P. 1
Hikayat_Tanah_Hitu

Hikayat_Tanah_Hitu

|Views: 1,175|Likes:
Published by alpachri

More info:

Published by: alpachri on Dec 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2014

pdf

text

original

Sifar Ar-Rijal (Imam Rijali) Sumber source: www.anu.edu.

au

Sejarah adalah perkembangan penentuan ide diri, perjalanan perkembangan diri dalam roh. karena roh hakekatnya bebas,maka sejarah adalah perjalanan kebebasan.(Hegel)

(potongan seperti dari sumber)Empunya tanah, karena ia dari mulanya

datang. Itulah kesudahan bangsya Ambon. Alkissah peri mengatakan bangsya Jawa. Maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera tatkala raja Tuban dinaikan kerajaan, maka tiada ia bersettia dan muafakat dengan kaum kulawarganya. Maka suatu kaum dua bersyaudara, seorang kiyai Tuli namanya dan seorang kiyai Dau namanya, dan seorang syaudaranya perempuan, nyai Mas namanya, ia naik serta kelengkapannya membawah dirinya mencari tempat kedudukannya. Hatta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Hitu. Ia masuk dalam labuan Husekaak namanya. Maka tiada melihat negeri dan tiada manusyia, lalu turun daripada kelengkapannya, naik ke darat membuat negeri akan kedudukannya.Hatta demikian itu keluar seekor anjing, maka orang itu dikatakan: ‘Ada anjing, adalah lagi manusyia; jikalau ada manusyia, ada juga negeri.’ Lalu ditangkap anjing itu, digantungkan suatu bungkusan di atas leher anjing itu. Ada pun dalam bungkusan itu serba sedikit daripada alamat negerinya. Lalu dilepaskan anjing itu pulang ke negeri kepada tuannya. Maka apalah* dilihat tuannya bungkusan itu, maka ia melihat alamat serba sedikit itu. Maka ia berkata kepada orang sekalian: ‘Ada juga manusyia di pantai itu.’ Maka ia mengambil buah-buahan akan tanda alamat negerinya, lalu digantung kepada leher anjing itu, dilepaskan pulang keluar ke pantai. Maka dilihat oleh orang itu, maka kata orang itu: ‘Marilah kita pergi periksyai kepada negeri itu’, lalu ia berjalan. Hatta ia datang ke tengah jalan, maka bertemu seorang, lalu dipangil serta dengan dia berjalan menuju kepada negeri dan orang dalam negeri itu pun keluar semuanya berjalan ke pantai. Maka ia bertemu dengan penguluh kelengkapan itu, maka kedua pihak berhadapan bertanyatanyakan kehendaknya datang itu. Maka menyahut penguluh kelengkapan itu, segala hal-ahwal semuanya diceriterakan kepada orang itu. Lalu ia bertanya pula kepada orang negeri itu, maka menyahut orang itu. Segala hal-ahwal mulanya datang itu diceriterakan kepada penguluh kelengkapan itu. Tellah demikian itu, maka kedua pihak bennarnya jual-beli, tukar-menukar beramai-ramaian. Hatta datang malam orang itu pun pulang ke negerinya. Apabila datang esok harinya, ia turun juga jual-beli, tukar-menukar sebagailah. Maka suatupun tiada dalamnya melainkan melakukan kesukaannya. Itulah kesudahan bangsya Jawa. Alkissah peri mengatakan bangsya Jailolo dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera, demikian riwayatnya. Ada pun dalam negeri Jailolo itu dua bangsya, seorang bangsya Jailolo dan seorang bangsya Jawa, yakni anak raja keduanya. Maka dalam

kiyai pati namanya atau Ulima* Sitaniya*. Maka di belakangnya itu dinaikan bangsya Jailolo akan kerajaan. lalu bertanya-tanyakan: ‘Darimana engkau datang dan di mana engkau duduk?’ Maka ia menyahut: ‘Di darat sungai ini kami duduk. Tellah demikian itu. maka ia naik ke darat mengambil tempat akan negerinya.keduanya itu. maka ia tiada mau pulang lagi. Alkissah peri mengatakan bangsya Goron* dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera demikian riwayatnya. Ia dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Ambon. digelar Sellat* namanya. Maka ia berangkat sehingga datang ke tanjung Siyal*. Tellah demikian itu maka sebuah perau daripada pihak bangsya Jailolo ia keluar mengambil ikan. diam dirinya dalam utang. ada datang ke tanah Seran. Tellah sudah paduka syaudara enda dinaikan kerajaan dan negeri yang dipetuhan pun sudah rusak. maka ia pergi sendirinya kepada orang itu.’ Tellah didengar warta demikian itu. Seorang pula kaum gulawarganya duduk menjadi penghuluh kepada negeri Waiputih. maka cerai-berai kelengkapannya itu. lalu bertanya padanya: ‘Darimana datang dan apa kehendakmu datang ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang dari . Itulah kesudahan riwayat bangsya Jailolo. Maka suatupun tiada hijab pada mereka itu melakukan kehendaknya. Lalu menyeberang ke tanah Hitu. Hatta berapa lamanya di tengah jalan serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi datang ribut dan angin. pattik minta maaf ke bawah dulli yang dipetuhan. Ada datang ke tanah Buru. ia duduk di tepi sungai itu menengok pada orang mengambil ikan itu dan orang mengambil ikan itu pun pandang kepadanya. maka jadi fitna dalam negeri endak berkelai. setengah mengatakan bangsya Jailolo akan kerajaan dan setengah mengatakan pula bangsya Jawa akan kerajaan.’ Lalu perau mengambil ikan itu kembali menyampaikan khabar kepada perdana Jamilu.[Sekali] perastawa* dengan kehendak Allah ta`ala ia datang kepada suatu tanjung Nukuhali. masing-masing membawah aluannya. Lalu ia pulang sehingga seorang juga. Entah apa-apa kehendaknya gennap puluh dan tanjung sehingga datang ke benua Bacang. demikian katanya: ‘Hai tuhanku. lalu masuk ke dalam sungai. Daripada ketika itu sebuah perau daripada orang yang datang itu keluar memukat. lalu ia berangkat mencari tempat akan kedudukannya. Maka syaudaranya dan setengah raiyat turun duduk menjadi penghulu kepada negeri Lisabata. hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala keluar bangsya Jawa serta dengan kelengkapannya. masuk dalam labuan. Sama berhadapan. Maka disampaikan khabar itu kepada syaudaranya. seorangpun tiada mengetahui dia. lalu ia menyuruh rusak negeri syaudaranya.

dari dunia datang ke akhirat akan syaudaraku dan ada pun yang di bawah memagang penyapu itu. Itulah nyata orang berbahagia dalam dunia. Jika benar yang di bawah itu. Maka perintah dengan baik patut pakaian yang baik kepada hambanya. dan pakaian yang jahat kepada anaknya. Tellah demikian itu. tuhan perhamba akan kami. demikian katanya: ‘Apabila bennar anaknya yang di atas itu. maka ia mengambil tempat akan kedudukannya.’ Maka menyahut: ‘Kujungjung ke bawah kadim yang memeliharakan dan mengasih dagang piyatuh. maka menyuruh orang membawah kepadanya. Lalu dicampakan serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahasuci lettalah kepada yang di bawah itu.benua Goron* dan kehendak kami mencari tempat kedudukan kami. Ada pun yang di atas itu. ia duduk di atas di hadap orang banyak. Itulah sebabnya baik kita periksai dahulu.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya lagi. Maka kata perdana Jamilu: ‘Bennarlah anaku.’ Maka kata Jamilu: ‘Betapa kata demikian? Karena ia hamba mengapa maka kau ambil kepadanya? Didengar orang seolah-olah dicellai kepada kita. jikalau dengan faedahnya yang baik?’ Maka pula perdana Jamilu: ‘Mengapa maka tiada dengan faedahnya yang baik? Jika duduk serta kami kupersuamikan anakku akan isterimu supaya jangan was-was hatimu kepada kami. ia duduk di bawah serta memegang penyapu.’ Lalu keduanya pergi masuk dalam negeri kepada rumah perdana Jamilu. lettalah kepadanya. Itulah negeri bangsya Goron*.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Maukah duduk serta kami?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau. karena ia anak yang empunya negeri. Tellah kesudahan anak cucu Goron* linang. Maka ia tersunyum serta barpantung: ‘Harap-harap janji tuhan mengasih dagang piyatu. karena tiada patut hamba dan orang baik.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya? Untung kita serta kehendak Allah ta`ala. lalu masuk serta orang banyak dan permullianya dengan adat sehinggasana. Daripada itulah kurelahkan anaku akan isterimu. Maka . jika bagai kata demikian itu? Tetapi baik kita periksyai dahulu atau ia maukah atau tiada mau kepada kami. perdana kipati namanya.’ Lalu ia menyaksyikan sepahnya. Tellah demikian itu.’ Lalu dipersuamikan anaknya serta makan minum bersuka-sukaan dalamnya. ada pun kami ini anak dagang. orang besar daripada Goron*. tetapi tiada mengapa. Kepada anaku juga yang menyasal. lettalah kepadanya.’ Lalu diam dirinya. maka kata Jamilu: ‘Pada hari ini dan ketika ini kita sempurnakan janjian itu. Ia berhadapan dengan perdana Jamilu bijaksana. Maka jadi empat negeri pada tatkala itu. Tellah kesudahan kataku termasyhur didengar oleh orang sekalian. Siapa mengetahui tipu dayah tuhan?’ Lalu menyahut demikian katanya: ‘Dagang piyatu minta maaf.

dengan kehendak Allah ta`ala muafakat keempat perdana itu menjadi suatu negeri dan empat negeri itu dijadikan empat kampung dan empat nama. Tellah sudah muafakat. jikalau dinamai bendahara pun benar juga. Itulah dimasyhurkan nama keempat itu dalam tanah Hitu. sehingga takluk namanya. Hatta berapa lamanya seorangpun tiada manang kepada seorang dan seorangpun tiada allah kepada seorang. Apabila kepada suatu pekerjaan. Itulah kesudahan kaum daripada pihak empat perdana. lalu dikerjakan dan tiada lain lagi daripada keempat perdana itu. Ada pun keempat perdana itu. Lalu Zamanjadi menyuruh mengambil angkatan dari negeri Selan Binaur datang endak menyarang kepada negeri perdana Mulai. Kemudian daripada tiga itu. lalu turun menyarang . Maka dimasukkan tiga kaum itu tiga kampung. Zamanjadi endak akan kerajaan dan perdana Mulai pun ia akan kerajaan. Alkissah peri mengatakan daripada pihak rayatnya tiga puluh gelaran dan daripada tiga puluh gelaran itu tujuh pengawanya yang besar. Ialah mengerjakan sesuatu pekerjaan daripada keempat perdana. makan minum sehingga menanti kepada angkatan itu. Itulah diadatkan zaman datang kepada zaman turun-menurun. maka keempat perdana muafakat dahuluh. Itulah kesudahannya. Alkissah peri mengatakan tatkala keempat perdana muafakat itu menjadi suatu negeri dan keempat kampung. jumlahnya tujuh kampung dalam negeri Hitu. lalu berkellai. Dan perdana Mulai pun menghimpunkan segala hulubalangnya. Dan berjanji-janjian serta berputusan barang sesuatu pekerjaan dalam tanah Hitu. tiada berubah lagi. Zamanjadi dan perdana Mulai. maka fitna kedua kaum itu. Itulah seperti emas. Ada pun Zamanjadi dipindakan Totohatu namanya dan perdana Mulai Mulai dipindakan Tanihitumesen namanya dan perdana Jamilu dipindakan Nusatapi namanya dan perdana kiyai pati dipindakan Pati Tuban namanya. melainkan melakukan kehendaknya. Berapa lamanya maka datanglah angkatan itu. maka dimasukkan tujuh pengawanya serta tiga puluh gelarannya. Kemudian daripada itu datang suatu bangsya tiga kaum yang ia datang dari negerinya. tiada dengan supuhnya lagi. maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dan tiada dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan. maka muafakatlah keempatnya. serta dipindakan nama keempat itu. sekali perastawa dengan kehendak Allah ta`ala dua kaum. keduanya melakukan kehendaknya. Itulah kenyataan empat bangsya itu. Alkissah peri mengatakan bangsya Ambon dan peri mengatakan bangsya Jawa. maka dimasukkan tiga kaum dahuluh. dan dinaikan kerajaan pun patut juga daripada bangsyanya datang itu. Lain daripada itu tiada dimasukkan.

ikutlah perintaku.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika bagai kata demikian itu. maka menyahut perdana Jamilu pun demikian itu juga. Daripada itulah pantai Hitu dinamai Liasela* namanya.’ Maka kata perdana Mulai kepada perdana Jamilu: ‘Maukah tolong kepadaku?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau? Tetapi jika ada faedahnya. Maka kedua kaum diiakan kata perdana Jamilu itu. Aku pun demikian lagi.’ Tellah berjanji demikian lalu ia pulang. Itulah kita perjanjikan. maka kata Zamanjadi kepada perdana Jamilu bagai kata perdana Mulai itu juga.’ Maka kata pula perdana Mulai: ‘Apabila engkau tolong kepadaku. Apabila sudah lupa kepada harkatnya itu. Maka angkatan itu pulang dengan dukkacittanya dan empunya negeri pun makan minum bersuka-sukaan dan beramai-ramaian dalam negeri. Demikian perinta perdana Jamilu: ‘Apabila datang kepada hari anu. kemudian berbuat kehendak kita itu. Maka kembali angkatan itu tiada boleh allah kepada negeri. lalu keluar. Hatta berapa lamanya maka perdana Jamilu bijaksana ia pergi kepada perdana Mulai. Maka datang suruan perdana Jamilu kepada perdana Mulai. karena engkau memulai negeri ini.’ Maka diiakan oleh perdana Mulai. lalu undur daripada karas parang rakyat perdana Mulai. Hatta datang kepada esok harinya pergi pula kepada Zamanjadi. Lalu ia pulang masing2 membilang hari yang diperjanjikan itu. demikian katanya: ‘Betapa kehendakmu kepada orang itu?’ Maka menyahut Zamanjadi serta bertanya kepada perdana Jamilu: ‘Ada pun kami kedua ini kepada bennarnya siapa patut akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika kepada bennarnya Zamanjadi akan kerajaan. Maka ia berkata: ‘Apa tipu kita kepada dua kaum ini? . himpunlah orang serta senjata. serta berjanjian hari dan ketika itu. karena ia sudah tahu perbuatan kita. lalu ia keluar berhadapan dengan orang sekalian. demikian katanya: ‘Apa tipu kita. Barparanglah kedua pihak itu. Hatta seketika juga patah angkatan itu.’ Itulah sebabnya. maka kedua kaum itu harkat* serta senjata. Sebennar ia datang dahulu. Apabila ia keluar mencari kehendaknya. apa barang kehendakmu itu dan apa katamu itu tiada kulalui. Bennar katanya ia memulai negeri. Hatta datanglah kepada hari yang diperjanjikan itu. tetapi ia duduk dalam hutan. Maka ia berkata: ‘Betapa kehendakmu kepada Zamanjadi itu?’ Maka menyahut perdana Mulai: ‘Ada pun kami kedua kaum ini kepada bennarnya siapa akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu bijaksana: ‘Jika kepada bennarnya engkau juga. Maka kita pun masuklah kepadanya melakukan kehendak kita itu. sunyilah negeri. Sabar dahulu serta baik-baikan dengan dia. ia kemudian. tetapi Zamanjadi dahulu datang.kepada negeri dan empunya negeri pun keluar.’ Maka menyuruh pula kepada Zamanjadi pun demikian juga.

supaya kita menanti karunia Allah ta`ala. Melainkan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala serta orang muafakat. yang mengikut itu kaum kita sekalian ini. Lalu bersettia dan muafakat serta perjanjijanjian dan bersumpah-sumpahan sehingga datang kepada hari kiamat seperti firman Allah: ‘Inna 'llaha la yukhlifu 'l-mi`ada. sekali perastawa keempat perdana berhadapan muafakat. itulah sempurna kerajaan.Apabila Zamanjadi akan kerajaan. yang tiada mengikut itu bukanlah kaum kita sekalian. Maka suatupun tiada ellat lagi dalamnya. maka dikerjakan. apatah daya sudahlah. Baik juga kita kata demikian kepadanya. yakni antun-antun. Alkissah dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera. karena empat perdana itu seseorang tiada tinggi kepada seseorang dan seseorang tiada randah kepada seseorang. Sehingga datang ke tanah Bima ada suatu fitnah dengan raja Bima. mengiring kepada serri . perdana Mulai tiada mau sembah. lalu barparang pada ketika itu. maka bertemu kepadanya. Kemudian daripada itu jika seorang tiada atau dua orang atau tiga orang sehingga seorang jugapun nama keempat juga. Itulah yang bersatuan nama keempat itu selamah-selamahnya zaman datang kepada zaman. Apabila tiada mengikut. maka bersettia muafakat dan bersuka-sukaan kembalilah kepada adatnya. maka jadi akan kerajaan. Tatkala itu seri sultan Maluku paduka Zainul Abidin khallada 'llahu mulkahu wa-saltatahu ia datang ke benua Jawa. Ada pun pada ketika ini kita buat demikian pada keduanya: jika ikut kata orang sekalian. Apabila keduanya akan kerajaan. Lalu keluar kepada orang sekalian. Atau salah suatu mengikut kata ini. Apabila barang suatu pekerjaan melainkan keempatnya berhadapan. Empat puluh orang pendagar. Zamanjadi pun demikian juga tiada mau sembah. maka demikian keduanya. Hatta datang musim sultan pun pulang. yakni keempatnya bersamakan. ’Tellah demikian itu maka menyuruh kepada dua kaum itu segala perastawa perinta kata itu semuanya dikatakannya. Itulah adat keempat perdana dalam tanah Hitu. Maka perdana Pati Tuban ia belayar ke benua Jawa tuntuti agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.’ Itulah pertama yang memulai perjanjian. supaya menanti kehendak Tuhan Yang Mahamurah berbahagia kepada seseorang akan yang dipetuhan. Apabila ia keduanya akan kerajaan. maka diiakan oleh dua pihak itu. dan jika perdana Mulai akan kerajaan. al-hamdu li-'llah. Lalu bertanya kepada perdana Pati Tuban Maka segala hal-akhwalnya semuanya diceriterakan kepada serri sultan. belum lagi kedangaran dalam dunia suatu negeri dua kerajaan. Maka keempat perdana itu seorang tiada tinggi kepada seorang dan seorang tiada randah kepada seorang. jadilah empat kerajaan dalam negeri.

akan kadi di negeri Ternate.’ Hatta datang . maka ia bertanya bangsya perdana Jamilu. Maka masyhurkan demikianlah riwayatnya: ada pun tatkala serri sultan Khair Jamil akan kerajaan itu. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji´un. Maka diceriterakan oleh [yang empunya ceritera] perdana Pati Tuban ia pulang ke tanah Hitu. dan serri sultan pun serta menettah hulubalang itu. lalu menikam dengan lembingnya kennah kepada sultan Maluku. Ia masuk ke pantai Waibuti.sulthan Zainul Abidin. Itulah sebabnya dan seperkara lagi nama syaudaraku itu kuberikan kepadanya. Tatkala perdana Pati Tuban ia datang dari tanah Jawa itu. lalu belayar. Lalu mati hulubalang itu dan raja pun luka. Hatta berapa lamanya di tengngah jalan maka serri sultan Zainul Abidin pun wafatlah. lalu menyeberang ke tanah Hitu. Tellah demikian itu kuceriterakan yang empunya ceritera. sehingga datang kepada sultan Khairun Jamil akan kerajaan zill Allah fi 'l-alamin. maka semuanya diceriterakan kepadanya. Tatkala itu nyai Bawang* akan kerajaan. maka lalu ke pantai Eran* dan dari pantai Eran* itu lalu ke tanjung Siyal.’ Lalu menyuruh kiaicili* Darwis akan utusan ke tanah Ambon meneguhkan pula perjanjian itu. sehinggalah termasyhur Ternate dengan Hitu. Tatkala perdana Jamilu menyuruh utusan ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. sepuluh dengan negeri Hitu. tuhan Bahrul* namanya. Alkissah peri mengatakan perdana Jamilu dan peri mengatakan panngeran Japara. Pada ketika itulah bawah kepada pendita yang alim. Hatta dengan ajal Allah maka datang seorang hulubalang raja Bima. Ia datang menuju serri sultan. lalu negeri Hitu pun masuk iman kepada Allah dan nabbi Muhammad serta agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka keempat puluh pendagar itu dinaikan kepada raja di atas kelengkapan. maka mengatakan peri hal-akhwal perjanjian dengan raja Maluku itu. Pada ketika itulah negeri Hitu dan negeri Waiputih serta negeri Eran* ketiganya muafakat bersama-sama. Ada pun tatkala utusan datang ke Ambon itu singga di tanah Boanoh*. lalu ia bertanya kepada perdana yang besar dalam negeri demikian titah: ‘Hai segala perdana dan parwara sekalian. Lalu ia memberi nama Patinggi: ‘Karena nama Jamilu itu artinya kepada bahasa Jawa “jangan mengikut”. berapa kampung dalam negeri kita ini?’ Maka menyahut mankubumi: ‘Ada pun dalam negeri yang dipetuhan sembilan kampung jumlahnya. Maka suatupun tiada hisab* melainkan memerintahkan tanahnya serta agama Allah dan agama nabbi Muhammad salla 'llahu alaihi wa-sallama amin ya Rabb al-`alamin. Maka kuceriterakan yang empunya ceritera demikian riwayatnya. maka ia bersettia dan muafakat dengan pangeran. Semuanya dikatakannya kepada orang sekalian serta dijungjung titah itu.

Maka digelarnya Latu Sitania namanya. maka kuceriterakan yang empunya ceritera. Maka suatupun tiada ellat dalam tanah Hitu. Ada pun amar dan nahi serta adat semuanya itu melainkan keempat perdana juga. lalu membuat suatu mesjid tujuh pangkat. baik beraja. Daripada itulah maka dikatakan firak. Daripada ialah termasyhur agama Allah dan agama nabi Muhammad rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Dan negeri Hitu pun firaklah* dengan negeri Japara daripada raja yang kemudian itu kuranlah adilnya seperti raja yang dahulu. Tellah itu maka dinaikan Maulana ibn Ibrahim akan kadi daripada ia mutakalim daripada alim mahudum* guru sekalian tanah Ambon. sehingga tiada sampai ini juga.musim utusan itu pun pulang dan orang Japara pun gennap musim tiada berputusan bedagang ke tanah Hitu dan tanah Ambon sekalian sebagailah. Hatta berapa lamanya keempat perdana berhadapan serta orang banyak.’ Lalu dinaikan kaum gulawarganya seorang akan kerajaan.’ Apa yang kehendaknya itulah diadatkan daripada zaman datang kepada zaman turun-menurun. Ada pun tatkala masuk iman serta mengesakan Allah subhanahu wa-ta`ala dan termasyhurlah agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. yakni artinya ‘raja tanya’.’ Maka seorang pula berkata: ‘Mana faedah yang baik beraja itu dan mana faedah yang baik daripada tiada beraja itu?’ Lalu berkata keduanya: ‘Demikian faedah yang baik beraja. Itulah kesudahannya negeri Hitu dan negeri Japara. Ia duduk bejuntai-juntai.’ Dan seorang berkata pula: ‘Daripada beraja baik tiada beraja. kepada suatu hari keempat perdana berhadapan kepada suatu tempat. yakni dipawahkan*. maka keempatnya muafakat mengira-mengirakan negerinya. maka kata orang sekalian: ‘Nyatahlah faedah yang baik beraja dan faedah yang baik tiada beraja.’ Maka kata pula: ‘Bennar juga kata keduanya itu tiada salah. Dan dinaikan hukum* AbubakarNaseddiki* namanya.’ Maka kata keempat perdana: ‘Apa salahnya karena ia kerajaan? Tetapi sehinggalah kerajaan. tetapi kita naikan dahulu seorang akan kerajaan. Apabila raja itu tiada dengan adilnya diupamakan matahari tiada dengan bercahayanya.’ Maka kata seorang pula: ‘Demikian faedah yang baik daripada yang tiada beraja. Kemudian daripada itu. Maka seorang berkata: ‘Mana baik beraja daripada yang tiada beraja?’ Maka kata seorang: ‘Daripada yang tiada beraja. sehingga Nyai Bawang* pulang ke rahmat Allah. Alkissah peri mengatakan syariat nabbi akhir zaman. supaya kita periksai kepada faedahnya yang baik beraja atau faedah yang baik tiada beraja itu. pergi datang berulang2 tiada berputusan. maka raja naik ke atas balai. Tiada lain daripada keempat . tetapi bukan firak. nama yang dijungjung.

lalu sekali-kali di aluan kelengkapan itu. Itu pun tiada dikatakan kepada empat perdana itu. Maka kata keempat perdana: ‘Mengapa maka kembali angkatan ini?’ Maka sahut orang itu: ‘Tiada boleh alah kepadanya. Tiada boleh alah. tiada seupamanya lagi dalam tanah Hitu. jangan alah naik ke darat pun tiada boleh. Sebab itulah maka tiada dapat turun. Alkissah .’ Lalu disalin dan dimuliah kepadanya. Maka panglima negeri itu keluar. lalu ia becakap di hadapan orang sekalian.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Betapa perintah parangnya itu?’ Maka menyahut orang itu: ‘Ada pun panglimanya itu terlalu sangat gagahnya. jika beta tiada dapat alah kepada negeri itu. beta pun tiada kembali. Ia keluar bersuka-sukaan sehingga datang kepada suatu pantai. berbahagia seseorang-orang dalam dunia. Demikianlah halnya orang itu. Maka dilepas kepada maslahat itu serta dengan kehendak Allah ta`ala kennah panglimanya itu mati dan orang banyak itu pun undur serta lari. Hatta ia datang. serta menyingsing tangan bajunya. melainkan kehendak Allah ta`ala juga tiada dapat dikatakan. demikian juga kemudian daripada itu. Maka negeri itu keluar dengan angkatan pergi menyerang kepada negeri itu.’ Tellah didengar kata orang demikian itu.bangsya itu. lalu kembali angkatan itu. Ia minta tolong kepadanya. Maka kata orang sekalian: ‘Bennarlah perdana Jamilu pahlawan dan bijaksana dalam tanah Hitu. lalu sekali-kali di aluan angkatan itu serta menetta. Demikian juga keempatnya seorang pengawa empat gelaran turun-menurun. Maka tiada berupama kepada yang empunya negeri serta melakukan kehendaknya dan negeri itu pun tiada diketahui kepadanya. Seorang pengawa empat gelaran kepada seorang perdana. Apa2 kehendaknya tiada ia muafakat dengan keempat perdana. lalu alah kepada negerinya. lalu ia pulang diam dirinya kepada halnya.’ ‘Mengapa maka tiada boleh alah kepadanya?’ Maka kata angkatan itu: ‘Jangan alah. demikian katanya: ‘Insya Allah ta`ala berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Dan kuceriterakan sekali perastawa raja naik kepada sebuah perau. Maka diikut belakangnya orang itu. Hatta lama datang kepada lamanya. Alkissah dan kuceriterakan tatkala itu perastawa keempat perdana membahagi rakyat. Tellah demikian itu. Apabila kita langgar ke darat. turun ke pantainya pun tiada dapat. maka ia kembali dengan kemenangngannya makan minum bersukasukaan. makin bertambah kebajikan dan kepujian. Maka dikata dengan kata yang aib. Hunimoa namanya pantai itu. Lalu ia menyuruh kepada negeri yang bukan takluknya.’ Tellah demikian itu maka ia membuat suatu maslahat serta dengan panah di aluan kelengkapannya itu. maka ia keluar. lalu langgar ke darat. Itulah kehendak Tuhan Yang Mahamurah kepada makhluknya.

Lalu ditanya kepadanya: ‘Darimana datang dan apa nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang di sini kami sessat tiada tahu jalan. maka kami datang ke mari. Selamanya umur kami hidup dalam dunia. maka diberinya masara persalin kepada Kapitan Hitu. maka kata penghuluh agama: ‘Salah orang itu melainkan sampai nyawanya. Sekali perastawa ia minum mabuk. Lalu kami tanya kepadanya. bulum lagi melihat rupa manusyia bagai rupa orang itu. Seperkara lagi sama makanannya dan minumannya. karena sudah termasyhur kita membuat baik kepadanya. Pada . Tetapi malim tiada tahu. lalu berampas-rampasan serta haru-biru dalam pasar. Maka raja Portugal digelarnya dua nama. demikian katanya: ‘Ada kami bertemu sebua perau di laut Puluh Tiga. apa hal nama kita didengngar oleh orang? Baik kita pindahkan dia kepada tempat yang lain. Hatta berapa lamanya maka ia memohon setengah duduk menungguh rumahnya dan setengah membawah khabar kepada orang besarnya. maka suatupun tiada hujat dalamnya pada ketika itu dan termasyhur nama Kapitan Hitu dari negeri Ambon sampai negeri Portugal. maka menyuruh kapalnya datang gennap tahun tiada berputusan lagi. daripada negeri itu tiada beragama dan lagi banyak minuman anggur. Kemudian kita membuat jahat pula.dan kuceriterakan yang empunya ceritera: sekali perastawa sebua perau Saki Besi Nusatelu* ke laut Puluh Tiga mengambil ikan. ia tiada tahu bahasa kami dan kami pun tiada tahu bangsyanya. Maka tinggal kapal kami. Apatah daya.’ Maka dipindahkan dia ke tanah sebelah kepada tempat yang baik ia duduk. suatu Kapitan Hitu. naik kepada sampang endak pulang ke negeri Portugal. Itulah hal keempat perdana. Gennap tahun diadatkan selamanya. Tubuhnya putih dan matanya seperti mata kucing.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Pergilah engkau bawah ia ke mari. Maka ia datang membawah khabar kepada perdana Jamilu.’ Lalu diberinya tempat membuat rumahnya ia duduk. Kepada zaman itulah maka digelarnya kepada perdana Jamilu ‘kapitan Hitu’ namanya dan berjanjian apabila datang kapalnya. Hatta datang musim barat.’ Maka kembali pula bawah ia datang ke negeri kepada perdana Jamilu. Maka kami jatuh pesir* ke tanah sebelah dan kapal kami pun tekarang di laut Puluh Burung*. Jadi ramai bandar di tanah Hitu dan termasyhur sekalian tanah Ambon.’ Maka kata keempat perdana: ‘Bennar kata hukum dan penghuluh agama. tetapi ampun dahuluh kepadanya. Maka disampaikan kepada hukum dan penghuluh agama. Hatta datang lama dengan lamanya serta kehendak Allah ta`ala yang kebaikannya itu dibalaskan oleh Tuhan Yang Mahamurah datang kejahatannya. jangan sama senegeri kita. untung kami di sini. kedua Don Jamilu namanya.

Dan maitnya itu ditaburkan bauh-bauan. lalu belayar ke Ambon. Hatta datang ke tengah laut antara Jawa dan Bali. lalu ia masuk ke pantai Hitu bersama-sama dengan tamannya yang mengantarkan mayit itu dan diturunkan kepada mayit itu. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Pada ketika itulah pendagar Tahalele menyerrang buankan dirinya ke tengah tentara kafir itu seperti harimau. Sekali perastawa keempat perdana menyarang kepada sebuah negeri kafir. Bunyi senjatanya diupamakan guruh di atas langit. Maka penghuluh kelengkapan itu kira-kiranya sukar karena banyak kafir itu. Tiada dapat terpandang mukanya oleh musuh itu. lalu belayar dibawah oleh angin dan arus jatuh datang ke tanah Seran. Hatiwe namanya. Hatta berapa dalamnya pun parang lanatullah itu dan tentara Islam itu pulang serta kemenangnya. lalu paranglah dengan dia. lalu alah negeri itu. maka dimasukkan ke dalam petti. Maka pangeran Japara menyuruh tujuh buah gurap mengantarkan dia. sehingga dimasyhurkan dua nama. lalu naik rampas kepada kapal itu dan orangnya itu habis dibunuhnya. tukarmenukar. Maka ia meninggal dua buah gurap sehingga dinaikan orangnya. alah-mengalah sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah. Hatta berapa lamanya. Sorangmenyarang. Tellah demikian itu maka adinda perdana Jamilu belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama dan Tubanbesi pun syahid pada ketika itu. Maka ia menengar khabar orang. . Maka ia pulang kepada gurapnya. pertama Lekalahabesi dan kedua Tubanbesi. Maka dipeliharakan dan diadatkan kepada mayit itu sehingga datang kepada seratus harinya. Hatta ia datang ke Bandan. maka bertemu kedua kelengkapan itu. makan-minum dan disalininya kepada pendagar Tahalele serta digelarnya pahlawan Tubanbesi dan syamsyirnya Lukululi. ia menyuruh angkatan mengadang di tengngah jalan. Maka ia pulang dengan kemenangngannya sehingga datang ke negeri bersukasukaan. jual-beli. Lalu menyuruh sebuah gurap antar kepada mayit itu dahuluh dan ain inayat naik kepada sampangnya ennam buah itu dan gurapnya itu menanti di tanah Seran. maka ia meninggal negeri fanah datang kepada negeri baka. lalu berparanglah. Maka didengar oleh kafir itu. bersuka-sukaan. Maka keluar kafir itu serta barparanglah kedua pihak itu seperti orang bepasaran. makanminum dan bergela-gelaran nama panglimanya itu.ketika itu tiada dikira-kirakan kepada hari yang kemudian. maka ia sakit serta dengan ajalnya. Tellah demikian itu maka dihimpunkan orang serta kelengkapan Japara itu pergi menyerrang kepada sebuah negeri kafir. ada sebuah kapal di tanah Bandan*. Hatta berapa lamanya menjadi fitna.

Maka didirikan panji-panji parang dan tentara Islam pun demikian lagi. masing-masing melarikan dirinya.artinya ‘patah tulang’. lalu menetta. jika bulum dilepaskan oleh malak al Zabaniah. Maka dipaluh dengan esfingarnya* laknatullah itu. Maka kata pahlawan Tubanbesi: ‘Untunglah aku sekarang pada ketika ini. maka khabarkan orang kepada negeri Hitu dan tanah Ambon sekalian. lalu masuk ke medan dan berbunyilah gendang. Namanya digantikan Tubanbesi yang mati itu. maka masuk pula parang ke medan. maka ia naik ke darat. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang bersembahyang mengadap kepada kiblat. Itulah manfaat orang parang sabil dalam akhirat. dalam akhirat bulum lagi diterima oleh malak al Ridwan. maka bertempik Umar. Ada pun tatkala itu datang sebuah kapal membawah kepada serri sultan Maluku ke tanah Ambon. karena pintu syurga sudah terbukah. maka patah pula laknat itu. maka patah parang kafir itu. Lalu ia menetta serta merampas panjipanji kafir laknatullah itu. Maka tentara kafir itu cerai-berrai. jika bulum lagi lepas daripada azab naraka. Hatta seketika juga mardan* Khatib ibn Maulana dan maradan Tahalele ibn Abubakar Nasiddik keduanya syahid. Hatta datang seketika lagi masuk pula ke medan.’ Yakni artinya bulum lagi masuk syurga.’ Lalu bertempik menyerbukan dirinya ke dalam tentara kafir itu. Entah berapa lagi dalam akhirat dibalaskan Allah ta`ala karena sabda nabi salla 'llahu ’alaihi wa-sallama: ‘Apabila mati Islam. Alkissah peri mengatakan parang Don Duarde datang daripada negeri Portugal serta dengan kelengkapannya. Kemudian daripada itu mardan Totohatu ibn Zamanjadi ia bertempik. Lalu bertempik kedua pihak itu upama guru di atas langit bunyi tempiknya. patah tulang tangannya yang kiri. Inilah muafakat orang parang sabil dalam dunia. Alkissah peri mengatakan sultan Maluku demikianlah riwayatnya. entah berapa-rapa panglimanya. maka dalam akhirat suatupun tiada hisab* kepadanya melainkan masuk syurga. Panglimanya dan pendagarnya serta dengan harkatnya. Seketika juga himpunkan orang dan panglimanya sekalian serta dengan Den Daurdia*. yang diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Maka keempat perdana menyuruh orang . lalu naik kepada kelengkapannya kembali serta dengan dukkacittanya dan orang Hitu pun kembali memeliharakan mayitnya itu. Daripada sanngat marah hatinya kepada panjipanjinya itu. Apabila Islam mati parang sabil. Ia beparang tettak-menettak serta kehendak Allah ta`ala kulitnya tiada makan besi. Ia masuk ke Kota Laha. maka ditangkis oleh pahlawan itu. caramela* pelbagailah bunyi-bunyian. suisa* dan serunai. Esfinkarnya* putus kedua pangkal. maka ditankis oleh laknatullah itu. pendagar parang.

pagi petang tiada berkeputusan. Dan empat puluh orang gaggah membawah makanan serta gendaga itu di hadapan raja. terlalu ammat gaggahnya. Ialah memeliharakan negeri sekalian serta mengeluarkan angkatan ke tanah Hitu. maka naik pula ke atas bukit Mamala. Maka ia parang siang malam. Maka ia langgar kepada sebuah kapal. Maka keempat perdana pun endak mengulang lagi. Sehingga keempat perdana dan setengngah negeri tiada berapa itu pinda ke Tanah Besar. Maka ia pun mau. Maka negeri semuanya itu takluklah kepadanya kafir itu. Alah-mengalah. Ada pun daging darahku sekali pun tiada bagai demikian ini. lalu ia kembali duduk di negeri Luhu serta meneguhkan tanah . Ulukulu namanya. Pada ketika itu pahlawan gimelaha* Laulata ada di tanah Ambon. betahanlah di atas bukit itu. Tanda kasih dan tulus serta kehendaknya itu tellah sampailah kepada kami. bennarkah atau tiadakah.’ Maka keempat perdana muafakat: ‘Apa tipu kita karena janjian kita serta sumpahan?’ Lalu menyuruh kepada kapitan* Feranggi itu minta bedamai. Hatta berapa lamanya alah pula bukit itu. Maka tanah Hitu serta tanah Ambon sekalian paranglah dengan kafir laknat itu.periksyai kepada khabar itu.’ Lalu menyuruh melalawat* dengan tipu maslahat. Maka datang orang itu katanya: ‘Bennar juga khabar itu. maka datang kapitan Sanjo*. Tellah demikian itu.lalu bedamai orang Hitu dan orang Feranggi. demikian katanya: Dapatkah atau tiadakah kami endak menyuruh melalat kepada raja Ternate itu?’ Maka kata gurendur Feranggi: ‘Mengapa maka tiada dapat.’ Lalu orang itu pulang serta gendaga itu dan sampaikan salam titah itu kepada keempat perdana. Kemudian daripada parang Don Daurde itu. betahanlah di situ. lalu kapal pun belayar membawah kepada serri sultan. Inilah tanda berteguhan ikrar dan tasdik. Hatta berapa lamanya alah negeri itu. Ia naik ke darat. lalu membuat kotanya di pantai Hitu. Empat puluh mata keris dimasukkan ke dalam gendaga Seran dan di atas keris itu has* sehellai dan di atas has itu sirri pinang dan bunga serta bauh-bauan. Ialah bennar syaudaraku dari dunia datang ke akhirat. karena kita sudah bedamai. maka menyuruh tanya kepada gurendur Peranggi itu. Alkissah dan diceriterakan yang empunya ceritera. maka raja pun tercengang tiada boleh bersuarah. Dan negeri Hitu pun pinda ke atas bukit. Lalu dibukah sendirinya serta pandang kepada keris itu. lalu ditudung pula kepada gendaga itu. maka berulang-ulang beparang di tanah Hitu. maka kami pun terima dengan sempurnanya. Ia duduk di negeri Lesiela*. sarangmenyarang sebagailah parang sabil Allah. Hatta lagi maka titah syah alam kepada empat puluh orang itu: ‘Pulanglah engkau bawah gendaga itu dan sampaikan salamku kepada empat perdana.

maka kami percahaya.Ambon. jumlahnya dualapan perdana lima bangsyanya. Lalu dipepatutan karena negeri Hitu pun keempat perdana itu empat bangsyanya dan Nusaniwe keempat perdana juga. maka ia pulang ke tanah Ambon. Entah apa kehendaknya titah. Hatta didengar negeri sekalian di tanah Hitu tellah datang hukum Abubakar daripada Ternate.’ Lalu ia pulang memberitahukan kepada negeri sekalian. lalu menyuruh gelaran Tuheasal dan Tuhelusun datang kepada hukum dan keempat perdana. maka hukum Abubakar pergi mengadap kepada serri sultan di Maluku. . atau kebajikan negeri Nusaniwe. Ingatkah lagi rakyat tuhanku atau tiadakah lagi?’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Mengapa maka kami tiada ingat? Ingat juga. Ia duduk kepada bukit Hatunuku. Pada zaman itu negeri Hitu sekalian memberi kepala ikan ia upetti kepada keempat perdana. Suatupun tiada dengan hisab* karena tatkala muafakat itu dipersyahdakan*. Tellah dibunuh itu. Nama gelaran negeri Henalale dinamai Hehahitu dan gelaran negeri Latua dinamai Hehatomi* namanya. nyiyahkan kepada kafir itu dahulu. keempat perdana Pati Tuban lawannya perdana Pati Naelai.’ Maka menyahut pula gelaran itu: ‘Bilamana lagi tuhanku maka datang ketikanya dan waktunya? Tetapi negeri tuhanku sekalian itu sekarang inilah datang ketikanya dan waktunya melainkan tuhanku pulang dahuluh di tanah Hitu. Tellah demikian itu. ia keduanya juga. Tellah demikian katanya: ‘Sudahlah bagai kehendak tuhan-tuhan itu. ketiga Latuhalat lawannya perdana Nusatapi. tetapi suatu bangsyanya. ia keduanya juga. Itu bersuatuan namanya. maka disampaikan kepada hukum dan keempat perdana. pulanglah engkau.’ Maka hukum Abubakar dan keempat perdana pada ketika itulah pulang ke tanah Hitu. kedua Totohatu lawannya Lisakota. yakni tentukan perjanjian itu. tetapi bulum lagi datang kepada ketikanya dan waktunya. Apabila kasahkitan negeri Hitu.’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Apabila bagai kata demikian itu. lalu dibunuh kafir yang dalam negeri itu. Itulah perinta hukum Abubakar Nasiddik dan sekalian negeri pun kembali kepada hukum Abubakar dan keempat perdana. demikian katanya: ‘Negeri sekalian empunya sembah datang ke bawah kadim tuhanku. Lalu Lalu dipepatutan: pertama Pati Lupa* lawannya perdana Tanihitumesen. Daripada itulah negeri Nusaniwe ia pinda datang ke negeri Hitu. Tellah demikian itu dan diceriterakan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe kedua berhadapan kepada suatu majellis serta muafakat dan berjanjian. maka suatupun tiada ellat sehingga melakukan parang sabil Allah daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Hatta berapa lamanya bertambah -tambah kebajikan dan kemerahan.

tetapi dalam pihak Ulima. kelima Sibangua. tetapi dalam martabat negeri Hitu. Liliboi dan Larike. Alkissah peri mengatakan johan pahlawan gimelaha Rubohongi. karena pada tatkala itu sangat parang sabil Allah di tanah Ambon. maka datang kepada negeri Asilulu. Dan daripada pihak hamba raja pertama Kalaudi dan kedua Usman dan ketiga Kabutu Malu dan keempat Sagaluwa*.Itulah kesudahan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe. Bennar juga dalam pihak Ulima. Tellah demikian itu dan diceriterakan daripada negeri Urin* dan Asilulu. kedua cili Kodrat. Daripada itulah maka tatkala ia bertemu kepada orang Peranggi itu. bersama-sama datang ke negeri Hitu. lain daripada itu tiada kusubutkan. Ia datang akan bendahara di tanah Ambon serta kaum gulawarganya gimelaha Haji dan gimelaha Sakatruana. Maka kedua pihak . Lain daripada itu tiada kuceriterakan sehingga ibn bendahara: pertama gimelaha Kakasingku* dan (kedua) gimelaha Jamali dan (ketiga) gimelaha Kulabu dan keempat gimelaha Aja dan kelima gimelaha Basi dan keenam gimelaha Angsari*. Maka keempat perdana menerima kepadanya itu serta dengan berjanji-janjian. sebagailah kedua pihak itu tiada berputusan lagi. Maka datang angkatan kafir laknat bantu kepada negeri itu. ketiga cili Abu Syahid dan keempat cili Kaba. keenam Ambalau. keenam cili Ici dan ketujuh cili Aya. ada yang menyarang. Latu namanya. ada disarang. kelima cili Naya. ada parang di laut. pun ia pergi datang berulang-ulang membawah titah sebagailah.’ Dan suatu lagi dijanjikan juga: ‘Apabila jika orang dari sebela pihak Ulisiwa endak masuk muafakat serta negeri Hitu. Maka datang kepada kerabat serri sultan daripada bangsya raja: pertama kiyaicili* Cuka. maka ia bertemu dengan angkatan Nasrani di tanjung Mamala. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan sekalian ini termasyhur pendagar. sekalian keluar dengan kelengkapannya mendattangi sebuah negeri. kedualapan baginda cili Ali. Ada parang di darat. Serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi sekali-kali dengan kelengkapannya dan mayitnya perdana Kakasingku* pun sabil Allah tiada kettahuan lagi. maka dibawah kepada perdana Jamilu. Sungguhpun namanya Ulisiwa. jika datang kejahatannya pun kita bersamasama. Lalu melawanlah kedua angkatan itu daripada waktu duha sehingga datang kepada bakda lohor. Itulah daripada pihak bendahara. Kemudian daripada itu dan kuceriterakan. Segali perastawa gimelaha Kakasingku* keluar dengan kelengkapannya.’ Ada pun perjanjian ini sehingga Alan. Pun ia utusan. Asilulu suatu juga. ada mennang. demikian itu katanya: ‘Apabila jika datang kebaikannya pun kita bersama-sama. Wakasihu dan Urin*. ada yang dimennang. tatkala bulum lagi dinaikan kapitan laut.

lalu masuk ke dalam negeri. lalu ia masuk. maka patah parang Islam itu. tiada berputusan berkawal-kawal kedua tentara itu. Maka dipandang oleh kafir laknat tempat itu sunyi dan kotanya itu pun tiada manusyia. Apabila datang esok harinya demikian juga. maka ia belayar kembali ke tanah Jawa. Lalu bertempik kedua pihak itu seperti datang tofan bakilat-kilat dan . Hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala kepada pihak Islam itu pergi barjalan ke sini dan orang kawal itu pun serta dengan alpanya ia tidur. Hatta datang malam masing-masing pulang kepada tempatnya. Dan panglimanya yang gaggah dalam angkatan itu Martajiwa namanya dan seorang Panarukan namanya dan seorang pula Pasiruwan* namanya. sekali perastawa keluar angkatan Islam mendatangi negeri kafir dan angkatan kafir pun keluar. Maka kedua angkatan itu sama bertemu di tengah jalan antaranya Hitu dan Kota Laha. Daripada itulah maka tiada berpaling apa tipu orang banyak serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi daripada kesudahan hidup manusyia dalam negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Laknat itu alah kepada kota Islam itu. Maka panglimanya yang gaggah itu syahid.berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian jualbeli. dua bersyaudara gimelaha Angsari* dan Liwa alDin. sendirinya memeggang panji-panji serta membaca salawat. maka ia syahid serta kelengkapannya pada ketika itu juga. Dan Kalaudi pun dengan kelengkapannya masuk. Hatta datang musim. ketiganya pendagar parang. hoja* alim mahudum*: ketiganya syahid. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang berhadapan serta dengan hidangan karena sangat maksud Islam ke sana kepada kafir laknat itu. Hatta ia datang ke tanah Hitu dan orang Hitu pun keluar angkatan serta ia mendatangi negeri kafir itu. Maka negeri ke dalam kotanya dan orang itu pun mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. maka pangeran menyuruh kepada kiyai Mas serta kelengkapannya. Ia undur lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke negeri Hitu. Tatkala perdana Tubanbesi belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangngeran minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. maka ia bertemu kepada kafir laknat itu. Dan orang sekalian itu pun lari masing-masing membawah dirinya sehingga gimelaha Jamali al-Din. Alkissah dan kuceriterakan yang empunya ceritera. Sebab pada ketika itu baginda cili Cuka ia menjadi kapitan laut. Alkissah peri mengatakan parang kiyai Mas. Maka angkatan itu sekalian kembali masing-masing ke negerinya. Itulah kesudahan parang kiyai Mas di tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. karena Jamali alDin itu pahlawan yang termasyhur.

Alkissah dan kuceriterakan johan pahlawan Tahalele ke tanah Bandan*minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Hatta terbit fajar kepada bakda subuh keluarlah kedua pihak angkatan itu berlawanlah dan bunyi senjata itu tiada dapat dikatakan.bunyi senjatanya diupamakan guruh dari atas langit dan asapnya senjata itu menjadi awan antara langit dan bumi. Itulah hal parang sabil Allah. hulubalang Pati Lihat namanya. Segali . Itulah kesudahan tanah Bandan* datang ke tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Dan daripada orang luka dan mati itu tiada kuceriterakan. Ada pun pada ketika itu ada juga suruan pangeran. Ia membuat kota di pantai sebelah berhadapan kota Ferangi. Maka negeri Bandan* sekalian keluar angkatan ke tanah Hitu. Masingmasing pulang kepada tempatnya. Hatta hilang awan itu. Pada mati dan luka itu tiada dikira-kirakan lagi. Tuhahan* namanya. lalu patah parang kafir itu dan angkatan Islam itu kembali serta kemenangannya. Hatta datang musim. Itu pun tiada juga jadi kota. Alkissah dan kuceriterakan oleh yang empunya ceritera sekali perastawa orang Hitu keluar dengan kelengkapannya. maka baginda kiyaicili pun syahid. Ada pun dalam angkatan kafir itu pun demikian juga luka dan mati. lalu pulang ke tanah Bandan. daripada ajal itulah meneguhkan hati manusyia serta memberikan kesudahannya. Hatta lama dengan lamanya sebagai juga tiada berputusan parang sabil Allah. kedua kapitan Atijauh. Dan parangnya itu daripada waktu duha sehingga datang kepada waktu asar . ia meninggal sendirinya pulang ke negeri Hitu. Entah berapa aluannya. Asapnya itu menjadi awan menudung kepada kedua angkatan itu tiada berkenalan. Kemudian daripada itu datang pula angkatan itu ke tanah Hitu. Hatta dengan ajal Allah. tetapi tiada masyhur parangnya itu. Maka didapat oleh kafir laknat itu. maka melawanlah kedua angkatan itu. tebakar oleh api obat bedil sendirinya. Dan angkatan Ferangi pun keluar sama bertemu di pantai Kota Laha. Islam pun dukacitta hatinya dan Nasrani pun demikian lagi. itu bukan dialah oleh Ferangi. lalu undurlah keduanya angkatan itu. tetapi penghulu yang besar dalam angkatan itu pertama kapitan Falat. ketiga orangkaya Watimena dan raja Rosengaing*. maka dilanggar sebuah kapal. Kemudian daripada itu pergi alah kepada negeri. maka ia kembali ke negeri Hitu. Sehingga datang musim ia pulang. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala sebuah kelengkapan Islam. lalu undurlah kelengkapan Islam itu kembali dengan dukkacittanya. makan-minum bersukasukaan. Hatta berapa lamanya datangnya itu dan negeri Hitu pun keluar angkatan serta dia bersama-sama mendatangi kafir laknat itu dan kafir itu pun keluar angkatan.

keenam Mahir pendagar. Maka pada ketika itulah perdana Kapitan Hitu memagang senjata. Itulah parang sabil di tanah Ambon. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. kedua kapitan Sanco*. kedua hulubalang Hasan Pati. Hatta datang angkatan itu lalu turun. ketiga Paulo Kastanya dan Dan Tamura dan Dirgurumaridisi dan Siku Kisua dan Don Disera* dan Fernando Melo* dan Antoni Laliru. Sebab itulah maka dikatakan tanah Hitu di belakang perisyai dan Tanah Besar di dalam perisyai. sungguh pun disubut tanah Ambon.keempat Pati Baraim. Itulah sangat parang sabil Allah di tanah Hitu. sebab sudah dipindahkan ke Tanah Besar. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Masing-masing lari terjung ke dalam air berenang kepada tempatnya sehingga hulubalang Sulaiman: maka ia tiada paling mukanya. Dan kuceriterakan hulubalang kafir laknat itu pertama Don Duarde. Ialah yang termasyhur pendagarnya dan terlalu amat gagahnya daripada sekalian. Kehendak kafir itu menggagahi akan mayit bendahara itu. Lalu ia menyerrang kepada negeri Hitu. Lain daripada itu tiada kusubutkan melainkan Jumat. biarlah aku sendiri keluar dahulu.hulubalang yang termasyhur dalam tanah Hitu. maka patah parang laknat itu. Tatkala itu sekalian hulubalang serta pendagar semuanya tiada.perastawa keluar angkatan kafir laknat itu serta orang Tidore dan orang Buru mendatangi di negeri Hitu dan orang Hitu pun harkat menanti di pantai. Apabila tiada patah orang itu. tetapi tiada dapat lagi. maka ia bertankis-tankisan dengan perisainya serta undur datang kepada air sehingga lututnya. Karena tatkala zaman parang itu hulubalang dan pendagar ada semuhanya -. ketiga hulubalang Hatib Tunsulu. Maka dihabarkan orang kepada kafir laknat itu. kelima Umar pendagar. Tatkala pada zaman itu alah menang sama kedua pihak itu. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Rubohongi ia pulang ke rahmat Allah meninggalkan negeri fanah datang kepada negeri yang baka. tetapi ia dalam uzur. sehingga Jumat pahlawan al-Din ada. sehingga inilah dimasyhurkan sangat parang kafir di tanah Ambon. maka hulubalang Ulu Ahutan ia becakap di hadapan orang sekalian: ‘Jangan dahulu orang keluar. tetapi tanah Hitu juga parang siang dan malam tiada berputusan. Kuceriterakan menang Islam kepada kafir itu: sekali alah . Hatta seketika juga patah parang kafir laknat itu. tuhan-tuhan sekalian keluar.’ Lalu ia bertempik ke dalam tentara kafir itu serta menettak. ketujuh pendagar Nahoda. kedualapan pendagar Nasiela -. ia masuk parang kepada tentara kafir itu. pahlawan al-Din.pertama Ulu Ahutan. lalu ia keluar angkatan. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Kadang-kadang Tanah Besar masuk kepada parang.

maka bayar empat puluh bahara. maka orang Hitu bayar empat ratus bahara kepada Wolanda. atau kamikah datang ke sana atau menyuruhkah datang ke mari?’Serta dengan kiriman tanda alamat tanah Ambon. maka datang sebuah kapal Wolanda.’ Maka kata keempat perdana: ‘Jika bagai kata demikian itu. orang hitam kepada orang Hitu.’ Tetapi keempat perdana tiada mau. Bagaimana kehendaknya Prings dan orang besar2.sebuah kapal di tanah Bandan. Maka ia pulang. yakni syaudagar yang besar lagi artawan. Dan diperjanjikan upahan: apabila alah kepada kotanya. lalu masuk ke Kotah Laha periksai kepada kotah Feranggi itu. lalu belayar ke negeri Wolanda menyampaikan berjanjian berputusan kata sekalian itu kepada Prings vin Nyuranye* dan orang besar2 dalam negeri Murucisa*. Hatta datang musim barat kapitan amiral Kurnilis* [dan] Istin Warhaga* pun datang. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. Dan enam orang dinamai ‘graf*’. Tatkala belum lagi datang Furtado itu. Ada pun kotanya dan senjatanya dan orangnya hitam itu kepada orang Hitu. maka orang Hitu tanya kepadanya:‘Darimana datangmu dan apah nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Kami datang dari negeri Hollandes* dan nama raja kami “Paringsi*”. tetapi menyuruh sampai kepada Prings* dan orang besar2 di negeri Holanda* supaya boleh dengar kepada dia empunya pekatahan. Dan menang kafir kepada Islam pun demikian lagi. demikian katanya: ‘Marilah kita bedamai dan bebaikan dunia tanah Ambon. maka kapitan Peranggi menyuruh kepada keempat perdana. bolehkah atau tiadakah. Maka ia berhadapan kata serta keempat perdana dan berjanjian apah upahan dan berputusan barang kerja: apabila barang sesuatu perbuatan.sampaikan dahulu kami punya pekatahan ini. jika salah kepada adat jangan dikerjakan kepada dua kaum itu. karena parang sabil di tanah Ambon itu tujuh puluh tahun daripada parang Don Duarde sehingga datang parang Antoni Furtado*. kedua sebuah di pantai Hitu dan ketiga sebuah serta angkatan Bandan* dan keempat langgar kepada pinsu* dan kelima langgar kepada antonibot*. ialah empunya kapal syaudagar yang datang ke tanah bawah hangin ini. Kapal serta senjatanya dan orang putih kepada Wolanda. karena ia ingat kepada perjanjian dengan amiral Istiwin . dan orang putih itu kepada orang Wolanda.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bolehkah kami minta armada tolong kepada kami?’ Maka kata orang itu: ‘Mengapah maka tiada boleh? Boleh juga. termasyhur dalam negeri Wolanda. Kemudian daripada kapal belayar itu. Ia masuk ke Hitu. Dan kuceriterakan yang empunya ceritera. Apabila alah kepada kapal. lalu ia belayar pulang ke negeri Holandes menyampaikan katahan itu kepada orang besar2 dari negeri Holandes. Tellah demikian itu.

Itulah halnya orang berjanjian. maka ia bertemu dengan kapitan Wolanda itu dan keduanya berhadapan kata dan bicara. Maka bertemu dua buah kapal Wolanda dan ditanya kepadanya: ‘Mana kapitan-mor*?’ Maka ia menyahut: ‘Kapitan-mor ada di tanah Bandan. Kambelo itu pun alah juga semuanya. Maka dinaikan empat orang mengikut kapitanmor itu. demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini dan siapa empunya angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun angkatan ini angkatan Wolanda. Daripada tiada mau mengubah janjinya. yakni negeri Luhu. Maka keempat perdana menyuruh kepada Mihirjiguna ibn Kapitan Hitu dan mardan Sibori ibn Tubanbesi keduanya naik kepada kapal itu mendapatkan angkatan. Hatta berapa lamanya alah gunung itu. Hatta datang ke tanah Jawah. lalu peranglah kedua pihak itu tiada berputusan sehingga datang Furtado.’ Maka menyahut menyahut pula kata Mihirjiguna itu: ‘Apabila jika . datang pula sebuah kapal ke tanah Ambon kepada empat perdana. Demikianlah parang Antoni Furtado* di tanah Ambon sehinggalah perangnya. Portugal namanya.’ Lalu Kapitan Hitu belayar ke tanah Bandan. Maka kafir itu mendatangi negeri Luhu dan Lasidi*. Maka kuceriterakan keempat perdana pinda ke Tanah Besar itu.maka negeri sekalian takluk kepadanya. sehingga keempat perdana juga pinda ke Tanah Besar. Dan negeri Hitu pun pinda ke gunung Pinau*. Hatta datang musim barat. Maka Kapitan Hitu naik kepada sebuah perau pergi mencari bantu sehingga ke Seran. maka ia menanti sehingga datang sama negeri Banten. lalu ia mendatangi negeri Hitu. maka Mihirjiguna dan mardan Sibori bertanya kepada angkatan itu. maka ia naik barparanglah di sana. sebab dilontar dengan batu oleh negeri itu kennah kepala kapitan Furtado. Lalu ia mendatangi negeri Iwa* dan orang Iwa* pun keluar berparang dia. Alkissah peri mengatakan datang Furtado. karena musuh itu ada di tanah Ambon. Lalu dibawah kepada perdana Tubanbesi dan orangkaya Patiwani kepada kafir laknat itu. Hatta berapa lamanya angkatan pun datang.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Endak ke mana?’ Maka ia menyahut: ‘Mencari kepada musuh kami.Warhaga* itu. dan perdana Tanihitumesen ia duduk di negeri Anin dan perdana Pati Tuban ia duduk di negeri Waibuti dan perdana Nusatapi ia duduk di Gamusungi. lalu undur pulang ke Kota Laha. keluar dari negeri Murucisa* dan empunya angkatan ini Prings van Nyuranye* dan penghulu dalam angkatan ini amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*. Ada pun tatkala datang Furtado serta kelengkapannya.Hatta seketika juga patah parang kafir.’ Maka kata pula Mihirjiguna dan mardan Sibori: ‘Marilah sama kita ke tanah Ambon. lalu belayar dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Ambon.

Ada pun bunyi dalam surat itu.’ Lalu Mihirjiguna keluarkan surat perjanjian itu kepada amiral Matelif*dan Istiwin Warhaga*.’ Lalu dikeluarkan kepada Mihirjiguna dan mardan Sibori di hadapan.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Diiakanlah jika bagai kata demikian itu. Maka diberinya perau. baiklah Wolanda duduk kepada kota itu. lalu keluar duduk di luar. bagaimana tempat kita jawab kepadanya? Ada pun tempat kita itu melainkan dengan kota.dengan faedahnya.’ Maka kata amiral dan Istiwin Warhaga*: ‘Bennar juga kata itu. tetapi barang kerja kota atas orang hitam. Hatta datang pagi hari dikeluarkan anak kunci itu diserahkan kepada tangan amiral. lalu ia belayar pulang ke negerinya. Apabila jika alah kepada kapalnya. hatta datang kepada hari dan ketika yang baik. mengapah maka kami keluar dari tanah ini?’ Maka kata amiral:‘Bukan engkau empunya tanah. Ada pun kotanya serta senjatanya kepada orang Hitu dan orangnya hitam itu pulang kepada hitam dan orangnya putih itu pulang kepada putih. Apabila datang cari kepada isterinya. tetapi kita mengambil kota ini seperti kita mengambil isteri orang. Hatta datang itu. maka kami bersama-sama ke tanah Ambon. lalu diam kapitan Feranggi itu tiada berkata-kata lagi. Tellah demikian itu maka kata amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* kepada Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Betapa kota ini?’ Maka kata Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya: ‘Baik juga kita rusakkan kota ini buan ke laut. Hatta datang musim barat. lalu ia diam dirinya.’ Maka kata Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Jika bagai kata amiral itu. Maka dibaca surat itu. lalu belayar serta Mihirjiguna dan mardan Sibori ke tanah Ambon. dan orang hitam kepada orang Hitu dan artanya itu bahagi dua.’ Maka kata kapitan Feranggi itu: ‘Mengapah maka kata demikian? Karena kami empunya negeri ini. Sudah ia berikan kepada kami dan ia pun ada pada kami. Ada pun kapalnya serta senjatanya kepada Wolanda dan orang putih serta kapalnya. lalu masuk kepada labuan kota Feranggi itu. datang .demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Angkatan ini dari negeri Wolanda. Itulah kerjakan dia. maka beri empat puluh bahara. maka kita melawan dengan dia.’ Telah demikian itu. karena tanah ini ada yang empunya. maka kapitan Feranggi menyuruh datang tanya kepadanya. Maka amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* pulang serta angkatannya menyampaikan khabar kepada Frings* dan orang besar2 dalam negeri Wolanda. maka kami beri empat ratus bahara cengkeh. demikian buninya: ‘Apabila alah kotanya itu.’ Lalu katanya kepada kapitan Feranggi itu: ‘Keluar engkau dari tanah ini.’Lalu dinaikan Firdirik Hutman* gurendur di kota Ambon. ada pun orang Wolanda sehingga perintahkan dan mengaraskan.

maka kita berilah salah. supaya kami dengar. Dari mana akan datang ganti isi astanah raja? Karena rakyat sekalian wa-'llahu a`lam dalam kesukaran. masuk ke Kota Laha.’ Maka kata kiyaicili Ali dan gimelaha dan hamba raja:‘Mana tiga negeri itu?’ Maka kata amiral: ‘Negeri Luhu dan Lesidi dan Kambelo. Maka kata Kapitan Hitu. lalu pulang. Maka datang baginda cili Ali dan gimelaha Aja dan hamba raja Ambalau minta kepada amiral. Moga2 dengan kehendak Allah ta`ala dan berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.’ Maka gimelaha dan kiyaicili tiada mau kepadanya dan amiral pun endak juga kepadanya. tiada beri salah. esok hari maka kita berkatakata’.’ Maka kata baginda cili Ali dan gimelaha Aja: ‘Apatah lagi manfaat? Karena Kapitan Hitu mengatakan upahan itu kami semuanya di situ. itu upahnya atas tanah Hitu. Maka menyuruh panggil kepada kapitan serta keempat perdana Hitu. ia mengikut kepada amiral belayar ke Maluku. apatah kehendak amiral itu? Katakanlah. maka diiakanlah kapitan sekalian itu. Unus Halaene namanya. Lalu kata amiral: ‘Berilah anak Kapitan Hitu ikut kepada kami supaya kami sampaikan kepada Prings dan orang besar di negeri Wolanda.’ Lalu berkata: ‘Apabila angkatan itu ia mau tolong kepada negeri Ternate. maka kembali negeri Ternate serta dengan kerajaan. demikian katanya: ‘Tellah sudah selamat tanah Ambon daripada bahaya.pula angkatan itu ke tanah Hitu. maka kami mau ke Ternate. sehingga .’ Maka kata amiral: ‘Yang tellah sudah itu apa betapa disubut lagi?’ Maka kata kiyaicili dan gimelaha: ‘Jika bagai kata demikian itu. maka kata baginda cili Ali kepada gimelaha dan orangkaya-kaya semuanya: ‘Apa tipu kita karena negeri Ternate dalam kesukaran?’ Maka ia saat*: ‘Endak kepada hasil tiga buah negeri itu. melainkan hasil datang dari tanah Ambon. apabila kembali rayat semuanya dan negeri Ternate pun tettap. Lalu kata gimelaha dan kiyaicili: ‘Marilah kita pulang dahulu.’ Tellah demikian itu maka gimelaha dan kiyaicili katakan kepada amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* dan kapitan sekalian dalam angkatan itu. Apa tipu kita sekarang ini?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun sudah rusak negeri Ternate serta dengan arta isi rumahnya habis dirampas oleh kafir itu. sudah tiada kurang kepada hasil masuk negeri Ternate kepada hari yang kemudian itu.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Berilah hasil tiga negeri itu kepada kami. Marilah kita ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. insya Allah. tiga buah negeri itu kami minta.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* menyahut amiral keduanya: ‘Jika dengan manfaatnya maka kami mau ke Maluku. Dan Kapitan Hitu pun becakaplah di hadapan orang sekalian itu. Pada ketika itu.’ Maka diberikan anak Kapitan Hitu.

dari Maluku datang ke Ambon. supaya kami menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo. lepas taksir kita. Piter Bot* namanya. tembak-menembak kedua kaum itu.datang ke Ternate. Ia datang dari Betawih. Lalu belayar angkatan itu membawah kepada Unus Halaene ibn Kapitan Hitu dan anak raja Nusaniwe dan anak orangkaya Lakatua dan anak orangkaya Natahuat* ke negeri Wolanda. lalu ke Bandan. Apabila ia mengikut. Gerat Rangsi* namanya. ’Tellah demikian itu. bebaikan kita serta dia. pasang-memasang. ia tiada mau. Maka kata perdana Kapitan Hitu kepada jeneral dan gurendur: ‘Sabar dahulu. serta kelengkapannya. lalu pindah . maka jeneral Gerat Rangsi dan gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh memagang senjata endak melanggar kepada negeri Kambelo. Hatta berapa lamanya. Maka mengikutlah ia. daripada itulah menyuruh periksai kepadanya. maka datang jeneral Gerat Rengsi* dan perdana Kapitan Hitu menyuruh kepada gimelaha Syabidin*. Tatkala itu datang jeneral. Ia itu banyak kasihnya akan artanya kepada orang serta dengan empenak supaya menjadi jinak sekalian orang Ambon. tetapi serta adil kepada jeneral. Maka kedua pihak sama petuguhnya.’ Maka diiakanlah jeneral dan gurendur kata Kapitan Hitu demikian itu. Dan kuceriterakan tatkala gurendur Hutman* itu. maka datang amiral.mengantarkan kepada Unus Halaene. ia duduk di negeri Kambelo. tiada beta mengetahui duduknya itu. lalu ke Maluku. Maka dinaikan Yangseper Yangsi* akan gurendur sehingga tiga tahun. Mana kehendak jeneral itu kerjakan. Maka didirikan kota di negeri Melayu. Maka sekalian rakyat pun kembali ke negeri Ternate dan dinaikan serri sulthan paduka Mudafar ibn Sa`id al-Din syah. apatah dayah. Pada zaman itu negeri Luhu dan Kambelo menerima kepada orang Ingeris. Maka gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh serta kelengkapannya masuk ke pantai Kambelo suruhnya Ingeris itu keluar. Maka sekarang ini ia duduk di negeri Kambelo. Itulah beta taksirkan dahulu. dari Bandan* datang ke Ambon pula. Jika tiada mengikut. Simon Hun* namanya. karena tempat duduk Ingeris itu tanah raja Ternate dan negeri Kambelo itu pun rakyat raja Ternate. lalu menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo kata yang kebaikan dan kebenaran. Iapun demikian juga murahnya dan pada ketika itu gurendur Hutman* pun belayar karena lamanya gurendur Hutman* enam tahun ia duduk. Maka kata gimelaha Syabidin: ‘Mengapa maka tanya kepada beta lagi? Karena beta sudah keluarkan dia dari negeri Luhu. karena gimelaha itu mangkubumi di tanah Ambon. lil* Allah [fi] 'l`alamin akan kerajaan dan diturunkan gurendur serta soldadunya duduk menunggu kota. al-hamdu li-'llah. Kemudian daripada ia itu maka datang pula amiral.

endak berkellai kedua pihak itu. maka kita lakukan bagai titah itu. Hatta lama dengan lamanya sehingga datang kepada tahunnya. maka gurendur dan menyuruh kepada paduka seri sultan di Ternate. ia bedamai dengan gurendur. Dan apa kata jeneral itu. karena kami banyak belanja hilang kepada soldadu dan marinero* membuat kota. Demikian kata gimelaha dan orangkaya-kaya sekalian: ‘Minta seratus harga sebahara.’ Maka kata gurendur: ‘Betapa kami disamakan dengan Inggeris. maka jadi fitna. karena ia tiada hilang belanjanya. Daripada ia memulai parang di tanah Ambon. Maka kata Kapitan Hitu kepada kedua pihak itu: ‘Apa kerja berkellai? Baik juga gurendur menyuruh belayar ke Betawih kepada jeneral menyampaikan kata orangkaya-kaya itu. maka suatupun tiada fitna dalamnya. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala datang suatu bala Allah. Pada ketika itu ada suatu fitna. Hatta berapa lamanya. karena gurendur itu itu sangat bengis. Maka dinaikan Aren Bulok* akan gurendur ganti kepada Yangseper Yangsi*. kedua berkellahi dengan negeri Lesibata.Maka jeneral dan gurendur pulang ke Kota Laha. Segali perastawa tanah Ambon semuanya serta gimelaha berbantahkan harga cengkeh.’ Lalu ia menyuruh ke Ternate dan menyuruh ke Betawih. Pertama berkellahi dengan negeri Hutumuri. lalu ia belayar pulang ke Betawih dan gurendur Aren Bulok* duduk di kota Ambon.Orang Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda. Mengapah maka minta delapan puluh daripada kami banyak arta keluar?’ Maka kata orang Ambon: ‘Mengapa maka gurendur kata demikian? Karena gurendur banyak arta hilang itu ada dengan hasilnya. maka berparanglah dengan negeri Nasrani yang takluk kepadanya itu. maka suatupun tiada hisab* lagi. serta kotanya maka diketahui oleh Wolanda.’ Maka kata orangkaya-kaya: ‘Berilah delapan puluh. .’ Maka kata gurendur: ‘Enam puluh harga sebahara. ia serta gimelaha Syabidin mengalah kepada negeri itu. Betapah kehendak titah itu. maka kedua kaum muafakat serta bersakutu bandar Wolanda dan Inggeris itu. Mengapah maka ia disamakan kami. lalu belayar pulang ke negerinya. Mengapa maka kata demikian itu?’ Lalu orang Ambon tiada keluarkan cengkeh. tawar-menawar dengan orang Wolanda. maka Kapitan Hitu bedamaikan dia. Hatta datang musim barat maka maka datang kapitan Warhaga. Maka Kapitan Hitu bawah kepada kipati Lesibata. lalu dibunuh kepada Inggeris dan Jupun semuanya. Alkissah peri mengatakan tatkala Herman Aspel* ia akan gurendur itu.ke pantai Eran* dan orang Wolanda pun masuk ke dalam negeri itu dan orang Inggeris pun keluar naik kepada kapalnya. Leitimol* namanya. lalu ia pulang dan dinaikan Herman Aspel* akan gurendur ganti kepada Aren Bulok*.

Tiga real itu akan harga siri pinang soldadu.’ Maka kata gimelaha: ‘Berilah tujuh puluh. Maka kata orang sekalian: ‘Jika bagai kata titah keduanya itu.surat dari Betawih dan titah dari Ternate pun datang. Itulah keputusan harga ce ngkeh dan negeri sekalian pun keluar cengkeh timbang kepada fetor. Maka betapa tipu orangkaya-kaya semuhanya kepada titah itu. Maka semuhanya dengan Wolanda pun berhimpun di pantai Luhu memutuskan harga cengkeh itu. beta minta kepada orangkaya-kaya sekalian keluarkan tujuh real upamakan harga makanan soldadu. atas kepada gimelaha dan gurendur memutuskan harga cengkeh ini.’ Maka kata gurendur: ‘Bukan aku. Jikalau kepada benyagah Ambon itu atas kepada gurendur dan fetor* semuhanya di tanah Ambon. sehingga dalam berkellai ini.’ Itulah kesudahannya daripada titah. Jikalau mau. maka kata jeneral: ‘Ada pun beta ini endak ke Bandan. ’Maka diiakanlah orangkaya sekalian tanah Ambon serta dengan janjinya.’ Maka kata fetor kepada orangkaya gimelaha: ‘Betapa harga cengkeh ini?’ Maka kata orangkaya gimelaha: ‘Bukan aku empunya cengkeh. maka atas kepada jeneral. tujuh puluh harga sebahara cengkeh. seperti membuat kota atau berkellai atau kurang kuasa barang sesuatu.’ Lalu kata orangkaya-kaya: ‘Berilah tengah delapan puluh. Karena surat dari Betawih demikian katanya: ‘Ada pun kepada bicara yang lain. maka cengkeh itu hargakan lagi atau kurang lagi . Yang empunya cengkeh itu orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon. tetapi surat dari raja dan gurendur dari Ternate minta bantu ke sana. Apabila alah kepada Kastila dan Tidore atau bedamai dengan dia. Tellah demikian hatta datang kepada tahun yang lain. karena benyagaan itu sama sukah keduanya.’ Itulah kesudahannya. Ada pun daripada titah seri sultan di Maluku demikian bunyinya: ‘Bahwa sesungguhnya tanah Ambon itu takluk kepadaku. karena banyak datang Kastila ke Tidore.’ Maka diiakanlah orangkaya-kaya semuhanya kepada kata gurendur itu enam puluh tujuh real. Tatkala itu jeneral Lurinsu Riyal* dan amiral Astiwin Warhaga* pun datang serta kelengkapannya delapan buah kapal. tetapi beta minta kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya-kaya semuhanya enam puluh tujuh.’ Maka fetor pun mau dan orangkaya-kaya sekalian pun mengikut kata gimelaha itu. Kemudian kata gurendur: ‘Sudah putus tujuh puluh. baik dan jahat. demikian katanya: ‘Enam puluh pada harga sebahara cengkeh itu. atas kepada fetor semuhanya. tetapi kepada artanya itu mana kehendaknya tiada kepadaku. Maka disampaikan surat itu kepadanya. datang utusan dari Ternate minta bantu kepada gurendur.’ Maka kata fetor: ‘Tengah tujuh puluh.

maka ia membuat suatu fitna kepada sengaji* Boano. lalu menyuruh kata kepada sengaji dan orangkaya semuhanya keluar. Ia . Itulah kesudahan harga cengkeh pada ketika itu.daripada enam puluh itu atau lebihkan lagi daripada enam puluh itu. lagi johan pahlawan. Maka gurendur serta angkatannya pulang ke Kota Laha dan Kapitan Hitu serta kelengkapannya pulang ke negerinya. Jikalau mau keluar. Alkissah peri mengatakan tatkala gurendur keluar dengan angkatan. Tetapi daripada ia endak kejahatan itu. Itulah kita taksirkan kepada gurendur. Sungguhpun besar tubuhnya itu tetapi kuat. Melainkan dengan adil gurendur. demikian katanya: ‘Betapa perbuatan sengaji Boano demikian itu?’ Maka kata perdana gimelaha: ‘Ada pun perbuatan sengaji itu kami tiada mengetahui kepadanya. Maka suatupun tiada lagi fitna pada kedua pihak itu karena sudah keputusan kata yang baik dan jahat. yakni sudah di luar perjanjian.’ Tellah demikian itu. beta menyuruh kata kepada sengaji. susunya bagai susuh perempuan. maka Kapitan Hitu dan gurendur serta orangkaya sekalian menghukumkan kedua pihak itu.karena kesukaan dan keadaan itu tiada berapa dalamnya. lagi ia alim dan tiada orang besar tubuhnya bagai dia dari Maluku sehingga datang ke Ambon. Maka suatupun tiada fitna lagi. lagi ia hukum dalam negeri Ternate. apahtah daya? Lapas taksir kita kepada sengaji dan orangkaya-kaya dalam negeri Boano. karena tanah Boano itu tanah raja dan orang itu pun rakyat raja Ternate. karena fitna itu tiada subut lagi. sehingga ditaksirkan juga. Yang benar itu dibenarkan dan yang salah itu disalahkan serta didamaikan kedua kaum itu dengan kebajikan. karena ia perdana yang besar dalam negeri Ternate. Dan negeri sekalian pun dengan kesukaannya serta dimulianya. Maka beta minta kepada gurendur sabar ahulu.’ Maka diiakanlah oleh kedua pihak itu serta disuratkan dalam kertas tatkala disuratkan itu di pantai Gamusungi di hadapan jeneral dan amiral dan perawara sekalian daripada pihak Nasrani dan hadapan mengkubumi gimelaha Syabidin dan perdana sekalian perwara di tanah Ambon serta Kapitan Hitu daripada pihak Islam itu.’ Lalu gurendur serta angkatannya mendatangi negeri Boano. Tellah demikian itu datang johan pahlawan gimelaha Hidayat. maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur: ‘Ada pun gimelaha itu tiada bicarakan. lalu jeneral belayar ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. Ia datang tanya kepada perdana gimelaha. Alkissah peri mengatakan serta kuceriterakan tatkala perdana gimelaha Hidayat keluar serta angkatan datang ke tanah Ambon. beta damaikan dia dengan gurendur. apabila jika ia tiada mau. melainkan melakukan kebaikan dan kebenaran serta kesukaan dunia dan tiada mengirangirakan hari yang kemudian.

Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sabar dahulu. kita ikutlah. tanya kepadanya maukah bedamai atau tiada maukah. yakni sakit. kita masuk kepada orangkaya-kaya tanah Bandan. Daripada beta ingat tanah Bandan* dan tanah Hitu daripada zaman dahulukala. Tetapi daripada kehendak Kapitan Hitu demikian itu. maka wafatlah perdana gimelaha pulang ke rahmat Allah.’ Maka kata jeneral: ‘Bukan kami minta bedamai. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. maka masuk di pantai Lontor. demikian katanya: ‘Ada pun beta ini bukan disuruh oleh jeneral. ialah memutuskan. Apabila jika tiada boleh. supaya jangan menyasal kepada hari yang . daripada ia mengatakan hukum itu serta dengan hukum Allah. upama terbit matahari cahayanya menarangkan yang adanya. Baiklah kita tolong kepadanya dengan pekatahan. tiada dapat kita tegah kepada perbuatan itu.’ Lalu Kapitan Hitu naik kepada angkatan itu. apahta daya? Karena pekerjaan itu pekerjaan yang benar. Sudah kita tolong dengan makanan tiada sampai.membuat ibadat. lalu masuk kepada negeri Salamah berhadapan serta orangkaya-kaya tanah Bandan* semuhanya. Daripada itulah termasyhur nama johan pahlawan hukum Hidayatullah di tanah Ambon. torompetanya* dan himpunkan soldadu serta dengan senjatanya. Maka beta tolong dengan makanan tiada boleh. Ia belabu sehingga datang labuan Komber. jika boleh. Kemudian anak orangkaya-kaya tiga puluh orang serta Unus Halaene ibn Kapitan Hitu naik kepada kapal Inggeris ikut belakangnya. melainkan suatu kata kami minta kepada orangkaya-kaya. kami endak berkellai juga. tiada pulang ke negerinya lagi.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa tipu kita kepada tanah Bandan? Karena tatkala kita berparang dengan orang Feranggi ia tolong kepada kita. Maka pada ketika itu tanah Ambon dalam hukum Hidayatullah. tetapi ihtiar dahulu kepada budi akal kita. Maka Kapitan Hitu tanya kepada jeneral: ‘Endak ke mana angkatan ini?’ Maka kata jeneral: ‘Endak ke Bandan* berkellai. Hatta datang angkatan itu antaranya laut Puluh Suanggi* dan Gunung Api. hatta berapa antaranya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Syabidin pun uzur. sehingga enam orang juga mengikut dia.’ Maka Kapitan Hitu naik. Serta ajal Allah. Lalu ia berkata kepada orangkaya-kaya. Tellah demikian itu. Ada pun pada tatkala itu barang hukum daripada zaman yang tiada boleh putuskan orangkayakaya sekalian di tanah Ambon itu. taat siang malam tiada berputusan mengaraskan agama Islam. maka didirikan tunggulnya sekalian kapalnya itu serta bunyi tamburunya*. Kemudian daripada itu datang jeneral Pitir Eskun* serta angkatan masuk ke Kota Laha.

kemudian. pertama negeri. jangan lagi Kapitan Hitu turun ke darat. keempat makanan. artinya kata itu sudah lengkap karena perbuatan manusyia itu serta dengan harkat. Selamanya parang kami sahingilah* empat perkara itu.’ Tellah kata demikian itu.’ Maka kata orangkaya-kaya kepada Kapitan Hitu: ‘Apa2 empat perkara itu?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun empat perkara itu. didirikan tunggul putih di pantai. Maka ia tanya: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka suruan itu menyahut: ‘Ada pun Kapitan Hitu minta ampun daripada orangkaya-kaya sekalian. maka kami katakan kepada orangkaya Kapitan Hitu dengan jeneral. ada sakit sedikit. maka tiada ia turun. tetapi kami parang dengan Wolanda ini bukan sekarang. Daripada itulah periksai kepada orangkaya-kaya empat perkara ini. apatah lagi?’ Lalu pulang orang itu menyampaikan kata itu kepada orangkaya Kapitan Hitu dan jeneral.’ Hatta datang kepada janjinya. supaya kita dengar apa kehendaknya itu. karena perbuatan ini sudah ia membunuh kepada kami orang banyak. maukah atau tiadakah. supaya kami himpunkan orang sekalian. tetapi kita menyuruh juga kepadanya menyampaikan perjanjian kita itu. pulang dahulu. jangan kata kita dibebohonkan. supaya ia pulang.’ Maka kata Kapitan Hitu ialah kata jeneral itu: ‘Kita tiada turun kepadanya. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sudah lepas . Pada malam itu datang seorang daripada negeri Bandan. maka orangkaya datang di sana. lalu menyuruh turun kepada orang itu. Apabila jika sudah lengkap. maka ia berkata kepada jeneral: ‘Kita dengar orang Bandan* bicara dalam negeri: “Kita berhimpunkan orang serta senjata menanti di pantai. Apabila jika datang Kapitan Hitu dan Wolanda itu kita pagang semuhanya. Tetapi apa kehendak orangkaya-kaya katakan juga kepada kami. maka dilihat oleh Kapitan Hitu dari kapal. Tetapi kehendak Allah ta`ala itu siapa mengetahui?’ Maka menyahut pula orang yang disuruh itu: ‘Daripada itulah maka dikira-kirakan. apatah lagi dinantikan? Jika kurang lagi suatu perkara daripada empat itu.’ Maka kata orangkaya-kaya semuhanya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu. apabila di mana kami bedirikan tunggul putih. Dalam dua hari.’ Maka kata orangkaya-kaya tanah Bandan* kepada Kapitan Hitu: ‘Baiklah. sudahkah lengkap atau bulum lagikah.bebaikan dahulu dengan dia. Jika bagai kata orangkayakaya demikian itu.’ Tellah demikian itu maka kata jeneral kepada Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata ini. lalu Kapitan Hitu pulang ke kapal. di sanalah kami menanti. kedua senjata. Kemudian apa2 barang kehendak kita itu katakan kepadanya”. artinya dusta. ketiga manusyia. Kita pun lengkapkan kepada empat perkara itu. benar juga orangkaya kata kepada empat perkara itu. Ia masuk kepada Wolanda.

’ Maka seorang kapitan. tiada boleh masuk ke dalam negeri lagi. Pugel* namanya. Lalu undur Wolanda pulang ke kapalnya. Hatta datang bakda lohor serta dengan kehendak Tuhan sarwa sekalian alam. lalu kata jeneral: ‘Jika siyapa naik dahulu maka alah negeri itu. Beramai-ramaian parang kedua pihak itu daripada waktu duha sehingga datang asar tiada boleh alah. Kemudian daripada itu. ia masuk ke dalam serta bunyi bedil dan riuh dalam negeri. seribu real kuberi kepadanya. demikian . Tiada habar kepada yang lain lagi sehingga sana berparang daripada bakda subuh. Maka kedua pihak berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian. dan orang Bandan* pun serta dengan harkatnya.’ Maka kata jeneral: ‘Jika bagai demikian itu betapa bicara kita sekarang?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Mana perintah jeneral itu kami kerjakan. ia becakap di hadapan jeneral dan orang besar2 semuhanya. lalu masuk ke negeri Ander dan Waier. maka diturunkan gurendur Hutman* akan kapitan.’ Serta dengan cakapnya orang semuhanya itu. maka orang Bandan* pun keluar. mana kehendak jeneral itu?’ Maka kata jeneral:‘Esok pagi kita naik cobah dahulu. jual-beli. Maka sekalian kapitan serta orang banyak itu pun pulang kepada kelengkapannya dan jeneral pun pekatahan yang diperjanjikan kepada panglimanya itu semuhanya dikerjakannya. Kemudian tinggalnya itu kepada orang sekalian. kemudian perintah parang kita. tukar-menukar. maka kata jeneral: ‘Betapa perintah parang orang itu?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Demikianlah parang orang itu. Tellah demikian. demikian katanya: ‘Beta naik dahulu. dipalu gendarang parang dan riuh serta bunyi bedil seperti guruh di atas langit. supaya kita lihat perintah parangnya itu. maka menyuruh tanya kepada orangkaya-kaya tanah Bandan* sekalian. berhimpunlah di sana dan Wolanda pun duduk di negeri Lontor. jika tiada boleh alah negeri itu. Ia naik dari belakang negeri dan kapitan Pugel dan kapitan Kuluf* dan kapitan Gemala* dan kapitan Jupun dan kapitan Siyau dan sekalian kapitan serta orang banyak semuhanya naik dari laut di hadapan negeri. Maka patahlah parang Islam itu. Lain makanannya dan pakaiannya dan apa-apa rampasan dalam orang banyak itu mana sukanya ia ambil dahulu. hatta datang malam.’ Lalu ia berteguhan kata dengan jeneral.’ Hatta datang pagi hari naiklah angkatan itu butul di hadapan negeri. maka diberinya minum arak pada tempat minuman prings. maka jeneral menyuruh panggil kepada orang besarnya serta panglimanya sekalian dalam angkatan itu datang kepada jeneral. Hatta terbit matahari.taksir beta. Itulah adat berteguhan janji kepada orang itu. maka Wolanda daripada kapitan Hutman* ia naik dari belakang negeri. beta pun tiada kembali.

Maka kata jeneral: ‘Sekarang ini upama tulur hayam digulingkan dari tanah Bandan* sampai ke tanah Wolanda: tiada boleh pecah lagi.’ Lalu orangkaya-kaya keluar bedamai dengan dia.’ Tellah demikian itu maka jeneral menyuruh panggil kepada orangkaya semuhanya. Maka jeneral serta angkatannya pulang ke negerinya dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. apahtah daya?’ Maka kata orangkaya-kaya Bandan: ‘Yang tellah sudah itu jangan disubut lagi. bennarnya dengan dia. lalu ke Jawahkatra* dan orang Bandan* yang tinggal itu semuhanya pindah ke tanah Seran dan Goron*. Lalu keluar bunga pala timbang kepada fetor. Maka sekarang ini kami endak belayar. Itulah kesudahan berkellai tanah Bandan. demikian katanya kepada jeneral: ‘Ada lagi bedil besar dalam negeri Bandan . maka suatupun tiada lagi fitna. datang ke tanah Hitu.’ Maka kata Wolanda: ‘Barang seadanya itu berikan kepada kami. lalu dinaikan ke kapal. marilah kita bedamai. Lalu belayar ke tanah Ambon. semuhanya delapan ratus delapan puluh orang kepada kapal. kemudian beta tunjukan kepada orang yang menaruh dia itu. maka kita berkellai.katanya: ‘Bukankah Kapitan Hitu endak damaikan kita kedua? Daripada orangkaya-kaya tanah Bandan* tiada mau bebaikan. jika tiada mau bedamai. Jika ia katanya tiada lagi.’ Maka disuruh oleh orangkaya-kaya panggil kepadanya semuhanya datang ke negeri Salamu. Baik juga orang semuhanya cerai-berai itu suruh pulang keruan kepada tempatnya. Kemudian daripada itu kata Mai Hasan ibn orangkaya Bulaisi dan orangkaya Orotatan. karena senjata itu semuhanya dalam negeri itu juga.’ Maka kata orangkaya Bandan: ‘Tiada lagi pada kami. Alkissah dan kuceriterakan kemudian daripada . Kemudian kami belayar supaya kami menyampaikan kepada orang besar2 di negeri Wolanda pun dengan kebenarannya.’Maka diberikan dua puluh esfangar* kepada Wolenda itu. Maka orangkaya-kaya semuhanya tiada dapat besangkal lagi. Dragon namanya. Semuhanya itu minta serta anak orangkaya-kaya empat puluh orang itu. Maka menyuruh datang mengadap kepada raja Mangkasar minta pindahkan ke Mangkasar. kuliling soldadu serta senjata. seribu kali kami sukah. maka kata jeneral: ‘Jika hati bennar mau bedamai. lalu kata kepadanya bagai kata orang itu. dan empat puluh orangkaya-kaya semuhanya dibunuh oleh Wolanda itu. itulah tanda bebaikan. Jika mau bedamai. Maka ditipu oleh Wolanda. Maka raja menyuruh angkatan ke Seran memuatkan dia datang ke Mangkasar. rubuhkan kotamu dan berikan senjata yang adanya itu. Ada pun kepada sekarang ini mana bicara orangkaya-kaya kita dengar. Jika kepada sekarang ini jeneral mau bebaikan. Itulah hal alah tanah Bandan. lalu dikeluarkan semuhanya serta anak orangkaya-kaya itu.

lalu kepada Nagahpatan*. Maka ia menyembah.’ Lalu Mihirjiguna tanya kepada jeneral: ‘Kapal semuhanya itu endak ke mana?’ Maka kata jeneral: ‘Kapal itu endak ke Malaka. maka Mihirjiguna naik ke darat berhadapan dengan jeneral serta orang besarnya. maka didirikan gerejanya akan tempat berhalanya. Tellah demikian itu berapa lamanya datang ke tanah Keling. lalu kepada Tirubambu* dan Tirumulawasir* dan Kunmuri*. Nona Sinyora di Mundi* namanya. kuserahkanlah kepadanya yang kehendaknya itu. Kemudian daripada itu maka belayar sehingga datang ke Palikat*. Hatta terbit matahari. seketika lagi patah tiyang buritang itu. Lalu ia belayar ke bandar Masilpatani*. Ada pun San* Tumi* itu ada suatu bukit. Apabila datang musim barat akan perginya pulang.jeneral belayar membawah kepada orang Bandan* itu. Ada menjual dirinya sendiri.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata demikian itu. Karena di situ ada kota Wolanda.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Beta minta kepada jeneral sementari lagi lambat musim. Jika tiada boleh kembali ke tanah Bandan* pun. ada pulang ke negeri Holandes. lalu naik Mihirjiguna belayar. Di situlah tempat ia menyembah berhalanya itu.’ Lalu ia naik kepada sebuah kapal. maka dinamai San* Tumi*. sehingga tanah Ambon pun baik juga jika dilapaskan oleh jeneral. beta endak turut kapal yang ke bandar Masilpatani*. Daripada Feranggi duduk dari situ. ia berhenti entah berapa lamanya.’ Maka iakan oleh jeneral dan diberinya seribu real akan bekalnya dan sangat mulliya kepadanya serta kasih lain2 -. maka belayar dari Pudiceri*. ia duduk kepada . ada tengah tiga real. Delf namanya kapal itu. mau melihat dunia tanah Keling barang seadanya hidupku sehingga datang musim barat.angin pun tedduh. tetapi musim lagi lambat datang. Hatta berapa lamanya maka datang ke Jawahkatra*. Hatta berapa lamanya di tengah laut datang tofan angin ribut. ada ke bandar Masilpatani*. maka Mihirjiguna masuk mengadapat* perdana Kapitan Hitu. ada ke Laut Mera. Maka naik ke darat bejalan ke negeri Pujiciri*. Bunyi layar seperti bunyi bedil.lagi lambat musim. lalu berkata: ‘Beta endak belayar ke Jawahkatra*. ada ke Jambi. menubus dengan harganya dua real seorang. kepada negeri Tunahpatnan. belayarlah engkau. Lalu kata jeneral kepada Mihirjiguna: ‘Ada pun barang kehendakmu itu kami terimalah. Tellah menubus itu. Maka apa kehendaknya Arinjiguna* itu semuhanya dikatakan kepada jeneral pun terimalah kepada kehendak Mihirjiguna itu.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa kehendakmu belayar itu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kita belayar ini tiada kehendak kepada yang lain melainkan kubicarakan orang Bandan. ada menjual anaknya.tiada dapat diceriterakan kepada kasihnya itu --.

maka datang ke Ambon masuk ke Kota Laha. jika datang tengah hari maka mandi kepada air yang sejuk itu. maka beta serahkan kepada dia. Dan pasan jeneral dalam surat kepada Kapitan Hitu dan gurendur Herman Aspel*. seperti perbuatan yang kegemaran kepada keelokan serta keinginan hati manusyia. Tellah demikian itu hatta datang musim maka ia pulang. maka diberikan surat itu pada tangan Sifar alRijali. Apabila jika dengan baiknya musim yang datang ini suruan ke mari. maka Mihirjiguna sakit. dan kesukaan dan kedukaan pun demikian lagi. dan orang membuang segala najis manusyia dalam negeri itu. Di sanalah ia melihat perhiasan dunia semuhanya lengkap. tatkala zaman sultan Muhammad Huli akan kerajaan di negeri Gulgonda. seperti orang kaya dan orang miskin. lalu belayar. Maka dibaiki suatu petti dilapis dengan tima hitam. lalu dibaca sendirinya. maka dinaikan kepada sebuah kapal membawah kepadanya. maka ia mati pulang kepada asalnya. Entah berapa lamanya di tengah jalan. maka gurendur kata kepada Kapitan Hitu: ‘Baik juga kata jeneral kepada kita kedua itu kira-kirakan kepada kehendak Mihirjiguna . bicarakan Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda serta kotanya itu.rumah syaudagar haji Baba namanya. Entah berapa lamanya dalam negeri Betawih. Entah berapa antaranya. Daripada ia tiada empunya untung. kipati syah’. Pada tatkala itu Kapitan Hitu pun ada di Kota Laha. tetapi Kapitan Hitu dan gurendur kira-kirakan kehendak Arinjiguna* itu. pada malam Ahad. Berapa lamanya di tengah laut. sehingga ibu bapa kita yang bennar itu maka kita tiada bertemu. maka ia berenti di sanalah. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Arinjiguna* itu seribus* kali beta terima.’ Tellah demikian itu. lalu datang ke Banten sehingga datang ke Jawahkatra*. ada air sejuk dan air panas kepada suatu tempat harkat kepada segala manusyia. lalu dimasukkan mayit itu ke dalam petti. dan orang berumah dalam tanah dan orang tiada berumah selama-lamanya. Di sanalah dimasyhurkan namanya Mihirjiguna itu ‘sultan karanful*. Dan kejahatan serta kebencian pun demikian lagi. Sehingga enam hari dengan kehendak Allah ta`ala wafat meninggal negeri fana datang kepada negeri yang baka pada bulan Rubiu'l-awal dua belas hari pada tahun [1032] Ha. Dan dikerjakan hamam*. Dan perbuatan pelbagai yang andak* dalam dunia semuhanya ia melihat karena Masilpatani* itu bandar Kutb Syah yakni raja Gulgonda. Apabila datang pagi hari. maka ditaburkan segala bauh-bauan dalam kafan. maka datang masuk selat antara Puluh Merkata* dan ujung Tanjung Cina.Maka diberikan surat itu kepada Kapitan Hitu dan gurendur. maka mandi kepada air yang panas itu. Lain daripada itu tiada dapat diceriterakan kepada kelakuan yang indah2.

alah-mengalah sebagailah.itu.’ Lalu dibunuh Inggeris dan Jupun itu. Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya . maka Wolanda datang rusak kepada dagang itu. artinya sakit lalu pulang ke rahmat Allah ta`ala. sarang-menyarang. karena ia berjalan atau duduk serta senjata tiada boleh meninggalkan dia dan syaudagarnya pun sangat serta murahnya tangannya. Lalu berparang pula. itulah sebabnya. karena kehendaknya Nasrani dan Yahudi itu endak mengarusakkan agama Islam dimasukkan agama Nasrani. karena adatnya raja ada kepadanya dan adat bendahara pun ada kepadanya. Maka dipertitahkan serta dengan arta disedekakan kepada fakir dan miskin dan orang besar-besar dan dipeliharakan sehingga adatnya. maka gimelaha serta orangkayakaya semuhanya tiada mau rusak dagang dalam bandar. Lalu dinaikan mait itu kepada kelengkapannya orangkaya dan orang dari negeri pun keluar mendapatkan dia di tengah jalan. Hatta datang berapa lamanya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Hidayat pun uzur. kedua membuat kotanya di tanjung Koako. makin bertambah-tambah fitnah sebab dagang. sehingga datang ke negeri. tetapi inilah perbuatan Inggeris dan Jupun. artinya negeri sengaji Hatuhaha. Itulah kesudahan pelayaran Mihirjiguna ke tanah Keling. ketiga membawah angkatan mendatangi di tanah Seran. Lain daripada itu banyak lagi perbuatannya. Serta kehendak Allah ta`ala. Ialah bengis di tanah Hitu serta kelakuannya. Seorangpun tiada sebagainya di tanah Ambon. Daripada itulah maka digelar nama kelengkapannya itu ‘buang destar’ namanya dan demikian lagi kehendaknya Islam endak mengarusakkan agama Nasrani dan Yahudi dimasukkan kepada agama Islam. Hatta berapa lamanya maka datang titah paduka serri sultan Ternate suruh bedamai. tanah Ambon dalam hukum perdana gimelaha Hidayat. lalu paranglah gimelaha Luhu dan gimelaha Leliyato serta di tanah Ambon semuhanya. Maka kedua kaum Islam dan kaum Nasrani itu berparanglah. kemudian daripada Arinjiguna* itu Unus Halaene akan hukum. Apabila datang dagang. sarang-menyarang. jika datang orang Bandan* pula. sehingga tanah Hitu juga tiada mengikut. alah-mengalah. Pertama membuat gudang di pantai Huniyasi*. Kemudian daripada peninggal perdana itu. Dan kelakuan hulubalang pun ada kepadanya. sentiasa tiada berputusan parang di tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. maka tiada jadi kehendak Mihirjiguna itu sebab perbuatan orang itu. Kemudian daripada itu maka kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Syabidin meninggalkan negeri yang fanah itu datang kepada negeri yang baka itu. Maka ia pinda ke negeri Lesiela meneguhkan negeri itu daripada ia melihat salah kelakuan Wolanda itu.

Tellah demikian itu Kapitan Hitu pun datang dari Jawahkatra*. Maka ia bertemu kepada kapitan laut dan barang apa2 bicara dengan jeneral itu semuhanya diceriterakan kepada kapitan laut serta muafakat. Maka suatupun tiada fitnah lagi di tanah Ambon dan kapitan laut pun berangkat ke tanah Sula. Alkissah peri mengatakan sekali perastawa perdana Kapitan Hitu pada suatu ketika ia duduk. Hatta berapa lamanya datang angkatan dari Buton serta anak raja2 dan orang besar2 semuhanya membawah titah serta dengan adat mengadap kepada raja laut. Wai namanya. suruh kembali ke Ternate.Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya johan pahlawan gimelaha Leliyato ‘buang capeu*’ namanya. lalu masuk ke negeri Luhu. Lalu kapitan laut pun berangkat ke Manipa dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. Hatta datang musim perdana pun pulang. maka dikembalikan dianya. Itulah kesudahannya datang raja laut di tanah Ambon. dari Banggai datang ke Tambuku. Semuhanya diangkatnya bawah ke negeri Lesiela. maka ihtiar sendirinya. lalu pindah ke tanah Buton. Maka diturunkan yakni dikeluarkan gimelaha dua bersyaudara. keduanya memerintahkan tatkala perdana Kapitan Hitu lagi dalam negeri Betawih. tempatnya yang lama. maka suatu tiada fitnah dalam tanah Hitu. Hatta datang titah disuruh pulangkan. Itulah halnya tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Lalu Kapitan Hitu dan hamba raja Kalabata belayar ke Jawahkatra* bebicara dengan jeneral. Pada tatkala itu johan pahlawan gimelaha alah kepada sebuah negeri. Maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur. dari Tambuku lalu membaiki negeri serta dengan kotanya ia duduk. dari Sula lalu ke tanah Banggai. Daripada itulah maka parang sabil Allah di tanah Ambon tiada berputusan. maka gimelaha Leliyato ia duduk negeri Kembali dan gimelaha Luhu ia duduk di Gamusungi. sehingga sanalah ia berhenti. Apabila datang suatu fitnah . yakni negeri Luhu. maka tiada ketahuan bicaranya jeneral itu. Segali perastawa mendamaikan dua kaum itu. Maka dibawah kepada gimelaha dua bersyaudara kembali ke Tanah Besar. Entah berapa lamanya dengan takdir Allah ta`ala pulang ke rahmat Allah. lalu keluarkan kotanya di tanjung Koako itu dan gudang di Huniyasi* itu. Siyapa tempat kuserahkan tanah ini?’ Lalu diserahkan kepada orangkaya Samu2 menunggu tanah Hitu serta orangkaya Bulan. Hatta datang di sana raja Mataram menyuruh kepada tumengung* Bauhraksah mendatangi kota Betawih. karena ia dalam kesukaran. Dan di belakangnya Kapitan Hitu datang kapitan lawut baginda kiyaicili Ali ke tanah Ambon. demikian katanya: ‘Ada pun aku ini sudah tuah. Maka gurnadur Filipi Lukas* dan hukum Halaene serta angkatannya mengadap kepada kapitan laut.

hanya baik2 bicara kepada tanah ini serta . Maka ia beramairamaian kesukaannya serta bunyi-bunyian dalam negeri Hitu. yakni mendamaikan dia. maka ia kedua orangkaya Samu2 keluar serta dengan angkatan melepaskan dukacittanya. Hatta lama dengan lamanya orangkaya pun makin tuah serta dengan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala uzur. ia juga membaiki. Lalu Kakiyali membawah angkatan itu menyarang kepada sebuah negeri Hatumete namanya. Maka dipeliharakan serta adat sehingga datang seratus harinya. apabila ia mati tiada boleh masuk esukaan dan beramai-ramaian atau bunyi-bunyian dalam negeri. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Allah ta`ala siapa mengetahui? Tetapi pada perasaan diriku. maka bersuka-sukaan serta beramai-ramaian dan bunyi-bunyian dalam negeri itu. Semuhanya ditangkapnya. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala itu ada lagi hayat perdana Kapitan Hitu. yakni sakit serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi orangkaya pun wafat. Maka menyuruh antarkan maitnya orangkaya itu pulang ke negeri. Karena istiadat orang besar yang ternama. bagi Islam atau Nasrani. Maka hukum Kakiyali juga membaiki tiada jadi berkelai.daripada negeri yang lain bagi Islam atau Nasrani. melainkan hukum Halaene juga tiada mau kecewa kepada nama tanah Hitu. lalu ia kembali sehingga datang ke negeri. maka barang sesuatu fitnah dalam tanah Hitu atau tanah Ambon. Itulah istiadat mati orang ternama di tanah Ambon. wa-'llahu a`lam. Hatta datang maka kata perdana Kapitan Hitu. Maka dinaikan kepada Kakiyali akan hukum. artinya celaka. maka ia datang kepada gurendur endak mengatakan kepadanya. Entah berapa lamanya di tengngah jalan. Masya Allah ia meninggal kepada darulfanah datang kepada darulbaka. kemudian daripada itu. Maka kuceriterakan tatkala itu negeri Iwa* dan orang Wolanda endak berkellai sebab Pati Herman. Maka datang kehendak Allah ta`ala kepada seorang perempuan bedzebai. jangankan sesuatu negeri. kemudian dibagi dua: setengah didudukkan di negerinya dan setengah dibawah kepadanya ke negeri Hitu. Daripada ialah orang Wolanda itu tiada dapat melakukan kehendaknya kepada tanah Hitu pada zaman itu. pulang ke rahmat Allah. Tetapi kepada fitnah tiada dapat dikatakan lagi daripada nafsu dunialah. Hatta berapa lamanya apa2 kehendaknya. Maka ia tiada boleh tahan dirinya lagi. melainkan alah sebuah negeri atau keluar arta daripada takluknya sekalian. Daripada itulah maka ia keluar membawah angkatan menyarang negeri. memberi racung kepadanya. maka orangkaya Samu2 pun uzur. jikalau seseorang juga pun. yakni meninggal kepada dunia datang kepada akhirat. maka dalam uzur itu menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya semuhanya.

maka dikerjakan. jangan seorang mengaku ia sendirinya. sadaha* Semaun namanya. sarang-menyarang. tiada dengan periksyanya. Maka ia masuk ke tanah Hitu. alahmengalah sebahagai juga tiada berputusan. sehingga negeri Luhu juga dua bahagi. membawah titah datang kepada perdana gimelaha serta Ulima dan Ulisiwa. melainkan keempat orangkaya dan Kapitan Hitu serta muafakat. karena Kapitan Hitu sudah mengetahui kelakuan Wolanda itu. maka berapa kali tipu kepada Kapitan Hitu. maka dinaikan kepada hukum Kakiyali akan Kapitan Hitu serta perjanjian: ‘Apabila barang suatu pekerjaan atau pekatahan.dengan agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.’ Maka menyahut pula orang banyak itu: ‘Bennar kata tuhanku itu. Maka tiada boleh dikerjakan kehendaknya.’ Dan apa2 pekatahan serta adat tanah Hitu semuhanya dikatakan kepada keempat perdana dan berapa2 pekatahan yang dahulu kala itu semuhanya dikatakan kepada anak buahnya. Maka gurendur Artus* dan orangkaya-kaya semuhanya muafakat.Karena pada tatkala itu perdana gimelaha serta negeri semuhanya berkellai dengan Wolanda. lalu gurendur Kisil ia belayar ke Betawih. karena dalam titah itu .’ Maka gurendur pun percaya. Maka dipeliharakan mait perdana itu dan disedekakan arta kepada segala penghulu agama dan orangkaya-kaya dalam negeri Hitu sekalian dan diadatkan sehingga datang seratus harinya. Apabila sudah muafakat serta minta angkatan datang berkellai dengan Wolanda. Iapun demikian juga kelakuannya.tetapi bulum lagi dengan kehendak Allah ta`ala tiada jadi tipunya itu. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. melainkan mana kehendak Allah ta`ala serta orang banyak itulah memangku tanah Hitu. Kehendak Allah ta`ala siyapa mengetahui. maka orang membawah fitnah kepada gurendur itu. Itulah nama keempat serta Kapitan Hitu pada zaman itu. maka berparanglah dan sebahagi serta kiyaicili Sibori memegang Wolanda membuat gudungnya di negeri Luhu dan paranglah kedua pihak itu.’ Karena pada ketika itu mardan Baros akan Nusatapi nama gelarnya dan mardan Mulutan akan Totohatu nama gelarnya dan mardan Kelisa akan Pati Tuban nama gelarnya dan mardan Kiyoan akan Tanihitumesen. Tellah demikian itu entah berapa dalamnya maka Kapitan Hitu menyuruh dua buah parau utusan ke Mangkasar. tetapi jika datang masya Allah siyapa membawah tanah Hitu ini?’ Maka kata orangkaya: ‘Tiada dapat dikatakan. lalu pulang ke rahmat Allah. maka digantikan Antoni* akan gurendur. Tellah demikian itu datang masya Allah. Sebahagi serta perdana gimelaha dan negeri sekalian. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu menyuruh ke Mangkasar endak muafakat dengan serri sultan di Goa.

demikian buninya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu dan orangkayakaya sekalian dalam negeri Hitu, serta utusan sadaha Semaun mendamaikan kepada gimelaha dengan gurendur dan membaiki tanah Ambon Ulima dan Ulisiwa, supaya jangan jadi fitnah. Karena perjanjian Wolanda itu seorangpun tiada mengetahui, melainkan Kapitan Hitu juga mengetahui dia dan ia juga menaruh surat yang perjanjian itu.’ Tellah demikian titah itu, maka kata orangkaya-kaya tanah Hitu: ‘Jika bagai kehendak titah demikian itu, baik juga utusan pulang dahulu ke Tanah Besar,kemudian kami mengikut di belakang.’ Maka utusan pulang menanti di pantai Luhu, maka datang gurendur itu pun demikian juga, lalu ia mengikut utusan itu menanti di pantai Luhu. Maka Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya keluar dengan kelengkapannya, lalu menyebarang. Hatta datang ke Tanah Besar, maka gurendur serta angkatannya mendapatkan dia di pantai Warau. Maka kata gurendur itu:‘Marilah kita berkata2 dahulu, kemudian kita masuk ke pantai Luhu kepada orang banyak.’ Maka Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya semuhanya naik kepada kelengkapannya gurendur itu, maka dipagang semuhanya serta Kapitan Hitu. Maka riuhlah orang dalam kelengkapan itu, lalu dikelilingkan angkatan kepadanya. Ia sebuah2 juga ditengah2 serta pasang-memasang, tembak-menembak datang pengelodan rawaki itu seperti titi hujang atas air masing dan asap obat menjadi awan antara langit dan bumi. Dan buni bedil serta* kilat dan riuh seperti ceritera buni sangkakalah tatkala hari kiamat kepada yaum al-mahsyar. Karena angkatan Wolanda itu lima puluh aluan, lain daripada kapal dan patacoh*, maka ia sebuah2 juga melawan dengan dia.Sehingga datang kepada tanjung Kahula Wolanda itu pun undur. Iapun masuk ke pantai Lesiela, lalu menyuruh sebuah perau membawah kepada Patiwani. Ia pulang ke tanah Hitu menyampaikan khabar itu kepada negeri serta dipindahkan negeri semuhanya naik ke atas gunung. Dan undur angkatan Wolanda itu, lalu menyebarang ke tanah Hitu endak menyarang kepada negeri, tetapi tiada dapat lagi. Maka menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya, demikian katanya: ‘Apa kerja pindah? Karena tanah Hitu dan Wolanda itu seperti laki-bini. Apabila bini salah itu melainkan lakinya juga ajar kepada dia, maka beta pagang kepada Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya ini. Demikian itulah halnya orang laki-bini dalam dunia, tetapi keluarlah kita kedua berbicara serta kebaikan.’ Maka kata orang Hitu:‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi kembalikan dahulu kepada Kapitan Hitu dan orangkaya2 itu, maka kami keluar kepada gurendur.’ Maka dilepaskan kepada orangkaya-kaya itu, Kapitan Hitu juga tiada dilepaskan. Maka orang Hitu pun tiada mau keluar kepadanya

serta memerintahkan negerinya. Dan utusan sadaha Semaun pun menangkap kepada orangkaya-kaya dalam negeri Luhu; yang memagang kepada Wolanda itu pun ia bawah ke Maluku. Maka orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon tercangan terlalu khairan kepada perbuatan gurendur dan utusan sadaha Semaun itu, maka tanah Ambon semuhanya tiada ketahui kehendaknya. Setengah berkata: ‘Baik kita berkellai.’ Dan setengah berkata: ‘Baik kita bedamai, karena sudah didamaikan kita dengan gurendur.’ Dan setengah pula berkata: ‘Jangan kita berkellai dan jangan kita bedamai sehingga diam sahanya*, supaya kita menanti kehendak titah.’ Maka kata perdana gimelaha dua bersyaudara: ‘Bennar juga kata orangkaya itu. Tetapi kepada perbuatan Wolanda ini rusak kepada agama rasul Allah di hadapan titah yang dipetuan, daripada ia tiada berupama ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza, nasrun min Allah syah, zill Allah fi 'l-`alamin.Daripada itulah baik kita berparang dengan dia.’ Lalu muafakatlah tanah Ambon semuhanya sehingga sebuah negeri Luhu juga. Maka kata Sifar ar-Rijali di hadapan perdana,Ulima dan Ulisiwa: ‘Ada pun berkellai ini sebab, apabila jika sebab Kapitan Hitu, sabar dahulu, supaya kita menanti titah yang dipetuan dan kabaran.’ Maka kata Ulima dan Ulisiwa: ‘Sebab agama rasul Allah, kedua perkara sebab titah tiada berupama ke bawah dulli yang dipetuan.’ Dan barang apa2 pekatahan kepada hari yang kemudian itu, semuhanya ditaksirkan di hadapan perdana gimelaha dan orangkaya sekalian. Tellah sudah ditaksirkan kata demikian itu, lalu ia beli obat bedil empat balas bahara cengkeh harganya, dan tengah tujuh ratus padang. Lalu ia pulang serta orangkaya gimelaha dan negeri Waibuti ke tanah Hitu serta muafakat dengan orangkaya2 di tanah Hitu. Lalu ia pulang, maka negeri Hitu sekalian berkellai, sehingga orangkaya Tanihitumesen dengan orangkaya Bulan juga tiada berkellai. Ia mengikut kepada Wolanda itu, maka ia jadi musuh kepada negeri Hitu sekalian dan negeri sekalian pun memerintahkan kepada hulu parangnya. Maka digelarnya kepada pendagar Nahoda dan pendagar Pati Husen* keduanya akan panglima di tanah Hitu. Lalu ia pergi merompa di tanah sebelah kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka diteguhkan Allah subhanahu wa-ta`ala, berkat agama rasul Allah serta dengan kemenangannya, maka ia pulang di negeri Wawani, makan-minum, bersuka-sukaan dan disalin kepadanya serta dengan dimasyhurkan namanya johan pahlawan Patiwani. Itulah hasiat* orang parang sabil Allah dalam dunia. Tellah demikian itu pendagar Telukibesi ia pergi merompa pula kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka dengan kehendak Allah ta`ala berkat agama rasul Allah serta kemenangannya, lalu ia

pulang di negeri Kapahaha bersuka-sukaan dan dimulliya kepadanya serta dimasyhurkan namanya johan pahlawan Tubanbesi. Ia duduk di gunung Kapahaha. Itulah faedah orang parang sabil Allah dalam dunia, entah berapa lagi dan* akhirat; karena riwayat pandita dalam syarah Sunusi*, dua perkara orang masuk syurga tiada dengan hisab* lagi, suatu perkara tarekad dunia, kedua perkara parang sabil Allah. Daripada itulah, maka beramai-ramaian negeri sekalian berparang dengan Wolanda itu. Maka kata Wolanda itu: ‘Apabila orang Hitu keluar duduk di pantai seperti dahulu kala itu, maka kami keluarkan Kapitan Hitu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi keluarkan dahulu, maka kami turun duduk di pantai kembali seperti dahulu itu. Jikalau tiada lepaskan dia, kami pun tiada mau keluar.’ Maka negeri semuhanya tiada keluar sehingga orangkaya Bulan, ayah mudanya Kapitan Hitu serta tujuh negeri keluar duduk di pantai serta Wolanda itu. Maka kata orang sekalian kepada orangkaya itu: ‘Betapa kehendak orangkaya keluar itu?’ Maka kata orangkaya: ‘Baik juga kita keluar ikut katanya. Dalam tujuh bulan itu apabila dilepaskan kepada Kapitan Hitu, maka negeri sekalian keluar. Jikalau tiada dilepaskan kepada [Kapitan] Hitu dalam tujuh bulan itu kita berbantahkan perjanjiannya.’ Maka orangkaya keluar serta muafakat dengan orangkaya-kaya, lalu orangkaya Tanihitumesen belayar ke Betawih. Dan apa2 kehendak orangkaya itu semuhanya dikatakan kepada jeneral, maka di belakang orangkaya negeri semuhanya itu keluar masuk kepada musuh itu,tiada lagi berkellai. Maka kata Sifar ar-Rijali kepada orangkaya-kaya dan panglima serta pendagar sekalian, demikian katanya: ‘Apabila perbuatan kita demikian ini?Rusaklah negeri kita dan Kapitan Hitu pun tiada dikembalikan lagi oleh Wolanda itu.’ Lalu ia pergi merompa kepada orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala serta dengan kemenangannya, maka ia pulanglah ke negeri Wawani bersuka-sukaan, maka seorangpun tiada keluar lagi.Entah berapa lamanya datang orangkaya Tanihitumesen, maka orangkaya-kaya menyuruh tanya kepadanya: ‘Betapa kehendak jeneral kepada Kapitan Hitu, lepaskankah atau tiadakah?’ Maka ia berkata: ‘Ada pun kata jeneral, tiga bulan lagi datang kapal dari Bandan, maka dilepaskan kepada Kapitan Hitu.’ Maka negeri Hitu semuhanya menanti sehingga datang tiga bulan tiada juga dilepaskan, maka kata negeri sekalian kepada orangkaya Bulan: ‘Ada pun perjanjian gurendur kepada orangkaya dalam tujuh bulan, sekarang sudah lalu tiga bulan, maka tiada ia mengikut perjanjian itu. Betapa lagi kehendak orangkaya itu, kami ikut juga, tetapi baik orangkaya undur dahulu. Kemudian apa kehendak orangkaya itu katakan

Daripada ia bulum lagi untungnya. Maka kata johan pahlawan . Maka perdana gimelaha serta Ulilima dan Ulisiwa keluar meromparompa kepada negeri Yahudi dan Nasrani. membawa titah memanggil kepada gimelaha dan orangkaya-kaya. Maka Kipati Luhu dan Pati Tuban dan imam Nusaniwe. supaya kita kerjakan. datang armada dari Betawih endak menyarang kepada kota Lesiela. Hatta datang angin daratan. Hatta dengan takdir Allah ta`ala entah berapa-rapa negeri Nasrani takluk Wolanda itu bebali kepada johan pahlawan gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. sehingga dipindahkan kepada negeri Loin naik ke atas gunung. gimelaha Bobawa. maka ia bertemu kapal Wolanda itu. lalu paranglah negeri semuhanya beramairamaian. maka kedua pihak pasang-memasang. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. tetapi kepada parang Wolanda itu tiada dapat diceriterakan pelbagai parangnya. Hatta datang musim barat. tetapi iapun tiada turun dan iapun tiada naik sehingga berapa lamanya Wolanda pun pulang dan angkatan Islam pun kembali serta perdana gimelaha. sarang-menyarang sebahagailah tiada berhenti lagi. Pada ketika itu pahlawan Patiwani seorangpun tiada sebagainya di tanah Hitu. lalu melawanlah ia dengan kapal itu daripada waktu duha sehingga datang waktu asar.juga kepada orang sekalian. Dan kuceriterakan perdana gimelaha dan orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. Apabila masuk matahari. serta perdana gimelaha Luhu pergi mengadap ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza. lalu ia pulang ke Betawih. Tellah demikian itu maka kuceriterakan: di belakang perdana gimelaha Luhu itu johan pahlawan gimelaha Leliyato memangku tanah Ambon serta memerintahkan parang sabil Allah dan berkat agama rasul Allah serta kemenangannya. Hatta datang tiga bulan bertungguan tiada boleh alah. pagi pettang tiada berantara lagi. Lalu datang ke pantai Wawani. Sebahagai juga parang kedua pihak itu.’ Itu pun tiada juga orangkaya mau undur sehingga empat buah negeri undur naik ke gunung. maka tiada jadi mendatangi dia. Maka kedua pihak berparanglah siang dan malam. lain daripada itu tiada kusebutkan. tetapi perdana gimelaha sudah harkat menanti dia. di mana merompa di darat atau di laut tiada lain ia juga. nasrun min llah syah. sekalian pati dan sengaji semuhanya keluar serta dengan angkatan endak menyarang kepada negeri orangkaya Tanihitumesen. Segali perastawa ia keluar serta angkatannya mendatangi kota dauman*. lalu kapal pun belayar dan angkatan pun undur ke pantai Wawani. entah berapa kapal serta kora2 datang pula. Maka ketika itu tanah Ambon Ulilima dan Ulisiwa semuhanya berparanglah beramai-ramaian tiada berputusan.

Maka negeri Hitu sekalian bersuka-sukaan. maka ia pulang ke negeri Wawani dan negeri sekalian memberi tiga puluh bahara cengkeh kepada jeneral akan pembeli siri pinang. demikian katanya: ‘Hai syaudaraku. demikian katanya: ‘Kapitan Hitu menjual cengkeh kepada dagang Mangkasar dan Minangkabau di Puluh Tiga. lalu ia pulang ke negeri bersuka-sukaan. jika ditahankan ia duduk sehingga tanah Hitu jua pun baik juga. engkau sekalian bukan kami endak kepada hamba sahayamu dan bukan kami kehendak kepada artamu. lalu ia pulang ke Kota Laha. makan-minum. ini pula dibawah ke ini pula dibawah ke Betawih. lalu ia pulang ke Kota Laha. beramai-ramaian dengan dia. lalu ia mengadang ke laut Puluh Tiga. nasrun . Jangan dikembalikan kepada Kapitan Hitu. Lalu Wolanda itu ke negeri Hatubawah endak menyarang kepada gunung Alaka. Maka kata orang Hitu kepada orangkaya Bulan. demikian katanya: ‘Siya-siyalah orangkaya keluar serta Wolanda itu . Hatta datang musim jeneral pun datang serta angkatannya ke tanah Ambon. Maka Kapitan Hitu pun takut tiada keluar kepada Wolanda itu. Itu belum lagi dengan kehendak Allah ta`ala. Hatta dengan takdir Allah ta`ala. lalu menyuruh kepada kapitan Yon Yan* serta orang banyak mencahari. tetapi kehendak kami itu melainkan kita bersama-sama membawah agama rasul Allah. Maka orangkaya gimelaha dan orang semuhanya pindah ke negeri Kambelo.’ Maka diiakan orang itu. lalu orangkaya-kaya semuhanya serta Kapitan Hitu pergi ke Kota Laha bedamai dengan jeneral dan gurendur serta orang besar-besarnya. Maka ditinggal kepada dia lalu orang Hila antar bawah kepadanya ke negeri Wawani.’ Maka gurendur tiada dengan periksyai lagi.[kepada] orangkaya-kaya Nasrani itu. melainkan Wolanda juga antar kepadanya sehingga datang ke pantai Hila. Nasrani atau Islam. maka dikembalikan kepada Kapitan Hitu. menyarang kepada Lesiela serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota Lesiela.’ Tellah demikian itu orang membawah fitna kepada jeneral dan gurendur. makan-minum serta disalini dengan pakaian yang inda2. nama orang hitam. makin bertambah fitnah. Itu pun tiada juga dapat. Entah berapa lamanya dalam Kota Laha.’ Lalu orangkaya belayar ikut ke Betawih dan apa2 kehendaknya orangkaya itu dikatakan kepada jeneral. Maka gurendur menyuruh sebuah kapal belayar membawah khabar kepada jeneral serta bawah kepada Kapitan Hitu ke Betawih. Ganap tanjung dan labuan tiada dapat. maka tiada boleh alah.betahanlah di sana serta orang dagang Melayu Minangkabau. Hatta tiada berapa lamanya datang paduka serri sultan Hamza. seorangpun tiada serta dia.seperti pantun Melayu: ‘Dapakan bunga setangkai jangan diaibkan orang.Sendiri-dirinya juga.

maka turun Wolanda itu mendatangi negeri Kambelo. zill Allah fi 'l-`alamin. lalu masuk ke pantai Kambelo. maka berparanglah atas bukit itu. Apabila sudah rubuhkan kotanya. berpalinglah orang sekalian.’ Tellah demikian itu panglima Nahudimeten serta imam Sifarrijali keduanya keluar datang mengadap ke bawah dulli serri sultan. nasrun min Allah syah. zill Allah fi 'l-`alamin.’ Maka kotanya itu pun dirubuhkan dan sekalian dagang itu pun belayar masing2 mencahari tempatnya. Hatta datang maka titah: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka menyahut Sifarijali: ‘Daulat tuanku. Jika tiada sakit. hatta datang titah kepada orang sekalian:‘Mana surat perjanjian dengan Wolanda itu?’ Maka menyahut orangkaya-kaya semuhanya: ‘Ada pun surat perjanjian Wolanda itu ada kepada patik tuanku Kapitan Hitu. manatah surat perjanjian Wolanda itu?’ Maka menyahut pula Sifarijali: ‘Patik minta maaf. sekalian pati dan sengaji: ‘Rubuhkan kotamu itu dan niyahkan segala orang dagang itu. ampun seribu ampun. Ada pun pada ketika itu Kapitan Hitu pun sakit. Maka suruh panggil perdana gimelaha dua bersyaudara. Hatta seketika lagi patah parang Kambelo. Tiada dapat kuceriterakan parangnya. Pada ketika itu ia duduk di negeri Kambelo. Maka menyuruh fetor Soroi* dan sarinto* pergi periksyai kepada penyakitnya itu. ada yang membawah arta bejenis-jenis serta bunyi-bunyian mengiringkan kepada payung kerajaan daulat al sultan Hamza. Maka berhimpunlah tanah Ambon sekalian berhadapan .’ Maka titah: ‘Jika ia sakit. sudah datang ke bawah dulli tuanku. Maka tanah Ambon dan Buru sekalian berhimpunlah di sana. ada yang membawah ayapan. Tetapi kepada jeneral itu tiada ia percaya. Tellah demikian itu paduka yang dipetuan berangkat ke tanah Hitu serta Wolanda itu dan negeri Hitu sekalian pun keluar jungjung serta dengan adat semuhanya dikerjakan. Lalu ia pulang katakan kepada jeneral: ‘Bennar juga kata orang itu. Maka orang Kambelo keluar serta pahlawan Patiwani Hitu. ke tanah Ambon serta raja Tidore yang diturunkan daripada kerajaannya itu dan raja Jailolo. Ada yang memagang senjata serta santiagu*. Bennar juga titah . lalu pulang orang yang memanggil itu menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuan. Hatta datang titah yang dipetuan kepada orangkaya-kaya dalam negeri Lesidi dan Kambelo. lalu dinaikan pahlawan gimelaha Leliyato kepada kapal Wolanda itu dan dikeluarkan gimelaha Luhu. suruh belayar pulang ke negerinya.’ Lalu menyuruh panggil kepada Kapitan Hitu. Kemudian berhadapan di bawah dulli yang dipetuan. sehingga Patiwani jua ia betahan parang dengan Wolanda itu. patik tuanku sakit. ada yang bejalan saja.min Allah syah. Maka Wolanda itu serta angkatannya mendapatkan paduka serri sultan.

Hatta datang kepada hari yang lain. lain daripada itu tiada kuceriterakan. sehingga kelengkapan dari Ternate itu juga serta yang dipetuan di tanah Hitu. lalu pulang ke Maluku. wa-sultan al-Din. lain daripada itu tiada kuceriterakan. alah-mengalah. maka bertemu dua buah kapal . Hatta berapa dalamnya. serta johan pahlawan gimelaha Luhu berparang dengan Wolanda itu. sehinggalah keluar yang dipetuan serri sultan Hamza. serta orangkaya Bulan dan orangkaya Tanihitumesen mengikut kepada Wolanda. menyuruh tujuh buah perau mengantarkan kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya2 pulang ke tanah Ambon.sarangmenyarang sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah di tanah Ambon. Lesidi. Liliboy. tetapi tatkala ditipu kepada patik tuanku. yang memagang surat pun tiada datang. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. karena ia tempat merampas isi rumah Kapitan Hitu. meninggalkan benua Ternate datang ke tanah Ambon. Entah surat itu ta dapat tiada kepada Wolanda. Maka tanah Ambon pun masing2 pulang ke negerinya. Itu pun demikian juga tiada berputusan. Maka serri sultan Muhammad Sya`id. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. tembak- . tiadalah kita memutuskan kepada perjanjian itu. dari Hitu menyeberang ke Luhu. maka masuk pula bicara dalam gudang Wolanda itu. Maka bersumpah-sumpahan kalam Allah dengan orang Hitu dan berjanjian dan muafakat seperti dahulu itu lagi. Berlawanlah di sana dua kaum itu. serta gimelaha Luhu. lalu dibawah belayar kepada pahlawan gimelaha Leliyato ke Jawahkatra*. nasrun min Allah syah.’ Lalu berangkat kepada kelengkapannya dan orang sekalian pun masing2 pulang kepada tempatnya. Telah demikian itu maka kuceriterakan kemudian daripada itu tanah Ambon. tiada ketahuan negeri Luhu dan negeri Lesidi. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. jangankan surat itu. ibn al-sultan marhum syah. Ada pun negeri Hitu dari Wawani dan negeri Asilulu dan negeri Alan. dari Luhu berangkat ke Kambelo. lain daripada itu tiada kusubutkan. maka berangkat pulang ke Hitu pula. lalu berangkat ke Kota Laha. Entah berapa lamanya di sana. Dan kepada tanah Hitu negeri Hila dan negeri Hitulama.’ Maka sabda yang kerajaan:‘Apabila bagai kata yang demikian itu. maka orang Hitu dan orang Kambelo serta orangkaya gimelaha belayar mengadap raja Mangkasar minta tolong kepada agama rasul Allah. Sehingga datang ke pantai Eran*. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. pasang-memasang. serta Kapitan Hitu dan Pati Tuban dan Tubanbesi. negerinya pun tiada diketahui lagi.yang dipetuan itu. karena surat pun tiada. itulah kesudahannya.

maka orang Mangkasar dan orang Wawani pun . Apabila masuk matahari. Hatta datang pahlawan Patiwani melihat kepada negeri itu. maka setengah duduk dan setengah pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar dan minta bantu pula. Dan daripada Mangkasar pun demikian juga begendang serta bunyi-bunyian. Maka orang dalam negeri itu semuhanya masuk ke dalam gudung Wolanda. tembah-menembah. maka orang Mangkasar endak masuk rusak kepada gudung itu. Tetapi penghulu dalam angkatan itu karaen* Bontomanompo dan daeng* Bulikan. Maka datang orangkaya2 dari negeri Kapahaha dan negeri Mamala minta maaf kepada Mangkasar dan orang Wawani. maka datanglah entah berapa aluwannya. demikian katanya: ‘Kami minta maaf banyak-banyak kepada penggawa dan panglima sekalian undur juga. makan-minum. lalu masuk sekali2 tiada dengan was2 lagi. ia duduk di pantai Seit. Dan yang duduk di Kambelo itu pun menyoron parangnya serta orang Ternate dan orang Kambelo alah kepada negeri Saluku. Maka ia pulang serta dengan kemenangnya bersuka-sukaan dalamnya. berlakulah kedua pihak itu serta senjata bekilat-bekilat dan bunyi-bunyian tamburnya dan kucapinya atas kepadanya.menembak. sehingga lalu pulang orang sekalian serta Patiwani ke negeri Wawani. setengah masuk duduk di Kambelo dan setengah dibawah ke Hitu membuat kotanya di pantai Seit ia duduk. Maka ia bernanti tiada masuk kepada gudung itu. Siang dan malam. alahkan dia. karena pasan yang dipetuhan tiada dengan orang Wolanda. sangngat berahinya. karena perjanjian raja kepada Wolanda itu belum lagi berubah. Lalu menyorong parangnya kepada negeri Larike dan negeri karas sukar mengalahkan dia. bersuka-sukaan. kemudian kami rusakkan dia. Hatta datang ke tanah Ambon. pagi petang pertungguwan tiada berkeputusan. Hatta berapa antaranya dalamnya parau dari Kambelo dan dari Hitu datang membawah kepadanya. berlawanlah kedua kaum itu. Hatta datang musim. dan karaen Mampo akan hukum dalam angkatan itu dan memagang arta raja itu Marala dan karaen Puli dan Malim dan Besi Lumu*. Hatta berapa lamanya kapal itu pun belayar. lalu masuk ke tanah Hitu. Endak lalukan kepada gudang Wolanda itu. maka alah negeri itu. Lain daripada itu tiada kusebutkan. tetapi anak buah kami itu kami keluarkan dahulu.’ Tellah kata demikian itu. pasang-memasang. Ada pun gudung itu atas kepada kami. karena kelengkapan Mangkasar membuat talangkeranya* di darat dan Wolanda membuat di laut atas kapalnya. Maka datang kapal Wolanda itu. Hatta datang musim barat. maka Mangkasar pun menyorongnya menyarang kepada negeri Hitulama serta dengan kehenda Allah ta`ala alah negeri itu. tetapi diteggah oleh penggawa.

Tellah demikian itu hatta datang berapa antaranya menyorong pula parangnya ke Tanah Besar. lalu pulang. Hatta datang musim barat Mangkasar tiada keluar. Maka sesungguhnya. sebab raja berangkat menyarang kepada raja Bone. menyuruh belayar ke Betawih membawah khabar kepada jeneral Fandiman*. ada mati beddil. Daripada Anin dan Laala itu pun demikian juga. lalu orang Kambelo dan gimelaha bedamai dengan orang Lesidi. Hatta datang esok harinya. Maka orang Kapahaha dan orang Mamala dan Liyan pun tiada jadi mengrusakkan dia. karena ada mati oleh pedang. Itulah tanda orang kibria dalam dunia tiada mengetahui kehendak Allah ta`ala. Ada pun kepada Wolanda itu jeneral keluar dengan angkatannya serta tanah Ambon dengan angkatan semuanya mendatangi kotanya Mangkasar itu . Serta pahlawan Patiwani menetah. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. Lalu patah parang Wolanda itu. Ia duduk di pantai Wawani. masing-masing membawah . sehingga negeri Wawani juga berkellahi dengan orang semuhanya itu serta Wolanda itu. Tatkala itu karaeng Jipang dan daeng Manggapa keduanya bedagang di pantai Kambelo. sehingga karaen Jipan* dan Manggapa serta hamba raja Marala dan Malim menunggu kepada kotanya di pantai Seit. maka ditangkis oleh Wolanda itu sehingga sedikit juga putus asfanggarnya* itu. tiada jadi berhenti. maka ia keduanya bersama-sama serta angkatan itu menyeberang ke tanah Hitu. lalu naik menyarang kepada negeri Wawani.berhenti. Itu pun demikian juga sebab orang Kambelo dan Lesidi tiada dengan sesungguhnya. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan orang mati pun entah berapa banyak tiada kuceriterakan. karena gimelaha Majira serta orang itu dan pun demikian lagi dengan negeri Anin dan Laala. belarilariyan membuangkan senjatanya. lalu pulang tiada dengan faedahnya. maka orang Hitu dan Mangkasar keluar mengamu. Maka tanah Ambon semuanya mengikut kepada Wolanda. Hatta datang musim karaeng Bontomanompo dan daeng Bolikan serta kelengkapannya pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar kepada serri sultan Muhammad Sya`id alDin. Hatta datang esok harinya. Maka berangkat serta orang Kambelo dan orangkaya gimelaha mendatangi di negeri Lesidi. sebab ia terjung dari atas gunung tiada berketahuan larinya. orang dalam gudung itu pun keluar dan bantu dari Kota Laha pun datang menolong kepada gudung itu. Serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota itu. ada mati sendirinya. Maka orang Kambelo dan orangkaya gimelaha serta Mangkasar tiada jadi menyarang kepada negeri Lesidi. Maka orang Hitu dan Mangkasar mendapat tiga puluh pucu esfangar yang tiada berapi. karena orangkaya gimelaha tiada sesungguhnya parang. tiada jadi masuk kepada gudung itu.

Sangkanya bennar orang lari. tiada mengetahui tipu dayah Kastila itu. Tellah demikian itu orang Kaitetu pun keluar serta orang Seit dan Hahutuna masuk kepada orangkaya Tanihitumesen muafakat. Ada pun tatkala parang itu hamba raja Marala dua bersyaudara mati dan pahlawan Patiwani luka dan imam Sifar arRijali pun luka pada ketika itu. daripada ia katakan kata yang baik serta membujuk dengan kata yang manis samanya Islam. membuat talangkeranya serta gudungnya di pantai Hahutuna. Hatta datang ajal Allah. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Maka naik kepada angkatannya. maka ia berkata:‘Kami endak pergi bermain di negeri kicil. Daripada itulah rusak iman orang parang sabil Allah dan melamahkan hati orang itu. Itulah sendirinya beradu tiada dengan penunggunya.’ Lalu keduanya berjalan keluar di pantai Seit. Hatta datang tengah malam ia masuk ke dalam rumah.dirinya. Maka ia pasan muruyumunya* semuhanya gennap kapalnya serta gudungnya sekalian. Maka tikam tigabelas kali serta dengan kehendak Allah ta`ala tiada makan besi kulitnya. Maka ia berbicarai dengan gurendur.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Pergilah engkau. lima buah negeri. Kemudian daripada itu Seit dan Hahutuna. jangankan laki-laki. maka turung. seorangpun tiada. lalu naik ke negeri Wawani. sehingga sekali juga makan besi butul dadanya. lalu masuk laknat itu. karena ia mengaku di laut atau di darat atas kepada orang itu dengan Hehalesi. Karena istiadat Kapitan Hitu. maka ia berparang dengan Wolanda. maka ia naik ke kapal kepada Wolanda itu dan apa-apa katanya Kastila itu. Entah berapa lamanya dalam negeri Wawani dan orang sekalian pun percaya kepadanya. Sebab itulah Kapitan Hitu menengar fitnah daripada orang itu. lalu pulang ke rakhmat Allah. Hatta datang kepada suatu ketika ia datang kepada Kapitan Hitu. hamba sahayanya sekalipun. Dan laknat itu lari ke kapal beritahu kepada kapitan. Tatkala itu Kapitan Hitu pun baringbaring. maka negeri Hitu sekalian pun menjadi daif daripada ia terkuddun ia. Ia juga sendirinya. lalu bawah kapal belabu di tanjung Hulu. Maka kuceriterakan pada tatkala itu ada dua orang Kastila lari daripada orang Wolanda datang ke negeri Wawani. jika panjangnya lima jengkal tiada boleh masuk ke dalam rumah. karena orang itu dengan Hehalesi mengaku hadapan ke pantai Hitu dan menyuruh berparang serta Wolanda. lalu tidur sekalih di luar kepada suatu balai. keluar serta orangkaya Tanihitumesen masuk kepada Wolanda. . lalu pulang ke negerinya sehingga meninggal tiga buah kapal menunggu kepada pantai Wawani. Maka negeri Wawani pun selamat. Itu orang meruntuhkan agama rasul Allah dan orang itu orang munafik.masuk kepada Kapitan Hitu dan Kapitan Hitu pun percaya kepadanya.

Baiklah orangkaya2 berhenti. karena orangkaya dalam maklum Wolanda itu.’ ‘Benar juga kata orang itu. Esok harinya ia datang. Esok harinya maka kami datang. Kemudian maka kita kira-kira apabila baik kita masuk kepadanya. Daripada itulah kita menyuruh datang kepada orangkaya2 itu serta dengan angkunya. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu sudah pulang ke rakhmat Allah. karena gurendur tiada mau.’ Ia menanti. Bolehkah kita bertemu dengan orangkaya2? Tetapi kita tiada boleh naik ke negeri. Matahari pun masuk.Maka menyuruh naik ke negeri Wawani. orangkaya2 dari Hila dan dari Mamala dan dari Kapahaha bulum lagi datang. Karena negeri semuanya sudah keluar akan katanya kepada gurendur. Lalu katanya demikian: ‘Orang kaya2-pun tiada boleh keluar. Baiklah kita sama bertemu di luar negeri. maka ekor mengikut. maka ia menyuruh datang kepada kami itu. kita empunya perbuatan itu. menyampaikan kata orangkaya itu kepada orangkaya Pati Tuban dan pahlawan Patiwani serta orangkaya sekalian. Apabila berbuatan atau tipu yang jahat bukanlah perbuatan Wolanda. lalu pergi ke sana. supaya kita muafakat mana yang baik itu maka kita kerjakan. sehingga datang kepada suatu padang di tepi sungai. tetapi kami tiada boleh keluar sebab orangkaya serta Wolanda. karena gurendur tiada mau kepada beta naik. tiada perna ekor dahulu maka kepala mengikut. maka muafakat semuanya dahulu.’ Maka kata orangkaya2: ‘Benar kata syaudara kami itu. sangkanya kata yang baik. baiklah kami pulang dahulu. karena orangkaya serta orang banyak ada di sana. Kami pun demikian lagi endah bertemu dengan orangkaya juga. Maka kata orang Seit dan Hahutuna: ‘Tuanku lalu ke pasar Lebelehu. karena piliyan kata yang benar. Maka menyuruh pula berulang-ulang dengan kata yang baik dan manis. lalu keluar orangkaya2 serta orang banyak mengikut kepada suruwan itu. dan kami pun demikian juga seperti kata orangkaya itu. karena kita bersama-sama dengan Wolanda. maka kata orangkaya dan orang banyak: ‘Ada pun kita ada bicara sekarang ini.’ Maka suruwan itu pulang beritahu kepadanya.’ Maka kata orangkaya dan orang Seit.’ Maka orang sekalian percaya. Seperkara lagi. Apa salahnya?’ ‘Daripada itu ia ingat kepada negeri Hitu serta agama rasul Allah. Hatta datang di sana bertemu dengan orangkaya serta orang banyak itu. Hahutuna: ‘Mengapa maka pulang lagi? . tiada boleh naik ke negeri. maka dikatakan serta dengan empena menjadi jina. tetapi gurendur tiada percaya karena negeri sekalian itu mengikut kepada dia. melainkan dahulu juga kepala. Kita pun tiada boleh naik ke negeri. jika tiada baik menyuruh panggil kepadanya bicara di luar.’ Maka kata orangkaya2 Wawani: ‘Jika bagai kata demikian itu.

semuanya mengikut kepada Wolanda. Entah berapa lamanya dalam hutan itu sebagai juga sehingga datang ke hulu sungai. beritahu kepada letnante dan menyuruh antan-antun dua orang. Wai Luyi* namanya sungai itu. Jika kita endah masuk kepada suatu negeri. Maka semuanya bejalan masuk ke negeri Nukuhali dan negeri itu pun tiada boleh terima kepadanya. karena panglima Patiwani dan imam . tetapi sabbar dahulu supaya kami kira-kira serta orangkaya2 semuanya. maka semuanya muafakat: ‘Apa tipu kita? Apabila kita dalam hutan juga tiada tahan lagi rakyat kita ini . terbit pandang*. Entah berapa dalamnya. Apabila datang semuanya kemudian. mauka atau tiadaka.Jika begitu tiadalah percaya kepada kami semuanya ini. maka orangkaya2 serta orang sekalian pun percayalah. Hatta datang ke pantai Kapahaha. maka kata orangkaya Tubanbesi: ‘Boleh juga. Baiklah kita menyuruh kepada suatu negeri. Lalu turun Kompenyi*. sangkanya kata yang benar. Tellah dipeliharakan paduka kiyaicili itu. Maka ia berenti di sana. Maka berjalan pula ke negeri Tehala dan negeri Tehala pun demikian juga tiada dapat terima. naik kepada tengah malam itu menyarang kepada negeri Wawani. kemudian kira-kirakan kehendak kita. maka kirakirakan kepada kedudukan. masuk dalam hutan dan orangkaya yang keluar itu pun tiada boleh masuk ke negeri lagi.’ Tellah demikian itu entah apa-apa kehendaknya sekalian orangkaya itu.’ Karena orangkaya sudah mengaku di hadapan orang semuanya kepada barang perbuatan yang jahat itu. Alitan namanya. Maka ia bertemu sekalian rakyatnya dan karaen Jipan* dan daen Manggapa serta rakyatnya dan kiyaicili La Manimpa ibn sipati* di Buton. maka didiamkan kepada suatu dusun. membilang nama orang yang datang itu dan nama panglima serta pendagarnya semuanya yang datang itu.dijalankan di laut dan orang Hitu dan setengah orang Mangkasar serta daen Manggapa berjalan di darat. lalu ia datang sendirinya membawah kepada orang yang tiada dapat berjalan itu. lalu orang Seit dan Hahutuna pulang ke negerinya. lalu keluar masuk utan. keduanya naik ke kapal beritahu kepada kapitan gurendur. seorang Goron* dan seorang Tapihuwat namanya.’ Lalu menyuruh ke negeri Kapahaha: ‘Boleh kami masuk atau tiadakah?’ Karena tatkala itu negeri Kapahaha pun bedamai dengan Wolanda. Dan apa-apa kehendaknya itu semuanya dikatakannya kepada Wolanda. Demer* namanya. Di sanalah ia duduk menanti kepada orang banyak lagi dalam hutan itu. turun bukit dan berapa padang ia berjalan. naik bukit. lalu berjalan di luar masuk utan. Serta kehendak Allah ta`ala alah negeri Wawani dan orang dalam negeri itu pun cerai-berai. paduka kiyaicili Laksamana pun sakit lalu mati . supaya kita dengngar kehendak itu. maka berentilah di sana.

lalu menembang cengkeh serta kayu yang dimakan buah2-nya. Maka menyuruh mengambil perau kepada Kartulesi serta orang yang tinggal dalam hutan itu. Umarela namanya. Baiklah kita pergi kepadanya minta ampun. ialah akan musuhku.’ Itullah kehendaknya orang itu. Lalu keluarkan angkatan serta tanah Ambon semuanya datang ke pantai Mamala. Maka menyuruh panggil kepada negeri semuanya. Hatta seketika juga dengan kehendak Allah ta`ala tetanam kaki Kartulesi ke dalam lumpur. Hatta berapa lamanya dalam hutan itu. Tiada berketahuan larinya. sehingga negeri Kapahaha juga tiada keluar. supaya kami minta minta ampun. demikian kata: ‘Baik siap-siap negeri. ada masuk kepada Wolanda itu. lalu ia pulang dengan . Maka hulubalang negeri Kapahaha. Daripada itulah kubunnya dengan tanamannya semuanya kepada orang itu mengambil dia. ada mati dalam hutan. Ia membawah setengah serta Patiwani dan Sifar ar-Rijali masuk ke negeri Kapahaha.’ Hatta didengar kata gurendur demikian itu dan negeri semuanya keluar serta gurendur itu. Demikian kehendak orang itu:’Apabila kita sekalian ini masuk ke dalam negeri.’ Lalu orangkaya-kaya masuk pada gurendur serta membawah tiga ribu real akan pembeli siri pinang. Maka Wolanda itu dilabukan kapalanya genap tanjung dan labuan Kapahaha serta mendirikan talankeranya* di pantai itu. sukarlah kepada hidupan kita. Maka datang pula Wolanda itu serta orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. ada masuk ke Hila. maka datang Wolanda itu mencari dia. Maka gurendur itu real itu pun diterima dan kepada orang itu tiada diampunkan. Maka bertemu kepada suatu padang. ada masuk ke negeri Kapahaha. Empat orang ditindisnya di adapan Wolanda itu. ada masuk ke Hitulama. Hatta seketika juga undur Wolanda itu pulang ke gudangnya dan karaen Jipan* pun meninggalkan Mangkasar setengah serta Kartulesi menanti kepada suatu dusun. ada masuk ke negeri kicil. ialah rasamu* kepada orang mudah-mudah dalam negeri Kapahaha pada tatkala itu. tiada boleh bergerak lagi serta dengan ajal Allah lalu ia syahid. Maka kata orangkaya: ‘Apa tipu kita? Karena kita sudah bedamai dengan dia. lalu berparang kedua pihak itu. Apabila ia mati maka orang banyak itu masing-masing lari membawah dirinya. lalu ia belayar pulang ke Mangkasar. maka ialah keluar merompa pada orang Nasrani itu. Ada pun tatkala ia dalam hutan itu sekalian negeri itu tiada boleh masuk dalam hutan. Orang dalam negeri itu pun kita antar akan dia. Baiklah kita di sini supaya kita pun dapat makanan. Maka diberikan dua buah perau.Sifar ar-Rijali dan pati Larutu bersama-sama karaen Jipan* serta Mangkasar yang banyak itu lagi dalam hutan. jika tiada ia keluar serta aku. maka berparanglah tiga kaum itu dalam hutan di sana.

maka ia pulang dan Wolanda itu pun apabila petang malam. perparanglah kedua kaum itu. Seorang itu sehingga sedikit juga putus kedua penggal. alah menang Islam pun tiada mau kepada Nasrani dan orang Nasrani pun tiada mau kepada Islam. maka ia masuk ke dalam sungai Wai Liyi*. Alah mennang daripada kapitannya yang gagah itu seperti letnante dan alferes* dan sarento* serta kapitan Merlaka* ia sangat keras mengasakan soldadu kepada parang. Lalu ia menyerbukan dirinya kepada Wolanda itu. Maka huru-gara majnun pandang kepada johan Patiwani ia dalam kelengkapan Wolanda itu. Maka ditembah oleh Wolanda itu dua lukanya. tatuk-menatak sebagai juga tiada berhenti lagi. satu kennah . Maka sama bertemu keduanya lalu berparanglah kedua kaum itu. ia mengadap di luar talankeranya Wolanda itu dan Wolanda itu pun mengawal. tembahmenembah. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. sama gagahnya . Maka ia keluar. Hatta seketika lagi ia memandang ke kiri dan ke kanan dan ke aluan dan ke buritan. maka dilihatnya jurumudi putus tangannya sebelah dan mati. ialah kapitannya dan seorang lagi putus sebelah tangannya ada di jalan lagi.Maka sama gagah kedua pihak itu. Entah berapa hari dalamnya. melainkan petang malam. Maka kedua pihak itu tiada berputusan berparang siang malam pagi petang. Hatib Lukula dari Mamala tangannya satu bengko dan orang luka pun banyak. Hatta dengan ajal Allah syahidlah ia dalam perau Wolanda itu.samalah kedua kaum itu. sentiasa tiada bertinggalan lagi.tiada ia pulang kepada siang hari. maka keluar orang dari negeri Kapahaha. serta menatak sekali juga kennah dua orang. Dan demikian lagi daripada pihak Islam. Apabila sudah langgar. maka ia mengunus syamsyirnya serta melompat naik ke atas kelengkapan Wolanda itu. Sama gagahnya dua pihak itu.melawanlah keduanya pasang-memasang. ia datang mengadap di pantai di mana datang orang itu . maka ia memarintah kepada orang semuanya. Apabila petang. makan-minum serta bunyibunyian dalam negeri Kapahaha. malam atau siang hari. Apabila kepada pihak Islam itu ia keluar mengambil makanan.kemenangnya. Hatta berapa dalamnya serta dengan kehendaknya Allah ta`ala pahlawan Patiwani ia naik kepada sebuah perau menyeberang ke sebelah Tanah Besar. maka datang sebuah perau Wolanda itu dari pantai Lumakai*. lalu langgar kepada Wolanda itu. bersuka-sukaannya. pasang-memasang. Hatta sama bertemu kedua pihak itu. sentiasa kedua kaum itu sebagai juga. panglimanya dan pendagarnya serta pahlawan Patiwani ialah sangat mengasakan orang mudah2 kepada parang sabil Allah.

maka dibawah pulang maitnya itu datang ke negeri Kapahaha dan dipeliharakan serta diadatkan sehingga seratus . Sehingga tengah jalan. serta orangkaya gimelaha datang suruh minta bedamai. lalu naik kepada peraunya. karena musuh semuanya yang datang suruh minta bedamai. kami sudah belakankan dunia. karena ia satu negeri juga tiga ratus orang memagang senjata berparanglah dengan negeri sekalian. Maka ia pulang bertemu dua buah fergat*.ada pun tatkala itu orangkaya2 tanah Ambon. Itulah hal negeri Kapahaha parang sabil Allah. Tellah demikian sekali perastawa gurendur sendirinya membawah angkatan endah menyerang kepada negeri Kapahaha. Lain daripada itu tiada dapat kuceriterakan. karena keduanya sama lellah leti. tetapi baikbaik bicara tuan-tuan semuanya. Entah berapa matinya tiada ditentu dalamnya. maka kedua kaum itu berhanyutan juga tiada boleh penggayu lagi. Pada ketika itu mennang Wolanda itu kepada Islam dan kuceriterakan. Ulilima dan Ulisiwa. Tellah sudah kesudahan kami. Daripada belum dengan ajal Allah kepada negeri Kapahaha ia lari sendirinya membuangkan senjatanya. Segali perastawa orangkaya Pati Tupan dan Tulesi adindah orangkaya Tubanbesi bawah dua perau ke Tanah Besar. melainkan menanti titah paduka seri sultan dari Maluku. Maka negeri tiada mau bedamai. Ada mennang. Jadi kuranglah kuat negeri Kapahaha. maka kata johan pahlawan Patiwani: ‘Hai syaudahraku sekallian.pahanya dan satu lagi kenah bibirnya.maka jatuh ke air masing. itulah hal parang kedua kaum. harinya . Itulah Allah dan nabi Muhammad juga yang mengetahui. Islam dan Nasrani. . Maka ia pasang bedil ditembah ke dalam negeri dan negeri pun menembah kepadanya. Hatta demikian itu.’ Lalu ia mati. Itulah kesudahan hidupan pahlawan Patiwani dalam tanah Hitu. Maka kedua kaum itu melawanlah. karena sekali menembah tujuh orang dikenanya. maka ia lari sendirinya membuang senjatanya. lalu masuk ke Kota Laha pada gurendur. tetapi menyampaikan salamku kepada orangkaya Tupanbesi serta orangkaya2 sekallian. maka melawanlah keduanya. Segali lagi ia berjalan dari bukit Iyaluli* endah mendatangi negeri Kapahaha. Maka didapatnya sebuah perau. Hatta seketika lagi orangkaya Patti [Tuban] pun luka dan Tullesi pun kuka* Lain daripada itu tiada kusebutkan. ada alah. jangan disamakan kita di belakang tuan-tuan itu. pasang-memasang daripada waktu subuh sehingga datang kepada bakda magrib. Maka datang mengambil kepada johan pahlawan Pati[wani]. Hatta datang musim utusan pun datang dari Ternate. Maka ia naik ke atas bukit antara gunung Hantu* dan negeri Kapahaha. Apabila suda ia mati. maka dibelakannya johan itu dan negeri semuanya pun berpalinglah kepada Wolanda itu.

Barang apa didapatnya. Dan setengah masuk ke negeri Mamala dan setengah masuk ke negeri Hitulama dan setengah masuk ke Hila. berparanglah dengan negeri Kapahaha. apatah daya untung kita?’ Tellah demikian itu datang bala Allah. apa-apa sebabnya. apatah daya untung kita? Tellah demikian itu datang titah. naik tengah malam serta dengan kehendak Allah ta`ala lalu alah negeri. Itu pun tiada juga datang titah.’ Apabila orangkaya2 itu pulang sehingga tengah jalan. Demikianlah hal negeri Kapahaha. penyakitan dalam negeri serta kekurangan makanan. di situlah ia diam. Maka kata orangkaya-kaya: ‘Ada pun harap kita kepada perjanjian serri sultan tatkala dipersekalikan kalam Allah di negeri Hitu. ada mati di bawah pohon kayu. Ada masuk ke dalam hutan. hatta berapa dalamnya gimelaha pun datang dari Ternate. Maka orang semuanya itu cerrai-berrai masing-masing membawah dirinya. maka orangkaya2 serta orang banyak datang kepada utusan dan gurendur. Hatta demikian itu dengan kehendak Tuan Yang Mahatinggi seorang dagang ia lari masuk kepada Wolanda. Maka semuanya itu diberikan kepada gurendur itu dan orangkaya . sebab ia kalaparang. Ada masuk negeri Tiyal dan orangkaya Pati Tuban ia masuk ke negeri Wai. supaya kami dengar dan mengetahui kehendak titah itu pun. Mana kehendak seri sultan. ada masuk ke dalam guwah batu. panggil kepada orangkaya Tubanbesi dan orangkaya2 yang tuah-tuah datang ke mari.Maka menyuruh panggil kepada orangkaya2 negeri Kapahaha.’ Lalu orangkaya2 itu masuk hutan mencari jalan yang lain. baik berkellahi atau bedamai. supaya ia dengar kepada titah yang dipetuan. karena negeri sekalian menjadi musuh. Maka ia menunjukkan jalan kepada Wolanda itu. Maka kata utusan dan gurendur: ‘Pulanglah orangkaya2. Lalu orangkaya-kaya menyuruh menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuhan serta tanya sepata kata. sehingga kami sebuah negeri juga berparang dengan Wolanda itu. maka bertemu orang datang membawah khabar. tiada dapat berjalan lagi.’ Tiada juga datang titah. Hatta datang suruwan itu. lalu menyuruh bunuh kepada suruwan itu. dimasukkan ke dalam talankeranya. Sebab itulah maka tiada jadi bedamai. Maka didengar oleh orangkaya-kaya dalam negeri Kapahaha terlalu khairan ajaib sekali kepada perbuatan gimelaha itu. Jangankan negeri lain tiada dapat dikatakan negeri Hitu sendirinya pun akan musuhnya.maka orangkaya Kapahaha menyuruh tanya kepada orangkaya gimelaha. demikian katanya: ‘Ada pun orangkaya2 yang di belakan mengikut tuan-tuan itu dipagang oleh letnante. lalu mati kepada tempatnya. demikian katanya: ‘Betapa hal kami ini? Karena tanah Ambon negeri sekalian serta dengan Wolanda. Ada mati di tengah jalan.

tiada pulang lagi. tetapi kiranya orang Mamala pun tiada boleh diterima kepadanya. Maka ia bertemu seorang antanantan orangkaya Pati Tuban. Maka ia berhenti di sana.Tetapi belum lagi untungnya di situ. turun bukit. Maka dibunuhlah kepada orangkaya dan dinaikan kepada orangkaya Pati Tupan dan orangkaya Beraim-ela dan Tulesi dan Alam dan Teyaka* serta anak orangkaya Tubanbesi dua bersyaudarah. maka ia pun keluar pergi berjalan ke dalam hutan. Dan kuceriterakan Sifari'l-jalih. lalu berjalan keduanya. maka ia dengar bunyi anjing dalam hutan. Sebab itulah ia keluar basambuni dakat pantai. lalu pulang ke negeri Hitu. lalu dipagang kepada dua orang itu dan menyuruh turun endah dipegang kepada orangkaya Tubanbesi. Entah berapa jauhnya berdapat pula dengan musuh. lalu ia keluar pergi ke dalam hutan. sehingga kunyatakan tatkala ia keluar itu masuk hutan. lalu menyuruh kepada Sarasara Tahakehena masu ke dalam negeri Hila.Tubanbesi ia membawah sebuah perau sudah keluar sehingga pantai Hatuhaha. terbit padang. terbit padang dan naik bukit. bawah ke Betawih. Sarasara Tahakehena namanya. ialah menjadi imam dalam negeri itu: ‘Dapatkah Sifarijali masuk ke negeri atau tiada dapat?’ Maka Tahakehena pun lasap sekali-sekali. Maka ia hendak masuk ke negeri Mamala. tanya kepada seorang anak syaudagar yang besar [penggawa] lagi dermawang pun artawan. maka ia bersembuni. Entah berapa jauhnya. Sama pandangmemandang. seorang Duljalal dan Pilakan* namanya kanak-kanak itu dan anak orangkaya Kapitan Hitu dua bersyaudara. Hatta matahari masuk. maka musuh itu pun tiada melihat kepadanya. Dan tiada kuceriterakan kesukarangnya serta kejahatannya yang dicellai orang itu. Apabila terbit fajar ia keluar di pantai basambuni. naik kepada kapal. demikian katanya: ‘Dapatkah orangkaya2 menyuruh seorang atau dua orang turun kepada orangkaya Tubanbesi atau tiadakah?’ Hatta didengar kata demikian itu. lalu keduanya pergi berjalan. karena kepada siang hari itu ada orang masuk mencari dalam hutan. Daripada belum lagi sampai ajal Sifarijali keduanya Sarasara Tahakehena. Maka menyuruh dua orang naik ke negeri. maka tefakur Sifarijali dalam cintanya serta berkata: ‘Ajaib sekali akan Tahakehena pergi berdapat segera datang hendaknya hidup lasap sekali- . maka ia tiada jadi masuk ke Mamala lagi. seorang Wangsa namanya dan seorang Petinggi namanya kanak-kanak itu. maka anjing itu diyam dan Wolanda itu pun tiada berkata-berkata. Maka orang Hitu bawah orangkaya dua beranak kepada Wolanda itu.berlindung di dalam alang-alang. Seketika juga datang anjing serta tuannya Wolanda itu datang. Lalu pergi masuk ke hutan sehingga datang kepada suatu padang. maka ia lepas.

ia duduk kepada suatu bukit.’ Maka kata imam Rijali: ‘Apa dayah?’ Lalu dipuluh* dan dicium kepada kanak-kanak itu. Baik kita tinggalkan dia supaya ia keluar ke negeri. maka ia datang ke sana bersama-sama orangkaya Daga dan kiyaicili. karena pada ketika itu orangkaya gimelaha Daga dengan kiyaicili [Besi]mulu serta orang Kelan* endah berkelahi dengan Wolanda itu. didukun oleh inang pengasuhnya. Maka . Apabila masuk matahari. ia keluar berjalan menapi pantai. tetapi jika datang ke hutan maka kennah hujang dan angin ia tiada boleh tahan. pergi berjalan ke hutan ia duduk kepada suatu bukit. tiada boleh berjalan kepada siang hari. serta Ulu Ahutan membawah sebuah perau cari kepadanya. Tiada dapat kuceriterakan dukkacittanya. maka datang gulawarganya. lalu dibawah dari negeri ke dalam hutan. Maka ia terima kepada dia orang. Maka Sifarijali minta sebuah perau daripada orang Kelan*. maka keempatnya menyeberang ke Tanah Besar.sekali. seorangpun tiada terima kepadanya dan dia pun sembuni tiada mau menunjukkan dirinya kepada orang itu. anak orangkaya Kapitan Hitu.’ Lalu ia ke tanah Kelang. Pati Laik namanya. sehingga datang ke tanjung Sial. Sehingga datang ke negeri Seit dan Hahutuna. Hatta terbit fajar masuk ke hutan ia berhenti. Hatta berapa lamanya. maka ia diketinggalkannya. maka semuanya diceriterakan oleh syaudaranya itu. Maka bertemulah sama berhadapan bertanya-tanyakan hal-ahwal tanah Hitu dengan Wolanda itu. si Papua namanya. bawahkah atau tinggalkah?’ Maka kata syaudaranya: ‘Kedudukannya baik juga kita bawah. Maka ia menyuruh pergi kepada Hehalesi. Hatta berapa dalamnya maka mengambil sebuah perau. lalu ia keluar bedamai dengan gurendur itu. Sebab itulah. maka ia datang beri bakal dan makanan. duduk di negeri Lesiela bersamasama orangkaya gimelaha. Patinggi namanya. Maka kata Sifarijali:‘Apa tipu kita kepada kanak-kanak ini. Seketika lagi datang Telesima dan Abubakar serta kanak-kanak. Tinggal lagi tiga orang juga. maka datang perdana gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa datang membawah titah seri sultan Hamza. sehingga itulah menanti kepada Tuhan Yang Mahasuci. maka ia menanti. Maka ia bertanya kepada Sakia itu. ia pun masuk ke negeri berhadapan dengan imam itu.’ Telah demikian. Maka ia bertemu Sakia dari Waibuti mengambil ikan. Hatta dengan kehenda Allah ta`ala datang gimelaha Hasi dari Luhu endah pulang ke Buru. Entah berapa lamanya. Hatta masuk matahari. daripada itulah Sifarijali terlalu ajaib. Lalu dipindakan pulang ke negeri Luhu dan pati Kambelo pun bawah kepada Abubakar. demikian katanya: ‘Dapat kami naik ke negeri atau tiadakah?’ Maka ia menyahut: ‘Orang itu tiada boleh. lalu mengikut orangkaya itu ke tanah Buru.

maka ia pun tiada mau turun ke darat. Hatta datang ke tanah Buton. Pada dewasa itu seri sultan paduka Dipatingalowan* ia memerintahkan tanah Mangkasar dan demikian serri sultan Muhammad Sya`id akan kerajaan.’ Maka Sifarijali pun menanti. supaya kita jangan melihat dan menengar tanah kita lagi. Maka titah paduka Dipatingalowan*: ‘Lamun jika tida kuterima kepada halmu ini. Maka Sifarijali ia masuk mengadap serta menyampaikan hal-ahwalnya ke bawah dulli seri sultan. sultan al-islam. tiada seperti sabda nabi kepada kita ummatnya: “Wa-'l muslimin ikhwan”. lalu keluar belayar.. makin bertambah kedukaannya. ia senang dirinya. maka datang orang Bone tanya kepadanya: ‘Orang mana?’ Maka menyahut: ‘Kami orang Ambon. Maka [kata] orang semuanya: ‘Apatah daya kehenda Allah ta`ala? Baik membuang diri kita tanah lain. itu. maka ia menyampaikan ke bawah dulli yang kerajaan. sehingga karan-karan serta daun meninjau selamanya pergi itu. Maka karaen Rajipan menyuruh sebuah perau bawa kepada dia dahulu ke negeri dan karaen Rajipan lagi duduk di Buton. Maka diberinya makanan serta kain bajunya.’ Maka kata orang itu: ‘Nantilah di sini. Hatta datang esok harinya datang pengalas serta antun-antun membawah titah menunjukkan kampung serta rumah. zill al-nabi fi dar al-mu’min. lalu masuk mengadap kepada raja. lalu pulang ke peraunya. maka bertemu kepada karaen Rajipan. Tatkala itu raja La Mibilu* akan kerajaan tanah Buton. Itulah daripada belum dengan kehendak Allah ta`ala. Segala hal-ahwalnya itu semuanya diceriterakan kepada biduwandi* itu. Maka datang titah kepada bonto* dan biduwandi*: ‘Tanya olemu kepada orang itu endah ke mana perginya dan apa kehendaknya datang ini?’ Maka menyahut Sifarijali.’ Karena ia takut tiada mau naik ke perau. Ia basembuni dalam hutan. Maka ia belayar ke laut tiga hari datang ke tanah Bone. Telah demikian itu ia memohon. esok hari kami bawah makanan ke mari.’ ‘Endah ke mana?’ ‘Kami endah ke Mangkasar. ia keluar memanggil kepada orang dalam perau itu. maka ia beli. bawahlah kemari kami beli. Jikalau ada makanan. Hatta datang pagi hari orang itu pun datang serta senjata..’ Maka ia pulang menyampaikan ke bawah dulli. tetapi minta ampun kepada piatu yang hina karan. tetapi kami kurang air dan bakal. . Maka tiada lagi bakal orang itu.’ Lalu memohon kepada orangkaya gimelaha dan kipati. maka dagang piatu pun terima serta junjung kepada kehenda titah itu. belum lagi sampai pada . demikian katanya: ‘Marilah turun beli makanan itu.didengar oleh Sifarijali itu. Maka menyahut Sifarijali: ‘Ada pun titah kepada dagang piatu itu.’ Lalu syahbandar memberi tempat kedudukannya. lalu menyuruh memberi bakalnya. maka menyuruh entah berapa orang.

Wa-'s-salam bikhair amin. sehingga datang ke tanah Mangkasar. Maka ia masuk hutan.Daripada itulah meninggal negeri mencari sennang daripada ia takut akan Wolanda itu. menapi tasik. menyeberang laut. Itulah kesudahan hikayat ini. terbit padang. Itulah halnya orang mendapat kediaman dirinya. . Tamat sah ya sah.

haraka: harkat (mulai bergerak) Dutch: gaas: kain muslin . = fregat Portuguese: feitor: kepala perwakilan kompeni perdagangan Ar. dipersyuhadakan dipeluk (Estevão) Teieira (de Macedo) Dom Duarte de Meneses Erang Portuguese: espingarda: istinggar (Jan) Pieterszoon Coen Portuguese: fragata. kepala negeri Gorom Dutch: graaf: bupati Ar. daeng: gelaran dalam di Oma Dom Duarte (de Meneses) (Gerrit) Demmer (Antonio) van Diemen Pattingalloang Mal.Catatan aji alferes andak Angsari Antoni apalah Arinjiguna Artus asfanggarnya Aspel Bandan Bawang Biduwandi Boanoh bonto bot Bot Bulok Burung Capeu caramela daeng dan ? dauman Daurdia Demer Diman Dipatingalowan dipawahkan dipersyahdakan dipuluh Disera Duarde Eran esfangar Eskun fergat fetor firaklah Frings Furtado Gemala gimelaha Goron graf hamam Hantu harkat has Javanese: sang aji [raja]. hamam: tempat mandi Gunung Setan Ar. memawahkan: membagi hasil di antara pengusaha dengan pemilik dipersyahadatkan. alias Mihirjiguna Artus (Gijsels) Portuguese: espingarda: istinggar Herman van Speult Banda nyai Bawang alias Ratu Kali Nyamat biduanda Boano Butonese: orangkaya Portuguese: antena bote: andang_andang layar Pieter Both Adriaan Block (Martensz. Dutch: fregat. firaq: pisah Prins (Maurits van Oranje) André Furtado (de Mendonça) (Jan Willemszoon) Gomale Ternate: kimalaha: kepala soa.) Pulau Burung alias Nusa Manuk Portuguese: chapeu: capiau Portuguese: charamela: seruling Mak. Ternate: sangaji: kepala wilaya Portuguese: alferes: letnan muda indah Angasari Anthonio (van den Heuvel) apabila ? Arinjiguna.

hasiat Hehatomi Hisab hoja Holanda hukum Hun Huniyasi Husen Hutman Iwa Iyaluli Jawahkatra Jipan Kakasingku kapitan kapitan-mor karaen karanful Kelan kiyaicili Kompenyi kuka kuluf Kunmuri Kurnilis Lasidi Leitimol Lesiela lil Liyi Lukas Lumakai Lumu ? Lupa Luyi mahudum mardan marinero Masilpatani Matelif melalawat Melo Mengadapat Merkata Merlaka Mibilu Mundi Murucisa muruyumunya Nagahpatan Naseddiki Natahuat Nusatelu Nyuranye Prins Palikat arab: khassiya: khasiat Hehatomu hijab hujaj Portuguese: Holanda [Holland] Ternate: hukum: hakim Simon (Jansz. Schouten) Lesidi Leitimor Waran-ela alias Hoamoal zill Wai Lee Philip Lucasz.arab: Maryam: meriam Negapatnam Nasidik Hehuat Nusatelo (Maurits) van Oranje Pulikat . qaranful: cengkeh Kelang Ternate: kaicili. Krakatau (Vincent Gijsbert van) Moerlag Mabilu Nossa Senhora do Monte Maurits alias Mauritius Portuguese: Maria. karaeng: raja Ar. alias Kanyimedu Cornelis (Jansz.) Hoen Huniase Usen (ibn Jumat) Frederik de Houtman Iha Ialuli Jakatra Jipang Kasingu Portuguese: capitaõ: kapten Portuguese: capitaõ-mor (do mar): laksamana Mak. Rumakai Bisei Lumu Lopu(lalan) Wai Loi makhudum Persia:. cili: pangeran Dutch: Compagnie: Kompeni luka (Nicolaes) Colff Konimere. mard(an): yang mulia Portuguese: marinheiro: pelaut Masulipatam (Cornelis) Matelieff (de Jonge) melawat Gaspar de Melo menghadap Pulau Rakata.

alias Jonge Jan atau Nyong Yan Jasper Jansz. terangkera: kubu Portuguese: tambor: tambur Sekatikam Tirumala(rájan)patnam Tirumulavásal Portuguese: trombeta: terompet Tuhaha Javanese: tumenggung: hulubalang Thomé Baharullah Ulilima Ureng Steven van der Haghen Jan Outgersz. .pandang Paringsi Pasiruwan Patacoh perastawa pesir Pilakan Pinau pinsu Prings Pudiceri Pugel Pujiciri Rangsi rasamu Rengsi Riyal Rosengaing Saat sadaha Sagaluwa Sahanya sahingilah San Sanco santiagu sarento sarinto Sellat seribus serta sipati Sitaniya Siyal Soroi Suanggi suisa Sunusi Syabidin talangkeranya tamburunya Teyaka Tirubambu Tirumulawasir torompetanya Tuhahan tumengung Tumi ul Ulima Urin Warhaga Yan Yangsi padang Prins (van Oranje) Pasuruan Portuguese: patacho: sampan peristiwa pesiar Pelekolan Binau Portuguese: pinacas. Visscher. Mal. alias) Vogel Pondicherry Gerard Reynst Ar. Dutch: pinas: penes Prins (van Oranje) Pondicherry (Marten Jansz. rasama: mendaftarkan Gerard Reynst Laurens Reael Rosengain sahut Ternate: sadaha: wakil sultan Sagalua sahajanya sehinggalah São Sancho (de Vasconcelos) Sp. santiago: berbaris Portuguese: sargento: sersan Portuguese: sargento: sersan Ar. shalat seribu seperti Butonese: sapati: mangkubumi Sitania Sial (Wouter) Seroyen Suangi Ternate: suisa: tambur (Abu Abd Allah Muhammad al-)Sanusi Sabadin (ibn Jumali) Portuguese: tranquiera.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->