P. 1
SEJARAH LSM

SEJARAH LSM

4.0

|Views: 3,166|Likes:
Published by johnyess

More info:

Published by: johnyess on Dec 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2014

pdf

text

original

Sections

Disampaikan pada Workshop Program Pendidikan Spesialis-1 Pekerjaan Sosial, Sekolah

Tinggi Kesejahteraan Sosial, Bandung 19 Januari 2006

Edi Suharto, PhD

Ketua Program Pascasarjana Spesialis Pekerjaan Sosial, Sekolah Tinggi Kesejahteraan

Sosial (STKS) Bandung; Dosen STKS dan Unpas Bandung; Dosen Pascasarjana Magister

Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (IPB)-STKS Bandung dan

Interdisciplinary Islamic Studies-Social Work, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga

Yogyakarta; International Policy Fellow, Centre for Policy Studies (CPS), Hongaria; Social

Policy Expert, Galway Development Services International (GDSI), Irlandia

PEMBUKA

Selandia Baru atau New Zealand dalam Bahasa penduduk asli Maori disebut

Aotearoa yang berarti ¶tanah berawan putih yang berarak panjang· (land of the long

white cloud). Bila dipetakan secara sederhana, Selandia Baru memiliki dua pulau

yang mirip Pulau Jawa dan Sumatera. Namun, jumlah penduduk total di kedua pulau

tersebut sangat lebih sedikit dibandingkan Jawa maupun Sumatera. Saat ini,

penduduk Selandia Baru diperkirakan belum mencapai lima juta orang. Industri

utama negeri ini bertumpu pada pertanian modern dan dairy product seperti daging,

susu, dan keju. Karenanya, jangan heran jika jumlah sapi dan kambingnya jauh

melampaui jumlah penduduknya, sekitar 50 juta dan 80 juta secara berturutan.

Meskipun jumlah universitas di Selandia Baru masih kurang dari 10 jari tangan,

semua universitasnya telah go-international. Bukan saja karena banyak dari dosen

dan mahasiswanya datang dari seantero penjuru dunia, melainkan pula sistem

pendidikan, riset dan ¶pengabdian masyarakatnya· telah berorientasi untuk memenuhi

kebutuhan, meminjam istilah MacLuhan, ¶kampung global· (global village). Selandia

Baru memiliki tujuh universitas: Auckland University yang berada di kota terbesar

Auckland, Massey University di kota kecil Palmerston North, Victoria University

terletak di jantung Ibu Kota Wellington, Waikato University di Hamilton, Otago

University di Dunedin, Canterbury University di Chirschurch dan Lincoln University di

kota kecil Lincoln dekat Chirschurch. Empat universitas yang disebut pertama berada

di pulau utara dan tiga yang terakhir di pulau selatan. Auckland University, Massey
Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 2

University dan Victoria University merupakan universitas terbesar. Ketiganya

menyelenggarakan pendidikan pekerjaan sosial.

Tulisan ini membahas sistem pendidikan pekerjaan sosial di Selandia Baru yang

mencakup sejarah singkat, isu-isu kontemporer, model pendidikan dan kurikulum.

Lensa teropong akan difokuskan ke Massey University, tempat penulis pernah

belajar, meskipun sejarah dan kejadian-kejadian penting didasari perkembangan

pendidikan di seluruh negeri ini.

SEJARAH SINGKAT

While social work may be heir to its own history, it is the child of contemporary politics

(Harris, 1997: 28). Di Selandia Baru, sejarah pendidikan pekerjaan sosial berjalan

seiring dengan perkembangan pekerjaan sosial sebagai sebuah profesi yang tengah

mendifinisikan dirinya sendiri. Situasi politik, ekonomi dan sosial sangat menentukan

wajah pekerjaan sosial di Selandia Baru. Sebagaimana dinyatakan Harris, pekerjaan

sosial memiliki sejarahnya sendiri. Tetapi, pekerjaan sosial di Selandia Baru, seperti

juga di negara-negara lain, merupakan ¶anak· dari politik kontemporer (modern).

Pendidikan pekerjaan sosial di Selandia Baru dimulai sejak tahun 1949. Ini tidak

berarti bahwa tidak ada pekerjaan sosial sebelum itu, melainkan karena belum ada

pendidikan pekerjaan sosial profesional di negeri ini sebelum tahun 1949. Secara

ringkas, perjalanan pendidikan pekerjaan sosial di Selandia Baru dapat di bagi

menjadi tiga babak: antara tahun 1949-1972; antara tahun 1973 ² 1986 dan antara

tahun 1987 ² 2006 (lihat Nash dan Munford, 2004).

Periode 1949 - 1972

Program dan kurikulum: sejak tahun 1947, terdapat satu program pascasarjana

dengan kurikulum berdasarkan model Inggris yang memfokuskan pada

casework/administrasi sosial. Pekerjaan sosial menjadi sebuah disiplin akademis dan

terapan di Victoria University.

Standar kompetensi: etika pelayanan publik mengakui otonomi profesional dan

diasumsikan bahwa pekerja sosial yang menjadi pegawai negeri dianggap kompeten.

Pengaruh Maori, pengembangan masyarakat, dan isu jender: pengakuan formal

terhadap isu Maori dan kelompok kurang beruntung (termasuk wanita) masih jarang

ditemukan pada kurikulum.
Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 3

Arah perkembangan pendidikan pekerjaan sosial: periode tradisional dan statis.

Hanya sedikit mahasiswa, sedikit permintaan dari perusahaan, dan para lulusan

cenderung menduduki posisi manajerial. Para pekerja sosial memiliki kesamaan

kepentingan mengenai profesionalisme, Asosiasi Pekerja Sosial Selandia Baru

(NZASW ² The New Zealand Association of Social Workers) dibentuk.

Periode 1973 ± 1986

Program dan kurikulum: pendidikan setingkat universitas terus bermunculan di awal

periode ini, antara lain program Bachelor of Social Work di Massey University. Pada

akhir periode ini, satu program pekerjaan sosial profesional kemudian berdiri di

Auckland Teacher College (sebelum jadi universitas, metamorfosa Auckland

University mirip IKIP Bandung yang kemudian menjadi UPI).

Standar kompetensi: standar kompetensi bagi pekerja sosial mulai diperkenalkan

oleh sektor kesehatan dan kemudian oleh Dewan Pelatihan Pekerjaan Sosial

Selandia Baru (The New Zealand Social Work Training Council ² NZSWTC).

Manajemen pelayanan sosial umumnya dipegang oleh pekerja sosial.

Pengaruh Maori, pengembangan masyarakat, dan isu jender: laporan Departmen

Kesejahteraan Sosial mengenai perspektif Maori dipublikasikan. Wanita dan

kelompok-kelompok kemasyarakatan berjuang untuk memperoleh pengakuan dan

sumber-sumber dalam pendidikan pekerjaan sosial.

Arah perkembangan pendidikan pekerjaan sosial: NZSWTC menetapkan standar

minimum untuk akreditasi. Sektor kesehatan mulai tertarik mempekerjakan pekerja

sosial qualified. Pekerjaan sosial profesional semakin terkonsolidasi, tetapi

kecenderungan ini ditentang oleh kelompok-kelompok radikal yang memandang

bahwa pekerjaan sosial semakin elitis dan otoriter.

Periode 1987 - 2006

Program dan kurikulum: program pendidikan multi-level dan part-time dalam bidang

pekerjaan sosial komunitas bermunculan di beberapa politeknik dan universitas.

Standar kompetensi: New Zealand Qualification Authority (NZQA) dan kurikulum

berbasis kompetensi semakin kuat. Pendekatan manajemen (seperti efisiensi, Total

Quality Management, consumer satisfaction) mulai diperkenalkan sebagai basis

kompetensi.
Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 4

Pengaruh Maori, pengembangan masyarakat, dan isu jender: Maori dan

kelompokkelompok

kemasyarakatan memperoleh pengakuan dalam sistem pendidikan

pekerjaan sosial.

Arah perkembangan pendidikan pekerjaan sosial: New Zealand Council for Education

and Training in the Social Services ² NZCETSS) mempublikasikan standar dan

pedoman baru untuk akreditasi yang secara universal diterima. Pendidikan pekerjaan

sosial dalam berbagai tingkatan memperoleh pengakuan.

ISU-ISU KONTEMPORER

Seperti di tempat kelahirannya, Inggris, pekerjaan sosial di Selandia Baru sangat

dekat dengan negara. Ini terutama dikarenakan ¶government departments such as

education, health and social welfare are part of the state sector.· (Nash dan Munford,

2004: 28). Pendidikan pekerjaan sosial juga tumbuh sejalan dengan meningkatnya

kebutuhan akan pegawai negeri yang memiliki keahlian profesional pekerjaan sosial.

Sebagai contoh, tahun 1972 Departemen Kesejahteraan Sosial dibentuk untuk

menjalankan administrasi, koordinasi dan mengembangkan kebijakan dan pelayanan

kesejahteraan sosial yang lebih efektif. Satu tahun kemudian, NZSWTC didirikan

untuk memberi masukan kepada Menteri Kesejahteraan Sosial mengenai pelatihanpelatihan

pekerjaan sosial.

Sebuah inisiatif penting terjadi tahun 1975 ketika sebuah pendidikan pekerjaan sosial

dibuka di Department of Sociology, Massey University, Palmerston North. Presiden

pertama Asosiasi Pekerja Sosial Selandia Baru (The New Zealand Association of

Social Workers) yang dibentuk tahun 1964, Merv Hancock, menjabat sebagai ketua

jurusan pekerjaan sosial di universitas ini. Sebagaimana dicatat Nash dan Munford

(2004: 25):

It introduced an innovative undergraduate Bachelor of Social Work

degree course for school leavers and provided an opportunity for the

department of a diverse range of programmes, including part-time and

distance education, to accommodate all kinds of students. It challenged

much of the taken for granted ¶wisdom· around social work education in

Aotearoa New Zealand.

Kurikulumnya dikembangkan secara cermat melalui konsultasi dengan para

pemimpin Maori dan NZSWTC. Adalah Hancock yang kemudian mendesak untuk

melakukan reviu terhadap NZSWTC yang dianggapnya mulai kehilangan arah dan

dukungan. Hancock mengajukan sebuah dewan baru dengan kriteria keanggotaan

baru. Ia mengusulkan bahwa agar dewan pendidikan dan pelatihan pekerjaan sosial
Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 5

mendapat dukungan yang lebih luas, dewan tersebut harus inklusif dan melibatkan

semua yang bekerja dalam pelayanan sosial (Nash dan Munford, 2004:25).

Pada akhir tahun 1980an, sektor pemerintahan di Selandia Baru mengalami

perubahan. Peranan negara dalam memberikan pelayanan langsung semakin

dikurangi. Motivasi ekonomi menjadi pendorong utama reformasi ini. Sejalan dengan

minimalisasi peran pelayanan sosial negara terjadi residualisasi dalam sistem

pemberian pelayanan sosial di Selandia Baru. Semakin banyaknya pekerja sosial

yang bekerja di sektor swasta juga semakin memperkuat pengaruh manajemen

terhadap pendidikan pekerjaan sosial yang menekankan pentingnya kompetensi,

akuntabilitas dan kepuasan konsumen. Selain itu, kuatnya desakan untuk

menghormati Treaty of Waitangi membuat pendidikan pekerjaan sosial di Selandia

Baru harus menghargai budaya Maori dan model-model praktek yang berbasis

kearifan lokal. Treaty of Waitangi adalah naskah perjanjian damai dan pembagian

kekuasaan yang ditandatangani petinggi Inggris dan kepala suku Maori pada tahun

1840. Naskah ini merupakan dokumen yang menjamin hak-hak Maori dan memiliki

pengaruh penting terhadap pekerjaan sosial di Selandia Baru.

Asosiasi profesi dan pendidikan pekerjaan sosial memiliki kaitan erat. Motif pribadi

untuk memperoleh pengakuan atas keahliannya, di satu pihak, dan tuntutan

masyarakat guna meningkatkan kualitas pelayanan terhadap konsumennya, di pihak

lain, mendorong para pekerja sosial untuk berjuang mencapai status profesionalnya.

Selain memiliki NZASW sejak tahun 1964 dan NZSWTC yang didirikan tahun 1973,

Selandia Baru juga memiliki Te Kaiawhina Ahumahi (the social work Industry Training

Organisation - ITO), dibentuk tahun 1995, sebuah lembaga yang bertanggungjawab

mengembangkan kualifikasi pekerjaan sosial dalam beberapa tingkatan profesional.

Lembaga ini memberi akreditasi terhadap pendidikan pekerjaan sosial di lembaga

pelatihan swasta dan politeknik, tetapi tidak untuk tingkat universitas. NZASW,

NZSWTC dan ITO sangat mempengaruhi kurikulum pendidikan pekerjaan sosial di

Selandia Baru sehingga memiliki standar kualifikasi, meskipun tidak menuntut

keseragaman (Nash dan Munford, 2004: 27).

Sebagaimana dicatat Lawrence (1976), pendidikan pekerjaan sosial di Selandia Baru

relatif sama dengan di Australia. Namun demikian, para pekerja sosial Australia

menetapkan kontrol yang lebih ketat terhadap kriteria dengan mana seseorang

menyebut dirinya sebagai pekerja sosial dengan kualifikasi profesional. Sementara

itu, Selandia Baru menerapkan pendekatan egalitarian dan inklusif (Nash dan

Munford, 2004). Sebagai ilustrasi, Professor McCreary, salah seorang anggota

NZASW menentang kebijakan yang menolak para praktisi di bidang kesejahteraan

sosial sebagai anggota NZASW. Alasannya, mereka mempraktekkan pekerjaan

sosial, meskipun tidak berlatarbelakang pendidikan pekerjaan sosial (Nash dan
Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 6

Hancock, 2004: 27). Debat mengenai standar kompetensi dan profesionalisme

pekerjaan sosial dengan baik diberikan secara ringkas oleh Ehrenreich, 1985: 230):

To the extent that profesionalism represents a real effort to maintain

competence and high ethical standards ² a commitment to client needs even

when they conflict with agency rules, a commitment to opennes and collegiality,

a commitment to the goal of social justice, which is at the core of social work·s

reason for its existence ² it needs no defence. But if professionalism does not

measure up to, or conflicts with, these standards, it should be discarded without

regret.

Seperti akan didiskusikan di bawah ini, model pendidikan pekerjaan sosial tingkat

pascasarjana di Massey University, menganut pendekatan inklusif, artinya ia

menerima sarjana lulusan pendidikan pekerjaan sosial, maupun lulusan ilmu sosial

yang serumpun. Ini terlihat jelas pada prasyarat mahasiswa (entry requirements)

yang akan mendaftar di program ini.

MODEL PENDIDIKAN PASCASARJANA PEKERJAAN SOSIAL

DI MASSEY UNIVERSITY

Pendidikan pekerjaan sosial tingkat pascasarjana di Massey University

diselenggarakan hingga program doktoral. Sesuai dengan tujuan workshop ini, yakni

menemukenali model pendidikan spesialis-1 pekerjaan sosial, pembahasan akan

difokuskan pada tingkat magister saja. Ada dua program magister pekerjaan sosial

yang diselenggarakan di Massey University, yaitu Program Master of Social Work

(MSW) dan Master of Social Work Applied (MSW Applied).

Master of Social Work

Program MSW diperuntukkan bagi mahasiswa yang ingin memiliki gelar pascasarjana

yang mengkhususkan pada teori dan praktek pekerjaan sosial. Kurikulum MSW terdiri

dari 200 poin (semacam SKS) mata kuliah berbasis penelitian lanjutan (advanced

research) bagi mahasiswa yang memiliki latar belakang atau bekerja dalam bidang

pelayanan sosial dan ingin mengembangkan ¶an area of specialism·. Seperti

dinyatakan dalam Buku Panduan Massey University, Master of Social Work (2006:1),

entry requirements (persyaratan masuk) bagi program ini adalah:

A Bachelor of Social Work, or a Bachelor degree in a relevant area, and

have professional experience in the social services.

Mata kuliah yang ditawarkan bisa dilihat di lampiran.
Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 7

Master of Social Work (applied)

Program yang relatif baru ini diselenggarakan untuk memungkinkan mahasiswa

memperoleh kualifikasi profesional dalam bidang pekerjaan sosial setingkat master.

Semakin banyaknya lulusan ilmu sosial yang ingin memperoleh kualifikasi

profesional di bidang pekerjaan sosial merupakan pendorong utama

diselenggarakannya program ini. Persyaratan masuknya adalah (Massey University,

2006:2):

An appropriate Bachelor·s degree which should include relevant papers

in the fields of human development, social research and New Zealand

Society.

Sejak awal berdirinya tahun 1995, perbedaan antara program MSW dan MSW

Applied telah cukup jelas (Massey University-Socieal Science, Postgraduate Courses

and Research terbitan tahun 1996, halaman 5):

The MSW (Applied) option is appropriate for those who wish to study for

a professional qualification in social work while the MSW is appropriate

for candidates who have completed a professional undergraduate

qualification in social work. Students follow a prescribed course of study

and undertake a research project.

Pada tahun 1995, program MSW applied diberikan hanya di Kampus Albany (dekat

Auckland). Pada tahun 1996, diselenggarakan baik di kampus Albany maupun

Palmerston North. Di Albany, program ini diselenggarakan secara full-time selama 2

tahun atau maksimum 4 tahun secara part-time. Di Palmerston North, program ini

hanya diselenggarakan secara part-time. Seperti pada program MSW, jumlah poin

(SKS) MSW applied juga sebesar 200 poin. Namun, jumlah mata kuliahnya lebih

sedikit, karena bobot ¶kredit·nya lebih besar dan menekankan pentingnya praktikum.

Ada 7 mata kuliah wajib dengan bobot 25 poin dan 2 kali praktikum dengan bobot

masing-masing 12,5 poin. Struktur program di bawah ini memperjelas perbedaan

keduanya (lihat lampiran):

Programme Structure, MSW: 200 points normally consisting of 100 points of papers

and a thesis to the value of 100 points or papers to a value of 125 points plus a thesis

to a value of 75 points.

Programme Structure, MSW (Applied): 200 points consisting of seven 25-point

compulsory papers and two 12.5-point fieldwork placement.

Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 8

PENUTUP

Sistem pendidikan spesialis pekerjaan sosial patut menengok model yang diterapkan

di Selandia Baru. Di Massey University, baik program MSW maupun MSW applied,

keduanya dinyatakan sebagai program pendidikan spesialisasi pekerjaan sosial.

Namun demikian, melihat isi kurikulum dan bobot poin (SKS), pendidikan spesialis-1

pekerjaan sosial di STKS Bandung bisa lebih merapat pada program MSW applied.

Berkaca pada Massey University, pendidikan pascasarjana pekerjaan sosial yang

bersifat inklusif ternyata bukan hal absurd. Tentu saja, dalam menentukan

pendekatan inklusif atau ekslusif ini, kita bisa memilih jalan mana yang cocok dengan

kondisi Indonesia. Yang jelas, jalan yang kita pilih harus memperhatikan secara

cermat bukan saja harapan ideal, melainkan pula kenyataan real. Pertanyaannya

bukan saja terfokus pada ¶apakah kita akan memasarkan apa yang bisa kita

produksi·, melainkan pula, dan ini yang lebih penting, ¶apakah kita akan memproduksi

apa yang bisa kita pasarkan·. Harap dicatat, makna ¶pasar· di sini tidak perlu

didefinisikan secara sempit sebagai hal yang berbau komersial saja. Dalam konteks

perkembangan dan kontribusi praktek pekerjaan sosial, sukma ¶pasar· menunjuk

pada kebutuhan dan kepuasan masyarakat ² penentu utama eksistensi pekerjaan

sosial.

BAHAN BACAAN

Ehrenreiceh, J. H. (1985), The Altruistic Imaginatio: A History of Social Work and

Social Policy in the United States, Itahaca and London: Cornell University

Press

Lawrence, R. J. (1976), ´Australian Social Work in Historical, International dan Social

Welfare Contextµ dalam P. Boas dan J. Crawley (eds), Social Work in Australia,

Melbourne: Australia International Press dan Pty Ltd

Massey University (2006), Massey University, Master of Social Work,

www.http://study.massey.ac.nz (diakses 18 Januari 2006)
Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 9

Massey University-Social Sciences (1996) Postgraduate Courses and Research,

Palmerston North: Massey University Press

Nash, Mary dan Robyn Munford (2004), ´Unresolved Struggles: Educating Social

Workers in Aotearoa New Zealand, Social Work Education, Vol. 20, No. 4,

halaman 21-34
Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 10

MASSEY UNIVERSITY, NEW ZEALAND

Master of Social Work (MSW) (2006)

The MSW is a 200-point advanced research qualification for

students who have a background in the social services and

wish to develop an area of specialism.

Entry requirements

A Bachelor of Social Work, or a Bachelors degree in a

relevant area, and have professional experience in the

social services.

Programme structure

200 points normally consisting of 100 points of papers and a

thesis to the value of 100 points or papers to a value of 125

points, plus a thesis to a value of 75 points.

Honours

Students who complete within two years of first enrolling for

full-time study or within five years of first enrolling for parttime

study may be eligible for Honours.

Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 11

ogy, Social Policy and Social Work

Welcome!

The School of Sociology, Social Policy and Social Work offers programmes in:

Social Policy

Social Work

Sociology

Women's Studies

Disability Studies

Police Studies

at its Palmerston North and Wellington campuses and extramurally.

The School also offers the largest range of University-based courses in social policy and social work in

New Zealand.

Social and community workers help to bring

about solutions to individual and social

difficulties and encourage policy options which

provide a more favourable environment in

which to live. These activities call for skills

based on a thorough knowledge of human

development, detailed study of social

institutions and policies and a personal

capacity to effectively assist others.

Many people take society for granted; Sociologists don't.

Sociologists are interested in how our lives are situated

both historically and socially. Sociologists see society as

made up of complex relationships between groups that can

be examined, questioned and explained. Sociology is a

discipline that can be applied to all aspects of everyday

lives, including for example, work, nationalism, gender,

popular culture, the environment and even death?

Women's Studies at Massey University offers a

core of interdisciplinary papers that explore a

variety of explanations about social and

cultural issues affecting women and men. The

programme incorporates fourteen disciplinary

Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 15

areas in the Colleges of Education, Business

Studies and Humanities and Social Sciences.

Women's Studies is also engaged in the

analysis of women's symbolic and cultural

construction through cultural media produced

by or depicting women.

Police Studies offers a theoretical and practical background to modern policing and its social context

and to police administration. It would be especially useful to those working in organisations responsible

for the enforcement of criminal justice, whether governmental, non-governmental or private.

The School of Sociology, Social Policy & Social Work operates from two campus sites:

Palmerston North and Wellington and offers courses nationwide through extramural (distance) studies.

There are currently over 35 academic and research staff spread across the campus sites.

ANZASW was formed in 1964. As an incorporated society, ANZASW is recognised as the primary body

that represents the interests of social workers in Aotearoa New Zealand. It provides a structure for the

accountability of social workers to their profession, consumers and the public.

ANZASW is affiliated to the International Federation of Social Workers (IFSW) an international body that

draws its membership from over 70 member countries. ANZASW is also a foundation member of the

Commonwealth Organisation for Social Workers (COSW). Through these organisations ANZASW has access

to a substantial body of international knowledge and experience in the field of social work. ANZASW

actively participates in the affairs of the International Federation with one member currently elected to

the IFSW executive committee.

In 1990, ANZASW established a set of practice standards for the profession and in 1993, revised its

Code of Ethics to take into account the International Code of Ethical Principles adopted by IFSW. These

practice standards have formed the basis of the current process by which professional membership of

the Association is gained by practitioners through competency assessment, which is renewed every five

years. The standards reflect the Association·s commitment to high quality professional practice, Te Tiriti

O Waitangi and the promotion of bicultural social work practice. ANZASW·s work in this area has been

internationally recognised and is regarded as a leading national Association in the development of

indigenous models of social work practice.

The Association presently consists of 13 Branches and 7 Roopu Maori and is managed by an elected

National Executive Committee, National Council and several Standing Committees including: Tangata

Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 16

Whenua Takawaenga O Aotearoa (the national Maori caucus); the Board of Competency; Course

Approvals Board; Ethics and Judicial Committees; Education and Training Committee, Professional

Standards Committee and Publications Committee. ANZASW has its National Office in Dunedin and

employs a full-time Executive Officer and three part-time administration staff. The National Council is

accountable to the membership of the Association through an Annual General Meeting.

ANZASW has a busy schedule of work-in-progress.

AIM

(a) To promote an indigenous identity for social work in Aotearoa New Zealand and to assist people to

obtain services adequate to their needs.

(b) To ensure that social work in Aotearoa New Zealand is conducted in accordance with the articles

contained in Te Tiriti O Waitangi.

(c) To advocate for full social justice in Aotearoa New Zealand and address oppression on the grounds

of race, gender, disability, sexual orientation, economic status and age.

(d) To promote and maintain, for its members, formal qualifications in social work, and such other

professional or educational awards deemed appropriate.

(e) To provide and promote a system of competency assessment in social work for all members of the

Association.

(f) To ensure the continuing development of professional standards, satisfactory conditions of

employment, and to protect the interests and public standing of its members.

(g) To promote a forum for social workers to discuss matters of common concern.

(h) To encourage and promote research on all matters relating to social work.

(i) To publish such journals, monographs, directories, or other publications as the National Council shall,

from time to time, decide.

(j) To co-operate wherever possible with kindred organisations.

(k) To form affiliations with such other National and International social work organisations as may be

determined by the membership of the Association.

Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 17

(l) To ensure the maintenance of appropriate professional and ethical standards and conduct of

members by the formation of an Ethics Committee and a Judicial Committee.

(m) To mediate, and/or adjudicate in disputes and/or complaints between members, and between

members and the public.

(n) To discipline members in appropriate circumstances, following due inquiry by its Judicial Committee.

The TEN PRACTICE STANDARDS

Competence is about standards or levels of performance. The standards that follow have been drawn

from the objects of ANZASW and include value statements, specific skills and knowledge that can be

observed and demonstrated. The standards form the basis of the competency assessment undertaken by

Provisional members to achieve Full membership status within ANZASW and the five-yearly recertification

of Full members.

1. The social worker adheres to the Code of Ethics and the Objects of the Aotearoa New

Zealand Association of Social Workers.

2. The social worker demonstrates a commitment to practicing social work in accordance with

the Bi-cultural Code of Practice and an understanding of Te Tiriti O Waitangi.

3. The social worker establishes an appropriate and purposeful working relationship with clients,

taking into account individual differences and the cultural and social context.

4. The social worker acts to secure the client's participation in the working relationship.

5. The social worker's practice assists clients to gain control over her/his own circumstances.

6. In working with clients the social worker is aware of and uses her/his personal attributes

appropriately.

7. The social worker has knowledge about social work methods and social policy, social services,

resources and opportunities and acts to ensure access for clients.

8. The social worker only works where systems of accountability are in place in respect of

her/his agency, clients and the social work profession.

9. The social worker constantly works to make the organisation and systems, which are part of

the social work effort, responsive to the needs of those who use them.

10. The social worker uses membership of the Aotearoa New Zealand Association of Social

Workers to influence and reinforce competent practice.

COMPLAINTS

Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 18

Complaints regarding the social work practice of individual members may be made to the Ethics

Committee of ANZASW. Complaints about non-members of the Association cannot be investigated.

However, suggestions will be given to the complainant regarding where any concerns may be directed.

Complaints need to be made in writing stating times, dates and issues. All relevant correspondence will

be shared between the person making the complaint and the person who is the subject of the

complaint. A Judicial committee has the right to apply sanctions where complaints against members are

upheld. Under ANZASW rules serious breaches of the Code of Ethics or practice standards can lead to

penalties or the termination of membership.

Processes used to address complaints include making written responses back to complainants, and

mediation between parties if appropriate. Formal judicial procedures may eventuate if the substance of

the complaint cannot be addressed satisfactorily by using less intrusive means. The process is guided by

the Convenor of the Ethics committee, and decisions regarding appropriate sanctions and courses of

action relating to complaints are made by the whole committee in conjunction with ANZASW's legal

counsel.

Complaints should be addressed to "Convenor of Ethics Committee" and posted directly to the ANZASW

National Office. All correspondence regarding a complaint should be marked confidential.

Click here to download a copy of the Complaints Procedures Brochure.

POLICY STATEMENT ON SUPERVISION

ADOPTED AT THE NATIONAL COUNCIL MEETING MAY 1998

Preamble

Social work in Aotearoa New Zealand has become a profession with its own distinctive tradition and

perspectives. While overseas countries have contributed much to the development of social work in the

last twenty years there has been a growing desire to find an indigenous expression of social

work practice. The Association has been in the forefront in New Zealand of a search for a professional

identity which puts emphasis on empowerment, partnership and biculturalism. These principles have

been embedded in the Code of Ethics adopted in 1993.

The policy commitments that lie within the Code need to be reflected in the practice of members of

the Association. The Board of Competency of the Association has set standards for practice which apply

regardless of fields of practice. All members of the Association are assessed in relation to these basic

standards. Supervision is of fundamental importance for social workers in that it addresses safety and

accountability in practice.

Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 19

Professional Social Work Supervision

Definition:

Supervision is a process in which the supervisor enables, guides and facilitates the social worker(s) in

meeting certain organisational, professional and personal objectives. These objectives are:

competency, accountable practice, continuing professional development, and education and personal

support.

Principles of Supervision

all social workers require supervision

the best interest of the client must always come first except where there are threats to

safety

supervision is mandated by agency policy

supervision is culturally safe and gender appropriate for the participants

supervision is a shared responsibility

supervision is based on a negotiated agreement which has provision for conflict resolution

supervision is regular and uninterrupted

supervision promotes competent, accountable, and empowered practice

supervision promotes anti-discriminatory practice

supervision is based on an understanding of how adults learn

supervision provides for appropriate consultation when needed in regard to issues related to

specialist knowledge, gender, culture, sexual orientation and identity, disability, religion, or

age.

Purposes of Supervision

to ensure the worker is clear about roles and responsibilities

to encourage the worker to meet the professions objectives

to encourage quality of service to clients

to encourage professional development and provide personal support

to assist in identifying and managing stress

to consider the resources the worker has available to do their job and discuss issues arising

where they are inadequate

to provide a positive environment within which social work practice can be discussed and

reviewed.

Core Supervision and Fields of Social Work

Core social work supervision includes the roles and commitment to the profession and its objectives and

knowledge base; however it is acknowledged that specialised supervision is necessary in some instances.

Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 20

Forms of Supervision

supervision / consultation within the agency

supervision / consultation on behalf of the agency by an external supervisor / consultant

supervision / consultation provided by an external supervisor contracted by the worker

Independent practitioners will have a supervisor/consultant who is either a colleague in a shared

practice or one in an external agency/practice.

Supervision can occur on an individual, group or collective (peer interactive) basis.

ANZASW expectations of a Supervisee

adherence to the NZASW Code of Ethics and Bicultural Code of Practice

commitment to an explicit contract with supervisor/consultant which is acknowledged by

agency, client and other colleagues

regular participation with a supervisor/consultant in making the interaction one that is goal

directed, leading to educational, administrative, personal, and professional development

is supervised by a member of NZASW.

ANZASW expectations of a Supervisor / Consultant

adherence to the Code of Ethics and objectives of NZASW and demonstrates a commitment to

the standards of practice including the Bicultural Code of Practice

is a member of NZASW

is currently receiving supervision

has at least two years of practice supervision

has been recognised as a supervisor/consultant by employing agency

highly desirable to have undertaken training in social work supervision.

ANZASW Expectations

For a member to be assessed as competent it is expected that:

in the first year of practice the member has a minimum of one hour social work supervision

per week

during the following four years the member will be engaged in fortnightly social work

supervision

Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 21

fully competent, experienced social workers will still be involved in a supervisory arrangement

that occurs at least monthly and which focuses on their work and their accountability: this

may be collegial/consultative/peer supervision or individual

frequency of supervision maybe varied for part-time workers.

Mengembangkan Profesi Pekerja Sosial Indonesia: Isu Pendidikan

Profesi

24 Aug 2009

Dorita Setiawan | fasilitator-masyarakat.org

Indonesia adalah salah satu negara modern dengan dampak urbanisasi dan industrialisasi yang

begitu terasa. Kemiskinan dan masalah pribadi menjadi dampak yang tak terelakkan akibat

modernitas itu. Ditambah lagi dengan perubahan ekonomi, politik yang kian rumit telah

berdampak pada makin banyaknya terungkap masalah sosial di Indonesia yang perlu dipecahkan.

Bencana alam yang beruntun menuntut solusi yang jelas dan tegas serta berkesinambungan.

Pekerja sosial serta pendidikan profesi-nya kembali banyak mendapatkan perhatian. Inilah

saatnya profesi pekerja sosial kembali harus berbenah diri untuk menentukan kemana arah yang

akan dituju, pendidikan pekerja sosial adalah kuncinya.

Siapa saja yang bisa dianggap pekerja sosial professional?

Maraknya institusi tinggi yang menyelenggarakan Pendidikan pekerjaan sosial di Indonesia,

merupakan salah satu pertanda baik akan meningkatnya kesadaran lingkar akademik akan

tuntutan masyarakat akan profesi ini. Dinamika pendidikan profesi pekerja sosial di Indonesia

berada pada titik yang positif dimana diskusi yang ada mengarah pada kejelasan akan status

profesi pekerjaan sosial di tanah air. Ini adalah proses perubahan yang harus dilewati profesi

peksos di Indonesia, proses ini bukanlah hal unik yang hanya dialami Indonesia, Jepang, China

dan Vietnam adalah beberapa negara yang mengalami perjalanan yang serupa dalam

menghadirkan profesi ini.

Namun sejauh mana pendidikan tinggi mampu menghadirkan profesi ini yang berkualitas dan

memenuhi syarat adalah pertanyaan yang harus kita jawab bersama. Tulisan ini tentunya

hanyalah sebagai titik awal bagi kita untuk memutuskan apakan pekerjaan sosial adalah profesi

yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia? kalau iya, bentuk pekerjaan sosial seperti apakah yang

sesuai? Apakah pekerjaan sosial di Indonesia dapat menjadi sebuah profesi? apakah kurikulum

pendidikan peksos yang ada dapat dikoordinasikan sehingga terjadi keseragaman?

Selayang pandang lahirnya Pekerjaan Sosial di Amerika

Pekerjaan sosial adalah profesi yang sangat berhubungan erat dengan konteks dimana profesi ini

dibangun. Dalam diskursus profesi secara umum, sebuah profesi yang ideal adalah sebuah

profesi yang merespon kebutuhan masyarakat akan suatu keahlian, contohnya pekerja sosial

dalam konteks Amerika Utara, profesi ini adalah respon dari dampak negatif yang diakibatkan

oleh Industrialisi dan Urbanisasi pada tahun 1880-an, (R Lubove ± 1965, Wenocur, 2001 and

Ehrenreich, 1985) Ehrenreich (1985) menyebut era ini sebagai the Progressive Era (sekitar 1880

hingga 1920), dua dekade sebelum Perang Dunia I dimana krisis melanda Amerika secara

ekonomi, sosial dan politik.

Perubahan ini berdampak pada hidup orang banyak dan institusi sosial seperti perubahan

masyarakat pedesaan menjadi lebih Urban, Imigrasi besar-besaran karena industrialisasi, pada

masa ini muncul banyak nya pertanyaan kepada pemerintah akan tanggung jawabnya kepada

warga Negara dan hubungan antara individu dan masyarakatnya. Pekerjaan sosial moderen

muncul karena tuntutan solusi yang lebih sistemik terhadap masalah-masalah pribadi yang lebih

rumit yang diakibatkan oleh kemiskinan dan stress.

Pada bentuk awalnya, peran pekerjaan sosial di Amerika utara adalah melayani mereka yang

dianggap tidak dapat berpartisipasi pada proses industrialisasi disebabkan oleh masalah fisik dan

mental atau ketidakmampuan untuk mengakses sumber-sumber yang ada agar dapat

berpartisipasi ke dalam pasar kerja yaitu kemiskinan dan munculnya masalah-masalah pribadi

seperti depresi yang tidak lagi dapat ditangani oleh keluarga dikarenakan fungsi keluarga besar

yang melemah dan tidak dapat pula ditangani oleh institusi masyarakat, karena lemahnya sistem

yang dimiliki oleh insitusi semacam ini hingga tidak mampu menampung, mengatasi dan

mengatur banyaknya kasus.

Profesi pekerjaan sosial muncul dengan menawarkan perspektif akademis sehingga pelayanan

terhadap masyarakat memiliki mekanisme yang jelas, teratur dan dapat dievaluasi. Menurut

seperti yang dikutip oleh Ehrenreich, secara historis pekerjaan sosial memiliki dua komitmen

besar, pertama adalah komitmen untuk meningkatkan fungsi individu dan secara bersamaan

komitmen untuk mempromosikan masyarakat yang lebih baik dan sumber sumber yang ada

disekitar mereka sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Perdebatan tajam antara pekerjaan

sosial dan kesejahteraan sosial/kebijakan sosial tidak sejalan dengan kedua komitmen awal

profesi pekerjaan sosial.

Pekerjaan Sosial atau Ilmu Kesejahteraan Sosial?

Yang menarik adalah perbedaan nama antara Pekerjaan sosial dan Ilmu Kesejahteraan sosial.

Ada beberapa dua perspektif dalam melihat kedua kata ini. Sebagai pemahaman definisi,

pekerjaan sosial memiliki sejarah yang berakar dari tradisi philantropi atau charity movement

yang lahir pada era progresif di Amerika tahun 1880-an. Pendekatan yang dilakukan Peksos,

lebih bersifat klinis (beberapa menyebutnya generalis), ranah-ranah yang ada dalam pekerjaan

sosial pun sangat spesifik beberapa diantaranya adalah asesmen keluarga dan perlindungan anak.

Yang menarik dari hal ini adalah, di Indonesia banyak yang menganggap bahwa pendekatan

klinis bukanlah pendekatan yang relevan yang dapat diterapkan pada konteks Indonesia. Namun

keterampilan ini sebenarnya merupakan elemen yang sangat penting bagi Indonesia, karena trend

intervensi sosial yang ada di Indonesia lebih bergerak menuju layanan yang berbentuk

pencegahan berbasis masyarakat (community-based prevention) dibanding dengan model insitusi

untuk memecahkan persoalan yang akut.

Lain hal nya dengan Kesejahteraan Sosial (Social Welfare), kata ini lebih bersifat umum dan

general, gerakan ini muncul dari pergerakan settlement house yang dibidani oleh Jane Adams,

dimana lebih bersifat pada community organizing, aktifisme , advokasi dan juga kebijakan.

Karena kesejahteraan sosial berkait dengan well-being masyarakat, maka pelaku di dalam ranah

ilmu kesejahteraan sosial ini tidak melulu harus Pekerja sosial tapi bisa juga ekonom, politisi,

semua profesi yang berhubungan dengan kesejahteraan orang banyak. Namun seorang pekerja

sosial yang mendalami Ilmu Kesejahteraan Sosial akan berbeda dengan mereka yang datang dari

profesi lain. Misalnya, analisis kebijakan kemiskinan seorang peksos akan lebih menggunakan

pisau analisis kelayakan (kualitas hidup) dan teori PIE (people in environment) yang melihat

dukungan keluarga, lingkungan dan masyarakat sedangkan seorang ekonom lebih menggunakan

pendapatan (income dan earnings) untuk menganalisa satu phenomena kemiskinan yang ada di

masyarakat. Tentu saja contoh ini sangat µsederhana¶ dibanding dari proses analisa yang

dilakukan di lapangan yang lebih rumit.

Perspektif ke dua adalah, penamaan pekerjaan sosial dan Ilmu kesejahteraan sosial pada

universitas adalah masalah µhubungan publik¶ artinya, penamaan ini terkait dengan pesan apa

yang ingin disampaikan oleh suatu program pekerjaan sosial. Di Jepang misalnya pada masa

awal pembentukan program pendidikan pekerjaan sosial, untuk alasan politis dan melihat pasar,

nama ilmu Kesejahteraan sosial lebih dipilih karena stigma akan pekerjaan sosial sangat kental di

masyarakat. Namun ketika profesi ini sudah lebih dikenal beberapa program kembali

menggunakan kata pekerjaan sosial (Mandinberg, 2009). Di Amerika sendiri, tidak semua

program yang menyelenggarakan pendidikan pekerjaan sosial menggunakan kata Social Work

(Columbia University School of Social Work, University of Michigan) tetapi juga Social

Welfare (UCLA Berkeley dan University of Washington in St Louis), namun mereka bernaung

di bawah CSWE (Council of social Work Education) atau badan pendidikan pekerjaan sosial.

Amerika Serikat dan Kanada serta Inggris ±walaupun sedikit berbeda dengan latar belakang

historis yang berbeda- memiliki trend yang sama akan penamaan program mereka.

Standarisasi Kurikulum

Wenocur dan Reisch memandang profesionalisasi pekerjaan sosial sebagai suatu kepemilikan

komoditas layanan yang spesifik yang jelas yang monolistik (yang hanya dimiliki oleh pekerjaan

sosial) dengan µreward¶ materi juga status. ( ³another monopolistic hold on a distribution of a

particular service commodity with concomitant materials and status rewards´. )

Jadi ketika membicarakan pendidikan pekerjaan sosial , kita harus dapat menjawab pertanyaan

penting, sebagai pekerja sosial hal apa yang harus kita ketahui? Dan apa yang yang diharapkan

dari seorang pekerja sosial? Tentu saja hal ini banyak mengundang perdebatan antara mereka

yang terlibat di lapangan layanan sosial, para pendidik pekerjaan sosial, pembuat kebijakan,

akademisi dan semua orang yang merasa terlibat. Perbedaan antara apa dan bagaimana

menamakan pekerjaan sosial sebagai sebuah disiplin adalah dinamika awal terbentuknya

pekerjaan sosial di Amerika. Di Indonesia, hal ini sedang berlangsung, kita semua sedang

mencari bentuk dan formula untuk membentuk sebuah pekerjaan sosial yang dianggap ideal.

Namun, tentunya kita harus dapat bergerak cepat dan tidak berputar-putar dalam pembentukan

sebuah nama, namun mencari titik persamaan akan bagian apa yang dapat kita lakukan. Dengan

berjalannya waktu, ketika tuntutan profesi pekerjaan sosial kian menuntut keahlian yang spesifik,

jelas dan sustainable, profesi pekerja sosial di Indonesia dituntut untuk memiliki tingkat

akademik yang cukup hingga dapat menghasilkan tenaga professional dengan kemampuan

spesifik dan berkualitas sehingga dapat berkompetisi dengan profesi yang lainnya.

Ketika hal ini tidak dilakukan, lahan pekerja sosial menjadi lahan yang dapat diserbu siapa saja.

Yang dimaksud lahan disini adalah ranah pekerjaan dimana dibutuhkan keahlian yang sangat

spesifik dan itu hanya bisa dilakukan oleh pekerja sosial. Ini bukan hal yang mudah. Ini bukan

berarti kita dapat melabel satu produk yang bukan milik kita. Di Aceh pasca tsunami misalnya,

banyak orang yang melihat pekerja sosial professional melakukan pekerjaan yang sangat berbeda

dibanding dengan mereka yang tidak professional, misalnya, µproduk¶ yang dimiliki oleh pekerja

sosial professional adalah produk dengan rangkaian sistematis, terarah dan terukur.

Keahlian ini tentu saja tidak bisa dilakukan dengan tingkatan pelatihan. (training vs pendidikan

tinggi). Contoh yang tepat adalah usaha penting yang dilakukan oleh SWPRC dalam

perlindungan anak yang diawali dari Aceh, pasca tsunami dan beberapa daerah di Indonesia

lainnya. Perlindungan anak adalah salah area yang seharusnya dapat diklaim sebagai area

andalan pekerjaan sosial di Indonesia yang bisa kita jadikan titik awal spesialisasi yang bisa

dilakukan oleh peksos professional di Indonesia.

Standarisasi kurikulum adalah tuntutan dari munculnya beberapa program kesejahteraan sosial di

Indonesia . Standarisasi adalah suatu proses yang tidak terelakan. Standarisasi adalah

kepentingan profesi , penting bagi kita untuk memiliki titik persamaan untuk jangka panjang,

walaupun standarisasi bukanlah hal yang besar bagi konsumen dan pasar karena bila produk

yang dihasilkan memiliki kualitas baik, pasar tidak terlalu melihat standarisasi sebagai ukuran

(Mandinberg, 2009).

Salah satu cara standarisasi yang dapat diambil oleh profesi pekerjaan sosial, yaitu mengadakan

konsorsium yang terdiri dari para ahli pekerjaan sosial, akademisi, pemerintah, organisasi-

organisasi yang menyerap tenaga peksos dan beberapa tokoh masyarakat. Langkah ini diambil

agar pekerjaan sosial memiliki tolok ukur akan tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan

peksos. Mengambil contoh di beberapa negara yang telah memiliki profesi pekerjaan sosial lebih

awal dari Indonesia, misalnya CSWE (the Council of Social Work Education) yang berada di

Amerika utara, adalah badan pendidikan peksos yang menentukan isi kurikulum inti pekerjaan

sosial universitas.

Namun tolok ukur ini bukanlah ukuran yang baku yang harus diikuti mentah-mentah. Setiap

universitas memiliki otoritas masing-masing bagaimana mereka ingin menyelenggarakan

kurikulum-nya. Pertanyaan selanjutnya, tentang apa saja yang harus dimasukan sebagai isi

kurikulum tersebut, tentu saja harus disesuaikan dengan konteks kebutuhan dan µpasar¶ dari

sosial work itu sendiri, di Vietnam, misalnya memasukan keterampilan komunikasi sebagai salah

satu inti dari kurikulum mereka (Hugman, 2009). Keseragaman menjadi penting bagi

pendidikan peksos di Indonesia, karena kalau tidak, peksos sangat mustahil untuk diterima

sebagai profesi, karena setiap lulusan tidak memiliki titik persamaan sama sekali.

Di luar universitas, standarisasi lainnya adalah menyelenggarakan bar exam dan grandfathering.

Bar exam artinya semua orang yang ingin memiliki lisensi pekerjaan sosial harus melewati ujian

ini dan lulus. Sedangkan grandfathering adalah pemberikan lisensi profesi bagi mereka yang

memang sudah lama terjun di profesi ini tanpa melalui test. Di Amerika serikat, bar exam dan

grandfathering diberlakukan berbeda di negara-negara bagian. Di California, semua orang dapat

mengikuti ujian ini, sedangkan New York hanya membatasi ujian ini bagi mereka yang memang

lulusan pekerjaan sosial. Lain halnya dengan Jepang hanya karena memberlakukan bar exam,

banyak mereka yang bekerja di area peksos dan sangat senior tidak memiliki lisensi, sekalipun

mereka adalah professor senior di program peksos. Pertanyaan selanjutnya, bagi konteks

Indonesia, apakah kita sudah saatnya melakukan ini ? keputusan tentunya ada di tangan kita.

Berusaha untuk memahami µnature¶ pendidikan profesi pekerjaan sosial di Indonesia, -pekerjaan

sosial terapan dan pekerjaan sosial akademis- penting bagi kita untuk kembali melihat sejarah

profesi ini secara runtut dan menyeluruh. Lahirnya STKS (KDSA pada tahun 1987) sebagai

lembaga pendidikan pekerja sosial di Indonesia ini menjadi begitu menarik untuk dibahas .

Keterlibatan pemerintah secara langsung mendirikan badan pelatihan sebuah profesi adalah

bagian secara sejarah dari banyak profesi di negara berkembang seperti China dan Turki.

Keterlibatan pemerintah ini adalah salah satu langkah jarak pendek untuk dapat menyediakan

pekerja sosial yang terlatih yang dapat memenuhi perangkat tuntutan struktural dalam

pengembangan satu negara kesejahteraan (welfare state).

Salah satu spesifik yang dialami di Indonesia, adalah posisi pendidikan pekerjaan sosial yang

berada pada Departemen yang berbeda. STKS yang dinaungi oleh DEPSOS, misalnya lebih

berorientasi pada program praktek, terlihat dari beberapa tulisan-thesis, skripsi dan makalah yang

ada- yang telah dilakukan oleh lulusan STKS yang memiliki komitmen riset yang lebih berbasis

apa yang terjadi di lapangan (practicum related-practice). Sedangkan UI, UIN dan lainnya berada

di bawah Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional, yang isu nya lebih

mengarah pada perbedaan ilmu dan profesi.

Untuk di UI (Haffey, 2009) program yang berada di bawah departemen pendidikan lebih

mendalami analisa masalah dan kurang memiliki penekanan pada profesi pendidikan pekerjaan

sosial. Untuk di UIN paling tidak ada isu mendasar yaitu peraturan pemerintah tentang

persyaratan yang harus dimiliki seorang lulusan, tuntutan universitas mengharuskan mahasiswa

untuk memiliki pengetahun akademis (beban sks) tertentu sedangkan tuntutan profesi menuntut

mahasiswa untuk memiliki kredit praktikum yang tidak sedikit. Jadi yang menjadi isu disini

bukanlah pada universitas yang tidak menekankan pada isu praktikum namun lebih pada sistem

µmanajemen¶ yang berbeda, untuk kasus UIN Jakarta, misalnya, 800 jam praktik sudah mulai di

terapkan namun supervise masih menjadi kendala terbesar selain isu ±isu lainnya.

Penutup

Pengembangan pendidikan pekerjaan sosial di Indonesia, adalah bagian yang penting dalam

proses terbentuknya profesi pekerja sosial mengalami beberapa tantangan yang saling

berhubungan satu dengan yang lain. Tantangan yang pertama adalah pendidikan profesi

pekerjaan sosial yang ideal membutuhkan pendidik dengan kualifikasi peksos dan pengalaman,

tidak hanya sebagai tenaga pengajar tetapi juga dapat melakukan supervisi praktikum, kalau

tidak, pendidikan profesi ini kekurangan mereka yang memiliki persyaratan tersebut.

Tantangan kedua adalah, kesesuaian kultur, bila tantangan pertama dipecahkan dengan

mendatangi para ahli yang datang dari tradisi pekerjaan sosial yang berbeda, akan sangat

mungkin bila peksos yang diperkenalkan adalah praktik dan alur berpikir yang sesuai dengan

konteks dimana ahli ini berasal dan belum tentu sesuai untuk Indonesia. Kenyataannya adalah

peksos memiliki wujud yang berbeda di seluruh dunia dengan adaptasi sesuai dengan konteks

yang berlaku. Contohnya bila, perlindungan anak menjadi salah satu area praktik yang dapat

diklaim di Indonesia, karakter perlindungan anak di Indonesia tentunya adalah karakter unik

dibandingkan dengan negara lain dengan menggunakan pendekatan yang berbeda dan sesuai

dengan konteks di Indonesia.

Namun tantangan pendidikan profesi pekerjaan sosial di Indonesia yang ada sekarang adalah

tantangan serupa yang dihadapi di tempat lain. Walaupun ada beberapa masalah spesifik yang

dialami Indonesia, kita masih dapat belajar dari negara-negara yang telah memiliki profesi

peksos yang mapan dan juga negara yang masih pada tingkat perkembangan profesi ini. Pada

saat yang bersamaan, kita dapat menciptakan visi kita sendiri akan profesi ini dan akhirnya

mampu menciptakan bentuk baru pekerjaan sosial Indonesia yang unik yang dapat kita

kembangkan.

Dorita Setiawan, MSW

Doctorate student at Columbia University School of Social Work

Aspek Sosial Budaya: Tugas Pekerja Sosial

Sebagai sebuah negara, Indonesia tentu terdiri dari ragam masyarakat dengan lapisan ekonomi

yang beragam. Menjamurnya pulau-pulau di Indonesia memang menjadi kekayaan tersendiri

bagi Indonesia, namun di sisi lain juga melahirkan karakter Indonesia yang beragam.

Berangkat dari sini, masalah sosial pun seringkali tak dapat dielakan. Terkadang menuai konflik

dan problematika lainnya. Mulai dari masalah pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya, agama,

dan politik kerap menjadi masalah sosial yang harus dihadapi bersama.

Pemerintah lewat Dinas Sosial, tentu tidak akan mampu menyelesaikan masalah ini sendiri.

Maka dari itu, peran para pekerja sosial yang ikhlas membantu menyelesaikan masalah saudara-

saudaranya di lapangan masih sangatlah dibutuhkan. Keberadaannya merupakan ujung tombak

pemerintah.

Apalagi kita tahu, bahwa masalah pendidikan, bencana, kesehatan, kelaparan, konflik budaya

dan agama, dan masalah yang berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat di Indonesia, dari hari

ke hari kian marak saja.

Tugas Pokok

Banyak sekali ragam fungsi dari peran para pekerja sosial. Namun secara garis besar keberadaan

para pekerja sosial mengemban amanah sesuai dengan fungsinya masing-masing. Adapun tugas

yang biasa dilakukan di lapangan adalah sebagai berikut.

‡ Fasilitator

Para pekerja sosial yang menjadi fasilitator bertugas melakukan aksi-aksi yang erat hubungannya

dalam hal memberikan kesempatan, mendongkrak semangat, dan daya dukungan bagi hajat

hidup masyarakat. Lewat fasilitator, problem masyarakat akan mendapat semacam model yang

akan menjembatani mereka pada solusi yang diharapkan.

‡ Pendidik

Para pekerja sosial pun haruslah mampu menjadikan dirinya sebagai pendidik. Dalam arti

bukanlah menjadi guru, tetapi mengajarkan hal-hal yang selama ini tidak benar di tengah

masyarakat. Pekerja sosial harus mengaktifkan diri dalam memberikan input positif dan langsung

berdasarkan kemampuannya. Salah satu tugas pekerja sosial sebagai pendidikan adalah mampu

menyampaikan informasi, membangun kesadaran kolektif, menggelar pelatihan yang tepat dan

bermanfaat bagi masyarakat, bahkan harus mampu melakukan konfrontasi.

‡ Mediator

Sekali lagi, para pekerja sosial harus mampu menjadi mediator dalam menjembatani masalah dua

kelompok sosial yang akan mengarah pada konflik. Mereka inilah yang disebut dengan

kelompok ketiga. Mereka harus mampu melakukan mediasi dengan para anggota kelompok,

termasuk mampu menembus sistem-sistem yang menghambat dan berpotensi menimbulkan

konflik.

‡ Pendampingan

Pendampingan ini tak hanya dilakukan semata menampung aspirasi dari masyarakat bermasalah.

Tetapi lebih dari itu, tugas seorang pekerja sosial sebagai pendamping masyarakat sangatlah luas

cakupannya. Para pendamping harus mampu menjalin hubungan harmonis dengan lembaga-

lembaga pendukung kepentingan masyarakat. Adapun tugas yang biasa dilakukan adalah

menelisik sumber potensi, menyiapkan pembelaan, merangkul media, dan memperluas jejaring

kerja.

Demikianlah, garis besar tugas para pekerja sosial. Sekali lagi kondisi Indonesia yang rentan

konflik, tentunya menghajatkan para pekerja yang ikhlas dan solid. Keberadaan mereka adalah

partner pemerintah. Tinggal bagaimana pemerintah sebenarnya menunjukan sikap

keseriuasannya. Selamat bertugas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->