P. 1
Persatuan Indonesia

Persatuan Indonesia

|Views: 181|Likes:
Published by Peter Kasenda
Kendati PKI telah di bubarkan oleh Jendral Soekarto lewat Surat Perintah Sebelas Maret 1966. Pidato kenegaraan 17 Agustus 1945 yang berjudul “Jangan sekali-sekali meninggalkan Sejarah”. Soekarno selaku presiden Republik Indonesia yang pertama tetap menyatakan bahwa ‘NASAKOM atau Nasatos atau Nasa apapun adalah unsure mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia. “Secara tegas Soekarno memperingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak gontok-gontokan, tidak sembelih-sembelihan. Sebab hal itu justru akan memecahkan kesatuan dan persatuan bangsa, memecah inti hakiki dari revolusi. Selain itu Soekarno menegaskan bahwa ratusan ribu pembunuhan dan ratusan ribu penahanan, justru akan menjadi masalah politik yang panas, yang makin meningkatkan pertentangan diantara kita. Pernyataan Soekarno diatas, menunjukkan keinginannya untuk tetap mencoba mempersatukan kemajemukan masyarakat Indonesia, tetapi dengan terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kemudian membawa korban ratusab ribu jiwa telah menyebabkab usahanya menjadi kandas. Komunisme yang dianggapnya sebagai factor objektif dari masyarakat Indonesia telah tersingkir.
Keinginan Soekarno tetap berpegang dengan konsep Nasakom sering ditafsirkan sebagai konsistensi dari alam pikiran Soekarno yang bermuara pada persatuan bangsa yang majemuk. Alam pikiran Soekarno yang senantiasa diarahkan kepada keperluan untuk mencari pandangan hidup bersama yang bisa dipakai pengikat masyarakat Indonesia yang majemuk kedalam satu bangsa yang betul-betul bersatu.
Meskipun Soekarno telah lama meninggalkan bangsa yang di cintainya, ia tetap hidup dalam struktur kesadaran bangsa Indonesia. Biografi Soekarno sampai kini masih tetap menjadi salah satu inspirasi. Kini Soekarno telah meninggalkan warisan intelektual dari sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia yang berupa teks yang bisa dianggap klasik dan bernilai abadi.
Tulisan Soekarno, ‘Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme (1926/1927), Marhaen (1932) dan pidatinya-Lajirnya Pancasila (1945), yang bermuara pada persatuan bangsa Indonesia merupakan teks yang tidak akan terhapus dari catatan kolektif bangsa Indonesia. Ketika sejarah pergerakan kebangsaan ini telah memasuki ‘pintu gerbang kemerdekaan’, dengan berdirinya negara nasional, warisan intlektual itu tetap utuh sebagai monumen dan dokumen.
Sebagai monumen, teks-teks itu mengingatkan bangsa yang mewarisinya pada impian yang pernah diimpikan, harapan yang pernah dipupuk dan perjuangan yang diperjuangkan. Sedangkan sebagai dokumen warisan itu tampil sebagai teks-teks yang mengajak gerakan yang datang. Kemudian untuk sekaligus membandingkan impian lama dan realitas kini, pemikiran lama dengan kecenderungan masa kini, visi lama dan keharusan masa sekarang.

Sejarah Indonesia mencatat bahwa Soekarno sebagai pemikir modern Indonesia yang terpenting dan terbesar : kualitas keorsinilan alam pikiran Tan Malaka, Moh. Hatta dan Sutan Syahrir setara Soekarno, tetapi tidak dalam kekuasaan pengaruhnya. Mereka bukan saja tandingan Soekarno. Ia bukan saja mempunyai kemajuan besar dalam menuangkan buah pikiran yang jernih kedalam berbagai tulisan. Soekarno adalah pula seorang orator yang sangat sulit dicari tandingannya dan kharismatis yang mampu menyampaikan buah pikirannya dengan gaya yang amat menarik dan mudah dimengerti, kepada khalayak ramai yang mendengarkannya.
Sikap kritis yang tajam dan amat mengahrgai kebebasan berpikir tentu saja dimiliki oleh Soekarno sebagai cendikiawan. Oleh karena itu dogmatisme menjadi musuhnya. Kualitas kecendikiawannya diperkuat dengan, cara berpikir Soekarno yang dialektis dan/atau sinkrietis. Soekarno jelas tidak phobi terhadap alam pikiran dari manapun berasal, tetapi juga tidak mau menerima begitu saja tanpa melalui proses perdebatan. Soekarno memiliki keberanian luar biasa dalam mengembangkan alam pikirannya. Ia tampak tidak pernah takut mengemukakan dan memperdebatkan ide-idenya dengan siapa saja. Seandainya ia merasa kurang mempunyai pengetah
Kendati PKI telah di bubarkan oleh Jendral Soekarto lewat Surat Perintah Sebelas Maret 1966. Pidato kenegaraan 17 Agustus 1945 yang berjudul “Jangan sekali-sekali meninggalkan Sejarah”. Soekarno selaku presiden Republik Indonesia yang pertama tetap menyatakan bahwa ‘NASAKOM atau Nasatos atau Nasa apapun adalah unsure mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia. “Secara tegas Soekarno memperingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak gontok-gontokan, tidak sembelih-sembelihan. Sebab hal itu justru akan memecahkan kesatuan dan persatuan bangsa, memecah inti hakiki dari revolusi. Selain itu Soekarno menegaskan bahwa ratusan ribu pembunuhan dan ratusan ribu penahanan, justru akan menjadi masalah politik yang panas, yang makin meningkatkan pertentangan diantara kita. Pernyataan Soekarno diatas, menunjukkan keinginannya untuk tetap mencoba mempersatukan kemajemukan masyarakat Indonesia, tetapi dengan terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kemudian membawa korban ratusab ribu jiwa telah menyebabkab usahanya menjadi kandas. Komunisme yang dianggapnya sebagai factor objektif dari masyarakat Indonesia telah tersingkir.
Keinginan Soekarno tetap berpegang dengan konsep Nasakom sering ditafsirkan sebagai konsistensi dari alam pikiran Soekarno yang bermuara pada persatuan bangsa yang majemuk. Alam pikiran Soekarno yang senantiasa diarahkan kepada keperluan untuk mencari pandangan hidup bersama yang bisa dipakai pengikat masyarakat Indonesia yang majemuk kedalam satu bangsa yang betul-betul bersatu.
Meskipun Soekarno telah lama meninggalkan bangsa yang di cintainya, ia tetap hidup dalam struktur kesadaran bangsa Indonesia. Biografi Soekarno sampai kini masih tetap menjadi salah satu inspirasi. Kini Soekarno telah meninggalkan warisan intelektual dari sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia yang berupa teks yang bisa dianggap klasik dan bernilai abadi.
Tulisan Soekarno, ‘Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme (1926/1927), Marhaen (1932) dan pidatinya-Lajirnya Pancasila (1945), yang bermuara pada persatuan bangsa Indonesia merupakan teks yang tidak akan terhapus dari catatan kolektif bangsa Indonesia. Ketika sejarah pergerakan kebangsaan ini telah memasuki ‘pintu gerbang kemerdekaan’, dengan berdirinya negara nasional, warisan intlektual itu tetap utuh sebagai monumen dan dokumen.
Sebagai monumen, teks-teks itu mengingatkan bangsa yang mewarisinya pada impian yang pernah diimpikan, harapan yang pernah dipupuk dan perjuangan yang diperjuangkan. Sedangkan sebagai dokumen warisan itu tampil sebagai teks-teks yang mengajak gerakan yang datang. Kemudian untuk sekaligus membandingkan impian lama dan realitas kini, pemikiran lama dengan kecenderungan masa kini, visi lama dan keharusan masa sekarang.

Sejarah Indonesia mencatat bahwa Soekarno sebagai pemikir modern Indonesia yang terpenting dan terbesar : kualitas keorsinilan alam pikiran Tan Malaka, Moh. Hatta dan Sutan Syahrir setara Soekarno, tetapi tidak dalam kekuasaan pengaruhnya. Mereka bukan saja tandingan Soekarno. Ia bukan saja mempunyai kemajuan besar dalam menuangkan buah pikiran yang jernih kedalam berbagai tulisan. Soekarno adalah pula seorang orator yang sangat sulit dicari tandingannya dan kharismatis yang mampu menyampaikan buah pikirannya dengan gaya yang amat menarik dan mudah dimengerti, kepada khalayak ramai yang mendengarkannya.
Sikap kritis yang tajam dan amat mengahrgai kebebasan berpikir tentu saja dimiliki oleh Soekarno sebagai cendikiawan. Oleh karena itu dogmatisme menjadi musuhnya. Kualitas kecendikiawannya diperkuat dengan, cara berpikir Soekarno yang dialektis dan/atau sinkrietis. Soekarno jelas tidak phobi terhadap alam pikiran dari manapun berasal, tetapi juga tidak mau menerima begitu saja tanpa melalui proses perdebatan. Soekarno memiliki keberanian luar biasa dalam mengembangkan alam pikirannya. Ia tampak tidak pernah takut mengemukakan dan memperdebatkan ide-idenya dengan siapa saja. Seandainya ia merasa kurang mempunyai pengetah

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Persatuan Indonesia

Memang …aku gandrung persatuan. Oleh karena aku mengaku bahwa hanya dengan PERSATUAN lah bisa mencapai KEMERDEKAAN. Hanya dengan inilah yang bisa membawa kita kepada cita-cita sekalian. Soekarno, 24 September 1955

Kendati PKI telah di bubarkan oleh Jendral Soekarto lewat Surat Perintah Sebelas Maret 1966. Pidato kenegaraan 17 Agustus 1945 yang berjudul “Jangan sekali-sekali meninggalkan Sejarah”. Soekarno selaku presiden Republik Indonesia yang pertama tetap menyatakan bahwa ‘NASAKOM atau Nasatos atau Nasa apapun adalah unsure mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia. “Secara tegas Soekarno memperingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak gontok-gontokan, tidak sembelihsembelihan. Sebab hal itu justru akan memecahkan kesatuan dan persatuan bangsa, memecah inti hakiki dari revolusi. Selain itu Soekarno menegaskan bahwa ratusan ribu pembunuhan dan ratusan ribu penahanan, justru akan menjadi masalah politik yang panas, yang makin meningkatkan pertentangan diantara kita. Pernyataan Soekarno diatas, menunjukkan keinginannya untuk tetap mencoba mempersatukan kemajemukan masyarakat Indonesia, tetapi dengan terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kemudian membawa korban ratusab ribu jiwa telah menyebabkab usahanya menjadi kandas. Komunisme yang dianggapnya sebagai factor objektif dari masyarakat Indonesia telah tersingkir. Keinginan Soekarno tetap berpegang dengan konsep Nasakom sering ditafsirkan sebagai konsistensi dari alam pikiran Soekarno yang bermuara pada persatuan bangsa yang majemuk. Alam pikiran Soekarno yang senantiasa diarahkan kepada keperluan untuk mencari pandangan hidup bersama yang bisa dipakai pengikat masyarakat Indonesia yang majemuk kedalam satu bangsa yang betul-betul bersatu. Meskipun Soekarno telah lama meninggalkan bangsa yang di cintainya, ia tetap hidup dalam struktur kesadaran bangsa Indonesia. Biografi Soekarno sampai kini masih tetap menjadi salah satu inspirasi. Kini Soekarno telah meninggalkan warisan intelektual dari sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia yang berupa teks yang bisa dianggap klasik dan bernilai abadi. Tulisan Soekarno, ‘Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme (1926/1927), Marhaen (1932) dan pidatinya-Lajirnya Pancasila (1945), yang bermuara pada persatuan bangsa Indonesia merupakan teks yang tidak akan terhapus dari catatan kolektif bangsa Indonesia. Ketika sejarah pergerakan kebangsaan ini telah memasuki ‘pintu gerbang kemerdekaan’, dengan berdirinya negara nasional, warisan intlektual itu tetap utuh sebagai monumen dan dokumen. Sebagai monumen, teks-teks itu mengingatkan bangsa yang mewarisinya pada impian yang pernah diimpikan, harapan yang pernah dipupuk dan perjuangan yang diperjuangkan. Sedangkan sebagai dokumen warisan itu tampil sebagai teks-teks yang mengajak gerakan yang datang. Kemudian untuk sekaligus membandingkan impian lama 1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

dan realitas kini, pemikiran lama dengan kecenderungan masa kini, visi lama dan keharusan masa sekarang. Sejarah Indonesia mencatat bahwa Soekarno sebagai pemikir modern Indonesia yang terpenting dan terbesar : kualitas keorsinilan alam pikiran Tan Malaka, Moh. Hatta dan Sutan Syahrir setara Soekarno, tetapi tidak dalam kekuasaan pengaruhnya. Mereka bukan saja tandingan Soekarno. Ia bukan saja mempunyai kemajuan besar dalam menuangkan buah pikiran yang jernih kedalam berbagai tulisan. Soekarno adalah pula seorang orator yang sangat sulit dicari tandingannya dan kharismatis yang mampu menyampaikan buah pikirannya dengan gaya yang amat menarik dan mudah dimengerti, kepada khalayak ramai yang mendengarkannya. Sikap kritis yang tajam dan amat mengahrgai kebebasan berpikir tentu saja dimiliki oleh Soekarno sebagai cendikiawan. Oleh karena itu dogmatisme menjadi musuhnya. Kualitas kecendikiawannya diperkuat dengan, cara berpikir Soekarno yang dialektis dan/atau sinkrietis. Soekarno jelas tidak phobi terhadap alam pikiran dari manapun berasal, tetapi juga tidak mau menerima begitu saja tanpa melalui proses perdebatan. Soekarno memiliki keberanian luar biasa dalam mengembangkan alam pikirannya. Ia tampak tidak pernah takut mengemukakan dan memperdebatkan ideidenya dengan siapa saja. Seandainya ia merasa kurang mempunyai pengetahuan dalam satu bidang, Soekarno tidak malu bertanya dan berusaha sekeras mungkin untuk mendalaminya. Ada tiga macam aliran pemikiran yang memberi kesan yang dalam kapadanya, dan oleh karena itu sedikit banyak mempengaruhi corak pemikiran-pemikran baru yang dilahirkannya. Aliran pertama pemikiran yang berasal dari kebudayaan Jawa. Aliran kedua berasal dari pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh pemikir Sosialis Barat, seperti Karl Marx, H.N. Brailsford, Piter Jelles Tnoelstia dan Karl Kauslky. Sedangkan aliran ketiga berasal dari pemikiran-pemikiran modernisme Islam yang berasal dari Mesir, Turki dan India. Tidak adanya pendidikan formal ini membuat Soekarno mengalami kesulitan memahami ajaran Islam dari sumber aslinya, yaitu bukubuku bahasa Arab. Yang menjadi bacaan utamanya adalah buku-buku yang ditulis dalam bahasa Barat. Menjelang akhir abad ke-19 hampir seluruh benua Asia di bawah kekuasaan kolonial. Akan tetapi suatu masyarakat baru telah memasuki kesadaran rakyat-rakyat yang terjajah itu - bukan hanya keinginan untuk memperoleh kemerdekaan, tetapi juga kepercayaan bahwa secara moral ini adalah benar dan mungkin dicapai secara fisik. Kepercayaan ini juga terdapat di kalangan rakyat Indonesia. Peristiwa-peristiwa penting yang membantu Indonesia menggalang kekuatankekuatan revolusioner dalam dekade-dekade pertama abad ke-20. kebangkitan kembali dan modernisasi Jepang serta naiknya status negeri itu menjadi negara yang utama didunia di tahun 1868 merupakan contoh yang paling jelas dari perkembangan ini. Belanda mengakui status Jepang yang baru ini dengan memberi orang-orang Jepang kedudukan yang sama seperti orang-orang Eropa di Hindia Belanda. Contoh lainnya, Revolusi Cina yang terjadi pada tahun 1911adalah penting karena dampaknya yang segera terhadap orang-orang cina yang tinggal di Hindia Belanda dan pengaruhnya yang lebih bersifat langsung terhadap orang-orang Indonesia. Revolusi Philipina yang terjadi dari tahun 1896 samapai dengan 1901 juga merupakan peristiwa penting. 2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Dari semua keadaan setempat dan Internasional inilah timbul dan muncul berbagai pemimpin organisasi anti-kolonial. Kebangkitan kembali, pembaruaan dan reformasi dan revolusioner yang akhirnya menyebabkan terjadinya revolusi Indonesia. Mereka tidak bersatu, marah sering mereka bertentangan dengan sengit. Akan tetapi secara kolektif mereka menggerakkan Indonesia maju kedepan dalam anti yang penting dan memungkinkan dilancarkannya perlawanan dengan dukungan luas terhadap musuh bersama, yaitu Belanda. Dari Kartini sampai Soekarno dan Moh. Hatta merupakan proses pergerakan nasionalisme yang berideologi melawan kolonialisme Belanda, gerakan nasionalisme merupakan gerakan antitesis terhadap kolonialisme-kolonialisme bercirikan diskriminasi antara kaum kulit putih dengan kaum kulit berwarna, ekonomi dualistis dan pemukiman yang terpisah. Faktor-faktor tersebut dilambangkan secara menyolok dalam kehidupan seharihari, membawa dampak pada kaum pribumi, yaitu merasakan serba rendah. Golongan yang terdahulu merasakan hal tersebut adalah kaum terpelajar. Merekalah yang menyadari stigmanya sebagai pribumi yang sedang mengalami krisis identitas. Meskipun telah terpelajar namun mereka belum diakui sama dengan kaum Eropa. Lagi pula feodalisme masih sangat kuat dikalangan ambtenar dan priyayi, sehingga kedudukan mereka masih sangat ditentukan oleh ikatan feodalnya. Dalam pada itu modernisasi telah banyak menghapus identitas tradisional serta komunal sehingga mereka perlu mencari identitas baru yang sesuai dengan modernisasi gaya hidup mereka. Mobelisasi, urbanisasi, dan detradisionalisasi memungkinkan ada pelembagaan solidaritas baru, berupa perkumpulan seperti PKI, Sarekat Islam, Budi Utomo, Pasundan, Persatuan Minahasa, Sarekat Ambon, Jong Sumatra dan Jong Batak. Kecuali berbentuk forum baru, organisasi iitu berfungsi sebagai identitas kolektif. Disini kita menghadapi bentuk ekspresi etno-nasionalisme dan sekaligus nasionalisme. Kendati perkumpulan yang disebut diatas, bertujuan meniadakan kekuasaan kolonialisme Belanda. Betapi dapat dikatakan tidak ada persatuan, atau bahkan kesediaan saling bantu diantara sekian banyaknya aliran itu, malahan banyak yang terlibat dalam permusuhan yang sifatnya pribadi. Di dalam kubu kekuatan-kekuatan yang potensial bagi kemerdekaan, terdapat perpecahan yang lebih besar dari pada digaris depan perjuangan, jika dibandingkan denngan kaum kolonialis. Perbedaan apapun yang terdapat antara guru-guru Soekarno : Tjokroaminoto dan Tjipto Mangunkusumo, mereka sama-sama menghendaki adanya adanya suatu front persatuan, untuk menyelesaikan percekcokan-percekcokan diantara sesama mereka. Dalam hal ini mereka mendapat dukungan kuat dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia di negeri Belanda, yang dengan penuh prihatin menikuti perkembangan yang tidak menyenangkan yang sedang dialami pergerakan ditanah air, setelah terjadi perpecahan antara Sarekat Islam dan Partai Komunis Indonesia dalam 1921. Maka dengan sendirinya Soekarno, setelah menyelesaikan studinya, memulai usaha mempersatukan pergerakan. Soekarno sudah mengenal semua aliran politik dalam pergerakan Indonesia, dan ia memiliki kualifikasi-kualifikasi yang ideal bagi tugas mempersatukan persatuan, tanpa harus segera berhadapan dengan perlawanan yang sengit dari pihak manapun. Sebab masing-masing dari sekian banyak partai dan perhimpunan itu, hampir tanpa kecuali, dapat ditelusuri sumbernya kepada salah satu dari ketiga aliran politik yang mendasarinya – Nasionalisme, Islamisme, atau Marxisme. Soekarno sudah tidak asing lagi dengan 3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

semua ideologi itu, dan belakangan ini telah memperdalam pengetahuan teoritisnya mengenai Marxisme dan tentang kebangkitan kembali Islam. Kuartal keempat 1926 – sekitar tiga bulan setelah Soekarno menyelesaikan studinya Soekarno menulis dalam Indonesia Muda, majalah studi club Bandung, artikelnya yang pertama dari serangkayan artikel mengenai “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme,” dimana Soekarno menyerukan kerjasama yang lebih erat diantara ketiga golongan. Tulisan itu jelas tidak ditunjukkan kepada rakyat banyak, tetapi lebih diarahkan kepada elit yang berpendidikan Barat. Mereka jumlahnya amat kecil dan kebanyakan tinggal dikota-kota besaryang memperoleh pengaruh Barat. Mereka inilah yang mempunyai komitmen yang tinggi terhadap kemerdekaan Indoensia serta telah berfikir dalam identitas nasional dan tidak lagi dalam identitas daerah seperti gerakan pendahulunya. Mereka sebenarnya menghendaki revolusi nasional dengan menggatikan elit pemerintahan kolonial asing dengan diri mereka sendiri. Mereka juga merasakan perlunya dukungan dalam perjuangan melawan kekuatan kolonialisme. Menurut Soekarno, yang pertama-tama yang perlu disadaribahwa alasan utama kenapa para kolonialis Eropa datang ke Asia bukanlah untuk melanjutkan suatu kewajiban luhur tertentu. Mereka datang terutama ‘untuk mengisi perutnya yang keroncongan belaka.’ Artinya motivasi politik dari kolonialisme itu adalah ekonomi. Dan itu, mereka tidak akan pernah melepaskan jajahan itu secara sukarel, karena ‘orang tak akan gampang-gampang melepaskan bakul nasinya, jika penglepasan bakul itu mendatangkan matinya … “ kata Soekarno. Sebagai system yang motivasi utamanya adalah ekonomi. Soekarno percaya, kolonialisme eratkaitannya dengan kapitalisme, yakni suatu kelompok kecil pemilik modal yang tujuannya adalah memperoleh keuntungan sebanyak mungkin itu, kaum kapitalis tak segan-segan untuk mengeksploitasi orang lain. Melalui kolonialisme para kapitalis Eropa memeras tenaga dan menguras kekayaan alam rakyat negeri terjajah demi keuntungan mereka. Melalui kolonialisme inilah di Asia dan afrika, termasuk Indonesia, kapitalisme mendorong terjadinya apa yang disebut eksploitasi manusia atas manusia. Soekarno muda menentang kolonialisme dan kapitalisme. keduanya melahirkan struktur masyarakat yang eksploitatif, kapitalisme itu mendorong imprelisme, baik imprelisme politik maupun ekonomi. Soekarno mengibaratkan imprelisme sebagai ‘Nyai Blorong’ alias ular naga. Kepala naga itu, menurutnya berada di Asia dan sebuah dan subur menyerap kekayaan alam negara-negara terjajah. Sementara itu ekor naga itu ada di Eropa menikmati hasil serapan tersebut. Bersama dengan kolonialisme dan imprelisme merupakan tantangan besar bagi setiap orang Indonsia yang menghendaki kemerdekaan. Kesdaaran mengenai tragedy penjajahan, kata Soekarno selanjutnya, telah menimbulkan protes diseluruh Asia, karena Roch Asia tidak mengalah pad apenindasan. Bahkan di Hindia Belanda sudah muncul suatu pergerakan rakyat, ia telah dimanifestasikan dalam tiga aliran politik – Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme – dengan tujuan yang sama. Sekarang menjadi kewajiban semua orang untuk berupaya mempersatukan ketiga aliran politik itu, dan membuktikan bahwa di daerah jajahan mereka tidak perlu bermusuhan satu sama lain. Andai saja mereka bersatu, mereka akan merupan air bah yang tak akan bisa ditahan. Dengan semangat tak kunjung padam, dan tanpa mengenal putus asa, mereka harus memikul tugas yang besar dan berat itu – bahwa persatuanlah 4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

yang kelak kemudian hari membawa kita kearah terkabulnya impian kita, Indonesia Merdeka. Ini berarti soekarni untuk pertama kalinya memberikan rumusan yang jelas dan gamblang dari gagasan yang untuk selanjutnya akan mendominasi semua tindakannya, dan yang merupakan kunci untuk mewujudkan harapan-harapannya – hanya persatuan di dalam pergerakan sajalah yang dapat memberikan kekuatan yang cukup besar kepada tindakan-tindaknnya untuk mencapai tujuan ketiga aliran yang disebut diatas sebenarnya saling bertolak belakang. Tetapi Soekarno punya segudang argumentasi untuk mendukung ide penyatuan tiga aliran ideologis. Kaum Muslimin tidak perlu cemas terhadap rasa permusuhan Marxisme terhadap agama Kristen, yang mana kaum gereja tergolong kaum borjuis. Soekarno juga menyerukan kepada kaum Maris untuk berkerja sama di dalam perjuangan bersama. Karl Marx bukan nabi yang bisa memberi ajaran yang berlaku tanpa mengenal ruang dan waktu. Marxisme mengakui keharusan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru, dan dinegeri-negeri jajahan Marxisme menagakui keharusan menyerasikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dituntut oleh situasi-situasi setempat. Di negeri seperti Indonesia, tempat agama Kristen menjadi agama mereka yang berada diatas dan Islam seharusnya menjadi sekutu yang wajar. Pertentangan antara agama dan Marxisme dikesampingkan begitu saja oleh Soekarno dengan materialisme histories dan menolak falsafah materialis. Dalam pemikiran Soekarno, ketiga aliran itu bukan hanya ragam-ragam yang mempunyai status sama dan saling melengkapi. Caranya mengembangkan pandangannya secara implicit mengandung bahwa pengertian nasionalisme adalah arus sentral. Karena Islam adalah agama kaum tertindas , maka pemeluk Islam mestilah kaum nasionalis. Karena modal di Indonesia adalah modal asing maka kaum Marxis yang berjuang melawan kapitalisme haruslah pejuang nasionalis. Tujuannya adalah persatuan antara Nasionalisme, Islam dan Marxisme, tetapi isi nasionalisme dalam Islam dan Marxislah yang memungkinkan persatuan itu. Nasionalisme adalah ideologi yang merangkum, yang dapat menyatukan aliran-aliran yang berbeda itu kedalam satu arus. Bernhard Dahm menganggap bahwa tulisan Soekarno “ Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme “ sebagai suatu distorsi dari sejarah dan akar masing-masing aliran. Penulis Pemikiran Politik Soekarno terkejut bahwa ada orang yang melihat persamaan ataupun kerjasama anatara ketiga ideologi ini. Dahm mengatakan bahwa hanya orang Jawa yang berakar dalam tradisi kebudayaan Jawa dapat mengemukankan hal itu, sebab pendekatan Jawa terhadap segala fenomena didunia ini adalah ‘satu’ . sinkritisme Jawa melihat Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme adalah satu, sebab ketiga unsur ini melawan kolonialisme dan imprealisme Barat. Yang penting dalam pemikiran senkritisme Jawa itu adalah persamaannya dan bukan pertentangannya. Kalau baik bagi kaum Nasiolais, Islam dan Marixis penjajahan adalah tantangan bersama, maka ketiga aliran ini belum tentu sama, hanya memiliki musuh bersama. Tulisan klasik Soekarno tersebut memang tidak mempertanyakan kenapa rakyat dipisahkan oleh garis ideologis Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme, Soekarno menerima kenyataan begitu saja. Ia tidak mengadakan pembedaan internal dari masingmasing ‘isme’ itu. Dalam kategori Nasionalisme, umpamanya, ia tak merasa perlu untuk membedakan ‘kaum Budi Utomo, yang dikatakannya sebagai organisasi yang mencitacitakan ‘Jawa Besar’ dengan ‘kaum revolusioner nasionalis’, yang ‘mencari Hindia Besar atau Indonesia Merdeka’. Lebih dari apapun juga, konflik antara golongan ‘Marxis’ dan ‘Islamis’ dari partai ‘Sarekat Islam, partai yang pernah dimasukinya. Soekarno sadar 5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

benar bahwa hakekat dari ketiga ajaran bisa saja saling meniadakan. Bukankah Nasionalisme bertolak dari pengakuan akan adanya batas-batas yang jelas dari apa yang disebut ,bangsa, ? Bukankah pada dasarnya Islam bersifat universal ? bukankah Marxisme berangkat dari ajaran akan keharusan persatuan internasional dari kaum yang tertindas dan bangsa yang terjajah untuk melawan eksploitasi kapitalistik ? Tetapi hakekat masing-masing ajaran ini diikuti, Soekarno ingin menekankan persatuan tidak akan didapat sebab itulah Soekarno tidak ingin menekankan landasan azas ajaran dari masing-masing tetapi ‘tabiat’ dan tujuan sosial politik yang mereka dapatkan. Argumentasi yang paling kuat dipakai oleh Soekarno ialah pengalaman sejarah dan ‘keharusan sejarah’. Dari berbagai contoh yang diambilnya dari sejarah perjuangan kemerdekaan di Asia dan Afrika. Soekarno memperlihatkan bahwa kerjasama pengikut dari ketiga aliran terjadi. Buah pikiran Soekarno yang dijelaskan diatas bukan yang pertama dan tak sepenuhnya orsinil. Tjokroaminoto, Haji Misbach, Tan Malaka dan Tjipto Mangunkusumo sebagai generasi pertama kaum nasionalis Indonesia tentu saja telah memikirkannya. Hatta sebagai generasi kedua sebaaimana Soekarno telah menyatakannya. Jhon Ingelson yang menulis sejarah pergerakan nasionalis Indonesia menyatakan bahwa kolom-kolom dalam Indonesia Merdeka (majalah perhimpunan Indonesia – Moh. Hatta) telah penuh dengan artikel-artikel semacam tulisan Soekarno dan semuanya tentulah telah dibacanya dengan seksama. Tetapi argumen-argumen yang dipergunakan untuk menarik kesimpulan tersebut merupakan sesuatu yang khas Soekarno. Sumbangan Soekarno ialah menyerap apa yang telah dikemukakan, membuat sentesa daripadanya dan menerjemahkan kedalam bahasa yang lebih sesuai dengan daya tangkap masyarakat Indonesia, dan menerjemahkannya dengan khalayak pembaca yang lebih luas. Untuk menunjukkan bahwa ketiga aliran pemikiran itu bisa berada sekaligus pada diri satu orang. Soekarno mencontohkan dirinya telah menyerap ketiga aliran itu pada dirinya. Ia menulis sebuah artikel di Harian Pemandangan untuk menjelaskan jalan pemikirannya, dan untuk menyatakan salah anggapan sementara orang terhadapnya yang sikap nasionalismenya karena ia mulai tertarik kepada Islam. Tulisannya yang berjudul ‘Soekarno oleh Soekarno sendiri’ (14 Juni 1941), mengulangi tema lamanya tentang sintesia dan rekonsiliasi ketiga aliran Nasionalisme, Islam dan Marxisme. Tetapi ia menulis lebih jauh mengenai pentinnya persatuan itu, yaitu dengan menyelipkan bahwa dirinya yang menjadi symbol sentesis itu, aliran-aliran pokok identitas Indonesia terpatri dalam dirinya.
Adanya orang mengatakan Soekarno itu nasionalis, ada orang mengatakan Soekarno bukan lagi nasionalis, tetapi Islam, adalagi yang mengatakan dia bukan nasionalis, bukan Islam, tetapi Marxis, ada lagi yang mengatakan dia bukan nasionalis, bukan Islam, bukan Marxis, tetapi seorang yang berfaham sendiri. Golongan yang tersebut belakangan ini berkata mau disebut dia nasionalis ; mau disebut dia Islam, dia Islam, dia mengeluarkan faham0faham yang tidak sesuai dengan fahamnya banyak orang Islam ; mau disebut Marxis, dia … sembahyang : mau disebut bukan Marxis, dia ‘gila’ kepada ‘Marxisme itu ! …Apakah Soekarno itu ? Nasionaliskah ? Islamkah ? Marxiskah ? Pembaca-pembaca Soekarno adalah …campuran dari semua isme-isme itu !

6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Pandangan ‘semua hal adalah satu, yang berasal dari filsafat Jawa dari abad-abad yang lampau ternayata mendominasi Soekarno sebagai manusia Jawa, yang telah menjadi titik temu semua aliran modern yang, menurut pendapatnya, dapat memulihkan tatanan yang sejati yang telah duhancurkan oleh kaum penyerbu. Pandangan itu begitu mendominasinya, sehingga ia menganggap dirinya sebagai ‘suatu’ campuran dari semua isme itu ! sebagai orang yang senantiasa menyerukan persatuan diantara kaum Nasionalis, Islamis dan Marxis dan yang terus menerus mencari suatu landasan bersama bagi mereka semua, maka ia sendiri menjadi persatuaan itu. Diakhir tulisannya, Soekarno menulis : “Saya tetap nasionalis, tetapi Islam, tetapi Marxis. Sintesa dari tiga hal inilah menurut saya punya dada, - satu sentesa yang menurut anggapan saya sendiri adalah suatu sentesa yang , ‘geweldeg’. Dalam diri Soekarno, gagasan Marxisme talah menggumpal dalam dirinya, dalam tiga tema anti-kolonialisme. Sikap anti-elitismeSoekarno terlihat pada kritiknya yang tajam terhadap ideologi priyayi yang masih kental dalam tubuh Budi Utomo : ‘Para intelektual harus memikirkan nasib rakyat”, katanya. Soekarno muda melihat bahwa kecenderungan elitisme tercermin dalam struktur bahasa Jawa yang dengan pola ‘kromo’ dan ‘ngoko’ yang mendukung adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat. Untuk menunjukkan ketidak setujuannya atas stratifikasi demikian itu, dalam rapat tahunan Jong Java di Surabaya pada bulan Februari 1921, Soekarno berpidato dalam bahasa Jawa ngoko, dengan akibat bahwa ia menimbulkan keributan dan ditegur oleh ketua panitia. Elitisme mendorong sekelompok orang merasa diri memiliki status sosial yang lebih tinggi dari pada orang-orang lain, terutama rakyat kebanyakan. Elitisme ini tak kalah bahayanya, menurut Soekarno, melalui system feudal yang ada ia bisa dipraktekan oleh tokoh-tokoh pribumi terhadap rakyat negeri sendiri. Kalau dibiarkan, sikap ini tidak hanya bisa memecah-belah masyarakat terjajah, tetapi juga memungkinkan lestarinya system kolonial maupun sikap imprealis yang sedang mau dilawan itu. Lebih dari itu, elitisme bisa menjadi penghambat siakp-sikap demokrasi dalam masyarakat modern yang dicita-citakan bagi Indonesia merdeka. Kendati nasib rakyat kecil menjadi perhatian Soekarno. Tetapi bukan berarti Soekarno menyetujui perjuangan kelas untuk mencapai kemerdekaan. Hal ini tampak dalam pidato tanggal 26 November 1932 di Yogyakarta, kota pusat Aristokrasi Jawa. PNI Baru dibawah Hatta dan Sjahrir memandang masyarakat Indonesia dengan analisa kelas dan mengatakan bahwa perjuangan kelas harus berjalan berbarengan dengan perjuangan kemerdekaan. Sedangkan Soekarno dan Partindo berpendapat bahwa mencapai kemerdekaan adalah pertimbangan satu-satunya dan untuk itu harus ada persatuan front seni melawan sana. Upaya Soekarno yang jauh lebih besar dalam rangka menentang elitisme dan meninggikat harkat rakyat kecil di dalam pejuanan kemerdekaan tentu saja adalah pencetusan gagasan Marhaenisme. Dasar pokok pertama mengemukakan bahwa Marhaenisme adalah sosio-nasio dan sosio-demokrasi. Dasar pokok kedua menyatakan bahwa marhaen mencakup kaum proletar, kaum tani dan kaum melarat lainnya. Oleh karena itu (dasar pokok ketiga) marhae lebih luas dari proletar, karena ia mencakup segala macam kaum yang melarat. Melalaui konsep Marhaen berarti dapat menarik sekaligus semua golongan untuk dipersatukan sesuai dengan cita-citanya. Bertolak dengan pertemuan pribadinya dengan petani Marhaen. Soekarno merasa terpanggil untuk memberi perhatian yang lebih besar kepada kaum miskin di Indonesia, 7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

serta peranan mereka dalam perjuangan melawan kolonialisme yang kapitalistik. Kaum marhaen itu sebagai mana kaum proletar dalam gagasan Karl Marx diharapkan akan menjadi komponen utama dalam revolusi melawan kolonialisme dan dalam menciptakan suatu tatanan masyarakat baru yang lebih adil. Dalam kaitan dengan usaha mengatasi elitisme itu ditegaskan bahwa marhaenisme “menolak tiap tindak borjuisme” menolak tiap tindak borjuisme ‘yang bagi Soekarno, merupakan sumber dari kepincangan yang ada di masyarakat. Ia berpandangan bahwa orang tidak seharusnya berpandangan rendahb terhadap rakyat. Marhaen dalam konsepsi Soekarno, bukanlah petani proletar, bukan pula petanipetani kapitalistik. Di satu sisi, walaupun hidup diambang kemiskinan, namun marhaen bukan buruh tani yang menjual tenaga kerjanya sebagai komunitas dalam produksi pertanian. Walaupun lahan pertaniannya terbatas, tetapi itu miliknya sendiri, demikian pula cangkul, sabit serta banyak yang digunakannya. Di sisi lain, ia bukan pula semacam pengusaha pertanian, atau tuan tanah, yang menangguk nilai lebih hasil kerja para buruh penggarap lahan. Dalam persfektif Marxist, Marhaen sebenarnya adalah kelompok ‘borjuis kecil’, pelaku sebuah semple commodity mode of production, yakni yang membatasi penyerapan nilai lebih hanya didalam lingkungan keluarga sendiri, tanpa eksploitasi nilai lebih yang dihasilkan oleh tenaga buruh sewa. Kelompok ‘borjuis kecil’ seperti marhaen inilah yang dalam argumen teleologis Mrax dan Engels merupakan transisional class, sebuah kilau yang akhirnya akan penuh, menjadi bagian dari proletariat petani, sementara system produksinya secara keseluruhan terserap menjadi bagian dari capitalist mode of production. Sebagai transisional, yang oleh Kral Marx disebut kelompok kural idiots, sikap politik merekapun penuh ambivalensi, kantradiktif, dan tidak mampu membangun kesadaran kelas serta memelihara kepentingan jangka panjang yang fundamental. Karena itu pula dalam prespektif Marxis, kelompok seperti Marhaen tidak memiliki signifikasi politik, antagonisme dan konflik kelas yang terjadi bukan pula antara kaum marhaen dengan kaum kapitalis, melainkan antara petani proletar versuskapitalis dimana di tengahnya ‘borjuis kecil’ marhaen bersikap ambivalensi. Akan tetapi dalam marhaenisme, justru kelas proletar hampir tidak relevan sama sekali bagi konteks Indonesia, dan konflik kelaspun terjadi antara marhaen dengan kapitalis. Pada tanggal 1 Juni 1945 melalui pidatonya yang amanat bersejarah. Ia melahirkan pandangan hidup bersama. Walaupun Pancasila yang kita kenal sekarang berasal dari pembukaan UUD 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945, agaknya berbeda, seprti dalam urut-urutannya, dengan apa yang di pidatokan Soekarno itu – kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri – kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial dan ke-Tuhanan – pada esensinya ia memang berasal dari olahan pemikiran proklamasi kita itu. Bagi Soekarno, Pancasila adalah terjemahan dari kepribadian bangsa Indonesia yaitu gotong royong, maka sekalipun dipersempit atau di perluas, intinya tetap sama. Karena itulah kelima sila dalam Pancasila itu dapat diperas menjadi tiga sila yaitu, Sosio – Nasionalisme, Sosio – Demokrasi dan Ke – Tuhanan, dan ketiga sila tersebut disebut Trisila. Kemudian ketiga sila ini dapat diperas lagi menjadi Eka sila yaitu Gotong Royong. ‘Prinsip Gotong Royong diantara yang kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan ynag menjadi bangsa 8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Indonesia, “yang Soekarno usulkan Indonesia, “ yang Soekarno usulkan pada anggota BPUPKI. Landasan utama pemikiran Soekarno tentang Pancasila adalah dinamika perkembangan pemikiran yang hidup di dalam masyarakatnya, disamping realita yang sesungguhnya dari kehidupan bangsanya. Ia menggali nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakatnya sendiri, di samping pertemuannya dengan pemikiran-pemikiran ynag berasal dari luar. Semua itu digodok dan diolahnya dalam satu proses perantaun mental yang panjang dan intensip. Sebagaimana lazimnya seorang pemikir, dalam proses perkembangan pemikirannya. Soekarno tidak mungkin melepaskan diri dari pengaruh pemikiran-pemikiran yang mendahulinya dan yang sezamannya. Misalnya San Min Chu I dari Sun Yat Senyang berulang-ulang kali disebut di dalam pidato lahirnya Pancasila. Pancasila adalah satu-satunya usaha Soekarno yang mencoba, dengan berhasil, menjadikan segala perdebatan ideologis kedalam sebuah komposisi yang utuh. Semua pertentangan dimasa pergerakan kebangsaan rupanya disadari benar oleh Soekarno, yang berusaha mengatasinya sekaligus dalam satu sentesa besar. Pnacasila bisa ditafsirkan sebagai jalan keluar yang cemerlang dari berbagai pendapat dan persaingan kepentingan. Konflik antara sifat negara sebagai negara agama atau negara sekuler telah diselesaikan dengan mencantumkan sila Ketuhanan Yang Mahaesa. Azas kemanusiaan yang adil dan beradap menjawab kecemasan Sutan syahrir tentang Chauvinisme. Demikian pula pilihan antara negara kesatuan dan negara serikat telah dijawab dengan Azas Persatuan Indonesia. Kerakyatan adalah penegasan tentang pentingnya demokrasi sebagai obat penawar menghadapi fasisme. Sedangkan keadilan sosial adalah jawaban terhadap keinginan untuk revolusi sosial yang dianjurkan oleh Tan Malaka, dengan menekankan tanggung jawab dan fungsi sosial dari pertumbuhan ekonomi seperti yang selalu diutarakan oleh Hatta. Berulang-ulang ia menganggap sebagai tugas utamanya untuk menemukan suatu landasan bersama berbagai aliran politik. Dalam 1926, landasan bersama itu adalah nasionalisme yang selebar dan seluas udara, yang memberi tempat kepada semua mahluk untuk hidup. Dalam 1932, landasan bersama itu adalah Marhaenisme, yang merupakan upaya untuk menarik sebayak mungkin golongan ke dalam perjuanngan revolusioner bersama-sama dengan kaum proletar. Dalam 1936, dalam kesembuhannya mendalami ajaran Islam, ia menemukan suatu rumusan yang tidak kurang sederhananya : “Islam adalam satu agama yang luas yang menuju kepada persatuan manusia.” Dan akhirnya, dalam 1945, Pancasilalah yang hendak memberikan satu landasan bersama bagi semua aliran. Bawasannya Soekarno berkali-kali berhasil menemukan suatu landasan bersama dapat dapat dijelaskan secara sederhana. Ia tidak secara sungguh-sungguh memahami ketiga aliran yang secara berturut-turut ia pelajari secara intensif yakni Nasionalisme, Marxisme dan Islam. Ketiga aliran itu terutama ia pelajari demi nilai strategeinya. Dalam pandangan Barat ketiga aliran itu menunjukkan posisi-posisi yang fundamental, yang tidak dapat disesuaikan lebih lanjut. Tidak demikian halnya bagi Soekarno, yang insiyur yang baginya pemikiran yang baginya pemikiran yang analitis tetap merupakan hal yang asing, manusia Jawa yang bepeling kepada sentesa untuk memperoleh penyelesaian dan pemecahan semua masalah. Setiap kalinya terjuan kedalam pergerakan, berturut-turut dalam tahun 192, 1932, dan 1942, tujuan utamanya adalah untuk mempersatukan semua golongan. Itulah yang merupakan inti konsepnya tentang Marhaenisme dan Pancasila. 9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Hasrat akan persatuan menguasai dirinya bagaikan suatu kekuatan batin, yang mendorongnya dalam 1927 untuk membentuk federasi yang pertama diantara pergerakan di Indonesia, dalam 1932 ia berusaha mati-matian guna mempersatukan golongan nasionalis yang sedang dilanda perpecahan, dalam 1942 untuk membentuk ‘Empat Serangkai’ dan menyusun gerakan Putera (Pusat Tenaga Rakyat), dimana semua aliran diikut sertakan. Ia juga menginginkan adanya gerakan persatuan rakyat seperti itu tujuan membangun suatu tatanan sosial yang adil setelah terbentuknya suatu negara. Tindakan-tindakan pertama Soekarno sebagai Presiden benar-benar merupakan kelanjutan dari perjuangannya untuk mencapai cita-cita jamannya. Pembentukkan sebuah partai tunggal, Partai Nasional Idonesia ini merupakan cita-citanya semenjak terjadinya perpecahan dalam Sarekat Islam. Gagasan pokok dari Partai Nasionalnya ditahun-tahun 1920-an, adalah sama; untuk mencakup semua aliran politik, dan dengan demikian menghindari ketegangan-ketegangan dan pertikai terbuka yang merupakan sifat yang melekat pada sifat system multi partai dan memusatkan seluruh kekuatan kepada satu tujuan. Jadinya tujuan itu adalah untuk mencapai kemerdekaan dan membangun suatu tatanan sosial yang adil. Bago Soekarno, perstauan tetap merupakan kekuatan yang menentukan dalam semua fase karirnya, dan sekarang, setelah republik di proklamasikan, Soekarno berkata. ‘dalam saat-saat menentukan ini, satu-satunya sikap yang dapat mewujudkan bangsa kita adalah persatuan.’ Sejak dulu sampai sekarang bersikeras bahwa perbedaan pendapat tidak boleh dibiarkan, tetapi harus dileburkan kedalam persatuan sebuah partai tunggal. Itulah yang ia landaskan kembali di dalam pidato 23 Agustus untuk membenarkan adanya partai tunggal. Dalam bulan Oktober 1945, partai itu belum lahir ditunda dan ternyata tidak pernah lahir. Justru pengakuan akan adanya perbedaan pendapat telah melahirkan partai-partai. Dalam tahun 1956 Soekarno menyatakan keinginannya untuk menguburkan partai-partai yang jumlahnya melebihi empat puluh semenjak Sutan Syahrir mengeluarkan seruannya dalam bulan November 1945 untuk mendirikan partai-partai. Soekarno menuduh partai-partai politik di Indonesia pada waktu itu sebagai biang keladi terpecah belahnya bngsa. Dengan mengubur partai politik, Soekarno menganggap bahwa bangsa Indonesia dapat kembali kepada ‘rel’ revolusi yang sejati dengan semangat persatuan. Dalam ‘konsepnya’ yang terkenal yang diumumkan dalam bulan Februari 195, Soekarno menyerukan pembentukan sebuah kabinet gotong royong, yang akan mengikut sertakan PKI sebagai salah satu partai besar, yang akan mendapat nasehat-nasehat dari Dewan Nasional yang terdiri dari golongan fungsional (pemuda, buruh, tani, agama, daerah dan lain-lain) bukannya partai politik. Pada tanggal 14 Maret 1957, di berlakukannya keadaan perang dan darurat (SOB) untuk menghadapi pemberontakan yang meluas dipulau-pulau di luar Jawa. Tanpa mengalami kesulitan Soekarno sekarang dapat membentuk Dewa Nasional yang telah diusulkannya itu, walaupun ia terpaksa mengesampingkan gagsannya untuk membentuk kabinet gotong royong yang mengikut sertakan PKI, karena mendapat tantangan yang semakin besar dari semua pihak. Dalam pidatonya dalam bulan Juli 1957, untuk memperingati ulang tahun ke – 30 PNI, Soekarno menunjukkan kepada cita-cita lamanya kepada Mrhaenisme yang menekankan kolektivisme dan menolak leberalisme. Hanya dengan menganut azas-azas lama, maka semangat Pancasila, semangat tolong menolong 10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

dan toleransi diantara sesama bisa menjadi efektif. Ia sendiri, kata Soekarno, tidak menyimpang satu langkah pun dari cita-cita lama itu. “Aku berpegang pada Pancasila, sekarang maupun dulu. Aku masih tetap Soekarno dari 1927.” Dua tahun kemudian, dalam bulan Juli 1959, setelah sebuah pemerintahan revolusioner yang dibentuk oleh pembela-pembela liberalisme di Sumatra dapat di tumpas, Soekarno dengan dukungan Angkatan Darat, mengeluarkan dekrit yang memberlakukan kembali UUD 1945, yang memberikan kekuasaan yang hampir tak terbatas kepadanya sebagai Presiden. Dalam tidakan kembali ke UUD 1945, Soekarno menegaskan bahwa hakekatnya undnag-undang dasar ini harus dihormati sebagai ‘dokumen bersejarah’ yang unik. Soekarno menekankan bahwa UUD 1945 harus menjadi landasan negara seperti UUD Amerika Serikat. Undang-Undang Dasar tersebut tercipta 200 tahun yang lalu dan tetap berlaku, walaupun sesuai dengan tuntutan zaman telah ditambahkan amandemen menurut Pasal 37 UUD 1945 undang-undnag dasar (termasuk dasar negara Pancasila) ini juga dapat diubah dan diberi amandemen, tetapi ini hanya boleh dilakukan kemudian setelah beberapa tahun dijalankan, kalau kemantapan ekonomi dan politik sdudah tercapai. Ia membentuk kabinet baru yang sesudah Oktober 1959 tidak lagi bertanggung jawab kepada parlemen. Bersamaan dengan penolakan terhadap system leberal, diperkenalkan system Indonesia yang disebut Demokrasi Terpimpin. Pada tanggal 27 Maret 1960, keluarlah pengumuman mengenai pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong sebagai badan penasehat bagi pemerintah yang mewakili hampir semua anasir dalam masyarakat. Tanggal 15 Agustus menyusul pengumuman tentang pembentukan Majelis Permusyawarahan Rakyat sementaa, yang sebagai pemegang kekuasaan negara yang tertinggi akan bersidang setiap tiga tahun sekali. Kemudian Soekarno juga membentuk Front Nasional yang mencakup golongan Nasionalis, Agama dan Komunis, yang diberi nama ‘Nasakom’ sebagai singkatan nama dari ketiga golongan itu. Dengan demikian Soekarno menggunakan suatu istilah baru bagi pergerakan tungggal yang sejak lama didambakannya, yang akan mencakup semua aliran politik dalam masyarakat. Tapi apakah istilah itu memang baru ? Kegiatan politik Soekarno dalam tahun 1926 dimulai dengan sebuah artikel, “Nasionalis, Islamisme dan Marxisme,” yang menunjukan kemungkinan diadakannya suatu sintesa diantara ketiga aliran itu. Dan, sekarang dalam tahun 1961, konsep konsep yang sama diperas dalam satu kata, Nasakom. Dengan menggunakan pergerakan – pergerakan politik yang sama ketika ia memulai perjuangannya untuk mewujudkan tatanan sosisal yang adil. Kiranya tak mengkin ada dukungan yang yang lebih kuat lagi katanya , “Aku ingin tetap soekarno dari 1927”. Sebenarnya Marhaenisme, Pancasila dan Nasakom yang dilakukan Soekarno sebagai ide-ide politikbya mempunyai tiitk tolak yang sama, yaitu keinginan Soekarno untuk mengkompromikan semua ide yang ada dan tumbuh di dalam masyarakat menjadi suatu ide yang baru yang tinggi tempatnya yang bisa diterima oleh semua unsur penting yang ada. Sejauh ini mengkin banyak orang dapat menerima bahwa ada hal-hal yang menunjukkan konsistensi dalam pemikiran-pemikiran poltiknya, asal saja istilah pemikiran-pemikiran politik tidak dikacaukan dengan tingkah laku politik sehari-hari. 11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Kecenderungan Sokearno untuk membuat semacam sintesa dari aliran-aliran politik yang saling berbeda dan bahkan berlawanan mulai tampak sewaktu dia mengetahui dan mempelajari pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam Sarekat Islam. Ide untuk mempetemukan aliran-aliran Nasionalisme,Islamisme dam Marxisme yang ada didalam Sarekat Islam pada waktu itu pernah pernah dikatakan oleh Soekarno dalam tulisan di Koran utusan Hindia (6 Mei 1921) : “Sosialisme, Komunisme, Inkarnasiinkarnasi Vishru Murti, bangkitlah dimana-mana ! hapuskan kapitalisme yang didukung oleh imprealisme yang merupakan budaknya ‘semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada Islam agar berhasil.“ Manifestasi Komunis ynag dihadirkan dengan disertai doa menurut agama Islam itu tidak mengkin muncul dimanapun dimuka bumi ini kecuali di Jawa. Segala-galanya berjalan bersama-sama karena “ Semua hal adalah satu “. Waktu itu Soekarno adalah seorang penyumbang tulisan-tulisan untuk Koran itu yang memberikan ekspresi yang begitu indah kepada sintesa yang baru itu. Demokrasi Terpimpin dimaksudkan Soekarno menghilangkan pertentanganpertentangan politik yang semakin menajam di dalam masyarakat. Pola tingkah laku politik yang berlaku di bawah system politik ini snagat diwarnai oleh berkembnagnya sikap bermusuhan antara kekuatan-kekuatan politik yang berlawanan kepentingan terutama antara PKI dan Militer. Kedua blok kekuatan yang paling baik organisasinya dan sebagai agli waris politik yang sedang bersaing – kedua golongan ini saling mengwasi kegiatan mereka masing-masing dengan kecurigaan yang makin besar. Kekurangan mampuan partai-partai politk lain menyaingi PKI telah membawa yang terakhir ini berhadapan langsung dengan militer. Di atas persaingan yang semakin hebat antara kedua kekutan ini duduklah Soekarno sebagai kekuatan penting yang lain yang memang kunci keseimbangan karena PKI maupun militer tampak sama memerlukan Soekarno. PKI membutuhkan Soekarno untuk melindungi jalannya kegiatan-kegiatan politiknya. Di pihak militer membutuhkan Soekarno untuk keperluan mendapatkan legitimasi dari ikut sertanya mereka secara aktif didalam system politik, yaitu sebagai kekuatan fungsional. Selama kedua kekuatan lainnya itumasih tetap berada dalam suasana persaingan peranan Soekarno sebagai pemegang kunci keseimbangan antara mereka berdua akan tetap terjamin, dan dengan itu ia akan terus memainkan peranan yang sangat menentukan didalam politik. Kendati Soekarno telah menetapkan jalan ke kiridi bawah Demokrasi Terpimpin, bukan berarti PKI bisa masuk dalam kabinet. Tuntutan lama PKI yang lambat laun makin keras untuk dalam kabinet berakhir dengan sia-sia, ketika Presiden Soekarno dikabarkan telah memberi tekanan pada pemimpin PKI Aidit agar menghentikan kampanyenya itu. Setidak-tidaknya dapat dikatakan tujuan Soekarno adalah membawa PKI pada gengsi yang lebih besar, tetapi sekali-kali tidak membawanya lebih dekat pada kekuasaan yang nyata, seharusnya sekarang mereka sudah termasuk dalam rezim itu. Secara ideologus mereka terkurung, menyokong Soekarno dengan imbalan dijinakan dalam dalam prosesnya. Selama ini PKI menyesuaikan diri dengnan keadaan baru dengan mengorbankan kesetiaan terhadap doktrin mereka. Doktrin tetntang kelas di nomor duakan demi aliansi nasional untuk melawan musuh dari luar dan sekutu-sekutunya dalam negeri. Aliran, bukannya pengelompokan atas dasar kelas, menjadi titik pusat dari program front persatuan nasional. Spektrum masyarakat Indonesia dipahami atas pengelompokan 12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

‘golongan kiri, kanan dan tengah’ yang bersifat politis dan yang secara sosiologis kekal ; jadi bukannya atas dasar konsep kelas. Perjuangan untuk menjatuhkan imprealisme di Asia Tenggara dan di seluruh dunia menjadi perhatian yang utama dari kebijaksanaan dan tindakan PKI, jadi bukan perjuangan untuk mengadakan perombakan masyarakat Indonesia. Kendati terdapat persamaan antara kedua ideologi atau kepentingan dari Soekarno dan PKI, tetapi ada konflik yang terselubung antara keduanya. Dalam hal tujuan yang ingin dicapai masing-masing pihak. Jika Soekarno, sebagai sumber kekuasaan dan perwujudan nilai-nilai priyayi , berusaha untuk menggabungkan massa orang-orang Jawa dengan massa dari suku-suku lainnya menjadi satu kekuasaan yang secara sosial bersifat konservatif dan yang dipimpin oleh para pemimpin mereka ; golongan komunis sebagai pihak yang haus akan kekuasaan dan juru bicara dari kaum abangan kelas rendah, mencoba memobilisir massa untuk menumbangkan kesatuan sosial seperti yang diinginkan Soekarno. Dalam prakteknya, konflik tersebut dapat di tekan sedemikian rupa oleh sifat-sifat Soekarno. Dalam memperluas pengaruh PKI, PKI berkeinginan untuk me-NASAKOM-kan pimpinan militer yang berarti aliran-aliran politik yang ada dalam NASAKOM (Nasionalis, Islamis dan Komunis) terwakili didalamnya. Pimpinan Angkatan Darat secara mati-matian mencari rumusan yang dapat mencegah nasakomisasi dalam bentuk yang bagaimanapun. Rumusan yang pada akhirnya mereka ajukan bahwa anggotaanggota-anggota tentara, sebagai Pancasilais sejati, sudah barang tentu dan dengan sendirinya menjungjung tinggi semangat baik dari Manipol JUSDEK maupun dari konsep Nasakom. Tetapi pelaksanaan structural – organisasional Nasakom didalam angkatan bersenjata tidak lah mungkin. Tidak mungkin komandannya seorang nasionalis dan wakil-wakilnya harus berasal dari golongan agama dan golongan komunis. Soekarno bersedia untuk mengakui hal itu memang sangat tidak prakits, tetapi Soekarno menyarankan agar para perwira tentara setidak-tidaknya diharuskan mengikuti kursuskursus kader Nasakom yang diselenggarakan Front Nasional. Permusuhan antara PKI dan Angkatan Darat berlanjut dengan terjadinya berlanjut dengan terjadinya Gerakan 30 September 1965. Angkatan Darat menuduh pembunuhan atas sejumlah pimpinan Markas Besar Angkatan Darat dilakukan oleh PKI. Oleh karena itu angkatan darat menjalin hubungan dengan kekuatan Anti Komunis untuk mengambil tindakan terhadap PKI. Kemudian kekuatan-keuatan anti komunis yang didorong Angkatan Darat mulai melakukan pembunuhan massal. Tujuan dari pimpinan Angkatan Darat dalam mendorong terjadinya pembunuhan massal terhadap pendukung-pendukung PKI itu adalah untuk melenyapkan PKI sebagai sebagai kekuatan politik. Ketika pembunuhan-pembunuhan tetap berlanjut, Presiden Soekarno berbicara menentang kejadian-kejadian yeng merupakan ‘epilog’ dari insiden Gerakan 30 September. “Epilogini” katanya, “telah mengganggu sukmaku, telah membuatku sedih, membuatku khawatir …. Dengan terus terang kukatakan aku menatap kepada Allah, bertanya kepada Tuhan, bagaimana semua ini dapat terjadi ?”. Dalam suatu pertemuan dengan para Gubernur dalam bulan Desember ia mengatakan, ”Kita memulihkan hukum dan ketertiban dengan cara yang terlalu ekstreem… dengan akibat bahwa orang-orang yang tidak berdosa dimasukkan kedalam penjara. Tidak masuk dalam penjara, beberapa orang malah dipotong lehernya.” Ia mengingatkan bahwa “…bila seseorang, suatu golongan, suatu partai terlalu disia-siakan dan bahkan yang tidak bersalah iktu ditangkap, 13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

dibunuh dan diganyang, akan akan datang waktunya neraka akan bangkit kembali dan membalas dendamnya.” Pembunuhan dan penyembelihan atas pendukung-pendukung PKI ataupun sekedar simpatisan-simpatisan PKI dan meninggalkan mayat mereka di bawah pohon-pohon, dipinggir-pinggir sungai dan di lempar seperti bangkai anjing mati, telah membuat Soekarno bersedih hati. Ia mengingatkan pada massa pendengarnya, “Kalau kita melanjutkan keadaan seperti ini, saudara-saudaraku kita akan masuk kedalam neraka, benar-benar kita akan masuk neraka.” Walaupun tak perlu diragukan bahwa soekarno benar-benar ngeri melihat bayangan suatu bangsa diremukkan oleh pemandangan di mana orang-ornag Indonesia membunuh secara kejam orang-orang Indonesia lainnya, namun ia juga sepenuhnya sadar akan implikasi politk dari semangat anti-PKI itu. Nasakom mempunyai arti yang lebih dari pada konsep kesatuan nasional dengan mengakui peranan. Integrasi dari PKI, ini merupakan syarat utama dari sistem politik yang menjadi dasar pemerintahan Soekarno. Dengan bergerak melenyapkan PKI sebagai suatu kekuatan politik, Angkatan Darat juga menumbangkan system yang memberikan kekuasaan kepada Soekarno, maka peranan presiden sendiri akan menjadi terbatas. Dalam tiga bulan terakhir tahun 1965, kedudukan Presiden Soekarno mulai menyurut. Kendatipun demikian ia tidak mau membubarkan PKI sebagai mana menjadi tuntutan kekuatan-kekuatan anti komunis. Prilaku politik tetap mempertahankan PKI dapat ditafsirkan sebagai konsestensi dari pemikiran politik Soekarno mepertahankan eksistensi PKI dalam sistem politik Demokrasi Terpimpin, harus dibayar mahal dengan kejatuhan dirinya dari singgahana. Sebenarnya Soekarno bisa saja mempertahankan kekuasaannya, kerana AL, AU dan Kepolisian tetap menunjukkan kesetiaannya dan siap bertempur untuk Soekarno untuk menghadapi Angkatan Darat yang menggerogoti kekuasaannya. Tetapi Soekarno tentu saja tidak menghendaki perang saudara, yang hanya bencana bagi bangsa yang dicintainya. Presiden Soekarno menolak undangan dari para pengikut-pengikutnya yang paling militan, yang menghendaki dia memimpin perlawanan dari Jawa Timur. Soekarno lebih suka surut dari kekuasaan ketimbang mempertahankan kekuasaannya yang hanya membawa perang saudara. Demi persatuan bangsa yang dicita-citakan dan diperjuangkan, Soekarno pun bersedia menyurutkan diri dari kekuasaan yang begitu mempesona banyak orang.

14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Daftar Pustaka

Legge, John D, 1985, Sukarno Sebuah Biografi Politik, Jakarta : Sinar Harapan. Sularto, St (ed), 2001, Dialog dengan Sejarah. Soekarno Seratus Tahun, Jakarta : Kompas Dahm, Bernhard, 1987, Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan, Jakarta : LP3ES Lubis, Muhammad Ridwan, 1992, Pemikiran Sukarno Tentang Islam, Jakarta : PT CV Masagung. Sundhaussen, Ulf, 1986, Politik Militer Indonesia 1945 – 1967. Menjadi Dwi Fungsi ABRI, Jakarta : LP3ES. Crouh, Harlod, 1986, Militer dan Politik di Indonesia. Jakarta : Sinar Harapan. Alfian, 1982, Politik, Kebudayaan dan Manusia, Jakarta : LP3ES. Daras, Roso, 2001, Pidato Terakhir Bung Karno. Jangan Seklai-sekali Meninggalkan Sejarah. Jakarta : Grasindo. Ricklefs, MC, 1991, Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Shiraishi, Takashi, 1997, Zaman Bergerak. Radikalisme Rakyat di Jawa 112 – 1926, Jakarta : Pustaka Utama Grafitipers. Ingelhon, John. 1983, Jalan ke Pengasingan. Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927 – 1934, Jakarta : LP3ES. Prabowo, Harry, 2002, Perspektif Marxisme Tan Malaka. Teori dan Praksis Menuju Republik. Yogyakarta Jendela. Kleden, Ignas, 2001, Genesis Sebuah Sintesa, Tempo, 4 – 10 Juni. Abdullah, Taufik, 2001, Sebuah Klassik dan Sebuah Tragedi, Tempo, 4 – 10 Juni.

15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->