P. 1
Makalah PAI (Poernikahan Dini)

Makalah PAI (Poernikahan Dini)

|Views: 981|Likes:
Published by jihanw_1

More info:

Published by: jihanw_1 on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/24/2013

pdf

text

original

TUGAS MATA PELAJARAN PEND.

AGAMA ISLAM MAKALAH dan PRESENTASI “PERNIKAHAN DINI”

Disusun Oleh:
           AAN ANITA Apik kondang ANGGI SETIAWAN DIANA OKTAFIYA NIA WULANDARI RISKA DIANA RUSTIKA NURALI SARI’AH SLAMET SUHERDI SUSY IRAWATI APRILA NINGSIH

Jln. Raya cikedung – terisi kec.cikedung kab.indramayu

2 Dampak Pernikahan Dini 3.2 Saran DAFTAR PUSTAKA .DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Hukum Pernikahan 3.3 Manfaat BAB II LANDASAN TEORI 2.3 Upaya Menyikapi atau Mencegah Terjadinya Pernikahan Dini BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.2 Cinta dan Perkawinan BAB III PEMBAHASAN 3.2 Tujuan 1.1 Definisi Pernikahan Dini 2.1 Latar Belakang 1.1 Kesimpulan 4.

b.2 Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini antara lain : a. masih banyak orang yang salah mengartikan pernikahan dini dan tidak mengerti baikburuknya jenis pernikahan ini.1 Latar Belakang Statistik kejadian pernikahan dini meningkat berlalunya waktu. visual dan audiovisual) akan pernikah dini yang dilakukan tidak hanya 1-2 selebritis namun segelintir orang dengan tingkat pemberitaan tinggi sehingga menyebabkan proses conditioning terjadi di masyarakat konsumen berita. agar siswa (pembaca makalah dan audiens presentasi) memahami berbagai definisi akan pernikahan dini. kami tim penyusun berusaha sebaik-baiknya untuk mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai sumber dan narasumber untuk dimasukkan ke dalam makalah ini agar kelak dapat dijadikan sebagai referensi oleh pihak-pihak yang membutuhkan. Maka dari itu. Kami berharap agar makalah ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai sumber informasi terkait topik pernikahan siri. Terutama pasca beredarnya berbagai pemberitaan di seluruh jenis media (audio. agar siswa mengetahui dampak positif dan dampak negatif dari prenikahan dini. d. Berbagai pemberitaan tersebut lah (spesifikasi : pemberitaan pernikahan dini yang dilakukan oleh selebritis) yang melatarbelakangi kami untuk memilih topik “Pernikahan Dini” sebagai topik yang diangkat dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari berbagai pemberitaan akan “Pernikahan Dini” yang terjadi. Proses conditioning sendiri adalah proses adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat akan berbagai budaya baru yang terjadi namun akibat pemberitaan yang berulang-ulang budaya tersebut semakin cepat dapat diterima oleh masyarakat dan dijadikan bagian dari budaya masyarakat itu sendiri. 1. siswa dapat mengeluarkan berbagai pendapatnya terkait pernikahan diusia dini dan berdiskusi satu sama lain. c. agar siswa dan siswi mengerti dan mengetahui landasan hukum terkait memnikah diusia dini baik ditinjau dari sudut pandang Islam dan pembahasan berbagai rancangan undang-undang. Hal itu juga termasuk salah satu faktor yang melatar belakangi diangkatnya topik “Pernikahan Dini” ini. Memenuhi salah satu syarat atau tugas mata pelajaran pendidikan agama islam.BAB I PENDAHULUAN 1. . e.

pro dan kontra terkait pernikahan diusia dini dan hukum-hukum yang terkait di dalam pernikahan dini. b. c. Menambah pengetahuan siswa agar memahami berbagai fakta. Membantu mensosialisasikan apa sebenarnya pernikahan dini itu dan tindakan apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi angka terjadinya pernikahan diusia dini. Membantu berbagai kalangan untuk menyamakan pikiran akan tidak baiknya menikah diusia dini terutama untuk latar belakang non-kekurangan biaya. siswa akan dapat mengerti bahwa menikah diusia dini lebih banyak menimbulkan hal negatif dan pada akhirnya dapat dijadikan pencegahan akan terjadinya pernikahan dini.3 Manfaat a. Dengan penjelasan yang detail dan berbagai kajian akan negatif-positifnya pernikahan diusia dini. d.1. .

Definisi Pernikahan Dini Pernikahan Dini merupakan sebuah nama yang lahir dari komitmen moral dan keilmuan yang sangat kuat. Sarlito Wirawan Sarwono pada tahun 1983. mungkinkah? Siapkah mental dan materinya? Bagaimana respon masyarakat? Apa tidak mengganggu sekolah? Dan masih banyaksederetpertanyaanlainnya. Hal ini terbaca jelas dalam senetron “Pernikahan Dini” yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi. setidaknya menurut penawaran Prof.BAB II LANDASAN TEORI 2. . memang wajar kalau banyak yang merasa khawatir. sebagai sebuah solusi alternative. Dr. Bahwa pernikahan di usia muda akan menghambat studi atau rentan konflik yang berujung perceraian. untuk menciptakan sebuah rumah tangga yang sakinah seperti yang diilustrasikan oleh sinetron tersebut. karena kekurangsiapan mental dari kedua pasangan yang masih belum dewasa betul. Tapi sederet pertanyaan dan kekhawatiranpun muncul. apalagi SMA maupun perguruan tinggi. melalui tulisannya berjudul Bagaimana Kalau Kita Galakkan Perkawinan Remaja? Ketika fitnah syahwat kian tak terkendali. terutama yang dilakukan oleh kaum muda yang masih duduk di bangku-bangku sekolah. Nikah diusia remaja. tidak peduli apakah dia SMP bahkan SD. bahwa mental dan kedewasaan lebih berarti dari sekedar materi. Beralasan memang.1. ketika seks pranikah semakin merajalela. Dari sisi psikologis.

Pernikahan akan mematangkan seseorang sekaligus memenuhi separuh dari kebutuhan-kebutuhan psikologis manusia. juga oleh Clarke-Stewart & Koch lewat bukunya “Children Development Through”: bahwa pernikahan di usia remaja dan masih di bangku sekolah bukan sebuah penghalang untuk meraih prestasi yang lebih baik. Maslow. menurut bukti-bukti (bukan hanya sekedar teori) psikologis. Selain itu. pernikahan dini yang rentan perceraian itu adalah pernikahan yang diakibatkan “kecelakaan” (yang disengaja). 2002). bahkan justru bisa menjadi motivasi untuk meraih puncak prestasi yang lebih cemerlang (seperti tertera sederet nama orang sukses yang melakukan pernikahan dini). bukan kesadaran dan kesiapan serta orientasi nikah yang kuat. orang yang menikah di usia dini lebih mungkin mencapai taraf aktualisasi diri lebih cepat dan lebih sempurna dibanding dengan mereka yang selalu menunda pernikahan. Pernikahan Dini dalam Perspektif Psikologi Sebetulnya. Bahkan menurut Abraham M. Bagaimana dengan hasil penelitian di salah satu kota di Yogya bahwa angka perceraian meningkat signifikan karena pernikahan dini? Ternyata. menurut M.1. sebab pernikahan karena kecelakaan lebih karena keterpaksaan. Indahnya Pernikahan Dini. Maslow. setelah diteliti. kekhawatiran dan kecemasan timbulnya persoalan-persoalan psikis dan sosial telah dijawab dengan logis dan ilmiah oleh Muhammad Fauzil Adhim dalam bukunya “Indahnya Pernikahan Dini”. mampu mencapai puncak pertumbuhan kepribadian yang mengesankan ibid). dimulai dari saat menikah. pendiri psikologi humanistik yang menikah di usia 20 tahun. pernikahan dini juga sangat baik untuk pertumbuhan emosi dan mental. . Pernikahan yang sebenarnya. sehingga kita akan lebih mungkin mencapai kematangan yang puncak (Muhammad Fauzil Adhim. yang pada gilirannya akan menjadikan manusia. Hal ini bisa dimaklumi. bahwa usia bukan ukuran utama untuk menentukan kesiapan mental dan kedewasaan seseorang bahwa menikah bisa menjadi solusi alternatif untukmengatasi kenakalan kaum remaja yang kian tak terkendali. Di kedua buku itu (dan juga di sekitar kita) ada banyak bukti empiris dan tidak perlu dipaparkan disini bahwa menikah di usia dini tidak menghambat studi.

tapi sangat mengerikan para gadis (yang sudah tidak gadis lagi) hamil di luar nikah. saat ini. Imam yang lima). Sembilan belas Abad . “perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. syabab adalah orang yang telah mencap aqil baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun.Bersabda: “Wahai para pemuda. Takut rasanya ketika kita mendengar hasil sebuah penelitian bahwa 90% mahasiswi di salah satu kota besar di negara muslim ini sudah tidak perawan lagi. dan pukullah mereka karena tidak mengerjakannya setelah berusia sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidurnya” (Ahmad dan Abu Dawud). 1. Ada apa dengan syabab? Sebelumnya. Pergaulan bebas atau free sex sama sekali bukan nama yang asing di telinga kaum remaja. selain bermakna sebagai pendidikan bagi anak juga menyimpan sebuah isyarat bahwa padausia sepuluh tahun. usia terbaik untuk menikah adalah usia antara 19 sampai 25. Siapakah syabab itu? Mengapa kepada syabab? Menurut mayoritas ulama. Karena sesungguhnya kawin lebih bisa menjaga pada pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan. Hadits di atas dengan jelas dialamatkan kepada syabab (pemuda). seorang anak telah memiliki potensi menuju kematangan seksual. Kita akan menyaksikan kehancuran yang berlangsung pelan-pelan. Pernikahan Dini dalam Perspektif Agama Jika menurut psikologis. Pesan Nabi di atas. Aqil baligh bisa ditandai dengan mimpi basah (ihtilam) atau masturbasi (haid bagi wanita) atau telah mencapai usia limabelas tahun. Bila tidak mampu melaksanakannya maka berpuasalah karena puasa baginya adalah kendali (dari gairah seksual)” (HR. Untuk menanggulangi musibah kaum remaja ini hanya satu jawabnya: nikah. maka kawinlah. Sebuah isyarat dari Nabi saw.Adapun urgensi pernikahan terhadap upaya menanggulangi kenakalan remaja barangkali tidak bias dibantah. maka bagaimana dengan agama? Rasulullah saw. menarik diperhatikan sabda Nabi savv. barang siapa di antara kalian telah mencapai ba’ah.

2. “dan jika mereka miskin maka Allah akan membuatnya kaya dengan karunia-Nya”. Sahabat Abdullah bin Mas’ud ra. dengan kemajuan teknologi yang kian canggih. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan. Bukankah Rasul-Nya juga menjamin kita dengan sabdanya. Karenanya. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan. tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya. Bukankah Allah telah menjamin rezeki hamba-Nya yang mau menikah. Kini. jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya” . tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana. seperti yang tersirat dalam suratal-Nur ayat 32 yang artinya. “Aku hanya boleh membawa satu saja. maka tak heran apabila sering terjadi pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak ingusan yang masih di bangku sekolah dasar. media informasi (baik cetak atau elektronik) yang terus menyajikan tantangan seksual bagi kaum remaja. baru kusadari bahwasanya ranting – ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi. jadi tak kuambil ranting tersebut Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi. Ini memang wajar. “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab. dia kembali dengan tangan kosong. “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Salah satu faktor dominan yang sering membuat kita terkadang takut melangkah adalah kesiapan dari sisi ekonomi. dan tidak seberapa lama. artinya kamu telah menemukan cinta” Plato pun berjalan. selalu membangun orientasi menikah kepada para pemuda yang masih single dengan mengajak mereka berdoa agar segera diberi isteri yang shalihah.yang silam. Tapi sebagai hamba yang beriman. Plato bertanya pada gurunya. “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?” Gurunya menjawab. maka kawinlah. Cinta dan Perkawinan Satu hari. “Barang siapa yang ingin kaya. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali. kemudian ambillah satu saja ranting.2. dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik).

aku lihat pohon ini. “Dan ya itulah perkawinan” Cinta itu semakin dicari. jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya. karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan” Plato pun menjawab. Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada. dan tidak dapat dimundurkan kembali. Terimalah cinta apa adanya. maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat. ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. setelah menjelajah hampir setengah hutan. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya Gurunyapun kemudian menjawab. maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya. “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?” Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Adalah proses mendapatkan kesempatan. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta. maka semakin tidak ditemukan. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Cinta adanya di dalam lubuk hati. Plato bertanya lagi pada gurunya. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi. Jadi dikesempatan ini. . dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat.“Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta” Di hari yang lain. ternyata aku kembali dengan tangan kosong.

. pernikahan dini dilakukan pada pasangan usia muda usia rata-rata umurnya antara 16-20 tahun. Hukum Pernikahan Pasal 6 ayat 2 UU No. Namun dalam prakteknya didalam masyarakat sekarang ini masih banyak dijumpai sebagian masyarakat yang melangsungkan perkawinan di usia muda atau di bawah umur. Di Tasikmalaya sendiri khususnya di desa Mandalagiri kecamatan Leuwisari kabupaten Tasikmalya yang telah melangsungkan perkawinan pada usia muda berjumlah lebih dari 15 orang. Secara nasional pernikahan dini dengan usia pengantin di bawah usia 16 tahun sebanyak 26. Di Indonesia pernikahan dini berkisar 12-20% yang dilakukan oleh pasangan baru.1. karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya. BAB III PEMBAHASAN 3. Sehingga Undang-undang yang telah dibuat.Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan. Biasanya. sebagian tidak berlaku di suatu daerah tertentu meskipun Undang-Undang tersebut telah ada sejak dahulu. maka sia – sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu. 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa untuk melangsungkan suatu perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat ijin dari kedua orang tua.95%.

Dampak Pernikahan Dini Baru saja kita mendengar berita diberbagai media tentang kyai kaya yang menikahi anak perempuan yang masih belia berumur 12 tahun. ekonomi dan sosial.2. UU No. Melakukan pernikahan tanpa kesiapan dan pertimbangan yang matang dari satu sisi dapat mengindikasikan sikap tidak affresiatif terhadap makna nikah dan bahkan lebih jauh bisa merupakan pelecehan terhadap kesakralan sebuah pernikahan. UU No.: 1. Berita ini menarik perhatian khalayak karena merupakan peristiwa yang tidak lazim. Sebagian masyarakat yang melangsungkan perkawinan usia muda ini dipengaruhi karena adanya beberapa faktor-faktor yang mendorong mereka untuk melangsungkan perkawinan usia muda atau di bawah umur. Berbagai dampak pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur dapat dikemukakan sbb. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: . Apapun alasannya. Pasal 6 (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua. Dampak terhadap hukum Adanya pelanggaran terhadap 3 Undang-undang di negara kita yaitu: a. 3. b. perkawinan tersebut dari tinjauan berbagai aspek sangat merugikan kepentingan anak dan sangat membahayakan kesehatan anak akibat dampak perkawinan dini atau perkawinan di bawah umur. Karena di usia itu organ reproduksi perempuan secara psikologis sudah berkembang dengan baik dan kuat serta siap untuk melahirkan keturunan secara fisik pun mulai matang. Sementara laki-laki pada usia itu kondisi psikis dan fisiknya sangat kuat.Padahal pernikahan yang ideal untuk perempuan adalah 21-25 tahun sementara lakilaki 25-28 tahun. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. hingga mampu menopang kehidupan keluarga untuk melindungi baik sera psikis emosional.

Sesuai dengan 12 area kritis dari Beijing Platform of Action. 3.) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. UU No. c. eksploitasi dan diskriminasi. tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari perbuatan kekerasan. Pemahaman tentang undang-undang tersebut harus dilakukan untuk melindungi anak dari perbuatan salah oleh orang dewasa dan orang tua. 2. Dampak Psikologis Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks.) menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan. agar anak tetap memperoleh haknya untuk hidup. bakat dan minatnya dan. sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. memelihara. perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma. Selain itu.21 tahun 2007 tentang PTPPO Patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai dan orang tua anak yang mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan tersebut. Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan (penggagahan) terhadap seorang anak. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. tentang perlindungan terhadap anak perempuan. mendidik dan melindungi anak 1. ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan (Wajar 9 . Sungguh disayangkan apabila ada orang atau orang tua melanggar undang-undang tersebut. 2.mengasuh. Dampak biologis Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya.

Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun termasuk agama Islam yang sangat menghormati perempuan (Rahmatan lil Alamin). minimum 3 tahun dan pidana denda maksimum 300 juta dan minimum 60 juta rupiah. Hal ini bertentangan dengan UU. Dampak perilaku seksual menyimpang Adanya prilaku seksual yang menyimpang yaitu prilaku yang gemar berhubungan seks dengan anak-anak yang dikenal dengan istilah pedofilia. ancamannya pidana penjara maksimum 15 tahun.No. Dari uraian tersebut jelas bahwa pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur (anak) lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Apabila tidak diambil tindakan hukum terhadap orang yang menggunakan seksualitas anak secara ilegal akan menyebabkan tidak ada efek jera dari pelaku bahkan akan menjadi contoh bagi yang lain. Orang tua harus disadarkan untuk tidak mengizinkan menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau anak dan harus memahami peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak. yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap pelengkap seks laki-laki saja. 5. Kondisi ini hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan kekerasan terhadap perempuan.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak khususnya pasal 81. Masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dapat mengajukan class-action kepada pelaku. 4. Perbuatan ini jelas merupakan tindakan ilegal (menggunakan seks anak). namun dikemas dengan perkawinan se-akan2 menjadi legal.tahun). melaporkan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesai (KPAI). LSM peduli anak lainnya dan para penegak hukum harus melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk melihak adanya pelanggaran terhadap perundangan yang ada dan bertindak terhadap pelaku untuk dikenai pasal pidana dari peraturan perundangan . hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak. Oleh karena itu patut ditentang. Dampak Sosial Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki yang bias gender.

Upaya Menyikapi atau mencegah Terjadinya Pernikahan Dini Sedikit di permukaan atau terekspos dan sangat marak di dasar atau di tengah masyarakat luas. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat merupakan jurus terampuh sementara ini untuk mencegah terjadinya pernikahan anak di bawah umur sehingga kedepannya di harapkan tidak akan ada lagi anak yang menjadi korban akibat pernikahan tersebut dan anak – anak Indonesia bisa lebih optimis dalam menatap masa depannya kelak. Namun. Dalih utama yang digunakan untuk memuluskan jalan melakukan pernikahan dengan anak di bawah umur adalah mengikuti sunnah Nabi SAW. 3. UU PTPPO). pemerintah harus semakin giat mensosialisasikan undang – undang terkait pernikahan anak di bawah umur beserta sanksi – sanksi bila melakukan pelanggaran dan menjelaskan resiko – resiko terburuk yang bisa terjadi akibat pernikahan anak di bawah umur kepada masyarakat.a.yang ada. Pemerintah harus berkomitmen serius dalam menegakkan hukum yang berlaku terkait pernikahan anak di bawah umur sehingga pihak – pihak yang ingin melakukan pernikahan dengan anak di bawah umur berpikir dua kali terlebih dahulu sebelum melakukannya.3. diharapkan dengan upaya tersebut. UU Perkawinan. masyarakat tahu dan sadar bahwa pernikahan anak di bawah umur adalah sesuatu yang salah dan harus dihindari. Selain itu. . Jadi tidak ada alasan lagi pihak – pihak tertentu untuk melegalkan tindakan mereka yang berkaitan dengan pernikahan anak di bawah umur. (UU No. Selain itu. peraturan perundang – undangan yang belaku di Indonesia dengan sangat jelas menentang keberadaan pernikahan anak di bawah umur. Upaya pencegahan pernikahan anak dibawah umur dirasa akan semakin maksimal bila anggota masyarakat turut serta berperan aktif dalam pencegahan pernikahan anak di bawah umur yang ada di sekitar mereka. dalih seperti ini biasa jadi bermasalah karena masih terdapat banyak pertentangan di kalangan umat muslim tentang kesahihan informasi mengenai pernikahan anak di bawah umur yang dilakukan Nabi SAW dengan Aisyah r.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

B. Idealnya untuk perempuan adalah 21-25 tahun sementara laki-laki 25-28 tahun. Kesimpulan Melakukan pernikahan tanpa kesiapan dan pertimbangan yang matang dari satu sisi dapat mengindikasikan sikap tidak affresiatif terhadap makna nikah dan bahkan lebih jauh bisa merupakan pelecehan terhadap kesakralan sebuah pernikahan. Sebagian masyarakat yang melangsungkan perkawinan usia muda ini dipengaruhi karena adanya beberapa faktor-faktor yang mendorong mereka untuk melangsungkan perkawinan usia muda atau di bawah umur. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Karena di usia itu organ reproduksi perempuan secara psikologis sudah berkembang dengan baik dan kuat . Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua. Saran Menikahlah kamu diusia yang cukup matang.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A.

cc www.serta siap untuk melahirkan keturunan secara fisik pun mulai matang. e. ekonomi dan sosial. DAFTAR PUSTAKA a.apikkondang. Artikel “Rancangan Undang-Undang Materil oleh Peradilan Agama b.co.2pik.com keyword : definisi PERNIKAHAN DINI Buku Agama Islam Sekolah Menengah Atas kelas XII www.co. hingga mampu menopang kehidupan keluarga untuk melindungi baik sera psikis emosional. Sementara lakilaki pada usia itu kondisi psikis dan fisiknya sangat kuat.nr . d. Bidang Perkawinan” Google. c.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->