P. 1
Soekarno, Islam Dan Negara

Soekarno, Islam Dan Negara

|Views: 337|Likes:
Published by Peter Kasenda
Hubungan agama dan negara adalah tema yang selalu menarik perhatian untuk didiskusikan, dan senantiasa menimbulkan kontroversi perdebatan itu menjadi menarik bukan saja dari sudut akademis, tetapi juga dari sudut kepentingan. Kontroversial karena adanya pandangan yang paling bertolak belakang dan tak mungkin dipadukan. Menjelang tahun 2000 telah terjadi pedebatan mengenai hubungan agama (Islam) dan negara. Ada yang tidak dapat dibangun dengan penguasaan pandangan sekelompok orang mengenai agama mayoritas di suatu negara, sedangkan yang lain melihat bahwa penegakan syariat agama bukanlah penghalang dari tegaknya sebuah demokrasi. Di satu sisi berbicara mengenai hak seluruh orang atau kelompok dalam membangun negara, sedangkan yang lain berbicara mengenai hak kelompok mayoritas yang tentunya memiliki kepentingan yang lebih kompleks dan menjaga agar tidak terpinggirkan oleh kelompok minoritas.
Issue politik yang diperdebatkan pada esensinya tidak banyak bergeser dari apa yang diperdebatkan Soekarno dan Natsir. Tidak begitu banyak issue-issue baru yang muncul. Kalau pun ada sesuatu yang baru dalam perdebatan itu, hanyalah menyangkut fakta-fakta yang dipakai untuk meneguhkan argumentasinya. Adanya perdebatan dari dulu sampai sekarang berarti belum tuntasnya persoalan bagaimana hubungan dan posisi agama (Islam) dalam negara Indonesia. Dan menjadi bukti kuat bahwa dari sisi ideologis, konfigurasi dan polarisasi kekuatan politik di Indonesia sejak zaman dahulu hingga sekarang tidak berubah signifikansinya.
Sebenarnya dikalangan Islam sampai sekarang terdapat pada tiga aliran tentang hubungan antara Islam dan negara. Pertama, menyatakan bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap. Sistem ketatanegaraan atau politik ada didalamnya dan oleh karenanya dalam bernegara umat Islam hendaknya kembali pada kepada sistem ketatanegaraan Islam. Sistem politik Islami yang harus diteladani adalah sistem yang telah dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad dan oleh empat Al-Kulafa Al-Rasyidin. Kedua, berpendirian bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannnya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Nabi Muhammad hanyalah seorang rasul bisasa seperti halnya rasul-rasul sebelumnya, dengan tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia dengan menjunjung tinggi budi pekerti luhur, dan Nabi tidak pernah dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepaki satu negara. Ketiga, menolak pendapat bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap dan bahwa dalam Islam terdapat sistem ketatanegaraan. Tetapi aliran ini juga menolak anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat yang hanya mengatur hubungan antar manusia dan sang Pencipta. Aliran ini berpendirian bahwa Islam tidak terdapat sistem politik tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara.

Hubungan agama dan negara adalah tema yang selalu menarik perhatian untuk didiskusikan, dan senantiasa menimbulkan kontroversi perdebatan itu menjadi menarik bukan saja dari sudut akademis, tetapi juga dari sudut kepentingan. Kontroversial karena adanya pandangan yang paling bertolak belakang dan tak mungkin dipadukan. Menjelang tahun 2000 telah terjadi pedebatan mengenai hubungan agama (Islam) dan negara. Ada yang tidak dapat dibangun dengan penguasaan pandangan sekelompok orang mengenai agama mayoritas di suatu negara, sedangkan yang lain melihat bahwa penegakan syariat agama bukanlah penghalang dari tegaknya sebuah demokrasi. Di satu sisi berbicara mengenai hak seluruh orang atau kelompok dalam membangun negara, sedangkan yang lain berbicara mengenai hak kelompok mayoritas yang tentunya memiliki kepentingan yang lebih kompleks dan menjaga agar tidak terpinggirkan oleh kelompok minoritas.
Issue politik yang diperdebatkan pada esensinya tidak banyak bergeser dari apa yang diperdebatkan Soekarno dan Natsir. Tidak begitu banyak issue-issue baru yang muncul. Kalau pun ada sesuatu yang baru dalam perdebatan itu, hanyalah menyangkut fakta-fakta yang dipakai untuk meneguhkan argumentasinya. Adanya perdebatan dari dulu sampai sekarang berarti belum tuntasnya persoalan bagaimana hubungan dan posisi agama (Islam) dalam negara Indonesia. Dan menjadi bukti kuat bahwa dari sisi ideologis, konfigurasi dan polarisasi kekuatan politik di Indonesia sejak zaman dahulu hingga sekarang tidak berubah signifikansinya.
Sebenarnya dikalangan Islam sampai sekarang terdapat pada tiga aliran tentang hubungan antara Islam dan negara. Pertama, menyatakan bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap. Sistem ketatanegaraan atau politik ada didalamnya dan oleh karenanya dalam bernegara umat Islam hendaknya kembali pada kepada sistem ketatanegaraan Islam. Sistem politik Islami yang harus diteladani adalah sistem yang telah dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad dan oleh empat Al-Kulafa Al-Rasyidin. Kedua, berpendirian bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannnya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Nabi Muhammad hanyalah seorang rasul bisasa seperti halnya rasul-rasul sebelumnya, dengan tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia dengan menjunjung tinggi budi pekerti luhur, dan Nabi tidak pernah dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepaki satu negara. Ketiga, menolak pendapat bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap dan bahwa dalam Islam terdapat sistem ketatanegaraan. Tetapi aliran ini juga menolak anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat yang hanya mengatur hubungan antar manusia dan sang Pencipta. Aliran ini berpendirian bahwa Islam tidak terdapat sistem politik tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Soekarno, Islam dan Negara

Warisilah Api Islam dan jangan kita warisi abunya ! Galilah Api Islam

Soekarno

Hubungan agama dan negara adalah tema yang selalu menarik perhatian untuk didiskusikan, dan senantiasa menimbulkan kontroversi perdebatan itu menjadi menarik bukan saja dari sudut akademis, tetapi juga dari sudut kepentingan. Kontroversial karena adanya pandangan yang paling bertolak belakang dan tak mungkin dipadukan. Menjelang tahun 2000 telah terjadi pedebatan mengenai hubungan agama (Islam) dan negara. Ada yang tidak dapat dibangun dengan penguasaan pandangan sekelompok orang mengenai agama mayoritas di suatu negara, sedangkan yang lain melihat bahwa penegakan syariat agama bukanlah penghalang dari tegaknya sebuah demokrasi. Di satu sisi berbicara mengenai hak seluruh orang atau kelompok dalam membangun negara, sedangkan yang lain berbicara mengenai hak kelompok mayoritas yang tentunya memiliki kepentingan yang lebih kompleks dan menjaga agar tidak terpinggirkan oleh kelompok minoritas. Issue politik yang diperdebatkan pada esensinya tidak banyak bergeser dari apa yang diperdebatkan Soekarno dan Natsir. Tidak begitu banyak issue-issue baru yang muncul. Kalau pun ada sesuatu yang baru dalam perdebatan itu, hanyalah menyangkut fakta-fakta yang dipakai untuk meneguhkan argumentasinya. Adanya perdebatan dari dulu sampai sekarang berarti belum tuntasnya persoalan bagaimana hubungan dan posisi agama (Islam) dalam negara Indonesia. Dan menjadi bukti kuat bahwa dari sisi ideologis, konfigurasi dan polarisasi kekuatan politik di Indonesia sejak zaman dahulu hingga sekarang tidak berubah signifikansinya. Sebenarnya dikalangan Islam sampai sekarang terdapat pada tiga aliran tentang hubungan antara Islam dan negara. Pertama, menyatakan bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap. Sistem ketatanegaraan atau politik ada didalamnya dan oleh karenanya dalam bernegara umat Islam hendaknya kembali pada kepada sistem ketatanegaraan Islam. Sistem politik Islami yang harus diteladani adalah sistem yang telah dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad dan oleh empat Al-Kulafa AlRasyidin. Kedua, berpendirian bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannnya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Nabi Muhammad hanyalah seorang rasul bisasa seperti halnya rasul-rasul sebelumnya, dengan tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia dengan menjunjung tinggi budi pekerti luhur, dan Nabi tidak pernah dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepaki satu negara. Ketiga, menolak pendapat bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap dan bahwa dalam Islam terdapat sistem ketatanegaraan. Tetapi aliran ini juga menolak anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat yang hanya mengatur hubungan antar manusia dan sang Pencipta. Aliran ini berpendirian bahwa Islam tidak terdapat sistem politik tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

1

Mengenal Ajaran Islam Soekarno kecil dibesarkan dari keluarga yang tidak memberi pengajaran agama Islam yang sesungguhnya. Ia mulai mengenal dengan ajaran Islam ketika Soekarno remaja yang melanjutkan studi di HBS, tinggal di rumah Tjokroaminoto Tokoh Sarekat Islam itu dalam memberikan pendidikan agama Islamterutama untuk membaca Al-Quran dengan cara mendatangkan guru ke rumahnya. Tentunya Soekarno terlibat di dalam kegiatan mengaji. Kendati Tjokroaminoto tampaknya tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang Islam ,setidak-tidaknya jika dibandingkan dengan para ulama yang mendirikan gerakan pembaruan agamayang sebenarnya. Tetapi dari Tjokroaminoto inilah Soekarno memperoleh pengetahuan tentang Islam. Di kota Surabaya ini, Soekarno mulai berkenalan dengan pendiri Muhammdiyah, kiai Achmad Dahlan, yaitu pada waktu diadakannya tabligh di dekat rumah Tjokroaminoto. Maka sejak itu, Soekarno mulai tertarik dengan Achmad Dahlan dan akhirnya mendorong Soekarno untuk selalu menghadiri rabligh-tabligh Dahlan di tempat lainnya. Ketertarikan Soekarno pada Achmad Dahlan karena apa yang dilakukan oleh tokoh pembaru Islam itu berisi sesuatu yang selama ini dicari Soekarno, yaitu regenaration dan rejuvenation yang artinya adalah kebangkitan kembali dan peremajaan Islam. Tjkroaminoto dan Achmad Dahlan telah membuka wacana baru dirinya dalam pembacaan terhadap nash-nash ajaran Islam dengan pemahaman yang baru. Ketika Soekarno belajar di THS, Bandung, ia berkenalan dengan A. Hasan, tokoh Persatuan Islam (PERSIS). Dari perkenalan sering terjadi percakapan antara keduanya mengenai berbagai masalah dan tak kurang pula dibicarakan masalah agama. Dari percakapan itu ada kesan bahwa Soekarno tadinya tidak banyak mengerti masalah-masalah agama Islam, namun percakapan itu cukup membuka hatinya. Walaupun terjadi perdebatan antara Soekarno dengan A. Hassan mengenai Islam dan Nasionalisme, hubungan antara keduanya tidak pernah renggang. Mereka selalu menganggap sebagai kawan yang selalu menjadi lawan polemiknya. Pada umumnya pengetahuan Islam Soekarno didasarkan atas buku Lothrop Stoddard, The New World of Islam – dimana “dunia baru”-nya lebih menarik perhatiannya daripada Islam itu sendiri. Namun demikian, perasaan dasar keagamaan pada diri Soekarno pada waktu itu tidak bisa diabaikan. Umpanya ia melukiskan PNI sebagai “bersikap netral terhadap agama,” tidak dalam pengertian orang-orang komunis, yang sama sekali tidak mengakui adanya Tuhan, melainkan dengan maksud untuk memungkinkan semua aliran kepercayaan menjadi anggota partai itu. Ketika Soekarno dijebloskan dalam penjara Bancey Bandung pada tanggal 28 Desember 1929 sebagai bagian dari penangkapan besar-besaran yang dilakukan Belanda yang mulai gelisah melihat kebangkitan nasionalisme , sebagai orang yang mencintai kemewahan dan jesenangan, Soekarno merasakan sebagai sebuah pengalaman yang menghancurkan. Pada saat itulah Soekarno mulai merasa perlu mempelajari Islam dengan baik. ‘Dikala tahun 1929, saya dipenjara, saya dimasukkan ke dalam sel yang berlapis empat pagar dinding gelap, ya, gelap, kecuali ada sinar yang datang dari celahcelar jendela yang kecil. Di malam hari, saya lihat bintang gemerlapan diatas langit. Terlebih air mataku, teringat saya kepada zat yang membuat alam semesta ini. Titikan air mataku, menembus alam jiwaku. Di sinilah pertama kali jiwaku insaf akan agama. Hatiku berhasrat sekali mempelajari agama, dengan membaca
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

2

berbagai kitab-kitan agama yang tipis-tipis, yang diterbitkan oleh perhimpunanperhimpunan Islam. Ahmad Hassan dan anggota-anggota Persatuan Islam lainnya sering mengunjungi Soekarno untuk memberikan banyak buku serta brosur tentang Islam kepadanya. Soekarno nampaknya amat reseptif kepada orang-orang Persis itu, dan khusus kepada Hassan menaruh rasa hormat mendalam. Bagi Hassan sendiri, Soekarno perlu terus menerus didakwaku, diperkenalakan dengan ajaran Islam. Dan tentu saja disadari oleh Hassan bahwa Soekarno tidak menjadi pemimpin yang berpengaruh. Tindakan keras pemerintah Hindia Belanda yang kedua terhadap aktivitas politik Soekarno setelah dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931 adalah pembuangan keberangkatan Soekarno menuju Endeh, Flores, pada tanggal 17 Februari merupakan perjalanan menuju kesepian. Baginya, yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian umum, keberangkatan dari pulau Jawa itu merupakan pendahuluan dari apa yang dirasakan dalam kehidupan yang sunyi sepi yang menantikannya. Bersama-sama dengan kesunyian lahir, ia juga menderita kesunyian batin: pujaan orang-orang Jawa itu dijauhi oleh penduduk Flores yang ketakutan. Dan seperti yang telah dilakukannya sebelumnya, maka dalam saat-saat kesepian ini Soekarno kembali mencari perlindungan dalam Islam. Pergeseran Soekarno ke arah Islam dapat ditelusuri kembali dengan mudah berkat surat-suratnya kepada A. Hassan, pemimpin Persatuan Islam di Bandung yang bersimpati dengannya. Surat-suratnya itu berjumlah 12 pucuk surat, yang pertama ditulis pada 1 Desember 1934 dan terakhir pada 17 Oktober 1936, dengan isi surat yang yang sangat variatif: berdiskusi, meminta fatwa, meminta buku-buku keislaman dan kadangkala bercerita tentang keluarga. Dalam surat pertamanya, ia menyinggung suatu persoalan yang sedang diperdebatkan dengan hangat dalam dunia Islam: pengeramatan kaum sayid. Soekarno berpendapat bahwa pengkeramatan orang-orang keturunan Nabi Muhammad SAW, itu sudah mendekati kemusyrikan dan bahwa mereka yang mengira ada suatu Arsitokrasi Islam adalah tersesat, karena tiada suatu agama yang menghendaki kesamarataan lebih dari pada Islam. Dalam suratnya yang terakhir dari Endeh, Soekarno menulis. Di dalam surat-surat itu adalah sebagian garis-perubahannya saya punya jiwa, -dari jiwa yang Islamnya hanya raba-raba saja menjadi jiwa Islamnya yakin, dari jiwa yang mengetahui adanya Tuhan, tetapi belum mengenal Tuhan, menjadi jiwa yang sehari-hari berhadapan dengan DIA, dari jiwa yang banyak filsafat keTuhan-an tetapi belum mengamalkan ke-Tuhan-annya itu menjadi jiwa (yang) sehari-hari menyembah kepadanya. Dari surat-suratnya itu tampaknya Soekarno berkeinginan mempelajari Islam secara serius. Ia tidak mempelajari Islam dari kalangan Islam, tetapi juga dari kalangan orientalis. Yang disebut terakhir inilah yang Soekarno banyak memperoleh gagasan-gagasan kritis tentang Islam. Kemungkinan besar gagasan nasionalisasi Islam Soekarno timbul karena banyaknya mempelajari tulisan-tulisan kaum orientalis. Dan ia mulai berani melakukan reinterpretasi ajaran-ajaran dasar Islam. Pada saat Soekarno mempelajari Islam adalah suatu masa dimana kebanyakan kaum pelajar kurang memperhatikan agama Islam, agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia. Mereka yang berpendidikan barat seringkali menganggap rendah Islam. Tanpa melakukan kajian mendalam terhadap Islam. Soekarno menunjukkan kecenderungan sebaliknya, sekalipun ia belum meyakini keseluruhan ajaran Islam
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

3

secara integral, paling tidak telah berhasil membuktikan minatnya yang besar untuk melakukan kajian Islam. Dalam bulan Februari 1938 hukuman Soekarno diperingan, Bengkulu di pulau Sumatra ditunjuk sebagai tempat pembuangannya yang baru. Ia diperbolehkan menejadi aktivis Muhammadiyah. Setelah keluar dari isolasinya di Flores dan dari lingkungan dimana Islam masih dipraktekkan secara ortodoks sama sekali –sejauh ia punya kontak-kontak di sana— Soekarno sekarang memasuki suatu dunia dimana gagasan-gagasan reformasi sudah masuk. Dari Bengkulu ini Soekarno kembali menyuarakan ide-ide bernas tentang perlunya pembaruan dalam pemahaman Islam melalui beberapa tulisannya dalam majalah Panji Islam yang terbit di Medan yang masing-masing berjudul: Memudahkan Pengertian Islam, Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara, Islam Sontoloyo, Apa Sebab Turki Memisahkan Agama dan Negara dan Saya Kurang Dinamis. Dari artikel-artikel diatas ada beberapa pokok pikirian yang bisa diklasifikasikan dalam tiga persoalan pokok, yaitu (1) Pemikiran kembali pemahaman Islam dengan menggunakan metode nasional; (2) Hukum Islam bersifat elastik; (3) Relasi Agama dan Negara.

Hubungan Agama dan Negara Dalam sebuah artikelnya yang berseri, ‘Apa sebab Turki memisah agama dari negara ?’, Soekarno mencoba menjelaskan kepada umat Islam di Indonesia, bahwa tindakan-tindakan yang diambil terutama oleh Kemal Attarturk yang memisahkan agama dari negara, pada dasarnya memerdekakan agama. Saya memerdekakan Islam dari ikatannya negara, agar supaya Islam bukan hanya tinggal agama memutar tasbih di dalam masjid sahaja, tetapi menjadilah gerakan yang membawa kepada perjuangan. Setelah panjang-lebar mengurasikan ulasan-ulasan ekonomi dan politik kaum Turki Muda untuk memisahkan agama dan negara Soekarno menjelaskan langkahlangkah yang telah dijalankan di Turki untuk mensekulerkan negara dalam 1920-an: diakhirinya kesultanan (1924), dan dinyatakannya agama sebagai urusan pribadi (1928). Islam yang syah, kata Soekarno, mengaitkan berbagai persyaratan kepada lembaga khalifah, dua diantaranya sangat penting: Pertama, Khalifah harus dipilih oleh umat Islam; Kedua, Khalifah harus mampu melindungi seluruh umat Islam. Tetapi syarat yang pertama hanya dipenuhi selama dua puluh tahun saja, dan sesudah itu jabatan-jabatan khalifah dipegang oleh dinasti-dinasti. Dan syarat yang kedua juga tidak terpenuhi lagi setelah abad ke-13. Tidak dipilih dan tidak punya otoritas: demikianlah lembaga khalifah bisa bertahan selama berabad-abad, sebagai bayangan dari apa yang dimaksudkan semula. Dan yang lebih celaka lagi, selama berabad-abad lama dijadikan ‘alat politik’. Hanya melalui tindakan-tindakan yang dimabil oleh kaum Turki Mudalah agama dikembalikan kepada masyarakat setelah itu, katanya, perkembangan ini merupakan suatu keharusan.
…Perpisahan

antara agama dan negara itu bukanlah Kemal cs yang memulainya. Tidak, perpisahan itu adalah ujungnya suatu proses yang telah puluhan dan ratusan tahun telah berjalan, ujungnya satu paksaan masyarakat, yang sudah di
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

4

zamannya Sulaiman I empat ratus tahun yang lalu, --Sulaiman “Canuni,” Sulaiman “dewetgeven,” Sulaiman “pembuat undang-undang” !—memaksa egara mengadakan perundang-undangannya syari’atul Islam. Dengan demikian, pemisahan agama dan negara itu merupakan suatu keharusan sejarah. Dalam hal ini, Soekarno tidak menempatkan keputusan tentang tepat-tidaknya tindakan Kemal Attarturk itu di tangan Allah. Benar atau salahnya ia punya perbuatan hebat itu bagi Islam, itu sebenarnya bukan kitalah yang dapat menjadi hakim baginya, hanyalah sejarah kelak di kemudian hari ! Sejarah inilah kemudian yang kelak menentukan Kemal durhaka atau Kemal maha bijaksana. Soekarno berpendapat bahwa Islam adalah agama, yaitu wahyu Allah, dan bukan satu sistem sosial, yakni sebagai sistem yang mengatur aturan-aturan kemasyarakatan, sungguhpun Islam membawa pedoman kehidupan bermasyarakat. Hal ini mengandung pengertian bahwa yang diatur Islam hanyalah landasan budi dan moral yaitu berbagai prinsip tindakan yang dapat meningkatkan ketinggian budi dan moral manusia, serta mencegah mereka terjerumus pada hal-hal yang dapat merendahkan martabat kemanusian. Menurut Soekarno, tidak dtemukan dalam AlQuran dan Hadis pernyataan yang terperinci tentang pengaturan kemasyarakatan itu. Demikianlah halnya dengan pendapat yang berkembang di kalangan sebagian besar umat Islam tentang persatuan agama dengan negara. Soekarno menolak pendapat yang mengharuskan persatuan agama dengan negara, karena tidak ditemukan dalam sumber ajaran Islam yang menyatakan demikian. Seandainya perintah itu ada, menurut Soekarno, tidak mungkin terjadi ketidaksepkatan, atau tidak mungkin tidak ada ijma, di kalangan umat Islam untuk menyatukan agama dengan negara. Kenyataan menunjukkan tidak ada ijma di kalangan ulama tentang hal itu. Prinsip kembali kepada sumber Islam sebagai pegangan Soekarno diterapkannya dalam membahas hubungan agama dengan negara. Soekarno berpendapat bahwa agama harus dipisah dari negara. Yang dimaksud dengan pemisahan adalah melepaskan agama dari ikatan negara dan melepaskan negara dari pengaruh kaum agama. Dengan demikian, keduanya berjalan sendiri-sendiri dalam arti lepas dari ikatan struktural satu sama lain. Jalan pikir Soekarno yang berkaitan dengan pemahamannya tentang Islam yaitu bukan sebagai sistem kemasyarakatan, sehingga berkesimpulan bahwa kehidupan beragama dan bernegara adalah urusan umat Islam sendiri Soekarno menjelaskan tujuan pemisahan itu agar agama tidak dijadikan alat untuk memerintah, karena manakala agama dipakai buat memerintah, ia selalu dipakai alat penghukum ditangannya raja-raja, orang-orang zalim dan orang tangan besi. Karena itu pelaksanaan ajaran agama menjadi tanggung jawab pribadi-pribadi muslim, bukan negara, dan negara tidak dapat memaksakan pelaksanaan ajaran agama kepada masing-masing. Sedang apabila negara atau pemerintah turut campur dalam bagian yang paling suci dari hak-hak manusia, dalam hal ini agama, maka akibatnya, kata Soekarno, ia akan merantai perikemanusian kehidupan beragama sebagaimana yang terjadi pada bangsa Turki. Selanjutnya terjadinya proses penghayatan keislaman adalah menjadi tanggung jawab pribadi-pribadi muslim, bukan negara, dan tidak dapat memaksakan pelaksanaan ajaran agama kepada masing-masing individu. Terjadinya proses pengislaman yang subur di kalangan orang Islam, adalah merupakan hasil dari usaha pembudayaan yang dilakukan para penganjur Islam. Dan tugas untuk terus
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

5

menghidupkan kemauan beragama di kalangan rakyat itu menjadi kewajiban para mubaligh. Sebagai hasil dari pembudayaan itu adalah lahirnya rakyat Islam yang menghasilkan banjir Islam dalam berbagai segi kehidupan bangsa. Banjirnya Islam itu dengan sendirinya akan menjelma dalam segala putusan badan perwakilan rakyat. Sebaliknya apabila diterima rumusan persatuan agama dengan negara, maka yang terjadi dalam pandangan Soekarno adalah pemaksaan terhadap warga negara, dan hal ini bertentangan dengan hakekat Islam yang menekankan aspek musyawarah. Dan pada bangsa yang banyak diantara penduduknya terdiri dari bukan Islam, maka pemisahan agama dan negara itu, menurut Soekarno, adalah merupakan suatu keharusan apabila bangsa ini tidak mau terjerumus dalam konflik yang berkepanjangan. Soekarno menyatakan bahwa gagasan pemisahan agama dan negara, bukanlah berarti akan mengabaikan pelaksanaan cita-cita Islam. “Baik kita terima negara dipisahkan dari agama, tetapi kita akan kobarkan seluruh rakyat dengan apinya Islam, sehingga semua utusan di dalam badan-perwakilan itu, adalah utusan Islam, dan semua putusan-putusan badan-perwakilan itu bersemangat dan berjiwa Islam.” Di sinilah Soekarno menemukan pemecahannya yang ideal dalam prinsipnya bisa dicapai kata sepakat mengenai konstitusi oleh semua golongan, semua aturan, dan semua lapisan rakyat. Ada tiga alasan yang menyebabkan para pengkritik menentang pemikiran Soekarno tentang pemisahan agama dari negara. Pertama, karena Soekarno dianggap belum menguasai persoalan kenegaran Islam. Soekarno baru saja belajar Islam dan yang dipelajari bukan dari kalangan Islam yang kebanyakan masih ditulis dalam bahasa Arab. Kedua, para pengkritiknya meragukan loyalitas dan keterikatan Soekarno terhadap Islam dan pribadinya dianggap tidak mencerminkan seorang Muslim karena lebih berorientasi pada Barat. Tuduhan terhadap Soekarno ini muncul karena Soekarno yang berpihak pada kalangan yang terdidik Barat yang acapkali tampaknya anti Islam dengan mengadakan konfrontasi dengan tokoh-tokoh Islam seperti H. Agus Salim, Mohammad Ntsir, Ahmad Hassan dan lain-lain. Ketiga, Natsir dan Hassan menilai bahwa gagaan pemisahan agama dari negara yang dikemukakan Soekarno merupakan suatu distorsi sejarah Islam, sebab dalam sejarah Islam tidak pernah dikenal adanya paham pemisahan agama dari negara. Kendati ada tanggapan negatif terhadap Soekarno, tetapi ada tulisan yang ditulis Faisal Hah yang bersuara lain. Isi tulisan tersebut menyatakan bahwa tidaklah selayaknya kaum ulama dan intelektual muslim menanggapi ide Soekarno itu secara terburu-buru, karena tulisan itu mengandung banyak hal yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sependapat dengan Soekarno, Faisal Hah menyatakan bahwa negara ini berdasarkan pada demokrasi oleh karena itu setiap keputusan, apalagi yang menyangkut pelaksanaan ajaran Islam, harus ditetapkan lewat parlemen. Cara untuk memperjuangkan ini adalah umat Islam perlu memperkuat partai-partai politik yang menyuarakan Islam. Jadi oleh karena itu, masalahnya kembali menjadi tanggung jawab para tokoh Islam di Indonesia untuk menyusun rancangan yang dapat menarik dukungan dari umat Islam kepada tokoh-tokoh yang akan ditampilkan partai-partai politik itu. Secara prinsip Allah telah menetapkan ajaran Sjura dalam Al-Qur’an. Sumber ajaran Islam tidak mengatur secara rinci tentang pengelolaan sebuah negara, kecuali menetapkan sesuatu tindakan yang dapat meningkatkan akhlak mereka sebagai manusia. Konsep Sjura itu dapat dibentuk oleh manusia sesuai dengan kondisi dan situasi yang mereka alami. Dengan mendasarkan pengelolaan negara pada sistem negara itu, berarti tindakan itu sudah sesuai dengan kehendak Islam dan secara prinsip
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

6

sudah diatur secara Islam, sungguhpun tidak menyebut dirinya sebagai negara Islam. Jalan pikiran Faisal Hah, menunjukkan adanya keinginan untuk membedakan antara negara Islam dan negeri Islam. Negera Islam ialah negara yang menetapkan UUDnya secara resmi Islam. Sementara negeri muslim, ialah negeri yang dipengaruhi Islam secara kuat di semua sektor masyarakat tanpa menyebut dirinya Islam. Dua bentuk kecenderungan pemikiran Natsir bersama-sama kawannya yang menginginkan negara agama dengan Soekarno dan Faisal yang menginginkan negara kebangsaan, terus berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam waktuwaktu tertentu perbedaan kecenderungan itu mewujudkan diri dalam bentuk perdebatan-perdebatan nasional sebagaimana yang terjadi setelah kemerdekaan. Di satu sisi berpijak pada prinsip mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, oleh karena itu mereka menuntut pembagian posisi yang lebih banyak dari penduduk yang minoritas jumlahnya dalam pengaturan kemasyarakatan dan kenegaraan, yaitu dengan jalan mempersatukan agama dengan negara. Disisi lain yang berpegang pada prinsip demokrasi dan kemajemukan sosial. Di samping itu mereka juga berprinsip bahwa setiap ide yang dapat berkembang dengan baik di Indonesia, haruslah yang dapat mengakui kebhinekaan bangsa. Akan tetapi, sungguhpun mereka menyetujui konsep pemisahan agama dan negara, hal itu bukan berarti mereka menerima pendapat yang menyatakan bahwa agama hanya menyangkut urusan pribadi semata, tetapi juga mengatur kepentingan social. Oleh karena itu, agama tetap berperan dalam pergaulan hidup. Pendapat kedua ini berpijak pada keyakinan, bahwa ajaran Islam begitu luas memberi kesempatan kepada pemeluknya untuk melakukan pemahaman dengan cara dan keadaaan mereka sendiri, asal tetap berpegang kepada prinsip Islam yaitu beriman kepada prinsip Islam yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-nya. Karena itu terbuka kemungkinan timbulnya aneka pendapat di kalangan orang Islam dalam memahami ketentuan-ketentuan hukum agama itu. Karena itulah mereka menolak persatuan agama dengan negara, karena tindakan itu cenderung membuat sikap otoriter dan memonopoli kebenaran. Negara Kebangsaan Di bawah gelombang gerakan kemerdekaan yang tumbuh cepat, pada kenyataannya fase terakhir pendudukan Bala tentara Jepang ditandai pertempuran mati-matian antara nasioalis sekuler dan Islam mengenai tempat Islam di dalam negara yang baru atau mungkin dalam bentuk rumusan mengenai subordinasi elite Islam kepada pemerintahan saudara-saudaranya yang “sekuler”. Yang disebut terakhir, berpusat di kota-kota jauh lebih unggul dalam pendudukan dan keahlian politik, melawan para pemimpin Islam yang oleh politik pendudukan telah diubah menjadi kekuatan politik yang tiada tara kekuatannya. Kendatipun demikian, golongan Islam, sebagaimana pernyataan pemimpin Masyumi, Wachid Hasyim, bahwa “yang terutama kita perlukan pada waktu ini adalah persatuan bangsa yang tak terpecahkan”. Hal itu menunjukkan bahwa golongan Islam, bahkan pada saat nasib negara Islam yang sejak berpuluh-puluh tahun merupakan cita-cita mereka -- menjadi taruhan, mereka pada prinsipnya bersedia untuk berkompromi. Dan golongan nasionalis tidak membiarkan persoalan itu diputuskan melalui pemungutan suara, yang sebetulnya dapat mereka menangkan dengan mudah mengingat mereka jelas-jelas merupakan mayoritas dalam BPUPKI. Mereka pun mencari kompromi, untuk menemukan suatu penyelesaian bersama
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

7

dengan pergerakan Islam, yang akan memungkinkan setiap orang menyetujui negara Indonesia yang dibentuk ini. Meskipun adanya himbauan-himbauan tentang dari para penulis Islam dalam minggu-minggu yang panas tersebut, dan meskipun adanya hasil-hasil yang paling mutakhir dalam bidang sosio-religius Indonesia Merdeka, akhirnya, harus tidak memproklamasikan sebuah Negara Islam. Bahwa masalah itu tidaklah jauh dari pikiran ribuan orang Muslim dan tokoh-tokohnya jelas di dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 di depan anggota BPUPKI. Untuk kembali pada para pemimpin Islam di dalam BPUPKI, Soekarno menguraikan prinsip pertama sebagai basis ideologis yang diajukan bagi Indonesia Merdeka. Kita mendirikan suatu negara kebangsaan Indonesia. Saya minta saudara Ki Bagoes Hadikoesumo dan saudara-saudara Islam lain; maafkan saya memakai perkataan “kebangsaan” ini ! Saya pun orang Islam. Tetapi saya minta kepada saudara-saudara janganlah saudara-saudara salah paham jikalau katakan bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasar kebangsaan. Prinsip kedua yang ditawarkan oleh Soekarno kepada para anggota BPUPKI adalah ‘kemanusiaan’ dalam hubungan antar bangsa-bangsa, yang dinamakannya juga “internasionalisme” kemudian Soekarno melangkah untuk membicarakan prinsipnya yang ketiga, yaitu mengenai pemerintahan perwakilan. Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama…. Badan perwakilan inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam…. Jikalau kita memang sepakat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian terbesar kursi-kursi dewan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam…. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula. Prinsip ketiga merupakan pengulangan dari artikel yang ditulis Soekarno dari Bengkulu dalam tahun 1940. Seperti dalam 1940, Soekarno mengatakan bahwa negara Indonesia haruslah “bagi semua”, dan tak boleh diberikan hak-hak istimewa kepada golongan manapun dari penduduk yang merugikan golongan lain. Melalui Pancasila, Soekarno menawarkan lima prinsip kebangsaan Indonesia, Internasionalisme – atau perikemanusiaan, Mufakat – atau demokrasi, Kesejahteraan Sosial dan Ketuhanan. Prinsip yang disebut terakhir ini bukan arti ketuhanan dalam konsep Islam. Soekarno hanya menganjurkan agar seluruh warga Indonesia berketuhanan, dan seluruh warga bebas menjalankan agamanya masing-masing, serta saling menghormati satu sama lain. Tiada egoisme agama dalam negara Indonesia, dan dengan demikian negara pada dasarnya dipisahkan dengan agama, sebagaimana halnya di Turki. Agama menjadi milik pribadi, sedangkan negara milik semua. Ia mengatakan “Semua buat semua ! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat golongan Indonesia.” Rumusan Pancasila Soekarno sebagai upaya untuk memberikan kepada aliranaliran politik yang heterogen di Indonesia suatu landasan bersama di dalam negara baru itu, seperti halnya upaya telah dilakukan oleh Soekarno ketika untuk pertama kalinya terjun ke dalam pergerakan Indonesia hampir dua dasawarsa sebelumnya, untuk meletakkan satu landasan bersama bagi semua pergerakan politik dalam perjuangan mereka untuk kemerdekaan. Riuh rendah tepuk tangan dari para anggota
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

8

BPUPKI ketika Soekarno mengakhiri pidatonya untuk menemukan suatu pandangan dunia bagi Indonesia yang dapat disetujui oleh semua golongan penduduk, bukan berarti diterima langsung oleh seluruh anggota badan penyeledik itu, karena justeru setelah pidatonya perdebatan ideologis yang sebenarnya terjadi. Golongan nasionalis Sekuler dan golongan nasionalis Islam langsung berhadapan muka, saling adu argumentasi, dan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Kelompok nasionalis sekuler menolak cita-cita negara Islam, dengan alasan menerima Islam sebagai dasar masyarakat pasti tidak mengakhiri semua perbedaan ideologi. Pembentukan suatu negara Islam akan berarti, menurut M. Hatta bahwa negara mengidentifikasikan dirinya dengan bagian terbesar rakyat, yang akan menimbulkan minoritas. Sementara kelompok Islam tetap mempertahankan citacitanya. BPUPKI membentuk sub panitia yang terdiri dari sembilan orang untuk mempelajari kedudukan Islam. Para pendukung negara sekuler diwakili oleh empat orang, M. Hatta, M. Yamin, Soebardjo, dan Maramis. Dari kalangan Islam juga empat oang: Abdul Kahar Muzakir, Wachid Hasyim, Agus Salim dan Abikusno Tjokrosujoso. Seorang lagi bertindak sebagai ketua dan sekaligus sebagai penengah, yaitu Soekarno. Panitia itu mencapai kompromi, yang kemudian dikenal dengan Piagam Jakarta. Ia merupakan Mukadimah pada konstitusi berdasarkan rumusan yang dapat disetujui semua anggotanya, baik yang sekuler maupun yang Islam. Mukadimah yang ditandatangi oleh sembilan anggota pada tanggal 22 Juni 1945 di Jakarta menyatakan. …. Dengan berdasarkan kepada ketuhanan, dengan kewajiban syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusian yang beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kendati sudah ada kompromi antara golongan nasioalis sekuler dan golongan nasionalis Islam di dalam panitia sembilan tetapi tidak berjalan mulus untuk dapat diterima sebagai keputusan BPUPKI. Ketika piagam Jakarta yang akan dijadikan Mukadimah konstitusi diajukan untuk dibahas, segera muncul perlawanan, baik dari golongan nasionalis sekuler dan golongan Islam. Mereka angkat bicara dalam forum ini dan menunjukkan ketidakpuasan mereka masing-masing. Rumusan Piagam Jakarta ditolak oleh Latuharhary yang mewakili golongan Kristen, terutama yang berkenaan dengan ketetapan bahwa para pemeluk Islam harus menjalankan Syariat Islam. Alasannya, akibat yang ditimbulkannya bagi para pemeluk agama-agama lain, dan karena kesulitan yang timbul dalam hubungan hukum Islam dan hukum adat. Oleh karena itu, ia lebih suka bila anak kalimat tersebut dihilangkan, sehingga negara tidak mengatur masalah-masalah agama. Pernyataan itu didukung oleh Wogsonegoro dan Hussein Djajadiningrat. Mereka menyatakan keprihatinan mereka jikalau Piagam Jakarta diterima dan mendorong fanatisme di pihak sebagian masyarakat Islam. Karena kelihatannya kaum Muslimin akan dipaksa mematuhi syariat. Wachid Hasyim membantah kemungkinan adanya pakasaan ini dengan menunjukkan kepada adanya permusyawarakatan, sambil menambahkan bahwa menurut pendapat sebagian orang kalimat itu mungkin telah menjangkau terlalu jauh cakupannya tetapi sebagian lagi justeru sebaliknya. Soekarno mengulangi bahwa kalimat ini adalah suatu jalan tengah yang dicapai dengan susah payah dan setelah melihat tidak ada lagi keberatan yang diajukan, ia menyimpulkan bahwa Mukadimah itu dipandang sudah diterima sidang.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

9

Kemudian Soekarno membentuk Panitia kecil Perancang Undang-Undang Dasar yang terdiri atas Supomo (Ketua), Wongsonegoro, Soebardjo, Maramis, Singgih, Agus Salim dan Sukiman. Ketegangan muncul kembali dalam pleno ketika Wachid Hasyim mengajukan dua usul. Pertama, Ketentuan yang menyatakan hanyalah orang-orang Islam yang dapat memenuhi persyaratan menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Kedua, dimasukkannya secara formal dalam konstitusi prinsip bahwa Islam harus menjadi agama negara. Malahan Ki Bagoes Hadikusumo mengusulkan pencaoretan kata-kata “pemeluk-pemeluk Islam” dalam anak kalimat. Hal ini berarti bahwa hukum-hukum Islam wajib dijalankan oleh seluruh warga negara tanpa kecuali. Soekarno sekali lagi mengingatkan sidang pleno, bahwa anak kalimat tersebut adalah hasil kompromi antara dua pihak, dan bahwa setiap kompromi didasarkan atas “memberi dan mengambil.” Untuk memperoleh kata putus, Soekarno menyerukan kepada setiap anggota BPUPKI, terutama golongan nasionalis untuk berkorban, sambil mengingatkan dalam bahasa Belanda bahwa “kebesaran itu terletak dalam pengorbanan.” Pengorbanan ini akan berbentuk dalam tercantumnya undang-undang dasar pasal-pasal mengenai “Presiden Republik Indonesia haruslah seorang Indonesia asli dan beragama Islam”, dan bahwa “negara berdasar atas ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. “Soekarno berkata bahwa ia menyadari meminta pengorbanan yang sangat besar dari para patriot bangsa seperti Latuharhary dan Maramis yang bukan Muslim itu.” Tetapi seakan-akan berurai air mata –sekali lagi seakan-akan berurai air mata-- beliau memohon mereka untuk memberikan pengorbanan untuk negara dan bangsa. Setelah Sopomo mengajukan sejumlah usul mengenai perubahan redaksi kecil-kecil dalam rancangan undang-undang dasar; rapat ini berakhir dengan suasana anti klimaks. Barangkali tidak seeorang pun yang merasa puas, tetapi setiap orang terdiam. Atas permintaan Ketua BPUPKI Radjiman Wediodiningrat, setiap anggota berdiri untuk menunjukkan bahwa mereka menerima rancangan undang-undang dasar tersebut. Hanya Muh. Yamin yang kelihatan memerlukan dorongan khusus untuk ikut berdiri. Setelah Jepang tidak dapat menghindari kekalahan, BPUPKI ditingkatkan menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang diketuai oleh Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan mengadakan pertemuan. Dalam pidato pembukaannya Soekarno menekankan anti historis saat ini, dan mendesak agar PPKI bertindak dengan secepat kilat, dan mengingatkan para anggota agar tidak bertele-tele dalam masalah detail, tetapi memusatkan perhatian mereka hanya pada garis besar-besar saja. Beberapa perubahan peting dalam Pembukaan dan batang tubuh UUD yang dibahas dalam sidang pagi itu. 1. Kata “Mukaddimah” diganti dengan kata “Pembukaan”. 2. Dalam Preambule (Piagam Jakarta) anak kalimat:” berdasarkan kepada keTuhanan, dnegan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemelukpemeluknya” diubah menjadi “berdasarkan atas ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. 3. Pasal 6 ayat 1, “Presiden adalah orang Indonesia asli dan beragama Islam”, kata-kata “dan beragama Islam” dicoret. 4. Sejalan dengan perubahan yang kedua diatas, maka pasal 29 menjadi “Negara berdasarkan atas ke-Tuhanan, dengan kewajiban menejalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” 5. Soekarno menjelaskan bahwa Undang-Undang Dasar yang dibuat ini UndangUndang Dasar Sementara. Soekarno berjanji jika keadaan sudah lebih tentram,
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

10

Majelis Permusyawaratan Rakyat akan dikumpulkan lagi untuk membuat UndangUndang yang lebih lengkap dan sempurna. Hatta yang menyampaikan empat usul perubahan atas permintaan Soekarno sebelum sidang dimulai mengadakan pertemuan dengan beberapa pimpinan Islam, dan minta agar sila ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Persyaratan pemeluk agama Islam bagi Presiden Indonesia juga dihapus dari rancangan pasal 29 UUD 1945. Hatta mengintervensi dengan cara ini karena takut kalau daerah-daerah Kristen di Indonesia Timur tidak bersedia menyatukan diri dengan republik baru kalau Islam diberi kedudukan khusus. Hanya beberapa jam saja, Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia menerima secara bulat teks perubahan. Preambule dan batang tubuh UUD dengan beberapa perubahan itu dikenal sebagai UUD 1945. Keputusan yang tergesa-gesa ini dianggap merugikan kepentingan golongan Islam, dan sebagai konsesi pada kabinet pertama RI dibentuk kementrian agama. golongan Islam memandang kompromi terbentuknya kementrian agama ini sebagai terlalu sedikit”, sedangkan pihak lainnya (misalnya orang-orang Krsiten) memandangnya sebagai terlalu banyak “atau” tidak perlu. Ada suatu penilaian yang sangat tajam dengan mengatakan bahwa kementrian itu telah menjadi “kubu Islam dan pos depan untuk sebuah negara Islam.” Suatu pendapat yang lebih moderat bahwa perhatian utama kementrian agama ini adalah untuk mencegah atau menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang timbul di antara berbagai agama serta para penganutnya. Perdebatan Ideologis dan Konstituante Adanya banyak partai yang mempunyai ideologi nasionalisme, agama dan Marxisme membuat Soekarno yang mencintai persatuan, di dalam berbagai kesempatan bebicara mengenai Pancasila sebagai ideologi nasional. Langkah-langkah tersebut menyebabkan Presiden menjadi terlibat di dalam perkembangan konflik politik dan ideologi. Langkah-langkah tersebut memperoleh sejumlah tanggapan dari berbagai kalangan. Pidato Presiden Soekarno di Amuntasi mendapat tantangan dari kalangan Islam. Dalam kunjungannya ke Kalimantan Selatan Presiden menjawab sebuah protes yang menanyakan, “Negara kita negara Nasional ataukah Negara Islam.” Presiden Soekarto berkata: Negara yang kita susun dan kita ingini ialah negara nasional yang meliputi seluruh Indonesia. Kalau kita dirikan negara berdasarkan Islam, maka banyak daerah-daerah yang penduduknya tidak beragama Islam akan melepaskan diri, misalnya Maluku, Bali, Flores, Timor, Kai dan juga Irian Barat yang belum masuk wilayah Indonesia tidak akan mau ikut dalam Republik. Kiai Haji Isa Anshary, seorang Parlemen dari Masyumi menanggapi berita mengenai pidato-pidato Presiden Soekarno, mengatakan. “Pidato di Peraja (Sunda-kecil) pada 8 November 1950 dan pidato di Istana Merdeka tanggal 17 Agustus 1951, dan di Amuntai tanggal 17 Januari 1953 itu sangat menggoncangkan dan menggelisahkan umat Islam Indonesia dan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

11

luar negeri. Semuanya bukan menambah keruhnya keadaan dan akan menimbulkan kekacauan.” Pengurus Besar Dahdatul Ulama mengirim surat kepada Presiden Soekarno, menyetujui nota protes Kiai Haji Isa Anshary, jika apa yang diberitakan mengenai pidato Presiden itu benar. Selanjutnya diharapkan presiden tidak mencampurkan diri pada pergeseran-pergeseran politik dan pergerakan partai-partai serta pertentangan ideologi, terutama antara kaum Muslim dan anti Islam. Dengan demikian maka kepala Negara akan tetap berdiri di tengah-tengah. Hal yang sama dikemukakan pula oleh Partai Islam Perti, yang juga menyesalkan isi pidato presiden. Perti berpendapat bahwa Presiden Soekarno sebagai kepala negara harus tidak terlibat dalam pertentangan ideologi yang sedang bergolak di dalam negeri. GPII juga mengirim surat kepada presiden menyesalkan pidato itu, sebab nyata-nyata membawa rakyat pada pengertian yang salah terhadap ideologi Islam, dan tidak mendidik rakyat pada pengertian demokrasi. Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, tetapi ini tidak berarti bahwa umat Islam tidak wajib lagi memperjuangkan supaya ideologinya berlaku sepenuhya di negara itu. Dalam kunjungannya di Aceh, Presiden Soekarno disambut dengan posterposter yang berbunyi: “Kami cinta kepada Presiden, tetapi lebih cinta kepada negara kami cinta Negara, tetapi lebih cinta kepada agama.” Di daerah Nias, di Tapanuli sebaliknya Presiden disambut dengan poster-poster yang berbunyi: “Kami berjuang untuk Negara Nasional,” “Pidato Presiden di Amuntai adalah benar dan tepat,” “Hanya Negara Pancasila yang kami cintai,” “Kami tidak mengingini negara agama,” “Bubarkan Departemen Agama.” Para pemimpin nasionalis “sekuler” pada gilirannya membela Presiden Soekarno dengan mengatakan bahwa atas dasar hak prerogatif Presiden Soekarno sebagai pemimpin revolusioner dan pemberi ilham rakyatnya disamping sebagai kapala negara yang konstitusional. Mereka kemudian menjadikan Isa Anshary sebagai tumpuan serangan mereka; dan yang disebut terakhir ini pada gilirannya, membalasnya dan mengulangi protesnya. M. Natsir dan Sukiman, tokoh Masyumi, mencoba memperkecil issue ini, dengan jalan meyakinkan rakyat bahwa terjadinya perbedaan pendapat ini sebagai hasil kekacauan istilah, dan masalah ini adalah masalah intern masyarakat Muslim, dan tidak perlu dibahas di luar lingkungannya secara berlebih-lebihan. Usaha-usaha ditempuh untuk mendudukkan istilah-istilah kunci tentang hal termaksud secara jelas di dalam diskusi. A. Dahlan Ranuwihardjo, Ketua PB Himpunan Mahasiswa Indonesia, menulis surat kepada Presiden Soekarno yang “meminta penjelasan hubugan natara Negara Nasional dan Negara Islam, dan antara Pancasila dan Ideologi Islam.” Kemudian Soekarno menyampaikan kuliah umum tentang “Negara Nasional dan cita-cita Islam” pada tanggal 7 Mei 1953 di Universitas Indonesia. Dalam ceramahnya itu soekarno menjelaskan. 1. Islam mempunyai cita-cita kenegaraan. 2. Islam bukan saja mengatur soal hubungan manusia dengan Allah, soal ibadah dan kepercayaan, tetapi mengatur juga soal-soal kehidupan dan hubungan manusia dengan masyarakat sehingga tidak saja sebagai agama tetapi way of life yang mengatur soal kehidupan. 3. Islam tidak memisahkan agama dari negara sebagaimana negara Kristen, tetapi agama dan negara menurut Islam bersatu dan sejalan.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

12

4. Walaupun begitu Islam tidak mengenal dan tidak membenarkan teokrasi, karena dalam Islam tidak ada tingkatan-tingkatan kepaderian sebagaimana dalam agama Kristen. 5. Islam menjamin kepercayaan agama-agama lain dan memberi persamaan hal antara segala rakyat. Tetapi setelah menyelesaikan dan membahas negara dalam Islam ia tidak memastikan bagaimana bentuk negara yang dimaksudkan dalam Islam itu, terutama dalam hubungannya dengan Indonesia. Sebab Indonesia bukan saja terdiri dari warga yang beragama Islam, tetapi juga penganut agama lain yang turut berkorban mencapai kemerdekaan Indonesia dan mendirikan negara Republik ini. Untuk menghargai jiwa-jiwa mereka dan untuk menjalankan demokrasi yang juga merupakan ajaran Islam, perlu disediakan suatu wadah bersama yang netral agama dan ideologi, dan itu adalah Pancasila, dan wadah tersebut dapat diisi ajaran agama. Hal ini sejalan dengan pidato Soekarno di Aceh terdahulu, bahkan dengan pendapat-pendapatnya yang tidak menyetujui negara Islam, umat Islam dapat memasukkan ajaran dalam konstitusi, asal melalui cara-cara yang konstitusional seperti parlemen. Bahkan dalam menjelaskan hubungan antara Islam dan Pancasila. Soekarno mensitir wawancara Natsir dalam perjalanannya di Karachi, dimana dikatakan: “bahwa Pancasila dan Islam tidak bertentangan satu sama lian.” Itulah pernyataan Soekarno yang tentu saja mendapat sambutan dari kalangan Islam. Sistem demokrasi liberal memungkinkan golongan Islam untuk berusaha dan mengkampanyekan negara Islam, dan berlakunya hukum-hukum Islam. Partai-partai Islam menjadikan Islam sebagai ideoloi dan terbentuknya negara Islam sebagai tujuan perjuangan. Hal ini sangat jelas sekali dilontarkan oleh pemimpin-pemimpin Islam menjelang pemilu 1955. Pemilihan umum pertama diselenggarakan pada tanggal 25 September 1955. Tidak kurang dari 28 partai politik atau calon perorangan turut serta dalam pesta demokrasi itu. Sekalipun pesertanya banyak, namun secara ideologis mereka dapat digolongkan secara kasar kedalam tiga aliran ideoloy yang memang telah ada sebelum perang, yaitu Islam, Marxisme/Sosialisme, dan Nasionalisme Sekuler. Ketiga aliran dasar itu muncul kepermukaan dalam berbagai kelompok dan sebagai organisasi politik, dan mereka mengikuti pemilihan umum dengan penuh semangat dalam suasana bebas dan dmokratis. Hasil Pemilihan Umum ternyata tidak memuaskan pihak manapun, terutama PNI dan Masyumi, yang sebelumnya berpengharapan besar akan menang. Juga bila tinjau dari kaca mata aliran politik, ternyata tidak ada satupun aliran yang mendapatkan suara terbanyak mutlak. PNI dan Masyumi misalnya, hanya memperoleh masing-masing 57 kursi dari parlemen dari jumlah total 257: NU Kebagian 45, dan PKI 39. Partai-partai lain kurang dari 10 kursi. Kemudian kursi yang didapat untuk Majelis Konstitusi, rata-rata menjadi dua kali lipat karena jumlah anggota majelis ini dua kali jumlah anggota parlemen. Hasil bersih Pemilihan Umum 1955 di Indonesia menunjukkan bahwa partaipartai Islam memperoleh kurang dari 45 persen dari seluruh suara yang masuk. Menurut UUDS 1950 yang juga mengatur Pemilihan Umum itu, suatu UUD baru menjadi sah bilamana rancangannya disetujui oleh paling kurang 2/3 anggota yang hadir dalam rapat. Dengan demikian, berdasarkan ketentuan ini, suatu perjuangan konstitusional yang bertujuan menciptakan suatu negara Islam atau negara berdasarkan Islam menjadi tidak mungkin.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

13

Perdebatan sekitar dasar ideologis negara dalam konstituante berlangsung dalam dua babak dari tanggal 11 November hingga 7 Desember 1957. Babak pertama melibatkan 47 pembicara, sedang yang kedua 54 pembicara. Ada tiga posisi ideologis yang dijadikan dasar negara: Pancasila, Islam dan Sosial-Ekonomi. Propinsi pendukung ideologi Pancasila berjumlah lebih sedikit dari setengah jumlah suara. Golongan Islam menguasai hampir setengah jumlah suara. Sedangkan pendukung ideologi social-ekonomi relatif kecil. Karena proposisi suara dan kenyataan bahwa keputusan mengenai Dasar Negara membutuhkan mayoritas dua pertiga, maka diperlukan kompromi faksi Pancasila dan Islam karena faksi Sosial-Ekonomi hanya didukung sejumlah kecil suara, posisi mereka dipandang tidak penting dalam kaitannya dengan proses pengambilan keputusan mengenai Dasar Negara kedua faksi besar itu sendiri tidak banyak menghiraukan faksi Sosial-Ekonomi, meskipun faksi terakhir ini sangat militan. Kedua faksi besar itu menganggap aspirasi faksi Sosial-Ekonomi sebenarnya sudah tercakup secara lengkap dan dalam bentuk yang lebih baik dalam pandangpandangan mereka mengenai Dasar Negara. Perdebatan itu pada dasarnya merupakan konfrontasi ideologis antara para pendukung Pancasila dengan para penganut Islam. Masing-masing pihak menekankan keunggulan ideologi yang diusulkannya karena sumber ideologi tersebut dianggap unggul. Pancasila dianggap platform sejati untuk setiap ideologi yang terdapat di Indonesia, dan karena itu sesuai dengan kepribadian Indonesia; hanya Pancasila yang dapat menjamin kesatuan dalam masyarakat Indonesia yang pluralistic. Menurut para pendukungnya, Islam merupakan wahyu Ilahi yang mengandung hukum dan ajaran yang paling kengkap dan sempurna, baik untuk mengatur kehidupan perorangan dan masyarakat maupun untuk mengatur soal agama, politik dan ekonomi. Pandanganpandangan ini diulangi dan dikembangkan dengan berbagai variasi selama perdebatan berolangsung. Para pembicara juga meremehkan ideologi lain dan mengejek para pendukungnya. Sejak awal perdebatan sudah dinyatakan bahwa mengubah Pancasila sebagai dasar Negara akan dianggap sebagai penghianatan terhadap perjuangan revolusioner dan membahayakan perdamaian dan kesatuan Indonesia. Di lain pihak, para pendukung Islam menyatakan bahwa Pancasila merupakan doktrin yang sekuler dan karenanya akan membuka peluang bagi gerakan-gerakan ateis seperti PKI dan karena itu tidak sesuai dengan hukum Allah. Mereka yang mengaku Muslim tetap tidak bersedia Islam sebagai dasar negara sesungguhnya dianggap berdosa. Tuduhantuduhan ini tentunya ditolak oleh pihak lawan sebagai tuduhan yang tak berdasar, sehingga pertukaran pikiran itu tidak menghasilkan suasana saling mendekatkan di antara paham-paham dan wawasan-wawasan tersebut. Kepentingan social dan ekonomis di balik masing-masing golongan menyusul semakin mempertajam issue ideologis. Para penganut Sosial-Ekonomi cukup, dan para pemimpinnya banyak berbicara. Secara formal mereka menyatakan sebagai pembela aliran. Sosialis dalam pemikiran politik dan ekonomi Indonesia, menganjurkan sosialisme dan demokrasi aspirasi rakyat Indonesia. Pro-kontra Pancasila sebagai dasar negara, Pro-kontra Islam sebagai dasar negara, juga mewarnai kehidupan masyarakat. Dalam pada itu, pada tanggal 26 Mei, 5 Juni, 16 Juni, 22 Juli dan 3 September tahun 1958, di Istana Negara, Presiden Soekarno memberikan serangkaian kuliah mengenai Pancasila. Pada tanggal 21 sampai 16 Februari 1959 di Universitas Gadjah Mada ditengah pertikaian pendapat mengenai dasar negara itu, diselenggarakan Seminar Pancasila yang pertama. Di dalam pidatonya pada seminar itu, khususnya berkenan dengan masalah dasar negara
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

14

dan UUD yang menjadi pokok perdebatan di konstituante. Presiden Soekarno menyatakan: “Dan di dalam sidang pleno Konstituante akan saya anjurkan kepada itu konstituante, bahkan akan saya minta kepada itu konstituante dan akan saya peringatkan kepada itu konstituante akan pidato yang saya ucapkan. Pada waktu saya membuka resmi konstituante. Bahwa kewajiban konstituante itu ialah mebuat UUD bagi RI yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945…. Saya nanti akan minta kepada sidang Konstituante oleh karena toh, Republik yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu sudah membawa dengan satu UUD yaitu UUD ’45 agar konstituante kembali saja kepada UUD ‘45 itu.” Pada tanggal 22 April 1959 segera sebelum ia memulai perjalanannya ke luar negeri selama dua bulan berikutnya, Presiden Soekarno menyampaikan amanat di depan Konstituante di Bandung, dan ia menghimbau untuk kembali kepada UUD 1945. Soekarno juga menekankan bahwa konstituante tersebut telah bersidang selama 2 tahun, 5 bulan dan 12 hari, yakni hampir dua setengah tahun. Tentang Piagam Jakarta Soekarno mengatakan bahwa naskah itu adalah suatu dokumen sejarah yang mendahului dan mempunyai pengaruh terhadap UUD 1945, dan karena itu secara resmi ia masih akan mengirimkan teks Piagam Jakarta tersebut kepada konstituante. Dengan adanya usul kembali ke UUD 1945, perdebatan dasar negara, berganti menjadi perdebatan mengenai dapat atau tidak dapat menerima usul untuk kembai ke UUD 1945 sebagai konstitusi proklamasi. Walaupun demikian permasalahan sekitar Pancasila dan Islam sebagai dasar negara tampil lagi ke permukaan disebabkan karena mereka yang mengajukan Islam sebagai dasar negara, menghendaki agar Piagam Jakarta tidak hanya dinyatakan sebagai dokumen sejarah, melainkan juga harus diperlakukan sebagai pokok-pokok kaidah asas negara, sumber perundang-undangan di Indonesia. Pada tanggal 2 Juni 1959, Majelis Konstituante mengadakan pemungutan suara dalam rangka kembali ke UUD 1945 tapi dengan dua formulasi. Hasil pemungutan suara ialah 263 setuju dengan usul Presiden untuk kembali ke UUD 1945 sebagaimana dirumuskan pada 18 Agustus 1945, dan 203 menentangnya, yaitu dari wakil-wakil Islam, yang menginginkan anak kalimat Piagam Jakarta, dimasukkan ke dalam UUD 1945. Dari hasil pemungutan suara itu jelas terlihat baik pendulung Pancasila maupun pendukung dasar negara Islam sama-sama gagal memperoleh suara mayoritas mutlak (2/3) dari anggota yang hadir dalam sidang majelis yang sangat tegang itu. Kegagalan inilah yang dipakai sebagai alasan pokok oleh Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 dan diantara Konsiderasi Dekrit itu berbunyi “…, bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan kosntitusi tersebut.” Tercantumnya konsideran itu bisa dikatakan sebagai suatu kompromi politik lagi antara pendukung dasar Pancasila dan pendukung dasar Islam.

Penutup Dekrit 5 Juli 1959 telah mengakhiri secara formal periode Demokrasi Parlementer yang dimulai secara konstitusional sejak tahun 1950. sejak 5 Juli 1959 setiap usul tentang dasar negara yang bertujuan mengganti Pancasila secara
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

15

konstitusional menjadi tidak mungkin dan tidak dibenarkan, kecuali jika Majelis Permusyawaratan Rakyat pilihan rakyat menghendakinya sesuai dengan pasal 37 UUD 1945. Dekrit 5 Juli 1959 yang dilanjutkan dengan pelaksanaan Demokrasi Terpimpin telah menyumbat saluran legal bagi golongan Islam untuk menyatakan aspirasi politik mereka. Demokrasi Terpimpin merupakan kenyataan politik yang amat pahit bagi golongan Islam dan merasa mempunyai kemerdekaan politik yang penuh selama demokrasi sebelumnya. Kendati dialog-dialog kreatif yang bersifat ideologis berhenti, juru penenang resmi pemerintah Soekarno menegaskan tentang pentingnya agama dalam Nation and Character Building. Ucapan tersebut kemudian mendapat respon dari partai nasionalis sekuler dengan membentuk lembaga Dakwah Islamiah, sebagai isntrumen dari partai. Pancasila sebagai dasar negara merupakan perwujudan pandangan Soekarno yang memisahkan agama dari negara. Pemisahan ini tidak sepenuhnya sama dengan konsep sekulerisme di Barat, dimana agama lepas sama sekali dari negara. Konsep pemisahan agama dan negara yang dinyatakan Soekarno itulah kerangka pemikiran yang paling memungkinkan dilaksanakan di Indonesia guna menampung berbagai aspirasi kemajemukan sosial itu. Konsepsi negara Pancasila Soekarno tidak pernah mati dan tetap berlangsung sampai saat ini. Pewaris konsepsi negara Pancasila alias kebangsaan yang menjalankan. Kendati ada tuan yang mencoba menggantikannya.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

16

Daftar Pustaka
A. M. W. Pranarka. “Sejarah Pemikiran tentang Pancasila”. Jakarta. CSIS. 1985. hal. 131. Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia. Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1995, hal. 62. Ahmad Stafii Maarif, Studi tentang Percaturan dalam Konstituante. Islam dan Masalah Kenegaraan. Jakarta: LP3ES, 1985, hal. 122. Ahmad Suhelmi, Soekarno versus Natsir. Kemenangan Barisan Megawati Reinkarnasi Nasionalis Sekuler, Jakarta: Darul Falah, 1999, hal. 123 dan 133. Artikel ini ditulis dalam Panji Islam No. 20, 20 Mei 1940; No. 21, 27 Mei 1940; No. 23, 10 Juni 1940; No. 24, 17 Juni 1940; No. 25, 24 Juni 1940; dan No. 26, 1 Juli 1941. B. J. Boland, Pergumulan Islam di Indonesia. Jakarta: Grafiti Pers, 1985, hal. 31. Badri Yatim, Soekarno, Islam dan Nasionalisme, Jakarta. Inti sarana Aksara, 1985, hal. 176. Badri Yatim, Soekarno, Islam dan Nasionalisme. Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985, hal. 56-58. Bernhard Dahm, Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan, Jakarta: LP3ES, 1987, hal. 216. Denny JA. NA. Sumargono dan Kuntowijoyo et. al, Negara Sekuler: Sebuah Polemik, Jakarta: Pustaka Berdikari Bangsa, 2000. Endang Saefuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945 dan Sejarah Konsensus Nasional antara Nasionalis dan Nasionalis “Sekuler” tentang Dasar Negara Republik 1945-1959. Bandung: Pustaka-Perpustakaan Salam ITB, 1981, hal 26-27. Harry J. Benda. Bulan Sabit dan Matahari Terbit. Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang. Jakarta: Pustaka Jaya, 1980 hal. 223-224. M. Masykur Amin, HOS Tjokroaminoto. Rekonstruksi Pemikiran dan Perjuangannya. Yogyakarta: Cokroaminoto Unoversity Press, 1995, hal. 15.

Maslahul Falah, Islam ala Soekarno. Jejak Langkah Pemikiran Liberal Indonesia. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003, hal. 11. Muhammad Ridwan Lubis, Pemikiran Soekarno tentang Islam dan Unsur-unsur Perkembangannya, Jakarta: CV Haji Masagung, 1992, hal. 189-192.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

17

Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, Sejarah dan Pemikiran. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia , 1990, hal. 1-3. Soekarno, ‘Lahirnya Pancasila,’ dalam Soekarno, Pancasila dan Perdamaian Dunia, Jakarta. Inti Idayu Press-Yayasan pendidikan Soekarno, 1985, hal. 1-23. Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, Jilid I, Jakarta: Panitia Penertbit Dibawah Bendera Revolusi, 1964, hal. 403-446. Solichin Salam, Bung Karno dan Kehidupan Berpikir Dalam Islam, Jakarta: Wijaya, 1954, hal. 11.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->