P. 1
Dwifungsi ABRI

Dwifungsi ABRI

|Views: 1,831|Likes:
Published by Peter Kasenda
Berbeda dengan pengalaman kabanyakan negara Dunia Ketiga yang militernya didirikan oleh penjajah dan kemudian diambil alih oleh pemerintah nasionalis sesudah negara itu merdeka, militer Indonesia dilahirkan oleh zaman revolusi untuk melawan penjajah. Demikian kata Harlod Crouch, sarjana Australia yang pernah mengajar di di Universitas Indonesia. Selanjutnya Nugroho Notosusanto, mantan Kepala Pusat Sejarah ABRI menjelaskan bahwa sebenarnya lebih 50 negara baru yang lahir sesudah akhir Perang Dunia II, hanya empat yang mencapai kemerdekaan dengan perjuangan bersenjata perang kemerdekaan atau revolusi. Latar belakang yang khas ini ternyata mempengaruhi persepsi, sikap dan tingkah laku politik militer Indonesia sesudah perang.

Kalau demikian, pertanyaan yang patut diajukan adalah, sejak kapan militer mulai berpolitik di Indonesia? Dan tindakan apa yang dilakukan di dalamnya sehingga menyebabkan militer Indonesia masuk dalam dunia politik ?

Masalah mulainya militer Indonesia berpolitik, ada yang mengatakan sejak awal kelahirannya 5 Oktober 1945 , peristiwa 3 Juli 1946 atau 17 Oktober 1952. Apapun alasan yang dikemukakan, pada kenyataannya militer Indonesia memperoleh legalitas fungsi sosial-politiknya sejak mauknya para kepala staf angkatan dan kepala kepolisian negara ke dalam Dewan Nasional, sebagai salah satu wujud Konsepsi Presiden 1957. Bahkan pada masa kabinet Djuanda ada yang merangkap sebagai menteri, seperti Kolonel Moh Nazir (Menteri Pelayaran), Kolonel Suprajogi (Menteri Urusan Stabilisasi Ekonomi ).

Sejak tahun 1957 posisi militer di pemerintahan meningkat sampai jabatan-jabatan non-militer, dimulai dengan ditempatkannya sejumlah anggota militer pada perusahan-perusahan Belanda yang telah dinasionalisasi, kemudian pada Badan Kerja Sama Sipil-Militer, yang nantinya merupakan basis Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Pada bulan Juni 1960, ada 15 orang wakil Angkatan Darat, 7 wakil Angkatan Udara, dan 5 wakil Polisi, yang mewakili golongan fungsional dalam DPR Gotong Royong. Peranan militer dalam kehidupan bernegara dan berbangsa semakin meluas, setelah meletusnya Peristiwa G-30-S. Karenanya kaum militer mendapat hak istimewa DPR hasil pemilu 1971. Prosesnya bukan melalui pemilihan, melainkan diangkat berdasarkan konsensus nasional.

Peranan militer yang lebih menonjol oleh berbagai kalangan dianggap sebagai pelaksana dwifungsi ABRI. Dan tentunya mendapat sejumlah kritik. Sukmadji Indro Tjahyono, mahasiswa ITB, melalui pleiodinya ,” Indonesia Di Bawah Sepatu Lars,” secara gamblang menyatakan bahwa kebersengsekan atau kebobrokan yang terjadi di republik tercinta ini disebabkan oleh terlalu dominannya ABRI dalam pemerintahan Mohammad Rusli Karim mengemukakan bahwa salah satu sebab lumpuhnya partai politik ialah karena dominannya militer. Meski demikian ada pula yang melakukan pembelaan mengenai peran militer yang dominan. Buku Prajurit dan Pejuang, yang ditulis Nugroho Notosusanto, ASS Tambunan, Soebijono, dan Hidayat Mukmin, menjelaskan bahwa ABRI berperan sebagai dinamisator dan stabilisator. Terlepas dari pro dan kontra terhadap peranan militer yang menonjol itu, tetapi yang jelas dwifungsi ABRI konsitusional, sebab telah diatur dalam UU No 2 tahun 1982 tentang Ketentuan–ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara.

Berbeda dengan pengalaman kabanyakan negara Dunia Ketiga yang militernya didirikan oleh penjajah dan kemudian diambil alih oleh pemerintah nasionalis sesudah negara itu merdeka, militer Indonesia dilahirkan oleh zaman revolusi untuk melawan penjajah. Demikian kata Harlod Crouch, sarjana Australia yang pernah mengajar di di Universitas Indonesia. Selanjutnya Nugroho Notosusanto, mantan Kepala Pusat Sejarah ABRI menjelaskan bahwa sebenarnya lebih 50 negara baru yang lahir sesudah akhir Perang Dunia II, hanya empat yang mencapai kemerdekaan dengan perjuangan bersenjata perang kemerdekaan atau revolusi. Latar belakang yang khas ini ternyata mempengaruhi persepsi, sikap dan tingkah laku politik militer Indonesia sesudah perang.

Kalau demikian, pertanyaan yang patut diajukan adalah, sejak kapan militer mulai berpolitik di Indonesia? Dan tindakan apa yang dilakukan di dalamnya sehingga menyebabkan militer Indonesia masuk dalam dunia politik ?

Masalah mulainya militer Indonesia berpolitik, ada yang mengatakan sejak awal kelahirannya 5 Oktober 1945 , peristiwa 3 Juli 1946 atau 17 Oktober 1952. Apapun alasan yang dikemukakan, pada kenyataannya militer Indonesia memperoleh legalitas fungsi sosial-politiknya sejak mauknya para kepala staf angkatan dan kepala kepolisian negara ke dalam Dewan Nasional, sebagai salah satu wujud Konsepsi Presiden 1957. Bahkan pada masa kabinet Djuanda ada yang merangkap sebagai menteri, seperti Kolonel Moh Nazir (Menteri Pelayaran), Kolonel Suprajogi (Menteri Urusan Stabilisasi Ekonomi ).

Sejak tahun 1957 posisi militer di pemerintahan meningkat sampai jabatan-jabatan non-militer, dimulai dengan ditempatkannya sejumlah anggota militer pada perusahan-perusahan Belanda yang telah dinasionalisasi, kemudian pada Badan Kerja Sama Sipil-Militer, yang nantinya merupakan basis Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Pada bulan Juni 1960, ada 15 orang wakil Angkatan Darat, 7 wakil Angkatan Udara, dan 5 wakil Polisi, yang mewakili golongan fungsional dalam DPR Gotong Royong. Peranan militer dalam kehidupan bernegara dan berbangsa semakin meluas, setelah meletusnya Peristiwa G-30-S. Karenanya kaum militer mendapat hak istimewa DPR hasil pemilu 1971. Prosesnya bukan melalui pemilihan, melainkan diangkat berdasarkan konsensus nasional.

Peranan militer yang lebih menonjol oleh berbagai kalangan dianggap sebagai pelaksana dwifungsi ABRI. Dan tentunya mendapat sejumlah kritik. Sukmadji Indro Tjahyono, mahasiswa ITB, melalui pleiodinya ,” Indonesia Di Bawah Sepatu Lars,” secara gamblang menyatakan bahwa kebersengsekan atau kebobrokan yang terjadi di republik tercinta ini disebabkan oleh terlalu dominannya ABRI dalam pemerintahan Mohammad Rusli Karim mengemukakan bahwa salah satu sebab lumpuhnya partai politik ialah karena dominannya militer. Meski demikian ada pula yang melakukan pembelaan mengenai peran militer yang dominan. Buku Prajurit dan Pejuang, yang ditulis Nugroho Notosusanto, ASS Tambunan, Soebijono, dan Hidayat Mukmin, menjelaskan bahwa ABRI berperan sebagai dinamisator dan stabilisator. Terlepas dari pro dan kontra terhadap peranan militer yang menonjol itu, tetapi yang jelas dwifungsi ABRI konsitusional, sebab telah diatur dalam UU No 2 tahun 1982 tentang Ketentuan–ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Dwifungsi ABRI dalam Persepsi Elite Militer

Berbeda dengan pengalaman kabanyakan negara Dunia Ketiga yang militernya didirikan oleh penjajah dan kemudian diambil alih oleh pemerintah nasionalis sesudah negara itu merdeka, militer Indonesia dilahirkan oleh zaman revolusi untuk melawan penjajah. Demikian kata Harlod Crouch, sarjana Australia yang pernah mengajar di di Universitas Indonesia.1 Selanjutnya Nugroho Notosusanto, mantan Kepala Pusat Sejarah ABRI menjelaskan bahwa sebenarnya lebih 50 negara baru yang lahir sesudah akhir Perang Dunia II, hanya empat yang mencapai kemerdekaan dengan perjuangan bersenjata perang kemerdekaan atau revolusi.2 Latar belakang yang khas ini ternyata mempengaruhi persepsi, sikap dan tingkah laku politik militer Indonesia sesudah perang. Kalau demikian, pertanyaan yang patut diajukan adalah, sejak kapan militer mulai berpolitik di Indonesia? Dan tindakan apa yang dilakukan di dalamnya sehingga menyebabkan militer Indonesia masuk dalam dunia politik ? Masalah mulainya militer Indonesia berpolitik, ada yang mengatakan sejak awal kelahirannya 5 Oktober 1945 3, peristiwa 3 Juli 1946 4atau 17 Oktober 1952.5 Apapun alasan yang dikemukakan, pada kenyataannya militer Indonesia memperoleh legalitas fungsi sosial-politiknya sejak mauknya para kepala staf angkatan dan kepala kepolisian negara ke dalam Dewan Nasional, sebagai salah satu wujud Konsepsi Presiden 1957.6 Bahkan pada masa kabinet Djuanda ada yang merangkap sebagai menteri, seperti Kolonel Moh Nazir (Menteri Pelayaran), Kolonel Suprajogi (Menteri Urusan Stabilisasi Ekonomi ).7 Sejak tahun 1957 posisi militer di pemerintahan meningkat sampai jabatan-jabatan nonmiliter, dimulai dengan ditempatkannya sejumlah anggota militer pada perusahanperusahan Belanda yang telah dinasionalisasi, kemudian pada Badan Kerja Sama SipilMiliter, yang nantinya merupakan basis Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Pada bulan Juni 1960, ada 15 orang wakil Angkatan Darat, 7 wakil Angkatan Udara, dan 5 Harlod Crouch,” Kaum Militer Masalah Pergantian Generasi ,” Prisma , Tahun VIII, No 2, Februari 1980, hlm. 15 – 23. 2 Nugroho Notosusanto,” Angkatan Bersenjata dalam Percaturan Politik di Indonesia ,” Prisma , Tahun VIII, No. 8, Agutus 1978, hlm. 3 Ibid. 4 Sides Sudaryanto (ed) .Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman .Jakarta : PT Karya Unipers, 1983. 5 Aris Santoso,” Peranan 17 Oktober 1952 : Awal Dwifungsi ABRI ,” Media Indonesia, 17 Oktober 1952 . 6 Nugroho Notosusanto (ed) ,Pejuang dan Prajurit .Jakarta : Sinar Harapan , 1984, hlm. 75 – 78. 7 Departemen Penerangan .Susunan Kabinet Republik Indonesia 1945 – 1970 . Jakarta : Pradnja Paramita , 1970.
1

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

1

Peter Kasenda wakil Polisi, yang mewakili golongan fungsional dalam DPR Gotong Royong.8 Peranan militer dalam kehidupan bernegara dan berbangsa semakin meluas, setelah meletusnya Peristiwa G-30-S. Karenanya kaum militer mendapat hak istimewa DPR hasil pemilu 1971. Prosesnya bukan melalui pemilihan, melainkan diangkat berdasarkan konsensus nasional.9 Peranan militer yang lebih menonjol oleh berbagai kalangan dianggap sebagai pelaksana dwifungsi ABRI. Dan tentunya mendapat sejumlah kritik. Sukmadji Indro Tjahyono, mahasiswa ITB, melalui pleiodinya ,” Indonesia Di Bawah Sepatu Lars,” 10 secara gamblang menyatakan bahwa kebersengsekan atau kebobrokan yang terjadi di republik tercinta ini disebabkan oleh terlalu dominannya ABRI dalam pemerintahan Mohammad Rusli Karim mengemukakan bahwa salah satu sebab lumpuhnya partai politik ialah karena dominannya militer.11 Meski demikian ada pula yang melakukan pembelaan mengenai peran militer yang dominan. Buku Prajurit dan Pejuang, yang ditulis Nugroho Notosusanto, ASS Tambunan, Soebijono, dan Hidayat Mukmin, menjelaskan bahwa ABRI berperan sebagai dinamisator dan stabilisator. 12Terlepas dari pro dan kontra terhadap peranan militer yang menonjol itu, tetapi yang jelas dwifungsi ABRI konsitusional, sebab telah diatur dalam UU No 2 tahun 1982 tentang Ketentuan– ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara. 13 Walau saat ini peran militer yang dominan mulai berkurang dibandingkan pada awal Orde Baru,14 tetapi berbagai kritik tetus berlangsung, sehingga sejumlah pejabat militer angkat bicara. Menhankam LB Moerdani dalam sarasehan yayasan Pembela Tanah Air (Yapeta) mengakui bahwa berbagai bentuk sindiran, tuduhan maupun cercaan yang diarahkan pada dwifungsi ABRI, yang digambarkan sebagai penghambat atau bahkan pengikaran terhadap demokrasi, hak azasi manusia diiinjak-injak, rakyat kelaparan, tertindas dan dwifungsi ABRI dituduh sebagai kedok keberlangsungan militerisme Indonesia. Karenanya LB Moerdani menandaskan “tuduhan semacam itu perlu dijawab dalam penulisan sejarah15 Menurut Panglima ABRI, Jendral TNI Try Sutrisno, eksistensi dwifungsi ABRI adalah konsitusional, dan oleh karena itu sikap ragu-ragu terhadap posisi dan pernan ABRI dalam menyelenggarakan dwitunggalnya didalam perjuangan bangsa sebenarnya tidak perlu dan perlu segera diluruskan Mengutip pasal 28 ayat 2 UU No. 20/1982, Try Yahya A Muhaimin . Perkembangan Militer dalam Politik 1945 – 1966 . Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1982 , hlm. 106 – 126. 9 Nugroho Notosusanto, Tercapainya Konsensus Nasional 1966 – 1969 .Jakarta : PN Balai Pustaka , 1985. 10 Sukmadji Indro Tjahyono,. Indonesia Dibawah Sepatu Lars . Bandung : Komite Pembelaan Mahasiswa DM-ITB , 1979. 11 Muhammad Rusli Karim .Peranan ABRI dalam Politik.Jakarta: Yayasan Idayu ,,1981. 12 Nugroho Notosusanto, Pejuang Prajurit , Op.Cit., hlm 175 – 177 . 13 Ibid, hlm. 220 – 223. 14 Politeka, No 6 Tahun IV, 1988. 15 Kompas, 29 Agustus 1991.
8

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

2

Peter Kasenda Sutisno menyatakan jelas sekali bahwa fungsi sospol ABRI timbulnya diktaktorisme.16 justru ingin mencegah

Karena dwifungsi ABRI belum dimengerti betul oleh masyarakat. Panglima ABRI menjelaskan akan perlunya memasyarakatnya dwifungsi ABRI, terutama fungsi sosial politik ke dalam tubuh ABRI, dengan maksud untuk mencegah munculnya keragu-raguan yang dapat mengurangi keyakinan-keyakinan sikap prajurit ABRI akan kebenaran dan manfaatnya. Disebabkan peranan ABRI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui dwi-fungsinya telah dikukuhkan secara konsitusional telah dikukuhkan secara konsitusional, maka hal tersebut perlu dihayati benar-benar,17 Pangdam Diponogoro, Mayjen TNI Hariypto PS, menjelaskan bahwa dwifungsi bukanlah kekacauan sebagaimana telah mulai dikacaukan saat ini. Dwifungsi bukan pula upaya ABRI untuk mencari dan menempati jabatan di luar struktur setelah kekaryaan yang hanya terjadi bila memang diminta oleh penguasa atau penanggung jawab dari isntansi yang bersangkutan . Kekaryaan dan dwifungsi kedua-duanya memang merupakan manifestasi dari pengabdian Sapta Marga, namun dalam aktualisasi yang berbeda. Inilah yang harus terus-menerus dihayati dan dilaksanakan.18 Menurut Pandam Jaya, Mayjen TNI K Harseno, kekaryaan ABRI itu hanya merupakan salah satu aspek dari dwifungsi ABRI, yang aspek utamanya adalah jiwa dan semangat pengabdian ABRI sebagai kekuatan sospol, lainnya memikul tanggung jawab perjuangan bangsa dalam menuju kemerdekaan dan memperjuangkan bagi seluruh rakyat Indonesia .19 Kalau diperhatikan secara seksama, pernyataan di ats mengandung makna dwifungsi ABRI belum memasyarakat benar dan masih adanya pemahaman yang berbeda. Tulisan ini mencoba memaparkan pandangan beberapa elite militer Indonesia dari angkatan 1945 memang dwifungsi ABRI, yang diwakili oleh Jend TNI (Purn) A.H. Nasution, Jend.TNI (Purn) T.B Simatupang, Mayjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo, Jendral TNI (Purn) Soemitro dan Mayjen TNI (Purn) Hasnan Habib. Saat ini, mereka lebih dikenal sebagai pemikir militer Indonesia, baik melalui tulisan yang dimuat dalam media massa maupun buku. A.H. Nasution Lewat bukunya, Kekaryaan ABRI (1971), AH Nasution mengakui adanya tuduhan yang mengatakan masih terdapat sejumlah praktek-praktek menyimpang dari tujuan kekaryaan ABRI. Baginya, ABRI /TNI sering diekseskan dan diejek sebagai dwiporsi, karena disalahgunakan untuk kepentingan priabdi/orang dan golongan atau kliknya sendiri. Pelita, 7 Mei 1991 Ibid. 18 Angkatan Bersenjta, 24 April 1991 19 Op.Cit., 7 April 1991
16 17

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

3

Peter Kasenda Untuk itu ia mengingatkan betapa pentingnya menelaah arti kekaryaan itu, yang bermoto “ Apa yang baik bagi negara dan rakyat itulah yang baik bagi TNI/ABRI.” Berkaitan dengan kekaryaan,AH Nasution menjelaskan : Dari sejak semula, maksud dan tujuan kekaryaan itu adalah untuk pekerjaan yang berhubungan dengan keadaan yang bersifat darurat atau di mana betul-betul lebih lebih bermanfaat menggunakan kekaryaan TNI/ABRI itu, dan untuk partisipasi dalam lembaga-lembaga demi ikut sertanya ABRI dalam rangka pembinaan negara sebagai salah satu kekuatan sosial 20 Memang kesanggupan dan kemampuan tempur serta membina wilayah yang diperoleh ABRI berasal dari pengalaman selama perang kemerdekaan Hanya Saja kemampuan membina wilayah dan kekaryaan sosial-ekonomi atau sosial-politik mutlak memerlukan keahlian atau ketrampilan pada bidang-bidang militer/tempur tidaklah secara otomatis membawa kemampuan dalam bidang pembinaan wilayah, kekaryaan sosial-politik, atau kekaryaan sosial-ekonomi. Untuk itu perlu dilakukan pembinaan atau pendidikan yang berkaitan dengan hal tersebut. Kalau demikian kemudian muncul pertanyaan, seandainya ABRI mempunyai kemampuan untuk itu, apakah berarti ABRI terus menerus dominan dalam panggung politik Indonesia. Untuk ini Nasution menjawab “ ABRI berperan sebagai kekuatan sosial sebagai hasil proses sejarah dan konsitusional, tentu saja berubah dan semakin berkurang perannya sesudah normalisasi keadaan nanti, sebagaimana yang ditulis dalam ketentuan-ketentuan TAP-TAP MPRS.21 Menurut AH Nasution, sebenarnya istilah “dwifungsi” kurang sesuai. Ia lebih menyukai isyilah “dwi-kesanggupan dan kemampuan, “yang penggunaannya ditentukan ditentukan dari masa ke masa. Ia menganggap adanya salah pengertian terhadap arti dwi-fungsi itu sendiri. Kebanyakan orang mengartikan dengan orang-orang militer (baju hijau) yang menjadi gubernur ,direktur, duta besar dan lain-lain. Padahal yang demikian itu hanyalah merupakan salah satu segi dari pelaksanaan ABRI. 22 Berkaitan dengan perjalanan dwifungsi, AH Nasution menjelaskan bahwa selama perang kemerdekaan, fungsi pertama adalah fungsi tempur, dan fungsi kedua adalah menggalang pertahanan dan perlawanan rakyat yang dilakukan organisasi territorial dengan kaderkadernya berjalan seiring .setelah tahun 1950 fungsi kedua dikurangi. Tetapi hal itu hanya berjalan sementara saja, disebabkan adanya pemberontakan dan subversi yang makin luas, tentu saja operasi pemulihan keamanan diperlukan dengan jalan mengaktifkan kembali fungsi kedua dan semakin luas pula, bahkan dalam kehidupan bernegara dan keterlibatannya pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat .23

AH Nasution.Kekaryaan ABRI. Jakarta : Seruling Massa, 1971, hlm. 121. Ibid.hlm. 145. 22 Ibid, hlm. 150 152.
20 21 23

Ibid.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

4

Peter Kasenda Lima belas tahun setelah G-30-S, AH Nasution yang lolos dari penculikan itu menilai, bahwa jalan tengah yang dilakukan pada tahun 1958 telah berubah atau melampui apa yang diinginkannya dulu. Walaupun demikian, ia tetap mempunyai keyakinan bahwa semua perlu dikoreksi, sebab hal itu kurang serasi, baik dengan semangat kekeluargaan tercakup dalam Pancasila dan UUD 1945 maupun dengan asas “kedaulatan di tangan rakyat “ yang tercantum dalam pasal UUD 1945.24 Pada ceramah di Seskoad tahun 1969, AH Nasution mengingatkan agar pada tahun 1970an perlu terus-menerus terjadi pemurnian pengertian dan pengalaman kekaryaan (dwifungsi). Sebab pada saat itu telah terjadi banyak unsur peralihan. Maksudnya adalah berbagai penempatan TNI dalam fungsi-fungsi sosial politik dan lain-lain, diperlukan untuk sementara. Demikian pula halnya dengan pengangkatan wakil-wakil ABRI dalam lembaga-lembaga demokrasi dan sebagainya. Bagi AH Nasution, dalam konsep semula jika ABRI masuk lembaga legislatif, hendaklah melalui pemilihan umum sistem distrik atau memilih orang, bukan memilih tanda gambar dengan daftarnya. Tetapi masuknya ABRI ke MPR adalah sebagai utusan golongan menurut pasal 2 UUD 1945.25 Berkaitan dengan pengangkatan sejumlah anggota ABRI, yang dianggap bertentangan dengan prinsip kedaulatan rakyat yang mendasari UUD 1945, Nasution memberi komentar Sebagai KSAD yang dahulu menformalkan dwifungsi ABRI, saya sendiri tidak menghendaki sistem pengangkatan untuk ABRI. Saya ikut mengatur pengakatan pengangkatan selama masa transisi, yaitu sebelum dilaksanakan pemilu. 26 Sebenarnya, AH Nasution yang pernah menjabat wakil ketua Panitia Negara untuk Pemilu di masa Orde Baru, telah mengusahakan agar posisi ABRI sebagai salah satu kekuatan sosial yang dimaksudkan dalam pasal UUD 1945, yang terwujud dalam “golongan“ (karya), tetapi partai politik menginatkan ABRI duduk dalam DPR melalui pengangkatan, agar tidak memihak pada pelaksanaan pemilu, sehingga terjamin keamanannya.27 Baginya, UUD 1945 hanya menentukan kehadiran utusan-utusan ABRI dalam MPR sebagai salah satu “golongan “. Apabila ada anggota ABRI yang berminat duduk dalam DPR, seharusnya melalui pemilu. Sebab azas kedaulatan rakyat dalam pasal 1 UUD 1945 tidak mengenal wakil-wakil rakyat di luar hasil pemilihan oleh rakyat. Hal itu juga tercakup dalam TAP No XI/MPR/1966, yang tidak menyebut pengangkatan, kecuali masalah pemilihan saja. Oleh karena itu, Nasution menafsirkan bahwa kepentingan perjuangan di MPR, dan kurang tepat untuk melibatkan diri dalam politik sehari-hari di DPR.28 Untuk itu ia menjelaskan sikapnya
24 25 26

Ibid. Ibid.

AH Nasution , Memenuhi Panggilan Tugas Masa Konsolidasi Orde Baru Jilid 7 Jakarta “ Gunung Agung, 1988, hlm. 224.- 225. 27 Ibid. 28 Ibid, . Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com 5

Peter Kasenda

Dalam gagasan saya semula, wakil - wakil TNI yang duduk di DPR ialah dalam rangka pemilu distrik yang terdiri terutama daripada pensiunan atau para anggota organik ABRI yang selama pemilu dinonaktifkan dari dinas. Pada waktu itu bahwa banyak politisi yang berpendapat sama seperti di masa kabinet Ali Sastroamidjojo, yakni ABRI adalah sekedar alat sipil dan tidak boleh ikut dalam proses penentuan politik, sebagai missal dalam pemilu 1955 saya telah ikut pemilu dan terpilih di Jawa Tengah sebagai wakil IPKI untuk Konsituante . Karena saya kembali jadi KSAD lah kursi dioper oleh Paku Alam .29 Sistem pengangkatan dinilai AH Nasution sebagai hasil bergabung antara partai-partai politik dengan presiden Soeharto. Partai politik memperoleh apa yang dikehendaki bukan sistem distrik, tetapi sistem proporsional. Dan presiden Soeharto mendapat hak untuk mengangkat sepertiga anggota MPR dengan tujuuan agar UUD 1945 tidak bisa diubah. Hanya saja di sini, AH Nasution berbeda pandangan dengan presiden Soeharto. Ia menilai hal itu sebagai pengalihan pandangan belaka. 30 AH Nasution kecewa terhadap sikap yang diambil partai-partai politik yang menganggap hal prinsipil itu dilewatkan Cuma karena masih dalam fase transisi. Ia menilai, kesulitan akan terjadi apabila sistem itu berjalan dan terkonsolidasi . Ia memandang partai-partai politik lebih mementingkan agar pemilu sekelasnya terselenggara, guna mengakihiri masa transisi dan menganggap begitu mendesak rasanya menghadapi sistem pengangkatan wakil-wakil rakyat secara prinsipil.31 Melihat keterlibatan ABRI yang cukup dominan, AH Nasution yang dikenal sebagai konseptor utama dwifungsi ABRI sangat kecewa. Ia tak menyangka kalau keterlibatan ABRI sedemikian besarnya, bahkan bisa dianggap terlalu dominan. Pada tahun 1970-an ia telah mengingatkan betapa perlu permurnian arti dwifungsi itu. Sebagai kekuatan pertahanan-keamanan dan kekuatan sosial-politik, ABRI hendaknya bertindak sematamata untuk mewujudkan keinginan ABRI, yaitu kesempatan ikut berbicara mengenai berbagai kebijaksanaan yang diambil pemerintah. AH Nasution tidak bermaksud agar ABRI berada dalam posisi yang terlalu dominan. TB Simatupang Ketika masih menjabat Kepala Sraf Angkatan Perang RI, tahun 1954, TB Sumatupang menulis buku Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai, yang isinya berintikan kemungkinan TNI akan memainkan peranan yang lebih besar dalam kehidupan negara dan bangsa. Tetapi bahayanya terletak dalam perasaan militer yang lebih luas. Bisa jadi kehadiran angkatan perang di semua negara demokrasi akan mengundang kekuatiran membuka pintu bagi timbulnya kediktaktoran militer. Perasaan semacam ini diungkapkan dua windu kemudian Ibid, Ibid,hlm. 228 – 229 31 Ibid.
29 30

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

6

Peter Kasenda

Pada waktu itu pikiran saya diliputi oleh bayangan kekhawatiran yang mengingatkan pada persitiwa jatuhnya rezim Koumintang dan rangkaian coup dan contracoup di Amerika Latin. Sejarah Koumintang merupakan contoh yang paling gemilang bagi saya yang paling gamblang bagi saya tentang ketidakmampuan suatu rezim yang didasarkan pada kekuatan militer untuk memimpin suatu revolusi dengan berhasil. Ketika sesudah pengakuan kedaulatan negara kita pada bulan Desember 1949, saya Diangkat menjadi pemanangku Kepala Staf Angkatan Darat pada usia 29 tahun, Saya menyadari, sebagai salah satu tugas saya ialah berusaha supaya sejarah Amerika Latin dan sejarah Koumintang jangan sampai berulang di Indonesia. Pengertian saya mengenai situasi pada waktu itu , adalah “ alamiah “ kalau sesudah Kenerdekaan nasional, di mana memainkan peranan yang mentukan , negara akan diperintahkan oleh suatu pemerintahan militer Maka dari itu diperlukan suatu pemerintahan militer. Maka dari itu diperlukan suatu pemerintahan militer, maka dari itu diperlukan suatu usaha menengah agar sejarah tidak mengikut arah yang alamiah . Pada waktu itu terdapat kesadaran, bahwa untuk menyelamatkan republik dari bahaya Koumintang dan Amerika Latin selama tahun-tahun sesudah pengakuan kedaulatan , maka usaha yang terus dijalankan . Usaha-usaha itu, pertama untuk memantapkan akan kesadaran akan kesatuan dan persatuan di kalangan rakyat, kedua untuk memperkuat struktur-struktur politik dan ketika untuk meningkatkan mutu organisasi militer .32 Menurut TB Simatupang, ada hal utama yang bisa menimbulkan kediktaktoran militer. Pertama, adanya simpati dan sejumlah perwira terhadap bentuk pemerintahan otokrasi, sehingga mereka berusaha merealisir gagasan itu; kedua, adanya situasi yang menyebabkan negara harus memelihara angkatan perang yang kuat, yang bisa menyebabkan pergeseran dari pemerintahan sipil ke pemerintahan militer dan, ketiga terjadinya kemunduran keruntuhan atau disintegrasi dalam suatu negara.33 Setiap negara yang menganut faham demokrasi tetntunya menghadapi persoalan bagaimana caranya menyusun kekuatan militer yang memenuhi kebutuhan negara dan tidak menimbulkan kecenderungan ke arah militerisme . Masalah itu tidak dapat diselesaikan dengan cara yang kurang terpuji. Misalnya, mengusahakan agar Angkatan Perang tetap lemah,bodoh dan terpecah-pecah. Sebab, kata Simatupang, sikap semacam itu pada akhirnya hanya akan mengancam keselamatan negara sendiri. Menurut TB Simatupang, suatu tatanan yang mau menjamin, bahwa kekuatan politik tetap unggul dari kekuasaan militer adalah suatu hal yang penting. Tetapi bukan berarti memberi ruang gerak yang cukup buat pimpinan militer untuk mengusahakan perkembagan angkatan perang yang sehat.34 Ulf Sundhausse. Politik Militer Indonesia 1945 – 1967 . Menuju Dwi Fungsi ABRI . Jakarta : Sinar Harapan , 1981, hlm. 161. 33 TB Simatupang. Pelopor dalam Perang . Pelopor dalam Damai ,Jakarta : Sinar Harapan, 1981, Hlm. 161 34 Op.Cit, hlm. 165 – 166.
32

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

7

Peter Kasenda

Untuk menjamin berkembangnya dasar-dasar demokrasi suatu negara, TB Simatupang mengajukan alternatif. Pertama, adanya suatu usaha agar dalam Angkatan Perang tercapai tradisi yang lebih mementingkan perkembangan militer yang sangat sehat dan mampu menghargai dasar-dasar demokrasi, dan kedua, sistem demokrasi harus membuktikan diri, kalau ia mampu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa dan negara.35 Berkaitan dengan hubungan angkatan perang dan masyarakat,TB Simatupang yang pernah mengenyam pendidikan Koninklijk Militaire Akademie mengingatkan, selama kemerdekaan dan sesudah kedaulatan selalu didengung-dengungkan semboyan “Angkatan Perang tidak boleh menjadi kasta,” “angkatan perang harus berada di tengahtengah rakyat, seperti ikan dalam air.” Oleh karena itu, perlu ditekankan betapa pentingnya hubungan yang baik dengan masyarakat umumnya dan rakyat di desa-desa dalam pendidikan angkatan perang, di mana masalah-masalah kemasyarakatan perlu diajarkan di sana. Selain itu, perlunya asrama dan tempat pendidikan angkatan perang yang sedapat mungkin berada di luar luar kota, daerah pertanian. Dengan demikian anggota-anggota angkatan perang dalam kehidupan sehari-hari selalu dekat dengan alam desa.36 Anggota angkatan perang juga diajarkan oleh TB Simatupang,37 agar dapat membantu kegiatan-kegiatan yang dapat memberikan kesejahteraan rakyat di desa-desa, misalnya membuat jalan, jembatan, saluran, pengairan, waduk, pendidikan; Pekerjaan semacam itu apabila dilakukan akan memperdalam kesadaran di kalbu-kalbu anggota angkatan perang tentang betapa pentingnya memelihara hubungan yang baik dengan rakyat sekaligus dapat memperkuat potensi pertahanan di desa-desa dan memelihara penghargaan dan kepercayaan rakyat di desa-desa itu terhadap angkatan perang. Perhatian TB Simatupang terhadap rakyat desa, sebenarnya merupakan suatu obsesi. Ia cukup lama berdiam di desa Banaran, tempat dulu ia mengungsi saat tentara Belanda melakukan Agresi Belanda II tanggal 19 Desember 1948. Ketika itu ia menjabat Deputy Kepala Staf Angkatan Perang RI. Dalam bukunya Laporan dari Banaran (1960) TB Simatupang menceritakan hubungan antara anggota angkatan perang dengan masyarakat sekitarnya. Pemuda-pemuda ini banyak membantu kami berada di Banaran , mereka mengatar kan dan mengambil surat-surat dari tempat Harjono, mereka menjalankan jaga malam. Apakah mempelajari juga sesuatu yang berfaedah bagi mereka selama kami di Banaran?Apa juga diantara kami mencoba memberikan pelajaran kepada mereka Ali, umpamanya , memberikan pelajaran bahasa Inggris . Apakah semuanya ini ada faedahnya bagi mereka untuk mengurangi keadaan terbelakang dan kemiskinan dalam kehidupan desa mereka, saya tidak tahu. 38 Ibid.,hlm. 166. Ibid, hlm. 169. 37 Ibid ,hlm. 176. 38 TB Simatupang. Laporan dari Banaran . Jakarta : Sinar Harapan , 1981, hlm. 51.
35 36

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

8

Peter Kasenda

Kutipan di atas jelas menunjukkan betapa TB Simatupang mempunyai perhatian serius terhadap kehidupan rakyat desa, yang dianggapnya banyak membantu tugas-tugasnya selama pengungsian, sehingga menyebabkan dia bertanya pada dirinya, Apakah yang telah diperkuat untuk rakyat desa yang dianggap mempunyai banyak jasa terhadap Angkatan Perang RI ? Apakah kita mempunyai pikiran-pikiran yang konkrit untuk membawa keadilan dan kemakmuran ke desa-desa dan hutan-hutan kita?Seringkali saya menanyakan pertanyaan ini kepada diri saya sewaktu tinggal di Banaran . Sering juga saya membicarakan dengan Ali Boediardjo. Akan tetapi waktu kami meninggalkan Banaran maka saya sendiri memperoleh jawab yang memusatkan atas pertanyaan ini.39 Ternyata tiga puluh tahun kemudian, pertanyan ini baru terjawab Ada semacam ironi dalam hidup rakyat di tempat-tempat itu dahulu telah dijadi kan pangkalan gerilya oleh karena letaknya terpencil dan oleh karena adanya hambatan-hambatan alamiah untuk mencapainya Sekarang ini alasan-alasan ini pula yang menyebabkan bahwa tempat-tempatnya itu sukar untuk mengambil bagian dalam pembangunan , sering adalah tempat yang sekarang ini paling sedikit memperoleh manfaat dari pembangunan 40 Pribadi kembari generasi Angkatan “45, baik sebagai militer, pejuang nasional, dan pemuda, adalah hasil dari sejarah kelahiran dan pertumbuhan TNI kita. Hanya saja, kata TB Simatupang, lambat-laun terasalah kedua segi dari pribadi kembar itu ditujukan kepada usaha-usaha untuk menegakkan tingkat teknis yang setinggi mungkin dan disiplin yang sekuat mungkin, sebaliknya dari pejuang nasional dan pemuda dalam menghendaki negara yang kuat serta masyarakat yang adil dan makmur. Dari situlah lahir konflik yang tentunya sangat melmahkan TNI bahkan kadang-kadang menggoncangkan negara dan masyarakat.41 Menurut TB Simatupang, bertambah luasnya peranan Angkatan Perang secara berangsurangsur disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, adanya proses pertumbuhan di dalam organisasi, disiplin dan mutu angkatan perang secara perlahan-lahan ;kedua, adanya pertikaian-pertikaian maupun perpecahan di kalangan lmbaga-lembaga politik; ketiga, terdapatnya ancaman-ancaman terhadap terhadap dasar negara dan bangsa, yang memberikan kepada angkatan perang peranan sebagai pengawal Pancasila dan; keempat, tidak tercapainya penyelesaian secara damai dalam konflik antara Indonesia dan Belanda, sehingga membuat Indonesia menjalankan perang kemerdekaan dalam bentuk perang rakyat.42 Op.Cit.hlm. 241. Ibid, hlm. 249. 41 TB Simatupang. Pemerintah-Masyarakat-Angkatan Perang Jakarta : Indi , hlm. 70 - 74 42 TB Simatupang . Peranan Angkatan Bersenjata dalam Negara Pancasila yang Merdeka. Jakarta : Idayu , 1980, hlm. 70 – 74.
39 40

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

9

Peter Kasenda

Melihat peran yang begitu benar dari Angkatan Bersenjata, TB Simatupang juga merasa khawatir, sebab tak ada jaminan kalau militer di negara-negara berkembang di Asia dan Afrika tidak akan terkena godaan dan bahaya dari suatu pemerintahan militer dan kediktaktoran militer yang senantiasa mengintip. Kasus yang diangkat TB Simatupang adalah dalam sejarah negara-negara Amerika Latin, pemimpin-pemimpin militer harus mengisi kekosongan yang ditinggalkannya oleh kegagalan kelompok politik sebagaimana halnya sekarang di beberapa negara Asia-Afrika. Tetapi setelah beberapa waktu, patriotisme kaum militer semula di Amerika Latin mulai pudar dan mereka mempergunakan kekuasaan untuk kepentingan dirinya sendiri.43 Tulisan-tulisan TB Simatupang, ketika masih menjadi Kepala Staf APRI. Penasehat Militer Menteri Pertahanan, maupun ketika menikmati masa pensiun, senantiasa diwarnai kekhawatiran terhadap adanya kediaktaktoran militer yang mungkin saja terjadi di Indonesia. Untuk itu, ia senantiasa mengingatkan tentang betapa besar bahayanya kalau Angkatan Bersenjata RI terlalu besar berperan dalam kehidupan negara dan bangsa. Sebagaimana seorang ikut serta dengan perkembangan ABRI dan membawa kepada keadaan yang lebih baik, tentu saja ia akan dicatat sebagai orang yang mempunyai jasa, tetap justru menciptakan suasana seperti yang terjadi di Amerika Latin Tentu saja muncul tuduhan, kalau ikut bertanggung jawab terhadap keadaan semacam itu.44 TB Simatupang memandang, kalau peranan ABRI terlalu besar pada saat ini, sematamata bukan disebabkan ABRI mengembangkan kemampuan itu, tetapi disebabkan kemampuan masyarakat yang kurang mengembangkan kemampuan fungsi sosial politik, kalau mampu melakukan sebaik mungkin, bisa jadi tidak ada ruang gerak ABRI untuk menjalankan peranan sosial politik yang begitu luas. Menurutnya ada tiga sebab yang mengundang ABRI untuk menjalankan fungsi sosial-politik. Pertama, kalau ABRI dapat menyelesaikan masalah politik dengan Belanda tanpa perang rakyat, peranan ABRI tidak akan begitu besar; Kedua, TNI tidak harus menjalankan usaha yang begitu lama dalam menghadapi Darul Islam, selama tiga belas tahun. Lebih lama dari Perang Kemerdekaan yang hanya memakan waktu selama empat tahun saja dan; Ketiga, apabila kekuatankekuatan politik di Indonesia mampu menghadapi Partai Komunis Indonesia, peranan yang dimainkan TNI juga tidak akan besar.45 Kekhawatiran semakin besarnya keterlibatan Angkatan Bersenjata RI, bisa jadi obsesi Simatupang yang merasakan ikut serta membesarkan sehingga ABRI menjadi seperti sekarang ini, tetapi justru hal itu membuat ia menjadi was-was dengan situasi yang ada. Obsesi itu dituangkan kedalam sebuah buku.Harapan, Keprihatinan dan Tekad Angkatan 45 Merampungkan Tugas Sejarahnya , Angkatan ’45 itu menulis pesan kepada bangsanya, agar jangan salah langkah mengambil tindakan. Salah berarti fatal. Ia tak menginginkan sama sekali kalau Indonesia nantinya berberlok ke arah militerisme, seperti apa yang terjadi di Amerika Latin. Sebab kalau itu terjadi, artinya Angkatan “45 HM Victor Matondang . Percakapan dengan Dr TB Simatupang .Jakarta : : BPK Gunung Mulia , 1986, hlm. 3 – 4. 44 Op.Cit, hlm. 16 – 17. 45 Ibid.
43

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

10

Peter Kasenda gagal sebagai generasi pembebas. Untuk itu, TB Simatupang menghendaki agar ABRI bukan saja sebagai dinamisator dan stabilisator, tetapi juga memainkan peranan sebagai demokratisator. 46 . Sayidiman Suryohadiprojo Sebagai pemikir militer Sayidiman Suryohardiptodjo menuangkan pikirannya dalam buku Langkah –langkah Perjuangan Kita (1971). Karya yang ditulis ketika menjabat Panglima Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin, membicarakan ABRI dengan dwifungsinya. Ia berusaha menunjukkan alasan-alasan kehadiran dwifungsi. Sayidiman Suryohadiprojo masgul mendengar adanya suara-suara yang menginginkan agar TNI menjadi alat pertahanan dan keamanan belaka., sebagaimana dianut dengan negaranegara Barat. Menurut dia, keinginan semacam itu muncul disebabkan orang tidak mengenal perjuangan bangsa Indonesia selama mempertahankan kemerdekaan. Mereka diidentikan sebagai orang-orang yang khususnya yang selalu ikut Belanda atau selama Perang Kemerdekaan berada di luar negeri menuntut ilmu. Bahkan ia menuduh kalau orang politik kurang begitu menyukai ABRI ikut serta berbicara masalah kemasyarakatan. Ada dugaan ketakutan dan kekhawatiran kalau ABRI merintangi dan menggagalkan rencana partai politik. Mereka adalah kebanyakan berasal dari partai politik.47 Sayidiman Suryohardiptpdjo yang berasal dari Divisi Siliwangi itu membantah tuduhan yang berasal dari dalam dan luar negeri, yang mengatakan kalau di Indonesia telah terjadi kediktaktoran militer seperti apa yang terjadi Amerika Latin, hanya disebabkan tentara dominan dalam kehidupan politik pada saat itu. Ia ingin mengatakan kalau di Indonesia terdapat kehidupan demokrasi yang tadinya dikekang oleh rezim Soekarno. 48 Secara tegas Sayidiman Suryohadiprodjo mengatakan bahwa tentang peranan militer berkaitan dengan kehidupan demokratis. ,” …bahwa justru TNI lebih demokratis dari setiap golongan yang pernah memegang pemerintahan di Indonesia.49 Walaupun demikian, Sayidiman mengakui kalau ABRI tidak selalu sempurna, masih terdapat kekurangan di dalamnya Seandainya golongan sipil kurang berkenan dengan kepemimpinan ABRI dalam masyarakat, termasuk dalam bidang non-militer. Sayidiman menganjurkan agar golongan sipil mencari kelemahan dalam dirinya. Ia menunjukkan kenyataan sejarah yang terjadi pada tahun 1948 dan 1949, disebabkan ketidakmampuan kepemimpinan sipil untuk menjalankan fungsi sebagaima mestinya, itulah yang menyebabkan rakyat mulai menaruh kepercayaan terhadap kepemimpinan TNI. Jadi, kata Sayidiman Suryohadiprodjo kalau golongan sipil ingin mendapat kepercayaan dari rakyat, seharusnya mempunyai

RB Simatupang , “ Demokrasi Pancasila ,” Suara Pembaruan , 6 – 7 Juni 1988 . Sayidiman Suryodiprojo. Langkah Langkah Perjuangan Kita .Jakarta : Departemen Pertahanan dan Keamanan Pusat Sejarah ABRI , 1971,hlm. 11 – 24 . 48 Op.Cit. 49 Ibid.
46 47

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

11

Peter Kasenda kemampuan meningkatkan kualitas sehingga terasa kedewasaan dan efektifitasnya oleh rakyat. 50 Sayidiman Suryohadiprodjo yang lulus Akademi Militer Angkatan 1 Yogyakarta memberi penjelasan apa yang dimaksud dengan dwifungsi TNI/ABRI. Ia merumuskan Pada hakekatnya dwifungsi TNI tidak dengan sendirinya berarti, bahwa oknumoknum TNI harus menduduki tempat-tempat non militer, dwifungsi TNI berarti bahwa TNI tidak saja merupakan suatu kekuatan militer yang menjalankan fungsifungsi militer tetapi juga merupakan kekuatan sosial politik yang turut bertanggung jawab atas pertumbuhan negara dan bangsa Indonesia sesuai dengan aspirasi-aspirasi bangsa . Bahwa untuk dalam menjalankan fungsi sebagaimana mestinya sebagai kekuatan sosial politik dan oknum-oknum TNI duduk dalam jabatan non-militer adalah mungkin , tetapi tidak perlu menjadi keharusan kalau tanpa itu TNI meyakini bahwa pertumbuhan negara dan bangsa sesuai dengan aspirasi-aspirasi rakyat 51. Mengenai kemungkinan berlangsung dwifungsi TNI, Sayidiman Suryohadiprodjo memberi jawaban “ …selama ada TNI harus ada pengertian dwifungsi , yaitu rasa tanggung jawab TNI terhadap keamaman dan kesejahteraan negara dan bangsa berdasarkan Pancasila…” 52 Untuk itulah jiwa dan sikap perjuangan TNI itu perlu dipupukan dan dipelihara dan ditularkan kepada generasi-generasi TNI yang akan datang. Selain itu, ia mengingatkan kalau mutu kepemimpinan sipil perlu ditingkatkannya sehingga dwifungsi TNI tidak perlu dilaksanakan dengan menempatii jabatan-jabatan eksekutif sipil secara luas, dan sebaliknya TNI senantiasa siap untuk memberikan tenaga dan peranannya, apabila kepentingan sipil belum atau tidak memenuhi kebutuhan . 53 Dua windu kemudian, Sayidiman Suryohadiprodjo menerbitkan buku Menghadapi Tantangan Masa Depan (1987), Mantan Gubernur Lembaga Pertahanan Keamanan ini berbicara mengenai dwifungsi ABRI dengan nama yang sama, seperti ketika ia masih menjadi Panglima Komando Daerah Militer XIV /Hasanudin. Ia menjelaskan dwi fungsi ABRI tidak membahayakan tidak membahayakan Demokrasi Pancasila, seperti yang dituduhkan orang. Justru hasil perjuangan dwifungsi ABRI-lah tegaknya kembali UDD 1945 dalam masyarakat Indonesia dan berfungsinya lembaga-lembaga demokrasi. Ia menuduh kalau orang-orang yang tidak menginginkan adanya dwifungsi ABRI sebagai orang-orang yang tidak bersedia melihat kenyataan atau disebabkan oleh pandangan hidup yang tidak memberi tempat pada dwifungsi ABRI. Dengan kata lain, mereka telah terbius oleh kehidupan negara lain, di mana kekuatan militer tidak lebih dan tidak kurang hanya atau mesin perang belaka. 54 Ibid,hlm. 183 – 199. Ibid. 52 Ibid. 53 Ibid. 54 Sayidiman Suryohadiprojo. Menghadapi Tatantangan Masa Depan Jakarta:.Gramedia 1987, hlm. 156 – 162.
50 51

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

12

Peter Kasenda Kalau ada kegusaran di sementara kalangan bahwa adanya penunjukan anggota lembaga perwakilan, yang dianggap bertentangan dengan semangat demokrasi, bahkan ada yang menganggap penunjukan itu menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Sayidiman Suryohadiprodjo mengusulkan agar diadakan referendum saka, seperti yang disarankan oleh Presiden Soeharto guna mengetahui sikap mayoritas. Kalau referendum itu ternyata memperlihatkan mayoritas masyarakat menghendaki tidak ada penunjukan anggota ABRI untuk duduk dalam lembaga perwakilan, maka ada baiknya cara semacam ini itu dihentikan saja.55 Konsekuensinya anggota ABRI dapat dipilih dan memilih, sebab ini merupakan haknya sebagai warga negara. Kalau hal itu terjadi ada masalah, Apakah ABRI merupakan salah satu kontestan Pemilu tersendiri atau naggota ABRI masuk dalam daftar calon orpol. Sayidiman Suryohadiprodjo menjelaskan, kalau anggota ABRI masuk dalam jajaran ketiga orpol berdasarkan posisi dwifungsi ABRI yang mementingkan kepentingan nasional, hal itu tidak mengutungkan ABRI. Terpencarnya anggota ABRI ke dalam ketiga orpol, dapat mengganggu kekompakannya. Atau anggota ABRI masuk satu orpol saja dan akan menjadikan dwifungsi disubordinasikan program orpol itu. Pada akhirnya, Sayidiman Suryohadiprodjo mengusulkan agar anggota ABRI dijadikan sebagai salah satu kontestan pemilu bersama orpol-orpol lainnya. Pemilihannya menggunakan sistem distrik. Jadi masyarakat memilih bukan orang orpol. Setelah itu sejumlah anggota ABRI yang terpilih, membentuk fraksi ABRI dalam lembaga perwakilan.56 Kalau melihat pandangan Sayidiman Suryohadiprpdjo ada kesan bahwa ia menginginkan adanya demokratisasi dan ia merasa yakin bahwa ABRI mampu membawakan nilai-nilai itu demi kepentingan bangsa dan negara. Sayidiman Suryohadiprodjo menjelaskan bahwa tanmpaknya sekarang pun peningkatan kehidupan demokrasi di Indonesia masih banyak tergantung dari para dwi fungsi ABRI, tanpa memandang remeh organisasi-organisasi lain.57 Hanya saja di sini, Sayidiman Suryohadiprodjo lebih menekankan bahwa apa yang diartikan demokrasi bukan dalam demokrasi politik saja, melainkan harus diartikan sebagai demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial-budaya. 58 Soemitro Menilai kecenderungan yang ada pada saat ini, Soemitro menganggap telah terjadinya proses disengagement pada tahun 1988. Hal itu sebagai suatu kejadian yang direstui oleh kalangan ABRI yang saat ini masih berada di tampuk pemerintahan. Berkaitan dengan dwifungsi, Soemitro menjelaskan;. Dwifungi tetap ada, hanya intensitas keterlibatannya dalam pelaksanaan fungsi kedua itu tergantung daripada keadaan . Ini kembali pada sistem dan kriteria
55 56 57

Op. Cit. Ibid.

Sayidiman Suryohadiprojo,” Dwifungsi ABRI Menjelang Masa Depan ,” Suara Pembaruan , 9 – 10 Juni 1988.
Op.Cit.

58

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

13

Peter Kasenda dengan tetap memperhtikan prinsip the right man in the right place 59 Melihat pengendalian Golongan Karya oleh ABRi, Soemitro memberikan komentar, 60 ada baiknya hal itu tidak dilakukan secara organisatoris, tetapi cukup aspiratif. Untuk itu, Soemitro yang pernah menjadi Pangdam Brawijaya mengusulkan agar kepengurusan Golkar di setiap tingkat kecuali Sekretaris Jendral, dijabat oleh Purnawirawan ABRI yang telah matang berpolitik dan dipercayai ABRI. Tugas utama mereka adalah membina kader Golkar dan mendayagunakan dapur pemikiran. Secara jelas, Soemitro mengatakan kalau kaum purnawirawan ABRI itu tidak boleh berambisi dan tidak boleh ditunjuk menjadi/menduduki gubernur, menteri, Wapres, Presiden, Duta Besar dan sebagainya. Hanya kader Golkar dari kalangan sipillah yang lama harus disiapkan untuk mengisi jabatan jabatan tersebut. Dan Soemitro melihat betapa perlunya sikap netral dari pihak ABRI, seperti yang diungkapkan . Demkian pula ABRI dapat kembali pada posisi historisnya sebagai kekuatan sosialpolitik, yang berdiri di atas semua golongan , menaungi dan tidak boleh berhadapan dengan kekuatan politik manapun, terutama di arena praktis . Sebagai milik rakyat, ABRI harus menjadi kepercayaan semua golongan , apalagi setelah Pancasila merupakan satu-satunya asas bagi semua organisasi di bumi Indonesia. 61 Keterlibatan aBRI secara dominan dalam kehidupan politik, diakibatkan terjadinya Peristiwa G-30-S. Pada saat itu terjadi proses depolitisasi-deSoekarnoisasi. Karena sebagai besar pejabat pemerintah adalah pejabat Nasakom, maka mereka hanya digulingkan dan dijatuhkan dari jabatannya. Kekosongan jabatan inilah yang kemudian diisi oleh anggota ABRI. Sebab lain adalah partai-partai politik dilanda konflik, mereka meminta ABRI mengisi jabatan seperti bupati, walikota dan sebagainya.62 Kalau melihat mulai bergesernya peranan ABRI. Menurut Soemitro yang pernah menjadi Wapangab itu, pada awal duduknya ABRI dalam jabatan-jabatan sipil atau birokrat semata dimaksudkan untuk menghancurkan PKI, mengangkat wibawa pemerintah, sekaligus membersihkan dari sisa-sisa Nasakom. Semua itu adalah krisis yang terjadi pada waktu itu. Walaupun demikian, Soemitro merasa percaya, kalau ABRI tidak bermaksud untuk memperpanjang krisis. Sebab adanya krisis merupakan suatu kehormatan bagi ABRI untuk secepatnya menormalkan keadaan, bukan untuk memperpanjangnya. Politik terbuka yang dianut oleh pemerintah pada saat ini, merupakan suatu kesempatan besar buat golongan sipil untuk meningkatkan kualitas kepemimpimnya, agar dapat memainkan peran lebih besar seperti dahulu. Sebab dengan keterbukaan yang ada menciptakan persaingan agar terciptanya manusia yang berkualitas, peningkatan intelektual serta menciptakan manusia yang mempunyai kemampuan untuk bekerja. Sebab, kata Soemitro yang pernah menjabat Pangkopkamtib itu, muncullnya manusia semacam itu betul-betul dirasakan sebagai suatu kebutuhan pada saat ini , terutama pada Eksekutif, Agustus 1985, hlm. 17 – 25. Soemitro ,” Posisi Golkar dalam Pembaruan Kehidupan Politik ,” Kompas, 25 Juli 1988. 61 Op.Cit. 62 Ilmu dan Budaya , No. 10, Juli 1988.hlm. 762 – 763.
59 60

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

14

Peter Kasenda tahun 1993. Saat itu akan terjadi peralihan generasi, sebab generasi“45 yang memegang pimpinan sekarang sudah habis semuanya.63 Untuk itu Soemitro yang dikenal sebagai pemikir militer itu percaya akan terjadinya supremasi sipil. Menurutnya, Supremasi sipil itu akan terjadi secara alamiah. Bahwa nantinya sipil akan menduduki pos-pos yang semestinya diduduki oleh sipil, itu akan terjadi.64 Hasnan Habib Bagi Hasnan Habib, dilemma utama dari rezim militer adalah, di satu pihak sulit untuk melepaskan dan mengembalikan kekuasaan yang direbut itu kepada golongan sipil, sedangkan di pihak lain juga sulit memperoleh legitimasi kekuasaan. Meski begitu ia menjelaskan kalau du dunia terdapat beberapa contoh keberhasilan rezim militer dalam memajukan bangsa dan negara, tetapi ada pula contoh-contoh kegagalan rezim militer. Ia menilai, tidak ada jaminan yang mengatakan bahwa suatu rezim sipil akan lebih baik dari rezim militer dan sebaliknya. Hanya saja, kata Hasnan Habib, keberhasilan suatu rezim militer dalam bidang ekonomi dan industri, tidak selalu dibarengi dengan pembangunan demokrasi politik yang dianggap berhasil. 65 Menurut Hasnan Habib, ABRI dengan peran dan kedudukan yang demikian strataegis itu, memungkinkan membantu pertumbuhan adan pemantapan demokrasi Pancasila, apabila ABRI dapat: pertama, menjamin adanya suasana bebas dan terbuka bagi rakyat untuk mengisi sendiri kekosongan-kekosongan dan kekurangan-kekurangan demokrasi politik Pancasila yang dirasakan sesuai dengan cocok dengan kebutuhannya sendiri; kedua, menghindari campur tangan dalam masalah-masalah intern rganisasi –organisasi politik sehingga diharapkan dapat mandiri, dan; ketiga, perlu diserasikan kekaryaan ABRI di luar bidang militer, dengan harapan mampu meredakan keresahan dan kekecewaan golongan-golongan yang merasa tempat pengabdian dan kariernya semakin sempit.66 Berkaitan dengan ketiga butir tersebut, secara tidak langsung Hasnan Habib membuat definisi mengenai keberhasilan dwifungsi ABRI dengan ungkapan Salah satu tolok ukur keberhasilan dwifungsi ABRI, ialah semakin banyaknya bidang-bidang di luar Hankam itu dapat diisi oleh golongan –golongan non-ABRI dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman lebih tepat untuk menjalankan fungsi non-hankam itu.67 Kalau terjadi pengisian jabatan-jabatan yang dahulu didominasi oleh anggota-anggota ABRI, lewat kekaryaan ABRI dan pada saat ini diisi kembali oleh anggota–anggota sipil, Op.Cit. Ibid. 65 Hasnan Habib ,” Peranan Militer dalam Pembangunan Negara Kebangsaan dan Demokrasi Politik ,”. Makalah dipresentasikan di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta 17 Desember 1988.
63 64 66 67

Op.Cit.

Ibid. 15

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda menurut Hasnan Habib, hal tersebut telah memberi kesempatan buat ABRI untuk meningkatkan profesionalisme Dengan demikian, peranan sosial-politik ABRI secara berangsur-angsur akan dapat dialihkan ke dalam supra struktur. Ini akan memberikan kesempatan lebih besar bagi ABRI .untuk memenuhi peningkatan profesionalisme sebagai kekuatan pertahanan keamanan sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan 68 Adanya tuduhan peran politik militer Indonesia dengan kudeta. Hasnan Habib yang pernah menjabat duta besar di Amerika Serikat itu menolak tuduhan semacam itu. Sebab ABRI sejak lahirnya sudah berpolitik, situasi dan kondisi dalam periode itu mendorongnya untuk berpolitik. Dalam perjalannya ABRI telah ber ber-dwifungsi, walaupun dengan intensitas, bentuk, dan cara yang sama dalam berbagai periode. Hanya saja, kata Hasnan Habib, dalam Orde Baru peran politik ABRI menjadi sedemikian besarnya, sehingga dapat memenuhi persyaratan tipe “dual-rule” atau dwi-penguasaan ABRI bersama Golkar, dengan ABRI sebagai kekuatan sosial politik yang lebih dominan.69 Mungkin yang menarik adalah apa yang dikatakan Hasnan Habib berkaitan dengan kedewasaan budaya politik yang terjadi pada saat itu. Ia menilai sebelum terdapat kedewasaan politik, berarti penguasaan militer terhadap kehidupan politik terasa dominan. Ia melihat bahwa akan terjadi perubahan pola dwi-penguasaan yang berlaku sejak permulaan Orde Baru, menjadi “penguasaan tidak langsung “, tanpa mengurangi hakekat dan arti difungsi ABRI. Perubahan ini terjadi sebelum tahun 2000.70 Kalau dugaan itu ternyata benar, maka untuk pelksanaan dwifungsi ABRI, ia mengusulkan : Jadi, kata Hasnan Habib, pelaksanaan dwifungsi ABRI harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang yang ada. Sebab setiap zaman mempunyai tantangan yang berbedabeda. Dalam arti pada saat ini dianggap sebagai masa peralihan, dianggap perlunya pengurangan anggota ABRI yang terlibat dalam kehidupan politik. Sebab seperti yang telah ditegaskan bahwa keberhasilan dwifungsi ABRI adalah semakin berkurangnya yang duduk dalam jabatan yang selalu dianggap mempunyai nilai-nilai strategis buat kepentingan ABRI. Atau dengan kata lain, kekaryaan ABRI ada baiknya semakin dikurangi dan diisi olh kaum sipil saja. Penutup Kalau melihat apa yang terungkap dari kelima pemikir militer Indonesia di atas, nampak terdapat kesan adanya kesepakatan bahwa adanya dwifungsi ABRI karena proses historis yang telah berlangsung lama. Tidak ada di antara kelima pemikir militer itu untuk tidak setuju adanya dwifungsi ABRI pada saat mereka menjadi elite militer maupun pada masa Ibid. Ibid. 70 Ibid.
68 69

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

16

Peter Kasenda sekarang. Menurut mereka, prinsip dwifungsi ABRI perlu dipertahankan hanya saja metode pendekatannya perlu diubah dari kuantitas ke kualitas.71 Mereka sepakat agar peran militer yang terlalu dominan, yang dianggap sebagai pelaksanaan dwifungsi ABRI, agar mulai dikurangi, seluas mungkin. Kebanyakan dari mereka itu menginginkan agar golongan sipil meningkatkan kualitasnya, agar bisa secepat mungkin mengisi kursi yang sekarang diduduki militer. Militer akan meninggalkan jabatan-jabatan non-militer kalau golongan sipil yang memungkinkan menggantikannya dan militer sendiri lebih memusatkan kualitas pengetahuan militer, khususnya pertahanan dan keamanan. Fenomena dominasi militer Indonesia di segala bidang, ada kemungkinan besar tidak menonjol sesudah tahun 2000. Fenomena itu terjadi karena situasi menginginkan agar golongan sipil lebih memainkan peranan yang menonjol sebagaimana yang pernah dicapai golongan sipil dahulu. Adanya pembagian tugas golongan sipil dengan golongan militer menjadi lebih jelas yang menjadi tugas kedua golongan tersebut. Kritik-kritik dwifungsi ABRI, sebagaimana saat ini masih berlangsung, makin lama akan berkurang, sehingga pengeritiknya menganggap tidak adanya legitimasi militer Indonesia untuk berperan terlalu dominan.

Dimuat dalam Histori Vol 1 Nomor 2 , 1992, hal. 12 – 27 .

71

Ibid. 17

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->