Sifar Ar-Rijal (Imam Rijali) Sumber source: www.anu.edu.

au

Sejarah adalah perkembangan penentuan ide diri, perjalanan perkembangan diri dalam roh. karena roh hakekatnya bebas,maka sejarah adalah perjalanan kebebasan.(Hegel)

(potongan seperti dari sumber)Empunya tanah, karena ia dari mulanya

datang. Itulah kesudahan bangsya Ambon. Alkissah peri mengatakan bangsya Jawa. Maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera tatkala raja Tuban dinaikan kerajaan, maka tiada ia bersettia dan muafakat dengan kaum kulawarganya. Maka suatu kaum dua bersyaudara, seorang kiyai Tuli namanya dan seorang kiyai Dau namanya, dan seorang syaudaranya perempuan, nyai Mas namanya, ia naik serta kelengkapannya membawah dirinya mencari tempat kedudukannya. Hatta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Hitu. Ia masuk dalam labuan Husekaak namanya. Maka tiada melihat negeri dan tiada manusyia, lalu turun daripada kelengkapannya, naik ke darat membuat negeri akan kedudukannya.Hatta demikian itu keluar seekor anjing, maka orang itu dikatakan: ‘Ada anjing, adalah lagi manusyia; jikalau ada manusyia, ada juga negeri.’ Lalu ditangkap anjing itu, digantungkan suatu bungkusan di atas leher anjing itu. Ada pun dalam bungkusan itu serba sedikit daripada alamat negerinya. Lalu dilepaskan anjing itu pulang ke negeri kepada tuannya. Maka apalah* dilihat tuannya bungkusan itu, maka ia melihat alamat serba sedikit itu. Maka ia berkata kepada orang sekalian: ‘Ada juga manusyia di pantai itu.’ Maka ia mengambil buah-buahan akan tanda alamat negerinya, lalu digantung kepada leher anjing itu, dilepaskan pulang keluar ke pantai. Maka dilihat oleh orang itu, maka kata orang itu: ‘Marilah kita pergi periksyai kepada negeri itu’, lalu ia berjalan. Hatta ia datang ke tengah jalan, maka bertemu seorang, lalu dipangil serta dengan dia berjalan menuju kepada negeri dan orang dalam negeri itu pun keluar semuanya berjalan ke pantai. Maka ia bertemu dengan penguluh kelengkapan itu, maka kedua pihak berhadapan bertanyatanyakan kehendaknya datang itu. Maka menyahut penguluh kelengkapan itu, segala hal-ahwal semuanya diceriterakan kepada orang itu. Lalu ia bertanya pula kepada orang negeri itu, maka menyahut orang itu. Segala hal-ahwal mulanya datang itu diceriterakan kepada penguluh kelengkapan itu. Tellah demikian itu, maka kedua pihak bennarnya jual-beli, tukar-menukar beramai-ramaian. Hatta datang malam orang itu pun pulang ke negerinya. Apabila datang esok harinya, ia turun juga jual-beli, tukar-menukar sebagailah. Maka suatupun tiada dalamnya melainkan melakukan kesukaannya. Itulah kesudahan bangsya Jawa. Alkissah peri mengatakan bangsya Jailolo dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera, demikian riwayatnya. Ada pun dalam negeri Jailolo itu dua bangsya, seorang bangsya Jailolo dan seorang bangsya Jawa, yakni anak raja keduanya. Maka dalam

hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala keluar bangsya Jawa serta dengan kelengkapannya. Maka syaudaranya dan setengah raiyat turun duduk menjadi penghulu kepada negeri Lisabata. Itulah kesudahan riwayat bangsya Jailolo. Lalu menyeberang ke tanah Hitu. ada datang ke tanah Seran. maka ia naik ke darat mengambil tempat akan negerinya. Hatta berapa lamanya di tengah jalan serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi datang ribut dan angin. Alkissah peri mengatakan bangsya Goron* dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera demikian riwayatnya. Ada datang ke tanah Buru. demikian katanya: ‘Hai tuhanku.’ Lalu perau mengambil ikan itu kembali menyampaikan khabar kepada perdana Jamilu. pattik minta maaf ke bawah dulli yang dipetuhan. Maka suatupun tiada hijab pada mereka itu melakukan kehendaknya. maka ia pergi sendirinya kepada orang itu. Tellah sudah paduka syaudara enda dinaikan kerajaan dan negeri yang dipetuhan pun sudah rusak. Maka disampaikan khabar itu kepada syaudaranya. Maka di belakangnya itu dinaikan bangsya Jailolo akan kerajaan. lalu bertanya padanya: ‘Darimana datang dan apa kehendakmu datang ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang dari . Daripada ketika itu sebuah perau daripada orang yang datang itu keluar memukat. seorangpun tiada mengetahui dia. kiyai pati namanya atau Ulima* Sitaniya*.[Sekali] perastawa* dengan kehendak Allah ta`ala ia datang kepada suatu tanjung Nukuhali. Maka ia berangkat sehingga datang ke tanjung Siyal*. Entah apa-apa kehendaknya gennap puluh dan tanjung sehingga datang ke benua Bacang. maka jadi fitna dalam negeri endak berkelai.’ Tellah didengar warta demikian itu. digelar Sellat* namanya. lalu masuk ke dalam sungai. lalu ia berangkat mencari tempat akan kedudukannya. Seorang pula kaum gulawarganya duduk menjadi penghuluh kepada negeri Waiputih. setengah mengatakan bangsya Jailolo akan kerajaan dan setengah mengatakan pula bangsya Jawa akan kerajaan.keduanya itu. lalu ia menyuruh rusak negeri syaudaranya. Lalu ia pulang sehingga seorang juga. masing-masing membawah aluannya. Ia dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Ambon. lalu bertanya-tanyakan: ‘Darimana engkau datang dan di mana engkau duduk?’ Maka ia menyahut: ‘Di darat sungai ini kami duduk. maka ia tiada mau pulang lagi. ia duduk di tepi sungai itu menengok pada orang mengambil ikan itu dan orang mengambil ikan itu pun pandang kepadanya. Tellah demikian itu. diam dirinya dalam utang. maka cerai-berai kelengkapannya itu. Sama berhadapan. Tellah demikian itu maka sebuah perau daripada pihak bangsya Jailolo ia keluar mengambil ikan. masuk dalam labuan.

Jika benar yang di bawah itu.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Maukah duduk serta kami?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau. tetapi tiada mengapa. Maka kata perdana Jamilu: ‘Bennarlah anaku. orang besar daripada Goron*.’ Maka menyahut: ‘Kujungjung ke bawah kadim yang memeliharakan dan mengasih dagang piyatuh. Lalu dicampakan serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahasuci lettalah kepada yang di bawah itu.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya? Untung kita serta kehendak Allah ta`ala. lalu masuk serta orang banyak dan permullianya dengan adat sehinggasana. dari dunia datang ke akhirat akan syaudaraku dan ada pun yang di bawah memagang penyapu itu.’ Lalu dipersuamikan anaknya serta makan minum bersuka-sukaan dalamnya. Maka jadi empat negeri pada tatkala itu. lettalah kepadanya. Tellah demikian itu. jika bagai kata demikian itu? Tetapi baik kita periksyai dahulu atau ia maukah atau tiada mau kepada kami. Maka ia tersunyum serta barpantung: ‘Harap-harap janji tuhan mengasih dagang piyatu. perdana kipati namanya.’ Lalu diam dirinya.’ Maka kata Jamilu: ‘Betapa kata demikian? Karena ia hamba mengapa maka kau ambil kepadanya? Didengar orang seolah-olah dicellai kepada kita. Siapa mengetahui tipu dayah tuhan?’ Lalu menyahut demikian katanya: ‘Dagang piyatu minta maaf. dan pakaian yang jahat kepada anaknya. karena ia anak yang empunya negeri. ada pun kami ini anak dagang. Kepada anaku juga yang menyasal. karena tiada patut hamba dan orang baik. Itulah sebabnya baik kita periksai dahulu. Ia berhadapan dengan perdana Jamilu bijaksana. ia duduk di bawah serta memegang penyapu.’ Lalu keduanya pergi masuk dalam negeri kepada rumah perdana Jamilu. ia duduk di atas di hadap orang banyak. Maka . maka ia mengambil tempat akan kedudukannya.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya lagi. lettalah kepadanya.benua Goron* dan kehendak kami mencari tempat kedudukan kami.’ Lalu ia menyaksyikan sepahnya. Ada pun yang di atas itu. Itulah nyata orang berbahagia dalam dunia. Tellah demikian itu. Tellah kesudahan kataku termasyhur didengar oleh orang sekalian. jikalau dengan faedahnya yang baik?’ Maka pula perdana Jamilu: ‘Mengapa maka tiada dengan faedahnya yang baik? Jika duduk serta kami kupersuamikan anakku akan isterimu supaya jangan was-was hatimu kepada kami. tuhan perhamba akan kami. Tellah kesudahan anak cucu Goron* linang. demikian katanya: ‘Apabila bennar anaknya yang di atas itu. Daripada itulah kurelahkan anaku akan isterimu. maka menyuruh orang membawah kepadanya. maka kata Jamilu: ‘Pada hari ini dan ketika ini kita sempurnakan janjian itu. Itulah negeri bangsya Goron*. Maka perintah dengan baik patut pakaian yang baik kepada hambanya.

lalu berkellai. Maka dimasukkan tiga kaum itu tiga kampung. Itulah dimasyhurkan nama keempat itu dalam tanah Hitu. Ialah mengerjakan sesuatu pekerjaan daripada keempat perdana. tiada berubah lagi. Kemudian daripada tiga itu. dan dinaikan kerajaan pun patut juga daripada bangsyanya datang itu. Apabila kepada suatu pekerjaan. Lain daripada itu tiada dimasukkan. makan minum sehingga menanti kepada angkatan itu. Alkissah peri mengatakan daripada pihak rayatnya tiga puluh gelaran dan daripada tiga puluh gelaran itu tujuh pengawanya yang besar. Alkissah peri mengatakan tatkala keempat perdana muafakat itu menjadi suatu negeri dan keempat kampung. Tellah sudah muafakat. Itulah diadatkan zaman datang kepada zaman turun-menurun. Ada pun Zamanjadi dipindakan Totohatu namanya dan perdana Mulai Mulai dipindakan Tanihitumesen namanya dan perdana Jamilu dipindakan Nusatapi namanya dan perdana kiyai pati dipindakan Pati Tuban namanya. Dan berjanji-janjian serta berputusan barang sesuatu pekerjaan dalam tanah Hitu. Dan perdana Mulai pun menghimpunkan segala hulubalangnya. Itulah kenyataan empat bangsya itu. Karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dan tiada dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan. Zamanjadi endak akan kerajaan dan perdana Mulai pun ia akan kerajaan. maka dimasukkan tiga kaum dahuluh. Hatta berapa lamanya seorangpun tiada manang kepada seorang dan seorangpun tiada allah kepada seorang. maka keempat perdana muafakat dahuluh.dengan kehendak Allah ta`ala muafakat keempat perdana itu menjadi suatu negeri dan empat negeri itu dijadikan empat kampung dan empat nama. Alkissah peri mengatakan bangsya Ambon dan peri mengatakan bangsya Jawa. Itulah seperti emas. maka muafakatlah keempatnya. sehingga takluk namanya. tiada dengan supuhnya lagi. lalu dikerjakan dan tiada lain lagi daripada keempat perdana itu. maka dimasukkan tujuh pengawanya serta tiga puluh gelarannya. lalu turun menyarang . Ada pun keempat perdana itu. melainkan melakukan kehendaknya. maka fitna kedua kaum itu. Itulah kesudahannya. keduanya melakukan kehendaknya. Zamanjadi dan perdana Mulai. Berapa lamanya maka datanglah angkatan itu. Kemudian daripada itu datang suatu bangsya tiga kaum yang ia datang dari negerinya. Itulah kesudahan kaum daripada pihak empat perdana. jikalau dinamai bendahara pun benar juga. sekali perastawa dengan kehendak Allah ta`ala dua kaum. Lalu Zamanjadi menyuruh mengambil angkatan dari negeri Selan Binaur datang endak menyarang kepada negeri perdana Mulai. maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera. jumlahnya tujuh kampung dalam negeri Hitu. serta dipindakan nama keempat itu.

serta berjanjian hari dan ketika itu. Maka kedua kaum diiakan kata perdana Jamilu itu.’ Maka kata perdana Mulai kepada perdana Jamilu: ‘Maukah tolong kepadaku?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau? Tetapi jika ada faedahnya.’ Maka menyuruh pula kepada Zamanjadi pun demikian juga. Apabila sudah lupa kepada harkatnya itu. Maka angkatan itu pulang dengan dukkacittanya dan empunya negeri pun makan minum bersuka-sukaan dan beramai-ramaian dalam negeri. Maka ia berkata: ‘Apa tipu kita kepada dua kaum ini? . sunyilah negeri.kepada negeri dan empunya negeri pun keluar. kemudian berbuat kehendak kita itu. lalu keluar. Maka kembali angkatan itu tiada boleh allah kepada negeri. Demikian perinta perdana Jamilu: ‘Apabila datang kepada hari anu. himpunlah orang serta senjata.’ Maka kata pula perdana Mulai: ‘Apabila engkau tolong kepadaku.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika bagai kata demikian itu. demikian katanya: ‘Apa tipu kita. karena engkau memulai negeri ini. lalu ia keluar berhadapan dengan orang sekalian. Barparanglah kedua pihak itu. Maka kita pun masuklah kepadanya melakukan kehendak kita itu. Itulah kita perjanjikan. tetapi ia duduk dalam hutan. Apabila ia keluar mencari kehendaknya. Aku pun demikian lagi. maka kata Zamanjadi kepada perdana Jamilu bagai kata perdana Mulai itu juga. Sebennar ia datang dahulu. Hatta datang kepada esok harinya pergi pula kepada Zamanjadi.’ Itulah sebabnya. Hatta datanglah kepada hari yang diperjanjikan itu. Lalu ia pulang masing2 membilang hari yang diperjanjikan itu. Hatta berapa lamanya maka perdana Jamilu bijaksana ia pergi kepada perdana Mulai. Bennar katanya ia memulai negeri. apa barang kehendakmu itu dan apa katamu itu tiada kulalui. Daripada itulah pantai Hitu dinamai Liasela* namanya. Sabar dahulu serta baik-baikan dengan dia. lalu undur daripada karas parang rakyat perdana Mulai. maka kedua kaum itu harkat* serta senjata. Maka datang suruan perdana Jamilu kepada perdana Mulai. karena ia sudah tahu perbuatan kita. demikian katanya: ‘Betapa kehendakmu kepada orang itu?’ Maka menyahut Zamanjadi serta bertanya kepada perdana Jamilu: ‘Ada pun kami kedua ini kepada bennarnya siapa patut akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika kepada bennarnya Zamanjadi akan kerajaan.’ Tellah berjanji demikian lalu ia pulang. tetapi Zamanjadi dahulu datang. ia kemudian. maka menyahut perdana Jamilu pun demikian itu juga.’ Maka diiakan oleh perdana Mulai. Hatta seketika juga patah angkatan itu. ikutlah perintaku. Maka ia berkata: ‘Betapa kehendakmu kepada Zamanjadi itu?’ Maka menyahut perdana Mulai: ‘Ada pun kami kedua kaum ini kepada bennarnya siapa akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu bijaksana: ‘Jika kepada bennarnya engkau juga.

Lalu bersettia dan muafakat serta perjanjijanjian dan bersumpah-sumpahan sehingga datang kepada hari kiamat seperti firman Allah: ‘Inna 'llaha la yukhlifu 'l-mi`ada. supaya menanti kehendak Tuhan Yang Mahamurah berbahagia kepada seseorang akan yang dipetuhan. Sehingga datang ke tanah Bima ada suatu fitnah dengan raja Bima. Itulah yang bersatuan nama keempat itu selamah-selamahnya zaman datang kepada zaman. Alkissah dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Maka keempat perdana itu seorang tiada tinggi kepada seorang dan seorang tiada randah kepada seorang. maka bertemu kepadanya. Kemudian daripada itu jika seorang tiada atau dua orang atau tiga orang sehingga seorang jugapun nama keempat juga. perdana Mulai tiada mau sembah. Empat puluh orang pendagar. ’Tellah demikian itu maka menyuruh kepada dua kaum itu segala perastawa perinta kata itu semuanya dikatakannya. Lalu keluar kepada orang sekalian. Apabila keduanya akan kerajaan. Lalu bertanya kepada perdana Pati Tuban Maka segala hal-akhwalnya semuanya diceriterakan kepada serri sultan.’ Itulah pertama yang memulai perjanjian. supaya kita menanti karunia Allah ta`ala. al-hamdu li-'llah. apatah daya sudahlah. maka demikian keduanya. yang mengikut itu kaum kita sekalian ini. maka dikerjakan. jadilah empat kerajaan dalam negeri. dan jika perdana Mulai akan kerajaan. Maka suatupun tiada ellat lagi dalamnya. sekali perastawa keempat perdana berhadapan muafakat.Apabila Zamanjadi akan kerajaan. Zamanjadi pun demikian juga tiada mau sembah. maka diiakan oleh dua pihak itu. Apabila tiada mengikut. Apabila ia keduanya akan kerajaan. yakni antun-antun. Melainkan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala serta orang muafakat. yang tiada mengikut itu bukanlah kaum kita sekalian. mengiring kepada serri . Apabila barang suatu pekerjaan melainkan keempatnya berhadapan. maka jadi akan kerajaan. Maka perdana Pati Tuban ia belayar ke benua Jawa tuntuti agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. itulah sempurna kerajaan. Hatta datang musim sultan pun pulang. yakni keempatnya bersamakan. Itulah adat keempat perdana dalam tanah Hitu. Baik juga kita kata demikian kepadanya. belum lagi kedangaran dalam dunia suatu negeri dua kerajaan. Atau salah suatu mengikut kata ini. maka bersettia muafakat dan bersuka-sukaan kembalilah kepada adatnya. karena empat perdana itu seseorang tiada tinggi kepada seseorang dan seseorang tiada randah kepada seseorang. lalu barparang pada ketika itu. Tatkala itu seri sultan Maluku paduka Zainul Abidin khallada 'llahu mulkahu wa-saltatahu ia datang ke benua Jawa. Ada pun pada ketika ini kita buat demikian pada keduanya: jika ikut kata orang sekalian.

dan serri sultan pun serta menettah hulubalang itu. sepuluh dengan negeri Hitu. Maka kuceriterakan yang empunya ceritera demikian riwayatnya. sehingga datang kepada sultan Khairun Jamil akan kerajaan zill Allah fi 'l-alamin.’ Lalu menyuruh kiaicili* Darwis akan utusan ke tanah Ambon meneguhkan pula perjanjian itu. tuhan Bahrul* namanya. Alkissah peri mengatakan perdana Jamilu dan peri mengatakan panngeran Japara. lalu belayar. Tatkala itu nyai Bawang* akan kerajaan. Maka suatupun tiada hisab* melainkan memerintahkan tanahnya serta agama Allah dan agama nabbi Muhammad salla 'llahu alaihi wa-sallama amin ya Rabb al-`alamin. Tatkala perdana Jamilu menyuruh utusan ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. maka mengatakan peri hal-akhwal perjanjian dengan raja Maluku itu. Semuanya dikatakannya kepada orang sekalian serta dijungjung titah itu. Itulah sebabnya dan seperkara lagi nama syaudaraku itu kuberikan kepadanya. maka ia bersettia dan muafakat dengan pangeran. Pada ketika itulah bawah kepada pendita yang alim. lalu negeri Hitu pun masuk iman kepada Allah dan nabbi Muhammad serta agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Ia masuk ke pantai Waibuti. Ia datang menuju serri sultan. maka semuanya diceriterakan kepadanya. Tellah demikian itu kuceriterakan yang empunya ceritera. lalu ia bertanya kepada perdana yang besar dalam negeri demikian titah: ‘Hai segala perdana dan parwara sekalian. Maka diceriterakan oleh [yang empunya ceritera] perdana Pati Tuban ia pulang ke tanah Hitu. Tatkala perdana Pati Tuban ia datang dari tanah Jawa itu. lalu menyeberang ke tanah Hitu.’ Hatta datang . Hatta berapa lamanya di tengngah jalan maka serri sultan Zainul Abidin pun wafatlah. maka lalu ke pantai Eran* dan dari pantai Eran* itu lalu ke tanjung Siyal. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji´un. Ada pun tatkala utusan datang ke Ambon itu singga di tanah Boanoh*. akan kadi di negeri Ternate. berapa kampung dalam negeri kita ini?’ Maka menyahut mankubumi: ‘Ada pun dalam negeri yang dipetuhan sembilan kampung jumlahnya.sulthan Zainul Abidin. Lalu ia memberi nama Patinggi: ‘Karena nama Jamilu itu artinya kepada bahasa Jawa “jangan mengikut”. Maka keempat puluh pendagar itu dinaikan kepada raja di atas kelengkapan. Maka masyhurkan demikianlah riwayatnya: ada pun tatkala serri sultan Khair Jamil akan kerajaan itu. Lalu mati hulubalang itu dan raja pun luka. Pada ketika itulah negeri Hitu dan negeri Waiputih serta negeri Eran* ketiganya muafakat bersama-sama. Hatta dengan ajal Allah maka datang seorang hulubalang raja Bima. lalu menikam dengan lembingnya kennah kepada sultan Maluku. sehinggalah termasyhur Ternate dengan Hitu. maka ia bertanya bangsya perdana Jamilu.

’ Maka kata seorang pula: ‘Demikian faedah yang baik daripada yang tiada beraja.’ Apa yang kehendaknya itulah diadatkan daripada zaman datang kepada zaman turun-menurun. Maka digelarnya Latu Sitania namanya. Tellah itu maka dinaikan Maulana ibn Ibrahim akan kadi daripada ia mutakalim daripada alim mahudum* guru sekalian tanah Ambon. maka kuceriterakan yang empunya ceritera. tetapi kita naikan dahulu seorang akan kerajaan. Hatta berapa lamanya keempat perdana berhadapan serta orang banyak. baik beraja. nama yang dijungjung. Ada pun amar dan nahi serta adat semuanya itu melainkan keempat perdana juga.’ Maka kata keempat perdana: ‘Apa salahnya karena ia kerajaan? Tetapi sehinggalah kerajaan.’ Maka kata pula: ‘Bennar juga kata keduanya itu tiada salah. maka keempatnya muafakat mengira-mengirakan negerinya. Dan negeri Hitu pun firaklah* dengan negeri Japara daripada raja yang kemudian itu kuranlah adilnya seperti raja yang dahulu.’ Dan seorang berkata pula: ‘Daripada beraja baik tiada beraja. sehingga tiada sampai ini juga. kepada suatu hari keempat perdana berhadapan kepada suatu tempat. Kemudian daripada itu. Maka suatupun tiada ellat dalam tanah Hitu. Ia duduk bejuntai-juntai. lalu membuat suatu mesjid tujuh pangkat. Dan dinaikan hukum* AbubakarNaseddiki* namanya. Itulah kesudahannya negeri Hitu dan negeri Japara. Ada pun tatkala masuk iman serta mengesakan Allah subhanahu wa-ta`ala dan termasyhurlah agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.’ Maka seorang pula berkata: ‘Mana faedah yang baik beraja itu dan mana faedah yang baik daripada tiada beraja itu?’ Lalu berkata keduanya: ‘Demikian faedah yang baik beraja.’ Lalu dinaikan kaum gulawarganya seorang akan kerajaan. maka kata orang sekalian: ‘Nyatahlah faedah yang baik beraja dan faedah yang baik tiada beraja.musim utusan itu pun pulang dan orang Japara pun gennap musim tiada berputusan bedagang ke tanah Hitu dan tanah Ambon sekalian sebagailah. Daripada itulah maka dikatakan firak. Maka seorang berkata: ‘Mana baik beraja daripada yang tiada beraja?’ Maka kata seorang: ‘Daripada yang tiada beraja. yakni artinya ‘raja tanya’. Tiada lain daripada keempat . Apabila raja itu tiada dengan adilnya diupamakan matahari tiada dengan bercahayanya. Alkissah peri mengatakan syariat nabbi akhir zaman. sehingga Nyai Bawang* pulang ke rahmat Allah. Daripada ialah termasyhur agama Allah dan agama nabi Muhammad rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. pergi datang berulang2 tiada berputusan. supaya kita periksai kepada faedahnya yang baik beraja atau faedah yang baik tiada beraja itu. maka raja naik ke atas balai. yakni dipawahkan*. tetapi bukan firak.

Dan kuceriterakan sekali perastawa raja naik kepada sebuah perau. Maka kata orang sekalian: ‘Bennarlah perdana Jamilu pahlawan dan bijaksana dalam tanah Hitu. jika beta tiada dapat alah kepada negeri itu. lalu ia becakap di hadapan orang sekalian. lalu sekali-kali di aluan angkatan itu serta menetta. Tellah demikian itu. demikian juga kemudian daripada itu. Hatta lama datang kepada lamanya.’ ‘Mengapa maka tiada boleh alah kepadanya?’ Maka kata angkatan itu: ‘Jangan alah. maka ia kembali dengan kemenangngannya makan minum bersukasukaan. demikian katanya: ‘Insya Allah ta`ala berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu kembali angkatan itu. Demikianlah halnya orang itu.’ Tellah didengar kata orang demikian itu. Maka panglima negeri itu keluar. tiada seupamanya lagi dalam tanah Hitu. lalu alah kepada negerinya. Demikian juga keempatnya seorang pengawa empat gelaran turun-menurun. jangan alah naik ke darat pun tiada boleh. Lalu ia menyuruh kepada negeri yang bukan takluknya.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Betapa perintah parangnya itu?’ Maka menyahut orang itu: ‘Ada pun panglimanya itu terlalu sangat gagahnya. melainkan kehendak Allah ta`ala juga tiada dapat dikatakan. Itulah kehendak Tuhan Yang Mahamurah kepada makhluknya. Maka dilepas kepada maslahat itu serta dengan kehendak Allah ta`ala kennah panglimanya itu mati dan orang banyak itu pun undur serta lari. turun ke pantainya pun tiada dapat. maka ia keluar. Ia keluar bersuka-sukaan sehingga datang kepada suatu pantai. lalu sekali-kali di aluan kelengkapan itu. Maka negeri itu keluar dengan angkatan pergi menyerang kepada negeri itu. Sebab itulah maka tiada dapat turun. Tiada boleh alah. berbahagia seseorang-orang dalam dunia. Apabila kita langgar ke darat.bangsya itu. Maka kata keempat perdana: ‘Mengapa maka kembali angkatan ini?’ Maka sahut orang itu: ‘Tiada boleh alah kepadanya. Ia minta tolong kepadanya. lalu langgar ke darat. Alkissah . serta menyingsing tangan bajunya.’ Tellah demikian itu maka ia membuat suatu maslahat serta dengan panah di aluan kelengkapannya itu. makin bertambah kebajikan dan kepujian. Hatta ia datang.’ Lalu disalin dan dimuliah kepadanya. Maka diikut belakangnya orang itu. Maka dikata dengan kata yang aib. Seorang pengawa empat gelaran kepada seorang perdana. Apa2 kehendaknya tiada ia muafakat dengan keempat perdana. beta pun tiada kembali. Itu pun tiada dikatakan kepada empat perdana itu. Maka tiada berupama kepada yang empunya negeri serta melakukan kehendaknya dan negeri itu pun tiada diketahui kepadanya. Alkissah dan kuceriterakan tatkala itu perastawa keempat perdana membahagi rakyat. lalu ia pulang diam dirinya kepada halnya. Hunimoa namanya pantai itu.

maka kami datang ke mari.’ Maka kata keempat perdana: ‘Bennar kata hukum dan penghuluh agama. Sekali perastawa ia minum mabuk.’ Maka dipindahkan dia ke tanah sebelah kepada tempat yang baik ia duduk. Hatta datang musim barat. Tubuhnya putih dan matanya seperti mata kucing. bulum lagi melihat rupa manusyia bagai rupa orang itu. Lalu ditanya kepadanya: ‘Darimana datang dan apa nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang di sini kami sessat tiada tahu jalan. jangan sama senegeri kita. maka suatupun tiada hujat dalamnya pada ketika itu dan termasyhur nama Kapitan Hitu dari negeri Ambon sampai negeri Portugal. Maka kami jatuh pesir* ke tanah sebelah dan kapal kami pun tekarang di laut Puluh Burung*. maka diberinya masara persalin kepada Kapitan Hitu. Maka tinggal kapal kami.’ Maka kembali pula bawah ia datang ke negeri kepada perdana Jamilu. Gennap tahun diadatkan selamanya. Hatta datang lama dengan lamanya serta kehendak Allah ta`ala yang kebaikannya itu dibalaskan oleh Tuhan Yang Mahamurah datang kejahatannya. Itulah hal keempat perdana. Kemudian kita membuat jahat pula. Selamanya umur kami hidup dalam dunia. naik kepada sampang endak pulang ke negeri Portugal. maka kata penghuluh agama: ‘Salah orang itu melainkan sampai nyawanya. Pada . kedua Don Jamilu namanya. tetapi ampun dahuluh kepadanya. maka menyuruh kapalnya datang gennap tahun tiada berputusan lagi. untung kami di sini. Hatta berapa lamanya maka ia memohon setengah duduk menungguh rumahnya dan setengah membawah khabar kepada orang besarnya. Kepada zaman itulah maka digelarnya kepada perdana Jamilu ‘kapitan Hitu’ namanya dan berjanjian apabila datang kapalnya. Maka raja Portugal digelarnya dua nama. Maka disampaikan kepada hukum dan penghuluh agama. karena sudah termasyhur kita membuat baik kepadanya. demikian katanya: ‘Ada kami bertemu sebua perau di laut Puluh Tiga. Jadi ramai bandar di tanah Hitu dan termasyhur sekalian tanah Ambon. Seperkara lagi sama makanannya dan minumannya. Maka ia datang membawah khabar kepada perdana Jamilu. Apatah daya.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Pergilah engkau bawah ia ke mari. ia tiada tahu bahasa kami dan kami pun tiada tahu bangsyanya. lalu berampas-rampasan serta haru-biru dalam pasar. daripada negeri itu tiada beragama dan lagi banyak minuman anggur. suatu Kapitan Hitu. apa hal nama kita didengngar oleh orang? Baik kita pindahkan dia kepada tempat yang lain.’ Lalu diberinya tempat membuat rumahnya ia duduk.dan kuceriterakan yang empunya ceritera: sekali perastawa sebua perau Saki Besi Nusatelu* ke laut Puluh Tiga mengambil ikan. Tetapi malim tiada tahu. Lalu kami tanya kepadanya.

Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Maka ia pulang kepada gurapnya. Lalu menyuruh sebuah gurap antar kepada mayit itu dahuluh dan ain inayat naik kepada sampangnya ennam buah itu dan gurapnya itu menanti di tanah Seran. maka ia meninggal negeri fanah datang kepada negeri baka. Sekali perastawa keempat perdana menyarang kepada sebuah negeri kafir. lalu naik rampas kepada kapal itu dan orangnya itu habis dibunuhnya. maka ia sakit serta dengan ajalnya. Maka ia meninggal dua buah gurap sehingga dinaikan orangnya. Maka keluar kafir itu serta barparanglah kedua pihak itu seperti orang bepasaran. makan-minum dan disalininya kepada pendagar Tahalele serta digelarnya pahlawan Tubanbesi dan syamsyirnya Lukululi. Hatiwe namanya. bersuka-sukaan. sehingga dimasyhurkan dua nama. Maka pangeran Japara menyuruh tujuh buah gurap mengantarkan dia. Hatta berapa lamanya menjadi fitna. maka bertemu kedua kelengkapan itu. Bunyi senjatanya diupamakan guruh di atas langit.ketika itu tiada dikira-kirakan kepada hari yang kemudian. Maka dipeliharakan dan diadatkan kepada mayit itu sehingga datang kepada seratus harinya. Pada ketika itulah pendagar Tahalele menyerrang buankan dirinya ke tengah tentara kafir itu seperti harimau. Maka ia menengar khabar orang. maka dimasukkan ke dalam petti. ada sebuah kapal di tanah Bandan*. jual-beli. Tellah demikian itu maka adinda perdana Jamilu belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. Hatta datang ke tengah laut antara Jawa dan Bali. . daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama dan Tubanbesi pun syahid pada ketika itu. Tellah demikian itu maka dihimpunkan orang serta kelengkapan Japara itu pergi menyerrang kepada sebuah negeri kafir. Maka ia pulang dengan kemenangngannya sehingga datang ke negeri bersukasukaan. Tiada dapat terpandang mukanya oleh musuh itu. ia menyuruh angkatan mengadang di tengngah jalan. makanminum dan bergela-gelaran nama panglimanya itu. lalu berparanglah. Maka didengar oleh kafir itu. lalu alah negeri itu. Hatta ia datang ke Bandan. Dan maitnya itu ditaburkan bauh-bauan. lalu paranglah dengan dia. Maka penghuluh kelengkapan itu kira-kiranya sukar karena banyak kafir itu. Hatta berapa dalamnya pun parang lanatullah itu dan tentara Islam itu pulang serta kemenangnya. alah-mengalah sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah. Hatta berapa lamanya. lalu belayar dibawah oleh angin dan arus jatuh datang ke tanah Seran. Sorangmenyarang. lalu belayar ke Ambon. tukarmenukar. lalu ia masuk ke pantai Hitu bersama-sama dengan tamannya yang mengantarkan mayit itu dan diturunkan kepada mayit itu. pertama Lekalahabesi dan kedua Tubanbesi.

karena pintu syurga sudah terbukah. Apabila Islam mati parang sabil. maka dalam akhirat suatupun tiada hisab* kepadanya melainkan masuk syurga. Ia masuk ke Kota Laha. Lalu ia menetta serta merampas panjipanji kafir laknatullah itu. entah berapa-rapa panglimanya. Maka tentara kafir itu cerai-berrai. Kemudian daripada itu mardan Totohatu ibn Zamanjadi ia bertempik. lalu menetta. yang diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Maka kata pahlawan Tubanbesi: ‘Untunglah aku sekarang pada ketika ini. lalu naik kepada kelengkapannya kembali serta dengan dukkacittanya dan orang Hitu pun kembali memeliharakan mayitnya itu. Entah berapa lagi dalam akhirat dibalaskan Allah ta`ala karena sabda nabi salla 'llahu ’alaihi wa-sallama: ‘Apabila mati Islam. Panglimanya dan pendagarnya serta dengan harkatnya. jika bulum lagi lepas daripada azab naraka. maka masuk pula parang ke medan. dalam akhirat bulum lagi diterima oleh malak al Ridwan. maka patah parang kafir itu. Alkissah peri mengatakan parang Don Duarde datang daripada negeri Portugal serta dengan kelengkapannya.’ Lalu bertempik menyerbukan dirinya ke dalam tentara kafir itu. patah tulang tangannya yang kiri. Ia beparang tettak-menettak serta kehendak Allah ta`ala kulitnya tiada makan besi. Maka didirikan panji-panji parang dan tentara Islam pun demikian lagi. Itulah manfaat orang parang sabil dalam akhirat. Maka keempat perdana menyuruh orang .artinya ‘patah tulang’. Inilah muafakat orang parang sabil dalam dunia. lalu masuk ke medan dan berbunyilah gendang. maka ditangkis oleh pahlawan itu. Seketika juga himpunkan orang dan panglimanya sekalian serta dengan Den Daurdia*. maka ditankis oleh laknatullah itu. Lalu bertempik kedua pihak itu upama guru di atas langit bunyi tempiknya. maka khabarkan orang kepada negeri Hitu dan tanah Ambon sekalian. pendagar parang. Namanya digantikan Tubanbesi yang mati itu. maka bertempik Umar. Hatta datang seketika lagi masuk pula ke medan. Daripada sanngat marah hatinya kepada panjipanjinya itu.’ Yakni artinya bulum lagi masuk syurga. suisa* dan serunai. Ada pun tatkala itu datang sebuah kapal membawah kepada serri sultan Maluku ke tanah Ambon. masing-masing melarikan dirinya. Alkissah peri mengatakan sultan Maluku demikianlah riwayatnya. Maka dipaluh dengan esfingarnya* laknatullah itu. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang bersembahyang mengadap kepada kiblat. Esfinkarnya* putus kedua pangkal. caramela* pelbagailah bunyi-bunyian. maka ia naik ke darat. jika bulum dilepaskan oleh malak al Zabaniah. maka patah pula laknat itu. Hatta seketika juga mardan* Khatib ibn Maulana dan maradan Tahalele ibn Abubakar Nasiddik keduanya syahid.

Tanda kasih dan tulus serta kehendaknya itu tellah sampailah kepada kami. Hatta lagi maka titah syah alam kepada empat puluh orang itu: ‘Pulanglah engkau bawah gendaga itu dan sampaikan salamku kepada empat perdana. betahanlah di situ. Alkissah dan diceriterakan yang empunya ceritera. Inilah tanda berteguhan ikrar dan tasdik. lalu ia kembali duduk di negeri Luhu serta meneguhkan tanah . Maka keempat perdana pun endak mengulang lagi.periksyai kepada khabar itu. Hatta berapa lamanya alah pula bukit itu. maka raja pun tercengang tiada boleh bersuarah. Maka negeri semuanya itu takluklah kepadanya kafir itu. Empat puluh mata keris dimasukkan ke dalam gendaga Seran dan di atas keris itu has* sehellai dan di atas has itu sirri pinang dan bunga serta bauh-bauan. Hatta berapa lamanya alah negeri itu. demikian katanya: Dapatkah atau tiadakah kami endak menyuruh melalat kepada raja Ternate itu?’ Maka kata gurendur Feranggi: ‘Mengapa maka tiada dapat. Maka datang orang itu katanya: ‘Bennar juga khabar itu. Dan negeri Hitu pun pinda ke atas bukit. Ia naik ke darat. Alah-mengalah. maka kami pun terima dengan sempurnanya. Ialah memeliharakan negeri sekalian serta mengeluarkan angkatan ke tanah Hitu.lalu bedamai orang Hitu dan orang Feranggi. bennarkah atau tiadakah.’ Lalu orang itu pulang serta gendaga itu dan sampaikan salam titah itu kepada keempat perdana.’ Lalu menyuruh melalawat* dengan tipu maslahat. maka datang kapitan Sanjo*. pagi petang tiada berkeputusan. Maka ia parang siang malam. sarangmenyarang sebagailah parang sabil Allah. Pada ketika itu pahlawan gimelaha* Laulata ada di tanah Ambon. maka menyuruh tanya kepada gurendur Peranggi itu. lalu ditudung pula kepada gendaga itu. karena kita sudah bedamai. Ia duduk di negeri Lesiela*. betahanlah di atas bukit itu. Sehingga keempat perdana dan setengngah negeri tiada berapa itu pinda ke Tanah Besar. Maka tanah Hitu serta tanah Ambon sekalian paranglah dengan kafir laknat itu. Ialah bennar syaudaraku dari dunia datang ke akhirat. lalu membuat kotanya di pantai Hitu. Lalu dibukah sendirinya serta pandang kepada keris itu. Maka ia pun mau. Maka ia langgar kepada sebuah kapal. Dan empat puluh orang gaggah membawah makanan serta gendaga itu di hadapan raja. lalu kapal pun belayar membawah kepada serri sultan. Ada pun daging darahku sekali pun tiada bagai demikian ini. Ulukulu namanya. Tellah demikian itu. Kemudian daripada parang Don Daurde itu. maka naik pula ke atas bukit Mamala.’ Maka keempat perdana muafakat: ‘Apa tipu kita karena janjian kita serta sumpahan?’ Lalu menyuruh kepada kapitan* Feranggi itu minta bedamai. terlalu ammat gaggahnya. maka berulang-ulang beparang di tanah Hitu.

Daripada itulah negeri Nusaniwe ia pinda datang ke negeri Hitu. Tellah demikian itu. maka kami percahaya. Itu bersuatuan namanya. tetapi suatu bangsyanya. . ia keduanya juga. Ia duduk kepada bukit Hatunuku. ketiga Latuhalat lawannya perdana Nusatapi. Lalu dipepatutan karena negeri Hitu pun keempat perdana itu empat bangsyanya dan Nusaniwe keempat perdana juga. Apabila kasahkitan negeri Hitu. nyiyahkan kepada kafir itu dahulu. Pada zaman itu negeri Hitu sekalian memberi kepala ikan ia upetti kepada keempat perdana. maka ia pulang ke tanah Ambon. Nama gelaran negeri Henalale dinamai Hehahitu dan gelaran negeri Latua dinamai Hehatomi* namanya. ia keduanya juga. Hatta berapa lamanya bertambah -tambah kebajikan dan kemerahan. atau kebajikan negeri Nusaniwe. kedua Totohatu lawannya Lisakota. maka hukum Abubakar pergi mengadap kepada serri sultan di Maluku. Entah apa kehendaknya titah. Itulah perinta hukum Abubakar Nasiddik dan sekalian negeri pun kembali kepada hukum Abubakar dan keempat perdana. demikian katanya: ‘Negeri sekalian empunya sembah datang ke bawah kadim tuhanku. jumlahnya dualapan perdana lima bangsyanya. Tellah demikian katanya: ‘Sudahlah bagai kehendak tuhan-tuhan itu. Ingatkah lagi rakyat tuhanku atau tiadakah lagi?’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Mengapa maka kami tiada ingat? Ingat juga.’ Lalu ia pulang memberitahukan kepada negeri sekalian. maka disampaikan kepada hukum dan keempat perdana.’ Maka menyahut pula gelaran itu: ‘Bilamana lagi tuhanku maka datang ketikanya dan waktunya? Tetapi negeri tuhanku sekalian itu sekarang inilah datang ketikanya dan waktunya melainkan tuhanku pulang dahuluh di tanah Hitu.’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Apabila bagai kata demikian itu. tetapi bulum lagi datang kepada ketikanya dan waktunya.Ambon. pulanglah engkau.’ Maka hukum Abubakar dan keempat perdana pada ketika itulah pulang ke tanah Hitu. lalu menyuruh gelaran Tuheasal dan Tuhelusun datang kepada hukum dan keempat perdana. keempat perdana Pati Tuban lawannya perdana Pati Naelai. Tellah demikian itu dan diceriterakan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe kedua berhadapan kepada suatu majellis serta muafakat dan berjanjian. maka suatupun tiada ellat sehingga melakukan parang sabil Allah daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Hatta didengar negeri sekalian di tanah Hitu tellah datang hukum Abubakar daripada Ternate. Suatupun tiada dengan hisab* karena tatkala muafakat itu dipersyahdakan*. Lalu Lalu dipepatutan: pertama Pati Lupa* lawannya perdana Tanihitumesen. lalu dibunuh kafir yang dalam negeri itu. yakni tentukan perjanjian itu. Tellah dibunuh itu.

Itulah daripada pihak bendahara. Dan daripada pihak hamba raja pertama Kalaudi dan kedua Usman dan ketiga Kabutu Malu dan keempat Sagaluwa*. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan sekalian ini termasyhur pendagar. ketiga cili Abu Syahid dan keempat cili Kaba. Asilulu suatu juga. Alkissah peri mengatakan johan pahlawan gimelaha Rubohongi. jika datang kejahatannya pun kita bersamasama.Itulah kesudahan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe. Kemudian daripada itu dan kuceriterakan. tetapi dalam pihak Ulima. kelima Sibangua. sekalian keluar dengan kelengkapannya mendattangi sebuah negeri. tatkala bulum lagi dinaikan kapitan laut. sebagailah kedua pihak itu tiada berputusan lagi.’ Ada pun perjanjian ini sehingga Alan.’ Dan suatu lagi dijanjikan juga: ‘Apabila jika orang dari sebela pihak Ulisiwa endak masuk muafakat serta negeri Hitu. pun ia pergi datang berulang-ulang membawah titah sebagailah. maka datang kepada negeri Asilulu. Lalu melawanlah kedua angkatan itu daripada waktu duha sehingga datang kepada bakda lohor. Maka kedua pihak . Liliboi dan Larike. Sungguhpun namanya Ulisiwa. ada mennang. Maka keempat perdana menerima kepadanya itu serta dengan berjanji-janjian. bersama-sama datang ke negeri Hitu. kedualapan baginda cili Ali. lain daripada itu tiada kusubutkan. Bennar juga dalam pihak Ulima. kedua cili Kodrat. maka dibawah kepada perdana Jamilu. demikian itu katanya: ‘Apabila jika datang kebaikannya pun kita bersama-sama. ada yang menyarang. ada parang di laut. maka ia bertemu dengan angkatan Nasrani di tanjung Mamala. Ia datang akan bendahara di tanah Ambon serta kaum gulawarganya gimelaha Haji dan gimelaha Sakatruana. Tellah demikian itu dan diceriterakan daripada negeri Urin* dan Asilulu. ada disarang. kelima cili Naya. ada yang dimennang. Maka datang kepada kerabat serri sultan daripada bangsya raja: pertama kiyaicili* Cuka. Ada parang di darat. Serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi sekali-kali dengan kelengkapannya dan mayitnya perdana Kakasingku* pun sabil Allah tiada kettahuan lagi. keenam Ambalau. Maka datang angkatan kafir laknat bantu kepada negeri itu. Wakasihu dan Urin*. Latu namanya. Segali perastawa gimelaha Kakasingku* keluar dengan kelengkapannya. karena pada tatkala itu sangat parang sabil Allah di tanah Ambon. Lain daripada itu tiada kuceriterakan sehingga ibn bendahara: pertama gimelaha Kakasingku* dan (kedua) gimelaha Jamali dan (ketiga) gimelaha Kulabu dan keempat gimelaha Aja dan kelima gimelaha Basi dan keenam gimelaha Angsari*. Daripada itulah maka tatkala ia bertemu kepada orang Peranggi itu. Pun ia utusan. keenam cili Ici dan ketujuh cili Aya. tetapi dalam martabat negeri Hitu.

Maka kedua pihak berhadapan seperti orang berhadapan serta dengan hidangan karena sangat maksud Islam ke sana kepada kafir laknat itu. lalu masuk ke dalam negeri. maka patah parang Islam itu. Maka angkatan itu sekalian kembali masing-masing ke negerinya. ketiganya pendagar parang.berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian jualbeli. Sebab pada ketika itu baginda cili Cuka ia menjadi kapitan laut. tiada berputusan berkawal-kawal kedua tentara itu. Daripada itulah maka tiada berpaling apa tipu orang banyak serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi daripada kesudahan hidup manusyia dalam negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Maka negeri ke dalam kotanya dan orang itu pun mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. Dan Kalaudi pun dengan kelengkapannya masuk. lalu ia masuk. sendirinya memeggang panji-panji serta membaca salawat. Alkissah dan kuceriterakan yang empunya ceritera. Laknat itu alah kepada kota Islam itu. maka ia belayar kembali ke tanah Jawa. Itulah kesudahan parang kiyai Mas di tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Dan panglimanya yang gaggah dalam angkatan itu Martajiwa namanya dan seorang Panarukan namanya dan seorang pula Pasiruwan* namanya. Alkissah peri mengatakan parang kiyai Mas. dua bersyaudara gimelaha Angsari* dan Liwa alDin. Hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala kepada pihak Islam itu pergi barjalan ke sini dan orang kawal itu pun serta dengan alpanya ia tidur. Lalu bertempik kedua pihak itu seperti datang tofan bakilat-kilat dan . hoja* alim mahudum*: ketiganya syahid. Apabila datang esok harinya demikian juga. karena Jamali alDin itu pahlawan yang termasyhur. Ia undur lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke negeri Hitu. Hatta datang musim. Maka dipandang oleh kafir laknat tempat itu sunyi dan kotanya itu pun tiada manusyia. maka pangeran menyuruh kepada kiyai Mas serta kelengkapannya. Hatta ia datang ke tanah Hitu dan orang Hitu pun keluar angkatan serta ia mendatangi negeri kafir itu. Dan orang sekalian itu pun lari masing-masing membawah dirinya sehingga gimelaha Jamali al-Din. maka ia bertemu kepada kafir laknat itu. maka ia syahid serta kelengkapannya pada ketika itu juga. sekali perastawa keluar angkatan Islam mendatangi negeri kafir dan angkatan kafir pun keluar. Hatta datang malam masing-masing pulang kepada tempatnya. Tatkala perdana Tubanbesi belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangngeran minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka kedua angkatan itu sama bertemu di tengah jalan antaranya Hitu dan Kota Laha. Maka panglimanya yang gaggah itu syahid.

Masingmasing pulang kepada tempatnya. Ada pun dalam angkatan kafir itu pun demikian juga luka dan mati. Entah berapa aluannya. Segali .bunyi senjatanya diupamakan guruh dari atas langit dan asapnya senjata itu menjadi awan antara langit dan bumi. Hatta lama dengan lamanya sebagai juga tiada berputusan parang sabil Allah. Tuhahan* namanya. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala sebuah kelengkapan Islam. Hatta dengan ajal Allah. daripada ajal itulah meneguhkan hati manusyia serta memberikan kesudahannya. Maka didapat oleh kafir laknat itu. ketiga orangkaya Watimena dan raja Rosengaing*. Kemudian daripada itu pergi alah kepada negeri. makan-minum bersukasukaan. Dan daripada orang luka dan mati itu tiada kuceriterakan. Itulah hal parang sabil Allah. Alkissah dan kuceriterakan oleh yang empunya ceritera sekali perastawa orang Hitu keluar dengan kelengkapannya. Asapnya itu menjadi awan menudung kepada kedua angkatan itu tiada berkenalan. Dan parangnya itu daripada waktu duha sehingga datang kepada waktu asar . Itulah kesudahan tanah Bandan* datang ke tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. maka dilanggar sebuah kapal. Ada pun pada ketika itu ada juga suruan pangeran. Hatta berapa lamanya datangnya itu dan negeri Hitu pun keluar angkatan serta dia bersama-sama mendatangi kafir laknat itu dan kafir itu pun keluar angkatan. Kemudian daripada itu datang pula angkatan itu ke tanah Hitu. Ia membuat kota di pantai sebelah berhadapan kota Ferangi. hulubalang Pati Lihat namanya. lalu undurlah kelengkapan Islam itu kembali dengan dukkacittanya. Dan angkatan Ferangi pun keluar sama bertemu di pantai Kota Laha. Hatta datang musim. kedua kapitan Atijauh. Maka negeri Bandan* sekalian keluar angkatan ke tanah Hitu. lalu pulang ke tanah Bandan. itu bukan dialah oleh Ferangi. tetapi penghulu yang besar dalam angkatan itu pertama kapitan Falat. Itu pun tiada juga jadi kota. Hatta terbit fajar kepada bakda subuh keluarlah kedua pihak angkatan itu berlawanlah dan bunyi senjata itu tiada dapat dikatakan. Alkissah dan kuceriterakan johan pahlawan Tahalele ke tanah Bandan*minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Hatta hilang awan itu. Sehingga datang musim ia pulang. lalu patah parang kafir itu dan angkatan Islam itu kembali serta kemenangannya. lalu undurlah keduanya angkatan itu. maka ia kembali ke negeri Hitu. ia meninggal sendirinya pulang ke negeri Hitu. maka melawanlah kedua angkatan itu. Islam pun dukacitta hatinya dan Nasrani pun demikian lagi. maka baginda kiyaicili pun syahid. tebakar oleh api obat bedil sendirinya. tetapi tiada masyhur parangnya itu. Pada mati dan luka itu tiada dikira-kirakan lagi.

lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Rubohongi ia pulang ke rahmat Allah meninggalkan negeri fanah datang kepada negeri yang baka. lalu ia keluar angkatan. Kadang-kadang Tanah Besar masuk kepada parang. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. pahlawan al-Din.pertama Ulu Ahutan. Sebab itulah maka dikatakan tanah Hitu di belakang perisyai dan Tanah Besar di dalam perisyai.keempat Pati Baraim.perastawa keluar angkatan kafir laknat itu serta orang Tidore dan orang Buru mendatangi di negeri Hitu dan orang Hitu pun harkat menanti di pantai. sungguh pun disubut tanah Ambon. kedualapan pendagar Nasiela -.’ Lalu ia bertempik ke dalam tentara kafir itu serta menettak. sehingga Jumat pahlawan al-Din ada. Dan kuceriterakan hulubalang kafir laknat itu pertama Don Duarde. kelima Umar pendagar. tetapi ia dalam uzur. Lalu ia menyerrang kepada negeri Hitu.hulubalang yang termasyhur dalam tanah Hitu. Maka pada ketika itulah perdana Kapitan Hitu memagang senjata. Hatta seketika juga patah parang kafir laknat itu. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Kuceriterakan menang Islam kepada kafir itu: sekali alah . biarlah aku sendiri keluar dahulu. Lain daripada itu tiada kusubutkan melainkan Jumat. kedua kapitan Sanco*. Masing-masing lari terjung ke dalam air berenang kepada tempatnya sehingga hulubalang Sulaiman: maka ia tiada paling mukanya. tetapi tiada dapat lagi. Tatkala itu sekalian hulubalang serta pendagar semuanya tiada. ketiga hulubalang Hatib Tunsulu. Maka dihabarkan orang kepada kafir laknat itu. Tatkala pada zaman itu alah menang sama kedua pihak itu. sehingga inilah dimasyhurkan sangat parang kafir di tanah Ambon. Karena tatkala zaman parang itu hulubalang dan pendagar ada semuhanya -. maka ia bertankis-tankisan dengan perisainya serta undur datang kepada air sehingga lututnya. maka hulubalang Ulu Ahutan ia becakap di hadapan orang sekalian: ‘Jangan dahulu orang keluar. Apabila tiada patah orang itu. Kehendak kafir itu menggagahi akan mayit bendahara itu. Itulah sangat parang sabil Allah di tanah Hitu. ketiga Paulo Kastanya dan Dan Tamura dan Dirgurumaridisi dan Siku Kisua dan Don Disera* dan Fernando Melo* dan Antoni Laliru. kedua hulubalang Hasan Pati. sebab sudah dipindahkan ke Tanah Besar. Ialah yang termasyhur pendagarnya dan terlalu amat gagahnya daripada sekalian. maka patah parang laknat itu. keenam Mahir pendagar. ia masuk parang kepada tentara kafir itu. ketujuh pendagar Nahoda. Hatta datang angkatan itu lalu turun. tuhan-tuhan sekalian keluar. Itulah parang sabil di tanah Ambon. tetapi tanah Hitu juga parang siang dan malam tiada berputusan.

’ Maka kata keempat perdana: ‘Jika bagai kata demikian itu. Dan kuceriterakan yang empunya ceritera. maka orang Hitu tanya kepadanya:‘Darimana datangmu dan apah nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Kami datang dari negeri Hollandes* dan nama raja kami “Paringsi*”. Ia masuk ke Hitu. termasyhur dalam negeri Wolanda. maka orang Hitu bayar empat ratus bahara kepada Wolanda. orang hitam kepada orang Hitu. lalu belayar ke negeri Wolanda menyampaikan berjanjian berputusan kata sekalian itu kepada Prings vin Nyuranye* dan orang besar2 dalam negeri Murucisa*. Lain daripada itu tiada kuceriterakan.sebuah kapal di tanah Bandan. Dan enam orang dinamai ‘graf*’. Bagaimana kehendaknya Prings dan orang besar2. Dan diperjanjikan upahan: apabila alah kepada kotanya. maka kapitan Peranggi menyuruh kepada keempat perdana.sampaikan dahulu kami punya pekatahan ini. kedua sebuah di pantai Hitu dan ketiga sebuah serta angkatan Bandan* dan keempat langgar kepada pinsu* dan kelima langgar kepada antonibot*. Dan menang kafir kepada Islam pun demikian lagi. karena parang sabil di tanah Ambon itu tujuh puluh tahun daripada parang Don Duarde sehingga datang parang Antoni Furtado*. dan orang putih itu kepada orang Wolanda. maka bayar empat puluh bahara. Tatkala belum lagi datang Furtado itu. Apabila alah kepada kapal. Hatta datang musim barat kapitan amiral Kurnilis* [dan] Istin Warhaga* pun datang. lalu ia belayar pulang ke negeri Holandes menyampaikan katahan itu kepada orang besar2 dari negeri Holandes. karena ia ingat kepada perjanjian dengan amiral Istiwin . atau kamikah datang ke sana atau menyuruhkah datang ke mari?’Serta dengan kiriman tanda alamat tanah Ambon. yakni syaudagar yang besar lagi artawan. maka datang sebuah kapal Wolanda. demikian katanya: ‘Marilah kita bedamai dan bebaikan dunia tanah Ambon. Kapal serta senjatanya dan orang putih kepada Wolanda. Maka ia pulang. jika salah kepada adat jangan dikerjakan kepada dua kaum itu. tetapi menyuruh sampai kepada Prings* dan orang besar2 di negeri Holanda* supaya boleh dengar kepada dia empunya pekatahan. lalu masuk ke Kotah Laha periksai kepada kotah Feranggi itu. Kemudian daripada kapal belayar itu. Tellah demikian itu. Ada pun kotanya dan senjatanya dan orangnya hitam itu kepada orang Hitu. Maka ia berhadapan kata serta keempat perdana dan berjanjian apah upahan dan berputusan barang kerja: apabila barang sesuatu perbuatan. ialah empunya kapal syaudagar yang datang ke tanah bawah hangin ini. bolehkah atau tiadakah.’ Tetapi keempat perdana tiada mau.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bolehkah kami minta armada tolong kepada kami?’ Maka kata orang itu: ‘Mengapah maka tiada boleh? Boleh juga.

Lalu ia mendatangi negeri Iwa* dan orang Iwa* pun keluar berparang dia. Hatta datang ke tanah Jawah. Maka kafir itu mendatangi negeri Luhu dan Lasidi*.’ Maka menyahut menyahut pula kata Mihirjiguna itu: ‘Apabila jika . lalu undur pulang ke Kota Laha.’ Maka kata pula Mihirjiguna dan mardan Sibori: ‘Marilah sama kita ke tanah Ambon. lalu peranglah kedua pihak itu tiada berputusan sehingga datang Furtado. sebab dilontar dengan batu oleh negeri itu kennah kepala kapitan Furtado. Alkissah peri mengatakan datang Furtado. Lalu dibawah kepada perdana Tubanbesi dan orangkaya Patiwani kepada kafir laknat itu. lalu belayar dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Ambon. Ada pun tatkala datang Furtado serta kelengkapannya.Hatta seketika juga patah parang kafir.maka negeri sekalian takluk kepadanya.Warhaga* itu. sehingga keempat perdana juga pinda ke Tanah Besar. Maka bertemu dua buah kapal Wolanda dan ditanya kepadanya: ‘Mana kapitan-mor*?’ Maka ia menyahut: ‘Kapitan-mor ada di tanah Bandan. keluar dari negeri Murucisa* dan empunya angkatan ini Prings van Nyuranye* dan penghulu dalam angkatan ini amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*. Hatta datang musim barat. maka ia bertemu dengan kapitan Wolanda itu dan keduanya berhadapan kata dan bicara.’ Lalu Kapitan Hitu belayar ke tanah Bandan. Hatta berapa lamanya alah gunung itu. Kambelo itu pun alah juga semuanya. demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini dan siapa empunya angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun angkatan ini angkatan Wolanda. Maka Kapitan Hitu naik kepada sebuah perau pergi mencari bantu sehingga ke Seran. Daripada tiada mau mengubah janjinya. maka Mihirjiguna dan mardan Sibori bertanya kepada angkatan itu. maka ia menanti sehingga datang sama negeri Banten.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Endak ke mana?’ Maka ia menyahut: ‘Mencari kepada musuh kami. maka ia naik barparanglah di sana. yakni negeri Luhu. Maka dinaikan empat orang mengikut kapitanmor itu. dan perdana Tanihitumesen ia duduk di negeri Anin dan perdana Pati Tuban ia duduk di negeri Waibuti dan perdana Nusatapi ia duduk di Gamusungi. karena musuh itu ada di tanah Ambon. datang pula sebuah kapal ke tanah Ambon kepada empat perdana. Portugal namanya. Dan negeri Hitu pun pinda ke gunung Pinau*. lalu ia mendatangi negeri Hitu. Itulah halnya orang berjanjian. Maka kuceriterakan keempat perdana pinda ke Tanah Besar itu. Maka keempat perdana menyuruh kepada Mihirjiguna ibn Kapitan Hitu dan mardan Sibori ibn Tubanbesi keduanya naik kepada kapal itu mendapatkan angkatan. Demikianlah parang Antoni Furtado* di tanah Ambon sehinggalah perangnya. Hatta berapa lamanya angkatan pun datang.

’ Lalu katanya kepada kapitan Feranggi itu: ‘Keluar engkau dari tanah ini. Apabila datang cari kepada isterinya.’Lalu dinaikan Firdirik Hutman* gurendur di kota Ambon. maka beri empat puluh bahara. Ada pun kapalnya serta senjatanya kepada Wolanda dan orang putih serta kapalnya. karena tanah ini ada yang empunya. hatta datang kepada hari dan ketika yang baik. lalu diam kapitan Feranggi itu tiada berkata-kata lagi. Maka amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* pulang serta angkatannya menyampaikan khabar kepada Frings* dan orang besar2 dalam negeri Wolanda. tetapi barang kerja kota atas orang hitam. tetapi kita mengambil kota ini seperti kita mengambil isteri orang. Maka diberinya perau. Ada pun bunyi dalam surat itu. maka kita melawan dengan dia. baiklah Wolanda duduk kepada kota itu.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Diiakanlah jika bagai kata demikian itu. mengapah maka kami keluar dari tanah ini?’ Maka kata amiral:‘Bukan engkau empunya tanah. Maka dibaca surat itu. demikian buninya: ‘Apabila alah kotanya itu. Hatta datang itu. lalu belayar serta Mihirjiguna dan mardan Sibori ke tanah Ambon. Tellah demikian itu maka kata amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* kepada Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Betapa kota ini?’ Maka kata Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya: ‘Baik juga kita rusakkan kota ini buan ke laut.dengan faedahnya. maka kapitan Feranggi menyuruh datang tanya kepadanya. dan orang hitam kepada orang Hitu dan artanya itu bahagi dua.’ Maka kata Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Jika bagai kata amiral itu. maka kami bersama-sama ke tanah Ambon. lalu masuk kepada labuan kota Feranggi itu.’ Telah demikian itu. ada pun orang Wolanda sehingga perintahkan dan mengaraskan.’ Lalu Mihirjiguna keluarkan surat perjanjian itu kepada amiral Matelif*dan Istiwin Warhaga*.’ Lalu dikeluarkan kepada Mihirjiguna dan mardan Sibori di hadapan.’ Maka kata kapitan Feranggi itu: ‘Mengapah maka kata demikian? Karena kami empunya negeri ini. lalu ia diam dirinya. maka kami beri empat ratus bahara cengkeh. Ada pun kotanya serta senjatanya kepada orang Hitu dan orangnya hitam itu pulang kepada hitam dan orangnya putih itu pulang kepada putih. Apabila jika alah kepada kapalnya. lalu keluar duduk di luar. lalu ia belayar pulang ke negerinya. bagaimana tempat kita jawab kepadanya? Ada pun tempat kita itu melainkan dengan kota.’ Maka kata amiral dan Istiwin Warhaga*: ‘Bennar juga kata itu.demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Angkatan ini dari negeri Wolanda. Hatta datang pagi hari dikeluarkan anak kunci itu diserahkan kepada tangan amiral. datang . Hatta datang musim barat. Itulah kerjakan dia. Sudah ia berikan kepada kami dan ia pun ada pada kami.

Maka datang baginda cili Ali dan gimelaha Aja dan hamba raja Ambalau minta kepada amiral.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Berilah hasil tiga negeri itu kepada kami. maka kata baginda cili Ali kepada gimelaha dan orangkaya-kaya semuanya: ‘Apa tipu kita karena negeri Ternate dalam kesukaran?’ Maka ia saat*: ‘Endak kepada hasil tiga buah negeri itu. tiga buah negeri itu kami minta. Moga2 dengan kehendak Allah ta`ala dan berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Apa tipu kita sekarang ini?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun sudah rusak negeri Ternate serta dengan arta isi rumahnya habis dirampas oleh kafir itu.’ Tellah demikian itu maka gimelaha dan kiyaicili katakan kepada amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* dan kapitan sekalian dalam angkatan itu.’ Maka diberikan anak Kapitan Hitu. lalu pulang. itu upahnya atas tanah Hitu. Pada ketika itu. masuk ke Kota Laha. melainkan hasil datang dari tanah Ambon. apatah kehendak amiral itu? Katakanlah. maka kembali negeri Ternate serta dengan kerajaan. Marilah kita ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. apabila kembali rayat semuanya dan negeri Ternate pun tettap. maka kita berilah salah. Dan Kapitan Hitu pun becakaplah di hadapan orang sekalian itu. Lalu kata amiral: ‘Berilah anak Kapitan Hitu ikut kepada kami supaya kami sampaikan kepada Prings dan orang besar di negeri Wolanda.’ Maka kata kiyaicili Ali dan gimelaha dan hamba raja:‘Mana tiga negeri itu?’ Maka kata amiral: ‘Negeri Luhu dan Lesidi dan Kambelo. Lalu kata gimelaha dan kiyaicili: ‘Marilah kita pulang dahulu.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* menyahut amiral keduanya: ‘Jika dengan manfaatnya maka kami mau ke Maluku. demikian katanya: ‘Tellah sudah selamat tanah Ambon daripada bahaya.’ Lalu berkata: ‘Apabila angkatan itu ia mau tolong kepada negeri Ternate.pula angkatan itu ke tanah Hitu. sudah tiada kurang kepada hasil masuk negeri Ternate kepada hari yang kemudian itu. supaya kami dengar. Dari mana akan datang ganti isi astanah raja? Karena rakyat sekalian wa-'llahu a`lam dalam kesukaran. maka diiakanlah kapitan sekalian itu. sehingga .’ Maka kata baginda cili Ali dan gimelaha Aja: ‘Apatah lagi manfaat? Karena Kapitan Hitu mengatakan upahan itu kami semuanya di situ. tiada beri salah. esok hari maka kita berkatakata’. insya Allah. Maka menyuruh panggil kepada kapitan serta keempat perdana Hitu.’ Maka gimelaha dan kiyaicili tiada mau kepadanya dan amiral pun endak juga kepadanya. ia mengikut kepada amiral belayar ke Maluku.’ Maka kata amiral: ‘Yang tellah sudah itu apa betapa disubut lagi?’ Maka kata kiyaicili dan gimelaha: ‘Jika bagai kata demikian itu. Unus Halaene namanya. Maka kata Kapitan Hitu. maka kami mau ke Ternate.

dari Bandan* datang ke Ambon pula. serta kelengkapannya. lalu menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo kata yang kebaikan dan kebenaran. Maka kata perdana Kapitan Hitu kepada jeneral dan gurendur: ‘Sabar dahulu. al-hamdu li-'llah. Lalu belayar angkatan itu membawah kepada Unus Halaene ibn Kapitan Hitu dan anak raja Nusaniwe dan anak orangkaya Lakatua dan anak orangkaya Natahuat* ke negeri Wolanda. Itulah beta taksirkan dahulu. lepas taksir kita. Ia itu banyak kasihnya akan artanya kepada orang serta dengan empenak supaya menjadi jinak sekalian orang Ambon.’ Maka diiakanlah jeneral dan gurendur kata Kapitan Hitu demikian itu. lalu ke Maluku. karena gimelaha itu mangkubumi di tanah Ambon. Jika tiada mengikut. Maka kedua pihak sama petuguhnya. Apabila ia mengikut.datang ke Ternate. Maka dinaikan Yangseper Yangsi* akan gurendur sehingga tiga tahun. apatah dayah. ia duduk di negeri Kambelo. dari Maluku datang ke Ambon. lil* Allah [fi] 'l`alamin akan kerajaan dan diturunkan gurendur serta soldadunya duduk menunggu kota. Maka sekarang ini ia duduk di negeri Kambelo. Simon Hun* namanya. pasang-memasang. Iapun demikian juga murahnya dan pada ketika itu gurendur Hutman* pun belayar karena lamanya gurendur Hutman* enam tahun ia duduk. karena tempat duduk Ingeris itu tanah raja Ternate dan negeri Kambelo itu pun rakyat raja Ternate. ia tiada mau. bebaikan kita serta dia.mengantarkan kepada Unus Halaene. maka jeneral Gerat Rangsi dan gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh memagang senjata endak melanggar kepada negeri Kambelo. lalu pindah . maka datang jeneral Gerat Rengsi* dan perdana Kapitan Hitu menyuruh kepada gimelaha Syabidin*. Maka gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh serta kelengkapannya masuk ke pantai Kambelo suruhnya Ingeris itu keluar. Mana kehendak jeneral itu kerjakan. Pada zaman itu negeri Luhu dan Kambelo menerima kepada orang Ingeris. Kemudian daripada ia itu maka datang pula amiral. Dan kuceriterakan tatkala gurendur Hutman* itu. supaya kami menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo. ’Tellah demikian itu. lalu ke Bandan. Maka mengikutlah ia. Gerat Rangsi* namanya. Maka sekalian rakyat pun kembali ke negeri Ternate dan dinaikan serri sulthan paduka Mudafar ibn Sa`id al-Din syah. maka datang amiral. tembak-menembak kedua kaum itu. Hatta berapa lamanya. Tatkala itu datang jeneral. Maka kata gimelaha Syabidin: ‘Mengapa maka tanya kepada beta lagi? Karena beta sudah keluarkan dia dari negeri Luhu. Maka didirikan kota di negeri Melayu. Piter Bot* namanya. tiada beta mengetahui duduknya itu. tetapi serta adil kepada jeneral. daripada itulah menyuruh periksai kepadanya. Ia datang dari Betawih.

karena gurendur itu itu sangat bengis. ia bedamai dengan gurendur. maka Kapitan Hitu bedamaikan dia. maka kedua kaum muafakat serta bersakutu bandar Wolanda dan Inggeris itu. Demikian kata gimelaha dan orangkaya-kaya sekalian: ‘Minta seratus harga sebahara. lalu dibunuh kepada Inggeris dan Jupun semuanya. lalu ia pulang dan dinaikan Herman Aspel* akan gurendur ganti kepada Aren Bulok*. Mengapah maka minta delapan puluh daripada kami banyak arta keluar?’ Maka kata orang Ambon: ‘Mengapa maka gurendur kata demikian? Karena gurendur banyak arta hilang itu ada dengan hasilnya. Pertama berkellahi dengan negeri Hutumuri. Hatta lama dengan lamanya sehingga datang kepada tahunnya. ia serta gimelaha Syabidin mengalah kepada negeri itu. Maka Kapitan Hitu bawah kepada kipati Lesibata. Dan apa kata jeneral itu. maka berparanglah dengan negeri Nasrani yang takluk kepadanya itu. karena ia tiada hilang belanjanya. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala datang suatu bala Allah. Alkissah peri mengatakan tatkala Herman Aspel* ia akan gurendur itu.’ Maka kata orangkaya-kaya: ‘Berilah delapan puluh. Hatta berapa lamanya. Mengapa maka kata demikian itu?’ Lalu orang Ambon tiada keluarkan cengkeh. . serta kotanya maka diketahui oleh Wolanda.’ Lalu ia menyuruh ke Ternate dan menyuruh ke Betawih. maka suatupun tiada hisab* lagi. endak berkellai kedua pihak itu.’ Maka kata gurendur: ‘Enam puluh harga sebahara. kedua berkellahi dengan negeri Lesibata. Hatta datang musim barat maka maka datang kapitan Warhaga. Maka kata Kapitan Hitu kepada kedua pihak itu: ‘Apa kerja berkellai? Baik juga gurendur menyuruh belayar ke Betawih kepada jeneral menyampaikan kata orangkaya-kaya itu. Maka dinaikan Aren Bulok* akan gurendur ganti kepada Yangseper Yangsi*. Leitimol* namanya. Mengapah maka ia disamakan kami. maka gurendur dan menyuruh kepada paduka seri sultan di Ternate. lalu belayar pulang ke negerinya.’ Maka kata gurendur: ‘Betapa kami disamakan dengan Inggeris. maka kita lakukan bagai titah itu. Daripada ia memulai parang di tanah Ambon. karena kami banyak belanja hilang kepada soldadu dan marinero* membuat kota. tawar-menawar dengan orang Wolanda.ke pantai Eran* dan orang Wolanda pun masuk ke dalam negeri itu dan orang Inggeris pun keluar naik kepada kapalnya. maka jadi fitna. lalu ia belayar pulang ke Betawih dan gurendur Aren Bulok* duduk di kota Ambon.Orang Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda. Betapah kehendak titah itu. Pada ketika itu ada suatu fitna. maka suatupun tiada fitna dalamnya. Segali perastawa tanah Ambon semuanya serta gimelaha berbantahkan harga cengkeh.Maka jeneral dan gurendur pulang ke Kota Laha.

Karena surat dari Betawih demikian katanya: ‘Ada pun kepada bicara yang lain.’ Itulah kesudahannya daripada titah. demikian katanya: ‘Enam puluh pada harga sebahara cengkeh itu.’ Maka diiakanlah orangkaya-kaya semuhanya kepada kata gurendur itu enam puluh tujuh real. baik dan jahat.surat dari Betawih dan titah dari Ternate pun datang. Yang empunya cengkeh itu orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon.’ Maka kata gurendur: ‘Bukan aku.’ Maka kata fetor: ‘Tengah tujuh puluh. ’Maka diiakanlah orangkaya sekalian tanah Ambon serta dengan janjinya. Tiga real itu akan harga siri pinang soldadu. karena benyagaan itu sama sukah keduanya. beta minta kepada orangkaya-kaya sekalian keluarkan tujuh real upamakan harga makanan soldadu. Jikalau kepada benyagah Ambon itu atas kepada gurendur dan fetor* semuhanya di tanah Ambon.’ Maka kata gimelaha: ‘Berilah tujuh puluh. Maka kata orang sekalian: ‘Jika bagai kata titah keduanya itu. datang utusan dari Ternate minta bantu kepada gurendur. maka kata jeneral: ‘Ada pun beta ini endak ke Bandan. Apabila alah kepada Kastila dan Tidore atau bedamai dengan dia.’ Lalu kata orangkaya-kaya: ‘Berilah tengah delapan puluh. tetapi beta minta kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya-kaya semuhanya enam puluh tujuh. Jikalau mau. Maka betapa tipu orangkaya-kaya semuhanya kepada titah itu. maka atas kepada jeneral.’ Itulah kesudahannya. tetapi surat dari raja dan gurendur dari Ternate minta bantu ke sana. Tatkala itu jeneral Lurinsu Riyal* dan amiral Astiwin Warhaga* pun datang serta kelengkapannya delapan buah kapal. Kemudian kata gurendur: ‘Sudah putus tujuh puluh. tetapi kepada artanya itu mana kehendaknya tiada kepadaku. atas kepada gimelaha dan gurendur memutuskan harga cengkeh ini. Maka disampaikan surat itu kepadanya. maka cengkeh itu hargakan lagi atau kurang lagi . karena banyak datang Kastila ke Tidore. Maka semuhanya dengan Wolanda pun berhimpun di pantai Luhu memutuskan harga cengkeh itu.’ Maka kata fetor kepada orangkaya gimelaha: ‘Betapa harga cengkeh ini?’ Maka kata orangkaya gimelaha: ‘Bukan aku empunya cengkeh. sehingga dalam berkellai ini. Tellah demikian hatta datang kepada tahun yang lain.’ Maka fetor pun mau dan orangkaya-kaya sekalian pun mengikut kata gimelaha itu. atas kepada fetor semuhanya. Itulah keputusan harga ce ngkeh dan negeri sekalian pun keluar cengkeh timbang kepada fetor. Ada pun daripada titah seri sultan di Maluku demikian bunyinya: ‘Bahwa sesungguhnya tanah Ambon itu takluk kepadaku. seperti membuat kota atau berkellai atau kurang kuasa barang sesuatu. tujuh puluh harga sebahara cengkeh.

karena ia perdana yang besar dalam negeri Ternate. yakni sudah di luar perjanjian. Itulah kesudahan harga cengkeh pada ketika itu.’ Tellah demikian itu. Alkissah peri mengatakan serta kuceriterakan tatkala perdana gimelaha Hidayat keluar serta angkatan datang ke tanah Ambon. lalu jeneral belayar ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. Maka suatupun tiada lagi fitna pada kedua pihak itu karena sudah keputusan kata yang baik dan jahat. karena tanah Boano itu tanah raja dan orang itu pun rakyat raja Ternate. Maka beta minta kepada gurendur sabar ahulu. Ia datang tanya kepada perdana gimelaha. Tetapi daripada ia endak kejahatan itu.’ Lalu gurendur serta angkatannya mendatangi negeri Boano. Maka gurendur serta angkatannya pulang ke Kota Laha dan Kapitan Hitu serta kelengkapannya pulang ke negerinya. maka ia membuat suatu fitna kepada sengaji* Boano. lagi ia alim dan tiada orang besar tubuhnya bagai dia dari Maluku sehingga datang ke Ambon. karena fitna itu tiada subut lagi.karena kesukaan dan keadaan itu tiada berapa dalamnya. Jikalau mau keluar.’ Maka diiakanlah oleh kedua pihak itu serta disuratkan dalam kertas tatkala disuratkan itu di pantai Gamusungi di hadapan jeneral dan amiral dan perawara sekalian daripada pihak Nasrani dan hadapan mengkubumi gimelaha Syabidin dan perdana sekalian perwara di tanah Ambon serta Kapitan Hitu daripada pihak Islam itu. Ia . melainkan melakukan kebaikan dan kebenaran serta kesukaan dunia dan tiada mengirangirakan hari yang kemudian.daripada enam puluh itu atau lebihkan lagi daripada enam puluh itu. susunya bagai susuh perempuan. lagi johan pahlawan. Sungguhpun besar tubuhnya itu tetapi kuat. sehingga ditaksirkan juga. lalu menyuruh kata kepada sengaji dan orangkaya semuhanya keluar. maka Kapitan Hitu dan gurendur serta orangkaya sekalian menghukumkan kedua pihak itu. apabila jika ia tiada mau. Maka suatupun tiada fitna lagi. maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur: ‘Ada pun gimelaha itu tiada bicarakan. Melainkan dengan adil gurendur. beta menyuruh kata kepada sengaji. Dan negeri sekalian pun dengan kesukaannya serta dimulianya. Yang benar itu dibenarkan dan yang salah itu disalahkan serta didamaikan kedua kaum itu dengan kebajikan. Tellah demikian itu datang johan pahlawan gimelaha Hidayat. apahtah daya? Lapas taksir kita kepada sengaji dan orangkaya-kaya dalam negeri Boano. beta damaikan dia dengan gurendur. Alkissah peri mengatakan tatkala gurendur keluar dengan angkatan. demikian katanya: ‘Betapa perbuatan sengaji Boano demikian itu?’ Maka kata perdana gimelaha: ‘Ada pun perbuatan sengaji itu kami tiada mengetahui kepadanya. Itulah kita taksirkan kepada gurendur. lagi ia hukum dalam negeri Ternate.

Daripada itulah termasyhur nama johan pahlawan hukum Hidayatullah di tanah Ambon. taat siang malam tiada berputusan mengaraskan agama Islam. Daripada beta ingat tanah Bandan* dan tanah Hitu daripada zaman dahulukala. kita ikutlah. kita masuk kepada orangkaya-kaya tanah Bandan. tiada dapat kita tegah kepada perbuatan itu. Sudah kita tolong dengan makanan tiada sampai. maka wafatlah perdana gimelaha pulang ke rahmat Allah. Maka beta tolong dengan makanan tiada boleh. supaya jangan menyasal kepada hari yang . torompetanya* dan himpunkan soldadu serta dengan senjatanya. Maka Kapitan Hitu tanya kepada jeneral: ‘Endak ke mana angkatan ini?’ Maka kata jeneral: ‘Endak ke Bandan* berkellai. Kemudian daripada itu datang jeneral Pitir Eskun* serta angkatan masuk ke Kota Laha. apahta daya? Karena pekerjaan itu pekerjaan yang benar. maka masuk di pantai Lontor. Tetapi daripada kehendak Kapitan Hitu demikian itu. maka didirikan tunggulnya sekalian kapalnya itu serta bunyi tamburunya*. Hatta datang angkatan itu antaranya laut Puluh Suanggi* dan Gunung Api. demikian katanya: ‘Ada pun beta ini bukan disuruh oleh jeneral. melainkan suatu kata kami minta kepada orangkaya-kaya. upama terbit matahari cahayanya menarangkan yang adanya. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. Kemudian anak orangkaya-kaya tiga puluh orang serta Unus Halaene ibn Kapitan Hitu naik kepada kapal Inggeris ikut belakangnya. Tellah demikian itu. tetapi ihtiar dahulu kepada budi akal kita. kami endak berkellai juga. tanya kepadanya maukah bedamai atau tiada maukah.membuat ibadat. yakni sakit. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sabar dahulu.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa tipu kita kepada tanah Bandan? Karena tatkala kita berparang dengan orang Feranggi ia tolong kepada kita. ialah memutuskan. Maka pada ketika itu tanah Ambon dalam hukum Hidayatullah.’ Maka Kapitan Hitu naik. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. hatta berapa antaranya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Syabidin pun uzur. daripada ia mengatakan hukum itu serta dengan hukum Allah. Apabila jika tiada boleh. tiada pulang ke negerinya lagi. Ada pun pada tatkala itu barang hukum daripada zaman yang tiada boleh putuskan orangkayakaya sekalian di tanah Ambon itu. Serta ajal Allah.’ Maka kata jeneral: ‘Bukan kami minta bedamai. Baiklah kita tolong kepadanya dengan pekatahan.’ Lalu Kapitan Hitu naik kepada angkatan itu. Lalu ia berkata kepada orangkaya-kaya. lalu masuk kepada negeri Salamah berhadapan serta orangkaya-kaya tanah Bandan* semuhanya. Ia belabu sehingga datang labuan Komber. sehingga enam orang juga mengikut dia. jika boleh.

’ Tellah demikian itu maka kata jeneral kepada Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata ini. pertama negeri. maka ia berkata kepada jeneral: ‘Kita dengar orang Bandan* bicara dalam negeri: “Kita berhimpunkan orang serta senjata menanti di pantai. tetapi kita menyuruh juga kepadanya menyampaikan perjanjian kita itu. ketiga manusyia.bebaikan dahulu dengan dia. Dalam dua hari. kedua senjata. Maka ia tanya: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka suruan itu menyahut: ‘Ada pun Kapitan Hitu minta ampun daripada orangkaya-kaya sekalian. Tetapi kehendak Allah ta`ala itu siapa mengetahui?’ Maka menyahut pula orang yang disuruh itu: ‘Daripada itulah maka dikira-kirakan. lalu Kapitan Hitu pulang ke kapal. Daripada itulah periksai kepada orangkaya-kaya empat perkara ini. sudahkah lengkap atau bulum lagikah. Pada malam itu datang seorang daripada negeri Bandan.kemudian. apatah lagi dinantikan? Jika kurang lagi suatu perkara daripada empat itu. Jika bagai kata orangkayakaya demikian itu. karena perbuatan ini sudah ia membunuh kepada kami orang banyak. lalu menyuruh turun kepada orang itu. Ia masuk kepada Wolanda. supaya kita dengar apa kehendaknya itu. apatah lagi?’ Lalu pulang orang itu menyampaikan kata itu kepada orangkaya Kapitan Hitu dan jeneral. artinya dusta. artinya kata itu sudah lengkap karena perbuatan manusyia itu serta dengan harkat. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sudah lepas . Tetapi apa kehendak orangkaya-kaya katakan juga kepada kami. tetapi kami parang dengan Wolanda ini bukan sekarang.’ Maka kata Kapitan Hitu ialah kata jeneral itu: ‘Kita tiada turun kepadanya. di sanalah kami menanti. keempat makanan. maka dilihat oleh Kapitan Hitu dari kapal.’ Maka kata orangkaya-kaya tanah Bandan* kepada Kapitan Hitu: ‘Baiklah. supaya ia pulang. Kita pun lengkapkan kepada empat perkara itu.’ Hatta datang kepada janjinya. maka kami katakan kepada orangkaya Kapitan Hitu dengan jeneral. jangan kata kita dibebohonkan.’ Maka kata orangkaya-kaya semuhanya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu. didirikan tunggul putih di pantai. maka orangkaya datang di sana. ada sakit sedikit. supaya kami himpunkan orang sekalian. apabila di mana kami bedirikan tunggul putih. Apabila jika datang Kapitan Hitu dan Wolanda itu kita pagang semuhanya. Apabila jika sudah lengkap. pulang dahulu. maukah atau tiadakah.’ Tellah kata demikian itu. Kemudian apa2 barang kehendak kita itu katakan kepadanya”.’ Maka kata orangkaya-kaya kepada Kapitan Hitu: ‘Apa2 empat perkara itu?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun empat perkara itu. maka tiada ia turun. Selamanya parang kami sahingilah* empat perkara itu. jangan lagi Kapitan Hitu turun ke darat. benar juga orangkaya kata kepada empat perkara itu.

Ia naik dari belakang negeri dan kapitan Pugel dan kapitan Kuluf* dan kapitan Gemala* dan kapitan Jupun dan kapitan Siyau dan sekalian kapitan serta orang banyak semuhanya naik dari laut di hadapan negeri. dan orang Bandan* pun serta dengan harkatnya. maka jeneral menyuruh panggil kepada orang besarnya serta panglimanya sekalian dalam angkatan itu datang kepada jeneral. supaya kita lihat perintah parangnya itu. maka diberinya minum arak pada tempat minuman prings. lalu kata jeneral: ‘Jika siyapa naik dahulu maka alah negeri itu. maka menyuruh tanya kepada orangkaya-kaya tanah Bandan* sekalian. Tellah demikian. mana kehendak jeneral itu?’ Maka kata jeneral:‘Esok pagi kita naik cobah dahulu.taksir beta. beta pun tiada kembali. Lain makanannya dan pakaiannya dan apa-apa rampasan dalam orang banyak itu mana sukanya ia ambil dahulu. hatta datang malam. kemudian perintah parang kita. ia masuk ke dalam serta bunyi bedil dan riuh dalam negeri. Itulah adat berteguhan janji kepada orang itu. demikian katanya: ‘Beta naik dahulu.’ Hatta datang pagi hari naiklah angkatan itu butul di hadapan negeri. Kemudian tinggalnya itu kepada orang sekalian. Kemudian daripada itu. Maka sekalian kapitan serta orang banyak itu pun pulang kepada kelengkapannya dan jeneral pun pekatahan yang diperjanjikan kepada panglimanya itu semuhanya dikerjakannya.’ Lalu ia berteguhan kata dengan jeneral. Maka patahlah parang Islam itu. demikian .’ Serta dengan cakapnya orang semuhanya itu. berhimpunlah di sana dan Wolanda pun duduk di negeri Lontor. maka diturunkan gurendur Hutman* akan kapitan. Hatta datang bakda lohor serta dengan kehendak Tuhan sarwa sekalian alam. Lalu undur Wolanda pulang ke kapalnya. Beramai-ramaian parang kedua pihak itu daripada waktu duha sehingga datang asar tiada boleh alah. Tiada habar kepada yang lain lagi sehingga sana berparang daripada bakda subuh. seribu real kuberi kepadanya. maka orang Bandan* pun keluar. lalu masuk ke negeri Ander dan Waier. jual-beli. maka Wolanda daripada kapitan Hutman* ia naik dari belakang negeri. tukar-menukar. ia becakap di hadapan jeneral dan orang besar2 semuhanya.’ Maka seorang kapitan. Maka kedua pihak berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian. Pugel* namanya. dipalu gendarang parang dan riuh serta bunyi bedil seperti guruh di atas langit. jika tiada boleh alah negeri itu.’ Maka kata jeneral: ‘Jika bagai demikian itu betapa bicara kita sekarang?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Mana perintah jeneral itu kami kerjakan. tiada boleh masuk ke dalam negeri lagi. Hatta terbit matahari. maka kata jeneral: ‘Betapa perintah parang orang itu?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Demikianlah parang orang itu.

Lalu belayar ke tanah Ambon. kuliling soldadu serta senjata. maka kita berkellai. Kemudian daripada itu kata Mai Hasan ibn orangkaya Bulaisi dan orangkaya Orotatan. lalu dikeluarkan semuhanya serta anak orangkaya-kaya itu. maka suatupun tiada lagi fitna. Ada pun kepada sekarang ini mana bicara orangkaya-kaya kita dengar.’ Maka kata Wolanda: ‘Barang seadanya itu berikan kepada kami. apahtah daya?’ Maka kata orangkaya-kaya Bandan: ‘Yang tellah sudah itu jangan disubut lagi. rubuhkan kotamu dan berikan senjata yang adanya itu. Baik juga orang semuhanya cerai-berai itu suruh pulang keruan kepada tempatnya. bennarnya dengan dia. kemudian beta tunjukan kepada orang yang menaruh dia itu. Maka jeneral serta angkatannya pulang ke negerinya dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu.’ Lalu orangkaya-kaya keluar bedamai dengan dia. marilah kita bedamai. seribu kali kami sukah. Maka kata jeneral: ‘Sekarang ini upama tulur hayam digulingkan dari tanah Bandan* sampai ke tanah Wolanda: tiada boleh pecah lagi. Semuhanya itu minta serta anak orangkaya-kaya empat puluh orang itu. semuhanya delapan ratus delapan puluh orang kepada kapal. Maka ditipu oleh Wolanda. lalu kata kepadanya bagai kata orang itu. Jika kepada sekarang ini jeneral mau bebaikan.’ Maka kata orangkaya Bandan: ‘Tiada lagi pada kami.’ Tellah demikian itu maka jeneral menyuruh panggil kepada orangkaya semuhanya.’ Maka disuruh oleh orangkaya-kaya panggil kepadanya semuhanya datang ke negeri Salamu. itulah tanda bebaikan. maka kata jeneral: ‘Jika hati bennar mau bedamai. Itulah kesudahan berkellai tanah Bandan. Itulah hal alah tanah Bandan. Maka sekarang ini kami endak belayar. Maka orangkaya-kaya semuhanya tiada dapat besangkal lagi. Dragon namanya. lalu ke Jawahkatra* dan orang Bandan* yang tinggal itu semuhanya pindah ke tanah Seran dan Goron*. Maka raja menyuruh angkatan ke Seran memuatkan dia datang ke Mangkasar.’Maka diberikan dua puluh esfangar* kepada Wolenda itu. Jika mau bedamai. karena senjata itu semuhanya dalam negeri itu juga. Lalu keluar bunga pala timbang kepada fetor. dan empat puluh orangkaya-kaya semuhanya dibunuh oleh Wolanda itu. Jika ia katanya tiada lagi. lalu dinaikan ke kapal.katanya: ‘Bukankah Kapitan Hitu endak damaikan kita kedua? Daripada orangkaya-kaya tanah Bandan* tiada mau bebaikan. datang ke tanah Hitu. Maka menyuruh datang mengadap kepada raja Mangkasar minta pindahkan ke Mangkasar. jika tiada mau bedamai. Alkissah dan kuceriterakan kemudian daripada . Kemudian kami belayar supaya kami menyampaikan kepada orang besar2 di negeri Wolanda pun dengan kebenarannya. demikian katanya kepada jeneral: ‘Ada lagi bedil besar dalam negeri Bandan .

angin pun tedduh.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata demikian itu. sehingga tanah Ambon pun baik juga jika dilapaskan oleh jeneral. ada tengah tiga real. Apabila datang musim barat akan perginya pulang. maka didirikan gerejanya akan tempat berhalanya. Kemudian daripada itu maka belayar sehingga datang ke Palikat*. Karena di situ ada kota Wolanda. lalu berkata: ‘Beta endak belayar ke Jawahkatra*. lalu kepada Tirubambu* dan Tirumulawasir* dan Kunmuri*.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa kehendakmu belayar itu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kita belayar ini tiada kehendak kepada yang lain melainkan kubicarakan orang Bandan. Lalu kata jeneral kepada Mihirjiguna: ‘Ada pun barang kehendakmu itu kami terimalah. Tellah demikian itu berapa lamanya datang ke tanah Keling. Lalu ia belayar ke bandar Masilpatani*. ada ke Jambi. ada ke bandar Masilpatani*. Maka naik ke darat bejalan ke negeri Pujiciri*. seketika lagi patah tiyang buritang itu. beta endak turut kapal yang ke bandar Masilpatani*. maka dinamai San* Tumi*. Maka apa kehendaknya Arinjiguna* itu semuhanya dikatakan kepada jeneral pun terimalah kepada kehendak Mihirjiguna itu. tetapi musim lagi lambat datang. kuserahkanlah kepadanya yang kehendaknya itu. ada ke Laut Mera. maka belayar dari Pudiceri*. maka Mihirjiguna masuk mengadapat* perdana Kapitan Hitu.jeneral belayar membawah kepada orang Bandan* itu. kepada negeri Tunahpatnan. Nona Sinyora di Mundi* namanya.’ Maka iakan oleh jeneral dan diberinya seribu real akan bekalnya dan sangat mulliya kepadanya serta kasih lain2 -. Di situlah tempat ia menyembah berhalanya itu.’ Lalu Mihirjiguna tanya kepada jeneral: ‘Kapal semuhanya itu endak ke mana?’ Maka kata jeneral: ‘Kapal itu endak ke Malaka.tiada dapat diceriterakan kepada kasihnya itu --. Maka ia menyembah. lalu naik Mihirjiguna belayar. Delf namanya kapal itu. mau melihat dunia tanah Keling barang seadanya hidupku sehingga datang musim barat. ia duduk kepada .lagi lambat musim. belayarlah engkau. Hatta terbit matahari. lalu kepada Nagahpatan*. Bunyi layar seperti bunyi bedil. Ada pun San* Tumi* itu ada suatu bukit. ia berhenti entah berapa lamanya. ada pulang ke negeri Holandes. Jika tiada boleh kembali ke tanah Bandan* pun.’ Lalu ia naik kepada sebuah kapal. Ada menjual dirinya sendiri. ada menjual anaknya. Tellah menubus itu.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Beta minta kepada jeneral sementari lagi lambat musim. Hatta berapa lamanya maka datang ke Jawahkatra*. Daripada Feranggi duduk dari situ. maka Mihirjiguna naik ke darat berhadapan dengan jeneral serta orang besarnya. menubus dengan harganya dua real seorang. Hatta berapa lamanya di tengah laut datang tofan angin ribut.

Entah berapa antaranya. lalu belayar. pada malam Ahad. maka mandi kepada air yang panas itu. Di sanalah ia melihat perhiasan dunia semuhanya lengkap.rumah syaudagar haji Baba namanya. kipati syah’. dan orang membuang segala najis manusyia dalam negeri itu. maka diberikan surat itu pada tangan Sifar alRijali. maka ia mati pulang kepada asalnya. maka datang ke Ambon masuk ke Kota Laha. Pada tatkala itu Kapitan Hitu pun ada di Kota Laha. Berapa lamanya di tengah laut. maka dinaikan kepada sebuah kapal membawah kepadanya. maka gurendur kata kepada Kapitan Hitu: ‘Baik juga kata jeneral kepada kita kedua itu kira-kirakan kepada kehendak Mihirjiguna . Tellah demikian itu hatta datang musim maka ia pulang. tetapi Kapitan Hitu dan gurendur kira-kirakan kehendak Arinjiguna* itu. Daripada ia tiada empunya untung. Maka dibaiki suatu petti dilapis dengan tima hitam. maka ia berenti di sanalah. Dan perbuatan pelbagai yang andak* dalam dunia semuhanya ia melihat karena Masilpatani* itu bandar Kutb Syah yakni raja Gulgonda. Entah berapa lamanya di tengah jalan. sehingga ibu bapa kita yang bennar itu maka kita tiada bertemu. Dan pasan jeneral dalam surat kepada Kapitan Hitu dan gurendur Herman Aspel*. Apabila jika dengan baiknya musim yang datang ini suruan ke mari. Sehingga enam hari dengan kehendak Allah ta`ala wafat meninggal negeri fana datang kepada negeri yang baka pada bulan Rubiu'l-awal dua belas hari pada tahun [1032] Ha. lalu datang ke Banten sehingga datang ke Jawahkatra*. bicarakan Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda serta kotanya itu.Maka diberikan surat itu kepada Kapitan Hitu dan gurendur. seperti orang kaya dan orang miskin. Di sanalah dimasyhurkan namanya Mihirjiguna itu ‘sultan karanful*. tatkala zaman sultan Muhammad Huli akan kerajaan di negeri Gulgonda. dan kesukaan dan kedukaan pun demikian lagi. lalu dibaca sendirinya. seperti perbuatan yang kegemaran kepada keelokan serta keinginan hati manusyia. maka Mihirjiguna sakit. Entah berapa lamanya dalam negeri Betawih.’ Tellah demikian itu. Lain daripada itu tiada dapat diceriterakan kepada kelakuan yang indah2. maka datang masuk selat antara Puluh Merkata* dan ujung Tanjung Cina. lalu dimasukkan mayit itu ke dalam petti. maka beta serahkan kepada dia. jika datang tengah hari maka mandi kepada air yang sejuk itu. Apabila datang pagi hari. Dan dikerjakan hamam*. maka ditaburkan segala bauh-bauan dalam kafan. ada air sejuk dan air panas kepada suatu tempat harkat kepada segala manusyia. Dan kejahatan serta kebencian pun demikian lagi. dan orang berumah dalam tanah dan orang tiada berumah selama-lamanya. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Arinjiguna* itu seribus* kali beta terima.

maka tiada jadi kehendak Mihirjiguna itu sebab perbuatan orang itu. sentiasa tiada berputusan parang di tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. lalu paranglah gimelaha Luhu dan gimelaha Leliyato serta di tanah Ambon semuhanya. Itulah kesudahan pelayaran Mihirjiguna ke tanah Keling. tetapi inilah perbuatan Inggeris dan Jupun. maka Wolanda datang rusak kepada dagang itu. ketiga membawah angkatan mendatangi di tanah Seran. itulah sebabnya. maka gimelaha serta orangkayakaya semuhanya tiada mau rusak dagang dalam bandar. karena adatnya raja ada kepadanya dan adat bendahara pun ada kepadanya. Hatta berapa lamanya maka datang titah paduka serri sultan Ternate suruh bedamai. kemudian daripada Arinjiguna* itu Unus Halaene akan hukum. Lalu berparang pula. Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya . Seorangpun tiada sebagainya di tanah Ambon. sehingga datang ke negeri. Dan kelakuan hulubalang pun ada kepadanya. Maka kedua kaum Islam dan kaum Nasrani itu berparanglah. sarang-menyarang. Lalu dinaikan mait itu kepada kelengkapannya orangkaya dan orang dari negeri pun keluar mendapatkan dia di tengah jalan. Kemudian daripada itu maka kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Syabidin meninggalkan negeri yang fanah itu datang kepada negeri yang baka itu.’ Lalu dibunuh Inggeris dan Jupun itu. Serta kehendak Allah ta`ala. Maka ia pinda ke negeri Lesiela meneguhkan negeri itu daripada ia melihat salah kelakuan Wolanda itu. alah-mengalah sebagailah. makin bertambah-tambah fitnah sebab dagang. Hatta datang berapa lamanya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Hidayat pun uzur. kedua membuat kotanya di tanjung Koako. artinya negeri sengaji Hatuhaha. alah-mengalah. Ialah bengis di tanah Hitu serta kelakuannya.itu. Maka dipertitahkan serta dengan arta disedekakan kepada fakir dan miskin dan orang besar-besar dan dipeliharakan sehingga adatnya. Pertama membuat gudang di pantai Huniyasi*. karena kehendaknya Nasrani dan Yahudi itu endak mengarusakkan agama Islam dimasukkan agama Nasrani. tanah Ambon dalam hukum perdana gimelaha Hidayat. karena ia berjalan atau duduk serta senjata tiada boleh meninggalkan dia dan syaudagarnya pun sangat serta murahnya tangannya. sarang-menyarang. artinya sakit lalu pulang ke rahmat Allah ta`ala. Apabila datang dagang. Daripada itulah maka digelar nama kelengkapannya itu ‘buang destar’ namanya dan demikian lagi kehendaknya Islam endak mengarusakkan agama Nasrani dan Yahudi dimasukkan kepada agama Islam. Kemudian daripada peninggal perdana itu. sehingga tanah Hitu juga tiada mengikut. Lain daripada itu banyak lagi perbuatannya. jika datang orang Bandan* pula.

dari Tambuku lalu membaiki negeri serta dengan kotanya ia duduk. maka suatu tiada fitnah dalam tanah Hitu. maka tiada ketahuan bicaranya jeneral itu. Wai namanya. demikian katanya: ‘Ada pun aku ini sudah tuah.Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya johan pahlawan gimelaha Leliyato ‘buang capeu*’ namanya. maka ihtiar sendirinya. Lalu kapitan laut pun berangkat ke Manipa dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. Segali perastawa mendamaikan dua kaum itu. Alkissah peri mengatakan sekali perastawa perdana Kapitan Hitu pada suatu ketika ia duduk. maka gimelaha Leliyato ia duduk negeri Kembali dan gimelaha Luhu ia duduk di Gamusungi. Lalu Kapitan Hitu dan hamba raja Kalabata belayar ke Jawahkatra* bebicara dengan jeneral. yakni negeri Luhu. karena ia dalam kesukaran. Maka diturunkan yakni dikeluarkan gimelaha dua bersyaudara. Hatta datang musim perdana pun pulang. suruh kembali ke Ternate. Maka ia bertemu kepada kapitan laut dan barang apa2 bicara dengan jeneral itu semuhanya diceriterakan kepada kapitan laut serta muafakat. Hatta berapa lamanya datang angkatan dari Buton serta anak raja2 dan orang besar2 semuhanya membawah titah serta dengan adat mengadap kepada raja laut. dari Banggai datang ke Tambuku. Hatta datang di sana raja Mataram menyuruh kepada tumengung* Bauhraksah mendatangi kota Betawih. keduanya memerintahkan tatkala perdana Kapitan Hitu lagi dalam negeri Betawih. sehingga sanalah ia berhenti. Daripada itulah maka parang sabil Allah di tanah Ambon tiada berputusan. Itulah kesudahannya datang raja laut di tanah Ambon. maka dikembalikan dianya. Semuhanya diangkatnya bawah ke negeri Lesiela. Siyapa tempat kuserahkan tanah ini?’ Lalu diserahkan kepada orangkaya Samu2 menunggu tanah Hitu serta orangkaya Bulan. Maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur. dari Sula lalu ke tanah Banggai. Entah berapa lamanya dengan takdir Allah ta`ala pulang ke rahmat Allah. tempatnya yang lama. Apabila datang suatu fitnah . Maka dibawah kepada gimelaha dua bersyaudara kembali ke Tanah Besar. Maka suatupun tiada fitnah lagi di tanah Ambon dan kapitan laut pun berangkat ke tanah Sula. lalu keluarkan kotanya di tanjung Koako itu dan gudang di Huniyasi* itu. Pada tatkala itu johan pahlawan gimelaha alah kepada sebuah negeri. Tellah demikian itu Kapitan Hitu pun datang dari Jawahkatra*. Maka gurnadur Filipi Lukas* dan hukum Halaene serta angkatannya mengadap kepada kapitan laut. Hatta datang titah disuruh pulangkan. lalu masuk ke negeri Luhu. Dan di belakangnya Kapitan Hitu datang kapitan lawut baginda kiyaicili Ali ke tanah Ambon. lalu pindah ke tanah Buton. Itulah halnya tanah Ambon dengan orang Nasrani itu.

melainkan hukum Halaene juga tiada mau kecewa kepada nama tanah Hitu. yakni mendamaikan dia. Daripada ialah orang Wolanda itu tiada dapat melakukan kehendaknya kepada tanah Hitu pada zaman itu. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala itu ada lagi hayat perdana Kapitan Hitu. Entah berapa lamanya di tengngah jalan. maka ia datang kepada gurendur endak mengatakan kepadanya. Semuhanya ditangkapnya. Hatta berapa lamanya apa2 kehendaknya. jangankan sesuatu negeri. Hatta lama dengan lamanya orangkaya pun makin tuah serta dengan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala uzur. Daripada itulah maka ia keluar membawah angkatan menyarang negeri. ia juga membaiki. wa-'llahu a`lam. artinya celaka. Maka hukum Kakiyali juga membaiki tiada jadi berkelai. pulang ke rahmat Allah. hanya baik2 bicara kepada tanah ini serta . memberi racung kepadanya. Maka menyuruh antarkan maitnya orangkaya itu pulang ke negeri. maka barang sesuatu fitnah dalam tanah Hitu atau tanah Ambon. yakni sakit serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi orangkaya pun wafat. apabila ia mati tiada boleh masuk esukaan dan beramai-ramaian atau bunyi-bunyian dalam negeri.daripada negeri yang lain bagi Islam atau Nasrani. lalu ia kembali sehingga datang ke negeri. Maka ia beramairamaian kesukaannya serta bunyi-bunyian dalam negeri Hitu. Maka datang kehendak Allah ta`ala kepada seorang perempuan bedzebai. maka ia kedua orangkaya Samu2 keluar serta dengan angkatan melepaskan dukacittanya. Karena istiadat orang besar yang ternama. Hatta datang maka kata perdana Kapitan Hitu. Lalu Kakiyali membawah angkatan itu menyarang kepada sebuah negeri Hatumete namanya. maka orangkaya Samu2 pun uzur. maka dalam uzur itu menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya semuhanya. yakni meninggal kepada dunia datang kepada akhirat. bagi Islam atau Nasrani. kemudian dibagi dua: setengah didudukkan di negerinya dan setengah dibawah kepadanya ke negeri Hitu. kemudian daripada itu. Itulah istiadat mati orang ternama di tanah Ambon. Tetapi kepada fitnah tiada dapat dikatakan lagi daripada nafsu dunialah. Maka dinaikan kepada Kakiyali akan hukum. Maka ia tiada boleh tahan dirinya lagi. melainkan alah sebuah negeri atau keluar arta daripada takluknya sekalian. Maka kuceriterakan tatkala itu negeri Iwa* dan orang Wolanda endak berkellai sebab Pati Herman. maka bersuka-sukaan serta beramai-ramaian dan bunyi-bunyian dalam negeri itu. Masya Allah ia meninggal kepada darulfanah datang kepada darulbaka. Maka dipeliharakan serta adat sehingga datang seratus harinya. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Allah ta`ala siapa mengetahui? Tetapi pada perasaan diriku. jikalau seseorang juga pun.

tetapi bulum lagi dengan kehendak Allah ta`ala tiada jadi tipunya itu. Maka tiada boleh dikerjakan kehendaknya. lalu gurendur Kisil ia belayar ke Betawih. melainkan keempat orangkaya dan Kapitan Hitu serta muafakat. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. Tellah demikian itu entah berapa dalamnya maka Kapitan Hitu menyuruh dua buah parau utusan ke Mangkasar. maka berapa kali tipu kepada Kapitan Hitu.Karena pada tatkala itu perdana gimelaha serta negeri semuhanya berkellai dengan Wolanda. maka digantikan Antoni* akan gurendur.’ Dan apa2 pekatahan serta adat tanah Hitu semuhanya dikatakan kepada keempat perdana dan berapa2 pekatahan yang dahulu kala itu semuhanya dikatakan kepada anak buahnya. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu menyuruh ke Mangkasar endak muafakat dengan serri sultan di Goa. tetapi jika datang masya Allah siyapa membawah tanah Hitu ini?’ Maka kata orangkaya: ‘Tiada dapat dikatakan. maka dikerjakan.’ Maka menyahut pula orang banyak itu: ‘Bennar kata tuhanku itu.’ Karena pada ketika itu mardan Baros akan Nusatapi nama gelarnya dan mardan Mulutan akan Totohatu nama gelarnya dan mardan Kelisa akan Pati Tuban nama gelarnya dan mardan Kiyoan akan Tanihitumesen. Kehendak Allah ta`ala siyapa mengetahui. maka dinaikan kepada hukum Kakiyali akan Kapitan Hitu serta perjanjian: ‘Apabila barang suatu pekerjaan atau pekatahan. sehingga negeri Luhu juga dua bahagi. maka orang membawah fitnah kepada gurendur itu.dengan agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Itulah nama keempat serta Kapitan Hitu pada zaman itu. Tellah demikian itu datang masya Allah. maka berparanglah dan sebahagi serta kiyaicili Sibori memegang Wolanda membuat gudungnya di negeri Luhu dan paranglah kedua pihak itu. jangan seorang mengaku ia sendirinya. Iapun demikian juga kelakuannya. alahmengalah sebahagai juga tiada berputusan. Sebahagi serta perdana gimelaha dan negeri sekalian. membawah titah datang kepada perdana gimelaha serta Ulima dan Ulisiwa. Maka ia masuk ke tanah Hitu. sarang-menyarang. sadaha* Semaun namanya. Maka dipeliharakan mait perdana itu dan disedekakan arta kepada segala penghulu agama dan orangkaya-kaya dalam negeri Hitu sekalian dan diadatkan sehingga datang seratus harinya.’ Maka gurendur pun percaya. karena dalam titah itu . Maka gurendur Artus* dan orangkaya-kaya semuhanya muafakat. Apabila sudah muafakat serta minta angkatan datang berkellai dengan Wolanda. lalu pulang ke rahmat Allah. melainkan mana kehendak Allah ta`ala serta orang banyak itulah memangku tanah Hitu. tiada dengan periksyanya. karena Kapitan Hitu sudah mengetahui kelakuan Wolanda itu.

demikian buninya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu dan orangkayakaya sekalian dalam negeri Hitu, serta utusan sadaha Semaun mendamaikan kepada gimelaha dengan gurendur dan membaiki tanah Ambon Ulima dan Ulisiwa, supaya jangan jadi fitnah. Karena perjanjian Wolanda itu seorangpun tiada mengetahui, melainkan Kapitan Hitu juga mengetahui dia dan ia juga menaruh surat yang perjanjian itu.’ Tellah demikian titah itu, maka kata orangkaya-kaya tanah Hitu: ‘Jika bagai kehendak titah demikian itu, baik juga utusan pulang dahulu ke Tanah Besar,kemudian kami mengikut di belakang.’ Maka utusan pulang menanti di pantai Luhu, maka datang gurendur itu pun demikian juga, lalu ia mengikut utusan itu menanti di pantai Luhu. Maka Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya keluar dengan kelengkapannya, lalu menyebarang. Hatta datang ke Tanah Besar, maka gurendur serta angkatannya mendapatkan dia di pantai Warau. Maka kata gurendur itu:‘Marilah kita berkata2 dahulu, kemudian kita masuk ke pantai Luhu kepada orang banyak.’ Maka Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya semuhanya naik kepada kelengkapannya gurendur itu, maka dipagang semuhanya serta Kapitan Hitu. Maka riuhlah orang dalam kelengkapan itu, lalu dikelilingkan angkatan kepadanya. Ia sebuah2 juga ditengah2 serta pasang-memasang, tembak-menembak datang pengelodan rawaki itu seperti titi hujang atas air masing dan asap obat menjadi awan antara langit dan bumi. Dan buni bedil serta* kilat dan riuh seperti ceritera buni sangkakalah tatkala hari kiamat kepada yaum al-mahsyar. Karena angkatan Wolanda itu lima puluh aluan, lain daripada kapal dan patacoh*, maka ia sebuah2 juga melawan dengan dia.Sehingga datang kepada tanjung Kahula Wolanda itu pun undur. Iapun masuk ke pantai Lesiela, lalu menyuruh sebuah perau membawah kepada Patiwani. Ia pulang ke tanah Hitu menyampaikan khabar itu kepada negeri serta dipindahkan negeri semuhanya naik ke atas gunung. Dan undur angkatan Wolanda itu, lalu menyebarang ke tanah Hitu endak menyarang kepada negeri, tetapi tiada dapat lagi. Maka menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya, demikian katanya: ‘Apa kerja pindah? Karena tanah Hitu dan Wolanda itu seperti laki-bini. Apabila bini salah itu melainkan lakinya juga ajar kepada dia, maka beta pagang kepada Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya ini. Demikian itulah halnya orang laki-bini dalam dunia, tetapi keluarlah kita kedua berbicara serta kebaikan.’ Maka kata orang Hitu:‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi kembalikan dahulu kepada Kapitan Hitu dan orangkaya2 itu, maka kami keluar kepada gurendur.’ Maka dilepaskan kepada orangkaya-kaya itu, Kapitan Hitu juga tiada dilepaskan. Maka orang Hitu pun tiada mau keluar kepadanya

serta memerintahkan negerinya. Dan utusan sadaha Semaun pun menangkap kepada orangkaya-kaya dalam negeri Luhu; yang memagang kepada Wolanda itu pun ia bawah ke Maluku. Maka orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon tercangan terlalu khairan kepada perbuatan gurendur dan utusan sadaha Semaun itu, maka tanah Ambon semuhanya tiada ketahui kehendaknya. Setengah berkata: ‘Baik kita berkellai.’ Dan setengah berkata: ‘Baik kita bedamai, karena sudah didamaikan kita dengan gurendur.’ Dan setengah pula berkata: ‘Jangan kita berkellai dan jangan kita bedamai sehingga diam sahanya*, supaya kita menanti kehendak titah.’ Maka kata perdana gimelaha dua bersyaudara: ‘Bennar juga kata orangkaya itu. Tetapi kepada perbuatan Wolanda ini rusak kepada agama rasul Allah di hadapan titah yang dipetuan, daripada ia tiada berupama ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza, nasrun min Allah syah, zill Allah fi 'l-`alamin.Daripada itulah baik kita berparang dengan dia.’ Lalu muafakatlah tanah Ambon semuhanya sehingga sebuah negeri Luhu juga. Maka kata Sifar ar-Rijali di hadapan perdana,Ulima dan Ulisiwa: ‘Ada pun berkellai ini sebab, apabila jika sebab Kapitan Hitu, sabar dahulu, supaya kita menanti titah yang dipetuan dan kabaran.’ Maka kata Ulima dan Ulisiwa: ‘Sebab agama rasul Allah, kedua perkara sebab titah tiada berupama ke bawah dulli yang dipetuan.’ Dan barang apa2 pekatahan kepada hari yang kemudian itu, semuhanya ditaksirkan di hadapan perdana gimelaha dan orangkaya sekalian. Tellah sudah ditaksirkan kata demikian itu, lalu ia beli obat bedil empat balas bahara cengkeh harganya, dan tengah tujuh ratus padang. Lalu ia pulang serta orangkaya gimelaha dan negeri Waibuti ke tanah Hitu serta muafakat dengan orangkaya2 di tanah Hitu. Lalu ia pulang, maka negeri Hitu sekalian berkellai, sehingga orangkaya Tanihitumesen dengan orangkaya Bulan juga tiada berkellai. Ia mengikut kepada Wolanda itu, maka ia jadi musuh kepada negeri Hitu sekalian dan negeri sekalian pun memerintahkan kepada hulu parangnya. Maka digelarnya kepada pendagar Nahoda dan pendagar Pati Husen* keduanya akan panglima di tanah Hitu. Lalu ia pergi merompa di tanah sebelah kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka diteguhkan Allah subhanahu wa-ta`ala, berkat agama rasul Allah serta dengan kemenangannya, maka ia pulang di negeri Wawani, makan-minum, bersuka-sukaan dan disalin kepadanya serta dengan dimasyhurkan namanya johan pahlawan Patiwani. Itulah hasiat* orang parang sabil Allah dalam dunia. Tellah demikian itu pendagar Telukibesi ia pergi merompa pula kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka dengan kehendak Allah ta`ala berkat agama rasul Allah serta kemenangannya, lalu ia

pulang di negeri Kapahaha bersuka-sukaan dan dimulliya kepadanya serta dimasyhurkan namanya johan pahlawan Tubanbesi. Ia duduk di gunung Kapahaha. Itulah faedah orang parang sabil Allah dalam dunia, entah berapa lagi dan* akhirat; karena riwayat pandita dalam syarah Sunusi*, dua perkara orang masuk syurga tiada dengan hisab* lagi, suatu perkara tarekad dunia, kedua perkara parang sabil Allah. Daripada itulah, maka beramai-ramaian negeri sekalian berparang dengan Wolanda itu. Maka kata Wolanda itu: ‘Apabila orang Hitu keluar duduk di pantai seperti dahulu kala itu, maka kami keluarkan Kapitan Hitu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi keluarkan dahulu, maka kami turun duduk di pantai kembali seperti dahulu itu. Jikalau tiada lepaskan dia, kami pun tiada mau keluar.’ Maka negeri semuhanya tiada keluar sehingga orangkaya Bulan, ayah mudanya Kapitan Hitu serta tujuh negeri keluar duduk di pantai serta Wolanda itu. Maka kata orang sekalian kepada orangkaya itu: ‘Betapa kehendak orangkaya keluar itu?’ Maka kata orangkaya: ‘Baik juga kita keluar ikut katanya. Dalam tujuh bulan itu apabila dilepaskan kepada Kapitan Hitu, maka negeri sekalian keluar. Jikalau tiada dilepaskan kepada [Kapitan] Hitu dalam tujuh bulan itu kita berbantahkan perjanjiannya.’ Maka orangkaya keluar serta muafakat dengan orangkaya-kaya, lalu orangkaya Tanihitumesen belayar ke Betawih. Dan apa2 kehendak orangkaya itu semuhanya dikatakan kepada jeneral, maka di belakang orangkaya negeri semuhanya itu keluar masuk kepada musuh itu,tiada lagi berkellai. Maka kata Sifar ar-Rijali kepada orangkaya-kaya dan panglima serta pendagar sekalian, demikian katanya: ‘Apabila perbuatan kita demikian ini?Rusaklah negeri kita dan Kapitan Hitu pun tiada dikembalikan lagi oleh Wolanda itu.’ Lalu ia pergi merompa kepada orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala serta dengan kemenangannya, maka ia pulanglah ke negeri Wawani bersuka-sukaan, maka seorangpun tiada keluar lagi.Entah berapa lamanya datang orangkaya Tanihitumesen, maka orangkaya-kaya menyuruh tanya kepadanya: ‘Betapa kehendak jeneral kepada Kapitan Hitu, lepaskankah atau tiadakah?’ Maka ia berkata: ‘Ada pun kata jeneral, tiga bulan lagi datang kapal dari Bandan, maka dilepaskan kepada Kapitan Hitu.’ Maka negeri Hitu semuhanya menanti sehingga datang tiga bulan tiada juga dilepaskan, maka kata negeri sekalian kepada orangkaya Bulan: ‘Ada pun perjanjian gurendur kepada orangkaya dalam tujuh bulan, sekarang sudah lalu tiga bulan, maka tiada ia mengikut perjanjian itu. Betapa lagi kehendak orangkaya itu, kami ikut juga, tetapi baik orangkaya undur dahulu. Kemudian apa kehendak orangkaya itu katakan

juga kepada orang sekalian. Maka kedua pihak berparanglah siang dan malam. Apabila masuk matahari. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. membawa titah memanggil kepada gimelaha dan orangkaya-kaya. lalu ia pulang ke Betawih. Segali perastawa ia keluar serta angkatannya mendatangi kota dauman*. entah berapa kapal serta kora2 datang pula. Hatta datang musim barat. sekalian pati dan sengaji semuhanya keluar serta dengan angkatan endak menyarang kepada negeri orangkaya Tanihitumesen. lalu kapal pun belayar dan angkatan pun undur ke pantai Wawani. datang armada dari Betawih endak menyarang kepada kota Lesiela. Pada ketika itu pahlawan Patiwani seorangpun tiada sebagainya di tanah Hitu. Maka kata johan pahlawan . sarang-menyarang sebahagailah tiada berhenti lagi. Maka perdana gimelaha serta Ulilima dan Ulisiwa keluar meromparompa kepada negeri Yahudi dan Nasrani. lain daripada itu tiada kusebutkan. di mana merompa di darat atau di laut tiada lain ia juga. Hatta datang tiga bulan bertungguan tiada boleh alah. maka kedua pihak pasang-memasang. Dan kuceriterakan perdana gimelaha dan orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. Tellah demikian itu maka kuceriterakan: di belakang perdana gimelaha Luhu itu johan pahlawan gimelaha Leliyato memangku tanah Ambon serta memerintahkan parang sabil Allah dan berkat agama rasul Allah serta kemenangannya. Sebahagai juga parang kedua pihak itu.’ Itu pun tiada juga orangkaya mau undur sehingga empat buah negeri undur naik ke gunung. Lalu datang ke pantai Wawani. Maka Kipati Luhu dan Pati Tuban dan imam Nusaniwe. Daripada ia bulum lagi untungnya. maka tiada jadi mendatangi dia. nasrun min llah syah. maka ia bertemu kapal Wolanda itu. Hatta datang angin daratan. tetapi iapun tiada turun dan iapun tiada naik sehingga berapa lamanya Wolanda pun pulang dan angkatan Islam pun kembali serta perdana gimelaha. tetapi perdana gimelaha sudah harkat menanti dia. tetapi kepada parang Wolanda itu tiada dapat diceriterakan pelbagai parangnya. Hatta dengan takdir Allah ta`ala entah berapa-rapa negeri Nasrani takluk Wolanda itu bebali kepada johan pahlawan gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. serta perdana gimelaha Luhu pergi mengadap ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza. lalu melawanlah ia dengan kapal itu daripada waktu duha sehingga datang waktu asar. gimelaha Bobawa. sehingga dipindahkan kepada negeri Loin naik ke atas gunung. pagi pettang tiada berantara lagi. supaya kita kerjakan. Maka ketika itu tanah Ambon Ulilima dan Ulisiwa semuhanya berparanglah beramai-ramaian tiada berputusan. lalu paranglah negeri semuhanya beramairamaian.

Hatta tiada berapa lamanya datang paduka serri sultan Hamza. Maka kata orang Hitu kepada orangkaya Bulan. Maka ditinggal kepada dia lalu orang Hila antar bawah kepadanya ke negeri Wawani. Ganap tanjung dan labuan tiada dapat. tetapi kehendak kami itu melainkan kita bersama-sama membawah agama rasul Allah. demikian katanya: ‘Hai syaudaraku. Hatta dengan takdir Allah ta`ala.betahanlah di sana serta orang dagang Melayu Minangkabau. Itu belum lagi dengan kehendak Allah ta`ala. beramai-ramaian dengan dia.[kepada] orangkaya-kaya Nasrani itu. Maka gurendur menyuruh sebuah kapal belayar membawah khabar kepada jeneral serta bawah kepada Kapitan Hitu ke Betawih. seorangpun tiada serta dia. jika ditahankan ia duduk sehingga tanah Hitu jua pun baik juga. Entah berapa lamanya dalam Kota Laha. maka ia pulang ke negeri Wawani dan negeri sekalian memberi tiga puluh bahara cengkeh kepada jeneral akan pembeli siri pinang.Sendiri-dirinya juga. nama orang hitam. Maka negeri Hitu sekalian bersuka-sukaan. lalu ia pulang ke negeri bersuka-sukaan. Jangan dikembalikan kepada Kapitan Hitu. Maka Kapitan Hitu pun takut tiada keluar kepada Wolanda itu. lalu menyuruh kepada kapitan Yon Yan* serta orang banyak mencahari. makan-minum. maka dikembalikan kepada Kapitan Hitu.’ Maka gurendur tiada dengan periksyai lagi. lalu ia pulang ke Kota Laha. lalu ia mengadang ke laut Puluh Tiga.’ Lalu orangkaya belayar ikut ke Betawih dan apa2 kehendaknya orangkaya itu dikatakan kepada jeneral. lalu orangkaya-kaya semuhanya serta Kapitan Hitu pergi ke Kota Laha bedamai dengan jeneral dan gurendur serta orang besar-besarnya. makan-minum serta disalini dengan pakaian yang inda2. Hatta datang musim jeneral pun datang serta angkatannya ke tanah Ambon. melainkan Wolanda juga antar kepadanya sehingga datang ke pantai Hila. Itu pun tiada juga dapat. maka tiada boleh alah. Lalu Wolanda itu ke negeri Hatubawah endak menyarang kepada gunung Alaka.’ Maka diiakan orang itu. nasrun . makin bertambah fitnah. demikian katanya: ‘Kapitan Hitu menjual cengkeh kepada dagang Mangkasar dan Minangkabau di Puluh Tiga. demikian katanya: ‘Siya-siyalah orangkaya keluar serta Wolanda itu . Nasrani atau Islam. menyarang kepada Lesiela serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota Lesiela.seperti pantun Melayu: ‘Dapakan bunga setangkai jangan diaibkan orang. engkau sekalian bukan kami endak kepada hamba sahayamu dan bukan kami kehendak kepada artamu. lalu ia pulang ke Kota Laha. Maka orangkaya gimelaha dan orang semuhanya pindah ke negeri Kambelo.’ Tellah demikian itu orang membawah fitna kepada jeneral dan gurendur. ini pula dibawah ke ini pula dibawah ke Betawih.

ke tanah Ambon serta raja Tidore yang diturunkan daripada kerajaannya itu dan raja Jailolo. zill Allah fi 'l-`alamin. Maka suruh panggil perdana gimelaha dua bersyaudara. Ada pun pada ketika itu Kapitan Hitu pun sakit. Tetapi kepada jeneral itu tiada ia percaya. Apabila sudah rubuhkan kotanya. Maka orang Kambelo keluar serta pahlawan Patiwani Hitu.’ Maka kotanya itu pun dirubuhkan dan sekalian dagang itu pun belayar masing2 mencahari tempatnya.min Allah syah. Pada ketika itu ia duduk di negeri Kambelo. Maka berhimpunlah tanah Ambon sekalian berhadapan . nasrun min Allah syah. sekalian pati dan sengaji: ‘Rubuhkan kotamu itu dan niyahkan segala orang dagang itu. Maka menyuruh fetor Soroi* dan sarinto* pergi periksyai kepada penyakitnya itu. berpalinglah orang sekalian. sudah datang ke bawah dulli tuanku. hatta datang titah kepada orang sekalian:‘Mana surat perjanjian dengan Wolanda itu?’ Maka menyahut orangkaya-kaya semuhanya: ‘Ada pun surat perjanjian Wolanda itu ada kepada patik tuanku Kapitan Hitu. zill Allah fi 'l-`alamin. lalu dinaikan pahlawan gimelaha Leliyato kepada kapal Wolanda itu dan dikeluarkan gimelaha Luhu.’ Lalu menyuruh panggil kepada Kapitan Hitu. Tellah demikian itu paduka yang dipetuan berangkat ke tanah Hitu serta Wolanda itu dan negeri Hitu sekalian pun keluar jungjung serta dengan adat semuhanya dikerjakan. ada yang bejalan saja.’ Tellah demikian itu panglima Nahudimeten serta imam Sifarrijali keduanya keluar datang mengadap ke bawah dulli serri sultan. ampun seribu ampun. Hatta seketika lagi patah parang Kambelo. Hatta datang maka titah: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka menyahut Sifarijali: ‘Daulat tuanku. Kemudian berhadapan di bawah dulli yang dipetuan. Lalu ia pulang katakan kepada jeneral: ‘Bennar juga kata orang itu. Tiada dapat kuceriterakan parangnya. Maka tanah Ambon dan Buru sekalian berhimpunlah di sana. Jika tiada sakit.’ Maka titah: ‘Jika ia sakit. patik tuanku sakit. lalu pulang orang yang memanggil itu menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuan. lalu masuk ke pantai Kambelo. ada yang membawah arta bejenis-jenis serta bunyi-bunyian mengiringkan kepada payung kerajaan daulat al sultan Hamza. Ada yang memagang senjata serta santiagu*. suruh belayar pulang ke negerinya. Hatta datang titah yang dipetuan kepada orangkaya-kaya dalam negeri Lesidi dan Kambelo. manatah surat perjanjian Wolanda itu?’ Maka menyahut pula Sifarijali: ‘Patik minta maaf. Maka Wolanda itu serta angkatannya mendapatkan paduka serri sultan. Bennar juga titah . maka turun Wolanda itu mendatangi negeri Kambelo. ada yang membawah ayapan. sehingga Patiwani jua ia betahan parang dengan Wolanda itu. maka berparanglah atas bukit itu.

yang dipetuan itu. ibn al-sultan marhum syah. sehinggalah keluar yang dipetuan serri sultan Hamza. yang memagang surat pun tiada datang. tiadalah kita memutuskan kepada perjanjian itu. lain daripada itu tiada kusubutkan. lain daripada itu tiada kuceriterakan. dari Hitu menyeberang ke Luhu. alah-mengalah. Hatta datang kepada hari yang lain.’ Maka sabda yang kerajaan:‘Apabila bagai kata yang demikian itu. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. Entah berapa lamanya di sana. Ada pun negeri Hitu dari Wawani dan negeri Asilulu dan negeri Alan. wa-sultan al-Din. Liliboy. Sehingga datang ke pantai Eran*. Hatta berapa dalamnya. pasang-memasang. maka bertemu dua buah kapal . Maka serri sultan Muhammad Sya`id. negerinya pun tiada diketahui lagi. karena ia tempat merampas isi rumah Kapitan Hitu. Telah demikian itu maka kuceriterakan kemudian daripada itu tanah Ambon.’ Lalu berangkat kepada kelengkapannya dan orang sekalian pun masing2 pulang kepada tempatnya. tiada ketahuan negeri Luhu dan negeri Lesidi. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda.sarangmenyarang sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah di tanah Ambon. maka orang Hitu dan orang Kambelo serta orangkaya gimelaha belayar mengadap raja Mangkasar minta tolong kepada agama rasul Allah. Dan kepada tanah Hitu negeri Hila dan negeri Hitulama. Maka tanah Ambon pun masing2 pulang ke negerinya. lain daripada itu tiada kuceriterakan. lalu pulang ke Maluku. Lesidi. maka berangkat pulang ke Hitu pula. maka masuk pula bicara dalam gudang Wolanda itu. nasrun min Allah syah. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. Entah surat itu ta dapat tiada kepada Wolanda. tembak- . menyuruh tujuh buah perau mengantarkan kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya2 pulang ke tanah Ambon. serta johan pahlawan gimelaha Luhu berparang dengan Wolanda itu. meninggalkan benua Ternate datang ke tanah Ambon. Itu pun demikian juga tiada berputusan. serta Kapitan Hitu dan Pati Tuban dan Tubanbesi. tetapi tatkala ditipu kepada patik tuanku. Maka bersumpah-sumpahan kalam Allah dengan orang Hitu dan berjanjian dan muafakat seperti dahulu itu lagi. Berlawanlah di sana dua kaum itu. dari Luhu berangkat ke Kambelo. jangankan surat itu. itulah kesudahannya. sehingga kelengkapan dari Ternate itu juga serta yang dipetuan di tanah Hitu. lalu dibawah belayar kepada pahlawan gimelaha Leliyato ke Jawahkatra*. karena surat pun tiada. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. lalu berangkat ke Kota Laha. serta gimelaha Luhu. serta orangkaya Bulan dan orangkaya Tanihitumesen mengikut kepada Wolanda.

maka alah negeri itu. tetapi anak buah kami itu kami keluarkan dahulu. lalu masuk sekali2 tiada dengan was2 lagi. dan karaen Mampo akan hukum dalam angkatan itu dan memagang arta raja itu Marala dan karaen Puli dan Malim dan Besi Lumu*. demikian katanya: ‘Kami minta maaf banyak-banyak kepada penggawa dan panglima sekalian undur juga. Maka orang dalam negeri itu semuhanya masuk ke dalam gudung Wolanda. berlakulah kedua pihak itu serta senjata bekilat-bekilat dan bunyi-bunyian tamburnya dan kucapinya atas kepadanya. pagi petang pertungguwan tiada berkeputusan. ia duduk di pantai Seit. makan-minum. Tetapi penghulu dalam angkatan itu karaen* Bontomanompo dan daeng* Bulikan. maka datanglah entah berapa aluwannya. setengah masuk duduk di Kambelo dan setengah dibawah ke Hitu membuat kotanya di pantai Seit ia duduk. Hatta datang musim. tembah-menembah. maka setengah duduk dan setengah pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar dan minta bantu pula. karena perjanjian raja kepada Wolanda itu belum lagi berubah. Dan daripada Mangkasar pun demikian juga begendang serta bunyi-bunyian. Siang dan malam. tetapi diteggah oleh penggawa. Hatta datang pahlawan Patiwani melihat kepada negeri itu.’ Tellah kata demikian itu. berlawanlah kedua kaum itu. Apabila masuk matahari. sehingga lalu pulang orang sekalian serta Patiwani ke negeri Wawani. Lalu menyorong parangnya kepada negeri Larike dan negeri karas sukar mengalahkan dia. Hatta datang musim barat. Hatta datang ke tanah Ambon. Maka datang orangkaya2 dari negeri Kapahaha dan negeri Mamala minta maaf kepada Mangkasar dan orang Wawani. Maka datang kapal Wolanda itu. Maka ia pulang serta dengan kemenangnya bersuka-sukaan dalamnya. Ada pun gudung itu atas kepada kami. sangngat berahinya. Lain daripada itu tiada kusebutkan. Endak lalukan kepada gudang Wolanda itu. Maka ia bernanti tiada masuk kepada gudung itu. karena pasan yang dipetuhan tiada dengan orang Wolanda. Dan yang duduk di Kambelo itu pun menyoron parangnya serta orang Ternate dan orang Kambelo alah kepada negeri Saluku. alahkan dia. maka orang Mangkasar endak masuk rusak kepada gudung itu. kemudian kami rusakkan dia. maka orang Mangkasar dan orang Wawani pun . Hatta berapa antaranya dalamnya parau dari Kambelo dan dari Hitu datang membawah kepadanya. Hatta berapa lamanya kapal itu pun belayar. lalu masuk ke tanah Hitu.menembak. maka Mangkasar pun menyorongnya menyarang kepada negeri Hitulama serta dengan kehenda Allah ta`ala alah negeri itu. bersuka-sukaan. karena kelengkapan Mangkasar membuat talangkeranya* di darat dan Wolanda membuat di laut atas kapalnya. pasang-memasang.

maka orang Hitu dan Mangkasar keluar mengamu. Maka tanah Ambon semuanya mengikut kepada Wolanda. Maka orang Kambelo dan orangkaya gimelaha serta Mangkasar tiada jadi menyarang kepada negeri Lesidi. ada mati sendirinya. Hatta datang esok harinya. sehingga negeri Wawani juga berkellahi dengan orang semuhanya itu serta Wolanda itu. belarilariyan membuangkan senjatanya. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan orang mati pun entah berapa banyak tiada kuceriterakan. ada mati beddil. Lalu patah parang Wolanda itu. sebab ia terjung dari atas gunung tiada berketahuan larinya.berhenti. lalu orang Kambelo dan gimelaha bedamai dengan orang Lesidi. menyuruh belayar ke Betawih membawah khabar kepada jeneral Fandiman*. Tellah demikian itu hatta datang berapa antaranya menyorong pula parangnya ke Tanah Besar. Serta pahlawan Patiwani menetah. Hatta datang esok harinya. maka ia keduanya bersama-sama serta angkatan itu menyeberang ke tanah Hitu. Maka berangkat serta orang Kambelo dan orangkaya gimelaha mendatangi di negeri Lesidi. tiada jadi berhenti. Hatta datang musim barat Mangkasar tiada keluar. Itu pun demikian juga sebab orang Kambelo dan Lesidi tiada dengan sesungguhnya. Ia duduk di pantai Wawani. Serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota itu. karena ada mati oleh pedang. Hatta datang musim karaeng Bontomanompo dan daeng Bolikan serta kelengkapannya pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar kepada serri sultan Muhammad Sya`id alDin. Ada pun kepada Wolanda itu jeneral keluar dengan angkatannya serta tanah Ambon dengan angkatan semuanya mendatangi kotanya Mangkasar itu . orang dalam gudung itu pun keluar dan bantu dari Kota Laha pun datang menolong kepada gudung itu. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. Itulah tanda orang kibria dalam dunia tiada mengetahui kehendak Allah ta`ala. maka ditangkis oleh Wolanda itu sehingga sedikit juga putus asfanggarnya* itu. lalu naik menyarang kepada negeri Wawani. sehingga karaen Jipan* dan Manggapa serta hamba raja Marala dan Malim menunggu kepada kotanya di pantai Seit. karena orangkaya gimelaha tiada sesungguhnya parang. Maka orang Hitu dan Mangkasar mendapat tiga puluh pucu esfangar yang tiada berapi. lalu pulang. lalu pulang tiada dengan faedahnya. sebab raja berangkat menyarang kepada raja Bone. masing-masing membawah . Daripada Anin dan Laala itu pun demikian juga. Tatkala itu karaeng Jipang dan daeng Manggapa keduanya bedagang di pantai Kambelo. Maka orang Kapahaha dan orang Mamala dan Liyan pun tiada jadi mengrusakkan dia. Maka sesungguhnya. tiada jadi masuk kepada gudung itu. karena gimelaha Majira serta orang itu dan pun demikian lagi dengan negeri Anin dan Laala.

Karena istiadat Kapitan Hitu. tiada mengetahui tipu dayah Kastila itu. jika panjangnya lima jengkal tiada boleh masuk ke dalam rumah. lima buah negeri. lalu tidur sekalih di luar kepada suatu balai. lalu naik ke negeri Wawani. seorangpun tiada. sehingga sekali juga makan besi butul dadanya. Hatta datang kepada suatu ketika ia datang kepada Kapitan Hitu. Tellah demikian itu orang Kaitetu pun keluar serta orang Seit dan Hahutuna masuk kepada orangkaya Tanihitumesen muafakat. Dan laknat itu lari ke kapal beritahu kepada kapitan. maka ia naik ke kapal kepada Wolanda itu dan apa-apa katanya Kastila itu. lalu masuk laknat itu. Maka tikam tigabelas kali serta dengan kehendak Allah ta`ala tiada makan besi kulitnya. jangankan laki-laki. Maka ia berbicarai dengan gurendur. daripada ia katakan kata yang baik serta membujuk dengan kata yang manis samanya Islam. . Entah berapa lamanya dalam negeri Wawani dan orang sekalian pun percaya kepadanya. hamba sahayanya sekalipun. Hatta datang tengah malam ia masuk ke dalam rumah.masuk kepada Kapitan Hitu dan Kapitan Hitu pun percaya kepadanya. Sangkanya bennar orang lari. Kemudian daripada itu Seit dan Hahutuna. karena ia mengaku di laut atau di darat atas kepada orang itu dengan Hehalesi. Sebab itulah Kapitan Hitu menengar fitnah daripada orang itu. Ia juga sendirinya. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Pergilah engkau. maka turung.dirinya. Ada pun tatkala parang itu hamba raja Marala dua bersyaudara mati dan pahlawan Patiwani luka dan imam Sifar arRijali pun luka pada ketika itu. Tatkala itu Kapitan Hitu pun baringbaring. Itu orang meruntuhkan agama rasul Allah dan orang itu orang munafik. maka negeri Hitu sekalian pun menjadi daif daripada ia terkuddun ia. maka ia berkata:‘Kami endak pergi bermain di negeri kicil. lalu pulang ke rakhmat Allah. Maka naik kepada angkatannya. Maka negeri Wawani pun selamat. keluar serta orangkaya Tanihitumesen masuk kepada Wolanda. Daripada itulah rusak iman orang parang sabil Allah dan melamahkan hati orang itu. Maka ia pasan muruyumunya* semuhanya gennap kapalnya serta gudungnya sekalian. membuat talangkeranya serta gudungnya di pantai Hahutuna. lalu pulang ke negerinya sehingga meninggal tiga buah kapal menunggu kepada pantai Wawani. Itulah sendirinya beradu tiada dengan penunggunya. karena orang itu dengan Hehalesi mengaku hadapan ke pantai Hitu dan menyuruh berparang serta Wolanda. Hatta datang ajal Allah. Maka kuceriterakan pada tatkala itu ada dua orang Kastila lari daripada orang Wolanda datang ke negeri Wawani.’ Lalu keduanya berjalan keluar di pantai Seit. lalu bawah kapal belabu di tanjung Hulu. maka ia berparang dengan Wolanda.

Hatta datang di sana bertemu dengan orangkaya serta orang banyak itu. Maka kata orang Seit dan Hahutuna: ‘Tuanku lalu ke pasar Lebelehu. Kami pun demikian lagi endah bertemu dengan orangkaya juga.’ Maka kata orangkaya2: ‘Benar kata syaudara kami itu. Daripada itulah kita menyuruh datang kepada orangkaya2 itu serta dengan angkunya. Baiklah orangkaya2 berhenti. dan kami pun demikian juga seperti kata orangkaya itu. Apabila berbuatan atau tipu yang jahat bukanlah perbuatan Wolanda.’ Maka orang sekalian percaya. Kita pun tiada boleh naik ke negeri. kita empunya perbuatan itu. supaya kita muafakat mana yang baik itu maka kita kerjakan. maka ekor mengikut. Karena negeri semuanya sudah keluar akan katanya kepada gurendur.’ Maka kata orangkaya dan orang Seit. Esok harinya ia datang. melainkan dahulu juga kepala. lalu pergi ke sana.Maka menyuruh naik ke negeri Wawani. sangkanya kata yang baik. baiklah kami pulang dahulu. Apa salahnya?’ ‘Daripada itu ia ingat kepada negeri Hitu serta agama rasul Allah. maka muafakat semuanya dahulu. tetapi kami tiada boleh keluar sebab orangkaya serta Wolanda.’ ‘Benar juga kata orang itu. lalu keluar orangkaya2 serta orang banyak mengikut kepada suruwan itu. orangkaya2 dari Hila dan dari Mamala dan dari Kapahaha bulum lagi datang. karena kita bersama-sama dengan Wolanda. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu sudah pulang ke rakhmat Allah. karena gurendur tiada mau. Kemudian maka kita kira-kira apabila baik kita masuk kepadanya. tetapi gurendur tiada percaya karena negeri sekalian itu mengikut kepada dia.’ Maka suruwan itu pulang beritahu kepadanya. maka ia menyuruh datang kepada kami itu. maka kata orangkaya dan orang banyak: ‘Ada pun kita ada bicara sekarang ini. Bolehkah kita bertemu dengan orangkaya2? Tetapi kita tiada boleh naik ke negeri. menyampaikan kata orangkaya itu kepada orangkaya Pati Tuban dan pahlawan Patiwani serta orangkaya sekalian. Seperkara lagi. Hahutuna: ‘Mengapa maka pulang lagi? . jika tiada baik menyuruh panggil kepadanya bicara di luar. sehingga datang kepada suatu padang di tepi sungai. karena orangkaya dalam maklum Wolanda itu. karena gurendur tiada mau kepada beta naik.’ Ia menanti. tiada boleh naik ke negeri. Lalu katanya demikian: ‘Orang kaya2-pun tiada boleh keluar. Baiklah kita sama bertemu di luar negeri. karena orangkaya serta orang banyak ada di sana. Matahari pun masuk.’ Maka kata orangkaya2 Wawani: ‘Jika bagai kata demikian itu. Maka menyuruh pula berulang-ulang dengan kata yang baik dan manis. tiada perna ekor dahulu maka kepala mengikut. maka dikatakan serta dengan empena menjadi jina. Esok harinya maka kami datang. karena piliyan kata yang benar.

maka semuanya muafakat: ‘Apa tipu kita? Apabila kita dalam hutan juga tiada tahan lagi rakyat kita ini .dijalankan di laut dan orang Hitu dan setengah orang Mangkasar serta daen Manggapa berjalan di darat. Serta kehendak Allah ta`ala alah negeri Wawani dan orang dalam negeri itu pun cerai-berai. lalu ia datang sendirinya membawah kepada orang yang tiada dapat berjalan itu. turun bukit dan berapa padang ia berjalan.’ Lalu menyuruh ke negeri Kapahaha: ‘Boleh kami masuk atau tiadakah?’ Karena tatkala itu negeri Kapahaha pun bedamai dengan Wolanda. lalu keluar masuk utan. Maka berjalan pula ke negeri Tehala dan negeri Tehala pun demikian juga tiada dapat terima. maka didiamkan kepada suatu dusun. naik bukit. membilang nama orang yang datang itu dan nama panglima serta pendagarnya semuanya yang datang itu. sangkanya kata yang benar. maka orangkaya2 serta orang sekalian pun percayalah. tetapi sabbar dahulu supaya kami kira-kira serta orangkaya2 semuanya. Demer* namanya. Apabila datang semuanya kemudian. masuk dalam hutan dan orangkaya yang keluar itu pun tiada boleh masuk ke negeri lagi. Dan apa-apa kehendaknya itu semuanya dikatakannya kepada Wolanda. mauka atau tiadaka. Di sanalah ia duduk menanti kepada orang banyak lagi dalam hutan itu. naik kepada tengah malam itu menyarang kepada negeri Wawani. keduanya naik ke kapal beritahu kepada kapitan gurendur. Lalu turun Kompenyi*. maka berentilah di sana. Jika kita endah masuk kepada suatu negeri. Entah berapa lamanya dalam hutan itu sebagai juga sehingga datang ke hulu sungai. Entah berapa dalamnya.Jika begitu tiadalah percaya kepada kami semuanya ini. beritahu kepada letnante dan menyuruh antan-antun dua orang. semuanya mengikut kepada Wolanda. Maka semuanya bejalan masuk ke negeri Nukuhali dan negeri itu pun tiada boleh terima kepadanya.’ Tellah demikian itu entah apa-apa kehendaknya sekalian orangkaya itu. seorang Goron* dan seorang Tapihuwat namanya. Maka ia berenti di sana. paduka kiyaicili Laksamana pun sakit lalu mati . supaya kita dengngar kehendak itu. maka kata orangkaya Tubanbesi: ‘Boleh juga. karena panglima Patiwani dan imam . lalu berjalan di luar masuk utan. Hatta datang ke pantai Kapahaha. Maka ia bertemu sekalian rakyatnya dan karaen Jipan* dan daen Manggapa serta rakyatnya dan kiyaicili La Manimpa ibn sipati* di Buton. Tellah dipeliharakan paduka kiyaicili itu. maka kirakirakan kepada kedudukan. lalu orang Seit dan Hahutuna pulang ke negerinya. terbit pandang*. Baiklah kita menyuruh kepada suatu negeri. Alitan namanya.’ Karena orangkaya sudah mengaku di hadapan orang semuanya kepada barang perbuatan yang jahat itu. Wai Luyi* namanya sungai itu. kemudian kira-kirakan kehendak kita.

ada mati dalam hutan. Demikian kehendak orang itu:’Apabila kita sekalian ini masuk ke dalam negeri. Hatta seketika juga undur Wolanda itu pulang ke gudangnya dan karaen Jipan* pun meninggalkan Mangkasar setengah serta Kartulesi menanti kepada suatu dusun. Maka menyuruh panggil kepada negeri semuanya. demikian kata: ‘Baik siap-siap negeri. sukarlah kepada hidupan kita. maka ialah keluar merompa pada orang Nasrani itu. Empat orang ditindisnya di adapan Wolanda itu.’ Hatta didengar kata gurendur demikian itu dan negeri semuanya keluar serta gurendur itu. ada masuk ke Hitulama. lalu berparang kedua pihak itu.’ Itullah kehendaknya orang itu. Ada pun tatkala ia dalam hutan itu sekalian negeri itu tiada boleh masuk dalam hutan. ada masuk ke Hila. Maka kata orangkaya: ‘Apa tipu kita? Karena kita sudah bedamai dengan dia. Ia membawah setengah serta Patiwani dan Sifar ar-Rijali masuk ke negeri Kapahaha. Maka menyuruh mengambil perau kepada Kartulesi serta orang yang tinggal dalam hutan itu. maka berparanglah tiga kaum itu dalam hutan di sana. Daripada itulah kubunnya dengan tanamannya semuanya kepada orang itu mengambil dia. supaya kami minta minta ampun. lalu menembang cengkeh serta kayu yang dimakan buah2-nya. sehingga negeri Kapahaha juga tiada keluar. Maka datang pula Wolanda itu serta orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. jika tiada ia keluar serta aku.Sifar ar-Rijali dan pati Larutu bersama-sama karaen Jipan* serta Mangkasar yang banyak itu lagi dalam hutan. ada masuk ke negeri Kapahaha. Maka diberikan dua buah perau. Umarela namanya. ialah akan musuhku. Baiklah kita pergi kepadanya minta ampun. Apabila ia mati maka orang banyak itu masing-masing lari membawah dirinya. ada masuk kepada Wolanda itu. lalu ia belayar pulang ke Mangkasar. maka datang Wolanda itu mencari dia. Maka gurendur itu real itu pun diterima dan kepada orang itu tiada diampunkan. Baiklah kita di sini supaya kita pun dapat makanan. Lalu keluarkan angkatan serta tanah Ambon semuanya datang ke pantai Mamala. lalu ia pulang dengan . Maka Wolanda itu dilabukan kapalanya genap tanjung dan labuan Kapahaha serta mendirikan talankeranya* di pantai itu. ialah rasamu* kepada orang mudah-mudah dalam negeri Kapahaha pada tatkala itu. Maka bertemu kepada suatu padang.’ Lalu orangkaya-kaya masuk pada gurendur serta membawah tiga ribu real akan pembeli siri pinang. Orang dalam negeri itu pun kita antar akan dia. Tiada berketahuan larinya. tiada boleh bergerak lagi serta dengan ajal Allah lalu ia syahid. Hatta seketika juga dengan kehendak Allah ta`ala tetanam kaki Kartulesi ke dalam lumpur. Maka hulubalang negeri Kapahaha. ada masuk ke negeri kicil. Hatta berapa lamanya dalam hutan itu.

lalu langgar kepada Wolanda itu. maka ia pulang dan Wolanda itu pun apabila petang malam.melawanlah keduanya pasang-memasang. serta menatak sekali juga kennah dua orang. maka datang sebuah perau Wolanda itu dari pantai Lumakai*. pasang-memasang. maka ia mengunus syamsyirnya serta melompat naik ke atas kelengkapan Wolanda itu. satu kennah . sama gagahnya . Apabila kepada pihak Islam itu ia keluar mengambil makanan. ia mengadap di luar talankeranya Wolanda itu dan Wolanda itu pun mengawal. Maka kedua pihak itu tiada berputusan berparang siang malam pagi petang. Dan demikian lagi daripada pihak Islam. makan-minum serta bunyibunyian dalam negeri Kapahaha. alah menang Islam pun tiada mau kepada Nasrani dan orang Nasrani pun tiada mau kepada Islam. Hatta seketika lagi ia memandang ke kiri dan ke kanan dan ke aluan dan ke buritan. maka ia memarintah kepada orang semuanya. bersuka-sukaannya. Hatta dengan ajal Allah syahidlah ia dalam perau Wolanda itu. Maka ia keluar. tembahmenembah. malam atau siang hari. Sama gagahnya dua pihak itu. maka ia masuk ke dalam sungai Wai Liyi*.tiada ia pulang kepada siang hari. Maka huru-gara majnun pandang kepada johan Patiwani ia dalam kelengkapan Wolanda itu. melainkan petang malam. Alah mennang daripada kapitannya yang gagah itu seperti letnante dan alferes* dan sarento* serta kapitan Merlaka* ia sangat keras mengasakan soldadu kepada parang.kemenangnya. Hatta sama bertemu kedua pihak itu. Apabila petang. Maka ditembah oleh Wolanda itu dua lukanya. Maka sama bertemu keduanya lalu berparanglah kedua kaum itu. Hatib Lukula dari Mamala tangannya satu bengko dan orang luka pun banyak.samalah kedua kaum itu. perparanglah kedua kaum itu. Seorang itu sehingga sedikit juga putus kedua penggal. Apabila sudah langgar. sentiasa tiada bertinggalan lagi. ialah kapitannya dan seorang lagi putus sebelah tangannya ada di jalan lagi. Lalu ia menyerbukan dirinya kepada Wolanda itu. maka dilihatnya jurumudi putus tangannya sebelah dan mati. ia datang mengadap di pantai di mana datang orang itu . tatuk-menatak sebagai juga tiada berhenti lagi. Hatta berapa dalamnya serta dengan kehendaknya Allah ta`ala pahlawan Patiwani ia naik kepada sebuah perau menyeberang ke sebelah Tanah Besar. Dan Wolanda itu pun demikian lagi.Maka sama gagah kedua pihak itu. sentiasa kedua kaum itu sebagai juga. Entah berapa hari dalamnya. maka keluar orang dari negeri Kapahaha. panglimanya dan pendagarnya serta pahlawan Patiwani ialah sangat mengasakan orang mudah2 kepada parang sabil Allah.

karena keduanya sama lellah leti. Maka kedua kaum itu melawanlah. lalu masuk ke Kota Laha pada gurendur. Segali perastawa orangkaya Pati Tupan dan Tulesi adindah orangkaya Tubanbesi bawah dua perau ke Tanah Besar. Hatta demikian itu. itulah hal parang kedua kaum. karena ia satu negeri juga tiga ratus orang memagang senjata berparanglah dengan negeri sekalian. tetapi baikbaik bicara tuan-tuan semuanya. Lain daripada itu tiada dapat kuceriterakan. Itulah hal negeri Kapahaha parang sabil Allah. maka kata johan pahlawan Patiwani: ‘Hai syaudahraku sekallian. Maka negeri tiada mau bedamai. Tellah demikian sekali perastawa gurendur sendirinya membawah angkatan endah menyerang kepada negeri Kapahaha. Segali lagi ia berjalan dari bukit Iyaluli* endah mendatangi negeri Kapahaha. Itulah kesudahan hidupan pahlawan Patiwani dalam tanah Hitu. maka dibawah pulang maitnya itu datang ke negeri Kapahaha dan dipeliharakan serta diadatkan sehingga seratus . Maka didapatnya sebuah perau. Itulah Allah dan nabi Muhammad juga yang mengetahui. Maka ia pasang bedil ditembah ke dalam negeri dan negeri pun menembah kepadanya. kami sudah belakankan dunia. Apabila suda ia mati. maka ia lari sendirinya membuang senjatanya. Maka datang mengambil kepada johan pahlawan Pati[wani]. harinya . tetapi menyampaikan salamku kepada orangkaya Tupanbesi serta orangkaya2 sekallian. Tellah sudah kesudahan kami. . Sehingga tengah jalan. Entah berapa matinya tiada ditentu dalamnya. Pada ketika itu mennang Wolanda itu kepada Islam dan kuceriterakan.pahanya dan satu lagi kenah bibirnya. Maka ia pulang bertemu dua buah fergat*. serta orangkaya gimelaha datang suruh minta bedamai. lalu naik kepada peraunya.maka jatuh ke air masing. maka dibelakannya johan itu dan negeri semuanya pun berpalinglah kepada Wolanda itu. Daripada belum dengan ajal Allah kepada negeri Kapahaha ia lari sendirinya membuangkan senjatanya. karena musuh semuanya yang datang suruh minta bedamai. Jadi kuranglah kuat negeri Kapahaha. Ulilima dan Ulisiwa. jangan disamakan kita di belakang tuan-tuan itu.’ Lalu ia mati. karena sekali menembah tujuh orang dikenanya. maka kedua kaum itu berhanyutan juga tiada boleh penggayu lagi.ada pun tatkala itu orangkaya2 tanah Ambon. maka melawanlah keduanya. pasang-memasang daripada waktu subuh sehingga datang kepada bakda magrib. Hatta datang musim utusan pun datang dari Ternate. ada alah. Maka ia naik ke atas bukit antara gunung Hantu* dan negeri Kapahaha. Ada mennang. melainkan menanti titah paduka seri sultan dari Maluku. Islam dan Nasrani. Hatta seketika lagi orangkaya Patti [Tuban] pun luka dan Tullesi pun kuka* Lain daripada itu tiada kusebutkan.

Maka semuanya itu diberikan kepada gurendur itu dan orangkaya . berparanglah dengan negeri Kapahaha.’ Apabila orangkaya2 itu pulang sehingga tengah jalan. Demikianlah hal negeri Kapahaha. penyakitan dalam negeri serta kekurangan makanan. lalu menyuruh bunuh kepada suruwan itu.’ Lalu orangkaya2 itu masuk hutan mencari jalan yang lain. Maka orang semuanya itu cerrai-berrai masing-masing membawah dirinya. Ada masuk ke dalam hutan. Ada mati di tengah jalan. ada mati di bawah pohon kayu. hatta berapa dalamnya gimelaha pun datang dari Ternate. Hatta datang suruwan itu. Ada masuk negeri Tiyal dan orangkaya Pati Tuban ia masuk ke negeri Wai. Hatta demikian itu dengan kehendak Tuan Yang Mahatinggi seorang dagang ia lari masuk kepada Wolanda.’ Tiada juga datang titah. supaya kami dengar dan mengetahui kehendak titah itu pun. apatah daya untung kita? Tellah demikian itu datang titah. Barang apa didapatnya. sehingga kami sebuah negeri juga berparang dengan Wolanda itu. Maka ia menunjukkan jalan kepada Wolanda itu. Itu pun tiada juga datang titah.maka orangkaya Kapahaha menyuruh tanya kepada orangkaya gimelaha. tiada dapat berjalan lagi. Jangankan negeri lain tiada dapat dikatakan negeri Hitu sendirinya pun akan musuhnya. Lalu orangkaya-kaya menyuruh menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuhan serta tanya sepata kata. di situlah ia diam. lalu mati kepada tempatnya. supaya ia dengar kepada titah yang dipetuan. Dan setengah masuk ke negeri Mamala dan setengah masuk ke negeri Hitulama dan setengah masuk ke Hila. Sebab itulah maka tiada jadi bedamai. Mana kehendak seri sultan. karena negeri sekalian menjadi musuh. dimasukkan ke dalam talankeranya. maka orangkaya2 serta orang banyak datang kepada utusan dan gurendur. apatah daya untung kita?’ Tellah demikian itu datang bala Allah. sebab ia kalaparang. Maka kata orangkaya-kaya: ‘Ada pun harap kita kepada perjanjian serri sultan tatkala dipersekalikan kalam Allah di negeri Hitu. baik berkellahi atau bedamai. Maka didengar oleh orangkaya-kaya dalam negeri Kapahaha terlalu khairan ajaib sekali kepada perbuatan gimelaha itu.Maka menyuruh panggil kepada orangkaya2 negeri Kapahaha. naik tengah malam serta dengan kehendak Allah ta`ala lalu alah negeri. ada masuk ke dalam guwah batu. demikian katanya: ‘Ada pun orangkaya2 yang di belakan mengikut tuan-tuan itu dipagang oleh letnante. maka bertemu orang datang membawah khabar. apa-apa sebabnya. panggil kepada orangkaya Tubanbesi dan orangkaya2 yang tuah-tuah datang ke mari. Maka kata utusan dan gurendur: ‘Pulanglah orangkaya2. demikian katanya: ‘Betapa hal kami ini? Karena tanah Ambon negeri sekalian serta dengan Wolanda.

lalu keduanya pergi berjalan. Apabila terbit fajar ia keluar di pantai basambuni. lalu dipagang kepada dua orang itu dan menyuruh turun endah dipegang kepada orangkaya Tubanbesi. tetapi kiranya orang Mamala pun tiada boleh diterima kepadanya. Maka dibunuhlah kepada orangkaya dan dinaikan kepada orangkaya Pati Tupan dan orangkaya Beraim-ela dan Tulesi dan Alam dan Teyaka* serta anak orangkaya Tubanbesi dua bersyaudarah. maka ia dengar bunyi anjing dalam hutan. tanya kepada seorang anak syaudagar yang besar [penggawa] lagi dermawang pun artawan.berlindung di dalam alang-alang. maka musuh itu pun tiada melihat kepadanya. seorang Wangsa namanya dan seorang Petinggi namanya kanak-kanak itu. karena kepada siang hari itu ada orang masuk mencari dalam hutan. lalu berjalan keduanya. tiada pulang lagi. demikian katanya: ‘Dapatkah orangkaya2 menyuruh seorang atau dua orang turun kepada orangkaya Tubanbesi atau tiadakah?’ Hatta didengar kata demikian itu. maka ia lepas. turun bukit. sehingga kunyatakan tatkala ia keluar itu masuk hutan. lalu pulang ke negeri Hitu. Dan kuceriterakan Sifari'l-jalih. terbit padang. maka ia tiada jadi masuk ke Mamala lagi. Entah berapa jauhnya. Maka ia bertemu seorang antanantan orangkaya Pati Tuban. maka tefakur Sifarijali dalam cintanya serta berkata: ‘Ajaib sekali akan Tahakehena pergi berdapat segera datang hendaknya hidup lasap sekali- .Tetapi belum lagi untungnya di situ. Daripada belum lagi sampai ajal Sifarijali keduanya Sarasara Tahakehena. Hatta matahari masuk. maka anjing itu diyam dan Wolanda itu pun tiada berkata-berkata. lalu ia keluar pergi ke dalam hutan. lalu menyuruh kepada Sarasara Tahakehena masu ke dalam negeri Hila. Sebab itulah ia keluar basambuni dakat pantai. maka ia bersembuni.Tubanbesi ia membawah sebuah perau sudah keluar sehingga pantai Hatuhaha. seorang Duljalal dan Pilakan* namanya kanak-kanak itu dan anak orangkaya Kapitan Hitu dua bersyaudara. Sarasara Tahakehena namanya. Maka orang Hitu bawah orangkaya dua beranak kepada Wolanda itu. Entah berapa jauhnya berdapat pula dengan musuh. ialah menjadi imam dalam negeri itu: ‘Dapatkah Sifarijali masuk ke negeri atau tiada dapat?’ Maka Tahakehena pun lasap sekali-sekali. naik kepada kapal. Maka ia hendak masuk ke negeri Mamala. terbit padang dan naik bukit. Lalu pergi masuk ke hutan sehingga datang kepada suatu padang. Maka menyuruh dua orang naik ke negeri. Sama pandangmemandang. bawah ke Betawih. maka ia pun keluar pergi berjalan ke dalam hutan. Maka ia berhenti di sana. Seketika juga datang anjing serta tuannya Wolanda itu datang. Dan tiada kuceriterakan kesukarangnya serta kejahatannya yang dicellai orang itu.

lalu mengikut orangkaya itu ke tanah Buru. Hatta masuk matahari. duduk di negeri Lesiela bersamasama orangkaya gimelaha. maka ia diketinggalkannya. ia pun masuk ke negeri berhadapan dengan imam itu. Hatta berapa lamanya. lalu ia keluar bedamai dengan gurendur itu. Maka ia menyuruh pergi kepada Hehalesi. Hatta dengan kehenda Allah ta`ala datang gimelaha Hasi dari Luhu endah pulang ke Buru. lalu dibawah dari negeri ke dalam hutan. ia keluar berjalan menapi pantai. Entah berapa lamanya. Pati Laik namanya. si Papua namanya. Maka Sifarijali minta sebuah perau daripada orang Kelan*. Sebab itulah.’ Maka kata imam Rijali: ‘Apa dayah?’ Lalu dipuluh* dan dicium kepada kanak-kanak itu. ia duduk kepada suatu bukit.’ Lalu ia ke tanah Kelang. Maka ia bertemu Sakia dari Waibuti mengambil ikan. bawahkah atau tinggalkah?’ Maka kata syaudaranya: ‘Kedudukannya baik juga kita bawah. tetapi jika datang ke hutan maka kennah hujang dan angin ia tiada boleh tahan. maka ia datang beri bakal dan makanan. Hatta berapa dalamnya maka mengambil sebuah perau. Tiada dapat kuceriterakan dukkacittanya. Apabila masuk matahari. Seketika lagi datang Telesima dan Abubakar serta kanak-kanak. Maka kata Sifarijali:‘Apa tipu kita kepada kanak-kanak ini. pergi berjalan ke hutan ia duduk kepada suatu bukit. Maka bertemulah sama berhadapan bertanya-tanyakan hal-ahwal tanah Hitu dengan Wolanda itu. Maka ia bertanya kepada Sakia itu. Patinggi namanya. serta Ulu Ahutan membawah sebuah perau cari kepadanya. daripada itulah Sifarijali terlalu ajaib. Lalu dipindakan pulang ke negeri Luhu dan pati Kambelo pun bawah kepada Abubakar. didukun oleh inang pengasuhnya. karena pada ketika itu orangkaya gimelaha Daga dengan kiyaicili [Besi]mulu serta orang Kelan* endah berkelahi dengan Wolanda itu. sehingga itulah menanti kepada Tuhan Yang Mahasuci. maka datang perdana gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa datang membawah titah seri sultan Hamza. Maka ia terima kepada dia orang. maka keempatnya menyeberang ke Tanah Besar. sehingga datang ke tanjung Sial. Tinggal lagi tiga orang juga.sekali. Hatta terbit fajar masuk ke hutan ia berhenti. anak orangkaya Kapitan Hitu. demikian katanya: ‘Dapat kami naik ke negeri atau tiadakah?’ Maka ia menyahut: ‘Orang itu tiada boleh. maka datang gulawarganya. maka semuanya diceriterakan oleh syaudaranya itu. maka ia datang ke sana bersama-sama orangkaya Daga dan kiyaicili. Maka . Baik kita tinggalkan dia supaya ia keluar ke negeri.’ Telah demikian. Sehingga datang ke negeri Seit dan Hahutuna. maka ia menanti. seorangpun tiada terima kepadanya dan dia pun sembuni tiada mau menunjukkan dirinya kepada orang itu. tiada boleh berjalan kepada siang hari.

Maka karaen Rajipan menyuruh sebuah perau bawa kepada dia dahulu ke negeri dan karaen Rajipan lagi duduk di Buton.’ Maka ia pulang menyampaikan ke bawah dulli. supaya kita jangan melihat dan menengar tanah kita lagi. . lalu menyuruh memberi bakalnya. lalu masuk mengadap kepada raja. Maka titah paduka Dipatingalowan*: ‘Lamun jika tida kuterima kepada halmu ini. Ia basembuni dalam hutan.’ Lalu memohon kepada orangkaya gimelaha dan kipati. demikian katanya: ‘Marilah turun beli makanan itu. Maka Sifarijali ia masuk mengadap serta menyampaikan hal-ahwalnya ke bawah dulli seri sultan.’ ‘Endah ke mana?’ ‘Kami endah ke Mangkasar. ia keluar memanggil kepada orang dalam perau itu. maka ia pun tiada mau turun ke darat. maka ia beli.’ Karena ia takut tiada mau naik ke perau. sultan al-islam. Maka ia belayar ke laut tiga hari datang ke tanah Bone. Pada dewasa itu seri sultan paduka Dipatingalowan* ia memerintahkan tanah Mangkasar dan demikian serri sultan Muhammad Sya`id akan kerajaan. tiada seperti sabda nabi kepada kita ummatnya: “Wa-'l muslimin ikhwan”. lalu pulang ke peraunya. maka datang orang Bone tanya kepadanya: ‘Orang mana?’ Maka menyahut: ‘Kami orang Ambon. Maka datang titah kepada bonto* dan biduwandi*: ‘Tanya olemu kepada orang itu endah ke mana perginya dan apa kehendaknya datang ini?’ Maka menyahut Sifarijali. ia senang dirinya.. zill al-nabi fi dar al-mu’min.’ Lalu syahbandar memberi tempat kedudukannya. itu. Telah demikian itu ia memohon. Maka [kata] orang semuanya: ‘Apatah daya kehenda Allah ta`ala? Baik membuang diri kita tanah lain. belum lagi sampai pada . esok hari kami bawah makanan ke mari.didengar oleh Sifarijali itu. makin bertambah kedukaannya. Jikalau ada makanan. Maka tiada lagi bakal orang itu. tetapi kami kurang air dan bakal. Itulah daripada belum dengan kehendak Allah ta`ala.’ Maka kata orang itu: ‘Nantilah di sini. maka menyuruh entah berapa orang. bawahlah kemari kami beli.. sehingga karan-karan serta daun meninjau selamanya pergi itu. Hatta datang ke tanah Buton. Segala hal-ahwalnya itu semuanya diceriterakan kepada biduwandi* itu.’ Maka Sifarijali pun menanti. Hatta datang pagi hari orang itu pun datang serta senjata. lalu keluar belayar. Maka diberinya makanan serta kain bajunya. Hatta datang esok harinya datang pengalas serta antun-antun membawah titah menunjukkan kampung serta rumah. Maka menyahut Sifarijali: ‘Ada pun titah kepada dagang piatu itu. maka dagang piatu pun terima serta junjung kepada kehenda titah itu. maka bertemu kepada karaen Rajipan. maka ia menyampaikan ke bawah dulli yang kerajaan. tetapi minta ampun kepada piatu yang hina karan. Tatkala itu raja La Mibilu* akan kerajaan tanah Buton.

Wa-'s-salam bikhair amin. . Maka ia masuk hutan. Itulah kesudahan hikayat ini. Tamat sah ya sah. terbit padang.Daripada itulah meninggal negeri mencari sennang daripada ia takut akan Wolanda itu. Itulah halnya orang mendapat kediaman dirinya. sehingga datang ke tanah Mangkasar. menapi tasik. menyeberang laut.

hamam: tempat mandi Gunung Setan Ar. daeng: gelaran dalam di Oma Dom Duarte (de Meneses) (Gerrit) Demmer (Antonio) van Diemen Pattingalloang Mal. memawahkan: membagi hasil di antara pengusaha dengan pemilik dipersyahadatkan.) Pulau Burung alias Nusa Manuk Portuguese: chapeu: capiau Portuguese: charamela: seruling Mak. = fregat Portuguese: feitor: kepala perwakilan kompeni perdagangan Ar. alias Mihirjiguna Artus (Gijsels) Portuguese: espingarda: istinggar Herman van Speult Banda nyai Bawang alias Ratu Kali Nyamat biduanda Boano Butonese: orangkaya Portuguese: antena bote: andang_andang layar Pieter Both Adriaan Block (Martensz. Ternate: sangaji: kepala wilaya Portuguese: alferes: letnan muda indah Angasari Anthonio (van den Heuvel) apabila ? Arinjiguna. Dutch: fregat. dipersyuhadakan dipeluk (Estevão) Teieira (de Macedo) Dom Duarte de Meneses Erang Portuguese: espingarda: istinggar (Jan) Pieterszoon Coen Portuguese: fragata. kepala negeri Gorom Dutch: graaf: bupati Ar. firaq: pisah Prins (Maurits van Oranje) André Furtado (de Mendonça) (Jan Willemszoon) Gomale Ternate: kimalaha: kepala soa.Catatan aji alferes andak Angsari Antoni apalah Arinjiguna Artus asfanggarnya Aspel Bandan Bawang Biduwandi Boanoh bonto bot Bot Bulok Burung Capeu caramela daeng dan ? dauman Daurdia Demer Diman Dipatingalowan dipawahkan dipersyahdakan dipuluh Disera Duarde Eran esfangar Eskun fergat fetor firaklah Frings Furtado Gemala gimelaha Goron graf hamam Hantu harkat has Javanese: sang aji [raja]. haraka: harkat (mulai bergerak) Dutch: gaas: kain muslin .

) Hoen Huniase Usen (ibn Jumat) Frederik de Houtman Iha Ialuli Jakatra Jipang Kasingu Portuguese: capitaõ: kapten Portuguese: capitaõ-mor (do mar): laksamana Mak. mard(an): yang mulia Portuguese: marinheiro: pelaut Masulipatam (Cornelis) Matelieff (de Jonge) melawat Gaspar de Melo menghadap Pulau Rakata.arab: Maryam: meriam Negapatnam Nasidik Hehuat Nusatelo (Maurits) van Oranje Pulikat . alias Kanyimedu Cornelis (Jansz. Krakatau (Vincent Gijsbert van) Moerlag Mabilu Nossa Senhora do Monte Maurits alias Mauritius Portuguese: Maria. Schouten) Lesidi Leitimor Waran-ela alias Hoamoal zill Wai Lee Philip Lucasz. cili: pangeran Dutch: Compagnie: Kompeni luka (Nicolaes) Colff Konimere. karaeng: raja Ar. qaranful: cengkeh Kelang Ternate: kaicili. Rumakai Bisei Lumu Lopu(lalan) Wai Loi makhudum Persia:.hasiat Hehatomi Hisab hoja Holanda hukum Hun Huniyasi Husen Hutman Iwa Iyaluli Jawahkatra Jipan Kakasingku kapitan kapitan-mor karaen karanful Kelan kiyaicili Kompenyi kuka kuluf Kunmuri Kurnilis Lasidi Leitimol Lesiela lil Liyi Lukas Lumakai Lumu ? Lupa Luyi mahudum mardan marinero Masilpatani Matelif melalawat Melo Mengadapat Merkata Merlaka Mibilu Mundi Murucisa muruyumunya Nagahpatan Naseddiki Natahuat Nusatelu Nyuranye Prins Palikat arab: khassiya: khasiat Hehatomu hijab hujaj Portuguese: Holanda [Holland] Ternate: hukum: hakim Simon (Jansz.

shalat seribu seperti Butonese: sapati: mangkubumi Sitania Sial (Wouter) Seroyen Suangi Ternate: suisa: tambur (Abu Abd Allah Muhammad al-)Sanusi Sabadin (ibn Jumali) Portuguese: tranquiera. alias Jonge Jan atau Nyong Yan Jasper Jansz.pandang Paringsi Pasiruwan Patacoh perastawa pesir Pilakan Pinau pinsu Prings Pudiceri Pugel Pujiciri Rangsi rasamu Rengsi Riyal Rosengaing Saat sadaha Sagaluwa Sahanya sahingilah San Sanco santiagu sarento sarinto Sellat seribus serta sipati Sitaniya Siyal Soroi Suanggi suisa Sunusi Syabidin talangkeranya tamburunya Teyaka Tirubambu Tirumulawasir torompetanya Tuhahan tumengung Tumi ul Ulima Urin Warhaga Yan Yangsi padang Prins (van Oranje) Pasuruan Portuguese: patacho: sampan peristiwa pesiar Pelekolan Binau Portuguese: pinacas. terangkera: kubu Portuguese: tambor: tambur Sekatikam Tirumala(rájan)patnam Tirumulavásal Portuguese: trombeta: terompet Tuhaha Javanese: tumenggung: hulubalang Thomé Baharullah Ulilima Ureng Steven van der Haghen Jan Outgersz. Dutch: pinas: penes Prins (van Oranje) Pondicherry (Marten Jansz. rasama: mendaftarkan Gerard Reynst Laurens Reael Rosengain sahut Ternate: sadaha: wakil sultan Sagalua sahajanya sehinggalah São Sancho (de Vasconcelos) Sp. Visscher. Mal. . santiago: berbaris Portuguese: sargento: sersan Portuguese: sargento: sersan Ar. alias) Vogel Pondicherry Gerard Reynst Ar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful