebagai “lecturer and director of instruction‖ dan dalam pembelajaran konvensional pengajar menganggap dirinya sebagai ―expert‖ sedang dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar harus mampu berperan sebagai ―advisor/colleague‖ (Buck Institute for Education, 2001). Perubahan peran dan fungsi pengajar dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran pembelajaran berbasis proyek tentu bukan merupakan sesuatu yang mudah, khususnya bagi pengajar yang telah terbiasa dengan model pembelajaran konvensional. Bagi pengajar yang telah terbiasa dengan pembelajaran konvensional, perlu memahami hakekat dan filsafat pembelajaran berbasis proyek lebih mendalam, dengan demikian diharapkan mampu memahami peran dan fungsinya sebagai pengajar.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut: (l) Pembelajaran Berbasis Proyek secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1

PTB FT UM dan (2) Penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM.
Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan beberapa saran sebagai berikut (l) Mengingat metode Pembelajaran Berbasis Proyek sangat berbeda dengan metode pembelajaran konvensional maka dalam penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek pengajar harus memahami hakekat dan prinsip-prinsip dasar PBL secara benar, dan (2) Guna mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang kehandalan metode Pembelajaran Berbasis Proyek diperlukan penelitian lanjutan pada bidang-bidang studi yang lain.

D. IEE Brief. ERIC Gigest. Jakarta: Penerbit Erlangga Bereiter. 2001. R. P. E. Project Base Learning for Adult English Language Learner. 389--398. 1998. Instance Motivation. C.html. 2001. D.F. A. A. D & Van-Duzer. Real Life Problem Solving: A Collaborative Aproach to Indisciplinary Learning. Rasmussen. 40(2). [Online).W. Motivating Project Base Learning: Sustaining Doing. Instance Crativity. Hung.html. C & Scardamalia. Philadelpia: Open University. Supporting the Learning. 23 (January). Moursund.. B & Berch. B. Diakses tanggal 10 Desember 1997. Guzdial. 1977.L. D.& Wong. 33-37 Jones.. 1999. Diakses tanggal: 2 Maret 2001. B.org/research/roadahead/PBL. Moss. J. cord. Krajick.com /CulebraMom/ PBLprt. A Teacher`s Guide to Classroom Research.M. 1998. What is Project-Based Learning? Tersedia pada: http:// members . Diakses tanggal 12 Juli 1998. 2001. Ed427556/html Moore. Educational Psychologist. 2001. M. Soloway. & Vos. Process and Product in PBL Research.iste. Contextual Learning Resource. Toronto:Ontario Institute for Studies in Education. 1991.F. Educational Technology. C.DAFTAR RUJUKAN Clegg. Jakarta: Penerbit Erlangga Clegg. Washington DC: American Psychological Association. J. 26 (3 &4). & Moffit. 1997. M dan Palinscar. D. M.C. Blumenfeld.. Bandung: Kaifa Gaer. Activity Theory as a Framework for Project Work in Learning Environment.. Hopkins.org/lev2. Toward a Theory of Work-Base Learning.aol. Tersedia pada: http://www. . CORD. S. ED427556. Project: Road Ahead (Project-Based Learning). 2000. Teraedia pada: http://www. University of Toronto. P.cfm/65. 2000. The Learning Revolution. Dryden C. 1992. Mark.

B. 51.us/PBL guide/why.. Mind in Society. 1996. 839-858 Thomas. 2001. 1993.. autodesk.R. Center for Technology in Leraning SRI International. Observing Classroom Process in Project-Base Learning Using Multimedia: A Tool for Evaluator. & Ben-Hur.inservicer.. L. com/foundation. Problem Base Learning: As Authentic as it Gets.kn. & Striley.html . G. Thomas. W & Gallagher. 2001. designworlds. 25--28 Suhartadi. Making Meaning in Classroom: Social Processes in Small-Group Discourse and Scientific Knowledge Building.PBL. JW. & Means. Penelitian Tindakan Kelas. 2000. 2001. Mergendoller. A Review of Research on Project-Based Learning. S. Available on:http://www. 1999. JW.html. PGSM. Novato CA: The Buck Institute for Education. MA: Harvard University Press. JR & Michaelson. PBL in Science and Technology: A Case Stu dy of Professional Development. Y. Menumbuhkan Kemandirian dan Kegairahan Belajar Mahasiswa Melalui PembelajaranTeknologi di SMK.Rosenfeld. J. 1999. http://PBLmm. California: The Autodesk Foundation. Project-Based Learning. Wetern Kentucky University Center for Teaching and Learning. 1999. Journal of Research in Science Teaching. Tersedia pada: http://www. Cambridge. Project Base Learning: A handbook of Midle and High School Teacher..S. W. 33(8). Richmond. 1978. Jakarta: Depdikbud Penuel. Yang diselenggarakan pada tanggal 4 September 2001 di kampus Universitas Negeri Malang. Diakses tangal 23 Januari 2002 Stepien. Vygotsky. A. Mahakalah disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Nasional Peningkatan Profesionalitas Guru SMK Melalui Kajian Kelas. S. S. Educational Leadership.com/ techcape/sherm.