P. 1
Eutanasia

Eutanasia

|Views: 86|Likes:
Published by Eri Erlina Falah

More info:

Published by: Eri Erlina Falah on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2010

pdf

text

original

Eutanasia

PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan pada abad ini telah berkembang sangat pesat apabila dibandingkan dengan abad abad sebelumnya. Perkembangan ilmu pengetahuan telah memungkinkan begitu banyak penemuan yang sangat bermanfaat bagi kepentingan umat manusia, selain juga menimbulkan masalah-masalah baru. Kemajuan dan perkembangan yang demikian menakjubkan juga dialami dunia kedokteran. Alat-alat bantu untuk mempertahankan kehidupan seseorang seperti alat bantu napas dan pacu jantung juga telah berkembang selaras dengan majunya teknologi. Sudah sejak lama terdapat masalah bagi dokter dalam menghadapi penyakit yang tidak tersembuhkan, sementara pasien sudah dalam keadaan dari segi medis tidak ada harapan. Dalam situasi yang demikian ini, tidak jarang pasien meminta agar dibebaskan dari segala penderitaan dan tidak menginginkan diperpanjang hidupnya, atau di lain keadaan pada pasien yang sudah tidak sadar, keluarga pasien yang tidak sampai hati melihat penderitaan pasien menjelang ajalnya meminta kepada dokter untuk tidak meneruskan pengobatan atau bila perlu memberikan obat yang mempercepat kematian. Dari sinilah muncul istilah euthanasia, yaitu melepas kehidupan seseorang agar terbebas dari penderitaan, atau mati secara baik (mati enak). Beberapa waktu yang lalu, masalah euthanasia kembali mencuat menjadi pembicaraan di mediamedia cetak maupun elektronik, ketika di Australia terbetik berita seorang dokter melaksanakannya terhadap seorang pasien. Perbagai ulasan dan tanggapan muncul, baik yang sifatnya promaupun yang kontra, semuanya lengkap dengan argumentasi masing-masing. Pada kenyataannya, perdebatan tentang euthanasia memang telah diperkirakan oleh beberapa ahli, bersama beberapa masalah lain, yakni transplantasi organ tubuh manusia, inseminasi buatan, sterilisasi, bayi tabung dan abortus provokatus (pengguguran kandungan). Perdebatan atau kontroversi masalah-masalah tersebut lebih berfokus pada soal moralitas, etika maupun hukumnya. Perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran yang begitu pesat akhir -akhir ini, ternyata tidak diikuti dengan kemajuan di bidang hukum dan etika. Profesor Separovic, seorang pakar hukum kedokteran menyatakan Contemporary developments have posed a whole series of new problem. One could even say: If medicine is in trouble because of too much change, law is in trouble of too little change . Bagi seorang dokter, masalah euthanasia merupakan suatu dilema yang menempatkannya pada posisi yang serba sulit. Di satu pihak teknologi kedokteran telah sedemikian maju, sehingga mampu mempertahankan hidup seseorang (walaupun hidup yang vegetatif atau vegetative state); sedangkan di sisi lain, pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap hak -hak individu juga berkembang tidak kalah pesat. Dengan demikian, konsep kematian dalam dunia kedoktera masa n kini telah dihadapkan pada kontradiksi antara etika, moral dan hukum di satu pihak; dengan kemampuan, ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang demikian maju di pihak lain sehingga memungkinkan untuk mempertahankan hidup vegetatif tadi. Dalam pembahasan tentang euthanasia, satu hal yang paling menentukan adalah hak menentukan nasib sendiri (the right of self-determination) sebagai bagian hak asasi manusia. Masalahnya adalah: Bagaimana dan sampai di mana batas hak tersebut? Apakah hak itu begitu mutlak, sampai-sampai ia berhak untuk mati (sekalipun secara terhormat)?

Lengkapnya euthanasia diartikan sebagai perbuatan mengakhiri kehidupan seseorang untuk menghentikan penderitaannya. Manusia mempunyai kemampuan mental dan emosi untuk membuat keputusan dan menggunakannya seefektif mungkin Lamerton dan thiroux menyusun 4 kategori yang berkaitan dengan euthanasia. The Advanced Learner s Dictionary menyebutkan bahwa Euthanasia is bringing about an easy painless of death for persons suffering from incurable and painfull disease. pikiran. Kemudian pengertian ini berkembang menjadi mengakhiri hidup tanpa penderitaan . yaitu 1. untukyang beriman dengan nama Allah di bibir 2. Pembunuhan belas kasihan 4. Kematian otak/batang otak Dari batasan-batasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure dalam euthanasia. Webster s Dictionary memberi batasan pada euthanasia The putting of a person to death painlessly.DEFINISI Euthanasia berasal dari kata Yunani Euthanathos (Eu = baik. Suetonius dalam bukunya Vitaceasarum merumuskan bahwa euthanasia adalah mati cepat tanpa derita. especially one in a hopeless condition Di Indonesia. Membiarkan seseorang mati 2. yaitu 1. perasaan dan . Ada tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk mengakhiri hidup seseorang 2. Mengakhiri penderitaan dan hidup seseorang yang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya Pemikiran yang timbul mengenai euthanasia. Tindakan tersebut dilakukan atas dasar rasa belas kasihan karena penyakit orang tersebut tidak mungkin dapat disembuhkan 3. Ada juga yang mengartikan sebagai a good or happy death. Ketika hidup berakhir. Proses mengakhiri hidup yang dengan sendirinya berarti juga mengakhiri penderitaan tersebut dilakukan tanpa menimbulkan rasa sakit pada orang yang menderita tersebut 4. yaitu 1. Perkembangan selanjutnya istilah euthanasia diartikan sebagai pengakhiran kehidupan karena belas kasihan (mercy killing) dan membiarkan seseorang untuk mati (mercy death). menurut Robert H. yaitu 1. Pengakhiran hidup tersebut dilakukan atas permintaan orang itu sendiri atau atas permintaan keluarganya yang merasa dibebani oleh keadaan yang menguras tenaga.William disebabkan oleh dua hal. penderitaan si sakit diringankan dengan memberikan obat penenang 3. dan thanathos = mati atau meninggal) secara etimologi berarti mati yang baik atau mati yang tenang . tanpa penderitaan. Berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman. menurut Kode etik Kedokteran Indonesia. Kematian belas kasihan 3. istilah euthanasia dipergunakan dalam tiga arti. tanpa penderitaan. Manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk berpikir 2.

misalnya dengan memberikan obat untuk menghilangkan rasa nyeri dalam dosis yang sangat tinggi sehingga efek sampingnya kematian juga 2. Euthanasia sukarela (atas permintaan pasien). Euthanasia Aktif (Euthanasia Positif) Tindakan ini secara sengaja dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya u ntuk memperpendek. Voluntary Euthanasia Permohonan yang diajukan pasien atas kemauan sendiri. Ditinjau dari segi permintaan 1. Atau tindakan tertentu yang langsung menyebabkan kematian b) Euthanasia Aktif tidak Langsung (indirek) yaitu dilakukannya tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien. Involuntary Euthanasia Keinginan yang diajukan pasien untuk mati tidak dapat dikerjakan sendiri (dilakukan bukan atas kemauan sendiri) misalnya seorang yang menderita sindroma Tay Sach. Ditinjau dari cara pelaksanaannya 1. misalnya penghentian pemberian infuse. Tindakan yang secara tidak langsung menyebabkan kematian. Keputusan atau keinginan untuk mati ada pada pihak orang tua atau yang bertanggung jawab 3. Assisted Suicide Tindakan ini bersifat individual yang pada keadaan tertentu dan alasan tertentu menghilangkan rasa putus asa dengan bunuh diri 4. misalnya gangguan atau penyakit jasmani yang dapat mengakibatkan kematian segera. Perbuatan yang membiarkan penderita meninggal. dilakukan pada pasien yang (sudah) tidak sadar. dan biasanya diminta oleh keluarga pasien b. menunda operasi dan sebagainya 3. dimana keadaan ini diperburuk oleh keadaan fisik dan jiwa yang tidak menunjang 2.keuangan Karena masih banyak pertentangan mengenai definisi euthanasia. Tindakan yang langsung menginduksi kematian dengan alasan meringankan penderitaan tanpa izin individu bersangkutan dan pihak yang punya hak untuk mewakili. Euthanasia tidak sukarela (tidak atas permintaan pasien). Auto-Euthanasia Seorang pasien menolak secara tegas dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan ia mengetahui bahwa hal ini akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. namun mengetahui adanya risiko yang dapat me mperpendek atau mengakhiri hidup pasien. dilakukan atas permintaan pasien secara sadar dan berulang-ulang 2. Euthanasia Pasif (Euthanasia Negatif) Dokter atau tenaga kasehatan lainnya secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup kepada pasien. Dari penolakan tersebut . mempercepat kematian pasien atau mengakhiri hidup si pasien. JENIS EUTHANASIA Euthanasia dapat ditunjau dari beberapa segi a. berbagai pendapat diajukan diantaranya 1. Euthanasia aktif dapat dibedakan antara a) Euthanasia Aktif Langsung (direk) yaitu dilakukannya tindakan medik secara terarah yang diperhitungkan akan dapat mengakhiri hidup pasien atau memperpendek hidup pasien.

Terdapat tanda-tanda mati jantung. ada bantuan dalam proses kematian dengan tujuan memperpendek hidup pasien KETENTUAN MATI DALAM KEDOKTERAN Kepustakaan mengenai beberapa konsep tentang mati yaitu a) Mati sebagai terhentinya aliran darah b) Mati sebagai saat terlepasnya nyawa dari tubuh c) Hilangnya kemampuan tubuh secara permanent d) Hilangnya fungsi manusia/kemanusiaan secara permanent untuk kembali sadar dan melakukan interaksi social Di Indonesia. Meyakinkan bahwa telah terdapat prakondisi tertentu. Perkecualian untuk itu ialah hipotermia atau di bawah pengaruh barbiturate atau anesthesia 3. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan surat keputusan Nomor 336/PB/A. pasien ternyata berada dalam stadium suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi. atau hampir dapat dipastikan bahwa pasien tidak akan memperoleh kembali fungsi serebralnya. tidak timbul napas spontan dan refleks gag. yaitu bila denyut nadi besar dan napas berhenti dan diragukan apakah kedua fungsi spontan jantung dan pernapasan telah berhenti secara pasti. Terdapat tanda-tanda klinis mati otak. Auto-euthanasia pada dasarnya adalah euthanasia pasif atas permintaan Adapula yang melihat pelaksanaan euthanasia dari sudut lain dan membaginya menjadi 4 (empat) kategori 1. yaitu sesudah selama ½-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa resusitasi jantung-paru 2. meskipun telah dilakukan resusitasi dan pengobatan optimal 4. yaitu tidak responsive walaupun sudah dibantu dengan ventilator b.ia membut sebuah codicil pernyataan tertulis tangan). Menyingkirkan penyebab koma dengan henti napas yang irreversible . Apabila terbukti telah terjadi kematian batang otak Yang dibuktikan dengan pemeriksaan penunjang seperti EKG. Upaya resusitasi darurat dapat diakhiri apabila 1. Upaya resusitasi dilakukan pada keadaan mati klinis. tidak ada bantuan dalam proses kematian tanpa maksud memperpendek hidup pasien 2. EEG. Upaya resusitasi pada keadaan ini tidak memberikan banyak arti lagi. serta pupil tetap dilatasi selama paling sedikit 15-30 menit.4/88 merumuskan bahwa seseorang dinyatakan mati apabila A. ada bantuan dalam proses kematian tanpa maksud memperpendek hidup pasien 3. Diketahui kemudian bahwa sesudah dimulai resusitasi. Fungsi spontan pernapasan dan jantung telah berhenti secara pasti (irreversible) B. tidak ada bantuan dalam proses kematian dengan tujuan memperpendek hidup pasien 4. Penyebabnya adalah kerusakan otak structural yang tidak dapat diperbaiki lagi karena gangguan yang dapat menuju mati : batang otak 2. Penolong terlalu lelah sehingga tidak dapat melanjutkan upaya resusitasi Diagnosis Mati Batang Otak Untuk menegakkan diagnosis mati batang otak diperlukan tiga langkah yaitu 1. Pasien dalam keadaan koma dan henti napas. yaitu a. yaitu asistol listrik membandel (garis datar pada EKG) selama paling sedikit 30 menit. yaitu sesudah resusitasi pasien tetap tidak sadar.

Yang menyetujui euthanasia Kelompok ini menyatakan bahwa tindakan euthanasia dilakukan dengan persetujuan. bila atau tidak ada refleks kornea 3. tidak ada napas spontan Apabila tanda-tanda fungsi batang otak yang hilang di atas ada semua. yaitu 1. bila atau tidak ada respon terhadap cahaya 2. maka hendaknya diperiksa lima refleks batang otak. Yang tidak menyetujui tindakan euthanasia Kelompok ini berpendapat bahwa euthanasia adalah suatu pembunuhan yang terselubung. Oleh karenanya. bagaimanapun keadaan penderita tersebut. Kelompok ini berpendapat bahwa hidup adalah semata-mata diberikan oleh Tuhan sendiri. tetapi kini tidak lagi menjadi dasar penentuan matinya seseorang. deserebrasi) 3. bila atau tidak ada refleks vestibule-koklear 4. koma 2. Memastikan arefleksi batang otak dan henti napas yang menetap Adapun tanda-tanda menghilangnya fungsi batang otak ialah 1. bila atau tidak ada refleks muntah (refleks gag) atau refleks batuk terhadap rangsang oleh kateter isap yang dimasukkan ke dalam trakea Adapun tes yang paling pokok untuk fungsi batang otak adalah tes untuk henti napas Dengan berkembangnya teknologi kedokteran saat ini. Berakhirnya pernapasan dan detak jantung dulu merupakan gejala yang menentukan matinya seseorang. Fungsi manusia seperti berpikir dan merasa hanya dapat berjalan apabila otak masih bekerja. para ahli membedakan antara mati klinis dan mati vegetatif. tidak ada refleks batang otak 5. maka berakhirlah kehidupan secara intelektual dan psikis walaupun pernapasan dan detak jantung masih ada. Alasan yang dikemukakan oleh masing -masing kelompok adalah 1.3. sehingga tak seorang manusia atau institusi pun yang berhak mencabutnya. dengan tujuan utama menghentikan penderitaan pasien. tindakan ini bertentangan dengan kehendak Tuhan. tujuan utamanya adalah meringankanDi dalam Voluntary Euthanasia Act (1969). tidak ada sentakan epileptic 4. Mati otak dalam proses kematian menjadi tanda bahwa orang tersebut telah meninggal dunia BEBERAPA PANDANGAN TENTANG EUTHANASIA Masalah euthanasia menimbulkan pro dan kontra. Dikatakanpula bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak memiliki hak untuk mati 2. tidak ada sikap abnormal (dekortikasi. Jadi. Salah satu prinsip yang menjadi pedoman kelompok ini adalah pendapat bahwa manusia tidak boleh dipaksa untuk menderita. Jika otak tidak lagi berfungsi. bila atau tidak ada respon motor dalam distribusi saraf cranial terhadap rangsang adekuat pada area somatic 5. kelompok yang setuju dengan euthanasia menampilkan dua pandangan .

akhirnya menyimpulkan adanya beberapa bentuk pengakhiran kehidupan yang sangat mirip dengan euthanasia. Prof. Tidak langsung dan tidak sukarela Merupakan tindakan euthanasia pasif yang dianggap paling mendekati moral Dalam Kongres Sedunia tentang Hukum Kedokteran di Gent. walaupun fungsi otak telah berhenti. misalnya dengan memberikan dosis letal pada anak yang lahir cacat 4. Belgia tahun 1979. Walaupun pernapasan dan detak jantung masih ada. Bentukbentuk Pseudo-Euthanasia sebagaimana diuraikan oleh Leenan ialah 1) Pengakhiran perawatan medis karena gejala mati otak atau batang otak (brainstem death) Dengan teknologi kedokteran. No assistance in the process of death with the intention to shorten life Kategori ini dapat digolongkan sebagai euthanasia pasif d. y akni a. Langsung dan sukarela Memberi jalan kematian dengan cara yang dipilih pasien. Perasaan kasihan terhadap mereka yang menderita sakit berat dan secara medis tidak mempunyai harapan untuk pulih 2. karena sebenarnya pasien telah meninggal dunia dengan tidak berfungsinya otak. Dewan Kesehatan Belanda pada tahun 1974 pernah mengusulkan criteria mati otak. Sukarela tapi tidak langsung Pasien diberitahu bahwa harapan untuk hidup kecil sekali sehingga pasien ini berusaha agar ada orang lain yang dapat mengakhiri penderitaan dan hidupnya 3. namun jika otak tidak lagi berfungsi maka kehidupan secara intelektual dan psikis/kejiwaan telah berakhir.ZP Separavic mengemukakan beberapa kategori berkaitan dengan euthanasia. Tindakan ini dianggap sebagai bunuh diri 2. Langsung tetapi tidak sukarela Dilakukan tanpa sepengetahuan pasien. walaupun (mungkin) pernapasan dan detak jantungnya masih . Oleh Professor Leenen kasu s-kasus demikian ini disebut sebagai Pseudo-Euthanasia dan secara hukum tidak dapat diterapkan sebagai euthanasia. Dalam Bahasa-Indonesia. Assistance in the process of death with the intention to shorten life Kategori ini digolongkan sebagai euthanasia aktif Kajian dan telaah dari sudut medis. sekarang dimungkinkan jantung dan paru -paru tetap berfungsi. Mati otak menjadi tanda bahwa seseorang telah meninggal dunia dalam proses kematian.1. yaitu otak mutlak tidak lagi berfungsi dan fungsi otak mutlak tidak lagi dapat dipulihkan Dalam keadaan seperti itu tidak ada tindak euthanasia. etika-moral maupun hukum oleh masing-masing pakarnya. tetapi sebenarnya ternyata bukan euthanasia. mungkin istilah yang tepat adalah Euthanasia-semu. Assistance in the process of death without the intention to shorten life Dalam kategori ini terdapat unsure kelalaian (Schuldelement) c. No assistance in the process of death without the intention to shorten life Contoh : kematian alamiah b. Fungsi berpikir atau merasakan pada manusia dapat berlangsung jika otak masih berfungsi. Perasaan hormat atau agung terhadap manusia yang ada hubungan dengan suatu pilihan yang bebas sebagai hak asasi Menurut Fletcher tindakan euthanasia dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti 1.

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan . apabila pasien sudah dipastikan mengalami kematian batang otak atau kehilangan fungsi otaknya sama sekali. Jika kemudian datang pasien ketiga yang juga memerlukan respirator. melainkan mengurangi atau menghilangkan penderitaannya. dokter tidak mungkin dipersalahkan karena ia berada dalam situasi darurat dan tidak melakukan sesuatu tindakan yang dapat dihukum 4) Penghentian perawatan/pengobatan/bantuan medik yang diketahui tidak ada gunanya lagi Kriteria medik harus selalu digunakan untuk menentukan apakah suatu langkah pengobatan atau perawatan berguna atau tidak. Beberapa ahli berpendapat bahwa jika pasien tidak memberi izin seperti ini. melainkan untuk menghindari dokter bertindak di luar kompetensinya EUTHANASIA VERSUS ETIK DAN HUKUM KEDOKTERAN DI INDONESIA Peraturan pemerintah tahun 1969 tentang Lafal Sumpah Dokter Indonesia yang bunyinya sama dengan Deklarasi Jenewa 1948 dan Deklarasi Sydney 1968 menyebutkan bahwa Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan . maka pasien tersebut secara keseluruhan telah mati walaupun jantungnya masih berdenyut. Namun harus diingat bahwa dokter tidak berhak melepaskan respirator dari kedua pasien pertama tanpa izin. yakni memberikan obat penenang atau penghilang rasa sakit dengan dosis terapi setiapkali pasien kesakitan. dokter harus memilih kepada siapa respirator harus dipasang. Ini berarti bahwa menurut etik kedokteran. dapat dikategorikan sebagai penganiayaan sebagaimana diatur dalam pasal 351 KUHP. dokter tidak diperbolehkan 1. Kategori yang mirip dengan ini adalah euthanasia aktif tidak langsung. menggugurkan kandungan (abortus provokatus) 2. disebutkan bahwa seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Tujuan utama langkah ini ialah sama sekali bukanlah memperpendek hidup pasien. Penghentian perawatan seperti ini tidak dimaksudkan untuk mengakhiri/memperpendek hidup pasien. Seandainya pasien ketiga meninggal karena tidak mendapat respirator. Dalam pasal 9. Seorang dokter tidak memulai atau meneruskan suatu perawatan/pengobatan. Bab II Kode Etik Kedokteran Indonesia tentang kewajiban dokter kepada pasien. yang hakikatnya adalah euthanasia pasif atas permintaan pasien. tetap digolongkan sebagai Auto-Euthanasia. jika secara medik telah diketahui tidak dapat diharapkan suatu hasil apapun. Penghentian tindakan terapeutik harus diputuskan oleh dokter yang . Suatu tindakan yang dilakukan tanpa izin pasien.ada (karena fungsi otonomnya) 2) Pasien menolak perawatan atau bantuan medik terhadap dirinya (sering disebut a uto-euthanasia) Secara umum dapat dikatakan bahwa dokter tidak berhak melakukan tindakan apapun terhadap pasien jika tidak diizinkan atau dikehendaki oleh pasien tersebut. mengakhiri hidup seseorang yang sakit meskipun menurut pengetahuan dan pengalaman tidak akan sembuh lagi Akan tetapi. namun dengan efek samping/risiko hidupnya dipersingkat 3) Berakhirnya kehidupan akibat keadaan darurat karena kuasa tidak terlawan (force majeure) Keadaan ini sebenarnya telah diatur dalam pasal 48 KUHP. walaupun langkah ini akan mengakibatkan kematian pasien. Misalnya di suatu RS hanya ada 2 buah alat bantu napas (respirator) yang telah terpakai oleh pasien yang membutuhkan.

dihukum penjara paling lama dua belas tahun . Pasal 345 KUHP Barangsiapa denagn sengaja menghasut orang lain untuk bunuh diri. perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut perjanjian. tetapi ingin mengakhiri atau ingin lepas dari penderitaan karena penyakitnya. yaitu Pasal 304 KUHP Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang dalam kesengsaraan. Pasal 344 KUHP Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang disebutkan olehnya dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh. sedang ia wajib memberi kehidupan. selain harus pula dipertimbangkan keinginan pasien. dihukum penjara paling lama dua tahun delapan bul n atau a denda paling banyak empat ratus ribu rupiah . si tersalah itu dihukum penjara paling lama sembilan tahun . karena ada tindakan menghilangkan nyawa orang lain Tindakan tersebut dapat diancam dengan pidana meskipun dilakukan atas permintaan sendiri yang dinyatakan dengan nyata dan sungguh-sungguh Pasal 338 KUHP Barangsiapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain. dihukum karena maker mati. Hal ini sesuai dengan pendapat Professor Olga Lelacic yang menyatakan bahwa dalam kenyataan pasien yang meminta dokter untuk mengakhiri hidupnya. dihukum karena pembunuhan yang direncanakan (moord) dengan hukuman mati atau penjara selama-lamanya seumur hidup atau penjara semantara selama-lamanya 20 (dua puluh) tahun . sebenarnya tidak ingin mati. dan kualitas hidup terbaik yang diharapkan Dengan demikian. Catatan Isi pasal di atas mirip dengan tindakan euthanasia pasif di mana ancaman pidananya lebih tinggi apabila orang yang dibiarkan itu akhirnya meninggal dunia. dasar etik moral untuk melakukan euthanasia adalah memperpendek atau mengakhiri penderitaan pasien dan bukan mengakhiri hidup pasien. Namun demikian ada pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) di mana euthanasia ini diatur secara tersirat. dengan penjara selama-lamanya 15 (lima belas) tahun . dihukum penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun . Catatan Pasal 344 KUHP ini isinya mirip dengan tindakan euthanasia aktif. Pasal 340 KUHP Barangsiapa dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain. keluarga pasien. membantunya dalam perbuatan itu. atau memberikan daya upaya itu jadi bunuh diri. seperti yang diatur dalam Pasal 306 KUHP ayat (2) Pasal 306 KUHP Kalau salah satu perbuatan yang diterangkan dalam Pasal 304 mengakibatkan orang mati. Sampai saat ini belum ada aturan hukum di Indonesia yang mengatur tentang euthanasia. dihukum penjara selama -lamanya 5 . Pasal 359 KUHP Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang lain.berpengalaman kasus-kasus secara keseluruhan dan sebaiknya hal itu dilakukan setelah diadakan konsultasi dengan dokter yang berpengalaman.

dia wajib memberi kehidupan. Crisdiono. secara gan hukum dapat diterapkan pasal 351 KUHP (penganiayaan). Etik dan Hukum di Bidangf Kesehatan. 340.Kajian Biotik 2005. 338. Surabaya.(lima) tahun atau kurungan selama-lamanya 1 (satu) tahun . kalau ia menuruti permintaan pasien untuk mati (euthanasia aktif). . Etik Dan Hukum Di Bidang Kesehatan. Surabaya: Komite Etik Rumah Sakit RSUD Dr.2006. euthanasia terdapat dalam beberapa pasal Kitab Undang -Undang Hukum Pidana (KUHP) dan tersirat dalam beberapa pasal Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata). dan 1319 KUHPerdata mengatur hal perjanjian tersebut. penderitaan pasien dengan risiko hidupnya diperbaiki. yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara 12 tahun . Pasal 1320 KUHPer data menyebutkan bahwa untuk mengadakan suatu perjanjian dituntut izin berdasarkan kemauan bebas dari kedua belah pihak. Sebaliknya. Handoko. Ada beberapa pasal KUHP yang berkaitan dengan euthanasia. DAFTAR PUSTAKA Achadiat M. Soetomo. perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu. 345 dan 359.23/1992 tentang Kesehatan euthanasia tidak disinggung. antara lain 304. Adapun hubungan hukum dokter-pasien juga ditinjau dari sudut perdata. apabila tindakan medis yang tidak berguna sama sekali tersebut dilaksanakan oleh seorang dokter terhadap pasiennya den tanpa izin dari pasien tersebut. Lalu. karena di Indonesia hak untuk mati masih belum ada. 2008. Pada Pasal 344 KUHP sering disebut-disebut sebagai pasal euthanasia . Secara hukum. dapat dikenai pasal 344 KUHP yang berbunyi: Barangsiapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. ia dapat dikenakan pasal 304 KUHP yang berbunyi: Barangsiapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seseorang dalam keadaan sengsara. Airlangga University Press. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan. Dengan demikian.Daeng. Demikianlah sedikit pandangan dari aspek hukum yang sampai saat ini masih merupakan dilema. 1315. Pasal-pasal 1313. tetapi dalam UU No. Dharmawan Surya. diancam denagn pidana penjara dua tahun delapan bulan . Surabaya: Komite Etik RSUD Dr Soetomo. Dinamika Etika dan Hukum Kedokteran Dalam Tantangan Zaman.2001. Unit Bioetik & Humaniora Kesehatan FK Unair.B. dimana posisi serba salah bagi para dokter ? Kalau dokter tidak bertindak apapun kemudian pasien meninggal. 2001. Jakarta: EGC. 1314.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->