P. 1
Amandemen UUD 1945

Amandemen UUD 1945

|Views: 4,072|Likes:
Published by Peter Kasenda
Alasan paling mendasar perlunya suatu konsitusi baru adalah sifat darurat Undang-Undang Dasar 1945. Kedaruratan Konsitusi tersebut dinyatakan oleh para penyusun UUD 1945 pada bagian aturan tambahan angka dua (2) yang menegaskan sebagai berikut : “….dalam enam bulan sesudah Majelis Permusyawaratan Rakyat dibentuk, Majelis itu bersidang untuk menerapkan Undang-Undang Dasar. Namun sifat darurat tersebut bertahan sampai dengan lebih dari setengah abad. Selama itu pula UUD 1945 terbukti mempunyai banyak kelemahan, meskipun telah diamandemen. Kelemahan tersebut terutama terletak pada pasal-pasalnya yang multi-tafsir sehingga mengundang perdebatan yang tidak berkesudahan. ( J Kristiadi 2002 : 116 )

Amandemen UUD 1945 merupakan sebuah kebutuhan dalam rangka merajut demokrasi masa depan yang lebih baik karena di dalam kenyataannya UUD 1945 yang hanya berjumlah 37 Pasal telah memberikan peluang munculnya otoritarianisme yang sangat panjang dalam sejarah kehidupan politik Indonesia, karena pada hakekatnya UUD 1945 yang asli dapat menimbulkan interprestasi yang berbeda sesuai dengan kepentingan politik masing-masing, sebagaimana halnya dilakukan oleh Presiden Soekarno yang mengantarkannya menjadi Presiden seumur hidup, dan juga dilakukan oleh Soeharto yang juga menjadikannya presiden selama 30 tahun secara terus menerus. Oleh karena itu amandemen merupakan kelanjutan dari proses reformasi politik yang sudah dicanangkan sejak masa pemerintahan Presiden Habibie supaya kita jangan sampai mengulangi kembali pengalaman buruk dengan otoritarianisme dengan implikasinya yang sangat tidak mengguntungkan baik dalam bidang sosial, apalagi dalam bidang ekonomi dan politik.

Tentu saja masyarakat Indonesia tidak akan mau lagi terperangkap oleh kekuasaan yang otoritarian untuk ketiga kalinya, dan untuk itulah memang diperlukannya amandemen terhadap UUD Negara guna membangun kehidupan politik yang lebih baik. Disamping itu juga harus dicatat bahwa gelombang demokrasi yang membawa implikasi terhadap isu HAM, Gender dan lain-lainnya dan tidak mungkin dinafikan lagi oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu amandemen juga diperlukan dalam rangka memberikan batasan yang jelas tentang kekuasaan negara, hak-hak individu dalam kehidupan negara, serta menentukan prosedur demokrasi sesuai dengan perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, seperti misalnya pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, proses pemberhentian presiden kalau di dalam menjalankan tugasnya terdapat pelanggaran yang serius terhadap konsitusi, mekanisme hubungan kelembagaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang dikenal dengan mekanisme check and balances, dan lain-lain sebagainya

Akan tetapi sebelum dilakukan amandemen memang sudah seharusnya dilakukan kesepakatan terlebih dahulu apa saja yang menjadi prioritas untuk dilakukan amandemen terhadap amandemen UUD 1945 tersebut sehingga perubahan terhadap kehidupan politik nasional dapat dilakukan secara terarah dan dapat dikelola sehingga menjamin stabilitas politik nasional. Tampaknya inilah yang menjadi menjadi persoalan bangsa Indonesia sekarang ini. Amandemen yang telah dilakukan tidak direncanakan dengan baik dan tidak bersifat integrative sehingga menimbulkan masalah baru sebagaimana yang sedang kita saksikan sekarang ini, Tulisan ini mencoba memberikan beberapa kontribusi dalam rangka perdebatan tentang amandemen UUD 1945. ( Afan Gaffar 2002 : 432 )
Alasan paling mendasar perlunya suatu konsitusi baru adalah sifat darurat Undang-Undang Dasar 1945. Kedaruratan Konsitusi tersebut dinyatakan oleh para penyusun UUD 1945 pada bagian aturan tambahan angka dua (2) yang menegaskan sebagai berikut : “….dalam enam bulan sesudah Majelis Permusyawaratan Rakyat dibentuk, Majelis itu bersidang untuk menerapkan Undang-Undang Dasar. Namun sifat darurat tersebut bertahan sampai dengan lebih dari setengah abad. Selama itu pula UUD 1945 terbukti mempunyai banyak kelemahan, meskipun telah diamandemen. Kelemahan tersebut terutama terletak pada pasal-pasalnya yang multi-tafsir sehingga mengundang perdebatan yang tidak berkesudahan. ( J Kristiadi 2002 : 116 )

Amandemen UUD 1945 merupakan sebuah kebutuhan dalam rangka merajut demokrasi masa depan yang lebih baik karena di dalam kenyataannya UUD 1945 yang hanya berjumlah 37 Pasal telah memberikan peluang munculnya otoritarianisme yang sangat panjang dalam sejarah kehidupan politik Indonesia, karena pada hakekatnya UUD 1945 yang asli dapat menimbulkan interprestasi yang berbeda sesuai dengan kepentingan politik masing-masing, sebagaimana halnya dilakukan oleh Presiden Soekarno yang mengantarkannya menjadi Presiden seumur hidup, dan juga dilakukan oleh Soeharto yang juga menjadikannya presiden selama 30 tahun secara terus menerus. Oleh karena itu amandemen merupakan kelanjutan dari proses reformasi politik yang sudah dicanangkan sejak masa pemerintahan Presiden Habibie supaya kita jangan sampai mengulangi kembali pengalaman buruk dengan otoritarianisme dengan implikasinya yang sangat tidak mengguntungkan baik dalam bidang sosial, apalagi dalam bidang ekonomi dan politik.

Tentu saja masyarakat Indonesia tidak akan mau lagi terperangkap oleh kekuasaan yang otoritarian untuk ketiga kalinya, dan untuk itulah memang diperlukannya amandemen terhadap UUD Negara guna membangun kehidupan politik yang lebih baik. Disamping itu juga harus dicatat bahwa gelombang demokrasi yang membawa implikasi terhadap isu HAM, Gender dan lain-lainnya dan tidak mungkin dinafikan lagi oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu amandemen juga diperlukan dalam rangka memberikan batasan yang jelas tentang kekuasaan negara, hak-hak individu dalam kehidupan negara, serta menentukan prosedur demokrasi sesuai dengan perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, seperti misalnya pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, proses pemberhentian presiden kalau di dalam menjalankan tugasnya terdapat pelanggaran yang serius terhadap konsitusi, mekanisme hubungan kelembagaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang dikenal dengan mekanisme check and balances, dan lain-lain sebagainya

Akan tetapi sebelum dilakukan amandemen memang sudah seharusnya dilakukan kesepakatan terlebih dahulu apa saja yang menjadi prioritas untuk dilakukan amandemen terhadap amandemen UUD 1945 tersebut sehingga perubahan terhadap kehidupan politik nasional dapat dilakukan secara terarah dan dapat dikelola sehingga menjamin stabilitas politik nasional. Tampaknya inilah yang menjadi menjadi persoalan bangsa Indonesia sekarang ini. Amandemen yang telah dilakukan tidak direncanakan dengan baik dan tidak bersifat integrative sehingga menimbulkan masalah baru sebagaimana yang sedang kita saksikan sekarang ini, Tulisan ini mencoba memberikan beberapa kontribusi dalam rangka perdebatan tentang amandemen UUD 1945. ( Afan Gaffar 2002 : 432 )

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

07/13/2015

Peter Kasenda

Amandemen UUD 1945: Sebuah Perdebatan

Alasan paling mendasar perlunya suatu konsitusi baru adalah sifat darurat UndangUndang Dasar 1945. Kedaruratan Konsitusi tersebut dinyatakan oleh para penyusun UUD 1945 pada bagian aturan tambahan angka dua (2) yang menegaskan sebagai berikut : “….dalam enam bulan sesudah Majelis Permusyawaratan Rakyat dibentuk, Majelis itu bersidang untuk menerapkan Undang-Undang Dasar. Namun sifat darurat tersebut bertahan sampai dengan lebih dari setengah abad. Selama itu pula UUD 1945 terbukti mempunyai banyak kelemahan, meskipun telah diamandemen. Kelemahan tersebut terutama terletak pada pasal-pasalnya yang multi-tafsir sehingga mengundang perdebatan yang tidak berkesudahan. ( J Kristiadi 2002 : 116 ) Amandemen UUD 1945 merupakan sebuah kebutuhan dalam rangka merajut demokrasi masa depan yang lebih baik karena di dalam kenyataannya UUD 1945 yang hanya berjumlah 37 Pasal telah memberikan peluang munculnya otoritarianisme yang sangat panjang dalam sejarah kehidupan politik Indonesia, karena pada hakekatnya UUD 1945 yang asli dapat menimbulkan interprestasi yang berbeda sesuai dengan kepentingan politik masing-masing, sebagaimana halnya dilakukan oleh Presiden Soekarno yang mengantarkannya menjadi Presiden seumur hidup, dan juga dilakukan oleh Soeharto yang juga menjadikannya presiden selama 30 tahun secara terus menerus. Oleh karena itu amandemen merupakan kelanjutan dari proses reformasi politik yang sudah dicanangkan sejak masa pemerintahan Presiden Habibie supaya kita jangan sampai mengulangi kembali pengalaman buruk dengan otoritarianisme dengan implikasinya yang sangat tidak mengguntungkan baik dalam bidang sosial, apalagi dalam bidang ekonomi dan politik. Tentu saja masyarakat Indonesia tidak akan mau lagi terperangkap oleh kekuasaan yang otoritarian untuk ketiga kalinya, dan untuk itulah memang diperlukannya amandemen 1 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda terhadap UUD Negara guna membangun kehidupan politik yang lebih baik. Disamping itu juga harus dicatat bahwa gelombang demokrasi yang membawa implikasi terhadap isu HAM, Gender dan lain-lainnya dan tidak mungkin dinafikan lagi oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu amandemen juga diperlukan dalam rangka memberikan batasan yang jelas tentang kekuasaan negara, hak-hak individu dalam kehidupan negara, serta menentukan prosedur demokrasi sesuai dengan perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, seperti misalnya pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, proses pemberhentian presiden kalau di dalam menjalankan tugasnya terdapat pelanggaran yang serius terhadap konsitusi, mekanisme hubungan kelembagaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang dikenal dengan mekanisme check and balances, dan lain-lain sebagainya Akan tetapi sebelum dilakukan amandemen memang sudah seharusnya dilakukan kesepakatan terlebih dahulu apa saja yang menjadi prioritas untuk dilakukan amandemen terhadap amandemen UUD 1945 tersebut sehingga perubahan terhadap kehidupan politik nasional dapat dilakukan secara terarah dan dapat dikelola sehingga menjamin stabilitas politik nasional. Tampaknya inilah yang menjadi menjadi persoalan bangsa Indonesia sekarang ini. Amandemen yang telah dilakukan tidak direncanakan dengan baik dan tidak bersifat integrative sehingga menimbulkan masalah baru sebagaimana yang sedang kita saksikan sekarang ini, Tulisan ini mencoba memberikan beberapa kontribusi dalam rangka perdebatan tentang amandemen UUD 1945. ( Afan Gaffar 2002 : 432 ) Undang-Undang Dasar dan Konsitusionalisme Dalam kehidupan sehari-hari kita telah terbiasa menerjemahkan istilah dalam bahasa Inggris consitution menjadi Undang-Undang Dasar (UUD). Sebenarnya ada kesukaran atau kekurangan dengan pemakaian istilah UUD, yakni kita langsung membayangkan suatu naskah tertulis. Padahal istilah constitution bagi banyak sarjana ilmu politik merupakan sesuatu yang lebih luas, yaitu keseluruhan dari peraturan-peraturan – baik yang tertulis, maupun yang tidak – yang mengatur secara mengikat cara-cara pemerintahan diselenggarakan dalam masyarakat. 2 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Dan rupa-rupanya para penyusun UUD 1945 menganut pikiran yang sama, sebab dalam Penjelasan UUD 1945 menganut pikiran yang hanya sebagian dari hukumnya dasar negara itu. UUD ialah Hukum Dasar yang tertulis, sedang di samping UUD itu berlaku juga Hukum Dasar yang tak tertulis, yaitu aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktik penyelenggaraan negara, meskipun tidak tertulis.” Apakah Undang-Undang Dasar (UUD) itu? Umumnya dapat dikatakan bahwa UUD merupakan suatu perangkat peraturan yang menentukan kekuasaan dan tanggung jawab dari berbagai alat kenegaraan. UUD juga menentukan batas-batas berbagai pusat kekuasaan itu dan memaparkan hubungan-hubungan di antara mereka. Bagi mereka yang memandang negara dari sudut pandang kekuasaan dan

menganggapnya sebagai organisasi kekuasaan. UUD dapat dipandang sebagai lembaga atau kumpulan asas yang menetapkan bagaimana kekuasaan dibagi antara beberapa lembaga kenegaraan, misalnya antara badan legislatif, badan eksekutif, dan badan yudikatif. UUD menentukan cara-cara bagaimana pusat-pusat kekuasaan ini melakukan kerja sama dan menyesuaikan diri satu sama lain. UUD merekam hubungan-hubungan kekuasaan dalam suatu negara. UUD sebagai riwayat suatu hubungan kekuasaan. UUD sebenarnya tidak dapat dilihat lepas dari konsep konstitusionalisme, suatu konsep yang telah berkembang sebelum UUD pertama dirumuskan Ide pokok dari konsitusionalisme adalah bahwa pemerintah perlu dibatasi kekuasaannya (the limited state), agar penyelenggarannya tidak bersifat sewenang-wenang. Dianggap bahwa suatu UUD adalah jaminan utama untuk melindungi warga dari perlakuan yang semena-mena. Dengan demikian timbul konsep the constitutional state, di mana UUD dianggap sebagai institusi yang paling efektif untuk melindungi warganya melalui konsep Rule of Law atau Rechsstaat. Kita perlu menyadari bahwa gagasan konsitusionalisme telah timbul lebih dahulu daripada UUD. Paham konsitusionalisme dalam arti bahwa penguasa perlu dibatasi 3 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kekuasaannya dan karena itu kekuasaannya harus diperinci secara tegas, telah timbul pada Abad Pertengahan di Eropa. Pada tahun 1216, Raja John dari Inggris dipaksa oleh beberapa bangsawan untuk mengakui beberapa hak mereka – antara lain Raja John menjamin bahwa pemungutan pajak tidak akan dilakukan tanpa persetujuan dari yang bersangkutan. Pada waktu itu juga disetujui bahwa tidak akan dilakukan penangkapan tanpa peradilan, sebagaimana dicantumkan dalam Magna Charta (Piagam Besar). Dalam Charter of English Liberties ini Raja John menjamin bahwa pemungutan pajak tidak akan dilakukan tanpa persetujuan dari yang bersangkutan, dan bahwa tidak akan diadakan penangkapan tanpa peradilan. Meskipun belum sempurna, Magna Charta di dunia Barat dipandang sebagai awal gagasan Konsitusionalisme serta pengakuan terhadap kebebasan dan kemerdekaan rakyat. Mulai akhir abad ke-18 muncul berbagai rumusan undang-undang dasar dalam bentuknya seperti yang kita kenal dewasa ini. UUD dianggap sebagai jaminan yang paling efektif bahwa kekuasaan tidak disalahgunakan dan hak-hak warga negara tidaki dilanggar. Untuk itu perlu dicari suatu sistem asas-asas pokok yang menentukan kekuasaan itu dan hak baik bagi yang memerintah (penguasa, the ruler) maupun bagi yang diperintah (rakyat, the ruled ). UUD yang pertama dipaksakan oleh rakyat yang tidak bersedia lagi untuk diperintah dengan kekuasaan absolut, atau dalam beberapa kasus Napoleon dari Prancis dan Czar Nicholas dari Rusia dianugerahkan oleh raja yang bijak dan progresif pikirannya. Warga–warga baru yang timbul di Asia dan Afrika mempunyai UUD sebagai salah satu atribut kenegaraan yang melambangkan kemerdekaan yang baru diperoleh itu. Di negaranegara itu ada yang menganggap UUD sebagai suatu dokumen yang mempunyai arti yang khas ( Konstitusionalisme), seperti misalnya India, Filipina ,dan juga Indonesia. Walaupun UUD satu negara berbeda dengan negara lain, kalau diperhatikan secara cermat ada ciri-ciri yang sama, yaitu biasanya memuat ketentuan-ketentuan mengenai soal-soal sebagai berikut : (1) Organisasi negara, misalnya pembagian kekuasaan badan legislatif, eksekutif, dan yudikatif serta hubungan di antara ketiganya .; (2) UUD juga 4 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda memuat bentuk negara ( misalnya federal atau negara kesatuan), beserta pembagian kekuasaan antara pemerintah federal dan pemerintah negara-bagian atau antara pemerintah dan pemerintah daerah ; (3) Hak-hak asasi manusia ; (4) Prosedur mengubah UUD (amandemen) ; (5) Adakalanya memuat larangan untuk mengubah sifat tertentu dari UUD ; (6) Merupakan aturan hukum yang tertinggi yang mengikat semua warga negara dan lembaga negara tanpa kecuali dan (8) Selain itu mukadimah undang-undang dasar sering memuat cita-cita rakyat dan asas-asas ideologi negara. Ungkapan ini mencerminkan semangat dan spirit yang oleh penyusun UUD ingin diabadikan dalam UUD itu, sehingga mewarnai seluruh naskah UUD itu. ( Miriam Budiardjo 2008 : 169 – 178 ) Perubahan Undang-Undang Dasar ( Amandemen ) Adakalanya suatu UUD dibatalkan dan diganti dengan UUD baru. Hal semacam ini terjadi jika dfanggap bahwa UUD yang ada tidak lagi mencerminkan konstelasi politik atau tidak lagi memenuhi harapan rakyat dan aspirasi rakyat. Misalnya, sesudah Prancis dalam tahun 1946 dibebaskan dari pendudukan tentara Jerman, dianggap perlu mengadakan UUD yang mencerminkan lahirnya negara baru, yaitu Republik Prancis IV. Begitu pula pada tahun 1958 UUD dibatalkan dan diganti dengan suatu UUD yang melahirkan Republik Prancis V, dibawah pimpinan Presiden De Gaulle. Kedua pergantian UUD menunjukkan ditinggalkannya masa lampau dan dimulainya halaman konsitusional yang baru. Sejak 1787 Prancis sudah mempunyai tidak kurang dari 17 UUD. Selain pergantian secara menyeluruh, tidak jarang pula negara mengadakan perubahan sebagian dari UUD-nya. Perubahan ini dinamakan amandemen UUD biasanya memuat prosedur untuk menampung hasrat melakukan perubahan parsial tersebut. Pola umumnya dianggap bahwa suatu UUD tidak boleh terlalu mudah diubah, oleh karena hal itu akan merendahkan arti simbolis UUD itu sendiri. Di lain pihak hendaknya jangan pula terlalu sukar untuk mengadakan amandemen, supaya mencegah generasi mendatang merasa terlalu terkekang dan karenanya bertindak di luar UUD. 5 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Selain pergantian secara menyeluruh tidak jarang pula negara mengadakan perubahan sebagian dari UUD-nya. Perubahan ini dinamakan amandemen UUD biasanya memuat prosedur untuk menampung hasrat melakukan perubahan parsial tersebut. Pada umumnya dianggap bahwa suatu UUD tidak boleh terlalu mudah diubah, oleh karena hal itu akan merendahkan arti simbolis UUD itu sendiri. Di lain pihak hendaknya jangan pula terlalu sukar untuk mengadakan amandemen, supaya mencegah generasi mendatang merasa terlalu terkekang dan karenanya bertindak di luar UUD. Hal ini kemudian menimbulkan masalah baru, yaitu siapa yang berwenang untuk melakukannya? Dalam hubungan ini terdapat prosedur yang berbeda-beda di antara satu negara bagian dengan yang lain, namun secara umum bisa disebutkan sebagai berikut : (1) Melalui sidang badan legislatif, kadang-kadang dengan ditambah beberapa syarat, misalnya dapat ditetapkan kourum untuk sidang yang membicarakan usul amandemen dan jumlah minimun anggota badan legislatif untuk menerimanya (contoh : Inggris, Israel, Belgia, dan UUD Republik Indonesia Serikat 1949). Di Inggris, bahkan secara ekstrem dapat dikatakan bahwa Parlemen-lah yang paling berwenang untuk mengubah atau tidak mengubah UUD. Demikian pula di Israel, Knesset-lah yang mempunyai wewenang tersebut ; (2) Referendum atau plebisit ( contoh: Swiss, Australia, Denmark, Irlandia, dan Spanyol). Di negara-negara ini referendum dilaksanakan untuk memintakan persetujuan atas usul perubahan atau amandemen yang diajukan oleh anggota parlemen; (4) Musyawarah khusus (special convention) seperti yang diberlakukan di beberapa negara Amerika Latin. Di Indonesia wewenang untuk mengubah UUD ada di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dengan ketentuan bahwa kuorum adalah 2/3 dari anggota MPR, sedangkan usul perubahan UUD harus diterima oleh 2/3 dari anggota yang hadir (Pasal 37) Sejak tahun 1999, tak lama setelah rezim Orde Baru berakhir kekuasaannya, UUD 1945 telah 4 kali dimandemen. Banyak perubahan yang sangat subtansial dalam ketatanegaraan kita yang berubah akibat dari adanya amandemen tersebut. ( Miriam Budiardjo 2008 : 181 – 185 ) 6 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Ada tiga kemungkinan perubahan konsitusi, yaitu Pertama, proses perubahan konsitusi yang evolutif. Pada proses ini, perubahan konsitusi dilakukan secara gradual sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Secara umum ada kecenderungan yang menarik untuk dilihat. Pada negara maju, proses perubahan itu menuju pada pemberian dan pengaturan kewenangan kekuasaan makin menguat, kemampuan publik untuk mengontrol kekuasaan itu kian melemah. Kedua, proses perubahan konsitusi yang bersifat progresif. Pada proses ini terjadi

perubahan yang komprehensif dan fundamental pada konsitusi, misalnya perubahan yang signifikan pada sistem dan struktur kekuasaan. Biasanya, ada tekanan dan perubahan politik yang begitu mendasar yang memerlukan akomodasi dan konsensus baru, karena tidak “tertampung “ di dalam sistem politik yang sudah ada. Kasus Afrika Selatan dapat diambil sebagai contoh, ketika politik apartheid “dihancurkan“ maka bangunan sistem politik yang menopangnya juga mengalami kehancuran. Untuk itu, diperlukan sistem dan struktur politik baru yang dapat mengakomodasi tuntutan sosial baru yang kesemuanya itu diletakkan di dalam konsitusi yang baru. Tampaknya, derajat magnitude perubahan konsitusi mempunyai relasi yang erat dengan besarnya perubahan sosial-politik yang terjadi, desakan dan tuntutan untuk melakukan perubahan secara komprehensif dan gagasan perubahan pada sistem dan struktur kekuasaan. Ketiga, perubahan konsitusi yang bersifat intrumental saja. Proses perubahan ini dapat terjadi melalui konvensi atau kebiasaan ketatanegaraan baru yang berfungsi mengkomplementasi praktek yang sudah ada, reinteprestasi tekstual pasal-pasal konsitusi untuk mengakomodasi sutu kebutuhan baru, maupun perubahan yang bersifat sektoral atas beberapa isu tertentu. Biasanya, aktor dan agen perubahannya berasal dari kalangan kekuasaan, baik secara eksekutif maupun legislatif. Arah perubahannya bisa bermacammacam, ke arah pemisahan kekuasaan yang berpijak pada konstitusionalitas dan sistem checks and balance maupun ke arah yang sebaliknya. Di dalam suatu negara di mana 7 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda lembga judikatifnya berfungsi optimal, perubahan konsitusi yang berasal dari keputusan lembaga yudikatif cenderung ke arah yang lebih baik. ( Bambang Widjojanto 2002 : 476 – 477 ) UUD 1945 , Konsitusi RIS 1949 dan UUDS RI 1950 Pada konteks sejarah politik konsitusi di Indonesia, terjadi beragam perubahan. Perubahan konsitusi paska kemerdekaan melalui pembuatan Konsitusi RIS dan Konsitusi Sementara, merupakan proses perubahan konsitusi yang bersifat progresif. Sistem kekuasaan yang terdapat pada kedua konsitusi itu secara diametral berbeda dengan UUD 1945. Bahkan, pembukaan UUD 1945 yang kini masih “disakralkan” oleh sebagian orang, telah pernah diganti oleh kedua konsitusi di atas. Sementara itu, ketiga proses amandemen yang dilakukan oleh MPR paska jatuhnya kepemimpinan Soekarno cenderung bersifat instrumental. Kendati, ada perubahan yang agak bersifat “quasiprogresif” di beberapa bagian tertentu, tetapi menyimpan problematika juridis yang mengkhawatirkan. (Bambang Widjojanto 2002 : 477 ) Sejak memproklamasikan kemerdekaannya, Indonesia telah menerapkan tiga konsitusi yang berbeda, yakni UUD 1945, Konsitusi Republik Indonesia Serikat (RIS), dan UUDS 1950. Untuk membentuk suatu negara yang demokratis pun mengalami pasang surut, meskipun secara tersurat atau tersirat ketiga konsitusi tersebut menyatakan hendak membangun suatu negara yang demokratis. Salah satu penyebab atau kendala utama dalam menciptakan kehidupan kenegaraan yang demokratis justru bersumber dari konsitusi itu sendiri. Salah satu kelemahan dari ketiga konsitusi tersebut adalah kurang tegasnya penerapan asas cheks and balances yang biasanya tercermin dalam sistim pemerintahan yang demokratis. Hal ini dapat dimengerti karena berbagai faktor yang mempengaruhinya, antara lain faktor histories dalam arti situasi pembuatannya selalu bernuansa darurat dan waktu yang tersedia untuk menyusunnya sangat singkat. Pada dasarnya konsitusi merupakan suatu kontrak sosial atau perjanjian masyarakat tentang bagaimana suatu masyarakat hendak diatur, siapa yang mempunyai otoritas untuk 8 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mengatur, serta bagaimana struktur, fungsi, dan wewenang masing-masing pemegang otoritas itu. Demokratis atau tidaknya konsitusi dapat dilihat dari sejauh mana konsitusi tersebut telah mencerminkan ciri-ciri hakiki suatu negara demokratis. Ciri-ciri tersebut adalah: (a) negara tersrbut berdasarkan hukum ; (b) pemerintah berada di bawah kontrol nyata masyarakat ; (c) pemilihan umum yang bebas ; (d) menganut prinsip mayoritas ; dan (e) terjaminnya hak-hak demokratis. Salah satu faktor yang mempunyai andil besar terhadap konstruksi sebuah konsitusi adalah faktor sejarah. Lahirnya ketiga konsitusi yang pernah berlaku di Indonesia juga tidak terlepas dari sejarah kehidupan kebangsaan pada zamannya masing-masing. UUD 1945 misalnya dibuat dalam “ suasana darurat “ dan waktu yang sangat singkat. Suasana darurat yang dimaksud adalah keadaan yang masih belum menentu sebagai akibat selesainya Perang Dunia II. Menyerahnya Jepang kepada Sekutu memberikan konsekuensi bahwa semua negara hasil taklukan Jepang, termasuk Indonesia secara administrative akan diserahkan kepada pihak Sekutu. Padahal Jepang sebelumnya sudah mempersiapkan kemerdekaan bagi Indonesia dengan membentuk suatu badan yang bernama Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Melihat keadaan yang demikian, Indonesia tentu tidak ingin jatuh lagi pada hegemoni negara asing, maka Indonesia secara sepihak memproklamirkan kemerdekaannya. Proklamasi kemerdekaan ini menimbulkan dua implikasi politik mendasar ; yakni implikasi politik ke luar dan ke dalam. Implikasi politik keluar adalah pengakuan atau penolakan atas proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pengakuan negara lain terhadap Indonesia sangat mendukung atau memberikan suasana kondusif bagi negara Indonesia yang baru merdeka. Sebaliknya penolakan atas kemerdekaan Indonesia menyulitkan atau setidak-tidaknya mengganggu jalannya kehidupan negara Indonesia yang baru merdeka. Implikasi ke dalam adalah perlunya segera disusun suatu pemerintahan yang efektif, kesatuan masyarakat dan wilayah sebagai prasyarat berdirinya suatu negara dalam sebuah Undang-Undang Dasar, Sedangkan dari segi waktu, sebagai akibat suasana darurat maka dalam menyusun UUD 1945 hanya tersedia waktu 82 hari saja ( 29 Mei 1945 sampai dengan 18 Agustus 1945 ). 9 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Dalam waktu yang sangat singkat itu tentu para pemimpin bangsa tidak dapat menuangkan pemikiran-pemikiran secara maksimal. Oleh karena itu, seperti diketahui bahwa UUD 1945 mengandung berbagai keterbatasan yang banyak melahirkan berbagai keterbatasan yang banyak melahirkan berbagai kontroversi , terutama ketika Indonesia memasuki era reformasi. Namun dalam waktu transisi dari masa penjajahan menuju kemerdekaan sebetulnya UUD 1945 sudah memadai. Hanya saja amanat UUD 1945 yang menugaskan MPR untuk menetapkan Undang-Undang Dasar tidak pernah terlaksana dan ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang penyempurnaan atau perubahan yang dimungkinkan oleh UUD 1945 itu sendiri tidak dapat dilakukan oleh UUD 1945 itu sendiri tidak dapat dilakukan dengan baik dan benar hingga sekarang. Sama halnya dengan UUD 1945, Konsitusi Republik Indonesia Serikat juga bernuansa darurat karena konsitusi tersebut disusun berdasarkan Piagam Persetujuan antara delegasi Republik Indonesia dan Delegasi Pertemuan Untuk Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst Federal Overleg ). Piagam yang disepakati dalam Konferensi InterIndonesia yang berlangsung di Yogyakarta dan Jakarta ( bulan Juli dan Agustus 1949) tersebut mengakhiri perseteruan intern Indonesia yang diciptakan oleh canpur tangan pemerintah Kolonial Belanda melalui politik pecah-belah (devide et impera). Penyusunan pikiran-pikiran ketanegaraan tersebut berlangsung dari bulan Agustus sampai akhir bulan Oktober 1949 atau sekitar tiga bulan, dan ini tidak berbeda jauh dari waktu yang dipergunakan untuk menyusun UUD 1945. Selain itu, Konsitusi RIS juga menyatakan diri sebagai konsitusi sementara. Sementara Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia Tahun 1950 secara tersurat menyatakan diri sebagai konsitusi yang bersifat sementara yang juga berdasarkan Piagam Persetujuan Pemerintah Republik Indonesia Serikat dan Pemerintah Republik Indonesia tanggal 19 Mei 1950 . Meskipun namanya UUDS 1950 namun sebetulnya hanya merupakan Konsitusi RIS yang diubah di sana sini dan kadang-kadang sangat mendalam, seperti ketentuan bentuk federasi diganti dengan negara kesatuan. Demikian pula penetapan kembali UUD 1945 didasarkan pada keadaan darurat melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 setelah Badan Konsituante hasil Pemilu 1955 Gagal mencapai 10 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mufakat tentang dasar negara dalam konsitusi yang hendak disusunnya. Jadi semua konsitusi yang pernah diberlakukan di Indonesia senantiasa bernuansa darurat dan sementara, sehingga Indonesia senantiasa bernuansa darurat dan sementara, sehingga Indonesia seutulnya belum pernah mempunyai konsitusi yang benar-benar dibuat oleh suatu badan pembuat konsitusi atau badan konsituante. ( I Made Leo Wiratma 2002 : 99 – 192 ) Kembali Ke UUD 1945 ( Dekrit 5 Juli 1959 ) Dalam tindakan kembali ke UUD 1945, Soekarno menegaskan bahwa hakikat undangundang dasar ini harus dihormati sebagai “dokumen bersejarah “ yang unik. Ini berarti bahwa undang-undang dasar tersebut harus diterima secara keseluruhan. Perubahan, penambahan, atau apa pun akan mengurangi keaslian serta makna sejarahnya, dan akan menghasilkan undang-undang dasar yang lain. Maknanya harus dipelihara sebagaimana makna bendera Indonesia. Yang penting bukan bab-bab, pasal-pasal, rumusan-rumusan, dan kata-kata yang semuanya bisa disempurnakan di masa mendatang, melainkan jiwa, semangat dan kepribadian bangsa, dan Amanat Penderitaan Rakyat yang menjiwai Proklamasi dan UUD 1945. Sebagai “dokumen bersejarah“. UUD 1945 telah meletakkan landasan revolusi dan karena itu, harus dipertahankan sebagai landasan penyempurnaan revolusi tersebut. Soekarno menekankan bahwa UUD 1945 baru menjadi landasan negara seperti UndangUndang Dasar Amerika di Amerika Serikat, Undang-Undang dasar tersebut tercipta 200 tahun yang lalu dan tetap berlaku, walaupun sesuai dengan tuntutan zaman telah ditambahkan amandemen. Menurut Pasal 37 UUD 1945, undang-undang dasar ini telah ditambahkan amandemen, tetapi ini hanya boleh dilakukan kemudian setelah beberapa tahun dijalankan, kalau kemantapan ekonomi dan politik sudah tercapai. Seiring dengan usul untuk kembali ke UUD 1945, Presiden Soekarno juga mengusulkan supaya Piagam Jakarta 22 Juni 1945 diakui secara terbuka. Menurut pendapatnya, untuk mengembalikan dan mempertahankan“ keamanan dan ketertiban“ yang dibutuhkan untuk 11 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pembangunan, seluruh bangsa berikut Islam umat Islam bersatu. Kembali ke UUD 1945 tentu akan dapat diterima umat Islam jika, pada saat itu juga, Piagam Jakarta diakui. Meskipun Piagam ini bukan bagian UUD 1945, menurut Soekarno, perlu diakui sebagai dokumen bersejarah yang mempunyai makna besar bagi perjuangan rakyat Indonesia yang telah mengilhami perumusan pembukaan sebagaia bagian inti dari undang-undang dasar itu. Mengakui Piagam Jakarta akan berarti mengakui pengaruhnya pada UUD 1945, yang terlibat bkan hanya dalam Pembukaan, tetapi juga dalam Pasal 29, yang meletakkan dasar hukum kehidupan beragama. Di bawah UUD 1945, sistem demokrasi parlementer yang berlaku saat itu, yang menurut pemikiran Soekarno menjadi penyebab utama kerawanan politik, akan diganti dengan sistem pembagian kekuasaan negara yang sangat berbeda. Baik kekuasaan eksekutif maupun kekuasaan legislatif di pusatkan dalam tangan Presiden. Fungsi parlementer akan dibagi antara Musyawarah Perwakilan Rakyat yang memegang wewenang tertinggi dan Dewan Perwakilan Rakyat yang peran utamanya berubah menjadi lembaga konsultatif. MPR akan terdiri dari anggota-anggota DPR, yang dipilih setiap lima tahun dan wakilwakil dari golongan fungsional dan dari daerah. Badan ini akan menetapkan garis-garis besar haluan negara dan memilih presiden dan wakil presiden untuk jangka waktu 5 tahun. Selama masa jabatannya, presiden dan wakil presiden akan memegang kekuasaan legislatif dengan persetujuan DPR, dan akan menjalankan kekuasaan eksekutif dengan bantuan menteri-menteri yang diangkat dan diberhentikan oleh presiden bertanggung jawab pada presiden. Karena presiden dan wakil presiden bertanggung jawab kepada MPR, mereka tidak lagi dapat “diganggu gugat “oleh DPR. Sebaliknya, DPR tidak lagi dapat dibubarkan oleh pemerintah, tetapi perannya akan dibatasi menjadi badan bersifat konsultatif. Dengan demikian, akan terjamin pemerintahan yang mantap untuk jangka waktu lima tahun dan tidak laki akan terjadi krisis kabinet dan perubahan dalam pemerintahan yang telah mengganggu negara dan menyebabkan begitu banyak keguncangan dalam kehidupan politik dalam negara, yang juga mempunyai dampak di luar negeri.

12 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Dengan gaya partispasi demokratis di bawah Demokrasi Terpimpin yang bercirikan konsultasi dan bukan lagi oposisi, pola politik permusuhan yang selalu menentang pemerintah dalam keadaan apa pun akan berakhir, baik di dalam maupun diluar Parlemen. Garis-garis besar haluan negara akan ditentukan oleh MPR melalui musyawarah untuk memperoleh mufakat dan harus dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan permusyawaratan tanpa ganguan dari oposisi gaya demokrasi liberal. ( Adnan Buyung Nasution 1996 : 321 – 324 ) Ada lima puluh tujuh pembicara yang mewakili hampir semua partai politik dan fraksi yang ikut mempertimbangkan usul yang disampaikan dalam pidato Soekarno. Kemudian Konsituante melanjutkan sidangnya untuk memungut suara untuk memutuskan usul kembali ke UUD 1945. Karena tidak mempunyai dukungan dari semua fraksi Islam, usul untuk kembali ke UUD 1945 tersebut ditolak dalam tiga sidang berturut-turut. Pada pagi hari tanggal 30 Mei pemungutan suara pertama menghasilkan 269 suara mendukung dan 1999 suara menolak (mayoritas dua pertiga yang diperlukan ialah 316) Pada tanggal 1 Juni, pemungutan suara kedua menghasilkan 246 suara mendukung dan 204 suara menolak (dua pertiga mayoritas yang diperlukan ialah 312). Pada tanggal 2 Juni pemungutan suara ketiga menghasilkan 263 suara mendukung dan 203 suara menolak (dua pertiga mayoritas yang diperlukan ialah 312 ). Ketua Sidang kemudian menyatakan bahwa atas dasar penilaian obyektif, pemungutan suara sesudah itu tidak akan menghasilkan perubahan. Karena itu, ia mengatakan bahwa “Konsituante tidak akan mempertimbangkan ulangan pemungutan suara lagi. ( Adnan Buyung Nasution 1995 : 401 – 405 ) Hanya satu hari kemudian, Jendral Nasution, yang saat itu menjabat sebagai KSAD dalam kedudukannya sebagai pemegang kekuasaan pusat hukum darurat, sampai saat Presiden Soekarno kembali dari perjalannya ke luar negeri dan menangguhkan semua rapat-rapat Konsituante, maklumat hukum darurat itu disetujui oleh Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Djuanda, tanpa perundingan di dalam kabinet karena kekhawatiran bahwa tidak akan tercapai kesepakatan kalau Kabinet terlibat. Maklumat ini, yang disusul 13 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dengan intimidasi yang dilancarkan oleh patroli-patroli militer, menghentikan semua kegiatan politik dari pihak-pihak yang menentang pemberlakuan kembali UUD 1945. Meskipun demikian pihak-pihak yang mendukung UUD 1945 sangat aktif dan menyuarakan dukungan kepada Pemerintah dengan nyaring. Daniel Lev mengatakan bahwa kontrol yang ketat atas kegiatan politik dan pernyataan politik memaksa anggotaanggota Konsituante untuk meninggalkan Bandung karena diberi peringatan bahwa kehadiran mereka di sana dapat ditafsirkan sebagai kegiatan politik. Pada tanggal 3 Juli 1959, BKSPM ( Badan Kerja Sama Pemuda dan Militer) menghasilkan resolusi yang menuntut supaya Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit untuk kembali ke UUD 1945. Pada hari itu juga, Jendral Sungkono anggota terkemuka dari Persatuan Veteran 1945, mengirim kawat kepada Presiden Soekarno yang berisi permohonan serupa. Sementara itu tersebar spekulasi baru mengenai kemungkinan kudeta yang akan dilancarkan Angkatan Darat. Dalam keadaan politik yang begitu tegang, ternyata bahwa kebanyakan di antara partaipartai telah menerima pemberlakuan kembali UUD 1945 melalui dekrit sebagai kesimpulan yang sudah dapat diduga dari awal, mereka hanya menanti pulangnya Presiden Soekarno dari luar negeri. Pada awal bulan Juni 1959, pemimpin keempat partai politik utama PNI, Masyumi, NU, dan PKI – dipanggil oleh pemimpin Angkatan Darat untuk membahas duduk perkaranya. Hanya Masyumi yang menolak undangan itu. Tetapi, ketiga partai lainnya menerima undangan Angkatan Darat itu dengan alasan dan maksud yang berbeda-beda. Pada tanggal 29 Juni 1959, Presiden kembali dari luar negeri dan disambut oleh massa yang dikerahkan oleh Angkatan Darat dan dikendalikan oleh Front Nasional untuk Pembebasan Irian Barat dengan poster-poster yang menyatakan “ Hidup Proklamasi dan UUD 1945“ dan “Bung Karno, ambilah tindakan tegas“. Bendera nasional dikibarkan selama sepuluh hari. Pada hari itu, Angkatan Darat sekali lagi menyelenggarakan rapat panglima Angkatan Darat untuk memperagakan solidaritas dan dukungannya terhadap pemberlakuan kembali UUD 1945 melalui dekrit. 14 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

15 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Pada tanggal 5 Juli 1959, Kabinet mengadakan rapat di Bogor yang juga dihadiri oleh ketua Mahkamah Agung. Di sanalah tercapai kesepakatan supaya UUD 1945 dinyatakan berlaku kembali melalui dekrit, dengan keadaan darurat nasional sebagai pembenaran legal. Pada siang hari itu, Presiden Sukarno, berbicara atas nama rakyat Indonesaia menyatakan berlakunya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang berisi (1) pembubaran Konsituante; (2) keputusan untuk memberlakukan kembali UUD 1945; (3) penarikan kembali UUD 1950 dan, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mendirikan lembaga-lembaga kenegaraan sesuai dengan UUD 1945. Dengan demikian, matilah Konsituante yang menjulang begitu tinggi pada bulan November 1956. ( Adnan Buyung Nasution 1995 ; 401- 405 ) Cukup menarik untuk dicatat bahwa dalam teks dekrit di atas, Soekarno sama sekali tidak menyebut-nyebut tentang pemilihan umum sebagaimana diminta oleh UUD 1945. Hal ini dapat berarti bahwa ia tidak ingin mendapatkan legitimasi politik melalui pemilihan umum. Seandainya pemilihan umum itu diadakan pada waktu itu, Soekarno diperkirakan akan menang, karena hampir semua golongan mendukungnya, kecuali Masyumi dan PSI yang tetap melawan sistem Demokrasi Terpimpinnya, sebab dinilai sebagai move Soekarno untuk menciptakan suatu negara kekuasaan, sebagai lawan dari negara hukum. Selanjutnya, kita telusuri lagi hubungan Dekrit 5 Juli dan Piagam Jakarta. Disebutkan dalam konsideran dekrit itu “…bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan sutu rangkaiankesatuan dengan konsitusi tersebut. Tercantumnya konsiderasi sangat penting ini jelas merupakan suatu kompromi politik lagi antara pendukung dasar Pancasila dan pendukung dasar Islam. Menurut pertimbangan kita, bilamana konsiderasi itu mempunyai makna secara konsitusional, dan memang seharusnya demikian, maka, sekalipun hanya secara implisit, namun gagasan untuk melaksanakan syariah bagi penduduk agama Islam tidaklah dimatikan. Jakarta. ( Ahmad Syafii Maarif 1985 : 178 – 181 ) ) 16 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com Inilah barangkali tafsiran yang akurat dan adil terhadap kaitan Dekrit 5 Juli dengan Piagam

Peter Kasenda

Pro-kontra mengenai Amandemen 1945 Semula, perdebatan pro-kontra mengenai amandemen UUD 1945 hanya terpolarisasi menjadi kelompok pro UUD 1945 dan pro perubahan UUD 1945 saja. Kelopok pro UUD 1945 terbelah menjadi dua kelompok. Komunitas pro kekuasaan berpijak pada argumen bahwa konsitusi tidak bisa diubah karena memang warisan terbaik dari founding father dan sudah terbukti ampuh di dalam menyelamatkan bangsa ini dan punya fleksibilitas di dalam menjamin “sistem kekuasaan’. Sedangkan kelompok pro lainnya mengatakan, UUD 1945 tidak pernah dilaksanakan secara konsisten. Jadi bukan konsitusinya yang tidak baik, tetapi para penyelenggara negara saja yang tidak menggunakannya secara konsisten dan bertanggung. Di dalam perkembangannya, ada perubahan peta pro-kontra amandemen yang kian menarik. Kelompok anti perubahan UUD 1945 masih tetap ada, kendati jumlahnya makin menyusut. Alasan yang diajukannya masih tetap sama, UUD 1945 tidak perlu diubah karena memang belum pernah dilakukan secara konsisten. Di sisi lainnya, kelompok pro perubahan UUD 1945 kian meningkat dengan berbagai ragam posisi dan argumen. Paling tidak ada yiga varian dari kelompok yang setuju amandemen, yaitu : Pertama, kelompok yang setuju dilakukannya perubahan yang “mendasar “ terhadap relasi dan struktur kekuasaan di dalam konsitusi; Kedua, kelompok setuju perubahan tetapi pembukaan konsitusi tidak boleh diubah; Dan Ketiga, kelompok yang mendukung kelompok kedua dengan perubahan yang selektif. Kelompok ini tidak setuju adanya perubahan pada sistem pemerintahan presidensil, perubahan komposisi dan kewenangan MPR dan sistim pemilihan langsung presiden. Ada begitu banyak varian di dalam kelompok ini, seperti misalnya yang setuju amandemen pertama dan kedua, tetapi tidak setuju dengan amandemen ketiga dan amandemen keempat.

17 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Polarisasi dan pengelompokan tersebut menarik untuk dikaji, karena tidak hanya sekedar penafsiran atas perspektif yuridis dari dari amandemen konsitusi saja. Sebagiannya berpijak pada pertarungan kepentingan politik jangka pendek yang berdasarkan kepentingan dari masing-masing kelompok Kalau asumi ini benar, amandemen konsitusi dapat sarat dengan kepentingan tertentu dari partai politik. Itu sebabnya, ada pendapat yang mensinyalir bahwa konsitusi adalah tempat berlindungnya “power elitis” dan “ruling classes“ untuk tetap dapat membangun, mempertahankan dan melesatrikan dominasi kekuasaanya. Lebih membahayakan lagi, gejalan ini bisa berkembang dengan apa yang disebut sebagai ideological control bahkan ideological manipulation yang digunakan untuk membangun basis legitimasi bagi kepentingan politik kekuasaan yang tidak didasarkan atas kepentingan rakyat. ( Bambang Widjojanto 2002 : 478 – 479 ) Tidak ada satupun di antara kita yang tidak memahami arti dan posisi sentral sebuah konsitusi dalam kerangka kehidupan bernegara. Konsitusi merupakan semangat, nilai dan cita-cita sebuah bangsa. Konsitusi merupakan landasan sekaligus kerangka dasar dalam kehidupan bernegara. Dan, konitusi hatus selalu mencerminkan kondisi dan dinamika sebuah masyarakat dalam negara yang bersangkutan. Jika hakikat, posisi dan fungsi konsitusi ini kita pahami secara utuh, maka kehendak untuk mengamandemen sebuah konsitusi tidak harus diletakkan dalam sebuah medan peperangan politik yang memabukan demokrasi. kesepakatan, dan harus dibayar mahal dengan kemungkinan terjadinya Pro dan kontra dilakukannya amandemen konsitusi yang kini telah disintegrasi nasional. Sikap konservatif dan sikap liberal selalu ada dalam kehidupan mengalami empat kali perubahan juga merupakan realitas demokrasi. Namun, kehidupan demokrasi di tanah air yang sedang mekar dewasa ini menjadi tidak wajar apabila ada elemen bangsa yang amat mensakralkan sebuah konsitusi, menolak setiap pikiran untuk melakukan perubahan dan meletakkannya sebagai harga mati, kendati kenyataan menunjukkan bahwa sebagaian dari kandungan konsitusi yang ada itu gagal menjawab permasalahan mendasar dan straegis dalam kehidupan bernegara, serta 18 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda tidak sesuai dan tidak mencerminkan kondisi dan dinamika kehidupan bangsa yang bersangkutan. Negara demikian membiarkan dirinya terombang ambing dan tidak pernah menyelesaikan permasalahan kenegaraan yang dihadapi. ( Susilo Bambang Yudhoyono 2002 : 3 – 4 ) Amandemen Pertama , Kedua, Ketiga dan Keempat Amandemen terhadap UUD 1945 sudah dilaksanakan sebanyak empat kali yang dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) . UUD 1945 sendiri memang menegaskan di dalam Pasal 37 bahwa perubahan terhadap UUD tersebut dapat dilakukan oleh MPR dengan mendapat dukungan 2/3 (dua pertiga ) dari anggota lembaga tersebut. Anggota MPR yang melakukan amandemen pertama, kedua, ketiga dan keempat adalah terdiri dari : Anggota DPR, utusan-utusan Daerah, dan utusan Golongan.” yang semuanya berjumlah 700 orang. Amandemen Pertama dilakukan dalam Sidang Umum MPR Oktober 1999, yaitu Sidang Umum dari MPR hasil pemilihan umum Juni 1999. Hal-hal yang secara subtansif– subtansif mengalami perubahan sebagai hasil dari amandemen pertama ini adalah antara lain (1) Pembatasan masa jabatan presiden ; (2) Pembatasan Kekuasaan Presiden Dalam Bidang Legilisasi ; (3) Usaha Membangun Mekanisme Checks and Balances Ada hal yang sangat menarik untuk dicatat yang menyangkut prosedur demokrasi di Indonesia dalam konteks reformasi politik pasca pemerintahan Soeharto, yaitu melalui UU No 4 tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan DPR/MPR, MPR melakukan Sidang Umum Tahunan. Pada masa pemerintahan Soeharto MPR hanya bersidang Lima Tahun sekali dengan agenda yang sangat terbatas yang telah ditentukan oleh Soeharto ( Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dan Penentuan Garis Besar Haluan Negara ) . Amandemen Kedua dilaksanakan dalam Sidang Tahunan MPR pada bulan Agustus tahun 2000. Pada Amandemen Kedua ini ada 25 pasal yang mengalami perubahan dengan enam materi pokok, seperti misalnya menyangkut (1) Pemerintah Daerah/Desentralisasi, 19 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda (2) Wilayah Negara,(3) Kedudukan Warga Negara dan Penduduk, (4) Hak-hak Azasi Manusia, (5) Pertahanan dan Keamanan Negara dan yang ke (6) adalah menyangkut bendera, bahasa dan lambang negara, serta lagu kebangsaan. Dengan amandemen yang kedua dapat dinyatakan bahwa apa saja yang sangat diharapkan, dan barangkali yang sangat diimpikan oleh mereka yang berjuang untuk demokrasi, terutama yang berkaitan dengan usaha merumuskan dengan tegas Hak-Hak Azasi Manusia telah dapat diwujudkan, dan ini merupakan salah satu prestasi yang harus dihargai yang dilakukan oleh MPR hasil pemilihan umum 1999. Amandemen Ketiga dilakukan pada Sidang Tahunan MPR pada November 2001. Amandemen Ketiga dilakukan dengan sejumlah prasyarat sebagai hasil kesepakatan dari berbagai Fraksi dalam Badan Pekerja MPR. Prasyarat itu antara lain bahwa amandemen dilakukan dengan tidak akan menyentuh Pembukaan UUD 1945, kedua amandemen dilakukan secara “adendum”, artinya amandemen dilakukan dengan mengadakan perubahan terhadap sejumlah Pasal UUD yang telah disepakati sebelumnya sehingga tidak bersufat melakukan amandemen terhadap semua pasal sekaligus, dan tidak melakukan penulisan ulang ataupun melakukan “reorganisasi“ terhadap pasal-pasal yang sudah ada, atau tidak melakukan “rewriting “ sama sekali, dan beberapa prasyarat lainnya. Hal yang menarik dalam proses Amandemen Ketiga ini adalah Panitia Adhoc I, Badan Pekerja MPR, membentuk TIM AHLI dari berbagai disiplin ilmu yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tim Ahli ini membicarakan sejumlah hal yang sebenarnya sudah dipaketkan oleh MPR sebagai bahan amandemen Ketiga melalui Lampiran Keteatapan MPR hasil Sidang Tahunan Tahun 2000. Amandemen Ketiga telah merubah secara fundamental sistem pemilihan presiden. Kalau dalam UUD 1945 dilakukan amandemen Presiden dipilih oleh MPR. Dengan pemilihan presiden secara langsung maka konsekwensinya adalah MPR tidak perlu lagi merumuskan apa yang disebutkan GBHN. Presiden tidak lagi bertanggung jawa kepada 20 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda MPR akan tetapi secara langsung kepada rakyat. Amandemen Ketiga ini menetapkan bahwa presiden dipilih secara langsung oleh rakyat. Undang-Undang Dasar hasil amandemen ketiga juga memperkenalkan apa yang disebut Mahkamah Konsitusi. ( Afan Gaffar 2002 : 434 – 440 ) Sidang Tahunan MPR pada Agustus 2002 melakukan amandemen yang ke-IV terhadap UUD 1945, dan sejumlah persoalan yang sangat krusial harus diselesaikan oleh MPR. Ada sejumlah perubahan menyangkut masalah ; (1) Kekuasaan Pemerintahan Negara ; (2) Hal Keuangan ; (3) Kekuasaan Kehakiman ; (4) Pendidikan dan Kebuadayaan dan (5) Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial UUD 1945 , Undang Undang dan Peraturan Pemerintah Pasal 33 UUD 1945 mengatakan .” Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.” Namun, ketika berlaku pada 17 Agustus 1945 tak pernah ada rincian kongkret cabang-cabang produksi tersebut. Tanpa kejelasan itu, pemerintah membangun banyak cabang produksi termasuk jalan. Baru setelah ada Undang-Undang (UU) Nomor 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA), terdapat rumusan eksak Pasal 6 ayat 1 undang-undang itu berbunyi ,” Bidang-bidang usaha yang tertutup untuk PMA secara penguasaan penuh ialah bidang-bidang yang penting bagi negara dan mengusai hajat hidup orang banyak, berikut : pelabuhan; produksi, transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk umum; telekomunikasi; pelajaran; penerbangan; air minum; kereta api umum; pembangkit tenaga atom dan media massa.” Namun, baru setahun, nafsu untuk meliberalisasi sudah muncul. Pasal 3 ayat 1 UU Nomor 6/1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri mengatakan,” Perusahaan nasional adalah perusahan yang sekurang-kurangnya 51 % daripada modal negeri yang ditanam di dalamnya dimiliki negara dan /atau swasta nasional. Persentase ini harus senantiasa ditingkatkan sehingga pada 1 Januari 1974 menjadi kurang dari 75 % .” Ayat 2 21 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda menyebutkan, “ Perusahan asing adalah perusahan yang tidak memenuhi ketentuan ayat 1 pasal ini,” Jadi hanya selang setahun asing sudah boleh ikut menguasai cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak sampai 49 %, dan ada pembatasan waktu . Gelombang liberalisasi tetap berdentang. Buktinya adalah terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor/1994 tentang Pemilikan Saham dalam Perusahaan yang didirikan dalam rangka Penanaman Modal Asing. Pasal 5 ayat 1 PP itu membolehkan perusahan, termasuk asing melakukan kegiatan usaha yang tergolong penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak, seperti disebut eksplisit dalam UU Nomor 1/1967 tentang PMA. Kepemilikan asing bahkan bisa sampai 95 % ( Pasal 6 ayat 1 ) Ketika reformasi berdendang, ikhtiar mengubah Pasal 33 UUD 1945 dilakukan. MPR membentuk Badan Pekerja MPR beranggotakan tujuh orang : Sjahrir, Sri Adiningsih, Didik J Rachbini, Sri Mulyani Indrawati, Bambang Sudibyo, Dawan Rahardjo, dan Mubyarto. Tim amandemen ini tak solid karena tak sekubu. Mubyarto, penggagas ekonomi Pancasila, mundur pada 23 Mei 2001, setelah bertahan 72 hari. Dawam mengikuti.” Saya tidak sejalan dengan pemikiran ekonomi lain,” kata Mubyarto. Mubyarto dan Dawam, ekonom tua, mempertahankan Pasal 33 UUD 1945. Di sisi lain, Sjahrir, Sri Adiningsih, dan Sri Mulyani Indrawati menilai idealisme sosialis Hatta dalam pasal itu terbukti tak bisa dilakukan. Jejak rekam koperasi pun muram . : Kita harus memilih Hatta atau globalisme kapitalis,” kata Sjahrir saat itu. Posisi abu-abu diambil Didik dan Bambang.Sudibyo Ekonom muda ini yakin, setelah sosialisme jatuh pada 1991, kapitalisme ada di semua negara. Kapitalisme diamini sebagai satu-satunya jalan. Karena Mubyarto mundur, publik geger. Setelah empat kali amandemen, tiga ayat Pasal 33 UUD 1945 dipertahankan Kelompok pengubah konsitusi berhasil menambah dua ayat. Ayat 4 berbunyi ,” Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi, dengan prinsip kebersamaan , efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandiran, serta dengan 22 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda menjaga kesinambungan kemajuan dan kesaruan ekonomi nasional. Ayat 5 tak terlalu penting.” Ini memicu debat tafsir lagi,: kata Gunawan Wiradi, ahli agraria yang terlibat diskusi itu. Eksistensi Pasal 33 UUD 1945 kembali tegak setelah Mahkamah Konsitusi mencabut roh liberal UU No 20/2002 tentang Kelistrikan dan UU Nomor 22/2002 tentang Minyak dan Gas, Januari 2005. Dua undang-undang itu, kata Sri Edi Swasono, bermaksud memereteli dunia migas dan kelistrikan Indonesia dengan menggusur Pasal 33 UUD 1945.” Ini peluang untuk menyoal kebijakan ekonomi yang bertentangan dengan konsitusi.” Kata Sri-Edi Swasono. Perang pasal belum usai. Kepada Sri-Edi Swasono, tenaga ahli Menteri Negara Badan Usaha Negara, Lin Che Wei, berterus terang bahwa kali ini kelompoknya tunduk.” Kalau nanti kami bisa mengubah Pasal 33 UUD 1945, Anda harus tubnduk pada kami ,” kata Sri-Edi Swasono, menirukan ucapan Lin Che Wei. ( Gatra No 23 Tahun XI, 23 April 2005, Hlm. 137 ) Renewal Consitution, Partisipasi Politik dan Komisi Konsitusi Pada periode tahun 1990-an, ada cukup banyak negara berkembang melakukan perubahan yang mendasar pada konsitusinya. Di Benua Afrika, perubahan konsitusi tidak hanya dilakukan oleh Afrika Selatan, tetapi juga di negara lainnya, seperti : Ghana, Mozambique, Nambia dan Kongo. Begitupun di beberapa negara Asia seperti antara lain : Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Indonesia dan Filipina. Ada beberapa hal yang cukup menarik di dalam proses perubahan konsitusi , yaitu Pertama, hampir sebagian besar negara di atas membentuk lembaga semacam Komisi Konsitusi. Di Zambia disebut Chona Commissions, di Zimbagwe dan Filipina disebut Constitution Commision dan di Thailand disebut Independent Commission; Kedua, lingkup perubahan konsitusi sangat mendasar dan komprehensif, karena mereka memang mempersiapkan renewal constituion, bukan konsitusi yang tambal-sulam dan tidalk jelas 23 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda paradigmanya. Ketiga, publik di dorong keterlibatannya secara intens di dalam proses perubahan konsitusi. Beberapa negara yang realatif cukup berhasil melakukan proses ini adalah Afrika Selatan, Zambia dan Zimbagwe. Dari seratus lebih pemerintahan yang konsitusinya mengatur proses perubahan amandemen, ada kecenderungan yang kian menguat, rakyat dilibatkan untuk menentukan ratifikasi atau pengesahan perubahan saja maupun referendum sebagai salah satu opsi pengesahan amandemen. Adapun negara yang hanya referendum untuk melakukan pengesahan antara lain : Ireland, Malawi, Paraguay, Switzerland, Alabnia, Austria, Bahama, Bangladesh, Japan, Kyrgyz, Latvia, Malta , Mauritania, Mongollia , Maroko, Filipina , Romania, Slovenia dan Korea Selatan. Kecenderungan yang kian menguat untuk melibatkan partisipasi publik secaraa langsung di dalam amandemen konsitusi, baik di dalam proses perencanaan maupun pengesahan berpijak pada asumsi untuk menciptakan Durable Consitution. Untuk itu, proses pembentukan konsitusi menjadi sangat penting, karena proses tersebut harus merupakan produk yang mengintegrasikan ide dan aspirasi dari multi stakeholder, sehingga secara genuine merefleksikan national soul of people. Di dalam proses ini, dibangun mekanisme prosedural yang efektif, dibuat metode konsultasi publik yang melibatkan partisipasi politik secara luas, melibatkan media secara intensif dalam proses perubahan, merumuskan paradigma perubahan dan prinsip dasar yang komprehensif. Selain itu, juga dibuat mekanisme “dead lock” sehingga proses amandemen telah mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebuntuan politik di dalam merumuskan konsitusi baru. Dengan proses seperti ini, rakyat akan merasa bahwa mereka memang memiliki konsitusi dan konsitusi dapat menjamin perlindungan hak-hak masyarakat serta sistem kekuasaan memuat prinsip konsitusionalisme. ( Bambang Widjojanto 2002 : 482 – 483 ) Komisi Konsitusi : Solusi atau Problem

24 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Sebagian besar unsur bangsa memang menghendaki perubahan UUD 1945. Akan tetapi, perubahan yang dilakukan MPR dinilai mengandung sejumlah kelemahan . Pertama, partisipasi masyarakat dalam perubahan UUD dinilai sangat rendah, sehingga UUD 1945 sukar disebut sebagai kontrak sosial baru.; Kedua, metodologi yang digunakan kurang tepat karena tidak berangkat dari suatu filosofi atau paradigma tertentu sehingga substansi perubahan yang disepakati cenderung berupa kompromi berbagai kepentingan partai politik. Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab rumusan yang kompromistik tetapi yang menyebabkan sistem yang tidak jelas adalah pembuat konsitusi harus mengurangi otoritasnya sendiri; Ketiga, derajat abstraksi ataupun kerincian rumusan pasal dan ayat tidak konsisten sehingga kurang sepenuhnya dapat digunakan sebagai rujukan, baik untuk menyelesaikan persengketaan konsitusional dan perundangundangan maupun untuk penyelenggara kekuasaan negara; Keempat, sistimatika UUD 1945 tidak jelas. Hal ini tampak pada dua hal , yaitu : (a) sebagian judul Bab dirumuskan berupa fungsi (tugas dan kewenangan ) sebagian lagi berupa lembaga; dan (b) numerasi pasal membingungkan karena menggunakan huruf, seperti 22 A, 22 B , 22 C, dan seterusnya. Berdasarkan kritik dan kelemahan tersebut muncul pandangan yang mengusulkan pemebentukan Komsi Konsitusi. UUD 1945 dengan perubahan pertama sampai keempat digunakan sebagai konsitusi transisi untuk jangka waktu tertentu. Sedangkan Komisi Konsitusi merumuskan konsitusi baru yang lebih jelas dan lebih memenuhi kriteria konsitusi negara demokrasi modern. Dalam masyarakat sekurang-kurangnya terdapat dua pandangan tentang fungsi Komisi Konsitusi ini. Yang pertama menghendaki Komisi Konsitusi hanya menulis ulang UUD 1945 dengan seluruh perubahannya, dan menyempurnakan pasal dan ayat yang dipandang tidak konsisten dengan filosofi dan paradigma yang sudah disepakati lebih dahulu Pandangan kedua menghendaki Komisi Konsitusi merumuskan UUD baru dengan menggunakan UUD 1945 sebagai salah satu bahan bandingan Pandangan kedua ini cenderung dikemukakan oleh mereka yang menghendaki perumusan konsitusi baru dengan prinsip demokrasi partisipatif. ( Ramlan Surbakti 2002 : 496 ) 25 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Keberadaan Komisi Konsitusi sama sekali tidak tidak direncanakan, baik oleh pemerintah maupun MPR RI. Kehadirannya menguat, setelah khalayak gamang dan khawatir atas perubahan UUD 1945 yang sarat kompromi politik dan mengabaikan kepentingan nasional. Tekanan yang bertubi-tubi dan khalayak nasional mengenai perlunya KK membuat Majelis gerah dan memaklumkannya. Dalam pada itu, kedudukannya dikukuhkan melalui Tap MPR RI No. 1/MPR/2002. Ketua Komisi Konsitusi, Sri Soemantri menyadari bahwa kehadiran Komisi Konsituante yang diketuainya, merupakan kompromi politik. Namun sebagai akademikus, sedapat mungkin melakukan upaya menegakkan demokrasi konsitusional – yang tengah diamandemen. Agar, perubahan yang menjadi tidak saja lazim menurut kaidah konsitusi, tetapi juga menjangkau kepetingan nasional dalam rangka panjang. Namun, apa yang terjadi? Sumbangan kritis dan konstruktif dari Komisi Konsitusi yang terdiri dari para ahli dengan integritas tinggi, tidak dilanjuti. Saran, kritik, dan alternatif-alternatif sebagai hasil kajian komprehensif lembaga ini, diabaikan begitu saja. Begitu hasil kajian KK selesai dan diserahkan ke Majelis. Permusyawaratan Rakyat ( Giat Wahyudi 2009 : 77 ) Penutup Pengalaman beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa salah satu persoalan yang mengakibatkan reformasi berjalan tanpa arah yang jelas disebabkan oleh kekosongan konsitusi yang dapat dijadikan referensi bagi masyarakat untuk melanjutkan proses demokrasi. Konsitusi yang sekarang ini berlaku, Undang Undang Dasar 1945, meskipun telah diamandemen empat kali, tetapi masih mengandung banyak kelemahan dan pasalpasalnya mengundang perdebatan yang tidak akan berkesudahan. Kualitas hasil amandemen atas UUD 1945 yang tidak memuaskan, tampaknya harus diterima bukan saja sebagai produk reformasi gradual yang lebih dipilih oleh para elite politik berbasis massa luas, melainkan juga merupakan harga yang harus dibayar bangsa ini sebagai akibat dari kegagalan konsolidasi dan kerjasama di antara kekuatan-kekuatan politik sipil pascarejim otoriter Orde Baru. Selain itu, perubahan atas UUD 1945 yang 26 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda tambal-sulam, salah kaprah, dan cenderung amburadul, harus dipandang sebagai produk kecenderungan kompromistis elite-elite partai besar/ Dengan demikian untuk membangun demokrasi ke depan sangat dibutuhkan konsitusi yang memadai. Sistim politik yang stabil tidak dapat hanya mengandalkan kompromi politik di antara partai-partai politik, lebih-lebih bilamana kompromi politik tersebut hanya kompromi yang bersifat opportunistik. Oleh sebab itu kestabilan dan mendorong tegaknya hukum sangat memerlukan jaminan konsitusi yang dapat mewujudkan mekanisme saling kontrol di antara lembaga-lembaga politik. Hanya perlu diingat bahwa untuk memperoleh suatu konsitusi yang demikian masih diperlukan suatu tekanan publik yang kuat dan terus menerus. Prakarsa politik untuk untuk secara serampangan ingin mengubah konsitusi yang lebih di[pengaruhi kepentingan sesaat, kepentingan jangka pendek, bahkan kepentingan golongan politik tertentu, apalagi oleh rezim yang berkuasa , amat membahayakan kehidupan sebuah negara. Makna konsitusi dikerdilkan dan sering direduksi sekedar untuk memenuhi kepentingan politik yang berorientasi kekuasaan . Amandemen konsitusi haruslah berangkat dari logika dan argumentasi yang kokoh yang harus diformulasikan dalam lima kriteria. Pertama, amandemen konsitusi tidak boleh keluar atau menyimpang dari semangat, sistim nilai dan cita-cita didirikannya sebuah negara. Kedua, yang diamandemen haruslah aturan-aturan dasar yang diharapkan mampu menjawab permasalahan dan tantangan kehidupan sebuah bangsa, yang permasalahan dan tantangan ini gagal dijawab oleh aturan-aturan yang ada. Ketiga, mekanisme, aturan main dan proses perubahan sebuah konsitusi harus dilakukan secara benar dalam sistem yang kredibel, akuntabel dan taat azas. Keempat, perubahan konsitusi mestilah berlangsung dalam kerangka dan bentang waktu yang rasional, dan orientasi bagi dilakukannya amandemen konsitusi harus diyakini dan berdasarkan perkiraan tajam bahwa amandemen itu mampu menjawab persoalan bangsa yang mendasar dan krusial untuk bentangan waktu yang jauh kedepan, dan sekali lagi bukan kepentingan jangka 27 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pendek, ataupun menengah. Dan lima, amandemen sebuah konsitusi harus dilakukan oleh lembaga dan putera-puteri terbaik bangsa yang kredibel. Namun di atas semua itu yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana bangsa Indonesia segera mulai juga membangun kultur politik yang demokratis. Bagaimana kesetaraan, pluralisme, toleransi menjadi bagian dari pendidikan politik rakyat yang mulai diajarkan sedini mungkin terhadap generasi muda Indonesia. Akhirnya, menyusun konsitusi yang ideal (meskipun penting) hanya merupakan bagian dari serangkaian agenda dan proses mewujudkan sistem politik yang kompleks dan rumit, serta tatanan dan tertib politik yang demokratis.

28 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Bibliografi

Budiardjo, Miriam . 2008. Pengantar Ilmu Politik . Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama . Gaffar, Afan.” Amandemen UUD 1945 dan Implikasinya terhadap Perubahan Kelembagan,” dalam Riza Sihbudi dan Moch. Nurhasim. 2002 Amandemen Konsitusi dan Strataegi Penyelesaian Krisis Politik Indonesia. Jakarta ; AIPI , Hlm. 431 - 445. Kristiadi, J.” Reformasi Konsitusi ,” dalam Indra J Pilliang et al (ed) 20002 Merumuskan Kembali Kebangsaan Indonesia . Jakarta : CSIS, Hlm. 116 - 133. Maarif, Ahmad Syafii. 1085 . Studi tentang Percaturan dalam Konsituante Islam dan Masalah Kenegaraan . Jakarta : LP3ES. Nasution, Adnan Buyung. 1995 . Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia. Studi Sosio-Legal atas Konsituante 1956 – 1959. Jakarta : {ustaka Utama Grafiti . Surbakti, Ramlan,” Perubahan UUD 1945 Dalam Perspektif Politik,” dalam Riza Shibudi dan Moch Nurhasim (ed) 2002 Amandemen Konsitusi & Strategi Penyelesaian Krisis Politik Indonesia. Jakarta : AIPI, Hlm. 485 – 497. Wahyudi, Giat .2009. Perubahan UUD 1945 Tahun 1999 – 2002 .Makar Terhadap Negara . ( Menata Kembali Konsitusi Indonesia ) , Jakarta 29 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Kaukus Parlemen Pancasila. Widjojanto, Bambang, ” Kapita Selekta Amandemen ( Problematika Perubahan UUD 1945 ),” dalam Riza Shibudi dan Moch Nurhasim (ed) 2002 . Amandemen Konsitusi & Strategi Penyelesaian Krisis Politik di Indonesia , Jakarta : AIPI, Hlm. 475 – 483 . Wiratma, I Made Leo,” Konsitusi dari Zaman ke Zaman ,” dalam Indra J Pilliang et al (ed) 2002. Merumuskan Kembali Kebangsaan Indonesia Jakarta : CSIS, Hlm. 99 – 115. Yudhoyono, Susilo Bambang., ” Pesan Politik dari Malang,” dalam Riza Shibudi dan Moch Nurhasim (ed) 2002 . Amandemen Konsitusi & Strategi Penyelesaian Krisis Politik Indonesia. Jakarta : AIPI, Hlm. 1–7. Tiga Undang-Undang Dasar Republik Indonesia , Jakarta : Sinar Grafika . Amandemen Undang-Undang Dasar 1745. Perubahan Pertama, Kedua , Ketiga dan Keempat. Jakarta : Interaksara. “ Perang Pasal Belum Usai,” Gatra No 23 Tahun XI, 23 April 2006, Hlm. 137.

30 Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->