GANGGUAN KONSEP DIRI

:

HARGA DIRI RENDAH

KONSEP DIRI 1. Pengertian konsep diri Konsep diri adalah semua ide, pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain (Stuart dan sundeen 1998: 227). Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realita dunia. Konsep diri terdiri atas komponen-komponen berikut: a. Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan pengalaman baru. b. Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berprilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau nilai personal tertentu. c. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik prilaku seseorang sesuai dengan identitas diri, harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar dalam penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan dan kegagalan, tetapi merasa sebagai seorang yang penting dan berharga. d. Penampilan peran adalah serangkaian pola prilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi diberbagai kelompok sosial. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang di terima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. e. Identitas personal adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi dan keunikan individu. Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang hidupnya, tetapi merupakan tugas utama pada masa remaja. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan. 2. Psikodinamika konsep diri a. Etiologi Penyebab dari gangguan konsep diri adalah: 1) Situasional Yaitu terjadi trauma yang tiba–tiba, misal : harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan, dituduh, korupsi, kolusi, nepotisme, dipenjara tibatiba). 2) Kronik

Yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri telah berlangsung lama sebelum sakit atau dirawat. gangguan dalam berhubungan. ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis. Faktor yang mempengaruhi gangguan konsep diri Faktor ini meliputi penolakan orang tua. beberapa komponen yang dikaji yaitu: a. destruktif terhadap diri sendiri. kegagalan berulang kali. 5) Ketergantungan pada orang lain. Komplikasi 1) Isolasi sosial: menarik diri. rasa diri penting yang berlebihan. perasaan tidak mampu. raba. keluhan fisik. pandangan hidup yang pesimis. rasa bersalah. destruktif yang diarahkan pada orang lain. ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI Dalam melakukan asuhan keperawatan beberapa kegiatan. ketegangan peran yang dirasakan. mudah tersinggung atau marah yang berlebihan. diantaranya adalah: 1. pandangan hidup yang bertentangan. 3) Kegagalan berulang kali. klien mempunyai cara berfikir negatif. Faktor Predisposisi 1) Penolakan orang tua. perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri. lihat. pengurangan diri. cium dan lain-lain. menarik diri dari realitas. 4) Kurang mempunyai tanggung jawab personal. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang bisa muncul akibat dari gangguan konsep diri adalah mengkritik diri sendiri atau orang lain.. d. b. 2) Timbulnya masalah persepsi sensori halusinasi dengar. b. kurang mempunyai tanggung jawab personal. penurunan produktifitas. 2) Harapan orang tua yang tidak realistis. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. harapan orang tua yang tidak realistis. Stresor Pencetus . Rentang respon konsep diri Respon adaptif Aktualisasi Konsep diri diri positif Harga diri rendah Respon maladaptif Kerancuan Deporsonalisasi identitas (Stuart and Sundeen 1998) e. c. penolakan terhadap kemampuan personal. 6) Ideal diri yang tidak realistis. pada gangguan konsep diri meliputi Pengkajian Didalam kegiatan pengkajian ini. penyalahgunaan zat. penarikan diri secara sosial.

Klien menunjukan ekspresi bersahabat Tindakan keperawatan: (a). 2). 2). 3. kurang percaya diri. dan menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan. Diagnosa Keperawatan a. Gangguan citra tubuh 2. Gangguan konsep diri: Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh. psikologis. perasaan bersalah terhadap diri sendiri. b. c. Pohon Masalah Isolasi sosial : Menarik diri Gangguan konsep diri : Harga diri rendah Gangguan citra tubuh (Kelliat 1998) Masalah Keperawatan 1). Intervensi Keperawatan Perencanaan Keperawatan: 1). d. Gangguan konsep diri: Harga diri rendah. Isolasi sosial: Menarik diri. Klien mau menjawab salam (d). Manifestasi klinis Gejala – gejala yang muncul akibat dari gangguan konsep diri yaitu : Mengkritik diri sendiri. dimana individu mengalami fluktuasi. perasaan malu terhadap diri sendiri. Isolasi sosial: Menarik diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : Harga diri rendah. 3). gangguan hubungan sosial. Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah a). Klien dapat mengungkapkan perasaannya terhadap penyakit yang diderita (c). Adanya trauma Trauma aniaya seksual. Bina hubungan saling percaya Salam terapeutik Jelaskan tujuan interkasi .1). Klien dapat memperkenalkan dirinya (b). Tujuan Khusus: (1). Tujuan umum: klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal b). Klien dapat membina hubungan saling percaya Kriteria Evaluasi: (a). Ketegangan peran Berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan.

Klien dapat mengguanakan obat dengan 6 benar Kriteria Evaluasi: klien dapat mengguankan obat dengan prinsip 6 benar . (2). Diskusikan pula kemampuan yang dapat dianjurkan penggunaannya setelah pulang sesuai dengan kondisi sakit klien (4). Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan (b). Beri contoh pekasanaan kegiatan yang boleh klien lakukan (5). (3). Rencana bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan (b). Beri pujian atas keberhasilan klien (c). Sediakan waktu untuk mendengarkan klien (d).Buat kontrak yang jelas (b). Katakan pada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri. Diskusikan kemampuan dan sapek positif yang dimiliki klien (b). Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan Kriteria Evaluasi: klien dapat menyabutkan kemampuan yang masih dapat digunakan Tindakan Keperawatan: (a). Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuan yang dimiliki Kriteria Evaluasi: klien melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Tindakan keperawatan: (a). Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien (c). Utamakan memberikan pujian yang realistik. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah (7). Tidakan Keperawatan: (a). Diskusikan kemampuan yang dapat digunakan selama sakit (b). Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Kriteria Evaluasi: klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada dikeluarga Tindakan keperawatan: (a). Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah (6). Klien dapat menetapkan (merencanakan) kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuan yamg dimiliki. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dengan penyakit yang diderita (c). Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien di rawat (c). Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah (b). Kriteria Evaluasi: klien dapat menetapkan keinginan atau tujuan yang realistis. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Keriteria Evaluasi: klien dapat menyebutkan aspek positif dan kemampuan dirinya Tindakan keperawatan: (a). Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian negatif (c).

Tujuan umum: klien dapat menunjukan peningkatan harga diri b). Kriteria evaluasi: klien dapat memilih beberapa cara mengatasi perubahan yang terjadi Tindakan keperawatan: . Klien dapat menerima realita perubahan struktur. bentuk atau fungsi tubuh Kriteria Evaluasi: klien menerima perubahan tubuh yang terjadi Tindakan keperawatan: (a) Dorong klien untuk dan berperan serta dalam asuhan keperawatan secara bertahap (b) Libatkan klien dalam kelompok dengan masalah gangguan citra tubuh (c) Tingkatkan dukungan keluarga pada klien terutama pasangan (5). Tujuan Khusus (1). jujur dan empati Sediakan waktu untuk mendengarkan klien Berikan kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan terhadap perubahan itu Klien dapat mengidentifikasi perubahan citra tubuh Kriteria Evaluasi: klien menerima perubahan tubuh yang terjadi Tindakan keperawatan: (a) Diskusikan perubahan struktur. Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh a). Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya Kriteria Evaluasi: klien dapat meningkatkan keterbukaan dan saling percaya dengan perawat Tindakan keperawatan: (a) Bina hubungan saling percaya Salam terapeutik Komunikasi terbuka.Tindakan keperawatan: (a). bentuk atau fungsi tubuh (b) Observasi ekspresi klien pada saat diskusi (3). Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Kriteria Evaluasi: klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Tindakan keperawatan: (a) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki oleh klien dari luar perubahab yang terjadi (b) Beri pujian atas aspek positif dan kemampuan yang masih dimiliki klien (4). Anjurkan klien meminta obat sendiri pada perawat 2). Klien dapat menyusun rencana cara-cara menyelesaikan masalah yang harus dihadapi. dosis dan manfaat obat dengan benar (b). Beri pengetahuan tentang obat.

lemas. mual muntah. aritmia cordis. asma. obat yang biasa digunakan di RS jiwa antara lain. psikosis. efek samping yaitu anemia. diare. Kontra indikasi: hiperaktif. hiperaktif. takikardi. duodenum. b) Anti Parkinson Trihexypenidril (artane) dosis 5-15 mg/hr indikasi berbagai bentuk parkinsonisme. Efek samping: sakit kepala. penyakit jantung. eksrapiramidal. konstipasi. hamil dan menyesui. Klien dapat melakukan tindakan pengambilan integritas tubuh Kriteria evaluasi: Klien adaptasi dengan cara yang dipilih dan digunakan Tindakan keperawatan: (a) Bantu klien mengurangi perubahan citra tubuh.(a) Diskusikan cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan struktur atau fungsi tubuh. frekuensi/retansi urin. misalnya protes untuk bagian tubuh yang tertentu (b) Rehabilitasi bertahap bagi klien. mengobati masalah perilaku yang berat pada anak-anak yang berhubungan dengan keadaan yang tiba-tiba meledak. Penatalaksanaan Medis Harga diri rendah termasuk dalam kelompok penyakit skizoprenia tidak tergolongkan. halusinasi. ortostatik. foto sensitivitas. ulserasi. mengontrol mual dan muntah yang berat dan kecemasan berat. klien yang sangat mania. klien resiko tinggi bunuh diri. takikardi. hipotensi. a) Anti Psikosis (1) Cloropromazin ( Thorazime) dosis 25-2000 mg/hari (2) Haloperidol (hal dol) dosis 2-40 mg/hr indikasi digunakan untuk pengobatan psikosa. b) Pengkajian Fisik Terdiri dari pengekangan mekanik dan isolasi Pengekangan mekanik dilakukan dengan menggunakan manset untuk pergelangan tangan dan kaki serta seprei pengekang. cemas. psikosis akut. mulut kering. . galaukoma. Kontra indikasi: galukoma. (b) Dorong klien memilih cara yang sesuai bagi klien (c) Bantu klien melakukan cara yang dipilih (6). tujuannya untuk mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa. penglihatan berkabut. maka jenis penatalaksanaan yang bisa dilakukan adalah: 1) Psikofarmakol Adalah terapi dengan menggunakan obat. mual dan muntah. penglihatan berkabut. Cara kerja belum diketahui secara jelas namun dapat dikatakan bahwa therapi convulsif dapat memperpendek lamanya skizofrenia dan dapat mempermudah kontak dengan orang lain. konstipasi. skozoprenia. hipertensi. Isolasi yaitu menempatkan klien dalam suatu ruangan tertentu di Rumah sakit. 2) Pengobatan Somatik a) Elektro Convulsif Therapi (ECT) Merupakan pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal yang menghasilkan efek therapi dengan menggunakan arus listrik berkekuatan 75-100 volt. depresi. indikasi ECT yaitu depresi berat dan bila therapi obat-obatan belum berhasil (gangguan berpolar).

Evaluasi a. upaya dalam psikoterapi yaitu memberikan rasa aman dan tenang.Indikasi: Pengendalian prilaku amuk yang membahayakan diri dan orang lain Kontra indikasi: resiko tinggi bunuh diri. 3) Psikoterapi Psikoterapi membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting proses terapeutik. 3. memperkuat dan meningkatkan harga diri. 4) Terapy Modalitas Therapi Okupasi: Therapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisifasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau juga yang segala dipilih dengan maksud untuk memperbaiki. hukuman. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah 1) Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat 2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 3) Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan 4) klien dapat menetapkan (merencanakan) kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuan yang dimiliki 5) klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit yang dimiliki 6) klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada 7) klien dapat menggunakan kegiatan sesuai kondisi sakit yang dimiliki b. bentuk fungsi tubuh 5) klien dapat menyusun rencana cara-cara menyelesaikan masalah yang harus dihadapi 6) klien dapat melakukan tindakan pengembalian integritas tubuh . Gangguan konsep diri: Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh 1) Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya 2) klien dapat mengidentifikasi perubahan citra tubuh 3) Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 4) klien dapat menerima realita perubahan struktur. motivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal. bersikap ramah sopan dan jujur pada klien. Menerima klien apa adanya.

Stuart. Direktorat Kesehatan Jiwa. Kelliat. EGC. PPDGJ III. Budi Anna. Buku Kedokteran EGC. (edisi 3). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Tujuan Ringkas. Gail Wiscart and Sundeen Sandra. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri. Jakarta.F. (2001). Proses Keperawatan Klien Gangguan Jiwa. Rusdi Muslim. Catatan Ilmu Keperawatan Jiwa. Jakarta. W. Maramis. (1998). (1994). Jakarta. . (1998). Buku Kedokteran EGC. Dr. Jakarta. Airlangga Universitas Press. Towesend Mary. Surabaya. Pedoman Perawatan Psikiatri Intervensi Keperawatan.DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Buku Saku Keperawatan Jiwa. (1998). (1998).

faktor perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predisposisi terjadinya prilaku menarik diri.Interdependen . manusia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosial. 1997). tidak percaya diri pada orang lain.Ekploitas .Manifulasi . prilaku menarik diri merupakan cobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain.ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI A. RENTANG RESPON SOSIAL Konstruktif Respon adaptif . dengan orang lain.Paranoid .Lonelinees . tidak mampu memuaskan keingnan dan merasa tertekan.Kebersamaan . menghindari hubungan dengan orang lain (Kawlins.Tergantung .Otonomi . 1993). Etiologi Terjadinya menarik diri dipengarui oleh faktor predisposisi dan stresosr presipitasi.Menarik diri . Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi hubungan dengan orang lain (Rowlins.Curiga Respon Sosial Deskriptif Respon mal adaptif. menghindari diri dari orang lain lebih menyukai berdiam diri.Solotude . kegagalan perkembangan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri. menghindari dari orang lain.Alonese . hal 336). Pengertian Gangguan hubungan sosial adalah suatu gangguan keperibadian yang tidak fleksibel pada tingkah laku yang mal adptif menggangu fungsi seseorang dalam hubungan sosialanya. 1993. kegiatan sehari hari hampir terabaikan. 2. Keadan ini dapat menimbulkan prilaku tidak ingin bekomunikasi. Rentang Respon sosial Manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari selalu membutuhkan orang lain dan lingkungan sosial. KONSEP DASAR 1. Isolasi social suatu keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontrak (Carpenito. 3. Berada dalam rentang yang adaptif dan mal adaptif.

pikiran. 4. klien lebih sering menunduk. Otonomi adalah kemampuan indifidu untuk menentukan dan menyampaikan ide. terjadi apabila individu gagal mengembangkan rasa percaya dengan orang lain. respon ini meliputi: a. b. b.ide. Menolak berhubungan dengan orang lain. c. 6. ekspresi sedih. klien tampak memisakan diri dari orang lain. misalnya pada saat makan. klien kurang mobilitasnya.Bila terjadi kecemasan yang tinggi. Posisi seperti posisi janin saat tidur . dalam hubungan sosial. 5. maka indifidu cenderung untuk menarik diri sampai respon yang mal adaptif sehingga rangsangan terhadaplingkungan akan menurun dan juga lebih berfokus terhadap dunia internalnya sehingga dapat meningkatkan kecemasan klien. terjadi apabila individu gagal mengembangkan rasa prcaya diri atau kemampuan untuk berfungsi secara terbuka. Curiga. Manipulasi. Menghindar dari orang lain (Menarik diri). d. Tanda Dan Gejala a. perasaan. dimana terjadi apabila sseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan scara terbuka dngan orang lain. Tergantung. Berdiam diri dikamar atau tempat terpisah. afek tumpul. Respon Adaptif Adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya secara umum yang berlaku dengan kata lain bahwa individu tersebut masih dalam batas normal menyelesaikan masalah. Kerja sama adalah suatu kondisi dimana huungan interpersonal indi fidu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima. c. respon mal adaptif yang sering ditmukan antara lain: a. Apatis. g. Tidak ada kontak mata. terdapa pada individu yang mngganggap orng lain sebagai obyek. Menyendiri (Solitude) adalah rspon yang dibutuhkan oleh sesorang untuk merenungkan apa yang telah di lakukan di lingkungan sosialnya dan salah satu b. e. cara mengvaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya. klien mumutuskan percakapan atau pergi jika dajak becakap-cakap. Tidak melakukan kegiatan sehari hari h. Respon Mal Adaptif Adalah respon yang diberikan individu dalam menyelesaikan masalah misalnya yang sudah menyimpang dari norma sosial dan kebudayaan suatu tempat. Menarik diri. e. Interdependen adalah saling ketergantungan antara indifidu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal. indivdu tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam. d. Komunikasi kurang atau tidak ada klien tidak dapat becakap-cakap denan orang lain. d. c. f.

3) Faktor sosial dan budaya Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial. Faktor Predisposisi Beberapa faktor pendukung tejadinya hubungan sosial: 1) Faktor tumbuh kembang individu Ada tugas perkembangan yang harus dipenui agar tidak trjadi dalam hubungan sosial. c. berpisah dengan orang terdekat/beradapatasi. Pengkajian Meliputi: Faktor pendukung. b. pada sat terjadinya interaksi dengan sekessor dilingkungan sendiri 5) Stresor psikologik. Virus HIV dapat menyebabkan tingkah laku psikotik. bila tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak dapat terpenui akan menghambat perkembangan selanjutnya pada fase oral apabila tugas perkembangan dalam bentuk ras asaling percaya pada dirinya dan orang lain ( dirinya) 2) Faktor komunikasi dam keluarga Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung utuk terjadi dalam hubungan sosial. 2) Faktor hormonal. tugas perkembangan ini pada masing masing tahap tumbuh kembang mempunyai spesifik terdiri dari. misalnya: dirawat di RS akibat penyakit kronis. Kecemasan yang berkepanjangan cukup berat dengan terbatasnya individu dalam menyelesaikan masalah tersebut akan menyebabkan gangguan hubungan social. meliputi: 1) Stresor sosial budaya. mekanisme koping.B. 4) Model biological lingkungan sosial. Tubuh akan menggambarkan ambang toleransi seotang terhdap setress. mrupakan sutu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pohon masalah Resiko Peruahan Sensori Persepsi: Halusinasi Isolasi Sosial: Menarik diri Gangguan Konsep diri: Harga diri Rendah Masalah utama . terjadinya hubungan sosial. a. gangguan dari fungsi kelenjar bawah otak (Gland pituari) menyebabkan turunnya hormon ESH dan LH. setres yang ditimbulkan oleh faktor sosial ini disebabkan oleh berapa hal antara lain keluarga yang labil. prilaku pasen. 3) Hipotesa virus. Faktor presifitasi Faktor presifitasi dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal. 4) Faktor biologis Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. faktor pencetus.

klien-keluarga 5) Mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain. Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien (jika mungkin perawat yang sama) i. k. Fasilitasi hubungan klien dengan keluarga secara terapiutik. dua klien. Diskusikan dengan klien setiap selesai interaksi atau kegiatan. o. katakan “Saya akan duduk disamping anada. j. tempat pembicaraan. 4) Melakukan hubungan sosial secara bertahap: klien-erawat. Resiko perubahan sensori persepsi: Halusinasi berhubungan dengan menarik diri. Diagnosa keperawatan a. satu perawat. 7) Menggunakan obat dengan benar dan tepat. a. Bicarakan dengan klien penyebab tidak ingin bergaul dengan orang lain. Motivasi/temani klien untuk berinteraksi/berkenaan dengan klien/perawat lain. n. Gangguan hubungan sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah 3. Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri. katakan“ Ada yang ingin anda katakana” c. d. Tujuan Khussus: Klien dapat: 1) Membina hubungan saling percaya. beri contoh cara berkenalan. h. Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa. 2. Bantu klien melaksanakan aktifitas hidup sehari -hari dengan interaksi. 4. Masalah Keperawatan 1) Resiko perubahan sensori persepsi: Halusinasi. Berikan pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan indifidu secara rutin dan pertemuan keluarga. g. Tujuan Umum: Tidak terjadi perubahan sensori persepsi b. Libatkan klien dalam terpi aktifitas kelompok: sosialisasi. p. klienperawat-klien/perawat. Dengarkan klien dengan empati: beri kesempatan bicara (janggan diburu-uru) tunjukkan perawat mengikuti pembicaraan klien. e. klien kelompok. 2 perawat dan seterusnya). b. l.d. Tingkatkan interaksi klien secara beratahap (Satu lien. f. 2) Menyebutkan penyebab menarik diri. perkenalan diri. m. 6) Memberdayakan sistem pendukung. jika ingin mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan “Jika menatap perawat. Bina hubungan saling percaya: salam trapiutik. ciptakan lingkungan yang tenang Buat kontak dari setiap pertemuan (topik yang akan dibicarakan. Resiko perubahan sensori persepsi: halusinasi berhubungan dengan menarik diri. 3) Menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain. Berikan perhatian dan penghargaan: temani klien walau klien tidak menjawab. Beri pujian akan keberhasilan klien. jelaskan tujuan interaksi. 2) Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah. Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain. waktu berbicara) b. Tindakan Keperawatan a. . Bantu klien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien untuk bergaul.

r.q. Pada Keluarga: 1) Keluarga mampu berinteraksi dengan klien secara trapeutik. Hasil Akhir yang Diharapkan a. benar klien). 5. benar waktu. 2) Klien mengatakan penyebab menarik diri. 2) Keluarga mampu mengurangi penyebab klien menarik diri. Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip yang benar (Benar obat. benar cara. Anjurkan klien membicarakan efek atau efek samping obat yang dirasakan. benar dosis. 3) Klien mengetahui keuntungan berinteraksi. . Pada Klien: 1) Tidak terjadi perubahan sensori persepsi. 4) Klien mampu berinteraksi dengan orang lain b.

Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Airlangga University Press. Sandra J. Pedoman prawatan Sikiatrik Intervensi Keperawatan . Jakarta FKUI ( Tidak diperdagangkan )  Maramis W. (1998 ) . ( 1994 ). Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada keperawatan psikiatri . EGC. . Mry C . EGC.  Stuart . F.  Keliat Budi Anna. ( 1998 ) Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa . edisi 3 .  Towesend.DAFTAR PUSTAKA  Departemen Kesehatan RI. Jakarta . surabaya . Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial. Gail Wiscart and Sundeen .Direktorat kesehatan jiwa . pada edisi . ( 1998 ). Jakarta . ( 1998 ).

yaitu pada individu yang mengalami isolasi. dan menghasilkan halusinasi Menurut Mc. antikolinergik. mungkin terdapat atau tidak terdapat interprestasi waham tentang pengalaman halusinasinya (Kaplan dan Sodoek 1997 hal 462). (Rasmun. Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti Schizoprenia.kondisi infeksi sistemik dan penggunaan metabolik. denial. psikotik ataupun histerik (W. dan proyeksi (halusinasi). Halusinasi terjadi akibat kemampuan kognitif yang terganggu. 1991. artinya individu mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan tanpa adanya rangsangan dari luar dan orang lain tidak mendengarnya. Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan Halusinasi Pendengaran adalah individu merasa mendengar suara orang yang membicarakan. anti inflamasi. 2). Sedangkan obat-obatan halusinogen dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Hal ini dikarenakan informasi atau beban sensori terlalu berlebihan atau overload. menertawakan atau mengancam dirinya. sehingga terjadi konflik psikologis. 2001 hal 44). mengejek. Etiologi 1). kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada saat pembicaraan.PERUBAHAN SENSORI PERSEPSI: HALUSINASI DENGAR A. dimensia. a) Teori Psikoanalisa Halusinasi terjadi karena defisit fungsi ego atau pertahanan diri. KONSEP DASAR 1. perubahan sensori seperti kebutaan. Halusinasi dapat terjadi pada saat individu normal. . fungsional. 2. yang terjadi pada keadaan sadar atau bangun. depresi atau keadaan psikosa lainnya. dan antibiotik. Psikodinamika a. Menurut Mary Durant Thomas. 1991. Farland dan Thomas. dasarnya mungkin organic. Halusinasi juga dapat terjadi dengan epilepsi. keadaan delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. (Kelliat Budi Anna.F Marammis. padahal tidak ada suara disekitarnya. Halusinasi adalah pengalaman panca indra tanpa adanya rangsangan. 2001 hal 44) Halusinasi adalah persepsi sensori yang palsu yang tidak disentralkan dengan stimulasi eksternal yang nyata. Pengertian Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indra seseorang pasien. Halusinasi dapat juga dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi. Dan penggunaan mekanisme pertahanan seperti distori.Skp. 1998 hal 119) Halusinasi pendengaran adalah pengalaman panca indra tanpa adanya rangsangan. artinya individu mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan tanpa adanya rangsangan dari luar dan orang lain tidak mendengarnya.

3) Merusak diri sendiri/ orang lain / lingkungan. melihat. faktor genetik juga menjadi penyebab besar dan faktor biokimia yang mempengaruhi otak dengan adanya dopamin. koping stres yang tidak adekuat sehingga menimbulkan gangguan orientasi realita. dan merasa sesuatu yang tidak nyata. bila didiamkan berlarut-larut akan menyebabkan halusinasi. kadang tidak masuk akal.b) Teori Lingkungan Halusinasi dapat terjadi bila seseorang berada dalam situasi atau lingkungan yang penuh dengan stresor. 3). a) Teori Biologi Otak tidak berkembang secara sempurna. Halusinasi disebabkan karena adanya gangguan pada otak. b. jengkel. 5) Pembicaraan kacau. adanya konflik keluarga. Menurut Stuard and Laraia. menurunnya volume otak dan fungsi abnormal. c) Teori Biologi Halusinasi akibat struktur otak yang abnormal sehingga tidak mampu menerima stimulus dengan baik. seperti tidak keharmonisan. 4) Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal yang tidak nyata. marah 12) Muka merah kadang pucat 13) Ekspresi wajah tegang c. Bila individu tersebut tidak dapat mengatasi dan hanya berfokus pada kecemasan yang diakibatkan stressor. kegagalan dalam menyelesaikan tahap awal perkembangan psikososial.maka individu tersebut akan melamun dan berangan-angan. Jenis Halusinasi Halusinasi pendengaran Pasien mendengar suara dan bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dan orang lain tidak mendengar Halusinasi penglihatan . 6) Tidak dapat memusatkan perhatian 7) Menarik diri. 2) Mengatakan mendengar sesuatu. Sehingga kesulitan dalam memfilter otak mengalami sensori dan kesulitan dalam memproses informasi. Manifestasi Klinik 1) Bicara senyum dan tertawa sendiri. ketakutan 10) Menyalahkan diri dan orang lain 11) Mudah tersinggung. c) Teori Sosial Kultural dan Lingkungan Menjelaskan bahwa halusinasi dapat disebabkan oleh stres yang diakumulasi akibat faktor lingkungan. menghidu. sikap curiga dan bermusuhan. mengecap. b) Teori Psikologi Halusinasi dapat ditimbulkan oleh hubungan antar anggota keluarga atau khususnya anak dengan orang tua yang tidak harmonis.menghindari orang lain 8) Sikap curiga dan bermusuhan 9) Sulit membuat keputusan.

Pasien melihat gambar yang jelas/samar-samar tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak melihat Halusinasi penciuman Pasien mencium bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak menciumnya Halusinasi pengecapan Pasien merasa makan sesuatu tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak melihat pasien memakan sesuatu yang nyata Halusinasi perabaan Pasien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata d. Orang tersebut merasakan/mengetahui bahwa pikiran dan pengalaman sensorinya dalam kontrol sadar (jiwa kecemasan teratasi “non psycotic”) Perilaku yang dapat di observasi: a) Tertawa tidak pada tempatnya b) Pergerakan bibir tanpa menimbulkan suara c) Pergerakan mata dengan cepat d) Respon verbal lambat e) Diam membisu dan linglung ( asik sendiri ) 2) Fase kedua: menyalahkan – ansietas tingkat berat. kesepian. Perilaku yang dapat di observasi: a) Meningkatkan sistem syaraf otomatis. Orang yang menderita halusinasi mulai merasakan hilang kontrol dan mulai menjauhi diri dari sumber yang ada. Orang tersebut dapat mengalami hidup menyendiri jika pengalaman sosialnya berakhir. merasa bersalah dan perasaan takut serta mencoba untuk berfokus pada kenyamanan untuk mengurangi kecemasannya. Bentuk halusinasi menjadi suatu kebutuhan. 3) Fase ketiga : Mengendalikan – ansietas tingak berat Pengalaman sensori menjadi penguasa Karateristik: orang yang menderita halusinasi menyerah untuk mengalah melawan pengalamanya. seperti anietas. Proses Proses halusinasi dapat berkembang menjadi 4 fase: 1) Fase Pertama: Menenangkan-anietas tingkat sedang.respirasi dan ritme jantung.secara umum halusinasi bersifat menyenangkan Karakteristik: orang yang menderita halusinasi mengalami peningkatan emosi. c) Asyik sendiri dengan pengalaman sensori dan hilangnya kemampuan untuk membedakan halusinasi dari realita. b) Bentuk perhatian mulai terbatas dan menyempit. Perilaku yang dapat diobservasi: a) petunjuk yang berasal dari halusinasinya akan diikuti b) kesulitan bersosialisasi dengan orang lain c) perhatiannya hanya beberapa detik atau menit . Halusinasi umumnya menjadi ancaman Karakteristik: pengalaman sensori menjadi ancaman yang menakutkan. orang tersebut merasakan kebingungan oleh penglaman sensori dan menarik diri dari orang lain. tanda-tanda kecemasan seperti meningkatnya tekanan darah.

S.d) gejala-gejala fisik dari kecemasan berat ketidakmampuan mengikuti petunjuk dan berkeringat seperti tremor.Perilaku cocok . 4) Fase keempat : menaklukan-anietas tingkat panik. benda dan lingkungan.Persepsi akurat . berlebihan dan ambivalen. perabaan. 1995. Respon adaptif . Perilaku yang dapat di observasi: a) bentuk terol seperti panik b) potensial kuat untuk bunuh diri atau pembunuhan c) aktifitas fisik yang mengarah pada bentuk halusinasi seperti agitasi. tidak sesuai . Halusinasi dapat berakhir dalam beberapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik (“psychotic berat”). Perubahan pola persepsi dapat terjadi pada satu atau lebih bagian tubuh yaitu pendengaran. e. menarik diri atau katatonia d) tidak dapat berespon terhadap pengarahan atau petunjuk yang kompleks. Perubahan afek yang biasa terjadi adalah datar.Emosi proses pikiran berlebihan / dengan pengalaman berkurang .Perilaku yang . Proses pikiran terganggu pikir Halusianasi .Ilusi .Kerusakan .Hubungan sosial harmonis Respon maladaptive . pengecapan.Pikiran logis . Karakteristik: pengalaman sensori dapat menjadi ancaman ketika orang tersebut tidak mengikuti perintah. dan penciuman. tumpul. tindakan kekerasan.Ggn. 3) Perubahan pada afek dan emosi Afek berkaitan dengan emosi tubuh individu. kemudian diikuti oleh pengenalan dan pemahaman tentang orang. W. impulsif. and Sundeen. .) Respon adaptif dari kelima perubahan tersebut adalah sebagai berikut : 1) Perubahan proses pikir Klien yang terganggu pikirannya sering berperilaku koheren. 2) Perubahan pola persepsi Persepsi dapat diartikan sebagai reaksi dari respon tubuh terhadap rangsangan dari luar. Biasanya menjadi terfokus dan menjadi berbaur dengan delusi.Kadang proses .Emosi konsisten . Rentang Respon Respon perilaku klien dengan halusinasi dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon. J.Isolasi sosial tidak biasa ( Stuart G. perubahan afek terjadi karena pasien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu. 4) Perubahan motorik Perilaku motorik dapat dimanifestasikan dengan peningkatan atau penurunan kegiatan motorik.

1. faktor presipitasi. a. Pengkajian keperawatan Pada tahap ini perawatan menggali faktor-faktor seperti predisposisi. Komplikasi Komplikasi yang biasa terjadi pada klien dengan halusinasi adalah : 1). 3).5) Perubahan sosial Perkembangan hubungan sosial yang tidak adekuat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar dan mempertahankan interaksi. juga menyangkal halusinasi yang klien miliki. B. social kultural. Gangguan hubungan pasangan. 2). Rasa bermusuhan. Kehilangan motivasi. empati. Alam perasaan abnormal. biologi. Klainan prilaku. dan selalu memberi penghargaan. Gangguan proses informasi. 2) Faktor Sosial kultural Berbagai faktor dan lingkungan dan di masyarakat dapat menyebabkan orang merasa diasingkan atau disingkirkan sehingga klien merasa kesepian dalam lingkungan dimana dia berada. maka individu akan dihadapi dengan stress dan kecemasaan pada dirinya. 8).Pemberian asuhanan keperawatan terhadap klien dengan halusinasi perawat harus berkata jujur. 4). Hal dapat diperoleh baik dari klien maupun dari keluarganya mengenai faktor perkembangan. Faktor predisposisi Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. 3) Faktor Biokimia Faktor biokimia ini mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Klien yang mengalami halusinasi sukar untuk mengontrol dirinya sehingga klien dengan halusinasi sukar untuk berhubungan dengan orang lain. Asuhan keperawatan dimulai dari tahap pengkajian sampai evaluasi. 7). biokimia. walaupun dia ada dalam lingkungan sekitarnya yang ramai. seorang perawat harus mempunyai kesadaran diri yang tinggi agar dapat mengenal dan menerima serta mengevaluasi perasaan sendiri sehingga dapat menggunakan dirinya secara therapeutik. 5). sumber koping dan mekanisme koping. Dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap klien halusinasi. ASUHAN KEPERAWATAN Halusinasi merupakan gangguan persepsi yang sangat ekstrim dan bahkan sangat umum dalam Schizoprenia. perilaku. psikologis. terbuka. dimana teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamine . 6). yaitu faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress: 1) Faktor Perkembangan Jika seseorangan mengalami hambatan dalam tugas perkembangan dan hubungan internasional dengan orang lain terganggu. tetapi tidak boleh tenggelam. Perubahan dalam kejadian kehidupan. Kurang merasa percaya diri. e.

2). Gangguan Konsep diri:harga diri rendah. ancaman. dapat membantu seseorang menginterprestasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil. dirinya atau orang lain. Peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realita. Mekanisme Koping Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress. Dukungan sosial dan keyakinan budaya serta dukungan keluarga. tersenyum. dan bingung. perilaku merusak diri. 4) Faktor Psikologis Hubungan interpersonal yang tidak harmonis akan mengakibatkan akan mengakibatkan stress dan kecemasan. Sumber koping Sumber koping seseorang individual dan alamiah serta tergantung pada luasnya gangguan neurobilogical. Adanya rangsangan lingkungan yang sering yaitu partisipasi klien dalam kelompok. curiga. termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. 3). . 2). tetapi hasil penelitia menunjukan bahwa faktor keluarga menujukan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini. 3). c. Ketakutan perasaan tidak aman. terlalu lama diajak komunikasi. Perubahan persepsi sensori:halusinasi pendengaran. objek yang ada di lingkungan. 4). b. ancaman/tuntutan yang memerlukan energi ekstra yang digunakan untuk koping. Oleh karena itu aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan yaitu dengan mengupayakan suatau proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungan dan halusinasi tidak berlangsung. tertawa sendiri. orang lain dan lingkungan . Perilaku Respon klien terhadap halusinogen dapat berupa bicara sendiri. Isolasi sosial :menarik diri.neurotransmiter yang diperkirakan menghasilkan gejala penningkatan aktivitas yang berlebihan sehingga dapat menghasilkan zat halusinogenik. Dalam menghadapi rasa cemas pada klien halusinasi biasanya digunakan mekanisme proyeksi yang dapat memberikan kemampuan pada ego untuk mengatasi rangsangan yang mengancam dari luar sehingga mengurangi kecemasan. gelisah. Masalah keperawatan yang timbul pada klien sebagai berikut : Resiko mencederai diri sendiri. 5) Faktor biologi Dalam Schizoprenia belum diketahui gen apa yang berpengaruh. 1). orang yang mengalami psikosis akan mengakibatkan atau menghasilkan hubungan yang penuh dengan kecemasan tinggi. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk memecahkan atau menyelesaikan masalah. Faktor presipitasi Yaitu stimulus yang diekspresikan oleh individu sebagai suatu tantangan. 1).

b. Tujuan umum: klien tidak menciderai diri. Klien dapat membina hubungan saling percaya. Diskusikan dengan klien mengenai situasi yang menimbulkan halusinasi. b). Sapa klien dengan ramah baik verbal dan non verbal. . Observasi tingkah laku klien dengan halusinasinya. waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi. Klien dapat mengenal halusinasinya a). d). e). Tujuan khusus: 1). 1998) 2. Pohon Masalah Resiko menciderai diri sendiri: orang lain dan lingkungan Perubahan sensoripersepsi : halusinasi pendengaran Isolasi sosial: menarik diri Gangguan Konsep diri:Harga diri rendah (Keliat Budi Ana dan DKK. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran. 3). a). b). Isolasi sosial:menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah 3. Perubahan sensori persepsi: halusinasi pendengaran berhubungan dengan isolasi social:menarik diri. Bantu klien mengenal halusinasinya.d. Diagnosa I: resiko menciderai diri sendiri. f). Intervensi Tindakan Keperawatan a. d). c). Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap. b). Diagnosa Keperawatanan a. Klien dapat mengontrol halusinasinya a). orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar 2). c). Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien. Resiko menciderai diri sendiri. orang lain dan lingkungan. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya. Jelaskan tujuan pertemuan. Perkenalkan diri dengan sopan. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien. jika bermanfaat beri pujian. c. Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi.

e). Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan bergaul dengan orang lain . g). c) Diskusikan dengan klien perilaku menarik diri. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik. Jujur dan menepati janji. Klien dapat membina hubungan saling percaya a). b). Anjurkan klien untuk mengikuti kegiatan yang ada diruang perawatan seperti TAK. b. d). d). serta gejala yang muncul. Klien dapat menyebutkantentang perilaku menaik diri. Diagnosa II: perubahan sensori persepsi: Halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri. b). Diskusikan dengan keluarga tentang dosis. Diskusikan dengan klien tentang manfaat bergaul dengan orang lain serta kerugiannya. a) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tandatandanya.c). Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika halusinasi timbul. Klien dapat menyebutkan keuntungan bergaul dengan orang lain dan kerugian tidak bergaul dengan orang lain. 3). Klien dapat dukngan dari keluarga untuk mengontrol halusinasinya a). d) Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya. Diskusikan cara memutus atau mengontrol timbulnya halusinasi. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar 2). a). Anjurkan klien bicara pada dokter tanpa konsultasi. a). Tujuan umum: klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga terjadi halusinasi. Tunjukan sikap empati. Perkenalkan diri dengan sopan. c). Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya. Sapa klien dengan ramah. e). 4). Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung) tentang gejala halusinasi dan cara merawat anggota keluarga dengan halusinasi. Jelaskan tujuan pertemuan . b). d). b) Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan penyebab menarik diri. Anjurkan klien untuk meminta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya. b). c). f). Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi. frekuensi obat dan manfaat obat. c). Bantu klien menggunakan obat dengan prnsip 5 (lima) benar. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang klien sukai. 5). d). Kaji pengetahuan klien tentang manfaat atau kerugian bergaul dengan orang lain. tanda. Tujuan khusus: 1).

f) Motifasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan. e) Berikan reinforcement positif atas hal-hal yang dicapai oleh keluarga c. penyebeb. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaanya bila bergaul dengan orang lain. Klien dapat memberdayakan system pendukung untuk mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan oerang lain. c). c) Beri reinforcement positif atas kebersihan yang dicapai. d). d) Anjurkan kepada keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal 1x dalam seminggu. a). Diagnosa III: Isolasi sosial. a). g) Beri reinforcement atas keberhasilandalam mengikuti jegiatan ruangan. b). Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain.4). Klien dapat membina hubungan saling percaya. b) Diskusikan dengan anggota keluarga tentang perilaku menarik diri. 2). k-p-klg a) Kaji kemampuan klien dalam membina hubungan dengan orang lain. Hindarkan penilaian negative saat bertemu klien. b) Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain secara bertahap. Diskusikan tentang kemampuan dan aspek yang dimiliki klien. e) Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan oleh klien. k-pklp. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komun ikasi terapeutik . Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat bergaul dengan orang lain 6). k-p-k. akibat dan cara menghadapi klien menarik diri. e). Klien dapat melaksanakan hubungan secara bertahap: k-p. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit. Berikan pujian yang realistic. a) Bina hubungan saling percaya. c). c) Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain . b). h) Klien dapat mengungkapkan perasannya bila bergaul dengan orang lain 5). Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. d) Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain. Klien dapat menetapkan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki . menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah Tujuan khusus: 1). Diskusikan dengan klien tentang perasaan tentang manfaat bergaul dengan orang lain.

3). kegiatan dengan bantuan sebagian. Klien melaksanakan hubungan sosial secara bertahap. 4). 2). menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah Hasil yang diharapkan: 1). Terbina hubungan saling percaya. a). Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat. Terbina hubungan saling percaya antara klien dengan perawat. 4). Klien dapat mengontrol dan memutuskan halusinasinya secara mandiri. Klien memberdayakan system pendukung atau keluarga mampu mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain. Tingkatkan kegiatan sesuai toleransi kondisi klien. 5). Klien dapat menerima kehadiran perawat. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah. Evaluasi a. a). halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri. Klien menyebutkan penyebab menarik diri. c). 5). Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik b. 2). 3). Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah 5). 4. c). Diagnosa 1: resti menciderai diri. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran. b). kegiatan yang membutuuhkan bantuan total. . Klien dapat mengenali halusinasinya. Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada a). b). Beri pujian atas keberhasilan klien. c. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan rumah. Diagnosa 3: Isolasi social. 3). b). 6). Diagnosa 2: Perubahan sensori persepsi. Adanya hubungan keluarga terhadap klien dalam mengontrol halusinasinya. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakkan. Klien mengungkapkan perasaannya setelah hubungan dengan orang lain. Rencana bersama klien aktifitas yang dilakukan setiap hari sesuai kemampuan : kegiatan mandiri. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang direncanakan. Hasil yang diharapkan: 1). Klien dapat melakukan sesuai kondisi sakit dan kemampuan yang ada. 4). Hasil yang diharapkan: 1).

5). 4). Klien dapat memanfaatkan system pendukung. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan. .2). Klien dapat membuat rencana kegiatan. aspek positif yang ada. Klien melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan dan kondisi. 6). 3). Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.

Lois . 2001. . Jakarta FKUI (di publikasikan). Dr.A Davis Company Towsend. EGC.1998.C. G. F. 1998. Jakarta. G. Departemen Kesehatan RI. 1998. 2001. edisi. Stuart.C. Mosby Year Book Stuart.W. Maramis W. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dalam keluarga. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas PPDGJ III. S. EGC. and Sundeen. 1998.W. Surabaya.DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan RI.J.F. Buku Saku Keperawatan Jiwa. ( Cetakan 1 ) Direktorat Jendral Pelayanan Medik. Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial. Direktorat Pelayanan Keperawatan. Airlangga Universitas Press. Rasmun. Principles and Practice of Psychiatric Nursing (5th ed ) St. Townsend. 1998. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta. M. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatrik. edisi 3. and Sundeen. Buku Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa 1 : Teori dan tindakan Keperawatan. 2000.J. M. Psychiatric Mental Health Nursng : Concepts of Care ( Second Edition ) Philadelphia . Jakarta. Keliat Budi Anna. Skp. S. 1995. Jakarta Rusli Muslim.