P. 1
Proposal Pts

Proposal Pts

|Views: 1,848|Likes:
Published by smansapgr

More info:

Published by: smansapgr on Dec 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2013

pdf

text

original

Dalam pengembangan supervisi pembelajaran untuk dapat mencapai

tujuannya secara efektif seorang supervisor dapat menggunakan berbagai pendekatan

yang memiliki pijakan ilmiah, yaitu supervisi saintifik, artistik, dan klinik. (Sahertian,

2000). Supervisi saintifik memiliki ciri-ciri: (1) dilaksanakan secara berencana dan

kontinu, (2) sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu, (3)

menggunakan instrumen pengumpul data, dan (4) data obyektif yang diperoleh dari

keadaan riil kemudian dianalisis. Supervisi artistik memandang bahwa mengajar itu

adalah suatu pengetahuan, keterampilan, dan kiat. Lebih jauh dijelaskan bahwa

supervisi dalam bekerja menyangkut untuk orang lain, melalui orang lain. Oleh

karena itu, pekerjaan supervisi akan berhasil apabila ada kerelaan, kepercayaan,

saling mengerti, dan saling mengakui dan menerima orang sebagaimana adanya,

sehingga orang lain merasa aman dan mau maju. Supervisi klinik pada mulanya

diperkenalkan oleh Moris L Cogan, Robert Goldhammer, dan Richard Weller di

Universitas Harvard pada akhir tahun lima puluhan dan awal tahun enam puluhan

(Krajewski, 1982). Supervisi klinik dirancang sebagai salah satu model atau

pendekatan dalam mensupervisi calon guru yang berperaktek mengajar.

Penekanannya adalah pada klinik atau dalam pengobatan dan penyembuhan, yang

diwujudkan dalam bentuk tatap muka antara supervisor dengan calon guru. Supervisi

lebih memusatkan perhatiannya pada perilaku guru yang aktual di kelas.

Demikian juga pada tahun 80 an dalam perkembangan supervisi pembelajaran

menggunakan pendekatan yang bertitik tolak pada pijakan psikologi belajar, yaitu

psikologi behavioral, humanistik, dan kognitif. Psikologi behavioral memandang

belajar sebagai kondisioning individu dengan dunia di luar dirinya. Belajar adalah

hasil peniruan atau latihan-latihan yang memperoleh ganjaran jika berhasil dan

hukuman jika gagal. Psikologi humanistik berdasarkan pemikiran bahwa belajar

adalah hasil keingintahuan individu untuk menemukan rasionalitas dan keteraturan di

alam ini, sehingga belajar dipandang sebagai proses pembawaan yang berkembang

(terbuka). Guru menunjang keingintahuan individu dan hasil belajar melalui self-

discovery. Psikologi kognitif berpendapat bahwa belajar adalah hasil keterpaduan

antara interaksi kegiatan individu dengan dunia di luar dirinya. Belajar dianggap

sebagai proses tindakan timbal balik antara guru dan murid atau obyek yang

dimanipulasi.

Berdasarkan pendekatan di atas, supervisi dirumuskan sebagai proses

perbaikan dan peningkatan kelas dan sekolah melalui kerjasama secara langsung

dengan guru. Untuk itu. maka supervisor perlu memilih kegiatan supervisinya yang

sesuai dengan tujuan perbaikan atau peningkatan pembelajaran tertentu. Pemilihan

kegiatan supervisi yang bersumber dari pandangan mendasar itu menjadikan supervisi

lebih kokoh karena memiliki pijakan ilmiah dan lebih efektif. Dengan memperhatikan

tahapan perkembangan guru, tokohnya Carl D. Glickman menyebutnya supervisi

perkembangan. Gambaran tentang belajar dan supervisi digambarkan, sebagai berikut

di bawah ini:

Tanggung jawab
siswa

Tinggi

Sedang

Rendah

Tanggung jawab
guru

Rendah

Sedang

Tinggi

Pandangan
psikologi tentang
belajar

Humanistik

Kognitivistik

Behavioralistik

Metode belajar

Menemukan
sendiri (self-
Discovery
)

Mencoba-coba
(eksperimentasi)

Dikondisikan
(conditioning)

Gambar 2.3 Pandangan Tentang Belajar
(Sumber: Anggan Suhandana, 2008)

Tingkat komitmen
guru

Tinggi

Sedang

Rendah

Tingkat abstraksi guruTinggi

Sedang

Rendah

Tanggung jawab
supervisor

Rendah

Sedang

Tinggi

Orientasi Supervisi

Non-direktif

Kolaboratif

Direktif

Metode utama

Penilaian diri

Kontrak bersama
(Self Assesment)

Menetapkan
patokan
(Delineated
standard
)

Gambar 2.4 Pandangan Tentang Supervisi
(Sumber: Anggan Suhandana , 2008)

Berdasarkan dua dimensi penting yang dimiliki oleh setiap individu guru,

yaitu dimensi derajat komitmen dan dimensi kompleksitas kognitif atau derajat

abstraksi seperti yang disajikan dalam gambar 2.4 di atas, maka pendekatan supervisi

pembelajaran yang dapat dikembangkan adalah supervisi yang berorientasi pada

pendekatan non-direktif, kolaboratif. dan direktif. Dalam hubungan ini Sergiovanni

(1991) mengembangkan supervisi dengan menambahkan dua dimensi baru, yaitu

bertitik tolak dari tanggung jawab guru yang bisa dilihat dari derajat kematangan dan

derajat tanggungjawabnya. Dengan memadukan supervisi individual, kolegial, dan

informal dibangun suatu kerangka berpikir yang baru dalam supervisi seperti yang

ada dalam gambar di bawah ini.

Gambar 2.5 Dimensi Derajat Komitmen Dan Tanggungjawab Guru
(Sumber: Sergiovanni, 1991)

Supervisi direktif adalah pendekatan yang didasarkan pada keyakinan bahwa

mengajar terdiri dari keterampilan teknis dengan standar dan kompetensi yang telah

ditetapkan dan diketahui oleh semua guru agar pembelajarannya efektif. Peran

supervisor adalah menginformasikan, mengarahkan, menjadi model, dan menilai

kompetensi yang ditetapkan. Supervisi kolaboratif adalah pendekatan yang

didasarkan atas asumsi bahwa mengajar pada dasarnya adalah pemecahan masalah.

Dalam pendekatan ini ada dua orang atau lebih ikut serta mengemukakan sebuah

hipotesis sebuah masalah, eksperimen, dan mengimplementasikan strategi mengajar,

yang dianggap lebih relevan dengan lingkungan sendiri. Peran supervisor

Tinggi

Rendah

Rendah

Derajat Komitmen

Tinggi

++
Kuadran 4
Guru Profesional

+-
Kuadran 3
Pengamat Analitik

--
Kuadran 1
Guru DO

--
Kuadran 2
Kurang perhatian

D
e
ra
ja
t

A
b
sta
rk
si

membimbing ke proses pemecahan masalah, para anggota aktif dalam interaksi dan

menjaga agar guru tetap memusatkan perhatiannya pada masalah mereka. Supervisi

non-direktif berasumsi bahwa belajar pada dasarnya adalah pengalaman pribadi

dimana individu pada akhirnya harus menemukan pemecahan masalah sendiri untuk

memperbaiki pengalaman murid di dalam kelas. Peran supervisor adalah

mendengarkan, tidak memberikan pertimbangan, membangkitkan kesadaran sendiri

dan mengklarifikasikan pengalaman guru (Glickman, 1990).

Pengukuran kedua dimensi tersebut akan membantu guru dan supervisor

dalam menetapkan pada tahapan mana guru berada dan perlakuan supervisi yang

bagaimana seharusnya dilakukan pada guru, dan pada gilirannya supervisi harus

berkembang ketahapan yang lebih tinggi. Itulah sebabnya supervisi Glickman (1980)

disebut supervisi perkembangan, karena tujuan supervisi menurutnya adalah

membantu guru belajar bagaimana para guru meningkatkan kapasitas mereka untuk

mewujudkan tujuan pembelajaran siswa yang telah ditetapkan. Di sisi lain perlu juga

disadari bahwa esensi dari supervisi tersebut adalah proses bantuan, oleh karena itu

maka bantuan supervisi tersebut sebaiknya diberikan apabila diperlukan oleh guru-

guru. Pengembangan masing-masing model supervisi pembelajaran yang disebut

dengan supervisi direktif, supervisi kolaboratif, dan supervisi non-direktif secara

lebih lengkap akan diuraikan dalam pembahasan selanjutnya.

c. Pengukuran Kualitas Pembelajaran

Berdasarkan uraian mengenai kualitas pembelajaran dan model pembelajaran

problem based instruction (PBI), maka kualitas pembelajaran guru adalah kondisi

pembelajaran yang efektif, dimana siswa dan guru berinteraksi dalam membentuk

pribadi siswa sesuai tujuan dan langkah-langkah pembelajaran problem- based

instruction (PBI). Jadi kualitas manajemen pembelajaran guru dapat dilihat dari

kualitas langkah-langkah pembelajaran problem- based instruction (PBI) dan

tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif. Kualitas tersebut dapat dilihat dari

kualitas: (1) penetapan tujuan, (2) merancang situasi masalah, (3) orientasi siswa pada

masalah, (4) mengorganisasikan siswa untuk belajar, (5) membantu penyelidikan

mandiri dan kelompok, dan (6) analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah.

Kualitas manajemen pembelajaran inovatif guru dalam penelitian ini diukur melalui

persepsi siswa terhadap kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dalam

melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem-

based instruction (PBI). Dengan demikian kualitas manajemen pembelajaran inovatif

guru adalah persepsi siswa terhadap kualitas layanan yang diberikan oleh guru dalam

memfasilitasi pembelajaran, penciptaan iklim belajar, memberikan motivasi dan

reward/ reinforcement dalam upaya meningkatkan performance dan prestasi belajar

siswa dengan menerapkan model pembelajaran problem-based instruction (PBI)

yang tercermin dalam pelaksanaan pembelajaran.

.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->