Sifar Ar-Rijal (Imam Rijali) Sumber source: www.anu.edu.

au

Sejarah adalah perkembangan penentuan ide diri, perjalanan perkembangan diri dalam roh. karena roh hakekatnya bebas,maka sejarah adalah perjalanan kebebasan.(Hegel)

(potongan seperti dari sumber)Empunya tanah, karena ia dari mulanya

datang. Itulah kesudahan bangsya Ambon. Alkissah peri mengatakan bangsya Jawa. Maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera tatkala raja Tuban dinaikan kerajaan, maka tiada ia bersettia dan muafakat dengan kaum kulawarganya. Maka suatu kaum dua bersyaudara, seorang kiyai Tuli namanya dan seorang kiyai Dau namanya, dan seorang syaudaranya perempuan, nyai Mas namanya, ia naik serta kelengkapannya membawah dirinya mencari tempat kedudukannya. Hatta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Hitu. Ia masuk dalam labuan Husekaak namanya. Maka tiada melihat negeri dan tiada manusyia, lalu turun daripada kelengkapannya, naik ke darat membuat negeri akan kedudukannya.Hatta demikian itu keluar seekor anjing, maka orang itu dikatakan: ‘Ada anjing, adalah lagi manusyia; jikalau ada manusyia, ada juga negeri.’ Lalu ditangkap anjing itu, digantungkan suatu bungkusan di atas leher anjing itu. Ada pun dalam bungkusan itu serba sedikit daripada alamat negerinya. Lalu dilepaskan anjing itu pulang ke negeri kepada tuannya. Maka apalah* dilihat tuannya bungkusan itu, maka ia melihat alamat serba sedikit itu. Maka ia berkata kepada orang sekalian: ‘Ada juga manusyia di pantai itu.’ Maka ia mengambil buah-buahan akan tanda alamat negerinya, lalu digantung kepada leher anjing itu, dilepaskan pulang keluar ke pantai. Maka dilihat oleh orang itu, maka kata orang itu: ‘Marilah kita pergi periksyai kepada negeri itu’, lalu ia berjalan. Hatta ia datang ke tengah jalan, maka bertemu seorang, lalu dipangil serta dengan dia berjalan menuju kepada negeri dan orang dalam negeri itu pun keluar semuanya berjalan ke pantai. Maka ia bertemu dengan penguluh kelengkapan itu, maka kedua pihak berhadapan bertanyatanyakan kehendaknya datang itu. Maka menyahut penguluh kelengkapan itu, segala hal-ahwal semuanya diceriterakan kepada orang itu. Lalu ia bertanya pula kepada orang negeri itu, maka menyahut orang itu. Segala hal-ahwal mulanya datang itu diceriterakan kepada penguluh kelengkapan itu. Tellah demikian itu, maka kedua pihak bennarnya jual-beli, tukar-menukar beramai-ramaian. Hatta datang malam orang itu pun pulang ke negerinya. Apabila datang esok harinya, ia turun juga jual-beli, tukar-menukar sebagailah. Maka suatupun tiada dalamnya melainkan melakukan kesukaannya. Itulah kesudahan bangsya Jawa. Alkissah peri mengatakan bangsya Jailolo dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera, demikian riwayatnya. Ada pun dalam negeri Jailolo itu dua bangsya, seorang bangsya Jailolo dan seorang bangsya Jawa, yakni anak raja keduanya. Maka dalam

maka ia tiada mau pulang lagi. Maka syaudaranya dan setengah raiyat turun duduk menjadi penghulu kepada negeri Lisabata. Daripada ketika itu sebuah perau daripada orang yang datang itu keluar memukat. Seorang pula kaum gulawarganya duduk menjadi penghuluh kepada negeri Waiputih. Alkissah peri mengatakan bangsya Goron* dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera demikian riwayatnya. masuk dalam labuan. Hatta berapa lamanya di tengah jalan serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi datang ribut dan angin. Ia dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Ambon. Tellah demikian itu. kiyai pati namanya atau Ulima* Sitaniya*. Maka di belakangnya itu dinaikan bangsya Jailolo akan kerajaan. Ada datang ke tanah Buru. Maka suatupun tiada hijab pada mereka itu melakukan kehendaknya. Lalu ia pulang sehingga seorang juga. masing-masing membawah aluannya.’ Lalu perau mengambil ikan itu kembali menyampaikan khabar kepada perdana Jamilu. Lalu menyeberang ke tanah Hitu. ada datang ke tanah Seran. hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala keluar bangsya Jawa serta dengan kelengkapannya. ia duduk di tepi sungai itu menengok pada orang mengambil ikan itu dan orang mengambil ikan itu pun pandang kepadanya. Itulah kesudahan riwayat bangsya Jailolo. maka jadi fitna dalam negeri endak berkelai. lalu masuk ke dalam sungai. Sama berhadapan. maka ia naik ke darat mengambil tempat akan negerinya. Tellah demikian itu maka sebuah perau daripada pihak bangsya Jailolo ia keluar mengambil ikan. Tellah sudah paduka syaudara enda dinaikan kerajaan dan negeri yang dipetuhan pun sudah rusak. lalu bertanya-tanyakan: ‘Darimana engkau datang dan di mana engkau duduk?’ Maka ia menyahut: ‘Di darat sungai ini kami duduk.[Sekali] perastawa* dengan kehendak Allah ta`ala ia datang kepada suatu tanjung Nukuhali. lalu bertanya padanya: ‘Darimana datang dan apa kehendakmu datang ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang dari . seorangpun tiada mengetahui dia. lalu ia menyuruh rusak negeri syaudaranya. pattik minta maaf ke bawah dulli yang dipetuhan. digelar Sellat* namanya. lalu ia berangkat mencari tempat akan kedudukannya.keduanya itu. Maka ia berangkat sehingga datang ke tanjung Siyal*. Maka disampaikan khabar itu kepada syaudaranya. diam dirinya dalam utang. setengah mengatakan bangsya Jailolo akan kerajaan dan setengah mengatakan pula bangsya Jawa akan kerajaan. Entah apa-apa kehendaknya gennap puluh dan tanjung sehingga datang ke benua Bacang. maka ia pergi sendirinya kepada orang itu. demikian katanya: ‘Hai tuhanku.’ Tellah didengar warta demikian itu. maka cerai-berai kelengkapannya itu.

Ada pun yang di atas itu. lettalah kepadanya. dan pakaian yang jahat kepada anaknya. ia duduk di atas di hadap orang banyak. karena tiada patut hamba dan orang baik.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya? Untung kita serta kehendak Allah ta`ala. jikalau dengan faedahnya yang baik?’ Maka pula perdana Jamilu: ‘Mengapa maka tiada dengan faedahnya yang baik? Jika duduk serta kami kupersuamikan anakku akan isterimu supaya jangan was-was hatimu kepada kami. ia duduk di bawah serta memegang penyapu. Maka perintah dengan baik patut pakaian yang baik kepada hambanya. Kepada anaku juga yang menyasal. maka menyuruh orang membawah kepadanya.’ Maka kata Jamilu: ‘Betapa kata demikian? Karena ia hamba mengapa maka kau ambil kepadanya? Didengar orang seolah-olah dicellai kepada kita. jika bagai kata demikian itu? Tetapi baik kita periksyai dahulu atau ia maukah atau tiada mau kepada kami. ada pun kami ini anak dagang. Siapa mengetahui tipu dayah tuhan?’ Lalu menyahut demikian katanya: ‘Dagang piyatu minta maaf. Jika benar yang di bawah itu. lettalah kepadanya. Tellah demikian itu. tetapi tiada mengapa. Maka jadi empat negeri pada tatkala itu.’ Lalu dipersuamikan anaknya serta makan minum bersuka-sukaan dalamnya.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Maukah duduk serta kami?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau. Itulah nyata orang berbahagia dalam dunia. Maka . Maka kata perdana Jamilu: ‘Bennarlah anaku.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya lagi. Maka ia tersunyum serta barpantung: ‘Harap-harap janji tuhan mengasih dagang piyatu. lalu masuk serta orang banyak dan permullianya dengan adat sehinggasana.benua Goron* dan kehendak kami mencari tempat kedudukan kami. Lalu dicampakan serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahasuci lettalah kepada yang di bawah itu.’ Lalu keduanya pergi masuk dalam negeri kepada rumah perdana Jamilu. perdana kipati namanya. Tellah demikian itu. demikian katanya: ‘Apabila bennar anaknya yang di atas itu. maka ia mengambil tempat akan kedudukannya. Tellah kesudahan anak cucu Goron* linang. Tellah kesudahan kataku termasyhur didengar oleh orang sekalian. Itulah negeri bangsya Goron*. tuhan perhamba akan kami. karena ia anak yang empunya negeri. Itulah sebabnya baik kita periksai dahulu. maka kata Jamilu: ‘Pada hari ini dan ketika ini kita sempurnakan janjian itu. orang besar daripada Goron*.’ Lalu ia menyaksyikan sepahnya.’ Maka menyahut: ‘Kujungjung ke bawah kadim yang memeliharakan dan mengasih dagang piyatuh. Ia berhadapan dengan perdana Jamilu bijaksana. Daripada itulah kurelahkan anaku akan isterimu. dari dunia datang ke akhirat akan syaudaraku dan ada pun yang di bawah memagang penyapu itu.’ Lalu diam dirinya.

Lalu Zamanjadi menyuruh mengambil angkatan dari negeri Selan Binaur datang endak menyarang kepada negeri perdana Mulai. jikalau dinamai bendahara pun benar juga. Itulah dimasyhurkan nama keempat itu dalam tanah Hitu. lalu turun menyarang . keduanya melakukan kehendaknya. maka dimasukkan tiga kaum dahuluh. lalu dikerjakan dan tiada lain lagi daripada keempat perdana itu. Lain daripada itu tiada dimasukkan. Itulah kenyataan empat bangsya itu. Berapa lamanya maka datanglah angkatan itu. serta dipindakan nama keempat itu. Hatta berapa lamanya seorangpun tiada manang kepada seorang dan seorangpun tiada allah kepada seorang. makan minum sehingga menanti kepada angkatan itu. Itulah seperti emas. Ialah mengerjakan sesuatu pekerjaan daripada keempat perdana. Itulah kesudahannya. Kemudian daripada itu datang suatu bangsya tiga kaum yang ia datang dari negerinya. Zamanjadi dan perdana Mulai. Ada pun keempat perdana itu. tiada dengan supuhnya lagi. Tellah sudah muafakat. maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera. jumlahnya tujuh kampung dalam negeri Hitu. dan dinaikan kerajaan pun patut juga daripada bangsyanya datang itu. maka keempat perdana muafakat dahuluh. Zamanjadi endak akan kerajaan dan perdana Mulai pun ia akan kerajaan. Alkissah peri mengatakan bangsya Ambon dan peri mengatakan bangsya Jawa. Apabila kepada suatu pekerjaan. Alkissah peri mengatakan daripada pihak rayatnya tiga puluh gelaran dan daripada tiga puluh gelaran itu tujuh pengawanya yang besar. lalu berkellai. maka dimasukkan tujuh pengawanya serta tiga puluh gelarannya. Maka dimasukkan tiga kaum itu tiga kampung. tiada berubah lagi. Itulah diadatkan zaman datang kepada zaman turun-menurun. Dan perdana Mulai pun menghimpunkan segala hulubalangnya. Ada pun Zamanjadi dipindakan Totohatu namanya dan perdana Mulai Mulai dipindakan Tanihitumesen namanya dan perdana Jamilu dipindakan Nusatapi namanya dan perdana kiyai pati dipindakan Pati Tuban namanya. maka fitna kedua kaum itu. Itulah kesudahan kaum daripada pihak empat perdana. Karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dan tiada dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan. sehingga takluk namanya. Kemudian daripada tiga itu. Alkissah peri mengatakan tatkala keempat perdana muafakat itu menjadi suatu negeri dan keempat kampung. sekali perastawa dengan kehendak Allah ta`ala dua kaum. Dan berjanji-janjian serta berputusan barang sesuatu pekerjaan dalam tanah Hitu.dengan kehendak Allah ta`ala muafakat keempat perdana itu menjadi suatu negeri dan empat negeri itu dijadikan empat kampung dan empat nama. maka muafakatlah keempatnya. melainkan melakukan kehendaknya.

Maka kedua kaum diiakan kata perdana Jamilu itu.’ Itulah sebabnya. lalu keluar.’ Maka kata perdana Mulai kepada perdana Jamilu: ‘Maukah tolong kepadaku?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau? Tetapi jika ada faedahnya. Barparanglah kedua pihak itu. Sabar dahulu serta baik-baikan dengan dia. Demikian perinta perdana Jamilu: ‘Apabila datang kepada hari anu. ia kemudian. Hatta datang kepada esok harinya pergi pula kepada Zamanjadi. Lalu ia pulang masing2 membilang hari yang diperjanjikan itu. Itulah kita perjanjikan. Bennar katanya ia memulai negeri. Maka angkatan itu pulang dengan dukkacittanya dan empunya negeri pun makan minum bersuka-sukaan dan beramai-ramaian dalam negeri. Maka ia berkata: ‘Apa tipu kita kepada dua kaum ini? . demikian katanya: ‘Betapa kehendakmu kepada orang itu?’ Maka menyahut Zamanjadi serta bertanya kepada perdana Jamilu: ‘Ada pun kami kedua ini kepada bennarnya siapa patut akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika kepada bennarnya Zamanjadi akan kerajaan.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika bagai kata demikian itu. Daripada itulah pantai Hitu dinamai Liasela* namanya.’ Maka menyuruh pula kepada Zamanjadi pun demikian juga. Apabila ia keluar mencari kehendaknya.’ Maka kata pula perdana Mulai: ‘Apabila engkau tolong kepadaku. apa barang kehendakmu itu dan apa katamu itu tiada kulalui. Aku pun demikian lagi. karena ia sudah tahu perbuatan kita. sunyilah negeri. Maka kita pun masuklah kepadanya melakukan kehendak kita itu. Maka kembali angkatan itu tiada boleh allah kepada negeri. Hatta berapa lamanya maka perdana Jamilu bijaksana ia pergi kepada perdana Mulai.kepada negeri dan empunya negeri pun keluar. maka menyahut perdana Jamilu pun demikian itu juga. ikutlah perintaku. maka kedua kaum itu harkat* serta senjata. lalu undur daripada karas parang rakyat perdana Mulai. serta berjanjian hari dan ketika itu. Hatta datanglah kepada hari yang diperjanjikan itu. lalu ia keluar berhadapan dengan orang sekalian. demikian katanya: ‘Apa tipu kita. Maka datang suruan perdana Jamilu kepada perdana Mulai. Apabila sudah lupa kepada harkatnya itu. Sebennar ia datang dahulu. maka kata Zamanjadi kepada perdana Jamilu bagai kata perdana Mulai itu juga.’ Maka diiakan oleh perdana Mulai. kemudian berbuat kehendak kita itu. Hatta seketika juga patah angkatan itu.’ Tellah berjanji demikian lalu ia pulang. tetapi ia duduk dalam hutan. tetapi Zamanjadi dahulu datang. himpunlah orang serta senjata. karena engkau memulai negeri ini. Maka ia berkata: ‘Betapa kehendakmu kepada Zamanjadi itu?’ Maka menyahut perdana Mulai: ‘Ada pun kami kedua kaum ini kepada bennarnya siapa akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu bijaksana: ‘Jika kepada bennarnya engkau juga.

dan jika perdana Mulai akan kerajaan. Lalu bersettia dan muafakat serta perjanjijanjian dan bersumpah-sumpahan sehingga datang kepada hari kiamat seperti firman Allah: ‘Inna 'llaha la yukhlifu 'l-mi`ada. Kemudian daripada itu jika seorang tiada atau dua orang atau tiga orang sehingga seorang jugapun nama keempat juga. Apabila tiada mengikut. maka diiakan oleh dua pihak itu. Ada pun pada ketika ini kita buat demikian pada keduanya: jika ikut kata orang sekalian. maka bertemu kepadanya. karena empat perdana itu seseorang tiada tinggi kepada seseorang dan seseorang tiada randah kepada seseorang. Hatta datang musim sultan pun pulang. Sehingga datang ke tanah Bima ada suatu fitnah dengan raja Bima. Zamanjadi pun demikian juga tiada mau sembah. supaya kita menanti karunia Allah ta`ala.’ Itulah pertama yang memulai perjanjian. lalu barparang pada ketika itu. yakni keempatnya bersamakan. jadilah empat kerajaan dalam negeri. ’Tellah demikian itu maka menyuruh kepada dua kaum itu segala perastawa perinta kata itu semuanya dikatakannya. apatah daya sudahlah. Apabila keduanya akan kerajaan. itulah sempurna kerajaan. al-hamdu li-'llah. perdana Mulai tiada mau sembah. Melainkan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala serta orang muafakat. Baik juga kita kata demikian kepadanya. Apabila ia keduanya akan kerajaan. maka dikerjakan. sekali perastawa keempat perdana berhadapan muafakat. yakni antun-antun. Atau salah suatu mengikut kata ini. maka jadi akan kerajaan. Maka perdana Pati Tuban ia belayar ke benua Jawa tuntuti agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Lalu bertanya kepada perdana Pati Tuban Maka segala hal-akhwalnya semuanya diceriterakan kepada serri sultan. maka demikian keduanya. supaya menanti kehendak Tuhan Yang Mahamurah berbahagia kepada seseorang akan yang dipetuhan. belum lagi kedangaran dalam dunia suatu negeri dua kerajaan. mengiring kepada serri . Empat puluh orang pendagar. maka bersettia muafakat dan bersuka-sukaan kembalilah kepada adatnya. yang tiada mengikut itu bukanlah kaum kita sekalian. Apabila barang suatu pekerjaan melainkan keempatnya berhadapan. Itulah yang bersatuan nama keempat itu selamah-selamahnya zaman datang kepada zaman. Lalu keluar kepada orang sekalian. Maka keempat perdana itu seorang tiada tinggi kepada seorang dan seorang tiada randah kepada seorang. yang mengikut itu kaum kita sekalian ini. Itulah adat keempat perdana dalam tanah Hitu. Alkissah dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Tatkala itu seri sultan Maluku paduka Zainul Abidin khallada 'llahu mulkahu wa-saltatahu ia datang ke benua Jawa.Apabila Zamanjadi akan kerajaan. Maka suatupun tiada ellat lagi dalamnya.

Pada ketika itulah negeri Hitu dan negeri Waiputih serta negeri Eran* ketiganya muafakat bersama-sama. Tatkala perdana Jamilu menyuruh utusan ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. Alkissah peri mengatakan perdana Jamilu dan peri mengatakan panngeran Japara. maka mengatakan peri hal-akhwal perjanjian dengan raja Maluku itu. Tellah demikian itu kuceriterakan yang empunya ceritera. maka lalu ke pantai Eran* dan dari pantai Eran* itu lalu ke tanjung Siyal. maka ia bersettia dan muafakat dengan pangeran. sehingga datang kepada sultan Khairun Jamil akan kerajaan zill Allah fi 'l-alamin. tuhan Bahrul* namanya. lalu ia bertanya kepada perdana yang besar dalam negeri demikian titah: ‘Hai segala perdana dan parwara sekalian. Lalu ia memberi nama Patinggi: ‘Karena nama Jamilu itu artinya kepada bahasa Jawa “jangan mengikut”. Ada pun tatkala utusan datang ke Ambon itu singga di tanah Boanoh*. berapa kampung dalam negeri kita ini?’ Maka menyahut mankubumi: ‘Ada pun dalam negeri yang dipetuhan sembilan kampung jumlahnya.sulthan Zainul Abidin. Tatkala itu nyai Bawang* akan kerajaan. lalu negeri Hitu pun masuk iman kepada Allah dan nabbi Muhammad serta agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu menyeberang ke tanah Hitu. Ia masuk ke pantai Waibuti. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji´un. Maka suatupun tiada hisab* melainkan memerintahkan tanahnya serta agama Allah dan agama nabbi Muhammad salla 'llahu alaihi wa-sallama amin ya Rabb al-`alamin. Hatta dengan ajal Allah maka datang seorang hulubalang raja Bima. Itulah sebabnya dan seperkara lagi nama syaudaraku itu kuberikan kepadanya. Lalu mati hulubalang itu dan raja pun luka. Ia datang menuju serri sultan. lalu belayar. maka ia bertanya bangsya perdana Jamilu. maka semuanya diceriterakan kepadanya.’ Hatta datang . Pada ketika itulah bawah kepada pendita yang alim.’ Lalu menyuruh kiaicili* Darwis akan utusan ke tanah Ambon meneguhkan pula perjanjian itu. Maka kuceriterakan yang empunya ceritera demikian riwayatnya. Maka diceriterakan oleh [yang empunya ceritera] perdana Pati Tuban ia pulang ke tanah Hitu. Maka masyhurkan demikianlah riwayatnya: ada pun tatkala serri sultan Khair Jamil akan kerajaan itu. Semuanya dikatakannya kepada orang sekalian serta dijungjung titah itu. akan kadi di negeri Ternate. Maka keempat puluh pendagar itu dinaikan kepada raja di atas kelengkapan. Hatta berapa lamanya di tengngah jalan maka serri sultan Zainul Abidin pun wafatlah. dan serri sultan pun serta menettah hulubalang itu. sepuluh dengan negeri Hitu. Tatkala perdana Pati Tuban ia datang dari tanah Jawa itu. lalu menikam dengan lembingnya kennah kepada sultan Maluku. sehinggalah termasyhur Ternate dengan Hitu.

lalu membuat suatu mesjid tujuh pangkat. sehingga Nyai Bawang* pulang ke rahmat Allah. yakni artinya ‘raja tanya’. Apabila raja itu tiada dengan adilnya diupamakan matahari tiada dengan bercahayanya. Ia duduk bejuntai-juntai.’ Maka kata keempat perdana: ‘Apa salahnya karena ia kerajaan? Tetapi sehinggalah kerajaan. Ada pun tatkala masuk iman serta mengesakan Allah subhanahu wa-ta`ala dan termasyhurlah agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka digelarnya Latu Sitania namanya.’ Lalu dinaikan kaum gulawarganya seorang akan kerajaan. maka kata orang sekalian: ‘Nyatahlah faedah yang baik beraja dan faedah yang baik tiada beraja. maka raja naik ke atas balai.’ Maka kata pula: ‘Bennar juga kata keduanya itu tiada salah. kepada suatu hari keempat perdana berhadapan kepada suatu tempat. supaya kita periksai kepada faedahnya yang baik beraja atau faedah yang baik tiada beraja itu. baik beraja. sehingga tiada sampai ini juga. Ada pun amar dan nahi serta adat semuanya itu melainkan keempat perdana juga. Maka suatupun tiada ellat dalam tanah Hitu. yakni dipawahkan*. Maka seorang berkata: ‘Mana baik beraja daripada yang tiada beraja?’ Maka kata seorang: ‘Daripada yang tiada beraja. maka kuceriterakan yang empunya ceritera. Daripada ialah termasyhur agama Allah dan agama nabi Muhammad rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Dan negeri Hitu pun firaklah* dengan negeri Japara daripada raja yang kemudian itu kuranlah adilnya seperti raja yang dahulu. pergi datang berulang2 tiada berputusan. tetapi bukan firak.’ Maka kata seorang pula: ‘Demikian faedah yang baik daripada yang tiada beraja. maka keempatnya muafakat mengira-mengirakan negerinya. nama yang dijungjung.’ Apa yang kehendaknya itulah diadatkan daripada zaman datang kepada zaman turun-menurun. Itulah kesudahannya negeri Hitu dan negeri Japara. Hatta berapa lamanya keempat perdana berhadapan serta orang banyak. Kemudian daripada itu.’ Dan seorang berkata pula: ‘Daripada beraja baik tiada beraja. Tiada lain daripada keempat .musim utusan itu pun pulang dan orang Japara pun gennap musim tiada berputusan bedagang ke tanah Hitu dan tanah Ambon sekalian sebagailah. Tellah itu maka dinaikan Maulana ibn Ibrahim akan kadi daripada ia mutakalim daripada alim mahudum* guru sekalian tanah Ambon. Daripada itulah maka dikatakan firak. Dan dinaikan hukum* AbubakarNaseddiki* namanya.’ Maka seorang pula berkata: ‘Mana faedah yang baik beraja itu dan mana faedah yang baik daripada tiada beraja itu?’ Lalu berkata keduanya: ‘Demikian faedah yang baik beraja. Alkissah peri mengatakan syariat nabbi akhir zaman. tetapi kita naikan dahulu seorang akan kerajaan.

lalu sekali-kali di aluan kelengkapan itu. Maka panglima negeri itu keluar. jika beta tiada dapat alah kepada negeri itu. Tellah demikian itu. melainkan kehendak Allah ta`ala juga tiada dapat dikatakan.’ Lalu disalin dan dimuliah kepadanya. lalu sekali-kali di aluan angkatan itu serta menetta. beta pun tiada kembali. Sebab itulah maka tiada dapat turun.bangsya itu. demikian juga kemudian daripada itu. Dan kuceriterakan sekali perastawa raja naik kepada sebuah perau. tiada seupamanya lagi dalam tanah Hitu. lalu langgar ke darat. Maka diikut belakangnya orang itu. Ia minta tolong kepadanya. lalu kembali angkatan itu. makin bertambah kebajikan dan kepujian. Apa2 kehendaknya tiada ia muafakat dengan keempat perdana. jangan alah naik ke darat pun tiada boleh. serta menyingsing tangan bajunya. Apabila kita langgar ke darat. Itulah kehendak Tuhan Yang Mahamurah kepada makhluknya. Tiada boleh alah. Maka tiada berupama kepada yang empunya negeri serta melakukan kehendaknya dan negeri itu pun tiada diketahui kepadanya. Alkissah . Maka negeri itu keluar dengan angkatan pergi menyerang kepada negeri itu. Itu pun tiada dikatakan kepada empat perdana itu. Maka kata orang sekalian: ‘Bennarlah perdana Jamilu pahlawan dan bijaksana dalam tanah Hitu. Alkissah dan kuceriterakan tatkala itu perastawa keempat perdana membahagi rakyat. Hunimoa namanya pantai itu. Seorang pengawa empat gelaran kepada seorang perdana. Maka kata keempat perdana: ‘Mengapa maka kembali angkatan ini?’ Maka sahut orang itu: ‘Tiada boleh alah kepadanya. Demikian juga keempatnya seorang pengawa empat gelaran turun-menurun. Ia keluar bersuka-sukaan sehingga datang kepada suatu pantai. maka ia kembali dengan kemenangngannya makan minum bersukasukaan. Maka dikata dengan kata yang aib.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Betapa perintah parangnya itu?’ Maka menyahut orang itu: ‘Ada pun panglimanya itu terlalu sangat gagahnya. Hatta lama datang kepada lamanya.’ Tellah didengar kata orang demikian itu. lalu alah kepada negerinya. lalu ia becakap di hadapan orang sekalian. turun ke pantainya pun tiada dapat. Maka dilepas kepada maslahat itu serta dengan kehendak Allah ta`ala kennah panglimanya itu mati dan orang banyak itu pun undur serta lari. berbahagia seseorang-orang dalam dunia. maka ia keluar. lalu ia pulang diam dirinya kepada halnya. Demikianlah halnya orang itu. Lalu ia menyuruh kepada negeri yang bukan takluknya. Hatta ia datang.’ ‘Mengapa maka tiada boleh alah kepadanya?’ Maka kata angkatan itu: ‘Jangan alah.’ Tellah demikian itu maka ia membuat suatu maslahat serta dengan panah di aluan kelengkapannya itu. demikian katanya: ‘Insya Allah ta`ala berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.

apa hal nama kita didengngar oleh orang? Baik kita pindahkan dia kepada tempat yang lain. maka suatupun tiada hujat dalamnya pada ketika itu dan termasyhur nama Kapitan Hitu dari negeri Ambon sampai negeri Portugal. karena sudah termasyhur kita membuat baik kepadanya. Maka ia datang membawah khabar kepada perdana Jamilu. Jadi ramai bandar di tanah Hitu dan termasyhur sekalian tanah Ambon. maka kami datang ke mari.’ Maka kembali pula bawah ia datang ke negeri kepada perdana Jamilu. Maka kami jatuh pesir* ke tanah sebelah dan kapal kami pun tekarang di laut Puluh Burung*. ia tiada tahu bahasa kami dan kami pun tiada tahu bangsyanya. maka diberinya masara persalin kepada Kapitan Hitu. suatu Kapitan Hitu. Hatta datang musim barat. lalu berampas-rampasan serta haru-biru dalam pasar. Gennap tahun diadatkan selamanya.’ Maka kata keempat perdana: ‘Bennar kata hukum dan penghuluh agama. bulum lagi melihat rupa manusyia bagai rupa orang itu. Pada . maka menyuruh kapalnya datang gennap tahun tiada berputusan lagi. Tubuhnya putih dan matanya seperti mata kucing. maka kata penghuluh agama: ‘Salah orang itu melainkan sampai nyawanya.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Pergilah engkau bawah ia ke mari. jangan sama senegeri kita. Maka tinggal kapal kami. daripada negeri itu tiada beragama dan lagi banyak minuman anggur. kedua Don Jamilu namanya. Lalu ditanya kepadanya: ‘Darimana datang dan apa nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang di sini kami sessat tiada tahu jalan.’ Lalu diberinya tempat membuat rumahnya ia duduk. Selamanya umur kami hidup dalam dunia. Hatta berapa lamanya maka ia memohon setengah duduk menungguh rumahnya dan setengah membawah khabar kepada orang besarnya. demikian katanya: ‘Ada kami bertemu sebua perau di laut Puluh Tiga.’ Maka dipindahkan dia ke tanah sebelah kepada tempat yang baik ia duduk. Lalu kami tanya kepadanya. Apatah daya. Sekali perastawa ia minum mabuk. Hatta datang lama dengan lamanya serta kehendak Allah ta`ala yang kebaikannya itu dibalaskan oleh Tuhan Yang Mahamurah datang kejahatannya. Maka disampaikan kepada hukum dan penghuluh agama. Itulah hal keempat perdana. naik kepada sampang endak pulang ke negeri Portugal. Tetapi malim tiada tahu. Kepada zaman itulah maka digelarnya kepada perdana Jamilu ‘kapitan Hitu’ namanya dan berjanjian apabila datang kapalnya. Seperkara lagi sama makanannya dan minumannya. Maka raja Portugal digelarnya dua nama. tetapi ampun dahuluh kepadanya.dan kuceriterakan yang empunya ceritera: sekali perastawa sebua perau Saki Besi Nusatelu* ke laut Puluh Tiga mengambil ikan. untung kami di sini. Kemudian kita membuat jahat pula.

ia menyuruh angkatan mengadang di tengngah jalan. lalu belayar ke Ambon. Hatta berapa lamanya menjadi fitna. Maka ia pulang kepada gurapnya. Pada ketika itulah pendagar Tahalele menyerrang buankan dirinya ke tengah tentara kafir itu seperti harimau. maka ia meninggal negeri fanah datang kepada negeri baka. lalu belayar dibawah oleh angin dan arus jatuh datang ke tanah Seran. Maka dipeliharakan dan diadatkan kepada mayit itu sehingga datang kepada seratus harinya. lalu naik rampas kepada kapal itu dan orangnya itu habis dibunuhnya. Sekali perastawa keempat perdana menyarang kepada sebuah negeri kafir. Maka ia meninggal dua buah gurap sehingga dinaikan orangnya. Hatta berapa dalamnya pun parang lanatullah itu dan tentara Islam itu pulang serta kemenangnya. Maka didengar oleh kafir itu. maka dimasukkan ke dalam petti. makan-minum dan disalininya kepada pendagar Tahalele serta digelarnya pahlawan Tubanbesi dan syamsyirnya Lukululi. Maka pangeran Japara menyuruh tujuh buah gurap mengantarkan dia. maka ia sakit serta dengan ajalnya. Tellah demikian itu maka dihimpunkan orang serta kelengkapan Japara itu pergi menyerrang kepada sebuah negeri kafir.ketika itu tiada dikira-kirakan kepada hari yang kemudian. ada sebuah kapal di tanah Bandan*. jual-beli. Maka ia menengar khabar orang. alah-mengalah sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah. Hatta ia datang ke Bandan. sehingga dimasyhurkan dua nama. Dan maitnya itu ditaburkan bauh-bauan. tukarmenukar. Bunyi senjatanya diupamakan guruh di atas langit. makanminum dan bergela-gelaran nama panglimanya itu. . Tiada dapat terpandang mukanya oleh musuh itu. lalu berparanglah. Tellah demikian itu maka adinda perdana Jamilu belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. Lalu menyuruh sebuah gurap antar kepada mayit itu dahuluh dan ain inayat naik kepada sampangnya ennam buah itu dan gurapnya itu menanti di tanah Seran. Maka ia pulang dengan kemenangngannya sehingga datang ke negeri bersukasukaan. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Hatta berapa lamanya. maka bertemu kedua kelengkapan itu. bersuka-sukaan. Maka penghuluh kelengkapan itu kira-kiranya sukar karena banyak kafir itu. Hatiwe namanya. pertama Lekalahabesi dan kedua Tubanbesi. Maka keluar kafir itu serta barparanglah kedua pihak itu seperti orang bepasaran. Hatta datang ke tengah laut antara Jawa dan Bali. lalu ia masuk ke pantai Hitu bersama-sama dengan tamannya yang mengantarkan mayit itu dan diturunkan kepada mayit itu. daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama dan Tubanbesi pun syahid pada ketika itu. lalu alah negeri itu. Sorangmenyarang. lalu paranglah dengan dia.

maka ditankis oleh laknatullah itu. Daripada sanngat marah hatinya kepada panjipanjinya itu. Entah berapa lagi dalam akhirat dibalaskan Allah ta`ala karena sabda nabi salla 'llahu ’alaihi wa-sallama: ‘Apabila mati Islam. jika bulum dilepaskan oleh malak al Zabaniah. suisa* dan serunai. caramela* pelbagailah bunyi-bunyian. Maka tentara kafir itu cerai-berrai. Lalu ia menetta serta merampas panjipanji kafir laknatullah itu. maka khabarkan orang kepada negeri Hitu dan tanah Ambon sekalian. pendagar parang. patah tulang tangannya yang kiri. Hatta seketika juga mardan* Khatib ibn Maulana dan maradan Tahalele ibn Abubakar Nasiddik keduanya syahid. Maka kata pahlawan Tubanbesi: ‘Untunglah aku sekarang pada ketika ini. maka patah pula laknat itu. Itulah manfaat orang parang sabil dalam akhirat. maka dalam akhirat suatupun tiada hisab* kepadanya melainkan masuk syurga. maka patah parang kafir itu. Ada pun tatkala itu datang sebuah kapal membawah kepada serri sultan Maluku ke tanah Ambon. Maka didirikan panji-panji parang dan tentara Islam pun demikian lagi. Lalu bertempik kedua pihak itu upama guru di atas langit bunyi tempiknya. Kemudian daripada itu mardan Totohatu ibn Zamanjadi ia bertempik. Inilah muafakat orang parang sabil dalam dunia. yang diceriterakan oleh yang empunya ceritera. lalu menetta. Esfinkarnya* putus kedua pangkal.artinya ‘patah tulang’. Alkissah peri mengatakan sultan Maluku demikianlah riwayatnya. lalu naik kepada kelengkapannya kembali serta dengan dukkacittanya dan orang Hitu pun kembali memeliharakan mayitnya itu. Panglimanya dan pendagarnya serta dengan harkatnya. Alkissah peri mengatakan parang Don Duarde datang daripada negeri Portugal serta dengan kelengkapannya. Seketika juga himpunkan orang dan panglimanya sekalian serta dengan Den Daurdia*. jika bulum lagi lepas daripada azab naraka. Hatta datang seketika lagi masuk pula ke medan. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang bersembahyang mengadap kepada kiblat. maka ditangkis oleh pahlawan itu. maka masuk pula parang ke medan. maka bertempik Umar. lalu masuk ke medan dan berbunyilah gendang. Maka keempat perdana menyuruh orang . dalam akhirat bulum lagi diterima oleh malak al Ridwan.’ Yakni artinya bulum lagi masuk syurga. Namanya digantikan Tubanbesi yang mati itu. Ia beparang tettak-menettak serta kehendak Allah ta`ala kulitnya tiada makan besi. Maka dipaluh dengan esfingarnya* laknatullah itu. Apabila Islam mati parang sabil. Ia masuk ke Kota Laha. entah berapa-rapa panglimanya.’ Lalu bertempik menyerbukan dirinya ke dalam tentara kafir itu. maka ia naik ke darat. karena pintu syurga sudah terbukah. masing-masing melarikan dirinya.

Ia naik ke darat. sarangmenyarang sebagailah parang sabil Allah. Maka datang orang itu katanya: ‘Bennar juga khabar itu.’ Maka keempat perdana muafakat: ‘Apa tipu kita karena janjian kita serta sumpahan?’ Lalu menyuruh kepada kapitan* Feranggi itu minta bedamai. maka menyuruh tanya kepada gurendur Peranggi itu. lalu kapal pun belayar membawah kepada serri sultan. bennarkah atau tiadakah. Dan negeri Hitu pun pinda ke atas bukit. Ia duduk di negeri Lesiela*. Empat puluh mata keris dimasukkan ke dalam gendaga Seran dan di atas keris itu has* sehellai dan di atas has itu sirri pinang dan bunga serta bauh-bauan. Kemudian daripada parang Don Daurde itu. pagi petang tiada berkeputusan. Dan empat puluh orang gaggah membawah makanan serta gendaga itu di hadapan raja. Maka ia parang siang malam. Ialah bennar syaudaraku dari dunia datang ke akhirat. Maka ia langgar kepada sebuah kapal. maka kami pun terima dengan sempurnanya. maka datang kapitan Sanjo*. maka raja pun tercengang tiada boleh bersuarah. Inilah tanda berteguhan ikrar dan tasdik. Maka negeri semuanya itu takluklah kepadanya kafir itu. maka naik pula ke atas bukit Mamala. karena kita sudah bedamai. Sehingga keempat perdana dan setengngah negeri tiada berapa itu pinda ke Tanah Besar. lalu ditudung pula kepada gendaga itu. Maka tanah Hitu serta tanah Ambon sekalian paranglah dengan kafir laknat itu. terlalu ammat gaggahnya.lalu bedamai orang Hitu dan orang Feranggi. Maka ia pun mau. Alkissah dan diceriterakan yang empunya ceritera. lalu membuat kotanya di pantai Hitu. Hatta berapa lamanya alah negeri itu.’ Lalu orang itu pulang serta gendaga itu dan sampaikan salam titah itu kepada keempat perdana.periksyai kepada khabar itu. Hatta lagi maka titah syah alam kepada empat puluh orang itu: ‘Pulanglah engkau bawah gendaga itu dan sampaikan salamku kepada empat perdana. Ulukulu namanya.’ Lalu menyuruh melalawat* dengan tipu maslahat. Tanda kasih dan tulus serta kehendaknya itu tellah sampailah kepada kami. Lalu dibukah sendirinya serta pandang kepada keris itu. lalu ia kembali duduk di negeri Luhu serta meneguhkan tanah . Ada pun daging darahku sekali pun tiada bagai demikian ini. betahanlah di atas bukit itu. betahanlah di situ. demikian katanya: Dapatkah atau tiadakah kami endak menyuruh melalat kepada raja Ternate itu?’ Maka kata gurendur Feranggi: ‘Mengapa maka tiada dapat. maka berulang-ulang beparang di tanah Hitu. Hatta berapa lamanya alah pula bukit itu. Alah-mengalah. Pada ketika itu pahlawan gimelaha* Laulata ada di tanah Ambon. Maka keempat perdana pun endak mengulang lagi. Tellah demikian itu. Ialah memeliharakan negeri sekalian serta mengeluarkan angkatan ke tanah Hitu.

ketiga Latuhalat lawannya perdana Nusatapi. ia keduanya juga. Apabila kasahkitan negeri Hitu. nyiyahkan kepada kafir itu dahulu. maka hukum Abubakar pergi mengadap kepada serri sultan di Maluku. Hatta berapa lamanya bertambah -tambah kebajikan dan kemerahan. tetapi bulum lagi datang kepada ketikanya dan waktunya. keempat perdana Pati Tuban lawannya perdana Pati Naelai. Tellah demikian itu. lalu menyuruh gelaran Tuheasal dan Tuhelusun datang kepada hukum dan keempat perdana. Daripada itulah negeri Nusaniwe ia pinda datang ke negeri Hitu. maka suatupun tiada ellat sehingga melakukan parang sabil Allah daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Ingatkah lagi rakyat tuhanku atau tiadakah lagi?’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Mengapa maka kami tiada ingat? Ingat juga. Hatta didengar negeri sekalian di tanah Hitu tellah datang hukum Abubakar daripada Ternate. Tellah demikian katanya: ‘Sudahlah bagai kehendak tuhan-tuhan itu. Ia duduk kepada bukit Hatunuku. Entah apa kehendaknya titah. . maka kami percahaya.’ Maka hukum Abubakar dan keempat perdana pada ketika itulah pulang ke tanah Hitu. yakni tentukan perjanjian itu. ia keduanya juga.’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Apabila bagai kata demikian itu.’ Lalu ia pulang memberitahukan kepada negeri sekalian. lalu dibunuh kafir yang dalam negeri itu. kedua Totohatu lawannya Lisakota. atau kebajikan negeri Nusaniwe. maka disampaikan kepada hukum dan keempat perdana. Itulah perinta hukum Abubakar Nasiddik dan sekalian negeri pun kembali kepada hukum Abubakar dan keempat perdana. Tellah demikian itu dan diceriterakan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe kedua berhadapan kepada suatu majellis serta muafakat dan berjanjian. pulanglah engkau. Itu bersuatuan namanya. Lalu dipepatutan karena negeri Hitu pun keempat perdana itu empat bangsyanya dan Nusaniwe keempat perdana juga.Ambon. Tellah dibunuh itu. Suatupun tiada dengan hisab* karena tatkala muafakat itu dipersyahdakan*. demikian katanya: ‘Negeri sekalian empunya sembah datang ke bawah kadim tuhanku.’ Maka menyahut pula gelaran itu: ‘Bilamana lagi tuhanku maka datang ketikanya dan waktunya? Tetapi negeri tuhanku sekalian itu sekarang inilah datang ketikanya dan waktunya melainkan tuhanku pulang dahuluh di tanah Hitu. tetapi suatu bangsyanya. maka ia pulang ke tanah Ambon. Nama gelaran negeri Henalale dinamai Hehahitu dan gelaran negeri Latua dinamai Hehatomi* namanya. jumlahnya dualapan perdana lima bangsyanya. Pada zaman itu negeri Hitu sekalian memberi kepala ikan ia upetti kepada keempat perdana. Lalu Lalu dipepatutan: pertama Pati Lupa* lawannya perdana Tanihitumesen.

Maka kedua pihak . Lalu melawanlah kedua angkatan itu daripada waktu duha sehingga datang kepada bakda lohor. tatkala bulum lagi dinaikan kapitan laut. lain daripada itu tiada kusubutkan. demikian itu katanya: ‘Apabila jika datang kebaikannya pun kita bersama-sama. ketiga cili Abu Syahid dan keempat cili Kaba. Tellah demikian itu dan diceriterakan daripada negeri Urin* dan Asilulu. Serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi sekali-kali dengan kelengkapannya dan mayitnya perdana Kakasingku* pun sabil Allah tiada kettahuan lagi. Lain daripada itu tiada kuceriterakan sehingga ibn bendahara: pertama gimelaha Kakasingku* dan (kedua) gimelaha Jamali dan (ketiga) gimelaha Kulabu dan keempat gimelaha Aja dan kelima gimelaha Basi dan keenam gimelaha Angsari*.Itulah kesudahan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe. maka datang kepada negeri Asilulu. Kemudian daripada itu dan kuceriterakan. tetapi dalam pihak Ulima. Pun ia utusan. Itulah daripada pihak bendahara. keenam cili Ici dan ketujuh cili Aya. pun ia pergi datang berulang-ulang membawah titah sebagailah. kedualapan baginda cili Ali. Segali perastawa gimelaha Kakasingku* keluar dengan kelengkapannya. sekalian keluar dengan kelengkapannya mendattangi sebuah negeri. ada parang di laut. Ia datang akan bendahara di tanah Ambon serta kaum gulawarganya gimelaha Haji dan gimelaha Sakatruana. Latu namanya.’ Ada pun perjanjian ini sehingga Alan. kelima cili Naya. Ada parang di darat. Liliboi dan Larike. ada mennang. Maka keempat perdana menerima kepadanya itu serta dengan berjanji-janjian. Bennar juga dalam pihak Ulima. kedua cili Kodrat. Sungguhpun namanya Ulisiwa. Maka datang kepada kerabat serri sultan daripada bangsya raja: pertama kiyaicili* Cuka.’ Dan suatu lagi dijanjikan juga: ‘Apabila jika orang dari sebela pihak Ulisiwa endak masuk muafakat serta negeri Hitu. tetapi dalam martabat negeri Hitu. maka ia bertemu dengan angkatan Nasrani di tanjung Mamala. karena pada tatkala itu sangat parang sabil Allah di tanah Ambon. Maka datang angkatan kafir laknat bantu kepada negeri itu. jika datang kejahatannya pun kita bersamasama. maka dibawah kepada perdana Jamilu. Dan daripada pihak hamba raja pertama Kalaudi dan kedua Usman dan ketiga Kabutu Malu dan keempat Sagaluwa*. sebagailah kedua pihak itu tiada berputusan lagi. bersama-sama datang ke negeri Hitu. ada disarang. kelima Sibangua. Daripada itulah maka tatkala ia bertemu kepada orang Peranggi itu. Asilulu suatu juga. keenam Ambalau. ada yang menyarang. Wakasihu dan Urin*. ada yang dimennang. Alkissah peri mengatakan johan pahlawan gimelaha Rubohongi. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan sekalian ini termasyhur pendagar.

ketiganya pendagar parang. karena Jamali alDin itu pahlawan yang termasyhur. Maka panglimanya yang gaggah itu syahid. Sebab pada ketika itu baginda cili Cuka ia menjadi kapitan laut. Ia undur lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke negeri Hitu. Hatta ia datang ke tanah Hitu dan orang Hitu pun keluar angkatan serta ia mendatangi negeri kafir itu. sendirinya memeggang panji-panji serta membaca salawat. maka ia belayar kembali ke tanah Jawa. sekali perastawa keluar angkatan Islam mendatangi negeri kafir dan angkatan kafir pun keluar. Alkissah dan kuceriterakan yang empunya ceritera. maka ia syahid serta kelengkapannya pada ketika itu juga. Maka negeri ke dalam kotanya dan orang itu pun mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. Maka dipandang oleh kafir laknat tempat itu sunyi dan kotanya itu pun tiada manusyia. dua bersyaudara gimelaha Angsari* dan Liwa alDin. Laknat itu alah kepada kota Islam itu. hoja* alim mahudum*: ketiganya syahid. Itulah kesudahan parang kiyai Mas di tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu masuk ke dalam negeri.berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian jualbeli. maka patah parang Islam itu. maka ia bertemu kepada kafir laknat itu. Dan orang sekalian itu pun lari masing-masing membawah dirinya sehingga gimelaha Jamali al-Din. lalu ia masuk. Hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala kepada pihak Islam itu pergi barjalan ke sini dan orang kawal itu pun serta dengan alpanya ia tidur. maka pangeran menyuruh kepada kiyai Mas serta kelengkapannya. Dan panglimanya yang gaggah dalam angkatan itu Martajiwa namanya dan seorang Panarukan namanya dan seorang pula Pasiruwan* namanya. Maka kedua angkatan itu sama bertemu di tengah jalan antaranya Hitu dan Kota Laha. Daripada itulah maka tiada berpaling apa tipu orang banyak serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi daripada kesudahan hidup manusyia dalam negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Apabila datang esok harinya demikian juga. Dan Kalaudi pun dengan kelengkapannya masuk. Alkissah peri mengatakan parang kiyai Mas. Hatta datang malam masing-masing pulang kepada tempatnya. Hatta datang musim. Maka angkatan itu sekalian kembali masing-masing ke negerinya. tiada berputusan berkawal-kawal kedua tentara itu. Tatkala perdana Tubanbesi belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangngeran minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang berhadapan serta dengan hidangan karena sangat maksud Islam ke sana kepada kafir laknat itu. Lalu bertempik kedua pihak itu seperti datang tofan bakilat-kilat dan .

Itulah kesudahan tanah Bandan* datang ke tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Pada mati dan luka itu tiada dikira-kirakan lagi. maka ia kembali ke negeri Hitu.bunyi senjatanya diupamakan guruh dari atas langit dan asapnya senjata itu menjadi awan antara langit dan bumi. maka dilanggar sebuah kapal. Kemudian daripada itu datang pula angkatan itu ke tanah Hitu. itu bukan dialah oleh Ferangi. Hatta hilang awan itu. Hatta lama dengan lamanya sebagai juga tiada berputusan parang sabil Allah. lalu patah parang kafir itu dan angkatan Islam itu kembali serta kemenangannya. Dan parangnya itu daripada waktu duha sehingga datang kepada waktu asar . maka baginda kiyaicili pun syahid. Maka negeri Bandan* sekalian keluar angkatan ke tanah Hitu. tetapi tiada masyhur parangnya itu. Itu pun tiada juga jadi kota. Hatta berapa lamanya datangnya itu dan negeri Hitu pun keluar angkatan serta dia bersama-sama mendatangi kafir laknat itu dan kafir itu pun keluar angkatan. Itulah hal parang sabil Allah. ketiga orangkaya Watimena dan raja Rosengaing*. tebakar oleh api obat bedil sendirinya. Masingmasing pulang kepada tempatnya. Kemudian daripada itu pergi alah kepada negeri. daripada ajal itulah meneguhkan hati manusyia serta memberikan kesudahannya. Hatta dengan ajal Allah. Dan daripada orang luka dan mati itu tiada kuceriterakan. Maka didapat oleh kafir laknat itu. kedua kapitan Atijauh. maka melawanlah kedua angkatan itu. Entah berapa aluannya. Hatta datang musim. Alkissah dan kuceriterakan johan pahlawan Tahalele ke tanah Bandan*minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu undurlah keduanya angkatan itu. Tuhahan* namanya. Asapnya itu menjadi awan menudung kepada kedua angkatan itu tiada berkenalan. makan-minum bersukasukaan. Sehingga datang musim ia pulang. Islam pun dukacitta hatinya dan Nasrani pun demikian lagi. lalu undurlah kelengkapan Islam itu kembali dengan dukkacittanya. Ada pun dalam angkatan kafir itu pun demikian juga luka dan mati. Segali . Ada pun pada ketika itu ada juga suruan pangeran. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala sebuah kelengkapan Islam. tetapi penghulu yang besar dalam angkatan itu pertama kapitan Falat. ia meninggal sendirinya pulang ke negeri Hitu. hulubalang Pati Lihat namanya. Ia membuat kota di pantai sebelah berhadapan kota Ferangi. lalu pulang ke tanah Bandan. Dan angkatan Ferangi pun keluar sama bertemu di pantai Kota Laha. Hatta terbit fajar kepada bakda subuh keluarlah kedua pihak angkatan itu berlawanlah dan bunyi senjata itu tiada dapat dikatakan. Alkissah dan kuceriterakan oleh yang empunya ceritera sekali perastawa orang Hitu keluar dengan kelengkapannya.

Ialah yang termasyhur pendagarnya dan terlalu amat gagahnya daripada sekalian. kedualapan pendagar Nasiela -. ketujuh pendagar Nahoda. kedua kapitan Sanco*. Hatta seketika juga patah parang kafir laknat itu. Maka dihabarkan orang kepada kafir laknat itu. biarlah aku sendiri keluar dahulu. maka patah parang laknat itu. tuhan-tuhan sekalian keluar. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Karena tatkala zaman parang itu hulubalang dan pendagar ada semuhanya -. Masing-masing lari terjung ke dalam air berenang kepada tempatnya sehingga hulubalang Sulaiman: maka ia tiada paling mukanya. Sebab itulah maka dikatakan tanah Hitu di belakang perisyai dan Tanah Besar di dalam perisyai. Itulah sangat parang sabil Allah di tanah Hitu. Tatkala itu sekalian hulubalang serta pendagar semuanya tiada. pahlawan al-Din. Kehendak kafir itu menggagahi akan mayit bendahara itu. Dan kuceriterakan hulubalang kafir laknat itu pertama Don Duarde. ia masuk parang kepada tentara kafir itu. Kadang-kadang Tanah Besar masuk kepada parang. Kuceriterakan menang Islam kepada kafir itu: sekali alah .pertama Ulu Ahutan. sungguh pun disubut tanah Ambon. sehingga Jumat pahlawan al-Din ada. sehingga inilah dimasyhurkan sangat parang kafir di tanah Ambon. Hatta datang angkatan itu lalu turun. maka ia bertankis-tankisan dengan perisainya serta undur datang kepada air sehingga lututnya. ketiga Paulo Kastanya dan Dan Tamura dan Dirgurumaridisi dan Siku Kisua dan Don Disera* dan Fernando Melo* dan Antoni Laliru. lalu ia keluar angkatan.’ Lalu ia bertempik ke dalam tentara kafir itu serta menettak. maka hulubalang Ulu Ahutan ia becakap di hadapan orang sekalian: ‘Jangan dahulu orang keluar.perastawa keluar angkatan kafir laknat itu serta orang Tidore dan orang Buru mendatangi di negeri Hitu dan orang Hitu pun harkat menanti di pantai. kelima Umar pendagar. ketiga hulubalang Hatib Tunsulu. Lalu ia menyerrang kepada negeri Hitu. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Rubohongi ia pulang ke rahmat Allah meninggalkan negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Itulah parang sabil di tanah Ambon. sebab sudah dipindahkan ke Tanah Besar. tetapi tiada dapat lagi. Tatkala pada zaman itu alah menang sama kedua pihak itu. keenam Mahir pendagar. tetapi ia dalam uzur. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. Apabila tiada patah orang itu.hulubalang yang termasyhur dalam tanah Hitu. Lain daripada itu tiada kusubutkan melainkan Jumat.keempat Pati Baraim. kedua hulubalang Hasan Pati. Maka pada ketika itulah perdana Kapitan Hitu memagang senjata. tetapi tanah Hitu juga parang siang dan malam tiada berputusan.

Dan kuceriterakan yang empunya ceritera. kedua sebuah di pantai Hitu dan ketiga sebuah serta angkatan Bandan* dan keempat langgar kepada pinsu* dan kelima langgar kepada antonibot*. Dan enam orang dinamai ‘graf*’.sampaikan dahulu kami punya pekatahan ini. maka datang sebuah kapal Wolanda. dan orang putih itu kepada orang Wolanda. lalu ia belayar pulang ke negeri Holandes menyampaikan katahan itu kepada orang besar2 dari negeri Holandes.’ Tetapi keempat perdana tiada mau. yakni syaudagar yang besar lagi artawan. maka kapitan Peranggi menyuruh kepada keempat perdana. karena parang sabil di tanah Ambon itu tujuh puluh tahun daripada parang Don Duarde sehingga datang parang Antoni Furtado*. Kemudian daripada kapal belayar itu. maka bayar empat puluh bahara. Dan menang kafir kepada Islam pun demikian lagi. Maka ia berhadapan kata serta keempat perdana dan berjanjian apah upahan dan berputusan barang kerja: apabila barang sesuatu perbuatan. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. orang hitam kepada orang Hitu. jika salah kepada adat jangan dikerjakan kepada dua kaum itu. Tatkala belum lagi datang Furtado itu. atau kamikah datang ke sana atau menyuruhkah datang ke mari?’Serta dengan kiriman tanda alamat tanah Ambon. demikian katanya: ‘Marilah kita bedamai dan bebaikan dunia tanah Ambon. Ia masuk ke Hitu. termasyhur dalam negeri Wolanda. Apabila alah kepada kapal. Ada pun kotanya dan senjatanya dan orangnya hitam itu kepada orang Hitu.sebuah kapal di tanah Bandan.’ Maka kata keempat perdana: ‘Jika bagai kata demikian itu. ialah empunya kapal syaudagar yang datang ke tanah bawah hangin ini. Hatta datang musim barat kapitan amiral Kurnilis* [dan] Istin Warhaga* pun datang. Kapal serta senjatanya dan orang putih kepada Wolanda. karena ia ingat kepada perjanjian dengan amiral Istiwin . Tellah demikian itu. maka orang Hitu tanya kepadanya:‘Darimana datangmu dan apah nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Kami datang dari negeri Hollandes* dan nama raja kami “Paringsi*”.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bolehkah kami minta armada tolong kepada kami?’ Maka kata orang itu: ‘Mengapah maka tiada boleh? Boleh juga. maka orang Hitu bayar empat ratus bahara kepada Wolanda. bolehkah atau tiadakah. Dan diperjanjikan upahan: apabila alah kepada kotanya. Maka ia pulang. tetapi menyuruh sampai kepada Prings* dan orang besar2 di negeri Holanda* supaya boleh dengar kepada dia empunya pekatahan. Bagaimana kehendaknya Prings dan orang besar2. lalu masuk ke Kotah Laha periksai kepada kotah Feranggi itu. lalu belayar ke negeri Wolanda menyampaikan berjanjian berputusan kata sekalian itu kepada Prings vin Nyuranye* dan orang besar2 dalam negeri Murucisa*.

keluar dari negeri Murucisa* dan empunya angkatan ini Prings van Nyuranye* dan penghulu dalam angkatan ini amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*. Lalu dibawah kepada perdana Tubanbesi dan orangkaya Patiwani kepada kafir laknat itu. Maka kuceriterakan keempat perdana pinda ke Tanah Besar itu. maka Mihirjiguna dan mardan Sibori bertanya kepada angkatan itu. Hatta datang musim barat. lalu undur pulang ke Kota Laha. Dan negeri Hitu pun pinda ke gunung Pinau*.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Endak ke mana?’ Maka ia menyahut: ‘Mencari kepada musuh kami. Hatta berapa lamanya angkatan pun datang. Kambelo itu pun alah juga semuanya. yakni negeri Luhu.’ Maka menyahut menyahut pula kata Mihirjiguna itu: ‘Apabila jika . Daripada tiada mau mengubah janjinya. Maka keempat perdana menyuruh kepada Mihirjiguna ibn Kapitan Hitu dan mardan Sibori ibn Tubanbesi keduanya naik kepada kapal itu mendapatkan angkatan. lalu belayar dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Ambon. sehingga keempat perdana juga pinda ke Tanah Besar.’ Maka kata pula Mihirjiguna dan mardan Sibori: ‘Marilah sama kita ke tanah Ambon. maka ia bertemu dengan kapitan Wolanda itu dan keduanya berhadapan kata dan bicara. demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini dan siapa empunya angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun angkatan ini angkatan Wolanda. dan perdana Tanihitumesen ia duduk di negeri Anin dan perdana Pati Tuban ia duduk di negeri Waibuti dan perdana Nusatapi ia duduk di Gamusungi. datang pula sebuah kapal ke tanah Ambon kepada empat perdana. Maka bertemu dua buah kapal Wolanda dan ditanya kepadanya: ‘Mana kapitan-mor*?’ Maka ia menyahut: ‘Kapitan-mor ada di tanah Bandan. sebab dilontar dengan batu oleh negeri itu kennah kepala kapitan Furtado. Ada pun tatkala datang Furtado serta kelengkapannya. Maka dinaikan empat orang mengikut kapitanmor itu. lalu peranglah kedua pihak itu tiada berputusan sehingga datang Furtado. karena musuh itu ada di tanah Ambon. Alkissah peri mengatakan datang Furtado. Demikianlah parang Antoni Furtado* di tanah Ambon sehinggalah perangnya. Portugal namanya. Maka kafir itu mendatangi negeri Luhu dan Lasidi*.Hatta seketika juga patah parang kafir. maka ia menanti sehingga datang sama negeri Banten.Warhaga* itu. Maka Kapitan Hitu naik kepada sebuah perau pergi mencari bantu sehingga ke Seran. Hatta berapa lamanya alah gunung itu. Lalu ia mendatangi negeri Iwa* dan orang Iwa* pun keluar berparang dia. maka ia naik barparanglah di sana.maka negeri sekalian takluk kepadanya. Itulah halnya orang berjanjian.’ Lalu Kapitan Hitu belayar ke tanah Bandan. lalu ia mendatangi negeri Hitu. Hatta datang ke tanah Jawah.

lalu keluar duduk di luar.’ Maka kata kapitan Feranggi itu: ‘Mengapah maka kata demikian? Karena kami empunya negeri ini. Ada pun bunyi dalam surat itu.’ Telah demikian itu. Apabila jika alah kepada kapalnya. maka kami bersama-sama ke tanah Ambon. ada pun orang Wolanda sehingga perintahkan dan mengaraskan. baiklah Wolanda duduk kepada kota itu. Sudah ia berikan kepada kami dan ia pun ada pada kami. Hatta datang musim barat.’ Maka kata Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Jika bagai kata amiral itu. dan orang hitam kepada orang Hitu dan artanya itu bahagi dua. lalu masuk kepada labuan kota Feranggi itu.’ Maka kata amiral dan Istiwin Warhaga*: ‘Bennar juga kata itu. Ada pun kotanya serta senjatanya kepada orang Hitu dan orangnya hitam itu pulang kepada hitam dan orangnya putih itu pulang kepada putih. maka beri empat puluh bahara.’ Lalu dikeluarkan kepada Mihirjiguna dan mardan Sibori di hadapan. maka kita melawan dengan dia.’Lalu dinaikan Firdirik Hutman* gurendur di kota Ambon. Itulah kerjakan dia. Hatta datang itu. lalu ia belayar pulang ke negerinya. lalu diam kapitan Feranggi itu tiada berkata-kata lagi.’ Lalu Mihirjiguna keluarkan surat perjanjian itu kepada amiral Matelif*dan Istiwin Warhaga*. Apabila datang cari kepada isterinya. hatta datang kepada hari dan ketika yang baik. mengapah maka kami keluar dari tanah ini?’ Maka kata amiral:‘Bukan engkau empunya tanah. maka kami beri empat ratus bahara cengkeh.demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Angkatan ini dari negeri Wolanda. Tellah demikian itu maka kata amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* kepada Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Betapa kota ini?’ Maka kata Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya: ‘Baik juga kita rusakkan kota ini buan ke laut. Maka dibaca surat itu.dengan faedahnya. lalu belayar serta Mihirjiguna dan mardan Sibori ke tanah Ambon. tetapi kita mengambil kota ini seperti kita mengambil isteri orang.’ Lalu katanya kepada kapitan Feranggi itu: ‘Keluar engkau dari tanah ini. datang .’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Diiakanlah jika bagai kata demikian itu. Maka amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* pulang serta angkatannya menyampaikan khabar kepada Frings* dan orang besar2 dalam negeri Wolanda. karena tanah ini ada yang empunya. demikian buninya: ‘Apabila alah kotanya itu. tetapi barang kerja kota atas orang hitam. maka kapitan Feranggi menyuruh datang tanya kepadanya. lalu ia diam dirinya. bagaimana tempat kita jawab kepadanya? Ada pun tempat kita itu melainkan dengan kota. Ada pun kapalnya serta senjatanya kepada Wolanda dan orang putih serta kapalnya. Maka diberinya perau. Hatta datang pagi hari dikeluarkan anak kunci itu diserahkan kepada tangan amiral.

apatah kehendak amiral itu? Katakanlah. maka kami mau ke Ternate.’ Maka kata amiral: ‘Yang tellah sudah itu apa betapa disubut lagi?’ Maka kata kiyaicili dan gimelaha: ‘Jika bagai kata demikian itu.’ Tellah demikian itu maka gimelaha dan kiyaicili katakan kepada amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* dan kapitan sekalian dalam angkatan itu. Maka kata Kapitan Hitu. tiada beri salah. Dan Kapitan Hitu pun becakaplah di hadapan orang sekalian itu. apabila kembali rayat semuanya dan negeri Ternate pun tettap. supaya kami dengar. lalu pulang. melainkan hasil datang dari tanah Ambon. Lalu kata gimelaha dan kiyaicili: ‘Marilah kita pulang dahulu. Maka menyuruh panggil kepada kapitan serta keempat perdana Hitu. sudah tiada kurang kepada hasil masuk negeri Ternate kepada hari yang kemudian itu.’ Maka diberikan anak Kapitan Hitu. Maka datang baginda cili Ali dan gimelaha Aja dan hamba raja Ambalau minta kepada amiral. masuk ke Kota Laha.’ Maka kata baginda cili Ali dan gimelaha Aja: ‘Apatah lagi manfaat? Karena Kapitan Hitu mengatakan upahan itu kami semuanya di situ. ia mengikut kepada amiral belayar ke Maluku. insya Allah.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Berilah hasil tiga negeri itu kepada kami. demikian katanya: ‘Tellah sudah selamat tanah Ambon daripada bahaya. maka diiakanlah kapitan sekalian itu. Marilah kita ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. maka kita berilah salah. maka kata baginda cili Ali kepada gimelaha dan orangkaya-kaya semuanya: ‘Apa tipu kita karena negeri Ternate dalam kesukaran?’ Maka ia saat*: ‘Endak kepada hasil tiga buah negeri itu. Unus Halaene namanya. maka kembali negeri Ternate serta dengan kerajaan. sehingga .’ Lalu berkata: ‘Apabila angkatan itu ia mau tolong kepada negeri Ternate. Dari mana akan datang ganti isi astanah raja? Karena rakyat sekalian wa-'llahu a`lam dalam kesukaran. esok hari maka kita berkatakata’. Pada ketika itu. Lalu kata amiral: ‘Berilah anak Kapitan Hitu ikut kepada kami supaya kami sampaikan kepada Prings dan orang besar di negeri Wolanda.’ Maka gimelaha dan kiyaicili tiada mau kepadanya dan amiral pun endak juga kepadanya. tiga buah negeri itu kami minta.’ Maka kata kiyaicili Ali dan gimelaha dan hamba raja:‘Mana tiga negeri itu?’ Maka kata amiral: ‘Negeri Luhu dan Lesidi dan Kambelo. itu upahnya atas tanah Hitu.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* menyahut amiral keduanya: ‘Jika dengan manfaatnya maka kami mau ke Maluku. Apa tipu kita sekarang ini?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun sudah rusak negeri Ternate serta dengan arta isi rumahnya habis dirampas oleh kafir itu. Moga2 dengan kehendak Allah ta`ala dan berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.pula angkatan itu ke tanah Hitu.

maka jeneral Gerat Rangsi dan gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh memagang senjata endak melanggar kepada negeri Kambelo. daripada itulah menyuruh periksai kepadanya. Pada zaman itu negeri Luhu dan Kambelo menerima kepada orang Ingeris. al-hamdu li-'llah. lalu pindah . lalu ke Maluku. dari Bandan* datang ke Ambon pula. Itulah beta taksirkan dahulu. ia duduk di negeri Kambelo. Gerat Rangsi* namanya. tetapi serta adil kepada jeneral. Maka mengikutlah ia. Jika tiada mengikut. Maka kedua pihak sama petuguhnya. Maka dinaikan Yangseper Yangsi* akan gurendur sehingga tiga tahun. lil* Allah [fi] 'l`alamin akan kerajaan dan diturunkan gurendur serta soldadunya duduk menunggu kota. supaya kami menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo. Kemudian daripada ia itu maka datang pula amiral. Tatkala itu datang jeneral. karena tempat duduk Ingeris itu tanah raja Ternate dan negeri Kambelo itu pun rakyat raja Ternate. tiada beta mengetahui duduknya itu. Maka sekarang ini ia duduk di negeri Kambelo. maka datang amiral. Piter Bot* namanya. Iapun demikian juga murahnya dan pada ketika itu gurendur Hutman* pun belayar karena lamanya gurendur Hutman* enam tahun ia duduk. pasang-memasang. Dan kuceriterakan tatkala gurendur Hutman* itu. karena gimelaha itu mangkubumi di tanah Ambon.datang ke Ternate. dari Maluku datang ke Ambon. Mana kehendak jeneral itu kerjakan. lalu ke Bandan. Hatta berapa lamanya.’ Maka diiakanlah jeneral dan gurendur kata Kapitan Hitu demikian itu. ’Tellah demikian itu. Maka kata gimelaha Syabidin: ‘Mengapa maka tanya kepada beta lagi? Karena beta sudah keluarkan dia dari negeri Luhu. tembak-menembak kedua kaum itu. Maka sekalian rakyat pun kembali ke negeri Ternate dan dinaikan serri sulthan paduka Mudafar ibn Sa`id al-Din syah. Maka kata perdana Kapitan Hitu kepada jeneral dan gurendur: ‘Sabar dahulu. Simon Hun* namanya. Ia datang dari Betawih. Apabila ia mengikut. ia tiada mau. apatah dayah. bebaikan kita serta dia. lepas taksir kita. Maka gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh serta kelengkapannya masuk ke pantai Kambelo suruhnya Ingeris itu keluar.mengantarkan kepada Unus Halaene. serta kelengkapannya. Maka didirikan kota di negeri Melayu. lalu menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo kata yang kebaikan dan kebenaran. maka datang jeneral Gerat Rengsi* dan perdana Kapitan Hitu menyuruh kepada gimelaha Syabidin*. Lalu belayar angkatan itu membawah kepada Unus Halaene ibn Kapitan Hitu dan anak raja Nusaniwe dan anak orangkaya Lakatua dan anak orangkaya Natahuat* ke negeri Wolanda. Ia itu banyak kasihnya akan artanya kepada orang serta dengan empenak supaya menjadi jinak sekalian orang Ambon.

tawar-menawar dengan orang Wolanda. Pertama berkellahi dengan negeri Hutumuri. Betapah kehendak titah itu. karena ia tiada hilang belanjanya. Hatta datang musim barat maka maka datang kapitan Warhaga. maka gurendur dan menyuruh kepada paduka seri sultan di Ternate. Mengapah maka ia disamakan kami. maka suatupun tiada hisab* lagi. kedua berkellahi dengan negeri Lesibata. lalu dibunuh kepada Inggeris dan Jupun semuanya. endak berkellai kedua pihak itu. maka suatupun tiada fitna dalamnya. maka jadi fitna. Demikian kata gimelaha dan orangkaya-kaya sekalian: ‘Minta seratus harga sebahara. maka kedua kaum muafakat serta bersakutu bandar Wolanda dan Inggeris itu. Segali perastawa tanah Ambon semuanya serta gimelaha berbantahkan harga cengkeh. maka Kapitan Hitu bedamaikan dia. karena kami banyak belanja hilang kepada soldadu dan marinero* membuat kota. Maka dinaikan Aren Bulok* akan gurendur ganti kepada Yangseper Yangsi*. lalu belayar pulang ke negerinya.’ Lalu ia menyuruh ke Ternate dan menyuruh ke Betawih. lalu ia pulang dan dinaikan Herman Aspel* akan gurendur ganti kepada Aren Bulok*. Alkissah peri mengatakan tatkala Herman Aspel* ia akan gurendur itu. karena gurendur itu itu sangat bengis. Leitimol* namanya. Hatta berapa lamanya. Daripada ia memulai parang di tanah Ambon. Hatta lama dengan lamanya sehingga datang kepada tahunnya. serta kotanya maka diketahui oleh Wolanda. Pada ketika itu ada suatu fitna. ia bedamai dengan gurendur. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala datang suatu bala Allah. ia serta gimelaha Syabidin mengalah kepada negeri itu.ke pantai Eran* dan orang Wolanda pun masuk ke dalam negeri itu dan orang Inggeris pun keluar naik kepada kapalnya.’ Maka kata orangkaya-kaya: ‘Berilah delapan puluh. maka kita lakukan bagai titah itu.’ Maka kata gurendur: ‘Betapa kami disamakan dengan Inggeris. Maka kata Kapitan Hitu kepada kedua pihak itu: ‘Apa kerja berkellai? Baik juga gurendur menyuruh belayar ke Betawih kepada jeneral menyampaikan kata orangkaya-kaya itu.’ Maka kata gurendur: ‘Enam puluh harga sebahara. Mengapah maka minta delapan puluh daripada kami banyak arta keluar?’ Maka kata orang Ambon: ‘Mengapa maka gurendur kata demikian? Karena gurendur banyak arta hilang itu ada dengan hasilnya. Mengapa maka kata demikian itu?’ Lalu orang Ambon tiada keluarkan cengkeh.Maka jeneral dan gurendur pulang ke Kota Laha. Dan apa kata jeneral itu. maka berparanglah dengan negeri Nasrani yang takluk kepadanya itu.Orang Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda. lalu ia belayar pulang ke Betawih dan gurendur Aren Bulok* duduk di kota Ambon. Maka Kapitan Hitu bawah kepada kipati Lesibata. .

maka atas kepada jeneral. seperti membuat kota atau berkellai atau kurang kuasa barang sesuatu. tujuh puluh harga sebahara cengkeh. Apabila alah kepada Kastila dan Tidore atau bedamai dengan dia. Maka betapa tipu orangkaya-kaya semuhanya kepada titah itu. baik dan jahat.’ Itulah kesudahannya. sehingga dalam berkellai ini. Tiga real itu akan harga siri pinang soldadu. tetapi beta minta kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya-kaya semuhanya enam puluh tujuh.’ Maka kata gurendur: ‘Bukan aku. ’Maka diiakanlah orangkaya sekalian tanah Ambon serta dengan janjinya.’ Maka kata fetor: ‘Tengah tujuh puluh. demikian katanya: ‘Enam puluh pada harga sebahara cengkeh itu. karena banyak datang Kastila ke Tidore.’ Lalu kata orangkaya-kaya: ‘Berilah tengah delapan puluh. Yang empunya cengkeh itu orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon. beta minta kepada orangkaya-kaya sekalian keluarkan tujuh real upamakan harga makanan soldadu. Kemudian kata gurendur: ‘Sudah putus tujuh puluh.surat dari Betawih dan titah dari Ternate pun datang. Maka semuhanya dengan Wolanda pun berhimpun di pantai Luhu memutuskan harga cengkeh itu. atas kepada gimelaha dan gurendur memutuskan harga cengkeh ini. Tellah demikian hatta datang kepada tahun yang lain.’ Maka fetor pun mau dan orangkaya-kaya sekalian pun mengikut kata gimelaha itu. maka kata jeneral: ‘Ada pun beta ini endak ke Bandan.’ Itulah kesudahannya daripada titah. tetapi kepada artanya itu mana kehendaknya tiada kepadaku. tetapi surat dari raja dan gurendur dari Ternate minta bantu ke sana. maka cengkeh itu hargakan lagi atau kurang lagi . Ada pun daripada titah seri sultan di Maluku demikian bunyinya: ‘Bahwa sesungguhnya tanah Ambon itu takluk kepadaku. Jikalau kepada benyagah Ambon itu atas kepada gurendur dan fetor* semuhanya di tanah Ambon. karena benyagaan itu sama sukah keduanya. Karena surat dari Betawih demikian katanya: ‘Ada pun kepada bicara yang lain. atas kepada fetor semuhanya.’ Maka kata gimelaha: ‘Berilah tujuh puluh. Maka kata orang sekalian: ‘Jika bagai kata titah keduanya itu. Jikalau mau.’ Maka diiakanlah orangkaya-kaya semuhanya kepada kata gurendur itu enam puluh tujuh real. Itulah keputusan harga ce ngkeh dan negeri sekalian pun keluar cengkeh timbang kepada fetor. Tatkala itu jeneral Lurinsu Riyal* dan amiral Astiwin Warhaga* pun datang serta kelengkapannya delapan buah kapal. datang utusan dari Ternate minta bantu kepada gurendur.’ Maka kata fetor kepada orangkaya gimelaha: ‘Betapa harga cengkeh ini?’ Maka kata orangkaya gimelaha: ‘Bukan aku empunya cengkeh. Maka disampaikan surat itu kepadanya.

Ia datang tanya kepada perdana gimelaha. maka Kapitan Hitu dan gurendur serta orangkaya sekalian menghukumkan kedua pihak itu. Sungguhpun besar tubuhnya itu tetapi kuat. karena ia perdana yang besar dalam negeri Ternate. apabila jika ia tiada mau.daripada enam puluh itu atau lebihkan lagi daripada enam puluh itu. Alkissah peri mengatakan serta kuceriterakan tatkala perdana gimelaha Hidayat keluar serta angkatan datang ke tanah Ambon. beta damaikan dia dengan gurendur. Maka beta minta kepada gurendur sabar ahulu. lalu menyuruh kata kepada sengaji dan orangkaya semuhanya keluar. demikian katanya: ‘Betapa perbuatan sengaji Boano demikian itu?’ Maka kata perdana gimelaha: ‘Ada pun perbuatan sengaji itu kami tiada mengetahui kepadanya. Maka gurendur serta angkatannya pulang ke Kota Laha dan Kapitan Hitu serta kelengkapannya pulang ke negerinya. Itulah kesudahan harga cengkeh pada ketika itu. apahtah daya? Lapas taksir kita kepada sengaji dan orangkaya-kaya dalam negeri Boano. karena fitna itu tiada subut lagi. Itulah kita taksirkan kepada gurendur. Melainkan dengan adil gurendur. maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur: ‘Ada pun gimelaha itu tiada bicarakan. beta menyuruh kata kepada sengaji. Maka suatupun tiada lagi fitna pada kedua pihak itu karena sudah keputusan kata yang baik dan jahat. melainkan melakukan kebaikan dan kebenaran serta kesukaan dunia dan tiada mengirangirakan hari yang kemudian. lagi ia hukum dalam negeri Ternate. Maka suatupun tiada fitna lagi. Tetapi daripada ia endak kejahatan itu.’ Maka diiakanlah oleh kedua pihak itu serta disuratkan dalam kertas tatkala disuratkan itu di pantai Gamusungi di hadapan jeneral dan amiral dan perawara sekalian daripada pihak Nasrani dan hadapan mengkubumi gimelaha Syabidin dan perdana sekalian perwara di tanah Ambon serta Kapitan Hitu daripada pihak Islam itu. susunya bagai susuh perempuan. maka ia membuat suatu fitna kepada sengaji* Boano.’ Tellah demikian itu. lagi johan pahlawan.’ Lalu gurendur serta angkatannya mendatangi negeri Boano. Tellah demikian itu datang johan pahlawan gimelaha Hidayat.karena kesukaan dan keadaan itu tiada berapa dalamnya. Ia . Yang benar itu dibenarkan dan yang salah itu disalahkan serta didamaikan kedua kaum itu dengan kebajikan. karena tanah Boano itu tanah raja dan orang itu pun rakyat raja Ternate. Dan negeri sekalian pun dengan kesukaannya serta dimulianya. yakni sudah di luar perjanjian. Jikalau mau keluar. Alkissah peri mengatakan tatkala gurendur keluar dengan angkatan. sehingga ditaksirkan juga. lalu jeneral belayar ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. lagi ia alim dan tiada orang besar tubuhnya bagai dia dari Maluku sehingga datang ke Ambon.

lalu masuk kepada negeri Salamah berhadapan serta orangkaya-kaya tanah Bandan* semuhanya. Ada pun pada tatkala itu barang hukum daripada zaman yang tiada boleh putuskan orangkayakaya sekalian di tanah Ambon itu.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa tipu kita kepada tanah Bandan? Karena tatkala kita berparang dengan orang Feranggi ia tolong kepada kita. Daripada beta ingat tanah Bandan* dan tanah Hitu daripada zaman dahulukala. tanya kepadanya maukah bedamai atau tiada maukah. kita ikutlah. maka wafatlah perdana gimelaha pulang ke rahmat Allah. Ia belabu sehingga datang labuan Komber.’ Maka Kapitan Hitu naik. Hatta datang angkatan itu antaranya laut Puluh Suanggi* dan Gunung Api. melainkan suatu kata kami minta kepada orangkaya-kaya. supaya jangan menyasal kepada hari yang . sehingga enam orang juga mengikut dia. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. tetapi ihtiar dahulu kepada budi akal kita. demikian katanya: ‘Ada pun beta ini bukan disuruh oleh jeneral. Apabila jika tiada boleh. tiada dapat kita tegah kepada perbuatan itu. Baiklah kita tolong kepadanya dengan pekatahan. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sabar dahulu. hatta berapa antaranya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Syabidin pun uzur. tiada pulang ke negerinya lagi. Tellah demikian itu. daripada ia mengatakan hukum itu serta dengan hukum Allah. Daripada itulah termasyhur nama johan pahlawan hukum Hidayatullah di tanah Ambon. yakni sakit. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. upama terbit matahari cahayanya menarangkan yang adanya. taat siang malam tiada berputusan mengaraskan agama Islam.membuat ibadat. Tetapi daripada kehendak Kapitan Hitu demikian itu. torompetanya* dan himpunkan soldadu serta dengan senjatanya. maka didirikan tunggulnya sekalian kapalnya itu serta bunyi tamburunya*.’ Lalu Kapitan Hitu naik kepada angkatan itu. Kemudian daripada itu datang jeneral Pitir Eskun* serta angkatan masuk ke Kota Laha. Maka pada ketika itu tanah Ambon dalam hukum Hidayatullah. jika boleh. Serta ajal Allah.’ Maka kata jeneral: ‘Bukan kami minta bedamai. maka masuk di pantai Lontor. Kemudian anak orangkaya-kaya tiga puluh orang serta Unus Halaene ibn Kapitan Hitu naik kepada kapal Inggeris ikut belakangnya. apahta daya? Karena pekerjaan itu pekerjaan yang benar. Lalu ia berkata kepada orangkaya-kaya. Maka beta tolong dengan makanan tiada boleh. ialah memutuskan. Maka Kapitan Hitu tanya kepada jeneral: ‘Endak ke mana angkatan ini?’ Maka kata jeneral: ‘Endak ke Bandan* berkellai. Sudah kita tolong dengan makanan tiada sampai. kita masuk kepada orangkaya-kaya tanah Bandan. kami endak berkellai juga.

bebaikan dahulu dengan dia. Ia masuk kepada Wolanda. di sanalah kami menanti. Pada malam itu datang seorang daripada negeri Bandan. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sudah lepas . jangan lagi Kapitan Hitu turun ke darat. apatah lagi dinantikan? Jika kurang lagi suatu perkara daripada empat itu. tetapi kita menyuruh juga kepadanya menyampaikan perjanjian kita itu.’ Tellah demikian itu maka kata jeneral kepada Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata ini. Selamanya parang kami sahingilah* empat perkara itu. Dalam dua hari.’ Maka kata orangkaya-kaya tanah Bandan* kepada Kapitan Hitu: ‘Baiklah. apatah lagi?’ Lalu pulang orang itu menyampaikan kata itu kepada orangkaya Kapitan Hitu dan jeneral. Tetapi apa kehendak orangkaya-kaya katakan juga kepada kami. artinya kata itu sudah lengkap karena perbuatan manusyia itu serta dengan harkat. maka orangkaya datang di sana. maukah atau tiadakah. Kemudian apa2 barang kehendak kita itu katakan kepadanya”. Jika bagai kata orangkayakaya demikian itu. Maka ia tanya: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka suruan itu menyahut: ‘Ada pun Kapitan Hitu minta ampun daripada orangkaya-kaya sekalian. maka kami katakan kepada orangkaya Kapitan Hitu dengan jeneral. Apabila jika datang Kapitan Hitu dan Wolanda itu kita pagang semuhanya. Daripada itulah periksai kepada orangkaya-kaya empat perkara ini. supaya kita dengar apa kehendaknya itu. benar juga orangkaya kata kepada empat perkara itu. artinya dusta.kemudian. maka tiada ia turun.’ Hatta datang kepada janjinya. keempat makanan. kedua senjata.’ Maka kata orangkaya-kaya semuhanya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu. maka ia berkata kepada jeneral: ‘Kita dengar orang Bandan* bicara dalam negeri: “Kita berhimpunkan orang serta senjata menanti di pantai. supaya ia pulang. jangan kata kita dibebohonkan. karena perbuatan ini sudah ia membunuh kepada kami orang banyak. Tetapi kehendak Allah ta`ala itu siapa mengetahui?’ Maka menyahut pula orang yang disuruh itu: ‘Daripada itulah maka dikira-kirakan. ketiga manusyia.’ Tellah kata demikian itu. apabila di mana kami bedirikan tunggul putih.’ Maka kata orangkaya-kaya kepada Kapitan Hitu: ‘Apa2 empat perkara itu?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun empat perkara itu. tetapi kami parang dengan Wolanda ini bukan sekarang. pulang dahulu. lalu Kapitan Hitu pulang ke kapal. Kita pun lengkapkan kepada empat perkara itu. pertama negeri. sudahkah lengkap atau bulum lagikah. ada sakit sedikit. didirikan tunggul putih di pantai. maka dilihat oleh Kapitan Hitu dari kapal. lalu menyuruh turun kepada orang itu. Apabila jika sudah lengkap. supaya kami himpunkan orang sekalian.’ Maka kata Kapitan Hitu ialah kata jeneral itu: ‘Kita tiada turun kepadanya.

Beramai-ramaian parang kedua pihak itu daripada waktu duha sehingga datang asar tiada boleh alah. Pugel* namanya. maka jeneral menyuruh panggil kepada orang besarnya serta panglimanya sekalian dalam angkatan itu datang kepada jeneral. tiada boleh masuk ke dalam negeri lagi. jual-beli. Hatta terbit matahari. maka menyuruh tanya kepada orangkaya-kaya tanah Bandan* sekalian. maka diturunkan gurendur Hutman* akan kapitan. Kemudian daripada itu. Lain makanannya dan pakaiannya dan apa-apa rampasan dalam orang banyak itu mana sukanya ia ambil dahulu.taksir beta. Tellah demikian. tukar-menukar. mana kehendak jeneral itu?’ Maka kata jeneral:‘Esok pagi kita naik cobah dahulu. maka orang Bandan* pun keluar. seribu real kuberi kepadanya. berhimpunlah di sana dan Wolanda pun duduk di negeri Lontor. Maka sekalian kapitan serta orang banyak itu pun pulang kepada kelengkapannya dan jeneral pun pekatahan yang diperjanjikan kepada panglimanya itu semuhanya dikerjakannya. Hatta datang bakda lohor serta dengan kehendak Tuhan sarwa sekalian alam. beta pun tiada kembali.’ Lalu ia berteguhan kata dengan jeneral. Ia naik dari belakang negeri dan kapitan Pugel dan kapitan Kuluf* dan kapitan Gemala* dan kapitan Jupun dan kapitan Siyau dan sekalian kapitan serta orang banyak semuhanya naik dari laut di hadapan negeri.’ Hatta datang pagi hari naiklah angkatan itu butul di hadapan negeri. hatta datang malam. maka Wolanda daripada kapitan Hutman* ia naik dari belakang negeri. ia becakap di hadapan jeneral dan orang besar2 semuhanya. jika tiada boleh alah negeri itu.’ Serta dengan cakapnya orang semuhanya itu. lalu kata jeneral: ‘Jika siyapa naik dahulu maka alah negeri itu. Kemudian tinggalnya itu kepada orang sekalian. dan orang Bandan* pun serta dengan harkatnya. Lalu undur Wolanda pulang ke kapalnya.’ Maka seorang kapitan. lalu masuk ke negeri Ander dan Waier. maka kata jeneral: ‘Betapa perintah parang orang itu?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Demikianlah parang orang itu. demikian katanya: ‘Beta naik dahulu. Maka kedua pihak berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian. kemudian perintah parang kita. dipalu gendarang parang dan riuh serta bunyi bedil seperti guruh di atas langit. Tiada habar kepada yang lain lagi sehingga sana berparang daripada bakda subuh. Itulah adat berteguhan janji kepada orang itu. maka diberinya minum arak pada tempat minuman prings. demikian .’ Maka kata jeneral: ‘Jika bagai demikian itu betapa bicara kita sekarang?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Mana perintah jeneral itu kami kerjakan. supaya kita lihat perintah parangnya itu. ia masuk ke dalam serta bunyi bedil dan riuh dalam negeri. Maka patahlah parang Islam itu.

Maka menyuruh datang mengadap kepada raja Mangkasar minta pindahkan ke Mangkasar. Jika ia katanya tiada lagi. demikian katanya kepada jeneral: ‘Ada lagi bedil besar dalam negeri Bandan . kuliling soldadu serta senjata. datang ke tanah Hitu. Dragon namanya. seribu kali kami sukah. lalu kata kepadanya bagai kata orang itu. lalu ke Jawahkatra* dan orang Bandan* yang tinggal itu semuhanya pindah ke tanah Seran dan Goron*. karena senjata itu semuhanya dalam negeri itu juga. lalu dinaikan ke kapal.’ Maka kata orangkaya Bandan: ‘Tiada lagi pada kami.’ Tellah demikian itu maka jeneral menyuruh panggil kepada orangkaya semuhanya. Kemudian kami belayar supaya kami menyampaikan kepada orang besar2 di negeri Wolanda pun dengan kebenarannya. Maka ditipu oleh Wolanda. Lalu keluar bunga pala timbang kepada fetor. maka kita berkellai.’ Maka kata Wolanda: ‘Barang seadanya itu berikan kepada kami. Jika mau bedamai. dan empat puluh orangkaya-kaya semuhanya dibunuh oleh Wolanda itu. Maka jeneral serta angkatannya pulang ke negerinya dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. Semuhanya itu minta serta anak orangkaya-kaya empat puluh orang itu. kemudian beta tunjukan kepada orang yang menaruh dia itu. bennarnya dengan dia. Maka raja menyuruh angkatan ke Seran memuatkan dia datang ke Mangkasar. semuhanya delapan ratus delapan puluh orang kepada kapal.’ Lalu orangkaya-kaya keluar bedamai dengan dia. itulah tanda bebaikan. rubuhkan kotamu dan berikan senjata yang adanya itu.’Maka diberikan dua puluh esfangar* kepada Wolenda itu. Maka sekarang ini kami endak belayar. Itulah hal alah tanah Bandan. apahtah daya?’ Maka kata orangkaya-kaya Bandan: ‘Yang tellah sudah itu jangan disubut lagi. marilah kita bedamai. Kemudian daripada itu kata Mai Hasan ibn orangkaya Bulaisi dan orangkaya Orotatan. Alkissah dan kuceriterakan kemudian daripada . maka kata jeneral: ‘Jika hati bennar mau bedamai. Baik juga orang semuhanya cerai-berai itu suruh pulang keruan kepada tempatnya. Maka orangkaya-kaya semuhanya tiada dapat besangkal lagi. jika tiada mau bedamai. Jika kepada sekarang ini jeneral mau bebaikan. Maka kata jeneral: ‘Sekarang ini upama tulur hayam digulingkan dari tanah Bandan* sampai ke tanah Wolanda: tiada boleh pecah lagi. Lalu belayar ke tanah Ambon.’ Maka disuruh oleh orangkaya-kaya panggil kepadanya semuhanya datang ke negeri Salamu. Ada pun kepada sekarang ini mana bicara orangkaya-kaya kita dengar. Itulah kesudahan berkellai tanah Bandan. lalu dikeluarkan semuhanya serta anak orangkaya-kaya itu. maka suatupun tiada lagi fitna.katanya: ‘Bukankah Kapitan Hitu endak damaikan kita kedua? Daripada orangkaya-kaya tanah Bandan* tiada mau bebaikan.

ada ke Jambi. ia duduk kepada . Ada menjual dirinya sendiri. maka dinamai San* Tumi*.lagi lambat musim. maka Mihirjiguna masuk mengadapat* perdana Kapitan Hitu. maka belayar dari Pudiceri*. Hatta terbit matahari. lalu naik Mihirjiguna belayar.jeneral belayar membawah kepada orang Bandan* itu. seketika lagi patah tiyang buritang itu. Lalu kata jeneral kepada Mihirjiguna: ‘Ada pun barang kehendakmu itu kami terimalah. Nona Sinyora di Mundi* namanya. tetapi musim lagi lambat datang. menubus dengan harganya dua real seorang. Bunyi layar seperti bunyi bedil. Karena di situ ada kota Wolanda. Hatta berapa lamanya maka datang ke Jawahkatra*. ada tengah tiga real. kuserahkanlah kepadanya yang kehendaknya itu. ada menjual anaknya. Maka naik ke darat bejalan ke negeri Pujiciri*. lalu berkata: ‘Beta endak belayar ke Jawahkatra*. Delf namanya kapal itu. mau melihat dunia tanah Keling barang seadanya hidupku sehingga datang musim barat. Maka ia menyembah.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata demikian itu. Kemudian daripada itu maka belayar sehingga datang ke Palikat*.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Beta minta kepada jeneral sementari lagi lambat musim.tiada dapat diceriterakan kepada kasihnya itu --. sehingga tanah Ambon pun baik juga jika dilapaskan oleh jeneral. Tellah menubus itu. maka Mihirjiguna naik ke darat berhadapan dengan jeneral serta orang besarnya.angin pun tedduh. ada ke Laut Mera. kepada negeri Tunahpatnan. Daripada Feranggi duduk dari situ. maka didirikan gerejanya akan tempat berhalanya. Jika tiada boleh kembali ke tanah Bandan* pun. belayarlah engkau. Ada pun San* Tumi* itu ada suatu bukit. lalu kepada Tirubambu* dan Tirumulawasir* dan Kunmuri*. Maka apa kehendaknya Arinjiguna* itu semuhanya dikatakan kepada jeneral pun terimalah kepada kehendak Mihirjiguna itu.’ Lalu Mihirjiguna tanya kepada jeneral: ‘Kapal semuhanya itu endak ke mana?’ Maka kata jeneral: ‘Kapal itu endak ke Malaka. Lalu ia belayar ke bandar Masilpatani*.’ Maka iakan oleh jeneral dan diberinya seribu real akan bekalnya dan sangat mulliya kepadanya serta kasih lain2 -. Hatta berapa lamanya di tengah laut datang tofan angin ribut. lalu kepada Nagahpatan*. ada ke bandar Masilpatani*. Di situlah tempat ia menyembah berhalanya itu.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa kehendakmu belayar itu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kita belayar ini tiada kehendak kepada yang lain melainkan kubicarakan orang Bandan. ia berhenti entah berapa lamanya. Apabila datang musim barat akan perginya pulang. Tellah demikian itu berapa lamanya datang ke tanah Keling. ada pulang ke negeri Holandes. beta endak turut kapal yang ke bandar Masilpatani*.’ Lalu ia naik kepada sebuah kapal.

Sehingga enam hari dengan kehendak Allah ta`ala wafat meninggal negeri fana datang kepada negeri yang baka pada bulan Rubiu'l-awal dua belas hari pada tahun [1032] Ha. seperti orang kaya dan orang miskin. maka datang ke Ambon masuk ke Kota Laha. maka beta serahkan kepada dia. maka ia mati pulang kepada asalnya. maka mandi kepada air yang panas itu. sehingga ibu bapa kita yang bennar itu maka kita tiada bertemu. Tellah demikian itu hatta datang musim maka ia pulang. maka dinaikan kepada sebuah kapal membawah kepadanya.’ Tellah demikian itu. Dan dikerjakan hamam*. Entah berapa antaranya. Dan kejahatan serta kebencian pun demikian lagi. jika datang tengah hari maka mandi kepada air yang sejuk itu. seperti perbuatan yang kegemaran kepada keelokan serta keinginan hati manusyia. lalu dibaca sendirinya. lalu belayar. lalu datang ke Banten sehingga datang ke Jawahkatra*. maka gurendur kata kepada Kapitan Hitu: ‘Baik juga kata jeneral kepada kita kedua itu kira-kirakan kepada kehendak Mihirjiguna . demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Arinjiguna* itu seribus* kali beta terima. pada malam Ahad. Lain daripada itu tiada dapat diceriterakan kepada kelakuan yang indah2. tetapi Kapitan Hitu dan gurendur kira-kirakan kehendak Arinjiguna* itu. tatkala zaman sultan Muhammad Huli akan kerajaan di negeri Gulgonda. maka ia berenti di sanalah. Maka dibaiki suatu petti dilapis dengan tima hitam. dan orang membuang segala najis manusyia dalam negeri itu. Di sanalah ia melihat perhiasan dunia semuhanya lengkap.rumah syaudagar haji Baba namanya. maka datang masuk selat antara Puluh Merkata* dan ujung Tanjung Cina. lalu dimasukkan mayit itu ke dalam petti. dan kesukaan dan kedukaan pun demikian lagi. dan orang berumah dalam tanah dan orang tiada berumah selama-lamanya. maka diberikan surat itu pada tangan Sifar alRijali. Daripada ia tiada empunya untung. Apabila jika dengan baiknya musim yang datang ini suruan ke mari.Maka diberikan surat itu kepada Kapitan Hitu dan gurendur. ada air sejuk dan air panas kepada suatu tempat harkat kepada segala manusyia. Pada tatkala itu Kapitan Hitu pun ada di Kota Laha. maka ditaburkan segala bauh-bauan dalam kafan. Entah berapa lamanya di tengah jalan. Entah berapa lamanya dalam negeri Betawih. bicarakan Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda serta kotanya itu. Dan perbuatan pelbagai yang andak* dalam dunia semuhanya ia melihat karena Masilpatani* itu bandar Kutb Syah yakni raja Gulgonda. maka Mihirjiguna sakit. Dan pasan jeneral dalam surat kepada Kapitan Hitu dan gurendur Herman Aspel*. Di sanalah dimasyhurkan namanya Mihirjiguna itu ‘sultan karanful*. kipati syah’. Apabila datang pagi hari. Berapa lamanya di tengah laut.

maka Wolanda datang rusak kepada dagang itu. maka gimelaha serta orangkayakaya semuhanya tiada mau rusak dagang dalam bandar. Kemudian daripada peninggal perdana itu. maka tiada jadi kehendak Mihirjiguna itu sebab perbuatan orang itu. karena adatnya raja ada kepadanya dan adat bendahara pun ada kepadanya. Lain daripada itu banyak lagi perbuatannya. ketiga membawah angkatan mendatangi di tanah Seran. Maka ia pinda ke negeri Lesiela meneguhkan negeri itu daripada ia melihat salah kelakuan Wolanda itu. Serta kehendak Allah ta`ala. jika datang orang Bandan* pula. karena ia berjalan atau duduk serta senjata tiada boleh meninggalkan dia dan syaudagarnya pun sangat serta murahnya tangannya. Pertama membuat gudang di pantai Huniyasi*. lalu paranglah gimelaha Luhu dan gimelaha Leliyato serta di tanah Ambon semuhanya. Maka kedua kaum Islam dan kaum Nasrani itu berparanglah. tetapi inilah perbuatan Inggeris dan Jupun. Apabila datang dagang. Hatta berapa lamanya maka datang titah paduka serri sultan Ternate suruh bedamai. sentiasa tiada berputusan parang di tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Maka dipertitahkan serta dengan arta disedekakan kepada fakir dan miskin dan orang besar-besar dan dipeliharakan sehingga adatnya. kedua membuat kotanya di tanjung Koako. artinya negeri sengaji Hatuhaha. Lalu dinaikan mait itu kepada kelengkapannya orangkaya dan orang dari negeri pun keluar mendapatkan dia di tengah jalan. Ialah bengis di tanah Hitu serta kelakuannya. itulah sebabnya. tanah Ambon dalam hukum perdana gimelaha Hidayat. Seorangpun tiada sebagainya di tanah Ambon. makin bertambah-tambah fitnah sebab dagang. Hatta datang berapa lamanya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Hidayat pun uzur. Dan kelakuan hulubalang pun ada kepadanya. sarang-menyarang. Daripada itulah maka digelar nama kelengkapannya itu ‘buang destar’ namanya dan demikian lagi kehendaknya Islam endak mengarusakkan agama Nasrani dan Yahudi dimasukkan kepada agama Islam. sehingga tanah Hitu juga tiada mengikut. Itulah kesudahan pelayaran Mihirjiguna ke tanah Keling.’ Lalu dibunuh Inggeris dan Jupun itu.itu. Kemudian daripada itu maka kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Syabidin meninggalkan negeri yang fanah itu datang kepada negeri yang baka itu. Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya . kemudian daripada Arinjiguna* itu Unus Halaene akan hukum. karena kehendaknya Nasrani dan Yahudi itu endak mengarusakkan agama Islam dimasukkan agama Nasrani. sehingga datang ke negeri. Lalu berparang pula. alah-mengalah sebagailah. alah-mengalah. artinya sakit lalu pulang ke rahmat Allah ta`ala. sarang-menyarang.

dari Tambuku lalu membaiki negeri serta dengan kotanya ia duduk. Maka dibawah kepada gimelaha dua bersyaudara kembali ke Tanah Besar. dari Banggai datang ke Tambuku. Itulah halnya tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Daripada itulah maka parang sabil Allah di tanah Ambon tiada berputusan. Segali perastawa mendamaikan dua kaum itu. Itulah kesudahannya datang raja laut di tanah Ambon. Maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur. maka gimelaha Leliyato ia duduk negeri Kembali dan gimelaha Luhu ia duduk di Gamusungi. lalu keluarkan kotanya di tanjung Koako itu dan gudang di Huniyasi* itu. yakni negeri Luhu. Wai namanya. Entah berapa lamanya dengan takdir Allah ta`ala pulang ke rahmat Allah. Maka suatupun tiada fitnah lagi di tanah Ambon dan kapitan laut pun berangkat ke tanah Sula. maka ihtiar sendirinya. maka tiada ketahuan bicaranya jeneral itu. Maka diturunkan yakni dikeluarkan gimelaha dua bersyaudara. sehingga sanalah ia berhenti. Alkissah peri mengatakan sekali perastawa perdana Kapitan Hitu pada suatu ketika ia duduk. Maka gurnadur Filipi Lukas* dan hukum Halaene serta angkatannya mengadap kepada kapitan laut. Apabila datang suatu fitnah . Hatta berapa lamanya datang angkatan dari Buton serta anak raja2 dan orang besar2 semuhanya membawah titah serta dengan adat mengadap kepada raja laut. keduanya memerintahkan tatkala perdana Kapitan Hitu lagi dalam negeri Betawih. suruh kembali ke Ternate. Lalu kapitan laut pun berangkat ke Manipa dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. Semuhanya diangkatnya bawah ke negeri Lesiela. Lalu Kapitan Hitu dan hamba raja Kalabata belayar ke Jawahkatra* bebicara dengan jeneral. Dan di belakangnya Kapitan Hitu datang kapitan lawut baginda kiyaicili Ali ke tanah Ambon. lalu pindah ke tanah Buton. maka suatu tiada fitnah dalam tanah Hitu. maka dikembalikan dianya. Hatta datang musim perdana pun pulang. karena ia dalam kesukaran. Hatta datang di sana raja Mataram menyuruh kepada tumengung* Bauhraksah mendatangi kota Betawih. Pada tatkala itu johan pahlawan gimelaha alah kepada sebuah negeri. Hatta datang titah disuruh pulangkan.Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya johan pahlawan gimelaha Leliyato ‘buang capeu*’ namanya. lalu masuk ke negeri Luhu. tempatnya yang lama. Tellah demikian itu Kapitan Hitu pun datang dari Jawahkatra*. dari Sula lalu ke tanah Banggai. demikian katanya: ‘Ada pun aku ini sudah tuah. Maka ia bertemu kepada kapitan laut dan barang apa2 bicara dengan jeneral itu semuhanya diceriterakan kepada kapitan laut serta muafakat. Siyapa tempat kuserahkan tanah ini?’ Lalu diserahkan kepada orangkaya Samu2 menunggu tanah Hitu serta orangkaya Bulan.

daripada negeri yang lain bagi Islam atau Nasrani. Maka ia tiada boleh tahan dirinya lagi. Hatta lama dengan lamanya orangkaya pun makin tuah serta dengan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala uzur. maka barang sesuatu fitnah dalam tanah Hitu atau tanah Ambon. jikalau seseorang juga pun. Masya Allah ia meninggal kepada darulfanah datang kepada darulbaka. Daripada itulah maka ia keluar membawah angkatan menyarang negeri. Maka dinaikan kepada Kakiyali akan hukum. Maka ia beramairamaian kesukaannya serta bunyi-bunyian dalam negeri Hitu. yakni mendamaikan dia. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Allah ta`ala siapa mengetahui? Tetapi pada perasaan diriku. maka ia datang kepada gurendur endak mengatakan kepadanya. yakni meninggal kepada dunia datang kepada akhirat. Karena istiadat orang besar yang ternama. artinya celaka. lalu ia kembali sehingga datang ke negeri. Maka datang kehendak Allah ta`ala kepada seorang perempuan bedzebai. melainkan hukum Halaene juga tiada mau kecewa kepada nama tanah Hitu. Lalu Kakiyali membawah angkatan itu menyarang kepada sebuah negeri Hatumete namanya. melainkan alah sebuah negeri atau keluar arta daripada takluknya sekalian. Maka dipeliharakan serta adat sehingga datang seratus harinya. Daripada ialah orang Wolanda itu tiada dapat melakukan kehendaknya kepada tanah Hitu pada zaman itu. maka dalam uzur itu menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya semuhanya. Hatta berapa lamanya apa2 kehendaknya. apabila ia mati tiada boleh masuk esukaan dan beramai-ramaian atau bunyi-bunyian dalam negeri. memberi racung kepadanya. yakni sakit serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi orangkaya pun wafat. Maka hukum Kakiyali juga membaiki tiada jadi berkelai. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala itu ada lagi hayat perdana Kapitan Hitu. jangankan sesuatu negeri. Hatta datang maka kata perdana Kapitan Hitu. Entah berapa lamanya di tengngah jalan. Maka kuceriterakan tatkala itu negeri Iwa* dan orang Wolanda endak berkellai sebab Pati Herman. ia juga membaiki. maka orangkaya Samu2 pun uzur. kemudian daripada itu. Semuhanya ditangkapnya. bagi Islam atau Nasrani. pulang ke rahmat Allah. Tetapi kepada fitnah tiada dapat dikatakan lagi daripada nafsu dunialah. maka bersuka-sukaan serta beramai-ramaian dan bunyi-bunyian dalam negeri itu. maka ia kedua orangkaya Samu2 keluar serta dengan angkatan melepaskan dukacittanya. Maka menyuruh antarkan maitnya orangkaya itu pulang ke negeri. Itulah istiadat mati orang ternama di tanah Ambon. hanya baik2 bicara kepada tanah ini serta . wa-'llahu a`lam. kemudian dibagi dua: setengah didudukkan di negerinya dan setengah dibawah kepadanya ke negeri Hitu.

maka dikerjakan.dengan agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. maka digantikan Antoni* akan gurendur.’ Karena pada ketika itu mardan Baros akan Nusatapi nama gelarnya dan mardan Mulutan akan Totohatu nama gelarnya dan mardan Kelisa akan Pati Tuban nama gelarnya dan mardan Kiyoan akan Tanihitumesen. membawah titah datang kepada perdana gimelaha serta Ulima dan Ulisiwa. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. Maka dipeliharakan mait perdana itu dan disedekakan arta kepada segala penghulu agama dan orangkaya-kaya dalam negeri Hitu sekalian dan diadatkan sehingga datang seratus harinya. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu menyuruh ke Mangkasar endak muafakat dengan serri sultan di Goa. Itulah nama keempat serta Kapitan Hitu pada zaman itu. maka berparanglah dan sebahagi serta kiyaicili Sibori memegang Wolanda membuat gudungnya di negeri Luhu dan paranglah kedua pihak itu. maka orang membawah fitnah kepada gurendur itu. lalu gurendur Kisil ia belayar ke Betawih.’ Maka menyahut pula orang banyak itu: ‘Bennar kata tuhanku itu. Tellah demikian itu datang masya Allah. Kehendak Allah ta`ala siyapa mengetahui. sarang-menyarang.’ Maka gurendur pun percaya. sadaha* Semaun namanya. Maka ia masuk ke tanah Hitu. Maka gurendur Artus* dan orangkaya-kaya semuhanya muafakat. tetapi jika datang masya Allah siyapa membawah tanah Hitu ini?’ Maka kata orangkaya: ‘Tiada dapat dikatakan. alahmengalah sebahagai juga tiada berputusan.Karena pada tatkala itu perdana gimelaha serta negeri semuhanya berkellai dengan Wolanda. Iapun demikian juga kelakuannya. sehingga negeri Luhu juga dua bahagi. Maka tiada boleh dikerjakan kehendaknya. Tellah demikian itu entah berapa dalamnya maka Kapitan Hitu menyuruh dua buah parau utusan ke Mangkasar. jangan seorang mengaku ia sendirinya. karena Kapitan Hitu sudah mengetahui kelakuan Wolanda itu. maka berapa kali tipu kepada Kapitan Hitu. melainkan keempat orangkaya dan Kapitan Hitu serta muafakat. tiada dengan periksyanya. maka dinaikan kepada hukum Kakiyali akan Kapitan Hitu serta perjanjian: ‘Apabila barang suatu pekerjaan atau pekatahan.’ Dan apa2 pekatahan serta adat tanah Hitu semuhanya dikatakan kepada keempat perdana dan berapa2 pekatahan yang dahulu kala itu semuhanya dikatakan kepada anak buahnya. lalu pulang ke rahmat Allah. melainkan mana kehendak Allah ta`ala serta orang banyak itulah memangku tanah Hitu. Sebahagi serta perdana gimelaha dan negeri sekalian.tetapi bulum lagi dengan kehendak Allah ta`ala tiada jadi tipunya itu. Apabila sudah muafakat serta minta angkatan datang berkellai dengan Wolanda. karena dalam titah itu .

demikian buninya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu dan orangkayakaya sekalian dalam negeri Hitu, serta utusan sadaha Semaun mendamaikan kepada gimelaha dengan gurendur dan membaiki tanah Ambon Ulima dan Ulisiwa, supaya jangan jadi fitnah. Karena perjanjian Wolanda itu seorangpun tiada mengetahui, melainkan Kapitan Hitu juga mengetahui dia dan ia juga menaruh surat yang perjanjian itu.’ Tellah demikian titah itu, maka kata orangkaya-kaya tanah Hitu: ‘Jika bagai kehendak titah demikian itu, baik juga utusan pulang dahulu ke Tanah Besar,kemudian kami mengikut di belakang.’ Maka utusan pulang menanti di pantai Luhu, maka datang gurendur itu pun demikian juga, lalu ia mengikut utusan itu menanti di pantai Luhu. Maka Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya keluar dengan kelengkapannya, lalu menyebarang. Hatta datang ke Tanah Besar, maka gurendur serta angkatannya mendapatkan dia di pantai Warau. Maka kata gurendur itu:‘Marilah kita berkata2 dahulu, kemudian kita masuk ke pantai Luhu kepada orang banyak.’ Maka Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya semuhanya naik kepada kelengkapannya gurendur itu, maka dipagang semuhanya serta Kapitan Hitu. Maka riuhlah orang dalam kelengkapan itu, lalu dikelilingkan angkatan kepadanya. Ia sebuah2 juga ditengah2 serta pasang-memasang, tembak-menembak datang pengelodan rawaki itu seperti titi hujang atas air masing dan asap obat menjadi awan antara langit dan bumi. Dan buni bedil serta* kilat dan riuh seperti ceritera buni sangkakalah tatkala hari kiamat kepada yaum al-mahsyar. Karena angkatan Wolanda itu lima puluh aluan, lain daripada kapal dan patacoh*, maka ia sebuah2 juga melawan dengan dia.Sehingga datang kepada tanjung Kahula Wolanda itu pun undur. Iapun masuk ke pantai Lesiela, lalu menyuruh sebuah perau membawah kepada Patiwani. Ia pulang ke tanah Hitu menyampaikan khabar itu kepada negeri serta dipindahkan negeri semuhanya naik ke atas gunung. Dan undur angkatan Wolanda itu, lalu menyebarang ke tanah Hitu endak menyarang kepada negeri, tetapi tiada dapat lagi. Maka menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya, demikian katanya: ‘Apa kerja pindah? Karena tanah Hitu dan Wolanda itu seperti laki-bini. Apabila bini salah itu melainkan lakinya juga ajar kepada dia, maka beta pagang kepada Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya ini. Demikian itulah halnya orang laki-bini dalam dunia, tetapi keluarlah kita kedua berbicara serta kebaikan.’ Maka kata orang Hitu:‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi kembalikan dahulu kepada Kapitan Hitu dan orangkaya2 itu, maka kami keluar kepada gurendur.’ Maka dilepaskan kepada orangkaya-kaya itu, Kapitan Hitu juga tiada dilepaskan. Maka orang Hitu pun tiada mau keluar kepadanya

serta memerintahkan negerinya. Dan utusan sadaha Semaun pun menangkap kepada orangkaya-kaya dalam negeri Luhu; yang memagang kepada Wolanda itu pun ia bawah ke Maluku. Maka orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon tercangan terlalu khairan kepada perbuatan gurendur dan utusan sadaha Semaun itu, maka tanah Ambon semuhanya tiada ketahui kehendaknya. Setengah berkata: ‘Baik kita berkellai.’ Dan setengah berkata: ‘Baik kita bedamai, karena sudah didamaikan kita dengan gurendur.’ Dan setengah pula berkata: ‘Jangan kita berkellai dan jangan kita bedamai sehingga diam sahanya*, supaya kita menanti kehendak titah.’ Maka kata perdana gimelaha dua bersyaudara: ‘Bennar juga kata orangkaya itu. Tetapi kepada perbuatan Wolanda ini rusak kepada agama rasul Allah di hadapan titah yang dipetuan, daripada ia tiada berupama ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza, nasrun min Allah syah, zill Allah fi 'l-`alamin.Daripada itulah baik kita berparang dengan dia.’ Lalu muafakatlah tanah Ambon semuhanya sehingga sebuah negeri Luhu juga. Maka kata Sifar ar-Rijali di hadapan perdana,Ulima dan Ulisiwa: ‘Ada pun berkellai ini sebab, apabila jika sebab Kapitan Hitu, sabar dahulu, supaya kita menanti titah yang dipetuan dan kabaran.’ Maka kata Ulima dan Ulisiwa: ‘Sebab agama rasul Allah, kedua perkara sebab titah tiada berupama ke bawah dulli yang dipetuan.’ Dan barang apa2 pekatahan kepada hari yang kemudian itu, semuhanya ditaksirkan di hadapan perdana gimelaha dan orangkaya sekalian. Tellah sudah ditaksirkan kata demikian itu, lalu ia beli obat bedil empat balas bahara cengkeh harganya, dan tengah tujuh ratus padang. Lalu ia pulang serta orangkaya gimelaha dan negeri Waibuti ke tanah Hitu serta muafakat dengan orangkaya2 di tanah Hitu. Lalu ia pulang, maka negeri Hitu sekalian berkellai, sehingga orangkaya Tanihitumesen dengan orangkaya Bulan juga tiada berkellai. Ia mengikut kepada Wolanda itu, maka ia jadi musuh kepada negeri Hitu sekalian dan negeri sekalian pun memerintahkan kepada hulu parangnya. Maka digelarnya kepada pendagar Nahoda dan pendagar Pati Husen* keduanya akan panglima di tanah Hitu. Lalu ia pergi merompa di tanah sebelah kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka diteguhkan Allah subhanahu wa-ta`ala, berkat agama rasul Allah serta dengan kemenangannya, maka ia pulang di negeri Wawani, makan-minum, bersuka-sukaan dan disalin kepadanya serta dengan dimasyhurkan namanya johan pahlawan Patiwani. Itulah hasiat* orang parang sabil Allah dalam dunia. Tellah demikian itu pendagar Telukibesi ia pergi merompa pula kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka dengan kehendak Allah ta`ala berkat agama rasul Allah serta kemenangannya, lalu ia

pulang di negeri Kapahaha bersuka-sukaan dan dimulliya kepadanya serta dimasyhurkan namanya johan pahlawan Tubanbesi. Ia duduk di gunung Kapahaha. Itulah faedah orang parang sabil Allah dalam dunia, entah berapa lagi dan* akhirat; karena riwayat pandita dalam syarah Sunusi*, dua perkara orang masuk syurga tiada dengan hisab* lagi, suatu perkara tarekad dunia, kedua perkara parang sabil Allah. Daripada itulah, maka beramai-ramaian negeri sekalian berparang dengan Wolanda itu. Maka kata Wolanda itu: ‘Apabila orang Hitu keluar duduk di pantai seperti dahulu kala itu, maka kami keluarkan Kapitan Hitu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi keluarkan dahulu, maka kami turun duduk di pantai kembali seperti dahulu itu. Jikalau tiada lepaskan dia, kami pun tiada mau keluar.’ Maka negeri semuhanya tiada keluar sehingga orangkaya Bulan, ayah mudanya Kapitan Hitu serta tujuh negeri keluar duduk di pantai serta Wolanda itu. Maka kata orang sekalian kepada orangkaya itu: ‘Betapa kehendak orangkaya keluar itu?’ Maka kata orangkaya: ‘Baik juga kita keluar ikut katanya. Dalam tujuh bulan itu apabila dilepaskan kepada Kapitan Hitu, maka negeri sekalian keluar. Jikalau tiada dilepaskan kepada [Kapitan] Hitu dalam tujuh bulan itu kita berbantahkan perjanjiannya.’ Maka orangkaya keluar serta muafakat dengan orangkaya-kaya, lalu orangkaya Tanihitumesen belayar ke Betawih. Dan apa2 kehendak orangkaya itu semuhanya dikatakan kepada jeneral, maka di belakang orangkaya negeri semuhanya itu keluar masuk kepada musuh itu,tiada lagi berkellai. Maka kata Sifar ar-Rijali kepada orangkaya-kaya dan panglima serta pendagar sekalian, demikian katanya: ‘Apabila perbuatan kita demikian ini?Rusaklah negeri kita dan Kapitan Hitu pun tiada dikembalikan lagi oleh Wolanda itu.’ Lalu ia pergi merompa kepada orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala serta dengan kemenangannya, maka ia pulanglah ke negeri Wawani bersuka-sukaan, maka seorangpun tiada keluar lagi.Entah berapa lamanya datang orangkaya Tanihitumesen, maka orangkaya-kaya menyuruh tanya kepadanya: ‘Betapa kehendak jeneral kepada Kapitan Hitu, lepaskankah atau tiadakah?’ Maka ia berkata: ‘Ada pun kata jeneral, tiga bulan lagi datang kapal dari Bandan, maka dilepaskan kepada Kapitan Hitu.’ Maka negeri Hitu semuhanya menanti sehingga datang tiga bulan tiada juga dilepaskan, maka kata negeri sekalian kepada orangkaya Bulan: ‘Ada pun perjanjian gurendur kepada orangkaya dalam tujuh bulan, sekarang sudah lalu tiga bulan, maka tiada ia mengikut perjanjian itu. Betapa lagi kehendak orangkaya itu, kami ikut juga, tetapi baik orangkaya undur dahulu. Kemudian apa kehendak orangkaya itu katakan

Segali perastawa ia keluar serta angkatannya mendatangi kota dauman*. Daripada ia bulum lagi untungnya. gimelaha Bobawa. Maka kedua pihak berparanglah siang dan malam. tetapi iapun tiada turun dan iapun tiada naik sehingga berapa lamanya Wolanda pun pulang dan angkatan Islam pun kembali serta perdana gimelaha. Maka kata johan pahlawan . membawa titah memanggil kepada gimelaha dan orangkaya-kaya. Lalu datang ke pantai Wawani.juga kepada orang sekalian. tetapi kepada parang Wolanda itu tiada dapat diceriterakan pelbagai parangnya. di mana merompa di darat atau di laut tiada lain ia juga. sekalian pati dan sengaji semuhanya keluar serta dengan angkatan endak menyarang kepada negeri orangkaya Tanihitumesen. Maka ketika itu tanah Ambon Ulilima dan Ulisiwa semuhanya berparanglah beramai-ramaian tiada berputusan. maka kedua pihak pasang-memasang. lain daripada itu tiada kusebutkan. maka ia bertemu kapal Wolanda itu. Hatta datang angin daratan. supaya kita kerjakan. lalu kapal pun belayar dan angkatan pun undur ke pantai Wawani. Hatta datang tiga bulan bertungguan tiada boleh alah.’ Itu pun tiada juga orangkaya mau undur sehingga empat buah negeri undur naik ke gunung. Hatta dengan takdir Allah ta`ala entah berapa-rapa negeri Nasrani takluk Wolanda itu bebali kepada johan pahlawan gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. Sebahagai juga parang kedua pihak itu. Tellah demikian itu maka kuceriterakan: di belakang perdana gimelaha Luhu itu johan pahlawan gimelaha Leliyato memangku tanah Ambon serta memerintahkan parang sabil Allah dan berkat agama rasul Allah serta kemenangannya. lalu paranglah negeri semuhanya beramairamaian. datang armada dari Betawih endak menyarang kepada kota Lesiela. Apabila masuk matahari. lalu ia pulang ke Betawih. maka tiada jadi mendatangi dia. serta perdana gimelaha Luhu pergi mengadap ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza. nasrun min llah syah. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. Dan kuceriterakan perdana gimelaha dan orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. pagi pettang tiada berantara lagi. sehingga dipindahkan kepada negeri Loin naik ke atas gunung. Pada ketika itu pahlawan Patiwani seorangpun tiada sebagainya di tanah Hitu. lalu melawanlah ia dengan kapal itu daripada waktu duha sehingga datang waktu asar. Maka Kipati Luhu dan Pati Tuban dan imam Nusaniwe. entah berapa kapal serta kora2 datang pula. Hatta datang musim barat. tetapi perdana gimelaha sudah harkat menanti dia. Maka perdana gimelaha serta Ulilima dan Ulisiwa keluar meromparompa kepada negeri Yahudi dan Nasrani. sarang-menyarang sebahagailah tiada berhenti lagi.

maka dikembalikan kepada Kapitan Hitu. jika ditahankan ia duduk sehingga tanah Hitu jua pun baik juga.’ Lalu orangkaya belayar ikut ke Betawih dan apa2 kehendaknya orangkaya itu dikatakan kepada jeneral. Maka Kapitan Hitu pun takut tiada keluar kepada Wolanda itu.’ Tellah demikian itu orang membawah fitna kepada jeneral dan gurendur. Ganap tanjung dan labuan tiada dapat. demikian katanya: ‘Siya-siyalah orangkaya keluar serta Wolanda itu . demikian katanya: ‘Kapitan Hitu menjual cengkeh kepada dagang Mangkasar dan Minangkabau di Puluh Tiga. Entah berapa lamanya dalam Kota Laha. lalu menyuruh kepada kapitan Yon Yan* serta orang banyak mencahari. maka tiada boleh alah. makin bertambah fitnah. Jangan dikembalikan kepada Kapitan Hitu. Maka kata orang Hitu kepada orangkaya Bulan. lalu ia pulang ke Kota Laha. Maka negeri Hitu sekalian bersuka-sukaan. Hatta dengan takdir Allah ta`ala. Lalu Wolanda itu ke negeri Hatubawah endak menyarang kepada gunung Alaka. Maka gurendur menyuruh sebuah kapal belayar membawah khabar kepada jeneral serta bawah kepada Kapitan Hitu ke Betawih. menyarang kepada Lesiela serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota Lesiela.[kepada] orangkaya-kaya Nasrani itu. lalu orangkaya-kaya semuhanya serta Kapitan Hitu pergi ke Kota Laha bedamai dengan jeneral dan gurendur serta orang besar-besarnya. maka ia pulang ke negeri Wawani dan negeri sekalian memberi tiga puluh bahara cengkeh kepada jeneral akan pembeli siri pinang. seorangpun tiada serta dia.betahanlah di sana serta orang dagang Melayu Minangkabau.Sendiri-dirinya juga. Maka orangkaya gimelaha dan orang semuhanya pindah ke negeri Kambelo. demikian katanya: ‘Hai syaudaraku. Itu belum lagi dengan kehendak Allah ta`ala. lalu ia pulang ke Kota Laha. nasrun . engkau sekalian bukan kami endak kepada hamba sahayamu dan bukan kami kehendak kepada artamu. lalu ia mengadang ke laut Puluh Tiga. beramai-ramaian dengan dia. nama orang hitam. Hatta datang musim jeneral pun datang serta angkatannya ke tanah Ambon. melainkan Wolanda juga antar kepadanya sehingga datang ke pantai Hila. Maka ditinggal kepada dia lalu orang Hila antar bawah kepadanya ke negeri Wawani.’ Maka gurendur tiada dengan periksyai lagi. Hatta tiada berapa lamanya datang paduka serri sultan Hamza.seperti pantun Melayu: ‘Dapakan bunga setangkai jangan diaibkan orang. Nasrani atau Islam. makan-minum. ini pula dibawah ke ini pula dibawah ke Betawih. Itu pun tiada juga dapat. tetapi kehendak kami itu melainkan kita bersama-sama membawah agama rasul Allah. makan-minum serta disalini dengan pakaian yang inda2. lalu ia pulang ke negeri bersuka-sukaan.’ Maka diiakan orang itu.

Maka tanah Ambon dan Buru sekalian berhimpunlah di sana. Bennar juga titah .’ Maka kotanya itu pun dirubuhkan dan sekalian dagang itu pun belayar masing2 mencahari tempatnya. Hatta datang maka titah: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka menyahut Sifarijali: ‘Daulat tuanku. sehingga Patiwani jua ia betahan parang dengan Wolanda itu. sekalian pati dan sengaji: ‘Rubuhkan kotamu itu dan niyahkan segala orang dagang itu. sudah datang ke bawah dulli tuanku. maka turun Wolanda itu mendatangi negeri Kambelo. Tiada dapat kuceriterakan parangnya. lalu pulang orang yang memanggil itu menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuan. berpalinglah orang sekalian. lalu dinaikan pahlawan gimelaha Leliyato kepada kapal Wolanda itu dan dikeluarkan gimelaha Luhu. ada yang membawah arta bejenis-jenis serta bunyi-bunyian mengiringkan kepada payung kerajaan daulat al sultan Hamza.min Allah syah. Tellah demikian itu paduka yang dipetuan berangkat ke tanah Hitu serta Wolanda itu dan negeri Hitu sekalian pun keluar jungjung serta dengan adat semuhanya dikerjakan. Tetapi kepada jeneral itu tiada ia percaya. Maka Wolanda itu serta angkatannya mendapatkan paduka serri sultan. Kemudian berhadapan di bawah dulli yang dipetuan. Jika tiada sakit. manatah surat perjanjian Wolanda itu?’ Maka menyahut pula Sifarijali: ‘Patik minta maaf. zill Allah fi 'l-`alamin. Apabila sudah rubuhkan kotanya.’ Lalu menyuruh panggil kepada Kapitan Hitu. lalu masuk ke pantai Kambelo. zill Allah fi 'l-`alamin. Hatta datang titah yang dipetuan kepada orangkaya-kaya dalam negeri Lesidi dan Kambelo. Hatta seketika lagi patah parang Kambelo. nasrun min Allah syah. patik tuanku sakit. hatta datang titah kepada orang sekalian:‘Mana surat perjanjian dengan Wolanda itu?’ Maka menyahut orangkaya-kaya semuhanya: ‘Ada pun surat perjanjian Wolanda itu ada kepada patik tuanku Kapitan Hitu. Maka suruh panggil perdana gimelaha dua bersyaudara. Maka orang Kambelo keluar serta pahlawan Patiwani Hitu. Ada pun pada ketika itu Kapitan Hitu pun sakit. ampun seribu ampun. Pada ketika itu ia duduk di negeri Kambelo. ada yang membawah ayapan. Maka berhimpunlah tanah Ambon sekalian berhadapan . ada yang bejalan saja.’ Maka titah: ‘Jika ia sakit. Maka menyuruh fetor Soroi* dan sarinto* pergi periksyai kepada penyakitnya itu. Ada yang memagang senjata serta santiagu*. Lalu ia pulang katakan kepada jeneral: ‘Bennar juga kata orang itu.’ Tellah demikian itu panglima Nahudimeten serta imam Sifarrijali keduanya keluar datang mengadap ke bawah dulli serri sultan. suruh belayar pulang ke negerinya. ke tanah Ambon serta raja Tidore yang diturunkan daripada kerajaannya itu dan raja Jailolo. maka berparanglah atas bukit itu.

yang memagang surat pun tiada datang. ibn al-sultan marhum syah. maka masuk pula bicara dalam gudang Wolanda itu. serta orangkaya Bulan dan orangkaya Tanihitumesen mengikut kepada Wolanda. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. Ada pun negeri Hitu dari Wawani dan negeri Asilulu dan negeri Alan. Telah demikian itu maka kuceriterakan kemudian daripada itu tanah Ambon. Hatta berapa dalamnya. pasang-memasang. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki.sarangmenyarang sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah di tanah Ambon. lalu pulang ke Maluku. alah-mengalah. Dan kepada tanah Hitu negeri Hila dan negeri Hitulama. Entah surat itu ta dapat tiada kepada Wolanda. serta gimelaha Luhu. serta Kapitan Hitu dan Pati Tuban dan Tubanbesi. Sehingga datang ke pantai Eran*.’ Maka sabda yang kerajaan:‘Apabila bagai kata yang demikian itu. Liliboy. Itu pun demikian juga tiada berputusan. sehingga kelengkapan dari Ternate itu juga serta yang dipetuan di tanah Hitu. tetapi tatkala ditipu kepada patik tuanku. tiada ketahuan negeri Luhu dan negeri Lesidi. Hatta datang kepada hari yang lain. maka berangkat pulang ke Hitu pula. wa-sultan al-Din. itulah kesudahannya. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. lain daripada itu tiada kuceriterakan. lalu dibawah belayar kepada pahlawan gimelaha Leliyato ke Jawahkatra*. tiadalah kita memutuskan kepada perjanjian itu. Maka serri sultan Muhammad Sya`id. Maka tanah Ambon pun masing2 pulang ke negerinya. karena ia tempat merampas isi rumah Kapitan Hitu.yang dipetuan itu. meninggalkan benua Ternate datang ke tanah Ambon. maka bertemu dua buah kapal . lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. serta johan pahlawan gimelaha Luhu berparang dengan Wolanda itu.’ Lalu berangkat kepada kelengkapannya dan orang sekalian pun masing2 pulang kepada tempatnya. dari Hitu menyeberang ke Luhu. maka orang Hitu dan orang Kambelo serta orangkaya gimelaha belayar mengadap raja Mangkasar minta tolong kepada agama rasul Allah. Maka bersumpah-sumpahan kalam Allah dengan orang Hitu dan berjanjian dan muafakat seperti dahulu itu lagi. lalu berangkat ke Kota Laha. lain daripada itu tiada kusubutkan. menyuruh tujuh buah perau mengantarkan kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya2 pulang ke tanah Ambon. Entah berapa lamanya di sana. tembak- . negerinya pun tiada diketahui lagi. sehinggalah keluar yang dipetuan serri sultan Hamza. Berlawanlah di sana dua kaum itu. karena surat pun tiada. dari Luhu berangkat ke Kambelo. nasrun min Allah syah. Lesidi. jangankan surat itu. lain daripada itu tiada kuceriterakan.

karena kelengkapan Mangkasar membuat talangkeranya* di darat dan Wolanda membuat di laut atas kapalnya. Maka orang dalam negeri itu semuhanya masuk ke dalam gudung Wolanda. tetapi anak buah kami itu kami keluarkan dahulu. lalu masuk ke tanah Hitu. maka orang Mangkasar endak masuk rusak kepada gudung itu. pagi petang pertungguwan tiada berkeputusan. Maka datang orangkaya2 dari negeri Kapahaha dan negeri Mamala minta maaf kepada Mangkasar dan orang Wawani. alahkan dia. Endak lalukan kepada gudang Wolanda itu. berlawanlah kedua kaum itu. sangngat berahinya. bersuka-sukaan. maka Mangkasar pun menyorongnya menyarang kepada negeri Hitulama serta dengan kehenda Allah ta`ala alah negeri itu. Maka datang kapal Wolanda itu. Hatta datang ke tanah Ambon. berlakulah kedua pihak itu serta senjata bekilat-bekilat dan bunyi-bunyian tamburnya dan kucapinya atas kepadanya. Lalu menyorong parangnya kepada negeri Larike dan negeri karas sukar mengalahkan dia.’ Tellah kata demikian itu. Dan daripada Mangkasar pun demikian juga begendang serta bunyi-bunyian. maka datanglah entah berapa aluwannya. Dan yang duduk di Kambelo itu pun menyoron parangnya serta orang Ternate dan orang Kambelo alah kepada negeri Saluku. maka alah negeri itu. Hatta datang pahlawan Patiwani melihat kepada negeri itu. Siang dan malam. sehingga lalu pulang orang sekalian serta Patiwani ke negeri Wawani. lalu masuk sekali2 tiada dengan was2 lagi. Apabila masuk matahari. Hatta berapa antaranya dalamnya parau dari Kambelo dan dari Hitu datang membawah kepadanya. Maka ia pulang serta dengan kemenangnya bersuka-sukaan dalamnya. kemudian kami rusakkan dia. tetapi diteggah oleh penggawa. Maka ia bernanti tiada masuk kepada gudung itu. dan karaen Mampo akan hukum dalam angkatan itu dan memagang arta raja itu Marala dan karaen Puli dan Malim dan Besi Lumu*. Hatta datang musim barat.menembak. Lain daripada itu tiada kusebutkan. Hatta datang musim. karena perjanjian raja kepada Wolanda itu belum lagi berubah. ia duduk di pantai Seit. maka setengah duduk dan setengah pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar dan minta bantu pula. Tetapi penghulu dalam angkatan itu karaen* Bontomanompo dan daeng* Bulikan. demikian katanya: ‘Kami minta maaf banyak-banyak kepada penggawa dan panglima sekalian undur juga. Ada pun gudung itu atas kepada kami. Hatta berapa lamanya kapal itu pun belayar. tembah-menembah. makan-minum. pasang-memasang. setengah masuk duduk di Kambelo dan setengah dibawah ke Hitu membuat kotanya di pantai Seit ia duduk. karena pasan yang dipetuhan tiada dengan orang Wolanda. maka orang Mangkasar dan orang Wawani pun .

menyuruh belayar ke Betawih membawah khabar kepada jeneral Fandiman*. lalu pulang. Itulah tanda orang kibria dalam dunia tiada mengetahui kehendak Allah ta`ala. karena gimelaha Majira serta orang itu dan pun demikian lagi dengan negeri Anin dan Laala. lalu naik menyarang kepada negeri Wawani. Maka berangkat serta orang Kambelo dan orangkaya gimelaha mendatangi di negeri Lesidi. Itu pun demikian juga sebab orang Kambelo dan Lesidi tiada dengan sesungguhnya. Maka orang Kapahaha dan orang Mamala dan Liyan pun tiada jadi mengrusakkan dia. sebab ia terjung dari atas gunung tiada berketahuan larinya. Serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota itu. ada mati sendirinya. Lalu patah parang Wolanda itu. Daripada Anin dan Laala itu pun demikian juga. lalu orang Kambelo dan gimelaha bedamai dengan orang Lesidi. sehingga karaen Jipan* dan Manggapa serta hamba raja Marala dan Malim menunggu kepada kotanya di pantai Seit. Tellah demikian itu hatta datang berapa antaranya menyorong pula parangnya ke Tanah Besar. Maka tanah Ambon semuanya mengikut kepada Wolanda. maka ditangkis oleh Wolanda itu sehingga sedikit juga putus asfanggarnya* itu. Hatta datang esok harinya. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. ada mati beddil. karena ada mati oleh pedang. Maka orang Hitu dan Mangkasar mendapat tiga puluh pucu esfangar yang tiada berapi. Hatta datang musim barat Mangkasar tiada keluar. Maka sesungguhnya. maka ia keduanya bersama-sama serta angkatan itu menyeberang ke tanah Hitu. lalu pulang tiada dengan faedahnya. Hatta datang musim karaeng Bontomanompo dan daeng Bolikan serta kelengkapannya pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar kepada serri sultan Muhammad Sya`id alDin. Ada pun kepada Wolanda itu jeneral keluar dengan angkatannya serta tanah Ambon dengan angkatan semuanya mendatangi kotanya Mangkasar itu . Ia duduk di pantai Wawani. Tatkala itu karaeng Jipang dan daeng Manggapa keduanya bedagang di pantai Kambelo. karena orangkaya gimelaha tiada sesungguhnya parang. belarilariyan membuangkan senjatanya. sehingga negeri Wawani juga berkellahi dengan orang semuhanya itu serta Wolanda itu. maka orang Hitu dan Mangkasar keluar mengamu. Hatta datang esok harinya. tiada jadi masuk kepada gudung itu. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan orang mati pun entah berapa banyak tiada kuceriterakan. tiada jadi berhenti. Maka orang Kambelo dan orangkaya gimelaha serta Mangkasar tiada jadi menyarang kepada negeri Lesidi.berhenti. sebab raja berangkat menyarang kepada raja Bone. orang dalam gudung itu pun keluar dan bantu dari Kota Laha pun datang menolong kepada gudung itu. Serta pahlawan Patiwani menetah. masing-masing membawah .

daripada ia katakan kata yang baik serta membujuk dengan kata yang manis samanya Islam. Ia juga sendirinya. Kemudian daripada itu Seit dan Hahutuna. Tellah demikian itu orang Kaitetu pun keluar serta orang Seit dan Hahutuna masuk kepada orangkaya Tanihitumesen muafakat. maka ia naik ke kapal kepada Wolanda itu dan apa-apa katanya Kastila itu. sehingga sekali juga makan besi butul dadanya. Maka naik kepada angkatannya. Entah berapa lamanya dalam negeri Wawani dan orang sekalian pun percaya kepadanya. seorangpun tiada. lalu pulang ke rakhmat Allah. karena ia mengaku di laut atau di darat atas kepada orang itu dengan Hehalesi. karena orang itu dengan Hehalesi mengaku hadapan ke pantai Hitu dan menyuruh berparang serta Wolanda.’ Lalu keduanya berjalan keluar di pantai Seit. Hatta datang kepada suatu ketika ia datang kepada Kapitan Hitu. maka negeri Hitu sekalian pun menjadi daif daripada ia terkuddun ia.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Pergilah engkau. Hatta datang tengah malam ia masuk ke dalam rumah. keluar serta orangkaya Tanihitumesen masuk kepada Wolanda. Hatta datang ajal Allah. maka turung. jangankan laki-laki. Tatkala itu Kapitan Hitu pun baringbaring. Ada pun tatkala parang itu hamba raja Marala dua bersyaudara mati dan pahlawan Patiwani luka dan imam Sifar arRijali pun luka pada ketika itu. Maka kuceriterakan pada tatkala itu ada dua orang Kastila lari daripada orang Wolanda datang ke negeri Wawani. Itulah sendirinya beradu tiada dengan penunggunya. . Sebab itulah Kapitan Hitu menengar fitnah daripada orang itu. tiada mengetahui tipu dayah Kastila itu. lalu pulang ke negerinya sehingga meninggal tiga buah kapal menunggu kepada pantai Wawani. lalu naik ke negeri Wawani. lalu bawah kapal belabu di tanjung Hulu.masuk kepada Kapitan Hitu dan Kapitan Hitu pun percaya kepadanya. membuat talangkeranya serta gudungnya di pantai Hahutuna. Maka negeri Wawani pun selamat. Karena istiadat Kapitan Hitu. Daripada itulah rusak iman orang parang sabil Allah dan melamahkan hati orang itu. Maka ia berbicarai dengan gurendur. Maka ia pasan muruyumunya* semuhanya gennap kapalnya serta gudungnya sekalian. lalu masuk laknat itu. Dan laknat itu lari ke kapal beritahu kepada kapitan. lalu tidur sekalih di luar kepada suatu balai. lima buah negeri. maka ia berparang dengan Wolanda. Itu orang meruntuhkan agama rasul Allah dan orang itu orang munafik. Sangkanya bennar orang lari. Maka tikam tigabelas kali serta dengan kehendak Allah ta`ala tiada makan besi kulitnya. maka ia berkata:‘Kami endak pergi bermain di negeri kicil.dirinya. jika panjangnya lima jengkal tiada boleh masuk ke dalam rumah. hamba sahayanya sekalipun. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un.

maka kata orangkaya dan orang banyak: ‘Ada pun kita ada bicara sekarang ini.’ Maka kata orangkaya dan orang Seit. jika tiada baik menyuruh panggil kepadanya bicara di luar. karena gurendur tiada mau. Apa salahnya?’ ‘Daripada itu ia ingat kepada negeri Hitu serta agama rasul Allah. baiklah kami pulang dahulu. melainkan dahulu juga kepala. Apabila berbuatan atau tipu yang jahat bukanlah perbuatan Wolanda. Daripada itulah kita menyuruh datang kepada orangkaya2 itu serta dengan angkunya. tetapi gurendur tiada percaya karena negeri sekalian itu mengikut kepada dia. Bolehkah kita bertemu dengan orangkaya2? Tetapi kita tiada boleh naik ke negeri.’ Ia menanti. Hahutuna: ‘Mengapa maka pulang lagi? . tetapi kami tiada boleh keluar sebab orangkaya serta Wolanda.’ ‘Benar juga kata orang itu. maka dikatakan serta dengan empena menjadi jina. tiada boleh naik ke negeri.’ Maka suruwan itu pulang beritahu kepadanya. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu sudah pulang ke rakhmat Allah. maka muafakat semuanya dahulu. supaya kita muafakat mana yang baik itu maka kita kerjakan. Lalu katanya demikian: ‘Orang kaya2-pun tiada boleh keluar. tiada perna ekor dahulu maka kepala mengikut. lalu pergi ke sana. Esok harinya maka kami datang. Esok harinya ia datang. Baiklah orangkaya2 berhenti. lalu keluar orangkaya2 serta orang banyak mengikut kepada suruwan itu.Maka menyuruh naik ke negeri Wawani. karena piliyan kata yang benar. karena gurendur tiada mau kepada beta naik.’ Maka kata orangkaya2 Wawani: ‘Jika bagai kata demikian itu. Karena negeri semuanya sudah keluar akan katanya kepada gurendur. menyampaikan kata orangkaya itu kepada orangkaya Pati Tuban dan pahlawan Patiwani serta orangkaya sekalian. sangkanya kata yang baik.’ Maka orang sekalian percaya. Kami pun demikian lagi endah bertemu dengan orangkaya juga. Hatta datang di sana bertemu dengan orangkaya serta orang banyak itu. Maka kata orang Seit dan Hahutuna: ‘Tuanku lalu ke pasar Lebelehu. karena orangkaya serta orang banyak ada di sana. sehingga datang kepada suatu padang di tepi sungai. dan kami pun demikian juga seperti kata orangkaya itu. karena kita bersama-sama dengan Wolanda. orangkaya2 dari Hila dan dari Mamala dan dari Kapahaha bulum lagi datang. maka ekor mengikut. maka ia menyuruh datang kepada kami itu. Baiklah kita sama bertemu di luar negeri.’ Maka kata orangkaya2: ‘Benar kata syaudara kami itu. karena orangkaya dalam maklum Wolanda itu. Maka menyuruh pula berulang-ulang dengan kata yang baik dan manis. Kita pun tiada boleh naik ke negeri. kita empunya perbuatan itu. Matahari pun masuk. Seperkara lagi. Kemudian maka kita kira-kira apabila baik kita masuk kepadanya.

Baiklah kita menyuruh kepada suatu negeri. Hatta datang ke pantai Kapahaha. Entah berapa dalamnya.Jika begitu tiadalah percaya kepada kami semuanya ini. membilang nama orang yang datang itu dan nama panglima serta pendagarnya semuanya yang datang itu. maka berentilah di sana. masuk dalam hutan dan orangkaya yang keluar itu pun tiada boleh masuk ke negeri lagi. Lalu turun Kompenyi*. terbit pandang*.dijalankan di laut dan orang Hitu dan setengah orang Mangkasar serta daen Manggapa berjalan di darat.’ Tellah demikian itu entah apa-apa kehendaknya sekalian orangkaya itu. paduka kiyaicili Laksamana pun sakit lalu mati . maka kata orangkaya Tubanbesi: ‘Boleh juga. kemudian kira-kirakan kehendak kita. karena panglima Patiwani dan imam . lalu keluar masuk utan. naik bukit. lalu ia datang sendirinya membawah kepada orang yang tiada dapat berjalan itu. Demer* namanya. mauka atau tiadaka. seorang Goron* dan seorang Tapihuwat namanya. Maka ia bertemu sekalian rakyatnya dan karaen Jipan* dan daen Manggapa serta rakyatnya dan kiyaicili La Manimpa ibn sipati* di Buton.’ Karena orangkaya sudah mengaku di hadapan orang semuanya kepada barang perbuatan yang jahat itu. Maka berjalan pula ke negeri Tehala dan negeri Tehala pun demikian juga tiada dapat terima. Entah berapa lamanya dalam hutan itu sebagai juga sehingga datang ke hulu sungai. turun bukit dan berapa padang ia berjalan.’ Lalu menyuruh ke negeri Kapahaha: ‘Boleh kami masuk atau tiadakah?’ Karena tatkala itu negeri Kapahaha pun bedamai dengan Wolanda. sangkanya kata yang benar. semuanya mengikut kepada Wolanda. tetapi sabbar dahulu supaya kami kira-kira serta orangkaya2 semuanya. lalu berjalan di luar masuk utan. Alitan namanya. Maka semuanya bejalan masuk ke negeri Nukuhali dan negeri itu pun tiada boleh terima kepadanya. lalu orang Seit dan Hahutuna pulang ke negerinya. Maka ia berenti di sana. naik kepada tengah malam itu menyarang kepada negeri Wawani. beritahu kepada letnante dan menyuruh antan-antun dua orang. maka semuanya muafakat: ‘Apa tipu kita? Apabila kita dalam hutan juga tiada tahan lagi rakyat kita ini . maka orangkaya2 serta orang sekalian pun percayalah. Tellah dipeliharakan paduka kiyaicili itu. Serta kehendak Allah ta`ala alah negeri Wawani dan orang dalam negeri itu pun cerai-berai. Apabila datang semuanya kemudian. maka didiamkan kepada suatu dusun. keduanya naik ke kapal beritahu kepada kapitan gurendur. Dan apa-apa kehendaknya itu semuanya dikatakannya kepada Wolanda. Di sanalah ia duduk menanti kepada orang banyak lagi dalam hutan itu. maka kirakirakan kepada kedudukan. supaya kita dengngar kehendak itu. Wai Luyi* namanya sungai itu. Jika kita endah masuk kepada suatu negeri.

ada mati dalam hutan. Daripada itulah kubunnya dengan tanamannya semuanya kepada orang itu mengambil dia. Maka kata orangkaya: ‘Apa tipu kita? Karena kita sudah bedamai dengan dia. maka berparanglah tiga kaum itu dalam hutan di sana. Empat orang ditindisnya di adapan Wolanda itu. lalu berparang kedua pihak itu. Maka menyuruh panggil kepada negeri semuanya. Hatta berapa lamanya dalam hutan itu. ada masuk kepada Wolanda itu.’ Hatta didengar kata gurendur demikian itu dan negeri semuanya keluar serta gurendur itu. Maka gurendur itu real itu pun diterima dan kepada orang itu tiada diampunkan. Demikian kehendak orang itu:’Apabila kita sekalian ini masuk ke dalam negeri. Maka datang pula Wolanda itu serta orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. ada masuk ke negeri kicil. Maka hulubalang negeri Kapahaha. lalu menembang cengkeh serta kayu yang dimakan buah2-nya. Tiada berketahuan larinya. maka datang Wolanda itu mencari dia. Apabila ia mati maka orang banyak itu masing-masing lari membawah dirinya. ada masuk ke negeri Kapahaha. Hatta seketika juga undur Wolanda itu pulang ke gudangnya dan karaen Jipan* pun meninggalkan Mangkasar setengah serta Kartulesi menanti kepada suatu dusun. jika tiada ia keluar serta aku. Maka bertemu kepada suatu padang. ialah rasamu* kepada orang mudah-mudah dalam negeri Kapahaha pada tatkala itu. ialah akan musuhku.’ Lalu orangkaya-kaya masuk pada gurendur serta membawah tiga ribu real akan pembeli siri pinang. lalu ia pulang dengan . supaya kami minta minta ampun. Maka Wolanda itu dilabukan kapalanya genap tanjung dan labuan Kapahaha serta mendirikan talankeranya* di pantai itu. sehingga negeri Kapahaha juga tiada keluar. demikian kata: ‘Baik siap-siap negeri. Umarela namanya. Baiklah kita di sini supaya kita pun dapat makanan. Lalu keluarkan angkatan serta tanah Ambon semuanya datang ke pantai Mamala. Baiklah kita pergi kepadanya minta ampun. lalu ia belayar pulang ke Mangkasar. ada masuk ke Hila. tiada boleh bergerak lagi serta dengan ajal Allah lalu ia syahid. ada masuk ke Hitulama. sukarlah kepada hidupan kita. Ia membawah setengah serta Patiwani dan Sifar ar-Rijali masuk ke negeri Kapahaha. Ada pun tatkala ia dalam hutan itu sekalian negeri itu tiada boleh masuk dalam hutan.’ Itullah kehendaknya orang itu. Maka diberikan dua buah perau.Sifar ar-Rijali dan pati Larutu bersama-sama karaen Jipan* serta Mangkasar yang banyak itu lagi dalam hutan. Maka menyuruh mengambil perau kepada Kartulesi serta orang yang tinggal dalam hutan itu. Orang dalam negeri itu pun kita antar akan dia. maka ialah keluar merompa pada orang Nasrani itu. Hatta seketika juga dengan kehendak Allah ta`ala tetanam kaki Kartulesi ke dalam lumpur.

Apabila kepada pihak Islam itu ia keluar mengambil makanan. Hatta seketika lagi ia memandang ke kiri dan ke kanan dan ke aluan dan ke buritan. alah menang Islam pun tiada mau kepada Nasrani dan orang Nasrani pun tiada mau kepada Islam. Maka kedua pihak itu tiada berputusan berparang siang malam pagi petang. maka dilihatnya jurumudi putus tangannya sebelah dan mati. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. satu kennah . Hatta berapa dalamnya serta dengan kehendaknya Allah ta`ala pahlawan Patiwani ia naik kepada sebuah perau menyeberang ke sebelah Tanah Besar. Maka ia keluar. maka ia memarintah kepada orang semuanya.tiada ia pulang kepada siang hari. Hatta sama bertemu kedua pihak itu. ia mengadap di luar talankeranya Wolanda itu dan Wolanda itu pun mengawal. Hatta dengan ajal Allah syahidlah ia dalam perau Wolanda itu. lalu langgar kepada Wolanda itu. pasang-memasang. panglimanya dan pendagarnya serta pahlawan Patiwani ialah sangat mengasakan orang mudah2 kepada parang sabil Allah. Maka huru-gara majnun pandang kepada johan Patiwani ia dalam kelengkapan Wolanda itu. maka ia mengunus syamsyirnya serta melompat naik ke atas kelengkapan Wolanda itu. maka ia masuk ke dalam sungai Wai Liyi*. Maka ditembah oleh Wolanda itu dua lukanya. maka datang sebuah perau Wolanda itu dari pantai Lumakai*. maka keluar orang dari negeri Kapahaha. Entah berapa hari dalamnya. Apabila petang. perparanglah kedua kaum itu. melainkan petang malam. Lalu ia menyerbukan dirinya kepada Wolanda itu. serta menatak sekali juga kennah dua orang. sentiasa kedua kaum itu sebagai juga. Maka sama bertemu keduanya lalu berparanglah kedua kaum itu.Maka sama gagah kedua pihak itu. Sama gagahnya dua pihak itu.melawanlah keduanya pasang-memasang. Seorang itu sehingga sedikit juga putus kedua penggal.kemenangnya. Hatib Lukula dari Mamala tangannya satu bengko dan orang luka pun banyak. tembahmenembah. maka ia pulang dan Wolanda itu pun apabila petang malam. Alah mennang daripada kapitannya yang gagah itu seperti letnante dan alferes* dan sarento* serta kapitan Merlaka* ia sangat keras mengasakan soldadu kepada parang. malam atau siang hari. bersuka-sukaannya. Apabila sudah langgar. ia datang mengadap di pantai di mana datang orang itu . Dan demikian lagi daripada pihak Islam. tatuk-menatak sebagai juga tiada berhenti lagi.samalah kedua kaum itu. sama gagahnya . sentiasa tiada bertinggalan lagi. makan-minum serta bunyibunyian dalam negeri Kapahaha. ialah kapitannya dan seorang lagi putus sebelah tangannya ada di jalan lagi.

maka kedua kaum itu berhanyutan juga tiada boleh penggayu lagi. maka kata johan pahlawan Patiwani: ‘Hai syaudahraku sekallian. Ulilima dan Ulisiwa. itulah hal parang kedua kaum. Lain daripada itu tiada dapat kuceriterakan. kami sudah belakankan dunia. karena sekali menembah tujuh orang dikenanya. Maka didapatnya sebuah perau. Itulah kesudahan hidupan pahlawan Patiwani dalam tanah Hitu. maka melawanlah keduanya. Sehingga tengah jalan. Segali lagi ia berjalan dari bukit Iyaluli* endah mendatangi negeri Kapahaha. Itulah hal negeri Kapahaha parang sabil Allah. Segali perastawa orangkaya Pati Tupan dan Tulesi adindah orangkaya Tubanbesi bawah dua perau ke Tanah Besar. Pada ketika itu mennang Wolanda itu kepada Islam dan kuceriterakan. lalu masuk ke Kota Laha pada gurendur. Apabila suda ia mati. harinya . Hatta demikian itu. Maka ia pulang bertemu dua buah fergat*. Daripada belum dengan ajal Allah kepada negeri Kapahaha ia lari sendirinya membuangkan senjatanya. tetapi menyampaikan salamku kepada orangkaya Tupanbesi serta orangkaya2 sekallian. Ada mennang. Tellah sudah kesudahan kami. Itulah Allah dan nabi Muhammad juga yang mengetahui. maka dibawah pulang maitnya itu datang ke negeri Kapahaha dan dipeliharakan serta diadatkan sehingga seratus . Entah berapa matinya tiada ditentu dalamnya. Maka ia naik ke atas bukit antara gunung Hantu* dan negeri Kapahaha. Islam dan Nasrani. pasang-memasang daripada waktu subuh sehingga datang kepada bakda magrib. karena ia satu negeri juga tiga ratus orang memagang senjata berparanglah dengan negeri sekalian. Tellah demikian sekali perastawa gurendur sendirinya membawah angkatan endah menyerang kepada negeri Kapahaha. lalu naik kepada peraunya. Maka datang mengambil kepada johan pahlawan Pati[wani]. Hatta datang musim utusan pun datang dari Ternate. . ada alah. jangan disamakan kita di belakang tuan-tuan itu. Jadi kuranglah kuat negeri Kapahaha. Maka ia pasang bedil ditembah ke dalam negeri dan negeri pun menembah kepadanya. karena keduanya sama lellah leti. tetapi baikbaik bicara tuan-tuan semuanya.pahanya dan satu lagi kenah bibirnya.maka jatuh ke air masing. maka ia lari sendirinya membuang senjatanya. Maka kedua kaum itu melawanlah. karena musuh semuanya yang datang suruh minta bedamai. melainkan menanti titah paduka seri sultan dari Maluku. maka dibelakannya johan itu dan negeri semuanya pun berpalinglah kepada Wolanda itu. Hatta seketika lagi orangkaya Patti [Tuban] pun luka dan Tullesi pun kuka* Lain daripada itu tiada kusebutkan.ada pun tatkala itu orangkaya2 tanah Ambon.’ Lalu ia mati. Maka negeri tiada mau bedamai. serta orangkaya gimelaha datang suruh minta bedamai.

Sebab itulah maka tiada jadi bedamai.’ Apabila orangkaya2 itu pulang sehingga tengah jalan. Itu pun tiada juga datang titah. Maka didengar oleh orangkaya-kaya dalam negeri Kapahaha terlalu khairan ajaib sekali kepada perbuatan gimelaha itu. tiada dapat berjalan lagi. demikian katanya: ‘Ada pun orangkaya2 yang di belakan mengikut tuan-tuan itu dipagang oleh letnante. dimasukkan ke dalam talankeranya. penyakitan dalam negeri serta kekurangan makanan. karena negeri sekalian menjadi musuh. Ada masuk ke dalam hutan. Maka kata orangkaya-kaya: ‘Ada pun harap kita kepada perjanjian serri sultan tatkala dipersekalikan kalam Allah di negeri Hitu. apatah daya untung kita?’ Tellah demikian itu datang bala Allah. di situlah ia diam. naik tengah malam serta dengan kehendak Allah ta`ala lalu alah negeri. maka orangkaya2 serta orang banyak datang kepada utusan dan gurendur. Maka kata utusan dan gurendur: ‘Pulanglah orangkaya2. Maka semuanya itu diberikan kepada gurendur itu dan orangkaya . Ada mati di tengah jalan. Dan setengah masuk ke negeri Mamala dan setengah masuk ke negeri Hitulama dan setengah masuk ke Hila. lalu mati kepada tempatnya.Maka menyuruh panggil kepada orangkaya2 negeri Kapahaha. demikian katanya: ‘Betapa hal kami ini? Karena tanah Ambon negeri sekalian serta dengan Wolanda. Maka ia menunjukkan jalan kepada Wolanda itu. Hatta datang suruwan itu. supaya ia dengar kepada titah yang dipetuan. baik berkellahi atau bedamai. apatah daya untung kita? Tellah demikian itu datang titah. sehingga kami sebuah negeri juga berparang dengan Wolanda itu. Lalu orangkaya-kaya menyuruh menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuhan serta tanya sepata kata. berparanglah dengan negeri Kapahaha.’ Lalu orangkaya2 itu masuk hutan mencari jalan yang lain. Demikianlah hal negeri Kapahaha. panggil kepada orangkaya Tubanbesi dan orangkaya2 yang tuah-tuah datang ke mari.maka orangkaya Kapahaha menyuruh tanya kepada orangkaya gimelaha. ada mati di bawah pohon kayu. supaya kami dengar dan mengetahui kehendak titah itu pun. Mana kehendak seri sultan. Maka orang semuanya itu cerrai-berrai masing-masing membawah dirinya. Barang apa didapatnya. maka bertemu orang datang membawah khabar. Jangankan negeri lain tiada dapat dikatakan negeri Hitu sendirinya pun akan musuhnya. lalu menyuruh bunuh kepada suruwan itu. apa-apa sebabnya. Hatta demikian itu dengan kehendak Tuan Yang Mahatinggi seorang dagang ia lari masuk kepada Wolanda.’ Tiada juga datang titah. Ada masuk negeri Tiyal dan orangkaya Pati Tuban ia masuk ke negeri Wai. sebab ia kalaparang. ada masuk ke dalam guwah batu. hatta berapa dalamnya gimelaha pun datang dari Ternate.

Dan tiada kuceriterakan kesukarangnya serta kejahatannya yang dicellai orang itu. Entah berapa jauhnya. terbit padang dan naik bukit. maka ia lepas. tanya kepada seorang anak syaudagar yang besar [penggawa] lagi dermawang pun artawan. Apabila terbit fajar ia keluar di pantai basambuni. Daripada belum lagi sampai ajal Sifarijali keduanya Sarasara Tahakehena. maka musuh itu pun tiada melihat kepadanya. maka ia dengar bunyi anjing dalam hutan. Maka dibunuhlah kepada orangkaya dan dinaikan kepada orangkaya Pati Tupan dan orangkaya Beraim-ela dan Tulesi dan Alam dan Teyaka* serta anak orangkaya Tubanbesi dua bersyaudarah.Tetapi belum lagi untungnya di situ. Hatta matahari masuk. demikian katanya: ‘Dapatkah orangkaya2 menyuruh seorang atau dua orang turun kepada orangkaya Tubanbesi atau tiadakah?’ Hatta didengar kata demikian itu. lalu dipagang kepada dua orang itu dan menyuruh turun endah dipegang kepada orangkaya Tubanbesi.Tubanbesi ia membawah sebuah perau sudah keluar sehingga pantai Hatuhaha. maka anjing itu diyam dan Wolanda itu pun tiada berkata-berkata. lalu menyuruh kepada Sarasara Tahakehena masu ke dalam negeri Hila. Maka ia berhenti di sana. Dan kuceriterakan Sifari'l-jalih. maka ia bersembuni. lalu pulang ke negeri Hitu. Lalu pergi masuk ke hutan sehingga datang kepada suatu padang. Maka ia hendak masuk ke negeri Mamala. terbit padang. bawah ke Betawih. Entah berapa jauhnya berdapat pula dengan musuh. Maka ia bertemu seorang antanantan orangkaya Pati Tuban. naik kepada kapal. ialah menjadi imam dalam negeri itu: ‘Dapatkah Sifarijali masuk ke negeri atau tiada dapat?’ Maka Tahakehena pun lasap sekali-sekali. Seketika juga datang anjing serta tuannya Wolanda itu datang. lalu ia keluar pergi ke dalam hutan. lalu berjalan keduanya. seorang Duljalal dan Pilakan* namanya kanak-kanak itu dan anak orangkaya Kapitan Hitu dua bersyaudara. tiada pulang lagi. maka ia tiada jadi masuk ke Mamala lagi. karena kepada siang hari itu ada orang masuk mencari dalam hutan. Sebab itulah ia keluar basambuni dakat pantai. turun bukit. tetapi kiranya orang Mamala pun tiada boleh diterima kepadanya. maka ia pun keluar pergi berjalan ke dalam hutan. seorang Wangsa namanya dan seorang Petinggi namanya kanak-kanak itu. lalu keduanya pergi berjalan. Maka menyuruh dua orang naik ke negeri. sehingga kunyatakan tatkala ia keluar itu masuk hutan.berlindung di dalam alang-alang. Sarasara Tahakehena namanya. maka tefakur Sifarijali dalam cintanya serta berkata: ‘Ajaib sekali akan Tahakehena pergi berdapat segera datang hendaknya hidup lasap sekali- . Maka orang Hitu bawah orangkaya dua beranak kepada Wolanda itu. Sama pandangmemandang.

maka keempatnya menyeberang ke Tanah Besar. anak orangkaya Kapitan Hitu. seorangpun tiada terima kepadanya dan dia pun sembuni tiada mau menunjukkan dirinya kepada orang itu. sehingga datang ke tanjung Sial. Maka bertemulah sama berhadapan bertanya-tanyakan hal-ahwal tanah Hitu dengan Wolanda itu. Hatta terbit fajar masuk ke hutan ia berhenti. Tinggal lagi tiga orang juga. lalu dibawah dari negeri ke dalam hutan. pergi berjalan ke hutan ia duduk kepada suatu bukit. Hatta berapa dalamnya maka mengambil sebuah perau. duduk di negeri Lesiela bersamasama orangkaya gimelaha. ia keluar berjalan menapi pantai. Lalu dipindakan pulang ke negeri Luhu dan pati Kambelo pun bawah kepada Abubakar. maka ia datang ke sana bersama-sama orangkaya Daga dan kiyaicili. Hatta berapa lamanya. Maka ia bertanya kepada Sakia itu. ia duduk kepada suatu bukit. daripada itulah Sifarijali terlalu ajaib. Hatta dengan kehenda Allah ta`ala datang gimelaha Hasi dari Luhu endah pulang ke Buru. Hatta masuk matahari. Maka ia menyuruh pergi kepada Hehalesi. serta Ulu Ahutan membawah sebuah perau cari kepadanya. maka datang gulawarganya. demikian katanya: ‘Dapat kami naik ke negeri atau tiadakah?’ Maka ia menyahut: ‘Orang itu tiada boleh. maka ia datang beri bakal dan makanan. tetapi jika datang ke hutan maka kennah hujang dan angin ia tiada boleh tahan. Tiada dapat kuceriterakan dukkacittanya. Seketika lagi datang Telesima dan Abubakar serta kanak-kanak.’ Lalu ia ke tanah Kelang. Maka ia terima kepada dia orang.’ Maka kata imam Rijali: ‘Apa dayah?’ Lalu dipuluh* dan dicium kepada kanak-kanak itu. Maka Sifarijali minta sebuah perau daripada orang Kelan*. maka ia menanti. Pati Laik namanya. Maka ia bertemu Sakia dari Waibuti mengambil ikan. Entah berapa lamanya. ia pun masuk ke negeri berhadapan dengan imam itu. Maka kata Sifarijali:‘Apa tipu kita kepada kanak-kanak ini. Patinggi namanya. lalu ia keluar bedamai dengan gurendur itu. Sehingga datang ke negeri Seit dan Hahutuna. karena pada ketika itu orangkaya gimelaha Daga dengan kiyaicili [Besi]mulu serta orang Kelan* endah berkelahi dengan Wolanda itu. didukun oleh inang pengasuhnya. bawahkah atau tinggalkah?’ Maka kata syaudaranya: ‘Kedudukannya baik juga kita bawah. sehingga itulah menanti kepada Tuhan Yang Mahasuci. Baik kita tinggalkan dia supaya ia keluar ke negeri. lalu mengikut orangkaya itu ke tanah Buru. si Papua namanya. Sebab itulah. maka semuanya diceriterakan oleh syaudaranya itu.sekali. tiada boleh berjalan kepada siang hari. maka ia diketinggalkannya. maka datang perdana gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa datang membawah titah seri sultan Hamza. Apabila masuk matahari.’ Telah demikian. Maka .

Maka ia belayar ke laut tiga hari datang ke tanah Bone. maka dagang piatu pun terima serta junjung kepada kehenda titah itu. Maka tiada lagi bakal orang itu. Ia basembuni dalam hutan. itu. bawahlah kemari kami beli. demikian katanya: ‘Marilah turun beli makanan itu. Maka [kata] orang semuanya: ‘Apatah daya kehenda Allah ta`ala? Baik membuang diri kita tanah lain. Maka menyahut Sifarijali: ‘Ada pun titah kepada dagang piatu itu. Maka titah paduka Dipatingalowan*: ‘Lamun jika tida kuterima kepada halmu ini.’ Karena ia takut tiada mau naik ke perau.. maka ia beli. supaya kita jangan melihat dan menengar tanah kita lagi. Maka diberinya makanan serta kain bajunya. belum lagi sampai pada . ia keluar memanggil kepada orang dalam perau itu.’ ‘Endah ke mana?’ ‘Kami endah ke Mangkasar. Itulah daripada belum dengan kehendak Allah ta`ala. maka datang orang Bone tanya kepadanya: ‘Orang mana?’ Maka menyahut: ‘Kami orang Ambon. Maka Sifarijali ia masuk mengadap serta menyampaikan hal-ahwalnya ke bawah dulli seri sultan.didengar oleh Sifarijali itu. sehingga karan-karan serta daun meninjau selamanya pergi itu. Maka datang titah kepada bonto* dan biduwandi*: ‘Tanya olemu kepada orang itu endah ke mana perginya dan apa kehendaknya datang ini?’ Maka menyahut Sifarijali. Hatta datang esok harinya datang pengalas serta antun-antun membawah titah menunjukkan kampung serta rumah. Hatta datang ke tanah Buton. Telah demikian itu ia memohon. sultan al-islam. esok hari kami bawah makanan ke mari. Pada dewasa itu seri sultan paduka Dipatingalowan* ia memerintahkan tanah Mangkasar dan demikian serri sultan Muhammad Sya`id akan kerajaan. lalu pulang ke peraunya. Jikalau ada makanan. tetapi minta ampun kepada piatu yang hina karan.’ Lalu memohon kepada orangkaya gimelaha dan kipati. makin bertambah kedukaannya. maka bertemu kepada karaen Rajipan.’ Lalu syahbandar memberi tempat kedudukannya. ia senang dirinya. lalu masuk mengadap kepada raja.’ Maka kata orang itu: ‘Nantilah di sini. maka ia menyampaikan ke bawah dulli yang kerajaan. lalu keluar belayar. Tatkala itu raja La Mibilu* akan kerajaan tanah Buton.. tiada seperti sabda nabi kepada kita ummatnya: “Wa-'l muslimin ikhwan”.’ Maka ia pulang menyampaikan ke bawah dulli.’ Maka Sifarijali pun menanti. . tetapi kami kurang air dan bakal. zill al-nabi fi dar al-mu’min. Hatta datang pagi hari orang itu pun datang serta senjata. maka menyuruh entah berapa orang. Maka karaen Rajipan menyuruh sebuah perau bawa kepada dia dahulu ke negeri dan karaen Rajipan lagi duduk di Buton. maka ia pun tiada mau turun ke darat. lalu menyuruh memberi bakalnya. Segala hal-ahwalnya itu semuanya diceriterakan kepada biduwandi* itu.

Daripada itulah meninggal negeri mencari sennang daripada ia takut akan Wolanda itu. menyeberang laut. Itulah halnya orang mendapat kediaman dirinya. menapi tasik. Wa-'s-salam bikhair amin. Maka ia masuk hutan. Tamat sah ya sah. Itulah kesudahan hikayat ini. sehingga datang ke tanah Mangkasar. . terbit padang.

memawahkan: membagi hasil di antara pengusaha dengan pemilik dipersyahadatkan. daeng: gelaran dalam di Oma Dom Duarte (de Meneses) (Gerrit) Demmer (Antonio) van Diemen Pattingalloang Mal. alias Mihirjiguna Artus (Gijsels) Portuguese: espingarda: istinggar Herman van Speult Banda nyai Bawang alias Ratu Kali Nyamat biduanda Boano Butonese: orangkaya Portuguese: antena bote: andang_andang layar Pieter Both Adriaan Block (Martensz. = fregat Portuguese: feitor: kepala perwakilan kompeni perdagangan Ar. firaq: pisah Prins (Maurits van Oranje) André Furtado (de Mendonça) (Jan Willemszoon) Gomale Ternate: kimalaha: kepala soa. haraka: harkat (mulai bergerak) Dutch: gaas: kain muslin . dipersyuhadakan dipeluk (Estevão) Teieira (de Macedo) Dom Duarte de Meneses Erang Portuguese: espingarda: istinggar (Jan) Pieterszoon Coen Portuguese: fragata.) Pulau Burung alias Nusa Manuk Portuguese: chapeu: capiau Portuguese: charamela: seruling Mak. hamam: tempat mandi Gunung Setan Ar.Catatan aji alferes andak Angsari Antoni apalah Arinjiguna Artus asfanggarnya Aspel Bandan Bawang Biduwandi Boanoh bonto bot Bot Bulok Burung Capeu caramela daeng dan ? dauman Daurdia Demer Diman Dipatingalowan dipawahkan dipersyahdakan dipuluh Disera Duarde Eran esfangar Eskun fergat fetor firaklah Frings Furtado Gemala gimelaha Goron graf hamam Hantu harkat has Javanese: sang aji [raja]. Ternate: sangaji: kepala wilaya Portuguese: alferes: letnan muda indah Angasari Anthonio (van den Heuvel) apabila ? Arinjiguna. kepala negeri Gorom Dutch: graaf: bupati Ar. Dutch: fregat.

alias Kanyimedu Cornelis (Jansz. Schouten) Lesidi Leitimor Waran-ela alias Hoamoal zill Wai Lee Philip Lucasz. cili: pangeran Dutch: Compagnie: Kompeni luka (Nicolaes) Colff Konimere.) Hoen Huniase Usen (ibn Jumat) Frederik de Houtman Iha Ialuli Jakatra Jipang Kasingu Portuguese: capitaõ: kapten Portuguese: capitaõ-mor (do mar): laksamana Mak. Rumakai Bisei Lumu Lopu(lalan) Wai Loi makhudum Persia:.hasiat Hehatomi Hisab hoja Holanda hukum Hun Huniyasi Husen Hutman Iwa Iyaluli Jawahkatra Jipan Kakasingku kapitan kapitan-mor karaen karanful Kelan kiyaicili Kompenyi kuka kuluf Kunmuri Kurnilis Lasidi Leitimol Lesiela lil Liyi Lukas Lumakai Lumu ? Lupa Luyi mahudum mardan marinero Masilpatani Matelif melalawat Melo Mengadapat Merkata Merlaka Mibilu Mundi Murucisa muruyumunya Nagahpatan Naseddiki Natahuat Nusatelu Nyuranye Prins Palikat arab: khassiya: khasiat Hehatomu hijab hujaj Portuguese: Holanda [Holland] Ternate: hukum: hakim Simon (Jansz. mard(an): yang mulia Portuguese: marinheiro: pelaut Masulipatam (Cornelis) Matelieff (de Jonge) melawat Gaspar de Melo menghadap Pulau Rakata. qaranful: cengkeh Kelang Ternate: kaicili. karaeng: raja Ar. Krakatau (Vincent Gijsbert van) Moerlag Mabilu Nossa Senhora do Monte Maurits alias Mauritius Portuguese: Maria.arab: Maryam: meriam Negapatnam Nasidik Hehuat Nusatelo (Maurits) van Oranje Pulikat .

shalat seribu seperti Butonese: sapati: mangkubumi Sitania Sial (Wouter) Seroyen Suangi Ternate: suisa: tambur (Abu Abd Allah Muhammad al-)Sanusi Sabadin (ibn Jumali) Portuguese: tranquiera. Mal. terangkera: kubu Portuguese: tambor: tambur Sekatikam Tirumala(rájan)patnam Tirumulavásal Portuguese: trombeta: terompet Tuhaha Javanese: tumenggung: hulubalang Thomé Baharullah Ulilima Ureng Steven van der Haghen Jan Outgersz. Dutch: pinas: penes Prins (van Oranje) Pondicherry (Marten Jansz. santiago: berbaris Portuguese: sargento: sersan Portuguese: sargento: sersan Ar.pandang Paringsi Pasiruwan Patacoh perastawa pesir Pilakan Pinau pinsu Prings Pudiceri Pugel Pujiciri Rangsi rasamu Rengsi Riyal Rosengaing Saat sadaha Sagaluwa Sahanya sahingilah San Sanco santiagu sarento sarinto Sellat seribus serta sipati Sitaniya Siyal Soroi Suanggi suisa Sunusi Syabidin talangkeranya tamburunya Teyaka Tirubambu Tirumulawasir torompetanya Tuhahan tumengung Tumi ul Ulima Urin Warhaga Yan Yangsi padang Prins (van Oranje) Pasuruan Portuguese: patacho: sampan peristiwa pesiar Pelekolan Binau Portuguese: pinacas. Visscher. alias Jonge Jan atau Nyong Yan Jasper Jansz. rasama: mendaftarkan Gerard Reynst Laurens Reael Rosengain sahut Ternate: sadaha: wakil sultan Sagalua sahajanya sehinggalah São Sancho (de Vasconcelos) Sp. . alias) Vogel Pondicherry Gerard Reynst Ar.