P. 1
Skripsi Pendidikan (133)

Skripsi Pendidikan (133)

|Views: 3,354|Likes:
Published by Safran Hasibuan

More info:

Published by: Safran Hasibuan on Dec 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

text

original

Bapak / ibu mempunyai cita-cita apa jika anak-anak ( laki-laki dan perempuan )

sudah besar nanti ?

Pak UI : “Kalau saya ya…bisa hidup enak, senang, ingat dengan orang tua

terutama sama ibunya, jadi orang yang suka mbantu orang, yang penting

lagi hidupnya lebih enak dari saya”

Ibu S : “Ya sama dengan bapaknya anak-anak.ini. Kalau bisa jadi orang, akur.

Saya sebagai orang tua tidak meminta apa-apa kok..”

Mengapa berpendapat demikian ?

Pak UI : “Karena sejak kecil saya ikut Pakdhe. Dan ikut orang itu susah. Apalagi

saya sering dibeda-bedakan. Bapak saya sudah meninggal sejak saya

umur 4 bulan masih dalam kandungan. Terus saya ditinggal di desa

Segrumung dengan Pakdhe. Pokoknya anak-anak saya harus lebih baik

dan lebih enak dari saya”

Ibu S : “ Ini…saya kan sejak kecil hiduonya susah meskipun orang tua. Makan

saja dibedakan “jatahnya” . yang lain boleh sekolah, saya tidak. Uang

saku jarang dikasih, bangunnya lebih pagi, kalu telat pernah diguyur air

bekas cuci piring. Pokoknya sengsara terus sampai sekarang ini..”

Sejak pukul berapakah bapak/ ibu bekerja ?

Pak UI: “Kalau saya tidak tentu. Saya tidurnya di tempat saya kerja. Ya..kira-kira

jam 07.00 pagi sudah buka. Nanti tutup jam 10.00 malam. Tergantung

ada yang mau menambalkan atau tidak”.

Ibu S :”Saya ya…kalau dirumah sudah selesai kerjaannya. Biasanya jam setengah

enam jam enam berangkat dan pulang jam 03.00 atau jam 04.00 sore”

Diantara bapak dan ibu siapakah yang lebih banyak waktu dirumah ?

Pak UI: “Ibunya anak-anak…saya jarang pulang. Seminggu sekali saya pulang

dan hanya dua atau tiga hari paling lama di rumah. Tidak tentu ”.

Ibu S : “Iya..kadang kalau sedang malas kerja juga lama dirumah…”.

116

Kegiatan masyarakat apa sajakah yang diikuti bapak/ibu ?

Pak UI: “Yaa..kalau saya dirumah ada undangan Tahlilan atau rapat ya datang.

Tetapi seringnya anak saya yang pertama yang sering mewakili saya..”

Ibu S : “Ah…kalau suami saya ini jarang mau kumpul dengan tetangga. Kalau

saya ikut itu arisan RT. Dulu saya ikut Yasin dan Berjanjen ibu-ibu.

Waktu saya dapat giliran ditempati, meeka tidak mau datang karena

dirumah saya punya anjing. Ya sudah…saya keluar saja. Terlanjur sudah

sakit hati. Saya sudah capek-capek masak ..eeh…malah yang datang

cuma 2 orang saja. Sudah hampir satu tahun ini saya keluar..”.

Kapan kegiatan tersebut dilaksanakan ?

Ibu S : “Kalau arisan RT seminggu sekali tiap hari Jum’at Kalau Yasin dan

Berjanjen juga setiap seminggu sekali, setiap hari rabu malam”

Apakah bapak/ibu mempunyai waktu khusus untuk berkumpul dengan keluarga ?

Pak UI : “Kalau saya di rumah ya..bisa kumpul dengan anak-anak. Kalau kerja

ya..tidak bisa..”

Ibu S : “Yaa…tidak waktu khusus. Tetapi kalau ngobrol sore atau malam. Anak-

anak seringnya sudah dirumah kalu sore dan malam. Kalau tidak

keluar…nonton tv biasanya..?

Kapankah bapak/ibu melakukan hal tersebut ?

Pak UI : “Seringnya kalau saya dirumah itu sore menjelang maghrib atau malam.

Sambil makan malam biasanya..”

Mengapa hal tersebut bapak/ibu lakukan ?

Pak UI : “ Sebenarnya bukan kenapa-kenapa. Hanya seringnya waktu itu karena

santai ”.

Dalam kegiatan tersebut apa sajakah yang biasanya dilakukan ?

117

Pak UI : “Ngobrol “

Apakah bapak/ibu memanjakan salah satu dari anak-anak bapak/ibu ?

Pak UI : “Kalau saya tidak..sama semua..”

Ibu S: “ Ahh…tidak. Bapaknya ini sering menganak emaskan MI. Uang jajan saja

sering dikasih lebih tanpa sepengetahuan saya. Kalau saya sama semua.”

Mengapa bapak/ibu melakukan hal tersebut ?

Pak UI: “He..he..yaa..kan kebutuhannya kadang banyak dan butuh uang. Tetapi

memang saya cenderung sedikit memanjakan MI. Karena dia pernah saya

pukul pakai kayu karena saya dikasih tau tetangga saya kalau MI mencuri

perhiasan miliknya. Tetangga dikasih tahu semua. Saya malu waktu itu.

Memang sih..dia sejak kecil sering mengambil uang sisa belanja. Karena

saya jengkel, saya pukul sampai tidak bisa bernafas.Sejak saat itu saya

kapok memukul anak-anak saya”.

Ibu S: “Kalau anak saya dimanja, tidak akan bisa berpikir dewasa. Tidak baik buat

anak-anak saya kalau dimanja”

Apakah cara bapak / ibu dalam mengasuh anak-anak sama dengan orang tua Anda

dulu ?

Pak UI: “Tidak. Kasihan kalau mereka merasakan hal yang sama dengan saya.

Susah. Sering mau makan kalau belum kenyang mau tambah tidak boleh.

Yaaa..jalan satu-tunya saya mencuri kalau malam. Mencuri tapi dirumah

sendiri..he..he..bagaimana lagi..masih lapar..”

Ibu S: “Tidak. Saya tidak anak-anak seperti saya. Kasihan. Saya tidak betah waktu

itu dirumah. Sengsara sekali hidup saya…samapi sekarang juga masih

seperti ini”

Apa yang mendorong bapak / ibu mengasuh anak-anak dengan cara demikian ?

Pak UI : “Agar mereka tidak merasakan keadaan yang sama dengan saya ”

118

Ibu S : “Saya kasihan kalau mereka sampai merasakan seperti yang saya rasakan

dahulu”

Menurut bapak / ibu apakah pendidikan bapak / ibu dahulu berpengaruh terhadap

keadaan ekonomi bapak/ ibu sekarang ?

Pak UI : “Tidak menurut saya. Semua itu Tuhan yang mengaturnya. Dahulu,

kemarin, sekarang, besok..itu semua Tuhan yang mengaturnya..”

Ibu S : “Ya memang sudah jalannya saya hidup susah mungkin...semoga saja

anak-anak saya tidak seperti saya semuanya”

Apakah bapak/ibu dalam mengasuh anak dibantu oleh orang lain ?

Pak UI : “Tidak…”

Ibu S: “Ya..”

Jika ya, siapakah yang membantu bapak/ibu mengasuh anak?

Ibu S : “Tetangga saya ”

Pak UI : “Ehh ..benar..”

Mengapa bapak/ibu meminta bantuannya ?

Ibu S : “Waktu anak-anak masih kecil saya repot dan bapaknya anak-anak tidak

dirumah ya..saya titipkan tetangga”

Siapakah yang sering datang ke sekolah ketika walikelas mengundang orang tua

murid ?

Ibu S: “Saya… ”.

Mengapa ?

Ibu S: “Bapaknya anak-anak sering tidak mau datang ke sekolah..ambil rapor

saya, undangan rapat saya, ambil ijazah kelulusan juga saya..alasannya

hanya malas, bagaimana lagi..sampai sekarang ini lho.tidak pernah

119

mau..jadi ada apa-apa dengan anak-anak di sekolah juga saya..kalau tidak

percaya tanya saja anak-anak saya..”

Bagaimana bapak/ ibu dapat mengetahui perkembangan anak di sekolah ?

Pak UI : “Ya..dari hasil rapor. Dan ibunya ini kan sering tanya bagaimana anak-

anak di sekolah ..”

Ibu S : “Saya sering tanya bagaimana anak saya di sekolah biasanya kalau

mengambil rapor itu…”

Apa yang bapak / ibu lakukan ketika anak mengalami kesulitan mengerjakan PR

di rumah ?

Pak UI : “Karena saya tidak sekolah, dulu keluar di kelas satu, ya..saya suruh

kakak-kakaknya membantu”

Ibu S :“Saya orang bodoh., tidak pernah sekolah. Baca tulis saja tidak bisa.

Bagaimana bisa membantu..”

Apakah bapak/ ibu membatasi waktu bermain anak ?

Pak UI :“Dibatasi ya tidak, bebas juga tidak”

Mengapa demikian ?

Pak UI : “Boleh bermain dan bergaul dengan siapa saja, tidak pilih kasih. Yang

penting ada aturan, jangan sampai mengikuti arus tetapi tidak tahu

muaranya.Untuk pergaulan MA dan MI yang sering saya awasi. Mereka

sudah besar”.

Ibu S: “Apalagi sekarang jamannya seperti ini. Kalau mendengar yang begini-

begini..takutnya kalau anak-anak saya ikut-ikutan”.

Apa saja yang bapak / ibu terapkan pada anak-anak ketika mereka bergaul dengan

teman sebaya?

120

Pak UI : “Ya itu tadi..tidak pilih kasih, saling pengertian, jangan membeda-

bedakan yang kaya dengan yang miskin…yaa bagaimana wajarnya kalau

berteman saja”

Bagaimana bergaul dengan orang yang lebih tua dari mereka?

Ibu S : “ Harus sopan tentunya..”

Bagaimana bergaul dengan orang yang lebih muda dari mereka?

Pak UI : “Jangan mengganggulah..jangan mentang-mentang lebih besar,

contohnya saja dengan adik-adiknya..ya ..harus sayang..”

Mengapa bapak/ibu menerapkan hal-hal tersebut pada si anak ?

Ibu S: “Namanya orang tua itu ingin anak-anaknya bertingkah laku baik di mana

saja terutama di masyarakat”

Pak UI : “Apalagi orang miskin seperti saya ini..meskipun miskin tapi kalau

sopan, baik juga tidak ada jeleknya.. bisa membuat nama baik orang tuanya”

Menurut bapak/ibu pentingkah pendidikan kepada anak tentang perbedaan jenis

kelamin ?

Pak UI : “Ya penting..”

Mengapa demikian ?

Pak UI ;“Ehmm…jika tidak bisa-bisa anak saya kelakuannya tidak baik. Sekarang

banyak orang yang maaf..hamil di luar nikah. Saya bisa tahu berita itu ya..dari

koran kalau di Semarang..kalau di rumah ya dari radio..biar tidak ketinggalan

informasiI tu mungkin ya..kurang didikan dari orangtuanya”.

Ibu S: “Bapak bisa baca koran..aku tidak bisa membaca ya dari radio apalagi

kalau bapak dirumah, sukanya mendengarkan berita. Saya juga bisa tahu kadang

dari televise. Agar anak-anak juga tahu dirinya laki-laki atau perempuan kalau itu.

Tuh tetangga…anak perempuan tingkah lakunya seperti laki-laki..”

121

Bagaimana bapak /ibu mengenalkan pendidikan untuk perbedaan jenis kelamin?

Pak UI :“Ya saya nasehati bagaimana mereka harus bergaul ..dikoran, di radio

saya sering tahu berita ya dari itu. Tidak usah jauh-jauh daerah sini juga ada”

Ibu S: “Itu..caranya saya kasih baju perempuan kalau perempuan mainannya juga

mainan perempuan ..”

Upaya-upaya apa sajakah yang bapak/ibu lakukan terhadap anak agar si anak

tidak melakukan kesalahan dalam bertindak ?

Pak UI :“Ya saya kasih tahu mana yang benar, mana yang salah. Memang sudah

jadi kewajiban saya sebagai orang tua…tapi kalau sudah dikasih tahu tidak mau

menurut ya..silahkan, orang tua cuma mengarahkan anaknya saja”

Ibu S: “ Ya seperti kata bapaknya…dikasih tahu..”

Ketika anak memperoleh suatu prestasi dalam hal belajar, apa yang bapak/ ibu

lakukan untuk anak ?

Pak UI :“Ya bilang kalau bapak senang begitu saja...he..he..”

Sejak kapan bapak / ibu mengenalkan pendidikan agama ?

Pak UI :“Sejak kecil sampai sekarang “

Ibu S: “Tapi itu..MU sulit anaknya. Saya suruh TPQ saja sudah tidak mau

berangkat. Sampai capek ngasih tahu. Sekarang saya biarkan. Dia itu mirip saya

tidak sekolah juga tidak bisa ngaji (baca Qur’an-red)”

Mengapa bapak/ibu mengenalkan pendidikan sejak…..?

Pak UI : “Untuk benteng anak-anak saya. Kalau tidak dari kecil bagaimana….MU

contohnya, sudah sulit dikasih tau”

Ibu S: “ Iya…”

Bagaimana cara bapak / ibu menanamkan pendidikan agama ?

Pak UI : “Sholat lima waktu jangan sampai lupa..yang penting jangan sampai lupa

dengan yang membuat hidup”

122

Dalam bentuk apakah bapak/ibu mengenalkan pendidikan agama ?

Ibu S: “Ya itu… kalau sore saya suruh ikut TPQ ..ME sekarang yang masih TPQ

di Krajan Tengah, supaya tidak seperti saya”.

Apakah anak-anak diberi tanggung jawab untuk mengerjakan suatu pekerjaan

dalam membantu pekerjaan rumah ?

Ibu S: “Tidak...masalahnya mereka tidak mau, ya sudah akhirnya saya sendiri

yang mengerjakan ”.

Mengapa ?

Ibu S: “Ya itu tadi…ya sudah saya kasih marah, tapi namanya juga anak…”.

Ketika anak berbeda pendapat dengan bapak/ ibu, bagaimana bapak/ ibu

menyelesaikannya ?

Pak UI : “Saya dengarkan dulu alasannya. Kalau salah saya luruskan..”

Ibu S: “Tapi kalau bapaknya ini sama MA sama kerasnya, tidak ada yang mau

mengalah..”.

Bagaimana cara bapak/ibu dalam menanamkan disiplin pada anak yang dimulai

dari bangun tidur sampai tidur lagi ?

Pak UI : “Yang penting ingat waktu itu saja..”

Ibu S: “Bangun tidur ya diberesi, sholat jangan lupa, waktu makan jangan sampai

telat, waktunya pulang sekolah ya pulang, jangan mampir sana-sini. Orang tua itu

sukanya mikir yang tidak-tidak kalau anaknya pergi waktunya pulang belum di

rumah..”

Apakah bapak/ibu dalam memberikan uang jajan antara anak yang satu dengan

yang lain sama ?

Pak UI : “Ya tidak. Kebutuhan anak saya yang besar dengan yang kecil kan

berbeda ”

123

Ibu S: “Tapi bapaknya itu sering ngasih tambah MI tanpa sepengetahuan

saya…iya kan?”

Pak UI : “Lha bagaimana…kadang ada kebutuhan mendadak ya kasihan..”

Mengapa demikian?

Pak UI : “ Kebutuhan anak saya yang besar dengan yang kecil kan berbeda”

Ibu S: “ Kalau yang kecil paling cukup buat jajan saja, tapi kalau MA sudah tidak

minta uang, sudah bisa cari sendiri. Malah dia sering ngasih adik-adiknya buat

jajan”

Ketika anak meminta sesuatu sedangkan bapak/ibu tidak memiliki uang yang

cukup bahkan tidak ada, apa yang bapak/ibu lakukan terhadap sang anak ?

Pak UI : “Saya lihat-lihat dulu minta apa, tetapi seringnya saya bilang besok kalau

ada uang”

Ibu S: “Kalau yang minta harus sekarang itu MU..kalau tidak dikasih nangis,

kayak anak kecil..”

Bagaimana cara bapak/ibu mendidik anak agar anak mempunyai rasa suka

menabung ?

Pak UI : “Saya beri nasehat uangnya disimpan..jangan buat jajan terus..tapi

namanya anak, sulit dikasih tau. Saya dan ibunya ini sampai capek ngasih tahu

anak-anak agar menabung”

124

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->