P. 1
Prasangka, Diskriminasi Dan Anti Cina

Prasangka, Diskriminasi Dan Anti Cina

|Views: 587|Likes:
Published by Peter Kasenda
Kutipan diatas merupakan kata-kata yang meluncur dari mulut tokoh perempuan Cina dalam dalam sebuah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, yang berjudul ‘Clara atawa Perempuan yang di perkosa. ‘Ratapan ini di dasarkan pada kerusuhan 13 – 14 Mei 1998 di Jakarta ynag merupakan malapetaka terbesar bagi warga keturunan Cina.

Pada tanggal 13 Mei 1998, ribuah massa berkumpul di Depan Kampus Universitas Trisakti untuk menyampaikan duka cita mereka atas tewasnya empat orang mahasiswa Trisakti yang terlibat bentrok dengan aparat keamanan pada Tanggal 12 Mei 1998. Di dalam kampus, aksi berkabung mahasiswa berjalan dengan tertib dan mahasiswa dilarang keluar kampus untuk menghindari insiden. Adanya kobaran api dari truk sampah di perempatan jalan layang pada siang hari, membuat massa berubah brutal dengan mulai melempari barisan aparat yang memblokir jalan di depan gedung Mall Ciputra dengan batu, botol dan benda lainnya serta mencabuti dan merusak rambu-rambu lalulintas maupun pagar pembatas jalan. Rentetan tembakan peringatan dan gas air mata membuat massa berlari tunggang langgang.

Perusakan dan pembakaran terus menyebar, mulai dari kawasan disekitar kampus Trisakti. Menjelang sore hari aksi perusakan dan pembakaran melus dan menjauh dari kampus Trisakti disertai dengan isurasian anti – Cina. Massa mengamuk dengan membakar dan merusak gedung maupun mobil. Ada isi mobil dijarah oleh massa, rumah-rumah warga dan sejumlah toko menjadi sasaran. Pembakan gedung, mobil dan penjarahan toko masih berlangsung pada malam akan tiba. Di kawasan glodok, pembakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, dimulai dengan dibakarnya pasar perniagaan. Perusakan dan pembakran pada tanggal 13 Mei 1998 ini melanda kawasan Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Utara dengan skla dan lingkup yang berbeda.

Kerusuhan kembali terjadi pada pagi hari, tanggal 14 Mei 1998 dan meluas hampir keseluruh wilayah Jakarta dan meluas kewilayah-wilayah sekitar Jakarta seperti Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok. Kerusuhan pada tanggal 15 Mei 1998 tidak sehebat hari-hari sebelumnya. Massa penjarah, perusak, pemerkosa dan pembakar yang mengamuk diseluruh kawasan kota, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Keesokan harinya, kondisi Jakarata mulai pulih dari kerusuhan. Beberapa pedagang kaki lima mulai menggelar dagangannya di Blok M. dibeberapa ruas jalan masih berserakan bangkai-bangkai kendaraan yang dibakar massa pada hari sebelumnya. Sejumlah pintu depan atau dinding toko-toko, perkantoran dan rumah penduduk ada tulisan ‘Milik Pribumi’, ‘Pribumi Asli’, ‘Asli Indonesia’.

Total kerugian fisik kerusuhan 13 – 15 Mei 1998 mencapi sekitar Rp. 2,5 Triliun yang merusak 40 Mall atau Plaza, 13 Pasar, 1604 toko, 2479 ruko, 12 hotel, 65 kantor bank, 383 kantor swasta, 24 restoran, 8 bus kota dan metro mini, 1119 mobil, 821 motor, 9 pom bensin, 486 rambu lalulintas, 11 taman, 18 pagar, 1026 rumah penduduk dan gereja, 2 kecamatan, 11 polsek.



Tim gabungan pencari fakta yang dibentuk pemerintah menyatakan ada lima jenis korban dari kerusuhan Mei 1998. Pertama, korban fisik dengan batasan pengertian menderita kerugian bagunan seperti toko, swalayan dan rumah yang dijarah, dirusak dan dibakar oleh massa. Kebanyakan warga keturunan Cina yang menjadi korban kerusuhan Mei 1998. Kedua, korban jiwa yakni orang-orang yang tewas pada saat kerusuhan Mei 1998. Ketiga, korban harta benda denngan mencakup pemahaman adanya orang-orang yang menderita akibat dirusak dan dijarahnya harta benda mereka dalam kerusuhan Mei 1998. Keempat, korban penyerangan seksual mencakup orang-orang yang menderita secara fisik dan fisikis akibat pelecehan seksual dan pemerkosaan didepan suami, anak dan keluarganya. Dan kelima, korban kehilangan pekerjaan karena gedung atau toko tempat kerjanya dirusak, di jarah dan dibakar oleh massa akibat kerusuhan Mei 1998.

Peristiwa pemerkosaan terhadap wanita-wanita keturunan Cina merupakan tragedy yang paling memilukan dari serangkaian kekejaman kerusuhan M
Kutipan diatas merupakan kata-kata yang meluncur dari mulut tokoh perempuan Cina dalam dalam sebuah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, yang berjudul ‘Clara atawa Perempuan yang di perkosa. ‘Ratapan ini di dasarkan pada kerusuhan 13 – 14 Mei 1998 di Jakarta ynag merupakan malapetaka terbesar bagi warga keturunan Cina.

Pada tanggal 13 Mei 1998, ribuah massa berkumpul di Depan Kampus Universitas Trisakti untuk menyampaikan duka cita mereka atas tewasnya empat orang mahasiswa Trisakti yang terlibat bentrok dengan aparat keamanan pada Tanggal 12 Mei 1998. Di dalam kampus, aksi berkabung mahasiswa berjalan dengan tertib dan mahasiswa dilarang keluar kampus untuk menghindari insiden. Adanya kobaran api dari truk sampah di perempatan jalan layang pada siang hari, membuat massa berubah brutal dengan mulai melempari barisan aparat yang memblokir jalan di depan gedung Mall Ciputra dengan batu, botol dan benda lainnya serta mencabuti dan merusak rambu-rambu lalulintas maupun pagar pembatas jalan. Rentetan tembakan peringatan dan gas air mata membuat massa berlari tunggang langgang.

Perusakan dan pembakaran terus menyebar, mulai dari kawasan disekitar kampus Trisakti. Menjelang sore hari aksi perusakan dan pembakaran melus dan menjauh dari kampus Trisakti disertai dengan isurasian anti – Cina. Massa mengamuk dengan membakar dan merusak gedung maupun mobil. Ada isi mobil dijarah oleh massa, rumah-rumah warga dan sejumlah toko menjadi sasaran. Pembakan gedung, mobil dan penjarahan toko masih berlangsung pada malam akan tiba. Di kawasan glodok, pembakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, dimulai dengan dibakarnya pasar perniagaan. Perusakan dan pembakran pada tanggal 13 Mei 1998 ini melanda kawasan Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Utara dengan skla dan lingkup yang berbeda.

Kerusuhan kembali terjadi pada pagi hari, tanggal 14 Mei 1998 dan meluas hampir keseluruh wilayah Jakarta dan meluas kewilayah-wilayah sekitar Jakarta seperti Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok. Kerusuhan pada tanggal 15 Mei 1998 tidak sehebat hari-hari sebelumnya. Massa penjarah, perusak, pemerkosa dan pembakar yang mengamuk diseluruh kawasan kota, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Keesokan harinya, kondisi Jakarata mulai pulih dari kerusuhan. Beberapa pedagang kaki lima mulai menggelar dagangannya di Blok M. dibeberapa ruas jalan masih berserakan bangkai-bangkai kendaraan yang dibakar massa pada hari sebelumnya. Sejumlah pintu depan atau dinding toko-toko, perkantoran dan rumah penduduk ada tulisan ‘Milik Pribumi’, ‘Pribumi Asli’, ‘Asli Indonesia’.

Total kerugian fisik kerusuhan 13 – 15 Mei 1998 mencapi sekitar Rp. 2,5 Triliun yang merusak 40 Mall atau Plaza, 13 Pasar, 1604 toko, 2479 ruko, 12 hotel, 65 kantor bank, 383 kantor swasta, 24 restoran, 8 bus kota dan metro mini, 1119 mobil, 821 motor, 9 pom bensin, 486 rambu lalulintas, 11 taman, 18 pagar, 1026 rumah penduduk dan gereja, 2 kecamatan, 11 polsek.



Tim gabungan pencari fakta yang dibentuk pemerintah menyatakan ada lima jenis korban dari kerusuhan Mei 1998. Pertama, korban fisik dengan batasan pengertian menderita kerugian bagunan seperti toko, swalayan dan rumah yang dijarah, dirusak dan dibakar oleh massa. Kebanyakan warga keturunan Cina yang menjadi korban kerusuhan Mei 1998. Kedua, korban jiwa yakni orang-orang yang tewas pada saat kerusuhan Mei 1998. Ketiga, korban harta benda denngan mencakup pemahaman adanya orang-orang yang menderita akibat dirusak dan dijarahnya harta benda mereka dalam kerusuhan Mei 1998. Keempat, korban penyerangan seksual mencakup orang-orang yang menderita secara fisik dan fisikis akibat pelecehan seksual dan pemerkosaan didepan suami, anak dan keluarganya. Dan kelima, korban kehilangan pekerjaan karena gedung atau toko tempat kerjanya dirusak, di jarah dan dibakar oleh massa akibat kerusuhan Mei 1998.

Peristiwa pemerkosaan terhadap wanita-wanita keturunan Cina merupakan tragedy yang paling memilukan dari serangkaian kekejaman kerusuhan M

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Prasangka, Diskriminasi dan Anti Cina

Ya, Tuhan…sedemikian bencinyakan mereka pada Cina ? aku tidak merasa diriku berbeda dengan mereka … Aku ini orang Indonesia ! “ Dianttrus Saputra

Kutipan diatas merupakan kata-kata yang meluncur dari mulut tokoh perempuan Cina dalam dalam sebuah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, yang berjudul ‘Clara atawa Perempuan yang di perkosa. ‘Ratapan ini di dasarkan pada kerusuhan 13 – 14 Mei 1998 di Jakarta ynag merupakan malapetaka terbesar bagi warga keturunan Cina. Pada tanggal 13 Mei 1998, ribuah massa berkumpul di Depan Kampus Universitas Trisakti untuk menyampaikan duka cita mereka atas tewasnya empat orang mahasiswa Trisakti yang terlibat bentrok dengan aparat keamanan pada Tanggal 12 Mei 1998. Di dalam kampus, aksi berkabung mahasiswa berjalan dengan tertib dan mahasiswa dilarang keluar kampus untuk menghindari insiden. Adanya kobaran api dari truk sampah di perempatan jalan layang pada siang hari, membuat massa berubah brutal dengan mulai melempari barisan aparat yang memblokir jalan di depan gedung Mall Ciputra dengan batu, botol dan benda lainnya serta mencabuti dan merusak rambu-rambu lalulintas maupun pagar pembatas jalan. Rentetan tembakan peringatan dan gas air mata membuat massa berlari tunggang langgang. Perusakan dan pembakaran terus menyebar, mulai dari kawasan disekitar kampus Trisakti. Menjelang sore hari aksi perusakan dan pembakaran melus dan menjauh dari kampus Trisakti disertai dengan isurasian anti – Cina. Massa mengamuk dengan membakar dan merusak gedung maupun mobil. Ada isi mobil dijarah oleh massa, rumahrumah warga dan sejumlah toko menjadi sasaran. Pembakan gedung, mobil dan penjarahan toko masih berlangsung pada malam akan tiba. Di kawasan glodok, pembakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, dimulai dengan dibakarnya pasar perniagaan. Perusakan dan pembakran pada tanggal 13 Mei 1998 ini melanda kawasan Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Utara dengan skla dan lingkup yang berbeda. Kerusuhan kembali terjadi pada pagi hari, tanggal 14 Mei 1998 dan meluas hampir keseluruh wilayah Jakarta dan meluas kewilayah-wilayah sekitar Jakarta seperti Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok. Kerusuhan pada tanggal 15 Mei 1998 tidak sehebat hari-hari sebelumnya. Massa penjarah, perusak, pemerkosa dan pembakar yang mengamuk diseluruh kawasan kota, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Keesokan harinya, kondisi Jakarata mulai pulih dari kerusuhan. Beberapa pedagang kaki lima mulai menggelar dagangannya di Blok M. dibeberapa ruas jalan masih berserakan bangkaibangkai kendaraan yang dibakar massa pada hari sebelumnya. Sejumlah pintu depan atau dinding toko-toko, perkantoran dan rumah penduduk ada tulisan ‘Milik Pribumi’, ‘Pribumi Asli’, ‘Asli Indonesia’. Total kerugian fisik kerusuhan 13 – 15 Mei 1998 mencapi sekitar Rp. 2,5 Triliun yang merusak 40 Mall atau Plaza, 13 Pasar, 1604 toko, 2479 ruko, 12 hotel, 65 kantor bank, 383 kantor swasta, 24 restoran, 8 bus kota dan metro mini, 1119 mobil, 821 motor, 1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

9 pom bensin, 486 rambu lalulintas, 11 taman, 18 pagar, 1026 rumah penduduk dan gereja, 2 kecamatan, 11 polsek. Tim gabungan pencari fakta yang dibentuk pemerintah menyatakan ada lima jenis korban dari kerusuhan Mei 1998. Pertama, korban fisik dengan batasan pengertian menderita kerugian bagunan seperti toko, swalayan dan rumah yang dijarah, dirusak dan dibakar oleh massa. Kebanyakan warga keturunan Cina yang menjadi korban kerusuhan Mei 1998. Kedua, korban jiwa yakni orang-orang yang tewas pada saat kerusuhan Mei 1998. Ketiga, korban harta benda denngan mencakup pemahaman adanya orang-orang yang menderita akibat dirusak dan dijarahnya harta benda mereka dalam kerusuhan Mei 1998. Keempat, korban penyerangan seksual mencakup orang-orang yang menderita secara fisik dan fisikis akibat pelecehan seksual dan pemerkosaan didepan suami, anak dan keluarganya. Dan kelima, korban kehilangan pekerjaan karena gedung atau toko tempat kerjanya dirusak, di jarah dan dibakar oleh massa akibat kerusuhan Mei 1998. Peristiwa pemerkosaan terhadap wanita-wanita keturunan Cina merupakan tragedy yang paling memilukan dari serangkaian kekejaman kerusuhan Mei 1998. Di dalam negeri timbul pro dan kontra apakah begitu biadabnya bangsa Indonesia untuk melakukan pemerkosaan massal. Berita tentang pemerkosaan massal terhadap wanita keturunan Cina menyebar dengan cepat di luar negeri melalui jaringan internet dan seluruh dunia menjadi heboh. Gelombang protes dalam berbagai demontrasi terjadi dimana-mana, mulai dari Manila, Hongkong, Bejing, Boston dan tempat lainnya membawa poster menyebutkan Jakarta sebagai ‘Ibukota pemerkosaan wanita’. Tim gabungan pencari fakta dalam laporannya menyebutkan bentuk-bentuk kekerasan seksual yang ditemukan dalam kerusuhan Mei di bagi dalam beberapa ketegori, yaitu perkosaan, perkosaan dengan penganiyayaan, penyerangan seksual/penganiyayaan dan pelecehan seksual. Berdasarkan temuan TGPF jumlah korban kekerasan seksual adalah 85 orang korban. Seluruh kekerasan seksual ini terjadi di dalam rumah, di jalan dan di tempat usaha dengan mayoritas terjadi di dalam rumah atau bagunan. Sebagian besar kasus perkosaan adalah gangrape, dimana korban diperkosa oleh sejumlah orang secara bergantian pada waktu yang sama dan ditempat yang sama. Kebanyakan kasus perkosaan juga dilakukan dihadapan orang lain. Korban kekerasan seksual kebanyakan diderita oleh perempuan keturunan Cina. Meledaknya kerusuhan rasial anti Cina dengan sasaran warga keturunan Cina merupakan puncak dari gunung es kecemburuaan, kedengkian dan mungkin kebencian sebagian masyarakat yang selama ini ditimbun kebijakan politik Orde Baru karena masefnya skala kerusuhan dengan korban yang mega besar serta dampaknya yang dasyat secara sosial, pisikologi, politik dan ekonomi. Kerusuhan Mei 1998 disebut TGPF sebgai targedi nasional yang sangat menyedihkan dan merupakan aib terhadap martabat dan kehormatan manusia, bangsa dan negara secara keseluruhan dimata masyarakat internasional. Pengusutan terhadap pelaku berikut dalangnya, penyelesaian dan rehabilitasi tidak ada sampai saat ini. Dengan kata lain negara tidak bertanggung jawab atas peristiwa yang memilukan. Kerusuhan dengan skala dan dampak yang begitu dasyat, dibiarkan begitu saja oleh tiga pemerintahan pasca Soeharto. Adanya sentimen anti Cina sebagai masalah sosial dengan demikian digantung dan dibiarkan menjadi persoalan yang rawan secara politik. 2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Temuan TGPF menunjukkan bahwa kerusuhan Mei 1998 bukanlah kejadian bersifat sepontan. Ada pola bersifat massal dan peristiwanya berlangsung parallel dibeberapa kota yang menunjukkan kerusuhan itu direncanakan. Kerusuhan dilakukan massal lokal dan pendatang yang dimulai oleh kelompok penghasut. Disana-sini mungkin saja bersifat sepontan. Pelakunya yang massal dan kejadiaannya yang berlangsung dibeberapa kota secara parallel menunjukkan kerusuhan ini rencanakan dna terorganisasi. Selama NKRI ini berdiri belum pernah ada kerusuhan anti Cina seperti itu. Kerusuhan Mei 1998 terjadi tak bisa dilepaskan dari kesenjangan sosial dan kesenjangan ekonomi. TGPF melaporkan antara lain, menyebutkan dua akar sosial penyebab kerusuhan. Pertama, sentimen rasial terhadap golongan etnis Cina. Sentimen ini disebut laten dan merupakan faktor penyebab dominan yang mudah diekploitisir untuk menciptakan kerusuhan. Adanya konsentrasi toko-toko dan rumah-rumah golongan etnis Cina dibeberapa wilayah yang kemudian menjadi sasaran amuk massa. Kedua, adanya kesenjangan sosial – ekonomi. Tekanan dan kesenjangan sosial ekonomi yang diperparah oleh kelangkaan bahan pokok yang dialami masyarakat, rawan terhadap pengekploitasian sehinga melahirkan dorongan-dorongan destruktif untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Mereka yang iktu-ikutan terlibat, dikualifikasikan sebagai korban dari keadaan dan struktur yang tidak adil. Dan mereka kebanyakan berasal dari lapisan rakyat yang terbawah. Kekerasan Sososial Terlepas dari ada tidaknya seorang dalang yang menggerakkan itu, tidak dapat diingkari sintemen anti Cina. Bagaimana mungkin meraka itu digerakan kalau tidak ada sesuatu yang memang dapat bergerak ? sulit dibayangkan ada sekelompok orang yang memprovokasi massa. Kalau seandainya massa itu sendiri tidak memdam perasaan benci terhadap orang Cina. Harus ada terlebih dahulu sentiment anti Cina yang cukup pekat sehingga dapat dipropokasi. Perasaan semacam itu mempunyai akar panjang, mulai sejak kerusuhan rasial pertama pada tahun 1740. suatu kejadian yang oleh kebanyakan sejarahwan dianggap sebagai roda yang pali penting dalam sejarah kota Batavia. Pembantaiaan itu bermula dari migrasi Cina ke Nusantara terus bertambah selama empat dasawarsa pertama abad ke – 18, sementara Pemerintah Batavia mengambil sikap ragu. Di satu pihak, orang cina dibutuhkan karena mereka merupakan pekerja rajin dan trampil di lain pihak sebagai pedagang, pemberi pinjaman, dan pemilik took, mereka menimbulkan masalah. Meraka dituduh menghisap masyarakat. Selain itu, akibat sempitnya lapangan kerja, banyak orang Cina ynag terlibat dalam tindakan criminal. Pada bulan Juli 1740, Pemerintah Belanda mengambil tindakan yang kurang bijaksana. Semua imigran Cina gelap ditangkap dan dibuang ke Srilangka dan Tanjung Harapan untuk diperkerjakan di kebun milik VOC. Kemudian terjadi saling curiga antara orang Cina dan Belanda sehingga menimbulkan ketegangan dan kegelisahan. Sejumlah kelompok Cina di sekitar Batavia pada akhirnya memberontak pada minggu kedua bulan Oktober 1740. Kejadiaan ini menyebabkan Belanda untuk melakukan pembunuhan terhadap orang Cina secara missal. Korban yang tewas tidak kurang dari 10.000 orang. Sisanya yang selamat menyebar ke seluruh Jawa. 3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Ada laporan yang menceritakan tantang kejadian itu. Tiba-tiba secara tak terduga seketika itu juga terdengar jeritan bergema di plosok kota, dan terjadilah pemandangan kebediaban yang memilukan dan perampokan di segala sudut kota. Tidak peduli pria, wanita dan anak-anak di serang. Baik kaum wanita hamil maupun bayi tidak luput dari pembantaian yang tidak mengenal oerikemanusiaan. Ratusan tahanan disembelih seperti menyembelih domba. Beberapa orang Cina kaya melarikan diri dan mencari perlindungan pada penduduk bangsa Eropah yang mengabaikan segala prinsip kemanusiaan, menyerahkan mereka kepada pemburu-pemburu yang haus darah, lalu menyelewengkan harta milik yang dipercayakan kepada mereka. Setelah pembantaian massal, orang-orang Cina tidak diperbolehkan kembali untuk tinggal didalam tembok kota lagi. Mereka kemudian ditempatkan disebelah selatan tembok tersebut. Sedikit demi sedikit keadaan menjadi tenang kembali dan terjadi kembali migrasi secara pesat pada abad ke – 19. Pemerintah Belanda memilih tempat tersebut karena terjangkau oleh peluru meriam milik Belanda. Wilayah itu dikenal sekarang sebagai Glodok. Selain digunakan sebgai tempat pemukiman, daerah Golodok juga berkembang sebagai daerah perdagangan. Pada bulan September 1825, pasukan berkuda di bawah komandan Raden Ayu Yudakusuma, Putri Sultan pertama Yogyakarta menyerang ngawi yang terletak di sungai Sala. Pos perdagangan yang diserang itu merupakan tempat pemukiman orang Cina. Kendati mereka telah membuat barikade didalam rumah-rumah pedagang Cina yang terkemuka, yang mempunyai daun-daun jendela dan pintu-pintu yang terbuat dari kayu jati yang kukuh dan kuat. Tetapi tidak banyak artinya terhadap serangan yang dilancarkan. Betapapun tindakan itu mengerikan didalam kekejamannya, namun pembantaian yang terjadi di Ngawi itu, merupakan kejadian yang selalu berulang di seluruh Jawa Tengah serta disepanjang sungai solo. Ketika kelompok masyarakat Cina yang terisolir diserang dan orang yang berhasil selamat, menyelamatkan nyawa mereka ke dalam kotakota di mana terdapat kesatuan tentara Belanda dan tempat pemukiman orang-orang Cina yang terletak di pantai utara Pulau Jawa. Bahkan koloni-koloni masyarakat Cina yang sudah mapan seklipun desa diserang. Kejadiaan diatas menjelaskan betapa kurang harmonisnya hubungan Cina – Jawa. Tanpa menghiraukan jerit-tangis orang-orang, perempuan dan anak-anak yang begitu memilukan, maka semua penduduk Cina yang berada di Ngawi dibunuh. Tubuh-tubuh yang telah dipotong-potong itu dibiarkan bergelimpangan begitu saja, di muka pintu, di jalan-jalan serta rumah-rumah yang berlumuran darah. Sebelum terjadinya perang Jawa setidak-tidaknya dilingkungan istana, terjadi suatu hubungan yang didasarkan kepentingan bersama dan kerjasama antar kelompok secara timbale balik yang cukup menonjol. Di lingkungan Istana, orang-orang Cina di butuhkan sebagai orang-orang yang dapat memberikan pinjaman uang dan mempunyai kemampuan berdagang. Ada petunjuk terjadi sejumlah perkawinan antara kelompok sudah berlangsung di atara golongna priyai, Jawa dan orang-orang Cina. Ketrikatan mereka dengan Istana kerap kali merupakan persyaratan yang harus ada bagi kepentingan keberhasilan perdagangan mereka di daerah pedalaman oleh karena itulah mereka sendiri akan selalu berusaha untuk lebih lagi memperkuat ikatan-ikatan yang demikian itu melalui perkawinan-perkawinan serta hubungan-hubungan pribadi yang lebih dekat. 4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Perang Jawa serta segala sesuatu yang mendahuluinya menandai garis pemisah antara kedua kelompok masyarakat. Orang Jawa mengatakan bahwa banyak daripada kegetiran anti Cina serta kecurigaan yang timbul kemudian, bersumber dari pengalaman yang mereka peroleh selama bertahun-tahun ini, tatkala orang-orang Cina tersebut semakin hari, di dalam pikiran dan jiwa merek, semakin erat berkaitan erat dengan kebijaksanaan – kebijaksanaan perekonomian yang dijalankan oleh pemerintah Belanda yang menindas itu. Akibat dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, orang-orang Cina menjadi lebih sadar akan kedudukan mereka yang terbuka serta peka di dalam di dalam lingkungan masyarakat Jawa it. Pilihan untuk mengadakan asimilasi, kini semakin tidak menarik kembali. Hak-hak hokum istimewa yang khusus diberikan oleh Belanda kepada mereka melalui pertengahan abad kesembilan belas dan serterusnya serta pemaksaan yang lebih keras tentang pembatasan-pembatasan masyarakat majemuk. Cenderung untuk mengiring orang-orang Cina peranakan secara sadar kepada pengindentifikasi dari mereka dengan kelompok masyarakat Cina di Jawa. Ada kesadaran sosial Sarekat Islam telah meningkatkan sensitivitas dalam menghadapi masalah-masalah kompetisi dengan pengusaha asing dan diskriminasi menurut garis warna. Dengan landasan kesadaran itu secara mudah aksi kolektif di mobilisasi sehingga tahun-tahun pertama kehidupan SI ditandai penuh dengan keresahan yang waktu tertentu meledak menjadi insiden besar.Gerakan SI menjelma menjadi gerakan anti Cina, sebagaimana terjadi di Kudus pada tahun 1918. Kerusuhan itu merupakan satu huru-hara anti Cina terburuk yang pernah terjadi Indonesia pada awal abad ke – 20 ini. Dalam kerusuhan itu sekitar 50 rumah dihancurkan dan 8 orang Cina di bunuh, sebagian besar dari antaranya mati karena di bakar. Ada setengah orang Cina penduduk Kudus ( 2000 orang ) melarikan diri kesemarang. Polisi dan tentara dikerahkan untuk menumpas perusuh-perusuh itu, di antaranya dua orang terbunuh dan 60 orang terluka. Dari 75 orang yang ditangkap, 68 orang di intograsi dan kemudian 61 orang mendapat hukuman selama 9 bulan sampai 15 tahun. Kejadian itu menghasilkan laporan menurut versi masing-masing. Laporan dari pihak Islam Kudus menekankan bahwa orang Cina yang menyulut kerusuhan dengan membawa naga mereka arak-arakan melewati masjid. Sunan kudus dan dengan cara-cara lainnya menghina agama Islam. Tetapi, kenyataannya lebih penting sudah jelas bahwa semakin mandalamnya kebencian terhadap orang-orang Cina, dan hanya mencari kesempatan untuk melepaskannya. Sumber kebencian ini terutama adalah persoalan ekonomi, dan munculnya industri kretek Cina yang menimbulkan kerugian kepada industri kretek pribumi kemungkinan besar menjadi penyebab utamanya. Pada pihak lain laporan Cina menyebutkan ada dugaan keras bahwa usahawan-usahawan santri dalan industri kretek dan batik dengan sengaja menghasut orang Kudus membenci Cina. Kebanyakan dari mereka yang dihukum karena ikut ambil bagian dalam kerusuhan itu adalah warga kota, di antaranya sekitar 20 orang pedagang dan 20 orang kiai. Sejak kerusuhan di kudus, hubungan kedua belah pihak menjadi lebih baik. Tetapi kerukunan itu bersifat semu, karena tetap tersembunyi kebencian yang mendalam pihak usahawan-usahawan Islam terhadap orang-orang Cina, kebencian dapat meledak lagi dalam bentuk kekerasan pada masa akan datang. Walaupun sering dinyatakan dalam prasangka, kebencian ini kadang-kadang dapat didasarkan pada pengakuan bahwa orang 5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Cina itu ada dan berhasil sedikit banyak telah mengurangi hubungan di antara golongangolongan sosial di Indonesia yang barang kali memperlambat pertumbuhan ekonomi orang-orang Cina itu sendiri, sebagai golongan minoritas tentu saja tidak dapat menjadi kaum borjuis yang berkuasa dan pasti tergantung pada kemurahan hati pelindungpelindung pribumi yang sangat kuat dalam gelanggang politik. Tetapi, pada waktu yang sama, dengan keberhasilan mereka dibidnag ekonomi, tetap memperlambat pertumbuhan golongan menengah pribumi. Pada tanggal 10 Mei 1963, terjadi perkelahian di kampus ITB, antara sekelompok mahasiswa pribumi dengan sekelompok mahasiswa keturunan Cina. Menurut keterangan mahasiswa pribumi yang menajdi sebab perkelahian ialah karena sudah lama terasa ada ketegangan antara mahasiswa ITB pada umumnya dan para masiswa serta sekelompok dosen keturunan Cina. Oleh para mahasiswa pribumi, mereka dianggap bersikap sombong, selalu berkelompok terpisah dari mahasiswa lainnya dan sukamemamerkan kekayaannya dengan berbondong-bondong naik sepeda motor kalau datang dan meninggalkan kampus, apa yang menjadi dasar perkelahian berkelompok itu tidak jelas. Akan tetapi yang menjadi kenyataan ialah bahwa perkelaihiaan itu terjadi pada pagi hari tanggal 10 Mei, dan siang hari tanggal yang sama sekelompok mahasiswa dan pelajar pribumi bersama-sama dengan sejumlah besar orang-orang pribumi lainnya beraksi merusak rumah-rumah dan took-toko beserta isinya, milik penduduk Cina, di berbagai sudut kota Bandung. Barang-barnag milik penduduk Cina dikeluarkan dari rumah atau toko oleh segerombolan orang banyak secara beramai-ramai, dan kemudian dibakar. Kerusuhan missal ini dapat dipadamkan oleh tentara. Tampaknya emosi anti Cina dari kalangan penduduk pribumi ini dapat sekali menjalar ketempat-tempat lain dimana terdapat pemusatan pemukiman dan usaha penduduk keturunan Cina. Sebelum dan sedah kejadian kerusuhan missal anti Cina di 10 kota, yaitu berturut-turut di Tegal, Bandung, Sumedang, Bogor, Tasik Malaya, Garut, Sukabumi, Surabaya, Cianjur, dan yang terakhir di Yogyakarta. Intensitas, jangka waktu, serta luas daerah kerusuhan missal yang terjadi dimasing-masing kota ini berbeda. Hal ini sebagain besar tegantung kesaip-siagaan pasukan-pasukan keamanan di tiap-tiap kota dan kecematan mereka bertindak setelah ada tanda-tanda pertama yang memberikan indikasi akan terjadi di masing-masing kota itu berbeda. Bila diteliti unsur-unsur sosiologis yang tampak pada kerusuhan massal yang terjadi di sepuluh kota yang berjauhan letaknya maka pertama-tama dapat dilihat bahwa kerusuhan missal itu dilakukan secara aktif oleh segerombolan orang-orang yang praktis semuannya dari keturunan pribumi terhadap para penduduk setemat keturunan Cina. Selanjutnya tampak jelas bahwa semua itu terjadi di kota-kota dimana terdapat permusatan pemukinan serta usaha penduduk keturunan Cina. Pola kerusuhan massal tidak banyak berbeda di berbagai kota itu. Mula-mula ada perselisihan antara beberapa orang keturunan Cina. Kemudian dengan amat cepat sekali meluas menjadi tindakantindakan kekerasan gerombolan besar yang terdiri dari orang-orang keturunan pribumi sebagai mayoritas terhadap para penduduk keturunan Cina sebagai minoritas. Ada pun yang amat mengherankan ialah bahwa kerusuhan rasial itu dapat menjalar dengan cepat nya kekota-kota lain di Jawa. Sesudah peristiwa G 30 S, sentimen anti Cina muncul dimana-mana. Sampai batas-batas tertentu ini merupakan suatu ungkapan permusuhan terhadap RRT yang 6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

diproyeksikan secra tidak pandang bulu kepada orang-orang Cina. Dalam mingguminggu pertama setelah peristiwa G 30 S tampak ada tiga keluhan yang diarahkan pada RRC. Pertama, Kedutaan Besar RRT di Jakarta tidak mengibarkan setengah tiang sebagai tanda turut berduka cita atas terbunuhnya para jenderal. Kedua, Radio Peking terus mengadakan provokasi terhadap revolusi Indonesia. Ketiga, Pers Indonesia melaporkan bahwa telah diketemukan granat tangan dan senapan ringan buatan RRC di Pelabuhan Tanjung Priok, yang diselundupkan di antara material untuk proyek CONEFO. Penbunuhan massal yang terjadi sebagai epilog atas terbunuhnya para Jenderal, golongan Cina terkena relative ringan. Sejumlah orang Cina yang menjadi anggota PKI sebagai bagian dari pembunuhan massal pada umumnya, tetapi pembunuhan orang Cina karena mereka Cina adalah lebih bersifat sporadis dan kurang sistematis. Tetapi pada umumnya sentimen anti Cina yang paling Khas bukanlah pembunuhan, kekerasan terhadap orang atau penahanan tetapi lebih mengarah pada pengrusakan harta milik, seperti misalnya perampasan, perampokan, pembakaran toko, sekolah, rumah dan mobil. Hal ini tidak berarti bahwa bentuk-bentuk kekerasan lain tidak terjadi atau penduduk Cina tidak berada dalam ketakutan terus-menerus bahwa hal-hal seperti itu bisa terjadi. Ke khawatiran orang-orang Cina cukup merata, dan juga bisa di mengerti. Pembunuhan massal terhadap orang komunis masih segar dalam ingatan mereka dan rupanya sentimen anti Cina yang diungkapkan secara terbuka semakin mencuat, gangguan administratif yang mengarah kepenarikan uang perlindungan, dan tuntutan-tuntutan yang menggema agar dilakukan berbagai macam aksi terhadap orang Cina, yang berkisar dari pembatasan ekonomi sampai pengusiran massal. Suatu pembunuhan massal yang terorganisir, yang anti Cina tentulah tampak sebagai kemungkinan yang menyeramkan. Pokok persoalan sentiment anti Cina selama periode ini dapat didekati dengan suatu pendekatan dengan menganalisa sifat peristiwa yang bersangkutan dan mempertimbangkan, sebagai mana adanya, tema dari ledakan tertentu. Masalahnya dengan pendekatan ini adalah bahwa peristiwa-peristiwa sentimen anti Cina sering kali tidak terbatas pada satu tema saja tetapi juga pada satu campuran dari tema-tema semacam itu. Ada empat tema yang bisa menjelaskan peristiwa itu. Pertama, kekerasan adalah bagian dari kampanye umum anti komunis yang tidak dapat dipisahkan. Tema kedua adalah dimana kekerasan anti Cina berkaitan dengan demontrasi yang menentang RRT. Tema ketiga ialah dimana pemerintah setempat berusaha untuk melaksanakan peraturan anti Cina. Tema yang terakhir yang mungkin bisa dinamakan kekerasan anti Cina yang murni, pada saat kekerasan itu timbul secara spontan, atau yang lebih biasa terjadi, ditirunya anti Cina yang terjadi di tempat lain, tetapi tanpa ciri-ciri yang menyertai tipe-tipe terdahulu. Ketika Soekarno yang dijadikan kambing hitam atas kekacauan yang terjadi selama ini telah di copot dari jabatannya dan ditempatkan dalam tahanan, tetapi inflasi masih terus berlanjut. Tentu saja orang masih dapat menuntut agar dirinya diajukan ke pengadilan, tetapi suatu kecenderungan yang wajar adalah mencari kambing hitam yang lain. Disamping itu, kesatuan-kesatuan aksi mungkin memerlukan suatu pokok persoalan baru agar para anggotanya di mobilisasi dan dengan demikian dapat mempertahankan daya gerak yang telah mereka capai dalam hari-hari penuh ketegangan sebelum tanggal11 Maret 1966. RRT dan orang Cina cocok sekali untuk keperluan itu. Mereka dengan mudah dapat di percaya sebagai wakil ancaman komunis, kolone ke lima dan penyabot 7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

ekonomi. Ada keuntungan tambahan bahwa mereka merupakan sasaran yang relatif tidak punya pertahanan. Golongan Cina yang tidak punya sarana perlindungan yang kelihatan. Karena alasan itulah, maka saatnya tiba kekawatiran orang Cina itu sendiri, ketika tempo serangan terhadap gedung-gedung diplomatik dan konsuler RRT ditingkatkan, sekolahsekolah Tiongkok dirampas dan ditutupi, dan masalah hubungan dengan RRT serta kedudukan orang Cina Indonesia menarik perhatian yang sangat besar di arena politik Indonesia. Ketika kampanye terhadap RRT dan orang Cina asing meningkat, golongan Wali keturunan Cina makin mendapat tekanan untuk menyatakan kesetiaan mereka kepada Indonesia. Pada Tanggal 15 April 1967, sekitar 50.000 orang Cina Indonesia berkumpul di Lapangan Banteng, Jakarta. Mereka mengajukan pernyataan kesetiaan mereka kepada Indonesia, dengan tegas mengutuk segala campur tangan masalah dalam negeri Indonesia, dan berseru kepada pemerintahan Indonesia untuk memutuskan hubungan diplomatic dengan Peking. Mereka juga menuntut penututupan untuk seterusnya semua sekolah Cina asing di Indonesia dan menyatakan diri mereka sepenuhnya setuju jika warga negara RRT ingin kembali ke Tiongkok. Setelah rapat umum, banyak diantara kaum demonstran bergerak ke dutaan besar RRT dimana mereka memecahkan pintu gerbang, menghadirkan peralatan kantor dan melukai sejumlah orang staf kedutaan. Ternyata banyak orang Indonesia merasa bahwa banayk pernyataan dan rapat umum itu semuanya baik, tetapi tindakannyalah yang penting. Kalau golongan Cina masih mempertahankan eksklusifisme di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Kalau mereka yang menjadi warga Negara Indonesia dengan diam-diam setia kepada Tingkok dalam hati mereka. Kalau mereka terus meningkatkan harga barang dipasar yang memang mereka kuasai, maka pernyataan-pernyataan kesetiaan dan rapat umum itu hanya sandiwara saja. Setelah masa dua tahun setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, kekerasan anti Cina sangat meluas seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, meliputi ledakanledakan kekerasan di pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan, tetapi kekerasan itu tidak terus menerus selama kurun waktu itu. Tahun-tahun itu merupakan memperburuk bagi orang Cina Indonesia. Stigma-stigma lebih melekat pada diri mereka di kemudian hari. Suatu insiden lain adalah Peristiwa Surabaya tanggal 21 Oktober 1968. kerusuhan itu muncul dari suatu demontrasi KAPPI untuk memperotes digantungnya dua orang mariner Indonesia di singapura atas kegiatan atas kegiatan yang mereka lakukan beberapa tahun sebelumnya selama konfontrasi Indonesia-Malaysia, yang telah mendapat persetujuaan sebelumnya dari Kodam Brawijaya, merosot menjadi suatu pengruskan atas hak milik orang Cina. Mobil, Sepeda Motor, bahkan becak dihentikan, dibalikkan dan dibakar, toko dan rumah di dobrak dan isinya dilempar kejalanan dan dibakar, pengrusakan itu berlanjut sepanjang hari sampai jam malam diberlakukan ketika malam tiba. Kerusuhan itu menyebabkan 98 mobil, 176 sepeda motor dan skuter, 4 bemo, 48 becak dan 650 sepeda dirusak. Kerusakan juga menimpa pada 71 rumah dan 444 toko, bersama dengan perabotan dan barang daganganny, disamping 9 pabrik. Ada tujuh anggota PKI yang ditahan setelah demontrasi tersebut, dan para penguasa menyatakan bahwa pimpinan KAPPI-lah yang merencanakan pengerusakan itu, dengan mendaftarkan 8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

tempat-tempat yang akan dirusak sebelumnya. Apapun kejadiaannya, para penguasa membekukan semua kegiatan KAPPI cabang Surabaya. Ketidak senangan pribumi terhadap keberhasilan usaha yang semakin berkembang mencapai puncaknya dalam huru-hara yang pcah di Jakarta selama kunjungan Perdana Mentri Tanaka pada bulan Januari 1974. huru-hara itu pada permukaannya merupakan suatu pernyataan permusuhan terhadap penetuan ekonomi Jepang yang semakin besar, tetapi perasaan anti Cina yang mendasarinya adalah nyata dalam dihancurkan toko-toko Cina dipsat perbelanjaan senen yang baru dibangun. Bermula dari demontrasi mahasiswa yang berubah menjadi huru-hara tak terkendali, dipelopori terutama oleh para pemuda dan anak-anak dari daerah kumuh Ibu kota. Mereka itulah yang membakar mobil-mobil Jepang dan lain-lain, menghancurkan etalase gedung importer Toyota Astra Motor Company, menyerang pabrik Coca Cola dan pada hari berikutnya membakar serta merampok kompleks pertokoaan Senen yang besar itu. Jakarta menjadi kota yang kacau balau selama peristiwa Malari ( Malapetaka Lima Belas Januari ). Sampai sekarang tidak ada penjelasan lengkap yang bisa dibuat dari potongan fakta-fakta. Sebagai berikut,; demontrasi para mahasiswa yang menentang strategi pemerintah terhadap penanaman modal asing, korupsi dan untuk keadilan; pandangan bahwa Jendral Soemitro mempunyai ambisi kekuasaan (dia dipensiunkan setelah ketenangan dipulihkan); pandangan bahwa apa yang dinamakan Opsus (Operasi Khusus) yang dikepalai Jendaral Ali Moertopo (dianggap Jendral yang paling politis) terlibat dalam satu atau lain cara. Kenyataan yang terjadi ialah bahwa dalam tahun 1974 adaalah suatu masa dimana poliran muncul antara para mahasiswa dengan Jenderal Soeharto. 11 mahasiswa melayang, 17 orang luka berat, 120 orang luka ringan, 775 orang di tahan, 807 mobil dan 187 motor di bakar. Kejadian ini, bersama dengan kritik yang berlanjut mengenai peranan Cukong Cina, menyebabkan di keluarkannya keputusan Presiden No. 14 tahun 1979 yang memberikan perlakuan istimewa dalam berbagai sektor ekonomi kepada kelompok ‘ekonomi lemah’. Keputusan ini di susul dengan keputusan Presiden No. 14 A tahun 1980. Bagi suatu usaha untuk dapat di golongkan sebagai kelompok ekonomi lemah (a) modalnya haruslah sekurang-kurangnya 50 persen milik pribadi, (b) lebih separuh dari dewan direksinya haruslah pribumi, dan (c) modalnya haruslah kurang dari Rp. 25 juta dalam usaha perdagangan atau tidak lebih dari Rp. 100 juta dalam perusahaan kontruksi atau usaha industri. Juga ditetapkan bahwa para direktur pribuminya haruslah aktif, tidak boleh hanya pajanga belaka. Cina dan Kolonialisme Jauh sebelum bangsa Barat menemukan rute pelayaran mengitari The Cape of Good Hope lebih dari 400 tahun yang lalu, bangsa Cina telah datang ke pulau-pulau di Laut Selatan untuk mencari rempah-rempah dan komoditas lainnya. Mereka datang hanya sebagai pedagang atau kaum musafir yang pergi setelah urusannya selesai kembali 9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

tanpa ada kiat untuk menetap secara permanen. Namun, pada akhirnya banyak dari mereka, dengan berbagai alasan, memutuskan untuk tetap tinggal dan menetap. Pada tahun 1622 Gubernur VOC JP Coen, dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kerja, mengirim kapal-kapal ke pantai Cina Tenggara untuk membawa orangorang Cina ke Batavia. Ada yang suka rela datang tetapi tidak sedikit yang datang karene di culik. Mereka didatangkan untuk mengisi daerah pemukiman baru itu dengan tenaga kerja, pedagang, nelayan, petani, buruh perkebunan dan perajin. Gubernur JP Coen menempuh segala macam cara untuk bujuk orang-orang Cina dari wilayah manapun juga. Tetapi peperangan yang terjadi pada tahun 1650 di Propinsi Fujian menyebabkan pengungsian besar-besaran di Asia Tenggara, dan meningkatkan populasi penduduk orang Cina di Nusantara. Mereka yang datang membawa istri, menikahi perempuan lokal yang kebanyakan dari kaum budak Bali, Makasar dan Jawa, dan selanjutnya mereka membentuk komoditas sendiri. Hasil asimilasi ini kemudian melahirkan kelompok masyarakat yang biasa di kenal dengan istilah Cina Peranakan dan ini yang kemudian berkembang dan menetap di Indonesia. Pada abad ke-19 para perantau Cina tidak terbatas pada kaum laki-laki saja, tetapi juga kaum wanitanya, bahkan dengan seluruh keluarganya. Dengan demikian jumlah orang Cina perantauan ini makin banyak dan proses asimilasi yang tadinya sering dilakukan oleh orang Cina perantauan dengan penduduk setempat menjadi kurang, bahkan akhirnya menutup diri dan membentuk golongan tersendiri lengkap dengan kehidupan tradisionalnya. Mereka inilah yang disebut Cina Totok. Mengenai kehidupannya, kaum Totok lebih suka bekerja untuk dirinya sendiri dan sebagian besar berkecimpung dalam bidang usaha. Peranakan yang telah beraneka ragam bidang pekerjaannya, menunjukkan bahwa mereka suka pekerjaan kejuruan dan administrasi atau staf di perusahaan besar. Pemilihan bidang pekerjaan ini mencerminkan perbedaan yang menyolok dalam orientasi nilai. Totok lebih menghargai kekayaan, kehematan, kerja, kepercayaan pada diri sendiri dan keberanian dari pada kaum Peranakan. Sedangkan kaum Peranakan lebih menghargai kenikmatan hidup, waktu senggang, kedudukan sosial dan perasaan terjamin dari pada kaum Cina Totok. Di kota besar atau kecil manapun di Jawa, kaum Totok berkumpul di daerah pusat perdagangan dengan ciri khas tinggal di rumah-rumah yang merupakan toko dan sekaligus juga tempat tinggal seperti yang juga terdapat di kota-kota Tiongkok Tenggara. Sebaliknya kaum Peranakan tersebar lebih luas di seluruh kota dan tinggal di rumahrumah yang tidak asal bisa ditinggali saja. Mereka menunjukkan kesukaan akan rumah bergaya Arsiktur Barat yang modern. Adanya hokum yang membagi penduduk kedalam tiga golongan yang berbedabeda yakni golongan Eropa, Timur Asing, Golongan Pribumi. Tiga golongan ini memiliki hak-hak hukum dan hak-hak istimewa yang juga berbeda-beda, dan pada umumnya, orang Cina sebagai golongan Timur Asing mempunyai kedudukan yang lebih menguntungkan dibandingkan penduduk pribumi. Maka dari itu, asimilasi dengan penduduk pribumi akan menurunkan status sosial dan menyebabkan mereka kehilangan beberapa hak istimewa dalam hukum. Bahkan sekaligus ada keinginan untuk berasimilasi, politik pemerintah Belanda semakin mempersulitnya. Sistem perkampungan yang mengharuskan orang Cina bermukim di kantong-kantong kota tertentu. Telah 10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

diperhebat dan kini pun mereka di haruskan memperoleh surat jalan apabila mereka hendak melakukan perjalanan keluar. Contoh ini memberikan gambaran umum bagaimana pemerintah kolonial Belanda dengan giat menghalagi etnis itu. Orang Cina diharapkan berpakaian sebagaimana biasanya orang Cina berpakaian dan memakai kuncir dan merupakan pelanggaran kriminal apabila tampil di muka umum berpakaian seperti orang Eropa atau penduduk pribumi. Kebijaksanaan memisahkan kelompok-kelompok dan lebih mudah bagi Belanda untuk mengenali orang Cina dari pakaiannya, tempat pemukimannya, dan tanda-tanda yang mudah dikenali yang ada pada mereka. Tidak ada prosedur yang dilembagakan yang memungkinkan seorang penduduk Cina dapat melepaskan diri dari golongan Cina dan menjadi penduduk pribumi. Politik Belanda barang kali, memainkan peranan sekali dalam memastikan bahwa suatu masyarakat Peranakan yang mantap terbentuk dari keturunan imigrasi Cina dan bahwa imigrasi ini tidak terserap oleh penduduk pribumi. Kebijaksanaan pemerintahan Belanda terhadap orang Cina makin berkembang sehingga mereka dapat menempati suatu posisi perantara penting yang di sebut Wertheim sebagai ‘struktur kasta penjajahan’ yang berdasarkan atas sistem stratipikasi sosial dimana orang Cina berada di antara lapisan bawah mayoritas orang Indonesia dan lapisan atas, yaitu orang Eropa. Mereka terlibat khususnya sebagai pengumpul pajak sehingga mempunyai kesempatan untuk menjalankan pemerasan terhadap rakyat, mengusahakan pengadaan, memonopoli garam dan perdagangan candu yang dilaksanakan atas nama pemerintahan Belanda. Dari kedudukan penting tersebut memungkinkan mereka memperluas jaringan kontak perdagangannya menjadi pemberi pinjaman uang, pedagang besar dan pembeli bahan-bahan pokok guna pasaran ekspor, meskipun mereka hanya berhasil mendapat sedikit jalan ke arah sektor kehidupan ekonomi yang dikuasai oleh orang-orang Belanda, misalnya perkebunan, impor – ekspor, perdagangan secara besarbesaran dan perbankan sampai berakhirnya penjajahan. Posisi orang Cina sebagai perantara malah semakin di perkuat dengan diperkenalkannya Sistem Tanam Paksa tersebut. Ketika industri bangkit di Eropa Barat, para produsen mencari pasar bagi barang-barang yang diproduksi secara masal. Di lain pihak, wilayah koloni memasokkan bahan-bahan mentah yang dibutuhkan industri yang dikembangkan di Eropa Barat itu, yang tidak terhindarkan adalah kenyataan bahwa penduduk pribumi tidak memiliki sarana transportasi untuk membawa hasil produksi mereka kepada pembeli. Sehingga apa yang penduduk jual kepada pihak Eropa, mereka jual melalui orang Cina, dan apa yang penduduk beli dari pihak Eropa, mereka beli lewat tangan orang Tionghoa. Tanam Paksa dan peran perantara yang diserahkan kepada pengusaha Cina itu tidak saja memiskinkan massa-rakyat pribumi, tetapi sesungguhnya juga mampu mempora-porandakan kerukunan tradisional yang ada selama ini. Peran sebagai pedagang perantara memungkinkan golongan Cina untuk terus berkecimpung dalam bisnis dan distribusi kebutuhan sehari-hari yang juga di kontrol oleh pemerintah. Sejumlah bukti menunjukkan betapa runyamnya hidup sehari-hari akibat siasat diskriminatif seperti itu akhirnya menghasilkan kebiasaan cara berdagang yang penuh untuk, saling curiga dan tidak trasparan. Selain semata-mata karena golongan Cina memang terampil berdagang, pemberian preivilese sebagai ‘perantara’ kepada golongan Cina sebenarnya juga demi kepentingan lain dari penguasa kolonial. Penguasa kolonial sadar dan percaya bahwa 11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

lebih sedikit resikonya untuk memberikan kekuasaan ekonomi ketimbang diserahkan kepada golongan pribumi. Sebenarnya para pejabat Belanda merasa iri pada kedudukan ekonomi orang Cina yang kuat dan merasa cemas hal ini akan membahayakan ekonomi perkebunan, tetapi mereka tidak berani mengakuinya secara terang-terangan yang mereka katakan ialah bahwa posisi kuat orang Cina itu disebabkan oleh sifat boros dan kebiasaan buruk orangorang pribumi, dan karena itu mereka mendesak agar orang-orang pribumi diselamatkan dari cengkraman lintah darat dan di beri bimbingan. Meskipun para pejabat Belanda menggangap orang Cina sebagai iblis bagi penduduk desa Jawa, mereka sadar sepenuhnya bahwa orang Cina diperlukan untuk mempertahankan struktur pajak kolonial dan memberi nilai tambah pada perdagangan Belanda. Orang Cina mengangkut barang-barang yang di Import dari Negeri Belanda dan negara Eropa lainnya kedaerah pedalaman dan membawa produk-produk pedalaman ke kota-kota dan pelabuhan kolonial. Lagi pula, bagian dari pajak kolonial yang penting tergantung pada penyerahan tugas pemungutan pajak dan pemberian hak-hak monopoli kepada orang-orang Cina kaya. Sebenarnya orang-orang Cina hanya diperbolehkan hidup di kota-kota yang mempunyai pemukiman yang telah disediakan khusus bagi mereka. Ketika pembatasan itu dijalankan tanpa ampun pada tahun 1830, banyak orang Cina yang tinggal dipedalaman di paksa pindah ke kota seperti itu dengan meninggalkan usaha, rumah, dan milik mereka lainnya di tempat mereka tinggali. Beberapa orang Cina lebih memilih berasimilasi dengan penduduk setempat ketimbang meninggalkan milik mereka dan pindah ke kota-kota baru. Ada laporan yang menunjukkan bahwa berlangsungnya sistem tanam paksa, kebijakan untuk memaksa orang Cina untuk pindah ke kota cukup sering dilakukan, yaitu setiap kali hak pemungutan pajak di ambil alih oleh pemerintah, dan orang Cina tidak diperlukan lagi untuk melaksanakan tugas ini di daerah pedesaan. Dengan memberlakukan UU Agraria tahun 1870, di dalam usaha memberikan perlindungan kepada warga pribumi dan imbas politik ekonomi leberal hanya menempatkan mayoritas penduduk pada posisi pasif di tengah-tengah aktifitas ekonomi swasta/Eropa. Penduduk pribumi tetap menjadi petani dengan standard hidup yang rendah, yang bilamana membutuhkan pendapatan tambahan, mereka hanya menyewakan tenaga sebagai buruh yang dibayar dengan murah. Politik etis yang dimaksudkan untuk meningkatkan tarap hidup penduduk pribumi, ternyata tidak berhasil. Pendidikan yang diharapkan membuka lapangan kerja baru ternyata sering tidak tertampung dalam penempatan kerja. Pendidikan sebagai produk politik etis hanya memasokan tenaga buruh murah dari Jawa untuk kebutuhan perkebunan-perkebunan besar diluar Jawa. Karena koloni diperlakukan hanya sebagai pemasok bahan mentah sekaligus pasar bagi barang-barang produk Eropa Barat, maka kebijakan politik seperti ini tidak menciptakan kapital pribumi. Dari segi ini, idealisme humanitarian dari politik etis dalam prakteknya tidak selaras dengan politik ekonomi kolonial. Apabila program pembaruaan sama sekali tidak membawa perubahan struktur sosial – ekonomi masyarakat Indonesia. Kebijakan politik Belanda yang humanitariaan itu di targetkan untuk meningkatkan tarap hidup rakyat sekaligus juga diarahkan untuk memotong peran ekonomi orang Cina di koloni. Sebenarnya ada upaya serius dari pemerintah kolonial untuk melikwidasi basis ekonomi etnis Cina ini berhasil bertahan dari usaha-usaha 12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

likuidasi ini, perkembangan etnis Cina ini kemudian, dalam stratifikasi sosial masyarakat, menjadi bagian dari kelompok-kelompok menengah. Disinilah posisi etnis Cina dilihat sebagai suatu hambatan bagai proses kolonialisme Belanda. Selain gagal memenuhi fungsi mereka sebagai pemasok keuntungan, kalangan etnis Cina ini menajdi terlihat menonjol, setara dengan Aristokrat pribumi. Politik etis memang kalau disebut sebagai politik hutang Budi. Sebab apa yang dimaksudkan dengan program meningkatkan tarap hidup penduduk yang telah menjadi korban ‘penghisapan’ adalah tidak lain cuci tangan pemerintah kolonial terhadap apa yang selama ini dipraktekkan. Adanya undang-undang kewarganegaraan yang dikeluarkan pada tahun 1910 mengundnag kericuhan diplomatik dengan RRT. Pemberiaan status Nederlandsch onderdaan kepada orang Cina yang lahir koloni, yang disebut kaum pranakan, dimaksudkan untuk mencegah kaum peranakan Cina tidak terperangkap jaring intervensi RRT. Dalam menghadapi intervensi RRT, pemerintah Hindia Belanda mencoba mengasingkan kelompok peranaka dari pada kaum totok. Sekolah-sekolah Belanda dibuka untuk anak-anak kaum peranakan baik di kota-kota besar maupun di kota-kota kecil yang penting, yang mengarahkan orientasi peranakan ditanah kelahiran mereka di koloni Hindia-Belanda, memaksakan status kawula Belanda kepada mereka dan memikat peranakan untuk berpartisipasi dalam vokstraad adalah usaha-usaha yang membuat kaum peranakan secara politis, sosial dan budaya mereka makin berbeda dengan kaum Totok. Pemihakan pemerintah Hindia Belanda terhadap kaum peranakan Cina tidak hanya memperlebar jurang perbedaan dengan kaum Totok, tetapi juga mengundang sikap permusuhan dari kaum pergerakan nasionalis Indonesia. Hubungan yang tidak harmonis semakin tajam sesudah tahun 1930-an ketika gerakan nasionalisme berpaling kepada Jepang sebagai sumber inspirasi, semtara orang Cina anti Jepang. Tidak heran jika masa pendudukan Jepang di Indonesia menambah beban penghidupan orang Cina. Bom Waktu dan Diskriminasi Undang-undnag dasar 1945 menyebutkan bahwa semua warganegara berkedudukan sama di depan hukum dan bahwa pemerintah menjamin hak-hak mereka tanpa membedakan asal usul rasial. Tetapi dengan diperkenalkan Sistem Benteng terjadi tindakan diskriminatif pertama dalam bidang ekonomi terhadap orang Cina. Dalam bulan April 1950, mentri kesejahtraan Juanda, mengumunkan bahwa pemerintahan Indonesia akan melindungi para importir nasional Indonesia agar dapat bersaing dengan importir luar negeri. Para importir nasional yang dimaksudkan adalah para importir pribumi Indonesia atau perusahaan import yang 70 persen dari modalnya dimiliki pribumi. Perlindungan diberikan dalam bentuk perlakukaan istimewa untuk para importir itu adalah memberikan kredit, ijin dan keistimewaan untuk mengimport barang tertentu. Sistem tersebut diperkenalkan dengan maksud untuk mendorong perkembangan kelas Wiraswastawan pribumi Indonesia. Yang dapat dimulai dengan dengan menghadapi masalah-masalah perdagangan barang import yang relatif sederhana dan dari sini meluas ke usaha-usaha lainnya. Tindakan diskriminatif ini mendapat protes dari warga negara Indoensia keturunan Cina kendati pun demikian Perdana Mentri Ali Sastro Amidjojo (1953) tetap melanjutkannya. Protes-protes yang dilaksanakan terus menerus oleh kaum 13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Cina serta karena kegagalan sistem itu sendiri, pemerintah Indonesia kemdiaan menghentikan secara resmi pada tahun 1954. Sistem Beteng tidak mencapai tujuaannya, karena terletak pada kekurangan pengalaman orang pribumi, kuatnya oposisi dari orang Cina, dan berlangsungnya inflasi terus-menerus memaksa pemerintah mengadakan penilaiaan kembali atas program tersebut. Sistem itu telah mengakibatkan timbulnya ‘ importir – importir Aktentas ‘ yang adalah orang Indonesia asli yang tidak punya harta benda lain kecuali aktentasnya sebagai kantor. Satu-satunya tujuan para importir itu adalah untuk mendapatkan izin memiliki alat pembayaran luar negeri (foreign exchange) sedang mitra Cina mereka (mitra diam) lah yang menjalankan perusahaan. Kerjasama antara pemegang izin ynag pribumi dari Cina Indonesia terkenal dengan sistem Ali Baba, dan hal itu banyak orang pribumi dianggap sebagai hal yang tidak adil dan merugikan karena orang Cina menerima bagian terbesar dari labanya, sedangkan orang Indonesai asli yang pakai sebagai ‘yang maju kedepan’ tidak mendapatkan apa-apa dalam hal pengalaman berusaha. Kebijaksanaan lain yang berpengaruh terhadap orang Cina dengan dikeluarkannya peraturan yang mengatur penguasaan pengilingan beras oleh pemerintah. Kabinet Ali Sastro Amidjojo I. Peraturan tahun 1954 bertujuaan untuk pengalihan pemilik dari orang Cina kepada pribumi. Praturan itu menyatakan bahwa tidak akan diberikan izin baru untuk usaha penggilingan beras yang ada harus dipindah tangankan kepada warga negara Indonesia, yaitu mereka yaitu mereka yang tidak mempunyai kewarganegaraan lain kecuali Indonesia. Karena pada waktu itu warga negara Indonesia keturunan Cina secara teknis masih berkewarganegaraan ganda, peraturan tersebut mengena juga kepada mereka. Tindakan diskriminatif, sebagaimana sistem banteng, mendapat tanggapan kritis dari masyarakat Cina. Dalam bulan september 1954, Mentri Prekonomian Ishak Tjokrohadisuryo (PNI) mengumumkan bahwa peraturan tersebut hanya diturunkan kepada orang asing. Selain usaha mempribumikan perusahaan pengilingan beras, juga dikeluarkan peraturan yang tujuaanya mempribumikan fasilitas pelabuhan dalam kabinet Ali Sastro Amidjojo (1954) peraturan itu menentukan bahwa usaha bongkar muat, angkutan pelabuhan, dan pergudangan pelabuhan harus meminta izin baru yang akan diberikan kepada warga negara Indonesia asli. Pempribumiaan fasilitas pribumi hanya menguntungkan pimpinan partai-partai besar dalam peemrintahan, karena hanya merekalah yang dapat mengambil alih fasilitas tersebut melalui persatuaan usaha pergudangan. Keberhasilan terbatas dari pempribumian disektor swasta menimbulkan ketidak senangan dan prustasi tersebut tercetus dalam suatu kampanye yang terkenal Gerakan Assaat. Assaat, seorang politisi yang beralih menjadi pengususaha, mengorganisasi suatu kampanye di awal 1956 untuk mendesak pemerintah memberikan pengutamaan dalam urusan kepada orang pribumi. Mereka mengajukan alasan bahwa pemerintah kononial Belanda telah membuat golongan Cina kuat di bidang ekonomi dan golongan pribumi lemah. Oleh karena itu pemerintah berkewajiban untuk menghilangkan sisa kononialisme ini. Gerakan ini mendapat dukungan terutama dari Masyumi, tetapi mayoritas pemimpin Indonesia segan memberikan dukungan secara terbuka karena kemungkinan akan membahayakan perekonomian Indonesia serta karena bertentangan dengan semangat UUD bahwa setiap warga negara menpunyai hak dan kewajiban yang sama. 14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Suatu keadaan gawat yang nyaris mencelakakan seluruh kedudukan orang Cina asing di Indonesia telah di percepat dengan adanya peraturan-peraturan yang dikeluarkan pada bulan November 1959. peraturan Presiden No. 10 menyatakan bahwa orang asing tidak diperbolehkan berusaha di bidang perdagangan eceran dan oleh hukum diwajibkan untuk mengalihkan perusahaan mereka kepada warga negara Indonesia sebelum 1 Januari 1960. peraturan tersebut mengatakan bahwa orang asing itu masih diperbolehkan tinggal di daerah tersebut kecuali jika komandan militer setempat menetapkan lain dengan alasan keamanan. Peraturan Presiden No. 10 menandai suatu penyimpangan dari strategi sebelumnya dalam usaha mengurangi kekuatan ekonomi Cina dalam anti bahwa larangan tersebut hanya berlaku terbatas pada pedagang Cina asing. Ini mungkin didasarkan pada pertimbangan bahwa tujuan yang diinginkan mungkin tidak akan tercapai bila dikenakan pada semua orang Cina. Banyak orang Cina setempat yang tidak mau menutup usaha mereka karena sedikit saja orang Indonesia yang mempunyai modal yang cukup untuk mengambil alih usaha mereka. Keenganan mereka itu boleh jadi juga di dorong oleh harapan bahwa pemerintah Indonesia mungkin tidak akan memaksakan berlakunya undang-undang tersebut juga ada kemungkinan bahwa para pejabat kedutaan RRC menyuruh orang Cina itu melanjutkan saja usaha mereka seperti biasa. Meskipun demikian banyak juga warga negara Indonesia keturunan Cina, khususnya kaum peranakan yang mendudukung berlakunya PP-10 karena mereka tidak terkena aturan tersebut. Di samping itu mungkin pula mereka di dorong oleh prasangka terhadap kaum Totok serta melihat bahwa itu merupakan suatu sarana untuk menunjukkan kesetiaan mereka pada bangsa Indonesia dan untuk menyelamatkan diri sendiri. Di Jawa Barat, ketika orang-orang Cina asing menolak untuk mengungsi dari pedesaan, maka para pejabat militer menjadi marah dan lalu menggunakan kekerasan untuk memaksa mereka mematuhi peraturan-peraturan itu. Perundingan diplomatik menjadi macet selama hampir 8 bulan, dan sengketa antara orang Indonesia dan Cina ini menyebabkan hubungan Indonesia – Tiongkok menurun sampai titik terendah. Pada bulan Desember 1954, telah di mulai repatisasi orang-orang Cina yang ingin menghindari situasi yang memburuk itu, dan dalam setahun kira-kira 96.000 orang telah tiba di RRC. Peristiwa yang berlarut-larut ini menunjukkan dengan jelas betapa lemahnya kedudukan orang Cina asing yang sekarang tinggal di Indonesia. Pertama-tama, hal itu menunjukkan bahwa orang Cina itu memang sedikit temannya di dalam struktur kekuasaan Indonesia yang baru. Kedua, kejadian itu menunjukkan terbatasnya keefektifan kekuatan Peking di Indonesia. Ketiga, peristiwa ini memperlihatkan dengan jelas kepada orang Cina asing bahwa repatisasi masal inextremis tidaklah bisa dilakukan dan sebenarnya juga tidak diinginkan. RRC tidak dapat menyerap membanjirnya Cina yang pulang dari perantauan itu dalam perekonomian negaranya. Di samping itu, RRC menyadari bahwa kepergian begitu banyak Cina secara tiba-tiba akan mengakibatkan memburuknya perekonomian Indonesia. Selanjutnya hal itu akan berakibat melemahnya kekuasaan Soekarno dan kuatnya kedudukan militer yang sebagian besar anti-RRC. Dengan maksud memperbaiki kerja sama anti imperialisme di Asia, RRC menerima tindakan diskriminatif Indonesia dengan cara mengurangi gencarnya kampanye melawan Indonesia. Soekarno yang menyadari bahayanya melanjutkan kampanye anti-Cina baik bagi perekonomian negara maupun bagi tegaknya kekuasaannya, berhasil meredamkan tindakan anti Cina. Namun 15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

PP-10 tidak dicabut, hanya implementasi selanjutnya hanya ditangguhkan untuk sementara. Peking yang sadar akan pekanya kedudukan Cina asing di Indonesia, dan kesulitan mereka menyesuaikan diri di daratan Cina lalu mendorong orang Cina untuk mengambil kewarganegaraan Indonesia. Setelah peristiwa G 30 S/1965, para Cina perantauan dianggap bertanggung jawab atas apa yang dituduhkan sebagai peranan RRT dalam peristiwa kelabu itu. Pearsaan antiCina melambung tinggi dan orang-orang Cina mengalami masa yang sulit. Mula-mula serangan ditujukan kepada orang Cina secara umum, tetapi dalam perkembangannya serangan kemudian dipusatkan pada orang Cina Asing. Penguasa daerha mengambil tindakan masing-masing terhadap mereka. Misalnya pada awal tahun 1967 para penguasa militer di Jawa Timur dan sebagian Sumatra melarang orang Cina asing untuk berdagang. Pada tanggal 7 Juni 1967, suharto mengeluarkan Surat Edaran “Kebijakan Pokok Penyelesaian Masalah Cina “ yang secara eksplisit menyangkut etnis Cina asing dan kaitannya dengan RRC. Dalam Surat Edaran itu dinyatakan bahwa“ etnis Cina WNA yang beritikad baik akan diberikan jaminan keamanan dan perlindungan, kepemilikan dan usahanya “. Akan tetapi, mereka yang akan terbuat kejahatan atau terkait dengan tindakan subversif akan dihukum atau diusir dari Indonesia. Disamping itu, tidak mengijinkan berdirinya sekolah Cina dan mewajidkan anakanak Cina untuk bersekolah disekolah lokal, baik milik pemerintah maupun swasta. Pemerintah hanya mengijinkan organisasi orang Cina WNA yang berkecimpung dibidang keagamaan, kesehatan, pemakaman, olah raga, dan rekreasi Etnis Cina WNA dapat mengajukan permohonan kewarganegaraan, asalkan memenuhi persyaratan yang berlaku. Dan yang terakhir, hubungan diplomatik dengan RRC akan diregulasikan sesuai dengan kepentingan nasional. Surat Edaran ini kemudian ditindak lanjuti lewat keputusan Presiden yang dikeluarkan pada bulan Desember 1967 dan ditujukan bagi etnis Cina WNI. Dalam Kepres ini Soeharto menyatakan bahwa peemrintah tidak akan membedakan perlakuan etnis Cina asing dan Cina WNI. Keduanya diberi hak dan kesempatan yang sama untuk mendayagunakan modal kapital mereka untuk mempercepat proses pembangunan dan untuk meningkatkan kemakmuran serta kekayaan negara. Untuk menghindari eksluvitas rasial, pemerintah memilih untuk mengasimilasikan orang-orang Cina lewat pemutusan hubungan budaya dengan negeri leluhur mereka. Proses asimilasi ini mewajibkan orang-orang Cina untuk mengganti nama mereka menjadi Indonesia, melarang penerbitan berbahasa Cina, kecuali Harian Indonesia yang diterbitkan oleh pemerintah, membatasi kegiatan keagamaan hanya di dalam lingkup keluarga, melarang penggunaan bahasa Cina itu dimuka umum dan tidak mengijinkan pagelaran perayaan hari besar tradisional Cina dimuka umum. Di bidang ekonomi pemerintah Soeharto memiliki keinginan untuk memobilasi dan memanfaatkan modal etnis Cina WNA dengan memasukkannya dalam kategori ‘modal asing dalam negeri’ dan menyatakan sebagai kekayaan nasional. Dalam UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing disebutkan bahwa ada tiga macam modal yang mau digalang, yakni modal asing, modal asing domestik dan modal domestik. Dua yang terakhir, umumnya dimiliki oleh para pengusaha golongan Cina. Ada tiga sebab yang menyebabkan rezim Orde Baru yang dikuasai oleh militer memilih modal golongan etnis Cina sebagai komponen pembentukan modal dalam negeri. Pertama secara kultural golongan Cina perantauan telah sangat akrab dengan 16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

dunia bisnis. Dunia bisnis dan komersial bisa dikatakan sudah menjadi ‘tradisi’ di kalangan etnis Cina perantauan. Kedua, para pengelola kekuasaan yang sebagian besar adalah pejabat militer memiliki pengalaman dalam kerjasama bisnis dengan golongan Cina. Krakter sosial golongan Cina mudah disiasati oleh penguasa menjadi sasaran kebijakan dan sekaligus memberikan keuntungan pribadi. Ketiga, ekonomi Indonesia dirancang oleh para teknokrat yang hendak menata ekonomi secara rasional. Ditinjau dari perfektif rasional adalah masuk akal bisa penyertaan modal Cina dalam perjalanan earah kapitalisme menjadi hal yang paling menguntungkan. Dalam pandangan para teknokrat, modal Cina diperlukan selama periode transisi sebelum para penguasa tumbuh karena injeksi investasi kapital besar-besaran. Lingkungan usaha di Indonesia di tambah denngan undang-undang dan praktek diskriminatif terhadap Cina menyebabkan orang Cina memandang bahwa kerjasama dengan orang pribumi yang berkuasa merupakan cara terbaik untuk mendapatkan perusahaan yang bisa mendapatkan keuntungan. Kaum minoritas Cina memiliki landasan politis yang lemah dan posisinya rawan. Mitra Cina merasakan mendapatkan perlindungan ekonomis melalui kerjasama itu, walaupun itu tidak berlaku bagi masyarakat pengusaha Cina pada umumnya. Kendatipun demikian, cukong-cukong itupun masih mengalami tekanan budaya, sosial dan politis yang sama dengan Cina Indonesia yang lain. Aliansi anatar pengusaha etnis Cina, pejabat dan investor Jepang itu mengundang sejumlah kecaman terhadap kebijakan ekonomi Orde Baru. Berbagai media mulai memberitakan tentang Cukong dan praktek bisnisnya di mana para cukong dikritik karena mereka banyak mendapatkan kontrak-kontrak dan lisensi bisnis dan kemudian kredit sebagai imbalan atas dukungan dana atau pembagiaan keuntungan kepada para pejabat.1 Memasuki pertengahan tahun 1973, kritik atas praktek bisnis dan perdebatan atas kebijakan ekonomi itu berkembang menjadi protes terbuka oleh kaum intelektual dan mahasiswa. Protes ini terbuka ini secara lugas pengecam praktek aliansi etnis. CinaMiliter-Investor Jepang yang merupakan sumber korupsi. Ini diikuti dengan demontrasi mahasiswa menetang Aspirasi (Asisten Pribadi Soeharto) yang dituduh mengambil keuntungan dari hubungan mereka dengan para Cukong dan juga para investor Jepang. Rangkaian demontrasi ini akhirnya meledak dalam kerusuhan Malari 1974. Dalam peristiwa itu perotes anti Aspri, anti Cina dan Anti Jepang berubah menjadi pengrusakan dan penghancuran toko-toko etnis Cina dan produk-produk Jepang. Penggunaan istilah “pribumi” dan “non pribumi” yang diprakarsai oleh Aminuddi Azis dan H.E. Kowara, ketua dan wakil ketua Forum Swasta Nasional pada Juni 1974 bisa dilihat dari kelanjutan dari sistem anti Cina. Penggunaan istilah ini diikuti dengan lahirnya sebuah organisasi bisnis bernama Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) yang berdiri dibawah KADIN. HIPPI didirikan dengan tujuaan untuk melindungi pengusaha pribumi, dan penggunaan istilah “non-pribumi” memang disengaja sebagai kritikan terhadap pengusaha etnis Cina. Untuk mengurangi ketegangan semacam itu, pemerintah soeharto mengeluarkan kebijakan baru yang pada dasarnya untuk memberdayakan pengusaha pribumi
1

Cukong adalah istilah Cina (Hokkien) yang berarti majikan, tetapi di Indonesia istilah itu digunakan untuk menunjuk pengusaha Cina yang trampil, yang berkerjasama secara erat dengan mereka yang sedang berkuasa, khususnya militer sebagai perantara.

17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

kebijaksanaan ini antara lain, misalnya, di dalam repelita II dicantumkan bahwa kredit investasi dari Bank negara, seperti kredit investasi kecil (KIK), Kredir Modal Kerja Permanen (KMKP) dan Kredit Usaha Kecil (KUK) hanya akan diberikan kepada pengusaha pribumi. Beberapa tahun kemudian, lewat Kepres No. 14 tahun 1979 yang kemudian disempurnakan oleh Kepres No. 14 A/1980, pemerintah soeharto menyatakan bahwa seluruh departemen dan intitusi pemerintah harus memberikan kontrak proyek senilai sampai dengan Rp. 100 juta kepada “usaha golongan lemah”. Sementara, usaha golongan ekonomi lemah di defenisikan sebagai sebuah perusahaan yang 50 % kepemilikannya berada ditangan pribumi. Walaupun ada aturan seperti Kepres 14, secara keseluruhan, pengusaha etnis Cina ternyata lebih banyak yang tumbuh dan menjadi besar. Salah satu penyebabnya, adalah aturan itu hanya membantu sebgaian pengusaha pribumi, terutama mereka yang hanya memiliki hubungan dengan kekuasaan atau memang sudah memiliki aliansi dengan pengusaha etnis Cina. Alhasil, porsi kepemilikan di sektor swasta memang masih ditangan pengusaha etnis Cina. Perkembangan bisnis etnis Cina di dalam negeri dari tahun ke tahun semakin meningkat dan berkembang dari bidang perdagangan ke bidang manufaktur. Mereka banyak mwnguasai sektor industri manufaktur seperti makanan dan minuman, tekstil, kimia, produk-produk metal dan produk-produk konsumsi pengganti barang impor yang menyerap tenaga kerja. Dan, pada awal tahun 1990-an kita mulai melihat munculnya beberapa perusahaan konglomerasi seperti Salim Group, Darmala Group, Sinar Group, Sampoerna Group dan lain-lain. Munculnya konglemerat Indonesia yang begitu pesat menimbulkan kekhawatiran bahwa konglomerat bisa membuat Indonesia terjerembab kedalam sistem ekonomi kartel trust. Ada pula kekhawatiran dan kecurigaan bahwa telah terjadi ada kesepakatan tersembunyi antara pengusaha dan penguasa. Ini bisa terlihat dari kenyataan bahwa begitu sektor swasta di beri peranan yang lebih besar dibidang ekonomi, maka yang menjadi besar adalah yang itu-itu saja. Peranan yang lebih besar dari para pengusaha bisa menimbulkan dampak politik, yaitu pengusaha bisa menguasai penguasa atau pengusaha mendikte kebijakan pemerintah. Tujuan utama kehadiran konglemerat itu buat menumpuk keuntungan pribadi dan bukannya buat kemakmuran seluruh bangsa. Konglemerat yang mempunyai kecenderungan mencaplok perusahaan menengah dan kecil. Apabila konglomerat sudah menguasai 40 persen pangsa pasar, maka konglomerat sudah termasuk kategori yang membahayakan kepentingan umum. Disamping itu, Soeharto sendiri mengumpulkan seluruh konglemerat etnis Cina diperternakannya di Tapos, Bogor. Dalam pertemuan itu Soeharto meminta kepada seluruh pengusaha besar tersebut untuk “ menyerahkan “ 25 persen sahamnya koperasi. Ini adalah salah satu usaha dari pemerintah Orba untuk mencoba meredam antikonglomerasi. Akan tetapi, melalui Labbejing secara diam-diam para konglemerat yang sebagian besar adalah etnis Cina berhasil mencapai kesepakatan untuk hanya memberikan 1 persen sahamnya pada koperasi. Perkembangan dan pertumbuhan etnis Cina juga tak lepas dari tarik-menarik kebijakan pada masa Orba. Hanya saja tarik menarik ini lebih pada tingkat retorika politik dari pada penerapan kebijakan yang non-diskriminatif. Salah satu bentuk dari tarik menarik retoris ini adalah penggunaan-penggunaan istilah antara lain, pribumi-non 18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

pribumi, pengusaha kuat-pengusaha lemah, pengusaha besar-pengusaha kecil, yang pada dasarnya memang membedakan antara etnis Cina dan pribumi. Dengan kata lain, pengusaha etnis Cina memang sengaja dilemparkan dalam posisi rawan. Di satu pihak, mereka dijadikan sapi perahan ‘dalam anti di biarkan tumbuh besar dan kemudian dalam setiap kesempatan mereka dipergunakan sebagai salah satu sumber finansial yang sangat potensial. Sedangkan di pihak lain. Etnis cina juga diposisikan secara diskriminatif lewat kebijakan-kebijakan ‘asimilasi’ pemerintah Orba yang cenderung artifisial dan merupakan penjinakan kultural. Sehingga etnis Cina memang mudah menjadi sasaran dalam setiap kerusuhan dan secara ekonomi juga menjadi ‘kambing hitam’ dari kegaglan pemerintah mengatasi masalah kesenjangan sosial, kemiskinan dan pemberiaan kesempata usaha yang sama, tidak hanya terbatas pada kroni pengusaha semata. Artinya, untuk kepentingan usaha dan keamanan usaha, pengusaha etnis Cina, memang harus selalu adatif terhadap sistem pemerintahan ataupun sistem usaha yang ada. Sepanjang pemerintahan Orba, adaptabilitas ini memang banyak terwujud lewat produk KKN. Dan hal semacam ini kemungkinan akan berlanjut terus, sepanjang kebijakan zaman Orba masih terus dipertahankan, dan etnis Cina sendiri masih memilih untuk menerima kebijakan semacam itu. Penutup Setidak-tidaknya ada tiga gugus kebijakan Orba terhadap golongan etnis Cina. Pertama, stigmatisasi dengan diberlakukan larangan memakai kata “Tionghoa” dan menggantinya dengan kata “Cina”. Dengan memperkenalkan kata itu, yang ingin dikatakan bahwa mereka adalah golongan yang tdiak disukai, yang layak menjadi sasaran amarah dan kebencian. Mereka dijadikan ‘stigma’ dalam masyarakat, karena mereka mempunyai semua cap buruk : tidak patriotis, eksklusif, tidak sosial dan memupuk kekayaan. Kedua, Marjinalisasi, yang dianggap sebagai konsekuensi logis dari tahap stigmatisasi. Karena mereka jahat, maka harus dijauhkan. Dikeluarkan serangkaian kebijakan yang menetapkan agar golongan Cina keluar dari lingkaran tengah masyarakatmasyarakat. Misalnya, sistem kuota dalam persekolaan dan larangan segala aktifitas kebudayaan Cina. Ketiga, Viktimisasi, yang bermaksud menjadikan golongan etnis Cina sebagai “binatang korban”. Kebijakan ini tidak dirumuskan dalam sebuah dokumen hukum tetapi dipraktekkan secara luas. Misalnya, dlam meminta sumbangan yang lebih. Dilingkungan RT/RW orang Cina selalu di tuntut untuk menyumbang lebih. Dan semua tindakan pemerasan dalam urusan dengan birokrasi. Indonesia telah meratifikasi konvensi Internasional tentang segala penghapusan segala bentuk Diskriminasi rasial pada tahun 1999, melalui UU No. 29/1999, namun Indonesia belum menyusun undang-undang anti diskriminasi karena itu, berbagai praktek diskriminasi rasial sebagai produk hukum masih tetap berlanjut, sehingga negara masih meneruskan perannya sebagai “sponsor utama” diskriminasi sosial. Keluarnya kepuutusan Presiden No. 6/2000 disambut sebagai penegasan kembali komitmen pemerintahan Abdurachman Wahid tentang pluralisme bangsa Indonesia seperti yang digagas para pendiri republik ini. Hal positif dari peemrintahan Abdurachman Wahid adalah berhembus angin segar kebebasan. Angin segar itu harus 19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

ditangkap sebagai membuka peluang kebangkitan kembali pluralisme dalam kesetaraan tanpa diskriminasi. Kepres itu membangkitkan semangat “keceriaan” muncul kembali lewat ekspresi kebudayaan, kelanjuttannya apa yang sudah ada sebelumnya pantas Cina. Kedua-duanya menunjukkan terbukanya kesempatan semua kelompok memberikan kontribusi bagi perjalanan hidup bangsa ini. Seiring dengan kesetaraan posisi sebagai warga bangsa, tanggung jawab masyarakat Cina pun semakin besar. Tentu saja dibutuhkan kerja keras dan komitmen yang tinggi dari berbagai pihak : tidak saja pada tingkatan individu. Dan harus disadari bahwa diskriminasi tidak selalu terjadi dari mayoritas terhadap minoritas, bisa sebaliknya Orang Cina harus menyadari hal itu, sebab banyak orang pribumi merasa mendapat perlakuaan diskriminatif dari orang cina.

Daftar Pustaka
20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

A. Mode Tony Supriatna, ‘Bisnis dan Politik : Kapitalisme dan Golongan Tionghoa di Indonesia,’ dalam lembaga Studi Realino, hal. 64 – 90.3 Budi Susanto, ‘Rekayasa Kekuasaan Ekonomi (Indonesia 1800-1950) : Siasat Penguasa Tionghoa’, dalam Lembaga Studi Realino, Penguasa Ekonomi dan Siasat Pengusaha Tionghoa, Yogyakarta : Kanisius, 1996, hal. 11-22. Charles A. Coppel, Tionghoa Indonesia Dalam Krisis, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1994. Dianttrus Saputra, ‘Marginalisasi Perempuan Cina (Tionghoa) Di Indonesia”, Jurnal Perempuan, No 27, 2001, hal. 87 – 102. E. Shobirin Nadj, ‘Problematika Segregasi Sosial dan Upaya Membangun Politik Kewarganegaraan, ‘ dalam Andreas Pardede et. al, Antara Prasangka dan realita. Telah Kritis Wacana anti Cina di Indonesia. Jakarta : Pustaka Inspirasi, 2002, hal. 99 – 118. Eddy Prabowo Witanto, ‘Mengapa Pemukiman Mereka Dijarah. Kajian Historis Pemukiman Etnis Cina di Indonesia, ‘ dalam I. Wibowo, hal. 191 – 121. G. William Skinner, ‘Golongan Minoritas Tionghou, dalam Mely G. Tan, Golongan Etnis Tionghou di Indonesia. Suatu masalah pembenaan kesatuan bangsa. Jakarta : PT. Gramedia, 1981, hal. 1-25. Hariman Siregar, Hati Nurani Seorang Demonstran, Jakarta : PT. Mantika Media Utama, 1994. I Wibowo, ‘Pendahuluaan”, dalam I Wibowo, 1999, hal. IX – XXXI. Kwik Kian Gie dan B.N. Marbun, Konglomerat Indonesia. Permasalahan dan Sepak Terjangnya. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1990, hal. 7-10. Lance Castles, Tingkah Laku Agama, Politik dan Ekonomi di Jawa : Industri Rokok Kudus. Jakarta : Sinar Harapan, 1982, hal. 101 – 113. Leo Suryadinata, Dilema Minoritas Tionghoa, Jakarta : PT. Grafiti Pers, 1984, hal. 134140. Mona Lohanda, ‘Masalah Cina Dalam Perjalanan Sejarah Indonesia’, dalam Andreas Pardede et. al, hal. 49-76.

21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

N. Noranto, ‘Kebijakan Terhadap Bisnis Cina di Masa Orde Baru,’ dalam I Wibowo (Editor). Ketiospeksi dan Kekontekstualisasi. Maslah Cina. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1999, hal. 50 – 74. Onghokham, ‘Kapitalisme Cina di Hindia Belanda’, dalam Yoshihara Kunio (ed, Konglomerat Oei Tiong Ham. Kerajaan Bisnis Pertama di Asia Tenggara. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1991, hal. 80-112. Onny S. Prijono, ‘Latar Belakang Sosio Historis Kelompok Keturunan Cina di Indonesia’, Analisa 1984 – 1989, hal. 715 – 729. Peter Carey, Orang Jawa dan Masyarakat Cina (1755 – 1825 ), Jakarta : Pustaka Azet, 1985, hlm. 7 – 13. Rene L. Pattiriadjawane, ‘Peristiwa Mei 1998 di Jakarta : Titik Terendah Sejarah etis, ‘dalam I. Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah Pergerakan Nasional. Dari Kolonilaisme Sampai Nasinalisme, Jilid 2, Jakarta : Pt. Gramedia, 1990, hal. 106 – 111. Selo Soemardjan, ‘ Penggunaan Kekerasan Secara Massal, ‘ Prisma, No. 7, Agustus 1978, hal. 14 – 25. Sjahrir, Ekonomi Politik Kebutuhan Pokok. Sebuah Tinjauan Prospektif. Jakarta : LP3ES, 1986, hal. 130. Wibowo, Harga yang Harus dibayar. Sketsa Pergulatan Etnis Cina di Indonesia, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000, hal. 213 – 252. Willard A. Hanna, Hikayat Jakarta, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia 1998, hal. 123 – 132.

22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->