P. 1
Peristiwa PRRI Permesta

Peristiwa PRRI Permesta

|Views: 8,190|Likes:
Published by Peter Kasenda
Dari serangkaian pergolakan daerah yang meletus dalam dekade 1950, Persitiwa PRRI/Permesta adalah paling serius dan terbesar, baik dalam skala waktunya, maupun pihak-pihak yang terlibat di dalamnya dan barangkali juga kebrutalan dan korban yang ditimbulkan Persitiwa PRRI/Permesta, sebagaimana yang ditunjukkan dalam studi terbaru mengenai masa-masa Pancaroba ini, tidak hanya melibatkan pelbagai kekuatan pada tatanan nasional (Presiden Soekarno, partai-partai politik, militer dan daerah lain) tetapi juga internasional (CIA) dan tentu saja kelompok masyarakat lokal itu sendiri, khususnya kelompok militernya dan kaum politisi beserta rakyatnya ( Mestika Zed, 1999 : 101)

Peristiwa PRRI/Permesta di Indonesia yang mula-mula menjadi berita menyolok pada bulan Desember 1956 dan memuncak dalam pemberontakan PRRI/Permesta dari tahun 1958-1961, adalah salah satu dari berbagai pertentangan yang saling berhubungan yang lahir dari kekecewaan terhadap demokrasi parlementer, dan yang mempercepat berakhirnya. Kekecewaan itu didasarkan atas suatu rasa ketidaksenangan yang luas terhadap struktur negara yang ada, yang secara luas dikritik sebagai birokratis, tidak efisien, dan korup. Harapan dan semangat yang dibangkitkan dalam revolusi 1945-1949 ternyata sukar dipertahankan begitu kemerdekaan diperoleh. Tak satu pun dari tujuh kabinet – yang berusia singkat – dari periode 1949-1957 yang kelihatan mampu menyelenggarakan kegiatan pemerintah, baik dalam menumbuhkan semangat maupun administrasi.

Kedua-duanya menjemukan atau tak berdaya guna. Tiadanya kesepakatan tentang nilai-nilai fundamental mempertajam pertentangan-pertentangan mengenai filsafat dan struktur negara. Pertentangan-pertentangan ini berlangsung antarkelompok dan antarperorangan yang mempunyai berbagai pandangan tentang cara mengenai watak dasar negara itu sendiri : struktur lembaga-lembaga pemerintahan pusat dan daerah serta hubungan antar keduanya “pernyataan yang tegas tentang kontrol nasional atas ekonomi: peranan partai-partai politik dan tentara dan kedudukan Islam serta komunisme dalam negara.

Disebabkan perbedaan sifat-sifat ekonomi, kultur, dan sosial di Jawa dan pulau-pulau luar Jawa, semua persoalan ini mempunyai dimensi kedaerahan dan nada tambahan kesukuan. Suatu penilaian atas perbedaan-perbedaan ini penting sekali untuk suatu pemahaman mengenai pertentangan-pertentangan kepentingan, yang melatarbelakang ketegangan yang meningkat antara daerah-daerah terpencil dan pemerintah pusat. Dengan begitu perbedaan yang besar antara pola-pola sosio-ekonomis di Jawa dan di pulau luar Jawa akan digambar secara singkat.

Jawa, tempat kerajaan-kerajaan purbakala berkebudayaan agraria persawahan merupakan sasaran yang lebih besar bagi pengaruh kebudayaan India dan penetrasi kolonialisme Belanda dibanding dengan pulau-pulau lain. Islam sudah bercampur menjadi satu ke dalam jaringan kepercayaan yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pusat daerah dari kesukuan Jawa, namun tetap merupakan suatu kekuatan yang mampu memecah-mecah masyarakat pedesaan Jawa Barat, yang secara etnis adalah Sunda dan kuat keislamannya merupakan salah satu dari bagian-bagian pulau itu pertama sekali jatuh kebawah kekuasaan Belanda. Disebabkan sifat-sifat sosio-ekonomi yang membedakannya dari bagian lain pulau itu Jawa Barat sering dinyatakan sebagai “Tanah Seberang”. Tetapi letak geografinya yang di Jawa, dan posisinya sebagai daerah perbatasan ibukota, membuat Jawa Barat dalam istilah politik sering disamakan dengan pusat daripada dengan daerah.
Dari serangkaian pergolakan daerah yang meletus dalam dekade 1950, Persitiwa PRRI/Permesta adalah paling serius dan terbesar, baik dalam skala waktunya, maupun pihak-pihak yang terlibat di dalamnya dan barangkali juga kebrutalan dan korban yang ditimbulkan Persitiwa PRRI/Permesta, sebagaimana yang ditunjukkan dalam studi terbaru mengenai masa-masa Pancaroba ini, tidak hanya melibatkan pelbagai kekuatan pada tatanan nasional (Presiden Soekarno, partai-partai politik, militer dan daerah lain) tetapi juga internasional (CIA) dan tentu saja kelompok masyarakat lokal itu sendiri, khususnya kelompok militernya dan kaum politisi beserta rakyatnya ( Mestika Zed, 1999 : 101)

Peristiwa PRRI/Permesta di Indonesia yang mula-mula menjadi berita menyolok pada bulan Desember 1956 dan memuncak dalam pemberontakan PRRI/Permesta dari tahun 1958-1961, adalah salah satu dari berbagai pertentangan yang saling berhubungan yang lahir dari kekecewaan terhadap demokrasi parlementer, dan yang mempercepat berakhirnya. Kekecewaan itu didasarkan atas suatu rasa ketidaksenangan yang luas terhadap struktur negara yang ada, yang secara luas dikritik sebagai birokratis, tidak efisien, dan korup. Harapan dan semangat yang dibangkitkan dalam revolusi 1945-1949 ternyata sukar dipertahankan begitu kemerdekaan diperoleh. Tak satu pun dari tujuh kabinet – yang berusia singkat – dari periode 1949-1957 yang kelihatan mampu menyelenggarakan kegiatan pemerintah, baik dalam menumbuhkan semangat maupun administrasi.

Kedua-duanya menjemukan atau tak berdaya guna. Tiadanya kesepakatan tentang nilai-nilai fundamental mempertajam pertentangan-pertentangan mengenai filsafat dan struktur negara. Pertentangan-pertentangan ini berlangsung antarkelompok dan antarperorangan yang mempunyai berbagai pandangan tentang cara mengenai watak dasar negara itu sendiri : struktur lembaga-lembaga pemerintahan pusat dan daerah serta hubungan antar keduanya “pernyataan yang tegas tentang kontrol nasional atas ekonomi: peranan partai-partai politik dan tentara dan kedudukan Islam serta komunisme dalam negara.

Disebabkan perbedaan sifat-sifat ekonomi, kultur, dan sosial di Jawa dan pulau-pulau luar Jawa, semua persoalan ini mempunyai dimensi kedaerahan dan nada tambahan kesukuan. Suatu penilaian atas perbedaan-perbedaan ini penting sekali untuk suatu pemahaman mengenai pertentangan-pertentangan kepentingan, yang melatarbelakang ketegangan yang meningkat antara daerah-daerah terpencil dan pemerintah pusat. Dengan begitu perbedaan yang besar antara pola-pola sosio-ekonomis di Jawa dan di pulau luar Jawa akan digambar secara singkat.

Jawa, tempat kerajaan-kerajaan purbakala berkebudayaan agraria persawahan merupakan sasaran yang lebih besar bagi pengaruh kebudayaan India dan penetrasi kolonialisme Belanda dibanding dengan pulau-pulau lain. Islam sudah bercampur menjadi satu ke dalam jaringan kepercayaan yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pusat daerah dari kesukuan Jawa, namun tetap merupakan suatu kekuatan yang mampu memecah-mecah masyarakat pedesaan Jawa Barat, yang secara etnis adalah Sunda dan kuat keislamannya merupakan salah satu dari bagian-bagian pulau itu pertama sekali jatuh kebawah kekuasaan Belanda. Disebabkan sifat-sifat sosio-ekonomi yang membedakannya dari bagian lain pulau itu Jawa Barat sering dinyatakan sebagai “Tanah Seberang”. Tetapi letak geografinya yang di Jawa, dan posisinya sebagai daerah perbatasan ibukota, membuat Jawa Barat dalam istilah politik sering disamakan dengan pusat daripada dengan daerah.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

08/06/2015

Peristiwa PRRI/Permesta

Bersatu kita teguh, berpisah kita runtuh (Pepatah Yunani kuno)

Dari serangkaian pergolakan daerah yang meletus dalam dekade 1950, Persitiwa PRRI/Permesta adalah paling serius dan terbesar, baik dalam skala waktunya, maupun pihak-pihak yang terlibat di dalamnya dan barangkali juga kebrutalan dan korban yang ditimbulkan Persitiwa PRRI/Permesta, sebagaimana yang ditunjukkan dalam studi terbaru mengenai masa-masa Pancaroba ini, tidak hanya melibatkan pelbagai kekuatan pada tatanan nasional (Presiden Soekarno, partai-partai politik, militer dan daerah lain) tetapi juga internasional (CIA) dan tentu saja kelompok masyarakat lokal itu sendiri, khususnya kelompok militernya dan kaum politisi beserta rakyatnya ( Mestika Zed, 1999 : 101) Peristiwa PRRI/Permesta di Indonesia yang mula-mula menjadi berita menyolok pada bulan Desember 1956 dan memuncak dalam pemberontakan PRRI/Permesta dari tahun 1958-1961, adalah salah satu dari berbagai pertentangan yang saling berhubungan yang lahir dari kekecewaan terhadap demokrasi parlementer, dan yang mempercepat berakhirnya. Kekecewaan itu didasarkan atas suatu rasa ketidaksenangan yang luas terhadap struktur negara yang ada, yang secara luas dikritik sebagai birokratis, tidak efisien, dan korup. Harapan dan semangat yang dibangkitkan dalam revolusi 1945-1949 ternyata sukar dipertahankan begitu kemerdekaan diperoleh. Tak satu pun dari tujuh kabinet – yang berusia singkat – dari periode 1949-1957 yang kelihatan mampu menyelenggarakan kegiatan pemerintah, baik dalam menumbuhkan semangat maupun administrasi. Kedua-duanya menjemukan atau tak berdaya guna. Tiadanya kesepakatan tentang nilainilai fundamental mempertajam pertentangan-pertentangan mengenai filsafat dan struktur negara. Pertentangan-pertentangan ini berlangsung antarkelompok dan antarperorangan yang mempunyai berbagai pandangan tentang cara mengenai watak dasar negara itu sendiri : struktur lembaga-lembaga pemerintahan pusat dan daerah serta hubungan antar keduanya “pernyataan yang tegas tentang kontrol nasional atas ekonomi: peranan partaipartai politik dan tentara dan kedudukan Islam serta komunisme dalam negara. Disebabkan perbedaan sifat-sifat ekonomi, kultur, dan sosial di Jawa dan pulau-pulau luar Jawa, semua persoalan ini mempunyai dimensi kedaerahan dan nada tambahan kesukuan. Suatu penilaian atas perbedaan-perbedaan ini penting sekali untuk suatu pemahaman mengenai pertentangan-pertentangan kepentingan, yang melatarbelakang ketegangan yang meningkat antara daerah-daerah terpencil dan pemerintah pusat. Dengan begitu perbedaan yang besar antara pola-pola sosio-ekonomis di Jawa dan di pulau luar Jawa akan digambar secara singkat.

1

Jawa, tempat kerajaan-kerajaan purbakala berkebudayaan agraria persawahan merupakan sasaran yang lebih besar bagi pengaruh kebudayaan India dan penetrasi kolonialisme Belanda dibanding dengan pulau-pulau lain. Islam sudah bercampur menjadi satu ke dalam jaringan kepercayaan yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pusat daerah dari kesukuan Jawa, namun tetap merupakan suatu kekuatan yang mampu memecah-mecah masyarakat pedesaan Jawa Barat, yang secara etnis adalah Sunda dan kuat keislamannya merupakan salah satu dari bagian-bagian pulau itu pertama sekali jatuh kebawah kekuasaan Belanda. Disebabkan sifat-sifat sosio-ekonomi yang membedakannya dari bagian lain pulau itu Jawa Barat sering dinyatakan sebagai “Tanah Seberang”. Tetapi letak geografinya yang di Jawa, dan posisinya sebagai daerah perbatasan ibukota, membuat Jawa Barat dalam istilah politik sering disamakan dengan pusat daripada dengan daerah. Pola-pola di pulau-pulau luar Jawa lebih bermacam-macam, sekalipun dua kecenderungan pokok bisa ditandai – kerajaan-kerajaan perdagangan di pesisir dan kelompok-kelompok suku di pedalaman yang lahan pertaniannya berpindah-pindah. Pada umumnya rakyat yang lebih cenderung pada perdagangan di wilayah pesisir bersedia menerima Islam dan pembaharu-pembaharu modernnya pada awal abad kedua puluh. Penduduk yang paling terpencil di daerah pegunungan pedalaman pada umumnya meneruskan mengikuti kepercayaan-kepercayaan nenek moyang mereka, sekalipun sebagian sudah di tarik ke dalam agama Kristen selama masa penjajahan. Perluasan kekuatan kolonial Belanda pada pergantian abad ini diikuti pengembangan hasil bumi ekspor seperti karet, kopi, kopra, dan hasil industri tambang terutama minyak dan timah, di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Sekitar tahun 1925 bagian terbesar ekspor Hindia Belanda berasal dari pulau-pulau luar Jawa dan keruntuhan pasaran seberang laut untuk gula dari Jawa dalam depresi pada tahun 1930-an memperbesar ketidakseimbangan ini. Selanjutnya, dengan pertumbuhan penduduknya, Jawa tidak lagi mempunyai cukup beras untuk dibagikan ke pulau-pulau luar Jawa, dan hubungan ekonomi antar pusat dan bagian sebelah luar Indonesia melemah. Jawa, pusat penduduk dan pusat pemerintahan menjadi konsumen pokok barang-barang impor. Hubungan-hubungan pusat daerah di Indonesia menjadi muskil oleh kenyataan bahwa pusat itu berkedudukan di, dan sering disamakan dengan Pulau Jawa, pulau yang terdapat penduduknya dari pulau-pulau di Indonesia dan tempat tinggal tinggal suku bangsa Jawa, yang jumlahnya dominan. Kira-kira dua pertiga penduduk bertempat tinggal di Jawa, dan kira-kira separuh dari rakyat Indonesia adalah dari suku Jawa. Tetapi dalam hal ini terpaut hal-hal yang lebih dari sekedar masalah demografi. Tradisi-tradisi politik suku Jawa sangat dipengaruhi konsepsi Hindu tentang negara dan kekuasaan, yakni bahwa negeri ditentukan oleh pusatnya. Negara dipandang sebagai suatu rangkaian konsentris : kekuasaan yang sangat ketat di pusat menjadi semakin lemah di daerah-daerah pimggiran kerajaan sekutu sampai tempat-tempat yang berada di luar jangkauan kekuasaan pemerintah pusat. Suatu konsepsi yang lebih sederhana dalam tradisi yang sama membagi dunia ini atas Jawa dan Seberang – daerah di seberang laut, suatu pandangan yang tercermin dalam penggunaan tetap dan terminologi Jawa dan pulau-pulau luar Jawa. Sesungguhnya ada kesan, sukar bagi seorang orang Jawa untuk memahami rakyat dari

2

Seberang sebagai sekutu yang sederajat dalam negara Indonesia. Dari pihak lain, mereka para wiraswastaan yang giat, pedagang dan peladang dari pulau-pulau luar Jawa hidup dalam suatu dunia yang nilai-nilai kebudayaan dan sosialnya mereka memberi sedikit sekali pengertian atau simpati terhadap orang Jawa. Mereka hanya mengenal orang Jawa sebagai bangsawan berbudi halus, yang menguasai birokrasi sipil, atau sebaliknya sebagai petani-petani melarat yang dikirim sebagai kaum transmigran untuk membuka tanah baru atau untuk bekerja di perkebunan-perkebunan. Perkembangan-perkembangan selama bagian akhir pemerintah kolonial dan pendudukan Jepang mempertinggi kedudukan Pulau Jawa sebagai pusat politik Indonesia : pemusatan lembaga-lembaga pendidikan lanjutan dan tinggi perkembangan pergerakan nasional, pertumbuhan baru dari industri barang jadi, dan politisasi yang mendalam selama pendudukan Jepang (1942-1945) dan revolusi nasional (1945-1949) Dengan begitu, sebagian warisan kolonial Indonesia adalah ketidakseimbangan struktural antara Jawa, yang secara politis dominan tetapi yang secara ekonomi lemah, dan pulau-pulau luar Jawa, secara politis terbatas tapi secara ekonomi kuat. Ketidakseimbangan ini adalah faktor yang gawat dalam hubungan–hubungan antara pusat dan daerah dan mempersulit usaha-usaha menyelesaikan krisis nasional tahun 1956 – 1957 ( Barbara Sillars Harvey, 1984 : 9 – 12 ) Dengan berakhirnya perjuangan yang panjang dan sukar untuk kemerdekaan, kebanyakan rakyat percaya perbaikan keadilan sosial dan ekonomi yang akan cepat datang. Selama tahun-tahun permulaan kemerdekaan perkembangan ke arah ini telah terjadi dan yang terpenting ialah bidang pendidikan, sementara masyarakat Indonesia setidak-tidaknya telah lebih mengenal persamaan derajat daripada di zaman kolonial. Namun tingkat kemajuan jauh daripada yang diharapkan, dan kekecewaan serta frustasi Namun, tingkat kemajuan jauh dari yang diharapkan dan kekecewaan serta frustasi semakin meningkatkan kecenderungan yang dapat dimengerti untuk menyalahkan pemerintahan pusat di Jakarta yang langkah-langkahnya tidak memadai untuk memenuhi harapan yang telah tumbuh selama revolusi.

3

Selama beberapa tahun di Jawa maupun di pulau-pulau luar Jawa, kekecewaan pada pemerintah pusat dilunakkan oleh luasnya kepercayaan bahwa pemilihan umum demokratis secara nasional yang pertama – akhirnya baru dilaksanakan pada 19551956 – dapat diharapkan menghasilkan suatu pemerintahan yang sungguh-sungguh mencerminkan perwakilan rakyat yang mau mengambil dan mampu melaksanakan tindakan-tindakan yang menentukan dan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan sosial dan ekonomi. Tetapi, dalam kenyataannya, pemilihan-pemilihan itu hanya membawa sedikit perubahan keanggotaan kabinet sebagian besar serupa partai-partai politik tidak lagi bersedia bekerja sama dengan sesamanya, dan kemampuan pemerintah untuk memainkan keadilan sosial dan ekonomi tidak lebih besar daripada sebelumnya. Sekali hal ini menjadi jelas, ketidaksenangan dan kritik pada pemerintah pusat tidak lagi terkekang sehingga disuarakan dan ditunjukan lebih berani. Hal ini terutama terjadi di daerah-daerah yang kesadaran politiknya tinggi, seperti Sumatera dan Sulawesi, yang merasa diabaikan dan dibedakan oleh apa yang mereka anggap sebagai suatu kasta pimpinan nasional yang semakin Jawa sentries di Jawa. ( George Mc T Kahin, 1984 ; 1 – 2 ) Mulai bulan Mei 1956 sebagai protes terhadap pemerintah pusat, terjadi penyelundupanpenyelundupan dan perdagangan barter di luar Jawa, terutama di daerah Minahasa, Makasar, dan Sumatera Utara. Penyelundupan itu dilakukan atas inisiatif dan perlindungan para penguasa militer setempat, yaitu masing-masing oleh Letnan Kolonel Worang, Letnan Kolonel Andi Mattalata – keduanya di bawah kekuasaan Panglima Militer Indonesia Timur Kolonel JF Warouw, sebelum diganti oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual di kemudian hari – dan Kolonel M Simbolon. Kejadian ini sebetulnya sudah sejak masa Kabinet Ali Sastroamidjojo pertama (1933 – 1955) yang mesentralisir lebih ketat prosedur perdagangan. Kemudian pada masa Pemerintahan Burhanuddin Harahap, kebijakan Pemerintah itu diperlonggar, sehingga penyelundupan dapat berkurang banyak – atas inisiatif Menteri Keuangan Soemitro Djojohadikusumo pada waktu itu. Akan tetapi pada pertengahan tahun 1956 ini, hal itu berulang kembali dengan semakin hebat dan semakin berani terhadap pemegang kekuasaan yang sama dengan tahun 1953-1955. Panglima Militer di daerah-daerah itu memberikan alasan terbuka, bahwa hanya dengan jalan penyelundupan daerah-daerah itu akan dapat mendapatkan dana yang diperlukan untuk kesejahteraan daerahnya, para prajurit, dan operasi-operasi militer. Pada bulan Juli 1956, penyelundupan itu dilakukan dengan hebatnya sehingga Pemerintah Pusat semakin merasa dirugikan. KSAD AH Nasution memerlukan datang langsung menyaksikan hal itu di Minahasa pada pertengahan bulan Juli 1956, yaitu pada awal Juli terjadi penyelundupan besar-besaran di Teluk Nibung di bawah Komando Kolonel M Simbolon. Namun demikian, Markas Besar Angkatan Darat tidak bisa melakukan tindakan apa-apa yang berarti ; juga Pemerintah. Kejadian di daerah tersebut, terutama di Sumatera, tidak lepas dari perkembangan politik militer. Dalam satu hal, kejadian itu merupakan kelanjutan akibat kebijakan pemerintah Ali Sastroamidjojo – pertama yang ditentang di daerah-daerah, dan di dalam segi lain, hal itu bersangkutan dengan adanya kenyataan bahwa kesatuan TNI yang tercapai pada bulan Juni 1955, telah mulai retak kembali.

4

Mulai bulan Agustus 1956, KSAD AH Nasution akan melaksanakan program pergeseran di antara para komandan territorium, yaitu sebagai realisasi daripada rencana yang dibuatnya pada bulan Februari sesuai dengan Program Yogyakarta. Tanggal 14 Agustus, akan dilakukan pergantian komandan territorium Jawa Barat dari Kolonel AE Kawilarang oleh Letnan Kolonel D Suprajogi ; antara tanggal 23 – 26 Agustus akan dilaksanakan penyerahan jabatan komandan teritorium Indonesia Timur dari Kolonel JF Warouw kepada Letnan Kolonel H.N. Ventje Sumual ; dan Zulkifli Lubis sebagai komandan teritorium Sumatra Utara ; sedangkan jabatan Zulkifli Lubis sebagai Deputi KSAD akan diserahkan kepada Kolonel Gatot Subroto antara 14 – 20 Agustus. Tetapi program AH Nasution itu ditentang oleh perwira-perwira yang bersangkutan, terutama yang posisi politik mereka tergeser yang justru mereka merasa telah bersama-sama berhasil menghadapi tantangan di bulan Juni, 1955.

Daerah Bergolak
Pada tanggal 13 Agustus, atas perintah Deputi KSAD Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel A.E. Kawilarang menahan Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani, dengan tuduhan terlibat di dalam perkara korupsi yang dilakukan Lek Hok Tay (Direktur sebuah Perusahaan Negara). Tetapi atas usaha Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo bersama KSAD AH Nasution, penangkapan atas diri Roeslan Abdulgani itu digagalkan. Tindakan Perdana Menteri dan KSAD ini mendapat reaksi besar dari berbagai pihak terutama dari kalangan TNI sendiri. Tanggal 14 Agustus, Kolonel Zulkifli Lubis menyatakan, bahwa Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan KSAD AH Nasution telah membantu dan melindungi kejahatan dengan meloloskan Roeslan Abdulgani dari penangkapan. Kolonel JF Warouw menyatakan mendukung tindakan AE Kawilarang dan Zulkifli Lubis. Tetapi pada tanggal 14 Agustus itu Kolonel AE Kawilarang telah diganti oleh D Soeprajogi, dan tanggal 20 Agustus, Zulkifli Lubis telah diganti oleh Gatot Subroto sebagai Deputi KSAD. Dengan demikian KSAD AH Nasution dapat menguasai daerah Jakarta khususnya. Sementara itu, untuk menghindarkan jatuhnya wibawa keseluruhan Kabinet, sebuah Panitia Kecil yang dibentuk guna keperluan itu menyatakan (sesudah Roeslan Abdulgani kembali dari London), bahwa berdasarkan bukti yang didapat tidak ada alasan untuk menghukum Roeslan Abdulgani. Tetapi sekalipun demikian usaha Pemerintah, dengan dibebaskannya Roeslan Abdulgani dari tuduhan korupsi, tidak berarti bahwa kalangan perwira TNI yang sudah menjadikan “anti korupsi “ sebagai issu pokok guna menjatuhkan Kabinet Ali Sastroamidjojo telah menganggap selesai persoalannya. Ada pendapat bahwa penangkapan atas diri Roeslan Abdulgani itu merupakan kata pengantar daripada usaha untuk suatu kudeta yang besar dugaannya dikendalikan oleh Kolonel Zulkifli Lubis. Awal September tersiar kabar, bahwa Zulkifli Lubis yang telah mempunyai pendukung cukup besar di Jawa Barat terutama, merencanakan akan menggantikan AH Nasution dan menggantikan Kabinet yang kemudian akan diganti dengan suatu kabinet baru di bawah pengawasan suatu dewan militer, yang akan dilakukannya dengan senjata sebelum Presiden Soekarno tiba dari RRC pada tanggal 16 Oktober. Pada tanggal 11 Oktober dan 16 November, bergerak dua kelompok tentara pro Zulkifli Lubis masing-masing dari Cirebon dan Bandung, semuanya menuju Jakarta.

5

Tetapi digagalkan oleh pasukan pro Nasution. Kemudian Nasution bertindak dengan menangkap beberapa perwira serta mengganti beberapa komandan Distrik Militer di sekitar Jakarta yang pro-Zulkifli Lubis. Pada tanggal 28 November, Kabinet memecat Zulkifli Lubis dari jabatannya, dengan alasan telah mempersiapkan serta melakukan tindakan yang menjurus kepada suatu kudeta. Walaupun perintah penangkapan atas diri Kolonel Zulkifli Lubis secara resmi dikeluarkan, tetapi Zulkifli Lubis (yang diduga berada di Jakarta) tidak pernah tertangkap. Bahkan Kolonel Zulkifli Lubis kemudian mengeluarkan serangkaian surat terbuka melalui pers yang menyatakan, bahwa dia tidak mencoba melakukan kudeta, dan bahwa dia bersedia memenuhi panggilan perngusa bila suatu “kabinet ahli” telah dibentuk di bawah pimpinan Moh Hatta dan Hamengku Buwono IX. Sementara itu, persoalan Lie Hok Tay ramai kembali diperkarakan sehubungan dengan peranan Menteri Roeslan Abdulgani, Mochtar Lubis, penanggung jawab harian “Indonesia Raya”, diajukan ke pengadilan sehubungan dengan pemberitaan tentang korupsi yang disangkut-pautkan dengan Menteri Roeslan Abdulgani, yang justru oleh Pemerintah. Roeslan Abdulgani telah dinyatakan tidak bersalah. Secara dramatis sekali, Mochtar Lubis mengajukan dokumen, yang diambil dengan Photostats, yang menunjukkan Roeslan Abdulgani menerima sejumlah uang dollar tanpa mengindahkan peraturan pemerintah dan menerima sejumlah harta benda. Kabinet segera membela diri, bahwa Panitia Kecil (yang diketuai Mr Mohammad Roem) dahulu tidak mengetahui bukti-bukti yang ada pada Mochtar Lubis sewaktu mengambil keputusan tentang Roeslan Abdulgani Akhirnya persoalan itu diserahkan kepada Mahkamah Agung. Selain kejadian ini, Dewan Pengawas Keuangan pada bulan Oktober mengeluarkan suatu pernyataan, bahwa beberapa Menteri tidak memberikan laporan tentang jumlah pemakaian uang sekitar jutaan rupiah. Pada bulan Desember, 1956, pretise Kabinet mulai menurun semakin bebas, dan sejak Januari 1957, Kabinet Ali Sastroamidjojo terus-menerus mendapatkan kritikan dan sorotan tajam sekali. Kejadian di Jakarta semuanya telah mendorong daerah-daerah di luar Jawa untuk memperhebat tekanan-tekanannya. Sekalipun sebenarnya pada bulan –bulan Mei-Juli keadaan kegawatan daerah sudah berkurang, dan keadaan kritis di Jakarta telah berhasil dikuasai, namun oleh karena di daerah-daerah itu dengan adanya peristiwa di Jakarta telah menyebabkan vacuum of power di situ, maka sejak November 1956, terjadilah gelombang kedua gerakan daerah menentang kebijakan Pemerintah Pusat dengan komandan-komandan Militer setempat sebagai promotornya. Gerakan di daerah-daerah ini diperhebat dengan perasaan sukuisme yang menganggap Pemerintah Pusat hanya dipegang orang-orang Jawa serta mementingkan kesejahteraan Jawa belaka, yang dalam hal ini Mayor Jendral AH Nasution telah dicap sebagai alat orang Jawa Soekarno dan Ali Sastroamdjojo. ( Yahya A Muhamin, 1982 : 84 – 88 ) Dalam bulan November orang-orang bekas anggota Divisi Banteng di Sumatra Barat, yang telah dibubarkan, mengadakan reuni di Padang yang menuntut diadakannya perbaikan yang radikal “di semua bidang, terutama dalam pimpinan Angkatan Darat dan juga dalam pimpinan Negara”. Pertemuan itu membentuk sebuah Dewan Banteng yang diketuai oleh Letnan Kolonel Ahmad Hussein, komandan resimen Sumatra Barat, untuk

6

mendesak pelaksanaan tuntutan-tuntutan itu. Pada tanggal 20 November Hussein mengumumkan bahwa dia telah mengambil alih tanggung jawab pemerintahan untuk Sumatra Tengah (yang meliputi kresidenan-kresidenan Sumatra Barat, Riau dan Jambi), “sebagai pelaksanaan keputusan Dewan Banteng “, Untuk selanjutnya, Sumatra Tengah akan mengekspor langsung produk-produknya tanpa campurtangan Jakarta. Tetapi tindakan itu hendaknya jangan dilihat sebagai satu usaha untuk memisahkan diri dari Republik. Tindakan itu dimaksudkan untuk memaksa pemerintah pusat agar mau memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada masalah di daerah-daerah itu. Dua hari kemudian, Kolonel M Simbolon mengambil pemerintahan sipil di Sumatra Utara, dan memberlakukan keadaan darurat di provinsi itu. Empatpuluh delapan perwira yang menduduki jabatan puncak di dalam komandonya, dalam pertemuan mereka pada tanggal 16 Desember berikrar “ untuk mengambil langkah-langkah yang tegas dan revolusioner untuk merealisasikan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 1945 dan menugaskan M Simbolon untuk melaksanakan keputusan mereka itu. Dalam sebuah pesan radio M Simbolon menjelaskan bahwa dia telah memutuskan hubungan antara propinsi itu dan Jakarta sampai terbentuknya sebuah kabinet yang dipimpin oleh orang– orang “yang jujur dan mempunyai integritas“, Panglima Kalimantan, Kolonel Abimanju mengikuti langkah itu dengan memerintahkan penangkapan atas semua menteri, pejabat pemerintah, dan anggota-anggota parlemen yang memasuki daerah yang berada dibawah komandonya. Oleh karena Sumatra Barat berdiri sepenuhnya di belakang Dewan Banteng maka penerintah pusat terpaksa harus berunding dengan Achmad Hussein. Tetapi dalam, kasus Sumatera Utara, Keragaman etnik dan agama di provinsi itu dapat dimanfaatkan untuk melemahkan kedudukan M Simbolon. Dalam beberapa hari saja Letnan Kolonel Djamin Ginting, seorang Batak Karo, atas perintah dari Jakarta mengambil alih komando di Medan dan memaksa M Simbolon untuk mengundurkan diri ke kresidenan Tapanuli yang dikuasai oleh pasukan-pasukan Batak Toba yang loyal kepadanya. Daerah berikutnya yang membakang terhadap pemerintah pusat adalah Sumatra Selatan. Di sana, pada tanggal 13 Januari 1957, Dewan Revolusi Garuda, di bawah pimpinan Penjabat Panglima, Barlian, mengambil alih kekuasaan de facto atas provinsi itu. ( Ulf Sundhaussen, 1986 : 186 – 187 )

7

Pada waktu yang bersamaan, pada bulan Desember Mohammad Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden setelah pengumuman pengunduran dirinya setahun yang lalu, dan demikian mengakhiri kepemimpinan Dwi-Tunggal, suatu bentuk kerja sama antara dirinya dan Soekarno yang menjadi lambang persatuan Indonesia, persatuan Jawa dan Sumatera, persatuan antara pembangunan bangsa dan pengelolaan negara Pengunduran diri ini memberi petunjuk adanya krisis dalam yang lebih berat dari apa pun juga yang sedang dihadapi negeri ini. ( John D Legge, 1985: 310 ) Dengan demikian maka pada awal 1957 praktis seluruh Sumatera, kecuali Medan, melakukan pemberontakan secara terang-terangan terhadap kabinet Ali. Tetapi, tokoh-tokoh politik yang mewakili kepentingan non-Jawa bukannya bersatu di belakang Perdana Menteri, malahan mulai mempersoalkan cara-cara yang digunakan Ali Sastroamidjojo untuk mengatasi krisis di daerah-daerah. Mereka terutama bersikap kritis terhadap kebijaksanaan pemerintah di Sumatra Utara yang tidak menunjukkan adanya kesediaan dalam prinsip untuk memecahkan masalah yang mendasari rasa tidak puas daerah itu melainkan hanya merupakan suatu pengulangan di daerah itu melainkan hanya dari kebijaksanaan yang disangsikan kebaikannya untuk mengadu domba periwira-perwira tentara. Pada tanggal 26 Desember PKI menarik kembali dukungannya kepada kabinet dan menuntut pembentukan sebuah zaken kabinet di bawah Moh. Hatta. Sikap ini didukung oleh Masyumi yang pada tanggal 9 Januari 1957 keluar dari koalisi, kemudian disusul oleh Perti, sebuah partai Islam yang kecil dan berpusat di Sumatera. Ali juga tidak dapat mengandalkan dukungan yang kuat dari Presiden Soekarno yang sudah bersikap kritis terhadap sistem demokrasi parlementer. Dia telah membuka sidang parlemen hasil pemilihan dalam bulan Maret dengan seruan untuk meninggalkan sistem demokrasi liberal Barat di mana “ 50 persen tambah satu selalu benar” sebagai gantinya Indonesia hendaknya mempraktekkan “demokrasi Indonesia yang sejati” demokrasi dengan pimpinan, berdasarkan nilai-nilai gotong royong yang tradisional. Pada tanggal 21 Februari 1957, ketika berbicara di hadapan 900 tokoh partai, dia mengemukakan konsepsi yang sudah sering disebut-sebutnya, suatu rumusan untuk menyelesaikan krisis kewibawaan yang sedang dihadapi. Yang diperlukan adalah sebuah pemerintah yang terdiri dari semua partai besar, termasuk PKI. Kabinet harus dibantu oleh sebuah Dewan Nasional yang dia pimpin sendiri dan yang mencakup wakil-wakil dari golongan-golongan fungsional seperti buruh, tani, cendikiawan, dan sebagainya, utusan-utusan dari berbagai golongan agama dan dari daerah-daerah, serta anggota-anggota ex-officio seperti menteri-menteri yang penting, pimpinan angkatan perang dan kepala kepolisian. Usul-usulnya itu setidaktidaknya dianggap sebagai suatu pernyataan tidak percaya secara tidak langsung terhadap kabinet Ali Sastroamidjojo. Sebaliknya, konsepsinya itu juga tidak merupakan suatu dukungan bagi kaum pembakang di daerah-daerah. Malahan, dengan menganjurkan diikutsertakan PKI dalam pemerintah, konsepsi itu menjadi tak dapat diterima sama sekali oleh daerah-daerah di luar Jawa.

8

Seperti sudah dapat diduga semula, Masyumi menolak konsepsi itu yang hanya mendapat dukungan penuh dari partai-partai Jawa abangan Dengan situasi seperti itu AH Nasution menahan diri untuk mengeluarkan pernyataanpernyataan anti-pemerintah dan berusaha untuk mencapai pengertian dengan kaum pembakang di Sumatera. Dia mengangkat seorang bekas perwira Divisi Banteng, Kolonel Dahlan Djambek, sebagai wakilnya yang ketiga, dan berusaha membatasi pembicaraan mengenai masalah-masalah intern Angkatan Darat hanya dalam rapat-rapat staf saja. Tetapi dia juga menginstruksikan agar para perwira tidak lagi mengadakan reuni-reuni atau pertemuan kecuali dengan persetujuan terlebih dulu dari Markas Besar. Pada tanggal 2 Maret, Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia bagian Timur, Letnan Kolonel Ventje Sumual, menyatakan wilayahnya dalam keadaan darurat perang dan mengangkat dirinya sebagai penguasa perang di wilayah itu. Dalam waktu yang bersamaan, kepala stafnya, Letkol Saleh Lahade. Seorang Bugis dari Sulawesi Selatan, melalui Radio Makasar, membacakan naskah “Piagam Perjuangan Permesta” yang telah disepakati oleh para perwira puncak di wilayah itu, tokohtokoh politik setempat, dan pemimpin-pemimpin pemuda Indonesia bagian Timur. Seperti halnya dengan pernyataan-pernyataan yang telah dikeluarkan oleh kaum pembakang di Sumatera dua setengah bulan sebelumnya, Piagam Makassar itu menyatakan bahwa pendukung-pendukungnya adalah patriot-patriot Indonesia, orang-orang yang berusaha untuk menghidupkan kembali jiwa Proklamasi Kemerdekaan 1945. Piagam itu menuntut agar keempat provinsi yang termasuk dalam TT VII ( Sulawesi Selatan-Tenggara, Sulawesi Utara-Tengah, Maluku dan Kepulauan Sunda Kecil ) diberi otonomi keuangan yang luas. Kredit-kredit, devisa, dan dana-dana rampasan perang dari Jepang harus dibagikan secara merata di antara propinsi-propinsi tanpa membedakan banyaknya penduduk. Jabatan-jabatan di daerah harus diisi orang jujur dan cakap dan yang “mencintai daerah” bersangkutan. Pada tingkat nasional, sentralisme harus dihapuskan karena sistem itu telah menimbulkan korupsi dan stagnasi di daerah-daerah. Tigapuluh persen dari anggota Dewan Nasional yang telah diusulkan itu hendaknya terdiri dari wakil daerah-daerah, dan badan itu sendiri pada akhirnya harus menjadi suatu “Majelis Tinggi “ dengan fungsi sebuah Senat di samping parlemen. Kabinet harus berstruktur presidential, dan langkah-langkah harus diambil agar kabinet itu dapat bekerja setidak-tidaknya, untuk masa lima tahun. Kabinet atau Dewan Nasional harus dipimpin oleh Dwitunggal SoekarnoHatta. Dan akhirnya, pimpinan Angkatan Darat harus segera diganti dan diserahkan kepada perwira-perwira angkatan muda sesuai dengan prinsip yang telah digariskan dalam Piagam Yogyakarta. Pernyataan ini hendaknya dilihat sebagai tanggapan yang langsung atas konsepsi Presiden Soekarno. Gagasan-gagasan Soekarno itu juga telah menyebabkan makin kuatnya tekad kaum pembakangan di Sumatera untuk tidak mengalah terhadap pemimpin–pemimpin politik di Jakarta. Selain itu, pada tanggal 11 Maret NU

9

menyatakan dukungannya kepada usaha untuk mengembalikan Mohammad Hatta ke dalam kedudukan utama dalam pemerintah. Perkembangan-perkembangan itu merupakan pukulan maut bagi kabinet Ali. Satroamidjojo Sejak beberapa bulan kabinet itu berjalan tertatih-tatih dengan dukungan yang semakin berkurang. Pada tanggal 14 Maret Ali Sastroamidjojo menyampaikan permintaan berhenti. Pada hari yang sama dia sempat memberlakukan keadaan perang dan darurat perang di seluruh negeri. Soekarno, yang terkejut atas tanggapan yang negatif yang diberikan kepada konsepsinya dan golongan Islam bersama-sama mungkin pada akhirnya akan berhasil mengembalikan Mohammad Hatta ke kedudukan yang berkuasa, menyetujui gagasan untuk mengumumkan keadaan darurat oleh karena krisis yang melanda negeri ini telah mencapai tingkat yang sedemikian rupa sehingga harus diambil tindakan yang menentukan. Usul untuk memberlakukan keadaan perang dan darurat perang di seluruh negeri berasal dari Nasution yang telah sampai kepada kesimpulan, bahwa tindakan itu akan memperkuat pemerintah pusat yang sudah menjadi sangat lemah dan mengalami demoralisasi itu dengan jalan memaksa pemimpin-pemimpin militer dan politik yang selama itu bersikap sebagai penonton untuk menyatakan loyalitas mereka. Pada tanggal 15 Maret, Presiden Soekarno menunjuk Ketua Umum PNI, Suwiryo, sebagai formatur kabinet yang akan berlandaskan dalam parlemen. Tetapi partai-partai telah begitu terpecah soal apakah Mohammad Hatta harus diangkat sebagai perdana menteri, sehingga Suwiryo tidak berhasil menghimpun dukungan mayoritas dalam parlemen. Sekarang Soekarno, menugaskan untuk membentuk sebuah zaken kabinet, tapi Suwiryo gagal lagi. Maka pada tanggal 14 April Presiden menunjuk dirinya, “warganegara Soekarno”, untuk membentuk sebuah kabinet darurat ekstra parlementer. Kabinet Karya itu tidak berlandaskan partai tapi mengikutsertakan para pemimpin dari banyak partai yang diwakili dalam parlemen. Masyumi dan Partai Katolik tidak diwakili dalam kabinet itu karena mereka menolak untuk ambil bagian dalam suatu pemerintahan ekstra konstitusional seperti itu. Yang tidak mengherankan adalah bahwa PSI tidak pernah dipertimbangkan untuk diikutsertakan dalam Kabinet Karya itu, sementara PKI mengingat adanya tekanan-tekanan dari kalangan Muslim dan non-Jawa, hanya diwakili oleh seorang anggota dari front petaninya, BTI. Kabinet itu dipimpin oleh Djuanda Kartawidjaja, tokoh politik Sunda kawakan, yang telah duduk hampir semua kabinet sejak 1945, dan ikut dalam pemilihan umum sebagai calon dari partai Sunda yang kecil. Walaupun secara pribadi Djuanda tak pernah dekat dengan Soekarno dia sejak dulu mendapat kepercayaan presiden. Dia juga merangkap sebagai menteri pertahanan. Satu hal yang baru adalah diikutsertakannya dua perwira, yakni Kolonel Dr. Azis Saleh sebagai Menteri Kesehatan dan secara formalnya mewakili IPKI, dan Kolonel AL Nazir sebagai Menteri Pelayaran. Subandrio, seorang dokter dan diplomat karir, diangkat sebagai Menteri Luar Negeri, dan Chaerul Saleh, seorang pengikut dari mendiang Tan Malaka, mendapat kementerian Urusan Veteran. Program Kabinet Karya antara lain meliputi “normalisasi politik di dalam negeri dan peningkatan pembangunan ekonomi. ( Ulf Sundhaussen, 1986 : 186 – 191 )

Campur Tangan Asing
10

Dalam jangka waktu satu tahun gerakan daerah sudah menjadi pemberontakan daerah. Upaya perdamaian dan perundingan sudah gagal. Mungkin kekerasaanlah satu-satunya langkah keluar dari jalan buntu antara eksponen otonomi daerah dan penganjur perluasaan kekuasan pusat sebagai pemecahan problem Indonesia. Namun, keterlibatan luar negeri membuat kekerasaan tidak terelakan. Di sinilah subversi imperialisme yang dimotori oleh Amerika Serikat tampak dalam karakter yang sebenarnya. Tawaran senjata dan pengakuan luar negeri yang menggoda – memberikan semangat kepada kaum pemberontak untuk mengajukan tuntutan-tuntutan, yang mestinya diketahi bahwa tuntutan tersebut tidak akan diterima pemerintah mana pun. Bantuan luar negeri membuat pertempuran sebagai suatu alternatif yang masuk akal daripada aib yang akan menimpa mereka seandainya melepaskan tuntutan-tuntutan keras dari janji-janji muluk dewan-dewan daerah dan piagam-piagamnya. Sejumlah pemberontakan dapat secara naïf mengharapkan bahwa ancaman campur tangan kekuatan asing akan membuat pemerintah menjadi takut akan mengalah. Namun, yang terjadi malahan ancaman itu telah mendorong pemerintah mengambil tindakan-tindakan menentukan dan cepat yang wajar. Jadi, jalan buntu sudah tembus. Pemerintah maklum dan bersimpati dengan tujuan gerakan Permesta, hanya saja jalan yang ditempuh untuk melaksanakannya tidak dapat disetujui. Ini tidak hanya dilakukan pemerintah sipil, tetapi juga pemimpin tentara. Kendati AH Nasution dengan cepat mengambil tindakan membubarkan TT-VII dan membebaskan Ventje Sumual dari kedudukan komandan, perundingan tentang penugasannya pada masa depan berlangsung terus, setidak-tidaknya sampai akhir 1957. Sekarang, kaum pemberontak cenderung menunding Peristiwa Cikini (percobaan pembunuhan atas Presiden Soekarno di Perguruan Cikini – Jakarta Pisat, tempat putraputri Soekarno bersekolah) sebagai biang keladi yang menghapuskan kemungkinan penyelesaian damai terhadap krisis daerah. Namun, sudah sejak bulan September 1957 ada tanda-tanda kemungkinan pemerintah Amerika Serikat akan membantu gerakan antikomunis di Indonesia dan ada kontak-kontak pribadi antara agen-agen pemerintah Amerika Serikat dan setidak-tidaknya beberapa di antara kolonel pembakang. Selama November dan Desember 1957, cukup banyak persenjataan modern buatan Amerika Serikat masuk yang dibiayai oleh Amerika Serikat, diangkat ke pelabuhanpelabhuan yang dikuasai pemberontak dengan menggunakan kapal-kapal barang swasta ke daerah pesisir dengan menggunakan kapal-kapal selam Amerika Serikat. Pengiriman yang paling berhasil mengelabui inteljen pemerintah pusat di Jakarta adalah pengangkatan berton-ton senjata dan amunisi yang dilakukan oleh kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat pada malam hari ke pelabuhan kecil di Paiman yang terletak sekitar 35 mil di selatan Padang. Kapal selam itu juga digunakan untuk membawa sejumlah tentara Ahmad Husen untuk mendapat pelatihan khusus dalam bidang perhubungan dan persenjataan di fasilitas-fasilitas militer Amerika Serikat di Okinawa, Saipan, dan mungkin juga di Guam.

11

Tampaknya tidak sampai Januari 1958 pengiriman senjata mulai dilakukan tanpa sembunyi-sembunyi dijatuhkan dari udara menggunakan pesawat terbang yang bertolak dari Filipina, Taiwan, Thailand, dan Malaysia – ada yang langsung dan ada yang melalui pelabuhan udara Changi di Singapura. Semua bantuan itu, sesuai tahap pertama intervensi Amerika serikat yang telah disetujui, ditujukan untuk membangun kekuatan militer bagi para pemimpin militer yang memberontak di Sumatra dan Sulawesi. Namun, Amerika Serikat membutuhkan banyak waktu untuk memutuskan tentang intervensi langsung dan memberi perlindungan udara kepada para pemberontak, serta menyiapkan elemen-elemen Angkatan Laut untuk dikerahkan kalau dibutuhkan. Pada 7 Desember 1957 beberapa kesatuan Angkatan Laut telah disiapkan agar dalam waktu empat jam bergerak dari Filipina ke perairan Indonesia. Satuan tugas yang dipimpin oleh kapal penjelajah Princenton berkumpul di Teluk Subic, lalu berlayar ke arah selatan dengan membawa elemen-elemen dari Divisi Marinir II dan sedikitnya 20 helikopter ( Audrey R Kahin dan George Mc T Kahin, 1997: 151 – 153 ) Sepanjang Januari dan awal Februari para pemimpin politik di Jakarta berusaha membujuk para pemberontak untuk merundingkan kompromi damai di samping memanfaatkan ancaman pemberontakan untuk memaksa pemerintah menerima sebagian dari tuntutan daerah. Moh Hatta dan pemimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI), Sutan Sjahrir, juga mengirim utusan kepada para pemimpin sipil maupun militer yang membangkang untuk mencegah konfrontasi. Namun, para pemimpin militer dan Soemitro Djojohadikusumo tampaknya memutuskan untuk melakukan konfrontasi dengan pemerintah pusat. Tampaknya, para pemberontak merasa dukungan luar negeri akan menjamin keberhasilan mereka. Perhitungan itu memperjelas keengganan para pemberontak menyelesaikan masalah melalui kompromi dan desakan untuk mengambil langkahlangkah ke arah konfrontasi terhadap pemerintah pusat yang oleh para pendukung sipil dianggap tidak perlu dan bersifat provokatif ( Audrey R Kahin dan George Mc T Kahin, 1997 : 171 – 172 )

Genderang Perang
Pada 15 Februari 1958, setelah berakhirnya waktu lima hari yang ditetapkan dalam ultimatum, Letnan Kolonel Ahmad Husein melalui Radio Bukittinggi mengumumkan pembentukan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) untuk menjalankan pemerintahan hingga terbentuknya kabinet yang dipimpin oleh Moh Hatta dan Hamengku Buwono IX. Apabila dalam waktu tertentu tanpa jelas Presiden Soekarno tidak kembali pada posisi konsitusionalnya dan mengangkat Mohammad Hatta dan Sultan sebagai pemimpin Kabinet yang baru, maka para pemimpin PRRI akan menganggap diri mereka terlepas dari kewajiban mentaati Presiden Soekarno sebagai kepala negara.( Audrey R Kahin dan George Mc T Kahin, 1997 : 178 – 189) Majalah Time memberitakan bahwa tidak kurang dari 40.000 pasukan dan rakyat sipil hadir ketika Ahmad Husein memproklamasikan suatu pemerintahan revolusioner dengan kedaulatan penuh atas seluruh Indonesia . ( Baskara T Wardaya, 2008 : 176 )

12

Setelah berbulan-bulan melakukan manuver, baik para pemberontak maupun pemerintah pusat di Jakarta mengambil tindakan yang menentukan. Dalam waktu lima hari mereka menempati posisi masing-masing dan tidak dapat mundur lagi. Para pemimpin pemberontakan sesungguhnya telah meningkatlkan perlawanannya ke arah revolusi dengan membentuk pemerintahan tandingan. Dengan membawa pengakuan nasional maupun internasional sebagai pemerintah yang sah di seluruh Indonesia, konfrontasi langsung dengan Presiden Soekarno itu menutup semua kemungkinan kompromi karena sekembalinya dari luar negeri pada 16 Februari Presiden Soekarno harus memilih melepaskan jabatannya atau menghimpun kekuatan untuk melawan para penentangnya ( Audrey R Kahin dan George Mc T Kahin, 1997 : 178 – 189 ) Keesokan harinya, setelah Presiden Soekarno kembali ke tanah air, Kabinet Djuanda Kartawidjaja mengeluarkan perintah penangkapan para pemimpin sipil PRRI ( Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, dan Soemitro Dojohadikusumo) dan menuntut agar para anggota Kabinet di bawah mereka (Mohammad Sjafei, Saladin Sarumpaet, dan Abdul Gani Usman) serta anggota-anggota Permesta ( JF Warouw, Saleh Lahade, dan Muchtar Lintang) menyatakan secara terbuka loyalitas mereka kepada pemerintah di Jakarta. Para pemimpin Permesta memberikan jawaban dengan mengeluarkan pernyataan solidaritas kepada PRRI dan sehari kemudian Mayor Somba dari Manado dengan resmi menyatakan dukungan penuh Permesta kepada PRRI dan pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat. Sebagai jawaban, AH Nasution langsung memecat Ventje Sumual, Daniel Somba, dan Kepala Staf Dolf Runturambi dengan tidak hormat dan mengeluarkan perintah penangkapan mereka serta para pemimpin Pemersta lainnya ( Audrey R Kahin dan George Mc T Kahin , 1997 : 186 – 218 ) Tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan Ventje Sumual sebagai pemimpin pemberontakan di Sulawesi – waktu itu Sumual sedang berkunjung ke luar negeri untuk mencari dukungan bagi Pemersta – tanggal 17 Febriari 1958, komandan Wilayah Militer Sulawesi Utara dan Tengah, Daniel Somba mengumumkan dukungan kepada PRRI dan pemisahan diri dari Pemerintahan Pusat. Pengumuman tersebut pada gilirannya, menjadikan Permesta bagian dari deklarasi pemisahan diri PRRI dari Jakarta, dan dengan begitu Permesta praktis menjadi “sayap timur PRRI” ( Baskara T Wardaya,2008 : 176 ) Untuk mengatasi pemberontakan itu, Pemerintah Pusat berketetapan hati untuk mengambil tindakan militer, walaupun banyak pemimpin politik menganjurkan pemerintah agar menghindari penggunaan kekerasaan. Demikianlah, satu minggu setelah pembentukan PRRI, pemerintah telah menyerang pemancar radio PRRI di Padang dan Bukitinggi. Akan tetapi penyerbuan secara besar-besaran terhadap Padang tidak dilakukan sampai pertengahan April. Sebelum menguasai Padang, pemerintah ingin terlebih dahulu menguasai Riau untuk memutuskan hubungan PRRI dengan luar negeri. Setelah Riau dikuasai dengan baik, barulah serangan-serangan dipusatkan terhadap basis PRRI di Sumatra Barat.

13

Rekasi terhadap tindakan militer yang diambil oleh Jakarta terhadap PRRI segera muncul di Medan. Seiring dengan jatuhnya Pekan Baru ke tangan pasukan pemerintah, Mayor Boyke Nainggolan mengambil alih kekuasaan di Medan. Pada dini hari itu, 16 Maret, Nainggolan melancarkan apa yang dinamakannya Operasi Sabang–Merauke (OSM). Dengan dukungan pasukan dari beberapa battalion setempat. OSM menguasai Medan selama satu hari dan mempersenjatai sejumlah pemuda sebagai pasukan bantuan Setelah itu Nainggolan beserta pasukannya dipukul mundur dari Medan ke Tapanuli dan perbatasan Sumatra Timur-Aceh. Kegagalan OSM merupakan suatu pukulan juga buat PRRI, karena di samping berarti tercerai berrainya pendukung di Sumatra Utara, kegagalan ini membawa akibat terpusatkannya kembali operasi militer pemerintah terhadap PRRI. Operasi-operasi militer yang ketat yang dilancarkan oleh pemerintah telah menyebabkan sebagian kekuatan militer PRRI menyerahkan diri atau bergabung dengan pasukan pemerintah. Kemudian ditambah dengan ketidakmampuan unit-unit militernya untuk berhadapan dengan pasukan pemerintah, maka genaplah alasan bagi merosotnya perlawanan PRRI dan tantangan secara frontal ke dalam bentuk gerilya menjelang akhir 1958 ( Nazaruddin Sjamsuddin , 1989 : 63 – 64 ) Tanda bahwa pemerintah pusat akan menghadapi proiklamasi pemerintahan pemberontakan itu dengan kekerasaan adalah pengeboman Padang dan Manado pada tanggal 21 dan 22 Februari. Walaupun konflik itu sudah berlangsung selama setahun lebih pengeboman terhadap Manadolah yang menyakinkan penduduk biasa di Minahasa dan Sulawesi Utara bahwa peperangan itu betul-betul, Akibat pertama pengemboman di sana itu adalah dukungan di belakang pemimpin Permesta terpadu dan persekutuan natara cabang pemberontakan di Sumatra dan di Sulawesi bertambah erat. Kini sulit bagi rakyat Sulawesi Utara untuk mengatakan bahwa mereka mendukung permesta bukan PRRI, sebagaimana sementara orang cenderung melakukannya sesudah ultimatum atau proklamasi dan sebelum pengeboman itu. Pokok persoalan kini menjadi lebih jelas yakni berada di pihak daerah atau di pihak pusat. Sementara itu, pendukung Permesta yang tidak mengharapkan timbulnya bentrokan bersenjata, tidak bersedia mendukung tuntutan otonomi daerah dengan menggunakan kekerasaan dan dengan diam-diam menarik dukungan mereka. Karena pemerintah pusat mempergunakan kekerasaan, sebagian besar rakyat makin mendukung pemimpin Permesta dan keputusan mereka untuk menentang Jakarta.

Sejumlah perwira Minahasa dan pejabat-pejabat sipil di bagian-bagian lain dari Indonesia dan di luar negeri bergabung dengan pemberontakan ini karena tidak setuju pengeboman Manado. Pengeboman Manado itu mempercepat keputusan dua perwira TNI yang paling senior asal Minahasa Kolonel A.E. Kaliwarang, atase militer di Washington DC, dan Kolonel J.F Warouw, atase militer di Beijing, untuk pulang dari luar negeri dan bergabung dengan orang-orang sedaerah mereka. J.F. Warouw, yang dekat dengan Presiden Soekarno sejak revolusi berkobar, pada awal Februari bertemu dengan Presiden Soekarno di Tokyo sebagai perantara untuk para kolonel yang memberontak itu. Sekalipun sebelumnya telah diberitahu akan didudukan dalam kabinet pemerintah PRRI,

14

ia rupanya kurang berminat turut serta dalam pemberontakan. AE Kawilarang yang tanpa sepengetahuan dan persetujuannya terlebih dahulu dijadikan Panglima Tertinggi PRRI, menolak kedudukan itu sekalipun dia bergabung dengan kekompok Permesta di Minahasa.( Barbara Slilars Harvey , 1984 : 150) Suatu misteri yang masih perlu diungkap adalah tentang siapa perwira Angkatan Udara yang memerintahkan pemboman sasaran-sasaran di daerah Sumatera Barat dan Di Manado tanggal 21 Februari 1958, yang secara de facto telah mengentikan sama sekali upaya penyelesaian secara damai dari masalah daerah-daerah bergolak itu. Pada saat itu Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja mengumumkan bahwa tindakan pemerintah terhadap pemberontakan terutama akan berbentuk blokade ekonomi, walaupun kemungkinan adanya pertempuran tidak tertutup sama sekali. Sarjana Amerika Serikat, Daniel Lev menduga bahwa pemboman itu dilakukan tanpa sepengetahuan Djuanda. AH Nasution juga menjelaskan bahwa pemboman itu dilakukan tanpa sepengetahuannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Besar kemungkinan aksi militer tersebut dilancarkan Angkatan Udara setelah Presiden Soekarno mengeluarkan pendapatnya pada hari itu untuk melakukan tindakan yang dratis dengan segala kekuatan yang dimiliki. Dengan demikian, upaya pengungkapan perlu diarahkan kepada oknum-oknum Angkatan Udara yang beraliran radikal, yang mendukung sikap politik PNI dan PKI terhadap PRRI/Permesta. ( Saafroedin Bahar, 1999 : 42 ) Pertengahan bulan Mei, Gorontalo telah direbut kembali dengan bantuan kesatuankesatuan gerilya di bawah pimpinan tokoh PNI, Nani Wartabone, yang pernah dikalahkan di kota tersebut oleh pasukan Permesta pada tanggal 17 Maret (Barbara Sillars Harvey, 1984: 150). Pada 8 Juni Angkatan Laut mulai menembaki Manado. Sementara itu, Angkatan Udara ikut serta menyerang Pelabuan Udara Mapanget di Manado, Tondao, Tomohon pada tanggal 11 dan 13 Juni mulai mendarat di sebelah utara Manado. Pada 16 Juni dilakukan pendaratan secara besar-besaran di Kema, di sebelah selatan Bitung. Pasukan Permesta – sebagian besar terdiri dari Komando Pasukan Permesta – mengadakan perlawanan dengan sengit dan pasukan pemerintah membutuhkan waktu sepuluh hari untuk maju bertempur sejauh 25 km, melalui jalan raya yang baik, dari Kema ke Manado. Pada 21 dan 24 Juni didaratkan pasukan-pasukan tambahan di sebelah utara kota Manado. JF Warouw, sebagai Wakil Perdana Menteri PRRI, memerintahkan agar orang mengungsi dari kota. Menjelang 26 Juni Manado diduduki pasukan pemerintah dari Komando Merdeka di bawah pimpinan Letnan Kolonel Rukminto Hendradiningrat dari Divisi Brawijaya juga ada beberapa kesatuan dari Divisi-divisi Diponogoro, Siliwangi dan Hasanuddin. Pada 11 Juli 1958 pemerintah sipil sementara dibentuk untuk Manado dan Minahasa di bawah pimpinan Kapten Bett Supit, dan pada 19 Juli E.A. Kandouw, seorang pemimpin PNI diangkat menjadi sekretaris pemerintahan militer ini. Pada 23 September E,A. Kandouw diangkat menjadi pejabat Kepala Daerah Minahasa dan JP Mangula diangkat menjadi pejabat Walikota Manado. Jatuhnya Manado mempunyai pengaruh politis dan psikologi yang lebih besar daripada pengaruh militer karena kekuataan militer Permesta belum dipatahkan dan sudah dibuat

15

rencana untuk mundur ke pangkalan-pangkalan gerilya. Namun, pertempuran yang terjadi di jalan raya menuju Manado itu telah menunjukkan bahwa kaum muda yang pemberani dalam pertempuran di bawah panji Permesta itu adalah prajurit-prajurit yang hampir tidak terlatih. Jika terus dipergunakan dalam pertempuran frontal, banyak dari mereka akan jatuh menjadi korban dan perbekalan amunisi segera habis. Pasukan Permesta mundur ke Tomohon, tempat perencanaan pembendungan kemajuan pasukan pemerintah pusat Banyak kesatuan yang sebagian besar terdiri dari anak muda yang kembali ke kampung halamannya untuk bersiap-siap mengadakan perang gerilya. Namun, tidak semua prakarsa ada di tangan pasukan pemerintah karena pada 14 Agustus pasukan Permesta menyerang Pineleng, bekas markas besar mereka yang terletak di pinggiran kota Manado. ( Barbara Sillars Harvey, 1984 : 138 – 182 ) Setelah operasi-operasi militer terhadap kaum pemberontak dimulai, Soekarno, yang tidak berbuat apa-apa untuk membantu menyelesaikan krisis kedaerahan itu, sekarang mengambil sikap keras terhadap kaum pemberontak, dengan dukungan yang lantang dari PKI. Sebaliknya, AH Nasution tetap membuka pintu bagi kaum pemberontak untuk : “ kembali ke pangkuan Republik.” Yang merupakan ciri khas di pihak AH Nasution maupun para perwira PRRI di Sumatra adalah bahwa kedua pihak tidak sungguh-sungguh ingin membinasakan lawannya. Demikianlah maka pada permulaannya kaum pemberontak mengosongkan posisi-posisi mereka setelah memberikan perlawanan yang tidak berarti karena tidak sampai hati menembaki sesama orang Indonesia. Walaupun sebelumnya mereka telah menerima banyak senjata dari luar negeri mereka tidak menduga bahwa mereka benar-benar harus bertempur. Perhitungan mereka adalah bahwa mereka benar-benar harus mencekik pemerintah pusat di bidang ekonomi dengan jalan mencegahnya memperoleh pendapatan ekspor yang vital dari daerah-daerah di luar Jawa. Baru setelah Presiden Soekarno, orang yang berasal dari Jawa itu, dan golongan Kiri, meningkatkan agitasi mereka terhadap PRRI, kaum pemberontak di Minahasa agak berbeda. Sejak semula mereka sudah betekad untuk melawan, karena serangan Angkatan Udara terhadap Manado telah menimbulkan terlalu banyak korban manusia dan kerugian harta benda. Yang sangat penting artinya adalah sikap Jawa Barat dan Divisi Siliwangi. Seandainya orang-orang Sunda dan sebagian saja dari perwira-perwira Siliwangi memihak PRRI, pemerintah pusat akan berada dalam kedudukan yang sangat sulit. Kemungkinan bahwa orang-orang Sunda akan mendukung PRRI tidak terlalu kecil mengingat bahwa Jawa Barat tidak pernah bersedia menerima sepenuhnya hegemoni orang-orang Jawa. Sebuah Badan Musyawarah Sunda (BMS) yang dibentuk pada pertengahan 1955 adalah telah berusaha memobilisasikan orang-orang Sunda terhadap partai-partai yang didominasi orang-orang Jawa, tetapi waktunya sudah terlalu dekat dengan pemilihan untuk dapat mengorganisasi partai-partai Sunda yang efektif. Sebuah Front Pemuda Sunda (FPS), yang dipimpin para perwira Sunda yang masih muda, dalam 1956 mengencam “imperialisme Jawa “ dan menuduh Soekarno dan PNI sedang berusaha membina supremasi Jawa atas suku-suku lainnya.

16

Dalam menghadapi perwira-perwira yang tidak puas di Jawa Barat, AH Nasution menggunakan siasat yang berbeda-beda terhadap berbagai kelompok. Perwira-perwira Sunda ditangkap atau setidak-tidak dipecat, sementara perwira-perwira yang “condong pada PSI “ hanya dibebaskan dari komando pasukan dan diperintahkan untuk mengikuti pendidikan dan latihan. Rupa-rupanya D Soeprajogi telah membela mereka, dan Markas Besar agaknya telah menyadari potensi kelompok perwira-perwira ini bagi perjuangan politik melawan orang-orang komunis kelak. Yang lebih penting lagi adalah bahwa perwira-perwira itu, yang ikatan-ikatannya dengan PSI sejak dulu dilebih-lebihkan di kemudian hari sangat tidak setuju dengan pimpinan PSI mengenai cara mengevaluasi situasi politik. Sementara Sutan Sjahrir nantinya akan mencap kelompok Markas Besar Angkatan Darat sebagai sebuah “klik militer fasis yang dipimpin oleh Nasution :, menuduh AH Nasution bekerjasama dengan PKI, dan menyertakan “perlawanan yang efektif terhadap totaliterisme fasis-komunis “, perwira-perwira itu dengan mudah menerima baik jalan pikiran yang dikemukakan oleh salah seorang wakil AH Nasution, Kolonel Ahmad Yani, bahwa Markas Besar sama sekali tidak menyongkong PKI melainkan harus tetap berdiri di belakang Soekarno dan pemerintah pusat untuk mencegah disintegrasi Indonesia. Dan semakin kuat nantinya Angkatan Darat dalam upaya menyelamatkan Republik, akan semakin baiklah peluangnya untuk mencegah kaum komunis memperoleh kekuasaan. AH Nasution, dalam upayanya untuk merebut hati korps perwira Siliwangi, mengambil tindakan yang sekarang kelihatannya sangat riskan juga. Kaharuddin Nasution, juga seorang perwira Siliwangi, diberi tugas memimpin pasukan-pasukan yang didaratkan di Riau. Dan yang lebih penting lagi, pada tanggal 20 Februari 1958 D Soeprajogi yang tidak begitu popular di kalangan Divisi Siliwangi, digantikan oleh kepala stafnya, Kolonel R.A. Kosasih. Yang penting dari segi politik pada waktu itu adalah bahwa R.A. Kosasih itu adalah orang Sunda, satu-satunya orang Sunda yang pernah menjabat panglima Divisi Siliwangi. Dia telah menghadiri rapat-rapat Badan Musyawarah Sunda dan juga punya hubungan FPS. Tetapi karena dia tak ikut dalam aksi-aksi bulan November 1956 terhadap pemerintah pusat, AH Nasution berpendapat bahwa dia dapat mengambil resiko untuk menyerahkan pimpinan Divisi Siliwangi kepada seorang Sunda dengan demikian menarik divisi itu ke pihak Markas Besar. Boleh jadi AH Nasution tidak menyadari bagaimana tidak popularnya di kalangan Divisi Siliwangi aksi militer yang sedang dilancarkan terhadap kaum pemberontakan di daerah. Memang benar bahwa bagian terbesar dari perwira-perwira Siliwangi tidak dapat menyetujui pembentukan pemerintah pemberontakan di Sumatera. Tetapi menyeberangnya Kolonel AE Kawilarang yang masih sangat popular ke pihak pemberontak telah menambah keengganan divisi Siliwangi untuk memerangi sesama kawan. Menurut sebuah berita, divisi ini :menolak untuk mengirimkan pasukan guna memerangi PRRI” karena semua kesatuannya diperlukan untuk memerangi Darul Islam. Ini memang bukan sekedar basa-basi, Sesungguhnya, Territorium II di Jawa Barat dalam 1957 telah mencapai puncak kekuatannya dari segi jumlah anggota dan persenjataannya, dan divisi Siliwangi telah melancarkan sebuah operasi besar-besaran untuk menumpas kaum Muslim radikal itu. Dengan demikian maka Siliwangi hanya bersedia menyumbangkan satu saja dari ke-33 batalyon infanterinya untuk operasi anti-PRRI. Dan

17

meskipun hanya menyumbang satu pasukan yang kecil saja kepada “ekspedisi Jalkarta untuk menggempur daerah-daerah di luar Jawa “, unsur-unsur bukan Jawa dalam korps perwira Siliwangi merasa seperti sedang menghinati bangsa sendiri. Perwira-perwira itu, termasuk R.A. Kosasih, berkesimpulan bahwa demi kepentingan bukan saja suku suku bukan-Jawa melainkan seluruh bangsa, maka perang saudara itu harus segera diakhiri dengan cara apa pun. Tidak ada maksud pada mereka untuk menjatuhkan pemerintah pusat, Presiden Soekarno, ataupun AH Nasution, melainkan mereka hanya merencanakan suatu “pameran kekuatan“, termasuk gerakan pasukan ke Jakarta yang dimaksudkan untuk memaksa pemerintah untuk berunding dengan kaum pemberontak dan untuk dengan sungguh-sungguh memperhatikan keluhan-keluhan daerah. Semua komandan dari suku Sunda dan bukan–Jawa telah diberi penjelasan mengenai aksi-aksi yang hendak dilancarkan ketika R.A. Kosasih dipanggil ke istana Presiden di mana Soekarno berhasil membujuknya untuk tidak melaksanakan rencana-rencananya itu, agaknya dengan jalan meyakinkannya bahwa situasi sudah berkembang mencapai suatu tingkat yang tidak memungkinkan lagi diusahakannya rekonsiliasi politik. Dengan tidak adanya dukungan efektif dari Jawa Barat dan Divisi Siliwangi maka pemberontakan di daerah sudah dipastikan akan gagal begitu aksi-aksi militer mulai dilancarkan. Dalam perundingan-perundingan dengan kaum pemberontak, utusanutusannya juga menjelaskan bahwa Markas Besar Angkatan Darat sama antikomunisnya dengan kaum pemberontak sendiri hanya menempuh siasat lain untuk memerangi komunisme. M Simbolon dan Achmad Husein di Sumatera, dan AE Kawilarang serta JF Warouw di Sulawesi menyadari perlunya berdamai dengan AH Nasution, tapi mereka mendapat tantangan yang keras dari Dahlan Djambek dan Ventje Sumual. Menurut kabar, anak buah Ventje Sumual membunuh Kolonel JF Warouw ketika dia hendak menyerah kepada AH Nasution. Dalam suatu tindakan pelengkap untuk mematahkan perlawanan pasukan-pasukan Permesta dan pengikiut-pengikut Kahar Muzakar dari segi ekonomi dan keuangan, pemerintah, atas nasihat AH Nasution, menyetujui pengeluaran dana sebesar Rp 90 juta untuk membangun kembali daerah-daerah yang telah dibebaskan dari kekuasaan Permesta, sementara Panglima Sulawesi Selatan, Kolonel Andi Jusuf menyediakan Rp 80 juta untuk merehabilitasi orang-orang bekas tentara Darul Islam dan keluarga mereka. ( Ulf Sundhaussen, 1986 : 197 – 203 )

Republik Persatuan Indonesia
Kegagalan di bidang militer agaknya telah menyebabkan pimpinan PRRI untuk mengkonsolidasikan kembali kelompok-kelompok perlawanan yang ada didaerah-daerah lain. Di Sumatra, gerakan Darul Islam di Aceh yang semula diharapkan menggabungkan diri dalam PRRI, yaitu dengan diberikan protofolio Menteri Sosial dalam kabinet PRRI kepada Abdul Gani Usman, kini didekati kembali. Gerakan Darul Islam yang sedang berada dalam suasana gencatan senjata dengan pemerintah di Aceh diusahakan agar bergabung ke dalam PRRI. Untuk itu di Frankurt, Jerman Barat, pada akhir tahun 1958 telah berlangsung suatu konferensi tokoh-tokoh pemberontakan yang membicarakan tentang kelangsungan perlawanan mereka. Di sanalah dicapai kesepakatan prinsip untuk

18

menyatukan gerakan PRRI dengan Darul Islam menuju terbentuknya suatu negara federasi Indonesia. Tentu saja kesepakatan prinsip ini terasa sangat aneh sehingga sulit untuk diwujudkan. Bagaimana mungkin mempersatukan Darul Islam, yang jelas –jelas mempunyai program perjuangan untuk mendirikan sebuah negara Islam, dengan PRRI yang sama sekali tidak mendasarkan diri pada asas keagamaan. Penyatuan demikian akan mengancam persatuan dalam tubuh PRRI sendiri, karena ia akan menimbulkan kecurigaan di antara unsur-unsur pendukungnya. Secara ideologis, di dalam PRRI terdapat dua unsur yang sama-sama berpengaruh, yaitu Islam dan Kristen. Unsur Islam melibatkan suku-suku Minangkabau dan Batak Mandailing; unsur ini terutama sekali lebih doiminan di dalam kepemimpinan sipil. Di lain pihak, orang-orang Batak Toba dan Minahasa tergabung dalam golongan Kristen, dan mereka mempunyai pengaruh yang kuat dalam kekuatan militer PRRI. Suatu penyatuan PRRI dengan gerakan Darul Islam tentu akan sulit diterima oleh golongan Kristen ini, karena akan memperlemah posisi mereka sendiri. Di lain pihak, bagi Darul Islam sendiri usaha penyatuan ini bukan pula sesuatu yang mudah, atau bahkan mungkin merupakan sesuatu yang mustahil. Ketidakmungkinannya terletak pada rencana untuk mendirikan sebuah negara Indonesia yang bersifat federal. Negara Indonesia yang federal bukanlah tujuan dari gerakan Darul Islam, karena Kartosuwiryo bagaimanapun tetap menghendaki bentuk negara kesatuan. Jadi, bentuk federasi yang disepakati dalam konferensi di Frankurt itu sudah tentu tidak dapat diterima oleh pimpinan pusat Darul Islam di Jawa Barat. Dalam hal inilah antara lain terdapat konflik dalam tubuh gerakan Darul Islam, antara pemimpin-pemimpin di Jawa Barat dan Aceh. Dan, dalam konferensi Frankurt tokoh Darul Islam dari Aceh yang hadir dan secara sepihak bertindak atas nama gerakan Darul Islam. Namun demikian, langkah-langkah untuk mewujudkan kesepakatan prinsip tersebut tidak dapat dilakukan. Mungkin sekali salah satu alasannya ialah kurangnya kepercayaan diri di kalangan pemimpin PRRI terutama setelah semakin merosotnya kemampuan militer mereka pada penghujung 1958, Akan tetapi, pada kesempatan untuk bertindak muncul juga beriringan dengan terjadinya perubahan yang fundamental dalam kepolitikan Indonesia sejak bulan Febriari 1959. Sebagai kelanjutan dari kemelut politik yang tidak berkesudahan di tingkat nasional, pada bulan Februari Dewan Nasional menerima usul Angkatan Darat untuk melaksanakan “Demokrasi Terpimpin“ dari Soekarno dengan cara kembali ke UUD 1945. Akan tetapi, ketika dibicarakan dalam Dewan Konsituante pada bulan April, usul ini tidak berhasil mencapai kuorum, sehingga timbullah jalan buntu. Sebagai akibatnya, pada bulan Juni KSAD AH Nasution mengenakan larangan atas segala kegiatan politik dan menunda sidang-sidang Dewan Konsituante. Pada 5 Juli, Soekarno membubarkan Dewan Konsituante dan mendekritkan kembali ke UUD 1945. Setelah memiliki kekuasaan eksekutif, Soekarno mengurangi peran partai politik dalam kabinet yang dibentuknya sendiri pada tanggal 10 Juli, di samping melarang pejabat tinggi untuk memasuki sesuatu partai politik.

19

Tampaknya para pemimpin PRRI telah berpenuh harap bahwa perkembangan politik ini dapat menumbuhkan dukungan terhadap perjuangan mereka. Mereka mengharapkan bahwa partai-partai politik telah dikurangi peranannya oleh Soekarno, seperti Masyumi, NU, PSII, PSI, Parkindo, akan menentang Soekarno. Dengan harapan yang demikian maka pada bulan Mei 1959 tokoh-tokoh PRRI dan Permesta menyelenggarakan suatu rapat yang membahas usaha-usaha untuk menyatukan gerakan mereka dengan Darul Islam. Rapat yang telah menghasilkan rencana untuk memproklamasikan Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang bersifat federal pada tanggal 17 Agustus tahun itu juga. Akan tetapi rencana ini tidak dapat dilaksanakan sebab hingga awal Agustus mereka belum mendapat kesedian bergabung dari gerakan Darul Islam di Aceh, meskipun rencana itu telah diradiogramkan pada bulan Juni. Demikianlah, RPI 1960 baru dapat diumumkan berdirinya pada tanggal 8 Februari 1960, setelah melalui perdebatan sengit dengan pihak Darul Islam di Aceh dan di kalangan PRRI sendiri. Perdebatan itu pada umumnya berkisar sekitar undang-undang dasar dan dasar negara. Para pemimpin Aceh mengehendaki agar Aceh dan Sulawesi Selatan diberikan status “ republik Islam “ dalam RPI, di samping menuntut agar RPI menjadi negara agama, di mana setiap negara bagian memiliki hak untuk mengatur dirinya berdasarkan hukum Islam dan Kristen dalam tubuh PRRI, akan tetapi di lain pihak ia mempertajam perpecahan di antara para pemimpin PRRI yang menghendaki teokrasi dan sekularisme. Pemimpin PRRI dengan latar belakang agama tidak berkeberatan terhadap tuntutan Aceh, sementara yang sekuler, terutama di kalangan perwira militernya, lebih suka mendasarkan RPI pada Pancasila. Perdebatan tentang undang-undang dasar dan dasar negara itu telah mengakibatkan tertundanya proklamasi RPI, sementara di bidang militer PRRI sedang menghadapi tekanan yang semakin kuat dari pasukan pemerintah. Situasi ini telah memaksa para pemimpin agama dan sekuler RPI untuk berkompromi, yaitu setelah tokoh-tokoh sekuler setuju untuk mendasarkan RPI pada asas agama. Persetujuan itu diberikan dengan pengertian bahwa RPI akan mempertahankan hak-hak asasi manusia. Kompromi ini menimbulkan kemarahan pemimpin Aceh, Daud Beureueh, yang memahamkan bahwa itu sama saja dengan menganggap hukum Islam lebih rendah daripada hak asasi manusia yang universal. Oleh karena Daud Beureuh mengancam tidak mau bergabung dengan RPI, para pemimpin PRRI terpaksa mengabulkan tuntutannya. Namun demikian, pembentukan RPI tidak memperbaiki posisi kaum pemberontak yang semakin terjepit oleh perkembangan situasi politik dan milite. Keberhasilan tokoh-tokoh PRRI untuk merangkul gerakan Darul Islam di Aceh dan Sulawesi Selatan ke dalam RPI memang memberikan suatu keuntungan politik, terutama terhadap luar negeri, akan tetapi secara militer masih kecil artinya. Baik di Aceh maupun di Sulawesi Selatan, gerakan Darul Islam semakin melemah dalam arti militer, setelah terjadinya perpecahan di dalamnya yang mengakibatkan sebagian besar kekuatan militer Darul Islam di kedua daerah itu “kembali ke pangkuan ibu pettiwi“ pada tahun 1959. Sisa-sisa kekuatan militer yang ada pada Daud Beurueuh di Aceh dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan itu menggabungkan diri ke dalam RPI, sementara gerakan Darul Islam di Jawa Barat di bawah pimpinan M Kartosuwiryo tidak mengakui penggabungan itu.

20

Secara politis, para pemimpin PRRI atau RPI telah kehilangan kepercayaan di kalangan pendukung-pendukungnya di luar negeri. Kekalahan demi kekalahan yang dialami oleh pasukan pemerintah ketika itu, sangat mengecewakan para pendukungnya di luar negeri. Tiadanya harapan untuk menjatuhkan Soekarno dan menghambat pemekaran pengaruh komunis di Indonesia dengan kekuatan senjata telah memaksa Persekutuan Tanah Melayu dan Singapura, yang selama ini menjadi basis kegiatan PRRI di luar negeri, untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Indonesia. Beberapa tindakan yang diambil pemerintah Malaya dan Singapura pada tahun 1960 telah mempersempit ruang gerak kaum pemberontak di kedua negara itu. ( Nazaruddin Sjamsuddin , 1989 : 64 – 68 )

Penutup
Dalam bulan Februari 1961 terjadi penyerahan massal yang pertama dari pasukanpasukan Permesta, dan pada tanggal 14 April 1961 Kawilarang menyerah bersama 27.000 orang anak buahnya. Dia disambut dengan gembira oleh Letnan Jendral Hidajat, yang ketika itu menjabat Menteri Keamanan Nasional, atas nama AH Nasution. Pasukan AE Kawilarang, dipindahkan ke Jawa dan dilucuti, dan dia sendiri dikeluarkan dari tentara tapi tak pernah diadili. Kemudian pada Hari Proklamasi, 17 Agustus 1961, Soekarno mengumumkan amnesti umum bagi semua pemberontakan yang melapor kepada pihak yang berwajib sebelum Hari Angkatan Perang, 5 Oktober tahun itu juga. Maka bagian terbesar dari pemimpin-pemimpin PRRI, Kolonel M Simbolon dan Kolonel Zulkifli Lubis serta Kahar Muzakar menyerah sebelum berakhirnya batas waktu itu. Sumual baru menyerah pada tanggal 26 Oktober akan tetapi dalam semangat perukunan kembali penyerahannya itu dianggap terjadi pada tanggal 4 Oktober. Sisa-sisa terakhir dari pasukan PRRI melapor kepada pihak yang berwajib dalam bulan Agustus 1962. Praktis semua perwira dan bagian terbesar dari prajurit–prajurit yang terlibat dalam pemberontakan daerah itu dipecat dari tentara, dan bagian terbesar dari perwira-perwira yang lebih senior ditahan walaupun sudah ada janji amnesti. Sulawesi Utara, di mana seluruh tentara setempat untuk ambil bagian dalam pemberontakan, diduduki oleh pasukan-pasukan Divisi Brawijaya, sementara Sumatra Barat diserahkan kepada Divisi Diponogoro. Lebih dari yang sudah-sudah dalam sejarah Republik Indonesia, daerahdaerah di luar Jawa menjadi milik dan jajahan Jawa. ( Ulf Sundhaussen , 1986 : 203 – 204 ) Pemberontakan PPRI/Permesta berakhir hampir dua tahun setelah terbentuknya periode baru dalam sejarah politik Indonesia, yaitu Demokrasi Terpimpin, yang secara resmi pada bulan Juli 1959 dengan kembalinya kepada UUD 1945. Gerakan pemberontakan ini mula-mula merupakan protes terhadap pandangan Soekarno mengenai “demokrasi terpimpin“ tetapi akibat gerakan pemberontakan itu justru memperkuat perkembangan politik yang diharapkan dihindari para pemimpin gerakan tersebut. Kekuasaan pusat diperkuat dengan mengorbankan otonomi daerah; nasionalisme radikal mengalahkan cara moderat yang pragmatis ; pengaruh Soekarno dan PKI diperkuat dengan mengorbankan Moh Hatta dan Masyumi.

21

Titik puncak kelonggaran yang diberikan pemerintah pusat kepada tuntutan otonomi daerah telah dicapai justru sebelum terjadi pemberontakan, dengan diumumkannya pada bulan Januari 1957. Undang-undang no 1 mengenai pemerintah daerah yang memungkinkan memilih DPRD dan kepala daerah. Pelaksanaan undang-undang itu terhalang bahkan sejak semula akibat hukum darurat di seluruh negara pada bulan Maret 1957, dan ketetapan mengenai pemilihan kepala diubah oleh dekrit presiden bulan September 1959. Jadi, meskipun pada bulan Januari 1961 pemerintah pusat memberikan status otonom kepada propinsi Sulawesi Utara yang baru saja terbentuk, kontrol pusat tetap saja ada melalui kepala daerah yang ditunjuk yang sekaligus merangkap sebagai gubernur provinsi tersebut. Bahkan sebelum PRRI pecah pada bulan Februari 1958, fokus protes pemberontakan sebenarnya telah berpindah dari Nasution dan kepemimpinan ABRI ke Presiden Soekarno dan pendukungnya yang beraliran kiri. Sejak 1957, anti-komunisme sebetulnya telah semakin penting menjadi motif gerakan kedaerahan ini, baik sebagai reaksi terhadap semakin kuatnya PKI di Jawa maupun sebagai dalih yang tepat untuk menarik dukungan dari luar negeri. Sebelum pertempuran, anti-komunisme kemudian menjadi alasan utama pemberontakan, sebagai pembenaran terhadap peperangan yang ternyata yang lebih banyak menghancurkan hal-hal yang justru hendak diselamatkan gerakan pemberontakan tersebut. Akhirnya, para pemberontak sadar bahwa lebih bijaksana berdamai dengan para pemimpin angkatan darat yang semula akan mereka gulingkan itu. Hal ini bukan hanya karena para pemberontak sadar mereka kurang kuat untuk mencapai tujuan ini maupun tujuan lainnya, tetapi karena mereka sadar sudah tidak mungkin menentang AH Nasution tanpa melepaskan kemungkinan mengadakan penyelesaian dengan jalan perundingan. Lebih jauh, menjelang tahun 1960 para pemberontak mengakui bahwa angkatan darat merupakan alat yang paling efektif terhadap kemajuan komunis yang semakin nyata. Pimpinan angkatan darat tidak berdaya terhadap tuduhan dari kaum kiri bahwa kebijaksanaan keamanannya menjadi lebih lemah selama pemberontakan masih berlanjut. Baik para pemberontak maupun pemimpin angkatan darat mengakui kepentingan bersamanya dalam membendung pengaruh PKI yang semakin tumbuh, dan keduanya yakin bahwa ini hanya akan dapat dilakukan setelah pemberontakan diselesaikan. Kesadaran akan kepentingan bersama inilah yang menjadi dasar untuk penyelesaian Permesta sebagai urusan intern angkatan darat. Kondisi yang diberikan kepada para pemberontak Sulawesi pada bulan April 1961 oleh TNI cukup lunak, terutama jika dibandingkan dengan yang diinginkan para pemimpin sipil yang kemudian ikut pula terlibat dalam urusan penyerahan tadi. Sebenarnya pemberontakan itu secara keseluruhan, baik PRRI/Permesta, dapat dilakukan sebagai pemberontakan setengah-setengah saja. Gambaran ini tidak terlalu jauh dari kebenaran mengingat sifat semangat pemberontakan yang hanya setengah hati itu. Hal ini didasarkan pada keengganan banyak para pengikutnya untuk turut bertempur, dan kegagalan banyak pengikut untuk meramal akibat tindak-tanduk mereka, atau ketidakmampuan mereka membuat persiapan menghadapi segala kemungkinan. Para pemimpin gerakan itu keliru membuat perhitungan karena mengira tantangan mereka ke pemerintah pusat akan mendapatkan dukungan luas di seluruh negeri, termasuk di Jawa

22

sendiri. Dalam keyakinan mereka pemerintah pusat tidak akan mau mengerahkan pasukan bersenjata untuk membuktikan kekuasaannya. Banyak pemimpin pemberontakan tidak memperkirakan bahwa gerakan meraka akan disambut pemerintah dengan kekuatan bersenjata. Keyakinan mendapatkan bantuan dari luar negeri, yang telah memberanikan mereka menggertak, juga telah memaksa pemerintah pusat mengambil tindakan terhadap mereka dan baik pemimpin militer maupun sipil di Jakarta bersedia menerima tantangan kedaerahan itu dengan tindakan militer yang cepat. Sikap setengah hati pemberontakan itu juga merupakan cermin dari tujuan yang terbatas para pemimpin serta pengikutnya. Para pemberontak didorong oleh suatu keinginan mengubah kebijaksanaan nasional dan bukan untuk membentuk suatu struktur sosial yang sama sekali baru. Dukungan rakyat terhadap pemberontakan lebih berdasarkan ikatan persaudaraan sesuku dan sedaerah daripada keterlibatan yang luas dasarnya terhadap prinsip-prinsip yang abstrak. Maka, meski mendapat dukungan lumayan di Minahasa untuk membuatnya bertahan selama hampir tiga tahun dalam bentuk perang gerilya. Permesta tidak berhasil secara besar-besaran menggerakkan rakyat di daerah itu atas dasar daya tarik ideologis. Salah satu akibatnya adalah ingatan tentang kehancuran dan perpecahan sebagai akibat pemberontakan itu ternyata menjadi jauh lebih kuat daripada kenangan tentang suatu perjuangan bahu-membahu berdasarkan cita-cita bersama. ( Barbara Silars Harvey, 1984 : 201 – 206 ) Pada saat yang sama, perang saudara merupakan pukulan yang menghancurkan segala kemungkinan yang ada bagi dilakukannya pelimpahan kekuasaan atau atau desentralisasi dan otonomi lokal oleh pemerintah pusat di Jakarta kepada daerah Indonesia menjadi negara dengan kekuasaan terpusat, baik pada akhir pemerintahan Soekarno maupun pada masa pemerintahan Soeharto yang menggantikannya. Lebih parah lagi, di daerah yang paling banyak terlibat pemberontakan, yaitu Sumatra Barat, perang saudara membawa akibat penindasan dan pemerintahan otoriter selama satu dekade dan baru dapat diatasi oleh propinsi tersebut mulai awal 1970-an. Setelah menyesuaikan diri dengan kesatuankesatuan militer Divisi Diponogoro di Jawa Tengah yang didominasi oleh komunis yang berkuasa di sana pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, rakyat Sumatra Barat sangat menderita karena perubahan haluan ke kanan pada tahun 1965-66. Para pemimpin politik yang selalu berada di jajaran paling depan pergerakan nasional dan pemerintahan pascarevolusi tidak pernah lagi memainkan peranan penting dalam pemerintahan nasional Indonesia. Sekalipun Hatta tidak pernah mendukung para pemberontak, kekalahan mereka menghapuskan segala kemungkinan dilaksanakannya desentralisasi dengan otonom lokal yang luas di Indonesia dan mendeskreditkan para pemimpin Masjumi dan PSI serta pembubaran partai-partai itu yang menyebabkan hilangnya suara publik mayoritas yang mewakili daerah-daerah di luar Jawa dalam pemerintahan pusat. ( Audrey R Kahin dan George Mc T Kahin , 1997 : 284 ) Kendati Sjarifuddin Prawiranegara, Mohammad Natsir, Assat, Soemitro Djojohadikusumo. M Simbolon, AE Kawilarang, Ventje Sumual dan yang lainnya terlibat dalam Persitiwa PRRI/Permesta, tetapi para pendukung Perisitiwa PRRI/Permesta sama sekali tidak bisa dideskreditkan sepenuhnya dan masih tetap dihormati di kalangan luas. PRRI/Permesta lebih sekedar gerakan kaum regionalis, dan

23

para pendukung Persitiwa PRRI/Permesta tetap bermaksud untuk mendukung konsitusi dan menjunjung negara kesatuan dan tidak ada pernyataan dan maksud untuk mengadakan pemisahan dari NKRI yang lahir lewat proklamasi 17 Agustus 1945.

Bibliografi Bahar, Saafroedin.” PRRI.-Permesta. Sebuah Kasus Keterkaitan Antara Intregasi Nasional dan Perang Dingin “, Jurnal Studi Amerika , Volume IV, Januari – July , hlm. 28 - 49 Harvey, Barbara Silars. 1984. Pemersta. Pemberontakan Setengah Hati. Jakarta : PT Grafiti Pers. Kahin, Audrey R dan George McT Kahin. 1997. Subversi Sebagai Politik Luar Negeri. Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia. Jakarta :

24

PT Pustaka Utama Grafiti Legge, John D. 1095. Soekarno, Sebuah Biografi Politik . Jakarta : Sinar Harapan. Leiressa, R.Z. 1991. PRRI Permesta . Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis. Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti Meztika, Zed. “PRRI dalam Perspektif Militer dan Politik Regional : Sebuah Reinteprestasi,”, Jurnal Studi Amerika, Volume IB, Januari – Juli 1999, Hlm. 99 – 122. Muhaimin, Yahya A. 1982. Perkembangan Militer Dalam Politik di Indonesia 1945 – 1966. Yogyakarta : LP3ES. Sjamsuddin, Nazaruddin. Integrasi Politik di Indonesia . Jakarta : PT Gramedia. Sundhaussen, Ulf. 1986 . Politik Militer Indonesia 1945 – 1967 . Menuju Dwi Fungsi ABRI . Jakarta : KP3ES. Wardaya, Baskara T. 2008 . Indonesia Melawan Amerika. Konflik Perang Dingin 1953 – 1963. Yogyakarta : Galangpers.hlm. 153 – 169 .

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->