P. 1
Indonesia Raya

Indonesia Raya

|Views: 625|Likes:
Published by Peter Kasenda
Lagu kebangsaan setiap negara tidak sekadar menjadi simbol kenegaraan akan tetapi dari waktu ke waktu mengusik emosi – merangsang semangat dan nafsu agresi, mengubar amarah, dan pada titik ekstrem yang lain mampu meneteskan air mata warganya dalam isak tangis. Dalam hal ini adegan cucuran air mata ketika para olahragawan menerima medali dalam iringan lantunan lagu kebangsaan atau pada awal pertandingan besar seperti bola sepak atau pertandingan internasional rugby adalah bergumpal-gumpalnya berbagai emosi dalam gabungan yang mengharukan. Air mata mengucur dari ujung tubuh tanpa peduli betapa pun tinggi, besar dan kekarnya sang atlet.

Sebegitu rupa lagu-lagu kebangsaan mengharu-biru emosi sehingga lagu kebangsaan Perancis, la Marseillaise, atau terjemahan Inggrisnya, sejak dikumandangkan pertama kali tahun 1795 tidak selalu mengalami nasib baik. Sejak diterima sebagai lagu kebangsaan, nasib lagu ini turun-naik dan timbul-tenggelam menurut rezim yang berkuasa dan hubungan emosionalnya terhadap lagu tersebut. Lagu ini dilarang oleh Napoleon dan beberapa rezim berikutnya sampai dikukuhkan kembali tahun 1879-84, hampir satu abad-sebagai lagu kebangsaan Perancis sampai hari ini.

Dengan sedikit mengakibatkan perbedaan, karena Jerman dan Perancis memuja tanah air sebagai “bapak”- “la patrie” dan “das Vaterland “ – dan orang Indonesia menganggapnya sebagai “ibu atau dewi“ dewi pertiwi“ atau “ibu pertiwi“ maka menyimak lagu ketiga bangsa itu dalam suatu perbandingan sangat merangsang pikiran. Di antara lagu-lagu kebangsaan sedunia, lagu Indonesia Raya paling dekat dari segi musikal dengan la Marseillais, Nyanyian Marseille, kalau tidak justru menimba inspirasi dari sana, dan bersama Deutchland-Lied, Madah Jerman, menyimpan semangat ideologis yang alot dan kental : persatuan, persaudaran, kebebasan, kemerdekaan, dan kewargaan. Ketika la Marseillaise memberikan perintah tempur dan perang dalam larik “aux arms citoyens, formez vous bataillons, marchomns“, “para warga panggullah senjata, bentukan pasukan, maju” suatu derap revolusi diumbar, dan penindasan ingin ditumbangkan. Lagu kebangsaan Jerman memuja tanah air dan lebih menjadi madah penuh keagungan tapi manis : “Deuchland, Deutchland uber alles, Uber alles in der Welt…Blub im Glanze dieses Gluckes, bluhe, deutsches Vaterland “ ,” Di dunia tak ada yang setara tanah Jerman …mekarlah dalam sinar kebahagian, kembanglah tanah tumpah darah Jerman.”

Nada imperatif la Marseilasse, dan mungkin juga secara tersembunyi nada imperial yang sangat kuat, terpantul dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, dalam naa-nada musikal maupun lirik yang diungkapkan dalam larik-larik syairnya. Bila diperhatikan dengan teliti akan kelihatan suatu gerakan progresi menakjubkan yang dikemukakan penggubah lagu kebangsaan di atas yaitu dari “bangun, sadar dan maju“ dalam bangoenlah jiwanya…sadarlah hatinya…dan majoelah negrinya” dan semuanya hanya bermuara kepada satu tujuan, yaitu demi “Indonesia Raya” yaitu the Great Indonesia. Seberapa “raya” besarnya secara ekstensif ? Seberapa tinggi “kebangoenan badan”, seberapa dalam “kesadaran budi”, dan seberapa besar “kemadjoean Pandoenya“ disadari secara intensif? Ketika Wage Rudolf Supratman mengubah lagu itu besar kemungkinan ia sadar tentang dua versi atau tepatnya dua dimensi makna “Indonesia Raya“, yaitu yang intensif dan ekstensif, dan lagu Indonesia Raya memadukan dua-duanya. Namun, yang tersisa bagi generasi sekarang mungkin semata-mata makna intensif Indonesia Raya,, yaitu jiwa harus dibangunkan, hati harus disadarkan, demi kemajuan negeri dan pandunya adalah “Indonesia cilik“ abad 21 ini. Sedangkan Indonesia Raya dalam dimensi ekstensif, dalam arti secara geografis dan terutama geopolitik lebih luas dari Indonesia sekarang, sudah hilang tanpa bekas dari kenangan kolektif dan dengan demikian tidak lagi menjadi bagian dari diskursus politik sehari-hari. ( Daniel Dhakidae : 2008 , hlm. 59 – 60 )

Lagu kebangsaan setiap negara tidak sekadar menjadi simbol kenegaraan akan tetapi dari waktu ke waktu mengusik emosi – merangsang semangat dan nafsu agresi, mengubar amarah, dan pada titik ekstrem yang lain mampu meneteskan air mata warganya dalam isak tangis. Dalam hal ini adegan cucuran air mata ketika para olahragawan menerima medali dalam iringan lantunan lagu kebangsaan atau pada awal pertandingan besar seperti bola sepak atau pertandingan internasional rugby adalah bergumpal-gumpalnya berbagai emosi dalam gabungan yang mengharukan. Air mata mengucur dari ujung tubuh tanpa peduli betapa pun tinggi, besar dan kekarnya sang atlet.

Sebegitu rupa lagu-lagu kebangsaan mengharu-biru emosi sehingga lagu kebangsaan Perancis, la Marseillaise, atau terjemahan Inggrisnya, sejak dikumandangkan pertama kali tahun 1795 tidak selalu mengalami nasib baik. Sejak diterima sebagai lagu kebangsaan, nasib lagu ini turun-naik dan timbul-tenggelam menurut rezim yang berkuasa dan hubungan emosionalnya terhadap lagu tersebut. Lagu ini dilarang oleh Napoleon dan beberapa rezim berikutnya sampai dikukuhkan kembali tahun 1879-84, hampir satu abad-sebagai lagu kebangsaan Perancis sampai hari ini.

Dengan sedikit mengakibatkan perbedaan, karena Jerman dan Perancis memuja tanah air sebagai “bapak”- “la patrie” dan “das Vaterland “ – dan orang Indonesia menganggapnya sebagai “ibu atau dewi“ dewi pertiwi“ atau “ibu pertiwi“ maka menyimak lagu ketiga bangsa itu dalam suatu perbandingan sangat merangsang pikiran. Di antara lagu-lagu kebangsaan sedunia, lagu Indonesia Raya paling dekat dari segi musikal dengan la Marseillais, Nyanyian Marseille, kalau tidak justru menimba inspirasi dari sana, dan bersama Deutchland-Lied, Madah Jerman, menyimpan semangat ideologis yang alot dan kental : persatuan, persaudaran, kebebasan, kemerdekaan, dan kewargaan. Ketika la Marseillaise memberikan perintah tempur dan perang dalam larik “aux arms citoyens, formez vous bataillons, marchomns“, “para warga panggullah senjata, bentukan pasukan, maju” suatu derap revolusi diumbar, dan penindasan ingin ditumbangkan. Lagu kebangsaan Jerman memuja tanah air dan lebih menjadi madah penuh keagungan tapi manis : “Deuchland, Deutchland uber alles, Uber alles in der Welt…Blub im Glanze dieses Gluckes, bluhe, deutsches Vaterland “ ,” Di dunia tak ada yang setara tanah Jerman …mekarlah dalam sinar kebahagian, kembanglah tanah tumpah darah Jerman.”

Nada imperatif la Marseilasse, dan mungkin juga secara tersembunyi nada imperial yang sangat kuat, terpantul dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, dalam naa-nada musikal maupun lirik yang diungkapkan dalam larik-larik syairnya. Bila diperhatikan dengan teliti akan kelihatan suatu gerakan progresi menakjubkan yang dikemukakan penggubah lagu kebangsaan di atas yaitu dari “bangun, sadar dan maju“ dalam bangoenlah jiwanya…sadarlah hatinya…dan majoelah negrinya” dan semuanya hanya bermuara kepada satu tujuan, yaitu demi “Indonesia Raya” yaitu the Great Indonesia. Seberapa “raya” besarnya secara ekstensif ? Seberapa tinggi “kebangoenan badan”, seberapa dalam “kesadaran budi”, dan seberapa besar “kemadjoean Pandoenya“ disadari secara intensif? Ketika Wage Rudolf Supratman mengubah lagu itu besar kemungkinan ia sadar tentang dua versi atau tepatnya dua dimensi makna “Indonesia Raya“, yaitu yang intensif dan ekstensif, dan lagu Indonesia Raya memadukan dua-duanya. Namun, yang tersisa bagi generasi sekarang mungkin semata-mata makna intensif Indonesia Raya,, yaitu jiwa harus dibangunkan, hati harus disadarkan, demi kemajuan negeri dan pandunya adalah “Indonesia cilik“ abad 21 ini. Sedangkan Indonesia Raya dalam dimensi ekstensif, dalam arti secara geografis dan terutama geopolitik lebih luas dari Indonesia sekarang, sudah hilang tanpa bekas dari kenangan kolektif dan dengan demikian tidak lagi menjadi bagian dari diskursus politik sehari-hari. ( Daniel Dhakidae : 2008 , hlm. 59 – 60 )

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Indonesia Raya

“Suatu itikad, suatu keinsyafan rakyat bahwa rakyat itu adalah satu bangsa” (Soekarno) Lagu kebangsaan setiap negara tidak sekadar menjadi simbol kenegaraan akan tetapi dari waktu ke waktu mengusik emosi – merangsang semangat dan nafsu agresi, mengubar amarah, dan pada titik ekstrem yang lain mampu meneteskan air mata warganya dalam isak tangis. Dalam hal ini adegan cucuran air mata ketika para olahragawan menerima medali dalam iringan lantunan lagu kebangsaan atau pada awal pertandingan besar seperti bola sepak atau pertandingan internasional rugby adalah bergumpal-gumpalnya berbagai emosi dalam gabungan yang mengharukan. Air mata mengucur dari ujung tubuh tanpa peduli betapa pun tinggi, besar dan kekarnya sang atlet. Sebegitu rupa lagu-lagu kebangsaan mengharu-biru emosi sehingga lagu kebangsaan Perancis, la Marseillaise, atau terjemahan Inggrisnya, sejak dikumandangkan pertama kali tahun 1795 tidak selalu mengalami nasib baik. Sejak diterima sebagai lagu kebangsaan, nasib lagu ini turun-naik dan timbul-tenggelam menurut rezim yang berkuasa dan hubungan emosionalnya terhadap lagu tersebut. Lagu ini dilarang oleh Napoleon dan beberapa rezim berikutnya sampai dikukuhkan kembali tahun 1879-84, hampir satu abad-sebagai lagu kebangsaan Perancis sampai hari ini. Dengan sedikit mengakibatkan perbedaan, karena Jerman dan Perancis memuja tanah air sebagai “bapak”- “la patrie” dan “das Vaterland “ – dan orang Indonesia menganggapnya sebagai “ibu atau dewi“ dewi pertiwi“ atau “ibu pertiwi“ maka menyimak lagu ketiga bangsa itu dalam suatu perbandingan sangat merangsang pikiran. Di antara lagu-lagu kebangsaan sedunia, lagu Indonesia Raya paling dekat dari segi musikal dengan la Marseillais, Nyanyian Marseille, kalau tidak justru menimba inspirasi dari sana, dan bersama Deutchland-Lied, Madah Jerman, menyimpan semangat ideologis yang alot dan kental : persatuan, persaudaran, kebebasan, kemerdekaan, dan kewargaan. Ketika la Marseillaise memberikan perintah tempur dan perang dalam larik “aux arms citoyens, formez vous bataillons, marchomns“, “para warga panggullah senjata, bentukan pasukan, maju” suatu derap revolusi diumbar, dan penindasan ingin ditumbangkan. Lagu kebangsaan Jerman memuja tanah air dan lebih menjadi madah penuh keagungan tapi manis : “Deuchland, Deutchland uber alles, Uber alles in der Welt…Blub im Glanze dieses Gluckes, bluhe, deutsches Vaterland “ ,” Di dunia tak ada yang setara tanah Jerman …mekarlah dalam sinar kebahagian, kembanglah tanah tumpah darah Jerman.” Nada imperatif la Marseilasse, dan mungkin juga secara tersembunyi nada imperial yang sangat kuat, terpantul dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, dalam naa-nada musikal maupun lirik yang diungkapkan dalam larik-larik syairnya. Bila diperhatikan dengan teliti
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

1

Peter Kasenda akan kelihatan suatu gerakan progresi menakjubkan yang dikemukakan penggubah lagu kebangsaan di atas yaitu dari “bangun, sadar dan maju“ dalam bangoenlah jiwanya… sadarlah hatinya…dan majoelah negrinya” dan semuanya hanya bermuara kepada satu tujuan, yaitu demi “Indonesia Raya” yaitu the Great Indonesia. Seberapa “raya” besarnya secara ekstensif ? Seberapa tinggi “kebangoenan badan”, seberapa dalam “kesadaran budi”, dan seberapa besar “kemadjoean Pandoenya“ disadari secara intensif? Ketika Wage Rudolf Supratman mengubah lagu itu besar kemungkinan ia sadar tentang dua versi atau tepatnya dua dimensi makna “Indonesia Raya“, yaitu yang intensif dan ekstensif, dan lagu Indonesia Raya memadukan dua-duanya. Namun, yang tersisa bagi generasi sekarang mungkin semata-mata makna intensif Indonesia Raya,, yaitu jiwa harus dibangunkan, hati harus disadarkan, demi kemajuan negeri dan pandunya adalah “Indonesia cilik“ abad 21 ini. Sedangkan Indonesia Raya dalam dimensi ekstensif, dalam arti secara geografis dan terutama geopolitik lebih luas dari Indonesia sekarang, sudah hilang tanpa bekas dari kenangan kolektif dan dengan demikian tidak lagi menjadi bagian dari diskursus politik sehari-hari. ( Daniel Dhakidae : 2008 , hlm. 59 – 60 ) Saat kelahiran Soekarno dan Mohammad Hatta di daerah Surabaya dan Minangkabau, Indonesia belum muncul sebagai kesatuan politik. Dunia internasional mengakui rangkaian kepulauan yang terbentang dari Sumatra sampai Papua sebagai Hindia Belanda. Setiap bangsa adalah hasil ciptaan daya khayal. Ia memperoleh kekuatannya dari kesadaran para warganya. Demikian lama sebelum negara Indonesia yang merdeka menjadi satu kenyataan setelah Perang Dunia ke-II, ide tentang suatu kesatuan semacam itu harus tertanam dalam hati para warganya. ( Peter Carey : 1986 , hlm. 8 )

Nama Indonesia
Sebelum nama Indonesia dicipta, tidak ada nama pribumi yang mengacu pada keseluruhan kepulauan kita, meskipun kebanyakan pulau masing-masing mempunyai nama sendiri, seperti pulau Sumatra yang juga dikenal dengan nama Andalas atau Pulau Perca, pulau Jawa, pulau Kalimantan, pulau Sulawesi, pulau Bali, dan sebagainya. Pulau Irian sebagai keseluruhan juga belum ada namanya. Dalam sejarah kuno, terutama dalam masa kejayaan kerajaan Majapahit, ada digunakan nama “Nusantara,” akan tetapi nama Nusantara mengacu pada sekalian pulau di kepulauan kita di luar pulau Jawa, jadi tidak termasuk pulau Jawa sendiri. ( Harya W Bachtiar : 2002 , hlm. 15 ) Para pelancong dan pejabat yang bukan orang Belanda menyebut kepulauan kita itu, antara lain,”The Eastern Seas (Lautan Timur)”,” The Eastern Islands (Kepulauan Timur) :, “Indian Archipelago (Kepulauan Hindia)”. Belanda terkadang menggunakan istilah-istilah seperti “Hindia“,”Hindia Timur”, “ daerah jajahan Hindia”, “atau belakangan “Insulinde (pulau-pulau Hindia),” lalu selagi hubungan politik Belanda dengan kepulauan itu berkembang,” Hindia (Timur) Belanda”, dan Belanda memandangnya sebagai bagian “tropisch Nederland (kawasan tropis Belanda) Kata “Indonesia“ pertama kali digagas pada 1850 dalam bentuk “Indo-nesian“ oleh pelancong dan pengamat sosial asal Inggris, George Samuel Windsor Earl. Earl ketika itu
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

2

Peter Kasenda sedang mencari istilah etnografis untuk mejabarkan “cabang ras Polinesia yang menghuni Kepulauan Hindia” atau “ ras-ras berkulit cokelat di kepulauan Hindia”. Namun, setelah menciptakan istilah baru itu, Eral langsung membuangnya – karena terlalu “umum” – dan menggantikannya dengan istilah yang dia anggap lebih khusus “ Melayunesias.” Seorang kolega Earl, James Logan, tanpa mengindahkan keputusan Earl, memutuskan bahwa “Indonesian” sebenarnya adalah kata yang lebih tepat dan benar untuk digunakan sebagai istilah geografis, bukan etnografis. Dengan membedakan antara penggunaan kata itu secara geografis dan etnologis, Logan menjadi orang pertama yang menggunakan nama“ Indonesia“ untuk menjabarkan, walau secara longgar, kawasan geografis kepulauan Indonesia. Logan lantas terus menggunakan kata “Indonesia:” Indonesian“, dan “Indonesians“ dalam arti geografis secara relatif bebas, tapi tidak ekslusif (:Indian Archipelago“ harus tetap dipakai“), dalam tulisan-tulisan berikutnya. Logan bahkan membagi “Indonesia“ menjadi empat kawasan geografis terpisah, membentang dari Sumatra sampai Formosa (Taiwan). Penggunaan “Indonesia“ oleh Logan tidak segera diikuti orang lain. Baru pada 1877 E.T. Hanny, ahli antropologi asal Prancis, menggunakan kata “ Indonesia“ untuk menjabarkan kelompok-kelompok ras prasejarah dan “pra-Melayu“ tertentu di kepulauan Indonesia. Pada 1880, ahli antropologi Britania A.H. Keane mengikuti penggunaan Hanny. Pada tahun yang sama, istilah “Indonesia“ dengan pengertian geografis yang lebih pas, mengikuti Logan, digunakan oleh ahli lingusitik Britania, N.B Denny, dan dua tahun sesudahnya Sir William Edward Maxwell, adminstrator kolonial dan ahli bahasa Melayu dari Britania, mengikuti praktik Dennys. Adolf Bastian, ahli etnografi terkenal dari Jerman, yang telah mengetahui penggunaan istilah “Indonesia“ untuk pertama kali oleh Logan, menggunakan istilah tersebut dalam lima jilid Indonesien order die Inseln des Melayuischen Archipel karyanya, yang terbit pada 1884-94. Mengingat cukup terkenalnya Bastian dunia cendikia, penggunaan istilah “Indonesia“ jadi lebih dianggap. Mungkin karena terdorong oleh pengunaan istilah “Indonesia” oleh Bastian, ahli etnologi brilian dan mantan pejabat Hindia Belanda G.A Wilken, yang pada September 1885 menjadi professor di Universitas Leiden, pada tahun itu juga menggunakan istilah “Indonesia” Wilken, seorang cendikiawan ulung, sangat menghargai dan akrab dengan karya Bastian – Wilken menyebut Bastian “pangeran para ahli etnologi“ – dan juga tahu mengenai upaya Logan sebelumnya Wilken menggunakan istilah “Indonesia” dalam pengertian geografi (kepulauan “Indonesia“) dan (lebih jarang) dalam pengertian budaya yang lebih luas (orang-orang yang memiliki kesamaan bahasa dan budaya, yang tersebar dari Madagaskar di barat sampai Taiwan di utara ). Namun, Wilken lebih suka “Kepulauan Hindia“, dan hanya sesekali mengunakan kata “Indonesia”. Meskipun demikian pada waktu itu Wilken diteladani kolega-kolega Belandanya, termasuk ahli linguistik H. Kern, dan sesudahnya oleh G.K. Niemann, C.M. Pleyte, dan lain-lain. Christian Snouck Hurgronye, ahli Islamologi terkemuka, menggunakan istilah “Indonesia,” walau tidak sering – dia lebih menyukai istilah umum Inlander (pribumi).

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

3

Peter Kasenda A.C. Kruyt, misionaris dan ahli etnografi terkenal, menggunakan istilah “Indonesia“ dalam karyanya tentang animisme, dalam pengertian murni budaya. Beberapa petunjuk mengenai penerimaan istilah “Indonesia: secara terbatas bisa diperoleh dari analisis istilah yang digunakan untuk kepulauan Indonesia oleh para ahli etnografi, ahli geografi, dan penulis perjalanan pada bagian terakhir abad kesembilan belas. Tinjauan atas buku tebal Repertorium, rubrik“ antthropologie-ethnograpie : de Indische Archipel “, menunjukkan bahwa istilah-istilah seperti :Indonesia / Indonesien/ Indonesier/Indonesischer/Indonesische /Indonesisches/Volkern Indonesiens” digunakan hanya empat kali dalam judul artikel-artikel penelitian antara 1866 dan 1893, empat kali lagi antara 1894 dan 1900, serta tiga kali antara 1901 dan 1905. Yang lebih dominan adalah pemakaian istilah “Indonesia dalam pengertian budaya secara luas sehingga ahli etnografi Kern sampai bisa mengatakan “kelompok pulau utara Indonesia terdiri atas Filipina.” Yang menarik pada penggunaan istilah “Indonesia“ sejak Bastian tidak hanya sifatnya yang kurang jelas dan umum, tapi juga kemunculan fungsinya sebagai penjabar untuk suatu kawasan yang dianggap dihuni orang-orang dengan ciri etnis dan budaya yang mirip – bahasa, cirri fisik, adan adat. “Indonesian“ adalah kata sifat yang digunakan untuk mewakili sifat-sifat tersebut, sementara “Indonesians“ adalah orang-orang dengan ciri-ciri umum seperti (yang terkadang dianggap mencakup penghinu Madagaskar hingga Formosa), dan “Indonesia“ adalah tempat-tempat yang mereka huni. Tidak mesti ada hubungan antara “Indonesia“ dalam pengertian budaya yang dominan dengan wilayah Hindia Timur Belanda, dan tidak adalah yang menggunakan istilah “Indonesia“ dalam pengertian politis. ( R.E. Elson : 2009 : hlm. 2 – 6 ) Mungkin sekali, orang-orang kita yang pertama-tama mendengar tentang nama “Indonesia” ini adalah sejumlah pemuda dari kepulauan kita yang memperoleh kesempatan belajar di perguruan tinggi di Belanda. Mereka mendengar nama tersebut khusunya dari kuliah-kuliah tentang hukum adat, yaitu sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronye dan Prof. Dr. C. van Vollenoven, dan kuliah-kuliahkuliah tentang bahasa-bahasa di Indonesia sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr. H Kern. ( Harsya W Bachtiar :2002 , hlm. 16 ) Pada bulan Januari 1901 Ratu Wilhelmina mengumumkan di depan Parlemen program Pemerintah Belanda yang baru saja terpilih. Pemerintah mengakui bahwa sementara di masa lalu banyak perusahaan dan orang-orang Belanda telah memperoleh keuntungan yang berlimpah-limpah dari Hindia Belanda, penduduk di tanah jajahan di masa mendatang ialah memperbaiki kesejahteraan rakyat. Ratu Wilhelmina menambahkan bahwa bangsa Belanda “telah berhutang budi“ kepada rakyat Hindia Belanda. Dengan bernaung di bawah apa yang kemudian dikenal sebagai politik etis, pemerintah Hindia Belanda perlahan-lahan memperluas kesempatan bagi anak-anak Indonesia dari golongan atas untuk mengikuti Sekolah-sekolah Berbahasa Belanda tingkat dasar dan menengah. Sampai akhir PD-I kebijaksanaan yang baru dalam bidang pendidikan tersebut menghasilkan beberapa lulusan yang jumlahnya semakin meningkat. Namun, demikian, sampai saat itu fasilitas pendidikan tingkat tinggi di wilayah jajahan baru sedikit sekali
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

4

Peter Kasenda dan tak satupun yang menyediakan status professional secara penuh. Para lulusan yang terbaik di antara anak-anak muda Indonesia itu harus melanjutkan pelajaran mereka di negeri Belanda. Akibatnya, dalam beberapa tahun saja setelah perang, mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri Belanda semakin banyak jumlahnya dibandingkan dengan sebelumnya. Banyak di antara mereka itu memiliki lebih banyak kesadaran politik daripada angkatan sebelumnya. Ketika masih berada di Indonesia mereka itu telah memegang pimpinan dalam organisasi-organisasi pemuda dan telah dengan penuh semangat ikut serta dalam pergerakan kebangsaan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa setelah berada di negeri Belanda, mereka ingin terus terlibat dalam politik pergerakan Indonesia dan bergabung dengan organisasi mahasiswa Indonesia, yaitu Indische Vereeninging untuk menyalurkan keinginan tersebut. Organisasi ini didirikan pada tahun 1908,;semula merupakan suatu pusat kegiatan sosial dan kebudayaan di mana para mahasiswa Indonesia dapat melewatkan waktu senggangnya dan saling bertukar berita dari tanah air. Pada tahun 20-an peran sosial dan kebudayaan memang tetap, tetapi berkat pengaruh generasi baru itu maka kedua peran tersebut tidak lagi menjadi fungsinya yang utama. Sejak bulan Februari 1925 mereka ttelah mengembangkan organisasi tersebut sebagai sebuah organisasi yang mengutamakan masalah-masalah politik. Sebagai bagian daripada identitas nasional yang baru, mereka memakai nama Perhimpunan Indonesia (PI) dan memberi nama baru “ Indonesia Merdeka“ kepada majalah mereka. Nama “Indonesia“ tidak lagi menjadi sekedar nama yang digunakan di kalangan para ilmuwan untuk keperluan ilmu pengetahuan, melainkan menjadi nama suatu kesatuan sosial yang baru, suatu kesatuan politik yang baru, suatu bangsa yang baru. Merekalah yang menjadi anggota PI merupakan sekelompok kecil yang terjalin erat dan hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh mahasiswa Indonesia yang ada di negeri Belanda. Tahun 1926, misalnya, pada saat memuncaknya aktivis politik PI, jumlah seluruh anggota PI hanya 38 orang Namun demikian, pengalaman hidup dan belajar di tengah-tengah masyarakat Belanda telah memberikan suatu akibat yang mendalam. Mereka yang lama tinggal di sana memperoleh pengalaman yang semakin luas, dan mengalami suatu dampak tambahan sebagai akibat perpindahan mereka dari suatu masyarakat kolonial yang restriktif dan paternalistis ke dalam masyarakat yang lebih terbuka di mana mereka untuk pertama kalinya dianggap sederajat dengan bangsa Eropa baik di depan hukum maupun dalam masyarakat. Sebagian dari mereka itu yang berasal dari desa atau kota kecil dan yang pada waktu belajar di Bandung atau Batavia tercerabut dari kebudayaan desa karena tertelan oleh kehidupan kota dan hiruk pikuk dunia Barat yang baru saja mengalami goncangan mental perang dunia, kini, mempunyai kesempatan di Eropa, untuk mengatasi krisis identitas pribadi. Usaha penemuan kembali identitas sebagai bangsa Indonesia. Keduanya tersalur ke dalam aktivitas gerakan kebangsaan. Kebanyakan mahasiswa tersebut sewaktu tiba di negeri Belanda, berumur sekitar 20 tahun, di mana kesepian dan keterasingan budaya merupakan masalah utama yang harus mereka atasi. Untuk mengatasi masalah ini mereka saling membina persaudaraan dan saling membantu dan sedikit sekali bergaul dengan mahasiswa Belanda. Para mahasiswa serta istri dan anak-anaknya sering mengundang mahasiswa-mahasiswa bujangan untuk
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

5

Peter Kasenda makan bersama demi persahabatan. Karena bersama-sama terlempar bersama ke dalam suatu lingkungan asing, meningkatlah kebanggaan bersama terhadap tanah airnya sendiri. Perbedaan kedaerahan, kesukuan dan kekhasan masing-masing mereka yang semula dibesar-besarkan untuk keuntungan orang Eropa kini ditempatkan dalam perspektif baru. ( John Ingelson : 1983, hlm. 1 – 3 ) Akan tetapi dalam tahun 1925, Perhimpunan Indonesia bukanlah lagi satu-satunya organisasi yang bernama “Indonesia.” Untuk sebagian disebabkan kegiatan-kegiatan propaganda di Indonesia oleh anggota-anggota yang puilang ke tanah air, maka pemakaian kata “Indonesia” dan “orang–orang Indonesia“ telah meluas dengan cepat ke seluruh kepulauan. Mula-mula suatu organisasi sosialis radikal bernama ISDV mengganti namanya menjadi Perserikatan Komunis (di) India dalam bulan Mei 1920, dan tidak lama kemudian menjadi Partij Komunis (atau Komunis) Indonesia. Pada suatu sidang Kongres Kelima Komunis Internasional pada tanggal 25 Juni 1924, seorang Komunis Belanda bernama Wijnkoop masih menggunakan kata-kata “Indonesia” dan “Hindia Belanda“ saling berganti-ganti. Oleh karena kita mempunyai bukti lain bahwa dalam 1925 partai tersebut memutuskan untuk menyebut diri Partai Komunis Indonesia, dapatlah dipastikan bahwa orang-orang Komunis mulai menggunakan kata itu sekitar tahun 1924. Agaknya tidaklah perlu untuk dikatakan bahwa organisasi Komunis Internasional dan Partai Komunis Nederland menyusul dengan cepat. Sementara itu Soekarno mengambil insitiatif dalam bulan Juli 1927 dengan mendirikan Partai Nasional Indonesia yang memainkan peran yang vital dalam mempersatukan perasaan nasionalisme bangsa Indonesia sebagai keseluruhan, tanpa memandang perbedaan kebudayaan, suku atau agama. Kesadaran “Indonesia” ini mencapai puncaknya pada “Sumpah Pemuda“ yang cemerlang pada waktu Kongres Pemuda Indonesia Kedua, pada tanggal 26-28 Oktober 1928. Satu Bangsa, satu Negara, dan satu Bahasa untuk Indonesia, dengan lambang-lambang lagu kebangsaan serta bendera merah putih–hal-hal ini menunjukkan usaha-usaha terakhir untuk menyelesaikan perkembangan lama dari kata-kata “Indonesia’ dan “orang-orang Indonesia” serta dimasukkannya ke dalam perbendaharaan kata-kata nasional. Seharusnya tidaklah mengherankan bahwa kebanyakan orang Belanda yang secara langsung atau tidak berhubungan dengan koloninya mempunyai perasaan antipati yang kuat terhadap pemakaian kata-kata “Indonesia” dan “orang-orang Indonesia”. Keberatankeberatan mereka mulai dari alasan-alasan yang semata-mata bersifat ilmiah mengenai definisi kata-kata itu sampai pada perasaan membencinya saja. Akan tetapi dalam beberapa hal ada sambutan-sambutan yang positif, JJ Schrieke, Direktur Departemen Yustisi pemerintah kolonial waktu itu, menerbitkan De Indische Politiek dalam tahun 1929. Dalam tulisannya ini dia mengemukakan kecenderungan bangkitnya nasionalisme di antara orang-orang Indonesia, dan membuat suatu pertanyaan yang kesimpulannya ialah bahwa tidak ada alasan untuk memaksakan nama “Hindia Belanda“ yang sudah lama ketinggalan zaman itu kepada orang-orang Indonesia; tidak perlu mereka ingin dinamakan “orang-orang Jawa“, “orang-orang Sunda“,”orang-orang Minangkabau”, dan seterusnya. Walaupun dia mengakui bahwa istilah “orang-orang Indonesia “ mungkin

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

6

Peter Kasenda secara ilmiah tidak betul, kesimpulannya ialah bahwa tidak akan ada pilihan lain selain daripada yang telah diputuskan orang-orang Indonesia terhadap diri mereka sendiri. Schrieke adalah benar ketika mengumakan bahwa terdapat “halangan berupa sentimen Belanda yang harus diatasi“ sebelum keputusan akan bisa diambil agar ada perubahan resmi dari nama; akan tetapi pandangannya ialah bahwa “mereka yang lebih mementingkan kenyataan-kenyataan daripada semata-mata nama-nama saja tetap realistis dan mengorbankan perasaan. Rupanya ide Schrieke berdasarkan keyakinan yang teguh bahwa Nederland akan sanggup untuk mempertahankan koloni itu, apa pun namanya, untuk masa lama yang akan datang. Akan tetapi kecuali sejumlah kecil yang berpikir rasional, kebanyakan pejabat-pejabat kolonial Belanda di Indonesia membenci saja katakata “Indonesia” dan “orang-orang Indonesia”. Di kemudian hari Soekarno mengingat kembali bahwa pejabat-pejabat Belanda yang konservatif itu acapkali melarang pidatopidato dan rapat-rapat dari orang-orang nasionalis Indonesia hanya karena pemakaian kata-kata ini. Walaupun ada tekanan yang semakin kuat yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap kelompok-kelompok nasionalis, konsep “Indonesia” sebagai lambang persatuan nasional tetap mantap pertumbuhannya selama tahun-tahun 1930-an. Misalnya, dalam bulan April 1936, Snouck Hurgronye menjawab dari tempat tidur matinya pertanyaan dari seorang perwira militer mengenai kata-kata “Indonesia“ dan “orang-orang Indonesia“, dibandingkan dengan kata-kata lain. Dengan mengakui bahwa “orang-orang kolonial yang keras kepala menganggap penggunaan kata-kata “Indonesia“ dan “orang-orang Indonesia“ sebagai suatu pernyataan pemberontakan terhadap pemerintah Belanda.”, Snouck Hurgronye memperbincangkan seluruh persoalan itu dengan tenang dan obyektif. Meskipun kesehatannya menurun dan tidak ada kemungkinan untuk melihat bahan-bahan sumbernya sementara dia mendiktekan jawabannya, ingatannya yang kuat sekali itu kembali kepada J Kreemer, perdebatan-perdebatan dalam Dewan Perwakilan Rakyat dan bahkan kepada JJ Schrieke. Dia mencemohkan orang-orang kolonial yang keras kepala itu yang tidak membenci kata ”Insulinde“ yang yang telah diciptakan Multatuli, salah seorang pemberontak yang paling berani. Dengan mengetahui bahwa nama-nama “Indonesia“ dan “orang-orang Indonesia“ merupakan keharusan zaman dia meninggal kurang dari tiga bulan kemudian. Akan tetapi situasi umum, sebelum penyerbuan Jepang ke Indonesia, tidak cukup menguntungkan untuk memberi peluang bagi suatu politik luwes semacam itu perihal nama-nama. Dalam bulan Januari 1941 ketika Gabungan Politik Indonesia yang telah dibentuk sebagai suatu petisi agar kata “Indonesia“ dipakai dengan resmi pengganti “Hindia Belanda“, pemerintah kolonial Belanda tidaklah menyambut dengan suatu jawaban yang memuaskan. Pada tanggal 16 Juni tahun itu juga, pemerintah mengemukakan maksudnya untuk mempertimbangkan kembali petisi tersebut; akan tetapi bahkan dengan sikap ini, pemerintah kolonial tidaklah menganggap masalah ini amat serius. ( Akira Nagazumi : 1976 , hlm. 21 – 25 )

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

7

Peter Kasenda Vandenbosch (1931) menyebutkan bahwa nama Indonesia memberi rasa kesatuan bagi para nasionalis. Dalam artikelnya yang ditulis pada tahun 1931 di jurnal Pacific Affaiirs, dia di antaranya mengulas mengapa rasa kebangsaan penduduk Hindia Belanda muncul relatif terlambat ketimbang di India dan Filipina. Menurutnya, salah satu indikasi ketiadan kesatuan kebangsaan, karena begitu ragamnya penduduk Hindia Belanda waktu itu, adalah tiadanya nama yang mencakup baik wilayah maupun penduduk kepulauan yang membentang itu. Nama resmi wilayah negara kolonial itu adalah Hindia Belanda, tapi tentu saja para nasionalis enggan memakai nama ini. Ada nama lain yang sempat muncul, yaitu Insulinde, yang diperkenalkan oleh Dekker di akhir kosah buku Max Havelaar. Meski sempat banyak digunakan, tulis Vandenbosch, nama nama Indonesia lebih popular. ( Putut Widjanarko : 2008 , hlm. 102 )

Nasion Indonesia
Bagi penduduk pribumi ikatan-ikatan kesetiaan kepada daerah dan kelompok etnis sangat besar. Penduduk pribumi di kepulauan kita, yang sejak permulaan tahun 1920-an mulai kita namakan Kepulauan Indonesia, terdiri dari beraneka ragam suku bangsa. Bahkan sebelum kita mulai menanggapi diri kita sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia, sukusuku bangsa ini biasa dinamakan bangsa, seperti bangsa Melayu, bangsa Jawa, bangsa Bugis, dan sebagainya. Masing-masing suku bangsa mempunyai wilayah kediaman sendiri, tanah air sendiri. Daerah tempat kediaman para nenek moyang suku bangsa yang bersangkutan, pada umumnya dinyatakan melalui mitos meriwayatkan asasl usul suku bangsa yang bersangkutan. Setiap suku bangsa mewujudkan kebudayaan sendiri, yang selain terdiri atas nilai-nilai atau aturan-aturan tertentu, juga terdiri atas kepercayaan-kepercayaan tertentu, pengetahuan tertentu serta sastra dan seni yang diwarisi dari generasi-generasi terdahulu suku bangsa yang bersangkutan. Masing-masing suku bangsa juga mempunyai bahasa sendiri, struktur masyarakat sendiri, dan sistem politik sendiri. Anggota-anggota masing-masing suku bangsa, oleh sebab itu, cenderung mempunyai identitas tersendiri sebagai anggota suku bangsa yang bersangkutan. Sehingga dalam keadaan tertentu mereka cenderung mewujudkan rasa setia kawan, solidaritas dengan sesama anggota suku bangsa asal. Di kota-kota besar, seperti di Jakarta dan Surabaya, di mana kehidupan lebih modern menuntut solidaritas yang lain daripada solidaritas suku bangsa, memang terdapat sejumlah orang yang tidak merasa mempunyai identitas ini dalam berbagai jenis perilaku. Pengetahuan sejarah Indonesia yang diketahui umum mencakup tentang berbagai negeri pribumi di masa lampau, beberapa ratus yang lalu, seperti negara agung Majapahit, negara agung Sriwijaya, negara agung Mataram dan sebagainya. Akan tetapi, sesungguhnya di kepulauan kita juga terdapat banyak negara pribumi yang bahkan masih ada pada waktu kita menyatakan diri merdeka sebagai bangsa dan negara dalam tahun 1945 yang lalu. Kenyataan ini tidak atau kurang terperhatikan dalam penyajian sejarah Indonesia modern.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

8

Peter Kasenda

Negara-negara pribumi ini mempunyai wilayah sendiri, kepala negara dan pemerintahan sendiri, perundang-undangan sendiri, dan peradilan sendiri. Berbagai anggota juga mempunyai warga-warga negara sendiri. Sedangkan setiap negara mempunyai lambanglambang negara tersendiri, seperti bendera atau pelambang lain. Dalam masa jajahan, terutama permulaan abad ke 20, sekalian negara pribumi ini terpaksa mengadakan perjanjian dengan Pemerintah (Jajahan) Hindia Belanda yang sangat menguntungkan pihak penjajah Belanda. Meskipun demikian, pada umumnya negara-negara yang bersangkutan dapat tetap bertahan sebagai negara. Dengan demikian, misalnya pada permulaan abad ke 20 ini di pulau Jawa, terdapat Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Mangkunegaraan dan Pakualaman serta Kesultanan Cirebon, Kasepuhan dan Kanoman. Di pulau Madura beberapa puluhan tahun sebelumnya masih terdapat Negara Madura, Pamekasan dan Sumenep, akan tetapi negara-negara ini ditaklukan dan dihapuskan sebagai negara oleh pihak penjajah Belanda. Di bagian utara pulau Sumatra terdapat Kerajaan Aceh yang pada permulaan abad ke XX-an masih sedang terlibat dalam perang menentang kekuasaan penjajah Belanda dan tumpas beberapa tahun kemudian. Sedangkan di bagian Timur terdapat kesultanan Deli, Serdang, Langkat, Asahan, kesultanan Siak Sri Indapura, Pelalawan, dan sebagainya. Di pulau Kalimantan terdapat kerajaan Sambas, Pontianak, Simpang, Sekadau, Sanggau, Bukungan, Kota Waringin, Banjarmasin, Kutei, dan sejumlah negara lain. Di pulau Sulawesi terdapat kerajaan Gowa, Bone, Tanete, Soppeng, Bolang Mongondow, Buol dan sebagainya. Di Kepulauan Maluku terdapat kesultanan Ternate, Tidore dan Bacan. Di pulau-pulau Nusa Tenggara, terdapat kerajaan Klungkung, Giannyar, Karangasem, Badung, Tabanan, Bangli, Buleleng, Bima, Sumbawa, Dompu dan banyak lagi negaranegara kecil lain. Kebanyakan negara pribumi ini baru menghilang sebagai kesatuan politik kewilayahan pada masa Revolusi Nasional. Hanyalah Kesultanan Yogyakarta, terutama karena peranan amat penting dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang sepenuhnya mendukung perjuangan kaum republik dalam masa Revolusi Nasional, dapat mempertahankan diri sebagai suatu kesatuan politik nama Daerah Istimewa Yogyakarta. (Harsya W Bachtiar: 2002 , hlm. 18 dan 23 – 24 ) Pengertian nasion, yang sesungguhnya merupakan istilah yang lebih tepat daripada pengertian bangsa yang masih mengandung unsur-unsur anggapan bahwa sekalian anggota-anggota bangsa yang bersangkutan berasal dari nenek moyang yang sama, dijelaskan dengan gamblang oleh Ernst Renan dalam suatu mata kuliah umum berjudul “ Qu”est qu”un nation ? ( Apakah nasion itu ?) yang diadakan di Universitas Sorbone, Paris, tahun 1882. Pada waktu itu, akhir Abad ke-XX, terdapat berbagai gerakan kebangsaan di benua Eropa. Gerakan-gerakan perjuangan ini merupakan ancaman terhadap pemerintahan kerajaan yang menguasai bangsa-bangsa yang bersangkutan dan memang mengakibatkan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

9

Peter Kasenda kerajaan-kerajaan besar di Eropa, seperti Kerajaan Austria-Hongaria, Kerajaan Turki dan Perancis, terpecah-pecah menjadi negara-negara merdeka yang lebih kecil. Kerajaan-kerajaan tersebut terpecah-pecah menjadi negara-negara yang lebih kecil atas dasar asas kebangsaan. Dengan banyaknya gerakan-gerakan kebangsaan di Eropa pada waktu itu, dan pengaruh besar dari gejala ini pada kehidupan politik di Eropa dan kemudian juga pada kawasan lain dari dunia ini, dengan sendirinya timbul pertanyaan ; Apakah yang harus diartikan dengan istilah nasion yang merupakan inti dari faham nasionalisme itu, karena gerakan-gerakan kebangsaan yang tumbuh dimana-mana diwujudkan oleh satuan-satuan manusia yang dikenal sebagai nasion. Penjelasan Ernest Renan dalam kuliah umumnya menjadi sangat terkenal, diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan dicetak ulang agar dapat disebarluaskan orang yang berminat memperoleh penjelasan tentang pengertian nasion. Juga pemimpin-pemimpin gerakan kebangsaan Indonesia membaca penjelasan Renan dan berpegang pada penjelasan yang diberikannya dalam perjuangan mereka itu sendiri. Soekarno dan Mohammad Hatta sering mengutip rumusan “nasion“ yang diberikan oleh Renan. Nasion, kata Ernest Renan, adalah suatu kesatuan solidaritas, kesatuan yang terdiri atas manusia-manusia yang saling merasa bersetikawanan dengan satu sama lain. “ Nasion adalah suatu jiwa, suatu asas spiritual…Ia adalah suatu kesatuan solidaritas yang besar, tercipta oleh perasaan pengorbanan yang telah di muat di masa lampau dan yang oleh manusia-manusia yang bersangkutan bersedia dibuat di masa depan. Nasion mempunyai masa lampau, tetapi ia melanjutkan dirinya pada masa kini melalui suatu kenyataan yang jelas yaitu kesepakatan, keinginan yang dikemukakan dengan nyata untuk terus hidup bersama,” Oleh sebab itu suatu nasion tidak tergantung pada kesamaan asal ras, suku bangsa, agama, bahasa,geografi, atau hal-hal lain yang sejenis. Kehadiran suatu nasion adalah suatu kesepakatan bersama yang seolah-olah terjadi setiap hari antara manusia-manusia yang bersama-sama mewujudkan nasion yang bersangkutan. Para pemimpin gerakan kebangsaan Indonesia, gerakan kebangsaan kita, menggunakan konsep nasion dari Ernset Renan sebagai dasar perjuangan mereka. Gerakan kebangsaan kita tidak langsung didasarkan atas “nasion Indonesia“ sebagai bangsa yang hendak diwujudkan, bangsa yang hendak dipersatukan, melainkan diawali dengan munculnya bermacam-macam pengelompokan yang didasarkan atas dasar rasa solidarityas atas hubungan setiakawan, yang lebih terbatas ruang lingkupnya. Perhimpunan-perhimpunan ini adalah, misalnya, Boedi Oetomo (1908), Persatoean Minahasa, (1927) Nahlatoel Oelama (1926), Jong Batak”s Bond (1925), Tionghoa Hwee Koan (1900) dan lain-lain. Baru kemudian muncul perhimpunan-perhimpunan yang didasarkan atas konsepsi kebangsaan Indonesia ,dan bukan atas dasar solidaritas kedaerahan, agama, ideologi politik tertentu seperti sosialisme, kapitalisme dan sebagainya. Konsepsi kebangsaan yang dikandung oleh perhimunan-perhimpunan yang diadakan atas dasar asas kebangsaan muncul dari keinginan untuk mempersatukan golongan-golongan penduduk
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

10

Peter Kasenda yang beraneka ragam di kepulauan kita ini. Perhimpunan-perhimpunan adalah misalnya, Indische Partij (1912), Nationaal Indische Partij(1919), Permoefakatan Perhimpoemanperhimpoenan Politik Kebangsaan Indnesia(1930) , Partij Indonesia ( 1930) , Persatoean Bangsa Indonesia dan lain-lain. Apa pun pandangan atau haluan politik masing-masing perhimpunan, keanggotaan didasarkan atas rasa solidaritas yang tidak lagi terbatas pada solidaritas suku bangsa, daerah asal, ras, ataupun keagamaan, melainkan merupakan kolektivitas-kolektivitas yang terbentuk atas dasar rasa solidaritas yang melewati batas-batas kesukuan, kedaerahan, rasial, ataupun keagamaan. Dasar pengelompokan-pengelompokan ini adalah kebangsaan Indonesia. ( Harsya W Bachtiar : 2002 , hlm. 31 – 36 )

Lagu Kebangsaan
Indonesia adalah bangsa yang beruntung. Kita telah mempunyai lagu kebangsaan lama sebelum bangsa ini menyatakan kemerdekaannya. Wage Rudolf Supratman, penciptanya, jelas-jelas menuliskan “lagu kebangsaan“ di bawah judul “Indonesia Raya“ ketika ia mempublikasikannya pada 1928. WR Supratman adalah seorang visioner besar. Tidak pernah sebelumnya terjadi du dunia., seorang pencipta lagu tahu bahwa ciptaannya akan menjadi lagu kebangsaan. Sayang, WR Supratman telah meninggal tujuh tahun sebelum Republik Indonesia merdeka dan mengumumkan Undang-undang Dasar yang mencantumkan “Indonesia Raya” sebagai lagu kebangsaan. Diperdengarkan pertama kali pada Kongres Pemuda II di Jalan Kramat 106 Jakarta pada 28 Oktober 1928, hanya beberapa saat setelah para pemuda Indonesia memekikan Sumpah Pemuda, “Indonesia Raya“ serta-merta diterima dan diakui sebagai lagu kebangsaan bagi sebuah nasion yang memang sedang digalang. Lirik “Indonesia Raya“ yang satu kupletnya terdiri dari atas 14 baris juga dikenal dalam kesusastraan sebagai soneta. Soneta atau sonetto adalah bentuk sanjak yang diciptakan di Italia pada abad ke-11. Pada abad ke-13, soneta mencapai bentuknya yang sempurna di lingkungan istana Raja Sicilia. Sejak masa Renaissance puisi terbentuk soneta tersiar ke seluruh Eropa dan menjadi bentuk sanjak yang paling popular. Di Indonesia, bentuk soneta mulai popular pada zaman Pujangga Baru (sekitar 1933). Soneta biasanya dibagi menjadi dua kuatrin ( empat seuntai yang mengikuti bentuk sajak a-b-b-a) dan dua terzina (tiga seuntai). Kedelapan baris pertama (dua kuatrin yang juga disebut oktaf ) yang isinya merupakan satu kesatuan terhadap enam baris terakhir yang juga disebut sextet. Penulisan lirik “Indonesia Raya” juga sangat mirip dengan bentuk seloka dalam kesustraan kuna Melayu dan India, Seloka adalah sanjak yang terdiri atas empat baris, setiap baris terdiri atas delapan sukukata. Walmiki, contohnya, menulis epik “Ramayana“ dalam bentuk seloka. Seloka juga jamak disebut sebagai pantun berangkai.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

11

Peter Kasenda Secara lirik, ketiga kuplet itu seolah-olah diciptakan WR Supratman menjadi tiga seloka yang masing-masing mempunyai makna tersendiri. Seloka pertama berupa kuatrin pada ketiga kuplet yang secara puitis memberikan deskripsi tentang Indonesia yang luhur, mulia, serta maknanya bagi putra pertiwi. Seloka kedua dijumpai pada kuplet kedua – dimulai dengan kata-kata “ marilah kita mendoa”, bermakna puji syukur serta permohonan restu kepada Tuhan yang Maha Esa untuk kelestarian tanah, bangsa, dan rakyatnya. Puji syukur serta doa itu ditampilkan dengan kata-kata pilihan seperti layaknya dalam liturgi keagamaan. Seloka ketiga didapati pada kuplet ketiga – dimulai dengan kata-kata “ marilah kita berjanji “ – yang merupakan sumpah setia yang ditampilkan dengan kata-kata yang gagah dan penuh tekad. Sumpah setia ini mirip dengan tradisi yang pernah dilakukan Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 dan Raja Syailendra dari Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Secara musikal, WR Supratman memberi warna-warna yang berbeda pula pada tiga bagian lagu ciptaannya itu. Pada dua kuatrin pertama yang mendeskripsikan Indonesia sebagai tanah air pujaan dan kebanggan, terdengar nada-nada yang datar dan agung. Memasuki enam baris berikutnya – yaitu bagian puji syukur, doa, dan janji – nadanadanya berubah menjadi takzim dan mendayu kalbu. Sedangkan pada kuatrin ulangan (refrein), nada-nadanya dilonjakkan menjadi dinamis dan menggelegar. ( Bondan Winarno : 2003 , hlm. 43 – 45 ) Di balik semua itu adalah seorang Wage Rudolf Supratman adalah seorang wartawan yang ketika itu bekerja pada harian terkemuka Sin Po Sebelumnya, ketika masih tinggal bersama kakaknya di Makasar, WR Supratman sempat bergabung dalam sebuah kelompok musik sebagai pemain biola. Sebagai pemain biola, WR Supratman tidak pernah mencapai tingkat maestro. Sebagai wartawan pun WR Supratman tidak tercatat karya jurnalistiknya di jajaran Parada Harahap, Inyo Beng Goat, maupun wartawan terkemuka pada zamannya. Tetapi, WR Supratman rajin bergaul dengan para pemuda nasionalis, yang bertekad memerdekakan bangsa Indonesia. Ia menyadari keterbatasannya dalam berpolitik, dan memilih “bahasa musik“ sebagai refleksi nasionalismenya. Dengan mencari-cari nada dari gesekan biolanya, ia mulai menciptakan beberapa lagu, seperti “Mars KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia )”, “Ibu Kita Kartini,” dan “Di Timur Matahari.”. Sekalipun kedua lagu terakhir masih kadang-kadang terpilih sebagai pilihan lagu-lagu aubade, tetapi lagu-lagu ciptaan WR Supratman itu belum setaraf dengan kepopuleran “Halo-halo Bandung” “Maju Tak Gentar”” Syukur”, atau “ Bagimu Negeri.” Bondang Winarno : 2003 , hlm. 6 – 8 ) Memasuki tahun 1927, kehidupan politik mulai ramai lagi. WR Supratman ikut bersemangat. Anak-anak muda bergiat. Mereka merencanakan menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia Kedua. Suasana Kramat Raya 106 hidup lagi, dan WR Supratman sering mampir. Lagi pula Sugondo Djojopuspito tahu dari Tabrani bahwa
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

12

Peter Kasenda WR Supratman punya konsep lagu kebangsaan. Sugondo menyarankan agar kelak dapat dinyanyikan dalam Indonesich Clubgebow, Jalan Kramat Raya 106. Saran itu disampaikannya sewaktu mereka duduk-duduk di rerumputan halaman Gedung Komedi di depan Stasiun Gambir (sekarang tak ada). Kelompok ini juga berjanji kelak akan mengakuinya sebagai lagu kebangsaan. Suatu pagi, ketika WR Supratman mampir di Jalan Kramat Raya 106, Sugondo Djojopuspitp menyerahkan secarik kertas kepada WR Supratman. tapi dengan pesan isinya tak boleh disiarkan dulu. Kertas ini memuat lengkap susunan panitia Kongres Pemuda Indonesia kedua, yang pengurusnya berasal dari organisasi-organisasi pemuda yang ada. Sugondo Djojopuspito, menjadi ketua panitia, mewakili PPPI. WR Supratman pun ikut menyebarkan ide-ide kemerdekaan, semata-mata demi pengabdian. Karena itu ia jadi agen sejumlah majalah pergerakan ,misalnya Persatoean Indonesia, Timboel, Soeloeh Indonesia Moeda, Soeloeh Rakyat Indonesia, Indonesia Raya. Dan semangat ini menonjol lagi dengan munculnya lagu ciptaan ketiga berjudul Indonesia, Hai Ibuku Sebuah lagu bertema patriotisme, tempo sedang, komposisi dan struktur sederhana. Dan pada tanggal 13 September 1928, beberapa saat setelah meliput kelahiran Kepanduan Bangsa Indonesia, terciptalah lagu Bendera Kita. Semakin dekat kongres rencana dilangsungkan, semakin sibuk suasana Kramat Raya 106. Sudah ada kepastian kongres akan diselenggarakan dalam tiga kali rapat. Pertama rapat pembukaan di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond tanggal 27 Oktober, kedua tanggal 29 Oktober di Oost Java Bioscoop dan rapat penutupan 28 Oktober malam di gedung Indonesich Clubgebow, Jalan Kramat Raya 106. Dan sejumlah tokoh-tokoh sudah disiapkan berpidato. Dalam hati WR Supratman ingin lagu Indonesia, ciptaannya, dinyanyikan dalam kongres. Maka salinannya ia berikan kepada para pemimpin organisasi pemuda agar disebarkan dan dipelajari. Ternyata lagu itu mendapat sambutan hangat, terutama dari kalangan pandu-pandu KBI. Karena dalam salah satu kalimat syairnya disebut-sebut. Jadi Pandu Ibuku. Dengan cepat syair lagu ini dihapal para pandu. Pada malam penutupan, WR Supratman berangkat lebih awal. Berstelan jas putih-putih, peci, sepatu putih mengkilap dan mengapit biola. ia segera bergerombol dengan wartawan-wartawan Melayu. Ia sudah dijanjikan oleh Soegondo bahwa nanti boleh menyanyikan lagu ciptaannya waktu jam istirahat. Karena itu WR Supratman menyodorkan secarik kertas berisi syair lagu Indonesia itu. Sugondo ragu-ragu untuk mengizinkan lagu itu dinyanyikan, karena jangan-jangan malah jadi alasan pemerintah melarang penutupan kongres, padahal kongres tinggal mengumumkan hasil keputusan. Maka Soegondo minta izin pada Pembesar Kantoor voor Indlansche Zaken, van der Plas, pejabat yang diserahkan mengawasi jalannya kongres. Van der Plas menganjurkan Sugondo menghubungi Hoofd Commisaris yang duduk di sebelahnya meminta lagu itu dinyanyikan secara instrumentalis saja. ( St Sularto : 1983 , hlm. 82 – 83 )

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

13

Peter Kasenda Sebelum nenutup Kongres secara resmi, Sugondo mempersilakan Wage Rudolf Supratman tampil ke panggung untuk memperkenalkan lagu kebangsaan “Indonesia Raya“. Pemuda berusia 25 tahun itu tampil dengan biolanya. WR Supratman mulai menggesek biolanya. Nada demi nada bergaung. Semua yang hadir mendengar dalam hening. Beberapa pemuda mengikuti nada-nada itu sambil mencoba menggumakan lirik lagu berdasar naskah yang dibagikan. Tepuk tangan menggemuruh setelah Supratman menyelesaikan permaian biolanya. Pada saat itu juga “Indonesia Raya” secara aklamasi diterima dan ditetapkan oleh Kongres Pemuda II sebagai lagu kebangsaan. Sebuah proses merumuskan lagu kebangsaan yang sungguh cepat dan mulus. ( Bondan Winarno : 2002 , hlm. 39 – 40 ) WR Supratman sangat terharu, pulang dan memeluk Salamah sebagai tanda suka cita. Cara yang sama ditampilkan oleh WR Supartman ketika ia diminta oleh sebuah panitia pertunjukan kesenian. Pada kesempatan kedua itu beberapa orang mulai berdiri menghormati ketika Indonesia Raya dinyanyikan. Kesempatan itu terjadi ketika pembubaran panitia Kongres Pemuda Indonesia kedua. Sebelumnya WR Supratman sudah melatih koor, dan koor itulah yang tampil menyanyikan dengan iringan gesekan biola WR Supratman .( St Sularto : 1983, hlm. 82 – 83 ) Suatu saat, waktu omong-omong dengan Soekarno, WR Supratman menyerahkan teks lagu Indonesia Raya. Lagu itu akhirnya dikumandangkan lagi di tempat saat pembukaan Kongres PNI yang kedua tanggal 18 – 20 Desember 1929. Hampir serentak peserta kongres berdiri dan menyanyi, mengikuti koor dan iringan biola WR Supratman sebagai tanda penghormatan pada Indonesia Raya. Lagu yang nadanya mirip dengan La Marsailse itu. Dalam kongres itulah ditetapkan Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan bangsa Indonesia. Suatu hasil penting kongres kedua PNI yang tercatat dalam lembaran sejarah bangsa. Dan mulai saat itu pula Indonesia Raya banyak dinyanyikan orang pribumi, sampai-sampai WR Supratman sendiri mencetaknya dalam lemburan stensilan. Seorang pengusaha merekam lagu Indonesia Raya itu, tetapi dengan koor dan iringan biola tersendiri. Sehingga dengan cepat teks lagu Indonesia tersebar di kalangan masyarakat luas. Lagu ini jadi cambuk semangat untuk terwujudnya kemerdekaan Indonesia. WR Supratman segera berinisiatif untuk menerbitkan pamflet yang berisi naskah lagu “Indonesia Raya.” Pada sanpul pamflet itu jelas tertulis Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Pamflet itu diterbitkan oleh Sin Po, dan dijual dengan harga 20 sen per lembar. Edisi pertama dicetak sebanyak empat ribu lembar. Semuanya habis terjual. WR Supratman memperoleh royalty sebesar 350 gulden atas penerbitan pamflet itu. Untuk pertama kalinya ia memperoleh uang sebanyak itu. Cetakan kedua sebanyak sepuluh ribu lembar dipersiapkan lagi oleh Sin Po untuk memenuhi permintaan yang membanjir. Tetapi, dinas inteljen politik Hindia-Belanda segera menyita pamflet itu. Kumandang lagu “Indonesia Raya” di seluruh pelosok Nusantara membuat Belanda tiba-tiba menyadari betapa besarnya pengaruh “Indonesia Raya“ bagi rakyat Indonesia. ( Bondan Winarno : 2003 :, hlm. 40 )
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

14

Peter Kasenda

Semula Pemerintah Hindia Belanda mendiamkan saja. Tapi lama-lama khawatir semangat lagu Indonesia Raya ini bisa menyukut api kemerdekaan. Maka pada tahun 1930 lagu itu dilarang dinyanyikan dalam kesempatan apa pun dengan alasan mengganggu keamanan dan ketertiban. WR Supratman, penciptanya, tak luput dari interogasi. Secara intensif ia ditanya soal maksud mencipta Indonesia Raya, mengapa disebut lagu kebangsaan. Terhadap tiga pertanyaan pokok itu, ia menjawab, maksud mencipta untuk lagu-lagu perjuangan, kata-kata “merdeka, merdeka” bukan dari dia tapi dari anak-anak muda, aslinya “mulia-mulia,” Dan tentang sebutan lagu kebangsaan, dengan tepat WR Supratman menunjuk itu sebagai keputusan Kongres PNI kedua tanggal 20 Desember 1929. Akhirnya WR Supratman bebas. Larangan ini menimbulkan gelombang protes, bahkan sampai di tingkat Volksraad Akhirnya Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan lagi Indonesia Raya dinyanyikan, tetapi harus dalam ruang tertutup sebagai lagu perkumpulan. (St Sularto : 1983, hlm. 83) Larangan dan tekanan pemerintah Hindia-Belanda ternyata tidak membuat surut semangat bangsa Indonesia. “ Indonesia Raya” dinyanyikan di mana-mana oleh rakyat Indonesia. Sekalipun secara resmi naskahnya telah diganti, rakyat tetap bersemangat menyanyikannya berdasarkan naskah asli, Indones’, Indones’ Merdeka Merdeka “ ( Bondan Winarno : 2003 , hlm 41 ) Selama 14 tahun “Indonesia Raya” diberangus oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada tahun 1942, Jepang mendarat di Indonesia dan mengusir penjajah Beanda. Rakyat Indonesia yang mengira bahwa proses pembebasan dan pemerdekaan sedang terjadi, dengan riang gembira menyanyikan lagu “Indonesia Raya“ di mana-mana. Bahkan untuk mengambil hati rakyat, sebelum mengawali penyerangannya ke Indonesia, Radio Tokyo yang disiarkan ke Indonesia selalu mengumandangkan “ Indonesia Raya” pada pembukaan dan penutupan siarannya. Tetapi, tentara pendudukan Jepang ternyata tiodak kalah kejamnya dibandingkan penjajah Hindia-Belanda. Tak lama setelah secara efektif menduduki Jawa, pemerintahan pendudukan Jepang melarang lagu “Indonesia Raya” Bendera Merah-Putih juga dilarang dikibarkan. Sekalipun menyatakan dirinya sebagai saudara tua bagi Indonesia, tetapi Jepang tidak pernah menghendaki kemerdekaan Indonesia. Pada 1944, setelah merasa semakin terdesak di berbagai arena perang, barulah Jepang merasa semakin terdesak di berbagai arena perang, barulah Jepang merasa membutuhkan bantuan pejuang Indonesia untuk bertahan. Dalam keadaan terjepit itu Jepang bahkan mulai mendengung-dengungkan janji untuk memerdekakan Indonesia di kelak kemudian hari. Untuk memperoleh dukungan rakyat Indonesia, Jepang mengizinkan lagu “Indonesia Raya“ dinyanyikan dan bendera Merah-Putih dikibarkan. Pada tahun 1944, para tokoh kemerdekaan membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Dibentuk pula Panitia Lagu Kebangsaan yang terdiri dari atas Soekarno, Ki Hajar Dewantara, Akhiar, Bintang Sudibyo (dikenal sebagai Iibu Sud), Darmawijaya, Kusbini, Kiai Haji Mansyur, Mohammad Yamin, Sastromulyono, Sanusi Pane, Cornel Simajuntak, A Subarjo, dan Utoyo.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

15

Peter Kasenda

Panitia ini melakukan perubahan dan menyempurnakan kata-kata dalam lirik lagu ”Indonesia Raya”. Ketika diciptakan 1928, bahasa Indonesia belum sempurna berkembang dari bahasa Melayu, sehingga terdapat beberapa kata janggal dalam lirik aslinya. Penyempurnaan itu menghasilkan lirik baru yang dipakai hingga sekarang tanpa perubahan lagi. Dari segi musiknya, Panitia hanya menambahkan satu nada ”do” untuk melengkapi birama lagu kebangsaan “Indonesia Raya” – agar kata “semua “ yang diubah menjadi “semuanya” dapat dinyanyikan secara penuh. Dengan demikian, pada dasarnya ciptaan Wage Rudolf Supratman tetap dipertahankan keasliannya. ( Bondan Winarno : 2003, hlm. 51 – 53 ) Pada tahun 1953, untuk memperngati ulang tahun ke-25 “Indonesia Raya”, Pemerintah Republik Indonesia menyelenggarakan perayaan besar untuk memperingati dan memuliakan hari lahir lagu kebangsaaan. Upacara itu diseslenggarakan di Lapangan Gambir Jakarta pada 28 Oktober 1953. Seribu orang pelajar dan mahasiswa yang membentuk sebuah paduan suara akbar mengumandangkan “Indonesia Raya” dengan diiringi orkes angklung putra-putri Priangan, orkes seluring putra-putri Maluku, dan orkes Keplosian Negara yang dipimpin oleh R.A.Y. Sujasmin. Paduan suara akbar itu diabadikan oleh Radio Republik Indonesia. Pada tahun 1958, Pemerintah melanjutkan upaya yang sempat terhenti pada tahun 1948, dengan membentuk kembali Panitia Peninjauan Lagu Kebangsaaan Indonesia Raya. Panitia ini merumuskan tata tertib dan tatacara menyanyikan lagu kebangsaan “ Indonesia Raya” dan mengusulkan rumusannya kepada Pemerintah. Pada proses ini Panitia tidak mengusulkan perubahan sama-sekali terhadap lirik maupun musik “Indonesia Raya”. Revisi kecil yang dilakukan Panitia pada musik “Indonesia Raya” adalah mengubah birama dari 6/8 menjadi 4/4 Birama 4/4 ini dipertahankan hingga sekarang. Setelah dibicarakan di Sidang Kabinet, pada 10 Juli 1958 Pemerintah mengundangkan Peraturan Pmerintah Nomor 44 Tahun 1958 Tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. ( Bondan Winarno : 2003 , hlm. 61 – 62 )

Indonesia Raya, Perbandingan dan Perubahan
Sebenarnya “Indonesia Subur” yang mencuatkan langgam Melayu memang pernah diusulkan sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia. Hingga tahun 1948 sebagai besar rakyat Sumatera masih menganggap “Indonesia Subur” sebagai lagu kebangsaan. Kelemahan ”Indonesia Subur” mungkin terletak pada karakter romantis yang agak berlebihan. Bila terpilih sebagai lagu kebangsaan mungkjin “Indonesia Subur” akan setara dengan “Wailzing Mathilda“ dan Australia atau “Negaraku” ( judul asli “Terang Bulan”) dari Makaysia dengan karakteristik romantis yang menonjol. “Indonesia Raya” memiliki karakter yang lebih menonjol sebagai lagu kebangsaan. Seperti dikemukakan oleh Soekarno, bait pertama “Indonesia Raya” menyinarkan cahaya
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

16

Peter Kasenda yang berisi pujian dan pujaan terhadap negara Indonesia. Bait kedua merupakan doa dan permintaan agar karunia Allah itu tatap jaya selamanya. Sedangkan bait ketiga merupakan janji bakti serta sumpah pemuda Indonesia untuk senantiasa bersatu mencapai Indonesia Merdeka. Kelengkapan simbolisasi itulah yang telah membuat ”Indonesia Raya“ serta-merta menyihir para pemuda Indonesia untuk berjuang selama 17 tahun mencapai kemerdekaan Republik Indonesia. Selama 17 tahun, antara 1928 hingga 1945. “Indonesia Raya” telah menjadi seloka sakti pemersatu bangsa untuk meraih kemerdekaan. Dan, pada akhirnya kemerdekaan itu memang tercapai. “Indonesia Raya” mempunyai nilai sejarah yang tidak dapat diragukan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nilai sejarah itulah yang membuat “Indonesia Raya” tampil pada pedestal tertinggi untuk menjadi lagu kebangsaan yang dimuliakan bangsa Indonesia. WR Supratman telah menempatkan Indonesia sebagai satu diantara hanya empat bangsa dunia yang lagu kebangsaannya diciptakan lirik dan musiknya oleh satu orang, di samping “La Marseillaise” (Perancis), “The Maple Leaf Forever” (Canada), dan “Namo Namo Matha” ( Srilanka ) Legitimasi sejarah yang kuat membuat ”Indonesia Raya’ tak pernah tergoyahkan posisinya sebagai lagu kebangsaan. Mesir, misalnya, dalam sejarah modernnya telah mengganti lagu kebangsaanya beberapa kali yang terakhir diresmikan pada 1979 – sesuai dengan pergantian kepala negara. Selain itu, ruh lirik “Indonesia Raya” mempunyai kekuatan melebihi lagu kebangsaaan mana pun. God Save the Quuen (King)“ maupun “Kimigayo” meruapakan pemujaan terhadap raja/ratu yang menjadi kepala negara. ”The Star Spangled Banner” merupakan pemujaan terhadap bendera.”La Marseillaise“ maupun “The Star Spangled Banner” secara resmi diakui sebagai lagu kebangsaan pada 1931. Lagu nasional Amerika Serikat itu bermula dari sebuah sajak yang ditulis oleh Francis Scott Key. Francis disandera oleh pasukan Inggris di Baltimore dalam usahanya membebaskan seorang dokter pada 1814. Ketika akhirnya Inggris kalah dalam pertempuran, dan mengundurkan diri, Francis naik ke atas benteng Inggris yang telah ditinggalkan itu. Dari kejauhan ia melihat bendera Amerika (The Star Spangled Banner) berkibar megah di Fort McHenry, benteng pertahanan pasukan Amerika Serikat. Momen menggetarkan itu membuat Francis mulai mencoret-coret sebuah puisi di balik kertas surat yang sudah lusuh. Puisi baru selesai setelah ia berpindah tempat dua kali, dan dijuduli “Defence of For McHenry”. Puisi dicetak dan disebarkan ke mana-mana. Sebulan kemudian, seorang penyanyi asal Baltimore menyanyikan puisi itu dan mengubah judulnya menjadi “The Star Spangled Banner“, Sekalipun langsung menjadi lagu perjuangan yang popular, baru 111 tahun kemudian “The Star Spangeld Banner“ dinyatakan dalam konsitusi menjadi lagu kebangsaan Amerika Serikat. Lirik lagu ini merupakan pemujaan terhadap bender4a kebangsaan. Karena itulah kita selalu melihat orang Amerika menengadah ke atas memandang kibaran bendera kebangsaan mereka sambil, ketika menyanyikan lagu kebangsaan itu.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

17

Peter Kasenda Lagu kebangsaan lain yang di tengah bara perjuangan adalah “La Marseillaise”. Lagu kebangsaan Perancis itu diciptakan hanya dalam semalam oleh Claude-Joseph Rouget de Lisle di tengah kecamuk Revolusi Perancis. Kapten Rouget berdinas di pasukan zeni dan ketika itu ditempatkan di Strasbourg. Lagu itu pertama kali dikumandangkan pada sebuah pertemuan patriotik. Naskahnya kemudian diedarkan ke semua pejuang. Dengan lagu mars itulah para pejuang berbaris menasuki Paris pada Agustus 1792. Tiga tahun kemudian “La Marseillase“ baru dinyatakan resmi sebagai lagu kebangsaan Republik Prancis pada 14 Juli 1795. Ironisnya, Kapten Rouget ternyata adalah seorang royalist (penganut sistem kerajaan) yang bahkan menolak menerima konsitusi baru. Ia dipenjarakan dan nyaris dihukum mati dengan gullatine.Ketika Napoleon melakukan pendudukan dan berkuasa di Perancis “La Marseillaise” dilarang dinyanyikan dan diberangus. Setelah kemerdekaan pada 1879 “La Marseillase“ kembali berkumandang sebagai lagu kebangsaan Perancis. Lagu kebangsaan tertua diklaim oleh “Wilhelmus”, lagu kebangsaan Kerajaan Belanda. Diperkirakan lagu itu diciptakan antara tahun 1568-1572 oleh Philip van Marnis van St Aldegonde. Tetapi, Jepang juga mengajukan klaim bahwa lirik lagu kebangsaan “Kimiyago” (berarti Daulat Kaisar) sudah tercipta pada abad ke-9, lebih dari seribu tahun yang silam. Lirik “Kimigayo” merupakan bentuk kuno puisi tradisional Jepang yang disebut tanka dengan elemen gagaku. Sayangnya, klaim Jepang ini tidak lengkap karena baru pada 1880 puisi yang tidak diketahui penciptanya itu diberi musik sederhana oleh Hiromori Hayashi. Musik asli yang terdengar seperti lagu duka itu kemudian digubah ulang oleh Franz Eckert, seorang musikus Jerman yang bekerja di istana Akasaka. Pada 1950, Jos Cleber yang ketika itu menjadi dirigen oskestra RRI menerima tugas dari Presiden Soekarno, untuk membuat orkestrasi “ Indonesia Raya” dalam versi simfoni dan filharmonik. Tugas itu dirampungkannya dengan baik, dan diterima dengan baik pula oleh Soekarno. Gubahan Jos Cleber itu kemudian dimainkan oleh orkes simfoni Radio Republik Indonesia dengan Jos sendiri sebagai dirigennya. Rekaman di atas pringan hitam itu kemudian menjadi rekaman resmi yang digunakan RRI maupun instasi resmi Pemerintah Republik Indonesia selama hampir 50 tahun. ( Bondan Winarno : 2003, hlm. 8 – 14 )

Tapal Batas Teritorial
Kemungkinan besar WR Supratman menyadari dan memadukan dua dimensi “Indonesia Raya”, yaitu dimensi intensif dan ekstensif tatkala mengubah lagu Indonesia Raya, yang belakangan menjadi lagu kebangsaan Indonesia itu. Dimensi intensif Indonesia Raya adalah pembangunan jiwa, penyadaran hari, demi kemajuan negeri dan pandunya. Sedangkan dimensi ekstensif Indonesia Raya adalah menyangkut ambisi perluasan geografis dan geopolitik. Sesuai dengan semangat zamannya waktu itu, banyak kaum pergerakan tentang mengidamkan entitas Indonesia Raya, karena pada saat itu memang

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

18

Peter Kasenda bergaung gagasan tentang, misalnya, Britania Raya, Jernan Raya, Nippon Raya, Asia Raya dan lain-lain. Kekaguman pada Jepang melanda sebagian besar kaum pergerakan di luar, dan anggota dewan di dalam Volksraad, Dewan Ra”jat. Di antara nama-nama besar bisa disebut Ratulangie yang dengan caranya sendiri yang mengidam-idamkan Indonesia Raya itu, seperti yang dikemukakannya dalam pidato dewan, sudah sejak tahun 1928. Dengan jelas dikatakannya, dalam pidato dewan kalau dulu pikiran tentang “Pan-Asiatisme“ hanya hidup sebagai ide yang hanya ada dalam konsepsi dari sejumlah kecil kaum akademisi, kini sudah memasuki propaganda politik praktis, di mana Indonesia harus berperan besar atau dalam kata-katanya sendiri sebagai berperan aktif dalam percaturan ekonomi-politik Asia-Pasifik. Demikian pun Mohammad Hoesni Thamrin mengatakannya lagi pada tahun 1934. Dengan merujuk kepada konferensi Pan Asia yang diundang Tokyo, Desember 1933, dengan jelas disebutkan bahwa kini di Asia hidup orientasi kejiwaan kepada Jepang karena Jepang menjamin tali persaudaraan ras Asia,” de broederschap van alle Asiatische rassen”, dengan hak yang sama di bawah perlindungan supremasi Jepang. Mereka melayangkan pandangannya bukan saja ke Asia dengan Jepang sebagai kekuatan inti Asia Raya, Asia Timur Raya, akan tetapi dalam konteks itu juga adanya Indonesia Raya. Selain kedua tokoh di atas yang dalam istilah politik sebelum perang dikatakan sebagai “kaoem kooperator”, konsep “Indonesia Raya” sudah jauh-jauh lebih tua dari itu dan hidup dalam diri seorang tokoh pergerakan yang seumur hidupnya tidak pernah bekerja sama dengan Jepang yaitu Tan Malaka. Sebegitu rupa kesadaran ini ada pada Tan Malaka sehingga ketika menyembut Singapura pun nama itu dikaitkan dengan nama yang diberikan pada masa Majapahit sebagai kota Tumasik. Dalam suatu karya yang jauh lebih sungguh-sungguh, dia menulis tentang konsep “Aslia”, Asia-Australia, dengan pikiran bahwa Asia Tenggara dan Australia berada dalam suatu negara regional yang bisa berdiri sejajar dengan negara-negara sosialis seperti Rusia, China dan Amerika Serikat. Dari tangan Tan Malaka pun kita tahu bahwa konsep Indonesia Raya bukan sekadar hidup dalam angan-angan akan tetapi dikerjakan secara politik, dan mungkin dalam bayangbayang suatu pekerjaan adminsitratif kelak. Semua ini dibahas Tan Malaka dalam hubungan dengan kembalinya ke Indonesia dan dalam hubungan itu pula perbedaan dirinya dan Soekarno. Kalau Tan Malaka tidak berkenan di mata Jepang, sebaliknya Soekarno adalah anak emas yang bersedia menjadi “pion” Jepang selama berada di Indonesia sebagai tuan penjajah. Apa yang dikatakan Tan Malaka akan kehilangan konteks bilamana perhatian semnatamata ditujukan ke Indonesia, Indonesia Raya hanya bisa dipahami bila ditempatkan dalam tiga konteks penting yang ingin dicapai Jepang sejak berakhirnya Perang Dunia Pertama. Tiga konteks atau tiga dimensi tersebut adalah pertama, bidang ideologis dan kedua, bidang industri dan industrialisasi Jepang yang melahirkan kehausan Jepang akan Lebensraum,wilayah hidup orang Jepang. Dua hal di atas mungkin tidak melahirkan akan tetapi menjadi salah satu unsur terpenting bagi militerisme Jepang.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

19

Peter Kasenda

Muhammad Yamin, seseorang yang dengan penuh passion mengidam-idamkan pembentukan Indonesia Raya. Muhammad Yamin meneliti dan memeriksa naskahnaskah kuno dengan penuh nafsu baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Dari pemeriksaan tersebut Muhammad Yamin sampai kepada penulis Hugo de Groot, atau yang lebih dikenal dengan nama Latinnya Hugo Grotius, seorang filosof dan penulis hukum internasional Belanda, yang tidak mengakui hak milik asing, Portugis, atas koloni di kepulauan Nusantara. Atas dasar itu Yamin sebagai, seorang passionate researcher, mendaku seluruh pulau yang pernah dimiliki Majapahit yang disebutnya sebagai Astadupa Nusantara, pulau Delapan, kata Yamin, sebagai milik Indonesia Raya. Pada saat iini, sekurang-kurangnya sampai tahun 1960-an, Indonesia baru menjadi Saptadwipa. Pulau Tujuh, yaitu Irian, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Djawa, dan Sumatra. Pulau kedelapan yang seharusnya menjadi milik Astadwipa Nusantara adalah seluruh semenanjung Malaya. Demikianlah keyakinan dan dalam arti tertentu”nafsu territorial “Yamin sebegitu rupa sehingga menurut pendapatnya revolusi Indonesia takkan selesai sebelum “peta ketatanegaraan Astadwipa Nusantara yang Depan lengkap tergambar untuk membina Bangsa Indonesia Raya.” ( Daniel Dhakidae : 2008 , hlm. 63 – 78 . Yamin berpendapat, ”persatuan Indonesia bukanlah omong kosong, tetapi seperti sebuah rumah yang dibangun di atas tiang-tiang kukuh”. Kesatuan ini berdasarkan beberapa faktor, termasuk sejarah, bahasa, dan hukum adat. Yamin memandang sejarah Indonesia pada umumnya sebagai “satu pertumbuhan yang tunggal”, dari status merdeka sebelum kedatangan bangsa Barat, kepada status kolonialisme dan kembali kepada kemerdekaan lagi. Ia tidak mengacuhkan sejarah dari banyak pulau, dan kelompok-kelompok suku dari seluruh kepulauan Indonesia: “Apabila dengan sepenuhnya dan dengan mendalam kita lihat, kita hanya bicara soal sejarah Indonesia, tidak ada sejarah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi yang terpisah-pisah.“ Menunjuk teori Ernst Renan tentang kebangsaan, Yamin berpendapat bahwa “kesatuan sejarah” memang menjalankan suatu pengaruh pada pembentukan suatu bangsa. Suatu bangsa ”lebih seperti roh daripada tubuh”,. Aspek pertama dari roh ini dapat ditelusuri pada masa lalu, sebagai ingatan yang dikenang, sementara aspek yang kedua dihubungkan dengan keadaan sekarang. Masalahnya kemudian adalah apakah sekelompok orang yang disebut “bangsa” mau hidup bersama dan ingin terus hidup bersama sebagai satu bangsa. Bagi Indonesia, pendapat Yamin lebih lanjut, masa lampau berciri heroisme, kejayaan, dan kebudayaan tinggi. Tetapi, masa lampau, juga penuh dengan kepiluan dan pengorbanan yang diakibatkan oleh kolonialisme. Meskipun demikian, menurut Yamin, hal ini telah memperkuat ikatan bangsa, dan juga telah mengurangi kelemahan-kelemahan yang ada pada masa Sriwijaya dan Majapahit. Kesatuan pada periode dua kerajaan Indonesia, kata Yamin, didasarkan kepada keprabuan , sistim dinasti yang ada, yang juga mementikan kesetian keagamaan untuk memainkan peran. Kesatuan dalam periode modern tidak hanya bercirikan faktor-faktor kesamaan yang mempersatukan, misalnya bahasa, adat dan sejarah, melainkan khususnya

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

20

Peter Kasenda oleh kehendak rakyat untuk hidup sebagai satu bangsa. ( Deliar Noer : 1983 , hlm. 42 – 43 ) Menjelang akhir Perang Dunia II diadakan suatu Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. atau BPUPKI, yang antara lain, menghasilkan permusan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara kita. Dalam pembicaraan ini muncul beberapa pemikiran yang berbeda tentang wilayah negara itu. Menurut para peserta sidang, kemungkinan –kemungkinan wilayah tesrebut adalah sebagai berikut : (1) Hindia Belanda dahulu, yang merupakan bekas tanah jajahan Belanda; (2) Hindia Belanda ditambah Borneo (Kalimantan) Utara yang penduduknya sama seperti penduduk Borneo bagian selatan; ditambah Papua, daerah jajahan Inggris yang penduduknya sama dengan penduduk di Irian Barat; dan ditmbah Timor seluruhnya, termasuk Timor Timur yang merupakan tanah jajahan Portugal. Semua tambahan wilayah tersebut dimaksud untuk membulatkan wilayah negara yang akan dibentuk. (3) Hindia Belanda dahulu, ditambah Semenanjung Malaya; ditambah Borneo Utara ; ditmbah Papua; ditambah Timor dan kepulauan sekelilingnya. (4) Hindia Belanda dikurangi Papua; (5) Hindia Belanda dahulu, ditambah Semenanjung Malaya, dikurangi daerah Papua. Peristiwa perdebatan yang berlangsung itu memperlihatkan bahwa pemimpin-pemimpin pergerakan kebangsaan kita, yang merupakan anggota dari BPUPKI pada waktu itu, hanya beberapa minggu sebelum Proklamasi Kemerdekaan bangsa kita diumumkan, masih berpedoman yang berbeda-beda mengenai “bangsa Indonesia“ dan “wilayah Negara Indonesia” Tentu saja, ada kesamaan pemikiran tentang inti bangsa Indonesia tapi belum ada kesepakatan tentang keseluruhan bangsa Indonesia itu, batas yang membedakan bangsa Indonesia dari yang bukan bangsa Indonesia. Hasil pilihan menunjukan bahwa 39 suara dari 66 suara anggota memilih konsepsi yang didasarkan atas “Indonesia Raya” meskipun telah disesuaikan dengan kenyataan yang bersangkutan; 19 suara memilih Hindia Belanda dahulu, dan 6 suara lain memilih Hindia Belanda dahulu ditambah Semenanjung Malaya, dikurangi Papua. Maka, Ketua Sidang, Dr Radjiman Wediodiningrat, mengumumkan keputusan rapat bahwa yang akan menjadi wilayah negara yang akan dinyatakan merdeka adalah : Hindia Belanda dahulu, ditambah dengan Malaya, Borneo Utara, Papua, Timor Portugis dan pulau-pulau sekitarnya. Itulah keputusan para pemimpin gerakan kebangsaan kita lebih sedikit dari sebulan sebelum tanggal 17 Agustus 1945. ( Harsya W Bachtiar : 2002, hlm. 39 – 41 ) Soekarno berpulang terlalu cepat lima tahun pada tahun 1970, untuk menyaksikan suatu perubahan mendasar dari apa yang dikatakannya tahun 1928, ketika Indonesia melakukan invasi besar-besar ke Timor Timur pada malam Natal 24 Desember 1975. Pada tahun 1928, Soekarno terlalu muda untuk paham seluk-beluk bahwa “nasionalisme menyerangnyerang “ bukan milik Barat dan bukan pula milik Timur, akan tetapi suatu yang tertanam dalam diri “kebangsaan negara“ – sebagai akibat eksesif suatu “negara-bangsa>’ Ketika Indonesia mengambil alih Timor Leste, inilah Indonesia hasil proklamasi
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

21

Peter Kasenda Soekarno-Hatta sendiri-hanya 30 tahun setelah proklamasi, 1975, dan setengah abad setelah pembelaan nasionalisme Indonesia yang dikutip di atas ditulis. Presiden Soeharto berulang kali mengatakan “Indonesia tidak punya ambisi terotorial di Timor Timur karena Timor Timur terlalu miskin untuk memenuhi ambisi territorial itu. Malah yang ada hanyalah beban. Pertanyaannya untuk apa dan mengapa darah yang ditumpahkan itu – 100.000 – 200.000 orang Timor Timur yang dibunuh dan puluhan ribu prajurit Indonesia yang tewas dan sebagian kini masih hidup dalam tubuh cacat seumur hidupnya.? Mengapa menerima nasib dipermalukan oleh Timor Timur yang miskin itu ? Dalam suatu refenendum bulan Agustus 1999 dengan telak bangsa miskin itu menolak “rasa hidupnya sebagai satu bukti “ yang ditawarkan Indonesia - negara besar dan kaya raya yang kepulauannya tidak lain dari “untaian ratna mutumatikam“. Untuk apa menahan malu di depan pasukan internasional penjaga perdamaian, International Peace Keeping Forces,yang dikepalai negeri Kangguru untuk menggusur Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. ( Daniel Dhakidae : 2002 , hlm. xxxix – xliv ) Proyek “Indonesia Raya“ yang kosmopolitan yang pelaksanaannya hanya mungkin kalu didukung oleh rezim otoriter. Namun, dalam perjalanannya, sebagaimana telah dikemukakan bahwa komplikasi berbelit-belit di baliknya. Soekarno tidak mungkin mengejar mimpi-mimpi Indonesia Raya tanpa Jepang demi kemerdekaan, dan kelak Uni Soviet yang membangun stadion untuk proyek Gonefo, dan membangun Angkatan Laut untuk merebut Papua. Demikian pun Orde Baru tidak mungkin mengejar proyek Indonesia Raya tanpa dukungan Amerika Serikat yang terlibat dalam dan demi Perang Dingin harus mendukung Indonesia dalam politik ekspansif demi suatu politik mengepung, containment, karena setelah bebas dari Portugis, Timor Lorosae, demikian propaganda kosong, akan masuk ke dalam cengkraman Uni Soviet sebagai Timor Lorosae komunis. ( Daniel Dhakidae : 2008 , hlm. 91 – 92 ) Namun, selain faktor eksternal, kembalinya konsep Indonesia Raya ke titik nol itu bukan karena ambisi dan cita-cita Indonesia Raya menghilang, akan tetapi faktor internal ketika desakan politik dalam negeri yang tidak memungkinkan mengejar cita-cita tersebut, protes masyarakat warga di dalam yang menolak peran militer di luar proporsi, dan terakhir kesiapan sumber daya alam dan insani yang tidak memadai. Bila dilihat kebih jauh, maka semuanya lebih menjadi gejala dari sesuatu yang jauh lebih penting di baliknya, yaitu hancurnya fasisme militer dan imperialisme Jepang, kejatuhan otoritarianisme Demokrasi Terpimpin, dan runtuhnya neofasisme Orde Baru dengan ambisi territorial yang tidak terkendali dengan militer sebagai pendukung utamanya. ( Daniel Dhakidae : 2008 , 78 )

Penutup
Indonesia adalah salah satu negara-bangsa di dunia yang paling beragam. Negara kepulauan yang tersebar di dunia ini terdiri dari lebih 16.354 pulau besar dan kecil ,
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

22

Peter Kasenda terentang dari timur sampai barat dengan jarak lebih dari 5 ribu kilometer, terbentang di tiga wilayah waktu. Berpenduduk lebih dari 220 juta, Indonesia menjadi negara keempat terbanyak penduduknya di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Keragaman itu paling tampak pada kenyataan bahwa di Indonesia terdapat lebih dari 200 etnis yang berbeda, dengan ratusan bahasa daerah yang masing-masing berbeda pula perbendaharaan katanya. Tingkat ekonomi pun begitu beragam : dari Indonesia bagian Barat hingga Indonesia bagian Timur. Indonesia tampak seperti sebuah perahu besar yang “penumpang”-nya begitu beragam. Perahu besar inilah yang selama sekurangnya satu dekade terakhir ini tampak seperti limbung, bocor di sana sini, dan mengarungi samudera sejarahnya seperti tanpa arah. Negara dan pemerintah sepertinya telah menjadi begitu lemah sehingga tak mampu memberi kesejahteraan dan keamanan kepada warganya. Isu-isu tentang tercerai berainya negara Indonesia menjadi salah satu “hantu” yang membayangani bangsa Indonesia. Bukan saja Timor Timur, Aceh, dan Papua yang memang sudah ada gerakan serius pemisahan diri, tetapi juga dari daerah-daerah lain, terutama dari daerah-daerah yang sumber daya alamnya dikeruk tapi memberikan hasilnya hanya sedikit bagi daerah tersebut. Konflik kekearasan antaretnik dan yang bernuansa antara-agama juga seperti merebak, merengut ribuan nyawa dan ratusan ribu pengungsi. Negara–bangsa lain seperti tampa terus-menerus mencetak prestasi yang memberikan harga diri bagi setiap warganya. Malaysia, China, India, Korea Selatan, dan lain-lain – seperti bergairah melaju ke masa depan, bangsa Indonesia seperti memulai sejarahnya dari awal kembali. Rasa pesimistik serta persepsi negatif terhadap bangsa sendiri seperti telah menyebar. Tidak banyak saat-saat ketika bangsa ini merasa menjadi satu dalam rasa kebersamaan dan tujuan. Selain menghadapi masalah-masalah internal, Indonesia, seperti halnya negara-negara lainnya, menghadapi tantangan globalisasi. Nasib bangsa Indonesia, seperti halnya lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tidak banyak lagi murid-murid sekolah yang hafal luar kepala naskah lagu kebangsaan “Indonesia Raya“ Pada upacara bendera yang diselengarakan di sekolah, kita selalu melihat muridmurid saling bercanda ketika menyanyikan lagu kebangsaan. Bila mendengar lagu kebangsaan, tidak banyak pula warga masyarakat kita yang langsung bediri kearah sumber suara itu dan memberi penghormatan Mengapa kita yang baru 62 tahun merdeka sudah seolah-olah darah yang tumpah dan nyawa yang dikorbankan untuk merebut kemerdekaan itu ? Bukanlah demi sebuah bangsa, seseorang rela mengorbankan dirinya. Ratusan ribu patriot-patriort Indonesia melakukan perbuatan terhormat itu. Seperti kata Ernest Renan, yang sering dikutip oleh Soekarno dalam tulisan dan pidatonya. Sebuah bangsa adalah produk dari ikhtiar, pengorbanan, dan dedikasi yang lama. Sebuah bangsa memiliki kejayaan masa lalu yang sama, kehendak bersama di saat inil juga melakukan hal-hal yang besar lagi bersama. Sebuah bangsa adalah solidaritas agung yang terbentuk dari pengorbanan yang telah dilakukan serta keinginan melakukannya lagi. Sebuah bangsa memperbaharui dirinya sendiri kini dengan tindakan nyata ; kesetujuan, hasrat untuk melanjurtkan secara bersama-sama.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

23

Peter Kasenda Betapapun pendiri bangsa mencoba memberikan justifikasi terhadap keniscayaan keberadaan Indonesia, termasuk dengan mengaitkannya dengan “sejarah emas“ masa lampau sampai zaman Srwijaya dan Majapahit, bangsa dan Indonesia adalah suatu “ciptaan“. Indonesia bukan sebuah konsep warisan yang telah selesai, tetap dan ada untuk selama-lamanya., melainkan sesuatu yang secara terus-menerus harus dicari, dibangun, diinterprestasikan, dan diimijinasikan.Indonesia bukan kata benda melainkan sebuah kata benda, bukan sebuah “ada“ melainkan sebuah “mengada“. bukan sesuatu yang “direproduksi“ selamanya melainkan “diproduksi“ secara terus-menerus, bukan bukan sesuatu yang didapat untuk dilestarikan, melainkan sesuatu yang terus-menerus harus diperjuangkan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

24

Peter Kasenda

Bibliografi Bachtiar, Harsya W.” Integrasi Nasional Indonesia, “ dalam Indra J Pilliang et al (ed) . Merumuskan Kembali Kebangsaan Indonesia. Jakarta : CSIS, hlm. 14 – 55 . Carey, Peter ,” Mitos, Pahlawan dan Perang,” dalam Colin Wild dan Peter Carey (ed). 1986. Gelora Api Revolusi. Sebuah Antalogi Sejarah. Jakarta : Gramedia, 1986, hlm. 7 – 14. Dhakidae, Daniel.” Memahami Rasa Kebangsaan dan Menyimak Bangsa Sebagai Komunitas-komunitas Terbayang,” dalam Benedict Anderson. 2002. Imagined Communities . Komunitas-Komunitas Terbayang . Yogyakarta : Insit Dhakidae, Daniel,” Meninggalkan Indonesia Raya dan Menemukan Kembali Indonesia-Dalam,” dalam Komaruddin Hidayat dan Putut Widjanarko. (ed) 2008. Reinventing Indonesia. Menemukan Kembali Mada Depan Bangsa , hlm. 59 – 97. Elson, R.E.2008. The Idea of Indonesia. Sejarah Pemikiran dan Gagasan Jakarta : Serambi. Hatta, Mohammad. 1980. Nama Indonesia. Jakarta : Yayasan Idayu. Ingelson, John. 1983. Jalan Ke Pengasingan . Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927 1934. Jakarta : LP3ES. Nagazumi, Akira .” Indonesia” dan “ Orang-Orang Indonesia” Semantik dalam Politik. “ dalam S Ichimura dan Koentjaraningrat (ed) . 1976. Indonesia Masalah dan Persitiwa Bunga Rampai. Jakarta ; Gramdia. hlm. 1 – 25 . Noer, Deliar,” Yamin dan Hamka. Dua Jalan Menuju Identitas Indonesia,” dalam Anthony Reid & David Marr (ed). Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka, Indonesia dan Masa Lalu. Jakarta : Grafitipers, hlm. 37 – 52. Sularto, St. 1983. ” Wage Rudolf Supratman Menunggu Pelurusan Sejarah ,” Prisma, No. 5, Mei 1983, Tahun XII, Hlm. 76 – 88. Widjanarko, Putut,” Indonesia : Sebuah Bangsa yang Tak Pernah Sudah ?,”
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

25

Peter Kasenda Komaruddin Hidayat dan Putut Widjanarko (ed) .2008. Reinventing Indonesia . Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa. Bandung : Mizan, hlm. 99 – 129. Winarno, Bondan. 2003. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya . TSA Komunika. Zudhi, Susanto. 2006. Persepektif Tanah-Air Dalam Sejarah Indonesia . Jakarta : Pidato Pengukungan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

26

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->