P. 1
MORBUS HANSEN

MORBUS HANSEN

|Views: 234|Likes:
Published by datmojo

More info:

Published by: datmojo on Dec 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2014

pdf

text

original

A.

MORBUS HANSEN
Kusta (Hansen¶s disease) didefinisikan sebagai suatu infeksi granulomatosa kronis dengan gejala sisa, disebabkan olehMycobacterium leprae (M. leprae) yang terutama menyerang kulitdan saraf. Atau penyakit infeksi kronis yang disebabkan oteh basilMycobacterium leprae yang bersifat obligat intraselular. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa saluran napas atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat asimptomatik, namun pada sebagian kecil memperlihatkan gejala dan mempunyai kecenderungan untuk menjadi cacat, khususnyapada tangan dan kaki.

ETIOLOGI M.leprae atau kuman Hansen adalah kuman penyebab penyakit kusta yang ditemukan oleh sarjana dari Norwegia GH Armauer Hansen pada tahun 1673. Kuman ini bersifat tahan asam, berbentuk batang dengan ukuran 1-8?, lebar 0,2-0,5 ?, biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat dikultur dalam media buatan. Kuman ini juga dapat mepyebahkan infeksi sistemik pada binatang armadillo.Masa belah diri kuman kusta memerlukan waktu yang sangat lama dibandingkan dengan kuman lain,yaitu 2-21 hari. Oleh karena itu masa tunas menjadi lama, yaitu rata-rata 2 ± 5 tahun. Tujuan klasifikasi.
y y

‡ Untuk menentukan rejimen pengobatan, prognosis, dan komplikasi. ‡ Untuk perencanaan operasional. misalnya menemukan pasien-pasien yang menular yang mempunyai nilai epidemiologis tinggi sebagai target utama pengobatan.

y

‡ Untuk indentifikasi pasien yang kemungkinan besar akan menderita cacat.

Jenis klasifikasi yang umum A. Klasifikasi Internasional: Klasifikasi Madrid (1953) :
y y y y

‡ Indeterminate (I) ‡ Tuberkuloid (T) ‡ Borderline ± Dimorphous (B) ‡ Lepromatosa (L)

B. Klasifikasi untuk kepentingan riset : Klasifikasi Ridley-Jopling (1962).
y y y y y

‡ Tuberkuloid (TT) ‡ Boderline tuberculo¶d (BT) ‡ Mid-borderline (BB) ‡ Borderline lepromatcus (BL) ‡ Lepromatosa (LL)

C.

Klasifikasi untuk kepentingan program kusta: Klasifikasi WHO

(1981) dan modifikasi WHO (1988)
y

‡ Psusibasilar (PB)

Hanya kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan BTA negatif menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I danTT menurut klasifikasi Madrid.
y

‡ Multibasilar (MB)

Termasuk kusta tipe LL, BL, BB dan sebagian BT menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan BTA positif.

Untuk pasien yang sedang dalam pengobatan harus diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Bila pada mulanya didiagnosis tipe MB, tetap diobati sebagai MB apapun hasil pemeriksaan BTA-nya saat int. 2. Bila awalnya didiagnosis tipe PB, harus dibuat klasifikasi baru berdasarkan gambaran klinis dan hasil BTA saat ini. Gambaran Klinis
1. 1. TT : mengenai baik kulit maupun saraf. Lesi kulit bisa satu atau beberapa makula plakat, batas jelas, pada bagian tengah ada central healing. Dapat disertai dengan penebalan saraf perifer yang biasanya teraba, kelemahan otot dan sedikit rasa gatal. Adanya infiltrasi tuberkuloid dan tidak adanya kuman menunjukkan adanya respon imun yang adekuat terhadap kuman. 2. 2. BT : lesi mirip dengan TT berupa makula atau plak, sering disertai lesi satelit di tepinya dan terletak dekat saraf perifer yang menebal. Jumlah lesi satu atau beberapa. Gambaran hipopigmentasi, kulit kering atau skuama tidak sejelas tipe TT. Gangguan saraf tidak seberat TT, biasanya asimetris. 3. 3. BB : disebut juga bentuk dimorfik dan merupakan tipe yang paling tidak stabil. Tipe ini jarang dijumpai. Lesi berbentuk makula infiltrat, permukaan lesi mengkilat, batas tidak tegas, jumlah lesi melebihi BT, cenderung simetris dan bisa didapatkan punchedout. 4. 4. BL : Lesi dimulai dengan makula, awalnya dalam jumlah sedikit dan cepat menyebar ke seluruh badan. Distribusi lesi simetris. Lesi bagian tengah sering tampak normal dengan pinggir dalam infiltrat lebih jelas dibandigkan dengna pinggir luarnya, beberapa plak tampak seperti punched out. Tanda-tanda kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi,hipopigmentasi dan berkurangnya keringat. Penebalan saraf dapat teraba pada tempat predileksi. 5. 5. LL : Jumlah lesi sangat banyak, simetris, permukaan halus, tampak lebih eritem, berkilap dan beratas tidak tegas. Distribusi Isi khas pada wajah mengenai dahi, pelipis, dagu, cuping telinga, daerah badan yang dingin, lengan, punggung tangan, dan

permukaan ekstensor tungkai bawah. Pada stadium lanjut tampak penebalan kulit yang progresif, cuping telinga menebal, garis muka menjadi kasar seperti facies leonina, dapat terjadi deformitas hidung dan pembesaran KGB. Kerusakan saraf yang luas dapat menunjukkan gejala glove and stocking anesthesia. Pada stadium lanjut juga dapat terjadi degenersi hialin atau flbrosis pada seraut perifer yang menyebabkan pengecilan otottangan dan kaki.

PATOGENESIS Meskipun cara masuk M. leprae ke dalam tubuh masih belum diketahui dengan pasti, beberapa penelitian telah memperlihatkan bahwa yang tersering ialah melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh yang bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal. Pengaruh, M leprae terhadap kulit bergantung pada faktor imunitas seseorang, kemampuan hidup M. leprae pada, suhu tubuh yang rendah, waktu regenerasi yang lama, serta sifat kuman yang avirulens dan nontoksis. M. leprae merupakan parasit obligat intraselular yang terutama terdapat pada sel makrofag di sekitar pembuluh darah superfisial pada dermis atau sel Schwann di jaringan saraf. Bila kuman M. leprae masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan bereaksi mengeluarkan makrofag (berasal dari sel monosit darah, sel mononuklear, histiosit) untuk memfagositnya. Pada kusta tipe LL terjadi kelumpuhan sistem-imunitas, dengan demikian makrofag tidak mampu menghancurkan kuman sehingga kuman dapat bermultiplikasi dengan bebas, yang kemudian dapat merusak jaringan. Pada kusta tipe TT kemarnpuan fungsi sistem imunitas selular tinggi, sehingga makrofag sanggup menghancurkan kuman.. Sayangnya setelah sernua kuman di fagositosis, makrofag akan berubah menjadi sel epiteloid yang tidak bergerak aktif dan kadang-kadang bersatu membentuk sel datia Langhans. Bila infeksi ini tidak segera

diatasi akan terjadi reaksi berlebinan dan akan menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan di sekitarnya.

masa

epiteloid

Sel Schwann merupakan sel target untuk pertumbuhan M. leprae, di samping itu sel Schwann berfungsi sebagai demielinisasi dan hanya sedikit fungsinya sebagai fagositosis. Jadi, bila terjadi gangguan imunitas tubuh dalam sel Schwann, kuman dapat bermigrasi dan beraktivasi. Akibatnya aktivitas regenerasi saraf berkurang dan terjadi kerusakan saraf yang progresif. DIAGNOSIS Penyakit kusta dapat rnenunjukkan gejala yang mirip dengan banyak penyakit lain. Sebaliknya banyak penyakit lain dapat menunjukkan gejaia yang mirip dengan penyakit kusta. Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan untuk mendiagnosis penyakit kusta secara tepat dan rnembedakannya dengan pelbagai penyakit ysng lain agar tidak rnembuat kesalahan yang merugikan pasien. Diagnosis penyakit kusta didasarkan pada penemuan (tanda kardinal atau tanda utama) yaitu : 1. Bercak Kulit yang mati rasa

Bercak hipopigmetasi atau eritematosa. mendatar (rnakula) atau meninggi (plak). Mati rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa (raba, rasa suhu, dan rasa nyeri). 2. Penebalan saraf tepi dapat disertai rasa nyeri dan dapat juga disertai atau tanpa gangguan fungsi saraf yang terkena, yaitu : a. b. gangguan fungsi sensoris (mati rasa) gangguan fungsi motoris : paresis atau paralisis

c. gangguan fungsi otonorn: kulit kering: retak, edema, pertumbuhsn rambut yang terganggu 3.Ditemukan kuman tahan asam

Bahan pemeriksaan adalah hapusan kulit cuping telinga dan lesi kulii psda bagian yang aktif. Kadang-kadang bahan diperoleh dari biopsi kulit atau saraf. Untuk menegakkan diagnosis penyakit kusta, paling sedikit harus ditemukan satu tanda kardinal. Bila tidak atau belum dapat ditemukan, maka kita hanya dapat mengatakan tersangka kusta dan pasien perlu diamati dan diperiksa uiang setelah 3-6 bulan sarnpai diagnosis kusta dapat ditegakkan atau disingkirkan. PEMERIKSAAN PASIEN 1. Anamnesis

- Keluhan pasien - Riwayat kontak dengan pasien - Latar belakang keluarga, misalnya keadaan sosial ekonomi. 2. Inspeksi Dengan penerangan yang baik. lesi kulit harus diperhatikan dan juga kerusakan kulit. 3. Palpasi - Kelainan kulit: nodus, infiltrat, jaringan parut, ulkus, khususnya pada tangan dan kaki Kelainan saraf :

Pemeriksaan saraf, termasuk meraba dengan teliti: N. Aurikularis magnus, N. ulnaris, dan N. peroneus. Petugas harus mencatat adanya nyeri tekan dan penebalan saraf. harus diperhatikan raut wajah pasien, apakah kesakitan atau tidak pada waktu saraf diraba. Pemeriksaan saraf harus sistematis, meraba atau palpasi

sedemikian rupa jangan sampai menyakiti atau pasien mendapat kesan kurang baik. Pemeriksaan saraf : - bandingkan saraf bagian kiri dan kanan membesar atau tidak - pembesaran regular (smooth) atau irregular, bergumpal - perabaan keras atau kenyal. - nyeri atau tidak Untuk mendapat kesan saraf mana yang mulai menebal atau sudah menebal dan saraf mana yang masih normal. di.perlukan pengalaman yang banyak. Cara pemeriksaan saraf tepi : a.N. aurikularis magnus : - Pasien disuruh menoleh ke samping-semaksimal mungkin, maka saraf yang terlibat akan terdorong oleh otot di bawahnya sehingga acapkali sudah bisa tertihat bila saraf membesar. Dua jari parneriksa diletakkan di atas persilangan jalannya saraf tersebut dengan arah otot. Bila ada penebalan, maka pada perabaan secara seksama akan menemukan jaringan seperti kabel atau kawat. - Jangan lupa membandingkan yang kiri dan kanan. b. N. ulnaris : - Tangan yang dlperiksa harus santai, sedikit fleksi dan sebaiknya diletakkan di atas satu tangan pemeriksa. -Tangan pemeriksa yang lain meraba lekukan di bawah siku (sulkus nervi ulnaris) dan merasakan, apakah ada penebalan atau tidak. Perlu dibandingkan N. ulnaris adanya perbedaan atau tidak. kanan dan kiri untuk melihat

c. N. paroneus lateralis : - Pasien duduk dengan kedua kaki menggantung, diraba di sebelah lateral dari capitclum fibulae, biasanya sedikit ke posterior. Bila saraf yang dicari tensentuh oleh jari pemeriksa, sering pasien merasakan seperti terkena setrum pada daerah yang dipersarafi oleh saraf tersebut. Pada keadaan neuritis akut sedikit sentuhan sudah memberikan rasa nyeri yang hebat. 4. a Tes fungsi saraf tes sensoris .

Gunakan kapas. jarum. serta tabung reaksi berisi air hangat dan dingin. Rasa raba Sepotong kapas yang dilancipkan ujungnya digunakan untuk memeriksa perasaan rangsang raba dengan menyinggungkannya pada kulit. Pasien yang diperiksa harus duduk pada waktu dilakukan pemeriksaan. Terlebih dahulu petugas menerangkan bahwa bilamana merasa disinggung bagian tubuhnya dengan kapas. ia harus rnenunjukkan kulit yang disinggung dengan jari telunjuknya dan dikerjakan dengan mata terbuka. Bilamana hal ini telah jelas, maka ia diminta menutup rnatanya, kalau perlu matanya ditiutup dengan sepotong kain/karton. Lesi di kulit dan bagian kulit lain yang dicurigai, perlu diperiksa sensibilitasnya. Harus diperiksa sensibilitas kulit yang sehat dan kulit yang tersangka diserang kusta. Bercakbercak di kulit harus diperiksa pada bagian tengahnya, jangan di pinggimya. * Rasa nyeri

Diperiksa dengan memakai jarum. Petugas menusuk kulit dengan ujung jarum yang tajam dan dengan pangkal tangkainya yang

tumpul dan pasien harus mengatakan tusukan mana yang tajam dan mana yang tumpul. * Rasa suhu

- diiakukan dengan mempergunakan 2 tabung reaksi, yang 1 berisi air panas (sebaiknya 40°C) yang lainnya air dingin (sebaiknya sekitar 20°C). - mata pasien ditutup atau menoleh ke tempat lain, lalu bergantian kedua tabung tersebut ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai. - sebelumnya dilakukan tes kontrol pada daerah kulit yang normal, untuk memastikan bahwa orang yang diperiksa dapat membedakan panas dan dingin. - bila pada daerah yang dicurigai tersebut beberapa kali pasien salah menyebutkan rasa pada tabung yang ditempelkan, maka dapat disirnpulkan bahwa sensasi suhu di daerah terssbut terganggu. b. Tes otonom Berdasarkan adanya gangguan berkeringat di makula anestesi pada penyakit kusta, pemeriksaan lesi kulit dapat dilengkapi dengan tes anhidrosis 1.Tes dengan pinsil tinta (tes Gunawan) Pinsil tinta digariskan mulai dari bagian tengah lesi yang dicurigai terus sampai ke daerah kulit normal. 2.Tes pilocarpin - daerah kulit pada rnakula dan perbatasannya disuntik dengan pilocarpin subkutan. - setelah beberapa menit tampak daerah kuiit normal berkeringat, sedangkan daerah lesi tetap koring.

c. Tes motoris Voluntary muscle test (VMT) Cara memeriksa 1. Mula-mula periksa gerakan, perhatikan apakah pasien dapat merakukan dengan baik dan tanpa bantuan. 2. Kemudian perksa ketahanannya kerjakan ini hanya jika gerakannya sempuma atau mendekati dan lakukanlah perlahan, jangan dikejutkan/sekaligus (tiba-tiba). Jangan paksa sampai berubah posisi, amati apakah kekuatan menahan penderita normal, berkurang atau nol. 3. Bandingkan selalu kaki dan tangan kanan pasien dengan yang sebelah kiri. 5. Komplikasi Dicari:
y y

‡ Pada mata, hidung, laring, dan testis ‡ Reaksi: nyeri saraf. eritema nodosum leprosum, iridosiklitis, tenosinovitis ‡ Kerusakan saraf sensoris ‡ Kerusakan saraf motoris ‡ Kerusakan saraf otonom.

y y y

G.

Pemenksaan bakterioskopis

Pemeriksaan hapusan sayatan kulit (bakterioskopis) memiliki kegunaan 1. Membantu menentukan diagnosis penyakit

2. Membantu menentukan klasifikasi (tipe) penyakit kusta sebelum pengobatan 3. Membantu menilai respons pengobatan pada pasien MB

4. 5.

Menentukan end point pengobatan pada pasien MB Menentukan prognosis

6. Memperkirakan kepentingan epidemiologis dari pasien-pasien dan menentukan prioritas pengobatan, pemeriksaan kontak dsb. Ketentuan untuk lokasi sediaan : a. b. Sediaan diambil dari kelainan kulit yang paling akttf. Kulit muka sebaiknya dihindari karena alasan kosmetik, kecuali

tidak ditemukan kelainan kulit di lempat lain. c. Pada pemeriksaan ulangan dilakukan di tempat kelainan kulit yang sama dan bi!a perlu ditambah dengan lesi kulit yang baru timbul. d. Sebaiknya petugas yang mengambil dan memeriksa sediaan ha-

pus dilakukan oleh orang yang berlainan. Hal ini untuk menjaga pengaruh gambaran Winis terhadap hasil pemeriksaan bakterioskopis. e. Tempat yang seeing diambil untuk sediaan hapus jaringan bagi pemeriksaan M. leprae adalah : - cuping telinga - lengan - punggung - bokong - paha

f. Jumlah pengambilan sediaan apus jaringan kulit harus minimum diiaksanakan di tiga tempat, yaitu : - cuping telinga kiri - cuping telinga kanan - bercak yang paling aktif. g. Pengambilan sediaan dari selaput lendir hidung sebaiknya dihindarkan karena : - Tidak menyenangkan bagi pasien - Positif palsu karena mikobakterium lain - Tidak pernah ditemukan M.leprae pada selaput lendir hidung, apabila sediaan hapus kulit negatif. - Pada pengobatan. pemenksaan bakterioskopis selaput lendir hidung negatif lebih dahulu daripada di kulit. h. Sediaan hapus kulit perlu dilakukan pada: - Semua orang yang dicurigai menderita kusta. - Semua pasien baru yang didiagnosis secara klinis sebagai pasien kusta. - Semua pasien kusta yang diduga kambuh (relaps) tersangka kuman kebal (resisten) terhadap obat. - Semua pasien MB tiap setahun sekali. Hasil positif palsu adalah akibat: 1. Presipitasi zat warna. Untuk menegahnya pakai pewanaan yang atau

baru / fresh

y y y y

‡ BTA saprofit ‡ Pewarnaan serat, biji-bijian, dsb. ‡ Ada goresan pada gelas obyek ‡ Kontaminasi akibat menggunakan gelas obyek bekas.

Hasil negatif palsu adalah akibat: 1. Preparasi yang tidak adekuat seperti pulasan yang terlalu tipis/tebal, pemanasan berlebihan saat fiksasi, atau fiksasi yang kurang baik. 2. Cara pewarnaan yang salah seperti pewamaan karbol fuhsin yang terlalu cepat atau berlebihan sampai berbusa, counter staining yang terlalu intensif sehingga gambaran kuman kabur. 3. Pembacaan yang tidak adekuat, pemeriksaan tidak beraturan atau terburu-buru sehingga hanya sedikit lapang pandang yang diperiksa. Kesalahan administrasi adalah akibat: 1. 2. 7. Kesalahan pelabelan, nomor, atau identifikasi pasien Kesalahan laporan. Biopsi kulit

Biopsi kulit merupakan salah satu teknik untuk mendukung klasifikasi tipe kusta berdasarkan kriteria Rodley-Jopling. Pada lesi kulit pasien yang dicurigai dilakukan anestesi lokal kemudian dibuat irisan kulit yang juga melibatkan kulit normal untuk meiihat adanya perubahan patologis pada jaringan yang terinfeksi M. leprae.
1. 8. Buat kesimpulan

Diagnosis Banding Lesi kulit

‡ Makula hipopigmentasi : leukoderma, vitiligo, tinea versikolor, pitiriasis alba, morfea dan parut ‡ Plak eritem : tinea koporis, lupus vulgaris, lupus eritematosus, granuloma anulare, sifilis sekunder, sarkoidosis, leukemia kutis dan mikosis fungoides. ‡ Ulkus : ulkus diabetik, ulkus kalosum, frambusia, penyakit Raynad & Buerger Anestesi Neuropati perifer, neuropati diabetik, amiloidosis saraf, trauma, siringomieli. Komplikasi ‡ Komplikasi imunologis: reaksi reversal, reaksi eritema nodosum leprosum. ‡ Komplikasi neurologis : ulkus, claw hand, drop hand, drop foot, kontraktur, mutilasi, absorbsi REAKSI KUSTA: Reaksi kusta : suatu keadaan gejala dan tanda radang akut lesi penderita kusta yang terjadi dalam perjalanan penyakitnya, yang diduga disebabkan hipersensitivitas akut terhadap Ag basil yang menimbulkan gangguan keseimbangan imunitas yang telah ada. Ada dua tipe reaksi berdasarkan hipersensitivitas yang menyebabkannya ; 1. 2. Tipe I Tipe 2 : disebabkanoleh hipersensitivitas seluler : disebabkan oleh hipersensitivitas humoral

Manifestasi / gambaran klinis reaksi kusta: REAKSI TIPE 1
Organ yang diserang Reaksi ringan Reaksi berat

Kulit

Lesi kulit yang telah Lesi yang telah ada menjadi ada dan menjadi eritematosa, timbul lesi baru eritematosa. yang kadang-kadang disertai panas dan malaise Saraf Membesar, tidak Membesar, nyeri, fungsi nyeri fungsi tidak terganggu, berlangsung lebih terganggu, dari 6 minggu. berlangsung kurang dari 6 rainggu. Kulit dan Lesi yang telah ada Lesi kulit yang eritematosa saraf menjadi lebih disertai ulserasi atau edem bersama- eritematosa, nyeri pada tangan / kaki. Saraf sama pada saraf membesar, nyeri, dan berlangsung kurang fungsinya terganggu, dari 6 minggu. Berlangsung sampai 6 minggu atau lebih.

REAKSI TIPE 2
Organ Reaksi ringan yang diserang Kulit Timbul sedikit nodus yang beberapa diantaranya terjadi ulserasi. Disertai demam ringan dan malaise. Saraf Saraf membesar tetapi nyeri dan fungsinya tidak terganggu. Mata Tidak ada gangguan Reaksi berat Banyak nodus yang nyeri dan mengalamt ulserasi disertai demam tinggi dan malaise. Saraf membesar, nyeri, dan fungsinya terganggu. Nyeri, penumnan visus, dan merah di sekitar limbus. Lunak, nyeri, dan membesar. Gejalacya seperti tersebut diatas disertai keadaan sakit yang keras dan nyeri yang sangat.

Testis

Lunak, tidak nyeri.

Kulit, sarafj Gejalanya seperti mata, dan tersebut diatas. testis bersamasama

Penatalaksanaan: UMUM : ± menjelaskan penyakit dan perjalanannya, teraiasuk terjadinya reaksi), tetapi hams dengan pertimbangan keadaan psikologis pasien

(contoh: jangan langsung menjelaskan diagnosisnya Kusta) - mencari / melakukan pemeriksaan kontak KHUSUS: 1. Pengobatan tipe PB : 6 dosis selama 6-9 bulan per dosis terdiri dari ± Rifampisin 600 mg/bulan - Dapson 100 mg/ hari dosis anak : Rifampisin 450 mg/ bulan Dapson 50 mg/ hari 2. Pengobatan tipe MB 12 dosis dalam 18 bulan per dosis : ± Rifampisin 600 mg/bulan -Lampren 300 mg/bulan -Lampren 50 mg/ hari -Dapson 100 mg/ hari Dosis anak: Rifampisin 450 mg/ bulan

Lampren 200 mg/ bulan Lampren 50 mg/2 hari Dapsoti 50 mg/ hari 3. Pengobatan alternatif: Pemberian initial therapy berupa Rifampisin 600mg / hari selama 14 hari berturut-turut, kemudian diteruskan seperti pengobatan WHO (terutama untuk MB) Pemberian Rifampisin 600mg, Ofloksasin 400mg dan Minosiklin 100mg sekali minum setiap bulan dalam 24 bulan (untuk MB) Penatalaksanaan reaksi: µ

UMUM: - Mengatasi neuritis untuk mencegah agar tidak berkelanjutan menjadi anestesi, paralisis atau kontraktur - Mencegah kerusakan pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan (iridosikiitis) - Membunuh kuman penyebab agar penyakitnya tidak meluas Mengatasi nyeri (analgetika, sedatif) PENGOBATAN: 1. 2. 3. Obat antikusta terus dilanjutkan Istirahat atau imobilisasi Pemberian obat antireaksi

Reaksi ringan : Aspirin 600-1200 mg/hari atau analgetika lain (Paracetamol)

- Talidomid 400 mg/hari diturunkan sampai 50 mg/hari (kasus khusus) Reaksi berat:
y y y

‡ Dirawat di Rumah Sakit ‡ Reaksi tipe 1 harus segera diberikan kortikosteroid ‡ Reaksi tipe 2 dapat diberikan klofazimin, talidomid dan kortikosteroid ‡ sendiri- sendiri atau bersama-sama

y

Pemberian kortikosteroid: Dosis dimulai antara 30-80 mg/hari Sebaiknya digunakan sebagai dosis tunggal di pagi hari

Pengobatan prednison pada reaksi tipe 1: 2 minggu I 2 minggu II 2 minggu IV 2 minggu V : 30 mg/hari : 20 mg/hari : 10 mg/hari : 5 mg/hari

Pengobatan prednison pada reaksi tipe 2 : 2 minggu I 2 minggu II 1 minggu III 1 minggu IV 1 minggu V : 30 mg/hari : 20 mg/hari : 15 mg/hari : 10 mg/hari : 5 mg/hari

Daftar Pustaka Daili ESS, Menaldi SL, Ismiarto SP, Nilasari H, Kusta,. Jakarta: Balai PeneroitFKUI,2003 Freedberg IM, Eisen AZ., Wolff K., Austen KF., Goldsmith LA., Kazt SI, editor. Dalam : Fitzpatrick¶s Dermatology in General Medicine. Edisi ke ± 6. New York : Mc Graw-Hill, 2003. Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Hasan Sadikin. Bandung. Standar Pelayanan Medik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. 2005. Bandung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->