P. 1
Jenis Layanan Dan Kegiatan Bimbingan Konseling

Jenis Layanan Dan Kegiatan Bimbingan Konseling

|Views: 3,338|Likes:
Published by Eross Chandra

More info:

Published by: Eross Chandra on Dec 20, 2010
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

pdf

text

original

MAKALAH JENIS LAYANAN DAN KEGIATAN BIMBINGAN KONSELING

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan Konseling Dosen Pengampu: Drs, Fadhli Kamil S. Pd Disusun Oleh: Afdah Khusnul Qotimah Nana Nurliani Nurul Azizah Dede Dewantara A1E3079 A1E3079 A1E3079 A1E3079 A1E307905

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI S1 PGSD TERINTEGRASI BANJARBARU

2009

JENIS LAYANAN DAN KEGIATAN BIMBINGAN KONSELING A. Layanan Orientasi Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkungan yang baru dimasukinya. 1. Layanan Orientasi di sekolah Bagi siswa ketidakkenalan atau ketidaktahuannya terhadap lingkungan lembaga pendidikan (sekolah) yang di sekolah baru dimasukinya itu dapat mempertlambat proses belajarnya kelak. Allan & McKean (1984) menegaskan bahwa tanpa program-program orientasi, periode penyesuaina untuk sebagian siswa berlangsung kira-kira tiga atau empat bulan. Penelitian Allan & McKean menunjukkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian , yaitu : a. Program orientasi yang efektif mempercepat proses adaptasi dan juga memberikan kemudahan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. b. Murid-murid yang mengalami masalah penyesuaian ternyata kurang berhasil di sekolah. c. Anak-anak dari kelas social ekonomi yang rendah memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan diri daripada anak-anak dari kelas sosio ekonomi yang tinggi. Individu yang memasuki lingkungan baru perlu segera dan secepat mungking memahami lingkungan barunya itu. Hal-hal yang perlu diketahui itu pada garis besarnya adalah keadaan lingkungan fisik, materi dan kondisi kegitan, peraturan dan berbagai ketentuan lainnya, jenis personal yang ada, tugas masing-masingdan saling hubungan antara mereka. Untuk lingkungan sekolah misalnya, materi orientasi yang mendapat penekanan adalah : a. Sistem penyelenggaraan pendidikan pada umumnya

b. Kurikulum yang ada c. Penyelenggaraan pengajaran d. Kegiatan belajar siswa yang diharapkan \ e. System penilaia, ujian dan kenaikan kelas f. Fasilitas dan sumber belajar yang ada g. Fasilitas penunjang h. Staf pengajar dan tata usaha i. Hak dan kewajiban siswa j. Organisasi siswa k. Organisasi orang tua siswa l. Organisasi sekolah secara menyeluruh 2. Metode Layanan Orientasi sekolah Keluasan dan kedalaman masing-masing pokok materi di atas yang disampaikan kepada siswa di sesuaikan dengan jenjang sekolah dan tingkat perkembangan anak. Untuk anak-anak yang baru memasuki kelas 1 SD , pokok-pokok materi itu sebaiknya disampaikan kepada orang tua murid. Untuk anak-anak yang segera akan memasuki SLTP, Allen & McKean menyarankan kegiatan : a. Kunjungan ke SD pemasok b. Kunjungan ke SLTP pemesan c. Pertemuan dengan orang tua d. Staf konselor bertemu dengan guru membicarakan siswa-siswa baru e. Mengunjungi kelas f. Memanfaatkan siswa senior 3. Layanan Orientasi di Luar Sekolah Cara penyajian orientasi di luar sekolah sangat tergantung pada jenis orientasi yang diperlakukan dan siapa yang memerlukannya. B. Layanan Informasi Secara umum, bersama dengan layanan orientasi bermaksud memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal

yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki. Ada tiga alasan utama mengapa pemberian informasi perlu diselenggarakan : a) Membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkunga sekitar, pendidikan, jabatan, maupun social budaya. b) Memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya kemana dia ingin pergi. c) Setiap individu adalah unik, keunikan itu akan membawakan pola-pola pengambilan keputusan dan bertindak. 1. Jenis-jenis Informasi a. Informasi Pendidikan Norrish, Hatch, Engelkas & Winborn (1977) menekankan bahwa informasi pendidikan meliputi data dan kekurangan yang sahih dan berguna tentang kesempatan dan syarat-syarat berkenaan dengan berbagai jenis pendidikan yang ada sekarang dan yang akan dating. Informasi pendidikan dan pelatihan perlu disebarluaskan kepada anggota masyarakat untuk semua umur, khususnya bagi yang masih menduduki bangku pendidikan formal. Mereka perlu

mengidentifikasi tingkat-tingkat informasi pendidikan. Jenis-jenis informasi pada setiap tingkat adalah sebagai berikut : Pertama kali masuk sekolah Memasuki SLTP Memasuki SMA Memasuki Perguruan Tinggi

b. Informasi Jabatan Informasi jabatan/pekerjaan yang baik sekurang-kurangnya memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Struktur dan kelompok-kelompok jabatan 2. Uraian tugas masing-masing jabatan/pekerjaan

3. Kualifikasi tenaga yang diperlukan untuk masing-masing jabatan 4. Cara-cara atau prosedur penerimaan 5. Kondisi kerja 6. Kesempatan-kesempatan untuk membangun karier 7. Fasilitas penunjang untuk kesejahteraan pekerjaan. Norris, dkk. Mengklasifikasikan informasi jabatan/pekerjaan ke dalam empat tingkat yaitu : tingkat SD, tingkat SLTP, SMA dan pasca SLTA Tingkat SD Tingkat ini merupakan tingkatan yang paling awal dan mendasar. Informasi yang diberikan pada tingkat ini bersifat umum dan tidak mengarah pada jenis-jenis jabatan/pekerjaan tertentu dimaksudkan untuk : 1. Mengembangkan untuk sikap terhadap segala jenis pekerjaan. 2. Membawa anak-anak untuk menyadari betapa luasnya dunia kerja yang ada. 3. Menjawab berbagai pertanyaan anak tentang pekerjaan. 4. Menekankan jasa dari masing-masing jenis perkerjaan kepada kesejahteraan hidup rumah tangga dan masyarakat. 5. Pekerjaan ada di mana-mana. 6. Saling ketergantungan antara pekerjaan yang satu dengan yang lainnya. 7. Kemampuan khusus maupun ciri-ciri kepribadian tertentu, di perlukan untuk keberhasilan pekerjaan. 8. Untuk memilih suatu pekerjaan diperlukan informasi yang tepat. 9. Ada berbagai hal masalah yang mungkin dihadapi oleh orangorang yang menginginkan perkerjaan tertentu.

10. Untuk memilih perkerjaan atau karier di masa depan perlu kehatihatian dan pertimbangan yang matang. Tingkat SLTP Informasi jabatan/pekerjaan di SLTP menyajikan bahwa informasi dengan tujuan agar para siswa mampu merencanakan secara umum masa depannya dan tidak merencanakan pekerjaan tertentu secara khusus. Diharapkan siswa mulai : 1. Mempelajari bidang pekerjaan secara lebih luas 2. Melihat hubungan antara bidang-bidang pekerjaan itu dengan mata-mata pelajaran yang ada di sekolah. 3. Lebih mendalami informasi tentang pekerjaan tertentu. 4. Memahami cara-cara memperoleh informasi yang tepat dan mutakhir dengan jumlah yang cukup tentang dunia kerja. 5. Memahami pentingnya dan ruang lingkup perencanaan

perkerjan/karier 6. Memahami bahwa dunia kerja itu tidak pernah dalam keadaan tetap. Tingkat SLTA Informasi pekerjaan SLTA hendaklah meliputi, cakupan yang memungkinkan siswa : 1. Mempergunakan berbagai cara untuk memperdalam pemahaman tentang dunia kerja. 2. Mengembangkan rencana sementara pekerjan yang akan menjadi pegangan setamat SLTA 3. Memiliki pengetahuan tentang apapun mempunyai hubungan dengan pekerjaan tertentu apabila siswa memang menghendai untuk memegang jabatan itu setamat dari SLTA.

c. Informasi social-budaya Manusia ditaksirkan berpuak-puak, bersuku-suku dan berbangsabangsa. Supaya saling mengenal saling memberi dan menerima sehingga tercipta kondisi yang dinamis yang mendorong kehidupan manusia itu selalu berubah berkembang dan maju. Mereka perlu dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman isi informasi tentang keadaan social-budaya berbagai daerah. Hal ini dapat dilakukan m melalui penyajian informasi social budaya yang meliputi : 1. Macam-macam suku bangsa 2. Adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan 3. Agama dan kepercayaan-kepercayaan 4. Bahasa, terutama istilah-istilah yang dapat kesalahpahaman suku bangsa lainnya. 5. Potensi-potensi daerah. 6. Kekhususan masyarakat atau daerah tertentu. 2. Metode Layanan Informasi di Sekolah a. Ceramah b. Diskusi c. Karyawisata d. Buku Panduan e. Konferensi karier 3. Layanan informasi di Luar Sekolah Layanan informasi juga banyak diperlukan oleh warga masyarakat di luar sekolah. Jenis-jenis informasi yang diperlukan itu pada dasarnya berkenaan dengan penghidupan yang lebih luas, tidak terbatas, selalu dapat berubah sesuai dengan perubahan dan perkembangan masyarakat. C. Layanan Penempatan dan Penyaluran 1. Penempatan dan Penyaluran Siswa di Sekolah a. Layanan Penempatan di dalam Kelas menimbulkan

Penempatan masing-masing anak secara tepat akan membawa keuntungan : 1. Bagi siswa yaitu memberikan penyesuaian dan pemeliharaan terhadap kondisi individual siswa 2. Bagi guru dengan penempatan yang tepat menjadi lebih mudah menggerakkan dan mengembangkan semangat belajar siswa. Perubahan penempatan setiap kali dapat dilakukan untuk mencapai manfaat yang setinggi-tingginya dari pelayanan tempat itu. Hal-hal yang patut mendapat perhatian khusus adalah : a. Jangan sampai penempatan pada seorang murid pada suatu tempat merupakan hukuman yang diterapkan kepadanya. b. Sedapat-dapatnya alas an penempatan masing-masing anak itu diketahui dan disetujui oleh semua warga kelas. b. Penempatan dan Penyaluran ke dalam Kelompok Belajar Pembentukan kelompok belajar mempunyai dua tujuan pokok. Pertama, untuk memberikan kesempatan bagi siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dalam system ini setiap siswa mempunyai kesempatan untuk maju sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya tanpa harus menunggu atau didesak oleh siswa lain. Kedua, untuk wadah belajar bersama. Dalam pengelompokkan ini dilakukan tidak menurut kemampuan siswa melainkan dilakuakan sedemikian rupa sehingga di dalamn suatu kelompok belajar akan terdapat siswa-siswa yang kemampuannya pandai, sedang dan kurang. c. Penempatan dan Penyaluran keadalam Kegiatan Ko/Ekstra Kurikuler Salah satu ciri yang menonjol dari kegiatan ekstra/ko kurikuler adalah keanekaragamannya mulai dari memasak sampai musik, dari pengumpulan perangko sampai dengan permainan hoki. Hampir semua minat remaja dapat digunakan sebagi bagian darii kegiatan ekstra/ko kurikuler. d. Penempatan dan Penyaluran ke Jurusan/Program Studi Setiap awal tahun ajaran banyak siswa SMA yang menghadapi masalah “jurursan program apa yang sebaiknya saya ikuti”. Terhadap

siswa-siswa yang seperti ini perlu diberikan bantuan agar mereka dapat membuat rencana-rencana dan mengambil keputusan secara bijaksana. Usaha pemberian bantuan seperti yang diamksud di atas diawali dengan menayajikan informasi pendidikan dan jabatan yang cukup luas. Infomasi itu, hendaknya dapat mengarahkan siswa untuk memahami tiujuan, isi (kurikulum),sifat,syarat-syarat memasuki program studi tertentu, cara dan keterampilan belajar, kesempatan-kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan kesempatanb untuk bekerja setalah tamat. 2. Penempatan dan Penyaluran Lulusan a. penempatan dan penyaluaran ke dakam pendidikan lanjutan Penempatan dan penyaluran siswa pada pendidikann lanjutan tidak dapat dilakukan secara acak, tetapi memerlukan perencanaan yang matang sebelum siswa tamat dari bangku yang sedang didudukinya. Rencana yang baik ialah rencan yang disusun berdasarkan atas pertimbangan tentang kekuatan dan kelemahan siswa dari segi-segi yang amat menentukan keberhasilan studi pada program pendidikan lanjutan itu, tertutma segi kemampuan dasar, bakat dan minat serta kemampuan keuangan. b. Penempatan dan Penyaluran ke dalam Jabatan/Pekerjaan Di samping penempatan dalam pendidikan, sekolah juga membantu para siswanya yang akan memasuki dunia kerja. Prisnsip lain yang perlu diperhatikan ialah bagi setiap lapangan kerja penambahan tenaga kerja berarti peningkatan produktivitas pada lapangan kerja yang dimaksud. Penambahan jumlah tenaga kerja tanpa diikuti dengan peningkatan produktivitas sama dengan pemborosan. Sedangkan peningkatan

produktivitasnya hanya mungkin dicapai apabila tenaga kerja yang bersangkutan mempunyai motivasi yang tinggi untuk berprestasi, mempunyai kemauan untuk bekerja keras, mencintai dan menyenangi perkerjaannya, di samping memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi.

Layanan penempatan dan penyaluran bentuk paling nyata dari berbagai fungsi pemeliharaan dan pengembangan dalam segala pelayanan bimbingan dan konseling. Dengan layanan dan tersebut individu dipelihara kondisinya sambil di sana sini diperbaiki kondisi yang kuran memungkinkan. D. Layanan Bimbingan Belajar 1. Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Besar Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya, yang pada umumnya dapat di golomgkannya atas : a. ketercepatan dalam belajar b. keterlambatana akademik c. sangat lambat dalam belajar d. kurang motivasi dalam belajar e. bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar. Siswa yang mengalami maslah dalam belajar seperti tersebut di atas dapat dikenali melalui proses pengungkapan melalui : Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan ppengajaran yang ditetapkan sebelumnya. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila ia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah di tetapkan. Tes Kemampuan Dasar Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau inteligensii tertentu. Tingkat mkemampuan dasar biasanya diukur atau diungkapkan dengan

mangaministrasikan tes inteligensi yang sudah baku. Skala Sikap dan Kebiasaan Belajar

Sikap dan kebiasaaan belajar merupakan salah satu factor penting dalam belajar. Sebagian dari sikap dan kebiasaan siswa belajar itu dapat diketahui dengan mengadakan pengamatan dalam kelas. Tes Diagnostik Tes diagnostik merupakan instrument untuk mengungkapkan adanya kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam bidang plajaran tertenttu. Analisis Hasil Belajar atau Karya Analisis hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostic. Tujuannya sama, yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang di alami siswa dalam mata poelajaran tertentu. Analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya diulakukan dengan cara memeriksa secara langsung materi hasil belajar yang ditampilkan siswa. 2. Upaya Membantu Siswa yang Mengalami Masalah Belajar. a. Pengajaran Perbaikan Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seorang atau sekelompok siswa yang menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan dalam proses dab hasil belajar. Pengajaran perbaikann sifatnya lebih khusus, karena bahan, metode dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis, sifat dan latar belakang masalah yang dihadapi siswa. b. Kegiatan Pengayaan Kegiatan pengayaan diberikan kepada anak yang memiliki kecepatan yang lebih dalam belajar. Masalah yang akan muncul terletak pada kemungkinan dampak yang timbul sebagai akibat dari kecepatan belajar yang tinggi itu. Dampaknya dapat positif atau negative. c. Peningkatan Motivasi Belajar

Alasan mengapa siswa belajar sangat bersifat subjektif. Alasan itu merupakan hal-hal yang mendorong (motif siswa) siswa untuk belajar. Guru konselor dan staf sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan morivasinya dalam belajar dengan : 1. memperjelas tujuan belajar 2. menyesuaikan pengajaran dengan bakat, kemampuan dan minat siswa 3. menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang dan menyenangkan. 4. memberikan hadiah dan hukuman bila perlu. 5. menciptakan suasana sesuai pembelajaran yang hangat dan dinamis antara guru dan murid, serta antara murid dan murid. 6. menghindari tekanan-tekanan dan suasana yang tidak menentu 7. melengkapi sumber dan peralatan belajar. d. Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik Sebagian siswa memerlukan bantuan untuk mampu melihat secara kritis sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang mereka miliki. Siswa hendaknya di dorong untuk meninjau kebiasaannya dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip belajar. Siswa hendaklah dibantu dalam hal ini : 1. menemukan motif-motif yang cepat dalam belajar 2. memelihara kondisi kesehatan yang baik 3. mengatur waktu belajar baik di sekolah maupun di rumah. 4. memilih tempat belajar yang baik. 5. belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya. 6. membaca secara baik dan sesuai dengan kebutuhan 7. tidak segan-ssegan bertanya mengenaai hal-hal yang tidak di ketahui kepada teman, guru atau siapapun jua.

E. Layanan Konseling Perorangan Konseling merupakan layanan inti yang pelaksanaannya memuat persyaratan dan mutu usaha yang benar-benar tinggi. Apabila seorang konselor telah mengusasai dengan sebaik-baiknya apa, mengapa dan bagaiman pelayanan konseling itu maka dapat diharapkan ia akan dapat menyelenggarakan layanan bimbingan lainnya dengan tidak mengalami banyak kesulitan. 1. Layanan Konseling Diselenggarakan Secara “Resmi” Konseling merupakan layanan yang teratur, terarah dan terkontrol serta tidak di selenggrakan secara acak ataupun seadanya. Munro dkk. (1979) mengemukakan tiga dasar etika konseling, yaitu (a) kerahassiaan, (b) keterbukaan, dan (c) tanggung jawab pribadi klien. Sifat resmi layanan konseling di tandai dengan adanya ciri-ciri yang melekat pada pelaksanaan layanan itu, yaitu bahwa : a. layanan itu merupakan usaha yang disengaja. b. Tujuan layanan tidak boleh lain daripada untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. c. Kegiatan pelayanan diselenggarakan dalam format yang telah di tetapkan. d. Metode dan teknologi dalam layanan berdasarkan teori yang telah teruji. e. Hasil layanan dinilai dan diberi tindak lanjut. Format konseling meliputi terutrama jarak, arah dan sikap duduk konselor dank lien, serta tatap muka atau kontak mata antara klien dan konselor. Format standar ialah konselor dank lien duduk berhadap-hadapan; konselor duduk dengan sikap sempurna, pinggang kekursi; dan wajah konselor menatap klien tanpa pandang antara klien dan konselor 2. Pengentasan Masalah Melalui Konseling

Langkah-langkah umum upaya pengentasan malasah melalui konseling pada dasarnya adalah : 1. pemahaman masalah 2. analisis sebab-sebab timbulnya masalah. 3. aplikasi mode khusus. 4. evaluasi tindak lanujut. Pemahaman masalah oleh klien harus benar-benar persis sama dengan pemahaman konselornya dan objektif sebagaimana adanya masalah itu. Upaya pemahaman masalah itu biasanya dilakukan denan konseling. Usaha pemahaman masalah klien biasanya terkait langsung dengan kajian tentang sumber penyebab masalah itu. Dengan mengkaji sebab-sebab timbulnya masalah, klien dan konselor memperoleh pemahaman yang lebih lengkap dan mndalam tentang masalah klien. Hubungan konseling adalah hubungan pribadi yang terbuka dan dinamis antara klien dan konselor. Hubungan ini ditandai dengan kehangatan, kebebasan dan suasana yang memperkenankan klien menampilkan diri sebagaimana adanya. Dalam proses konseling tidak ada kata-kata seperti “anda salah, “harus begii atau begitu”, atau kata-kata yang mencemooh. Setiap kata yang dilancarkan dan di luncurkan oleh konselor hendaknya benar-benar tepat dan benar-benar mengenai permasalahannya, dapat menggugah hati serta pikiran klien. Apabila hati dan pikiran klien dapat digugah besarlah harapan kekuatan yang ada dalam diri klien terbangkitkan untuk mengentaskan masalah yang dialaminya. Terpahaminya masalah klien dengan nbaik serta tergugahnya hati dan pikiran klien belum tentu serta mereka membuahkaan hasil terpecahkannyua masalah. Proses konseling masih perlu dilanjutkan dengan penerapan metode khusus sesuai dengan rincian masalah dan sumber sumber penyebabnya.

Kegiatan evaluasi ditujukan untuk menilai kemangkusan proses konseling pada umumnya dan khususnya untuk melihat sampai berapa jauh masalah klien terentaskan, dan untuk mengetahui keefektifan metode khusus yang dipaka. Dua pendekatan penilaian dapat ditempuh , yaitu penilaian dalam proses dan penilaian pasca proses. 3. Tahap-tahap Keefektifan Pengentasan Masalah Melalui Konseling Tahap pertama dimulai ketika klien menyadari bahwa dirinya mengalami masalah. Kesadaran bahwa individu memerlukan bantuan orang lain itulah yang merupakan tahap keefektifan yang kedua. Dan yang ketiga yaitu mencari orang-orang yang benar-benar mampu dan bertanggung jawab dalam membantu pemecahan masalah klien itu. Keaktifan klien inilah yang justru menentukan tahap keempat dan yang terakhir memngacu pada pertanyaan mengenai ap kah konseling itu telah memberikan hasil yang benar-benar efektif. Kelima tahap keefektifan konseling itu dapat digambarkan melalui diagram sebagai berikut.
Pa konseling

Partisipasi aktif dalam proses bantuan konseling

Usaha mencari bantuan

Kesadaran akan perlunya bantuan orang lain

Kesadaran dan pemahaman masalah Kesadaran akan perlunya bantuan orang lain individu

4. Pendekatan dan Teori Konseling a. konseling direktif konseling direktif juga disebut “konseling klinis”. Pendekatan ini di pelopori oleh E.G Williamson dan J.G darley yang berasumsi dasar bahwa klien tidak mampu mengatasi sendiri masalah yang dihadapinya. Karena itu klien membutuhkan bantuan dari orang lain , yaitu konselor. Dalam konseling direktif klien bersifat pasif dan yang aktif adalah konselor. Konseling direktif berlangsung menurut langkah-langkah umum sebagai berikut : 1. analisis data tentang klien 2. penggabungan data untuk mengenali kekuatan-kekuatan dan

kelemahan-kelemahan klien. 3. diagnosis masalah 4. Diagnosis atau prediksi trentang perkembangan masalah selanjutnya. 5. pemecahan masalah. 6. tindak lanjut dan peninjauaneliun hasil-hasil konseling b. Konseling Non-Direktif Konseling non-direktif sering disebut juga “klien centered therapy”. Pendekatan ini berasumsi dasar bahwa seseorang yang mempunyai masalah pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu mengatasi masalahnya sendiri. Sesuai dengan teori yang mendasarinya, yaitu teori Roogers tentang hakikat manusia dan tingkah lakunya, pendekatan konseling non-direktif sering juga disebut pendekatan konseling yang beraliran humanistic artinya menekankan pentingnya pengembangan potensi dan kemampuan yang secara hakiki ada pada setiap individu. c. Konseling Elektrik

Konseling direktif dan konseling non-direktif merupakan dua pendektan yang amat berbeda. Masing-masing berdiri pada dua kutub yang berlawanan, apabila kutub yang satu ditarik garis kekutub yang lain maka akan terbentuklah garis kontinum, yaitu garis kontinum konseling direktif dan non-direktif. Setiap pendekatan atau teori itu mengandung kekuatan dan kelemahan, dalam kenyataan praktek konselinhg

menunjukkan bahwa tidak semua masalah dapat di entaskan secara baik hanya dengan satu pendekatan atau teori saja. Ada masalah yang lebih cocok diatasi dengan pendekatan direktif dan ada pula yang lebih cocok dengan pendekatan nono-direktif atau dengan teori khusus tertentu. Pendekatan atau teori mana yang cocol digunakan sangat ditentukan oleh beberapa factor antara lain : 1. sifat masalah yang dihadapi 2. Kemampuan klien dalam memainkan peranan dalam proses konseling. 3. kemampuan konselor sendiri. 5. Konseling di Lingkungan Kerja yang Berbeda a. Konseling di sekolah Dasar Kenyataan bahwa anak-anak SD merupakan subjek sasaran layanan yang masih amat muda membawa konsekuensi bahwa konselor harus menyesuaikan segenap kemampuannya dalam konseling terhadap kondisiperkembangan anak-anak tersebut. Untuk sasaran layanan di SD perlu dibarengi dengan prosedur penunjang seperti permainan, boneka, cerita dan prosedurmedia diri lainnya agar anakanak mampu

mengekspresikan

mereka

sendiri.

Peningkatan

keterampilan

berkomunikasi, sikap dan perlakuan orang tua terhadap anak-anak merupakan layanan pokok yang justru lebih mendasar daripada layanan konseling dalam arti konsultasi antara konselor dan klien . dalam bentuk hubungan tatap muka

Hal lain lagi yang perlu mendapat perhatian perhatian konselor ialah bagaimana mendorong anak-anak untuk datang kepada konselor untuk memperoleh layanan bimbingan. Nugent (1981) melihat empat sumber yang memungkinkan alih tangan anak-anak kepada konselor, yaitu guru, kepala sekolah, anak-anak itu sendiri, dan konselor sendiri. Tidak boleh dilupakan peranan orang tua secara langsung juga mempunyai pemahaman yang palaing lengkap tentang anak. Orang tua perlu diberi pemahaman diberikannya. b. Konseling di sekolah Menengah Banyak gejolak menanadai masa perkembangan remaja. Konselor di sekolah menengah dituntut untuk memahami berbagai bentuknya dapat dipakai terhadap para pemuda. Kehadiran konselor langsung di hadapin para siswa, disertai dengan informasi yang tepat dan mantap tentang fungsi konselor dan pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, akan sangat membantu peningkatan pemanfaatan layanan konseling oleh para siswa. c. Konseling di perguruan Tinggi Para mahasiswa sudah berada pada batas anatara “ hidup tergantung pada orang tua” dan “hidup bebas dan mandiri”. Di samping itu, proses pembelajaran di perguruan tinggi lebih bervariasi dan menuntut kemandirian mahasiswa. Masalah-masalah yang muncul, yaitu masalahmasalah social, pendidikan, pekerjaan dan masalah pribadi diri sendiri banyak yang diwarnai oleh kondisi akademik perguruan tinggi dan tuntutan kemandirian. Pemasyarakatan pelayanan bimbingan dan konseling dan peranan konselor lebih perlu diperluas melalui berbagai media yang ada di kampus. Unit pelayanan bimbingan dan konseling yang ada perlu bekerja sama dengan unit-unit yang langsung berhubungan dengan mahasiswa. tentang fungsi konselor dan layanan yang dapat

d. Konseling di Masyarakat Konselor yang bekerja di masyarakat secara potensial akan melayani klien untuk semua umur, tidak dapat bekerja sendiri; namun bekerja dalam tim yang masing-masing anggotanya mengkhususkan diri pada penanganan kasus-kasus tertentu. F. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok Keunggulan yang diberikan oleh layanan kelompok bukan hanya menyangkut aspek ekonomi/efisiensi. Dalam layanan kelompok interaksi antarindividu anggota kelompok merupakan suatu yang khas, yang tidak mungkin terjadi pada konseling perorangan. Dengan interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama berlangsungnya layanan, diharapkan tujuan-tujuan layanan ( yang sejajar dengan kebutuhan-kebutuhan individu anggota kelompok) dapat tercapai lebih mantap. Selain itu, karena para anggota kelompok dalam interaksi mereka membawakan kondisi pribadinya, sebagaiman mereka masing-masing tampilkan dalam kehidupan sehari-hari, maka dinamika kelompok yang terjadi di dalam kelompok itu mencerminkan suasana kehidupan nyata yang dapat dijumpai di masyarakat secara luas. Konseling kelompok juga dapat menjadi wilayah penjagaan awl bagi (calon) klien untuk memasuki layanan konseling perorangan. 1. Ciri-Ciri Kelompok Meskipun suatu kelompok terdiri dari sejumlah orang, tetapi kelompok bukan sekedar kumpulan sejumlah orang. Sejumlah orang yang, tetapi kelompok bukan sekedar kumpulan sejumlah orang. Sejumlah orang yang berkumpul itu baru merupakan “lahan” bagi terbentuknya kelompok. Beberapa unsure perlu ditambahkan apabila kumpulan sejumlah orang itu hendak menjadi sebuah kelompok. Unsur-unsur tersebut menyangkut tujuan, keanggotaan, dan kepemimpinan serta aturan yang diikuti. Sekumpulan orang akan menjadi kelompok kalau mereka mempunyai tujuan bersama. Keanggotaan suatu kelompok justru ditentukan oleh keterikatan individu yang bersangkutan pada tujuan yang dimaksudkan. Dengan demikian, tanda keanggotaan dalam dalam kelompok adalah rasa kebersamaan yang diikat dengan tujuan yang satu itu. Kebersamaan dalam kelompok lebih lanjut diikat dengan adanya pemimoin kelompokyang bertugas mempersatukan seluruh anggota kelompok, untuk melakukan kegiatan bersama, untuk mencapai tujuan bersama.

Selanjutnya, kelompok yang sudah memiliki tujuan, anggota dan pemimpin itu tidaklah lengkap apbila belum memili aturan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Suatu kelompok membutuhkan aturan, nilai-nilai, atau pedoman yang memungkinkan seluruh anggota bertindak dan mengarahkan diri bagi pencapaian tujuan-tujuan yang mereka kehendaki. Menurut jumlah anggotanya dikenal adanya kelompok dua( yang terdiri dari dua orang), kelompok tiga, dan seterusnya; kelompok kecil (beranggota 2-5 orang), kelompoksedang(6 -15 orang), kelompok agak besar (16-25 orang), kelompokm besar (26 - 40 orang) dan seterusnya sampai dengan kelompok “raksasa”. Menurut sifat pembentukannya dikenal adanya kelompok primer (misalnya satuan keluarga) dan kelompok sekunder, yaitu kelompok yang dibentuk secara sengaja untuk tujuan tujuan tertentu (misalnya kelompok belajar, kelompok murid dalam satu kelas). 2. Bimbingan Kelompok Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok. Gazda (1978) mengemuksakan bahwa bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Beberapa hal yang menunjukkan homogenitas dalam kelompokmsebagai berikut: Pertama, bimbingan kelompok para anggota kelompok homogen (siswasiswa satu kelas atau satu tingkat kelas yang sama). Kedua,”masalah” yang dialami oleh semua anggota kelompok adalah sama, yaitu memerlukan informasi yangakan disajikan itu. Ketiga, tindak lanjut dari diterimanya informasi itu juga sama, yaitu untuk menyusun rencana dan membuat keputusan. Keempat, reaksi atau kegiatan yang dilakukanoleh para anggota dalam proses pemberian informasi (dan tindak lanjutnya) secara relative sama (seperti mendengarkan, mencatat, bertanya). 3. Konseling Kelompok Layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan di dalam suasana kelompok. Di sana asda konselor (yang jumlahnya mungkin lebih dari seorang) dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahnya paling kurang dua orang). Di sana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama seperti dalam konseling perorangan, yaitu hangat, terbuka, permisif dan penuh keakraban. Juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien,

penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah (jika perlu dengan menerapakan metode-metode khusus), kegiatan evaluasi dan tindak lanjut. Satu hal yang paling poko yang membedakan konseling kelompok dan konseling perorangan adalahdinamika interaksi sosial yang dapatberkembang dengan intensif dalam suasana kelompok yang justru tidak dapat dijumpai dalam konseling perorangan. Di situlah keunngulan konseling kelompok. Proses pengentasan masalah individu dalam konseling kelompok mendapatkan dimensi yang lebih luas. Kalau dalam konseling perorangan klien hanya memetik manfaat dari hubungannya dengan konselor saja, dalam konseling kelompok klien memperoleh bahan-bahan bagi pengembangan diri dan pengentasan masalahnya baik dari konselor maupun rekan-rekan anggota kelompok. Mengenai kondisi homogenenitas dan heterogenitas yang terdapat di dalam konseling kelompok dapat dilihat bahwa anggota kelomok sedapat-dapatnya homogeny, dalam arti semua anggota diharapkan dapat menyumbangkan sesuatu dalam pengembangan dinamika interaksi sosial yang terjadi di dalam kelompok. Untuk memasuki konseling kelompok para anggota atau klien pada awalnya tidak memerlukan persiapan tertentu. Masalah yang akan mereka bawa masing-masing ke dalam kelompok besar kemungkinan berbeda-beda; atau bahkan ada di antar mereka yang menurut kategori Bordin “tidak bermasalah”. Mengenai masalah yang dibahas dalam konseling kelompok, selain masalah yang bervariasi seperti tersebut, konselor dapat menetapkan (melalui persetujuan para anggota kelompok) masalh tertentu yang akan dibahas dalam kelompok. Satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus, ialah sifat isi pembicaraan dalam konseling kelompok. Sebagaimana dalam konseling perorangan, konseling kelompok menghendaki agar para klien (para peserta) dapat mengungkapakan dan mengemukakan keadaan diri masing-masing sepenuhnya dan seterbuka mungkin.

Perbedaan antara bimbingan kelompok dan konseling kelompok, sbb: Matrix 4 Perbandingan Antara Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok Aspek 1. Jumlah anggota Bimbingan Kelompok Tidak terlalu Konseling Kelompok

dibatasi; Terbatas : 5-10 orang Hendaknya homogen: dapat pula heterogen terbatas.

dapat sampai 60-80 orang 2. Kondisi karateristik anggota dan Relatif homogen

3. Tujuan dicapai

yang

ingin Penguasaan

informasi a. Pemecahan masalah

untuk tujuan yang lebih b. Pengembangan luas kemampuan komunikasi dan interaksi sosial.

4. Pemimpin kelompok 5. Peranan anggota

Konselor atau narasumber

Konselor

Menerima informasi untuk a. Berpartisipasi dalam tujuan kegunaan tertentu dinamika interaksi social b. Menyumbang pengentasan masalah c. Menyerap bahan untuk

6. Suasana interaksi

a. Menolong atau dialog terbatas b. Dangkal

pemecahan masalah a. Interaksi multiarah b. Mendalam dengan melibatkan aspek

7. Sifat isi pembicaraan 8. Frekuensi kegiatan

Tidak rahasia

emosional

Kegiatan berakhir apabila Rahasia informasi telah Kegiatan berkembang

disampaikan

sesuai dengan tingkat kemajuan pemecahan masalah Evaluasi dilakukan sesuai dengan tingkat kemajuan pemecahan masalah.

G. Kegiatan Penunjang Pelaksanaan berbagai jenis layanan bimbingandan konseling memerlukan sejumlah kegiatan penujang. 1. Instrumentasi Bimbingan dan Konseling Instrumen yang dimaksudkan itu adalah berbagai tes, inventori, angket dan format isian. Sedangkan untuk pemahaman lingkungan yang “lebih luas” dapat digunakan berbagai brosur, leaflet, selebaran, model, contoh dan sebagainya. Ada beberapa pertimbangan yang perlu mendapat perhatian para konselor dalam penerapan instrumentasi bimbingan dan konseling. Antara lain: 1) Instrumen yang dipakai haruslah haruslah yang sahih dan terandalkan. 2) Pemakai instrumen (dalam hal ini konselor) bertanggung jawab atas pemilihan instrument yang akan dipakai (misalnya tes), monitoring pengadministrasiannya dan scoring, pengiterpretasian skor dan

penggunaannya serbagai sumber informasi bagi pengambilan keputusan tertentu. 3) Pemakaian instrumen, misalnya, harus dipersiapkan secara matang, bukan hanya persiapan instrumennya saja, tetapi persiapan klien yang akan mengambil tes itu.

4) Perlu diingat bahwa tes atau istrumen apa pun hanya merupakan salah satu sumber dalam rangka memahami individu secara lebih luas dan dalam. 5) Ada dan dipergunakannya berbagai instrumen lainnya bukanlah syarat mutlak bagi pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling. Tes dan berbagai instrumenitu sekedar alat bantu. Instrumentasi bimbingan dan konseling meliputi digunakan dan dikembangkannya berbagai instrumen, baik berupa tes maupun non-tes. a. Instrumen Tes Tes merupakan prosedur untuk mengungkapkan tingkah laku seseorang dan menggambarkannya dalam bentuk skala angka atau klasifikasi tertentu (Cronbach, 1970). Secara umum kegunaan berbagai tes itu ialah membantu konselor dalam : 1) Memperoleh dasar-dasar pertimbangan berkenaan dengan berbagai masalah individu yang dites, seperti masalah penyesuaian dengan lingkungan, masalah prestasi atau hasil belajar, masalah penempatan dan penyaluran; 2) Memahami sebab-sebab terjadinya masalah diri individu; 3) Mengenali individu (misalnya siswa di sekolah) yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi dan sangat rendah yang memerlukan bantuan khusus; 4) Memperoleh gambaran tentang kecakapan, kemampuan, atau

keterampilan seseorang individu dalam bidang tertentu. b. Instrumen Non-Tes Instrumen non-tes meliputi berbagai prosedur, seperti pengamatan, wawancara, catatan anekdot, angket, sosiometri, inventori yang dibakukan. Kegunaan hasil pengungkapan melalui instrument non-tes sejalan dengan kegunaan hasil-hasil tes seperti tersebut.

2. Penyelenggaraan Himpunan Data Data yang perlu dikumpulkan, disusun dan dipelihara meliputi data pribadi dan data umum. Data pribadi siswa di sekolah, misalnya: 1) Identits Pribadi 2) Latar belakang rumah dan keluarga 3) Kemampuan mental, bakat, dan kondisi kepribadian 4) Sejarah pendidikan, hasil belajar, nilai-nilai mata pelajaran 5) Hasil tes diagnostic 6) Sejarah kesehatan 7) Pengalaman ekstra kurikuler dan kegiatan di luar sekolah 8) Minat dan cita-cita pendidikan dan pekerjaan/jabatan 9) Prestasi khusus yang pernah diperoleh Beberapa hal perlu mendapatkan perhatian dalam rangka

penyelenggaraan himpunan data dan pemanfaatannya secara optimal. 1) Matri himpunan data yang baik (akurat dan lengkap) sangat berguna untuk memberikan gambaran yang tepat tentang individu. 2) Data tentang individu selalu bertambah, berubah, berkembang, dan dinamis. 3) Data yang terkumpul disusun dalam format-format yang teratur rapi menurut sistem tertentu. 4) Data dalam himpunan data itu pada dasarnya bersifat rahasia. 5) Mengingatkan bahwa data yang dikumpulkan cukup banyak, harus pula ditambah dan dikurangi sesuai dengan perkembangan, lagi pula pengeluaran data (untuk dipakai) dan pemasukannya kembali memakan waktu yang cukup banyak, konselor sering terjebak oleh pekerjaan rutin penyelenggaraan himpunan data itu. Data umum , yaitu data yang menyangkut berbagai informasi dan berbagai hal tentang “lingkungan yang lebih luas”. Data umum ini pada umumnya dipakai untuk layanan orientasi dan informasi, penempatan dan

penyaluran. Pengumpulan data umum itu dapat dilakukan pengamatan, wawancara, angket ataupun daftar isian. Data tentang berbagai aspek perkembangan dan kehidupan sejumlah siswa atau individu di luar sekolah dapat disebut data kelompok., misalnya gambaran umum tentang cita-cita pendidikan dan jabatan, masalah-masalah yang dialami, penyebaran prestasi belajar, sikap dan kebiasaan belajar hubungan sosial antar anggota kelompok. 3. Kegiatan Khusus a. Konferensi Kasus Tujuan konferensi kasus ialah untuk: 1) Diperoleh gambaran yang lebih jelas, mendalam dan menyeluruh tentang permasalahan siswa. 2) Terkomunikasinya sejumlah aspek pemasalahan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan yang bersangkutan, sehingga penanganan masalah itu menjadi lebih mudah dan tuntas. 3) Terkoordinasinya penanganan masalah yang dimaksud sehingga upaya penanganan itu lebih efektif dan efisien. b. Kunjungan Rumah Kegiatan kunjungan rumah dan juga pemanggilan orang tua ke sekolah, setidak-tidaknya memiliki tiga tujuan utama, yaitu: 1) Memperoleh data tambahan tentang permasalahan siswa, khususnya bersangkut paut dengan keadaan rumah/orang tua, 2) Menyampaikan kepada orang tua tentang permasalahan anaknya, 3) Membangun komitmen orang tua terhadap penanganan masalah anaknya. Untuk menyampaikan tujuan yang mana pun, sebagian atau bertahap, dalam kunjungan rumah konselor terlebih dahulu: 1) Menyampaikan perlunya kunjungan rumah kepada siswa yang bersangkutan.

2) Menyusun rencana dan agenda yang konkret dan menyampaikannya kepada orang tua yang akan dikunjungi itu. c. Alih Tangan Kegiatan alih tangan meliputi dua jalur, yaitu jalur kepada konselor dan jalur dari konselor. Jalur kepada konselor, dam arti konselor menerima “kiriman” klien dari pihak-pihak lain, seperti orang tua, kepala sekolah, guru, pihak atau ahli lain (misalnya dokter, psikiater, psikolog, kepala suatu kantor atau perusahaan). Sedangkan jalur konselor, dalam arti konselor “mengirimkan” klien yang belum tuntas di tangani kepada ahli-ahli lain, seperti konselor yang lebih senior, konselor membidangi spesialisasi tertentu, ahli-ahli lain (misalnya guru bidang studi, psikologi, psikiater, dokter). Cormier & Bernard (1982) mengemukakan beberapa praktek yang salah yang hendaknya tidak dilakukan konselor dalam kegiatan ahli tangan, yaitu: (1) Klien tidak diberi alternative pilihan kepada ahli mana ia akan dialihtangankan, (2) Konselor mengalihtangankan klien kepada pihak yang keahliannya diragukan, atau kepada ahli yang reputasinya kurang dikenal, (3) Konselor membicarakan permasalahan klien kepada calon ahli tempat ahli tempat alih tangan tanpa persetujuan klien, (4) Konselor menyebutkan nama klien kepada calon ahli tempat alih tangan.

Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi berbagai layanan dan kegiatan penunjang yang semuanya itu hendaknya dilakuakn konselor, khususnya konselor yang bekerja pada lembaga tertentu (misalnya sekolah) dengan sejumlah warga lembagayang menjadi tanggung jawab penuh konselor sebagai sasaran layanan. Layanan informasi amat dibutuhkan oleh individu-individu yang perlu mempertimbangkan dan hendak mengambil keputusan tentangt sesuatu

(misalnya pilihan sekolah lanjutan), tetapi belum memilki pemahaman yang cukup tentang berbagai hal berkenaan dengan apa yang hendak diputuskan itu. Layanan penempatan dan penyaluran banyak dilakukan di sekolah terhadap hampir semua siswa. Layanan ini meliputi penempatan siswa di dalam kelas , dalam kelompok belajar, dalam kegiatan ko/ekstrakurikuler, dan dalam jurusan atau programyang tersedia di sekolah. Pada siswa yang mengalami masalah belajar, seperti keterlambatan akademik, ketercepatan belajar, sangat lambat belajar, kurang motivasi belajar, serta bersikap dan berkebiasaan belajar buruk dalam belajar memerlukan bimbingan belajar yaitu melalui pengadministrasian tes hasil belajar, tes kemampuan dasar, tes diagnostik, analisis hasil belajar atau karya, dan pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar atau karya, dan pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar. Upaya penanganan masalah belajar itu dilakukan dilakukan melalui sejumlah layanan, antara lain pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi,sikap dan kebiasaan belajar. Konseling program merupakan layanan yang amat khas, yaitu komunikasi langsung tatap muka antara klien dan konselor. Layanan khas ini sering dianggap sebagai “jantung hatinya”pelayanan bimbingandan konseling secara keseluruhan. Layanan konseling perorangan juga diberi sifat “resmi” dalam arti bahwa layanan itu merupakan usaha yang disengaja dengan niat yangb mantap, memiliki tujuan yang tidak bisa lain kecuali untuk kepentingan dan kebahagiaan klien, dilaksanakan dalam format tertentu, dengan mempergunakan metode yang terukur dan teruji, serta hasilnya dievaluasi dan ditindaklanjuti.

SOAL LATIHAN KELOMPOK VII

1. Layanan bimbingan yang dilakukan untuk memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkungan yang baru dimasukinya disebut… a. Layanan informasi b. Layanan orientasi c. Layanan Penempatan d. Layanan Bimbingan

2. Di bawah ini adalah berbagai metode layanan informasi di sekolah, kecuali… a. Ceramah, diskusi, karya wisata. b. Diskusi, buku panduan, konferensi karier. c. Ceramah, diskusi, buku panduan d. Karya wisata, konferensi, Tanya jawab. 3. Dalam suatu kasus, seorang klien diberi kesempatan mengemukakan persoalan, persoalan, perasaan, dan pikiran pikirannya secara bebas, sedangkan konselor hanya sebagai “agen pembangunan” termasuk dalam… a. Konseling direktif b. Konseling non-direktif c. Konseling elektrik d. Konseling behaviouristik.

4. Unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah kelompok adalah … a. Sekumpulan orang, ada tujuan, ada imbalan, ada kepemimpinan. b. Tujuan, keanggotaan, dan kepemimpinan, aturan yang diikuti. c. Sekumpulan orang, tujuan, keanggotaan dan kepemimpinan. d. Kepemimpinan, kesukarelaan, kerjasama, persamaan nasib. 5. Siswa yang mengalami masalah belajar, seperti keterlambatanakademik, ketercepatan belajar, sangat lambat belajar, kurang motivasi, dan sebagainya memerlukan sebuah… a. Bimbingan belajar b. Konseling c. Layanan informasi sekolah d. Layanan penempatan dan penyaluran

KUNCI JAWABAN

1. B 2. D 3. B 4. C 5. A

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->