Sifar Ar-Rijal (Imam Rijali) Sumber source: www.anu.edu.

au

Sejarah adalah perkembangan penentuan ide diri, perjalanan perkembangan diri dalam roh. karena roh hakekatnya bebas,maka sejarah adalah perjalanan kebebasan.(Hegel)

(potongan seperti dari sumber)Empunya tanah, karena ia dari mulanya

datang. Itulah kesudahan bangsya Ambon. Alkissah peri mengatakan bangsya Jawa. Maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera tatkala raja Tuban dinaikan kerajaan, maka tiada ia bersettia dan muafakat dengan kaum kulawarganya. Maka suatu kaum dua bersyaudara, seorang kiyai Tuli namanya dan seorang kiyai Dau namanya, dan seorang syaudaranya perempuan, nyai Mas namanya, ia naik serta kelengkapannya membawah dirinya mencari tempat kedudukannya. Hatta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Hitu. Ia masuk dalam labuan Husekaak namanya. Maka tiada melihat negeri dan tiada manusyia, lalu turun daripada kelengkapannya, naik ke darat membuat negeri akan kedudukannya.Hatta demikian itu keluar seekor anjing, maka orang itu dikatakan: ‘Ada anjing, adalah lagi manusyia; jikalau ada manusyia, ada juga negeri.’ Lalu ditangkap anjing itu, digantungkan suatu bungkusan di atas leher anjing itu. Ada pun dalam bungkusan itu serba sedikit daripada alamat negerinya. Lalu dilepaskan anjing itu pulang ke negeri kepada tuannya. Maka apalah* dilihat tuannya bungkusan itu, maka ia melihat alamat serba sedikit itu. Maka ia berkata kepada orang sekalian: ‘Ada juga manusyia di pantai itu.’ Maka ia mengambil buah-buahan akan tanda alamat negerinya, lalu digantung kepada leher anjing itu, dilepaskan pulang keluar ke pantai. Maka dilihat oleh orang itu, maka kata orang itu: ‘Marilah kita pergi periksyai kepada negeri itu’, lalu ia berjalan. Hatta ia datang ke tengah jalan, maka bertemu seorang, lalu dipangil serta dengan dia berjalan menuju kepada negeri dan orang dalam negeri itu pun keluar semuanya berjalan ke pantai. Maka ia bertemu dengan penguluh kelengkapan itu, maka kedua pihak berhadapan bertanyatanyakan kehendaknya datang itu. Maka menyahut penguluh kelengkapan itu, segala hal-ahwal semuanya diceriterakan kepada orang itu. Lalu ia bertanya pula kepada orang negeri itu, maka menyahut orang itu. Segala hal-ahwal mulanya datang itu diceriterakan kepada penguluh kelengkapan itu. Tellah demikian itu, maka kedua pihak bennarnya jual-beli, tukar-menukar beramai-ramaian. Hatta datang malam orang itu pun pulang ke negerinya. Apabila datang esok harinya, ia turun juga jual-beli, tukar-menukar sebagailah. Maka suatupun tiada dalamnya melainkan melakukan kesukaannya. Itulah kesudahan bangsya Jawa. Alkissah peri mengatakan bangsya Jailolo dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera, demikian riwayatnya. Ada pun dalam negeri Jailolo itu dua bangsya, seorang bangsya Jailolo dan seorang bangsya Jawa, yakni anak raja keduanya. Maka dalam

keduanya itu. Maka syaudaranya dan setengah raiyat turun duduk menjadi penghulu kepada negeri Lisabata. Sama berhadapan.’ Lalu perau mengambil ikan itu kembali menyampaikan khabar kepada perdana Jamilu. lalu bertanya padanya: ‘Darimana datang dan apa kehendakmu datang ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang dari . lalu ia menyuruh rusak negeri syaudaranya. Daripada ketika itu sebuah perau daripada orang yang datang itu keluar memukat. Ia dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Ambon. Maka disampaikan khabar itu kepada syaudaranya. ada datang ke tanah Seran. lalu ia berangkat mencari tempat akan kedudukannya. Maka di belakangnya itu dinaikan bangsya Jailolo akan kerajaan. Lalu menyeberang ke tanah Hitu. setengah mengatakan bangsya Jailolo akan kerajaan dan setengah mengatakan pula bangsya Jawa akan kerajaan. Maka ia berangkat sehingga datang ke tanjung Siyal*. kiyai pati namanya atau Ulima* Sitaniya*. Hatta berapa lamanya di tengah jalan serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi datang ribut dan angin. Tellah sudah paduka syaudara enda dinaikan kerajaan dan negeri yang dipetuhan pun sudah rusak. Maka suatupun tiada hijab pada mereka itu melakukan kehendaknya. pattik minta maaf ke bawah dulli yang dipetuhan. maka ia naik ke darat mengambil tempat akan negerinya.’ Tellah didengar warta demikian itu. Lalu ia pulang sehingga seorang juga. digelar Sellat* namanya. maka jadi fitna dalam negeri endak berkelai. diam dirinya dalam utang. Itulah kesudahan riwayat bangsya Jailolo. Tellah demikian itu. maka ia tiada mau pulang lagi. seorangpun tiada mengetahui dia. Alkissah peri mengatakan bangsya Goron* dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera demikian riwayatnya. demikian katanya: ‘Hai tuhanku. Entah apa-apa kehendaknya gennap puluh dan tanjung sehingga datang ke benua Bacang. lalu bertanya-tanyakan: ‘Darimana engkau datang dan di mana engkau duduk?’ Maka ia menyahut: ‘Di darat sungai ini kami duduk. Tellah demikian itu maka sebuah perau daripada pihak bangsya Jailolo ia keluar mengambil ikan. Seorang pula kaum gulawarganya duduk menjadi penghuluh kepada negeri Waiputih. Ada datang ke tanah Buru. ia duduk di tepi sungai itu menengok pada orang mengambil ikan itu dan orang mengambil ikan itu pun pandang kepadanya.[Sekali] perastawa* dengan kehendak Allah ta`ala ia datang kepada suatu tanjung Nukuhali. maka ia pergi sendirinya kepada orang itu. masing-masing membawah aluannya. maka cerai-berai kelengkapannya itu. masuk dalam labuan. lalu masuk ke dalam sungai. hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala keluar bangsya Jawa serta dengan kelengkapannya.

Maka kata perdana Jamilu: ‘Bennarlah anaku.benua Goron* dan kehendak kami mencari tempat kedudukan kami.’ Lalu dipersuamikan anaknya serta makan minum bersuka-sukaan dalamnya.’ Lalu keduanya pergi masuk dalam negeri kepada rumah perdana Jamilu. Maka ia tersunyum serta barpantung: ‘Harap-harap janji tuhan mengasih dagang piyatu. demikian katanya: ‘Apabila bennar anaknya yang di atas itu. dan pakaian yang jahat kepada anaknya.’ Maka menyahut: ‘Kujungjung ke bawah kadim yang memeliharakan dan mengasih dagang piyatuh. maka menyuruh orang membawah kepadanya. Tellah kesudahan kataku termasyhur didengar oleh orang sekalian. tuhan perhamba akan kami. Itulah nyata orang berbahagia dalam dunia.’ Lalu diam dirinya. karena tiada patut hamba dan orang baik. Maka . Maka jadi empat negeri pada tatkala itu. Ada pun yang di atas itu. ia duduk di bawah serta memegang penyapu. lettalah kepadanya. karena ia anak yang empunya negeri. orang besar daripada Goron*. lettalah kepadanya. Maka perintah dengan baik patut pakaian yang baik kepada hambanya.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya? Untung kita serta kehendak Allah ta`ala. maka kata Jamilu: ‘Pada hari ini dan ketika ini kita sempurnakan janjian itu. Tellah demikian itu. Jika benar yang di bawah itu. ia duduk di atas di hadap orang banyak. Itulah sebabnya baik kita periksai dahulu. dari dunia datang ke akhirat akan syaudaraku dan ada pun yang di bawah memagang penyapu itu. maka ia mengambil tempat akan kedudukannya. jika bagai kata demikian itu? Tetapi baik kita periksyai dahulu atau ia maukah atau tiada mau kepada kami.’ Maka kata Jamilu: ‘Betapa kata demikian? Karena ia hamba mengapa maka kau ambil kepadanya? Didengar orang seolah-olah dicellai kepada kita.’ Lalu ia menyaksyikan sepahnya. tetapi tiada mengapa. Lalu dicampakan serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahasuci lettalah kepada yang di bawah itu. Ia berhadapan dengan perdana Jamilu bijaksana.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Maukah duduk serta kami?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau. Tellah demikian itu. ada pun kami ini anak dagang. lalu masuk serta orang banyak dan permullianya dengan adat sehinggasana. Itulah negeri bangsya Goron*. Tellah kesudahan anak cucu Goron* linang. jikalau dengan faedahnya yang baik?’ Maka pula perdana Jamilu: ‘Mengapa maka tiada dengan faedahnya yang baik? Jika duduk serta kami kupersuamikan anakku akan isterimu supaya jangan was-was hatimu kepada kami.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya lagi. Siapa mengetahui tipu dayah tuhan?’ Lalu menyahut demikian katanya: ‘Dagang piyatu minta maaf. Kepada anaku juga yang menyasal. Daripada itulah kurelahkan anaku akan isterimu. perdana kipati namanya.

Tellah sudah muafakat. Itulah kenyataan empat bangsya itu. Kemudian daripada tiga itu. lalu turun menyarang . Itulah dimasyhurkan nama keempat itu dalam tanah Hitu. Zamanjadi dan perdana Mulai. lalu berkellai. lalu dikerjakan dan tiada lain lagi daripada keempat perdana itu. sehingga takluk namanya. Itulah kesudahannya. Itulah diadatkan zaman datang kepada zaman turun-menurun. Lain daripada itu tiada dimasukkan. Alkissah peri mengatakan daripada pihak rayatnya tiga puluh gelaran dan daripada tiga puluh gelaran itu tujuh pengawanya yang besar. Dan perdana Mulai pun menghimpunkan segala hulubalangnya. sekali perastawa dengan kehendak Allah ta`ala dua kaum. tiada dengan supuhnya lagi. maka keempat perdana muafakat dahuluh. dan dinaikan kerajaan pun patut juga daripada bangsyanya datang itu. Alkissah peri mengatakan tatkala keempat perdana muafakat itu menjadi suatu negeri dan keempat kampung. Ada pun keempat perdana itu. Lalu Zamanjadi menyuruh mengambil angkatan dari negeri Selan Binaur datang endak menyarang kepada negeri perdana Mulai. Hatta berapa lamanya seorangpun tiada manang kepada seorang dan seorangpun tiada allah kepada seorang. Apabila kepada suatu pekerjaan. keduanya melakukan kehendaknya. Dan berjanji-janjian serta berputusan barang sesuatu pekerjaan dalam tanah Hitu. tiada berubah lagi. maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera.dengan kehendak Allah ta`ala muafakat keempat perdana itu menjadi suatu negeri dan empat negeri itu dijadikan empat kampung dan empat nama. Alkissah peri mengatakan bangsya Ambon dan peri mengatakan bangsya Jawa. jikalau dinamai bendahara pun benar juga. Zamanjadi endak akan kerajaan dan perdana Mulai pun ia akan kerajaan. makan minum sehingga menanti kepada angkatan itu. Kemudian daripada itu datang suatu bangsya tiga kaum yang ia datang dari negerinya. Ialah mengerjakan sesuatu pekerjaan daripada keempat perdana. Ada pun Zamanjadi dipindakan Totohatu namanya dan perdana Mulai Mulai dipindakan Tanihitumesen namanya dan perdana Jamilu dipindakan Nusatapi namanya dan perdana kiyai pati dipindakan Pati Tuban namanya. maka dimasukkan tiga kaum dahuluh. maka fitna kedua kaum itu. melainkan melakukan kehendaknya. maka muafakatlah keempatnya. Itulah kesudahan kaum daripada pihak empat perdana. maka dimasukkan tujuh pengawanya serta tiga puluh gelarannya. serta dipindakan nama keempat itu. Berapa lamanya maka datanglah angkatan itu. Karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dan tiada dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan. Maka dimasukkan tiga kaum itu tiga kampung. jumlahnya tujuh kampung dalam negeri Hitu. Itulah seperti emas.

Hatta seketika juga patah angkatan itu. maka menyahut perdana Jamilu pun demikian itu juga. karena ia sudah tahu perbuatan kita. Lalu ia pulang masing2 membilang hari yang diperjanjikan itu. Maka datang suruan perdana Jamilu kepada perdana Mulai. Hatta datanglah kepada hari yang diperjanjikan itu. Maka kembali angkatan itu tiada boleh allah kepada negeri. demikian katanya: ‘Betapa kehendakmu kepada orang itu?’ Maka menyahut Zamanjadi serta bertanya kepada perdana Jamilu: ‘Ada pun kami kedua ini kepada bennarnya siapa patut akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika kepada bennarnya Zamanjadi akan kerajaan. Apabila ia keluar mencari kehendaknya. Itulah kita perjanjikan. ikutlah perintaku. lalu keluar. Aku pun demikian lagi. tetapi Zamanjadi dahulu datang.kepada negeri dan empunya negeri pun keluar.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika bagai kata demikian itu.’ Maka menyuruh pula kepada Zamanjadi pun demikian juga. Maka kita pun masuklah kepadanya melakukan kehendak kita itu. maka kata Zamanjadi kepada perdana Jamilu bagai kata perdana Mulai itu juga. apa barang kehendakmu itu dan apa katamu itu tiada kulalui. serta berjanjian hari dan ketika itu. Maka ia berkata: ‘Apa tipu kita kepada dua kaum ini? . Sebennar ia datang dahulu.’ Maka kata perdana Mulai kepada perdana Jamilu: ‘Maukah tolong kepadaku?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau? Tetapi jika ada faedahnya.’ Tellah berjanji demikian lalu ia pulang. Bennar katanya ia memulai negeri. Barparanglah kedua pihak itu. Hatta datang kepada esok harinya pergi pula kepada Zamanjadi. ia kemudian. kemudian berbuat kehendak kita itu. himpunlah orang serta senjata. tetapi ia duduk dalam hutan. Maka kedua kaum diiakan kata perdana Jamilu itu. Demikian perinta perdana Jamilu: ‘Apabila datang kepada hari anu. demikian katanya: ‘Apa tipu kita. lalu undur daripada karas parang rakyat perdana Mulai. maka kedua kaum itu harkat* serta senjata. Maka angkatan itu pulang dengan dukkacittanya dan empunya negeri pun makan minum bersuka-sukaan dan beramai-ramaian dalam negeri.’ Maka kata pula perdana Mulai: ‘Apabila engkau tolong kepadaku. Daripada itulah pantai Hitu dinamai Liasela* namanya. lalu ia keluar berhadapan dengan orang sekalian. sunyilah negeri. Sabar dahulu serta baik-baikan dengan dia. Hatta berapa lamanya maka perdana Jamilu bijaksana ia pergi kepada perdana Mulai. Apabila sudah lupa kepada harkatnya itu.’ Maka diiakan oleh perdana Mulai. karena engkau memulai negeri ini.’ Itulah sebabnya. Maka ia berkata: ‘Betapa kehendakmu kepada Zamanjadi itu?’ Maka menyahut perdana Mulai: ‘Ada pun kami kedua kaum ini kepada bennarnya siapa akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu bijaksana: ‘Jika kepada bennarnya engkau juga.

sekali perastawa keempat perdana berhadapan muafakat. itulah sempurna kerajaan. supaya menanti kehendak Tuhan Yang Mahamurah berbahagia kepada seseorang akan yang dipetuhan. maka dikerjakan. lalu barparang pada ketika itu. Sehingga datang ke tanah Bima ada suatu fitnah dengan raja Bima. maka jadi akan kerajaan. yang tiada mengikut itu bukanlah kaum kita sekalian. karena empat perdana itu seseorang tiada tinggi kepada seseorang dan seseorang tiada randah kepada seseorang. yakni keempatnya bersamakan. supaya kita menanti karunia Allah ta`ala. dan jika perdana Mulai akan kerajaan. yakni antun-antun. Lalu bertanya kepada perdana Pati Tuban Maka segala hal-akhwalnya semuanya diceriterakan kepada serri sultan. Lalu bersettia dan muafakat serta perjanjijanjian dan bersumpah-sumpahan sehingga datang kepada hari kiamat seperti firman Allah: ‘Inna 'llaha la yukhlifu 'l-mi`ada. Ada pun pada ketika ini kita buat demikian pada keduanya: jika ikut kata orang sekalian. Itulah adat keempat perdana dalam tanah Hitu. ’Tellah demikian itu maka menyuruh kepada dua kaum itu segala perastawa perinta kata itu semuanya dikatakannya. Alkissah dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Maka suatupun tiada ellat lagi dalamnya. Apabila tiada mengikut.’ Itulah pertama yang memulai perjanjian. maka demikian keduanya. Itulah yang bersatuan nama keempat itu selamah-selamahnya zaman datang kepada zaman. Lalu keluar kepada orang sekalian. maka bersettia muafakat dan bersuka-sukaan kembalilah kepada adatnya. Baik juga kita kata demikian kepadanya. Hatta datang musim sultan pun pulang. Apabila ia keduanya akan kerajaan. apatah daya sudahlah. Zamanjadi pun demikian juga tiada mau sembah. al-hamdu li-'llah. perdana Mulai tiada mau sembah. Atau salah suatu mengikut kata ini. Maka perdana Pati Tuban ia belayar ke benua Jawa tuntuti agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. jadilah empat kerajaan dalam negeri. Melainkan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala serta orang muafakat.Apabila Zamanjadi akan kerajaan. yang mengikut itu kaum kita sekalian ini. belum lagi kedangaran dalam dunia suatu negeri dua kerajaan. Apabila barang suatu pekerjaan melainkan keempatnya berhadapan. maka bertemu kepadanya. Maka keempat perdana itu seorang tiada tinggi kepada seorang dan seorang tiada randah kepada seorang. Tatkala itu seri sultan Maluku paduka Zainul Abidin khallada 'llahu mulkahu wa-saltatahu ia datang ke benua Jawa. maka diiakan oleh dua pihak itu. Apabila keduanya akan kerajaan. Kemudian daripada itu jika seorang tiada atau dua orang atau tiga orang sehingga seorang jugapun nama keempat juga. Empat puluh orang pendagar. mengiring kepada serri .

sehinggalah termasyhur Ternate dengan Hitu. Maka kuceriterakan yang empunya ceritera demikian riwayatnya. lalu negeri Hitu pun masuk iman kepada Allah dan nabbi Muhammad serta agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu belayar. Tatkala itu nyai Bawang* akan kerajaan. Maka masyhurkan demikianlah riwayatnya: ada pun tatkala serri sultan Khair Jamil akan kerajaan itu. berapa kampung dalam negeri kita ini?’ Maka menyahut mankubumi: ‘Ada pun dalam negeri yang dipetuhan sembilan kampung jumlahnya. Semuanya dikatakannya kepada orang sekalian serta dijungjung titah itu. maka ia bersettia dan muafakat dengan pangeran. sehingga datang kepada sultan Khairun Jamil akan kerajaan zill Allah fi 'l-alamin. Tellah demikian itu kuceriterakan yang empunya ceritera. tuhan Bahrul* namanya. Alkissah peri mengatakan perdana Jamilu dan peri mengatakan panngeran Japara. Pada ketika itulah bawah kepada pendita yang alim. Hatta dengan ajal Allah maka datang seorang hulubalang raja Bima.sulthan Zainul Abidin. dan serri sultan pun serta menettah hulubalang itu. Tatkala perdana Pati Tuban ia datang dari tanah Jawa itu. Maka keempat puluh pendagar itu dinaikan kepada raja di atas kelengkapan. Ia datang menuju serri sultan. Ada pun tatkala utusan datang ke Ambon itu singga di tanah Boanoh*. maka lalu ke pantai Eran* dan dari pantai Eran* itu lalu ke tanjung Siyal. lalu menyeberang ke tanah Hitu. sepuluh dengan negeri Hitu. Tatkala perdana Jamilu menyuruh utusan ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. maka semuanya diceriterakan kepadanya. Pada ketika itulah negeri Hitu dan negeri Waiputih serta negeri Eran* ketiganya muafakat bersama-sama.’ Hatta datang . Ia masuk ke pantai Waibuti. Lalu ia memberi nama Patinggi: ‘Karena nama Jamilu itu artinya kepada bahasa Jawa “jangan mengikut”. Maka suatupun tiada hisab* melainkan memerintahkan tanahnya serta agama Allah dan agama nabbi Muhammad salla 'llahu alaihi wa-sallama amin ya Rabb al-`alamin. Itulah sebabnya dan seperkara lagi nama syaudaraku itu kuberikan kepadanya. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji´un. akan kadi di negeri Ternate. Hatta berapa lamanya di tengngah jalan maka serri sultan Zainul Abidin pun wafatlah. Lalu mati hulubalang itu dan raja pun luka. maka mengatakan peri hal-akhwal perjanjian dengan raja Maluku itu. Maka diceriterakan oleh [yang empunya ceritera] perdana Pati Tuban ia pulang ke tanah Hitu. maka ia bertanya bangsya perdana Jamilu. lalu ia bertanya kepada perdana yang besar dalam negeri demikian titah: ‘Hai segala perdana dan parwara sekalian.’ Lalu menyuruh kiaicili* Darwis akan utusan ke tanah Ambon meneguhkan pula perjanjian itu. lalu menikam dengan lembingnya kennah kepada sultan Maluku.

yakni dipawahkan*. supaya kita periksai kepada faedahnya yang baik beraja atau faedah yang baik tiada beraja itu. Daripada itulah maka dikatakan firak.’ Maka kata pula: ‘Bennar juga kata keduanya itu tiada salah. Maka suatupun tiada ellat dalam tanah Hitu. Ada pun amar dan nahi serta adat semuanya itu melainkan keempat perdana juga. Ada pun tatkala masuk iman serta mengesakan Allah subhanahu wa-ta`ala dan termasyhurlah agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Tiada lain daripada keempat . Itulah kesudahannya negeri Hitu dan negeri Japara. maka kata orang sekalian: ‘Nyatahlah faedah yang baik beraja dan faedah yang baik tiada beraja.’ Dan seorang berkata pula: ‘Daripada beraja baik tiada beraja. tetapi kita naikan dahulu seorang akan kerajaan. maka kuceriterakan yang empunya ceritera. baik beraja. kepada suatu hari keempat perdana berhadapan kepada suatu tempat. Kemudian daripada itu. Ia duduk bejuntai-juntai.’ Maka seorang pula berkata: ‘Mana faedah yang baik beraja itu dan mana faedah yang baik daripada tiada beraja itu?’ Lalu berkata keduanya: ‘Demikian faedah yang baik beraja. Maka seorang berkata: ‘Mana baik beraja daripada yang tiada beraja?’ Maka kata seorang: ‘Daripada yang tiada beraja. nama yang dijungjung. sehingga Nyai Bawang* pulang ke rahmat Allah. maka keempatnya muafakat mengira-mengirakan negerinya. lalu membuat suatu mesjid tujuh pangkat. Tellah itu maka dinaikan Maulana ibn Ibrahim akan kadi daripada ia mutakalim daripada alim mahudum* guru sekalian tanah Ambon. Dan negeri Hitu pun firaklah* dengan negeri Japara daripada raja yang kemudian itu kuranlah adilnya seperti raja yang dahulu.’ Maka kata keempat perdana: ‘Apa salahnya karena ia kerajaan? Tetapi sehinggalah kerajaan. Dan dinaikan hukum* AbubakarNaseddiki* namanya. maka raja naik ke atas balai. yakni artinya ‘raja tanya’.’ Maka kata seorang pula: ‘Demikian faedah yang baik daripada yang tiada beraja.’ Lalu dinaikan kaum gulawarganya seorang akan kerajaan. Alkissah peri mengatakan syariat nabbi akhir zaman.’ Apa yang kehendaknya itulah diadatkan daripada zaman datang kepada zaman turun-menurun. Hatta berapa lamanya keempat perdana berhadapan serta orang banyak. tetapi bukan firak. Maka digelarnya Latu Sitania namanya. sehingga tiada sampai ini juga. pergi datang berulang2 tiada berputusan. Daripada ialah termasyhur agama Allah dan agama nabi Muhammad rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Apabila raja itu tiada dengan adilnya diupamakan matahari tiada dengan bercahayanya.musim utusan itu pun pulang dan orang Japara pun gennap musim tiada berputusan bedagang ke tanah Hitu dan tanah Ambon sekalian sebagailah.

’ Tellah demikian itu maka ia membuat suatu maslahat serta dengan panah di aluan kelengkapannya itu. Tellah demikian itu. lalu sekali-kali di aluan kelengkapan itu. melainkan kehendak Allah ta`ala juga tiada dapat dikatakan. Apa2 kehendaknya tiada ia muafakat dengan keempat perdana. Dan kuceriterakan sekali perastawa raja naik kepada sebuah perau. lalu ia pulang diam dirinya kepada halnya.’ Lalu disalin dan dimuliah kepadanya. Maka kata keempat perdana: ‘Mengapa maka kembali angkatan ini?’ Maka sahut orang itu: ‘Tiada boleh alah kepadanya. lalu ia becakap di hadapan orang sekalian. Itulah kehendak Tuhan Yang Mahamurah kepada makhluknya. Maka dilepas kepada maslahat itu serta dengan kehendak Allah ta`ala kennah panglimanya itu mati dan orang banyak itu pun undur serta lari. lalu langgar ke darat. Hatta lama datang kepada lamanya. Maka diikut belakangnya orang itu.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Betapa perintah parangnya itu?’ Maka menyahut orang itu: ‘Ada pun panglimanya itu terlalu sangat gagahnya.’ Tellah didengar kata orang demikian itu.’ ‘Mengapa maka tiada boleh alah kepadanya?’ Maka kata angkatan itu: ‘Jangan alah. lalu kembali angkatan itu. Maka dikata dengan kata yang aib. demikian juga kemudian daripada itu. Seorang pengawa empat gelaran kepada seorang perdana. maka ia keluar. Ia keluar bersuka-sukaan sehingga datang kepada suatu pantai. Maka kata orang sekalian: ‘Bennarlah perdana Jamilu pahlawan dan bijaksana dalam tanah Hitu. Ia minta tolong kepadanya. Itu pun tiada dikatakan kepada empat perdana itu. jangan alah naik ke darat pun tiada boleh. serta menyingsing tangan bajunya. jika beta tiada dapat alah kepada negeri itu. Alkissah dan kuceriterakan tatkala itu perastawa keempat perdana membahagi rakyat. Maka tiada berupama kepada yang empunya negeri serta melakukan kehendaknya dan negeri itu pun tiada diketahui kepadanya. beta pun tiada kembali. Hunimoa namanya pantai itu. Maka panglima negeri itu keluar. demikian katanya: ‘Insya Allah ta`ala berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Tiada boleh alah. Sebab itulah maka tiada dapat turun. Apabila kita langgar ke darat. lalu alah kepada negerinya. Demikianlah halnya orang itu. Demikian juga keempatnya seorang pengawa empat gelaran turun-menurun.bangsya itu. turun ke pantainya pun tiada dapat. Alkissah . makin bertambah kebajikan dan kepujian. berbahagia seseorang-orang dalam dunia. Maka negeri itu keluar dengan angkatan pergi menyerang kepada negeri itu. maka ia kembali dengan kemenangngannya makan minum bersukasukaan. Hatta ia datang. tiada seupamanya lagi dalam tanah Hitu. lalu sekali-kali di aluan angkatan itu serta menetta. Lalu ia menyuruh kepada negeri yang bukan takluknya.

daripada negeri itu tiada beragama dan lagi banyak minuman anggur. maka kami datang ke mari.’ Maka kembali pula bawah ia datang ke negeri kepada perdana Jamilu. Lalu kami tanya kepadanya. Jadi ramai bandar di tanah Hitu dan termasyhur sekalian tanah Ambon. maka diberinya masara persalin kepada Kapitan Hitu. Apatah daya. Kepada zaman itulah maka digelarnya kepada perdana Jamilu ‘kapitan Hitu’ namanya dan berjanjian apabila datang kapalnya. Maka ia datang membawah khabar kepada perdana Jamilu. Maka tinggal kapal kami. apa hal nama kita didengngar oleh orang? Baik kita pindahkan dia kepada tempat yang lain. Selamanya umur kami hidup dalam dunia. Lalu ditanya kepadanya: ‘Darimana datang dan apa nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang di sini kami sessat tiada tahu jalan. karena sudah termasyhur kita membuat baik kepadanya. maka suatupun tiada hujat dalamnya pada ketika itu dan termasyhur nama Kapitan Hitu dari negeri Ambon sampai negeri Portugal. untung kami di sini. Hatta datang lama dengan lamanya serta kehendak Allah ta`ala yang kebaikannya itu dibalaskan oleh Tuhan Yang Mahamurah datang kejahatannya. suatu Kapitan Hitu. Hatta datang musim barat. jangan sama senegeri kita.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Pergilah engkau bawah ia ke mari. Seperkara lagi sama makanannya dan minumannya. naik kepada sampang endak pulang ke negeri Portugal. Sekali perastawa ia minum mabuk. Tubuhnya putih dan matanya seperti mata kucing. Hatta berapa lamanya maka ia memohon setengah duduk menungguh rumahnya dan setengah membawah khabar kepada orang besarnya. Maka raja Portugal digelarnya dua nama. Pada . Maka kami jatuh pesir* ke tanah sebelah dan kapal kami pun tekarang di laut Puluh Burung*.’ Lalu diberinya tempat membuat rumahnya ia duduk. Itulah hal keempat perdana.’ Maka dipindahkan dia ke tanah sebelah kepada tempat yang baik ia duduk. lalu berampas-rampasan serta haru-biru dalam pasar. maka kata penghuluh agama: ‘Salah orang itu melainkan sampai nyawanya. Gennap tahun diadatkan selamanya. Tetapi malim tiada tahu. tetapi ampun dahuluh kepadanya. maka menyuruh kapalnya datang gennap tahun tiada berputusan lagi. Maka disampaikan kepada hukum dan penghuluh agama. Kemudian kita membuat jahat pula. demikian katanya: ‘Ada kami bertemu sebua perau di laut Puluh Tiga.dan kuceriterakan yang empunya ceritera: sekali perastawa sebua perau Saki Besi Nusatelu* ke laut Puluh Tiga mengambil ikan. bulum lagi melihat rupa manusyia bagai rupa orang itu. ia tiada tahu bahasa kami dan kami pun tiada tahu bangsyanya.’ Maka kata keempat perdana: ‘Bennar kata hukum dan penghuluh agama. kedua Don Jamilu namanya.

lalu belayar dibawah oleh angin dan arus jatuh datang ke tanah Seran. Maka ia pulang dengan kemenangngannya sehingga datang ke negeri bersukasukaan. ada sebuah kapal di tanah Bandan*. jual-beli. Maka ia pulang kepada gurapnya. Bunyi senjatanya diupamakan guruh di atas langit. Sekali perastawa keempat perdana menyarang kepada sebuah negeri kafir.ketika itu tiada dikira-kirakan kepada hari yang kemudian. Maka didengar oleh kafir itu. Maka pangeran Japara menyuruh tujuh buah gurap mengantarkan dia. lalu belayar ke Ambon. Hatta berapa dalamnya pun parang lanatullah itu dan tentara Islam itu pulang serta kemenangnya. Maka penghuluh kelengkapan itu kira-kiranya sukar karena banyak kafir itu. ia menyuruh angkatan mengadang di tengngah jalan. maka bertemu kedua kelengkapan itu. alah-mengalah sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah. Tellah demikian itu maka adinda perdana Jamilu belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. Tiada dapat terpandang mukanya oleh musuh itu. makanminum dan bergela-gelaran nama panglimanya itu. Hatiwe namanya. Maka ia meninggal dua buah gurap sehingga dinaikan orangnya. Pada ketika itulah pendagar Tahalele menyerrang buankan dirinya ke tengah tentara kafir itu seperti harimau. lalu alah negeri itu. Hatta ia datang ke Bandan. lalu berparanglah. tukarmenukar. daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama dan Tubanbesi pun syahid pada ketika itu. maka dimasukkan ke dalam petti. pertama Lekalahabesi dan kedua Tubanbesi. makan-minum dan disalininya kepada pendagar Tahalele serta digelarnya pahlawan Tubanbesi dan syamsyirnya Lukululi. Maka keluar kafir itu serta barparanglah kedua pihak itu seperti orang bepasaran. bersuka-sukaan. sehingga dimasyhurkan dua nama. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. lalu naik rampas kepada kapal itu dan orangnya itu habis dibunuhnya. . lalu ia masuk ke pantai Hitu bersama-sama dengan tamannya yang mengantarkan mayit itu dan diturunkan kepada mayit itu. Maka ia menengar khabar orang. maka ia meninggal negeri fanah datang kepada negeri baka. Sorangmenyarang. Hatta datang ke tengah laut antara Jawa dan Bali. Maka dipeliharakan dan diadatkan kepada mayit itu sehingga datang kepada seratus harinya. Lalu menyuruh sebuah gurap antar kepada mayit itu dahuluh dan ain inayat naik kepada sampangnya ennam buah itu dan gurapnya itu menanti di tanah Seran. lalu paranglah dengan dia. Tellah demikian itu maka dihimpunkan orang serta kelengkapan Japara itu pergi menyerrang kepada sebuah negeri kafir. maka ia sakit serta dengan ajalnya. Hatta berapa lamanya. Hatta berapa lamanya menjadi fitna. Dan maitnya itu ditaburkan bauh-bauan.

maka dalam akhirat suatupun tiada hisab* kepadanya melainkan masuk syurga. Entah berapa lagi dalam akhirat dibalaskan Allah ta`ala karena sabda nabi salla 'llahu ’alaihi wa-sallama: ‘Apabila mati Islam. Hatta datang seketika lagi masuk pula ke medan. maka patah pula laknat itu. Seketika juga himpunkan orang dan panglimanya sekalian serta dengan Den Daurdia*. maka patah parang kafir itu.artinya ‘patah tulang’. yang diceriterakan oleh yang empunya ceritera. dalam akhirat bulum lagi diterima oleh malak al Ridwan. jika bulum lagi lepas daripada azab naraka. Panglimanya dan pendagarnya serta dengan harkatnya.’ Yakni artinya bulum lagi masuk syurga. Alkissah peri mengatakan parang Don Duarde datang daripada negeri Portugal serta dengan kelengkapannya. jika bulum dilepaskan oleh malak al Zabaniah. maka masuk pula parang ke medan. lalu naik kepada kelengkapannya kembali serta dengan dukkacittanya dan orang Hitu pun kembali memeliharakan mayitnya itu. Lalu bertempik kedua pihak itu upama guru di atas langit bunyi tempiknya. Alkissah peri mengatakan sultan Maluku demikianlah riwayatnya. caramela* pelbagailah bunyi-bunyian. Apabila Islam mati parang sabil. lalu masuk ke medan dan berbunyilah gendang. Maka dipaluh dengan esfingarnya* laknatullah itu. Maka kata pahlawan Tubanbesi: ‘Untunglah aku sekarang pada ketika ini. suisa* dan serunai.’ Lalu bertempik menyerbukan dirinya ke dalam tentara kafir itu. Ia beparang tettak-menettak serta kehendak Allah ta`ala kulitnya tiada makan besi. Maka tentara kafir itu cerai-berrai. maka ditangkis oleh pahlawan itu. karena pintu syurga sudah terbukah. Itulah manfaat orang parang sabil dalam akhirat. Kemudian daripada itu mardan Totohatu ibn Zamanjadi ia bertempik. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang bersembahyang mengadap kepada kiblat. maka ditankis oleh laknatullah itu. maka ia naik ke darat. pendagar parang. Esfinkarnya* putus kedua pangkal. entah berapa-rapa panglimanya. maka khabarkan orang kepada negeri Hitu dan tanah Ambon sekalian. Lalu ia menetta serta merampas panjipanji kafir laknatullah itu. Inilah muafakat orang parang sabil dalam dunia. lalu menetta. Maka keempat perdana menyuruh orang . maka bertempik Umar. Hatta seketika juga mardan* Khatib ibn Maulana dan maradan Tahalele ibn Abubakar Nasiddik keduanya syahid. Namanya digantikan Tubanbesi yang mati itu. Ia masuk ke Kota Laha. Ada pun tatkala itu datang sebuah kapal membawah kepada serri sultan Maluku ke tanah Ambon. Daripada sanngat marah hatinya kepada panjipanjinya itu. Maka didirikan panji-panji parang dan tentara Islam pun demikian lagi. masing-masing melarikan dirinya. patah tulang tangannya yang kiri.

betahanlah di atas bukit itu. maka kami pun terima dengan sempurnanya. maka naik pula ke atas bukit Mamala. maka berulang-ulang beparang di tanah Hitu. Hatta berapa lamanya alah negeri itu. terlalu ammat gaggahnya. Ialah memeliharakan negeri sekalian serta mengeluarkan angkatan ke tanah Hitu. Dan negeri Hitu pun pinda ke atas bukit. Pada ketika itu pahlawan gimelaha* Laulata ada di tanah Ambon.’ Lalu orang itu pulang serta gendaga itu dan sampaikan salam titah itu kepada keempat perdana. Hatta berapa lamanya alah pula bukit itu. pagi petang tiada berkeputusan. Inilah tanda berteguhan ikrar dan tasdik. Ulukulu namanya.’ Lalu menyuruh melalawat* dengan tipu maslahat. Maka ia parang siang malam. Ia duduk di negeri Lesiela*. Maka keempat perdana pun endak mengulang lagi. lalu kapal pun belayar membawah kepada serri sultan. maka datang kapitan Sanjo*. betahanlah di situ. Dan empat puluh orang gaggah membawah makanan serta gendaga itu di hadapan raja. demikian katanya: Dapatkah atau tiadakah kami endak menyuruh melalat kepada raja Ternate itu?’ Maka kata gurendur Feranggi: ‘Mengapa maka tiada dapat. Alkissah dan diceriterakan yang empunya ceritera. Maka ia langgar kepada sebuah kapal. sarangmenyarang sebagailah parang sabil Allah. maka raja pun tercengang tiada boleh bersuarah. Ada pun daging darahku sekali pun tiada bagai demikian ini. Tellah demikian itu. maka menyuruh tanya kepada gurendur Peranggi itu. Maka ia pun mau. Tanda kasih dan tulus serta kehendaknya itu tellah sampailah kepada kami. Maka datang orang itu katanya: ‘Bennar juga khabar itu. Ia naik ke darat. lalu ia kembali duduk di negeri Luhu serta meneguhkan tanah . Empat puluh mata keris dimasukkan ke dalam gendaga Seran dan di atas keris itu has* sehellai dan di atas has itu sirri pinang dan bunga serta bauh-bauan. karena kita sudah bedamai. Alah-mengalah.’ Maka keempat perdana muafakat: ‘Apa tipu kita karena janjian kita serta sumpahan?’ Lalu menyuruh kepada kapitan* Feranggi itu minta bedamai. Maka tanah Hitu serta tanah Ambon sekalian paranglah dengan kafir laknat itu. lalu membuat kotanya di pantai Hitu.periksyai kepada khabar itu. Ialah bennar syaudaraku dari dunia datang ke akhirat. lalu ditudung pula kepada gendaga itu. Kemudian daripada parang Don Daurde itu. Lalu dibukah sendirinya serta pandang kepada keris itu. Sehingga keempat perdana dan setengngah negeri tiada berapa itu pinda ke Tanah Besar. Hatta lagi maka titah syah alam kepada empat puluh orang itu: ‘Pulanglah engkau bawah gendaga itu dan sampaikan salamku kepada empat perdana.lalu bedamai orang Hitu dan orang Feranggi. bennarkah atau tiadakah. Maka negeri semuanya itu takluklah kepadanya kafir itu.

Itulah perinta hukum Abubakar Nasiddik dan sekalian negeri pun kembali kepada hukum Abubakar dan keempat perdana. jumlahnya dualapan perdana lima bangsyanya.’ Maka hukum Abubakar dan keempat perdana pada ketika itulah pulang ke tanah Hitu. atau kebajikan negeri Nusaniwe. Lalu dipepatutan karena negeri Hitu pun keempat perdana itu empat bangsyanya dan Nusaniwe keempat perdana juga. demikian katanya: ‘Negeri sekalian empunya sembah datang ke bawah kadim tuhanku. Ia duduk kepada bukit Hatunuku. maka disampaikan kepada hukum dan keempat perdana. Hatta berapa lamanya bertambah -tambah kebajikan dan kemerahan.’ Maka menyahut pula gelaran itu: ‘Bilamana lagi tuhanku maka datang ketikanya dan waktunya? Tetapi negeri tuhanku sekalian itu sekarang inilah datang ketikanya dan waktunya melainkan tuhanku pulang dahuluh di tanah Hitu. nyiyahkan kepada kafir itu dahulu. Tellah dibunuh itu. Apabila kasahkitan negeri Hitu. Nama gelaran negeri Henalale dinamai Hehahitu dan gelaran negeri Latua dinamai Hehatomi* namanya.’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Apabila bagai kata demikian itu. Lalu Lalu dipepatutan: pertama Pati Lupa* lawannya perdana Tanihitumesen. Suatupun tiada dengan hisab* karena tatkala muafakat itu dipersyahdakan*. Itu bersuatuan namanya. ia keduanya juga. Pada zaman itu negeri Hitu sekalian memberi kepala ikan ia upetti kepada keempat perdana. lalu menyuruh gelaran Tuheasal dan Tuhelusun datang kepada hukum dan keempat perdana. Tellah demikian itu dan diceriterakan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe kedua berhadapan kepada suatu majellis serta muafakat dan berjanjian. maka suatupun tiada ellat sehingga melakukan parang sabil Allah daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Hatta didengar negeri sekalian di tanah Hitu tellah datang hukum Abubakar daripada Ternate. pulanglah engkau. tetapi bulum lagi datang kepada ketikanya dan waktunya. yakni tentukan perjanjian itu. maka ia pulang ke tanah Ambon. maka kami percahaya. Entah apa kehendaknya titah. Tellah demikian itu. . Daripada itulah negeri Nusaniwe ia pinda datang ke negeri Hitu.’ Lalu ia pulang memberitahukan kepada negeri sekalian. tetapi suatu bangsyanya. lalu dibunuh kafir yang dalam negeri itu. Tellah demikian katanya: ‘Sudahlah bagai kehendak tuhan-tuhan itu. kedua Totohatu lawannya Lisakota. ia keduanya juga. ketiga Latuhalat lawannya perdana Nusatapi. keempat perdana Pati Tuban lawannya perdana Pati Naelai.Ambon. Ingatkah lagi rakyat tuhanku atau tiadakah lagi?’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Mengapa maka kami tiada ingat? Ingat juga. maka hukum Abubakar pergi mengadap kepada serri sultan di Maluku.

Latu namanya. Wakasihu dan Urin*. Lain daripada itu tiada kuceriterakan sehingga ibn bendahara: pertama gimelaha Kakasingku* dan (kedua) gimelaha Jamali dan (ketiga) gimelaha Kulabu dan keempat gimelaha Aja dan kelima gimelaha Basi dan keenam gimelaha Angsari*. ketiga cili Abu Syahid dan keempat cili Kaba. tatkala bulum lagi dinaikan kapitan laut. Maka datang kepada kerabat serri sultan daripada bangsya raja: pertama kiyaicili* Cuka. lain daripada itu tiada kusubutkan.’ Ada pun perjanjian ini sehingga Alan. Maka kedua pihak . keenam cili Ici dan ketujuh cili Aya. Alkissah peri mengatakan johan pahlawan gimelaha Rubohongi. Daripada itulah maka tatkala ia bertemu kepada orang Peranggi itu. kelima cili Naya. tetapi dalam pihak Ulima. ada yang dimennang. ada mennang. Maka keempat perdana menerima kepadanya itu serta dengan berjanji-janjian. maka ia bertemu dengan angkatan Nasrani di tanjung Mamala. Segali perastawa gimelaha Kakasingku* keluar dengan kelengkapannya. Dan daripada pihak hamba raja pertama Kalaudi dan kedua Usman dan ketiga Kabutu Malu dan keempat Sagaluwa*. maka datang kepada negeri Asilulu. karena pada tatkala itu sangat parang sabil Allah di tanah Ambon. Kemudian daripada itu dan kuceriterakan. Ia datang akan bendahara di tanah Ambon serta kaum gulawarganya gimelaha Haji dan gimelaha Sakatruana. Asilulu suatu juga. kedualapan baginda cili Ali. Tellah demikian itu dan diceriterakan daripada negeri Urin* dan Asilulu. Maka datang angkatan kafir laknat bantu kepada negeri itu. tetapi dalam martabat negeri Hitu. keenam Ambalau. jika datang kejahatannya pun kita bersamasama. Ada parang di darat.Itulah kesudahan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe.’ Dan suatu lagi dijanjikan juga: ‘Apabila jika orang dari sebela pihak Ulisiwa endak masuk muafakat serta negeri Hitu. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan sekalian ini termasyhur pendagar. sekalian keluar dengan kelengkapannya mendattangi sebuah negeri. Lalu melawanlah kedua angkatan itu daripada waktu duha sehingga datang kepada bakda lohor. sebagailah kedua pihak itu tiada berputusan lagi. Liliboi dan Larike. kelima Sibangua. maka dibawah kepada perdana Jamilu. demikian itu katanya: ‘Apabila jika datang kebaikannya pun kita bersama-sama. Itulah daripada pihak bendahara. Bennar juga dalam pihak Ulima. kedua cili Kodrat. ada yang menyarang. ada disarang. ada parang di laut. pun ia pergi datang berulang-ulang membawah titah sebagailah. Serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi sekali-kali dengan kelengkapannya dan mayitnya perdana Kakasingku* pun sabil Allah tiada kettahuan lagi. Pun ia utusan. Sungguhpun namanya Ulisiwa. bersama-sama datang ke negeri Hitu.

Hatta ia datang ke tanah Hitu dan orang Hitu pun keluar angkatan serta ia mendatangi negeri kafir itu. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang berhadapan serta dengan hidangan karena sangat maksud Islam ke sana kepada kafir laknat itu. maka patah parang Islam itu. Dan orang sekalian itu pun lari masing-masing membawah dirinya sehingga gimelaha Jamali al-Din. dua bersyaudara gimelaha Angsari* dan Liwa alDin. Alkissah dan kuceriterakan yang empunya ceritera. Maka panglimanya yang gaggah itu syahid. Sebab pada ketika itu baginda cili Cuka ia menjadi kapitan laut. Maka dipandang oleh kafir laknat tempat itu sunyi dan kotanya itu pun tiada manusyia. Ia undur lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke negeri Hitu. lalu masuk ke dalam negeri. maka ia bertemu kepada kafir laknat itu.berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian jualbeli. maka pangeran menyuruh kepada kiyai Mas serta kelengkapannya. Apabila datang esok harinya demikian juga. sendirinya memeggang panji-panji serta membaca salawat. lalu ia masuk. Lalu bertempik kedua pihak itu seperti datang tofan bakilat-kilat dan . Hatta datang musim. Maka angkatan itu sekalian kembali masing-masing ke negerinya. Hatta datang malam masing-masing pulang kepada tempatnya. Dan Kalaudi pun dengan kelengkapannya masuk. maka ia syahid serta kelengkapannya pada ketika itu juga. ketiganya pendagar parang. Maka kedua angkatan itu sama bertemu di tengah jalan antaranya Hitu dan Kota Laha. Daripada itulah maka tiada berpaling apa tipu orang banyak serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi daripada kesudahan hidup manusyia dalam negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala kepada pihak Islam itu pergi barjalan ke sini dan orang kawal itu pun serta dengan alpanya ia tidur. karena Jamali alDin itu pahlawan yang termasyhur. hoja* alim mahudum*: ketiganya syahid. Itulah kesudahan parang kiyai Mas di tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. sekali perastawa keluar angkatan Islam mendatangi negeri kafir dan angkatan kafir pun keluar. Maka negeri ke dalam kotanya dan orang itu pun mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. maka ia belayar kembali ke tanah Jawa. Laknat itu alah kepada kota Islam itu. tiada berputusan berkawal-kawal kedua tentara itu. Tatkala perdana Tubanbesi belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangngeran minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Dan panglimanya yang gaggah dalam angkatan itu Martajiwa namanya dan seorang Panarukan namanya dan seorang pula Pasiruwan* namanya. Alkissah peri mengatakan parang kiyai Mas.

Asapnya itu menjadi awan menudung kepada kedua angkatan itu tiada berkenalan. makan-minum bersukasukaan. tebakar oleh api obat bedil sendirinya. maka baginda kiyaicili pun syahid. Itulah kesudahan tanah Bandan* datang ke tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Entah berapa aluannya. maka dilanggar sebuah kapal. Hatta dengan ajal Allah. Segali . lalu undurlah kelengkapan Islam itu kembali dengan dukkacittanya. Islam pun dukacitta hatinya dan Nasrani pun demikian lagi. maka ia kembali ke negeri Hitu. Hatta berapa lamanya datangnya itu dan negeri Hitu pun keluar angkatan serta dia bersama-sama mendatangi kafir laknat itu dan kafir itu pun keluar angkatan. Dan daripada orang luka dan mati itu tiada kuceriterakan. Dan angkatan Ferangi pun keluar sama bertemu di pantai Kota Laha. Itulah hal parang sabil Allah. Hatta datang musim. maka melawanlah kedua angkatan itu. lalu pulang ke tanah Bandan. tetapi tiada masyhur parangnya itu. hulubalang Pati Lihat namanya. Tuhahan* namanya. daripada ajal itulah meneguhkan hati manusyia serta memberikan kesudahannya. Hatta hilang awan itu. tetapi penghulu yang besar dalam angkatan itu pertama kapitan Falat. Kemudian daripada itu pergi alah kepada negeri. Kemudian daripada itu datang pula angkatan itu ke tanah Hitu. itu bukan dialah oleh Ferangi. lalu patah parang kafir itu dan angkatan Islam itu kembali serta kemenangannya. Dan parangnya itu daripada waktu duha sehingga datang kepada waktu asar . ia meninggal sendirinya pulang ke negeri Hitu. Hatta lama dengan lamanya sebagai juga tiada berputusan parang sabil Allah. lalu undurlah keduanya angkatan itu. Ada pun dalam angkatan kafir itu pun demikian juga luka dan mati. Alkissah dan kuceriterakan johan pahlawan Tahalele ke tanah Bandan*minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Ada pun pada ketika itu ada juga suruan pangeran. Maka didapat oleh kafir laknat itu.bunyi senjatanya diupamakan guruh dari atas langit dan asapnya senjata itu menjadi awan antara langit dan bumi. Itu pun tiada juga jadi kota. Masingmasing pulang kepada tempatnya. kedua kapitan Atijauh. Ia membuat kota di pantai sebelah berhadapan kota Ferangi. Hatta terbit fajar kepada bakda subuh keluarlah kedua pihak angkatan itu berlawanlah dan bunyi senjata itu tiada dapat dikatakan. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala sebuah kelengkapan Islam. Pada mati dan luka itu tiada dikira-kirakan lagi. ketiga orangkaya Watimena dan raja Rosengaing*. Alkissah dan kuceriterakan oleh yang empunya ceritera sekali perastawa orang Hitu keluar dengan kelengkapannya. Sehingga datang musim ia pulang. Maka negeri Bandan* sekalian keluar angkatan ke tanah Hitu.

tuhan-tuhan sekalian keluar. Sebab itulah maka dikatakan tanah Hitu di belakang perisyai dan Tanah Besar di dalam perisyai. sungguh pun disubut tanah Ambon.’ Lalu ia bertempik ke dalam tentara kafir itu serta menettak.keempat Pati Baraim. kelima Umar pendagar. Maka pada ketika itulah perdana Kapitan Hitu memagang senjata. Hatta datang angkatan itu lalu turun. Maka dihabarkan orang kepada kafir laknat itu. Itulah sangat parang sabil Allah di tanah Hitu. Kadang-kadang Tanah Besar masuk kepada parang. maka hulubalang Ulu Ahutan ia becakap di hadapan orang sekalian: ‘Jangan dahulu orang keluar. Dan kuceriterakan hulubalang kafir laknat itu pertama Don Duarde. sehingga Jumat pahlawan al-Din ada. kedua kapitan Sanco*. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Tatkala itu sekalian hulubalang serta pendagar semuanya tiada. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. keenam Mahir pendagar. Apabila tiada patah orang itu. pahlawan al-Din. lalu ia keluar angkatan. sehingga inilah dimasyhurkan sangat parang kafir di tanah Ambon. Kehendak kafir itu menggagahi akan mayit bendahara itu. tetapi ia dalam uzur. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Rubohongi ia pulang ke rahmat Allah meninggalkan negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Ialah yang termasyhur pendagarnya dan terlalu amat gagahnya daripada sekalian. ketiga Paulo Kastanya dan Dan Tamura dan Dirgurumaridisi dan Siku Kisua dan Don Disera* dan Fernando Melo* dan Antoni Laliru.perastawa keluar angkatan kafir laknat itu serta orang Tidore dan orang Buru mendatangi di negeri Hitu dan orang Hitu pun harkat menanti di pantai. kedualapan pendagar Nasiela -. Masing-masing lari terjung ke dalam air berenang kepada tempatnya sehingga hulubalang Sulaiman: maka ia tiada paling mukanya. sebab sudah dipindahkan ke Tanah Besar. ketiga hulubalang Hatib Tunsulu. Lain daripada itu tiada kusubutkan melainkan Jumat. Lalu ia menyerrang kepada negeri Hitu. kedua hulubalang Hasan Pati. tetapi tiada dapat lagi. Hatta seketika juga patah parang kafir laknat itu. Kuceriterakan menang Islam kepada kafir itu: sekali alah . ketujuh pendagar Nahoda. maka ia bertankis-tankisan dengan perisainya serta undur datang kepada air sehingga lututnya. maka patah parang laknat itu. biarlah aku sendiri keluar dahulu. Itulah parang sabil di tanah Ambon.hulubalang yang termasyhur dalam tanah Hitu. ia masuk parang kepada tentara kafir itu. Karena tatkala zaman parang itu hulubalang dan pendagar ada semuhanya -. Tatkala pada zaman itu alah menang sama kedua pihak itu. tetapi tanah Hitu juga parang siang dan malam tiada berputusan.pertama Ulu Ahutan.

maka bayar empat puluh bahara. atau kamikah datang ke sana atau menyuruhkah datang ke mari?’Serta dengan kiriman tanda alamat tanah Ambon. Bagaimana kehendaknya Prings dan orang besar2. demikian katanya: ‘Marilah kita bedamai dan bebaikan dunia tanah Ambon. Dan kuceriterakan yang empunya ceritera.sebuah kapal di tanah Bandan. orang hitam kepada orang Hitu. bolehkah atau tiadakah. yakni syaudagar yang besar lagi artawan. karena ia ingat kepada perjanjian dengan amiral Istiwin . karena parang sabil di tanah Ambon itu tujuh puluh tahun daripada parang Don Duarde sehingga datang parang Antoni Furtado*. maka orang Hitu bayar empat ratus bahara kepada Wolanda. Dan diperjanjikan upahan: apabila alah kepada kotanya. termasyhur dalam negeri Wolanda. Kapal serta senjatanya dan orang putih kepada Wolanda. Maka ia pulang. Maka ia berhadapan kata serta keempat perdana dan berjanjian apah upahan dan berputusan barang kerja: apabila barang sesuatu perbuatan. Apabila alah kepada kapal. lalu masuk ke Kotah Laha periksai kepada kotah Feranggi itu. Ada pun kotanya dan senjatanya dan orangnya hitam itu kepada orang Hitu. ialah empunya kapal syaudagar yang datang ke tanah bawah hangin ini. maka datang sebuah kapal Wolanda. Ia masuk ke Hitu. maka kapitan Peranggi menyuruh kepada keempat perdana. jika salah kepada adat jangan dikerjakan kepada dua kaum itu. Dan menang kafir kepada Islam pun demikian lagi. Kemudian daripada kapal belayar itu.’ Maka kata keempat perdana: ‘Jika bagai kata demikian itu. lalu ia belayar pulang ke negeri Holandes menyampaikan katahan itu kepada orang besar2 dari negeri Holandes. dan orang putih itu kepada orang Wolanda. lalu belayar ke negeri Wolanda menyampaikan berjanjian berputusan kata sekalian itu kepada Prings vin Nyuranye* dan orang besar2 dalam negeri Murucisa*. tetapi menyuruh sampai kepada Prings* dan orang besar2 di negeri Holanda* supaya boleh dengar kepada dia empunya pekatahan.sampaikan dahulu kami punya pekatahan ini. Dan enam orang dinamai ‘graf*’. kedua sebuah di pantai Hitu dan ketiga sebuah serta angkatan Bandan* dan keempat langgar kepada pinsu* dan kelima langgar kepada antonibot*.’ Tetapi keempat perdana tiada mau. Tellah demikian itu. Hatta datang musim barat kapitan amiral Kurnilis* [dan] Istin Warhaga* pun datang. Tatkala belum lagi datang Furtado itu. maka orang Hitu tanya kepadanya:‘Darimana datangmu dan apah nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Kami datang dari negeri Hollandes* dan nama raja kami “Paringsi*”.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bolehkah kami minta armada tolong kepada kami?’ Maka kata orang itu: ‘Mengapah maka tiada boleh? Boleh juga. Lain daripada itu tiada kuceriterakan.

keluar dari negeri Murucisa* dan empunya angkatan ini Prings van Nyuranye* dan penghulu dalam angkatan ini amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*. sehingga keempat perdana juga pinda ke Tanah Besar.’ Maka kata pula Mihirjiguna dan mardan Sibori: ‘Marilah sama kita ke tanah Ambon. datang pula sebuah kapal ke tanah Ambon kepada empat perdana. Demikianlah parang Antoni Furtado* di tanah Ambon sehinggalah perangnya. Maka bertemu dua buah kapal Wolanda dan ditanya kepadanya: ‘Mana kapitan-mor*?’ Maka ia menyahut: ‘Kapitan-mor ada di tanah Bandan. lalu belayar dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Ambon. karena musuh itu ada di tanah Ambon. Hatta datang musim barat. dan perdana Tanihitumesen ia duduk di negeri Anin dan perdana Pati Tuban ia duduk di negeri Waibuti dan perdana Nusatapi ia duduk di Gamusungi.Hatta seketika juga patah parang kafir. Hatta datang ke tanah Jawah. Alkissah peri mengatakan datang Furtado. Daripada tiada mau mengubah janjinya. Maka dinaikan empat orang mengikut kapitanmor itu. Lalu dibawah kepada perdana Tubanbesi dan orangkaya Patiwani kepada kafir laknat itu. sebab dilontar dengan batu oleh negeri itu kennah kepala kapitan Furtado. Maka keempat perdana menyuruh kepada Mihirjiguna ibn Kapitan Hitu dan mardan Sibori ibn Tubanbesi keduanya naik kepada kapal itu mendapatkan angkatan. Maka Kapitan Hitu naik kepada sebuah perau pergi mencari bantu sehingga ke Seran. Ada pun tatkala datang Furtado serta kelengkapannya. Kambelo itu pun alah juga semuanya. yakni negeri Luhu. Portugal namanya. lalu undur pulang ke Kota Laha. Lalu ia mendatangi negeri Iwa* dan orang Iwa* pun keluar berparang dia. Itulah halnya orang berjanjian. Hatta berapa lamanya angkatan pun datang.’ Maka menyahut menyahut pula kata Mihirjiguna itu: ‘Apabila jika . demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini dan siapa empunya angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun angkatan ini angkatan Wolanda. maka Mihirjiguna dan mardan Sibori bertanya kepada angkatan itu. lalu peranglah kedua pihak itu tiada berputusan sehingga datang Furtado.maka negeri sekalian takluk kepadanya. Maka kafir itu mendatangi negeri Luhu dan Lasidi*. maka ia menanti sehingga datang sama negeri Banten.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Endak ke mana?’ Maka ia menyahut: ‘Mencari kepada musuh kami.’ Lalu Kapitan Hitu belayar ke tanah Bandan. Maka kuceriterakan keempat perdana pinda ke Tanah Besar itu.Warhaga* itu. maka ia naik barparanglah di sana. Hatta berapa lamanya alah gunung itu. lalu ia mendatangi negeri Hitu. maka ia bertemu dengan kapitan Wolanda itu dan keduanya berhadapan kata dan bicara. Dan negeri Hitu pun pinda ke gunung Pinau*.

Hatta datang itu.’ Telah demikian itu. hatta datang kepada hari dan ketika yang baik. baiklah Wolanda duduk kepada kota itu. lalu belayar serta Mihirjiguna dan mardan Sibori ke tanah Ambon. ada pun orang Wolanda sehingga perintahkan dan mengaraskan. karena tanah ini ada yang empunya. Maka amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* pulang serta angkatannya menyampaikan khabar kepada Frings* dan orang besar2 dalam negeri Wolanda. maka kami bersama-sama ke tanah Ambon.’ Maka kata kapitan Feranggi itu: ‘Mengapah maka kata demikian? Karena kami empunya negeri ini.’ Lalu katanya kepada kapitan Feranggi itu: ‘Keluar engkau dari tanah ini. Sudah ia berikan kepada kami dan ia pun ada pada kami. Hatta datang musim barat. lalu masuk kepada labuan kota Feranggi itu. maka kita melawan dengan dia. Maka diberinya perau. Ada pun kotanya serta senjatanya kepada orang Hitu dan orangnya hitam itu pulang kepada hitam dan orangnya putih itu pulang kepada putih. Itulah kerjakan dia. Apabila jika alah kepada kapalnya. tetapi kita mengambil kota ini seperti kita mengambil isteri orang.demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Angkatan ini dari negeri Wolanda.’ Lalu Mihirjiguna keluarkan surat perjanjian itu kepada amiral Matelif*dan Istiwin Warhaga*. Apabila datang cari kepada isterinya. maka kami beri empat ratus bahara cengkeh. lalu keluar duduk di luar. mengapah maka kami keluar dari tanah ini?’ Maka kata amiral:‘Bukan engkau empunya tanah.dengan faedahnya. Hatta datang pagi hari dikeluarkan anak kunci itu diserahkan kepada tangan amiral. lalu ia diam dirinya.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Diiakanlah jika bagai kata demikian itu. tetapi barang kerja kota atas orang hitam. Tellah demikian itu maka kata amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* kepada Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Betapa kota ini?’ Maka kata Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya: ‘Baik juga kita rusakkan kota ini buan ke laut. maka kapitan Feranggi menyuruh datang tanya kepadanya. Ada pun bunyi dalam surat itu. bagaimana tempat kita jawab kepadanya? Ada pun tempat kita itu melainkan dengan kota. maka beri empat puluh bahara. demikian buninya: ‘Apabila alah kotanya itu. datang . dan orang hitam kepada orang Hitu dan artanya itu bahagi dua. lalu ia belayar pulang ke negerinya.’ Lalu dikeluarkan kepada Mihirjiguna dan mardan Sibori di hadapan. lalu diam kapitan Feranggi itu tiada berkata-kata lagi.’Lalu dinaikan Firdirik Hutman* gurendur di kota Ambon. Ada pun kapalnya serta senjatanya kepada Wolanda dan orang putih serta kapalnya. Maka dibaca surat itu.’ Maka kata amiral dan Istiwin Warhaga*: ‘Bennar juga kata itu.’ Maka kata Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Jika bagai kata amiral itu.

maka kita berilah salah.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* menyahut amiral keduanya: ‘Jika dengan manfaatnya maka kami mau ke Maluku. Dari mana akan datang ganti isi astanah raja? Karena rakyat sekalian wa-'llahu a`lam dalam kesukaran.’ Maka kata kiyaicili Ali dan gimelaha dan hamba raja:‘Mana tiga negeri itu?’ Maka kata amiral: ‘Negeri Luhu dan Lesidi dan Kambelo. Apa tipu kita sekarang ini?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun sudah rusak negeri Ternate serta dengan arta isi rumahnya habis dirampas oleh kafir itu. demikian katanya: ‘Tellah sudah selamat tanah Ambon daripada bahaya. Maka datang baginda cili Ali dan gimelaha Aja dan hamba raja Ambalau minta kepada amiral. insya Allah. maka kata baginda cili Ali kepada gimelaha dan orangkaya-kaya semuanya: ‘Apa tipu kita karena negeri Ternate dalam kesukaran?’ Maka ia saat*: ‘Endak kepada hasil tiga buah negeri itu. ia mengikut kepada amiral belayar ke Maluku.’ Maka diberikan anak Kapitan Hitu. Lalu kata amiral: ‘Berilah anak Kapitan Hitu ikut kepada kami supaya kami sampaikan kepada Prings dan orang besar di negeri Wolanda. maka kembali negeri Ternate serta dengan kerajaan. masuk ke Kota Laha.pula angkatan itu ke tanah Hitu. sehingga .’ Maka kata baginda cili Ali dan gimelaha Aja: ‘Apatah lagi manfaat? Karena Kapitan Hitu mengatakan upahan itu kami semuanya di situ. itu upahnya atas tanah Hitu. maka kami mau ke Ternate. Unus Halaene namanya.’ Maka kata amiral: ‘Yang tellah sudah itu apa betapa disubut lagi?’ Maka kata kiyaicili dan gimelaha: ‘Jika bagai kata demikian itu. apatah kehendak amiral itu? Katakanlah.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Berilah hasil tiga negeri itu kepada kami. Maka menyuruh panggil kepada kapitan serta keempat perdana Hitu. melainkan hasil datang dari tanah Ambon.’ Maka gimelaha dan kiyaicili tiada mau kepadanya dan amiral pun endak juga kepadanya. Moga2 dengan kehendak Allah ta`ala dan berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. maka diiakanlah kapitan sekalian itu. tiada beri salah. Lalu kata gimelaha dan kiyaicili: ‘Marilah kita pulang dahulu. Dan Kapitan Hitu pun becakaplah di hadapan orang sekalian itu.’ Lalu berkata: ‘Apabila angkatan itu ia mau tolong kepada negeri Ternate. supaya kami dengar. sudah tiada kurang kepada hasil masuk negeri Ternate kepada hari yang kemudian itu. tiga buah negeri itu kami minta. esok hari maka kita berkatakata’. Marilah kita ke Maluku tolong kepada negeri Ternate.’ Tellah demikian itu maka gimelaha dan kiyaicili katakan kepada amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* dan kapitan sekalian dalam angkatan itu. apabila kembali rayat semuanya dan negeri Ternate pun tettap. Maka kata Kapitan Hitu. lalu pulang. Pada ketika itu.

Dan kuceriterakan tatkala gurendur Hutman* itu. ia duduk di negeri Kambelo. lalu ke Maluku.’ Maka diiakanlah jeneral dan gurendur kata Kapitan Hitu demikian itu. lalu menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo kata yang kebaikan dan kebenaran. apatah dayah. tiada beta mengetahui duduknya itu. ’Tellah demikian itu. Maka mengikutlah ia. maka datang jeneral Gerat Rengsi* dan perdana Kapitan Hitu menyuruh kepada gimelaha Syabidin*. lil* Allah [fi] 'l`alamin akan kerajaan dan diturunkan gurendur serta soldadunya duduk menunggu kota. serta kelengkapannya. Tatkala itu datang jeneral. tetapi serta adil kepada jeneral. lepas taksir kita.mengantarkan kepada Unus Halaene. Ia itu banyak kasihnya akan artanya kepada orang serta dengan empenak supaya menjadi jinak sekalian orang Ambon. al-hamdu li-'llah. Mana kehendak jeneral itu kerjakan. bebaikan kita serta dia. dari Maluku datang ke Ambon. Kemudian daripada ia itu maka datang pula amiral. Gerat Rangsi* namanya. lalu ke Bandan. Pada zaman itu negeri Luhu dan Kambelo menerima kepada orang Ingeris. Maka sekarang ini ia duduk di negeri Kambelo. daripada itulah menyuruh periksai kepadanya. maka jeneral Gerat Rangsi dan gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh memagang senjata endak melanggar kepada negeri Kambelo. Apabila ia mengikut. Jika tiada mengikut. Maka didirikan kota di negeri Melayu. Itulah beta taksirkan dahulu. Maka gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh serta kelengkapannya masuk ke pantai Kambelo suruhnya Ingeris itu keluar. Simon Hun* namanya. karena gimelaha itu mangkubumi di tanah Ambon. Hatta berapa lamanya. Maka sekalian rakyat pun kembali ke negeri Ternate dan dinaikan serri sulthan paduka Mudafar ibn Sa`id al-Din syah.datang ke Ternate. Maka kedua pihak sama petuguhnya. ia tiada mau. Piter Bot* namanya. Maka kata perdana Kapitan Hitu kepada jeneral dan gurendur: ‘Sabar dahulu. tembak-menembak kedua kaum itu. Maka kata gimelaha Syabidin: ‘Mengapa maka tanya kepada beta lagi? Karena beta sudah keluarkan dia dari negeri Luhu. dari Bandan* datang ke Ambon pula. lalu pindah . supaya kami menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo. Lalu belayar angkatan itu membawah kepada Unus Halaene ibn Kapitan Hitu dan anak raja Nusaniwe dan anak orangkaya Lakatua dan anak orangkaya Natahuat* ke negeri Wolanda. Maka dinaikan Yangseper Yangsi* akan gurendur sehingga tiga tahun. Ia datang dari Betawih. Iapun demikian juga murahnya dan pada ketika itu gurendur Hutman* pun belayar karena lamanya gurendur Hutman* enam tahun ia duduk. pasang-memasang. maka datang amiral. karena tempat duduk Ingeris itu tanah raja Ternate dan negeri Kambelo itu pun rakyat raja Ternate.

Betapah kehendak titah itu. endak berkellai kedua pihak itu. karena kami banyak belanja hilang kepada soldadu dan marinero* membuat kota. Mengapah maka ia disamakan kami.’ Maka kata gurendur: ‘Betapa kami disamakan dengan Inggeris. Hatta berapa lamanya. maka kedua kaum muafakat serta bersakutu bandar Wolanda dan Inggeris itu. Pada ketika itu ada suatu fitna. serta kotanya maka diketahui oleh Wolanda. Hatta lama dengan lamanya sehingga datang kepada tahunnya. Mengapah maka minta delapan puluh daripada kami banyak arta keluar?’ Maka kata orang Ambon: ‘Mengapa maka gurendur kata demikian? Karena gurendur banyak arta hilang itu ada dengan hasilnya. maka suatupun tiada hisab* lagi. Pertama berkellahi dengan negeri Hutumuri.Orang Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda. maka berparanglah dengan negeri Nasrani yang takluk kepadanya itu. lalu ia pulang dan dinaikan Herman Aspel* akan gurendur ganti kepada Aren Bulok*.’ Lalu ia menyuruh ke Ternate dan menyuruh ke Betawih. maka Kapitan Hitu bedamaikan dia. maka jadi fitna. Maka Kapitan Hitu bawah kepada kipati Lesibata.ke pantai Eran* dan orang Wolanda pun masuk ke dalam negeri itu dan orang Inggeris pun keluar naik kepada kapalnya. Mengapa maka kata demikian itu?’ Lalu orang Ambon tiada keluarkan cengkeh. lalu ia belayar pulang ke Betawih dan gurendur Aren Bulok* duduk di kota Ambon. ia serta gimelaha Syabidin mengalah kepada negeri itu. Demikian kata gimelaha dan orangkaya-kaya sekalian: ‘Minta seratus harga sebahara. karena gurendur itu itu sangat bengis. kedua berkellahi dengan negeri Lesibata. Segali perastawa tanah Ambon semuanya serta gimelaha berbantahkan harga cengkeh. . ia bedamai dengan gurendur. Dan apa kata jeneral itu. Hatta datang musim barat maka maka datang kapitan Warhaga. maka kita lakukan bagai titah itu.’ Maka kata gurendur: ‘Enam puluh harga sebahara. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala datang suatu bala Allah.’ Maka kata orangkaya-kaya: ‘Berilah delapan puluh. maka gurendur dan menyuruh kepada paduka seri sultan di Ternate. lalu dibunuh kepada Inggeris dan Jupun semuanya. tawar-menawar dengan orang Wolanda. maka suatupun tiada fitna dalamnya. Daripada ia memulai parang di tanah Ambon. Maka kata Kapitan Hitu kepada kedua pihak itu: ‘Apa kerja berkellai? Baik juga gurendur menyuruh belayar ke Betawih kepada jeneral menyampaikan kata orangkaya-kaya itu. lalu belayar pulang ke negerinya. Leitimol* namanya. Maka dinaikan Aren Bulok* akan gurendur ganti kepada Yangseper Yangsi*. karena ia tiada hilang belanjanya. Alkissah peri mengatakan tatkala Herman Aspel* ia akan gurendur itu.Maka jeneral dan gurendur pulang ke Kota Laha.

’ Maka kata gurendur: ‘Bukan aku. sehingga dalam berkellai ini. maka atas kepada jeneral.’ Itulah kesudahannya. Kemudian kata gurendur: ‘Sudah putus tujuh puluh. Jikalau mau.surat dari Betawih dan titah dari Ternate pun datang.’ Maka diiakanlah orangkaya-kaya semuhanya kepada kata gurendur itu enam puluh tujuh real. ’Maka diiakanlah orangkaya sekalian tanah Ambon serta dengan janjinya. tetapi kepada artanya itu mana kehendaknya tiada kepadaku. baik dan jahat. seperti membuat kota atau berkellai atau kurang kuasa barang sesuatu.’ Lalu kata orangkaya-kaya: ‘Berilah tengah delapan puluh. Ada pun daripada titah seri sultan di Maluku demikian bunyinya: ‘Bahwa sesungguhnya tanah Ambon itu takluk kepadaku. karena benyagaan itu sama sukah keduanya.’ Itulah kesudahannya daripada titah. Apabila alah kepada Kastila dan Tidore atau bedamai dengan dia.’ Maka kata fetor: ‘Tengah tujuh puluh. datang utusan dari Ternate minta bantu kepada gurendur. karena banyak datang Kastila ke Tidore. Maka kata orang sekalian: ‘Jika bagai kata titah keduanya itu. Tatkala itu jeneral Lurinsu Riyal* dan amiral Astiwin Warhaga* pun datang serta kelengkapannya delapan buah kapal. atas kepada fetor semuhanya. tetapi surat dari raja dan gurendur dari Ternate minta bantu ke sana. Maka disampaikan surat itu kepadanya. Karena surat dari Betawih demikian katanya: ‘Ada pun kepada bicara yang lain. Itulah keputusan harga ce ngkeh dan negeri sekalian pun keluar cengkeh timbang kepada fetor. maka kata jeneral: ‘Ada pun beta ini endak ke Bandan. beta minta kepada orangkaya-kaya sekalian keluarkan tujuh real upamakan harga makanan soldadu.’ Maka kata fetor kepada orangkaya gimelaha: ‘Betapa harga cengkeh ini?’ Maka kata orangkaya gimelaha: ‘Bukan aku empunya cengkeh. Jikalau kepada benyagah Ambon itu atas kepada gurendur dan fetor* semuhanya di tanah Ambon. tetapi beta minta kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya-kaya semuhanya enam puluh tujuh. Tellah demikian hatta datang kepada tahun yang lain. Maka betapa tipu orangkaya-kaya semuhanya kepada titah itu. demikian katanya: ‘Enam puluh pada harga sebahara cengkeh itu. Tiga real itu akan harga siri pinang soldadu. atas kepada gimelaha dan gurendur memutuskan harga cengkeh ini. Maka semuhanya dengan Wolanda pun berhimpun di pantai Luhu memutuskan harga cengkeh itu.’ Maka kata gimelaha: ‘Berilah tujuh puluh. Yang empunya cengkeh itu orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon. tujuh puluh harga sebahara cengkeh. maka cengkeh itu hargakan lagi atau kurang lagi .’ Maka fetor pun mau dan orangkaya-kaya sekalian pun mengikut kata gimelaha itu.

’ Lalu gurendur serta angkatannya mendatangi negeri Boano. karena fitna itu tiada subut lagi. sehingga ditaksirkan juga. apahtah daya? Lapas taksir kita kepada sengaji dan orangkaya-kaya dalam negeri Boano. maka Kapitan Hitu dan gurendur serta orangkaya sekalian menghukumkan kedua pihak itu.daripada enam puluh itu atau lebihkan lagi daripada enam puluh itu. maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur: ‘Ada pun gimelaha itu tiada bicarakan. Alkissah peri mengatakan serta kuceriterakan tatkala perdana gimelaha Hidayat keluar serta angkatan datang ke tanah Ambon. susunya bagai susuh perempuan. Sungguhpun besar tubuhnya itu tetapi kuat. Yang benar itu dibenarkan dan yang salah itu disalahkan serta didamaikan kedua kaum itu dengan kebajikan. Ia datang tanya kepada perdana gimelaha. demikian katanya: ‘Betapa perbuatan sengaji Boano demikian itu?’ Maka kata perdana gimelaha: ‘Ada pun perbuatan sengaji itu kami tiada mengetahui kepadanya. beta damaikan dia dengan gurendur. Maka gurendur serta angkatannya pulang ke Kota Laha dan Kapitan Hitu serta kelengkapannya pulang ke negerinya. Maka beta minta kepada gurendur sabar ahulu. Tetapi daripada ia endak kejahatan itu. lagi johan pahlawan. Jikalau mau keluar. Maka suatupun tiada lagi fitna pada kedua pihak itu karena sudah keputusan kata yang baik dan jahat. Dan negeri sekalian pun dengan kesukaannya serta dimulianya. yakni sudah di luar perjanjian. Ia . Tellah demikian itu datang johan pahlawan gimelaha Hidayat. apabila jika ia tiada mau. beta menyuruh kata kepada sengaji.karena kesukaan dan keadaan itu tiada berapa dalamnya. Alkissah peri mengatakan tatkala gurendur keluar dengan angkatan. maka ia membuat suatu fitna kepada sengaji* Boano.’ Maka diiakanlah oleh kedua pihak itu serta disuratkan dalam kertas tatkala disuratkan itu di pantai Gamusungi di hadapan jeneral dan amiral dan perawara sekalian daripada pihak Nasrani dan hadapan mengkubumi gimelaha Syabidin dan perdana sekalian perwara di tanah Ambon serta Kapitan Hitu daripada pihak Islam itu. lagi ia hukum dalam negeri Ternate. lagi ia alim dan tiada orang besar tubuhnya bagai dia dari Maluku sehingga datang ke Ambon. Melainkan dengan adil gurendur. Itulah kita taksirkan kepada gurendur.’ Tellah demikian itu. Itulah kesudahan harga cengkeh pada ketika itu. melainkan melakukan kebaikan dan kebenaran serta kesukaan dunia dan tiada mengirangirakan hari yang kemudian. Maka suatupun tiada fitna lagi. karena ia perdana yang besar dalam negeri Ternate. lalu jeneral belayar ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. karena tanah Boano itu tanah raja dan orang itu pun rakyat raja Ternate. lalu menyuruh kata kepada sengaji dan orangkaya semuhanya keluar.

Lalu ia berkata kepada orangkaya-kaya. tetapi ihtiar dahulu kepada budi akal kita. Baiklah kita tolong kepadanya dengan pekatahan. sehingga enam orang juga mengikut dia. Maka pada ketika itu tanah Ambon dalam hukum Hidayatullah. yakni sakit. Serta ajal Allah. Sudah kita tolong dengan makanan tiada sampai. kita masuk kepada orangkaya-kaya tanah Bandan. melainkan suatu kata kami minta kepada orangkaya-kaya. jika boleh. taat siang malam tiada berputusan mengaraskan agama Islam. Kemudian daripada itu datang jeneral Pitir Eskun* serta angkatan masuk ke Kota Laha. daripada ia mengatakan hukum itu serta dengan hukum Allah. tiada dapat kita tegah kepada perbuatan itu. maka didirikan tunggulnya sekalian kapalnya itu serta bunyi tamburunya*. maka wafatlah perdana gimelaha pulang ke rahmat Allah. lalu masuk kepada negeri Salamah berhadapan serta orangkaya-kaya tanah Bandan* semuhanya.’ Maka kata jeneral: ‘Bukan kami minta bedamai. Kemudian anak orangkaya-kaya tiga puluh orang serta Unus Halaene ibn Kapitan Hitu naik kepada kapal Inggeris ikut belakangnya. kami endak berkellai juga. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. Tetapi daripada kehendak Kapitan Hitu demikian itu. tiada pulang ke negerinya lagi. torompetanya* dan himpunkan soldadu serta dengan senjatanya. Ia belabu sehingga datang labuan Komber. Tellah demikian itu.’ Maka Kapitan Hitu naik. ialah memutuskan. tanya kepadanya maukah bedamai atau tiada maukah. demikian katanya: ‘Ada pun beta ini bukan disuruh oleh jeneral. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sabar dahulu. Daripada itulah termasyhur nama johan pahlawan hukum Hidayatullah di tanah Ambon. hatta berapa antaranya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Syabidin pun uzur. apahta daya? Karena pekerjaan itu pekerjaan yang benar. Maka Kapitan Hitu tanya kepada jeneral: ‘Endak ke mana angkatan ini?’ Maka kata jeneral: ‘Endak ke Bandan* berkellai.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa tipu kita kepada tanah Bandan? Karena tatkala kita berparang dengan orang Feranggi ia tolong kepada kita. supaya jangan menyasal kepada hari yang . kita ikutlah. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh.membuat ibadat. Daripada beta ingat tanah Bandan* dan tanah Hitu daripada zaman dahulukala. upama terbit matahari cahayanya menarangkan yang adanya. Ada pun pada tatkala itu barang hukum daripada zaman yang tiada boleh putuskan orangkayakaya sekalian di tanah Ambon itu.’ Lalu Kapitan Hitu naik kepada angkatan itu. Apabila jika tiada boleh. Hatta datang angkatan itu antaranya laut Puluh Suanggi* dan Gunung Api. Maka beta tolong dengan makanan tiada boleh. maka masuk di pantai Lontor.

keempat makanan.’ Maka kata orangkaya-kaya tanah Bandan* kepada Kapitan Hitu: ‘Baiklah. tetapi kita menyuruh juga kepadanya menyampaikan perjanjian kita itu. ketiga manusyia. apatah lagi dinantikan? Jika kurang lagi suatu perkara daripada empat itu.’ Maka kata orangkaya-kaya semuhanya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu. Jika bagai kata orangkayakaya demikian itu. benar juga orangkaya kata kepada empat perkara itu. tetapi kami parang dengan Wolanda ini bukan sekarang. Apabila jika datang Kapitan Hitu dan Wolanda itu kita pagang semuhanya. kedua senjata. Dalam dua hari. Kita pun lengkapkan kepada empat perkara itu.’ Tellah kata demikian itu. supaya kita dengar apa kehendaknya itu. karena perbuatan ini sudah ia membunuh kepada kami orang banyak.’ Hatta datang kepada janjinya. Tetapi apa kehendak orangkaya-kaya katakan juga kepada kami. artinya kata itu sudah lengkap karena perbuatan manusyia itu serta dengan harkat. apabila di mana kami bedirikan tunggul putih. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sudah lepas . lalu menyuruh turun kepada orang itu.bebaikan dahulu dengan dia. Maka ia tanya: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka suruan itu menyahut: ‘Ada pun Kapitan Hitu minta ampun daripada orangkaya-kaya sekalian.’ Maka kata Kapitan Hitu ialah kata jeneral itu: ‘Kita tiada turun kepadanya. maka orangkaya datang di sana. maka ia berkata kepada jeneral: ‘Kita dengar orang Bandan* bicara dalam negeri: “Kita berhimpunkan orang serta senjata menanti di pantai. supaya kami himpunkan orang sekalian. jangan kata kita dibebohonkan. Apabila jika sudah lengkap. pertama negeri. Selamanya parang kami sahingilah* empat perkara itu. maka dilihat oleh Kapitan Hitu dari kapal. Tetapi kehendak Allah ta`ala itu siapa mengetahui?’ Maka menyahut pula orang yang disuruh itu: ‘Daripada itulah maka dikira-kirakan. maka kami katakan kepada orangkaya Kapitan Hitu dengan jeneral. ada sakit sedikit. Daripada itulah periksai kepada orangkaya-kaya empat perkara ini. Ia masuk kepada Wolanda. pulang dahulu. didirikan tunggul putih di pantai. di sanalah kami menanti.’ Maka kata orangkaya-kaya kepada Kapitan Hitu: ‘Apa2 empat perkara itu?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun empat perkara itu. maka tiada ia turun.’ Tellah demikian itu maka kata jeneral kepada Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata ini. maukah atau tiadakah. Kemudian apa2 barang kehendak kita itu katakan kepadanya”. sudahkah lengkap atau bulum lagikah. lalu Kapitan Hitu pulang ke kapal.kemudian. supaya ia pulang. jangan lagi Kapitan Hitu turun ke darat. artinya dusta. Pada malam itu datang seorang daripada negeri Bandan. apatah lagi?’ Lalu pulang orang itu menyampaikan kata itu kepada orangkaya Kapitan Hitu dan jeneral.

Tiada habar kepada yang lain lagi sehingga sana berparang daripada bakda subuh. maka diberinya minum arak pada tempat minuman prings. Hatta terbit matahari. beta pun tiada kembali. Kemudian tinggalnya itu kepada orang sekalian. Pugel* namanya. dan orang Bandan* pun serta dengan harkatnya. Tellah demikian. lalu kata jeneral: ‘Jika siyapa naik dahulu maka alah negeri itu.taksir beta. ia masuk ke dalam serta bunyi bedil dan riuh dalam negeri. lalu masuk ke negeri Ander dan Waier. maka kata jeneral: ‘Betapa perintah parang orang itu?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Demikianlah parang orang itu. Kemudian daripada itu. dipalu gendarang parang dan riuh serta bunyi bedil seperti guruh di atas langit. Hatta datang bakda lohor serta dengan kehendak Tuhan sarwa sekalian alam. jika tiada boleh alah negeri itu. Lalu undur Wolanda pulang ke kapalnya. maka orang Bandan* pun keluar. Maka patahlah parang Islam itu.’ Maka seorang kapitan. jual-beli.’ Hatta datang pagi hari naiklah angkatan itu butul di hadapan negeri.’ Maka kata jeneral: ‘Jika bagai demikian itu betapa bicara kita sekarang?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Mana perintah jeneral itu kami kerjakan. maka Wolanda daripada kapitan Hutman* ia naik dari belakang negeri. maka jeneral menyuruh panggil kepada orang besarnya serta panglimanya sekalian dalam angkatan itu datang kepada jeneral. Lain makanannya dan pakaiannya dan apa-apa rampasan dalam orang banyak itu mana sukanya ia ambil dahulu. seribu real kuberi kepadanya. Maka kedua pihak berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian.’ Serta dengan cakapnya orang semuhanya itu. demikian katanya: ‘Beta naik dahulu. ia becakap di hadapan jeneral dan orang besar2 semuhanya. Beramai-ramaian parang kedua pihak itu daripada waktu duha sehingga datang asar tiada boleh alah. maka menyuruh tanya kepada orangkaya-kaya tanah Bandan* sekalian. kemudian perintah parang kita. Itulah adat berteguhan janji kepada orang itu. Maka sekalian kapitan serta orang banyak itu pun pulang kepada kelengkapannya dan jeneral pun pekatahan yang diperjanjikan kepada panglimanya itu semuhanya dikerjakannya. mana kehendak jeneral itu?’ Maka kata jeneral:‘Esok pagi kita naik cobah dahulu. hatta datang malam. berhimpunlah di sana dan Wolanda pun duduk di negeri Lontor. tukar-menukar. demikian .’ Lalu ia berteguhan kata dengan jeneral. tiada boleh masuk ke dalam negeri lagi. Ia naik dari belakang negeri dan kapitan Pugel dan kapitan Kuluf* dan kapitan Gemala* dan kapitan Jupun dan kapitan Siyau dan sekalian kapitan serta orang banyak semuhanya naik dari laut di hadapan negeri. supaya kita lihat perintah parangnya itu. maka diturunkan gurendur Hutman* akan kapitan.

itulah tanda bebaikan. Semuhanya itu minta serta anak orangkaya-kaya empat puluh orang itu. Maka sekarang ini kami endak belayar. Dragon namanya. Baik juga orang semuhanya cerai-berai itu suruh pulang keruan kepada tempatnya. Maka orangkaya-kaya semuhanya tiada dapat besangkal lagi. Jika kepada sekarang ini jeneral mau bebaikan.’ Tellah demikian itu maka jeneral menyuruh panggil kepada orangkaya semuhanya. Itulah kesudahan berkellai tanah Bandan. maka kata jeneral: ‘Jika hati bennar mau bedamai. Itulah hal alah tanah Bandan. Ada pun kepada sekarang ini mana bicara orangkaya-kaya kita dengar. karena senjata itu semuhanya dalam negeri itu juga. maka suatupun tiada lagi fitna. Lalu belayar ke tanah Ambon. Jika ia katanya tiada lagi. semuhanya delapan ratus delapan puluh orang kepada kapal. Maka ditipu oleh Wolanda. bennarnya dengan dia. apahtah daya?’ Maka kata orangkaya-kaya Bandan: ‘Yang tellah sudah itu jangan disubut lagi. rubuhkan kotamu dan berikan senjata yang adanya itu. lalu dinaikan ke kapal.katanya: ‘Bukankah Kapitan Hitu endak damaikan kita kedua? Daripada orangkaya-kaya tanah Bandan* tiada mau bebaikan. Lalu keluar bunga pala timbang kepada fetor. maka kita berkellai. lalu dikeluarkan semuhanya serta anak orangkaya-kaya itu. Jika mau bedamai. Maka jeneral serta angkatannya pulang ke negerinya dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. kuliling soldadu serta senjata.’ Maka disuruh oleh orangkaya-kaya panggil kepadanya semuhanya datang ke negeri Salamu. lalu ke Jawahkatra* dan orang Bandan* yang tinggal itu semuhanya pindah ke tanah Seran dan Goron*. marilah kita bedamai.’ Lalu orangkaya-kaya keluar bedamai dengan dia. lalu kata kepadanya bagai kata orang itu. Maka raja menyuruh angkatan ke Seran memuatkan dia datang ke Mangkasar. kemudian beta tunjukan kepada orang yang menaruh dia itu.’ Maka kata orangkaya Bandan: ‘Tiada lagi pada kami. Kemudian kami belayar supaya kami menyampaikan kepada orang besar2 di negeri Wolanda pun dengan kebenarannya. Alkissah dan kuceriterakan kemudian daripada . jika tiada mau bedamai. demikian katanya kepada jeneral: ‘Ada lagi bedil besar dalam negeri Bandan .’Maka diberikan dua puluh esfangar* kepada Wolenda itu. Maka menyuruh datang mengadap kepada raja Mangkasar minta pindahkan ke Mangkasar. Kemudian daripada itu kata Mai Hasan ibn orangkaya Bulaisi dan orangkaya Orotatan. datang ke tanah Hitu. seribu kali kami sukah.’ Maka kata Wolanda: ‘Barang seadanya itu berikan kepada kami. Maka kata jeneral: ‘Sekarang ini upama tulur hayam digulingkan dari tanah Bandan* sampai ke tanah Wolanda: tiada boleh pecah lagi. dan empat puluh orangkaya-kaya semuhanya dibunuh oleh Wolanda itu.

Hatta berapa lamanya maka datang ke Jawahkatra*. ada ke Laut Mera. seketika lagi patah tiyang buritang itu. Tellah menubus itu. lalu kepada Nagahpatan*. tetapi musim lagi lambat datang. ada ke Jambi. ada menjual anaknya. mau melihat dunia tanah Keling barang seadanya hidupku sehingga datang musim barat.’ Lalu ia naik kepada sebuah kapal. Lalu kata jeneral kepada Mihirjiguna: ‘Ada pun barang kehendakmu itu kami terimalah. Ada menjual dirinya sendiri. ada tengah tiga real. Di situlah tempat ia menyembah berhalanya itu. ia duduk kepada . Ada pun San* Tumi* itu ada suatu bukit. kuserahkanlah kepadanya yang kehendaknya itu. maka Mihirjiguna masuk mengadapat* perdana Kapitan Hitu.lagi lambat musim.jeneral belayar membawah kepada orang Bandan* itu. lalu berkata: ‘Beta endak belayar ke Jawahkatra*.tiada dapat diceriterakan kepada kasihnya itu --. Bunyi layar seperti bunyi bedil. Hatta terbit matahari.’ Maka iakan oleh jeneral dan diberinya seribu real akan bekalnya dan sangat mulliya kepadanya serta kasih lain2 -. Maka apa kehendaknya Arinjiguna* itu semuhanya dikatakan kepada jeneral pun terimalah kepada kehendak Mihirjiguna itu.’ Lalu Mihirjiguna tanya kepada jeneral: ‘Kapal semuhanya itu endak ke mana?’ Maka kata jeneral: ‘Kapal itu endak ke Malaka. Delf namanya kapal itu. maka Mihirjiguna naik ke darat berhadapan dengan jeneral serta orang besarnya.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata demikian itu. lalu kepada Tirubambu* dan Tirumulawasir* dan Kunmuri*. belayarlah engkau. lalu naik Mihirjiguna belayar. menubus dengan harganya dua real seorang. Maka ia menyembah. beta endak turut kapal yang ke bandar Masilpatani*. maka belayar dari Pudiceri*. Nona Sinyora di Mundi* namanya. ia berhenti entah berapa lamanya. Tellah demikian itu berapa lamanya datang ke tanah Keling.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa kehendakmu belayar itu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kita belayar ini tiada kehendak kepada yang lain melainkan kubicarakan orang Bandan. ada ke bandar Masilpatani*. Hatta berapa lamanya di tengah laut datang tofan angin ribut. kepada negeri Tunahpatnan. maka didirikan gerejanya akan tempat berhalanya. Kemudian daripada itu maka belayar sehingga datang ke Palikat*. Lalu ia belayar ke bandar Masilpatani*.angin pun tedduh. Daripada Feranggi duduk dari situ. Maka naik ke darat bejalan ke negeri Pujiciri*. Apabila datang musim barat akan perginya pulang.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Beta minta kepada jeneral sementari lagi lambat musim. Jika tiada boleh kembali ke tanah Bandan* pun. Karena di situ ada kota Wolanda. sehingga tanah Ambon pun baik juga jika dilapaskan oleh jeneral. ada pulang ke negeri Holandes. maka dinamai San* Tumi*.

dan orang membuang segala najis manusyia dalam negeri itu. seperti perbuatan yang kegemaran kepada keelokan serta keinginan hati manusyia. sehingga ibu bapa kita yang bennar itu maka kita tiada bertemu. jika datang tengah hari maka mandi kepada air yang sejuk itu. Entah berapa lamanya di tengah jalan. Tellah demikian itu hatta datang musim maka ia pulang. maka dinaikan kepada sebuah kapal membawah kepadanya. lalu dibaca sendirinya. lalu datang ke Banten sehingga datang ke Jawahkatra*. Dan dikerjakan hamam*. Dan perbuatan pelbagai yang andak* dalam dunia semuhanya ia melihat karena Masilpatani* itu bandar Kutb Syah yakni raja Gulgonda. pada malam Ahad. Apabila datang pagi hari. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Arinjiguna* itu seribus* kali beta terima. tatkala zaman sultan Muhammad Huli akan kerajaan di negeri Gulgonda. Daripada ia tiada empunya untung. maka ia berenti di sanalah. dan orang berumah dalam tanah dan orang tiada berumah selama-lamanya. tetapi Kapitan Hitu dan gurendur kira-kirakan kehendak Arinjiguna* itu. maka ia mati pulang kepada asalnya. maka Mihirjiguna sakit. bicarakan Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda serta kotanya itu.Maka diberikan surat itu kepada Kapitan Hitu dan gurendur. Dan kejahatan serta kebencian pun demikian lagi. Maka dibaiki suatu petti dilapis dengan tima hitam. maka ditaburkan segala bauh-bauan dalam kafan. maka datang masuk selat antara Puluh Merkata* dan ujung Tanjung Cina. maka datang ke Ambon masuk ke Kota Laha. lalu dimasukkan mayit itu ke dalam petti. dan kesukaan dan kedukaan pun demikian lagi. lalu belayar. Lain daripada itu tiada dapat diceriterakan kepada kelakuan yang indah2. Entah berapa antaranya. Apabila jika dengan baiknya musim yang datang ini suruan ke mari. Berapa lamanya di tengah laut. Di sanalah dimasyhurkan namanya Mihirjiguna itu ‘sultan karanful*. maka mandi kepada air yang panas itu.rumah syaudagar haji Baba namanya. ada air sejuk dan air panas kepada suatu tempat harkat kepada segala manusyia. seperti orang kaya dan orang miskin. Pada tatkala itu Kapitan Hitu pun ada di Kota Laha. Di sanalah ia melihat perhiasan dunia semuhanya lengkap. Sehingga enam hari dengan kehendak Allah ta`ala wafat meninggal negeri fana datang kepada negeri yang baka pada bulan Rubiu'l-awal dua belas hari pada tahun [1032] Ha. Entah berapa lamanya dalam negeri Betawih. maka diberikan surat itu pada tangan Sifar alRijali. kipati syah’. maka beta serahkan kepada dia. Dan pasan jeneral dalam surat kepada Kapitan Hitu dan gurendur Herman Aspel*.’ Tellah demikian itu. maka gurendur kata kepada Kapitan Hitu: ‘Baik juga kata jeneral kepada kita kedua itu kira-kirakan kepada kehendak Mihirjiguna .

Kemudian daripada peninggal perdana itu. Lalu berparang pula. maka tiada jadi kehendak Mihirjiguna itu sebab perbuatan orang itu. Hatta berapa lamanya maka datang titah paduka serri sultan Ternate suruh bedamai. Daripada itulah maka digelar nama kelengkapannya itu ‘buang destar’ namanya dan demikian lagi kehendaknya Islam endak mengarusakkan agama Nasrani dan Yahudi dimasukkan kepada agama Islam. Maka ia pinda ke negeri Lesiela meneguhkan negeri itu daripada ia melihat salah kelakuan Wolanda itu. alah-mengalah. sentiasa tiada berputusan parang di tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. lalu paranglah gimelaha Luhu dan gimelaha Leliyato serta di tanah Ambon semuhanya. kemudian daripada Arinjiguna* itu Unus Halaene akan hukum. sehingga tanah Hitu juga tiada mengikut. artinya sakit lalu pulang ke rahmat Allah ta`ala. karena adatnya raja ada kepadanya dan adat bendahara pun ada kepadanya. sarang-menyarang. ketiga membawah angkatan mendatangi di tanah Seran. maka Wolanda datang rusak kepada dagang itu. Maka dipertitahkan serta dengan arta disedekakan kepada fakir dan miskin dan orang besar-besar dan dipeliharakan sehingga adatnya. karena kehendaknya Nasrani dan Yahudi itu endak mengarusakkan agama Islam dimasukkan agama Nasrani. tanah Ambon dalam hukum perdana gimelaha Hidayat. alah-mengalah sebagailah. Lain daripada itu banyak lagi perbuatannya. Serta kehendak Allah ta`ala. jika datang orang Bandan* pula. sarang-menyarang. Ialah bengis di tanah Hitu serta kelakuannya. Dan kelakuan hulubalang pun ada kepadanya. Pertama membuat gudang di pantai Huniyasi*. Hatta datang berapa lamanya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Hidayat pun uzur. itulah sebabnya. Maka kedua kaum Islam dan kaum Nasrani itu berparanglah. maka gimelaha serta orangkayakaya semuhanya tiada mau rusak dagang dalam bandar. Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya . Lalu dinaikan mait itu kepada kelengkapannya orangkaya dan orang dari negeri pun keluar mendapatkan dia di tengah jalan. kedua membuat kotanya di tanjung Koako. Seorangpun tiada sebagainya di tanah Ambon.’ Lalu dibunuh Inggeris dan Jupun itu. Apabila datang dagang. makin bertambah-tambah fitnah sebab dagang. karena ia berjalan atau duduk serta senjata tiada boleh meninggalkan dia dan syaudagarnya pun sangat serta murahnya tangannya. artinya negeri sengaji Hatuhaha. Kemudian daripada itu maka kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Syabidin meninggalkan negeri yang fanah itu datang kepada negeri yang baka itu. Itulah kesudahan pelayaran Mihirjiguna ke tanah Keling. tetapi inilah perbuatan Inggeris dan Jupun.itu. sehingga datang ke negeri.

Wai namanya. Pada tatkala itu johan pahlawan gimelaha alah kepada sebuah negeri. maka gimelaha Leliyato ia duduk negeri Kembali dan gimelaha Luhu ia duduk di Gamusungi. Daripada itulah maka parang sabil Allah di tanah Ambon tiada berputusan. tempatnya yang lama. dari Sula lalu ke tanah Banggai. Maka suatupun tiada fitnah lagi di tanah Ambon dan kapitan laut pun berangkat ke tanah Sula. Hatta datang titah disuruh pulangkan. Lalu Kapitan Hitu dan hamba raja Kalabata belayar ke Jawahkatra* bebicara dengan jeneral. maka suatu tiada fitnah dalam tanah Hitu. Siyapa tempat kuserahkan tanah ini?’ Lalu diserahkan kepada orangkaya Samu2 menunggu tanah Hitu serta orangkaya Bulan. Itulah halnya tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur. lalu masuk ke negeri Luhu. Alkissah peri mengatakan sekali perastawa perdana Kapitan Hitu pada suatu ketika ia duduk. suruh kembali ke Ternate. dari Banggai datang ke Tambuku. maka tiada ketahuan bicaranya jeneral itu. dari Tambuku lalu membaiki negeri serta dengan kotanya ia duduk. Semuhanya diangkatnya bawah ke negeri Lesiela. Hatta berapa lamanya datang angkatan dari Buton serta anak raja2 dan orang besar2 semuhanya membawah titah serta dengan adat mengadap kepada raja laut. Hatta datang di sana raja Mataram menyuruh kepada tumengung* Bauhraksah mendatangi kota Betawih. lalu pindah ke tanah Buton. Segali perastawa mendamaikan dua kaum itu. maka ihtiar sendirinya. maka dikembalikan dianya. Entah berapa lamanya dengan takdir Allah ta`ala pulang ke rahmat Allah. Maka dibawah kepada gimelaha dua bersyaudara kembali ke Tanah Besar. Maka diturunkan yakni dikeluarkan gimelaha dua bersyaudara. Apabila datang suatu fitnah . sehingga sanalah ia berhenti. yakni negeri Luhu. Lalu kapitan laut pun berangkat ke Manipa dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. keduanya memerintahkan tatkala perdana Kapitan Hitu lagi dalam negeri Betawih. Maka ia bertemu kepada kapitan laut dan barang apa2 bicara dengan jeneral itu semuhanya diceriterakan kepada kapitan laut serta muafakat. lalu keluarkan kotanya di tanjung Koako itu dan gudang di Huniyasi* itu. Tellah demikian itu Kapitan Hitu pun datang dari Jawahkatra*. karena ia dalam kesukaran. Dan di belakangnya Kapitan Hitu datang kapitan lawut baginda kiyaicili Ali ke tanah Ambon. Hatta datang musim perdana pun pulang.Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya johan pahlawan gimelaha Leliyato ‘buang capeu*’ namanya. Itulah kesudahannya datang raja laut di tanah Ambon. demikian katanya: ‘Ada pun aku ini sudah tuah. Maka gurnadur Filipi Lukas* dan hukum Halaene serta angkatannya mengadap kepada kapitan laut.

Hatta datang maka kata perdana Kapitan Hitu. apabila ia mati tiada boleh masuk esukaan dan beramai-ramaian atau bunyi-bunyian dalam negeri. Tetapi kepada fitnah tiada dapat dikatakan lagi daripada nafsu dunialah. bagi Islam atau Nasrani. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala itu ada lagi hayat perdana Kapitan Hitu. yakni sakit serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi orangkaya pun wafat. Daripada itulah maka ia keluar membawah angkatan menyarang negeri. maka dalam uzur itu menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya semuhanya. melainkan alah sebuah negeri atau keluar arta daripada takluknya sekalian. Maka ia beramairamaian kesukaannya serta bunyi-bunyian dalam negeri Hitu. melainkan hukum Halaene juga tiada mau kecewa kepada nama tanah Hitu. ia juga membaiki. Maka menyuruh antarkan maitnya orangkaya itu pulang ke negeri. memberi racung kepadanya. Entah berapa lamanya di tengngah jalan. Masya Allah ia meninggal kepada darulfanah datang kepada darulbaka. Maka ia tiada boleh tahan dirinya lagi. artinya celaka. Maka dinaikan kepada Kakiyali akan hukum. maka orangkaya Samu2 pun uzur. kemudian dibagi dua: setengah didudukkan di negerinya dan setengah dibawah kepadanya ke negeri Hitu.daripada negeri yang lain bagi Islam atau Nasrani. Karena istiadat orang besar yang ternama. maka barang sesuatu fitnah dalam tanah Hitu atau tanah Ambon. maka ia datang kepada gurendur endak mengatakan kepadanya. Hatta berapa lamanya apa2 kehendaknya. Maka hukum Kakiyali juga membaiki tiada jadi berkelai. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Allah ta`ala siapa mengetahui? Tetapi pada perasaan diriku. hanya baik2 bicara kepada tanah ini serta . maka bersuka-sukaan serta beramai-ramaian dan bunyi-bunyian dalam negeri itu. Maka dipeliharakan serta adat sehingga datang seratus harinya. Lalu Kakiyali membawah angkatan itu menyarang kepada sebuah negeri Hatumete namanya. maka ia kedua orangkaya Samu2 keluar serta dengan angkatan melepaskan dukacittanya. pulang ke rahmat Allah. yakni meninggal kepada dunia datang kepada akhirat. Semuhanya ditangkapnya. jikalau seseorang juga pun. Hatta lama dengan lamanya orangkaya pun makin tuah serta dengan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala uzur. yakni mendamaikan dia. Maka kuceriterakan tatkala itu negeri Iwa* dan orang Wolanda endak berkellai sebab Pati Herman. Itulah istiadat mati orang ternama di tanah Ambon. jangankan sesuatu negeri. lalu ia kembali sehingga datang ke negeri. Maka datang kehendak Allah ta`ala kepada seorang perempuan bedzebai. Daripada ialah orang Wolanda itu tiada dapat melakukan kehendaknya kepada tanah Hitu pada zaman itu. kemudian daripada itu. wa-'llahu a`lam.

tiada dengan periksyanya. Apabila sudah muafakat serta minta angkatan datang berkellai dengan Wolanda. Sebahagi serta perdana gimelaha dan negeri sekalian. maka orang membawah fitnah kepada gurendur itu. maka dikerjakan.’ Maka gurendur pun percaya. lalu gurendur Kisil ia belayar ke Betawih. melainkan mana kehendak Allah ta`ala serta orang banyak itulah memangku tanah Hitu. lalu pulang ke rahmat Allah.tetapi bulum lagi dengan kehendak Allah ta`ala tiada jadi tipunya itu. sadaha* Semaun namanya. membawah titah datang kepada perdana gimelaha serta Ulima dan Ulisiwa. Iapun demikian juga kelakuannya. Maka gurendur Artus* dan orangkaya-kaya semuhanya muafakat. Maka dipeliharakan mait perdana itu dan disedekakan arta kepada segala penghulu agama dan orangkaya-kaya dalam negeri Hitu sekalian dan diadatkan sehingga datang seratus harinya. karena Kapitan Hitu sudah mengetahui kelakuan Wolanda itu.’ Dan apa2 pekatahan serta adat tanah Hitu semuhanya dikatakan kepada keempat perdana dan berapa2 pekatahan yang dahulu kala itu semuhanya dikatakan kepada anak buahnya. jangan seorang mengaku ia sendirinya.’ Karena pada ketika itu mardan Baros akan Nusatapi nama gelarnya dan mardan Mulutan akan Totohatu nama gelarnya dan mardan Kelisa akan Pati Tuban nama gelarnya dan mardan Kiyoan akan Tanihitumesen. tetapi jika datang masya Allah siyapa membawah tanah Hitu ini?’ Maka kata orangkaya: ‘Tiada dapat dikatakan. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu menyuruh ke Mangkasar endak muafakat dengan serri sultan di Goa. sehingga negeri Luhu juga dua bahagi. melainkan keempat orangkaya dan Kapitan Hitu serta muafakat.Karena pada tatkala itu perdana gimelaha serta negeri semuhanya berkellai dengan Wolanda. karena dalam titah itu . maka berparanglah dan sebahagi serta kiyaicili Sibori memegang Wolanda membuat gudungnya di negeri Luhu dan paranglah kedua pihak itu.dengan agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Itulah nama keempat serta Kapitan Hitu pada zaman itu. alahmengalah sebahagai juga tiada berputusan. Tellah demikian itu datang masya Allah. sarang-menyarang. maka digantikan Antoni* akan gurendur. maka dinaikan kepada hukum Kakiyali akan Kapitan Hitu serta perjanjian: ‘Apabila barang suatu pekerjaan atau pekatahan.’ Maka menyahut pula orang banyak itu: ‘Bennar kata tuhanku itu. Maka ia masuk ke tanah Hitu. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. Kehendak Allah ta`ala siyapa mengetahui. maka berapa kali tipu kepada Kapitan Hitu. Maka tiada boleh dikerjakan kehendaknya. Tellah demikian itu entah berapa dalamnya maka Kapitan Hitu menyuruh dua buah parau utusan ke Mangkasar.

demikian buninya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu dan orangkayakaya sekalian dalam negeri Hitu, serta utusan sadaha Semaun mendamaikan kepada gimelaha dengan gurendur dan membaiki tanah Ambon Ulima dan Ulisiwa, supaya jangan jadi fitnah. Karena perjanjian Wolanda itu seorangpun tiada mengetahui, melainkan Kapitan Hitu juga mengetahui dia dan ia juga menaruh surat yang perjanjian itu.’ Tellah demikian titah itu, maka kata orangkaya-kaya tanah Hitu: ‘Jika bagai kehendak titah demikian itu, baik juga utusan pulang dahulu ke Tanah Besar,kemudian kami mengikut di belakang.’ Maka utusan pulang menanti di pantai Luhu, maka datang gurendur itu pun demikian juga, lalu ia mengikut utusan itu menanti di pantai Luhu. Maka Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya keluar dengan kelengkapannya, lalu menyebarang. Hatta datang ke Tanah Besar, maka gurendur serta angkatannya mendapatkan dia di pantai Warau. Maka kata gurendur itu:‘Marilah kita berkata2 dahulu, kemudian kita masuk ke pantai Luhu kepada orang banyak.’ Maka Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya semuhanya naik kepada kelengkapannya gurendur itu, maka dipagang semuhanya serta Kapitan Hitu. Maka riuhlah orang dalam kelengkapan itu, lalu dikelilingkan angkatan kepadanya. Ia sebuah2 juga ditengah2 serta pasang-memasang, tembak-menembak datang pengelodan rawaki itu seperti titi hujang atas air masing dan asap obat menjadi awan antara langit dan bumi. Dan buni bedil serta* kilat dan riuh seperti ceritera buni sangkakalah tatkala hari kiamat kepada yaum al-mahsyar. Karena angkatan Wolanda itu lima puluh aluan, lain daripada kapal dan patacoh*, maka ia sebuah2 juga melawan dengan dia.Sehingga datang kepada tanjung Kahula Wolanda itu pun undur. Iapun masuk ke pantai Lesiela, lalu menyuruh sebuah perau membawah kepada Patiwani. Ia pulang ke tanah Hitu menyampaikan khabar itu kepada negeri serta dipindahkan negeri semuhanya naik ke atas gunung. Dan undur angkatan Wolanda itu, lalu menyebarang ke tanah Hitu endak menyarang kepada negeri, tetapi tiada dapat lagi. Maka menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya, demikian katanya: ‘Apa kerja pindah? Karena tanah Hitu dan Wolanda itu seperti laki-bini. Apabila bini salah itu melainkan lakinya juga ajar kepada dia, maka beta pagang kepada Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya ini. Demikian itulah halnya orang laki-bini dalam dunia, tetapi keluarlah kita kedua berbicara serta kebaikan.’ Maka kata orang Hitu:‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi kembalikan dahulu kepada Kapitan Hitu dan orangkaya2 itu, maka kami keluar kepada gurendur.’ Maka dilepaskan kepada orangkaya-kaya itu, Kapitan Hitu juga tiada dilepaskan. Maka orang Hitu pun tiada mau keluar kepadanya

serta memerintahkan negerinya. Dan utusan sadaha Semaun pun menangkap kepada orangkaya-kaya dalam negeri Luhu; yang memagang kepada Wolanda itu pun ia bawah ke Maluku. Maka orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon tercangan terlalu khairan kepada perbuatan gurendur dan utusan sadaha Semaun itu, maka tanah Ambon semuhanya tiada ketahui kehendaknya. Setengah berkata: ‘Baik kita berkellai.’ Dan setengah berkata: ‘Baik kita bedamai, karena sudah didamaikan kita dengan gurendur.’ Dan setengah pula berkata: ‘Jangan kita berkellai dan jangan kita bedamai sehingga diam sahanya*, supaya kita menanti kehendak titah.’ Maka kata perdana gimelaha dua bersyaudara: ‘Bennar juga kata orangkaya itu. Tetapi kepada perbuatan Wolanda ini rusak kepada agama rasul Allah di hadapan titah yang dipetuan, daripada ia tiada berupama ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza, nasrun min Allah syah, zill Allah fi 'l-`alamin.Daripada itulah baik kita berparang dengan dia.’ Lalu muafakatlah tanah Ambon semuhanya sehingga sebuah negeri Luhu juga. Maka kata Sifar ar-Rijali di hadapan perdana,Ulima dan Ulisiwa: ‘Ada pun berkellai ini sebab, apabila jika sebab Kapitan Hitu, sabar dahulu, supaya kita menanti titah yang dipetuan dan kabaran.’ Maka kata Ulima dan Ulisiwa: ‘Sebab agama rasul Allah, kedua perkara sebab titah tiada berupama ke bawah dulli yang dipetuan.’ Dan barang apa2 pekatahan kepada hari yang kemudian itu, semuhanya ditaksirkan di hadapan perdana gimelaha dan orangkaya sekalian. Tellah sudah ditaksirkan kata demikian itu, lalu ia beli obat bedil empat balas bahara cengkeh harganya, dan tengah tujuh ratus padang. Lalu ia pulang serta orangkaya gimelaha dan negeri Waibuti ke tanah Hitu serta muafakat dengan orangkaya2 di tanah Hitu. Lalu ia pulang, maka negeri Hitu sekalian berkellai, sehingga orangkaya Tanihitumesen dengan orangkaya Bulan juga tiada berkellai. Ia mengikut kepada Wolanda itu, maka ia jadi musuh kepada negeri Hitu sekalian dan negeri sekalian pun memerintahkan kepada hulu parangnya. Maka digelarnya kepada pendagar Nahoda dan pendagar Pati Husen* keduanya akan panglima di tanah Hitu. Lalu ia pergi merompa di tanah sebelah kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka diteguhkan Allah subhanahu wa-ta`ala, berkat agama rasul Allah serta dengan kemenangannya, maka ia pulang di negeri Wawani, makan-minum, bersuka-sukaan dan disalin kepadanya serta dengan dimasyhurkan namanya johan pahlawan Patiwani. Itulah hasiat* orang parang sabil Allah dalam dunia. Tellah demikian itu pendagar Telukibesi ia pergi merompa pula kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka dengan kehendak Allah ta`ala berkat agama rasul Allah serta kemenangannya, lalu ia

pulang di negeri Kapahaha bersuka-sukaan dan dimulliya kepadanya serta dimasyhurkan namanya johan pahlawan Tubanbesi. Ia duduk di gunung Kapahaha. Itulah faedah orang parang sabil Allah dalam dunia, entah berapa lagi dan* akhirat; karena riwayat pandita dalam syarah Sunusi*, dua perkara orang masuk syurga tiada dengan hisab* lagi, suatu perkara tarekad dunia, kedua perkara parang sabil Allah. Daripada itulah, maka beramai-ramaian negeri sekalian berparang dengan Wolanda itu. Maka kata Wolanda itu: ‘Apabila orang Hitu keluar duduk di pantai seperti dahulu kala itu, maka kami keluarkan Kapitan Hitu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi keluarkan dahulu, maka kami turun duduk di pantai kembali seperti dahulu itu. Jikalau tiada lepaskan dia, kami pun tiada mau keluar.’ Maka negeri semuhanya tiada keluar sehingga orangkaya Bulan, ayah mudanya Kapitan Hitu serta tujuh negeri keluar duduk di pantai serta Wolanda itu. Maka kata orang sekalian kepada orangkaya itu: ‘Betapa kehendak orangkaya keluar itu?’ Maka kata orangkaya: ‘Baik juga kita keluar ikut katanya. Dalam tujuh bulan itu apabila dilepaskan kepada Kapitan Hitu, maka negeri sekalian keluar. Jikalau tiada dilepaskan kepada [Kapitan] Hitu dalam tujuh bulan itu kita berbantahkan perjanjiannya.’ Maka orangkaya keluar serta muafakat dengan orangkaya-kaya, lalu orangkaya Tanihitumesen belayar ke Betawih. Dan apa2 kehendak orangkaya itu semuhanya dikatakan kepada jeneral, maka di belakang orangkaya negeri semuhanya itu keluar masuk kepada musuh itu,tiada lagi berkellai. Maka kata Sifar ar-Rijali kepada orangkaya-kaya dan panglima serta pendagar sekalian, demikian katanya: ‘Apabila perbuatan kita demikian ini?Rusaklah negeri kita dan Kapitan Hitu pun tiada dikembalikan lagi oleh Wolanda itu.’ Lalu ia pergi merompa kepada orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala serta dengan kemenangannya, maka ia pulanglah ke negeri Wawani bersuka-sukaan, maka seorangpun tiada keluar lagi.Entah berapa lamanya datang orangkaya Tanihitumesen, maka orangkaya-kaya menyuruh tanya kepadanya: ‘Betapa kehendak jeneral kepada Kapitan Hitu, lepaskankah atau tiadakah?’ Maka ia berkata: ‘Ada pun kata jeneral, tiga bulan lagi datang kapal dari Bandan, maka dilepaskan kepada Kapitan Hitu.’ Maka negeri Hitu semuhanya menanti sehingga datang tiga bulan tiada juga dilepaskan, maka kata negeri sekalian kepada orangkaya Bulan: ‘Ada pun perjanjian gurendur kepada orangkaya dalam tujuh bulan, sekarang sudah lalu tiga bulan, maka tiada ia mengikut perjanjian itu. Betapa lagi kehendak orangkaya itu, kami ikut juga, tetapi baik orangkaya undur dahulu. Kemudian apa kehendak orangkaya itu katakan

sekalian pati dan sengaji semuhanya keluar serta dengan angkatan endak menyarang kepada negeri orangkaya Tanihitumesen.’ Itu pun tiada juga orangkaya mau undur sehingga empat buah negeri undur naik ke gunung. lalu melawanlah ia dengan kapal itu daripada waktu duha sehingga datang waktu asar. Maka ketika itu tanah Ambon Ulilima dan Ulisiwa semuhanya berparanglah beramai-ramaian tiada berputusan. lalu paranglah negeri semuhanya beramairamaian. Maka perdana gimelaha serta Ulilima dan Ulisiwa keluar meromparompa kepada negeri Yahudi dan Nasrani. Hatta datang tiga bulan bertungguan tiada boleh alah. sehingga dipindahkan kepada negeri Loin naik ke atas gunung. sarang-menyarang sebahagailah tiada berhenti lagi. Dan kuceriterakan perdana gimelaha dan orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. serta perdana gimelaha Luhu pergi mengadap ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza. Maka kata johan pahlawan . Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. Pada ketika itu pahlawan Patiwani seorangpun tiada sebagainya di tanah Hitu. Tellah demikian itu maka kuceriterakan: di belakang perdana gimelaha Luhu itu johan pahlawan gimelaha Leliyato memangku tanah Ambon serta memerintahkan parang sabil Allah dan berkat agama rasul Allah serta kemenangannya. lalu ia pulang ke Betawih. tetapi perdana gimelaha sudah harkat menanti dia. maka kedua pihak pasang-memasang. Maka kedua pihak berparanglah siang dan malam. maka tiada jadi mendatangi dia. Sebahagai juga parang kedua pihak itu.juga kepada orang sekalian. Maka Kipati Luhu dan Pati Tuban dan imam Nusaniwe. gimelaha Bobawa. maka ia bertemu kapal Wolanda itu. membawa titah memanggil kepada gimelaha dan orangkaya-kaya. pagi pettang tiada berantara lagi. lain daripada itu tiada kusebutkan. tetapi iapun tiada turun dan iapun tiada naik sehingga berapa lamanya Wolanda pun pulang dan angkatan Islam pun kembali serta perdana gimelaha. Hatta datang musim barat. Lalu datang ke pantai Wawani. tetapi kepada parang Wolanda itu tiada dapat diceriterakan pelbagai parangnya. di mana merompa di darat atau di laut tiada lain ia juga. lalu kapal pun belayar dan angkatan pun undur ke pantai Wawani. Hatta dengan takdir Allah ta`ala entah berapa-rapa negeri Nasrani takluk Wolanda itu bebali kepada johan pahlawan gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. datang armada dari Betawih endak menyarang kepada kota Lesiela. Apabila masuk matahari. supaya kita kerjakan. Daripada ia bulum lagi untungnya. Hatta datang angin daratan. entah berapa kapal serta kora2 datang pula. nasrun min llah syah. Segali perastawa ia keluar serta angkatannya mendatangi kota dauman*.

nasrun . Hatta tiada berapa lamanya datang paduka serri sultan Hamza.seperti pantun Melayu: ‘Dapakan bunga setangkai jangan diaibkan orang. lalu ia pulang ke Kota Laha. demikian katanya: ‘Siya-siyalah orangkaya keluar serta Wolanda itu . Hatta dengan takdir Allah ta`ala.’ Maka gurendur tiada dengan periksyai lagi. Hatta datang musim jeneral pun datang serta angkatannya ke tanah Ambon. tetapi kehendak kami itu melainkan kita bersama-sama membawah agama rasul Allah. melainkan Wolanda juga antar kepadanya sehingga datang ke pantai Hila. lalu orangkaya-kaya semuhanya serta Kapitan Hitu pergi ke Kota Laha bedamai dengan jeneral dan gurendur serta orang besar-besarnya. demikian katanya: ‘Kapitan Hitu menjual cengkeh kepada dagang Mangkasar dan Minangkabau di Puluh Tiga. Nasrani atau Islam. Lalu Wolanda itu ke negeri Hatubawah endak menyarang kepada gunung Alaka. lalu ia pulang ke negeri bersuka-sukaan. beramai-ramaian dengan dia. seorangpun tiada serta dia. lalu menyuruh kepada kapitan Yon Yan* serta orang banyak mencahari.betahanlah di sana serta orang dagang Melayu Minangkabau. Entah berapa lamanya dalam Kota Laha. ini pula dibawah ke ini pula dibawah ke Betawih. Maka Kapitan Hitu pun takut tiada keluar kepada Wolanda itu. makan-minum serta disalini dengan pakaian yang inda2. maka ia pulang ke negeri Wawani dan negeri sekalian memberi tiga puluh bahara cengkeh kepada jeneral akan pembeli siri pinang. nama orang hitam. Itu pun tiada juga dapat. Maka gurendur menyuruh sebuah kapal belayar membawah khabar kepada jeneral serta bawah kepada Kapitan Hitu ke Betawih.[kepada] orangkaya-kaya Nasrani itu. demikian katanya: ‘Hai syaudaraku.’ Maka diiakan orang itu. Jangan dikembalikan kepada Kapitan Hitu. makin bertambah fitnah. jika ditahankan ia duduk sehingga tanah Hitu jua pun baik juga. makan-minum. engkau sekalian bukan kami endak kepada hamba sahayamu dan bukan kami kehendak kepada artamu. Itu belum lagi dengan kehendak Allah ta`ala.’ Tellah demikian itu orang membawah fitna kepada jeneral dan gurendur. menyarang kepada Lesiela serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota Lesiela. lalu ia mengadang ke laut Puluh Tiga. Maka kata orang Hitu kepada orangkaya Bulan. Maka negeri Hitu sekalian bersuka-sukaan. Maka ditinggal kepada dia lalu orang Hila antar bawah kepadanya ke negeri Wawani. lalu ia pulang ke Kota Laha. Maka orangkaya gimelaha dan orang semuhanya pindah ke negeri Kambelo.’ Lalu orangkaya belayar ikut ke Betawih dan apa2 kehendaknya orangkaya itu dikatakan kepada jeneral.Sendiri-dirinya juga. Ganap tanjung dan labuan tiada dapat. maka tiada boleh alah. maka dikembalikan kepada Kapitan Hitu.

zill Allah fi 'l-`alamin. sekalian pati dan sengaji: ‘Rubuhkan kotamu itu dan niyahkan segala orang dagang itu. nasrun min Allah syah. Jika tiada sakit. Kemudian berhadapan di bawah dulli yang dipetuan. sehingga Patiwani jua ia betahan parang dengan Wolanda itu. ada yang bejalan saja. Maka tanah Ambon dan Buru sekalian berhimpunlah di sana. suruh belayar pulang ke negerinya.’ Maka titah: ‘Jika ia sakit. Hatta datang maka titah: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka menyahut Sifarijali: ‘Daulat tuanku. maka berparanglah atas bukit itu. lalu masuk ke pantai Kambelo. Tiada dapat kuceriterakan parangnya. Ada pun pada ketika itu Kapitan Hitu pun sakit. Maka Wolanda itu serta angkatannya mendapatkan paduka serri sultan.min Allah syah. Lalu ia pulang katakan kepada jeneral: ‘Bennar juga kata orang itu. ke tanah Ambon serta raja Tidore yang diturunkan daripada kerajaannya itu dan raja Jailolo. Maka orang Kambelo keluar serta pahlawan Patiwani Hitu. Bennar juga titah . Apabila sudah rubuhkan kotanya. maka turun Wolanda itu mendatangi negeri Kambelo. lalu dinaikan pahlawan gimelaha Leliyato kepada kapal Wolanda itu dan dikeluarkan gimelaha Luhu.’ Tellah demikian itu panglima Nahudimeten serta imam Sifarrijali keduanya keluar datang mengadap ke bawah dulli serri sultan. Ada yang memagang senjata serta santiagu*. ada yang membawah arta bejenis-jenis serta bunyi-bunyian mengiringkan kepada payung kerajaan daulat al sultan Hamza. Tetapi kepada jeneral itu tiada ia percaya. ampun seribu ampun. hatta datang titah kepada orang sekalian:‘Mana surat perjanjian dengan Wolanda itu?’ Maka menyahut orangkaya-kaya semuhanya: ‘Ada pun surat perjanjian Wolanda itu ada kepada patik tuanku Kapitan Hitu. Hatta seketika lagi patah parang Kambelo. zill Allah fi 'l-`alamin. berpalinglah orang sekalian. Maka suruh panggil perdana gimelaha dua bersyaudara. manatah surat perjanjian Wolanda itu?’ Maka menyahut pula Sifarijali: ‘Patik minta maaf. Maka menyuruh fetor Soroi* dan sarinto* pergi periksyai kepada penyakitnya itu. patik tuanku sakit. Tellah demikian itu paduka yang dipetuan berangkat ke tanah Hitu serta Wolanda itu dan negeri Hitu sekalian pun keluar jungjung serta dengan adat semuhanya dikerjakan.’ Lalu menyuruh panggil kepada Kapitan Hitu. lalu pulang orang yang memanggil itu menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuan. Pada ketika itu ia duduk di negeri Kambelo. sudah datang ke bawah dulli tuanku. Maka berhimpunlah tanah Ambon sekalian berhadapan . ada yang membawah ayapan.’ Maka kotanya itu pun dirubuhkan dan sekalian dagang itu pun belayar masing2 mencahari tempatnya. Hatta datang titah yang dipetuan kepada orangkaya-kaya dalam negeri Lesidi dan Kambelo.

meninggalkan benua Ternate datang ke tanah Ambon. Telah demikian itu maka kuceriterakan kemudian daripada itu tanah Ambon.’ Maka sabda yang kerajaan:‘Apabila bagai kata yang demikian itu. Itu pun demikian juga tiada berputusan. serta johan pahlawan gimelaha Luhu berparang dengan Wolanda itu. lain daripada itu tiada kuceriterakan. Maka serri sultan Muhammad Sya`id. sehinggalah keluar yang dipetuan serri sultan Hamza. menyuruh tujuh buah perau mengantarkan kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya2 pulang ke tanah Ambon. Liliboy. lalu dibawah belayar kepada pahlawan gimelaha Leliyato ke Jawahkatra*. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. Hatta berapa dalamnya. Maka bersumpah-sumpahan kalam Allah dengan orang Hitu dan berjanjian dan muafakat seperti dahulu itu lagi. maka bertemu dua buah kapal . karena ia tempat merampas isi rumah Kapitan Hitu. tembak- . serta gimelaha Luhu.yang dipetuan itu. maka berangkat pulang ke Hitu pula. karena surat pun tiada. dari Hitu menyeberang ke Luhu. dari Luhu berangkat ke Kambelo. lain daripada itu tiada kuceriterakan. Maka tanah Ambon pun masing2 pulang ke negerinya.sarangmenyarang sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah di tanah Ambon. Sehingga datang ke pantai Eran*. maka masuk pula bicara dalam gudang Wolanda itu. pasang-memasang. nasrun min Allah syah. Ada pun negeri Hitu dari Wawani dan negeri Asilulu dan negeri Alan. maka orang Hitu dan orang Kambelo serta orangkaya gimelaha belayar mengadap raja Mangkasar minta tolong kepada agama rasul Allah. Berlawanlah di sana dua kaum itu. Hatta datang kepada hari yang lain.’ Lalu berangkat kepada kelengkapannya dan orang sekalian pun masing2 pulang kepada tempatnya. lalu berangkat ke Kota Laha. yang memagang surat pun tiada datang. Lesidi. lain daripada itu tiada kusubutkan. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. jangankan surat itu. tiadalah kita memutuskan kepada perjanjian itu. itulah kesudahannya. lalu pulang ke Maluku. tetapi tatkala ditipu kepada patik tuanku. serta orangkaya Bulan dan orangkaya Tanihitumesen mengikut kepada Wolanda. serta Kapitan Hitu dan Pati Tuban dan Tubanbesi. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. tiada ketahuan negeri Luhu dan negeri Lesidi. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. Entah surat itu ta dapat tiada kepada Wolanda. alah-mengalah. negerinya pun tiada diketahui lagi. Dan kepada tanah Hitu negeri Hila dan negeri Hitulama. ibn al-sultan marhum syah. sehingga kelengkapan dari Ternate itu juga serta yang dipetuan di tanah Hitu. Entah berapa lamanya di sana. wa-sultan al-Din.

kemudian kami rusakkan dia. Dan yang duduk di Kambelo itu pun menyoron parangnya serta orang Ternate dan orang Kambelo alah kepada negeri Saluku. Lalu menyorong parangnya kepada negeri Larike dan negeri karas sukar mengalahkan dia. karena pasan yang dipetuhan tiada dengan orang Wolanda. Endak lalukan kepada gudang Wolanda itu.’ Tellah kata demikian itu. sangngat berahinya. Maka datang kapal Wolanda itu. Hatta datang musim barat. Hatta berapa antaranya dalamnya parau dari Kambelo dan dari Hitu datang membawah kepadanya. makan-minum.menembak. Ada pun gudung itu atas kepada kami. Hatta datang musim. berlakulah kedua pihak itu serta senjata bekilat-bekilat dan bunyi-bunyian tamburnya dan kucapinya atas kepadanya. demikian katanya: ‘Kami minta maaf banyak-banyak kepada penggawa dan panglima sekalian undur juga. berlawanlah kedua kaum itu. maka orang Mangkasar dan orang Wawani pun . lalu masuk ke tanah Hitu. ia duduk di pantai Seit. alahkan dia. Tetapi penghulu dalam angkatan itu karaen* Bontomanompo dan daeng* Bulikan. Hatta datang pahlawan Patiwani melihat kepada negeri itu. dan karaen Mampo akan hukum dalam angkatan itu dan memagang arta raja itu Marala dan karaen Puli dan Malim dan Besi Lumu*. tetapi anak buah kami itu kami keluarkan dahulu. Apabila masuk matahari. Dan daripada Mangkasar pun demikian juga begendang serta bunyi-bunyian. tembah-menembah. karena kelengkapan Mangkasar membuat talangkeranya* di darat dan Wolanda membuat di laut atas kapalnya. Maka orang dalam negeri itu semuhanya masuk ke dalam gudung Wolanda. Maka ia bernanti tiada masuk kepada gudung itu. tetapi diteggah oleh penggawa. maka datanglah entah berapa aluwannya. maka Mangkasar pun menyorongnya menyarang kepada negeri Hitulama serta dengan kehenda Allah ta`ala alah negeri itu. Hatta datang ke tanah Ambon. setengah masuk duduk di Kambelo dan setengah dibawah ke Hitu membuat kotanya di pantai Seit ia duduk. Siang dan malam. Maka datang orangkaya2 dari negeri Kapahaha dan negeri Mamala minta maaf kepada Mangkasar dan orang Wawani. sehingga lalu pulang orang sekalian serta Patiwani ke negeri Wawani. bersuka-sukaan. pagi petang pertungguwan tiada berkeputusan. maka alah negeri itu. Lain daripada itu tiada kusebutkan. lalu masuk sekali2 tiada dengan was2 lagi. maka setengah duduk dan setengah pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar dan minta bantu pula. maka orang Mangkasar endak masuk rusak kepada gudung itu. Hatta berapa lamanya kapal itu pun belayar. karena perjanjian raja kepada Wolanda itu belum lagi berubah. pasang-memasang. Maka ia pulang serta dengan kemenangnya bersuka-sukaan dalamnya.

Hatta datang esok harinya. lalu orang Kambelo dan gimelaha bedamai dengan orang Lesidi. sehingga karaen Jipan* dan Manggapa serta hamba raja Marala dan Malim menunggu kepada kotanya di pantai Seit. Maka berangkat serta orang Kambelo dan orangkaya gimelaha mendatangi di negeri Lesidi. Tatkala itu karaeng Jipang dan daeng Manggapa keduanya bedagang di pantai Kambelo. Maka orang Kambelo dan orangkaya gimelaha serta Mangkasar tiada jadi menyarang kepada negeri Lesidi. Ia duduk di pantai Wawani. Hatta datang musim karaeng Bontomanompo dan daeng Bolikan serta kelengkapannya pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar kepada serri sultan Muhammad Sya`id alDin. karena gimelaha Majira serta orang itu dan pun demikian lagi dengan negeri Anin dan Laala. lalu naik menyarang kepada negeri Wawani. Daripada Anin dan Laala itu pun demikian juga. Itu pun demikian juga sebab orang Kambelo dan Lesidi tiada dengan sesungguhnya. ada mati sendirinya. belarilariyan membuangkan senjatanya.berhenti. Serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota itu. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. lalu pulang. ada mati beddil. maka ia keduanya bersama-sama serta angkatan itu menyeberang ke tanah Hitu. masing-masing membawah . karena orangkaya gimelaha tiada sesungguhnya parang. Lalu patah parang Wolanda itu. tiada jadi berhenti. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan orang mati pun entah berapa banyak tiada kuceriterakan. maka ditangkis oleh Wolanda itu sehingga sedikit juga putus asfanggarnya* itu. menyuruh belayar ke Betawih membawah khabar kepada jeneral Fandiman*. Maka tanah Ambon semuanya mengikut kepada Wolanda. Itulah tanda orang kibria dalam dunia tiada mengetahui kehendak Allah ta`ala. sebab raja berangkat menyarang kepada raja Bone. Maka orang Hitu dan Mangkasar mendapat tiga puluh pucu esfangar yang tiada berapi. Serta pahlawan Patiwani menetah. Maka sesungguhnya. orang dalam gudung itu pun keluar dan bantu dari Kota Laha pun datang menolong kepada gudung itu. karena ada mati oleh pedang. Ada pun kepada Wolanda itu jeneral keluar dengan angkatannya serta tanah Ambon dengan angkatan semuanya mendatangi kotanya Mangkasar itu . sehingga negeri Wawani juga berkellahi dengan orang semuhanya itu serta Wolanda itu. lalu pulang tiada dengan faedahnya. Maka orang Kapahaha dan orang Mamala dan Liyan pun tiada jadi mengrusakkan dia. Tellah demikian itu hatta datang berapa antaranya menyorong pula parangnya ke Tanah Besar. tiada jadi masuk kepada gudung itu. sebab ia terjung dari atas gunung tiada berketahuan larinya. Hatta datang musim barat Mangkasar tiada keluar. maka orang Hitu dan Mangkasar keluar mengamu. Hatta datang esok harinya.

lalu pulang ke negerinya sehingga meninggal tiga buah kapal menunggu kepada pantai Wawani.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Pergilah engkau. Sangkanya bennar orang lari. Kemudian daripada itu Seit dan Hahutuna. Karena istiadat Kapitan Hitu. keluar serta orangkaya Tanihitumesen masuk kepada Wolanda. lalu pulang ke rakhmat Allah. Itulah sendirinya beradu tiada dengan penunggunya. lalu bawah kapal belabu di tanjung Hulu. maka ia berparang dengan Wolanda. karena ia mengaku di laut atau di darat atas kepada orang itu dengan Hehalesi. hamba sahayanya sekalipun. jika panjangnya lima jengkal tiada boleh masuk ke dalam rumah. maka negeri Hitu sekalian pun menjadi daif daripada ia terkuddun ia. maka turung. Tatkala itu Kapitan Hitu pun baringbaring. . Maka ia pasan muruyumunya* semuhanya gennap kapalnya serta gudungnya sekalian. Maka ia berbicarai dengan gurendur. Sebab itulah Kapitan Hitu menengar fitnah daripada orang itu.masuk kepada Kapitan Hitu dan Kapitan Hitu pun percaya kepadanya. lalu masuk laknat itu. membuat talangkeranya serta gudungnya di pantai Hahutuna. Itu orang meruntuhkan agama rasul Allah dan orang itu orang munafik. Hatta datang kepada suatu ketika ia datang kepada Kapitan Hitu.’ Lalu keduanya berjalan keluar di pantai Seit. Hatta datang ajal Allah. Daripada itulah rusak iman orang parang sabil Allah dan melamahkan hati orang itu. Ada pun tatkala parang itu hamba raja Marala dua bersyaudara mati dan pahlawan Patiwani luka dan imam Sifar arRijali pun luka pada ketika itu. daripada ia katakan kata yang baik serta membujuk dengan kata yang manis samanya Islam. tiada mengetahui tipu dayah Kastila itu. maka ia berkata:‘Kami endak pergi bermain di negeri kicil. Maka naik kepada angkatannya. lalu naik ke negeri Wawani. Maka kuceriterakan pada tatkala itu ada dua orang Kastila lari daripada orang Wolanda datang ke negeri Wawani. sehingga sekali juga makan besi butul dadanya. Tellah demikian itu orang Kaitetu pun keluar serta orang Seit dan Hahutuna masuk kepada orangkaya Tanihitumesen muafakat. Dan laknat itu lari ke kapal beritahu kepada kapitan. lalu tidur sekalih di luar kepada suatu balai. Hatta datang tengah malam ia masuk ke dalam rumah. maka ia naik ke kapal kepada Wolanda itu dan apa-apa katanya Kastila itu. seorangpun tiada. Maka tikam tigabelas kali serta dengan kehendak Allah ta`ala tiada makan besi kulitnya. Maka negeri Wawani pun selamat.dirinya. lima buah negeri. Ia juga sendirinya. Entah berapa lamanya dalam negeri Wawani dan orang sekalian pun percaya kepadanya. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. karena orang itu dengan Hehalesi mengaku hadapan ke pantai Hitu dan menyuruh berparang serta Wolanda. jangankan laki-laki.

karena orangkaya serta orang banyak ada di sana. Maka menyuruh pula berulang-ulang dengan kata yang baik dan manis. Matahari pun masuk. Baiklah kita sama bertemu di luar negeri. karena piliyan kata yang benar. tetapi gurendur tiada percaya karena negeri sekalian itu mengikut kepada dia. maka ekor mengikut. Baiklah orangkaya2 berhenti. tetapi kami tiada boleh keluar sebab orangkaya serta Wolanda. melainkan dahulu juga kepala. Lalu katanya demikian: ‘Orang kaya2-pun tiada boleh keluar. sehingga datang kepada suatu padang di tepi sungai. tiada boleh naik ke negeri.’ ‘Benar juga kata orang itu.Maka menyuruh naik ke negeri Wawani. Kami pun demikian lagi endah bertemu dengan orangkaya juga. lalu pergi ke sana. Apabila berbuatan atau tipu yang jahat bukanlah perbuatan Wolanda. karena gurendur tiada mau kepada beta naik. maka kata orangkaya dan orang banyak: ‘Ada pun kita ada bicara sekarang ini.’ Ia menanti. Esok harinya ia datang. maka muafakat semuanya dahulu.’ Maka kata orangkaya dan orang Seit. karena kita bersama-sama dengan Wolanda. karena gurendur tiada mau. dan kami pun demikian juga seperti kata orangkaya itu. Hatta datang di sana bertemu dengan orangkaya serta orang banyak itu. Bolehkah kita bertemu dengan orangkaya2? Tetapi kita tiada boleh naik ke negeri. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu sudah pulang ke rakhmat Allah. Seperkara lagi. jika tiada baik menyuruh panggil kepadanya bicara di luar. supaya kita muafakat mana yang baik itu maka kita kerjakan. kita empunya perbuatan itu.’ Maka kata orangkaya2: ‘Benar kata syaudara kami itu. tiada perna ekor dahulu maka kepala mengikut. maka ia menyuruh datang kepada kami itu. orangkaya2 dari Hila dan dari Mamala dan dari Kapahaha bulum lagi datang. Kemudian maka kita kira-kira apabila baik kita masuk kepadanya.’ Maka suruwan itu pulang beritahu kepadanya. karena orangkaya dalam maklum Wolanda itu. Esok harinya maka kami datang. Maka kata orang Seit dan Hahutuna: ‘Tuanku lalu ke pasar Lebelehu.’ Maka kata orangkaya2 Wawani: ‘Jika bagai kata demikian itu. menyampaikan kata orangkaya itu kepada orangkaya Pati Tuban dan pahlawan Patiwani serta orangkaya sekalian.’ Maka orang sekalian percaya. lalu keluar orangkaya2 serta orang banyak mengikut kepada suruwan itu. Daripada itulah kita menyuruh datang kepada orangkaya2 itu serta dengan angkunya. sangkanya kata yang baik. maka dikatakan serta dengan empena menjadi jina. Karena negeri semuanya sudah keluar akan katanya kepada gurendur. baiklah kami pulang dahulu. Apa salahnya?’ ‘Daripada itu ia ingat kepada negeri Hitu serta agama rasul Allah. Kita pun tiada boleh naik ke negeri. Hahutuna: ‘Mengapa maka pulang lagi? .

Jika kita endah masuk kepada suatu negeri. supaya kita dengngar kehendak itu. semuanya mengikut kepada Wolanda. karena panglima Patiwani dan imam . maka orangkaya2 serta orang sekalian pun percayalah. lalu berjalan di luar masuk utan. keduanya naik ke kapal beritahu kepada kapitan gurendur. tetapi sabbar dahulu supaya kami kira-kira serta orangkaya2 semuanya. maka didiamkan kepada suatu dusun. beritahu kepada letnante dan menyuruh antan-antun dua orang. Di sanalah ia duduk menanti kepada orang banyak lagi dalam hutan itu. maka berentilah di sana. masuk dalam hutan dan orangkaya yang keluar itu pun tiada boleh masuk ke negeri lagi. Baiklah kita menyuruh kepada suatu negeri.’ Lalu menyuruh ke negeri Kapahaha: ‘Boleh kami masuk atau tiadakah?’ Karena tatkala itu negeri Kapahaha pun bedamai dengan Wolanda. Alitan namanya. naik kepada tengah malam itu menyarang kepada negeri Wawani. Maka ia berenti di sana. turun bukit dan berapa padang ia berjalan.’ Karena orangkaya sudah mengaku di hadapan orang semuanya kepada barang perbuatan yang jahat itu. Wai Luyi* namanya sungai itu. Entah berapa dalamnya. Lalu turun Kompenyi*. Maka berjalan pula ke negeri Tehala dan negeri Tehala pun demikian juga tiada dapat terima. seorang Goron* dan seorang Tapihuwat namanya. Apabila datang semuanya kemudian. membilang nama orang yang datang itu dan nama panglima serta pendagarnya semuanya yang datang itu. mauka atau tiadaka. terbit pandang*. Serta kehendak Allah ta`ala alah negeri Wawani dan orang dalam negeri itu pun cerai-berai. sangkanya kata yang benar. maka kirakirakan kepada kedudukan. maka kata orangkaya Tubanbesi: ‘Boleh juga. lalu orang Seit dan Hahutuna pulang ke negerinya.dijalankan di laut dan orang Hitu dan setengah orang Mangkasar serta daen Manggapa berjalan di darat. lalu ia datang sendirinya membawah kepada orang yang tiada dapat berjalan itu.’ Tellah demikian itu entah apa-apa kehendaknya sekalian orangkaya itu. lalu keluar masuk utan. Hatta datang ke pantai Kapahaha. Entah berapa lamanya dalam hutan itu sebagai juga sehingga datang ke hulu sungai. Demer* namanya. Dan apa-apa kehendaknya itu semuanya dikatakannya kepada Wolanda. Maka semuanya bejalan masuk ke negeri Nukuhali dan negeri itu pun tiada boleh terima kepadanya. kemudian kira-kirakan kehendak kita. naik bukit. maka semuanya muafakat: ‘Apa tipu kita? Apabila kita dalam hutan juga tiada tahan lagi rakyat kita ini . paduka kiyaicili Laksamana pun sakit lalu mati .Jika begitu tiadalah percaya kepada kami semuanya ini. Tellah dipeliharakan paduka kiyaicili itu. Maka ia bertemu sekalian rakyatnya dan karaen Jipan* dan daen Manggapa serta rakyatnya dan kiyaicili La Manimpa ibn sipati* di Buton.

supaya kami minta minta ampun. Maka menyuruh mengambil perau kepada Kartulesi serta orang yang tinggal dalam hutan itu. Maka datang pula Wolanda itu serta orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Umarela namanya. Demikian kehendak orang itu:’Apabila kita sekalian ini masuk ke dalam negeri. ada masuk ke Hitulama. Ia membawah setengah serta Patiwani dan Sifar ar-Rijali masuk ke negeri Kapahaha. Ada pun tatkala ia dalam hutan itu sekalian negeri itu tiada boleh masuk dalam hutan. ada masuk ke negeri kicil. ada masuk ke negeri Kapahaha. Baiklah kita di sini supaya kita pun dapat makanan. Maka menyuruh panggil kepada negeri semuanya. Lalu keluarkan angkatan serta tanah Ambon semuanya datang ke pantai Mamala. Baiklah kita pergi kepadanya minta ampun. ada masuk kepada Wolanda itu. jika tiada ia keluar serta aku. Maka kata orangkaya: ‘Apa tipu kita? Karena kita sudah bedamai dengan dia. tiada boleh bergerak lagi serta dengan ajal Allah lalu ia syahid. ialah akan musuhku.’ Hatta didengar kata gurendur demikian itu dan negeri semuanya keluar serta gurendur itu. maka datang Wolanda itu mencari dia. Maka gurendur itu real itu pun diterima dan kepada orang itu tiada diampunkan. Maka bertemu kepada suatu padang. lalu ia pulang dengan . maka ialah keluar merompa pada orang Nasrani itu. Maka diberikan dua buah perau. Daripada itulah kubunnya dengan tanamannya semuanya kepada orang itu mengambil dia. maka berparanglah tiga kaum itu dalam hutan di sana.’ Itullah kehendaknya orang itu. Apabila ia mati maka orang banyak itu masing-masing lari membawah dirinya.Sifar ar-Rijali dan pati Larutu bersama-sama karaen Jipan* serta Mangkasar yang banyak itu lagi dalam hutan. ialah rasamu* kepada orang mudah-mudah dalam negeri Kapahaha pada tatkala itu. Hatta berapa lamanya dalam hutan itu. Hatta seketika juga dengan kehendak Allah ta`ala tetanam kaki Kartulesi ke dalam lumpur. lalu ia belayar pulang ke Mangkasar. demikian kata: ‘Baik siap-siap negeri. Empat orang ditindisnya di adapan Wolanda itu. Tiada berketahuan larinya. lalu menembang cengkeh serta kayu yang dimakan buah2-nya. sehingga negeri Kapahaha juga tiada keluar. sukarlah kepada hidupan kita. lalu berparang kedua pihak itu. ada mati dalam hutan. Maka Wolanda itu dilabukan kapalanya genap tanjung dan labuan Kapahaha serta mendirikan talankeranya* di pantai itu. Hatta seketika juga undur Wolanda itu pulang ke gudangnya dan karaen Jipan* pun meninggalkan Mangkasar setengah serta Kartulesi menanti kepada suatu dusun. Orang dalam negeri itu pun kita antar akan dia.’ Lalu orangkaya-kaya masuk pada gurendur serta membawah tiga ribu real akan pembeli siri pinang. Maka hulubalang negeri Kapahaha. ada masuk ke Hila.

maka ia masuk ke dalam sungai Wai Liyi*. ialah kapitannya dan seorang lagi putus sebelah tangannya ada di jalan lagi.melawanlah keduanya pasang-memasang. Dan demikian lagi daripada pihak Islam. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. Entah berapa hari dalamnya. alah menang Islam pun tiada mau kepada Nasrani dan orang Nasrani pun tiada mau kepada Islam. sentiasa tiada bertinggalan lagi. Hatta seketika lagi ia memandang ke kiri dan ke kanan dan ke aluan dan ke buritan. Alah mennang daripada kapitannya yang gagah itu seperti letnante dan alferes* dan sarento* serta kapitan Merlaka* ia sangat keras mengasakan soldadu kepada parang. satu kennah . malam atau siang hari. Maka kedua pihak itu tiada berputusan berparang siang malam pagi petang. tembahmenembah.Maka sama gagah kedua pihak itu. Maka huru-gara majnun pandang kepada johan Patiwani ia dalam kelengkapan Wolanda itu. maka ia mengunus syamsyirnya serta melompat naik ke atas kelengkapan Wolanda itu. makan-minum serta bunyibunyian dalam negeri Kapahaha. Hatib Lukula dari Mamala tangannya satu bengko dan orang luka pun banyak. sentiasa kedua kaum itu sebagai juga. tatuk-menatak sebagai juga tiada berhenti lagi. maka ia pulang dan Wolanda itu pun apabila petang malam. Apabila sudah langgar. serta menatak sekali juga kennah dua orang.samalah kedua kaum itu. bersuka-sukaannya. Apabila petang. maka datang sebuah perau Wolanda itu dari pantai Lumakai*. ia datang mengadap di pantai di mana datang orang itu . Hatta dengan ajal Allah syahidlah ia dalam perau Wolanda itu. ia mengadap di luar talankeranya Wolanda itu dan Wolanda itu pun mengawal. pasang-memasang. Hatta sama bertemu kedua pihak itu. Maka ia keluar. panglimanya dan pendagarnya serta pahlawan Patiwani ialah sangat mengasakan orang mudah2 kepada parang sabil Allah. lalu langgar kepada Wolanda itu. Apabila kepada pihak Islam itu ia keluar mengambil makanan.kemenangnya. maka ia memarintah kepada orang semuanya. Seorang itu sehingga sedikit juga putus kedua penggal. maka keluar orang dari negeri Kapahaha.tiada ia pulang kepada siang hari. Maka sama bertemu keduanya lalu berparanglah kedua kaum itu. maka dilihatnya jurumudi putus tangannya sebelah dan mati. perparanglah kedua kaum itu. melainkan petang malam. sama gagahnya . Hatta berapa dalamnya serta dengan kehendaknya Allah ta`ala pahlawan Patiwani ia naik kepada sebuah perau menyeberang ke sebelah Tanah Besar. Maka ditembah oleh Wolanda itu dua lukanya. Lalu ia menyerbukan dirinya kepada Wolanda itu. Sama gagahnya dua pihak itu.

maka dibelakannya johan itu dan negeri semuanya pun berpalinglah kepada Wolanda itu. maka dibawah pulang maitnya itu datang ke negeri Kapahaha dan dipeliharakan serta diadatkan sehingga seratus . Hatta seketika lagi orangkaya Patti [Tuban] pun luka dan Tullesi pun kuka* Lain daripada itu tiada kusebutkan. tetapi menyampaikan salamku kepada orangkaya Tupanbesi serta orangkaya2 sekallian. melainkan menanti titah paduka seri sultan dari Maluku. Maka ia pasang bedil ditembah ke dalam negeri dan negeri pun menembah kepadanya. tetapi baikbaik bicara tuan-tuan semuanya. karena ia satu negeri juga tiga ratus orang memagang senjata berparanglah dengan negeri sekalian. Maka ia pulang bertemu dua buah fergat*. Hatta demikian itu. karena sekali menembah tujuh orang dikenanya. Islam dan Nasrani. maka ia lari sendirinya membuang senjatanya. itulah hal parang kedua kaum.maka jatuh ke air masing. Maka negeri tiada mau bedamai. ada alah. Segali perastawa orangkaya Pati Tupan dan Tulesi adindah orangkaya Tubanbesi bawah dua perau ke Tanah Besar. jangan disamakan kita di belakang tuan-tuan itu. Itulah hal negeri Kapahaha parang sabil Allah. Maka kedua kaum itu melawanlah. maka kedua kaum itu berhanyutan juga tiada boleh penggayu lagi. maka kata johan pahlawan Patiwani: ‘Hai syaudahraku sekallian. Itulah kesudahan hidupan pahlawan Patiwani dalam tanah Hitu. Maka datang mengambil kepada johan pahlawan Pati[wani].pahanya dan satu lagi kenah bibirnya. karena musuh semuanya yang datang suruh minta bedamai. Apabila suda ia mati. Daripada belum dengan ajal Allah kepada negeri Kapahaha ia lari sendirinya membuangkan senjatanya. lalu masuk ke Kota Laha pada gurendur. Maka ia naik ke atas bukit antara gunung Hantu* dan negeri Kapahaha. Pada ketika itu mennang Wolanda itu kepada Islam dan kuceriterakan. Tellah demikian sekali perastawa gurendur sendirinya membawah angkatan endah menyerang kepada negeri Kapahaha. Entah berapa matinya tiada ditentu dalamnya. Segali lagi ia berjalan dari bukit Iyaluli* endah mendatangi negeri Kapahaha. karena keduanya sama lellah leti. lalu naik kepada peraunya. serta orangkaya gimelaha datang suruh minta bedamai. Sehingga tengah jalan. Ada mennang. . Maka didapatnya sebuah perau. Ulilima dan Ulisiwa.’ Lalu ia mati. pasang-memasang daripada waktu subuh sehingga datang kepada bakda magrib. Jadi kuranglah kuat negeri Kapahaha.ada pun tatkala itu orangkaya2 tanah Ambon. Itulah Allah dan nabi Muhammad juga yang mengetahui. Hatta datang musim utusan pun datang dari Ternate. maka melawanlah keduanya. Lain daripada itu tiada dapat kuceriterakan. Tellah sudah kesudahan kami. harinya . kami sudah belakankan dunia.

Maka orang semuanya itu cerrai-berrai masing-masing membawah dirinya. Jangankan negeri lain tiada dapat dikatakan negeri Hitu sendirinya pun akan musuhnya. Maka kata utusan dan gurendur: ‘Pulanglah orangkaya2. lalu menyuruh bunuh kepada suruwan itu. apatah daya untung kita? Tellah demikian itu datang titah. apatah daya untung kita?’ Tellah demikian itu datang bala Allah. tiada dapat berjalan lagi. baik berkellahi atau bedamai. ada masuk ke dalam guwah batu. Maka ia menunjukkan jalan kepada Wolanda itu. Hatta demikian itu dengan kehendak Tuan Yang Mahatinggi seorang dagang ia lari masuk kepada Wolanda. supaya ia dengar kepada titah yang dipetuan. sebab ia kalaparang.’ Lalu orangkaya2 itu masuk hutan mencari jalan yang lain. dimasukkan ke dalam talankeranya. Sebab itulah maka tiada jadi bedamai. demikian katanya: ‘Betapa hal kami ini? Karena tanah Ambon negeri sekalian serta dengan Wolanda. berparanglah dengan negeri Kapahaha. maka bertemu orang datang membawah khabar.maka orangkaya Kapahaha menyuruh tanya kepada orangkaya gimelaha. Dan setengah masuk ke negeri Mamala dan setengah masuk ke negeri Hitulama dan setengah masuk ke Hila. Ada mati di tengah jalan.’ Apabila orangkaya2 itu pulang sehingga tengah jalan. apa-apa sebabnya. Ada masuk negeri Tiyal dan orangkaya Pati Tuban ia masuk ke negeri Wai. penyakitan dalam negeri serta kekurangan makanan. Ada masuk ke dalam hutan. lalu mati kepada tempatnya. Barang apa didapatnya. Maka didengar oleh orangkaya-kaya dalam negeri Kapahaha terlalu khairan ajaib sekali kepada perbuatan gimelaha itu. Hatta datang suruwan itu. Itu pun tiada juga datang titah. maka orangkaya2 serta orang banyak datang kepada utusan dan gurendur. di situlah ia diam. Lalu orangkaya-kaya menyuruh menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuhan serta tanya sepata kata. Demikianlah hal negeri Kapahaha.’ Tiada juga datang titah. naik tengah malam serta dengan kehendak Allah ta`ala lalu alah negeri. ada mati di bawah pohon kayu.Maka menyuruh panggil kepada orangkaya2 negeri Kapahaha. demikian katanya: ‘Ada pun orangkaya2 yang di belakan mengikut tuan-tuan itu dipagang oleh letnante. Maka semuanya itu diberikan kepada gurendur itu dan orangkaya . Mana kehendak seri sultan. panggil kepada orangkaya Tubanbesi dan orangkaya2 yang tuah-tuah datang ke mari. sehingga kami sebuah negeri juga berparang dengan Wolanda itu. karena negeri sekalian menjadi musuh. Maka kata orangkaya-kaya: ‘Ada pun harap kita kepada perjanjian serri sultan tatkala dipersekalikan kalam Allah di negeri Hitu. supaya kami dengar dan mengetahui kehendak titah itu pun. hatta berapa dalamnya gimelaha pun datang dari Ternate.

maka anjing itu diyam dan Wolanda itu pun tiada berkata-berkata.berlindung di dalam alang-alang. tiada pulang lagi. Maka dibunuhlah kepada orangkaya dan dinaikan kepada orangkaya Pati Tupan dan orangkaya Beraim-ela dan Tulesi dan Alam dan Teyaka* serta anak orangkaya Tubanbesi dua bersyaudarah. tetapi kiranya orang Mamala pun tiada boleh diterima kepadanya. sehingga kunyatakan tatkala ia keluar itu masuk hutan. Entah berapa jauhnya berdapat pula dengan musuh. demikian katanya: ‘Dapatkah orangkaya2 menyuruh seorang atau dua orang turun kepada orangkaya Tubanbesi atau tiadakah?’ Hatta didengar kata demikian itu. Apabila terbit fajar ia keluar di pantai basambuni. Sama pandangmemandang. Maka orang Hitu bawah orangkaya dua beranak kepada Wolanda itu. ialah menjadi imam dalam negeri itu: ‘Dapatkah Sifarijali masuk ke negeri atau tiada dapat?’ Maka Tahakehena pun lasap sekali-sekali. seorang Duljalal dan Pilakan* namanya kanak-kanak itu dan anak orangkaya Kapitan Hitu dua bersyaudara. Maka ia berhenti di sana. maka tefakur Sifarijali dalam cintanya serta berkata: ‘Ajaib sekali akan Tahakehena pergi berdapat segera datang hendaknya hidup lasap sekali- . maka musuh itu pun tiada melihat kepadanya. lalu keduanya pergi berjalan. terbit padang. maka ia bersembuni. maka ia pun keluar pergi berjalan ke dalam hutan. Sebab itulah ia keluar basambuni dakat pantai. Lalu pergi masuk ke hutan sehingga datang kepada suatu padang. lalu ia keluar pergi ke dalam hutan. turun bukit. lalu pulang ke negeri Hitu. Dan kuceriterakan Sifari'l-jalih. lalu menyuruh kepada Sarasara Tahakehena masu ke dalam negeri Hila. Maka menyuruh dua orang naik ke negeri. Maka ia bertemu seorang antanantan orangkaya Pati Tuban. naik kepada kapal.Tetapi belum lagi untungnya di situ. Maka ia hendak masuk ke negeri Mamala. bawah ke Betawih.Tubanbesi ia membawah sebuah perau sudah keluar sehingga pantai Hatuhaha. Hatta matahari masuk. tanya kepada seorang anak syaudagar yang besar [penggawa] lagi dermawang pun artawan. Entah berapa jauhnya. Sarasara Tahakehena namanya. maka ia dengar bunyi anjing dalam hutan. maka ia tiada jadi masuk ke Mamala lagi. maka ia lepas. Daripada belum lagi sampai ajal Sifarijali keduanya Sarasara Tahakehena. seorang Wangsa namanya dan seorang Petinggi namanya kanak-kanak itu. terbit padang dan naik bukit. lalu berjalan keduanya. Dan tiada kuceriterakan kesukarangnya serta kejahatannya yang dicellai orang itu. lalu dipagang kepada dua orang itu dan menyuruh turun endah dipegang kepada orangkaya Tubanbesi. karena kepada siang hari itu ada orang masuk mencari dalam hutan. Seketika juga datang anjing serta tuannya Wolanda itu datang.

demikian katanya: ‘Dapat kami naik ke negeri atau tiadakah?’ Maka ia menyahut: ‘Orang itu tiada boleh. si Papua namanya. tetapi jika datang ke hutan maka kennah hujang dan angin ia tiada boleh tahan. Maka ia menyuruh pergi kepada Hehalesi. maka ia diketinggalkannya. Maka Sifarijali minta sebuah perau daripada orang Kelan*. lalu ia keluar bedamai dengan gurendur itu. Baik kita tinggalkan dia supaya ia keluar ke negeri. anak orangkaya Kapitan Hitu. pergi berjalan ke hutan ia duduk kepada suatu bukit. Hatta berapa dalamnya maka mengambil sebuah perau. Maka kata Sifarijali:‘Apa tipu kita kepada kanak-kanak ini. karena pada ketika itu orangkaya gimelaha Daga dengan kiyaicili [Besi]mulu serta orang Kelan* endah berkelahi dengan Wolanda itu. ia duduk kepada suatu bukit. Maka ia terima kepada dia orang. duduk di negeri Lesiela bersamasama orangkaya gimelaha. Sehingga datang ke negeri Seit dan Hahutuna.’ Maka kata imam Rijali: ‘Apa dayah?’ Lalu dipuluh* dan dicium kepada kanak-kanak itu. Maka ia bertemu Sakia dari Waibuti mengambil ikan. Patinggi namanya. maka ia menanti. maka ia datang ke sana bersama-sama orangkaya Daga dan kiyaicili. Hatta terbit fajar masuk ke hutan ia berhenti. Seketika lagi datang Telesima dan Abubakar serta kanak-kanak. lalu mengikut orangkaya itu ke tanah Buru. Hatta dengan kehenda Allah ta`ala datang gimelaha Hasi dari Luhu endah pulang ke Buru. maka semuanya diceriterakan oleh syaudaranya itu. Hatta berapa lamanya. lalu dibawah dari negeri ke dalam hutan.’ Lalu ia ke tanah Kelang. sehingga datang ke tanjung Sial. Maka . Lalu dipindakan pulang ke negeri Luhu dan pati Kambelo pun bawah kepada Abubakar. Sebab itulah. Maka ia bertanya kepada Sakia itu. ia pun masuk ke negeri berhadapan dengan imam itu. sehingga itulah menanti kepada Tuhan Yang Mahasuci. Maka bertemulah sama berhadapan bertanya-tanyakan hal-ahwal tanah Hitu dengan Wolanda itu.’ Telah demikian. seorangpun tiada terima kepadanya dan dia pun sembuni tiada mau menunjukkan dirinya kepada orang itu. Pati Laik namanya. Apabila masuk matahari. tiada boleh berjalan kepada siang hari. maka ia datang beri bakal dan makanan. Tiada dapat kuceriterakan dukkacittanya. Entah berapa lamanya. didukun oleh inang pengasuhnya. serta Ulu Ahutan membawah sebuah perau cari kepadanya. maka keempatnya menyeberang ke Tanah Besar. Tinggal lagi tiga orang juga. maka datang perdana gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa datang membawah titah seri sultan Hamza.sekali. Hatta masuk matahari. ia keluar berjalan menapi pantai. maka datang gulawarganya. bawahkah atau tinggalkah?’ Maka kata syaudaranya: ‘Kedudukannya baik juga kita bawah. daripada itulah Sifarijali terlalu ajaib.

zill al-nabi fi dar al-mu’min.’ Karena ia takut tiada mau naik ke perau. maka bertemu kepada karaen Rajipan. maka ia beli. ia senang dirinya. Telah demikian itu ia memohon. bawahlah kemari kami beli. Maka [kata] orang semuanya: ‘Apatah daya kehenda Allah ta`ala? Baik membuang diri kita tanah lain. makin bertambah kedukaannya. itu. maka datang orang Bone tanya kepadanya: ‘Orang mana?’ Maka menyahut: ‘Kami orang Ambon. Maka karaen Rajipan menyuruh sebuah perau bawa kepada dia dahulu ke negeri dan karaen Rajipan lagi duduk di Buton. maka ia pun tiada mau turun ke darat.’ Maka ia pulang menyampaikan ke bawah dulli. . lalu pulang ke peraunya. sehingga karan-karan serta daun meninjau selamanya pergi itu. belum lagi sampai pada .didengar oleh Sifarijali itu. Ia basembuni dalam hutan. lalu menyuruh memberi bakalnya. Maka tiada lagi bakal orang itu.’ Maka kata orang itu: ‘Nantilah di sini.’ Lalu syahbandar memberi tempat kedudukannya.’ Maka Sifarijali pun menanti.. sultan al-islam. maka dagang piatu pun terima serta junjung kepada kehenda titah itu. tetapi minta ampun kepada piatu yang hina karan. lalu masuk mengadap kepada raja.’ ‘Endah ke mana?’ ‘Kami endah ke Mangkasar. Maka titah paduka Dipatingalowan*: ‘Lamun jika tida kuterima kepada halmu ini. supaya kita jangan melihat dan menengar tanah kita lagi. Maka ia belayar ke laut tiga hari datang ke tanah Bone. Maka menyahut Sifarijali: ‘Ada pun titah kepada dagang piatu itu. Segala hal-ahwalnya itu semuanya diceriterakan kepada biduwandi* itu. maka menyuruh entah berapa orang. Itulah daripada belum dengan kehendak Allah ta`ala. Tatkala itu raja La Mibilu* akan kerajaan tanah Buton.’ Lalu memohon kepada orangkaya gimelaha dan kipati. Hatta datang ke tanah Buton. Pada dewasa itu seri sultan paduka Dipatingalowan* ia memerintahkan tanah Mangkasar dan demikian serri sultan Muhammad Sya`id akan kerajaan. Maka Sifarijali ia masuk mengadap serta menyampaikan hal-ahwalnya ke bawah dulli seri sultan. Maka diberinya makanan serta kain bajunya. Hatta datang pagi hari orang itu pun datang serta senjata. demikian katanya: ‘Marilah turun beli makanan itu. lalu keluar belayar. maka ia menyampaikan ke bawah dulli yang kerajaan. tiada seperti sabda nabi kepada kita ummatnya: “Wa-'l muslimin ikhwan”. Jikalau ada makanan. Hatta datang esok harinya datang pengalas serta antun-antun membawah titah menunjukkan kampung serta rumah. esok hari kami bawah makanan ke mari. Maka datang titah kepada bonto* dan biduwandi*: ‘Tanya olemu kepada orang itu endah ke mana perginya dan apa kehendaknya datang ini?’ Maka menyahut Sifarijali.. tetapi kami kurang air dan bakal. ia keluar memanggil kepada orang dalam perau itu.

Itulah kesudahan hikayat ini. terbit padang. menyeberang laut.Daripada itulah meninggal negeri mencari sennang daripada ia takut akan Wolanda itu. . sehingga datang ke tanah Mangkasar. Wa-'s-salam bikhair amin. Maka ia masuk hutan. menapi tasik. Itulah halnya orang mendapat kediaman dirinya. Tamat sah ya sah.

Dutch: fregat. = fregat Portuguese: feitor: kepala perwakilan kompeni perdagangan Ar.) Pulau Burung alias Nusa Manuk Portuguese: chapeu: capiau Portuguese: charamela: seruling Mak. hamam: tempat mandi Gunung Setan Ar. memawahkan: membagi hasil di antara pengusaha dengan pemilik dipersyahadatkan. daeng: gelaran dalam di Oma Dom Duarte (de Meneses) (Gerrit) Demmer (Antonio) van Diemen Pattingalloang Mal. alias Mihirjiguna Artus (Gijsels) Portuguese: espingarda: istinggar Herman van Speult Banda nyai Bawang alias Ratu Kali Nyamat biduanda Boano Butonese: orangkaya Portuguese: antena bote: andang_andang layar Pieter Both Adriaan Block (Martensz. Ternate: sangaji: kepala wilaya Portuguese: alferes: letnan muda indah Angasari Anthonio (van den Heuvel) apabila ? Arinjiguna. dipersyuhadakan dipeluk (Estevão) Teieira (de Macedo) Dom Duarte de Meneses Erang Portuguese: espingarda: istinggar (Jan) Pieterszoon Coen Portuguese: fragata. haraka: harkat (mulai bergerak) Dutch: gaas: kain muslin . firaq: pisah Prins (Maurits van Oranje) André Furtado (de Mendonça) (Jan Willemszoon) Gomale Ternate: kimalaha: kepala soa. kepala negeri Gorom Dutch: graaf: bupati Ar.Catatan aji alferes andak Angsari Antoni apalah Arinjiguna Artus asfanggarnya Aspel Bandan Bawang Biduwandi Boanoh bonto bot Bot Bulok Burung Capeu caramela daeng dan ? dauman Daurdia Demer Diman Dipatingalowan dipawahkan dipersyahdakan dipuluh Disera Duarde Eran esfangar Eskun fergat fetor firaklah Frings Furtado Gemala gimelaha Goron graf hamam Hantu harkat has Javanese: sang aji [raja].

qaranful: cengkeh Kelang Ternate: kaicili.arab: Maryam: meriam Negapatnam Nasidik Hehuat Nusatelo (Maurits) van Oranje Pulikat . Schouten) Lesidi Leitimor Waran-ela alias Hoamoal zill Wai Lee Philip Lucasz. Rumakai Bisei Lumu Lopu(lalan) Wai Loi makhudum Persia:. Krakatau (Vincent Gijsbert van) Moerlag Mabilu Nossa Senhora do Monte Maurits alias Mauritius Portuguese: Maria. cili: pangeran Dutch: Compagnie: Kompeni luka (Nicolaes) Colff Konimere. alias Kanyimedu Cornelis (Jansz. mard(an): yang mulia Portuguese: marinheiro: pelaut Masulipatam (Cornelis) Matelieff (de Jonge) melawat Gaspar de Melo menghadap Pulau Rakata.hasiat Hehatomi Hisab hoja Holanda hukum Hun Huniyasi Husen Hutman Iwa Iyaluli Jawahkatra Jipan Kakasingku kapitan kapitan-mor karaen karanful Kelan kiyaicili Kompenyi kuka kuluf Kunmuri Kurnilis Lasidi Leitimol Lesiela lil Liyi Lukas Lumakai Lumu ? Lupa Luyi mahudum mardan marinero Masilpatani Matelif melalawat Melo Mengadapat Merkata Merlaka Mibilu Mundi Murucisa muruyumunya Nagahpatan Naseddiki Natahuat Nusatelu Nyuranye Prins Palikat arab: khassiya: khasiat Hehatomu hijab hujaj Portuguese: Holanda [Holland] Ternate: hukum: hakim Simon (Jansz. karaeng: raja Ar.) Hoen Huniase Usen (ibn Jumat) Frederik de Houtman Iha Ialuli Jakatra Jipang Kasingu Portuguese: capitaõ: kapten Portuguese: capitaõ-mor (do mar): laksamana Mak.

rasama: mendaftarkan Gerard Reynst Laurens Reael Rosengain sahut Ternate: sadaha: wakil sultan Sagalua sahajanya sehinggalah São Sancho (de Vasconcelos) Sp. Dutch: pinas: penes Prins (van Oranje) Pondicherry (Marten Jansz. alias) Vogel Pondicherry Gerard Reynst Ar. Mal. Visscher.pandang Paringsi Pasiruwan Patacoh perastawa pesir Pilakan Pinau pinsu Prings Pudiceri Pugel Pujiciri Rangsi rasamu Rengsi Riyal Rosengaing Saat sadaha Sagaluwa Sahanya sahingilah San Sanco santiagu sarento sarinto Sellat seribus serta sipati Sitaniya Siyal Soroi Suanggi suisa Sunusi Syabidin talangkeranya tamburunya Teyaka Tirubambu Tirumulawasir torompetanya Tuhahan tumengung Tumi ul Ulima Urin Warhaga Yan Yangsi padang Prins (van Oranje) Pasuruan Portuguese: patacho: sampan peristiwa pesiar Pelekolan Binau Portuguese: pinacas. santiago: berbaris Portuguese: sargento: sersan Portuguese: sargento: sersan Ar. alias Jonge Jan atau Nyong Yan Jasper Jansz. terangkera: kubu Portuguese: tambor: tambur Sekatikam Tirumala(rájan)patnam Tirumulavásal Portuguese: trombeta: terompet Tuhaha Javanese: tumenggung: hulubalang Thomé Baharullah Ulilima Ureng Steven van der Haghen Jan Outgersz. shalat seribu seperti Butonese: sapati: mangkubumi Sitania Sial (Wouter) Seroyen Suangi Ternate: suisa: tambur (Abu Abd Allah Muhammad al-)Sanusi Sabadin (ibn Jumali) Portuguese: tranquiera. .