68

POKOK BAHASAN V AGREGAT
5.1 Pendahuluan Agregat merupakan campuran dari pasir, gravel, batu pecah, slag atau material lain dari bahan mineral alami atau buatan. Agregat merupakan bagian terbesar dari campuran aspal. Material agregat yang digunakan untuk konstruksi perkerasan jalan utamanya untuk menahan beban lalu lintas. Agregat dari bahan batuan pada umumnya masih diolah lagi dengan mesin pemecah batu (stone crusher) sehingga didapatkan ukuran sebagaimana dikehendaki dalam campuran. Agar dapat digunakan sebagai campuran aspal, agregat harus lolos dari berbagai uji yang telah ditetapkan. 5.1.1 Deskripsi Singkat Pokok bahasan mengenai agregat berisi tentang: 1. Definisi agregat 2. Asal agregat 3. Pengujian terhadap agregat 4. Mencampur agregat 5. Specific Gravity agregat 6. Agregat untuk lapisan base dan sub-base 5.1.2 Relevansi Agregat merupakan material yang terbanyak digunakan dalam pekerjaan konstruksi jalan. Dapat memilih agregat yang baik untuk bahan konstruksi berarti mengerti akan cara menguji dan mengerti akan hasil uji agregat. Agregat juga merupakan bahan yang berbutir dengan ukuran yang bermacam-macam, untuk itu diperlukan ketrampilan untuk mencampurnya sehingga didapat gradasi yang sesuai dengan yang disyaratkan oleh spesifikasi. Dengan mengerti proses memilih, menguji

69

dan mencampur agregat diharapkan setelah selesai mempelajari agregat, mahasiswa dapat melakukan ketiga hal tersebut dengan baik. 5.1.3.1 Standar Kompetensi Dengan mempelajari agregat, maka diharapkan kelak mahasiswa setelah menyelesaikan studinya dapat memilih, menguji dan mencampur agregat dengan baik. Dengan demikian ia kelak akan menjadi ahli dalam pekerjaan yang memakai bahan agregat sebagai material utamanya. Agregat banyak dipakai untuk pembuatan prasarana transportasi, sehingga agregat. 5.1.3.2 Kompetensi Dasar Bila diberikan penjelasan mengenai agregat, maka diharapkan mahasiswa Program Diploma III Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro dapat memilih, menguji dan mencampur agregat dengan 95% benar. 5.2 Penyajian diharapkan ia kelak dapat melakukan perhitungan, melaksanakan maupun mengawasi pekerjaan yang menggunakan

5.2.1 Definisi Agregat Agregat adalah suatu bahan yang keras dan kaku yang digunakan sebagai bahan campuran dan berupa berbagai jenis butiran atau pecahan, termasuk didalamnya antara lain: pasir, kerikil, agregat pecah, terak dapur tinggi dan debu agregat. Banyaknya agregat dalam campuran aspal pada umumnya berkisar antara 90% sampai dengan 95% terhadap total berat campuran atau 70% sampai dengan 85% terhadap volume campuran aspal. Mineral agregat utamanya untuk menahan beban yang bekerja pada perkerasan.

70

Asal Agregat Asal agregat dapat digolongkan dalam 3 kategori: 1. Agregat dari batuan beku (volcanic rock): agregat ini terjadi akibat pendinginan dan pembekuan dari bahan-bahan yang meleleh akibat panas (magma bumi). Agregat ini digolongkan dalam 2 jenis pokok: a. Agregat dari batuan ekstrusif: terjadinya akibat dilempar ke udara dan mendingin secara cepat. Jenis pokoknya: pyolite, andesite dan basalt. Sifat utamanya: berbutir halus, keras dan cenderung rapuh. b. Agregat dari batuan intrusif: terjadinya akibat batuan yang mendingin secara lambat dan diperoleh sebagai singkapan. Jenis pokoknya: granit, diorit dan gabro. Sifat utamanya: berbutir kasar, keras dan kaku. 2. Agregat dari batuan endapan (sedimentary rock): agregat terjadi dari hasil endapan halus dari hasil pelapukan batuan bebas, tumbuhtumbuhan, binatang. Dengan mengalami proses pelekatan dan penekanan oleh alam maka menjadi agregat/batuan endapan. Jenis agregat dari batuan endapan antara lain: batuan kapur, batuan silika dan batuan pasir. 3. Agregat dari batuan methamorphik: agregat terjadi dari hasil modifikasi oleh alam (perubahan fisik dan kimia dari batuan endapan dan beku sebagai hasil dari tekanan yang kuat, akibat gesekan bumi dan panas yang berlebihan). Sebagai contoh: batuan kapur menjadi marmer dan batuan pasir menjadi kwarsa. Agregat untuk campuran perkerasan jalan juga diklasifikasikan berdasarkan sumbernya: 1. Pit atau bank run materials (pit-run), biasanya gravel dari ukuran 75 mm (3 in) sampai ukuran 4.75 mm (No. 4). Pasir yang terdiri partikel ukuran 4.75 mm (No. 4) hingga partikel berukuran 0.075 mm (No. 200). Ada juga silt yang berukuran 0.075 mm kebawah. Batu-batuan tersebut tersingkap dan ter-degradasi oleh alam baik secara fisik maupun

Produk proses degradasi ini kemudian diangkut oleh angin. Pada ukuran bedrocks sebelum masuk mesin stone-crusher maka pengambilannya melalui blasting (peledakan dengan dinamit). Agregat alam biasanya dipecah agar dapat digunakan sebagai campuran aspal. Ukuran dan gradasi . kemudian ukurannya diperkecil dan didinginkan dengan Pemakaian agregat sintetis untuk pelapisan lantai jembatan. merupakan hasil proses pemecahan batubatuan dengan stone-crusher machine (mesin pemecah batu) dan disaring. mengapung pada besi cair adalah bukan bahan logam (non-metallic). Agregat sintetis/buatan (synthetic/artificial aggregates). dimana pemecahan akan merubah tekstur permukaan. sebagai hasil modifikasi. Evaluasi mutu agregat agar layak dipakai untuk bahan perkerasan antara lain: 1. Pemecahan batu bisa dari ukuran bedrocks atau batu yang sangat besar.71 kimiawi. Agregat yang dipecah tersebut kualitasnya kemungkinan bertambah. Terak dapur tinggi (blast-furnace slag) adalah yang paling umum digunakan sebagai agregat buatan. 2. baik secara fisik atau kimiawi. 3. karena agregat sintetis lebih tahan lama dan lebih tahan terhadap geseran dari pada agregat alam. Pengujian Terhadap Agregat Pemilihan terhadap bahan agregat yang akan digunakan untuk bahan perkerasan jalan tergantung pada ketersediaan (volume) agregat yang ada di-lokasi. Agregat hasil proses. merubah bentuk agregat dari bulat ke bersudut. kualitasnya dan harga yang layak. air atau es (gletser yang bergerak) dan diendapkan disuatu lahan. menambah distribusi dan jangkauan ukuran partikel agregat. Agregat demikian merupakan hasil tambahan pada proses pemurnian biji tambang besi atau yang spesial diproduksi atau diproses dari bahan mentah yang dipakai sebagai agregat. Terak yang udara.

. bergradasi seragam (single size). Gambar 5. Ukuran nominal maksimum agregat adalah ukuran saringan yang terbesar dimana diatas saringan tersebut terdapat sebagian agregat yang tertahan. Ukuran butiran yang maksimum dari agregat ditunjukkan dengan saringan terkecil dimana agregat tersebut masih bisa lolos 100%. Kebersihan 3. bergradasi kasar (coarse graded) dan bergradasi halus (fine graded).72 2.1 merupakan contoh kurva gradasi campuran agregat untuk aspal beton surface course. Ukuran butiran maksimum dan gradasi agregat dikontrol oleh spesifikasi. bergradasi terbuka (open graded). Sebagai contoh gradasi: agregat bergradasi rapat (dense graded). Daya lekat untuk aspal Ukuran dan gradasi. bergradasi senjang (gap graded). Bentuk butiran agregat 6. Agregat sering kali dikontrol oleh gradasinya. Kekerasan/keausan 4. Penyerapan (absorption) 7. Tekstur dari partikel 5.

75 mm). pemadatan dan dipakai untuk lalu lintas sementara maupun tetap sesudah jalan dalam masa pelayanan mengharuskan agregat harus kuat menahan gaya abrasi. kotoran ini sangat berpengaruh terhadap keawetan perkerasan jalan. 4 (4. Kandungan kotoran tersebut oleh spesifikasi dibatasi. Kadangkala dijumpai agregat yang mengandung kotoran (lumpur. Proses pelaksanaan pekerjaan jalan meliputi: penempatan.1 Kurva gradasi campuran agregat untuk aspal beton surface course Kebersihan. Untuk agregat yang ditempatkan pada permukaan jalan (surface layer) maka kekerasannya harus lebih besar dari pada lapisan dibawahnya. .73 Gambar 5. Agregat harus tahan terhadap gaya-gaya abrasi selama agregat tersebut dalam masa produksi. tumbuh-tumbuhan dan partikel lunak). Test sand-equivalent (AASHTO T-176) merupakan salah satu cara untuk menentukan bagian dari material berbutir halus atau lempung (clay) yang ada pada agregat yang lolos saringan No. tetapi lebih pasti lagi hasilnya bila kita lakukan analisa saringan basah. Kebersihan agregat dapat dilihat secara visual. Kekerasan.

Peralatan dan tata cara pengujian ada pada spesifikasi AASHTO T-96 dan ASTM C-131. hasilnya berupa abrasi atau ketahanan dari mineral agregat. Bagian yang tertahan saringan No. Gambar 5. Bagian yang tertahan saringan No. Gradasi agregat yang akan diperiksa ditimbang beratnya dan dipisah pada saringan No. 12 ditimbang.74 Kekerasan tersebut diukur dengan mesin abrasi Los-Angeles. Harga ini menyatakan persentase dari pemakaian (kekerasan). 12 (1.2 Mesin abrasi Los Angeles .2 memperlihatkan mesin abrasi Los Angeles. Mesin kemudian diputar 500 kali putaran. Gambar 5. Setelah itu agregat dikeluarkan dan di-ayak lagi. Perbedaan antara berat awal dan berat akhir dibagi berat keseluruhan dihitung sebagai persentase dari berat awal.70 mm). 12 ditimbang kemudian keseluruhannya (yang tertahan maupun yang lolos) dimasukkan ke drum mesin abrasi Los Angeles yang berisi bola-bola baja.

agregat harus mempunyai nilai abrasi maksimum 40 % setelah 500 kali putaran mesin Los Angeles. Bentuk partikel agregat. Tekstur permukaan yang kasar seperti kertas amplas cenderung menambah kekuatan dari campuran aspal agregat dan memerlukan penambahan aspal untuk menjaga kehilangan workability nya. tetapi seperti bentuk partikel agregat. Permukaan yang halus mudah untuk diselimuti oleh film aspal. 2. Tekstur permukaan. demikian juga untuk . Bentuk dari partikel akan berpengaruh terhadap kemudahan untuk dikerjakan (workability). Tidak ada cara untuk mengukur tekstur permukaan dari agregat. Sebagaimana halnya tekstur dari partikel. Agregat keras mempunyai nilai abrasi ≤ 20 % 2. nilai abrasi maksimum 40 %. Batuan alam seperti batu-batu sungai sering dijumpai mempunyai permukaan halus dan berbentuk bulat. Tekstur permukaan dipandang lebih penting dari pada tekstur dari partikel. tekstur permukaan mempengaruhi kemudahan untuk dikerjakan dan kekuatan campuran agregat aspal (hotmix). yaitu: 1. Dengan memecah batuan tersebut akan didapat permukaan yang kasar dan bentuk yang tidak bulat lagi. Untuk campuran aspal (aspal beton). karakter ini terefleksi pada pengujian kekuatan campuran aspal dan workability-nya. Untuk lapisan sub-base dan base.75 Dari pengujian keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles dapat diambil suatu batasan untuk penggolongan kekerasan agregat. tetapi permukaan yang kasar film aspal cenderung lebih mempunyai daya lekat yang tinggi. Untuk lapisan permukaan (wearing course) nilai abrasi maksimum 30 %. Agregat lunak mempunyai nilai abrasi > 50 % Disamping hal diatas maka pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi jalan penggunaan agregat berdasarkan kekerasannya sebagai berikut: 1.

Bobot yang ringan dan mempunyai ketahanan pemakaian yang tinggi menyebabkan agregat jenis ini sering digunakan dalam campuran agregat-aspal.76 usaha pemadatan agar dapat dicapai kepadatan yang disyaratkan. Agregat yang bersudut didapat dari pemecahan batu (coarse aggregate) dan agregat yang bulat didapat dari pasir (rounded particles) yang merupakan fine aggregate. Pada campuran agregat aspal (hotmix) ada sedikit penambahan kadar aspal untuk memenuhi penyerapan aspal oleh agregat. maka agregat yang awalnya berbentuk bulat harus dipecah dulu dimesin pemecah batu (stone crusher). menyudut. Agregat dengan porositas yang sangat tinggi tidak digunakan dalam campuran agregat aspal. Agregat yang sangat porous bila dipakai dalam campuran harus ditambah aspal cukup banyak. menyudut. Beberapa campuran aspal mempunyai agregat dengan bentuk campuran antara agregat bersudut dan bulat. akan menghasilkan keadaan saling mengunci sehingga kestabilan dari campuran tinggi. Penyerapan (absorption). Agregat yang porous akan menyerap aspal. . Porositas dari agregat diindikasikan sebagai banyaknya air yang diserap ketika agregat tersebut direndam dalam air. sehingga campuran cenderung kering atau kurang daya lekat (cohesive). dan pasir untuk workability nya dan kemudahannya untuk dipadatkan. Bentuk-bentuk yang tidak teratur. Agar didapat bentuk yang tidak teratur. Blast furnace slag dan beberapa agregat buatan maupun agregat sintetis merupakan material ringan tetapi dengan porositas tinggi. kecuali agregat tersebut mempunyai sifat yang sangat bagus. Sebaliknya bentuk-bentuk bulat menjadikan campuran kurang stabil. Kekuatan utama dari campuran aspal ini datang dari coarse aggregate nya. Bentuk dari partikel juga mempunyai pengaruh terhadap kekuatan campuran aspal.

Daya lekat untuk aspal. setelah direndam dalam air dibandingkan dengan kekuatan campuran yang sama tetapi tidak direndam dalam air.77 Untuk menentukan penyerapan aspal oleh agregat digunakan uji penyerapan air oleh agregat yang distandarisir dalam spesifikasi AASHTO T 84-88 atau ASTM C 128-84 untuk agregat halus dan AASHTO T 85-88 atau ASTM C 127-84 untuk agregat kasar. dimana kekuatan campuran agregat-aspal yang dipadatkan. Agregat yang demikian dinamakan hydrophobic (tidak suka air). Dimana campuran yang tidak dipadatkan direndam dalam air. Pengurangan kekuatan yang terjadi merupakan indikasi dari kualitas agregat yang dipakai dari sudut pandang ketahanan terhadap penglupasan oleh air. Gradasi agregat tersebut disesuaikan dengan mencampur dengan agregat lain. agregat tersebut seringkali masih memberikan hasil yang memuaskan apabila hubungan kepadatan-rongga (density-voids relationship) dapat ditingkatkan dengan penyesuaian terhadap gradasi dan kadar aspalnya. Batuan silika seperti quartzite dan beberapa jenis granit merupakan agregat yang perlu diwaspadai terhadap bahaya penglepasan oleh air. kemudian material yang masih diselimuti oleh lapisan aspal dilihat secara visual. Material agregat yang demikian dinamakan hydrophilic (suka air). Uji lain yang menunjukkan pengaruh air terhadap campuran agregat-aspal adalah immersion-compression test ASTM D 1075 dan AASHTO T 165. dolomite dan batuan yang diendapkan. Jenis agregat ini adalah batuan kapur (limestone). Agregat yang menunjukkan ketahanan terhadap gaya penglepasan oleh air sangat cocok untuk campuran aspal. Penglepasan (pengelupasan) lapisan aspal (asphalt film) dari agregat oleh air membuat agregat tersebut tidak cocok untuk campuran aspal. Kemudian dengan memilih kecukupan . Bila agregat yang tidak sesuai atau dalam tanda tanya kualitasnya harus dipergunakan. Metoda pengujian untuk menentukan pelapisan dan penglepasan campuran agregat-aspal menggunakan ASTM D 1664.

maka ada penggolongan agregat berdasarkan tema untuk tujuan campuran agregat-aspal. Persen total tertahan. Persen total lolos adalah yang umum digunakan. Agregat halus adalah fraksi material yang lolos saringan No. 8 (2. Untuk menkontrol material konstruksi sehubungan dengan kualitas perkerasan yang diinginkan.075 mm). c. 3. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah. dan c. Di Amerika Serikat maka AASHTO dan ASTM.075 mm). Agregat disamping digolongkan sesuai ukurannya masing-masing. 200 (0. 200 (0. b. . Agregat kasar adalah fraksi material yang tertahan saringan No. Sedangkan spesifikasi gradasi agregat dibuat dengan tujuan: 1. Untuk mengurangi biaya dengan melalui standarisasi biaya.78 kadar aspal untuk mengurangi rongga. Perkerasan demikian akan tahan terhadap efek perusakan oleh air. Untuk Indonesia maka spesifikasi gradasi ditentukan oleh: Direktorat Jenderal Bina Marga. maka campuran agregat-aspal yang dipadatkan akan sulit ditembus oleh air (impermeable). 8 (2. Gradasi agregat dinyatakan sebagai: a. Untuk menemukan penggunaan yang optimum terhadap material setempat yang tersedia. yakni: a. Persen lolos-tertahan. 2.36 mm) dan tertahan saringan No. mempunyai gradasi yang dibentuk tersendiri dan di Inggris oleh BS (British Standard). Bahan pengisi (filler) adalah fraksi material yang lolos saringan No.36 mm). Persen total lolos b. Mencampur Agregat Mencampur agregat (aggregat blending) adalah untuk mendapatkan gradasi agregat yang sesuai dengan gradasi yang ditentukan dalam spesifikasi.

Tabel 5.75 mm No.2 dibawah.1 mm 1 ½ in 38.4 mm 1 in 25.75 0.5 mm ½ in 12.0234 600 µm No. Gradasi ditentukan dengan melewatkan sejumlah material melalui serangkaian saringan dari ukuran besar ke ukuran kecil dan menimbang berat material yang tertahan pada masing-masing saringan.075 0.79 Gradasi agregat adalah distribusi dari ukuran partikelnya dan dinyatakan dalam persentase terhadap total beratnya.187 2.5 0. 30 0.150 0.1 berikut merupakan ukuran saringan standar Amerika Serikat. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 5. Diharapkan anda mengerti cara mengisi kolom persen lolos total.18 mm No.0469 No.5 0.0029 75µm Sebagai contoh kita ambil agregat campuran seberat 1135 gram.0937 1.375 4.18 0. .500 9.0059 150 µm N0.36 0. 16 1.750 12.300 0.0117 300 µm No. 50 0.36 mm No.600 0.50 25.0 mm ¾ in 19 0. 4 4.1 Dimensi Nominal Saringan Standar Amerika Serikat Penandaan Saringan Ukuran Lubang Saringan Standar Alternatif Mm In 38. 150 0.8 2. persen tertahan total dan persen lolos-tertahan. 200 0.5 mm 3/8 in 9.00 19. persen tertahan total dan persen lolos-tertahan. Tabel 5.1 1. kemudian kita lewatkan pada serangkaian saringan standar Amerika Serikat seperti diatas dan diamati jumlah: persen lolos total.0 1.

B.80 Tabel 5. 200 51 85 7. B. C dan seterusnya = persentase dari material yang lolos suatu saringan untuk agregat A.5 75 µm Pan Pan 85 Total = 1135 Mencampur (blending) dua macam atau lebih agregat yang mempunyai gradasi yang berbeda sehingga gradasi campurannya memenuhi spesifikasi yang ditentukan adalah pekerjaan yang biasa dilakukan dibidang pembangunan konstruksi jalan raya. A.36mm No.5mm ½ in 56 1079 95 5 15 9. 100 No.5 150µm No. C dan seterusnya. c dan seterusnya = proporsi dari agregat A.5 92.8 203 443 39 61 16 No.30 182 261 23 77 6 600µm No.75mm No. C dan seterusnya yang terpakai dalam kombinasi dan total = 1. B.5 7.2 Contoh analisa saringan yang digunakan untuk menentukan gradasi Standar Ukuran Tertahan Lolos Persen Persen Persen LolosSaringan Saringan Saringan Lolos Tertahan (mm) (gram) (gram) Total Tertahan Total 19 mm ¾ in 0 1135 100 0 5 12. Persentase terkombinasi P harus cocok dengan persentase yang diinginkan untuk setiap ukuran saringan pada spesifikasi.5 mm 3/8 in 171 908 80 20 23 4. a. . b.4 262 646 57 43 18 2. C dan seterusnya.50 68 193 17 83 5 300µm 57 136 12 88 4. B. Tanpa memandang jumlah agregat yang akan dicampur maka rumus dasar yang menyatakan campuran agregat adalah: P = Aa + Bb + Cc + dan seterusnya Dimana: P = persentase material yang lolos suatu saringan untuk agregat terkombinasi A.

8.29 23. 100 0 21 8 – 16 12 No. .2 = = 0.3 Gradasi agregat A. disubtitusikan ke persamaan diatas menjadi: b= P−A B−A juga. 8 3.5 No. 4 16 96 50 – 70 60 No. 30 1. 8 maka: b= P − A 42.5 No.3 berikut ini. hal ini selalu diambil demikian karena saringan No.81 Untuk mencampur 2 agregat. a + b = 1 maka a = 1 – b. 50 0 36 13 – 23 18 No. Tabel 5.2 sehingga a = 1 – b = 0. 8 merupakan batas antara agregat kasar dan halus. a = P−B A− B Contoh1: Agregat A akan dicampur dengan agregat B untuk memenuhi spesifikasi yang ditentukan.2 4 – 16 10 * Titik tengah spesifikasi Berdasarkan saringan No. Diatas perhitungan didasarkan saringan No. Hasil analisa saringan agregat A maupun agregat B dan gradasi yang dibutuhkan oleh spesifikasi dapat dilihat pada Tabel 5.50 Selanjutnya Tabel 5. 200 0 9.50 B−A 82 − 3. maka rumus dasar diatas menjadi: P = Aa + Bb Karena.5 − 3.5 mm 59 100 70 – 90 80 No. 4 merupakan hasil kombinasi agregat A dan B.2 82 35 – 50 42.1 51 18 .5 mm 90 100 80 – 100 90 9. B dan Spesifikasi Persen lolos Ukuran Saringan Agregat A Agregat B Spesifikasi Ttk tengah * 19 mm 100 100 100 100 12.

5 0 4.29 No.5 dapat dilihat hasil penyesuaian telah memenuhi spesifikasi.6 4.6 44.7 50 – 70 No. 30 No. Tabel 5. 4 No.3 52 80. 8 No.5 mm No.5 dibawah.5 mm 9.2 52 95. Selanjutnya kombinasi 2 agregat seperti Tabel 5.9 10. Hasil akhir bisa kita lihat pada tabel 5.5 mm 43.3 dibawah. 100 No. Untuk itu kita naikkan untuk % agregat B nya menjadi 52 %.6 Spesifikasi 100 80 – 100 70 – 90 50 – 70 35 – 50 18 .5 42.5 mm 28. 4 7.6 41 42.2 80 – 100 9.4 Hasil kombinasi agregat A & B Persen lolos 50% Agr A 50% Agr B Total 50 50 100 45.4 diatas hasilnya masih terlalu rendah.6 0.82 Ukuran Saringan 19 mm 12.6 0 18 18 0 10. 200 0 4.7 18.10 Terlihat bahwa untuk saringan No.5 10.1 35 – 50 No.10 Dari Tabel 5.9 8 – 16 No. 50 No.29 13 – 23 8 – 16 4 .3 diatas dapat pula dikerjakan secara grafis seperti Gambar 5.5 50 95.5 27 18 .6 25 25. 50 0 18.8 4.7 50 57. 8 1. 100 0 10.5 26.5 8 48 56 1.8 4 .5 Hasil penyesuaian kombinasi agregat A & B Ukuran Persen lolos Saringan 48% Agr A 52% Agr B Total Spesifikasi 19 mm 48 52 100 100 12. Contoh 2: Kerjakan campuran agregat Tabel 5.3 diatas secara grafis .7 13 – 23 No.5 29.5 50 79. 200 Tabel 5.3 70 – 90 No. 30 0. 200 pada Tabel 5.

5 mm. Misal pada garis 9.3 Mencampur 2 gradasi agregat secara grafis Langkah-langkah mencampur 2 agregat secara grafis sebagai berikut: 1. potongkan spesifikasi (garis horisontal) dengan garis tersebut.83 Gambar 5. 5. 6. Hubungkan titik-titik yang mempunyai ukuran sama dengan garis lurus dan beri tanda. . Persen lolos untuk agregat B digambar disebelah kiri (100 persen lolos untuk agregat B). 3. Bagian antara 2 garis vertikal adalah hasil campurannya: 43% hingga 54% agregat A dan 46% hingga 57% agregat B. Persen lolos untuk agregat A digambar disebelah kanan (100 persen lolos untuk agregat A) 2. Untuk setiap garis yang telah diberi tanda dengan ukurannya. 4. spesifikasinya 70% – 90%. Bagian antara 2 titik potong (tanda > dan <) adalah spesifikasinya yang tak boleh dilampaui.

halus. 200 menjadi: 0.4 − 95 dimana: a = proporsi agregat kasar yang dicari P = persentase material yang diinginkan lolos saringan No.3 23 95 8 – 16 12 No.4 95 100 35 – 50 42. Tabel 5. yaitu: agregat kasar. Hal ini sering dijumpai bila dalam AMP mempunyai 3 coldbin. 8 yang diperlukan dihitung dengan rumus: a= P − B 42.8%. Tabel 5.5 No. agregat halus dan filler (bahan pengisi).8 B = persentase dari agregat halus yang lolos saringan No. 30 0.8 Jadi proporsi agregat kasarnya 57% dan agregat halusnya 43%.1 8.5 − 95 = = 0. Contoh 3: Dalam contoh berikut akan dicampur 3 macam agregat. .38 = 3. Sehingga jumlah agregat halus yang lewat saringan No.8 = 0. 4 29 100 100 50 – 70 60 No. Biasanya diambil garis tengah antara 2 garis vertikal tersebut sebagai hasil akhirnya. 8 2.5% (titik tengah spesifikasi). yaitu 48% agregat A dan 52 % agregat B.8 74 4 – 10 7 Langkah pertama yaitu menentukan persentase agregat kasar dan agregat halus sehingga dihasilkan butir-butir yang lewat saringan No.6 dibawah merupakan hasil gradasi dari ketiga macam agregat diatas. 8 sebesar 42. filler dan spesifikasi Ukuran Persen Lolos Saringan Ag. Kasar Ag. 8 A = persentase dari agregat kasar yang lolos saringan No.6 Gradasi agregat kasar.84 7.57 A− B 2. 100 0.5 47 100 18 – 29 33. Persentase butir kasar yang lewat saringan No. 200 0.5 No. Halus Filler Spesifikasi Ttk Tengah ¾ in 100 100 100 100 100 ½ in 85 100 100 80 – 100 90 3/8 in 58 100 100 70 – 90 80 No.43 x 8.

2 9 3. sedang dan halus.29 No.2%.5 4 . 2 × 100 = 4.7 Gradasi gabungan agregat kasar. 100 0.3 18.90 No.4 80 .7 berikut. Ketiga bahan tersebut mempunyai pembagian butir yang ”overlapping”. 200 0.8 6.9 4 59.1 3. Filler yang diperlukan= Jadi susunan gabungan: 57% agregat kasar 39% agregat halus 4% filler.4 37. halus.8 13 8 – 16 No.3 4 22.1 70 . Untuk penggabungan ketiga butiran agregat tersebut agar dapat memenuhi spesifikasi yang ditentukan maka lebih mudah dilakukan secara grafis.5 3.5 35 – 50 No.10 * AK = Agregat Kasar ** AH = Agregat Halus *** F = Filler Contoh 4: Tabel 5. 8 1. Hasil akhir diatas dapat dilihat pada Tabel 5. 4 16.100 3/8 in 33. Kekurangan ini akan diambil dari filler. 3.9 4 76.1 3.6 18 . Tabel 5.85 Harga titik tengah spesifikasi untuk saringan No.8 dibawah merupakan bahan agregat yang terdiri dari agregat kasar.4 39 4 91.3 % diambil 4% 74 .5 50 – 70 No. filler dan spesifikasi Ukuran Persen Lolos Saringan 57% AK* 39% AH** 4%F*** Gabungan Spesifikasi ¾ in 57 39 4 100 100 ½ in 48.4 3. 30 0. 200 adalah 7% sehingga masih ada kekurangan 3.1 4 42.

0 55 20 – 30 25 No.8 Gradasi agregat kasar.0 15 4 – 10 7 Kerjakan penggabungan ketiga jenis agregat yaitu agregat kasar. sedang.8 diatas secara grafis.0 4. hasil tersebut dapat diurai sebagai berikut: Agregat kasar Agregat halus = 8% Agregat sedang = 60% x 92 = 55% = 40% x 92 = 37% Total = 100% 4.5 No.5 2. Gambar 5.0 52 100 55 – 75 65 No.4 dibawah. Hasil akhirnya dapat dilihat agregat kasar 8% dan agregat sedang+halus 92%. halus dan halus pada Tabel 5. 30 2. 100 1. 4 3.5 18 98 40 – 55 42.2 30 10 – 18 14 No. . halus dan spesifikasi Ukuran Persen Lolos Saringan Kasar Sedang Halus Spesifikasi Ttk Tengah ¾ in 100 100 100 100 100 ½ in 74 100 100 80 – 100 90 3/8 in 12 90 100 70 – 90 80 No. Hasil akhir tersebut harus dibuat tabelnya seperti Tabel 5. 8 2. Hasil ini merupakan agregat sedang + halus (sedang 60% dan halus 40%) 3. Untuk bisa sampai pada hasil seperti Gambar 5.86 Tabel 5.4 merupakan hasil penggabungan ketiga jenis agregat tersebut. maka langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. 200 1. Kerjakan dulu penggabungan agregat sedang dengan halus mengikuti langkah-langkah seperti pada contoh 2.8 3. Hasil penggabungan agregat sedang dan halus kemudian dipindah ke garis paling kiri (lihat garis putus-putus). 2. Gabungkan lagi hasil penggabungan pertama dengan agregat kasar.9.

87 Tabel 5. 8 0.9 36.1 5.5 70 – 90 No. 30 0.4 40 – 55 No. 100 0.6 6.2 20.3 46.4 22. 200 0.8 20 – 30 No. 4 0.9 80 – 100 3/8 in 1 49.8 4 – 10 .2 9.1 1.1 1.6 37 65.2 2.1 13.2 28.5 37 87.8 11.1 10 – 18 No. sedang dan halus Ukuran Persen Lolos Saringan 8% Ksr 55% Sdg 37% Hls Total Spesifikasi ¾ in 8 55 37 100 100 ½ in 5.9 Hasil akhir gabungan agregat kasar.8 55 – 75 No.9 55 37 97.

4 Hasil penggabungan agregat kasar.88 Gambar 5. sedang dan halus secara grafis .

Hasil pembagian tersebut diatas adalah sebagai berikut: agregat kasar agregat halus = 21% = 42% agregat sedang = 37% 6. memotong bagian yang sama antara grafik gradasi halus dan sedang. 8 2. memotong bagian yang sama antara grafik gradasi sedang dan kasar.10 Gradasi agregat kasar.0 55 20 – 30 25 No.0 4. 2. Tabel 5. 3.0 15 4 – 10 7 Untuk contoh 5 ini kita coba cara grafis lain yaitu dengan membuat grafik gradasi ketiga macam agregat tersebut.8 3. sedang dan halus terlihat seperti pada Tabel 5.5.5 2. lihat Gambar 5.2 30 10 – 18 14 No. 30 2. 5. Garis tegak 1. sedang. Buat persegi panjang ABCD dengan perbandingan sisi pendek dengan sisi panjang 1: 2. Garis tegak 2. 4.10 dibawah. 100 1.0 52 100 55 – 75 65 No.5 No. Cara membuat grafik gradasinya sebagai berikut: 1. Diminta untuk mencampur ketiga macam agregat tersebut sesuai dengan spesifikasi yang diminta.89 Contoh 5: Gradasi agregat kasar. Hasil gabungannya bisa dilihat pada Tabel 5.5 18 98 40 – 55 42. Jadi AD : AB = 1 : 2. Pada sisi panjang tentukan nomor (ukuran) saringan dan beri garis tegak pada nomor saringan tersebut. halus dan spesifikasi Ukuran Persen Lolos Saringan Kasar Sedang Halus Spesifikasi Ttk Tengah ¾ in 100 100 100 100 100 ½ in 74 100 100 80 – 100 90 3/8 in 12 90 100 70 – 90 80 No.11 . 4 3. Tariklah garis tegak lurus yang memotong grafik gradasi tersebut pada panjang bagian yang sama. 200 1. Gambar pembagian butir (gradasi) dari masing-masing agregat.

sedang dan halus .90 Gambar 5.5 Hasil grafis pencampuran agregat kasar.

8 0.5 55 – 75 No. Bulk specific gravity (berat jenis butiran) 3.7 6.6.9 20 – 30 No. 2.5 80 – 100 3/8 in 2.4 1.5 37 42 94.2 1. 4 0.5 33 42 77.91 Tabel 5. Effective specific gravity (berat jenis efektif) Untuk menjelaskan ketiga macam specific gravity.3 7. marilah kita lihat gambar butir agregat pada Gambar 5.1 10 – 18 No.5 23 24.5 6. sedang dan halus Ukuran Persen Lolos Saringan 21% Ksr 37% Sdg 42% Hls Total Spesifikasi ¾ in 21 37 42 100 100 ½ in 15.11 Hasil akhir gabungan agregat kasar. Apparent specific gravity (berat jenis semu).3 4 – 10 Specific Gravity Agregat Specific gravity dari agregat adalah perbandingan berat antara 1 unit volume agregat dengan berat air pada suhu 200 C hingga 250 C dengan volume yang sama dengan agregat.6 19 42 61. 30 0.5 70 – 90 No.3 0.1 12. .1 40 – 55 No. 100 0.6 41 48.6 14. 200 0. Ada 3 macam specific gravity agregat: 1.

Di lapisan ini yang bisa diserap oleh pori adalah air. Merupakan lapisan yang mempunyai pori tetapi tidak dapat ditembus oleh air. . bagian disebelah luar dari inti (lapisan kedua dari dalam). yang merupakan lapisan ketiga dari sebelah dalam. ini merupakan volume bagian paling dalam (inti) dari batu agregat. Volume of impermeable pores (Vip). 3. 4. Merupakan volume pori yang dapat ditembus oleh air. bagian yang terdiri dari dua lapis dari luar. sedangkan aspal tidak bisa.6 Hubungan antara berbagai volume pada butiran agregat Dari Gambar 5.6 maka bagian-bagian dari volume butiran agregat sebagai berikut: 1.92 Volume of solids (Vs) Volume of impermeable pores (Vip) Volume of water permeable pores (Vpp) Volume of pores absorbing asphalt (Vap) Volume of water permeable pores not absorbing asphalt (Vpp – Vap) Gambar 5. 5. yang merupakan bagian paling luar yang mana pori yang ada dibagian ini adalah yang menyerap bahan aspal. 2. Volume of water permeable pores (Vpp). Volume of water permeable pores not absorbing asphalt (Vpp – Vap). Volume of pores absorbing asphalt (Vap). Volume of solids (Vs).

4 (4. Bulk specific gravity (berat jenis butiran) memandang keseluruhan volume dari partikel agregat. Apparent specific gravity (berat jenis semu) memandang volume sebagai seluruh volume agregat diluar volume pori yang akan terisi air bila direndam dalam air selama 24 jam. 3. Agregat kemudian diambil dan permukaannya dikeringkan dengan lap. 1 gr/ml Selanjutnya secara ringkas prosedur menentukan specific gravity agregat kasar sebagai berikut: 1. sehingga terdapat kondisi kering permukaan tapi jenuh air (kondisi ssd = saturated surface dry). .84 dan ASTM C – 128 untuk agregat halus.85 dan ASTM C – 127 untuk agregat kasar dan AASHTO T . Akhirnya perumusan specific gravity menjadi: Apparent specific gravity = Gsa = Bulk specific gravity = Gsb = Ws (Vs + Vip ) × γw Ws (Vs + Vip + Vpp ) × γw Ws (Vs + Vip + Vpp − Vap ) × γw Effective specific gravity = Gse = Dimana: Ws = berat agregat kering oven γw = berat jenis air. termasuk pori yang akan terisi air bila direndam selama 24 jam dalam air. Agregat yang telah kering oven direndam dalam air selama 24 jam. Agregat yang tertahan pada saringan No. maka ada caranya yaitu di spesifikasikan pada AASHTO T . 2.93 Untuk menentukan specific gravity. Effectif specific gravity (berat jenis efektif) memandang keseluruhan volume agregat diluar volume yang menyerap aspal.75 mm) dicuci dan dikeringkan dalam oven hingga beratnya konstan (ambil sampel ± 5 kg).

keringkan dalam oven hingga beratnya konstan. gr B = berat agregat kering permukaan tetapi jenuh air (ssd). kemudian diisi air dan ditimbang beratnya. catat beratnya.3 tersebut. Maka: Apparent specific gravity = Gsa = Bulk specific gravity = Gsb = A A−C A B−C Gsa + Gsb 2 Effective specific gravity = Gse = Penyerapan air = ( B − A) × 100 A Untuk menentukan specific gravity agregat halus secara ringkas prosedurnya sebagai berikut: 1. gr. Sampel agregat jenuh air tapi kering permukaan (ssd) diambil 500 gram dan ditempatkan ditabung. 5. 4. . Ambil kira-kira 1000 gram agregat halus (lolos saringan No. 200). Tempatkan agregat dalam keranjang (basket). Kondisi agregat jenuh air tapi kering permukaan (ssd) tercapai bila agregat dapat dicetak dengan cetakkan kerucut. 7. Agregat halus kemudian dikeluarkan dari tabung kemudian ditimbang beratnya. dan timbang beratnya dalam air. Agregat kemudian dikeringkan dalam oven dan beratnya ditimbang hingga konstan. Agregat kemudian direndam dalam air selama 24 jam. 5. 2.94 4. Dalam kondisi seperti No. catat berat dalam air. agregat kemudian ditimbang. 8 tertahan saringan No. 6. 3. 6. Jika A = berat agregat kering oven. Agregat kemudian diletakkan secara menyebar pada bidang datar hingga air tersisa bisa keluar. gr C = berat agregat dalam air.

AASHTO T . gram V = Volume dalam tabung. 10% maks 12% maks. Bahan dari pemecahan batu blondos atau pemecahan dari gunung batu. Gsb = A (V − W ) − (500 − A) A V −W Gsa + Gsb 2 Effective specific gravity. AASHTO T – 96 5. Lapisan base terletak diatas lapisan sub-base dan dibawah lapisan campuran aspal agregat. Syarat-syarat fisik agregat untuk base course: 1. ml W = berat atau volume air yang ditambahkan pada tabung yang berisi agregat. Kekerasan (toughness). 10% maks. bersudut. 40% .95 Jika: A = Berat agregat kering oven. AASHTO T – 96 min 6 maks. AASHTO T – 104 4. Maka: Apparent specific gravity. Abrasi setelah100 putaran. Gse = Penyerapan = (500 − A) × 100 A Hal penting yang perlu diingat adalah: Volume x Specific Gravity = Berat Agregat Untuk Lapisan Base Dan Sub-base Untuk yang pertama kita bahas adalah agregat untuk lapisan base. Abrasi setelah 500 putaran. Bila bahan dari pemecahan batu blondos maka 80% dari berat mempunyai satu bidang pecah. Kelarutan dalam magnesium sulfat. tidak pipih. keras. awet. Gsa = Bulk specific gravity. Kelarutan dalam sodium sulfat. tidak bulat dan bebas bahan organis. Syarat-syarat material untuk agregat base kelas A dan kelas B oleh Bina Marga ditetapkan sebagai berikut: Semua agregat yang akan dipakai untuk lapisan base harus bersih.104 3. ASTM D – 3 2.

25% maks. 4 No. 5% maks. 40 No. 5% maks. silt dan clay dengan gradasi sebagai berikut. AASHTO T . 200 in % berat lolos 100 60 – 100 55 – 85 35 . AASHTO T – 176 maks. 6% min. Sand Equivalent. Soft fragments. ASTM C – 235 8. Bagian berbutir pipih dan lonjong. AASHTO T – 112 9. Ukuran saringan ASTM 1 ½ in 1 ¾ No. 30% Material base kelas A harus dihasilkan dari pemecahan batu. terhadap berat (bagian yang lebih besar dari 1” dengan ketebalan kurang dari 1/5 panjang) 7. boleh berupa campuran batu pecah dan batuan blondos dengan harga specific gravity yang seragam dengan sand.60 25 – 50 15 – 30 8 – 15 .96 6. 0.91 10. Indeks Plastisitas. dengan gradasi sebagai berikut: Ukuran saringan (ASTM) 2 ½ in 2 1 ½ in in in 1 ½ in % berat lolos 100 90 – 100 35 – 75 0 – 15 0–5 Untuk material base kelas B. 10 No. Clay lumps.

Perlu diketahui apabila CBR subgrade nilainya lebih besar dari 25% maka lapisan ini tidak ada. 30 No. 25% 4% – 8% min 50% Sekarang yang kedua kita bahas adalah agregat untuk lapisan subbase. Indeks Plastisitas. 12. AASHTO. AASHTO T – 91 3. 25% % Berat lolos 100 60 – 90 46 – 78 40 – 70 24 – 56 13 – 45 6 – 36 2 – 22 2 – 18 0 – 10 . Syaratsyarat berikut harus dipenuhi oleh agregat base kelas B 1. Di Bab I telah dijelaskan bahwa material untuk sub-base harus mempunyai CBR ≥ 20% dan PI ≤ 10%.02 mm tidak boleh melebihi 3 % dari keseluruhan berat total dari sampel yang diuji. Bina Marga menetapkan gradasi untuk lapisan sub-nase kelas A sebagai berikut: Agregat untuk sub-base kelas A harus dihasilkan dari pemecahan batu blondos atau gunung batu dan memenuhi yarat AASHTO M – 147. AASHTO T – 176 Kehilangan berat akibat abrasi pada partikel yang Tertahan saringan ASTM No. 8 No.97 Partikel yang mempunyai diameter kurang dari 0. T – 89 2. Sand Equivalent maks. 200 Dengan sifat fisik sebagai berikut: Sand equivalent. Liquid limit (batas cair). 40 No. 40% min.Gradasinya sebagai berikut: Ukuran saringan ASTM 3 in 1 ½ in 1 in ¾ in 3/8 in No. AASHTO T 176 maks. 4 No.

adalah sebagai berikut: Ukuran saringan ASTM 1 1/2 in No. AASHTO T – 96 maks. 4 No. 15 maks. Apabila tidak ada ketentuan lain maka partikel yang lolos saringan No. 25% % Berat lolos 100 70 – 100 55 – 85 50 – 80 40 – 70 30 – 60 20 – 50 10 – 30 5 – 15 .98 Bila crushed gravel (batu pecah) yang digunakan sekurang-kurangnya 50% dari beratnya adalah partikel yang tertahan saringan No. 6% min. 4 dan sekurang-kurangnya mempunyai 1 bidang pecah. silt dan clay dan gradasinya sebagai berikut: Ukuran saringan ASTM 2 in 1 ½ in 1 in ¾ in 3/8 in No. Untuk agregat sub-base kelas B. 40. 200 % Berat lolos 100 maks. 80 maks. 200 Dengan sifat fisik sebagai berikut: Liquid limit. AASHTO T – 176 Kehilangan berat akibat abrasi pada partikel yang tertahan saringan ASTM No. AASHTO T – 89 Plasticity Index. 25% maks. 40 No. maka campuran partikel pada gradasinya berupa gravel dengan specific gravity yang seragam dengan butiran sand. 12. AASHTO T – 91 Sand Equivalent. 10 No. 200 tidak boleh lebih dari 2/3 partikel yang lolos saringan No. 40% Untuk gradasi material sub-base kelas C. 10 No.

Untuk tujuan apa agregat harus dicampur? 5. Evaluasi apa saja yang dikenakan pada agregat sebelum digunakan? 4. Apabila terdapat 2 buah jawaban anda yang salah maka nilai yang anda peroleh C. Dari mana asal agregat untuk bahan perkerasan jalan? 2. Apakah tujuan diadakan ”spesifikasi gradasi”? 5. maka nilai yang anda peroleh B. halus dan filler? 8. 200 pada gradasi dibatasi? 5.3 Penutup 5.2 Latihan 1.1 Tes Formatif 1.3. Sebutkan asal agregat? 3. Apakah agregat itu? 2.2. Untuk skor 100 nilai yang diperoleh A.2 Umpan Balik Agar anda dapat menilai sendiri hasil tes formatif diatas. Tes formatif diatas mempunyai waktu pengerjaan 15 menit. Bagaimana menggolongkan agregat kasar. Bagaimana cara mengevaluasi mutu agregat? 4. Bila jawaban anda benar semua maka skor total yang anda dapatkan 100. Tunjukkan bagaimana mencari specific gravity agregat halus? 7.99 5. Apa syarat agregat untuk lapisan sub-base? 10.3. . Tunjukkan bagaimana mencari specific gravity agregat kasar? 6. Apabila terdapat 1 buah jawaban anda yang salah. Apa syarat agregat untuk lapisan base? 9. Apa tujuan kita dalam mencampur agregat? 5. maka setiap butir jawaban anda. Apakah ”gradasi agregat” dan ”specific gravity agregat”? 3. anda beri skor 20 bila benar. Mengapa jumlah butiran yang lolos saringan No.

Kebutuhan untuk lapisan base dan subbase adalah 100% dari agregat. Ada juga yang berasal dari agregat sintetis (buatan).95% terhadap berat campuran atau 70% . endapan dan methamorphik. Untuk memenuhi spesifikasi maka agregat harus dicampur. daya serap dan daya lekat terhadap aspal. Hal tersebut untuk mendapatkan kestabilan dan kekuatan. Evaluasi terhadap agregat agar memenuhi persyaratan konstruksi adalah: ukuran dan gradasi. kekerasan. 2. Pada grading (gradasi) maka untuk partikel yang lolos saringan No. 200 perlu pengaturan yang ketat. Kebutuhan akan agregat untuk konstruksi sangat banyak. untuk campuran aspal 90% . Asal agregat dari batuan beku. Ada 3 macam specific gravity agregat yaitu: apparent. tekstur partikel.3. tekstur permukaan. Sedangkan specific gravity dari .4 Rangkuman Agregat merupakan salah satu material untuk konstruksi jalan.5 Kunci Jawaban Tes Formatif 1. Gradasi agregat adalah distribusi dari ukuran partikel dan dinyatakan dalam persentase terhadap total berat. bulk dan effective.3. maka sebaiknya anda mengulang membaca Bab IV keseluruhan sekali lagi dan coba jawab tes formatif lagi.3 Tindak Lanjut Apabila jawaban tes formatif anda masih terdapat kesalahan 2 buah atau lebih. 5. Sedangkan pada campuran aspal partikel yang lolos saringan No. 5. karena gradasi agregat satu dengan lainnya berbeda.100 5. endapan dan methamorphik. Asal agregat dari batuan beku.3. 200 akan banyak menyerap aspal.85% terhadap volume campuran. Untuk lapisan base dan sub-base maka diperlukan grading dan sifat teknis agregat tertentu agar memenuhi persyaratan. Pencampuran agregat dapat dikerjakan secara analitis maupun grafis. juga dikenal adanya agregat sintetik (buatan). kebersihan. Untuk bahan perhitungan campuran maka perlu diketahui ”specific gravity” (berat jenis) dari agregat.

(1990). Program Magister Sistem dan Teknik Jalan Raya. . tekstur partikel. Standard Specifications For Transportation Materials And Methods Of Sampling And Testing. AASHTO Publication. tekstur permukaan. DIDIK PURWADI. 5. kebersihan. Evaluasi yang dilakukan terhadap agregat sebelum digunakan: ukuran dan gradasi. Magister Thesis. USA. 15th edition. (1983). 3. penyerapan dan daya lekat terhadap aspal. Agregat dicampur untuk memenuhi spesifikasi yang ditentukan karena tidak mungkin hasil produk agregat dapat langsung sama dengan spesifikasi. Optimum Design Of Asphalt Concrete Mixes Based On Analytical Approach. ASTM Publication Philadelphia. Program Pascasarjana Institut Teknologi Bandung. ASPHALT INSTITUTE. DAFTAR PUSTAKA AASHTO.03.101 agregat adalah perbandingan berat antara satu unit volume agregat dengan berat air pada suhu 200 C hingga 250C dengan volume yang sama. menemukan penggunaan yang optimum material setempat yang tersedia dan untuk mengurangi biaya dengan melalui standarisasi biaya. USA. 2nd edition. Section 4 Road and Paving Materials. Washington. Asphalt Technology And Construction Practices (ES-1). (1995). Pavement Management Technologies. AMERICAN SOCIETY FOR TESTING AND MATERIALS. 4. kekerasan. (1990). Manual Book Of ASTM Standards. Maryland. Part II Tests. Tujuan diadakan spesifikasi gradasi: untuk menkontrol material konstruksi sehubungan dengan adanya kualitas perkerasan yang diinginkan. Volume 04.

McGraw-Hill Book Company. Priciples Of Pavement Design. AND WALKER. AND WITCZAK. (1975).. 01/MN/BM/1976. YODER. Bandung. (1971). KREBS.102 DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA. Jakarta. Manual Pemeriksaan Bahan Jalan.. J. E. SENARAI Absorption Aggregate blending Andesite Apparent Specific Gravity Artificial aggregates Basalt Base Bedrocks Blast Furnace Slag Blasting British Standard Bulk specific gravity Coarse aggregate Coarse graded Clay Cohesive Coldbin Density-voids relationship Diorit . New York. R. ITB and University College London Publication..W. (1976). Highway Materials. USA. M. (1986). D. Properties Of Road Making Materials. 2nd edition.. New York. McELVANEY.. No. USA. John Wiley & Sons.J.D. R.

103 Effective specific gravity Fine aggregates Fine graded Gabro Gap graded Hotmix Hydrophilic Hydrophobic Impermeable Non-metallic Open graded Pit bank run Pyolite Rounded particles Sand equivalent Sedimentary rocks Silt Single size Specific gravity Stone crusher machine Sub-base Surface layer Synthetic aggregates Toughness Volcanic rocks Volume of solids Volume of impermeable pores Volume of pores absorbing asphalt Volume of water permeable pores Volume of water permeable pores not absorbing asphalt .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.