Sifar Ar-Rijal (Imam Rijali) Sumber source: www.anu.edu.

au

Sejarah adalah perkembangan penentuan ide diri, perjalanan perkembangan diri dalam roh. karena roh hakekatnya bebas,maka sejarah adalah perjalanan kebebasan.(Hegel)

(potongan seperti dari sumber)Empunya tanah, karena ia dari mulanya

datang. Itulah kesudahan bangsya Ambon. Alkissah peri mengatakan bangsya Jawa. Maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera tatkala raja Tuban dinaikan kerajaan, maka tiada ia bersettia dan muafakat dengan kaum kulawarganya. Maka suatu kaum dua bersyaudara, seorang kiyai Tuli namanya dan seorang kiyai Dau namanya, dan seorang syaudaranya perempuan, nyai Mas namanya, ia naik serta kelengkapannya membawah dirinya mencari tempat kedudukannya. Hatta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Hitu. Ia masuk dalam labuan Husekaak namanya. Maka tiada melihat negeri dan tiada manusyia, lalu turun daripada kelengkapannya, naik ke darat membuat negeri akan kedudukannya.Hatta demikian itu keluar seekor anjing, maka orang itu dikatakan: ‘Ada anjing, adalah lagi manusyia; jikalau ada manusyia, ada juga negeri.’ Lalu ditangkap anjing itu, digantungkan suatu bungkusan di atas leher anjing itu. Ada pun dalam bungkusan itu serba sedikit daripada alamat negerinya. Lalu dilepaskan anjing itu pulang ke negeri kepada tuannya. Maka apalah* dilihat tuannya bungkusan itu, maka ia melihat alamat serba sedikit itu. Maka ia berkata kepada orang sekalian: ‘Ada juga manusyia di pantai itu.’ Maka ia mengambil buah-buahan akan tanda alamat negerinya, lalu digantung kepada leher anjing itu, dilepaskan pulang keluar ke pantai. Maka dilihat oleh orang itu, maka kata orang itu: ‘Marilah kita pergi periksyai kepada negeri itu’, lalu ia berjalan. Hatta ia datang ke tengah jalan, maka bertemu seorang, lalu dipangil serta dengan dia berjalan menuju kepada negeri dan orang dalam negeri itu pun keluar semuanya berjalan ke pantai. Maka ia bertemu dengan penguluh kelengkapan itu, maka kedua pihak berhadapan bertanyatanyakan kehendaknya datang itu. Maka menyahut penguluh kelengkapan itu, segala hal-ahwal semuanya diceriterakan kepada orang itu. Lalu ia bertanya pula kepada orang negeri itu, maka menyahut orang itu. Segala hal-ahwal mulanya datang itu diceriterakan kepada penguluh kelengkapan itu. Tellah demikian itu, maka kedua pihak bennarnya jual-beli, tukar-menukar beramai-ramaian. Hatta datang malam orang itu pun pulang ke negerinya. Apabila datang esok harinya, ia turun juga jual-beli, tukar-menukar sebagailah. Maka suatupun tiada dalamnya melainkan melakukan kesukaannya. Itulah kesudahan bangsya Jawa. Alkissah peri mengatakan bangsya Jailolo dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera, demikian riwayatnya. Ada pun dalam negeri Jailolo itu dua bangsya, seorang bangsya Jailolo dan seorang bangsya Jawa, yakni anak raja keduanya. Maka dalam

Seorang pula kaum gulawarganya duduk menjadi penghuluh kepada negeri Waiputih. Tellah demikian itu maka sebuah perau daripada pihak bangsya Jailolo ia keluar mengambil ikan. Entah apa-apa kehendaknya gennap puluh dan tanjung sehingga datang ke benua Bacang. Maka disampaikan khabar itu kepada syaudaranya. lalu masuk ke dalam sungai. maka ia tiada mau pulang lagi. lalu ia menyuruh rusak negeri syaudaranya. maka cerai-berai kelengkapannya itu. Ada datang ke tanah Buru. digelar Sellat* namanya. hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala keluar bangsya Jawa serta dengan kelengkapannya.keduanya itu. diam dirinya dalam utang. Maka suatupun tiada hijab pada mereka itu melakukan kehendaknya. Hatta berapa lamanya di tengah jalan serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi datang ribut dan angin. Maka syaudaranya dan setengah raiyat turun duduk menjadi penghulu kepada negeri Lisabata. Itulah kesudahan riwayat bangsya Jailolo. Tellah demikian itu. kiyai pati namanya atau Ulima* Sitaniya*. Daripada ketika itu sebuah perau daripada orang yang datang itu keluar memukat. Lalu ia pulang sehingga seorang juga. Sama berhadapan. setengah mengatakan bangsya Jailolo akan kerajaan dan setengah mengatakan pula bangsya Jawa akan kerajaan. maka ia naik ke darat mengambil tempat akan negerinya. lalu bertanya-tanyakan: ‘Darimana engkau datang dan di mana engkau duduk?’ Maka ia menyahut: ‘Di darat sungai ini kami duduk. masuk dalam labuan. lalu ia berangkat mencari tempat akan kedudukannya. Tellah sudah paduka syaudara enda dinaikan kerajaan dan negeri yang dipetuhan pun sudah rusak. seorangpun tiada mengetahui dia. maka jadi fitna dalam negeri endak berkelai. Lalu menyeberang ke tanah Hitu. Alkissah peri mengatakan bangsya Goron* dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera demikian riwayatnya. demikian katanya: ‘Hai tuhanku. masing-masing membawah aluannya. ia duduk di tepi sungai itu menengok pada orang mengambil ikan itu dan orang mengambil ikan itu pun pandang kepadanya. maka ia pergi sendirinya kepada orang itu. pattik minta maaf ke bawah dulli yang dipetuhan.’ Tellah didengar warta demikian itu. Ia dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Ambon. Maka di belakangnya itu dinaikan bangsya Jailolo akan kerajaan. lalu bertanya padanya: ‘Darimana datang dan apa kehendakmu datang ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang dari .[Sekali] perastawa* dengan kehendak Allah ta`ala ia datang kepada suatu tanjung Nukuhali. ada datang ke tanah Seran. Maka ia berangkat sehingga datang ke tanjung Siyal*.’ Lalu perau mengambil ikan itu kembali menyampaikan khabar kepada perdana Jamilu.

Lalu dicampakan serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahasuci lettalah kepada yang di bawah itu.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya? Untung kita serta kehendak Allah ta`ala.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Maukah duduk serta kami?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau. karena ia anak yang empunya negeri. Itulah sebabnya baik kita periksai dahulu. ia duduk di bawah serta memegang penyapu. Itulah negeri bangsya Goron*. Tellah kesudahan kataku termasyhur didengar oleh orang sekalian. Maka ia tersunyum serta barpantung: ‘Harap-harap janji tuhan mengasih dagang piyatu. Maka jadi empat negeri pada tatkala itu. Itulah nyata orang berbahagia dalam dunia. jika bagai kata demikian itu? Tetapi baik kita periksyai dahulu atau ia maukah atau tiada mau kepada kami. ada pun kami ini anak dagang. Tellah demikian itu. lettalah kepadanya. Tellah demikian itu. demikian katanya: ‘Apabila bennar anaknya yang di atas itu. perdana kipati namanya. Kepada anaku juga yang menyasal. Maka . Maka kata perdana Jamilu: ‘Bennarlah anaku. Jika benar yang di bawah itu.’ Maka menyahut: ‘Kujungjung ke bawah kadim yang memeliharakan dan mengasih dagang piyatuh. jikalau dengan faedahnya yang baik?’ Maka pula perdana Jamilu: ‘Mengapa maka tiada dengan faedahnya yang baik? Jika duduk serta kami kupersuamikan anakku akan isterimu supaya jangan was-was hatimu kepada kami.benua Goron* dan kehendak kami mencari tempat kedudukan kami. maka ia mengambil tempat akan kedudukannya. Tellah kesudahan anak cucu Goron* linang. Maka perintah dengan baik patut pakaian yang baik kepada hambanya.’ Maka kata Jamilu: ‘Betapa kata demikian? Karena ia hamba mengapa maka kau ambil kepadanya? Didengar orang seolah-olah dicellai kepada kita. Siapa mengetahui tipu dayah tuhan?’ Lalu menyahut demikian katanya: ‘Dagang piyatu minta maaf.’ Lalu ia menyaksyikan sepahnya.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya lagi. orang besar daripada Goron*. lalu masuk serta orang banyak dan permullianya dengan adat sehinggasana.’ Lalu dipersuamikan anaknya serta makan minum bersuka-sukaan dalamnya. tuhan perhamba akan kami. Daripada itulah kurelahkan anaku akan isterimu. Ia berhadapan dengan perdana Jamilu bijaksana. maka menyuruh orang membawah kepadanya. karena tiada patut hamba dan orang baik. tetapi tiada mengapa. ia duduk di atas di hadap orang banyak. lettalah kepadanya.’ Lalu diam dirinya. Ada pun yang di atas itu. dan pakaian yang jahat kepada anaknya.’ Lalu keduanya pergi masuk dalam negeri kepada rumah perdana Jamilu. dari dunia datang ke akhirat akan syaudaraku dan ada pun yang di bawah memagang penyapu itu. maka kata Jamilu: ‘Pada hari ini dan ketika ini kita sempurnakan janjian itu.

Itulah kesudahan kaum daripada pihak empat perdana. serta dipindakan nama keempat itu. Dan berjanji-janjian serta berputusan barang sesuatu pekerjaan dalam tanah Hitu. Itulah dimasyhurkan nama keempat itu dalam tanah Hitu. Maka dimasukkan tiga kaum itu tiga kampung. Zamanjadi dan perdana Mulai. makan minum sehingga menanti kepada angkatan itu. Karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dan tiada dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan. Itulah kenyataan empat bangsya itu. Alkissah peri mengatakan tatkala keempat perdana muafakat itu menjadi suatu negeri dan keempat kampung. dan dinaikan kerajaan pun patut juga daripada bangsyanya datang itu. Ada pun keempat perdana itu. maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera. jumlahnya tujuh kampung dalam negeri Hitu. Itulah kesudahannya. maka fitna kedua kaum itu. Lalu Zamanjadi menyuruh mengambil angkatan dari negeri Selan Binaur datang endak menyarang kepada negeri perdana Mulai. maka dimasukkan tujuh pengawanya serta tiga puluh gelarannya. Ada pun Zamanjadi dipindakan Totohatu namanya dan perdana Mulai Mulai dipindakan Tanihitumesen namanya dan perdana Jamilu dipindakan Nusatapi namanya dan perdana kiyai pati dipindakan Pati Tuban namanya. lalu turun menyarang . Zamanjadi endak akan kerajaan dan perdana Mulai pun ia akan kerajaan. lalu dikerjakan dan tiada lain lagi daripada keempat perdana itu. Tellah sudah muafakat. Lain daripada itu tiada dimasukkan. sekali perastawa dengan kehendak Allah ta`ala dua kaum. Itulah seperti emas. Kemudian daripada tiga itu. maka keempat perdana muafakat dahuluh. Itulah diadatkan zaman datang kepada zaman turun-menurun. Kemudian daripada itu datang suatu bangsya tiga kaum yang ia datang dari negerinya. melainkan melakukan kehendaknya. Apabila kepada suatu pekerjaan. maka dimasukkan tiga kaum dahuluh. Hatta berapa lamanya seorangpun tiada manang kepada seorang dan seorangpun tiada allah kepada seorang. tiada berubah lagi. lalu berkellai. Berapa lamanya maka datanglah angkatan itu.dengan kehendak Allah ta`ala muafakat keempat perdana itu menjadi suatu negeri dan empat negeri itu dijadikan empat kampung dan empat nama. Alkissah peri mengatakan bangsya Ambon dan peri mengatakan bangsya Jawa. sehingga takluk namanya. Dan perdana Mulai pun menghimpunkan segala hulubalangnya. Alkissah peri mengatakan daripada pihak rayatnya tiga puluh gelaran dan daripada tiga puluh gelaran itu tujuh pengawanya yang besar. tiada dengan supuhnya lagi. jikalau dinamai bendahara pun benar juga. Ialah mengerjakan sesuatu pekerjaan daripada keempat perdana. maka muafakatlah keempatnya. keduanya melakukan kehendaknya.

Hatta seketika juga patah angkatan itu. maka kedua kaum itu harkat* serta senjata. lalu undur daripada karas parang rakyat perdana Mulai. Daripada itulah pantai Hitu dinamai Liasela* namanya. Demikian perinta perdana Jamilu: ‘Apabila datang kepada hari anu. Maka ia berkata: ‘Betapa kehendakmu kepada Zamanjadi itu?’ Maka menyahut perdana Mulai: ‘Ada pun kami kedua kaum ini kepada bennarnya siapa akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu bijaksana: ‘Jika kepada bennarnya engkau juga. Maka ia berkata: ‘Apa tipu kita kepada dua kaum ini? . Sabar dahulu serta baik-baikan dengan dia. Apabila ia keluar mencari kehendaknya. sunyilah negeri. himpunlah orang serta senjata.’ Maka kata pula perdana Mulai: ‘Apabila engkau tolong kepadaku. Bennar katanya ia memulai negeri. kemudian berbuat kehendak kita itu. Maka datang suruan perdana Jamilu kepada perdana Mulai.’ Maka menyuruh pula kepada Zamanjadi pun demikian juga. ia kemudian. Hatta berapa lamanya maka perdana Jamilu bijaksana ia pergi kepada perdana Mulai. Maka kedua kaum diiakan kata perdana Jamilu itu. maka kata Zamanjadi kepada perdana Jamilu bagai kata perdana Mulai itu juga.’ Maka kata perdana Mulai kepada perdana Jamilu: ‘Maukah tolong kepadaku?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau? Tetapi jika ada faedahnya. ikutlah perintaku. karena engkau memulai negeri ini. Sebennar ia datang dahulu. Maka kembali angkatan itu tiada boleh allah kepada negeri. apa barang kehendakmu itu dan apa katamu itu tiada kulalui. maka menyahut perdana Jamilu pun demikian itu juga. Apabila sudah lupa kepada harkatnya itu.kepada negeri dan empunya negeri pun keluar. serta berjanjian hari dan ketika itu. Maka angkatan itu pulang dengan dukkacittanya dan empunya negeri pun makan minum bersuka-sukaan dan beramai-ramaian dalam negeri. Hatta datang kepada esok harinya pergi pula kepada Zamanjadi. Hatta datanglah kepada hari yang diperjanjikan itu. lalu keluar.’ Maka diiakan oleh perdana Mulai. tetapi ia duduk dalam hutan. Maka kita pun masuklah kepadanya melakukan kehendak kita itu. Barparanglah kedua pihak itu. Itulah kita perjanjikan. demikian katanya: ‘Apa tipu kita. Lalu ia pulang masing2 membilang hari yang diperjanjikan itu. Aku pun demikian lagi.’ Itulah sebabnya.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika bagai kata demikian itu. demikian katanya: ‘Betapa kehendakmu kepada orang itu?’ Maka menyahut Zamanjadi serta bertanya kepada perdana Jamilu: ‘Ada pun kami kedua ini kepada bennarnya siapa patut akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika kepada bennarnya Zamanjadi akan kerajaan. tetapi Zamanjadi dahulu datang. lalu ia keluar berhadapan dengan orang sekalian. karena ia sudah tahu perbuatan kita.’ Tellah berjanji demikian lalu ia pulang.

Tatkala itu seri sultan Maluku paduka Zainul Abidin khallada 'llahu mulkahu wa-saltatahu ia datang ke benua Jawa. supaya kita menanti karunia Allah ta`ala.Apabila Zamanjadi akan kerajaan. maka bertemu kepadanya. maka dikerjakan. perdana Mulai tiada mau sembah. apatah daya sudahlah. Maka keempat perdana itu seorang tiada tinggi kepada seorang dan seorang tiada randah kepada seorang. maka jadi akan kerajaan. Hatta datang musim sultan pun pulang. Zamanjadi pun demikian juga tiada mau sembah. ’Tellah demikian itu maka menyuruh kepada dua kaum itu segala perastawa perinta kata itu semuanya dikatakannya. yang tiada mengikut itu bukanlah kaum kita sekalian. Empat puluh orang pendagar. Baik juga kita kata demikian kepadanya. Melainkan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala serta orang muafakat. belum lagi kedangaran dalam dunia suatu negeri dua kerajaan. jadilah empat kerajaan dalam negeri. Apabila barang suatu pekerjaan melainkan keempatnya berhadapan. sekali perastawa keempat perdana berhadapan muafakat. Maka suatupun tiada ellat lagi dalamnya. Maka perdana Pati Tuban ia belayar ke benua Jawa tuntuti agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. yakni keempatnya bersamakan. Kemudian daripada itu jika seorang tiada atau dua orang atau tiga orang sehingga seorang jugapun nama keempat juga. yang mengikut itu kaum kita sekalian ini. Itulah adat keempat perdana dalam tanah Hitu. mengiring kepada serri . Alkissah dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera. itulah sempurna kerajaan. maka diiakan oleh dua pihak itu. dan jika perdana Mulai akan kerajaan. supaya menanti kehendak Tuhan Yang Mahamurah berbahagia kepada seseorang akan yang dipetuhan. maka demikian keduanya. Apabila ia keduanya akan kerajaan. Sehingga datang ke tanah Bima ada suatu fitnah dengan raja Bima. maka bersettia muafakat dan bersuka-sukaan kembalilah kepada adatnya. Apabila keduanya akan kerajaan. Lalu bertanya kepada perdana Pati Tuban Maka segala hal-akhwalnya semuanya diceriterakan kepada serri sultan. yakni antun-antun. Itulah yang bersatuan nama keempat itu selamah-selamahnya zaman datang kepada zaman. lalu barparang pada ketika itu.’ Itulah pertama yang memulai perjanjian. Atau salah suatu mengikut kata ini. karena empat perdana itu seseorang tiada tinggi kepada seseorang dan seseorang tiada randah kepada seseorang. Lalu keluar kepada orang sekalian. Ada pun pada ketika ini kita buat demikian pada keduanya: jika ikut kata orang sekalian. Apabila tiada mengikut. Lalu bersettia dan muafakat serta perjanjijanjian dan bersumpah-sumpahan sehingga datang kepada hari kiamat seperti firman Allah: ‘Inna 'llaha la yukhlifu 'l-mi`ada. al-hamdu li-'llah.

sepuluh dengan negeri Hitu.’ Lalu menyuruh kiaicili* Darwis akan utusan ke tanah Ambon meneguhkan pula perjanjian itu. Ia datang menuju serri sultan. Pada ketika itulah negeri Hitu dan negeri Waiputih serta negeri Eran* ketiganya muafakat bersama-sama. lalu belayar. Tellah demikian itu kuceriterakan yang empunya ceritera. Ada pun tatkala utusan datang ke Ambon itu singga di tanah Boanoh*. Hatta dengan ajal Allah maka datang seorang hulubalang raja Bima. Maka masyhurkan demikianlah riwayatnya: ada pun tatkala serri sultan Khair Jamil akan kerajaan itu. berapa kampung dalam negeri kita ini?’ Maka menyahut mankubumi: ‘Ada pun dalam negeri yang dipetuhan sembilan kampung jumlahnya. Maka suatupun tiada hisab* melainkan memerintahkan tanahnya serta agama Allah dan agama nabbi Muhammad salla 'llahu alaihi wa-sallama amin ya Rabb al-`alamin. Alkissah peri mengatakan perdana Jamilu dan peri mengatakan panngeran Japara. tuhan Bahrul* namanya. maka mengatakan peri hal-akhwal perjanjian dengan raja Maluku itu. lalu menyeberang ke tanah Hitu.’ Hatta datang . sehinggalah termasyhur Ternate dengan Hitu. lalu negeri Hitu pun masuk iman kepada Allah dan nabbi Muhammad serta agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Tatkala perdana Pati Tuban ia datang dari tanah Jawa itu. Semuanya dikatakannya kepada orang sekalian serta dijungjung titah itu. maka ia bertanya bangsya perdana Jamilu. maka ia bersettia dan muafakat dengan pangeran. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji´un. Pada ketika itulah bawah kepada pendita yang alim. maka semuanya diceriterakan kepadanya. Maka diceriterakan oleh [yang empunya ceritera] perdana Pati Tuban ia pulang ke tanah Hitu. lalu menikam dengan lembingnya kennah kepada sultan Maluku. lalu ia bertanya kepada perdana yang besar dalam negeri demikian titah: ‘Hai segala perdana dan parwara sekalian. Maka keempat puluh pendagar itu dinaikan kepada raja di atas kelengkapan. Itulah sebabnya dan seperkara lagi nama syaudaraku itu kuberikan kepadanya.sulthan Zainul Abidin. akan kadi di negeri Ternate. Tatkala itu nyai Bawang* akan kerajaan. Lalu ia memberi nama Patinggi: ‘Karena nama Jamilu itu artinya kepada bahasa Jawa “jangan mengikut”. Hatta berapa lamanya di tengngah jalan maka serri sultan Zainul Abidin pun wafatlah. Tatkala perdana Jamilu menyuruh utusan ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. dan serri sultan pun serta menettah hulubalang itu. Lalu mati hulubalang itu dan raja pun luka. sehingga datang kepada sultan Khairun Jamil akan kerajaan zill Allah fi 'l-alamin. maka lalu ke pantai Eran* dan dari pantai Eran* itu lalu ke tanjung Siyal. Maka kuceriterakan yang empunya ceritera demikian riwayatnya. Ia masuk ke pantai Waibuti.

supaya kita periksai kepada faedahnya yang baik beraja atau faedah yang baik tiada beraja itu.’ Dan seorang berkata pula: ‘Daripada beraja baik tiada beraja. Maka digelarnya Latu Sitania namanya. Tellah itu maka dinaikan Maulana ibn Ibrahim akan kadi daripada ia mutakalim daripada alim mahudum* guru sekalian tanah Ambon. baik beraja.’ Maka kata keempat perdana: ‘Apa salahnya karena ia kerajaan? Tetapi sehinggalah kerajaan. yakni artinya ‘raja tanya’. Hatta berapa lamanya keempat perdana berhadapan serta orang banyak. kepada suatu hari keempat perdana berhadapan kepada suatu tempat. tetapi kita naikan dahulu seorang akan kerajaan. sehingga Nyai Bawang* pulang ke rahmat Allah. pergi datang berulang2 tiada berputusan.’ Maka seorang pula berkata: ‘Mana faedah yang baik beraja itu dan mana faedah yang baik daripada tiada beraja itu?’ Lalu berkata keduanya: ‘Demikian faedah yang baik beraja. maka raja naik ke atas balai.’ Maka kata seorang pula: ‘Demikian faedah yang baik daripada yang tiada beraja. Apabila raja itu tiada dengan adilnya diupamakan matahari tiada dengan bercahayanya. Kemudian daripada itu. Maka suatupun tiada ellat dalam tanah Hitu. maka kata orang sekalian: ‘Nyatahlah faedah yang baik beraja dan faedah yang baik tiada beraja.’ Maka kata pula: ‘Bennar juga kata keduanya itu tiada salah. Tiada lain daripada keempat . lalu membuat suatu mesjid tujuh pangkat. Dan dinaikan hukum* AbubakarNaseddiki* namanya. Itulah kesudahannya negeri Hitu dan negeri Japara. Ada pun tatkala masuk iman serta mengesakan Allah subhanahu wa-ta`ala dan termasyhurlah agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. maka kuceriterakan yang empunya ceritera. tetapi bukan firak.’ Lalu dinaikan kaum gulawarganya seorang akan kerajaan. Ia duduk bejuntai-juntai. sehingga tiada sampai ini juga.musim utusan itu pun pulang dan orang Japara pun gennap musim tiada berputusan bedagang ke tanah Hitu dan tanah Ambon sekalian sebagailah. Daripada ialah termasyhur agama Allah dan agama nabi Muhammad rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka seorang berkata: ‘Mana baik beraja daripada yang tiada beraja?’ Maka kata seorang: ‘Daripada yang tiada beraja. Dan negeri Hitu pun firaklah* dengan negeri Japara daripada raja yang kemudian itu kuranlah adilnya seperti raja yang dahulu. yakni dipawahkan*. Alkissah peri mengatakan syariat nabbi akhir zaman. Daripada itulah maka dikatakan firak. nama yang dijungjung. maka keempatnya muafakat mengira-mengirakan negerinya. Ada pun amar dan nahi serta adat semuanya itu melainkan keempat perdana juga.’ Apa yang kehendaknya itulah diadatkan daripada zaman datang kepada zaman turun-menurun.

tiada seupamanya lagi dalam tanah Hitu. beta pun tiada kembali. Itu pun tiada dikatakan kepada empat perdana itu.’ Tellah didengar kata orang demikian itu. lalu sekali-kali di aluan angkatan itu serta menetta. Alkissah dan kuceriterakan tatkala itu perastawa keempat perdana membahagi rakyat. lalu langgar ke darat. turun ke pantainya pun tiada dapat. Hunimoa namanya pantai itu. serta menyingsing tangan bajunya. Maka negeri itu keluar dengan angkatan pergi menyerang kepada negeri itu. lalu ia pulang diam dirinya kepada halnya. Demikianlah halnya orang itu. jangan alah naik ke darat pun tiada boleh. berbahagia seseorang-orang dalam dunia. melainkan kehendak Allah ta`ala juga tiada dapat dikatakan. Apa2 kehendaknya tiada ia muafakat dengan keempat perdana. jika beta tiada dapat alah kepada negeri itu. Maka diikut belakangnya orang itu. Hatta ia datang. Demikian juga keempatnya seorang pengawa empat gelaran turun-menurun. Seorang pengawa empat gelaran kepada seorang perdana.’ Lalu disalin dan dimuliah kepadanya. Sebab itulah maka tiada dapat turun. lalu ia becakap di hadapan orang sekalian. Maka dikata dengan kata yang aib. Itulah kehendak Tuhan Yang Mahamurah kepada makhluknya. Ia minta tolong kepadanya. Alkissah .’ Tellah demikian itu maka ia membuat suatu maslahat serta dengan panah di aluan kelengkapannya itu. makin bertambah kebajikan dan kepujian. Maka kata orang sekalian: ‘Bennarlah perdana Jamilu pahlawan dan bijaksana dalam tanah Hitu. Maka panglima negeri itu keluar. Maka tiada berupama kepada yang empunya negeri serta melakukan kehendaknya dan negeri itu pun tiada diketahui kepadanya. lalu kembali angkatan itu. Apabila kita langgar ke darat. Lalu ia menyuruh kepada negeri yang bukan takluknya. demikian juga kemudian daripada itu. Dan kuceriterakan sekali perastawa raja naik kepada sebuah perau. Maka dilepas kepada maslahat itu serta dengan kehendak Allah ta`ala kennah panglimanya itu mati dan orang banyak itu pun undur serta lari.’ ‘Mengapa maka tiada boleh alah kepadanya?’ Maka kata angkatan itu: ‘Jangan alah.bangsya itu. Tiada boleh alah. maka ia keluar.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Betapa perintah parangnya itu?’ Maka menyahut orang itu: ‘Ada pun panglimanya itu terlalu sangat gagahnya. lalu sekali-kali di aluan kelengkapan itu. maka ia kembali dengan kemenangngannya makan minum bersukasukaan. Maka kata keempat perdana: ‘Mengapa maka kembali angkatan ini?’ Maka sahut orang itu: ‘Tiada boleh alah kepadanya. demikian katanya: ‘Insya Allah ta`ala berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Hatta lama datang kepada lamanya. Tellah demikian itu. lalu alah kepada negerinya. Ia keluar bersuka-sukaan sehingga datang kepada suatu pantai.

Itulah hal keempat perdana. Kemudian kita membuat jahat pula. karena sudah termasyhur kita membuat baik kepadanya. daripada negeri itu tiada beragama dan lagi banyak minuman anggur. untung kami di sini. Maka disampaikan kepada hukum dan penghuluh agama. Gennap tahun diadatkan selamanya. kedua Don Jamilu namanya. Lalu kami tanya kepadanya. Hatta datang musim barat. Pada . Sekali perastawa ia minum mabuk. apa hal nama kita didengngar oleh orang? Baik kita pindahkan dia kepada tempat yang lain. bulum lagi melihat rupa manusyia bagai rupa orang itu. suatu Kapitan Hitu. Jadi ramai bandar di tanah Hitu dan termasyhur sekalian tanah Ambon. Tubuhnya putih dan matanya seperti mata kucing. Maka kami jatuh pesir* ke tanah sebelah dan kapal kami pun tekarang di laut Puluh Burung*.’ Maka dipindahkan dia ke tanah sebelah kepada tempat yang baik ia duduk. ia tiada tahu bahasa kami dan kami pun tiada tahu bangsyanya. Tetapi malim tiada tahu. maka menyuruh kapalnya datang gennap tahun tiada berputusan lagi. naik kepada sampang endak pulang ke negeri Portugal. Selamanya umur kami hidup dalam dunia. lalu berampas-rampasan serta haru-biru dalam pasar.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Pergilah engkau bawah ia ke mari. maka kami datang ke mari.’ Lalu diberinya tempat membuat rumahnya ia duduk. Maka tinggal kapal kami. Seperkara lagi sama makanannya dan minumannya. Maka ia datang membawah khabar kepada perdana Jamilu.’ Maka kembali pula bawah ia datang ke negeri kepada perdana Jamilu.’ Maka kata keempat perdana: ‘Bennar kata hukum dan penghuluh agama. Hatta datang lama dengan lamanya serta kehendak Allah ta`ala yang kebaikannya itu dibalaskan oleh Tuhan Yang Mahamurah datang kejahatannya. jangan sama senegeri kita. maka kata penghuluh agama: ‘Salah orang itu melainkan sampai nyawanya.dan kuceriterakan yang empunya ceritera: sekali perastawa sebua perau Saki Besi Nusatelu* ke laut Puluh Tiga mengambil ikan. Lalu ditanya kepadanya: ‘Darimana datang dan apa nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang di sini kami sessat tiada tahu jalan. Hatta berapa lamanya maka ia memohon setengah duduk menungguh rumahnya dan setengah membawah khabar kepada orang besarnya. maka suatupun tiada hujat dalamnya pada ketika itu dan termasyhur nama Kapitan Hitu dari negeri Ambon sampai negeri Portugal. tetapi ampun dahuluh kepadanya. Maka raja Portugal digelarnya dua nama. maka diberinya masara persalin kepada Kapitan Hitu. Kepada zaman itulah maka digelarnya kepada perdana Jamilu ‘kapitan Hitu’ namanya dan berjanjian apabila datang kapalnya. demikian katanya: ‘Ada kami bertemu sebua perau di laut Puluh Tiga. Apatah daya.

Maka dipeliharakan dan diadatkan kepada mayit itu sehingga datang kepada seratus harinya. Maka didengar oleh kafir itu. Tiada dapat terpandang mukanya oleh musuh itu. lalu belayar ke Ambon. Dan maitnya itu ditaburkan bauh-bauan. lalu alah negeri itu. Hatiwe namanya. Hatta berapa lamanya menjadi fitna. Hatta datang ke tengah laut antara Jawa dan Bali. sehingga dimasyhurkan dua nama. Hatta ia datang ke Bandan. maka ia sakit serta dengan ajalnya. lalu berparanglah.ketika itu tiada dikira-kirakan kepada hari yang kemudian. . pertama Lekalahabesi dan kedua Tubanbesi. Maka ia menengar khabar orang. Tellah demikian itu maka adinda perdana Jamilu belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. Maka penghuluh kelengkapan itu kira-kiranya sukar karena banyak kafir itu. Maka ia pulang kepada gurapnya. makan-minum dan disalininya kepada pendagar Tahalele serta digelarnya pahlawan Tubanbesi dan syamsyirnya Lukululi. Hatta berapa lamanya. Maka keluar kafir itu serta barparanglah kedua pihak itu seperti orang bepasaran. Lalu menyuruh sebuah gurap antar kepada mayit itu dahuluh dan ain inayat naik kepada sampangnya ennam buah itu dan gurapnya itu menanti di tanah Seran. lalu ia masuk ke pantai Hitu bersama-sama dengan tamannya yang mengantarkan mayit itu dan diturunkan kepada mayit itu. Maka ia meninggal dua buah gurap sehingga dinaikan orangnya. maka dimasukkan ke dalam petti. Bunyi senjatanya diupamakan guruh di atas langit. tukarmenukar. makanminum dan bergela-gelaran nama panglimanya itu. ada sebuah kapal di tanah Bandan*. lalu naik rampas kepada kapal itu dan orangnya itu habis dibunuhnya. lalu paranglah dengan dia. Maka pangeran Japara menyuruh tujuh buah gurap mengantarkan dia. Tellah demikian itu maka dihimpunkan orang serta kelengkapan Japara itu pergi menyerrang kepada sebuah negeri kafir. Sorangmenyarang. Pada ketika itulah pendagar Tahalele menyerrang buankan dirinya ke tengah tentara kafir itu seperti harimau. jual-beli. lalu belayar dibawah oleh angin dan arus jatuh datang ke tanah Seran. Hatta berapa dalamnya pun parang lanatullah itu dan tentara Islam itu pulang serta kemenangnya. maka bertemu kedua kelengkapan itu. ia menyuruh angkatan mengadang di tengngah jalan. daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama dan Tubanbesi pun syahid pada ketika itu. bersuka-sukaan. alah-mengalah sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah. Sekali perastawa keempat perdana menyarang kepada sebuah negeri kafir. maka ia meninggal negeri fanah datang kepada negeri baka. Maka ia pulang dengan kemenangngannya sehingga datang ke negeri bersukasukaan. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un.

Ia beparang tettak-menettak serta kehendak Allah ta`ala kulitnya tiada makan besi. maka ditangkis oleh pahlawan itu. maka patah parang kafir itu. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang bersembahyang mengadap kepada kiblat. masing-masing melarikan dirinya. maka dalam akhirat suatupun tiada hisab* kepadanya melainkan masuk syurga. lalu masuk ke medan dan berbunyilah gendang. Alkissah peri mengatakan sultan Maluku demikianlah riwayatnya. karena pintu syurga sudah terbukah. Maka didirikan panji-panji parang dan tentara Islam pun demikian lagi. Kemudian daripada itu mardan Totohatu ibn Zamanjadi ia bertempik. Alkissah peri mengatakan parang Don Duarde datang daripada negeri Portugal serta dengan kelengkapannya. maka patah pula laknat itu. Ia masuk ke Kota Laha. lalu menetta. Maka dipaluh dengan esfingarnya* laknatullah itu. Entah berapa lagi dalam akhirat dibalaskan Allah ta`ala karena sabda nabi salla 'llahu ’alaihi wa-sallama: ‘Apabila mati Islam. Esfinkarnya* putus kedua pangkal. Daripada sanngat marah hatinya kepada panjipanjinya itu. Lalu ia menetta serta merampas panjipanji kafir laknatullah itu. Ada pun tatkala itu datang sebuah kapal membawah kepada serri sultan Maluku ke tanah Ambon. jika bulum lagi lepas daripada azab naraka. maka ditankis oleh laknatullah itu. Lalu bertempik kedua pihak itu upama guru di atas langit bunyi tempiknya. maka bertempik Umar. Seketika juga himpunkan orang dan panglimanya sekalian serta dengan Den Daurdia*. Panglimanya dan pendagarnya serta dengan harkatnya. Maka keempat perdana menyuruh orang . Hatta datang seketika lagi masuk pula ke medan. suisa* dan serunai.’ Yakni artinya bulum lagi masuk syurga. maka khabarkan orang kepada negeri Hitu dan tanah Ambon sekalian. Maka tentara kafir itu cerai-berrai. patah tulang tangannya yang kiri. entah berapa-rapa panglimanya. Namanya digantikan Tubanbesi yang mati itu. dalam akhirat bulum lagi diterima oleh malak al Ridwan. lalu naik kepada kelengkapannya kembali serta dengan dukkacittanya dan orang Hitu pun kembali memeliharakan mayitnya itu.artinya ‘patah tulang’. pendagar parang. maka masuk pula parang ke medan.’ Lalu bertempik menyerbukan dirinya ke dalam tentara kafir itu. caramela* pelbagailah bunyi-bunyian. yang diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Maka kata pahlawan Tubanbesi: ‘Untunglah aku sekarang pada ketika ini. maka ia naik ke darat. Inilah muafakat orang parang sabil dalam dunia. Hatta seketika juga mardan* Khatib ibn Maulana dan maradan Tahalele ibn Abubakar Nasiddik keduanya syahid. jika bulum dilepaskan oleh malak al Zabaniah. Apabila Islam mati parang sabil. Itulah manfaat orang parang sabil dalam akhirat.

Dan empat puluh orang gaggah membawah makanan serta gendaga itu di hadapan raja. Maka negeri semuanya itu takluklah kepadanya kafir itu. Ialah memeliharakan negeri sekalian serta mengeluarkan angkatan ke tanah Hitu. Empat puluh mata keris dimasukkan ke dalam gendaga Seran dan di atas keris itu has* sehellai dan di atas has itu sirri pinang dan bunga serta bauh-bauan. lalu membuat kotanya di pantai Hitu.’ Maka keempat perdana muafakat: ‘Apa tipu kita karena janjian kita serta sumpahan?’ Lalu menyuruh kepada kapitan* Feranggi itu minta bedamai. maka naik pula ke atas bukit Mamala. karena kita sudah bedamai. terlalu ammat gaggahnya. maka raja pun tercengang tiada boleh bersuarah. Pada ketika itu pahlawan gimelaha* Laulata ada di tanah Ambon. maka menyuruh tanya kepada gurendur Peranggi itu. Tellah demikian itu. lalu ditudung pula kepada gendaga itu. demikian katanya: Dapatkah atau tiadakah kami endak menyuruh melalat kepada raja Ternate itu?’ Maka kata gurendur Feranggi: ‘Mengapa maka tiada dapat. Maka datang orang itu katanya: ‘Bennar juga khabar itu. lalu kapal pun belayar membawah kepada serri sultan. Ulukulu namanya. Maka tanah Hitu serta tanah Ambon sekalian paranglah dengan kafir laknat itu. Maka ia langgar kepada sebuah kapal. Hatta lagi maka titah syah alam kepada empat puluh orang itu: ‘Pulanglah engkau bawah gendaga itu dan sampaikan salamku kepada empat perdana. Ia duduk di negeri Lesiela*. Kemudian daripada parang Don Daurde itu.’ Lalu menyuruh melalawat* dengan tipu maslahat. Hatta berapa lamanya alah pula bukit itu. Sehingga keempat perdana dan setengngah negeri tiada berapa itu pinda ke Tanah Besar. Dan negeri Hitu pun pinda ke atas bukit. Alah-mengalah. Hatta berapa lamanya alah negeri itu. maka kami pun terima dengan sempurnanya. Lalu dibukah sendirinya serta pandang kepada keris itu. Maka keempat perdana pun endak mengulang lagi. betahanlah di atas bukit itu. Alkissah dan diceriterakan yang empunya ceritera. sarangmenyarang sebagailah parang sabil Allah. Maka ia parang siang malam. bennarkah atau tiadakah. Maka ia pun mau. pagi petang tiada berkeputusan. maka datang kapitan Sanjo*. Inilah tanda berteguhan ikrar dan tasdik. Ialah bennar syaudaraku dari dunia datang ke akhirat.’ Lalu orang itu pulang serta gendaga itu dan sampaikan salam titah itu kepada keempat perdana. lalu ia kembali duduk di negeri Luhu serta meneguhkan tanah . maka berulang-ulang beparang di tanah Hitu.periksyai kepada khabar itu. betahanlah di situ. Ia naik ke darat.lalu bedamai orang Hitu dan orang Feranggi. Ada pun daging darahku sekali pun tiada bagai demikian ini. Tanda kasih dan tulus serta kehendaknya itu tellah sampailah kepada kami.

Lalu dipepatutan karena negeri Hitu pun keempat perdana itu empat bangsyanya dan Nusaniwe keempat perdana juga. Suatupun tiada dengan hisab* karena tatkala muafakat itu dipersyahdakan*. Ia duduk kepada bukit Hatunuku. lalu dibunuh kafir yang dalam negeri itu.’ Maka menyahut pula gelaran itu: ‘Bilamana lagi tuhanku maka datang ketikanya dan waktunya? Tetapi negeri tuhanku sekalian itu sekarang inilah datang ketikanya dan waktunya melainkan tuhanku pulang dahuluh di tanah Hitu. Entah apa kehendaknya titah. Hatta berapa lamanya bertambah -tambah kebajikan dan kemerahan. maka kami percahaya. Tellah demikian katanya: ‘Sudahlah bagai kehendak tuhan-tuhan itu. atau kebajikan negeri Nusaniwe. jumlahnya dualapan perdana lima bangsyanya. Pada zaman itu negeri Hitu sekalian memberi kepala ikan ia upetti kepada keempat perdana. ia keduanya juga. yakni tentukan perjanjian itu. Tellah dibunuh itu. Daripada itulah negeri Nusaniwe ia pinda datang ke negeri Hitu. Itu bersuatuan namanya. Hatta didengar negeri sekalian di tanah Hitu tellah datang hukum Abubakar daripada Ternate. tetapi suatu bangsyanya. demikian katanya: ‘Negeri sekalian empunya sembah datang ke bawah kadim tuhanku. tetapi bulum lagi datang kepada ketikanya dan waktunya. Lalu Lalu dipepatutan: pertama Pati Lupa* lawannya perdana Tanihitumesen. pulanglah engkau. maka disampaikan kepada hukum dan keempat perdana. Ingatkah lagi rakyat tuhanku atau tiadakah lagi?’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Mengapa maka kami tiada ingat? Ingat juga. Itulah perinta hukum Abubakar Nasiddik dan sekalian negeri pun kembali kepada hukum Abubakar dan keempat perdana.Ambon. ia keduanya juga. maka ia pulang ke tanah Ambon. Nama gelaran negeri Henalale dinamai Hehahitu dan gelaran negeri Latua dinamai Hehatomi* namanya. kedua Totohatu lawannya Lisakota. lalu menyuruh gelaran Tuheasal dan Tuhelusun datang kepada hukum dan keempat perdana. nyiyahkan kepada kafir itu dahulu. .’ Lalu ia pulang memberitahukan kepada negeri sekalian. Tellah demikian itu dan diceriterakan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe kedua berhadapan kepada suatu majellis serta muafakat dan berjanjian.’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Apabila bagai kata demikian itu. ketiga Latuhalat lawannya perdana Nusatapi.’ Maka hukum Abubakar dan keempat perdana pada ketika itulah pulang ke tanah Hitu. Tellah demikian itu. maka suatupun tiada ellat sehingga melakukan parang sabil Allah daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. keempat perdana Pati Tuban lawannya perdana Pati Naelai. Apabila kasahkitan negeri Hitu. maka hukum Abubakar pergi mengadap kepada serri sultan di Maluku.

Maka datang angkatan kafir laknat bantu kepada negeri itu. Pun ia utusan. ada yang dimennang. Serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi sekali-kali dengan kelengkapannya dan mayitnya perdana Kakasingku* pun sabil Allah tiada kettahuan lagi. ketiga cili Abu Syahid dan keempat cili Kaba. kelima cili Naya. keenam cili Ici dan ketujuh cili Aya. maka ia bertemu dengan angkatan Nasrani di tanjung Mamala.’ Ada pun perjanjian ini sehingga Alan. tetapi dalam pihak Ulima. demikian itu katanya: ‘Apabila jika datang kebaikannya pun kita bersama-sama. ada yang menyarang. Kemudian daripada itu dan kuceriterakan. Asilulu suatu juga. Ada parang di darat. Daripada itulah maka tatkala ia bertemu kepada orang Peranggi itu. maka datang kepada negeri Asilulu. lain daripada itu tiada kusubutkan. keenam Ambalau. Segali perastawa gimelaha Kakasingku* keluar dengan kelengkapannya. Sungguhpun namanya Ulisiwa. kedualapan baginda cili Ali. Lain daripada itu tiada kuceriterakan sehingga ibn bendahara: pertama gimelaha Kakasingku* dan (kedua) gimelaha Jamali dan (ketiga) gimelaha Kulabu dan keempat gimelaha Aja dan kelima gimelaha Basi dan keenam gimelaha Angsari*. karena pada tatkala itu sangat parang sabil Allah di tanah Ambon. ada disarang. sekalian keluar dengan kelengkapannya mendattangi sebuah negeri. pun ia pergi datang berulang-ulang membawah titah sebagailah. Maka kedua pihak . Maka datang kepada kerabat serri sultan daripada bangsya raja: pertama kiyaicili* Cuka. Lalu melawanlah kedua angkatan itu daripada waktu duha sehingga datang kepada bakda lohor. Tellah demikian itu dan diceriterakan daripada negeri Urin* dan Asilulu. Ia datang akan bendahara di tanah Ambon serta kaum gulawarganya gimelaha Haji dan gimelaha Sakatruana. Wakasihu dan Urin*.’ Dan suatu lagi dijanjikan juga: ‘Apabila jika orang dari sebela pihak Ulisiwa endak masuk muafakat serta negeri Hitu. Itulah daripada pihak bendahara. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan sekalian ini termasyhur pendagar. kedua cili Kodrat. kelima Sibangua. sebagailah kedua pihak itu tiada berputusan lagi.Itulah kesudahan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe. Liliboi dan Larike. maka dibawah kepada perdana Jamilu. Alkissah peri mengatakan johan pahlawan gimelaha Rubohongi. Latu namanya. Bennar juga dalam pihak Ulima. jika datang kejahatannya pun kita bersamasama. Dan daripada pihak hamba raja pertama Kalaudi dan kedua Usman dan ketiga Kabutu Malu dan keempat Sagaluwa*. bersama-sama datang ke negeri Hitu. Maka keempat perdana menerima kepadanya itu serta dengan berjanji-janjian. tatkala bulum lagi dinaikan kapitan laut. ada parang di laut. tetapi dalam martabat negeri Hitu. ada mennang.

Dan panglimanya yang gaggah dalam angkatan itu Martajiwa namanya dan seorang Panarukan namanya dan seorang pula Pasiruwan* namanya. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang berhadapan serta dengan hidangan karena sangat maksud Islam ke sana kepada kafir laknat itu. Hatta datang musim. Ia undur lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke negeri Hitu. dua bersyaudara gimelaha Angsari* dan Liwa alDin. Sebab pada ketika itu baginda cili Cuka ia menjadi kapitan laut. lalu masuk ke dalam negeri. Maka angkatan itu sekalian kembali masing-masing ke negerinya. sendirinya memeggang panji-panji serta membaca salawat. Apabila datang esok harinya demikian juga. Maka negeri ke dalam kotanya dan orang itu pun mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. maka ia bertemu kepada kafir laknat itu. tiada berputusan berkawal-kawal kedua tentara itu. maka patah parang Islam itu. Itulah kesudahan parang kiyai Mas di tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Dan orang sekalian itu pun lari masing-masing membawah dirinya sehingga gimelaha Jamali al-Din. Tatkala perdana Tubanbesi belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangngeran minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. maka ia syahid serta kelengkapannya pada ketika itu juga. Maka panglimanya yang gaggah itu syahid. lalu ia masuk. maka ia belayar kembali ke tanah Jawa. hoja* alim mahudum*: ketiganya syahid. Maka dipandang oleh kafir laknat tempat itu sunyi dan kotanya itu pun tiada manusyia. Dan Kalaudi pun dengan kelengkapannya masuk. ketiganya pendagar parang.berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian jualbeli. sekali perastawa keluar angkatan Islam mendatangi negeri kafir dan angkatan kafir pun keluar. Hatta ia datang ke tanah Hitu dan orang Hitu pun keluar angkatan serta ia mendatangi negeri kafir itu. Alkissah peri mengatakan parang kiyai Mas. Laknat itu alah kepada kota Islam itu. Lalu bertempik kedua pihak itu seperti datang tofan bakilat-kilat dan . Daripada itulah maka tiada berpaling apa tipu orang banyak serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi daripada kesudahan hidup manusyia dalam negeri fanah datang kepada negeri yang baka. maka pangeran menyuruh kepada kiyai Mas serta kelengkapannya. karena Jamali alDin itu pahlawan yang termasyhur. Hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala kepada pihak Islam itu pergi barjalan ke sini dan orang kawal itu pun serta dengan alpanya ia tidur. Maka kedua angkatan itu sama bertemu di tengah jalan antaranya Hitu dan Kota Laha. Hatta datang malam masing-masing pulang kepada tempatnya. Alkissah dan kuceriterakan yang empunya ceritera.

lalu undurlah kelengkapan Islam itu kembali dengan dukkacittanya. Dan angkatan Ferangi pun keluar sama bertemu di pantai Kota Laha. lalu patah parang kafir itu dan angkatan Islam itu kembali serta kemenangannya. Hatta datang musim. Dan parangnya itu daripada waktu duha sehingga datang kepada waktu asar . Entah berapa aluannya. tetapi penghulu yang besar dalam angkatan itu pertama kapitan Falat. daripada ajal itulah meneguhkan hati manusyia serta memberikan kesudahannya. ketiga orangkaya Watimena dan raja Rosengaing*. Hatta hilang awan itu. Islam pun dukacitta hatinya dan Nasrani pun demikian lagi. Maka didapat oleh kafir laknat itu. Pada mati dan luka itu tiada dikira-kirakan lagi. lalu pulang ke tanah Bandan. Sehingga datang musim ia pulang. Segali . Hatta lama dengan lamanya sebagai juga tiada berputusan parang sabil Allah. maka ia kembali ke negeri Hitu. Ada pun dalam angkatan kafir itu pun demikian juga luka dan mati. Kemudian daripada itu datang pula angkatan itu ke tanah Hitu. Dan daripada orang luka dan mati itu tiada kuceriterakan. lalu undurlah keduanya angkatan itu. Alkissah dan kuceriterakan oleh yang empunya ceritera sekali perastawa orang Hitu keluar dengan kelengkapannya. tetapi tiada masyhur parangnya itu. Ia membuat kota di pantai sebelah berhadapan kota Ferangi. Itu pun tiada juga jadi kota. Hatta dengan ajal Allah. maka melawanlah kedua angkatan itu. Kemudian daripada itu pergi alah kepada negeri. Masingmasing pulang kepada tempatnya.bunyi senjatanya diupamakan guruh dari atas langit dan asapnya senjata itu menjadi awan antara langit dan bumi. Alkissah dan kuceriterakan johan pahlawan Tahalele ke tanah Bandan*minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. hulubalang Pati Lihat namanya. Hatta terbit fajar kepada bakda subuh keluarlah kedua pihak angkatan itu berlawanlah dan bunyi senjata itu tiada dapat dikatakan. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala sebuah kelengkapan Islam. Asapnya itu menjadi awan menudung kepada kedua angkatan itu tiada berkenalan. maka dilanggar sebuah kapal. makan-minum bersukasukaan. Itulah kesudahan tanah Bandan* datang ke tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka negeri Bandan* sekalian keluar angkatan ke tanah Hitu. Itulah hal parang sabil Allah. tebakar oleh api obat bedil sendirinya. Hatta berapa lamanya datangnya itu dan negeri Hitu pun keluar angkatan serta dia bersama-sama mendatangi kafir laknat itu dan kafir itu pun keluar angkatan. Tuhahan* namanya. Ada pun pada ketika itu ada juga suruan pangeran. kedua kapitan Atijauh. maka baginda kiyaicili pun syahid. ia meninggal sendirinya pulang ke negeri Hitu. itu bukan dialah oleh Ferangi.

Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Rubohongi ia pulang ke rahmat Allah meninggalkan negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Kadang-kadang Tanah Besar masuk kepada parang. Tatkala itu sekalian hulubalang serta pendagar semuanya tiada. maka ia bertankis-tankisan dengan perisainya serta undur datang kepada air sehingga lututnya. kedua hulubalang Hasan Pati. ketujuh pendagar Nahoda. Kehendak kafir itu menggagahi akan mayit bendahara itu.keempat Pati Baraim.’ Lalu ia bertempik ke dalam tentara kafir itu serta menettak. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. ketiga hulubalang Hatib Tunsulu. Ialah yang termasyhur pendagarnya dan terlalu amat gagahnya daripada sekalian. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Dan kuceriterakan hulubalang kafir laknat itu pertama Don Duarde. Hatta seketika juga patah parang kafir laknat itu. Maka dihabarkan orang kepada kafir laknat itu. sebab sudah dipindahkan ke Tanah Besar. Tatkala pada zaman itu alah menang sama kedua pihak itu.perastawa keluar angkatan kafir laknat itu serta orang Tidore dan orang Buru mendatangi di negeri Hitu dan orang Hitu pun harkat menanti di pantai. Lain daripada itu tiada kusubutkan melainkan Jumat. ketiga Paulo Kastanya dan Dan Tamura dan Dirgurumaridisi dan Siku Kisua dan Don Disera* dan Fernando Melo* dan Antoni Laliru. Karena tatkala zaman parang itu hulubalang dan pendagar ada semuhanya -. sehingga inilah dimasyhurkan sangat parang kafir di tanah Ambon. Maka pada ketika itulah perdana Kapitan Hitu memagang senjata. pahlawan al-Din. Hatta datang angkatan itu lalu turun.hulubalang yang termasyhur dalam tanah Hitu. tetapi tanah Hitu juga parang siang dan malam tiada berputusan. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. sungguh pun disubut tanah Ambon. lalu ia keluar angkatan. Apabila tiada patah orang itu. kedualapan pendagar Nasiela -. maka hulubalang Ulu Ahutan ia becakap di hadapan orang sekalian: ‘Jangan dahulu orang keluar. kelima Umar pendagar.pertama Ulu Ahutan. Sebab itulah maka dikatakan tanah Hitu di belakang perisyai dan Tanah Besar di dalam perisyai. Lalu ia menyerrang kepada negeri Hitu. Masing-masing lari terjung ke dalam air berenang kepada tempatnya sehingga hulubalang Sulaiman: maka ia tiada paling mukanya. keenam Mahir pendagar. Itulah parang sabil di tanah Ambon. sehingga Jumat pahlawan al-Din ada. Kuceriterakan menang Islam kepada kafir itu: sekali alah . Itulah sangat parang sabil Allah di tanah Hitu. biarlah aku sendiri keluar dahulu. maka patah parang laknat itu. kedua kapitan Sanco*. ia masuk parang kepada tentara kafir itu. tetapi tiada dapat lagi. tuhan-tuhan sekalian keluar. tetapi ia dalam uzur.

karena parang sabil di tanah Ambon itu tujuh puluh tahun daripada parang Don Duarde sehingga datang parang Antoni Furtado*. atau kamikah datang ke sana atau menyuruhkah datang ke mari?’Serta dengan kiriman tanda alamat tanah Ambon. Bagaimana kehendaknya Prings dan orang besar2. maka kapitan Peranggi menyuruh kepada keempat perdana. Maka ia berhadapan kata serta keempat perdana dan berjanjian apah upahan dan berputusan barang kerja: apabila barang sesuatu perbuatan. Dan diperjanjikan upahan: apabila alah kepada kotanya.sebuah kapal di tanah Bandan. Ia masuk ke Hitu.sampaikan dahulu kami punya pekatahan ini. jika salah kepada adat jangan dikerjakan kepada dua kaum itu. Hatta datang musim barat kapitan amiral Kurnilis* [dan] Istin Warhaga* pun datang. termasyhur dalam negeri Wolanda. Apabila alah kepada kapal. Ada pun kotanya dan senjatanya dan orangnya hitam itu kepada orang Hitu. lalu masuk ke Kotah Laha periksai kepada kotah Feranggi itu. demikian katanya: ‘Marilah kita bedamai dan bebaikan dunia tanah Ambon. Tatkala belum lagi datang Furtado itu. tetapi menyuruh sampai kepada Prings* dan orang besar2 di negeri Holanda* supaya boleh dengar kepada dia empunya pekatahan.’ Tetapi keempat perdana tiada mau. dan orang putih itu kepada orang Wolanda. Tellah demikian itu. Dan menang kafir kepada Islam pun demikian lagi. lalu belayar ke negeri Wolanda menyampaikan berjanjian berputusan kata sekalian itu kepada Prings vin Nyuranye* dan orang besar2 dalam negeri Murucisa*. Maka ia pulang. maka orang Hitu tanya kepadanya:‘Darimana datangmu dan apah nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Kami datang dari negeri Hollandes* dan nama raja kami “Paringsi*”. Kapal serta senjatanya dan orang putih kepada Wolanda.’ Maka kata keempat perdana: ‘Jika bagai kata demikian itu. yakni syaudagar yang besar lagi artawan. karena ia ingat kepada perjanjian dengan amiral Istiwin . kedua sebuah di pantai Hitu dan ketiga sebuah serta angkatan Bandan* dan keempat langgar kepada pinsu* dan kelima langgar kepada antonibot*. lalu ia belayar pulang ke negeri Holandes menyampaikan katahan itu kepada orang besar2 dari negeri Holandes. bolehkah atau tiadakah. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. maka datang sebuah kapal Wolanda. maka orang Hitu bayar empat ratus bahara kepada Wolanda. maka bayar empat puluh bahara. orang hitam kepada orang Hitu. ialah empunya kapal syaudagar yang datang ke tanah bawah hangin ini. Kemudian daripada kapal belayar itu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bolehkah kami minta armada tolong kepada kami?’ Maka kata orang itu: ‘Mengapah maka tiada boleh? Boleh juga. Dan kuceriterakan yang empunya ceritera. Dan enam orang dinamai ‘graf*’.

Maka bertemu dua buah kapal Wolanda dan ditanya kepadanya: ‘Mana kapitan-mor*?’ Maka ia menyahut: ‘Kapitan-mor ada di tanah Bandan. sehingga keempat perdana juga pinda ke Tanah Besar. Dan negeri Hitu pun pinda ke gunung Pinau*.’ Lalu Kapitan Hitu belayar ke tanah Bandan. yakni negeri Luhu. Daripada tiada mau mengubah janjinya. Ada pun tatkala datang Furtado serta kelengkapannya. Maka kafir itu mendatangi negeri Luhu dan Lasidi*. Portugal namanya. lalu peranglah kedua pihak itu tiada berputusan sehingga datang Furtado. Maka dinaikan empat orang mengikut kapitanmor itu. Lalu ia mendatangi negeri Iwa* dan orang Iwa* pun keluar berparang dia. Demikianlah parang Antoni Furtado* di tanah Ambon sehinggalah perangnya. keluar dari negeri Murucisa* dan empunya angkatan ini Prings van Nyuranye* dan penghulu dalam angkatan ini amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*. demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini dan siapa empunya angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun angkatan ini angkatan Wolanda. maka ia menanti sehingga datang sama negeri Banten. Hatta datang musim barat. sebab dilontar dengan batu oleh negeri itu kennah kepala kapitan Furtado. lalu ia mendatangi negeri Hitu. Hatta datang ke tanah Jawah. Maka keempat perdana menyuruh kepada Mihirjiguna ibn Kapitan Hitu dan mardan Sibori ibn Tubanbesi keduanya naik kepada kapal itu mendapatkan angkatan. Alkissah peri mengatakan datang Furtado.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Endak ke mana?’ Maka ia menyahut: ‘Mencari kepada musuh kami.’ Maka menyahut menyahut pula kata Mihirjiguna itu: ‘Apabila jika . Maka kuceriterakan keempat perdana pinda ke Tanah Besar itu.’ Maka kata pula Mihirjiguna dan mardan Sibori: ‘Marilah sama kita ke tanah Ambon. Itulah halnya orang berjanjian.maka negeri sekalian takluk kepadanya. karena musuh itu ada di tanah Ambon. Hatta berapa lamanya angkatan pun datang. maka Mihirjiguna dan mardan Sibori bertanya kepada angkatan itu. datang pula sebuah kapal ke tanah Ambon kepada empat perdana.Warhaga* itu. maka ia bertemu dengan kapitan Wolanda itu dan keduanya berhadapan kata dan bicara. maka ia naik barparanglah di sana. Maka Kapitan Hitu naik kepada sebuah perau pergi mencari bantu sehingga ke Seran. Lalu dibawah kepada perdana Tubanbesi dan orangkaya Patiwani kepada kafir laknat itu. lalu belayar dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Ambon.Hatta seketika juga patah parang kafir. Hatta berapa lamanya alah gunung itu. lalu undur pulang ke Kota Laha. Kambelo itu pun alah juga semuanya. dan perdana Tanihitumesen ia duduk di negeri Anin dan perdana Pati Tuban ia duduk di negeri Waibuti dan perdana Nusatapi ia duduk di Gamusungi.

demikian buninya: ‘Apabila alah kotanya itu. Maka dibaca surat itu. Tellah demikian itu maka kata amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* kepada Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Betapa kota ini?’ Maka kata Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya: ‘Baik juga kita rusakkan kota ini buan ke laut. Itulah kerjakan dia. Ada pun kotanya serta senjatanya kepada orang Hitu dan orangnya hitam itu pulang kepada hitam dan orangnya putih itu pulang kepada putih. lalu diam kapitan Feranggi itu tiada berkata-kata lagi. baiklah Wolanda duduk kepada kota itu. Ada pun bunyi dalam surat itu. lalu ia diam dirinya.’ Telah demikian itu. tetapi kita mengambil kota ini seperti kita mengambil isteri orang.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Diiakanlah jika bagai kata demikian itu. datang .’ Lalu katanya kepada kapitan Feranggi itu: ‘Keluar engkau dari tanah ini. Apabila jika alah kepada kapalnya.’ Maka kata kapitan Feranggi itu: ‘Mengapah maka kata demikian? Karena kami empunya negeri ini. ada pun orang Wolanda sehingga perintahkan dan mengaraskan.’ Maka kata Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Jika bagai kata amiral itu. lalu ia belayar pulang ke negerinya. Maka amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* pulang serta angkatannya menyampaikan khabar kepada Frings* dan orang besar2 dalam negeri Wolanda. lalu belayar serta Mihirjiguna dan mardan Sibori ke tanah Ambon. Hatta datang pagi hari dikeluarkan anak kunci itu diserahkan kepada tangan amiral. maka kapitan Feranggi menyuruh datang tanya kepadanya.’ Lalu Mihirjiguna keluarkan surat perjanjian itu kepada amiral Matelif*dan Istiwin Warhaga*.’ Lalu dikeluarkan kepada Mihirjiguna dan mardan Sibori di hadapan. lalu masuk kepada labuan kota Feranggi itu. karena tanah ini ada yang empunya.dengan faedahnya. lalu keluar duduk di luar. Sudah ia berikan kepada kami dan ia pun ada pada kami. Ada pun kapalnya serta senjatanya kepada Wolanda dan orang putih serta kapalnya. tetapi barang kerja kota atas orang hitam. Maka diberinya perau. Apabila datang cari kepada isterinya. hatta datang kepada hari dan ketika yang baik.’ Maka kata amiral dan Istiwin Warhaga*: ‘Bennar juga kata itu. maka kami bersama-sama ke tanah Ambon.’Lalu dinaikan Firdirik Hutman* gurendur di kota Ambon. maka beri empat puluh bahara. maka kita melawan dengan dia. dan orang hitam kepada orang Hitu dan artanya itu bahagi dua.demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Angkatan ini dari negeri Wolanda. bagaimana tempat kita jawab kepadanya? Ada pun tempat kita itu melainkan dengan kota. Hatta datang musim barat. maka kami beri empat ratus bahara cengkeh. mengapah maka kami keluar dari tanah ini?’ Maka kata amiral:‘Bukan engkau empunya tanah. Hatta datang itu.

tiga buah negeri itu kami minta. ia mengikut kepada amiral belayar ke Maluku.’ Lalu berkata: ‘Apabila angkatan itu ia mau tolong kepada negeri Ternate.’ Maka kata baginda cili Ali dan gimelaha Aja: ‘Apatah lagi manfaat? Karena Kapitan Hitu mengatakan upahan itu kami semuanya di situ. melainkan hasil datang dari tanah Ambon. Pada ketika itu. maka kami mau ke Ternate. sehingga . masuk ke Kota Laha. Maka datang baginda cili Ali dan gimelaha Aja dan hamba raja Ambalau minta kepada amiral. Moga2 dengan kehendak Allah ta`ala dan berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka kata Kapitan Hitu. apabila kembali rayat semuanya dan negeri Ternate pun tettap. maka kata baginda cili Ali kepada gimelaha dan orangkaya-kaya semuanya: ‘Apa tipu kita karena negeri Ternate dalam kesukaran?’ Maka ia saat*: ‘Endak kepada hasil tiga buah negeri itu.’ Tellah demikian itu maka gimelaha dan kiyaicili katakan kepada amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* dan kapitan sekalian dalam angkatan itu. Lalu kata amiral: ‘Berilah anak Kapitan Hitu ikut kepada kami supaya kami sampaikan kepada Prings dan orang besar di negeri Wolanda. Lalu kata gimelaha dan kiyaicili: ‘Marilah kita pulang dahulu. maka kita berilah salah. Unus Halaene namanya. maka diiakanlah kapitan sekalian itu. Apa tipu kita sekarang ini?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun sudah rusak negeri Ternate serta dengan arta isi rumahnya habis dirampas oleh kafir itu. maka kembali negeri Ternate serta dengan kerajaan. tiada beri salah. apatah kehendak amiral itu? Katakanlah. Marilah kita ke Maluku tolong kepada negeri Ternate.’ Maka diberikan anak Kapitan Hitu. esok hari maka kita berkatakata’.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Berilah hasil tiga negeri itu kepada kami. Dan Kapitan Hitu pun becakaplah di hadapan orang sekalian itu. insya Allah.pula angkatan itu ke tanah Hitu. supaya kami dengar. Maka menyuruh panggil kepada kapitan serta keempat perdana Hitu.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* menyahut amiral keduanya: ‘Jika dengan manfaatnya maka kami mau ke Maluku. demikian katanya: ‘Tellah sudah selamat tanah Ambon daripada bahaya. Dari mana akan datang ganti isi astanah raja? Karena rakyat sekalian wa-'llahu a`lam dalam kesukaran.’ Maka kata kiyaicili Ali dan gimelaha dan hamba raja:‘Mana tiga negeri itu?’ Maka kata amiral: ‘Negeri Luhu dan Lesidi dan Kambelo. sudah tiada kurang kepada hasil masuk negeri Ternate kepada hari yang kemudian itu.’ Maka kata amiral: ‘Yang tellah sudah itu apa betapa disubut lagi?’ Maka kata kiyaicili dan gimelaha: ‘Jika bagai kata demikian itu.’ Maka gimelaha dan kiyaicili tiada mau kepadanya dan amiral pun endak juga kepadanya. lalu pulang. itu upahnya atas tanah Hitu.

bebaikan kita serta dia. Lalu belayar angkatan itu membawah kepada Unus Halaene ibn Kapitan Hitu dan anak raja Nusaniwe dan anak orangkaya Lakatua dan anak orangkaya Natahuat* ke negeri Wolanda. Maka kedua pihak sama petuguhnya. serta kelengkapannya. Maka mengikutlah ia. Piter Bot* namanya. Maka didirikan kota di negeri Melayu. tetapi serta adil kepada jeneral. Maka gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh serta kelengkapannya masuk ke pantai Kambelo suruhnya Ingeris itu keluar. maka datang jeneral Gerat Rengsi* dan perdana Kapitan Hitu menyuruh kepada gimelaha Syabidin*. Jika tiada mengikut. lalu ke Bandan. Dan kuceriterakan tatkala gurendur Hutman* itu. dari Maluku datang ke Ambon. maka jeneral Gerat Rangsi dan gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh memagang senjata endak melanggar kepada negeri Kambelo. tembak-menembak kedua kaum itu. Gerat Rangsi* namanya. Maka sekalian rakyat pun kembali ke negeri Ternate dan dinaikan serri sulthan paduka Mudafar ibn Sa`id al-Din syah. supaya kami menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo.’ Maka diiakanlah jeneral dan gurendur kata Kapitan Hitu demikian itu. ia duduk di negeri Kambelo. lepas taksir kita. Maka sekarang ini ia duduk di negeri Kambelo. Ia itu banyak kasihnya akan artanya kepada orang serta dengan empenak supaya menjadi jinak sekalian orang Ambon. Simon Hun* namanya. Kemudian daripada ia itu maka datang pula amiral.mengantarkan kepada Unus Halaene. Mana kehendak jeneral itu kerjakan. ’Tellah demikian itu. tiada beta mengetahui duduknya itu. Ia datang dari Betawih. al-hamdu li-'llah. dari Bandan* datang ke Ambon pula.datang ke Ternate. ia tiada mau. Pada zaman itu negeri Luhu dan Kambelo menerima kepada orang Ingeris. karena tempat duduk Ingeris itu tanah raja Ternate dan negeri Kambelo itu pun rakyat raja Ternate. lil* Allah [fi] 'l`alamin akan kerajaan dan diturunkan gurendur serta soldadunya duduk menunggu kota. Itulah beta taksirkan dahulu. Hatta berapa lamanya. Maka dinaikan Yangseper Yangsi* akan gurendur sehingga tiga tahun. Apabila ia mengikut. lalu pindah . karena gimelaha itu mangkubumi di tanah Ambon. lalu menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo kata yang kebaikan dan kebenaran. maka datang amiral. lalu ke Maluku. Tatkala itu datang jeneral. daripada itulah menyuruh periksai kepadanya. Iapun demikian juga murahnya dan pada ketika itu gurendur Hutman* pun belayar karena lamanya gurendur Hutman* enam tahun ia duduk. pasang-memasang. apatah dayah. Maka kata perdana Kapitan Hitu kepada jeneral dan gurendur: ‘Sabar dahulu. Maka kata gimelaha Syabidin: ‘Mengapa maka tanya kepada beta lagi? Karena beta sudah keluarkan dia dari negeri Luhu.

endak berkellai kedua pihak itu. maka kita lakukan bagai titah itu. lalu belayar pulang ke negerinya. maka gurendur dan menyuruh kepada paduka seri sultan di Ternate. Dan apa kata jeneral itu.’ Lalu ia menyuruh ke Ternate dan menyuruh ke Betawih. Maka Kapitan Hitu bawah kepada kipati Lesibata. Betapah kehendak titah itu. maka jadi fitna. Maka dinaikan Aren Bulok* akan gurendur ganti kepada Yangseper Yangsi*. lalu dibunuh kepada Inggeris dan Jupun semuanya.Orang Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda.’ Maka kata orangkaya-kaya: ‘Berilah delapan puluh. . karena gurendur itu itu sangat bengis. serta kotanya maka diketahui oleh Wolanda.Maka jeneral dan gurendur pulang ke Kota Laha. Maka kata Kapitan Hitu kepada kedua pihak itu: ‘Apa kerja berkellai? Baik juga gurendur menyuruh belayar ke Betawih kepada jeneral menyampaikan kata orangkaya-kaya itu. Alkissah peri mengatakan tatkala Herman Aspel* ia akan gurendur itu.’ Maka kata gurendur: ‘Betapa kami disamakan dengan Inggeris. tawar-menawar dengan orang Wolanda. Hatta datang musim barat maka maka datang kapitan Warhaga.’ Maka kata gurendur: ‘Enam puluh harga sebahara. karena ia tiada hilang belanjanya.ke pantai Eran* dan orang Wolanda pun masuk ke dalam negeri itu dan orang Inggeris pun keluar naik kepada kapalnya. maka kedua kaum muafakat serta bersakutu bandar Wolanda dan Inggeris itu. Hatta berapa lamanya. maka berparanglah dengan negeri Nasrani yang takluk kepadanya itu. Mengapah maka minta delapan puluh daripada kami banyak arta keluar?’ Maka kata orang Ambon: ‘Mengapa maka gurendur kata demikian? Karena gurendur banyak arta hilang itu ada dengan hasilnya. karena kami banyak belanja hilang kepada soldadu dan marinero* membuat kota. Daripada ia memulai parang di tanah Ambon. Pada ketika itu ada suatu fitna. Hatta lama dengan lamanya sehingga datang kepada tahunnya. ia serta gimelaha Syabidin mengalah kepada negeri itu. Mengapah maka ia disamakan kami. maka Kapitan Hitu bedamaikan dia. Pertama berkellahi dengan negeri Hutumuri. ia bedamai dengan gurendur. maka suatupun tiada fitna dalamnya. Demikian kata gimelaha dan orangkaya-kaya sekalian: ‘Minta seratus harga sebahara. Leitimol* namanya. maka suatupun tiada hisab* lagi. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala datang suatu bala Allah. Mengapa maka kata demikian itu?’ Lalu orang Ambon tiada keluarkan cengkeh. lalu ia pulang dan dinaikan Herman Aspel* akan gurendur ganti kepada Aren Bulok*. Segali perastawa tanah Ambon semuanya serta gimelaha berbantahkan harga cengkeh. lalu ia belayar pulang ke Betawih dan gurendur Aren Bulok* duduk di kota Ambon. kedua berkellahi dengan negeri Lesibata.

Tellah demikian hatta datang kepada tahun yang lain. Itulah keputusan harga ce ngkeh dan negeri sekalian pun keluar cengkeh timbang kepada fetor.’ Maka kata gimelaha: ‘Berilah tujuh puluh. baik dan jahat.’ Maka kata fetor kepada orangkaya gimelaha: ‘Betapa harga cengkeh ini?’ Maka kata orangkaya gimelaha: ‘Bukan aku empunya cengkeh. Jikalau kepada benyagah Ambon itu atas kepada gurendur dan fetor* semuhanya di tanah Ambon. maka cengkeh itu hargakan lagi atau kurang lagi . tetapi beta minta kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya-kaya semuhanya enam puluh tujuh.’ Maka kata gurendur: ‘Bukan aku. Maka semuhanya dengan Wolanda pun berhimpun di pantai Luhu memutuskan harga cengkeh itu. atas kepada fetor semuhanya. Karena surat dari Betawih demikian katanya: ‘Ada pun kepada bicara yang lain. beta minta kepada orangkaya-kaya sekalian keluarkan tujuh real upamakan harga makanan soldadu.’ Itulah kesudahannya.’ Lalu kata orangkaya-kaya: ‘Berilah tengah delapan puluh. Apabila alah kepada Kastila dan Tidore atau bedamai dengan dia. ’Maka diiakanlah orangkaya sekalian tanah Ambon serta dengan janjinya.’ Maka kata fetor: ‘Tengah tujuh puluh.surat dari Betawih dan titah dari Ternate pun datang. Yang empunya cengkeh itu orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon. tetapi surat dari raja dan gurendur dari Ternate minta bantu ke sana. seperti membuat kota atau berkellai atau kurang kuasa barang sesuatu.’ Maka diiakanlah orangkaya-kaya semuhanya kepada kata gurendur itu enam puluh tujuh real. Jikalau mau. tujuh puluh harga sebahara cengkeh. tetapi kepada artanya itu mana kehendaknya tiada kepadaku. maka kata jeneral: ‘Ada pun beta ini endak ke Bandan. Tiga real itu akan harga siri pinang soldadu. karena banyak datang Kastila ke Tidore.’ Itulah kesudahannya daripada titah. Maka kata orang sekalian: ‘Jika bagai kata titah keduanya itu. Maka disampaikan surat itu kepadanya.’ Maka fetor pun mau dan orangkaya-kaya sekalian pun mengikut kata gimelaha itu. Ada pun daripada titah seri sultan di Maluku demikian bunyinya: ‘Bahwa sesungguhnya tanah Ambon itu takluk kepadaku. datang utusan dari Ternate minta bantu kepada gurendur. Maka betapa tipu orangkaya-kaya semuhanya kepada titah itu. karena benyagaan itu sama sukah keduanya. Kemudian kata gurendur: ‘Sudah putus tujuh puluh. Tatkala itu jeneral Lurinsu Riyal* dan amiral Astiwin Warhaga* pun datang serta kelengkapannya delapan buah kapal. atas kepada gimelaha dan gurendur memutuskan harga cengkeh ini. maka atas kepada jeneral. sehingga dalam berkellai ini. demikian katanya: ‘Enam puluh pada harga sebahara cengkeh itu.

lalu jeneral belayar ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. Ia . Itulah kita taksirkan kepada gurendur. apabila jika ia tiada mau. sehingga ditaksirkan juga. Alkissah peri mengatakan serta kuceriterakan tatkala perdana gimelaha Hidayat keluar serta angkatan datang ke tanah Ambon. beta menyuruh kata kepada sengaji. lagi ia hukum dalam negeri Ternate. lagi johan pahlawan.daripada enam puluh itu atau lebihkan lagi daripada enam puluh itu. Maka suatupun tiada fitna lagi.’ Lalu gurendur serta angkatannya mendatangi negeri Boano. Maka gurendur serta angkatannya pulang ke Kota Laha dan Kapitan Hitu serta kelengkapannya pulang ke negerinya. maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur: ‘Ada pun gimelaha itu tiada bicarakan. Yang benar itu dibenarkan dan yang salah itu disalahkan serta didamaikan kedua kaum itu dengan kebajikan. apahtah daya? Lapas taksir kita kepada sengaji dan orangkaya-kaya dalam negeri Boano. Tetapi daripada ia endak kejahatan itu. karena ia perdana yang besar dalam negeri Ternate.karena kesukaan dan keadaan itu tiada berapa dalamnya. maka ia membuat suatu fitna kepada sengaji* Boano. Itulah kesudahan harga cengkeh pada ketika itu.’ Maka diiakanlah oleh kedua pihak itu serta disuratkan dalam kertas tatkala disuratkan itu di pantai Gamusungi di hadapan jeneral dan amiral dan perawara sekalian daripada pihak Nasrani dan hadapan mengkubumi gimelaha Syabidin dan perdana sekalian perwara di tanah Ambon serta Kapitan Hitu daripada pihak Islam itu. melainkan melakukan kebaikan dan kebenaran serta kesukaan dunia dan tiada mengirangirakan hari yang kemudian. karena fitna itu tiada subut lagi. maka Kapitan Hitu dan gurendur serta orangkaya sekalian menghukumkan kedua pihak itu. Jikalau mau keluar. karena tanah Boano itu tanah raja dan orang itu pun rakyat raja Ternate.’ Tellah demikian itu. Ia datang tanya kepada perdana gimelaha. yakni sudah di luar perjanjian. Melainkan dengan adil gurendur. lalu menyuruh kata kepada sengaji dan orangkaya semuhanya keluar. Sungguhpun besar tubuhnya itu tetapi kuat. Maka suatupun tiada lagi fitna pada kedua pihak itu karena sudah keputusan kata yang baik dan jahat. Maka beta minta kepada gurendur sabar ahulu. Alkissah peri mengatakan tatkala gurendur keluar dengan angkatan. susunya bagai susuh perempuan. beta damaikan dia dengan gurendur. lagi ia alim dan tiada orang besar tubuhnya bagai dia dari Maluku sehingga datang ke Ambon. Dan negeri sekalian pun dengan kesukaannya serta dimulianya. demikian katanya: ‘Betapa perbuatan sengaji Boano demikian itu?’ Maka kata perdana gimelaha: ‘Ada pun perbuatan sengaji itu kami tiada mengetahui kepadanya. Tellah demikian itu datang johan pahlawan gimelaha Hidayat.

Ia belabu sehingga datang labuan Komber. maka didirikan tunggulnya sekalian kapalnya itu serta bunyi tamburunya*. Baiklah kita tolong kepadanya dengan pekatahan. upama terbit matahari cahayanya menarangkan yang adanya. Daripada itulah termasyhur nama johan pahlawan hukum Hidayatullah di tanah Ambon.’ Maka Kapitan Hitu naik. supaya jangan menyasal kepada hari yang . Maka pada ketika itu tanah Ambon dalam hukum Hidayatullah. yakni sakit. Kemudian anak orangkaya-kaya tiga puluh orang serta Unus Halaene ibn Kapitan Hitu naik kepada kapal Inggeris ikut belakangnya. Serta ajal Allah. daripada ia mengatakan hukum itu serta dengan hukum Allah. Kemudian daripada itu datang jeneral Pitir Eskun* serta angkatan masuk ke Kota Laha.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa tipu kita kepada tanah Bandan? Karena tatkala kita berparang dengan orang Feranggi ia tolong kepada kita. Maka Kapitan Hitu tanya kepada jeneral: ‘Endak ke mana angkatan ini?’ Maka kata jeneral: ‘Endak ke Bandan* berkellai. Sudah kita tolong dengan makanan tiada sampai. sehingga enam orang juga mengikut dia. tiada pulang ke negerinya lagi.membuat ibadat. taat siang malam tiada berputusan mengaraskan agama Islam. kita ikutlah. maka wafatlah perdana gimelaha pulang ke rahmat Allah. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. Hatta datang angkatan itu antaranya laut Puluh Suanggi* dan Gunung Api. jika boleh. Ada pun pada tatkala itu barang hukum daripada zaman yang tiada boleh putuskan orangkayakaya sekalian di tanah Ambon itu. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. tiada dapat kita tegah kepada perbuatan itu. ialah memutuskan. Daripada beta ingat tanah Bandan* dan tanah Hitu daripada zaman dahulukala. melainkan suatu kata kami minta kepada orangkaya-kaya. Tetapi daripada kehendak Kapitan Hitu demikian itu. demikian katanya: ‘Ada pun beta ini bukan disuruh oleh jeneral. hatta berapa antaranya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Syabidin pun uzur. kita masuk kepada orangkaya-kaya tanah Bandan. lalu masuk kepada negeri Salamah berhadapan serta orangkaya-kaya tanah Bandan* semuhanya. apahta daya? Karena pekerjaan itu pekerjaan yang benar. tanya kepadanya maukah bedamai atau tiada maukah. maka masuk di pantai Lontor. Lalu ia berkata kepada orangkaya-kaya.’ Lalu Kapitan Hitu naik kepada angkatan itu. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sabar dahulu. Apabila jika tiada boleh. Maka beta tolong dengan makanan tiada boleh. kami endak berkellai juga. tetapi ihtiar dahulu kepada budi akal kita. Tellah demikian itu.’ Maka kata jeneral: ‘Bukan kami minta bedamai. torompetanya* dan himpunkan soldadu serta dengan senjatanya.

lalu Kapitan Hitu pulang ke kapal. ada sakit sedikit. apatah lagi dinantikan? Jika kurang lagi suatu perkara daripada empat itu.bebaikan dahulu dengan dia. maka tiada ia turun.’ Maka kata orangkaya-kaya semuhanya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu.kemudian. Selamanya parang kami sahingilah* empat perkara itu. supaya kami himpunkan orang sekalian. maka dilihat oleh Kapitan Hitu dari kapal. jangan kata kita dibebohonkan. sudahkah lengkap atau bulum lagikah.’ Tellah kata demikian itu. apabila di mana kami bedirikan tunggul putih. Tetapi apa kehendak orangkaya-kaya katakan juga kepada kami. lalu menyuruh turun kepada orang itu. Dalam dua hari. maka kami katakan kepada orangkaya Kapitan Hitu dengan jeneral. Kita pun lengkapkan kepada empat perkara itu. tetapi kami parang dengan Wolanda ini bukan sekarang. Apabila jika datang Kapitan Hitu dan Wolanda itu kita pagang semuhanya. Pada malam itu datang seorang daripada negeri Bandan. ketiga manusyia. Jika bagai kata orangkayakaya demikian itu. Kemudian apa2 barang kehendak kita itu katakan kepadanya”. Ia masuk kepada Wolanda. apatah lagi?’ Lalu pulang orang itu menyampaikan kata itu kepada orangkaya Kapitan Hitu dan jeneral. pulang dahulu. maka orangkaya datang di sana. di sanalah kami menanti. jangan lagi Kapitan Hitu turun ke darat. maka ia berkata kepada jeneral: ‘Kita dengar orang Bandan* bicara dalam negeri: “Kita berhimpunkan orang serta senjata menanti di pantai. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sudah lepas . artinya kata itu sudah lengkap karena perbuatan manusyia itu serta dengan harkat. didirikan tunggul putih di pantai. supaya kita dengar apa kehendaknya itu. karena perbuatan ini sudah ia membunuh kepada kami orang banyak. tetapi kita menyuruh juga kepadanya menyampaikan perjanjian kita itu. artinya dusta. Daripada itulah periksai kepada orangkaya-kaya empat perkara ini.’ Tellah demikian itu maka kata jeneral kepada Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata ini. kedua senjata. Tetapi kehendak Allah ta`ala itu siapa mengetahui?’ Maka menyahut pula orang yang disuruh itu: ‘Daripada itulah maka dikira-kirakan.’ Hatta datang kepada janjinya. Apabila jika sudah lengkap. supaya ia pulang. maukah atau tiadakah.’ Maka kata orangkaya-kaya kepada Kapitan Hitu: ‘Apa2 empat perkara itu?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun empat perkara itu. Maka ia tanya: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka suruan itu menyahut: ‘Ada pun Kapitan Hitu minta ampun daripada orangkaya-kaya sekalian. keempat makanan. benar juga orangkaya kata kepada empat perkara itu. pertama negeri.’ Maka kata Kapitan Hitu ialah kata jeneral itu: ‘Kita tiada turun kepadanya.’ Maka kata orangkaya-kaya tanah Bandan* kepada Kapitan Hitu: ‘Baiklah.

Lain makanannya dan pakaiannya dan apa-apa rampasan dalam orang banyak itu mana sukanya ia ambil dahulu. jika tiada boleh alah negeri itu. ia masuk ke dalam serta bunyi bedil dan riuh dalam negeri. demikian .’ Serta dengan cakapnya orang semuhanya itu. dipalu gendarang parang dan riuh serta bunyi bedil seperti guruh di atas langit. Hatta datang bakda lohor serta dengan kehendak Tuhan sarwa sekalian alam. beta pun tiada kembali. mana kehendak jeneral itu?’ Maka kata jeneral:‘Esok pagi kita naik cobah dahulu. maka diturunkan gurendur Hutman* akan kapitan.’ Maka kata jeneral: ‘Jika bagai demikian itu betapa bicara kita sekarang?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Mana perintah jeneral itu kami kerjakan. Tiada habar kepada yang lain lagi sehingga sana berparang daripada bakda subuh. berhimpunlah di sana dan Wolanda pun duduk di negeri Lontor. maka kata jeneral: ‘Betapa perintah parang orang itu?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Demikianlah parang orang itu. maka Wolanda daripada kapitan Hutman* ia naik dari belakang negeri. dan orang Bandan* pun serta dengan harkatnya. Kemudian daripada itu. seribu real kuberi kepadanya. Maka sekalian kapitan serta orang banyak itu pun pulang kepada kelengkapannya dan jeneral pun pekatahan yang diperjanjikan kepada panglimanya itu semuhanya dikerjakannya. Maka patahlah parang Islam itu. Kemudian tinggalnya itu kepada orang sekalian. Maka kedua pihak berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian. lalu masuk ke negeri Ander dan Waier.taksir beta. tukar-menukar. maka diberinya minum arak pada tempat minuman prings. Ia naik dari belakang negeri dan kapitan Pugel dan kapitan Kuluf* dan kapitan Gemala* dan kapitan Jupun dan kapitan Siyau dan sekalian kapitan serta orang banyak semuhanya naik dari laut di hadapan negeri. Itulah adat berteguhan janji kepada orang itu. Pugel* namanya.’ Lalu ia berteguhan kata dengan jeneral. supaya kita lihat perintah parangnya itu. Lalu undur Wolanda pulang ke kapalnya. kemudian perintah parang kita. demikian katanya: ‘Beta naik dahulu. ia becakap di hadapan jeneral dan orang besar2 semuhanya. tiada boleh masuk ke dalam negeri lagi. maka orang Bandan* pun keluar. lalu kata jeneral: ‘Jika siyapa naik dahulu maka alah negeri itu. jual-beli. hatta datang malam. Beramai-ramaian parang kedua pihak itu daripada waktu duha sehingga datang asar tiada boleh alah. maka jeneral menyuruh panggil kepada orang besarnya serta panglimanya sekalian dalam angkatan itu datang kepada jeneral.’ Hatta datang pagi hari naiklah angkatan itu butul di hadapan negeri. Tellah demikian. maka menyuruh tanya kepada orangkaya-kaya tanah Bandan* sekalian.’ Maka seorang kapitan. Hatta terbit matahari.

Ada pun kepada sekarang ini mana bicara orangkaya-kaya kita dengar. Kemudian kami belayar supaya kami menyampaikan kepada orang besar2 di negeri Wolanda pun dengan kebenarannya. rubuhkan kotamu dan berikan senjata yang adanya itu. maka kata jeneral: ‘Jika hati bennar mau bedamai. Semuhanya itu minta serta anak orangkaya-kaya empat puluh orang itu. karena senjata itu semuhanya dalam negeri itu juga.katanya: ‘Bukankah Kapitan Hitu endak damaikan kita kedua? Daripada orangkaya-kaya tanah Bandan* tiada mau bebaikan. Itulah hal alah tanah Bandan. Lalu belayar ke tanah Ambon.’ Tellah demikian itu maka jeneral menyuruh panggil kepada orangkaya semuhanya. Maka sekarang ini kami endak belayar. Baik juga orang semuhanya cerai-berai itu suruh pulang keruan kepada tempatnya. Jika kepada sekarang ini jeneral mau bebaikan. Alkissah dan kuceriterakan kemudian daripada . lalu ke Jawahkatra* dan orang Bandan* yang tinggal itu semuhanya pindah ke tanah Seran dan Goron*. seribu kali kami sukah. Dragon namanya. lalu dikeluarkan semuhanya serta anak orangkaya-kaya itu.’ Lalu orangkaya-kaya keluar bedamai dengan dia. Jika ia katanya tiada lagi. bennarnya dengan dia. dan empat puluh orangkaya-kaya semuhanya dibunuh oleh Wolanda itu. Maka menyuruh datang mengadap kepada raja Mangkasar minta pindahkan ke Mangkasar. Maka ditipu oleh Wolanda. jika tiada mau bedamai. lalu kata kepadanya bagai kata orang itu. Itulah kesudahan berkellai tanah Bandan.’Maka diberikan dua puluh esfangar* kepada Wolenda itu. marilah kita bedamai. Kemudian daripada itu kata Mai Hasan ibn orangkaya Bulaisi dan orangkaya Orotatan.’ Maka kata orangkaya Bandan: ‘Tiada lagi pada kami. maka suatupun tiada lagi fitna.’ Maka kata Wolanda: ‘Barang seadanya itu berikan kepada kami. Jika mau bedamai. Lalu keluar bunga pala timbang kepada fetor. itulah tanda bebaikan. kemudian beta tunjukan kepada orang yang menaruh dia itu.’ Maka disuruh oleh orangkaya-kaya panggil kepadanya semuhanya datang ke negeri Salamu. maka kita berkellai. kuliling soldadu serta senjata. apahtah daya?’ Maka kata orangkaya-kaya Bandan: ‘Yang tellah sudah itu jangan disubut lagi. Maka orangkaya-kaya semuhanya tiada dapat besangkal lagi. Maka raja menyuruh angkatan ke Seran memuatkan dia datang ke Mangkasar. Maka jeneral serta angkatannya pulang ke negerinya dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. Maka kata jeneral: ‘Sekarang ini upama tulur hayam digulingkan dari tanah Bandan* sampai ke tanah Wolanda: tiada boleh pecah lagi. demikian katanya kepada jeneral: ‘Ada lagi bedil besar dalam negeri Bandan . datang ke tanah Hitu. lalu dinaikan ke kapal. semuhanya delapan ratus delapan puluh orang kepada kapal.

kepada negeri Tunahpatnan. ada ke Laut Mera. Apabila datang musim barat akan perginya pulang. Ada pun San* Tumi* itu ada suatu bukit. sehingga tanah Ambon pun baik juga jika dilapaskan oleh jeneral. Tellah menubus itu.angin pun tedduh. Lalu kata jeneral kepada Mihirjiguna: ‘Ada pun barang kehendakmu itu kami terimalah. Jika tiada boleh kembali ke tanah Bandan* pun. Delf namanya kapal itu. maka dinamai San* Tumi*. Maka ia menyembah. maka Mihirjiguna naik ke darat berhadapan dengan jeneral serta orang besarnya. seketika lagi patah tiyang buritang itu. maka Mihirjiguna masuk mengadapat* perdana Kapitan Hitu. Hatta terbit matahari.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata demikian itu.’ Lalu ia naik kepada sebuah kapal.’ Lalu Mihirjiguna tanya kepada jeneral: ‘Kapal semuhanya itu endak ke mana?’ Maka kata jeneral: ‘Kapal itu endak ke Malaka. Di situlah tempat ia menyembah berhalanya itu. lalu kepada Tirubambu* dan Tirumulawasir* dan Kunmuri*. ada ke bandar Masilpatani*. Karena di situ ada kota Wolanda.’ Maka iakan oleh jeneral dan diberinya seribu real akan bekalnya dan sangat mulliya kepadanya serta kasih lain2 -. ia berhenti entah berapa lamanya. menubus dengan harganya dua real seorang. Nona Sinyora di Mundi* namanya. maka didirikan gerejanya akan tempat berhalanya. Tellah demikian itu berapa lamanya datang ke tanah Keling. lalu naik Mihirjiguna belayar. Bunyi layar seperti bunyi bedil. Hatta berapa lamanya di tengah laut datang tofan angin ribut. Daripada Feranggi duduk dari situ. Hatta berapa lamanya maka datang ke Jawahkatra*. ada pulang ke negeri Holandes.tiada dapat diceriterakan kepada kasihnya itu --. lalu berkata: ‘Beta endak belayar ke Jawahkatra*. beta endak turut kapal yang ke bandar Masilpatani*. kuserahkanlah kepadanya yang kehendaknya itu.lagi lambat musim. tetapi musim lagi lambat datang. Kemudian daripada itu maka belayar sehingga datang ke Palikat*. Maka naik ke darat bejalan ke negeri Pujiciri*. ada menjual anaknya. lalu kepada Nagahpatan*.jeneral belayar membawah kepada orang Bandan* itu. Ada menjual dirinya sendiri. maka belayar dari Pudiceri*.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa kehendakmu belayar itu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kita belayar ini tiada kehendak kepada yang lain melainkan kubicarakan orang Bandan. belayarlah engkau. ada ke Jambi. Lalu ia belayar ke bandar Masilpatani*. ia duduk kepada .’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Beta minta kepada jeneral sementari lagi lambat musim. mau melihat dunia tanah Keling barang seadanya hidupku sehingga datang musim barat. Maka apa kehendaknya Arinjiguna* itu semuhanya dikatakan kepada jeneral pun terimalah kepada kehendak Mihirjiguna itu. ada tengah tiga real.

dan kesukaan dan kedukaan pun demikian lagi. lalu datang ke Banten sehingga datang ke Jawahkatra*. tatkala zaman sultan Muhammad Huli akan kerajaan di negeri Gulgonda. maka ia berenti di sanalah. Dan kejahatan serta kebencian pun demikian lagi. Maka dibaiki suatu petti dilapis dengan tima hitam. maka dinaikan kepada sebuah kapal membawah kepadanya. Dan dikerjakan hamam*. maka gurendur kata kepada Kapitan Hitu: ‘Baik juga kata jeneral kepada kita kedua itu kira-kirakan kepada kehendak Mihirjiguna . sehingga ibu bapa kita yang bennar itu maka kita tiada bertemu. Tellah demikian itu hatta datang musim maka ia pulang. bicarakan Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda serta kotanya itu. Sehingga enam hari dengan kehendak Allah ta`ala wafat meninggal negeri fana datang kepada negeri yang baka pada bulan Rubiu'l-awal dua belas hari pada tahun [1032] Ha. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Arinjiguna* itu seribus* kali beta terima. maka datang ke Ambon masuk ke Kota Laha. maka mandi kepada air yang panas itu. maka diberikan surat itu pada tangan Sifar alRijali. dan orang berumah dalam tanah dan orang tiada berumah selama-lamanya. Berapa lamanya di tengah laut. maka datang masuk selat antara Puluh Merkata* dan ujung Tanjung Cina. Lain daripada itu tiada dapat diceriterakan kepada kelakuan yang indah2. dan orang membuang segala najis manusyia dalam negeri itu.Maka diberikan surat itu kepada Kapitan Hitu dan gurendur. lalu belayar. Pada tatkala itu Kapitan Hitu pun ada di Kota Laha. seperti perbuatan yang kegemaran kepada keelokan serta keinginan hati manusyia. maka beta serahkan kepada dia. maka Mihirjiguna sakit. Dan perbuatan pelbagai yang andak* dalam dunia semuhanya ia melihat karena Masilpatani* itu bandar Kutb Syah yakni raja Gulgonda. pada malam Ahad. jika datang tengah hari maka mandi kepada air yang sejuk itu. Di sanalah ia melihat perhiasan dunia semuhanya lengkap.rumah syaudagar haji Baba namanya. tetapi Kapitan Hitu dan gurendur kira-kirakan kehendak Arinjiguna* itu. seperti orang kaya dan orang miskin. Entah berapa lamanya di tengah jalan. Entah berapa antaranya. Apabila jika dengan baiknya musim yang datang ini suruan ke mari. maka ditaburkan segala bauh-bauan dalam kafan. lalu dimasukkan mayit itu ke dalam petti. ada air sejuk dan air panas kepada suatu tempat harkat kepada segala manusyia. lalu dibaca sendirinya. Di sanalah dimasyhurkan namanya Mihirjiguna itu ‘sultan karanful*. Entah berapa lamanya dalam negeri Betawih. maka ia mati pulang kepada asalnya. Daripada ia tiada empunya untung. Apabila datang pagi hari.’ Tellah demikian itu. Dan pasan jeneral dalam surat kepada Kapitan Hitu dan gurendur Herman Aspel*. kipati syah’.

itu. alah-mengalah sebagailah. Kemudian daripada peninggal perdana itu. Maka kedua kaum Islam dan kaum Nasrani itu berparanglah. Serta kehendak Allah ta`ala. karena kehendaknya Nasrani dan Yahudi itu endak mengarusakkan agama Islam dimasukkan agama Nasrani. sehingga tanah Hitu juga tiada mengikut. Dan kelakuan hulubalang pun ada kepadanya. Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya . itulah sebabnya. Apabila datang dagang. Hatta berapa lamanya maka datang titah paduka serri sultan Ternate suruh bedamai. karena adatnya raja ada kepadanya dan adat bendahara pun ada kepadanya. sentiasa tiada berputusan parang di tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Maka dipertitahkan serta dengan arta disedekakan kepada fakir dan miskin dan orang besar-besar dan dipeliharakan sehingga adatnya. maka tiada jadi kehendak Mihirjiguna itu sebab perbuatan orang itu. makin bertambah-tambah fitnah sebab dagang. Itulah kesudahan pelayaran Mihirjiguna ke tanah Keling. alah-mengalah. Kemudian daripada itu maka kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Syabidin meninggalkan negeri yang fanah itu datang kepada negeri yang baka itu. Lain daripada itu banyak lagi perbuatannya. lalu paranglah gimelaha Luhu dan gimelaha Leliyato serta di tanah Ambon semuhanya.’ Lalu dibunuh Inggeris dan Jupun itu. Maka ia pinda ke negeri Lesiela meneguhkan negeri itu daripada ia melihat salah kelakuan Wolanda itu. tetapi inilah perbuatan Inggeris dan Jupun. Hatta datang berapa lamanya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Hidayat pun uzur. Seorangpun tiada sebagainya di tanah Ambon. sarang-menyarang. sarang-menyarang. Lalu berparang pula. Ialah bengis di tanah Hitu serta kelakuannya. maka gimelaha serta orangkayakaya semuhanya tiada mau rusak dagang dalam bandar. Lalu dinaikan mait itu kepada kelengkapannya orangkaya dan orang dari negeri pun keluar mendapatkan dia di tengah jalan. kedua membuat kotanya di tanjung Koako. kemudian daripada Arinjiguna* itu Unus Halaene akan hukum. artinya negeri sengaji Hatuhaha. maka Wolanda datang rusak kepada dagang itu. Pertama membuat gudang di pantai Huniyasi*. karena ia berjalan atau duduk serta senjata tiada boleh meninggalkan dia dan syaudagarnya pun sangat serta murahnya tangannya. jika datang orang Bandan* pula. ketiga membawah angkatan mendatangi di tanah Seran. artinya sakit lalu pulang ke rahmat Allah ta`ala. sehingga datang ke negeri. tanah Ambon dalam hukum perdana gimelaha Hidayat. Daripada itulah maka digelar nama kelengkapannya itu ‘buang destar’ namanya dan demikian lagi kehendaknya Islam endak mengarusakkan agama Nasrani dan Yahudi dimasukkan kepada agama Islam.

maka ihtiar sendirinya. Segali perastawa mendamaikan dua kaum itu. Maka diturunkan yakni dikeluarkan gimelaha dua bersyaudara. Maka gurnadur Filipi Lukas* dan hukum Halaene serta angkatannya mengadap kepada kapitan laut. Apabila datang suatu fitnah . Maka suatupun tiada fitnah lagi di tanah Ambon dan kapitan laut pun berangkat ke tanah Sula. Itulah kesudahannya datang raja laut di tanah Ambon. Hatta berapa lamanya datang angkatan dari Buton serta anak raja2 dan orang besar2 semuhanya membawah titah serta dengan adat mengadap kepada raja laut. maka tiada ketahuan bicaranya jeneral itu. Maka dibawah kepada gimelaha dua bersyaudara kembali ke Tanah Besar. Hatta datang di sana raja Mataram menyuruh kepada tumengung* Bauhraksah mendatangi kota Betawih. Itulah halnya tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. karena ia dalam kesukaran. maka dikembalikan dianya. dari Tambuku lalu membaiki negeri serta dengan kotanya ia duduk. Alkissah peri mengatakan sekali perastawa perdana Kapitan Hitu pada suatu ketika ia duduk. Wai namanya. Dan di belakangnya Kapitan Hitu datang kapitan lawut baginda kiyaicili Ali ke tanah Ambon. lalu keluarkan kotanya di tanjung Koako itu dan gudang di Huniyasi* itu. Lalu Kapitan Hitu dan hamba raja Kalabata belayar ke Jawahkatra* bebicara dengan jeneral. lalu masuk ke negeri Luhu. Semuhanya diangkatnya bawah ke negeri Lesiela. yakni negeri Luhu. dari Sula lalu ke tanah Banggai. keduanya memerintahkan tatkala perdana Kapitan Hitu lagi dalam negeri Betawih. Maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur. Siyapa tempat kuserahkan tanah ini?’ Lalu diserahkan kepada orangkaya Samu2 menunggu tanah Hitu serta orangkaya Bulan. suruh kembali ke Ternate. Pada tatkala itu johan pahlawan gimelaha alah kepada sebuah negeri. Entah berapa lamanya dengan takdir Allah ta`ala pulang ke rahmat Allah. maka suatu tiada fitnah dalam tanah Hitu. Tellah demikian itu Kapitan Hitu pun datang dari Jawahkatra*. demikian katanya: ‘Ada pun aku ini sudah tuah. lalu pindah ke tanah Buton. tempatnya yang lama. Hatta datang titah disuruh pulangkan.Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya johan pahlawan gimelaha Leliyato ‘buang capeu*’ namanya. dari Banggai datang ke Tambuku. Maka ia bertemu kepada kapitan laut dan barang apa2 bicara dengan jeneral itu semuhanya diceriterakan kepada kapitan laut serta muafakat. sehingga sanalah ia berhenti. Lalu kapitan laut pun berangkat ke Manipa dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. maka gimelaha Leliyato ia duduk negeri Kembali dan gimelaha Luhu ia duduk di Gamusungi. Hatta datang musim perdana pun pulang. Daripada itulah maka parang sabil Allah di tanah Ambon tiada berputusan.

Itulah istiadat mati orang ternama di tanah Ambon. Maka hukum Kakiyali juga membaiki tiada jadi berkelai. maka dalam uzur itu menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya semuhanya. Daripada ialah orang Wolanda itu tiada dapat melakukan kehendaknya kepada tanah Hitu pada zaman itu. Maka ia tiada boleh tahan dirinya lagi.daripada negeri yang lain bagi Islam atau Nasrani. bagi Islam atau Nasrani. Daripada itulah maka ia keluar membawah angkatan menyarang negeri. kemudian daripada itu. melainkan alah sebuah negeri atau keluar arta daripada takluknya sekalian. jangankan sesuatu negeri. apabila ia mati tiada boleh masuk esukaan dan beramai-ramaian atau bunyi-bunyian dalam negeri. Maka ia beramairamaian kesukaannya serta bunyi-bunyian dalam negeri Hitu. yakni sakit serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi orangkaya pun wafat. Maka datang kehendak Allah ta`ala kepada seorang perempuan bedzebai. Maka dipeliharakan serta adat sehingga datang seratus harinya. pulang ke rahmat Allah. Entah berapa lamanya di tengngah jalan. yakni mendamaikan dia. Masya Allah ia meninggal kepada darulfanah datang kepada darulbaka. lalu ia kembali sehingga datang ke negeri. Maka kuceriterakan tatkala itu negeri Iwa* dan orang Wolanda endak berkellai sebab Pati Herman. artinya celaka. yakni meninggal kepada dunia datang kepada akhirat. Hatta lama dengan lamanya orangkaya pun makin tuah serta dengan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala uzur. Maka menyuruh antarkan maitnya orangkaya itu pulang ke negeri. maka orangkaya Samu2 pun uzur. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala itu ada lagi hayat perdana Kapitan Hitu. maka ia datang kepada gurendur endak mengatakan kepadanya. Maka dinaikan kepada Kakiyali akan hukum. maka ia kedua orangkaya Samu2 keluar serta dengan angkatan melepaskan dukacittanya. Hatta berapa lamanya apa2 kehendaknya. Lalu Kakiyali membawah angkatan itu menyarang kepada sebuah negeri Hatumete namanya. Semuhanya ditangkapnya. melainkan hukum Halaene juga tiada mau kecewa kepada nama tanah Hitu. hanya baik2 bicara kepada tanah ini serta . ia juga membaiki. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Allah ta`ala siapa mengetahui? Tetapi pada perasaan diriku. memberi racung kepadanya. Hatta datang maka kata perdana Kapitan Hitu. jikalau seseorang juga pun. maka barang sesuatu fitnah dalam tanah Hitu atau tanah Ambon. maka bersuka-sukaan serta beramai-ramaian dan bunyi-bunyian dalam negeri itu. Karena istiadat orang besar yang ternama. Tetapi kepada fitnah tiada dapat dikatakan lagi daripada nafsu dunialah. kemudian dibagi dua: setengah didudukkan di negerinya dan setengah dibawah kepadanya ke negeri Hitu. wa-'llahu a`lam.

melainkan keempat orangkaya dan Kapitan Hitu serta muafakat.’ Karena pada ketika itu mardan Baros akan Nusatapi nama gelarnya dan mardan Mulutan akan Totohatu nama gelarnya dan mardan Kelisa akan Pati Tuban nama gelarnya dan mardan Kiyoan akan Tanihitumesen. jangan seorang mengaku ia sendirinya.Karena pada tatkala itu perdana gimelaha serta negeri semuhanya berkellai dengan Wolanda. tetapi jika datang masya Allah siyapa membawah tanah Hitu ini?’ Maka kata orangkaya: ‘Tiada dapat dikatakan. Itulah nama keempat serta Kapitan Hitu pada zaman itu. membawah titah datang kepada perdana gimelaha serta Ulima dan Ulisiwa.’ Maka menyahut pula orang banyak itu: ‘Bennar kata tuhanku itu. karena dalam titah itu . maka orang membawah fitnah kepada gurendur itu.tetapi bulum lagi dengan kehendak Allah ta`ala tiada jadi tipunya itu. Maka ia masuk ke tanah Hitu. Maka tiada boleh dikerjakan kehendaknya. maka berapa kali tipu kepada Kapitan Hitu. sehingga negeri Luhu juga dua bahagi. Iapun demikian juga kelakuannya. maka berparanglah dan sebahagi serta kiyaicili Sibori memegang Wolanda membuat gudungnya di negeri Luhu dan paranglah kedua pihak itu. maka digantikan Antoni* akan gurendur. Sebahagi serta perdana gimelaha dan negeri sekalian. Apabila sudah muafakat serta minta angkatan datang berkellai dengan Wolanda.’ Maka gurendur pun percaya. tiada dengan periksyanya. melainkan mana kehendak Allah ta`ala serta orang banyak itulah memangku tanah Hitu. maka dikerjakan. Maka gurendur Artus* dan orangkaya-kaya semuhanya muafakat.’ Dan apa2 pekatahan serta adat tanah Hitu semuhanya dikatakan kepada keempat perdana dan berapa2 pekatahan yang dahulu kala itu semuhanya dikatakan kepada anak buahnya. Kehendak Allah ta`ala siyapa mengetahui. Tellah demikian itu datang masya Allah. sarang-menyarang. sadaha* Semaun namanya. karena Kapitan Hitu sudah mengetahui kelakuan Wolanda itu. maka dinaikan kepada hukum Kakiyali akan Kapitan Hitu serta perjanjian: ‘Apabila barang suatu pekerjaan atau pekatahan. Maka dipeliharakan mait perdana itu dan disedekakan arta kepada segala penghulu agama dan orangkaya-kaya dalam negeri Hitu sekalian dan diadatkan sehingga datang seratus harinya. lalu gurendur Kisil ia belayar ke Betawih. lalu pulang ke rahmat Allah. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. alahmengalah sebahagai juga tiada berputusan.dengan agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Tellah demikian itu entah berapa dalamnya maka Kapitan Hitu menyuruh dua buah parau utusan ke Mangkasar. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu menyuruh ke Mangkasar endak muafakat dengan serri sultan di Goa.

demikian buninya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu dan orangkayakaya sekalian dalam negeri Hitu, serta utusan sadaha Semaun mendamaikan kepada gimelaha dengan gurendur dan membaiki tanah Ambon Ulima dan Ulisiwa, supaya jangan jadi fitnah. Karena perjanjian Wolanda itu seorangpun tiada mengetahui, melainkan Kapitan Hitu juga mengetahui dia dan ia juga menaruh surat yang perjanjian itu.’ Tellah demikian titah itu, maka kata orangkaya-kaya tanah Hitu: ‘Jika bagai kehendak titah demikian itu, baik juga utusan pulang dahulu ke Tanah Besar,kemudian kami mengikut di belakang.’ Maka utusan pulang menanti di pantai Luhu, maka datang gurendur itu pun demikian juga, lalu ia mengikut utusan itu menanti di pantai Luhu. Maka Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya keluar dengan kelengkapannya, lalu menyebarang. Hatta datang ke Tanah Besar, maka gurendur serta angkatannya mendapatkan dia di pantai Warau. Maka kata gurendur itu:‘Marilah kita berkata2 dahulu, kemudian kita masuk ke pantai Luhu kepada orang banyak.’ Maka Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya semuhanya naik kepada kelengkapannya gurendur itu, maka dipagang semuhanya serta Kapitan Hitu. Maka riuhlah orang dalam kelengkapan itu, lalu dikelilingkan angkatan kepadanya. Ia sebuah2 juga ditengah2 serta pasang-memasang, tembak-menembak datang pengelodan rawaki itu seperti titi hujang atas air masing dan asap obat menjadi awan antara langit dan bumi. Dan buni bedil serta* kilat dan riuh seperti ceritera buni sangkakalah tatkala hari kiamat kepada yaum al-mahsyar. Karena angkatan Wolanda itu lima puluh aluan, lain daripada kapal dan patacoh*, maka ia sebuah2 juga melawan dengan dia.Sehingga datang kepada tanjung Kahula Wolanda itu pun undur. Iapun masuk ke pantai Lesiela, lalu menyuruh sebuah perau membawah kepada Patiwani. Ia pulang ke tanah Hitu menyampaikan khabar itu kepada negeri serta dipindahkan negeri semuhanya naik ke atas gunung. Dan undur angkatan Wolanda itu, lalu menyebarang ke tanah Hitu endak menyarang kepada negeri, tetapi tiada dapat lagi. Maka menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya, demikian katanya: ‘Apa kerja pindah? Karena tanah Hitu dan Wolanda itu seperti laki-bini. Apabila bini salah itu melainkan lakinya juga ajar kepada dia, maka beta pagang kepada Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya ini. Demikian itulah halnya orang laki-bini dalam dunia, tetapi keluarlah kita kedua berbicara serta kebaikan.’ Maka kata orang Hitu:‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi kembalikan dahulu kepada Kapitan Hitu dan orangkaya2 itu, maka kami keluar kepada gurendur.’ Maka dilepaskan kepada orangkaya-kaya itu, Kapitan Hitu juga tiada dilepaskan. Maka orang Hitu pun tiada mau keluar kepadanya

serta memerintahkan negerinya. Dan utusan sadaha Semaun pun menangkap kepada orangkaya-kaya dalam negeri Luhu; yang memagang kepada Wolanda itu pun ia bawah ke Maluku. Maka orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon tercangan terlalu khairan kepada perbuatan gurendur dan utusan sadaha Semaun itu, maka tanah Ambon semuhanya tiada ketahui kehendaknya. Setengah berkata: ‘Baik kita berkellai.’ Dan setengah berkata: ‘Baik kita bedamai, karena sudah didamaikan kita dengan gurendur.’ Dan setengah pula berkata: ‘Jangan kita berkellai dan jangan kita bedamai sehingga diam sahanya*, supaya kita menanti kehendak titah.’ Maka kata perdana gimelaha dua bersyaudara: ‘Bennar juga kata orangkaya itu. Tetapi kepada perbuatan Wolanda ini rusak kepada agama rasul Allah di hadapan titah yang dipetuan, daripada ia tiada berupama ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza, nasrun min Allah syah, zill Allah fi 'l-`alamin.Daripada itulah baik kita berparang dengan dia.’ Lalu muafakatlah tanah Ambon semuhanya sehingga sebuah negeri Luhu juga. Maka kata Sifar ar-Rijali di hadapan perdana,Ulima dan Ulisiwa: ‘Ada pun berkellai ini sebab, apabila jika sebab Kapitan Hitu, sabar dahulu, supaya kita menanti titah yang dipetuan dan kabaran.’ Maka kata Ulima dan Ulisiwa: ‘Sebab agama rasul Allah, kedua perkara sebab titah tiada berupama ke bawah dulli yang dipetuan.’ Dan barang apa2 pekatahan kepada hari yang kemudian itu, semuhanya ditaksirkan di hadapan perdana gimelaha dan orangkaya sekalian. Tellah sudah ditaksirkan kata demikian itu, lalu ia beli obat bedil empat balas bahara cengkeh harganya, dan tengah tujuh ratus padang. Lalu ia pulang serta orangkaya gimelaha dan negeri Waibuti ke tanah Hitu serta muafakat dengan orangkaya2 di tanah Hitu. Lalu ia pulang, maka negeri Hitu sekalian berkellai, sehingga orangkaya Tanihitumesen dengan orangkaya Bulan juga tiada berkellai. Ia mengikut kepada Wolanda itu, maka ia jadi musuh kepada negeri Hitu sekalian dan negeri sekalian pun memerintahkan kepada hulu parangnya. Maka digelarnya kepada pendagar Nahoda dan pendagar Pati Husen* keduanya akan panglima di tanah Hitu. Lalu ia pergi merompa di tanah sebelah kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka diteguhkan Allah subhanahu wa-ta`ala, berkat agama rasul Allah serta dengan kemenangannya, maka ia pulang di negeri Wawani, makan-minum, bersuka-sukaan dan disalin kepadanya serta dengan dimasyhurkan namanya johan pahlawan Patiwani. Itulah hasiat* orang parang sabil Allah dalam dunia. Tellah demikian itu pendagar Telukibesi ia pergi merompa pula kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka dengan kehendak Allah ta`ala berkat agama rasul Allah serta kemenangannya, lalu ia

pulang di negeri Kapahaha bersuka-sukaan dan dimulliya kepadanya serta dimasyhurkan namanya johan pahlawan Tubanbesi. Ia duduk di gunung Kapahaha. Itulah faedah orang parang sabil Allah dalam dunia, entah berapa lagi dan* akhirat; karena riwayat pandita dalam syarah Sunusi*, dua perkara orang masuk syurga tiada dengan hisab* lagi, suatu perkara tarekad dunia, kedua perkara parang sabil Allah. Daripada itulah, maka beramai-ramaian negeri sekalian berparang dengan Wolanda itu. Maka kata Wolanda itu: ‘Apabila orang Hitu keluar duduk di pantai seperti dahulu kala itu, maka kami keluarkan Kapitan Hitu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi keluarkan dahulu, maka kami turun duduk di pantai kembali seperti dahulu itu. Jikalau tiada lepaskan dia, kami pun tiada mau keluar.’ Maka negeri semuhanya tiada keluar sehingga orangkaya Bulan, ayah mudanya Kapitan Hitu serta tujuh negeri keluar duduk di pantai serta Wolanda itu. Maka kata orang sekalian kepada orangkaya itu: ‘Betapa kehendak orangkaya keluar itu?’ Maka kata orangkaya: ‘Baik juga kita keluar ikut katanya. Dalam tujuh bulan itu apabila dilepaskan kepada Kapitan Hitu, maka negeri sekalian keluar. Jikalau tiada dilepaskan kepada [Kapitan] Hitu dalam tujuh bulan itu kita berbantahkan perjanjiannya.’ Maka orangkaya keluar serta muafakat dengan orangkaya-kaya, lalu orangkaya Tanihitumesen belayar ke Betawih. Dan apa2 kehendak orangkaya itu semuhanya dikatakan kepada jeneral, maka di belakang orangkaya negeri semuhanya itu keluar masuk kepada musuh itu,tiada lagi berkellai. Maka kata Sifar ar-Rijali kepada orangkaya-kaya dan panglima serta pendagar sekalian, demikian katanya: ‘Apabila perbuatan kita demikian ini?Rusaklah negeri kita dan Kapitan Hitu pun tiada dikembalikan lagi oleh Wolanda itu.’ Lalu ia pergi merompa kepada orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala serta dengan kemenangannya, maka ia pulanglah ke negeri Wawani bersuka-sukaan, maka seorangpun tiada keluar lagi.Entah berapa lamanya datang orangkaya Tanihitumesen, maka orangkaya-kaya menyuruh tanya kepadanya: ‘Betapa kehendak jeneral kepada Kapitan Hitu, lepaskankah atau tiadakah?’ Maka ia berkata: ‘Ada pun kata jeneral, tiga bulan lagi datang kapal dari Bandan, maka dilepaskan kepada Kapitan Hitu.’ Maka negeri Hitu semuhanya menanti sehingga datang tiga bulan tiada juga dilepaskan, maka kata negeri sekalian kepada orangkaya Bulan: ‘Ada pun perjanjian gurendur kepada orangkaya dalam tujuh bulan, sekarang sudah lalu tiga bulan, maka tiada ia mengikut perjanjian itu. Betapa lagi kehendak orangkaya itu, kami ikut juga, tetapi baik orangkaya undur dahulu. Kemudian apa kehendak orangkaya itu katakan

tetapi kepada parang Wolanda itu tiada dapat diceriterakan pelbagai parangnya. membawa titah memanggil kepada gimelaha dan orangkaya-kaya. Daripada ia bulum lagi untungnya. gimelaha Bobawa. maka ia bertemu kapal Wolanda itu. tetapi perdana gimelaha sudah harkat menanti dia. di mana merompa di darat atau di laut tiada lain ia juga. Maka ketika itu tanah Ambon Ulilima dan Ulisiwa semuhanya berparanglah beramai-ramaian tiada berputusan. Lalu datang ke pantai Wawani. entah berapa kapal serta kora2 datang pula. Hatta datang angin daratan. Maka kata johan pahlawan . Apabila masuk matahari. Maka Kipati Luhu dan Pati Tuban dan imam Nusaniwe. sarang-menyarang sebahagailah tiada berhenti lagi. pagi pettang tiada berantara lagi. Tellah demikian itu maka kuceriterakan: di belakang perdana gimelaha Luhu itu johan pahlawan gimelaha Leliyato memangku tanah Ambon serta memerintahkan parang sabil Allah dan berkat agama rasul Allah serta kemenangannya. Sebahagai juga parang kedua pihak itu. lalu melawanlah ia dengan kapal itu daripada waktu duha sehingga datang waktu asar.juga kepada orang sekalian. Hatta dengan takdir Allah ta`ala entah berapa-rapa negeri Nasrani takluk Wolanda itu bebali kepada johan pahlawan gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. sehingga dipindahkan kepada negeri Loin naik ke atas gunung. Dan kuceriterakan perdana gimelaha dan orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. serta perdana gimelaha Luhu pergi mengadap ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza. Hatta datang tiga bulan bertungguan tiada boleh alah. lalu paranglah negeri semuhanya beramairamaian. maka kedua pihak pasang-memasang. Maka kedua pihak berparanglah siang dan malam. supaya kita kerjakan. maka tiada jadi mendatangi dia. datang armada dari Betawih endak menyarang kepada kota Lesiela. Hatta datang musim barat. tetapi iapun tiada turun dan iapun tiada naik sehingga berapa lamanya Wolanda pun pulang dan angkatan Islam pun kembali serta perdana gimelaha. Segali perastawa ia keluar serta angkatannya mendatangi kota dauman*. Pada ketika itu pahlawan Patiwani seorangpun tiada sebagainya di tanah Hitu. nasrun min llah syah. lain daripada itu tiada kusebutkan. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. Maka perdana gimelaha serta Ulilima dan Ulisiwa keluar meromparompa kepada negeri Yahudi dan Nasrani.’ Itu pun tiada juga orangkaya mau undur sehingga empat buah negeri undur naik ke gunung. sekalian pati dan sengaji semuhanya keluar serta dengan angkatan endak menyarang kepada negeri orangkaya Tanihitumesen. lalu ia pulang ke Betawih. lalu kapal pun belayar dan angkatan pun undur ke pantai Wawani.

[kepada] orangkaya-kaya Nasrani itu. Hatta datang musim jeneral pun datang serta angkatannya ke tanah Ambon. lalu ia pulang ke negeri bersuka-sukaan. Itu pun tiada juga dapat. maka dikembalikan kepada Kapitan Hitu. lalu ia pulang ke Kota Laha. Maka Kapitan Hitu pun takut tiada keluar kepada Wolanda itu. makin bertambah fitnah.’ Maka gurendur tiada dengan periksyai lagi. Jangan dikembalikan kepada Kapitan Hitu. maka ia pulang ke negeri Wawani dan negeri sekalian memberi tiga puluh bahara cengkeh kepada jeneral akan pembeli siri pinang. lalu ia pulang ke Kota Laha.betahanlah di sana serta orang dagang Melayu Minangkabau. demikian katanya: ‘Hai syaudaraku. menyarang kepada Lesiela serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota Lesiela. engkau sekalian bukan kami endak kepada hamba sahayamu dan bukan kami kehendak kepada artamu. Maka ditinggal kepada dia lalu orang Hila antar bawah kepadanya ke negeri Wawani. beramai-ramaian dengan dia. Lalu Wolanda itu ke negeri Hatubawah endak menyarang kepada gunung Alaka. lalu ia mengadang ke laut Puluh Tiga. Hatta dengan takdir Allah ta`ala. Maka gurendur menyuruh sebuah kapal belayar membawah khabar kepada jeneral serta bawah kepada Kapitan Hitu ke Betawih. Ganap tanjung dan labuan tiada dapat.’ Maka diiakan orang itu.Sendiri-dirinya juga. Hatta tiada berapa lamanya datang paduka serri sultan Hamza. jika ditahankan ia duduk sehingga tanah Hitu jua pun baik juga.seperti pantun Melayu: ‘Dapakan bunga setangkai jangan diaibkan orang. tetapi kehendak kami itu melainkan kita bersama-sama membawah agama rasul Allah. demikian katanya: ‘Siya-siyalah orangkaya keluar serta Wolanda itu . demikian katanya: ‘Kapitan Hitu menjual cengkeh kepada dagang Mangkasar dan Minangkabau di Puluh Tiga.’ Tellah demikian itu orang membawah fitna kepada jeneral dan gurendur. Itu belum lagi dengan kehendak Allah ta`ala. makan-minum. lalu orangkaya-kaya semuhanya serta Kapitan Hitu pergi ke Kota Laha bedamai dengan jeneral dan gurendur serta orang besar-besarnya. seorangpun tiada serta dia. nasrun . Maka orangkaya gimelaha dan orang semuhanya pindah ke negeri Kambelo. maka tiada boleh alah. Nasrani atau Islam. Entah berapa lamanya dalam Kota Laha. lalu menyuruh kepada kapitan Yon Yan* serta orang banyak mencahari. melainkan Wolanda juga antar kepadanya sehingga datang ke pantai Hila.’ Lalu orangkaya belayar ikut ke Betawih dan apa2 kehendaknya orangkaya itu dikatakan kepada jeneral. ini pula dibawah ke ini pula dibawah ke Betawih. nama orang hitam. Maka negeri Hitu sekalian bersuka-sukaan. Maka kata orang Hitu kepada orangkaya Bulan. makan-minum serta disalini dengan pakaian yang inda2.

ke tanah Ambon serta raja Tidore yang diturunkan daripada kerajaannya itu dan raja Jailolo. Bennar juga titah . Lalu ia pulang katakan kepada jeneral: ‘Bennar juga kata orang itu.’ Lalu menyuruh panggil kepada Kapitan Hitu. Maka orang Kambelo keluar serta pahlawan Patiwani Hitu. Maka tanah Ambon dan Buru sekalian berhimpunlah di sana. maka berparanglah atas bukit itu. lalu pulang orang yang memanggil itu menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuan. manatah surat perjanjian Wolanda itu?’ Maka menyahut pula Sifarijali: ‘Patik minta maaf. ampun seribu ampun. Maka menyuruh fetor Soroi* dan sarinto* pergi periksyai kepada penyakitnya itu. Pada ketika itu ia duduk di negeri Kambelo. patik tuanku sakit. Kemudian berhadapan di bawah dulli yang dipetuan. Tetapi kepada jeneral itu tiada ia percaya. Hatta seketika lagi patah parang Kambelo. Hatta datang titah yang dipetuan kepada orangkaya-kaya dalam negeri Lesidi dan Kambelo. sekalian pati dan sengaji: ‘Rubuhkan kotamu itu dan niyahkan segala orang dagang itu. Ada yang memagang senjata serta santiagu*. ada yang membawah ayapan. zill Allah fi 'l-`alamin. lalu masuk ke pantai Kambelo. Hatta datang maka titah: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka menyahut Sifarijali: ‘Daulat tuanku. Apabila sudah rubuhkan kotanya. maka turun Wolanda itu mendatangi negeri Kambelo. suruh belayar pulang ke negerinya. zill Allah fi 'l-`alamin. ada yang bejalan saja. lalu dinaikan pahlawan gimelaha Leliyato kepada kapal Wolanda itu dan dikeluarkan gimelaha Luhu. Jika tiada sakit. nasrun min Allah syah. sehingga Patiwani jua ia betahan parang dengan Wolanda itu. Ada pun pada ketika itu Kapitan Hitu pun sakit.min Allah syah.’ Maka titah: ‘Jika ia sakit. ada yang membawah arta bejenis-jenis serta bunyi-bunyian mengiringkan kepada payung kerajaan daulat al sultan Hamza. hatta datang titah kepada orang sekalian:‘Mana surat perjanjian dengan Wolanda itu?’ Maka menyahut orangkaya-kaya semuhanya: ‘Ada pun surat perjanjian Wolanda itu ada kepada patik tuanku Kapitan Hitu. Tiada dapat kuceriterakan parangnya. Maka suruh panggil perdana gimelaha dua bersyaudara. sudah datang ke bawah dulli tuanku.’ Tellah demikian itu panglima Nahudimeten serta imam Sifarrijali keduanya keluar datang mengadap ke bawah dulli serri sultan. Maka Wolanda itu serta angkatannya mendapatkan paduka serri sultan. berpalinglah orang sekalian. Tellah demikian itu paduka yang dipetuan berangkat ke tanah Hitu serta Wolanda itu dan negeri Hitu sekalian pun keluar jungjung serta dengan adat semuhanya dikerjakan. Maka berhimpunlah tanah Ambon sekalian berhadapan .’ Maka kotanya itu pun dirubuhkan dan sekalian dagang itu pun belayar masing2 mencahari tempatnya.

pasang-memasang.yang dipetuan itu. serta johan pahlawan gimelaha Luhu berparang dengan Wolanda itu. nasrun min Allah syah. maka orang Hitu dan orang Kambelo serta orangkaya gimelaha belayar mengadap raja Mangkasar minta tolong kepada agama rasul Allah. Liliboy. serta gimelaha Luhu. Maka tanah Ambon pun masing2 pulang ke negerinya. tetapi tatkala ditipu kepada patik tuanku. yang memagang surat pun tiada datang. jangankan surat itu. itulah kesudahannya. dari Luhu berangkat ke Kambelo. lain daripada itu tiada kuceriterakan. lain daripada itu tiada kusubutkan. Maka bersumpah-sumpahan kalam Allah dengan orang Hitu dan berjanjian dan muafakat seperti dahulu itu lagi. Dan kepada tanah Hitu negeri Hila dan negeri Hitulama. lalu pulang ke Maluku. Itu pun demikian juga tiada berputusan. Telah demikian itu maka kuceriterakan kemudian daripada itu tanah Ambon. meninggalkan benua Ternate datang ke tanah Ambon. serta orangkaya Bulan dan orangkaya Tanihitumesen mengikut kepada Wolanda. tiada ketahuan negeri Luhu dan negeri Lesidi. lalu dibawah belayar kepada pahlawan gimelaha Leliyato ke Jawahkatra*. serta Kapitan Hitu dan Pati Tuban dan Tubanbesi. Ada pun negeri Hitu dari Wawani dan negeri Asilulu dan negeri Alan. Sehingga datang ke pantai Eran*. dari Hitu menyeberang ke Luhu. maka masuk pula bicara dalam gudang Wolanda itu.’ Maka sabda yang kerajaan:‘Apabila bagai kata yang demikian itu. negerinya pun tiada diketahui lagi. alah-mengalah. Hatta berapa dalamnya. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. sehingga kelengkapan dari Ternate itu juga serta yang dipetuan di tanah Hitu. ibn al-sultan marhum syah. maka bertemu dua buah kapal . lain daripada itu tiada kuceriterakan. lalu berangkat ke Kota Laha. Entah berapa lamanya di sana.sarangmenyarang sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah di tanah Ambon. Berlawanlah di sana dua kaum itu. karena surat pun tiada. wa-sultan al-Din. menyuruh tujuh buah perau mengantarkan kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya2 pulang ke tanah Ambon. karena ia tempat merampas isi rumah Kapitan Hitu. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. maka berangkat pulang ke Hitu pula. sehinggalah keluar yang dipetuan serri sultan Hamza. Maka serri sultan Muhammad Sya`id.’ Lalu berangkat kepada kelengkapannya dan orang sekalian pun masing2 pulang kepada tempatnya. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. tembak- . Entah surat itu ta dapat tiada kepada Wolanda. Lesidi. Hatta datang kepada hari yang lain. tiadalah kita memutuskan kepada perjanjian itu.

berlawanlah kedua kaum itu. Hatta datang ke tanah Ambon. pasang-memasang.’ Tellah kata demikian itu. setengah masuk duduk di Kambelo dan setengah dibawah ke Hitu membuat kotanya di pantai Seit ia duduk. Maka datang orangkaya2 dari negeri Kapahaha dan negeri Mamala minta maaf kepada Mangkasar dan orang Wawani. demikian katanya: ‘Kami minta maaf banyak-banyak kepada penggawa dan panglima sekalian undur juga. lalu masuk ke tanah Hitu. bersuka-sukaan. karena pasan yang dipetuhan tiada dengan orang Wolanda. maka datanglah entah berapa aluwannya. Maka datang kapal Wolanda itu. Hatta datang pahlawan Patiwani melihat kepada negeri itu. Hatta datang musim. pagi petang pertungguwan tiada berkeputusan. lalu masuk sekali2 tiada dengan was2 lagi. dan karaen Mampo akan hukum dalam angkatan itu dan memagang arta raja itu Marala dan karaen Puli dan Malim dan Besi Lumu*. Dan yang duduk di Kambelo itu pun menyoron parangnya serta orang Ternate dan orang Kambelo alah kepada negeri Saluku. alahkan dia.menembak. Dan daripada Mangkasar pun demikian juga begendang serta bunyi-bunyian. Maka orang dalam negeri itu semuhanya masuk ke dalam gudung Wolanda. maka orang Mangkasar dan orang Wawani pun . Apabila masuk matahari. karena perjanjian raja kepada Wolanda itu belum lagi berubah. Maka ia pulang serta dengan kemenangnya bersuka-sukaan dalamnya. maka orang Mangkasar endak masuk rusak kepada gudung itu. tembah-menembah. maka Mangkasar pun menyorongnya menyarang kepada negeri Hitulama serta dengan kehenda Allah ta`ala alah negeri itu. sangngat berahinya. Endak lalukan kepada gudang Wolanda itu. karena kelengkapan Mangkasar membuat talangkeranya* di darat dan Wolanda membuat di laut atas kapalnya. Siang dan malam. Hatta datang musim barat. maka alah negeri itu. Ada pun gudung itu atas kepada kami. Maka ia bernanti tiada masuk kepada gudung itu. Tetapi penghulu dalam angkatan itu karaen* Bontomanompo dan daeng* Bulikan. kemudian kami rusakkan dia. Lain daripada itu tiada kusebutkan. ia duduk di pantai Seit. makan-minum. Hatta berapa lamanya kapal itu pun belayar. tetapi anak buah kami itu kami keluarkan dahulu. tetapi diteggah oleh penggawa. Lalu menyorong parangnya kepada negeri Larike dan negeri karas sukar mengalahkan dia. sehingga lalu pulang orang sekalian serta Patiwani ke negeri Wawani. Hatta berapa antaranya dalamnya parau dari Kambelo dan dari Hitu datang membawah kepadanya. berlakulah kedua pihak itu serta senjata bekilat-bekilat dan bunyi-bunyian tamburnya dan kucapinya atas kepadanya. maka setengah duduk dan setengah pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar dan minta bantu pula.

Maka orang Kambelo dan orangkaya gimelaha serta Mangkasar tiada jadi menyarang kepada negeri Lesidi. Serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota itu. lalu pulang. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. lalu orang Kambelo dan gimelaha bedamai dengan orang Lesidi. ada mati beddil. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan orang mati pun entah berapa banyak tiada kuceriterakan. sehingga negeri Wawani juga berkellahi dengan orang semuhanya itu serta Wolanda itu. Hatta datang musim karaeng Bontomanompo dan daeng Bolikan serta kelengkapannya pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar kepada serri sultan Muhammad Sya`id alDin. Maka berangkat serta orang Kambelo dan orangkaya gimelaha mendatangi di negeri Lesidi. sebab ia terjung dari atas gunung tiada berketahuan larinya. Serta pahlawan Patiwani menetah. Maka orang Hitu dan Mangkasar mendapat tiga puluh pucu esfangar yang tiada berapi. Maka tanah Ambon semuanya mengikut kepada Wolanda. lalu naik menyarang kepada negeri Wawani. tiada jadi masuk kepada gudung itu. belarilariyan membuangkan senjatanya. Hatta datang musim barat Mangkasar tiada keluar. Lalu patah parang Wolanda itu. menyuruh belayar ke Betawih membawah khabar kepada jeneral Fandiman*. Hatta datang esok harinya. Tellah demikian itu hatta datang berapa antaranya menyorong pula parangnya ke Tanah Besar. ada mati sendirinya. Maka orang Kapahaha dan orang Mamala dan Liyan pun tiada jadi mengrusakkan dia. tiada jadi berhenti.berhenti. masing-masing membawah . Hatta datang esok harinya. Maka sesungguhnya. maka ia keduanya bersama-sama serta angkatan itu menyeberang ke tanah Hitu. Itulah tanda orang kibria dalam dunia tiada mengetahui kehendak Allah ta`ala. sehingga karaen Jipan* dan Manggapa serta hamba raja Marala dan Malim menunggu kepada kotanya di pantai Seit. Itu pun demikian juga sebab orang Kambelo dan Lesidi tiada dengan sesungguhnya. Ada pun kepada Wolanda itu jeneral keluar dengan angkatannya serta tanah Ambon dengan angkatan semuanya mendatangi kotanya Mangkasar itu . karena ada mati oleh pedang. karena orangkaya gimelaha tiada sesungguhnya parang. orang dalam gudung itu pun keluar dan bantu dari Kota Laha pun datang menolong kepada gudung itu. Tatkala itu karaeng Jipang dan daeng Manggapa keduanya bedagang di pantai Kambelo. karena gimelaha Majira serta orang itu dan pun demikian lagi dengan negeri Anin dan Laala. maka orang Hitu dan Mangkasar keluar mengamu. Daripada Anin dan Laala itu pun demikian juga. sebab raja berangkat menyarang kepada raja Bone. Ia duduk di pantai Wawani. maka ditangkis oleh Wolanda itu sehingga sedikit juga putus asfanggarnya* itu. lalu pulang tiada dengan faedahnya.

Maka kuceriterakan pada tatkala itu ada dua orang Kastila lari daripada orang Wolanda datang ke negeri Wawani. maka ia naik ke kapal kepada Wolanda itu dan apa-apa katanya Kastila itu. Ada pun tatkala parang itu hamba raja Marala dua bersyaudara mati dan pahlawan Patiwani luka dan imam Sifar arRijali pun luka pada ketika itu. lalu tidur sekalih di luar kepada suatu balai. Sangkanya bennar orang lari. lalu pulang ke negerinya sehingga meninggal tiga buah kapal menunggu kepada pantai Wawani. daripada ia katakan kata yang baik serta membujuk dengan kata yang manis samanya Islam. maka negeri Hitu sekalian pun menjadi daif daripada ia terkuddun ia. jangankan laki-laki. jika panjangnya lima jengkal tiada boleh masuk ke dalam rumah. Tellah demikian itu orang Kaitetu pun keluar serta orang Seit dan Hahutuna masuk kepada orangkaya Tanihitumesen muafakat. membuat talangkeranya serta gudungnya di pantai Hahutuna. Karena istiadat Kapitan Hitu.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Pergilah engkau. lalu naik ke negeri Wawani. Hatta datang tengah malam ia masuk ke dalam rumah. karena orang itu dengan Hehalesi mengaku hadapan ke pantai Hitu dan menyuruh berparang serta Wolanda. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Ia juga sendirinya. lalu masuk laknat itu.masuk kepada Kapitan Hitu dan Kapitan Hitu pun percaya kepadanya. Sebab itulah Kapitan Hitu menengar fitnah daripada orang itu. . lalu pulang ke rakhmat Allah. sehingga sekali juga makan besi butul dadanya. Entah berapa lamanya dalam negeri Wawani dan orang sekalian pun percaya kepadanya. Tatkala itu Kapitan Hitu pun baringbaring. lalu bawah kapal belabu di tanjung Hulu. Itulah sendirinya beradu tiada dengan penunggunya. seorangpun tiada.dirinya. keluar serta orangkaya Tanihitumesen masuk kepada Wolanda. lima buah negeri. karena ia mengaku di laut atau di darat atas kepada orang itu dengan Hehalesi. Dan laknat itu lari ke kapal beritahu kepada kapitan. Maka tikam tigabelas kali serta dengan kehendak Allah ta`ala tiada makan besi kulitnya. Kemudian daripada itu Seit dan Hahutuna. Maka ia pasan muruyumunya* semuhanya gennap kapalnya serta gudungnya sekalian. Daripada itulah rusak iman orang parang sabil Allah dan melamahkan hati orang itu. maka ia berparang dengan Wolanda. maka ia berkata:‘Kami endak pergi bermain di negeri kicil.’ Lalu keduanya berjalan keluar di pantai Seit. hamba sahayanya sekalipun. Maka naik kepada angkatannya. Maka ia berbicarai dengan gurendur. maka turung. Maka negeri Wawani pun selamat. Hatta datang ajal Allah. Hatta datang kepada suatu ketika ia datang kepada Kapitan Hitu. Itu orang meruntuhkan agama rasul Allah dan orang itu orang munafik. tiada mengetahui tipu dayah Kastila itu.

Apabila berbuatan atau tipu yang jahat bukanlah perbuatan Wolanda. dan kami pun demikian juga seperti kata orangkaya itu. Daripada itulah kita menyuruh datang kepada orangkaya2 itu serta dengan angkunya. karena orangkaya dalam maklum Wolanda itu.’ Maka kata orangkaya dan orang Seit. sehingga datang kepada suatu padang di tepi sungai. Lalu katanya demikian: ‘Orang kaya2-pun tiada boleh keluar. baiklah kami pulang dahulu. Esok harinya maka kami datang. jika tiada baik menyuruh panggil kepadanya bicara di luar. Bolehkah kita bertemu dengan orangkaya2? Tetapi kita tiada boleh naik ke negeri. Baiklah kita sama bertemu di luar negeri. karena gurendur tiada mau. karena kita bersama-sama dengan Wolanda. maka ia menyuruh datang kepada kami itu. lalu keluar orangkaya2 serta orang banyak mengikut kepada suruwan itu. Kita pun tiada boleh naik ke negeri. tiada boleh naik ke negeri. Hatta datang di sana bertemu dengan orangkaya serta orang banyak itu.Maka menyuruh naik ke negeri Wawani.’ Maka kata orangkaya2 Wawani: ‘Jika bagai kata demikian itu. sangkanya kata yang baik. Kemudian maka kita kira-kira apabila baik kita masuk kepadanya. maka dikatakan serta dengan empena menjadi jina. maka ekor mengikut. melainkan dahulu juga kepala. Maka kata orang Seit dan Hahutuna: ‘Tuanku lalu ke pasar Lebelehu. Karena negeri semuanya sudah keluar akan katanya kepada gurendur. Maka menyuruh pula berulang-ulang dengan kata yang baik dan manis. kita empunya perbuatan itu.’ Maka orang sekalian percaya. tetapi kami tiada boleh keluar sebab orangkaya serta Wolanda. Matahari pun masuk. tetapi gurendur tiada percaya karena negeri sekalian itu mengikut kepada dia. Hahutuna: ‘Mengapa maka pulang lagi? . lalu pergi ke sana. Esok harinya ia datang. maka kata orangkaya dan orang banyak: ‘Ada pun kita ada bicara sekarang ini.’ Ia menanti. karena piliyan kata yang benar. menyampaikan kata orangkaya itu kepada orangkaya Pati Tuban dan pahlawan Patiwani serta orangkaya sekalian. Kami pun demikian lagi endah bertemu dengan orangkaya juga.’ Maka suruwan itu pulang beritahu kepadanya.’ ‘Benar juga kata orang itu. Apa salahnya?’ ‘Daripada itu ia ingat kepada negeri Hitu serta agama rasul Allah. Seperkara lagi. karena gurendur tiada mau kepada beta naik. tiada perna ekor dahulu maka kepala mengikut. Baiklah orangkaya2 berhenti. maka muafakat semuanya dahulu.’ Maka kata orangkaya2: ‘Benar kata syaudara kami itu. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu sudah pulang ke rakhmat Allah. supaya kita muafakat mana yang baik itu maka kita kerjakan. orangkaya2 dari Hila dan dari Mamala dan dari Kapahaha bulum lagi datang. karena orangkaya serta orang banyak ada di sana.

Alitan namanya. Dan apa-apa kehendaknya itu semuanya dikatakannya kepada Wolanda. kemudian kira-kirakan kehendak kita. Entah berapa dalamnya. keduanya naik ke kapal beritahu kepada kapitan gurendur. supaya kita dengngar kehendak itu. lalu berjalan di luar masuk utan. Baiklah kita menyuruh kepada suatu negeri. karena panglima Patiwani dan imam . semuanya mengikut kepada Wolanda. lalu keluar masuk utan. sangkanya kata yang benar.Jika begitu tiadalah percaya kepada kami semuanya ini. Maka ia bertemu sekalian rakyatnya dan karaen Jipan* dan daen Manggapa serta rakyatnya dan kiyaicili La Manimpa ibn sipati* di Buton. maka berentilah di sana. lalu orang Seit dan Hahutuna pulang ke negerinya. Apabila datang semuanya kemudian. Wai Luyi* namanya sungai itu. turun bukit dan berapa padang ia berjalan. Demer* namanya. masuk dalam hutan dan orangkaya yang keluar itu pun tiada boleh masuk ke negeri lagi.’ Karena orangkaya sudah mengaku di hadapan orang semuanya kepada barang perbuatan yang jahat itu. Maka semuanya bejalan masuk ke negeri Nukuhali dan negeri itu pun tiada boleh terima kepadanya. lalu ia datang sendirinya membawah kepada orang yang tiada dapat berjalan itu. naik bukit. beritahu kepada letnante dan menyuruh antan-antun dua orang. terbit pandang*. membilang nama orang yang datang itu dan nama panglima serta pendagarnya semuanya yang datang itu.’ Tellah demikian itu entah apa-apa kehendaknya sekalian orangkaya itu. Maka berjalan pula ke negeri Tehala dan negeri Tehala pun demikian juga tiada dapat terima. maka kata orangkaya Tubanbesi: ‘Boleh juga. maka semuanya muafakat: ‘Apa tipu kita? Apabila kita dalam hutan juga tiada tahan lagi rakyat kita ini . Di sanalah ia duduk menanti kepada orang banyak lagi dalam hutan itu.’ Lalu menyuruh ke negeri Kapahaha: ‘Boleh kami masuk atau tiadakah?’ Karena tatkala itu negeri Kapahaha pun bedamai dengan Wolanda. Tellah dipeliharakan paduka kiyaicili itu. Lalu turun Kompenyi*.dijalankan di laut dan orang Hitu dan setengah orang Mangkasar serta daen Manggapa berjalan di darat. maka kirakirakan kepada kedudukan. Jika kita endah masuk kepada suatu negeri. Hatta datang ke pantai Kapahaha. paduka kiyaicili Laksamana pun sakit lalu mati . maka didiamkan kepada suatu dusun. naik kepada tengah malam itu menyarang kepada negeri Wawani. mauka atau tiadaka. maka orangkaya2 serta orang sekalian pun percayalah. seorang Goron* dan seorang Tapihuwat namanya. Serta kehendak Allah ta`ala alah negeri Wawani dan orang dalam negeri itu pun cerai-berai. tetapi sabbar dahulu supaya kami kira-kira serta orangkaya2 semuanya. Maka ia berenti di sana. Entah berapa lamanya dalam hutan itu sebagai juga sehingga datang ke hulu sungai.

Lalu keluarkan angkatan serta tanah Ambon semuanya datang ke pantai Mamala. Maka bertemu kepada suatu padang. ada masuk ke negeri kicil. Maka menyuruh panggil kepada negeri semuanya. Baiklah kita pergi kepadanya minta ampun. ada masuk ke negeri Kapahaha. Empat orang ditindisnya di adapan Wolanda itu. Maka hulubalang negeri Kapahaha. Apabila ia mati maka orang banyak itu masing-masing lari membawah dirinya. Maka diberikan dua buah perau. lalu berparang kedua pihak itu. lalu menembang cengkeh serta kayu yang dimakan buah2-nya. maka datang Wolanda itu mencari dia.’ Itullah kehendaknya orang itu. Daripada itulah kubunnya dengan tanamannya semuanya kepada orang itu mengambil dia. ada masuk ke Hitulama. ada masuk kepada Wolanda itu. lalu ia pulang dengan .’ Hatta didengar kata gurendur demikian itu dan negeri semuanya keluar serta gurendur itu. Baiklah kita di sini supaya kita pun dapat makanan. ialah akan musuhku. Hatta seketika juga undur Wolanda itu pulang ke gudangnya dan karaen Jipan* pun meninggalkan Mangkasar setengah serta Kartulesi menanti kepada suatu dusun. Maka gurendur itu real itu pun diterima dan kepada orang itu tiada diampunkan.Sifar ar-Rijali dan pati Larutu bersama-sama karaen Jipan* serta Mangkasar yang banyak itu lagi dalam hutan. Ada pun tatkala ia dalam hutan itu sekalian negeri itu tiada boleh masuk dalam hutan. demikian kata: ‘Baik siap-siap negeri. Maka menyuruh mengambil perau kepada Kartulesi serta orang yang tinggal dalam hutan itu. Ia membawah setengah serta Patiwani dan Sifar ar-Rijali masuk ke negeri Kapahaha. Maka kata orangkaya: ‘Apa tipu kita? Karena kita sudah bedamai dengan dia. Orang dalam negeri itu pun kita antar akan dia. sehingga negeri Kapahaha juga tiada keluar. maka berparanglah tiga kaum itu dalam hutan di sana. ada masuk ke Hila. Hatta berapa lamanya dalam hutan itu. Maka datang pula Wolanda itu serta orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Umarela namanya. Hatta seketika juga dengan kehendak Allah ta`ala tetanam kaki Kartulesi ke dalam lumpur. sukarlah kepada hidupan kita. lalu ia belayar pulang ke Mangkasar. tiada boleh bergerak lagi serta dengan ajal Allah lalu ia syahid. maka ialah keluar merompa pada orang Nasrani itu. Demikian kehendak orang itu:’Apabila kita sekalian ini masuk ke dalam negeri. Maka Wolanda itu dilabukan kapalanya genap tanjung dan labuan Kapahaha serta mendirikan talankeranya* di pantai itu. ada mati dalam hutan. supaya kami minta minta ampun.’ Lalu orangkaya-kaya masuk pada gurendur serta membawah tiga ribu real akan pembeli siri pinang. ialah rasamu* kepada orang mudah-mudah dalam negeri Kapahaha pada tatkala itu. Tiada berketahuan larinya. jika tiada ia keluar serta aku.

serta menatak sekali juga kennah dua orang. Entah berapa hari dalamnya. maka ia pulang dan Wolanda itu pun apabila petang malam.samalah kedua kaum itu. Hatta seketika lagi ia memandang ke kiri dan ke kanan dan ke aluan dan ke buritan. Sama gagahnya dua pihak itu. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. alah menang Islam pun tiada mau kepada Nasrani dan orang Nasrani pun tiada mau kepada Islam. pasang-memasang. maka ia mengunus syamsyirnya serta melompat naik ke atas kelengkapan Wolanda itu. Hatta sama bertemu kedua pihak itu. Maka ditembah oleh Wolanda itu dua lukanya. Dan demikian lagi daripada pihak Islam. malam atau siang hari. Seorang itu sehingga sedikit juga putus kedua penggal. Maka kedua pihak itu tiada berputusan berparang siang malam pagi petang. maka dilihatnya jurumudi putus tangannya sebelah dan mati. bersuka-sukaannya. Hatta dengan ajal Allah syahidlah ia dalam perau Wolanda itu. maka datang sebuah perau Wolanda itu dari pantai Lumakai*. ia mengadap di luar talankeranya Wolanda itu dan Wolanda itu pun mengawal. Maka ia keluar. melainkan petang malam. sentiasa tiada bertinggalan lagi. maka ia memarintah kepada orang semuanya. ia datang mengadap di pantai di mana datang orang itu . ialah kapitannya dan seorang lagi putus sebelah tangannya ada di jalan lagi.melawanlah keduanya pasang-memasang. satu kennah . sentiasa kedua kaum itu sebagai juga. Lalu ia menyerbukan dirinya kepada Wolanda itu. lalu langgar kepada Wolanda itu. perparanglah kedua kaum itu. Alah mennang daripada kapitannya yang gagah itu seperti letnante dan alferes* dan sarento* serta kapitan Merlaka* ia sangat keras mengasakan soldadu kepada parang. tatuk-menatak sebagai juga tiada berhenti lagi. tembahmenembah. Maka huru-gara majnun pandang kepada johan Patiwani ia dalam kelengkapan Wolanda itu. Apabila kepada pihak Islam itu ia keluar mengambil makanan. makan-minum serta bunyibunyian dalam negeri Kapahaha. Hatta berapa dalamnya serta dengan kehendaknya Allah ta`ala pahlawan Patiwani ia naik kepada sebuah perau menyeberang ke sebelah Tanah Besar. Hatib Lukula dari Mamala tangannya satu bengko dan orang luka pun banyak. maka ia masuk ke dalam sungai Wai Liyi*. sama gagahnya .kemenangnya.tiada ia pulang kepada siang hari. panglimanya dan pendagarnya serta pahlawan Patiwani ialah sangat mengasakan orang mudah2 kepada parang sabil Allah. Maka sama bertemu keduanya lalu berparanglah kedua kaum itu.Maka sama gagah kedua pihak itu. Apabila petang. Apabila sudah langgar. maka keluar orang dari negeri Kapahaha.

maka kata johan pahlawan Patiwani: ‘Hai syaudahraku sekallian. Sehingga tengah jalan. lalu masuk ke Kota Laha pada gurendur. Pada ketika itu mennang Wolanda itu kepada Islam dan kuceriterakan. Ada mennang. lalu naik kepada peraunya. Maka ia pulang bertemu dua buah fergat*. tetapi menyampaikan salamku kepada orangkaya Tupanbesi serta orangkaya2 sekallian. Daripada belum dengan ajal Allah kepada negeri Kapahaha ia lari sendirinya membuangkan senjatanya. Islam dan Nasrani. Jadi kuranglah kuat negeri Kapahaha.pahanya dan satu lagi kenah bibirnya. karena musuh semuanya yang datang suruh minta bedamai. harinya .ada pun tatkala itu orangkaya2 tanah Ambon. Maka ia pasang bedil ditembah ke dalam negeri dan negeri pun menembah kepadanya. . Hatta seketika lagi orangkaya Patti [Tuban] pun luka dan Tullesi pun kuka* Lain daripada itu tiada kusebutkan. maka melawanlah keduanya. Tellah demikian sekali perastawa gurendur sendirinya membawah angkatan endah menyerang kepada negeri Kapahaha. Lain daripada itu tiada dapat kuceriterakan. pasang-memasang daripada waktu subuh sehingga datang kepada bakda magrib. maka kedua kaum itu berhanyutan juga tiada boleh penggayu lagi. melainkan menanti titah paduka seri sultan dari Maluku. Tellah sudah kesudahan kami. karena keduanya sama lellah leti. Maka datang mengambil kepada johan pahlawan Pati[wani]. jangan disamakan kita di belakang tuan-tuan itu. Entah berapa matinya tiada ditentu dalamnya. maka dibelakannya johan itu dan negeri semuanya pun berpalinglah kepada Wolanda itu. karena ia satu negeri juga tiga ratus orang memagang senjata berparanglah dengan negeri sekalian. Maka kedua kaum itu melawanlah. karena sekali menembah tujuh orang dikenanya.maka jatuh ke air masing. itulah hal parang kedua kaum. Hatta demikian itu. Maka negeri tiada mau bedamai. Itulah hal negeri Kapahaha parang sabil Allah. Apabila suda ia mati. Itulah kesudahan hidupan pahlawan Patiwani dalam tanah Hitu. kami sudah belakankan dunia. Maka didapatnya sebuah perau. Ulilima dan Ulisiwa. serta orangkaya gimelaha datang suruh minta bedamai. tetapi baikbaik bicara tuan-tuan semuanya. Segali lagi ia berjalan dari bukit Iyaluli* endah mendatangi negeri Kapahaha. maka dibawah pulang maitnya itu datang ke negeri Kapahaha dan dipeliharakan serta diadatkan sehingga seratus . ada alah. Segali perastawa orangkaya Pati Tupan dan Tulesi adindah orangkaya Tubanbesi bawah dua perau ke Tanah Besar. Maka ia naik ke atas bukit antara gunung Hantu* dan negeri Kapahaha. maka ia lari sendirinya membuang senjatanya. Hatta datang musim utusan pun datang dari Ternate.’ Lalu ia mati. Itulah Allah dan nabi Muhammad juga yang mengetahui.

demikian katanya: ‘Betapa hal kami ini? Karena tanah Ambon negeri sekalian serta dengan Wolanda. sebab ia kalaparang. sehingga kami sebuah negeri juga berparang dengan Wolanda itu. Ada masuk ke dalam hutan.’ Apabila orangkaya2 itu pulang sehingga tengah jalan. Demikianlah hal negeri Kapahaha. Lalu orangkaya-kaya menyuruh menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuhan serta tanya sepata kata. apa-apa sebabnya. tiada dapat berjalan lagi. berparanglah dengan negeri Kapahaha. Mana kehendak seri sultan.Maka menyuruh panggil kepada orangkaya2 negeri Kapahaha. supaya ia dengar kepada titah yang dipetuan. Maka didengar oleh orangkaya-kaya dalam negeri Kapahaha terlalu khairan ajaib sekali kepada perbuatan gimelaha itu. Hatta datang suruwan itu. Maka kata orangkaya-kaya: ‘Ada pun harap kita kepada perjanjian serri sultan tatkala dipersekalikan kalam Allah di negeri Hitu. demikian katanya: ‘Ada pun orangkaya2 yang di belakan mengikut tuan-tuan itu dipagang oleh letnante. Maka kata utusan dan gurendur: ‘Pulanglah orangkaya2. Ada mati di tengah jalan. dimasukkan ke dalam talankeranya. Hatta demikian itu dengan kehendak Tuan Yang Mahatinggi seorang dagang ia lari masuk kepada Wolanda. baik berkellahi atau bedamai. lalu mati kepada tempatnya. karena negeri sekalian menjadi musuh. Barang apa didapatnya. ada masuk ke dalam guwah batu. penyakitan dalam negeri serta kekurangan makanan. maka bertemu orang datang membawah khabar. Dan setengah masuk ke negeri Mamala dan setengah masuk ke negeri Hitulama dan setengah masuk ke Hila. apatah daya untung kita?’ Tellah demikian itu datang bala Allah. di situlah ia diam.maka orangkaya Kapahaha menyuruh tanya kepada orangkaya gimelaha. naik tengah malam serta dengan kehendak Allah ta`ala lalu alah negeri. Itu pun tiada juga datang titah.’ Lalu orangkaya2 itu masuk hutan mencari jalan yang lain. Sebab itulah maka tiada jadi bedamai. Maka ia menunjukkan jalan kepada Wolanda itu. maka orangkaya2 serta orang banyak datang kepada utusan dan gurendur. Ada masuk negeri Tiyal dan orangkaya Pati Tuban ia masuk ke negeri Wai. hatta berapa dalamnya gimelaha pun datang dari Ternate. ada mati di bawah pohon kayu. panggil kepada orangkaya Tubanbesi dan orangkaya2 yang tuah-tuah datang ke mari. Jangankan negeri lain tiada dapat dikatakan negeri Hitu sendirinya pun akan musuhnya. lalu menyuruh bunuh kepada suruwan itu. Maka semuanya itu diberikan kepada gurendur itu dan orangkaya .’ Tiada juga datang titah. supaya kami dengar dan mengetahui kehendak titah itu pun. Maka orang semuanya itu cerrai-berrai masing-masing membawah dirinya. apatah daya untung kita? Tellah demikian itu datang titah.

maka ia lepas. Entah berapa jauhnya berdapat pula dengan musuh. Sebab itulah ia keluar basambuni dakat pantai. lalu ia keluar pergi ke dalam hutan. Dan tiada kuceriterakan kesukarangnya serta kejahatannya yang dicellai orang itu. Hatta matahari masuk. bawah ke Betawih. Sarasara Tahakehena namanya. karena kepada siang hari itu ada orang masuk mencari dalam hutan. Sama pandangmemandang. Maka menyuruh dua orang naik ke negeri. maka ia pun keluar pergi berjalan ke dalam hutan.Tetapi belum lagi untungnya di situ. lalu dipagang kepada dua orang itu dan menyuruh turun endah dipegang kepada orangkaya Tubanbesi. lalu menyuruh kepada Sarasara Tahakehena masu ke dalam negeri Hila. terbit padang dan naik bukit. sehingga kunyatakan tatkala ia keluar itu masuk hutan. Dan kuceriterakan Sifari'l-jalih. Lalu pergi masuk ke hutan sehingga datang kepada suatu padang. terbit padang. maka ia dengar bunyi anjing dalam hutan. seorang Wangsa namanya dan seorang Petinggi namanya kanak-kanak itu. maka ia tiada jadi masuk ke Mamala lagi. Maka orang Hitu bawah orangkaya dua beranak kepada Wolanda itu. Maka ia bertemu seorang antanantan orangkaya Pati Tuban. maka tefakur Sifarijali dalam cintanya serta berkata: ‘Ajaib sekali akan Tahakehena pergi berdapat segera datang hendaknya hidup lasap sekali- .berlindung di dalam alang-alang. ialah menjadi imam dalam negeri itu: ‘Dapatkah Sifarijali masuk ke negeri atau tiada dapat?’ Maka Tahakehena pun lasap sekali-sekali.Tubanbesi ia membawah sebuah perau sudah keluar sehingga pantai Hatuhaha. Entah berapa jauhnya. lalu berjalan keduanya. demikian katanya: ‘Dapatkah orangkaya2 menyuruh seorang atau dua orang turun kepada orangkaya Tubanbesi atau tiadakah?’ Hatta didengar kata demikian itu. tanya kepada seorang anak syaudagar yang besar [penggawa] lagi dermawang pun artawan. lalu pulang ke negeri Hitu. tetapi kiranya orang Mamala pun tiada boleh diterima kepadanya. tiada pulang lagi. lalu keduanya pergi berjalan. Apabila terbit fajar ia keluar di pantai basambuni. Maka dibunuhlah kepada orangkaya dan dinaikan kepada orangkaya Pati Tupan dan orangkaya Beraim-ela dan Tulesi dan Alam dan Teyaka* serta anak orangkaya Tubanbesi dua bersyaudarah. Seketika juga datang anjing serta tuannya Wolanda itu datang. naik kepada kapal. seorang Duljalal dan Pilakan* namanya kanak-kanak itu dan anak orangkaya Kapitan Hitu dua bersyaudara. Maka ia hendak masuk ke negeri Mamala. maka anjing itu diyam dan Wolanda itu pun tiada berkata-berkata. maka musuh itu pun tiada melihat kepadanya. turun bukit. maka ia bersembuni. Daripada belum lagi sampai ajal Sifarijali keduanya Sarasara Tahakehena. Maka ia berhenti di sana.

Maka ia menyuruh pergi kepada Hehalesi. maka keempatnya menyeberang ke Tanah Besar. maka ia datang ke sana bersama-sama orangkaya Daga dan kiyaicili. Sebab itulah. bawahkah atau tinggalkah?’ Maka kata syaudaranya: ‘Kedudukannya baik juga kita bawah. maka ia menanti. lalu mengikut orangkaya itu ke tanah Buru. daripada itulah Sifarijali terlalu ajaib. Hatta berapa lamanya. maka ia datang beri bakal dan makanan. ia keluar berjalan menapi pantai. tiada boleh berjalan kepada siang hari. Apabila masuk matahari. pergi berjalan ke hutan ia duduk kepada suatu bukit. Seketika lagi datang Telesima dan Abubakar serta kanak-kanak. Maka ia terima kepada dia orang. didukun oleh inang pengasuhnya.’ Maka kata imam Rijali: ‘Apa dayah?’ Lalu dipuluh* dan dicium kepada kanak-kanak itu. lalu ia keluar bedamai dengan gurendur itu. ia duduk kepada suatu bukit.’ Telah demikian. Maka Sifarijali minta sebuah perau daripada orang Kelan*. ia pun masuk ke negeri berhadapan dengan imam itu. karena pada ketika itu orangkaya gimelaha Daga dengan kiyaicili [Besi]mulu serta orang Kelan* endah berkelahi dengan Wolanda itu. seorangpun tiada terima kepadanya dan dia pun sembuni tiada mau menunjukkan dirinya kepada orang itu. Baik kita tinggalkan dia supaya ia keluar ke negeri. maka datang perdana gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa datang membawah titah seri sultan Hamza.sekali. Maka bertemulah sama berhadapan bertanya-tanyakan hal-ahwal tanah Hitu dengan Wolanda itu. Maka ia bertemu Sakia dari Waibuti mengambil ikan. sehingga itulah menanti kepada Tuhan Yang Mahasuci. serta Ulu Ahutan membawah sebuah perau cari kepadanya. Hatta berapa dalamnya maka mengambil sebuah perau. Tinggal lagi tiga orang juga. anak orangkaya Kapitan Hitu. Patinggi namanya. duduk di negeri Lesiela bersamasama orangkaya gimelaha. Lalu dipindakan pulang ke negeri Luhu dan pati Kambelo pun bawah kepada Abubakar. Tiada dapat kuceriterakan dukkacittanya. Maka ia bertanya kepada Sakia itu. Sehingga datang ke negeri Seit dan Hahutuna. demikian katanya: ‘Dapat kami naik ke negeri atau tiadakah?’ Maka ia menyahut: ‘Orang itu tiada boleh. lalu dibawah dari negeri ke dalam hutan. tetapi jika datang ke hutan maka kennah hujang dan angin ia tiada boleh tahan.’ Lalu ia ke tanah Kelang. si Papua namanya. Maka kata Sifarijali:‘Apa tipu kita kepada kanak-kanak ini. Hatta terbit fajar masuk ke hutan ia berhenti. Hatta dengan kehenda Allah ta`ala datang gimelaha Hasi dari Luhu endah pulang ke Buru. Hatta masuk matahari. Entah berapa lamanya. maka datang gulawarganya. maka ia diketinggalkannya. Pati Laik namanya. Maka . sehingga datang ke tanjung Sial. maka semuanya diceriterakan oleh syaudaranya itu.

belum lagi sampai pada . tetapi minta ampun kepada piatu yang hina karan.’ Lalu syahbandar memberi tempat kedudukannya. maka datang orang Bone tanya kepadanya: ‘Orang mana?’ Maka menyahut: ‘Kami orang Ambon. Maka karaen Rajipan menyuruh sebuah perau bawa kepada dia dahulu ke negeri dan karaen Rajipan lagi duduk di Buton. esok hari kami bawah makanan ke mari.’ Karena ia takut tiada mau naik ke perau. supaya kita jangan melihat dan menengar tanah kita lagi. lalu menyuruh memberi bakalnya. itu. zill al-nabi fi dar al-mu’min. lalu keluar belayar. Itulah daripada belum dengan kehendak Allah ta`ala.’ Maka kata orang itu: ‘Nantilah di sini. Maka ia belayar ke laut tiga hari datang ke tanah Bone. maka dagang piatu pun terima serta junjung kepada kehenda titah itu. ia senang dirinya. maka ia beli. Ia basembuni dalam hutan. Jikalau ada makanan.’ Lalu memohon kepada orangkaya gimelaha dan kipati. Hatta datang pagi hari orang itu pun datang serta senjata. Maka [kata] orang semuanya: ‘Apatah daya kehenda Allah ta`ala? Baik membuang diri kita tanah lain. maka bertemu kepada karaen Rajipan. Maka diberinya makanan serta kain bajunya. Pada dewasa itu seri sultan paduka Dipatingalowan* ia memerintahkan tanah Mangkasar dan demikian serri sultan Muhammad Sya`id akan kerajaan. demikian katanya: ‘Marilah turun beli makanan itu. makin bertambah kedukaannya. Maka Sifarijali ia masuk mengadap serta menyampaikan hal-ahwalnya ke bawah dulli seri sultan.’ Maka ia pulang menyampaikan ke bawah dulli. . Telah demikian itu ia memohon. Maka datang titah kepada bonto* dan biduwandi*: ‘Tanya olemu kepada orang itu endah ke mana perginya dan apa kehendaknya datang ini?’ Maka menyahut Sifarijali. Maka menyahut Sifarijali: ‘Ada pun titah kepada dagang piatu itu. Maka titah paduka Dipatingalowan*: ‘Lamun jika tida kuterima kepada halmu ini. ia keluar memanggil kepada orang dalam perau itu. Maka tiada lagi bakal orang itu. Tatkala itu raja La Mibilu* akan kerajaan tanah Buton. sehingga karan-karan serta daun meninjau selamanya pergi itu... tiada seperti sabda nabi kepada kita ummatnya: “Wa-'l muslimin ikhwan”. lalu masuk mengadap kepada raja.didengar oleh Sifarijali itu. Segala hal-ahwalnya itu semuanya diceriterakan kepada biduwandi* itu. maka ia pun tiada mau turun ke darat. Hatta datang ke tanah Buton. sultan al-islam.’ Maka Sifarijali pun menanti. maka ia menyampaikan ke bawah dulli yang kerajaan. tetapi kami kurang air dan bakal. lalu pulang ke peraunya. Hatta datang esok harinya datang pengalas serta antun-antun membawah titah menunjukkan kampung serta rumah. bawahlah kemari kami beli. maka menyuruh entah berapa orang.’ ‘Endah ke mana?’ ‘Kami endah ke Mangkasar.

menapi tasik. terbit padang. Tamat sah ya sah. Itulah kesudahan hikayat ini. Wa-'s-salam bikhair amin. .Daripada itulah meninggal negeri mencari sennang daripada ia takut akan Wolanda itu. Itulah halnya orang mendapat kediaman dirinya. Maka ia masuk hutan. sehingga datang ke tanah Mangkasar. menyeberang laut.

Dutch: fregat. firaq: pisah Prins (Maurits van Oranje) André Furtado (de Mendonça) (Jan Willemszoon) Gomale Ternate: kimalaha: kepala soa. daeng: gelaran dalam di Oma Dom Duarte (de Meneses) (Gerrit) Demmer (Antonio) van Diemen Pattingalloang Mal. kepala negeri Gorom Dutch: graaf: bupati Ar.) Pulau Burung alias Nusa Manuk Portuguese: chapeu: capiau Portuguese: charamela: seruling Mak. memawahkan: membagi hasil di antara pengusaha dengan pemilik dipersyahadatkan. alias Mihirjiguna Artus (Gijsels) Portuguese: espingarda: istinggar Herman van Speult Banda nyai Bawang alias Ratu Kali Nyamat biduanda Boano Butonese: orangkaya Portuguese: antena bote: andang_andang layar Pieter Both Adriaan Block (Martensz. Ternate: sangaji: kepala wilaya Portuguese: alferes: letnan muda indah Angasari Anthonio (van den Heuvel) apabila ? Arinjiguna. dipersyuhadakan dipeluk (Estevão) Teieira (de Macedo) Dom Duarte de Meneses Erang Portuguese: espingarda: istinggar (Jan) Pieterszoon Coen Portuguese: fragata. = fregat Portuguese: feitor: kepala perwakilan kompeni perdagangan Ar. haraka: harkat (mulai bergerak) Dutch: gaas: kain muslin .Catatan aji alferes andak Angsari Antoni apalah Arinjiguna Artus asfanggarnya Aspel Bandan Bawang Biduwandi Boanoh bonto bot Bot Bulok Burung Capeu caramela daeng dan ? dauman Daurdia Demer Diman Dipatingalowan dipawahkan dipersyahdakan dipuluh Disera Duarde Eran esfangar Eskun fergat fetor firaklah Frings Furtado Gemala gimelaha Goron graf hamam Hantu harkat has Javanese: sang aji [raja]. hamam: tempat mandi Gunung Setan Ar.

) Hoen Huniase Usen (ibn Jumat) Frederik de Houtman Iha Ialuli Jakatra Jipang Kasingu Portuguese: capitaõ: kapten Portuguese: capitaõ-mor (do mar): laksamana Mak. Rumakai Bisei Lumu Lopu(lalan) Wai Loi makhudum Persia:.hasiat Hehatomi Hisab hoja Holanda hukum Hun Huniyasi Husen Hutman Iwa Iyaluli Jawahkatra Jipan Kakasingku kapitan kapitan-mor karaen karanful Kelan kiyaicili Kompenyi kuka kuluf Kunmuri Kurnilis Lasidi Leitimol Lesiela lil Liyi Lukas Lumakai Lumu ? Lupa Luyi mahudum mardan marinero Masilpatani Matelif melalawat Melo Mengadapat Merkata Merlaka Mibilu Mundi Murucisa muruyumunya Nagahpatan Naseddiki Natahuat Nusatelu Nyuranye Prins Palikat arab: khassiya: khasiat Hehatomu hijab hujaj Portuguese: Holanda [Holland] Ternate: hukum: hakim Simon (Jansz. cili: pangeran Dutch: Compagnie: Kompeni luka (Nicolaes) Colff Konimere. qaranful: cengkeh Kelang Ternate: kaicili. karaeng: raja Ar. Krakatau (Vincent Gijsbert van) Moerlag Mabilu Nossa Senhora do Monte Maurits alias Mauritius Portuguese: Maria.arab: Maryam: meriam Negapatnam Nasidik Hehuat Nusatelo (Maurits) van Oranje Pulikat . Schouten) Lesidi Leitimor Waran-ela alias Hoamoal zill Wai Lee Philip Lucasz. mard(an): yang mulia Portuguese: marinheiro: pelaut Masulipatam (Cornelis) Matelieff (de Jonge) melawat Gaspar de Melo menghadap Pulau Rakata. alias Kanyimedu Cornelis (Jansz.

terangkera: kubu Portuguese: tambor: tambur Sekatikam Tirumala(rájan)patnam Tirumulavásal Portuguese: trombeta: terompet Tuhaha Javanese: tumenggung: hulubalang Thomé Baharullah Ulilima Ureng Steven van der Haghen Jan Outgersz. rasama: mendaftarkan Gerard Reynst Laurens Reael Rosengain sahut Ternate: sadaha: wakil sultan Sagalua sahajanya sehinggalah São Sancho (de Vasconcelos) Sp.pandang Paringsi Pasiruwan Patacoh perastawa pesir Pilakan Pinau pinsu Prings Pudiceri Pugel Pujiciri Rangsi rasamu Rengsi Riyal Rosengaing Saat sadaha Sagaluwa Sahanya sahingilah San Sanco santiagu sarento sarinto Sellat seribus serta sipati Sitaniya Siyal Soroi Suanggi suisa Sunusi Syabidin talangkeranya tamburunya Teyaka Tirubambu Tirumulawasir torompetanya Tuhahan tumengung Tumi ul Ulima Urin Warhaga Yan Yangsi padang Prins (van Oranje) Pasuruan Portuguese: patacho: sampan peristiwa pesiar Pelekolan Binau Portuguese: pinacas. Dutch: pinas: penes Prins (van Oranje) Pondicherry (Marten Jansz. . santiago: berbaris Portuguese: sargento: sersan Portuguese: sargento: sersan Ar. Visscher. shalat seribu seperti Butonese: sapati: mangkubumi Sitania Sial (Wouter) Seroyen Suangi Ternate: suisa: tambur (Abu Abd Allah Muhammad al-)Sanusi Sabadin (ibn Jumali) Portuguese: tranquiera. alias) Vogel Pondicherry Gerard Reynst Ar. Mal. alias Jonge Jan atau Nyong Yan Jasper Jansz.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful