P. 1
Soekarno, Sejarah Dan Kontroversi

Soekarno, Sejarah Dan Kontroversi

|Views: 964|Likes:
Published by Peter Kasenda
Soekarno, Sejarah dan Kontroversi



Tidak setiap orangpun dalam peradaban
modern ini yang menimbulkan demikian
banyak perasaan pro dan kontra seperti
Soekarno. Aku dikutuk seperti bandit
dan dipuja sebagai dewa .

(Soekarno,,1965)


Sebagaimana diketahui istilah “sejarah” mengacu pada dua hal, yakni pertama, sejarah sebagai res gestae, yaitu sebagai peristiwa yang benar-benar telah terjadi dan kedua, sejarah sebagai rerum regustarum ,yakni kisah daripada peristiwa yang disebutkan tadi. Peristiwa masa lampau sudah tidak bisa mempunyai arti kalau tidak ditulis dan dihadirkan lagi untuk masa kini. Tidak bisa disangkal peristiwa masa lampau yang sudah berlalu tidak seluruhnya dapat diketahui. Hanya ada sisa dari masa lampau. Kendati pun demikian, kenyataan itu tidak membuat orang surut untuk menulis peristiwa masa lampau. Tetapi untuk apa peristiwa masa lampau ditulis ?

Dalam buku Soekarno,, An Autobiography as told as Cindy Adams (1965) yang terbit ketika Soekarno berada di puncak kekuasaan, Soekarno menyatakan maksud dan pengerjaan autobiografi agar orang bisa memperoleh pengertian yang lebih baik tentang Soekarno dan untuk memperoleh simpati. Karena buku tersebut ketika Soekarno berkuasa, para pengeritiknya menyatakan bahwa buku yang menceritakan Soekarno berasal dari keturunan kelas berkuasa dan Soekarno pantas berkuasa. Sebagaimana yang dilakukan raja-raja Jawa yang berkuasa tempo dulu, ketika pujangga istana menulis babad (sejarah) untuk kepentingan rajanya.

Ketika Soekarno berada diakhir kekuasaan, sebuah koran mahasiswa Bandung Mahasiswa Indonesia ,mengadakan de-Soekarnoisasi dengan menggugat hak sejarah Soekarno agar dapat memimpin Indonesia.

Dengan menonjolkan dirinya seolah-olah keturunan yang sah raja-raja di Jawa
dan Bali, Soekarno memperoleh dukungan dan kesetiaan sebagian rakyat
Indonesia yang masih beralam pikiran feudal. Oleh karena itu tak mengherankan
pula bahwa Soekarno mempertahankan dan bahkan memperkembangkan iklim
feudal di manapun ia berada, baik dalam kehidupan istananya maupun dalam
pemerintahannya, serta setia pada setiap kemunculan di depan rakyat banyak. Ini
sengaja dimaksudkan untuk membina kultus individu dan memperkuat kedudukan
Soekarno.


Menurut Mahasiswa Indonesia, ada sederetan mitos mengelilingi Soekarno; tentang asal usulnya, peranannya sebagai Bapak Bangsa, dan lain-lain. Bertolak dari anggapan bahwa kenyataan diri dari Soekarno pada umumnya terselubungi oleh sederetan fiksi Mahasiswa Indonesia memandang perlu supaya seluruh hal utu dianalisa dan ditinjau secara lebih jauh. Bila perlu maka mitos-mitos yang telah diciptakan oleh Soekarno dan orang-orang di sekitarnya harus dibalikan dan digunakan untuk memukul balik dan merongrong pengaruh yang masih dimiliki atas jiwa bangsa Indonesia.

Sambil mengungkapkan mitos-mitos yang mengelilingi Soekarno, Mahasiswa Indonesia juga memaparkan sebuah potret diri Presiden yang “sebenarnya“. Untuk melakukan de-Soekarnoisasi tidaklah cukup dengan melakukan demistifikasi dari legenda-legenda yang ada di sekitar Soekarno; diperlukan juga usaha untuk menelanjangi diri yang sebenarnya dari tokoh yang diserang itu. Melalui potret Soekarno yang diungkapkan lewat sejumlah artikel, terlihat cukup banyak wajah Soekarno sebagai seorang yang lemah, lamban, tiran, tidak punya karakter, pembohong, egois dan bersifat buruk. Dimata mahasiswa group Bandung itu sifat yang paling buruk Soekarno ialah nafsu korupsinya. Adapun nafsu seksual yang berlebihan, penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang, penyelewengan terhadap agama, merupakan hal-hal yang paling sering diserang pada diri Soekarno karena semua itu bertentangan dengan ahlak yang ingin dipertahankan oleh Mahasiswa Indonesia .
Soekarno, Sejarah dan Kontroversi



Tidak setiap orangpun dalam peradaban
modern ini yang menimbulkan demikian
banyak perasaan pro dan kontra seperti
Soekarno. Aku dikutuk seperti bandit
dan dipuja sebagai dewa .

(Soekarno,,1965)


Sebagaimana diketahui istilah “sejarah” mengacu pada dua hal, yakni pertama, sejarah sebagai res gestae, yaitu sebagai peristiwa yang benar-benar telah terjadi dan kedua, sejarah sebagai rerum regustarum ,yakni kisah daripada peristiwa yang disebutkan tadi. Peristiwa masa lampau sudah tidak bisa mempunyai arti kalau tidak ditulis dan dihadirkan lagi untuk masa kini. Tidak bisa disangkal peristiwa masa lampau yang sudah berlalu tidak seluruhnya dapat diketahui. Hanya ada sisa dari masa lampau. Kendati pun demikian, kenyataan itu tidak membuat orang surut untuk menulis peristiwa masa lampau. Tetapi untuk apa peristiwa masa lampau ditulis ?

Dalam buku Soekarno,, An Autobiography as told as Cindy Adams (1965) yang terbit ketika Soekarno berada di puncak kekuasaan, Soekarno menyatakan maksud dan pengerjaan autobiografi agar orang bisa memperoleh pengertian yang lebih baik tentang Soekarno dan untuk memperoleh simpati. Karena buku tersebut ketika Soekarno berkuasa, para pengeritiknya menyatakan bahwa buku yang menceritakan Soekarno berasal dari keturunan kelas berkuasa dan Soekarno pantas berkuasa. Sebagaimana yang dilakukan raja-raja Jawa yang berkuasa tempo dulu, ketika pujangga istana menulis babad (sejarah) untuk kepentingan rajanya.

Ketika Soekarno berada diakhir kekuasaan, sebuah koran mahasiswa Bandung Mahasiswa Indonesia ,mengadakan de-Soekarnoisasi dengan menggugat hak sejarah Soekarno agar dapat memimpin Indonesia.

Dengan menonjolkan dirinya seolah-olah keturunan yang sah raja-raja di Jawa
dan Bali, Soekarno memperoleh dukungan dan kesetiaan sebagian rakyat
Indonesia yang masih beralam pikiran feudal. Oleh karena itu tak mengherankan
pula bahwa Soekarno mempertahankan dan bahkan memperkembangkan iklim
feudal di manapun ia berada, baik dalam kehidupan istananya maupun dalam
pemerintahannya, serta setia pada setiap kemunculan di depan rakyat banyak. Ini
sengaja dimaksudkan untuk membina kultus individu dan memperkuat kedudukan
Soekarno.


Menurut Mahasiswa Indonesia, ada sederetan mitos mengelilingi Soekarno; tentang asal usulnya, peranannya sebagai Bapak Bangsa, dan lain-lain. Bertolak dari anggapan bahwa kenyataan diri dari Soekarno pada umumnya terselubungi oleh sederetan fiksi Mahasiswa Indonesia memandang perlu supaya seluruh hal utu dianalisa dan ditinjau secara lebih jauh. Bila perlu maka mitos-mitos yang telah diciptakan oleh Soekarno dan orang-orang di sekitarnya harus dibalikan dan digunakan untuk memukul balik dan merongrong pengaruh yang masih dimiliki atas jiwa bangsa Indonesia.

Sambil mengungkapkan mitos-mitos yang mengelilingi Soekarno, Mahasiswa Indonesia juga memaparkan sebuah potret diri Presiden yang “sebenarnya“. Untuk melakukan de-Soekarnoisasi tidaklah cukup dengan melakukan demistifikasi dari legenda-legenda yang ada di sekitar Soekarno; diperlukan juga usaha untuk menelanjangi diri yang sebenarnya dari tokoh yang diserang itu. Melalui potret Soekarno yang diungkapkan lewat sejumlah artikel, terlihat cukup banyak wajah Soekarno sebagai seorang yang lemah, lamban, tiran, tidak punya karakter, pembohong, egois dan bersifat buruk. Dimata mahasiswa group Bandung itu sifat yang paling buruk Soekarno ialah nafsu korupsinya. Adapun nafsu seksual yang berlebihan, penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang, penyelewengan terhadap agama, merupakan hal-hal yang paling sering diserang pada diri Soekarno karena semua itu bertentangan dengan ahlak yang ingin dipertahankan oleh Mahasiswa Indonesia .

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Soekarno, Sejarah dan Kontroversi

Tidak setiap orangpun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan demikian banyak perasaan pro dan kontra seperti Soekarno. Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja sebagai dewa .

(Soekarno,,1965) Sebagaimana diketahui istilah “sejarah” mengacu pada dua hal, yakni pertama, sejarah sebagai res gestae, yaitu sebagai peristiwa yang benar-benar telah terjadi dan kedua, sejarah sebagai rerum regustarum ,yakni kisah daripada peristiwa yang disebutkan tadi.1 Peristiwa masa lampau sudah tidak bisa mempunyai arti kalau tidak ditulis dan dihadirkan lagi untuk masa kini. Tidak bisa disangkal peristiwa masa lampau yang sudah berlalu tidak seluruhnya dapat diketahui. Hanya ada sisa dari masa lampau. Kendati pun demikian, kenyataan itu tidak membuat orang surut untuk menulis peristiwa masa lampau. Tetapi untuk apa peristiwa masa lampau ditulis ? Dalam buku Soekarno,, An Autobiography as told as Cindy Adams (1965) yang terbit ketika Soekarno berada di puncak kekuasaan, Soekarno menyatakan maksud dan pengerjaan autobiografi agar orang bisa memperoleh pengertian yang lebih baik tentang Soekarno dan untuk memperoleh simpati. Karena buku tersebut ketika Soekarno berkuasa, para pengeritiknya menyatakan bahwa buku yang menceritakan Soekarno berasal dari keturunan kelas berkuasa dan Soekarno pantas berkuasa. Sebagaimana yang dilakukan raja-raja Jawa yang berkuasa tempo dulu, ketika pujangga istana menulis babad (sejarah) untuk kepentingan rajanya. Ketika Soekarno berada diakhir kekuasaan, sebuah koran mahasiswa Bandung Mahasiswa Indonesia ,mengadakan de-Soekarnoisasi dengan menggugat hak sejarah Soekarno agar dapat memimpin Indonesia.
Dengan menonjolkan dirinya seolah-olah keturunan yang sah raja-raja di Jawa dan Bali, Soekarno memperoleh dukungan dan kesetiaan sebagian rakyat Indonesia yang masih beralam pikiran feudal. Oleh karena itu tak mengherankan pula bahwa Soekarno mempertahankan dan bahkan memperkembangkan iklim feudal di manapun ia berada, baik dalam kehidupan istananya maupun dalam pemerintahannya, serta setia pada setiap kemunculan di depan rakyat banyak. Ini sengaja dimaksudkan untuk membina kultus individu dan memperkuat kedudukan Soekarno.2

1 2

Nugroho Notosusanto .Sejarah Demi Masa Kini. Jakarta : UI Press, 1979,hal. 2. Francois Raillon. Politik dan Ideologi. Mahasiswa Indonesia . Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru . Jakarta : LP3ES, 1989, hal. 136.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

1

Peter Kasenda Menurut Mahasiswa Indonesia, ada sederetan mitos mengelilingi Soekarno; tentang asal usulnya, peranannya sebagai Bapak Bangsa, dan lain-lain. Bertolak dari anggapan bahwa kenyataan diri dari Soekarno pada umumnya terselubungi oleh sederetan fiksi Mahasiswa Indonesia memandang perlu supaya seluruh hal utu dianalisa dan ditinjau secara lebih jauh. Bila perlu maka mitos-mitos yang telah diciptakan oleh Soekarno dan orang-orang di sekitarnya harus dibalikan dan digunakan untuk memukul balik dan merongrong pengaruh yang masih dimiliki atas jiwa bangsa Indonesia. Sambil mengungkapkan mitos-mitos yang mengelilingi Soekarno, Mahasiswa Indonesia juga memaparkan sebuah potret diri Presiden yang “sebenarnya“. Untuk melakukan deSoekarnoisasi tidaklah cukup dengan melakukan demistifikasi dari legenda-legenda yang ada di sekitar Soekarno; diperlukan juga usaha untuk menelanjangi diri yang sebenarnya dari tokoh yang diserang itu. Melalui potret Soekarno yang diungkapkan lewat sejumlah artikel, terlihat cukup banyak wajah Soekarno sebagai seorang yang lemah, lamban, tiran, tidak punya karakter, pembohong, egois dan bersifat buruk. Dimata mahasiswa group Bandung itu sifat yang paling buruk Soekarno ialah nafsu korupsinya. Adapun nafsu seksual yang berlebihan, penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang, penyelewengan terhadap agama, merupakan hal-hal yang paling sering diserang pada diri Soekarno karena semua itu bertentangan dengan ahlak yang ingin dipertahankan oleh Mahasiswa Indonesia . Sebenarnya dalam autobiografinya Soekarno dengan berani mengakui kesalahankesalahannya sendiri, tanpa terkecuali kesalahan yang sangat prinsip
Aku bukan manusia yang tidak mempunyai kesalahan …..Barangkali selalu kesalahan ialah, bahwa aku selalu mengejar suatu cita-cita dan bukan persoalanpersoalan yang dingin. Aku tetap mencoba untuk mendudukan keadaan atau menciptakan lagi keadaan-keadaan , sehingga ia dapat dipakai sebagai jalan untuk mencapai apa yang sedang dikejar .Hasilnya, sekalipun aku berusaha begitu keras bagi rakyatku, aku menjadi korban dari serangan-serangan yang jahat. 3

Setelah Soekarno wafat, pemerintahan Soeharto mengadakan de-Soekarnoisasi dengan membatasi diskusi tentang Soekarno. Sebuah larangan resmi tak resmi diberlakukan terhadap publikasi tulisan-tulisan Soekarno Nama presiden pertama Indonesia jarang atau bahkan tidak disebut-sebut sama sekali oleh unsur-unsur rezim Orde Baru. Meskipun keyakinan bahwa Pancasila adalah falsafah yang dirumuskan oleh Soekarno dengan Pancasila hampir semuanya diingkari oleh negara Orde Baru. Selain itu, negara Orde Baru juga membiarkan C.A. Dake, Ilmuwan Politik dari Freie Universitaat Bonn, mempublikasikan buku kontroversial yang berjudul Indonesia The Spirit of Red Banteng yang menyimpulkan bahwa aktor utama dibalik G-30-S/1965 adalah Soekarno, bukan PKI. Setahun kemudian Dake juga mempublikasikan buku The Devious Dalang : Soekarno and The So-Called Untung Putsch : Eyewitness Report by Bambang S Widjanarko yang memperkuat kesimpulan dalam buku pertama tadi. Dari
3

Cindy Adams. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta : Gunung Agung, 1984, hal. 3.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

2

Peter Kasenda judulnya saja telah dapat diduga bahwa dua buku ini provokatif dan delegetimatif terhdap Soekarno. Perlu digarisbawahi bahwa peredaran buku ini baru dinyatakan terlarang tahun 1990, setelah sempat berlangsung selama 17 tahun. Setelah Menteri Penerangan Ali Moertopo mengumumkan rencana Presiden Soeharto untuk memugar kompleks makam Soekarno di Blitar. Membicarakan Soekarno tidak ditabukan lagi, dan simbol-simbol Soekarno dibiarkan muncul dalam beberapa bentuk. Sungguh mencengangkan bahwa tidak kurang dari lima puluh buku tentang Soekarno diterbitkan dalam jangka waktu kurang dari setahun. Media massa sibuk dengan laporan dan tulisan tentang Soekarno. Gambar-gambar Soekarno dicetak dalam berbagai medium: poster, stiker, T-shirt, topi, dan lain-lain, yang dijual bebas di sudut sudut jalan, trotoar lain-lain. Citra Soekarno semakin membaik akibat sikap negara Orde Baru yang semakin positif terhadap Soekarno. Sikap ini sangat kondusif bagi lahirnya wacana tentang Soekarno yang melibatkan banyak kalangan. Sentimen Soekarnoisme merekat lagi di semua lapisan sosial, dan terjadi ekskalasi idealisasi terhadap Soekarno di kalangan generasi muda. Perkembangan ini pada gilirannya memicu kekhawatiran sekaligus kewaspadaan di kalangan rejim Orde Baru. 4

Kontroversi di sekitar Soekarno
Pada tanggal 15 September 1980, Rosihan Anwar, seorang wartawan senior dan pengeritik Soekarno di era Orde Lama, memulai kontroversi tentang Soekarno dengan melansir tulisannya di harian Kompas. Dengan membandingkan gaya kepemimpinan Soekarno dengan Moh. Hatta, Rosihan Anwar menggugat konsistensi Soekarno sebagai pemimpin bangsa. Dengan mengutip buku John Ingleson yang berjudul Road to Exile : The Indonesia Movement 1927 – 1934 ( 1979 ), Rosihan Anwar menulis :
Sebuah perbedaan lain dalam sikap politik terhadap pemerintahan jajahan Hindia Belanda . Hatta bersikap teguh , konsisten dan konsekuen . Sebaliknya Soekarno, ahli pidato yang bergembor-gembor, lekas bertekuk lutut, jika menghadapi keadaan yang sulit dan tidak menyenangkan bagi dirinya . Demikian dalam kurun waktu satu bulan, ketika Soekarno berada dalam penjara Sukamiskin di Bandung, ia menulis empat pucuk surat tertanggal 30 Agustus, 7, 21 dan 28 September 1933 kepada Jaksa Agung Hindia Belanda supaya ia dibebaskan dari tahanan penjara. Sebagai gantinya Soekarno berjanji tidak akan lagi ambil bagian dalam soal-soal politik untuk masa hidup selanjutnya .5

Selanjutnya dalam tulisan kolomnya di harian yang sama, 14 Februari 1981, Rosihan Anwar menegaskan kembali pendiriannya yang cenderung meyakini kebenaran surat4

Agus Sudibyo. Citra Bung Karno. Analisis Berita Pers Orde Baru. Biograph Publishing, 1999, hal. 130 – 132. 5 H. Rosihan Anwar,” Perbedaan Analisis Politik antara Soekarno dengan Hatta,” Kompas , 15 September 1980. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

3

Peter Kasenda surat tersebut. Ia memberi contoh bahwa Soekarno pada tanggal 19 September 1948 tatkala tentara Belanda menduduki lapangan terbang Maguwo dan sedang bergerak menuju kota Yogyakarta. Soekarno menyuruh tentara istana mengibarkan bendera putih tanda menyerah kepada Belanda dan membiarkan dirinya ditawan tentara Belanda. 6 Tentu saja tulisan Rosihan Anwar itu menimbulkan pro dan kontra yang mengomentari adalah Mahbub Djunaidi, Ayip Bakar, Anwar Luthan, Mohammad Roem dan Abdurrachman Suryomihardjo, Onghokham, Taufik Abdullah dan Wakil Presiden Adam Malik. Berlainan dengan Rosihan Anwar, Abdurrachman Suryomihardjo, Onghokham dan Taufik Abdullah yang dikenal sebagai sejarawan tidak bisa mengatakan apakah surat-surat itu otentik alias sahih atau tidak.7 Perlu diketahui bahwa surat yang dikutip dari arsip kerajaan Belanda itu bukan tulisan asli Soekarno yang diketik dari pejabat yang diberi wewenang oleh peraturan pemerintah kolonial waktu itu. Salinan itu diketik dan tidak membawa tanda tangan asli Soekarno, melainkan hanya “tertanda” atau ditandatangani oleh Soekarno. Ada atau tidak adanya “surat-surat Soekarno” itu, nasibnya memang sudah ditentukan. Dengan H Colijn sebagai Perdana Menteri dan Menteri Urusan Jajahan di Belanda, de Jonge sebagai Gubernur Jendral, gerakan nasionalis radikal memag telah masuk acara kebijaksanaan politiknya penyingkiran total para pemimpinnya di arena politik ini berarti untuk kesekian kali hak luar biasa Gubernur Jendral dipakai sebagai alat hukum. Menjelang peringatan ke-36 Hari Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, para pembaca surat kabar di Indonesia seolah-olah tergugah perhatiannya kepada fakta sejarah yang sudah lama bukan menjadi persoalan lagi. Atas permintaan Departemen Penerangan RI, harian Merdeka, Angkatan Bersenjata, Kompas, Sinar Harapan, Suara Karya, Pos Kota dan lain-lain memuat tulisan dari Nugroho Notosusanto yang berjudul Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara ( Balai Pustaka, 1981). Berdasarkan buku Moh Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, I, Nugroho Notosusanto menyimpulkan
Pertama, Pancasila sebagai Dasar Negara dalam Pembukaan UUD 1945 bukan pemikiran satu orang, melainkan hasil percakapan panjang , dari 29 Mei – 18 Agustus 1945, yang mana mensahkan Pancasila sebagai Dasar Negara. Kedua, Penggali Pancasila bukan hanya Soekarno, melainkan Yamin dan Supomo. Ketiga, jasa Soekarno bukan pada rumusannya , melainkan pemberian nama “Pancasila “, mereka juga mengemukan lima prinsip.8

Dalam tulisan Nugroho Notosusanto sebagai sejarawan, bahwa baik Presiden Soekarno maupun Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo tidak tidak mempunyai alasan untuk
6

H Rosihan Anwar,” Surat-surat Ir Soekarno kepada Procureur General Hindia Belanda,” Kompas, 14 Februari 1981. 7 Abdurrachman Suryomihardjo,” Bung Karno dalam Penulisan Sejarah Indonesia,” Kompas, 2 Maret 1981; “ Sejarawan Onghokham tentang Surat Bung Karno ,” Merdeka, Taufik Abdullah ,” Biografi dari surat-surat itu,” Tempo,No.53/X, 28 Februari 1981. 8 Nugroho Nosusanto. Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara , Jakarta : Balai Pustaka , 1981, hal. 24 – 32. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

4

Peter Kasenda mendukung isi buku ini kecuali atas dasar keyakinan bahwa isinya memang otentik. Dan atas dasar keyakinan itu buku Prof. Yamin itu digunakan sebagai sumber yang otentik. Mendasar isi di atas yang digunakan Nugroho Notosusanto untuk berpendapat demikian adalah Kata Pengantar yang ditulis tangan oleh Presiden Soekarno untuk naskah Yamin diatas, tertanggal 22 April 1959, dan keterangan Pringgodigdo kepada Nugroho Notosusanto bahwa isi buku Yamin itu adalah otentik. Autentitasnya itu disebabkan oleh karena bagian buku itu yang mengenai sidang-sidang BPUPKI memang berupa percetakan belaka daripada laporan stenografis itu yang pernah dipinjam oleh Yamin, tetapi kemudian tidak pernah dikembalikan. Menurut Pringgodidgo isi buku itu kata demi kata sama dengan notulish verslag itu.9 Ruben Nalenan dan G Moedjanto yang dikenal sebagai sejarawan meragukan otensitas pidato Yamin di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 29 Mei 1945. Panjang pidato Yamin itu sama dengan pidato Soekarno yang diucapkan selama satu jam. Berarti kira-kira Yamin juga memerlukan waktu selitar 1 jam untuk mengucapkan pidatonya. Waktu yang tersedia itu dua jam sepuluh menit, yang dipertanyakan ialah apa mungkin Muhammad Yamin diperkenankan berbicara satu jam sendiri sidang 6 pembicara lainnya ditambah dengan cara pembukaan dan pengantar ketua plus wakil ketua hanya satu jam saja.10 Pertanyaan yang layak diajukan, adalah apakah Soekarno tidak mengingat lagi akan pidato M Yamin yang duduk disampingnya dan tiga hari yang lalu sudah menguraikan lima dasar negara termasuk kesejahteraan rakyat itu.? Apakah Soekarno pada tahun 1945 sudah begitu pikun? Mengapa Yamin yang suka berprotes, tidak mengatakan bahwa ia baru tiga hari yang lalu sudah menjawab pertanyaan ketua BPUPKI Dr Radjiman Wediodiningrat dan sudah menyebut kesejahteraan rakyat.11 Menarik untuk dicatat, bahwa premis yang merupakan reevaluasi terhadap seajarah Pancasila ini pararel dengan perubahan kebijakan yang ditujukan rejim Orde Baru. Pemerintah Soeharto menghapus peringatan hari lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni, dan melarang semua bentuk peringatan pada tanggal itu. Ketika tulisan Nugroho Notosusanto itu dilansir, MPR bahkan telah tiga kali ( 1996,1973 dan 1978 ) memutuskan rumusan Pancasila yang legal dan identik yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945 tidak meliputi pemikiran Soekarno tentang internasionalisme dan rumusan pemikirannya yang lain. Tulisan Nugroho Notosusanto kemudian menjadi bacaan wajib bagi para pengajar pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan peserta P4 di kampus. Tindakan Nugroho diatas mendapat “restu” pemerintah, sebagai bagian dari usaha untuk menciptakan keseimbangan perspektif tentang Soekarno. Dengan kata lain, peningkatan idealisasi terhadap Soekarno dikalangan loyalis Soekarno dan generasi muda, diimbangi
9

Ibid., hal. 17 – 19. R Nalenan ,” Proses Perumusan Dasar Negara ,” Kompas, 9 Agustus 1981 dan G Moedjanto , “ Otensitas Pidato Yamin di depan Sidang Badan Penyelidik ,” Kompas , 9 Agustus 1981. 11 Yayasan Cipta Loka Caraka . Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila , dariKes sampai Par. Jakarta : Yayasan Cipta Loka Caraka, 1984,hal. 283.
10

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

5

Peter Kasenda dengan usaha-usaha untuk menegasikan makna penting sang proklamator ini dalam kotens sejarah bangsa Indonesia. Kebangkitan kekuatan nostalgik terhadap Soekarno dan semakin luasnya mitos-mitos tentang Soekarno dalam realitas psikologis masyarakat sekitar tahun 1978 cukup mengkhawatirkan rejim Orde Baru.12 Lain lagi dengan ini, setahun setelah Lembaga Penelitian Sejarah Nasional mengadakan seminar tentang sejarah Indonesia di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, tepatnya bulan September 1985, Ruben Nalenan, Sekretaris LPSN membicarakan hasil seminar di depan pers. Ia menghimbau agar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI meninjau kembali materi buku Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, karena dalam buku Sejarah Nasional Indonesia ,Jilid III ( 1976 ) yang terdiri dari 154 halaman itu memuat kata-kata; “ Dalam pada itu Presiden sendiri menerima komisi dari perusahan asing yang melakukan impor ke Indonesia. Pada pelbagai bank di luar negeri tersimpan uang jutaan dollar atas nama Presiden”, akibat teks tersebut tentu saja menimbulkan pertanyaan apakah bekas Presiden Republik Indonesia yang pertama ini pernah berbuat semacam itu. Memang yang dibicarakan disini lebih serius, karena hal ini menyangkut dunia pendidikan. Banyak orang menganggap bahwa penulisan tersebut nampaknya kurang tepat apabila disajikan kepada murid-murid SMP. Dengan adanya teks tersebut bisa saja membingungkan murid-murid tersebut.13 Sebenarnya yang dipermasalahkan bukan fakta sejarah tetapi lebih mengarah pada persoalan etis atau tidak kata-kata tersebut dimuat dalam buku. Nugroho Notosusanto sebagai penanggung jawab dari buku yang dikritik telah tiada sedangkan mereka yang berada dalam satu tim tidak mencoba menjelaskan duduk persoalannya, mungkin karena merasa bukan menjadi urusannya.

De-Soekarnoisasi Orde Baru
Salah satu tiang legitimasi Orde Baru adalah tafsir sejarahnya terhadap “ Gerakan 30 September“ dan rentetan peristiwa yang secara bertahap menempatkan Mayjen TNI Soeharto menjadi Presiden pada 1968. Sejak akhir tahun 1960-an sudah bermunculan buku dan artikel karya penulis Indonesia yang mendukung Orde Baru. Nugroho Notosusanto dengan Ismail Saleh juga melakukan praktek legitimasi terhadap Soekarno. Mereka berdua meluncurkan buku The Coup Attempt of The September 30 Movement in Indonesia (1968) yang secara garis besar berisi kesimpulan rezim Orde Baru bahwa PKI adalah kekuatan dibalik Peristiwa G-30-S 1965 yang telah diberi kesempatan oleh Soekarno untuk berkembang pesat pada akhir dekade 50-an dan awal dekade 60-an. Buku ini merupakan reaksi atas analisis yang dibuat Ben Anderson dan Ruth McVey, Preliminary Analysis of The October 1, 1965 Coup in Indonesia yang menyimpulkan bahwa konflik intern TNI-AD yang menyebabkan peristiwa G 30S 1965. Tahun 1978, Nugroho Notosusanto memimpin tim yang bertugas menyusun Buku Putih G 30 S Tahun 1965. Buku yang tidak sempat dipublikasikan ini, berisi kesimpulan yang
12 13

Agus Sudibyo, Op. Cit., hal. 134 – 135. Peter Kasenda,” Soekarno : Sebuah Dilemma dalam Penulisan Sejarah Indonesia ,” Prioritas, 2 – 3 Oktober 1986.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

6

Peter Kasenda kurang lebih serupa dengan kesimpulan buku diatas. Meskipun kedua buku ini tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Bung Karno terlibat dalam G 30 S 1965, uraian bahwa PKI berkembang dibawah lindungan Bung Karno yang telah ada didalamnya mensiratkan tendesi untuk menyimpulkan bahwa peristiwa ini mustahil terjadi tanpa “restu” Soekarno.14 Pemerintah Soeharto dan para pendukung Orde Baru merasa perlu meneguhkan versinya tentang Gerakan 30 September. Sebagai tambahan terhadap buku The Coup Attempt of The September 30 Movement in Indonesia, pemerintah meneguhkan versinya dalam bentuk film Penghianatan G 30 S/PKI yang diproduksi oleh PPFN tahun 1982-1983, dan mulia disiarkan tiap tahun pada tanggal 30 September malam hari oleh TVRI. Gambaran yang muncul di film ini kemudian menjadi master narrative dalam sejarah nasional yang resmi dan wacana politik Indonesia. Beberapa tulisan dan buku diproduksi untuk memperbaharui dan mengisi kekurangan versi yang ada, dan menekankan arti penting peristiwa tersebut bagi kehidupan masyarakat, tentunya dari sudut pandang pemerintah. 15 Pemerintah Soeharto senantiasa membatasi bagi tulisan yang mencoba menentang “ kebenaran sejarah “ versi Orde Baru. Sebaliknya jika buku ini sejalan dan bahkan mendukung kebijakan de-Soekarnoisasi, seperti Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai G 30 S-PKI dan Peran Bung Karno ( 1988 ) karangan Kolonel (Purn) Soegiarso Soerojo, pemerintahan Soeharto menganggap tidak ada persoalan. Titik perhatian buku inilah dominasi politik PKI di tahun 1960-an, kemudian meletusnya G 30 S/PKI dan bukti-bukti penyelewengan Presiden Soekarno yang sekaligus dinilai sebagai dalang G 30 S/PKI itu sendiri. Menurut Soegiarso, G 30 S adalah kudeta yang dilakukan oleh PKI dengan dukungan dari luar dan dari dalam negeri, disamping dukungan diam-diam dari kepala negara yang kebetulan juga seorang Marxis sejak muda.16 Menurut Jaksa Agung Sukarton Marmosudjono, subtansi dari buku karangan Soegiarso Soerojo ini tidak mengganggu ketertiban umum sehingga tidak perlu dilarang. Tentang tuduhan Soegiarso terhadap Soekarno, Sukarton berpendapat,” sebagai proklamator (Soekarno) dihargai. Tetapi sebagai insan politik, tentu kita harus obyektif jangan ditutup-tutupi jeleknya. Kita harus obyektif. Fakta-fakta sejarah tidak bisa ditutuptutupi.17 Buku yang ditulis Soegiarso Soerojo menggunakan bahan-bahan yang biasa dipakai untuk menyusun buku sejarah kontemporer : berita koran , kenangan seprang penyelidik inteljen dan dokumen. Sebagai buku sejarah harus memenuhi persyaratan metodelogis yaitu usaha merekontruksi peristiwa berdasarkan penelitian, pengumpulan dan penyelesaian data (menguji otensitas dan kebenarannya), kemudian barulah ditarik kesimpulan atau diberi interprestasi. Dengan singkat, ketelitian atau ukuran menjadi salah
14 15

Agus Sudibyo, Op. Cit., hal. 135. Fauzan . Mengubur Peradaban Politik Pelarangan Buku di Indonesia . Yogyakarta : LKIS , 2003, hal. 163 – 165 . 16 Sogiarso Soerojo. Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai. G 30 S /PKI dan Peran Bung Karno . Jakarta : Antarkota, 1989, hal. 391. 17 Agus Sudibyo, Op. Cit., hal. 138 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

7

Peter Kasenda satu prinsip pokok. Dan Soegiarso Soerojo tidak melakukannya. Data yang digunakannya tidak dicek dengan sumber lain. Ia begitu yakin dengan kebenarannya dan keotentikannya. Karena Soegiaro Soerojo menulis bertolak dari sebuah sikap bukan analisis. Kebijaksanaan pemerintah makin terlihat membingungkan ketika melarang buku Bung Karno Dalang G 30 S/PKI ? (UD Mayasari – Solo) setelah terbitnya buku Soegiarso Soerojo yang mengundang kontroversi. Buku yang disusun oleh Petrus Bambang Siswoyo berisi guntingan berita dan artikel surat kabar tentang Soekarno, khususnya disekitar beredarnya Siapa Menambur Angin Akan Menuia Badai dilarang. Penyusunnya mengaku bahwa kumpulan berita dan artikel surat kabar berita itu hanya untuk kepentingan komersial, tanpa maksud politik tertentu. Tanggal 19 November 1988 ia dipanggil Kejaksaan Negeri Surakarta yang memintanya untuk tidak mengedarkan bukunya sampai ada keputusan Kejaksaan Agung, dan menarik buku-buku yang sudah terlanjur beredar. Berbeda dengan buku Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai yang dalam waktu enam hari mendapat clearance dari Kejaksaan Agung, buku Bambang Siswoyo dibiarkan tak terurus berminggu-minggu. Jaksa Agung Sukarton Marmosudjono tidak memberikan keterangan apa-apa, karena menurutnya petugas yang meneliti buku tersebut sedang cuti. Beberapa hari sebelum terbitnya buku putih yang berjudul Gerakan 30 September : Pemberontakan Partai Komunis Indonesia ( Sekretariat Negara , 1994), Manai Sophian, mantan pemimpin Partai Nasional Indonesia (PNI), meluncurkan buku yang berjudul Kehormatan bagi yang Berhak : Bung Karno Tidak Terlibat G-30-S/PKI. Buku itu dengan jelas menyangkal segala tuduhan bahwa Presiden Soekarno terlibat dalam pseristiwa itu, dan lebih jauh mempersoalkan keterlibatan Amerika Serikat dan Angkatan Darat dalam penyingkiran Presiden Soekarno selanjutnya. Dari dua kasus diatas, terlihat bagaimana imbangan kekuatan politik sangat berpengaruh terhadap sikap pemerintah dan keputusan untuk tidak melarang keduanya. Dalam kasus Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, penulis buku Soegiarso Soerojo mendapat “dukungan“ dari berbagai pihak berbentuk pernyataan yang meminta masyarakat tidak mempersoalkan penulisan buku itu. Agak menyimpang dari kebiasaan, Jaksa Agung mengumungkan bahwa buku tersebut tidak akan dilarang, hanya enam hari setelah diterbitkan, walau sebelumnya memberi pernyatan yang seakan-akan mempertanyakan isi buku tersebut. Betapapun kontroversialnya, isi buku itu secara umum ada di dalam langgam master narrative yang diciptakan oleh Orde Baru tentang Gerakan 30 September, kecuali di sekitar peran Soekarno yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Dalam kasus Manai Sophian, dukungan yang lebih deras justru mengalir dari berbagai pihak, yang umumnya juga menolak tuduhan bahwa Soekarno terlibat dalam persitiwa itu dan lebih jauh menolak segala praktek de-Soekarnoisasi. Membandingkan ketiga buku tersebut, Eep Saefullah Fatah, Staf Litbang Redaksi Republika dalam edisi 30 September 1995 harian ini menulis : Posisi Buku Putih berbeda dengan buku Manai dan Soegiarso yang memposisikan secara tegas ( menunjukkan ) dengan terang ketidakterlibatan dan keterlibatan
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

8

Peter Kasenda Soekarno dalam G 30 S/PKI.Buku Putih berdiri dalam posisi yang lebih“tersamar“.18 Negara Orde Baru berusaha menegakkan legitimasi kekuasaannya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan menciptakan wacana-wacana resmi yang bersifat legitimatif terhadap negara dan sebaliknya bersifat delegitimatif terhadap musuh-musuh negara. Wacana resmi ini merupakan reinterprestasi dari pengetahuan resmi negara yang lebih sering difungsikan sebagai sarana produksi dan reproduksi kebenaran versi negara. Dengan kata lain, penyelenggaraan kekuasaan secara kontinyu oleh negara Orde Baru melahirkan pengetahuan-pengetahuan resmi yang notabene berisikan pembenaranpembenaran sikap, kebijakan dan perlakuan negara terhadap kelompok-kelompok diluar dirinya. Melalui pengetahuan resmi inilah kebenaran versi negara tentang berbagai persoalan disampaikan kepada masyarakat dengan spirit penegasan terhadap wacana, interprestasi dan fakta-fakta alternatif yang dimunculkan kelompok lain. Hal inilah yang kiranya terjadi terhadap gambaran-gambaran tentang Soekarno dalam wacana sejarah selama era Orde Baru Sejak awal kekuasaannya, Soeharto telah menempatkan pengaruh dan simbol-simbol Soekarno yang masih menancap kuat dalam realitas psiko-historis bangsa sebagai ancaman nyata terhadap legitimasi kekuasaannya. Maka, dilakukanlah berbagai upaya untuk mengeliminir pengaruh dan ajaran-ajaran Soekarno dalam kehidupan birokrasi, militer dan masyarakat pada umumnya, serta untuk mengamburkan peranan dan kontruksi Soekarno dalam sejarah. Usaha-usaha inilah yang kemudian dikenal dengan dengan de-Soekarnoisasi. Ketika mekanisme legal-formal, perangkat-perangkat koersif dan represi-represi fisik atau psikologis tidak efektif lagi untuk menyudutkan posisi Soekarno, maka dilakukan de-Soekarnoisasi dalam level wacana simbolik dengan menampilkan kontruksi-kontruksi yang ilegimate dan unfavourable tentang Soekarno dalam setiap discourse yang berbentuk tentang Soekarno. Dengan otoritas yang dimilikinya, negara bahkan melakukan pengaburan atau rekayasa terhadap fakta-fakta sejarah tentang Soekarno. Bisa jadi kebenaran-kebenaran historis tentang jejak dan kontribusi positif Soekarno dalam sejarah bangsa telah terintegrasikan ketika wacana resmi tentang Soekarno terbaca oleh masyarakat. Pada gilirannya, gambaran-gambaran yang ilegimate dan unfavourable tentang Soekarno menjadi dominan dalam produk-produk pengetahuan resmi negara. Gambaran ini juga tercermin dari pernyataan aparat negara dalam berbagai perdebatan tentang Soekarno di media massa, Terlepas dari masalah efektifitas, nuansa de-Soekarnoisasi juga menjadi subtansi juga menjadi subtansi indoktrinasi terhadap generasi muda ketika buku teks pendidikan yang berisi bahasan tentang Soekarno digunakan dalam praktik pendidikan dasar dan menengah.19
18

Jaringan Kerja Budaya.Menentang Peradaban . Pelarangan Buku di Indonesia .Jakarta 1999, hal. 81 – 86.
19

: ELSAM,

Agus Sudibyo, Op. Cit, hal. 143 – 144/

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

9

Peter Kasenda

Nawaksara
Presiden Soeharto meminta, agar bangsa Indonesia khususnya kaum muda, tidak menguntungkan kepada kharisma perorangan, melainkan kepada sistem yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, Presiden juga menegaskan, tidak benar bila ada yang mengatakan Soekarno jatuh karena kudeta. Soekarno jatuh secara konsitusional, setelah pidatonya yang tertuang dalam Nawaksara ditolak dalam Sidang Istimewa MPRS. Penegasan Presiden itu disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Haryono Isman usai diterima Presiden Soeharto dikediaman Jalan Cendana, Jakarta pada tanggal 26 Maret 1997. Oleh karena itu, Presiden Soeharto menyetujui rencana Menpora mengadakan rapat seminar tentang Nawaksara, bulan April 1997 di Jakarta. Presiden Soeharto juga mengatakan bahwa masih banyak masyarakat, khususnya kaum muda yang tidak memahami pidato Presiden Pertama RI Soekarno, yang dituangkan dalam Nawaksara. Menpora Haryono Isman menekankan bahwa seminar tentang Nawaksara diadakan untuk memahamkan apa yang sebenarnya di masa lalu, karena masalah ini kurang dimasyarakatkan. Tidak hanya kaum muda yang berpikiran bahwa Soekarno itu jatuh karena kudeta, bahkan banyak para dosen yang berpikiran demikian, karena tidak memahami proses pidato Soekarno melalui Nawaksara.20 Gagasan menyelenggarakan seminar Nawaksara mendapat tanggapan luas dan segera menjadi bahan pembicaraan hangat dalam masyarakat. Seperti biasa, segera menjadi pro dan kontra terhadap gagasan itu. Ada yang setuju dengan argumentasinya. Tapi ada juga yang kurang setuju dengan alasan serta pertimbangan sendiri. Mereka yang setuju memberi argumentasi bahwa terjadinya pergantian presiden pada 30 tahun lalu perlu diketahui masyarakat luas, terutama generasi penerus. Pertimbangannya agar generasi muda memperoleh kejelasan mengenai persitiwa sekitar tahun 1966 dan 1967 yang berkaitan dengan kepemimpinan nasional dari Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto. Kejelasan sejarah ini penting karena sampai sekarang di sementara kalangan ada anggapan bahwa pergantian kepemimpinan nasional 30 tahun yang lalu, tidak konsitusional bahkan dianggap kudeta. Sedangkan pihak yang kurang setuju dengan seminar memberi alasan bahwa membicarakan persitiwa 30 tahun yang lalu berarti membuka kembali lembaran-lembaran sejarah lama atau “luka-luka “ ditengah dityasi dimana kita mutlak memerlukan persatuan dan kesatuan bangsa yang makin kokoh setelah menghadapi serangkaian kerusuhan massal di berbagai daerah mengancam integrasi nasional.21 Bahkan ada pengamat yang mengatakan bahwa penyelenggaraan seminar tentang Nawaksara sebagai demitosisasi Soekarno, yang sebenarnya diakibatkan dari pemikiran Orde Lama identik dengan Soekarno. Disayangkan mengapa hal tersebut baru dilakukan sekarang mengingat kejadian itu sudah berlangsung 30 tahun yang lalu. Ada dugaan keras bahwa demitosiasi Soekarno dilakukan kepentingan Pemilu 1997 yang sebentar lagi diadakan.22
20 21

“ Jangan Bergantung Kharisma Perorangan ,” Kompas , 27 Maret 1997 . “ Pro-kontra Sekitar Seminar Nawaksara,” Tajuk Rencana Suara Pembaruan ,2 April 1997. 22 “ Seminar Nawaksara Demitosisasi Soekarno,” Bisnis Indonesia , 31 Maret 1997. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

10

Peter Kasenda

Nawaksara – singkatan dari Nawa dan Aksara – adalah sebuah judu lpidato Presiden yang disampaikan pada tanggal 22 Juni dihadapan Sidang Umum IV MPRS. Pidato itu oleh Soekarno disebut sebagai pertanggungjawaban sukarela tentang pelaksanaan tugastugas Presiden selaku mandataris MPRS, karena pertanggungjawaban itu diberikan bukan atas permintaan MPRS. Namun setelah pidato sukarela itu disampaikan, MPRS mengirimkan sebuah nota yang meminta agar Presiden melengkapi pidato pertanggungjawabannya yang dikenal dengan Pidato Pelengkap Nawaksara. Pidato pertanggungjawaban Pelengkap Nawaksara ini disampaikan oleh Soekarno atas permintaan ketua MPRS. Inti pidato Nawaksara itu, pertama, adalah suatu ajakan, agar melakukan “introspeksi“, dengan menegaskan pentingnya Ambeg Parama Artha dan Berdikari yang tetap ditetapkan sebagai Landasan dan Pedoman Pelaksanaan Pembangunan Nasional Semesta Berencana; Kedua, tentang Landasan Kerja Melanjutkan Pembangunan; Ketiga, tentang Penegasan Hubungan Politik Luar Negeri; Keempat, tentang rencana rinci yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah bersama dengan DPR; Kelima, tentang penegasan tetap dilaksanakannya Demokrasi Terpimpin; Keenam, Merintis jalan ke arah pemurnian pelaksanaan UUD’45; Ketujuh, harapan terhadap MPRS agar memahami persepsi tentang adanya perbedaan MPRS dan MPR hasil Pemilihan Umum; Kedelapan, harapan terhadap perlunya kerjasama dan pembagian tugas antara Presiden dan Wakil Presiden; Kesembilan, penegasan kembali terhadap permurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. Atas permintaan Ketua MPRS A.H. Nasution dengan No. 2/Pimp. MPRS/1966, Presiden Soekarno menyerahkan Pelengkap Nawaksara kepada pimpinan MPRS. Tiga hal yang diminta oleh ketua MPRS kepada Soekarno, adalah Presiden harus bertanggung jawab atas kemerosotan ekonomi, terjadinya G 30 S /PKI dan kemerosotan ahlak bangsa. Dalam pidato Pelengkap Nawaksara pada dasarnya dijelaskan bahwa kesemuanya itu adalah suatu proses perjalanan yang panjang dengan melibatkan banyak pihak. Bagi Soekarno, G 30 S/PKI itu adalah suatu complete overrompeling Dan atas penyelidikan Soekarno, G 30 S/PKI yang ia sebut Gestok timbul karena tiga sebab, yaitu (a) Keblingeran pimpinan PKI; (b) Kelihaian subversi Nekolim; (c) memang ada oknum-oknum yang tidak benar. Menanggapi permintaan pertanggungjawaban terhadap kemerosotan ekonomi dan kemerosotan ahlak, Soekarno kembali mempertanyakan : “ Adilkah saya sendiri harus bertanggung jawab atas kemerosotan ekonomi dan ahlka. “ Kekuasaan pemerintah Soekarno secara resmi dicabut oleh MPRS pada tanggal 12 Maret 1967. Pencabutan dilakukan dengan Ketetapan MPRS No XXXIII/MPRS/1967. Dalam pertimbangannya dinyatakan anatara lain bahwa keseluruhan pidato Presiden/Mandataris MPRS yang disampaikan kepada MPRS tanggal 10 Januari 1967 No 01/Pres/1967 tentang Pelengkap Nawaksara tidak memenuhi harapan rakyat pada umumnya, karena tidak memuat dengan jelas pertanggungjawaban kebijkasanaan Presiden mengenai

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

11

Peter Kasenda pemberontakan kontra revolusi G 30 S/PKI serta epilognya, kemunduran ekonomi dan kemerosotan akhlak.23 Pengamat politik Arief Budiman mengatakan bahwa penolakan Nawaksara oleh MPRS 30 tahun yang lalu janganlah hanya dilihat sebagai langkah konsitusional dalam pergantian Presiden saja. Tetapi hendaknya juga dilihat, dan dkaji, adanya kaitan langsung antara tidak diterimanya pidato Nawaksara Presiden Soekarno itu dengan susunan komposisi keanggotaan waktu itu. Jika melihat komposisi keanggotaan MPRS saat itu yang didominasi oleh kekuatan Orde Baru, yang terdiri unsur militer dan tersingkirnya anggoa-anggota lain yang berasal dari partai-partai lama, maka tidak heran jika pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno ditolak. Sulit melihat obyektivitas dan para anggota MPRS saat itu dalam pidato Nawaksara.24 Seminar Nawaksara tidak jadi diselenggarakan oleh pemerintah Soeharto yang keburu jatuh pada bulan Mei 1998. Seminar Nawaksara justru dilaksanakan Panitia Nasional Satu Abad Bung Karno pada bulan Januari 2001, Hotel Wisata Internasional, Jakarta. Salah saru tujuan dari seminar mereview sebab-sebab tidak diterimanya Nawaksara dan Pekengkapnya sebagai pertanggungjawaban Presiden Soekarno terhadap situasi bangsa pada waktu itu. Kesimpulannya karena MPRS secara keseluruhan telah direkayasa oleh Soeharto sehingga MPRS pada periode itu telah menjadi tukang stempel dari Jendral Soeharto, si-penguasa waktu itu .

Super Semar
Masalah Surat Perintah 11 Maret 1966 ( Super Semar ) kembali mencuat kepermukaan, setelah mantan pengawal pribadi Presiden Soekarno, Soekardjo Wiliardjito di LBH Yogyakarta pada tanggal 25 Agustus 1998, membeberkan bahwa dia menyaksikan dengan sendiri Mayjen Basuki Rachmat, Mayjen Maraden Panggabean, Brigjen Amir Machmud dan Brigjen TNI M Yusuf, agar menandatangani dokumen penyerahan kekuasaan Mayjen TNI Soeharto, dengan pistol yang terarah kepada tubuh Soekarno. 25 Pernyataan tersebut dibantah oleh Maraden Panggabean yang mengatakan bahwa dirinya tidak pergi ke Bogor dan tidak bertemu sama sekali dengan Soekarno karena dia berada di Markas Besar Angkatan Darat.26 M Yusuf dengan tegas mengatakan bahwa tiga orang perwira tinggi yang datang ke Istana Bogor untuk menemui dirinya, almarhum Basuki Rachmat dan Amir Machmud. Tidak ada diantara ketiga jendral yang membawa pistol dan map berwarna merah (berisi surat yang harus ditandatangani Presiden Soekarno). 27
23

Suwoto Mulyosudarmo. Peralihan Kekuasaan. Kajian Teoritis dan Yuridis terhadap Pidato Nawaksara, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama , 1997 , hal. 87 – 101. 24 Seminar “Nawaksawara” Tidak untuk Lukai Siapa pun,” Kompas, 1 April 1997. 25 “ Bung Karno teken Super Semar di bawah todongan ,” Kompas,26 Agustus 1998. 26 “ Panggabean Bantah Menodong Bung Karno,” Kompas, 28 Agustus 1998. 27 “ M Yusuf : Yang Temui Soeharto hanya Tiga Jendral,” Suara Pembaruan , 4 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

12

Peter Kasenda Pernyataan M Yusuf sama dengan istri mendiang Soekarno, Ny Hartini Soekarno yang hanya melihat ketiga jendral itu tanpa Jendral M Panggabean 28 Yang cukup kontroversial adalah Wilardjito yang memberikan kesaksian baru itu dituduh Polda DIY menyebarkan berita bohong. Akhir tahun 1998 pihak polisi melimpahkan perkaranya ke kejaksaan. Kemudian dalam persindangan di pengadilan negeri Yogyakarta, dakwaan jaksa ditolak oleh hakim. Selanjutnya jaksa mengajukan kasasi. Namun, Mahkamah Agung akhirnya memutuskan bahwa “Wiliardjito tidak terbukti melakukan perbuatan yang menimbulkan keonaran” Sejarah yang kita baca selama ini mengisahkan bahwa Presiden Soekarno yang memimpin sidang kabinet Dwikora (yang disempurnakan) langsung menghentikan sidang setelah membaca nota yang disampaikan oleh Brigjen Sabur, Komandan Resimen Tjakrabirawa yang menyatakan bahwa ada pasukan tidak dikenal dan demi alasan keamanan Presiden Soekarno diminta segera meninggalkan sidang kemudian Presiden Soekarno menyerahkan pimpinan kepada Waperdam II Leimena dan pergi keluar menuju hekopter yang selalu siap di halaman Istana Merdeka untuk menuju Istana Bogor. Sidang kabinet bubar, Menteri Urusan Veteran Mayjen Basuki Rachmat, Menteri Perdagangan, Mayjen M Yusuf dan Pangdam Jaya Brigjrn Amir Mavhmud setuju untuk menyusul Presiden Soekarno ke Bogor guna menjelaskan bahwa Angkatan Darat tidak berminat meninggalkan Presiden Sebelum berangkat mereka menemui Soeharto, yang sedang terbaring dikediaman Jalan Agus Salim, karena masuk angin, Soeharto yang tidak hadir dalam sidang tersebut memberikan restunya. Mereka berangkat ke Bogor naik helikopter dari halaman Istana dan sampai di Bogor sekitar pukul 13.00 WIB, karena Presiden Soekarno sedang istirahat ketiga jendral itu baru bisa bertemu pada pukul 14.30 WIB. Semula Presiden Soekarno marah, karena merasa dibohongi dengan adanya pasukan liaryang mengepung istana. Suasana berubah cerah, saat ketiganya menyatakan bahwa Soeharto sanggup mengatasi keadaan asal diberi kepercayaan. Rupanya Presiden Soekarno setuju dan langsung menunjuk tim penyusun konsep, Basuki Rachmat sebagai ketua, M Yusuf sebagai anggota, dan Sabur sebagai sekretaris. Rumusan naskah tulisan tangan Basuki Rachmat diajukan kepada Presiden Soekarno, yang kemudian meminta Soebandrio, Leimena dan Chaerul Saleh, untuk ikut melakukan koreksi. Sesudah diperbaiki rancangan naskah diketik Sabur dan diajukan kepada Presiden Soekarno. Setelah mendapat persetujuan yang lain, Supersemar ditandatangani Presiden Soekarno dengan disaksikan Soebandrio, Leimena, Chairul Saleh, Basuki Rachmat, M Yusuf, Amir Machmud, Sabur dan Ny Hartini Soekarno.29

September 1998. “ Seputar Supersemar, Ny Hartini Jawab Sepuluh Pertanyaan Polisi,” Merdeka, 11 September 1998. 29 “Supersemar Antara Dongeng dan Kenyataan ,” Kompas, 10 September 1998.
28

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

13

Peter Kasenda Sebenarnya Supersemar dan menjadi surat perintah biasa saja kalau tidak ditafsirkan secara sangat luas oleh Soeharto. Supersemar kemudian segera dipakai sebagai legitimasi untuk membubarkan PKI serta melancarkan gerakan de-Soekarnoisasi. Hal ini telah mengundang reaksi keras Presiden Soekarno. Sebab mantan Panglima Mandala itu telah bertindak sendiri, tanpa sepengetahuan Soekarno. Kemudian, Soeharto mengeluarkan seruan pelaporan diri eks PKI serta larangan bagi partai politik dan organisasi massa untuk menerima eks PKI. Kesemuanya dilakukan dengan mengatasnamakan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Mandaratis MPRS.Pemimpin Besar Revolusioner. Jadi seolah-olah Presiden Soekarno menyetujui ketiga keputusan Soeharto pasca Supersemar itu. Mungkin karena menganggap lancang, Presiden Soekarno menyurati Soeharto yang diantar oleh Waperdam I Leimena. Isi surat tertanggal 14 Maret 1966 itu adalah “ Saya perintahkan untuk kembali kepelaksanaan surat perintah Presiden/Pangti/Mandarais MPRS/ Pemimpin Besar Revolusi dengan arti melaksanakan keputusan di luar bidang teknis.” Pada tanggal 16 Maret, Presiden Soekarno membuat pengumuman untuk menjelaskan Supersemar. Ia menegaskan bahwa dirinya masih berkuasa penuh, sebagai kepala eksekutif pemerintahan dan mandataris MPRS. Hanya dia yang dapat menganglat menteri. Ia juga menyebut dirinya bertanggung jawab kepada MPRS dan Tuhan. Tetapi dua hari kemudian 15 Menteri ditangkap, termasuk Soebandrio dan Chaerul Saleh, dan Gubernur Bank Sentral, Jusuf Muda Dalam. Surat penangkapan tertanggal 18 Maret 1966 yang ditandatangani Soeharto itu kembali mengatasnamakan Presiden/Pangti /Mandataris MPRS. Soekarno lagi-lagi terperangah karena tak tahu-menahu tentangnya.. Dalam kata-kata di depan para menteri kabinet Dwikora hari itu juga Soeharto menjelaskan langkah-langkah yang telah diambilnya. Ia menyatakan telah memberanikan diri membubarkan PKI dengan resiko kalau perlu “digantung Paduka Yang Mulia Presiden“. Tentang penangkapan 15 Menteri, ia bilang hanya untuk mengamankan mereka karena mereka telah menjadi sasaran amuk massa. Ia menyebut pengamanan itu bersifat sementara. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Alhasil, mereka yang merasa dirinya diperdaya kemudian menyebut Supersemar telah dipakai Jendral Soeharto untuk melakukan kudeta pelan-pelan.30 Kalau boleh menggunakan kata-kata sejarawan UI Onghokham,” Supersemar adalah persitiwa kudeta tidak berdarah yang berlangsung dibawah intervensi militer .”31 Selama ini memang para sejarawan banyak yang ragu-ragu terhadap versi resmi Persitiwa Supersemar itu. Ada dugaan mungkin saja terjadi pembelokan fakta sejarah. Apalagi hingga sekarang disebutkan naskah asli Supersemar itu hilang. Menurut Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Mukhlis Paeni membeberkan bahwa kini ada tiga versi salinan surat perintah dari Presiden pertama RI Soekarno kepada Soeharto. Dia mengatakan dari tiga jenis dokumen sejarah yang beredar itu berbeda. Ada versi yang menyebutkan pada salah satu pasalnya dalam Supersemar itu dengan kalimat
30 31

“Super Semar dan Kudeta Terselubung ,” D&R, 12 September 1998, hal. 16 – 21. “Onghokham : Supersemar KudetaTak Berdarah,” Merdeka, 8 September 1998 .

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

14

Peter Kasenda “….dikordinasi dengan Panglima angkatan-angkatan “ berarti satu panglima yang membawahi banyak angkatan. Versi lainnya menyebutkan “… dikordinasi dengan Panglima-Panglima angkatan “ artinya panglimanya banyak bukan satu. Selain terdapat perbedaan antara Supersemar yang satu dengan lainnya, ada tanda tangan Soekarno ditulis miring, ada yang ditulis tegak. Selanjutnya ada versi lainnya berbeda titik dan komanya dalam kalimat dokumen bersejarah ini.32 Presiden Soekarno dapat saja mengutuk PKI untuk menyelamatkan dirinya dengan melihat kembali ke belakang pada Persitiwa Madiun atau melihat kembali pada kecamannya pada tahun 1926/1927 bahwa komunis yang menjalankan taktik-taktik usang merupakan racun bagi rakyat. Ia tidak menempuh jalan ini dan menolak untuk mengingkari tempat komunisme dalam kesepakatan persatuan nasional yang ingin dibinanya. Pendiriannya telah membawanya pada gambaran seorang tua yang sakit menyedikan diasingkan dari dunia yang dicintainya, terus diancam untuk diadili karena keterlibatannya dalam persitiwa kup itu, dan selama tahun-tahun terakhirnya telah hidup sebagai orang yang tidak dipedulikan .33 Dalam memoarnya, Rachmawati Soekarnoputri mengisahkan hari-hari terakhir dari ayahnda tercinta yang pernah menjadi Presiden Republik yang pertama
Hari - hari terakhir Bapakku ternyata harus dilalui dengan berbagai kesulitan, melawan rasa sakit, kesendirian , sepi dan dirundung kecemasan mengenai bangsa dan negaranya . Di hari-hari terakhir betapa susah membujuk Bapak untuk makan nasi dan obat, apapun yang disodorkan tentu ditolak dengan gelengan kepala. Penyakitnya kambuh lagi dan makin parah saja.Harapan kami sesungguhnya makin menipis melihat keadaan itu 34.

Tetapi apa yang menyebabkan kematian Soekarno, Dewi Soekarno istri mendiang Presiden Republik yang pertama mempunyai jawaban yang berbeda dengan sejarah resmi (yang menyatakan bahwa meninggalnya Soekarno karena sakit). Menurut Dewi Soekarno, kematian Soekarno tidak wajar dan Soekarno dipaksa tentara untuk dibawa ke RSPAD kendati menolak.35 Sebagai satu-satunya dokter kepresidenan yang masih hidup, Prof Dr Mahar Mardjono menyatakan bahwa Soekarno menderita gagal ginjal kronis dan gangguan kesehatan lain seperti hipertensi dan penyakit jantung. Menurutnya kondisi umum Soekarno diduga kuat terkait stress (depresi) yang dideritanya karena turun dari jabatan Presiden dan diisolasi. Semua dokter pasti tahu bagaimana dampak mental dari seseorang yang diperlukan seperti itu. Seorang pengidap penyakit kronis yang sama mungkin tak perlu menderita seperti itu bila kondisi dirinya dalam keadaan bebas dan gembira Mahar Mardjono menyangkal kalau Soekarno dibunuh atau disuntik obat tidur.36 Pemerintah Habibie tidak merasa perlu melakukan klarifikasi terhadap ucapan Dewi Soekarno karena pemerintah sudah mempunyai bukti dari tim dokter yang sampai
32 33

“ Ada Upaya Pemalsuan Supersemar,” Bisnis Indonesia, 16 Oktober 1998 . John D Legge . Sebuah Biografi Politik . Jakarta : Sinar Harapan , 1985, hal. 408-409 34 Rachmawati Soekarnoputri. Bapaku Ibuku . Jakarta : Garuda Metropolitan Press, hal. 235 – 236. 35 “Dewi tentang Misteri Kematian Soekarno,” Suara Pembaruan , 8 Oktober 1998. 36 “Dr Mahar Mardjono : Bung Karno Meninggal dengan Tenang,” Suara Pembaruan , 12 Oktober 1998. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

15

Peter Kasenda sekarang menjadi pegangan (yang menyatakan Soekarno meninggal karenna sakit).37 Anhar Gonggong dan Onghokham sejarawan UI meragukan kebenaran ucapan Dewi Soekarno yang menyatakan kematian Soekarno tidak wajar.38

De-Soekarnoisasi di Era Reformasi
Kendati pemerintahan Soeharto telah berakhir tanggal 21 Mei 1998, tetapii mewaspadai ajaran Soekarno tetap terjaga. Ketika menerima pimpinan Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiah di Bina Graha, Senin malam 3 Mei 1999, Presiden Habibie mensinyalir bahaya komunisme, marhaenisme dan sosialisme dalam situasi Indonesia sekarang. Ia menyebutkan tiga ideologi sebagai “kosmas “ dan dengan demikian sempat memperkaya daftar akronim yang sidah panjang dengan sebuah entri baru. Saat ini “kosmas“ menginginkan terjadinya disintegrasi bangsa. Sebagaimana dikutip Nadjamuddin Ramly, Ketua Pemuda Muhammdiyah, seusai pertemuan di Bina Graha, Kepala Negara menyatakan bahwa “kosmas“, Komunis, Marhaenisme dan Sosialis yang ingin merebut kekuasaan dengan menggunakan segala macam cara. Ucapan Habibie ini langsung memicu diskusi ramai.39 Banyak yang terkejut dan terperangah oleh pernyataan Habibie. Hampir-hampir tidak bisa dipercaya, mengapa dalam zaman reformasi pro demokrasi, pro supremasi hukum, dan pro hak asasi manusia, isu tuduhan semacam itu muncul lagi. Karena zaman sedang berubah dan sesuai dengan prinsip demokrasi, keterbukaan, kebebasan serta hukum menjadi komitmen serta kriterianya, Orang bertanya, apa sebenarnya motif dilontarkannya pola dan cara lama itu? Sulit disalahkan, jika misalnya ada yang beranggapan isu stigma itu dilontarkan sekarang ini dengan motif politik. Apakah misalnya, tujuannya untuk mendeskreditkan gerakan politik yang berpaham marhaenisme ? 40

37 38

“ Bung Karno Meninggal karena Sakit Ginjal, “ Media Indonesia, 8 Oktober 1998 . “ Ong : Apakah Dewi Berada Disampingnya,” Merdeka, 8 Oktober 1998 dan “ Dari Ilmu Sejarah , Keterangan Dewi Kesalahan Besar,” Suara Karya,12 Oktober 1998 . 39 K Bertens .Perspektif Etika. Esai-Esai tentang Masalah Aktual.Yogykarta : Kanisius , 2000, hal. 34. 40 “ Bagaimana Kita Menjelaskan adanya Gerakan Komunis, Marhaenis, Sosialis,” Tajuk Rencana Kompas, 5 Mei 1999. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

16

Peter Kasenda Pada saat membuka Konferensi Pemuda Indonesia di Istana Merdeka pada 7 Mei 1999, Presiden BJ Habibie meminta semua pihak tidak menyalahkan berbagai golongan yang pernah ia sebut dengan singkatan (Komunisme, Marhaenisme,dan Sosialisme) itu sebagai mengindentifikasikan antara marhaenisme, sosialisme dan gerakan komunisme. Yang dimaksudkan oleh Habibie adalah gerakan Komunisme, Marxisme dan Leninisme. Gerakan dan doktrin itu dianggap bertentangan dengan falsafah Pancasila. Menurut Habibie, gerakan atau doktrin dari ketiga isme itu mempertentangkan kelas dalam masyarakat, menggunakan pendekatan konflik dan tidak demokratis karena bersifat monolitik. 41 Kosmas ala Habibie jelas berbeda dengan Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis) yang dicetuskan Soekarno. Nasakom justru merupakan upaya politik Soekarno demi mempersatukan kelompok-kelompok yang secara ideologis berbeda. Kalau Soekarno dianggap salah karena merangkul kaum komunis, hal itu kita terima sebagai kenyataan sejarah. Tetapi yang pasti Nasakom dicetuskan tidak untuk mencari kambing hitam dan dicurigai, melainkan sebagai upaya mempersatukan bangsa.42 Komunisme mempunyai nama buruk di Indonesia, tetapi tidak banyak orang mampu menjelaskan dengan agak memuaskan apa yang diajari oleh ideologi ini. Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa komunisme adalah suatu ideologis ateis yang menolak adanya Tuhan. Hal itu memang benar. Negara-negara Komunis dalam abad ke-20 adalah negara ateis pertama dalam sejarah, sedangkan kita di Indonesia hidup dalam negara yang berasas Ketuhanan Yang Maha Esa (yang menjadi asas dari Marhaenisme). Sosialisme dan Komunisme termasuk didalamnya harus dimengerti dalam persektif sejarah. Sosialisme adalah reaksi atas liberalisme dan kapitalisme menempatkan individu diatas masyarakat menilai milik pribadi sebagai suatu hal yang suci. Sosialisme memperjuangkan nasib kaum buruh yang menjadi korban dari kapitalisme liberalistis. Sosialisme menempatkan masyarakat di atas individu. Mereka menekankan bahwa kekayaan di bumi ini harus bisa dinikmati oleh semua orang. Karena itu struktur-struktur kepemilikan dalam masyarakat industri kapitalis harus diubah. Harus ditegakkan keadilan sosial sehingga semua orang dapat hidup dengan pantas. Menurut soslisme komunistis, perubahan sosial itu hanya mungkin diwujudkan dengan kekerasaan. Komunisme bersifat anti demokrasi. Tetapi ada bentuk-bentuk sosialisme yang menganggap demokrasi sebagai nilai modern yang sangat berharga. Mereka juga ingin merealisasikan cita-cita sosialistis tapi melalui jalan demokratis.43 Jika berbicara tentang marhaenisme, ada baiknya hendak kita mengikut ajaran-ajaran Marhaenisme dan penciptanya sendiri (Soekarno), sebagaimana diputuskan oleh Konferensi Partindo di Mataram (Yogyakarta ) tahun 1933. (1) Marhaenisme adalah azas, yang menghendaki susunan masyarakat kaum Marhaen; (2) Marhaenisme adalah caraperjuangan revolusioner sesuai dengan watak kaum Marhaen pada umumnya; (3)
41

“Presiden BJ Habibie :Marhaenisme dan Sosialisme tak identik dengan Komunisme.” Kompas, 8 Mei 1999. 42 “ Kosmas yang Membingungkan,” Bisnis Indonesia, 8 Mei 1999. 43 K Bertens, Op.Cit., hal. 35. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

17

Peter Kasenda Marhaenisme adalah asas dan cara perjuangan menuju hilangnya kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme. Marhaenisme juga disebut sebagai sosialisme dan sosio-demokrasi, karena nasionalisme kaum marhaen adalah nasionalisme yang sosial-bewust dan karena demokrasinya kaum marhaen adalah demokrasi yang sosial-bewust pula. Dan siapakah yang bisa disebut sebagai kaum Marhaen itu yang disebut kaum Marhaen adalah kaum proletar Indonesia, kaum tani melarat Indonesia dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain. Kalau ada yang mengatakan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme dengan kondisi dalam masyarakat Indonesia sendiri adalah berasalan. Soekarno sendiri berkali-kali menegaskan bahwa orang tidak dapat mengerti Marhaenisme, jikalau ia taidak mempelajari dan mengerti Marxisme. Berulang kali Soekarno mengatakan dirinya seorang Marxis dan paham Marxisme adalah “ yang membakar Soekarno punya jiwa “.44 Ada sejumlah buku yang mengarah kepada upaya de-Soekarnoisasi menjadikan mantan Presiden RI pertama sebagai dalang peristiwa G30S/1965 dan bertanggung jawab atas segala dampak kudeta berdarah itu. Proses ini terkesan sebagai pengulangan dari yang dilakukan terhadap Soekarno tahun 1970-an. Pada 17 November 2005, di Jakarta diluncurkan buku Sukarno File, Berkas-berkas Soekarno 1965-1967, dan Kronologi Suatu Keruntuhan yang ditulis Antonie CA Dake. Bukan hanya sekadar mengatakan bahwa Soekarno “ biang yang sebenarnya “ dari apa yang terjadi pada paruh akhir 1965, Dake juga men8uding bahwa sang proklamator “ secara langsung harus memikul tanggung awab atas pembunuhan enam jendral dan secara tidak langsung untuk pembantaian antara komunis dan bukan komunis yang berlangsung kemudian .” Buku Victor Miroslav Fic Kudeta 1 Oktober 1965. Sebuah Studi Tentang Konspirasi (2005) dan buku Lambert Giebels, Pembantaian yang Ditutupi, Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno ( 2005 ) juga mendukung tesis keterlibatan Soekarno dalam G30S. Apa yang ditampilkan hari-hari ini merupakan pengulangan dari deSoekarnoisasi (jilid satu) yang telah dimulai pasca-G30S/1965. Yang menarik adalah upaya de-Soekarnoisasi belakangan ini seakan-akan seiring dengan Soehartoisasi, yaitu memulihkan nama baik Soeharto. 45

Penutup
Tidak dapat dipungkiri, bahwa Soekarno, setidak-tidaknya hingga sekarang merupakan tokoh sejarah yang kontroversial. Bicara atau menulis mengenai Soekarno masih merupakan sesuatu hal yang mengandung resiko bagi seorang Indonesia yakni resiko dituduh sebagai pendukung Soekarno pada satu pihak dan dituduh anti Soekarno di lain
44

H Roeslan Abdulgani . Sosialisme Indonesia. Jakarta : Yayasan Prapanca, 1965, hal. 36 - 37. 45 Asvi Warman Adam. Membongkar Manipulasi Sejarah .Kontroversi Pelaku dan Persitiwa. Jakarta : Kompas, 2009, hal. 107 – 111. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

18

Peter Kasenda pihak. Namun kiranya kita harus berani menyampaikan pendapat kita masing-masing mengenai Soekarno, apapun pendapat kita itu. Meskipun kita masing-masing tidak dapat mencapai taraf obyektif mutlak, namun paling tidak kita dapat berusaha keras untuk bersikap sejujur-jujurnya dan seimbang mungkin. Apabila seorang terpanggil untuk mencari kebenaran tentang Soekarno dan ingin menyampaikan kepada khalayak ramai secara tertulis apa yang telah diketemukan dan dipahami dalam usaha mencari kebenaran itu, maka ia sedang dalam proses menulis sejarah. Apa yang kemudian ditulisnya tidak akan sampai kepada kebenaran yang mutlak, hanyalah akan sampai pada mendekati kebenaran. Oleh karena itu pada saat tulisannya ini disampaikan kepada umum, maka disitulah akan segera diketahui atau dirasakan oleh para pembicara seberapa jauh tulisan itu masuk akal, dapat dipercaya dan menimbulkan reaksi amarah dan sebagainya . Mendekati kebenaran sejarah diperlukan sebuah metode. Karena menulis sejarah berarti menggunakan sumber primer dan sumber sekunder dan mencoba membandingkan dengan yang lain yang bersangkut paut dengan pokok persoalan. Sampai disini penulis sejarah mulai mengijak bagian yang pelik dalam menulis sejarah dengan kejujuran maksimal, yaitu melakukan tafsir dan mengelompokan fakta-fakta dalam macam-macam hubungan satu sama lain. Barulah ia membuat konstruksi dan menyampaikan hasil usahanya mendekati kebenaran tentang Soekarno.46 Dalam rekontruksi sejarah yang mencoba menghadirkan kembali kelampauan pemberian keterangan adalah suatu kemestian yang tak terhindarkan. Terlepas dari segala kemungkinan “dosa “ dan ketegelinciran kepada segala macam kesalahan itu, rekontruksi sejarah memang tak jarang dibayangi nemesis yang sewaktu-waktu bisa tercipta. Kutuk yang terberat yang bisa menimpa penulisan sejarah ialah ketika apa yang diajukan menjadi unsure disintegratif sosial. Dalam situasi ini kelihatan dengan jelas adanya hubungan yang bercorak dialektis antara sejarah yang dikisahkan dengan masyarakat yang menjadi khalayak dan sekaligus obyek kajian dari studi sejarah itu. Masyarakat, yaitu obyek dan khalayak sejarah, memberi reaksi terhadap gambaran yang telah diberikan pada masa lalunya. Kontroversi disekitar Soekarno memperlihatkan dengan jelas betapa unsur disintegratif telah berperan. Dalam suasana ini, sejarawan mau tidak mau telah terlibat. Perdebatanperdebatan yang mengiringi kasus-kasus ini, memperlihatkan betapa suatu suasana kewajaran historis, yang telah dirasakan sebagai suatu kepastian, tergoncang oleh tantangan baru. Tantangan ini ternyata tidak diterima sebagai pengujian terhadap kewajaran histories, yang bahkan telah berperan sebagai mitos peneguh itu, tetapi sebagai implikasi yang bersifat “subversif”, dan konsep kewajaran historis lain, yang antagonistik.

46

Abdurrachman Suryomihardjo ,” Bung Karno dalam Penulisan Seajarah Indonesia ,” Kompas , 2 Maret 1981.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

19

Peter Kasenda Konflik, antar komunitas–sejarah umumnya lebih bersifat latent dariipada terbuka. Namun, reaksi dan komunitas sejarah terhadap segala tantangan akan mengurangi kewajaran historis, merupakan peristiwa yang sering terjadi. Pengingkaran validitas mungkin betolak dari dimensi-kebenaran, tetapi dapat pula berfungsi sebagai unsur “demitologi”. Jika ini terjadi, maka salah satu sendi yang mungkin merupakan “struktur keniscayaan“ telah digoyahkan. Dengan begini pula konfirmasi sosial terhadap realitas yang diyakini sebagai “riil” menjadi problematik. Maka suasana krisis, betapapun entengnya telah diperkenalkan Terlepas dari apa yang diperdebatkan dan bagaimana pula tingkat intensitas perasaan yang terlibat di dalamnya, pluralitas sejarah, yang menjadi sebab perdebatan ini sama sekali tidaklah unik. Hal ini memperlihatkan dengan jelas bahwa sejarah sebagai sesuatu yang dikisahkan, tidaklah urusan sejarawan saja. Sejarah sebagai kisah harus disampaikan. Maka dengan begini sejarah tidak saja harus memakai wacana, tetapi sejarah itu sendiri adalah suatu wacana, sejarah tidak saja mewakili realitas dan bahkan menciptakannya, tetapi juga menentukan bentuk dan sifat realitas itu. Tanpa sejarah, bukanlah peristiwa masa lampau tidak ada. Tetapi penulisan sejarah sekaligus juga menolak untuk mengadakan formulasi yang sama dari wacananya. Maka disamping kepastian historis dari rekontruksi sejarah, yang telah melalui proses pengerjaan sejarah (menemukan, melukiskan dan menerangkan), selalu menjadi problematik. Elemenelemen sejarah, yang membentuk kronikel, dapat menyentuh khalayak dan obyek sejarah tersebut Dengan begitu dinamika hubungan sejarah, sebagai bentuk wacana dengan masyarakat, serta komunitas sejarah yang berada didalamnya bermula. Dalam konteks masyarakat tradisional, di mana sejarawan sejarah adalah segala-galanya, baik sebagai mitos-peneguh, maupun sebagai dasar legitimasi kekuasaan, sejarawan seluruhnya terluluh dalam masyarakatnya, yang sering juga merupakan komunitassejarahnya, tetapi juga anggota dari dunia akademis. Dalam dunia ini bukanlah suasana konsesus norma dan nilai yang dituntut tetapi ketaatan pada konvensi akademis, yang berlandaskan rasionalitas dan integritas intelektual antara lain. Bukanlah nilai-nilai kewajaran historis yang berbicara lantang tetapi tuntutan etis dan teknis dari the man on truth. Tidaklah keutuhan kosmos yang menjadi perhatian pokok, tetapi pertanggungjawaban akademis terhadap penemuan, pelukisan dan memberi keterangan historis. Maka, suatu suasana dilematis bisa terhampar dihadapan sejarawan. Suasana lebih dirasakan dalam masyarakat yang sedang dalam proses perubahan ketika tatanan sosial baru telah dibayangkan tetapi idealisasi dari tantanan lama tetap mencekam. Kasus-kasus perdebatan kesejarahan yang telah terjadi mengisyaratakan dengan keras suasana yang bisa terjadi itu. Tetapi kasus-kasus ini memberi pesan moral lain. Disamping menuntut sejarawan untuk sekali-kali merenungkan fungsi dan makna perannya sebagai cendikiawan, kasus-kasus tersebut memperlihatkan betapa mutlaknya integritas ilmu dan betapa perlunya sejarawan untuk selalu mempertanyakan kemampuan teknis dan metodeloginya seabagai pekerja ilmiah. Kasus-kasus ini memperlihatkan situasi kultural

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

20

Peter Kasenda dalam mana sejarawan harus menjalankan tugasnya dan perannya. Seorang sejarawan harus mencari kebenaran bukan pembenaran. 47 Kendati sejarawan berada dalam tantangan tetapi tulisan yang berkaitan dengan Soekarno, yang bertolak dari mencari kebenaran bukan pembenaran sangat diperlukan. Perbedaan pandangan diluar de-Soekarnoisasi atau mitosisasi harus dihargai. Penghargaan yang diberikan bisa melahirkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Soekarno yang dapat dipertanggungjawabkan.

47

Taufik Abdullah,” Pengalaman yang Berlalu, Tantangan yang Mendatang : Ilmu Sejarah di tahun 1970-an ,” dalam Harsya W Bachtiar et al. Masyarakat dan Kebudayaan . Jakarta : Djambatan , 1988, hal. 224 – 267.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

21

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->