P. 1
Peran Manajemen Berbasis Sekolah

Peran Manajemen Berbasis Sekolah

|Views: 985|Likes:
Published by Nozadia Sarastika

More info:

Published by: Nozadia Sarastika on Dec 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2013

pdf

text

original

PERAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH ( MBS) DALAM MENINGKATKAN MANAJEMEN MUTU TERPADU

Oleh : Prof. Dr. H. Endang Komara, M.Si A. Abstrak Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom, dengan tidak mereduksi peran pemerintah, terutama dalam bidang pendanaan. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki, maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. B. Pendahuluan Sejak bergulirnya reformasi pertengahan tahun 1998, telah terjadi gelombang perubahan dalam segala sendi kehidupan, baik kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara. Perubahan mendasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara saat ini merupakan pergeseran terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan. Selama ini penggunaan pradigma sentralistik selanjutnya terjadi pergeseran orientasi menuju paradigma desentralistik. Perubahan orientasi paradigma ini diberlakukan melalui penetapan perundang-undangan mengenaai Pemerintah Daerah, yang lebih sering kita dengar dengan terminologi otonomi daerah. Perubahan orientasi paradigma tersebut telah melahirkan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang lebih dinamis. Seluruh aktivitas yang dilakukan cenderung berdasarkan aspirasi setempat (kedinasan), sehingga sasaran lebih terjamin pencapaiannya. Dengan demikian, prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal. Hal ini dimungkinkan terjadi karena pemetaan permasalahan bersifat objektif, aktual, konstektual dan berbagai masalah teridentifikasi secara objektif. Salah satu implementasi dari penerapan paradigma desentralisasi itu adalah di sektor pendidikan. Sektor pendidikan selama ini ditengarai terabaikan dan dianggap hanya sebagai bagian dari aktivitas sosial, budaya, ekonomi dan politik. Akibatnya, sektor pendidikan dijadikan komoditas berbagai variabel di atas oleh para pengambil kebijakan, baik oleh eksekutif maupun legislatif ketika mereka menganggap perlu mengangkat isu-isu kependidikan yang dapat meningkatkan perhatian publik terhadap mereka. Memang ironis dan memprihatinkan ketika bangsa lain justru menjadikan pendidikan sebagai leading sector pembangunannya, menuju keadilan dan kesejahteraan masyarakatnya. Begitulah sektor pendidikan ditempatkan selama ini, ia tidak menjadi leading sector dalam perencanaan pembangunan mutu manusia secara nasional. Padahal amanah terpenting dari kemerdekaan bangsa ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Seharusnya seluruh perencanaan dan aktivitas apa pun yang dilakukan adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar, 2000). Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono, 2000: iii). Oleh karenanya, upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitasnya harus dilakukan secara terus menerus. Melalui pendidikan diharapkan pemberdayaan, kematangan, dan kemandirian serta mutu bangsa secara menyeluruh dapat terwujud. Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang bersifat fungsional bagi setiap manusia dan memiliki kedudukan strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tantangan lainnya yang mempengaruhi pendidikan adalah perubahan yang terjadi akibat semakin mengglobalnya tatanan pergaulan kehidupan dunia saat ini. Di era globalisasi, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas tidak bisa ditawar lagi dengan adanya tantangan yang dihadapi yakni persaingan dengan negara lainnya, khususnya negara tetangga di kawasan ASEAN. Padahal saat ini kualitas sumber daya manusia negara kita berdasarkan parameter yang ditetapkan oleh UNDP pada tahun 2000 berada pada peringkat ke-109. Padahal Singapura, Malaysia, Thailand dan Fhilipina lebih baik peringkatnya dari kita. Dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, kita semua sepakat bahwa pendidikan memegang peran yang sangat penting. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri (Suryadi, 1999). Walaupun tujuh tahun telah berlalu sejak penetapan UNDP tahun 2000 tentang peringkat mutu sumber daya manusia Indonesia, ternyata hingga saat ini bukannya semakin meningkat meningkat, tetapi tetap jalan ditempat, bahkan teridentifikasi semakin menurun. Berdasarkan laporan World Economic Forum, tingkat daya saing Indonesia pada tahun 2006 berada diurutan ke-50, Malaysia ke-26, Singapura ke-5, India ke-43 dan Korea Selatan ke-24. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan mutu manusia Indonesia melalui pendidikan, dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien, sesuai dengan kebutuhan yang semakin mendesak. Terminologi pendidikan memiliki ruang lingkup yang luas, meliputi pendidikan persekolahan dan pendidikan luar sekolah. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa tumpuan utamanya dalam pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan berada pada pendidikan persekolahan. Karena itu, upaya reformasi pendidikan ditujukan untuk memperbaiki sistem pendidikan persekolahan agar dapat menjawab tantangan nasional, regional dan global yang berada di hadapan kita. Salah satu pendekatan yang dipilih di era desentralisasi sebagai alternatif peningkatan kualitas pendidikan persekolahan adalah pemberian otonomi yang luas di tingkat sekolah serta partisipasi masyarakat yang tinggi dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Pendekatan tersebut dikenal dengan model Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah (MPBS) atau School Based Management. Mutu menjadi satu-satunya hal yang sangat penting dalam pendidikan, bisnis dan pemerintahan. Saat ini memang ada masalah dalam sistem pendidikan. Lulusan SMK atau perguruan tinggi tidak siap memenuhi kebutuhan masyarakat. Para siswa yang tidak siap jadi warga negara yang bertanggung jawab dan produktif itu, akhirnya hanya jadi beban masyarakat. Para siswa itu adalah produk sistem pendidikan yang tidak terfokus pada mutu, yang akhirnya hanya memberatkan anggaran kesejahteraan sosial saja. Adanya lulusan lembaga pendidikan yang seperti itu berdampak pula pada sistem peradilan kriminal, lantaran mereka tak dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan generasi mendatang, dan yang lebih parah lagi, akhirnya mereka menjadi warga negara yang merasa terasing dari masyarakatnya. Bila mutu pendidikan hendak diperbaiki, maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang memukul sistem pendidikan bangsa ini. Pengetahuan yang diperlukan untuk memperbaiki sistem pendidikan kita sebenarnya sudah ada dalam komunitas pendidikan kita sendiri. Kesulitan utama yang dihadapi para profesional pendidikan sekarang ini adalah ketidakmampuannya menghadapi sistem yang gagal sehingga menjadi tabir bagi para profesional pendidikan itu untuk mengembangkan atau menerapkan proses baru pendidikan yang akan memperbaiki mutu pendidikan. Pendidikan harus mengubah paradigmanya. Norma-norma dan keyakinan-keyakinan lama harus dipertanyakan. Sekolah mesti belajar untuk bisa berjalan dengan sumber daya yang sedikit. Para profesional pendidikan harus membantu para siswa mengembangkan keterampilan yang akan mereka butuhkan untuk bersaing dalam perekonomian global. Sayangnya, kebanyakan sekolah masih memandang bahwa mutu akan meningkat hanya jika masyarakat bersedia memberi dana yang lebih besar. Padahal dana bukanlah hal utama dalam perbaikan mutu pendidikan. Mutu pendidikan akan meningkat bila administrator, guru, staf dan anggota dewan sekolah mengembangkan sikap baru yang terfokus pada kepemimpinan, kerja tim, kooperasi, ekuntabilitas dan pengakuan.

Para profesional pendidikan sekarang ini kurang memiliki pengetahuan atau pengalaman yang diperlukan untuk menyiapkan para siswanya memasuki pasar kerja global. Tradisi rupanya menghalangi proses pendidikan untuk melakukan perubahan yang diperlukan agar programnya sesuai dengan kebutuhan siswa. Masyarakat menuntut mutu pendidikan diperbaiki, namun masyarakat enggan mendukung dunia pendidikan untuk mengupayakan perbaikan. Banyak profesional pendidikan yang takut pada perubahan dan tidak tahu cara menjawab tantangan zaman. Para profesional pendidikan mestinya sadar, program mutu di dunia komersial tidak bisa dijalankan dalam bidang pendidikan. Karena proses kerja, budaya dan lingkungan organisasi di kedua bidang itu berbeda. Para profesional pendidikan harus diberi program mutu yang khusus dirancang untuk dunia pendidikan. Salah satu komponen penting program mutu dalam pendidikan adalah mengembangkan sistem pengukuran yang memungkinkan para profesional pendidikan mendokumentasikan dan menunjukkan nilai tambah pendidikan bagi siswa dan komunitasnya. Masyarakat dan dunia pendidikan mesti mengeliminasi fokus jangka pendeknya. Salah satu ciri dunia modern adalah terjadinya perubahan yang konstan. Perubahan merupakan hal penting. Manajemen mutu dapat membantu sekolah menyesuaikan diri dengan perubahan melalui cara yang positif dan konstruktif. Penyelesaian yang cepat tidak akan memecahkan persoalan pendidikan masa kini. Penyelesaian masalah secara cepat sudah pernah dilakukan, dan terbukti gagal. Oleh sebab itu diperlukan dedikasi, fokus dan keajegan tujuan dalam memperbaiki mutu pendidikan. Untuk mencapai lingkungan pendidikan yang bermutu, semua stakeholder pendidikan mesti memiliki komitmen pada proses transformasi. C. Pembahasan 1. Peran Manajemen Berbasis Sekolah Lembaga pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi, penyadaran dan mediasi secara simultan. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati. Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran; fungsi progresif pendidikan dan; fungsi mediasi pendidikan ( Danim, 2007:1). Hal tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun, beradab, dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. Pendidikn formal, informal dan pendidikan kemasyarakatan merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya. Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan, melainkan sebagai intinya. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan, masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan, berupa penciptaan norma, aturan, prosedur, dan kebijakan baru. Orang tua, guru, dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu, bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif, termasuk fenomena moralitas. Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan, bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya, ditandai denga makin terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell

(1995), diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi, proses, dan struktur persekolahan. Bersamaan dengan itu, perubahan wajah dunia terus berakselerasi. Misalnya, pada abad ke20 telah diproduksi konsep dan teori yang radikal tentang alam, realitas dan epistemologi. Munculnya teori relativitas, mekanika kuantum, dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. Memang, evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. Selain itu, fungsi ini juga berperan sebagai wahana pengembangan, reproduksi, dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Para peneliti, penulis buku, pengamat, pendidik, guru, tutor, widyaiswara, pemakalah seminar, dan sejenisnya adalah orang yang banyak bergulat dengan pengkajian, penelitian, penelaahan, dan desiminasi ilmu. Saat ini fungsi progresif sekolah sebagai lembaga pendidikan terus menampakkan sosoknya, meski belum menunjukkan capaian yang signifikan, setidaknya pada banyak daerah dan jenis sekolah. Di daerah pedalaman misalnya, masih banyak sekolah yang sulit mempertahankan kondisinya pada taraf sekarang, apalagi mendongkrak mutu kinerjanya. Meski harus diakui pula, pada banyak tempat telah lahir sekolah-sekolah unggulan atau sekolah-sekolah yang diunggulkan oleh masyarakat karena mampu mengukir prestasi, misalnya peningkatan hasil belajar siswa. Fungsi itu akan lebih lengkap jika pendidikan juga melakukan fungsi mediasi, yaitu menjembatani fungsi konservatif dan fungsi progresif. Hal-hal yang termasuk kerangka fungsi mediasi adalah kehadiran institusi pendidikan sebagai wahana seosialisasi, pembawa bendera moralitas, wahana proses pemanusiaan dan kemanusiaan umum, serta pembinaan idealisme sebagai manusia terpelajar. Di Negara kita, pelembagaan MBS dipandang urgen atau mendesak. Hal itu sejalan dengan tuntutan masyarakat agar lembaga pendidikan persekolahan dapat dikelola secara lebih demokratis dibandingkan dengan pola kerja ‘’dipandu dari atas’’ sebagaimana dianut oleh negara yang menerapkan pemerintahan sentralistik. Persoalan utama di sini bukan terletak pada apakah format manajemen sekolah yang dipandu secara sentralistik itu lebih buruk ketimbang pendekatan MBS yang memuat pesan demokratisasi pendidikan, demikian juga sebaliknya. Persoalan yang paling esensial adalah apakah dengan perubahan pendekatan manajemen sekolah itu akan bermaslahat lebih besar dibandingkan dengan format kerja secara sentralistik ini, terutama dilihat dari kepentingan pendidikan anak. Maslahat aplikasi MBS bagi peningkatan kinerja sekolah dan perbaikan mutu hasil belajar peserta didik pada sekolah-sekolah yang menerapkannya masih harus diuji di lapangan. Prakarsa menuju perbaikan mutu melalui perubahan dari sentralisasi ke desentralisasi pengelolaan pendidikan tidak mungkin diperoleh secara segera. Hal ini sejalan dengan konsep Kaizen, bahwa kemajuan dicapai bukanlah sebuah lompatan besar ke depan. Menurut Kaizen kemajuan dicapai karena perubahan-perubahan kecil yang bersifat kontinu atau tanpa henti dalam beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu detail yang berhubungan dengan usaha menghasilkan produk atau pelayanan. Menurut Tony Barner (1998) asumsi yang mendasari perubahan dalam Kaizen adalah bahwa kesempurnaan itu sebenarnya tidak ada. Hal ini bermakna bahwa tidak ada kemajuan, produk, hubungan, sistem, atau struktur yang bisa memenuhi ideal. Kondisi ideal itu hanyalah sebuah abstraksi yang dituju. Oleh karena itu, selalu tersedia ruang dan waktu untuk mengadakan perbaikan dan peningkatan dengan jalan melakukan modifikasi, inovasi, atau bahkan imitasi kreatif. Terlepas dari itu semua, pelembagaan MBS hampir dipastikan bahwa aplikasi MBS akan mendorong tumbuhnya lembaga pendidikan persekolahan berbasis pada masyarakat (community-based education) ataua manajemen pendidikan berbasis masyarakat (MPBM), khususnya di bidang pendanaan, fungsi kontrol, dan pengguna lulusan. Pembentukan Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/kota dan Komite Sekolah di tingkat persekolahan merupakan salah satu bentuk bahwa pendidikan berbasis masyarakat menjadi isu sentral kita. Di dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propernas) 2000-2004 disebutkan bahwa salah satu program pembinaan pendidikan dasar dan menengah adalah mewujudkan manajemen pendidikan yang berbasis seakolah/masyarakat (school/community-based education) dengan memperkenalkan Dewan Pendidikan (dalam UU

b. orang tua. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free). Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. 2003:42). Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. administrator. Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan. Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air. c. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji. berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. khususnya orang tua siswa. Juga secara proses.ini disebut Dewan Sekolah) di tingkat kabupaten/kota serta pemberdayaan atau pembentukan Komite Sekolah di tingkat sekolah. Oleh karenanya. anggota masyarakat. Secara akademik. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat. untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Pelaporan hasil. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. . Ironisnya selama ini. e. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. g. Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah. d. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. kepala sekolah. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. f. Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. dan murid (Nurkolis. Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan.

Aliansi pendidikan memastikan bahwa para profesional sekolah atau wilayah memberikan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan program-program pendidikan. Peran Manajemen Mutu Terpadu Dr. Beberapa pandangan Juran (Arcaro. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: a. Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Pelatihan. bukan program sekali jalan.2. Dr. Manajemen Mutu Terpadu membentuk infrastruktur yang fleksibel yang dapat memberikan respons yang cepat terhadap perubahan tuntutan masyarakat. Juran sudah memperkirakan keberhasilan bangsa Jepang dalam sebuah pidatonya untuk Organisasi Kontrol Mutu Eropa pada tahun 1966. Bila diterapkan secara tepat. penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . Manajemen Mutu Terpadu dapat dipergunakan untuk mengurangi rasa takut dan meningkatkan kepercayaan di lingkungan sekolah. Manajemen Mutu Terpadu memudahkan sekolah mengelola perubahan. Transformasi menuju sekolah bermutu terpadu diawali dengan mengadopsi dedikasi bersama terhadap mutu oleh dewan sekolah. bisnis dan pemerintahan. Seperti halnya Deming. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. Prosesnya diawali dengan mengembangkan visi dan . Joseph M . siswa. b. Edward Deming (Arcaro. staf. Juran adalah ahli statistik terpandang. Juran menyebut mutu sebagai ‘’tepat untuk pakai’’ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah ‘’mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Manajemen Mutu Terpadu dapat digunakan sebagai perangkat untuk membangun aliansi antara pendidikan. W. Manajemen Mutu Terpadu merupakan metodologi yang dapat membantu para profesional pendidikan menjawab tantangan lingkungan masa kini. bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. Manajemen Mutu Terpadu dapat memberikan fokus pada pendidikan dan masyarakat. Dr. para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer. Manajemen Mutu Terpadu dapat membantu pendidikan menyesuaikan diri dengan keterbatasan dana dan waktu. administrator. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa ‘’tepat untuk dipakai’’ lebih tepat ditentukan oleh pemakai bukan oleh pemberi. Juran (Arcaro. misal merupakan prasyarat mutu. 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu’’. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator. Asal diterapkan secara ketat. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. c. b. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. guru dan komunitas. Dengan perangkat yang tepat. c. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan dengan tepat. 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a. e. Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. dia mengatakan bahwa: Bangsa Jepang menonjol di dunia dalam kepemimpinan mutu dan akan menjadi pemimpin dunia dalam dua dekade mendatang karena tak ada pihak lain yang bergerak ke arah mutu dengan kecepatan yang sama dengan Bangsa Jepang. Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. Seperti halnya Deming. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. d.

ternyata cukup mengejutkan. komitmen dan perbaikan berkelanjutan. militer dan perguruan tinggi yang berada di luar organisasi. Kostumer internal adalah orang tua. Lebih banyak uang yang diinvestasikan dalam pendidikan maka lebih tinggi juga mutu pendidikan dan. Karakteristik Sekolah Bermutu Terpadu menurut Arcaro (2006:38-39) antara lain: Fokus pada kostumer. Dalam survai terakhir atas 150 pengawas sekolah untuk mengukur pemahaman mereka atas mutu. Hanya dengan memandang pendidikan sebagai sebuah sistem maka para profesional pendidikan dapat mengeliminasi pemborosan dari pendidikan dan dapat memperbaiki mutu setiap proses pendidikan.misi mutu untuk wilayah dan setiap sekolah serta departemen dalam wilayah tersebut. Sekolah memiliki kostumer internal dan eksternal. Cara pikir dan cara kerja lama harus disingkirkan. mereka tak yakin bila sekolah itu memiliki kostumer. (2) banyak profesional pendidikan yang tetap memandang pendidikan sebagai sebuah ‘’jaringan anak manis’’. staf dan dewan sekolah yang berada di dalam sistem pendidikan. Setiap orang perlu mendukung upaya mutu. mutu adalah segala sesuatu yang dapat diperbaiki. Inilah konsep perbaikan berkelanjutan. tapi mutu pendidikan tak kunjung diperbaiki. Sedangkan kostumer eksternal adalah masyarakat. mengembangkan sistem pengukuran nilai tambah pendidikan. Para siswa menggunakan nilai ujian untuk mengukur kemajuan di kelas. namun memanfaatkan output proses pendidikan. Banyak profesional pendidikan secara terbuka menyatakan bahwa mereka memiliki komitmen terhadap transformasi mutu. administrator. Sekolah tidak dapat memenuhi standar mutu yang ditetapkan masyarakat. Menurut filosofi manajemen yang baru. Agar sekolah mengembangkan fokus mutu. janganlah diperbaiki’’. namun para professional pendidikan yang terlibat dalam prosesnya menjadi begitu terfokus pada pemecahan masalah yang tidak bisa mereka ukur efektivitas upaya yang dilakukannya. ‘’kalau belum rusak. guru. setiap orang dalam sistem sekolah mesti mengakui bahwa setiap output lembaga pendidikan adalah kostumer. Konsep dasarnya. perbaikilah. Mereka bersikukuh untuk bertahan dari tarikan profesional nonpendidikan yang mempengaruhi perubahan sistem. Ada dua keyakinan pokok yang menghalangi tiap upaya penciptaan mutu dalam sistem pendidikan seperti dijelaskan oleh Jerome S. menunjang sistem yang diperlukan staf dan siswa untuk mengelola perubahan. Pengukuran. proses transformasi mutu tidak akan dapat dimulai karena kalaupun dijalankan pasti gagal. Ini merupakan konsep yang amat sulit dipahami para profesional pendidikan. Dalam sebuah analisa rinci atas perguruan tinggi di Inggris belum lama ini. Ascaro (2006:12). Umumnya orang bekerja dalam bidang pendidikan memulai perbaikan sistem tanpa mengembangkan pemahaman yang penuh atas cara sistem tersebut bekerja. pengukuran. perusahaan. Bila mereka tidak memiliki komitmen. Pendidikan mesti dipandang sebagai sebuah sistem. setiap orang harus berpartisipasi dalam transformasi mutu. Perguruan tinggi itu tak punya catatan tertulis mengenai proses atau prosedur kerja. Mutu merupakan perubahan budaya yang menyebabkan organisasi mengubah cara . karena bila Anda tidak melakukannya orang lain pasti melakukannya’’. ‘’bila tidak rusak. Dengan kata lain. Mutu bukan hanya tanggung jawab dewan sekolah atau pengawas. keluarga. Fungsi-fungsi bisa berjalan lantaran memang selalu dijalankan. Mutu didasarkan pada konsep bahwa setiap proses dapat diperbaiki dan tidak ada proses yang sempurna. Banyak hal yang baik terjadi dalam pendidikan sekarang ini. Menurut filosofi manajemen lama. anda tidak dapat memperbaiki apa yang tidak dapat anda ukur. Ini merupakan bidang yang seringkali gagal di banyak sekolah. keterlibatan total. mendorong keterlibatan total komunitas dalam program. Transformasi mutu diawali dengan mengadopsi paradigma baru pendidikan. Dalam bidang pendidikan. memang sungguh sulit bagi orang-orangnya untuk mengembangkan paradigma baru pendidikan. Mutu menuntut setiap orang memberi kontribusi bagi upaya mutu. Visi mutu difokuskan pada pemenuhan kebutuhan kostumer. Komitmen pengawas sekolah dan dewan sekolah harus memiliki komitmen pada mutu. serta perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras membuat produk pendidikan menjadi lebih baik. Keterlibatan total. sekalipun ada sarana untuk mengukur kemajuan berdasarkan pencapaian standar tersebut. Komunitas menggunakan anggaran sekolah untuk mengukur efisiensi proses sekolah. Memang masih lebih banyak pihak dalam komunitas pendidikan yang mengakui adanya kostumer untuk tiap keluaran pendidikan. yakni: (1) banyak profesional pendidikan yakin bahwa mutu pendidikan bergantung pada besarnya dana yang dialokasikan untuk pendidikan. siswa. rupanya 35% responden yang disurvai menunjukkan.

(5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. 2007. Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan. Quality in Education: An Impelentation Handbook. Jakarta: Interaksara.kerjanya. Penterjemah Yosal Iriantara. Manajemen pendidikan berbasis sekolah. tapi manajemen harus mendukung proses perubahan dengan memberi pendidikan. Kaizen Strategies for Successful Leadership (Kepemimpinan Sukses). menuntut adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi.wordpress. Danim. Wahono. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. Orang biasanya tidak mau berubah. Ace. Barner. F. D. Bafadal. Yogyakarta. Nurkolis. Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi Ke Lembaga Akademik. perangkat. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara. (7) pelaporan hasil. 1998. ‘’Biaya dan Keuntungan Pendidikan’’. dari Sentralisasi menuju Desentralisasi. Mimbar Pendidikan. Cindelaras. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. misalnya mengisi kegiatan dengan hal-hal sebagaimana adanya dan sekalipun ada masalah tidak menganggapnya sebagai masalah. Jarome S. Jakarta: Bumi Aksara. Tony. Pustaka Pelajar. (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. 3. 2003. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. Yogyakarta:Insist Press. Oleh karena itu.com/about/peran-manajemen-berbasis-sekolah-mbsdalam-meningkatkan-manajemen-mutu-terpadu/ . No 1 Tahun X April 1991. Jerome S. 2003. 2006. 2006. Bandung: IKIP. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. Suryadi. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya. 2. Penutup Berdasarkan beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal sebagai berikut: 1. sistem dan proses untuk meningkatkan mutu. DAFTAR PUSTAKA Arcaro. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. 2000. http://khoirulanwari. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sudarwan. Kapitalisme Pendidikan – Antara Kompetisi dan Keadilan. Arcaro. Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah. 1991. Ibrahim. Perbaikan berkelanjutan secara konstan mencari cara untuk memperbaiki setiap proses pendidikan. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Grasindo.

Pembagian tugas mengajar dan tugas lain 2.Pd (2006): 1. M. atau cenderung berorientasi ke guru saja. bukan hanya dari sudut pandang fungsi operasional (per departemen) tapi juga dari sudut pandang fungsi manajemen. Adalah salah kalo dalam membangun aplikasi-aplikasi sistem informasi manajemen (SIM) yg kita banjiri dengan kegiatan-kegiatan transaksional/operasional tapi tidak melibatkan aktivitas-aktivitas lainnya. 3. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran . Yach. Analisis Materi Pelajaran 2. 5. Penyusunan jadwal pelajaran Penyusunan jadwal kegiatan perbaikan Penyusunan jadwal kegiatan pengayaan Penyusunan jadwal kegiatan ekstrakurikuler Penyusunan jadwal kegiatan bimbingan dan penyuluhan • Pengerahan 1. Manajemen Pembelajaran Perencanaan 1. Berikut ini komponen MPMPBS menurut Dr. Untuk itu. Penyusunan Kalender Pendidikan Penyusunan Program Tahunan dengan memperhatikan kalender pendidikan dan hasil analisis materi pelajaran Penyusunan program caturwulan atau semester berdasarkan program tahunan yg telah disusun Penyusunan program satuan pembelajaran (PSP) Penyusunan rencana pembelajaran (RP) Penyusunan rencana bimbingan dan penyuluhan • • Pengorganisasian 1. 5. 6. Banyak aplikasi-aplikasi MBS yg kurang memperhatikan itu. 6. nggak apa-apa sih — tapi belum tentu aplikasi2 RISMA kita itu nantinya secara fungsional bisa bermanfaat bagi semua lini dalam struktur organisasi sekolah dan optimal membantu kegiatan mereka serta tidak membebani tugas/tanggung jawab fungsional mereka yg sudah ada. dan tidak mempertimbangkan elemen-elemen manajemen sekolah yg lain. aku nggak (belum) mengelompokkan modul-modul aplikasi mana yang masuk dalam kegiatan manajemen mana (dari POAC itu tadi). Banyak aplikasi2 yg berorientasi secara sepihak. Kegiatan operasional organisasi itu sesungguhnya baru 25% dari keseluruhan fungsi MBS yg diharapkan. bagi gw pribadi dan bagi teman-teman di Cinox Area Network yg mungkin suatu saat akan diamanahkan membantu (atau bahkan menggantikan) peran gw di RISMA sebagai business analyst & software architect — untuk memahami konteks Manajemen Berbasis Sekolah dari perspektif multidimensional. 4.Posted by admin in News No comments AUG 10 Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah atau yg dikenal sebagai MBS — atau di kita dikenal sebagai RISMA : Sistem Informasi Manajemen Sekolah & Madrasah — itu sama seperti fungsi-fungsi manajemen umumnya yang harus punya aspek-aspek POAC (Planning Organizing Actuating Controlling) sebagaimana yg diutarakan ama ’selebritis’ akademis Sir Henry Fayol. Dalam ‘peta’ SIM Sekolah & Madrasah yg dulu pernah gw bikin DNA-nya (juga arrow-diagram-nya). gw pikir perlu. Tidak digunakan. Pengaturan pelaksanaan kegiatan pembukaan tahun ajaran baru 2. namanya juga SIM — M yg terakhir kan “manajemen” tuh kepanjangannya. Ibrahim Bafadal. seperti: cenderung berorientasi ke siswa saja. termasuk SIAP Online (yep: SIAP Online yg dibikin ama Telkom). 3. 4. 7. Itu hanya Actuating atau Pengerahan kalo dalam bahasa indonesia standar-nya. Banyak juga aplikasi-aplikasi MBS yg setelah diimplementasikan JUSTRU menambah kerjaanguru-guru dan pada akhirnya disangka membebani lalu lambat laun ditinggalkan. Wal-hasil — emm. Sistem pada akhirnya akan menjadi obsolete.

Analisis pekerjaan di sekolah 2. Pencatatan kehadiran siswa Pengaturan perpindahan siswa Pengaturan kelulusan siswa • Pengawasan 1. Pemantauan kinerja guru dan pegawai 2. Evaluasi proses dan hasil kegiatan pembelajaran 2. Pembinaan disiplin belajar siswa 2. Pendistribusian sarana dan prasarana sekolah 2. • Manajemen Kesiswaan Perencanaan 1. 5. 3. 3. Pembagian tugas guru dan pegawai Pengerahan 1. Penataan sarana dan prasarana sekolah . Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan penyuluhan Supervisi pelaksanaan pembelajaran Supervisi pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan • Pengawasan 1. 3. Pembinaan karir guru dan pegawai Pembinaan kesejahteraan guru dan pegawai Pengaturan perpindahan guru dan pegawai Pengaturan pemberhentian guru dan pegawai • Pengawasan 1. Pengelompokan siswa berdasarkan pola tertentu Pengerahan 1. • Manajemen Sarana/Prasarana Perencanaan 1. • Manajemen Kepegawaian Perencanaan 1. Perencanaan daya tampung Perencanaan penerimaan siswa baru Penerimaan siswa baru • • Pengorganisasian 1. Analisis kebutuhan sarana dan prasarana sekolah 2. 5. Evaluasi proses dan hasil kegiatan bimbingan dan penyuluhan 2. Pembinaan profesionalisme guru dan pegawai 2. 4. Perencanaan dan pengadaan sarana dan prasarana sekolah • Pengorganisasian 1. 4. 3.3. 4. 4. Penilaian kinerja guru dan pegawai 4. Penilaian siswa 3. Pemantauan siswa 2. Sensus anak usia prasekolah 2. Penyusunan formasi guru dan pegawai Perencanaan dan pengadaan guru dan pegawai baru • • Pengorganisasian 1.

Penyusunan program layanan khusus bagi warga sekolah • • Pengorganisasian 1. • • • Manajemen Keuangan Perencanaan 1. Pengadaan dan pengalokasian anggaran berdasarkan RAPBS Pengerahan 1. Menciptakan hubungan sekolah dengan orangtua siswa 2. Mendorong orangtua menyediakan lingkungan belajar yang efektif Mengadakan komunikasi dengan tokoh masyarakat Mengadakan kerjasama dengan instansi pemerintah dan swasta Mengadakan kerjasama dengan organisasi sosial keagamaan • Pengawasan 1. Pemantauan hubungan sekolah dengan masyarakat 2. 3. Pembagian tugas melaksanakan program layanan khusus bagi warga sekolah Pengerahan 1. Pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah secara efektif dan efisien 2. Pelaksanaan anggaran sekolah 2. Penyusunan RAPBS Pengorganisasian 1. 3. Pembagian tugas melaksanakan hubungan sekolah dengan masyarakat Pengerahan 1. 4. Penilaian kinerja penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah 5. • Manajemen Humas Perencanaan 1. Pemantauan keuangan sekolah 2. 3. 4. 3. Pemantauan kinerja penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah 2. 5. Pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah Inventarisasi sarana dan prasarana sekolah Penghapusan sarana dan prasarana sekolah • Pengawasan 1. 4.• Pengerahan 1. Analisa kebutuhan keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah 2. Analisis kebutuhan program layanan khusus bagi warga sekolah 2. Penyusunan program hubungan sekolah dengan masyarakat • • Pengorganisasian 1. Penilaian kinerja manajemen kuangan sekolah 6. Pengaturan pelaksanaan antar jemput siswa 2. Pembukuan keuangan sekolah Pertanggungjawaban keuangan sekolah • Pengawasan 1. Pengaturan pelaksanaan asrama siswa Pengaturan pelaksanaan makan siang siswa Pengaturan pelaksanaan program koperasi sekolah . • Manajemen Layanan Khusus Perencanaan 1. Penilaian kinerja hubungan sekolah dengan masyarakat 7.

Kemampuan manajemen yg baik adalah kunci suksesnya.erp-pendidikan. 2. Pemantauan program layanan khusus 2. 5. dan transparansi merupakan pilar/pondasi dari MBS yg ironisnya udah banyak diterapkan pada sekolah-sekolah swasta untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas eksistensinya. Dan hal inilah yg ingin di-injeksikan oleh pemerintah untuk ‘mendidik’ sekolah-sekolah negeri agar mampu berkembang secara mandiri dan berakibat positif pada peningkatan mutu output belajarnya. 3.5. 7. 4. berbeda dengan sekolah negeri yg selalu dilindungi dan dinaungi oleh pemerintah — sekolah swasta lebih banyak bekerja keras membanting tulang untuk menyokong ‘kehidupan’ sekolahnya. Memang. seringkali dalam aspek partisipatif melalui optimalisasi manajemen humas dan layananlayanan sekolah.com/?p=378 FACEBOOK BADGE Suherli Kusmana Create Your Badge BLOG ARCHIVE • ► 2010 (6) . 6. http://www. kemandirian. Penilaian kinerja program layanan khusus bagi warga sekolah RISMA sebaiknya dikemas sedemikian rupa sehingga mampu memfasilitasi proses-proses dalam MBS yg bersiklus yg terdiri dari: 1. partisipasi. pengembangan visi sekolah evaluasi diri dalam rangka mengidentifikasi berbagai kebutuhan pengembangan identifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan perumusan tujuan (misi) sekolah penyusunan program peningkatan implementasi program evaluasi diri kembali untuk kepentingan peningkatan mutu berikutnya Dimana mutu. Pengaturan pelaksanaan program layanan khusus lainnya • Pengawasan 1.

id http://depdiknas.org ShoutMix chat widget LABELS • kalimat efektif (1) .ziddu.go.• • ► 2009 (14) ▼ 2008 (21) Desember 2008 (1) November 2008 (3) Oktober 2008 (2) September 2008 (1) Agustus 2008 (3) Juli 2008 (2) Juni 2008 (4) Mei 2008 (5) ○► ○► ○► ○► ○► ○► ○► ○▼  Menilik Kebijakan Sistem Pendidikan  Buku Teks Layak Pakai di Sekolah  Usia Buku Teks  Karangan Ilmiah  Puisiku SITUS BERKAITAN • • • • • • • • • • READ APBI SK dan KD Bahasa Indonesia Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia Translate Google www.go.net http://jardiknas.com http://pusbuk.id http://e-dukasi.

Selain itu. dan otonomi merupakan arah balik dari desentralisasi (yang berangkat dari otoritas pusat yang diserahkan kepada daerah). kompetitif. Landasan filosofis yang perlu diperhatikan dalam memahami konsepsi ini bertolak dari terminologi desentralisasi dan otonomi. Hal itu bertolak dari kesadaran penentu kebijakan bahwa sektor pendidikan merupakan investasi jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia.30 Diposkan oleh Suherli Kusmana 2 komentar Suherli Dalam pemberlakuan Otonomi Daerah terjadi perubahan mendasar dalam penyelenggaraan pendidikan. sangat tepat jika dilakukan perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan dari sentralistik menjadi desentralistik. fenomena krisis yang melanda bangsa kita menunjukkan bahwa pendidikan dianggap belum berhasil dalam menyiapkan SDM yang unggul. Program yang digulirkan pemerintah untuk keperluan ini adalah School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah. dekonsentrasi adalah penyerahan tanggung jawab layanan sektor tertentu pada perwakilan pemerintah pusat di daerah. Salah satu implementasi dari desentralisasi pendidikan adalah dihidupkannya peran serta masyarakat untuk ikut menyelenggarakan dan mengawasi pendidikan. Desentralisasi pendidikan merupakan alternatif model pemberdayaan masyarakat.• • • • • • • Kebahasaan (13) Kebijakan Publik (1) keguruan (2) Kependidikan (10) pendidikan (1) Perbukuan (11) Unduh BSE (2) Menilik Kebijakan Sistem Pendidikan di 16. dan . dan beriman. delegasi adalah pengalihan tanggung jawab untuk membuat keputusan dan mengatur pengelolaan layanan publik kepada pemerintah daerah. Oleh karena itu. Program MBS menyiratkan konsep mendasar atas penyelenggaraan pendidikan dengan prinsip desentralisasi pendidikan. privatisasi adalah pengalihan otoritas sektoral kepada usaha-usaha swasta. Desentralisasi adalah penyerahan otoritas pusat ke daerah-daerah.

Masa Orde Baru. Besarnya peranan pemerintah dalam turut mengatur terlalu banyak hal-hal teknis dalam dunia pendidikan dianggap sebagai biang keladi dari semua keterpurukan kualitas pendidikan bangsa Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Kebijakan pada masa Pra-Orde Baru masih berorientasi politik. kabupaten. Pakaian seragam. bukan untuk kebutuhan pasar melainkan untuk orientasi politik. sesuai dengan prinsip dasar desentralisasi. karena kita belum biasa. Dengan demikian. dan Masa Transisi. Dari terminologi tersebut maka desentralisasi pendidikan menganut prinsip good governance is less governing (penyelenggaraan pemerintahan yang baik adalah lebih kurang mengatur). dan masyarakat (sekolah) yang bobotnya lebih besar kepada masyarakat dan stakeholder pendidikan. berbagai perubahan mendasar pengelolaan pendidikan diserahkan kepada stakeholder pendidikan. maka yang akan terjadi adalah oversentralisasi pada tingkat kabupaten/kota. semuanya diarahkan kepada terbentuknya masyarakat yang homogen. Pada masa ini pertumbuhan ekonomi yang dijadikan panglima dengan tidak berakar pada ekonomi rakyat dan sumber daya domestik serta ketergantungan pada utang luar negeri sehingga melahirkan sistem pendidikan yang tidak peka terhadap daya saing dan tidak produktif. Penerapan pendidikan tidak diarahkan lagi pada peningkatan kualitas melainkan pada target kuantitas. karena jika wewenang pusat hanya dipindahtangankan ke daerah. A. Pemerintah hanya berperan sebagai pengatur. Tilaar (2002:3) menjelaskan pendidikan di masa ini diarahkan kepada uniformalitas atau keseragaman di dalam berpikir dan bertindak. propinsi. Jalal. Indroktrinasi pendidikan mulai dari jenjang sekolah dasar sampai perndidikan tinggi diarahkan untuk perngembangan sikap militerisme yang militan sesuai dengan tuntutan kehidupan di suasana perang dingin pada saat itu. Perubahan ini dirasakan sangat drastis karena selama 35 tahun sebelumnya. desentralisasi bidang pendidikan berarti penyerahan kewenangan (otoritas) pemerintah pusat ke pemerintah daerah dan masyarakat. Namun. Pada masa ini tidak ada tempat bagi perbedaan pendapat.merupakan pengakuan atas otoritas daerah (Rondinelli. Kebijakan Pendidikan Sentralistik Kebijakan pendidikan yang sentralistik dialami dalam tiga periode. kadang-kadang program yang digulirkan pemerintah seringkali masih membingungkan masyarakat pendidikan. Dengan demikian pendidikan bukan untuk meningkatkan taraf kehidupan rakyat. 2001:75). kita tidak merasakan perubahan yang sangat signifikan dalam dunia pendidikan. Kebijakan pendidikan pada masa Orde Baru mengarah pada penyeragaman. yaitu pada masa Pra-Orde Baru. Pendidikan yang mengingkari kebhinekaan dengan toleransi yang semakin berkurang serta semakin dipertajam dengan bentuk primordialisme. . Desentraliasi pendidikan adalah penyerahan wewenang penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat. Oleh karena itu Program MBS merupakan pola implementasi pembagian porsi wewenang penyelenggaraan pendidikan antara pemerintah pusat. Pendidikan tidak mempunyai akuntabilitas sosial oleh karena masyarakat tidak diikutsertakan di dalam manajemennya. dengan berbekal konsep desentralisasi pendidikan seiring dengan era reformasi yang sedang bergulir. sehingga melahirkan disiplin semu dan melahirkan masyarakat peniru. 1998. wadah-wadah tunggal dari organisasi sosial masyarakat. Dari itu. Sebagaimana dijelaskan oleh Tilaar (2000:2) bahwa kebijakan pendidikan di masa ini diarahkan kepada proses indoktrinasi dan menolak segala unsur budaya yang datangnya dari luar.

sehingga berbagai perubahannya dirasakan sangat drastis. maka sekolah lebih leluasa mengelola dan mendayagunakan potensi sumber daya yang dimiliki. dan lain-lain. maka krisis kebudayaan yang dialami merupakan refleksi dari krisis pendidikan nasional. atau matching grant. (2) efisien keuangan. Untuk itu. desentralisasi diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan dan memperbaiki mutu belajarmengajar. karena proses pengambilan keputusan dapat dilakukan langsung di sekolah oleh guru. tenaga pengajar (guru). keuangan. perlu eksplorasi guna mencari cara-cara baru dalam membuat channelling of fund. misalnya. 1. desentralisasi berdampak positif terhadap minat belajar siswa. desentralisasi dapat mendorong dan membangkitkan gairah serta semangat mereka untuk bekerja lebih giat dan lebih baik. dan "sponsorship dunia usaha" dalam pembiayaan pendidikan. Oleh karena pendidikan merupakan proses pembudayaan. kepala sekolah. Setidaknya. yaitu: (1) peningkatan mutu. kebijakan pendidikan merupakan masa refleksi terhadap arah pendidikan nasional. sampai pemberian makanan tambahan bagi anak di sekolah. terdapat empat dampak positif yang dapat dikemukakan untuk mendukung kebijakan desentralisasi pendidikan. dan sebagian pelaku pendidikan “tercengang” dan masih galau dalam menjalankan kebijakan baru. Peningkatan Mutu Desentralisasi pendidikan yang antara lain dimanifestasikan dalam pemberian otonomi pada sekolah. Pada masa transisi. Dengan demikian. siswa kelas tiga dapat memperbaiki nilai atau angka hasil ulangan untuk mata pelajaran dasar (bidang studi pokok). Efisiensi Keuangan Desentralisasi dimaksudkan untuk menggali penerimaan tambahan bagi kegiatan pendidikan. Kebijakan Pendidikan Desentralistik Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan. Tilaar (2000:5) menjelaskan bahwa pada masa krisis membawa masyarakat dan bangsa kepada keterpurukan dari krisis moneter membuat menjadi krisis ekonomi dan berakhir pada krisis kepercayaan. mulai dari pemeliharaan sekolah. Efisiensi Administrasi . Pengalaman di Brazil. misalnya. Pengalaman di New Zealand. 3. dan tenaga administratif (staf manajemen).Akuntabilitas pendidikan sangat rendah walaupun diterapkan prinsip ‘link and match”. Dengan kewenangan penuh yang dimiliki sekolah. 2. sarana prasarana. Hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan sumber-sumber pajak lokal dan mengurangi biaya operasional. misalnya. (3) efisien administrasi. Bahkan yang lebih penting lagi. dengan menggunakan mekanisme vouchers. kurikulum. bahwa kebijakan desentralisasi berpengaruh cukup signifikan terhadap kemajuan dan pembangunan pendidikan. dan (4) perluasan/pemerataan. Pada masa ini direfleksi berbagai pemikiran dalam memajukan sistem pendidikan kita. Mekanisme ini sudah lazim digunakan di negara-negara sedang berkembang dan anggota OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Sementara di Brazil. pelatihan guru. Krisis kepercayaan telah menjadi warna yang dominan di dalam kebudayaan kita dewasa saat itu. akan meningkatkan kapasitas dan memperbaiki manajemen sekolah. desentralisasi telah menurunkan biaya dan pelayanan pendidikan menjadi lebih baik. B. misalnya.

Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan life skills yang berisi pemahaman yang luas dan mendalam tentang lingkungan dan kemampuannya agar akrab dan saling memberi manfaat. Desentralisasi akan meningkatkan permintaan pelayanan pendidikan yang lebih besar. tak akan terjadi. pemerintah pusat dapat melakukan intervensi dengan memberi dana khusus berupa block-grant kepada daerah-daerah miskin itu. Lingkungan sekitarnya dapat memperoleh masukan baru dari insan yang mencintainya. C. bagi daerah-daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi SDM. (4) Pemerintah juga mencanangkan pendidikan berpendekatan Broad Base Education System (BBE) yang memberi pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera. siswa. yaitu. desentralisasi membuka peluang kepada penyelenggara pendidikan di tingkat daerah dan lokal untuk melakukan ekspansi sehingga akan terjadi proses perluasan dan pemerataan pendidikan. Program ini diyakini akan memberdayakan masyarakat pemerhati pendidikan (stakeholders) dalam memberikan perhatian dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. Memang ada kemungkinan munculnya dampak negatif. 22 Tahun 1999 mengenai Otonomi Daerah dan sejalan dengan itu UU No. sekolah sebagai community learning centre. sehingga dapat berkembang secara lebih seimbang. dan (3) Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigm yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan. Kompleksitas birokrasi seperti tercermin dalam penanganan pendidikan dasar. Maka Di era otonomi daerah kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah adalah : (1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Management) yang memberi kewenangan pada sekolah untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan. yang melibatkan tiga institusi (Depdiknas.Desentralisasi memotong mata rantai birokrasi yang panjang dengan menghilangkan prosedur bertingkat-tingkat. Namun. dan Depag). tokoh masyarakat dan . Pada awal tahun 2001 digulirkan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). terutama bagi kelompok masyarakat di suatu daerah yang selama ini belum terlayani. yang ditandai dengan perampingan jumlah pegawai pada Departemen Pendidikan. Perluasan dan Pemerataan Secara teoritis. mensyaratkan sekolah membentuk Komite Sekolah yang keanggotaannya bukan hanya orangtua siswa yang belajar di sekolah tersebut. Dalam menerapkan konsep MBS. akan berkembang jauh lebih cepat sehingga meninggalkan daerah lain yang miskin. dan membangkitkan motivasi aparat penyelenggara pendidikan bekerja lebih produktif. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Kebijakan pemerintah yang tertuang dalam UU No. 25 tahun 1999 mengenai Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah merupakan konsekuensi dari keinginan era reformasi untuk menghidupkan kehidupan demokrasi. misalnya. desentralisasi secara signifikan berhasil menurunkan biaya administrasi. Ini berdampak pada efisiensi administrasi. Depdagri. Desentralisasi akan memberdayakan aparat tingkat daerah dan lokal. Pengalaman di Cile. (2) Pendidikan yang berbasis pada partisipasi komunitas (community based education) agar terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat. 4. namun mengikutsertakan pula guru. dan lingkungannya dapat memberikan topangan hidup yang mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati kesejahteraan dunia akhirat. khususnya sekolah.

ujian akhir masih menjadi kewenangan dinas pendidikan kabupaten/kota. Maka. ditinjau dari hakikat pengajaran dan sejalan dengan desentralisasi pendidikan. wacana yang dikembangkan adalah “Sekolah Gratis” sehingga mengubur kepedulian masyarakat terhadap pendidikan yang sudah mulai terbangun dalam MBS. Tentu saja. Tujuan program MBS di antaranya menuntut sekolah agar dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan (quality insurance) yang disusun secara bersama-sama dengan Komite sekolah. berkaitan dengan kebijakan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu berbasis sekolah dan peningkatan mutu pendidikan berbasis masyarakat diimplementasikan sebagai berikut : (1) Telah berlakunya UAS dan UAN sebagai pengganti EBTA /EBTANAS . Program ini sesungguhnya sangat baik. diharapkan dapat menetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). dengan dalih “ikut-ikutan” pemerintah pusat mengendalikan mutu pendidikan di daerah. sehingga kewenangan itu jangan “direbut” oleh birokrasi pendidikan. baik sebagai dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana pendidikan maupun untuk peningkatan kualitas pendidikan. tidak heran jika banyak sekolah yang rusak. maka penetapan akuntabilitas pendidikan melalui peran stakeholders pendidikan semakin menurun. guru bertugas merencanakan. Namun. peran komite sekolah mulai tampak. dan mengukur hasil pembelajaran. Sehubungan dengan evaluasi kebijakan pendidikan Era Otonomi masih belum terformat secara jelas maka di lapangan masih timbul bermacam-macam metode dan cara dalam melaksanakan program peningkatan mutu pendidikan. evaluasi merupakan bagian dari tugas pengajaran seorang guru. yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS). sambil berharap datang sang penyelamat. Sampai saat ini hasil dari kebijakan tersebut belum tampak. beberapa langkah program yang telah dijalankan di Samarinda. Berdasarkan kewenangan profesionalnya. pada beberapa sekolah yang pemahaman anggota komite sekolah atau para pendidik masih kurang. komite menghimpun dana masyarakat. Dari hal di atas. Namun. Pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu (sekolah) menjadi kewenangan kepala sekolah. melainkan membantu pula mengawasi dan mengontrol kualitas pendidikan. Demikian pula. pada SMTP dan SMTA sebagian kewenangan meluluskan hasil belajar siswa masih menjadi “projek pemerintah pusat” dengan alasan sebagai pengendalian mutu lulusan. namun berbagai inprovisasi di daerah telah menunjukkan warna yang lebih baik. Misalnya. lapuk.pemerintahan di sekitar sekolah. peran komite di tingkatan pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) yang sudah mulai bagus ini terhapus kembali oleh program berikutnya. Sebetulnya. Salah satu di antaranya. sejak program MBS ini digulirkan. Namun. funding father yaitu pemerintah. termasuk pula untuk peningkatan kualitas kesejahteraan guru di sekolah itu. dan bahkan pengusaha. bahkan ambruk dibiarkan oleh komite sekolah. Dalam hal pengelolaan mikro pendidikan pun masih terdapat beberapa masalah. sehingga dapat membantu kepedulian masyarakat dalam membantu pembiayaan pendidikan. sebagai salah satu bentuk tanggungjawab pemerintah pada pendidikan. Realisasi dari ini. menganggap seperti halnya BP3. Masyarakat dituntut perannya bukan hanya membantu pembiayaan operasional pendidikan di sekolah tersebut. Kenyataan itu menunjukkan bahwa impelementasi MBS pada tataran mikro yang masih setengah hati diserahkan. melaksanakan. terutama dalam menghimpun sumber-sumber pendanaan pendidikan. termasuk dari orangtua siswa untuk membantu operasional sekolah untuk menggapai kualitas pendidikan. penyelenggaraan pendidikan di kelas memang seluruhnya harus menjadi kewenangan guru. Demikian pula pada tingkat SD di kabupaten/kota. Padahal.

terutama di daerah dalam kesadarannya terhadap pentingnya pendidikan dan pelatihan untuk membangun masyarakat Indonesia baru. (5) Melakukan perampingan birokrasi pendidikan dengan restrukturisasi departemen pusat agar lebih efisien. dengan melaksanakan otonomi lembaga pendidikan.(2) Telah dibentuknya Komite Sekolah sebagai pengganti BP3. (3) Menciptakan SDM pendidikan yang profesional dengan penghargaan yang wajar. (6) Menghapus berbagai peraturan perundangan yang menghalangi inovasi dan ekseperimen. 2 Tahun 1989 tentang Sistem pendidikan Nasional dengan peraturan perundangan dan pelaksanaannya (8) Menumbuhkan partisipasi masyarakat. syarat-syarat serta pemanfaatan tenaga profesional. (2) Menyelenggarakan pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang bermutu. disertai dengan meningkatkan renumerasi profesi pendidikan yang memadai secara bertahap. SDM. sistematisasi. . (7) Merevisi atau mengganti UU No. Kebijakan Pendidikan di Kabupaten/Kota Dengan berdasar pada keempat indikator sistem pendidikan nasional yaitu popularisasi. sebagaimana tercantum dalam Tilaar (2000:77-790 sebagai berikut : (1) Mengembangkan dan mewujudkan pendidikan berkualitas. mulai tingkat provinsi dengan sekaligus mempersiapkan sarana. maka usulan program pengembangan pendidikan. (3) Telah diterapkan muatan lokal dan pelajaran ketrampilan di sekolah SLTP (4) Dihapuskannya sistem Rayonisasi dalam penerimaan murid baru (5) Pemberian insentif kepada guru-guru negeri (6) Bantuan dana operasional sekolah. Suatu wadah masyarakat diperlukan untuk menampung keterlibatan masyarakat tersebut. (4) Melakukan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional secara bertahap. Peningkatan mutu pendidikan tersebut berkaitan dengan peningakatan SDM di daerah sehingga selalu dilakukan perbaikan berbagai kebijakan pada tataran meso sebagai rencana program oleh pemerintah daerah melalui dinas pendidikan. (11) Meningkatkan harkat profesi pendidikan dengan meningkatkan mutu pendidikan. profileralisasi dan politisasi pendidikan nasional. dan dana yang memadai pada tingkat kabupaten. (9) Menjalin kerjasama yang erat antara lembaga pelatihan dengan dunia usaha (10) Melakukan depolitisasi pendidikan nasional. D. serta bantuan peralatan praktik sekolah (7) Bantuan peningkatan SDM sebagai contoh pemberian beasiswa pada guru untuk mengikuti program Pascasarjana Universitas Mulawarman. dengan menciptakan komitmen politik dari masyarakat dan pemerintah untuk membebaskan pendidikan sebagai alat penguasa.

(9) Membina dan mendorong penyelenggaraan pendidikan luar sekolah oleh masyarakat dalam bentuk Pusat Kegiatan Belajar (yang menyelenggaraka Paket A. Namun demikian. Paket B. SLTP/MTs dan SMU/MA (7) Pemberian Dana Operasional Pendidikan bagi SD/MI (8) Pemberian bantuan perlengkapan belajar bagi siswa SD/MI dari keluarga tidak mampu. tampaknya daerah masih terus saja berbenah diri dalam hal kebijakan politik dan kepegawaian yang juga mengalami perubahan yang sangat drastis. maka kebijakan pendidikan di daerah dapat dituangkan ke dalam Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan. orangtua siswa. pemerintah setempat maupun swasta agar terkoordinasi dan terencana dalam menunjang peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. KF. 3) Efisiensi dan Efektivitas Untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang efisien dan efektif maka penyelenggara pendidikan formal perlu dibekali dengan pengetahuan tentang : (1) Pengelolaan dan penyelenggaraan Administrasi Sekolah (2) Pengelolaan dan penyelenggaraan Administrasi Perkantoran (3) Kemampuan manajerial (4) Kemampuan Pengelola Proyek (5) Pengelolaan dan perencanaan pendidikan . 2) Perluasan Kesempatan Belajar Dalam rangka mempercepat penuntasan program wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan maka dapat ditempuh usaha baru sebagai berikut : (1) Pembangunan Unit Sekolah baru (USB) (2) Pembangunan Ruang Kelas baru (RKB) (3) Pemasayarakatan SLTP Terbuka (SLTPT) (4) Kampanye/Penyuluhan Wajib Belajar Pendidikian Dasar (5) Pemberian Beasiswa dan dana bantuan Operasional (DBO) (6) Pendidikan bagi SD/MI. Beberapa hal yang masih menjadi pekerjaan kantor bidang pendidikan di daerah adalah: 1) Peningkatan Mutu Pendidikan Pemerintah daerah harus terus mendorong dan mengembangkan sekolah menerapkan konsep “Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah” (MPMBS) yakni usaha peningkatan mutu pendidikan dengan menggalang segala sumber daya yang ada di sekolah dan lingkungannya.Berdasarkan pada prinsip otonomi. dan Paket C). baik guru.

namun setelah dilakukan pendataan ulang di Jawa Barat telah diketahui terdapat sekitar 251.8 tahun atau setara dengan siswa SMP Kelas satu. (8) Otonomi Sekolah Dalam menjalankan MBS. Oleh karena itu. dan Paket A dan B untuk dapat mengakselerasi Wajar Dikdas 9 tahun. baik melalui SD/MI dan SMP/MTs. Berdasarkan laporan BPS diketahui bahwa Angka RLS masyarakat Jawa Barat hanya 6. Sekolah diberi kewenangan untuk mengelola input pendidikan. Bertolak dari aturan ini maka beberapa kebijakan meso maupun mikro dapat dibuat dalam rangka menjalankan amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 45.(6) Kemampuan Monitoring dan Evaluasi 4) Menyusun Peraturan Daerah Pendidikan. Semula kita menduga bahwa di Kabupaten/Kota di Jawa Barat sudah tidak ada lagi yang masih Buta Huruf (tidak bisa baca-tulis-bicara bahasa Indonesia). Demikian pula dengan Komite Sekolah/Madrasah. bahkan dalam proses pembentukannya pun dikuasai pihak-pihak tertentu yang kurang menguasai masalah pendidikan. 6) Angka Melek Huruf Penopang lain dari Indeks Pendidikan adalah Angka Melek Huruf (AMH). Dengan demikian diperlukan perjuangan yang sangat erat bagi dinas pendidikan untuk meningkatkan wajib belajar 9 tahun. (7) Partisipasi dan Peranserta Masyarakat. komite sekolah atau madrasah. dan melakukan evaluasi hasil pendidikan. . di antara mereka masih kurang memiliki pemahaman yang mantap tentang MBS dan bahkan ada di antara mereka yang hanya berfungsi sebagai stempel bagi sekolah dalam melegitimasi pungutan dari orangtua siswa. Dalam rangka meningkatkan Indeks Pendidikan (Education Index) partisipasi masyarakat dalam mengikuti pendidikan harus terus dipacu. melaksanakan proses pembelajaran. diperlukan optimalisasi pendidikan dasar. Tentu saja. mereka harus segera dientaskan melalui program yang fungsional (Keaksaraan Fungsional).234 yang masih kurang dalam baca-tulis-bicara bahasa Indonesia. Perda tentang pendidikan di Kabupaten/Kota merupakan dasar hukum yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Kabupaten/Kota tersebut sebagai kelanjutan dari Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20/2003. maupun SMP Terbuka. 5) Angka Rata-rata Lama Sekolah. sekolah memiliki otorita dalam mengelola pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. Sebagaimana diketahui bahwa Dewan Pendidikan di Kabupaten/Kota pada umumnya belum banyak dirasakan perannya dalam peningkatan mutu pendidikan di kabupaten/kota. Pada Pasal 56 UUSPN 20/2003 diungkapkan bahwa masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan melalui dewan pendidikan. Padahal wajib belajar 9 tahun sudah dikumandangkan sejak lama.

Kutai Kertanegara. Dari gaji yang diterima para guru. Konsep learning based experience dan learning by doing masih belum secara mantap diterapkan para guru. mereka harus rela membagi penggunaannya dengan biaya transportasi dan konsumsi (terutama jika harus mengajar sampai dengan siang). Sudah tidak sesuai lagi apabila lembaga penjamin kualitas pendidikan yang memberikan pelatihan kepada tenaga pendidikan dilaksanakan oleh Badan Kepegawaian Daerah. menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Mungkin jika Anggaran Pendidikan di Kabupaten Ciamis dapat diungkit hingga 20%. sedangkan profesi guru harus merogoh saku gajinya. untuk keperluan transportasi dan konsumsi biasanya tersedia pada institusi tersebut. dan sebagainya. (10) Kesejahteraan Tenaga Kependidikan Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kinerja tenaga kependidikan salah satu penyebabnya adalah rendahnya kesejahteraan yang diterima (take home pay). para guru dapat segera diberi insentif supaya memacu mereka dalam berkompetensi meningkatkan mutu pendidikan. bukan penyeragaman buku laporan pendidikan atau melakukan Ulangan Umum Bersama melainkan menciptakan suatu mekanisme yang sahih. banyak di antara mereka yang masih hanya berfungsi sebagai guru. namun untuk tenaga kependidikan harus dilaksanakan secara khusus agar dapat memberikan pelatihan terhadap tenaga kependidikan (guru) mengarah . Propinsi Sumatera Barat. Dengan demikian take home pay yang diterima para guru semakin kecil dan tidak manusiawi. Harus diakui bahwa tenaga kependidikan yang saat ini tersedia merupakan produk dari LPTK yang belum mengantisipasi reformasi dalam bidang pendidikan. setara dengan eselon III yang membidangi peningkatan kualitas pendidikan dan tenaga kependidikan. diperlukan suatu mekanisme sistem kontrol yang akurat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. (11) Organisasi Penjamin Kualitas Untuk melakukan jaminan kualitas pendidikan di Kabupaten/Kota. Sistem kontrol itu. (9) Kualitas SDM Pendidikan Dalam menyikapi berbagai perubahan yang terjadi dalam bidang pendidikan. misalnya Kota Bandung. Oleh karena itu. DKI Jakarta. Apalagi konsep dasar pengembangan kompetensi yang seharusnya dijadikan dasar bagi pengembangan kurikulum di sekolah. Padahal pola pikir ini telah lama ditinggalkan oleh kalangan innovator pendidikan. Dalam beberapa hal para guru masih menggunakan paradigma transfer of knowledge dalam penyelenggaraan pendidikan. Lembaga ini harus mampu memberikan jaminan kualitas hasil pendidikan dan melakukan pelatihan dan pembinaan terhadap tenaga kependidikan. tentu saja harus diiringi dengan peningkatan kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Dalam menyikapi hal ini. tampaknya pemerintah daerah harus segera memikirkan “insentif” atau tunjangan profesi yang dapat diberikan kepada guru agar kinerja mereka meningkat dalam rangka mempersiapkan SDM pendidikan di Kabupaten/Kota yang lebih baik. Oleh karena itu. hal ini sudah dilaksanakan. Berbeda dengan profesi lain. dalam beberapa hal pemerintah daerah harus melakukan pengawasan secara ketat untuk memberikan jaminan kualitas layanan yang diberikan sekolah kepada peserta didik.Namun. tampaknya diperlukan organisasi kedinasan. Pada daerah-daerah tertentu. Lembaga ini dapat berfungsi melatih dan membina tenaga pemerintah daerah.

bahwa pendidikan adalah sebuah investasi jangka panjang dalam mempersiapkan . padahal itu peristilah yang diberikan bagi kurikulum tersebut. Pemerintah hanya menetapkan buku-buku berstandar nasional yang dapat dipilih oleh sekolah untuk digunakan sebagai buku teks pelajaran di sekolah. sehingga pengembangan kurikulum dapat mulai dipersiapkan oleh semua pihak dengan mengikutsertakan pakar di daerah yang menguasai bidang ini. Masih banyak persoalan tentang buku teks ini. Berdasarkan ketentuan itu. penentuan buku teks pelajaran tidak mengajak komite sekolah. para guru dapat menganjurkan kepada orangtua atau peserta didik untuk menggunakan buku Teks Pelajaran yang telah berstandar nasional. Untuk keperluan peserta didik. (12) Penggunaan Buku Teks Pelajaran Ketentuan tentang Buku Teks Pelajaran sebagaimana dituangkan dalam Permen 11/2005 masih belum diterapkan secara menyeluruh di sekolah. Bertolak dari kenyataan masih banyak persoalan yang dihadapi serta masih banyak pekerjaan bidang pendidikan yang belum diimplementasikan. tahun 2006. yaitu Permen 22 tentang Standar Isi dan Permen 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Demikian pula. sekolah harus mengembangkan kurikulumnya. pemerintah daerah harus dengan segera menyusun rambu-rambu pengembangan KTSP sehingga dapat dijadikan acuan pengembangan kompetensi lokal yang harus dikembangkan di daerah. apabila kita coba berpikir dengan jernih. masih ada sekolah atau guru menjual paksa buku kepada siswa. dan Permen 24 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan masih sangat multi tafsir. bahwa Pemerintah Pusat tidak akan lagi menerbitkan atau membagikan Buku Teks Pelajaran untuk sekolah. mungkin karena low inforcement yang masih lemah di daerah. Kenyataan di lapangan. (13) Pengembangan Kurikulum Sekolah Kebijakan pemerintah yang terbaru. tampaknya perlu segera kita kaji kembali secara saksama. Pemerintah telah menyampaikan kebijakan tentang Buku Teks Pelajaran. penerbit tidak boleh menjual buku langsung ke sekolah. penerbit masih mengedrop buku ke sekolah. Berdasarkan ketentuan tersebut. serta kesadaran masyarakat yang masih lemah. padahal dalam ketentuan itu diungkapkan bahwa kurikulum itu harus disusun oleh sekolah dengan mengikutsertakan komite sekolah. Sekolah (guru dan kepala sekolah) dan Komite Sekolah dilarang menjual buku di sekolah. Untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelatihan. sehingga kelak akan ada Kurikulum SD Negeri 8 Jatinagara atau Kurikulum SMP Ma’arif Banjarsari. sekolah harus mengajak dan melibatkan Komite Sekolah (sebagai wakil masyarakat). menjual LKS kepada siswa. Dalam memilih buku ini. Akan sangat bijak. Mungkinkah konsep desentralisasi pendidikan ini masih menyiratkan berbagai persoalan atau mungkin pula kita yang salah dalam menapsirkan dan memahaminya. Dalam tataran kebijakan. tampaknya masih sangat diperlukan sosialisasi secara mantap dan menyeluruh bagi tenaga kependidikan di daerah.kepada profesionalisasi sebagaimana dituntut oleh Undang-undang Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen. lembaga ini perlu mengundang educational expert dari Lembaga Pendidikan Tinggi Tenaga Kependidikan. Oleh karena itu. Ada pula yang menyebutnya dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Banyak di antara tenaga kependidikan menyebutnya dengan Kurikulum 2006.

Itulah sebabnya. Upaya ini telah ditempuh melalui berbagai model. 14-April-2005.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=8457 Implementasi Konsep MBS di Sekolah Oleh redaksi Oleh: Kustrini Hardi Kamis. Namun hasil itu banyak pula mengalami penurunan karena krisis ekonomi yang diikuti oleh krisis multidimensional yang melanda dunia dan negara kita. Akhir-akhir ini. Untuk menata kembali sistem pemerintahan.html http://www.com/2008/05/menilik-kebijakan-sistempendidikan.harianbatampos. Krisis tersebut secara umum telah mengganggu pelaksanaan sistem pemerintahan dan pembangunan bidang pendidikan. dapat disimpulkan bahwa apapun konsep yang diterapkan di sekolah akan sangat bergantung kepada sekolah dan seluruh stakeholder pendidikan yang ada di sekolah. sebaiknya marilah kita memposisikan diri pada fungsi. Pada tahun 1980-an.SDM yang unggul dan kompetitif. Pendidikan merupakan projek masa depan mempersiapkan bangsa berkualitas. meso. bahkan telah direvisi melalui Undang-undang Nomor 32 tahun 2004. Oleh karena itu. Dari berbagai pengalaman yang amat berharga tersebut. telah banyak memperlihatkan hasil yang positif. Efektif dan Menyenangkan). Berbagai kebijakan pendidikan terkini.com/mod. maka kebijakan dan program yang sedang dan akan diluncurkan harus dimulai melalui upaya pemberdayaan sekolah dan masyarakat sebagai pemilik . kewenangan. Implementasi penyelenggaraan pendidikan yang berbasis kepada sekolah dan masyarakat ini diwujudkan melalui penerapan konsep manajemen berbasis sekolah (school-based management) dengan titik berat Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan partisipasi masyarakat (Community Based Participation) yang tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. telah dilakukan perubahan paradigma pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. yakni sekolah dan masyarakat. tampaknya harus segera diakses oleh semua pelaku pendidikan agar kita tidak tertinggal dengan kebijakan makro. karena pendidikan merupakan sektor yang telah diotonomkan kepada pemerintah Kabupaten/Kota. 07:45:09 UPAYA peningkatan Mutu Pendidikan Dasar yang ditandai dengan dikeluarkannya INPRES Nomor 5 Tahun 1994 tentang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Beberapa Model Upaya peningkatan mutu pendidikan sudah bukan merupakan upaya baru dan memang seharusnya menjadi komitmen semua pihak. Perencanaan pendidikan di Kabupaten/Kota memerlukan kesungguhan dan peranserta dari berbagai pihak. Perubahan sistem pemerintahan ini telah menggeser hak dan kewenangan penyelenggaraan pendidikan dari pusat ke lini terdepan pendidikan. kita mencoba pendekatan model pembelajaran "joyful learning" atau yang lebih dikenal dengan model pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif. maupun kebijakan mikro dalam bidang pendidikan. dan peran masing-masing sesuai kemampuan dan kompetensi dalam pendidikan. telah diujicobakan model pembelajaran Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). http://suherlicentre.blogspot.

Tujuan dan Strategi Pelaksanaan Tujuan program ini sebagaimana tujuan dari program Manajemen Berbasis Sekolah adalah (1) mengembangkan kemampuan kepala sekolah bersama guru. melaksanakan. Program "Bantuan Operasional untuk Manajemen Mutu (BOMM)" yang telah diluncurkan sejak tahun 1999 merupakan langkah maju untuk memberikan kepercayaan secara penuh kepada sekolah dan masyarakat dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. baik dalam hal keuangan maupun pembelajaran secara umum. Untuk melaksanakan hal ini memang diperlukan perubahan yang sangat mendasar. Pelaksanaan program ini dimaksudkan sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah.dan ujuk tombak pendidikan. Pendekatan MBS Banyak manfaat yang telah dapat dirasakan baik oleh pemerintah daerah maupun pihak sekolah yang secara langsung menjadi sasaran pelaksanaan. orangtua siswa dan masyarakat setempat diberi kewenangan yang cukup besar untuk mengelola kegiatannya sendiri. mengorganisir kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan pembelajaran di sekolah masing-masing. profesional dan akuntabel. Melalui pelaksanaan program ini para pengelola pendidikan di sekolah termasuk kepala sekolah. pelaksanaan. antara lain melalui kegiatan Rehabilitasi Gedung Sekolah. unsur komite sekolah/mejelis madrasah dalam aspek manajemen berbasis sekolah untuk peningkatan mutu sekolah. komite sekolah dan tokoh masyarakat setempat dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Hal ini karena dalam melaksanakan program-program ini diterapkan prinsip-prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS). Upaya peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang disebutkan di atas. (3) mengembangkan peran serta masyarakat yang lebih aktif dalam masalah umum persekolahan dari unsur komite sekolah dalam membantu peningkatan mutu sekolah. MTs dan MA). Program seperti ini sudah seharusnya ditindaklanjuti dan dikembangkan melalui program-program lainnya dengan menggunakan sumber dana dari pusat. propinsi maupun kabupaten/kota. guru. pengorganisasian. Dewan Pendidikan Kab/Kota terutama membantu dalam . pembina dan pelaksana pendidikan. Bukankah upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan akumulasi dari upaya peningkatan mutu pembelajaran di tingkat sekolah ? Oleh karena itu sudah saatnya sekolah diberikan kewenangan bersama seluruh komponen masyarakat yang ada di sekolah untuk merencanakan. Pengelolaan ini meliputi perencanaan. (2) mengembangkan kemampuan kepala sekolah bersama guru. Badan Perencanaan Kab/Kota. Program Retrival. yang sebagian dananya antara lain berasal dari APBN. unsur komite sekolah/majelis madrasah dalam melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. transparan. dikelola langsung oleh Komite Sekolah/Majelis Madrasah sebagai langkah awal aplikasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Program-program peningkatan mutu pendidikan dengan model sebagaimana disebutkan di atas juga telah dilaksanakan. Bantuan Imbal Swadaya (BIS) yang digunakan untuk membangun Ruang Kelas Baru (RKB). baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat setempat. Peningkatan mutu pendidikan melalui MBS ini berlandaskan pada asumsi bahwa sekolah/madrasah akan meningkat mutunya jika kepala sekolah bersama guru. Departemen Agama (yang menangani pendidikan MI. Dana Bantuan Langsung (DBL). Dengan kata lain program-program yang dilaksanakan menganut prinsip-prinsip demokratis. pengawasan dan pembinaan. Program School Grant. terlebih dahulu adalah merubah paradigma atau cara pandang yang dimiliki para pemegang kebijakan. dll. sampai dengan proses pelaporan dan umpan baliknya. Strategi pengelolaan program dengan menggunakan pendekatan ini dapat ditempuh antara lain dengan langkah-langkah sbb : * Memberdayakan komite sekolah/majelis madrasah dalam peningkatan mutu pembelajaran di sekolah * Unsur pemerintah Kab/Kota dalam hal ini instansi yang terkait antara lain Dinas Pendidikan. mulai dari proses perencanaan. hutang Pemerintah RI dengan pihak luar negeri yaitu negara-negara pemberi pinjaman. Disinilah proses pembelajaran itu berlangsung dan semua pihak saling memberikan kekuatan untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan sekolah.

guru. pembelajaran yang bermutu dan peran serta masyarakat.yahoo.com/group/ppiindia/message/29218 Aplikasi dan Potensi TIK dalam Pembelajaran OPINI Wijaya Kusumah | 10 January 2010 | 23:50 2797 2 1 dari 1 Kompasianer menilai Inspiratif. unsur komite sekolah tentang Manajemen Berbasis Sekolah. kepala sekolah. * Memberdayakan tenaga kependidikan. . Aspek partisipasi masyarakat ini pulalah yang menjadi bagian terpenting untuk membina kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam memajukan dunia pendidikan. Hal ini juga telah tercantum dan terumus jelas dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. * Mengadakan pelatihan dan pendampingan sistematis bagi para kepala sekolah. pejabat-pejabat di tingkat kecamatan. Bukankah kita semua berharap bahwa wajah pendidikan kita ke depan akan semakin cerah dan semarak ? Maka sudah saatnya kita mengembalikan kewenangan perencanaan dan pelaksanaan peningkatan pendidikan dan pembelajaran itu dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan pihak pemerintah berperan sebagai fasilitator dan stimulator. sudah seharusnya mulai diupayakan untuk ditindaklanjuti. Hal ini mengingat pelaksanaan program dengan pendekatan ini telah mampu menumbuhkan semangat dan motivasi untuk menstimulasi unsur masyarakat agar mau berpartisipasi aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan serta memberdayakan semua komponen yang ada di sekolah. dengan membentuk Tim yang sifatnya khusus untuk menangani dan sekaligus melakukan dukungan dan pengawasan terhadap Tim bentukan sebagai pelaksana kegiatan tersebut. serta segera dapat diberikan solusi/pemecahan masalah yang diperlukan. unsur komite sekolah pada pelaksanaan peningkatan mutu pembelajaran * Melakukan supervisi dan monitoring yang sistematis dan konsisten terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah agar diketahui berbagai kendala dan masalah yang dihadapi.mengkoordinasikan dan membuat jaringan kerja (akses) ke dalam siklus kegiatan pemerintahan dan pembangunan pada umumnya dalam bidang pendidikan. Model pelaksanaan program yang telah dikembangkan ini. alumnus PPS UPI Bandung dan staf Bappedako Kota Batam [Non-text portions of this message have been removed] http://groups. Rehabilitasi/Pembangunan sarana dan prasarana Pendidikan. petugas bimbingan dan penyuluhan (BP) maupun staf kantor.*** *) Kustrini Hardi. * Mengelola kegiatan yang bersifat bantuan langsung bagi setiap sekolah untuk peningkatan mutu pembelajaran. untuk tahun-tahun mendatang. baik tenaga pengajar (guru).

PENDAHULUAN Perkembangan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat pesat dan berpengaruh sangat signifikan terhadap pribadi maupun komunitas. dan keterbatasan TIK. Adanya manajemen berbasis sekolah (MBS) memungkinkan setiap sekolah untuk mengembangkan dan mengaplikasikan TIK yang disesuaikan dengan tuntuntan zaman dan kemampuan/daya dukung sekolah yang bersangkutan. bahkan bisa juga dikembangkan menjadi kegiatan wira usaha. Siswa yang telah mengikuti dan memahami serta mempraktekkan TIK akan memiliki kapasitas dan kepercayaan diri untuk memahami berbagai TIK dan menggunakannya secara efektif. Pendidikan sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa memerlukan pembahuruan-pembaharuan sesuai dengan tuntutan zaman. livejurnal. Akibatnya. serta implikasinya dalam pembelajaran. kebiasaan menulis dan membaca belum menjadi budaya masyarakat Indonesia. dan multiply. Selain dampak positif. tetapi juga mampu menciptakan informasi di internet melalui blog yang kita kelola dan terupdatedengan baik. dan myspacemembuat komunikasi dan saling bertukar informasi semakin mudah. Keberhasilan dalam pendidikan selalu berhubungan erat dengan kemajuan suatu bangsa yang berdampak meningkatnya kesejahteraan kehidupan masyarakat.APLIKASI DAN POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH (Makalah yang disusun untuk Seminar Nasional KEMAKOM di UPI Bandung. blogspot. Oleh karena itu. termasuk guru dan siswa di sekolah. twitter. pemanfaatan TIK harus diperkenalkan kepada siswa agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar. serta mampu memanfaatkan TIK untuk mendukung proses pembelajaran dan memanfatkannya dalam kehidupan sehari-hari. metode belajar. Belum lagi semakin menjamurnya tempat membuat blog gratis di internet seperti wordpress. Pendekatan-pendekatan modern dalam proses pengajaran tidak akan banyak membantu untuk mengejar perkembangan ilmu dan teknologi jika sistem pendidikan masih dilakukan secara konvensional. Munculnya berbagai hardware dansoftware-software baru sekarang ini sangat membantu guru dalam menyampaikan bahan ajarnya. Permasalahannya adalah. Diharapkan dengan diimplementasikannya kurikulum TIK ini akan meningkatkan kualitas proses pengajaran. Di sanalah muncul kreativitas menulis yang membuat orang lain mendapatkan manfaat dari tulisan yang kita buat. bekerja serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari. sabtu 23 januari 2010) Oleh: Wijaya Kusumah A. apakah para guru yang merupakan garda terdepan di sekolah telah memanfaatkan TIK dengan optimal? Bagaimanakah mengaplikasikan TIK dalam pembelajaran di sekolah? Bagaimanakah peran guru di sekolah dalam mengaplikasikan TIK dalam proses pembelajarannya? Adakah potensi yang dapat dikembangkan dalam TIK ini? Apakah struktur dan kultur guru di sekolah telah siap dengan TIK? Bagaimanakah upaya perguruan tinggi menyiapkan tenaga guru profesional di bidang TIK? Makalah ini mencoba membahas aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dan peran guru dalam memanfaatkan TIK. siswa mampu memahami dampak negatif. segala aktivitas. Para guru TIK dituntut agar para peserta didiknya mampu memanfaatkan TIK untuk mengembangkan kreativitas menulis. Manusia secara berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan pengalaman agar bisa memanfaatkan TIK secara optimal dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan menyadari implikasinya bagi pribadi maupun masyarakat. Sekaligus juga mengeksplorasi kurikulum pendidikan TIK di Indonesia. Membuat kita dituntut bukan hanya mampu mencari dan memanfaatkan informasi saja. kehidupan. sistem pendidikan konvensional tidak akan mampu lagi mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. kualitas penilaian kemajuan siswa. gaya hidup maupun cara berpikir. Pada era teknologi tinggi (high technology)perkembangan dan transformasi ilmu berjalan begitu cepat. . Keperluan akan penguasaan TIK telah diantisipasi oleh pemerintah dalam hal ini oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dengan dimasukkannya kurikulum TIK dalam kurikulum 2004 dan sekarang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai dari pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi. friendster. dan kualitas administrasi sekolah. Namun sayangnya. cara kerja. Dengan semakin banyaknya situs pertemanan seperti facebook.

Perkembangan TIK memicu suatu cara baru dalam kehidupan. (3) dari kertas ke “on line” atau saluran. menyimpan. dan sebagainya. Istilah lain yang makin popuper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media TIK khususnya internet. memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas. e-mail. Adanya laboratorium virtual (virtual lab) memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium atau praktikum tidak di laboratorium secara fisik. menyusun. Mampu saling berkomunikasi dengan menggunakan berbagai aplikasi TIK yang membuat dirinya mampu saling berbagi tentang apa yang disukainya dan apa yang dikuasainya. internet. negara. Juga dapat berkomunikasi dengan biaya murah seperti fasilitas email yang dapat kita pergunakan dengan mudah di internet. ras. Teknologi Komunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. e-learning. Di sinilah peran guru untuk membuat kurikulumnya sendiri yang dapat membuat peserta didik beajar secara aktif. UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century” merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran. e-learningmerupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) elearning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. menyimpan. pengetahuan) Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan ). dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan. Distance Education. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber spaceatau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. (2) dari ruang kelas ke. akurat dan tepat waktu. Dari semua e itu ada yang perlu endapatkan perhatian serius yaitu e-education. Teleconferencing. Melalui TIK. transmisi satellite atau komputer (Soekartawi. dan sebagainya. artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya. e-education. dan (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. di mana dan kapan saja. tetapi juga menciptakan informasi. (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional. e-biodiversitiy. Menurut Rosenberg (2001). dan lainnya yang berbasis TIK. dan rohani. dan Learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat). Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training). mendapatkan. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Selain e-learning. Aplikasi dan Potensi TIK dalam Pembelajaran di Sekolah Menghadapi abad ke-21. yang digunakan untuk keperluan pribadi. ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran antar sesama kita. dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya sudah tidak lagi mengenal batas jarak dan waktu. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon. ILS (Integrated Learning System). CBI (Computer Based Instruc-tion). Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi TIK adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan. e-medicine. Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri). Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang ini sudah menjangkau berbagai sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa harus membeli buku/sumber belajar tersebut. 2. para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan TIK dalam pembelajaran di sekolah. dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir. e-journal. mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi. video tape. Haryono dan Librero. (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar.B. sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan. e-laboratory. hobi. (4) dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja. e-library. audio. potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga memanfaatkan e-laboratory dan e-library. termasuk memproses. kelas ekonomi. egovernment. LCC (Learner-Cemterted Classroom). Distance Learning. yaitu: Learning to know (belajar untuk menguasai. 2002). tetapi dengan menggunakan media komputer. yaitu informasi yang relevan. WBT (Web-Based Training). Sejalan dengan perkembangan TIK itu sendiri pengertian e-learning menjadi lebih luas yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon. Desktop Videoconferencing. CLE (Cybernetic Learning Environment). Menurut Rosenberg (2001). komputer. yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. bisnis. PEMBAHASAN 1. Membuat mereka mampu memanfaatkan TIK dengan baik. rekreasi. Alangkah wajar bila sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce. dimana kita mempunyai kewajiban untuk mengembangkan TIK dalam proses pembelajaran yang tidak hanya mengajak peserta didik untuk mencari informasi. kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life. . Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini.

Globalisasi juga membawa peran yang sangat penting dalam mengarahkan dunia pendidikan kita dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global. Dalam situasi seperti ini. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. di negeri kita yang kaya ini. Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul “Rebooting: The Mind Starts at School”. Dari aspek informasi yang diperoleh.dimana TIK telah menjadi katalis efektifitas dan efisiensi pembelajaran serta reformasi pendidikan secara umum. Anakanak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan.Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka. (3) Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak. dan (6) bingkisan untuk makan siang. Robin Paul Ajjelo juga mengemukakan secara ilustratif bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini. mungkin masih jauh panggang dari api dalam mengaplikasikan TIK. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. tetapi buat sekolah-sekolah di daerah. dan TV. guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. (5) alat olah raga. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada gilirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kaitan ini. Dengan kondisi demikian. yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan. materi untuk dilihat atau didengar. hal di atas masih seperti mimpi karena struktur dan kultur serta SDM guru yang profesional belum merata dengan baik. Meskipun TIK dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif. akses internet. arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Level 2: Applying . Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama. beberapa sekolah maju dan internasional telah mengaplikasikannya. Level 3:Integrating . Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. kalkulator. (2) Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi. Sebenarnya. Level 4:Transforming .belajar melalui dan atau meng-gunakan TIK (using ICT to learn). Salah satu bentuk produk TIK yang sedang “ngetrend” saat ini adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. dsb. dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara. akan tetapi berupa: (1) komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. permainan. dan terdiri dari berbagai pulau.baru menyadari pentingnya TIK untuk pendidikan. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Karena games sangat menarik peserta didik untuk rehat sejenak dari segala pembelajaran yang diterimanya di sekolah. uang elektronik. Namun sayangnya. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. musik. kode sekuriti untuk masuk rumah. Di berbagai kota besar seperti Jakarta misalnya. Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. yaitu: Level 1: Emerging . Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai “cyber classroom” atau “ruang kelas maya” sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut “interactive learning” atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet.baru mempelajari TIK (learning tom use ICT). Di masa-masa mendatang. ada empat level pemanfaatan TIK untuk pendidikan menurut UNESCO. (4) alat-alat musik. tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari . Terkadang anak-anak lebih senang bermain games ketimbang materi yang diberikan oleh guru.

(2) proses sosial. dan dukungan kultural bagi siswa dan guru. dan lembaga pendidikan guru. kedua. (6) suatu proses linear. akses. ketiga. kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya. kolaborator. dan sumber segala jawaban. (3) satu proses transfer dan penerimaan informasi. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi. guru sebagai Kolaboratif. pengayaan. keluwesan. dan sebagainya. (3) dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain. dan mitra belajar. kadang-kadang siswa ahli sebagai ahli Mengingat fakta-fakta Hubungan antara informasi dan temuan Akumulasi fakta secara kuantitas Transformasi fakta-fakta Penilaian acuan norma Kuantitas pemahaman. kreativitas merupakan kemampuan berfikir yang memiliki kelancaran. pelatih. Hal itu telah mengubah peran guru dan siswa dalam pembelajaran. (3) proses aktif dan pasif. dan perincian. sumber utama informasi. a.internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. (2) harus tersedia materi yang berkualitas. kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. ekspresi b. dan keempat. maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. kini telah bergeser menjadi berpusat pada siswa. perluasan. Pergeseran pandangan tentang pembelajaran Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran. Lingkungan pembelajaran yang di masa lalu berpusat pada guru. Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sehingga memungkinkan mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. dan kultur siswa. Melalui penggunaan TIK setiap siswa akan terangsang untuk belajar maju berkelanjutan sesuai dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya. (5) proses yang berlangsung integratif dan kontekstual. akselerasi. (4) proses individual atau soliter. (4) proses linear dan atau tidak linear. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing. Secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut: Lingkungan Aktivitas kelas Peran guru Penekanan pengajaran Konsep pengetahuan Penampilan keberhasilan Penilaian Penggunaan teknologi Berpusat pada GURU Berpusat pada SISWA Guru sebagai sentral dan bersifat didaktis Siswa sebagai sentral dan bersifat interaktif Menyampaikan fakta-fakta.kreativitas dapat memberikan kepuasan hidup. keaslian. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan. Kreativitas sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara lain: pertama. bermakna.. kecakapan. berhitung. Kreativitas dan kemandirian belajar Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas. Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: (1) dari penerima informasi yang pasif menjadipartisipan aktif dalam proses pembelajaran. Dari segi kognitifnya. Peran guru telah berubahdari: (1) sebagai penyampai pengetahuan. minat. Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai: (1) proses alami. sekolah. kolaborasi. dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok. (2) upaya mengisi kekurangan siswa. menjadi sebagai fasilitator pembelajaran. (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan. pemecahan masalah. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK. menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern di abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas . (2) dari mengungkapkan kembali pengetahuanmenjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan. menggambar. (2) dari mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran. kreativitas memungkinkan orang dapat menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah. jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap proses dan hasil pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. perolehan hasil. ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas. (5) kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan terisolasi. ahli materi. efektivitas dan produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan SDM secara keseluruhan. Dalam pandangan tradisional proses pembelajaran dipandang sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan berat. dan (3) guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik. navigator pengetahuan. (7) aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas. pe-nilaian acuan patokan Soal-soal pilihan berganda Portofolio. dan penampilan Latihan dan praktek Komunikasi.

memiliki nilai. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu. Sebagai pembelajar. memiliki nilai yang tinggi. dengan dibentuknya gerakkan melek ICT di sekolah. akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi. diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Louis V. rasa ingin tahu. dan pengarang. dan sebagainya. partisipan. dan menarik . dkk (1995). Jr. Pemerintah maupun swasta perlu bekerja sama dalam membantu guru melakukan pelatihan-pelatihan di bidang ICT. Sebagai konselor.ditandai dengan motivasi yang kuat. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. seperti menguasai program Macromedia Flash. guru dituntut untuk membuat buku. Sayangnya saat ini. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya. menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai: pelatih (coaches). ngeblog di internet. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. berani menghadapi resiko. menghargai keindahan. Dalam kaitan ini guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. kendali diri. manajer pembelajaran. konsistensi terhadap pendiriannya. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Education”. Sebagai pengarang. konsistensi. guru memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu sumber informasi. Sebagai pelatih (coaches). pemimpin. Mengacu pada hal tersebut di atas. masih banyak guru kita yang belum melek TIK atau ICT (Information and Communcation Technology). Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan karya-karya baru yang orsinil. Guru yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku. guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini sebab kemandirian merupakan kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya. kreatif dalam berfikir dan bertindak. a. guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa. Kemandirian didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi tertentu. Sebagai partisipan. guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luar mengajar.guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. selalu ingin mencari pengalaman baru. Oleh karenanya. dan dapat dikondensasikan. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak. pembelajar. menghargai diri sendiri dan orang lain. memiliki rasa humor. tertarik dengan tugas majemuk. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak. konselor. Sebagai pemimpin. bikin software untuk bahan ajarnya. melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya inovatif dalam bidangnya. Pembelajaran menjadi lebih interaktif. para guru dapat memaksimalkan potensi TIK dalam proses pembelajarannya. tidak mudah putus asa. dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal. 2. mampu mengendalikan dirinya. sementara dalam permainan itu sendiri para pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada. dan lain sebagainya. Dengan memperhatikan ciri-ciri kreativitas dan kemandirian tersebut. Mudah-mudahan. dapat ditransformasikan. guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar. simulatif. Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah raga. guru diharapkan mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal. sudah saatnya “GERAKAN MELEK ICT (ICT LITERACY MOVEMENT)” menjadi gerakan nasional yang sama “urgent”nya atau lebih “urgent” dibandingkan dengan GERAKAN KELUARGA BERENCANA di jaman Orde Baru dahulu. Gerstmer. di mana pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan. Peran guru dalam mengaplikasikan TIK di sekolah Semua hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Camtasia. Karya-karya kreatif ditandai dengan orisinalitas. dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain. seperti penguasaan power point. kreativitas. maka dapat dikatakan bahwa TIK memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan kemandirian siswa. Aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah yang dikembangkan oleh guru dapat memberikan beberapa manfaat antara lain. Disamping sebagai pengajar. jaman Presiden Soeharto. Disamping itu. guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai manajer pembelajaran.

“Yuk Kita Nge-Blog!”. “Perkembangan Reknologi Informasi untuk Pembelajaran Jarak Jauh. “Penelitian Tindakan Kelas”. Pusat Penelitian informatika . Jakarta. http://www.”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan komunikasi dalam Pembelajaran. Menunjukkan peristiwa yang berbahaya atau di luar jangkauan Kurikulum TIK yang sekarang ini telah dibuat oleh pusat kurikulum yang bekerjsama dengan Badan standar Nasional (BSNP) adalah kurikulum standar yang terdiri dari SK (Standar Kompetensi). Menghadirkan peristiwa yang jarang terjadi e. dan 9″. 2002Natakusumah.com Kusumah. Orasi Ilmiah disampaikan pada Wisuda STMIK BANDUNG. Mulai saat ini marilah kita tidak GATEK. banyak guru yang belum siap membuat kurikulumnya sendiri dan masih banyak guru yang copy and paste dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Januari 2002 Purbo. “Urgensi Gerakan Melek ICT di Sekolah“. Wijaya. Jakarta.K. Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and the Philippines. Budi. Southeast Journal of Education (December 2002) Surya. E. Uwes Anis. kita mempunyai tanggungjawab bersama dalam meminimalisasi dampak negatif yang muncul baik secara individual.wijayalabs. Guru TIK dituntut untuk membuat kurikulumnya sendiri sesuai dengan SK dan KD dengan berbagai ragam pengayaan yang dimiliki oleh guru di daerahnya masing-masing. Wijaya. dan KD (Kompetensi Dasar) yang masih harus dikembangkan oleh guru itu sendiri dalam mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi sekolah. sehingga aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah berjalan dengan baik dan sesuai dengan kurikulum yang diharapkan oleh pemerintah. Mempercepat proses yang lama d. Haryono dan F. Padahal dlam KTSP guru diberikan kebebasan untuk berkreativitas dalam memberikan materi pengayaan kepada para peserta didiknya. Semoga struktur dan kultur berjalan seimbang di sekolah-sekolah kita... Dan Pemerintahan”. Onno W. tahun 2006 . “Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia. Sayangnya. Pusat Penelitian Antar Univeristas bidang Mikroelektronika (PPAUME) Institut Teknologi Bandung tahun 2000. Guru SMAN 4 Tangerang. “Teknologi E-learning”. dkk. Anak harus diajarkan untuk mampu membaca dan menulis. Mengajak peserta didik untuk mampu memanfaatkannya dalam kehidupan seharihari..b.“. maupun sosial. simulatif dan lebih menarik. “Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk SMP kelas 7. Jakarta. Bisnis. E.. Wijaya. tanggal 12 Desember 2006 di Jakarta. Oleh karena itu guru di era globalisasi informasi ini dituntut untuk mampu menguasai dan mengalipkasikan TIK dalam pembelajaran. dan Dedi. Librero (2002). Entis. Makalah dalam Seminar “Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Jarak Jauh dalam Rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran”. Dapat menjelaskan sesuatu yang sulit / kompleks c. 2002. Jangan iarkan anak-anak kita terlalu asyik dengan facebooknya dan games-games online lainnya.wordpress. Siapa yang menguasai TIK. 2009 Kusumah. Rajagrafindo.LIPI Bandung. Soekartawi. Penerapan TIK dalam pembelajaran memungkinkan kegiatan belajar mengajar lebih interaktif. Perlu kerjasama (kolaborasi) antara guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi untuk memperbaiki kualitas kurikulum TIK di Indonesia.. DAFTAR PUSTAKA Chaeruman. Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang beriorientasi pada penerapan TIK akan mempercepat peningkatan kualitas pendidikan yang pada akhirnya dapat mengejar ketertinggalan dari negaranegara lain di dunia. .. 8.Jakarta. 2010 Natakusumah. “Implikasi Teknologi Informasi Dan Internet Terhadap Pendidikan. Rahardjo. walupun kita tahu dunia maya tak secantik Luna Maya yang terkena kasus dengan tulisannya di situs sosial Twitter. Indeks. 2009 Kusumah. Mampu meciptakan informasi dengan membangun connecting and sharing.“. A.. dan tidak ALERGI dengan TIK.K. diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas. Rajagrafindo. Kita pun merasakan bahwa masih banyak yang harus disempurnakan untuk memperbaharui kurikulum TIK yang ada di sekolah-sekolah kita. pasti dia akan menguasai dunia. C. Bagaimanapun banyaknya dampak positif dalam penerapan TIK dalam pembelajaran di sekolah. PENUTUP Aplikasi dan potensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa pergeseran pandangan tentang pembelajaran dan peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah. Sutisna. Elex Media Komputindo. Menciptakan informasi di dunia maya. Mohamad. B. Jangan sampai terjadi tumpang tindih materi dalam mengaplikasikan TIK.

Abstrak Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. aktual. ekonomi dan politik. Padahal amanah terpenting dari kemerdekaan bangsa ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Seharusnya seluruh perencanaan dan aktivitas apa pun yang dilakukan adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. M. H.com/2010/01/10/aplikasi-dan-potensi-tik-dalampembelajaran/ PERAN MBS 7. baik oleh eksekutif maupun legislatif ketika mereka menganggap perlu mengangkat isu-isu kependidikan yang dapat meningkatkan perhatian publik terhadap mereka. Perubahan orientasi paradigma ini diberlakukan melalui penetapan perundang-undangan mengenaai Pemerintah Daerah. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. konstektual dan berbagai masalah teridentifikasi secara objektif. terutama dalam bidang pendanaan. dengan tidak mereduksi peran pemerintah. prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal. Selama ini penggunaan pradigma sentralistik selanjutnya terjadi pergeseran orientasi menuju paradigma desentralistik. mohon masukan dari teman-teman! Salam Blogger Persahabatan Omjay http://edukasi. Dr. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom.Si A. Begitulah sektor pendidikan ditempatkan selama ini. ia tidak menjadi leading sector dalam perencanaan pembangunan mutu manusia secara nasional. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki.Catatan: Makalah ini akan dipresentasikan oleh Omjay pada 23 Januari 2010. maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Hal ini dimungkinkan terjadi karena pemetaan permasalahan bersifat objektif. Salah satu implementasi dari penerapan paradigma desentralisasi itu adalah di sektor pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. menuju keadilan dan kesejahteraan masyarakatnya. berbangsa maupun bernegara. baik kehidupan bermasyarakat. Perubahan mendasar dalam kehidupan bermasyarakat. B. Akibatnya.kompasiana. Endang Komara. Memang ironis dan memprihatinkan ketika bangsa lain justru menjadikan pendidikan sebagai leading sector pembangunannya. Pendahuluan Sejak bergulirnya reformasi pertengahan tahun 1998. Perubahan orientasi paradigma tersebut telah melahirkan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang lebih dinamis.09. telah terjadi gelombang perubahan dalam segala sendi kehidupan. Dengan demikian. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. . sektor pendidikan dijadikan komoditas berbagai variabel di atas oleh para pengambil kebijakan. budaya. Seluruh aktivitas yang dilakukan cenderung berdasarkan aspirasi setempat (kedinasan). berbangsa dan bernegara saat ini merupakan pergeseran terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan. yang lebih sering kita dengar dengan terminologi otonomi daerah. sehingga sasaran lebih terjamin pencapaiannya.2009 Oleh : Prof. Sektor pendidikan selama ini ditengarai terabaikan dan dianggap hanya sebagai bagian dari aktivitas sosial.

Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang memukul sistem pendidikan bangsa ini. Berdasarkan laporan World Economic Forum. Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. Pengetahuan yang diperlukan untuk memperbaiki sistem pendidikan kita sebenarnya sudah ada dalam komunitas pendidikan kita sendiri. 1999). dan yang lebih parah lagi. Pendidikan harus mengubah paradigmanya. kita semua sepakat bahwa pendidikan memegang peran yang sangat penting. dan kemandirian serta mutu bangsa secara menyeluruh dapat terwujud. tingkat daya saing Indonesia pada tahun 2006 berada diurutan ke-50. Kesulitan utama yang dihadapi para profesional pendidikan sekarang ini adalah ketidakmampuannya menghadapi sistem yang gagal sehingga menjadi tabir bagi para profesional pendidikan itu untuk mengembangkan atau menerapkan proses baru pendidikan yang akan memperbaiki mutu pendidikan. upaya untuk meningkatkan mutu manusia Indonesia melalui pendidikan. Padahal Singapura. Para profesional pendidikan harus membantu para . Para siswa yang tidak siap jadi warga negara yang bertanggung jawab dan produktif itu. Malaysia. regional dan global yang berada di hadapan kita. Padahal saat ini kualitas sumber daya manusia negara kita berdasarkan parameter yang ditetapkan oleh UNDP pada tahun 2000 berada pada peringkat ke-109. Oleh karena itu. yang akhirnya hanya memberatkan anggaran kesejahteraan sosial saja. meliputi pendidikan persekolahan dan pendidikan luar sekolah. 2000: iii). upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitasnya harus dilakukan secara terus menerus. efektif dan efisien. akhirnya mereka menjadi warga negara yang merasa terasing dari masyarakatnya. sesuai dengan kebutuhan yang semakin mendesak.Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar. Thailand dan Fhilipina lebih baik peringkatnya dari kita. Norma-norma dan keyakinan-keyakinan lama harus dipertanyakan. ternyata hingga saat ini bukannya semakin meningkat meningkat. terarah. Malaysia ke-26. Di era globalisasi. Walaupun tujuh tahun telah berlalu sejak penetapan UNDP tahun 2000 tentang peringkat mutu sumber daya manusia Indonesia. intensif. kematangan. Karena itu. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. Dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karenanya. India ke-43 dan Korea Selatan ke-24. Mutu menjadi satu-satunya hal yang sangat penting dalam pendidikan. kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas tidak bisa ditawar lagi dengan adanya tantangan yang dihadapi yakni persaingan dengan negara lainnya. Bila mutu pendidikan hendak diperbaiki. Saat ini memang ada masalah dalam sistem pendidikan. Terminologi pendidikan memiliki ruang lingkup yang luas. Pendekatan tersebut dikenal dengan model Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah (MPBS) atau School Based Management. upaya reformasi pendidikan ditujukan untuk memperbaiki sistem pendidikan persekolahan agar dapat menjawab tantangan nasional. Adanya lulusan lembaga pendidikan yang seperti itu berdampak pula pada sistem peradilan kriminal. maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. akhirnya hanya jadi beban masyarakat. Para siswa itu adalah produk sistem pendidikan yang tidak terfokus pada mutu. khususnya negara tetangga di kawasan ASEAN. tetapi tetap jalan ditempat. 2000). lantaran mereka tak dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan generasi mendatang. Salah satu pendekatan yang dipilih di era desentralisasi sebagai alternatif peningkatan kualitas pendidikan persekolahan adalah pemberian otonomi yang luas di tingkat sekolah serta partisipasi masyarakat yang tinggi dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Melalui pendidikan diharapkan pemberdayaan. Lulusan SMK atau perguruan tinggi tidak siap memenuhi kebutuhan masyarakat. Tantangan lainnya yang mempengaruhi pendidikan adalah perubahan yang terjadi akibat semakin mengglobalnya tatanan pergaulan kehidupan dunia saat ini. bahkan teridentifikasi semakin menurun. Sekolah mesti belajar untuk bisa berjalan dengan sumber daya yang sedikit. Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang bersifat fungsional bagi setiap manusia dan memiliki kedudukan strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri (Suryadi. dilakukan secara terencana. Singapura ke-5. bisnis dan pemerintahan. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa tumpuan utamanya dalam pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan berada pada pendidikan persekolahan.

C. Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan. Banyak profesional pendidikan yang takut pada perubahan dan tidak tahu cara menjawab tantangan zaman. fungsi progresif pendidikan dan. bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya. semua stakeholder pendidikan mesti memiliki komitmen pada proses transformasi. Masyarakat menuntut mutu pendidikan diperbaiki. ditandai denga makin . bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. Untuk mencapai lingkungan pendidikan yang bermutu. Pembahasan 1. fungsi mediasi pendidikan ( Danim. Perubahan merupakan hal penting. Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. Pendidikn formal. staf dan anggota dewan sekolah mengembangkan sikap baru yang terfokus pada kepemimpinan. Masyarakat dan dunia pendidikan mesti mengeliminasi fokus jangka pendeknya. guru. kebanyakan sekolah masih memandang bahwa mutu akan meningkat hanya jika masyarakat bersedia memberi dana yang lebih besar. Peran Manajemen Berbasis Sekolah Lembaga pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi. melainkan sebagai intinya. Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati. ekuntabilitas dan pengakuan. fokus dan keajegan tujuan dalam memperbaiki mutu pendidikan. Salah satu komponen penting program mutu dalam pendidikan adalah mengembangkan sistem pengukuran yang memungkinkan para profesional pendidikan mendokumentasikan dan menunjukkan nilai tambah pendidikan bagi siswa dan komunitasnya. guru. namun masyarakat enggan mendukung dunia pendidikan untuk mengupayakan perbaikan. budaya dan lingkungan organisasi di kedua bidang itu berbeda. aturan. Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan. Hal tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. berupa penciptaan norma. Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran. dan kebijakan baru. Para profesional pendidikan mestinya sadar. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun. Mutu pendidikan akan meningkat bila administrator. dan terbukti gagal. Oleh sebab itu diperlukan dedikasi. masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan. informal dan pendidikan kemasyarakatan merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. kerja tim. Sayangnya. Penyelesaian yang cepat tidak akan memecahkan persoalan pendidikan masa kini. Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan.siswa mengembangkan keterampilan yang akan mereka butuhkan untuk bersaing dalam perekonomian global. dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu. Karena proses kerja. Padahal dana bukanlah hal utama dalam perbaikan mutu pendidikan. kooperasi. Para profesional pendidikan sekarang ini kurang memiliki pengetahuan atau pengalaman yang diperlukan untuk menyiapkan para siswanya memasuki pasar kerja global. termasuk fenomena moralitas. Para profesional pendidikan harus diberi program mutu yang khusus dirancang untuk dunia pendidikan. Orang tua. Tradisi rupanya menghalangi proses pendidikan untuk melakukan perubahan yang diperlukan agar programnya sesuai dengan kebutuhan siswa. 2007:1). beradab. Penyelesaian masalah secara cepat sudah pernah dilakukan. Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. program mutu di dunia komersial tidak bisa dijalankan dalam bidang pendidikan. dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. Salah satu ciri dunia modern adalah terjadinya perubahan yang konstan. prosedur. Manajemen mutu dapat membantu sekolah menyesuaikan diri dengan perubahan melalui cara yang positif dan konstruktif. penyadaran dan mediasi secara simultan.

diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi. evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. terutama dilihat dari kepentingan pendidikan anak. misalnya peningkatan hasil belajar siswa. penelaahan. apalagi mendongkrak mutu kinerjanya. Selain itu. Hal ini bermakna bahwa tidak ada kemajuan. wahana proses pemanusiaan dan kemanusiaan umum. setidaknya pada banyak daerah dan jenis sekolah. Misalnya. pendidik. Hal ini sejalan dengan konsep Kaizen. tutor. widyaiswara. Di daerah pedalaman misalnya. khususnya di bidang pendanaan. Meski harus diakui pula. dan desiminasi ilmu. pelembagaan MBS dipandang urgen atau mendesak. Persoalan yang paling esensial adalah apakah dengan perubahan pendekatan manajemen sekolah itu akan bermaslahat lebih besar dibandingkan dengan format kerja secara sentralistik ini. Para peneliti. bahwa kemajuan dicapai bukanlah sebuah lompatan besar ke depan. mekanika kuantum. produk. selalu tersedia ruang dan waktu untuk mengadakan perbaikan dan peningkatan dengan jalan melakukan modifikasi. Memang. atau struktur yang bisa memenuhi ideal. dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan. Prakarsa menuju perbaikan mutu melalui perubahan dari sentralisasi ke desentralisasi pengelolaan pendidikan tidak mungkin diperoleh secara segera. masih banyak sekolah yang sulit mempertahankan kondisinya pada taraf sekarang. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. Oleh karena itu. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell (1995). proses. pada abad ke-20 telah diproduksi konsep dan teori yang radikal tentang alam.terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau. demikian juga sebaliknya. Saat ini fungsi progresif sekolah sebagai lembaga pendidikan terus menampakkan sosoknya. serta pembinaan idealisme sebagai manusia terpelajar. Di Negara kita. dan sejenisnya adalah orang yang banyak bergulat dengan pengkajian. Menurut Tony Barner (1998) asumsi yang mendasari perubahan dalam Kaizen adalah bahwa kesempurnaan itu sebenarnya tidak ada. Fungsi itu akan lebih lengkap jika pendidikan juga melakukan fungsi mediasi. sistem. Pembentukan Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/kota dan Komite Sekolah di tingkat persekolahan merupakan salah satu bentuk bahwa pendidikan berbasis masyarakat menjadi isu sentral kita. Kondisi ideal itu hanyalah sebuah abstraksi yang dituju. meski belum menunjukkan capaian yang signifikan. Maslahat aplikasi MBS bagi peningkatan kinerja sekolah dan perbaikan mutu hasil belajar peserta didik pada sekolahsekolah yang menerapkannya masih harus diuji di lapangan. dan struktur persekolahan. pembawa bendera moralitas. perubahan wajah dunia terus berakselerasi. pelembagaan MBS hampir dipastikan bahwa aplikasi MBS akan mendorong tumbuhnya lembaga pendidikan persekolahan berbasis pada masyarakat (community-based education) ataua manajemen pendidikan berbasis masyarakat (MPBM). atau bahkan imitasi kreatif. fungsi kontrol. Bersamaan dengan itu. dan pengguna lulusan. Persoalan utama di sini bukan terletak pada apakah format manajemen sekolah yang dipandu secara sentralistik itu lebih buruk ketimbang pendekatan MBS yang memuat pesan demokratisasi pendidikan. Munculnya teori relativitas. Di dalam Undang-Undang No. guru. pemakalah seminar. penelitian. pengamat. dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. pada banyak tempat telah lahir sekolah-sekolah unggulan atau sekolah-sekolah yang diunggulkan oleh masyarakat karena mampu mengukir prestasi. Menurut Kaizen kemajuan dicapai karena perubahan-perubahan kecil yang bersifat kontinu atau tanpa henti dalam beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu detail yang berhubungan dengan usaha menghasilkan produk atau pelayanan. yaitu menjembatani fungsi konservatif dan fungsi progresif. penulis buku. reproduksi. realitas dan epistemologi. hubungan. fungsi ini juga berperan sebagai wahana pengembangan. inovasi. Hal-hal yang termasuk kerangka fungsi mediasi adalah kehadiran institusi pendidikan sebagai wahana seosialisasi. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propernas) 2000-2004 disebutkan bahwa salah satu program pembinaan pendidikan dasar dan menengah adalah mewujudkan manajemen pendidikan yang berbasis seakolah/masyarakat . Hal itu sejalan dengan tuntutan masyarakat agar lembaga pendidikan persekolahan dapat dikelola secara lebih demokratis dibandingkan dengan pola kerja ‘’dipandu dari atas’’ sebagaimana dianut oleh negara yang menerapkan pemerintahan sentralistik. Terlepas dari itu semua.

masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah. dan murid (Nurkolis. Peran Manajemen Mutu Terpadu Dr. 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu’’. Pelaporan hasil. Ironisnya selama ini. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. administrator. W. Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: . Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. d. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji. berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. g. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. anggota masyarakat. khususnya orang tua siswa. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. c. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free). Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. b. orang tua. Oleh karenanya. Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan. demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Edward Deming (Arcaro. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. 2. kepala sekolah. 2003:42). Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. Juga secara proses. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. f. Secara akademik. Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif.(school/community-based education) dengan memperkenalkan Dewan Pendidikan (dalam UU ini disebut Dewan Sekolah) di tingkat kabupaten/kota serta pemberdayaan atau pembentukan Komite Sekolah di tingkat sekolah. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. e.

bisnis dan pemerintahan. e. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. Manajemen Mutu Terpadu dapat digunakan sebagai perangkat untuk membangun aliansi antara pendidikan. Seperti halnya Deming. Juran (Arcaro. misal merupakan prasyarat mutu. Beberapa pandangan Juran (Arcaro. serta perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras membuat produk pendidikan menjadi lebih baik. staf. Asal diterapkan secara ketat. c. mendorong keterlibatan total komunitas dalam program. b. Prosesnya diawali dengan mengembangkan visi dan misi mutu untuk wilayah dan setiap sekolah serta departemen dalam wilayah tersebut. Pelatihan. Manajemen Mutu Terpadu dapat membantu pendidikan menyesuaikan diri dengan keterbatasan dana dan waktu. Bila diterapkan secara tepat. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan dengan tepat. penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. guru dan komunitas. Manajemen Mutu Terpadu dapat memberikan fokus pada pendidikan dan masyarakat. bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. Dr. d. 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a. Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa ‘’tepat untuk dipakai’’ lebih tepat ditentukan oleh pemakai bukan oleh pemberi. Joseph M . Manajemen Mutu Terpadu membentuk infrastruktur yang fleksibel yang dapat memberikan respons yang cepat terhadap perubahan tuntutan masyarakat. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer. menunjang sistem yang diperlukan staf dan siswa untuk mengelola perubahan. Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. siswa. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Transformasi menuju sekolah bermutu terpadu diawali dengan mengadopsi dedikasi bersama terhadap mutu oleh dewan sekolah. Visi mutu difokuskan pada pemenuhan kebutuhan kostumer. Manajemen Mutu Terpadu memudahkan sekolah mengelola perubahan. Aliansi pendidikan memastikan bahwa para profesional sekolah atau wilayah memberikan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan programprogram pendidikan. Manajemen Mutu Terpadu merupakan metodologi yang dapat membantu para profesional pendidikan menjawab tantangan lingkungan masa kini. Seperti halnya Deming. bukan program sekali jalan. Juran sudah memperkirakan keberhasilan bangsa Jepang dalam sebuah pidatonya untuk Organisasi Kontrol Mutu Eropa pada tahun 1966.a. c. setiap orang dalam sistem sekolah mesti mengakui bahwa setiap output . b. Juran adalah ahli statistik terpandang. Manajemen Mutu Terpadu dapat dipergunakan untuk mengurangi rasa takut dan meningkatkan kepercayaan di lingkungan sekolah. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. administrator. Juran menyebut mutu sebagai ‘’tepat untuk pakai’’ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah ‘’mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator. Agar sekolah mengembangkan fokus mutu. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . Dengan perangkat yang tepat. Dr. dia mengatakan bahwa: Bangsa Jepang menonjol di dunia dalam kepemimpinan mutu dan akan menjadi pemimpin dunia dalam dua dekade mendatang karena tak ada pihak lain yang bergerak ke arah mutu dengan kecepatan yang sama dengan Bangsa Jepang. mengembangkan sistem pengukuran nilai tambah pendidikan.

namun para professional pendidikan yang terlibat dalam prosesnya menjadi begitu terfokus pada pemecahan masalah yang tidak bisa mereka ukur efektivitas upaya yang dilakukannya. keterlibatan total. perusahaan. Perbaikan berkelanjutan secara konstan mencari cara untuk memperbaiki setiap proses pendidikan. sekalipun ada sarana untuk mengukur kemajuan berdasarkan pencapaian standar tersebut. Pendidikan mesti dipandang sebagai sebuah sistem. Kostumer internal adalah orang tua. mutu adalah segala sesuatu yang dapat diperbaiki. rupanya 35% responden yang disurvai menunjukkan. janganlah diperbaiki’’. ‘’kalau belum rusak. pengukuran. Sekolah tidak dapat memenuhi standar mutu yang ditetapkan masyarakat. Fungsi-fungsi bisa berjalan lantaran memang selalu dijalankan. Keterlibatan total. Ini merupakan bidang yang seringkali gagal di banyak sekolah. Mutu bukan hanya tanggung jawab dewan sekolah atau pengawas. Ada dua keyakinan pokok yang menghalangi tiap upaya penciptaan mutu dalam sistem pendidikan seperti dijelaskan oleh Jerome S. Transformasi mutu diawali dengan mengadopsi paradigma baru pendidikan. Banyak hal yang baik terjadi dalam pendidikan sekarang ini. D. Setiap orang perlu mendukung upaya mutu. Mutu didasarkan pada konsep bahwa setiap proses dapat diperbaiki dan tidak ada proses yang sempurna. proses transformasi mutu tidak akan dapat dimulai karena kalaupun dijalankan pasti gagal. Para siswa menggunakan nilai ujian untuk mengukur kemajuan di kelas. guru. anda tidak dapat memperbaiki apa yang tidak dapat anda ukur. Banyak profesional pendidikan secara terbuka menyatakan bahwa mereka memiliki komitmen terhadap transformasi mutu. militer dan perguruan tinggi yang berada di luar organisasi.lembaga pendidikan adalah kostumer. Orang biasanya tidak mau berubah. Mereka bersikukuh untuk bertahan dari tarikan profesional nonpendidikan yang mempengaruhi perubahan sistem. Lebih banyak uang yang diinvestasikan dalam pendidikan maka lebih tinggi juga mutu pendidikan dan. keluarga. Umumnya orang bekerja dalam bidang pendidikan memulai perbaikan sistem tanpa mengembangkan pemahaman yang penuh atas cara sistem tersebut bekerja. Komitmen pengawas sekolah dan dewan sekolah harus memiliki komitmen pada mutu. komitmen dan perbaikan berkelanjutan. Cara pikir dan cara kerja lama harus disingkirkan. staf dan dewan sekolah yang berada di dalam sistem pendidikan. Bila mereka tidak memiliki komitmen. misalnya mengisi kegiatan dengan hal-hal sebagaimana adanya dan sekalipun ada masalah tidak menganggapnya sebagai masalah. Dalam sebuah analisa rinci atas perguruan tinggi di Inggris belum lama ini. karena bila Anda tidak melakukannya orang lain pasti melakukannya’’. setiap orang harus berpartisipasi dalam transformasi mutu. Dengan kata lain. tapi manajemen harus mendukung proses perubahan dengan memberi pendidikan. siswa. Sedangkan kostumer eksternal adalah masyarakat. Konsep dasarnya. (2) banyak profesional pendidikan yang tetap memandang pendidikan sebagai sebuah ‘’jaringan anak manis’’. Memang masih lebih banyak pihak dalam komunitas pendidikan yang mengakui adanya kostumer untuk tiap keluaran pendidikan. Mutu merupakan perubahan budaya yang menyebabkan organisasi mengubah cara kerjanya. Menurut filosofi manajemen lama. Dalam bidang pendidikan. ‘’bila tidak rusak. Dalam survai terakhir atas 150 pengawas sekolah untuk mengukur pemahaman mereka atas mutu. Inilah konsep perbaikan berkelanjutan. administrator. Sekolah memiliki kostumer internal dan eksternal. Karakteristik Sekolah Bermutu Terpadu menurut Arcaro (2006:38-39) antara lain: Fokus pada kostumer. Menurut filosofi manajemen yang baru. memang sungguh sulit bagi orang-orangnya untuk mengembangkan paradigma baru pendidikan. perbaikilah. Penutup . namun memanfaatkan output proses pendidikan. Mutu menuntut setiap orang memberi kontribusi bagi upaya mutu. Ascaro (2006:12). Hanya dengan memandang pendidikan sebagai sebuah sistem maka para profesional pendidikan dapat mengeliminasi pemborosan dari pendidikan dan dapat memperbaiki mutu setiap proses pendidikan. Perguruan tinggi itu tak punya catatan tertulis mengenai proses atau prosedur kerja. sistem dan proses untuk meningkatkan mutu. mereka tak yakin bila sekolah itu memiliki kostumer. perangkat. Komunitas menggunakan anggaran sekolah untuk mengukur efisiensi proses sekolah. Pengukuran. ternyata cukup mengejutkan. tapi mutu pendidikan tak kunjung diperbaiki. Ini merupakan konsep yang amat sulit dipahami para profesional pendidikan. yakni: (1) banyak profesional pendidikan yakin bahwa mutu pendidikan bergantung pada besarnya dana yang dialokasikan untuk pendidikan.

Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. Oleh karena itu. Danim. Sudarwan. Penterjemah Yosal Iriantara. Cindelaras. Arcaro. (7) pelaporan hasil. 2003. 2006. No 1 Tahun X April 1991. Wahono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1998. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. Quality in Education: An Impelentation Handbook. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara. menuntut adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi. Kaizen Strategies for Successful Leadership (Kepemimpinan Sukses).Berdasarkan beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal sebagai berikut: 1. (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. dari Sentralisasi menuju Desentralisasi. Diposkan oleh Endang Komara's Blog di 16:42 http://www. Nurkolis. Manajemen Berbasis Sekolah. Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan. Yogyakarta:Insist Press. Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi Ke Lembaga Akademik. Jerome S. ‘’Biaya dan Keuntungan Pendidikan’’. Tony. Ace. Kapitalisme Pendidikan – Antara Kompetisi dan Keadilan. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya. 2003. DAFTAR PUSTAKA Arcaro. Barner. Bafadal. 3.co. Ibrahim. (5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah. 2007. 1991. Pustaka Pelajar. Bandung: IKIP. Jakarta: Interaksara. Yogyakarta. 2000. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. F. 2. Manajemen pendidikan berbasis sekolah.cc/2009/07/peran-mbs. 2006. Suryadi. Mimbar Pendidikan.html .sdn3-leuwimunding. Jakarta: Bumi Aksara. Jarome S. Jakarta: Grasindo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->