P. 1
Perdirjen 02 2005 Mekanisme Pembayaran Atas Beban Apbn

Perdirjen 02 2005 Mekanisme Pembayaran Atas Beban Apbn

|Views: 337|Likes:
Published by Bless

More info:

Published by: Bless on Dec 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2010

pdf

text

original

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN NOMOR: 02 /PB/2005 TENTANG .

MEKANISME PELAKSANAAN PEMBAYARAN ATAS BEBAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN Menimbang : a. bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan oleh Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) harus dilaksanakan dengan tertib, efisien, transparan dan bertanggung jawab sesuai ketentuan perundang-undangan yang beriaku; b. bahwa salah satu tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Perbendaharaan adalah menetapkan kebijaksanaan pelaksanaan anggaran sesuai dengan ketentuan APBN dan peraturan perundangundangan lainnya; bahwa untuk mewujudkan hal tersebut, periu ditetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban APBN, sebagai pedoman bagi seluruh Kementerian Negara/Lembagadan Pemerintah Daerah.

c.

Mengingat

: 1. Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara (LN Rl No. 47, TLN No. 4286); 2. Undang-undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (LN Rl No. 5 tahun 2004);

3 . Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Rf Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 4400); 4. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4214) sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 72 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 418); Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah jo Keppres Nomor 61 Tahun 2004 tentang Pedoman pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah; Keputusan Menteri Keuangan Nomor 571/KMK.06/2004 tentang Petunjuk Teknis Penyeiesaian Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2005;
'

5.

6.

1

7. Peraturan Menteri Keuangan Rl Nomor.606/PMK.06/2004 tentang Pedoman Pemfcayaran Dalam Peiaksanaan APBN; 8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.06/2005 tentang Bagan Perkiraan Standar . . MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN TENTANG MEKANISME PELAKSANAAN PEMBAYARAN ATAS BEBAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA.

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini, yang dimaksud dengan: 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disebut APBN adaiah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat, yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember tahun berkenaan. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran yang selanjutnya disebut DIPA atau dokumen lain yang dipersamakan dengan DIPA adalah suatu dokumen peiaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja (satker) serta disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen peiaksanaan pembiayaan kegiatan. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang selanjutnya disebut Kanwil Ditjen Perbendaharaan adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara yang selanjutnya disebut KPPN adalah instansi vertikal Direktorat Jenderai Perbendaharaan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut BUN adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan fungsi bendahara umum negara. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka peiaksanaan APBN pada kantor/satker Kementerian Negara/Lembaga.

2.

3.

4.

5. 6.

7. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut PA/ Kuasa PA adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan.

melebihi pagu UP yang ditetapkan. 17.8. 10. 15. Satker Sementara adalah satker/instansi atau dinas/badan yang ditetapkan untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang tersifat sementara di lokasi yang tidak ada satker Kementerian Negara/Lembaga terkait. 13. Surat Perintah Membayar Penggantian Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPM-GUP adalah surat perintah membayar yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran /Kuasa Pengguna Anggaran dengan membebani DIPA. Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPM-TUP adalah surat perintah membayar yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran karena kebutuhan dananya melebihi pagu uang persediaan dan membebani MAK transito. Uang Persediaan yang selanjutnya disebut UP adaiah uang muka kerja dengan jumlah tertentu yang bersifat daur ulang (revolving). Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disebut SPM adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk untuk mencairkan dana yang bersumber dari DIPA atau dokumen lain yang dipersamakan. Surat Perintah Membayar Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPM-UP adalah surat perintah membayar yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran untuk pekerjaan yang akan dilaksanakan dan membebani MAK transito. . 19. 14. yang dananya dipergunakan untuk menggantikan uang persediaan yang telah dipakai. Rekening Kas Negara adalah rekening tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara atau pejabat yang ditunjuk. 12. diberikan kepada bendahara pengeluaran hanya untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari perkantoran yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disebut SP2D adalah surat perintah yang diterbitkan oleh KPPN setaku Kuasa Bendahara Umum Negara untuk pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN berdasarkan SPM. untuk menampung seluruh penerimaan negara dan atau membayar seluruh pengeluaran negara pada Bank/Sentral Giro yang ditunjuk Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disebut SPP adalah suatu dokumen yang dibuat/diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan dan disampaikan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk selaku pemberi kerja untuk selanjutnya diteruskan kepada pejabat penerbit SPM berkenaan. 16. Surat Perintah Membayar Langsung yang selanjutnya disebut SPM-LS adalah surat perintah membayar langsung kepada pihak ketiga yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atas dasar perjanjian kontrak kerja atau surat perintah kerja 9. 11. Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disebut TUP adalah uang yang diberikan kepada satker untuk kebutuhan yang sangat mendesak dalam satu buian . Rekening Kas Umum Negara yang selanjutnya disebut Rekening KUN adalah rekening tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan negara dan membayar seluruh pengeluaran negara pada Bank Sentral. 18.

Menteri/Pimpinan Lembaga selaku PA menetapkan keputusan tentang penunjukan Pejabat Kuasa PA untuk satker/satker sementara di lingkungan instansi PA. (1) Pada setiap awal tahun anggaran. sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) huruf a. Pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/penanggung jawab kegiatan/pembuat komitmen. Surat Keterangan Penghentian Pembayaran yang selanjutnya disebut SKPP adalah surat keterangan tentang terhitung mulai bulan dihentikan pembayaran yang dibuat/ dikeluarkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran berdasarkan surat keputusan yang diterbitkan oleh Kementerian Negara/Lembaga atau Satker dan disahkan oleh KPPN setempat. (3) Menteri/Pimpinan Lembaga selaku PA mendelegasikan kewenangan PA kepada Gubernur dalam hal pelaksanaan dekonsentrasi. 22. b dan c. Menteri/Pimpinan Lembaga selaku PA mendelegasikan kewenangan menunjuk pejabat pejabat sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat (2) huruf a. 4 (4) (5) (6) (7) (8) . dalam pasal 2 ayat (2) huruf a atau huruf b. Surat Pernyataan Tanggung jawab Beianja yang setanjutnya disebut SPTB adalah pernyataan tanggung jawab belanja yang dibuat oleh PA/Kuasa PA atas transaksi belanja sampai dengan jumlah tertentu. Pejabat sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) tidak boieh merangkap sebagai pejabat sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) huruf c. b dan c tidak boieh saling merangkap. Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja. Tembusan Surat Keputusan para Pejabat dalam pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada Kepala KPPN selaku Kuasa BUN. BAB II PEJABAT PENGGUNA ANGGARAN Pasal 2 21. Surat Perintah Membayar Penggantian Uang Persediaan Nihil yang selanjutnya disebut SPM-GUP Nihil adalah surat perintah membayar penggantian uang persediaan nihil yang diterbitkan oieh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran untuk selanjutnya disahkan oleh KPPN. Pejabat sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) huruf a. Pejabat yang diberi kewenangan untuk menandatangani SPM/menguji SPP. Selanjutnya Gubernur selaku PA menunjuk pejabat Kuasa PA dan pejabat-pejabat sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat (2)huruf a.20. b. b dan c maka pejabat yang dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dapat merangkap jabatan sebagaimana dimaksud. Menteri/pimpinan Lembaga dapat mendelegasikan kewenangan kepada Kuasa PA untuk menunjuk: a. (2) .. b dan c kepada Gubernur/ Bupati/Walikota/Kepala Desa yang ditunjuk sebagai pelaksana tugas pembantuan. Dalam hal pejabat/pegawai pada Satker tidak memungkinkan pemisahan fungsi. c.

. maka sisa dana tersebut harus disetorkan ke Rekening Kas Negara.5. menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaranpengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS! 2.000. Surat Pernyataan Masih Menduduki Jabatan. Daftar Keluarga (KP4). 1) Dana tambahan tersebut akan habis digunakan dalam waktu satu buian terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. SK PNS. Fotokopi Akte Kelahiran. 3) Apabila terdapat sisa dana setelah satu bulan terhitung sejak tanggal SP2D. b. Surat Pernyataan Pelantikan. lembur dan honor/vakasi a. SK Kenaikan Pangkat.P asal 3 PA/Kuasa PA berdasarkan DIPA yang telah disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA Kementerian Negara/Lembaga di Pusat dan oleh Kepala Cantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA di daerah. SKPP. BAB III PRO5EDUR PENGAJUAN SPP DAN PENERBITAN SPM Pasal 4 Kelengkapan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) untuk penerbitan SPM diatur sebagai berikut: 1. Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas. SK Jabatan.(lima juta rupiah) untuk setiap kuitansi. Untuk pengeluaran baik yang menggunakan SPTB atau kuitansi/tanda bukti pembayaran. Sufat Keteranga Masih Sekolah/Kuiiah. Kenaikan Gaji Berkala. Surat Kematian. Fotokopi Surat Nikah. dalam hal bukti-bukti pengeluaran sampai dengan Rp. Surt Setoran Pajak (SSP) berkenaan yang telah dilegalisir oleh Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk harus dilampirkan pada SPTB. SPP-GU Persediaan a. menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sesuai rencana kerja dan anggaran yang telah ditetapkan dalam DIPA. SPTB (format-sebagaimana Lampiran 1). Rekening Koran yang menunjukkan saldo terakhir. atau untuk daftar pembayaran honor dengan jumlah tidak terbatas. Daftar Potongan Sewa Rumah Dinas. Kelengkapan tersebut di atas digunakan sesuai peruntukannya. dilengkapi dengan Daftar Gaji induk/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/ Uang Duka Wafat/Tewas. SK CPNS. 3. SSP PPh Pasal 21. 4.000. lainnya harus memperhatikan ketentuan peraturan perpajakan yang berlaku. Rincian penggunaan dana Tambahan Uang Persediaan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk bahwa dana dimaksud untuk kebutuhan mendesak.. SPP Tambahan Uang Persediaan a. c. Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk bahwa: b. SPP-LS untuk pembayaran gaji. Surat Pindah. 2) Tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran dengan LS. SPP-UP Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk. Pembayaran Gaji Induk/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/Gaji Terusan/Uang Duka Wafat/Tewas.

pejabat penerbit SPM menerbitkan SPM dengan mekanisme sebagai berikut: 1. Pasal 5 Setelah. 2) Nomor Rekening Pihak Ketiga (PT PLN. Berita Acara Serah Terima Pekerjaan. 1) Bukti tagihan daya dan jasa. SPP-LS non beianja pegawai a. Surat Pernyataan Kuasa PA mengenai penetapan rekanan. 5. mengisi check kelengkapan berkas SPP. c) Tata cara pencairan dan pertanggungjawaban dana PNBP tetap mengacu pac ketentuan yang berlaku. c) Satu tembusan untuk pejabat pelaksana pemeriksaan pekerjaan. b) Masing-masing satu tembusan untuk para pihak yang membuat kontrak. c. Pembayaran Honor/Vakasi dilengkapi dengan surat keputusan tentang pemberian honor vakasi. 4) Kuitansi. dan SSP PPh pasal 21.b. SPP untuk PNBP a) Dalam pencairan dana PNBP Kuasa Pengguna Anggaran harus mernperhatika persentase maksimum pencairan dana sesuai dengan ketentuan yang berlaku. menerima SPP. Berita Acara Pembayaran. 9) Dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrak-kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri. b) Untuk PNBP perguruan tinggi maksimum pencairan sebesar seratus persen da setoran dengan batas tertinggi sesuai pagu. b. 6. Pembayaran Beianja Perjalanan Dinas: 1) Surat Tugas. surat perintah kerja lembur. d) UP/TUP untuk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP lainnya. PDAM dll). mencatatnya dalam buku pengawasan penerimaan SPP d . Telepon dan Air). daftar pembayaran yang sudah ditandatangani oleh yang bersangkutan. Kuitansi yang disetujui oleh Kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk. dan SSP PPh pasal 21. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan. Pembayaran Lembur dilengkapi dengan Daftar Pembayaran perhitungan lembur yang suclah ditandatangani oleh yang bersangkutan. PT Telkom. 3) Daftar Rincian Perhitungan Perjalanan Dinas. Faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani Wajib Pajak. 2) Tembusan Surat Perintah Perjalanan Dinas. Jaminan Bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non bank. Pembayaran Biaya Langganan Daya dan Jasa (Listrik. Pembayaran pengadaan barang dan jasa: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Kontrak/SPK yang mencantumkan nomor rekening rekanan. Ketiga Berita Acara dimaksud di atas dibuat sekurang-kurangnya dalam rangkap lima dan disampaikan kepada: a) Asli dan satu tembusan untuk penerbit SPM. c. Penerimaan dan pengujian SPP Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP.

q. Subbagian Umum sesuai ketentuan yang berlaku. Bagi instansi/badan/pihak ketiga yang tidak mempunyai DIPA. 7. Pembayaran pengembalian penerimaan negara bukan pajak yang terlanjur disetor ke Rekening Kas Negara diatur sebagai berikut: a. 2. nomor rekening dan nama bank). Seteiah diiakukan pengujian terhadap SPP-UP/SPP-TUP/SPP-GUP/SPP-LS maka Pejabat Penguji SPP/Penandatangan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPM-GUP /SPM-LS dalam rangkap 3 (tiga): a. SPM Pengembalian diterbitkan oieh satker yang bersangkutan . Lembar ketiga sebagai pertinggal pada satker yang bersangkutan. Lembar kesatu dan kedua disampaikan kepada KPPN. Bagi Kementerian Negara/Lembaga atau satker yang mempunyai DIPA. SPM KBC. Memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran. SPM dimaksud dalam butir a diterbitkan oleh Subbagian Umum KPPN seteiah terlebih dahulu diiakukan pemeriksaan oleh Seksi Bank/Giro Pos/Seksi Bendahara Umum terhadap kebenaran dan kelengkapan tagihan yang diajukan oleh PT Pos Indonesia (Persero)/Bulog. 4. SPM BPHTB dan Iainlain) akan diatur tersendiri. Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. 6. SPM Jasa Perbendaharaan/SPM PFK Bulog adalah SPM-LS untuk pembayaran jasa perbendahaaan kepada PT Pos Indonesia (Persero) dan SPM pembayaran perhitungan potongan dana Bulog yang telah diiakukan oleh KPPN. e. Pejabat penerbit SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut: a. b. Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. SPM KPBB. SPM pengembalian (SPM KP. SPM Jasa Perbendaharaan/SPM PFK Bulog: a. SPM Pengembatian diterbitkan oleh Satker yang bersangkutan. alamat. . Memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan sesuai dengan indikator keluaran yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan/atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak. 5. SPM IB. 3) Jadual waktu pembayaran. 2) Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan/atau kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak).membuat/menandatangani tanda yterima SPP berkenaan. Pembayaran pengembaiian pengeluaran anggaran yang terlanjur disetor ke Rekening Kas Negara. b. d. Memeriksa kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain: 1) Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. Selanjutnya petugas penerima SPP menyampaikan SPP dimaksud kepada pejabat penerbit SPM. b. c. SPM Pengembalian diterbitkan oleh KPPN c. 3.

50. Untuk membantu pengelolaan Uang Persediaan pada kantor/satker di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga.. Perubahan besaran UP dari Rp. 523111. Pasal 7 (1) (2) (3) (4) (5) PA/Kuasa PA menerbitkan SPM-UP berdasarkan DIPA atas permintaan Bendahara Pengeluaran yang dibebankan pada Mata Anggaran Keluaran transito (MAK transito). 521119. 523112. 522112.211. UP dapat diberikan untuk pengeluaran-pengeluaran Belanja Barang yaitu MAK 521111.5.(lima juta rupiah).(lima puluh juta rupiah) untuk semua MAK-MAK yang boleh diberikan UP. menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi kewenangan dapat mengangkat seorang Bendahara Pengeluaran pada Kementerian Negara/Lembaga atau satker yang dipimpinnya. Untuk mengelola Uang Persediaan bagi satker di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga.5. Setoran sisa UP dimaksud. 521112..000. 522111. UP dapat diberikan dalam batas-batas sebagai berikut: a. 523121. apabila diperlukan dapat diberikan TUP. Pengisian kembali UP sebagaimana dimaksud pada butir d dapat diberikan apabii dana UP telah dipergunakan sekurang-kurangnya 90% dari dana UP yang diterima f. 521114. b. Diluar ketentuan pada butir a mengenai MAK.OOO.000. sebelum diberlakukannya ketentuan dan/atau dilakukannnya pengangkatan pejabat fungsional Bendahara. Bendahara Pengeluaran melakukan pengisian kembali UP setelah UP dimaksud digunakan {revolving) sepanjang masih tersedia pagu dalam DIPA.000. Berdasarkan SPM-UP dimaksud pada ayat (1). 523122. d. apabila diperlukan kepala satker dapat menunjuk Pemegang Uang Muka.(lima juta rupiah) diberikan dengar sangat selektif oteh Kepala Kanwil Ditjen PBN sebatas kewenangan yang dilimpahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dengan syarat tidak boleh lebih besar dari 1/12 pagu dana satker dalam DIPA atau setinggi-tingginya Rp. Sisa UP yang masih ada pada Bendahara pada akhir tahun anggaran harus disetor kembali ke Rekening Kas Negara selambat-lambatnya tanggal 31 Desember tahun anggaran berkenaan. e. dapat diberikan pengecualian untuk DIPA Pusat oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan untuk DIPA Pusat yang kegiatannya berlokasi di daerah serta DIPA yang ditetapkan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat.000. c.OOO. 521. Penggunaan UP menjadi tanggung jawab Bendahara Pengeluaran. KPPN menerbitkan SP2D untuk rekening Bendahara Pengeluaran yang ditunjuk dalam SPM-UP. 524111. TUP yang dapat diberikan diatur sebagai berikut: (2) (6) . Dalam pelaksanaan tugasnya Pemegang Uang Muka bertanggung jawab kepada Bendahara Pengeiuaran. UP dapat diberikan setinggi-tingginya sebesar Rp. 521113. oleh KPPN dibukukan sebagai pengembalian UP sesuai mata anggaran yang ditetapkan..BAB IV UANG PERSEDIAAN DAN TAMBAHAN UANG PERSEDIAAN Pasal 6 (1) Kepada setiap satker dapat diberikan Uang Persediaan.

. Untuk kebutuhan dana yang sangat mendesak/tidak dapat ditunda dan habis digunakan paling lama satu buian terhitung tanggal SP2D diterbitkan.(lima juta rupiah) termasuk untuk pembayaran honorarium.0000.(satu miliar rupiah). Pengecualian terhadap butir f dapat diputuskan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan atas usu! Kepala KPPN. yang dibiayai tersebut tidak bisa e.5.825111. dilampiri SPTB untuk buktibukti pembayaran yang jumlahnya sampai dengan Rp.000. ■■ .(satu miliar rupiah) untuk semua MAK yang diperbolehkan diberi UP. g. yaitu tidak diberikan lagi TUP sepanjang sisa tahun anggaran berkenaan. d.000. (7) Persyaratan Tambahan UP adalah sebagai berikut: a.000.(seratus juta rupiah) untuk semua MAK yang diperbolehkan diberi UP. Pengguna Anggaran/Kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy (disket) melalui loket Penerimaan SPM pada KPPN atau melalui Kantor Pos.000. Surat Pernyataan bahwa kegiatan dilaksanakan/dibayar dengan SPM-LS. Apabila ketentuan pada butir d dan e tidak dipenuhi kepada satker yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi.000. 100.000. Rekening Koran yang menunjukkan saldo terakhir.000. c. Transaksi yang menurut ketentuan harus dipungut PPN dan PPh harus dilampiri Surat Setoran Pajak (SSR) yang dilegalisir oleh Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk.000.1.1.0000. pinjaman luar negeri 9999. upah tidak terbatas. gaji.. ■ b..(seratus juta rupiah) untuk semua MAK yang diperbolehkan diberi UP. ■ .1) Kepala KPPN untuk instansi vertiikal/daerah dalari wilayah pembayaran KPPN bersangkutan untuk jumlah TUP sampai dengan Rp. Apabila tidak habis dalam satu bulan harus disetor ke Rekening Kas Negara f.. 4) Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk kantor pusat Kementerian Negara/Lem baga untuk jumlah di atas Rp. (8) UP/Tambahan UP SPM-nya diterbitkan dengan menggunakan kode kegiatan untuk rupiah murni 0000. . Penggantian UP.000.825112. 3) Direktur Pelaksana Anggaran untuk kantor pusat Kementerian Negara/Len baga untuk jumlah sampai dengan Rp. kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak periu . dan PNBP 0000.100. (9) BAB V PROSEDUR PENERBITAN SURAT PERINTAH PENCAIRAN DANA Pasal 8 Penerbitan Surat Persetujuan Pencairan Dana oleh KPPN dilakukan sebagai berikut: 1. Rincian Penggunaan Dana untuk kebutuhan mendesak dan riil serta rincian sisa dana MAK yang dimintakan TUP..9999.000. diajukan ke KPPN dengan SPM-GUP.2) Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk instansi vertikal/daerah dalam wilayah kerja Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk jumlah TUP di atas Rp.000.000.825113.

SPK. Menerbitkan SP2D atas dasar SPM yang memenuhi syarat termasuk SPM Pengembalian. e. menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut. SPM dimaksud diteruskan kepada Seksi Perbendaharaan untuk diproses. Pasal 9 4. oleh KPPN" dan ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan. apabila tidak lengkap dikembalikan dengan surat yang ditandatangani oleh Kepala KPPN.. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM memeriksa kelengkapan SPM. d. SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran (2) 10 .. 6. faktur pajak beserta SSP-nya. mencatat dalam Daftar PengawasanPenyelesaian SPM (format sebagaimana lampiran 3). .2. SK Kepegawaian dan Iain-Iain). yaitu pengujian ulang SPM oleh petugas pada Seksi Perbendaharaan dengan cara antara lain: a. SPM Gaji Induk harus sudah diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran. menguji bukti pengeluaran dan/atau surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. g. Berkas SPM yang diterima melalui Pos. Pasal 10 (1) Pengesahan Surat Perintah Membayar Penggantian UP (SPM-GU) Nihil atas TUP dilaksanakan KPPN dengan membubuhkan Cap pada SPM GU Nihil "telah dibukukan pada tanggal. mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM. Pengujian SPM dilaksanakan oleh KPPN mencakup: Pengujian yang bersifat substansif dan formal.. 7.. Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut: a. 2. 3. 5. memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf (termasuk tidak boleh cacat dalam penulisan). menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM b. menguji dokumen sebagai dasar penagihan (Kontrak. c. Mengembalikan SPM kepada penerbit SPM apabila tidak memenuhi syarat diterbitkan SP2D: 1.. b. f. mengisi check list kelengkapan berkas SPM (format sebagaimana lampiran 2).. Keputusan hasil pengujian oleh Seksi Perbendaharaan: a. SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk dikembalikan paling lambat enam hari kerja setelah diterima SPM. SPM UP/TUP/GUP dan LS dikembalikan paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM. Apabiia kelengkapan berkas SPM tidak memenuhi syarat sesuai check list maka berkas SPM langsung dikembalikan untuk dilengkapi.. Apabila berkas SPM diterima lengkap..

. Ditandatangani oleh Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum dan diketahui oleh Kepala KPPN serta dibubuhi stempel timbul kepala KPPN. c. Direktur Informasi dan Akuntansi. Kepala KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum Negara wajib membuat Laporan Kas Posisi (LKP) harian dan mingguan yang disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. maka: a. Daftar penguji lembar kedua setelah ditandatangani oleh B!/Bank Operasional I/Sentraf Giro dikembalikan kepada KPPN melalui petugas kurir yang sama. untuk diproses dan selanjutnya diteruskan kepada Direktur Jenderaf Perbendaharaan u. Untuk keperluan tersebut. SP2D ditebitkan dalam rangkap 3 (tiga) dan dibubuhi stempel timbul Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum yang disampaikan kepada: 1. Kepala kantor/satker seiaku Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) wajib membuat Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca serta Arsip Data Komputer (ADK) yang dikelolanya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga secara berjenjang melalui Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran tingkat Wjlayah (UAPPAW) dan kepada KPPN setempat. Daftar penguji lembar ketiga sebagai pertinggai di KPPN.p. 11 . dan catatan atas laporan keuangan. c.. SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. SP2D ditandatangani oleh Seksi Perbendaharaan dan Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum. dilengkapi lembar ke-1 SPM dan bukti-bukti pengeiuaran "asli". Lembar 3: Sebagai pertinggl di KPPN (Seksi Verifikasi dan Akuntansi). b.b. (3) Penerbitan SP2D oleh KPPN dilakukan dengan cara: a. b. d.. arus kas dan neraca kepada Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Lembar 2: Kepada penerbit SPM dengan dilampiri SPM yang telah dibubuhi Cap Teiah diterbitkan SP2D tanggal .. Nomor.p. Lembar kesatu dan lembar kedua dilampiri asli SP2D dikirimkan melalui petugas kurir KPPN ke BI/Bank Operasional I/Sentral Giro. arus kas. 2. BAB VI PELAPORAN REALISASI ANGGARAN Pasal12 Untuk keperluan penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN diperlukan antara lain data/realisasi APBN. Pasal 11 Daftar Penguji (format sebagaimana lampiran 4) dibuat dalam rangkap 3 (tiga) sebagai pengantar SP2D dengan ketentuan: a. SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat tiga hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap.) 3. neraca.. Direktur Pengelolaan Kas Negara dengan tembusan kepada Kepala Kantor Wilayal Direktorat Jenderal Perbendaharaan. b. c. Kepala KPPN seiaku Kuasa Bendahara Umum Negara wajib membuat laporan bulanan realisasi anggaran. Lembar 1: Kepada Bank Operasional.

(3) KPPN wajib membuat Kartu Pengawasan kontrak (format sebagaimana lampiran 6) untuk kontrak yang pembayarannya dilakukan dengan termin atau sertifikat bulanan.. Taspen (Persero) yang membayar pensiun. Kartu pengawasan terdiri dari Kartu Induk. (6) Bendahara Pengeluaran wajib membuat pembukuan seluruh transaksi keuangan yang dilaksanakan pada Satker.. 12 .d. Kartu Pengawasan dibuat per satuan kerja/Kegiatan/Sub Kegiatan/Jenis Belanja. c. d.. b.. lembar keempat untuk arsip KPPN asal. dana UP/TUP yang belum disetor sebesar .. lembar keenam untuk arsip KPPN. lembar kedua dikirimkan oleh KPPN asal kepada KPPN/kantor pembayar berikutnya. Pada setiap akhir tahun anggaran Kartu Pengawasan ditutup dengan diberi catatan: "saldo terakhir sebesar . " serta ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan dan diketahut Kepala KPPN.... c. lembar pertama dan ketiga dikembalikan kepada satker bersangkutan. seianjutnya lembar pertama diteruskan kepada pegawai yang bersangkutan dan lembar ketiga diteruskan kepada satker yang baru. Laporan yan imenyangkut dengan realisasi APBN lainnya sepanjang belum dicabut dan masih diperlukan tetap dilaksanakan BAB VII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 13 (1) Pembayaran Uang Duka Wafat/Tewas (UDW/T) dibebankan pada MAK uang duka wafat/tewas. Kartu Pengawasan per Kelompok Jenis Belanja. KPPN wajib membuat Kartu Pengawasan Kredit (format sebagaimana lampiran 5) dengan ketentuan: a. Taspen (Persero). b. lembar pertama dan lembar kedua dikirim kepada PT. c. lembar ketiga diserahkan kepada pegawai yang bersangkutan.. dan Kartu Gaji Perorangan. (2) Untuk mengawasi kredit pagu DIPA baik belanja pegawai maupun non belanja pegawai. lembar kelima sebagai arsip Bendahara Pengeluaran. b. e. lembar keempat dikirimkan kepada Kanwit Ditjen Perbendaharaan yang mewilayahi PT. (5) SKPP pegawai pensiun diterbitkan oleh kepala satker dalam rangkap 6 (enam) dan disampaikan kepada KPPN untuk disahkan oleh kepala seksi perbendaharaan dan dibuatkan surat pengantar yang ditandatangani oleh Kepala KPPN dengan penjelasan: a. (4) SKPP pegawai pindah diterbitkan oieh kepala satker dalam rangkap 4 (empat) dan disampaikan kepada KPPN untuk disahkan oleh kepala seksi perbendaharaan dan dibuatkan surat pengantar yang ditandatangani oleh Kepala KPPN dengan penjelasan: a.

KPPN belum menerima pertanggungjawaban sisa dana GUP dan TUP tahun anggaran sebelumnya. m aka Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor 050/PB/2004 tanggal 31 Desember 2004 dan semua peraturan yang mengatur mekanisme pembayaran dalam pelaksanaan APBN yang ditetapkan Direktur Jenderal Anggaran dan Direktur Jenderal Perbendaharaan yang tidak sesuai dinyatakan tidak beriaku. KPPN segera melaporkan permasalahan tersebut kepada Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan untuk diteruskan kepada aparat pengawas fungsional untuk memperoleh tindak lanjut.Pasal 14 (1) Pada tutup tahun anggaran tanggal 31 Desember atau hari kerja terakhir apabila tanggal 31 Desember hari libur pada setiap akhir tahun anggaran. Pasal15 (1) Mekanisme pembayaran APBN sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. kepada satker yang bersangkutan tidak dapat diberikan UP/TUP dalam tahun anggaran berikutnya. (7) Jumlah yang belum dipertanggungjawabkan tersebut pada ayat (6) tetap menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Kuasa PA bersangkutan. arus kas dan neraca. (2) SPM-GUP Nihil dan/atau TUP Nihil pada akhir tahun anggaran disampaikan oleh satker pada tanggal 31 Desember atau selambat-lambatnya pada tanggal 8 Januari tahun anggaran berikutnya atau hari kerja terakhir sebelumnya. (3) Dengan berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini. Pasal 16 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini akan diatur tersendiri. (2) Langkah-langkah pelaksanaan pembayaran menghadapi akhir tahun anggaran dan mekanisme pembayaran yang dilaksanakan oleh Direktorat Pengeiolaan Kas Negara akan diatur secara khusus oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan. (5) Pengecualian pada ayat (4) diajukan oleh satker kepada Kepala KPPN setempat untuk memperoleh pertimbangan dan diteruskan kepada Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk memperoleh keputusan. (3) Apabila masih terdapat dana UP/TUP yang belum dipertanggungjawabkan/belum diajukan SPM-GUP/TUP Nihil oleh satker sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 13 . (4) Pengecualian terhadap ayat (3) hanya dapat dilakukan apabila terdapat alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. KPPN melakukan pekerjaan penyelesaian akhir laporan realisasi anggaran. KPPN memperhitungkan jumlah yang belum dipertanggungjawabkan tersebut ke dalam kredit anggaran yang tersedia pada DIPA tahun anggaran berikutnya dari satker bersangkutan. apabila pada tanggal 8 Januari jatuh pada hari libur. (6) Apabila GUP/TUP belum dapat dipertanggungjawabkan oleh satker bersangkutan sampai dengan tanggal 8 Januari tahun anggaran berikutnya. (8) Apabila dalam waktu selambat-lambatnya tanggal 31 Maret tahun anggaran berikutnya.

2005 Dirjen P. memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini dengan penempatannya daiam Berita Negara Republik Indonesia. Nasution 60046519 14 .Pasal 17 Agar setiap orang mengetahuinya. Ditetapkan di Jakarta Mei.

menyataKan bahwasaya bertanggung jawab penuh atas segala pengeluaran yang telah dibayar iunas oleh Bendahara Pengeiuaran kepada yang berhak menerima dengan perincian sebagai berikut : Bukti-bukti belanja toreebut di atas disimpan sesuai ketentuan yang berlaku pada Satuan Kerja... NAMA NIP/NRP ........ Kuasa Pengguna Anggaran/P«mbuat Komltrnen................... Yangbertanda -tangandi bawahini Kuasa Pengguna Anggaran Satuan Kerja. 2... Demikian Surat Prnyataan ini dibuat dengan sebenamya.......f •■■ Lamplran 1 Perdirjen Perbendaharaan Nomor 02/PB/2005 Tanggal 09 Mai 2005 SURAT PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB BELANJA Nomor: 1. 4............... 5...... 3. •I Nama Satuan Kerja Kode Satuan Kerja Tanggai/No.... untuk kelengkapan administrasi dan keperluan pameriksaan aparat pengawasan fungsional..... DIPA Sub Kegiatan Jenis Beianja ____ ...

) Daftar perhitungan permintaan UDW / Tewas * Surat keterangan meningga! dunia Surat keterangan ahli waris Blanko Visum (Blanko K. khusus PNBP Bukti Setoran Pajak (SSP) yang telah dilegalisir oleh pejabat yang berwenang 4.P. Rek. Berkas SPM.CHECK LIST PENERIMAAN BERKAS (BPRI)TANDA" V "PADAKOTAKBERKENAAN Lamplran 2 Perdirjen Perbendaharaan Nomor 02/PB/2005 Tsnggal 09 Mei 2005 1.6) SSP yang telah diisi & ditandatangani pejabat yang berwenang 5. Daftar Honor / vakasi * yang telah ditandatangani pegawai ybs. Berkas SPM-UP/TUP* (* coret yang tidak perlu) SPM : Arsip data komputer (ADK) disket (kecuali kantor/satker yang masih menggunakan SPM manual) Surat Dispensasi UP / TUP * Surat Pernyataan UP / TUP * Rincian penggunaan TUP Rekening koran terakhir (khusus TUP) 2. ybs. Berkas SPM Lembur / Honor / Vakasi * (*coret yang tidak perlu) SPM Arsip Data Komputer (ADK) / disket (kecuali kantor/satker yang masih menggunakan SPM manual)) SPK Lembur Daf. Tembusan SPPD Surat Tugas Daftar Rincian Perhitungan Perjalanan Dinas Rincian Maksimal Pencairan (MP). khusus PNBP SSBP. hadir lembur & nadir kerja (untuk lembur setelah jam kerja) Daftar Perhitungan Lembur yang telah ditandatangani pegawai ybs.GU Nihil / SPM-GU isi * {* coret yang tidak perlu) Arsip data komputer (ADK) / disket (kecuali kantor/satker yang masih menggunakan SPM manual) Kuitansi yang telah disetujui Kuasa PA Berita Acara Serah terima barang dan penyelesaian pekerjaan SPTB Tembusan SPPD. Berkas SPM-LS (* coret yang tldak perlu) SPM Arsip data komputer (ADK) disket (kecuali kantor/satker yang masih menggunakan SPM manual) Kontrak / SPK Surat Pernyataan SPM . Daftar Pemberian Honor / Vakasi SSP yang telah diisi & ditandatangani pejabat yang berwenang . khusus PNBP SSBP. (penyeiesian pekerjaan dan serah terima barang / jasa Berita Acara Pembayaran (khusus untuk PHLN dengan blanko tersendiri) Bukti tagihan daya & jasa dan No.LS mengenai penetapan rekanan Kuitansi yang ielah disetujui Kuasa PA B A. khusus PNBP Jaminan bank (jika dipersyaratkan) Faktur Pajak beserta SSP yang telah diisi dan ditandantangani oleh pejabat yang berwenang 3. surat tugas dan daftar rincian perjalanan dinas (untuk MAK yang dapat menggunakan UP / MAK perjalanan dengan dispensasi TUP) Rincian Maksimai Pencairan (MP). Berkas SPM Gaji tnduk / Susulan / Terusan / Kekurangan / UDW/Tewas* (* coret yang tldak perlu) SPM Arsip Data Komputer (ADK) / Disket (kecuali kantor/satker yang masih menggunakan SPM manual) Daftar perhitungan gaji induk Lampiran-lampiran perubahan gaji induk Daftar potongan sewa rumah dinas atau hutang lainnya (jika ada) Daftar perhitungan kekurangan gaji Lampiran-lampiran kekurangan gaji Daftar perhitungan susulan gaji SKPP asli / tembusan / foto copy * SK Pindah Lampiran-lampiran susulan gaji lainnya (SK CPNS dsb.

Nama b. Jumlah Uang Penyelesafan pada Bendum SP2D Diterima a. Tanggal b.Agenda b.SPM c. Tangga! b. Jam SP2D Dikirim ke Bank/Pos a. Tanggal b.Lampiran 3 Pendirjen Perbendaharaan Nomor 02/PB/2005 Tanggal 09 Mei 2005 Kanwil Ditjen Perbendaharaan : KPPN : No. Nomor SP2D c. Jam Keterangan DAFTAR PENGAWASAN PENYELESAIAN SPM BULAN : SEKSI : . Jumlah Uang a. Jam a. Tgl Agenda c. SPM diterima Satker SPM Harus Selesai Penyelesalan pada Seksi Pertwndaharaan SPM Dikembalikan a. No. Jam a. Tanggal b. TgtdanNo. Tanggal Penerbftan SP2D a.

............. NIP............................................................................. ) NO... MENTERI KEUANGAN RX KEPALA KPPN....... 1 i MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DAFTAR PENGUJI/PENGANTAR SURAT PERINTAH PENCAIRAN DANA LEMBARAN KE .... TERDIR1 ATAS ..... Nomor KPPN DAN NOMOR : .............................. . Pimpinan Hank / I'O...... Tanggal dan Nomor SP2D Cara bayar ATAS NAM A (yang berhak) Kodc S a t u a n Kerja Jumlah Knior Rp Jumlah Potongan Rp Jumlah Bcrsih Rp Klasifikasi Belanja l ■- 4 6 7 ml < SP2D Jumlah : Kasi Bnnk/Giro Pos/Bcndmn AN................. (Kodc ..............S NIP............... ......Lampiran 4 Perdirjen Perbendaharaan Nomor : 02/PB/2005 Tanggal : 09 MEI2005 TANGGAI...... : .......... LEMBARAN ..................

.. Rp... Kostatan Revisi II Tanggal .......... dan Tgl...................... No............ No..R EV ISI I Tanggal ................ Nama/NIP b..... Nomor. SPM/ Tanggal dan No..... Rekening d NPW P ........ dan Tgl.. Nomor... No. SK Pengangkatan c.... .... Rp ........... dan Tgl... Realisasil Belanja Berdasarkan SPM JENIS BELANJA Subsidi Hibah Bantuan Sosial Pembayaran Bunga Utang 1 0 9 10 Nomor Urut 1 Tanggal dan No.. SK Pengangkatan Pejabat Penan da tangan SPM a... Nama/NIP b... Penanggung Jawab Kegiatan : 1 Kuasa Pengguna Anggaran a......... IV.. 1................ No..... : Direktorat Jendaral DIPA Tanggal.... Nama/NIP b................................. Rp.......... SP2D 2 UG L Belanja Pegawai Belanja Barang 3 4 5 BelanjaModal 6 Belanja Lainlain 11 Jumlah 12 Persediaan/ Tambahan 13 Potongan Setoran 14 Sisa Paraf 15 16 ..... SK Pengangkatan Spetlcrwn tanda tangan Tanda tangan Paraf CapKantor Nomor Lokasi Fungsi Sub Fungs' Program Tanda tangan Paraf 1 Bendahara Pengeluaran a.........Lampiran 5 -1 Perdirjen Perbendaharaan Nomor 02/PB/2005 Tanggal 09 Mel 2005 KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA KARTU INDUK PENGAWASAN KREDIT L Nama Satuan Kerja Alamat Kantor ...

Perbendaharan Lampiran 5-2 Nomor 02/PB//2005 Tanggal 09 Mei 2005 Fungasi KARTU PENGAWASAN PER KELOMPOK JENIS BELANJA : Sub fungsil : Program : Kegiatan SubKeglatan MAK Jumlah Paraf Korpel KS Dana dalam DIPA Dana Setelah Revisil I Dana Setelah Revisil II Nomor Unit Tanggal & NomorSP2D Tanggal & Nomor SPM Rekanan Bendaharawan _G_ 'L 1 REALISASI PEMBAYARAN 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 .

MUTASI KEPEGAWAIAN . RUANG : JABATAN : AGAMA : PENDIDIKAN : B.3 Perdirjen Perbendahar Nomor 02/PB/2005 Tanggal 09 Mel 2005 TDK KAWIN/KAWIN/DU DA/JAN DA : TEMPAT/TANGGAL LAHIR : PANGKAT/GOL.KARTU PENGAWASAN BELANJA PEGAWAI PERORANGAN A. DATA PEGAWAI NAMA LENGKAP SESUAI SK : NIP SATUAN KERJA ALAMAT STATUS KEPEGAWAIAN STATUS PERKAWINAN TANGGAL PERKAWINAN KE ANAK YANG DIBAYAR ALAMAT RUMAH Lampiran 5 .

DATAKELUARGA No. NAMA TANGGAL LAHIR HUBUNGAN KEIUARGA AYAH NAMA NAMA KETERANGAN IBU PEKERJAAN SEKOLAH .C.

PENGHASHAN/POTONGAN Bula n Gaji Pokok Istri/Suami Tunjangan a. Fungsional 1 2 3 4 5 Golongan Tgl Nomor 02/PB/200S Tanggal09Mei2005 Lauk pauk Pajak penghaslian 6 Beras Tunjangan Khusu Pembulatan Jumlah Penerimaan Kotor 12 Potongan IWP PPL Sewa Rumah Dinas 15 Taperum Lainya Jumlah potongan 16 17 18 Penghasilan Bersih (12-18) 19 Paraf Pemeriksa 7 8 9 10 11 13 14 20 E.Lampiran 5-3 Perdirjen Perbendaharaiui Nama NIP/NRP D. Struktural b. PERHITUNGAN HUTANG Agenda KPPN Uraian Debet Kredit Saldo Agenda KPPN Uraian Debet Kredit Saldo .

.

d 12) 14 (3-13) 15 .[V. CATATAN LAIN-LAIN Nomor Unit Tanggal dan Nomor SPM Tanggal dan Nomor SP2D UraIan Pembayaran Jumlah Kotor Jumlah Potongan Beban DIPA (Rp. Murni 1 2 BebanB LN/ Lokal 5 6 PPN 7 PPn. Mumi) Potongan BebanBLN Angsuran Uang Muka 11 Jumlah Potongan Seluruhnya Jumlah Bersih(Rp.BM PPti 9 Denda 10 Angsuran Uang Muka 12 3 4 8 13 (7 s.) Sisa Kontrak BebanRp.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->