Sifar Ar-Rijal (Imam Rijali) Sumber source: www.anu.edu.

au

Sejarah adalah perkembangan penentuan ide diri, perjalanan perkembangan diri dalam roh. karena roh hakekatnya bebas,maka sejarah adalah perjalanan kebebasan.(Hegel)

(potongan seperti dari sumber)Empunya tanah, karena ia dari mulanya

datang. Itulah kesudahan bangsya Ambon. Alkissah peri mengatakan bangsya Jawa. Maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera tatkala raja Tuban dinaikan kerajaan, maka tiada ia bersettia dan muafakat dengan kaum kulawarganya. Maka suatu kaum dua bersyaudara, seorang kiyai Tuli namanya dan seorang kiyai Dau namanya, dan seorang syaudaranya perempuan, nyai Mas namanya, ia naik serta kelengkapannya membawah dirinya mencari tempat kedudukannya. Hatta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Hitu. Ia masuk dalam labuan Husekaak namanya. Maka tiada melihat negeri dan tiada manusyia, lalu turun daripada kelengkapannya, naik ke darat membuat negeri akan kedudukannya.Hatta demikian itu keluar seekor anjing, maka orang itu dikatakan: ‘Ada anjing, adalah lagi manusyia; jikalau ada manusyia, ada juga negeri.’ Lalu ditangkap anjing itu, digantungkan suatu bungkusan di atas leher anjing itu. Ada pun dalam bungkusan itu serba sedikit daripada alamat negerinya. Lalu dilepaskan anjing itu pulang ke negeri kepada tuannya. Maka apalah* dilihat tuannya bungkusan itu, maka ia melihat alamat serba sedikit itu. Maka ia berkata kepada orang sekalian: ‘Ada juga manusyia di pantai itu.’ Maka ia mengambil buah-buahan akan tanda alamat negerinya, lalu digantung kepada leher anjing itu, dilepaskan pulang keluar ke pantai. Maka dilihat oleh orang itu, maka kata orang itu: ‘Marilah kita pergi periksyai kepada negeri itu’, lalu ia berjalan. Hatta ia datang ke tengah jalan, maka bertemu seorang, lalu dipangil serta dengan dia berjalan menuju kepada negeri dan orang dalam negeri itu pun keluar semuanya berjalan ke pantai. Maka ia bertemu dengan penguluh kelengkapan itu, maka kedua pihak berhadapan bertanyatanyakan kehendaknya datang itu. Maka menyahut penguluh kelengkapan itu, segala hal-ahwal semuanya diceriterakan kepada orang itu. Lalu ia bertanya pula kepada orang negeri itu, maka menyahut orang itu. Segala hal-ahwal mulanya datang itu diceriterakan kepada penguluh kelengkapan itu. Tellah demikian itu, maka kedua pihak bennarnya jual-beli, tukar-menukar beramai-ramaian. Hatta datang malam orang itu pun pulang ke negerinya. Apabila datang esok harinya, ia turun juga jual-beli, tukar-menukar sebagailah. Maka suatupun tiada dalamnya melainkan melakukan kesukaannya. Itulah kesudahan bangsya Jawa. Alkissah peri mengatakan bangsya Jailolo dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera, demikian riwayatnya. Ada pun dalam negeri Jailolo itu dua bangsya, seorang bangsya Jailolo dan seorang bangsya Jawa, yakni anak raja keduanya. Maka dalam

lalu ia berangkat mencari tempat akan kedudukannya. Lalu menyeberang ke tanah Hitu. Ia dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Ambon. maka cerai-berai kelengkapannya itu. Maka ia berangkat sehingga datang ke tanjung Siyal*. Maka disampaikan khabar itu kepada syaudaranya. Alkissah peri mengatakan bangsya Goron* dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera demikian riwayatnya.’ Lalu perau mengambil ikan itu kembali menyampaikan khabar kepada perdana Jamilu. diam dirinya dalam utang. digelar Sellat* namanya. lalu masuk ke dalam sungai. Entah apa-apa kehendaknya gennap puluh dan tanjung sehingga datang ke benua Bacang. hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala keluar bangsya Jawa serta dengan kelengkapannya. maka ia tiada mau pulang lagi.keduanya itu. Hatta berapa lamanya di tengah jalan serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi datang ribut dan angin. demikian katanya: ‘Hai tuhanku. Tellah demikian itu maka sebuah perau daripada pihak bangsya Jailolo ia keluar mengambil ikan. Sama berhadapan. seorangpun tiada mengetahui dia. Seorang pula kaum gulawarganya duduk menjadi penghuluh kepada negeri Waiputih. Ada datang ke tanah Buru. Daripada ketika itu sebuah perau daripada orang yang datang itu keluar memukat. ada datang ke tanah Seran. lalu bertanya-tanyakan: ‘Darimana engkau datang dan di mana engkau duduk?’ Maka ia menyahut: ‘Di darat sungai ini kami duduk. pattik minta maaf ke bawah dulli yang dipetuhan. Itulah kesudahan riwayat bangsya Jailolo. maka ia naik ke darat mengambil tempat akan negerinya. kiyai pati namanya atau Ulima* Sitaniya*. Tellah demikian itu. maka jadi fitna dalam negeri endak berkelai. Maka suatupun tiada hijab pada mereka itu melakukan kehendaknya.[Sekali] perastawa* dengan kehendak Allah ta`ala ia datang kepada suatu tanjung Nukuhali. Maka di belakangnya itu dinaikan bangsya Jailolo akan kerajaan. Tellah sudah paduka syaudara enda dinaikan kerajaan dan negeri yang dipetuhan pun sudah rusak. masuk dalam labuan. Lalu ia pulang sehingga seorang juga. lalu bertanya padanya: ‘Darimana datang dan apa kehendakmu datang ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang dari .’ Tellah didengar warta demikian itu. Maka syaudaranya dan setengah raiyat turun duduk menjadi penghulu kepada negeri Lisabata. maka ia pergi sendirinya kepada orang itu. ia duduk di tepi sungai itu menengok pada orang mengambil ikan itu dan orang mengambil ikan itu pun pandang kepadanya. lalu ia menyuruh rusak negeri syaudaranya. masing-masing membawah aluannya. setengah mengatakan bangsya Jailolo akan kerajaan dan setengah mengatakan pula bangsya Jawa akan kerajaan.

Itulah negeri bangsya Goron*. perdana kipati namanya.’ Lalu keduanya pergi masuk dalam negeri kepada rumah perdana Jamilu.’ Lalu dipersuamikan anaknya serta makan minum bersuka-sukaan dalamnya. Maka ia tersunyum serta barpantung: ‘Harap-harap janji tuhan mengasih dagang piyatu. maka ia mengambil tempat akan kedudukannya. tetapi tiada mengapa.’ Maka kata Jamilu: ‘Betapa kata demikian? Karena ia hamba mengapa maka kau ambil kepadanya? Didengar orang seolah-olah dicellai kepada kita. ada pun kami ini anak dagang. Tellah kesudahan kataku termasyhur didengar oleh orang sekalian. Tellah demikian itu. lettalah kepadanya. maka menyuruh orang membawah kepadanya.’ Lalu ia menyaksyikan sepahnya. Siapa mengetahui tipu dayah tuhan?’ Lalu menyahut demikian katanya: ‘Dagang piyatu minta maaf.’ Maka menyahut: ‘Kujungjung ke bawah kadim yang memeliharakan dan mengasih dagang piyatuh. Jika benar yang di bawah itu. karena ia anak yang empunya negeri. Daripada itulah kurelahkan anaku akan isterimu. lettalah kepadanya. jikalau dengan faedahnya yang baik?’ Maka pula perdana Jamilu: ‘Mengapa maka tiada dengan faedahnya yang baik? Jika duduk serta kami kupersuamikan anakku akan isterimu supaya jangan was-was hatimu kepada kami.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Maukah duduk serta kami?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau. Tellah kesudahan anak cucu Goron* linang. Maka . jika bagai kata demikian itu? Tetapi baik kita periksyai dahulu atau ia maukah atau tiada mau kepada kami. maka kata Jamilu: ‘Pada hari ini dan ketika ini kita sempurnakan janjian itu.benua Goron* dan kehendak kami mencari tempat kedudukan kami. Ada pun yang di atas itu. karena tiada patut hamba dan orang baik. ia duduk di bawah serta memegang penyapu. Ia berhadapan dengan perdana Jamilu bijaksana. lalu masuk serta orang banyak dan permullianya dengan adat sehinggasana. demikian katanya: ‘Apabila bennar anaknya yang di atas itu. Maka jadi empat negeri pada tatkala itu. dari dunia datang ke akhirat akan syaudaraku dan ada pun yang di bawah memagang penyapu itu. Maka perintah dengan baik patut pakaian yang baik kepada hambanya.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya? Untung kita serta kehendak Allah ta`ala.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya lagi.’ Lalu diam dirinya. ia duduk di atas di hadap orang banyak. Itulah sebabnya baik kita periksai dahulu. Tellah demikian itu. tuhan perhamba akan kami. Kepada anaku juga yang menyasal. Itulah nyata orang berbahagia dalam dunia. Maka kata perdana Jamilu: ‘Bennarlah anaku. dan pakaian yang jahat kepada anaknya. Lalu dicampakan serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahasuci lettalah kepada yang di bawah itu. orang besar daripada Goron*.

sekali perastawa dengan kehendak Allah ta`ala dua kaum. maka fitna kedua kaum itu. lalu dikerjakan dan tiada lain lagi daripada keempat perdana itu. lalu turun menyarang . Ada pun Zamanjadi dipindakan Totohatu namanya dan perdana Mulai Mulai dipindakan Tanihitumesen namanya dan perdana Jamilu dipindakan Nusatapi namanya dan perdana kiyai pati dipindakan Pati Tuban namanya. Karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dan tiada dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan. Itulah kenyataan empat bangsya itu. lalu berkellai. Itulah diadatkan zaman datang kepada zaman turun-menurun. Itulah kesudahan kaum daripada pihak empat perdana. Lain daripada itu tiada dimasukkan. dan dinaikan kerajaan pun patut juga daripada bangsyanya datang itu. Dan berjanji-janjian serta berputusan barang sesuatu pekerjaan dalam tanah Hitu. serta dipindakan nama keempat itu. maka dimasukkan tujuh pengawanya serta tiga puluh gelarannya. maka muafakatlah keempatnya. Alkissah peri mengatakan daripada pihak rayatnya tiga puluh gelaran dan daripada tiga puluh gelaran itu tujuh pengawanya yang besar. Tellah sudah muafakat. Zamanjadi endak akan kerajaan dan perdana Mulai pun ia akan kerajaan. Apabila kepada suatu pekerjaan. Dan perdana Mulai pun menghimpunkan segala hulubalangnya. makan minum sehingga menanti kepada angkatan itu. keduanya melakukan kehendaknya. jikalau dinamai bendahara pun benar juga. maka dimasukkan tiga kaum dahuluh. melainkan melakukan kehendaknya. Hatta berapa lamanya seorangpun tiada manang kepada seorang dan seorangpun tiada allah kepada seorang. tiada dengan supuhnya lagi. tiada berubah lagi. Alkissah peri mengatakan tatkala keempat perdana muafakat itu menjadi suatu negeri dan keempat kampung. Zamanjadi dan perdana Mulai. Kemudian daripada itu datang suatu bangsya tiga kaum yang ia datang dari negerinya. Maka dimasukkan tiga kaum itu tiga kampung. Berapa lamanya maka datanglah angkatan itu. Lalu Zamanjadi menyuruh mengambil angkatan dari negeri Selan Binaur datang endak menyarang kepada negeri perdana Mulai. Kemudian daripada tiga itu. sehingga takluk namanya. maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera. jumlahnya tujuh kampung dalam negeri Hitu. Itulah seperti emas.dengan kehendak Allah ta`ala muafakat keempat perdana itu menjadi suatu negeri dan empat negeri itu dijadikan empat kampung dan empat nama. Alkissah peri mengatakan bangsya Ambon dan peri mengatakan bangsya Jawa. Itulah kesudahannya. Ada pun keempat perdana itu. maka keempat perdana muafakat dahuluh. Ialah mengerjakan sesuatu pekerjaan daripada keempat perdana. Itulah dimasyhurkan nama keempat itu dalam tanah Hitu.

Maka datang suruan perdana Jamilu kepada perdana Mulai. Sabar dahulu serta baik-baikan dengan dia. tetapi ia duduk dalam hutan. Hatta berapa lamanya maka perdana Jamilu bijaksana ia pergi kepada perdana Mulai. Maka kita pun masuklah kepadanya melakukan kehendak kita itu.kepada negeri dan empunya negeri pun keluar. Lalu ia pulang masing2 membilang hari yang diperjanjikan itu. Maka angkatan itu pulang dengan dukkacittanya dan empunya negeri pun makan minum bersuka-sukaan dan beramai-ramaian dalam negeri. Hatta seketika juga patah angkatan itu. Sebennar ia datang dahulu. Hatta datang kepada esok harinya pergi pula kepada Zamanjadi. ia kemudian. karena engkau memulai negeri ini. sunyilah negeri. Maka kedua kaum diiakan kata perdana Jamilu itu. Maka kembali angkatan itu tiada boleh allah kepada negeri. maka kedua kaum itu harkat* serta senjata. tetapi Zamanjadi dahulu datang. Aku pun demikian lagi.’ Maka menyuruh pula kepada Zamanjadi pun demikian juga.’ Maka diiakan oleh perdana Mulai. Demikian perinta perdana Jamilu: ‘Apabila datang kepada hari anu.’ Maka kata pula perdana Mulai: ‘Apabila engkau tolong kepadaku. ikutlah perintaku. demikian katanya: ‘Apa tipu kita. Apabila sudah lupa kepada harkatnya itu. himpunlah orang serta senjata. serta berjanjian hari dan ketika itu. Barparanglah kedua pihak itu. maka menyahut perdana Jamilu pun demikian itu juga. karena ia sudah tahu perbuatan kita. maka kata Zamanjadi kepada perdana Jamilu bagai kata perdana Mulai itu juga. Itulah kita perjanjikan. Hatta datanglah kepada hari yang diperjanjikan itu.’ Maka kata perdana Mulai kepada perdana Jamilu: ‘Maukah tolong kepadaku?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau? Tetapi jika ada faedahnya. kemudian berbuat kehendak kita itu.’ Itulah sebabnya. lalu ia keluar berhadapan dengan orang sekalian. Daripada itulah pantai Hitu dinamai Liasela* namanya.’ Tellah berjanji demikian lalu ia pulang. apa barang kehendakmu itu dan apa katamu itu tiada kulalui. Maka ia berkata: ‘Betapa kehendakmu kepada Zamanjadi itu?’ Maka menyahut perdana Mulai: ‘Ada pun kami kedua kaum ini kepada bennarnya siapa akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu bijaksana: ‘Jika kepada bennarnya engkau juga. Bennar katanya ia memulai negeri. lalu keluar. Apabila ia keluar mencari kehendaknya. Maka ia berkata: ‘Apa tipu kita kepada dua kaum ini? . lalu undur daripada karas parang rakyat perdana Mulai. demikian katanya: ‘Betapa kehendakmu kepada orang itu?’ Maka menyahut Zamanjadi serta bertanya kepada perdana Jamilu: ‘Ada pun kami kedua ini kepada bennarnya siapa patut akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika kepada bennarnya Zamanjadi akan kerajaan.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika bagai kata demikian itu.

yang tiada mengikut itu bukanlah kaum kita sekalian. Lalu bertanya kepada perdana Pati Tuban Maka segala hal-akhwalnya semuanya diceriterakan kepada serri sultan. Empat puluh orang pendagar. supaya kita menanti karunia Allah ta`ala. belum lagi kedangaran dalam dunia suatu negeri dua kerajaan. Tatkala itu seri sultan Maluku paduka Zainul Abidin khallada 'llahu mulkahu wa-saltatahu ia datang ke benua Jawa. ’Tellah demikian itu maka menyuruh kepada dua kaum itu segala perastawa perinta kata itu semuanya dikatakannya. itulah sempurna kerajaan. Itulah adat keempat perdana dalam tanah Hitu. maka jadi akan kerajaan. sekali perastawa keempat perdana berhadapan muafakat. maka diiakan oleh dua pihak itu. lalu barparang pada ketika itu. Zamanjadi pun demikian juga tiada mau sembah. perdana Mulai tiada mau sembah. al-hamdu li-'llah. yakni keempatnya bersamakan. Apabila barang suatu pekerjaan melainkan keempatnya berhadapan. Maka perdana Pati Tuban ia belayar ke benua Jawa tuntuti agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.’ Itulah pertama yang memulai perjanjian. Lalu keluar kepada orang sekalian. Maka suatupun tiada ellat lagi dalamnya. Melainkan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala serta orang muafakat. Lalu bersettia dan muafakat serta perjanjijanjian dan bersumpah-sumpahan sehingga datang kepada hari kiamat seperti firman Allah: ‘Inna 'llaha la yukhlifu 'l-mi`ada. Hatta datang musim sultan pun pulang. maka bersettia muafakat dan bersuka-sukaan kembalilah kepada adatnya. supaya menanti kehendak Tuhan Yang Mahamurah berbahagia kepada seseorang akan yang dipetuhan. maka bertemu kepadanya. Baik juga kita kata demikian kepadanya. maka dikerjakan. Ada pun pada ketika ini kita buat demikian pada keduanya: jika ikut kata orang sekalian. Maka keempat perdana itu seorang tiada tinggi kepada seorang dan seorang tiada randah kepada seorang. jadilah empat kerajaan dalam negeri. Sehingga datang ke tanah Bima ada suatu fitnah dengan raja Bima. Apabila tiada mengikut. Kemudian daripada itu jika seorang tiada atau dua orang atau tiga orang sehingga seorang jugapun nama keempat juga. Atau salah suatu mengikut kata ini. Apabila ia keduanya akan kerajaan. yang mengikut itu kaum kita sekalian ini. Apabila keduanya akan kerajaan. karena empat perdana itu seseorang tiada tinggi kepada seseorang dan seseorang tiada randah kepada seseorang. mengiring kepada serri . Alkissah dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Itulah yang bersatuan nama keempat itu selamah-selamahnya zaman datang kepada zaman. dan jika perdana Mulai akan kerajaan. apatah daya sudahlah. yakni antun-antun. maka demikian keduanya.Apabila Zamanjadi akan kerajaan.

sepuluh dengan negeri Hitu. Maka diceriterakan oleh [yang empunya ceritera] perdana Pati Tuban ia pulang ke tanah Hitu.’ Hatta datang . maka ia bertanya bangsya perdana Jamilu. Pada ketika itulah negeri Hitu dan negeri Waiputih serta negeri Eran* ketiganya muafakat bersama-sama. lalu menikam dengan lembingnya kennah kepada sultan Maluku. Alkissah peri mengatakan perdana Jamilu dan peri mengatakan panngeran Japara. lalu menyeberang ke tanah Hitu. Itulah sebabnya dan seperkara lagi nama syaudaraku itu kuberikan kepadanya. berapa kampung dalam negeri kita ini?’ Maka menyahut mankubumi: ‘Ada pun dalam negeri yang dipetuhan sembilan kampung jumlahnya. Maka kuceriterakan yang empunya ceritera demikian riwayatnya. Lalu ia memberi nama Patinggi: ‘Karena nama Jamilu itu artinya kepada bahasa Jawa “jangan mengikut”. akan kadi di negeri Ternate. Tatkala itu nyai Bawang* akan kerajaan. Maka suatupun tiada hisab* melainkan memerintahkan tanahnya serta agama Allah dan agama nabbi Muhammad salla 'llahu alaihi wa-sallama amin ya Rabb al-`alamin. Tatkala perdana Jamilu menyuruh utusan ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. Tellah demikian itu kuceriterakan yang empunya ceritera. Lalu mati hulubalang itu dan raja pun luka. Maka keempat puluh pendagar itu dinaikan kepada raja di atas kelengkapan.sulthan Zainul Abidin.’ Lalu menyuruh kiaicili* Darwis akan utusan ke tanah Ambon meneguhkan pula perjanjian itu. sehinggalah termasyhur Ternate dengan Hitu. Hatta berapa lamanya di tengngah jalan maka serri sultan Zainul Abidin pun wafatlah. lalu negeri Hitu pun masuk iman kepada Allah dan nabbi Muhammad serta agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu ia bertanya kepada perdana yang besar dalam negeri demikian titah: ‘Hai segala perdana dan parwara sekalian. dan serri sultan pun serta menettah hulubalang itu. Semuanya dikatakannya kepada orang sekalian serta dijungjung titah itu. tuhan Bahrul* namanya. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji´un. Ia datang menuju serri sultan. maka mengatakan peri hal-akhwal perjanjian dengan raja Maluku itu. Ia masuk ke pantai Waibuti. Tatkala perdana Pati Tuban ia datang dari tanah Jawa itu. sehingga datang kepada sultan Khairun Jamil akan kerajaan zill Allah fi 'l-alamin. lalu belayar. maka lalu ke pantai Eran* dan dari pantai Eran* itu lalu ke tanjung Siyal. maka semuanya diceriterakan kepadanya. Ada pun tatkala utusan datang ke Ambon itu singga di tanah Boanoh*. Pada ketika itulah bawah kepada pendita yang alim. Hatta dengan ajal Allah maka datang seorang hulubalang raja Bima. maka ia bersettia dan muafakat dengan pangeran. Maka masyhurkan demikianlah riwayatnya: ada pun tatkala serri sultan Khair Jamil akan kerajaan itu.

Maka suatupun tiada ellat dalam tanah Hitu.’ Lalu dinaikan kaum gulawarganya seorang akan kerajaan.’ Apa yang kehendaknya itulah diadatkan daripada zaman datang kepada zaman turun-menurun. sehingga Nyai Bawang* pulang ke rahmat Allah. tetapi kita naikan dahulu seorang akan kerajaan. Daripada itulah maka dikatakan firak. supaya kita periksai kepada faedahnya yang baik beraja atau faedah yang baik tiada beraja itu. sehingga tiada sampai ini juga. yakni artinya ‘raja tanya’.musim utusan itu pun pulang dan orang Japara pun gennap musim tiada berputusan bedagang ke tanah Hitu dan tanah Ambon sekalian sebagailah. Dan negeri Hitu pun firaklah* dengan negeri Japara daripada raja yang kemudian itu kuranlah adilnya seperti raja yang dahulu. Ada pun tatkala masuk iman serta mengesakan Allah subhanahu wa-ta`ala dan termasyhurlah agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu membuat suatu mesjid tujuh pangkat.’ Maka kata pula: ‘Bennar juga kata keduanya itu tiada salah. Hatta berapa lamanya keempat perdana berhadapan serta orang banyak. Kemudian daripada itu. baik beraja. maka kata orang sekalian: ‘Nyatahlah faedah yang baik beraja dan faedah yang baik tiada beraja. Apabila raja itu tiada dengan adilnya diupamakan matahari tiada dengan bercahayanya. tetapi bukan firak. yakni dipawahkan*. Tiada lain daripada keempat . pergi datang berulang2 tiada berputusan.’ Maka kata seorang pula: ‘Demikian faedah yang baik daripada yang tiada beraja. Dan dinaikan hukum* AbubakarNaseddiki* namanya. nama yang dijungjung. maka keempatnya muafakat mengira-mengirakan negerinya. Maka digelarnya Latu Sitania namanya. Ia duduk bejuntai-juntai.’ Dan seorang berkata pula: ‘Daripada beraja baik tiada beraja. Maka seorang berkata: ‘Mana baik beraja daripada yang tiada beraja?’ Maka kata seorang: ‘Daripada yang tiada beraja. Ada pun amar dan nahi serta adat semuanya itu melainkan keempat perdana juga.’ Maka kata keempat perdana: ‘Apa salahnya karena ia kerajaan? Tetapi sehinggalah kerajaan. Itulah kesudahannya negeri Hitu dan negeri Japara.’ Maka seorang pula berkata: ‘Mana faedah yang baik beraja itu dan mana faedah yang baik daripada tiada beraja itu?’ Lalu berkata keduanya: ‘Demikian faedah yang baik beraja. Tellah itu maka dinaikan Maulana ibn Ibrahim akan kadi daripada ia mutakalim daripada alim mahudum* guru sekalian tanah Ambon. maka kuceriterakan yang empunya ceritera. Alkissah peri mengatakan syariat nabbi akhir zaman. Daripada ialah termasyhur agama Allah dan agama nabi Muhammad rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. maka raja naik ke atas balai. kepada suatu hari keempat perdana berhadapan kepada suatu tempat.

Maka diikut belakangnya orang itu. Lalu ia menyuruh kepada negeri yang bukan takluknya. Alkissah dan kuceriterakan tatkala itu perastawa keempat perdana membahagi rakyat. Seorang pengawa empat gelaran kepada seorang perdana. melainkan kehendak Allah ta`ala juga tiada dapat dikatakan. Maka tiada berupama kepada yang empunya negeri serta melakukan kehendaknya dan negeri itu pun tiada diketahui kepadanya.bangsya itu. lalu langgar ke darat. serta menyingsing tangan bajunya. lalu ia pulang diam dirinya kepada halnya. demikian juga kemudian daripada itu. jika beta tiada dapat alah kepada negeri itu. makin bertambah kebajikan dan kepujian. lalu sekali-kali di aluan angkatan itu serta menetta. lalu alah kepada negerinya.’ Tellah didengar kata orang demikian itu. Maka negeri itu keluar dengan angkatan pergi menyerang kepada negeri itu. berbahagia seseorang-orang dalam dunia. Tellah demikian itu. Maka dikata dengan kata yang aib.’ ‘Mengapa maka tiada boleh alah kepadanya?’ Maka kata angkatan itu: ‘Jangan alah. Apa2 kehendaknya tiada ia muafakat dengan keempat perdana. Maka panglima negeri itu keluar. jangan alah naik ke darat pun tiada boleh. Ia minta tolong kepadanya. Itulah kehendak Tuhan Yang Mahamurah kepada makhluknya. demikian katanya: ‘Insya Allah ta`ala berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Apabila kita langgar ke darat. Demikianlah halnya orang itu. maka ia kembali dengan kemenangngannya makan minum bersukasukaan. Hunimoa namanya pantai itu. turun ke pantainya pun tiada dapat.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Betapa perintah parangnya itu?’ Maka menyahut orang itu: ‘Ada pun panglimanya itu terlalu sangat gagahnya. beta pun tiada kembali. Maka kata keempat perdana: ‘Mengapa maka kembali angkatan ini?’ Maka sahut orang itu: ‘Tiada boleh alah kepadanya. Alkissah . Maka kata orang sekalian: ‘Bennarlah perdana Jamilu pahlawan dan bijaksana dalam tanah Hitu. Maka dilepas kepada maslahat itu serta dengan kehendak Allah ta`ala kennah panglimanya itu mati dan orang banyak itu pun undur serta lari. Itu pun tiada dikatakan kepada empat perdana itu. lalu ia becakap di hadapan orang sekalian.’ Tellah demikian itu maka ia membuat suatu maslahat serta dengan panah di aluan kelengkapannya itu. lalu kembali angkatan itu.’ Lalu disalin dan dimuliah kepadanya. Demikian juga keempatnya seorang pengawa empat gelaran turun-menurun. Ia keluar bersuka-sukaan sehingga datang kepada suatu pantai. tiada seupamanya lagi dalam tanah Hitu. lalu sekali-kali di aluan kelengkapan itu. maka ia keluar. Dan kuceriterakan sekali perastawa raja naik kepada sebuah perau. Hatta ia datang. Sebab itulah maka tiada dapat turun. Tiada boleh alah. Hatta lama datang kepada lamanya.

Tubuhnya putih dan matanya seperti mata kucing. jangan sama senegeri kita. Hatta berapa lamanya maka ia memohon setengah duduk menungguh rumahnya dan setengah membawah khabar kepada orang besarnya. untung kami di sini. tetapi ampun dahuluh kepadanya. Pada . maka menyuruh kapalnya datang gennap tahun tiada berputusan lagi. bulum lagi melihat rupa manusyia bagai rupa orang itu. Selamanya umur kami hidup dalam dunia. naik kepada sampang endak pulang ke negeri Portugal. lalu berampas-rampasan serta haru-biru dalam pasar. Kepada zaman itulah maka digelarnya kepada perdana Jamilu ‘kapitan Hitu’ namanya dan berjanjian apabila datang kapalnya.’ Maka kata keempat perdana: ‘Bennar kata hukum dan penghuluh agama. ia tiada tahu bahasa kami dan kami pun tiada tahu bangsyanya. Gennap tahun diadatkan selamanya. kedua Don Jamilu namanya. Maka raja Portugal digelarnya dua nama. Kemudian kita membuat jahat pula. Maka tinggal kapal kami.dan kuceriterakan yang empunya ceritera: sekali perastawa sebua perau Saki Besi Nusatelu* ke laut Puluh Tiga mengambil ikan. Tetapi malim tiada tahu. maka kata penghuluh agama: ‘Salah orang itu melainkan sampai nyawanya. Lalu ditanya kepadanya: ‘Darimana datang dan apa nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang di sini kami sessat tiada tahu jalan. Jadi ramai bandar di tanah Hitu dan termasyhur sekalian tanah Ambon. Maka kami jatuh pesir* ke tanah sebelah dan kapal kami pun tekarang di laut Puluh Burung*. suatu Kapitan Hitu. Maka ia datang membawah khabar kepada perdana Jamilu. demikian katanya: ‘Ada kami bertemu sebua perau di laut Puluh Tiga. Hatta datang lama dengan lamanya serta kehendak Allah ta`ala yang kebaikannya itu dibalaskan oleh Tuhan Yang Mahamurah datang kejahatannya.’ Maka dipindahkan dia ke tanah sebelah kepada tempat yang baik ia duduk.’ Lalu diberinya tempat membuat rumahnya ia duduk. Itulah hal keempat perdana. Lalu kami tanya kepadanya. Hatta datang musim barat. maka diberinya masara persalin kepada Kapitan Hitu. daripada negeri itu tiada beragama dan lagi banyak minuman anggur. maka kami datang ke mari. maka suatupun tiada hujat dalamnya pada ketika itu dan termasyhur nama Kapitan Hitu dari negeri Ambon sampai negeri Portugal. apa hal nama kita didengngar oleh orang? Baik kita pindahkan dia kepada tempat yang lain. karena sudah termasyhur kita membuat baik kepadanya.’ Maka kembali pula bawah ia datang ke negeri kepada perdana Jamilu. Sekali perastawa ia minum mabuk. Maka disampaikan kepada hukum dan penghuluh agama. Seperkara lagi sama makanannya dan minumannya.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Pergilah engkau bawah ia ke mari. Apatah daya.

. Hatta berapa lamanya menjadi fitna. pertama Lekalahabesi dan kedua Tubanbesi. Maka pangeran Japara menyuruh tujuh buah gurap mengantarkan dia. Maka penghuluh kelengkapan itu kira-kiranya sukar karena banyak kafir itu. daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama dan Tubanbesi pun syahid pada ketika itu. Maka dipeliharakan dan diadatkan kepada mayit itu sehingga datang kepada seratus harinya. lalu berparanglah. Hatta datang ke tengah laut antara Jawa dan Bali. Sekali perastawa keempat perdana menyarang kepada sebuah negeri kafir. ia menyuruh angkatan mengadang di tengngah jalan. lalu ia masuk ke pantai Hitu bersama-sama dengan tamannya yang mengantarkan mayit itu dan diturunkan kepada mayit itu. Pada ketika itulah pendagar Tahalele menyerrang buankan dirinya ke tengah tentara kafir itu seperti harimau. makan-minum dan disalininya kepada pendagar Tahalele serta digelarnya pahlawan Tubanbesi dan syamsyirnya Lukululi. jual-beli. makanminum dan bergela-gelaran nama panglimanya itu. Hatta berapa dalamnya pun parang lanatullah itu dan tentara Islam itu pulang serta kemenangnya. Maka keluar kafir itu serta barparanglah kedua pihak itu seperti orang bepasaran. tukarmenukar. Tiada dapat terpandang mukanya oleh musuh itu. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Sorangmenyarang. Bunyi senjatanya diupamakan guruh di atas langit. Maka ia meninggal dua buah gurap sehingga dinaikan orangnya. Tellah demikian itu maka adinda perdana Jamilu belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran Japara. bersuka-sukaan. Maka ia pulang kepada gurapnya. alah-mengalah sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah. lalu naik rampas kepada kapal itu dan orangnya itu habis dibunuhnya. Hatta ia datang ke Bandan. Maka didengar oleh kafir itu. lalu paranglah dengan dia. maka dimasukkan ke dalam petti. sehingga dimasyhurkan dua nama. lalu belayar ke Ambon. maka ia meninggal negeri fanah datang kepada negeri baka. Lalu menyuruh sebuah gurap antar kepada mayit itu dahuluh dan ain inayat naik kepada sampangnya ennam buah itu dan gurapnya itu menanti di tanah Seran. ada sebuah kapal di tanah Bandan*. Dan maitnya itu ditaburkan bauh-bauan. Maka ia menengar khabar orang. maka bertemu kedua kelengkapan itu. Tellah demikian itu maka dihimpunkan orang serta kelengkapan Japara itu pergi menyerrang kepada sebuah negeri kafir. Maka ia pulang dengan kemenangngannya sehingga datang ke negeri bersukasukaan. lalu belayar dibawah oleh angin dan arus jatuh datang ke tanah Seran. Hatta berapa lamanya. maka ia sakit serta dengan ajalnya.ketika itu tiada dikira-kirakan kepada hari yang kemudian. Hatiwe namanya. lalu alah negeri itu.

yang diceriterakan oleh yang empunya ceritera. Kemudian daripada itu mardan Totohatu ibn Zamanjadi ia bertempik. Maka keempat perdana menyuruh orang . masing-masing melarikan dirinya. Apabila Islam mati parang sabil. maka patah parang kafir itu. maka ia naik ke darat. Lalu ia menetta serta merampas panjipanji kafir laknatullah itu. suisa* dan serunai. maka masuk pula parang ke medan. caramela* pelbagailah bunyi-bunyian. Hatta datang seketika lagi masuk pula ke medan. entah berapa-rapa panglimanya. lalu masuk ke medan dan berbunyilah gendang. maka ditankis oleh laknatullah itu. Daripada sanngat marah hatinya kepada panjipanjinya itu. Namanya digantikan Tubanbesi yang mati itu. Alkissah peri mengatakan sultan Maluku demikianlah riwayatnya. patah tulang tangannya yang kiri. lalu menetta. Maka tentara kafir itu cerai-berrai. Maka didirikan panji-panji parang dan tentara Islam pun demikian lagi. maka khabarkan orang kepada negeri Hitu dan tanah Ambon sekalian. Ada pun tatkala itu datang sebuah kapal membawah kepada serri sultan Maluku ke tanah Ambon. jika bulum dilepaskan oleh malak al Zabaniah. Ia masuk ke Kota Laha. karena pintu syurga sudah terbukah.artinya ‘patah tulang’. dalam akhirat bulum lagi diterima oleh malak al Ridwan.’ Yakni artinya bulum lagi masuk syurga. jika bulum lagi lepas daripada azab naraka. lalu naik kepada kelengkapannya kembali serta dengan dukkacittanya dan orang Hitu pun kembali memeliharakan mayitnya itu. Esfinkarnya* putus kedua pangkal. Inilah muafakat orang parang sabil dalam dunia. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang bersembahyang mengadap kepada kiblat.’ Lalu bertempik menyerbukan dirinya ke dalam tentara kafir itu. maka ditangkis oleh pahlawan itu. pendagar parang. Lalu bertempik kedua pihak itu upama guru di atas langit bunyi tempiknya. Panglimanya dan pendagarnya serta dengan harkatnya. Ia beparang tettak-menettak serta kehendak Allah ta`ala kulitnya tiada makan besi. Itulah manfaat orang parang sabil dalam akhirat. Hatta seketika juga mardan* Khatib ibn Maulana dan maradan Tahalele ibn Abubakar Nasiddik keduanya syahid. Entah berapa lagi dalam akhirat dibalaskan Allah ta`ala karena sabda nabi salla 'llahu ’alaihi wa-sallama: ‘Apabila mati Islam. Maka kata pahlawan Tubanbesi: ‘Untunglah aku sekarang pada ketika ini. maka bertempik Umar. maka dalam akhirat suatupun tiada hisab* kepadanya melainkan masuk syurga. maka patah pula laknat itu. Alkissah peri mengatakan parang Don Duarde datang daripada negeri Portugal serta dengan kelengkapannya. Seketika juga himpunkan orang dan panglimanya sekalian serta dengan Den Daurdia*. Maka dipaluh dengan esfingarnya* laknatullah itu.

maka kami pun terima dengan sempurnanya. terlalu ammat gaggahnya.periksyai kepada khabar itu. maka raja pun tercengang tiada boleh bersuarah. Maka keempat perdana pun endak mengulang lagi. Dan negeri Hitu pun pinda ke atas bukit. lalu ditudung pula kepada gendaga itu. Ia naik ke darat. maka datang kapitan Sanjo*. Tanda kasih dan tulus serta kehendaknya itu tellah sampailah kepada kami. Hatta berapa lamanya alah negeri itu.lalu bedamai orang Hitu dan orang Feranggi. karena kita sudah bedamai. betahanlah di atas bukit itu. lalu ia kembali duduk di negeri Luhu serta meneguhkan tanah . demikian katanya: Dapatkah atau tiadakah kami endak menyuruh melalat kepada raja Ternate itu?’ Maka kata gurendur Feranggi: ‘Mengapa maka tiada dapat. Maka negeri semuanya itu takluklah kepadanya kafir itu. lalu kapal pun belayar membawah kepada serri sultan. Maka tanah Hitu serta tanah Ambon sekalian paranglah dengan kafir laknat itu. Pada ketika itu pahlawan gimelaha* Laulata ada di tanah Ambon. lalu membuat kotanya di pantai Hitu. Maka ia parang siang malam. bennarkah atau tiadakah. sarangmenyarang sebagailah parang sabil Allah. Maka ia langgar kepada sebuah kapal. Ialah bennar syaudaraku dari dunia datang ke akhirat. Ulukulu namanya. Empat puluh mata keris dimasukkan ke dalam gendaga Seran dan di atas keris itu has* sehellai dan di atas has itu sirri pinang dan bunga serta bauh-bauan. Ada pun daging darahku sekali pun tiada bagai demikian ini.’ Lalu orang itu pulang serta gendaga itu dan sampaikan salam titah itu kepada keempat perdana. betahanlah di situ.’ Lalu menyuruh melalawat* dengan tipu maslahat. pagi petang tiada berkeputusan. maka naik pula ke atas bukit Mamala. maka menyuruh tanya kepada gurendur Peranggi itu. Hatta berapa lamanya alah pula bukit itu. Dan empat puluh orang gaggah membawah makanan serta gendaga itu di hadapan raja. Alah-mengalah. Inilah tanda berteguhan ikrar dan tasdik. Ialah memeliharakan negeri sekalian serta mengeluarkan angkatan ke tanah Hitu. Alkissah dan diceriterakan yang empunya ceritera. Kemudian daripada parang Don Daurde itu. Hatta lagi maka titah syah alam kepada empat puluh orang itu: ‘Pulanglah engkau bawah gendaga itu dan sampaikan salamku kepada empat perdana. Maka datang orang itu katanya: ‘Bennar juga khabar itu. Maka ia pun mau. maka berulang-ulang beparang di tanah Hitu.’ Maka keempat perdana muafakat: ‘Apa tipu kita karena janjian kita serta sumpahan?’ Lalu menyuruh kepada kapitan* Feranggi itu minta bedamai. Lalu dibukah sendirinya serta pandang kepada keris itu. Ia duduk di negeri Lesiela*. Sehingga keempat perdana dan setengngah negeri tiada berapa itu pinda ke Tanah Besar. Tellah demikian itu.

Itu bersuatuan namanya. . ketiga Latuhalat lawannya perdana Nusatapi. tetapi suatu bangsyanya. Ingatkah lagi rakyat tuhanku atau tiadakah lagi?’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Mengapa maka kami tiada ingat? Ingat juga. Tellah demikian itu dan diceriterakan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe kedua berhadapan kepada suatu majellis serta muafakat dan berjanjian.’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Apabila bagai kata demikian itu. yakni tentukan perjanjian itu. maka disampaikan kepada hukum dan keempat perdana. Itulah perinta hukum Abubakar Nasiddik dan sekalian negeri pun kembali kepada hukum Abubakar dan keempat perdana. kedua Totohatu lawannya Lisakota. Tellah demikian itu. maka kami percahaya. keempat perdana Pati Tuban lawannya perdana Pati Naelai.’ Maka menyahut pula gelaran itu: ‘Bilamana lagi tuhanku maka datang ketikanya dan waktunya? Tetapi negeri tuhanku sekalian itu sekarang inilah datang ketikanya dan waktunya melainkan tuhanku pulang dahuluh di tanah Hitu. Entah apa kehendaknya titah. lalu menyuruh gelaran Tuheasal dan Tuhelusun datang kepada hukum dan keempat perdana. Hatta didengar negeri sekalian di tanah Hitu tellah datang hukum Abubakar daripada Ternate. Suatupun tiada dengan hisab* karena tatkala muafakat itu dipersyahdakan*.Ambon. ia keduanya juga. Ia duduk kepada bukit Hatunuku. ia keduanya juga. Tellah dibunuh itu. Pada zaman itu negeri Hitu sekalian memberi kepala ikan ia upetti kepada keempat perdana. Apabila kasahkitan negeri Hitu. jumlahnya dualapan perdana lima bangsyanya. nyiyahkan kepada kafir itu dahulu. Lalu dipepatutan karena negeri Hitu pun keempat perdana itu empat bangsyanya dan Nusaniwe keempat perdana juga. Tellah demikian katanya: ‘Sudahlah bagai kehendak tuhan-tuhan itu. maka suatupun tiada ellat sehingga melakukan parang sabil Allah daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. lalu dibunuh kafir yang dalam negeri itu. maka hukum Abubakar pergi mengadap kepada serri sultan di Maluku.’ Maka hukum Abubakar dan keempat perdana pada ketika itulah pulang ke tanah Hitu.’ Lalu ia pulang memberitahukan kepada negeri sekalian. pulanglah engkau. tetapi bulum lagi datang kepada ketikanya dan waktunya. Nama gelaran negeri Henalale dinamai Hehahitu dan gelaran negeri Latua dinamai Hehatomi* namanya. atau kebajikan negeri Nusaniwe. Lalu Lalu dipepatutan: pertama Pati Lupa* lawannya perdana Tanihitumesen. Hatta berapa lamanya bertambah -tambah kebajikan dan kemerahan. maka ia pulang ke tanah Ambon. Daripada itulah negeri Nusaniwe ia pinda datang ke negeri Hitu. demikian katanya: ‘Negeri sekalian empunya sembah datang ke bawah kadim tuhanku.

Segali perastawa gimelaha Kakasingku* keluar dengan kelengkapannya. Ia datang akan bendahara di tanah Ambon serta kaum gulawarganya gimelaha Haji dan gimelaha Sakatruana. Itulah daripada pihak bendahara. ada mennang. kedua cili Kodrat. maka dibawah kepada perdana Jamilu. Liliboi dan Larike.’ Ada pun perjanjian ini sehingga Alan. Dan daripada pihak hamba raja pertama Kalaudi dan kedua Usman dan ketiga Kabutu Malu dan keempat Sagaluwa*. Asilulu suatu juga. ada yang dimennang. pun ia pergi datang berulang-ulang membawah titah sebagailah. keenam Ambalau. bersama-sama datang ke negeri Hitu. sekalian keluar dengan kelengkapannya mendattangi sebuah negeri. Tellah demikian itu dan diceriterakan daripada negeri Urin* dan Asilulu. demikian itu katanya: ‘Apabila jika datang kebaikannya pun kita bersama-sama. karena pada tatkala itu sangat parang sabil Allah di tanah Ambon. Lain daripada itu tiada kuceriterakan sehingga ibn bendahara: pertama gimelaha Kakasingku* dan (kedua) gimelaha Jamali dan (ketiga) gimelaha Kulabu dan keempat gimelaha Aja dan kelima gimelaha Basi dan keenam gimelaha Angsari*. Maka datang angkatan kafir laknat bantu kepada negeri itu. ada yang menyarang. sebagailah kedua pihak itu tiada berputusan lagi. maka ia bertemu dengan angkatan Nasrani di tanjung Mamala. tetapi dalam martabat negeri Hitu. Daripada itulah maka tatkala ia bertemu kepada orang Peranggi itu. Wakasihu dan Urin*. maka datang kepada negeri Asilulu. tetapi dalam pihak Ulima.Itulah kesudahan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe. ketiga cili Abu Syahid dan keempat cili Kaba. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan sekalian ini termasyhur pendagar. Maka datang kepada kerabat serri sultan daripada bangsya raja: pertama kiyaicili* Cuka. Ada parang di darat. Maka keempat perdana menerima kepadanya itu serta dengan berjanji-janjian. keenam cili Ici dan ketujuh cili Aya. kelima Sibangua. lain daripada itu tiada kusubutkan. Kemudian daripada itu dan kuceriterakan. Serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi sekali-kali dengan kelengkapannya dan mayitnya perdana Kakasingku* pun sabil Allah tiada kettahuan lagi. tatkala bulum lagi dinaikan kapitan laut. kedualapan baginda cili Ali. Alkissah peri mengatakan johan pahlawan gimelaha Rubohongi. jika datang kejahatannya pun kita bersamasama. Maka kedua pihak . Lalu melawanlah kedua angkatan itu daripada waktu duha sehingga datang kepada bakda lohor. Pun ia utusan. kelima cili Naya. ada disarang. Sungguhpun namanya Ulisiwa. ada parang di laut. Latu namanya. Bennar juga dalam pihak Ulima.’ Dan suatu lagi dijanjikan juga: ‘Apabila jika orang dari sebela pihak Ulisiwa endak masuk muafakat serta negeri Hitu.

Hatta datang malam masing-masing pulang kepada tempatnya. Lalu bertempik kedua pihak itu seperti datang tofan bakilat-kilat dan . maka patah parang Islam itu. Maka kedua angkatan itu sama bertemu di tengah jalan antaranya Hitu dan Kota Laha. Tatkala perdana Tubanbesi belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangngeran minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian jualbeli. Itulah kesudahan parang kiyai Mas di tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Apabila datang esok harinya demikian juga. Maka negeri ke dalam kotanya dan orang itu pun mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. Maka dipandang oleh kafir laknat tempat itu sunyi dan kotanya itu pun tiada manusyia. dua bersyaudara gimelaha Angsari* dan Liwa alDin. Dan panglimanya yang gaggah dalam angkatan itu Martajiwa namanya dan seorang Panarukan namanya dan seorang pula Pasiruwan* namanya. karena Jamali alDin itu pahlawan yang termasyhur. Sebab pada ketika itu baginda cili Cuka ia menjadi kapitan laut. Maka angkatan itu sekalian kembali masing-masing ke negerinya. hoja* alim mahudum*: ketiganya syahid. maka ia bertemu kepada kafir laknat itu. lalu masuk ke dalam negeri. Hatta datang musim. Alkissah peri mengatakan parang kiyai Mas. Maka panglimanya yang gaggah itu syahid. Hatta ia datang ke tanah Hitu dan orang Hitu pun keluar angkatan serta ia mendatangi negeri kafir itu. sekali perastawa keluar angkatan Islam mendatangi negeri kafir dan angkatan kafir pun keluar. lalu ia masuk. Daripada itulah maka tiada berpaling apa tipu orang banyak serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi daripada kesudahan hidup manusyia dalam negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang berhadapan serta dengan hidangan karena sangat maksud Islam ke sana kepada kafir laknat itu. maka pangeran menyuruh kepada kiyai Mas serta kelengkapannya. Laknat itu alah kepada kota Islam itu. maka ia syahid serta kelengkapannya pada ketika itu juga. Ia undur lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke negeri Hitu. maka ia belayar kembali ke tanah Jawa. tiada berputusan berkawal-kawal kedua tentara itu. Dan orang sekalian itu pun lari masing-masing membawah dirinya sehingga gimelaha Jamali al-Din. Hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala kepada pihak Islam itu pergi barjalan ke sini dan orang kawal itu pun serta dengan alpanya ia tidur. Dan Kalaudi pun dengan kelengkapannya masuk. ketiganya pendagar parang. Alkissah dan kuceriterakan yang empunya ceritera. sendirinya memeggang panji-panji serta membaca salawat.

Kemudian daripada itu datang pula angkatan itu ke tanah Hitu. ia meninggal sendirinya pulang ke negeri Hitu. lalu undurlah keduanya angkatan itu. daripada ajal itulah meneguhkan hati manusyia serta memberikan kesudahannya. Ada pun pada ketika itu ada juga suruan pangeran. hulubalang Pati Lihat namanya. Pada mati dan luka itu tiada dikira-kirakan lagi. lalu undurlah kelengkapan Islam itu kembali dengan dukkacittanya. ketiga orangkaya Watimena dan raja Rosengaing*. kedua kapitan Atijauh. Hatta datang musim. tetapi tiada masyhur parangnya itu. lalu patah parang kafir itu dan angkatan Islam itu kembali serta kemenangannya. Itulah kesudahan tanah Bandan* datang ke tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.bunyi senjatanya diupamakan guruh dari atas langit dan asapnya senjata itu menjadi awan antara langit dan bumi. Dan parangnya itu daripada waktu duha sehingga datang kepada waktu asar . Ada pun dalam angkatan kafir itu pun demikian juga luka dan mati. Itu pun tiada juga jadi kota. maka melawanlah kedua angkatan itu. Asapnya itu menjadi awan menudung kepada kedua angkatan itu tiada berkenalan. Maka negeri Bandan* sekalian keluar angkatan ke tanah Hitu. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala sebuah kelengkapan Islam. Hatta berapa lamanya datangnya itu dan negeri Hitu pun keluar angkatan serta dia bersama-sama mendatangi kafir laknat itu dan kafir itu pun keluar angkatan. Sehingga datang musim ia pulang. Alkissah dan kuceriterakan johan pahlawan Tahalele ke tanah Bandan*minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Masingmasing pulang kepada tempatnya. maka ia kembali ke negeri Hitu. Segali . Maka didapat oleh kafir laknat itu. tetapi penghulu yang besar dalam angkatan itu pertama kapitan Falat. Dan angkatan Ferangi pun keluar sama bertemu di pantai Kota Laha. maka baginda kiyaicili pun syahid. Entah berapa aluannya. maka dilanggar sebuah kapal. Hatta hilang awan itu. Islam pun dukacitta hatinya dan Nasrani pun demikian lagi. Ia membuat kota di pantai sebelah berhadapan kota Ferangi. Hatta terbit fajar kepada bakda subuh keluarlah kedua pihak angkatan itu berlawanlah dan bunyi senjata itu tiada dapat dikatakan. makan-minum bersukasukaan. lalu pulang ke tanah Bandan. Alkissah dan kuceriterakan oleh yang empunya ceritera sekali perastawa orang Hitu keluar dengan kelengkapannya. Tuhahan* namanya. Kemudian daripada itu pergi alah kepada negeri. Dan daripada orang luka dan mati itu tiada kuceriterakan. Hatta lama dengan lamanya sebagai juga tiada berputusan parang sabil Allah. itu bukan dialah oleh Ferangi. tebakar oleh api obat bedil sendirinya. Itulah hal parang sabil Allah. Hatta dengan ajal Allah.

Dan kuceriterakan hulubalang kafir laknat itu pertama Don Duarde. Itulah parang sabil di tanah Ambon.hulubalang yang termasyhur dalam tanah Hitu. pahlawan al-Din. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. maka ia bertankis-tankisan dengan perisainya serta undur datang kepada air sehingga lututnya. keenam Mahir pendagar. sebab sudah dipindahkan ke Tanah Besar. Kuceriterakan menang Islam kepada kafir itu: sekali alah . Itulah sangat parang sabil Allah di tanah Hitu. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. sungguh pun disubut tanah Ambon. biarlah aku sendiri keluar dahulu. Apabila tiada patah orang itu. lalu ia keluar angkatan. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Rubohongi ia pulang ke rahmat Allah meninggalkan negeri fanah datang kepada negeri yang baka.perastawa keluar angkatan kafir laknat itu serta orang Tidore dan orang Buru mendatangi di negeri Hitu dan orang Hitu pun harkat menanti di pantai. Masing-masing lari terjung ke dalam air berenang kepada tempatnya sehingga hulubalang Sulaiman: maka ia tiada paling mukanya. sehingga inilah dimasyhurkan sangat parang kafir di tanah Ambon. Tatkala pada zaman itu alah menang sama kedua pihak itu. tuhan-tuhan sekalian keluar. Hatta datang angkatan itu lalu turun. kedua kapitan Sanco*. maka hulubalang Ulu Ahutan ia becakap di hadapan orang sekalian: ‘Jangan dahulu orang keluar. ketujuh pendagar Nahoda. Lain daripada itu tiada kusubutkan melainkan Jumat. ketiga Paulo Kastanya dan Dan Tamura dan Dirgurumaridisi dan Siku Kisua dan Don Disera* dan Fernando Melo* dan Antoni Laliru. Kehendak kafir itu menggagahi akan mayit bendahara itu.’ Lalu ia bertempik ke dalam tentara kafir itu serta menettak. Kadang-kadang Tanah Besar masuk kepada parang. sehingga Jumat pahlawan al-Din ada. ketiga hulubalang Hatib Tunsulu. tetapi tanah Hitu juga parang siang dan malam tiada berputusan. Karena tatkala zaman parang itu hulubalang dan pendagar ada semuhanya -.pertama Ulu Ahutan. tetapi tiada dapat lagi. Lalu ia menyerrang kepada negeri Hitu. kelima Umar pendagar. Maka pada ketika itulah perdana Kapitan Hitu memagang senjata. kedua hulubalang Hasan Pati. Sebab itulah maka dikatakan tanah Hitu di belakang perisyai dan Tanah Besar di dalam perisyai. Tatkala itu sekalian hulubalang serta pendagar semuanya tiada. Hatta seketika juga patah parang kafir laknat itu. Ialah yang termasyhur pendagarnya dan terlalu amat gagahnya daripada sekalian. Maka dihabarkan orang kepada kafir laknat itu. kedualapan pendagar Nasiela -. ia masuk parang kepada tentara kafir itu. maka patah parang laknat itu. tetapi ia dalam uzur.keempat Pati Baraim.

Dan menang kafir kepada Islam pun demikian lagi. demikian katanya: ‘Marilah kita bedamai dan bebaikan dunia tanah Ambon. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. orang hitam kepada orang Hitu. maka bayar empat puluh bahara. termasyhur dalam negeri Wolanda. Dan kuceriterakan yang empunya ceritera. Kapal serta senjatanya dan orang putih kepada Wolanda. Dan diperjanjikan upahan: apabila alah kepada kotanya.sebuah kapal di tanah Bandan.’ Tetapi keempat perdana tiada mau. maka datang sebuah kapal Wolanda. lalu belayar ke negeri Wolanda menyampaikan berjanjian berputusan kata sekalian itu kepada Prings vin Nyuranye* dan orang besar2 dalam negeri Murucisa*. kedua sebuah di pantai Hitu dan ketiga sebuah serta angkatan Bandan* dan keempat langgar kepada pinsu* dan kelima langgar kepada antonibot*. Kemudian daripada kapal belayar itu. Maka ia pulang. Bagaimana kehendaknya Prings dan orang besar2. atau kamikah datang ke sana atau menyuruhkah datang ke mari?’Serta dengan kiriman tanda alamat tanah Ambon. Maka ia berhadapan kata serta keempat perdana dan berjanjian apah upahan dan berputusan barang kerja: apabila barang sesuatu perbuatan. lalu ia belayar pulang ke negeri Holandes menyampaikan katahan itu kepada orang besar2 dari negeri Holandes. Hatta datang musim barat kapitan amiral Kurnilis* [dan] Istin Warhaga* pun datang. lalu masuk ke Kotah Laha periksai kepada kotah Feranggi itu. maka orang Hitu bayar empat ratus bahara kepada Wolanda. ialah empunya kapal syaudagar yang datang ke tanah bawah hangin ini. Apabila alah kepada kapal. Dan enam orang dinamai ‘graf*’.sampaikan dahulu kami punya pekatahan ini. Tellah demikian itu. karena ia ingat kepada perjanjian dengan amiral Istiwin . jika salah kepada adat jangan dikerjakan kepada dua kaum itu. Tatkala belum lagi datang Furtado itu.’ Maka kata keempat perdana: ‘Jika bagai kata demikian itu. tetapi menyuruh sampai kepada Prings* dan orang besar2 di negeri Holanda* supaya boleh dengar kepada dia empunya pekatahan. maka orang Hitu tanya kepadanya:‘Darimana datangmu dan apah nama negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Kami datang dari negeri Hollandes* dan nama raja kami “Paringsi*”. Ia masuk ke Hitu. karena parang sabil di tanah Ambon itu tujuh puluh tahun daripada parang Don Duarde sehingga datang parang Antoni Furtado*. maka kapitan Peranggi menyuruh kepada keempat perdana. dan orang putih itu kepada orang Wolanda.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bolehkah kami minta armada tolong kepada kami?’ Maka kata orang itu: ‘Mengapah maka tiada boleh? Boleh juga. yakni syaudagar yang besar lagi artawan. Ada pun kotanya dan senjatanya dan orangnya hitam itu kepada orang Hitu. bolehkah atau tiadakah.

Daripada tiada mau mengubah janjinya.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Endak ke mana?’ Maka ia menyahut: ‘Mencari kepada musuh kami. Maka Kapitan Hitu naik kepada sebuah perau pergi mencari bantu sehingga ke Seran. maka ia menanti sehingga datang sama negeri Banten. Hatta datang musim barat. maka ia naik barparanglah di sana. Lalu ia mendatangi negeri Iwa* dan orang Iwa* pun keluar berparang dia. lalu ia mendatangi negeri Hitu. maka Mihirjiguna dan mardan Sibori bertanya kepada angkatan itu. sebab dilontar dengan batu oleh negeri itu kennah kepala kapitan Furtado. Hatta berapa lamanya alah gunung itu.maka negeri sekalian takluk kepadanya. sehingga keempat perdana juga pinda ke Tanah Besar. Kambelo itu pun alah juga semuanya.’ Maka menyahut menyahut pula kata Mihirjiguna itu: ‘Apabila jika . lalu belayar dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Ambon. Alkissah peri mengatakan datang Furtado. lalu undur pulang ke Kota Laha. Maka dinaikan empat orang mengikut kapitanmor itu. karena musuh itu ada di tanah Ambon.’ Lalu Kapitan Hitu belayar ke tanah Bandan. Dan negeri Hitu pun pinda ke gunung Pinau*. keluar dari negeri Murucisa* dan empunya angkatan ini Prings van Nyuranye* dan penghulu dalam angkatan ini amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*. maka ia bertemu dengan kapitan Wolanda itu dan keduanya berhadapan kata dan bicara. Maka kuceriterakan keempat perdana pinda ke Tanah Besar itu. Hatta berapa lamanya angkatan pun datang. Maka keempat perdana menyuruh kepada Mihirjiguna ibn Kapitan Hitu dan mardan Sibori ibn Tubanbesi keduanya naik kepada kapal itu mendapatkan angkatan.’ Maka kata pula Mihirjiguna dan mardan Sibori: ‘Marilah sama kita ke tanah Ambon. Portugal namanya. datang pula sebuah kapal ke tanah Ambon kepada empat perdana. Lalu dibawah kepada perdana Tubanbesi dan orangkaya Patiwani kepada kafir laknat itu.Hatta seketika juga patah parang kafir. Maka kafir itu mendatangi negeri Luhu dan Lasidi*. Maka bertemu dua buah kapal Wolanda dan ditanya kepadanya: ‘Mana kapitan-mor*?’ Maka ia menyahut: ‘Kapitan-mor ada di tanah Bandan. Demikianlah parang Antoni Furtado* di tanah Ambon sehinggalah perangnya. Hatta datang ke tanah Jawah. Itulah halnya orang berjanjian. dan perdana Tanihitumesen ia duduk di negeri Anin dan perdana Pati Tuban ia duduk di negeri Waibuti dan perdana Nusatapi ia duduk di Gamusungi. lalu peranglah kedua pihak itu tiada berputusan sehingga datang Furtado. demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini dan siapa empunya angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun angkatan ini angkatan Wolanda. Ada pun tatkala datang Furtado serta kelengkapannya. yakni negeri Luhu.Warhaga* itu.

mengapah maka kami keluar dari tanah ini?’ Maka kata amiral:‘Bukan engkau empunya tanah. lalu belayar serta Mihirjiguna dan mardan Sibori ke tanah Ambon. ada pun orang Wolanda sehingga perintahkan dan mengaraskan.dengan faedahnya.’ Lalu Mihirjiguna keluarkan surat perjanjian itu kepada amiral Matelif*dan Istiwin Warhaga*. dan orang hitam kepada orang Hitu dan artanya itu bahagi dua.demikian katanya: ‘Darimana angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Angkatan ini dari negeri Wolanda. Apabila datang cari kepada isterinya.’Lalu dinaikan Firdirik Hutman* gurendur di kota Ambon. Hatta datang itu. Maka diberinya perau.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Diiakanlah jika bagai kata demikian itu. maka kapitan Feranggi menyuruh datang tanya kepadanya. lalu keluar duduk di luar. Hatta datang musim barat. maka kita melawan dengan dia. Ada pun kotanya serta senjatanya kepada orang Hitu dan orangnya hitam itu pulang kepada hitam dan orangnya putih itu pulang kepada putih.’ Telah demikian itu. maka beri empat puluh bahara. karena tanah ini ada yang empunya.’ Lalu dikeluarkan kepada Mihirjiguna dan mardan Sibori di hadapan. Hatta datang pagi hari dikeluarkan anak kunci itu diserahkan kepada tangan amiral.’ Maka kata amiral dan Istiwin Warhaga*: ‘Bennar juga kata itu. lalu ia belayar pulang ke negerinya. Ada pun bunyi dalam surat itu. Tellah demikian itu maka kata amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* kepada Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Betapa kota ini?’ Maka kata Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya: ‘Baik juga kita rusakkan kota ini buan ke laut. Ada pun kapalnya serta senjatanya kepada Wolanda dan orang putih serta kapalnya. hatta datang kepada hari dan ketika yang baik.’ Maka kata kapitan Feranggi itu: ‘Mengapah maka kata demikian? Karena kami empunya negeri ini. Maka amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* pulang serta angkatannya menyampaikan khabar kepada Frings* dan orang besar2 dalam negeri Wolanda. Itulah kerjakan dia. lalu diam kapitan Feranggi itu tiada berkata-kata lagi. tetapi barang kerja kota atas orang hitam. demikian buninya: ‘Apabila alah kotanya itu. Maka dibaca surat itu. datang . lalu masuk kepada labuan kota Feranggi itu.’ Maka kata Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Jika bagai kata amiral itu. maka kami beri empat ratus bahara cengkeh. maka kami bersama-sama ke tanah Ambon. Sudah ia berikan kepada kami dan ia pun ada pada kami.’ Lalu katanya kepada kapitan Feranggi itu: ‘Keluar engkau dari tanah ini. Apabila jika alah kepada kapalnya. baiklah Wolanda duduk kepada kota itu. lalu ia diam dirinya. tetapi kita mengambil kota ini seperti kita mengambil isteri orang. bagaimana tempat kita jawab kepadanya? Ada pun tempat kita itu melainkan dengan kota.

masuk ke Kota Laha.pula angkatan itu ke tanah Hitu.’ Tellah demikian itu maka gimelaha dan kiyaicili katakan kepada amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* dan kapitan sekalian dalam angkatan itu. melainkan hasil datang dari tanah Ambon. ia mengikut kepada amiral belayar ke Maluku. itu upahnya atas tanah Hitu. tiada beri salah.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* menyahut amiral keduanya: ‘Jika dengan manfaatnya maka kami mau ke Maluku.’ Maka gimelaha dan kiyaicili tiada mau kepadanya dan amiral pun endak juga kepadanya. sudah tiada kurang kepada hasil masuk negeri Ternate kepada hari yang kemudian itu. supaya kami dengar. Lalu kata amiral: ‘Berilah anak Kapitan Hitu ikut kepada kami supaya kami sampaikan kepada Prings dan orang besar di negeri Wolanda. Maka kata Kapitan Hitu. Lalu kata gimelaha dan kiyaicili: ‘Marilah kita pulang dahulu. sehingga . maka kata baginda cili Ali kepada gimelaha dan orangkaya-kaya semuanya: ‘Apa tipu kita karena negeri Ternate dalam kesukaran?’ Maka ia saat*: ‘Endak kepada hasil tiga buah negeri itu. Marilah kita ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. Moga2 dengan kehendak Allah ta`ala dan berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Dari mana akan datang ganti isi astanah raja? Karena rakyat sekalian wa-'llahu a`lam dalam kesukaran. Pada ketika itu.’ Maka diberikan anak Kapitan Hitu.’ Maka kata baginda cili Ali dan gimelaha Aja: ‘Apatah lagi manfaat? Karena Kapitan Hitu mengatakan upahan itu kami semuanya di situ. apatah kehendak amiral itu? Katakanlah. apabila kembali rayat semuanya dan negeri Ternate pun tettap. maka kita berilah salah. insya Allah.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Berilah hasil tiga negeri itu kepada kami. maka kembali negeri Ternate serta dengan kerajaan. Dan Kapitan Hitu pun becakaplah di hadapan orang sekalian itu. Maka menyuruh panggil kepada kapitan serta keempat perdana Hitu. Apa tipu kita sekarang ini?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun sudah rusak negeri Ternate serta dengan arta isi rumahnya habis dirampas oleh kafir itu.’ Maka kata kiyaicili Ali dan gimelaha dan hamba raja:‘Mana tiga negeri itu?’ Maka kata amiral: ‘Negeri Luhu dan Lesidi dan Kambelo. esok hari maka kita berkatakata’. maka kami mau ke Ternate.’ Lalu berkata: ‘Apabila angkatan itu ia mau tolong kepada negeri Ternate. maka diiakanlah kapitan sekalian itu. Maka datang baginda cili Ali dan gimelaha Aja dan hamba raja Ambalau minta kepada amiral. Unus Halaene namanya.’ Maka kata amiral: ‘Yang tellah sudah itu apa betapa disubut lagi?’ Maka kata kiyaicili dan gimelaha: ‘Jika bagai kata demikian itu. demikian katanya: ‘Tellah sudah selamat tanah Ambon daripada bahaya. tiga buah negeri itu kami minta. lalu pulang.

Itulah beta taksirkan dahulu. Tatkala itu datang jeneral. dari Bandan* datang ke Ambon pula. dari Maluku datang ke Ambon. Simon Hun* namanya. Iapun demikian juga murahnya dan pada ketika itu gurendur Hutman* pun belayar karena lamanya gurendur Hutman* enam tahun ia duduk. Maka kata gimelaha Syabidin: ‘Mengapa maka tanya kepada beta lagi? Karena beta sudah keluarkan dia dari negeri Luhu. tetapi serta adil kepada jeneral. Maka sekalian rakyat pun kembali ke negeri Ternate dan dinaikan serri sulthan paduka Mudafar ibn Sa`id al-Din syah. lil* Allah [fi] 'l`alamin akan kerajaan dan diturunkan gurendur serta soldadunya duduk menunggu kota. Maka dinaikan Yangseper Yangsi* akan gurendur sehingga tiga tahun. maka jeneral Gerat Rangsi dan gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh memagang senjata endak melanggar kepada negeri Kambelo. karena tempat duduk Ingeris itu tanah raja Ternate dan negeri Kambelo itu pun rakyat raja Ternate. Ia datang dari Betawih. Mana kehendak jeneral itu kerjakan. lalu ke Bandan. maka datang jeneral Gerat Rengsi* dan perdana Kapitan Hitu menyuruh kepada gimelaha Syabidin*. Ia itu banyak kasihnya akan artanya kepada orang serta dengan empenak supaya menjadi jinak sekalian orang Ambon. Hatta berapa lamanya. serta kelengkapannya.’ Maka diiakanlah jeneral dan gurendur kata Kapitan Hitu demikian itu. ia tiada mau. Jika tiada mengikut. Maka didirikan kota di negeri Melayu. supaya kami menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo. lalu pindah . Kemudian daripada ia itu maka datang pula amiral. al-hamdu li-'llah. Maka kata perdana Kapitan Hitu kepada jeneral dan gurendur: ‘Sabar dahulu. Gerat Rangsi* namanya. Maka sekarang ini ia duduk di negeri Kambelo. bebaikan kita serta dia. karena gimelaha itu mangkubumi di tanah Ambon. Maka gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh serta kelengkapannya masuk ke pantai Kambelo suruhnya Ingeris itu keluar. ia duduk di negeri Kambelo. Lalu belayar angkatan itu membawah kepada Unus Halaene ibn Kapitan Hitu dan anak raja Nusaniwe dan anak orangkaya Lakatua dan anak orangkaya Natahuat* ke negeri Wolanda. Pada zaman itu negeri Luhu dan Kambelo menerima kepada orang Ingeris.mengantarkan kepada Unus Halaene. tembak-menembak kedua kaum itu. lalu menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo kata yang kebaikan dan kebenaran. Dan kuceriterakan tatkala gurendur Hutman* itu.datang ke Ternate. Apabila ia mengikut. tiada beta mengetahui duduknya itu. ’Tellah demikian itu. daripada itulah menyuruh periksai kepadanya. Maka kedua pihak sama petuguhnya. Piter Bot* namanya. apatah dayah. Maka mengikutlah ia. pasang-memasang. maka datang amiral. lepas taksir kita. lalu ke Maluku.

maka Kapitan Hitu bedamaikan dia. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala datang suatu bala Allah. maka kedua kaum muafakat serta bersakutu bandar Wolanda dan Inggeris itu. maka berparanglah dengan negeri Nasrani yang takluk kepadanya itu. endak berkellai kedua pihak itu. Dan apa kata jeneral itu. .’ Maka kata orangkaya-kaya: ‘Berilah delapan puluh. maka kita lakukan bagai titah itu. Pada ketika itu ada suatu fitna. lalu dibunuh kepada Inggeris dan Jupun semuanya. Hatta datang musim barat maka maka datang kapitan Warhaga. maka suatupun tiada fitna dalamnya. Pertama berkellahi dengan negeri Hutumuri. Betapah kehendak titah itu. Leitimol* namanya. lalu ia belayar pulang ke Betawih dan gurendur Aren Bulok* duduk di kota Ambon. kedua berkellahi dengan negeri Lesibata.Maka jeneral dan gurendur pulang ke Kota Laha. Segali perastawa tanah Ambon semuanya serta gimelaha berbantahkan harga cengkeh. lalu belayar pulang ke negerinya.’ Maka kata gurendur: ‘Enam puluh harga sebahara. ia bedamai dengan gurendur. maka gurendur dan menyuruh kepada paduka seri sultan di Ternate. ia serta gimelaha Syabidin mengalah kepada negeri itu. Daripada ia memulai parang di tanah Ambon.’ Lalu ia menyuruh ke Ternate dan menyuruh ke Betawih.’ Maka kata gurendur: ‘Betapa kami disamakan dengan Inggeris.Orang Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda. Maka dinaikan Aren Bulok* akan gurendur ganti kepada Yangseper Yangsi*. Hatta berapa lamanya. Alkissah peri mengatakan tatkala Herman Aspel* ia akan gurendur itu. Mengapah maka minta delapan puluh daripada kami banyak arta keluar?’ Maka kata orang Ambon: ‘Mengapa maka gurendur kata demikian? Karena gurendur banyak arta hilang itu ada dengan hasilnya. Hatta lama dengan lamanya sehingga datang kepada tahunnya. lalu ia pulang dan dinaikan Herman Aspel* akan gurendur ganti kepada Aren Bulok*. serta kotanya maka diketahui oleh Wolanda.ke pantai Eran* dan orang Wolanda pun masuk ke dalam negeri itu dan orang Inggeris pun keluar naik kepada kapalnya. karena ia tiada hilang belanjanya. Maka Kapitan Hitu bawah kepada kipati Lesibata. Mengapah maka ia disamakan kami. Mengapa maka kata demikian itu?’ Lalu orang Ambon tiada keluarkan cengkeh. tawar-menawar dengan orang Wolanda. Maka kata Kapitan Hitu kepada kedua pihak itu: ‘Apa kerja berkellai? Baik juga gurendur menyuruh belayar ke Betawih kepada jeneral menyampaikan kata orangkaya-kaya itu. Demikian kata gimelaha dan orangkaya-kaya sekalian: ‘Minta seratus harga sebahara. maka jadi fitna. karena kami banyak belanja hilang kepada soldadu dan marinero* membuat kota. maka suatupun tiada hisab* lagi. karena gurendur itu itu sangat bengis.

’ Lalu kata orangkaya-kaya: ‘Berilah tengah delapan puluh. Maka semuhanya dengan Wolanda pun berhimpun di pantai Luhu memutuskan harga cengkeh itu.’ Maka kata fetor kepada orangkaya gimelaha: ‘Betapa harga cengkeh ini?’ Maka kata orangkaya gimelaha: ‘Bukan aku empunya cengkeh. datang utusan dari Ternate minta bantu kepada gurendur. Yang empunya cengkeh itu orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon. Jikalau mau. tetapi kepada artanya itu mana kehendaknya tiada kepadaku. Tellah demikian hatta datang kepada tahun yang lain. Kemudian kata gurendur: ‘Sudah putus tujuh puluh. atas kepada gimelaha dan gurendur memutuskan harga cengkeh ini. Maka kata orang sekalian: ‘Jika bagai kata titah keduanya itu. Ada pun daripada titah seri sultan di Maluku demikian bunyinya: ‘Bahwa sesungguhnya tanah Ambon itu takluk kepadaku.’ Itulah kesudahannya. demikian katanya: ‘Enam puluh pada harga sebahara cengkeh itu. Apabila alah kepada Kastila dan Tidore atau bedamai dengan dia. sehingga dalam berkellai ini. Maka disampaikan surat itu kepadanya. beta minta kepada orangkaya-kaya sekalian keluarkan tujuh real upamakan harga makanan soldadu. maka kata jeneral: ‘Ada pun beta ini endak ke Bandan. atas kepada fetor semuhanya. tujuh puluh harga sebahara cengkeh. Jikalau kepada benyagah Ambon itu atas kepada gurendur dan fetor* semuhanya di tanah Ambon.’ Maka kata gurendur: ‘Bukan aku. karena banyak datang Kastila ke Tidore. maka atas kepada jeneral. Tiga real itu akan harga siri pinang soldadu.’ Maka diiakanlah orangkaya-kaya semuhanya kepada kata gurendur itu enam puluh tujuh real. baik dan jahat. ’Maka diiakanlah orangkaya sekalian tanah Ambon serta dengan janjinya.surat dari Betawih dan titah dari Ternate pun datang. seperti membuat kota atau berkellai atau kurang kuasa barang sesuatu. Maka betapa tipu orangkaya-kaya semuhanya kepada titah itu. Itulah keputusan harga ce ngkeh dan negeri sekalian pun keluar cengkeh timbang kepada fetor.’ Itulah kesudahannya daripada titah. maka cengkeh itu hargakan lagi atau kurang lagi . Karena surat dari Betawih demikian katanya: ‘Ada pun kepada bicara yang lain.’ Maka fetor pun mau dan orangkaya-kaya sekalian pun mengikut kata gimelaha itu.’ Maka kata gimelaha: ‘Berilah tujuh puluh. tetapi surat dari raja dan gurendur dari Ternate minta bantu ke sana. karena benyagaan itu sama sukah keduanya. tetapi beta minta kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya-kaya semuhanya enam puluh tujuh. Tatkala itu jeneral Lurinsu Riyal* dan amiral Astiwin Warhaga* pun datang serta kelengkapannya delapan buah kapal.’ Maka kata fetor: ‘Tengah tujuh puluh.

Itulah kesudahan harga cengkeh pada ketika itu. Itulah kita taksirkan kepada gurendur. lagi ia alim dan tiada orang besar tubuhnya bagai dia dari Maluku sehingga datang ke Ambon. Alkissah peri mengatakan serta kuceriterakan tatkala perdana gimelaha Hidayat keluar serta angkatan datang ke tanah Ambon.’ Lalu gurendur serta angkatannya mendatangi negeri Boano. Maka beta minta kepada gurendur sabar ahulu. lalu menyuruh kata kepada sengaji dan orangkaya semuhanya keluar. maka Kapitan Hitu dan gurendur serta orangkaya sekalian menghukumkan kedua pihak itu. Maka suatupun tiada fitna lagi. karena tanah Boano itu tanah raja dan orang itu pun rakyat raja Ternate. lalu jeneral belayar ke Maluku tolong kepada negeri Ternate. Dan negeri sekalian pun dengan kesukaannya serta dimulianya. yakni sudah di luar perjanjian. apabila jika ia tiada mau. sehingga ditaksirkan juga. lagi johan pahlawan. Tellah demikian itu datang johan pahlawan gimelaha Hidayat. Yang benar itu dibenarkan dan yang salah itu disalahkan serta didamaikan kedua kaum itu dengan kebajikan.’ Tellah demikian itu. demikian katanya: ‘Betapa perbuatan sengaji Boano demikian itu?’ Maka kata perdana gimelaha: ‘Ada pun perbuatan sengaji itu kami tiada mengetahui kepadanya. Tetapi daripada ia endak kejahatan itu. Melainkan dengan adil gurendur.daripada enam puluh itu atau lebihkan lagi daripada enam puluh itu. Alkissah peri mengatakan tatkala gurendur keluar dengan angkatan. Maka suatupun tiada lagi fitna pada kedua pihak itu karena sudah keputusan kata yang baik dan jahat. beta damaikan dia dengan gurendur. maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur: ‘Ada pun gimelaha itu tiada bicarakan. maka ia membuat suatu fitna kepada sengaji* Boano. Jikalau mau keluar. karena fitna itu tiada subut lagi. Ia datang tanya kepada perdana gimelaha. Ia .’ Maka diiakanlah oleh kedua pihak itu serta disuratkan dalam kertas tatkala disuratkan itu di pantai Gamusungi di hadapan jeneral dan amiral dan perawara sekalian daripada pihak Nasrani dan hadapan mengkubumi gimelaha Syabidin dan perdana sekalian perwara di tanah Ambon serta Kapitan Hitu daripada pihak Islam itu. lagi ia hukum dalam negeri Ternate. melainkan melakukan kebaikan dan kebenaran serta kesukaan dunia dan tiada mengirangirakan hari yang kemudian. karena ia perdana yang besar dalam negeri Ternate. Maka gurendur serta angkatannya pulang ke Kota Laha dan Kapitan Hitu serta kelengkapannya pulang ke negerinya.karena kesukaan dan keadaan itu tiada berapa dalamnya. beta menyuruh kata kepada sengaji. apahtah daya? Lapas taksir kita kepada sengaji dan orangkaya-kaya dalam negeri Boano. susunya bagai susuh perempuan. Sungguhpun besar tubuhnya itu tetapi kuat.

kita masuk kepada orangkaya-kaya tanah Bandan. tiada dapat kita tegah kepada perbuatan itu. daripada ia mengatakan hukum itu serta dengan hukum Allah. Hatta datang angkatan itu antaranya laut Puluh Suanggi* dan Gunung Api. Serta ajal Allah. tiada pulang ke negerinya lagi. maka wafatlah perdana gimelaha pulang ke rahmat Allah. demikian katanya: ‘Ada pun beta ini bukan disuruh oleh jeneral. maka masuk di pantai Lontor. jika boleh. sehingga enam orang juga mengikut dia.’ Maka Kapitan Hitu naik. melainkan suatu kata kami minta kepada orangkaya-kaya. kita ikutlah. Kemudian daripada itu datang jeneral Pitir Eskun* serta angkatan masuk ke Kota Laha. taat siang malam tiada berputusan mengaraskan agama Islam.membuat ibadat. Maka Kapitan Hitu tanya kepada jeneral: ‘Endak ke mana angkatan ini?’ Maka kata jeneral: ‘Endak ke Bandan* berkellai. Kemudian anak orangkaya-kaya tiga puluh orang serta Unus Halaene ibn Kapitan Hitu naik kepada kapal Inggeris ikut belakangnya. supaya jangan menyasal kepada hari yang . yakni sakit. Ada pun pada tatkala itu barang hukum daripada zaman yang tiada boleh putuskan orangkayakaya sekalian di tanah Ambon itu. Tetapi daripada kehendak Kapitan Hitu demikian itu. Sudah kita tolong dengan makanan tiada sampai. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh.’ Lalu Kapitan Hitu naik kepada angkatan itu. hatta berapa antaranya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Syabidin pun uzur. tanya kepadanya maukah bedamai atau tiada maukah. lalu masuk kepada negeri Salamah berhadapan serta orangkaya-kaya tanah Bandan* semuhanya. torompetanya* dan himpunkan soldadu serta dengan senjatanya. ialah memutuskan. kami endak berkellai juga. Maka sekarang ini kita tolong dengan senjata tiada boleh. maka didirikan tunggulnya sekalian kapalnya itu serta bunyi tamburunya*. Lalu ia berkata kepada orangkaya-kaya. Daripada beta ingat tanah Bandan* dan tanah Hitu daripada zaman dahulukala. Maka beta tolong dengan makanan tiada boleh. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sabar dahulu.’ Maka kata jeneral: ‘Bukan kami minta bedamai.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa tipu kita kepada tanah Bandan? Karena tatkala kita berparang dengan orang Feranggi ia tolong kepada kita. Ia belabu sehingga datang labuan Komber. Maka pada ketika itu tanah Ambon dalam hukum Hidayatullah. Tellah demikian itu. tetapi ihtiar dahulu kepada budi akal kita. Daripada itulah termasyhur nama johan pahlawan hukum Hidayatullah di tanah Ambon. upama terbit matahari cahayanya menarangkan yang adanya. Apabila jika tiada boleh. Baiklah kita tolong kepadanya dengan pekatahan. apahta daya? Karena pekerjaan itu pekerjaan yang benar.

lalu menyuruh turun kepada orang itu. Ia masuk kepada Wolanda. Kemudian apa2 barang kehendak kita itu katakan kepadanya”. benar juga orangkaya kata kepada empat perkara itu.’ Maka kata orangkaya-kaya kepada Kapitan Hitu: ‘Apa2 empat perkara itu?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun empat perkara itu. Daripada itulah periksai kepada orangkaya-kaya empat perkara ini. maka orangkaya datang di sana.’ Tellah kata demikian itu. keempat makanan. didirikan tunggul putih di pantai.’ Hatta datang kepada janjinya. maka kami katakan kepada orangkaya Kapitan Hitu dengan jeneral. Apabila jika datang Kapitan Hitu dan Wolanda itu kita pagang semuhanya. jangan kata kita dibebohonkan. pertama negeri. apabila di mana kami bedirikan tunggul putih. supaya kita dengar apa kehendaknya itu. ada sakit sedikit. Selamanya parang kami sahingilah* empat perkara itu. apatah lagi dinantikan? Jika kurang lagi suatu perkara daripada empat itu. jangan lagi Kapitan Hitu turun ke darat.bebaikan dahulu dengan dia. supaya kami himpunkan orang sekalian. sudahkah lengkap atau bulum lagikah. tetapi kita menyuruh juga kepadanya menyampaikan perjanjian kita itu. Maka ia tanya: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka suruan itu menyahut: ‘Ada pun Kapitan Hitu minta ampun daripada orangkaya-kaya sekalian. maukah atau tiadakah. ketiga manusyia.’ Maka kata Kapitan Hitu ialah kata jeneral itu: ‘Kita tiada turun kepadanya. tetapi kami parang dengan Wolanda ini bukan sekarang. karena perbuatan ini sudah ia membunuh kepada kami orang banyak.’ Tellah demikian itu maka kata jeneral kepada Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata ini. maka dilihat oleh Kapitan Hitu dari kapal. Tetapi apa kehendak orangkaya-kaya katakan juga kepada kami. Jika bagai kata orangkayakaya demikian itu. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sudah lepas . Dalam dua hari. lalu Kapitan Hitu pulang ke kapal.’ Maka kata orangkaya-kaya semuhanya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu.kemudian. pulang dahulu. apatah lagi?’ Lalu pulang orang itu menyampaikan kata itu kepada orangkaya Kapitan Hitu dan jeneral. artinya dusta. di sanalah kami menanti. artinya kata itu sudah lengkap karena perbuatan manusyia itu serta dengan harkat. maka ia berkata kepada jeneral: ‘Kita dengar orang Bandan* bicara dalam negeri: “Kita berhimpunkan orang serta senjata menanti di pantai. supaya ia pulang. Pada malam itu datang seorang daripada negeri Bandan.’ Maka kata orangkaya-kaya tanah Bandan* kepada Kapitan Hitu: ‘Baiklah. Kita pun lengkapkan kepada empat perkara itu. maka tiada ia turun. Tetapi kehendak Allah ta`ala itu siapa mengetahui?’ Maka menyahut pula orang yang disuruh itu: ‘Daripada itulah maka dikira-kirakan. Apabila jika sudah lengkap. kedua senjata.

Pugel* namanya. dipalu gendarang parang dan riuh serta bunyi bedil seperti guruh di atas langit. Lain makanannya dan pakaiannya dan apa-apa rampasan dalam orang banyak itu mana sukanya ia ambil dahulu.’ Maka kata jeneral: ‘Jika bagai demikian itu betapa bicara kita sekarang?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Mana perintah jeneral itu kami kerjakan. maka diturunkan gurendur Hutman* akan kapitan. tiada boleh masuk ke dalam negeri lagi. Beramai-ramaian parang kedua pihak itu daripada waktu duha sehingga datang asar tiada boleh alah. Lalu undur Wolanda pulang ke kapalnya.’ Lalu ia berteguhan kata dengan jeneral. Hatta terbit matahari. tukar-menukar. Ia naik dari belakang negeri dan kapitan Pugel dan kapitan Kuluf* dan kapitan Gemala* dan kapitan Jupun dan kapitan Siyau dan sekalian kapitan serta orang banyak semuhanya naik dari laut di hadapan negeri. jual-beli. jika tiada boleh alah negeri itu. kemudian perintah parang kita. seribu real kuberi kepadanya. Maka kedua pihak berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian.’ Hatta datang pagi hari naiklah angkatan itu butul di hadapan negeri. maka jeneral menyuruh panggil kepada orang besarnya serta panglimanya sekalian dalam angkatan itu datang kepada jeneral. lalu kata jeneral: ‘Jika siyapa naik dahulu maka alah negeri itu.taksir beta. Kemudian daripada itu. Tiada habar kepada yang lain lagi sehingga sana berparang daripada bakda subuh. maka menyuruh tanya kepada orangkaya-kaya tanah Bandan* sekalian. supaya kita lihat perintah parangnya itu. maka kata jeneral: ‘Betapa perintah parang orang itu?’ Maka kata orang semuhanya: ‘Demikianlah parang orang itu. ia masuk ke dalam serta bunyi bedil dan riuh dalam negeri. Hatta datang bakda lohor serta dengan kehendak Tuhan sarwa sekalian alam. Itulah adat berteguhan janji kepada orang itu.’ Serta dengan cakapnya orang semuhanya itu.’ Maka seorang kapitan. demikian katanya: ‘Beta naik dahulu. demikian . lalu masuk ke negeri Ander dan Waier. beta pun tiada kembali. maka orang Bandan* pun keluar. ia becakap di hadapan jeneral dan orang besar2 semuhanya. mana kehendak jeneral itu?’ Maka kata jeneral:‘Esok pagi kita naik cobah dahulu. Maka patahlah parang Islam itu. berhimpunlah di sana dan Wolanda pun duduk di negeri Lontor. maka Wolanda daripada kapitan Hutman* ia naik dari belakang negeri. dan orang Bandan* pun serta dengan harkatnya. Maka sekalian kapitan serta orang banyak itu pun pulang kepada kelengkapannya dan jeneral pun pekatahan yang diperjanjikan kepada panglimanya itu semuhanya dikerjakannya. maka diberinya minum arak pada tempat minuman prings. hatta datang malam. Kemudian tinggalnya itu kepada orang sekalian. Tellah demikian.

itulah tanda bebaikan. Maka jeneral serta angkatannya pulang ke negerinya dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. maka kita berkellai.’Maka diberikan dua puluh esfangar* kepada Wolenda itu. bennarnya dengan dia. dan empat puluh orangkaya-kaya semuhanya dibunuh oleh Wolanda itu. Maka orangkaya-kaya semuhanya tiada dapat besangkal lagi. Ada pun kepada sekarang ini mana bicara orangkaya-kaya kita dengar. Maka raja menyuruh angkatan ke Seran memuatkan dia datang ke Mangkasar. lalu kata kepadanya bagai kata orang itu. karena senjata itu semuhanya dalam negeri itu juga. apahtah daya?’ Maka kata orangkaya-kaya Bandan: ‘Yang tellah sudah itu jangan disubut lagi.katanya: ‘Bukankah Kapitan Hitu endak damaikan kita kedua? Daripada orangkaya-kaya tanah Bandan* tiada mau bebaikan.’ Maka disuruh oleh orangkaya-kaya panggil kepadanya semuhanya datang ke negeri Salamu. Lalu belayar ke tanah Ambon. Itulah kesudahan berkellai tanah Bandan. Jika ia katanya tiada lagi. semuhanya delapan ratus delapan puluh orang kepada kapal. maka suatupun tiada lagi fitna. Semuhanya itu minta serta anak orangkaya-kaya empat puluh orang itu. Jika mau bedamai. jika tiada mau bedamai. rubuhkan kotamu dan berikan senjata yang adanya itu. Alkissah dan kuceriterakan kemudian daripada . kemudian beta tunjukan kepada orang yang menaruh dia itu. Lalu keluar bunga pala timbang kepada fetor. Jika kepada sekarang ini jeneral mau bebaikan.’ Tellah demikian itu maka jeneral menyuruh panggil kepada orangkaya semuhanya. maka kata jeneral: ‘Jika hati bennar mau bedamai. Maka ditipu oleh Wolanda. Kemudian daripada itu kata Mai Hasan ibn orangkaya Bulaisi dan orangkaya Orotatan. Maka sekarang ini kami endak belayar. demikian katanya kepada jeneral: ‘Ada lagi bedil besar dalam negeri Bandan . datang ke tanah Hitu.’ Lalu orangkaya-kaya keluar bedamai dengan dia. lalu dinaikan ke kapal.’ Maka kata orangkaya Bandan: ‘Tiada lagi pada kami. Dragon namanya.’ Maka kata Wolanda: ‘Barang seadanya itu berikan kepada kami. lalu dikeluarkan semuhanya serta anak orangkaya-kaya itu. Kemudian kami belayar supaya kami menyampaikan kepada orang besar2 di negeri Wolanda pun dengan kebenarannya. Itulah hal alah tanah Bandan. seribu kali kami sukah. Maka menyuruh datang mengadap kepada raja Mangkasar minta pindahkan ke Mangkasar. kuliling soldadu serta senjata. Baik juga orang semuhanya cerai-berai itu suruh pulang keruan kepada tempatnya. Maka kata jeneral: ‘Sekarang ini upama tulur hayam digulingkan dari tanah Bandan* sampai ke tanah Wolanda: tiada boleh pecah lagi. marilah kita bedamai. lalu ke Jawahkatra* dan orang Bandan* yang tinggal itu semuhanya pindah ke tanah Seran dan Goron*.

Tellah demikian itu berapa lamanya datang ke tanah Keling. maka dinamai San* Tumi*. ada menjual anaknya. Lalu ia belayar ke bandar Masilpatani*. Maka apa kehendaknya Arinjiguna* itu semuhanya dikatakan kepada jeneral pun terimalah kepada kehendak Mihirjiguna itu.’ Lalu Mihirjiguna tanya kepada jeneral: ‘Kapal semuhanya itu endak ke mana?’ Maka kata jeneral: ‘Kapal itu endak ke Malaka. Hatta berapa lamanya maka datang ke Jawahkatra*. belayarlah engkau. ada ke Laut Mera. Ada pun San* Tumi* itu ada suatu bukit. maka Mihirjiguna naik ke darat berhadapan dengan jeneral serta orang besarnya. Lalu kata jeneral kepada Mihirjiguna: ‘Ada pun barang kehendakmu itu kami terimalah. Daripada Feranggi duduk dari situ. ada tengah tiga real.angin pun tedduh. ada ke bandar Masilpatani*. Bunyi layar seperti bunyi bedil.lagi lambat musim. Di situlah tempat ia menyembah berhalanya itu. sehingga tanah Ambon pun baik juga jika dilapaskan oleh jeneral. Maka ia menyembah. mau melihat dunia tanah Keling barang seadanya hidupku sehingga datang musim barat. Delf namanya kapal itu. maka Mihirjiguna masuk mengadapat* perdana Kapitan Hitu. maka belayar dari Pudiceri*. kepada negeri Tunahpatnan.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata demikian itu. seketika lagi patah tiyang buritang itu. Karena di situ ada kota Wolanda. lalu naik Mihirjiguna belayar. Hatta terbit matahari. ada pulang ke negeri Holandes. Tellah menubus itu. ada ke Jambi.tiada dapat diceriterakan kepada kasihnya itu --.jeneral belayar membawah kepada orang Bandan* itu. kuserahkanlah kepadanya yang kehendaknya itu.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Beta minta kepada jeneral sementari lagi lambat musim. Kemudian daripada itu maka belayar sehingga datang ke Palikat*. ia berhenti entah berapa lamanya. Ada menjual dirinya sendiri. menubus dengan harganya dua real seorang. lalu kepada Nagahpatan*. tetapi musim lagi lambat datang.’ Maka iakan oleh jeneral dan diberinya seribu real akan bekalnya dan sangat mulliya kepadanya serta kasih lain2 -. maka didirikan gerejanya akan tempat berhalanya. ia duduk kepada . Maka naik ke darat bejalan ke negeri Pujiciri*. Hatta berapa lamanya di tengah laut datang tofan angin ribut. lalu kepada Tirubambu* dan Tirumulawasir* dan Kunmuri*. Jika tiada boleh kembali ke tanah Bandan* pun. lalu berkata: ‘Beta endak belayar ke Jawahkatra*. beta endak turut kapal yang ke bandar Masilpatani*.’ Lalu ia naik kepada sebuah kapal. Nona Sinyora di Mundi* namanya. Apabila datang musim barat akan perginya pulang.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa kehendakmu belayar itu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kita belayar ini tiada kehendak kepada yang lain melainkan kubicarakan orang Bandan.

Maka diberikan surat itu kepada Kapitan Hitu dan gurendur. maka datang masuk selat antara Puluh Merkata* dan ujung Tanjung Cina. pada malam Ahad. lalu dibaca sendirinya. Di sanalah ia melihat perhiasan dunia semuhanya lengkap. dan kesukaan dan kedukaan pun demikian lagi. Apabila datang pagi hari. dan orang membuang segala najis manusyia dalam negeri itu. Entah berapa lamanya di tengah jalan. lalu datang ke Banten sehingga datang ke Jawahkatra*. Dan perbuatan pelbagai yang andak* dalam dunia semuhanya ia melihat karena Masilpatani* itu bandar Kutb Syah yakni raja Gulgonda. Apabila jika dengan baiknya musim yang datang ini suruan ke mari. tetapi Kapitan Hitu dan gurendur kira-kirakan kehendak Arinjiguna* itu. dan orang berumah dalam tanah dan orang tiada berumah selama-lamanya. sehingga ibu bapa kita yang bennar itu maka kita tiada bertemu. maka diberikan surat itu pada tangan Sifar alRijali. tatkala zaman sultan Muhammad Huli akan kerajaan di negeri Gulgonda. Di sanalah dimasyhurkan namanya Mihirjiguna itu ‘sultan karanful*.’ Tellah demikian itu. maka dinaikan kepada sebuah kapal membawah kepadanya. maka ia mati pulang kepada asalnya. Dan kejahatan serta kebencian pun demikian lagi. Entah berapa antaranya. maka mandi kepada air yang panas itu. Dan dikerjakan hamam*. jika datang tengah hari maka mandi kepada air yang sejuk itu. seperti orang kaya dan orang miskin. Daripada ia tiada empunya untung. seperti perbuatan yang kegemaran kepada keelokan serta keinginan hati manusyia. Entah berapa lamanya dalam negeri Betawih.rumah syaudagar haji Baba namanya. bicarakan Inggeris dan Jupun endak tipu kepada Wolanda serta kotanya itu. maka beta serahkan kepada dia. Maka dibaiki suatu petti dilapis dengan tima hitam. lalu belayar. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Arinjiguna* itu seribus* kali beta terima. Berapa lamanya di tengah laut. Dan pasan jeneral dalam surat kepada Kapitan Hitu dan gurendur Herman Aspel*. lalu dimasukkan mayit itu ke dalam petti. maka Mihirjiguna sakit. Lain daripada itu tiada dapat diceriterakan kepada kelakuan yang indah2. maka ditaburkan segala bauh-bauan dalam kafan. maka ia berenti di sanalah. kipati syah’. Pada tatkala itu Kapitan Hitu pun ada di Kota Laha. Sehingga enam hari dengan kehendak Allah ta`ala wafat meninggal negeri fana datang kepada negeri yang baka pada bulan Rubiu'l-awal dua belas hari pada tahun [1032] Ha. maka gurendur kata kepada Kapitan Hitu: ‘Baik juga kata jeneral kepada kita kedua itu kira-kirakan kepada kehendak Mihirjiguna . maka datang ke Ambon masuk ke Kota Laha. Tellah demikian itu hatta datang musim maka ia pulang. ada air sejuk dan air panas kepada suatu tempat harkat kepada segala manusyia.

sentiasa tiada berputusan parang di tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Lalu berparang pula. sehingga tanah Hitu juga tiada mengikut. Hatta berapa lamanya maka datang titah paduka serri sultan Ternate suruh bedamai. makin bertambah-tambah fitnah sebab dagang. Lalu dinaikan mait itu kepada kelengkapannya orangkaya dan orang dari negeri pun keluar mendapatkan dia di tengah jalan. maka Wolanda datang rusak kepada dagang itu. jika datang orang Bandan* pula. Seorangpun tiada sebagainya di tanah Ambon. sehingga datang ke negeri. Maka kedua kaum Islam dan kaum Nasrani itu berparanglah. tanah Ambon dalam hukum perdana gimelaha Hidayat. Itulah kesudahan pelayaran Mihirjiguna ke tanah Keling. Pertama membuat gudang di pantai Huniyasi*. Apabila datang dagang. Daripada itulah maka digelar nama kelengkapannya itu ‘buang destar’ namanya dan demikian lagi kehendaknya Islam endak mengarusakkan agama Nasrani dan Yahudi dimasukkan kepada agama Islam. karena kehendaknya Nasrani dan Yahudi itu endak mengarusakkan agama Islam dimasukkan agama Nasrani. Serta kehendak Allah ta`ala.’ Lalu dibunuh Inggeris dan Jupun itu. artinya negeri sengaji Hatuhaha. Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya . lalu paranglah gimelaha Luhu dan gimelaha Leliyato serta di tanah Ambon semuhanya. Hatta datang berapa lamanya dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Hidayat pun uzur. Lain daripada itu banyak lagi perbuatannya. Dan kelakuan hulubalang pun ada kepadanya. Kemudian daripada peninggal perdana itu. itulah sebabnya. karena adatnya raja ada kepadanya dan adat bendahara pun ada kepadanya. maka tiada jadi kehendak Mihirjiguna itu sebab perbuatan orang itu. kedua membuat kotanya di tanjung Koako. kemudian daripada Arinjiguna* itu Unus Halaene akan hukum. karena ia berjalan atau duduk serta senjata tiada boleh meninggalkan dia dan syaudagarnya pun sangat serta murahnya tangannya.itu. Maka dipertitahkan serta dengan arta disedekakan kepada fakir dan miskin dan orang besar-besar dan dipeliharakan sehingga adatnya. sarang-menyarang. ketiga membawah angkatan mendatangi di tanah Seran. alah-mengalah. artinya sakit lalu pulang ke rahmat Allah ta`ala. sarang-menyarang. alah-mengalah sebagailah. maka gimelaha serta orangkayakaya semuhanya tiada mau rusak dagang dalam bandar. tetapi inilah perbuatan Inggeris dan Jupun. Kemudian daripada itu maka kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Syabidin meninggalkan negeri yang fanah itu datang kepada negeri yang baka itu. Maka ia pinda ke negeri Lesiela meneguhkan negeri itu daripada ia melihat salah kelakuan Wolanda itu. Ialah bengis di tanah Hitu serta kelakuannya.

Entah berapa lamanya dengan takdir Allah ta`ala pulang ke rahmat Allah. Hatta datang di sana raja Mataram menyuruh kepada tumengung* Bauhraksah mendatangi kota Betawih. maka dikembalikan dianya. Maka suatupun tiada fitnah lagi di tanah Ambon dan kapitan laut pun berangkat ke tanah Sula. Hatta datang musim perdana pun pulang. Lalu kapitan laut pun berangkat ke Manipa dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. Dan di belakangnya Kapitan Hitu datang kapitan lawut baginda kiyaicili Ali ke tanah Ambon. Segali perastawa mendamaikan dua kaum itu. Maka diturunkan yakni dikeluarkan gimelaha dua bersyaudara. Semuhanya diangkatnya bawah ke negeri Lesiela. sehingga sanalah ia berhenti. dari Banggai datang ke Tambuku. Wai namanya. maka tiada ketahuan bicaranya jeneral itu. Maka gurnadur Filipi Lukas* dan hukum Halaene serta angkatannya mengadap kepada kapitan laut. keduanya memerintahkan tatkala perdana Kapitan Hitu lagi dalam negeri Betawih. Daripada itulah maka parang sabil Allah di tanah Ambon tiada berputusan. Tellah demikian itu Kapitan Hitu pun datang dari Jawahkatra*. Siyapa tempat kuserahkan tanah ini?’ Lalu diserahkan kepada orangkaya Samu2 menunggu tanah Hitu serta orangkaya Bulan. dari Sula lalu ke tanah Banggai. demikian katanya: ‘Ada pun aku ini sudah tuah. maka gimelaha Leliyato ia duduk negeri Kembali dan gimelaha Luhu ia duduk di Gamusungi. Itulah halnya tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Itulah kesudahannya datang raja laut di tanah Ambon. maka suatu tiada fitnah dalam tanah Hitu.Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya johan pahlawan gimelaha Leliyato ‘buang capeu*’ namanya. lalu keluarkan kotanya di tanjung Koako itu dan gudang di Huniyasi* itu. karena ia dalam kesukaran. lalu masuk ke negeri Luhu. tempatnya yang lama. Hatta datang titah disuruh pulangkan. lalu pindah ke tanah Buton. Maka kata Kapitan Hitu kepada gurendur. Lalu Kapitan Hitu dan hamba raja Kalabata belayar ke Jawahkatra* bebicara dengan jeneral. Maka ia bertemu kepada kapitan laut dan barang apa2 bicara dengan jeneral itu semuhanya diceriterakan kepada kapitan laut serta muafakat. Alkissah peri mengatakan sekali perastawa perdana Kapitan Hitu pada suatu ketika ia duduk. Hatta berapa lamanya datang angkatan dari Buton serta anak raja2 dan orang besar2 semuhanya membawah titah serta dengan adat mengadap kepada raja laut. Maka dibawah kepada gimelaha dua bersyaudara kembali ke Tanah Besar. maka ihtiar sendirinya. yakni negeri Luhu. Pada tatkala itu johan pahlawan gimelaha alah kepada sebuah negeri. dari Tambuku lalu membaiki negeri serta dengan kotanya ia duduk. Apabila datang suatu fitnah . suruh kembali ke Ternate.

Hatta datang maka kata perdana Kapitan Hitu. ia juga membaiki. yakni sakit serta kehendak Tuhan Yang Mahatinggi orangkaya pun wafat. Maka ia beramairamaian kesukaannya serta bunyi-bunyian dalam negeri Hitu. jikalau seseorang juga pun. Hatta berapa lamanya apa2 kehendaknya. pulang ke rahmat Allah. kemudian dibagi dua: setengah didudukkan di negerinya dan setengah dibawah kepadanya ke negeri Hitu. yakni mendamaikan dia. maka ia kedua orangkaya Samu2 keluar serta dengan angkatan melepaskan dukacittanya. Maka dipeliharakan serta adat sehingga datang seratus harinya. apabila ia mati tiada boleh masuk esukaan dan beramai-ramaian atau bunyi-bunyian dalam negeri. melainkan alah sebuah negeri atau keluar arta daripada takluknya sekalian. lalu ia kembali sehingga datang ke negeri. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala itu ada lagi hayat perdana Kapitan Hitu. memberi racung kepadanya. jangankan sesuatu negeri. bagi Islam atau Nasrani. Maka kuceriterakan tatkala itu negeri Iwa* dan orang Wolanda endak berkellai sebab Pati Herman. Maka hukum Kakiyali juga membaiki tiada jadi berkelai. Semuhanya ditangkapnya. Maka dinaikan kepada Kakiyali akan hukum. melainkan hukum Halaene juga tiada mau kecewa kepada nama tanah Hitu. artinya celaka. kemudian daripada itu. Daripada itulah maka ia keluar membawah angkatan menyarang negeri. Maka menyuruh antarkan maitnya orangkaya itu pulang ke negeri. yakni meninggal kepada dunia datang kepada akhirat. Itulah istiadat mati orang ternama di tanah Ambon. hanya baik2 bicara kepada tanah ini serta . Lalu Kakiyali membawah angkatan itu menyarang kepada sebuah negeri Hatumete namanya. Daripada ialah orang Wolanda itu tiada dapat melakukan kehendaknya kepada tanah Hitu pada zaman itu. maka barang sesuatu fitnah dalam tanah Hitu atau tanah Ambon. maka bersuka-sukaan serta beramai-ramaian dan bunyi-bunyian dalam negeri itu. Entah berapa lamanya di tengngah jalan. maka ia datang kepada gurendur endak mengatakan kepadanya. Karena istiadat orang besar yang ternama. maka dalam uzur itu menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya semuhanya. maka orangkaya Samu2 pun uzur.daripada negeri yang lain bagi Islam atau Nasrani. Tetapi kepada fitnah tiada dapat dikatakan lagi daripada nafsu dunialah. Hatta lama dengan lamanya orangkaya pun makin tuah serta dengan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala uzur. demikian katanya: ‘Ada pun kehendak Allah ta`ala siapa mengetahui? Tetapi pada perasaan diriku. Maka datang kehendak Allah ta`ala kepada seorang perempuan bedzebai. wa-'llahu a`lam. Masya Allah ia meninggal kepada darulfanah datang kepada darulbaka. Maka ia tiada boleh tahan dirinya lagi.

maka orang membawah fitnah kepada gurendur itu. maka dikerjakan. Maka gurendur Artus* dan orangkaya-kaya semuhanya muafakat. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. karena dalam titah itu . jangan seorang mengaku ia sendirinya. Sebahagi serta perdana gimelaha dan negeri sekalian. Tellah demikian itu entah berapa dalamnya maka Kapitan Hitu menyuruh dua buah parau utusan ke Mangkasar. lalu pulang ke rahmat Allah. sadaha* Semaun namanya. Maka tiada boleh dikerjakan kehendaknya. tetapi jika datang masya Allah siyapa membawah tanah Hitu ini?’ Maka kata orangkaya: ‘Tiada dapat dikatakan. karena Kapitan Hitu sudah mengetahui kelakuan Wolanda itu. Apabila sudah muafakat serta minta angkatan datang berkellai dengan Wolanda. melainkan mana kehendak Allah ta`ala serta orang banyak itulah memangku tanah Hitu. alahmengalah sebahagai juga tiada berputusan. melainkan keempat orangkaya dan Kapitan Hitu serta muafakat.Karena pada tatkala itu perdana gimelaha serta negeri semuhanya berkellai dengan Wolanda.dengan agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. sarang-menyarang. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu menyuruh ke Mangkasar endak muafakat dengan serri sultan di Goa. lalu gurendur Kisil ia belayar ke Betawih. Maka dipeliharakan mait perdana itu dan disedekakan arta kepada segala penghulu agama dan orangkaya-kaya dalam negeri Hitu sekalian dan diadatkan sehingga datang seratus harinya. maka berparanglah dan sebahagi serta kiyaicili Sibori memegang Wolanda membuat gudungnya di negeri Luhu dan paranglah kedua pihak itu. Iapun demikian juga kelakuannya. tiada dengan periksyanya. maka digantikan Antoni* akan gurendur. Kehendak Allah ta`ala siyapa mengetahui. Maka ia masuk ke tanah Hitu. Itulah nama keempat serta Kapitan Hitu pada zaman itu.’ Karena pada ketika itu mardan Baros akan Nusatapi nama gelarnya dan mardan Mulutan akan Totohatu nama gelarnya dan mardan Kelisa akan Pati Tuban nama gelarnya dan mardan Kiyoan akan Tanihitumesen. sehingga negeri Luhu juga dua bahagi. maka dinaikan kepada hukum Kakiyali akan Kapitan Hitu serta perjanjian: ‘Apabila barang suatu pekerjaan atau pekatahan. maka berapa kali tipu kepada Kapitan Hitu. Tellah demikian itu datang masya Allah.’ Dan apa2 pekatahan serta adat tanah Hitu semuhanya dikatakan kepada keempat perdana dan berapa2 pekatahan yang dahulu kala itu semuhanya dikatakan kepada anak buahnya. membawah titah datang kepada perdana gimelaha serta Ulima dan Ulisiwa.’ Maka gurendur pun percaya.’ Maka menyahut pula orang banyak itu: ‘Bennar kata tuhanku itu.tetapi bulum lagi dengan kehendak Allah ta`ala tiada jadi tipunya itu.

demikian buninya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu dan orangkayakaya sekalian dalam negeri Hitu, serta utusan sadaha Semaun mendamaikan kepada gimelaha dengan gurendur dan membaiki tanah Ambon Ulima dan Ulisiwa, supaya jangan jadi fitnah. Karena perjanjian Wolanda itu seorangpun tiada mengetahui, melainkan Kapitan Hitu juga mengetahui dia dan ia juga menaruh surat yang perjanjian itu.’ Tellah demikian titah itu, maka kata orangkaya-kaya tanah Hitu: ‘Jika bagai kehendak titah demikian itu, baik juga utusan pulang dahulu ke Tanah Besar,kemudian kami mengikut di belakang.’ Maka utusan pulang menanti di pantai Luhu, maka datang gurendur itu pun demikian juga, lalu ia mengikut utusan itu menanti di pantai Luhu. Maka Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya keluar dengan kelengkapannya, lalu menyebarang. Hatta datang ke Tanah Besar, maka gurendur serta angkatannya mendapatkan dia di pantai Warau. Maka kata gurendur itu:‘Marilah kita berkata2 dahulu, kemudian kita masuk ke pantai Luhu kepada orang banyak.’ Maka Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya semuhanya naik kepada kelengkapannya gurendur itu, maka dipagang semuhanya serta Kapitan Hitu. Maka riuhlah orang dalam kelengkapan itu, lalu dikelilingkan angkatan kepadanya. Ia sebuah2 juga ditengah2 serta pasang-memasang, tembak-menembak datang pengelodan rawaki itu seperti titi hujang atas air masing dan asap obat menjadi awan antara langit dan bumi. Dan buni bedil serta* kilat dan riuh seperti ceritera buni sangkakalah tatkala hari kiamat kepada yaum al-mahsyar. Karena angkatan Wolanda itu lima puluh aluan, lain daripada kapal dan patacoh*, maka ia sebuah2 juga melawan dengan dia.Sehingga datang kepada tanjung Kahula Wolanda itu pun undur. Iapun masuk ke pantai Lesiela, lalu menyuruh sebuah perau membawah kepada Patiwani. Ia pulang ke tanah Hitu menyampaikan khabar itu kepada negeri serta dipindahkan negeri semuhanya naik ke atas gunung. Dan undur angkatan Wolanda itu, lalu menyebarang ke tanah Hitu endak menyarang kepada negeri, tetapi tiada dapat lagi. Maka menyuruh panggil kepada orangkaya-kaya, demikian katanya: ‘Apa kerja pindah? Karena tanah Hitu dan Wolanda itu seperti laki-bini. Apabila bini salah itu melainkan lakinya juga ajar kepada dia, maka beta pagang kepada Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya ini. Demikian itulah halnya orang laki-bini dalam dunia, tetapi keluarlah kita kedua berbicara serta kebaikan.’ Maka kata orang Hitu:‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi kembalikan dahulu kepada Kapitan Hitu dan orangkaya2 itu, maka kami keluar kepada gurendur.’ Maka dilepaskan kepada orangkaya-kaya itu, Kapitan Hitu juga tiada dilepaskan. Maka orang Hitu pun tiada mau keluar kepadanya

serta memerintahkan negerinya. Dan utusan sadaha Semaun pun menangkap kepada orangkaya-kaya dalam negeri Luhu; yang memagang kepada Wolanda itu pun ia bawah ke Maluku. Maka orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon tercangan terlalu khairan kepada perbuatan gurendur dan utusan sadaha Semaun itu, maka tanah Ambon semuhanya tiada ketahui kehendaknya. Setengah berkata: ‘Baik kita berkellai.’ Dan setengah berkata: ‘Baik kita bedamai, karena sudah didamaikan kita dengan gurendur.’ Dan setengah pula berkata: ‘Jangan kita berkellai dan jangan kita bedamai sehingga diam sahanya*, supaya kita menanti kehendak titah.’ Maka kata perdana gimelaha dua bersyaudara: ‘Bennar juga kata orangkaya itu. Tetapi kepada perbuatan Wolanda ini rusak kepada agama rasul Allah di hadapan titah yang dipetuan, daripada ia tiada berupama ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza, nasrun min Allah syah, zill Allah fi 'l-`alamin.Daripada itulah baik kita berparang dengan dia.’ Lalu muafakatlah tanah Ambon semuhanya sehingga sebuah negeri Luhu juga. Maka kata Sifar ar-Rijali di hadapan perdana,Ulima dan Ulisiwa: ‘Ada pun berkellai ini sebab, apabila jika sebab Kapitan Hitu, sabar dahulu, supaya kita menanti titah yang dipetuan dan kabaran.’ Maka kata Ulima dan Ulisiwa: ‘Sebab agama rasul Allah, kedua perkara sebab titah tiada berupama ke bawah dulli yang dipetuan.’ Dan barang apa2 pekatahan kepada hari yang kemudian itu, semuhanya ditaksirkan di hadapan perdana gimelaha dan orangkaya sekalian. Tellah sudah ditaksirkan kata demikian itu, lalu ia beli obat bedil empat balas bahara cengkeh harganya, dan tengah tujuh ratus padang. Lalu ia pulang serta orangkaya gimelaha dan negeri Waibuti ke tanah Hitu serta muafakat dengan orangkaya2 di tanah Hitu. Lalu ia pulang, maka negeri Hitu sekalian berkellai, sehingga orangkaya Tanihitumesen dengan orangkaya Bulan juga tiada berkellai. Ia mengikut kepada Wolanda itu, maka ia jadi musuh kepada negeri Hitu sekalian dan negeri sekalian pun memerintahkan kepada hulu parangnya. Maka digelarnya kepada pendagar Nahoda dan pendagar Pati Husen* keduanya akan panglima di tanah Hitu. Lalu ia pergi merompa di tanah sebelah kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka diteguhkan Allah subhanahu wa-ta`ala, berkat agama rasul Allah serta dengan kemenangannya, maka ia pulang di negeri Wawani, makan-minum, bersuka-sukaan dan disalin kepadanya serta dengan dimasyhurkan namanya johan pahlawan Patiwani. Itulah hasiat* orang parang sabil Allah dalam dunia. Tellah demikian itu pendagar Telukibesi ia pergi merompa pula kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka dengan kehendak Allah ta`ala berkat agama rasul Allah serta kemenangannya, lalu ia

pulang di negeri Kapahaha bersuka-sukaan dan dimulliya kepadanya serta dimasyhurkan namanya johan pahlawan Tubanbesi. Ia duduk di gunung Kapahaha. Itulah faedah orang parang sabil Allah dalam dunia, entah berapa lagi dan* akhirat; karena riwayat pandita dalam syarah Sunusi*, dua perkara orang masuk syurga tiada dengan hisab* lagi, suatu perkara tarekad dunia, kedua perkara parang sabil Allah. Daripada itulah, maka beramai-ramaian negeri sekalian berparang dengan Wolanda itu. Maka kata Wolanda itu: ‘Apabila orang Hitu keluar duduk di pantai seperti dahulu kala itu, maka kami keluarkan Kapitan Hitu.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi keluarkan dahulu, maka kami turun duduk di pantai kembali seperti dahulu itu. Jikalau tiada lepaskan dia, kami pun tiada mau keluar.’ Maka negeri semuhanya tiada keluar sehingga orangkaya Bulan, ayah mudanya Kapitan Hitu serta tujuh negeri keluar duduk di pantai serta Wolanda itu. Maka kata orang sekalian kepada orangkaya itu: ‘Betapa kehendak orangkaya keluar itu?’ Maka kata orangkaya: ‘Baik juga kita keluar ikut katanya. Dalam tujuh bulan itu apabila dilepaskan kepada Kapitan Hitu, maka negeri sekalian keluar. Jikalau tiada dilepaskan kepada [Kapitan] Hitu dalam tujuh bulan itu kita berbantahkan perjanjiannya.’ Maka orangkaya keluar serta muafakat dengan orangkaya-kaya, lalu orangkaya Tanihitumesen belayar ke Betawih. Dan apa2 kehendak orangkaya itu semuhanya dikatakan kepada jeneral, maka di belakang orangkaya negeri semuhanya itu keluar masuk kepada musuh itu,tiada lagi berkellai. Maka kata Sifar ar-Rijali kepada orangkaya-kaya dan panglima serta pendagar sekalian, demikian katanya: ‘Apabila perbuatan kita demikian ini?Rusaklah negeri kita dan Kapitan Hitu pun tiada dikembalikan lagi oleh Wolanda itu.’ Lalu ia pergi merompa kepada orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala serta dengan kemenangannya, maka ia pulanglah ke negeri Wawani bersuka-sukaan, maka seorangpun tiada keluar lagi.Entah berapa lamanya datang orangkaya Tanihitumesen, maka orangkaya-kaya menyuruh tanya kepadanya: ‘Betapa kehendak jeneral kepada Kapitan Hitu, lepaskankah atau tiadakah?’ Maka ia berkata: ‘Ada pun kata jeneral, tiga bulan lagi datang kapal dari Bandan, maka dilepaskan kepada Kapitan Hitu.’ Maka negeri Hitu semuhanya menanti sehingga datang tiga bulan tiada juga dilepaskan, maka kata negeri sekalian kepada orangkaya Bulan: ‘Ada pun perjanjian gurendur kepada orangkaya dalam tujuh bulan, sekarang sudah lalu tiga bulan, maka tiada ia mengikut perjanjian itu. Betapa lagi kehendak orangkaya itu, kami ikut juga, tetapi baik orangkaya undur dahulu. Kemudian apa kehendak orangkaya itu katakan

Maka kedua pihak berparanglah siang dan malam. datang armada dari Betawih endak menyarang kepada kota Lesiela. lalu ia pulang ke Betawih. Maka perdana gimelaha serta Ulilima dan Ulisiwa keluar meromparompa kepada negeri Yahudi dan Nasrani. nasrun min llah syah. Maka Kipati Luhu dan Pati Tuban dan imam Nusaniwe. tetapi perdana gimelaha sudah harkat menanti dia. di mana merompa di darat atau di laut tiada lain ia juga. membawa titah memanggil kepada gimelaha dan orangkaya-kaya. serta perdana gimelaha Luhu pergi mengadap ke bawah dulli paduka serri sultan Hamza. supaya kita kerjakan. Sebahagai juga parang kedua pihak itu. Maka ketika itu tanah Ambon Ulilima dan Ulisiwa semuhanya berparanglah beramai-ramaian tiada berputusan. gimelaha Bobawa. entah berapa kapal serta kora2 datang pula. sekalian pati dan sengaji semuhanya keluar serta dengan angkatan endak menyarang kepada negeri orangkaya Tanihitumesen. Hatta datang tiga bulan bertungguan tiada boleh alah. sarang-menyarang sebahagailah tiada berhenti lagi. Hatta datang musim barat. maka kedua pihak pasang-memasang. lalu melawanlah ia dengan kapal itu daripada waktu duha sehingga datang waktu asar. maka ia bertemu kapal Wolanda itu. Dan kuceriterakan perdana gimelaha dan orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. maka tiada jadi mendatangi dia. sehingga dipindahkan kepada negeri Loin naik ke atas gunung. Hatta dengan takdir Allah ta`ala entah berapa-rapa negeri Nasrani takluk Wolanda itu bebali kepada johan pahlawan gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa.juga kepada orang sekalian. lalu paranglah negeri semuhanya beramairamaian. Pada ketika itu pahlawan Patiwani seorangpun tiada sebagainya di tanah Hitu. Segali perastawa ia keluar serta angkatannya mendatangi kota dauman*. tetapi iapun tiada turun dan iapun tiada naik sehingga berapa lamanya Wolanda pun pulang dan angkatan Islam pun kembali serta perdana gimelaha. Maka kata johan pahlawan . Apabila masuk matahari. Tellah demikian itu maka kuceriterakan: di belakang perdana gimelaha Luhu itu johan pahlawan gimelaha Leliyato memangku tanah Ambon serta memerintahkan parang sabil Allah dan berkat agama rasul Allah serta kemenangannya. lain daripada itu tiada kusebutkan. lalu kapal pun belayar dan angkatan pun undur ke pantai Wawani. tetapi kepada parang Wolanda itu tiada dapat diceriterakan pelbagai parangnya. Hatta datang angin daratan. Lalu datang ke pantai Wawani. Daripada ia bulum lagi untungnya. Hatta berapa lamanya datang utusan dari Maluku. pagi pettang tiada berantara lagi.’ Itu pun tiada juga orangkaya mau undur sehingga empat buah negeri undur naik ke gunung.

[kepada] orangkaya-kaya Nasrani itu.betahanlah di sana serta orang dagang Melayu Minangkabau. demikian katanya: ‘Kapitan Hitu menjual cengkeh kepada dagang Mangkasar dan Minangkabau di Puluh Tiga.’ Lalu orangkaya belayar ikut ke Betawih dan apa2 kehendaknya orangkaya itu dikatakan kepada jeneral.’ Maka gurendur tiada dengan periksyai lagi.’ Tellah demikian itu orang membawah fitna kepada jeneral dan gurendur. Maka gurendur menyuruh sebuah kapal belayar membawah khabar kepada jeneral serta bawah kepada Kapitan Hitu ke Betawih.Sendiri-dirinya juga. Maka Kapitan Hitu pun takut tiada keluar kepada Wolanda itu. Itu pun tiada juga dapat. Hatta datang musim jeneral pun datang serta angkatannya ke tanah Ambon. melainkan Wolanda juga antar kepadanya sehingga datang ke pantai Hila. Nasrani atau Islam. Hatta tiada berapa lamanya datang paduka serri sultan Hamza. seorangpun tiada serta dia. demikian katanya: ‘Siya-siyalah orangkaya keluar serta Wolanda itu . maka ia pulang ke negeri Wawani dan negeri sekalian memberi tiga puluh bahara cengkeh kepada jeneral akan pembeli siri pinang. makan-minum. lalu ia pulang ke Kota Laha. maka tiada boleh alah. Maka orangkaya gimelaha dan orang semuhanya pindah ke negeri Kambelo. Jangan dikembalikan kepada Kapitan Hitu. lalu ia pulang ke negeri bersuka-sukaan. tetapi kehendak kami itu melainkan kita bersama-sama membawah agama rasul Allah. Hatta dengan takdir Allah ta`ala. menyarang kepada Lesiela serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota Lesiela. jika ditahankan ia duduk sehingga tanah Hitu jua pun baik juga. Entah berapa lamanya dalam Kota Laha. lalu orangkaya-kaya semuhanya serta Kapitan Hitu pergi ke Kota Laha bedamai dengan jeneral dan gurendur serta orang besar-besarnya. lalu ia pulang ke Kota Laha. Maka kata orang Hitu kepada orangkaya Bulan. maka dikembalikan kepada Kapitan Hitu. lalu ia mengadang ke laut Puluh Tiga. makin bertambah fitnah. Maka negeri Hitu sekalian bersuka-sukaan.seperti pantun Melayu: ‘Dapakan bunga setangkai jangan diaibkan orang. Itu belum lagi dengan kehendak Allah ta`ala. beramai-ramaian dengan dia. Maka ditinggal kepada dia lalu orang Hila antar bawah kepadanya ke negeri Wawani. nama orang hitam. demikian katanya: ‘Hai syaudaraku. Ganap tanjung dan labuan tiada dapat. engkau sekalian bukan kami endak kepada hamba sahayamu dan bukan kami kehendak kepada artamu. Lalu Wolanda itu ke negeri Hatubawah endak menyarang kepada gunung Alaka.’ Maka diiakan orang itu. nasrun . ini pula dibawah ke ini pula dibawah ke Betawih. makan-minum serta disalini dengan pakaian yang inda2. lalu menyuruh kepada kapitan Yon Yan* serta orang banyak mencahari.

lalu pulang orang yang memanggil itu menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuan. ampun seribu ampun. sekalian pati dan sengaji: ‘Rubuhkan kotamu itu dan niyahkan segala orang dagang itu. Ada pun pada ketika itu Kapitan Hitu pun sakit. ada yang membawah ayapan. Hatta datang titah yang dipetuan kepada orangkaya-kaya dalam negeri Lesidi dan Kambelo. Maka orang Kambelo keluar serta pahlawan Patiwani Hitu. ada yang bejalan saja. ada yang membawah arta bejenis-jenis serta bunyi-bunyian mengiringkan kepada payung kerajaan daulat al sultan Hamza. nasrun min Allah syah. manatah surat perjanjian Wolanda itu?’ Maka menyahut pula Sifarijali: ‘Patik minta maaf. Tellah demikian itu paduka yang dipetuan berangkat ke tanah Hitu serta Wolanda itu dan negeri Hitu sekalian pun keluar jungjung serta dengan adat semuhanya dikerjakan. Tetapi kepada jeneral itu tiada ia percaya. sehingga Patiwani jua ia betahan parang dengan Wolanda itu. patik tuanku sakit. Maka tanah Ambon dan Buru sekalian berhimpunlah di sana. Hatta seketika lagi patah parang Kambelo. lalu masuk ke pantai Kambelo. Bennar juga titah . Ada yang memagang senjata serta santiagu*. Jika tiada sakit. Maka Wolanda itu serta angkatannya mendapatkan paduka serri sultan. berpalinglah orang sekalian. Maka menyuruh fetor Soroi* dan sarinto* pergi periksyai kepada penyakitnya itu. zill Allah fi 'l-`alamin. Maka suruh panggil perdana gimelaha dua bersyaudara. Pada ketika itu ia duduk di negeri Kambelo.’ Maka kotanya itu pun dirubuhkan dan sekalian dagang itu pun belayar masing2 mencahari tempatnya.min Allah syah. zill Allah fi 'l-`alamin. Lalu ia pulang katakan kepada jeneral: ‘Bennar juga kata orang itu. lalu dinaikan pahlawan gimelaha Leliyato kepada kapal Wolanda itu dan dikeluarkan gimelaha Luhu.’ Maka titah: ‘Jika ia sakit. Apabila sudah rubuhkan kotanya. maka turun Wolanda itu mendatangi negeri Kambelo. suruh belayar pulang ke negerinya. Kemudian berhadapan di bawah dulli yang dipetuan. ke tanah Ambon serta raja Tidore yang diturunkan daripada kerajaannya itu dan raja Jailolo. Tiada dapat kuceriterakan parangnya. maka berparanglah atas bukit itu. sudah datang ke bawah dulli tuanku. Hatta datang maka titah: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka menyahut Sifarijali: ‘Daulat tuanku.’ Lalu menyuruh panggil kepada Kapitan Hitu. hatta datang titah kepada orang sekalian:‘Mana surat perjanjian dengan Wolanda itu?’ Maka menyahut orangkaya-kaya semuhanya: ‘Ada pun surat perjanjian Wolanda itu ada kepada patik tuanku Kapitan Hitu.’ Tellah demikian itu panglima Nahudimeten serta imam Sifarrijali keduanya keluar datang mengadap ke bawah dulli serri sultan. Maka berhimpunlah tanah Ambon sekalian berhadapan .

lalu berangkat ke Kota Laha. wa-sultan al-Din. meninggalkan benua Ternate datang ke tanah Ambon. Sehingga datang ke pantai Eran*. itulah kesudahannya. ibn al-sultan marhum syah. serta gimelaha Luhu. serta johan pahlawan gimelaha Luhu berparang dengan Wolanda itu. lain daripada itu tiada kuceriterakan. Hatta berapa dalamnya. Itu pun demikian juga tiada berputusan. karena ia tempat merampas isi rumah Kapitan Hitu. maka bertemu dua buah kapal . Maka tanah Ambon pun masing2 pulang ke negerinya. Entah surat itu ta dapat tiada kepada Wolanda. tiada ketahuan negeri Luhu dan negeri Lesidi. Entah berapa lamanya di sana. Hatta datang kepada hari yang lain.’ Lalu berangkat kepada kelengkapannya dan orang sekalian pun masing2 pulang kepada tempatnya. maka orang Hitu dan orang Kambelo serta orangkaya gimelaha belayar mengadap raja Mangkasar minta tolong kepada agama rasul Allah. tiadalah kita memutuskan kepada perjanjian itu. sehingga kelengkapan dari Ternate itu juga serta yang dipetuan di tanah Hitu. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. Ada pun negeri Hitu dari Wawani dan negeri Asilulu dan negeri Alan.’ Maka sabda yang kerajaan:‘Apabila bagai kata yang demikian itu. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki. karena surat pun tiada. nasrun min Allah syah. tetapi tatkala ditipu kepada patik tuanku. maka berangkat pulang ke Hitu pula. jangankan surat itu. menyuruh tujuh buah perau mengantarkan kepada orangkaya gimelaha dan orangkaya2 pulang ke tanah Ambon. Maka serri sultan Muhammad Sya`id. lain daripada itu tiada kuceriterakan. serta Kapitan Hitu dan Pati Tuban dan Tubanbesi. Liliboy. serta orangkaya Bulan dan orangkaya Tanihitumesen mengikut kepada Wolanda. lalu dibawah belayar kepada pahlawan gimelaha Leliyato ke Jawahkatra*. maka masuk pula bicara dalam gudang Wolanda itu. yang memagang surat pun tiada datang. lain daripada itu tiada kusubutkan. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda. Lesidi. dari Hitu menyeberang ke Luhu. Dan kepada tanah Hitu negeri Hila dan negeri Hitulama. negerinya pun tiada diketahui lagi. alah-mengalah. lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut kepada Wolanda.yang dipetuan itu. lalu pulang ke Maluku. pasang-memasang. dari Luhu berangkat ke Kambelo. sehinggalah keluar yang dipetuan serri sultan Hamza. tembak- . Berlawanlah di sana dua kaum itu.sarangmenyarang sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah di tanah Ambon. Telah demikian itu maka kuceriterakan kemudian daripada itu tanah Ambon. Maka bersumpah-sumpahan kalam Allah dengan orang Hitu dan berjanjian dan muafakat seperti dahulu itu lagi.

karena kelengkapan Mangkasar membuat talangkeranya* di darat dan Wolanda membuat di laut atas kapalnya. alahkan dia. karena perjanjian raja kepada Wolanda itu belum lagi berubah. ia duduk di pantai Seit. Maka datang orangkaya2 dari negeri Kapahaha dan negeri Mamala minta maaf kepada Mangkasar dan orang Wawani. Dan yang duduk di Kambelo itu pun menyoron parangnya serta orang Ternate dan orang Kambelo alah kepada negeri Saluku. Maka ia pulang serta dengan kemenangnya bersuka-sukaan dalamnya. Maka datang kapal Wolanda itu. kemudian kami rusakkan dia. dan karaen Mampo akan hukum dalam angkatan itu dan memagang arta raja itu Marala dan karaen Puli dan Malim dan Besi Lumu*. demikian katanya: ‘Kami minta maaf banyak-banyak kepada penggawa dan panglima sekalian undur juga. Apabila masuk matahari. Maka ia bernanti tiada masuk kepada gudung itu. setengah masuk duduk di Kambelo dan setengah dibawah ke Hitu membuat kotanya di pantai Seit ia duduk. tembah-menembah. Lalu menyorong parangnya kepada negeri Larike dan negeri karas sukar mengalahkan dia. pagi petang pertungguwan tiada berkeputusan. tetapi diteggah oleh penggawa. maka orang Mangkasar endak masuk rusak kepada gudung itu. Tetapi penghulu dalam angkatan itu karaen* Bontomanompo dan daeng* Bulikan. sehingga lalu pulang orang sekalian serta Patiwani ke negeri Wawani. makan-minum. maka orang Mangkasar dan orang Wawani pun . berlakulah kedua pihak itu serta senjata bekilat-bekilat dan bunyi-bunyian tamburnya dan kucapinya atas kepadanya. Hatta berapa antaranya dalamnya parau dari Kambelo dan dari Hitu datang membawah kepadanya. lalu masuk ke tanah Hitu. lalu masuk sekali2 tiada dengan was2 lagi. Hatta datang pahlawan Patiwani melihat kepada negeri itu. Hatta datang musim. maka setengah duduk dan setengah pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar dan minta bantu pula. Endak lalukan kepada gudang Wolanda itu. berlawanlah kedua kaum itu. maka alah negeri itu.’ Tellah kata demikian itu. Hatta berapa lamanya kapal itu pun belayar. maka Mangkasar pun menyorongnya menyarang kepada negeri Hitulama serta dengan kehenda Allah ta`ala alah negeri itu. Maka orang dalam negeri itu semuhanya masuk ke dalam gudung Wolanda. pasang-memasang. Ada pun gudung itu atas kepada kami. Hatta datang ke tanah Ambon. bersuka-sukaan. karena pasan yang dipetuhan tiada dengan orang Wolanda. sangngat berahinya. maka datanglah entah berapa aluwannya. Hatta datang musim barat. Siang dan malam. tetapi anak buah kami itu kami keluarkan dahulu.menembak. Dan daripada Mangkasar pun demikian juga begendang serta bunyi-bunyian. Lain daripada itu tiada kusebutkan.

maka ditangkis oleh Wolanda itu sehingga sedikit juga putus asfanggarnya* itu. maka orang Hitu dan Mangkasar keluar mengamu. Tatkala itu karaeng Jipang dan daeng Manggapa keduanya bedagang di pantai Kambelo. ada mati sendirinya. Dan Wolanda itu pun demikian lagi. orang dalam gudung itu pun keluar dan bantu dari Kota Laha pun datang menolong kepada gudung itu. Maka orang Kambelo dan orangkaya gimelaha serta Mangkasar tiada jadi menyarang kepada negeri Lesidi. Tellah demikian itu hatta datang berapa antaranya menyorong pula parangnya ke Tanah Besar. Itu pun demikian juga sebab orang Kambelo dan Lesidi tiada dengan sesungguhnya. belarilariyan membuangkan senjatanya. karena orangkaya gimelaha tiada sesungguhnya parang. tiada jadi masuk kepada gudung itu. Daripada Anin dan Laala itu pun demikian juga. lalu orang Kambelo dan gimelaha bedamai dengan orang Lesidi. Maka orang Hitu dan Mangkasar mendapat tiga puluh pucu esfangar yang tiada berapi. sehingga negeri Wawani juga berkellahi dengan orang semuhanya itu serta Wolanda itu. lalu pulang. sehingga karaen Jipan* dan Manggapa serta hamba raja Marala dan Malim menunggu kepada kotanya di pantai Seit. masing-masing membawah . tiada jadi berhenti. karena gimelaha Majira serta orang itu dan pun demikian lagi dengan negeri Anin dan Laala. lalu naik menyarang kepada negeri Wawani. Hatta datang esok harinya. Serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota itu. Ia duduk di pantai Wawani. menyuruh belayar ke Betawih membawah khabar kepada jeneral Fandiman*. Maka orang Kapahaha dan orang Mamala dan Liyan pun tiada jadi mengrusakkan dia. maka ia keduanya bersama-sama serta angkatan itu menyeberang ke tanah Hitu. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan orang mati pun entah berapa banyak tiada kuceriterakan. Maka sesungguhnya. sebab ia terjung dari atas gunung tiada berketahuan larinya. karena ada mati oleh pedang. Serta pahlawan Patiwani menetah.berhenti. Maka tanah Ambon semuanya mengikut kepada Wolanda. lalu pulang tiada dengan faedahnya. sebab raja berangkat menyarang kepada raja Bone. Hatta datang musim karaeng Bontomanompo dan daeng Bolikan serta kelengkapannya pulang ke Mangkasar menyampaikan khabar kepada serri sultan Muhammad Sya`id alDin. Maka berangkat serta orang Kambelo dan orangkaya gimelaha mendatangi di negeri Lesidi. Itulah tanda orang kibria dalam dunia tiada mengetahui kehendak Allah ta`ala. Lalu patah parang Wolanda itu. Ada pun kepada Wolanda itu jeneral keluar dengan angkatannya serta tanah Ambon dengan angkatan semuanya mendatangi kotanya Mangkasar itu . Hatta datang esok harinya. Hatta datang musim barat Mangkasar tiada keluar. ada mati beddil.

jangankan laki-laki. lalu pulang ke rakhmat Allah. Ia juga sendirinya. lalu pulang ke negerinya sehingga meninggal tiga buah kapal menunggu kepada pantai Wawani. karena ia mengaku di laut atau di darat atas kepada orang itu dengan Hehalesi. membuat talangkeranya serta gudungnya di pantai Hahutuna. lalu masuk laknat itu. seorangpun tiada. Sangkanya bennar orang lari. . Entah berapa lamanya dalam negeri Wawani dan orang sekalian pun percaya kepadanya. lalu tidur sekalih di luar kepada suatu balai. Maka ia berbicarai dengan gurendur. maka turung. Daripada itulah rusak iman orang parang sabil Allah dan melamahkan hati orang itu. lalu bawah kapal belabu di tanjung Hulu. maka ia berkata:‘Kami endak pergi bermain di negeri kicil.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Pergilah engkau.masuk kepada Kapitan Hitu dan Kapitan Hitu pun percaya kepadanya. Maka naik kepada angkatannya. maka ia berparang dengan Wolanda. sehingga sekali juga makan besi butul dadanya. Karena istiadat Kapitan Hitu. Itu orang meruntuhkan agama rasul Allah dan orang itu orang munafik. keluar serta orangkaya Tanihitumesen masuk kepada Wolanda. Kemudian daripada itu Seit dan Hahutuna. tiada mengetahui tipu dayah Kastila itu.dirinya. Tellah demikian itu orang Kaitetu pun keluar serta orang Seit dan Hahutuna masuk kepada orangkaya Tanihitumesen muafakat. Hatta datang tengah malam ia masuk ke dalam rumah. maka ia naik ke kapal kepada Wolanda itu dan apa-apa katanya Kastila itu. daripada ia katakan kata yang baik serta membujuk dengan kata yang manis samanya Islam. Hatta datang ajal Allah. Hatta datang kepada suatu ketika ia datang kepada Kapitan Hitu. Tatkala itu Kapitan Hitu pun baringbaring. karena orang itu dengan Hehalesi mengaku hadapan ke pantai Hitu dan menyuruh berparang serta Wolanda. Itulah sendirinya beradu tiada dengan penunggunya. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Sebab itulah Kapitan Hitu menengar fitnah daripada orang itu.’ Lalu keduanya berjalan keluar di pantai Seit. jika panjangnya lima jengkal tiada boleh masuk ke dalam rumah. lima buah negeri. Dan laknat itu lari ke kapal beritahu kepada kapitan. lalu naik ke negeri Wawani. Maka kuceriterakan pada tatkala itu ada dua orang Kastila lari daripada orang Wolanda datang ke negeri Wawani. Maka negeri Wawani pun selamat. Maka ia pasan muruyumunya* semuhanya gennap kapalnya serta gudungnya sekalian. Maka tikam tigabelas kali serta dengan kehendak Allah ta`ala tiada makan besi kulitnya. hamba sahayanya sekalipun. Ada pun tatkala parang itu hamba raja Marala dua bersyaudara mati dan pahlawan Patiwani luka dan imam Sifar arRijali pun luka pada ketika itu. maka negeri Hitu sekalian pun menjadi daif daripada ia terkuddun ia.

Hahutuna: ‘Mengapa maka pulang lagi? . Apabila berbuatan atau tipu yang jahat bukanlah perbuatan Wolanda.’ Maka suruwan itu pulang beritahu kepadanya. demikian katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu sudah pulang ke rakhmat Allah. karena orangkaya serta orang banyak ada di sana. lalu keluar orangkaya2 serta orang banyak mengikut kepada suruwan itu. jika tiada baik menyuruh panggil kepadanya bicara di luar.’ Maka kata orangkaya2 Wawani: ‘Jika bagai kata demikian itu. sangkanya kata yang baik. Bolehkah kita bertemu dengan orangkaya2? Tetapi kita tiada boleh naik ke negeri. Maka kata orang Seit dan Hahutuna: ‘Tuanku lalu ke pasar Lebelehu. Maka menyuruh pula berulang-ulang dengan kata yang baik dan manis. karena gurendur tiada mau kepada beta naik. maka kata orangkaya dan orang banyak: ‘Ada pun kita ada bicara sekarang ini. Esok harinya ia datang. baiklah kami pulang dahulu. maka ekor mengikut.’ Maka kata orangkaya dan orang Seit.’ Maka orang sekalian percaya. maka muafakat semuanya dahulu. tetapi kami tiada boleh keluar sebab orangkaya serta Wolanda.Maka menyuruh naik ke negeri Wawani. lalu pergi ke sana. maka ia menyuruh datang kepada kami itu. Lalu katanya demikian: ‘Orang kaya2-pun tiada boleh keluar. kita empunya perbuatan itu. sehingga datang kepada suatu padang di tepi sungai. menyampaikan kata orangkaya itu kepada orangkaya Pati Tuban dan pahlawan Patiwani serta orangkaya sekalian. Kemudian maka kita kira-kira apabila baik kita masuk kepadanya. karena kita bersama-sama dengan Wolanda. Baiklah kita sama bertemu di luar negeri. Kita pun tiada boleh naik ke negeri. tiada boleh naik ke negeri.’ Ia menanti. supaya kita muafakat mana yang baik itu maka kita kerjakan. orangkaya2 dari Hila dan dari Mamala dan dari Kapahaha bulum lagi datang. karena gurendur tiada mau. karena piliyan kata yang benar. tiada perna ekor dahulu maka kepala mengikut. Baiklah orangkaya2 berhenti. Hatta datang di sana bertemu dengan orangkaya serta orang banyak itu. maka dikatakan serta dengan empena menjadi jina. melainkan dahulu juga kepala.’ ‘Benar juga kata orang itu. Esok harinya maka kami datang. Seperkara lagi. Apa salahnya?’ ‘Daripada itu ia ingat kepada negeri Hitu serta agama rasul Allah. tetapi gurendur tiada percaya karena negeri sekalian itu mengikut kepada dia. Karena negeri semuanya sudah keluar akan katanya kepada gurendur. karena orangkaya dalam maklum Wolanda itu.’ Maka kata orangkaya2: ‘Benar kata syaudara kami itu. Matahari pun masuk. Daripada itulah kita menyuruh datang kepada orangkaya2 itu serta dengan angkunya. Kami pun demikian lagi endah bertemu dengan orangkaya juga. dan kami pun demikian juga seperti kata orangkaya itu.

’ Karena orangkaya sudah mengaku di hadapan orang semuanya kepada barang perbuatan yang jahat itu. seorang Goron* dan seorang Tapihuwat namanya. terbit pandang*. turun bukit dan berapa padang ia berjalan. maka semuanya muafakat: ‘Apa tipu kita? Apabila kita dalam hutan juga tiada tahan lagi rakyat kita ini . Baiklah kita menyuruh kepada suatu negeri.dijalankan di laut dan orang Hitu dan setengah orang Mangkasar serta daen Manggapa berjalan di darat. beritahu kepada letnante dan menyuruh antan-antun dua orang. keduanya naik ke kapal beritahu kepada kapitan gurendur. Dan apa-apa kehendaknya itu semuanya dikatakannya kepada Wolanda. supaya kita dengngar kehendak itu. Maka ia berenti di sana. naik bukit. kemudian kira-kirakan kehendak kita. Wai Luyi* namanya sungai itu. masuk dalam hutan dan orangkaya yang keluar itu pun tiada boleh masuk ke negeri lagi. naik kepada tengah malam itu menyarang kepada negeri Wawani. lalu orang Seit dan Hahutuna pulang ke negerinya. sangkanya kata yang benar.’ Lalu menyuruh ke negeri Kapahaha: ‘Boleh kami masuk atau tiadakah?’ Karena tatkala itu negeri Kapahaha pun bedamai dengan Wolanda. lalu berjalan di luar masuk utan. lalu keluar masuk utan. Serta kehendak Allah ta`ala alah negeri Wawani dan orang dalam negeri itu pun cerai-berai. mauka atau tiadaka. tetapi sabbar dahulu supaya kami kira-kira serta orangkaya2 semuanya. Maka ia bertemu sekalian rakyatnya dan karaen Jipan* dan daen Manggapa serta rakyatnya dan kiyaicili La Manimpa ibn sipati* di Buton. Maka semuanya bejalan masuk ke negeri Nukuhali dan negeri itu pun tiada boleh terima kepadanya. Demer* namanya. maka kirakirakan kepada kedudukan. semuanya mengikut kepada Wolanda. Tellah dipeliharakan paduka kiyaicili itu. Entah berapa lamanya dalam hutan itu sebagai juga sehingga datang ke hulu sungai.’ Tellah demikian itu entah apa-apa kehendaknya sekalian orangkaya itu. Lalu turun Kompenyi*. maka didiamkan kepada suatu dusun. maka kata orangkaya Tubanbesi: ‘Boleh juga. Apabila datang semuanya kemudian. maka berentilah di sana. Di sanalah ia duduk menanti kepada orang banyak lagi dalam hutan itu. lalu ia datang sendirinya membawah kepada orang yang tiada dapat berjalan itu. membilang nama orang yang datang itu dan nama panglima serta pendagarnya semuanya yang datang itu. paduka kiyaicili Laksamana pun sakit lalu mati . Entah berapa dalamnya. Maka berjalan pula ke negeri Tehala dan negeri Tehala pun demikian juga tiada dapat terima. Hatta datang ke pantai Kapahaha. maka orangkaya2 serta orang sekalian pun percayalah.Jika begitu tiadalah percaya kepada kami semuanya ini. karena panglima Patiwani dan imam . Alitan namanya. Jika kita endah masuk kepada suatu negeri.

jika tiada ia keluar serta aku. Maka kata orangkaya: ‘Apa tipu kita? Karena kita sudah bedamai dengan dia. Maka datang pula Wolanda itu serta orang Hitu yang mengikut kepada Wolanda itu. Maka menyuruh panggil kepada negeri semuanya. sehingga negeri Kapahaha juga tiada keluar. ada mati dalam hutan.’ Lalu orangkaya-kaya masuk pada gurendur serta membawah tiga ribu real akan pembeli siri pinang. tiada boleh bergerak lagi serta dengan ajal Allah lalu ia syahid. demikian kata: ‘Baik siap-siap negeri. Demikian kehendak orang itu:’Apabila kita sekalian ini masuk ke dalam negeri. Orang dalam negeri itu pun kita antar akan dia. lalu berparang kedua pihak itu. lalu ia pulang dengan . Daripada itulah kubunnya dengan tanamannya semuanya kepada orang itu mengambil dia. ada masuk ke Hila. ada masuk ke Hitulama. Maka bertemu kepada suatu padang. Hatta berapa lamanya dalam hutan itu. sukarlah kepada hidupan kita. Ada pun tatkala ia dalam hutan itu sekalian negeri itu tiada boleh masuk dalam hutan. lalu menembang cengkeh serta kayu yang dimakan buah2-nya. Maka gurendur itu real itu pun diterima dan kepada orang itu tiada diampunkan. lalu ia belayar pulang ke Mangkasar.’ Hatta didengar kata gurendur demikian itu dan negeri semuanya keluar serta gurendur itu. Baiklah kita pergi kepadanya minta ampun. ada masuk ke negeri Kapahaha.Sifar ar-Rijali dan pati Larutu bersama-sama karaen Jipan* serta Mangkasar yang banyak itu lagi dalam hutan. ada masuk kepada Wolanda itu. maka datang Wolanda itu mencari dia.’ Itullah kehendaknya orang itu. Ia membawah setengah serta Patiwani dan Sifar ar-Rijali masuk ke negeri Kapahaha. maka berparanglah tiga kaum itu dalam hutan di sana. Maka menyuruh mengambil perau kepada Kartulesi serta orang yang tinggal dalam hutan itu. Empat orang ditindisnya di adapan Wolanda itu. Maka hulubalang negeri Kapahaha. Umarela namanya. Hatta seketika juga dengan kehendak Allah ta`ala tetanam kaki Kartulesi ke dalam lumpur. ialah rasamu* kepada orang mudah-mudah dalam negeri Kapahaha pada tatkala itu. Baiklah kita di sini supaya kita pun dapat makanan. Lalu keluarkan angkatan serta tanah Ambon semuanya datang ke pantai Mamala. ada masuk ke negeri kicil. Hatta seketika juga undur Wolanda itu pulang ke gudangnya dan karaen Jipan* pun meninggalkan Mangkasar setengah serta Kartulesi menanti kepada suatu dusun. Maka diberikan dua buah perau. Tiada berketahuan larinya. Maka Wolanda itu dilabukan kapalanya genap tanjung dan labuan Kapahaha serta mendirikan talankeranya* di pantai itu. ialah akan musuhku. Apabila ia mati maka orang banyak itu masing-masing lari membawah dirinya. supaya kami minta minta ampun. maka ialah keluar merompa pada orang Nasrani itu.

Dan Wolanda itu pun demikian lagi. melainkan petang malam. serta menatak sekali juga kennah dua orang. satu kennah . Sama gagahnya dua pihak itu. maka dilihatnya jurumudi putus tangannya sebelah dan mati. malam atau siang hari. Hatta seketika lagi ia memandang ke kiri dan ke kanan dan ke aluan dan ke buritan. ia datang mengadap di pantai di mana datang orang itu . Maka sama bertemu keduanya lalu berparanglah kedua kaum itu. Dan demikian lagi daripada pihak Islam. Seorang itu sehingga sedikit juga putus kedua penggal. panglimanya dan pendagarnya serta pahlawan Patiwani ialah sangat mengasakan orang mudah2 kepada parang sabil Allah. perparanglah kedua kaum itu. sentiasa kedua kaum itu sebagai juga. Hatta dengan ajal Allah syahidlah ia dalam perau Wolanda itu. Maka ia keluar. maka datang sebuah perau Wolanda itu dari pantai Lumakai*.Maka sama gagah kedua pihak itu. Apabila petang. Lalu ia menyerbukan dirinya kepada Wolanda itu. lalu langgar kepada Wolanda itu. makan-minum serta bunyibunyian dalam negeri Kapahaha. sama gagahnya . Hatta berapa dalamnya serta dengan kehendaknya Allah ta`ala pahlawan Patiwani ia naik kepada sebuah perau menyeberang ke sebelah Tanah Besar. Entah berapa hari dalamnya. maka ia masuk ke dalam sungai Wai Liyi*. ia mengadap di luar talankeranya Wolanda itu dan Wolanda itu pun mengawal. Apabila sudah langgar. bersuka-sukaannya. Maka ditembah oleh Wolanda itu dua lukanya.melawanlah keduanya pasang-memasang. maka ia pulang dan Wolanda itu pun apabila petang malam. Apabila kepada pihak Islam itu ia keluar mengambil makanan. alah menang Islam pun tiada mau kepada Nasrani dan orang Nasrani pun tiada mau kepada Islam. Maka kedua pihak itu tiada berputusan berparang siang malam pagi petang. tatuk-menatak sebagai juga tiada berhenti lagi. maka keluar orang dari negeri Kapahaha. Alah mennang daripada kapitannya yang gagah itu seperti letnante dan alferes* dan sarento* serta kapitan Merlaka* ia sangat keras mengasakan soldadu kepada parang. Hatib Lukula dari Mamala tangannya satu bengko dan orang luka pun banyak. maka ia mengunus syamsyirnya serta melompat naik ke atas kelengkapan Wolanda itu. Hatta sama bertemu kedua pihak itu. tembahmenembah.samalah kedua kaum itu.tiada ia pulang kepada siang hari.kemenangnya. maka ia memarintah kepada orang semuanya. ialah kapitannya dan seorang lagi putus sebelah tangannya ada di jalan lagi. Maka huru-gara majnun pandang kepada johan Patiwani ia dalam kelengkapan Wolanda itu. pasang-memasang. sentiasa tiada bertinggalan lagi.

maka jatuh ke air masing. Ulilima dan Ulisiwa. Maka kedua kaum itu melawanlah. Maka negeri tiada mau bedamai. Sehingga tengah jalan. tetapi menyampaikan salamku kepada orangkaya Tupanbesi serta orangkaya2 sekallian. lalu naik kepada peraunya. maka dibawah pulang maitnya itu datang ke negeri Kapahaha dan dipeliharakan serta diadatkan sehingga seratus . Itulah Allah dan nabi Muhammad juga yang mengetahui.’ Lalu ia mati. Maka ia pasang bedil ditembah ke dalam negeri dan negeri pun menembah kepadanya. Lain daripada itu tiada dapat kuceriterakan. Maka didapatnya sebuah perau. tetapi baikbaik bicara tuan-tuan semuanya.pahanya dan satu lagi kenah bibirnya. maka ia lari sendirinya membuang senjatanya. maka kata johan pahlawan Patiwani: ‘Hai syaudahraku sekallian. Tellah demikian sekali perastawa gurendur sendirinya membawah angkatan endah menyerang kepada negeri Kapahaha. Daripada belum dengan ajal Allah kepada negeri Kapahaha ia lari sendirinya membuangkan senjatanya. itulah hal parang kedua kaum. Maka ia pulang bertemu dua buah fergat*. jangan disamakan kita di belakang tuan-tuan itu. maka dibelakannya johan itu dan negeri semuanya pun berpalinglah kepada Wolanda itu. Hatta datang musim utusan pun datang dari Ternate. karena musuh semuanya yang datang suruh minta bedamai. lalu masuk ke Kota Laha pada gurendur. Apabila suda ia mati. serta orangkaya gimelaha datang suruh minta bedamai. karena ia satu negeri juga tiga ratus orang memagang senjata berparanglah dengan negeri sekalian. Itulah kesudahan hidupan pahlawan Patiwani dalam tanah Hitu. maka melawanlah keduanya. karena keduanya sama lellah leti. harinya . karena sekali menembah tujuh orang dikenanya. Jadi kuranglah kuat negeri Kapahaha. Pada ketika itu mennang Wolanda itu kepada Islam dan kuceriterakan. pasang-memasang daripada waktu subuh sehingga datang kepada bakda magrib. Segali perastawa orangkaya Pati Tupan dan Tulesi adindah orangkaya Tubanbesi bawah dua perau ke Tanah Besar. Ada mennang. Maka ia naik ke atas bukit antara gunung Hantu* dan negeri Kapahaha. maka kedua kaum itu berhanyutan juga tiada boleh penggayu lagi. Hatta demikian itu.ada pun tatkala itu orangkaya2 tanah Ambon. ada alah. Islam dan Nasrani. kami sudah belakankan dunia. Maka datang mengambil kepada johan pahlawan Pati[wani]. Itulah hal negeri Kapahaha parang sabil Allah. melainkan menanti titah paduka seri sultan dari Maluku. Segali lagi ia berjalan dari bukit Iyaluli* endah mendatangi negeri Kapahaha. . Hatta seketika lagi orangkaya Patti [Tuban] pun luka dan Tullesi pun kuka* Lain daripada itu tiada kusebutkan. Tellah sudah kesudahan kami. Entah berapa matinya tiada ditentu dalamnya.

Ada mati di tengah jalan. Mana kehendak seri sultan. apatah daya untung kita? Tellah demikian itu datang titah. supaya ia dengar kepada titah yang dipetuan. panggil kepada orangkaya Tubanbesi dan orangkaya2 yang tuah-tuah datang ke mari. Sebab itulah maka tiada jadi bedamai. dimasukkan ke dalam talankeranya. demikian katanya: ‘Ada pun orangkaya2 yang di belakan mengikut tuan-tuan itu dipagang oleh letnante. Demikianlah hal negeri Kapahaha. Maka ia menunjukkan jalan kepada Wolanda itu.maka orangkaya Kapahaha menyuruh tanya kepada orangkaya gimelaha. ada mati di bawah pohon kayu.’ Lalu orangkaya2 itu masuk hutan mencari jalan yang lain. penyakitan dalam negeri serta kekurangan makanan. ada masuk ke dalam guwah batu. berparanglah dengan negeri Kapahaha.’ Tiada juga datang titah. Maka didengar oleh orangkaya-kaya dalam negeri Kapahaha terlalu khairan ajaib sekali kepada perbuatan gimelaha itu. apa-apa sebabnya. Hatta demikian itu dengan kehendak Tuan Yang Mahatinggi seorang dagang ia lari masuk kepada Wolanda. hatta berapa dalamnya gimelaha pun datang dari Ternate. Dan setengah masuk ke negeri Mamala dan setengah masuk ke negeri Hitulama dan setengah masuk ke Hila. Hatta datang suruwan itu. maka orangkaya2 serta orang banyak datang kepada utusan dan gurendur. tiada dapat berjalan lagi. supaya kami dengar dan mengetahui kehendak titah itu pun. di situlah ia diam. Lalu orangkaya-kaya menyuruh menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuhan serta tanya sepata kata. Ada masuk ke dalam hutan. Maka orang semuanya itu cerrai-berrai masing-masing membawah dirinya. Maka kata orangkaya-kaya: ‘Ada pun harap kita kepada perjanjian serri sultan tatkala dipersekalikan kalam Allah di negeri Hitu. naik tengah malam serta dengan kehendak Allah ta`ala lalu alah negeri.’ Apabila orangkaya2 itu pulang sehingga tengah jalan. Maka kata utusan dan gurendur: ‘Pulanglah orangkaya2. sehingga kami sebuah negeri juga berparang dengan Wolanda itu. Ada masuk negeri Tiyal dan orangkaya Pati Tuban ia masuk ke negeri Wai. sebab ia kalaparang. maka bertemu orang datang membawah khabar.Maka menyuruh panggil kepada orangkaya2 negeri Kapahaha. demikian katanya: ‘Betapa hal kami ini? Karena tanah Ambon negeri sekalian serta dengan Wolanda. Jangankan negeri lain tiada dapat dikatakan negeri Hitu sendirinya pun akan musuhnya. Itu pun tiada juga datang titah. Maka semuanya itu diberikan kepada gurendur itu dan orangkaya . Barang apa didapatnya. baik berkellahi atau bedamai. lalu mati kepada tempatnya. lalu menyuruh bunuh kepada suruwan itu. apatah daya untung kita?’ Tellah demikian itu datang bala Allah. karena negeri sekalian menjadi musuh.

maka anjing itu diyam dan Wolanda itu pun tiada berkata-berkata. lalu berjalan keduanya. Maka ia bertemu seorang antanantan orangkaya Pati Tuban. ialah menjadi imam dalam negeri itu: ‘Dapatkah Sifarijali masuk ke negeri atau tiada dapat?’ Maka Tahakehena pun lasap sekali-sekali. maka musuh itu pun tiada melihat kepadanya. seorang Duljalal dan Pilakan* namanya kanak-kanak itu dan anak orangkaya Kapitan Hitu dua bersyaudara. Seketika juga datang anjing serta tuannya Wolanda itu datang. Maka ia berhenti di sana. lalu menyuruh kepada Sarasara Tahakehena masu ke dalam negeri Hila. naik kepada kapal. maka ia tiada jadi masuk ke Mamala lagi. lalu dipagang kepada dua orang itu dan menyuruh turun endah dipegang kepada orangkaya Tubanbesi.Tetapi belum lagi untungnya di situ. terbit padang dan naik bukit. sehingga kunyatakan tatkala ia keluar itu masuk hutan. Sebab itulah ia keluar basambuni dakat pantai. seorang Wangsa namanya dan seorang Petinggi namanya kanak-kanak itu. lalu keduanya pergi berjalan. tiada pulang lagi. Sama pandangmemandang. Maka menyuruh dua orang naik ke negeri. maka ia bersembuni. Sarasara Tahakehena namanya.Tubanbesi ia membawah sebuah perau sudah keluar sehingga pantai Hatuhaha. Apabila terbit fajar ia keluar di pantai basambuni. Dan tiada kuceriterakan kesukarangnya serta kejahatannya yang dicellai orang itu. tanya kepada seorang anak syaudagar yang besar [penggawa] lagi dermawang pun artawan. Maka ia hendak masuk ke negeri Mamala. tetapi kiranya orang Mamala pun tiada boleh diterima kepadanya. lalu pulang ke negeri Hitu. Entah berapa jauhnya. Entah berapa jauhnya berdapat pula dengan musuh. turun bukit. Dan kuceriterakan Sifari'l-jalih. Maka dibunuhlah kepada orangkaya dan dinaikan kepada orangkaya Pati Tupan dan orangkaya Beraim-ela dan Tulesi dan Alam dan Teyaka* serta anak orangkaya Tubanbesi dua bersyaudarah. Maka orang Hitu bawah orangkaya dua beranak kepada Wolanda itu. maka tefakur Sifarijali dalam cintanya serta berkata: ‘Ajaib sekali akan Tahakehena pergi berdapat segera datang hendaknya hidup lasap sekali- . Lalu pergi masuk ke hutan sehingga datang kepada suatu padang. maka ia dengar bunyi anjing dalam hutan. bawah ke Betawih. Daripada belum lagi sampai ajal Sifarijali keduanya Sarasara Tahakehena. maka ia pun keluar pergi berjalan ke dalam hutan. karena kepada siang hari itu ada orang masuk mencari dalam hutan. terbit padang.berlindung di dalam alang-alang. Hatta matahari masuk. demikian katanya: ‘Dapatkah orangkaya2 menyuruh seorang atau dua orang turun kepada orangkaya Tubanbesi atau tiadakah?’ Hatta didengar kata demikian itu. lalu ia keluar pergi ke dalam hutan. maka ia lepas.

Tinggal lagi tiga orang juga. pergi berjalan ke hutan ia duduk kepada suatu bukit. serta Ulu Ahutan membawah sebuah perau cari kepadanya. Maka kata Sifarijali:‘Apa tipu kita kepada kanak-kanak ini. bawahkah atau tinggalkah?’ Maka kata syaudaranya: ‘Kedudukannya baik juga kita bawah. ia keluar berjalan menapi pantai. Seketika lagi datang Telesima dan Abubakar serta kanak-kanak. Maka ia bertanya kepada Sakia itu. Sehingga datang ke negeri Seit dan Hahutuna. anak orangkaya Kapitan Hitu. duduk di negeri Lesiela bersamasama orangkaya gimelaha.’ Lalu ia ke tanah Kelang.’ Maka kata imam Rijali: ‘Apa dayah?’ Lalu dipuluh* dan dicium kepada kanak-kanak itu. lalu mengikut orangkaya itu ke tanah Buru. si Papua namanya. Maka ia bertemu Sakia dari Waibuti mengambil ikan. Hatta dengan kehenda Allah ta`ala datang gimelaha Hasi dari Luhu endah pulang ke Buru. Hatta berapa lamanya. Entah berapa lamanya. seorangpun tiada terima kepadanya dan dia pun sembuni tiada mau menunjukkan dirinya kepada orang itu. Maka Sifarijali minta sebuah perau daripada orang Kelan*. Sebab itulah. tiada boleh berjalan kepada siang hari. Hatta terbit fajar masuk ke hutan ia berhenti. Tiada dapat kuceriterakan dukkacittanya. Patinggi namanya. maka keempatnya menyeberang ke Tanah Besar. ia pun masuk ke negeri berhadapan dengan imam itu. sehingga itulah menanti kepada Tuhan Yang Mahasuci. Baik kita tinggalkan dia supaya ia keluar ke negeri. maka semuanya diceriterakan oleh syaudaranya itu. ia duduk kepada suatu bukit. karena pada ketika itu orangkaya gimelaha Daga dengan kiyaicili [Besi]mulu serta orang Kelan* endah berkelahi dengan Wolanda itu. Maka bertemulah sama berhadapan bertanya-tanyakan hal-ahwal tanah Hitu dengan Wolanda itu. Pati Laik namanya.sekali. lalu ia keluar bedamai dengan gurendur itu. Lalu dipindakan pulang ke negeri Luhu dan pati Kambelo pun bawah kepada Abubakar. didukun oleh inang pengasuhnya. demikian katanya: ‘Dapat kami naik ke negeri atau tiadakah?’ Maka ia menyahut: ‘Orang itu tiada boleh. Apabila masuk matahari. Maka ia menyuruh pergi kepada Hehalesi. lalu dibawah dari negeri ke dalam hutan. maka ia diketinggalkannya. Maka . Hatta berapa dalamnya maka mengambil sebuah perau. Hatta masuk matahari. maka ia datang ke sana bersama-sama orangkaya Daga dan kiyaicili. maka datang gulawarganya. daripada itulah Sifarijali terlalu ajaib. sehingga datang ke tanjung Sial. maka ia datang beri bakal dan makanan. tetapi jika datang ke hutan maka kennah hujang dan angin ia tiada boleh tahan.’ Telah demikian. maka datang perdana gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa datang membawah titah seri sultan Hamza. Maka ia terima kepada dia orang. maka ia menanti.

demikian katanya: ‘Marilah turun beli makanan itu.’ Lalu syahbandar memberi tempat kedudukannya. Maka Sifarijali ia masuk mengadap serta menyampaikan hal-ahwalnya ke bawah dulli seri sultan. belum lagi sampai pada . supaya kita jangan melihat dan menengar tanah kita lagi.didengar oleh Sifarijali itu. Maka datang titah kepada bonto* dan biduwandi*: ‘Tanya olemu kepada orang itu endah ke mana perginya dan apa kehendaknya datang ini?’ Maka menyahut Sifarijali. Hatta datang ke tanah Buton. maka ia menyampaikan ke bawah dulli yang kerajaan. Jikalau ada makanan. Maka menyahut Sifarijali: ‘Ada pun titah kepada dagang piatu itu. maka datang orang Bone tanya kepadanya: ‘Orang mana?’ Maka menyahut: ‘Kami orang Ambon. Telah demikian itu ia memohon. ia senang dirinya.. Maka titah paduka Dipatingalowan*: ‘Lamun jika tida kuterima kepada halmu ini. lalu keluar belayar.’ Maka Sifarijali pun menanti. makin bertambah kedukaannya. ia keluar memanggil kepada orang dalam perau itu.’ Lalu memohon kepada orangkaya gimelaha dan kipati. lalu masuk mengadap kepada raja.. Tatkala itu raja La Mibilu* akan kerajaan tanah Buton. Maka tiada lagi bakal orang itu. Hatta datang esok harinya datang pengalas serta antun-antun membawah titah menunjukkan kampung serta rumah. Ia basembuni dalam hutan. tetapi minta ampun kepada piatu yang hina karan. Maka karaen Rajipan menyuruh sebuah perau bawa kepada dia dahulu ke negeri dan karaen Rajipan lagi duduk di Buton. maka ia beli. sultan al-islam. sehingga karan-karan serta daun meninjau selamanya pergi itu. lalu menyuruh memberi bakalnya.’ Karena ia takut tiada mau naik ke perau. lalu pulang ke peraunya. Maka ia belayar ke laut tiga hari datang ke tanah Bone. Itulah daripada belum dengan kehendak Allah ta`ala. Maka [kata] orang semuanya: ‘Apatah daya kehenda Allah ta`ala? Baik membuang diri kita tanah lain. zill al-nabi fi dar al-mu’min. tiada seperti sabda nabi kepada kita ummatnya: “Wa-'l muslimin ikhwan”. maka bertemu kepada karaen Rajipan.’ ‘Endah ke mana?’ ‘Kami endah ke Mangkasar. maka ia pun tiada mau turun ke darat.’ Maka ia pulang menyampaikan ke bawah dulli. Segala hal-ahwalnya itu semuanya diceriterakan kepada biduwandi* itu. maka dagang piatu pun terima serta junjung kepada kehenda titah itu. Maka diberinya makanan serta kain bajunya. Hatta datang pagi hari orang itu pun datang serta senjata. . maka menyuruh entah berapa orang. esok hari kami bawah makanan ke mari. bawahlah kemari kami beli. itu. tetapi kami kurang air dan bakal.’ Maka kata orang itu: ‘Nantilah di sini. Pada dewasa itu seri sultan paduka Dipatingalowan* ia memerintahkan tanah Mangkasar dan demikian serri sultan Muhammad Sya`id akan kerajaan.

terbit padang. sehingga datang ke tanah Mangkasar. Itulah kesudahan hikayat ini. Wa-'s-salam bikhair amin.Daripada itulah meninggal negeri mencari sennang daripada ia takut akan Wolanda itu. Itulah halnya orang mendapat kediaman dirinya. Maka ia masuk hutan. menapi tasik. . menyeberang laut. Tamat sah ya sah.

Dutch: fregat. Ternate: sangaji: kepala wilaya Portuguese: alferes: letnan muda indah Angasari Anthonio (van den Heuvel) apabila ? Arinjiguna.Catatan aji alferes andak Angsari Antoni apalah Arinjiguna Artus asfanggarnya Aspel Bandan Bawang Biduwandi Boanoh bonto bot Bot Bulok Burung Capeu caramela daeng dan ? dauman Daurdia Demer Diman Dipatingalowan dipawahkan dipersyahdakan dipuluh Disera Duarde Eran esfangar Eskun fergat fetor firaklah Frings Furtado Gemala gimelaha Goron graf hamam Hantu harkat has Javanese: sang aji [raja]. haraka: harkat (mulai bergerak) Dutch: gaas: kain muslin . memawahkan: membagi hasil di antara pengusaha dengan pemilik dipersyahadatkan. dipersyuhadakan dipeluk (Estevão) Teieira (de Macedo) Dom Duarte de Meneses Erang Portuguese: espingarda: istinggar (Jan) Pieterszoon Coen Portuguese: fragata. kepala negeri Gorom Dutch: graaf: bupati Ar. firaq: pisah Prins (Maurits van Oranje) André Furtado (de Mendonça) (Jan Willemszoon) Gomale Ternate: kimalaha: kepala soa. alias Mihirjiguna Artus (Gijsels) Portuguese: espingarda: istinggar Herman van Speult Banda nyai Bawang alias Ratu Kali Nyamat biduanda Boano Butonese: orangkaya Portuguese: antena bote: andang_andang layar Pieter Both Adriaan Block (Martensz. = fregat Portuguese: feitor: kepala perwakilan kompeni perdagangan Ar. daeng: gelaran dalam di Oma Dom Duarte (de Meneses) (Gerrit) Demmer (Antonio) van Diemen Pattingalloang Mal.) Pulau Burung alias Nusa Manuk Portuguese: chapeu: capiau Portuguese: charamela: seruling Mak. hamam: tempat mandi Gunung Setan Ar.

hasiat Hehatomi Hisab hoja Holanda hukum Hun Huniyasi Husen Hutman Iwa Iyaluli Jawahkatra Jipan Kakasingku kapitan kapitan-mor karaen karanful Kelan kiyaicili Kompenyi kuka kuluf Kunmuri Kurnilis Lasidi Leitimol Lesiela lil Liyi Lukas Lumakai Lumu ? Lupa Luyi mahudum mardan marinero Masilpatani Matelif melalawat Melo Mengadapat Merkata Merlaka Mibilu Mundi Murucisa muruyumunya Nagahpatan Naseddiki Natahuat Nusatelu Nyuranye Prins Palikat arab: khassiya: khasiat Hehatomu hijab hujaj Portuguese: Holanda [Holland] Ternate: hukum: hakim Simon (Jansz. karaeng: raja Ar. Rumakai Bisei Lumu Lopu(lalan) Wai Loi makhudum Persia:.arab: Maryam: meriam Negapatnam Nasidik Hehuat Nusatelo (Maurits) van Oranje Pulikat . Krakatau (Vincent Gijsbert van) Moerlag Mabilu Nossa Senhora do Monte Maurits alias Mauritius Portuguese: Maria. cili: pangeran Dutch: Compagnie: Kompeni luka (Nicolaes) Colff Konimere. qaranful: cengkeh Kelang Ternate: kaicili.) Hoen Huniase Usen (ibn Jumat) Frederik de Houtman Iha Ialuli Jakatra Jipang Kasingu Portuguese: capitaõ: kapten Portuguese: capitaõ-mor (do mar): laksamana Mak. mard(an): yang mulia Portuguese: marinheiro: pelaut Masulipatam (Cornelis) Matelieff (de Jonge) melawat Gaspar de Melo menghadap Pulau Rakata. Schouten) Lesidi Leitimor Waran-ela alias Hoamoal zill Wai Lee Philip Lucasz. alias Kanyimedu Cornelis (Jansz.

alias Jonge Jan atau Nyong Yan Jasper Jansz. shalat seribu seperti Butonese: sapati: mangkubumi Sitania Sial (Wouter) Seroyen Suangi Ternate: suisa: tambur (Abu Abd Allah Muhammad al-)Sanusi Sabadin (ibn Jumali) Portuguese: tranquiera.pandang Paringsi Pasiruwan Patacoh perastawa pesir Pilakan Pinau pinsu Prings Pudiceri Pugel Pujiciri Rangsi rasamu Rengsi Riyal Rosengaing Saat sadaha Sagaluwa Sahanya sahingilah San Sanco santiagu sarento sarinto Sellat seribus serta sipati Sitaniya Siyal Soroi Suanggi suisa Sunusi Syabidin talangkeranya tamburunya Teyaka Tirubambu Tirumulawasir torompetanya Tuhahan tumengung Tumi ul Ulima Urin Warhaga Yan Yangsi padang Prins (van Oranje) Pasuruan Portuguese: patacho: sampan peristiwa pesiar Pelekolan Binau Portuguese: pinacas. santiago: berbaris Portuguese: sargento: sersan Portuguese: sargento: sersan Ar. . Dutch: pinas: penes Prins (van Oranje) Pondicherry (Marten Jansz. terangkera: kubu Portuguese: tambor: tambur Sekatikam Tirumala(rájan)patnam Tirumulavásal Portuguese: trombeta: terompet Tuhaha Javanese: tumenggung: hulubalang Thomé Baharullah Ulilima Ureng Steven van der Haghen Jan Outgersz. alias) Vogel Pondicherry Gerard Reynst Ar. Visscher. rasama: mendaftarkan Gerard Reynst Laurens Reael Rosengain sahut Ternate: sadaha: wakil sultan Sagalua sahajanya sehinggalah São Sancho (de Vasconcelos) Sp. Mal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful