TUGAS MATA PELAJARAN PEND.

AGAMA ISLAM MAKALAH dan PRESENTASI “PERNIKAHAN DINI”

Disusun Oleh:
           AAN ANITA Apik kondang ANGGI SETIAWAN DIANA OKTAFIYA NIA WULANDARI RISKA DIANA RUSTIKA NURALI SARI’AH SLAMET SUHERDI SUSY IRAWATI APRILA NINGSIH

Jln. Raya cikedung – terisi kec.cikedung kab.indramayu

1 Definisi Pernikahan Dini 2.2 Dampak Pernikahan Dini 3.1 Kesimpulan 4.DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Hukum Pernikahan 3.2 Tujuan 1.2 Saran DAFTAR PUSTAKA .1 Latar Belakang 1.3 Upaya Menyikapi atau Mencegah Terjadinya Pernikahan Dini BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.3 Manfaat BAB II LANDASAN TEORI 2.2 Cinta dan Perkawinan BAB III PEMBAHASAN 3.

agar siswa dan siswi mengerti dan mengetahui landasan hukum terkait memnikah diusia dini baik ditinjau dari sudut pandang Islam dan pembahasan berbagai rancangan undang-undang. Terlepas dari berbagai pemberitaan akan “Pernikahan Dini” yang terjadi.2 Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini antara lain : a. Terutama pasca beredarnya berbagai pemberitaan di seluruh jenis media (audio. siswa dapat mengeluarkan berbagai pendapatnya terkait pernikahan diusia dini dan berdiskusi satu sama lain. Kami berharap agar makalah ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai sumber informasi terkait topik pernikahan siri. Memenuhi salah satu syarat atau tugas mata pelajaran pendidikan agama islam.BAB I PENDAHULUAN 1. visual dan audiovisual) akan pernikah dini yang dilakukan tidak hanya 1-2 selebritis namun segelintir orang dengan tingkat pemberitaan tinggi sehingga menyebabkan proses conditioning terjadi di masyarakat konsumen berita. masih banyak orang yang salah mengartikan pernikahan dini dan tidak mengerti baikburuknya jenis pernikahan ini. b. 1. agar siswa (pembaca makalah dan audiens presentasi) memahami berbagai definisi akan pernikahan dini. Berbagai pemberitaan tersebut lah (spesifikasi : pemberitaan pernikahan dini yang dilakukan oleh selebritis) yang melatarbelakangi kami untuk memilih topik “Pernikahan Dini” sebagai topik yang diangkat dalam pembuatan makalah ini. kami tim penyusun berusaha sebaik-baiknya untuk mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai sumber dan narasumber untuk dimasukkan ke dalam makalah ini agar kelak dapat dijadikan sebagai referensi oleh pihak-pihak yang membutuhkan. . c. e.1 Latar Belakang Statistik kejadian pernikahan dini meningkat berlalunya waktu. Proses conditioning sendiri adalah proses adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat akan berbagai budaya baru yang terjadi namun akibat pemberitaan yang berulang-ulang budaya tersebut semakin cepat dapat diterima oleh masyarakat dan dijadikan bagian dari budaya masyarakat itu sendiri. agar siswa mengetahui dampak positif dan dampak negatif dari prenikahan dini. d. Maka dari itu. Hal itu juga termasuk salah satu faktor yang melatar belakangi diangkatnya topik “Pernikahan Dini” ini.

Dengan penjelasan yang detail dan berbagai kajian akan negatif-positifnya pernikahan diusia dini. d. b.3 Manfaat a. siswa akan dapat mengerti bahwa menikah diusia dini lebih banyak menimbulkan hal negatif dan pada akhirnya dapat dijadikan pencegahan akan terjadinya pernikahan dini. Menambah pengetahuan siswa agar memahami berbagai fakta. . Membantu berbagai kalangan untuk menyamakan pikiran akan tidak baiknya menikah diusia dini terutama untuk latar belakang non-kekurangan biaya.1. Membantu mensosialisasikan apa sebenarnya pernikahan dini itu dan tindakan apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi angka terjadinya pernikahan diusia dini. pro dan kontra terkait pernikahan diusia dini dan hukum-hukum yang terkait di dalam pernikahan dini. c.

memang wajar kalau banyak yang merasa khawatir. Hal ini terbaca jelas dalam senetron “Pernikahan Dini” yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Dr. untuk menciptakan sebuah rumah tangga yang sakinah seperti yang diilustrasikan oleh sinetron tersebut. Sarlito Wirawan Sarwono pada tahun 1983. . Definisi Pernikahan Dini Pernikahan Dini merupakan sebuah nama yang lahir dari komitmen moral dan keilmuan yang sangat kuat. Beralasan memang. ketika seks pranikah semakin merajalela. Dari sisi psikologis. karena kekurangsiapan mental dari kedua pasangan yang masih belum dewasa betul. Bahwa pernikahan di usia muda akan menghambat studi atau rentan konflik yang berujung perceraian.BAB II LANDASAN TEORI 2. sebagai sebuah solusi alternative.1. tidak peduli apakah dia SMP bahkan SD. setidaknya menurut penawaran Prof. Tapi sederet pertanyaan dan kekhawatiranpun muncul. bahwa mental dan kedewasaan lebih berarti dari sekedar materi. mungkinkah? Siapkah mental dan materinya? Bagaimana respon masyarakat? Apa tidak mengganggu sekolah? Dan masih banyaksederetpertanyaanlainnya. terutama yang dilakukan oleh kaum muda yang masih duduk di bangku-bangku sekolah. apalagi SMA maupun perguruan tinggi. melalui tulisannya berjudul Bagaimana Kalau Kita Galakkan Perkawinan Remaja? Ketika fitnah syahwat kian tak terkendali. Nikah diusia remaja.

. setelah diteliti. bahwa usia bukan ukuran utama untuk menentukan kesiapan mental dan kedewasaan seseorang bahwa menikah bisa menjadi solusi alternatif untukmengatasi kenakalan kaum remaja yang kian tak terkendali. pendiri psikologi humanistik yang menikah di usia 20 tahun. dimulai dari saat menikah. sebab pernikahan karena kecelakaan lebih karena keterpaksaan. juga oleh Clarke-Stewart & Koch lewat bukunya “Children Development Through”: bahwa pernikahan di usia remaja dan masih di bangku sekolah bukan sebuah penghalang untuk meraih prestasi yang lebih baik. Bagaimana dengan hasil penelitian di salah satu kota di Yogya bahwa angka perceraian meningkat signifikan karena pernikahan dini? Ternyata. mampu mencapai puncak pertumbuhan kepribadian yang mengesankan ibid). yang pada gilirannya akan menjadikan manusia. orang yang menikah di usia dini lebih mungkin mencapai taraf aktualisasi diri lebih cepat dan lebih sempurna dibanding dengan mereka yang selalu menunda pernikahan. pernikahan dini yang rentan perceraian itu adalah pernikahan yang diakibatkan “kecelakaan” (yang disengaja). 2002). kekhawatiran dan kecemasan timbulnya persoalan-persoalan psikis dan sosial telah dijawab dengan logis dan ilmiah oleh Muhammad Fauzil Adhim dalam bukunya “Indahnya Pernikahan Dini”. Hal ini bisa dimaklumi. menurut M. Bahkan menurut Abraham M. Pernikahan Dini dalam Perspektif Psikologi Sebetulnya. bahkan justru bisa menjadi motivasi untuk meraih puncak prestasi yang lebih cemerlang (seperti tertera sederet nama orang sukses yang melakukan pernikahan dini). Pernikahan yang sebenarnya. sehingga kita akan lebih mungkin mencapai kematangan yang puncak (Muhammad Fauzil Adhim. pernikahan dini juga sangat baik untuk pertumbuhan emosi dan mental.1. bukan kesadaran dan kesiapan serta orientasi nikah yang kuat. Maslow. Pernikahan akan mematangkan seseorang sekaligus memenuhi separuh dari kebutuhan-kebutuhan psikologis manusia. Selain itu. menurut bukti-bukti (bukan hanya sekedar teori) psikologis. Indahnya Pernikahan Dini. Di kedua buku itu (dan juga di sekitar kita) ada banyak bukti empiris dan tidak perlu dipaparkan disini bahwa menikah di usia dini tidak menghambat studi. Maslow.

menarik diperhatikan sabda Nabi savv. 1. Sebuah isyarat dari Nabi saw. Pernikahan Dini dalam Perspektif Agama Jika menurut psikologis. maka kawinlah. Siapakah syabab itu? Mengapa kepada syabab? Menurut mayoritas ulama. Pesan Nabi di atas. Bila tidak mampu melaksanakannya maka berpuasalah karena puasa baginya adalah kendali (dari gairah seksual)” (HR. Untuk menanggulangi musibah kaum remaja ini hanya satu jawabnya: nikah. usia terbaik untuk menikah adalah usia antara 19 sampai 25. dan pukullah mereka karena tidak mengerjakannya setelah berusia sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidurnya” (Ahmad dan Abu Dawud). “perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. syabab adalah orang yang telah mencap aqil baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Sembilan belas Abad . tapi sangat mengerikan para gadis (yang sudah tidak gadis lagi) hamil di luar nikah. selain bermakna sebagai pendidikan bagi anak juga menyimpan sebuah isyarat bahwa padausia sepuluh tahun.Bersabda: “Wahai para pemuda. Hadits di atas dengan jelas dialamatkan kepada syabab (pemuda). saat ini. Aqil baligh bisa ditandai dengan mimpi basah (ihtilam) atau masturbasi (haid bagi wanita) atau telah mencapai usia limabelas tahun. Ada apa dengan syabab? Sebelumnya. seorang anak telah memiliki potensi menuju kematangan seksual. Pergaulan bebas atau free sex sama sekali bukan nama yang asing di telinga kaum remaja.Adapun urgensi pernikahan terhadap upaya menanggulangi kenakalan remaja barangkali tidak bias dibantah. barang siapa di antara kalian telah mencapai ba’ah. maka bagaimana dengan agama? Rasulullah saw. Kita akan menyaksikan kehancuran yang berlangsung pelan-pelan. Takut rasanya ketika kita mendengar hasil sebuah penelitian bahwa 90% mahasiswi di salah satu kota besar di negara muslim ini sudah tidak perawan lagi. Imam yang lima). Karena sesungguhnya kawin lebih bisa menjaga pada pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan.

kemudian ambillah satu saja ranting. Plato bertanya pada gurunya. 2. seperti yang tersirat dalam suratal-Nur ayat 32 yang artinya. “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan. Tapi sebagai hamba yang beriman. tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana. Ini memang wajar. “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?” Gurunya menjawab. artinya kamu telah menemukan cinta” Plato pun berjalan. baru kusadari bahwasanya ranting – ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi. media informasi (baik cetak atau elektronik) yang terus menyajikan tantangan seksual bagi kaum remaja. jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya” . dengan kemajuan teknologi yang kian canggih. Bukankah Allah telah menjamin rezeki hamba-Nya yang mau menikah.yang silam. dan tidak seberapa lama. tanpa membawa apapun. “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Karenanya. maka kawinlah. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan. jadi tak kuambil ranting tersebut Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi. “Barang siapa yang ingin kaya. dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik).2. Gurunya bertanya. Kini. Cinta dan Perkawinan Satu hari. selalu membangun orientasi menikah kepada para pemuda yang masih single dengan mengajak mereka berdoa agar segera diberi isteri yang shalihah. Salah satu faktor dominan yang sering membuat kita terkadang takut melangkah adalah kesiapan dari sisi ekonomi. “Aku hanya boleh membawa satu saja. “dan jika mereka miskin maka Allah akan membuatnya kaya dengan karunia-Nya”. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali. dia kembali dengan tangan kosong. Bukankah Rasul-Nya juga menjamin kita dengan sabdanya. Sahabat Abdullah bin Mas’ud ra. maka tak heran apabila sering terjadi pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak ingusan yang masih di bangku sekolah dasar.

maka semakin tidak ditemukan. ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat. . Plato bertanya lagi pada gurunya. “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?” Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana.“Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta” Di hari yang lain. aku lihat pohon ini. Adalah proses mendapatkan kesempatan. “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya. Terimalah cinta apa adanya. Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. setelah menjelajah hampir setengah hutan. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan” Plato pun menjawab. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya Gurunyapun kemudian menjawab. Cinta adanya di dalam lubuk hati. ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat. Jadi dikesempatan ini. dan tidak dapat dimundurkan kembali. jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi. “Dan ya itulah perkawinan” Cinta itu semakin dicari. ternyata aku kembali dengan tangan kosong.

karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya. 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa untuk melangsungkan suatu perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat ijin dari kedua orang tua.1. . Di Tasikmalaya sendiri khususnya di desa Mandalagiri kecamatan Leuwisari kabupaten Tasikmalya yang telah melangsungkan perkawinan pada usia muda berjumlah lebih dari 15 orang. Di Indonesia pernikahan dini berkisar 12-20% yang dilakukan oleh pasangan baru. maka sia – sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu. Hukum Pernikahan Pasal 6 ayat 2 UU No. BAB III PEMBAHASAN 3. Sehingga Undang-undang yang telah dibuat.95%. pernikahan dini dilakukan pada pasangan usia muda usia rata-rata umurnya antara 16-20 tahun.Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan. Biasanya. Namun dalam prakteknya didalam masyarakat sekarang ini masih banyak dijumpai sebagian masyarakat yang melangsungkan perkawinan di usia muda atau di bawah umur. sebagian tidak berlaku di suatu daerah tertentu meskipun Undang-Undang tersebut telah ada sejak dahulu. Secara nasional pernikahan dini dengan usia pengantin di bawah usia 16 tahun sebanyak 26.

ekonomi dan sosial.2. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: . Dampak Pernikahan Dini Baru saja kita mendengar berita diberbagai media tentang kyai kaya yang menikahi anak perempuan yang masih belia berumur 12 tahun. Pasal 6 (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua. 3.: 1. Apapun alasannya. Dampak terhadap hukum Adanya pelanggaran terhadap 3 Undang-undang di negara kita yaitu: a. Melakukan pernikahan tanpa kesiapan dan pertimbangan yang matang dari satu sisi dapat mengindikasikan sikap tidak affresiatif terhadap makna nikah dan bahkan lebih jauh bisa merupakan pelecehan terhadap kesakralan sebuah pernikahan. Berbagai dampak pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur dapat dikemukakan sbb. UU No. UU No. Karena di usia itu organ reproduksi perempuan secara psikologis sudah berkembang dengan baik dan kuat serta siap untuk melahirkan keturunan secara fisik pun mulai matang. b. Berita ini menarik perhatian khalayak karena merupakan peristiwa yang tidak lazim. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.Padahal pernikahan yang ideal untuk perempuan adalah 21-25 tahun sementara lakilaki 25-28 tahun. Sebagian masyarakat yang melangsungkan perkawinan usia muda ini dipengaruhi karena adanya beberapa faktor-faktor yang mendorong mereka untuk melangsungkan perkawinan usia muda atau di bawah umur. hingga mampu menopang kehidupan keluarga untuk melindungi baik sera psikis emosional. perkawinan tersebut dari tinjauan berbagai aspek sangat merugikan kepentingan anak dan sangat membahayakan kesehatan anak akibat dampak perkawinan dini atau perkawinan di bawah umur. Sementara laki-laki pada usia itu kondisi psikis dan fisiknya sangat kuat.

c. sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Selain itu. 2. eksploitasi dan diskriminasi.21 tahun 2007 tentang PTPPO Patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai dan orang tua anak yang mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan tersebut. Sungguh disayangkan apabila ada orang atau orang tua melanggar undang-undang tersebut. Pemahaman tentang undang-undang tersebut harus dilakukan untuk melindungi anak dari perbuatan salah oleh orang dewasa dan orang tua. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya.) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.) menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan. agar anak tetap memperoleh haknya untuk hidup. 3. bakat dan minatnya dan. Dampak biologis Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma. tentang perlindungan terhadap anak perempuan. Sesuai dengan 12 area kritis dari Beijing Platform of Action. perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari perbuatan kekerasan. Dampak Psikologis Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks.mengasuh. apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan. Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak. 2. ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan (Wajar 9 . memelihara. mendidik dan melindungi anak 1. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan (penggagahan) terhadap seorang anak. UU No.

Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun termasuk agama Islam yang sangat menghormati perempuan (Rahmatan lil Alamin). ancamannya pidana penjara maksimum 15 tahun. Dampak Sosial Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki yang bias gender.No. melaporkan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesai (KPAI). Dampak perilaku seksual menyimpang Adanya prilaku seksual yang menyimpang yaitu prilaku yang gemar berhubungan seks dengan anak-anak yang dikenal dengan istilah pedofilia. minimum 3 tahun dan pidana denda maksimum 300 juta dan minimum 60 juta rupiah. Hal ini bertentangan dengan UU. Apabila tidak diambil tindakan hukum terhadap orang yang menggunakan seksualitas anak secara ilegal akan menyebabkan tidak ada efek jera dari pelaku bahkan akan menjadi contoh bagi yang lain. LSM peduli anak lainnya dan para penegak hukum harus melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk melihak adanya pelanggaran terhadap perundangan yang ada dan bertindak terhadap pelaku untuk dikenai pasal pidana dari peraturan perundangan . hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak khususnya pasal 81. Orang tua harus disadarkan untuk tidak mengizinkan menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau anak dan harus memahami peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak. Oleh karena itu patut ditentang. Masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dapat mengajukan class-action kepada pelaku. yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap pelengkap seks laki-laki saja. namun dikemas dengan perkawinan se-akan2 menjadi legal. 5. Kondisi ini hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan kekerasan terhadap perempuan.tahun). 4. Perbuatan ini jelas merupakan tindakan ilegal (menggunakan seks anak). Dari uraian tersebut jelas bahwa pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur (anak) lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.

pemerintah harus semakin giat mensosialisasikan undang – undang terkait pernikahan anak di bawah umur beserta sanksi – sanksi bila melakukan pelanggaran dan menjelaskan resiko – resiko terburuk yang bisa terjadi akibat pernikahan anak di bawah umur kepada masyarakat.yang ada. Namun. Selain itu. Jadi tidak ada alasan lagi pihak – pihak tertentu untuk melegalkan tindakan mereka yang berkaitan dengan pernikahan anak di bawah umur. masyarakat tahu dan sadar bahwa pernikahan anak di bawah umur adalah sesuatu yang salah dan harus dihindari. UU PTPPO).3. Upaya pencegahan pernikahan anak dibawah umur dirasa akan semakin maksimal bila anggota masyarakat turut serta berperan aktif dalam pencegahan pernikahan anak di bawah umur yang ada di sekitar mereka. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat merupakan jurus terampuh sementara ini untuk mencegah terjadinya pernikahan anak di bawah umur sehingga kedepannya di harapkan tidak akan ada lagi anak yang menjadi korban akibat pernikahan tersebut dan anak – anak Indonesia bisa lebih optimis dalam menatap masa depannya kelak. Pemerintah harus berkomitmen serius dalam menegakkan hukum yang berlaku terkait pernikahan anak di bawah umur sehingga pihak – pihak yang ingin melakukan pernikahan dengan anak di bawah umur berpikir dua kali terlebih dahulu sebelum melakukannya. diharapkan dengan upaya tersebut. . Dalih utama yang digunakan untuk memuluskan jalan melakukan pernikahan dengan anak di bawah umur adalah mengikuti sunnah Nabi SAW. dalih seperti ini biasa jadi bermasalah karena masih terdapat banyak pertentangan di kalangan umat muslim tentang kesahihan informasi mengenai pernikahan anak di bawah umur yang dilakukan Nabi SAW dengan Aisyah r. Selain itu. Upaya Menyikapi atau mencegah Terjadinya Pernikahan Dini Sedikit di permukaan atau terekspos dan sangat marak di dasar atau di tengah masyarakat luas.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. peraturan perundang – undangan yang belaku di Indonesia dengan sangat jelas menentang keberadaan pernikahan anak di bawah umur.a. 3. (UU No. UU Perkawinan.

Idealnya untuk perempuan adalah 21-25 tahun sementara laki-laki 25-28 tahun. Saran Menikahlah kamu diusia yang cukup matang. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. B. Sebagian masyarakat yang melangsungkan perkawinan usia muda ini dipengaruhi karena adanya beberapa faktor-faktor yang mendorong mereka untuk melangsungkan perkawinan usia muda atau di bawah umur. Kesimpulan Melakukan pernikahan tanpa kesiapan dan pertimbangan yang matang dari satu sisi dapat mengindikasikan sikap tidak affresiatif terhadap makna nikah dan bahkan lebih jauh bisa merupakan pelecehan terhadap kesakralan sebuah pernikahan. Karena di usia itu organ reproduksi perempuan secara psikologis sudah berkembang dengan baik dan kuat .

d.com keyword : definisi PERNIKAHAN DINI Buku Agama Islam Sekolah Menengah Atas kelas XII www.nr .co.apikkondang. ekonomi dan sosial. e. Bidang Perkawinan” Google.serta siap untuk melahirkan keturunan secara fisik pun mulai matang. hingga mampu menopang kehidupan keluarga untuk melindungi baik sera psikis emosional. Sementara lakilaki pada usia itu kondisi psikis dan fisiknya sangat kuat.2pik. DAFTAR PUSTAKA a.cc www.co. c. Artikel “Rancangan Undang-Undang Materil oleh Peradilan Agama b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful