P. 1
Pendekatan dalam Pendidikan

Pendekatan dalam Pendidikan

|Views: 1,240|Likes:
Published by dadik

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: dadik on Dec 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2013

pdf

text

original

Pendekatan dalam Pendidikan

Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi dilahirkan dan berlangsung seumus hidup.pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang banyak dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran. Pendidikan merupakan kegiatan yang hanya dilakukan oleh manusia dengan lapangan yang sangat luas, yang mencakup semua pengalaman serta pemikiran manusia tentang pendidikan. Pendidikan sebagai suatu praktik dalam kehidupan, seperti halnya dengan kegiatan-kegiatan lain. Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu: (1) pendidikan sebagai praktik dan (2) pendidikan sebagai teori. Diantara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan. Demikian pula, teori-teori pendidikan seyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan. Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun dapat mengimbas pada praktik pendidikan. I. Praktik Pendidikan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi. Menurut Redja M. Praktik pendidikan adalah seperangkat kegiatan bersama yang bertujuan membantu pihak lain agar mengalami perubahan tingkah laku yang diharapkan. Praktik pendidikan dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek tujuan, aspek proses kegiatan, dan aspek dorongan(motivasi). Tujuan praktik pendidikan adalah membantu pihak lain mengalami perubahan tingkah laku fundamental yang diharapkan. Proses kegiatan merupakan seperangkat kegiatan sosial/bersama, usaha menciptakan peristiwa pendidikan dan mengarahkannya, serta merupakan usaha secara sadar atau tidak sadar melaksanakan prinsip-prinsip pendidikan. Dorongan atau motifasi untuk melaksanakan praktik pendidikan muncul karena dirasakan adanya kewajiban untuk menolong orang lain. II. Teori Pendidikan

Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Mengapa kita harus mempelajari teori pendidikan? Karena yang kita hadapi dalam dunia pendidikan adalah manusia. Karena mendidik itu merupakan perbuatan yang harus betul-betul didasari dan disadari dalam rangka membimbing manusia pada suatu tujuan yang akan dicapai. Dalam pendidikan tidak dikenal suatu resep yang pasti (mutlak), karena yang utama dalam pendidikan adalah kreativitas dan kepribadian pendidik. Pendidikan memerlukan teori pendidikan, karena teori pendidikan akan memberikan manfaat sebagai berikut: 1) Teori pendidikan dapat dijadikan pedoman untuk mengetahui arah dan tujuan yang akan dicapai. 2) Teori pendidikan berfungsi untuk mengurangi kesalahan-kesalahan dalam praktik pendidikan. Dengan begitu kita dapat mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. 3) Teori pendidikan dapat dijadikan sebagai tolak ukur sampai dimana kita telah berhasil dalam melaksanakan tugas dalam pendidikan. Dalam Dictionary Americana dijelaskan bahwa teori adalah : a) Suatu susunan yang sistematis tentang fakta-fakta yang berkaitan dengan dalildalil nyata atau dalil-dalil hipotesis. b) Suatu penjelasan hipotesis tentang fenomena atau sebagai hipotesis yang belum teruji secara empiris. c) Suatu eksposisi tentang prinsip-prinsip umum atau prinsip-prinsip abstrak ilmu humaniora yang berasal dari praktik d) e) Suatu rencana atau sistem yang dapat dijadikan suatu metode bertindak Suatu doktrin atau hukum yang hanya didasarkan atas renungan spekulatif.

Dagobert Runes mengemukakan tiga pengertian teori yaitu : a) Hypothesis, more losely: supossition, whatever is problemetic verified.

Teroi merupakan suatu hipotesis tentang segala masalah, dapat diuji tetapi tidak perlu diuji

b) As opposed to practice: systematically organized knowlegde of relatively high generallity. Merupakan lawan dari praktik, merupakan pengetahuan yang disusun secara sistematis dari kesimpulan umum relatif. c) As opposed to low and obeservation:explanition. The deduction of axsioms and theorems of one system from assertions (not necessarity verified) from another system of relatively less problematic and intelligibble. Teori diartikan sebagai lawan dari hukum-hukum dan observasi, suaru dedukdi dari aksioma-aksioma dan teorema-teorema suatu sistem yang pasti (tidak perlu diuji), secara relatif kurang problematif dan lebih banyak diterima atau diyakini. Menurut Kneller, teori memiliki dua pengertian, antara lain ; teori itu empiris, dalam arti sebagai suatu hasil pengujian terhadap hipotesis dengan melalui observasi dan ekserimen, cara berpikir yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode induktif, maka teori di sini sama dengan makna teori dalam sains. Seorang guru tidakboleh dikacaukan dengan isu-isu yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Kedua, teori dapat diperoleh melalui berpikir sistematis spekulatif, dengan metode deduktif, dalam hal ini kneller mengemukakan bahwa teori merupakan “a set of coherent thought”, seperangkat berpikir koheren yang sesuia dengan teori koherensi tentang kebenaran. Jadi, teori tidak sebatas diartikan sebagai suatu penjelasan terhadap fenomena, melainkan merupakan petunjuk untuk membangun atau mengontrol pengalaman. BAB II PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM TEORI PENDIDIKAN Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains; (2) pendekatan filosofi; dan (3) pendekatan religi, (4) pendekatan multidisiplin, dan (5) pendekatan dalam penulisan. 1. 1. Pendekatan Sains Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam. Melalui pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu pendidikan, dengan berbagai cabangnya, seperti: (1) sosiologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam pendidikan untuk mengkaji faktor-faktor sosial dalam pendidikan; (2) psikologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi untuk mengkaji perilaku dan perkembangan individu dalam belajar; (3) administrasi atau manajemen pendidikan;

suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) teknologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sains dan teknologi untuk mengkaji aspek metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien; (5) evaluasi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa; (6) bimbingan dan konseling, suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari beberapa disiplin ilmu, seperti: sosiologi, teknologi dan terutama psikologi. Tentunya masih banyak cabang-cabang ilmu pendidikan lainnya yang terus semakin berkembang yang dihasilkan melalui berbagai kajian ilmiah. Karakteristik Pendekatan Sains Karakteristik pendekatan sains dapat dilihat dari tiga segi yaitu; objek pengkajian, tujuan pengkajian, dan metode kerja pengkajian. Objek pengkajian dalam sains pendidikan sangat terbatas karena objeknya merupakan salah satu aspek dari pendidikan. Oleh karenanya sains pendidikan mencoba menganalisis objeknya menjadi unsur-unsur yang lebih kecil, misalnya, sosiologi pendidikan sebagai salah satu bagian dari sains pendidikan. Tujuan pengkajian sains pendidikan adalah untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi dalam pendidikan. Mendeskripsikan dan menggambarkan apa yang terjadi dalam peristiwa pendidikan. Karakteristik seperti ini disebut deskriptif analisis yaitu menggambarkan secara rinci unsur-unsur dari aspek pendidikan yang menjadi objek penyelidikannya. Metode kerja pengkajian sains pendidikan ialah dengan menggunakan metode sains yaitu dengan cara induktif yang berasal dari fakta-fakta khusus, fakta empiris pendidikan dianalisis dan diverifikasi, lalu ditarik suatu kesimpulan generalisasi sebagai suatu teori pendidikan. Jenis-jenis Sains Pendidikan Sebagai hasil pendekatan sains terhadap pendidikan, terdapat beberapa jenis sains yang dihasilkan diantaranya, sosiologi pendidikan, merupakan cabang sains pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam kajian pendidikan, aplikasi dari hasil-hasil penelitian dalam sosiologi. Sosiologi pendidikan berangkat dari asumsi bahwa pendidikan merupakan organisasi sosial, sehingga objek penyelidikan sosiologi pendidikan adalah faktor sosial dalam pendidikan psikologi pendidikan, sebagai aplikasi dari psikologi dalam kajian pendidikan, sangat dipengaruhi oleh perkembangan dan hasil penelitian dalam psikologi. Psikologi pendidikan berangkat dari sumsi bahwa pendidikan merupakan hal ihwal dari individu yang sedang belajar. Belajar merupakan perubahan perilaku individu

sehingga objek penelitian dalam prikologi pendidikan adalah perilaku individu dalam belajar administrasi pendidikan, sebagai aplikasi dari ilmu manajemen yang dipengaruhi dan bersumber dari hasil penelitian dalam bidang manajemen. Administrasi pendidikan bertolak dari asumsi bahwa pendidikan adalah usaha pendayagunaan sumber yang tersedia secara efektif dan efisien. Yang menjadi objek utama penelitian administrasi pendidikan adalah pengelolaan atau pengaturan sumber daya manusia dan bukan manusia, agar individu dapat belajar efektif dan efisien. Teknologi pendidikan, sebagai aplikasi dari sains dan teknologi, sangat dipengaruhi oleh perkembangan dan hasil penelitian di bidang teknologi. Teknologi pendidikan antara lain bertolak dari asumsi bahwa pendidikan merupakan aspek metodologi dan teknik belajar mengajar yang efektif dan efisien. Evaluasi pendidikan, sebagai aplikasi dan psikologi pendidikan dan statistik. Banyak dipengaruhi oleh hasil perkembangan dan penelitian dalam psikologi pendidikan dan statistik. Evaluasi pendidikan berasal dari asumsi bahwa pendidikan merupakan persoalan untuk menemukan dan menentukan tingkat keberhasilan pendidikan Cabang-cabang lain yang termasuk sains pendidikan adalah ekonomi pendidikan, pendidikan kependudukan, ekologi pendidikan, bimbingan dan penyuluhan pendidikan, pengembangan kurikulum, perencanaan pendidikan, evaluasi sistem pendidikan. 2. Pendekatan Filosofi

Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Karakteristik Pendekatan Filosofi Objek pengkajian pendidikan dengan pendekatan filosofi adalah semua aspek pendidikan tidak terbatas pada salah satu aspek saja. Seluruh aspek pendidikan seperti tujuan pendidikan, isi pendidikan, metode pendidikan, pendidik, peserta didik, keluarga, masyarakat merupakan kajian komprehensif dari pengkajian filosofis. Tujuan akhir suatu pengkajian filosofi dalam pendidikan adalam merumuskan apa dan bagaimana seharusnya tentang pendidikan. Kajian filosofi berusaha merumuskan apa yang dimaksud dengan pendidikan, bagaimana seharusnya tujuan pendidikan, bagaimana seharusnya kurikulum dirumuskan.pengkajian seperti ini biasa disebut sebagai pengkajian normatif, karena berkaitan dengan norma-norma, nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan manusia. Metode pengkajian filosofis melalui kajian rasional yang mendalam tentng pendidikan dengan menggunakan semua pengalaman manusia dan kemanusiaannya

sehingga pengalaman kemanusiaan seseorang dapat diterapkan dalam menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam. Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model: (1) model filsafat spekulatif; (2) model filsafat preskriptif; (3) model filsafat analitik. Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman. Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat. Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir (disarikan dari Uyoh Sadulloh, 1994) Terdapat beberapa aliran dalam filsafat, diantaranya: idealisme, materialisme, realisme dan pragmatisme (Ismaun, 2001). Aplikasi aliran-aliran filsafat tersebut dalam pendidikan kemudian menghasilkan filsafat pendidikan, yang selaras dengan aliran-aliran filsafat tersebut. Filsafat pendidikan akan berusaha memahami pendidikan dalam keseluruhan, menafsirkannya dengan konsep-konsep umum, yang akan membimbing kita dalam merumuskan tujuan dan kebijakan pendidikan. Dari kajian tentang filsafat pendidikan selanjutnya dihasilkan berbagai teori pendidikan, diantaranya: (1) perenialisme; (2) esensialisme; (3) progresivisme; dan (4) rekonstruktivisme. (Ella Yulaelawati, 2003). Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.

Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu. Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu? Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif. Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses. 1. 3. Pendekatan Religi Pendekatan religi yaitu suatu pendekatan untuk menyusun teori-teori pendidikan dengan bersumber dan berlandaskan pada ajaran agama. Di dalamnya berisikan keyakinan dan nilai-nilai tentang kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk menentukan tujuan, metode bahkan sampai dengan jenis-jenis pendidikan. Cara kerja pendekatan religi berbeda dengan pendekatan sains maupun filsafat dimana cara kerjanya bertumpukan sepenuhnya kepada akal atau ratio, dalam pendekatan religi, titik tolaknya adalah keyakinan (keimanan). Pendekatan religi menuntut orang meyakini dulu terhadap segala sesuatu yang diajarkan dalam agama, baru kemudian mengerti, bukan sebaliknya. Terkait dengan teori pendidikan Islam, Ahmad Tafsir (1992) dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam” mengemukakan dasar ilmu pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Hadis dan Akal. Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat kebenarannya. Sedangkan Abdur Rahman Shalih membandingkan teori pendidikan islam dengan teori sains. Ia mengatakan bahwa teori sains bersifat deskriptif dapat membantu para pendidik. Tetapi tidak mungkin dapat menjadi paradigma bagi teori pendidikan,

karena bagi pendidikan teori tidak sekedar menerangkan bagaimana atau mengapa sesuatu iyu bisa terjadi. Fungsi teori dalam pendidikan itu sendiri dalam pendidikan adalah sebagai petunjuk perilaku peserta didik. Dalam pendidikan islami nilai-nilai Qurani merupakan bentuk elemen dasar kurikulum, dan sekolah berkepentingan membawa siswa-siswanya agar sesuai dengan nilai-nilai tersebut Sementara itu, Ahmad Tafsir (1992) merumuskan tentang tujuan umum pendidikan Islam yaitu muslim yang sempurna dengan ciri-ciri : (1) memiliki jasmani yang sehat, kuat dan berketerampilan; (2) memiliki kecerdasan dan kepandaian dalam arti mampu menyelesaikan secara cepat dan tepat; mampu menyelesaikan secara ilmiah dan filosofis; memiliki dan mengembangkan sains; memiliki dan mengembangkan filsafat dan (3) memiliki hati yang takwa kepada Allah SWT, dengan sukarela melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dan hati memiliki hati yang berkemampuan dengan alam gaib. Dalam teori pendidikan Islam, dibicarakan pula tentang hal-hal yang berkaitan dengan substansi pendidikan lainnya, seperti tentang sosok guru yang islami, proses pembelajaran dan penilaian yang islami, dan sebagainya. -prinsinsipTeori pendidikan islam merupakan teori yang terintegratif yang berdasarkan pada prinsip-prinsip Qurani, jadi teori pendidikan islam tidak akan mungkin bertentangan dengan hasil-hasil sains tetapi bisa menerima dan memanfaatkan bagian-bagian dari sains bagi pelaksanaan operasional pendidikan. Abdullah mengemukakan : “jika prinsip-prinsip yang diderivasi dari bidang-bidang ilmu lain diadopsi ke dalam pandangan Quran, maka akan muncul kontradiksi antara apa yang diajarkan tentang penciptaan manusia pertama di muka bumi dengan apa yang diajarkan biologi. Karena seluruh prinsip terkait erat, teori pendidikan islam dapat digambarkan sebagai teori yang terintegrasi, dimana prinsip-prinsip Qurani membentuk intinya. Disebabkan Al Quran mengandung satu kesatuan pandangan tentang manusia dan alam, teori nyang berdasakan kepanya juga harus pula begitu.” 1. 4. Pendekatan Multidisiplin Mengingat kompleksitas dan luasnya lingkup pendidikan, maka untuk menghasilkan teori pendidikan yang lengkap dan menyeluruh kiranya tidak bisa hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik dengan memadukan ketiga pendekatan di atas yang terintegrasi dan memliki hubungan komplementer, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Pendekatan semacam ini biasa disebut pendekatan multidisipliner. Jadi pendekatan yang perlu kita lakukan adalah pendekatan yang menyeluruh, pendekatan multidisiplin yang terpadu. Pendekatan filosofi, pendekatan sains, pendekatan religi atau mungkin pendekatan seni , dipergunakan secara terpadu tidak terpisah. Antara pendekatan yang satu dengan pendekatan yang lainnya harus memiliki hubungan yang komplementer, karena satu sama lainnya saling melengkapi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->