JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN

Tahun 18, Nomor 2, Desember 2008

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender Laily Maziyah, dkk Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati, dkk Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta) Heri Sudarsono Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialogh dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari, dkk. Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi, dkk
Terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi nomor III/DIKTI/KEP/1998 tanggal 8 April 1998; nomor 395/DIKTI/KEP/2000 tanggal 27 November 2000; dan nomor 49/DIKTI/KEP/2003 tanggal 9 Desember 2003 tentang Hasil Akreditasi Jurnal Ilmiah

Pandangan Para Mufassir terhadap Poligami dalam Konteks Kesetaraan Gender
Laili Maziyah Syafaat

Abstract: The mufassirs have a notion that polygamy is mubah (permitted). It is required for husband that performs polygamy to do justice in giving charity toward all of his wives and justice in giving sex turning and accompany to his wives. However, no required to do justice in love because it includes heart zone and applied by Rasulullah. The result showed that five forms of gender inequality toward women (marginalization,violence, subordination, stereotype, and double burden), not found generally in "five books", even such mufassirs are likely more moderate than other interpreters, by giving rigid conditions to conduct the polygamy. The reseacher chooses it to unveil pictures about concept, condition, rules of polygamy, and aspects of gender equality in their works. However, Ar-Razi opinion tends to perform stereotype of women because he gives not binding of polygamy conditions and permit husband to get married more than four or no limitation number of wives in polygamy. Key words: mufassir, poligami concept, gender

Kontroversi seputar poligami menyembur lagi ke permukaan setelah da‘I kondang KH. Abdullah Gimnastiar (Aa‘Gym) secara mengejutkan melakukan poligami bulan Nopember 2006, kemudian diikuti oleh anggota DPR Zaenal Maarif dari Partai Bintang Reformasi (FBR) secara terang-terangan di hadapan media (Kompas, 18/1/07). Fakta tersebut tak hanya mengundang gejolak tapi juga membuat bombardir kiriman SMS ke ponsel Presiden.
Laily Maziyah dan Syafaat adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang

Presiden Yudhoyono kemudian secara khusus memanggil Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dan Dirjen Binmas Islam Nazzarudin Umar meminta revisi agar cakupan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 1983 (yang sudah direvisi menjadi PP Nomor 45 tahun 1990 tentang poligami) diperluas tidak hanya berlaku bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) tetapi juga pada pejabat negara dan pejabat pemerintah (Iman, 2006). Poligami merupakan salah satu bentuk perkawinan yang seorang laki-laki menikahi lebih dari satu istri. Menurut Mulia (2004:44-45), poligami sudah ada jauh sebelum Islam datang. Mahmud Syaltut (w. 1963), ulama besar asal Mesir, secara tegas menolak poligami sebagai bagian dari ajaran Islam, dan juga menolak bahwa poligami ditetapkan oleh syari‘ah. Berabad-abad sebelum Islam diwahyukan, masyarakat manusia di berbagai belahan dunia telah mengenal dan mempraktekkan poligami. Poligami dipraktekkan secara luas di kalangan masyarakat Yunani, Persia, dan Mesir kuno. Di Jazirah Arab sendiri jauh sebelum Islam, masyarakatnya telah mempraktekkan poligami, malahan poligami yang tak terbatas. Sejumlah riwayat menceriterakan bahwa rata-rata pemimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit kepala suku mempunyai istri sampai ratusan. Sejumlah riwayat menjelaskan bahwa setelah turun ayat yang membatasi jumlah istri hanya empat orang, yakni QS Al-Nisa‘: [4]:3. Nabi segera memerintahkan semua laki-laki yang memiliki istri lebih dari empat agar menceraikan istri-istrinya sehingga setiap suami maksimal hanya boleh punya empat istri (Ibn Surah, tt:445). Karena itu, A1-Aqqad (1962:107) ulama asal Mesir, menyimpulkan bahwa Islam tidak mengajarkan poligami, tidak juga memandang positif, apalagi mewajibkan, Islam hanya membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Sangat disesalkan bahwa dalam prakteknya di masyarakat, mayoritas umat Islam hanya terpaku pada kebolehan poligami, tetapi mengabaikan sama sekali syarat yang ketat bagi kebolehannya itu. Perkembangan poligami dalam sejarah manusia mengikuti pola pandangan masyarakat terhadap kaum perempuan. Pada masa ketika masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan hina, poligami menjadi subur, sebaliknya pada masa masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan terhormat, poligami pun berkurang. Jadi, perkembangan

poligami mengalami pasang surut mengikuti tinggi-rendahnya kedudukan dan derajat perempuan di mata masyarakat (Abu Zayd, 2003). Ketika Islam datang, kebiasaan poligami itu tidak serta merta dihapuskan. Namun, setelah ayat yang menyinggung soal poligami diwahyukan, Nabi lalu melakukan perubahan yang radikal sesuai dengan petunjuk kandungan ayat. Perubahan mendasar yang dilakukan Nabi, menurut Mulia (2004:46-47) berkaitan dengan dua hal. Pertama, membatasi jumlah bilangan istri hanya sampai empat. Sejumlah riwayat memaparkan pembatasan poligami tersebut di antaranya riwayat dan Naufal ibn Muawiyah. Ia berkata: Ketika aku masuk Islam, aku memiliki lima orang istri. Rasulullah berkata: Ceraikanlah yang.satu dan pertahankan yang empat. Pada riwayat lain Qais ibn Tsabit berkata: Ketika masuk Islam aku punya delapan istri. Aku menyampaikan hal itu kepada Rasul dan beliau berkata: pilih dari mereka empat orang. Riwayat serupa dari Ghailan ibn Salamah Al-Tsaqafi menjelaskan bahwa dirinya punya sepuluh orang istri, lalu Rasul bersabda: “pilih empat orang dan ceraikan yang lainnya.” Kedua, menetapkan syarat yang ketat bagi poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Persyaratan yang ditetapkan bagi kebolehan poligami itu sangat berat, dan hampir dapat dipastikan tidak ada yang mampu memenuhinya. Artinya, Islam memperketat syarat poligami sedemikian rupa sehingga kaum laki-laki tidak boleh lagi semena-mena terhadap istri mereka seperti sediakala. Dengan demikian, terlihat bahwa praktek poligami di masa Islam sangat berbeda dengan praktek poligami sebelumnya. Perbedaan itu menonjol pada dua hal. Pertama, pada bilangan istri, dan tidak terbatas jumlahnya menjadi dibatasi hanya empat. Pembatasan ini dirasakan sangat berat, sebab laki-laki masa itu sudah terbiasa dengan banyak istri, lalu mereka disuruh memilih empat saja dan menceraikan selebihnya. Kedua, pada syarat poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Sebelumnya, poligami itu tidak megenal syarat apa pun, termasuk syarat kesetaraan. Akibatnya, poligami banyak membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi kaum perempuan, karena para suami yang berpoligami tidak terikat pada keharusan berlaku adil, sehingga mereka berlaku aniaya dan semena-mena mengikuti luapan nafsunya.

sebuah institusi yang peduli pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. syarat-syarat dan hukum) poligami. 2. Menurut Subhan (2004).5% dipoligami resmi. penelitian terhadap sejumlah kitab tafsir klasik atas ayat-ayat poligami dalam al-Qur‘an yang berkaitan dengan kesetaraan gender sangat penting dilakukan sebagai langkah awal untuk memformulasi pemahaman yang baru dan benar. Jenis kekerasan yang dilaporkan meliputi kekerasan ekonomi sebanyak 29.9%.4% lainnya sebagai teman kencan. dan 0. Laporan Rifka Annisa (2001:58).4% sebagai istri kedua.5% ditinggal suami.1%. kontekstual. 0. yaitu linguistis dan sosiologis sekaligus. Dengan melakukan kajian yang mendalam atas sejumlah karya mufassir terkenal akan diperoleh gambaran mengenai penafsirannya tentang konsep. 4. dalam kerangka pelacakan pada asal-muasal produk pemikiran mengenai poligami dan kesetaraan gender. menjelaskan bahwa selama tahun 2001 mencatat sebanyak 234 kasus kekerasan terhadap istri. dan holistik. Melalui pendekatan holistik. juga bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender dalam karya mereka. dan kekerasan psikis 46. Jadi. kusutnya benang permasalahan tersebut akan dapat dikaji secara jernih. (b) Bagaimana pandangan para mufassir terhadap konsep (definisi. untuk meminimalisasi ketidaksetaraan gender yang muncul akibat pemahaman yang keliru terhadap poligami.4%.6%. hukum poligami. poligami berimplikasi pada maraknya berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Namun. penelaahan buku-buku tafsir mutlak dilakukan. diperlukan reinterpretasi ajaran agama secara komprehensif.3% korban selingkuh. Data-data mengenai status korban mengungkapkan 5. kekerasan seksual 5. cenderung dipahami parsial dan kurang kholistik. 36. Oleh karena itu. Adapun rumusan masalah yang diangkat adalah (a) bagaimana latarbelakang para penafsir dan corak tafsir masing-masing.2% dicerai. sebelum tahap reinterpretasi teks agama dilakukan. syarat. di antara aktor penyebab kesenjangan gender yaitu penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual.1% poligami secara rahasia. 2. dan (c) bagaimana pandangan para mufassir terhadap poligami dalam konteks kesetaraan gender? . kekerasan fisik 18.Dalam realiatas.

yaitu pemerian secara sistematis dan faktual terhadap pandangan dan penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang memuat tentang relasi gender. (7) An-Nisa‘ ayat 130. (3). Untuk lebih mendapatkan gambaran yang operasional dalam penelitian ini. sedangkan sumber datanya terdiri dan lima kitab tafsir. (2) An-Nisa‘ ayat 2. Oleh karena penelitian ini menganalisis pandangan mufassir tentang ayat-ayat poligami dan munasabah (korelasi)-nya dalam alQur'an. Untuk mencapai tujuan penelitian secara komprehensif. Al-Mishbah karya M. (6) An-Nisa‘ ayat 129. yakni (1) Al Tafsir Al Kabir karya Fakhruddin Ar Razi.METODE Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh paparan yang jelas dan rinci mengenai pandangan mufasir tentang poligami. Data dalam penelitian ini berupa tulisan atau manuskrip yang merupakan karya dari para mufassir Al-Qur‘an. Quraish Syihab (4). maka ada tujuh ayat yang akan diteliti. (2) Jami‟ul Bayan „an Ta‟wil Ayil Qur'an karya At-Thabari.. (5) An-Nisa‘ ayat 128. (4) An-Nisa‘ ayat 127. Tafsir AlQuran al-Adhim karya Ibn Katsir (5) Tanwir al-Miqbas min tafsir Ibn Abbas karya Ibnu Abbas. . Sedangkan jenis penelitian ini adalah deskriptif. peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. yaitu: (1) An-Nisa‘ ayat 1. berikut paparan Tabel 1 variabel dan sub variabel: Tabel 1 Paparan Data Variabel dan Sub-Variabel No 1 Variabel Poligami         Sub-Variabel Konsep poligami Syarat-syarat berpoligami Hukum poligami Tidak ada unsur marginalisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur streotifisasi terhadap perempuan Tidak ada unsur kekerasan terhadap perempuan Tidak ada unsur subordinasi terhadap perempuan Tidak ada unsur pembebanan ganda terhadap perempuan 2 Kesetaraan Gender . (3) An-Nisa‘ ayat 3.

1984:48). yang berbicara tentang topik tersebut untuk kemudian dikaitkan satu dengan yang lainnya. Adapun metode maudu‘i adalah metode yang oleh Shihab (1993:114). dan metode muqaran (Umar. dan untuk tujuan itu ia telah ―meminggirkan‖ mushaf versi lainnya. dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat dan beberapa surah. dan di dalam dijumpai sejumlah perbedaan. Namun demikian. Mushaf Utsmani adalah salah satu versi mushaf yang disusun oleh Utsman bin Affan saat ia menjadi khalifah. metode ijmali. mushaf itu masih saja ada. Metode tafsir ijmali adalah metode yang menafsirkan ayat-ayat alQur'an dengan mengemukakan makna global. AlMishbah. hukum. Pembahasan metode ini mengikuti urutan kronologis susunan ayat-ayat A1-Qur‘an. Mushaf ini dibuat untuk tujuan menyeragamkan bacaan umat Islam. mengkaji . metode maudu‗i. yang merupakan sintesa antara temuan dan teori. tidak saja bacaannya melainkan juga kosakatanya. Ibn Katsir dan tafsir Ibn Abbas dan pandangan mereka tentang poligami dalam konteks kesetaraan gender. sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan secara menyeluruh tentang masalah tersebut menurut pandangan Al-Qur'an. yakni metode tahlili. pandangan para mufassir tentang konsep (definisi. sesuai dengan urutan bahkan yang terdapal dalam mushaf Utsmani (Al-Almai. syarat) poligami dalam tafsir Ar-Razi. didefinisikan sebagai tafsir yang menetapkan suatu topik tertentu.BAHASAN Setelah dilakukan identifikasi data tentang corak penafsiran masing-masing mufassir. maka dalam bab ini akan dipaparkan pembahasan atau diskusi hasil. 1999:188-189). Metode tahlili adalah metode penafsiran Al-Quran yang munculnya secara kronologis dan memaparkan berbagai aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur‘an. Corak Tafsir para Mufassir Setidaknya ada empat metode/corak tafsir yang digunakan telah para mufassir dalam menjelaskan maksud dan makna yang terkandung di dalam Al-Qur'an. dengan apa yang ditemui dalam mushaf Utsmani tadi. Ath-Thabari.

kalimat. Al-Mishbah. lebih menekankan pada aspek bahasa dan keagamaan. yaitu: tafsir athThabari. saat. Ar-Razi. Semua ada aturan mainnya. Biasanya. Pada saat yang sama Islam juga menetapkan aturan syar‟i yang jelas tentang pernikahan. Dalam beberapa kasus ada sebagian orang Islam yang menikah tidak hanya dengan satu perempuan. sehingga diharapkan setiap muslim yang menikah mampu menjalani rumah tangganya dengan baik dan bahagia. Empat tafsir yang menggunakan corak tahlili. akan tetapi lebih dari satu. Tafsir-tafsir tersebut digolongkan ke dalam corak tahlili karena setiap kata. Namun apabila dipresentasi. filsafat dll. Pernikahan inilah yang dalam bahasa agama disebut dengan ta‟addud az zawjah atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan poligami. Konsep Poligami dalam Pandangan para Mufassir Menikah merupakan sunnah Rasulullah saw yang sangat dianjurkan. Yakni. . maka sepatutnya bisa ditiru. 1999:200). bahkan menyegerakannya.asbabun nuzulnya. Dari kelima jenis tafsir yang dianalisis. dan setelah pernikahan. Mulai dari sudut pandang bahasa. jumlah orang yang memilih berpoligami sangat jauh lebih sedikit dari yang tidak berpoligami. sejarah. ayat dikupas dengan gamblangnya dari beberapa sudut pandang. sebelum. empat diantaranya menggunakan corak tafsir tahlili dan sisanya menggunakan corak tafsir ijmali. Karena Rasul melakukan poligami. makna suatu ayat dengan hadis. Sementara dalam tafsir Ibn Abbas digunakan corak/metode ijmali. Sedangkan metode tafsir muqaran ialah suatu metode tafsir yang berupaya memberikan makna satu ayat dengan ayat lain. bagi mereka yang memilih pernikahan cara ini beragumentasi bahwa apapun yang dilakukan oleh Rasul termasuk dalam hal berumah tangga. mulai dari kesiapan pribadi. 1986:549). dan Ibn Katsir. dan antara satu penafsiran dengan penafsiran lainnya dalam suatu ayat (Umar. dan berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan ayat-ayat lainnya (Al-Rahman. Kepada mereka yang belum menikah Rasulullah sangat menganjurkan untuk tidak menunda-nunda pernikahan. maka umatnya yang siap memilih jalan itu sebaiknya juga melakukan poligami.

hukum asal berpoligami adalah kebolehan (jawaz) bisa saja berubah menjadi haram manakala seseorang tidak bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk itu. bahkan ditentang oleh Shihab (2000:567) dalam tafsirnya. makna lain yang bisa diambil dari bentuk amar kata fankihu adalah kewajiban. subordinasi (anggapan tidak penting). puasa dan zakat. pelabelan negatif (stereotype).Menurut Ibn Katsir poligami adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam agama dan berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. tiga atau empat. nafkah yang berupa sandang. sebagaimana perintah sholat. Namun demikin. atau budak-budak wanita yang kamu miliki. ketidaksetaraan gender bisa diidentifikasi melalui berbagai manifestasi ketidaksetaraan. Dalam menafsirkan lafadz yang terdapat dalam ayat 3 yang artinya. maka seorang saja. Inilah kriteria yang menjadi acuan kaum feminis dalam melihat secara kritis setiap aturan sosial tentang relasi laki-laki dengan perempuan. yakni surat An Nisa' ayat 3 dan contoh dari rasulullah SAW. pangan. Artinya adalah kewajiban melakukan pembatasan. akan tetapi kata ini bermakna ibahah (kebolehan) dan bukan perintah yang harus dilaksanakan. Sebab ada dalil yang menujukkan hal itu. Bentuk ketidaksetaraan gender berupa marginalisasi ini tidak ada. termasuk yang lahir dari doktrin agama. menurut Wahbah. Hal ini tampak sekali dalam penafsiran beliau khususnya mengenai surat An‘Nisa‘ ayat 3 dan 4. kekerasan (violence). Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada berbuat yang tidak aniaya‖. Disamping makna ibahah. ―Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil. Adil yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah berbuat adil kepada istri khususnya dalam hal harta. tak ubahnya perintah makan dan minum seperti yang dimuat juga dalam Al-Qur‘an kuluu wasyrabu. papan . terkait dengan adanya potongan ayat setelahnya yang menyebutkan jumlah dua. yakni dalam bentuk fi‟il amr (kata perintah). Pandangan Para Mufassir dalam Konteks Kesetaraan Gender Menurut analisis gender. dan beban kerja ganda (double burden). Meskipun redaksi dalam Al-Quran terkait dengan poligami adalah Fankihu. Perintah poligami. Makna ini diambil. yakni: marginalisasi (proses pemiskinan ekonomi).

Dalam Islam proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. Sisi lain.S. membolehkan seorang suami menikahi istri yang tak terbatas jumlahnya bahkan melebihi jumlah istri rasulullah. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan dimata Islam. lihat Q. Al-Hujurat ayat 13 (Shihab.dan juga perlakuan. Maskawin (mahar) merupakan suatu yang diwajibkan oleh suami terhadap dirinya. Dia bebas menggunakannya dan bebas pula memberi seluruhnya atau sebagian darinya kepada siapapun. Ibn Katsir (1999: 2/207) menafsirkan ayat tersebut. dan ada juga yang memahaminya dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. termasuk kepada suaminya. karena dia sendiri -bukan orang lain. Ini untuk menjelaskan bahwa maskawin (mahar) adalah kewajiban suami yang harus diberikan kepada istri. Oleh karena itu.S Al-Baqarah ayat 236. subordinasi tampak ketika Ar-Razi. yaitu pemberian maskawin (mahar) sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nisa‘ ayat 4. Pandangan subordinasi dalam pandangan para mufassir bertentangan dengan apa yang disyariatkan oleh agama Islam. sehingga ayat ini sama dengan firman Allah dalam Q. tetapi hal tersebut hendaknya diberikan dengan tulus dari lubuk hati sang suami.yang mewajibkan atas dirinya (Shihab: 2000:328). Ath-Thabari (1954: 7/530) menegaskan bahwa maskawin (mahar) itu adalah kewajiban yang harus dibayar suami kepada istri dan bahwa maskawin (mahar) itu adalah hak istri secara penuh. Keberadaan umat manusia berasal dari nafsin wahidah yang oleh mayoritas ulama memahaminya dalam arti Adam a. Hal tersebut tampak jelas tatkala beliau menjelaskan tafsir ayat 1 surat An-Nisa. Ulama kontemporer banyak yang memahami dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. yaitu membolehkan melakukan poligami tanpa harus memperhatikan unsur . Sementara Ath-Thabari dan Ibn Katsir cenderung memberikan persyaratan yang mudah bagi suami. 2000:313). wajarlah jika dalam tafsirnya.s. Inilah yang disyaratkan oleh Islam kepada seorang suami dan harus dijalankannya untuk memenuhi hak istri. Ar-Razi (1993: 3/246) juga menolak pandangan subordinasi ini. Dalam menafsirkan lanjutan ayat 4 tersebut.

yang antara lain dapat diselesaikan dengan tiga cara. baik di dunia maupun di akhirat (Shihab. yaitu pemberian maskawin (mahar). dan (3) bercerai secara baik (ayat 130). SIMPULAN Dari kelima mufassir yang diteliti. Dalam kaitannya dengan penegasan bahwa KDRT ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. sehingga suami dan istri punya kewajiban dan haknya masing-masing yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan. (1) perdamaian yang sebenar-benarnya (ayat 128). Bahkan Islam memerintahkan kepada para suami untuk mempergauli dan memperlakukan istrinya dengan baik. Bentuk pembebanan kerja ganda tidak akan ditemui dalam masyarakat yang menjalankan tuntunan Islam secara benar. yaitu (1) tafsir tahlili. 2000: 328). Sedangkan Kekerasan (violence) dalam rumah tangga (KDRT) merupakan hal yang sangat ditentang dalam Islam.kesetaraan lahir. terdapat dua corak penafsiran. (2) tafsir ijmali. Islam memberikan tuntunan secara umum. maka kita lihat penafsiran Ath-Thabari terhadap ayat 128-130 surat An-Nisa tatkala ada perselisihan antara suami dan istri. . Hal ini bisa kita lihat contohnya pada ayat surat An-Nisa‘ ayat 4 bahwa proses kewajiban suami untuk memberikan nafkah telah dimulai dari awal proses pernikahan. Bahkan kalau Islam dianggap memberikan kewajiban kepada istri lebih berat (mendapat beban kerja ganda) itu merupakan anggapan yang salah. sebagaimana firman-Nya: ― Wa‟aasyiru hunna bil ma‟ruf”. Meskipun pendapat terakhir tersebut mensubordinasi wanita namun terlihat lebih moderat karena tetap membatasi jumlah istri sampai empat. (2) tidak boleh membiarkan istri terkatung-katung (ayat 129). ―Kullukum raa‟in wakullukum masuulun „an ra‟iyyatihi‖. Ibn Katsir (tt:2/207) menafsirkan ayat tersebut. akan tetapi akan banyak muncul pada masyarakat yang hanya beorientasi pada duniawi dan materi. bahwa pemberian maskawin (mahar) oleh suami kepada istrinya dengan senang hati sebagai bukti atas cinta kasih antara keduanya dan bukti kemuliaan perempuan di mata Islam. Ibn Abbas masuk kelompok 2.

bahkan jumlahnya tidak terbatas. Adapun syaratsyarat disepakati adalah (a) memiliki kemampuan memberi nafkah. Hanya Ar-Razi saja yang membolehkan poligami melebihi 4 atau 9. Terkait dengan hukum poligami. streotipisasi. yaitu subordinasi dan streotipisasi. Hal itu tampak dalam penafsiran Ar-Razi. Ia berani melangkah lebih jauh melampaui hadis Nabi. Ibn Katsir dan Quraish Shihab) masuk kelompok 1. dan dalam Islam ia merupakan sesuatu yang diperbolehkan. Hanya saja. Jumlah maksimal istri empat orang dalam satu waktu. pembebanan ganda). yakni dengan tidak membatasi jumlah istri dan menggunakan persyaratan sangat longgar yang merugikan kaum perempuan. . subordinasi. Quraish Shihab memberikan batasan bahwa poligami berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu. Ar-Razi. (b) memiliki kayakinan bisa berbuat adil dalam memberi nafkah lahir dan adil memberikan nafkah bathin. dan (c) dilandasi kemaslahatan bersama. Dari lima bentuk ketidaksetaraan gender terhadap wanita (marginalisasi. yakni pernikahan satu suami dengan dua. tiga atau empat istri. Secara konsep. kekerasan. semua mufassir tidak berbeda mengenai definisi poligami(ta'addud az-zawjah).sedangkan mufassir yang lain (Ath-Thabari. terdapat dua bentuk. mayoritas menghukumi mubah.

1986. Beirut: Dar al-Ta‘aruf li al-Mathba‘ah Amin. Tahrir Al-Mar‟ah. Artikel diambil dari situs http://www.my .abim. Ath-Thabari. Dekonstruksi Jender (Terj.multiply. Tafsir al-mishbah pesan dan kesan dan keserasian AlQuran diakses dari situs: http://afthon. Ittijah al-Tafsir fi al. Laporan Data Kasus Tahun 2001. 2007. Nashr Hamid.DAFTAR RUJUKAN Abu Zayd. Mohd Rumaizuddin. Rifka. 2001.Qarn al Rabi‟ al„Asyr.org diakses tanggal 4 Nopember 2007 Al-Nawawi. 1973. Moh. 1954.). Muhammad Ibn Jarir. 1993At-Tafsir al-Kabir. Al-Halaby: Mesir. Mendudukan Poligami dalam Islam : Tinjauan Historis. 2002. dan Normatif. Disertasi tidak dipublikasikan. tt. Ghazali. Al-Mar‟ah fi al-Qur‟an. Kairo: Dar al-Hilal Al-Alma‘I. tt. Uqud Al-Lujain fi Bayan Huquq al-Jauzain. Manna‘. Al-Madrasah al-Qur„aniyyah al-Tafsir al-Maudu„I wa al-Tafsir al-Tajzi„I fi al-Qur„an al-Karim. Dirasat fi al-Tafsir al-Maudu‟i li alQur‟an al-Karim. At-Tijariyah: Beirut. M Shiddiq. Kairo: Dar A1-Ma‘arif Annisa. Abbas Mahmud. Politis. Muhammad Baqir.com/reviews/item/ 1 tanggal 25 Oktober 2008 Ainin. 1970. Mansyurat al ‗Ashr al-Hadis Al-Rahman. Qasim.org. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Ar-Razi. Pertanyaan dalam Terjemahan Al-Quran: Suatu Kajian Pragmatik. 2005.khilafah1924. Jami'ul Bayan fi Tafsir alQuran. Fakhruddin. Artikel dikutip dari situs http://www. Mabahits fi „Ulum al-Qur„an. 2007. Tokoh Islam Kontemporer. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Afthon. Zahir Ibn ‗Awad. Surabaya: Percetakan An-nabhan Al-Qathan.. 2003. 1962. Fuad Abd. Al-‘Aqqad. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ al-turats al-Islami Al-Shadr. Muhammad Ibn Umar. 1984. Riyadh: Markaz al-Bahs al-ilmi wa ihya‘ alturats al-Islami Al-Jawi.

Nofie. dalam Jurnal Perempuan. Aa‟ Gym. Koran Kompas.com/2008/06 tanggal 25 Oktober 2008 Qasim. tanggal 15 Februari 2007. Penetapan Hukum Islam Secara Tekstual dan Kontekstual: Tinjauan Mufassir. Quraish. 1997. Penerbit Mizan: Bandung. Iyazi. Dikutip dari situs http://members.psq. Artikel diakses dari situs: Http//situs. Artikel dari situs: http://nofieiman-. Sugiri. Biografi Quraish Shihab.com) diakses tanggal 4 Nopember 2007 Sari. 2000. 2007. Aa Gym: Saya Tidak Kecewa Mulia. Siti Musdah. 1985.kesrepro. 2008. Tt. Beirut: Dar el-Fikr Iman. Edisi 2 Shihab. tanggal 15 Februari 2007. 35 Th XVI. Sulayman Mar'i: Singapura. Artikel dikutip dari situs www. 2004. Abu Isa Muhammad Ibn Isa.duniaesai-. dan Islam. Ibn Surah. Analisis Jender dan Tranformasi Sosial (Resensi Buku). Tafsir al-Manar. . Kairo: Al-Manar Jilid IV Sabiq.com 2006 tanggal 25 Oktober 2008 Rasyid Ridha.htm. dalam Dialog. Zaitunah. Artikel diakses dari situs http://ichwanzt. Peningkatan Kesetaraan dan Kesetaraan Jender dalam membangun Good Governance. 2004. 2006. Mohammad.multiply.Ibn Katsir. Al-Ibnu. Fiqh as-Sunnah.or.com/gender/gender2. 1990. Shihab. Sayyid Muhammad Ali. Artikel diakses dari situs http://almudarris. diakses tanggal 1 April 2007. No. Muhammad. Islam Menggugat Poligami. Muhammad Quraish. Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum. edisi Kamis 18 Januari 2007. Tafsir Al-Quran al-Adhim.id/tafsir detail.htm. Jakarta: Gramedia Pustaka utama Nor Ichwan. Mencari Teori Kesetaraan: Analisis Jender Vs Teori Hukum Islam. Februari Subhan. 1992. Al-jami‟ al-Sahih Juz 3. Acep. 2004.asp.info/gendervaw/agu/-2004/gendervaw01. Tafsir Al-Mishbah. Sayyid. tt.blogspot. Mayang.tripod. 2003. Artikel diakses dari situs: http://www. Poligami. Imam Fakhruddin Ar-Razi.com2006/12/aa-gym-poligami-dan-islam/ Diakses tanggal 18 Februari 2007.

1999. 1992. or.Syahrur. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Wahbah. Artikel diakses dari situs http://id.wikipedia.com/ tanggal 25 Oktober 2008 Tanpa Penulis. Al-Kitab wa al-Qur'an. No. 2007. Artikel diakses dari situs http://nothingman2run. 1990.org/wiki/ tanggal 25 Oktober 2008 Tohe. 2007.id/ Tim Wikipedia Indonesia. Damaskus: Penerbit Ahali Tanpa Pengarang. 2007. 1999. Metode Penelitian Berprespektif Jender tentang Literatur Islam. Laporan penelitian dana DIK 2000. Beirut: Dar el-Fikr Wahbah. dalam Jurnal A1-Jami‘ah. Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu. Beirut: Dar el-Fikr . http://www. Az-Zuhaili. Abdullah bin Abbas. Relasi Jender dalam al-Qur'an Menurut Pandangan Para Mufassir. Az-Zuhaili. 64.alsofwah. 2000. Malang: LEMLIT Universitas Negeri Malang Umar. Biografi Syeikh Ath-Thabari. dkk. At-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asySyari'ah wa al-Manhaj.wordpress. Ahmad. Ibnu Katsir. Muhammad. Nasaruddin. Sosok Mufassir Sejati.

edukasi dan sosialisasi undang-undang tersebut masih minim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengadilan agama menangani kasus secara perdata.Eksplorasi Kinerja Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pengembangan Strategi Sosialisasi dan Edukasinya di Kota dan Kabupaten Malang Siti Malikhah Towaf Abstrak: Undang-undang Republik Indonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT) disahkan dan diundangkan pada 22 September 2004. faktor pendukung dan penghambatnya. diharapkan bisa berperan sebagai usaha preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT. Apalagi aparat di tingkat grass roosts dan masyarakat banyak yang belum tahu substansi UU PKDRT. edukasi Siti Malikhah Towaf adalah dosen Jurusan Sejarah FS Universitas Negeri Malang . strategi. Namun hukuman yang diputuskan PN untuk pelaku masih belum mencerminkan rasa keadilan. Diperlukan sosialisasi untuk aparat terkait maupun edukasi untuk masyarakat. bahkan ditingkat aparat penegak hukum belum termotivasi untuk memahami substansi penting dari UU PKDRT. Penelitian 3 tahap dilakukan dengan fokus peran lembaga dan kasus-kasus KDRT yang muncul dan bagaimana penylesaiannya di tiap lembaga. sosialisasi. BP-4 lebih berperan sebagai lembaga konseling sebelum kasus masuk di PA dan Unit PPA Kepolisian dalam lembaga andalan penegak UU PKDRT. informasi. KDRT. Namun upaya komunikasi. Kata-kata kunci: Undang-undang.

Jika terjadi kekerasan dalam keluarga maka akan muncul ancaman bagi keutuhan keluarga dan kesejahteraan anggota-anggotanya. dimana lapisan atas mempunyai kesempatan ―melakukan segala sesuatu‖ untuk menentukan dan mengatur kelompok manusia yang berada di lapisan bawah. Kemiskinan. Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) semakin meningkat. penganiayaan bahkan pembunuhan.Menurut Fakih (1996) kekerasan adalah serangan atau invasi terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. ketika letupan psikologis tidak terkendali dan meluap keluar dalam bentuk kekerasan atau tindakan agresif yaitu tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. Kehidupan keluarga banyak yang masih jauh dari sejahtera baik lahir maupun batin. jika terjadi dalam dalam keluarga maka ada kecenderungan anggota keluarga yang lain. gampang memicu pertengkaran. karena kesempatan mengambil keputusan berada pada lapisan atas (Astuti. 2003). pengangguran memicu berbagai kriminalitas. Krisis rumah tangga. Perempuan dianggap lebih lemah. pada umumnya korban adalah . atas dan bawah. stereotipi/pelabelan negatif sampai berbagai bentuk kekerasan dalam keluarga yang disebut juga gender related violence. Kekerasan dan tindakan agresif biasanya berlanjut. Ketika budaya masyarakat cenderung patriarkhis maka budaya tersebut juga akan mewarnai kehidupan keluarga dalam bentuk hubungan asimetri. Dalam pola relasi vertikal. sehingga ditempatkan dalam posisi subordinate/pelengkap (Fakih. manusia mempunyai potensi untuk melakukan kekerasan. 2002:24). anak-anak yang menyaksikan akan menjadi generasi penerus kekerasan jika mereka berkeluarga kelak. 2003:5). subordinasi. Kehidupan yang semakin berat menimbulkan berbagai krisis dalam masyarakat. vertikal antara laki-laki dan perempuan sebagai suami-isteri maupun anggota keluarga. Perubahan sosial dan ketimpangan struktur sosial telah memunculkan kesenjangan sosial. tidak mampu berperan sebagaimana laki-laki. Sebagai individu maupun anggota masyarakat. Pola hubungan asimetris ini melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan gender seperti marginalisasi. hirarkis. sekelompok kecil anggota masyarakat berada pada level "menengah keatas" diuntungkan oleh struktur sosial itu dan sebagian besar anggota masyarakat lainnya "harus bertahan' dalam situasi kemiskinan (Katjasungkana. akibatnya lapisan bawah tergantung pada lapisan atas.

tahun 2003 ada 7. 2007:405).513.163.PKDRT.391.787. karena mereka terutama lurah adalah ujung tombak untuk menangani kasus-kasus KDRT (Towaf. Hasil penelitian ini juga memiliki manfaat praktis. apalagi aparat di tingkat grass roots seperti aparat kepala desa dan stafnya. yaitu berbagai kantor pemerintah lokasi penelitian. 3.23.165.23. Perlindungan anak. apa yang terjadi pada perempuan? Mengapa semuanya itu terjadi? dan bagaimana kita dapat mengubah dan memperbaiki dunia sosial untuk membuatnya menjadi tempat yang lebih adil bagi perempuan dan semua orang? Undang-undang adalah kebijakan publik yang berfungsi untuk mengubah masyarakat/social engineering. Kepala unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Malang sangat mengharapkan ada program sosialisasi kepada para Lurah/Camat di wilayahnya.099 kekerasan ekonomi. 1. Dari data-data tersebut lalu muncul pertanyaan krusial yang sering beredar di kalangan teoritisi feminis (Lengerman & Brantley. 2007). 2002).2005 ada 20.020. hasil penelitian ini mendukung hal tersebut. 2007). kebijakan public dan pelaksanaan Undang-undang. psikologi. 2004:1 & UURI no.2004 ada 14. Hasil penelitian akan bermanfaat bagi kepentingan teoritis keilmuan di bidang Sosiologi.perempuan dan anak-anak biasanya tidak tahu harus berbuat apa (UU RI no. 801 kekerasan fisik.2A02 ada 5. 2006 ada 22. 2005). 872 kekerasan seksual dan 590 kekerasan psikis (Wartawan kompas.659 kasus. Catatan tahunan 2007 Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap perempuan menunjukkan kenaikan jumlah kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP): tahun 2001 ada 3. diharapkan bisa berperan preventif maupun kuratif bagi kasus-kasus KDRT. Dari segi bentuk kekerasan. namun upaya sosialisasi & edukasi undang-undang tersebut masih minim. tidak tahu bahwa penelantaran ekonomi termasuk dalam kekerasan dalam rumah tangga (Wartawan Kompas. Penelitian tahap I/2008 fokus pada eksplorasi kinerja kebijakan. Undang-undang Republik lndonesia no 23 th 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) diundangkan pada 22 September 2004. dari 7. kasus-kasus yang terjadi dan penyelesaiannya serta factor pendukung dan penghambatnya. dan masyarakat. Aparat terkait kurang faham. Harapan tersebut akan terpenuhi pada penelitian tahap II/2009 fokus pada pengembangan . lembaga pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi. mencermati kinerja lembaga yang menangani kasus konflik keluarga.

Kompleksitas dan permasalahan kehidupan keluarga terutama perempuan dalam konteks apapun cukup besar dan memerlukan berbagai pendekatan dalam penelitian kualitatif (Denzin. 1993:73) digunakan untuk menggali data secara lebih mendalam terhadap kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dan faktor-faktor penyebabnya di setiap lokasi penelitian terkait dengan peran perempuan dan wawasan kesetaraan gender dalam keluarga. 1994:21) kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi undang-undang PKDRT. Penelitian Tahap III fokus pada pengembangan strategi edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat. sehingga wawasan mereka bertambah dan mengetahui apa yang harus dilakukan jika kasus KDRT terjadi di wilayahnya. 200) dan pengembangan yang menggabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kualitatif juga digunakan untuk eksplorasi (Creswell. METODE Rancangan dan Pendekatan Penelitian Rancangan penelitian ini adalah penelitian kebijakan (Dunn. NK & Lincoln. 1997:22. Creswell. terutama pada tingkat lurah dan bisa juga nantinya kepada aparat yang lain.strategi sosialisasi UU PKDRT kepada aparat terkait. Dalam penelitian ini penggabungan pendekatan kuantitatif bersifat komplementer/untuk melengkapi pendekatan kualitatif yang lebih dominan (Branen. bagi aparat sasaran maupun berbagai kelompok masyarakat. Mereka adalah ujung tombak untuk optimalisasi kinerja UU PKDRT. Pendekatan kualitatif multikasus dan multiksitus (Yin.1994:173--190). Perolehan data kuantitatif dapat memberi landasan (Branen. Pendekatan kuantitatif yang dilakukan dengan mengumpulkan data statistik tentang kasus-kasus KDRT dan faktor penyebabnya. . 1994:163). 2004 & Sevilla. 1997:43) atau base line data bagi pendalaman kasus.

Kunjungan ke lokasi penelitian dilakukan beberapa kali sesuai dengan pengumpulan data yang dibutuhkan. Sesuai dengan rancangan penelitian kualitatif multikasus dan multisitus maka penelitian mendalam dilakukan terhadap setiap lokasi (Sevilla. wawancara observasi. Pembinaan. 1993.73. dilakukan kunjungan berikutnya dalam rangka pengumpulan data kuantitatif. 1992). Tim peneliti mengunjungi 6 lokasi tersebut dan mengumpulkan data untuk menjawab semua pertanyaan penelitian yang ditetapkan. dan unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Kota dan Kabupaten Malang. . peneliti juga mendatangi kantor Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang sebagai lokasi pelengkap. dok. wawancara kajian dokumen. wawancara kajian dokumen. Pelestarian Perkawinan (BP-4) Departemen Agama. wawancara kajian dokumen. Disamping itu dilakukan juga observasi dan wawancara informal untuk mengawali pengumpuian data kualitatif (Glesne & Peshkin.Ruang Lingkup Khusus untuk Tahun I/2008 Eksplorasi Kinerja UU PKDRT Luaran/output Profil dan peran lembaga Kasus. diskusi Lokasi Penelitian dan Kehadiran Peneliti Ruang lingkup Lokasi penelitian adalah Kota dan Kabupaten Malang. 1992:6). tersangka lokasi. Kantor Badan Penasehatan. aparat korban. khususnya Kantor Pengadilan Agama (PA) Kota dan Kabupaten Malang. Bell. kaj dok. aparat dokumen.kasus KDRT Faktor penyebab Penyelesaian kasus KDRT Pendukung.wawancara kajian dokumen.aparat dokumen. Setelah anjangsana pertama untuk perkenalan dan menyampaikan maksud kedatangan. Sebagai upaya melacak kasus yang diberkas P21 dan diajukan untuk diadili. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian dilakukan baik untuk pengumpulan data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Aparat dokumen. aparat Metode/Teknik Observasi. Demikian juga peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data dan analisis data penelitian. wawancara. penghambat Sumber data Lokasi.

unit PPA Kepolisian Kota dan Kabupaten ditambah Pengadilan Negeri Kota dan Kabupaten Malang. Telaah dokumen dilakukan untuk memperoleh informasi tentang profil lokasi. 1980:52). dokumen UU PKDRT. 5.Sumber Data dan Informan Kunci 1. segala aktifitas dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Teknik Pengumpulan Data 1. Pejabat dan staf terkait dari kantor BP-4 Depag. Wawancara informal dan mendalam dilakukan kepada informan kunci yang dijaring dengan menggunakan tehnik purposive. digali . serta buku Undang-undang tentang KDRT 3. kasus-kasus KDRT dan penyelesaiannya. dilakukan needs assessment awal untuk pengembangan strategi sosialisasi dan edukasi untuk aparat dan masyarakat (Pratt. Observasi dilakukan di 6 lokasi untuk memperoleh gambaran prosedur penanganan kasus-kasus keluarga dan khususnya kasus KDRT di masing-masing lokasi. dan bagaimana penyelesaian kasus-kasus tersebut (Sevilla. 4. 2. bagaimana perasaan tersangka maupun korban. literature ataupun hasil penelitian terkait kasus-kasus KDRT. 1993:85). 3. Dokumen tentang berbagai kasus KDRT. UU PKDRT no 23 tahun 2004 dan berbagai aturan/dokumen mendukungnya dari berbagai kantor terkait. Telaah buku/literatur yang berkaitan kajian sosiologi tentang kekerasan dan kekerasan dalam rumah tangga. sebagai langkah awal pemantapan landasan teoritis dan operasionalisasi penelitian (Bell. Pejabat dan staf terkait dari kantor Pengadilan Agama di Kota dan Kabupaten Malang. 4. BP-4 Depag Kota dan Kabupaten. Pejabat dan staf terkait dari kantor unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang. 1992:53--58). ketimpangan gender yang bisa memicu munculnya kasus KDRT. 2. Gender dalam perspektif Islam. Lokasi penelitian yaitu 6 kantor: Pengadilan Agama kota dan Kabupaten. Kota dan Kabupaten Malang.

Moleong. Keabsahan data kuantitatif yang dijaga dengan kecermatan penghitungan kasus KDRT yang terjadi di setiap lokasi. . Keabsahan data kualitatif dilakukan dengan proses trianggulasi antara data yang dijaring lewat telaah literatur. pendukungnya. 1984. 1993:85. Data dari telaah literature dan dokumen dianalisis secara induktifkomparatif dihasilkan komponen-komponen untuk menjawab pertanyaan penelitian (Miles & Hubberman. kinerja/ implementasi UU PKDRT. 2. sehingga peneliti bisa memperoleh gambaran yang lebih mantap tentang perolehan data penelitian. sarana dan prasarananya dalam menangani kasus-kasus KDRT (Sevilla. 3. Keabsahan Data 1. Muhajir. 1996). pengelompokan kasus yang relevan. faktor penghambat. kasus apa yang terjadi. 2. Wawancara informal dilakukan berkaitan dengan upaya menjaring data tentang faktor-faktor penyebab kasus KDRT. 1990:135--152). 1987:17--24). Kecukupan referensi dapat digunakan untuk membandingkan data yang diperoleh dengan berbagai kritik tertulis yang terkumpul. bagaimana kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi agar UU PKDRT lebih difahami (Moleong. Analisis Data 1. faktorfaktor penyebab terjadinya kasus dan bagaimana UU PKDRT difungsikan untuk mengatasinya. Data tersebut dianalisis secara deskriptif komparatif/dibandingkan dikelompokkan menurut variasi jawaban kemudian dibuat rangkuman (Gibbon & Morris. Data dari observasi dianalisis secara diskriptif dan berfungsi sebagai sumber informasi tentang profil kelembagaan. 3.informasi tentang kinerja kebijakan. dokumen dengan data yang diperoleh lewat wawancara informal maupun lewat diskusi. kebutuhan terhadap strategi sosialisasi dan edukasi. 1990). apa pendukung dan penghambatnya.

Denzin. Ribuan kasus ditangani oleh PA Kabupaten Malang dan ratusan kasus ditangani oleh PA Kota Malang setiap tahun. namun kasus-kasus tersebut ditangani secara perdata dengan penyelesaian cerai/rujuk. penelantaran ekonomi. Sementara itu jumlah kasus yang di tangani PA Kabupaten jauh lebih banyak lagi yaitu pada tahun ada 7192 kasus. Pengadilan Agama merinci factor penyebab mencapai 14 kategori seperti: krisis moral. wawancara staf & ketua pengadilan). . HASIL Profil & Peran Kelembagaan Lembaga yang terkait UU PKDRT adalah Pengadilan Agama. yang sering penyebab konflik dalam rumah tangga bersifat multifactor. kekejaman mental. yang menangani kasus dan konflik yang terjadi dalam keluarga dengan muatan berbagai bentuk kekerasan ada di dalamnya. tidak ada tanggung jawab. Oleh karena itu peran PA dalam penanganan kasus KDRT masih dalam lingkup perdata yang berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (Dok PA.4. Jumlah kasus yang ditangani PA Kota Malang tahun 2006 s/d Agustus 2008 adalah 2789 kasus. pologami tak sehat dll. seberat apapun kasus KDRT yang ditangani. 1994:241). Disini jelas bahwa kinerja lembaga sangat dibatasi oleh status lembaga sebagai pengadilan perdata yang tidak akan membawa kasus sampai ke perkara pidana. yang paling dominan adalah kasus kekerasan psikis dan ekonomi. Selain itu juga dilakukan review dengan teman sejawat yaitu antara peneliti dengan tehnisi yang terlibat dalam proses pengumpulan data dalam rangka mencermati keabsahan data (Moleong. penganiayaan berat. Ada kemungkinan di masa depan PA juga berfungsi sebagai Pengadilan Pidana. 1990:I70--187. Hal tersebut terjadi karena secara kelembagaan PA masih sebagai pengadilan perdata. Peran kelembagaan PA sebagai pengadilan perdata telah berdampak pada lemahnya perhatian aparat PA terhadap UU PKDRT karena dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka tidak menggunakannya sebagai landasan kerja (wawancara dg staf dan hakim PA 22/7/08). namun sekarang masih pada tataran wacana di tingkat pusat (wawancara Ketua PA Kota 26/9/08).

Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departeman Agama. Tabel 1 Kasus KDRT di Pengadilan Agama Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kota Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 9 31 Kekerasan psikis 326 618 267 Kekerasan seksual 15 21 49 Kekerasan ekonomi 430 449 497 Jumlah 788 1097 844 Sumber Dokumen di PA Kota dan Kabupaten Malang Pengadilan Agama Kabupaten 2005 8 1472 65 2423 3960 2006 16 1436 158 2316 3926 2007 15 1448 231 2438 4132 2008 55 865 147 1594 2664 Lembaga lain yang terkait dengan kinerja/implementasi UU PKDRT yang menjadi lokasi penelitian. Mereka hanya sekali tempo menggunakan informasi dari UU PKDRT untuk kepentingan konseling dengan klien yang mereka tangani. semula sebagai singkatan Badan Penasehatan Perkawinan dan Perselisihan Perceraian menjadi Badan Penasehatan. adalah Badan Penasehatan. lebih berperan dalam memberi kosultasi/kepenasehatan terhadap kliennya. tidak pernah sampai ke implementasi UU PKDRT sebagai instrument pidana bagi pelaku KDRT. Telah terjadi perubahan paradigma BP-4 yang tercermin dari kepanjangan akronim BP-4. pembinaan dan Pelestarian Perkawinan. Rincian jumlah kasus dipaparkan pada Tabel 1.Penyelesaian akhir kebanyakan adalah perceraian dan hanya sedikit kasus yang berakhir rujuk. Oleh karena itu peran BP-4 hanya pada tahap konseling. Kasus-kasus yang ditangani banyak yang berlanjut ke Pengadilan Agama menuju perceraian. Staf BP-4 juga menyatakan bahwa tidak ada sosialisasi langsung tentang UU PKDRT terhadap mereka. Jumlah . BP-4 tidak berpihak kepada perceraian tetapi berpihak pada pelestarian perkawinan. mereka mengetahui UU PKDRT justru dari interaksi dengan orang lain termasuk peneliti. Kasus-kasus yang ditangani BP-4 Kota pada 3 tahun terakhir berjumlah 183 dengan Di BP-4 Kabupaten Malang ada 43 kasus. Landasan kerjanya juga senada dengan PA yaitu ajaran agama Islam dan hukum Islam.

Rincian kasus disajikan di Table 2. Melacak Kinerja/Implementasi UU PKDRT oleh Unit PPA Kepolisian Lembaga yang tanggap paling awal dengan diundangkannya UU PKDRT adalah kepolisian karena disebut secara eksplisit oleh UU PKDRT. . Dinas sosial dan LSM. karena sudah ada kerjasama yang baik dengan Rumah Sakit Kanjuruhan yang membuka Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) sejak tahun 2005 untuk memberi pengobatan dan rawat inap gratis selama 3 hari bagi korban KDRT. perselingkuhan.kasus di kabupaten relative justru lebih sedikit karena BP-4 Kabupaten lebih memprioritaskan PNS yang sudah membawa surat pengantar dari Badan Pengawas Pemerintah Daerah. masalah ekonomi. kemudian mulai ada kerja sama dengan lembaga terkait seperti Bagian Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten Malang. Oleh karena itu secara kelembagaan unit PPA adalah andalan utama dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. Untuk kasus-kasus berat yang tidak bisa didamaikan dirujuk ke Pengadilan agama menuju perceraian. Tabel 2 Kasus KDRT di BP-4 Kota dan Kabupaten Malang BP-4 Kota BP-4 Kabupaten 2008 3 5 8 Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 Kekerasan fisik 2 8 12 5 4 2 Kekerasan psikis 23 22 30 23 5 10 Kekerasan seksual 1 4 7 10 5 8 Kekerasan Ekonomi 7 22 13 27 1 Jumlah 33 56 62 65 15 20 Sumber Dokumen di BP-4 Departemen Agama Kota dan Kabupaten Malang. dikembangkan RPK (Ruang Pelayanan Khusus) menjadi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak. Faktor penyebab konflik rumah tangga antara lain: ketidak cocokan. Sementara BP-4 Kota Malang menerima semua klien yang datang tanpa membedakan PNS atau bukan. Unit PPA sekarang menjadi tempat pengaduan masyarakat yang mengalami kasus KDRT. Pada awalnya unit PPA ibarat lone ranger yang berjuang sendiri untuk kinerja/implementasi UU PKDRT. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung. Rumah sakit.

untuk sementara korban di PPA Kota Malang dirujuk ke RSSA Malang. Titian Hati. perkosaan. mendapat perlindungan hukum dari yang berwewenang dan pelayanan kesehatan. korban dirujuk ke Women Crisis Center yang ada di Malang seperti WCC Dian Mutiara. Dari sekian banyak kasus yang dominan di Unit PPA Kota maupun Kabupaten adalah kekerasan fisik dan seksual. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang telah punya kerja sama yang baik dengan PPT Rumah Sakit Kanjuruhan yang menggratiskan visum dan rawat inap bagi korban KDRT selama 3 hari. dijamin dan sudah dipenuhi. Sementara itu di PPA Kabupaten Malang selama 4 tahun terakhir ada 502 kasus. tetapi untuk rawat inap dan visum dokter dalam kasus tertentu belum bisa digratiskan oleh pihak rumah sakit. Layanan kesehatan ini belum dipenuhi secara optimal. diberikan pelayanan medis gratis. perselingkuhan.Jumlah kasus yang ditangani selama 4 tahun terakhir adalah 285 kasus di unit PPA Kota Malang. Dll.. keterlibatan fihak ketiga. (2) Kerahasiaan Korban. adik ipar sendiri ataupun dengan remaja tidak berdaya (kasus perstubuhan dengan remaja cacat bisu-tuli). Rincian kasus disajikan pada Tabel 3. ketidak puasan. Tabel 3 Kasus KDRT di PPA Kepolisian Resort Kota dan Kabupaten Malang PPA Kota Malang PPA Kabupaten Malang Unsur KDRT 2005 2006 2007 2008 2005 2006 2007 2008 Kekerasan fisik 17 51 60 60 19 53 87 32 Kekerasan psikis 3 1 16 16 19 9 22 25 Kekerasan seksual 4 17 15 15 51 26 65 18 Kekerasan ekonomi 2 2 2 6 10 36 34 Jumlah 24 71 93 97 85 98 210 109 Sumber Dokumen di Unit PPA Polres Kota dan Kabupaten Malang Kasus-kasus KDRT tersebut muncul dengan berbagai penyebab kecemburuan. perzinaan. Hak-hak korban dan bentuk pemenuhannya: (1) Perlindungan: korban diberi perlindungan keamanan 1x24 jam di Polres Kota Malang. Jika perlu didampingi . penelantaran ekonomi. (3) Pendampingan. namun kadang-kadang bisa muncul/termuat di koran karena kegigihan/kecerobohan wartawan. persetubuhan dengan anak.

(4) Dalam menjelaskan hak-hak korban. Ketua RT dan Ketua RW. (4) Mekanisme Layanan Standar Kepolisian Unit PPA seperti yang sudah dijelaskan diatas. (3) Kerjasama polisi dengan berbagai fihak untuk perlindungan. dengan cara sosialisasi di lingkungan masyarakat. . Kerjasama dengan WCC dari psikolog dari UIN Malang. paling lama 7 hari korban memperoleh perlindungan keamanan oleh PPA. dan (4) Bimbingan Rohani. dan (5) Perlindungan (pendamping. ataupun rohani samapai saat ini mencukupi sesuai dengan kebutuhan. dan (4) Membantu proses penetapan perlindungan sudah menjadi bagian dari proses penanganan kasus KDRT hanya saja dalam hal perlindungan peran PPA masih kurang. di lingkungan tempat tinggal misalnya tetangga. keluarga. Kesadaran hukum masyarakat masih rendah. Peran Masyarakat. Saksi pendamping biasanya mendapat perlindungan dari kepolisian. Peran masyarakat masih kurang. unit PPA. kesehatan. (2) Ketersediaan aparat. Demikian juga aparat di tingkat grass roots seperti Lurah dan perangkat desa banyak yang tidak tahu undang-undang PKDRT dan prosedur pelaporan ketika terjadi kasus di wilayahnya. belum dapat maksimum karena hanya sebatas memberi nasehat dan melerai agar tidak terjadi kekerasan lebih parah.oleh penasehat hukum. Perlindungan yang dilakukan oleh unit PPA Kepolisian Kota maupun Kabupaten Malang dengan prosedur: (1) Dalam waktu 1x24 jam sejak laporan. lebih banyak konseling psikologis belum mengarah pada bimbingan keagamaan. dari masyarakat masih kurang. siapa mereka dan bagaimana peran mereka. (2) Memberi perlindungan. Pemahaman tentang Undang-Undang masih sangat lemah. teman korban). ada harapan nantinya diwujudkan Pusat Pelayanan terpadu (PP) namun belum maksimal. yang disediakan bagi msayarakat yang tertimpa kasus KDRT adalah: (1) Ruang layanan yang cukup mamadai. (2) Dalam wktu 1x24 jam perlindungan perlu minta surat penetapan perlindungan pengadilan. Kewajiban pemerintah terutama lembaga Unit PPA. biasanya pendamping korban dari keluarga atau WCC yang dirujuk (di rujuk PPA). saksi. termasuk kesadaran hukum masyarakat dalam: (1) Mencegah tindak pidana. (3) Sistem mekanisme layanan (kerjasama) yang mudah di akses korban yaitu dengan Women Crisis Center. sosial. Perlindungan masih dilakukan oleh petugas kepolisian. (3) Memberi pertolongan darurat: yang paling awal adalah orang-orang di lingkungan terdekat terjadinya kasus-kasus.

yang dilakukan secara terpadu oleh kepolisian dan Dinas Kesehatan. ringan= tuntutan 4bl/dan denda 3jt. untuk penyidikan. Rumah aman belum ada. dan (11) Pelanggaran terhadap perintah perlindungan oleh pelaku belum pernah terjadi. (3) Untuk kasus seksual maka penanganannya adalah kerjasama staf unit PPA dengan RSSA. tidak ada penangguhan penahanan. (7) Layanan pendamping untuk penyidikan dan penuntutan belum ada. luka berat = 10th/dan denda 30jt. (2) Psikis.belum pernah terjadi. memaksa orang dalam rumah tangga melakukan hubungan seksual . penangkapan pelaku dapat dilakukan tanpa surat perintah jika sudah diyakini sebagai pelaku. (9) Permohonan perlindungan bisa tertulis/lesan. dengan tuntutan hukuman maksimum: 5th/dan denda 15jt. jika kasus berat kerja sama staf PPA dengan Psikolog dan Rumah Sakit Jiwa secara terpadu. Pemulihan korban: jika kasus KDRT: (1) Fisik yang menangani adalah RSSA atau di PPT Rumak sakit Kanjuruhan. Layanan advocate di PPA Kota Malang. sementara dicari rumah kos yang aman. Untuk kasus penelantaran. mati = 15th/dan denda 45jt. yang sering terjadi korban dititipkan ke kerabat yang dipercaya untuk menjaga jarak dari pelaku/tersangka. penyelidikan: penyidik atau petugas PPA yang menjelaskan kepada korban. (2) Jika kasus KDRT Psikis yang menangani adalah staf unit PPA. paling lama perlindungan 1 tahun bisa diperpanjang sesuai kebutuhan juga belum pernah terjadi. ada 1 orang. dengan tuntutan 12th/dan denda 56jt. (3) Seksual. Ketentuan pidana menurut UU PKDRT: (1) Fisik. ringan = 4bl/dan denda 5jt. atau korban memberi kuasa orang lain/kepolisian. (8) Laporan oleh korban. masalah selesai secara kekeluargaan maka penahanan ditangguhkan. dengan tuntutan maksimum 3th/atau denda 9jt. dan (4) Untuk kasus bidang ekonomi ada kasus. pemulihan korban dilakukan secara terpadu oleh staf PPA dan Dinas Sosial. Bila ternyata korban mencabut laporan.identitas petugas. (6) Pekerja sosial dan layanan konseling. visum ke RSSA Malang atau Rumah Sakit Kanjuruhan. (5) Pemeriksaan kesehatan. penuntutan pemeriksaan persidangan. dalam 7 hari ketua pengadilan wajib mengeluarkan surat penetapan perlindungan. (10) Dalam waktu 1x24 jam. pemulihan korban agak sulit ditangani karena menyangkut kemampuan ekonomi keluarga yang mengalami kasus KDRT. tempat tinggal alternative: kerja sama WCC Dian Mutiara dan Titian Hati.

Hal tersebut sejalan dengan sejalan dengan temuan para aktifis hukum bahwa untuk menegakkan hukum yang berperspektif perempuan kesulitan awal adalah pada sumber daya manusia. 1 kasus dengan terdakwa SS dengan modus menusuk korban sehingga luka berat dituntut hukuman 2 tahun 6 bulan dan diputus hukuman 2 tahun. Dari kasus-kasus tersebut ada 1 kasus dengan terdakwa WY dengan modus memperkosa korban berulang kali dituntut hukuman 5 tahun dan diputus hukuman 4 tahun. Penelantaran bisa juga pengabaian kewajiban ataupun menciptakan ketergantungan ekonomi pada pelaku. Bagaimanakah ketentuan tersebut dalam praktek? Lembaga lain sebagai partner Unit PPA dalam penegakan hukum dan implementasi UU PKDRT adalah Kejaksaan dan Pengadilan Negeri. Ada 5 kasus yang telah diputus dengan variasi hukuman: 2 bulan 15 hari. 5 bulan 7 dan 1 kasus perkosaan yang diputus hukuman 7 tahun. keguguran dan rusak alat reproduksi pelaku dituntut 5--20th/dan denda 25-100jt. Aparat Polisi. Adapun 6 kasus lainnya dengan modus berbagai kekerasan fisik dituntut hukuman bervariasi antara 4 bulan sampai 10 bulan yeng kemudian diputus hukuman 2 bulan 15 hari sampai 9 bulan. demikian juga Pengadilan Negeri dalam mengadili kasus KDRT masih mengacu pada KUHP. tahun 2006 ada 8 kasus yang telah diputus hukumannya oleh Pengadilan Negeri.dituntut hukuman 15 th/dan denda 4--15jt. diadili di Pengadilan Negeri. . staf kejaksaan sendiri belum sensitive terhadap UU PKDRT. Di berbagai tingkat. Sampai saat ini diantara kasus KDRT yang ditangani unit PPA Polresta Malang. Namun dari informasi yang diperoleh. Jaksa Penuntut Umum dan Hakim dalam menangani kasus. masih banyak juga sikap-sikap negatifnya (Irianto & Nurcahyo. Untuk Penyelesaian kasus-kasus KDRT. 2006: 211--223). jika korban mengalami gangguan fisik dan kejiwaan. ada 9 kasus (tahun 2007) dan 2 kasus (tahun 2008) yang masuk kategori P21 dan diberkas ke Kejaksaan. Kasus yang muncul pada tahun 2008 masih dalam proses pengadilan (Dokumen Pengadilan Negeri Kota Malang). Pengadilan Negeri yang menetapkan hukuman berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. 4 bulan. Di Kabupaten Malang. disamping bersikap positif. dan (4) Penelantaran: pelaku dituntut hukuman 3th/15jt. para penegak hukum yang berperspektif perempuan masih kurang.

hanya pasal 44 ayat 4 dan pasal 45 ayat 2. jika kasus-kasus diberkas oleh kepolisian dengan UU PKDRT tetapi dalam proses di Pengadilan Negeri lebih berdasarkan KUHP lalu untuk apa UU PKDRT? Untuk menjawabnya diperlukan penelitian lebih lanjut. Dari penelitian ini diperoleh kesan bahwa selama 3-4 tahun kinerja/implementasi UU PKDRT yang diundangkan pada tahun 2004 itu masih dalam tahap pengenalan. belum sepenuhnya dipakai sebagai landasan penyelesaian kasus hukum. Dapat diaktakan jika para penegak hukum sendiri masih belum sensitive dengan peradilan yang berkeadilan gender dan masih dalam proses mengenal dan memahami UU PKDRT. selebihnya bukan delik aduan. Dari Ketua unit PPA Kota Malang muncul komentar bahwa proses pengadilan memang ada unsur legal reasoning yang menjadi pertimbangan pemutusan hukuman. Pada tahun 2008 s/d bulan Juni ada 6 kasus dengan modus berbagai bentuk kekerasan fisik yang cukup parah dengan tuntutan hukuman 3--5 bulan dan diputus hukuman antara 2 bulan 4 hari s/d 4 bulan.Tahun 2007 ada 8 kasus yang sudah diputus hukumannya dengan modus operandi berbagai bentuk kekerasan fisik. tetapi yang jelas memang kasuskasus KDRT setelah masuk di Pengadilan Negeri diadili dengan KUHP. alat bukti sah . Nah. Ketika hal ini di cross cek ke staf kepolisian unit PPA Kabupaten Malang muncul komentar bahwa putusan tersebut sungguh mengusik rasa keadilan. tetapi hukuman yang dijatuhkan gletek saja dalam hitungan bulan. tidak sepadan dengan proses pemberkasan yang memerlukan kerja keras menyiapkan perlengkapan yang terdiri dari 25 s/d 30 an surat-surat. Dari penyelesaian kasus yang masuk kategori P21 dan diproses di Pengadilan Negeri memperoleh putusan yang bervariasi. kendala yang dihadapi adalah saksi KDRT biasanya 1orang sedangkan di KUHP. Sedangkan kasus dalam berbagai bentuk kekerasan fisik hanya diputus hukuman dalam hitungan bulan saja. tuntutan hukuman 4 bulan s/d 1 tahun 6 bulan. pemeriksaan mengikuti ketentuan hukum secara pidana yang berlaku. kasus yang dijatuhi hukuman dalam hitungan tahun adalah kasus perkosaan. Ketentuan lain (1) Penyidikan. dan akhirnya kasus-kasus tersebut diputus hukuman terendah 3 bulan 13 hari dan tertinggi hanya satu kasus diputus hukuman 1 tahun 6 bulan sebagaimana tuntutannya. penuntutan. Ada 1 kasus dengan modus perkosaan dituntut 5 tahun yang kemudian diputus 3 tahun 6 bulan. Menurut UU PKDRT tindak pidana KDRT adalah delik aduan.

termasuk perlunya membangun Musolla yang lebih layak. merasa dihina. kurangnya peran serta masyarakat dan lembaga yang terkait. kesejangan generasibahkan anonimitas dlam masyarakat perkotaan. serta kurangnya sarana dan prasarana du unit PPA. Apakah seorang saksi korban cukup untuk menyatakan bersalah jika disertai bukti lain. sebagai kasus kriminal sangat disayangkan jika ditangani berdasarkan delik aduan. jadi jaksa minta saksi lagi. Untuk kasus penganiayaan berat. 4/9/08). KUHAP seperti sebelum ada UU PKDRT. lingkungan social. dan memadai. Sementara faktor internal bisa amarah. Faktor penghambat utama bagi Pengadilan Agama (PA) dalam optimalisasi kinerja/implementasi UU PKDRT adalah status . rasa tidak suka. Hanya saja kantor PA Kota Malang merupakan bangunan yang sudah lama. (2) UU PKDRT berlaku sejak 22 September 2004. Dalam hal ini pihak unit PPA menyayangkan terjadinya kasus penganiayaan berat yang layak diproes di Pengadilan Negeri. maka semakin kuat saja dorongan untuk munculnya tindak kekerasan. sarana. penanganan kasus secara pidana merujuk KUHP. Kepala PA yang baru merasa sudah saatnya kantor PA Kota Malang direnovasi. kemiskinan. Belum. Kekerasan adalah wujud perilaku agresif yang pemicunya bisa bersifat eksternal maupun internal. dibangun ruang tambahan yang lebih luas untuk kepentingan peningkatan kinerja. Muncul wacana yang menyatakan bahwa delik aduan pada UU PKDRT pantas direvisi (Wawancara staf Pengadilan Negeri. Berbagai penyebab munculnya kasus KDRT di lembaga lokasi penelitian tersebut sejalan dengan analisis KDRT sebagai fenomena sosiologis dan psikologis. peralatan dan ketenagaan yang memadai. diancam. atau frustasi karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dsb (Rahayu. Faktor eksternal seperti kondisi geografis. BAHASAN Faktor Pendukung dan Penghambat Pengadilan Agama Kota maupun Kabupaten Malang memiliki gedung.jika ada 2 saksi. jika tersangka tidak mengaku maka diperlukan saksi ke-2. tapi dicabut oleh fihak pelapor. 2002) Ada saatnya penyebab perilaku yang bersifat internal dengan eksternal bergabung.

Dalam proses kepenasehatan BP-4 melibatkan para volunteer yang terdiri dari ulama. tidak ada sosialisasi tentang UU PKDRT ke aparat PA karena rujukan kerja mereka bukan itu. konselor atau BP. Faktor Pendukung di BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah tersedianya kantor yang memadai. tidak sampai ke putusan pidana. Kasus pada umumnya disebabkan faktor utama ekonomi dan perbedaan latar . ketenagaan dan peralatan kantor termasuk computer yang siap digunakan. 26/9/08) namun belum ada persiapan kelembagaan maupun ketenagaan dan perangkat hukum pidana dalam keluarga. Tetapi BP-4 Kabupaten khusus melayani PNS yang sudah diberi pengatar oleh Badan Pengawas Pemerintah Daerah. ruang pimpinan dan staf administrasi.kelembagaan sebagai lembaga pengadilan perdata. klien tampaknya lebih senang konsultasi langsung di ruang ketua BP-4 (wawancara staf BP-4 Depag 22/7/08). (wawancara Pansek PA/16/9/08). Oleh karena itu aparat PA kurang termotivasi untuk mempelajari UU PKDRT. Sepanjang informasi yang diperoleh peneliti. bahkan ketua BP-4 bersedia melakukan konsultasi di ruang kerja. Secara kelembagaan di PA sudah mulai muncul wacana di tingkat pusat untuk memfungsikan PA tidak hanya sebagai pengadilan perdata tetapi juga sebagai pengadilan pidana di masa mendatang (wawancara Ketua PA. mubaligh. ada ruang khusus untuk kepenasehatan. sehingga sulit diarahkan ke rujuk atau damai. tidak hanya soal kelembagaan dan pemahaman aparat terhadap undangundang tetapi juga perlunya budaya peradilan yang berperspektif perempuan dan sensitive gender (Irianto & Nurcahyo. kasus sudah berat sehingga tujuannya ke perceraian. Layanan kepenasehatan dilakukan setiap hari pada jam kerja Senin sampai Jumat jam 08. 2006).00 sampai dengan 15. tetapi ruang konseling jarang digunakan. psikolog. hasil observasi peneliti juga menunjukkan bahwa Ketua BP-4 dan staf cukup welcome terhadap klien. Faktor Penghambat kinerja BP-4 Departemen Agama Kota maupun Kabupaten Malang adalah klien yang datang pada umumnya sudah parah kasusnya. Kasus yang dibawa ke BP-4 Kota berasal dari masyarakat umum baik PNS atau non PNS. Penyelesaian kasuskasus yang ditangani hanya diputus cerai atau damai. Oleh karena itu masih perlu jalan panjang jika bangsa ini memerlukan PA untuk ikut serta menerapkan UU PKDRT.00. Penanganan kasus sudah dilakukan dengan baik. psikiater.

BP-4 lebih tepat berperan sebagai jalur sosialisasi keberadaan UU PKDRT kepada klien yang datang konsultasi. diperlukan juga tenaga ahli untuk kasuskasus khusus. Sosialisasi UU KDRT secara insidental dilakukan oleh Kepala Unit PPA Polres Kota maupun Kabupaten Malang lembaga. Kanit PPA Kabupaten merasakan perlunya sosialisasi UU PKDRT di tingkat aparat desa seperti lurah dan jajaran aparat desa. Dalam implementasi UU PKDRT. Jika ada kasus di daerah mereka. Unit PPA Kabupaten Malang lebih beruntung karena didukung oleh PPT (Pusat Pelayanan Terpadu) di RS Kanjuruhan.belakang keluarga selanjutnya terkait dengan penyebab lainnya seperti kekerasan psikis. sejumlah 8 orang staf dan 1 orang ketua unit. Sekolah-Sekolah. karena merkalah ujung tombak yang mengawal implementasi UU PKDRT. Dalam Faktor penghambat kinerja Unit PPA. Mereka memperoleh kesempatan refreshing/professional workshop secara bergilir 2 kali setahun. Disamping itu unit PPA juga didukung oleh tenaga professional dan berdedikasi terhadap tugasnya. PJ TKI dsb. semua staf yang berjenis kelamin perempuan bekerja dengan berbagai pakaian seragam non kedinasan sehingga penampilan ramah dan segar tidak menakutkan klien. ataupun edukasi kepada muda-mudi calon pengantin sebagai upaya preventif agar mereka tidak terjerumus menjadi pelaku/korban KDRT. Faktor pendukung di unit PPA Kepolisian Resor Kota maupun Kabupaten Malang adalah adanya kantor unit tersendiri walaupun tidak luas tetapi cukup fungsional untuk menjalankan aktifitas unit PPA. Belum ada shelter atau tempat penampungan sementara untuk korban yang menunggu kasus disidik atau diselesaikan dan korban belum berani pulang ke rumah. Komunitas Anak Jalanan. BP-4 secara rutin menyelenggarakan ―Suscatin‖ kepanjangan dari kursus calon pengantin. Penampilan para petugas di Unit PPA juga berbeda dari polisi pada umumnya. rumah inap korban KDRT. sementara PPA Kota yang mengirim korban ke RSSA masih banyak kendala karena belum terbentuk PPT (Pusat Pelajanan Terpadu) disitu. mempunyai desa binaan sebagai desa keluarga sakinah. mereka . diperlukan semacam rumah singgah. fisik dan seksual. ruang kepenasehatan kurang digunakan langsung kemeja kerja ketua. komunitas yang memerlukan: Panti Asuhan. Kerja sama dengan instansi terkait untuk membantu menangani kasus secara terpadu sangat diperlukan.

penyelesaian berlandaskan hukum perdata dengan putusan cerai dan hanya sebagian kecil saja dengan putusan damai/rujuk. tetapi substansi UU PKDRT baik aparat maupun msayarakat di tingkat grass roots tidak tahu. Sementara kekerasan psikis dan ekonomi sering dianggap bukan kekerasan. yang paling dominan faktor kekerasan fisik dan ekonomi yang kemudian memicu faktor lainnya penanganan bersifat konseling masih sangat ditonjolkan ditambah dengan penyadaran hukum dengan penahanan dan hukuman kepada tersangka jika tidak mengubah perilakunya. Di Badan Penasehatan.mestinya tahu bagaimana mengurusnya dan kemana melaporkannya. . Faktor penyebab bersifat psikis dan ekonomi paling dominan. kekerasan apa saja yang diancam hukuman pada umumnya mereka mengira hanya kekerasan fisik yang korbannya babak belur. Lembaga ini menangani kasus KDRT yang sangat bervariasi faktor penyebabnya. namun ditangani secara perdata. hampir semua kasus yang masuk jumlahnya mencapai ratusan sampai ribuan setiap tahun ada unsur KDRT. Oleh karena itu yang paling dominan dilaporkan ke unit PPA adalah kekerasan fisik. Istilah KDRT memang sudah mulai populer di masyarakat terutama lewat TV. Di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kota dan Kabupaten Malang adalah lembaga andalan dalam kinerja/ implementtasi UU PKDRT. penanganan bersifat konseling psikologis dengan pendekatan agama. 2. penyelesaian damai banyak terjadi dan jika tidak bisa berdamai lagi diberi pengantar untuk di proses di Pengadilan Agama 3. Di Pengadilan Agama baik Kota maupun Kabupaten. Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departemen Agama Kota maupun Kabupaten. kasus yang masuk cukup bervariasi dari segi factor penyebabnya. kalau ada kekerasan ekonomi dilaporkan adalah juga karena disertai kekerasan fisik. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Setiap client diberi kesempatan konsultasi 3 kali. atau kekerasan seksual.

Sedangkan Polreskab pernah juga mengadakan penyuluhan incidental ke kecamatan. Dalam hal sosialisasi kepada aparat. Saran 1. Faktor penghambat yang dirasakan oleh unit PPA adalah belum ada perhatian dari dinas instansi terkait seperti Biro Pemberdayaan Perempuan. Ada beberapa kasus dimana tersangka menghilang dan masuk DPO (Daftar Pencarian Orang/buron). Oleh karena itu perlu disertai dengan pemembangunan sistem. ruang konseling masih campur dengan ruang tamu.4. Keberadaan UU PKDRT adalah merupakan faktor pendukung paling awal untuk menangani kasus-kasus KDRT. 9 orang tenaga/aparat termasuk kepala unit PPA adalah orang-orang professional dan berdedikasi dalam bidangnya. 7. atau dicabut kemudian memproses perceraian. Belum ada unit palayanan terpadu dan shelter. Namun hukuman yang dijatuhkan dengan berdasarkan KUHP dianggap terlalu ringan dan kurang menimbulkan efek jera pada pelaku. Ada beberapa kasus yang masuk kategori P21 yang diberkas untuk dilimpahkan ke kejaksaan dan Pengadilan Negeri dan tersangka benar-benar dijatuhi hukuman. lembaga dan penyiapkan suamber daya manusia sebagai pelaksananya. 6. Ada kasus berat yang bisa masuk kasus criminal tetapi dicabut oleh pihak pelapor. bantuan ahli untuk kasus-kasus khusus. kelurahan dan sekolah-sekolah namun masih sangat jarang. mengusik rasa keadilan. Dinas Sosial Pemkot dan Pemkab Malang. Kehadiran peraturan maupun perundang-undangan adalah merupakan upaya mengubah kehidupan masyarakat/sosial engeenering ke arah kehidupan yang lebih baik. 8. fihak Polres Kota pernah sosialisasi UU PKDRT kepada kepolisian Arhanud dan Brimob. mereka secara bergilir memperoleh penyegaran 2 X setahun untuk peningkatan profesionalismenya. . Di unit PPA banyak kasus yang kemudian dicabut/berdamai. terbentur keterbatasan dana dan belum adanya strategi/paket untuk sosialisasi/penyuluhan khusus tentang UU PKDRT. untuk kasus seperti ini delik aduan di UU PKDRT dirasa tidak pas digunakan. 5.

LSM yang memperhatikan kasus kekerasan dan Rumah Sakit agar ada kerja sama. dengan hukuman yang memiliki kekuatan melindungi korban dan membuat jera pelaku. 4. Peran BP-4 juga sangat strategis sebagai lembaga kepenasehatan/ konseling perkawinan yang langsung didatangi masyarakat dari berbagai lapisan. menghayati pesan UU PKDRT dan prosedur pelaporan kasus ke aparat penegak hukum. 5. siswa/remaja. Mereka harus faham substansi pokok. Perlu ada upaya peningkatan peran kelembagaan PA supaya tidak berhenti pada proses perdata. Mahkamah Agung perlu juga memikirkan proses sosialisasi ke aparat penegak hukum seperti tidak hanya Polisi tapi juga Jaksa dan Hakim sehingga mereka memahami ruh UU PKDRT dan bisa melaksanakan pengadilan berkeadilan gender. Dalam kinerja/implementasi UU PKDRT. Pihak Kepolisian yang merupakan pelaksana UU PKDRT utama perlu memperoleh perhatian dan dukungan dari berbagai fihak terkait seperti Biro PP Pemda.2. Mereka adalah jujukan korban untuk mengadu jika terjadi kasus di wilayahnya. Jika ada kasus yang pantas masuk ke ranah pidana maka dimungkinkan adanya jalur untuk melanjutkan kasus tersebut ke pengadilan pidana. 3. Lembaga ini bisa menjadi salah satu jalur sosialisasi UU PKDRT kepada masyarakat. Ide tentang perlunya membangun sistim pengadilan pidana terpadu layak memperoleh perhatian. . Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan perlu ikut serta mendorong kinerja/implementasi dengan mengembangkan strategi/paket sosialisasi UU PKDRT untuk Aparat di tingkat Grass Roots dengan prioritas para lurah dan staf di tingkat desa yang merupakan ujung tombak pengawal aturan. 6. tersedia PPT(Pusat Pelayanan Terpadu) dan shelter bagi korban KDRT. Demikian juga diperlukan strategi/paket edukasi untuk berbagai kelompok masyarakat seperti guru. DinasSosial.

Harian Kompas. Y. Yvonna S. Denzin. Fakih. Kisah Perjalanan Panjang Konvensi Wanita. Becoming Qualitatif Researcher. Hartiningsih. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. Jakarta: Kantor Menteri Negara pemberdayaan Perempuan. Irianto. Sulistyowati & Luhulima. Jakarta: Rajagrafirndo Persada. Kekerasan dalam perspektif Pesantren. London: London Publication. New York: Longman Publishing Group. 2003. 2004. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hal. & Lincoln. Mansour. Hoesien. Jaminan Keadilan Melalui Sistim Peradilan Pidana Terpadu. 2000. White Plains. Memadu Metode Penelitian Kualitatf dan Kuantitatif. Sage Publication. John W. Jakarta: Gramedia. Selasa. Abdul Aziz. . Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Kekerasan Terhadap Perempuan. 20 Maret. Branen. Studi Kasus. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2001. Creswell. William N. Bria. 2004. 35. Sulistyowati & Nurtjahyo. Bulletin Psikologi tahun X Nomor 2 Desember 2002. 1997. Research Design. 2000. Perempuan di Persidangan. 1992. Lidwina Inge. Yin. Julia. Handbook of Qualttatif Research. Kekerasan Gender dalam pembangunan. Glesne & Peskhin. Desain dan Metode.DAFTAR RUJUKAN Astuti. Denpasar: Yayasan Pustaka Nusantara. Noerman K. Himpunan Yurisprudensi Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.1994. Kekerasan terhadap Perempuan dan Bagaimana Menyikapinya. Achie S. Benyamin. Katjasungkana. Irianto. Maria. Dunn. Edisi kedua. Soka Handinah.Yogyakarta. Kemandirian dan Kekerasan Terhadap Isteri. Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi. Pelatihan Dasar Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. 1994. 2003. 2002. Pustaka Pelajar. 2007. Califomia. Robert K. Puji. Qualitatif & Quantitatif Approach.

A Practical Introduction. 2004. Lengerman. Jakarta. 2007. Bandung: Remaja Rosda Karya. Iin Tri. lexi. Makalah seminar di Dharma Wanita Kabupaten Gresik. Metode Penelitian Kualitatf Yogyakarta: Rake Sarasin. Rencana Induk P embangunan Nasional Pemberdayaan P erempuan 2000-2004. New York Harcourt B. 2004. Volume 1/no 2/ Juli 2004. AM. Jill Niebruge. Seccombe. 2004. Abdulkadir. Zuhriah. Pratt. Moleong. Teori Feminis Modern. Dalam Teori Sosiologi Modern.Katjasungkana.. MB & Hubberman. Jakarta. hal 167--175. Families & Intimate Relationships. 1990. Jakarta: Kencana Prenada media Group. Boston: Pearson Education. Hukum dan Penelitian Hukum. 2000. CM. Douglas J. Kita Bisa Mendampingi Korban Kekerasan. Prenada Media Group. Soka Handinah. Muhajir. Volume 1/no 2/ Juli 2004. George & Goodman. 2004.1984 . 2004.2004. Kekerasan dalam Rumah Tangga. 2004. Qualitatif Data Analysis. Siti Malikhah. Miles. Erfaniah. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatf. Jurnal Psiko-Islamika. Marriages. Sinar Grafika. Swabaya: Biro Pemberdayaan Perempuan Sekretarian Daerah Propinsi Jawa Timur. Noeng. hal 177--187. California: Sage Publication Inc. K & Warner RL. Kekerasan dan Agresifitas. Teori Sosiologi Modern. Towaf. BK &Sawyer SC & Wahlstrom. Bandung: Citra Aditya Bakti. . Surabaya: Samitra Abhaya-Kelompok Perempuan Pro Demokrasi Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. 1980. Muhammad. Curriculum Design and Developnrent. Rahayu. Relationship in Social Context. Pemerintah Republik Indonesia. Undang-undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Marriage and Families. California: Wadsworth/Thomson Learning.J. Patricia Madoo & Brantley. David. 1996. Jurnal PsikoIslamika. 2006. Ritzer. Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Adalah Tugas Kita Semua. Williams.

dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7) penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau bidang tertentu. menguji hipotesis. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif.Implementasi Corporate Social Responbility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Studi Kasus pada PLN Kota Malang) Puji Handayati Tri Laksiani Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. Berdaasarkan jenis data dan analisis yang digunakan. PLN (Persero) dalam mengatasi masalah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan (2) Untuk mengetahui bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang dapat mengatasi konflik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. Kata-kata kunci: saluran udara ekstra tinggi (SUTET). PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan. PLN Puji Handayati adalah dosen Jurusan Manajemen dan Tri Laksiani adalah dosen Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang . PT. Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan. Penulisan ini berusaha menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

Pembangunan ekonomi yang tumbuh dengan cepat menuntut PT. Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa orang yang tinggal dibawah tegangan tinggi bisa terkena kanker otak dan berkaitan dengan penurunan gairah seksual. penelitian yang dilakukan oleh Nancy Wertheimer dan Ed Leeper (1979) membuktikan bahwa anak-anak di denver. (www. Selain itu juga dapat menimbulkan penyakit tumor susunan saraf jika masyarakat tinggal di dekat jaringan tinggi tersebut. Inggris mendukung pendapat. Selain itu. listrik merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Aliran tegangan tinggi sangat berbahaya bagi masyarakat.edu. Sejak penelitian di Denver ini para peneliti lainnya mulai tertarik. Namun listrik juga dapat menimbulkan masalah jika dalam penggunaannya tidak tepat. seperti Swedia. Kanada. pemerintahan dan masyarakat luas. Inggris. kemudian mentransformasikan sel-sel tubuh yang ditempati menjadi sel kanker (www. bahkan mengakibatkan kematian bagi orang yang menyentuhnya secara langsung. Diakses tanggal 6 Februari 2006) . Diakses pada 6 Februari 2006) Demikian pula dalam studi tahun 1996 yang dilakukan tim fisikawan Universitas Bristol. Sebagian partikel luruhan bersifat karsinogenik dan oleh medan listrik dikonsentrasikan pada bagian tubuh tertentu. perdagangan. Denmark. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. PLN (Perusahaan Listrik Negara) Persero untuk menyediakan tenaga listrik dalam berbagai kebutuhan industri. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan. Bahkan ilmuwan dari ITB juga mengungkapkan medan listrik dapat menimbulkan stres.hamline. bahwa gelombang elektromagnetik dari listrik tegangan tinggi dapat menimbulkan kanker. Hal ini karena kabel bertegangan tinggi bisa menarik partikel gas radon yang tidak berbau dan tidak berwarna di sekitarnya yang kemudian meluruhkannya. Colorado mengalami kemungkinan terserang penyakit leukimia dua atau tiga kali dibandingkan orang dewasa. termasuk peneliti di luar AS. Berbagai penelitian membuktikan adanya hubungan antara listrik tegangan tinggi dengan penyakti kanker dan leukimia pada anakanak bjkan orang dewasa. ekonomi.hamline.edu. Perancis. Pernyataan ini didukung oleh berbagai penelitian antara lain. Finlandia.

Hasil penemuan Anies menyimpulkan bahwa ketiga gejala tersebut dapat dialami sekaligus oleh seseorang. Tahun 1973. Dr. M.Kes. operator radio dan telegraf. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome). pada penduduk di bawah saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV di Kab. ditemukakan adanya risiko kanker pada 463 kasus pekerja gardu listrik dan 263 kasus pada pekerja pemasangan kabel transmisi.republika. berhasil membedakan kelompok penduduk yang beresiko terpapar dan tidak terpapar berdasarkan jarak tempat tinggal dengan jarak listrik terpasang. distribusi listrik tegangan tinggi. Anies. dalam penelitian yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto. (www. Sebuah riset di Washington AS tahun 1950-1982 melaporkan adanya kematian 486 ribu pekerja teknisi listrik. PKK.Di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa selama lima dasawarsa terakhir melaporkan adanya beberapa gangguan kesehatan akibat paparan medan elektromagnetik dan medan magnet secara terusmenerus dalam jangka panjang. Kab. Sementara di Swedia. Baik melalui transmisi. Penelitian lain di Inggris dan New South Wales pada 1970-1972 mencatat kematian para pekerja operator telegram dan ahli teknik yang disebabkan oleh leukimia mieloid akut. Untung. pening (dizzines). Diakses 7 Februari 2006) Berdasarkan hasil penelitian Dr. menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. Pada awal tahun 1980-an dari Selandia Baru dilaporkan ada 546 kasus leukimia pada para perakit alat-alat listrik serta pekerja yang memperbaiki radio dan televisi. dan Kab. Gangguan kesehatan itu terutama menyerang anak-anak antara lain leukimia (kanker darah). Pekalongan.com diakses pada 26 Desember) . Pemalang. pekerja di peleburan alumunium.com. yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache).pikiranrakyat. peneliti dari Depkes RI di SUTET Cibinong dan Bekasi. atau peralatan bertenagalistrik. sehingga penemuan baru ini diwacanakan sebagai Trias Aniesa (www. dan operator proyektor bioskop meninggal akibat leukimiaa dan limfoma non Hodgkins. ditemukan angka risiko leukimia pada pekerja kelistrikan meningkatkan dua kali lipat. Menurut Prof. Hasilnya. Tegal (2004). radius 500 meter diperkirakan masih memiliki risiko terpapar.

menyebutkan bahwa penelitian sosiologi yang dilakukan oleh Kasnodiharjo dan Soesanto (1995) serta Ganihartono (1995). dan (7) hipersensitivitas. telinga berdenging.republika. rasa mual dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya. dr. (3) syaraf. Oentoeng Soeradi. kejang otot. berhasil menemukan bahwa medan elektomagnetik yang ditimbulkan dari saluran kabel dan gardu listrik tegangan tinggi dan alat-alat listrik di rumah bisa berisiko terhadap kesehatan manusia. menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara keterpaparan penduduk yang ada di sekitar maupun yang berada di bawah jaringan . Diakses pada 6 Februari 2006) Tetapi dalam bebarapa penelitian lain mengungkapkan bahwa radiasi elektromagnetik tidak mempunyai korelasi dengan kesehatan. perlu dilakukan penyuluhan yang efektif kepada masyarakat umum. serta gangguan kejiwaan berupa depresi. Bergdahl dan Grant. Jawa Barat. Prof. SUTET tidak akan menimbulkan masalah kesehatan. (www.com. Hal ini didukung dengan berbagai penelitian antara lain penelitian yang dilakukan oleh Dr. tanda dan gejala lain yang dapat dijumpai adalah jantung berdebar-debar. muka terbakar. kebingungan. berhasil membuktikan korelasi antara listrik dan beberapa penyakit. Anies Universitas Diponegoro (1993). berusaha melihat keadaan hubungan sosial ekonomi dan gangguan SUTET yang dikeluhkan seperti yang diberitakan di media massa. (6) psikologis.(www.Menurut WHO. Namun kekhawatiran masyarakat merupakan hal yang wajar dan sebagai upaya untuk mengurangi dampak negatif SUTET terhadap kesehatan masyarakat. Berdasarkan Diktat Diklat yang dikarang oleh kumpulan pengajar Jasdik PLN Pusat tahun 2004. potensi gangguan kesehatan yang timbul akibat SUTET 500 kV. yaitu kasus yang terjadi di daerah Cibinong dan Bekasi. Menurut Rea. (5) endokrin. kulit meruam. Ini timbul akibat rusak atau kacaunya kerja jaringan endokrin (hormonal) tubuh karena adanya aliran listrik tersebut. gangguan tidur. (4) kardiovaskuler.pikiranrakyat. Tim yang diketuai oleh Guru Besar Bidang Biologi Reproduksi FKUI. dapat terjadi pada sistem: (1) darah. dari hasil pengukuran ternyata kuat medan listrik dan kuat medan magnet dari SUTET masih jauh di bawah ambang batas rekomendasi WHO/IRPA sehingga dalam batas tertentu. gangguan konsentrasi. Dr.com diakses pada 26 Desember) Sebuah riset dilakukan selama 10 tahun terakhir oleh Tim Bagian Biologi FKUI. (2) reproduksi.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ir. indikasi tumor dan leukimia terhadap pajanan medan listrik dan medan magnet. keguguran. David C. Karena setiap tindakan yang diambil korporasi membawa dampak yang nyata terhadap kualitas kehidupan manusia baik terhadap individu. Korten. Syarifudin Mahmudsyah M.id. Msc.Eng dari Fakultas Elektro ITS mengenai dampak medan elektromagnetik akibat pemakaian tenaga listrik SUTET 500 kV di daerah Singosari. tindakan yang dilakukan harus mengacu dalam rangka keeangka tanggungjawab tersebut. Diakses pada 26 Desember 2006) Dari fenomena inilah muncul tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). masyarakat menginginkan produk-produk yang ramah lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial dan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM). (www. melukiskan bahwa dunia bisnis selama setengah abad terakhir telah menjadi institusi paling berkuasa. Balitbang Depkes RI (1995-1996).SUTET dengan penyakit yang dilaporkan atau tingkat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu muncul pula kesadaran untuk mengurangi dampak negatif tersebut.swa. menunjukkan tidak ada korelasi antara gangguan kesehatan seperti sakit kepala. susah tidur. CSR muncul akibat tekanan . memunculkan pertanyaan mengenai tanggungjawab perusahaan atas lingkungan dan masyarakat sekitar. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Budi Haryanto SKM. kelelahan. tachycardia. Masalah yang dihadapi penduduk lebih mengaraah kepada masalah psikologis dan tuntutan mendapatkan ganti rugi. sehingga harus memperhatikan tanggungjawab untuk kepentingan bersama. Dr. Setiap keputusan yang akan diambil. masyarakat. Hal ini menimbulkan kesadaran tentang pentingnya menerapkan tanggungjawab sosial terhadap stakeholder. dan seluruh kehidupan. Di sini terbukti sebuah korporasi atau perusahaan mempunyai tanggungjawab sosial terhadap stakeholder dan lingkungannya. Gresik serta Dharmahusada Indah Surabaya. bradycardia. diperoleh data bahwa kuat medan listrik dan kuat medan magnet masih jauh di bawah level toleransi berdasarkan standar IRPA dan INRC. (Jasdik PLN Pusat: 2004) Melihat adanya dampak dari aktivitas produksi perusahaan (corporation) yang besar pada masyarakat. Selain itu. pusing.co.

Menurut versi Bank Dunia dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember11 Januari 2006 definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives. Pada dasarnya PT. Definisi Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai sebuah konsep. yaitu: perlindungan lingkungan. pengembangan ekonomi dan badan usaha. komunitas lokal dan masyarakat luas untuk memperbaiki kualitas hidup. sekaligus meningkatkan kualitas hidup karyawannya. kepemimpinan dan pendidikan. Menurut World Council for Sustainable Development definisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen berkelanjutan dari bisnis untuk berperilaku dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi. serta masyarakat lokal ataupun masyarakat luas. jaminan kerja. Menurut Bank Dunia. Pemikiran ini didasarkan bahwa perusahaan tidak hanya berkewajiban ekonomis dan legal . 1. pasar. standart usaha. tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama. the local community and society at large to improve quality of life.dan desakan berbagai organisasi semacam LSM karena terjadinya malpraktik di dunia bisnis. perwakilan mereka. in ways that are both good for business and good for development‖. perlindungan kesehatan. dimana keduanya baik untuk bisnis maupun pengembangan. namun dalam perkembangannya masih juga terdapat konflik seperti yang telah dipaparkan di atas. CSR adalah komitmen bisnis sebagai kontribusi untuk keberlanjutan perkembangan ekonomi yang bekerja sama dengan pekerja. Corporate Social Responsibility (CSR) mempunyai definisi dalam beberapa versi karena implementasi yang dilakukan oleh perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya berbeda-beda. interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat. melainkan juga tanggungjawab sosial dan lingkungan.PLN (Persero) sudah menerapkan CSR. Gagasan CSR menekankan bahwa tanggungjawab perusahaan bukan lagi sekadar kegiatan ekonomi (menciptakan profit demi kelangsungan usaha). hak asasi manusia. bantuan bencana kemanusiaan.

id. sejauh ini definisi yang banyak digunakan adalah pemikiran Elkington tentang triple bottom line. co. Sedangkan menurut versi Uni Eropa Corporate Social Responsibility (CSR) adalah: ―CSR is concept whereby companies intregate social and environmental concerns in their business operations and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basis‖ CSR merupakann konsep di mana perusahaan mengintegrasikan masyarakat dan lingkungan dalam kegiatan bisnis dan interaksi mereka. beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi. maka CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk bertindak etis. bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup karyawan. Menurut Elkington (1997) dalam SWA edisi 26/XX/19 Desember – 11 Januari 2006.fajaronline.id Diakses pada 29 Januari 2006). dengan para stakeholder dengan dasar sukarela.fajaronline.co. CSR adalah pengambilan keputusan yang dikaitkan dengan nilai-nilai etika. yang jangkauannya melebihi kewajiban di atas. tapi juga pada pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). memenuhi kaidah-kaidah dan keputusan hukum dan menghargai manusia.(shareholders). lingkungan dan sosial. (www. yang kemudian diilustrasikan dalam bentuk segitiga. masyarakat danlingkungan. CSR adalah adanya segitiga dalam kehidupan stakeholders yang mesti diperhatikan korporasi di tengah usahanya mencari keuntungan. Trinidad and Tobacco Bureau of Standard (TTBS) menyimpulkan bahwa CSR terkait dengan nilai dan standar yang dilakukan berkenaan dengan beroperasinya sebuah korporat. Dan menurut Tony Djogo (2005). Diakses pada 29 Januari 2006). komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas (www. yaitu ekonomi. . Dari berbagai definisi di atas.

model CSR membagi kewajiban perusahaan menjadi empat jenis tanggungjawab atau yang dikenal dengan model empat sisi. Selain kewajiban ekonomis dan legal. dan (5) mempunyai nilai keuntungan (www. dan pemerintah). menyetujui adanya perubahan pembangunan. atas kemampuan perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. baik lokal. (1) ketersediaan dana.fajaronline. Ada lima elemen sehingga konsep keberlanjutan menjadi penting. nasional. dan sebagainya). legal. Menurut Chrysanti Hasibuan Sedyono (2004). komunitas dan stakeholders yang terkait. Hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Jeneiro Brazilia (1992). artinya memperoleh laba bagi pemegang sahamnya. ada kewajiban-kewajiban lain terhadap . dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholders yang difasilitasi perusahaan tersebut dan menyusun program-program pengembangan masyarakat yang ada di sekitarnya. korporat. dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai Kebijakan Perusahaan Keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri di sebuah kawasan.Gambar 1 Segitiga Dalam Kehidupan Stakeholders Social Lingkungan Ekonomi Sumber: Majalah SWA Edisi 29/XXI/19 Desember 2005 – 11 Januari 2006 2. (4) terimplementasi dalam kebijakan (masyarakat. (2) misi lingkungan. mematuhi peraturan dan hukum (berhubungan dengan lingkungan. Diakses pada 25 Januari 2006). di antaranya adalah. com. maupun global. yaitu adanya empat tanggungjawab perusahaan yang bersifat ekonomis. (3) tanggung jawab sosial.

yaitu ethical dimana perusahaan harus memnuhi kaidah-kaidah normatif. yaitu tanggung jawab yang sebenarnya tidak harus dilakukan. tetapi dengan terpaksa.stakeholders di luar pemegang saham. tetapi atas kemauan sendiri misalnya pemberian beasiswaa. Pengusaha ini menempatkan CSR sebagai nilai inti dan menganggap sebagai suatu . dan tidak korupsi. bukan biaya. Seperti berlaku fair. dan menilai CSR sebagai investasi. yaitu pengusaha yang menjalankan bisnis hanya untuk kepentingan sendiri. seperti masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat. termasuk kesejahteraan karyawan. Kelompok ini sama sekali tidak peduli pada aspek lingkungan dan sosial di sekelilingnya dalam menjalankan usaha. kemudian dengan terpaksa memperhatikan isu lingkungan dan sosial. transparan. tetapi memandangnya hanya sebagai komponen biaya yang akan mengurangi keuntungan. Oleh karena itu. Kelompok keempat. kelompok ini secara sukarela dan sungguh-sungguh melaksanakan praktik CSR dan yakin investasi sosial ini akan memperlancar operasional usaha. Aspek lingkungan dan sosial mulai dipertimbangkan. merupakan kelompok yang sungguh-sungguh dan sukarela melaksanakan praktik CSR. CSR jenis ini kurang berdampak pada pembentukan image positif perusahaan karena masyarakat melihat kelompok ini memerlukan tekanan sebelum melakukan praktik CSR. Kelompok merah adalah pengusaha yang mulai melaksanakan praktik CSR. Perusahaan akan mendapatkan image positif karena masyarakat menilai pengusaha tersebut membantu dengan sungguh-sungguh. Kelompok hitam adalah pengusaha yang tidak melakukan praktik CSR sama sekali. kelompok ini menganggap praktik CSR sebagai investasi sosial jangka panjang. biru dan hijau. Seperti halnya investasi. Kelompok ini umumnya berasal dari kelompok satu (kelompok hitam) yang mendapat tekanan dari stakeholders-nya. dan biasanya dilakukan setelah mendapat tekanan dari pihak lain. menurut Rudi Fajar (2005) pengusaha dapat dikelompokkan menjadi empat. kelompok hijau. Kelompok ketiga adalah pengusaha yang menganggap praktik CSR akan memberi dampak positif (return) terhadap usahanya. Sehubungan dengan praktik CSR. tidak membeda-bedakan ras dan gender. Model tanggung jawab selanjutnya bersifat discretionary. bahkan tidak memperhatikan kesejahteraan karyawannya. diantaranya: kelompok hitam. merah.

Hamann dan Acutt (2003). pengusaha ini yakin bahwa tanpa melaksanakan CSR. (www.89% responden memasukkan unsur-unsur CSR kemudian menjadikan CSR sebagai bagian dari visi dan misi perusahaan. sosial dan kesejahteraan karyawannya serta melaksanakan prinsip transparansi dan akuntabilitas. tetapi juga kepercayaan dari masyarakat yang selalu siap mendukung keberlanjutan usaha kelompok ini. dan menjadikannya sebagai modal sosial (ekuitas). Selain menjadikan CSR sebagai visi dan misi. Oleh karena itu.com Diakses pada 29 januari 2006). nilai tambah bagi stakeholders.tempo. yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik.keharusan. yaitu kepercayaan bahwa ada nilai tukar (tradeoff) atas triple bottom line (aspek ekonomi. strategi perusahaan. Menurut Teguh S. Pambudi (2005) dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. kelompok ini tidak saja mendapatkan image positif. dari hasil survey yang dilakukan oleh majalah SWA dalam CSR Award 2005. agar perusahaan dapat terus beroperasi. Pertama. CSR dilakukan untuk memberi kesan korporasi yang peduli terhadap kepentingan sosial. perusahaan-perusahaan di Indonesia banyak yang sudah menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR). karena 80% perusahaan menganggap CSR penting bagi perusahaan. yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana. Pengusaha tersebut sangat memperhatikan aspek lingkungan. legitimasi. Kelompok ini juga memasukan CSR sebagai bagian yang terintegrasi ke dalam bisnis atas dasar kepercayaan bahwa suatu usaha harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial. tidak memiliki modal yang harus dimiliki dalam menjalankan usahanya. Kedua. lingkungan dan sosial). perusahaan juga menjadikannya sebagai strategi bisnis. Ada beberapa alasan perusahaan menjalankan CSR. bahkan kebutuhan. tumbuh dan berkembang bersam masyarakat. Realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya. yaitu sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan. implementasi nilai-nilai perusahaan serta karena alasan kewajiban. menelaah ada dua motivasi utama yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. 48. dan parsial. akomodasi. superficial. Sebagai hasilnya. Selainitu. .

Menurut Darwina (2005). Sedangkan menurut Teguh S. Protecting the environment. kelima. 3. Pandangan lain tentang CSR oleh Prince of Wales International Business Forum yang dipromosikan oleh IBL (Indonesia Business Links) dalam SWA edisi26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006 lewat pilar antara lain: a. dan ekonomi. c. dan terakhir. dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. agar perusahaan dapat terus beroperasi. implementasi nilai-nilai perusahaan. yaitu perusahaan menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan konflik. lingkungan. artinya perusahaan harus menjaga kelestarian lingkungan. Ketiga. kegiatan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat. Building Human Capital. Strengthening economies. ada beberapa cara perusahaan dalam memandang aktivitas CSR antara lain: pertama. Encouraging good governance. program-program CSR yang dijalankan perusahaan meliputi bidang sosial. Program yang Dijalankan Perusahaan dalam Corporate Social Responsibility (CSR) Menurut Teguh S. sebagai beyond compliance yaitu perusahaan merasa sebagai sebagian dari komunitas yang secara sadar dianggap sebagai sesuatu yang penting. meningkatkan citra perusahaan. Kedua. program untuk menjadikan masyarakat lebih mandiri. sebagai kewajiban dan tanggung jawab perusahaan. hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan lingkungan. e. . b. d. keenam. kedua. yaitu memberdayakan ekonomi komunitas. sebagai strategi perusahaan yang pada akhirnya dapat mendatangkan keuntungan. cara perusahaan memandang CSR ada tujuh yaitu: pertama. sebagai compliance atau kewajiban karena akan ada hukum yang memaksa untuk menerapkan konsep CSR tersebut. Assessing social cohession. Pambudi (2005). ketiga. Pambudi (2005). keempat. artinya perusahaann dijalankann dalam tata pamong yang baik. yaitu menyangkut kemampuan perusahaan untuk memiliki dukungann sumber daya manusia yang handal (internal) dab eksternal (masyarakat sekitar).

sumbangan sosial untuk bencana alam. 3--5 tahun. penanaman pohon atau penghijauan dan pertanian anorganik. Menurut Sita Soepomo (2004). Pelaksanaan proram-program CSR dapat dilakukan perusahaan dengan cara bekerja sama dengan pihak lain. kredit pembiayaan dan bantuan modal untuk pengembangan usaha. 8--10 tahun serta lebih daari 11 tahun. Stakeholders Dalam prinsip responsibility. Di sini perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholders. serta pemberdayaan dan pengembangan tenaga kerja lokal. pembangunan sarana air bersih.Program-program bidang sosial antara lain: pelayanan dan kampanye kesehatan. CSR dipraktekkan dalam tiga wilayah atau area antara lain: di tempat kerja. Di komunitas. penekanan yang signifikan diberikan pada kepentingan stakeholders perusahaan. dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. menciptakan nilai tambah (value added) dari produk. sekolah binaan serta pendidikan dan pelatihan teknologi informasi. pembangunan dan renovasi sarana sekolah. beasiswa pendidikan. yayasan milik perusahaan. antara lain dengan memberikan beasiswa dan pemberdayaan ekonomi terhadap lingkungan. Sedangkan program CSR dalam bidang lingkungan adalah pembinaan dan kampanye lingkungan hidup. pihak ketiga dan dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. Menurut Gurvy Kavei dalam SWA edisi 26/XXI/19 Desember – 11 Januari 2006. pengembangan agrobisnis. 1-2 tahun. kemitraan dalam penyediaan kebutuhan dan bahan baku produksi. 4. pengelolaan fisik agar lebih asri. Program-program CSR yang dijalankan perusahaan dalam bidang ekonomi antara lain: pemebrdayaan dan pembinaan UKM dan pengusaha. Program-program CSR ini biasanya dijalankan dalam waktu yang berbeda-beda sesuai dengan perusahaann masing-masing: kurang dari 1 tahun. stakeholders . pengelolaan limbah. 6-7 tahun. antara lain pelestarian lingkungan dan pross produksi yang ramah lingkungan. pengembangan skill karyawan dan kepemilikan saham. seperti aspek keselamatan kerja. yayasan yang bekerjasama dengan pihak ketiga.

2. Eksternal stakeholder Pihak yang berkepentingan eksternal antara lain: a) Pelanggan. dan pemerintah sebagai regulator. f) Serikat pekerja. CSR sebagai sebuah gagasan. yaitu: 1. struktur yang mengatur perusahaan publik yang memungkinkan pemegang saham untuk . bank. Sudarsono (2002).perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. masyarakat. pemasok. b) Pemegang saham dan dewan direksi. contoh: lembaga perlindungan konsumen. dengan memperhatikan dan membela hak konsumen. Di sini bottom lines selain finansial adalah soal dan lingkungan. dengan adanya faktor-faktor produksi memungkinkan dunia usaha melakukan kegiatan produksi. d) Kelompok khusus. misalnya pecinta alam yang peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan. g) Lembaga keuangan. berkenaan dengan penentuan upah kondisi kerja dan sebagainya. lingkungan yang berpengaruh langsung terhadap perusahaan adalah pihak yang berkepentingan (stakeholders) dibagi menjadi dua. c) Pemerintah. terdiri dari: a) Karyawan. pelanggan bisa perorangan maupun lembaga. lembaga sewa guna yang dapat membantu dalam pemenuhan modal. konsumen. e) Lembaga konsumen. Menurut J. yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpedoman pada single bottom line. Internal stakeholder Pihak yang berkepentingan internal atau stakeholder. menukarkan sumber daya dengan barang atau jasa yang dihasilkan oleh dunia usaha. bertindak untuk membantu dan melindungi industri dengan peraturan dan undang-undang. lingkungan sekitar. Termasuk di dalamnya adalah karyawan. b) Pemasok. dengan keterampilan dan pendidikan yang memadai akan sangat membantu dunia usaha dalam menjalankan usahanya. Tetapi tanggung jawab perusahaan harus berpedoman pada triple bottom lines. misalnya.

pengujian. pengoperasian. Sedangkan transmisi tenaga listrik adalah penyaluran tenaga listrik dari suatu pembangkitan ke suatu sistem distribusi atau kepada konsumen. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) adalah transmisi tenaga listrik yang menggunakan konduktor di udara bertegangan nominal 275 kV dan 500 kV yang selanjutnya disebut SUTET. . agen penjualan. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi. serta jasa terkait lainnya. usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang.mempengaruhi suatu perusahaan dengan menggunakan hak suara. pemasangan. transmisi. Pertama. pengelola pasar dan pengelola sistem. Gambar 2 Model Stakeholder dalam Sebuah Perusahaan Pelanggan Manajemen Komunitas Lokal Perusahaan Pemasok Karyawan Konsumen Sumber : Pengantar Ekonomi Perusahaan (2002) 5. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) didasarkan pada Pasal 8 UU No. distribusi. Industri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik Menurut Rancangan Undang-Undang Tentang Ketenagalistrikan. 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. pembangunan. dan pemeliharaan instalasi. penjualan. Kedua.

Ionisasi terjadi karena elektron sebagai partikel yang bermuatan negatif dalam gerakannya bertumbukan dengan molekul-molekul udara sehingga timbul ionisasi berupa ion-ion dan elektron baru. Konduktor adalah pilihan kawat yang dipergunakan untuk menyalurkan energi listrik. elektron yang membawa arus listrik pada jaringan tegangan tinggi akan bergerak lebih cepat bila perbedaan tegangannya makin tinggi.atau penyaluran tenaga listrik antar sistem. akan menyebabkan timbulnya medan magnet maupun medan listrik. Elektron yang membawa arus listrik pada jaringan interkoneksi dan juga pada jaringan transmisi. . Elektron bebas yang terdapat dalam udara dim sekitar jaringan tegangan tinggi. Proses ini akan terus berjalan selama ada arus pada jaringan tegangan tinggi yang mengakibatkan ion dan elektron menjadi berlipat ganda terlebih lagi bila gradien tegangannya cukup tinggi. Udara yang lembab karena adanya pohon di bawah jaringan tegangan tinggi akan lebih mempercepat terbentuknya pelipatan ion dan elektron yang disebut dengan avalanche.sehingga gerakannya akan makin cepat dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya ionisasi di udara. akan terpengaruh oleh adanya medan magnet dan medan listrik. Akibat ion yang menggandakan diri dan elektron ini (peristiwa avalanche) akan menimbulkan korona berupa percikan busur cahaya yang disertai pula dengan suara mendesis dan bau khusus yang disebut dengan bau ozone. Secara teoritis. Peristiwa avalanche dan timbulnya korona akibat adanya medan magnet dan medan listrik pada jaringan tegangan tinggi inilah yang sering disamakan dengan radiasi gelombang elektromagnet atau radiasi tegangan tinggi.

Adanya perbedaan penetapan batas aman ini disebabkan oleh penelitian mengenai dampak radiasi tegangan tinggi terhadap manusia masih belum selesai dan terus dilakukan. GigaWatt Tahun Series1 . telah menetapkan batas aman sebesar 0.2 mikro Weber/m2. Sedangkan Rusia menetapkan batas aman radiasi tegangan tinggi dengan faktor 1000 lebih rendah dari yang telah ditetapkan Amerika Serikat.Gambar 3 Grafik Perkembangan Daya Listrik Grafik 14 12 10 8 6 4 2 0 1958/69 1973/74 1978/79 1983/84 1988/89 1993/94 Amerika Serikat sebagai negara industri yang banyak menggunakan jaringan tegangan tinggi.

makin besar ayunan kawat penghantar ke kiri atau ke kanan. dan (3) Suhu kawat penghantar. penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengnai populasi atau bidang tertentu. Kenaikan suhu tersebut disebabkan oleh suhu keliling dan suhu yang diakibatkan oleh besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar. jenis penulisan ini adalah penulisan deskriptif. Sebagai contoh Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dimana saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (penghantar) di udara bertegangan di atas 245 kV sesuai dengan standart di bidang ketenagalistrikan. Ruang tersebut harus dibebaskan dari orang. kekuatan angin dan suhu di sekitar penghantar antara lain: (1)Tegangan. dimana menurut Saifudin Azwar (1998:7). Ruang aman adalah ruang yang berada di luar ruang bebas yang tanahnya masih dapat dimanfaatkan. hal ini sudah diperhitungkan pada saat mendesaian SUTET tersebut. makhluk dan benda lain tersebut demikian pula keamanann dari SUTET itu sendiri. (2) Angin. Bahaya Listrik pada Tegangan Ekstra Tinggi Bahaya listrik pada tegangan ekstra tinggi yang paling dominan adalah gradien tegangan ekstra tinggi itu sendiri terhadap makhluk hidup maupun terhadap benda-benda lain yang berada pada daerah sekitarnya. Penulisan ini berusaha . makin besar tegangan yang bekerja pada penghantar makin besar jarak bebas minimum (clearance) yaitu jarak terpendek antara kawat penghantar dan benda atau kegiatan lainnya sesuai dengan yang tertera pada table. tekanan angin dan suhu penghantar. makin besar suhu yang mempengaruhi kawat penghantar makin mengendor kawat penghantar tersebut. makin besar tekanan angin. makhluk hidup lain maupun benda apapun demi keselamatan orang. Faktor-faktor yang menentukan Ruang Bebas dan Ruang Aman adalah tegangan. sehingga andongannya menjadi lebih besar.6. METODE Berdasarkan jenis data dan analisis yang digunakan. Ruang bebas adalah ruang di sekeliling penghantar (kawat listrik) SUTET yang besarnya tergantung besarnya tegangan.

2. Dalam penulisan ini data primer diperoleh dari Kepala PLN Kota Malang. penulis menggunakan metode: 1. uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap . buku-buku dan hasil penelitian yang mendukung. berupa publikasi (Supranto. Kepala Kelurahan Purwodadi. Penulisan ini menggunakan data kualitatif. Sedangkan data sekunder atau data pendukung yaitu. Berdasarkan tujuan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. koran.1997:6). Data tersebut berupa informasi dari studi pustaka berupa majalah. Data primer yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan atau langsung melalui objeknya (Supranto. serta artikel atau tulisan yang diakses dari internet. Datadata yang dihimpun merupakan data yang berhubungan dengan berbagai hal mengenai Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan Corporate Social Responsibility (CSR). Kepala Kelurahan Purwodadi. Wawancara dilakukan dengan Kepala PLN Kota Malang. Pada metode ini peneliti hanya memindahkan data yang relevan daaari sumber informasi atau dokumen yang diperlukan. yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau pernyataan berupa data primer dan data sekunder. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. dan warga yang tinggal di sekitar SUTET di Kelurahan Purwodadi. membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. Penulisan ini dimaksud untuk mendeskripsikan mengenai penerapan CSR dalam mengatasi konflik SUTET.menggambarkan situasi dan kejadian tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Wawancara Menurut Nazir (199:234) adalah memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatap muka antara pewawancara dengan responden. 1997:6). Dokumentasi Yaitu membaca laporan penelitian-penelitian sebelumnya serta artikel yang diakses dari internet. Menurut Subagyo (1997:106) analisis kualitatif adalah analisis yang dilakukan terhadap data yang berupa informasi. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif sehingga tiddak bermaksud mencari penjelasan. data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi. menguji hipotesis. serta warga Kelurahan Purwodadi.

Tujuan pemerintah melakukan restrukturisasi sekaligus liberalisasi ketenagalistrikan dilatarbelakangi oleh adanya pemikiran bahwa penyediaan listrik nasional harus diselenggarakan secara efisien melalui transparansi dan kompetisi dalam iklim usaha yang sehat dengan cara memberikan peluang yang sama kepada para pelaku usaha ketenagalistrikan. Terbukti dengan disahkannnya UU No 20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan yang salah satu tujuannya adalah agar listrik lebih cepat menjangkau seluruh wilayah Indonesia. serta sebagai pendorong dalam berbagai kegiatan ekonomi.suatu kebenaran sehingga memperoleh gambaran baru. Listrik merupakan salah satu infrastruktur yang menjadi tumpuan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Analisis ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data dari kelompok subjek yang diteliti. . dan pagan. HASIL Gambaran Umum Perkembangan PT. Kemudian pada I Januari 1961 dikembangkan menjadi BPU Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan 28 Desember 1964 dibentuk PLN dan Perusahaan Gas Nasional (PGN). yakni sandang. dengan konsekuensi berorientasi pada profit meskipun tidak bisa lepas dan tugas negara sebagai penyedia jasa layanan listrik bagi masyarakat. Sehingga beban Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia menjadi berkurang. PLN Persero Listrik telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan primer. pangan. Sejak tahun 1945 jasa ketenagalistrikan di Indonesia ditangani oleh negara. Namun pada tahun 1992 pihak swasta mulai diperbolehkan turut serta dalam bisnis penyediaan listrik sehingga monopoli PLN dalam bisnis tersebut berkurang. Tahun 1972 PLN berstatus sebagai perusahaan umurn (Perum) dan pada Juni 1994 berubah lagi menjadi perusahaan perseroan (Persero) sampai sekarang. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang. dan pada 27 Oktober 1945 dibentuk Jawatan Listrik dan Gas.

sebagai dampak karena sudah memanfaatkan sumberdaya. PLN (Persero) didasarkan pada Pasal 8 UU No 20/2002 yang disebutkan bahwa usaha ketenagalistrikan terdiri dari dua kelompok. yaitu seluruh pihak yang berkepentingan di dalamnya. Dalam bidang ekonomi yaitu melakukan penghematan biaya operasional sehingga meringankan beban masyarakat karena tidak perlu membayar listrik dengan harga tinggi dengan meningkatkan kemampuan pembangkit-pembangkit energi terbaru yang ada. usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup jasa penunjang dan industri penunjang.Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. lingkungan dan ekonomi. Bentuk-bentuk CSR yang diterapkan oleh PT. agen penjualan. Jasa penunjang antara lain berupa konsultasi. dan program pencarian sumber-sumber pendanaan. Memberikan pinjaman dana dari koperasi. Kedua. perdagangan. Bidang sosial antara lain dengan memberikan asuransi kebakaran. Program PT. membangun pembangkit energi terbaru berdasarkan hasil-hasil studi kelayakan yang sudah ada. pemerintahan dan masyarakat luas. Pertama. Sehingga CSR diperlukan agar kegiatan operasional PLN dapat berjalan dengan baik. pengelola pasar. pemberian beasiswa bagi putra-putri karyawan dalam lingkup internal PLN dan pemberian dana tali asih. PLN (Persero) mempunyai tanggung jawab yang tidak mudah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu dalam hal penyediaan tenaga listrik di berbagai kebutuhan industri. membuat peta potensi energi terbarukan yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara komersial. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. transmisi. melakukan studi-studi kelayakan tentang aspek teknis dan ekonomis energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar minyak. Setiap kegiatan maupun program yang dijalankan oleh PLN harus mempunyai tanggung jawab kepada stakeholders. ekonomi. distribusi. penjualan. Listrik berperan besar atas kemajuan di berbagai bidang dalam kehidupan dan merupakan salah satu infrastruktur yang penting dalarn upaya meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. dan pengelola sistem. pembangunan. usaha penyediaan tenaga listrik yang meliputi pembangkitan. PLN (Persero) dalam Mengatasi Konflik SUTET PT. Dalam bidang lingkungan seperti perbaikan sarana ibadah dan sekolah. pemasangan. . PLN (Persero) selama ini meliputi bidang sosial.

Selama in] keberadaan industri ketenagalistrikan telah memberikan dampak yang positif bagi para stakeholders. DI sisi lain. Kegiatan di sektor ketenagalistrikan sangat berkaitan dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah. Untuk memenuhi penyediaan tenaga listrik agar distribusi listrik tersebut dapat met jangkau seluruh masyarakat maka diperlukan suatu interkoneksi yang disebut Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). terdapat isu beredar yang menyebutkan bahwa radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker. seperti daerah pemukiman yang tepat. .edu.hamline. pemerintah daerah maupun bagi kepentingan nasional secara keseluruhan. Dalam hal kesehatan misalnya. Sebagai contoh salah satu konflik yang ditimbulkan akibat SUTET adalah saat ini lahan yang tersedia semakin sempit akibat pesatnya perkembangan di segala bidang. juga timbul permasalahan antara lain dalam hal kesehatan maupun ekonomi. isu-isu mengenai lingkungan hidup. dan pemeliharaan instalasi. Kesadaran kolektif yang terbangun karena tinggi dan bebasnya arus infomasi selama ini telah menimbulkan berbagai permasalahan di sektor ketenagalistrikan. Begitu juga pertumbuhan penduduk yang cukup besar. Diakses pada 6 Februari 2006). Oktober 1995 menyebutkan bahwa paparan medan elektromagnetik yang sedikitpun pada tubuh manusia dapat menimbulkan gangguan dalam jangka panjang.pengujian. Selain itu juga tidak adanya sosialisasi tentang dampak negatif yang mungkin timbul di kemudian hari. (www. penurunan kekebalan tubuh. baik masyarakat lokal. juga kelainan otak dan resiko serangan jantung. leukimia. dan hak asasi manusia juga sangat berpengaruh terhadap sektor ketenagalistrikan. demokratisasi. Laporan Dewan Perlindungan Radiasi Nasional AS. Namun demikian dalam pelaksanaannya. pengoperasian. sehingga jalur yang dilalui SUTET kemungkinan tidak dapat menghindari clan terpaksa harus melewati daerah dengan keadaan tertentu. kendala dalam berbagai bentuk selalu dihadapi. lndustri penunjangnya terdiri atas industri peralatan dan industri pemanfaatan tenaga listrik. serta jasa terkait lainnya. lambatnya pertumbuhan. Di samping itu. kemandulan. Kendala dan hambatan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan terjadinya konflik terutama dengan masyarakat lokal.

Waled Kab. . Konflik akibat SUTET dalam hal ekonomi adalah banyaknva masyarakat yang menuntut ganti rugi atas tanah yang dirasakan kurang. Kecamatan Blimbing. Kota Malang (2006) menunjukkan bahwa pengaruh radiasi elektromagnetik dapat dirasakan dalam jangka panjang. 22/1/06). badan dana anak-anak UNICEF serta Komnas HAM. Konflik lain yaitu terjadi pada 20 Januari 2006 yang baru lalu sekitar 200 warga Kampung Nagrak Desa Nanjung Mekar Kec. Banyak keluarga memilih tidur di bawah tenda sebagai pernyataan protes.Setelah peneliti melakukan observasi di salah satu kelurahan. Konflik akibat SUTET tersebut sudah terjadi di berbagai daerah. Apa yang dilakukan masyarakat itu sebagai wujud kekecewaan atas sikap PT. (Pikiran Rakyat. Bahkan di beberapa daerah telah terjadi aksi mogok makan dan jahit mulut sebagai aksi menuntut ganti rugi yang menurut masyarakat dirasakan kurang. misalnya ketika permukiman warga Kabupaten Gresik.Bojonggede Kab. dibangun saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 500 KV tahun 1995. masyarakat berusaha menggergaji dan menggali menara listrik yang melintasi pemukiman mereka. Cirebon. Hal ini dikarenakan sejak SUTET tersebut dibangun sampai masyarakat tinggal di daerah tersebut selama 20--30 tahun belum memberikan efek yang benar-benar berarti. Bahkan masyarakat mengatakan berbagai penderitaan akibat SUTET. bahkan mereka mengirimkan surat kepada badan kesehatan dunia WHO. Di desa Waringin Jaya. PLN (Persero) yang tidak mau bekerjasama saat pembangunan SUTET dan kurang mengkomunikasikan proyek tersebut kepada masyarakat. 21/1/06). Bandung melakukan aksi pembakaran ban di bawah tower SUTET dan membongkar sebuah besi penyangga tower yang berkekuatan 500 kV. Jatim. Bogor. Kec. Rancaekek Kab. (Pikiran Rakyat. perusakan menara SUTET oleh korban lainnya sebelumnya terjadi di Desa Cisaat Kec. Tidak adanya sosialisasi mengenai dampak negatif SUTET juga mendorong timbulnya konflik. yaitu Kelurahan Purwodadi. karena tanah milik warga yang dilalui jaringan SUTET mempunyai nilai jual yang rendah dan dianggap berbahaya akibat adanya radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh SUTET. yaitu telah ada yang meninggal dunia ketika hujan turun tepat di bawah tiang listrik.

sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No OI. akibatnya akan melumpuhkan perekonomian dan menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan. Pada tahun 1992 dikeluarkan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No. dengan ancaman hukuman penjara masing-masing empat tahun penjara dan dua tahun delapan bulan. Selain itu juga bisa dijerat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 408 dan pasal 406. dan pertumbuhan sentra industri terhambat yang akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. keandalan sistem menurun (kemungkinan blackout sangat besar). Peraturan ini menyatakan bahwa . permintaan tambah daya konsumen sulit dipenuhi. akan terjadi pemadaman listrik yang meluas di wilayah Jawa-Bali.P/47/MPE/1992 tentang Ruang Bebas bagi Penyaluran Tenaga Listrik.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975.K/47/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. daya listrik yang disalurkan terbatas. Selain itu perusakan instalasi SUTET termasuk tindakan sabotase negara. Karena perbuatan itu termasuk kategori membahayakan obyek vital dan strategis milik negara dengan ancaman pidana hukuman seumur hidup atau pidana mati. 15 Tahun 2003. Dari berbagai masalah yang timbul seperti di atas dapat dikatakan bahwa akar permasalahan hanya dua yaitu tuntutan ganti rugi yang kurang dan masalah kesehatan. pelaksanaan UU No. rawan terhadap pemadaman.Konflik-konflik tersebut di atas akan sangat merugikan kedua belah pihak baik masyarakat maupun PLN. Karena masyarakat yang mencoba melakukan perusakan tower SUTET bisa dijerat UndangUndang (UU) No. penambahan pelanggan baru sulit dipenuhi. 151985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. Hal ini terjadi karena ada perbedaan dasar hukum yang dijadikan pedoman antara masyarakat dengan PLN. 151/1985. Hal ini tidak hanya merugikan PLN yaitu berkurangnya profit karena jika terjadi pemadaman total maka akan menghambat segala aktivitas yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat sendiri. bila tower SUTET 500 k\ sampai roboh atau rusak. I tahun 2002 tentang Terorisme. Karena. Di samping itu juga terdapat dampak buruk jika SUTET tidak dibangun antara lain: daya dari pembangkit non BBM yang akan dibangun tidak tersalurkan. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No.OI.

Sebagai niat baik dan peduli terhadap lingkungan yang terkena proyek untuk publik ini. PLN telah melaksanakan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah dan selalu mengutamakan kepentingan dan keinginan masyarakat. Apabila dalam kasus SUTET tidak diajukan judicial review. Departemen ESDM dan PT PLN (Persero). baik karena kelalaian atau kesalahan PT. Kantor Menneg BUMN. yang nada pokoknya berisi. PLN telah membuat dan menandatangani surat jaminan. PLN (Persero) untuk mengambil langkah penyelesaian sebagai wujud dari tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Kantor Menneg LH. Peristiwa di atas menuntut PT. Baik Permentamben tahun 1992 maupun Kepmentamben tahun 1999 isinya adalah bertentangan dengan Pasal 12 UU No. karena hanya memberi ganti rugi dan membebaskan tanah. BPN. karena PT. apabila dikemudian hari terjadi kecelakaan yang sesuai hasil penelitian disebabkan oleh keberadaan SUTET 500 kV. Terkait dengan ganti rugi dan kompensasi. Depkeu. PLN (Persero) sudah memberikan semacam dana tali asih dan pinjaman dana dari koperasi kepada . Tim ini terdiri dari Kantor Menko Polhukam.pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan tidak diwajibkan untuk memberikan ganti rugi selama bangunan atau benda apa pun tidak termasuk ke dalam ruang bebas atau dengan kata lain bangunan benda berada di ruang aman. Tanggung jawab tersebut adalah terhadap kesehatan manusia dan atau meninggal dunia serta atas kerusakan rumah dan atau barang-barang elektronik atau alat-alat rumah tangga lainnya.P/47/MPE/1992 diubah oleh Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No-975 K/47/MPE/1999. PT. Pada tahun 1999 Permentamben No. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan membentuk joint team yang terdiri dari pemerintah. Depkes. Tim inilah yang ditugaskan untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di lapangan melalui dialog intensif. PLN maka PT. PLN akan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. bangunan dan tumbuh-tumbuhan di atas tapak penyangga SUTET. Depkominfo. PLN dan elemen masyarakat. penyuluhan dan upaya-upaya lainnya. para korban tetap dapat mengajukan tuntutan atas dasar wanprestasi.01. Kejaksaan Agung. Depdagri. Depkum dan HAM. Mabes Polri. 15 Th 1985.

dan pemberian penyuluhan tentang aturan jarak aman kepada masyarakat. Hal ini ditujukan agar masyarakat mampu meningkatkan kualitas hidupnya.5 meter SUTET. Penyuluhan MI bertujuan memberikan pengertian yang benar tentang pengaruh medan listrik dan medan magnet sehingga masyarakat yang bermukim di sekitar sarana transmisi ini memiliki persepsi yang benar dan rasa aman tinggal di sekitarnya. Menurut WHO (World Health Organization) ambang batas kekuatan medan listrik dan medan magnet yang tidak membahayakan tubuh manusia sebesar 5 kV/m untuk medan listrik dan 0. Diakses pada 28 lanuari 2006) Oleh karena itu. Dan jika tidak ada kepentingan tidak dianjurkan berada di luar rumah di bawah SUTET pada malam hari karena pada saat itu arus yang mengalir pada kawat penghantar SUTET lebih tinggi daripada siang hari.1 m Tesla untuk medan magnet. . jika sebelumnya dengan bentangan di menara setinggi 8. (www. Selain itu dengan adanya peraturan Menteri Pertambangan dan Energi tentang ruang bebas untuk SUTET tahun 1992 pihak PT. maka dengan meninggikan sampai 22.5 meter harus membebaskan tanah di bawah kabel listrik. maka ruang setinggi 14 meter di atas tanah dianggap aman. PT. Penyuluhan ini biasanya diberikan PT.republika. Selain itu.masyarakat yang tempat tinggalnya dilalui jaringan SUTET. Bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang lain adalah dilakukan pengukuran berkala. terutama pada lahan-lahan yang kosong. kuat medan Iistrik di bawah SUTET di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah. dan lebih baik jika menanam pohon sebanyak mungkin di sekitar rumah. tetapi penyuluhan ini juga dapat diberikan pada kesempatan lain jika masyarakat membutuhkanya. PLN meninggikan bentangan kabel listrik. upaya untuk meminimalkan dampak negatif radiasi elektromagnetik ini yaitu dari penelitian yang telah dilakukan. PLN menganjurkan pada masyarakat agar mengusahakan rumah berlangit-langit (plafon).com. PLN pada saat awal pengoperasian SUTET. PLN (Persero) sendiri telah membuat pagar pembatas untuk menjaga ruang bebas dan jarak aman serta secara periodik melakukan pengukuran kuat medan listrik dengan menggunakan alat Elektromagnetic Field Meter.

Alasannya. PLN. akan mempunyai dampak positif maupun negatif seperti yang telah dijelaskan dalam poin di atas. PLN (Persero). Dampak positif tersebut antara lain dapat meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan manusia. Hal ini dikarenakan perusahaan yang hanya mementingkan keuntungan finansial dan mengabaikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. PLN merupakan bukti bahwa PT. Untuk konflik SUTET terutama yang menyangkut masalah ganti rugi sebaiknya pihak pemerintah mengeluarkan suatu dasar hukum yang sama dan jelas sehingga tidak menimbulkan konflik dan tidak akan merugikan kedua belah pihak yaitu masyarakat dan PT. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut apa yang sudah diterapkan PT. jika menggantungkan pada finansial saja. sehingga . tetapi juga tekanan dari LSM. PLN tidak sama. Karena selama ini dasar hukum pemberian ganti rugi yang menjadi pedoman masyarakat dan PT. tidak menjamin perusahaan akan berkembang secara berkelanjutan. Untuk itu. PLN memiliki tanggung jawab sosial atau CSR.Namun dari berbagai bentuk CSR yang sudah diterapkan untuk mengatasi masalah SUTET. serta sebagai pendorong berbagai kegiatan ekonomi. namun bentuk CSR tersebut ternyata belum memberikan dampak yang nyata karena masih banyak terjadi konflik di berbagai daerah. berbagai penelitian dan jalan keluar untuk mengatasi konflik SUTET ini sangat diperlukan. Sedangkan dampak negatifnya adalah adanya bahaya kesehatan oleh radiasi elektromagnetik. masih belum dapat menyelesaikan secara tuntas konflik-konflik yang terjadi antara masyarakat dengan PT. BAHASAN CSR menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi. tidak hanya mendapat tentangan dari masyarakat sekitar. Dalam pembangunan sarana ketenagalistrikan. tetapi juga tanggung jawab sosial dan lingkungan. _yaitu menciptakan profit demi kelangsungan usaha. Dari berbagai konflik yang timbul akibat keberadaan SUTET dapat dikatakan bahwa akar permasalahannya yaitu tuntutan ganti rugi yang dirasakan masih kurang oleh masyarakat dan adanya ancaman bahaya kesehatan.

K147/MPE/1999 yang mengatur tata cara mengenai ganti rugi dan kompensasi tersebut. Masyarakat korban SUTET menuntut ganti rugi dengan mengacu pada UU No. PLN. jumlah ganti rugi dari kedua dasar hukum ini berbeda yaitu dasar yang dijadikan patokan oleh PT. 15 Tahun 1985.P/47/MPE/1992 dan Kepmentamben 975. PLN yaitu Permentamben No O1. manajemen PT. atas potensi dampak yang mungkin muncul dari proyek tersebut. Selama ini masyarakat yang areal pekarangan dan sawahnya telah dibangun tower dan akan dilalui jaringan. jika pihak PLN memberikan sosialisasi secara transparan dan menyeluruh. Ganti rugi dan kompensasi yang diatur Kepmen lebih rendah dari yang diatur UU No.tidak ada kesepakatan antara kedua pihak. maka suatu saat terjadi masalah maupun konflik. PLN (Persero) harus menetapkan batasan-batasan . Oleh karena itu. yaitu masyarakat yang sakit dan diduga disebabkan karena radiasi elektramagnetik. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi kurang tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang dampak negatif dan bahaya yang ditimbulkan akibat pembangunan proyek SUTET. Sehingga nantinya tidak akan terjadi masalah di kemudian hari pada saat proyek SUTET tersebut mulai dikerjakan. sejauh ini belum memperoleh sosialisasi secara transparan tentang kemungkinan dampak buruk yang terjadi akibat pembangunan SUTET. sementara pemerintah berpedoman pada Permentamben No Ol. PLN (Persero). Dalarn hal ini PT. PT.P/47/MPE/1992 lebih rendah dari jumlah ganti rugi yang tertuang dalam UU No. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat sebagai Wujud tanggung jawab perusahaan dalam hal kesehatan. Pada kenyataannya.15/1985 tentang Ketenagalistrikan yaitu pasal 12. Jaminan kesehatan ini diberikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar area yang dilalui jaringan SUTET. sangat diperlukan kesamaan dasar hukum sehingga akan memiliki persamaan pandangan antara masyarakat dan PT. PLN (Persero) sangat perlu untuk segera memberikan informasi yang sebenarbenarnya. 151/1985. PLN (Persero) dapat menerapkan salah satu bentuk CSR misalnya berupa jaminan kesehatan. Masalah utama dalam konflik SUTET yaitu selain kurangnya ganti rugi yang diberikan yaitu berkaitan dengan masalah kesehatan. Untuk itu. masyarakat akan berusaha mencari solusi bersama-sama dengan pihak PT. Namun. dan masing-masing mempunyai pandangan sendiri.

co.5 m. gangguan tidur. PLN. yaitu sekumpulan gejala hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache). gangguan konsentrasi. kebingungan.yang jelas misalnya PLN hanya akan memberikan jaminan kesehatan tersebut jika masyarakat yang sakit tersebut benar-benar disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang menurut berbagai penelitian antara lain menurut WHO.pikiranrakyat . pening (dizziness). kejang otot. (4) kurdiovaskuler.Kes. misalnya penyakit yang menyerang 1) darah. misalnya untuk jaringan tegangan menengah dan rendah (JTM/JTR) di daerah tersebut dapat digunakan rumus sederhana. misalnya pemberian kredit dan pemberian dana tali asih. (2) reproduksi. dan gangguan pencernaan lain yang tidak jelas penyebabnya. Selain itu penyuluhan dan sosialisasi mengenai jarak aman kepada masyarakat harus selalu diberikan. maka ini akan dapat melibatkan hubungan kemitraan . untuk 275 kV adalah 13 m dan 500 kV adalah 17 m (www. dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome).id Diakses pada 7 Februari 2006). untuk 150 kV adalah 10 m. Sehingga jika suatu saat ada masyarakat yang mempunyai penyakit atau gejala di atas harus mendapat jaminan kesehatan walaupun mungkin penyakit tersebut bukan karena radiasi elektromagnetik. telinga berdenging. serta gangguan kejiwaan berupa depresi.5 m.pln.5 m. untuk 150 kV adalah 5. (www. kulit meruam. (5) endokrin. Kegiatan yang dilaksanakan oleh PT. PLN (Persero) pada umumnya masih bersifat hibah dan bukan merupakan program rutin. Artinya jika tegangan di kawat jaringan sebesar 20 kV maka jarak amanya adalah 20 cm atau 0.2 m. Anies. dr. dan (7) hipersensitivitas dengan gejala jantung berdebar-debar. muka terbakar.5 m dan untuk 500 kV adalah 9. M. PKK yang menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk. Sedangkan jarak aman horizontal dari as/sumbu menara (D) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 7 m.com Diakses pada 26 Desember 2006). rasa mual. (3) syaraf. yaitu I kV = 1 cm. (6) psikologis. Atau menurut hasil penelitian Dr. Jika hal tersebut sudah dilakukan secara rutin dan menjadi salah satu program aktivitas PT. untuk 275 kV adalah 7. Untuk transmisi SUTET aturan jarak aman vertical (C) adalah untuk tegangan 70 kV adalah 4.

antara pihak PT. PLN dengan masyarakat. Untuk itu tanggung jawab sosial perusahaan diperlukan agar menciptakan keseimbangan dan keberlanjutan hidup dan jalinan kemitraan timbal balik antara perusahaan dan stakeholders. Disini PLN menjadikan masyarakat sebagai mitra, sehingga PLN mempunyai program kegiatan dalam upaya pemberdayaan untuk mendukung kesejahteraan dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. Sehingga antara masyarakat dan PLN terjalin hubungan yang baik dan saling mendukung selama kegiatan tersebut tidak menimbulkan masalah dan dampak negatif. Kemitraan ini bisa tercipta antara lain melalui program yang berupa ekonomi kerakyatan yaitu, PLN menjadi mitra masyarakat dalam hal pemberian hibah untuk kredit usaha. Bentuk-bentuk CSR tersebut dl atas mungkin tidak sepenuhnya dapat mengatasi masalah, namun paling tidak dapat mengurangi adanya konflik SUTET. Agar program-program CSR seperti di atas dapat berjalan dengan lancar, maka sangat diperlukan hubungan maupun kerjasama yang baik antara PT. PLN (Persero), masyarakat, dan Pemerintah, serta seluruh stakeholdernya. Aktivitas CSR yang dilakukan oleh PT. PLN Persero tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga pihak PLN itu sendiri. Manfaat yang diperoleh masyarakat dengan dilaksankannya program CSR oleh PLN misalnya, dapat mengembangkan usaha mereka melalui hibah untuk kredit usaha, adanya jaminan kesehatan, dan masyarakat mendapatkan ganti rugi serta kompensasi atas tanah milik mereka sesuai dengan kesepakatan.Selain itu, aktivitas masyarakat juga tidak akan terganggu karena adanya pemadaman total akibat perusakan tower SUTET. Bagi PT. PLN Persero sendiri, kegiatan operasional perusahaan tidak akan terhambat dan selalu mendapat dukungan dari masyarakat, dan akhirnva tercipta hubungan yang baik antara masyarakat dengan pihak PLN. Di sisi lain, image perusahaan dalam pandangan masyarakat akan tetap baik dan selalu mendapatkan respon yang positi£ Dari manfaat yang dapat diperoleh di atas, semoga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi PT. PLN (Persero) untuk menetapkan CSR dalam kegiatan operasionalnya dan tentunya menjadikan PLN ke arah yang lebih baik.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Akhir-akhir ini banyak perusahaan yang makin sadar akan pentingnya praktik Corporate Social Responsibility (CSR), ataupun mengikuti langkah-Iangkah serupa termasuk perusahaan BUMN seperti PT. PLN (Persero). Hal Ini tentu memerlukan hubungan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat dan para pelaku bisnis sendiri. Misalnya, pemerintah memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang menerapkan program CSR secara serius. Demikian pula Bapepam mewajibkan laporan CSR bag) perusahaan yang akan masuk bursa ataupun yang kini sudah tercatat di bursa, serta langkah-langkah lain yang relevan. Dan masyarakat mendukung program CSR yang diterapkan perusahaan tersebut. Dalam menjalankan operasinya sebagai penyedia jasa ketenagalistrikan, PT. PLN harus memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang terjadi pada konflik SUTET. Sehingga setiap keputusan yang diambil dan tindakan yang dilaksanakan harus mempunyai tanggung jawab sosial.
Saran

Agar program CSR dapat berjalan dengan baik, maka dapat disarankan (1) Untuk pemerintah sebaiknya memberikan peraturan hukum yang secara tegas dan khusus mengatur tentang tanggung jawab sosial perusahaan; (2) Program diarahkan pada masyarakat yang membutuhkan dan diprioritaskan pada kebutuhan pokok masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup; (3) Program dilaksanakan dengan menyediakan tenaga ahli pendamping; dan (4) Dilakukan evaluasi dan pelaporan, apakah program tersebut berjalan sesuai tujuan.

DAFTAR RUJUKAN

Abdul Rosyid Idris, Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah gagasan dan implementasi. www.fajaronline.co.id. Diakses 29 Januari 2006 Anonim. Kekuatan Ide-ide Bisnis Mujarab. www.swa.co.id. Diakses 30 Desember 2005. ----------. Tanggung Jawab Sosial Bukan Beban Bagi Perusahaan. www.kompas.co,id. Diakses 18 Desember 2005. ----------. Pemerintah Bentuk Tim Tangani SUTET. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Tower SUTET Dirusak. www.pikiran rakyat.com. Diakses 26 Desember 2005. ----------. Awas Listrik Munculkan Penyakit. www.republika.com. Diakses 7 Februari 2006. -----------. Proyek Jaringan SUTET PLN (1). www.suara merdeka.com. Diakses 7 Februari 2006 Azwar, Saifudin,1999. Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Arikunto,Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. PT.Rineka Cipta, Jakarta Djatmiko,Harmanto Edy. Saatnya Menabur. www.swa.co.id. Diakses 26 Desember 2005. Djoko,Tony. Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR). www.pertamina.com. Diakses 18 Desember 2005. Hasibuan, Sedyono Chrisanti. Sekali lagi CSR. Majalah SWA 23/XIX/10/ November 2003. Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis. CV.Alfabeta.Bandung. Wiryosimin, Suwarno. 1995. Mengenal Asas Proteksi Radiasi. ITB Bandung

Analisis Pengaruh Kompensasi terhadap Motivasi dan Kinerja (Studi Kasus Dosen Ekonomi pada Perguruan Tinggi Swasta)
Heri Sudarsono

Abstract: The aims of this research are: (a) Describe financial and non financial compensation, intrinsic motivation and lecture performance; (b) Analyze the effect of financial compensation and intrinsic motivation to lecturer performance; (c) Analyze the effect of non financial compensation on intrinsic motivation; (d) Analyze the effect of non financial compensation and motivation to lecture performance. Based on description and path analysis, it shows that financial compensation and intrinsic motivation was in good condition and affecting lecture performance. Financial compensation as salary, incentive, and wage and intrinsic motivation as achievement knowledgement, the job it self, and responsibility has direct and indirect effect on independent variable, so the main model proposed could be decided as final model in path analysis. Key words: compensation, motivation, performance

Unsur manusia memegang peranan yang penting karena manusia menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, strategi maupun langkah kegiatan operasional suatu kegiatan. Manusia juga merupakan mahluk yang mempunyai pikiran, perasaan, kebutuhan dan harapan yang memerlukan perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi prestasi, dedikasi dan loyalitasnya terhadap organisasi (Hasibuan, 1990:222). Menurut hierarki kebutuhan Maslow (Robins, 1996:1990) manusia mempunyai kebutuhan bertingkat yang mencakup faal, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Heri Sudarsono adalah dosen Jurusan Manajemen FE Universitas Teknologi Surabaya

Berdasarkan latar belakang maka tujuan penelitian ini adalah: (a) Mendeskripsikan kompensasi financial dan finansial. Berdasar tri dharma perguruan tinggi. penulisan artikel ilmiah dan penyusunan buku. Tumbuh dan berkembangnya organisasi tergantung pada sumber daya manusia. Menurut Handoko. Dengan pemberian insentif yang layak akan meningkatkan motivasi kerja dosen. Dosen juga dituntut untuk memililiki kemampuan berfikir logis. Selanjutnya gaji merupakan salah satu faktor insentif yang sangat penting bagi dosen. Oleh karena itu aspek pembinaan manusia dan motivasi kerja merupakan fokus utama perhatian organisasi. keberadaan dosen menjadi factor yang sangat penting dalam kelangsungan kegiatan akademik. yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi secara umum. Persoalan yang sering mencuat bahwa secara umum kinerja dosen perguruan tinggi swasta (PTS) disinyalir menghasilkan kinerja yang masih dibawah dosen perguruan tinggi negeri (PTN). prestasi dosen juga ditentukan oleh frekuensinya dalam menyajikan makalah seminar. cara meningkatkan prestasi. sehingga manusia merupakan asset yang harus ditingkatkan efisiensi dan produktivitasnya. disamping sebagai pengajar. Untuk mencapai hal itu organisasi harus mampu menciptakan situasi dan kondisi yang mendorong dan memungkinkan pegawai mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki secara optimal. Oleh karena itu maka kajian tentang kinerja dosen PTS. motivasi dan kepuasan kerja adalah dengan memberikan kompensasi (1993:156). dosen juga berfungsi sebagai peneliti dan pengabdi. kritis. Pola penggajian secara proporsional dengan memberikan insentif pada tenaga dosen yang kinerjanya melebihi standart yang ditetapkan oleh organisasi merupakan salah satu metode untuk meningkatkan motivasi berprestasi.Untuk memenuhi aneka ragam kebutuhan tersebut. Salah satu upaya yang ditempuh organisasi untuk menciptakan situasi tersebut yakni dengan memberikan kompensasi yang memuaskan karyawan. motivasi yang tinggi akan berdampak pada kinerja peningkatan produktivitas dan efisiensi. motivasi intrinsik . penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa disamping mengajar. Dalam konteks perguruan tinggi. menguasai prinsip penelitian serta mampu melaksanakan dan mengkomunikasikan hasil penelitian. utamanya dosen ekonomi menjadi menarik untuk dilakukan. hal yang dapat dilakukan adalah dengan menjadi anggota organisasi.

dan kinerja dosen ekonomi pada PTS. (d) Memberi rewards terhadap perilaku yang sesuai dengan organisasi. (b) Prinsip keadilan. Davis &Werther (1996:381) menyebutkan ada beberapa tujuan dari pemberian kompensasi. tidak langsung atau tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi finansial langsung. peluang promosi. (b) Mempertahankan karyawan yang ada. dan sebagainya. Cascio. peluang pengakuan. upah. diantaranya: (a) Mendapatkan personal yang kualified. menyebutkan bahwa terminologi atau pembagian dari kompensasi terbagi dalam bentuk kompensasi langsung dan kompensasi tidak langsung. Kompensasi finansial langsung terdiri dari gaji. (c) Menganalisis pengaruh kompensasi finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. upah. (c) Menunjukkan adanya keadilan baik internal equity maupun external equity. Mondy and Noe (1993:20) yang menjadi dasar penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua jenis. yang disebut juga tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi langsung. (e) Mengontrol dana. Kompensasi finansial terdiri dari kompensasi finansial langsung dan tidak langsung. Agar pemberian kompensasi efektif. (d) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. (f) Menyesuaikan dengan regulasi upah yang ada. artinya pemberian kompensasi dengan memperhatikan perbandingan antara jumlah gaji tertinggi dan terendah. Pemberian kompensasi yang tepat dan efektif dalam organisasi harus memenuhi syarat adil dan layak pada karyawan. (b) Mengkaji pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsic. 1991:185): (a) Prinsip kewajaran. yaitu kompensasi finansial dan kompensasi non-finansial. Selanjutnya Simamora (1997). (g) Memotivasi karyawan. Kompensasi finansial langsung terdiri dari bayaran yang diperoleh dalam bentuk gaji. seperti tanggung jawab. organisasi perlu memperhatikan prinsip berikut (Wayne F. lingkungan psikologis atau fisik. Kompensasi finansial tidak langsung. Kompensasi non-finansial adalah kompensasi yang diterima atas dasar pekerjaan itu sendiri. artinya dalam pemberian kompensasi harus terdapat unsur keadilan baik dalam kaitannya dengan waktu kerja maupun prestasi kerja. bonus dan komisi. (c) Prinsip . (e) Mengetahui pengaruh kompensasi non finansial dan motivasi intrinsic terhadap kinerja dosen. bonus dan komisi. dan (h) Mengurangi Labor Turnover karyawan. biaya hidup.

artinya pemberian kompensasi harus dihindarkan dari unsur pemborosan organisasi. dalam pemberian kompensasi mudah dihitung atau mudah dimengerti oleh karyawan. 1993: 252). Robbins (1996) menyebutkan bahwa motivasi merupakan kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi kebutuhankebutuhan individual. Terdapat beberapa teori motivasi yang menunjuk pada kebutuhan yang memuaskan dan mendorong semangat bekerja seseorang sebagai berikut. artinya dalam pemberian kompensasi hendaknya merupakan hasil atau kesepakatan bersama antara karyawan dengan pihak manajemen dalam organisasi. Teori ini mendasarkan konsep hierarki kebutuhan pada dua prinsip. Siagian (1995) menjelaskan motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya. dan (h) Prinsip kesepakatan. artinya pemberian kompensasi memperhatikan hal yang tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan atau jabatan. (e) Prinsip Pengendalian biaya. artinya pemberian kompensasi harus mampu meransang karyawan untuk memberikan sumbangan yang maksimal atau konstribusi pada organisasi. atau dengan kata lain motivasi adalah akibat dari interaksi antara situasi dan kondisi yang ada. Sedangkan Widjaja (1986:12) berpendapat bahwa motivasi adalah kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasar beberapa definisi motivasi dapat dilihat adanya tiga unsur kunci. dari kebutuhan yang terendah sampai kebutuhan tertinggi. Teori Maslow mengemukakan bahwa manusia dimotivasi oleh keinginan untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang ada. dan kebutuhan .keamanan. (d) Prinsip kejelasan. yakni kebutuhan manusia dapat disusun dalam hierarki 5 kebutuhan. artinya pemberian kompensasi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kompensasi yang diberikan karena kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan. Motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan (Handoko. tujuan organisasi dan kebutuhan. yakni: upaya. dengan yang tidak terkait dengan pekerjaan atau jabatan. (g) Prinsip keseimbangan. (f) Prinsip perangsang.

pengakuan atas kemampuan dan keahliannya. perampasan dan atau juga proteksi terhadap harta kekayaan. Kebutuhan penghargaan. (c) pekerjaan itu sendiri. kedudukan dan sebagainya. keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. (b) penghargaan.yang telah terpuaskan akan berhenti menjadi motivator utama dari pelaku. yakni motivasional dan higieni. 5. dan sebagainya. Kebutuhan terhadap hubungan lingkungan sosial atau bersosialisasi. Kebutuhan rasa aman. appresiasi. Pertama. Kebutuhan akan aktualisasi diri dengan untuk menunjukkan kemampuan. dan berhubungan dengan lingkungan. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan. kebutuhan akan status. Menurut Sukanto dan Handoko (1992:271). dihargai atas prestasinya. Adapun tingkatan kebutuhan tersebut sebagai berikut: 1. tidur. 2. Kebutuhan ini meliputi penerimaan oleh teman sekerja. faktor higienis yang juga disebut dissatisfier yang berhubungan dengan hakekat manusia untuk memperoleh ketentraman lahiriah. 1992:334). kebebasan. perumahan. 4. faktor motivator yang juga disebut satisfier yang berkenaan dengan isi pekerjaan dan faktor ini sebagai sumber kepuasan kerja yang dapat memotivasi seseorang pada pekerjaan mereka. Kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan. seks. . keahlian dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. faktor motivasional disebut juga faktor intrinsik yang meliputi kondisi intrinsik dan kepuasan pekerjaan. kemerdekaan. (d) tanggung jawab. dan (e) kemajuan. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan keinginan untuk dihormati. Serangkaian faktor ini meliputi: (a) pengakuan prestasi. Kebutuhan fisiologis. rasa memiliki. Menurut Herzberg (dalam Dressler. 3. Hilangnya faktor pemeliharaan ini akan meningkatkan ketidakpuasan dan tingkat absensi serta labor turnover yang tinggi. Aktualisasi diri berkaitan dengan pengembangan akan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. ancaman. tiap orang menginginkan dua macam kebutuhan. Kedua. Faktor motivasi kerja intrinsik inilah yang menjadi penekanan peneliti. minum. Kebutuhan sosial. Kebutuhan aktualisasi diri. kebutuhan akan cinta kasih. Kebutuhan akan rasa aman dalam melaksanakan suatu pekerjaan dan merupakan harapan mendapat perlindungan terhadap bahaya.

gaji. the evaluation can lead to inaccurate or biased results. 1995:29). mengukur kriteria-kriteria yang harus diukur dan selanjutnya memberi feedback kapada pegawai/karyawan dan bagian personalia. and then gives feedback to employees and the Human Resources Departement. If performance standart or measures are not job-related. harming the manager‟s relationship with their employees. pengawasan. maka kinerjanya tergolong baik. mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan kerja. kemampuan dan persepsi tugas (Byars dalam Suharsimi. Kinerja diartikan sebagai hasil usaha seseorang yang dicapai dengan kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. . 1996) mengemukakan bahwa kinerja merupakan pelaksanaan tugas yang telah diselesaikan seorang dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur. Atau dengan kata lain. Jadi sistem penilaian yang efektif harus mengidentifikasikan kinerja yang sesuai dengan standar. measure those criterias. administrasi. penetapan standar diperlukan untuk mengetahui apakah kinerja karyawan sesuai dengan sasaran yang diharapkan. Menurut Davis & Werther (1996:344). Faktor higienis meliputi kebijakan. Seymour (dalam Swasto.Faktor ini juga disebut faktor ekstrinsik yang mempengaruhi ketidakpuasan kerja. tetapi tidak akan menimbulkan dorongan dan kepuasan kerja. hubungan antar rekan dan kondisi kerja. sekaligus juga melihat besarnya penyimpangan dengan cara membandingkan antara hasil pekerjaan secara aktual dengan hasil yang diharapkan. Handoko (1992:270) menyebutkan bahwa faktor higienis sendiri tidak menimbulkan motivasi tetapi diperlukan agar motivasi dapat berfungsi atau dengan kata lain berfungsi sebagai landasan motivasi. sistem penilaian kerja yang efektif memiliki beberapa elemen kunci: Appraisal approaches must identify performance-related standart. Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan. Artinya apabila perilaku seseorang memberikan hasil pekerjaan yang sesuai dengan standar atau kriteria yang dibakukan organisasi. Prestasi kerja merupakan hasil keterkaitan antara usaha. Perbaikan faktor higienis akan mencegah. dan jika sebaliknya berarti kinerjanya buruk.

kemampuannya dalam melaksanakan suatu pekerjaan serta peralatan atau teknologi yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut.Analisa tentang kinerja karyawan menurut Gomes (1995) senantiasa berkaitan erat dengan dua faktor utama: a) kesediaan atau motivasi seseorang untuk bekerja yang menimbulkan usaha karyawan. model hipotesis dapat diuraikan hipotesis berikut: (1) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial terhadap motivasi intrinsic. Dalam pendidikan tinggi atau perguruan tinggi. prakarsa. Sesuai dengan Keputusan Menpan No. prestasi kerja. kerjasama. (3) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non finansial terhadap motivasi intrinsic. Berdasarkan model kajian penelitian tersebut. (2) Diduga ada pengaruh antara kompensasi financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. Indikator-indikator tersebut meliputi: kesetiaan. dan a = ability. tanggung jawab. dimana daftar tersebut memuat 10 indikator yang ada. 13/MENPAN/1988 tentang Perincian Kegiatan dan Angka Kredit Jabatan Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi. Dengan kata lain. Berdasarkan beberapa definisi di disimpulkan bahwa ukuran kinerja dosen dalam penelitian ini adalah tingkat kinerja dosen dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya yang menyangkut tri dharma perguruan tinggi yakni dharma pendidikan dan pengajaran. dapat diturunkan menjadi model hipotesis pada Gambar 1. dharma penelitian dan dharma pengabdian pada masyarakat. Swasto (1996) mengemukakan bahwa prestasi kerja individu merupakan perpaduan antara motivasi yang ada pada diri seseorang. dan (4) Diduga ada pengaruh antara kompensasi non financial dan motivasi intrinsic terhadap tingkat kinerja dosen. . dan dapat dituliskan sebagai berikut: p = f ( m x a ). kejujuran. kinerja merupakan fungsi interaksi antara motivasi kerja dengan kemampuan. b) kemampuan karyawan untuk melaksanakan pekerjaan. ketaatan. dimana p = performance. bentuk penilaian prestasi kerja atau kinerja terangkum dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan. m = motivasi. dan kepemimpinan.

dan sebagainya. jumlah dosen. 2. Wawancara. Informasi yang diperoleh memperjelas atau mendukung jawaban yang disampaikan melalui kuesioner. Cara memperoleh data dengan jalan mengadakan tanya jawab langsung dengan pihak yang berkepentingan dengan harapan memperoleh informasi yang dibutuhkan. (b) memperoleh informasi dengan reliabilitas dan validitas setinggi mungkin (Singarimbun. Penulis memperoleh informasi melalui dokumen dari masing-masing PTS seperti program dan struktur kompensasi.P41 Kompensasi Finansial (X1) P31 Kompensasi Non Finansial (X2) Motivasi Intrinsik (X3) P43 Tingkat Kinerja Dosen (X4) P32 P42 Gambar 1 Model Hipotesis Penelitian METODE Teknik yang digunakan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian dilakukan dengan berbagai cara: 1. 1995). Instrumen dikatakan valid bila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur dan mampu mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Tujuan utama dari pemberian kuesioner adalah: (a) memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Kuesioner. Dokumentasi. Uji validitas dalam penelitian ini yakni . untuk mendapatkan data primer serta memperoleh informasi tertulis dari responden sebagai obyek penelitian. Dilakukan dengan memberi daftar pertanyaan pada dosen yang menjadi sampel penelitian. 3.

dimana asumsi ini terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk suatu pola tertentu. Uji reliabilitas dalam penelitian ini. menggunakan bantuan program komputer SPSS. artinya adanya heterokedastisitas akan bertentangan dengan salah satu asumsi peneliti yaitu bahwa variabel residual harus sama untuk semua pengamatan. E(e) = 0.5 atau lebih. Kriteria pengujian yang digunakan apabila reliabilitas suatu instrumen yang memiliki koefisien reliabilitas 0.menggunakan analisis yang menghitung koefisien korelasi antara skor item dengan skor totalnya. b) Asumsi homokedastisitas. maka dapat dikatakan sebagai pengumpul data yang handal. Untuk memperolah nilai koefisien yang tidak bias dan efisien dari persamaan estimasi menggunakan OLS. Analisis dilakukan secara kualitatif untuk menjelaskan dan mendeskripsikan hubungan data yang diperoleh dengan landasan teori yang dipakai melalui uraian sistematis. dengan taraf signifikansi 5% dan dengan bantuan program komputer SPSS for Windows. Selanjutnya untuk analisis statistik inferensial dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Path Analysis dengan terlebih dahulu diadakan analisis faktor untuk tiap variabel. artinya asumsi menginginkan model yang dipakai dapat secara tepat menggambarkan rata-rata variabel terikat dalam observasi. dan dilakukan dengan melihat standardized scatterplot. rata-rata sama dengan nol. peneliti menggunakan taraf signifikansi 5 persen. (1) Metode analisis statistik deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan keadaan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dosen. 1991:172). (2) Metode analisis statistik inferensial yang digunakan untuk melihat pengaruh diantara variabel-variabelnya. Karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan beberapa uji asumsi klasik diantaranya sebagai berikut: a) Asumsi normalitas. maka pelaksanaannya harus memenuhi beberapa asumsi klasik (Gujarati. Uji ini untuk mengetahui apakah model yang dipakai linier atau tidak. c) Uji linieritas. . Untuk menganalisis data dan menguji hipotesis.

Diolah.0000. Sedangkan hasil uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach dapat dilihat pada Tabel 1.8093 Simpulan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Sumber: Hasil Penelitian.7151 0. Hasil pengujian menunjukkan nilai chi Square sebesar 78.0000 dengan nilai probabilitas sebesar 0. Pengujian Asumsi Klasik Uji Asumsi Normalitas Distribusi normal dalam statistik inferensial sangatlah penting. Uji yang dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square terhadap nilai standar residual hasil persamaan regresi.1231. oleh karena itu perlu diadakan uji asumsi yaitu menguji residual untuk mengetahui apakah data berasal dari distribusi normal atau tidak. Valid tidaknya suatu item instrumen dapat diketahui dengan membandingkan antara indeks korelasi produk moment Pearson pada level signifikansi 5 persen dengan nilai kritisnya.7350 0. Kompensasi Finansial X2.3 (Sugiono. dan 68. Selanjutnya hasil uji validitas instrumen penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Bila probabilitas basil uji Chi Square lebih kecil dari 0.7114 0. Motivasi intrinsik X4. 2007 2. Kompensai Non Finansial X3. Tingkat Kinerja Dosen Alpha 0.0000. Jadi semua nilai residual data . Instrumen dikatakan valid apabila memiliki koefisien diatas 0.05 (5 persen) maka distribusinya normal dan apabila sebaliknya maka terdistribusi tidak normal. dan 0. Tabel 1 Rekapitilasi Hasil Uji Reliabilitas No 1 2 3 4 Variabel XI.HASIL 1. 1998). Menurut Sugiyono (1994) hasil penelitian valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen Validitas merupakan unsur penting bagi suatu instrumen karena uji ini menunjukkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan instrument dalam melaksanakan fungsinya.

2 X1.542 ).594 Probabilitas 0.006 0.1 X2.9 Y.001 0.662 0.407 0. 2007 .495 0.5 X1.4 X2.2 X3. 1 X1.000 0.515 0.000 0.006 0.004 0.576 0.563 0.456 0.l Y.4 Y.8 X3.10 X3.3 Y.455 0.313 0.651 0.2 Y.455 0.12 Koefisien Korelasi 0.689 0.000 0.7 X1.644 0.6 X3.8 X2.4 X1.000 0.481 0.720 0.000 0.3 X2.7 Y.387 0.487 0.001 0.689 0.455 0.000 0.028 0.002 0.000 0.612 0.000 0.000 0.000 0.000 0.3 X 1.000 0. Tingkat Kinerja Dosen Sumber : Hasil Penelitian.11 Y.696 0.767 0.1 X3.471 0.000 0.619 0.046 0.000 0.9 X2. Tabel 2 Rekapitulasi hasil Uji validitas Variabel X1.000 0.5 X3.787 0.008 0.720 0.7 X3.000 Simpulan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid X2.2 X2.003 0.000 0.000 0.560 0.terdistribusi secara normal (Tabel 3).006 0.004 0.8 X2.662 0.353 0.001 0.543 0.5 Y.492 0.001 0.5 X2.003 0.013 U.3 X3.685 0.4 X3.002 0. Kompensasi finansial Item X1.600 0.434 0.7 X2. Kompensasi Non Finansial X3.003 0.643 0.017 0. Diolah. Motivasi intrinsik X4.6 X2.000 0.9 Y.6 Y.8 Y.666 0.6 X1.006 0.10 Y.501 0.

X2. sehingga variabel bebas tidak menyebabkan terjadinya heterokedastisitas.336 Simpulan ' Homoskedasttsitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Sumber : Hasil Penelitian. Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji koefisiensi korelasi Rank Spearman yaitu mengkorelasikan antara absolut residual hasil regresi dengan semua variabel bebas.Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Variabel X1. Kesimpulan yang didapat adalah terjadinya homoskedastisitas sehingga pengujian hipotesis dapat dilanjutkan.178 0.078 0.0842 0. diolah. Pengujian regresi memenuhi syarat jika diantara variabel bebas tidak terjadi heteroskedastisitas. 2007 .0536 Probabilitas 0. Berdasarkan data dari rekapitulasi tersebut di atas menunjukkan bahwa semua variabel mempunyai nilai signifikansi di atas taraf kepercayaan 5 persen.252 0.0000 Simpulan Normal Normal Sumber : Hasil penelitian.7385 62. X3 terhadapX4 Nilai Chi Square 72.0000 0.8308 Signifikansi (P) 0. 2007 Uji Asumsi Heterokedastisitas Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah diantara variabel bebas terjadi hubungan atau tidak. Diolah. Hasil uji dapat di lihat pada Tabel 4.0787 0.X2 terhadap X3 Xl.267 0.366 0. Korelasi 0. Tabel 4 Rekapitulasi Hasil Uji Heteroskedastisitas Variabel bebas XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial XI: Kompensasi Finansial X2: Kompensasi Non Finansial X3 : Motivasi Intrinsik Koef.434 0.

2).Uji Linieritas Pengujian ini dilakukanuntuk mengetahui model yang dibuktikan linier atau tidak. Deskripsi Variabel yang Mempengaruhi Kinerja Dosen Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui sejauh mana distribusi frekuensi responden berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan kepada 65 responden yakni para dosen tetap di tiga perguruan tinggi swasta di Kediri. bagian 3 meliputi item (X1. . maka pertanyaan dibagi menjadi tiga bagian. Deskripsi Kompensasi Finansial Untuk melihat distribusi frekuensi jawaban responden dari item yang disampaikan pada 65 orang respoden. Asumsi ini akan terpenuhi jika plot antara nilai residual dengan nilai prediksi tidak membentuk pola tertentu (acak).8). 3.3 sampai X1.6).7 sampai X1. bagian 1 terdiri dari item (Xl. yang secara detail dapat dilihat pada Tabel 5. Sesuai dengan model analisis dalam penelitian ini. bagian 2 terdiri dari item (X1. motivasi intrinsik (X3) serta tingkat kinerja dosen (X4) Selanjutnya akan diuraikan masing-masing variabel tersebut. a. Ternyata hasil penelitian tidak menunjukkan adanya plot tertentu sehingga uji ini terpenuhi.l dan X1. variabel dalam penelitian ini meliputi kompensasi finansial (XI) dan kompensasi non finansial (X2). dimana saling berkorelasi. dan dilakukan dengan melihat Standardized Scatterplot.

38 18.23 72.1.54 81.00 0.31 66.38 76 92 9 3. c.5. selanjutnya dapat dilihat Tabel 6.00 0.46 15.15 16 12 10 12 f 21 4 % 0.77 10. X2.8.3).54 0. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian.85 12. X2.9.100.62 18.46 6 7 8 0 00 0. Deskripsi Kompensasi Non-Finansial Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban 65 responden variabel ini. X2.00 32.31 10. bagian pertama meliputi item (X2. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 Kesesuaian tentang sistem pemberian gaji Kesesuaian tentang besarnya gaji yang diterima Kesesuaian tentang sistem pemberian honor Kesesuaian tentang besarnya honor Kesesuaian tentang macam insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya insentif yang diberikan Kesesuaian tentang besarnya tunjangan Kesesuaian tentang macam tunjangan 1 % 2 f % 6. X2.31 10 15.4. maka item pertanyaan dibagi menjadi empat bagian seperti dapat dilihat pada .00 0.00 1.38 f 40 53 45 45 47 43 3 % 61. bagian ketiga meliputi item (X2.69 6 15 10.00 10.77 24.77 49 50 75.2 dan X2.54 69.23 69.31 b.77 12. dan X2.6). bagian kedua meliputi item (X2. Deskripsi Motivasi Intrinsik Untuk mengetahui distribusi jawaban terhadap 65 responden. X2.Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kompensasi Finansial Jawaban Responden No.15 5 7.7.

62 4.00 60.08 40.85 24.00 0.46 17 26.54 3.15 13.92 16.46 12.7 sampai X4.10 sampai X4.9 dan bagian ketiga untuk item pertanyaan X4.00 f 3 3 8 4 9 2 % 4.15 12 18.Tabel 7. maka item pertanyaan dikelompokkan dalam tiga bagian yakni bagian pertama untuk item pertanyaan X4.6. bagian kedua untuk item X4.62 12.23 38.92 16.00 3.00 0.00 61.62 12. Deskripsi Kinerja Dosen Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban terhadap 6> responden.62 16.08 9.85 18.69 24.92 69.85 f 40 44 46 50 45 25 41 26 39 40 3 % 61 54 67.46 63.08 0.68 70. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8.23 0.54 6 9.92 7.31 6.22 25 38.46 .12. Tabel 6 Distribusi Kompensasi Non Finansial Jawaban No.31 13.1 sampai X4.00 1.32 27 41. 4.77 76. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Keadilan dalam promosi Pernyataan tentang kesempatan promosi Sistem kenaikan pangkat Kesempatan mengikuti diklat Dorongan studi lanjut Frekuensi mengikuti diklat Dukungan atasan Dukungan rekan kerja Suasana kerja yang mendukung Fasilitas kerja yang diterima 0 2 0 0 0 8 2 6 0 1 1 % 0.54 f 22 16 11 11 11 5 16 8 9 12 Responden 4 % 33.

Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 Keinginan memperoleh Ijazah sampai stratum tertinggi Memberi kuliah Menyelenggarakan di lab.23 7.77 46 70.69 14 21.08 45 69.77 12 18.23 16 24.54 9. Membimbing mahasiswa pendidikan seminar 0 0 0 0 0 0 1 % f 2 % f 3 % f 4 % 0.54 44 67.54 17 26 15 .46 10.00 0.00 7 6 6 4 8 10.46 Tabel 8 Distribusi Frekuensi Kinerja Dosen Jawaban Responden No.62 10.00 0.23 12 18.08 35 53.00 1.77 44 67.92 16 24.08 45 69.23 14 21.00 0.46 0.Tabel 7 Distribusi Frekuensi Motivasi Instrinsik Jawaban Responden No.08 38 58.00 8 7 6 5 6 2 7 23.00 f 7 2 % f 3 % f 4 % 10.92 47 72.77 46 70.77 39 60 00 19 29.46 0.00 15 23.23 9.00 0.46 12 18. Item Pertanyaan f 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pengakuan prestasi dan atasan Prestasi menjadi dorongan Utama Penghargaan yang diterima Keadilan pemberian penghargaan Kesesuaian pekerjaan Beban mengajar yang diterima Senang terhadap pekerjaan Pemberian tanggung jawab Sikap terhadap tanggungjawab 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 % 0.46 45 69.62 Membimbing kuliah kerja nyata Membuat diktat.69 15 23. modul 12 31 40 61.00 0.62 0.22 3.54 47 72.23 14 21.23 9.69 9.00 0.77 12 18.31 16 24.00 0.32 12 18.00 0.46 37 56.23 6.00 12 18.85 24 36.15 45 69.54 0.

di mana variabel kompensasi intrinsic ke varibel motivasi intrinsic disebut jalur dengan nilai beta sebesar 0.15 40 61. kompensasi non finansial.548876 dan signifikansi t = 0. Jika variabel kompensasi intrinsic dinaikkan satu poin.54 13.00 13 20.Tabel 8 (Lanjutan) Jawaban Responden No. Hasil perhitungan regresi antar factor dan identifikasi jalur pada tiap tahap dapat dijelaskan berikut: a.00 33 50. maka variabel motivasi intrinsic akan naik sebesar .85 14 21. Sebelum analisa jalur. Tahap 1 Uji Jalur P31 Pada dasarnya uji analisis jalur ini.23 0 00 17 26. motivasi intrinsik dan tingkat kinerja dosen. Pengujian analisis jalur dilakukan melalui penyaringan statistik dengan menggunakan koefisien arah beta untuk regresi berdasarkan data dalam bentuk skor baku karena dapat dibuktikan. maka signifikan pula koefisien jalurnya.77 19 29.00 1 54 f 6 3 9 2 % 9. dilakukan pengujian hipotesis yang telah diajukan sebelumnya.46 5. Juga dilihat interkorelasi antara variabel penelitian yakni kompensasi finansial. perlu dilakukan analisa faktor yang digunakan untuk mencari faktor yang menentukan masing-masing variable bebas.62 17 26 15 48 73.22 4.08 14 21. Hasil Analisis Jalur Menggunakan pengujian analisis jalur (path analysis). Artinya bahwa variabel kompensasi finansial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel motivasi intrinsic.54 10 15. 7 8 9 10 11 12 Item Pertanyaan Menulis karya ilmiah Menyajikan karya ilmiah Menampilkan karya ilmiah tidak dipublikasikan Memberi penyuluhan masyarakat Memberi pelayanan yang menunjang pemerintah Membuat karya pengabdian f 0 0 1 0 0 1 1 % 0 00 0.54 0.0000.85 41 63.31 1.62 3 4 % f % f 42 64.54 8 12.38 42 64 62 12 18. Jika beta signifikan.

Tahap 5 Uji Jalur P43 Uji ini merupakan i0i jalur faktor variabel motivasi intrinsik ke variabel tingkat kinerja dosen. didapatkan nilai beta 0. 354285.398286 dan signifikansi t 0. Tahap 2 Uji Jalur P41 Dalam uji jalur ini. Jika variabel kompensasi financial dinaikkan satu poin.354285 dengan signifikansi t sebesar 0. didapatkan nilai beta 0.398286 dengan signifikansi t sebesar 0.2731. maka varibel motivasi intrinsik akan naik sebesar 0. Artinya variabel kompensasi financial mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap variabel intrinsik. c. d.0005. didapatkan nilai beta sebesar 0.0010. di mana jalur variabel kompensasi financial ke variabel Tingkat kinerja dosen disebut jalur P41 dengan nilai beta sebesar 0.232731 dengan signifikansi t sebesar 0. Tahap 3 Uji Jalur P32 Dalam uji jalur full merupakan jalur faktor dari variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel motivasi intrinsik.0. Artinya variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh terhadap tingkat kinerja dosen. b. Tahap 4 Uji Jalur P42 Uji ini merupakan uji jalur faktor variabel kompensasi non finansial ke faktor variabel tingkat kinerja dosen. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0. Artinya variabel motivasi intrinsik .520431 dengan signifikansi t sebesar 0. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin. jika variabel kompensasi non finansial dinaikkan satu poin.0010.0005.548876.0142.2. e.

Tabel 9 Rekapitulasi Hasil Analisis Jalur Variabel terikat Motivasi Intrinsik (X3) Kinerja dosen (X4) Variabel bebas Kompensasi finansial (X1) Kompensasi non finansial (X2) Kompensasi Finansial (X1) Motivasi lntrinsik (X3) Kompensasi non Finansial (X2) beta Sig.berpengaruh terhadap variabel tingkat kinerja dosen.0142 Hipotesis 1: Diduga ada pengaruh kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik Hasil analisa data menunjukkan bahwa hipotesis dinyatakan diterima.0000 0.30127 0. maka variabel tingkat kinerja dosen akan naik sebesar 0.548876 0. Mengacu pada tabel di atas. Selanjutnya hasil analisa untuk masing-masing hipotesis dapat dilihat pada Tabel 9.55664 0.0010 0.13 persen variabel kompensasi finansial terhadap motivasi intrinsik.398286 0.23731 0.0000.520431.520431 0. artinya terdapat kontribusi 30. variabel kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik dosen didapatkan koefisien korelasi sebesar 0.30 127 dengan signifikansi F 0.354285 0. Nilai R2 sebesar 0.59877 0. t R Square 0.0005 0.0000 0.54888 yang berarti terdapat hubungan yang kuat. BAHASAN Pada prinsipnya dalam menjawab hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dilakukan melalui analisa jalur.15863 0. Apabila variabel motivasi intinsik dinaikkan satu poin.59877 0. Hal ini dibuktikan variabel Kompensasi finansial dan motivasi . Hipotesis 2: Diduga ada pengaruh Kompensasi Finansial dan Motivasi Intrinsik Terhadap Kinerja Dosen Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 2 diterima.

Hasil regresi menunjukkan bahwa hipotesis ketiga dapat diterima.55664 artinya terdapat kontribusi pengaruh sebesar 55. Nilai R2 sebesar 0.0000. R2 sebesar 0. Ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.74608 dengan signifikansi F sebesar 0.87 persen dan kompensasi finansial terhadap variabel motivasi intrinsik. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh signifikan terhadap variabel tingkat kinerja dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0.88 persen. Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa hipotesis 4 diterima.0010. yang berarti terdapat hubungan yang kuat.15863. artinya terdapat kontribusi sebesar 15. Hipotesis 4: D duga ada pengaruh Kompensasi non finansial dan motivasi intrinsik terhadap kinerja dosen.67 persen dari kompensasi non finansial dan motivasi instrinsik terhadap kinerja dosen. Hal ini disebabkan variabel kompensasi non finansial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel motivasi intrinsik dosen yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0.intrinsik mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap tingkat kinerja dosen. .0000.39829 dengan signifikansi t sebesar 0.59877 dapat dikatakan kompensasi finansial dan variabel motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen. Nilai R2 sebesar 0. Hipotesis 3: Diduga ada pengaruh Kompensasi non finansial terhadap movitasi instrinsik.77380 dengan signifikansi F sebesar 0. pengaruh kompensasi finansial dan motivasi Intrinsik sebesar 59.

3. P41 sig t 0. beta = 0.354285 Kompensasi Finansial (X1) P31 sig t 0. Hipotesis keempat. kompensasi finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsik dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta dapat diterima secara statistik.548876 Motivasi Intrinsik (X3) P43 sig t 0. ditunjukkan oleh nilai F hitung 11. kompensasi non finansial berpengaruh terhadap motivasi intrinsic dapat diterima secara statistic. Ini menunjukkan bahwa kompensasi finansial yang terdiri dari gaji. beta = 0.0000.87801.Berdasarkan hasil analisis dapat dibangun model empiris pada Gambar 2.0010. Hipotesis ketiga.000 Beta = 0.30127 atau 30. kompensasi non finansial dan variabel intrinsik mempengaruhi kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada PTS di .0142. 4. insentif. Hipotesis pertama. kompensasi finansial dan motivasi intrinsik berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen dapat dibuktikan secara statistik.13 persen terhadap motivasi intrinsik. pekerjaan itu sendiri.0005. honor dan insentif secara parsial mempunyai pengaruh sebesar 0. 2. Kompensasi finansial yang terdiri dari gaji. dan honor serta motivasi intrinsik yang terdiri dari pengakuan prestasi.232731 Gambar 2 Model Hasil Pengujian Hipotesis SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. beta = 0.39829 Kompensasi Non Finansial (X1) P42 sig t 0.520431 Kinerja Dosen (X4) P32 sig t 0. Hipotesis kedua. beta = 0. dan tanggungjawab berpengaruh terhadap tingkat kinerja dosen.

33 persen dipengaruhi oleh variabel lainnya diluar model. Kompensasi non finansial dan variabel motivasi intrinsik mempunyai pengaruh yang signifikan sebesar 55. PTS seyogjanya memperhatikan variabel kompensasi ini guna meningkatkan motivasi intrinsik dosen. Dengan meningkatnya motivasi intrinsik diharapkan kinerja dosen akan bertambah baik pula dalam rangka pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.Kediri dapat diterima. Baik buruknya kinerja dosen akan sangat dipengaruhi oleh motivasi intrinsik dosen. sisanya 44. Saran Berdasar pada hasil kajian diatas sangat jelas bahwa variabel kompensasi baik variabel kompensasi finansial maupun variabel kompensasi non finansial sangat erat hubungannya dengan motivasi intrinsik dosen. . Perguruan tinggi harus memperhatikan bagaimana meningkatkan movitasi intrinsik dosen tersebut. Selanjutnya motivasi intrinsik tersebut akan berdampak langsung pada kinerja dosen.67 persen terhadap variabel tingkat kinerja dosen tetap fakultas ekonomi pada perguruan tinggi swasta di Kediri.

Yogyakarta. Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi. Quality of Work Life. 1995. 1995. Sondang. Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan. Prehalindo. Mc Graw-Hill.P. Second Edition. Haji Masagung.T. Managing Human Resources : Productivity. Swasto. 1993. Kontroversi dan Aplikasi. 1997. Human Resources Management. . Handoko. Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. Human resources Management. Pt Rineka Cipta. Manajemen Sumber Daya Manusia. BP STIE YKPN. Widjaja. Allyn & Bacon. S. Manajemen Sumber Daya Manusia. Davis. Henry. M. The Association for Management Education and Development. Jakarta. 1996. Jakarta. London. Gomes.DAFTAR RUJUKAN Cascio. 1994. Human Resources and Personnel Management. Jilid I. Profits. Pressindo. Prosedur Penelitian : Suatu pendekatan Praktek. Cushway. Siagian. Yogyakarta. 1996. Jakarta. Perilaku Organisasi : Konsep. Hasibuan.. New York.F. Keith & Werther. 1992. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Manajemen Sumber Daya Manusia. 1995. Mondy. 1990. 1989. Jakarta. USA. Yogyakarta. Jakarta. Mc Grw Hill. Hani.. Suharsimi. Inc. ANDI Offset. Manajemen Sumber Daya Manusia. Massagung. 1986. Wayne & Noe. Cetakan kelima. Robert. P. 1988. A. Edisi 2. Simmamora. W. Edisi Revisi II. BPFE Yogyakarta. B. Robbins.

Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT). PKn. and were analyzed by discriptive statistic. The research was desained as research and development by Borg & Gall (1982). dan terbatas pada pengembangan pengetahuan (kognitif). dan Nur Wahyu Rochmadi adalah dosen Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang . Sri Untari.The data was collected by questionnaires. Lembar Kegiatan siswa. pesan pembelajaran masih bersifat informatif. The Subyects of this research were 20 teachers of Civics in senior hight school and 20 Experts. documentation. Suparlan Al Hakim. The result of this research was model with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach which is pleased to be able to increase dialogue and critical thinking skill Key words: Bahan Ajar. Fenomena yang nampak. Substansi pesan pembelajaran (bahan ajar) selama ini.Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialog dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur Sri Untari Suparlan Al Hakim Ktut Diara Astawa Nur Wahyu Rochmadi Abstract: This research aimed to developing book and the sheet activity of student Civics with Deep Dialogue/Critical Thinking Approach. Ktut Diara Astawa. belum mampu memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan dialog mendalam dan berpikir kritis.

yaitu rasa egoisme kelompok yang tinggi. Bahkan diduga telah menghasilkan hal yang sebaliknya. tanpa ada tindak lanjut dalam bentuk perilaku. 2000). Untuk mencapai misi tersebut. baik yang ditampakkan dalam proses pembelajaran maupun kemasan materi dalam bentuk bahan ajar dan lembar kegiatan siswa. empati dan mengurangi prasangka siswa. kajian deep dialogue/critical thinking sebagai paradigma pengembangan pendidikan berlaku prinsip Unity in policy and deversity in implementation. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia (Dikti. pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya ditekankan pada pembentukan kepribadian manusia. sehingga menyebabkan rendahnya kesadaran siswa untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan beripikir kritis. khususnya dalam pembelajaran PPKn perlu diperhatikan kaidah-kaidah DD/CT. Sedangkan ciritical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis. keterbukaan. 2001). praktik pembelajaran seharusnya dikemas dengan menggunakan pendekatan dialog mendalam dan berpikir kritis (deep dialogue/critical thinking). jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI. kesenjangan sosial. berpikir kritis. karena sifat terbuka dalam diri akan membuka peluang . Agar deep dialogue/critical thinking dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.Selain itu. Justru kenyataan ini sebagai kelebihan lain dari penerapan deep dialogue/critical thinking. dapat diartikan bahwa percakapan antara orang-orang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal. Dalam tataran praksis. saling keterbukaan. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Dalam kaitan itu Untari (2002) mengidentifikasikan sebagai berikut: Pertama. Deep dialogue (dialog mendalam). membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar. proses pendidikan yang berlangsung selama ini diduga belum berhasil meningkatkan kemampuan berdialog. langkah awal untuk melakukan dialog mendalam dan berpikir kritis individu harus membuka diri terhadap mitra dialog. Secara programatik. Hal ini dikarenakan hanya terbatas upaya meningkatkan pengetahuan siswa. dan rendahnya empati dan tingginya prasangka terhadap orang lain.

sehingga perubahan yang terjadi pada masing-masing pihak merupakan hasil berpikir kritisnya sendiri (self-critical thinking). Untuk menanamkan kepercayaan pribadi. mengubah dan mengembangkan persepsi. deep dialogue/critical thinking terjadi manakala masing-masing pihak yang berdialog menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Dengan demikian kejujuran merupakan prasyarat terjadinya dialog atau dengan kata lain tidak ada kepercayaan berarti tidak ada dialog. Kedua. kerjasama. serta saling percaya diantara mereka. kejujuran. Dialog sebagai suatu kegiatan memiliki dua sisi yakni dalam masyarakat (intern) dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya (antar). Dengan demikian ketika masuk dalam dialog. sebab dialog hanya akan bermanfaat manakala pihak-pihak yang melakukan bersikap jujur dan tulus. kita dapat belajar. Artinya kita paling mengetahui apa yang kita ketahui. Ketiga. kesulitan dan cara mengatasinya melalui berpikir kritis secara apa adanya. berubah dan berkembang dalam rangka meningkatkan berpikir kritis. bersikap jujur dan penuh kepercayaan diperlukan dalam deep dialogue/critical thinking. etis atau santun. dan mitra dialog kita paling mengerti apa yang mereka ketahui. langkah awal adalah mencari kesamaan dengan cara bekerjasama dengan orang lain. saling menghargai. Di samping itu masing-masing saling mempelajari. untuk memperluas wawasan bersama.untuk belajar. untuk memperdalam. . Hal ini penting karena kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama atau dengan bekerjasama akan menghasilkan pemecahan yang menguntungkan pihak-pihak yang bermasalah (win-win solution). menunjung nilai-nilai moral. Selanjutnya melangkah pada permasalahan umum yang dapat dihadapi bersama atau mencari solusinya. belajar dan mengubah diri masing-masing pihak yang berdialog. Keempat. selanjutnya memilih pokok-pokok permasalahan yang memungkinkan memberi satu dasar berpijak yang sama.Artinya masing-masing mengemukakan tujuan. mengubah dan memodifikasi pemahaman mereka. demokratis yakni dengan memperlakukan mitra dialog sedemikian rupa sehingga berketetapan hati untuk berdialog. Pemahaman realitas dan bertindak secara tepat merupakan hasil berpikir kritis. Hal ini dilakukan mengingat bahwa dialog pada hakekatnya bertujuan untuk saling berbicara. harapan.

(Frazee&Rudnitski. Oleh karenanya saling mengakui keunggulan masing-masing akan diperoleh pemahaman bersama secara baik Keenam. sehingga siswa memiliki kesiapan dan minat untuk belajar. saling memberi yang terbaik. Membangun empati dalam dialog mendalam pihak-pihak yang berdialog dapat menyetujui dengan tetap menjaga integritas diri mitra dialog.1995). merupakan ungkapan yang tepat dalam membangun deep dialogue/critical thinking.Kelima.2002).1995) dan guru perlu menguasai ketrampilan dasar mengajar (Wardani dala Endang Danial. Global Dialogue Institut merumuskan sebuah pendekatan pembelajaran yang dipandang cocok untuk PKn yakni Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking (DD/CT) yang mengandung prinsip: komunikasi multi arah. pengenalan diri sendiri untuk mengenal dunia orang lain. bandingkan secara adil dalam berdialog sedapat mungkin kita tidak menduga-duga tentang hal yang disetujui dan hal yang akan ditentang. Dengan menghadirkan hati. Untuk itu bahan harus: (1) bermakna secara potensial. membangun empati. deep dialogue/critical thinking akan terjadi manakala masing-masing pihak menghadirkan hati. menjalin hubungan . Ausubel (dalam Irawan. masyarakat dan tradisinya. saling mengakui keunggulan. Untuk itu guru dituntut memiliki kualifikasi baik sebagai inovator sekaligus developer pembelajaran yang dilakukan dengan pembaharuan pembelajarannya maupun melakukan adopsi kritis terhadap inovasi pendidikan (Rogers. seolah kita yang memiliki kelebihan daripada mitra dialog kita. Dalam berdialog harus menghadirkan hati dan tidak hanya fisik. Kita jauhkan prasangka. dan menghindarkan menjadi penceramah.1981). (2) bertujuan untuk melaksanakan belajar secara bermakna. (Raka Joni. belajar menekankan pada isi dan proses yang berorientasi pada peserta didik sebagai subyek belajar. pengkotbah atau yang mendominasi proses dialog. Oleh karena itu Rianto (2000) berpendapat dalam pandangan teori belajar humanistik.1996) dalam teori belajar bermakna (meaningful teaching theory) mengemukakan bahwa kebermaknaan penyajian dan pentingnya pengaturan kemajuan belajar (advance organizer) dimana bahan harus dirancang baik agar menarik minat siswa. masing-masing pihak yang berdialog dapat memberi respon kepada mitra dialog secara baik. Jangan menilai sebelum meneliti.

(2) tersusunannya bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan pendekatan DD/CT yang berterima baik secara teoritis maupun praktis bagi siswa SMA di Jawa Timur METODE Subyek penelitian ini adalah praktisi (guru PKn di SMA Jawa Timur) sejumlah 10 orang dan pakar PKn berjumlah 10 orang. saling memberadabkan (civilizing) dan memberdayakan (empowering). sehingga akan menunjang pembentukan warga negara yang baik. pedoman wawancara. dan persentase) untuk data-data yang diambil dengan kuesioner. dokumentasi. 2002). DD/CT mengandung nilai demokratis dan etis sehingga beraitan dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia. dan wawancara. mode. keterbukaan dan kejujuran serta empatisitas yang tinggi ( Al Hakim. Berdasarkan latar belakang di atas tujuan penelitian ini adalah (1) menemukan kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn yang berbasis DD/CT. Instrumen yang digunakan dalam penelitian tahap pertama ini adalah kuesioner. Lokasi penelitian ini adalah Kota Malang. bertanggung jawab. Teknik analisis statistik deskriptif (rerata. cerdas dan religius. Swidler menekankan bahwa DD/CT lebih merupakan cara berpikir baru (new way of thinking).kesederajatan. Dengan rancangan penelitian pengembangan. demokratis. Rancangan kuantitatif dipergunakan untuk menjelaskan bahan ajar dan LKS Matapelajaran PKn berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking untuk siswa SMA . terutama dalam pendidikan anak seutuhnya (PAS). Produknya berupa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan . Kuesioner dan wawancara dipergunakan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking . Analisis domain untuk data yang diambil dengan analisis dokumen. Penelitian Pengembangan pada tahap kedua adalah bagaimana menyusun bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang bisa berterima secara teoritis maupun praktis.

serta bahan ajar yang digunakan memang baik. Guru seringkali mengabaikan prosedur pengembangan bahan ajar yang sistematik ini karena berasumsi. maka bahan ajar dapat digunakan dengan efektif dalam proses pembelajaran. jika sudah dibuat dengan baik sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Paling tidak ada lima langkah utama dalam prosedur pengembangan bahan ajar yang baik. Padahal ada beberapa langkah yang harus dilakukan guru sebelum sampai pada kesimpulan bahawa bahan ajar sudah dikembangkan dengan baik.kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA yang berterima secara teoritis maupun praktis. Penelitian dimulai dengan memadukan hasil penelitian tahap pertama dengan dengan kajian teori untuk menghasilkan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking bagi siswa SMA Pengembangan bahan ajar perlu dilakukan secara sistematik berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait untuk menghasilkan bahan ajar yang bermanfaat. a. Karakteristik Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara yang dilakukan dengan para pakar dan praktisi diketahui sebagai berikut. sebagai berikut Analisis Perancangan Pengembangan Evaluasi Revisi HASIL 1. buku mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah menurut pakar dan guru dikategorikan seperti dalam Tabel 1. Struktur Bahan ajar Mata Pelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan struktur bahan ajar. .

sebanyak 87.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi . 3. Ditinjau dari Paparan materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT menurut guru dan pakar dikategorikan seperti dalam Tabel 2 berikut. menurut pakar dan praktisi 53% menyatakan sistematis dan semua mengacu pada satandar isi. 2.5% pakar dan praktisi/guru menyatakan semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. 10% pakar dan praktisi /guru menyatakan sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi. 4. 3. 4. 2. sedangkan 37% pakar dan praktisi menyatakan sistematis dan sebagian mengacu pada standar isi.dan 10% menyatakan sistematis tetapi tidak mengacu pada standar isi.Tabel 1 Struktur Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. Paparan Materi Buku Teks Mata Pelajaran PKn Semua runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Sebagian runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Tidak runtut dan tidak sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi Jumlah Jumlah 35 4 1 0 40 100% % 87. dan 2. Struktur Buku Teks Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Jumlah Jumlah 21 15 4 0 40 % 53 37 10 0 100% Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa struktur bahan ajar PKn berbsis DD/CT yang digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran.5% Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa paparan materi bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. Tabel 2 Paparan Materi Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1.5% 10% 2.

dan 2. sebanyak 45% menyatakan luas. . 5. Tabel 4 Tingkat Kesulitan Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1.5% 100% Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. 4. 3. 2. Ditinjau dari tingkat kesulitan materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT yang dipergunakan sebagai sumber bahan ajar dalam proses pembelajaran di sekolah dikategorikan seperti dalam Tabel 4 berikut. Tingkat Kesulitan Materi Buku Teks PKn Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 2 20 17 40 % 2.5% menyatakan sulit dipahami. dan 30% menyatakan cukup luas.Ditinjau dari keluasan (scope) materi bahan ajar dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam Tabel 3 berikut.5% 5% 50% 42. 3. 5. Keluasan (scope) Materi Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 10 18 12 0 0 40 % 25% 45% 30% 100% Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa keluasan (scope) materi bahan ajar matapelajaran PKn berbasis DD/CT. Tabel 3 Keluasan Materi Bahan Ajar Mata Pelajaran PKn berbasis DD/CT No 1.5% menyatakan sangat mudah dipahami. 42. 5% menyatakan cukup sulit dipahami. 4. sebanyak 25% menyatakan sangat luas. . 20% menyatakan mudah dipahami. 2.

menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 6 seperti berikut. 5. 62. Tabel 6 Paparan Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Paparan Awal Buku Teks PKn menggunakan Cerita.5% 22. 5% pakar dan praktisi menyatakan bahasa terlalu tinggi untuk siswa SMA.22. 2.5% 30% 57. Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa sangat sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 2 3 25 9 1 40 % 5% 7. 4. 4.5% 100% Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa tingkat keterbacaan (bahasa) materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT. Lagus. 2. 7.5% 62.5% bahasa kurang sesuai dan 2. 5.5% menyatakan bahasa sangat sesuai untuk siswa SMA.5% menyatakan bahasa sesuai.Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa) yang digunakan dalam materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT dikategorikan seperti dalam tabel 5 berikut: Tabel 5 Tingkat Keterbacaan (Bahasa) Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No 1. 1 12 23 4 0 40 2. 3. 3.5% menyatakan bahasa bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Ditinjau dari paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. Puisi atau Peristiwa yang Relevan dengan Materi Pokok Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1.5% 10% 100% .5% 2.

Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam. 4. 32. kadang-kadang. Tabel 8 Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam No 1. contoh realitas kehidupan.5% menyatakan sering. 3. 57. 5. 12.Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa paparan awal materi bahan ajar mata pelajaran pkn berbasis DD/CT.5% menyatakan selalu. 30% menyatakan sering. 2. 5. kalimat naratif. 2. menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 7 seperti berikut. sebanyak 55% menyatakan selalu. 3. contoh realitas kehidupan. apakah dimulai dengan pemaparan cerita atau syair lagu atau puisi atau peristiwa yang relevan dengan substansi materi pokok. 2. Tabel 7 Paparan Ilustrasi dalam Awal Bahan Ajar Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT No Materi bahan ajar PKn Berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar. atau kalimat naratif. 22 13 5 0 0 40 55% 32.Ditinjau dari apakah materi Awal bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memaparkan ilustrasi berupa gambar.5% 12. contoh realitas kehidupan. kalimat naratif Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah % 1. dan 2.5% .5% 100% Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memaparkan ilustrasi berupa gambar. 4. Materi Bahan Ajar PKn Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 12 23 5 0 0 10 % 20% 30% 50% 100% . menurut guru dikategorikan dalam Tabel 8 sebagai berikut.5% menyatakan kadang-kadang.5% pakar dan praktisi menyatakan tidak ada.

Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa materi bahan ajaran mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog mendalam.5% 7.5% menyatakan kadang-kadang.5% 30% 12.5% responden menyatakan selalu. sebanyak 50% guru menyatakan kadang-kadang. 30% menyatakan selalu. 2. sebanyak 57. Tabel 10 Keberadaan LKS Berbasis DD/CT dalam Proses Pembelajaran PKn No 1. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Menurut Pakar dan Praktisi Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan responden penelitian ini diketahui bahwa lembar kegiatan siswa (LKS) PKn Berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam tabel 10 sebagai berikut. dan 20% guru menyatakan selalu. 2. 2. dan 12. Materi Bahan Ajar Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis Selalu Sering Kadang-kadang Tidak ada Lain-lain Jumlah Jumlah 23 12 5 0 0 40 % 57. 3. 30% guru menyatakan sering. 4.5% 100% Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis.5% 15% 100% . Keberadaan LKS Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Lain-lain Jumlah Jumlah 20 11 3 6 0 40 % 50% 27. Tabel 9 Materi Bahan Ahar PKn Berbasis DD/CT Memfasilitasi Siswa Berpikir Kritis No 1. 3. 5. Ditinjau dari apakah materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut guru dapat dikategorikan dalam Tabel 9 sebagai berikut. 5. 4.

Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa keberadaan LKS dalam setiap materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT dalam proses pembelajaran di sekolah. 4. 15% menyatakan LKS dan Bahan Ajar dibuat terpisah. 4. 3. 5. 50% menyatakan sangat perlu.5% 5% 2. 2. Lembar kegiatan siswa (LKS) PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn menurut pakar dan praktisi terkait dengan bahan ajar PKn berbasis DD/CTi.5% menyatakan kurang perlu. Kaitan LKS dan Bahan Ajar LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan LKS dan Bahan Ajar dibuat secara terpisah LKS dimuat setelah materi/topic LKS diletakkan setelah seluruh materi/topik Jumlah Jumlah 10 6 2 22 40 % 25% 15% 5% 55% 100% Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa hubungan lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam setiap materi pembelajaran PKn di sekolah dengan bahan ajar. 7. Tabel 11 LKS Terkait dengan Bahan Ajar PKn No 1. seperti dalam Tabel 11 berikut. 27. 55% menyatakan LKS diletakkan setelah seluruh materi. 25% menyatakan LKS dan Bahan Ajar merupakan satu kesatuan.5% 100% . 5% menyatakan LKS dibuat setelah topik. Karakteristik LKS Berbasis DD/CT ditinjau dari struktur LKS PKn yang dipergunakan dapat dikategorikan dalam Tabel 12 sebagai berikut: Tabel 12 Struktur LKS PKn Berbasis DD/CT No 1. 3.5% menyatakan perlu. 2. Struktur LKS PKn Sistematis semua mengacu pada standar isi Sistematis sebagian mengacu pada standar isi Sistematis tidak mengacu pada standar isi Tidak sistematis dan tidak mengacu pada standar isi Lain-lain Jumlah Jumlah 37 2 0 0 1 40 % 92. dan 15% menyatakan tidak perlu.

4. Tabel 13 Paparan LKS PKn Berbasis DD/CT No 1. dan 10% menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. Paparan LKS Runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi Runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi Tidak runtut dengan kompetensi dasar pada kurikulum Lain-lain Jumlah Jumlah 36 0 4 0 0 40 % 90% 10% 100% Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa pemaparan lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT pada mata pelajaran PKn. dan 2.5% 5% 100% .5% menyatakan lain-lain. 5. sebanyak 92.5% menyatakan sistematis semua mengacu pada standar isi. Ditinjau dari sisi pemaparan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dapat dikategorikan dalam Tabel 13 sebagai berikut. 2. 5. Ditinjau dari keluasan (scope) LKS materi bahan ajar mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 14 sebagai berikut: Tabel 14 Keluasan Materi LKS No 1. 3. 3. 4.Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa struktur lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT.5% 62. Keluasan (scope) Materi LKS Sangat luas Luas Cukup luas Sempit Sangat sempit Jumlah Jumlah 0 13 25 2 0 40 % 32. 90% menyatakan runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. 2. 5% menyatakan sistematis sebagian mengacu pada standar isi.

4. 37. 2.5% responden . Ditinjau dari tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam tabel 14 sebagai berikut: Tabel 15 Tingkat Kesulitan Materi LKS No 1. 62.5% 100% Berdasarkan Tabel 16 diketahui bahwa tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT.5% menyatakan sulit dipahami.5% menyatakan luas.5% 37. Tingkat Keterbacaan Materi LKS Bahasa terlalu tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA Bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA Bahasa kurang sesuai untuk siswa jenjang SMA Bahasa tidak sesuai untuk siswa jenjang SMA Jumlah Jumlah 0 1 39 0 0 40 % 2.5% 97. sebanyak 2.5% menyatakan cukup sulit dipahami.5% menyatakan cukup luas. sebanyak 32. 5. 3. 3. 4.5% 60% 100% Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. Tingkat Kesulitan Materi LKS Sangat sulit dipahami Sulit dipahami Cukup sulit dipahami Mudah dipahami Sangat mudah dipahami Jumlah Jumlah 0 1 15 24 0 40 % 2. dan 5% menyatakan sempit. sebanyak 97. dan 60% menyatakan mudah dipahami. 2. Ditinjau dari tingkat keterbacaan (bahasa yang digunakan) LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut pakar dan praktisi dikategorikan dalam Tabel 16 sebagai berikut. 5.Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa keluasan (scope) materi lembar kegiatan siswa (LKS) berbasis DD/CT. Tabel 16 Tingkat Keterbacaan Materi LKS No 1.

5% memuat pusi. 4. Paparan Awal LKS Cerita Syair lagu nasional atau local Puisi. 5. 2.5% 65% 2.5% 100% Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa paparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan. 2. syair lagu daerah (lokal) Peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok Lain-lain Jumlah Jumlah 10 2 1 26 1 40 % 25% 5% 2.menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. Ilustrasi dalam LKS Gambar Contoh realitas kehidupan Bagan dan grafik Kalimat naratif (uraian) Lain-lain Jumlah Jumlah 2 25 3 10 5 45 % 4% 56% 6% 22% 12% 100% Berdasarkan Tabel 18 diketahui bahwa ilustrasi dalam LKS PKn berbasis DD/CT. 4% menyatakan memuat gambar. 56% memuat contoh .5% menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. dan 2. Ditinjau dari pola pemaparan awal sajian LKS mata pelajaran PKn yang dipergunakan dalam proses pembelajaran dapat dikategorikan dalam tabel 17 sebagai berikut. Ditinjau dari ilustrasi dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menurut responden dapat dikategorikan dalam Tabel 18 sebagai berikut. Tabel 18 Ilustrasi dalam LKS No 1. Tabel 17 Paparan Awal LKS No 1. 25. 5. 4.5% menyatakan lain-lain. 3. 3. 2.% responden menyatakan memuat cerita 5% menyatakan memuat syair lagu. 65% memuat peristiwa kehidupan yang relevan dengan materi pokok. 2.

5% 2. 5. 6% menyatakan memuat bagan. 5% menjawab tidak memfasilitasi Ditinjau dari apakah pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis menurut responden dapat dikategorikan sebagai berikut.5% 5% 100% Berdasarkan Tabel 19 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi terjadinya dialog mendalam diantara siswa. sebanyak 52. Pertanyaan dan Tugas LKS Memfasilitasi Siswa Berdialog Mendalam Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 21 12 5 2 40 % 52. 4. Pertanyaan dan tugas dalam LKS PKn Memfasilitasi Siswa untuk Berpikir Kritis Sangat menfasilitasi Cukup Memfasilitasi Kurang memfasilitasi Tidak memfasilitasi Lain-lain Jumlah Jumlah 28 10 1 1 40 % 70% 25% 2. 22% menyatakan memuat kalimat narasi. 2.5% 30% 12. 3. Ditinjau dari pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT apakah memfasilitasi siswa untuk berdialog secara mendalam.5% guru menjawab sangat menfasilitasi. 4.5% 100% . 5. Tabel 19 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1. dan 12% menyatakan memuat lain-lain. 2. 12.realitas kehidupan. Tabel 20 Pertanyaan dan Tugas LKS No 1. 30% menyatakan cukup memfasilitasikadang-kadang. 3. menurut guru dapat dikategorikan sebagai berikut.5% menjawab kurang.

. Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya. Dapat dilihat dari Tabel sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban.5% menjawab kurang memfasilitasi.5% menjawab tidak memfasilitasi 3. Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. benar dari segi keilmuan. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1. Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. Kelebihan dan Kekurangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn Berbasis DD/CT Berdasarkan hasil wawancara dengan praktisi dan pakar dapat dijelaskan sebagai berikut: a. sebanyak 70% menjawab sangat memfasilitasi.Berdasarkan Tabel 20 diketahui bahwa menurut responden pertanyaan dan tugas dalam LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis. 25% menjawab cukup memfasilitasi. 2. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu. 2. Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar tidak dikembangkan secara asal-asalan.

. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda. Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. sebagai berikut. Pengembangan bahan ajar sesuai dengan materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan dalam standar isi atau topik di Sekolah Menengah Atas. kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal.Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. yang menurut pakar dan praktisi. 3. Dalam hal ini. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. keluasan maupun kedalamannya akan berbeda.

2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar Pkn berbasis DD/CT disajikan secara sistematis. Misalnya. 3) Perjelas dengan Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat.1) Paparan yang Logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. dan juga menuntun siswa untuk terbiasa berpikir runtut. Urutan strategi penyajian dapat berubah-ubah sehingga tidak membosankan. atau dari fakta ke konsep. Logika penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep dalam bahan ajar. Dengan demikian. tidak meloncat-loncat.hal ini dilihat dari pengorganisasi bahan ajar itu sendiri yang bertanya tentang apa sampai bertanya mengapa. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. atau contoh. Dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. contoh dan latihan. atau penyajian uraian. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. latihan. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. dari yang mudah ke yang sukar. latihan. dalam menjelaskan Hak asasi manusia dalam mata . Logika pemaparan ini dapat diperkenalkan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis. siswa diharapkan dengan mudah mengikuti pemaparan. Keruntutan penyajian isi bahan ajar mempermudah siswa dalam belajar. tidak terkotak-kotak satu sama lain. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. penyajian uraian. contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. namun setiap bagian perlu diberi penjelasan yang memadai sehingga tidak membingungkan siswa. Dengan demikian. Bahan ajar berbasis DD/CT yang dipaparkan secara logis akan memudahkan siswa.

petunjuk belajar bagi siswa. siswa akan dapat berdialog sesuai petunjuk dalam LKS. dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berbentuk tertulis. atau caption dalam program video. atau dalam bentuk noncetak. model. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan (bukan malah membuat siswa semakin bingung). simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita. misalnya nada suara yang berbeda dalam kaset audio. atau dari internet. Untuk menjelaskan konsep tersebut diperlukan alat peraga yang dapat menggambarkan pelaksanaan dan pengadilan HAM internasional. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar).pelajaran PKn di SMA. alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama . guru tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. Melalui guntingan koran tersebut. Guru dapat mencari kasus di koran. sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah. Koran. tercetak-narasi sebagai bagian dari penyajian isi bahan ajar dalam materi pokok yang berbentuk cetak. Contoh dan ilustrasi dapat dikembangkan dalam beragam bentuk. Dalam beberapa kasus. judul bab yang jelas. atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. audio. penomoran. Jadi. diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. poster. serta tanda-tanda khusus yang diberlakukan serta dapat membantu siswa. alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. untuk memngetahui pengadialan HAM internasional. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. alat bantu juga dapat berupa rangkuman. kartu-kartu (flipchart). seperti video. Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar harus konsistensi. Dalam bahan ajar cetak. ataupun dari situs-situs di internet. serta tanda-tanda khusus. Dalam bahan ajar non-cetak.

Dalam bahan ajar cetak. tanda perintah berhenti. jika guru menggunakan kertas kuning untuk lembar kerja siswa. Contoh. setiap kali siswa melihat warna kertas kuning. Dalam hal ini. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. 6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar perlu ada penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. maka seterusnya gunakanlah warna kertas kuning untuk LKS. clip video yang berupa grafik. atau penyajian langsung dapat digunakan sebagai tanda dari rangkuman. Bahan ajar dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. konsistensi istilah sangat diperlukan sehingga siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. paket kerja mandiri). dan dipelajari oleh siswa. mengulang. diingat. 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar perlu memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali. atau meneruskan pembelajaran. mengulang. Dalam bahan ajar audio. Peran ini perlu dijelaskan kepada siswa dengan cermat. atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. intonasi suara dapat digunakan sebagai tanda atau format untuk berhenti. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. . sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. gambar ―orang sedang berpikir‖ digunakan untuk arti ―uji kompetensi‖ yang harus dikerjakan oleh siswa secara tertulis. maka siswa akan menandai sebagai LKS. Misalnya. Dalam bahan ajar video. jangan gunakan warna kuning untuk komponen lain dalam bahan ajar. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. atau meneruskan pembelajaran.hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. Dengan demikian.

Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. penggunaan kalimat efektif. 4. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. Penggunaan bahasa. dan lain-lain. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. siswa dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain. video. namun jika bahasa yang digunakan tidak dimengerti oleh siswa. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. seperti kaset audio. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa. yang meliputi pemilihan ragam bahasa. pemilihan kata. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. Hal ini sangat perlu sebagai .Bahan ajar juga perlu menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar terjadi. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. mengerjakan tugas-tugasnya. serta dikemas dengan menarik. menggunakan format yang konsisten. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. Walaupun isi bahan ajar sudah cermat. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. Dalam bahasa komunikatif. Dengan demikian. lembar kerja siswa. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. dan tidak terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendiri-sendiri. bahan ajar berbasiskan komputer. pertanyaan. ajakan. dan penyusunan paragraph yang bermakna. Dengan demikian. dan penjelasan. maka bahan ajar tidak akan bermakna apa-apa.

dan lebih mudah dimengerti. serta keterpaduan. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya. yang berbentuk kalimat topik. jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. Selain itu. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut. Selanjutnya. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. Di samping itu. singkat. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar. dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. kadangkala dapat membingungkan siswa. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. Pada gilirannya. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan. Gagasan utama. Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya.salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. .

5. Perwajahan/Pengemasan

Perwajahan dan atau pengemasan berperan dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak, serta pengemasan dalam paket bahan ajar multimedia. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. 3) Padukan grafik, poin, dan kalimat-kalimat pendek, tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan, karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu, jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna. 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian, tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan.  Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar, sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri, atau dengan teman-teman dalam kelompok).
6. Ilustrasi

Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar memiliki ragam manfaat, antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar, jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. Namun, ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis, yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. Selain itu, ilustrasi juga dapat diambil dari sumber

langsung (misalnya foto), sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). Jika ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain, penulis berkewajiban memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. Selain itu, ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik, memotivasi, komunikatif, membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar, antara lain daftar atau tabel, diagram, grafik, kartun, foto, gambar, sketsa, simbol, dan skema.
7. Kelengkapan Komponen

Idealnya, bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik, meliputi penyampaian tujuan belajar, memberi bimbingan tentang strategi belajar, menyediakan latihan yang cukup banyak, memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci, soal, tugas, kegiatan), serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket, atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet, atau buku lain), panduan belajar/siswa, serta panduan guru. Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti, yaitu komponen utama, komponen pelengkap, dan komponen evaluasi hasil belajar. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa, atau harus dikuasai siswa. Kebanyakan, bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak, misalnya buku teks, buku pelajaran, modul, dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama, atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa.

Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan, bacaan, jadwal, silabus, peta materi, kliping kasus), bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak, peta materi dalam bentuk program komputer, video, kaset, web suplemen, simulasi komputer, kit), panduan siswa (peta materi, petunjuk belajar, latihan dan tugas, tips, kata-kata sukar, pemilahan materi), panduan guru (peta materi, petunjuk bagi guru, konsep inti topik atau pokok bahasan, latihan dan tugas, rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik, yang disajikan melalui beragam media, secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
a. Bahan Ajar PKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
b.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

2. Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga Beberapa usulan pakar dan praktisi agar buku PKn dan LKS yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut:
c. Bahan Ajar PPKn

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
d.

Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak, perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis Menyusun buku dengan bahasa yang menarik, mudah difahami dan mengajak siswa berpikir Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Soal-soal jangan di luar materi

Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang 3. ―buku adalah jendela informasi dunia‖. Hal ini dimaksudkan untuk dapat dipergunakan oleh guru dan siswa sesuai dengan jenjang kelasnya. secara umum memiliki struktur yang mengacu pada kompetensi dasar dan indikator sebagaimana yang terdapat dalam standar isi. Karakteristik Bahan Ajar Mata Pelajaran Pkn berbasis DD/CT Hasil penelitian ditemukan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT menjadi salah satu alternatif pilihan guru dalam pembelajaran PKn yang memberikan kesempatan lebih banyak pada siswa untuk berdialog dengan teman. 2003). dengan orang tua. ―buku adalah guru yang baik tanpa tatap muka‖. Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa 5. Disamping itu bahan ajar berbasis DD/CT dipandang akan mampu merangsang siswa untuk berpikir kritis. Struktur bahan ajar dan LKS matapelajaran PKn berbasis DD/CT . LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga BAHASAN 1. Dengan demikian kedepan guru dituntut dapat menyusun bahan ajar mata pelajaran yang diampunya. dengan masyrakat disekitarnya. Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari 4. Karena buku pelajaran merupakan sumber .2. buku adalah media komunikasi tentang IPTEK. Tuntutan pendidikan dewasa ini yang memberikan otonomi pada sekolah dan guru dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk menyusun bahan ajar yang tepat. sesuai dengan standar kompetensi. dengan guru. kompetensi dasar dan kemampuan siswanya. Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir 6. Semboyan tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya buku pelajaran. seni dan agama serta ide-ide‖ (Pusbuk. Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar 7. Semboyan bahwa ―buku adalah salah satu sumber ilmu‖.

(b) sistematika sajian. dan tugas-tugas pengembangan. Aspek penyajian bahan ajar PKn berbasis DD/CT dapat dijabarkan sebagai berikut (a) kelengkapan sajian. bermanfaat bagi kehidupan dan pengemasan materi sesuai dengan hakekat PKn. hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar berbasis DD/CT cukup memiliki kecukupan. serta grafika. Davis (1955) dalam Puskur (2003) menyatakan bahwa buku pelajaran yang baik berisi materi yang sesuai dengan kurikulum. di dalamnya memuat kompetensi dasar. maka dapat dikemukakan bahwa bahan ajar dan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT untu SMA: (1) aspek materi pelajaran . disusun oleh penulis yang kompeten. memerhatikan ilustrasi dan format. Berdasarkan analisis bahan ajar berbasis DD/CT telah cukup lengkap dalam sajian. Dengan kriteria ini maka hasil penelitian menunjukkan bahwa keakurasian materi bahan ajar PKn berbasis DD/CT tercapai ini tebukti banyak pendapat yang menyatakan materi yang disajikan sebagai sesuai dengan kompetensi dasar. karena isi materi relevan dengan standar isi yang dikembangkan dalam KTSP. penyajian. yakni materi pokok yang disajikan dalam buku pelajaran PKn umumnya adalah (a) relevansi: bahwa isi materi bahan ajar sesuai dengan standar isi. Buku pelajaran PKn berbasis DD/CT dapat secara efektif menunjang pencapaian kompetensi pembelajaran PKn dibuat sedemikian rupa untuk memenuhi standar . Ini berarti untuk dipergunakan dengan dalam rangka implementasi kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat dipergunakan. (c) kesesuaian sajian dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa. dan (c) keakuratan: bahwa isi materi yang disajikan harus benar secara keilmuan. Aspek penting yang diperhatikan adalah materi. disesuaikan dengan usia dan kematangan siswa. (b) kecukupan: muatan materi bahan ajar telah memadai untuk mencapai kompetensi. Bahan ajar PKn berbasis DD/CT. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas dan hasil penelitian . Hasil penelitian dan analisis bahan ajar berbasis . materi pokok. berdasarkan hasil penelitian menunjukkan cukup sistematis. mutahir atau sesuai dengan perkembangan yang terbaru. bahasa dan keterbacaan. Kalau dengan KTSP terdapat cukup tepat dengan kompetensi dasar tentunya dalam pemanfaatannya perlu penyesuaian dengan KTSPnya (2) Aspek penyajian.belajar dan media yang sangat penting untuk mendukung tercapainya kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran.

materi luas hal ini dikemukakan baik oleh guru sebagai praktis maupun pakar. (3) Aspek bahasa dan keterbacaan.Sehingga bahan ajar PKn berbasis DD/CT ini sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa student centered. ukuran huruf. yakni sebagaimana bahan ajar atau buku yang memberi nuasa berdialog siswa. terdapat buku yang contoh yang diangkat kurang kontekstual artinya beberapa gambar yang disajikan tidak dipahami oleh siswa karena dari negara lain. cetakan dan ukura huruf bagus. dan (d) cara penyajian. 2. jenis kertas menunjukkan beberapa menggunakan kertas putih. Secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih kering ilustrasi yang merangsang siswa untuk membicarakan dengan orang lain dan memikirkan lebih kritis. misalnya Bu Yayuk dari SMA di Magetan menyatakan LKS berbasis DD/CT ini saya kita lumayan merangsang siswa untuk berpikir dan berdiskusi. Hasil penelitian juga menunjukkan cara penyajian yang dikemas dalam bahan ajar Pknberbasis DD/CT relative kontekstual. paragraf dan wacana. namun menurut saya perlu pedoman yang jelas bagaimana dan dimana jawaban harus dibuat sedangkan Pak Wayan mengemukakan bahan ajar . kalimat. Bahasa disini berarti dalam penyajian bahan tepat dalam penggunaan kosakata. jenis kertas.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bahan ajar yang dipergunakan dalam hal ukuran cukup bagus. cetakan. sedangkan beberapa menggunakan kertas yang agak buram. Dengan sajian materi yang luas cukup memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya untuk berpikir kritis. Yakni yang berkaitan dengan ukuran bahan. Hasil penelitian menunjukkan bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat wacana yang membuka wawasan siswa tentang materi yang akan dipelajari. Karakteristik Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Mata Pelajaran PKn yang Berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking Hasil wawancara dengan beberapa guru. Keterbacaan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bahasa yang dipergunakan cukup dipahami siswa SMA. meskipun secara umum bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah menggunakan kaidah bahasa Indonesia dengan baik dan benar.DD/CT menunjukkan bahwa bahan ajar PKn. hanya ilustrasi kurang. warna dan ilustrasi. (4) Aspek grafika.

sudah match jadi materi yang ada di bahan ajar sama dengan yang di LKS. hal ini sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Kewarganegaraan pada . dan sedikit yang menyatakan bahasa nampak tinggi untuk siswa jenjang SMA. menyatakan runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada satandar isi Tingkat keterbacaan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT. dan hanya sedikit menyatakan sulit dipahami. sangat sulit dipahami. Kelebihan Bahan Ajar dan LKS PKn Berbasis DD/CT 1) Kecermatan Isi Berdasarkan hasil penelitian bahwa bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT memiliki kecermatan isi atau kebenaran isi berdasarkan sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. sebagian responden menyatakan mudah dipahami. Sedangkan tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT menyatakan cukup sulit dipahami. Struktur lembar kegiatan siswa (LKS) yang dipergunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PKn di sekolah. Kondisi ini disebabkan LKS berisi rangkuman materi dan soal-soal yang harus dikerjakan secara individual oleh siswa. sulit dipahami.dan LKS berbasis DD/CT. banyak responden menyatakan cukup sulit dipahami. sebagaian kecil siswa menyatakan mudah dipahami. meskipun demikian banyak menyatakan bahwa struktur LKS matapelajaran PKn runtut namun tidak sesuai dengan kompetensi dasar pada standar isi. sebagian besar responden menyatakan runtut dengan kompetensi dasar dalam standar isi. namun tingkat kesulitan materi LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT yang dipergunakan dalam proses pembelajaran PKn . sebagian besar responden menyatakan bahasa cukup untuk siswa jenjang SMA. dan siswa menyatakan sangat mudah dipahami. Lainnya mengatakan paparan LKS mata pelajaran PKn berbasis DD/CT runtut sebagian dengan kompetensi dasar pada standar isi. dan tidak runtut dengan kompetensi dasar pada standar isi. Dengan demikian dari segi bahasa. Sehingga beberapa siswa menyatakan‖ bahwa LKS berbasis DD/CT ini mengasikkan karena dapat dikerjakan sendiri ‖ 3. LKS PKn berbasis DD/CT tidak sulit bagi siswa SMA.

dasarnya menekankan pada pembentukan kepribadian manusia. Dengan demikian isi bahan ajar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. benar dari segi keilmuan. terutama kesadaran wawasan kebangsaan dan pertahanan keamanan nasional masyarakat Indonesia sebagaimana Validitas isi telah menunjukkan bahwa isi bahan ajar berbasis DD/CT tidak dikembangkan secara asal-asalan. Keselerasan isi bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT telah menunjukkan kesesuaian isi bahan ajar dengan sistem nilai dan falsafah hidup yang berlaku dalam negara dan masyarakat. Kelemahan lain bahan ajar kurang mengangkat atau mengakomodasi sistem nilai masyarakat secara umum 2. Dalam LKS telah terdapat kaitan bahan ajar dengan lingkungan sekitarnya serta wawasan budaya. kurang mengaitkan dengan hasil penelitian empiris sehingga akan menghasilkan suatu paduan dari teori dan konsep yang sahih tetapi relevan dengan lingkungan dan budaya lokal. . Isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut. Bahkan bahan ajar menjadi sarana untuk penyampaian sistem nilai tersebut dan pembelajaran merupakan upaya pelestarian sistem nilai tersebut. yaitu siswa yang memiliki kesadaran dalam melaksanakan hak dan kewajiban. Ketepatan Cakupan Berdasarkan hasil penelitian cakupan (skope) berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu dari bahan ajar dan LKS PKn berbasis DD/CT telah memadai. Kelemahan dalam isi kurang mendukung siswa dalam mengaitkan dengan landasan teori dan konsep yang berlaku dalam bidang ilmu. sehingga memberi peluang siswa untuk dapat mengkaji dulu kemungkinan dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan budaya lokal yang dapat digunakan untuk menjadi bahan ajar bagi suatu topik tertentu dari bidang suatu ilmu.

Ada enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar. antara lain yang paling utama adalah kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran. dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi sebelumnya yang sudah dimilikinya. tujuan pembelajaran atau topik tertentu di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama akan berbeda dengan tujuan pembelajaran atau topik yang sama di Sekolah Menengah Atas. dari yang mudah ke yang sukar.Keluasan dan kedalaman isi bahan ajar sangat berhubungan dengan keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu. 1) Paparan yang logis Bahan ajar berbasis DD/CT telah dipaparkan secara logis. Dengan demikian. misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif). dalam. Ketercernaan Bahan Ajar Bahan ajar berbasis DD/CT dilihat dari tingkat ketercernaan artinya bahan ajar dapat dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh siswa dengan mudah. Lihatlah tujuan tersebut. 3. Setiap guru pasti mempunyai tujuan pembelajaran yang dijabarkan dari kompetensi dasar dan indikator. Dalam Bahan ajar PKn berbasis DD/CT penyajian ini merupakan alat bantu yang menjelaskan hubungan antar topik atau konsep. siswa dengan mudah mengikuti pemaparan. sehingga bahan ajarnya pun memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda. Dalam hal ini. Dalam hal ini seberapa banyak atau luas suatu topik yang akan disajikan? Seberapa dalam suatu topik yang perlu dibahas? Bagaimana keutuhan konsep yang disajikan? Banyak pertimbangan yang perlu diperhatikan. keluasan maupun kedalamannya akan berbeda. Dengan . sebagai berikut. Tentunya. Kemudian kembangkanlah bahan ajar – materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang telah ditentukan tersebut. Bahan ajar yang dipaparkan secara tidak logis akan menyulitkan siswa. dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. dan utuh topik yang akan disajikan kepada siswa. kemudian berlandaskan pada tujuan tersebut dapat menentukan seberapa luas. atau dari fakta ke konsep..

dalam menjelaskan Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. yang mendorong siswa mencari sumber lain. Kelemahan dari pemaparan bahan ajar berbasis DD/CT ini karena keruntutannya dapat menyebabkan siswa kurang dapat mengembangkan pola pikir atau penalaran yang sistematis.demikian. model. Kelemahannya belum banyak contoh-contoh dan latihan yang kontestual. kartu-kartu (flipchart). contoh dan ilustrasi memiliki peran yang sangat penting. sekaligus merangsang untuk berdialog mendalam. informasi yang diterima oleh siswa akan saling terkait. seperti video. latihan. Contoh dan ilustrasi yang dikembangkan dalam bahan ajar berbasis DD/CT dalam penyajian isi bahan ajar belum bervariatif mestinya bisa poster. Misalnya. contoh dan latihan. 3) Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu materi pokok dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan mempermudah pemahaman siswa. kemudian setiap topik disajikan secara sistematis dengan strategi penyajian uraian. 2) Penyajian Materi yang Runtut Bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah disajikan secara sistematis. atau penyajian uraian. tidak terkotak-kotak satu sama lain. bahan ajar tidak dapat hanya mengandalkan deskripsi verbal secara lisan maupun tertulis. tidak meloncat-loncat. dan bahkan dapat dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya. penyajian uraian. atau contoh. Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat. Tampaknya belum banyak contoh-contoh yang mempermudah siswa lebih memahami bahan ajar. atau dalam bentuk noncetak. Padahal dalam penyajian topik atau konsep yang bersifat abstrak. audio. atau bahan sesungguhnya untuk didemonstrasikan kepada siswa. Prinsip utama dalam pemilihan contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan . latihan. simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk realita.

diperlukan juga contoh dan ilustrasi yang paling mutakhir. .(bukan malah membuat siswa semakin bingung). Dalam menggunakan alat bantu bahan ajar Pkn berbasis DD/CT belum konsistensi. Hendaknya gambar yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain. kotak bahan dialog. ataupun dari situs-situs di internet. alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab. Jadi. Dalam beberapa kasus. serta menarik dan bermanfaat bagi siswa. yang dikenal dengan nama Mnemonic Devices (alat Bantu mengingat atau belajar). Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT telah dibuat dengan cetak. gambar ―orang sedang berdemontrasi‖ digunakan untuk arti ―rapat‖ . diingat. Dalam bahan ajar Pkn DD/CT sebagai bahan cetak. dan dipelajari oleh siswa. misalnya tanda tanya yang menandakan pertanyaan. serta tanda-tanda khusus. sehingga perlu mencarinya dan sumber-sumber mutakhir seperti majalah. penomoran.. Dalam hal ini. Misalnya. alat bantu yang simbolnya atau bentuknya sama hendaknya tidak digunakan untuk arti yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. 4) Alat Bantu yang Memudahkan Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat mempermudah siswa dalam mempelajari bahan ajar tersebut. judul bab yang jelas. siswa diharapkan kreatif untuk menciptakan tanda-tanda dan formal khusus yang digunakan secara konsisten untuk mempermudah siswa belajar. artinya alat bantu yang simbol atau bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. konsistensi yang dipelihatra adalah mengenai istilah dengan harapan siswa tidak menggunakan berbagai istilah secara rancu. Koran. 5) Format yang Tertib dan Konsisten Bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki format yang memelihara ketertiban dan konsistensi agar mudah dikenali.

pertanyaan. serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. sangat berpengaruh terhadap manfaat bahan ajar. Dengan demikian. sehingga siswa dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas. pemilihan kata. Peran ini telah dijelaskan dalam bahan ajar PKn tersebut dijelaskan kepada siswa dengan cermat. Kelemahan bahan ajar Pkn berbasis DD/CT ini belum menjelaskan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. Bahan Ajar PKn Berbasis DD/CT cukup memadai dalam penggunaan bahasa yang dimengerti oleh siswa.6) Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar PKn berbasis DD/CT terdapat penjelasan tentang manfaat dan kegunaan bahan ajar dalam mata pelajaran. video. paket kerja mandiri). Dengan demikian. ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa nonformal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes. Bahan ajar PKn dapat berperan sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. bukan hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja siswa. penggunaan kalimat efektif. yang meliputi pemilihan ragam bahasa. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca. mengerjakan tugas-tugasnya. agar bahan ajar bermakna bagi siswa. ajakan. atau juga sebagai alat bantu siswa belajar dalam kelompok. Dalam bahasa komunikatif. dan penjelasan. dan penyusunan paragraph yang bermakna. bahan ajar berbasiskan komputer. dan lain-lain. Penggunaan Bahasa Penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor yang penting. seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar . atau sebagai alat bantu siswa secara mandiri di rumah (buku kerja. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting. pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan. dan terkesan bahwa masing-masing topik adalah berdiri sendirisendiri. lembar kerja siswa. 4. tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar noncetak. siswa kurang dapat melihat keterkaitan topik bahan ajar dengan topik lain. Penggunaan bahasa. seperti kaset audio.

Panjang pendek sebuah paragraf tergantung pada kemampuan penulis dan kebutuhannya. Kalimat positif dan aktif dipercaya dapat menimbulkan motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam bahan ajar. bukan kata atau istilah yang asing atau tidak banyak dikenal siswa. dapat ditempatkan di bagian awal maupun akhir paragraf. Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi (pseudo-interaction) dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar. serta keterpaduan. Sementara itu penggunaan kalimat negatif dan pasif. Gagasan utama dikembangkan atau dijabarkan lebih lanjut dalam rangkaian kalimat yang berhubungan satu sama lain secara terpadu (kohesif) dan kompak atau runtut (koheren). singkat. hendaknya kaidah bahasa yang baik dan benar tidak ditinggalkan atau dilanggar. kalimat dalam bahan ajar hendaknya kalimat sederhana. sehingga perlu di rinci melalui kalimat-kalimat singkat berikutnya. Senarai (daftar kata sukar) dapat membantu memberikan batasan istilah-istilah teknis. Walaupun ragam bahasa komunikatif yang digunakan. Selain itu. Hal ini sangat perlu sebagai salah satu persyaratan dari keterbacaan bahan ajar yang ditulis atau dikembangkan. Penggunaan kalimat efektif menekankan perlunya penyampaian informasi dilakukan melalui kalimat positif dan aktif. dan lebih mudah dimengerti. keruntutan dan koherensi antar kalimat dalam sebuah paragraf. Gagasan utama. . jelas dan hanya memiliki makna tunggal untuk setiap kalimat. penyusunan paragraph mempersyaratkan adanya gagasan utama untuk setiap paragraf.terjadi. yang berbentuk kalimat topik. Ragam bahasa komunikatif sebaiknya digunakan dalam penulisan atau pengembangan bahan ajar sangat dipengaruhi oleh pemilihan kata serta penggunaan kalimat yang efektif. Kalimat majemuk kadangkala dapat membingungkan. Jika diperlukan pengenalan istilah teknis yang berlaku dalam bidang ilmu tertentu. Selanjutnya. maka istilah tersebut perlu diberi batasan yang jelas. Kata yang dipilih hendaknya jenis kata yang singkat dan lugas. Di samping itu. dan sedapat mungkin menghindarkan penggunaan kalimat negatif dan pasif. siswa dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan sendiri arti kata-kata tersebut melalui pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam bahan ajar. kadangkala dapat membingungkan siswa.

. 2) Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencoret-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan yang dibuat siswa sendiri. tetapi jangan terus menerus sehingga menjadi membosankan. 4) Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut: 1) Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya. atau dengan teman-teman dalam kelompok). 6) Gunakan sistem penomoran yang benar dan konsisten untuk seluruh bagian bahan ajar. karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca. dan kalimat-kalimat pendek.  Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan alat bantu belajar dalam bahan ajar. 5. 3) Padukan grafik. kalimat yang runtut dan kompak akan memudahkan siswa memahami ide/konsep yang disajikan dalam paragraf tersebut. poin. 7) Gunakan dan variasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian. 5) Gunakan grafik atau gambar hanya untuk tujuan tertentu. sehingga bahan ajar dapat dipelajari siswa secara mandiri (sendiri. jangan gunakan grafik atau gambar jika tidak bermakna.Keruntutan dan kekompakan hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf (koherensi) sangat penting untuk membuat suatu paragraf menjadi bermakna. Sediakan bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar. Perwajahan/Pengemasan Dalam Hal perwajahan dan atau pengemasan bahan ajar PKn berbasis DD/CT masih banyak kelemahan terutama dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak. tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan. Pada gilirannya..

ilustrasi dimaksudkan untuk memberi variasi bahan ajar sehingga bahan ajar menjadi menarik. Ilustrasi digunakan untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan. komunikatif. Namun. sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). sketsa. soal. bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk multimedia. 7. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar. panduan belajar/siswa. pelengkap dan evaluasi Idealnya. gambar. kartun. . yang menerjemahkan gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat. Selain itu. memberi saran-saran untuk belajar kepada siswa (pertanyaan kunci. foto. membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan materi yang baik.Dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT ilustrasinya kurang bervariasi. ilustrasi juga dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis. penulis belum memberi penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang ditulis. simbol. Kelemahan dalam bahan ajar ini ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain. memotivasi. kegiatan). Ilustrasi yang biasa digunakan dalam bahan ajar. yakni informasi . Selain itu. serta panduan guru. dan skema.6. jika mempunyai keterampilan menggambar yang baik. atau dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet. Ilustrasi Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar PKn berbasis DD/CT memiliki ragam manfaat. diagram. grafik. menyediakan latihan yang cukup banyak. antara lain daftar atau tabel. Kelengkapan Komponen Bahan ajar dan LKS berbasis DD/CT cukup memiliki kelengkapan komponen. ilustrasi juga dapat diambil dari sumber langsung (misalnya foto). memberi bimbingan tentang strategi belajar. serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh siswa sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan. tugas. atau buku lain). meliputi penyampaian tujuan belajar.

latihan dan tugas. Komponen pelengkap biasanya terdiri dari bahan pendukung cetak (materi pengayaan. petunjuk belajar.Paket bahan ajar memiliki tiga komponen inti. pemilahan materi). kata-kata sukar. kaset. panduan guru (peta materi. kliping kasus). peta materi dalam bentuk program komputer. jadwal. latihan dan tugas. komponen pelengkap. Komponen evaluasi hasil belajar ini nantinya akan terpisahkan Beberapa usulan siswa agar buku PKn dan LKS berbasis DD/CT ini dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berdialog dan berpikir kritis adalah sebagai berikut: 1. bacaan. Kebanyakan. Komponen pelengkap ini dapat berupa informasi/topik tambahan yang terintegrasi dengan bahan ajar utama. Bahan Ajar PPKn     Pemaparan materi hendaknya ringkas agar mudah difahami Buku penunjang harus rinci dan lengkap Materi terlalu banyak. yang disajikan melalui beragam media. yaitu komponen utama. misalnya buku teks. buku pelajaran. web suplemen. dan buku materi pokok yang bersifat moduler Bahan ajar utama akan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa jika dilengkapi dengan komponen pelengkap. atau harus dikuasai siswa. video. atau informasi/topik pengayaan wawasan siswa. kit). modul. tips. bahan ajar utama berbentuk bahan ajar cetak. silabus. bahan pendukung noncetak (perluasan wawasan materi dalam media noncetak. petunjuk bagi guru. secara moduler Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari perangkat soal/butir tes. perlu ada ringkasan materi Dalam buku memuat uraian yang lengkap tentang realitas kehidupan  Sebaiknya materi buku dibuat lebih menarik dan ditambah gambar-gambar berwarna sehingga menarik untuk belajar  Dalam pemaparan materi beri contoh-contoh konkrit yang menarik  Buku hendaknya lebih banyak memuat cerita dan pertanyaan logis . konsep inti topik atau pokok bahasan. rangkuman materi) dan lain-lain yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu topik. panduan siswa (peta materi. simulasi komputer. peta materi. dan komponen evaluasi hasil belajar. Komponen utama berisi informasi atau topik utama yang ingin disampaikan kepada siswa.

Model Bahan Ajar dan Lembar Kegitan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) merupakan model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn yang membantu guru untuk menjadikan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn bermakna bagi siswa. Dengan landasan filosofi konstruktivisme. Lembar Kerja Siswa (LKS)  Soal-soal jangan di luar materi  Waktu mengerjakan tugas dan soal-soal kurang  Tugas-tugas yang diberikan harus ada hubungannya dengan praktik kehidupan sehari-hari  Menambah soal-soal latihan yang merangsang berpikir murni siswa  Penyajian LKS sebaiknya lebih menarik untuk siswa dalam berdialog dan berpikir  Memberi tugas lapangan agar siswa semangat belajar  LKS sebaiknya ada tugas untuk wawancara terhadap suatu lembaga 4. . DD/CT "dicita-citakan" menjadi sebuah pendekatan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn alternatif. dimana melalui DD/CT diharapkan siswa belajar melalui "mengalami. mudah difahami dan mengajak siswa berpikir  Guru kalau menerangkan PKn hendaknya mengajak siswa berpikir  Guru PKn kurang menarik dalam menyampaikan materi. namun demikian guru harus tetap memantau dan mengarahkan untuk mencapai kompetensi. Dalam pendekatan ini bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsedapat mungkin mengurangi pengajaran yang terpusat pada guru (teacher centered) dan sebanyak mungkin pengajaran yang terpusat pada siswa (Student centered). Menyusun buku dengan bahasa yang menarik. medialogkan" bukan hanya "menghafalkan". merasakan.Hal ini sesuai dengan pandangan Gross ( 2000) bahwa dengan mengalami sendiri. 2.

Hal ini selain dapat menciptakan situasi tenang sebelum perkuliahan. menganalisis. Ciptakan suasana dialog mendalam ' antar siswa" dan "antara siswaguru" oleh karenanya upayakan untuk selalu belajar dalam kelompok 5. Penilaian hendaknya tidak hanya berdasarkan tes Lima komponen yang terdapat dalam model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan pendekatan DD/CT yakni hening. selain itu juga dapat menghadirkan hati dan pikiran siswa-guru pada bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKnsaat itu. untuk mengamati. apabila guru telah memahami kaidahkaidahnya sebagai berikut: 1. Untuk menjabarkan topik sebaiknya dilaksanakan dengan kegiatan menggali dan menemukan sendiri 3. maka dapat dikemukakan bahwa model bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan DD/CT memiliki beberapa keunggulan seperti bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKn diawali dan diakhiri dengan "hening". Perubahan pandangan guru bahwa pemberdayaan siswa dalam bahan ajar dan lembar kegiatan siswa matapelajaran PKndengan memberi kesempatan pada siswa. dan mengembangkan kecakapan hidupnya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan DD/CT di kelas cukup mudah. mendialogkan dan akhirnya mekonstruksikan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan baru. 2.merasakan. Berilah siswa kesempatan untuk melakukan refleksi sebelum pelajaran berakhir 7. membangun komunitas. mendialogkan dengan orang lain. Sebagaimana . refleksi dan evaluasi. kegiatan inti dengan strategi penemuan konsep (Concept Attainment) dan Cooperative Learning. Pergunakan berbagai media dan sumber belajar untuk memperluas wawasan 6. maka pengetahuan dan pemahaman siswa akan sesuatu yang baru akan mengendap dalam pikiran siswa dalam jangka panjang yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk bekal siswa dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. Berdayakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan bertanya secara terbuka 4. Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan di bab sebelumnya.

kegiatan ini juga merangsang daya kritis siswa dalam menangkap permasalahan. sehingga memudahkan proses dialog mendalam.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). maka pada skala makro sikap dan perilaku toleransi. Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. terbuka terhadap kritik. menghargai perbedaan. sehingga akan mendukung upaya pendidikan anak seutuhnya (PAS) yang pada gilirannya akan sangat mendukung upaya mewujudkan manusia Indonesia Seutuhnya (MIS). Ini sejalan dengan pendapat Gross (2000) bahwa dengan refleksi terjadi proses penajaman pengalaman yang peroleh dan mereproduksi ketika menyampaikan secara lesan. dan sikap terpuji lainnya akan dapat mengantarkan siswa menjadi warga negara demokratis. Kebiasaan selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan termasuk kegiatan belajar mengajar. juga ungkapan bebas dari pandangan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa hening membawa manusia pada pengendapan hati dan pikiran. Kegiatan membangun komunitas juga merupakan sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat majemuk oleh karena itu apabila dalam pembelajaran telah dibangun keterikatan terhadap komunitas kecil (kelas).dikemukakan oleh Swidler (2000) yang menekankan pentingnya hening dalam segala aktifitas. secara langsung telah membimbing dan mengajarkan mahasiswa menjadi insan religius. karena dapat sebagai sarana saling introspeksi baik dosen mapun mahasiswa. Kegiatan refleksi juga merupakan sesuatu yang dapat dipandang keunggulan pendekatan DD/CT. Refleksi memiliki fungsi mendidik pada siswa untuk menyukai belajar dari pengalaman yang telah dilaluinya. Demikian juga kegiatan penemuan konsep dan cooperative learning. Ini menjadi tatantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan . dan dialog mendalam tentang segala hal baru yang diterima mahasiswa. telah dapat menciptakan kebersamaan. berani tampil beda. karena menurutnya dengan hening seseorang telah menjalin interaksi intern yakni dengan dirinya maupun ekstern yakni dengan Tuhan. mencari solusi permasalahan dengan caranya sendiri dan bantuan orang lain. usul terbaiknya demi kebaikan bersama. dan mengambil keputusan yang tepat dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Bahan ajar dan LKS PKn dengan pendekatan DD/CT adalah model bahan ajar dan LKS dengan lima komponen utama yakni hening (doa). model ini dapat mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif. serta memuat hasil penelitian dalam jurnal-jurnal baik yang nasional maupun internasional Idealnya penilaian hasil belajar siswa harus dapat dilakukan dengan banyak cara. Saran Bahan Ajar dan LKS Mata pelajaran PKn Berbasis DD/CT ini perlu sempurnakan dengan cara mengimplementasikannya ke sekolahsekolah yang lebih beragam. Interaksi belajar-mengajar juga semakin meluas tidak hanya satu arah yakni guru-siswa.model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya. mulai dari hening sampai evaluasi. Ini menjadi tantangan bagi pengembangan pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian akan hasil belajar siswanya.bahkan kalau perlu dengan nara sumber yang berada di luar lingkungan sekolahnya. utamanya implementasi pembelajaran inovatif dengan menggunakan sarana bahan ajar dan LKS Berbasis DD/CT ini. refleksi dan doa. Pembelajaran berbasis DD/CT terus melakukan penelitian lanjutan.meskipun dilapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). paparan materi pokok. namun multi arah. membangun komunitas. karena bahan ajar ini memberi peluang dan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk ambil bagian dalam proses pembelajaran. . Bahan ajar dan LKS PKn dengan DD/CT dibuat dipandang mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. Dengan model bahan ajar dan LKS bernuansa DD/CT diharapkan prestasi siswa juga semakin meningkat.

2000. Jakarta. Model Pengintegrasian Budi Pekerti ke dalam PPKn untuk Guru SLTP. GDI. New York. and Field-based Connection. Steven.2000. Metode Pengajaran Nasional.L and paul Mojzes. B. E. Jakarta. 2000. Deep Dialogue and Critical Thinking as Instructional Approach. Classroom Applications. Jakarta. Dirjen Dikdasmen Depdiknas.J. Kompetensi guru. Malang. Del mar Publishers. Philadelphia University Press. Diknas. Pembelajaran Kewarganegaraan dengan Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking Menyongsong KBK. 2001. Jembatan Swidler. PPPg PMP-IPS Sri Untari.DAFTAR RUJUKAN Al Hakim. 2002. Pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking dalam Pendidikan Indonesia. 2000. 2002. Strategi Pembelajaran Berdasarkan Pendekatan Deep Dialogue/Critical thinking. Ar. Suparlan dan Milan Rianto. Sri Suntari dan Sri Untari .W. Penulisan Karya Ilmiah. 1979. Bahan pelatihan Pendidikan Anak seutuhnya (PAS) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Global dialogue Institute dan UNICEF. The Study of Religion in an Age Global Dialogue. Temple University Press . 1995. Curricullun in Turbelence Era. PUSKUR-Dirjendikdasmen Frazee. 2000. Dirjendikdasmen Depdiknas.M. Integreted Teaching Methods: theory. Malang. & Rudnitski. Philadelphia. Dilaksanakan di Malang tanggal 1--11 Juli 2001 Gross. Surakhmad. Jakarta. Makalah pelatihan guru PPKn MA se kabupaten Pasuruan. PPPG PMP-IPS Danial. 2002. Direktorat SLTP.

Penguasaan Konsep Fisika. The Module applies study strategy. Students obtain the concepts in the form of clarification and information from lecturer and then ones will be applied to some problems. giving opportunity for students for fundamental physics concept mastering through laboratory activities. Some Various study strategy have been strived to increase student concept domination. The Concepts acquirement is not constitute to the understanding of erudite process which ought to student experience. Model Pembelajaran Investigasi Kelompok Mata Kuliah Fisika Dasar merupakan salah satu mata kuliah yang termasuk pada rumpun Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK) yang diwajibkan bagi mahasiswa tahun pertama di FMIPA Universitas Negeri Malang. According to the observation of study process of fundamental physics and interviewing with some students.Kajian Dampak Implementasi Modul Physics by Inquiry terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika pada Model Pembelajaran Investigasi Kelompok para Calon Guru Universitas Negeri Malang Eddy Supramono Abstrac: The quality of physics conception domination is very determined by study process which is done by students. One of the strategy is decanted in the module of Physics by Inquiry. it indicates that the students difficulty is located in the way of comprehending and mastering The fundamental physics lecture concepts. Key words: Modul Physics by Inquiry. integrating erudite process and physics concept. Eddy Supramono adalah dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang .

Dengan demikian. Melalui pembentukan kelompok-kelompok dengan pola tertentu. Salah satu strategi pembelajaran tersebut diantaranya tertuang dalam modul Physics by Inquiry. Modul ini pertama kali dikembangkan oleh The Physics Education Group di the University of Washington. Modul ini menggunakan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan proses ilmiah dan konsep Fisika yang memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menguasai konsep Fisika Dasar melalui kegiatan laboratorium. penelitian ini akan menghasilkan teori yang lebih rinci dalam cakupan Teori Kognitif Sosial. . kooperatif dan kolaborasi teman sebaya akan tercipta interaksi sosial di antara siswa dengan pola tertentu pula. sehuigga struktur kognitif siswa akan tumbuh dan berkembang dengan kecenderungan-kecenderungan tertentu pula. Penelitian ini berorientasi pada Teori Kognitif Sosial. Mahasiswa memperoleh konsep dalam bentuk informasi dan penjelasan dari dosen yang kemudian diterapkan dalam bentuk latihan soal. Perolehan konsep tersebut tidak didasari pemahaman proses ilmiah yang seharusnya dialami mahasiswa. yaitu pola tutorial sebaya. Berdasarkan pengamatan pada proses pembelajaran Fisika Dasar dan wawancara dengan mahasiswa menunjukkan bahwa kesulitan mahasiswa terletak dalam cara memahami dan cara menguasai konsep-konsep yang ada dalam mata kuliah Fisika Dasar. Hasilnya menunjukkan peningkatan penguasaan konsep Fisika yang cukup signifikan serta mahasiswa memperoleh pengalaman langsung tentang proses ilmiah. Berbagai strategi pembelajaran telah diupayakan untuk meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa. dan diberikan pada kelas kecil dengan jumlah mahasiswa per kelas 20 orang mahasiswa. Kualitas penguasaan konsep Fisika sangat ditentukan oleh proses pembelajaran yang dialami mahasiswa. mata kuliah ini memiliki bobot 6 SKS yang terbagi dalam mata kuliah Fisika Dasar I (3 SKS) pada semester I dan Fisika Dasar II pada semester II (3 SKS).. Mata kuliah ini secara langsung didukung oleh mata kuliah praktikum Fisika Dasar I pada semester I (1 SKS) dan praktikum Fisika Dasar II (1 SKS) pada semester II. Strategi pembelajaran yang digunakan dalam modul Physics by Inquiry ini didasarkan pada kurikulum berbasis laboratorium.Berdasarkan kurikulum di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang.

Untuk lebih tegasnya berdasarkan latar belakang di atas. Bagaimanakah interaksi dari dampak Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi kelompok yang dirancang dengan pola tutorial sebaya. 1968). O2. O3. a. O4 dan O5 adalah pengukuran pertumbuhan konsep Fisika dengan periode dua mingguan. Tabel 1 Rancangan Penelitian GI G2 G3 G4 O1 O1 O1 O1 XI X2 X3 X4 O2 O2 O2 O2 X1 X2 X3 X4 O3 O3 O3 O3 XI X2 X3 X4 O4 O4 O4 O4 XI X2 X3 X4 O5 O5 O5 O5 Keterangan: G1 = kelompok pertama G2 = kelompok kedua G3 = kelompok ketiga G4 = kelompok keempat X1 X2 X3 X4 = = = = perlakuan tutorial perlakuan kooperatif perlakuan kolaboratif perlakuan acak .Design (Caenphell dan Stanley. disajikan pada Tabel 1 berikut. kooperatif dan kolaborasi teman sebaya pada Calon Guru Universitas Negeri Malang? METODE Penelitian ini dilakukan dengan mengambil jenis penelitian Quasy Experimentation (semi eksperimen) dengan mengambil model Randomized Control-Group Pretest-Paster . Adakah pengaruh dampak dari Implementasi Physics by Inquiry Model Pembelajaran Investigasi Kelompok terhadap Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika Dasar para calon Guru Universitas Negeri Malang? b. yang diperluas dengan melibatkan lebih dari satu variable O1. masalah pelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

dimana dalam model tersebut ada sebuah variabel dependen. selengkapnya dapat diperiksa pada Lampiran-5. Untuk melihat dampak yang muncul selama mahasiswa para calon guru bekerja dengan model investigasi kelompok. pola pengelompokkan belajar mahasiswa untuk kelas eksperimen akan dibentuk mengikuti aturan pengelompokkan secara pola . Sedangkan. yaitu penguasaan konsep Fisika dan variabel independen. kooperatif dan kolaborasi. Dalam hal ini ingin diselidiki apakah pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa tergantung atau tidak dengan banyaknya waktu yang digunakan dalam penyampaian materi. yaitu waktu yang digunakan belajar.yang dipilih secara purposif dengan pertimbangan tertentu dimana masing-masing kelas terdiri atas 25--30 mahasiswa. yaitu tutorial sebaya.Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa dijaring lewat hasil tes dengan menggunakan instrumen prestasi. Analisis regresi ini dimaksudkan untuk tujuan peramalan. Data tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika mahasiswa dianalisis dengan regresi (Kleinbaum dan Kupper. Artinya. satu kelas sebagai kelas kontrol. data interaksi antar mahasiswa akan dianalisis secara deskriptif yang meliputi keterampilan kelompok dasar. intermediate dan lanjut untuk masing-masing pola. sedang sebagai sampelnya digunakan sebanyak 4 kelas secara purposif dengan pertimbangan bahwa kesulitan teknis pelaksanaan selama eksperimen dapat dihindarkan. sedangkan data tentang pengamatan interaksi mahasiswa dikumpulkan melalui instrumen pengamatan interaksi dalam kelompok. sampel sebanyak 4 kelas di atas akan diambil 3 kelas sebagai kelas eksperimen. 1984) dengan menggunakan program SPSS Release-10 for windows. Analisis butir soal dilakukan dengan mengambil sekor pretes dari 2 kelas sampel penelitian. Instrumen kegiatan akan dikembangkan dengan mengadopsi Modul Physics by Inquiry untuk materi Fisika Dasar I. apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry. Selanjutnya. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru jurusan Fisika Universitas Negeri Malang yang terdiri dari 6 kelas.

bahwa untuk mengetahui apakah penguasaan konsep Fisika mahasiswa bertambah baik atau sebaliknya setelah mereka menerima materi Fisika Dasar I pada model pembelajaran investigasi kelompok dengan mengimplementasikan modul Physics by Inquiry.. Instrumen pengukuran penguasan konsep Fisika yang berupa tes dikembangkan berdasar materi Fisika Dasar I c.tutorial. Instrumen pengamatan interaksi mahasiswa dalam kelompok b. Tabel 3. HASIL Seperti telah dijelaskan di atas. Uji Kesamaan Kemampuan Awal mahasiswa Data yang digunakan untuk menguji kesamaan kemampuan awal ini adalah hasil tes awal atau pretes dari masing-masing kelompok. Kelas kontrol akan dikelompokkan secara acak dengan berpedoman dari absensi kelas. . Dengan demikian.57. Dari 20 butir soal sebanyak 1 soal gugur. pola kooperatif dan pola kolaboratif sebaya. Dengan demikian tes penguasaan konsep Fisika yang digunakan sebanyak 19 butir soal. Lembar Kerja Mahasiswa pada kegiatan praktikum dengan mengimplementasikan Modul Physics by Inquiry Hasil uji coba instrumen penguasaan konsep Fisika menunjukkan bahwa validitas telah memenuhi syarat instrumen yang cukup baik. dan Tabel 4 berikut. sedangkan instrumen kegiatan yang dikembangkan terdiri atas: a. Reliabilitas tes tersebut ternyata cukup baik dengan koefisien reliabilitas sebesar 0. proses pembelajaran mengikuti alur yang sama. yaitu uji normalitas dan homogenitas varians dan hasilnya seperti pada Tabel 2. Analis yang digunakan adalah Anova dengan mengggunakan program SPSS Release-10 for Windows dengan terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analis. pertama kali yang dikerjakan adalah: 1. kecuali pola pembentukan kelompoknya. Instrumen perlakuan dikembangkan dengan mengikuti pola pembelajaran kelompok.

093 df 1 3 df 2 102 Sig.170 25 . . yaitu pola acak. dan Tabel 4 terbukti bahwa sebaran data kemampuan awal keempat kelompok data adalah normal karena harga Sig. 0.937 .381 . 0.190 dan persyaratan homogen variannya juga terpenuhi (sign. terbaca >0.686 104. . Dengan demikian langkah selanjutnya adalah uji kesamaan kemampuan awal masing-masing kelompok data dengan statistik Anova.059 Within Groups 10614. 0.925 . pola tutorial dengan sig.161 25 .079 .05.196 25 .938 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.060 F .954 .079 .699 Dari Tabel 2.477 Sig. . 0.216 df 3 102 105 Mean Square 49. Tabel 3.190 a. Lillief ors Signif icance Correc tion Tabel 3 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRETES Levene Statistic .381 dan pola kolaborasi dengan harga sig..964>0.964 Tabel 4 Uji Kesamaan Kemampuan Awal ANOVA PRETES Sum of Squares Betw een Groups 149.014 . sig.157 Total 10763.178 . . pola kooperatif. sig.05).060 .0.095 a ACAK TUTORIAL KOOPERAT KOLABORA Statistic .Tabel 2 Uji Normalitas Data Tes ts of Nor m ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.176. .165 25 .079.

05 artinya bahwa kempat harga postes dari masing-masing kelompok berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%.955 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.931 . dan 4 atau factor pola acak. Lilliefors Significance Correction . This is a low er bound of the true significance. maka langkah selanjutnya adalah menguji hasil postes masing-masing kelompok dengan statistik Anova. Harga ini adalah lebih kecil dari 0. 3. 2.200* .104 . Hasil analisis menunjukkan bahwa harga Sign.665 . Selanjutnya akan dilakukan uji beda postes dari masing-masing kelompok.971 .105 25 . untuk factor 1. sebesar 0. tutorial.Hasil uji terlihat pada Tabel 4 yang menunjukkan bahwa kemampuan awal keempat kelompok tidak berbeda atau sama. sedangkan uji prasyarat homogenitas data dapat dibaca pada Tabel 6. a. . yang muncul adalah sebesar 0. Tabel 5 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig. Dengan demikian uji beda postes dari keempat kelompok dapat dilakukan. terbaca pada Tabel 5.191 25 .007 .200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic . kenyataan ini terbaca pada Tabel 7.05.142 25 . Uji Beda Postes Antar Kelompok Oleh karena keempat kelompok. Pada bagian Post Hoc Tests untuk menu Multiple Comparisons harga Turkey HSD dan Bonferroni. kooperatif dan kolaborasi adalah lebih besar dari 0. 2.Uji prasyarat analis menunjukkan bahwa keempat kelompok berdistribusi normal.699 pada taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa kempat kelompok data adalah homogen. terbaca harga sign.019 .208 25 . .394 *.243 .943 . kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok mempunyai harga pretes yang sama atau tidak berbeda pada taraf signifikansi 5%. Kenyataan ini terbaca bahwa harga Sig. hasil pretesnya menunjukkan tidak berbeda pada taraf signifikansi 5% atau sama.000.

Pertumbuhan Penguasaaan Konsep Fisika Dasar I Mahasiswa Setelah tahap-tahap di atas dilakukan dan hasilnya telah jelas.934 Total 14873. Bila diperhatikan harga mean postes yang paling tinggi ada pada kelompok kolaborasi. data-data yang diperlukan adalah sekor pretes dan postes masing-masing kelompok. dan Tabel 10 berikut.000 Kenyataan ini bermakna bahwa keempat kelompok memang mempunyai harga postes yang berbeda secara meyakinkan pada taraf signifikansi 5%. 3.120 df 1 3 df 2 102 Sig. selanjutnya dilakukan uji beda pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I. Untuk keperluan uji ini. .197 112. artinya bahwa kalau akan membentuk kelompok belajar mahasiswa. daripada kooperatif. Tabel 9.Tabel 6 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s POSTES Levene Statistic 1.107 F 10.345 Tabel 7 Uji Beda Postes ANOVA POSTES Sum of Squares Betw een Groups 3438. dilakukan terlebih dulu uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas varians masing-masing kelompok data dan hasilnya seperti ditunjukkan pada Tabel 8. .592 Within Groups 11434.526 df 3 102 105 Mean Square 1146. . maka akan tepat bila kelompok tersebut dibentuk dengan mengikuti aturan pola kolaborasi.224 Sig. atau tutorial apalagi belajar kelompok dengan pola acak. Sebelumnya.

.123 25 .145 25 .228 25 .527 Tabel 10 Uji Beda Pertumbuhan Penguasaan Konsep Fisika ANOVA PRTBH Sum of Squares 48. Dengan demikian.Tabel 8 Uji Normalitas Kelompok Data Tes ts of Norm ality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.949 .382 .473 *.495 196.954 . .922 F 8. .185 .316 .746 df 1 3 df 2 102 Sig. This is a low er bound of the true signif icance.002 .000 Betw een Groups Within Groups Total Hasil uji yang ditunjukkan pada Tabel 8 menghasilkan bahwa data pertumbuhan masing-masing kelompok adalah normal dan uji homogenitas varians pada Tabel 9 menunjukkan bahwa keempat kelompok data adalah berasal dari varians yang sama.962 Shapiro-Wilk df 25 25 25 25 Sig.200* .200* a ACAK TUTOR KOOPER KOLABO Statistic . uji beda pertumbuhan dapat dilakukan yaitu dengan statistik Anova dan hasilnya dapat diperiksa pada Tabel 10 di atas yang terbaca bahwa harga . .129 25 .410 Sig.044 244.918 . Lillief ors Signif icance Correction Tabel 9 Uji Homogenitas Varians Tes t of Homogene ity of Variance s PRTBH Levene Statistic .051 .538 df 3 102 105 Mean Square 16. a.165 1.

sehingga setelah dilakukan Post Hoc Tests nampak bahwa perbedaan pertumbuhan penguasaan tersebut akan nyata bila kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. tes-2. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa walaupun pertumbuhan untuk masing-masing pola berbeda tetapi mean dari masing-masing pola hampir sama. tetapi tidak ada perbedaan untuk masing-masing pola kelompok.865 dengan kolaborasi.24726.916. tes-1.sign.12672 seperti disajikan pada Tabel 11 di bawah.26153. Hasil olahan menunjukkan gambaran-gambaran pola pertumbuhan yang terjadi untuk masingmasing pola kelompok yang dibentuk.999 dan sebesar 0. Linier sebesar 0. 0. Growth dan Exponent sebesar 0. Hal ini karena harga sign antara tutorial dengan kooperatif sebesar 0. harga F untuk Method. Tampak bahwa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen secara keseluruhan berbeda secara signifikans. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan keempat pola kelompok adalah berbeda secara signifikans pada taraf signifikansi 5%. yang ditandai dengan tanda *. Pola acak. maka dapat disimpulkan bahwa penguasaaan konsep Fisika mahasiswa untuk pola kelompok acak . method. sedangkan method Quadrati F = 1. yaitu uji normalitas dan homogenitas pretes dan postes yang hhasilnya telah memnuhi persyaratan. 4..000. sebesar 0. Pola Pertumbuhan Penguasaan Konsep Di bagian atas telah dihasilkan perhitungan statistik tentang pertumbuhan penguasaan konsep Fisika pada masing-masing pola. Masalahnya sekarang adalah bagaimanakah bentuk pola pertumbuhan tersebut untuk masing-masing pola? Untuk menjawab pertanyaan ini langkah-langkah yang dilakukan adalah:  Uji prasyarat analisis. bila kooperatif dibandingkan dengan kolaborasi mendapatkan harga sign.  Dengan menggunakan program SPSS pada statistik regresi dengan mengambil menu Curve Fit. Pada bagian Post Hoc Tests pada Multiple Comparisons memperkuat pernyataan di atas. tes-3 dan postes (dilakukan setiap 2 minggu) diolah. Sedangkan. namun pertumbuhan untuk masing-masing pola terhadap pola lain pada kelas eksperimen nampaknya tidak ada perbedaan.. data pretes. Compound. Hasil analisis dapat ditunjukkan seperti berikut.

Linier sebesar 44.64375 1.02156 dengan beda sebesar 0. harga F untuk Method. tetapi cenderung kearah pola Quadrati. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 0. Tabel 11 Curve Fit Pola Pertumbuhan Acak Analysis of Variance Method.02156 45.12672 Pola tutorial sebaya. sehingga dapat disimpulkan bahwa per- .12672 0.36603 (Tabel 13).02156 45.05305 45. Growth.12672 0.tidak linier terhadap waktu yang digunakan. sedangkan Metod Compound.02156 Pola kooperatif. Growth dan Exponent.40123 37.71022 22. sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan penguasaan konsep pola tutorial adalah linier namun lebih mendekati kearah eksponensial disajikan pada Tabel 12. Linier sebesar 25. harga F untuk method.26153 0.. Qudrati 14.12268.. dan Exponent sebesar 25.40123 yang mana harga ini masih lebih kecil dari Method Compound. yaitu 45.62033.16240. Tabel 12 Curve Fit Pola Pertumbuhan Tutorial Sebaya Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 44.12672 0.

81884 14. Tabel-15 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kolaborasi Analysis of Variance Method..92697 .92937 30. Pola Kolaborasi.92697 (Tabel 15).92697 39.36603 Compound. Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 39.92937. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%. Growth dan Exponent Metod.. sedangkan Metod Compound.92937. Growth dan Exponent harga F-nya sebesar 39. harga F untuk Method. sedangkan Metod Compound.36603 25.86311 20. perbedaaan tersebut adalah nyata. Pola Kolaborasi.92697 (Tabel 14). dan Exponent harga F-nya sebesar 39.36603 25. Tabel 13 Curve Fit Pola Pertumbuhan Kooperatif Analysis of Variance Method Linier Logarith Quadrati Compound Growth Exponent Harga F 25.tumbuhan penguasaan konsep Fisika kelompok kooperatif adalah linier cenderung kearah Metod Compound. harga F untuk Method Linier sebesar 39.12268 18. namun secara uji statistik dengan taraf signifikans 5%.92887 39. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil. Kedua harga di atas perbedaannya cukup kecil.16240 25.92697 39. Growth. Growth dan Exponent. Linier sebesar 39. perbedaaan tersebut adalah nyata.

sehingga kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi (66. Keterampilan Kelompok Dasar: Tutor berperanan aktif dalam mengawali pengambilan kesepakatan (83.33%). Keterampilan Kelompok Intermediate: Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 83. Growth dan Exponent dengan beda yang cukup kecil yaitu sebesar 0. Disini tampak peranan tutor yang cukup dominan (50%) yaitu megajak anggota kelompok untuk berpartisipasi. pada akhirnya tutorlah yang berusaha untuk memperdalam permasalahan sehingga memperoleh jawaban akhir yang dianggap benar (83.33%). (83. namun setiap keputusan yang diambil kelompok selalu berdasar keputusan kelompok (66. Hasil Pengamatan Interaksi Di atas telah dipaparkan hasil penguasaan konsep pada masingmasing pola kelompok belajar.67%) artinya sifat individu tidak muncul. Bagaimana halnya sekarang dengan hasil pengamatan interaksinya? 1. Pola Tutorial Sebaya a.33%) b. c.002. Keterampilan Kelompok Lanjut: Bahwa kebenaran suatu jawaban atau pernyataan diambil setelah melalui diskusi seperti ditunjukkan di atas.33% akan mendengarkan secara seksama pendapat dari anggota kelompok.Dengan demikian pola kolaborasi pertumbuhan penguasaan konsepnya lebih kearah linier dibandingkan dengan Metod.33%) dan terakhir tutor menunjukkan bukti pada anggota kelompok disertai alasan-alasannya (83. kooperatif dan kolaborasi. Compound. artinya ada kesadaran bahwa pendapat orang lain mungkin akan berguna bagi dirinya sehingga perlu untuk dicermati.67%). yaitu kelompok acak. . tutorial sebaya..

itulah pertanyaannya. namun tidak menyumbangkan banyak pemikiran dalam memecahkan masalah (16.33%). kecuali yang berprestasi rendah (14. Poin inilah yang utama dan penting dilakukan oleh separoh dari kelompok yang melakukan kegiatan (50%). Namun demikian setiap anggota bersedia berkompromi untuk mencapai jawaban akhir. nampak disini bahwa anggota yang merasa berprestasi tinggi merasa tidak begitu memerlukan akan pendapat anggota yang berprestasi rendah c. Inilah yang penting karena dengan demikian yang .86%).67%).57%). Keterampilan Kelompok Intermediate: Menunjukkan penghargaan dan empati pada penampilan anggota ditunjukkan oleh anggota yang berprestasi rendah (33.67%). Pola Kolaborasi a.2. Kelompok ini mengarahkan bagaimana kelompok harus bekerja (66. sedangkan anggota berprestasi tinggi dan sedang justru lebih rendah (16. Pola Kooperatif a. namun dia tetap mengarahkan kerja kelompoknya (50%).67%). Jadi.33%) yang lebih dominan. Untuk menyumbangkan pemikiran rupanya diprakarsai oleh setiap anggota kelompok (28. bersuara pelan dalam mengemukakan pendapat (33.33%) dan justru anggota kelompoknya yang mengajak mengemukakan pendapat (50%).67%).29%). Keterampilan Kelompok Lanjut: Memperdalam permasalahan dalam upaya memperoleh jawaban yang benar rupanya masih dikendalikan oleh anggota yang berkemampuan tinggi (66. Keterampilan Kelompok Dasar: Mahasiswa yang berprestasi tinggi dominan untuk mengawali pengambilan kesepakatan (50%). Keterampilan Kelompok Dasar: Mengawali pengambilan kesepakatan muncul dari anggota dengan predikat berprestasi tinggi (42. Masalahnya adalah apakah penjelasan ini benar atau salah. 3. Anggota dengan prestasi paling tinggi nampaknya memegang kendali saat diskusi kelompok. b. namun dia tidak berusaha menunjukkan bukti dan alasannya mengapa jawaban bisa demikian justru yang berkemampuan sedang (83.

hampir semua kelompok baik yang anggotanya berprestasi tinggi ataupun kelompok yang berprestasi pada urutan yang lebih rendah semua memegang kendali pengambilan keputusan. Hasil ini sama saat kelompok merinci tugas dan jawaban. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Keterampilan Kelompok Lanjut: pada poin untuk merinci tugas dan jawaban hampir semua kelompok anggotanya aktif melakukan ini yang hasil pengamatannya adalah 28. demikian juga saat menunjukkan bukti atau memberi alasan terhadap jawaban yang dikemukakannya ((42. c. 14. Pola pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA UM untuk masing-masing pola pengelompokkan menunjukkan pola yang berbeda-beda.86%). 28.57%.57%. Hal ini tampak dari hasil urutan pengamatan interaksinya yaitu sebesar 28. Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok belajar menunjukkan bahwa semakin tinggi kebersamaan dalam . Keterampilan Kelompok Intermediate: Yang menarik pada tingkat keterampilan ini adalah bahwa dalam mengambil kesimpulan tugas-tugas kelompok.29% dan 28. yaitu sebesar 57.86%). 2.29% dan 28. sedangkan yang mengikuti pola linier adalah pola kolaborasi. Untuk pola acak cenderung kearah pola quadrati.merasa punya prestasi rendah akan menjadi terhimbas untuk belajar. pola tutorial sebaya mahasiswa cenderung kearah pola Compound. b. 28.57%. anggota yang berprestasi tinggi kembali memegang kendali.57% tetapi untuk memperdalam permasalahan anggota kelompok yang berprestasi paling tinggi yang lebih berperanan (42. 14. Growth dan Exponent. Dalam menentukan prioritas dalam memecahkan masalah.14% SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil kajian disertai dengan analisis statistik dari data-data yang didapatkan.57%. 1.57%.

2.memecahkan permasalahan yang dihadapi. Mencermati hasil perhitungan statistik yang telah dilakukan. . bahwa pola kolaborasi ternyata mampu membuat pertumbuhan penguasaan konsep Fisika Dasar I mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Malang linier terhadap waktu yang digunakan belajar. Inilah hal utama untuk itu ditekankan sebelum kelompok terbentuk. Saran Dari kesimpulan yang didapatkan seperti diungkap di atas. berdiskusi. 1. Hasil pengamatan interaksi antar anggota kelompok menunjukkan bahwa kebersamaan untuk mau bekerja bersama-sama. saling menghargai pendapat orang lain merupakan faktor penting untuk diperhatikan karena erat kaitannya dengan hasil yang didapatkan nantinya. utamanya prestasi belajar mereka. maka disarankan kepada siapapun sekiranya akan membentuk kelompok belajar seyogyanya membentuk kelompok belajar dengan pola kolaborasi. maka akan membuat semakin baik pola pertumbuhan penguasaan konsep mereka. dapat disarankan hal-hal sebagai berikut.

P. American Journal of Physics. R. R. Teaching Science by Inquiry in the Secondary School.. Trowbridge. Physics by Inquiry: An Introduction to Physics and the Physical Sciences. R. P. L. Virginia. R. S.. A Perspective on Teacher Preparation in Physics and Other Sciences: The Need for Special Science Course for Teacher. C. Ohio . W 1973. Third Edition.. L. Second Edition.DAFTAR RUJUKAN Dahar. John Wiley & Sons. 1996. D. Penerbit Karunika. National Academy Press. L.. 1996.1981. Rohandi. National Research Council. Physics Education.. Preparing Teachers to Teach Physics and Physical Science by Inquiry. W. 1986. & McTighe. C. B. S.. M. R. 35(6). ASCD Publications. 58 (8).L. A Bell & Howell Company. National Science Education Standard. J. R. Jakarta McDermott.C. B. Buku Materi Pokok 4 Universitas Terbuka. W. A Bell & Howell Company. & Trowbridge. P. Menuju Kebiasaan Bertanya dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar. & Rosenquist. Becoming a Secondary School Science Teacher. 2000. Bybee. Inc. Yogyakarta. Pickering. Sund. McDermott. L. J. Shafferi. 2001. Assessing Student Outcome: Performance Assessment Using the Dimensions of Learning Model. Columbus. C. 1993. & Constantinou. Washington DC. New York McDermott.. Columbus. Shafferi. 1990. & Sund.. Ohio. Interaksi Belajar Mengajar IPA. L. Marzano. Penerbit Kanisius.. W.

misalnya melihat kamus untuk mencari makna kata tersebut. Namun taksonomi yang disusun oleh Robinson (1977) terdiri dari tiga strategi. dan menebak makna kata berdasarkan konteks. mengusulkan taksonomi yang terdiri dari dua strategi saja. Some recommendations are made based on these findings. List dan Lerner (1983). menggunakan kamus. ada beberapa strategi pemrosesan kata lain yang dapat diterapkan oleh para pembelajar bahasa Inggris. strategy. Selain penggunaan kamus. The findings reveal that most proficient readers do skip unknown words. Kusumarasdyati adalah dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Surabaya . yaitu analisis terhadap struktur kata dan penggunaan konteks untuk menebak makna kata. Key words: reading. vocabulary. Untuk mengatasi masalah kosakata seperti ini. unknown words Dalam membaca pemahaman. yaitu membaca secara ekstensif (wide reading). misalnya. This study attempts to examine the use of skipping as a lexical processing strategy in reading comprehension and explore the reasons for utilizing this strategy. Richek. mereka menerapkan berbagai macam strategi pemrosesan kata (lexical processing strategies). dan strategistrategi tersebut telah disusun menjadi taksonomi oleh beberapa pakar. and there are five reasons underlying the application of this strategy. skipping.Skipping sebagai Strategi Pemrosesan Kosakata dalam Membaca Pemahaman oleh Pembelajar Bahasa Inggris Kusumarasdyati Abstract: Proficient readers usually skip unknown words that they encounter in a reading text. pembelajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing acapkali menemui kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya.

Mereka tidak menyadari bahwa melewati kata yang tidak ditemukan maknanya sebenarnya juga merupakan strategi atau teknik yang dilakukan oleh pembelajar dalam menghadapi kata-kata sulit. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pembelajar mengumpulkan informasi lebih banyak mengenai teks pada tahap fixation di suatu kata. Selain lebih lengkap dibandingkan dengan yang lain. yaitu mengakui ignore sebagai salah satu strategi. Penelitian mengenai gerakan mata (eye movement) menemukan bahwa mata tidak bergerak secara kontinyu dari satu kata ke kata berikutnya ketika membaca. Berdasarkan latar belakang tersebut. Dua strategi yang diusulkan oleh Richek et al dapat dimasukkan ke dalam kategori infer. Skipping dalam membaca pemahaman sebenarnya telah diketahui oleh para pakar sejak dekade 1970-an. 1989. 1998). Karena anggapan yang kurang tepat seperti ini. Proses berhentinya mata pada suatu titik disebut fixation. melainkan berhenti sebentar pada suatu titik dalam teks kemudian melompat dengan cepat ke titik yang lain dalam teks yang sama (Rayner dan McConkie. taksonomi Fraser juga memiliki kelebihan lain. nampak bahwa klasifikasi strategi yang paling lengkap disusun oleh Fraser (1999). Reichele et al. strategi berupa melewati kata-kata sulit-atau skipping unknown words-tidak terlalu diperhatikan oleh para peneliti dan pengajar bahasa. consult (melihat makna kata di kamus) dan ignore atau skipping (mengabaikan makna kata). sedangkan proses melompatnya pandangan ke titik lain disebut saccade. Selama ini banyak peneliti dan pengajar bahasa yang menganggap bahwa menebak makna kata atau melihat kamus saja yang bisa dikategorikan sebagai strategi. dan amat sedikit informasi yang .Fraser (1999) juga membagi strategi pemrosesan kata menjadi tiga: infer (menebak makna kata). penelitian ini mencoba untuk mendalami skipping sebagai salah satu strategi pemrosesan kata yang digunakan oleh pembelajar bahasa. Karena itu penelitian ini berpijak pada taksonomi strategi pemrosesan kata yang disusun oleh Fraser. Dari beberapa taksonomi di atas. sedangkan wide reading yang dikemukakan oleh Robinson sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai strategi tersendiri karena pembelajar biasanya menebak makna kata atau menggunakan kamus ketika sedang membaca secara ekstensif. dan menurut mereka apabila kedua strategi ini gagal dalam membantu pembelajar untuk menemukan makna kata maka kata tersebut ‗cukup‘ dilewati saja. Rayner dan Pollatsek. 1976.

Penelitian Hosenfeld (1976). yang menunjukkan bahwa para subjek penelitiannya mengabaikan sekitar separuh dari kata-kata sulit yang mereka temukan dalam bacaan karena mereka menganggap kata-kata tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk pemahaman keseluruhan bacaan. Kalau pun ada kata yang terbaca. bukti lain diberikan oleh penelitian mengenai penggunaan strategi dari sudut psikolinguistik. Hal ini sejalan dengan temuan dari penelitian Paribakht dan Wesche (1999). pembelajar melewati 24% kata yang tidak mereka ketahui maknanya. hanya saja data numerik yang dihasilkan agak berbeda. Sekitar 62% dari penggunaan strategi melewati kata ini merupakan strategi tunggal (tanpa didahului atau diikuti oleh menebak atau melihat kamus). Hosenfeld juga menemukan bahwa kata-kata yang dianggap penting pun terkadang dilewati saja oleh para pembelajar karena gagal mendapatkan makna yang sesuai setelah mencoba beberapa kali untuk melihat kamus atau menebak dari konteks. 1998). Hasil pengamatan terhadap gerakan mata di atas memberikan bukti yang kuat bahwa pembelajar memang melakukan skipping atau melewati beberapa kata ketika membaca suatu teks. Jumlah ini lebih rendah daripada pemakaian strategi menebak makna kata (44%) dan melihat kamus (29%). Pressley .diperoleh pada tahap saccade karena pembelajar melewati beberapa kata begitu saja selama pandangan melompat dari satu titik ke titik lain. hingga saat ini tidak banyak yang meneliti secara mendalam mengapa pembelajar melewati begitu saja kata-kata sulit dalam teks yang mereka baca. misalnya. Selain itu. Selain bukti dari sudut fisik pembelajar. menunjukkan bahwa pembelajar yang kemampuan membacanya baik biasanya melewati kata-kata yang tak diketahui maknanya karena kata-kata tersebut dipandang tidak terlalu penting untuk memahami makna keseluruhan bacaan. sedangkan 35% merupakan strategi yang digunakan setelah gagal menebak makna kata. Meskipun hasil penelitian di atas memberikan bukti empiris akan adanya strategi skipping dalam menghadapi kata-kata sulit di bacaan. Hasil penelitian kuantitatif Fraser (1999) mendukung temuan di atas. Hosenfeld (1976) serta Paribakht dan Wesche (1999) menemukan bahwa alasan skipping adalah anggapan pembelajar bahwa kata-kata sulit tersebut tidak penting untuk pemahaman bacaan keseluruhan. pembelajar biasanya tidak memberikan perhatian yang terlalu banyak pada kata tersebut (Reichele et al. Menurut Fraser.

Secara teoritis. penelitian ini juga memberikan manfaat praktis bagi para pengajar bahasa Inggris karena hasilnya dapat memberikan gambaran mengenai penggunaan strategi skipping yang efektif oleh para pembelajar yang kemampuan membacanya baik. sehingga diperoleh skor yang merefleksikan . Data kualitatif diambil dari 8 mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang terpilih menjadi subjek penelitian dengan memakai metode purposive sampling dari populasi sejumlah 74 mahasiswa. diberikan tes membaca pemahaman DIALANG (dapat diunduh dari http://www. Penelitian-penelitian mereka tidak secara khusus mendalami strategi skipping. Untuk mengetahui kemampuan tersebut. Dengan demikian. penelitian ini diharapkan dapat mendukung pandangan yang menyatakan bahwa membaca pemahaman berlangsung secara top-down (pembelajar menggunakan pengetahuan yang telah dia miliki untuk memahami bacaan) dan bukannya secara bottom-up (pembaca memproses setiap kata satu persatu kemudian menggabungkan semua kata tersebut untuk memahami bacaan secara keseluruhan). sehingga perlu diteliti lebih jauh apakah hanya kedua alasan itu yang memicu terjadinya skipping. Sampel ini diambil dari populasi berdasarkan kriteria berupa kemampuan membaca pemahaman yang baik. Selain itu. selain alasan yang disebut di atas. Maka dari itu.dialang.dan Afflerbach (1995) menyatakan bahwa pembelajar melewati kata sulit karena gagal menebak maknanya dari konteks. pengajar dapat membimbing pembelajar yang kemampuan membacanya sedang atau kurang dengan jalan meminta mereka untuk menerapkan strategi yang digunakan oleh pembaca yang lebih baik kemampuannya. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan secara mendalam alasan mengapa para pembaca yang kemampuannya baik mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam bacaan berbahasa Inggris. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya baik melewati kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya dalam membaca pemahaman.org) yang telah menjadi standardized test kepada semua anggota populasi.

4) sehingga didapat sampel sejumlah 8 mahasiswa. Instrumen kedua adalah concurrent verbal protocols. Mahasiswa yang menduduki persentil paling atas dipilih menjadi sampel penelitian. Informasi lebih jauh mengenai tes ini dapat diperoleh dari laman (website) yang disebut di atas. kemudian ditulis transkripnya dengan menggunakan . namun persentil teratas dibulatkan menjadi 8 (dari 7. Untuk mendapatkan data dari subjek penelitian ini. Dalam menggunakan instrumen ini. wawancara retrospektif. apa pun yang mereka pikirkan selama membaca harus mereka ucapkan dengan suara keras sehingga dapat diketahui secara persis proses berpikir mereka ketika mereka mengatasi kata-kata sulit. Instrumen pertama (tes membaca pemahaman) tidak dibahas secara rinci di sini karena hanya digunakan untuk memilih sampel dari populasi. Kedelapan mahasiswa ini diasumsikan memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik karena skor tinggi yang mereka capai. Gambar 1 Cara seleksi sampel menggunakan persentil 10% Skor tertinggi (sampel) 10% Skor terendah Persentil teratas terdiri dari 10% dari mahasiswa yang mendapat skor tertinggi dalam tes membaca pemahaman DIALANG. skor ini diurutkan dari tertinggi hingga terendah dan disusun menjadi persentil. concurrent verbal protocols. dan observasi. dan selama membaca mereka diminta untuk mengucapkan kata-kata sulit yang mereka temui dan strategi mereka dalam mengatasi kata-kata sulit tersebut. diperlukan empat instrumen penelitian: tes membaca pemahaman DIALANG. Proses seleksi ini dapat dijelaskan di Gambar 1. Selanjutnya. peneliti memberikan dua teks (masing-masing terdiri dari 812 dan 344 kata) kepada para mahasiswa untuk dibaca dengan keras.kemampuan membaca mereka. yaitu proses berpikir yang diucapkan dengan suara keras. Ucapan mereka direkam dalam kaset oleh peneliti. Telah disebutkan sebelumnya bahwa populasi terdiri dari 74 mahasiswa. Dengan kata lain.

maka peneliti memberi tanda sebagai berikut di teks yang dia pegang: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end . di dalam kurung] Garis bawah (0.0) Deskripsi Kata-kata yang diucapkan oleh subjek penelitian Kata-kata dari bacaan yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata dari kamus yang dibaca dengan keras oleh subjek penelitian Kata-kata sulit yang tidak diketahui maknanya Panjangnya jeda dalam menit dan detik Instrumen ketiga adalah wawancara retrospektif. karena itu peneliti memberi setrip pendek di bawah kata-kata tersebut. Wawancara yang semi terstruktur ini berpegang kepada dua pertanyaan dasar. di teks terdapat kalimat berikut: ―I had discovered its peace and tranquility when tramping about at a loose end the previous summer. semua wawancara dengan subjek penelitian direkam dalam kaset dan dibuat transkripnya. di mana peneliti mengamati segala perilaku mahasiswa selama membaca dua teks dan mencatat hal-hal yang relevan dengan strategi skipping. yaitu: (1) Apakah anda mengetahui makna kata ini?. Misalnya. Ketika mahasiswa membaca teks. Seperti instrumen kedua.notasi seperti yang terdapat di Tabel 1. di mana peneliti mewawancarai mahasiswa mengenai hal-hal yang perlu diklarifikasi dari hasil concurrent verbal protocols setelah mahasiswa selesai membaca dua teks. di dalam kurung] [Cetak tebal.‖ Kata-kata tranquility. tramping dan loose diperkirakan tidak diketahui maknanya oleh mahasiswa. peneliti memegang teks yang sama dan telah dibubuhi tanda pada beberapa kata yang diprediksi sulit bagi mahasiswa. Apabila mahasiswa mencoba menebak makna tranquility ketika membaca teks dan tidak menebak atau melihat kamus ketika membaca tramping dan loose. Instrumen yang keempat adalah observasi. mengapa anda lewati kata ini sewaktu membaca tadi? Pertanyaan tambahan dapat diajukan sesuai kebutuhan. dan (2) Apabila anda tidak mengetahui maknanya. Tabel 1 Notasi untuk transkrip hasil concurrent verbal protocols Format Huruf biasa [Cetak miring.

Hanya data yang masuk kategori terakhir ini lah yang dianalisis lebih lanjut. sehingga didapat analisis yang lengkap mengenai kata yang dilewati beserta alasan melakukan skipping. dicari alasan-alasannya dari hasil wawancara. Hanya satu mahasiswa (Catrin) tidak pernah mengabaikan kata-kata sulit dan cenderung melihat kamus untuk mencari makna kata-kata tersebut. Hasil coding ini akan ditriangulasikan dengan hasil observasi. Data yang diperoleh dari concurrent verbal protocols akan dianalisis terlebih dahulu dengan cara coding. yaitu kata-kata yang diberi setrip pendek di bawahnya. Setelah didapat daftar kata-kata yang dilewati oleh setiap mahasiswa. . melihat kamus (consulting). Kata-kata yang ditandai setrip pendek ini akan ditanyakan dalam wawancara retrospektif setelah proses membaca selesai. ujaran yang dikategorikan skipping seharusnya cocok dengan hasil observasi. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 2. HASIL Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang kemampuan membacanya tergolong baik melewati kata-kata sulit yang ditemui dalam bacaan. tujuh diantaranya melewati begitu saja kata-kata yang tidak mereka ketahui maknanya. Dalam arti. Dari 8 mahasiswa yang menjadi subjek penelitian ini. atau memasukkan ujaran mahasiswa selama membaca ke kategori yang sesuai: menebak makna kata (guessing). atau melewati kata-kata sulit (skipping).‖ Garis bawah di keseluruhan kata menandakan bahwa mahasiswa mencoba mencari makna tranquility. tetapi nampaknya melewati kata tramping dan loose karena keduanya masih ditandai setrip pendek. seperti yang telah dijelaskan dalam bahasan mengenai instrumen ketiga di atas. sehingga penelitian ini mendukung temuan Hosenfeld (1976) yang telah dibahas di atas.the previous summer.

―Saya tidak tahu artinya tapi saya lewati aja‖? A : Ada yang merasa terus ditebak-tebak. Para mahasiswa yang mengabaikan kata tersebut berpendapat mereka masih bisa memahami apa yang disampaikan di dalam teks walaupun mereka tidak mengetahui makna kata-kata yang dilewati. ngerti maksudnya. P : Ada beberapa tadi yang anda tidak tahu artinya tapi anda tetap baca. . Jumlah yang bervariasi ini tentunya dilatarbelakangi oleh alasan-alasan yang berbeda pula. A : He eh. kalo itu kata kunci? A : Ya. ya udah diambil. P : Yang anda tidak tahu artinya. Sentencenya nyambung. tetapi ada juga yang melewati hingga 43 kata. P : Jadi yang anda cari itu. misalnya seperti yang dijelaskan oleh Andra (A) dalam wawancara retrospektif dengan peneliti (P).Tabel 2 Jumlah Kata-kata yang Sulit dan Dilewati oleh Mahasiswa Nama mahasiswa* Selena Rita Homer Melisa Andra Yulia Catrin Didin * Nama samaran Σ kata sulit 45 35 54 57 37 52 96 49 Σ kata dilewati 25 2 27 35 25 43 0 18 Ada sebagian mahasiswa yang mengabaikan hanya 2 kata yang tidak diketahui maknanya. Jadi selama kata itu nggak penting saya nggak mau. Nggak memperdulikan. Jadi yang penting kata kunci dari sentence itu udah dapet. anda tadi merasa. Biarpun itu katanya susah. saya nggak mau nyari. kalo bukan key of the sentence.

Pembaca yang baik memiliki kemampuan untuk memilah mana kata-kata kunci (keywords) yang penting untuk pemahaman bacaan secara keseluruhan dan mana kata-kata yang kurang penting. Apabila kata-kata sulit dipandang kurang penting, maka pembaca akan menerapkan strategi skipping agar dia dapat membaca secara lebih efisien dan tidak terhambat oleh kata-kata sulit tersebut. Walaupun kata-kata yang tidak dipandang penting pada umumnya diabaikan, ada juga mahasiswa yang mengabaikan kata-kata sulit yang sebetulnya dianggap penting. Contoh konkrit dapat dilihat dalam ujaran Yulia ketika membaca teks dalam concurrent verbal protocols.
Yulia: [I would see him waiting for the whirring (0.1) whirring (0.1) whirring of wings, violin in hand. Several times now…]

Ketika Yulia membaca kalimat di atas, sebenarnya perhatiannya tertuju pada kata whirring yang tidak dia ketahui maknanya dan dia melakukan upaya untuk mengetahui makna kata tersebut, seperti yang ditunjukkan oleh pengucapaan kata ini berulang-ulang dengan jeda 1 detik. Hal ini dikonfirmasi dalam wawancara retrospektif yang dilakukan setelah verbal protocols di atas. Hasil wawancara menunjukkan bahwa Yulia memang tidak mengetahui makna whirring dan bermaksud untuk menebaknya berdasarkan konteks. Dia membaca kalimat selanjutnya (Several times now…dst.) untuk mengetahui dalam konteks apa kata whirring digunakan, namun karena kapasitas memori jangka pendek (short-term memory) Yulia yang amat terbatas maka kata tersebut terlupakan ketika membaca kalimat selanjutnya. Kata whirring masuk ke dalam memori jangka pendeknya tetapi tidak disimpan terlalu lama dan kemudian hilang, sehingga dia tidak melanjutkan upaya untuk menemukan maknanya dan mengabaikan kata tersebut hingga proses membaca teks berakhir. Salah satu mahasiswa yang melakukan strategi guessing diikuti skipping adalah Andra.
Andra: […but the publishers did not hear his uprush of wings. Uprush of wing.] What is that? Uprush of wing. An idiom? Uprush of wing (0.1) mungkin musik yang aneh, maybe. (0.4) Ah lewat. [The child came to live…]

Dalam verbalisasi di atas terlihat jalan pikiran Andra ketika menemukan kata uprush yang tidak dia ketahui maknanya. Pada awalnya dia berusaha mengidentifikasi apakah frasa uprush of wings adalah

sebuah idiom, kemudian lebih jauh dia mencoba untuk menebak makna frasa tersebut sebagai ‗musik yang aneh.‘ Namun nampak jelas bahwa dia tidak yakin akan akurasi makna yang dia tebak, seperti yang ditunjukkan pada kata mungkin dan maybe. Setelah empat detik berlalu, dia memutuskan untuk melewati saja frasa ini, seperti yang dia nyatakan secara eksplisit dengan ucapan ah lewat. Temuan ini merupakan alasan keempat yang menyebabkan terjadinya skipping. Didin, misalnya, memutuskan untuk mengabaikan saja kata yang sama, yaitu uprush, setelah beberapa kali mencari maknanya di kamus namun tidak berhasil.
Didin: [Long ago, she confided, her brother had tried to get his strange music down on paper, but the publishers did not hear his uprush of wings.] Uprush (0.5) uprush (0.23) uprush (0.6) uprush (0.20) uprush uprush (0.5). [The child came to live…]

Ketika Didin menemukan kata sulit, yaitu uprush, dia meraih kamus saku elektroniknya dan berusaha mencari makna kata ini selama 5 detik, namun di kamus tersebut tidak tercantum entri uprush. Kemudian dia beralih ke kamus bilingual Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan mencari selama 23 detik, tetapi di kamus tersebut juga tidak terdapat entri uprush. Hal yang sama juga terjadi ketika dia menggunakan kamus monolingual selama 6 dan 20 detik. Karena ketiga kamus yang dia gunakan tidak memuat kata uprush sebagai salah satu entrinya, dia gagal mendapatkan maknanya dan memutuskan untuk melewati kata ini dan meneruskan membaca kalimat-kalimat berikutnya. Sebagai contoh, Andra melakukan miscue ketika membaca teks dan ini terlacak dari wawancara retrospektif yang dilakukan peneliti dengannya. P A P A : : : : ‗Confided‘ artinya? Oh, ‗confided,‘ tak pikir ‗convinced.‘ Anda salah baca? Ya, salah baca tadi, tak kira ‗convinced.‘

Dalam wawancara di atas, peneliti menunjuk kata confided di teks dan meminta Andra untuk menyebutkan maknanya, karena dia melewati kata tersebut ketika membaca teks sebelum wawancara dilakukan. Saat

mendengar peneliti menyebut kata confided, Andra baru menyadari bahwa dia telah salah membaca kata tersebut sebagai convinced. Karena dia mengetahui makna kata convinced, dia tidak terlalu memperhatikan kata confided dan mengasumsikan bahwa kata tersebut dikenalnya dengan baik. Kasus miscue atau salah baca seperti ini menunjukkan bahwa pembaca ternyata tidak memberikan perhatian dalam kadar yang sama ke setiap kata di dalam suatu teks. Dia mungkin memberikan perhatian yang lebih banyak pada kata-kata kunci dan beberapa kata-kata sulit, namun kata-kata yang dia anggap familiar (dikenal dengan baik maknanya) hanya dibaca sekilas saja dan dia merasa masih bisa memahami teks secara keseluruhan dengan baik. Kasus ini mendukung hasil penelitian mengenai gerakan mata atau eye movement (Rayner dan McConkie, 1976; Rayner dan Pollatsek, 1989; Reichele et al, 1998) yang telah dijelaskan sebelumnya dengan hasil berupa fase fixation dan saccade. Dengan demikian, penelitian dari sudut psikolinguistik ini melengkapi hasil penelitian dari sudut fisik (gerakan mata) yang telah dilakukan untuk mengetahui proses yang terjadi selama membaca pemahaman.
BAHASAN

Penelitian yang mendalam terhadap strategi dalam menghadapi kata-kata sulit menghasilkan temuan berupa lima alasan yang mendasari skipping dalam membaca pemahaman. (1) Alasan pertama adalah katakata yang dilewati tersebut memiliki kontribusi yang amat kecil terhadap makna keseluruhan teks; (2) Alasan kedua, pada awalnya mereka mengidentifikasi suatu kata sulit sebagai kata yang penting untuk pemahaman bacaan dan berupaya untuk mencari maknanya, akan tetapi kata tersebut terlupakan oleh mereka ketika mereka membaca kalimat berikutnya. Hal ini yang menjadi alasan kedua mengapa mereka menerapkan strategi skipping; (3) Alasan ketiga, untuk skipping adalah pemakaian strategi menebak yang gagal. Pada awalnya mahasiswa berusaha untuk mengetahui makna kata dengan cara menebaknya dari konteks, tetapi nampaknya mereka tidak berhasil mengira-ngira makna yang tepat untuk kata tersebut. Akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk melewati saja kata itu; (4) Alasan keempat, tidak

hanya kegagalan dalam menebak kata, tidak berhasilnya upaya mereka untuk mencari makna kata di kamus dapat memicu terjadinya skipping selama proses membaca pemahaman berlangsung; dan (5) Alasan kelima, untuk skipping adalah miscue. Istilah miscue dipakai untuk pertama kalinya oleh Goodman (1996) untuk menyebut kesilapan yang dibuat oleh pembaca ketika sedang memahami suatu teks.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Dari penjelasan di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut. Para pembelajar bahasa Inggris yang kemampuan membacanya tergolong baik pada umumnya melakukan strategi skipping atau mengabaikan kata-kata sulit yang mereka temui dalam suatu teks, dan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya. Jumlah kata yang mereka abaikan beragam, ada yang amat sedikit, namun ada juga yang cukup banyak. Alasan yang mendasari penggunaan strategi skipping ini juga bermacam-macam, dan penelitian ini berhasil mengeksplorasi lima alasan. Alasan tersebut meliputi: (1) kata tersebut tidak terlalu penting untuk memahami makna teks secara keseluruhan, (2) kata tersebut penting, tetapi pembelajar lupa mencari artinya karena keterbatasan kapasitas memori jangka pendek, (3) kata tersebut sudah diupayakan untuk ditebak maknanya, namun gagal, (4) kata tersebut sudah diupayakan untuk dicari maknanya di kamus, namun gagal, dan (5) miscue atau salah baca, dan diasumsikan kata tersebut diketahui maknanya padahal tidak. Alasan pertama dan ketiga mendukung temuan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sedangkan tiga alasan lainnya merupakan temuan orisinil dari penelitian ini.
Saran

Berdasarkan simpulan yang diuraikan di atas, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut kepada para pengajar bahasa Inggris dalam mengajarkan membaca pemahaman. Pertama, pembelajar dengan kemampuan membaca pemahaman yang baik hendaknya dianjurkan untuk menerapkan strategi skipping terhadap beberapa kata sulit yang

karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap pembaca pada tingkat dasar (elementary) dan lanjut (advanced) untuk mengetahui apakah penerapan strategi skipping memang berbeda karena tingkat membaca pemahamannya berlainan. dan (3) menurunkan motivasi untuk membaca lebih jauh. hendaknya pengajar dapat memetik manfaatnya dengan memberikan pengetahuan yang cukup kepada pembelajar agar dapat memilih kata mana yang dilewati dengan alasan yang sesuai. (2) menghambat proses membaca pemahaman. sehingga skipping akan membuat proses tersebut lebih maksimal apabila dilakukan dengan alasan yang tepat. Penelitian ini hanya menggunakan mahasiswa yang memiliki kemampuan membaca pemahaman yang baik sebagai subjeknya. . karena itu perlu diteliti: (1) apakah mahasiswa dengan kemampuan membaca pemahaman yang kurang juga menerapkan strategi skipping dan (2) apabila memang menerapkannya. Bagi para peneliti yang berkecimpung di bidang membaca pemahaman dan pengajarannya. perlu diadakan investigasi lebih lanjut mengenai strategi skipping. Kedua. Perbedaan kemampuan ini diperkirakan akan menghasilkan temuan yang berbeda pula. pembelajar hendaknya diajarkan untuk memilah katakata sulit yang perlu dicari maknanya dan yang dilewati begitu saja. Skipping nampaknya merupakan suatu strategi yang tak dapat dipisahkan dari proses membaca pemahaman. karena mencari makna setiap kata yang tidak diketahui kemungkinan akan: (1) memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk membaca pemahaman. apakah memiliki alasan yang sama dengan mahasiswa yang baik kemampuan membacanya.mereka temui dalam teks. Dari lima alasan yang telah disebutkan sebelumnya. subjek penelitian ini adalah pembelajar yang kemampuan membaca pemahamannya berada di tingkat menengah (intermediate). Selain itu. namun untuk lebih jelasnya diperlukan bukti empiris dari penelitian.

Fisher. 105(1). G. C. Reichele. What Guides a Reader's Eye Movements.. & McConkie. E.. 829-837. A. A. Hillsdale: Erlbaum. Boston: Allyn and Bacon. Rayner. D. K. T.. 1976. K. Lexical Processing Strategy Use and Vocabulary Learning through Reading. W. 1977. H. Reading and "Incidental" L2 Vocabulary Acquisition: An Introspective Study of Lexical Inferencing. K. Robinson. 5(2).. M. On Reading. 125--157.. Studies in Second Language Acquisition. K. Rayner. & Wesche. C. Vision Res. Teaching Reading and Study Strategies: The Content Areas. Hosenfeld. .DAFTAR RUJUKAN Fraser.. 1989. 110--213. A. Ontario: Scholastic. System. & Afflerbach. S. 16(8). Psychological Review. 1999. Pollatsek. 1995. 1998. 21(2). 21(2). L. 1976. P. Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates. A. D. M. 225--241. Goodman.. The Psychology of Reading. Paribakht. 1999. A Preliminary Investigation of the Reading Strategies of Successful and Nonsuccessful Second Language Learners. 195-224. Verbal Protocols of Reading: the Nature of Constructively Responsive Reading. & Rayner. Pressley. 1996. & Pollatsek. Studies in Second Language Acquisition. Toward a Model of Eye Movement Control in Reading. B.

meskipun rumah tangga yang mereka bina telah berusia lebih dari 20 atau 30 tahun. Perceraian sebenarnya dapat dihindari apabila suami atau istri mau mengkompromikan segala kepentingan yang mereka miliki untuk kepentingan bersama yang lebih besar.Pengembangan Model Pendidikan Pencegahan Perceraian bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muslim Ahmad Munjin Nasih Abstrak: Perceraian bagi setiap pasangan suami istri adalah sesuatu yang paling tidak diinginkan. kasus perceraian seakan merupakan tren yang sangat menyita perhatian publik. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Kota Malang angka perceraian dari tahun ke tahun meningkat. yakni keluarga harmonis. Hal ini bisa dilihat dari seringnya masalah tersebut menjadi berita hangat di media masa. Kata-kata kunci: Pengembangan Model Pendidikan. Ironisnya. namun juga menimpa keluarga dari semua kelas sosial. Perceraian Suami Istri Muslim Belakangan ini. Dan anak adalah korban terbesar dari perceraian yang dilakukan oleh ibu dan bapaknya. kasus perceraian yang terjadi karena inisiatif pihak istri (gugat cerai) jumlahnya lebih besar daripada perceraian karena inisiatif pihak suami (talak) lihat pada Tabel 1. baik lokal maupun nasional. Tampaknya masalah ini bukan hanya terjadi pada keluarga dari kelas tertentu. "Luka" akibat perceraian tidak dipungkiri akan mewarnai perjalanan kehidupan mereka dan keluarganya setelah bercerai. Namun dalam realisasi di lapangan masih sering saja dijumpai ada pasangan yang memutuskan untuk bercerai. Ahmad Munjin Nasih adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang .

Trauma yang demikian. bahkan mungkin akan membuat anak trauma terhadap institusi keluarga. Tabel 2 Angka Talak dan Gugat Cerai bulan Januari 2007 di Kota Malang Bulan/Tahun Januari/2007 Talak 46 Gugat Cerai 79 Jumlah 125 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Kondisi yang terjadi di Kota Malang tidak menutup kemungkinan terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. sebab bagaimanapun juga. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan. bisa jadi. 2. 4. jika pasangan-pasangan yang bercerai tersebut sudah dikaruniai anak sebagai buah pernikahan mereka. 3. Tentu saja hal ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk membenarkan perceraian tersebut. 5. terjadinya perceraian itu menunjukkan bahwa pasangan suami-istri yang telah mengikat janji membangun keluarga. Akan tetapi.Tabel 1 Angka Talak dan Gugat Cerai di Kota Malang No 1. Kalau pasangan yang bercerai tersebut belum dikaruniai anak barangkali dapat dikatakan bahwa hanya pasangan tersebut sajalah yang terkena dampak negatif dari perceraian itu. telah gagal mencapai cita-cita yang mereka dambakan ketika mengawali membangun rumah tangga. tidak hanya mengena pada anak dari pasangan yang . Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Talak 335 358 371 434 408 Gugat Cerai 627 664 733 796 764 Jumlah 962 1022 1104 1230 1172 Sumber: Pengadilan Agama Kota Malang Bahkan tren naiknya jumlah gugat cerai daripada talak ternyata tidak berubah sampai bulan Januari 2007 lihat pada Tabel 2. perceraian yang demikian hampir bisa dipastikan meninggalkan kesan negatif terhadap anak.

Rancangan ini diharapkan dapat menghasilkan teori dengan generalisasi lebih luas dan lebih umum penerapannya untuk kasus pencegahan perceraian. Sehingga diasumsikan jumlah perceraian terbanyak dialami oleh pemeluk agama Islam. Namun. maka rancangan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. 1999) Rancangan metode . Jika ini terjadi tentu akan semakin mengkhawatirkan. Namun demikian. Rancangan studi kasus dapat digunakan untuk pengembangan teori yang diangkat dari sebuah latar penelitian (Bogdan & Biklen. pencegahan terhadap terjadinya perceraian menjadi sangat penting untuk dilakukan. (2) mengetahui kebutuhan dan persepsi pasangan suami istri yang telah bercerai terhadap bangunan keluarga sakinah. (3) mengetahui langkah-langkah yang selama ini telah ditempuh oleh suami dan istri dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga. dan (4) mengetahui dampak yang terjadi pada anak-anak korban perceraian. penelitian ini hanya terbatas pada keluargakeluarga muslim. Oleh karena itu. Pembatasan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mayoritas penduduk Malang Raya secara khusus dan Indonesia secara umum memeluk agama Islam. model pendidikan seperti apa yang sesuai dengan tujuan ini belum berhasil dibangun. Oleh karena itu. 1998). Selaras dengan uraian di atas. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan penyadaran kepada semua pihak terutama pasangan suami istri akan pentingnya menjaga rumah tangga dari perceraian. Dengan langkah ini diharapkan pasangan tersebut akan menjadikan keluarganya sebagai keluarga yang sakinah (harmonis) melalui pendidikan pencegahan perceraian bagi pasangan suami istri. perlu dilakukan penelitian pengembangan untuk mewujudkannya. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui data tentang faktorfaktor penyebab terjadinya perceraian.bersangkutan tetapi bisa meluas kepada anak secara umum. Dalam penelitian studi kasus ini digunakan rancangan studi kasus observasional (Yin. METODE Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya.

Kabupaten Malang. Informasi tersebut akan digali melalui wawancara bebas. yaitu: teknik wawancara terfokus. Hal ini diterapkan untuk mendapatkan data yang memadai dan sesuai dengan fukos penelitian dan tujuan penelitian. Tahap berikutnya adalah melakukan eksplorasi. Subjek penelitian sekaligus akan dijadikan informan penelitian dengan kesempatan yang sama. observasi dan dokumentasi (Marshall. dimana dalam tahap ini peneliti mengumpulkan data secara lebih mendalam dan terarah dengan fokus penelitian. Kabupaten Malang dan Kota Batu yang tercatat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. digunakan beberapa alat. Data subjek penelitian akan diperoleh dari Pengadilan Agama Kota Malang. Kata-kata dimaksud adalah berasal dari para informan. Untuk menjaring data tersebut akan dilakukan pengamatan. situasi setting dan beberapa dokumen yang berhubungan dengan fokus penelitian. serta anak-anak korban perceraian di Malang Raya. yaitu Kota Malang. Dalam penelitian kualitatif teknik untuk memperoleh data di lapangan dilakukan dengan tiga cara. Di samping itu juga akan diambil data berupa situasi setting penelitian serta kegiatankegiatan yang berkaitan dengan fokus penelitian. serta berusaha mencari sumber-sumber data atau informan yang kompeten dan memiliki pengetahuan. Dalam setiap kesempatan mengadakan wawancara mendalam digunakan buku catatan. 1989). Adapun teknik penjaringan informasi yang digunakan adalah teknik bola salju (snowball). akan dikumpulkan informasi berupa katakata. baik menggunakan teknik wawancara mendalam maupun dengan teknik observasi. dan Kota Batu. Pada tahap pertama peneliti melakukan penjajakan ke lokasi dalam rangka memperoleh gambaran secara umum tentang situs yang akan diteliti. Dalam penelitian ini. FGD. Adapun subyek penelitian ini adalah suami. Dalam pelaksanaannya dilakukan beberapa kali pengumpulan data dan hasilnya dianalisis sehingga tersusun teori sementara.tersebut digunakan untuk menelaah sebuah fenomena dalam sebuah organisasi tertentu. Sementara itu lokasi penelitian ini adalah wilayah Malang Raya. Di samping itu . istri yang sedang dalam proses perceraian dan sudah bercerai. pemahaman serta kepedulian yang tinggi terhadap pemasalahan yang sedang diteliti. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap. Dalam setiap kali melakukan pengumpulan data.

(3) Penentuan Temuan Penelitian. peneliti menganalisis data dengan empat langkah yaitu: (1) Reduksi Data. psikolog. Keempat. Dalam proses reduksi data. data yang telah dikelompokkan. dan (4) Penarikan Kesimpulan Pertama. dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi baik triangulasi teknik data maupun triangulasi informan. yaitu: (1) kredibilitas. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan tiga cara. (2) Penyajian Data (Display). peneliti merumuskan temuan penelitian dari data yang dianggap bersifat spesifik setelah melalui analisis etnografi. dilakukan dengan meminta bantuan para ahli dan berbagai pihak yang memahami penelitian ini. selain format lapangan juga akan digunakan alat dokumentasi yang berfungsi untuk mendokumentasikan perilaku-perilaku atau peristiwa-peristiwa penting yang muncul selama pelaksanaan observasi. Untuk menganalisis data. kegiatan ini merupakan akhir dalam proses penelitian.apabila yang diwawancarai banyak maka digunakan alat perekam. peneliti juga mencari istilah-istilah kunci yang menjadi data inti. Sedangkan untuk kegiatan observasi. dan hakim agama. Dalam paparan data. tanpa mengurangi esensi data tersebut.. dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan ulang terhadap data yang diperoleh dengan meminta konfirmasi lebih lanjut kepada para informan dan para ahli terkait. Kesimpulan dirangkum dari proses analisis data. (2) dependabilitas. Kedua. Kesimpulan penelitian . Peneliti mengikuti saran Spradley untuk menggunakan model analisis domain dan analisis komponensial. semua data hasil wawancara terbuka dengan semua subjek penelitian. yakni ahli pendidikan. dan (3) konfirmabilitas. dipilah dan digolongkan sesuai tema-tema dalam fokus penelitian. peneliti memberikan catatan reflektif yang sesuai dengan isi data. Ketiga. Pemilahan data ini juga bertujuan untuk membuang data yang tidak diperlukan karena searah dengan tujuan penelitian. Data inti yang ditemukan dimasukkan format model analisis data etnografi yang dikembangkan oleh Spradley (1980). kemudian dirangkai secara sistematis sesuai dengan susunan tema fokus dan disajikan sebagai paparan data. Kedua alat tersebut digunakan untuk mencatat dan merekam jawaban-jawaban informan yang selanjutnya ditulis ulang ke dalam format transkrip wawancara dengan menyertakan koding yang terdiri dari tanggal. Selanjutnya dalam setiap melakukan observasi digunakan format catatan lapangan. ulama. tempat dan inisial informan.

ini yang mendatangkan ketenangan isteri dalam menjalani hidup berkeluarga. Para responden menyatakan bahwa penyebab perceraian yang paling menonjol adalah masalah ekonomi. Dalam Islam. jika ini tidak terpenuhi Islam menganjurkan agar dia menundanya dengan melakukan pengendalian diri antara lain dengan berpuasa. Suami berkewajiban memberi belanja yang cukup dan tidak mempersempit nafkah keluarganya. HASIL Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian Hukum alam mengatakan bahwa tidak ada asap bila tidak ada api. dan apabila hal tidak bisa dimenej dengan baik bukan mustahil semuanya berujung pada perceraian. halal dan dibenarkan oleh agama dan negara.sebelumnya dirumuskan dalam temuan penelitian. Terlebih jika diingat bahwa anjuran untuk menikah bagi seorang laki-laki adalah ketika dia sudah mempunyai kemampuan (alba‟ah) untuk memenuhi kebutuhan keluarganya baik lahir maupun batin. Namun. Suami berkewajiban memenuhinya dalam batas kewajaran. idealitas yang dimiliki harus berhadapan dengan fakta yang sangat tidak diharapkan. ia tidak akan terjadi begitu saja tanpa diawali oleh berbagai persoalan yang melatarbelakanginya. mencukupi kebutuhan mereka dengan memberikan nafkah yang layak. Hidup berkekurangan bisa membawa keluarga ke gerbang kehancuran sebagaimana sabda Rasulullah SAW ―kaada al-faqru an yakuuna . pada hakikatnya adalah kesimpulan yang diperoleh peneliti. fakta seringkali berkata lain. suami dilebihkan dari isteriisterinya karena kelebihan yang diberikan Allah kepadanya (alNisa‟. istri dan anakanak. Begitupun sebuah perceraian. ini dapat dimaklumi karena pemenuhan kebutuhan keluarga terkait dengan kedudukan suami sebagai penanggung jawab keluarga. Berbagai persoalan selalu mengiringi perjalanan rumah tangga.34) karena kelebihan itu suami mempunyai kewajiban menyejahterakan kehidupan keluarga. Hampir bisa dipastikan seseorang yang memasuki dunia rumah tangga berharap bisa menjadikan rumah tangganya sebagai tempat memadu kasih yang sangat membahagiakan antara suami. Temuan penelitian. tanpa berlebih-lebihan atau kekurangan.

228). ― . Hilangnya status qawwamuuna ala an-nisa‟ dari suami memaksa isteri bekerja. . Keinginan untuk lepas dari ikatan perkawinan dengan suami makin menguat ketika menemukan suami sudah tidak lagi jujur dalam memegang janjinya. . Hadirnya pihak ketiga ini menjadi sebab terjadinya perceraian.kufran”. Pada suami melekat kedudukan sebagai pelindung keluarga (qawwamuuna ala an-nisa‟) karena itu kesetiaan isteri tetap terjaga manakala suami dapat memerankan dirinya sesuai dengan kedudukannya. di sini pentingnya suami memenuhi kebutuhan keluarga sebab dengan terpenuhinya kebutuhan. Rapuhnya perkawinan yang berakhir dengan cerai karena hadirnya pihak ketiga tidak saja dialami oleh suami tetapi terjadi pula pada isteri sehingga suami terpaksa menceraikannya. terlebih jika laki-laki itu berharta. kenyataan ini dapat dilihat pada kasus ibu IT dan ibu UL. ibunya tergoda oleh laki-laki lain karena dia melihatnya lebih keren dari pada suaminya. 30-31). dengan itu dia dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan merasa dapat hidup mandiri tanpa bantuan suami. seperti yang terjadi pada ibunda DM. seperti kasus ibunda DM ini. bahkan karena itu kesetiaannya pada suami hilang dan menggugatnya untuk menceraikannya seperti pada kasus ibu IT dan ibu UL. lebih-lebih jika pasangan suami isteri tidak tabah menghadapinya. mereka tidak sabar dalam menerima kekurangan yang ada. Permainan api ini melukai hati isteri dan mengecewakannya sehingga isteri terdorong melakukan gugatan cerai karena dia melihat hilangnya kejujuran suami pada janji setianya yang diikrarkan pada waktu menikah. Isteri melihat laki-laki itu dapat memenuhi kebahagiaan yang diimpikannya karena dia dipandang ―lebih‖ dari pada suaminya karena itu isteri rela menggugat agar suaminya menceraikannya. . suami bermain api di belakang isteri dengan berselingkuh bersama wanita lain. isteri dapat menjalani kehidupan keluarga dengan baik. Ketidaksabaran ini yang sering membawa suami isteri pada perceraian. Godaan ini sangat mempengaruhi langgengnya perkawinan sehingga agama Islam meminta setiap suami atau isteri untuk menahan pandangannya dan menutup mata serta memelihara kemaluannya (An-Nur. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara-cara yang baik‖ (Al-Baqa rah.

. Katakanlah kepada wanita yang beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya. kekerasan pisik dan psikis dapat terjadi karenanya. Dalam kondisi seperti ini suami tidak lagi memegang prinsip mu‟asyarah bil ma‟ruf yang dapat melanggengkan kehidupan rumah tangga. sementara isteri teguh berimannya dan setia memegang janji tidak akan berpaling kepada orang lain yang mungkin hadir setelah mereka menikah. katakata kotor dan penisbatan kepada pezina diterima oleh isteri sebagaimana dalam kasus ibu IT. sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui apa yang mereka perbuat. dan memelihara kemaluannya. yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Kekerasan pisik bisa berupa pemukulan. karena sakitnya terasa lebih dalam dan lama di hati. Kekerasan dapat dihindari manakala suami dapat bersabar diri atas kekhilafan dan kekurangan isteri dalam melayaninya. agama bahkan melarangnya kalau tidak terpaksa benar. Bagi seorang isteri penistaan ini lebih menyakit kan dari pada tindak kekerasan pisik. meski mereka menjalani hidup yang sulit mereka rela menerimanya selama suami yang mendampinginya dapat mengayomi mereka sebagai kepala rumah tangga . perselingkuhan dan kekerasan tidak akan terjadi jika masing-masing suami isteri taat asas pada janji mereka. Persepsi terhadap Keluarga Sakinah Perceraian bukanlah keinginan dasar para isteri. Penistaan suami karena kemiskinannya. Masih ada jalan untuk menghindari perceraian yang tidak diharapkan oleh siapapun. Isteri akan sabar dan rela mendampingi suami meski dalam kondisi ekonomi yang kurang jika suami benar-benar bertindak dan bersikap dengan elegan. diseret-seret. sampai pada ancaman pembunuhan seperti terlihat dalam kasus yang dialami oleh ibu UL dan ibu TS. Tak jarang kekerasan psikis mengiringi perlakuan kasar suami pada isteri nya. dilempar dengan kursi.Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman “Hendaklah me reka menahan pandangannya. penistaan. Beberapa faktor penyebab gugatan cerai di atas adalah imbas dari tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga. dan janganlah menampakkan perhiasannya. dan me meli-hara kemaluannya. . “ Akibat lain dari hadirnya pihak ketiga ini adalah hilangnya kasih sayang antara suami isteri.

Suami tidak dapat nyambung bila diajak ngobrol dan sering minder.yang dapat memberikan perlindungan (al-wilayah). mendambakan hal itu seperti harapan yang diungkapkan oleh DM. pendidikan dan keturunan. anak-anak misalnya. baginya laki-laki yang ideal adalah bapaknya dia mengidolakan bapaknya sebagai suami yang baik. misalnya. Ketika terjadi konflik yang keluar dari suami adalah ucapan-ucapan yang tidak layak. Kufu ini menumbuhkan kebanggaan isteri untuk berjalan bersama suaminya. bimbingan (arri‟ayah) dan mencukupi (al-kifayah) kebutuhan mereka. yaitu keseimbangan antara keduanya baik dalam hal agama maupun status sosial. Kasus ibu UL adalah contohnya. Di bawah suami yang seperti itu cita-cita keluarga sakinah dapat terwujud. Bahkan anggota keluarga yang lain. sebagaimana yang diungkapkan olah ibu IT. Karena ketergantungan itu pula yang mendorong suami tidak bisa fair (jujur) kepada isteri. saling mengerti. dia akan menggerogoti isterinya apalagi jika isteri telah mapan. Ini yang terjadi pada ibu IT sehingga tidak dapat menemukan keluarga sakinah. kecantikan. pekerjaan. Suami yang tidak mempunyai pekerjaan (menganggur) bisa menjauhkan tercapainya cita-cita keluarga sakinah. juga kasus ibu IT. Kewibawaan suami diapresiasi oleh isteri manakala suami mempunyai al-ba‟ah (kemampuan) sebagaimana dituntun oleh agama yaitu kemampuan lahiriah batiniah. Ketergantungan suami kepada isteri menyebabkan pincang nya status dan fungsi suami sebagai seseorang yang harus mencukupi (al-kifayah) keluarganya. sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abdullah bin Mas‘ud. Di sini perlunya suami isteri se-kufu. kotor dan menista. Ibu UL dan ibu IT mengalami hal ini padahal . dan berwibawa. Perbedaan pendidikan yang jauh antara isteri dengan suami misalnya menjadi masalah yang susah ditoleransi dalam menjemba tani perbedaan pendidikan antara isteri dengan suami agar tidak menjadi potensi konflik. seperti yang terjadi pada ibu IT. karena nilai-nilai yang dianut keluarga di mana seseorang dibesarkan secara tidak sadar akan diserap (absorbs) dalam dirinya. ibu UL. apalagi jika isteri berasal dari keluarga yang mempunyai cetak biru bahwa pendidikan sangat penting. keluarga yang di pimpin oleh suami bertanggung jawab. dan ibu TS. konflik antara suami isteri tidak dapat menemukan titik kesamaan karena tidak se-kufu.

manakala isteri mengambil peranannya terlalu banyak maka cita-cita keluarga sakinah tidak dapat terwujud. Manakala masing-masing suami dan isteri dapat memerankan dirinya dengan melaksanakan kewajiban dan haknya maka perceraian tidak perlu terjadi. Berkonsultasi kepada pihak di luar anggota keluarga inti (suami. Namun demikian ada juga pasutri yang tidak melibatkan pihak di luar keluarga inti. saudara. mereka berusaha menyelesaikan sendiri persoalan rumah tangganya tanpa . perceraian baru terjadi jika suami isteri sebagai pasangan hidup tidak memenuhi kriteria yang diharapkan. Langkah-langkah Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga Secara umum setiap pasangan suami istri (pasutri) di Malang menyadari betapa pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga. istri dan anak) adalah cara yang paling umum. saling membutuhkan. dan membuatnya aman serta nyaman. saling respek. dia diharapkan tetap memainkan peranannya sebagai pendamping suami yang berfungsi sebagai perawat dan pemelihara (al-hafidzat) bagi suaminya bukan sebagai penjaga baginya. seperti BP4 dan KUA. teman bahkan ke lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah untuk mengatasi persoaln perceraian. Hal ini bisa dilihat betapa pasutri selalu berusaha mempertahanhan rumah tangganya dengan berbagai cara yang mereka anggap efektif agar perselisihan dan pertengkaran yang terjadi di antara pasutri tidak berujung kepada perceraian. Perceraian bisa pula terjadi karena kurangnya pemahaman pasangan suami isteri tentang makna perkawinan dan upaya yang harus dilakukan untuk membangun keluarga sakinah. Bagaimanapun suami adalah penanggung jawab keluarga. Isteri yang terlalu mengatur (too care) suaminya ternyata tidak disukai suami seperti kasus LQ. Suaminya bisa menjadi belahan jiwanya (soulmate) tempat mencurahkan segala rasa dan cinta sepenuh hati.mereka mengharapkan suaminya bisa menjadi teman hidup yang menyenangkan. Meskipun suami dan isteri telah bercerai namun cita-cita dan keinginan untuk membangun keluarga sakinah tetap tertanam dalam hati masing-masing. Adakalanya kepada orang tua. Hal lain yang menarik untuk diperhatikan bahwa sebesar apapun cinta isteri kepada suaminya. mertua.

Namun dari responden yang dihubungi hampir tidak ada yang melibatkan lembaga BP4 yang sengaja dibentuk oleh pemerintah untuk memberikan solusi terhadap pasutri yang sedang mengalami problem keluarga. keterlibatan keluarga pun tidak bisa dihindari. keterlibatan mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok. Sementara itu dari pihak pasutri sendiri juga tidak merasa sungkan dan terbebani jika meminta bantuan kepada keluarga. sebagian berhasil tidak meneruskan ke tingkat perceraian dan sebagian lagi justru gagal. Karena bagimanpun pasutri adalah pihak-pihak yang paling mengetahui persoalan yang dialami. Pasutri yang melibatkan pihak keluarga secara penuh biasanya adalah pasutri yang memulai proses pernikahan dengan cara yang wajar dan mendapatkan restu dari keluarga kedua belah pihak. Meskipun demikian pihak keluarga biasanya juga mengetahui kapan mereka bisa terlibat dan kapan tidak. sehingga mereka juga merasa perlu membantu pasutri yang sedang mempunyai persoalan rumah tangga dan membutuhkan bantuan penyelesaian. Keterlibatan Keluarga Sudah menjadi kelaziman bahwa anggota keluarga adalah bagian tak terpisahkan dari sepasang suami istri. Namun. Dalam konteks perceraian. Tidak semua persoalan harus diselesaikan oleh pihak keluarga. 1. sebab pihak keluarga merasa dilibatkan dalam proses perkawinan. keberadaan keuarga tak lebih hanya sekedar membantu memecahkan persoalan yang dialami. yakni keluarga yang secara penuh dilibatkan dan sebagian lagi tidak penuh. Hal ini sangat wajar. Keluargalah yang biasa memberikan suport kepada pasutri apabila mengalami problem keluarga yang sulit diatasi.melibatkan pihak lain. Hasilnya. Bantuan penyelesaian . Sebagian diantara mereka bisa melibatkan pihak keluarga masing-masing secara penuh. sebagian lagi hanya melibatkan salah satu keluarga saja. Dari paparan data sebelumnya dapat diketahui bahwa langkahlangkah yang ditempuh oleh pasutri di Malang dalam memproses perceraian sangat beragam. Mereka selalu terlibat dalam hal ini. Ada juga yang berkonsultasi ke KUA. sebab perkawinan mereka juga atas restu keluarga.

Akibatnya masyarakat tidak memanfaatkan lembaga ini sebagai media penyelesaian problem keluarga yang mereka hadapi. Berbeda dengan pelibatan sebelumnya. Pasutri ini merasa bahwa mereka telah berbuat tidak baik kepada orang tua dan pihak keuarga. sebagian pasutri tidak memanfaatkan peran senioritas keluarga. baik keduanya atau salah satunya. yang mengemuka adalah aspek emosi. . 2. Banyak faktor yang menjadi penyebab mereka melakukan ha lni. Tujuannya jelas. Karena pertimbangan inilah mereka lebih memilih menyelesaikan persoalan keluarganya tanpa campur tangan keluarga terlebih dahulu. Bahkan ada pasutri di Malang Raya yang tidak mengerti tentang BP4 sama sekali. karena proses pernikahan yang mereka jalani pada awalnya tidak ‖direstui‖ oleh orang tua. Tidak termanfaatkannya BP4 oleh pasutri. banyak pasutri yang sedang mengalami persoalan rumah tangga tidak memanfaatkan lembaga ini untuk menyelesaikan persoalannnya. Adapun faktor yang mngemuka adalah tidak direstuinya hubungan perkawinan mereka oleh kedua belah pihak. Apabila mereka telah merasa tidak mampu barulah melibatkan orang tua atau mertua. Ketidaktahuan masyarakat tentang BP4 ini bisa jadi karena minimnya sosialiasi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait kepada masyarakat. Ketakutan terutama diarahkan kepada orang tua dan mertua.persoalan adalah sesuatu yang penting. Idealisme lembaga ini ternyata bertepuk sebelah tangan. agar pasutri tidak sampai masuk dalam kubang perceraian. kalaupun direstui hal itu disebabkan adanya ‖kecelakaan‖ sebelumnya dari pihak istri. sehingga aspek nalar tidak bisa berfungsi secara maksimal. Pasutri yang menempuh langkah ini biasanya didasari oleh perasaan minder dan takut. Keterlibatan BP4 BP4 adalah lembaga resmi pemerintah yang didirikan untuk membantu pasutri dalam menemukan solusi atas persoalan rumah tangga yang dialaminya. menurut para responden karena mereka tidak banyak mengenal keberadaan lembaga ini termasuk peran dan fungsinya. mengingat ketika pasutri mengalami pertengkaran.

secara formal BP4 memiliki struktur mulai dari pusat sampai tingkat desa. biasanya sudah pasti cerai. kecuali pasutri yang berstatus PNS. Tanpa rekomendasi dari BP4 pengadilan tidak akan meneruskan sidang perceraian mereka. Sebab apabila BP4 dibiarkan tanpa tugas dan kewenangan yang jelas. demikian sebagaimana dituturkan oleh salah satu pejabat PA dan kepala KUA di Malang. BP4 yang ada di setiap level. khususunya yang ada di kecamatan. Ketua KUA di semua tempat adalah kepala BP4 itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pengakuan salah satu kepala KUA di Kab Malang bahwa sebagian PNS yang berkonsultasi ke BP4 ada yang kembali rukun. Namun eksistensi BP4 bisa dibilang wujuduhu ka‟adimihi (adanya seperti tidak adanya). Melihat eksistensi BP4 yang demikian. pada saat yang sama. . mereka langsung menyelesaikannya di pengadilan. Dan kalau sudah di pengadilan agama. Dan yang demikian pada gilirannya akan memacu peningkatan angka perceraian di masyarakat. Ketika aturan tersebut diberlakukan. bagi pasutri PNS rekomendasi BP4 akan sangat berarti bagi kelangsungan proses perceraian di pengadilan agama. Sebab. setidaknya bisa meredam gejolak mereka untuk meneruskan perceraiannya. dimana mereka harus mendapatkan rekomendasi BP4 terlebih dahulu. namun ada juga yang tetap bercerai. Posisi BP4 yang demikian. hampir dipastikan tidak dikunjungi masyarakat. Selain pasutri PNS. maka persoalan perceraian yang menimpa banyak umat Islam akan meningkat. tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Undang-undang nomor 7 tahun 1989 tentang peradilan agama. maka pemerintah dalam hal ini Departemen Agama dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia sudah selayaknya duduk bersama merumuskan kembali posisi BP4. Namun. masyarakat secara umum lebih suka menyelesaikan problem keluarganya tanpa melibatkan BP4. pemerintah tetap memposisikan BP4 masih terikat kuat dengan struktur KUA di kecamatan. dimana peranan KUA dibatasi pada persolan nikah dan ruju‘. Prosedur perceraian yang diterapkan oleh pengadilan agama terhadap pasutri PNS.Sebenarnya secara kelembagaan. maka bisa dipastikan BP4 tidak memiliki peranan lagi.

rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). perilaku agresif. seorang anak belajar beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Maka akan muncul serentetan masalah baru bagi anak-anak mereka. Apabila keluarga menjadi berantakan disebabkan perceraian. perilaku regresi dan obsesif. namun perceraian—terutama yang disertai kekerasan—malah mengajarkan sikap antipati. curiga. Pertikaian antara ayah dan ibunya ketika kondisi ―retak‖ hingga proses perceraian dapat mengacaukan kondisi emosi anak. kecewa. Pada keluarga yang telah pecah akibat perceraian. loyalitas. kasih sayang. Keluarga yang telah bercerai berpotensi membentuk pribadi bermasalah karena lingkungan inilah yang pertama kali dihadapi oleh sang anak. Kondisi ini menimpa AZ dan Wim dan S yang .BAHASAN Secara taksonomis. tidak loyal dan acuh. suka berbohong dan perilaku proyeksi. Kehangatan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh anak dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Perceraian secara tiba-tiba mencerabut kebutuhan anak tersebut. Perilaku tersebut akan menjadi model bagi anak. dampak perceraian yang tampak pada anakanak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis. serta nilai-nilai budaya. penurunan prestasi belajar. Bermula dari keluarga. Perceraian dapat menghambat proses belajar tersebut. bimbingan dan perlindungan. Mereka juga belajar mengenal normanorma dan aturan-aturan hidup. interaksi yang dapat menimbulkan pengalaman afektif dalam kehidupan anak juga terkurangi. Orang tua yang sedang kalut dan marah pada pasangannya sering kali menampakkan perilaku tidak dewasa dan emosional. Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. Seharusnya anak dapat memahami sikap simpati. Perceraian dalam keluarga membuat anak kebilangan harapan dalam memperoleh kebahagiaan padahal secara teoritis dan realitas. di tengah keluarga. atau salah satu dari pasangan tersebut (baca orang tua anak-anak) ―kabur‖. seorang anak idealnya memperoleh kehangatan cinta. solidaritas.

dia juga merasa tidak aman secara emosional (emotional insecurity). dan sebagian besar perceraian dewasa ini melibatkan keluarga yang mempunyai anak. Lebih lanjut. Sementara AZ mungkin merasa kehilangan kepercayaan diri dalam pergaulan sosial sebagai akibat perasaan malu karena memiliki keluarga yang tidak utuh. Kasus PR menunjukkan bahwa kehadiran orang tua dalam perkembangan kepribadian anak sangat penting. anak-anak seperti AZ. PR telah merasakan pahitnya kehilangan fungsi ibu dan ia mengalami deprivasi maternal atau kehilangan bimbingan ibu. Perceraian yang terjadi melibatkan anak-anak dibawah usia 18 tahun. semuanya akan nampak dari perilaku anak ketika beranjak remaja dan dewasa apabila tanpa bimbingan dari salah satu dari orang tua atau pengganti orang tuanya (Nawawi: 1998). perkembangan sosio-emosional. kehilangan figur model perilaku. sekarang merupakan hal yang biasa. PR dan saudara-saudaranya masih beruntung karena figur sang ayah dan keluarganya yang lain memberikan penguatan sehingga dampak psikologis akibat perceraian kedua orang tuanya tidak terlalu berat dirasakan PR. bahkan spiritual. Bagi PR yang menjadi saksi pecahnya harmoni keluarga. Anak-anak dari korban perceraian semakin banyak dan. Di samping karena AZ juga menjadi saksi pertikaian orang tuanya yang pebuh dengan kekerasan sehingga dia mengimitasi peristiwa itu lalu mentrasfernya dalam hubungan dengan teman-temannya. Akibatnya PR merasa tidak pernah belajar menjadi figur perempuan sebenarnya. prosentase perceraian dengan gugat cerai berlipat ganda. Kasus S menunjukkan bahwa anak anak yang berupaya dengan keyakinannya ingin menyelamatkan perkawinan orang tuanya meskipun . meskipun S dan AZ diasuh oleh si ibu. Mungkin perkiraan bahwa perceraian dapat mempengaruhi 15 persen anak-anak yang lahir di tahun 1955 di Inggris dan Amerika.mengalami masalah emosional setelah proses perceraian orang tuanya yang disertai kekerasan. Win dan S akan mengalami gangguan perkambangan intelektual. Dikhawatirkan. Angka perceraian yang cenderung meningkat di Malang Raya khususnya tahun 2000-an membuat kasus perceraian yang dulu merupakan kejadian luar biasa. Semua kasus diatas bahkan dapat dikatakan mengalami deprivasi parental atau kehilangan fungsi pengasuhan. Dewasa ini. telah terjadi pula di Malang Raya.

PR lebih bisa memahami kasus orang tuanya karena dia mengetahui kejadian itu setelah beranjak dewasa.. AZ menjadi berperilaku terpusat pada diri sendiri (egosentris) dan menghawatirkan karena sering kasar dan agresif pada teman-teman sebayanya. 3. Sebagian diantara mereka dapat memahami kosep keluarga sakinah sama seperti yang dimaksud oleh agama. R dalam hal telah menempatkan ibunya sebagai orang yang kurang dapat dipercaya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan paparan data pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. diantaranya (1) ketidakberdayaan suami dalam membahagiakan isteri. sebagian lagi hanya memahaminya sebatas aspek lahiriyah. Ia mempersepsi sang ibu sebagai orang yang tidak tanggap atau menimbulkan frustasi karena tidak bersikap kasih. (4) perbedaan keyakinan. Dia belajar mengenai sosok-sosok pribadi dengan ciri-ciri yang terkesan negatif dalam benaknya untuk ditolak dan tidak dapat di percaya. sebagian pasutri Muslim di Malang Raya melibatkan keluarga (orang tua. dan (6) tidak saling percaya. 2. Perceraian yang terjadi diantara pasutri muslim di Malang Raya disebabkan oleh beberapa faktor. Kondisi ini sesuai dengan analisa Sears (1988). atau yang dituakan) sejak awal untuk . kakak. (3) kekerasan dalam rumah tangga. Persepsi pasutri Muslim di Malang Raya tentang keluarga sakinah sangat beragam. Sementara itu. (5) ketimpangan pola pikir. bahkan ada yang tidak mengenal konsep keluarga sakinah. PR lebih mampu memahami bahwa perceraian orang tuanya dan tahu asal muasal penyebab perceraian tersebut. Kasus S memberikan gambaran bahwa S berpotensi menjadi kurang matang (Immature) akibat kerinduan pada sosok ayah.usahanya menjadi sia-sia. Anak-anak korban perceraian baik AZ dan S kemungkinan akan berkembang memiliki cara pandang yang selektif pada orang lain sebagai bagian dari kepribadiannya. (2) hadirnya orang ketiga. Dalam menyelesaikan problem rumah tangga yang menjurus ke arah perceraian.

saran yang dapat dikemukakan adalah: 1.membantu mencari solusi yang terbaik. Sebab pihak Pengadilan Agama tidak akan memproses. perilaku agresif. jika tidak ada rekomendasi dari BP4. biasanya pasutri yang proses pembentukan rumah tangganya tidak mendapat restu dari keluarga. Dampak psikologis diantaranya adalah muncul sikap negatif. Mereka menjadi lebih selektif dalam memutuskan masalah masa depan. perilaku regresi dan obsesif. khususnya mereka yang mendapatkan bimbingan yang memadai. penurunan prestasi belajar. Selain kedua model tersebut. Kecuali pasutri PNS. 4. selain itu mereka juga lebih bijak Saran Setelah diketahui beberapa kesimpulan di atas. bagi sebagian kecil diantara anak-anak korban perceraian. merasakan dampak positif. Pasutri yang meibatkan keluarga sejak awal biasanya adalah pasutri yang mendapatkan restu dari keluarga untuk membentuk rumah tangga. Sebagian lagi hanya melibatkan pihak keluarga pada saat mereka tidak mampu lagi mengatasinya. dampak perceraian yang tampak pada anak-anak dalam kasus di Malang Raya umumnya lebih banyak berupa dampak psikologis dibandingkan dampak gangguan fisiologis. Sebaliknya yang tidak melibatkan keluarga sejak awal. ada keharusan bagi mereka untuk berkonsultasi kepada BP4 kabupaten terlebih dahulu jika ingin memproses ke arah perceraian. Sedangkan dampak fisiologis yang muncul berupa anak menjadi sakit dan anak yang berusia remaja cenderung akan mencoba merokok. Secara taksonomis. Penelitian ini akan membawa manfaat yang lebih besar jika ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan yang diarahkan kepada . rasionalisasi hingga murung dan withdrawal (menarik diri). suka berbohong dan perilaku proyeksi. pasutri di Malang Raya yang sedang bermasalah hampir seluruhnya tidak memanfaatkan keberadaan BP4 sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah untuk membantu mencarikan solusi atas persoalan rumah tangga. Selain dampak yang negatif.

3.pembuatan model pencegahan perceraian bagi pasutri muslim yang diwujudkan dalam penerbitan buku saku pencegahan perceraian 2. baik secara akademis. agamis. Pihak-pihak yang terkait dalam pemerintah sudah saatnya meninjau kembali beberapa peraturan yang tidak memberikan peluang kepada BP4 mengembangkan diri dan ikut andil dalam mencegah terjadinya perceraian di masyarakat. Pihak universitas bekerja sama dengan pihak-pihak terkait hendaknya melakukan kajian secara komprehensif mengenai persoalan perceraian dan langkah-langkah kongkrit untuk mengatasinya. sosiologis. maupun administratif. .

1980. K. T. Tafsir Al Maraghi. Qualitative Research In Education: An Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon. Darul Fikr. Upaya Mengatasinya Menurut Qur‘an Hadits dan Ilmu pengetahuan. dan Biklen.DAFTAR RUJUKAN Al Qur‘an dan Terjemahannya. Mujamma‟ Al Malik Fahd Li Thinba‟at Al Mushh-haf. Jakarta. 1999. Sulitnya Berumah Tangga. 1995. S. Maraghi. Darul Fikr . Al Khasyt. Shahih Muslim. Beirut. Beirut. C. Ahmad Musthafa. Medinah Munawwarah.th. Bogdan. GIP. Imam Muslim. Muhamad Usman. R. 1998.

industrial practical. the CAR was succesfull in (a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject Key words: Project Based Learning. having the collaaborative character. Pengamat pendidikan dan dunia industri mensinyalir bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia secara umum masih rendah. Based on the data obtained through observation and questionaires.Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktik Industri pada Prodi S-1 PTB Pribadi Wasis Abstract: This Research aim to to ( a) Improve student learning outcomes in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based` Learning and (b) Improve quality of instruction process in Industrial practical subject at Departement of Building Education through Implementation of Project Based Learning. This Research use of class action research (CAR). building education. Hal ini nampak dari. minimal untuk dirinya sendiri. sikap sebagian besar lulusan perguruan tinggi kita yang masih mengharapkan bekerja di instansi pemerintah dan tidak mampu menciptakan lapangan kerja. Hal ini merupakan salah satu indikator proses pembelajarandi perguruan tinggi masih belum optimal. Pribadi dan Wasis adalah dosen Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Negeri Malang . This Research is conducted in Departement of Building Education FT UM.

Pada kuliah tatap muka di kelas yang dilakukan pada minggu pertama dan kedua awal semester hanya terkait dengan masalah wawasan PI dan mekanisme pelaksanaan PI di lapangan. setiap mahasiswa harus menempuh matakuliah Praktik Industri (PI) sebagai persyaratan untuk lulus. Kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan masih banyak mengalami kekurangan-kekurangan dan masih perlu dilakukan pembenahan-pembenahan.Pada pihak lain model pembelajaran di perguruan tinggi yang masih mengacu pada prinsip behavioristik yang lebih menekankan bagaimana pengajar merubah sikap. 2001). Dalam kegiatan praktik ini diharapkan mahasiswa mampu memahami prosedur kerja. mandor dan tukang tentang masalah- . menganalisis masalah dan mampu memberi solusi terhadap masalah yang terjadi di lapangan. pada pembelajaran bidang studi teknik.. untuk memahami konsep-konsep teknik yang bersifat rumit dan abstrak diperlukan tugas-tugas yang bersifat lebih komplek. Metode penyelesaian PI yang selama ini dilakukan dengan 10% kuliah tatap muka di kelas dan 80% melalui kerja praktik pada industri jasa konstruksi. Guna mencapai tujuan tersebut pada program S-1 Pendidikan Teknik Bangunan FT UM. Hal tersebut. Kasus yang demikian dijumpai pula pada mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Bangunan (PTB) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Malang (UM). Setelah itu mahasiswa. pemahaman terhadap konsep-konsep maupun teoriteori teknik tidak cukup dilatih dengan pemberian soal-soal saja. Matakuliah PI boleh diambil mahasiswa bila sudah menyelesaikan kumulatif 90 sks atau telah menempuh 80% matakuliah keteknikan. Di lapangan mahasiswa diharapkan dapat belajar dengan pelaksana. Misalnya. PI merupakan matakuliah yang bertujuan untuk membekali mahasiswa agar memiliki kemampuan komprehensip dalam memecahkan masalah yang yang terjadi di lapangan. Namun lebih dari itu. akan berakibat pada rendahnya gairah belajar mahasiswa. Dengan demikian mahasiswa yang boleh mengambil PI adalah mahasiswa di atas semester 6. mengakibatkan banyak mahasiswa yang merasa terpaksa dalam menjalani proses pembelajaran (Suhartadi. kemampuan dan keterampilan mahasiswa. Dalam pelaksanaannya PI dilakukan dengan cara praktik langsung di lapangan pada proyek konstruksi yang sedang berjalan. diberi kebebasan untuk mengerjakan tugasnya ke lapangan serta diberi jadwal tertentu untuk berkonsultasi dengan dua orang dosen pembimbing yang telah ditentukan.

Dalam pelaksanaan pendidikan pada program S-1 PTB FT UM. Dosen pembimbing beranggapan bahwa ―kalau mahasiswa konsultasi ya dilayani. Dari mahasiswa yang berhasil menyelesaikan PI tersebut tidak ada (0%) mahasiswa yang mampu meraih nilia A. (2) tidak mampu menyelesaikan tugas yang telah ditargetkan. kalau tidak datang untuk berkonsultasi ya terserah mahasiswa‖. ternyata penyelesaian PI menjadi kendala utama kelulusan mahasiswa. hampir semua mahasiswa berbondong-bondong berkonsultasi. angkatan 2002 dari sebanyak 35 orang hanya 10 orang mahasiswa dan angkatan 2003 dari sebanyak 36 orang hanya 11 orang mahasiswa. Akibatnya hampir 90% mahasiswa tidak mampu menyelesaikan PI dengan tepat. Pada awal-awal semester hanya sekitar 15% mahasiswa yang memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Berdasarkan hasil wawancara dengan tim pembimbing PI dan juga pengamatan tim peneliti. Pada pihak lain. Kurangnya kemandirian mahasiswa dapat dilihat dari beberapa indikator seperti (l) tidak menepati jadwal konsultasi yang telah ditentukan. 20% mahasiswa mendapat nilai B dan 80% mahasiswa mendapat nilai C. sehingga waktu konsultasi dengan dosen. Dalam hal ini tidak ada kontrol terstruktur dari dosen pembimbing pada mahasiswa yang memprogram . (3) malas atau tidak mau mencari buku rujukan yang disarankan dosen. Berdasarkan data yang ada pada jurusan ternyata mahasiswa yang mampu menyelesaikan PI tepat waktu adalah (l) angkatan 2001 dari sebanyak 24 orang hanya 9 orang mahasiswa. ternyata tidak mengerti akan tugas-tugas yang dikerjakan. Di samping itu. sistem pembelajaran PI dengan memberi kebebasan waktu pada mahasiswa untuk berkonsultasi pada dosen pembimbing ternyata menjadi masalah tersendiri. dan (4) sering mengupahkan atau menyuruh mahasiswa lain untuk mengerjakan tugasnya. Dari data-data tersebut nampak bahwa hampir sebagian besar mahasiswa. Mahasiswa yang memprogram PI tidak teratur memanfaatkan waktunya untuk berkonsultasi sesuai jadwal yang ditetapkan.masalah konstruksi bangunan. ternyata keterlambatan mahasiswa dalam menyelesaikan PI disebabkan kurangnya kemandirian dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada. mengalami masalah dalam penyelesaian tugas PI. dan sebaliknya pada akhir semester di mana jadwal pengerjaan PI harus berakhir. nampaknya dosen pembimbing juga jarang memperhatikan kegiatan penyelesaian PI mahasiswa.

Metode Pembelajaran Berbasis Proyek dipilih untuk memecahkan masalah ini karena sesuai dengan konteks dan tujuan dari matakuliah PI. maka cara yang dianggap paling baik untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. yaitu melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata. Melihat permasalahan dalam pembelajaran PI tersebut. sehingga kemandirian mahasiswa dalam menyelesaikan PI tumbuh. yang berfokus pada pertanyaan atau masalah nyata serta pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya. petunjuk. sehingga mahasiswa memiliki kemandirian dalam menyelesaikan PI yang memang cukup berat. Di samping itu dosen pembimbing PI. Berpijak pada latar belakang masalah di atas. Di samping itu metode Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa keunggulan seperti (1) mampu meningkatkan motivasi mahasiswa. Sebagai fasilitator pengajar harus dapat memberi berbagai kemudahan. juga merupakan salah satu masalah yang mengakibatkan efektifitas pengerjaan PI rendah. sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan. motivator dan inspirator. Sudah menjadi kewajiban dosen untuk meningkatkan perannya sebagai fasilitator. Melalui pembelajaran berbasis proyek akan mampu mendorong mahasiswa untuk melakukan invesitigasi pemecahan masalah terhadap tugas-tugas yang bermakna. mendorong mahasiswa bekerja secara mandiri. dan hasilnya membentuk suatu produk nyata. dan (4) . maka harus ada upaya-upaya sistematis untuk memperbaikinya. Memberi petunjuk dalam penyelesaian PI atau mengarahkan bagaimana agar mahasiswa dapat menyelesaikan tugas dengan mudah dan sekaligus memberi dorongan-dorongan yang diperlukan. bantuan. tanpa memandang taraf kemampuan intelektual mahasiswa. maka upaya yang dianggap sesuai untuk penyelesaikan permasalahan pembelajaran tersebut adalah melalui penerapan pembelajaran berbasis proyek (project based learning).PI. dorongan pada mahasiswa dalam penyelesaian PI. Kondisi dosen yang demikian. Melihat sistem pembelajaran matakuliah PI yang demikian. dengan penerapan pembelajaran berbasis proyek akan dapat berperan sebagai fasilitator. (2) meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Sebagai inspirator pengajar harus dapat memberikan semangat. (3) meningkatkan sikap kerjasama. motivator dan insprirator.

Carol. dan mencapai puncaknya untuk menghasilkan produk nyata (Thomas. 1998). 1998). Mergendoller. Karakteristik aktivitas. Van-Duze. kondisi dan hasil. melibatkan mahasiswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain. (2) mahasiswa diminta memperagakan tingkah laku manajemen waktu dan tugasnya baik secara individu maupun kelompok. (3) mahasiswa membuat hubungan/keterkaitan antar ide-ide dan memperoleh ketrampilan baru seperti melakukan kerja pada tugas-tuga yang berbeda. dukungan terhadap otonomi mahasiswa seperti (l) mahasiswa mengambil bagian dalam masyarakat inkuiri dan meneruskan latihan kerjanya di dalam konterk social. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang amat besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi mahasiswa (Gaer. Adanya keunggulan-keunggulan metode Pembelajaran Berbasis Proyek tersebut dianggap tepat untuk memecahkan masalah pembelajaranpada matakuliah PI. memberi kesempatan mahasiswa bekerja secara otonom dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Secara operasional hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Karakteristik isi: memuat ide-ide seperti (l) masalah disajikan dalam bentuk keutuhan kompleksitas.alat otentik/sesungguhnya (misalnya. Thomas. Secara umum karakteristik project based learning mencakup isi. Fokus pembelajaran terletak pada prinsip-prinsip dan konsep-konsep inti dari suatu displin ilmu. & Michaelson. (2) mahasiswa dihadapkan pada suatu kesulitan. (2) mahasiswa menemukan hubungan anta ride secara indispliner. pencarian sumber dan pemecahan masalah dalam merespon tantangan secara keseluruhan. dan (4) pertanyaan dunia nyata dan menarik perhatian mahasiswa. (4) mahasiswa menggunakan perlengkapan. (3) mahasiswa berjuang dengan ambiguitas. Moss. dan (5) mahasiswa melakukan umpan balik (refleksi) tentang nilai idenya dari ahli lain/melalui tes realistik Kondisi.meningkatkan keterampilan mengelola sumber (Moursund (1997). 2001. dan lebih menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang komplek. 2000). Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebuah model pembelajaran yang inovatif. (CORD. aktivitas. teknologi/sumber-sumber nyata). (3) mahasiswa mengarahkan kerjanya . 1999. Memuat ide-ide investigatif seperti (l) mahasiswa melakukan investigasi selama periode tertentu.

yaitu (1) centrality. Artinya penelitian ini melibatkan tim pengajar sebagai anggota peneliti. (3) contructive investigation. Pembelajaran Berbasis Proyek mempunyai beberapa prinsip. dan (4) mahasiswa melakukan simulasi kerja profesional dari seorang sarjana. engineer dan praktisi-praktisin lainnya. Subjek penelitian ini melibatkan 2 orang dosen. peneliti. laporan dan sejenisnya). (4) autonomy. (2) driving question. (2) mahasiswa terlibat dalam melakukan self assessment. ketrampilan teknik dan sebagainya. dan (5) realism (Thomas. Sebagai sebuah model pembelajaran. 2000). Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas penelitian ini bertujuan untuk (1) Meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek dan (2) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM melalui penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek METODE Penelitian ini dilakukan di Program Studi S-1 Teknik Bangunan FT UM. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bersifat kolaboratif. produk nyata seperti: (l) mahasiswa menghasilkan produk intelektual yang kompleks yang menunjukkan hasil belajarnya (misalnya model.sendiri dan melakukan kontrol belajarnya. Hasil. dan (4) mahasiswa memperagakan kompetensi nyata mereka seperti: keterampilan sosial. yang dari awal sampai akhir kegiatan terlibat langsung sebagai peneliti pelaksana. Penelitian ini berpedoman pada model yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart (Dalam Hopkins. Waktu pelaksanaan penelitian ini direncanakan dilaksanakan mulai bulan Pebruari 2008 sampai dengan bulan November 2008. keterampilan manajemen. (3) mahasiswa bertanggung jawab terhadap pilihannya tentang bagaimana akan mendemonstrasikan kompetensi mereka. disamping itu dilibatkan 15 mahasiswa semester 7 dan 8 prodi S-1 PTB FT UM yang memprogram matakuliah PI. 1992) merupakan alur pelaksanaan tindakan dan berlangsung dalam siklus-siklus yang terdiri . benda nyata.

dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. memfokuskan. dan sebagainya.atas rencana tindakan. Sedangkan penyimpulannya adalah proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan atau formula yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas (PGSM). Hal ini dilakukan dalam rangka menciptakan suatu iklim yang baik antara peneliti dengan pengajar dan mahasiswa. yaitu reduksi data. Hasil refleksi pada siklus ini digunakan sebagai dasar pelaksanaan siklus berikutnya. pelaksanaan tindakan. Dalam hubungan ini. HASIL Siklus 1 a. 1999). Perencanaan Sebagai langkah awal kegiatan tim Peneliti melakukan bekerjasama dengan tim pengajar Praktik Industri. Tahap perencanaan ini meliputi kegiatan sebagai berikut: . pemfokusan. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi. menyederhanakan. mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap penelitian tindakan kelas. analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus penelitian tindakan kelas sebagai keseluruhan (PGSM. observasi dan refleksi. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif. Kegiatan pertama dalam siklus I ini adalah dilakukan perencanaan pembelajaran Praktik Industri dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. analisis data adalah proses menyeleksi. paparan data. representatif tabular termasuk dalam format matriks. dan penyimpulan (PGSM. representatif grafis. mengabstraksikan. 1999). Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. Berbeda dari interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dari suatu observasi.

bekerja/berdiskuasi dengan seorang teman.1. Penjelasan oleh ketua tim pengajar tentang tujuan umum dan khusus matakuliah Praktik Industri. keterlibatan pihak luar untuk pengembangkan standar kerja dan penilaian reguler/teratur terhadap unjuk kerja mahasiswa. Kegiatan pertemuan awal ini dilakukan dengan tahap kegiatan sebagai berikut: 1. penilaian hasil kerja mahasiswa oleh orang luar Assessment: yaitu terkait dengan kemampuan untuk melakukan penilaian mandiri terhadap unjuk kerjanya. 2. Active Exploration: yang terkait dengan efektifitas penggunaan waktu. sumber dan media. metode ilmiah yang digunakan memecahkan masalah dan. Pembuatan rancangan operasional metode Pembelajaran Berbasis Proyek yang meliputi: Authenticity: terkait dengan kebermaknaan tugas bagi mahasiswa. (2) analisi teknikteknik yang digunakan untuk memecahkan masalah. . kerja tim dan penggunakan teknologi yang tepat (l) pembuatan tim work untuk menyelesaikan tugas-tugas. b. dan melakukan presentasi ilmiah Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan akhli dari luar. tingkat kesulitan tugas dan kemampuan mahasiswa dan produk yang akan dihasilkan dari proyek akhir tersebut Academic Rigor: terkait dengan ilmu-ilmu yang terkait dan digunakan dalam penyelesaian proyek. dan bentuk Buku pegangan mahasiswa dan pedoman pembimbingan dosen. materi atau topik-topik Praktik Industri. (3) pengembangkan organisasi kerja. Pembuatan pedoman petunjuk praktik industri. penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode. Tindakan Pada tahap ini diawali dengan pertemuan dengan dosen pembimbing dan mahasiswa yang menjadi subyek penelitian ini. analisis dari berbagai aspek dalam pemecahan masalah Applied Learning: yang terkait dengan konteks permasalahan.

Penentuan topik tugas Praktik Industri. 4. 5. c. Setelah diadakan forum tanya jawab kemudian mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan topik Praktik Industri Penentuan jadual pembimbingan. waktu penyelesaian dan persyaratan-persyaratan lainnya sesuai buku pegangan mahasiswa. Demikian pula mahasiswa telah mampu mengembangkan topiktopik yang dijadikan kajian Praktik Industri. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada (1) penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek dan (2) pengembangkan topik Praktik Industri. . Refleksi Berdasarkan tahap tindakan yang telah dilakukan diperoleh gambaran bahwa 90% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode proyek yang akan digunakan dalam menyelesaikan tugas Praktik Industri.2. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Setelah selesai penjelasan tersebut dilakukan tanya jawab dengan mahasiswa dan dosen pembimbing. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan. Dengan demikian mahasiswa telah siap untuk melakukan kerja praktik industri di lapangan. Berdasarkan diskusi antara tim pembimbing dan mahasiswa disepakati bahwa jadual pembimbingan terstruktur dilakukan 2 kali dalam seminggu. 3. d. Pada tahap ini peneliti mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran penyelesaian Praktik Industri. Tahap ini berlangsung selama 30 menit Penjelasan penyelesaian Praktik Industri dengan menggunakan metode proyek yang meliputi tahap-tahap prosedur Metode Proyek.

dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Pengembangan pedoman kegiatan pembimbingan di kampus b. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. Pembimbingan di kampus. dan 2 kali pembimbingan di kampus. Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan baik di lapangan maupun di kampus berlangsung tim peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran. Maka dalam perencanaan siklus 2 dilakukan langkah-langkah perencanaan yang terkait dengan: 1. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa dilakukan selama 3 minggu.Siklus 2 a. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. Menentukan lokasi tempat praktik industri bagi masing-masing kelompok mahasiswa. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang . c. 2. Tindakan Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan. diawali presentasi mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Pengembangan pokok bahasan praktik industri (pengerjaan pondasi bangunan) 3. Perencanaan Berdasarkan temuan pada siklus 1 diketahui bahwa sebagian besar (90)% mahasiswa telah memahami konsep-konsep dasar metode Pembelajaran Berbasis Proyek. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Pengembangan tahap-tahap kegiatan praktik 4. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. Pengembangan pedoman pembimbingan di lapangan 5.

(2) Active Exploration. Oleh karena itu pada siklus berikutnya hal tersebut perlu dikembangkan dan diperbaiki. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan subsub topik yang dibahas. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa baru 60 % mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. (2) Active Exploration: yang terkait dengan penggunaan prosedur penelitian dengan berbagai metode dalam menganalisis kegiatan lapangan. Kelemahan mendasar yang masih dilakukan mahasiswa dalam tahap ini adalah masih belum mampu menerapkan (1) Applied Learning: yang terkait pembentukan tim work dan aktivitas kerja kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas. dan (3) Adult Relationship. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 2 maka pada siklus 3 pada siklus ini akan lebih difokuskan pada pengembangan dan perbaikan pada komponen (1) Applied Learning. dan (3) Adult Relationship: yang terkait dengan kersempatan belajar dan bekerja dengan para manajer proyek dan pelaksanaan lapangan. Demikian pula baru 65% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik. Demikian pula pada tahap ini peneliti mulai mengevaluasi efektifitas pemberian tindakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran praktik. Untuk itu sebelum praktik ke lapangan mahasiswa harus di beri pembekalan (penjelasan) kembali tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. Dengan demikian perencanaan pada siklus ini dilakukan dengan: . d.berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Siklus 3 a.

c. (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 4 jam pelajaran. kondisi dan hasil 4. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek. Pengembangan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek. Pembimbingan di kampus.1. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. (2) Active Exploration: dan (3) Adult Relationship dalam penyelesaian tugastugas PI 3. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek. Tindakan Sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. dan 2 kali pembimbingan di kampus. Pada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan kolom dan balok bangunan. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Pengembangan karakteristik aktivitas. pada tugas-tugas di lapangan b. Pengembangan komponen (1) Applied Learning. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada . Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai prakltik ke lapangan lagi. Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan kolom dan balok bangunan 2. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan.

d. Pengembangan karakteristik aktivitas. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Siklus 4 a. Demikian pula 80% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/ sangat baik. dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. kondisi dan hasil.pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Pada siklus berikutnya kelompok mahasiswa tersebut diharapkan ada perbaikan dan pengembangan kerja dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek . 2. . Masih ada beberapa kelemahan mahasiswa pada siklus ini yaitu khususnya dalam hal menjalin hubungan dengan pihak proyek yaitu manajer proyek. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 80% mahasiswa mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. Penentuan pokok bahasan praktik yaitu pekerjaan pelat lantai bangunan. Perencanaan Sesuai hasil refleksi pada siklus 4 pada siklus ini akan dilakukan perencanaan dalam hal: 1. Dalam siklus ini nampak masih ada kurang-lebih 20% mahasiswa belum mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek. mandor maupun tukang dan pembantu tukang. pelaksana lapangan. Mahasiswa masih kurang maksimal memanfaatkan pihak-pihak tersebut sebagai sumber belajar di lapangan. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri.

Observasi dan Interpretasi Selama kegiatan pembimbingan berlangsung tim peneliti melakukan observasi dan hasil obsevasi dicatat dalam lembar observasi. dimana dalam satu minggu mahasiswa 3 hari berada di lokasi proyek.3. secara lebih operasional. e. kemudian dilakukan diskusi dengan tim pembimbing. mahasiswa diberi penjelasan tentang karakteristik dan prosedur pembelajaran berbasis proyek dan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek. Dalam satu minggu dosen pembimbing 1 kali melakukan pengamatan dan pembimbingan di lokasi proyek. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa sesuai dengan pedoman petunjuk praktik. c. Pembimbingan difokuskan pada pembahasan topik tugas Praktik Industri yang terkait dengan (l) kemanfaat tugas dari segi praktis dan kelimuan. diawali presentasi mahasiswa oleh mahasiswa tentang topik-topik bahasan. Pembimbingan di kampus. Kegiatan ini dilakukan di kampus selama 3 jam pelajaran. Kegiatan praktik ini dilakukan mahasiswa selama 3 minggu. sebelum memulai praktik di lapangan pada hari pertama. Pada hari berikutnya mahasiswa baru mulai praktik ke lapangan lagiPada tahap ini mahasiswa mulai praktik ke proyek bangunan yang telah ditentukan khususnya untuk pokok bahasan pekerjaan pelat lantai bangunan. 4. dan (3) pembahasan hasil dari tugas Praktik Industri. Pengembangan dan perbaikan pedoman praktik khususnya yang berhubungan dengan prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek. Tindakan Sama seperti pada`siklus 3. dan 2 kali pembimbingan di kampus. Pada tahap ini peneliti membuat catatan lapangan yang berfokus pada pemahaman mahasiswa terhadap (1) ilmu-ilmu yang terkait yang digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam . (2) pembuatan jadual kerja sesuai dengan sub-sub topik yang dibahas. Pengembangan strategi operasioanal menjalin hubungan dengan pihak proyek.

Mengingat indikator pencapaian tujuan penelitian ini telah tercapai maka siklus penelitian dihentikan. dan (6) assessment. (2) metode ilmiah yang diterapkan/ digunakan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Refleksi Dari hasil observasi dan interpretasi dapat disimpulkan bahwa 95% mahasiswa telah mampu menunjukkan kinerja dalam karakteristik aktivitas. BAHASAN Dalam pembahasan ini akan dikaji tiap-tiap strategi yang digunakan dalam metode proyek yaitu (l) authenticity. (4) active exploration.penyelesaian tugas Praktik Industri. Authenticity Authenticity merupakan langkah awal dalam perancangan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek. dan (3) tinjauan dari berbagai aspek terhadap tugas mahasiswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian tugas Praktik Industri. Tugas tersebut terkait dengan kebutuhan dunia kerja. dan memanfaatkan pihak proyek sebagai sumber belajar. Disamping itu mahaisswa telah mampu menjalin hubungan dengan pihak proyek. maka motivasi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akan . Dalam konsep authenticity. kondisi dan hasil dengan kualifikasi baik/sangat baik. Demikian pula 95% tahap-tahap prinsip pelaksanaan dan desain perancangan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dilaksanakan oleh dosen dengan baik/sangat baik. Dengan dipahaminya ―kebermaknaan‖ suatu tugas. (3) applied learning. 1. (5) adult relationship. f. (2) academic rigor. tugas tersebut dapat dijadikan bekal untuk kehidupannya. Suatu tugas yang memiliki makna adalah tugas dimana mahasiswa merasa bahwa tugas tersebut sangat berguna bagi mahasiswa setelah ia terjun di dunia kerja. proyek atau tugas yang dikerjakan mahasiswa harus memiliki makna bagi mahasiswa.

meningkat (ISTE, 2002), dengan demikian mahasiswa akan dapat menyelesaiakan tugasnya dan pada akhirnya mahasiswa akan mampu menghasilkan sesuatu dari tugas tersebut. Oleh karena itu tugas seorang pengajar dalam tahap ini adalah menjelaskan kebermaknaan suatu tugas bagi mahasiswa; pengajar harus bisa memilih dan memberi tugas yang bermakna untuk mahasiswa. Pada siklus I pada proses penelitian ini, masalah authenticity, merupakan tahap awal yang ditekankan pada mahasiswa; dalam tahap ini pengajar harus mampu menjelaskan kebermaknaan tugas, baik dari segi teknik maupun ekonomi.
2. Academic Rigor

Academin rigor adalah penerapan konsep-konsep akademis dalam menyelesaikan suatu tugas. Dalam pembelajaran berbasis proyek academic rigor, merupakan bagian yang amat penting karena mengharuskan mahasiswa menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam penyelesaian suatu tugas. Pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek akan melatih dan membiasakan mahasiswa untuk menerapkan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah dalam kehidupan. ISTE (2002) mengatakan bahwa dalam metode pembelajaran berbasis proyek mahasiswa dilatih melakukan penelitian, menggunakan berbagai sumber informasi dan mampu berpikir lintas keilmuan. Dalam tahap ini pengajar harus mampu merancang pembelajaran yang dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan dan menggunakan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
3. Applied Learning

Aplied learning adalah usaha untuk mengarahkan kegiatan belajar mahasiswa ker arah situasi belajar yang mengacu pada kehidupan nyata yang berada di luar lingkungan sekolah dan Kraf (1998) menyebut sebagai ―real world oriented”. Salah satu bentuk belajar dalam kehidupan nyata adalah agar mahasiswa mampu bekerja dalam organisasi modern yang menuntut disiplin tinggi, penggunaan teknologi yang tepat,

dan mampu berkomunikasi dengan rekan kerja, dan inilah yang disebut dengan real learning dan real work (Steinberg, 2001).
4. Active Exploration

Active exploration adalah usaha untuk mendorong mahasiswa agar aktif melakukan ekplorasi/penelitian, dengan menggunakan waktu secara efektif. Dalam tahap ini pengajar harus mampu memacu dan sekaligus mendorong mahasiswa untuk selalu berusaha memecahkan masalah secara kontinyu dan jangan putus asa. Menurut Buck Institute for Education (2001) dalam pembelajaran berbasis proyek mahasiswa harus mampu sebagai ―discoverer, integrator, and presenter of ideas. Dalam pelaksanaan penelitian ini, mendorong sikap dan tindakan mahasiswa agar selalu active exploration, ternyata merupakan sesuatu yang amat sulit. Hal ini mungkin disebabkan oleh perilaku mahasiswa selama ini lebih banyak bersikap pasif dalam setiap pembelajaran, dan sering dijumpai pengajar hanya bersikap sebagai penyampai materi belaka, dan kurang mendorong keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran.
5. Adult Relationship

Adult Relationship, terkait usaha memacu mahasiswa agar mampu belajar dari orang lain yaitu pada para praktisi expert dan bahkan pada para pekerja yang terkait dengan masalah yang dikaji. Dalam proses adult relationship ini para pengajar harus mendorong mahasiswa untuk mampu bertanya, berdiskusi dan juga mengajak merancang serta menilai kerja mahasiswa. Dengan model belajar yang demikian diharapkan mahasiswa memiliki pemahaman, pengetahuan dan keterampilan yang mendalam terhadap tugas yang sedang dikajinya.
6. Assesment

Assesment, adalah usaha agar mahasiswa mampu melakukan penilaian secara teratur terhadap proses belajar yang dilakukan. Disamping itu mahasiswa juga harus mampu mengembangakan kriteria penilaian sesuai standar yang berlaku di dunia kerja. Penilain yang harus

dilakukan mahasiswa mencakup prosedur kerja/metode yang dilakukan, waktu yang digunakan, hasil kerja dan hal-hal lain yang terkait dengan penyelesian tugasnya. Dari hasil penilaian yang dilakukan mahasiswa diharapkan mahasiswa dapat melihat kekurangan-kekurangannya, mampu memperbaikinya pada proses berikutnya. Dalam salah satu kriteria pembelajaran berbasis proyek Kraf (1998) menyebut hal ini sebagai ―student self-assesment of learning is encourage‖
7. Peran Pembimbing/Pengajar

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek peran dan tugas pengajar sangat jauh berbeda dengan peran dan tugas pengajar dalam pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar diharapkan sebagai ―resource provider and participant in learning activities,‖ berbeda dalam pembelajaran konvensional pengajar lebih sebagai “lecturer and director of instruction‖ dan dalam pembelajaran konvensional pengajar menganggap dirinya sebagai ―expert‖ sedang dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar harus mampu berperan sebagai ―advisor/colleague‖ (Buck Institute for Education, 2001). Perubahan peran dan fungsi pengajar dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran pembelajaran berbasis proyek tentu bukan merupakan sesuatu yang mudah, khususnya bagi pengajar yang telah terbiasa dengan model pembelajaran konvensional. Bagi pengajar yang telah terbiasa dengan pembelajaran konvensional, perlu memahami hakekat dan filsafat pembelajaran berbasis proyek lebih mendalam, dengan demikian diharapkan mampu memahami peran dan fungsinya sebagai pengajar.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut: (l) Pembelajaran Berbasis Proyek secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1

PTB FT UM dan (2) Penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran mahasiswa dalam matakuliah Praktik Industri pada program studi S-1 PTB FT UM.
Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan beberapa saran sebagai berikut (l) Mengingat metode Pembelajaran Berbasis Proyek sangat berbeda dengan metode pembelajaran konvensional maka dalam penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek pengajar harus memahami hakekat dan prinsip-prinsip dasar PBL secara benar, dan (2) Guna mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang kehandalan metode Pembelajaran Berbasis Proyek diperlukan penelitian lanjutan pada bidang-bidang studi yang lain.

Soloway. 389--398. Jakarta: Penerbit Erlangga Clegg. & Moffit. IEE Brief. Project Base Learning for Adult English Language Learner. 2000. R.cfm/65. Hung. E. Motivating Project Base Learning: Sustaining Doing. D. Tersedia pada: http://www. 2001. 1977.F.html. D. S. ERIC Gigest. 2000. Bandung: Kaifa Gaer. Moss. Contextual Learning Resource. [Online). M dan Palinscar. P. D & Van-Duzer. CORD.. Diakses tanggal 12 Juli 1998.org/research/roadahead/PBL. M. Real Life Problem Solving: A Collaborative Aproach to Indisciplinary Learning. Moursund. Process and Product in PBL Research. D. B.M.html. Blumenfeld. 33-37 Jones.iste. 1997.. 26 (3 &4). University of Toronto. Ed427556/html Moore. 1998. 2001.L. Activity Theory as a Framework for Project Work in Learning Environment.& Wong.aol. C. Educational Technology.F. C & Scardamalia. Teraedia pada: http://www. B & Berch. J. Mark. Project: Road Ahead (Project-Based Learning).W. Dryden C. Philadelpia: Open University.com /CulebraMom/ PBLprt. 1991. B. What is Project-Based Learning? Tersedia pada: http:// members . Krajick. ED427556.C.. A Teacher`s Guide to Classroom Research. P. Toward a Theory of Work-Base Learning. cord. A. 2001.DAFTAR RUJUKAN Clegg. M. Educational Psychologist. .org/lev2. Instance Crativity. 1998. Hopkins. Guzdial. Jakarta: Penerbit Erlangga Bereiter. The Learning Revolution. 1992. Rasmussen. J. Diakses tanggal: 2 Maret 2001. Toronto:Ontario Institute for Studies in Education. C. 1999. Washington DC: American Psychological Association.. 2001. 23 (January). Diakses tanggal 10 Desember 1997. D. Supporting the Learning. 40(2). Instance Motivation. & Vos. A.

1993. Thomas. Available on:http://www. California: The Autodesk Foundation. Penelitian Tindakan Kelas. A Review of Research on Project-Based Learning. Jakarta: Depdikbud Penuel. Yang diselenggarakan pada tanggal 4 September 2001 di kampus Universitas Negeri Malang. S. Observing Classroom Process in Project-Base Learning Using Multimedia: A Tool for Evaluator. Project-Based Learning. Project Base Learning: A handbook of Midle and High School Teacher. 51. Mahakalah disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Nasional Peningkatan Profesionalitas Guru SMK Melalui Kajian Kelas. W & Gallagher.. 1996. S. Tersedia pada: http://www. MA: Harvard University Press..html. 2001.kn. autodesk. Wetern Kentucky University Center for Teaching and Learning. com/foundation. PGSM. 1999. 2001. 1999. L. S.. & Striley. 1999. B.R.. Menumbuhkan Kemandirian dan Kegairahan Belajar Mahasiswa Melalui PembelajaranTeknologi di SMK. http://PBLmm. W. & Ben-Hur. Making Meaning in Classroom: Social Processes in Small-Group Discourse and Scientific Knowledge Building. designworlds.html . 2001. Journal of Research in Science Teaching.PBL. Y. PBL in Science and Technology: A Case Stu dy of Professional Development. 33(8). Vygotsky. 25--28 Suhartadi. 839-858 Thomas.us/PBL guide/why.inservicer. Richmond. JW. G. A. Center for Technology in Leraning SRI International.S.Rosenfeld.com/ techcape/sherm. 1978. Mind in Society. 2000. Mergendoller. Diakses tangal 23 Januari 2002 Stepien. JW. Educational Leadership. & Means. Problem Base Learning: As Authentic as it Gets. JR & Michaelson. J. Novato CA: The Buck Institute for Education. Cambridge.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful