12

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Menyusui Menyusui adalah suatu proses alamiah. Berjuta-juta ibu di seluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI. Bahkan ibu buta huruf pun dapat menyusui anaknya dengan baik. Walaupun demikian, dalam lingkungan kebudayaan kita saat ini melakukan hal yang alamiah tidaklah selalu mudah (Utami, 2007). Segala sesuatu yang alami adalah yang terbaik bagi semua orang. Melahirkan anak itu alami, tetapi tidak mudah. Menyusui yang sukses membutuhkan dukungan baik dari orang yang telah mengalaminya atau dari seseorang yang profesional (Savitri, 2007). Usaha utama untuk mempromosikan program menyusui di Indonesia secara resmi dimulai pada tahun 1974 dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden No. 14 di bawah Persatuan Program Perbaikan Gizi. Program untuk mempromosikan ASI dilaksanakan sesuai dengan kebijakan di masingmasing pemerintah daerah. Banyak lembaga non pemerintah dan organisasiorganisasi yang tertarik berperan serta dalam program ini. Lembaga non pemerintah ternama seperti BKPPASI (Badan Koordinasi Pelindung dan Pendukung Air Susu Ibu) yang didirikan pada tahun 1977 berperan sebagai badan koordinasi nasional dari lembaga-lembaga non pemerintah yang lain untuk mempromosikan ASI. Banyak lembaga internasional juga mengirimkan

12

13

perwakilannya untuk mendukung program yang mempromosikan ASI (Utomo, 2000). Usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga kerap di istilahkan sebagai periode emas sekaligus periode kritis. Periode emas dapat diwujudkan apabila pada masa ini bayi dan anak memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang optimal. Sebaliknya apabila bayi dan anak pada masa ini tidak memperoleh makanan sesuai kebutuhan gizinya, maka periode emas akan berubah menjadi periode kritis yang akan mengganggu tumbuh kembang bayi dan anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya (Depkes RI, 2006). Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, di dalam Global Strategy for Infant and Young Child Feeding, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus dilakukan yaitu: pertama memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, ketiga memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan keempat meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau dua tahun (Depkes RI, 2007). Dalam Kitab Al-Quran Q.S. Al-Baqarah ayat 233 juga mengatur berapa waktu yang diwajibkan bagi ibu untuk menyusui bayinya dan bagaimana kewajiban seorang ayah terhadap istri dan anaknya. Arti dari ayat tersebut adalah "Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang menghendaki akan menyempurnakan penyusuan.

14

Kewajiban bapak memberi belanja dan pakaian bagi ibu dan anaknya itu secara makruf. Tiadalah diberati seseorang, melainkan kadar tenaganya. Tiadalah melarat ibu karena anaknya, dan tiada pula melarat bapak karena anaknya: dan terhadap waris pun seperti demikian pula. Jika kedua ibu dan bapak hendak menyapih anaknya sebelum dua tahun dengan kesukaan dan permusyawaratan keduanya, maka tiada berdosa keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan". Menyusui merupakan hadiah yang sangat berharga, yang dapat diberikan orang tua kepada bayinya. Pada keadaan miskin dan darurat, ASI mungkin hadiah satu-satunya yang dapat diberikan ibu kepada bayinya. Pada keadaan sakit dan darurat, ASI dapat menjadi pemberian yang

menyelamatkan jiwa si bayi (Utami, 2008).

B. Keuntungan dan Manfaat ASI

Untuk mendapatkan manfaat ASI yang begitu besar kepada bayi, menyusui perlu dimulai segera mungkin dalam waktu setengah jam setelah persalinan. Karena dalam waktu tersebut reflek menghisap bayi paling kuat, ibu dan bayi pun masih dalam keadaan siaga (Savitri, 2007). Anak-anak yang tidak diberi ASI eksklusif mempunyai kemungkinan lebih besar menderita kekurangan gizi dan obesitas serta ketika dewasa lebih mudah terjangkit

15

penyakit kronis, seperti kanker, jantung, hipertensi, dan diabetes (Amirudin dan Rosita, 2006). Keuntungan dan manfaat pemberian ASI adalah sebagai berikut (Savitri, 2007) : 1) 1. Bagi bayi ASI mengandung protein, lemak, vitamin, mineral, air dan enzim yang dibutuhkan oleh bayi. Karenanya, ASI mengurangi resiko berbagai jenis kekurangan nutrisi. 2. ASI mengandung semua asam lemak penting yang dibutuhkan bagi pertumbuhan otak, mata dan pembuluh darah yang sehat.
3.

ASI selalu berada pada suhu yang paling cocok bagi bayi. Karenanya tidak memerlukan persiapan apapun.

4.

Bayi

bisa

mencerna dan menggunakan nutrisi dalam ASI secara lebih efisien daripada yang terdapat dalam jenis susu lainya. ASI itu steril, artinya tidak terkontaminasi oleh bakteri atau kuman penyakit lainnya. 5. mencegah terjadinya Menyusui anemia pada bayi karena zat besi yang

terkandung dalam ASI diserap secara lebih baik daripada sumber zat besi lainnya. 6. Kekurangan

16

nutrisi tidak dapat terjadi pada bayi yang disusui karena pada ASI memenuhi kebutuhan energi bayi sampai umur enam bulan yang pertama. 7. Kolostrum kaya

akan antibodi dan substansi antiinfeksi lainnya yang melindungi bayi dari infeksi. Antibodi adalah substansi yang dikeluarkan oleh tubuh. Karenanya antibodi sangat penting untuk menghancurkan penyebab penyakit ini. 8. mengandung faktor pertumbuhan seperti Kolostrum “faktor juga

pematangan

epidermis”. Faktor ini melapisi bagian dalam saluran pernapasan dan mencegah kuman penyakit memasuki saluran pernapasan. 9. Antibodi yang ada dalam kolostrum juga melindungi bayi yang baru lahir dari alergi, asma, eksem, dan lain-lain. 10. Kolostrum kaya

akan Vitamin A, yang mencegah infeksi, dan Vitamin K, yang mencegah pendarahan pada bayi yang baru lahir.
11.

ASI mengandung “faktor pematangan usus”, yang melapisi bagian dalam saluran pencernaan dan mencegah kuman penyakit serta protein berat untuk terserap ke dalam tubuh.

12.

ASI mengandung “faktor pematangan serebrosida”, yang membuat bayi yang minum

17

ASI lebih cerdas di kemudian hari.
13.

ASI

menolong

pertumbuhan bakteri sehat dalam usus yang disebut Lactobacillus bifidus. Bakteri ini mencegah bakteri penyebab penyakit lainnya untuk membunuh dalam saluran pencernaan dan oleh karena itu mencegah diare.
14.

Mengandung

zat

yang disebut dengan laktoferin, yang dikombinasikan dengan zat besi dan mencegah pertumbuhan kuman penyakit. 15. meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan anak. 16. kecerdasan. Utami (2007) mengatakan untuk kecerdasan anak dipengaruhi oleh faktor- faktor diantaranya yaitu: 1. bawaan. Yaitu diturunkan orang tua dan tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa. 2. Faktor lingkungan. Yaitu faktor yang menentukan faktor genetik akan tercapai secara optimal atau tidak. Secara garis besar untu faktor lingkungan ada tiga jenis kebutuhan yang harus dipenuhi yaitu: 1. Kebutuhan untuk fisik-otak (Asuh). Faktor genetik atau Meningkatkan ASI

18

2. 3.

Kebutuhan untuk perkembangan emosional dan spiritual (Asih). Kebutuhan untuk perkembangan intelektual dan sosial (Asah).

Dari haasil penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4,3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8,3 point lebih tinggi pada usia 8,5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberikan ASI (Nurhaeni, 2009). Selain itu dalam suatu percobaan sejumlah bayi yang hanya diberikan ASI tanpa tambahan susu formula atau makanan padat lainya hingga mereka berusia 15 minggu. Ternyata, hingga usia 7 tahun mereka terhindar dari penyakit radang saluran pernapasan dan sejumlah bayi hingga mereka berusia 13 minggu, ternyata terhindar dari penyakit radang usus sampai mereka berusia 18 bulan bahkan 2 tahun (Heather, 2008). Adapun keuntungan dan manfaat yang diperoleh ibu dari memberikan ASI yaitu sebagai berikut (Savitri, 2007).

2) Bagi ibu
1. Menyusui menolong rahim mengkerut lebih cepat dan mencapai

ukuran normalnya dalam waktu singkat. Menyusui mengurangi banyaknya pendarahan setelah persalinan dan oleh karena itu mencegah anemia. 2. Menyusui mengurangi resiko kehamilan sampai enam bulan setelah persalinan. 3. Menyusui mengurangi resiko kanker payudara dan indung telur.

4. Menyusui menolong menurunkan kenaikan berat badan yang

19

berlebihan selama kehamilan. Karenanya, menyusui menurunkan resiko obesitas. Menurut Utami (2007) manfaat dari memberikan ASI eksklusif bagi Ibu adalah, lebih ekonomis dan murah, tidak merepotkan dan hemat waktu, portabel dan praktis, memberi kepuasan bagi ibu. Sedangkan dalam Utami (2008) beberapa manfaat ASI bagi ibu adalah: 1. Mengurangi resiko keropos tulang (osteoporosis). Penelitian

mengindikasi bahwa perempuan dengan banyak anak dan periode menyusui yang panjang memiliki kepadatan mineral tulang lebih tinggi/sama dan resiko patah lebih rendah/sama dibandingkan dengan yang tidak pernah melahirkan dan menyusui (Karlsson C, 2005 di kutip dalam Utami, 2008).
2. Mengurangi resiko rheumatoid artritis. Penelitian dilakukan pada

121.700 perempuan. Perempuan yang menyusui lebih sebentar beresiko yang lebih tinggi menderita rheumatoid arthritis (Karlson, 2004 di kutip dalam Utami, 2008). 3. Mengurangi resiko diabetes maternal. Menyusui mengurangi resiko diabetes tipe II pada ibu dalam hidupnya nanti. Lebih lama durasi menyusuinya, lebih rendah terjadinya diabetes. Berdasarkan penelitian Harvard pada 83.585 ibu di Nurses’Health Study (NHS) dan 73.418 ibu di NHS II, diketahui menyusui mengurangi resiko ibu dari diabetes sebanyak 15% (Stuebe ,2005 di kutip dalam Utami, 2008). 4. Mengurangi stres dan gelisah. Penelitian membandingkan respon emosi dari 84 perempuan yang menyusui ekslusif, 99 perempuan yang

20

menggunakan susu formula, dan 33 perempuan sehat yang tidak melahirkan. Ibu yang menyusui lebih banyak memiliki mood positif, peristiwa positif, dan kejadian stress lebih rendah daripada ibu yang menggunakan susu formula. Ibu menyusui memiliki tingkat depresi dan kemarahan yang lebih rendah daripada ibu dengan susu formula (Groer , 2005 di kutip dalam Utami, 2008).
3) Manfaat ASI bagi ayah

1.

Ekonomis. ASI akan sangat mengurangi pengeluaran keluarga tidak saja pengeluaran untuk membeli susu formula serta perlengkapan untuk membuatnya, tetapi juga biaya kesehatan untuk si bayi.

2. Praktis dan tidak merepotkan, karena tidak perlu membuat susu

formula di malam hari dan tidak perlu mencari warung atau toko dimalam hari apabila kehabisan persediaan susu. 3. Kalau bepergian dengan bayi ASI eksklusif akan lebih mudah dan tidak perlu repot membawa bermacam-macam peralatan menyusui.
4) Manfaat ASI eksklusif bagi perusahaan.

Bila anak yang sakit, seorang ibu akan meninggalkan pekerjaannya untuk mengurus si anak yang sakit. Penelitian Cohen dkk (di kutip dalam Utami, 2007), di Amerika pada tahun 1995 menunjukkan bahwa ibu bayi ASI eksklusif lebih jarang bolos (25%) dibanding ibu susu formula (75%), karena bayi ASI eksklusif lebih jarang sakit dibanding dengan bayi susu formula. Penelitian Auerbach dkk pada tahun 1984 (dikutip dalam Utami, 2007) terhadap 567 ibu bekerja juga menunjukkan bahwa ibu memberikan ASI eksklusif mempunyai persentase kerja yang meningkat.

21

5) Manfaat ASI eksklusif bagi Negara. Pemberian ASI eksklusif akan menghemat pengeluaran negara karena hal-hal berikut: 1. Penghematan devisa untuk pembelian susu formula, perlengkapan menyusui, serta biaya menyiapkan susu. 2. Penghematan biaya untuk sakit terutama sakit muntah-mencret dan sakit saluran nafas. 3. 4. Penghematan obat-obatan, tenaga, dan sarana kesehatan. Menciptakan generasi penerus bangsa yang teguh dan berkualitas untuk membangun negara. 5. Langkah awal untuk mengurangi bahkan menghindari kemungkinan terjadinya generasi yang hilang khususnya bagi Indonesia. (Utami, 2007).

6) Manfaat ASI eksklusif bagi lingkungan. Air susu Ibu akan mengurangi bertambahnya sampah dan polusi di dunia. Dengan hanya memberi ASI manusia tidak memerlukan kaleng susu, karton dan kertas pembungkus, botol plastik, dan dot karet. Di Amerika Serikat saja, dalam satu tahun terdapat 550 juta kaleng susu. Kalau kaleng-kaleng ini dijajarkan maka jajaran kaleng ini akan dapat mengelilingi bola dunia. Padahal sampah dari botol plastik dan dot akan menetap sampai 450 tahun. (Utami, 2007).

22

C. ASI eksklusif
1) Defenisi

ASI eksklusif adalah pemberian ASI (Air Susu Ibu) sedini mungkin setelah persalinan, diberi tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air putih, sampai bayi berumur 6 bulan (Hubertin, 2004, ). ASI eksklusif didefenisikan sebagai konsumsi dan asupan makanan bagi bayi, asupan makanan tersebut adalah air susu ibu tanpa suplemen jenis apapun baik itu air, juice, makanan dalam bentuk apapun kecuali untuk vitamin, mineral, dan pengobatan. Selain defenisi tersebut ASI eksklusif juga didefinisikan sebagai perilaku dimana hanya memberikan air susu ibu saja kepada bayi sampai umur 6 bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain kecuali obat (Anton, 2008). The APP section on Breastfeeding, American College of Obstetricians Physicians, and Gynecologists, academy of American Academy of Family world Health

Breastfeeding

Medicine,

Organization, United Nations Children's Fund, dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia juga telah merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Karena menurut penelitian-penelitian yang telah dilakukan, telah terbukti bahwa ASI eksklusif memang lebih unggul dibandingkan pemberian susu formula, selain itu ASI mengandung zat-zat kekebalan yang sangat dibutuhkan oleh bayi pada bulan-bulan pertama seperti Colostrum (Anton, 2008). Dari penelitian yang termuat dalam pediatric journal 1993, terbukti

23

bahwa menyusui eksklusif paling tidak 4 bulan pertama, dapat mengurangi kemungkinan bayi terkena infeksi saluran pencernaan (antara lain diare), infeksi saluran pernapasan, serta infeksi saluran telinga. Hal yang menyebabkan ASI membuat bayi lebih kebal penyakit infeksi (Litbang. Depkes, 2007).

2) Komposisi ASI 1. Karbohidrat Karbohidrat dalam ASI berbentuk laktosa yang jumlahnya berubah-ubah setiap hari menurut kebutuhan tumbuh kembang bayi. Rasio jumlah laktosa dalam ASI dan PASI adalah 7:4 sehingga ASI terasa lebih manis dibandingkan dengan PASI. Hal ini menyebabkan bayi yang sudah mengenal ASI dengan baik cenderung tidak mau minum PASI. Dengan demikian pemberian ASI akan semakin sukses.

2. Protein Protein dalam ASI lebih rendah dibanding PASI. Namun protein ASI sangat cocok karena unsur protein di dalamnya hampir seluruhnya terserap oleh sistem pencernaan bayi yaitu protein unsur whey. Perbandingan protein unsur whey dan casein dalam ASI adalah 65:35 sedangkan dalam PASI 20:80. Hal ini memungkinkan bayi akan sering diare dan defekasi dengan feces berbentuk biji cabe yang menunjukan adanya makanan yang sukar diserap bila bayi diberikan PASI. 3. Lemak

24

Lemak dalam ASI mulanya rendah kemudian meningkat jumlahnya. Lemak dalam ASI berubah kadarnya setiap kali diisap oleh bayi secara otomatis. Komposisi lemak pada lima menit pertama isapan akan berbeda dengan 10 menit kemudian, kadar lemak pada hari pertama berbeda dengan hari kedua dan akan terus berubah menurut perkembangan bayi dan kebutuhan energi yang dibutuhkan. Lemak dalam bentuk Omega 3, Omega 6, dan DHA yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan sel-sel jaringan otak. Susu formula tidak mengandung enzim, karena enzim akan mudah rusak bila dipanaskan. Dengan tidak adanya enzim, bayi akan sulit menyerap lemak PASI sehingga menyebabkan bayi lebih mudah terkena diare. 4. Mineral ASI mengandung mineral yang lengkap walaupun kadarnya

rendah tetapi bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai 6 bulan. Zat besi dan kalsium dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan mudah diserap dan jumlahnya tidak berpengaruh pada diet ibu. Dalam PASI jumlah mineralnya tinggi, tetapi sebagian besar tidak dapat diserap hal ini akan memperberat kerja usus bayi serta mengganggu keseimbangan dalam usus dan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang merugikan sehingga mengakibatkan kontraksi usus bayi tidak normal. Bayi akan kembung, gelisah karena obstipasi atau gangguan metabolisme. 5. Vitamin

25

ASI mengandung vitamin yang lengkap yang dapat mencukupi kebutuhan bayi sampai 6 bulan kecuali vitamin K, karena bayi baru lahir pencernaannya belum mampu membentuk vitamin K. (Anton, 2008).

3) Produksi ASI Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh isapan mulut bayi pada puting susu ibu. Gerakan tersebut merangsang kelenjar Pictuitary Anterior untuk memproduksi sejumlah prolaktin, hormon utama yang mengandalkan pengeluaran Air Susu. Proses pengeluaran air susu juga tergantung pada Let Down Reflex, dimana hisapan puting dapat merangsang kelenjar Pictuitary Posterior untuk menghasilkan hormon oksitolesin, yang dapat merangsang serabut otot halus di dalam dinding saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar. Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu: 1) Colostrum Colostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak. Di sekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat dari masa laktasi.
1. Komposisi colostrum dari hari ke hari berubah.

26

2. Colostrum merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna

kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI Mature.
3. Merupakan suatu laxantif yang ideal untuk membersihkan

mekonium usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
4. Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature,

tetapi berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein sedangkan pada colostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
5. Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature

yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
6. Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan

dengan ASI Mature.
7. Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58

kalori/100 ml colostrum. 8. Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
9. Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak. 10. pH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature. 11. Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di

bandingkan ASI Mature.

27

12. Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus

bayi menjadi kurang sempurna, yang akan menambah kadar antibodi pada bayi. 13. Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam. 2) Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
1. Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature. 2. Disekresi dari hari ke 4 – hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada

pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke tiga sampai minggu ke lima. 3. Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi. 4. Volume semakin meningkat.

3) Air Susu Mature 1. ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan. 2. Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yang sehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi. 3. ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untu bayi. 4. Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat, riboflaum dan karotin.

28

5. 6. 7.

Tidak menggumpal bila dipanaskan. Volume: 300 – 850 ml/24 jam Terdapat anti microbaterial factor, yaitu: 1) Antibodi terhadap bakteri dan virus.
2) Cell (phagocyle, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T) 3) Enzim (lysozime, lactoperoxidese) 4) Protein (lactoferin, B12 Ginding Protein) 5) Faktor resisten terhadap staphylococcus. 6)

Complecement ( C3 dan C4) (Anton, 2008).

4) Faktor Penghambat dan Yang Memperlancar Produksi ASI 1) Faktor penghambat produksi ASI 1. 2. 3. Ibu dalam keadaan bingung, kacau, marah atau sedih Ibu terlalu kuatir ASI-nya tidak akan cukup untuk kebutuhan bayi Rasa sakit pada saat menyusui, membuat ibu takut untuk menyusui menyusui lagi 4. 5. Ada rasa malu untuk menyusui Ayah tidak mendukung dan tidak perhatian terhadap ibu dan bayi

2) Faktor memperlancar produksi ASI 2) Bila melihat bayi 3) Memikirkan bayi dengan penuh kasih sayang 4) Bila mendengar bayinya menangis 5) Mencium bayi

29

6) Ibu dalam keadaan tenang 7) Ayah sangat membantu (Utami, 2001).

2)

Manajemen Laktasi Manajemen laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya. Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut
1) Pada masa Kehamilan (antenatal)

1.

Perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu Pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara/keadaan puting susu, apakah ada kelainan atau tidak.

2. 3. 4.

Disamping itu perlu dipantau kenaikan berat badan ibu hamil. Mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup. Memperhatikan gizi/makanan ditambah mulai dari kehamilan trimester kedua sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum hamil.

5.

Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini perlu diperhatikan keluarga terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya.
2) Pada masa segera setelah persalinan (prenatal)

30

a.

Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menysui yang baik dan benar, yakni: tentang posisi dan cara melekatkan bayi pada payudara ibu.

b.

Membantu terjadinya kontak langsung antara bayi-ibu selama 24 jam sehari agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.

c.

Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 S1) dalam waktu dua minggu setelah melahirkan.
3) Pada masa menyusui selanjutnya (post-natal)

1. 2. 3.

Menyusui dilanjutkan secara ekslusif selama 4 bulan pertama usia bayi, Yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman lainnya. Perhatikan gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 ½ kali lebih banyak dari biasa dan minum minimal 8 gelas sehari.

4.

Ibu menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.

5.

Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang keberhasilan menyusui.

6.

Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada permasalahan menysusui seperti payudara banyak disertai demam.

7.

menghubungi kelompok pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari ibu-ibu lain yang sukses menyusui bagi mereka.

8.

Memperhatikan gizi/makanan anak, terutama mulai bayi 4 bulan, berikan MP ASDI yang cukup baik kuantitas maupun kualitas.

31

(Anton, 2008). 4) Air susu ibu dan hormon prolaktin Setiap kali bayi mengisap payudara akan merangsang ujung saraf sensoris di sekitar payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis bagian depan untuk menghasilkan prolaktin. Prolaktin akan masuk ke peredaran darah kemudian ke payudara menyebabkan sel sekretori di alveolus (pabrik ASI) menghasilkan ASI. Makin banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang ASI (sinus laktiferus), makin banyak produksi ASI. Dengan kata lain makin banyak bayi menyusu makin banyak ASI diproduksi. Sebaliknya, makin jarang bayi menghisap, makin sedikit payudara menghasilkan ASI. Jika bayi berhenti menghisap maka payudara akan berhenti menghasilkan ASI. Prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari dapat membantu mempertahankan produksi ASI. Hormon prolaktin juga akan menekan ovulasi (fungsi indung telur untuk menghasilkan sel telur), sehingga menyusui secara eksklusif akan memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan haid. Oleh karena itu menyusui pada malam hari penting untuk menunda kehamilan. (Badriul dkk, 2008). 5) Air susu ibu dan refleks oksitosin (Love reflex, Let Down reflex) Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian belakang kelenjar hipofisis. Hormon tersebut dihasilkan bila ujung saraf di sekitar payudara dirangsang oleh isapan. Oksitosin akan dialirkan melalui darah menuju ke payudara yang akan merangsang kontraksi otot di sekeliling alveoli

32

(pabrik ASI) dan memeras ASI keluar dari pabrik ke gudang ASI. Hanya ASI di dalam gudang ASI yang dapat dikeluarkan oleh bayi dan atau ibunya. Proses keluarnya ASI ini disebut let down reflex. Efek penting oksitosin lainnya adalah menyebabkan uterus berkontraksi setelah melahirkan. Hal ini membantu mengurangi

pendarahan, walaupun kadang mengakibatkan nyeri. Beberapa keadaan yang dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin adalah: 1. 2. 3. Perasaan dan curahan kasih sayang terhadap bayinya Celotehan atau tangisan bayi Dukungan ayah dalam pengasuhan bayi, seperti menggendong bayi pada saat akan disusui atau disendawakan, mengganti popok dan memandikan bayi, bermain, mendendangkan bayi dan membantu pekerjaan rumah tangga. 4. Pijat bayi Sentuhan pada kulit bayi melalui seni pijat ternyata dapat meningkatkan produksi ASI. Penelitian Chynthia Mersmann membuktikan bahwa bila bayi dipijat, produksi ASI perah ibunya akan lebih banyak. Beberapa hal yang dapat mengurangi produksi hormon oksitosin adalah: 1. 2. Rasa cemas, sedih, marah, kesal, atau bingung Rasa cemas terhadap perubahan bentuk payudara dan bentuk tubuhnya, meninggalkan bayi karena harus bekerja, dan ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi

33

3.

Rasa sakit terutama saat menyusui (Badriul dkk, 2008).

6) Keberhasilan menyusui Beberapa langkah yang dapat menuntun ibu agar sukses menyusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama, antara lain: 1. Biarkan bayi menyusu segera setelah lahir terutama satu jam pertama (inisiasi menyusu dini), karena bayi baru lahir sangat aktif dan tanggap dalam satu jam pertama dan setelah itu akan mengatuk dan tertidur. Bayi mempunyai reflek menghisap (sucking reflex) sangat kuat pada saat itu. 2. Yakinkan bahwa hanya ASI makanan pertama dan satu-satunya bagi bayi anda. Tidak ada makanan atau cairan lain (seperti gula, air, susu formula) yang diberikan, karena akan menghambat proses menyusui. Makanan atau cairan lain akan mengganggu produksi dan suplai ASI, menyebabkan "bingung puting", serta meningkatkan resiko infeksi. 3. Susu bayi sesuai kebutuhannya sampai puas. Bila bayi puas, maka ia akan melepaskan putting dengan sendirinya. (Badriul dkk, 2008). 7) Tujuh langkah keberhasilan ASI eksklusif 1) Mempersiapkan payudara bila diperlukan. 2) Mempelajari ASI dan tatalaksana menyusui. 3) Menciptakan dukungan keluarga, teman, dan sebagainya. 4) Memilih tempat melahirkan yang "sayang bayi" seperti "rumah sakit sayang bayi" atau "rumah bersalin sayang bayi".

34

5) Memilih tenaga kesehatan yang mendukung pemberian ASI secara eksklusif. 6) Mencari ahli persoalan menyusui seperti klinik laktasi dan atau konsultasi, untuk persiapan apabila menemui kesukaran. 7) Menciptakan suatu sikap yang positif tentang ASI dan menyusui. (Utami, 2007). 8) Sepuluh langkah keberhasilan menyusui 1. Sarana pelayanan kesehat mempunyai kebijakan

tentang penerapan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui dan melarang promosi PASI. 2. Sarana pelayanan kesehatan melakukan pelatihan untuk staf sendiri atau lainnya. 3. Menyiapkan ibu hamil untuk mengetahui manfaat ASI dan langkah keberhasilan menyusui. Memberikan konseling apabila ibu penderita infeksi HIV positif. 4. Melakukan kontak dan menyusui dini bayi baru lahir(1/2-1 jam setelah lahir). 5. Membantu ibu melakukan teksnik menyusui yang benar (posisi perletakan tubuh bayi dan perlekatan mulut bayi pada payudara). 6. Hanya memberikan ASI saja tanpa minuman pralaktal sejak bayi lahir. 7. 8. Melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi. Melaksanakan pemberian ASI sesering dan semau bayi.

35

9. 10.

Tidak memberikan dot/kempeng. Menindak lanjuti ibu-bayi setelah pulang dari sarana pelayanan kesehatan. (Badriul dkk, 2008).

9) Langkah- Langkah Menyusui Yang Benar 1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sehingga desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. 2. 3. Bayi diletakkan menghadap perut ibu atau payudara. Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu saja atau areolanya saja. 4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut dengan cara menyentuh pipi dengan puting susu atau menyentuh sisi mulut bayi. 5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukkan ke mulut bayi. 6. Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI ke luar dari tempat penampungan ASI (Utami, 2001).

3)

Kendala Ibu Menyusui

36

Menurut Anton (2008) banyak faktor sebenarnya yang menyebabkan para ibu merasa tidak penting dan enggan memberikan ASI kepada bayi mereka, secara garis besar ada dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
a. Faktor internal

Faktor internal ini sangat mempengaruhi para ibu seperti kurangnya pengetahuan. Faktor ini merupakan faktor yang paling mempengaruhi para ibu, mereka tidak banyak tahu manfaat apa saja yang terdapat pada ASI, apa akibatnya bila anak tidak mendapat ASI yang cukup dari ibunya atau sebaliknya.
b. Faktor eksternal

1) ASI belum keluar pada hari-hari pertama sehingga ibu berfikir perlu ditambah susu formula 2) Ibu yang bekerja
3) Ketidak mengertian ibu para tentang colostrum

4) Anggapan ibu bahwa ASI ibu kurang gizi, kualitasnya tidak baik Sedangkan menurut Utami (2007) yang paling sering dikemukakan tentang kendala ibu menyusui yang dikemukakan yaitu:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

ASI tak cukup Ibu bekerja dengan cuti hamil tiga bulan Takut ditinggal suami Tidak diberi ASI tetap berhasil "jadi orang" Bayi akan tumbuh jadi anak yang tidak mandiri dan manja Susu formula lebih praktis Takut badan tetap gemuk

37

4)

Mewujudkan Setiap Bayi Mendapat ASI dan Memampukan Setiap Ibu Menyusui Bayinya Hak bayi mendapat ASI diartikan mendapat ASI sesuai dengan Resolusi Word Health Asembly (WHA) (2001), yaitu bayi mendapat ASI eksklusif sejak lahir sampai usia 6 bulan, selanjutnya diberikan MP-ASI dan pemberian ASI diteruskan sampai bayi usia 2 tahun lebih. Seorang ibu menyusui agar mampu dan berhasil melaksanakan pemberian ASI seutuhnya. Seorang ibu memerlukan perlindungan, informasi, dan bantuan yang komprehensif sekaligus menghilangkan hambatan dilingkungannya, antara lain:
1. 2.

Lingkungan keluarga dan masyarakat yang mendukung. Komunikasi, informasi dan edukasi kepada semua lapisan masyarakat untuk menumbuhkan 'budaya ASI', misalnya penyediaan sarana ruang menyusui di pelayanan umum.

3.

Keseluruhan pelayanan kesehatan menerapkan '10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui' atau menerapkan 'Sayang Bayi'.

4.

Ibu mendapat informasi atau konseling tentang manfaat pemberian ASI dan cara menyusui yang benar.

5. 6.

Ibu mendapat konseling menyusui terutama bila menghadapi masalah. Ibu tidak terpapar/terpengaruh oleh pemasaran PASI atau ibu harus dapat menolak pemberian PASI.

7.

Ibu yang bekerja mendapat perlindungan, kebijakan, sarana dan bantuan untuk melaksanakan pemberian ASI yang optimal.

38

8.

Ibu yang menderita HIV positif membutuhkan pengetahuan tentang pemberian makan bayi.

9.

Bila ibu-bayi berada dalam situasi darurat dibantu untuk tetap menyusui. (Badriul dkk, 2008).

Menurut Departemen Kesehatan RI (2004), ada beberapa hal yang harus diketahui oleh ibu untuk meningkatkan cakupan ASI, yaitu:
1. 2.

Pengertian ASI eksklusif dan kolostrum. Manfaat kolostrum bagi kesehatan bayi, manfaat pemberian ASI, dan manfaat menyusui.

3.

Waktu, yaitu kapan ibu mulai menyusui bayinya, berapa lama, dan sampai umur berapa.

4.

Cara menyusui yang baik dan benar, menghentikan bayi menyusui, menyendawakan bayi setelah disusui, meningkatkan produksi ASI, menyimpan ASI dan cara menyapih yang baik.

5.

Cara mengatasi permasalahan menyusui, antara lain: puting susu datar dan terpendam, lecet dan nyeri, payudara bengkak, saluran ASI tersumbat, radang payudara, payudara abses, produksi ASI kurang dan bingung puting.

5)

Menjadi Ayah ASI (breastfeeding father) Menurut Bonny dkk (2003) kegiatan menyussui kerap membuat para ayah cemburu dan merasa terkucil. Saat menyusu ikatan ibu dan bayi tampak kuat, ketika perhatian ibu hannya tertuju pada bayi dan bayi sangat menikmati

39

dekapan, debar jantung ibu, dan ASI dari payudara ibu, sesuatu yang tidak bisa dimiliki ayah. Keterbatasan ayah hendaknya jangan hanya menempatkan ayah sebagai penonton. Ayah bisa mendukung dan berpartisipasi dalam

proses pemberian ASI dengan cara menjadi ayah ASI seperti :
a.

Ayah bisa berada disamping istri yang sedang menyusui sambil memberikan semangat pada istri untuk terus memberikan ASI-nya, juga kekaguman dan penghargaan.

b. Ayah bisa membantu istri memijat payudara agar ASI keluar lebih lancar. c.

Ayah bisa membantu menyediakan makanan dan minuman bagi istri menyusui.

d.

Jangan tidur sepanjang malam, tetapi tunjukkan solidaritar dalam kegiatan menyusui dimalam hari dengan menemani istri saat menyusui bayi atau menggendongkan bayi dari ranjang untuk disusui kepada ibunya dan mengembalikanya lagi ke ranjang setelah usai disusui.

e.

Ayah bisa memijat bahu istri untuk mengurangi keletihan istri saat sedang menyusui.

f.

Terhadap bayi, usapkan lengan ayah pada bayi saat ia tengah menyusu umumnya bisa menyenagkan si bayi.

g.

Ayah bisa membantu memberikan ASI perahan pada bayi saat istri tidak bisa memberikan ASI secara langsung.

h.

Berperan serta dalam pekerjaan harian sehingga ayah terlalu sibuk untuk merasa iri pada bayi. Utami (2008) mengatakan bahwa seorang ayah sebaiknya mengerti

untuk mendukung keberhasilan memberikan ASI eksklusif atau menjadi ayah

40

ASI (breastfeeding father). banyak cara yang bisa dilakukan ayah dalam membantu proses menyusui agar menjadi ayah ASI seperti :
1)

Ayah menyendawakan bayi

2)

Ayah memandikan bayi

3)

Ayah bermain, bergurau, dan mendendangkan bayi

4)

Ayah mengganti popok

5)

Ayah memijat bayi

6)

Ayah menggendong bayi

6)

Konsep Keluarga
1) Pengertian Keluarga

Keluarga adalah bagian dari masyarakat yang peranannya sangat penting untuk membentuk kebudayaan yang sehat ( Setiadi, 2008). Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga serta beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988).

41

Sedangkan menurut UU No. 10 tahun 1992 keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.

2) Ciri- Ciri Keluarga 1) Menurut Robert Mac Iver dan Charles Horton 1. 2. Keluarga merupakan hubungan perkawinan Keluarga berbentuk suatu kelembagaan yang berkaitan

denagn hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara 3. Keluarga mempunyai sistem tata nama termasuk

perhitungan garis keturunan
4.

Keluarga mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh berkaitan dengan kemampuan untuk

anggota-anggotanya mempunyai ketur-

unan dan membesarkan anak 5. Keluarga merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau

rumah tangga. 2) Ciri keluarga Indonesia 1. Mempunyai ikatan yang erat dengan dilandasi semangat gotong royong 2. Dijiwai oleh nilai kebudayaan ketimuran

42

3. Umumnya dipimpin oleh suami meskipun proses pemutusan dilakukan secara musyawarah. ( Setiadi, 2008). 4.

3) Tipe Keluarga a. Secara Tradisional 1. Keluarga Inti Suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan anak (kandung atau angkat). 2. Keluarga Besar Keluarga inti ditambah dengan keluarga lain, misalnya kakek, nenek, paman, bibi dan lain-lain. 2) Secara Modern
1. Keluarga “Dyad”

Suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri tanpa anak.

2. Single – Parent

Suatu rumah tangga yang terdiri dari suatu orang tua dengan anak (kandung atau angkat) disebabkan oleh perceraian atau kematian. 3. Single – Adult Suatu rumah tangga yang hanya terdiri dari orang dewasa hidup sendiri
4) Struktur Keluarga

43

1. Patrilineal Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah. 2. Matrilinea Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu. 3. Matrilokal Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri. 4. Patrilokal Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.

5. Keluarga Kawinan Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri. ( Setiadi, 2008). Ciri-ciri struktur keluarga 1. Terorganisasi Saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga.

44

2. Ada keterbatasan Setiap anggota memiliki keterbatasan mereka juga memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-msing. 3. Ada perbedaan dan kekhususan Setiap anggota keluarga mempunyai peran dan fungsinya masingmasing (Wahit iqbal dkk, 2006).

5) Fungsi Keluarga 1) Fungsi Biologis 1. Untuk meneruskan keturunan 2. Memelihara dan membesarkan anak 3. 4. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga Memelihara dan merawat anggota keluarga

2) Fungsi Psikologis 1.
2.

Memberikan kasih sayang dan rasa aman bagi keluarga Memberikan perhatian diantara anggota keluarga Memberikan kedewasaan kepribadian anggota keluarga Memberikan identitas keluarga

3. 4.

3) Fungsi Sosialisasi 1. 2. Membina sosialisasi pada anak Membentuk norma-norma dan tingkah laku sesuai dengan tingkat pengembangan masing-masing. 3. Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga

5) Fungsi Ekonomi

45

1.

Mencari

sumber-sumber

penghasilan

untuk

memenuhi

kebutuhan keluarga. 2. Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang. 3. Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga 6) Fungsi Pendidikan 1. Menyekolahkan anak untuk membesar pengetahuan keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat serta minat yang dimilikinya. 2. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
3.

Mendidik sesuai dengan tingkat perkembangannya. ( Setiadi, 2008).

Ada 5 fungsi dasar keluarga menurut Friedman (1988), yaitu : 1) Fungsi Afektif Fungsi afektif berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan dari keluarga. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga untuk fungsi afektif adalah : 1. Memelihara Saling Asuh Saling mengasuh cinta kasih, kehangatan, saling menerimanya saling mendukung antar anggota. 2. Keseimbangan Saling Menghargai

46

Saling menghargai dengan mempertahankan iklim yang positif dimana tiap anggota diakui, dihargai keberadaan dan halnya baik orang tua maupun anak maka fungsi afektif akan dicapai. 3. Peralihan dan Identifikasi Kekuatan yang besar dibalik persepsi dan kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan individu dalam keluarga adalah pertalian (booding) atau kasih sayang (attachment) digerakkan secara bergantian. 4. Keterpisahan dan Kepaduan Salah satu masalah pokok psikologis yang sentral dan menonjol yang meliputi kehidupan keluarga adalah cara keluarga memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis anggota keluarga dan bagaimana hal ini mempengaruhi identitas dan harga diri individu.

2) Fungsi Sosialisasi Sosialisasi dimulai saat lahir dan hanya diakhiri dengan kematian. Sosialisasi merupakan suatu proses yang berlangsung seumur hidup dimana individu secara continue mengubah perilaku mereka sebagai respon terhadap situasi yang terpola secara sosial yang mereka alami. 3) Fungsi Reproduksi Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan kelurusan dan menambah sumber daya manusia. 4) Fungsi Ekonomi

47

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti makanan, pakaian rumah maka keluarga memerlukan sumber keuangan. 5) Fungsi perawatan keluarga atau pemeliharaan kesehatan Dari perspektif masyarakat, keluarga merupakan sistem dasar dimana perilaku sehat dan perawatan kesehatan diatur, dilaksanakan, dan diamankan. Keluarga memberikan perawatan kesehatan yang bersifaat preventif dan secara bersama-sama merawat anggota keluarga yang sakit. Tugas kesehatan keluarga : 1. 2. 3. 4. 5. Mengenal masalah kesehatan keluarga Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit Mempertahankan suasana rumah yang sehat Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada dimasyarakat (Wahit Iqbal dkk, 2006). UU No. 10 tahun 1992 PP No. 21 1994. Secara umum fungsi keluarga adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Fungsi keagamaan Fungsi budaya Fungsi cinta kasih Fungsi perlindungan Fungsi reproduksi Fungsi sosialisasi Fungsi ekonomi

48

8.

Fungsi pelestarian lingkungan

Menurut Effendy (1998) ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya yaitu: 1. Asih Adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga. 2. Asuh Merawat anak agar kesehatannya terpelihara, sehingga menjadi anak yang sehat fisik, mental, sosial, dan spiritual. 3. Asah Memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga menjaadi manusia mandiri dalam mempersiapkan kehidupannya.

6) Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan

Friedman 1981 (dikutip dalam Setiadi, 2008) membagi 5 tugas keluaga dalam bidang kesehatan yang harus dilakukan yaitu : 1. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya 2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga. 3. Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda. 4. Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarganya.

49

5. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan

lembaga kesehatan ( pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).

7) Peran Keluarga Peran adalah sesuatu yang diharapkan secara normatif dari seorang dalam situasi sosial tertentu agar dapat memenuhi harapan –harapan (Setiadi 2008). Peran adalah tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem (Kozier, Barbara, 1995 dikutip dalam Wahit iqbal dkk, 2006). Peranan keluarga adalah menggambarkan seperangkat perilaku

interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu (Setiadi, 2008). Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing yaitu: 1. Ayah Ayah sebagai pemimpin keluarga mempunyai peran sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, pemberi rasa aman bagi setiap anggota keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu.

2.

Ibu

50

Ibu sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh, pendidik anakanak, pelindung keluarga, dan juga pencari nafkah tambahan keluarga dan juga sebagai kelompok masyarakat sosial tertentu. 3. Anak Anak berperan sebagai perilaku psikososialsesuai dengan perkembangan fisik, mental, sosial, dan spiritual. (Setiadi, 2008).

Peran dalam keluarga menurut Murray & Zentner (1975, 1985 dikutip dalam Wahit iqbal dkk, 2006) ada dua peran keluarga yaitu peran formal keluarga dan peran informal keluarga. 1) Peran formal keluarga Yaitu sejumlah perilaku yang kurang lebih bersifat homogen. Keluarga membagi peran secara merata kepada para anggota keluarganya seperti cara masyarakat membagi peran-perannya: menurut bagaimana pentingnya pelaksanaan peran bagi berfungsinya suatu sistem. Peran formal yang setandar terdapat dalam keluarga (Pencari nafkah, ibu rumah tangga, tukang perbaiki rumah, sopir, pengasuh anak, manejer keuangan, dan tukang masak). Jika dalam keluarga hanya terdapat sedikit orang yang memenuhi peran ini: dengan demikian lebih banyak tuntutan dan kesempatan bagi anggota keluarga untuk memerankan beberapa peran pada waktu yang berbeda. Nye dan Gecas, 1976 mengidentifikasi 6 peran dasar yang membentuk posisi sosial sebagai suami-ayah dan istri-ibu :

51

1. Peran sebagai provider atau penyedia 2. Sebagai pengatur rumah tangga 3. Perawatan anak 4. Sosialisai anak 5. Rekreasi 6. Persaudaraan (kinship) (memelihara hubungan keluarga paternal dan maternal) 7. Peran terapeutik (memahami kebutuhan afektif dari pasangan) 8. Peran seksual 2) Peran kepermukaan informal Peran informal keluarga bersifat implicit biasanya tidak tampak

dan dimainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan-

kebutuhan emosional individu dan atau untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga. Beberapa contoh peran-peran informal yang bersifat adaptif dan yang merusak kesejahteraan keluarga antara lain : Pendorong, pengharmonis, inisiator-kontributor, pendamai, penghalang, deminator, penyalah, pengikut, pencari nafkah, martir, keras hati, sahabat, kambing hitam keluarga, penghibur, perawat keluarga, pioner keluarga, coordinator keluarga, distraktor dan orang yang tidak relevan, penghubung keluarga, saksi.

8) Dukungan Sosial Keluarga

52

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Power et all, dikutip dalam Friedman (1998), dukungan keluarga adalah kemampuan keluarga dalam memberikan penguatan satu sama lain serta kemampuan keluarga menciptakan suasana memiliki. Sedangkan dukungan sosial keluarga adalah suatu keadaan yang bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari orang lain yang dapat dipercaya, sehingga seseorang akan tahu bahwa ada orang lain yang memperhatikan, menghargai dan mencintainya (Cohen & Syme, 1996 dikutip dalam Setiadi, 2008). Dukungan sosial keluarga dikonseptualisasikan sebagai koping keluarga, baik dukungan-dukungan yang bersifat eksternal maupun yang bersifat internal. Dukungan sosial keluarga yang bersifat eksternal antara lain sahabat, pekerjaan, tetangga, sekolah, keluarga besar, kelompok sosial, kelompok rekreasi, tempat ibadah, praktisi kesehatan. Dukungan sosial keluarga internal antara lain dukungan dari suami atau istri, dari saudara kandung, atau dukungan dari anak-anak (Friedman, 1998 dikutip dalam Setiadi, 2008). Jenis dukungan keluarga ada empat (Friedman, 1998 dikutip dalam Setiadi, 2008) yaitu :
1) Dukungan Instrumental

Yaitu keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit untuk menyelesaikan masalah. 2) Dukungan informasional

53

Yaitu

keluarga berfungsi sebagai sebuah

kolektor

dan

diseminator (penyebar informasi) tentang semua informasi yang ada dalam kehidupan. Keluarga berfungsi sebagai pencari informasi. 3) Dukungan penilaian (appraisal) Yaitu keluarga bertindak sebagai umpan balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber dan validator identitas keluarga. 4) Dukungan emosional Yaitu keluarga sebagai tempat yang aman dan damai utuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan emosi. Menurut House (Smet, 1994) setiap bentuk dukungan sosial keluarga mempunyai ciri-ciri antara lain : 1) Informatif, yaitu bantuan informasi yang disediakan agar dapat digunakan oleh seseorang dalam menanggulangi persoalan-persoalan yang dihadapi, meliputi

pemberian nasehat, pengarahan, ide-ide atau informasi lainnya yang dibutuhkan dan informasi ini dapat disampaikan kepada orang lain yang mungkin menghadapi persoalan yang sama. 2) Perhatian emosiaonal, dukungan ini berupa dukungan simpatik dan empati, cinta, kepercayaan, dan penghargaan.
3)

Bantuan bertujuan untuk mempermudah

instrumental, dalam

batuan

ini

seseorang

melakukan

54

aktifitasnya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya, atau menolong secara langsung kesulitan yang dihadapi.
4)

Bantuan

penilaian,

bentuk

penghargaan yang diberikan seseorang kepada orang lain berdasarkan kondisi sebenarnya. Penilaian bisa bersifat positif dan negatif yang mana pengaruhnya sangat berarti bagi seseorang. Berkaitan dengan keluarga maka penilaian yang sangat membantu adalah penilaian yang positif. Pengaruh fositif dari dukungan sosial keluarga adalah penyesuaian terhadap kejadian dalam kehidupan yang penuh dengan stress (Setiadi, 2006).
9) Sumber - Sumber Dukungan Sosial

Menurut Thorst (Sofia, 2003 dikutip dalam Bowo, 2009) mengatakan bahwa dukungan sosial bersumber dari orang-orang yang memiliki hubungan berarti bagi individu seperti keluarga, teman dekat, pasangan hidup, rekan kerja, tetangga, dan saudara. Sedangkan Nicholson dan Antil (Suhita, 2005 dikutip dalam Bowo, 2009) dukungan sosial adalah dukungan yang berasal dari keluarga dan teman dekat atau sahabat. Sumber-sumber dukungan sosial yaitu: 1) Suami Menurut Wirawan 1991 (dikutip dalam Bowo, 2009) hubungan perkawinan merupakan hubungan akrab yang diikuti oleh minat yang sama, kepentingan yang sama, saling membagi perasaan, saling mendukung, dan menyelesaikan permaslahan bersama. Hubungan dalam perkawinan akan menjadikan suatu keharmonisan keluarga,

55

yaitu kebahagiaan dalam hidup karena cinta kasih suami istri yang didasari kerelaan dan keserasian hidup bersama. 2) Keluarga Menurut Heardman, 1990 (dikutip dalam Bowo, 2009) keluarga merupakan sumber dukungan sosial karena dalam hubungan keluarga tercipta hubungan yang saling mempercayai. Individu sebagai anggota keluarga akan menjadikan keluarga sebagai kumpulan harapan, tempat bercerita, tempat bertanya, dan tempat mengeluarkan keluhan-keluhan bilamana individu sedang mengalami permasalahan.

3) Teman/sahabat Menurut Kail dan Neilsen (Suhita, 2005 dikutip dalam Bowo, 2009) teman dekat merupakan sumber dukungan sosial karena dapat memberikan rasa senang dan dukungan selama mengalami suatu permasalahan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful