P. 1
Soekarno, Mahasiswa Dan Nasionalisme

Soekarno, Mahasiswa Dan Nasionalisme

5.0

|Views: 301|Likes:
Published by Peter Kasenda
Ketika Soekarno dilahirkan, masyarakat Jawa sedang mengalami perubahan ekonomi sosial dan politik sebagai dampak modernisasi. Selama seperempat abad sebelumnya, bersama negeri-negeri lain di Asia dan Afrika, Indonesia mulai merasakan dampak kuat tenaga ekspansif industri Eropa. Daerah jajahan Hindia Belanda justru secara mantap diciptakan selama periode ini. Mitos tentang nasionalisme nosionalisme adalah, kepulauan itu dijajah selama 350 tahun dibawah kekeuasaan Belanda sejak tahun 1602, ketika VOC mulai beroperasi, sampai Perang Dunia kedua. Dalam kenyataannya hanya menjelang akhir abad ke-19 kekuasaan Belanda berlaku atas kepulauan itu. Kegiatan-kegiatan Belanda selama 200 tahun sebelumnya hanyalah meletakkan dasar-dasar bagi kekuasaannya.
Ekspansi besar-besaran ekonomi ekspor Hindia sebagai akibat penanaman modal Belanda secara langsung ini telah disertai perluasan penguasaan territorial yang cepat. Sesudah 1870 sengaja dilakukan tindakan untuk membulatkan kekuasaan Belanda atas seluruh kepulauan Indonesia. Ekspansi territorial yang terjadi dengan tiba-tiba merupakan bagian dari gelombang persaingan imprealisme Eropa Barat yang pada akhir abad ke-19 membagi-bagi sebagian besar daerah-daerah yang terbelakang ini, sehingga terpecah-pecah menjadi jajahan Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan Belgia. Meskipun Belandasudah ada di Indonesia sejak tiga abad, baru sesudah 1870 mereka bergerak mendirikan apa yang kemudian bisa di katakana sebagai kekuatan imperium baru.
Perkembangan ini mendapat reaksi dari golongan elite pribumi. Ada yang berhasil menyesuaikan dirinya dalam kekuasaan kolonial Belanda dengan menjadi ambtenar tanpa hasrat untuk mengubahnya. Ada yang berkeinginan memperoleh jaminan otonomi bagi bangsanya di masa depan, yang harus dicapai melaui kerjasama dengan penguasa dan melalui konsesi-konsesi yang diperoleh berangsur-angsur dari pemerintah Hindia Belanda. Ada juga yang melihat pada evolusi persekutuan Indonesia dengan Belanda. Tetapi bagi yang lain lagi, kehinaan dibawah telapak kaki penjajah merupakan kenyataan yang menyolok. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh, menurut mereka, adalah perjuangan tanpa kompromi, bahkan mungkin dengan kekerasan untuk memperoleh kemerdekaan yang sempurna. Soekarno berada di dalam kategori terakhir ini, semenjak masa muda di dalam hasilnya membara rasa jijik terhadap diskriminasi yang dilakukan kekuasaan kolonial.
Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya adalah suatu gejala baru yang berada dari gerakan-gerakan perlawanan sebelumnya terhadap kekuasaan Belanda. Perang Jawa 1825 – 1830 misalnya, merupakan suatu gerakn setempat yang mencerminkan ketidakpuasan lokal dan sangat berbeda sifatnya dari arus perlawanan yang baru muncul pada awal abad ke – 20 Nasionalisme baru itu adalah hasil imprealisme baru. Ia harus dipandang sebagai bagian dari suatu gerakan lebih besar yang melibatkan banyak bagian tanah jajahan baru yang diciptakan Eropa di Asia dan Afrika pada penghujung abad ke-19. Dan gerakan itu hanya menentang kekuasaan colonial, tetapi juga memikirkan dan mengembangkan pandangan baru, yang sadar akan kepribadian nasional. Tentu kedua aspek itu berjalan sejajar, rasa kebangsaan ditempa kedalam pengalaman bersama melawan penindasan colonial, namun, gagasan-gagasan tentang kebangsaan kemudian penciptaan suatu negara modern.
Soekarno memang turut memberikan bentuk pada rasa kesadaran-diri yang baru, namun bukan Soekarno yang menciptakannya. Dasar-dasar pokok kesadaran baru itu terletak dalam proses perubahan sosial yang digerakkan oleh ekspansi politik dan kekuasaan colonial Belanda pad atahun-tahun kemudian. Pada abad ke-1, wakil-wakil VOC memang mengumpulkan hasil bumi, tetapi pengaruhnya hanya terbatas pada tatanan-tatanan politik dan sosial yang mereka temukan di sana, dan mereka bahkan menaruh sekedar rasa hormat terhadap kekuasaan pribumi yang ada. Namun, pada akhir abad ke – 19 pemerintah dan modal Belanda telah merombak Indonesia dilancarkannya kegiatan-kegiatan ek
Ketika Soekarno dilahirkan, masyarakat Jawa sedang mengalami perubahan ekonomi sosial dan politik sebagai dampak modernisasi. Selama seperempat abad sebelumnya, bersama negeri-negeri lain di Asia dan Afrika, Indonesia mulai merasakan dampak kuat tenaga ekspansif industri Eropa. Daerah jajahan Hindia Belanda justru secara mantap diciptakan selama periode ini. Mitos tentang nasionalisme nosionalisme adalah, kepulauan itu dijajah selama 350 tahun dibawah kekeuasaan Belanda sejak tahun 1602, ketika VOC mulai beroperasi, sampai Perang Dunia kedua. Dalam kenyataannya hanya menjelang akhir abad ke-19 kekuasaan Belanda berlaku atas kepulauan itu. Kegiatan-kegiatan Belanda selama 200 tahun sebelumnya hanyalah meletakkan dasar-dasar bagi kekuasaannya.
Ekspansi besar-besaran ekonomi ekspor Hindia sebagai akibat penanaman modal Belanda secara langsung ini telah disertai perluasan penguasaan territorial yang cepat. Sesudah 1870 sengaja dilakukan tindakan untuk membulatkan kekuasaan Belanda atas seluruh kepulauan Indonesia. Ekspansi territorial yang terjadi dengan tiba-tiba merupakan bagian dari gelombang persaingan imprealisme Eropa Barat yang pada akhir abad ke-19 membagi-bagi sebagian besar daerah-daerah yang terbelakang ini, sehingga terpecah-pecah menjadi jajahan Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan Belgia. Meskipun Belandasudah ada di Indonesia sejak tiga abad, baru sesudah 1870 mereka bergerak mendirikan apa yang kemudian bisa di katakana sebagai kekuatan imperium baru.
Perkembangan ini mendapat reaksi dari golongan elite pribumi. Ada yang berhasil menyesuaikan dirinya dalam kekuasaan kolonial Belanda dengan menjadi ambtenar tanpa hasrat untuk mengubahnya. Ada yang berkeinginan memperoleh jaminan otonomi bagi bangsanya di masa depan, yang harus dicapai melaui kerjasama dengan penguasa dan melalui konsesi-konsesi yang diperoleh berangsur-angsur dari pemerintah Hindia Belanda. Ada juga yang melihat pada evolusi persekutuan Indonesia dengan Belanda. Tetapi bagi yang lain lagi, kehinaan dibawah telapak kaki penjajah merupakan kenyataan yang menyolok. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh, menurut mereka, adalah perjuangan tanpa kompromi, bahkan mungkin dengan kekerasan untuk memperoleh kemerdekaan yang sempurna. Soekarno berada di dalam kategori terakhir ini, semenjak masa muda di dalam hasilnya membara rasa jijik terhadap diskriminasi yang dilakukan kekuasaan kolonial.
Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya adalah suatu gejala baru yang berada dari gerakan-gerakan perlawanan sebelumnya terhadap kekuasaan Belanda. Perang Jawa 1825 – 1830 misalnya, merupakan suatu gerakn setempat yang mencerminkan ketidakpuasan lokal dan sangat berbeda sifatnya dari arus perlawanan yang baru muncul pada awal abad ke – 20 Nasionalisme baru itu adalah hasil imprealisme baru. Ia harus dipandang sebagai bagian dari suatu gerakan lebih besar yang melibatkan banyak bagian tanah jajahan baru yang diciptakan Eropa di Asia dan Afrika pada penghujung abad ke-19. Dan gerakan itu hanya menentang kekuasaan colonial, tetapi juga memikirkan dan mengembangkan pandangan baru, yang sadar akan kepribadian nasional. Tentu kedua aspek itu berjalan sejajar, rasa kebangsaan ditempa kedalam pengalaman bersama melawan penindasan colonial, namun, gagasan-gagasan tentang kebangsaan kemudian penciptaan suatu negara modern.
Soekarno memang turut memberikan bentuk pada rasa kesadaran-diri yang baru, namun bukan Soekarno yang menciptakannya. Dasar-dasar pokok kesadaran baru itu terletak dalam proses perubahan sosial yang digerakkan oleh ekspansi politik dan kekuasaan colonial Belanda pad atahun-tahun kemudian. Pada abad ke-1, wakil-wakil VOC memang mengumpulkan hasil bumi, tetapi pengaruhnya hanya terbatas pada tatanan-tatanan politik dan sosial yang mereka temukan di sana, dan mereka bahkan menaruh sekedar rasa hormat terhadap kekuasaan pribumi yang ada. Namun, pada akhir abad ke – 19 pemerintah dan modal Belanda telah merombak Indonesia dilancarkannya kegiatan-kegiatan ek

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Soekarno, Mahasiswa dan Nasionalisme

Jangan tanya apa yang Negara berikan padamu, Tetapi Tanya apa yang kamu berikan pada Negara. Jhon F. Kennedy

Ketika Soekarno dilahirkan, masyarakat Jawa sedang mengalami perubahan ekonomi sosial dan politik sebagai dampak modernisasi. Selama seperempat abad sebelumnya, bersama negeri-negeri lain di Asia dan Afrika, Indonesia mulai merasakan dampak kuat tenaga ekspansif industri Eropa. Daerah jajahan Hindia Belanda justru secara mantap diciptakan selama periode ini. Mitos tentang nasionalisme nosionalisme adalah, kepulauan itu dijajah selama 350 tahun dibawah kekeuasaan Belanda sejak tahun 1602, ketika VOC mulai beroperasi, sampai Perang Dunia kedua. Dalam kenyataannya hanya menjelang akhir abad ke-19 kekuasaan Belanda berlaku atas kepulauan itu. Kegiatan-kegiatan Belanda selama 200 tahun sebelumnya hanyalah meletakkan dasardasar bagi kekuasaannya. Ekspansi besar-besaran ekonomi ekspor Hindia sebagai akibat penanaman modal Belanda secara langsung ini telah disertai perluasan penguasaan territorial yang cepat. Sesudah 1870 sengaja dilakukan tindakan untuk membulatkan kekuasaan Belanda atas seluruh kepulauan Indonesia. Ekspansi territorial yang terjadi dengan tiba-tiba merupakan bagian dari gelombang persaingan imprealisme Eropa Barat yang pada akhir abad ke-19 membagi-bagi sebagian besar daerah-daerah yang terbelakang ini, sehingga terpecahpecah menjadi jajahan Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan Belgia. Meskipun Belandasudah ada di Indonesia sejak tiga abad, baru sesudah 1870 mereka bergerak mendirikan apa yang kemudian bisa di katakana sebagai kekuatan imperium baru. Perkembangan ini mendapat reaksi dari golongan elite pribumi. Ada yang berhasil menyesuaikan dirinya dalam kekuasaan kolonial Belanda dengan menjadi ambtenar tanpa hasrat untuk mengubahnya. Ada yang berkeinginan memperoleh jaminan otonomi bagi bangsanya di masa depan, yang harus dicapai melaui kerjasama dengan penguasa dan melalui konsesi-konsesi yang diperoleh berangsur-angsur dari pemerintah Hindia Belanda. Ada juga yang melihat pada evolusi persekutuan Indonesia dengan Belanda. Tetapi bagi yang lain lagi, kehinaan dibawah telapak kaki penjajah merupakan kenyataan yang menyolok. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh, menurut mereka, adalah perjuangan tanpa kompromi, bahkan mungkin dengan kekerasan untuk memperoleh kemerdekaan yang sempurna. Soekarno berada di dalam kategori terakhir ini, semenjak masa muda di dalam hasilnya membara rasa jijik terhadap diskriminasi yang dilakukan kekuasaan kolonial. Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya adalah suatu gejala baru yang berada dari gerakan-gerakan perlawanan sebelumnya terhadap kekuasaan Belanda. Perang Jawa 1825 – 1830 misalnya, merupakan suatu gerakn setempat yang mencerminkan ketidakpuasan lokal dan sangat berbeda sifatnya dari arus perlawanan yang baru muncul pada awal abad ke – 20 Nasionalisme baru itu adalah hasil imprealisme baru. Ia harus dipandang sebagai bagian dari suatu gerakan lebih besar yang melibatkan banyak bagian 1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

tanah jajahan baru yang diciptakan Eropa di Asia dan Afrika pada penghujung abad ke19. Dan gerakan itu hanya menentang kekuasaan colonial, tetapi juga memikirkan dan mengembangkan pandangan baru, yang sadar akan kepribadian nasional. Tentu kedua aspek itu berjalan sejajar, rasa kebangsaan ditempa kedalam pengalaman bersama melawan penindasan colonial, namun, gagasan-gagasan tentang kebangsaan kemudian penciptaan suatu negara modern. Soekarno memang turut memberikan bentuk pada rasa kesadaran-diri yang baru, namun bukan Soekarno yang menciptakannya. Dasar-dasar pokok kesadaran baru itu terletak dalam proses perubahan sosial yang digerakkan oleh ekspansi politik dan kekuasaan colonial Belanda pad atahun-tahun kemudian. Pada abad ke-1, wakil-wakil VOC memang mengumpulkan hasil bumi, tetapi pengaruhnya hanya terbatas pada tatanan-tatanan politik dan sosial yang mereka temukan di sana, dan mereka bahkan menaruh sekedar rasa hormat terhadap kekuasaan pribumi yang ada. Namun, pada akhir abad ke – 19 pemerintah dan modal Belanda telah merombak Indonesia dilancarkannya kegiatan-kegiatan ekonomi baru telah mengganggu keseimbangan masyarakatmasyarakat agraris tradisonal. Kekuasaan-kekuasaan ekonomi bari itu mendorong munculnya kelas-kelas baru, mengikis kedudukan golongan elite tradisional dan mengendorkan banyak ikatan komunal yang telah memberikan lingkungan mantap bagi massa-rakyat itu, keadaan itu menciptakan kesatuaan politik untuk pertama kalinya pada kepulauaan itu, dan dengan demikian membuka situasi yang mungkin orang Indonesia melihat jauh ke luar melampaui penghotak-kotakan etnis kearah kemungkinan kesatuaan nasional. Perubahan-perubahan ini bukan saja turut menciptakan keresahan yang makin besar dikalangan penduduk sebagai suatu keseluruhan, tetapi juga, dalam arti yang lebih positif, menciptakan kesadaran baru tentang suatu dunia yang sedang mengalami perubahan, dan kepemimpinan politik yang dapat dijadikan saluran pengungkapan kesadaran baru itu. Pada bulan Januari 1901 Ratu Wihelmina mengumumkan di depan parlemen program Pemerintah Belanda yang baru saja terpilih. Pemerintah mengakui bahwa sementara di msa lalu banyak perusahan dari orang-orang Belanda telah memperoleh keuntungan yang berlipat dari Hindia Belanda, penduduk di tanah jajahan itu sendiri menjadi miskin. Tujuan utama pemerintah jajahan di masa mendatang ialah memperbaiki kesejahtraan rakyat. Ratu Wilhelmina menambahkan bahwa bangsa Belanda “telah berhutang budi” kepada rakyat Hindia Belanda, perlahan-lahan memperluas kesempatan bagi anak-anak Indonesia dari golongan atas untuk mengikuti pendidikan berbahasa Belanda. Pemberian pendidikan Barat kepada anggota-anggota kalangan elite pibumi tak disertai dengan program yang jelas apa pun untuk memanfaatkan lulusan pendidikan itu, meskipun mereka hanya sedikit jumlahnya. Kebijaksanaan mengizinkan sejumlah orang Indonesia memasuki sekolah rendah dan menengah, ternyata tidak membuka lebar-lebar, karena pendidikan semacam itu bahkan berada diluar jangkauan sebagian besar kaum priyayi. Meskipun demikian permintaa di tempat-tempat di sekolah itu jauh lebih besar daripada yang tersedia, dan lapangan kerja pun tidak cukup tersedia bagi beberapa ratus orang Indonesia yang setiap tahunnya tamat. Hanya sedikit yang diterima dan mendapat status dalam jabatan rendah dalam pemerintah atau dalam perusahaan Belanda, meskipun orang Indonesia yang melamar menemukan dirinya menjadi korban kebijaksanaan diskriminatif yang mendahulukan bangsa Belanda atau Indo dari pada orang Indonesia. 2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Dalam banyak lapangan kerja terdapat perbedaan dalam nilai upah yang diberikan kepada orang Indonesia dan tenaga kerja Belanda ; bagi banyak lulusan sekolah tidak tersedia lapangan kerja. Dua hal tampak menonjol : Kalangan atas yang menerima pendidikan secara Barat hanya menjadi kelompok kecil dalam masyarakat : meskipun ini suatu kenyataan, tetapi mereka adalah kalangan atas yang digaji rendah, menderita furtasi, dirundung kepenatan karena ketiadaan kesempatan, dan lekas tersinggung oleh pandangan yang meremehkan dan menghina, yang disebabkan statusnya yang rendha dan sikap Belanda yang secara sembarangan memamerkan keunggulannya. Sebab-sebab nasionalisme abad ke-20 harus di cari pada terganggunya keseimbangan masyarakat–masyarakat tradisonal sebagai akibat dai dampak penuh indisutri modern Eropa. Dengan munculnya kaum cendikiwan baru, rasa tidak puas massa dapat disalurkan dan organisasi ke dalam gerakan-gerakan kekuatan politik yang menentang rwzim colonial, memandang ke depan secara positif untuk membangun sebuah Negara merdeka yang didasarkan pada nilai-nilai persepsi baru tentang kepribadiaan nasional dan merombak tatanan lama tradisional. Namun ini pun bukan kisah selengkapnya Nasioanlisme bukan hanya produk dari suatu rasa kebersamaan –rasa tidak puas massa ditambah kepemimpinan yang mengalami frustasi. Bagi para pemimpin dan pengikut-pengikutnya kemelut yang menjerat mereka dalam beberapa hal bersifat psiokologis, suatu kemelut identitas individual dan kelektif sebagai suatu tatanan tetap yang ditundukkan pada tekanan-tekanan baru dan larutnya nilai-nilai yang telah mantap. Dalam suatu hal, ini adalah masalah untuk mengetahui siapa dirinya dan apa golongannya. Adapt kebiasaan telah memberi jawaban kepada pertanyaan-pertanyaan ini, namum perubahan sosial dan pergeseran sistem status membuka kembali masalah-masalah itu. Pendidikan Barat telah mengasingkan sejumlah kaum terpelajar dari masyarakatnya sendiri dan pandangan-pandangan yang berlaku sebelumnya, menjadikan mereka putra-putra zaman pencerahan Eropa, tetapi tanpa menjadikannya orang Eropa. Untuk sebagian dari mereka itu, nasionalisme merupakan suatu penyelesaian dari ketegangan gagasan ini. Dibukanya sekolah rendah oleh Belanda bagi orang Indonesia , memungkinkan sebagian dari mereka, dalam waktu yang sudah ditetapkan, meneruskan pelajarannya di sekolah menengah Belanda, meskipun kesempatan semacam itu sangat terbatas. Keluarga-keluarga Indonesia harus mampu membayarnya, jumlah tempat yang tersedia jauh dibawah permintaan. Untuk menjamin penerimaannya, diperlukan kecenderungan sosial dan pengaruh. Dalam prakteknya ada kecenderungan hanya putra-putra priyayi yang mendapat kemudahan itu. Semula Soekarno belajar di HIS, Tulung Agung. Ayahnya bermaksud memberikan pendidikan yang baik kepadanya dan memasukkan ke Europere Lagere School de Mojokerto dengan harapan Soekarno nantinya bisa memasuki HBS yang lalu memberi peluang untuk memasuki perguruan tinggi Belanda. Mereka berdua, ayah dan anak beranggapan bahwa Soekarno dapat melanjutkan pelajarannya di ELS itu kelas yang sama seperti di HIS. Namun, tes sekolah yang diambil oleh kepala sekolah menunjukkan bahwa Soekarno kurang menguasasi bahasa Belanda, bahasa pengantar yang dipakai di ELS sehingga ia harus diturunkan satu kelas. Oleh karena itu, ayahnya menggaji seoranng wanita Belanda untuk mengajarnya. Hanya segelintir anak-anak pribumi yang diperbolehkan masuk ELS. Para calaon pribumi selain harus memiliki tingkat kecerdasan yang melebihi rata-rata, orang tua 3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

mereka harus berasal dari tingkat masyarakat terpandnag, bahwa Soekarno , diambil oleh kepela sekolah ELS, walaupun bahasa Belandanya tidak mencikupi lagi pula ayahnya sebagai kepala sekolah. Para orang tua murid ELS membayar uang sekolah menurut kemampuan. Tentu saja Raden Soekemi denngan gaji yang lumayan mempu membayar uang sekolah Soekarno. Di waktu itu masih belum lazim bagi seorang pribumi untuk masuk sekolah eropa. Karena itu, maka mereka yang berhasil memasuki sekolah tersebut dan duduk ditenagh-tengah anak-anak para tuan kulit putih dan anak-anak Indo (yang tidak kurang sombongnya terhadap orang-orang dibawah mereka), masih sering menjadi korban prasangka rasial. Seperti dikenang kembali oleh Soekarno, setiap kali terjadi pertengkaran, ia selalu membela kehormatan bangsanya. Di sini apa yang di tuliskan dalam dunia perwayangan mengenai hubungan antara penguasa dan yang di kuasai, atau mengenai keadilan dan ketidakadilan, tentulah telah menjadi jelas dengan cara menyakitkan bagi Soekarno. Setelah tamat ELS, Soekarno memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studinya di Surabaya. Soekarno menggambarkan kota kelahirnya tempat ia kembali sebagai pemuda berumur lima belas tahun sebagai suatu ‘kota pelabuhan yang ramai dan bising, menyerupai New York. Di sini Soekarno menjumpai tidak hanya fasilitas-fasilitas pelabuhan bagi kapal-kapal dari seluruh dunia, tetapi juga suatu jaringan hubungan kereta api yang luas kesegala jurusan, jalan-jalan beraspal hitam, daerah-daerah perdagangan, dan banyak hal lainnya – yang sangat berbeda dengan keadaan lingkungan hidupnya selama itu. Walaupun di daerah-daerah pedalaman juga terdapat kekayaan dan kemewahan, namun kedua hal itu terbatas pada lingkungan-lingkungan Eropa dan bangsawan tingkat atas. Tetapi di Surabaya, sistem kasta kolonial itu sudah teratasi, dan orang-orang dari dunia usaha, tak peduli apa kebangsaannya semenjak dibukanya perdagangan bebas dalam 1870. Di Hogere Bunger School di Surabaya, dimana Soekarno belajar selama lima tahun, garis pemisah rasial tidak begitu tajam seperti di daerah pedalaman. Tetapi persentase murid-murid sekolah menengah diseluruh Hindia Belanda, yang disusun menurut golongan-golongan penduduk, masih mencerminkan suatu ketimpangan yang sangat mencolok antara orang-orang Eropa, orang-orang asing keturunan Asia dan orangorang pribumi. Sejarah Hindia Belanda merupakan salah satu mata pelajaran di HBS. Bisa jadi pelajaran inilah yang amat merangsang rasa nasionalisme yang mulai bersemi di hati pelajar bumiputra ini. Sejarah tanah JAwa, sebelum Jan Preterszoon Coen di tulis hanya 15 halaman buku pelajaran dengan judul yang sama. Sesudah itu, para pelajar diberitahu bagaimana Pangeran Dipenogoro yang ‘tak berbudi’ di tundukkan oelh pemerintah kolonial , mereka membaca kepahlawanan KNIL, dalam operasi militer mengkumkum penduduk Lombok dan Bali, dan diceritakan bahwa perang akan peristiwa-peristiwa kepahlawanan yang gemilang dari Vanheutz tentunya, bukan dari snag pejuang, Tengku Umar. Sebagai siswa HBS, Soekarno termasuk kutu buku. Melalui buku bacaannya ia bisa membayangkan bagaimana kehidupan bapak bangsa Thomas Jefferson dan George Washington; menghayati perjalanan hari Paul Revere ke Lexington dan membaca dengan lahap kisah kehidupan Abraham Lincoln idola Amerikanya. Jua, sejumlah besar negarawan dan pemikir-pemikir Eropa yang tergolong teman-teman sejiwa yang 4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

dikumpulkan oleh si pelajar di kamar yang sempit di bawah sinar api lilin. Selain itu ia juga banyak belajar dari ahlifilsafat Perancis seperti Roltaine dan Rousseau, suami istri Fabian Webb, kelompok pejuang kemerdekaan MAzzini dan Garibalde dan orang sosialis Alder dan Jean Jaures, orator yang paling ia kagumi. Sudah tentu Karl Marx dan Lenin termasuk yang dibaca dan di kagumi oleh si pelajar. Hayan beberapa orang Asia mempunyai kumpulan orang bernama tenar ini, seperti Sut Yat Send an filusuf India Swansi Nrekanda. Di Surabaya Soekarno menumpang di rumah HOS Tjokroaminoto, pemimpin dari Sarekat Islam. Rupa-rupanya Tjokroaminoto mengunakan dana-dana dari SI, untuk menampung ornag-orang tidak mampu, oleh karena Soekarno bukan satu-satunya tamu dirumahnya itu. Dalam 1921, sekitar 30 orang menumpang di rumahnya dengan membayar uang pemondokan sekedarnya, di samping itu, banyak tamu menginap di sana selama kunjungan mereka di Surabaya. Daftar tamu Tjokroaminoto seperti Who’s who untuk nasionalisme Indonesia. Termasuk diantara mereka, Hendrik Sheevliet, Adolf Baars, Douwes Dekker, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Semaun, Alimin, dan Ki Hajar Dewantara. Dari mereka inilah yang memberi kesadaran politiknya. Pada waktu itu tokoh-tokoh ini mewakili berbagai aliran utama dalam nasionalisme Indonesia. Soekarno diterima oleh Tjokroaminoto pada waktu orang yang disebut belakangan itu belum kehilangan sedikitpun dari respek universal dari penduduk seluruh pulau Jawa terhadap dirinya. Dalam Kongres Nasional Pertama Sarekat Islam pada bulan Juni 1916, ia masih dapat berkata tentang dirinya sendiri, dengan sangat beralasan, “Saya sendirilah orang yang menentukan arah pergerakan kita.” Sikap percaya pada diri sendiri itu juga, diperlihatkannya dalam kongres, di mana pengaruhnya yang menguasai jalannya sidang-sidang dan efek hipnotis dari pidato-pidatonya. Soekarno tidak pernah merasa puas hanya sekedar duduk didepan kaki sang guru, mendengarkan diskusi-diskusi mereka tentang keadaan Indonesia yang gelisah, tentang gerakan-gerakan revolusioner di mana pun, tentang strategi dan taktik dalam situasi setempat. Ia segera memainkan peranannya dalam perdebatan mereka, dan dari diskusi berangsur-angsur bergerak menjadi partisipan yang lebih langsung dalam kegiatankegiatan kelompok, meskipun masih dalam peran yang kurang penting. Langkah pertamanya yang positif sebagai nasionalis aktif di lakukannya dnegan organisasi pemuda ‘ Trikoro Dharmo ‘ cabang Surabaya yang dibentuk tahun 1915 (mengganti namanya pada tahun 1918 menjadi Jong Java) sebagai anak organisasi Boedi Oetomo. Dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, Soekarno berangsur-angsur menjadi sadar akan kemampuan politik. Meskipun sudah memperoleh beberapa pengalaman dalam profesi aktivis politik. Soekarno masih belum lagi tergugah olah keperluan mendesak adanya suatu ideologi yang dirumuskan dengan jelas. Dari gagasan-gagasan hasil bacaan dan mendengarkan mereka yang berkunjung kerumah Tjokroaminoto. Baru mulai tersusun pola yang jelas dan ini belum menariknya untuk merencanakan suatu program tindakan bagi dirinya. Untuk sementara partisipasinya dalam kegiatan nasional semata-mata terdorong oleh semangat berbuat yang mendekati tujuan itu sendiri. Pada waktu itu ia masih sangat tergantung pada orang lain, dan dalam pegertiaan ini memadailah untuk menyatakan periode itu sebagai masa persiapan diri. Bagi Soekarno, Tjokroaminoto tidak hanya menjadi bapak kost dan guru, tetapi juga mertua. Tahun 1919 Soeharseken, istri Tjokroaminoto, meninggal kejadiaan itu 5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

memukul hatinya. Tjokroaminoto meminta Soeakrno untuk menikahi putrinya Siti Oetari yang nasipnya sangat dikhawatirkan oleh sang duda. Soekarno tak mungkin menampik permintaan sang guru yang begitu berarti baginya. Perkawinan pemuda berumur delapan belas tahun dengan pemudi empat belas tahun adalah suatu perkawinan gantung. Perkawinan itu jelas bukan berdasarkan saling cinta. Itu lebih merupakan lambing hubungan yang erat Soekarno dengan pelindungnya. Dan perkawinan itu di putus dalam beberapa tahu, setelah hubungan itu makin lemah. Untuk mengatasi kesedihan karena kehilangan Soeharsikin, Tjokroaminoto pindah rumah kejalan Plamjitan dan disana mereka mendapat kabar yang besar. Mertua dan menantu menjadi akrab akibatnya mulai saat itu Soekarno harus membagi waktu antara Sarekat Islam dan pelarana sekolah. Dengan teratur ia diminta tampil menggantikan pimpinan SI ini dan ia juga mulai menulis untuk majalah Sarekat Islam, Oetoesan Hindia. Soekarno terbilang aktif menulis di majalah Sarekat Islam ini. Waktu sSoekarno duduk di kelas terakhir HBS, Soekarno mestinya menjadi agak terasing di sekolah. Pada umur sembilan belas, dua puluh tahun, ia sudah menikah dan aktif pula dalam dunia politik. Ia seharusnya makin lama makin merasa jauh dari temanteman sekelasnya yang umurnya rata-rata dua tahun lebih muda dari Soekarno, masih belum memikirkan apa-apa. Satu-satunya tujuan Soekarno adalah meraih ijasah HBS Tanggal 10 Juni 1921 ia maju ujian akhir dan lulus. Dimulai dengan ujian tertulis pada bulan April dan ujian lisan di bulan Mei, seharusnya yang diujiankan liam belas mata pelajaran kenyataannya bahwa ia berhasil menyelesaikan HBS dalam waktu lima tahun dengan semua kegiatan sampingannya membuktikan bahwa ia murid cerdas. Sebagai siswa HBS yang begitu sadar politk ternyata Soekarno memilih kuliah di Sekolah Teknik Tinggi (THS) di Bandung. Ada tahun 1921, Sekolah Tinggi Teknik hanya satu-satunya perguruaan tinggi di Hindia Belanda. Alternatif yang lain adalah pergi berlayar ke negeri Belanda seperti yang dilakukan oleh Mohhamad Hatta dan Sutan Sjahrir. Ibunya kurnag berkenan putra pergi berlayar ke negeri si penjajah yang mat ia benci. Ayah Soekarno mungkin saja bangga sekali andai kata putranya berhasil meraih gelar pada Universitas ternama di Leiden, bukankah disana banyak priyai tinggi mengejar ilmu. Bisa jadi, Raden Soekemi yang hebat itu memandang kurnag perlu mengeluarkan unag begitu banyak sehingga studi ke laur negeri ia anggap terlampau memberatkan. Berdirinya Sekolah Teknik Tinggi Bandung merupakan sedikit proyek di Hindia Belanda yang ditangani secara bersemangat sehingga sukses. J.W. Ijzerman, J.Th. Geerling, dan H. Loudon yang menyadari betap kurang tenaga Teknik di Hindia Belanda di Negeri Belanda, yang bertujuan mendirikan Sekolah Tinggi Teknik di Indonesia. Untuk mempercepat prosesnya di Hindia Belanda, didirikan dewan pengurus di bawah pimpinan Ijzerman (ketua/dan R.A van Sandich sebagai sekretaris. Tahun 1919 berkat sumbangan para sponsor dikalanagn industriawan dan dunia usaha, terkumpul uang sebanyak tiga setengah juta gulden. Rencana bangunan Sekolah Tinggi Teknik itu bisa langsung dimulai dan pemerintah kotamadya Bandung menyediakan areal tanah seluas tiga puluh hektar di sebelah utara kota untuk proyek ini. Arsitek terkenal H. Machie Pont setuju untuk merealisir gambar paviliyun dan dua aula dengan gaya bangunan Minangkabau. Sebagai pengganti acara peletakan batu pertama, pada 4 Juli 1919 mereka menanam empat pohon asam yang menjadi permulaan taman Ijzerman. Satu tahun kemudia, pada 5 Juli 1920, dua tahun lebih cepat dari yang direncanakan, Sekolah Tinggi Teknik Bandung dibuka oleh Gubernur Jendral van Lumburg Strirum. 6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Para pengambil inisiatif berdirinya Sekolah Tinggi Teknik Bandung ini tidak semata-mata digerakkan keinginan untuk membela kepentingan dunia usaha Hindia Belanda, tetapi juga oleh idealisme. Van Sandick memberi kesaksiaan tentang hal ini dalam pidato pembukaannya, dengan mengatakan bahwa Sekolah Tinggi Teknik sebagai Satu langkah di jalan menuju kedewasaan Hindia Belanda dan ia mengutarakan harapannya agar ‘terutama juga anak-anak pribumi berbakat mau mempersaipkan diri untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Teknik ini. K.A.R Boscha yang menjadi motor penggerak di belakang usaha-usaha mencari sponsor yang yang kemudian menajdi kurator presiden adalah pengusaha kebun the yang terkenal dan atas jasanya para bangsa dan rakyat Indonesia – patung Boseha masih terpampang di ruanng kuliah Institus Tehnologi Bandung. J. Klopper yang bertubuh ramping dan bersifat halus ini menetukan sebagian besar suasana di Sekolah Tinggi Teknik yang baru ini. Bandungyang dijuluki Paris van Java adalah suatu kota yang menyenangkan dan indah. Dengan ketinggian tujuh ratus meter di atas permukaan laut ia mempunyai iklim yang mirip iklim Laut Tengah. Lebih dari separuh areal kota terdiri dari perumahan villa, menanjak dilereng-lereng bukit disebelah utara jalur kereta api kea rah Lembang. Daerah perumahan villa ini kebanyakan di huni oleh orang-orang Belanda yang besar jumlahnya di Bandung. Di sebelah selatan jalur kereta api terletak pusat kota dengan hotel-hotel leks seperti Savoy Homan, alun-alun yang teduh dan jalan-jalan penuh toko, restoran dan bioskop. Lebih jauh keselatan kampong-kampung penduduk pribumi. Walau dibangun lebih padat dari pada daerah villa, kampong-kampung pada waktu itu masih tampak hijau. Ibu kota daerah Priagan ini masih memiliki daya tarik lain : wanita-wanita Sunda untuk berkulit bersih dan berbadan ramping. Si calon mahasiswa Soekarno juag tertarik pada wanita-wanita Sunda. H.O.S Tjokroaminoto menitipkan surat pada sang menantu sepucuk surat untuk kenalannya dari Sarekat Islam yang bernama Haji Sanusi, yang menjadi pemilik toko bangunan yang berhasil di Jalan Kebon Jati di pusat kota Bandung. Di dalam surat ini Tjokroaminoto meminta bantua Sanusi untuk mencarikan kamar bagi menantu dan putrinya. Selagi Sanusi membaca surat itu Soekarno melayangkan pandangannya kedalam kamar dan di dalam cahaya remang-remang tampak sosok wanita yang dikelilingi oleh terang cahaya. Bertubuh langsing kecil dengan kembang merah di rambutnya dan senyumnya yang menyilaukan mata. Inilah Inggit Garnasih, istri Sanusi. Haji Sanusi spontan ia menawarkan kamar depan di dalam rumahnya yang besar kepada si mahasiswa yang menikah dengan putri temannya di Surabaya Soekarno setuju. Perkenalannya dengan Inggit Garnasih mempunyai arti penting tersendiri dalam kehidupan Soekarno kemudiaan. Istri Sanusi, adalah wanita yang lebih muda dari pada suaminya. Ketika itu Inggit sekitar 30 tahun, seorang wanita yang sungguh menarik, yang tentunya sangat menggetarkan jantung seorang muda yang sedang dirumdung frustasi, terikat oleh kawin gantung. Setelah satu bulan studi, Soekarno memperoleh kabar yang agaknya menggalkan semuanya : studi, cinta bagi Inggit yang baru mulai bersemi, serta kehidupan yang nyaman dari Paris van Java. Dalam bulan Agustus 1921 atas tuduhan sumpah palsu Tjokroaminoto dimasukkan dalam tahanan sementara oleh polisi Surabaya. Ia dituduh berbohong dengan keterangannya bahwa Sarekat Islam tidak terlihat dalam pemberontakan berdarah dua tahu itu di Garut. Tidak bisa diperkirakan untuk berapa lama sang mertua akan di tahan dan apakah ia mendapat hukuman penjara. Soekarno 7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Sebagai menantu, ia ingin memelihara keluarga ynag kehilangan ayahnya itu. Waktu ia memberitahukan niaatnya itu kepada rektor – magniticus, Klepper mendesaknya agar ia tidak memutuskan studi sebelum waktunya. Inggit juga berusaha untuk menahannya. Akan tetapi Soekarno berpendiriaan bahwa ia tidak bisa mengabdikan apa yang ia anggap sebagai tugas keluarga sehingga ia tetap mempertahankan keputusannya. Sekembalinya Soekarno di Surabaya. Soekarno memperoleh pekerjaan sebagai kepala bagian personalia di staaf Spoor en teamwegen (Perusahaan Kereta Api dan Trem Negara). Dari gaji bulanannya sebesar 165 gulden, ia berikan 120 gulden kepada istri Tjokroaminoto yang baru dan sisanya ia simpan sebagai uang saku. Kepada keluarga pengganti ini tidak segan-segan menghukum adik-adik iparnya dengan pukulan sandal. Tetapi ia juga menyelenggarakan acara Sunatan Anwar, pakaian bekasnya ia berikan kepada Harsono dan kadang-kadang ia mentraktir seluruh keluarga nonton bioskop. Sementara Tjokroaminoto di tahan dan Soekarno menggambil tugasnya sebagai kepala keluarga, pertentangan yang Anti dan pro Komunis di dalam tubuh Sarekat Islam akhirnya meletus. Pada suatu kongres luar biasa di bulan Oktober 1921, pejabat ketua Agus Salim, yang biasanya lebih tegas dalam menghadapi inflitrasi kaum komunis ketimbang Tjokroaminoto, memaksa diadakan pemungutan suara tentang disiplin partai. Resolusi ini, melarang keanggotaan ganda Sarekat Islam dan ISDV yang sementara itu sudah bernama PKI, diterima, walau di perotes keras oleh Semaun dan pimpinan baru PKI yang masih muda, Tan Malaka. Ini berarti bahwa para komunis ramai-ramai meninggalkan Sarekat Islam. Mestinya Soekarno menghadiri kongres luar biasa itu mewakili Tjokroaminoto. Bulan April 1922, HOS Tjokroaminoto dibebaskan, menanti naik bandingnya (dan akhirnya dibebaskan dari tuduhan). Soekarno tetap di Surabaya sampai tahun kuliah yang baru, mempertahankan pekerjaan yang menghasilkan gaji bagus itu. Bulan Juni 1922 bersama Utari, Soekarno kembali kekeluarga Sanusi di Bandung. Dan akhirnya ia bisa kuliah. Tjokroaminoto membayar uang kost putri dan menantunya. Disamping itu ia masih harus menanggung uang kuliah sebesar 200 gulden pertahun, uang ujian, uang buku, dan uang baju sang mahasiswa yang tidak sedikit karena ia hanya mau membeli kualitas nomor satu. Raden Soekeni, sang ayah, menunjang putranya. Studi di Sekolah Tinggi Teknik Bandung berlangsung selama 4 tahun, seleksinya ketat. Sesudah tahun pertama dan kedua si mahasiswa harus menempuh ujian tingkat persiapan I dan II, sudah tahun III ujian kandidat dan ke-IV ujian insinyur. Kuliah dan praktikum diberikan mulai pukul tujuh pagi sampai pukul satu siang dan enam hari seminggu. Tahun Soekarno masuk baru ada 37 orang mahasiswa, diantaranya enam pribumi dan dua orang keturunan Cina. Oleh karena jumlah mahasiswa yang terbatas sedangkan korps dosen hanya terdiri dari lima belas maha guru maka tercipta suasana intim. Sekembalinya dari Surabaya, ada perubahan yang berarti dalam dirinya. Pemondokan dan induk semangnya, makin lama makin mesra, sedangkan di lain pihak menurut pengakuan Soekarno sendiri, antara dia dan istrinya yang masih belia itu terjadi hubungan seksual. Soekarno menandaskan bahwa perkawinan gantungnya dengan Utari tidak pernah menjadi hubungan suami-istri dan bahwa mereka bergaul seperti kakak8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

adik. Memoar Inggit Garnasih menyatakan bahwa bersama-sama mereka memutuskan untuk menyuruh Utari tidur bersama kemenakan Inggit yang tinggal di rumah keluarga Sanusi dan yang menjadi teman bermain Utari. Hampir setiap malam Sanusi yang pergi main billiar dengan Utari atau – begitu perkiraan Inggit - mengejar perempuan. Biasanya Soekarno dan Inggit sendirian di rumah dan pada suatu malam hubungan mencapai klimaksnya – sebagai mana pengakuan Soekarno. Permulaan 1923 Soekarno memutuskan untuk menceraikan istrinya yang masih gadis, yang dalam hukum Islam, cukup dengan mengucapkan Talak dan memulangkannya kepada ayahnya. Tidak lama kemudian Sanusi setuju menceraikan istrinya Inggit Garnasih dan Soekarno menikah pada tanggal 24 Maret 1923 dan dihadiri oleh ibunda Inggit yang bernama Asmi. Pada waktu itu Soekarno belum berumur 22 tahun dan Inggit Garnasih yang sudah berumur 36 tahun. Untuk sementara waktu kedua suami – istri ini menyewa rumah di gang Jaksa. Sesudah itu, mereka mendapat pemondokan sementara di gang Delapan. Soekarno dan Inggit Garnasih untuk waktu yang lama merupakan pasangan yang rukun Inggit sering mendampinginya dalam rapat-rapat dan diskusi-diskusi dengan mahasiswa-mahasiswa lain atau dengan tokoh-tokoh politik Bandung. Ia ialah wanita sederhana, lincah dan sampai batas-batas tertentu hidup dalam kepercayaan yang magis. Salah satu minatnya adalah membuat jamu, ramuan yang dibuat sebagai kosmetika yang memiliki daya menyembuhkan. Pasti Inggit mendukung Soekarno secara emosional, dalam ingatan rekan-rekan yang mengenal Soekarno pada waktu itu, dukungan Inggit sangat penting baginya. Soekarno muda menentang kolonialisme dan imprialisme. Keduanya melahirkan struktur masyarakat yang eksploitatif. Tiada pilihan lain baginya selain berjuang untuk menentang keduanya. Kritiknya terhadap kolonialisme dan imprialisme dihadapan kerumunan orang banyak di alun-alun diberitakan surat kabar dan sampai keruangan Sekolah Tinggi Teknik. Sesuai tugas yang ditetapkan dalam tata tertib Universitas, Klopper memangil Soekarno. Rektor – Magnificus bertubuh kecil dengan raut muka serius itu memang benar figur kebapakan. Dengan rasa yang mendekati kesedihan ketimbang kemarahan, Klopper menyatakan bahwa ia tidak mau melarang mahasiswanya untuk mempunyai keyakinan politik, tetapi di atas segala-galanya mereka harus memikirkan studi. “Tuan”, jawab Soekarno. “Saya tidak akan mengabaikan kuliah-kuliah yang Tuan berikan di sekolah”. Bukan itu yang saya minta, “Sanggah si professor”. “Tetapi hanya itu yang dapat saya janjikan, professor”, jawab Soekarno lagi. Tekat belajar memang diperlukan di Sekolah Tinggi Teknik Bandung. Untuk ujian persiapan I dan II mahasiswa harus menempuk 13 Sentamen, untuk ujian kandidat sembilan dan untuk ujian insiyur, enam mata kuliah yang besar dan di tambah satu kertas kerja. Ujian persiapan I yang dimaksud untuk membedakan mereka yang mampu dan yang tidak, menggugurkan banyak calon. Tahun 1923, setelah absen setahun karena harus ke Surabaya sekali lagi Soekarno maju ujian persiapan, empat belas dari empat puluh gagal. Dalam masa libur sekalipun para mahasiswa tidak libur, para mahasiswa harus mencari pengalaman praktek di proyek PU sebagai mandor istimewa. Jelas Soekarno tak mempunyai waktu untuk melakukan agitasi politik, andaikatapun pimpinannya mengijinkan. Suatu masih sekolah di HBS, Soekarno membaca apa saja yang bisa peroleh. Barang kali di Bandung Soekarno bisa memilih-milih pengetahuan yang ia 9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

peroleh dari bacaannya di Surabaya. Orang yang membantunya dalam hal ini adalah D. M. G. Koch. Marcel Koch tumbuh dalam keluarga Marxis tetapi lambat beralih menganut aliran sosialisme yang demokratis dan menjadi anggota ISDV. Tahun 1923 Koch mendapat pekerjaan sebagai pegawai perusahaan Departemen Perusahaan Negara. Sesudah berkenalan dengan Koch, Soekarno sering mengunjunginya dirumahnya di jalan Pepandaian yang tidak jauh dari Regentsweg, Soekarno suka mendengarkan lagu Negro spritual dan Koch punya koleksi besar piringan hitam dengan lagu-lagu jenis ini. Dengan teratur ia meminjam buku yang kebanyakan karangan tentang Sosialisme dan politik. Perceraian dengan putrinya dan keberadaannya di Bandung merupakan pertanda Soekarno menjauhkan diri dari sang guru. Tidak diragukan nasib Tjokroaminoto itu sendiri. Ia baru saja kehilangan pengaruhnya atas Sarekat Islam ketika memunjaknya perpecahan antara sayap kanan dan sayap kiri partai, dan karena pusat grafitasi partai pindah dari Surabaya ke Yogyakarta, tetapi kekuatan gerakan itu sendiri dengan tajam telah merosot sesudah Afdeling B Affair. Perpecahan dengan PKI mempervepat keruntuhan ini dan dalam tahun-tahun berikutnya telah terjadi persaingan yang kekaras antara kedua partai itu untuk menguasai cabang-cabang setempat. Menjelang tahun 1923 untuk selama-lamanya Sarekat Islam kehilangan kepemimpinan dalam gerakan nasionalisme dan Tjokroaminoto sendiri bukan lagi tokoh sentral gerakan itu. Sekarang Tjokroaminoto sudah tidak lagi dan tidak mungkin lagi menjadi tokoh sentral dalam pemikiran Soekarno, baik politis maupun pengaruh pribadinya. Soekarno sudah berada dalam suatu lingkungan baru dan di kelilingi aktifitas-aktifitas baru. Perencanaan pernikahannya kembali, perubahan dalam situasi politik dan peluang-peluang yang terbuka baginya dalam kehidupan di Bandung, semuanya memupuk untuk memudahkannya melangkah lebih maju di sepanjang jalan kebebasan kepribadiaannya sendiri. Di Bandung berlaku semangat yang lain, Soekarno dapat merasakan hal ini, umpanya, dalam suatu ceramah malam hari dalam bulan Maret 1923, di mana, di mana ia apsti hadir, dan dimana berbicara, atas undangan seluruh organisasi mahasiswa TAO (TerAlgemeene Ontwikkeling), J.E Stokvis, seorang Sosial demokrat dan kawah separtai dari C. Hartogh, dan pembela yang tak dikenal lelah dari kepentingan-kepentingan Indonesia dalam voksraad. Stokvis berbicara tentang hubungan-hubungan kolonial, terutama aspek psikologisnya. Ia memberikan suatu gambaran yang objektif mengenai perbedaan yang ada – keangkuhan di satu pihak, dan sikap budak di pihak lainnya – yang tidak mengecualikan siapa pun. Orang-orang Eropa didorong ke kedudukan sebagai tuan begitu mereka tiba, dan terserah kepada mereka untuk menghapuskan rintangan itu melalui segala bentuk bantuan yang mungkin. Selain itu, setiap orang Eropa “harus berusaha sedemikian rupa, sehingga ia tidak akan diperlukan lagi dalam waktu yang secepat mungkin”, harus bersuhan sedemikian rupa, sehingga ia tidak akan diperlukan lagi dalam waktu yang secepat mungkin”, karena hubungan kolonial itu tidak adil, baik dalam teori maupun dalam prakteknya. Bagi Soekarno, nada yang sama telah diperdengarkan sebelumnya oleh Hartogh, dan dalam anti tertentu juga oleh Tjokroaminoto, dan orang yang sama-sama menyerukan pemberiaan bimbingan oleh orang-orang. Tetapi pada malam hari itu, di Bandung, ceramah Stokvis itu dilanjutkan dengan kritik. Salah seorang yang hadir menyatakan sama sekali tidak setuju dengan bimbingan orang-orang Eropa, karena Eropa sudah merupakan tahanan kapitalisme, dan kapitalisme 10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

tidak mampu memberikan kehidupan yang bagaimana pun. Sambil berpaling pada para mahasiswa yang hadir, Dauwes Dekter pada akhirnya berseru kepada mereka agar tidak terlalu tenggelam dalam studi mereka dan memberikan perhatian yang lebih besar kepada usaha kepada kepada usaha membebaskan negeri mereka. Douwes Dekter adalah pendiri Indische Partij yang revolusioner, dan yang untuk pertama kalinya, lebih dari sepuluh tahun sebelum itu, telah membuat slogan “Merdeka dari Belanda” menjadi program partai. Tidak lama setelah itu ia di buang, bersama-sama denngan Tjipto Mangungkusumo dan Suwardi Surjaningrat, karena telah mengumumkan tujuaan itu kepada publik. Soekarno yang hadir pada kongres PKI di Bandung 1923 dan berpidato membela Tjokroaminoto terhadap serangan Haji Misbach alias Haji Merah yang dikenal sebagai tokoh bersemangat. Ia pernah menjadi anggota partai “Insulinde” yang sebagiaan besar anggotanya terdiri dari Indo-eropa dan seorang penganjur perlawanan kekerasan terhadap perlakukaan-perlakuaan yang bersifat feodal. Ia terutama terkenal oleh usaha-usahanya untuk menunjukkan kaum Marxis dan Islam. Pada kesempatan ini semangatnya yang berkobar-kobar itu menemukan tandingan pada diri Soekarno dan pembelaan Soekarno atas Tjokroaminoto menyebabkan Haji Misbach akhirnya minta maaf. Melalui kegiatan seperti ini berangsur-angsur Soekarno memperluas hubungannya dengan tokoh-tokoh gerakan nasional di Bandung. Di sisni berbeda dari dunia yang di jumpainya di Surabaya. Di sekitar tahun 1920-an itu Bandung cepat berkembang menjadi pusat pemikiran dan gerakan nasionalis. Gagasan-gagasan yang lahir di kota ini berwatak radikal, tetapi kurang bersifat ideologis dari yang disajikan Sarekat Islam maupun PKI. Gagasan-gagsan itu menekankan kemerdekaan penempaan suatu bangsa Indonesia, tetapi kurang memeberi perhatiaan pada bentuk masyarakat atau sifat negara merdeka yang akhirnya akan muncul itu. Suasana inteltual Bandung dengan demikian berbeda secara menyolok dari suasana Surabaya yang di tinggalkan Soekarno sesungguhnya sangat menarik untuk diketahui, seberapa jauh kegiatan politik Indonesia. Sepanjang seluruh periode ini bergeser menjadi persaingan antara pusat-pusat kota utamanya. Dari tahun 1916 sampai 1921, persaingan ini terjadi antara Surabaya markas besar Sarekat Islam dan Semarang sebagai pusat alam pikiran Marxis. Dari tahun 1921 sampai 1923 sayap moderat Sarekat Islam di Yogyakarta semakin bertambah penting dan suatu perimbangan hubungan segitiga telah tercipta antara Yogyakarta, Surabaya dan Semarang. Tetapi di Bandung memantapkan peranannya menjadi suatu pusat alam pikiran nasionalisme sekuler, dan ditengah-tengah inilah Soekarno bergerak, di lingkungan suatu kelompok kecil yang aktif mengambil bagian dalam pelbagai diskusi tentang hakekat situasi kolonial, landasan kekuasaan Belanda dan pilihan cara yang dpat digunakan untuk mengerahkan tantangan terhadap kekuatan itu. Ia jug abersahabat dengan Dauwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo,dan Ki Hajar Dewantara. Mereka bertiga inilah yang membentuk Indische Party yang berusaha meletakkan dasar kerjasama antara Indo-Eropa dengan penduduk asli Indonesia. Kehidupan dan pemikiran tokoh-tokoh ini berpengaruh penting terhadap seluruh situasi Hindia, dan cara yang mungkin dapat di tempuh untuk mengubahnya, yang secara fundamental jauh berbeda dari pemikiran para pemimpin yang sejauh itu sudah dikenal Soekarno. Meskipun Dauwes Dekker mempunyai hubungan rapat dengan Sarekat Islam dan para pemimpin Komunis, ia menolak dasar Islam dan doktrin Sosialisme yang ketat. Dasar pemikirannya adalah suatu bangsa merdeka, multi-rasial dalam komposisinya 11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

tetapi terikat pada kesetiaan terhadap tanah airnya dan bersedia berjuang demi kemerdekaannya. Mendirikan suatu bangsa seperti itu dalam pandangannya lebih penting daripada perinciaan struktur sosialnya. Pedek kata, Douwes Dekker adalah seorang nasionalis sekuler menjadi pemikiran utama dalam pemikiran nasionalisme Indonesia. Meskipun impiannya tentang persekutuaan Indo-Eropa dan Indonesia mengalami kegagalan; pantulan gagsannya tercermin dalam kegiatan politik Soekarno dalam tahuntahun 1920-an akhir. Berkaitan dengan persoalan Nasionalisme, Soekarno tentu saja tidak melupakan perdebatan antara Tjipto Mangunkusumo dan Sutamto Suryukusumo, yang menyertai pembukaan sidang pertama Volksraad pada bulan Maret 1918. Barangkali inilah perdebatan pertama kali yang paling dalam pada masa itu di antara para pemimpin dan cendikiawan Indonesia mengenai cita-cita dan lingkup nasionalisme yang akan diwujudkan bagi Indonesia dimasa sesudahnya. Perdebatan terjadi ketika pergerakan yang sedang berada pada suatu titik yang menentukan. Dalam debat itu Sutamto mengajukan argumen untuk mendukung pilihan dirinya dan kaum priyayi Jawa umumnya terhadap apa yang mereka namakan ‘Nasionalisme Jawa’ Menurut pandangannya, suatu bangsa seharusnya dapat dan dibangun atas landasan bahasa serta kebudayaan. Nasionalisme Jawa mempunyai landasan kebudayaan, bahasa serta sejarah yang sama dari suku Jawa. Karena itu hanya nasionalisme Jawa yang memiliki landasan yang kuat, tempat orang Jawa dapat membangun masyarakat politiknya di masa depan. Dengan pemikiran seperti, Sutamto mencela gagasan Tjipto Mangunkusumo tentang ‘nasionalisme Hindia’ karena dianggap tak mempunyai landasan kebudayaan, atau paling-paling merupakan produk pemerintah kolonial Belanda. Sutamto menganngap nasionalisme Jawa merupakan alat ekspresi dari orang Jawa, sednagkan nasionalisme Hindia pada Indische Party dan Islamisme pada Sarekat Islam hanyalah merupakan reaksi tehadap penajahan Belanda atas Hindia. Para priyayi Jawa waktu itu memang mencoba menghidupkan kembali kbesaran kerajaan-kerajaan Jawa masa lampau dengan memproyeksikan dalam pengertiaan nasionalisme modern. Para nasionalis Jawa ini, bukan saja menentang gagasan tentang nasionalisme Hindia yang dianjurkan Tjipto, mereka juga menetang suatu nasionalisme yang coba dibangun atas landasan penggabungan berbagai suku lainnya di Indonesia. Sutamto menyatakan hal tersebut. Dan tinggallah kaliaan di Sumatra. Dam kalian di Ambon sana. Hanya dengan cara ini persahaban kita akan dilestarikan. Apabila kita tinggal dalam rumah tangga kita besama dan menyelenggarakan urusan rumah tangga kita bersamasama, tidak ada yang bagus yang bisa diharapkan dari sana. Selera kita masingmasing berbeda, kebudayaan kita sama sekali berbeda. Pemikiran tentang nasionalisme Jawa yang didasarkan pada kebudayaan serta sejarah masa lampau itu tentu saja mendapat reaksi yang cukup keras dari berbagai pihak. Reaksi ini bukan saja datang dari Tjipto Mangungkusumo, melainkan juga dari kelompok cendikiawan diluar pulau Jawa. Reaksi itu dapat dilihat misalnya sekelompok mahasiswa STOVIA asal sumatra (terutama Minagkabau). Pada tahun 1917 mendirikan Jong Sumtiaten Bond, untuk 12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

mempersatukan semua mahasiswa asal Sumatra, senyebar luaskan bahasa-bahasa Sumatra dan kebudayaannya, serta untuk menampilkan sikap terhadap tuntutan yang tak bisa di ingkari kepada semua anggota, agar ia sadar sebagai orang Sumatra. Organisasi ini tidak mengklaim, seperti banyak kaum nasionalis Jaw, bahwa Sumatra sudah menjadi suatu bangsa atau bahwa kepentingan-kepentingan mereka bertabrakan dengan nasionalisme Hindia. Slogam yang utama organisasi ini sederhana saja yaitu bahwa persatuaan adalah kekuatan : “Hanya Samatra yang dpat menjadi-menjadi kebesaran Sumatra”. Bagaimanapun seperti nasionalisme Jawa, ia juga beranggapan bahwa identitas kultural merupakan hal penting sebagai isi dari segala bentuk pergerakan nasional”. Aktivitas pertama dari banyak aktivitas yang didaftarkan dalam anggaran dasarnya adalah ‘Belajar dan berlatih sejarah, bahasa, kebudayaan, serta seni Sumatra”. Kembali kepada debat Tjipto – Sutamto, Tjipto mengajukan pemikirannya mengenai nasionalisme Hindia ynag dianggap lebih masuk akal untuk diperjuangkannya perwujudannya dibandingkan nasionalisme Jawa. Dalam pandangan Tjipto, suku Jawa telah kehilangan kedaulatannya dan hanya merupakan bagian dari Hindia yang di jajah Belanda. Sekarang tanah air orang Jawa bukanlah Pulau Jawa semata tetapi seluruh Hindia Belanda dan tugas yang dipikul oleh para pemimpin sekarang adalah bekerja untuk nasionalisme Jawa. Lagi pula kebudayaan Jawa sudah berada didalam situasa yang mandek, tidak dinamis. Kebudayaan Hindia adalah kebudayaan baru yan memiliki dinamika, nasionalisme yang seperti itulah yang diperlukan oleh warga Hindia. Evolusi dari nasionalisme Sumatra dan Jawa berkembang kearah yang hampir sama. Mereka menolak nasionalisme Hindia selama tahun-tahun Perang Dunia I, sebagai keinginan asing yang dialami oleh Belanda masing-masing mencari suatu pola identitas dalam bentuk yang berada dalam batas-batas yang sudah dikenal sebagai warga dari sekolah-sekolah serta kota-kota besar yang terdiri atas banyak golongan suku, mereka masing-masing merasa berkewajiban keluar lebih jauh dari kelompok bahasa suku tertentu, kepada batas-batas baru yang lebih rasional dari semua pulau yang ada. Sekali langkah ini diambil, tak ada jalan lagi untuk kembali. Upaya-upaya baru pada tingkat kultural ternyata tidak mungkin, sementara minat para pemikir yang lebih muda baik di kelompok Sumatra maupun Jawa semakin terarah kepada masalah-masalah ekonomi dan politik. Ini adalah dasar yang mempersatukan mereka, karena peralihan perhatian yang terjadi pada pertengahan tahun dua puluhan pada gerakan untuk mempersatukan kelompok-kelompok pemuda daerah dalam satu federasi Indonesia, perhatiaan kepada persoalan yang lebih besar bersifat memecah belah mengenai identitas sejarah cenderung tersingkir ke belakang. Perkembangan di Hindia Belanda menjadi perhatian di kalangan mahasiswa.mahasiswa Indonesia di negeri kincir angin yang sedikit jumlahnya dan yang bergabung dalam Perhimpunan Indonesia. Ia semula dibentuk pada tahun 1908, sebagai bentuk federasi yang longgar untuk memperkuat segolongan dan beberapa tahun kemudiaan ia menjadi suatu pencerminan yang sesungguhnya dari pergerakan kaum bumiputra. Ia memisahkan diri dari pendukung-pendukung kerjasama yang lebih erat dengan pemerintah kolonial, dan dengan memilih bagi dirinya sendiri nama Perhimpunan Indonesia. Ia pertama kalinya memperkenalkan istilah Indonesia, yang selama itu digunakan dalam pengertiaan geografis, dan yang kemudiaan digunakan dalam anrti politis untuk menunjuk kepada pulau-pulau di dalamnya. 13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Kebanyakan mahasisiwa tersebut sewaktu tiba dinegeri Belanda, berumur 20 tahun, di mana kesepiaan dan keterasingan budaya merupakan masalah utama yang harus mereka atasi. Untuk mengalau masalah ini mereka salig membina persaudaraan dan saling membantu dan sedikit sekali bergaul dengan mahasiswa Belanda. Para mahasiswa yang membawa serta istri dan anak-anaknya sering mengundang mahasiswa –mahasiswa bujangan untuk makan bersama terhadap tanah airnya sendiri. Perbedaan kedaerahan, kesukuaan dan kekhasan masing-masing mereka yang semula di besar-besarkan untuk keuntungan orang Eropa kini ditempatkan dalam persfekrif baru. Pada permulaan 1925, Perhimpunan Indonesia memperkenalkan ideologi nasionalis yang mencakup Kesatuaan Nasional, Solideritas, Non-kooperasi dan Swadaya (1) Kesatuaan Nasional berarti mengesampingkan perbedaan-perbedaan sempit dan perbedaan berdasarkan daerah dan perlu di bentuk suatu kesatuaan aksi melawan Belanda untuk menciptakan Kebangsaan Indonesia yang merdeka da bersatu; (2) Solideritas : tanpa mempersoalkan perbedaan yang ada antara sesama orang Indonesia, maka perlu disadari adanya pertentangan kepentingan yang mendasar antara penjajah dan yang dijajah dan kaum nasionalis haruslah mempertanyakan konflik antara orang kulit putih dan kulit sawo matang ; (3) Non-Koaperasi. Keharusan untuk menyadari bahwa kemerdekaan bukannya hadiah suka rela dari Belanda tetapi harus direbut oleh bangsa Indonesia dengan menggandalkan kekuatan dan kemapuan sendiri dan culswadaya, dengan mengandalkan kekuatan sendiri perlu dikembangkan suatu struktur alternatif dalam kehidupan nasional, politik, sossial, ekonomi dan hukum, yang berakar kuat dalam masyarakat pribumi dan sejarah dengan administrasi kolonial. Sebenarnya tidak ada dasar pikiran baru dalam ideologi PI ini. Unsur-unsur tersebut dapat ditelusuri kembali dalam organisasi, baik politik maupun hukum, yanh sudah ada pada tahun-tahun sebelumnya, Indische Party misalnya, telah menekankan kesatuaan nasional ; Sarekat Islam telah menekankan perlunya swadaya dan PKI adalah kemampuaan gigih dalam prinsip non-kooperasi dan kemerdekaan. Tetapi PI menggabungkan semua unsur tersebut sebagai satu kebulatan yang padu seperti yang belum pernah dikembangkan oleh organisasi-organisasi sebelumnya. Mahasiswa Indonesia di sini sangat terpengaruh oleh berbagai aliran pikiran yang sednag berkembang di Eropa pada permulaan tahun 1920-an dan terutama kuatnya pikiran-pikiran Marxis-Leninis dan Sosialis. Hanya sedikit sekali yang punya komitmen di Eropah. Mereka yang tertarik pada ajaran Marxis-Leninis tersebut, karena penjelasnnya tentang situasi penjajahan dan filsafat determinis historisnya. Bagi suatu gerakan mahasiswa yang masih goyah identitas pribadi dan identitas nasionalnya maka ideologi Marx-Leninis tersebut dapat menjadi tempat berlabuh akan ideologi pengikat yang memungkinkan mereka untuk berlindung, walapun untuk sementara, dari goncangan spiritual dan intelektual yang sedang mereka alami. Sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Bandung, pemikiran politik Soekarno mulai tersusun secara teratur. Bacaannya mengenai sejarah sosialisme Eropa dan pengalamannya di Surabaya telah memberi kepadanya pengertiaan-pengertiaan teoritis dan praktis terhadap bahaya perpecahan. Karnea itu pemikirannya dipusatkan pada masalah terjaminnya persatuaan dan perumusan secara tepat unsur-unsur perjuangan yang dibutuhkan persatuan itu. Dari Tjokroaminoto ia belajar ia belajar tentang pelaksanaan kerukunan dan dari Ki Hajar Dewantara ia meminta gagasan sintesis aliran pikiran Barat dan tradisional. Meskipun Soekarno tidak menerima teori Marxis secara 14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

keseluruhannya, Marxisme dan Alimin dan Semaun telah memberinya sekurangkurangnya beberapa persepsi tentang imprealisme sebagai sistem kekuasaan, suatu tanggapan yang tidak mengandung kemungkinan untuk mendapatkan konsesi-konsesi otonom murni dari Belanda untuk Hindia, dan menuntut keharusan perlunya perjuangan. Marxisme juga memberikan teknik analisis perkembangan masyarakat. Dari Tan Malaka ia menghayati suatu romantika dan barangkali juga sifat keserba-kemungkinan suatu revolusi. Dari Dauwes Dekker, ia memtik pelajaran revolusi nasional, dengan menyingkirkan semua pertimbangan kemungkinan konflik dalam masyarakat, dan mempersatukan rakyat Hindia ke dalam suatu keseluruhan. Kehidupan politik yang dialami oleh Soekarno selama masa kemahasiswaannya di Bandung sebagiaan terdiri dari pertemuan-pertemuan dan rapat-rapat sejenis yang dislenggarakan oleh kosentrasi radikal, sebagiaan lagi lewat hubungan lewat berbagai organisasi dengan Sarekat Islam, dengan Jong Java (yang diketuainya untuk Bandung) dan organisasi lainnya, tetapi lebih khusus ialah diskusi politik dalam kelompokkelompok kecil yang tertutup. Dalam lingkungan seperti inilah Soekarno dipengaruhi oleh Tjipto dan Duewes Dekker. Berangsur-angsur rumahnya menjadi pusat pertemuaan dan perdebatan di anatara aktivis politik terkemuka di Bandung. Ia berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa yang baru pulang dari luar negeri, dan yang sudah tidak sabar untuk memainkan peranan dalam pergerakan politik di tanah airnya. Dalam lingkungan ini gagasan-gagasan yang mulanya bersifat umum mulai memperoleh bentuknya sendiri. Dan Soekarno mulai merasakan jalannya sendiri ke arah perumusannya sendiri tentang gagasan-gagsan itu. Kerterlambatan Soekarno mencapai kedewasaan politik sebagiaan disebabkan oleh keadaan. Ketika Soekarno menjadi mahasiswa, gerakan nasionalis terutama di wakili oleh golongan Marxis dan golongan Islam. Lingkungan ini mempunyai arti penting dalam tempramen politik Soekarno dan memberikan kepadanya suatu wawasan tentang hakekat kehidupan politik, tetapi ini bukanlah lingkungan yang dapat menjadi tempat baginya untuk bisa memainkan suatu peran sentral. Sebagian daripada kelembagaannya ini disebabkan ketidak pastiaannya tentang ambisi-ambisinya – pendidikan Insinyur membukakan pintu bagi suatu karir dalam dinas pemerintahanan, dan mungkin ia ingin menangguhkan pilihan karirnya. Ia masih harus melibatkan diri ke dalam karir politik. Sesungguhnya sebelum tahun 1926 ia telah berhasil menghayati suatu arti kepemimpinan dan rasa tanggung jawab bersama dalam perjuangan nasional keseluruhannya. “Hasrat yang bernyala untuk membebaskan rakyatku bukanlah hanya ambisi perseorangan. Jiwaku penuh dengan itu. Ia menyelusuri sekujur badanku. Ia mingisi padat lubang hidungku. Untuk itulah orang mempersembahkan seluruh hidupnya. Ia lebih daripada panggilan jiwa. Bagiku ia adalah satu keyakinan “Jelas sekali segi retorikanya, tetapi suatu penilaiaan yang lebih terang akan menunjukkan gaya dan cara yang menjadi kemahirannya serta suatu bidnag pegabdiaan untuk mencapai cita-cita. Gambaran tentang Soekarno muda yang tertarik sebagai peserta muda di pinggir kegiatan nasional yang kemudian dibakar oleh semangatnya dan tertarik oleh romantika revolusi, adalah lebih benar dan tidak kurang harganya dibandingkan dengan gambarannya sebagai seorang nabi yang di ilhami oleh penderitaan rakyatnya yang hanya mengabdikan untuk membebaskan mereka dari penindasan Belanda yang terkutuk itu. Dari campuran berbagai motivasi ini, setelah selesai masa mempersiapkan diri di tahun 1926, akhirnya ia tertarik ke dalam karir politik. 15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Batu loncatan yang dijadikan pangkal tolak melontarkan dirinya kedalam kepemimpinan nasional ialah Algemeene Studie Club (Kelompok Studi Umum) yang turut didirikannya pada awal tahun 1926, tidak lama sebulan ia lulus. Soekarno menjadi sekertaris kelompok studi ini dan menjadi salah seorang penggerak utamanya. Gagasan kelompok studi itu sendiri merupakan bagian dari gejolak yang laus lagi dalam dunia pemikiran politik. Suatu contoh dari perbedaan antara Algenmene Studieclub Bandung dan Indonesiche Studieclub Surabaya tampak dalam sikap mereka terhadap masalah non koperasi. Kelompok Studi pimpinan Sutomo menganggap non koperasi sebagai senjata taktis utuk sesekali digunakan sehingga akhirnya Belanda akan terpaksa memenuhi tambahan orang-orang Indonesia untuk ikut memikiul tanggung jawab, dan dengan demikiaan memajukan prinsip kerjasama yang sejati. Tetapi kaum radikal di Bandung mengambil sikap yang berbeda sekali. Berbicara dihadpan pemuda-pemuda Indonesia pada awal April 1926, Mr. Iskag sebagai ketua Algemeene Studie Bandung, menerangkan bahwa sekarang bukan saatnya lagi untuk minta-minta kepada pemerintah : hal itu sudah berlangsung cukup lama. Satu-satunya senjata yang masih ada pada orangorang Indonesia adalah non koperasi, dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuaan mereka sendiri. Pada bulan Juli 1926 Soekarno maju ujiaan Insiyur. Soekarno bisa menyelesaikan studi yang berat ini dalam lima tahun. Hasinya di umumkan di aula besar universitas. Mereka yang lulus sebagai Insiyur sipil di arak keged perkumpulan korps di mana minuman keras mengalir bebas. Soekarno tidak pernah minum setets alkohol. Agaknya ia melanjutkan berpesta sendiri di rymah, dengan teman-teman pribuminya dari kelompok studi umum. Mereka merayakan dengan mengadakan selamatan dengan nasi kuning. Pada saat itu dengan bangga Soekarno menyebut dirinya Raden. Ir. Soekarno. Dengan gelar Isiyur ini dunia lebih terbuka bagi Soekarno, baik di Indonesia maupun di negeri Belanda, sebagai pegawai pemerintah atau dalam dunia usaha. Ia ternyata akan memilih jalan lain. Mahaguru Schoemaker, yang menganggap Soekarno sebagai murid pandai, menawarkan Soekarno sebagai asisten dosen di alma maternya. Tawara arisetek papan atas di kota kembang tentu saja merupakan suatu kehormatan bagi seorang muda yang baru lulus, tetapi untuk sementara waktu kegiatan itu akan menghasilkan uang, Soekarno menolak. Schoemaker juga membantu mencari pekerjaan di Pekerjaan Umum. Soekarno sadar bahawa sebagai pegawai baru diperusahaan negara, ia harus mulai dari bawah dan bekerja di bawah atasan-atasan Belanda yang menurutnya belum tentu mempunyai kemampuaan yang diperlukan. Justru Soekarno bersama Anwar teman-temannya yang juga baru lulus mendirikan Biro sendiri pada 26 Juli 1926. kantor itu terletak di Bandung Selatan, yaitu di jalan Regentsweg nomor 22. Soekarno dan Anwar membuka biro itu di tingkat bawah, Soekarno dan Inggit menempati tingkat atas. Biro teknik itu tidak berlangsung lama sebab mereka berdua lebih mencurahkan waktu dan tenaga ke dalam aspirasi-aspirasi politik mereka ketimbang kegiatan-kegiatan yang menyangkut biro mereka. Untuk mencari uang tambahan, Soekarno menjadi guru sejarah dan ilmu pasti di Institut Kesatuaan milik Douwes Dekker di jalan Kebon Jati Bandung. Karirnya sebagai guru hanya bisa dipertahankan beberapa bulan. Soekarno bercerita bagaimana suatu 16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

ketika, waktu ia sedang mengajar sejarah, seorang inspektur pendidikan ikut duduk didalam kelanya dan memperhatikannya selama dua jam Soekarno sedang menerangkan konsep imprealisme kepada anak didiknya diantaranya putra Tjokro yang bernawa Anwar – dan dalam pada titik itu memberikan gambaran yang mengerikan tentang kolonialisme Belanda. Waktu pelajaran usai inspektur tadi menerangkan kepadanya bahwa ia salah pilih pekerjaan. Itulah akhir kariernya dalam dunia pendidkan”. Demikiaan cerita Soekarno. Mereka yang aktif di kelompok Studi Umum, berpendidikan Barat. Mereka bukanlah orang-orang yang takut akan jaminan sosial ekonomi dirinya di bawah pemerintahan kolonial, karena mereka dapat saja memegang jabatan pemerinatahan apabila mau. Pada umumnya mereka berasal dari golongan priyai rendahan, anak orangorang yang bekerja di pemerintahan Hindia Belanda. Banyak diantara keluarga mereka berkorban untuk pendidikan mereka, dan terkejut dengan sikap non koperasi tersebut. Harapan orang tua mereka agar anak-anaknya, melalui pendidikan akan mendapatkan posisi yang terhormat, tak dapat mereka percayai, bahwa anak-anaknya akan membelakangi hal ini, demi untuk cita-cita. Mereka hanya sedikit sekali mengerti tentang arah pribadi yang telah dipilih oleh anak-anaknya. Arah ini yang memisahkan mereka dari keluarga, anak yang terumuskan lewat ide-ide dan prinsip-prinsip Barat ; dalam kehidupan Indonesia beberapa generasi sebelumnya. Mereka ini secara sadar telah memilih kehendak menentang pemerintah kolonial dan memperjuangkan masa depan Indonesia yang bebas, dan mereka bisa merealisasikan gagasan dan kesanggupan yang ditanamkan Barat di dalam diri mereka. Mereka terutama prihatin dengan adanya dualisme rasial dalam kehidupan Hindia Belanda, merasa hal ini sebagai penghinaan kepada mereka, dan kepada bangsa Indonesia umunya. Lebih jauh mereka sanggup melakukan apa saja yang sekarang di lakukan oleh orang Eropa untuk mereka. Mereka tak lagi memerlukan tuntutan, mereka mau memimpin. Nereka membenci dualitas kehidupan Indonesia selama mereka tidak bisa menghancurkan dualitas ini dan ikatan kolonial tempatnya berpijak, sekurang-kurangnya, mereka hendak memperhatikan kehormatan dan menolak segala bentuk hubungan dengan pemerintah yang ada. Dalam membantu melancarkan pekerjaan Kelompok studi Umum, Soekarno berusaha untuk memimpinnya dari suatu titik tolak baru dalam perlawanan Indonesia melawan kekuasaan kolonial. Ia melihat gerakan kemerdekaan terpecah-pecah disekitarnya. Bentrokan antara PKI dan Sarekat Islam adalah satu contoh dari sifat perpecahan itu. Di luar Sarekat Islam masih ada kelompok yang lebih kecil dan berdasarkan pada kesatuaan suku – Jong Java, Pasundan, Jong Sumatra, dan terbelahbelahnya organisasi ke agamaan Islam dan Kristen. Soekarno menyesali perpecahanperpecahan ini. Ia melihat keharusan untuk bersatu dan mulai menitis jalan kearah pembentukan suatu organisasi massa yang mencakup keseluruhannya, sebagai sarana untuk mengembangkan kekuatan yang mampu menantang kekuatan rezim kolonial. Cara tepat melakukan hal ini masih harus digarap secara terperinci. Soekarno sudah dapat menanggapi gagasan sentral bahwa suatu konsep nasionalisme yang diolah kembali dan dipertajam mungkin dapat digunakan untuk menarik semua lapisan masyarakat Indonesia yang sadar politik. Nasionalisme adalah suatu istilah yang mempunyai makna berbeda-beda bagi berbagai bangsa. Dalam pikiran Eropa, nasionalisme mempunyai kaitan dengan 17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

kedaulatan rakyat dari pikiran revolusi Prancis. Di Asia dan Afrika, nasionalisme adalah hati dari masyarakat yang bergejolak. Bagi mereka nasionalisme itu muncul sebagai suatu gagasan yang mempersatukan, yang berangsur-angsur menjadi penting, sedangkan nilainilai yang lazim tampaknya kehilangan kekuatan pengikatnya. Pandangan demikiaan itu bukan hanya mengenai kemerdekaan, tetapi juga mengenai suatau tatanan palitik baru yang berdasarkan kepribadiaan nasional , betapapun nasionalisme itu ditanggapi dengan samar-samar, ia telah menjadikan sautu rasa kesetiaan yang mungkin dapat , menyampingkan ikatan-ikatan rasa kesukuaan atau ikatan tradisional lainnya. Tanggapan ini mencapai bentuknya sendiri secara sedikit demi sedikit. Dengan di bentuknya Aggemeene Studie Club di Bandung, istilah ini memperoleh pengakuaan yang lebih terbatas, dan mungkin lebih jelas. Kuartal keempat 1926 – sekitar tiga bulan setelah ia mnyelesaikan studinya – Soekarno menulis dalam Indonesia Muda, majalah algeene Studi Club Bandung, artikelnya yan pertama dari serangkaian artikel. “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme, “ dimana ia erat diantara ketiga golongan itu. Cara Soekarno mengembangkan pandangannya secara implisit mengandung pengertian bahwa nasionalisme adalah arus sentral karena Islam adalah agama kaum tertindas, maka pemeluk Islam mestilah nasionalis. Karena modal di Indonesia adalah modal asing maka kaum Marxsis yang berjuang melawan kapitalisme haruslah pejuang nasionalis. Tujuannya adalah persatuaan antara Nasionalisme, Islam dan Marxisme, tetapi isi nasionalisme dalam Islam dan Marxislah yang memungkinkan persatuaan itu. Nasionalisme adalah ideologi yang merangkum yang dapat menyalurkan aliran-aliran berbeda itu kedalam satu arus. Tulisan Soekarno itu bisa dianggap sebagai persyaratan penting pertama tentang posisinya sendiri dan suatu permulaan ungkapan gagasannya tentang nasionalisme sekuler baru umumnya. Nasionalisme baru itu memerlukan adanya bentuk yang lebih sekedar suatu forum kelompok studi jika nasionalisme itu ingin menjadi suatu kekuatan yang berdaya guna. Ia memerlukan suatu organisasi yang khusus ditujukan untuk mengadakan aksi politik dan waktunya sudah cukup matang untuk mendirikannya. Merosotnya Sarekat Islam dan ditumpasnya PKI tahun 1926/1927 oleh Belanda, telah meratakan jalan bagi suatu gerakan tipe baru yang didasarkan pada suatu bentuk nasionalisme yang lebih padat dalam pengertiaan bahwa gerakan nasionalisme itu mengesampingkan masalah-masalah sosial dan menciptakan seluruh upaya dan gerakan pada tujuaan tunggal kemerdekaan nasional. Kekosongan gerakan kebangsaan terisi dengan terbentuknya Perserikatan Nasional Indonesia pada tanggal 4 Juli 1927, yang bertujuaan mengusahakan kemerdekaan Indonesia dengan cara berkerjasama dengan semua organisasi di Indonesia yang mengejar tujuaan yang sama. Ungkapan yang singkat tentang maksud tujuaan dan cara kerjanya, secara taktis memang bijaksana. Seandainya pantas nasionalis ini menyatakan pendapatnya tentang struktur kenegaraan dan sosial ekonmi suatu negara Indonesia yang merdeka yang diperjuangkan oleh semua maka mereka yang oleh Soekarno ingin di himpun di bawah bendera PNI, pasti langsung pecah dalam fraksifraksi yang saling menyerang. Sebagai ketua Partai Nasional Indonesia ia menemukan bakat-bakatnya yang besar dalam seni pidato, dan pidato-pidatonya menguraikan tentang ketidak adilan dan penghinaan pemerintah penjajah. Ia adalah pencipta dari persatuaan Indonesia. Pulaupulau Indonesia, yang tersebar disepanjang khatulistiwa dan didiami oleh suku bangsa 18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

yang berbeda-beda, bukanlah merupakan calon-calon ilmiah bagi kebangsaan bersatu. Penjajahan Belanda telah membantu membentuk mereka menjadi satu kesatuaan dan kemudiaan perjuangan revolusioner mengukuhkan rasa kesatuaan bangsa itu. Akan tetapi adalah Soekarno, lebih dari pemimpin manapun ynag lain, yang telah berhasil menciptakan di kalangan rakyat kepulauan yang berbeda itu satu gambaran mengenai diri mereka sebagai satu bangsa. Untuk itu ia menderita, ditangkap, dipenjarakan dan dibuang.

19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Daftar Pustaka
Dahm, Bernhard, 1987, Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan, Jakarta : LP3ES Giebels, Lambert, 2001, Soekarno. Biografi 1901 – 1950, Jakarta: Grasindo. Wild, Colin dan Peter Carey (ed), 1986, Gelora Api Revolusi. Sebuah Antologi Sejarah, Jakarta: Gramedia. Nagazumi, Akira, 1989, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia. Budi Utomo 1908 – 1918. Jakarta : Gramedia. Ingelhon, John. 1983, Jalan ke Pengasingan. Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927 – 1934, Jakarta : LP3ES. Van Niel, Robert, 1984, Munculnya Elite Modern Indonesia, Jakarta : Pustaka Jaya Ingelson, John, 1993, Perhimpunan Indonesia dan Pergerakan Kebangsaan , Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Sularto, St (ed), 2001, Dialog dengan Sejarah. Soekarno Seratus Tahun, Jakarta : Kompas. Legge, John D, 1985, Sukarno Sebuah Biografi Politik, Jakarta : Sinar Harapan. Wertheim, WF, 1999, Masyarakat Indonesia Dalam Transisi. Studi Perubahan Sosial. Yogyakarta : Tiara Wacana. Nagazumi, Akira, 1986, Indonesia Dalam Kajian Sarjana Jepang (Perubahan SosialEkonomi Abad XIX dan XX dan Berbagai Aspek Nasionalisme Indonesia), Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Ricklefs, MC, 1991, Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->