Sifar Ar-Rijal (Imam Rijali) Sumber source: www.anu.edu.

au

Sejarah adalah perkembangan penentuan ide diri, perjalanan perkembangan diri dalam roh. karena roh hakekatnya bebas,maka sejarah adalah perjalanan kebebasan.(Hegel)

(potongan seperti dari sumber)Empunya tanah, karena ia dari mulanya

datang. Itulah kesudahan bangsya Ambon. Alkissah peri mengatakan bangsya Jawa. Maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera tatkala raja Tuban dinaikan kerajaan, maka tiada ia bersettia dan muafakat dengan kaum kulawarganya. Maka suatu kaum dua bersyaudara, seorang kiyai Tuli namanya dan seorang kiyai Dau namanya, dan seorang syaudaranya perempuan, nyai Mas namanya, ia naik serta kelengkapannya membawah dirinya mencari tempat kedudukannya. Hatta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Hitu. Ia masuk dalam labuan Husekaak namanya. Maka tiada melihat negeri dan tiada manusyia, lalu turun daripada kelengkapannya, naik ke darat membuat negeri akan kedudukannya.Hatta demikian itu keluar seekor anjing, maka orang itu dikatakan: ‘Ada anjing, adalah lagi manusyia; jikalau ada manusyia, ada juga negeri.’ Lalu ditangkap anjing itu, digantungkan suatu bungkusan di atas leher anjing itu. Ada pun dalam bungkusan itu serba sedikit daripada alamat negerinya. Lalu dilepaskan anjing itu pulang ke negeri kepada tuannya. Maka apalah* dilihat tuannya bungkusan itu, maka ia melihat alamat serba sedikit itu. Maka ia berkata kepada orang sekalian: ‘Ada juga manusyia di pantai itu.’ Maka ia mengambil buah-buahan akan tanda alamat negerinya, lalu digantung kepada leher anjing itu, dilepaskan pulang keluar ke pantai. Maka dilihat oleh orang itu, maka kata orang itu: ‘Marilah kita pergi periksyai kepada negeri itu’, lalu ia berjalan. Hatta ia datang ke tengah jalan, maka bertemu seorang, lalu dipangil serta dengan dia berjalan menuju kepada negeri dan orang dalam negeri itu pun keluar semuanya berjalan ke pantai. Maka ia bertemu dengan penguluh kelengkapan itu, maka kedua pihak berhadapan bertanyatanyakan kehendaknya datang itu. Maka menyahut penguluh kelengkapan itu, segala hal-ahwal semuanya diceriterakan kepada orang itu. Lalu ia bertanya pula kepada orang negeri itu, maka menyahut orang itu. Segala hal-ahwal mulanya datang itu diceriterakan kepada penguluh kelengkapan itu. Tellah demikian itu, maka kedua pihak bennarnya jual-beli, tukar-menukar beramai-ramaian. Hatta datang malam orang itu pun pulang ke negerinya. Apabila datang esok harinya, ia turun juga jual-beli, tukar-menukar sebagailah. Maka suatupun tiada dalamnya melainkan melakukan kesukaannya. Itulah kesudahan bangsya Jawa. Alkissah peri mengatakan bangsya Jailolo dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera, demikian riwayatnya. Ada pun dalam negeri Jailolo itu dua bangsya, seorang bangsya Jailolo dan seorang bangsya Jawa, yakni anak raja keduanya. Maka dalam

ada datang ke tanah Seran. masuk dalam labuan. setengah mengatakan bangsya Jailolo akan kerajaan dan setengah mengatakan pula bangsya Jawa akan kerajaan. maka ia tiada mau pulang lagi. lalu bertanya-tanyakan: ‘Darimana engkau datang dan di mana engkau duduk?’ Maka ia menyahut: ‘Di darat sungai ini kami duduk. lalu masuk ke dalam sungai. pattik minta maaf ke bawah dulli yang dipetuhan. Maka di belakangnya itu dinaikan bangsya Jailolo akan kerajaan. Itulah kesudahan riwayat bangsya Jailolo. lalu ia menyuruh rusak negeri syaudaranya. Ia dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Ambon. Sama berhadapan. maka jadi fitna dalam negeri endak berkelai. Lalu menyeberang ke tanah Hitu. Lalu ia pulang sehingga seorang juga. diam dirinya dalam utang. Hatta berapa lamanya di tengah jalan serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi datang ribut dan angin. maka cerai-berai kelengkapannya itu. ia duduk di tepi sungai itu menengok pada orang mengambil ikan itu dan orang mengambil ikan itu pun pandang kepadanya. Maka suatupun tiada hijab pada mereka itu melakukan kehendaknya. lalu bertanya padanya: ‘Darimana datang dan apa kehendakmu datang ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang dari . Seorang pula kaum gulawarganya duduk menjadi penghuluh kepada negeri Waiputih. maka ia naik ke darat mengambil tempat akan negerinya. Maka disampaikan khabar itu kepada syaudaranya. Alkissah peri mengatakan bangsya Goron* dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera demikian riwayatnya. Entah apa-apa kehendaknya gennap puluh dan tanjung sehingga datang ke benua Bacang. hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala keluar bangsya Jawa serta dengan kelengkapannya.keduanya itu. lalu ia berangkat mencari tempat akan kedudukannya. demikian katanya: ‘Hai tuhanku. maka ia pergi sendirinya kepada orang itu.’ Tellah didengar warta demikian itu. kiyai pati namanya atau Ulima* Sitaniya*. Maka syaudaranya dan setengah raiyat turun duduk menjadi penghulu kepada negeri Lisabata. Maka ia berangkat sehingga datang ke tanjung Siyal*. Ada datang ke tanah Buru. Tellah demikian itu.[Sekali] perastawa* dengan kehendak Allah ta`ala ia datang kepada suatu tanjung Nukuhali.’ Lalu perau mengambil ikan itu kembali menyampaikan khabar kepada perdana Jamilu. Daripada ketika itu sebuah perau daripada orang yang datang itu keluar memukat. Tellah demikian itu maka sebuah perau daripada pihak bangsya Jailolo ia keluar mengambil ikan. digelar Sellat* namanya. Tellah sudah paduka syaudara enda dinaikan kerajaan dan negeri yang dipetuhan pun sudah rusak. masing-masing membawah aluannya. seorangpun tiada mengetahui dia.

orang besar daripada Goron*. Lalu dicampakan serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahasuci lettalah kepada yang di bawah itu.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Maukah duduk serta kami?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau.benua Goron* dan kehendak kami mencari tempat kedudukan kami. Siapa mengetahui tipu dayah tuhan?’ Lalu menyahut demikian katanya: ‘Dagang piyatu minta maaf. jikalau dengan faedahnya yang baik?’ Maka pula perdana Jamilu: ‘Mengapa maka tiada dengan faedahnya yang baik? Jika duduk serta kami kupersuamikan anakku akan isterimu supaya jangan was-was hatimu kepada kami. karena ia anak yang empunya negeri. Kepada anaku juga yang menyasal. perdana kipati namanya. karena tiada patut hamba dan orang baik. tetapi tiada mengapa.’ Maka kata Jamilu: ‘Betapa kata demikian? Karena ia hamba mengapa maka kau ambil kepadanya? Didengar orang seolah-olah dicellai kepada kita. maka kata Jamilu: ‘Pada hari ini dan ketika ini kita sempurnakan janjian itu. Maka jadi empat negeri pada tatkala itu. Tellah demikian itu. lalu masuk serta orang banyak dan permullianya dengan adat sehinggasana. dari dunia datang ke akhirat akan syaudaraku dan ada pun yang di bawah memagang penyapu itu. Tellah kesudahan kataku termasyhur didengar oleh orang sekalian. Ada pun yang di atas itu. Itulah negeri bangsya Goron*. ia duduk di bawah serta memegang penyapu. demikian katanya: ‘Apabila bennar anaknya yang di atas itu. Tellah kesudahan anak cucu Goron* linang. dan pakaian yang jahat kepada anaknya. Maka ia tersunyum serta barpantung: ‘Harap-harap janji tuhan mengasih dagang piyatu.’ Lalu dipersuamikan anaknya serta makan minum bersuka-sukaan dalamnya.’ Lalu diam dirinya. Tellah demikian itu. Maka . ia duduk di atas di hadap orang banyak.’ Maka menyahut: ‘Kujungjung ke bawah kadim yang memeliharakan dan mengasih dagang piyatuh.’ Lalu ia menyaksyikan sepahnya. lettalah kepadanya. tuhan perhamba akan kami. Jika benar yang di bawah itu. Ia berhadapan dengan perdana Jamilu bijaksana. Maka kata perdana Jamilu: ‘Bennarlah anaku. Itulah sebabnya baik kita periksai dahulu.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya? Untung kita serta kehendak Allah ta`ala. maka menyuruh orang membawah kepadanya. ada pun kami ini anak dagang. Itulah nyata orang berbahagia dalam dunia.’ Lalu keduanya pergi masuk dalam negeri kepada rumah perdana Jamilu. Maka perintah dengan baik patut pakaian yang baik kepada hambanya. jika bagai kata demikian itu? Tetapi baik kita periksyai dahulu atau ia maukah atau tiada mau kepada kami.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya lagi. Daripada itulah kurelahkan anaku akan isterimu. lettalah kepadanya. maka ia mengambil tempat akan kedudukannya.

Dan perdana Mulai pun menghimpunkan segala hulubalangnya. lalu turun menyarang . tiada berubah lagi. jikalau dinamai bendahara pun benar juga. Lain daripada itu tiada dimasukkan. Alkissah peri mengatakan bangsya Ambon dan peri mengatakan bangsya Jawa. Kemudian daripada itu datang suatu bangsya tiga kaum yang ia datang dari negerinya. Ada pun Zamanjadi dipindakan Totohatu namanya dan perdana Mulai Mulai dipindakan Tanihitumesen namanya dan perdana Jamilu dipindakan Nusatapi namanya dan perdana kiyai pati dipindakan Pati Tuban namanya. maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera. lalu berkellai. sekali perastawa dengan kehendak Allah ta`ala dua kaum. lalu dikerjakan dan tiada lain lagi daripada keempat perdana itu. Hatta berapa lamanya seorangpun tiada manang kepada seorang dan seorangpun tiada allah kepada seorang. maka keempat perdana muafakat dahuluh. Lalu Zamanjadi menyuruh mengambil angkatan dari negeri Selan Binaur datang endak menyarang kepada negeri perdana Mulai. Ialah mengerjakan sesuatu pekerjaan daripada keempat perdana. Alkissah peri mengatakan daripada pihak rayatnya tiga puluh gelaran dan daripada tiga puluh gelaran itu tujuh pengawanya yang besar. sehingga takluk namanya. Kemudian daripada tiga itu. Dan berjanji-janjian serta berputusan barang sesuatu pekerjaan dalam tanah Hitu. makan minum sehingga menanti kepada angkatan itu. Itulah diadatkan zaman datang kepada zaman turun-menurun. Berapa lamanya maka datanglah angkatan itu. Zamanjadi endak akan kerajaan dan perdana Mulai pun ia akan kerajaan. Maka dimasukkan tiga kaum itu tiga kampung. jumlahnya tujuh kampung dalam negeri Hitu. serta dipindakan nama keempat itu. Itulah kesudahannya. Itulah dimasyhurkan nama keempat itu dalam tanah Hitu. Alkissah peri mengatakan tatkala keempat perdana muafakat itu menjadi suatu negeri dan keempat kampung. Karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dan tiada dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan. Tellah sudah muafakat. keduanya melakukan kehendaknya. maka dimasukkan tujuh pengawanya serta tiga puluh gelarannya. melainkan melakukan kehendaknya. dan dinaikan kerajaan pun patut juga daripada bangsyanya datang itu. Itulah seperti emas. Ada pun keempat perdana itu. Apabila kepada suatu pekerjaan. Zamanjadi dan perdana Mulai. maka muafakatlah keempatnya. Itulah kenyataan empat bangsya itu. Itulah kesudahan kaum daripada pihak empat perdana. tiada dengan supuhnya lagi.dengan kehendak Allah ta`ala muafakat keempat perdana itu menjadi suatu negeri dan empat negeri itu dijadikan empat kampung dan empat nama. maka dimasukkan tiga kaum dahuluh. maka fitna kedua kaum itu.

Itulah kita perjanjikan.’ Tellah berjanji demikian lalu ia pulang. demikian katanya: ‘Betapa kehendakmu kepada orang itu?’ Maka menyahut Zamanjadi serta bertanya kepada perdana Jamilu: ‘Ada pun kami kedua ini kepada bennarnya siapa patut akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika kepada bennarnya Zamanjadi akan kerajaan. maka menyahut perdana Jamilu pun demikian itu juga. Maka kita pun masuklah kepadanya melakukan kehendak kita itu. apa barang kehendakmu itu dan apa katamu itu tiada kulalui. kemudian berbuat kehendak kita itu.’ Maka diiakan oleh perdana Mulai. ikutlah perintaku. tetapi ia duduk dalam hutan. Sabar dahulu serta baik-baikan dengan dia. maka kedua kaum itu harkat* serta senjata. Aku pun demikian lagi. lalu keluar. karena ia sudah tahu perbuatan kita. Hatta datanglah kepada hari yang diperjanjikan itu.’ Itulah sebabnya. Maka kedua kaum diiakan kata perdana Jamilu itu. Apabila sudah lupa kepada harkatnya itu. karena engkau memulai negeri ini. Daripada itulah pantai Hitu dinamai Liasela* namanya.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika bagai kata demikian itu.kepada negeri dan empunya negeri pun keluar.’ Maka kata pula perdana Mulai: ‘Apabila engkau tolong kepadaku.’ Maka menyuruh pula kepada Zamanjadi pun demikian juga. Hatta datang kepada esok harinya pergi pula kepada Zamanjadi. Maka datang suruan perdana Jamilu kepada perdana Mulai. himpunlah orang serta senjata. Demikian perinta perdana Jamilu: ‘Apabila datang kepada hari anu. Maka ia berkata: ‘Apa tipu kita kepada dua kaum ini? . Sebennar ia datang dahulu. Apabila ia keluar mencari kehendaknya. demikian katanya: ‘Apa tipu kita. maka kata Zamanjadi kepada perdana Jamilu bagai kata perdana Mulai itu juga. Maka angkatan itu pulang dengan dukkacittanya dan empunya negeri pun makan minum bersuka-sukaan dan beramai-ramaian dalam negeri. Lalu ia pulang masing2 membilang hari yang diperjanjikan itu. serta berjanjian hari dan ketika itu. Maka ia berkata: ‘Betapa kehendakmu kepada Zamanjadi itu?’ Maka menyahut perdana Mulai: ‘Ada pun kami kedua kaum ini kepada bennarnya siapa akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu bijaksana: ‘Jika kepada bennarnya engkau juga. lalu ia keluar berhadapan dengan orang sekalian. tetapi Zamanjadi dahulu datang. Hatta seketika juga patah angkatan itu. Bennar katanya ia memulai negeri. ia kemudian.’ Maka kata perdana Mulai kepada perdana Jamilu: ‘Maukah tolong kepadaku?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau? Tetapi jika ada faedahnya. sunyilah negeri. lalu undur daripada karas parang rakyat perdana Mulai. Maka kembali angkatan itu tiada boleh allah kepada negeri. Hatta berapa lamanya maka perdana Jamilu bijaksana ia pergi kepada perdana Mulai. Barparanglah kedua pihak itu.

dan jika perdana Mulai akan kerajaan. Sehingga datang ke tanah Bima ada suatu fitnah dengan raja Bima. supaya menanti kehendak Tuhan Yang Mahamurah berbahagia kepada seseorang akan yang dipetuhan. Itulah yang bersatuan nama keempat itu selamah-selamahnya zaman datang kepada zaman. perdana Mulai tiada mau sembah. maka dikerjakan. yang tiada mengikut itu bukanlah kaum kita sekalian. Hatta datang musim sultan pun pulang. Apabila ia keduanya akan kerajaan. yang mengikut itu kaum kita sekalian ini. Itulah adat keempat perdana dalam tanah Hitu. Maka keempat perdana itu seorang tiada tinggi kepada seorang dan seorang tiada randah kepada seorang. yakni antun-antun. Lalu bertanya kepada perdana Pati Tuban Maka segala hal-akhwalnya semuanya diceriterakan kepada serri sultan. belum lagi kedangaran dalam dunia suatu negeri dua kerajaan. Lalu bersettia dan muafakat serta perjanjijanjian dan bersumpah-sumpahan sehingga datang kepada hari kiamat seperti firman Allah: ‘Inna 'llaha la yukhlifu 'l-mi`ada. Ada pun pada ketika ini kita buat demikian pada keduanya: jika ikut kata orang sekalian. Empat puluh orang pendagar. maka jadi akan kerajaan. mengiring kepada serri . Lalu keluar kepada orang sekalian. Atau salah suatu mengikut kata ini. sekali perastawa keempat perdana berhadapan muafakat. Alkissah dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera. maka bersettia muafakat dan bersuka-sukaan kembalilah kepada adatnya. karena empat perdana itu seseorang tiada tinggi kepada seseorang dan seseorang tiada randah kepada seseorang. Kemudian daripada itu jika seorang tiada atau dua orang atau tiga orang sehingga seorang jugapun nama keempat juga. apatah daya sudahlah. maka bertemu kepadanya. maka diiakan oleh dua pihak itu. Melainkan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala serta orang muafakat. supaya kita menanti karunia Allah ta`ala. ’Tellah demikian itu maka menyuruh kepada dua kaum itu segala perastawa perinta kata itu semuanya dikatakannya. Tatkala itu seri sultan Maluku paduka Zainul Abidin khallada 'llahu mulkahu wa-saltatahu ia datang ke benua Jawa.Apabila Zamanjadi akan kerajaan. Apabila keduanya akan kerajaan. lalu barparang pada ketika itu. Apabila tiada mengikut. Zamanjadi pun demikian juga tiada mau sembah. jadilah empat kerajaan dalam negeri. Maka perdana Pati Tuban ia belayar ke benua Jawa tuntuti agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. itulah sempurna kerajaan. al-hamdu li-'llah. Apabila barang suatu pekerjaan melainkan keempatnya berhadapan.’ Itulah pertama yang memulai perjanjian. Baik juga kita kata demikian kepadanya. Maka suatupun tiada ellat lagi dalamnya. maka demikian keduanya. yakni keempatnya bersamakan.

sulthan Zainul Abidin. lalu negeri Hitu pun masuk iman kepada Allah dan nabbi Muhammad serta agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. akan kadi di negeri Ternate. tuhan Bahrul* namanya. dan serri sultan pun serta menettah hulubalang itu. Lalu mati hulubalang itu dan raja pun luka. Tellah demikian itu kuceriterakan yang empunya ceritera. Ia masuk ke pantai Waibuti. Pada ketika itulah negeri Hitu dan negeri Waiputih serta negeri Eran* ketiganya muafakat bersama-sama. sepuluh dengan negeri Hitu. lalu ia bertanya kepada perdana yang besar dalam negeri demikian titah: ‘Hai segala perdana dan parwara sekalian. maka mengatakan peri hal-akhwal perjanjian dengan raja Maluku itu. maka semuanya diceriterakan kepadanya. Tatkala itu nyai Bawang* akan kerajaan. Semuanya dikatakannya kepada orang sekalian serta dijungjung titah itu. Ia datang menuju serri sultan. Maka suatupun tiada hisab* melainkan memerintahkan tanahnya serta agama Allah dan agama nabbi Muhammad salla 'llahu alaihi wa-sallama amin ya Rabb al-`alamin. Itulah sebabnya dan seperkara lagi nama syaudaraku itu kuberikan kepadanya. Ada pun tatkala utusan datang ke Ambon itu singga di tanah Boanoh*. Hatta berapa lamanya di tengngah jalan maka serri sultan Zainul Abidin pun wafatlah. Alkissah peri mengatakan perdana Jamilu dan peri mengatakan panngeran Japara. maka ia bertanya bangsya perdana Jamilu. Pada ketika itulah bawah kepada pendita yang alim.’ Hatta datang . Maka masyhurkan demikianlah riwayatnya: ada pun tatkala serri sultan Khair Jamil akan kerajaan itu.’ Lalu menyuruh kiaicili* Darwis akan utusan ke tanah Ambon meneguhkan pula perjanjian itu. sehingga datang kepada sultan Khairun Jamil akan kerajaan zill Allah fi 'l-alamin. maka ia bersettia dan muafakat dengan pangeran. Hatta dengan ajal Allah maka datang seorang hulubalang raja Bima. lalu menyeberang ke tanah Hitu. Lalu ia memberi nama Patinggi: ‘Karena nama Jamilu itu artinya kepada bahasa Jawa “jangan mengikut”. lalu menikam dengan lembingnya kennah kepada sultan Maluku. Maka diceriterakan oleh [yang empunya ceritera] perdana Pati Tuban ia pulang ke tanah Hitu. Maka kuceriterakan yang empunya ceritera demikian riwayatnya. berapa kampung dalam negeri kita ini?’ Maka menyahut mankubumi: ‘Ada pun dalam negeri yang dipetuhan sembilan kampung jumlahnya. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji´un. Maka keempat puluh pendagar itu dinaikan kepada raja di atas kelengkapan. lalu belayar. maka lalu ke pantai Eran* dan dari pantai Eran* itu lalu ke tanjung Siyal. sehinggalah termasyhur Ternate dengan Hitu. Tatkala perdana Jamilu menyuruh utusan ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. Tatkala perdana Pati Tuban ia datang dari tanah Jawa itu.

musim utusan itu pun pulang dan orang Japara pun gennap musim tiada berputusan bedagang ke tanah Hitu dan tanah Ambon sekalian sebagailah.’ Dan seorang berkata pula: ‘Daripada beraja baik tiada beraja. Kemudian daripada itu. Maka digelarnya Latu Sitania namanya.’ Maka kata keempat perdana: ‘Apa salahnya karena ia kerajaan? Tetapi sehinggalah kerajaan. tetapi kita naikan dahulu seorang akan kerajaan. Alkissah peri mengatakan syariat nabbi akhir zaman. kepada suatu hari keempat perdana berhadapan kepada suatu tempat. Maka seorang berkata: ‘Mana baik beraja daripada yang tiada beraja?’ Maka kata seorang: ‘Daripada yang tiada beraja. Daripada ialah termasyhur agama Allah dan agama nabi Muhammad rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. yakni artinya ‘raja tanya’. tetapi bukan firak.’ Apa yang kehendaknya itulah diadatkan daripada zaman datang kepada zaman turun-menurun. maka kuceriterakan yang empunya ceritera. maka raja naik ke atas balai.’ Maka kata seorang pula: ‘Demikian faedah yang baik daripada yang tiada beraja. maka kata orang sekalian: ‘Nyatahlah faedah yang baik beraja dan faedah yang baik tiada beraja.’ Lalu dinaikan kaum gulawarganya seorang akan kerajaan. Ada pun amar dan nahi serta adat semuanya itu melainkan keempat perdana juga. pergi datang berulang2 tiada berputusan. Hatta berapa lamanya keempat perdana berhadapan serta orang banyak. Dan negeri Hitu pun firaklah* dengan negeri Japara daripada raja yang kemudian itu kuranlah adilnya seperti raja yang dahulu. lalu membuat suatu mesjid tujuh pangkat. sehingga Nyai Bawang* pulang ke rahmat Allah. baik beraja. Ada pun tatkala masuk iman serta mengesakan Allah subhanahu wa-ta`ala dan termasyhurlah agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Tiada lain daripada keempat . Tellah itu maka dinaikan Maulana ibn Ibrahim akan kadi daripada ia mutakalim daripada alim mahudum* guru sekalian tanah Ambon. Ia duduk bejuntai-juntai. Apabila raja itu tiada dengan adilnya diupamakan matahari tiada dengan bercahayanya. nama yang dijungjung. yakni dipawahkan*. Maka suatupun tiada ellat dalam tanah Hitu. Itulah kesudahannya negeri Hitu dan negeri Japara. sehingga tiada sampai ini juga.’ Maka kata pula: ‘Bennar juga kata keduanya itu tiada salah. Daripada itulah maka dikatakan firak. supaya kita periksai kepada faedahnya yang baik beraja atau faedah yang baik tiada beraja itu. Dan dinaikan hukum* AbubakarNaseddiki* namanya. maka keempatnya muafakat mengira-mengirakan negerinya.’ Maka seorang pula berkata: ‘Mana faedah yang baik beraja itu dan mana faedah yang baik daripada tiada beraja itu?’ Lalu berkata keduanya: ‘Demikian faedah yang baik beraja.

maka ia keluar. makin bertambah kebajikan dan kepujian. lalu sekali-kali di aluan angkatan itu serta menetta. Ia keluar bersuka-sukaan sehingga datang kepada suatu pantai. maka ia kembali dengan kemenangngannya makan minum bersukasukaan. melainkan kehendak Allah ta`ala juga tiada dapat dikatakan. demikian katanya: ‘Insya Allah ta`ala berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu kembali angkatan itu.’ Tellah didengar kata orang demikian itu. lalu alah kepada negerinya. Maka dilepas kepada maslahat itu serta dengan kehendak Allah ta`ala kennah panglimanya itu mati dan orang banyak itu pun undur serta lari. Alkissah dan kuceriterakan tatkala itu perastawa keempat perdana membahagi rakyat. Hunimoa namanya pantai itu. jika beta tiada dapat alah kepada negeri itu. Maka panglima negeri itu keluar. Maka diikut belakangnya orang itu. lalu langgar ke darat. lalu ia pulang diam dirinya kepada halnya. Dan kuceriterakan sekali perastawa raja naik kepada sebuah perau. Hatta ia datang.bangsya itu. Itulah kehendak Tuhan Yang Mahamurah kepada makhluknya. Maka kata keempat perdana: ‘Mengapa maka kembali angkatan ini?’ Maka sahut orang itu: ‘Tiada boleh alah kepadanya. jangan alah naik ke darat pun tiada boleh. Demikian juga keempatnya seorang pengawa empat gelaran turun-menurun. Apabila kita langgar ke darat. turun ke pantainya pun tiada dapat. Apa2 kehendaknya tiada ia muafakat dengan keempat perdana. Lalu ia menyuruh kepada negeri yang bukan takluknya. Maka tiada berupama kepada yang empunya negeri serta melakukan kehendaknya dan negeri itu pun tiada diketahui kepadanya.’ ‘Mengapa maka tiada boleh alah kepadanya?’ Maka kata angkatan itu: ‘Jangan alah.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Betapa perintah parangnya itu?’ Maka menyahut orang itu: ‘Ada pun panglimanya itu terlalu sangat gagahnya. Maka negeri itu keluar dengan angkatan pergi menyerang kepada negeri itu. Seorang pengawa empat gelaran kepada seorang perdana. Tiada boleh alah. Sebab itulah maka tiada dapat turun. berbahagia seseorang-orang dalam dunia. Demikianlah halnya orang itu. Maka dikata dengan kata yang aib. Hatta lama datang kepada lamanya. Tellah demikian itu.’ Tellah demikian itu maka ia membuat suatu maslahat serta dengan panah di aluan kelengkapannya itu. beta pun tiada kembali. serta menyingsing tangan bajunya. Ia minta tolong kepadanya. demikian juga kemudian daripada itu.’ Lalu disalin dan dimuliah kepadanya. tiada seupamanya lagi dalam tanah Hitu. Maka kata orang sekalian: ‘Bennarlah perdana Jamilu pahlawan dan bijaksana dalam tanah Hitu. lalu sekali-kali di aluan kelengkapan itu. Itu pun tiada dikatakan kepada empat perdana itu. Alkissah . lalu ia becakap di hadapan orang sekalian.

’ Maka kata keempat perdana: ‘Bennar kata hukum dan penghuluh agama. untung kami di sini. jangan sama senegeri kita. Kemudian kita membuat jahat pula. Selamanya umur kami hidup dalam dunia. demikian katanya: ‘Ada kami bertemu sebua perau di laut Puluh Tiga. daripada negeri itu tiada beragama dan lagi banyak minuman anggur.’ Maka kembali pula bawah ia datang ke negeri kepada perdana Jamilu. lalu berampas-rampasan serta haru-biru dalam pasar. Seperkara lagi sama makanannya dan minumannya. Pada . tetapi ampun dahuluh kepadanya. maka suatupun tiada hujat dalamnya pada ketika itu dan termasyhur nama Kapitan Hitu dari negeri Ambon sampai negeri Portugal. Hatta berapa lamanya maka ia memohon setengah duduk menungguh rumahnya dan setengah membawah khabar kepada orang besarnya. Maka tinggal kapal kami.’ Maka dipindahkan dia ke tanah sebelah kepada tempat yang baik ia duduk. Tetapi malim tiada tahu. Kepada zaman itulah maka digelarnya kepada perdana Jamilu ‘kapitan Hitu’ namanya dan berjanjian apabila datang kapalnya. kedua Don Jamilu namanya. maka diberinya masara persalin kepada Kapitan Hitu. Lalu kami tanya kepadanya. maka menyuruh kapalnya datang gennap tahun tiada berputusan lagi. Jadi ramai bandar di tanah Hitu dan termasyhur sekalian tanah Ambon. ia tiada tahu bahasa kami dan kami pun tiada tahu bangsyanya.’ Lalu diberinya tempat membuat rumahnya ia duduk. Maka disampaikan kepada hukum dan penghuluh agama. Itulah hal keempat perdana. naik kepada sampang endak pulang ke negeri Portugal.dan kuceriterakan yang empunya ceritera: sekali perastawa sebua perau Saki Besi Nusatelu* ke laut Puluh Tiga mengambil ikan. apa hal nama kita didengngar oleh orang? Baik kita pindahkan dia kepada tempat yang lain. Gennap tahun diadatkan selamanya. bulum lagi melihat rupa manusyia bagai rupa orang itu. Hatta datang lama dengan lamanya serta kehendak Allah ta`ala yang kebaikannya itu dibalaskan oleh Tuhan Yang Mahamurah datang kejahatannya. maka kami datang ke mari. suatu Kapitan Hitu. Maka raja Portugal digelarnya dua nama. maka kata penghuluh agama: ‘Salah orang itu melainkan sampai nyawanya. Lalu ditanya kepadanya: ‘Darimana datang dan apa nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang di sini kami sessat tiada tahu jalan. Sekali perastawa ia minum mabuk. Hatta datang musim barat. Tubuhnya putih dan matanya seperti mata kucing. Maka ia datang membawah khabar kepada perdana Jamilu.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Pergilah engkau bawah ia ke mari. Apatah daya. Maka kami jatuh pesir* ke tanah sebelah dan kapal kami pun tekarang di laut Puluh Burung*. karena sudah termasyhur kita membuat baik kepadanya.

tukarmenukar. pertama Lekalahabesi dan kedua Tubanbesi. alah-mengalah sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah. Sorangmenyarang. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Hatta berapa lamanya menjadi fitna. Maka ia meninggal dua buah gurap sehingga dinaikan orangnya. Dan maitnya itu ditaburkan bauh-bauan. Lalu menyuruh sebuah gurap antar kepada mayit itu dahuluh dan ain inayat naik kepada sampangnya ennam buah itu dan gurapnya itu menanti di tanah Seran. Hatiwe namanya. jual-beli. Tellah demikian itu maka adinda perdana Jamilu belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. lalu paranglah dengan dia. daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama dan Tubanbesi pun syahid pada ketika itu.ketika itu tiada dikira-kirakan kepada hari yang kemudian. lalu belayar dibawah oleh angin dan arus jatuh datang ke tanah Seran. Sekali perastawa keempat perdana menyarang kepada sebuah negeri kafir. Tiada dapat terpandang mukanya oleh musuh itu. Maka didengar oleh kafir itu. ia menyuruh angkatan mengadang di tengngah jalan. Hatta datang ke tengah laut antara Jawa dan Bali. maka dimasukkan ke dalam petti. Hatta ia datang ke Bandan. lalu alah negeri itu. Maka ia pulang dengan kemenangngannya sehingga datang ke negeri bersukasukaan. Maka keluar kafir itu serta barparanglah kedua pihak itu seperti orang bepasaran. Bunyi senjatanya diupamakan guruh di atas langit. maka ia sakit serta dengan ajalnya. Tellah demikian itu maka dihimpunkan orang serta kelengkapan Japara itu pergi menyerrang kepada sebuah negeri kafir. maka bertemu kedua kelengkapan itu. Hatta berapa dalamnya pun parang lanatullah itu dan tentara Islam itu pulang serta kemenangnya. Hatta berapa lamanya. makanminum dan bergela-gelaran nama panglimanya itu. Maka ia pulang kepada gurapnya. maka ia meninggal negeri fanah datang kepada negeri baka. bersuka-sukaan. Pada ketika itulah pendagar Tahalele menyerrang buankan dirinya ke tengah tentara kafir itu seperti harimau. Maka ia menengar khabar orang. ada sebuah kapal di tanah Bandan*. lalu berparanglah. lalu naik rampas kepada kapal itu dan orangnya itu habis dibunuhnya. makan-minum dan disalininya kepada pendagar Tahalele serta digelarnya pahlawan Tubanbesi dan syamsyirnya Lukululi. . lalu ia masuk ke pantai Hitu bersama-sama dengan tamannya yang mengantarkan mayit itu dan diturunkan kepada mayit itu. lalu belayar ke Ambon. Maka dipeliharakan dan diadatkan kepada mayit itu sehingga datang kepada seratus harinya. Maka penghuluh kelengkapan itu kira-kiranya sukar karena banyak kafir itu. Maka pangeran Japara menyuruh tujuh buah gurap mengantarkan dia. sehingga dimasyhurkan dua nama.

Ia masuk ke Kota Laha. maka ia naik ke darat.’ Lalu bertempik menyerbukan dirinya ke dalam tentara kafir itu. Inilah muafakat orang parang sabil dalam dunia. maka patah pula laknat itu. pendagar parang. Itulah manfaat orang parang sabil dalam akhirat. lalu naik kepada kelengkapannya kembali serta dengan dukkacittanya dan orang Hitu pun kembali memeliharakan mayitnya itu. Namanya digantikan Tubanbesi yang mati itu. Ia beparang tettak-menettak serta kehendak Allah ta`ala kulitnya tiada makan besi. Esfinkarnya* putus kedua pangkal. Hatta seketika juga mardan* Khatib ibn Maulana dan maradan Tahalele ibn Abubakar Nasiddik keduanya syahid. Hatta datang seketika lagi masuk pula ke medan. Ada pun tatkala itu datang sebuah kapal membawah kepada serri sultan Maluku ke tanah Ambon. maka bertempik Umar. Maka kata pahlawan Tubanbesi: ‘Untunglah aku sekarang pada ketika ini. lalu masuk ke medan dan berbunyilah gendang. maka masuk pula parang ke medan. Apabila Islam mati parang sabil. entah berapa-rapa panglimanya. caramela* pelbagailah bunyi-bunyian. masing-masing melarikan dirinya. patah tulang tangannya yang kiri. maka ditankis oleh laknatullah itu. Entah berapa lagi dalam akhirat dibalaskan Allah ta`ala karena sabda nabi salla 'llahu ’alaihi wa-sallama: ‘Apabila mati Islam. Lalu ia menetta serta merampas panjipanji kafir laknatullah itu. maka ditangkis oleh pahlawan itu. Lalu bertempik kedua pihak itu upama guru di atas langit bunyi tempiknya. Alkissah peri mengatakan sultan Maluku demikianlah riwayatnya.’ Yakni artinya bulum lagi masuk syurga. Alkissah peri mengatakan parang Don Duarde datang daripada negeri Portugal serta dengan kelengkapannya. suisa* dan serunai. maka dalam akhirat suatupun tiada hisab* kepadanya melainkan masuk syurga. maka khabarkan orang kepada negeri Hitu dan tanah Ambon sekalian. Maka dipaluh dengan esfingarnya* laknatullah itu. Maka tentara kafir itu cerai-berrai. lalu menetta.artinya ‘patah tulang’. jika bulum dilepaskan oleh malak al Zabaniah. Maka keempat perdana menyuruh orang . Panglimanya dan pendagarnya serta dengan harkatnya. karena pintu syurga sudah terbukah. jika bulum lagi lepas daripada azab naraka. maka patah parang kafir itu. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang bersembahyang mengadap kepada kiblat. yang diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Seketika juga himpunkan orang dan panglimanya sekalian serta dengan Den Daurdia*. Kemudian daripada itu mardan Totohatu ibn Zamanjadi ia bertempik. dalam akhirat bulum lagi diterima oleh malak al Ridwan. Daripada sanngat marah hatinya kepada panjipanjinya itu. Maka didirikan panji-panji parang dan tentara Islam pun demikian lagi.

maka raja pun tercengang tiada boleh bersuarah. demikian katanya: Dapatkah atau tiadakah kami endak menyuruh melalat kepada raja Ternate itu?’ Maka kata gurendur Feranggi: ‘Mengapa maka tiada dapat. maka naik pula ke atas bukit Mamala. Maka ia parang siang malam. Ada pun daging darahku sekali pun tiada bagai demikian ini. betahanlah di situ. Pada ketika itu pahlawan gimelaha* Laulata ada di tanah Ambon. Ialah bennar syaudaraku dari dunia datang ke akhirat. lalu kapal pun belayar membawah kepada serri sultan.’ Lalu menyuruh melalawat* dengan tipu maslahat. Ialah memeliharakan negeri sekalian serta mengeluarkan angkatan ke tanah Hitu. Sehingga keempat perdana dan setengngah negeri tiada berapa itu pinda ke Tanah Besar. Maka tanah Hitu serta tanah Ambon sekalian paranglah dengan kafir laknat itu. lalu ditudung pula kepada gendaga itu. Tellah demikian itu. Ia naik ke darat. Kemudian daripada parang Don Daurde itu. Maka datang orang itu katanya: ‘Bennar juga khabar itu. Alkissah dan diceriterakan yang empunya ceritera. Dan negeri Hitu pun pinda ke atas bukit. Maka ia pun mau.lalu bedamai orang Hitu dan orang Feranggi. maka menyuruh tanya kepada gurendur Peranggi itu. Alah-mengalah. Hatta berapa lamanya alah pula bukit itu. lalu ia kembali duduk di negeri Luhu serta meneguhkan tanah . terlalu ammat gaggahnya.’ Maka keempat perdana muafakat: ‘Apa tipu kita karena janjian kita serta sumpahan?’ Lalu menyuruh kepada kapitan* Feranggi itu minta bedamai.periksyai kepada khabar itu. Inilah tanda berteguhan ikrar dan tasdik. Maka keempat perdana pun endak mengulang lagi. Ia duduk di negeri Lesiela*. Dan empat puluh orang gaggah membawah makanan serta gendaga itu di hadapan raja. Ulukulu namanya. Maka negeri semuanya itu takluklah kepadanya kafir itu. Lalu dibukah sendirinya serta pandang kepada keris itu. maka datang kapitan Sanjo*. Tanda kasih dan tulus serta kehendaknya itu tellah sampailah kepada kami. pagi petang tiada berkeputusan. sarangmenyarang sebagailah parang sabil Allah. lalu membuat kotanya di pantai Hitu.’ Lalu orang itu pulang serta gendaga itu dan sampaikan salam titah itu kepada keempat perdana. Empat puluh mata keris dimasukkan ke dalam gendaga Seran dan di atas keris itu has* sehellai dan di atas has itu sirri pinang dan bunga serta bauh-bauan. Maka ia langgar kepada sebuah kapal. betahanlah di atas bukit itu. bennarkah atau tiadakah. Hatta lagi maka titah syah alam kepada empat puluh orang itu: ‘Pulanglah engkau bawah gendaga itu dan sampaikan salamku kepada empat perdana. Hatta berapa lamanya alah negeri itu. maka berulang-ulang beparang di tanah Hitu. karena kita sudah bedamai. maka kami pun terima dengan sempurnanya.

maka suatupun tiada ellat sehingga melakukan parang sabil Allah daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. jumlahnya dualapan perdana lima bangsyanya. maka hukum Abubakar pergi mengadap kepada serri sultan di Maluku. Apabila kasahkitan negeri Hitu. Lalu dipepatutan karena negeri Hitu pun keempat perdana itu empat bangsyanya dan Nusaniwe keempat perdana juga. ia keduanya juga. maka kami percahaya. pulanglah engkau. Nama gelaran negeri Henalale dinamai Hehahitu dan gelaran negeri Latua dinamai Hehatomi* namanya. . Suatupun tiada dengan hisab* karena tatkala muafakat itu dipersyahdakan*. lalu menyuruh gelaran Tuheasal dan Tuhelusun datang kepada hukum dan keempat perdana. Entah apa kehendaknya titah. Hatta berapa lamanya bertambah -tambah kebajikan dan kemerahan. ia keduanya juga. Hatta didengar negeri sekalian di tanah Hitu tellah datang hukum Abubakar daripada Ternate. Tellah demikian katanya: ‘Sudahlah bagai kehendak tuhan-tuhan itu. ketiga Latuhalat lawannya perdana Nusatapi. nyiyahkan kepada kafir itu dahulu. demikian katanya: ‘Negeri sekalian empunya sembah datang ke bawah kadim tuhanku.’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Apabila bagai kata demikian itu. Pada zaman itu negeri Hitu sekalian memberi kepala ikan ia upetti kepada keempat perdana.Ambon. kedua Totohatu lawannya Lisakota. Tellah dibunuh itu. Itulah perinta hukum Abubakar Nasiddik dan sekalian negeri pun kembali kepada hukum Abubakar dan keempat perdana. Tellah demikian itu dan diceriterakan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe kedua berhadapan kepada suatu majellis serta muafakat dan berjanjian. tetapi suatu bangsyanya.’ Lalu ia pulang memberitahukan kepada negeri sekalian. yakni tentukan perjanjian itu. Daripada itulah negeri Nusaniwe ia pinda datang ke negeri Hitu. lalu dibunuh kafir yang dalam negeri itu. Itu bersuatuan namanya. Ingatkah lagi rakyat tuhanku atau tiadakah lagi?’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Mengapa maka kami tiada ingat? Ingat juga.’ Maka hukum Abubakar dan keempat perdana pada ketika itulah pulang ke tanah Hitu. atau kebajikan negeri Nusaniwe. keempat perdana Pati Tuban lawannya perdana Pati Naelai. Ia duduk kepada bukit Hatunuku. maka ia pulang ke tanah Ambon. maka disampaikan kepada hukum dan keempat perdana. tetapi bulum lagi datang kepada ketikanya dan waktunya. Lalu Lalu dipepatutan: pertama Pati Lupa* lawannya perdana Tanihitumesen.’ Maka menyahut pula gelaran itu: ‘Bilamana lagi tuhanku maka datang ketikanya dan waktunya? Tetapi negeri tuhanku sekalian itu sekarang inilah datang ketikanya dan waktunya melainkan tuhanku pulang dahuluh di tanah Hitu. Tellah demikian itu.

Bennar juga dalam pihak Ulima. Lain daripada itu tiada kuceriterakan sehingga ibn bendahara: pertama gimelaha Kakasingku* dan (kedua) gimelaha Jamali dan (ketiga) gimelaha Kulabu dan keempat gimelaha Aja dan kelima gimelaha Basi dan keenam gimelaha Angsari*. sekalian keluar dengan kelengkapannya mendattangi sebuah negeri. keenam Ambalau. ada parang di laut. Wakasihu dan Urin*. ada yang dimennang. Maka datang kepada kerabat serri sultan daripada bangsya raja: pertama kiyaicili* Cuka.’ Ada pun perjanjian ini sehingga Alan. Segali perastawa gimelaha Kakasingku* keluar dengan kelengkapannya. Ia datang akan bendahara di tanah Ambon serta kaum gulawarganya gimelaha Haji dan gimelaha Sakatruana. maka datang kepada negeri Asilulu.’ Dan suatu lagi dijanjikan juga: ‘Apabila jika orang dari sebela pihak Ulisiwa endak masuk muafakat serta negeri Hitu. tatkala bulum lagi dinaikan kapitan laut. kedua cili Kodrat. Maka datang angkatan kafir laknat bantu kepada negeri itu. Asilulu suatu juga. Ada parang di darat. Dan daripada pihak hamba raja pertama Kalaudi dan kedua Usman dan ketiga Kabutu Malu dan keempat Sagaluwa*. ketiga cili Abu Syahid dan keempat cili Kaba. kelima Sibangua. keenam cili Ici dan ketujuh cili Aya. Lalu melawanlah kedua angkatan itu daripada waktu duha sehingga datang kepada bakda lohor. tetapi dalam pihak Ulima. Maka keempat perdana menerima kepadanya itu serta dengan berjanji-janjian. kedualapan baginda cili Ali. Alkissah peri mengatakan johan pahlawan gimelaha Rubohongi. jika datang kejahatannya pun kita bersamasama. bersama-sama datang ke negeri Hitu. ada yang menyarang. sebagailah kedua pihak itu tiada berputusan lagi. kelima cili Naya. ada mennang. Liliboi dan Larike. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan sekalian ini termasyhur pendagar. ada disarang. maka ia bertemu dengan angkatan Nasrani di tanjung Mamala. Kemudian daripada itu dan kuceriterakan. Tellah demikian itu dan diceriterakan daripada negeri Urin* dan Asilulu. Maka kedua pihak . maka dibawah kepada perdana Jamilu. demikian itu katanya: ‘Apabila jika datang kebaikannya pun kita bersama-sama. karena pada tatkala itu sangat parang sabil Allah di tanah Ambon. pun ia pergi datang berulang-ulang membawah titah sebagailah. Itulah daripada pihak bendahara. Latu namanya.Itulah kesudahan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe. Pun ia utusan. Sungguhpun namanya Ulisiwa. Serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi sekali-kali dengan kelengkapannya dan mayitnya perdana Kakasingku* pun sabil Allah tiada kettahuan lagi. tetapi dalam martabat negeri Hitu. Daripada itulah maka tatkala ia bertemu kepada orang Peranggi itu. lain daripada itu tiada kusubutkan.

lalu ia masuk. lalu masuk ke dalam negeri. Laknat itu alah kepada kota Islam itu. maka ia belayar kembali ke tanah Jawa. maka ia bertemu kepada kafir laknat itu. Dan panglimanya yang gaggah dalam angkatan itu Martajiwa namanya dan seorang Panarukan namanya dan seorang pula Pasiruwan* namanya. Maka dipandang oleh kafir laknat tempat itu sunyi dan kotanya itu pun tiada manusyia. Itulah kesudahan parang kiyai Mas di tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka panglimanya yang gaggah itu syahid. maka ia syahid serta kelengkapannya pada ketika itu juga. dua bersyaudara gimelaha Angsari* dan Liwa alDin. Maka kedua angkatan itu sama bertemu di tengah jalan antaranya Hitu dan Kota Laha. Tatkala perdana Tubanbesi belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangngeran minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Hatta datang malam masing-masing pulang kepada tempatnya. Apabila datang esok harinya demikian juga. sekali perastawa keluar angkatan Islam mendatangi negeri kafir dan angkatan kafir pun keluar. Alkissah peri mengatakan parang kiyai Mas. Maka negeri ke dalam kotanya dan orang itu pun mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang berhadapan serta dengan hidangan karena sangat maksud Islam ke sana kepada kafir laknat itu. tiada berputusan berkawal-kawal kedua tentara itu. sendirinya memeggang panji-panji serta membaca salawat. Lalu bertempik kedua pihak itu seperti datang tofan bakilat-kilat dan . ketiganya pendagar parang. Ia undur lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke negeri Hitu. Dan Kalaudi pun dengan kelengkapannya masuk. Maka angkatan itu sekalian kembali masing-masing ke negerinya. Alkissah dan kuceriterakan yang empunya ceritera. Hatta ia datang ke tanah Hitu dan orang Hitu pun keluar angkatan serta ia mendatangi negeri kafir itu. Hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala kepada pihak Islam itu pergi barjalan ke sini dan orang kawal itu pun serta dengan alpanya ia tidur. Hatta datang musim.berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian jualbeli. maka patah parang Islam itu. hoja* alim mahudum*: ketiganya syahid. Sebab pada ketika itu baginda cili Cuka ia menjadi kapitan laut. maka pangeran menyuruh kepada kiyai Mas serta kelengkapannya. Daripada itulah maka tiada berpaling apa tipu orang banyak serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi daripada kesudahan hidup manusyia dalam negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Dan orang sekalian itu pun lari masing-masing membawah dirinya sehingga gimelaha Jamali al-Din. karena Jamali alDin itu pahlawan yang termasyhur.

daripada ajal itulah meneguhkan hati manusyia serta memberikan kesudahannya. Hatta datang musim. Kemudian daripada itu pergi alah kepada negeri. ketiga orangkaya Watimena dan raja Rosengaing*. Masingmasing pulang kepada tempatnya. Sehingga datang musim ia pulang. Maka negeri Bandan* sekalian keluar angkatan ke tanah Hitu. Segali . Dan parangnya itu daripada waktu duha sehingga datang kepada waktu asar . Hatta berapa lamanya datangnya itu dan negeri Hitu pun keluar angkatan serta dia bersama-sama mendatangi kafir laknat itu dan kafir itu pun keluar angkatan. Dan daripada orang luka dan mati itu tiada kuceriterakan. maka dilanggar sebuah kapal. tetapi penghulu yang besar dalam angkatan itu pertama kapitan Falat. itu bukan dialah oleh Ferangi. kedua kapitan Atijauh. maka melawanlah kedua angkatan itu. Ada pun pada ketika itu ada juga suruan pangeran. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala sebuah kelengkapan Islam. Kemudian daripada itu datang pula angkatan itu ke tanah Hitu. Entah berapa aluannya. tetapi tiada masyhur parangnya itu. Islam pun dukacitta hatinya dan Nasrani pun demikian lagi. Itulah hal parang sabil Allah. Alkissah dan kuceriterakan oleh yang empunya ceritera sekali perastawa orang Hitu keluar dengan kelengkapannya. hulubalang Pati Lihat namanya. Pada mati dan luka itu tiada dikira-kirakan lagi. lalu undurlah keduanya angkatan itu. Hatta dengan ajal Allah. Dan angkatan Ferangi pun keluar sama bertemu di pantai Kota Laha. tebakar oleh api obat bedil sendirinya. Itulah kesudahan tanah Bandan* datang ke tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Hatta lama dengan lamanya sebagai juga tiada berputusan parang sabil Allah. Ada pun dalam angkatan kafir itu pun demikian juga luka dan mati. Hatta hilang awan itu. Tuhahan* namanya. Alkissah dan kuceriterakan johan pahlawan Tahalele ke tanah Bandan*minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka didapat oleh kafir laknat itu. Ia membuat kota di pantai sebelah berhadapan kota Ferangi. makan-minum bersukasukaan. lalu patah parang kafir itu dan angkatan Islam itu kembali serta kemenangannya. ia meninggal sendirinya pulang ke negeri Hitu. Asapnya itu menjadi awan menudung kepada kedua angkatan itu tiada berkenalan. Hatta terbit fajar kepada bakda subuh keluarlah kedua pihak angkatan itu berlawanlah dan bunyi senjata itu tiada dapat dikatakan. maka baginda kiyaicili pun syahid. Itu pun tiada juga jadi kota. maka ia kembali ke negeri Hitu.bunyi senjatanya diupamakan guruh dari atas langit dan asapnya senjata itu menjadi awan antara langit dan bumi. lalu undurlah kelengkapan Islam itu kembali dengan dukkacittanya. lalu pulang ke tanah Bandan.

Kehendak kafir itu menggagahi akan mayit bendahara itu. Maka pada ketika itulah perdana Kapitan Hitu memagang senjata. Hatta datang angkatan itu lalu turun.keempat Pati Baraim. sehingga inilah dimasyhurkan sangat parang kafir di tanah Ambon. keenam Mahir pendagar. ketiga hulubalang Hatib Tunsulu. Masing-masing lari terjung ke dalam air berenang kepada tempatnya sehingga hulubalang Sulaiman: maka ia tiada paling mukanya. Kuceriterakan menang Islam kepada kafir itu: sekali alah . Itulah sangat parang sabil Allah di tanah Hitu. maka ia bertankis-tankisan dengan perisainya serta undur datang kepada air sehingga lututnya. lalu ia keluar angkatan. pahlawan al-Din. tetapi tiada dapat lagi.’ Lalu ia bertempik ke dalam tentara kafir itu serta menettak. biarlah aku sendiri keluar dahulu. Hatta seketika juga patah parang kafir laknat itu. tetapi ia dalam uzur. Apabila tiada patah orang itu. maka hulubalang Ulu Ahutan ia becakap di hadapan orang sekalian: ‘Jangan dahulu orang keluar.perastawa keluar angkatan kafir laknat itu serta orang Tidore dan orang Buru mendatangi di negeri Hitu dan orang Hitu pun harkat menanti di pantai. kelima Umar pendagar. kedua hulubalang Hasan Pati. kedua kapitan Sanco*. ketujuh pendagar Nahoda. Itulah parang sabil di tanah Ambon. sehingga Jumat pahlawan al-Din ada. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. ia masuk parang kepada tentara kafir itu. Lalu ia menyerrang kepada negeri Hitu. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. sungguh pun disubut tanah Ambon. Ialah yang termasyhur pendagarnya dan terlalu amat gagahnya daripada sekalian. Maka dihabarkan orang kepada kafir laknat itu. Kadang-kadang Tanah Besar masuk kepada parang. Lain daripada itu tiada kusubutkan melainkan Jumat. kedualapan pendagar Nasiela -. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Rubohongi ia pulang ke rahmat Allah meninggalkan negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Dan kuceriterakan hulubalang kafir laknat itu pertama Don Duarde. ketiga Paulo Kastanya dan Dan Tamura dan Dirgurumaridisi dan Siku Kisua dan Don Disera* dan Fernando Melo* dan Antoni Laliru.pertama Ulu Ahutan. tuhan-tuhan sekalian keluar. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. Tatkala pada zaman itu alah menang sama kedua pihak itu.hulubalang yang termasyhur dalam tanah Hitu. Tatkala itu sekalian hulubalang serta pendagar semuanya tiada. tetapi tanah Hitu juga parang siang dan malam tiada berputusan. sebab sudah dipindahkan ke Tanah Besar. Sebab itulah maka dikatakan tanah Hitu di belakang perisyai dan Tanah Besar di dalam perisyai. maka patah parang laknat itu. Karena tatkala zaman parang itu hulubalang dan pendagar ada semuhanya -.

orang hitam kepada orang Hitu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bolehkah kami minta armada tolong kepada kami?’ Maka kata orang itu: ‘Mengapah maka tiada boleh? Boleh juga. tetapi menyuruh sampai kepada Prings* dan orang besar2 di negeri Holanda* supaya boleh dengar kepada dia empunya pekatahan. Dan diperjanjikan upahan: apabila alah kepada kotanya. termasyhur dalam negeri Wolanda. atau kamikah datang ke sana atau menyuruhkah datang ke mari?’Serta dengan kiriman tanda alamat tanah Ambon. bolehkah atau tiadakah. maka datang sebuah kapal Wolanda. Maka ia berhadapan kata serta keempat perdana dan berjanjian apah upahan dan berputusan barang kerja: apabila barang sesuatu perbuatan. karena ia ingat kepada perjanjian dengan amiral Istiwin . Hatta datang musim barat kapitan amiral Kurnilis* [dan] Istin Warhaga* pun datang. maka kapitan Peranggi menyuruh kepada keempat perdana. Maka ia pulang. lalu masuk ke Kotah Laha periksai kepada kotah Feranggi itu. Tellah demikian itu.sebuah kapal di tanah Bandan. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. Kemudian daripada kapal belayar itu.’ Maka kata keempat perdana: ‘Jika bagai kata demikian itu. Dan menang kafir kepada Islam pun demikian lagi. maka orang Hitu bayar empat ratus bahara kepada Wolanda. maka bayar empat puluh bahara. lalu belayar ke negeri Wolanda menyampaikan berjanjian berputusan kata sekalian itu kepada Prings vin Nyuranye* dan orang besar2 dalam negeri Murucisa*.sampaikan dahulu kami punya pekatahan ini. Ada pun kotanya dan senjatanya dan orangnya hitam itu kepada orang Hitu. karena parang sabil di tanah Ambon itu tujuh puluh tahun daripada parang Don Duarde sehingga datang parang Antoni Furtado*. Kapal serta senjatanya dan orang putih kepada Wolanda.’ Tetapi keempat perdana tiada mau. dan orang putih itu kepada orang Wolanda. Bagaimana kehendaknya Prings dan orang besar2. Ia masuk ke Hitu. Tatkala belum lagi datang Furtado itu. demikian katanya: ‘Marilah kita bedamai dan bebaikan dunia tanah Ambon. lalu ia belayar pulang ke negeri Holandes menyampaikan katahan itu kepada orang besar2 dari negeri Holandes. Dan kuceriterakan yang empunya ceritera. maka orang Hitu tanya kepadanya:‘Darimana datangmu dan apah nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Kami datang dari negeri Hollandes* dan nama raja kami “Paringsi*”. Apabila alah kepada kapal. Dan enam orang dinamai ‘graf*’. kedua sebuah di pantai Hitu dan ketiga sebuah serta angkatan Bandan* dan keempat langgar kepada pinsu* dan kelima langgar kepada antonibot*. jika salah kepada adat jangan dikerjakan kepada dua kaum itu. ialah empunya kapal syaudagar yang datang ke tanah bawah hangin ini. yakni syaudagar yang besar lagi artawan.

lalu ia mendatangi negeri Hitu. Dan negeri Hitu pun pinda ke gunung Pinau*.’ Maka kata pula Mihirjiguna dan mardan Sibori: ‘Marilah sama kita ke tanah Ambon.Hatta seketika juga patah parang kafir. Maka kuceriterakan keempat perdana pinda ke Tanah Besar itu. Kambelo itu pun alah juga semuanya. keluar dari negeri Murucisa* dan empunya angkatan ini Prings van Nyuranye* dan penghulu dalam angkatan ini amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*. Itulah halnya orang berjanjian.Warhaga* itu.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Endak ke mana?’ Maka ia menyahut: ‘Mencari kepada musuh kami. Ada pun tatkala datang Furtado serta kelengkapannya. Hatta datang ke tanah Jawah. Hatta berapa lamanya alah gunung itu. lalu peranglah kedua pihak itu tiada berputusan sehingga datang Furtado. maka Mihirjiguna dan mardan Sibori bertanya kepada angkatan itu. Alkissah peri mengatakan datang Furtado. maka ia naik barparanglah di sana. sebab dilontar dengan batu oleh negeri itu kennah kepala kapitan Furtado. karena musuh itu ada di tanah Ambon. Lalu ia mendatangi negeri Iwa* dan orang Iwa* pun keluar berparang dia. yakni negeri Luhu. Hatta datang musim barat.’ Maka menyahut menyahut pula kata Mihirjiguna itu: ‘Apabila jika . datang pula sebuah kapal ke tanah Ambon kepada empat perdana. lalu undur pulang ke Kota Laha. maka ia menanti sehingga datang sama negeri Banten. Maka dinaikan empat orang mengikut kapitanmor itu. maka ia bertemu dengan kapitan Wolanda itu dan keduanya berhadapan kata dan bicara. Portugal namanya.maka negeri sekalian takluk kepadanya. demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini dan siapa empunya angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun angkatan ini angkatan Wolanda.’ Lalu Kapitan Hitu belayar ke tanah Bandan. Hatta berapa lamanya angkatan pun datang. lalu belayar dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Ambon. Demikianlah parang Antoni Furtado* di tanah Ambon sehinggalah perangnya. Lalu dibawah kepada perdana Tubanbesi dan orangkaya Patiwani kepada kafir laknat itu. Maka keempat perdana menyuruh kepada Mihirjiguna ibn Kapitan Hitu dan mardan Sibori ibn Tubanbesi keduanya naik kepada kapal itu mendapatkan angkatan. Maka Kapitan Hitu naik kepada sebuah perau pergi mencari bantu sehingga ke Seran. Maka bertemu dua buah kapal Wolanda dan ditanya kepadanya: ‘Mana kapitan-mor*?’ Maka ia menyahut: ‘Kapitan-mor ada di tanah Bandan. Maka kafir itu mendatangi negeri Luhu dan Lasidi*. Daripada tiada mau mengubah janjinya. sehingga keempat perdana juga pinda ke Tanah Besar. dan perdana Tanihitumesen ia duduk di negeri Anin dan perdana Pati Tuban ia duduk di negeri Waibuti dan perdana Nusatapi ia duduk di Gamusungi.

lalu keluar duduk di luar. karena tanah ini ada yang empunya.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Diiakanlah jika bagai kata demikian itu. Maka amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* pulang serta angkatannya menyampaikan khabar kepada Frings* dan orang besar2 dalam negeri Wolanda. lalu ia belayar pulang ke negerinya.demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Angkatan ini dari negeri Wolanda. maka kami bersama-sama ke tanah Ambon. maka beri empat puluh bahara. Ada pun kapalnya serta senjatanya kepada Wolanda dan orang putih serta kapalnya. maka kapitan Feranggi menyuruh datang tanya kepadanya. Hatta datang pagi hari dikeluarkan anak kunci itu diserahkan kepada tangan amiral.’Lalu dinaikan Firdirik Hutman* gurendur di kota Ambon. dan orang hitam kepada orang Hitu dan artanya itu bahagi dua. Maka dibaca surat itu. Itulah kerjakan dia. lalu masuk kepada labuan kota Feranggi itu.’ Lalu Mihirjiguna keluarkan surat perjanjian itu kepada amiral Matelif*dan Istiwin Warhaga*. maka kita melawan dengan dia. datang .’ Lalu dikeluarkan kepada Mihirjiguna dan mardan Sibori di hadapan. Apabila datang cari kepada isterinya. lalu belayar serta Mihirjiguna dan mardan Sibori ke tanah Ambon. baiklah Wolanda duduk kepada kota itu. Maka diberinya perau.’ Maka kata kapitan Feranggi itu: ‘Mengapah maka kata demikian? Karena kami empunya negeri ini.dengan faedahnya. lalu ia diam dirinya. mengapah maka kami keluar dari tanah ini?’ Maka kata amiral:‘Bukan engkau empunya tanah. ada pun orang Wolanda sehingga perintahkan dan mengaraskan. tetapi kita mengambil kota ini seperti kita mengambil isteri orang.’ Lalu katanya kepada kapitan Feranggi itu: ‘Keluar engkau dari tanah ini. Apabila jika alah kepada kapalnya. Hatta datang itu. lalu diam kapitan Feranggi itu tiada berkata-kata lagi.’ Maka kata amiral dan Istiwin Warhaga*: ‘Bennar juga kata itu. Sudah ia berikan kepada kami dan ia pun ada pada kami.’ Telah demikian itu.’ Maka kata Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Jika bagai kata amiral itu. bagaimana tempat kita jawab kepadanya? Ada pun tempat kita itu melainkan dengan kota. Hatta datang musim barat. Ada pun kotanya serta senjatanya kepada orang Hitu dan orangnya hitam itu pulang kepada hitam dan orangnya putih itu pulang kepada putih. Ada pun bunyi dalam surat itu. tetapi barang kerja kota atas orang hitam. maka kami beri empat ratus bahara cengkeh. Tellah demikian itu maka kata amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* kepada Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Betapa kota ini?’ Maka kata Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya: ‘Baik juga kita rusakkan kota ini buan ke laut. demikian buninya: ‘Apabila alah kotanya itu. hatta datang kepada hari dan ketika yang baik.

’ Maka kata kiyaicili Ali dan gimelaha dan hamba raja:‘Mana tiga negeri itu?’ Maka kata amiral: ‘Negeri Luhu dan Lesidi dan Kambelo. Lalu kata gimelaha dan kiyaicili: ‘Marilah kita pulang dahulu.’ Maka gimelaha dan kiyaicili tiada mau kepadanya dan amiral pun endak juga kepadanya.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* menyahut amiral keduanya: ‘Jika dengan manfaatnya maka kami mau ke Maluku.pula angkatan itu ke tanah Hitu. demikian katanya: ‘Tellah sudah selamat tanah Ambon daripada bahaya. maka kita berilah salah. esok hari maka kita berkatakata’. Maka menyuruh panggil kepada kapitan serta keempat perdana Hitu. supaya kami dengar. Pada ketika itu.’ Maka diberikan anak Kapitan Hitu. lalu pulang. Marilah kita ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. Lalu kata amiral: ‘Berilah anak Kapitan Hitu ikut kepada kami supaya kami sampaikan kepada Prings dan orang besar di negeri Wolanda. sehingga . apabila kembali rayat semuanya dan negeri Ternate pun tettap.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Berilah hasil tiga negeri itu kepada kami.’ Maka kata amiral: ‘Yang tellah sudah itu apa betapa disubut lagi?’ Maka kata kiyaicili dan gimelaha: ‘Jika bagai kata demikian itu. tiada beri salah. maka kata baginda cili Ali kepada gimelaha dan orangkaya-kaya semuanya: ‘Apa tipu kita karena negeri Ternate dalam kesukaran?’ Maka ia saat*: ‘Endak kepada hasil tiga buah negeri itu. Maka kata Kapitan Hitu. maka kami mau ke Ternate.’ Tellah demikian itu maka gimelaha dan kiyaicili katakan kepada amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* dan kapitan sekalian dalam angkatan itu. insya Allah. maka kembali negeri Ternate serta dengan kerajaan. maka diiakanlah kapitan sekalian itu. apatah kehendak amiral itu? Katakanlah. sudah tiada kurang kepada hasil masuk negeri Ternate kepada hari yang kemudian itu. ia mengikut kepada amiral belayar ke Maluku. tiga buah negeri itu kami minta. Dan Kapitan Hitu pun becakaplah di hadapan orang sekalian itu. Moga2 dengan kehendak Allah ta`ala dan berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka datang baginda cili Ali dan gimelaha Aja dan hamba raja Ambalau minta kepada amiral. masuk ke Kota Laha. melainkan hasil datang dari tanah Ambon. Dari mana akan datang ganti isi astanah raja? Karena rakyat sekalian wa-'llahu a`lam dalam kesukaran.’ Lalu berkata: ‘Apabila angkatan itu ia mau tolong kepada negeri Ternate. itu upahnya atas tanah Hitu.’ Maka kata baginda cili Ali dan gimelaha Aja: ‘Apatah lagi manfaat? Karena Kapitan Hitu mengatakan upahan itu kami semuanya di situ. Apa tipu kita sekarang ini?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun sudah rusak negeri Ternate serta dengan arta isi rumahnya habis dirampas oleh kafir itu. Unus Halaene namanya.

Simon Hun* namanya. Ia itu banyak kasihnya akan artanya kepada orang serta dengan empenak supaya menjadi jinak sekalian orang Ambon. karena gimelaha itu mangkubumi di tanah Ambon. ia tiada mau. tiada beta mengetahui duduknya itu. Gerat Rangsi* namanya. lalu ke Bandan. lepas taksir kita. maka datang jeneral Gerat Rengsi* dan perdana Kapitan Hitu menyuruh kepada gimelaha Syabidin*. lalu ke Maluku. Hatta berapa lamanya. Kemudian daripada ia itu maka datang pula amiral. serta kelengkapannya. Maka dinaikan Yangseper Yangsi* akan gurendur sehingga tiga tahun. Lalu belayar angkatan itu membawah kepada Unus Halaene ibn Kapitan Hitu dan anak raja Nusaniwe dan anak orangkaya Lakatua dan anak orangkaya Natahuat* ke negeri Wolanda. Maka gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh serta kelengkapannya masuk ke pantai Kambelo suruhnya Ingeris itu keluar.’ Maka diiakanlah jeneral dan gurendur kata Kapitan Hitu demikian itu. lalu pindah . Maka sekarang ini ia duduk di negeri Kambelo. Maka kata gimelaha Syabidin: ‘Mengapa maka tanya kepada beta lagi? Karena beta sudah keluarkan dia dari negeri Luhu. Itulah beta taksirkan dahulu. maka datang amiral. Apabila ia mengikut. ’Tellah demikian itu. dari Bandan* datang ke Ambon pula. karena tempat duduk Ingeris itu tanah raja Ternate dan negeri Kambelo itu pun rakyat raja Ternate. Tatkala itu datang jeneral. Maka didirikan kota di negeri Melayu. tetapi serta adil kepada jeneral. Ia datang dari Betawih. daripada itulah menyuruh periksai kepadanya. tembak-menembak kedua kaum itu. apatah dayah. dari Maluku datang ke Ambon. bebaikan kita serta dia. al-hamdu li-'llah. Maka kedua pihak sama petuguhnya. Maka sekalian rakyat pun kembali ke negeri Ternate dan dinaikan serri sulthan paduka Mudafar ibn Sa`id al-Din syah.mengantarkan kepada Unus Halaene. Dan kuceriterakan tatkala gurendur Hutman* itu. maka jeneral Gerat Rangsi dan gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh memagang senjata endak melanggar kepada negeri Kambelo. Jika tiada mengikut. Mana kehendak jeneral itu kerjakan. Iapun demikian juga murahnya dan pada ketika itu gurendur Hutman* pun belayar karena lamanya gurendur Hutman* enam tahun ia duduk. Pada zaman itu negeri Luhu dan Kambelo menerima kepada orang Ingeris. pasang-memasang. lil* Allah [fi] 'l`alamin akan kerajaan dan diturunkan gurendur serta soldadunya duduk menunggu kota. Maka kata perdana Kapitan Hitu kepada jeneral dan gurendur: ‘Sabar dahulu. Maka mengikutlah ia.datang ke Ternate. supaya kami menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo. lalu menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo kata yang kebaikan dan kebenaran. ia duduk di negeri Kambelo. Piter Bot* namanya.

Alkissah peri mengatakan tatkala Herman Aspel* ia akan gurendur itu. lalu dibunuh kepada Inggeris dan Jupun semuanya. karena gurendur itu itu sangat bengis.’ Maka kata gurendur: ‘Betapa kami disamakan dengan Inggeris. maka jadi fitna. Maka kata Kapitan Hitu kepada kedua pihak itu: ‘Apa kerja berkellai? Baik juga gurendur menyuruh belayar ke Betawih kepada jeneral menyampaikan kata orangkaya-kaya itu. . Betapah kehendak titah itu. maka kita lakukan bagai titah itu.ke pantai Eran* dan orang Wolanda pun masuk ke dalam negeri itu dan orang Inggeris pun keluar naik kepada kapalnya. Segali perastawa tanah Ambon semuanya serta gimelaha berbantahkan harga cengkeh. lalu ia belayar pulang ke Betawih dan gurendur Aren Bulok* duduk di kota Ambon. ia bedamai dengan gurendur. maka gurendur dan menyuruh kepada paduka seri sultan di Ternate. maka suatupun tiada fitna dalamnya. Maka Kapitan Hitu bawah kepada kipati Lesibata. Hatta lama dengan lamanya sehingga datang kepada tahunnya. tawar-menawar dengan orang Wolanda.’ Maka kata orangkaya-kaya: ‘Berilah delapan puluh. karena kami banyak belanja hilang kepada soldadu dan marinero* membuat kota. maka suatupun tiada hisab* lagi. kedua berkellahi dengan negeri Lesibata. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala datang suatu bala Allah.’ Maka kata gurendur: ‘Enam puluh harga sebahara. Leitimol* namanya.Maka jeneral dan gurendur pulang ke Kota Laha. endak berkellai kedua pihak itu.’ Lalu ia menyuruh ke Ternate dan menyuruh ke Betawih. ia serta gimelaha Syabidin mengalah kepada negeri itu. Pertama berkellahi dengan negeri Hutumuri. Daripada ia memulai parang di tanah Ambon. Hatta berapa lamanya. lalu ia pulang dan dinaikan Herman Aspel* akan gurendur ganti kepada Aren Bulok*. Dan apa kata jeneral itu. serta kotanya maka diketahui oleh Wolanda. Demikian kata gimelaha dan orangkaya-kaya sekalian: ‘Minta seratus harga sebahara. maka Kapitan Hitu bedamaikan dia. Mengapah maka minta delapan puluh daripada kami banyak arta keluar?’ Maka kata orang Ambon: ‘Mengapa maka gurendur kata demikian? Karena gurendur banyak arta hilang itu ada dengan hasilnya. karena ia tiada hilang belanjanya. maka kedua kaum muafakat serta bersakutu bandar Wolanda dan Inggeris itu. Pada ketika itu ada suatu fitna. Mengapa maka kata demikian itu?’ Lalu orang Ambon tiada keluarkan cengkeh. Mengapah maka ia disamakan kami.Orang Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda. lalu belayar pulang ke negerinya. Hatta datang musim barat maka maka datang kapitan Warhaga. Maka dinaikan Aren Bulok* akan gurendur ganti kepada Yangseper Yangsi*. maka berparanglah dengan negeri Nasrani yang takluk kepadanya itu.

Ada pun daripada titah seri sultan di Maluku demikian bunyinya: ‘Bahwa sesungguhnya tanah Ambon itu takluk kepadaku. Maka betapa tipu orangkaya-kaya semuhanya kepada titah itu. datang utusan dari Ternate minta bantu kepada gurendur.’ Maka kata fetor: ‘Tengah tujuh puluh. maka kata jeneral: ‘Ada pun beta ini endak ke Bandan. baik dan jahat.’ Lalu kata orangkaya-kaya: ‘Berilah tengah delapan puluh. Jikalau mau. Yang empunya cengkeh itu orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon. sehingga dalam berkellai ini. ’Maka diiakanlah orangkaya sekalian tanah Ambon serta dengan janjinya. Maka semuhanya dengan Wolanda pun berhimpun di pantai Luhu memutuskan harga cengkeh itu.’ Maka diiakanlah orangkaya-kaya semuhanya kepada kata gurendur itu enam puluh tujuh real. demikian katanya: ‘Enam puluh pada harga sebahara cengkeh itu. atas kepada gimelaha dan gurendur memutuskan harga cengkeh ini. tetapi beta minta kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya-kaya semuhanya enam puluh tujuh. maka atas kepada jeneral. karena benyagaan itu sama sukah keduanya. tetapi surat dari raja dan gurendur dari Ternate minta bantu ke sana. tetapi kepada artanya itu mana kehendaknya tiada kepadaku.’ Maka kata gimelaha: ‘Berilah tujuh puluh.’ Itulah kesudahannya daripada titah. tujuh puluh harga sebahara cengkeh.’ Maka kata gurendur: ‘Bukan aku. Maka kata orang sekalian: ‘Jika bagai kata titah keduanya itu. Jikalau kepada benyagah Ambon itu atas kepada gurendur dan fetor* semuhanya di tanah Ambon. Karena surat dari Betawih demikian katanya: ‘Ada pun kepada bicara yang lain. maka cengkeh itu hargakan lagi atau kurang lagi .surat dari Betawih dan titah dari Ternate pun datang. Itulah keputusan harga ce ngkeh dan negeri sekalian pun keluar cengkeh timbang kepada fetor. Maka disampaikan surat itu kepadanya. seperti membuat kota atau berkellai atau kurang kuasa barang sesuatu. Tellah demikian hatta datang kepada tahun yang lain.’ Maka kata fetor kepada orangkaya gimelaha: ‘Betapa harga cengkeh ini?’ Maka kata orangkaya gimelaha: ‘Bukan aku empunya cengkeh. Apabila alah kepada Kastila dan Tidore atau bedamai dengan dia.’ Maka fetor pun mau dan orangkaya-kaya sekalian pun mengikut kata gimelaha itu. beta minta kepada orangkaya-kaya sekalian keluarkan tujuh real upamakan harga makanan soldadu. Tiga real itu akan harga siri pinang soldadu.’ Itulah kesudahannya. atas kepada fetor semuhanya. Tatkala itu jeneral Lurinsu Riyal* dan amiral Astiwin Warhaga* pun datang serta kelengkapannya delapan buah kapal. Kemudian kata gurendur: ‘Sudah putus tujuh puluh. karena banyak datang Kastila ke Tidore.

lagi ia hukum dalam negeri Ternate. melainkan melakukan kebaikan dan kebenaran serta kesukaan dunia dan tiada mengirangirakan hari yang kemudian. Maka gurendur serta angkatannya pulang ke Kota Laha dan Kapitan Hitu serta kelengkapannya pulang ke negerinya. Alkissah peri mengatakan serta kuceriterakan tatkala perdana gimelaha Hidayat keluar serta angkatan datang ke tanah Ambon.’ Tellah demikian itu. Tetapi daripada ia endak kejahatan itu. susunya bagai susuh perempuan. karena tanah Boano itu tanah raja dan orang itu pun rakyat raja Ternate. lalu jeneral belayar ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. lalu menyuruh kata kepada sengaji dan orangkaya semuhanya keluar. Jikalau mau keluar.daripada enam puluh itu atau lebihkan lagi daripada enam puluh itu. maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur: ‘Ada pun gimelaha itu tiada bicarakan. lagi ia alim dan tiada orang besar tubuhnya bagai dia dari Maluku sehingga datang ke Ambon. Maka beta minta kepada gurendur sabar ahulu. Maka suatupun tiada lagi fitna pada kedua pihak itu karena sudah keputusan kata yang baik dan jahat. demikian katanya: ‘Betapa perbuatan sengaji Boano demikian itu?’ Maka kata perdana gimelaha: ‘Ada pun perbuatan sengaji itu kami tiada mengetahui kepadanya. beta menyuruh kata kepada sengaji. lagi johan pahlawan. karena fitna itu tiada subut lagi. Ia datang tanya kepada perdana gimelaha. Dan negeri sekalian pun dengan kesukaannya serta dimulianya. karena ia perdana yang besar dalam negeri Ternate.’ Maka diiakanlah oleh kedua pihak itu serta disuratkan dalam kertas tatkala disuratkan itu di pantai Gamusungi di hadapan jeneral dan amiral dan perawara sekalian daripada pihak Nasrani dan hadapan mengkubumi gimelaha Syabidin dan perdana sekalian perwara di tanah Ambon serta Kapitan Hitu daripada pihak Islam itu. Alkissah peri mengatakan tatkala gurendur keluar dengan angkatan. yakni sudah di luar perjanjian. Maka suatupun tiada fitna lagi. apabila jika ia tiada mau. sehingga ditaksirkan juga.karena kesukaan dan keadaan itu tiada berapa dalamnya. Sungguhpun besar tubuhnya itu tetapi kuat. Melainkan dengan adil gurendur. apahtah daya? Lapas taksir kita kepada sengaji dan orangkaya-kaya dalam negeri Boano. maka ia membuat suatu fitna kepada sengaji* Boano. Yang benar itu dibenarkan dan yang salah itu disalahkan serta didamaikan kedua kaum itu dengan kebajikan. Tellah demikian itu datang johan pahlawan gimelaha Hidayat. Itulah kita taksirkan kepada gurendur. maka Kapitan Hitu dan gurendur serta orangkaya sekalian menghukumkan kedua pihak itu. beta damaikan dia dengan gurendur.’ Lalu gurendur serta angkatannya mendatangi negeri Boano. Ia . Itulah kesudahan harga cengkeh pada ketika itu.

Daripada itulah termasyhur nama johan pahlawan hukum Hidayatullah di tanah Ambon. Hatta datang angkatan itu antaranya laut Puluh Suanggi* dan Gunung Api. kita ikutlah. Baiklah kita tolong kepadanya dengan pekatahan. yakni sakit. jika boleh. torompetanya* dan himpunkan soldadu serta dengan senjatanya. ialah memutuskan. maka didirikan tunggulnya sekalian kapalnya itu serta bunyi tamburunya*. melainkan suatu kata kami minta kepada orangkaya-kaya. sehingga enam orang juga mengikut dia. taat siang malam tiada berputusan mengaraskan agama Islam. kita masuk kepada orangkaya-kaya tanah Bandan.’ Maka kata jeneral: ‘Bukan kami minta bedamai. tetapi ihtiar dahulu kepada budi akal kita. apahta daya? Karena pekerjaan itu pekerjaan yang benar. upama terbit matahari cahayanya menarangkan yang adanya. Kemudian daripada itu datang jeneral Pitir Eskun* serta angkatan masuk ke Kota Laha. maka masuk di pantai Lontor. demikian katanya: ‘Ada pun beta ini bukan disuruh oleh jeneral. kami endak berkellai juga. Ia belabu sehingga datang labuan Komber.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa tipu kita kepada tanah Bandan? Karena tatkala kita berparang dengan orang Feranggi ia tolong kepada kita. Kemudian anak orangkaya-kaya tiga puluh orang serta Unus Halaene ibn Kapitan Hitu naik kepada kapal Inggeris ikut belakangnya.’ Lalu Kapitan Hitu naik kepada angkatan itu. Sudah kita tolong dengan makanan tiada sampai. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. Serta ajal Allah. Apabila jika tiada boleh. maka wafatlah perdana gimelaha pulang ke rahmat Allah. supaya jangan menyasal kepada hari yang . Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. Ada pun pada tatkala itu barang hukum daripada zaman yang tiada boleh putuskan orangkayakaya sekalian di tanah Ambon itu. Daripada beta ingat tanah Bandan* dan tanah Hitu daripada zaman dahulukala.membuat ibadat. Tellah demikian itu.’ Maka Kapitan Hitu naik. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sabar dahulu. Maka pada ketika itu tanah Ambon dalam hukum Hidayatullah. Maka Kapitan Hitu tanya kepada jeneral: ‘Endak ke mana angkatan ini?’ Maka kata jeneral: ‘Endak ke Bandan* berkellai. Tetapi daripada kehendak Kapitan Hitu demikian itu. tiada pulang ke negerinya lagi. tiada dapat kita tegah kepada perbuatan itu. daripada ia mengatakan hukum itu serta dengan hukum Allah. Maka beta tolong dengan makanan tiada boleh. lalu masuk kepada negeri Salamah berhadapan serta orangkaya-kaya tanah Bandan* semuhanya. tanya kepadanya maukah bedamai atau tiada maukah. hatta berapa antaranya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Syabidin pun uzur. Lalu ia berkata kepada orangkaya-kaya.

’ Maka kata Kapitan Hitu ialah kata jeneral itu: ‘Kita tiada turun kepadanya. Pada malam itu datang seorang daripada negeri Bandan. pulang dahulu. Kita pun lengkapkan kepada empat perkara itu.’ Maka kata orangkaya-kaya kepada Kapitan Hitu: ‘Apa2 empat perkara itu?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun empat perkara itu. Kemudian apa2 barang kehendak kita itu katakan kepadanya”. Selamanya parang kami sahingilah* empat perkara itu. Daripada itulah periksai kepada orangkaya-kaya empat perkara ini.’ Maka kata orangkaya-kaya semuhanya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu. Dalam dua hari. apatah lagi?’ Lalu pulang orang itu menyampaikan kata itu kepada orangkaya Kapitan Hitu dan jeneral. tetapi kami parang dengan Wolanda ini bukan sekarang.’ Hatta datang kepada janjinya. maka dilihat oleh Kapitan Hitu dari kapal. artinya kata itu sudah lengkap karena perbuatan manusyia itu serta dengan harkat. sudahkah lengkap atau bulum lagikah. tetapi kita menyuruh juga kepadanya menyampaikan perjanjian kita itu. maka ia berkata kepada jeneral: ‘Kita dengar orang Bandan* bicara dalam negeri: “Kita berhimpunkan orang serta senjata menanti di pantai. didirikan tunggul putih di pantai. maka orangkaya datang di sana. lalu menyuruh turun kepada orang itu. ada sakit sedikit. pertama negeri. Ia masuk kepada Wolanda. Tetapi kehendak Allah ta`ala itu siapa mengetahui?’ Maka menyahut pula orang yang disuruh itu: ‘Daripada itulah maka dikira-kirakan. maukah atau tiadakah. maka tiada ia turun. keempat makanan. karena perbuatan ini sudah ia membunuh kepada kami orang banyak. supaya ia pulang. jangan lagi Kapitan Hitu turun ke darat. Tetapi apa kehendak orangkaya-kaya katakan juga kepada kami.kemudian.’ Tellah kata demikian itu.’ Maka kata orangkaya-kaya tanah Bandan* kepada Kapitan Hitu: ‘Baiklah. Apabila jika sudah lengkap. supaya kita dengar apa kehendaknya itu. supaya kami himpunkan orang sekalian. apabila di mana kami bedirikan tunggul putih.’ Tellah demikian itu maka kata jeneral kepada Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata ini. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sudah lepas . Jika bagai kata orangkayakaya demikian itu. ketiga manusyia.bebaikan dahulu dengan dia. apatah lagi dinantikan? Jika kurang lagi suatu perkara daripada empat itu. benar juga orangkaya kata kepada empat perkara itu. artinya dusta. di sanalah kami menanti. Maka ia tanya: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka suruan itu menyahut: ‘Ada pun Kapitan Hitu minta ampun daripada orangkaya-kaya sekalian. lalu Kapitan Hitu pulang ke kapal. Apabila jika datang Kapitan Hitu dan Wolanda itu kita pagang semuhanya. jangan kata kita dibebohonkan. maka kami katakan kepada orangkaya Kapitan Hitu dengan jeneral. kedua senjata.

demikian . maka orang Bandan* pun keluar. demikian katanya: ‘Beta naik dahulu. maka kata jeneral: ‘Betapa perintah parang orang itu?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Demikianlah parang orang itu. ia becakap di hadapan jeneral dan orang besar2 semuhanya. beta pun tiada kembali. Hatta terbit matahari. Maka sekalian kapitan serta orang banyak itu pun pulang kepada kelengkapannya dan jeneral pun pekatahan yang diperjanjikan kepada panglimanya itu semuhanya dikerjakannya. maka Wolanda daripada kapitan Hutman* ia naik dari belakang negeri. kemudian perintah parang kita. maka diberinya minum arak pada tempat minuman prings. Ia naik dari belakang negeri dan kapitan Pugel dan kapitan Kuluf* dan kapitan Gemala* dan kapitan Jupun dan kapitan Siyau dan sekalian kapitan serta orang banyak semuhanya naik dari laut di hadapan negeri.’ Maka kata jeneral: ‘Jika bagai demikian itu betapa bicara kita sekarang?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Mana perintah jeneral itu kami kerjakan.’ Serta dengan cakapnya orang semuhanya itu. jika tiada boleh alah negeri itu. Pugel* namanya. Tellah demikian. Maka kedua pihak berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian. lalu masuk ke negeri Ander dan Waier. dan orang Bandan* pun serta dengan harkatnya. maka menyuruh tanya kepada orangkaya-kaya tanah Bandan* sekalian. Lain makanannya dan pakaiannya dan apa-apa rampasan dalam orang banyak itu mana sukanya ia ambil dahulu. seribu real kuberi kepadanya. tiada boleh masuk ke dalam negeri lagi.’ Maka seorang kapitan. hatta datang malam. tukar-menukar. jual-beli. supaya kita lihat perintah parangnya itu. Lalu undur Wolanda pulang ke kapalnya. Beramai-ramaian parang kedua pihak itu daripada waktu duha sehingga datang asar tiada boleh alah. Itulah adat berteguhan janji kepada orang itu. berhimpunlah di sana dan Wolanda pun duduk di negeri Lontor. Kemudian tinggalnya itu kepada orang sekalian. lalu kata jeneral: ‘Jika siyapa naik dahulu maka alah negeri itu. Maka patahlah parang Islam itu. dipalu gendarang parang dan riuh serta bunyi bedil seperti guruh di atas langit. maka diturunkan gurendur Hutman* akan kapitan. ia masuk ke dalam serta bunyi bedil dan riuh dalam negeri. Kemudian daripada itu. maka jeneral menyuruh panggil kepada orang besarnya serta panglimanya sekalian dalam angkatan itu datang kepada jeneral. Hatta datang bakda lohor serta dengan kehendak Tuhan sarwa sekalian alam.’ Lalu ia berteguhan kata dengan jeneral.taksir beta. Tiada habar kepada yang lain lagi sehingga sana berparang daripada bakda subuh. mana kehendak jeneral itu?’ Maka kata jeneral:‘Esok pagi kita naik cobah dahulu.’ Hatta datang pagi hari naiklah angkatan itu butul di hadapan negeri.

Jika ia katanya tiada lagi. Itulah kesudahan berkellai tanah Bandan. bennarnya dengan dia. Kemudian daripada itu kata Mai Hasan ibn orangkaya Bulaisi dan orangkaya Orotatan. Maka sekarang ini kami endak belayar. Kemudian kami belayar supaya kami menyampaikan kepada orang besar2 di negeri Wolanda pun dengan kebenarannya. lalu dinaikan ke kapal. marilah kita bedamai.’Maka diberikan dua puluh esfangar* kepada Wolenda itu. Jika kepada sekarang ini jeneral mau bebaikan.katanya: ‘Bukankah Kapitan Hitu endak damaikan kita kedua? Daripada orangkaya-kaya tanah Bandan* tiada mau bebaikan. Jika mau bedamai. seribu kali kami sukah. Baik juga orang semuhanya cerai-berai itu suruh pulang keruan kepada tempatnya. demikian katanya kepada jeneral: ‘Ada lagi bedil besar dalam negeri Bandan .’ Maka disuruh oleh orangkaya-kaya panggil kepadanya semuhanya datang ke negeri Salamu. Maka ditipu oleh Wolanda. rubuhkan kotamu dan berikan senjata yang adanya itu. Maka kata jeneral: ‘Sekarang ini upama tulur hayam digulingkan dari tanah Bandan* sampai ke tanah Wolanda: tiada boleh pecah lagi. Alkissah dan kuceriterakan kemudian daripada . Maka raja menyuruh angkatan ke Seran memuatkan dia datang ke Mangkasar.’ Lalu orangkaya-kaya keluar bedamai dengan dia. Maka jeneral serta angkatannya pulang ke negerinya dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. lalu kata kepadanya bagai kata orang itu. maka kata jeneral: ‘Jika hati bennar mau bedamai. Itulah hal alah tanah Bandan. semuhanya delapan ratus delapan puluh orang kepada kapal. datang ke tanah Hitu. jika tiada mau bedamai. itulah tanda bebaikan.’ Tellah demikian itu maka jeneral menyuruh panggil kepada orangkaya semuhanya. dan empat puluh orangkaya-kaya semuhanya dibunuh oleh Wolanda itu.’ Maka kata Wolanda: ‘Barang seadanya itu berikan kepada kami. kuliling soldadu serta senjata. Lalu belayar ke tanah Ambon. Ada pun kepada sekarang ini mana bicara orangkaya-kaya kita dengar. lalu ke Jawahkatra* dan orang Bandan* yang tinggal itu semuhanya pindah ke tanah Seran dan Goron*.’ Maka kata orangkaya Bandan: ‘Tiada lagi pada kami. Lalu keluar bunga pala timbang kepada fetor. kemudian beta tunjukan kepada orang yang menaruh dia itu. maka suatupun tiada lagi fitna. Maka orangkaya-kaya semuhanya tiada dapat besangkal lagi. Semuhanya itu minta serta anak orangkaya-kaya empat puluh orang itu. apahtah daya?’ Maka kata orangkaya-kaya Bandan: ‘Yang tellah sudah itu jangan disubut lagi. lalu dikeluarkan semuhanya serta anak orangkaya-kaya itu. karena senjata itu semuhanya dalam negeri itu juga. Dragon namanya. maka kita berkellai. Maka menyuruh datang mengadap kepada raja Mangkasar minta pindahkan ke Mangkasar.

Maka apa kehendaknya Arinjiguna* itu semuhanya dikatakan kepada jeneral pun terimalah kepada kehendak Mihirjiguna itu. maka didirikan gerejanya akan tempat berhalanya. ada tengah tiga real. menubus dengan harganya dua real seorang. lalu naik Mihirjiguna belayar.’ Lalu ia naik kepada sebuah kapal. Kemudian daripada itu maka belayar sehingga datang ke Palikat*. maka belayar dari Pudiceri*. sehingga tanah Ambon pun baik juga jika dilapaskan oleh jeneral.angin pun tedduh. maka Mihirjiguna masuk mengadapat* perdana Kapitan Hitu. Maka naik ke darat bejalan ke negeri Pujiciri*. Bunyi layar seperti bunyi bedil. ada pulang ke negeri Holandes.’ Lalu Mihirjiguna tanya kepada jeneral: ‘Kapal semuhanya itu endak ke mana?’ Maka kata jeneral: ‘Kapal itu endak ke Malaka. ada ke Jambi. Maka ia menyembah. Apabila datang musim barat akan perginya pulang. Jika tiada boleh kembali ke tanah Bandan* pun. Hatta berapa lamanya maka datang ke Jawahkatra*. seketika lagi patah tiyang buritang itu. Hatta berapa lamanya di tengah laut datang tofan angin ribut. Delf namanya kapal itu. Daripada Feranggi duduk dari situ. Ada menjual dirinya sendiri. lalu berkata: ‘Beta endak belayar ke Jawahkatra*. mau melihat dunia tanah Keling barang seadanya hidupku sehingga datang musim barat. ia duduk kepada .’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata demikian itu. Nona Sinyora di Mundi* namanya. ada ke Laut Mera. Lalu kata jeneral kepada Mihirjiguna: ‘Ada pun barang kehendakmu itu kami terimalah. kepada negeri Tunahpatnan. Hatta terbit matahari.jeneral belayar membawah kepada orang Bandan* itu.tiada dapat diceriterakan kepada kasihnya itu --.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa kehendakmu belayar itu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kita belayar ini tiada kehendak kepada yang lain melainkan kubicarakan orang Bandan. Karena di situ ada kota Wolanda. maka Mihirjiguna naik ke darat berhadapan dengan jeneral serta orang besarnya. ada ke bandar Masilpatani*. belayarlah engkau. lalu kepada Tirubambu* dan Tirumulawasir* dan Kunmuri*.’ Maka iakan oleh jeneral dan diberinya seribu real akan bekalnya dan sangat mulliya kepadanya serta kasih lain2 -. ada menjual anaknya. Ada pun San* Tumi* itu ada suatu bukit. Tellah demikian itu berapa lamanya datang ke tanah Keling.lagi lambat musim. tetapi musim lagi lambat datang. Lalu ia belayar ke bandar Masilpatani*. Di situlah tempat ia menyembah berhalanya itu. maka dinamai San* Tumi*. beta endak turut kapal yang ke bandar Masilpatani*. ia berhenti entah berapa lamanya. lalu kepada Nagahpatan*.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Beta minta kepada jeneral sementari lagi lambat musim. Tellah menubus itu. kuserahkanlah kepadanya yang kehendaknya itu.

seperti perbuatan yang kegemaran kepada keelokan serta keinginan hati manusyia. maka ia mati pulang kepada asalnya. Apabila datang pagi hari. kipati syah’.Maka diberikan surat itu kepada Kapitan Hitu dan gurendur. lalu dibaca sendirinya. dan orang membuang segala najis manusyia dalam negeri itu. Dan pasan jeneral dalam surat kepada Kapitan Hitu dan gurendur Herman Aspel*. Dan kejahatan serta kebencian pun demikian lagi. Pada tatkala itu Kapitan Hitu pun ada di Kota Laha. Entah berapa lamanya di tengah jalan. Daripada ia tiada empunya untung. jika datang tengah hari maka mandi kepada air yang sejuk itu. lalu dimasukkan mayit itu ke dalam petti. lalu belayar. pada malam Ahad. Apabila jika dengan baiknya musim yang datang ini suruan ke mari.rumah syaudagar haji Baba namanya. bicarakan Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda serta kotanya itu. maka ditaburkan segala bauh-bauan dalam kafan. ada air sejuk dan air panas kepada suatu tempat harkat kepada segala manusyia. Entah berapa antaranya. maka dinaikan kepada sebuah kapal membawah kepadanya. maka ia berenti di sanalah. Sehingga enam hari dengan kehendak Allah ta`ala wafat meninggal negeri fana datang kepada negeri yang baka pada bulan Rubiu'l-awal dua belas hari pada tahun [1032] Ha. maka datang masuk selat antara Puluh Merkata* dan ujung Tanjung Cina. maka datang ke Ambon masuk ke Kota Laha. dan orang berumah dalam tanah dan orang tiada berumah selama-lamanya. Tellah demikian itu hatta datang musim maka ia pulang. Dan dikerjakan hamam*. Entah berapa lamanya dalam negeri Betawih. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Arinjiguna* itu seribus* kali beta terima. maka mandi kepada air yang panas itu.’ Tellah demikian itu. Di sanalah ia melihat perhiasan dunia semuhanya lengkap. Lain daripada itu tiada dapat diceriterakan kepada kelakuan yang indah2. maka Mihirjiguna sakit. Di sanalah dimasyhurkan namanya Mihirjiguna itu ‘sultan karanful*. maka beta serahkan kepada dia. Maka dibaiki suatu petti dilapis dengan tima hitam. lalu datang ke Banten sehingga datang ke Jawahkatra*. tatkala zaman sultan Muhammad Huli akan kerajaan di negeri Gulgonda. maka gurendur kata kepada Kapitan Hitu: ‘Baik juga kata jeneral kepada kita kedua itu kira-kirakan kepada kehendak Mihirjiguna . dan kesukaan dan kedukaan pun demikian lagi. tetapi Kapitan Hitu dan gurendur kira-kirakan kehendak Arinjiguna* itu. Dan perbuatan pelbagai yang andak* dalam dunia semuhanya ia melihat karena Masilpatani* itu bandar Kutb Syah yakni raja Gulgonda. seperti orang kaya dan orang miskin. Berapa lamanya di tengah laut. sehingga ibu bapa kita yang bennar itu maka kita tiada bertemu. maka diberikan surat itu pada tangan Sifar alRijali.

kedua membuat kotanya di tanjung Koako. ketiga membawah angkatan mendatangi di tanah Seran. Kemudian daripada peninggal perdana itu. karena kehendaknya Nasrani dan Yahudi itu endak mengarusakkan agama Islam dimasukkan agama Nasrani. Apabila datang dagang.itu. sarang-menyarang. Dan kelakuan hulubalang pun ada kepadanya. tetapi inilah perbuatan Inggeris dan Jupun. itulah sebabnya. artinya sakit lalu pulang ke rahmat Allah ta`ala. alah-mengalah sebagailah. karena ia berjalan atau duduk serta senjata tiada boleh meninggalkan dia dan syaudagarnya pun sangat serta murahnya tangannya. jika datang orang Bandan* pula. Seorangpun tiada sebagainya di tanah Ambon. Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya . kemudian daripada Arinjiguna* itu Unus Halaene akan hukum. Itulah kesudahan pelayaran Mihirjiguna ke tanah Keling. karena adatnya raja ada kepadanya dan adat bendahara pun ada kepadanya. sarang-menyarang. maka gimelaha serta orangkayakaya semuhanya tiada mau rusak dagang dalam bandar. Lalu dinaikan mait itu kepada kelengkapannya orangkaya dan orang dari negeri pun keluar mendapatkan dia di tengah jalan. makin bertambah-tambah fitnah sebab dagang. lalu paranglah gimelaha Luhu dan gimelaha Leliyato serta di tanah Ambon semuhanya. maka tiada jadi kehendak Mihirjiguna itu sebab perbuatan orang itu. sehingga datang ke negeri. Daripada itulah maka digelar nama kelengkapannya itu ‘buang destar’ namanya dan demikian lagi kehendaknya Islam endak mengarusakkan agama Nasrani dan Yahudi dimasukkan kepada agama Islam. Maka kedua kaum Islam dan kaum Nasrani itu berparanglah. Serta kehendak Allah ta`ala. alah-mengalah. maka Wolanda datang rusak kepada dagang itu. Maka dipertitahkan serta dengan arta disedekakan kepada fakir dan miskin dan orang besar-besar dan dipeliharakan sehingga adatnya. Hatta berapa lamanya maka datang titah paduka serri sultan Ternate suruh bedamai. Lain daripada itu banyak lagi perbuatannya. sehingga tanah Hitu juga tiada mengikut. Maka ia pinda ke negeri Lesiela meneguhkan negeri itu daripada ia melihat salah kelakuan Wolanda itu. tanah Ambon dalam hukum perdana gimelaha Hidayat. Lalu berparang pula. Kemudian daripada itu maka kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Syabidin meninggalkan negeri yang fanah itu datang kepada negeri yang baka itu. Hatta datang berapa lamanya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Hidayat pun uzur. artinya negeri sengaji Hatuhaha.’ Lalu dibunuh Inggeris dan Jupun itu. Pertama membuat gudang di pantai Huniyasi*. sentiasa tiada berputusan parang di tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Ialah bengis di tanah Hitu serta kelakuannya.

Tellah demikian itu Kapitan Hitu pun datang dari Jawahkatra*. suruh kembali ke Ternate. maka ihtiar sendirinya. Hatta datang titah disuruh pulangkan. maka suatu tiada fitnah dalam tanah Hitu. Pada tatkala itu johan pahlawan gimelaha alah kepada sebuah negeri. karena ia dalam kesukaran. Hatta datang musim perdana pun pulang. Maka suatupun tiada fitnah lagi di tanah Ambon dan kapitan laut pun berangkat ke tanah Sula.Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya johan pahlawan gimelaha Leliyato ‘buang capeu*’ namanya. Itulah halnya tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Alkissah peri mengatakan sekali perastawa perdana Kapitan Hitu pada suatu ketika ia duduk. lalu masuk ke negeri Luhu. Daripada itulah maka parang sabil Allah di tanah Ambon tiada berputusan. Maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur. tempatnya yang lama. Semuhanya diangkatnya bawah ke negeri Lesiela. lalu keluarkan kotanya di tanjung Koako itu dan gudang di Huniyasi* itu. dari Sula lalu ke tanah Banggai. Segali perastawa mendamaikan dua kaum itu. Dan di belakangnya Kapitan Hitu datang kapitan lawut baginda kiyaicili Ali ke tanah Ambon. Lalu kapitan laut pun berangkat ke Manipa dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. dari Tambuku lalu membaiki negeri serta dengan kotanya ia duduk. Maka ia bertemu kepada kapitan laut dan barang apa2 bicara dengan jeneral itu semuhanya diceriterakan kepada kapitan laut serta muafakat. keduanya memerintahkan tatkala perdana Kapitan Hitu lagi dalam negeri Betawih. Hatta berapa lamanya datang angkatan dari Buton serta anak raja2 dan orang besar2 semuhanya membawah titah serta dengan adat mengadap kepada raja laut. Maka dibawah kepada gimelaha dua bersyaudara kembali ke Tanah Besar. demikian katanya: ‘Ada pun aku ini sudah tuah. maka tiada ketahuan bicaranya jeneral itu. Maka gurnadur Filipi Lukas* dan hukum Halaene serta angkatannya mengadap kepada kapitan laut. Entah berapa lamanya dengan takdir Allah ta`ala pulang ke rahmat Allah. Wai namanya. yakni negeri Luhu. Hatta datang di sana raja Mataram menyuruh kepada tumengung* Bauhraksah mendatangi kota Betawih. maka gimelaha Leliyato ia duduk negeri Kembali dan gimelaha Luhu ia duduk di Gamusungi. maka dikembalikan dianya. dari Banggai datang ke Tambuku. Maka diturunkan yakni dikeluarkan gimelaha dua bersyaudara. Siyapa tempat kuserahkan tanah ini?’ Lalu diserahkan kepada orangkaya Samu2 menunggu tanah Hitu serta orangkaya Bulan. sehingga sanalah ia berhenti. Apabila datang suatu fitnah . lalu pindah ke tanah Buton. Lalu Kapitan Hitu dan hamba raja Kalabata belayar ke Jawahkatra* bebicara dengan jeneral. Itulah kesudahannya datang raja laut di tanah Ambon.

Semuhanya ditangkapnya. Maka dinaikan kepada Kakiyali akan hukum. maka ia kedua orangkaya Samu2 keluar serta dengan angkatan melepaskan dukacittanya. kemudian dibagi dua: setengah didudukkan di negerinya dan setengah dibawah kepadanya ke negeri Hitu. bagi Islam atau Nasrani. apabila ia mati tiada boleh masuk esukaan dan beramai-ramaian atau bunyi-bunyian dalam negeri.daripada negeri yang lain bagi Islam atau Nasrani. Hatta datang maka kata perdana Kapitan Hitu. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala itu ada lagi hayat perdana Kapitan Hitu. maka orangkaya Samu2 pun uzur. Maka datang kehendak Allah ta`ala kepada seorang perempuan bedzebai. Entah berapa lamanya di tengngah jalan. lalu ia kembali sehingga datang ke negeri. Maka ia beramairamaian kesukaannya serta bunyi-bunyian dalam negeri Hitu. Maka dipeliharakan serta adat sehingga datang seratus harinya. hanya baik2 bicara kepada tanah ini serta . Tetapi kepada fitnah tiada dapat dikatakan lagi daripada nafsu dunialah. maka bersuka-sukaan serta beramai-ramaian dan bunyi-bunyian dalam negeri itu. memberi racung kepadanya. jangankan sesuatu negeri. melainkan hukum Halaene juga tiada mau kecewa kepada nama tanah Hitu. Hatta lama dengan lamanya orangkaya pun makin tuah serta dengan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala uzur. artinya celaka. melainkan alah sebuah negeri atau keluar arta daripada takluknya sekalian. Daripada ialah orang Wolanda itu tiada dapat melakukan kehendaknya kepada tanah Hitu pada zaman itu. yakni sakit serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi orangkaya pun wafat. Karena istiadat orang besar yang ternama. Lalu Kakiyali membawah angkatan itu menyarang kepada sebuah negeri Hatumete namanya. maka dalam uzur itu menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya semuhanya. maka ia datang kepada gurendur endak mengatakan kepadanya. Maka ia tiada boleh tahan dirinya lagi. Maka menyuruh antarkan maitnya orangkaya itu pulang ke negeri. kemudian daripada itu. Itulah istiadat mati orang ternama di tanah Ambon. Maka kuceriterakan tatkala itu negeri Iwa* dan orang Wolanda endak berkellai sebab Pati Herman. jikalau seseorang juga pun. ia juga membaiki. wa-'llahu a`lam. yakni meninggal kepada dunia datang kepada akhirat. Maka hukum Kakiyali juga membaiki tiada jadi berkelai. yakni mendamaikan dia. Masya Allah ia meninggal kepada darulfanah datang kepada darulbaka. Daripada itulah maka ia keluar membawah angkatan menyarang negeri. maka barang sesuatu fitnah dalam tanah Hitu atau tanah Ambon. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Allah ta`ala siapa mengetahui? Tetapi pada perasaan diriku. pulang ke rahmat Allah. Hatta berapa lamanya apa2 kehendaknya.

maka dinaikan kepada hukum Kakiyali akan Kapitan Hitu serta perjanjian: ‘Apabila barang suatu pekerjaan atau pekatahan. Itulah nama keempat serta Kapitan Hitu pada zaman itu. Maka gurendur Artus* dan orangkaya-kaya semuhanya muafakat. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. Iapun demikian juga kelakuannya. tetapi jika datang masya Allah siyapa membawah tanah Hitu ini?’ Maka kata orangkaya: ‘Tiada dapat dikatakan. lalu pulang ke rahmat Allah. Apabila sudah muafakat serta minta angkatan datang berkellai dengan Wolanda.dengan agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.Karena pada tatkala itu perdana gimelaha serta negeri semuhanya berkellai dengan Wolanda.’ Maka gurendur pun percaya. Maka tiada boleh dikerjakan kehendaknya. lalu gurendur Kisil ia belayar ke Betawih.’ Karena pada ketika itu mardan Baros akan Nusatapi nama gelarnya dan mardan Mulutan akan Totohatu nama gelarnya dan mardan Kelisa akan Pati Tuban nama gelarnya dan mardan Kiyoan akan Tanihitumesen. tiada dengan periksyanya. sarang-menyarang. sehingga negeri Luhu juga dua bahagi. Tellah demikian itu datang masya Allah. karena dalam titah itu . Kehendak Allah ta`ala siyapa mengetahui.tetapi bulum lagi dengan kehendak Allah ta`ala tiada jadi tipunya itu. Maka dipeliharakan mait perdana itu dan disedekakan arta kepada segala penghulu agama dan orangkaya-kaya dalam negeri Hitu sekalian dan diadatkan sehingga datang seratus harinya. alahmengalah sebahagai juga tiada berputusan. maka dikerjakan. Maka ia masuk ke tanah Hitu. Tellah demikian itu entah berapa dalamnya maka Kapitan Hitu menyuruh dua buah parau utusan ke Mangkasar.’ Dan apa2 pekatahan serta adat tanah Hitu semuhanya dikatakan kepada keempat perdana dan berapa2 pekatahan yang dahulu kala itu semuhanya dikatakan kepada anak buahnya. melainkan keempat orangkaya dan Kapitan Hitu serta muafakat. jangan seorang mengaku ia sendirinya. maka orang membawah fitnah kepada gurendur itu. membawah titah datang kepada perdana gimelaha serta Ulima dan Ulisiwa. karena Kapitan Hitu sudah mengetahui kelakuan Wolanda itu. melainkan mana kehendak Allah ta`ala serta orang banyak itulah memangku tanah Hitu. maka berapa kali tipu kepada Kapitan Hitu.’ Maka menyahut pula orang banyak itu: ‘Bennar kata tuhanku itu. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu menyuruh ke Mangkasar endak muafakat dengan serri sultan di Goa. maka digantikan Antoni* akan gurendur. maka berparanglah dan sebahagi serta kiyaicili Sibori memegang Wolanda membuat gudungnya di negeri Luhu dan paranglah kedua pihak itu. sadaha* Semaun namanya. Sebahagi serta perdana gimelaha dan negeri sekalian.

demikian buninya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu dan orangkayakaya sekalian dalam negeri Hitu, serta utusan sadaha Semaun mendamaikan kepada gimelaha dengan gurendur dan membaiki tanah Ambon Ulima dan Ulisiwa, supaya jangan jadi fitnah. Karena perjanjian Wolanda itu seorangpun tiada mengetahui, melainkan Kapitan Hitu juga mengetahui dia dan ia juga menaruh surat yang perjanjian itu.’ Tellah demikian titah itu, maka kata orangkaya-kaya tanah Hitu: ‘Jika bagai kehendak titah demikian itu, baik juga utusan pulang dahulu ke Tanah Besar,kemudian kami mengikut di belakang.’ Maka utusan pulang menanti di pantai Luhu, maka datang gurendur itu pun demikian juga, lalu ia mengikut utusan itu menanti di pantai Luhu. Maka Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya keluar dengan kelengkapannya, lalu menyebarang. Hatta datang ke Tanah Besar, maka gurendur serta angkatannya mendapatkan dia di pantai Warau. Maka kata gurendur itu:‘Marilah kita berkata2 dahulu, kemudian kita masuk ke pantai Luhu kepada orang banyak.’ Maka Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya semuhanya naik kepada kelengkapannya gurendur itu, maka dipagang semuhanya serta Kapitan Hitu. Maka riuhlah orang dalam kelengkapan itu, lalu dikelilingkan angkatan kepadanya. Ia sebuah2 juga ditengah2 serta pasang-memasang, tembak-menembak datang pengelodan rawaki itu seperti titi hujang atas air masing dan asap obat menjadi awan antara langit dan bumi. Dan buni bedil serta* kilat dan riuh seperti ceritera buni sangkakalah tatkala hari kiamat kepada yaum al-mahsyar. Karena angkatan Wolanda itu lima puluh aluan, lain daripada kapal dan patacoh*, maka ia sebuah2 juga melawan dengan dia.Sehingga datang kepada tanjung Kahula Wolanda itu pun undur. Iapun masuk ke pantai Lesiela, lalu menyuruh sebuah perau membawah kepada Patiwani. Ia pulang ke tanah Hitu menyampaikan khabar itu kepada negeri serta dipindahkan negeri semuhanya naik ke atas gunung. Dan undur angkatan Wolanda itu, lalu menyebarang ke tanah Hitu endak menyarang kepada negeri, tetapi tiada dapat lagi. Maka menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya, demikian katanya: ‘Apa kerja pindah? Karena tanah Hitu dan Wolanda itu seperti laki-bini. Apabila bini salah itu melainkan lakinya juga ajar kepada dia, maka beta pagang kepada Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya ini. Demikian itulah halnya orang laki-bini dalam dunia, tetapi keluarlah kita kedua berbicara serta kebaikan.’ Maka kata orang Hitu:‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi kembalikan dahulu kepada Kapitan Hitu dan orangkaya2 itu, maka kami keluar kepada gurendur.’ Maka dilepaskan kepada orangkaya-kaya itu, Kapitan Hitu juga tiada dilepaskan. Maka orang Hitu pun tiada mau keluar kepadanya

serta memerintahkan negerinya. Dan utusan sadaha Semaun pun menangkap kepada orangkaya-kaya dalam negeri Luhu; yang memagang kepada Wolanda itu pun ia bawah ke Maluku. Maka orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon tercangan terlalu khairan kepada perbuatan gurendur dan utusan sadaha Semaun itu, maka tanah Ambon semuhanya tiada ketahui kehendaknya. Setengah berkata: ‘Baik kita berkellai.’ Dan setengah berkata: ‘Baik kita bedamai, karena sudah didamaikan kita dengan gurendur.’ Dan setengah pula berkata: ‘Jangan kita berkellai dan jangan kita bedamai sehingga diam sahanya*, supaya kita menanti kehendak titah.’ Maka kata perdana gimelaha dua bersyaudara: ‘Bennar juga kata orangkaya itu. Tetapi kepada perbuatan Wolanda ini rusak kepada agama rasul Allah di hadapan titah yang dipetuan, daripada ia tiada berupama ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza, nasrun min Allah syah, zill Allah fi 'l-`alamin.Daripada itulah baik kita berparang dengan dia.’ Lalu muafakatlah tanah Ambon semuhanya sehingga sebuah negeri Luhu juga. Maka kata Sifar ar-Rijali di hadapan perdana,Ulima dan Ulisiwa: ‘Ada pun berkellai ini sebab, apabila jika sebab Kapitan Hitu, sabar dahulu, supaya kita menanti titah yang dipetuan dan kabaran.’ Maka kata Ulima dan Ulisiwa: ‘Sebab agama rasul Allah, kedua perkara sebab titah tiada berupama ke bawah dulli yang dipetuan.’ Dan barang apa2 pekatahan kepada hari yang kemudian itu, semuhanya ditaksirkan di hadapan perdana gimelaha dan orangkaya sekalian. Tellah sudah ditaksirkan kata demikian itu, lalu ia beli obat bedil empat balas bahara cengkeh harganya, dan tengah tujuh ratus padang. Lalu ia pulang serta orangkaya gimelaha dan negeri Waibuti ke tanah Hitu serta muafakat dengan orangkaya2 di tanah Hitu. Lalu ia pulang, maka negeri Hitu sekalian berkellai, sehingga orangkaya Tanihitumesen dengan orangkaya Bulan juga tiada berkellai. Ia mengikut kepada Wolanda itu, maka ia jadi musuh kepada negeri Hitu sekalian dan negeri sekalian pun memerintahkan kepada hulu parangnya. Maka digelarnya kepada pendagar Nahoda dan pendagar Pati Husen* keduanya akan panglima di tanah Hitu. Lalu ia pergi merompa di tanah sebelah kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka diteguhkan Allah subhanahu wa-ta`ala, berkat agama rasul Allah serta dengan kemenangannya, maka ia pulang di negeri Wawani, makan-minum, bersuka-sukaan dan disalin kepadanya serta dengan dimasyhurkan namanya johan pahlawan Patiwani. Itulah hasiat* orang parang sabil Allah dalam dunia. Tellah demikian itu pendagar Telukibesi ia pergi merompa pula kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka dengan kehendak Allah ta`ala berkat agama rasul Allah serta kemenangannya, lalu ia

pulang di negeri Kapahaha bersuka-sukaan dan dimulliya kepadanya serta dimasyhurkan namanya johan pahlawan Tubanbesi. Ia duduk di gunung Kapahaha. Itulah faedah orang parang sabil Allah dalam dunia, entah berapa lagi dan* akhirat; karena riwayat pandita dalam syarah Sunusi*, dua perkara orang masuk syurga tiada dengan hisab* lagi, suatu perkara tarekad dunia, kedua perkara parang sabil Allah. Daripada itulah, maka beramai-ramaian negeri sekalian berparang dengan Wolanda itu. Maka kata Wolanda itu: ‘Apabila orang Hitu keluar duduk di pantai seperti dahulu kala itu, maka kami keluarkan Kapitan Hitu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi keluarkan dahulu, maka kami turun duduk di pantai kembali seperti dahulu itu. Jikalau tiada lepaskan dia, kami pun tiada mau keluar.’ Maka negeri semuhanya tiada keluar sehingga orangkaya Bulan, ayah mudanya Kapitan Hitu serta tujuh negeri keluar duduk di pantai serta Wolanda itu. Maka kata orang sekalian kepada orangkaya itu: ‘Betapa kehendak orangkaya keluar itu?’ Maka kata orangkaya: ‘Baik juga kita keluar ikut katanya. Dalam tujuh bulan itu apabila dilepaskan kepada Kapitan Hitu, maka negeri sekalian keluar. Jikalau tiada dilepaskan kepada [Kapitan] Hitu dalam tujuh bulan itu kita berbantahkan perjanjiannya.’ Maka orangkaya keluar serta muafakat dengan orangkaya-kaya, lalu orangkaya Tanihitumesen belayar ke Betawih. Dan apa2 kehendak orangkaya itu semuhanya dikatakan kepada jeneral, maka di belakang orangkaya negeri semuhanya itu keluar masuk kepada musuh itu,tiada lagi berkellai. Maka kata Sifar ar-Rijali kepada orangkaya-kaya dan panglima serta pendagar sekalian, demikian katanya: ‘Apabila perbuatan kita demikian ini?Rusaklah negeri kita dan Kapitan Hitu pun tiada dikembalikan lagi oleh Wolanda itu.’ Lalu ia pergi merompa kepada orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala serta dengan kemenangannya, maka ia pulanglah ke negeri Wawani bersuka-sukaan, maka seorangpun tiada keluar lagi.Entah berapa lamanya datang orangkaya Tanihitumesen, maka orangkaya-kaya menyuruh tanya kepadanya: ‘Betapa kehendak jeneral kepada Kapitan Hitu, lepaskankah atau tiadakah?’ Maka ia berkata: ‘Ada pun kata jeneral, tiga bulan lagi datang kapal dari Bandan, maka dilepaskan kepada Kapitan Hitu.’ Maka negeri Hitu semuhanya menanti sehingga datang tiga bulan tiada juga dilepaskan, maka kata negeri sekalian kepada orangkaya Bulan: ‘Ada pun perjanjian gurendur kepada orangkaya dalam tujuh bulan, sekarang sudah lalu tiga bulan, maka tiada ia mengikut perjanjian itu. Betapa lagi kehendak orangkaya itu, kami ikut juga, tetapi baik orangkaya undur dahulu. Kemudian apa kehendak orangkaya itu katakan

entah berapa kapal serta kora2 datang pula. Maka Kipati Luhu dan Pati Tuban dan imam Nusaniwe.juga kepada orang sekalian. Hatta datang angin daratan. tetapi kepada parang Wolanda itu tiada dapat diceriterakan pelbagai parangnya. nasrun min llah syah. sehingga dipindahkan kepada negeri Loin naik ke atas gunung. pagi pettang tiada berantara lagi. Hatta datang tiga bulan bertungguan tiada boleh alah. Lalu datang ke pantai Wawani. lalu kapal pun belayar dan angkatan pun undur ke pantai Wawani. Hatta datang musim barat. tetapi iapun tiada turun dan iapun tiada naik sehingga berapa lamanya Wolanda pun pulang dan angkatan Islam pun kembali serta perdana gimelaha. lain daripada itu tiada kusebutkan. lalu ia pulang ke Betawih. serta perdana gimelaha Luhu pergi mengadap ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza. supaya kita kerjakan. Daripada ia bulum lagi untungnya. Segali perastawa ia keluar serta angkatannya mendatangi kota dauman*. Maka kedua pihak berparanglah siang dan malam. di mana merompa di darat atau di laut tiada lain ia juga. membawa titah memanggil kepada gimelaha dan orangkaya-kaya. Hatta dengan takdir Allah ta`ala entah berapa-rapa negeri Nasrani takluk Wolanda itu bebali kepada johan pahlawan gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. maka kedua pihak pasang-memasang. tetapi perdana gimelaha sudah harkat menanti dia. maka ia bertemu kapal Wolanda itu. gimelaha Bobawa.’ Itu pun tiada juga orangkaya mau undur sehingga empat buah negeri undur naik ke gunung. maka tiada jadi mendatangi dia. Maka ketika itu tanah Ambon Ulilima dan Ulisiwa semuhanya berparanglah beramai-ramaian tiada berputusan. Sebahagai juga parang kedua pihak itu. sekalian pati dan sengaji semuhanya keluar serta dengan angkatan endak menyarang kepada negeri orangkaya Tanihitumesen. Maka perdana gimelaha serta Ulilima dan Ulisiwa keluar meromparompa kepada negeri Yahudi dan Nasrani. lalu melawanlah ia dengan kapal itu daripada waktu duha sehingga datang waktu asar. datang armada dari Betawih endak menyarang kepada kota Lesiela. Tellah demikian itu maka kuceriterakan: di belakang perdana gimelaha Luhu itu johan pahlawan gimelaha Leliyato memangku tanah Ambon serta memerintahkan parang sabil Allah dan berkat agama rasul Allah serta kemenangannya. Maka kata johan pahlawan . Pada ketika itu pahlawan Patiwani seorangpun tiada sebagainya di tanah Hitu. Dan kuceriterakan perdana gimelaha dan orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. Apabila masuk matahari. sarang-menyarang sebahagailah tiada berhenti lagi. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. lalu paranglah negeri semuhanya beramairamaian.

’ Tellah demikian itu orang membawah fitna kepada jeneral dan gurendur. lalu menyuruh kepada kapitan Yon Yan* serta orang banyak mencahari. Hatta dengan takdir Allah ta`ala. Hatta datang musim jeneral pun datang serta angkatannya ke tanah Ambon. nama orang hitam. Jangan dikembalikan kepada Kapitan Hitu. ini pula dibawah ke ini pula dibawah ke Betawih. makan-minum. menyarang kepada Lesiela serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota Lesiela. maka tiada boleh alah. makin bertambah fitnah. Lalu Wolanda itu ke negeri Hatubawah endak menyarang kepada gunung Alaka.betahanlah di sana serta orang dagang Melayu Minangkabau. Maka negeri Hitu sekalian bersuka-sukaan. demikian katanya: ‘Siya-siyalah orangkaya keluar serta Wolanda itu . lalu ia pulang ke negeri bersuka-sukaan. lalu ia pulang ke Kota Laha. jika ditahankan ia duduk sehingga tanah Hitu jua pun baik juga.Sendiri-dirinya juga. seorangpun tiada serta dia. maka ia pulang ke negeri Wawani dan negeri sekalian memberi tiga puluh bahara cengkeh kepada jeneral akan pembeli siri pinang. nasrun .’ Maka gurendur tiada dengan periksyai lagi. tetapi kehendak kami itu melainkan kita bersama-sama membawah agama rasul Allah. lalu orangkaya-kaya semuhanya serta Kapitan Hitu pergi ke Kota Laha bedamai dengan jeneral dan gurendur serta orang besar-besarnya. Maka gurendur menyuruh sebuah kapal belayar membawah khabar kepada jeneral serta bawah kepada Kapitan Hitu ke Betawih. Ganap tanjung dan labuan tiada dapat. Itu belum lagi dengan kehendak Allah ta`ala. Hatta tiada berapa lamanya datang paduka serri sultan Hamza.[kepada] orangkaya-kaya Nasrani itu. Maka ditinggal kepada dia lalu orang Hila antar bawah kepadanya ke negeri Wawani. melainkan Wolanda juga antar kepadanya sehingga datang ke pantai Hila. makan-minum serta disalini dengan pakaian yang inda2. Itu pun tiada juga dapat. lalu ia mengadang ke laut Puluh Tiga.seperti pantun Melayu: ‘Dapakan bunga setangkai jangan diaibkan orang. beramai-ramaian dengan dia. Nasrani atau Islam. demikian katanya: ‘Kapitan Hitu menjual cengkeh kepada dagang Mangkasar dan Minangkabau di Puluh Tiga. Maka Kapitan Hitu pun takut tiada keluar kepada Wolanda itu.’ Lalu orangkaya belayar ikut ke Betawih dan apa2 kehendaknya orangkaya itu dikatakan kepada jeneral. demikian katanya: ‘Hai syaudaraku. maka dikembalikan kepada Kapitan Hitu. Entah berapa lamanya dalam Kota Laha.’ Maka diiakan orang itu. engkau sekalian bukan kami endak kepada hamba sahayamu dan bukan kami kehendak kepada artamu. Maka kata orang Hitu kepada orangkaya Bulan. lalu ia pulang ke Kota Laha. Maka orangkaya gimelaha dan orang semuhanya pindah ke negeri Kambelo.

berpalinglah orang sekalian. Maka tanah Ambon dan Buru sekalian berhimpunlah di sana. Maka suruh panggil perdana gimelaha dua bersyaudara. patik tuanku sakit. sekalian pati dan sengaji: ‘Rubuhkan kotamu itu dan niyahkan segala orang dagang itu. Maka berhimpunlah tanah Ambon sekalian berhadapan . ampun seribu ampun. lalu masuk ke pantai Kambelo. Pada ketika itu ia duduk di negeri Kambelo. Ada pun pada ketika itu Kapitan Hitu pun sakit. Lalu ia pulang katakan kepada jeneral: ‘Bennar juga kata orang itu. manatah surat perjanjian Wolanda itu?’ Maka menyahut pula Sifarijali: ‘Patik minta maaf. sudah datang ke bawah dulli tuanku. Tetapi kepada jeneral itu tiada ia percaya. Tiada dapat kuceriterakan parangnya.’ Lalu menyuruh panggil kepada Kapitan Hitu. lalu dinaikan pahlawan gimelaha Leliyato kepada kapal Wolanda itu dan dikeluarkan gimelaha Luhu. zill Allah fi 'l-`alamin. maka turun Wolanda itu mendatangi negeri Kambelo. Jika tiada sakit. Bennar juga titah . hatta datang titah kepada orang sekalian:‘Mana surat perjanjian dengan Wolanda itu?’ Maka menyahut orangkaya-kaya semuhanya: ‘Ada pun surat perjanjian Wolanda itu ada kepada patik tuanku Kapitan Hitu. Apabila sudah rubuhkan kotanya. sehingga Patiwani jua ia betahan parang dengan Wolanda itu. nasrun min Allah syah. maka berparanglah atas bukit itu. Maka orang Kambelo keluar serta pahlawan Patiwani Hitu.’ Maka titah: ‘Jika ia sakit. Maka menyuruh fetor Soroi* dan sarinto* pergi periksyai kepada penyakitnya itu. suruh belayar pulang ke negerinya.’ Tellah demikian itu panglima Nahudimeten serta imam Sifarrijali keduanya keluar datang mengadap ke bawah dulli serri sultan. Ada yang memagang senjata serta santiagu*. ada yang membawah ayapan.min Allah syah. ke tanah Ambon serta raja Tidore yang diturunkan daripada kerajaannya itu dan raja Jailolo. Maka Wolanda itu serta angkatannya mendapatkan paduka serri sultan. Kemudian berhadapan di bawah dulli yang dipetuan. ada yang bejalan saja. Tellah demikian itu paduka yang dipetuan berangkat ke tanah Hitu serta Wolanda itu dan negeri Hitu sekalian pun keluar jungjung serta dengan adat semuhanya dikerjakan. Hatta seketika lagi patah parang Kambelo.’ Maka kotanya itu pun dirubuhkan dan sekalian dagang itu pun belayar masing2 mencahari tempatnya. ada yang membawah arta bejenis-jenis serta bunyi-bunyian mengiringkan kepada payung kerajaan daulat al sultan Hamza. zill Allah fi 'l-`alamin. Hatta datang titah yang dipetuan kepada orangkaya-kaya dalam negeri Lesidi dan Kambelo. Hatta datang maka titah: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka menyahut Sifarijali: ‘Daulat tuanku. lalu pulang orang yang memanggil itu menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuan.

Entah surat itu ta dapat tiada kepada Wolanda. serta Kapitan Hitu dan Pati Tuban dan Tubanbesi. lalu pulang ke Maluku. lain daripada itu tiada kusubutkan. maka masuk pula bicara dalam gudang Wolanda itu. tiadalah kita memutuskan kepada perjanjian itu. itulah kesudahannya. Hatta berapa dalamnya. jangankan surat itu. menyuruh tujuh buah perau mengantarkan kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya2 pulang ke tanah Ambon. negerinya pun tiada diketahui lagi. Maka serri sultan Muhammad Sya`id. Entah berapa lamanya di sana. Itu pun demikian juga tiada berputusan. tiada ketahuan negeri Luhu dan negeri Lesidi. lain daripada itu tiada kuceriterakan. sehinggalah keluar yang dipetuan serri sultan Hamza. Telah demikian itu maka kuceriterakan kemudian daripada itu tanah Ambon. Maka bersumpah-sumpahan kalam Allah dengan orang Hitu dan berjanjian dan muafakat seperti dahulu itu lagi. sehingga kelengkapan dari Ternate itu juga serta yang dipetuan di tanah Hitu. lain daripada itu tiada kuceriterakan. Maka tanah Ambon pun masing2 pulang ke negerinya. dari Hitu menyeberang ke Luhu. yang memagang surat pun tiada datang. maka bertemu dua buah kapal . Ada pun negeri Hitu dari Wawani dan negeri Asilulu dan negeri Alan. Lesidi. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. pasang-memasang. Sehingga datang ke pantai Eran*. karena ia tempat merampas isi rumah Kapitan Hitu. lalu dibawah belayar kepada pahlawan gimelaha Leliyato ke Jawahkatra*. Berlawanlah di sana dua kaum itu. lalu berangkat ke Kota Laha. maka orang Hitu dan orang Kambelo serta orangkaya gimelaha belayar mengadap raja Mangkasar minta tolong kepada agama rasul Allah. tembak- . meninggalkan benua Ternate datang ke tanah Ambon.yang dipetuan itu. Hatta datang kepada hari yang lain. nasrun min Allah syah.’ Lalu berangkat kepada kelengkapannya dan orang sekalian pun masing2 pulang kepada tempatnya. maka berangkat pulang ke Hitu pula.’ Maka sabda yang kerajaan:‘Apabila bagai kata yang demikian itu. ibn al-sultan marhum syah. karena surat pun tiada. Liliboy. serta johan pahlawan gimelaha Luhu berparang dengan Wolanda itu. wa-sultan al-Din. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. Dan kepada tanah Hitu negeri Hila dan negeri Hitulama. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. serta orangkaya Bulan dan orangkaya Tanihitumesen mengikut kepada Wolanda. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. alah-mengalah. tetapi tatkala ditipu kepada patik tuanku.sarangmenyarang sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah di tanah Ambon. serta gimelaha Luhu. dari Luhu berangkat ke Kambelo.

makan-minum. Maka orang dalam negeri itu semuhanya masuk ke dalam gudung Wolanda. Hatta datang pahlawan Patiwani melihat kepada negeri itu. dan karaen Mampo akan hukum dalam angkatan itu dan memagang arta raja itu Marala dan karaen Puli dan Malim dan Besi Lumu*. tetapi anak buah kami itu kami keluarkan dahulu. maka datanglah entah berapa aluwannya. ia duduk di pantai Seit. lalu masuk ke tanah Hitu. tetapi diteggah oleh penggawa. Siang dan malam. pasang-memasang. karena perjanjian raja kepada Wolanda itu belum lagi berubah. karena kelengkapan Mangkasar membuat talangkeranya* di darat dan Wolanda membuat di laut atas kapalnya. Maka ia bernanti tiada masuk kepada gudung itu. Ada pun gudung itu atas kepada kami. demikian katanya: ‘Kami minta maaf banyak-banyak kepada penggawa dan panglima sekalian undur juga. maka orang Mangkasar dan orang Wawani pun . Hatta datang ke tanah Ambon. karena pasan yang dipetuhan tiada dengan orang Wolanda. maka orang Mangkasar endak masuk rusak kepada gudung itu.menembak. Maka datang orangkaya2 dari negeri Kapahaha dan negeri Mamala minta maaf kepada Mangkasar dan orang Wawani. Lain daripada itu tiada kusebutkan. Maka datang kapal Wolanda itu. Dan daripada Mangkasar pun demikian juga begendang serta bunyi-bunyian. maka Mangkasar pun menyorongnya menyarang kepada negeri Hitulama serta dengan kehenda Allah ta`ala alah negeri itu. Tetapi penghulu dalam angkatan itu karaen* Bontomanompo dan daeng* Bulikan. berlakulah kedua pihak itu serta senjata bekilat-bekilat dan bunyi-bunyian tamburnya dan kucapinya atas kepadanya. kemudian kami rusakkan dia. berlawanlah kedua kaum itu. sangngat berahinya. tembah-menembah. setengah masuk duduk di Kambelo dan setengah dibawah ke Hitu membuat kotanya di pantai Seit ia duduk. Maka ia pulang serta dengan kemenangnya bersuka-sukaan dalamnya. Hatta datang musim.’ Tellah kata demikian itu. alahkan dia. pagi petang pertungguwan tiada berkeputusan. sehingga lalu pulang orang sekalian serta Patiwani ke negeri Wawani. Hatta berapa antaranya dalamnya parau dari Kambelo dan dari Hitu datang membawah kepadanya. lalu masuk sekali2 tiada dengan was2 lagi. Apabila masuk matahari. Lalu menyorong parangnya kepada negeri Larike dan negeri karas sukar mengalahkan dia. maka setengah duduk dan setengah pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar dan minta bantu pula. Endak lalukan kepada gudang Wolanda itu. maka alah negeri itu. Hatta berapa lamanya kapal itu pun belayar. Hatta datang musim barat. bersuka-sukaan. Dan yang duduk di Kambelo itu pun menyoron parangnya serta orang Ternate dan orang Kambelo alah kepada negeri Saluku.

orang dalam gudung itu pun keluar dan bantu dari Kota Laha pun datang menolong kepada gudung itu.berhenti. Tellah demikian itu hatta datang berapa antaranya menyorong pula parangnya ke Tanah Besar. Hatta datang musim barat Mangkasar tiada keluar. Maka sesungguhnya. menyuruh belayar ke Betawih membawah khabar kepada jeneral Fandiman*. maka orang Hitu dan Mangkasar keluar mengamu. Hatta datang musim karaeng Bontomanompo dan daeng Bolikan serta kelengkapannya pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar kepada serri sultan Muhammad Sya`id alDin. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan orang mati pun entah berapa banyak tiada kuceriterakan. sebab ia terjung dari atas gunung tiada berketahuan larinya. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. Serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota itu. Ada pun kepada Wolanda itu jeneral keluar dengan angkatannya serta tanah Ambon dengan angkatan semuanya mendatangi kotanya Mangkasar itu . Tatkala itu karaeng Jipang dan daeng Manggapa keduanya bedagang di pantai Kambelo. Ia duduk di pantai Wawani. belarilariyan membuangkan senjatanya. Serta pahlawan Patiwani menetah. masing-masing membawah . ada mati beddil. sehingga negeri Wawani juga berkellahi dengan orang semuhanya itu serta Wolanda itu. Maka orang Hitu dan Mangkasar mendapat tiga puluh pucu esfangar yang tiada berapi. karena orangkaya gimelaha tiada sesungguhnya parang. Lalu patah parang Wolanda itu. Maka tanah Ambon semuanya mengikut kepada Wolanda. maka ditangkis oleh Wolanda itu sehingga sedikit juga putus asfanggarnya* itu. ada mati sendirinya. lalu naik menyarang kepada negeri Wawani. sehingga karaen Jipan* dan Manggapa serta hamba raja Marala dan Malim menunggu kepada kotanya di pantai Seit. tiada jadi berhenti. sebab raja berangkat menyarang kepada raja Bone. Maka orang Kapahaha dan orang Mamala dan Liyan pun tiada jadi mengrusakkan dia. karena gimelaha Majira serta orang itu dan pun demikian lagi dengan negeri Anin dan Laala. lalu pulang tiada dengan faedahnya. Hatta datang esok harinya. Maka berangkat serta orang Kambelo dan orangkaya gimelaha mendatangi di negeri Lesidi. Itulah tanda orang kibria dalam dunia tiada mengetahui kehendak Allah ta`ala. karena ada mati oleh pedang. Maka orang Kambelo dan orangkaya gimelaha serta Mangkasar tiada jadi menyarang kepada negeri Lesidi. Itu pun demikian juga sebab orang Kambelo dan Lesidi tiada dengan sesungguhnya. lalu pulang. lalu orang Kambelo dan gimelaha bedamai dengan orang Lesidi. maka ia keduanya bersama-sama serta angkatan itu menyeberang ke tanah Hitu. tiada jadi masuk kepada gudung itu. Hatta datang esok harinya. Daripada Anin dan Laala itu pun demikian juga.

Dan laknat itu lari ke kapal beritahu kepada kapitan. Maka ia berbicarai dengan gurendur. Maka negeri Wawani pun selamat.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Pergilah engkau. Kemudian daripada itu Seit dan Hahutuna. lalu masuk laknat itu. maka ia berkata:‘Kami endak pergi bermain di negeri kicil. lalu naik ke negeri Wawani. Ada pun tatkala parang itu hamba raja Marala dua bersyaudara mati dan pahlawan Patiwani luka dan imam Sifar arRijali pun luka pada ketika itu. Itu orang meruntuhkan agama rasul Allah dan orang itu orang munafik. lalu pulang ke rakhmat Allah. keluar serta orangkaya Tanihitumesen masuk kepada Wolanda. jika panjangnya lima jengkal tiada boleh masuk ke dalam rumah. Hatta datang kepada suatu ketika ia datang kepada Kapitan Hitu. karena ia mengaku di laut atau di darat atas kepada orang itu dengan Hehalesi. daripada ia katakan kata yang baik serta membujuk dengan kata yang manis samanya Islam. lima buah negeri. hamba sahayanya sekalipun. Hatta datang ajal Allah. maka turung. Sebab itulah Kapitan Hitu menengar fitnah daripada orang itu. Maka ia pasan muruyumunya* semuhanya gennap kapalnya serta gudungnya sekalian. jangankan laki-laki. lalu tidur sekalih di luar kepada suatu balai. Maka tikam tigabelas kali serta dengan kehendak Allah ta`ala tiada makan besi kulitnya. maka ia berparang dengan Wolanda. Karena istiadat Kapitan Hitu. Maka kuceriterakan pada tatkala itu ada dua orang Kastila lari daripada orang Wolanda datang ke negeri Wawani. Itulah sendirinya beradu tiada dengan penunggunya. Tatkala itu Kapitan Hitu pun baringbaring. .’ Lalu keduanya berjalan keluar di pantai Seit. Ia juga sendirinya. Entah berapa lamanya dalam negeri Wawani dan orang sekalian pun percaya kepadanya. karena orang itu dengan Hehalesi mengaku hadapan ke pantai Hitu dan menyuruh berparang serta Wolanda. maka negeri Hitu sekalian pun menjadi daif daripada ia terkuddun ia. Tellah demikian itu orang Kaitetu pun keluar serta orang Seit dan Hahutuna masuk kepada orangkaya Tanihitumesen muafakat. sehingga sekali juga makan besi butul dadanya. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Hatta datang tengah malam ia masuk ke dalam rumah. tiada mengetahui tipu dayah Kastila itu. membuat talangkeranya serta gudungnya di pantai Hahutuna. Sangkanya bennar orang lari. Maka naik kepada angkatannya. Daripada itulah rusak iman orang parang sabil Allah dan melamahkan hati orang itu. seorangpun tiada. lalu bawah kapal belabu di tanjung Hulu.masuk kepada Kapitan Hitu dan Kapitan Hitu pun percaya kepadanya. maka ia naik ke kapal kepada Wolanda itu dan apa-apa katanya Kastila itu.dirinya. lalu pulang ke negerinya sehingga meninggal tiga buah kapal menunggu kepada pantai Wawani.

tetapi kami tiada boleh keluar sebab orangkaya serta Wolanda. maka ia menyuruh datang kepada kami itu. lalu keluar orangkaya2 serta orang banyak mengikut kepada suruwan itu. Esok harinya ia datang. Apabila berbuatan atau tipu yang jahat bukanlah perbuatan Wolanda. Apa salahnya?’ ‘Daripada itu ia ingat kepada negeri Hitu serta agama rasul Allah. karena gurendur tiada mau kepada beta naik. maka ekor mengikut. karena orangkaya dalam maklum Wolanda itu. Bolehkah kita bertemu dengan orangkaya2? Tetapi kita tiada boleh naik ke negeri.’ Maka kata orangkaya dan orang Seit. tetapi gurendur tiada percaya karena negeri sekalian itu mengikut kepada dia. Hatta datang di sana bertemu dengan orangkaya serta orang banyak itu.’ Maka orang sekalian percaya. tiada boleh naik ke negeri. Baiklah orangkaya2 berhenti. Karena negeri semuanya sudah keluar akan katanya kepada gurendur. menyampaikan kata orangkaya itu kepada orangkaya Pati Tuban dan pahlawan Patiwani serta orangkaya sekalian. dan kami pun demikian juga seperti kata orangkaya itu. sangkanya kata yang baik. supaya kita muafakat mana yang baik itu maka kita kerjakan.’ Ia menanti. orangkaya2 dari Hila dan dari Mamala dan dari Kapahaha bulum lagi datang. Esok harinya maka kami datang. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu sudah pulang ke rakhmat Allah. karena piliyan kata yang benar. Lalu katanya demikian: ‘Orang kaya2-pun tiada boleh keluar. karena kita bersama-sama dengan Wolanda. kita empunya perbuatan itu.’ Maka kata orangkaya2: ‘Benar kata syaudara kami itu. Maka kata orang Seit dan Hahutuna: ‘Tuanku lalu ke pasar Lebelehu. Kemudian maka kita kira-kira apabila baik kita masuk kepadanya.Maka menyuruh naik ke negeri Wawani. sehingga datang kepada suatu padang di tepi sungai. jika tiada baik menyuruh panggil kepadanya bicara di luar. Maka menyuruh pula berulang-ulang dengan kata yang baik dan manis.’ Maka kata orangkaya2 Wawani: ‘Jika bagai kata demikian itu. lalu pergi ke sana. Kita pun tiada boleh naik ke negeri. Baiklah kita sama bertemu di luar negeri. baiklah kami pulang dahulu. maka kata orangkaya dan orang banyak: ‘Ada pun kita ada bicara sekarang ini. Seperkara lagi. karena gurendur tiada mau. tiada perna ekor dahulu maka kepala mengikut. maka dikatakan serta dengan empena menjadi jina. maka muafakat semuanya dahulu. Kami pun demikian lagi endah bertemu dengan orangkaya juga.’ Maka suruwan itu pulang beritahu kepadanya. Daripada itulah kita menyuruh datang kepada orangkaya2 itu serta dengan angkunya. melainkan dahulu juga kepala.’ ‘Benar juga kata orang itu. Matahari pun masuk. karena orangkaya serta orang banyak ada di sana. Hahutuna: ‘Mengapa maka pulang lagi? .

Maka ia bertemu sekalian rakyatnya dan karaen Jipan* dan daen Manggapa serta rakyatnya dan kiyaicili La Manimpa ibn sipati* di Buton. turun bukit dan berapa padang ia berjalan. lalu orang Seit dan Hahutuna pulang ke negerinya. Maka semuanya bejalan masuk ke negeri Nukuhali dan negeri itu pun tiada boleh terima kepadanya. Maka berjalan pula ke negeri Tehala dan negeri Tehala pun demikian juga tiada dapat terima. maka semuanya muafakat: ‘Apa tipu kita? Apabila kita dalam hutan juga tiada tahan lagi rakyat kita ini . Maka ia berenti di sana.Jika begitu tiadalah percaya kepada kami semuanya ini. tetapi sabbar dahulu supaya kami kira-kira serta orangkaya2 semuanya. lalu berjalan di luar masuk utan. semuanya mengikut kepada Wolanda.’ Karena orangkaya sudah mengaku di hadapan orang semuanya kepada barang perbuatan yang jahat itu. maka didiamkan kepada suatu dusun. beritahu kepada letnante dan menyuruh antan-antun dua orang. Entah berapa dalamnya. Hatta datang ke pantai Kapahaha. terbit pandang*. masuk dalam hutan dan orangkaya yang keluar itu pun tiada boleh masuk ke negeri lagi. lalu keluar masuk utan. supaya kita dengngar kehendak itu. seorang Goron* dan seorang Tapihuwat namanya. maka orangkaya2 serta orang sekalian pun percayalah. lalu ia datang sendirinya membawah kepada orang yang tiada dapat berjalan itu. Alitan namanya. Serta kehendak Allah ta`ala alah negeri Wawani dan orang dalam negeri itu pun cerai-berai. naik bukit. Dan apa-apa kehendaknya itu semuanya dikatakannya kepada Wolanda.’ Lalu menyuruh ke negeri Kapahaha: ‘Boleh kami masuk atau tiadakah?’ Karena tatkala itu negeri Kapahaha pun bedamai dengan Wolanda. Lalu turun Kompenyi*. Baiklah kita menyuruh kepada suatu negeri. karena panglima Patiwani dan imam . Di sanalah ia duduk menanti kepada orang banyak lagi dalam hutan itu. maka kata orangkaya Tubanbesi: ‘Boleh juga. keduanya naik ke kapal beritahu kepada kapitan gurendur. maka berentilah di sana. Apabila datang semuanya kemudian. Wai Luyi* namanya sungai itu. membilang nama orang yang datang itu dan nama panglima serta pendagarnya semuanya yang datang itu. paduka kiyaicili Laksamana pun sakit lalu mati . sangkanya kata yang benar. mauka atau tiadaka. Entah berapa lamanya dalam hutan itu sebagai juga sehingga datang ke hulu sungai. maka kirakirakan kepada kedudukan. kemudian kira-kirakan kehendak kita. Demer* namanya. Tellah dipeliharakan paduka kiyaicili itu.dijalankan di laut dan orang Hitu dan setengah orang Mangkasar serta daen Manggapa berjalan di darat.’ Tellah demikian itu entah apa-apa kehendaknya sekalian orangkaya itu. Jika kita endah masuk kepada suatu negeri. naik kepada tengah malam itu menyarang kepada negeri Wawani.

ada masuk kepada Wolanda itu. Hatta seketika juga dengan kehendak Allah ta`ala tetanam kaki Kartulesi ke dalam lumpur. ada mati dalam hutan. maka ialah keluar merompa pada orang Nasrani itu. Maka datang pula Wolanda itu serta orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. ada masuk ke Hila. Ia membawah setengah serta Patiwani dan Sifar ar-Rijali masuk ke negeri Kapahaha. ada masuk ke Hitulama. Baiklah kita di sini supaya kita pun dapat makanan. Maka menyuruh panggil kepada negeri semuanya. Demikian kehendak orang itu:’Apabila kita sekalian ini masuk ke dalam negeri. Hatta berapa lamanya dalam hutan itu. demikian kata: ‘Baik siap-siap negeri. supaya kami minta minta ampun. Maka menyuruh mengambil perau kepada Kartulesi serta orang yang tinggal dalam hutan itu. Apabila ia mati maka orang banyak itu masing-masing lari membawah dirinya. Lalu keluarkan angkatan serta tanah Ambon semuanya datang ke pantai Mamala. ada masuk ke negeri kicil.Sifar ar-Rijali dan pati Larutu bersama-sama karaen Jipan* serta Mangkasar yang banyak itu lagi dalam hutan. sukarlah kepada hidupan kita. maka datang Wolanda itu mencari dia. Orang dalam negeri itu pun kita antar akan dia. Maka kata orangkaya: ‘Apa tipu kita? Karena kita sudah bedamai dengan dia. ialah rasamu* kepada orang mudah-mudah dalam negeri Kapahaha pada tatkala itu. lalu ia belayar pulang ke Mangkasar. Umarela namanya. Daripada itulah kubunnya dengan tanamannya semuanya kepada orang itu mengambil dia.’ Hatta didengar kata gurendur demikian itu dan negeri semuanya keluar serta gurendur itu. Ada pun tatkala ia dalam hutan itu sekalian negeri itu tiada boleh masuk dalam hutan. tiada boleh bergerak lagi serta dengan ajal Allah lalu ia syahid. lalu menembang cengkeh serta kayu yang dimakan buah2-nya. ialah akan musuhku. Maka bertemu kepada suatu padang. Maka Wolanda itu dilabukan kapalanya genap tanjung dan labuan Kapahaha serta mendirikan talankeranya* di pantai itu. lalu berparang kedua pihak itu. Empat orang ditindisnya di adapan Wolanda itu.’ Itullah kehendaknya orang itu. ada masuk ke negeri Kapahaha.’ Lalu orangkaya-kaya masuk pada gurendur serta membawah tiga ribu real akan pembeli siri pinang. Hatta seketika juga undur Wolanda itu pulang ke gudangnya dan karaen Jipan* pun meninggalkan Mangkasar setengah serta Kartulesi menanti kepada suatu dusun. Maka gurendur itu real itu pun diterima dan kepada orang itu tiada diampunkan. maka berparanglah tiga kaum itu dalam hutan di sana. Tiada berketahuan larinya. Baiklah kita pergi kepadanya minta ampun. Maka hulubalang negeri Kapahaha. Maka diberikan dua buah perau. jika tiada ia keluar serta aku. lalu ia pulang dengan . sehingga negeri Kapahaha juga tiada keluar.

Hatta berapa dalamnya serta dengan kehendaknya Allah ta`ala pahlawan Patiwani ia naik kepada sebuah perau menyeberang ke sebelah Tanah Besar. Apabila kepada pihak Islam itu ia keluar mengambil makanan. panglimanya dan pendagarnya serta pahlawan Patiwani ialah sangat mengasakan orang mudah2 kepada parang sabil Allah. maka ia masuk ke dalam sungai Wai Liyi*. Hatta seketika lagi ia memandang ke kiri dan ke kanan dan ke aluan dan ke buritan. Seorang itu sehingga sedikit juga putus kedua penggal. Hatta dengan ajal Allah syahidlah ia dalam perau Wolanda itu. tembahmenembah. sama gagahnya . maka ia mengunus syamsyirnya serta melompat naik ke atas kelengkapan Wolanda itu. lalu langgar kepada Wolanda itu. maka ia pulang dan Wolanda itu pun apabila petang malam. serta menatak sekali juga kennah dua orang.Maka sama gagah kedua pihak itu. Maka huru-gara majnun pandang kepada johan Patiwani ia dalam kelengkapan Wolanda itu. maka keluar orang dari negeri Kapahaha. Lalu ia menyerbukan dirinya kepada Wolanda itu. sentiasa tiada bertinggalan lagi. Apabila sudah langgar. perparanglah kedua kaum itu. Hatib Lukula dari Mamala tangannya satu bengko dan orang luka pun banyak. ia mengadap di luar talankeranya Wolanda itu dan Wolanda itu pun mengawal. tatuk-menatak sebagai juga tiada berhenti lagi. Hatta sama bertemu kedua pihak itu. Maka sama bertemu keduanya lalu berparanglah kedua kaum itu. Alah mennang daripada kapitannya yang gagah itu seperti letnante dan alferes* dan sarento* serta kapitan Merlaka* ia sangat keras mengasakan soldadu kepada parang. ia datang mengadap di pantai di mana datang orang itu . Sama gagahnya dua pihak itu.kemenangnya.melawanlah keduanya pasang-memasang. ialah kapitannya dan seorang lagi putus sebelah tangannya ada di jalan lagi. bersuka-sukaannya. Apabila petang. Entah berapa hari dalamnya. maka datang sebuah perau Wolanda itu dari pantai Lumakai*. Maka ditembah oleh Wolanda itu dua lukanya. Maka kedua pihak itu tiada berputusan berparang siang malam pagi petang. melainkan petang malam. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. Dan demikian lagi daripada pihak Islam. makan-minum serta bunyibunyian dalam negeri Kapahaha. Maka ia keluar. maka dilihatnya jurumudi putus tangannya sebelah dan mati.samalah kedua kaum itu. alah menang Islam pun tiada mau kepada Nasrani dan orang Nasrani pun tiada mau kepada Islam. malam atau siang hari. satu kennah . pasang-memasang. maka ia memarintah kepada orang semuanya.tiada ia pulang kepada siang hari. sentiasa kedua kaum itu sebagai juga.

karena musuh semuanya yang datang suruh minta bedamai. maka ia lari sendirinya membuang senjatanya. Maka ia naik ke atas bukit antara gunung Hantu* dan negeri Kapahaha. Hatta datang musim utusan pun datang dari Ternate. ada alah. Hatta seketika lagi orangkaya Patti [Tuban] pun luka dan Tullesi pun kuka* Lain daripada itu tiada kusebutkan.maka jatuh ke air masing. Ada mennang. serta orangkaya gimelaha datang suruh minta bedamai.ada pun tatkala itu orangkaya2 tanah Ambon. karena ia satu negeri juga tiga ratus orang memagang senjata berparanglah dengan negeri sekalian. Tellah demikian sekali perastawa gurendur sendirinya membawah angkatan endah menyerang kepada negeri Kapahaha. Maka ia pasang bedil ditembah ke dalam negeri dan negeri pun menembah kepadanya. Segali lagi ia berjalan dari bukit Iyaluli* endah mendatangi negeri Kapahaha. Entah berapa matinya tiada ditentu dalamnya. maka melawanlah keduanya. Tellah sudah kesudahan kami. Lain daripada itu tiada dapat kuceriterakan. Maka datang mengambil kepada johan pahlawan Pati[wani]. harinya . . Itulah kesudahan hidupan pahlawan Patiwani dalam tanah Hitu.pahanya dan satu lagi kenah bibirnya. tetapi baikbaik bicara tuan-tuan semuanya. karena keduanya sama lellah leti. maka dibelakannya johan itu dan negeri semuanya pun berpalinglah kepada Wolanda itu. maka dibawah pulang maitnya itu datang ke negeri Kapahaha dan dipeliharakan serta diadatkan sehingga seratus . maka kedua kaum itu berhanyutan juga tiada boleh penggayu lagi. Segali perastawa orangkaya Pati Tupan dan Tulesi adindah orangkaya Tubanbesi bawah dua perau ke Tanah Besar. Maka negeri tiada mau bedamai. lalu naik kepada peraunya. jangan disamakan kita di belakang tuan-tuan itu. karena sekali menembah tujuh orang dikenanya. tetapi menyampaikan salamku kepada orangkaya Tupanbesi serta orangkaya2 sekallian. Islam dan Nasrani. itulah hal parang kedua kaum. Maka didapatnya sebuah perau. Apabila suda ia mati. Itulah hal negeri Kapahaha parang sabil Allah. Itulah Allah dan nabi Muhammad juga yang mengetahui. Ulilima dan Ulisiwa.’ Lalu ia mati. Daripada belum dengan ajal Allah kepada negeri Kapahaha ia lari sendirinya membuangkan senjatanya. melainkan menanti titah paduka seri sultan dari Maluku. Maka kedua kaum itu melawanlah. lalu masuk ke Kota Laha pada gurendur. kami sudah belakankan dunia. Hatta demikian itu. Maka ia pulang bertemu dua buah fergat*. maka kata johan pahlawan Patiwani: ‘Hai syaudahraku sekallian. pasang-memasang daripada waktu subuh sehingga datang kepada bakda magrib. Sehingga tengah jalan. Pada ketika itu mennang Wolanda itu kepada Islam dan kuceriterakan. Jadi kuranglah kuat negeri Kapahaha.

’ Lalu orangkaya2 itu masuk hutan mencari jalan yang lain. Lalu orangkaya-kaya menyuruh menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuhan serta tanya sepata kata. Maka ia menunjukkan jalan kepada Wolanda itu. apatah daya untung kita? Tellah demikian itu datang titah. apa-apa sebabnya. panggil kepada orangkaya Tubanbesi dan orangkaya2 yang tuah-tuah datang ke mari. Ada masuk negeri Tiyal dan orangkaya Pati Tuban ia masuk ke negeri Wai. Sebab itulah maka tiada jadi bedamai. sebab ia kalaparang. baik berkellahi atau bedamai.maka orangkaya Kapahaha menyuruh tanya kepada orangkaya gimelaha. demikian katanya: ‘Betapa hal kami ini? Karena tanah Ambon negeri sekalian serta dengan Wolanda. berparanglah dengan negeri Kapahaha. Dan setengah masuk ke negeri Mamala dan setengah masuk ke negeri Hitulama dan setengah masuk ke Hila. di situlah ia diam. supaya kami dengar dan mengetahui kehendak titah itu pun. Ada masuk ke dalam hutan. maka bertemu orang datang membawah khabar.Maka menyuruh panggil kepada orangkaya2 negeri Kapahaha. Itu pun tiada juga datang titah. lalu mati kepada tempatnya. Ada mati di tengah jalan. maka orangkaya2 serta orang banyak datang kepada utusan dan gurendur. supaya ia dengar kepada titah yang dipetuan. Maka semuanya itu diberikan kepada gurendur itu dan orangkaya . Hatta demikian itu dengan kehendak Tuan Yang Mahatinggi seorang dagang ia lari masuk kepada Wolanda. naik tengah malam serta dengan kehendak Allah ta`ala lalu alah negeri.’ Apabila orangkaya2 itu pulang sehingga tengah jalan. Maka orang semuanya itu cerrai-berrai masing-masing membawah dirinya. Maka didengar oleh orangkaya-kaya dalam negeri Kapahaha terlalu khairan ajaib sekali kepada perbuatan gimelaha itu. Maka kata utusan dan gurendur: ‘Pulanglah orangkaya2. Demikianlah hal negeri Kapahaha. karena negeri sekalian menjadi musuh. sehingga kami sebuah negeri juga berparang dengan Wolanda itu. tiada dapat berjalan lagi. ada masuk ke dalam guwah batu. apatah daya untung kita?’ Tellah demikian itu datang bala Allah.’ Tiada juga datang titah. hatta berapa dalamnya gimelaha pun datang dari Ternate. dimasukkan ke dalam talankeranya. Jangankan negeri lain tiada dapat dikatakan negeri Hitu sendirinya pun akan musuhnya. ada mati di bawah pohon kayu. Barang apa didapatnya. Mana kehendak seri sultan. Hatta datang suruwan itu. lalu menyuruh bunuh kepada suruwan itu. penyakitan dalam negeri serta kekurangan makanan. Maka kata orangkaya-kaya: ‘Ada pun harap kita kepada perjanjian serri sultan tatkala dipersekalikan kalam Allah di negeri Hitu. demikian katanya: ‘Ada pun orangkaya2 yang di belakan mengikut tuan-tuan itu dipagang oleh letnante.

Lalu pergi masuk ke hutan sehingga datang kepada suatu padang. bawah ke Betawih. terbit padang dan naik bukit. lalu ia keluar pergi ke dalam hutan. Maka menyuruh dua orang naik ke negeri. maka ia bersembuni. Hatta matahari masuk. maka musuh itu pun tiada melihat kepadanya.Tetapi belum lagi untungnya di situ. naik kepada kapal. maka ia tiada jadi masuk ke Mamala lagi. sehingga kunyatakan tatkala ia keluar itu masuk hutan. lalu menyuruh kepada Sarasara Tahakehena masu ke dalam negeri Hila. Maka orang Hitu bawah orangkaya dua beranak kepada Wolanda itu. lalu keduanya pergi berjalan. Maka ia berhenti di sana.berlindung di dalam alang-alang. demikian katanya: ‘Dapatkah orangkaya2 menyuruh seorang atau dua orang turun kepada orangkaya Tubanbesi atau tiadakah?’ Hatta didengar kata demikian itu. tanya kepada seorang anak syaudagar yang besar [penggawa] lagi dermawang pun artawan. maka ia dengar bunyi anjing dalam hutan. Dan tiada kuceriterakan kesukarangnya serta kejahatannya yang dicellai orang itu. Entah berapa jauhnya. lalu pulang ke negeri Hitu. Sarasara Tahakehena namanya. seorang Duljalal dan Pilakan* namanya kanak-kanak itu dan anak orangkaya Kapitan Hitu dua bersyaudara. turun bukit. seorang Wangsa namanya dan seorang Petinggi namanya kanak-kanak itu. tiada pulang lagi. Maka ia hendak masuk ke negeri Mamala. Daripada belum lagi sampai ajal Sifarijali keduanya Sarasara Tahakehena. Dan kuceriterakan Sifari'l-jalih.Tubanbesi ia membawah sebuah perau sudah keluar sehingga pantai Hatuhaha. maka ia lepas. terbit padang. maka ia pun keluar pergi berjalan ke dalam hutan. lalu berjalan keduanya. maka tefakur Sifarijali dalam cintanya serta berkata: ‘Ajaib sekali akan Tahakehena pergi berdapat segera datang hendaknya hidup lasap sekali- . maka anjing itu diyam dan Wolanda itu pun tiada berkata-berkata. Maka ia bertemu seorang antanantan orangkaya Pati Tuban. lalu dipagang kepada dua orang itu dan menyuruh turun endah dipegang kepada orangkaya Tubanbesi. Seketika juga datang anjing serta tuannya Wolanda itu datang. ialah menjadi imam dalam negeri itu: ‘Dapatkah Sifarijali masuk ke negeri atau tiada dapat?’ Maka Tahakehena pun lasap sekali-sekali. Entah berapa jauhnya berdapat pula dengan musuh. karena kepada siang hari itu ada orang masuk mencari dalam hutan. tetapi kiranya orang Mamala pun tiada boleh diterima kepadanya. Apabila terbit fajar ia keluar di pantai basambuni. Maka dibunuhlah kepada orangkaya dan dinaikan kepada orangkaya Pati Tupan dan orangkaya Beraim-ela dan Tulesi dan Alam dan Teyaka* serta anak orangkaya Tubanbesi dua bersyaudarah. Sebab itulah ia keluar basambuni dakat pantai. Sama pandangmemandang.

Hatta berapa dalamnya maka mengambil sebuah perau. Maka ia bertemu Sakia dari Waibuti mengambil ikan. maka datang gulawarganya.’ Maka kata imam Rijali: ‘Apa dayah?’ Lalu dipuluh* dan dicium kepada kanak-kanak itu. Maka ia terima kepada dia orang. ia duduk kepada suatu bukit. Maka kata Sifarijali:‘Apa tipu kita kepada kanak-kanak ini. Lalu dipindakan pulang ke negeri Luhu dan pati Kambelo pun bawah kepada Abubakar. si Papua namanya. Tinggal lagi tiga orang juga. sehingga datang ke tanjung Sial. Hatta berapa lamanya. Maka ia bertanya kepada Sakia itu. lalu mengikut orangkaya itu ke tanah Buru. sehingga itulah menanti kepada Tuhan Yang Mahasuci. maka ia datang beri bakal dan makanan. karena pada ketika itu orangkaya gimelaha Daga dengan kiyaicili [Besi]mulu serta orang Kelan* endah berkelahi dengan Wolanda itu. Tiada dapat kuceriterakan dukkacittanya. maka keempatnya menyeberang ke Tanah Besar. Hatta terbit fajar masuk ke hutan ia berhenti. Entah berapa lamanya. maka ia diketinggalkannya. demikian katanya: ‘Dapat kami naik ke negeri atau tiadakah?’ Maka ia menyahut: ‘Orang itu tiada boleh. Pati Laik namanya. tetapi jika datang ke hutan maka kennah hujang dan angin ia tiada boleh tahan. Hatta masuk matahari. ia pun masuk ke negeri berhadapan dengan imam itu.’ Telah demikian. duduk di negeri Lesiela bersamasama orangkaya gimelaha. lalu ia keluar bedamai dengan gurendur itu. Maka ia menyuruh pergi kepada Hehalesi. daripada itulah Sifarijali terlalu ajaib. didukun oleh inang pengasuhnya. seorangpun tiada terima kepadanya dan dia pun sembuni tiada mau menunjukkan dirinya kepada orang itu. lalu dibawah dari negeri ke dalam hutan. Maka Sifarijali minta sebuah perau daripada orang Kelan*. Hatta dengan kehenda Allah ta`ala datang gimelaha Hasi dari Luhu endah pulang ke Buru. Seketika lagi datang Telesima dan Abubakar serta kanak-kanak. Apabila masuk matahari. Patinggi namanya. Maka bertemulah sama berhadapan bertanya-tanyakan hal-ahwal tanah Hitu dengan Wolanda itu. tiada boleh berjalan kepada siang hari.’ Lalu ia ke tanah Kelang. maka datang perdana gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa datang membawah titah seri sultan Hamza. Sebab itulah. Baik kita tinggalkan dia supaya ia keluar ke negeri. anak orangkaya Kapitan Hitu. pergi berjalan ke hutan ia duduk kepada suatu bukit. maka semuanya diceriterakan oleh syaudaranya itu. Maka . bawahkah atau tinggalkah?’ Maka kata syaudaranya: ‘Kedudukannya baik juga kita bawah. maka ia datang ke sana bersama-sama orangkaya Daga dan kiyaicili. maka ia menanti.sekali. ia keluar berjalan menapi pantai. serta Ulu Ahutan membawah sebuah perau cari kepadanya. Sehingga datang ke negeri Seit dan Hahutuna.

Segala hal-ahwalnya itu semuanya diceriterakan kepada biduwandi* itu. Hatta datang pagi hari orang itu pun datang serta senjata. esok hari kami bawah makanan ke mari.’ Lalu memohon kepada orangkaya gimelaha dan kipati. zill al-nabi fi dar al-mu’min. maka bertemu kepada karaen Rajipan. Maka ia belayar ke laut tiga hari datang ke tanah Bone. maka ia pun tiada mau turun ke darat. sultan al-islam. demikian katanya: ‘Marilah turun beli makanan itu. lalu keluar belayar. . Ia basembuni dalam hutan. Maka karaen Rajipan menyuruh sebuah perau bawa kepada dia dahulu ke negeri dan karaen Rajipan lagi duduk di Buton.’ Lalu syahbandar memberi tempat kedudukannya. ia senang dirinya. sehingga karan-karan serta daun meninjau selamanya pergi itu. Maka datang titah kepada bonto* dan biduwandi*: ‘Tanya olemu kepada orang itu endah ke mana perginya dan apa kehendaknya datang ini?’ Maka menyahut Sifarijali. Maka menyahut Sifarijali: ‘Ada pun titah kepada dagang piatu itu. Maka Sifarijali ia masuk mengadap serta menyampaikan hal-ahwalnya ke bawah dulli seri sultan. itu. lalu masuk mengadap kepada raja..didengar oleh Sifarijali itu. lalu pulang ke peraunya. Telah demikian itu ia memohon. Hatta datang ke tanah Buton. lalu menyuruh memberi bakalnya. maka ia beli. tiada seperti sabda nabi kepada kita ummatnya: “Wa-'l muslimin ikhwan”. tetapi kami kurang air dan bakal. Maka [kata] orang semuanya: ‘Apatah daya kehenda Allah ta`ala? Baik membuang diri kita tanah lain. maka menyuruh entah berapa orang.’ ‘Endah ke mana?’ ‘Kami endah ke Mangkasar. belum lagi sampai pada . maka datang orang Bone tanya kepadanya: ‘Orang mana?’ Maka menyahut: ‘Kami orang Ambon. maka ia menyampaikan ke bawah dulli yang kerajaan. Pada dewasa itu seri sultan paduka Dipatingalowan* ia memerintahkan tanah Mangkasar dan demikian serri sultan Muhammad Sya`id akan kerajaan.. maka dagang piatu pun terima serta junjung kepada kehenda titah itu. Jikalau ada makanan.’ Maka ia pulang menyampaikan ke bawah dulli. Maka titah paduka Dipatingalowan*: ‘Lamun jika tida kuterima kepada halmu ini. Maka tiada lagi bakal orang itu. supaya kita jangan melihat dan menengar tanah kita lagi. ia keluar memanggil kepada orang dalam perau itu. Hatta datang esok harinya datang pengalas serta antun-antun membawah titah menunjukkan kampung serta rumah. Tatkala itu raja La Mibilu* akan kerajaan tanah Buton.’ Maka kata orang itu: ‘Nantilah di sini. Itulah daripada belum dengan kehendak Allah ta`ala.’ Karena ia takut tiada mau naik ke perau.’ Maka Sifarijali pun menanti. bawahlah kemari kami beli. tetapi minta ampun kepada piatu yang hina karan. Maka diberinya makanan serta kain bajunya. makin bertambah kedukaannya.

Itulah kesudahan hikayat ini. menyeberang laut.Daripada itulah meninggal negeri mencari sennang daripada ia takut akan Wolanda itu. Maka ia masuk hutan. Tamat sah ya sah. terbit padang. Itulah halnya orang mendapat kediaman dirinya. . menapi tasik. Wa-'s-salam bikhair amin. sehingga datang ke tanah Mangkasar.

haraka: harkat (mulai bergerak) Dutch: gaas: kain muslin .) Pulau Burung alias Nusa Manuk Portuguese: chapeu: capiau Portuguese: charamela: seruling Mak. dipersyuhadakan dipeluk (Estevão) Teieira (de Macedo) Dom Duarte de Meneses Erang Portuguese: espingarda: istinggar (Jan) Pieterszoon Coen Portuguese: fragata. hamam: tempat mandi Gunung Setan Ar. = fregat Portuguese: feitor: kepala perwakilan kompeni perdagangan Ar. alias Mihirjiguna Artus (Gijsels) Portuguese: espingarda: istinggar Herman van Speult Banda nyai Bawang alias Ratu Kali Nyamat biduanda Boano Butonese: orangkaya Portuguese: antena bote: andang_andang layar Pieter Both Adriaan Block (Martensz. memawahkan: membagi hasil di antara pengusaha dengan pemilik dipersyahadatkan. firaq: pisah Prins (Maurits van Oranje) André Furtado (de Mendonça) (Jan Willemszoon) Gomale Ternate: kimalaha: kepala soa. Dutch: fregat. kepala negeri Gorom Dutch: graaf: bupati Ar.Catatan aji alferes andak Angsari Antoni apalah Arinjiguna Artus asfanggarnya Aspel Bandan Bawang Biduwandi Boanoh bonto bot Bot Bulok Burung Capeu caramela daeng dan ? dauman Daurdia Demer Diman Dipatingalowan dipawahkan dipersyahdakan dipuluh Disera Duarde Eran esfangar Eskun fergat fetor firaklah Frings Furtado Gemala gimelaha Goron graf hamam Hantu harkat has Javanese: sang aji [raja]. daeng: gelaran dalam di Oma Dom Duarte (de Meneses) (Gerrit) Demmer (Antonio) van Diemen Pattingalloang Mal. Ternate: sangaji: kepala wilaya Portuguese: alferes: letnan muda indah Angasari Anthonio (van den Heuvel) apabila ? Arinjiguna.

Krakatau (Vincent Gijsbert van) Moerlag Mabilu Nossa Senhora do Monte Maurits alias Mauritius Portuguese: Maria. cili: pangeran Dutch: Compagnie: Kompeni luka (Nicolaes) Colff Konimere.arab: Maryam: meriam Negapatnam Nasidik Hehuat Nusatelo (Maurits) van Oranje Pulikat . karaeng: raja Ar. alias Kanyimedu Cornelis (Jansz. Schouten) Lesidi Leitimor Waran-ela alias Hoamoal zill Wai Lee Philip Lucasz. Rumakai Bisei Lumu Lopu(lalan) Wai Loi makhudum Persia:.) Hoen Huniase Usen (ibn Jumat) Frederik de Houtman Iha Ialuli Jakatra Jipang Kasingu Portuguese: capitaõ: kapten Portuguese: capitaõ-mor (do mar): laksamana Mak. qaranful: cengkeh Kelang Ternate: kaicili.hasiat Hehatomi Hisab hoja Holanda hukum Hun Huniyasi Husen Hutman Iwa Iyaluli Jawahkatra Jipan Kakasingku kapitan kapitan-mor karaen karanful Kelan kiyaicili Kompenyi kuka kuluf Kunmuri Kurnilis Lasidi Leitimol Lesiela lil Liyi Lukas Lumakai Lumu ? Lupa Luyi mahudum mardan marinero Masilpatani Matelif melalawat Melo Mengadapat Merkata Merlaka Mibilu Mundi Murucisa muruyumunya Nagahpatan Naseddiki Natahuat Nusatelu Nyuranye Prins Palikat arab: khassiya: khasiat Hehatomu hijab hujaj Portuguese: Holanda [Holland] Ternate: hukum: hakim Simon (Jansz. mard(an): yang mulia Portuguese: marinheiro: pelaut Masulipatam (Cornelis) Matelieff (de Jonge) melawat Gaspar de Melo menghadap Pulau Rakata.

rasama: mendaftarkan Gerard Reynst Laurens Reael Rosengain sahut Ternate: sadaha: wakil sultan Sagalua sahajanya sehinggalah São Sancho (de Vasconcelos) Sp. shalat seribu seperti Butonese: sapati: mangkubumi Sitania Sial (Wouter) Seroyen Suangi Ternate: suisa: tambur (Abu Abd Allah Muhammad al-)Sanusi Sabadin (ibn Jumali) Portuguese: tranquiera. santiago: berbaris Portuguese: sargento: sersan Portuguese: sargento: sersan Ar. terangkera: kubu Portuguese: tambor: tambur Sekatikam Tirumala(rájan)patnam Tirumulavásal Portuguese: trombeta: terompet Tuhaha Javanese: tumenggung: hulubalang Thomé Baharullah Ulilima Ureng Steven van der Haghen Jan Outgersz. alias) Vogel Pondicherry Gerard Reynst Ar. alias Jonge Jan atau Nyong Yan Jasper Jansz. Dutch: pinas: penes Prins (van Oranje) Pondicherry (Marten Jansz. Mal. . Visscher.pandang Paringsi Pasiruwan Patacoh perastawa pesir Pilakan Pinau pinsu Prings Pudiceri Pugel Pujiciri Rangsi rasamu Rengsi Riyal Rosengaing Saat sadaha Sagaluwa Sahanya sahingilah San Sanco santiagu sarento sarinto Sellat seribus serta sipati Sitaniya Siyal Soroi Suanggi suisa Sunusi Syabidin talangkeranya tamburunya Teyaka Tirubambu Tirumulawasir torompetanya Tuhahan tumengung Tumi ul Ulima Urin Warhaga Yan Yangsi padang Prins (van Oranje) Pasuruan Portuguese: patacho: sampan peristiwa pesiar Pelekolan Binau Portuguese: pinacas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful