Definisi Hak http://islamfeminis.wordpress.

com/2007/04/19/menjawab-misundertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-1-relasi-hak-dankewajiban/ Dalam teks-teks ilmu ushul dan fikih, terdapat perbedaan pendapat dalam mendefinisikan kata “hak”. Di antaranya, ada yang mengartikan hak sebagai sebuah kepemilikan (milkiyah), kepenguasaan (sulthaniyah), sesuatu yang bersifat abstrak, dan sebagian lainnya mengartikan sebagai kebebasan (ikhtiyar) dalam bertindak. Namun, dapat dikatakan definisi hak yang terbaik adalah bahwa hak merupakan sebuah penguasaan (sulthaniyah), bukan suatu kepemilikan (milkiyah). Kita dapat mencermati hal ini dari definisi hak yang terdapat dalam fikih yang memiliki makna kepenguasaan, “Alhaqqu sulthanatun fi’liyatun la yu’qal tharafaiha bi asy-syakhsyin wahidin , la yajra li ahadin illa jaraa alaihi wa la yajraa alaihi illa jaraa lahu” (Hak adalah penguasaan realistis yang kedua sisinya tidak dapat diterima jika terdapat dalam satu pribadi. Tidak akan terlaksana pada satu pribadi, kecuali telah dilaksanakan atasnya. Dan tidak akan dilaksanakan atasnya, kecuali telah terlaksana baginya). Jadi jelas bahwa hak merupakan kekuasaan atas sesuatu yang tidak mungkin dapat diterapkan kedua sisinya pada satu orang. Akan tetapi, ia harus berdiri tegak pada dua orang: orang pertama sebagai pemilik hak yang dapat mengambil manfaat dan orang kedua sebagai pemenuh hak orang lain. Oleh karena itu, secara fikih, hak tidak bisa dimasukkan pada kategori kepemilikan. Karena ada tiga perbedaan mendasar antara hak dan kepemilikan. Pertama, selain pemilik hak dapat memakai dan meninggalkan haknya tersebut, iapun dapat pula menggugurkan haknya tersebut. Atas dasar tersebut, maka dikatakan; “li kulli dzi haqqin an yusqoth haqqahu” (setiap pemilik hak dapat menggugurkan haknya). Perbedaan kedua, obyek hak selalu berupa pekerjaan, sedang kepemilikan bisa juga berbentuk selain pekerjaan, termasuk kepemilikan atas benda. Perbedaan ketiga adalah, kepemilikan masuk dalam kategori kekuasaan secara penuh dan bersifat kuat, tidak seperti hak. Maksudnya, pemilik sesuatu dapat membelanjakan apapun yang dimilikinya selama tidak bertentangan dengan syariat, sedang hak hanya dapat dilaksanakan pada hal-hal tertentu yang berkaitan dengannya saja.[4] Hak-hak dan Kewajiban Suami dan Istri dalam Perspektif Hukum Fikih Dalam pembahasan ini, penulis tidak berusaha untuk membahas beberapa kewajiban dan hak-hak suami istri berdasarkan fikih argumentatif, tetapi akan membawakan bahasan fikih praktis salah satu marja. Sebagaimana kita ketahui, dalam madzhab Syi’ah terdapat konsep taqlid dan berdasarkan konsep tersebut, orang-orang yang belum mencapai derajat ijtihad, harus merujuk kepada ijtihad salah satu marja yang telah memenuhi semua syarat yang telah ditentukan dalam praktek dan pelaksanaan hukum kesehariannya (Jami’ li as-Syara’ith). Dengan berbagai argumen, penulis hanya akan membawakan pendapat imam Khameini tentang masalah ini, di antaranya: Pertama, karena beliau adalah pencetus revolusi Islam Iran yang nota bene Syiah. Kedua, beliau merupakan sosok yang cukup dikenal di dunia. Hak-hak Istri atas Suami:

jika kesalahan tersebut dilakukan karena ketidaktahuan(jahl)”. maka hanya pada tiga hari pertama saja. di situ ada kewajiban. 2. c. Berlaku Baik terhadap Istri “Diwajibkan atas suami untuk berlaku baik terhadap istrinya.[19] “Seorang suami tidak dapat membiarkan istrinya sehingga ia seperti seorang perempuan yang tidak dapat dikatakan bersuami juga tidak dapat dikatakan tidak bersuami. Papan (tempat tinggal). yang mencakup: a. b. Kecuali istrinya merelakannya. bagi orang yang musafir. b. belajar dan sebagainya. 1. maka bagi seseorang yang tidak musafir (tidak bepergian) wajib untuk melaksanakannya. Tetapi. maka pada tujuh hari pertama pernikahannya.[20] “Jika istrinya seorang gadis. bahkan untuk nikah mut’ah sekalipun. Hak untuk mendapatkan Nafkah Batin (Hubungan Biologis) “Seorang suami tidak boleh meninggalkan hubungan biologis dengan istrinya lebih dari empat bulan. Sandang (pakaian). walaupun demikian tidak harus tinggal bersama istrinya sekali dalam empat malam”. maka ia dapat meninggalkan kewajibannya tersebut. Salah satu uzur adalah suami tidak dapat berhubungan karena terdapat gangguan dalam alat kelamin. Di bawah ini adalah hak-hak istri yang menjadi kewajiban bagi suami. seperti untuk berdagang. seperti untuk berrekreasi dan bersenangsenang. jika kepergiannya bukan karena urusan darurat. atau karena ada uzur (halangan) yang dapat membahayakan suami atau istri. untuk melakukan pekerjaan rumah”.[16] 3. Adapun meninggalkan hubungan biologis atas dasar tidak ada uzur seperti hal-hal yang disebutkan di atas.Di mana ada hak.[21] . suami harus tidur bersama istrinya Namun jika istrinya seorang janda. Pangan (makan). Adapun. Memaafkan Kesalahan Istri Dalam Tahrir al-Wasilah imam Khameini menjelaskan: “Memaafkan kesalahan Istri. Memberi nafkah. dan bertutur sapa dengan baik sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis…”. selama kepergian adalah untuk keperluan darurat menurut pandangan umum (urf). kecuali istrinya merelakannya hak-haknya”.[17] “Suami tidak berhak memaksa istrinya. berziarah.[18] 4. Tapi. maka ia harus melakukan kewajiban tersebut”.

. Hak juga berarti bagian tertentu.. lawan dari zalim. baik hak yang bersifat materi maupun non-materi.. Lebih lanjut akan dijelaskan pengertian hak. sebagaimana firman Allah: Dan katakanlah: "Yang benar telah datang. sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa (al-Baqarah: 241). bahwa: Hak secara Etimologi berarti milik. seperti firman Allah: Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. karena mereka tidak beriman (Yasiin: 7). Setelah kita perhatikan pengertian-pengertian yang telah disebutkan di atas. (alAnfaal: 8). 2) Menurut Syekh Ali Al-Khafifi (Asal Mesir): "Hak adalah kemaslahatan yang diperoleh secara Syara". Hak juga berarti adil. dan yang batil telah lenyap. bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta) (alMa'arij: 24-25).html Muhammad Handoko Muhammad Ulil Husaini 1.enjoylecture. Hak diartikan pula dengan menetapkan dan menjelaskan sebagaimana terdapat dalam Surat al-Anfaal: 8 Agar Allah menetapkan yang hak (lslam) dan membatalkan yang batil (syirk). menurut ulama Fikih (Terminologi): 1) Menurut sebagian para ulama mutaakhkhirin: "Hak adalah suatu hukum yang telah ditetapkan secara syara". Hak juga berarti kebenaran.http://www. sebagaimana disebutkan dalam al-Quran: Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka. maka jelas berbeda dengan pengertian yang dipergunakan sehari-hari. seperti firman Allah: Dan Allah menghukum dengan keadilan.. (al-lsra': 81). Hak berarti juga dengan bagian (kewajiban yang terbatas) sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) muth'ah menurut yang ma'ruf... 3) Ustadz Mustafa Ahmad Az-Zarqa' (Ahli Fikih Yordania asal Suriah) mengatakan: .cc/2010/02/hak-dan-pendukungnya. yaitu lawan dari kebatilan.co. Pengertian Hak Dalam Ensiklopedi Hukum Islam dijelaskan. ketetapan dan kepastian. (al-Mu'min: 20)..

bahwa macam-macam hak dilihat dari berbagai segi: 1) Dari segi pemilik hak Dilihat dari segi ini. 4) Ibnu Nujaim (Ahli Fikih Mazhab Hanafi) mengatakan: "Hak adalah suatu kekhususan yang terlindungi". seperti hak Allah terhadap hambaNya (shalat. bila sudah sampai kepada pengadilan. seperti penanggulangan bermacam persoalan yang berhubungan dengan tindak pidana serta sanksi-sanksinya (jarimah) dan pemeliharaan terhadap perangkat-perangkat kepentingan umum. tidak boleh memaafkannya dan tidak boleh berdamai dengan pencuri itu. apabila janin lahir ke dunia dengan selamat. bila pemilik hak itu meninggal dunia. tidak boleh menggugurkannya dengan memaafkannya. Dalam istilah fikih disebut Asy-SakhSyiah al-‘Itibariyah Seorang manusia menurut ketetapan Syara' telah memiliki hak-hak pribadi sejak ia masih janin dan hak-hak itu dapat dimanfaatkannya dengan penuh. ada dua rukun hak. Seluruh hak Allah tidak dapat digugurkan. seperti Perserikatan atau Yayasan. Sehubungan dengan hak Allah ini. yang menjadi pemilik hak adalah Allah SWT. Umpamanya: Seorang suami memaafkan isterinya yang berzina.“Hak adalan suatu kekhususan yang padanya di tetapkan syara. seperti melalui berbagai macam ibadah. yaitu pemilik hak dan objek hak. bahwa definisi yang dikemukakan oleh Ibnu Nujaim dan Mustafa Ahmad az-Zarqa' adalah definisi yang komprehensif. 2. Demikian juga halnya seperti untuk mencapai kepentingan dan kemaslahatan umum di alam ini. atau berdamai dan bahkan tidak boleh mengubahnya. jihad. baik yang menyangkut hak-hak keagamaan. Rukun Hak Menurut ulama fikih. suatu kekuasaan atau taklif”. baik yang bersifat materi maupun utang. bila telah sampai persoalannya kepada hakim (pengadilan). amar ma'ruf nahi munkar. seperti potong tangan bagi pencuri. . atau seorang wanita yang membolehkan dia digauli atas dasar suka sama suka. Namun hak-hak pribadi yang diberikan Allah ini akan habis. bahwa hak-hak Allah ini tidak dapat diwariskan kepada ahli waris. Hak-hak Allah ini tidak dapat dikaitkan dengan hak-hak pribadi. dan lain-lain). Dalam pandangan Islam. 3. Hak-hak Allah ini. puasa. hak-hak yang menyangkut perkawinan. yaitu seluruh bentuk yang dapat mendekatkan diri kepada Allah mengagungkan-Nya. maupun pemaafan dan tidak boleh diubah. disebut juga dengan hak masyarakat. hak terbagi menjadi 3 (tiga) macam: (1) Hak Allah SWT. baik melalui perdamaian (Ash-Shulh). Lebih lanjut ulama fikih mengatakan. Menurut Wahbah az-Zuhaili (ahli fikih Suriah).. Demikian juga halnya seperti kasus perzinaan tidak dibenarkan menggugurkan had (hukumnya). Macam-macam Hak Ulama fikih mengemukakan. karena dari kedua definisi itu tercakup berbagai macam hak. hak-hak pribadi atau hak-hak secara hukum. hak-hak umum (hak negara dan hak harta benda) dan hak yang non-materi (hak perwalian atas seseorang).

Karena itu hak-hak tersebut tidak dapat dimaafkan. tetapi hak Allah lebih dominan. yaitu hak Allah berupa tindakan pencegahan (preventif) bagi masyarakat dalam tindak pidana pembunuhan. menjaga ketenteraman. diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orangorang yang dibunuh. yaitu hak Allah dan hak manusia.Namun. kesehatannya dan hartanya). dan wanita dengan wanita. Dalam kasus ini. sehingga dia boleh memaafkan. boleh memaafkannya atau boleh berdamai. juga terdapat dua hak. yaitu sebagai pengobat penawar kemarahannya dengan membunuh (menghukum) pelaku pembunuhannya. bamba dengan bamba. menjamin hak milik seseorang. (2) Hak manusia. Kepentingan umum didahulukan dari kepentingan individu. hak isteri mendapatkan nafkah dari suaminya. manusia tidak boleh mencampurinya. Jadi. Hak ini ada yang bersifat umum seperti menjaga (menyediakan) sarana kesehatan. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya. hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). memaafkannya dan mengubahnya dan boleh pula mewariskannya kepada ahli waris. akalnya. hak bapak rnenjadi wali dari anak-anaknya. Dalam masalah ini ada dua hak. Yang demikian itu adalah keinginan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat……. seseorang boleh menggugurkan haknya. menggugurkan atau mengubah hukumnya. Dalam kasus qishash. (al-Baqarah: 178). agar tidak bercampur dengan nasab suami kedua. bila dapat dimaafkan atau diadakan perdamaian (Ash-Sulh). karena manfaatnya menyeluruh kepada masyarakat banyak. yaitu hak Allah berupa pemeliharaan terhadap nasab janin dari ayahnya. Dalam masalah ini yang dominan adalah hak manusia. orang merdeka dengan orang merdeka. Contoh lain adalah: menjaga atau melindungi manusia (hidupnya. . Di samping itu ada hak manusia. hendaknya jangan dipahami. hak ibu memelihara anaknya. yang pada hakikatnya untuk memelihara kemaslahatan setiap pribadi manusia. dan hak berusaha (berikhtiar) dan lain-lain yang sifatnya untuk pribadi (individu). (3) Hak berserikat (gabungan) antara hak Allah dan hak manusia. Umpamanya: dalam masalah "idah" terdapat dua hak. Sepanjang menyangkut hak Allah. Kemudian ada lagi hak manusia yang bersifat khusus.. Bahkan dipandang terpuji. sebagaimana firman Allah: Hai orang-orang yang beriman. bahwa sebelum sampai persoalannya kepada hakim (pengadilan). adakalanya hak Allah yang lebih dominan (lebih berperan) dan adakalanya hak manusia yang lebih dominan. digugurkan atau diubah. melenyapkan tindakan kekerasan (pidana) dan tindakan-tindakan lain yang dapat merusak tatanan pada umumnya. karena pemeliharaan terhadap nasab seseorang merupakan kepentingan setiap orang dan termasuk hak masyarakat. yaitu pemeliharaan terhadap nasab anaknya. Mengenai hak manusia ini. ada kebebasan berbuat dan bertindak atas dirinya sendiri. Disamping itu terdapat juga hak manusia. Mengenai hak gabungan ini. hak Allah lebih dominan.

Kemudian hak manusia ada yang dapat digugurkan dan ada yang tidak dapat digugurkan: a. Hak-hak yang tidak dapat diwariskan. tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam rnembunuh. (2) Hak yang dimiliki seseorang secara pasti berdasarkan atas ketetapan Syara'. menahan barang yang dijual sampai dibayarkan oleh pembelinya. di antaranya adalah hak-hak yang dimaksudkan sebagai suatu jaminan atau kepercayaan. Mengenai hak-hak yang tidak dapat diwariskan. Sesunguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan (al-lsra': 33). seperti ibu menggugurkan haknya dalam mengasuh anak. b. (3) Hak-hak. karena hak wakaf itu berasal dari miliknya. dapat digugurkan. seperti hak isteri atas nafkah yang akan datang. karena yang dapat . atau hak syuf’ah bagi perima syuf’ah sebelum terjadi jual-beli. Pada dasarnya. Hak yang dapat diwariskan. Sebab semua hak ini berserikat (gabungan). seluruh hak yang berkaitan dengan pribadi. Apabila ada orang yang menggugurkan haknya. yang apabila digugurkan berakibat berubah hukum-hukum Syara'. orang yang dicuri hartanya menggugurkan hak hukuman potong tangan bagi si pencuri. maka tidak dibenarkan dia menggugurkan hak orang lain (hak Allah dan hak manusia dalam kasus pencuri). Kemudian para Ulama Fikih juga membagi hak pewarisan. Mazhab Hanafi berpendapat. b. Dan barang siapa dibunuh secara zalim. maka sesunguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya. Umpamanya: Hak qishash. seperti hak menahan harta yang dijadikan jaminan utang.Firman Allah: Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya). Hak manusia yang dapatdigugurkan. Pengguguran hak pribadi ini dapat dilakukan dengan membayar ganti rugi. atau seperti hak khiyar pembeli sebelum melihat barang (obyek) yang dibeli. Hak yang dapat diwariskan menurut ulama fikih. atau tanpa ganti rugi. seperti ayah atau kakek menggugurkan hak mereka untuk menjadi wali dari anakyang masih kecil. bukan yang berkaitan dengan harta benda (materi). seperti suami menggugurkan haknya untuk kembali (rujuk) kepada isterinya dan seseorang menggugurkan hak pemilikannya terhadap suatu benda (menggugurkan hak hibah dan wasiat). bahwa hak dan manfaat tidak dapat diwariskan. Hak manusia yang tidak dapat digugurkan. melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (1) Hak yang belum tetap. ulama fikih berbeda pendapat. (4) Hak-hak. atau hak wakaf atas benda yang diwakafkannya. yang di dalamnya terdapat hak orang lain. suami menggugurkan idah isteri yang ditalaknya. hak syuf’ah dan hak khiyar. yaitu: a.

sedangkan hak dan manfaat. 2) Dari segi obyek hak Menurut ulama fikih. tidak memiliki). hak irtifaaq (pemanfaatan sesuatu seperti jalan. hak perwalian terhadap seseorang dan hakhak politik (bebas menggunakan pendapat). saluran air) dan hak terhadap benda yang dijadikan sebagai jaminan utang. Sedangkan hak seperti ini tidak berlaku dalam haqq asy-Sakhsyi. Perbedaan antara kedua hak tersebut adalah. dan hak pembeli terhadap barang yang dibelinya. c. dari segi obyeknya. Umpamanya: Apabila harta seseorang dicuri. seperti hak qishash. 1) Haqq al-'aini adalah bersifat permanen dan mengikuti pemiliknya. seperti hak penjual untuk menerima harga barang yang dijualnya. sedangkan haqq asy-Syakhsyi tidak dapat berpindah tangan dari pemiliknya. sekalipun benda itu berada di tangan orang lain. menghilang atau karena dipenjara. Haqq asy-sakhsyi adalah hak-hak yang ditetapkan Syara’ bagi pribadi berupa kewajiban terhadap orang lain. tidak termasuk materi. sehingga ia memiliki kekuasaan penuh untuk menggunakan dan mengembangkan haknya itu. Demikian juga hak seseorang terhadap utang. adalah hak seseorang yang ditetapkan Syara' terhadap suatu zat. Materi (benda) dalam haqq al-'aini dapat berpindah tangan. karena hartanya dirampas atau dirusak. karena ada aib. seperti hak memiliki suatu benda. seperti hak penjual terhadap harga barang yang dijualnya dan hak pembeli terhadap barang yang dibelinya. Demikian juga hak orang yang menyewakan terhadap benda yang disewakannya dan hak penyewa terhadap barang yang disewanya (manfaatnya. hak hadhanah (pemeliharaan anak). bahwa warisan itu tidak hanya materi saja. dan hak isteri atau kerabat untuk menerima nafkah. seluruh hak asasi manusia. Akan tetapi jumhur ulama fikih berpendapat.diwariskan hanya soal materi (harta benda) saja. Haqq ghairu maali adalah hak-hak yang tidak terkait dengan harta benda (materi). hak suami untuk mentalak isterinya karena mandul. d. b. Berkenaan dengan haqq al-'aini dan haqq asy-Sakhsyi (no c dan d) ulama fikih mengemukakan beberapa keistimewaan masing-masing. Haqq Maali (hak yang berhubungan dengan harta). maka hak pemilik barang yang dicuri itu tetap ada dan dia berhak untuk menuntut agar hartanya itu dikembalikan. Haqq al-'aini. hak seseorang untuk menerima ganti rugi. hak terbagi atas: a. buruk perilaku. . hak seseorang dalam haqq al-'aini. sedangkan haqq asy-Syakhsyi merupakan hak yang berkaitan dengan tanggung jawab seseorang yang telah mukallaf (dewas/sudah dapat bertanggung jawab). hak wanita dalam talak karena suaminya tidak memberi nafkah. hak dan manfaat juga mempunyai nilai sama dengan harta benda. kemudian dijual kepada orang lain.

Jika pemberi utang menggugurkan utang tersebut. yaitu hak-hak yang tidak boleh dicampuri (intervensi) oleh kekuasaan kehakiman. Hak mujarrad dan ghairu mularrad 1) Haqq mujarrad adalah hak murni yang tidak meninggalkan bekas apabila digugurkan melalui perdamaian atau pemaafan. Umpamanya: dalam persoalan utang yang tidak dapat dibuktikan oleh pemberi utang. Hal ini berarti. atau yang dapat dibuktikan saja. maka hal itu tidak memberi bekas sedikitpun bagi yang berutang. Apabila ahli waris terbunuh memaafkan pembunuh. Umpamanya: haqq Syakhsyi yang berkaitan dengan uangnya. haqq Syakhsyi pemberi utang tetap utuh. utang itu berkaitan dengan tanggung jawab seseorang untuk membayarnya. Sedangkan dalam haqq mujarrad. karena hak itu terdapat dalam diri seseorang. adalah seluruh hak di bawah kekuasaan pengadilan (hakim) dan pemilik hak itu mampu membuktikan haknya di depan hakim. tidak boleh dilakukan perdamaian dengan ganti rugi (Mazhab Hanafi). Hal ini berarti bahwa pembunuh yang tadinya halal dibunuh. menjadi haram. Oleh sebab iru. Sedangkan haqq diyaani menyangkut persoalan-persoalan yang tersembunyi dalam hati yang tidak terungkap di depan pengadilan. sedangkan haqq asy-syakhsyi tidak dapat digugurkan. bahwa tanggung jawab tidak boleh digugurkan. (2) Haqq qadhaai. Hakim hanya dapat menangani hak-hak yang lahir (tampak nyata). Umpamanya: dalam hak qishash. e. tidak gugur dengan musnah hak milik orang yang berutang. jumhur ulama membolehkannya. karena tidak cukup alat-alat bukti di depan pengadilan. seseorang tetap dituntut di hadapan Allah dan dituntut hati nuraninya sendiri.2) Haqq al-'aini menjadi gugur apabila materinya hancur (musnah). Perbedaan antara haqq diyaani dan haqq qadhaai terletak pada persoalan zahir (lahir) dan batin. maka pembunuh yang tadinya berhak dibunuh menjadi tidak berhak lagi. 2) Haqq ghairu mujarrad adalah suatu hak yang apabila digugurkan atau dimaafkan meninggalkan bekas terhadap orang yang dimaafkan. kecuali pemilik hak itu meninggal. bukan berkaitan langsung. . dalam pengertian tidak menuntut pengembalian utang itu. Inilah yang dimaksudkan berbekas (berpengaruh) bagi yang dimaafkan. Hal ini disebabkan. maka tanggung jawab yang berutang di hadapan Allah tetap ada dan dituntut pertanggungjawabannya di akhirat kelak. bila lepas dari hak kekuasaan kehakiman. Sekalipun tidak dapat dibuktikan di depan pengadilan. 3) Dari segi kewenangan pengadilan (hakim) terhadap hak tersebut. Dari segi ini ulama fikih membaginya kepada dua macam: (1) Haqq diyaani (keagamaan). Dalam haqq ghairu mujarrad ini boleh dilakukan perdamaian dengan pemberian ganti rugi (diat). Umpamanya dalam persoalan utang. yang dipinjam musnah (habis). karena telah dimaafkan oleh ahli warisnya. Namun.

Untuk lebih jelas. Isteri mempunyai hak untuk dinafkahi suami. sedangkan Allah akan menangani persoalan-persoalan yang tersembunyi (yang sebenarnya) dalam hati. Akad. Syara' yang menetapkan hak-hak secara langsung tanpa sebab. Perbuatan yang bermanfaat. Namun. Kehendak pribadi. talak itu tidak jatuh. hibah dan wakaf pemindahan hak milik. yaitu pemilik barang harus dijamin haknya. larangan melakukan dalam berbagai bentuk tindak pidana. larangan menkonsumsi barang yang diharamkan Syara' dan kebolehan memanfaatkan semua yang baik-baik. seperti mewajibkan seseorang membayar ganti rugi akibat kelalaian mengggunakan milik seseorang. memberikan nafkah kepada karib kerabat. muncullah hak dan kewajiban memberi nafkah. seperti akad jual beli. sumber hak itu ada 5 (lima): a.Dalam kaitan dengan kedua hak inilah ulama fikih membuat kaidah yang menyatakan: "Hakim hanya menangani persoalan-persoalan yang nyata saja. . e. Syara’. seperti melunasi utang orang lain. Sebagai akibat dari tindakan perampasan barang seseorang. Ulama Fikih menetapkan. muncullah hak menerima harga bagi penjual dan hak menerima barang bagi pembeli. b. adalah seperti perintah untuk melaksanakan berbagai ibadah. Sumber atau Sebab Hak Ulama fikih telah sepakat menyatakan. karena memang pada hakikatnya dia tidak mentalakkan isterinya. c. Sebagai akibat dari jual-beli. Perbuatan yang menimbulkan mudarat bagi orang lain. Sedangkan bila dilihat dari haqq diyaani. Sedangkan Syara' yang menetapkan hak melalui sebab. bahwa yang dimaksudkan dengan sebab dan penyebab disini adalah sebab-sebab langsung yang berasal dari Syara’ atau diakui oleh Syara’. adakalanya Syara' menerapkan hak-hak itu secara langsung tanpa sebab dan adakalanya melalui suatu sebab. umpamanya: dalam persoalan perkawinan. perampas harus menjamin kerusakan itu. 4. Atas dasar itu. dikemukakan contoh: Seseorang yang mentalakkan isterinya dalam keadaan salah. Seorang hakim dalam hal ini menetapkan talak itu jatuh. yaitu dia tidak bermaksud menjatuhkan talak. karena melihat lahirnya dan tidak mengetahui hakikatnya (batin) orang itu. d. dan dalam hal ini sangat bergantung antara orang itu dengan Allah. seperti nazar atau janji. Sebagai akibatnya muncul pula hak waris-mewarisi suami dan isteri. menurut ulama fikih. seperti berbagai ibadah yang diperintahkan. bahwa sumber atau sebab hak adalah Syara'.

Bayrut : Dar al-Turath al-cArabi.Al-Nawawi.1987.al-Mufassal fi Ahkam al-Mar’ah wa al-Bayt al-Muslim fi al-syariah Islamiyyah.Ahmad. Mesir: syirkah Mustafa al-Babiy al-Halabiy. 1954/1374H. tempat tinggal dan sebagainya. ibadat. Dimasyq:Dar-al-Fikr .Abu Dawud al-Sajastani. . . Fiqh islami wa adillatuhu .Bayrut: Mu’assasah al-Risalah. Bayrut :Dar Ibn Kathir.Definisi Nafkah: Nafkah menurut istilah ialah mengeluarkan belanja atau sara hidup kepada mereka yang wajib atas seseorang itu untuk membiayainya.Adab al-Hayat al-Zaujiyyah fi dawk al-Quran wa alSunnah.1985.Al-Tirmidhi. Sunan Abi Dawud maca macalim al-sunan al-khatabiy. Sahih Muslim.425).Sahih al-Bukhary. Bayrut : Dar Ihya’ al-Turath al-cArabi. Muhy al-Din Abi Zakariyya Yahya ibn Syaraf. . .Ibn Rusyd. nafkah zahir dan nafkah batin Bibliography for Right and Obligation in Marriage .1995.Talib.(alSyarbini. Mughni al-Muhtaj ila ma’rifat macani Alfaz al-Minhaj. Wahbah.Muslim. Bhd.Bayrut: Dar al-Fikr. .1995. Idris. Khalid Abul Rahman. Hak nafkah yang wajib diberikan kepada isteri boleh dibahagikan kepada dua jenis. Abudul Kareem. Bidayah al-Mujtahid wa al-Nihayah al-Muqtasid.Al-Syarbini.al-cAk. Fiqh Syafii. Raudhatul at-Talibin.Zaydan.Bayrut :Dar al-makrifah.20 kesilapan suami. Sulayman bin al-asycath. Muhammad.Al-Sunan. Humus : Dar al-Hadith. makanan.al-Bukhary. Bayrut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah . Muhammad ibn Ismail Abu Abdallah. Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Qurtubi al-Andalusi. Biaya yang dimaksudkan ialah semua hajat dan keperluan pelajaran. Kuala Lumpur .1973. Kuala Lumpur: Darul Nu’man . Muhammad bin Isa.1997. Muhammad. Ibn al-Hajjaj Abu al-Husayn al-Qusyairiy al-Naysaburi.pustaka Antara Sdn. .1997. .Zuhayliy. .1997.