MEKANISME PENGAWASAN KEUANGAN NEGARA Akhir-akhir ini masalah pengawasan keuangan negara banyak mendapat sorotan.

Media massa terutama surat kabar atau harian hampir tiap hari menampilkan kasus-kasus yang menyangkut korupsi pada berbagai instansi Pemerintah dari tingkat pusat sampai daerah terpencil. Korupsi memang sudah membudaya serta mewabah, ibarat suatu penyakit kronis yang telah akut, sehingga sulit untuk diberantas sampai keakar-akarnya. Pada era reformasi saat ini yang ditandai dengan transparansi (keterbukaan), rakyat membutuhkan kemauan dari berbagai pihak terkait untuk benar-benar melakukan full action bukan hanya bicara (talk only). Rakyat sudah bosan dengan segala basa-basi politik, hukum dan lain-lain dalam upaya pemberantasan korupsi tersebut. Tulisan ini sekedar sumbang saran (urun rembug) penulis, berupa ulasan masalah pengawasan keuangan negara ditinjau dari aspek administratif, mekanisme pengawasan, serta aparat pengawasan. Semoga dapat bermanfaaat dalam upaya memperbaiki sistem administrasi pembukuan keuangan negara kita sehingga tindak korupsi , manipulasi serta tindak penyelewengan lainnya dapat dilakukan pencegahan (preventif). Keuangan negara & pengawasan Menurut Undang-Undang No. 17 tahun 2003 tentang keuangan negara, yang dimaksud dengan keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dalam pasal 34 UU tersebut diatur bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/ Walikota yang terbukti melakukan penyimpangaan kebijakan yang telah ditetapkan dalam UU tentang APBN / Peraturan Daerah tentang APBD diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan undang-undang. Selain itu pada pasal 35 dinyatakan bahwa setiap pejabat negara dan pegawai negeri bukan bendahara yang melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya baik langsung atau tidak langsung yang merugikan keuangan negara diwajibkan mengganti kerugian tersebut. Pengawasan adalah segala tindakan atau aktivitas untuk menjamin agar pelaksanaan suatu aktivitas tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan. Tujuan utama pengawasan bukan untuk mencari kesalahan, melainkan mengarahkan pelaksanaan aktivitas agar rencana yang telah ditetapkan dapat terlaksana secara optimal. Sedangkan ditemukannya kesalahan merupakan akibat terjadinya penyimpangan dari rencana yang telah ditetapkan. Oleh karena yang dimaksud pengawasan keuangan negara tidak hanya mencakup pelaksanannya saja, namun sudah harus dimulai sejak tahap penyusunan sampai dengan tahap

dapat diketahui sedini mungkin (early warning system). Dalam UU tersebut antara lain dijelaskan bahwa korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi. bahwa peraturan sekedar peraturan namun penyelewengan malah meningkat dan semakin berani secara terang-terangan. Peraturan / Regulasi Peraturan / ketentuan yang mengatur tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebenarnya telah cukup banyak. kolusi dan nepotisme. bangsa dan negara. Pada pengawasan supervisi (pengawasan atasan terhadap bawahan) masing-masing pimpinan setiap unit diwajibkan melakukan pengawasan keuangan negara terhadap para bawahan yang menjadi tanggungjawabnya. Oleh karena aspek-aspekpengawasan menjadi sangat penting dan harus selalu ditingkatkan dari waktu ke waktu. Hal ini tercermin dari tekad Pemerintah untuk mewujudkan aparatur yang bersih dan berwibawa serta penegakan hukum disiplin bagi para penyeleweng. 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi. diharapkan adanya penyimpangan dari kebijakan (ketentuan) yang telah ditetapkan.pertanggungjawaban keuangan negara tersebut. Mekanisme pengawasan Pada hakekatnya. sehingga ada sinyalemen yang bernada sinis. Salah satu contoh peraturan tersebut adalah Undang-Undang No. mekanisme pengawasan keuangan negara dapat dibedakan atas dua hal yaitu pengawasan intern dan pengawasan ekstern. pengawasan birokrasi serta pengawasan melalui lembaga-lembaga pengawasan intern. masyarakat dan atau negara. Adanya pengawasan yang dilakukan secara bertingkat ini. Biasanya pengawasan intern meliputi pengawasan supervisi (built in control). sedangkan nepotisme adalah setiap Penyelenggara Negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya atau kroninya diatas kepentingan masyarakat. kolusi adalah permufakatan atau kerjasama secara melawan hukum antar Penyelenggara Negara atau antara Penyelenggara Negara dan pihak lain yang merugikan orang lain. Harus kita akui bahwa dalam pengelolaan keuangan negara memang masih terdapat kebocoran yang diakibatkan oleh korupsi. manipulasi dan tindak penyelewengan lainnya. namun kurang berjalan secara efektif. Adapun pengawasan birokrasi yaitu pengawasan melalui sistem dan prosedur . Pemerintah sebenarnya cukup responsif terhadap pentingnya pengawasan keuangan negara.

Sistem pembukuan yang berlaku di negara kita masih menggunakan sistem administrasi kas yaitu menerapkan tata buku tunggal (single entry bookkeeping) berdasarkan metode dasar tunai (cash basis). Oleh karena itu yang langsung dapat diketahui adalah masalah transaksi kas atau penerimaan dan pengeluaran kas saja. Dari segi pelaksanaan yang dipentingkan adalah kesesuaian (compilance) antara besarnya hak dengan obyek pengeluaran dari tiap-tiap Departemen atau lembaga negara. 5 tahun 1973. Perlu diketahui bahwa negara kita masih menggunakan sistem anggaran garis (line budgeting system) atau disebut sistem anggaran tradisional. . sehingga untuk mengetahui prestasi (kinerja) yang dicapai dibalik hasil transaksi kas tersebut diperlukan analisis lebih lanjut. Namun perlu diketahui bahwa sistem sebagus apapun. apabila manusia sebagai pelaksana bermental korup. Aparat Pengawasan Pengawasan melalui lembaga-lembaga pengawasan intern dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Hal ini untuk mengetahui apakah transaksi kas tersebut telah efisien dan efektif sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Sedangkan dari segi pengawasan yang dipentingkan adalah kesahihan (validitas) bukti-bukti transaksi atas pembelanjaan anggaran tersebut. Dewan Perwakilan Rakyat / Daerah (DPR/D) . BPKP berfungsi melakukan koordinasi atas seluruh pengawasan intern Pemerintah. Sistem ini hanya menitik beratkan pada segi pelaksanaan dan pengawasan anggaran. media masa beserta lembaga atau anggota masyarakat lainnya. maka hasil pemeriksaan keuangan negara oleh BPK tersebut harus diberitahukan kepada DPR. Penulis berharap agar konsep tersebut dapat segera diselesaikan dan segera dapat diterapkan pada pembukuan keuangan negara baik di Pusat maupun di Daerah. maka perbaikan moral / akhlaq bagi penyelenggara negara lebih penting dan perlu mendapatkan perhatian.Seperti diketahui bahwa untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu BPK yang keberadaanya diatur dengan Undang-Undang No. Adanya perbaikan sistem administrasi / pembukuan keuangan negara tersebut diharapkan dapat mencegah upaya KKN. Sesuai dengan UUD 1945 pasal 23 ayat 5. maka sistem tersebut tidak dapat berperan banyak.administrasi. Inspektorat Jenderal Departemen / Unit Pengawasan Lembaga dan Badan Pengawasan Daerah (Bawasda) untuk Daerah Tingkat I & II (Propinsi dan Kodya/Kabupaten). Pada saat ini Pemerintah sedang menyelesaikan konsep sistem akuntansi / pembukuan keuangan negara yang mengacu pada basis akrual dengan modifikasi (modified accrual basis). Pengawasan ekstern dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

maka DPR dituntut untuk membahas dan mengkajinya dengan sungguh-sungguh. Dalam hal ini DPR harus dapat menyampaikannya dengan bahasa yang tepat. kolusi dan nepotisme (KKN). sehingga publikdapat mengetahui kinerja Pemerintah yang sebenarnya. antara lain mencakup sistem administrasi pembukuan yang masih mengandung kelemahan.Sistem pengelolaan keuangan negara perlu disempurnakan dan ditertibkan. Selain itu yang tidak kalah penting adalah peningkatan moral / akhlaq para penyelenggara negara. Selain itu DPR tidak perlu menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya. manipulasi dan tindak penyelewengan lainnya dapat dicegah atau dihindari. artinya bukan dengan bahasa audit yang penuh dengan angka-angka namun dengan bahasa politis yang sederhana dan tidak berbelit-belit.Adanya berbagai upaya tersebut. hal tersebut tidak ada artinya. yaitu satunya” kata dan perbuatan” alias tidak munafiq. Mengingat Haptah ini bukan untuk kalangan internal DPR saja. maka baik pengawasan intern maupun pengawasan ekstern perlu ditingkatkan secara terus menerus. namun harus transparan. Kesimpulan Mengingat sangat pentingnya pengawasan terhadap keuangan negara. misalnya apabila suatu Departemen terdapat penyelewengan (korupsi dll) maka perlu disampaikan kepada masyarakat. diharapkan kebocoran atau penyelewengan keuangan negara yang diakibatkan oleh korupsi. baik lembaga pengawasan intern dan ekstern perlu lebih diberdayakan sehingga tidak sekedar sebagai pelengkap saja. .Peranan media massa atau pers dalam pengawasan keuangan negara juga sangat penting. maka DPR harus mengkomunikasikan dan mensosialisasikan kepada masyarakat (publik) sebagai wujud akuntabilitas publik. Apabila hal ini dapat berjalan maka pers tidak hanya berfungsi sebagai penyebar informasi saja.Dengan diterimanya hasil pemeriksaan tahunan (Haptah) oleh DPR dari BPK tersebut. Dalam hal ini rakyat membutuhkan keteladanan dari pejabat negara. Aparat / lembaga pengawasan yang ada. namun tanpa political will dari Pemerintah untuk secara sungguh-sungguh memberantas praktek KKN. Akhirnya semoga tekad Pemerintah untuk mewujudkan aparatur yang bersih dan berwibawa dapat diupayakan terwujud dan bukan semata-mata sebagai slogan saja. namun juga berfungsi untuk melakukan pengawasan. Amin. maka Pemerintah harus memperhatikan suara pers dengan saksama tanpa negative thinking yang berlebihan. melalui peningkatan iman dan taqwa yang sesungguhnya. Meskipun telah banyak peraturan (regulasi) yang mengatur tentang korupsi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful