Sifar Ar-Rijal (Imam Rijali) Sumber source: www.anu.edu.

au

Sejarah adalah perkembangan penentuan ide diri, perjalanan perkembangan diri dalam roh. karena roh hakekatnya bebas,maka sejarah adalah perjalanan kebebasan.(Hegel)

(potongan seperti dari sumber)Empunya tanah, karena ia dari mulanya

datang. Itulah kesudahan bangsya Ambon. Alkissah peri mengatakan bangsya Jawa. Maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera tatkala raja Tuban dinaikan kerajaan, maka tiada ia bersettia dan muafakat dengan kaum kulawarganya. Maka suatu kaum dua bersyaudara, seorang kiyai Tuli namanya dan seorang kiyai Dau namanya, dan seorang syaudaranya perempuan, nyai Mas namanya, ia naik serta kelengkapannya membawah dirinya mencari tempat kedudukannya. Hatta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Hitu. Ia masuk dalam labuan Husekaak namanya. Maka tiada melihat negeri dan tiada manusyia, lalu turun daripada kelengkapannya, naik ke darat membuat negeri akan kedudukannya.Hatta demikian itu keluar seekor anjing, maka orang itu dikatakan: ‘Ada anjing, adalah lagi manusyia; jikalau ada manusyia, ada juga negeri.’ Lalu ditangkap anjing itu, digantungkan suatu bungkusan di atas leher anjing itu. Ada pun dalam bungkusan itu serba sedikit daripada alamat negerinya. Lalu dilepaskan anjing itu pulang ke negeri kepada tuannya. Maka apalah* dilihat tuannya bungkusan itu, maka ia melihat alamat serba sedikit itu. Maka ia berkata kepada orang sekalian: ‘Ada juga manusyia di pantai itu.’ Maka ia mengambil buah-buahan akan tanda alamat negerinya, lalu digantung kepada leher anjing itu, dilepaskan pulang keluar ke pantai. Maka dilihat oleh orang itu, maka kata orang itu: ‘Marilah kita pergi periksyai kepada negeri itu’, lalu ia berjalan. Hatta ia datang ke tengah jalan, maka bertemu seorang, lalu dipangil serta dengan dia berjalan menuju kepada negeri dan orang dalam negeri itu pun keluar semuanya berjalan ke pantai. Maka ia bertemu dengan penguluh kelengkapan itu, maka kedua pihak berhadapan bertanyatanyakan kehendaknya datang itu. Maka menyahut penguluh kelengkapan itu, segala hal-ahwal semuanya diceriterakan kepada orang itu. Lalu ia bertanya pula kepada orang negeri itu, maka menyahut orang itu. Segala hal-ahwal mulanya datang itu diceriterakan kepada penguluh kelengkapan itu. Tellah demikian itu, maka kedua pihak bennarnya jual-beli, tukar-menukar beramai-ramaian. Hatta datang malam orang itu pun pulang ke negerinya. Apabila datang esok harinya, ia turun juga jual-beli, tukar-menukar sebagailah. Maka suatupun tiada dalamnya melainkan melakukan kesukaannya. Itulah kesudahan bangsya Jawa. Alkissah peri mengatakan bangsya Jailolo dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera, demikian riwayatnya. Ada pun dalam negeri Jailolo itu dua bangsya, seorang bangsya Jailolo dan seorang bangsya Jawa, yakni anak raja keduanya. Maka dalam

lalu ia menyuruh rusak negeri syaudaranya. maka ia naik ke darat mengambil tempat akan negerinya. digelar Sellat* namanya. maka ia pergi sendirinya kepada orang itu. masuk dalam labuan. Lalu ia pulang sehingga seorang juga. hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala keluar bangsya Jawa serta dengan kelengkapannya. Ia dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Ambon. Tellah demikian itu maka sebuah perau daripada pihak bangsya Jailolo ia keluar mengambil ikan. lalu bertanya padanya: ‘Darimana datang dan apa kehendakmu datang ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang dari . Maka syaudaranya dan setengah raiyat turun duduk menjadi penghulu kepada negeri Lisabata. maka cerai-berai kelengkapannya itu. Maka ia berangkat sehingga datang ke tanjung Siyal*. seorangpun tiada mengetahui dia. Ada datang ke tanah Buru. Entah apa-apa kehendaknya gennap puluh dan tanjung sehingga datang ke benua Bacang. setengah mengatakan bangsya Jailolo akan kerajaan dan setengah mengatakan pula bangsya Jawa akan kerajaan. Sama berhadapan. lalu bertanya-tanyakan: ‘Darimana engkau datang dan di mana engkau duduk?’ Maka ia menyahut: ‘Di darat sungai ini kami duduk.keduanya itu.’ Tellah didengar warta demikian itu. Lalu menyeberang ke tanah Hitu. Tellah sudah paduka syaudara enda dinaikan kerajaan dan negeri yang dipetuhan pun sudah rusak. demikian katanya: ‘Hai tuhanku. Maka di belakangnya itu dinaikan bangsya Jailolo akan kerajaan. Daripada ketika itu sebuah perau daripada orang yang datang itu keluar memukat. Hatta berapa lamanya di tengah jalan serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi datang ribut dan angin. diam dirinya dalam utang. maka ia tiada mau pulang lagi. lalu ia berangkat mencari tempat akan kedudukannya. Tellah demikian itu. Maka disampaikan khabar itu kepada syaudaranya. Itulah kesudahan riwayat bangsya Jailolo. lalu masuk ke dalam sungai.[Sekali] perastawa* dengan kehendak Allah ta`ala ia datang kepada suatu tanjung Nukuhali.’ Lalu perau mengambil ikan itu kembali menyampaikan khabar kepada perdana Jamilu. ia duduk di tepi sungai itu menengok pada orang mengambil ikan itu dan orang mengambil ikan itu pun pandang kepadanya. Alkissah peri mengatakan bangsya Goron* dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera demikian riwayatnya. Seorang pula kaum gulawarganya duduk menjadi penghuluh kepada negeri Waiputih. pattik minta maaf ke bawah dulli yang dipetuhan. maka jadi fitna dalam negeri endak berkelai. Maka suatupun tiada hijab pada mereka itu melakukan kehendaknya. ada datang ke tanah Seran. kiyai pati namanya atau Ulima* Sitaniya*. masing-masing membawah aluannya.

Tellah kesudahan kataku termasyhur didengar oleh orang sekalian. Itulah nyata orang berbahagia dalam dunia.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya lagi. Lalu dicampakan serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahasuci lettalah kepada yang di bawah itu. Jika benar yang di bawah itu.’ Maka menyahut: ‘Kujungjung ke bawah kadim yang memeliharakan dan mengasih dagang piyatuh. tetapi tiada mengapa. orang besar daripada Goron*. lettalah kepadanya.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya? Untung kita serta kehendak Allah ta`ala. Tellah demikian itu. lettalah kepadanya. Itulah negeri bangsya Goron*. dari dunia datang ke akhirat akan syaudaraku dan ada pun yang di bawah memagang penyapu itu. maka ia mengambil tempat akan kedudukannya. Maka kata perdana Jamilu: ‘Bennarlah anaku. Maka ia tersunyum serta barpantung: ‘Harap-harap janji tuhan mengasih dagang piyatu. ia duduk di bawah serta memegang penyapu. karena ia anak yang empunya negeri. lalu masuk serta orang banyak dan permullianya dengan adat sehinggasana. ada pun kami ini anak dagang. maka menyuruh orang membawah kepadanya. Maka . Tellah kesudahan anak cucu Goron* linang. perdana kipati namanya. Maka perintah dengan baik patut pakaian yang baik kepada hambanya.’ Lalu diam dirinya.’ Lalu keduanya pergi masuk dalam negeri kepada rumah perdana Jamilu.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Maukah duduk serta kami?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau. demikian katanya: ‘Apabila bennar anaknya yang di atas itu.’ Maka kata Jamilu: ‘Betapa kata demikian? Karena ia hamba mengapa maka kau ambil kepadanya? Didengar orang seolah-olah dicellai kepada kita. Tellah demikian itu. karena tiada patut hamba dan orang baik. Itulah sebabnya baik kita periksai dahulu.benua Goron* dan kehendak kami mencari tempat kedudukan kami.’ Lalu dipersuamikan anaknya serta makan minum bersuka-sukaan dalamnya. Ia berhadapan dengan perdana Jamilu bijaksana. jikalau dengan faedahnya yang baik?’ Maka pula perdana Jamilu: ‘Mengapa maka tiada dengan faedahnya yang baik? Jika duduk serta kami kupersuamikan anakku akan isterimu supaya jangan was-was hatimu kepada kami. Kepada anaku juga yang menyasal. Ada pun yang di atas itu.’ Lalu ia menyaksyikan sepahnya. ia duduk di atas di hadap orang banyak. Siapa mengetahui tipu dayah tuhan?’ Lalu menyahut demikian katanya: ‘Dagang piyatu minta maaf. Maka jadi empat negeri pada tatkala itu. jika bagai kata demikian itu? Tetapi baik kita periksyai dahulu atau ia maukah atau tiada mau kepada kami. dan pakaian yang jahat kepada anaknya. Daripada itulah kurelahkan anaku akan isterimu. tuhan perhamba akan kami. maka kata Jamilu: ‘Pada hari ini dan ketika ini kita sempurnakan janjian itu.

maka dimasukkan tiga kaum dahuluh. Karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dan tiada dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan. Berapa lamanya maka datanglah angkatan itu. jikalau dinamai bendahara pun benar juga. Ada pun keempat perdana itu. melainkan melakukan kehendaknya. maka keempat perdana muafakat dahuluh. Alkissah peri mengatakan daripada pihak rayatnya tiga puluh gelaran dan daripada tiga puluh gelaran itu tujuh pengawanya yang besar. Apabila kepada suatu pekerjaan. Itulah seperti emas. Hatta berapa lamanya seorangpun tiada manang kepada seorang dan seorangpun tiada allah kepada seorang. lalu turun menyarang . lalu berkellai. dan dinaikan kerajaan pun patut juga daripada bangsyanya datang itu. Zamanjadi endak akan kerajaan dan perdana Mulai pun ia akan kerajaan. sehingga takluk namanya. maka muafakatlah keempatnya. tiada dengan supuhnya lagi. Lain daripada itu tiada dimasukkan. Tellah sudah muafakat. Zamanjadi dan perdana Mulai. maka fitna kedua kaum itu. Itulah diadatkan zaman datang kepada zaman turun-menurun. Ialah mengerjakan sesuatu pekerjaan daripada keempat perdana. Lalu Zamanjadi menyuruh mengambil angkatan dari negeri Selan Binaur datang endak menyarang kepada negeri perdana Mulai. Itulah dimasyhurkan nama keempat itu dalam tanah Hitu. Alkissah peri mengatakan bangsya Ambon dan peri mengatakan bangsya Jawa. makan minum sehingga menanti kepada angkatan itu. maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Dan perdana Mulai pun menghimpunkan segala hulubalangnya. Itulah kesudahannya.dengan kehendak Allah ta`ala muafakat keempat perdana itu menjadi suatu negeri dan empat negeri itu dijadikan empat kampung dan empat nama. Kemudian daripada tiga itu. Dan berjanji-janjian serta berputusan barang sesuatu pekerjaan dalam tanah Hitu. Itulah kenyataan empat bangsya itu. jumlahnya tujuh kampung dalam negeri Hitu. Kemudian daripada itu datang suatu bangsya tiga kaum yang ia datang dari negerinya. Alkissah peri mengatakan tatkala keempat perdana muafakat itu menjadi suatu negeri dan keempat kampung. sekali perastawa dengan kehendak Allah ta`ala dua kaum. tiada berubah lagi. maka dimasukkan tujuh pengawanya serta tiga puluh gelarannya. serta dipindakan nama keempat itu. Ada pun Zamanjadi dipindakan Totohatu namanya dan perdana Mulai Mulai dipindakan Tanihitumesen namanya dan perdana Jamilu dipindakan Nusatapi namanya dan perdana kiyai pati dipindakan Pati Tuban namanya. lalu dikerjakan dan tiada lain lagi daripada keempat perdana itu. Maka dimasukkan tiga kaum itu tiga kampung. Itulah kesudahan kaum daripada pihak empat perdana. keduanya melakukan kehendaknya.

’ Maka kata perdana Mulai kepada perdana Jamilu: ‘Maukah tolong kepadaku?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau? Tetapi jika ada faedahnya. Maka kita pun masuklah kepadanya melakukan kehendak kita itu. Bennar katanya ia memulai negeri. apa barang kehendakmu itu dan apa katamu itu tiada kulalui. Hatta seketika juga patah angkatan itu. Itulah kita perjanjikan. Hatta berapa lamanya maka perdana Jamilu bijaksana ia pergi kepada perdana Mulai. karena ia sudah tahu perbuatan kita. tetapi ia duduk dalam hutan. Aku pun demikian lagi.kepada negeri dan empunya negeri pun keluar.’ Itulah sebabnya. lalu keluar. kemudian berbuat kehendak kita itu. Maka kembali angkatan itu tiada boleh allah kepada negeri. Sebennar ia datang dahulu. Maka angkatan itu pulang dengan dukkacittanya dan empunya negeri pun makan minum bersuka-sukaan dan beramai-ramaian dalam negeri. himpunlah orang serta senjata. Hatta datang kepada esok harinya pergi pula kepada Zamanjadi. Hatta datanglah kepada hari yang diperjanjikan itu. serta berjanjian hari dan ketika itu. Apabila ia keluar mencari kehendaknya.’ Tellah berjanji demikian lalu ia pulang. Daripada itulah pantai Hitu dinamai Liasela* namanya.’ Maka kata pula perdana Mulai: ‘Apabila engkau tolong kepadaku.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika bagai kata demikian itu. Maka ia berkata: ‘Betapa kehendakmu kepada Zamanjadi itu?’ Maka menyahut perdana Mulai: ‘Ada pun kami kedua kaum ini kepada bennarnya siapa akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu bijaksana: ‘Jika kepada bennarnya engkau juga. Maka datang suruan perdana Jamilu kepada perdana Mulai. Sabar dahulu serta baik-baikan dengan dia. Lalu ia pulang masing2 membilang hari yang diperjanjikan itu. Barparanglah kedua pihak itu. ia kemudian. maka menyahut perdana Jamilu pun demikian itu juga. lalu ia keluar berhadapan dengan orang sekalian. ikutlah perintaku. tetapi Zamanjadi dahulu datang. lalu undur daripada karas parang rakyat perdana Mulai. Maka kedua kaum diiakan kata perdana Jamilu itu. sunyilah negeri. maka kata Zamanjadi kepada perdana Jamilu bagai kata perdana Mulai itu juga. demikian katanya: ‘Apa tipu kita.’ Maka diiakan oleh perdana Mulai. karena engkau memulai negeri ini. demikian katanya: ‘Betapa kehendakmu kepada orang itu?’ Maka menyahut Zamanjadi serta bertanya kepada perdana Jamilu: ‘Ada pun kami kedua ini kepada bennarnya siapa patut akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika kepada bennarnya Zamanjadi akan kerajaan. maka kedua kaum itu harkat* serta senjata. Apabila sudah lupa kepada harkatnya itu. Maka ia berkata: ‘Apa tipu kita kepada dua kaum ini? . Demikian perinta perdana Jamilu: ‘Apabila datang kepada hari anu.’ Maka menyuruh pula kepada Zamanjadi pun demikian juga.

yakni keempatnya bersamakan. Maka suatupun tiada ellat lagi dalamnya. yang tiada mengikut itu bukanlah kaum kita sekalian. maka bersettia muafakat dan bersuka-sukaan kembalilah kepada adatnya. yang mengikut itu kaum kita sekalian ini. ’Tellah demikian itu maka menyuruh kepada dua kaum itu segala perastawa perinta kata itu semuanya dikatakannya. al-hamdu li-'llah. maka dikerjakan. mengiring kepada serri . Lalu bersettia dan muafakat serta perjanjijanjian dan bersumpah-sumpahan sehingga datang kepada hari kiamat seperti firman Allah: ‘Inna 'llaha la yukhlifu 'l-mi`ada. belum lagi kedangaran dalam dunia suatu negeri dua kerajaan. Melainkan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala serta orang muafakat. maka demikian keduanya. itulah sempurna kerajaan. Itulah adat keempat perdana dalam tanah Hitu. Lalu keluar kepada orang sekalian. karena empat perdana itu seseorang tiada tinggi kepada seseorang dan seseorang tiada randah kepada seseorang. Tatkala itu seri sultan Maluku paduka Zainul Abidin khallada 'llahu mulkahu wa-saltatahu ia datang ke benua Jawa. Atau salah suatu mengikut kata ini.’ Itulah pertama yang memulai perjanjian. Maka perdana Pati Tuban ia belayar ke benua Jawa tuntuti agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Itulah yang bersatuan nama keempat itu selamah-selamahnya zaman datang kepada zaman. Zamanjadi pun demikian juga tiada mau sembah. supaya menanti kehendak Tuhan Yang Mahamurah berbahagia kepada seseorang akan yang dipetuhan. apatah daya sudahlah. Hatta datang musim sultan pun pulang. Alkissah dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Baik juga kita kata demikian kepadanya. Ada pun pada ketika ini kita buat demikian pada keduanya: jika ikut kata orang sekalian. jadilah empat kerajaan dalam negeri. dan jika perdana Mulai akan kerajaan. supaya kita menanti karunia Allah ta`ala. lalu barparang pada ketika itu. Kemudian daripada itu jika seorang tiada atau dua orang atau tiga orang sehingga seorang jugapun nama keempat juga. maka jadi akan kerajaan. Maka keempat perdana itu seorang tiada tinggi kepada seorang dan seorang tiada randah kepada seorang.Apabila Zamanjadi akan kerajaan. Apabila barang suatu pekerjaan melainkan keempatnya berhadapan. Sehingga datang ke tanah Bima ada suatu fitnah dengan raja Bima. maka diiakan oleh dua pihak itu. Apabila ia keduanya akan kerajaan. perdana Mulai tiada mau sembah. Empat puluh orang pendagar. Apabila tiada mengikut. maka bertemu kepadanya. Lalu bertanya kepada perdana Pati Tuban Maka segala hal-akhwalnya semuanya diceriterakan kepada serri sultan. sekali perastawa keempat perdana berhadapan muafakat. yakni antun-antun. Apabila keduanya akan kerajaan.

sulthan Zainul Abidin. Tellah demikian itu kuceriterakan yang empunya ceritera. Tatkala perdana Pati Tuban ia datang dari tanah Jawa itu. maka lalu ke pantai Eran* dan dari pantai Eran* itu lalu ke tanjung Siyal. Semuanya dikatakannya kepada orang sekalian serta dijungjung titah itu. dan serri sultan pun serta menettah hulubalang itu. Maka keempat puluh pendagar itu dinaikan kepada raja di atas kelengkapan.’ Lalu menyuruh kiaicili* Darwis akan utusan ke tanah Ambon meneguhkan pula perjanjian itu. lalu ia bertanya kepada perdana yang besar dalam negeri demikian titah: ‘Hai segala perdana dan parwara sekalian. sehinggalah termasyhur Ternate dengan Hitu. Tatkala perdana Jamilu menyuruh utusan ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. Pada ketika itulah negeri Hitu dan negeri Waiputih serta negeri Eran* ketiganya muafakat bersama-sama. Hatta berapa lamanya di tengngah jalan maka serri sultan Zainul Abidin pun wafatlah. Maka diceriterakan oleh [yang empunya ceritera] perdana Pati Tuban ia pulang ke tanah Hitu. maka ia bertanya bangsya perdana Jamilu. lalu menyeberang ke tanah Hitu. maka ia bersettia dan muafakat dengan pangeran.’ Hatta datang . Pada ketika itulah bawah kepada pendita yang alim. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji´un. lalu belayar. Maka kuceriterakan yang empunya ceritera demikian riwayatnya. Lalu mati hulubalang itu dan raja pun luka. Itulah sebabnya dan seperkara lagi nama syaudaraku itu kuberikan kepadanya. maka semuanya diceriterakan kepadanya. akan kadi di negeri Ternate. Lalu ia memberi nama Patinggi: ‘Karena nama Jamilu itu artinya kepada bahasa Jawa “jangan mengikut”. Tatkala itu nyai Bawang* akan kerajaan. tuhan Bahrul* namanya. Alkissah peri mengatakan perdana Jamilu dan peri mengatakan panngeran Japara. sehingga datang kepada sultan Khairun Jamil akan kerajaan zill Allah fi 'l-alamin. Ada pun tatkala utusan datang ke Ambon itu singga di tanah Boanoh*. maka mengatakan peri hal-akhwal perjanjian dengan raja Maluku itu. Ia datang menuju serri sultan. Ia masuk ke pantai Waibuti. Maka masyhurkan demikianlah riwayatnya: ada pun tatkala serri sultan Khair Jamil akan kerajaan itu. berapa kampung dalam negeri kita ini?’ Maka menyahut mankubumi: ‘Ada pun dalam negeri yang dipetuhan sembilan kampung jumlahnya. lalu menikam dengan lembingnya kennah kepada sultan Maluku. Maka suatupun tiada hisab* melainkan memerintahkan tanahnya serta agama Allah dan agama nabbi Muhammad salla 'llahu alaihi wa-sallama amin ya Rabb al-`alamin. Hatta dengan ajal Allah maka datang seorang hulubalang raja Bima. lalu negeri Hitu pun masuk iman kepada Allah dan nabbi Muhammad serta agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. sepuluh dengan negeri Hitu.

maka kata orang sekalian: ‘Nyatahlah faedah yang baik beraja dan faedah yang baik tiada beraja. maka kuceriterakan yang empunya ceritera. Alkissah peri mengatakan syariat nabbi akhir zaman. Dan dinaikan hukum* AbubakarNaseddiki* namanya. tetapi kita naikan dahulu seorang akan kerajaan. maka raja naik ke atas balai. Kemudian daripada itu. Tellah itu maka dinaikan Maulana ibn Ibrahim akan kadi daripada ia mutakalim daripada alim mahudum* guru sekalian tanah Ambon. Maka seorang berkata: ‘Mana baik beraja daripada yang tiada beraja?’ Maka kata seorang: ‘Daripada yang tiada beraja. yakni dipawahkan*.’ Apa yang kehendaknya itulah diadatkan daripada zaman datang kepada zaman turun-menurun.’ Maka seorang pula berkata: ‘Mana faedah yang baik beraja itu dan mana faedah yang baik daripada tiada beraja itu?’ Lalu berkata keduanya: ‘Demikian faedah yang baik beraja. Apabila raja itu tiada dengan adilnya diupamakan matahari tiada dengan bercahayanya. Ia duduk bejuntai-juntai. lalu membuat suatu mesjid tujuh pangkat. maka keempatnya muafakat mengira-mengirakan negerinya. Maka suatupun tiada ellat dalam tanah Hitu. Tiada lain daripada keempat . Hatta berapa lamanya keempat perdana berhadapan serta orang banyak. baik beraja.’ Maka kata seorang pula: ‘Demikian faedah yang baik daripada yang tiada beraja.’ Maka kata pula: ‘Bennar juga kata keduanya itu tiada salah. Maka digelarnya Latu Sitania namanya. sehingga Nyai Bawang* pulang ke rahmat Allah.musim utusan itu pun pulang dan orang Japara pun gennap musim tiada berputusan bedagang ke tanah Hitu dan tanah Ambon sekalian sebagailah. kepada suatu hari keempat perdana berhadapan kepada suatu tempat. Daripada ialah termasyhur agama Allah dan agama nabi Muhammad rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Dan negeri Hitu pun firaklah* dengan negeri Japara daripada raja yang kemudian itu kuranlah adilnya seperti raja yang dahulu.’ Dan seorang berkata pula: ‘Daripada beraja baik tiada beraja. Daripada itulah maka dikatakan firak. tetapi bukan firak. yakni artinya ‘raja tanya’. sehingga tiada sampai ini juga. pergi datang berulang2 tiada berputusan.’ Maka kata keempat perdana: ‘Apa salahnya karena ia kerajaan? Tetapi sehinggalah kerajaan. Ada pun amar dan nahi serta adat semuanya itu melainkan keempat perdana juga. nama yang dijungjung.’ Lalu dinaikan kaum gulawarganya seorang akan kerajaan. Itulah kesudahannya negeri Hitu dan negeri Japara. supaya kita periksai kepada faedahnya yang baik beraja atau faedah yang baik tiada beraja itu. Ada pun tatkala masuk iman serta mengesakan Allah subhanahu wa-ta`ala dan termasyhurlah agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.

bangsya itu. Maka kata orang sekalian: ‘Bennarlah perdana Jamilu pahlawan dan bijaksana dalam tanah Hitu. lalu ia becakap di hadapan orang sekalian. Ia minta tolong kepadanya. Maka dilepas kepada maslahat itu serta dengan kehendak Allah ta`ala kennah panglimanya itu mati dan orang banyak itu pun undur serta lari. Lalu ia menyuruh kepada negeri yang bukan takluknya. demikian katanya: ‘Insya Allah ta`ala berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu kembali angkatan itu. Maka dikata dengan kata yang aib. jika beta tiada dapat alah kepada negeri itu. Tiada boleh alah. lalu ia pulang diam dirinya kepada halnya.’ Lalu disalin dan dimuliah kepadanya. Maka tiada berupama kepada yang empunya negeri serta melakukan kehendaknya dan negeri itu pun tiada diketahui kepadanya. Maka negeri itu keluar dengan angkatan pergi menyerang kepada negeri itu. Demikianlah halnya orang itu. maka ia keluar. Sebab itulah maka tiada dapat turun. lalu alah kepada negerinya. Maka panglima negeri itu keluar. Dan kuceriterakan sekali perastawa raja naik kepada sebuah perau. Ia keluar bersuka-sukaan sehingga datang kepada suatu pantai. Itulah kehendak Tuhan Yang Mahamurah kepada makhluknya.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Betapa perintah parangnya itu?’ Maka menyahut orang itu: ‘Ada pun panglimanya itu terlalu sangat gagahnya. jangan alah naik ke darat pun tiada boleh. serta menyingsing tangan bajunya. Alkissah . Hatta ia datang. lalu langgar ke darat. turun ke pantainya pun tiada dapat. melainkan kehendak Allah ta`ala juga tiada dapat dikatakan. Itu pun tiada dikatakan kepada empat perdana itu. lalu sekali-kali di aluan angkatan itu serta menetta. Hatta lama datang kepada lamanya. maka ia kembali dengan kemenangngannya makan minum bersukasukaan.’ Tellah demikian itu maka ia membuat suatu maslahat serta dengan panah di aluan kelengkapannya itu. Maka kata keempat perdana: ‘Mengapa maka kembali angkatan ini?’ Maka sahut orang itu: ‘Tiada boleh alah kepadanya. Hunimoa namanya pantai itu. Maka diikut belakangnya orang itu. beta pun tiada kembali. Apa2 kehendaknya tiada ia muafakat dengan keempat perdana. makin bertambah kebajikan dan kepujian. Seorang pengawa empat gelaran kepada seorang perdana. Tellah demikian itu. Apabila kita langgar ke darat.’ Tellah didengar kata orang demikian itu. berbahagia seseorang-orang dalam dunia. tiada seupamanya lagi dalam tanah Hitu. demikian juga kemudian daripada itu. Demikian juga keempatnya seorang pengawa empat gelaran turun-menurun. Alkissah dan kuceriterakan tatkala itu perastawa keempat perdana membahagi rakyat. lalu sekali-kali di aluan kelengkapan itu.’ ‘Mengapa maka tiada boleh alah kepadanya?’ Maka kata angkatan itu: ‘Jangan alah.

suatu Kapitan Hitu. Hatta datang musim barat. Maka ia datang membawah khabar kepada perdana Jamilu. demikian katanya: ‘Ada kami bertemu sebua perau di laut Puluh Tiga. ia tiada tahu bahasa kami dan kami pun tiada tahu bangsyanya. lalu berampas-rampasan serta haru-biru dalam pasar. Seperkara lagi sama makanannya dan minumannya. jangan sama senegeri kita. Pada .’ Maka dipindahkan dia ke tanah sebelah kepada tempat yang baik ia duduk.’ Lalu diberinya tempat membuat rumahnya ia duduk.’ Maka kembali pula bawah ia datang ke negeri kepada perdana Jamilu. Maka disampaikan kepada hukum dan penghuluh agama. Selamanya umur kami hidup dalam dunia. Sekali perastawa ia minum mabuk. maka kami datang ke mari. maka suatupun tiada hujat dalamnya pada ketika itu dan termasyhur nama Kapitan Hitu dari negeri Ambon sampai negeri Portugal. untung kami di sini. Gennap tahun diadatkan selamanya. naik kepada sampang endak pulang ke negeri Portugal. Hatta berapa lamanya maka ia memohon setengah duduk menungguh rumahnya dan setengah membawah khabar kepada orang besarnya. kedua Don Jamilu namanya. maka diberinya masara persalin kepada Kapitan Hitu. Lalu kami tanya kepadanya. karena sudah termasyhur kita membuat baik kepadanya. Tubuhnya putih dan matanya seperti mata kucing. Kepada zaman itulah maka digelarnya kepada perdana Jamilu ‘kapitan Hitu’ namanya dan berjanjian apabila datang kapalnya. Kemudian kita membuat jahat pula. bulum lagi melihat rupa manusyia bagai rupa orang itu. Maka tinggal kapal kami. Lalu ditanya kepadanya: ‘Darimana datang dan apa nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang di sini kami sessat tiada tahu jalan. tetapi ampun dahuluh kepadanya.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Pergilah engkau bawah ia ke mari. daripada negeri itu tiada beragama dan lagi banyak minuman anggur. Hatta datang lama dengan lamanya serta kehendak Allah ta`ala yang kebaikannya itu dibalaskan oleh Tuhan Yang Mahamurah datang kejahatannya. apa hal nama kita didengngar oleh orang? Baik kita pindahkan dia kepada tempat yang lain. Jadi ramai bandar di tanah Hitu dan termasyhur sekalian tanah Ambon. maka kata penghuluh agama: ‘Salah orang itu melainkan sampai nyawanya. Itulah hal keempat perdana.dan kuceriterakan yang empunya ceritera: sekali perastawa sebua perau Saki Besi Nusatelu* ke laut Puluh Tiga mengambil ikan.’ Maka kata keempat perdana: ‘Bennar kata hukum dan penghuluh agama. Tetapi malim tiada tahu. Apatah daya. Maka raja Portugal digelarnya dua nama. maka menyuruh kapalnya datang gennap tahun tiada berputusan lagi. Maka kami jatuh pesir* ke tanah sebelah dan kapal kami pun tekarang di laut Puluh Burung*.

Sorangmenyarang. Pada ketika itulah pendagar Tahalele menyerrang buankan dirinya ke tengah tentara kafir itu seperti harimau. Lalu menyuruh sebuah gurap antar kepada mayit itu dahuluh dan ain inayat naik kepada sampangnya ennam buah itu dan gurapnya itu menanti di tanah Seran.ketika itu tiada dikira-kirakan kepada hari yang kemudian. Hatta datang ke tengah laut antara Jawa dan Bali. bersuka-sukaan. Bunyi senjatanya diupamakan guruh di atas langit. . Hatta berapa lamanya menjadi fitna. Tellah demikian itu maka dihimpunkan orang serta kelengkapan Japara itu pergi menyerrang kepada sebuah negeri kafir. pertama Lekalahabesi dan kedua Tubanbesi. lalu ia masuk ke pantai Hitu bersama-sama dengan tamannya yang mengantarkan mayit itu dan diturunkan kepada mayit itu. Maka ia meninggal dua buah gurap sehingga dinaikan orangnya. Hatta berapa lamanya. Sekali perastawa keempat perdana menyarang kepada sebuah negeri kafir. Maka didengar oleh kafir itu. Tiada dapat terpandang mukanya oleh musuh itu. daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama dan Tubanbesi pun syahid pada ketika itu. Hatiwe namanya. Maka pangeran Japara menyuruh tujuh buah gurap mengantarkan dia. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. maka bertemu kedua kelengkapan itu. maka ia meninggal negeri fanah datang kepada negeri baka. lalu belayar dibawah oleh angin dan arus jatuh datang ke tanah Seran. sehingga dimasyhurkan dua nama. makanminum dan bergela-gelaran nama panglimanya itu. tukarmenukar. ada sebuah kapal di tanah Bandan*. ia menyuruh angkatan mengadang di tengngah jalan. Maka dipeliharakan dan diadatkan kepada mayit itu sehingga datang kepada seratus harinya. lalu naik rampas kepada kapal itu dan orangnya itu habis dibunuhnya. makan-minum dan disalininya kepada pendagar Tahalele serta digelarnya pahlawan Tubanbesi dan syamsyirnya Lukululi. maka ia sakit serta dengan ajalnya. lalu paranglah dengan dia. Hatta berapa dalamnya pun parang lanatullah itu dan tentara Islam itu pulang serta kemenangnya. Maka keluar kafir itu serta barparanglah kedua pihak itu seperti orang bepasaran. Dan maitnya itu ditaburkan bauh-bauan. jual-beli. Hatta ia datang ke Bandan. Maka ia pulang dengan kemenangngannya sehingga datang ke negeri bersukasukaan. alah-mengalah sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah. lalu alah negeri itu. Tellah demikian itu maka adinda perdana Jamilu belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. lalu belayar ke Ambon. Maka ia menengar khabar orang. Maka ia pulang kepada gurapnya. maka dimasukkan ke dalam petti. lalu berparanglah. Maka penghuluh kelengkapan itu kira-kiranya sukar karena banyak kafir itu.

Maka kedua pihak berhadapan seperti orang bersembahyang mengadap kepada kiblat. caramela* pelbagailah bunyi-bunyian. Alkissah peri mengatakan parang Don Duarde datang daripada negeri Portugal serta dengan kelengkapannya. Apabila Islam mati parang sabil. karena pintu syurga sudah terbukah. maka masuk pula parang ke medan. jika bulum lagi lepas daripada azab naraka. suisa* dan serunai. entah berapa-rapa panglimanya. patah tulang tangannya yang kiri. Seketika juga himpunkan orang dan panglimanya sekalian serta dengan Den Daurdia*. jika bulum dilepaskan oleh malak al Zabaniah. Maka keempat perdana menyuruh orang . yang diceriterakan oleh yang empunya ceritera.’ Yakni artinya bulum lagi masuk syurga. maka ditangkis oleh pahlawan itu. maka bertempik Umar. Panglimanya dan pendagarnya serta dengan harkatnya. dalam akhirat bulum lagi diterima oleh malak al Ridwan. Esfinkarnya* putus kedua pangkal. Lalu ia menetta serta merampas panjipanji kafir laknatullah itu. lalu naik kepada kelengkapannya kembali serta dengan dukkacittanya dan orang Hitu pun kembali memeliharakan mayitnya itu. maka khabarkan orang kepada negeri Hitu dan tanah Ambon sekalian. Maka kata pahlawan Tubanbesi: ‘Untunglah aku sekarang pada ketika ini. maka patah pula laknat itu. maka dalam akhirat suatupun tiada hisab* kepadanya melainkan masuk syurga. Maka tentara kafir itu cerai-berrai. Maka dipaluh dengan esfingarnya* laknatullah itu.’ Lalu bertempik menyerbukan dirinya ke dalam tentara kafir itu. Lalu bertempik kedua pihak itu upama guru di atas langit bunyi tempiknya. lalu menetta. Ada pun tatkala itu datang sebuah kapal membawah kepada serri sultan Maluku ke tanah Ambon. Ia beparang tettak-menettak serta kehendak Allah ta`ala kulitnya tiada makan besi. Kemudian daripada itu mardan Totohatu ibn Zamanjadi ia bertempik. Hatta seketika juga mardan* Khatib ibn Maulana dan maradan Tahalele ibn Abubakar Nasiddik keduanya syahid. Alkissah peri mengatakan sultan Maluku demikianlah riwayatnya. masing-masing melarikan dirinya.artinya ‘patah tulang’. lalu masuk ke medan dan berbunyilah gendang. Entah berapa lagi dalam akhirat dibalaskan Allah ta`ala karena sabda nabi salla 'llahu ’alaihi wa-sallama: ‘Apabila mati Islam. Itulah manfaat orang parang sabil dalam akhirat. maka ditankis oleh laknatullah itu. pendagar parang. Hatta datang seketika lagi masuk pula ke medan. Ia masuk ke Kota Laha. maka ia naik ke darat. Namanya digantikan Tubanbesi yang mati itu. maka patah parang kafir itu. Inilah muafakat orang parang sabil dalam dunia. Maka didirikan panji-panji parang dan tentara Islam pun demikian lagi. Daripada sanngat marah hatinya kepada panjipanjinya itu.

lalu bedamai orang Hitu dan orang Feranggi. bennarkah atau tiadakah. Maka negeri semuanya itu takluklah kepadanya kafir itu. lalu ditudung pula kepada gendaga itu. Kemudian daripada parang Don Daurde itu. Ia duduk di negeri Lesiela*. Maka ia parang siang malam. Inilah tanda berteguhan ikrar dan tasdik. lalu kapal pun belayar membawah kepada serri sultan. maka raja pun tercengang tiada boleh bersuarah. karena kita sudah bedamai. Ialah memeliharakan negeri sekalian serta mengeluarkan angkatan ke tanah Hitu. Maka datang orang itu katanya: ‘Bennar juga khabar itu. Maka keempat perdana pun endak mengulang lagi.periksyai kepada khabar itu. maka kami pun terima dengan sempurnanya. demikian katanya: Dapatkah atau tiadakah kami endak menyuruh melalat kepada raja Ternate itu?’ Maka kata gurendur Feranggi: ‘Mengapa maka tiada dapat. Ia naik ke darat. Dan negeri Hitu pun pinda ke atas bukit. Hatta berapa lamanya alah pula bukit itu. Hatta lagi maka titah syah alam kepada empat puluh orang itu: ‘Pulanglah engkau bawah gendaga itu dan sampaikan salamku kepada empat perdana. Dan empat puluh orang gaggah membawah makanan serta gendaga itu di hadapan raja. Alkissah dan diceriterakan yang empunya ceritera. maka menyuruh tanya kepada gurendur Peranggi itu. Ada pun daging darahku sekali pun tiada bagai demikian ini. Maka ia langgar kepada sebuah kapal. maka datang kapitan Sanjo*. Empat puluh mata keris dimasukkan ke dalam gendaga Seran dan di atas keris itu has* sehellai dan di atas has itu sirri pinang dan bunga serta bauh-bauan.’ Lalu menyuruh melalawat* dengan tipu maslahat. maka berulang-ulang beparang di tanah Hitu. Ialah bennar syaudaraku dari dunia datang ke akhirat. betahanlah di atas bukit itu. sarangmenyarang sebagailah parang sabil Allah. Alah-mengalah. betahanlah di situ. lalu ia kembali duduk di negeri Luhu serta meneguhkan tanah .’ Lalu orang itu pulang serta gendaga itu dan sampaikan salam titah itu kepada keempat perdana. Lalu dibukah sendirinya serta pandang kepada keris itu. Maka tanah Hitu serta tanah Ambon sekalian paranglah dengan kafir laknat itu. Sehingga keempat perdana dan setengngah negeri tiada berapa itu pinda ke Tanah Besar. pagi petang tiada berkeputusan. lalu membuat kotanya di pantai Hitu. maka naik pula ke atas bukit Mamala. Ulukulu namanya. Tellah demikian itu.’ Maka keempat perdana muafakat: ‘Apa tipu kita karena janjian kita serta sumpahan?’ Lalu menyuruh kepada kapitan* Feranggi itu minta bedamai. Maka ia pun mau. terlalu ammat gaggahnya. Pada ketika itu pahlawan gimelaha* Laulata ada di tanah Ambon. Tanda kasih dan tulus serta kehendaknya itu tellah sampailah kepada kami. Hatta berapa lamanya alah negeri itu.

tetapi bulum lagi datang kepada ketikanya dan waktunya. Lalu Lalu dipepatutan: pertama Pati Lupa* lawannya perdana Tanihitumesen. lalu menyuruh gelaran Tuheasal dan Tuhelusun datang kepada hukum dan keempat perdana.’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Apabila bagai kata demikian itu. keempat perdana Pati Tuban lawannya perdana Pati Naelai. kedua Totohatu lawannya Lisakota. Tellah demikian itu dan diceriterakan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe kedua berhadapan kepada suatu majellis serta muafakat dan berjanjian. Itu bersuatuan namanya. Itulah perinta hukum Abubakar Nasiddik dan sekalian negeri pun kembali kepada hukum Abubakar dan keempat perdana. ia keduanya juga. atau kebajikan negeri Nusaniwe. tetapi suatu bangsyanya. pulanglah engkau. Hatta didengar negeri sekalian di tanah Hitu tellah datang hukum Abubakar daripada Ternate. maka ia pulang ke tanah Ambon. maka hukum Abubakar pergi mengadap kepada serri sultan di Maluku.’ Lalu ia pulang memberitahukan kepada negeri sekalian. nyiyahkan kepada kafir itu dahulu. Pada zaman itu negeri Hitu sekalian memberi kepala ikan ia upetti kepada keempat perdana. yakni tentukan perjanjian itu. Tellah demikian itu. ia keduanya juga. Daripada itulah negeri Nusaniwe ia pinda datang ke negeri Hitu. demikian katanya: ‘Negeri sekalian empunya sembah datang ke bawah kadim tuhanku. Entah apa kehendaknya titah. Ingatkah lagi rakyat tuhanku atau tiadakah lagi?’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Mengapa maka kami tiada ingat? Ingat juga. Tellah demikian katanya: ‘Sudahlah bagai kehendak tuhan-tuhan itu. maka suatupun tiada ellat sehingga melakukan parang sabil Allah daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.’ Maka menyahut pula gelaran itu: ‘Bilamana lagi tuhanku maka datang ketikanya dan waktunya? Tetapi negeri tuhanku sekalian itu sekarang inilah datang ketikanya dan waktunya melainkan tuhanku pulang dahuluh di tanah Hitu. ketiga Latuhalat lawannya perdana Nusatapi. .Ambon. Lalu dipepatutan karena negeri Hitu pun keempat perdana itu empat bangsyanya dan Nusaniwe keempat perdana juga. Suatupun tiada dengan hisab* karena tatkala muafakat itu dipersyahdakan*. maka kami percahaya. lalu dibunuh kafir yang dalam negeri itu. Apabila kasahkitan negeri Hitu. Tellah dibunuh itu. jumlahnya dualapan perdana lima bangsyanya. Hatta berapa lamanya bertambah -tambah kebajikan dan kemerahan.’ Maka hukum Abubakar dan keempat perdana pada ketika itulah pulang ke tanah Hitu. maka disampaikan kepada hukum dan keempat perdana. Nama gelaran negeri Henalale dinamai Hehahitu dan gelaran negeri Latua dinamai Hehatomi* namanya. Ia duduk kepada bukit Hatunuku.

ada yang menyarang.’ Dan suatu lagi dijanjikan juga: ‘Apabila jika orang dari sebela pihak Ulisiwa endak masuk muafakat serta negeri Hitu. keenam Ambalau. Sungguhpun namanya Ulisiwa. karena pada tatkala itu sangat parang sabil Allah di tanah Ambon. ada yang dimennang. Maka datang angkatan kafir laknat bantu kepada negeri itu. jika datang kejahatannya pun kita bersamasama. Daripada itulah maka tatkala ia bertemu kepada orang Peranggi itu. Tellah demikian itu dan diceriterakan daripada negeri Urin* dan Asilulu. kelima Sibangua. ada disarang. Asilulu suatu juga. Pun ia utusan. Itulah daripada pihak bendahara. Maka datang kepada kerabat serri sultan daripada bangsya raja: pertama kiyaicili* Cuka. tetapi dalam martabat negeri Hitu. demikian itu katanya: ‘Apabila jika datang kebaikannya pun kita bersama-sama. kelima cili Naya. lain daripada itu tiada kusubutkan. tatkala bulum lagi dinaikan kapitan laut. Ada parang di darat. Lalu melawanlah kedua angkatan itu daripada waktu duha sehingga datang kepada bakda lohor. Dan daripada pihak hamba raja pertama Kalaudi dan kedua Usman dan ketiga Kabutu Malu dan keempat Sagaluwa*. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan sekalian ini termasyhur pendagar. bersama-sama datang ke negeri Hitu. Liliboi dan Larike. sekalian keluar dengan kelengkapannya mendattangi sebuah negeri. kedualapan baginda cili Ali. Maka keempat perdana menerima kepadanya itu serta dengan berjanji-janjian. tetapi dalam pihak Ulima. Ia datang akan bendahara di tanah Ambon serta kaum gulawarganya gimelaha Haji dan gimelaha Sakatruana. Serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi sekali-kali dengan kelengkapannya dan mayitnya perdana Kakasingku* pun sabil Allah tiada kettahuan lagi. keenam cili Ici dan ketujuh cili Aya. sebagailah kedua pihak itu tiada berputusan lagi. maka dibawah kepada perdana Jamilu. ketiga cili Abu Syahid dan keempat cili Kaba. maka ia bertemu dengan angkatan Nasrani di tanjung Mamala. Maka kedua pihak . Bennar juga dalam pihak Ulima. maka datang kepada negeri Asilulu. Alkissah peri mengatakan johan pahlawan gimelaha Rubohongi. kedua cili Kodrat.’ Ada pun perjanjian ini sehingga Alan. Wakasihu dan Urin*. pun ia pergi datang berulang-ulang membawah titah sebagailah. Segali perastawa gimelaha Kakasingku* keluar dengan kelengkapannya.Itulah kesudahan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe. Lain daripada itu tiada kuceriterakan sehingga ibn bendahara: pertama gimelaha Kakasingku* dan (kedua) gimelaha Jamali dan (ketiga) gimelaha Kulabu dan keempat gimelaha Aja dan kelima gimelaha Basi dan keenam gimelaha Angsari*. ada parang di laut. ada mennang. Latu namanya. Kemudian daripada itu dan kuceriterakan.

Dan orang sekalian itu pun lari masing-masing membawah dirinya sehingga gimelaha Jamali al-Din. Laknat itu alah kepada kota Islam itu. sendirinya memeggang panji-panji serta membaca salawat. Hatta ia datang ke tanah Hitu dan orang Hitu pun keluar angkatan serta ia mendatangi negeri kafir itu. tiada berputusan berkawal-kawal kedua tentara itu. hoja* alim mahudum*: ketiganya syahid. maka patah parang Islam itu. Maka negeri ke dalam kotanya dan orang itu pun mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. Apabila datang esok harinya demikian juga. Maka dipandang oleh kafir laknat tempat itu sunyi dan kotanya itu pun tiada manusyia. Alkissah peri mengatakan parang kiyai Mas. Maka kedua angkatan itu sama bertemu di tengah jalan antaranya Hitu dan Kota Laha. lalu masuk ke dalam negeri. karena Jamali alDin itu pahlawan yang termasyhur. Itulah kesudahan parang kiyai Mas di tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Ia undur lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke negeri Hitu. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang berhadapan serta dengan hidangan karena sangat maksud Islam ke sana kepada kafir laknat itu. Hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala kepada pihak Islam itu pergi barjalan ke sini dan orang kawal itu pun serta dengan alpanya ia tidur. Dan Kalaudi pun dengan kelengkapannya masuk. Hatta datang malam masing-masing pulang kepada tempatnya. Dan panglimanya yang gaggah dalam angkatan itu Martajiwa namanya dan seorang Panarukan namanya dan seorang pula Pasiruwan* namanya. dua bersyaudara gimelaha Angsari* dan Liwa alDin. Sebab pada ketika itu baginda cili Cuka ia menjadi kapitan laut. Alkissah dan kuceriterakan yang empunya ceritera. maka pangeran menyuruh kepada kiyai Mas serta kelengkapannya. Hatta datang musim. maka ia syahid serta kelengkapannya pada ketika itu juga. maka ia bertemu kepada kafir laknat itu. Maka panglimanya yang gaggah itu syahid. Tatkala perdana Tubanbesi belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangngeran minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian jualbeli. Lalu bertempik kedua pihak itu seperti datang tofan bakilat-kilat dan . Maka angkatan itu sekalian kembali masing-masing ke negerinya. lalu ia masuk. Daripada itulah maka tiada berpaling apa tipu orang banyak serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi daripada kesudahan hidup manusyia dalam negeri fanah datang kepada negeri yang baka. sekali perastawa keluar angkatan Islam mendatangi negeri kafir dan angkatan kafir pun keluar. maka ia belayar kembali ke tanah Jawa. ketiganya pendagar parang.

Itulah hal parang sabil Allah. Kemudian daripada itu datang pula angkatan itu ke tanah Hitu. ketiga orangkaya Watimena dan raja Rosengaing*. Ada pun dalam angkatan kafir itu pun demikian juga luka dan mati. maka dilanggar sebuah kapal. kedua kapitan Atijauh. ia meninggal sendirinya pulang ke negeri Hitu. maka baginda kiyaicili pun syahid. Segali . Maka negeri Bandan* sekalian keluar angkatan ke tanah Hitu. makan-minum bersukasukaan. Dan angkatan Ferangi pun keluar sama bertemu di pantai Kota Laha. tetapi tiada masyhur parangnya itu. Kemudian daripada itu pergi alah kepada negeri. hulubalang Pati Lihat namanya.bunyi senjatanya diupamakan guruh dari atas langit dan asapnya senjata itu menjadi awan antara langit dan bumi. Hatta hilang awan itu. itu bukan dialah oleh Ferangi. lalu patah parang kafir itu dan angkatan Islam itu kembali serta kemenangannya. lalu undurlah keduanya angkatan itu. Itulah kesudahan tanah Bandan* datang ke tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. maka ia kembali ke negeri Hitu. daripada ajal itulah meneguhkan hati manusyia serta memberikan kesudahannya. Asapnya itu menjadi awan menudung kepada kedua angkatan itu tiada berkenalan. lalu undurlah kelengkapan Islam itu kembali dengan dukkacittanya. Dan parangnya itu daripada waktu duha sehingga datang kepada waktu asar . Hatta terbit fajar kepada bakda subuh keluarlah kedua pihak angkatan itu berlawanlah dan bunyi senjata itu tiada dapat dikatakan. maka melawanlah kedua angkatan itu. Entah berapa aluannya. tebakar oleh api obat bedil sendirinya. Ada pun pada ketika itu ada juga suruan pangeran. Masingmasing pulang kepada tempatnya. Ia membuat kota di pantai sebelah berhadapan kota Ferangi. Itu pun tiada juga jadi kota. Hatta datang musim. Islam pun dukacitta hatinya dan Nasrani pun demikian lagi. lalu pulang ke tanah Bandan. Tuhahan* namanya. Maka didapat oleh kafir laknat itu. tetapi penghulu yang besar dalam angkatan itu pertama kapitan Falat. Hatta lama dengan lamanya sebagai juga tiada berputusan parang sabil Allah. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala sebuah kelengkapan Islam. Dan daripada orang luka dan mati itu tiada kuceriterakan. Hatta berapa lamanya datangnya itu dan negeri Hitu pun keluar angkatan serta dia bersama-sama mendatangi kafir laknat itu dan kafir itu pun keluar angkatan. Hatta dengan ajal Allah. Alkissah dan kuceriterakan oleh yang empunya ceritera sekali perastawa orang Hitu keluar dengan kelengkapannya. Sehingga datang musim ia pulang. Alkissah dan kuceriterakan johan pahlawan Tahalele ke tanah Bandan*minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Pada mati dan luka itu tiada dikira-kirakan lagi.

sehingga inilah dimasyhurkan sangat parang kafir di tanah Ambon. sehingga Jumat pahlawan al-Din ada.keempat Pati Baraim. kedua hulubalang Hasan Pati. ketujuh pendagar Nahoda. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. sungguh pun disubut tanah Ambon. Kehendak kafir itu menggagahi akan mayit bendahara itu. maka ia bertankis-tankisan dengan perisainya serta undur datang kepada air sehingga lututnya. kelima Umar pendagar. pahlawan al-Din. kedua kapitan Sanco*. keenam Mahir pendagar. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Rubohongi ia pulang ke rahmat Allah meninggalkan negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Sebab itulah maka dikatakan tanah Hitu di belakang perisyai dan Tanah Besar di dalam perisyai. Dan kuceriterakan hulubalang kafir laknat itu pertama Don Duarde. kedualapan pendagar Nasiela -. Masing-masing lari terjung ke dalam air berenang kepada tempatnya sehingga hulubalang Sulaiman: maka ia tiada paling mukanya. ketiga Paulo Kastanya dan Dan Tamura dan Dirgurumaridisi dan Siku Kisua dan Don Disera* dan Fernando Melo* dan Antoni Laliru. lalu ia keluar angkatan. ia masuk parang kepada tentara kafir itu. ketiga hulubalang Hatib Tunsulu.pertama Ulu Ahutan. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. maka hulubalang Ulu Ahutan ia becakap di hadapan orang sekalian: ‘Jangan dahulu orang keluar. Itulah sangat parang sabil Allah di tanah Hitu.’ Lalu ia bertempik ke dalam tentara kafir itu serta menettak. biarlah aku sendiri keluar dahulu. Itulah parang sabil di tanah Ambon. tetapi tanah Hitu juga parang siang dan malam tiada berputusan.hulubalang yang termasyhur dalam tanah Hitu. Kadang-kadang Tanah Besar masuk kepada parang. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. tuhan-tuhan sekalian keluar. Lalu ia menyerrang kepada negeri Hitu. sebab sudah dipindahkan ke Tanah Besar. maka patah parang laknat itu.perastawa keluar angkatan kafir laknat itu serta orang Tidore dan orang Buru mendatangi di negeri Hitu dan orang Hitu pun harkat menanti di pantai. Tatkala pada zaman itu alah menang sama kedua pihak itu. tetapi tiada dapat lagi. Karena tatkala zaman parang itu hulubalang dan pendagar ada semuhanya -. Lain daripada itu tiada kusubutkan melainkan Jumat. Tatkala itu sekalian hulubalang serta pendagar semuanya tiada. Apabila tiada patah orang itu. tetapi ia dalam uzur. Maka pada ketika itulah perdana Kapitan Hitu memagang senjata. Hatta seketika juga patah parang kafir laknat itu. Kuceriterakan menang Islam kepada kafir itu: sekali alah . Ialah yang termasyhur pendagarnya dan terlalu amat gagahnya daripada sekalian. Hatta datang angkatan itu lalu turun. Maka dihabarkan orang kepada kafir laknat itu.

kedua sebuah di pantai Hitu dan ketiga sebuah serta angkatan Bandan* dan keempat langgar kepada pinsu* dan kelima langgar kepada antonibot*. Kemudian daripada kapal belayar itu. yakni syaudagar yang besar lagi artawan. termasyhur dalam negeri Wolanda. maka orang Hitu bayar empat ratus bahara kepada Wolanda. lalu ia belayar pulang ke negeri Holandes menyampaikan katahan itu kepada orang besar2 dari negeri Holandes. Apabila alah kepada kapal. Dan menang kafir kepada Islam pun demikian lagi. dan orang putih itu kepada orang Wolanda. Dan kuceriterakan yang empunya ceritera. Maka ia berhadapan kata serta keempat perdana dan berjanjian apah upahan dan berputusan barang kerja: apabila barang sesuatu perbuatan.’ Maka kata keempat perdana: ‘Jika bagai kata demikian itu. tetapi menyuruh sampai kepada Prings* dan orang besar2 di negeri Holanda* supaya boleh dengar kepada dia empunya pekatahan. lalu belayar ke negeri Wolanda menyampaikan berjanjian berputusan kata sekalian itu kepada Prings vin Nyuranye* dan orang besar2 dalam negeri Murucisa*.sebuah kapal di tanah Bandan. Tatkala belum lagi datang Furtado itu.’ Tetapi keempat perdana tiada mau. Dan enam orang dinamai ‘graf*’. Ia masuk ke Hitu. Ada pun kotanya dan senjatanya dan orangnya hitam itu kepada orang Hitu. Hatta datang musim barat kapitan amiral Kurnilis* [dan] Istin Warhaga* pun datang. Kapal serta senjatanya dan orang putih kepada Wolanda. jika salah kepada adat jangan dikerjakan kepada dua kaum itu. maka kapitan Peranggi menyuruh kepada keempat perdana. demikian katanya: ‘Marilah kita bedamai dan bebaikan dunia tanah Ambon. Maka ia pulang. lalu masuk ke Kotah Laha periksai kepada kotah Feranggi itu. Tellah demikian itu. karena ia ingat kepada perjanjian dengan amiral Istiwin . maka orang Hitu tanya kepadanya:‘Darimana datangmu dan apah nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Kami datang dari negeri Hollandes* dan nama raja kami “Paringsi*”. maka datang sebuah kapal Wolanda. atau kamikah datang ke sana atau menyuruhkah datang ke mari?’Serta dengan kiriman tanda alamat tanah Ambon. maka bayar empat puluh bahara. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. Bagaimana kehendaknya Prings dan orang besar2. karena parang sabil di tanah Ambon itu tujuh puluh tahun daripada parang Don Duarde sehingga datang parang Antoni Furtado*. bolehkah atau tiadakah. ialah empunya kapal syaudagar yang datang ke tanah bawah hangin ini.sampaikan dahulu kami punya pekatahan ini. orang hitam kepada orang Hitu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bolehkah kami minta armada tolong kepada kami?’ Maka kata orang itu: ‘Mengapah maka tiada boleh? Boleh juga. Dan diperjanjikan upahan: apabila alah kepada kotanya.

Daripada tiada mau mengubah janjinya. Maka keempat perdana menyuruh kepada Mihirjiguna ibn Kapitan Hitu dan mardan Sibori ibn Tubanbesi keduanya naik kepada kapal itu mendapatkan angkatan. Hatta datang ke tanah Jawah. sehingga keempat perdana juga pinda ke Tanah Besar. lalu ia mendatangi negeri Hitu. Kambelo itu pun alah juga semuanya. Hatta berapa lamanya alah gunung itu. keluar dari negeri Murucisa* dan empunya angkatan ini Prings van Nyuranye* dan penghulu dalam angkatan ini amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*. Maka bertemu dua buah kapal Wolanda dan ditanya kepadanya: ‘Mana kapitan-mor*?’ Maka ia menyahut: ‘Kapitan-mor ada di tanah Bandan. datang pula sebuah kapal ke tanah Ambon kepada empat perdana. Alkissah peri mengatakan datang Furtado. Portugal namanya.Hatta seketika juga patah parang kafir.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Endak ke mana?’ Maka ia menyahut: ‘Mencari kepada musuh kami.’ Lalu Kapitan Hitu belayar ke tanah Bandan. Lalu ia mendatangi negeri Iwa* dan orang Iwa* pun keluar berparang dia. maka ia naik barparanglah di sana.maka negeri sekalian takluk kepadanya. sebab dilontar dengan batu oleh negeri itu kennah kepala kapitan Furtado. Itulah halnya orang berjanjian. lalu belayar dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Ambon. maka Mihirjiguna dan mardan Sibori bertanya kepada angkatan itu. yakni negeri Luhu. Maka kuceriterakan keempat perdana pinda ke Tanah Besar itu. Maka Kapitan Hitu naik kepada sebuah perau pergi mencari bantu sehingga ke Seran. Maka kafir itu mendatangi negeri Luhu dan Lasidi*.’ Maka menyahut menyahut pula kata Mihirjiguna itu: ‘Apabila jika . Demikianlah parang Antoni Furtado* di tanah Ambon sehinggalah perangnya. Hatta datang musim barat. lalu peranglah kedua pihak itu tiada berputusan sehingga datang Furtado.Warhaga* itu. Hatta berapa lamanya angkatan pun datang. Maka dinaikan empat orang mengikut kapitanmor itu. karena musuh itu ada di tanah Ambon. dan perdana Tanihitumesen ia duduk di negeri Anin dan perdana Pati Tuban ia duduk di negeri Waibuti dan perdana Nusatapi ia duduk di Gamusungi. lalu undur pulang ke Kota Laha. Dan negeri Hitu pun pinda ke gunung Pinau*. maka ia bertemu dengan kapitan Wolanda itu dan keduanya berhadapan kata dan bicara. Lalu dibawah kepada perdana Tubanbesi dan orangkaya Patiwani kepada kafir laknat itu. demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini dan siapa empunya angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun angkatan ini angkatan Wolanda.’ Maka kata pula Mihirjiguna dan mardan Sibori: ‘Marilah sama kita ke tanah Ambon. Ada pun tatkala datang Furtado serta kelengkapannya. maka ia menanti sehingga datang sama negeri Banten.

mengapah maka kami keluar dari tanah ini?’ Maka kata amiral:‘Bukan engkau empunya tanah.’ Telah demikian itu.’ Maka kata Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Jika bagai kata amiral itu.demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Angkatan ini dari negeri Wolanda. Maka diberinya perau. tetapi kita mengambil kota ini seperti kita mengambil isteri orang.’ Maka kata kapitan Feranggi itu: ‘Mengapah maka kata demikian? Karena kami empunya negeri ini.’Lalu dinaikan Firdirik Hutman* gurendur di kota Ambon. Hatta datang pagi hari dikeluarkan anak kunci itu diserahkan kepada tangan amiral. lalu ia diam dirinya. lalu belayar serta Mihirjiguna dan mardan Sibori ke tanah Ambon.’ Maka kata amiral dan Istiwin Warhaga*: ‘Bennar juga kata itu. lalu keluar duduk di luar. Apabila jika alah kepada kapalnya. maka kita melawan dengan dia.’ Lalu Mihirjiguna keluarkan surat perjanjian itu kepada amiral Matelif*dan Istiwin Warhaga*. Maka amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* pulang serta angkatannya menyampaikan khabar kepada Frings* dan orang besar2 dalam negeri Wolanda. lalu ia belayar pulang ke negerinya.dengan faedahnya. tetapi barang kerja kota atas orang hitam. maka kapitan Feranggi menyuruh datang tanya kepadanya. Itulah kerjakan dia. lalu masuk kepada labuan kota Feranggi itu. Hatta datang itu. karena tanah ini ada yang empunya. dan orang hitam kepada orang Hitu dan artanya itu bahagi dua. maka kami bersama-sama ke tanah Ambon. Tellah demikian itu maka kata amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* kepada Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Betapa kota ini?’ Maka kata Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya: ‘Baik juga kita rusakkan kota ini buan ke laut.’ Lalu dikeluarkan kepada Mihirjiguna dan mardan Sibori di hadapan. Hatta datang musim barat. maka kami beri empat ratus bahara cengkeh. Maka dibaca surat itu.’ Lalu katanya kepada kapitan Feranggi itu: ‘Keluar engkau dari tanah ini. Ada pun kapalnya serta senjatanya kepada Wolanda dan orang putih serta kapalnya.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Diiakanlah jika bagai kata demikian itu. datang . ada pun orang Wolanda sehingga perintahkan dan mengaraskan. Ada pun bunyi dalam surat itu. Ada pun kotanya serta senjatanya kepada orang Hitu dan orangnya hitam itu pulang kepada hitam dan orangnya putih itu pulang kepada putih. hatta datang kepada hari dan ketika yang baik. baiklah Wolanda duduk kepada kota itu. Apabila datang cari kepada isterinya. lalu diam kapitan Feranggi itu tiada berkata-kata lagi. maka beri empat puluh bahara. demikian buninya: ‘Apabila alah kotanya itu. Sudah ia berikan kepada kami dan ia pun ada pada kami. bagaimana tempat kita jawab kepadanya? Ada pun tempat kita itu melainkan dengan kota.

apatah kehendak amiral itu? Katakanlah. Moga2 dengan kehendak Allah ta`ala dan berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu pulang. maka kita berilah salah. demikian katanya: ‘Tellah sudah selamat tanah Ambon daripada bahaya. Maka menyuruh panggil kepada kapitan serta keempat perdana Hitu. maka kami mau ke Ternate. sehingga .’ Lalu berkata: ‘Apabila angkatan itu ia mau tolong kepada negeri Ternate. apabila kembali rayat semuanya dan negeri Ternate pun tettap. itu upahnya atas tanah Hitu.’ Maka kata amiral: ‘Yang tellah sudah itu apa betapa disubut lagi?’ Maka kata kiyaicili dan gimelaha: ‘Jika bagai kata demikian itu. maka diiakanlah kapitan sekalian itu. tiga buah negeri itu kami minta. masuk ke Kota Laha. Lalu kata gimelaha dan kiyaicili: ‘Marilah kita pulang dahulu. Pada ketika itu. ia mengikut kepada amiral belayar ke Maluku. insya Allah. tiada beri salah. Dan Kapitan Hitu pun becakaplah di hadapan orang sekalian itu. Unus Halaene namanya. Marilah kita ke Maluku tolong kepada negeri Ternate.pula angkatan itu ke tanah Hitu.’ Maka diberikan anak Kapitan Hitu.’ Tellah demikian itu maka gimelaha dan kiyaicili katakan kepada amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* dan kapitan sekalian dalam angkatan itu. Lalu kata amiral: ‘Berilah anak Kapitan Hitu ikut kepada kami supaya kami sampaikan kepada Prings dan orang besar di negeri Wolanda. Maka kata Kapitan Hitu. Maka datang baginda cili Ali dan gimelaha Aja dan hamba raja Ambalau minta kepada amiral. maka kembali negeri Ternate serta dengan kerajaan. melainkan hasil datang dari tanah Ambon.’ Maka kata baginda cili Ali dan gimelaha Aja: ‘Apatah lagi manfaat? Karena Kapitan Hitu mengatakan upahan itu kami semuanya di situ. sudah tiada kurang kepada hasil masuk negeri Ternate kepada hari yang kemudian itu. Apa tipu kita sekarang ini?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun sudah rusak negeri Ternate serta dengan arta isi rumahnya habis dirampas oleh kafir itu. esok hari maka kita berkatakata’.’ Maka kata kiyaicili Ali dan gimelaha dan hamba raja:‘Mana tiga negeri itu?’ Maka kata amiral: ‘Negeri Luhu dan Lesidi dan Kambelo.’ Maka gimelaha dan kiyaicili tiada mau kepadanya dan amiral pun endak juga kepadanya. Dari mana akan datang ganti isi astanah raja? Karena rakyat sekalian wa-'llahu a`lam dalam kesukaran.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Berilah hasil tiga negeri itu kepada kami. supaya kami dengar. maka kata baginda cili Ali kepada gimelaha dan orangkaya-kaya semuanya: ‘Apa tipu kita karena negeri Ternate dalam kesukaran?’ Maka ia saat*: ‘Endak kepada hasil tiga buah negeri itu.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* menyahut amiral keduanya: ‘Jika dengan manfaatnya maka kami mau ke Maluku.

Gerat Rangsi* namanya. Maka dinaikan Yangseper Yangsi* akan gurendur sehingga tiga tahun. maka datang amiral. serta kelengkapannya. daripada itulah menyuruh periksai kepadanya.datang ke Ternate. Tatkala itu datang jeneral. Maka didirikan kota di negeri Melayu. lil* Allah [fi] 'l`alamin akan kerajaan dan diturunkan gurendur serta soldadunya duduk menunggu kota. Simon Hun* namanya. tembak-menembak kedua kaum itu. supaya kami menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo. Ia datang dari Betawih. Maka kata perdana Kapitan Hitu kepada jeneral dan gurendur: ‘Sabar dahulu. Maka kata gimelaha Syabidin: ‘Mengapa maka tanya kepada beta lagi? Karena beta sudah keluarkan dia dari negeri Luhu. Jika tiada mengikut. Maka sekalian rakyat pun kembali ke negeri Ternate dan dinaikan serri sulthan paduka Mudafar ibn Sa`id al-Din syah. lepas taksir kita. Hatta berapa lamanya. lalu pindah . dari Maluku datang ke Ambon. karena tempat duduk Ingeris itu tanah raja Ternate dan negeri Kambelo itu pun rakyat raja Ternate. al-hamdu li-'llah. lalu menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo kata yang kebaikan dan kebenaran. tetapi serta adil kepada jeneral. Iapun demikian juga murahnya dan pada ketika itu gurendur Hutman* pun belayar karena lamanya gurendur Hutman* enam tahun ia duduk. Pada zaman itu negeri Luhu dan Kambelo menerima kepada orang Ingeris. Lalu belayar angkatan itu membawah kepada Unus Halaene ibn Kapitan Hitu dan anak raja Nusaniwe dan anak orangkaya Lakatua dan anak orangkaya Natahuat* ke negeri Wolanda. Piter Bot* namanya. Kemudian daripada ia itu maka datang pula amiral. ’Tellah demikian itu. Maka mengikutlah ia. bebaikan kita serta dia.’ Maka diiakanlah jeneral dan gurendur kata Kapitan Hitu demikian itu. maka jeneral Gerat Rangsi dan gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh memagang senjata endak melanggar kepada negeri Kambelo. karena gimelaha itu mangkubumi di tanah Ambon. pasang-memasang. tiada beta mengetahui duduknya itu. Maka gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh serta kelengkapannya masuk ke pantai Kambelo suruhnya Ingeris itu keluar.mengantarkan kepada Unus Halaene. Maka kedua pihak sama petuguhnya. maka datang jeneral Gerat Rengsi* dan perdana Kapitan Hitu menyuruh kepada gimelaha Syabidin*. Mana kehendak jeneral itu kerjakan. apatah dayah. Ia itu banyak kasihnya akan artanya kepada orang serta dengan empenak supaya menjadi jinak sekalian orang Ambon. ia duduk di negeri Kambelo. Maka sekarang ini ia duduk di negeri Kambelo. Apabila ia mengikut. lalu ke Bandan. lalu ke Maluku. Itulah beta taksirkan dahulu. ia tiada mau. dari Bandan* datang ke Ambon pula. Dan kuceriterakan tatkala gurendur Hutman* itu.

’ Lalu ia menyuruh ke Ternate dan menyuruh ke Betawih. Hatta datang musim barat maka maka datang kapitan Warhaga. karena gurendur itu itu sangat bengis. Maka Kapitan Hitu bawah kepada kipati Lesibata. Hatta berapa lamanya. Hatta lama dengan lamanya sehingga datang kepada tahunnya. maka gurendur dan menyuruh kepada paduka seri sultan di Ternate. lalu ia pulang dan dinaikan Herman Aspel* akan gurendur ganti kepada Aren Bulok*. ia bedamai dengan gurendur. tawar-menawar dengan orang Wolanda. karena ia tiada hilang belanjanya. maka kita lakukan bagai titah itu. Daripada ia memulai parang di tanah Ambon. Maka dinaikan Aren Bulok* akan gurendur ganti kepada Yangseper Yangsi*. Maka kata Kapitan Hitu kepada kedua pihak itu: ‘Apa kerja berkellai? Baik juga gurendur menyuruh belayar ke Betawih kepada jeneral menyampaikan kata orangkaya-kaya itu. Alkissah peri mengatakan tatkala Herman Aspel* ia akan gurendur itu. Demikian kata gimelaha dan orangkaya-kaya sekalian: ‘Minta seratus harga sebahara. ia serta gimelaha Syabidin mengalah kepada negeri itu. kedua berkellahi dengan negeri Lesibata. lalu dibunuh kepada Inggeris dan Jupun semuanya. maka suatupun tiada fitna dalamnya. Dan apa kata jeneral itu. endak berkellai kedua pihak itu. maka jadi fitna. Pada ketika itu ada suatu fitna. lalu ia belayar pulang ke Betawih dan gurendur Aren Bulok* duduk di kota Ambon. Pertama berkellahi dengan negeri Hutumuri. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala datang suatu bala Allah. maka berparanglah dengan negeri Nasrani yang takluk kepadanya itu.’ Maka kata orangkaya-kaya: ‘Berilah delapan puluh.ke pantai Eran* dan orang Wolanda pun masuk ke dalam negeri itu dan orang Inggeris pun keluar naik kepada kapalnya. maka suatupun tiada hisab* lagi. lalu belayar pulang ke negerinya.Orang Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda. Segali perastawa tanah Ambon semuanya serta gimelaha berbantahkan harga cengkeh. Mengapah maka minta delapan puluh daripada kami banyak arta keluar?’ Maka kata orang Ambon: ‘Mengapa maka gurendur kata demikian? Karena gurendur banyak arta hilang itu ada dengan hasilnya. Betapah kehendak titah itu.’ Maka kata gurendur: ‘Betapa kami disamakan dengan Inggeris. . Mengapa maka kata demikian itu?’ Lalu orang Ambon tiada keluarkan cengkeh.’ Maka kata gurendur: ‘Enam puluh harga sebahara. Mengapah maka ia disamakan kami. maka kedua kaum muafakat serta bersakutu bandar Wolanda dan Inggeris itu. maka Kapitan Hitu bedamaikan dia. serta kotanya maka diketahui oleh Wolanda. Leitimol* namanya. karena kami banyak belanja hilang kepada soldadu dan marinero* membuat kota.Maka jeneral dan gurendur pulang ke Kota Laha.

Ada pun daripada titah seri sultan di Maluku demikian bunyinya: ‘Bahwa sesungguhnya tanah Ambon itu takluk kepadaku. beta minta kepada orangkaya-kaya sekalian keluarkan tujuh real upamakan harga makanan soldadu.’ Maka kata fetor: ‘Tengah tujuh puluh. maka cengkeh itu hargakan lagi atau kurang lagi . baik dan jahat. tetapi kepada artanya itu mana kehendaknya tiada kepadaku. karena benyagaan itu sama sukah keduanya.’ Itulah kesudahannya daripada titah. atas kepada fetor semuhanya.’ Itulah kesudahannya. Maka betapa tipu orangkaya-kaya semuhanya kepada titah itu.’ Maka kata gimelaha: ‘Berilah tujuh puluh. karena banyak datang Kastila ke Tidore.’ Maka kata fetor kepada orangkaya gimelaha: ‘Betapa harga cengkeh ini?’ Maka kata orangkaya gimelaha: ‘Bukan aku empunya cengkeh.’ Maka fetor pun mau dan orangkaya-kaya sekalian pun mengikut kata gimelaha itu.’ Maka diiakanlah orangkaya-kaya semuhanya kepada kata gurendur itu enam puluh tujuh real. Itulah keputusan harga ce ngkeh dan negeri sekalian pun keluar cengkeh timbang kepada fetor.’ Lalu kata orangkaya-kaya: ‘Berilah tengah delapan puluh. Maka disampaikan surat itu kepadanya. Yang empunya cengkeh itu orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon. Tellah demikian hatta datang kepada tahun yang lain. tujuh puluh harga sebahara cengkeh. Jikalau mau. Kemudian kata gurendur: ‘Sudah putus tujuh puluh. Karena surat dari Betawih demikian katanya: ‘Ada pun kepada bicara yang lain. Apabila alah kepada Kastila dan Tidore atau bedamai dengan dia. Tatkala itu jeneral Lurinsu Riyal* dan amiral Astiwin Warhaga* pun datang serta kelengkapannya delapan buah kapal.surat dari Betawih dan titah dari Ternate pun datang. tetapi beta minta kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya-kaya semuhanya enam puluh tujuh. Tiga real itu akan harga siri pinang soldadu. maka kata jeneral: ‘Ada pun beta ini endak ke Bandan. maka atas kepada jeneral. ’Maka diiakanlah orangkaya sekalian tanah Ambon serta dengan janjinya. seperti membuat kota atau berkellai atau kurang kuasa barang sesuatu. demikian katanya: ‘Enam puluh pada harga sebahara cengkeh itu. Jikalau kepada benyagah Ambon itu atas kepada gurendur dan fetor* semuhanya di tanah Ambon. sehingga dalam berkellai ini. tetapi surat dari raja dan gurendur dari Ternate minta bantu ke sana.’ Maka kata gurendur: ‘Bukan aku. Maka kata orang sekalian: ‘Jika bagai kata titah keduanya itu. datang utusan dari Ternate minta bantu kepada gurendur. atas kepada gimelaha dan gurendur memutuskan harga cengkeh ini. Maka semuhanya dengan Wolanda pun berhimpun di pantai Luhu memutuskan harga cengkeh itu.

karena tanah Boano itu tanah raja dan orang itu pun rakyat raja Ternate. karena ia perdana yang besar dalam negeri Ternate. susunya bagai susuh perempuan.karena kesukaan dan keadaan itu tiada berapa dalamnya. maka ia membuat suatu fitna kepada sengaji* Boano. beta damaikan dia dengan gurendur. Sungguhpun besar tubuhnya itu tetapi kuat.’ Lalu gurendur serta angkatannya mendatangi negeri Boano. lalu jeneral belayar ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. Dan negeri sekalian pun dengan kesukaannya serta dimulianya. lalu menyuruh kata kepada sengaji dan orangkaya semuhanya keluar. melainkan melakukan kebaikan dan kebenaran serta kesukaan dunia dan tiada mengirangirakan hari yang kemudian. Itulah kita taksirkan kepada gurendur. Tellah demikian itu datang johan pahlawan gimelaha Hidayat. Jikalau mau keluar. Tetapi daripada ia endak kejahatan itu. Alkissah peri mengatakan tatkala gurendur keluar dengan angkatan. demikian katanya: ‘Betapa perbuatan sengaji Boano demikian itu?’ Maka kata perdana gimelaha: ‘Ada pun perbuatan sengaji itu kami tiada mengetahui kepadanya. Ia .’ Tellah demikian itu. Maka beta minta kepada gurendur sabar ahulu. maka Kapitan Hitu dan gurendur serta orangkaya sekalian menghukumkan kedua pihak itu.’ Maka diiakanlah oleh kedua pihak itu serta disuratkan dalam kertas tatkala disuratkan itu di pantai Gamusungi di hadapan jeneral dan amiral dan perawara sekalian daripada pihak Nasrani dan hadapan mengkubumi gimelaha Syabidin dan perdana sekalian perwara di tanah Ambon serta Kapitan Hitu daripada pihak Islam itu. maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur: ‘Ada pun gimelaha itu tiada bicarakan.daripada enam puluh itu atau lebihkan lagi daripada enam puluh itu. Maka suatupun tiada lagi fitna pada kedua pihak itu karena sudah keputusan kata yang baik dan jahat. lagi ia alim dan tiada orang besar tubuhnya bagai dia dari Maluku sehingga datang ke Ambon. Ia datang tanya kepada perdana gimelaha. apahtah daya? Lapas taksir kita kepada sengaji dan orangkaya-kaya dalam negeri Boano. apabila jika ia tiada mau. beta menyuruh kata kepada sengaji. Maka gurendur serta angkatannya pulang ke Kota Laha dan Kapitan Hitu serta kelengkapannya pulang ke negerinya. Maka suatupun tiada fitna lagi. lagi johan pahlawan. Alkissah peri mengatakan serta kuceriterakan tatkala perdana gimelaha Hidayat keluar serta angkatan datang ke tanah Ambon. Itulah kesudahan harga cengkeh pada ketika itu. yakni sudah di luar perjanjian. Yang benar itu dibenarkan dan yang salah itu disalahkan serta didamaikan kedua kaum itu dengan kebajikan. karena fitna itu tiada subut lagi. sehingga ditaksirkan juga. lagi ia hukum dalam negeri Ternate. Melainkan dengan adil gurendur.

Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. Tellah demikian itu. melainkan suatu kata kami minta kepada orangkaya-kaya. maka masuk di pantai Lontor.’ Maka kata jeneral: ‘Bukan kami minta bedamai. ialah memutuskan. kita ikutlah. sehingga enam orang juga mengikut dia. tanya kepadanya maukah bedamai atau tiada maukah. lalu masuk kepada negeri Salamah berhadapan serta orangkaya-kaya tanah Bandan* semuhanya. Ada pun pada tatkala itu barang hukum daripada zaman yang tiada boleh putuskan orangkayakaya sekalian di tanah Ambon itu. Hatta datang angkatan itu antaranya laut Puluh Suanggi* dan Gunung Api. yakni sakit.membuat ibadat. Baiklah kita tolong kepadanya dengan pekatahan. Apabila jika tiada boleh. torompetanya* dan himpunkan soldadu serta dengan senjatanya. tiada pulang ke negerinya lagi. Kemudian daripada itu datang jeneral Pitir Eskun* serta angkatan masuk ke Kota Laha. apahta daya? Karena pekerjaan itu pekerjaan yang benar. jika boleh.’ Lalu Kapitan Hitu naik kepada angkatan itu. Ia belabu sehingga datang labuan Komber. Serta ajal Allah. tetapi ihtiar dahulu kepada budi akal kita. upama terbit matahari cahayanya menarangkan yang adanya. Maka Kapitan Hitu tanya kepada jeneral: ‘Endak ke mana angkatan ini?’ Maka kata jeneral: ‘Endak ke Bandan* berkellai. Maka pada ketika itu tanah Ambon dalam hukum Hidayatullah. Kemudian anak orangkaya-kaya tiga puluh orang serta Unus Halaene ibn Kapitan Hitu naik kepada kapal Inggeris ikut belakangnya. kami endak berkellai juga. maka didirikan tunggulnya sekalian kapalnya itu serta bunyi tamburunya*. hatta berapa antaranya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Syabidin pun uzur. Daripada itulah termasyhur nama johan pahlawan hukum Hidayatullah di tanah Ambon.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa tipu kita kepada tanah Bandan? Karena tatkala kita berparang dengan orang Feranggi ia tolong kepada kita. daripada ia mengatakan hukum itu serta dengan hukum Allah.’ Maka Kapitan Hitu naik. Daripada beta ingat tanah Bandan* dan tanah Hitu daripada zaman dahulukala. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sabar dahulu. demikian katanya: ‘Ada pun beta ini bukan disuruh oleh jeneral. Tetapi daripada kehendak Kapitan Hitu demikian itu. Lalu ia berkata kepada orangkaya-kaya. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. maka wafatlah perdana gimelaha pulang ke rahmat Allah. Sudah kita tolong dengan makanan tiada sampai. taat siang malam tiada berputusan mengaraskan agama Islam. tiada dapat kita tegah kepada perbuatan itu. supaya jangan menyasal kepada hari yang . kita masuk kepada orangkaya-kaya tanah Bandan. Maka beta tolong dengan makanan tiada boleh.

tetapi kita menyuruh juga kepadanya menyampaikan perjanjian kita itu. maka kami katakan kepada orangkaya Kapitan Hitu dengan jeneral. jangan kata kita dibebohonkan. artinya kata itu sudah lengkap karena perbuatan manusyia itu serta dengan harkat.’ Maka kata orangkaya-kaya tanah Bandan* kepada Kapitan Hitu: ‘Baiklah. maka dilihat oleh Kapitan Hitu dari kapal. Daripada itulah periksai kepada orangkaya-kaya empat perkara ini. ada sakit sedikit. lalu Kapitan Hitu pulang ke kapal. Tetapi apa kehendak orangkaya-kaya katakan juga kepada kami.’ Maka kata orangkaya-kaya semuhanya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu. maka ia berkata kepada jeneral: ‘Kita dengar orang Bandan* bicara dalam negeri: “Kita berhimpunkan orang serta senjata menanti di pantai.’ Tellah demikian itu maka kata jeneral kepada Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata ini. apabila di mana kami bedirikan tunggul putih. Pada malam itu datang seorang daripada negeri Bandan. di sanalah kami menanti. supaya ia pulang. supaya kami himpunkan orang sekalian. pulang dahulu. keempat makanan. apatah lagi?’ Lalu pulang orang itu menyampaikan kata itu kepada orangkaya Kapitan Hitu dan jeneral. maka orangkaya datang di sana. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sudah lepas . artinya dusta. karena perbuatan ini sudah ia membunuh kepada kami orang banyak. Jika bagai kata orangkayakaya demikian itu. Tetapi kehendak Allah ta`ala itu siapa mengetahui?’ Maka menyahut pula orang yang disuruh itu: ‘Daripada itulah maka dikira-kirakan.’ Tellah kata demikian itu. benar juga orangkaya kata kepada empat perkara itu. Dalam dua hari. Ia masuk kepada Wolanda.’ Maka kata Kapitan Hitu ialah kata jeneral itu: ‘Kita tiada turun kepadanya. supaya kita dengar apa kehendaknya itu. apatah lagi dinantikan? Jika kurang lagi suatu perkara daripada empat itu. kedua senjata. tetapi kami parang dengan Wolanda ini bukan sekarang. pertama negeri.bebaikan dahulu dengan dia. ketiga manusyia. Kita pun lengkapkan kepada empat perkara itu. Apabila jika datang Kapitan Hitu dan Wolanda itu kita pagang semuhanya.kemudian. maka tiada ia turun.’ Maka kata orangkaya-kaya kepada Kapitan Hitu: ‘Apa2 empat perkara itu?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun empat perkara itu. sudahkah lengkap atau bulum lagikah. lalu menyuruh turun kepada orang itu. didirikan tunggul putih di pantai. Maka ia tanya: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka suruan itu menyahut: ‘Ada pun Kapitan Hitu minta ampun daripada orangkaya-kaya sekalian. Kemudian apa2 barang kehendak kita itu katakan kepadanya”.’ Hatta datang kepada janjinya. jangan lagi Kapitan Hitu turun ke darat. maukah atau tiadakah. Selamanya parang kami sahingilah* empat perkara itu. Apabila jika sudah lengkap.

Hatta terbit matahari. supaya kita lihat perintah parangnya itu. Maka sekalian kapitan serta orang banyak itu pun pulang kepada kelengkapannya dan jeneral pun pekatahan yang diperjanjikan kepada panglimanya itu semuhanya dikerjakannya. Pugel* namanya. maka diberinya minum arak pada tempat minuman prings.’ Maka seorang kapitan. Beramai-ramaian parang kedua pihak itu daripada waktu duha sehingga datang asar tiada boleh alah. mana kehendak jeneral itu?’ Maka kata jeneral:‘Esok pagi kita naik cobah dahulu. Kemudian tinggalnya itu kepada orang sekalian. hatta datang malam. berhimpunlah di sana dan Wolanda pun duduk di negeri Lontor. Hatta datang bakda lohor serta dengan kehendak Tuhan sarwa sekalian alam. maka orang Bandan* pun keluar. ia masuk ke dalam serta bunyi bedil dan riuh dalam negeri. maka kata jeneral: ‘Betapa perintah parang orang itu?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Demikianlah parang orang itu. Kemudian daripada itu. maka jeneral menyuruh panggil kepada orang besarnya serta panglimanya sekalian dalam angkatan itu datang kepada jeneral. dan orang Bandan* pun serta dengan harkatnya. Maka patahlah parang Islam itu. maka menyuruh tanya kepada orangkaya-kaya tanah Bandan* sekalian.’ Serta dengan cakapnya orang semuhanya itu.’ Lalu ia berteguhan kata dengan jeneral. lalu masuk ke negeri Ander dan Waier. Ia naik dari belakang negeri dan kapitan Pugel dan kapitan Kuluf* dan kapitan Gemala* dan kapitan Jupun dan kapitan Siyau dan sekalian kapitan serta orang banyak semuhanya naik dari laut di hadapan negeri. Itulah adat berteguhan janji kepada orang itu. seribu real kuberi kepadanya. dipalu gendarang parang dan riuh serta bunyi bedil seperti guruh di atas langit. tiada boleh masuk ke dalam negeri lagi. Lain makanannya dan pakaiannya dan apa-apa rampasan dalam orang banyak itu mana sukanya ia ambil dahulu. ia becakap di hadapan jeneral dan orang besar2 semuhanya. jual-beli. demikian katanya: ‘Beta naik dahulu. Maka kedua pihak berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian. tukar-menukar. kemudian perintah parang kita. Tiada habar kepada yang lain lagi sehingga sana berparang daripada bakda subuh. beta pun tiada kembali.’ Hatta datang pagi hari naiklah angkatan itu butul di hadapan negeri. lalu kata jeneral: ‘Jika siyapa naik dahulu maka alah negeri itu. maka Wolanda daripada kapitan Hutman* ia naik dari belakang negeri. jika tiada boleh alah negeri itu. demikian . Tellah demikian.taksir beta.’ Maka kata jeneral: ‘Jika bagai demikian itu betapa bicara kita sekarang?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Mana perintah jeneral itu kami kerjakan. maka diturunkan gurendur Hutman* akan kapitan. Lalu undur Wolanda pulang ke kapalnya.

Lalu belayar ke tanah Ambon. lalu dinaikan ke kapal.’ Maka kata Wolanda: ‘Barang seadanya itu berikan kepada kami. rubuhkan kotamu dan berikan senjata yang adanya itu.’ Maka disuruh oleh orangkaya-kaya panggil kepadanya semuhanya datang ke negeri Salamu. Kemudian kami belayar supaya kami menyampaikan kepada orang besar2 di negeri Wolanda pun dengan kebenarannya. Maka sekarang ini kami endak belayar. maka kata jeneral: ‘Jika hati bennar mau bedamai. Maka ditipu oleh Wolanda. datang ke tanah Hitu. kuliling soldadu serta senjata. karena senjata itu semuhanya dalam negeri itu juga. Itulah kesudahan berkellai tanah Bandan. Lalu keluar bunga pala timbang kepada fetor. Maka raja menyuruh angkatan ke Seran memuatkan dia datang ke Mangkasar. apahtah daya?’ Maka kata orangkaya-kaya Bandan: ‘Yang tellah sudah itu jangan disubut lagi. Itulah hal alah tanah Bandan. demikian katanya kepada jeneral: ‘Ada lagi bedil besar dalam negeri Bandan . Baik juga orang semuhanya cerai-berai itu suruh pulang keruan kepada tempatnya. Maka kata jeneral: ‘Sekarang ini upama tulur hayam digulingkan dari tanah Bandan* sampai ke tanah Wolanda: tiada boleh pecah lagi. seribu kali kami sukah.’ Maka kata orangkaya Bandan: ‘Tiada lagi pada kami. itulah tanda bebaikan. Kemudian daripada itu kata Mai Hasan ibn orangkaya Bulaisi dan orangkaya Orotatan. Dragon namanya. bennarnya dengan dia. marilah kita bedamai. dan empat puluh orangkaya-kaya semuhanya dibunuh oleh Wolanda itu. Maka menyuruh datang mengadap kepada raja Mangkasar minta pindahkan ke Mangkasar.’ Lalu orangkaya-kaya keluar bedamai dengan dia. kemudian beta tunjukan kepada orang yang menaruh dia itu.katanya: ‘Bukankah Kapitan Hitu endak damaikan kita kedua? Daripada orangkaya-kaya tanah Bandan* tiada mau bebaikan. Ada pun kepada sekarang ini mana bicara orangkaya-kaya kita dengar. Maka jeneral serta angkatannya pulang ke negerinya dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. Jika mau bedamai. lalu ke Jawahkatra* dan orang Bandan* yang tinggal itu semuhanya pindah ke tanah Seran dan Goron*. lalu kata kepadanya bagai kata orang itu. maka suatupun tiada lagi fitna. lalu dikeluarkan semuhanya serta anak orangkaya-kaya itu. maka kita berkellai. Semuhanya itu minta serta anak orangkaya-kaya empat puluh orang itu. Jika kepada sekarang ini jeneral mau bebaikan. Maka orangkaya-kaya semuhanya tiada dapat besangkal lagi. Jika ia katanya tiada lagi. semuhanya delapan ratus delapan puluh orang kepada kapal. jika tiada mau bedamai.’ Tellah demikian itu maka jeneral menyuruh panggil kepada orangkaya semuhanya. Alkissah dan kuceriterakan kemudian daripada .’Maka diberikan dua puluh esfangar* kepada Wolenda itu.

Ada pun San* Tumi* itu ada suatu bukit.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata demikian itu.’ Lalu ia naik kepada sebuah kapal. maka belayar dari Pudiceri*. Maka naik ke darat bejalan ke negeri Pujiciri*. Daripada Feranggi duduk dari situ. Karena di situ ada kota Wolanda. Delf namanya kapal itu. ada ke bandar Masilpatani*. mau melihat dunia tanah Keling barang seadanya hidupku sehingga datang musim barat. ia duduk kepada . seketika lagi patah tiyang buritang itu. Tellah demikian itu berapa lamanya datang ke tanah Keling. menubus dengan harganya dua real seorang. Hatta berapa lamanya di tengah laut datang tofan angin ribut. Maka apa kehendaknya Arinjiguna* itu semuhanya dikatakan kepada jeneral pun terimalah kepada kehendak Mihirjiguna itu.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Beta minta kepada jeneral sementari lagi lambat musim. lalu kepada Tirubambu* dan Tirumulawasir* dan Kunmuri*. ia berhenti entah berapa lamanya. maka dinamai San* Tumi*. sehingga tanah Ambon pun baik juga jika dilapaskan oleh jeneral.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa kehendakmu belayar itu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kita belayar ini tiada kehendak kepada yang lain melainkan kubicarakan orang Bandan. ada menjual anaknya. Lalu ia belayar ke bandar Masilpatani*. Tellah menubus itu. lalu kepada Nagahpatan*. Maka ia menyembah. Nona Sinyora di Mundi* namanya. ada tengah tiga real. maka didirikan gerejanya akan tempat berhalanya.’ Lalu Mihirjiguna tanya kepada jeneral: ‘Kapal semuhanya itu endak ke mana?’ Maka kata jeneral: ‘Kapal itu endak ke Malaka. Di situlah tempat ia menyembah berhalanya itu. beta endak turut kapal yang ke bandar Masilpatani*.’ Maka iakan oleh jeneral dan diberinya seribu real akan bekalnya dan sangat mulliya kepadanya serta kasih lain2 -. Lalu kata jeneral kepada Mihirjiguna: ‘Ada pun barang kehendakmu itu kami terimalah. lalu berkata: ‘Beta endak belayar ke Jawahkatra*. ada ke Laut Mera. Hatta terbit matahari. Bunyi layar seperti bunyi bedil. Jika tiada boleh kembali ke tanah Bandan* pun. Apabila datang musim barat akan perginya pulang.tiada dapat diceriterakan kepada kasihnya itu --. tetapi musim lagi lambat datang.jeneral belayar membawah kepada orang Bandan* itu. Hatta berapa lamanya maka datang ke Jawahkatra*. Kemudian daripada itu maka belayar sehingga datang ke Palikat*. ada pulang ke negeri Holandes. maka Mihirjiguna naik ke darat berhadapan dengan jeneral serta orang besarnya. maka Mihirjiguna masuk mengadapat* perdana Kapitan Hitu. ada ke Jambi. belayarlah engkau. kepada negeri Tunahpatnan. Ada menjual dirinya sendiri. kuserahkanlah kepadanya yang kehendaknya itu. lalu naik Mihirjiguna belayar.lagi lambat musim.angin pun tedduh.

Sehingga enam hari dengan kehendak Allah ta`ala wafat meninggal negeri fana datang kepada negeri yang baka pada bulan Rubiu'l-awal dua belas hari pada tahun [1032] Ha. maka Mihirjiguna sakit. maka diberikan surat itu pada tangan Sifar alRijali. lalu belayar.rumah syaudagar haji Baba namanya.’ Tellah demikian itu. Berapa lamanya di tengah laut. lalu dimasukkan mayit itu ke dalam petti. sehingga ibu bapa kita yang bennar itu maka kita tiada bertemu. tetapi Kapitan Hitu dan gurendur kira-kirakan kehendak Arinjiguna* itu. Apabila datang pagi hari. Di sanalah dimasyhurkan namanya Mihirjiguna itu ‘sultan karanful*. dan orang berumah dalam tanah dan orang tiada berumah selama-lamanya. Dan perbuatan pelbagai yang andak* dalam dunia semuhanya ia melihat karena Masilpatani* itu bandar Kutb Syah yakni raja Gulgonda. maka ia berenti di sanalah. Apabila jika dengan baiknya musim yang datang ini suruan ke mari. Tellah demikian itu hatta datang musim maka ia pulang. Entah berapa antaranya. lalu datang ke Banten sehingga datang ke Jawahkatra*. maka datang masuk selat antara Puluh Merkata* dan ujung Tanjung Cina. Lain daripada itu tiada dapat diceriterakan kepada kelakuan yang indah2. Daripada ia tiada empunya untung. dan orang membuang segala najis manusyia dalam negeri itu. Dan kejahatan serta kebencian pun demikian lagi. pada malam Ahad. seperti orang kaya dan orang miskin. Pada tatkala itu Kapitan Hitu pun ada di Kota Laha. seperti perbuatan yang kegemaran kepada keelokan serta keinginan hati manusyia. maka ia mati pulang kepada asalnya. lalu dibaca sendirinya. Entah berapa lamanya dalam negeri Betawih. Dan dikerjakan hamam*. Dan pasan jeneral dalam surat kepada Kapitan Hitu dan gurendur Herman Aspel*. maka datang ke Ambon masuk ke Kota Laha. maka gurendur kata kepada Kapitan Hitu: ‘Baik juga kata jeneral kepada kita kedua itu kira-kirakan kepada kehendak Mihirjiguna . maka ditaburkan segala bauh-bauan dalam kafan. maka dinaikan kepada sebuah kapal membawah kepadanya.Maka diberikan surat itu kepada Kapitan Hitu dan gurendur. jika datang tengah hari maka mandi kepada air yang sejuk itu. tatkala zaman sultan Muhammad Huli akan kerajaan di negeri Gulgonda. maka beta serahkan kepada dia. Entah berapa lamanya di tengah jalan. bicarakan Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda serta kotanya itu. kipati syah’. Di sanalah ia melihat perhiasan dunia semuhanya lengkap. Maka dibaiki suatu petti dilapis dengan tima hitam. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Arinjiguna* itu seribus* kali beta terima. ada air sejuk dan air panas kepada suatu tempat harkat kepada segala manusyia. dan kesukaan dan kedukaan pun demikian lagi. maka mandi kepada air yang panas itu.

sarang-menyarang. alah-mengalah sebagailah. sentiasa tiada berputusan parang di tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Itulah kesudahan pelayaran Mihirjiguna ke tanah Keling. kemudian daripada Arinjiguna* itu Unus Halaene akan hukum. sarang-menyarang. maka tiada jadi kehendak Mihirjiguna itu sebab perbuatan orang itu. Kemudian daripada itu maka kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Syabidin meninggalkan negeri yang fanah itu datang kepada negeri yang baka itu. tanah Ambon dalam hukum perdana gimelaha Hidayat. jika datang orang Bandan* pula. sehingga datang ke negeri. Dan kelakuan hulubalang pun ada kepadanya. Lalu berparang pula. Hatta berapa lamanya maka datang titah paduka serri sultan Ternate suruh bedamai. artinya sakit lalu pulang ke rahmat Allah ta`ala. Ialah bengis di tanah Hitu serta kelakuannya. karena ia berjalan atau duduk serta senjata tiada boleh meninggalkan dia dan syaudagarnya pun sangat serta murahnya tangannya. artinya negeri sengaji Hatuhaha. Kemudian daripada peninggal perdana itu. maka gimelaha serta orangkayakaya semuhanya tiada mau rusak dagang dalam bandar. Serta kehendak Allah ta`ala. alah-mengalah. sehingga tanah Hitu juga tiada mengikut. makin bertambah-tambah fitnah sebab dagang. karena kehendaknya Nasrani dan Yahudi itu endak mengarusakkan agama Islam dimasukkan agama Nasrani. itulah sebabnya. Maka ia pinda ke negeri Lesiela meneguhkan negeri itu daripada ia melihat salah kelakuan Wolanda itu. Lalu dinaikan mait itu kepada kelengkapannya orangkaya dan orang dari negeri pun keluar mendapatkan dia di tengah jalan. kedua membuat kotanya di tanjung Koako. maka Wolanda datang rusak kepada dagang itu. Maka dipertitahkan serta dengan arta disedekakan kepada fakir dan miskin dan orang besar-besar dan dipeliharakan sehingga adatnya. Maka kedua kaum Islam dan kaum Nasrani itu berparanglah. tetapi inilah perbuatan Inggeris dan Jupun. Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya . Seorangpun tiada sebagainya di tanah Ambon. Lain daripada itu banyak lagi perbuatannya. lalu paranglah gimelaha Luhu dan gimelaha Leliyato serta di tanah Ambon semuhanya. Hatta datang berapa lamanya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Hidayat pun uzur.itu. karena adatnya raja ada kepadanya dan adat bendahara pun ada kepadanya. ketiga membawah angkatan mendatangi di tanah Seran. Apabila datang dagang. Pertama membuat gudang di pantai Huniyasi*. Daripada itulah maka digelar nama kelengkapannya itu ‘buang destar’ namanya dan demikian lagi kehendaknya Islam endak mengarusakkan agama Nasrani dan Yahudi dimasukkan kepada agama Islam.’ Lalu dibunuh Inggeris dan Jupun itu.

Entah berapa lamanya dengan takdir Allah ta`ala pulang ke rahmat Allah. yakni negeri Luhu. Pada tatkala itu johan pahlawan gimelaha alah kepada sebuah negeri. Hatta datang di sana raja Mataram menyuruh kepada tumengung* Bauhraksah mendatangi kota Betawih. Maka diturunkan yakni dikeluarkan gimelaha dua bersyaudara. Semuhanya diangkatnya bawah ke negeri Lesiela. Maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur. karena ia dalam kesukaran. dari Banggai datang ke Tambuku. lalu masuk ke negeri Luhu. Maka gurnadur Filipi Lukas* dan hukum Halaene serta angkatannya mengadap kepada kapitan laut.Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya johan pahlawan gimelaha Leliyato ‘buang capeu*’ namanya. Itulah halnya tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. maka gimelaha Leliyato ia duduk negeri Kembali dan gimelaha Luhu ia duduk di Gamusungi. Lalu kapitan laut pun berangkat ke Manipa dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. Segali perastawa mendamaikan dua kaum itu. maka suatu tiada fitnah dalam tanah Hitu. lalu pindah ke tanah Buton. Maka dibawah kepada gimelaha dua bersyaudara kembali ke Tanah Besar. tempatnya yang lama. Itulah kesudahannya datang raja laut di tanah Ambon. Wai namanya. lalu keluarkan kotanya di tanjung Koako itu dan gudang di Huniyasi* itu. Hatta datang musim perdana pun pulang. maka ihtiar sendirinya. Hatta datang titah disuruh pulangkan. dari Sula lalu ke tanah Banggai. Hatta berapa lamanya datang angkatan dari Buton serta anak raja2 dan orang besar2 semuhanya membawah titah serta dengan adat mengadap kepada raja laut. Siyapa tempat kuserahkan tanah ini?’ Lalu diserahkan kepada orangkaya Samu2 menunggu tanah Hitu serta orangkaya Bulan. demikian katanya: ‘Ada pun aku ini sudah tuah. Daripada itulah maka parang sabil Allah di tanah Ambon tiada berputusan. maka dikembalikan dianya. maka tiada ketahuan bicaranya jeneral itu. Alkissah peri mengatakan sekali perastawa perdana Kapitan Hitu pada suatu ketika ia duduk. Apabila datang suatu fitnah . keduanya memerintahkan tatkala perdana Kapitan Hitu lagi dalam negeri Betawih. Dan di belakangnya Kapitan Hitu datang kapitan lawut baginda kiyaicili Ali ke tanah Ambon. Maka suatupun tiada fitnah lagi di tanah Ambon dan kapitan laut pun berangkat ke tanah Sula. sehingga sanalah ia berhenti. Lalu Kapitan Hitu dan hamba raja Kalabata belayar ke Jawahkatra* bebicara dengan jeneral. Tellah demikian itu Kapitan Hitu pun datang dari Jawahkatra*. dari Tambuku lalu membaiki negeri serta dengan kotanya ia duduk. suruh kembali ke Ternate. Maka ia bertemu kepada kapitan laut dan barang apa2 bicara dengan jeneral itu semuhanya diceriterakan kepada kapitan laut serta muafakat.

Daripada ialah orang Wolanda itu tiada dapat melakukan kehendaknya kepada tanah Hitu pada zaman itu. kemudian daripada itu. maka dalam uzur itu menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya semuhanya. yakni meninggal kepada dunia datang kepada akhirat. jangankan sesuatu negeri. Daripada itulah maka ia keluar membawah angkatan menyarang negeri. jikalau seseorang juga pun. artinya celaka. yakni sakit serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi orangkaya pun wafat. Maka menyuruh antarkan maitnya orangkaya itu pulang ke negeri. Lalu Kakiyali membawah angkatan itu menyarang kepada sebuah negeri Hatumete namanya. kemudian dibagi dua: setengah didudukkan di negerinya dan setengah dibawah kepadanya ke negeri Hitu.daripada negeri yang lain bagi Islam atau Nasrani. Semuhanya ditangkapnya. Maka dinaikan kepada Kakiyali akan hukum. Hatta berapa lamanya apa2 kehendaknya. lalu ia kembali sehingga datang ke negeri. maka bersuka-sukaan serta beramai-ramaian dan bunyi-bunyian dalam negeri itu. pulang ke rahmat Allah. maka ia kedua orangkaya Samu2 keluar serta dengan angkatan melepaskan dukacittanya. Maka ia beramairamaian kesukaannya serta bunyi-bunyian dalam negeri Hitu. Masya Allah ia meninggal kepada darulfanah datang kepada darulbaka. Maka hukum Kakiyali juga membaiki tiada jadi berkelai. maka ia datang kepada gurendur endak mengatakan kepadanya. maka orangkaya Samu2 pun uzur. Tetapi kepada fitnah tiada dapat dikatakan lagi daripada nafsu dunialah. Maka ia tiada boleh tahan dirinya lagi. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala itu ada lagi hayat perdana Kapitan Hitu. Entah berapa lamanya di tengngah jalan. Karena istiadat orang besar yang ternama. wa-'llahu a`lam. hanya baik2 bicara kepada tanah ini serta . Maka kuceriterakan tatkala itu negeri Iwa* dan orang Wolanda endak berkellai sebab Pati Herman. Maka datang kehendak Allah ta`ala kepada seorang perempuan bedzebai. ia juga membaiki. melainkan hukum Halaene juga tiada mau kecewa kepada nama tanah Hitu. memberi racung kepadanya. Maka dipeliharakan serta adat sehingga datang seratus harinya. apabila ia mati tiada boleh masuk esukaan dan beramai-ramaian atau bunyi-bunyian dalam negeri. maka barang sesuatu fitnah dalam tanah Hitu atau tanah Ambon. Hatta lama dengan lamanya orangkaya pun makin tuah serta dengan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala uzur. Hatta datang maka kata perdana Kapitan Hitu. melainkan alah sebuah negeri atau keluar arta daripada takluknya sekalian. bagi Islam atau Nasrani. yakni mendamaikan dia. Itulah istiadat mati orang ternama di tanah Ambon. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Allah ta`ala siapa mengetahui? Tetapi pada perasaan diriku.

’ Dan apa2 pekatahan serta adat tanah Hitu semuhanya dikatakan kepada keempat perdana dan berapa2 pekatahan yang dahulu kala itu semuhanya dikatakan kepada anak buahnya. membawah titah datang kepada perdana gimelaha serta Ulima dan Ulisiwa. maka berparanglah dan sebahagi serta kiyaicili Sibori memegang Wolanda membuat gudungnya di negeri Luhu dan paranglah kedua pihak itu. Maka ia masuk ke tanah Hitu. Sebahagi serta perdana gimelaha dan negeri sekalian.tetapi bulum lagi dengan kehendak Allah ta`ala tiada jadi tipunya itu. karena dalam titah itu . melainkan keempat orangkaya dan Kapitan Hitu serta muafakat. Tellah demikian itu datang masya Allah. lalu pulang ke rahmat Allah. maka berapa kali tipu kepada Kapitan Hitu. Maka gurendur Artus* dan orangkaya-kaya semuhanya muafakat.’ Karena pada ketika itu mardan Baros akan Nusatapi nama gelarnya dan mardan Mulutan akan Totohatu nama gelarnya dan mardan Kelisa akan Pati Tuban nama gelarnya dan mardan Kiyoan akan Tanihitumesen. Maka tiada boleh dikerjakan kehendaknya. maka dikerjakan.dengan agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. sarang-menyarang.’ Maka menyahut pula orang banyak itu: ‘Bennar kata tuhanku itu. lalu gurendur Kisil ia belayar ke Betawih. Kehendak Allah ta`ala siyapa mengetahui. melainkan mana kehendak Allah ta`ala serta orang banyak itulah memangku tanah Hitu. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. sehingga negeri Luhu juga dua bahagi. maka orang membawah fitnah kepada gurendur itu. karena Kapitan Hitu sudah mengetahui kelakuan Wolanda itu. Apabila sudah muafakat serta minta angkatan datang berkellai dengan Wolanda. maka digantikan Antoni* akan gurendur. maka dinaikan kepada hukum Kakiyali akan Kapitan Hitu serta perjanjian: ‘Apabila barang suatu pekerjaan atau pekatahan. Tellah demikian itu entah berapa dalamnya maka Kapitan Hitu menyuruh dua buah parau utusan ke Mangkasar. tiada dengan periksyanya.Karena pada tatkala itu perdana gimelaha serta negeri semuhanya berkellai dengan Wolanda. sadaha* Semaun namanya. Maka dipeliharakan mait perdana itu dan disedekakan arta kepada segala penghulu agama dan orangkaya-kaya dalam negeri Hitu sekalian dan diadatkan sehingga datang seratus harinya. Itulah nama keempat serta Kapitan Hitu pada zaman itu. tetapi jika datang masya Allah siyapa membawah tanah Hitu ini?’ Maka kata orangkaya: ‘Tiada dapat dikatakan. Iapun demikian juga kelakuannya. jangan seorang mengaku ia sendirinya.’ Maka gurendur pun percaya. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu menyuruh ke Mangkasar endak muafakat dengan serri sultan di Goa. alahmengalah sebahagai juga tiada berputusan.

demikian buninya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu dan orangkayakaya sekalian dalam negeri Hitu, serta utusan sadaha Semaun mendamaikan kepada gimelaha dengan gurendur dan membaiki tanah Ambon Ulima dan Ulisiwa, supaya jangan jadi fitnah. Karena perjanjian Wolanda itu seorangpun tiada mengetahui, melainkan Kapitan Hitu juga mengetahui dia dan ia juga menaruh surat yang perjanjian itu.’ Tellah demikian titah itu, maka kata orangkaya-kaya tanah Hitu: ‘Jika bagai kehendak titah demikian itu, baik juga utusan pulang dahulu ke Tanah Besar,kemudian kami mengikut di belakang.’ Maka utusan pulang menanti di pantai Luhu, maka datang gurendur itu pun demikian juga, lalu ia mengikut utusan itu menanti di pantai Luhu. Maka Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya keluar dengan kelengkapannya, lalu menyebarang. Hatta datang ke Tanah Besar, maka gurendur serta angkatannya mendapatkan dia di pantai Warau. Maka kata gurendur itu:‘Marilah kita berkata2 dahulu, kemudian kita masuk ke pantai Luhu kepada orang banyak.’ Maka Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya semuhanya naik kepada kelengkapannya gurendur itu, maka dipagang semuhanya serta Kapitan Hitu. Maka riuhlah orang dalam kelengkapan itu, lalu dikelilingkan angkatan kepadanya. Ia sebuah2 juga ditengah2 serta pasang-memasang, tembak-menembak datang pengelodan rawaki itu seperti titi hujang atas air masing dan asap obat menjadi awan antara langit dan bumi. Dan buni bedil serta* kilat dan riuh seperti ceritera buni sangkakalah tatkala hari kiamat kepada yaum al-mahsyar. Karena angkatan Wolanda itu lima puluh aluan, lain daripada kapal dan patacoh*, maka ia sebuah2 juga melawan dengan dia.Sehingga datang kepada tanjung Kahula Wolanda itu pun undur. Iapun masuk ke pantai Lesiela, lalu menyuruh sebuah perau membawah kepada Patiwani. Ia pulang ke tanah Hitu menyampaikan khabar itu kepada negeri serta dipindahkan negeri semuhanya naik ke atas gunung. Dan undur angkatan Wolanda itu, lalu menyebarang ke tanah Hitu endak menyarang kepada negeri, tetapi tiada dapat lagi. Maka menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya, demikian katanya: ‘Apa kerja pindah? Karena tanah Hitu dan Wolanda itu seperti laki-bini. Apabila bini salah itu melainkan lakinya juga ajar kepada dia, maka beta pagang kepada Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya ini. Demikian itulah halnya orang laki-bini dalam dunia, tetapi keluarlah kita kedua berbicara serta kebaikan.’ Maka kata orang Hitu:‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi kembalikan dahulu kepada Kapitan Hitu dan orangkaya2 itu, maka kami keluar kepada gurendur.’ Maka dilepaskan kepada orangkaya-kaya itu, Kapitan Hitu juga tiada dilepaskan. Maka orang Hitu pun tiada mau keluar kepadanya

serta memerintahkan negerinya. Dan utusan sadaha Semaun pun menangkap kepada orangkaya-kaya dalam negeri Luhu; yang memagang kepada Wolanda itu pun ia bawah ke Maluku. Maka orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon tercangan terlalu khairan kepada perbuatan gurendur dan utusan sadaha Semaun itu, maka tanah Ambon semuhanya tiada ketahui kehendaknya. Setengah berkata: ‘Baik kita berkellai.’ Dan setengah berkata: ‘Baik kita bedamai, karena sudah didamaikan kita dengan gurendur.’ Dan setengah pula berkata: ‘Jangan kita berkellai dan jangan kita bedamai sehingga diam sahanya*, supaya kita menanti kehendak titah.’ Maka kata perdana gimelaha dua bersyaudara: ‘Bennar juga kata orangkaya itu. Tetapi kepada perbuatan Wolanda ini rusak kepada agama rasul Allah di hadapan titah yang dipetuan, daripada ia tiada berupama ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza, nasrun min Allah syah, zill Allah fi 'l-`alamin.Daripada itulah baik kita berparang dengan dia.’ Lalu muafakatlah tanah Ambon semuhanya sehingga sebuah negeri Luhu juga. Maka kata Sifar ar-Rijali di hadapan perdana,Ulima dan Ulisiwa: ‘Ada pun berkellai ini sebab, apabila jika sebab Kapitan Hitu, sabar dahulu, supaya kita menanti titah yang dipetuan dan kabaran.’ Maka kata Ulima dan Ulisiwa: ‘Sebab agama rasul Allah, kedua perkara sebab titah tiada berupama ke bawah dulli yang dipetuan.’ Dan barang apa2 pekatahan kepada hari yang kemudian itu, semuhanya ditaksirkan di hadapan perdana gimelaha dan orangkaya sekalian. Tellah sudah ditaksirkan kata demikian itu, lalu ia beli obat bedil empat balas bahara cengkeh harganya, dan tengah tujuh ratus padang. Lalu ia pulang serta orangkaya gimelaha dan negeri Waibuti ke tanah Hitu serta muafakat dengan orangkaya2 di tanah Hitu. Lalu ia pulang, maka negeri Hitu sekalian berkellai, sehingga orangkaya Tanihitumesen dengan orangkaya Bulan juga tiada berkellai. Ia mengikut kepada Wolanda itu, maka ia jadi musuh kepada negeri Hitu sekalian dan negeri sekalian pun memerintahkan kepada hulu parangnya. Maka digelarnya kepada pendagar Nahoda dan pendagar Pati Husen* keduanya akan panglima di tanah Hitu. Lalu ia pergi merompa di tanah sebelah kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka diteguhkan Allah subhanahu wa-ta`ala, berkat agama rasul Allah serta dengan kemenangannya, maka ia pulang di negeri Wawani, makan-minum, bersuka-sukaan dan disalin kepadanya serta dengan dimasyhurkan namanya johan pahlawan Patiwani. Itulah hasiat* orang parang sabil Allah dalam dunia. Tellah demikian itu pendagar Telukibesi ia pergi merompa pula kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka dengan kehendak Allah ta`ala berkat agama rasul Allah serta kemenangannya, lalu ia

pulang di negeri Kapahaha bersuka-sukaan dan dimulliya kepadanya serta dimasyhurkan namanya johan pahlawan Tubanbesi. Ia duduk di gunung Kapahaha. Itulah faedah orang parang sabil Allah dalam dunia, entah berapa lagi dan* akhirat; karena riwayat pandita dalam syarah Sunusi*, dua perkara orang masuk syurga tiada dengan hisab* lagi, suatu perkara tarekad dunia, kedua perkara parang sabil Allah. Daripada itulah, maka beramai-ramaian negeri sekalian berparang dengan Wolanda itu. Maka kata Wolanda itu: ‘Apabila orang Hitu keluar duduk di pantai seperti dahulu kala itu, maka kami keluarkan Kapitan Hitu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi keluarkan dahulu, maka kami turun duduk di pantai kembali seperti dahulu itu. Jikalau tiada lepaskan dia, kami pun tiada mau keluar.’ Maka negeri semuhanya tiada keluar sehingga orangkaya Bulan, ayah mudanya Kapitan Hitu serta tujuh negeri keluar duduk di pantai serta Wolanda itu. Maka kata orang sekalian kepada orangkaya itu: ‘Betapa kehendak orangkaya keluar itu?’ Maka kata orangkaya: ‘Baik juga kita keluar ikut katanya. Dalam tujuh bulan itu apabila dilepaskan kepada Kapitan Hitu, maka negeri sekalian keluar. Jikalau tiada dilepaskan kepada [Kapitan] Hitu dalam tujuh bulan itu kita berbantahkan perjanjiannya.’ Maka orangkaya keluar serta muafakat dengan orangkaya-kaya, lalu orangkaya Tanihitumesen belayar ke Betawih. Dan apa2 kehendak orangkaya itu semuhanya dikatakan kepada jeneral, maka di belakang orangkaya negeri semuhanya itu keluar masuk kepada musuh itu,tiada lagi berkellai. Maka kata Sifar ar-Rijali kepada orangkaya-kaya dan panglima serta pendagar sekalian, demikian katanya: ‘Apabila perbuatan kita demikian ini?Rusaklah negeri kita dan Kapitan Hitu pun tiada dikembalikan lagi oleh Wolanda itu.’ Lalu ia pergi merompa kepada orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala serta dengan kemenangannya, maka ia pulanglah ke negeri Wawani bersuka-sukaan, maka seorangpun tiada keluar lagi.Entah berapa lamanya datang orangkaya Tanihitumesen, maka orangkaya-kaya menyuruh tanya kepadanya: ‘Betapa kehendak jeneral kepada Kapitan Hitu, lepaskankah atau tiadakah?’ Maka ia berkata: ‘Ada pun kata jeneral, tiga bulan lagi datang kapal dari Bandan, maka dilepaskan kepada Kapitan Hitu.’ Maka negeri Hitu semuhanya menanti sehingga datang tiga bulan tiada juga dilepaskan, maka kata negeri sekalian kepada orangkaya Bulan: ‘Ada pun perjanjian gurendur kepada orangkaya dalam tujuh bulan, sekarang sudah lalu tiga bulan, maka tiada ia mengikut perjanjian itu. Betapa lagi kehendak orangkaya itu, kami ikut juga, tetapi baik orangkaya undur dahulu. Kemudian apa kehendak orangkaya itu katakan

’ Itu pun tiada juga orangkaya mau undur sehingga empat buah negeri undur naik ke gunung. Daripada ia bulum lagi untungnya. Maka perdana gimelaha serta Ulilima dan Ulisiwa keluar meromparompa kepada negeri Yahudi dan Nasrani. tetapi iapun tiada turun dan iapun tiada naik sehingga berapa lamanya Wolanda pun pulang dan angkatan Islam pun kembali serta perdana gimelaha. Maka ketika itu tanah Ambon Ulilima dan Ulisiwa semuhanya berparanglah beramai-ramaian tiada berputusan. membawa titah memanggil kepada gimelaha dan orangkaya-kaya. lalu paranglah negeri semuhanya beramairamaian. maka tiada jadi mendatangi dia. Tellah demikian itu maka kuceriterakan: di belakang perdana gimelaha Luhu itu johan pahlawan gimelaha Leliyato memangku tanah Ambon serta memerintahkan parang sabil Allah dan berkat agama rasul Allah serta kemenangannya. Lalu datang ke pantai Wawani. maka ia bertemu kapal Wolanda itu. datang armada dari Betawih endak menyarang kepada kota Lesiela. Dan kuceriterakan perdana gimelaha dan orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. Maka Kipati Luhu dan Pati Tuban dan imam Nusaniwe. entah berapa kapal serta kora2 datang pula. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. Sebahagai juga parang kedua pihak itu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala entah berapa-rapa negeri Nasrani takluk Wolanda itu bebali kepada johan pahlawan gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. sarang-menyarang sebahagailah tiada berhenti lagi.juga kepada orang sekalian. lain daripada itu tiada kusebutkan. lalu kapal pun belayar dan angkatan pun undur ke pantai Wawani. supaya kita kerjakan. Pada ketika itu pahlawan Patiwani seorangpun tiada sebagainya di tanah Hitu. tetapi kepada parang Wolanda itu tiada dapat diceriterakan pelbagai parangnya. maka kedua pihak pasang-memasang. di mana merompa di darat atau di laut tiada lain ia juga. gimelaha Bobawa. pagi pettang tiada berantara lagi. tetapi perdana gimelaha sudah harkat menanti dia. sekalian pati dan sengaji semuhanya keluar serta dengan angkatan endak menyarang kepada negeri orangkaya Tanihitumesen. nasrun min llah syah. sehingga dipindahkan kepada negeri Loin naik ke atas gunung. Hatta datang musim barat. Segali perastawa ia keluar serta angkatannya mendatangi kota dauman*. Maka kedua pihak berparanglah siang dan malam. Maka kata johan pahlawan . Apabila masuk matahari. Hatta datang tiga bulan bertungguan tiada boleh alah. serta perdana gimelaha Luhu pergi mengadap ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza. lalu ia pulang ke Betawih. lalu melawanlah ia dengan kapal itu daripada waktu duha sehingga datang waktu asar. Hatta datang angin daratan.

’ Tellah demikian itu orang membawah fitna kepada jeneral dan gurendur. melainkan Wolanda juga antar kepadanya sehingga datang ke pantai Hila. demikian katanya: ‘Kapitan Hitu menjual cengkeh kepada dagang Mangkasar dan Minangkabau di Puluh Tiga. Jangan dikembalikan kepada Kapitan Hitu. Maka orangkaya gimelaha dan orang semuhanya pindah ke negeri Kambelo. makin bertambah fitnah. nasrun . demikian katanya: ‘Hai syaudaraku.’ Maka gurendur tiada dengan periksyai lagi. maka tiada boleh alah. Entah berapa lamanya dalam Kota Laha. nama orang hitam. Maka Kapitan Hitu pun takut tiada keluar kepada Wolanda itu. Maka negeri Hitu sekalian bersuka-sukaan. lalu ia pulang ke Kota Laha. Hatta tiada berapa lamanya datang paduka serri sultan Hamza. lalu ia pulang ke negeri bersuka-sukaan. beramai-ramaian dengan dia. Itu belum lagi dengan kehendak Allah ta`ala. makan-minum serta disalini dengan pakaian yang inda2.Sendiri-dirinya juga. seorangpun tiada serta dia. Lalu Wolanda itu ke negeri Hatubawah endak menyarang kepada gunung Alaka.seperti pantun Melayu: ‘Dapakan bunga setangkai jangan diaibkan orang. lalu orangkaya-kaya semuhanya serta Kapitan Hitu pergi ke Kota Laha bedamai dengan jeneral dan gurendur serta orang besar-besarnya.’ Maka diiakan orang itu. Maka kata orang Hitu kepada orangkaya Bulan. lalu ia pulang ke Kota Laha. lalu ia mengadang ke laut Puluh Tiga. Maka ditinggal kepada dia lalu orang Hila antar bawah kepadanya ke negeri Wawani. engkau sekalian bukan kami endak kepada hamba sahayamu dan bukan kami kehendak kepada artamu. ini pula dibawah ke ini pula dibawah ke Betawih. lalu menyuruh kepada kapitan Yon Yan* serta orang banyak mencahari. Ganap tanjung dan labuan tiada dapat.’ Lalu orangkaya belayar ikut ke Betawih dan apa2 kehendaknya orangkaya itu dikatakan kepada jeneral. Nasrani atau Islam.[kepada] orangkaya-kaya Nasrani itu. maka ia pulang ke negeri Wawani dan negeri sekalian memberi tiga puluh bahara cengkeh kepada jeneral akan pembeli siri pinang. tetapi kehendak kami itu melainkan kita bersama-sama membawah agama rasul Allah.betahanlah di sana serta orang dagang Melayu Minangkabau. maka dikembalikan kepada Kapitan Hitu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala. demikian katanya: ‘Siya-siyalah orangkaya keluar serta Wolanda itu . Hatta datang musim jeneral pun datang serta angkatannya ke tanah Ambon. Maka gurendur menyuruh sebuah kapal belayar membawah khabar kepada jeneral serta bawah kepada Kapitan Hitu ke Betawih. makan-minum. menyarang kepada Lesiela serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota Lesiela. jika ditahankan ia duduk sehingga tanah Hitu jua pun baik juga. Itu pun tiada juga dapat.

patik tuanku sakit. Tetapi kepada jeneral itu tiada ia percaya. Hatta seketika lagi patah parang Kambelo. zill Allah fi 'l-`alamin. manatah surat perjanjian Wolanda itu?’ Maka menyahut pula Sifarijali: ‘Patik minta maaf. Bennar juga titah .’ Maka titah: ‘Jika ia sakit. Jika tiada sakit.’ Lalu menyuruh panggil kepada Kapitan Hitu. berpalinglah orang sekalian. lalu masuk ke pantai Kambelo. Apabila sudah rubuhkan kotanya. Maka berhimpunlah tanah Ambon sekalian berhadapan . ada yang bejalan saja. Maka menyuruh fetor Soroi* dan sarinto* pergi periksyai kepada penyakitnya itu. sudah datang ke bawah dulli tuanku. maka berparanglah atas bukit itu. ada yang membawah ayapan. Tiada dapat kuceriterakan parangnya. Kemudian berhadapan di bawah dulli yang dipetuan. hatta datang titah kepada orang sekalian:‘Mana surat perjanjian dengan Wolanda itu?’ Maka menyahut orangkaya-kaya semuhanya: ‘Ada pun surat perjanjian Wolanda itu ada kepada patik tuanku Kapitan Hitu. Hatta datang titah yang dipetuan kepada orangkaya-kaya dalam negeri Lesidi dan Kambelo.min Allah syah. nasrun min Allah syah. Maka orang Kambelo keluar serta pahlawan Patiwani Hitu. ampun seribu ampun. Pada ketika itu ia duduk di negeri Kambelo. Tellah demikian itu paduka yang dipetuan berangkat ke tanah Hitu serta Wolanda itu dan negeri Hitu sekalian pun keluar jungjung serta dengan adat semuhanya dikerjakan. sekalian pati dan sengaji: ‘Rubuhkan kotamu itu dan niyahkan segala orang dagang itu. Ada yang memagang senjata serta santiagu*. maka turun Wolanda itu mendatangi negeri Kambelo. ada yang membawah arta bejenis-jenis serta bunyi-bunyian mengiringkan kepada payung kerajaan daulat al sultan Hamza.’ Tellah demikian itu panglima Nahudimeten serta imam Sifarrijali keduanya keluar datang mengadap ke bawah dulli serri sultan. Lalu ia pulang katakan kepada jeneral: ‘Bennar juga kata orang itu. suruh belayar pulang ke negerinya.’ Maka kotanya itu pun dirubuhkan dan sekalian dagang itu pun belayar masing2 mencahari tempatnya. Maka Wolanda itu serta angkatannya mendapatkan paduka serri sultan. lalu pulang orang yang memanggil itu menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuan. zill Allah fi 'l-`alamin. lalu dinaikan pahlawan gimelaha Leliyato kepada kapal Wolanda itu dan dikeluarkan gimelaha Luhu. Maka suruh panggil perdana gimelaha dua bersyaudara. Ada pun pada ketika itu Kapitan Hitu pun sakit. sehingga Patiwani jua ia betahan parang dengan Wolanda itu. ke tanah Ambon serta raja Tidore yang diturunkan daripada kerajaannya itu dan raja Jailolo. Maka tanah Ambon dan Buru sekalian berhimpunlah di sana. Hatta datang maka titah: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka menyahut Sifarijali: ‘Daulat tuanku.

sarangmenyarang sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah di tanah Ambon. dari Luhu berangkat ke Kambelo. Ada pun negeri Hitu dari Wawani dan negeri Asilulu dan negeri Alan. tetapi tatkala ditipu kepada patik tuanku.’ Lalu berangkat kepada kelengkapannya dan orang sekalian pun masing2 pulang kepada tempatnya. itulah kesudahannya. tiadalah kita memutuskan kepada perjanjian itu. Berlawanlah di sana dua kaum itu. serta gimelaha Luhu. Entah surat itu ta dapat tiada kepada Wolanda. alah-mengalah. jangankan surat itu. wa-sultan al-Din. Hatta berapa dalamnya. meninggalkan benua Ternate datang ke tanah Ambon. Maka tanah Ambon pun masing2 pulang ke negerinya. maka masuk pula bicara dalam gudang Wolanda itu. Sehingga datang ke pantai Eran*. maka bertemu dua buah kapal . tembak- . karena surat pun tiada. Maka serri sultan Muhammad Sya`id. serta Kapitan Hitu dan Pati Tuban dan Tubanbesi. Dan kepada tanah Hitu negeri Hila dan negeri Hitulama.’ Maka sabda yang kerajaan:‘Apabila bagai kata yang demikian itu. nasrun min Allah syah. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. serta orangkaya Bulan dan orangkaya Tanihitumesen mengikut kepada Wolanda. pasang-memasang. karena ia tempat merampas isi rumah Kapitan Hitu. menyuruh tujuh buah perau mengantarkan kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya2 pulang ke tanah Ambon. Entah berapa lamanya di sana. sehingga kelengkapan dari Ternate itu juga serta yang dipetuan di tanah Hitu. negerinya pun tiada diketahui lagi. Telah demikian itu maka kuceriterakan kemudian daripada itu tanah Ambon. Liliboy. lalu berangkat ke Kota Laha. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. lalu pulang ke Maluku. lain daripada itu tiada kuceriterakan. Hatta datang kepada hari yang lain. serta johan pahlawan gimelaha Luhu berparang dengan Wolanda itu. maka orang Hitu dan orang Kambelo serta orangkaya gimelaha belayar mengadap raja Mangkasar minta tolong kepada agama rasul Allah. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. lalu dibawah belayar kepada pahlawan gimelaha Leliyato ke Jawahkatra*. lain daripada itu tiada kusubutkan. maka berangkat pulang ke Hitu pula. Itu pun demikian juga tiada berputusan. Lesidi. ibn al-sultan marhum syah. sehinggalah keluar yang dipetuan serri sultan Hamza. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki.yang dipetuan itu. yang memagang surat pun tiada datang. lain daripada itu tiada kuceriterakan. dari Hitu menyeberang ke Luhu. Maka bersumpah-sumpahan kalam Allah dengan orang Hitu dan berjanjian dan muafakat seperti dahulu itu lagi. tiada ketahuan negeri Luhu dan negeri Lesidi.

Apabila masuk matahari. Maka ia bernanti tiada masuk kepada gudung itu. pasang-memasang. Hatta datang musim barat. Dan daripada Mangkasar pun demikian juga begendang serta bunyi-bunyian. berlakulah kedua pihak itu serta senjata bekilat-bekilat dan bunyi-bunyian tamburnya dan kucapinya atas kepadanya. pagi petang pertungguwan tiada berkeputusan. lalu masuk sekali2 tiada dengan was2 lagi. makan-minum. kemudian kami rusakkan dia. dan karaen Mampo akan hukum dalam angkatan itu dan memagang arta raja itu Marala dan karaen Puli dan Malim dan Besi Lumu*. Siang dan malam. maka setengah duduk dan setengah pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar dan minta bantu pula. karena kelengkapan Mangkasar membuat talangkeranya* di darat dan Wolanda membuat di laut atas kapalnya. sehingga lalu pulang orang sekalian serta Patiwani ke negeri Wawani. Tetapi penghulu dalam angkatan itu karaen* Bontomanompo dan daeng* Bulikan. Maka datang kapal Wolanda itu. tetapi anak buah kami itu kami keluarkan dahulu. tetapi diteggah oleh penggawa. Ada pun gudung itu atas kepada kami. demikian katanya: ‘Kami minta maaf banyak-banyak kepada penggawa dan panglima sekalian undur juga. karena perjanjian raja kepada Wolanda itu belum lagi berubah. Maka ia pulang serta dengan kemenangnya bersuka-sukaan dalamnya. bersuka-sukaan. Endak lalukan kepada gudang Wolanda itu. Maka datang orangkaya2 dari negeri Kapahaha dan negeri Mamala minta maaf kepada Mangkasar dan orang Wawani. Lalu menyorong parangnya kepada negeri Larike dan negeri karas sukar mengalahkan dia. lalu masuk ke tanah Hitu. sangngat berahinya. Dan yang duduk di Kambelo itu pun menyoron parangnya serta orang Ternate dan orang Kambelo alah kepada negeri Saluku. setengah masuk duduk di Kambelo dan setengah dibawah ke Hitu membuat kotanya di pantai Seit ia duduk. maka datanglah entah berapa aluwannya. Hatta datang musim. Maka orang dalam negeri itu semuhanya masuk ke dalam gudung Wolanda. Hatta berapa lamanya kapal itu pun belayar.menembak. ia duduk di pantai Seit. Lain daripada itu tiada kusebutkan. Hatta berapa antaranya dalamnya parau dari Kambelo dan dari Hitu datang membawah kepadanya. maka orang Mangkasar dan orang Wawani pun . Hatta datang pahlawan Patiwani melihat kepada negeri itu. berlawanlah kedua kaum itu. alahkan dia. karena pasan yang dipetuhan tiada dengan orang Wolanda. tembah-menembah. maka orang Mangkasar endak masuk rusak kepada gudung itu. maka Mangkasar pun menyorongnya menyarang kepada negeri Hitulama serta dengan kehenda Allah ta`ala alah negeri itu. maka alah negeri itu. Hatta datang ke tanah Ambon.’ Tellah kata demikian itu.

karena ada mati oleh pedang.berhenti. karena gimelaha Majira serta orang itu dan pun demikian lagi dengan negeri Anin dan Laala. Itu pun demikian juga sebab orang Kambelo dan Lesidi tiada dengan sesungguhnya. masing-masing membawah . Itulah tanda orang kibria dalam dunia tiada mengetahui kehendak Allah ta`ala. lalu pulang tiada dengan faedahnya. Ada pun kepada Wolanda itu jeneral keluar dengan angkatannya serta tanah Ambon dengan angkatan semuanya mendatangi kotanya Mangkasar itu . Maka sesungguhnya. Maka orang Kapahaha dan orang Mamala dan Liyan pun tiada jadi mengrusakkan dia. Serta pahlawan Patiwani menetah. Maka orang Hitu dan Mangkasar mendapat tiga puluh pucu esfangar yang tiada berapi. maka ia keduanya bersama-sama serta angkatan itu menyeberang ke tanah Hitu. Serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota itu. Lalu patah parang Wolanda itu. Maka berangkat serta orang Kambelo dan orangkaya gimelaha mendatangi di negeri Lesidi. sehingga karaen Jipan* dan Manggapa serta hamba raja Marala dan Malim menunggu kepada kotanya di pantai Seit. sebab ia terjung dari atas gunung tiada berketahuan larinya. lalu naik menyarang kepada negeri Wawani. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan orang mati pun entah berapa banyak tiada kuceriterakan. Hatta datang esok harinya. Tatkala itu karaeng Jipang dan daeng Manggapa keduanya bedagang di pantai Kambelo. sebab raja berangkat menyarang kepada raja Bone. Hatta datang musim barat Mangkasar tiada keluar. karena orangkaya gimelaha tiada sesungguhnya parang. maka ditangkis oleh Wolanda itu sehingga sedikit juga putus asfanggarnya* itu. Daripada Anin dan Laala itu pun demikian juga. ada mati sendirinya. Maka orang Kambelo dan orangkaya gimelaha serta Mangkasar tiada jadi menyarang kepada negeri Lesidi. Hatta datang musim karaeng Bontomanompo dan daeng Bolikan serta kelengkapannya pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar kepada serri sultan Muhammad Sya`id alDin. belarilariyan membuangkan senjatanya. ada mati beddil. Maka tanah Ambon semuanya mengikut kepada Wolanda. lalu orang Kambelo dan gimelaha bedamai dengan orang Lesidi. Tellah demikian itu hatta datang berapa antaranya menyorong pula parangnya ke Tanah Besar. lalu pulang. Hatta datang esok harinya. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. tiada jadi masuk kepada gudung itu. tiada jadi berhenti. orang dalam gudung itu pun keluar dan bantu dari Kota Laha pun datang menolong kepada gudung itu. sehingga negeri Wawani juga berkellahi dengan orang semuhanya itu serta Wolanda itu. maka orang Hitu dan Mangkasar keluar mengamu. menyuruh belayar ke Betawih membawah khabar kepada jeneral Fandiman*. Ia duduk di pantai Wawani.

Dan laknat itu lari ke kapal beritahu kepada kapitan. seorangpun tiada. . Maka tikam tigabelas kali serta dengan kehendak Allah ta`ala tiada makan besi kulitnya. sehingga sekali juga makan besi butul dadanya. Maka negeri Wawani pun selamat.masuk kepada Kapitan Hitu dan Kapitan Hitu pun percaya kepadanya.dirinya. Entah berapa lamanya dalam negeri Wawani dan orang sekalian pun percaya kepadanya. Sangkanya bennar orang lari. lima buah negeri. Hatta datang ajal Allah. hamba sahayanya sekalipun. karena orang itu dengan Hehalesi mengaku hadapan ke pantai Hitu dan menyuruh berparang serta Wolanda. Tellah demikian itu orang Kaitetu pun keluar serta orang Seit dan Hahutuna masuk kepada orangkaya Tanihitumesen muafakat. karena ia mengaku di laut atau di darat atas kepada orang itu dengan Hehalesi. maka negeri Hitu sekalian pun menjadi daif daripada ia terkuddun ia. Karena istiadat Kapitan Hitu. Maka naik kepada angkatannya. lalu masuk laknat itu. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Itulah sendirinya beradu tiada dengan penunggunya. keluar serta orangkaya Tanihitumesen masuk kepada Wolanda. Ada pun tatkala parang itu hamba raja Marala dua bersyaudara mati dan pahlawan Patiwani luka dan imam Sifar arRijali pun luka pada ketika itu. lalu pulang ke negerinya sehingga meninggal tiga buah kapal menunggu kepada pantai Wawani. Daripada itulah rusak iman orang parang sabil Allah dan melamahkan hati orang itu. maka ia berkata:‘Kami endak pergi bermain di negeri kicil. jangankan laki-laki. Sebab itulah Kapitan Hitu menengar fitnah daripada orang itu. Kemudian daripada itu Seit dan Hahutuna. maka ia berparang dengan Wolanda. jika panjangnya lima jengkal tiada boleh masuk ke dalam rumah. lalu tidur sekalih di luar kepada suatu balai. Itu orang meruntuhkan agama rasul Allah dan orang itu orang munafik. membuat talangkeranya serta gudungnya di pantai Hahutuna. lalu bawah kapal belabu di tanjung Hulu. maka turung. Hatta datang tengah malam ia masuk ke dalam rumah. Ia juga sendirinya. maka ia naik ke kapal kepada Wolanda itu dan apa-apa katanya Kastila itu. Maka ia pasan muruyumunya* semuhanya gennap kapalnya serta gudungnya sekalian. tiada mengetahui tipu dayah Kastila itu. lalu pulang ke rakhmat Allah.’ Lalu keduanya berjalan keluar di pantai Seit. lalu naik ke negeri Wawani. Maka ia berbicarai dengan gurendur. Maka kuceriterakan pada tatkala itu ada dua orang Kastila lari daripada orang Wolanda datang ke negeri Wawani. daripada ia katakan kata yang baik serta membujuk dengan kata yang manis samanya Islam. Hatta datang kepada suatu ketika ia datang kepada Kapitan Hitu.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Pergilah engkau. Tatkala itu Kapitan Hitu pun baringbaring.

lalu keluar orangkaya2 serta orang banyak mengikut kepada suruwan itu. sehingga datang kepada suatu padang di tepi sungai. karena kita bersama-sama dengan Wolanda. jika tiada baik menyuruh panggil kepadanya bicara di luar.’ Maka kata orangkaya dan orang Seit. maka kata orangkaya dan orang banyak: ‘Ada pun kita ada bicara sekarang ini.’ Maka orang sekalian percaya. dan kami pun demikian juga seperti kata orangkaya itu.’ Maka kata orangkaya2: ‘Benar kata syaudara kami itu. Matahari pun masuk.’ Maka kata orangkaya2 Wawani: ‘Jika bagai kata demikian itu. kita empunya perbuatan itu. karena piliyan kata yang benar. karena gurendur tiada mau kepada beta naik. menyampaikan kata orangkaya itu kepada orangkaya Pati Tuban dan pahlawan Patiwani serta orangkaya sekalian. baiklah kami pulang dahulu. maka ekor mengikut. Esok harinya maka kami datang. tetapi kami tiada boleh keluar sebab orangkaya serta Wolanda.’ Maka suruwan itu pulang beritahu kepadanya. Hahutuna: ‘Mengapa maka pulang lagi? . melainkan dahulu juga kepala. Maka menyuruh pula berulang-ulang dengan kata yang baik dan manis. lalu pergi ke sana.’ Ia menanti. Esok harinya ia datang. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu sudah pulang ke rakhmat Allah. Karena negeri semuanya sudah keluar akan katanya kepada gurendur. Baiklah kita sama bertemu di luar negeri. sangkanya kata yang baik. Hatta datang di sana bertemu dengan orangkaya serta orang banyak itu. karena gurendur tiada mau. Lalu katanya demikian: ‘Orang kaya2-pun tiada boleh keluar. Apabila berbuatan atau tipu yang jahat bukanlah perbuatan Wolanda. Seperkara lagi. supaya kita muafakat mana yang baik itu maka kita kerjakan. tiada boleh naik ke negeri. karena orangkaya dalam maklum Wolanda itu. Kemudian maka kita kira-kira apabila baik kita masuk kepadanya. Kami pun demikian lagi endah bertemu dengan orangkaya juga. Kita pun tiada boleh naik ke negeri. Bolehkah kita bertemu dengan orangkaya2? Tetapi kita tiada boleh naik ke negeri. maka dikatakan serta dengan empena menjadi jina. Baiklah orangkaya2 berhenti. Maka kata orang Seit dan Hahutuna: ‘Tuanku lalu ke pasar Lebelehu. orangkaya2 dari Hila dan dari Mamala dan dari Kapahaha bulum lagi datang. karena orangkaya serta orang banyak ada di sana. maka muafakat semuanya dahulu. tiada perna ekor dahulu maka kepala mengikut. Apa salahnya?’ ‘Daripada itu ia ingat kepada negeri Hitu serta agama rasul Allah. Daripada itulah kita menyuruh datang kepada orangkaya2 itu serta dengan angkunya. tetapi gurendur tiada percaya karena negeri sekalian itu mengikut kepada dia. maka ia menyuruh datang kepada kami itu.’ ‘Benar juga kata orang itu.Maka menyuruh naik ke negeri Wawani.

membilang nama orang yang datang itu dan nama panglima serta pendagarnya semuanya yang datang itu.’ Lalu menyuruh ke negeri Kapahaha: ‘Boleh kami masuk atau tiadakah?’ Karena tatkala itu negeri Kapahaha pun bedamai dengan Wolanda. Maka ia berenti di sana. Serta kehendak Allah ta`ala alah negeri Wawani dan orang dalam negeri itu pun cerai-berai.Jika begitu tiadalah percaya kepada kami semuanya ini. terbit pandang*. supaya kita dengngar kehendak itu. Hatta datang ke pantai Kapahaha. Lalu turun Kompenyi*. Maka ia bertemu sekalian rakyatnya dan karaen Jipan* dan daen Manggapa serta rakyatnya dan kiyaicili La Manimpa ibn sipati* di Buton. Dan apa-apa kehendaknya itu semuanya dikatakannya kepada Wolanda. naik kepada tengah malam itu menyarang kepada negeri Wawani. Baiklah kita menyuruh kepada suatu negeri. naik bukit. karena panglima Patiwani dan imam . maka kirakirakan kepada kedudukan.’ Karena orangkaya sudah mengaku di hadapan orang semuanya kepada barang perbuatan yang jahat itu. kemudian kira-kirakan kehendak kita. lalu keluar masuk utan. paduka kiyaicili Laksamana pun sakit lalu mati . maka didiamkan kepada suatu dusun. maka kata orangkaya Tubanbesi: ‘Boleh juga. lalu orang Seit dan Hahutuna pulang ke negerinya. lalu berjalan di luar masuk utan. Demer* namanya. sangkanya kata yang benar. Maka semuanya bejalan masuk ke negeri Nukuhali dan negeri itu pun tiada boleh terima kepadanya. mauka atau tiadaka. Apabila datang semuanya kemudian. semuanya mengikut kepada Wolanda.dijalankan di laut dan orang Hitu dan setengah orang Mangkasar serta daen Manggapa berjalan di darat. Alitan namanya. maka berentilah di sana. maka orangkaya2 serta orang sekalian pun percayalah. maka semuanya muafakat: ‘Apa tipu kita? Apabila kita dalam hutan juga tiada tahan lagi rakyat kita ini . beritahu kepada letnante dan menyuruh antan-antun dua orang. Jika kita endah masuk kepada suatu negeri. Entah berapa dalamnya. Entah berapa lamanya dalam hutan itu sebagai juga sehingga datang ke hulu sungai. turun bukit dan berapa padang ia berjalan. Maka berjalan pula ke negeri Tehala dan negeri Tehala pun demikian juga tiada dapat terima. tetapi sabbar dahulu supaya kami kira-kira serta orangkaya2 semuanya. Di sanalah ia duduk menanti kepada orang banyak lagi dalam hutan itu. seorang Goron* dan seorang Tapihuwat namanya. Wai Luyi* namanya sungai itu. keduanya naik ke kapal beritahu kepada kapitan gurendur. Tellah dipeliharakan paduka kiyaicili itu. lalu ia datang sendirinya membawah kepada orang yang tiada dapat berjalan itu. masuk dalam hutan dan orangkaya yang keluar itu pun tiada boleh masuk ke negeri lagi.’ Tellah demikian itu entah apa-apa kehendaknya sekalian orangkaya itu.

Umarela namanya. lalu ia belayar pulang ke Mangkasar. Hatta berapa lamanya dalam hutan itu. maka berparanglah tiga kaum itu dalam hutan di sana. sehingga negeri Kapahaha juga tiada keluar. Maka hulubalang negeri Kapahaha. Apabila ia mati maka orang banyak itu masing-masing lari membawah dirinya. supaya kami minta minta ampun. Tiada berketahuan larinya. ada mati dalam hutan. demikian kata: ‘Baik siap-siap negeri. ada masuk ke negeri Kapahaha. Demikian kehendak orang itu:’Apabila kita sekalian ini masuk ke dalam negeri. Maka diberikan dua buah perau. sukarlah kepada hidupan kita. Maka bertemu kepada suatu padang.Sifar ar-Rijali dan pati Larutu bersama-sama karaen Jipan* serta Mangkasar yang banyak itu lagi dalam hutan. ada masuk ke Hila. Lalu keluarkan angkatan serta tanah Ambon semuanya datang ke pantai Mamala. Maka datang pula Wolanda itu serta orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Empat orang ditindisnya di adapan Wolanda itu. tiada boleh bergerak lagi serta dengan ajal Allah lalu ia syahid. jika tiada ia keluar serta aku.’ Lalu orangkaya-kaya masuk pada gurendur serta membawah tiga ribu real akan pembeli siri pinang. lalu menembang cengkeh serta kayu yang dimakan buah2-nya. Ada pun tatkala ia dalam hutan itu sekalian negeri itu tiada boleh masuk dalam hutan. maka ialah keluar merompa pada orang Nasrani itu. ialah akan musuhku. Maka Wolanda itu dilabukan kapalanya genap tanjung dan labuan Kapahaha serta mendirikan talankeranya* di pantai itu. Daripada itulah kubunnya dengan tanamannya semuanya kepada orang itu mengambil dia. Maka menyuruh panggil kepada negeri semuanya.’ Itullah kehendaknya orang itu. Hatta seketika juga dengan kehendak Allah ta`ala tetanam kaki Kartulesi ke dalam lumpur. Maka kata orangkaya: ‘Apa tipu kita? Karena kita sudah bedamai dengan dia. ada masuk kepada Wolanda itu. Maka menyuruh mengambil perau kepada Kartulesi serta orang yang tinggal dalam hutan itu. ada masuk ke negeri kicil. maka datang Wolanda itu mencari dia. Ia membawah setengah serta Patiwani dan Sifar ar-Rijali masuk ke negeri Kapahaha. ialah rasamu* kepada orang mudah-mudah dalam negeri Kapahaha pada tatkala itu. Orang dalam negeri itu pun kita antar akan dia. lalu berparang kedua pihak itu. Hatta seketika juga undur Wolanda itu pulang ke gudangnya dan karaen Jipan* pun meninggalkan Mangkasar setengah serta Kartulesi menanti kepada suatu dusun. Baiklah kita di sini supaya kita pun dapat makanan. Maka gurendur itu real itu pun diterima dan kepada orang itu tiada diampunkan. Baiklah kita pergi kepadanya minta ampun. ada masuk ke Hitulama. lalu ia pulang dengan .’ Hatta didengar kata gurendur demikian itu dan negeri semuanya keluar serta gurendur itu.

Apabila sudah langgar. maka dilihatnya jurumudi putus tangannya sebelah dan mati. sentiasa kedua kaum itu sebagai juga. maka datang sebuah perau Wolanda itu dari pantai Lumakai*. Maka ditembah oleh Wolanda itu dua lukanya. alah menang Islam pun tiada mau kepada Nasrani dan orang Nasrani pun tiada mau kepada Islam. Lalu ia menyerbukan dirinya kepada Wolanda itu.melawanlah keduanya pasang-memasang. maka ia pulang dan Wolanda itu pun apabila petang malam. maka keluar orang dari negeri Kapahaha. bersuka-sukaannya. sentiasa tiada bertinggalan lagi. Entah berapa hari dalamnya. Hatta sama bertemu kedua pihak itu. lalu langgar kepada Wolanda itu. Hatta dengan ajal Allah syahidlah ia dalam perau Wolanda itu. melainkan petang malam. perparanglah kedua kaum itu.tiada ia pulang kepada siang hari.Maka sama gagah kedua pihak itu. Seorang itu sehingga sedikit juga putus kedua penggal. Alah mennang daripada kapitannya yang gagah itu seperti letnante dan alferes* dan sarento* serta kapitan Merlaka* ia sangat keras mengasakan soldadu kepada parang. sama gagahnya . Hatib Lukula dari Mamala tangannya satu bengko dan orang luka pun banyak. ialah kapitannya dan seorang lagi putus sebelah tangannya ada di jalan lagi. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. Maka kedua pihak itu tiada berputusan berparang siang malam pagi petang. maka ia mengunus syamsyirnya serta melompat naik ke atas kelengkapan Wolanda itu. serta menatak sekali juga kennah dua orang. maka ia memarintah kepada orang semuanya. Maka huru-gara majnun pandang kepada johan Patiwani ia dalam kelengkapan Wolanda itu. Apabila petang.samalah kedua kaum itu. satu kennah . ia mengadap di luar talankeranya Wolanda itu dan Wolanda itu pun mengawal. tatuk-menatak sebagai juga tiada berhenti lagi. maka ia masuk ke dalam sungai Wai Liyi*. Apabila kepada pihak Islam itu ia keluar mengambil makanan.kemenangnya. malam atau siang hari. ia datang mengadap di pantai di mana datang orang itu . Dan demikian lagi daripada pihak Islam. makan-minum serta bunyibunyian dalam negeri Kapahaha. panglimanya dan pendagarnya serta pahlawan Patiwani ialah sangat mengasakan orang mudah2 kepada parang sabil Allah. pasang-memasang. Maka ia keluar. Maka sama bertemu keduanya lalu berparanglah kedua kaum itu. tembahmenembah. Hatta berapa dalamnya serta dengan kehendaknya Allah ta`ala pahlawan Patiwani ia naik kepada sebuah perau menyeberang ke sebelah Tanah Besar. Sama gagahnya dua pihak itu. Hatta seketika lagi ia memandang ke kiri dan ke kanan dan ke aluan dan ke buritan.

Lain daripada itu tiada dapat kuceriterakan. Maka ia pasang bedil ditembah ke dalam negeri dan negeri pun menembah kepadanya. Tellah demikian sekali perastawa gurendur sendirinya membawah angkatan endah menyerang kepada negeri Kapahaha. jangan disamakan kita di belakang tuan-tuan itu. maka melawanlah keduanya. Jadi kuranglah kuat negeri Kapahaha. Itulah Allah dan nabi Muhammad juga yang mengetahui. karena keduanya sama lellah leti. Hatta datang musim utusan pun datang dari Ternate. melainkan menanti titah paduka seri sultan dari Maluku. Daripada belum dengan ajal Allah kepada negeri Kapahaha ia lari sendirinya membuangkan senjatanya. Ada mennang. Islam dan Nasrani. karena ia satu negeri juga tiga ratus orang memagang senjata berparanglah dengan negeri sekalian. Apabila suda ia mati.ada pun tatkala itu orangkaya2 tanah Ambon. tetapi baikbaik bicara tuan-tuan semuanya. Segali lagi ia berjalan dari bukit Iyaluli* endah mendatangi negeri Kapahaha. Hatta seketika lagi orangkaya Patti [Tuban] pun luka dan Tullesi pun kuka* Lain daripada itu tiada kusebutkan. itulah hal parang kedua kaum. tetapi menyampaikan salamku kepada orangkaya Tupanbesi serta orangkaya2 sekallian. lalu masuk ke Kota Laha pada gurendur. Maka ia pulang bertemu dua buah fergat*. Itulah hal negeri Kapahaha parang sabil Allah. serta orangkaya gimelaha datang suruh minta bedamai. maka dibelakannya johan itu dan negeri semuanya pun berpalinglah kepada Wolanda itu. harinya . maka dibawah pulang maitnya itu datang ke negeri Kapahaha dan dipeliharakan serta diadatkan sehingga seratus . . Pada ketika itu mennang Wolanda itu kepada Islam dan kuceriterakan.maka jatuh ke air masing.’ Lalu ia mati.pahanya dan satu lagi kenah bibirnya. Segali perastawa orangkaya Pati Tupan dan Tulesi adindah orangkaya Tubanbesi bawah dua perau ke Tanah Besar. kami sudah belakankan dunia. Itulah kesudahan hidupan pahlawan Patiwani dalam tanah Hitu. Maka didapatnya sebuah perau. Maka datang mengambil kepada johan pahlawan Pati[wani]. maka kedua kaum itu berhanyutan juga tiada boleh penggayu lagi. maka ia lari sendirinya membuang senjatanya. Entah berapa matinya tiada ditentu dalamnya. Ulilima dan Ulisiwa. karena musuh semuanya yang datang suruh minta bedamai. pasang-memasang daripada waktu subuh sehingga datang kepada bakda magrib. Maka negeri tiada mau bedamai. ada alah. Tellah sudah kesudahan kami. karena sekali menembah tujuh orang dikenanya. Maka ia naik ke atas bukit antara gunung Hantu* dan negeri Kapahaha. maka kata johan pahlawan Patiwani: ‘Hai syaudahraku sekallian. Sehingga tengah jalan. lalu naik kepada peraunya. Maka kedua kaum itu melawanlah. Hatta demikian itu.

ada mati di bawah pohon kayu. baik berkellahi atau bedamai. Barang apa didapatnya. Demikianlah hal negeri Kapahaha.’ Tiada juga datang titah. Jangankan negeri lain tiada dapat dikatakan negeri Hitu sendirinya pun akan musuhnya. Sebab itulah maka tiada jadi bedamai. dimasukkan ke dalam talankeranya. sebab ia kalaparang. apatah daya untung kita? Tellah demikian itu datang titah. penyakitan dalam negeri serta kekurangan makanan. sehingga kami sebuah negeri juga berparang dengan Wolanda itu. Maka didengar oleh orangkaya-kaya dalam negeri Kapahaha terlalu khairan ajaib sekali kepada perbuatan gimelaha itu. ada masuk ke dalam guwah batu. apa-apa sebabnya. supaya ia dengar kepada titah yang dipetuan. maka orangkaya2 serta orang banyak datang kepada utusan dan gurendur. karena negeri sekalian menjadi musuh. Maka orang semuanya itu cerrai-berrai masing-masing membawah dirinya.’ Apabila orangkaya2 itu pulang sehingga tengah jalan. apatah daya untung kita?’ Tellah demikian itu datang bala Allah. lalu mati kepada tempatnya. Maka kata orangkaya-kaya: ‘Ada pun harap kita kepada perjanjian serri sultan tatkala dipersekalikan kalam Allah di negeri Hitu. Maka semuanya itu diberikan kepada gurendur itu dan orangkaya . Dan setengah masuk ke negeri Mamala dan setengah masuk ke negeri Hitulama dan setengah masuk ke Hila.Maka menyuruh panggil kepada orangkaya2 negeri Kapahaha. Mana kehendak seri sultan. naik tengah malam serta dengan kehendak Allah ta`ala lalu alah negeri. panggil kepada orangkaya Tubanbesi dan orangkaya2 yang tuah-tuah datang ke mari. berparanglah dengan negeri Kapahaha. demikian katanya: ‘Betapa hal kami ini? Karena tanah Ambon negeri sekalian serta dengan Wolanda. Ada mati di tengah jalan. lalu menyuruh bunuh kepada suruwan itu. maka bertemu orang datang membawah khabar.maka orangkaya Kapahaha menyuruh tanya kepada orangkaya gimelaha. demikian katanya: ‘Ada pun orangkaya2 yang di belakan mengikut tuan-tuan itu dipagang oleh letnante.’ Lalu orangkaya2 itu masuk hutan mencari jalan yang lain. supaya kami dengar dan mengetahui kehendak titah itu pun. Maka ia menunjukkan jalan kepada Wolanda itu. Maka kata utusan dan gurendur: ‘Pulanglah orangkaya2. Lalu orangkaya-kaya menyuruh menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuhan serta tanya sepata kata. Hatta datang suruwan itu. Ada masuk negeri Tiyal dan orangkaya Pati Tuban ia masuk ke negeri Wai. Hatta demikian itu dengan kehendak Tuan Yang Mahatinggi seorang dagang ia lari masuk kepada Wolanda. Ada masuk ke dalam hutan. di situlah ia diam. tiada dapat berjalan lagi. hatta berapa dalamnya gimelaha pun datang dari Ternate. Itu pun tiada juga datang titah.

Daripada belum lagi sampai ajal Sifarijali keduanya Sarasara Tahakehena. maka ia lepas. sehingga kunyatakan tatkala ia keluar itu masuk hutan. terbit padang dan naik bukit. maka musuh itu pun tiada melihat kepadanya. Sama pandangmemandang. Maka orang Hitu bawah orangkaya dua beranak kepada Wolanda itu. tiada pulang lagi. lalu pulang ke negeri Hitu. tetapi kiranya orang Mamala pun tiada boleh diterima kepadanya. Dan kuceriterakan Sifari'l-jalih. demikian katanya: ‘Dapatkah orangkaya2 menyuruh seorang atau dua orang turun kepada orangkaya Tubanbesi atau tiadakah?’ Hatta didengar kata demikian itu.berlindung di dalam alang-alang. Hatta matahari masuk. Sarasara Tahakehena namanya. Maka menyuruh dua orang naik ke negeri. Apabila terbit fajar ia keluar di pantai basambuni. karena kepada siang hari itu ada orang masuk mencari dalam hutan. tanya kepada seorang anak syaudagar yang besar [penggawa] lagi dermawang pun artawan.Tubanbesi ia membawah sebuah perau sudah keluar sehingga pantai Hatuhaha. Maka ia berhenti di sana. Entah berapa jauhnya. maka anjing itu diyam dan Wolanda itu pun tiada berkata-berkata. Sebab itulah ia keluar basambuni dakat pantai. Seketika juga datang anjing serta tuannya Wolanda itu datang. Maka dibunuhlah kepada orangkaya dan dinaikan kepada orangkaya Pati Tupan dan orangkaya Beraim-ela dan Tulesi dan Alam dan Teyaka* serta anak orangkaya Tubanbesi dua bersyaudarah. Entah berapa jauhnya berdapat pula dengan musuh. naik kepada kapal. terbit padang. lalu berjalan keduanya. lalu dipagang kepada dua orang itu dan menyuruh turun endah dipegang kepada orangkaya Tubanbesi. seorang Wangsa namanya dan seorang Petinggi namanya kanak-kanak itu. lalu ia keluar pergi ke dalam hutan. bawah ke Betawih. ialah menjadi imam dalam negeri itu: ‘Dapatkah Sifarijali masuk ke negeri atau tiada dapat?’ Maka Tahakehena pun lasap sekali-sekali. maka ia tiada jadi masuk ke Mamala lagi. turun bukit. maka ia pun keluar pergi berjalan ke dalam hutan. Dan tiada kuceriterakan kesukarangnya serta kejahatannya yang dicellai orang itu. seorang Duljalal dan Pilakan* namanya kanak-kanak itu dan anak orangkaya Kapitan Hitu dua bersyaudara. Lalu pergi masuk ke hutan sehingga datang kepada suatu padang. lalu keduanya pergi berjalan. maka ia bersembuni. maka tefakur Sifarijali dalam cintanya serta berkata: ‘Ajaib sekali akan Tahakehena pergi berdapat segera datang hendaknya hidup lasap sekali- . Maka ia hendak masuk ke negeri Mamala. Maka ia bertemu seorang antanantan orangkaya Pati Tuban. lalu menyuruh kepada Sarasara Tahakehena masu ke dalam negeri Hila.Tetapi belum lagi untungnya di situ. maka ia dengar bunyi anjing dalam hutan.

maka ia diketinggalkannya. Maka bertemulah sama berhadapan bertanya-tanyakan hal-ahwal tanah Hitu dengan Wolanda itu. Hatta terbit fajar masuk ke hutan ia berhenti. Entah berapa lamanya. Hatta berapa dalamnya maka mengambil sebuah perau. Baik kita tinggalkan dia supaya ia keluar ke negeri. duduk di negeri Lesiela bersamasama orangkaya gimelaha. Sebab itulah. maka ia menanti. Apabila masuk matahari. maka semuanya diceriterakan oleh syaudaranya itu. Lalu dipindakan pulang ke negeri Luhu dan pati Kambelo pun bawah kepada Abubakar. Maka ia menyuruh pergi kepada Hehalesi. bawahkah atau tinggalkah?’ Maka kata syaudaranya: ‘Kedudukannya baik juga kita bawah. maka keempatnya menyeberang ke Tanah Besar. Tiada dapat kuceriterakan dukkacittanya. ia keluar berjalan menapi pantai. Seketika lagi datang Telesima dan Abubakar serta kanak-kanak. Hatta berapa lamanya. didukun oleh inang pengasuhnya. Maka . Patinggi namanya. Tinggal lagi tiga orang juga. ia duduk kepada suatu bukit. maka ia datang ke sana bersama-sama orangkaya Daga dan kiyaicili. Maka ia bertanya kepada Sakia itu. karena pada ketika itu orangkaya gimelaha Daga dengan kiyaicili [Besi]mulu serta orang Kelan* endah berkelahi dengan Wolanda itu. Maka kata Sifarijali:‘Apa tipu kita kepada kanak-kanak ini. serta Ulu Ahutan membawah sebuah perau cari kepadanya. lalu ia keluar bedamai dengan gurendur itu. ia pun masuk ke negeri berhadapan dengan imam itu. Hatta masuk matahari. maka ia datang beri bakal dan makanan.sekali. sehingga datang ke tanjung Sial.’ Telah demikian. seorangpun tiada terima kepadanya dan dia pun sembuni tiada mau menunjukkan dirinya kepada orang itu. Maka ia terima kepada dia orang. demikian katanya: ‘Dapat kami naik ke negeri atau tiadakah?’ Maka ia menyahut: ‘Orang itu tiada boleh. lalu mengikut orangkaya itu ke tanah Buru. tetapi jika datang ke hutan maka kennah hujang dan angin ia tiada boleh tahan. anak orangkaya Kapitan Hitu. Hatta dengan kehenda Allah ta`ala datang gimelaha Hasi dari Luhu endah pulang ke Buru. maka datang gulawarganya. tiada boleh berjalan kepada siang hari. lalu dibawah dari negeri ke dalam hutan. sehingga itulah menanti kepada Tuhan Yang Mahasuci. Maka Sifarijali minta sebuah perau daripada orang Kelan*. daripada itulah Sifarijali terlalu ajaib. Pati Laik namanya. Maka ia bertemu Sakia dari Waibuti mengambil ikan. maka datang perdana gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa datang membawah titah seri sultan Hamza. si Papua namanya. Sehingga datang ke negeri Seit dan Hahutuna.’ Maka kata imam Rijali: ‘Apa dayah?’ Lalu dipuluh* dan dicium kepada kanak-kanak itu. pergi berjalan ke hutan ia duduk kepada suatu bukit.’ Lalu ia ke tanah Kelang.

lalu masuk mengadap kepada raja. Telah demikian itu ia memohon. maka menyuruh entah berapa orang.’ Lalu memohon kepada orangkaya gimelaha dan kipati. maka datang orang Bone tanya kepadanya: ‘Orang mana?’ Maka menyahut: ‘Kami orang Ambon. Maka titah paduka Dipatingalowan*: ‘Lamun jika tida kuterima kepada halmu ini. Hatta datang esok harinya datang pengalas serta antun-antun membawah titah menunjukkan kampung serta rumah. tetapi minta ampun kepada piatu yang hina karan. Jikalau ada makanan.’ Lalu syahbandar memberi tempat kedudukannya. maka ia beli.’ ‘Endah ke mana?’ ‘Kami endah ke Mangkasar. maka ia pun tiada mau turun ke darat. Hatta datang pagi hari orang itu pun datang serta senjata. sultan al-islam. itu. Ia basembuni dalam hutan. zill al-nabi fi dar al-mu’min.. belum lagi sampai pada . Itulah daripada belum dengan kehendak Allah ta`ala. Maka diberinya makanan serta kain bajunya. Pada dewasa itu seri sultan paduka Dipatingalowan* ia memerintahkan tanah Mangkasar dan demikian serri sultan Muhammad Sya`id akan kerajaan. Maka menyahut Sifarijali: ‘Ada pun titah kepada dagang piatu itu. maka dagang piatu pun terima serta junjung kepada kehenda titah itu. Maka tiada lagi bakal orang itu. supaya kita jangan melihat dan menengar tanah kita lagi. maka ia menyampaikan ke bawah dulli yang kerajaan. . bawahlah kemari kami beli.’ Maka kata orang itu: ‘Nantilah di sini. maka bertemu kepada karaen Rajipan. ia keluar memanggil kepada orang dalam perau itu.’ Maka Sifarijali pun menanti. Maka [kata] orang semuanya: ‘Apatah daya kehenda Allah ta`ala? Baik membuang diri kita tanah lain. esok hari kami bawah makanan ke mari. lalu menyuruh memberi bakalnya. tiada seperti sabda nabi kepada kita ummatnya: “Wa-'l muslimin ikhwan”. Hatta datang ke tanah Buton. sehingga karan-karan serta daun meninjau selamanya pergi itu. Tatkala itu raja La Mibilu* akan kerajaan tanah Buton. makin bertambah kedukaannya.didengar oleh Sifarijali itu. Maka Sifarijali ia masuk mengadap serta menyampaikan hal-ahwalnya ke bawah dulli seri sultan. tetapi kami kurang air dan bakal. lalu pulang ke peraunya. demikian katanya: ‘Marilah turun beli makanan itu.’ Karena ia takut tiada mau naik ke perau. Maka karaen Rajipan menyuruh sebuah perau bawa kepada dia dahulu ke negeri dan karaen Rajipan lagi duduk di Buton.’ Maka ia pulang menyampaikan ke bawah dulli.. ia senang dirinya. lalu keluar belayar. Segala hal-ahwalnya itu semuanya diceriterakan kepada biduwandi* itu. Maka datang titah kepada bonto* dan biduwandi*: ‘Tanya olemu kepada orang itu endah ke mana perginya dan apa kehendaknya datang ini?’ Maka menyahut Sifarijali. Maka ia belayar ke laut tiga hari datang ke tanah Bone.

menapi tasik. Maka ia masuk hutan. Wa-'s-salam bikhair amin. Itulah halnya orang mendapat kediaman dirinya. terbit padang. sehingga datang ke tanah Mangkasar. . menyeberang laut. Itulah kesudahan hikayat ini.Daripada itulah meninggal negeri mencari sennang daripada ia takut akan Wolanda itu. Tamat sah ya sah.

dipersyuhadakan dipeluk (Estevão) Teieira (de Macedo) Dom Duarte de Meneses Erang Portuguese: espingarda: istinggar (Jan) Pieterszoon Coen Portuguese: fragata. = fregat Portuguese: feitor: kepala perwakilan kompeni perdagangan Ar. firaq: pisah Prins (Maurits van Oranje) André Furtado (de Mendonça) (Jan Willemszoon) Gomale Ternate: kimalaha: kepala soa.) Pulau Burung alias Nusa Manuk Portuguese: chapeu: capiau Portuguese: charamela: seruling Mak. haraka: harkat (mulai bergerak) Dutch: gaas: kain muslin . Ternate: sangaji: kepala wilaya Portuguese: alferes: letnan muda indah Angasari Anthonio (van den Heuvel) apabila ? Arinjiguna. Dutch: fregat. memawahkan: membagi hasil di antara pengusaha dengan pemilik dipersyahadatkan. alias Mihirjiguna Artus (Gijsels) Portuguese: espingarda: istinggar Herman van Speult Banda nyai Bawang alias Ratu Kali Nyamat biduanda Boano Butonese: orangkaya Portuguese: antena bote: andang_andang layar Pieter Both Adriaan Block (Martensz.Catatan aji alferes andak Angsari Antoni apalah Arinjiguna Artus asfanggarnya Aspel Bandan Bawang Biduwandi Boanoh bonto bot Bot Bulok Burung Capeu caramela daeng dan ? dauman Daurdia Demer Diman Dipatingalowan dipawahkan dipersyahdakan dipuluh Disera Duarde Eran esfangar Eskun fergat fetor firaklah Frings Furtado Gemala gimelaha Goron graf hamam Hantu harkat has Javanese: sang aji [raja]. daeng: gelaran dalam di Oma Dom Duarte (de Meneses) (Gerrit) Demmer (Antonio) van Diemen Pattingalloang Mal. hamam: tempat mandi Gunung Setan Ar. kepala negeri Gorom Dutch: graaf: bupati Ar.

) Hoen Huniase Usen (ibn Jumat) Frederik de Houtman Iha Ialuli Jakatra Jipang Kasingu Portuguese: capitaõ: kapten Portuguese: capitaõ-mor (do mar): laksamana Mak. Schouten) Lesidi Leitimor Waran-ela alias Hoamoal zill Wai Lee Philip Lucasz. alias Kanyimedu Cornelis (Jansz. qaranful: cengkeh Kelang Ternate: kaicili.hasiat Hehatomi Hisab hoja Holanda hukum Hun Huniyasi Husen Hutman Iwa Iyaluli Jawahkatra Jipan Kakasingku kapitan kapitan-mor karaen karanful Kelan kiyaicili Kompenyi kuka kuluf Kunmuri Kurnilis Lasidi Leitimol Lesiela lil Liyi Lukas Lumakai Lumu ? Lupa Luyi mahudum mardan marinero Masilpatani Matelif melalawat Melo Mengadapat Merkata Merlaka Mibilu Mundi Murucisa muruyumunya Nagahpatan Naseddiki Natahuat Nusatelu Nyuranye Prins Palikat arab: khassiya: khasiat Hehatomu hijab hujaj Portuguese: Holanda [Holland] Ternate: hukum: hakim Simon (Jansz. cili: pangeran Dutch: Compagnie: Kompeni luka (Nicolaes) Colff Konimere. Krakatau (Vincent Gijsbert van) Moerlag Mabilu Nossa Senhora do Monte Maurits alias Mauritius Portuguese: Maria. karaeng: raja Ar. mard(an): yang mulia Portuguese: marinheiro: pelaut Masulipatam (Cornelis) Matelieff (de Jonge) melawat Gaspar de Melo menghadap Pulau Rakata. Rumakai Bisei Lumu Lopu(lalan) Wai Loi makhudum Persia:.arab: Maryam: meriam Negapatnam Nasidik Hehuat Nusatelo (Maurits) van Oranje Pulikat .

terangkera: kubu Portuguese: tambor: tambur Sekatikam Tirumala(rájan)patnam Tirumulavásal Portuguese: trombeta: terompet Tuhaha Javanese: tumenggung: hulubalang Thomé Baharullah Ulilima Ureng Steven van der Haghen Jan Outgersz. . santiago: berbaris Portuguese: sargento: sersan Portuguese: sargento: sersan Ar. shalat seribu seperti Butonese: sapati: mangkubumi Sitania Sial (Wouter) Seroyen Suangi Ternate: suisa: tambur (Abu Abd Allah Muhammad al-)Sanusi Sabadin (ibn Jumali) Portuguese: tranquiera. Visscher. Mal.pandang Paringsi Pasiruwan Patacoh perastawa pesir Pilakan Pinau pinsu Prings Pudiceri Pugel Pujiciri Rangsi rasamu Rengsi Riyal Rosengaing Saat sadaha Sagaluwa Sahanya sahingilah San Sanco santiagu sarento sarinto Sellat seribus serta sipati Sitaniya Siyal Soroi Suanggi suisa Sunusi Syabidin talangkeranya tamburunya Teyaka Tirubambu Tirumulawasir torompetanya Tuhahan tumengung Tumi ul Ulima Urin Warhaga Yan Yangsi padang Prins (van Oranje) Pasuruan Portuguese: patacho: sampan peristiwa pesiar Pelekolan Binau Portuguese: pinacas. alias Jonge Jan atau Nyong Yan Jasper Jansz. Dutch: pinas: penes Prins (van Oranje) Pondicherry (Marten Jansz. rasama: mendaftarkan Gerard Reynst Laurens Reael Rosengain sahut Ternate: sadaha: wakil sultan Sagalua sahajanya sehinggalah São Sancho (de Vasconcelos) Sp. alias) Vogel Pondicherry Gerard Reynst Ar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful