P. 1
Soekarno Dan Konfontasi Indonesia-Malaysia

Soekarno Dan Konfontasi Indonesia-Malaysia

|Views: 695|Likes:
Published by Peter Kasenda
Soekarno dan Konfontasi Indonesia-Malaysia



Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi
Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi
Kalau Malaysia mau konfrontasi politik
Kita hadapi dengan konfrontasi politik
Kalau Malaysia mau konfrontasi militer
Kita hadapi dengan konfrontasi militer!
(Soekarno, 1963)


Pada tanggal 17 Agustus 1963 dalam pidato tahunannya memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Soekarno menggambarkan dunia ini sebagai terbagi antara kekuatan-kekuatan baru yang sedang bangkit (New Emerging Forces, NEFOS ) dan kekuatan-kekuatan yang lama yang telah mapan ( Old Established Forces, OLDEFOS) Yang pertama dilukiskan sebagai terdiri atas “bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin, negara-negara sosialis, dan kelompok kelompok progresif di negara-negara kapitalis”

Dalam mengedepankan suatu pandangan revisionis mengenai masyarakat internasional Soekarno melukiskan Indonsia sebagai anggota kelompok kekuatan progresif dinamis yang militan yang ditugasi oleh sejarah untuk melawan dan mengacaukan kekuatan penindasan dan eksploitasi yang reaksioner. Lebih jauh dari itu, akhirnya dia menuntut peranan penting dalam konstalasi internasional dan berusaha menyokong tuntutan ini melalui kunjungan kenegaraan dan berbagai peristiwa internasional lainnya. ( Michael Leifer, 1989 : 86 – 87 )

Tahun-tahun 1960-an merupakan tahun-tahun yang penuh dengan harapan tetapi sekaligus juga tantangan, terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang. Penuh dengan harapan karena dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap dapat mempertahankan sistem dwi mandala dalam situasi Perang Dingin, sehingga dapat mencegah timbulnya perang dunia yang baru.

Makin banyaknya bangsa-bangsa yang mencapai kemerdekaan sejak berakhirnya Perang Dingin Kedua tidak mengubah sistem yang ada menjadi tri mandala (tripolar system), karena negara-negara yang baru merdeka itu sedang disibukkan dengan masalah konsolidasi di dalam negeri, sehingga tidak mampu membentuk kekuatan ketiga yang aktual di dunia. Beberapa pemimpin di negara-negara yang sedang berkembang memang pernah berilusi demikian. Tetapi dalam situasi Perang Dingin, kekuatan ideologi dan politik saja belum didukung oleh kekuatan-kekuatan ekonomi, militer dan teknologi di belakangnya.

Dalam perebutan pengaruh antara dua negara adidaya itu baik kubu kapitalis maupun kubu komunis berada dalam posisi yang sulit. Tantangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah yang umumnya tertuju kepada negara-negara Barat, menempatkan negara-negara tersebut dalam posisi politis defensif. Di pihak lain, perjuangan menuntut kemerdekaan itu merupakan daya (leverage) Uni Soviet dalam persaingannya dengan Amerika Serikat. Namun situasi ini juga tidak bertahan lama.

Sejak awal tahun 1960-an Barat juga menilai Indonesia di bawah pemerintahan Soekarno masih dikuasai oleh golongan komunis di dalam negeri, yang dibantu oleh potensi-potensi komunis di luar negeri. Kubu Barat mempunyai persepsi ancaman baru, yakni ancaman dari komunis di Vietnam Selatan dan sekaligus juga ancaman komunis dari Indonesia Dengan demikian Thailand, negara-negara Indochina yang belum jatuh di tangan komunis. Malaysia, Singapura, Kalimantan Inggris dan Filipina berada dalam posisi yang gawat.

Setelah kekalahan Perancis di Dien Bien Phu dan antipasi kekalahan Amerika Serikat di seluruh Indochina, Barat tidak merasa ada alasan lagi untuk langsung bertempur di negara asing. Memang pakta-pakta pertahanan kemudian dibentuk seperti ANZUS, SEATO, tetapi tujuannya yang utama ialah mempertahankan suatu wilayah secara bersama-sama dengan negara-negara yang sedang berkembang dan termasuk dalam blok Barat. Di samping itu perlu diingat, bahwa pembentukan pakta-pakta itu tidak hanya ditujukan terhadap potensi komunis di utara saja, tetapi juga di selatan, yakni terhadap Indonesia.

Potensi-potensi Barat yang ada di wilayah Asia-Pasifik mulai mengubah sistem keterlibatannya, dari keterlibatan secara
Soekarno dan Konfontasi Indonesia-Malaysia



Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi
Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi
Kalau Malaysia mau konfrontasi politik
Kita hadapi dengan konfrontasi politik
Kalau Malaysia mau konfrontasi militer
Kita hadapi dengan konfrontasi militer!
(Soekarno, 1963)


Pada tanggal 17 Agustus 1963 dalam pidato tahunannya memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Soekarno menggambarkan dunia ini sebagai terbagi antara kekuatan-kekuatan baru yang sedang bangkit (New Emerging Forces, NEFOS ) dan kekuatan-kekuatan yang lama yang telah mapan ( Old Established Forces, OLDEFOS) Yang pertama dilukiskan sebagai terdiri atas “bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin, negara-negara sosialis, dan kelompok kelompok progresif di negara-negara kapitalis”

Dalam mengedepankan suatu pandangan revisionis mengenai masyarakat internasional Soekarno melukiskan Indonsia sebagai anggota kelompok kekuatan progresif dinamis yang militan yang ditugasi oleh sejarah untuk melawan dan mengacaukan kekuatan penindasan dan eksploitasi yang reaksioner. Lebih jauh dari itu, akhirnya dia menuntut peranan penting dalam konstalasi internasional dan berusaha menyokong tuntutan ini melalui kunjungan kenegaraan dan berbagai peristiwa internasional lainnya. ( Michael Leifer, 1989 : 86 – 87 )

Tahun-tahun 1960-an merupakan tahun-tahun yang penuh dengan harapan tetapi sekaligus juga tantangan, terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang. Penuh dengan harapan karena dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap dapat mempertahankan sistem dwi mandala dalam situasi Perang Dingin, sehingga dapat mencegah timbulnya perang dunia yang baru.

Makin banyaknya bangsa-bangsa yang mencapai kemerdekaan sejak berakhirnya Perang Dingin Kedua tidak mengubah sistem yang ada menjadi tri mandala (tripolar system), karena negara-negara yang baru merdeka itu sedang disibukkan dengan masalah konsolidasi di dalam negeri, sehingga tidak mampu membentuk kekuatan ketiga yang aktual di dunia. Beberapa pemimpin di negara-negara yang sedang berkembang memang pernah berilusi demikian. Tetapi dalam situasi Perang Dingin, kekuatan ideologi dan politik saja belum didukung oleh kekuatan-kekuatan ekonomi, militer dan teknologi di belakangnya.

Dalam perebutan pengaruh antara dua negara adidaya itu baik kubu kapitalis maupun kubu komunis berada dalam posisi yang sulit. Tantangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah yang umumnya tertuju kepada negara-negara Barat, menempatkan negara-negara tersebut dalam posisi politis defensif. Di pihak lain, perjuangan menuntut kemerdekaan itu merupakan daya (leverage) Uni Soviet dalam persaingannya dengan Amerika Serikat. Namun situasi ini juga tidak bertahan lama.

Sejak awal tahun 1960-an Barat juga menilai Indonesia di bawah pemerintahan Soekarno masih dikuasai oleh golongan komunis di dalam negeri, yang dibantu oleh potensi-potensi komunis di luar negeri. Kubu Barat mempunyai persepsi ancaman baru, yakni ancaman dari komunis di Vietnam Selatan dan sekaligus juga ancaman komunis dari Indonesia Dengan demikian Thailand, negara-negara Indochina yang belum jatuh di tangan komunis. Malaysia, Singapura, Kalimantan Inggris dan Filipina berada dalam posisi yang gawat.

Setelah kekalahan Perancis di Dien Bien Phu dan antipasi kekalahan Amerika Serikat di seluruh Indochina, Barat tidak merasa ada alasan lagi untuk langsung bertempur di negara asing. Memang pakta-pakta pertahanan kemudian dibentuk seperti ANZUS, SEATO, tetapi tujuannya yang utama ialah mempertahankan suatu wilayah secara bersama-sama dengan negara-negara yang sedang berkembang dan termasuk dalam blok Barat. Di samping itu perlu diingat, bahwa pembentukan pakta-pakta itu tidak hanya ditujukan terhadap potensi komunis di utara saja, tetapi juga di selatan, yakni terhadap Indonesia.

Potensi-potensi Barat yang ada di wilayah Asia-Pasifik mulai mengubah sistem keterlibatannya, dari keterlibatan secara

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Soekarno dan Konfontasi Indonesia-Malaysia

Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi Kalau Malaysia mau konfrontasi politik Kita hadapi dengan konfrontasi politik Kalau Malaysia mau konfrontasi militer Kita hadapi dengan konfrontasi militer!

(Soekarno, 1963) Pada tanggal 17 Agustus 1963 dalam pidato tahunannya memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Soekarno menggambarkan dunia ini sebagai terbagi antara kekuatankekuatan baru yang sedang bangkit (New Emerging Forces, NEFOS ) dan kekuatankekuatan yang lama yang telah mapan ( Old Established Forces, OLDEFOS) Yang pertama dilukiskan sebagai terdiri atas “bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin, negara-negara sosialis, dan kelompok kelompok progresif di negara-negara kapitalis” Dalam mengedepankan suatu pandangan revisionis mengenai masyarakat internasional Soekarno melukiskan Indonsia sebagai anggota kelompok kekuatan progresif dinamis yang militan yang ditugasi oleh sejarah untuk melawan dan mengacaukan kekuatan penindasan dan eksploitasi yang reaksioner. Lebih jauh dari itu, akhirnya dia menuntut peranan penting dalam konstalasi internasional dan berusaha menyokong tuntutan ini melalui kunjungan kenegaraan dan berbagai peristiwa internasional lainnya. ( Michael Leifer, 1989 : 86 – 87 ) Tahun-tahun 1960-an merupakan tahun-tahun yang penuh dengan harapan tetapi sekaligus juga tantangan, terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang. Penuh dengan harapan karena dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap dapat mempertahankan sistem dwi mandala dalam situasi Perang Dingin, sehingga dapat mencegah timbulnya perang dunia yang baru. Makin banyaknya bangsa-bangsa yang mencapai kemerdekaan sejak berakhirnya Perang Dingin Kedua tidak mengubah sistem yang ada menjadi tri mandala (tripolar system), karena negara-negara yang baru merdeka itu sedang disibukkan dengan masalah konsolidasi di dalam negeri, sehingga tidak mampu membentuk kekuatan ketiga yang aktual di dunia. Beberapa pemimpin di negara-negara yang sedang berkembang memang pernah berilusi demikian. Tetapi dalam situasi Perang Dingin, kekuatan ideologi dan politik saja belum didukung oleh kekuatan-kekuatan ekonomi, militer dan teknologi di belakangnya. Dalam perebutan pengaruh antara dua negara adidaya itu baik kubu kapitalis maupun kubu komunis berada dalam posisi yang sulit. Tantangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah yang umumnya tertuju kepada negara-negara Barat, menempatkan negaranegara tersebut dalam posisi politis defensif. Di pihak lain, perjuangan menuntut
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

1

Peter Kasenda kemerdekaan itu merupakan daya (leverage) Uni Soviet dalam persaingannya dengan Amerika Serikat. Namun situasi ini juga tidak bertahan lama. Sejak awal tahun 1960-an Barat juga menilai Indonesia di bawah pemerintahan Soekarno masih dikuasai oleh golongan komunis di dalam negeri, yang dibantu oleh potensipotensi komunis di luar negeri. Kubu Barat mempunyai persepsi ancaman baru, yakni ancaman dari komunis di Vietnam Selatan dan sekaligus juga ancaman komunis dari Indonesia Dengan demikian Thailand, negara-negara Indochina yang belum jatuh di tangan komunis. Malaysia, Singapura, Kalimantan Inggris dan Filipina berada dalam posisi yang gawat. Setelah kekalahan Perancis di Dien Bien Phu dan antipasi kekalahan Amerika Serikat di seluruh Indochina, Barat tidak merasa ada alasan lagi untuk langsung bertempur di negara asing. Memang pakta-pakta pertahanan kemudian dibentuk seperti ANZUS, SEATO, tetapi tujuannya yang utama ialah mempertahankan suatu wilayah secara bersama-sama dengan negara-negara yang sedang berkembang dan termasuk dalam blok Barat. Di samping itu perlu diingat, bahwa pembentukan pakta-pakta itu tidak hanya ditujukan terhadap potensi komunis di utara saja, tetapi juga di selatan, yakni terhadap Indonesia. Potensi-potensi Barat yang ada di wilayah Asia-Pasifik mulai mengubah sistem keterlibatannya, dari keterlibatan secara fisik dan langsung menjadi keterlibatan secara tidak langsung, sambil mendorong negara-negara Asia Tenggara untuk lebih tampil ke depan dalam menangani permasalahan bersama. Hanya apabila sewaktu-waktu diperlukan campur tangan serta bantuan fisik dan militer, mereka akan memberikan bantuan itu berdasarkan komitmen yang dibuat sebelumnya. Apabila kubu Uni Soviet hanya mengalami hambatan-hambatan internal yang berupa tuntutan sementara anggota masyarakat komunis internasional tentang perlunya keluwesan interprestasi dan implementasi Marxisme-Leninisme sesuai dengan perkembangan kondisi setempat, serta perlunya kesederajatan status dan posisi struktural partai-partai komunis di dunia, kubu Amerika Serikat mengalami hambatan-hambatan yang bersifat ganda, internal dan eksternal. Internal, sebagai yang telah dijelaskan di depan berupa tuntutan kemerdekaan daerah bekas jajahan, sedang eksternal berupa ancaman perkembangan komunisme di dunia. Amerika Serikat tidak begitu terlibat langsung mengenai tuntutan kemerdekaan tersebut, mengingat kesediannya untuk segera memberikan kemerdekaan kepada daerah jajahannya, seperti Filipina. Namun Inggris, Perancis, Belgia dan Portugal yang mempunyai daerah koloni begitu luas secara langsung menghadapi permasalahan dekolonisasi ini. Tetap mempertahankan daerah jajahan, secara politis adalah tidak senafas Piagam PBB dan dengan proses dekolonisasi. Di samping itu mempertahankan daerah jajahan betapapun kaya daerah itu, secara ekonomis sudah tidak sesuai lagi dengan aspirasi rakyat daerah jajahan. Terlebih lagi bila dilihat dari kepentingan pertahanan keamanan,

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

2

Peter Kasenda mempertahankan daerah jajahan yang luas dan jauh dari negara induk, dalam sistem perang modern adalah sangat mahal. Hal ini semua mendesak Inggris, Perancis, Belgia, Portugal dan lain-lain negara Barat untuk memerdekakan atau dengan sangat terpaksa memenuhi tuntutan kemerdekaan bekas jajahannya. Setelah Asia, Afrika menyusul dalam upaya menuntut kemerdekaan. Hal ini nampak jelas dalam persitiwa-peristiwa yang terjadi di Afrika antara tahun-tahun 1960-1965, persitiwa-peristiwa mana ternyata juga berpengaruh dalam mendorong semangat revolusioner di Indonesia pada masa konfrontasi. Bekas daerah jajahan Inggris pada umumnya mencapai kemerdekaan secara damai dan sebagian besar negara-negara itu masih ingin tetap menjalin hubungan baik dengan Inggris dan menjadi anggota Masyarakat Persemakmuran Inggris (British Commonwealth of Nations). Misalnya, Malaya (1957), Singapura (1959) Uganda (1962), Kenya (1963), Tanzania merupakan gabungan dari Tangaykam Zanzibar dan Malawi (1964), Zambia (1964), Gambia (1965), Botswana (1966), Lesotho ( 1966) Interprestasi dari proses kemerdekaan dan reposisi yang diambil oleh negara-negara bekas jajahan Inggris setelah merdeka dalam hubungan barunya dengan Inggris memang berbeda. Namun kesemuanya itu sebenarnya mengandung arti politik tersendiri, yang sering kurang dipahami oleh negara-negara yang timbul melalui revolusi seperti Indonesia. Perbedaan persepsi politik ini pula yang mendorong timbulnya konflik antara Indonesia-Malaysia. Dengan latar belakang situasi politik internaional yang demikian, timbul gagasan pembentukan Federasi Malaysia. Dari mana asal gagasan tersebut timbul beberapa pendapat. Ada yang menyatakan seperti halnya Indonesia, bahwa gagasan itu timbul dari Inggris. Ini tidak sama sekali keliru bila diteliti sejarah Malaya, bahwa dahulu dalam tahun 1887 memang ada seorang bangsawan Inggris, Lord Brassey, yang menyarankan kepada House of Lords untuk membentuk persatuan daerah-daerah koloni Inggris di Asia Tenggara. Tetapi gagasan ini tidak diterima. Tengku Abdul Rachman yang memimpin Federasi Malaysia sejak tahun 1957, pertama melontarkan gagasan pembentukan Federasi Malaysia belum dipermasalahkan. Tetapi setelah Tengku Abdul Rahman berkonsultasi dengan Perdana Menteri Mcmililan di London dalam bulan Oktober 1961 dan bulan Juli 1962 mengenai pelaksanaan rencana federasi, timbul dugaan yang makin kuat di pihak Indonesia, bahwa gagasan pembentukan Federasi sebenarnya adalah gagasan Inggris. (Hidayat Mukmin , 1991 : 80 – 85 )

Pembentukan Federasi Malaysia
Ketika Tengku Abdul Rachman, Perdana Menteri Malaya pada bulan Mei 1961 mengumumkan pikirannya tentang suatu bentuk federasi yang meliputi Malaya, Singapura dan daerah-daerah Kalimantan Utara bekas daerah Inggris, Indonesia tidak
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

3

Peter Kasenda menyatakan keberatannya (Filipina sementara itu menuntut sebagian dari wilayah Kalimantan Utara itu sebagai daerahnya). Saran ini sebelumnya dibicarakan Tengku dengan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, dan pembicaraan-pembicaraan antara keduanya terus belanjut lancar dan menghasilkan hubungan-hubungan dan pengertian yang semakin baik. Lee Kuan Yew menyatakan penggabungan dengan Malaya menjadi satu-satunya dasar yang memungkinkan pembangunan Singapura yang stabil. Kesertaan wilayah-wilayah Kalimantan Utara itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan persetujuan. Sifat mayoritas Cina kota Singapura merupakan penghalang bagi pikiran-pikiran penggabungan itu. Malaya sudah lama merasa waspada terhadap masyarakat Cina yang kekuatan ekonominya sangat berkuasa di semenanjung itu, dan mayoritas Cina di Singapura pun cemas terhadap masyarakat Melayu. Kelihatannnya seakan-akan Singapura dapat diserap pada saat wilayah-wilayah Kalimantan Utara, Brunei, Sarawak dapat disertakan dalam federasi yang baru itu. Meskipun usul-usul persekutuan itu jelas mencerminkan pemikiran sesorang negarawan yang mempunyai dimensi luas, alasan-alasan yang dikemukakan masih diragukan – daerah-daerah di Kalimantan-Inggris itu jika didominasi penduduk Melayu ; masyarakat Cina tetap merupakan minoritas yang hidup bersama-sama suku-suku bangsa lainnya (tidak hanya Melayu) dan semuanya ini akan lebih mempersulit ketimbang memudahkan masalahmasalah masyarakat Malaya yang majemuk. Tetapi rencana itu mengandung keuntungankeuntungan lain, satu di antaranya ialah, federasi itu akan memungkinkan Inggris menarik diri dengan mudah dari jajahannya di bagian dunia ini. ( John D Legge , 1985 : 415 ) Para sponsor Malaysia memandang Indonesia sebagai pihak yang berkepentingan pada usul perubahan politik di bahari Asia Tenggara. Sehubungan dengan itu, pemerintah Inggris yang menjadi patron dalam usaha ini, merasa wajib untuk berkonsultasi dengan mitra imbangannya di Jakarta. Pada bulan Agustis 1961 Lord Selkirk, komiisaris jendral Inggris untuk Asia Tenggara yang berpangkalan di Singapura mengunjungi Indonesia guna membicarakan prospek Malaysia pada tahap awal perundingan. Subandrio menyatakan kemudian bahwa dia telah memberi tahu Selkirk bahwa “kami menghargai bahwa Inggris hendak melepaskan kolonialnya dan caranya terserah pada Inggris dan rakyat yang bersangkutan “. Pada bulan November 1961, dia menempatkan pada catatan umum mengenai ketiadaberatan pemerintahnya terhadap pembentukan Malaysia dalam suatu surat kepada New York Times yang menyampaikan ucapan selamat kepada pemerintah Malaysia” jika ia dapat berhasil dengan rencana ini. Lagipula, dia tidak merasa perlu, pada kesempatan itu, untuk membuat rujukan apa pun kepada perluasan Persetujuan Pertahanan Anglo-Malaya itu kepada federasi, yang dipertegas lagi di Majelis Umum PBB, tidaklah bebas sama sekali dari keberatan. Sehubungan dengan itu, apa yang disampaikan itu hanyalah sekadar permukaan saja karena menyebut Malaysia hanyalah merupakan catatan tambahan pada penjelasan yang masuk akal dalam mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat. Penolakan atas Malaysia dimaksudkan untuik mencegah kemungkinan tuntutan yang lain terhadap wilayah-wilayah yang bersebelahan dengan Indonesia. Pada situasi seperti ini, pemerintah Indonesia tidak berani menyatakan oposisi terbuka terhadap federasi yang diusulkan itu karena adanya resiko bahwa tiap konfrontasi yang terjadi akan mengundang kecurigaan pada

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

4

Peter Kasenda tuntutannya atas Irian Barat yang pada waktu itu semakin menjadi sasaran kepentingan diplomasi Amerika Serikat, Hingga timbulnya pemberontakan di Brunei pada bulan Desember 1962, satu-satunya oposisi terang-terangan terhadap pembentukan federasi Malaysia dari dalam Indonesia dikemukakan oleh Komite Sentral Partai Komunis Indonesia pada bulan Desember 1961. Pentingnya oposisi seperti itu tidak dari segi waktunya tetapi lebih-lebih karena perihalnya yang mengisyaratkan penolakan Soekarno terhadap keabsahan federasi yang baru itu. Federasi baru itu digambarkan sebagai “suatu konsentrasi kekuatan kolonial baru justru pada garis perbatasan Indonesia” dan “suatu intrik kolonial yang tak dapat diterima”. PKI mempunyai antipati yang lumrah terhadap bakal calon Malaysia yang digambarkan secara terbuka di Kuala Lumpur sebagai benteng terhadap komunisme di Asia Tenggara Berkaitan dengan itu, juga mempunyai alasan yang baik untuk berusaha menjamin bahwa penolakan umum “bentuk neokolonialisme” ini menjadi bagian tak terpisahkan dari serangkaian doa (litani) ortodoksi nasionalis. Selama kurun waktu 1962, keseimbangan keuntungan politik domestik mulai bergerak ke arah yang menguntungkan PKI ketika Soekarno berhasil memanipulasi kesetiaan di dalam angkatan bersenjata untuk menunjang tujuannya sendiri. Kecenderungan ini semakin nyata pula pada tahun berikutnya, terutama sekali pada tahun 1964. Akan tetapi PKI mempunyai berbagai macam alasan untuk mencoba mempertahankan iklim hingar-bingar politik Indonesia pada saat pertikaian Irian Barat telah diselesaikan karena suatu dugaan umum bahwa kenyataan sekarang akan menjadi implementasi tindakan untuk meningkatkan stabilisasi ekonomi. Tindakan seperti itu, berkaitan dengan kemungkinan menerima kredit dari Dana Moneter Internasional dan bantuan konsorsium Barat yang akan hampir pasti mempengaruhi pola keberpihakan luar negeri dan mempunyai akibat politik yang sesuai dengan hal itu. Adalah tak jelas apakah Soekarno secara serius tertarik atau tidak pada proses perubahan ekonomi yang jelas akan mengharuskan pengakuan pentingnya nilainilai dan ketrampilan yang sudah barang tentu tak selaras dengan ideologi dan kepribadiannya. Pada bulan Agustus 1962 dia memberikan kesan kepentingan seperti itu tanpa membuang ideologi romantikanya. Tiadanya kepentingan terbuka atas munculnya Malaysia, pernyataan yang dikemukakan oleh Subandrio bahwa Indonesia tak akan dapat tetap acuh tak acuh karena wilayah-wilayah yang bersangkutan merupakan suatu garis perbatasan yang dimiliki bersama, mungkin dapat dilukiskan sebagai suatu kecenderungan terhadap moderasi. Pada pihak lain, sebelum Brunei berontak hanya terdapat sedikit dasar perselisihan internal dalam setiap bagian bakal federasi tersebut yang mungkin akan membenarkan suatu kampanye oposisi umum. Pecahnya pemberontakan di Brunei pada tanggal 8 Desember 1962, yang terpecah ke dalam Serawak yang berbatasan dan ke dalam Kalimantan Utara Inggris (Sabah), menarik tanggapan publik yang simpatik dari dalam negeri Indonesia. Pemberontakan itu dilakukan oleh para pendukung Partai Rakyat yang menguasai semua kursi berdasarkan pemilihan tetapi posisinya minoritas dalam Dewan Legislatif. Pemimpinnya adalah A.M. Azhari yang telah berperan serta dalam revolusi nasional Indonesia dan yang telah mempertahankan persahabatan politik dengan republik. Dengan dukungan massa yang nyata, Partai Rakyat mengumumkan ketidaksetujuannya terhadap masuknya Kesultanan Brunei ke dalam Malaysia dan mengajukan sebagai suatu alternatif, pembentukan suatu
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

5

Peter Kasenda negara merdeka Kalimantan Utara yang dahulu pernah menjadi wilayah kekuasaan raja Brunei. Latihan militer dan berbagai perbekalan telah disediakan di seberang perbatasan Sarawak di Kalimantan Indonesia tetapi tanpa petunjuk yang jelas apakah bantuan itu atas persetujuan resmi Jakarta ataukah tidak. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa pemberontakan itu sendiri menyebabkan para pemimpin di Jakarta kelabakan. Pemberontakan itu berumur pendek. Satu-satuan polisi mobil dikerahkan dari daerah Jesselton (sekarang kota Kinibalu) di Sabah, sedangkan pasukan Inggris, termasuk Gurka diterbangkan dari Singapura Perlawanan efektif dapat diatasi dalam satu minggu. ( Michael Leifer , 1989 : 112 – 115 ) Situasi ini telah memberikan kepada Soekarno yang selama ini sibuk dengan sengketa Irian Barat, kesempatan untuk mengungkapkan kecurigaannya yang terpendam selama itu terhadap rencana Malaysia. Pada 8 Januari 1963, ia menolak gagasan Malaysia dan tidak lama kemudian Subandrio mengumumkan “konfrontasi” terhadap federasi baru itu. Arti istilah ini seluruhnya tidak jelas, tetapi Subandrio tidak menyatakan perang terhadap Malaysia. Kemudian menjadi jelas bahwa “konfrontasi“ berarti melaksanakan tekanan diplomasi dalam ekonomi serta penggunaan kekuatan militer yang sangat terbatas yaitu pada tingkat yang serendah-rendahnya Keberhasilan perjuangan Irian Barat dan kebijaksanaan yang ditempuh dalam menyelesaikan wilayah ini pada smester pertama tahun 1962 telah memberikan Indonesia suatu model untuk ditempuh. Terdapat banyak alasan mengapa Indonesia di bawah pimpinan Soekarno melaksanakan reaksi yang merugikan dalam menghadapi gagasan Malaysia Terlepas dari penarikan kembali ucapan Subandrio pada bulan November 1961, sebagai negara besar di kawasan itu di Indonesia selayaknya merasa berhak diberi tahu dengan konsultasi mengenai semua persoalan yang berkaitan dengan dilepaskannya daerah-daerah yang berbatasan dengan negerinya – dalam hal ini mengenai daerah-daerah yang langsung berbatasan denganya. Sebagai wujud dari kebanggaan bangsa, Soekarno cepat menangkap setiap pertanda yang kelihatannya kecil, dan dalam hal itu ia sangat peka karena menyangkut suatu negara imperialis yang melepaskan kekuasaan dengan cara-cara yang diperhitungkan akan terus mempertahankan pengaruhnya di kawasan itu. Sesungguhnya, pembentukan Malaysia menurut pengamatan Soekarno adalah suatu tindakan kekuatankekuatan neo-kolonialisme yang menjadi bagian dari gerakan pengepungan terhadap Indonesia. Dalam kerangka pandangan dunianya, poisisi Indonesia sebagai Nefo akan terjepit di antara musuh-musuh Oldefo yang melindunginya jika dilihat bahwa di lihat bahwa di sebelah utara terdapat bekas-bekas jajahan Inggris yakni Malaya sampai Kalimantan Utara dan di Selatan ada Australia dan Selandia Baru. Soekarno pun tidak dapat melepaskan kecurigaanya terhadap Malaya yang pada tahun 1958 bersimpati dengan kaum pemberontak di Indonesia Perasaannya telah ditunjang oleh kesadaran akan perbedaan-perbedaan yang besar antara Indonesia dan Malaysia. Menurut pandangannya, Malaysia telah mendapatkan kemerdekaannya secara mudah, tidak berjuang untuk mendapatkannya dan oleh sebab itu dianggap barang murahan jika dibandingkan dengan kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan secara matimatian. Apalagi, hampir dapat dipastikan kemerdekaan Malaya adalah selubung untuk melanjutkan pengaruh dan kekuasan Inggris di bidang ekonomi, politik dan militer. Pangkalan perang Inggris di Singapura menjadi bahan pertimbangan Soekarno, demikian
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

6

Peter Kasenda juga kepentingan ekonomi Inggris di semenanjung Malaya dan Kalimantan Utara .“ Malaysia didirikan untuk menjamin minyak bagi imperialis.” kata Presiden Soekarno dalam suatu pertemuan dengan pemimpin-pemimpin Front Nasional pusat dan daerah bulan Februari 1963. Dalam pengertian sosial, Malaya yang lahir di dunia tanpa melalui suatu revolusi akan hadir sebagai negara konservatif aristokrat jika dibandingkan dengan nasionalisme radikal Indonesia. Perwujudan perbedaan sifat ini adalah kontras seperti tercermin antara kepribadian Tengku Abdul Rachman si Pangeran Melayu, didikan Inggris, pemilik kuda pacu; dan Soekarno si pemimpin model Yakobin dari aristokrasi rendahan Jawa dan ditempa dalam kancah perjuangan yang panjang melawan kekuasaan kolonialisme Belanda. Sehubungan dengan ini juga timbul pendapat-pemdapat lain di Indonesia. Nasution mempersoalkan bahwa bahaya dari Malaysia bagi Indonesia sebenarnya ialah negeri itu menyediakan bagi orang-orang Cina perantauan kesempatan untuk menegaskan pengaruh kekuasaanya dan ini membuka kesempatan bagi Peking untuk meningkatkan pengaruhnya. Berbeda dengan pandangan Soekarno-Subandrio yang menganggap bahaya Malaysia untuk Indonesia terletak pada kemungkinan tunduknya negeri itu pada pengaruh Inggris jika dilihat dari watak reaksioner negara baru itu. Akhirnya juga terdapat sejumlah tekanan dalam negeri sendiri terhadap Soekarno Angkatan Darat mendukung politik konfrontasi, karena ini memberikan kemungkinan peningkatan anggaran militer dan peningkatan martabat tentara pada saat-saat akan dicabutnya Keadaan Dalam Bahaya (SOB). Bagi PKI, konfrontasi ini menciptakan suasana bagi radikalisme model PKI untuk dapat berkembang dan membuka kesempatan baginya untuk mengelakkan kritik-kritik dari kalangan mereka sendiri yang menuduh pemimpinpemimpinnya telah sangat tergantung pada rezim Soekarno. ( John D Legge , 1985 : 415 – 418 ) Van der Kroef berpendapat bahwa PKI merupakan kekuatan yang pertama di Indonesia yang menentang pembentukan Malaysia. Dalam bulan Desember 1961 PKI sudah menegaskan bahwa Federasi Malaysia yang hendak dibentuk itu tidak lain dari suatu “bentuk kolonialisme“ yang oleh Inggris hendak “diselundupkan ke dalam SEATO”. Indonesia, demikian dikatakan Aidit dengan penuh harapan akan menyokong rakyat di dalam federasi yang hendak dibentuk itu dalam perjuangan mereka menentang pembentukan Malaysia. Sebaliknya Rex Mortimer, yang menulis telaah yang paling komprehensif mengenai PKI selama periode Demokrasi Terpimpin, berpendapat bahwa orang-orang komunis pada mulanya tidak secara terang-terangan mempersoalkan pembentukan Malaysia. Walau mereka sudah mulai mengutuk Malaysia, perhatian PKI semata-mata dipusatkan kepada usaha menggagalkan rencana pembaruan ekonomi Djuanda dan akibatnya yang tak akan terelakkan lagi berupa perbaikan dalam hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang dalam pandangan mereka merupakan bagi dari kebijaksanaan yang ditempuh Djuanda. Tetapi kemudian PKI menyadari keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh bila mereka mendukung konfrontasi. Menurut Rex Mortimer, PKI memanfaatkan dan mengobarkan kampanye anti-Malaysia untuk menciptakan suasana yang pada umumnya radikal di dalam masyarakat dan dengan demikian “memperkuat kedudukannya dalam
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

7

Peter Kasenda politik dalam negeri dengan menggeser saingan dan musuh-musuhnya”. Dan dengan berlarut-larutnya kampanye itu, “persenjataan ideologis” anti-Malaysia PKI bertambah kuat sedemikian rupa sehingga pada akhirnya dapat mendesak ke belakang dan bahkan mengungguli kemampuan Soekarno di bidang retorik dan propaganda. PKI-lah yang menempuh langkah-langkah yang paling dramatis untuk merebut prakarsa. Karena adanya banyak pengaruh, hubungan, dan intrik di dalam negeri maupun di kancah internasional yang melingkupi urusan –urusan Indonesia pada masa itu, maka motivasi yang tepat dan ketegasan PKI yang baru tidaklah jelas. Apapun kombinasi alasannya, kepemimpinan Aidit berusaha menerobos kendala-kendala domestiknya. Pada akhir bulan September 1963 Aidit kembali dari perjalanan kunjungannya yang lama ke Uni Soviet dan Cina. Sekembalinya, untuk pertama kalinya dia secara tegas menyekutukan PKI dengan Cina dalam menghadapi Uni Soviet. Kemungkinan Aidit telah menerima nasihat pihak Cina supaya meeningkatkan ofensif politik di dalam negeri. Akan tetapi, dia juga mempunyai alasan senditi untuk merasa yakin bahwa hanya kampanye anti Laysialah yang menghindarkan Indonesia untuk berkiblat ke Amerika Serikat. Kemungkinan adanya gerakan anti PKI di dalam negeri sudah jelas . Dengan demikian, PKI berusaha mendesak untuk mendapatkan kekuasaan lebih besa, karena pada masa itu ofensiflah tampaknya merupakan cara berrtahan yang terbaik. ( M.C. Ricklefs , 1991 : 415 – 416 ) Bagaimanapun besarnya peran yang mungkin dimainkan PKI dalam upaya melancarkan konfrontasi, yang menentukan segala sesuatunya adalah Soekarno. Retorika Soekarno sangat mirip dengan argumen yang dikemukakan PKI, dan makin lama orang makin sulit untuk membedakan antara ungkapan ideologis Presiden dan ungkapan ideologis kaum komunis, karena kepentingan politik mereka tampaknya menjadi kian identik. Keputusan untuk “berkonfrontasi” terhadap Malaysia, semua itu secara sepihak menguntungkan PKI dan Presiden, serta merugikan kepentingan Angkatan Darat. ( Ulf Sundhaussen , 1986 : 292 – 296) Dalam menilai alasan-alasan nyata tentang penentangan mendadak oleh Soekarno terhadap rencana Malaysia itu, pendapat dan pandangan-pandangan ini harus diperhitungkan dengan sungguh-sungguh. Perspektif umum dari ideologi Indonesia penting diketahui. Di bawah kepemimpinan Soekarno negeri ini telah membina suatu pandangan terpadu terhadap dunia luar, yang meskipun akan dianggap ekstrem dan melangkah terlampau jauh oleh pengamat-pengamat politik luar negeri, mempunyai makna tersendiri bagi Indonesia. Pembagian Nefo-Oldefo bukanlah kenyataan yang tidak masuk akal, dan rasa terancam nasional bukan suatu yang dibuat-buat Bangunan ideologi mungkin mengacaukan kenyataan kehidupan tetapi ideologi itu telah dipegang dengan keyakinan yang amat teguh. ( John D Legge , 1985 : 418 – 419 ) Pendapat hampir serupa dikatakan oleh Ulf Sundhaussen, bahwa keputusan untuk menentang Malaysia pertama-tama harus dipahami dalam kerangka orientasi ideologisnya. Sikapnya yang anti-kolonialis dan anti–imperialis menjadi makin eksplisit selama perjuangan pembebasan Irian Barat. Dia sudah sampai pada satu titik di mana menurut pandangannya dunia ini terbagi dalam dua kubu : kubu Old Established Forces
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

8

Peter Kasenda (OLDEFO, kekuatan-kekuatan lama yang sudah mantap) yang terdiri dari negara-negara kapitalis dan imperialis di Barat, dan kubu New Emerging Forces ( NEFO, kekuatankekuatan yang baru muncul ) yang mencakup negara-negara baru di Asia dan Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara sosialis. Dalama bahasa yang makin radikal dan emosional dengan mana dia menganalisa politik dunia, Soekarno menuliskan pembentukan Malaysia sebagai suatu komplotan neokolonialis yang bertujuan mengepung Indonesia dan menjamin kepentingan Inggris di Asia Tenggara. ( Ulf Sundhaussen , 1986 : 295 ) Terlepas dari retorika anti-Malaysia yang tajam dari Presiden Soekarno dan pemerintah Indonesia, sebenarnya Indonesia bukanlah provokator utama, apalagi satu-satunya, dalam permusuhan antara Inggris dan Malaka di satu pihak dan Indonesia-Filipina di pihak lain. Sebuah kajian terakhir oleh Greg Poulgrain mengenai asal-usul politik Konfrontasi menemukan bahwa Inggrislah yang merupakan pemicu utama politik tersebut. Poulgrain menantang gagasan yang lazim dipegang oleh para pengkaji politik Konfrontasi seperti J.A.C. Mackie, yang mengatakan bahwa pihak yang patut dipersalahkan di balik kebijakan ini ialah Indonesia, khususnya Presiden Soekarno. Berdasarkan pengakuan seorang mantan kepala Pasukan Khusus Inggris di Serawak dan dari risetnya terhadap berbagai dokumen yang relevan yang tersimpan di Public Records Office ( Kantor Arsip Publik ) di London. Poulgrain menemukan bahwa kebijakan yang dianut oleh pemerintah Inggris terkait masalah Malaysia adalah mempertahankan seluas mungkin akses ke dalam sumber-sumber daya ekonomi koloninya di Kalimantan Utara menyusul dibubarkannya Dinas Kolonial Inggris. Menurut Poulgrain kebijakan semacam itu mensyaratkan “dihilangkan”nya Presiden Soekarno, sebab di mata Inggris Presiden Soekarno adalah seorang pemimpin yang berhaluan kiri yang punya potensi besar untuk membahayakan akses Inggris ke wilayah-wilayah tersebut. Itulah sebabnya inteljen militer Inggris ( Cabang Khusus, M15-M16 ), berusaha menciptakan suatu situasi yang dapat mendorong munculnya pemberontakan di wilayah tersebut – misalnya menghambat saluran-saluran demokrasi di Brunei – dengan harapan bahwa hal ini akan memprovokasi Presiden Soekarno dengan sentimen anti-kolonialnya yang kental untuk menentang Malaysia. Inggris lebih jauh berharap bahwa keterlibatan Presiden Soekarno itu akan membuat pemerintahannya limbung dan dengan demikian kejatuhannya dari kekuasaan pun akan tinggal menunggu waktu saja. Demikianlah kebijakan luar negeri Inggris saat itu diarahkan untuk menjatuhkan Presiden Soekarno, seorang nasionalis yang kekirikirian, beserta pemerintahannya. ( Baskara Wardaya , 2008 : 302 – 303 ) Namun sikap Soekarno mengumumkan penentangannya terhadap Malaysia dalam situasi itu mengundang kecurigaan, sekurang-kurangnya tidak mudah begitu saja untuk dipercaya. Apakah setelah selesainya masalah Irian Barat Soekarno memerlukan suatu masalah sengketa dengan negeri luar yang mungkin bertujuan untuk mengabsahkan kepemimpinanya di kawasan itu dan sekaligus untuk mengalihkan perhatian dalam negeri dari kesulitan ekonomi, atau untuk mengekang penentangan yang akan mengakibatkan tindakan kekerasaan? Lebih tegas lagi, apakah Soekarno melaksanakan ucapannya pada belahan tahun yang lalu, yaitu “suatu bangsa selalu memerlukan musuh.” ( John D Legge , 1985 : 418 – 419)

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

9

Peter Kasenda Untuk menunjukan kebulatan tekad Indonesia, pada 13 Februari 1963 Presiden mengumumkan : “Saya nyatakan secara resmi sekarang bahwa Indonesia menentang Malaysia.” Presiden Soekarno mengatakan bahwa pententangannya terhadap Malaysia adalah “a matter of principle”. Kemudian ia menambahkan “Kami sedang dikepung. Kami tidak menginginkan neo-kolonialisme di lingkungan kami. Kami menganggap Malaysia hendak mengepung Republik Indonesia, Malaysia adalah produk….neokolonialisme. Pada hari yang sama, Subandrio memperingatkan bahwa “bila upaya pembentukan Malaysia tetap dilanjutkan sama seperti sekarang, benturan fisik akan tak terhindarkan …” Kepada Staf Angkatan Bersenajata Jendral A.H. Nasution menyatakan bahwa Malaysia adalah sebuah ancaman militer bagi Indonesia. Menurutnya federasi Malaysia akan menjadi “basis dari negara-negara yang dulunya menguasai Asia Tenggara untuk kembali mendominasi.” Sembari merujuk pada dukungan diberikan oleh Indonesia kepada kaum pemberontakan Kalimanatan Utara, dia mengatakan bahwa Indonesia tidak mempunyai niat untuk mencaplok wilayah-wilayah tersebut, tetapi pada saat yang sama akan membantu setiap gerakan yang memperjuangkan kemerdekaan dan menentang kolonialisme. ( Baskara T Wardaya , 2008 : 301 – 392 ) Setelah Nasution menyetujui tindakan Soekarno-Subandrio pada bulan bagi Malaya untuk melancarkan serangan lain terhadap Malaysia. Jendral itu mengirim para inflitran yang pertama menyeberangi perbatasan Serawak. Pada bulan April terdengar laporanlaporan tentang bentrokan-bentrokan dengan pasukan-pasukan keamanan Inggris. Suatu sidang ECAFE pada bulan Maret di Manila memberi kesempatan kepada wakil-wakil negara-negara Asia Tenggara lainnya untuk memberikan perhatian tidak resminya atas meluasnya ancaman yang ditimbulkan oleh sikap Indonesia terhadap stabilitas di kawasan itu, dan Presiden Filipina Macapagal, mengusulkan supaya diadakan perundingan mengenai masalah ini. Usul ini menghasilkan pertemuan antara wakil-wakil Menteri Luar Negeri. Tujuan pertemuan wakil-wakil masing-masing kementerian luar negeri ini adalah mempersiapkan acara bagi suatu konperensi Menteri-menteri Luar Negeri, dan hasilnya nampak memberi harapan. Tetapi optimisme ini tidak berlangsung lama. Sementara pembicaraan-pembicaraan di Manila sedang berlangsung, Soekarno menggunakan kesempatan pengangkatan seorang Duta Besar bagi Malaya untuk melancarkan serangan lain terhadap Malaysia untuk melancarkan serangan lain terhdap Malaysia. Ia kembali mengatakan bahwa negeri itu adalah ciptaan neo-kolonialisme. Sejak itu, diplomasi Presiden itu menonjolkan sifat pribadinya yang khas dan itulah faktor utama penyebab meningkatnya konfrontasi. Sejak April sampai September, ketegangan ini menjadi tidak menentu, mengikuti naik-turunnya suhu emosi. Ini terjadi karena Soekarrno dengan pertimbangan yang matang menjalankan strategi politik agresi damai yang silih berganti dengan perhitungan membuat cemas dan bingung Tengku Abdul Rachman mengenai tujuan akhir Indonesia. Sesudah konperensi bulan April itu, bertlangsung perang lisan antara Jakarta-Kuala Lumpur. Soekarno dan Tengku sambil berlomba mencari istilah dan julukan yang paling bersifat menyerang untuk dilontarkan seberang-menyeberang Laut Jawa. Perang kata-kata ini terus berlanjut selama tindakan-tindakan Indonesia meningkat diseberang perbatasan Sarawak. Dalam keadaan demikian pertemuan para Menteri Luar Negeri tidak jadi diadakan.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

10

Peter Kasenda Pada akhir Mei terjadi perubahan mendadak dalam nada dan irama ketegangan ini. Selama dalam perjalanan ke Eropa Soekarno singgah beberapa hari Tokyo untuk berunding dengan wakil-wakil perusahan minyak Amerika Serikat yang sedang mengusahakan izin untuk mencari sumber-sumber energi di Indonesia dan untuk mendapatkan hak penguasaannya. Ia mengundang Tengku Abdul Rachman menjumpainya di Tokyo. Tengku menerimanya dan selama pembicaraan itu, ternyata terjalin kembali hubungan mesra antara keduanya. Hubungan baru ini disusul dengan pertemuan antar-menteri luar negeri yang tertunda itu pada tanggal 7 Juni Segera sesudah pertemuan puncak Soekarno-Tengku Abdul Rachman itu, perundingan para menteri luar negeri berjalan lancar dan mampaknya di luar dugaan akan menghasilkan suatu kesepakatan luas. Tercapai persetujuan bahwa akan diambil langkah-langkah untuk mengetahui dengan pasti kesediaan penduduk wilayah-wilayah Kalimantan untuk masuk ke dalam Malaysia. Selain itu Presiden Macapagal berhasil mendapatkan persetujuan dari Indonesia dan Malaya untuk melaksanakan suatu gagasan bangunan tetap – semacam konfederasi – yang akan memungkinkan ketiga negara itu menyelesaikan hal-hal yang menyangkut kepentingan ketiganya dalam pertemuan-pertemuan rutin. Rencana “Maphilindo“ (Malaysia, Filipina, Indonesia) ini didasarkan pada “pergaulan hidup yang bersejarah dan warisan bersama dari rumpun Melayu.” ( John D Legge , 1985 : 419 – 421 ) Sebagai bagian dari rencana Maphilindo, mereka bertiga meminta PBB untuk menyelenggarakan sebuah jajak-pendapat di Sabah dan Sarawak guna ”memastikan” apakah rakyat kedua wilayah tersebut mau bergabung dengan Federasi Malaysia atau tidak. Baik Indonesia maupun Filipina setuju untuk menerima Malaysia sekiranya jajakpendapat tersebut menunjukkan bahwa rakyat kedua wilayah bekas koloni itu mendukungnya. Namun demikian, jajak-pendapat tidak akan diadakan di Brunei, sebab pada Juli 1963 wilayah tersebut ttelah memutuskan untuk tidak bergabung dalam federasi. Senang dengan munculnya tanda-tanda bahwa pertemuan tingkat tinggi ini mampu membuat kemajuan untuk menyelesaikan persoalan Malaysia, para pejabat pemerintahan Kennedy mendorong Inggris supaya bersedia, meski agak enggan, untuk bekerja sama dan menghormati kesepakatan Manila, dan membiarkan Tengku Abdul Rachman menjalankan langkah-langkah yang dianggap perlu. Presiden Kennedy meminta Perdana Menteri Inggris Harlod Macmillan memperlunak sikapnya mengenai Malaysia. Dia mendesak sejawatnya dari Inggris itu untuk menunda tanggal pengumuman pendirian Federasi Malaysia supaya “Soekarno mendapatkan penutup rasa malu yang sekarang sedang dibutuhkannya“ dan untuk menghindarkan tindakan subersif lebih jauh dari pihak Indonesia dalam menentang federasi tersebut.” Semua ini memang berada di bawah wewenang Anda,” kata Kennedy kepada Macmillian,” tapi saya rasa kami perlu menyampaikan kekhawatiran kami secara terus terang kepada Anda.” Ternyata Inggris memiliki pandangan yang berbeda dengan AS. Merasa gusar dan kecewa dengan hasil pertemuan tingkat tinggi Manila, para pejabat Inggris menuduh bahwa Presiden Soekarno memang sedang berniat untuk menghancurkan rencana pendirian Malaysia. Menurut mereka, setiap konsesi kepada Presiden Soekarno demi
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

11

Peter Kasenda mendapat persetujuannya adalah sebuah tindakan menjilat yang mesti dihindari. Secara khusus, London kecewa dengan persetujuan Manila yang membiarkan pihak luar mengadakan jajak pendapat di dalam wilayah kekuasaan Inggris. Sebagai balasan terhadap surat Kennedy, Macmillian menolak untuk bekerja sama dengan Presiden Soekarno. Dia mengatakan bahwa Presiden Indonesia itu “ akan memerlukan sesuatu yang lebih besar untuk dapat menutupi rasa malunya,” Perdana Menteri Inggris tersebut percaya bahwa penundaan pendeklarasian Federasi Malaysia hanya akan menimbulkan banyak kesulitan lebih besar” Roger Hilsman “sangat marah“ kepada Inggris, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Timur Jauh yang baru tersebut menganggap cara Inggris dalam mendirikan Malaysia bisa menghancurkan upaya-upaya Amerika guna menjalin hubungan yang baik dengan Indonesia, dan dengan demikian juga membahayakan kepentingan strategis AS di kawasan Asia-Pasifik. Pembentukan Malaysia adalah satu hal, demikian katanya, tapi “ meluncurkannya sedemikian rupa sehingga membuat konfrontasi dengan Indonesia tak terhindarkan ”adalah hal lain. Dia tidak sependapat dengan Inggris yang meyakini bahwa Presiden Soekarno berniat menganeksasi wilayah-wilayah di sekitar Indonesia. Hilsman lalu mendesak Menteri Luar Negeri Rusk untuk terus membujuk Inggris supaya memperlunak sikap mereka, sembari berjanji bahwa pemerintahan Kennedy akan tetap membangun hubungan dengan Sekretaris Jendral PBB dalam upaya untuk mendekati pemerintah Inggris. Usaha ini berhasil. Berkat tekanan Amerika pemerintah Inggris, meskipun dengan setengah hati, akhinrnya mau menerima kesepakatan Manila dan setuju untuk membiarkan PBB mengadakan jajak-pendapat di koloninya di Sabah dan Sarawak. Sebagai tanggapan atas permintaan pertemuan tingkat tinggi di Manila, Sekretaris Jendral PPB U Thant bersedia menfasilitsi jajak-pendapat tersebut dan membentuk Misi Michelmore, seturut ketuanya yang berasal dari Amerika Serikat, untuk mencari tahu apakah rakyat kedua wilayah itu benar-benar mau bergabung ke dalam Federasi Malaysia atau tidak. Misi itu tiba di Kalimantan pada tanggal 15 Agustus 1963, namun perbedaan pendapat yang terjadi antara para anggotanya dan perwakilan Maphilindo membuat tertundanya pelaksanaan jajak-pendapat hingga tanggal 26 Agustus. Dalam jajakpendapat itu, para anggota misi tersebut berbicara dengan pemimpin-pemimpin kelompok agama, etnis dan buruh, para pejabat pemerintahan, para pemimpin politik, serta para kepala suku di Sabah dan Sarawak, dan meminta pendapat mereka tentang federasi yang akan dibentuk. Sementara jajak-pendapat tersebut berlangsung, Menlu Indonesia Subandrio menegaskan kepada Jones bahwa penolakan Indonesia terhadap Malaysia bukan pertama-tama diarahkan kepala Malaka tetapi pada Inggris, Indonesia, demikian kata Subandrio kepada Duta Besar Amerika Serikat tersebut, menentang segala bentuk kolonialisme dan imperailisme di mana pun ia berada.

Ganyang Malaysia
Pada tanggal 14 September 1963, seperti direncanakan Sekretaris Jendral PBB U Thant mengumumkan hasil jajak-pendapat itu. Pemerintah Indonesia dan juga pemerintah Filipina menolak hasil jajak pendapat itu. Jakarta mengeluhkan bahwa waktu yang
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

12

Peter Kasenda digunakan untuk mengadakan jajak-pendapat itu terlampau singkat dan bahwa pengamat dari Indonesia dan Filipina hanya bisa mengamati sebagian saja dari prosesnya karena adanya berbagai kesulitan yang diciptakan oleh penguasa Inggris. Indonesia mencurigai adanya intrik-intrik Inggris dan sangat tidak suka dengan fakta bahwa pada tanggal 19 Agustus 1963–ketika mengumumkan bahwa Federasi Malaysia akan didirikan pada tanggal 16 September – Tengku Abdul Rachman menyatakan bahwa federasi baru itu “akan tetap diresmikan pada tanggal itu terlepas dari apakah hasil jajak-pendapat yang diselenggarakan PBB menunjukkan bahwa rakyat Sarawak dan Sabah ingin bergabung ke dalamnya atau tidak. Pernyataan Tengku tersebut dilaporkan dalam New York Times dengan judul yang jelas-jelas membuat kecewa Indonesia “ Malaka Tetap Bersikukuh Mendirikan Federasi Terlepas dari Temuan Jajak-Pendapat PBB”. Pada tanggal 16 September 1963 kabinet Indonesia bertemu dan menyatakan bahwa pembentukan Malaysia tidak sah dan tidak dapat diterima secara resmi. Meskipun ada penolakan yang tegas dari Indonesia dan Filipina terhadap hasil jajakpendapat PPB itu, pada tanggal 16 September 1963 pemerintah Malaya dan Inggris secara bersama-sama menyatakan berdirinya Federasi Malaysia. Federasi itu terdiri dari Malaya, Singapura, Sabah, dan Sarawak, Tengku Abdul Rchman yang hingga saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Malaya, dinyatakan sebagai Perdana Menteri federasi yang baru tersebut, Ibukota Malaya, Kuala Lumpur., menjadi ibukota Malaysia. Pengumuman pembentukan Federasi Malaysia dan reaksi keras Indonesia terhadapnya menghancurkan harapan yang masih tersisa akan adanya solusi damai bagi masalah Malaysia. Pada hari diumumkannya pembentukan Federasi Malaysia, massa berdemontrasi di depan Kedutaan Inggris di Jakarta, memprotes keputusan tersebut Sir Andrew Gilschrist, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, tidak mau menunjukkan tanda mengalah. Sebaliknya, dia justru ingin bahwa para demonstrator itu tahu, Inggris tetap kukuh pada keininginan dan keputusannya. Ketika massa meneriakkan slogan “Hidup Soekarno!” dia membalas dengan berteriak, ”Hidup U Thant!” Diplomat asal Skotlandia tersebut lalu memerintahkan salah seorang bawahannya untuk memainkan bagipipe (alat musik tiup Skotlandia). Selain untuk menunjukkan semangat Inggris, permainan alat musik itu juga dimaksudkan untuk menunjukkan selera humor sang Duta Besar kepada massa. Sayang sekali, massa demontran tidak bisa memahami selera humor Pak Dubes. Mereka membakar mobil Rolls Royce miliknya. Keesokan harinya tanggal 17 September 1963, Malaysia memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Indonesia. Massa yang jumlahnya sekitar 5.000 orang menyerang kedutaan besar Inggris di Jakarta pada tanggal 18 September dan membakarnya hingga rata dengan tanah, berikut dua puluh satu perumahan stafnya. Sebagai balasan, pada tanggal 19 September massa di Kuala Lumpur menyerang kedutaan besar Indonesia di sana. Hari berikutnya, tanggal 20 September, Jakarta mengumumkan bahwa pemerintah Indonesia akan mengambil alih semua perusahan Inggris di negara tersebut. Sehari kemudian, pemerintah mengumumkan pemutusan segala hubungan dagang dengan Malaysia. Beberapa hari setelahnya, Presiden Soekarno secara publik menegaskan kembali tekad Indonesia untuk menghancurkan Malaysia. Dalam pidatonya yang berapiapi di hadapan khalayak ramai di kota Yogyakarta pada tanggal 23 September Presiden
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

13

Peter Kasenda RI itu memperkenalkan slogan anti-Maysianya yang amat terkenal, yakni “ Ganyang Malaysia!!” Pidato itu menandai dimulainya kampanye anti-Malaysia. Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan reaksi keras Presiden Soekarno terhadap didirikannya Malaysia. Pertama, pemimpin RI itu marah sebab Indonesia, sebuah negara besar di kawasan Asia Tenggara, telah “ dilangkahi“ baik oleh pemerintah Inggris maupun Malaya dalam proses yang mengarah pada pembentukan Malaysia. Isyarat pendahuluan yang diberikan kedua pemerintah tersebut kepada Indonesia dirasa tidak cukup. Kedua, dukungan yang memang sudah lama diberikan pemerintahan Kennedy kepada Malaysia dan pengakuan segera diberikannya kepada federasi itu semakin menegaskan kecurigaan Presiden Soekarno bahwa seluruh rencana Malaysia adalah bagian dari “persengkongkolan para penjajah“. Di mata Presiden Soekarno persengkongkolan macam itu dapat mengancam Indonesia, yang nota bene baru saja membebaskan diri dari duka-derita penjajahan. Terlepas dari apakah alasan Presiden Soekarno untuk menentang Malaysia dapat dibenarkan atau tidak, kampanye anti-Malaysia jalan terus, dengan dukungan yang luas dari dalam maupun luar negeri. Dukungan dalam negeri yang terbesar datang dari PKI dan Angkatan Darat, sementara dukungan asing terutama datang dari negara-negara komunis. Cina memuji kegigihan Indonesia untuk “mengganyang“ Federasi Malaysia yang pro-Barat. Uni Soviet pun mendukung tekad Indonesia itu, sambil berharap bahwa dengan adanya tekad itu Jakarta akan semakin tergantung pada Moskow. Dukungan itu sekaligus dimaksudkan untuk menunjukkan kepada bangsa-bangsa Asia dan Afrika bahwa Uni Soviet akan selalu mendukung mereka dalam perjuangan anti imperialisme. Dukungan semacam itu tentu saja mengkhawatirkan para pembuat kebijakan luar negeri AS. Dukungan tersebut menegaskan keyakinan mereka bahwa kebijakan Washington terkait masalah Malaysia tidak hanya akan mempengaruhi hubungan AS – Indonesia tetapi juga persaingan negara tersebut dengan Blok Komunis dalam memperebutkan ruang pengaruh. ( Baskara T Wardaya, 2008 : 319 – 328 ) Pada awalnya Angkatan Darat tidak terlampau bersemangat menanggapi “konfrontasi” terhadap Malaysia, tetapi secara bertahap pimpinan Angkatan Darat turut melakukan tekanan-tekanan militer yang makin kuat terhadap Sabah dan Sarawak selama tahun 1963. Ketika pertikaian mendadak berubah Bulan September 1963, pimpinan Angkatan Darat berpendapat bahwa sepanjang konflik tidak berkembang menjadi perang “terbuka’, iklim politik dapat dieksploitasi untuk mengukuhkan posisi politik Angkatan Darat sambil menerima persenjataan dan perlengkapan baru. Jadi, pimpinan Angkatan Darat menerima politik konfrontasi terbatas sambil tetap waspada mencari jalan yang memungkinkan penyelesaian melalui perundingan. Tetapi keputusan presiden dan para penasehat terdekatnya untuk mendaratkan penyusupan bersenjata ke Semenanjung Malaya merupakan peningkatan konflik militer yang terjadi di luar persetujuan pimpinan Angkatan Darat dan ini menunjukan bahwa mereka tidak lagi memegang kendali untuk mencegah permusuhan. Kesediaan untuk menyetujui kebijakan presiden mendadak dihadapkan kepada tanda tanya, ketika ada kemungkinan bahwa mereka terlibat dalam suatu konflik yang lebih besar daripada yang dapat mereka kuasai.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

14

Peter Kasenda Tanda-tanda pertama bahwa Soekarno mempertimbangkan untuk menjalankan taktik yang lebih agresif dalam konflik dengan Malaysia, tampak dalam bulan Mei 1964. Pada tanggal 3 Mei presiden mengumumkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora), yang memanggil para sukarelawan Indonesia untuk turut “mengganyang negara boneka ”Malaysia”. Pada tanggal 16 Mei, ia membentuk Komando Siaga (Koga) dan dipimpin oleh Panglima Angkatan Udara Omar Dhani dengan kekuasaan yang besar, meliputi kekuasaan atas pasukan-pasukan di Sumatra, Kalimantan dan Jawa Mesikpun seorang perwira Angkatan Darat, Brigadir Jendral Achmad Wiranatakusumah telah ditunjuk sebagai wakil komandan Koga, pembentukan komando ini dinilai oleh pimpinan Angkatan Darat sebagai suatu usaha untuk mengurangi kemampuan mereka menghalangi kampanye militer/ Mengingat implikasi yang mungkin timbul dari pembentukan Koga, yani dengan tegas menolak dan membujuk Soekarno untuk mengeluarkan suatu surat perintah baru pada tanggal 2 Juni, yang berisi penegasan bahwa fungsi Koga dibatasi hanya untuk “membalas“ sekiranya terjadi serangan dari pihak Inggris. Koga tetap merupakan organisasi di atas kertas hingga terjadinya krisis akibat pendaratan di Semenanjung Malaya pada tanggal 17 Agustus. Keputusan untuk mendaratkan penyusup di Malaysia Barat pada tanggal 17 Agustus dan sekali lagi pada tanggal 2 September, benar-benar merisaukan pimpinan Angkatan Darat, yang dengan segera mulai mempertimbangkan upaya untuk mencegah serangan-serangan yang memancing di masa mendatang. Dengan cepat disusun saran untuk mendapatkan persetujuan Soekarno untuk mengubah organisasi Koga, agar Angkatan Darat dapat memengaruhi pelaksanaan operasionalnya. Pimpinan Angkatan Darat menyembunyikan maksud yang sebenarnya dan mencatumkan rencana mereka dalam bentuk rekomendasi yang disusun untuk meningkatkan efisiensi komando. Setelah kegagalan pendaratanpendaratan di Malaysia Barat, Omar Dhani berada dalam posisi yang lemah untuk melawan tekanan-tekanan pihak Angkatan Darat yang menuntut suatu perubahan dan presiden pun bersikap menerima rencana baru tersebut. Setelah membahasnya dengan Koga, Soekarno menyatakan persetujuan pada bulan Oktober untuk merencanakan penggantian model Kolaga yang pernah ada di bawah Soeharto pada masa perjuangan merebut Irian Barat. Jika Koga adalah suatu komando fungsional dengan tugas untuk menyerang balik Inggris andaikata serangan itu terjadi, maka konsep “Mandala” mengandung arti bahwa Kolaga mempunyai kekuasaan atas segenap kekuatan pasukan keempat angkatan dalam wilayah komando badan tersebut, tetapi tidak berkuasa atas daerah-daerah di luar itu. Sumatra dan Kalimantan termasuk dalam wilayah Kolaga, tetapi Jawa tidak. Selain itu juga diputuskan untuk menyediakan dua pasukan komandan tempur, satu di Sumatra dan yang satunya lagi di Kalimantan. Akhirnya status kepemimpinan Kolaga juga ditingkatkan dengan penunjukan Mayor Jendral Soeharto sebagai wakil pertama sejak bulan Januari 1965. Menurut Omar Dhani bahwa pengorganisasian kembali ini bahwa “ …di atas kertas ada kemajuan dan perbaikan tetapi secara praktis tetap ada 1001 kesulitan. Pengangkatan Soeharto, seorang perwira tinggi paling senior di antara perwira-perwira Angkatan Darat lainnya selaku panglima Komando Tjadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), melemahkan kekuasaan Omar Dhani terutama karena semua pasukan yang dipakai dalam
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

15

Peter Kasenda operasi-operasi harus dipindahkan ke Kostrad sebelum dikirimkan ke wilayah “Mandala”. Dengan terbatasnya kekuasaan Kolaga yang hanya meliputi Sumatra dan Kalimantan, jelas ia tidak berwenang memobilisasi pasukan dari Jawa secara langsung tetapi harus memintanya dahulu kepada komandan-komandan kesatuan. Omar Dhani mengatakan bahwa pada bulan Maret 1965 tidak semua pasukan yang diminta Kolaga bulan Oktober sebelumnya, dikirim oleh Angkatan Darat dan bahwa brigade dari Jawa Tengah yang tiba dalam bulan Desember 1964 tidak berada dalam kondisi siap tempur. Keluhan Omar Dhani itu diperkuat oleh pengadilan atas Brigadir Jendral M.S, Supardjo tahun 1967, yang menjadi komandan dari pasukan komando di Kalimantan. Menurut Supardjo, pimpinan Angkatan Darat telah :menyabot operasi-operasi dengan jalan mengizinkan komandan-komandan setempat menahan pasukan-pasukan di bawah komando masing-masing, sekalipun telah ada perintah-perintah resmi untuk memindahkan pasukan tempur. Sepanjang tahun 1963, penentangan terhadap kekuasaan Omar Dhani tetap dilakukan oleh pimpinan Angkatan Darat. Dalam bulan Juli Yani menetapkan pembatasan-pembatasan terhadap peranan Kolaga dengan menyebutkan bahwa “tugas utamanya” adalah “pada saat yang tepat menyerang dan menghancurkan Singapura.”Setelah suatu pertemuan dengan presiden di mana Soeharto menggambarkan Omar Dhani sebagai pemimpin yang “tidak tepat”, dibentuk suatu panitia yang dipimpin Nasution untuk mencari kegagalan kerja Kolaga secara diam-diam. Operasi-operasi Kolaga dilaksanakan oleh dua pasukan komando tempur di Sumatra dan Kalimantan. Komando Sumatra yang berpangkalan di dekat kota Medan telah diberikan wewenang formal untuk “mempersiapkan diri menyerang Malaysia dalam rangka menghancurkan apa yang disebut sebagai negara boneka”. Komandannya, Brigadir Jendral Kemal Idris, sejak lama merupakan penentang presiden dan ternyata tidak begitu bersimpati terhadap kampanye anti-Malaysia. Menurut Omar Dhani, Kemal Idris telah menunda pemindahan pasukan ke Sumatra dengan alasan bahwa akomodasi untuk mereka tidak tersedia. Selain itu rencana-rencana persiapan penyeberangan tidak pernah berkelanjutan karena pimpinan Angkatan Darat tidak memberikan peralatan untuk penyeberangan melalui selat. Jadi, jelas bahwa pimpinan Angkatan Darat dengan sengaja memilih Kemal Idris untuk memimpin pasukan “penyerbu” dengan maksud untuk menjamin bahwa penerbuan tidak pernah akan terjadi karena yakin ia tidak akan terpengaruh oleh Soekarno.. Walaupun demikian, pengangkatan Brigadir Jendral Supardjo di Kalimantan dalam bulan November 1964 mungkin merupakan suatu konsesi besar bagi Omar Dhani dan presiden. Supardjo dikenal sebagai perwira kiri yang setia kepada presiden. Tetapi pimpinan Angkatan Darat ternyata memperhitungkan bahwa mereka dapat “membiarkannya kelaparan akan perlengkapan“, sehingga ia akan terbatas dalam pengunaan kesatuan-kesatuan dari Angkatan Udara, Angkatan Laut, Kepolisian dan “ sukarelawan”. Lebih jauh Yani menjamin pengangkatan para komandan daerah militer yang terpercaya di daerah perbatasan. Panglima wilayah Kalimantan, Mayor Jendral Maraden Panggabean dan Panglima Kalimantan Barat Brigadir Jendral Ryacudu, kedua-duanya adalah kepercayan Yani sementara panglima Kalimantan Timur yang agak kiri, Brigadir Jendral Sihardjo dikirim ke Moskow untuk belajar pada bulan Februari 1965 dan diganti dengan Brigadir Jendral Sumitro. Akhirnya pada bulan September 1965 kebebasan Supardjo lebih dibatasi lagi ketika suatu komando baru dibentuk dalam

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

16

Peter Kasenda Kolaga yang dipimpin Kemal Idris, dengan kekuasaan atas seluruh pasukan darat di Sumatra dan Kalimantan. Dengan demikian, selama tahun 1964 dan 1965 pimpinan Angkatan Darat telah mengadakan serangkaian manuver untuk merusak efektivitas pelaksanaan kebijakan konfrontasi. Sementara mereka menghormati sikap presiden yang tidak menghendaki Indonesia jatuh kedalam peperangan besar-besaran, mereka kurang yakin akan penilaiannya terhadap situasi setelah ia menyuruh dilakukan pendaratan di Semenanjung Malaya yang secara militer tidak efektif, bahkan provokatif. Jadi, pimpinan Angkatan Darat berusaha mengekang kekuasaan perwira-perwira seperti Omar Dhani dan Supardjo, yang memiliki posisi-posisi yang memungkinkan mereka mengambil prakarsa yang dapat mengakibatkan perluasan konflik yang mau tak mau akan melibatkan Angkatan Darat, Keberhasilan pimpinan Angkatan Darat untuk membatasi keterlibatan anggota-anggota Angkatan Darat secara aktif selama kampanye, tampak dari para tahanan yang dipulangkan ketika mencapai penyelesaian masalah Malaysia di tahun 1966. Dari jumlah 546 jumlah tahanan asal Indonesia, hanya 21 orang anggota Angkatan Darat. ( Harlod Crouch , 1986 : 75 – 79 )

Keluar dari PBB
Tahun 1965 dimulai dengan keputusan presiden yang dramatis. Pada tanggal 31 Desember 1964, sewaktu suatu pertemuan massa, Soekarno mengumumkan kalau Malaysia tahun berikutnya akan menjadi anggota Dewan Keamanan, ia akan menarik negaranya dari Perserrikatan Bangsa-Bangsa. Soekarno memang memegang janjinya pada tanggal 7 Januari ia memutuskan bahwa Indonesia menarik diri dari perserikatan internasional ini. Sesuatu yang mengejutkan bagi semua, bahkan untuk menteri Luar Negeri Subandrio sekali pun. Bahwa Malaysia pada tahun 1965 akan menjadi anggota sementara Dewan Keamanan, jelas sudah diketahui lama sebelum itu. Sugesti Subandrio adalah untuk, sebagai protes, selama tahun itu memboikot semua rapat PBB. Dengan harapan bahwa presiden masih mau menerima usul ini, dua minggu lamanya ia menyimpan surat dengan mana hubungan dengan PBB diputus secara radikal. Tetapi Soekarno bersikeras. Keputusan keluar dari PBB ini mendapatkan dukungan dari berbagai lapisan masyarakat waktu itu. Hingga tidak heran ribuan mahasiswa, pemuda, buruh, dan tani keesokan harinya turun ke jalan-jalan membawa spanduk sambil mengutuk PBB. Keluarnya Indonesia dari PBB sebagai reaksi terpilihnya Malaysia jadi anggota tidak tetap DK-PBB. Ini menjadi tamparan buat politik konfrontasi RI. Keputusan ini diucapkan di hadapan lebih dari 10 ribu massa rakyat dalam sebuah rapat umum “Anti Pangkalan Militer Asing “ di Istora Senayan. ( Efantino F & Arifin SN , 2009 : 64 ) Baru kali ini sebuah negara keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Malah tidak ada prosedur untuknya. Dalam sejarah PBB sampai pada tahun 1965 itu, memang belum pernah ada presiden tentang keluarnya sesuatu negara dari keanggotaan organisasi itu. Seperti diketahui, Piagam OBB tidak memuat ketentuan yang mengatur masalah
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

17

Peter Kasenda keluarnya sesuatu anggota dari organisasi itu. Seperti diketahui, Piagam PBB tidak memuat ketentuan yang mengatur masalah keluarnya sesuatu anggota dari organisasi itu. Tidak adanya ketentuan demikian mungkin dimaksudkan oleh para pendirinya, agar PBB tidak mengalami kelumpuhan karena keluarnya anggota-anggota penting, seperti yang pernah dialami oleh para pendirinya, agar PBB tidak mengalami kelumpuhan karena keluarnya anggota-anggota penting, seperti yang pernah dialami Liga-Liga Bangsa. Meskipun demikian, keluarnya sesuatu negara dari keanggotaan PBB mungkin, oleh karena meskipun Piagam tidak mengaturnya, namun dari perdebatan-perdebatan selama Konferensi 50 Negara di San Fransico pada tahun 1945 tentang pendirian organisasi itu, ternyata bahwa “organisasi ini sama sekali tidak berminat memaksa anggotanya untuk melanjutkan kerja samanya dalam organisasi bilamana anggota itu, sebagai akibat dari keadaan-keadaan yang luar biasa, merasa terpaksa untuk mengundurkan diri.” Berdasarkan kenyataan di atas, maka meskipun sesungguhnya tidak dikehendaki oleh organisasi itu keluarnya sesuatu anggota bukan tidak mungkin. (Marwati Djoened Posponegoro dan Nugroho Notosusanto , 1990 :363 ) Pada tanggal 21 Januari 1965, wakil Indonesia di PBB, Nico Palar menyerahkan kepada sekretaris jendral surat dari presiden yang memberitakan dengan resmi keluarnya Indonesia dari PBB dan semua organisasinya. Dunia Ketiga sulit mengerti langkah radikal Soekarno ini. Dengan sia-sia Tito, Nasser dan Bandranaike bersama-sama mendesak presiden Indonesia untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. ( Lambert J Giebels , 2005 : 20 – 30 ). Ketua Dewan Menteri USSR, A.N. Kosigyn, telah mengirimkan pesan khusus kepada Soekarno.Uni Soviet dan negara-negara sosialis lainya dengan tepat telah menilai, bahwa “langkah yang dratis ini” akan langsung digunakan baik untuk kepentingan-kepentingan yang merugikan Indonesia sendiri, maupun seluruh barisan anti-imperialis..( Kapitsa M.S. & Maletin NP , 2009 : 279 ) Satu-satunya negara yang mendukung langkah Soekarno ini adalah Republik Rakyat Tiongkok – apakah pembatalan keanggotaan PBB menjadi bagian dari “deal” antara Soekarno dan para pemimpin Cina sehubungan dengan penyelenggaran Conefo? Cina memuji tindakan Soekarno yang berani. Secara terselubung ia mengemukakan bahwa Cina, Indonesia, Vietnam Utara dan Korea Utara, yang bersama-sama memiliki sepertiga dari jumlah penduduk dunia, semuanya tidak menjadi anggota PBB dan mungkin bisa mendirikan sebuah organisasi bangsa-bangsa bersaing – yang di maksud di sini mungkin Conefo. Akhir bulan Februari 1965 Subandrio dengan sebuah delegasi yang terdiri dari 40 orang, termasuk diantaranya empat menteri mengadakan kunjungan resmi ke Beijing. Orang-orang Cina menerima mereka dengan segala kehormatan, lengkap dengan acara makan yang mewah dan resepsi. Ada perundingan-perundingan dengan perdana menteri Chou En lai, dengan menteri Luar Negeri marsekal Chen Yi, tetapi juga dengan staf angkatan perang. Dalam komunike penutup dengan nada mengancam dinyatakan bahwa rakyat Cina tidak bisa menerima andaikata kaum imperialis Amerika dan Inggris menjerumuskan Indonesia dalam peperangan. Konunike penutup ini tidak hanya berbicara tentang kerja teknis, peningkatan hubungan dagang dan perluasan jaringan hubungan perkapalan, tetapi juga “kerja sama di bidang militer.” ( Lambert J Giebels , 2005 : 29 – 31 )

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

18

Peter Kasenda Walaupun dalam konsepsi-konsepsi politik luar negeri Soekarno terdapat banyak kecocokan dengan Peking, adalah tidak tepat untuk menilai. bahwa presiden Indonesia telah menyelaraskan garis politiknya dengan RRT. Berdekatan dalam beberapa hal dengan posisi dari para pemimpin RRT, Soekarno selalu berusaha untuk mempertahankan kebebasannya dan juga kemungkinan untuk mengadakan politik imbangan kekuatan antara Cina dan dengan blok sosialis, antara Barat dengan negaranegara sosialis, dengan demikian bisa mencapai tujuannya sendiri. Demikianlah, kalau pimpinan RRC menandaskan, bahwa pusat perhatian gerakan revolusioner dunia seakanakan telah bergeser dari Barat ke Timur, khususnya ke Cina sebagai negara terbesar dan yang lebih revolusioner maka Soekarno lebih mengutamakan nasionalisme Indonesia, dan tidak berminat untuk menyerahkan kepemimpinan ini kepada hegemoni khan-agung. Ia menyatakan, bahwa sambil menjalankan politik konfrontasi Malaysia, Indonesia telah menjadi mercusuar bagi seluruh dunia dan umat manusia dan telah menduduki tempat utama di kalangan negara Asia, Afrika, Amerika Lain, dan negara-negara sosialis. Soekarno menyatakan bahwa “musuh nomor 1“ dari neokolonialisme dan imperailisme pada tahun 1965 adalah Indonesia, kepada siapa mereka telah “ mengarahkan seluruh kebenciannya“, walaupun dulu “mereka takut pada Moskow”, bahwa Revolusi Indonesia akan menentukan revolusi umat manusia. Sambil menahas nafas, dunia memalingkan mukanya ke Jakarta sebab hari–ininya Jakarta adalah hari-esoknya Asia-Afrika’ demikian ia menandaskan. Mengumandangkan Revolusi Indonesia sebagai “revolusi terbesar “,” Revolusi rakyat abad ke-20”, Soekarno telah berusaha untuk mengalasi “haknya atas kepemimpinan dalam perjuangan Nefo melawan Oldefo yang “terpusatkan dia Asia Tenggara.” Soekarno berusaha untuk berspekulasi dengan perjuangan heroik rakyat Vietnam melawan agresi AS untuk mendasari perangkat-perangkat teorinya. Ia menyatakan, bahwa Indonesia dan Republik Demokrasi Vietnam berada di garis depan dalam melawan imperialisme. Dalam perayaan Hari Wanita Sedunia, presiden mengatakan bahwa rakyat Indonesia benar-benar bertekad untuk mengganyang Malaysia, bahwa tidak seorang sularelawan dengan rencana untuk menyelenggarakan pertemuan baru antar pimpinan kedua negara, telah diorganisasi banjir surat dari “berbagai wakil rakyat Indonesia” di mana telah diminta agar Soekarno tidak pergi ke pertemuan dengan Abdul Rachman dan terus menjalankan politik ”ganyang Malaysia“ Group-group diversi Indonesia telah mengaktifkan inflitrasinya ke kawasan Malaysia, Soekarno telah berposisi untuk memperhebat politik konfrontasi, agar suapaya “ api revolusi : menjalar ke seluruh kawasan Asia Tenggara. Ia mengatakan bahwa Malaysia didirikan oleh Inggris dengan bantuan “lem dan gunting “, dan politik konfrontasi akan mempercepat kehancurannya. Namun apa yang disebut “kehancuran” Malaysia justru muncul karena perpecahan dari dalam, dan bukan karena politik konfrontasi Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus, Singapura telah menyatakan keluar dari Federasi. Ini merupakan akibat dari menajamnya pertentangan antara elite borjuis-fedodalis Maalaya dengan borjuis Cina-Singapura. Sesudah keluarnya Singapura dari Federasi, Indonesia tidak mau mengakui negara baru
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

19

Peter Kasenda ini, dari satu segi karena mendengarkan Peking, sedang dari pihak lain, ia berusaha untuk mempertahankan adanya konflik luar negeri yang diperlukan Politik konfrontasi, yang dimaksudkan untuk mendukung dan mempertahankan persatuan nasional, pada kenyatannya justru telah mempercepat diferensiasi politik dalam negeri dan memunculkan ledakan-ledakan politik. Konfrontasi dengan Malaysia telah menelan 80 % dari anggaran belanja negara dan telah mengancam negara ini ke arah kehancuran ekonomi. Politik ini telah membawa ke arah menguatnya posisi ekonomi dari kaum militer dan juga kapitalis birokrat, yang telah berkembang menjadi kukuatan yang dominan di negeri ini. Blok kaum kanan dalam tahun-tahun “demokrasi terpimpin“ telah benar-benar begitu mencuat, sehingga telah mulai berani menilai Soekarno dan atribut-atribut revolusioner dari sistem ini sebagai sesuatu “yang sudah tidak diperlukan lagi.” Kaum kanan sangat khawatir, karena Soekarno telah memberikan kepada PKI kemungkinan hidup. Dan bahkan pada waktu-waktu tertentu telah menyebabkan PKI dan ormas-ormas kiri menjadi kuat, juga telah memberikan semangat kepada mereka dalam aksi-aksi melawan “kabir” dan tuan tanah, aksi-aksi yang bisa lepas dari kontrol. Dengan makin bertambah kuatnya blok kanan, maka pengambilan kekuasaan negara ke tangan mereka sendiri telah menjadi sebuah keharusan. Perdamaian sementara berdasar kompromi dan yang tercerminkan di dalam pelaksanaan politik konfrontasi dengan Malaysia, tidak bisa berjalan langgeng. ( Kapitsa M.S. & Maletin N.P., 2009 : 283 – 286 ) Pada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan tambahan pasukan ke Kalimantan Utara setelah menerima permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australia Special Air Service. Ada sekitar 14.000 pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerangan melalui perbatasan Indonesia. Tetapi, unit seperti Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara rahasia.( Efantino & Arifin SN , 2009 : 65 ) Pada tanggal 8, Maret, Kopral KKO Usman, Harun dan Gani ditugaskan untuk melakukan sabotase di Singapura dengan sasaran yang sebelumnya ditetapkan. Mereka pun berangkat dengan menggunakan perahu karet dan 12,5 kilogram bahan peledak. Pada 10 Maret, mereka berhasil meledakan Mc Donald House yang terletak di pusat kota Singapura yang padat. Saat melarikan diri, Usman dan Harun menuju pelabuhan, sedangkan Gani menuju arah lain. Harun dan Usman berhasil merampas sebuah motor boat menuju Pulau Sumbu. Tetapi sayangnya, motor tersebut rusak. Mereka pun akhirnya tertanggal pada tanggal 13 Maret dan diadili dengan hukuman mati. ( Tim Redaksi Pustaka Timur, 2009 : 45 , 164). Serangan ini menyebabkan 3 orang tewas dan 33 orang luka-luka. Peristiwa ini mengejutkan Pemerintah Singapura yang baru saja melepaskan diri dari Federasi Malaysia. Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

20

Peter Kasenda berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Diraja dan Keplosian North Borneo Armed Constabulary. Tentara Indonesia gagal dan terpaksa kembali ke perbatasan. Selanjutnya pada 1 Juli 1965, Angkatan Laut Indonesia melakukan penyerbuan ke Pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Sampurna, Malaysia. Angkatan Laut Malaysia berhasil bertahan. Pengepungan ini berlangsung terus menerus sampai 8 September 1965. Kesulitan untuk melumpuhkan Angkatan Laut Malaysia membuat Angkatan Laut Indonesia akhirnya mengundurkan diri. Kegagalan-kegagalan tentara Indonesia menyerbu Malaysia menimbulkan kekecewaan pada Presiden Soekarno karena sebelumnya Presiden Soekarno menginginkan bahwa sebelum 1 Januari 1965, Malaysia harus sudah lenyap. Berita tersebut tentu saja membuat pamor angkatan perang Indonesia menurun. Presiden Soekarno semakin curiga pada Angkatan Darat yang dianggap tidak serius dalam menyerbu Malaysia. ( Efantino F & Arifin SN , ,2009 : 65 – 66 ) Sifat kampanye yang setengah hati serta kekangan yang diberlakukan komando tinggi angkatan bersenjata mencegah semakin meningkatnya permusuhan ini “ini perang kecil jika melihat korban yang ada.” Namun demikian, Soeharto ahli dalam menjaga citranya sebagai komandan yang sibuk. Soekarno, Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang mendapat porsi sangat besar dalam operasi Konfrontasi mengetahui kurangnya antusiame Angkatan Darat dalam kampanye ini. Tetapi, bahkan sebelum dia memberi bantuan,, Soeharto bertekad, “mungkin dengan persetujuan Jendral Yani“, melaksanakan strategi baru dan lebih lihai yang dirancang agar tampak menjadi kelanjutan Konfromtasi dengan cara lain, namun sebenarnya – entah sengaja atau tidak, pada tahap ini, peluang tetap dibiarkan terbuka – merupakan langkah awal dalam merundingkan sebuah akhir dari keinginan Indonesia untuk berperang. Pada Agustus – September 1964, di bawah kepemimpinan dan arahan asisten inteljen Soeharto di Kostrad Ali Moertopo, dan tidak pelak lagi atas sepengetahuan dan sepertujuan Yani, bersama dengan Benny Moerdani dan Letkol Abdul Rachman Ramly untuk membangun kontak tertutup dengan Malaysia. Melalui perantaraan orang asing yang dulu terkait pemberontakan PRRI – seperti Des Alwi dan Sumitro Djojohadikusumo – hubungan diresmikan oleh tokoh senior Malaysia seperti Tun Abdul Razak dan kepala Kementerian Luar Negeri Malaysia, Ghazalie Shafie. Tujuannya sederhana meyakinkan pemerintah Malaysia dan sponsor Inggris bahwa dukungan atas konflik oleh Angkatan Bersenjata Indonesia bukan berasal dari keyakinan dan tidak dilaksanakan dengan antuniasme; ABRI tidak ingin konflik semakin memanas, dan ingin mencari cara membuka perundingan dengan Malaysia untuk mengakhiri pertikaian. Pada November, Moertopo dan salah satu rekan karibnya – asisten Kostrad lain Kol Tjokropranolo, melakukan negoisasi rahasia dengan pejabat Malaysia untuk memastikan bahwa tidak ada peningkatan konflik dari kedua belah pihak. Pada awal 1965, Yoga Sugama, ketika tugasnya sebagai atase militer di Yugoslavia selesai, direkut Soeharto untuk bergabung dan mengepalai tim inteljennya menggantikan Hernomo sebagai asisten I Kostrad. Bersama Soeharto dan Ali Moertopo, Yoga selesai membentuk tim yang akan melaksanakan negoisasi.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

21

Peter Kasenda Berupaya lewat tataran lain, Soeharto kelak mengklaim bahwa dia “ ubah (strategi) dengan pembentukan kantong-kantong lebih dulu, dengan menghubungi orang-orang Malaysia yang pro-Republik, tampaknya merupakan usaha untuk menyusup dari belakang. Dengan sangat mengandalkan tim inteljennya, pada awal 1965 Soeharto memerintah pendirian sebuah agen di Bangkok, di mana Benny Moerdani membuat beberapa usaha sekadarnya untuk mengirim agen ke Malaysia dengan hasil yang tidak bisa dibilang sukses. Tampaknya sangat mungkin usaha-usaha ini dilakukan bukan untuk meningkatkan Konfrontasi, melainkan untuk menutupi negoisasi lebih dalam yang sedang terjadi pada saat bersamaan. Sementara itu, usaha diplomasi internasional untuk mendapat solusi bersama mulai memudar tanpa ada keberhasilan. Tanggung jawab Soeharto atas Konfrontasi juga memiliki tujuan komersil. Posisinya sebagai deputi I Kolaga dan panglima Kostrad membuat dia memegang kendali efektif terhadap hasil wilayah perkebunan besar di Sumatra Utara dan Kalimantan, dan kemampuan untuk menyelundupkan jumlah besar hasil bumi ini ke Malaysia, yaitu pada saat ketika hubungan komersial formal telah terputus dengan dibentuknya Malaysia pada September 1965. Mungkin bukan kebetulan bahwa Tien Soeharto mengunjungi Sumatra Utara pada saat Konfromtasi. Melalui tim Opsusnya, Soeharto mengembangkan kegiatan komersial menguntungkan yang tampaknya terkamufalse oleh kegiatan inteljen Ali Moertopo yang berbasis di Medan dengan Kopur II membawa karet dan barang-barang pertanian utama lainnya ke Malaya. Sejarah resmi Kostrad mencatat :” Tenaga yang digunakan untuk pelaksanaan tugas ini 95 % orang-orang Cina Nelayan dan bersama mereka menyamar Sukarelawan-sukarelawan kita sebagai pedagang” Kedekatan operasional antara inteljen dan perdagangan mungkin terjadi karena adanya kerancuan otoritas. Menurut McDonald,” perdagangan ini tidak sepenuhnya tertutupi. Pada suatu rapat kabinet Menteri Perdagangan Adam Malik menemukan sebundel dokumen bekas cukai Singapura di pejabat militer, dan menuduh Angkatan Darat telah menggerogoti Konfrontasi. ( R.E. Elson , 2001 : 186 – 188 ).

Penutup
Setelah Peristiwa 30 September 1965, militer, yang dipresentasikan oleh Jendral Soeharto, menjadi pengambil keputusan yang paling penting, baik dalam politik dalam negeri maupun luar negeri Indonesia. Tidak seperti Soekarno, Soeharto lebih menaruh perhatian pada masalah pembangunan ekonomi dan mempertahankan hubungan persahabatan dengan pihak Barat. Pemerintah baru, di bawah kepemimpinannya, memperkenalkan kebijakan pintu terbuka di mana investasi asing ditingkatkan, dan bantuan pinjaman dibutuhkan untuk merehabilitasi ekonomi. Ia dengan segera menghentikan segera konfrontasi dengan Malaysia meskipun ia masih peduli dengan masalah pangkalan militer asing di Asia Tenggara. ( Leo Suryadinata , 1998: 44 ) Pada pertengahan bulan Maret 1966, Jendral Soeharto membentuk kabinet baru dan Menteri Luar Negeri Subandrio ditahan. Setelah perubahan politik pada bulan Maret barulah Soeharto, menteri pertahanan, dan Adam Malik, menteri luar negeri, dapat menangani persoalan kendatipun Presiden Soekarno masih mampu mengajukan
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

22

Peter Kasenda keberatan-keberatan. Pembicaraan pendahuluan di Bangkok pada akhir April 1966 antara Adam Malik dan menteri luar negeri Filipiina Narciso Ramos, dengan Ghazalie Shafie, kepala tetap Kementerian Luar Negeri Malaysia yang berlangsung secara rahasia. Adam Malik di depan publik menyatakan bahwa stabilisasi ekonomi yang mendasar tidak akan sesuai dengan terus berlangsungnya kebijaksanaan konfrontasi. Kemudian Malik bertemu dengan wakil perdana menteri Malaysia, Tun Abdul Razak di Bangkok pada akhir Mei, setelah terlebih dahulu memperoleh isyarat bahwa Indonesia tak akan menuntut adanya referendum di wilayah Kalimantan Utara, Untuk memperlihatkan pengikatan diri secara terbuka kepemimpinan angkan bersenjata untuk mengkahiri konfrontasi, suatu delegasi delapan perwira tinggi Indonesia dari Komando Ganyang Malaysia (KOGAM) mengunjungi Kuala Lumpur dan kemudian berkunjung ke rumah Perdana Menteri Tengku Abdul Rachman di Alor Star. Ketika Adam Malik kembali ke Jakarta, Soekarno menyerang persetujuan itu sebagai suatu kapitulasi dan menentang pengesahannya. Selanjutnya, persyaratan-persyaratannya juga tak dapat diterima oleh kepemimpinan angkatan bersenjata yang mempertahankan pendapat bahwa menteri luar negeri telah membuat konsesi yang tak dapat diterima oleh akal sehat. Oleh karena itu, walaupun pemerintah Indonesia mampu mengakui Singapura sebagai negara merdeka pada tanggal 5 Juni 1966, tak ada pengakuan yang sama diberikan kepada Malaysia. Pertukaran lebih jauh dilakukan untuk Indonesia oleh para perwira inteljen militer berlangsung untuk mengakhiri konfrontasi. Hanya setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat menghilangkan kedudukan politik Soekarno, yang melepaskan gelarnya sebagai Presiden Seumur Hidup dan mengesahkan Soeharto sebagai pelaksanaan eksekutif, maka perttikaian itu pada akhirnya berhenti. Pada tanggal 11 Maret, Adam Malik dan Tengku Abdul Razak menandatangani suatu persetujuan akhir di Jakarta yang memungkinkan penjalinan hubungan diplomatik normal antara Indonesia dan Malaysia. Persetujuan ini membuat ketentuan yang lebih eksplisit mengenai prasyaratan pemulihan hubungan. Malayia setuju memberikan rakyat Sabah dan Sarawak “suatu kesempatan untuk menegaskan kembali, segera setelah dapat dilaksanakan, dengan cara yang bebas dan demokratis melalui pemilihan umum keputusan mereka sebelumnya tentang status mereka di Malaysia. Selain itu, pemerintah Malaysia setuju akan ketentuan tambahan secara rahasia bahwa pemulihan hubungan diplomatik didasarkan pada pemilihan di Kalimantan Utara, hal ini penting untuk mengatasi sisa-sisa oposisi Soekarno dan memuaskan kebanggan militer. Kepastian mengenai adanya ketentuan tambahan seperti itu nampaknya ditunjukan oleh penundaan penjalinan hubungan diplomatik antara Jakarta dan Kuala Lumpur hingga tanggal 31 Agustus 1967, setelah pemilihan umum diselenggarakan di Sabah, tetapi tidak di Sarawak. Persetujuan yang terakhir ini merupakan sarana menghindarkan malu secara praktis yang menunjang tujuan-tujuan politik domestik pimpinan Indonesia yang baru. Namun demikian, persetujuan Agustus 1966 menandai pengakhiran konfrontasi secara praktis dan suatu petunjuk yang jelas mengenai arah kebijaksanaan luar negeri Indonesia yang baru didasarkan pada prioritas yang berbeda, walaipun tidak sepenuhnya demikian, dari prioritas yang diambil oleh pemerintahan dan pribadi Presiden Soekarno. ( Michael Leifer , 1989 : 156 - 159 )

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

23

Peter Kasenda Konfrontasi terhadap Malaysia yang dilakukan Presiden Soekarno merupakan tindakan patriotis dalam membela martabat dan harga diri bangsa dan negara Indonesia. Penghinaan rakyat dan pemimpin Malaysia terhadap Indonesia dengan merobek-robek foto Presiden Soekarno, dan tindakan pemimpin Malaysia, Tengku Abdul Rachman yang menginjak-injak Garuda, lambang Negara Indonesia merupakan tindakan penghinaan yang luar biasa. Memang konfrontasi Indonesia tidak memberi kemenangan bagi Indonesia ttetapi tindakan rakyat dan pemimpin Indonesia ketika itu, Presiden Soekarno, memberi pelajaran kepada rakyat dan pemimpin Malaysia agar tidak bertindak sewenangwenang kepada Indonesia.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

24

Peter Kasenda

Bibliografi Crouch, Harlod. 1986. Militer dan Politik Di Indonesia. Jakarta : Penerbit Sinar Harapan . Djiwandono, J Soedjati. 1996. Konfrontasi Revisited. Indonesia”s Foreign Policy Under Soekarno. Jakarta : CSIS. Elson, R.E. 2001. Suharto. Sebuah Biografi Politik. Jakarta : Minda. Giebels, Lambert J. 2005. Pembantaian Yang Ditutupi Peristiewa Fatal Di Sekitar Kejatuhan Bung Karno. Jakarta : Grasindo. F, Efantino & Arifin SN. 2009. “ Ganyang Malaysia” Hubungan IndonesiaMalaysia Sejak Kjonfrontasi Sampai Ambalat. Yogyakarta : Bio Pustaka Legge, John D. 1985. Sukarno Sebuah Biografi Politik. .Jakarta : Penerbit Sinar Harapan. Leifer, Michael. 1989. Politik Luar Negeri Indonesia . Jakarta : PT Gramdia . Mackie, J.A.C. 1974. Konfrontasi. The Indonesia-Malaysia Dispute 1963 – 1966. Kuala Lumpur : Oxford University Press. Mukmin, Hidayat . 1991. TNI Dalam Politik Luar Negeri . Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia - Malaysia. Jakarta : Penerbit Sinar Harapan. M.S., Kapitsa & Maletin N.P. 2009 . Soekarno Biografi Politik . Bandung Ultimus . Poesponegoro , Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto (ed) Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta : Balai Pustaka “ Rickles, M.C. 1991. Sejarah Modern Indonesia .Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Suryadinata, Leo. 1998. Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Soeharto . Jakarta : LP3ES. Sundhausen, Ulf. 1986. Politik Militer Indonesia 1945 – 1967 . Mwnuju Dwi Fungsi .Jakarta : LP3ES.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

25

Peter Kasenda

Winda, D.A. 2009. Profil 143 Pahlawan Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Timur Wardaya, Baskara T. 2008. Indonesia Melawan Amerika. Konflik Perang Dingin , 1953 – 1963. Yogyakarta : Galang .

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

26

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->