P. 1
SEJARAH LSM

SEJARAH LSM

4.0

|Views: 3,166|Likes:
Published by johnyess

More info:

Published by: johnyess on Dec 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2014

pdf

text

original

Sections

SEJARAH LSM

Makin meningkatnya pendidikan dan tingkat pendapatan, terutama ketika terjadi ketidakpuasan

di lapisan masyarakat, mulai timbul gejala baru dalam demokrasi, yaitu partisipasi. Dalam

sejarah Barat, partisipasi itu timbul dari bawah, di kalangan masyarakat yg gelisah. Gejala itulah

yg dilihat oleh Alexis de Tocqueville (1805-1859) seorang pengamat sosial Prancis dalam

kunjungannya ke Amerika pada tahun 30-an abad ke 19 yakni timbulnya perkumpulan dan

perhimpunan sukarela (voluntary association).

Selain menyelenggarakan kepentingan mereka sendiri, dengan melakukan berbagai kegiatan

inovatif, perkumpulan dan perhimpunan itu juga bertindak sebagai pengimbang kekuatan negara

(as a counter-weights to state power). Ada 3 macam peranan yg dijalankan oleh perkumpulan

dan perhimpunan tersebut yaitu:

Pertama, menyaring dan menyiarkan pendapat dan rumusan kepentingan yang jika tidak

dilakukan pasti tidak akan terdengar oleh pemerintah atau kalangan masyarakat umumnya.

Kedua, menggairahkan dan menggerakkan upaya-upaya swadaya masyarakat daripada

menggantungkan diri pada prakarsa negara. Ketiga, menciptakan forum pendidikan

kewarganegaraan, menarik masyarakat untuk membentuk usaha bersama (co-operative ventures)

dan dengan demikian mencairkan sikap menyendiri (isolatif) serta membangkitkan tanggung

jawab sosial yg lebih luas.

Perkumpulan dan asosiasi itulah yg kemudian menjadi ³sokoguru masyarakat" (civil society).

Dan apa yg disebut oleh Tocqueville itu tak lain adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),

yg dalam masyarakat Barat dewasa ini disebut sebagai Non Government Organisation (ORNOP,

Organisasi non pemerintah) dan perkumpulan sukarela (voluntary association).

David Korten, seorang aktivis dan pengamat LSM memberikan gambaran perkembangan LSM.

Ia membagi LSM menjadi 4 generasi berdasarkan strategi yg dipilihnya. Generasi pertama,

mengambil peran sebagai pelaku langsung dalam mengatasi persoalan masyarakat.

Pendekatannya adalah derma, dengan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang kurang dalam

masyarakat. Generasi ini disebut sebagai "relief and welfare" . LSM generasi ini memfokuskan

kegiatannya pada kegiatan amal untuk anggota masyarakat yg menyandang masalah sosial.

Generasi kedua, memusatkan perhatiannya pada upaya agar LSM dapat mengembangkan

kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Peran LSM di sini bukan

sebagai pelaku langsung, tetapi sebagai penggerak saja. Orientasinya pada proyek2

pengembangan masy. Generasi ini disebut sebagai small scale, self reliance local development.

Generasi ini melihat masalah sosial dengan lebih kompleks. Tidak sekedar melihat soal yang

langsung kelihatan saja tapi juga mencari akar masalah. Fokusnya pada upaya membantu

masyarakat memecahkan masalah mereka, misal program-program peningkatan pendapatan,

industri kerajinan dan lain-lain. Semboyan yang populer adalah "Berilah Pancing dan Bukan

Ikannya!"

Generasi ketiga, keadaan di tingkat lokal dilihat sebagai kiblat saja dari masalah regional atau

nasional. Masalah mikro dalam masyarakat tidak dipisahkan dengan masalah politik

pembangunan nasional. Karena itu penanggulangan mendasar dilihat hanya bisa dimungkinkan

kalau ada perubahan struktural. Kesadaran seperti itulah yg tumbuh pada LSM generasi ini

bersamaan dgn otokritiknya atas LSM generasi sebelumnya sebagai "pengrajin sosial". LSM

generasi ini disebut sebagai "sustainable system development".

Generasi keempat disebut sebagai "people movement". Generasi ini berusaha agar ada

transformasi struktur sosial dalam masyarakat dan di setiap sektor pembangunan yang

mempengaruhi kehidupan. Visi dasarnya adalah cita2 terciptanya dunia baru yg lebih baik.

Karena itu dibutuhkan keterlibatan penduduk dunia. Ciri gerakan ini dimotori oleh gagasan dan

bukan organisasi yang terstruktur.

Perjalanan LSM di Indonesia pada awal kemunculannya melalui perspektif sejarah dan mengacu

pada pembagian generasi di atas, ada yang berpendapat bahwa cikal-bakal LSM di Indonesia

telah ada sejak pra-kemerdekaan. Lahir dalam bentuk lembaga keagamaan yang sifatnya

sosial/amal (dapat dikategorikan generasi pertama).

Tahun 50-an tercatat muncul LSM yg kegiatannya bersifat alternatif terhadap program

pemerintah, dua pelopornya misal LSD (Lembaga Sosial Desa) dan Perkumpulan Keluarga

Kesejahteraan Sosial.

Tahun 60-an lahir beberapa lembaga yg bergerak terutama dalam pengembangan pedesaan.

Pendekatan dengan proyek-proyek mikro menjadi ciri utama masa ini, terutama yang

menyangkut aspek sosial ekonomi pedesaan. Pada kurun waktu ini pula lembaga-lembaga ini

merintis jaringan kerjasama nasional misal lahir Yayasan Sosisal Tani Membangun yg kemudian

berkembang menjadi Bina Desa, Bina Swadaya.

Ciri LSM yg muncul dan berkembang pada th 70-an merupakan fenomena yang unik. Ini

dipengaruhi oleh ORBA. LSM merupakan reaksi sebagian anggota masyarakat atas kebijakan

pembangunan yang ditempuh saat itu. Dasar penggeraknya adalah motivasi untuk

mempromosikan peran serta dan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Meski juga

berorientasi pada proyek mikro, juga mengaitkan persoalan kebijaksanaan pada tingkat makro,

Contohnya LSM yang lahir pada generasi ini adalah LBH, YLKI, LP3ES.

Sejak masa itu sampai kini, perkembangan LSM di Indonesia sangat pesat. Visi, misi,

pendekatan dan isu beragam. Perkembangan LSM tidak bisa lagi dilihat secara linier dan

mengikuti urutan waktu generasi per generasi.

Perjalanan LSM di Indonesia sekitar tahun 1970-an disebut sebagai ORNOP yang merupakan

terjemahan dari NGO. Ornop/NGO bisa merupakan satu lembaga bisnis (swasta), organisasi

profesi, klub olah raga, kelompok artis, jama'ah aliran agama, lembaga dana, yang penting semua

organisasi yang bukan pemerintah. Interaksi antar kelompok ORNOP ini mempengaruhi tatanan

sosial politik masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing memperjuangkan

kepentingannya dan pemerintah hanya berfungsi sebagai wasit (yang adil).

Segala sesuatu dimulai dari masyarakat dalam suasana yang hampir-hampir bebas dari intervensi

negara. Istilah ORNOP kemudian dirubah menjadi LSM karena di satu sisi, adanya kesan dan

anggapan bahwa istilah ORNOP memiliki konotasi negatif seakan-akan melawan pemerintah

(jaman ORBA alergi sekali dengan yg berbau oposisi, atau non-pemerintah). Di lain pihak,

dalam kalangan aktivisnya saat itu ada kesadaran bahwa gerakan mereka ini dilandasi oleh suatu

misi positif, yakni mengembangkan kemandirian dan membangun kesadaran, tidak semata-mata

"bukan pemerintah/non government". Pergeseran ORNOP menjadi LSM sebenarnya

menimbulkan perbedaan arti, landasan ORNOP adalah untuk "non governmentalism", sedangkan

LSM adalah "auto governmentalism" dengan kata lain yang dibangun oleh LSM bukan "non

kepemerintahan" tetapi keswadayaan dan kemandirian. Penggantian istilah ORNOP menjadi

LSM sesungguhnya telah memberikan perbedaan makna yang sangat mendasar. Formalisasi

kemudian dilakukan pemerintah terhadap LSM melalui UU. No. 4 tahun 1982 ttg pokok-pokok

Pengelolaan Lingkungan Hidup (kemudian diatur pula dgn UU No. 8 tahun 1985 tentang

keormasan, dan Inmendagri No. 8 tahun 1990). Pada pasal 19 UU No. 4 tahun 1982 disebutkan :

"Lembaga Swadaya Masyarakat berperan sebagai penunjang bagi pengelolaan Lingkungan

Hidup", sedangkan dalam penjelasannya LSM mencakup antara lain:

a. Kelompok profesi yang berdasarkan profesinya tergerak menangani masalah lingkungan

b. Kelompok hobi yang mencintai kehidupan alam terdorong untuk melestarikannya

c. Kelompok minat yang berminat untuk membuat sesuatu bagi pengembangan lingkungan

hidup.

Batasan, fungsi dan peran LSM dibandingkan dengan pengertian aslinya (dalam arti NGO)

menjadi teredusir. Karena keberadaan LSM terutama saat ORBA sarat dgn intervensi pemerintah

maka ada beberapa LSM yg kemudian dalam pergerakannya memakai bentuk Yayasan, karena

Yayasan lebih fleksibel.

Dalam PBB, sejak tahun 1970-an, NGO memperoleh status resmi (consultative status). NGO

juga mempunyai kode etik yang berlaku secara internasional. Sampai sekarang hampir semua

kesempatan dalam pertemuan delegasi NGO berhak hadir dengan suara penuh/disediakan

forum2 khusus untuk NGO. Kehadiran NGO dalam sistem PBB ini telah pula dilembagakan

secara permanen, di bawah UNDP, di sebut NGO Forum, di Indonesia NGO Forum ini mungkin

karena kekaburan makna dan keunikan LSM kita, sering menjadi olok-olok "Gongo"

(Government NGO), atau LSM-LSM plat merah.

Perkembangan selanjutnya di Indonesia, UU No. 4 tahun 1982 digantikan oleh UU No. 23 tahun

1997 , UU ini tidak menjelaskan definisi LSM (tapi paling tidak UU ini mengakui environment

legal standing) sementara itu UU. No. 8 tahun 1985 telah dicabut diganti dgn UU politik Dji Sam

Soe/No. 2, 3, 4 yg tdk memuat mengenai LSM (jadi untuk sementara ini, LSM diatur dgn

Inmendagri, tapi logikanya Inmendagri ini juga tidak berlaku karena peraturan yg di atasnya

telah dicabut) dan kemudian di era Reformasi bentuk Yayasan pun mulai diintervensi pemerintah

dengan dikeluarkannya UU Yayasan.

Ada suatu wacana menarik bahwa kemudian NGO merupakan alat bagi neo liberalism, memang

bisa saja neo liberalism beroperasi dalam dua lini: ekonomi dan budaya politik, dua level: rezim

dan rakyat kelas bawah. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali pihak berduit/pihak asing

yang tertarik mendanai kegiatan-kegiatan yang dilakukan NGO di Indonesia dan tentunya ada

beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh NGO untuk memperoleh dana tersebut. Yang

perlu menjadi catatan penting adalah sejauh mana tingkat independensi dan bargaining posisition

terhadap penyandang dana, terlebih lagi evaluasi kerja LSM dilakukan mereka. Dan bagaimana

pertanggungjawaban LSM terhadap masyarakat, sebab sampai saat ini tidak ada mekanisme

pertanggungjawaban LSM terhadap masyarakat, jadi masyarakat sendirilah yang menilai

keberadaan LSM di tengah-tengah mereka. Jangan kaget kalau suatu saat ada elemen masyarakat

yang berkata LSM itu Lembaga Suka Menipu, dan lain-lain. Hal itu merupakan serangkaian

pengalaman yang dialami masyarakat, karena ada LSM yang menyelewengkan dana JPS

misalnya.

Trend NGO

Oleh: Cut Famelia

NGO? Siapa sih yang tidak kenal dengan istilah yang kini sedang ngetop di Aceh ini? Istilah

NGO tentunya sudah sangat akrab di telinga masyarakat Aceh sejak datangnya bantuan yang

terus mengalir dari berbagai penjuru dunia bagi korban bencana alam dahsyat gempa bumi

tektonik dan gelombang Tsunami yang melanda bumi Nanggroe Aceh Darussalam, pada tanggal

26 Desember 2004. Sejak saat itulah, NGO bertaburan di Aceh baik yang bertaraf lokal,

nasional, maupun Internasional atau asing. Malah banyak NGO lokal/nasional yang lebih dikenal

dan ter-expose ke masyarakat Aceh justru setelah musibah gempa dan tsunami tersebut terjadi.

Apa sebenarnya NGO itu? NGO merupakan singkatan dari Non-Governmental Organization

yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Organisasi Non-Pemerintah atau

lebih dikenal dengan sebutan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). NGO adalah suatu

kelompok atau asosiasi nirlaba yang beraktifitas di luar struktur politik yang terinstitusionalisasi.

Pencapaian hal-hal yang menjadi minat atau tujuan anggotanya diupayakan melalui lobi,

persuasi, atau aksi langsung.NGO biasanya memperoleh sebagian pendanaannya dari sumber-

sumber swasta. Sampai seberapa besarkah dana yang dapat diperoleh oleh sebuah NGO?

Menyangkut pertanyaan tersebut, ada seorang aktifis NGO yang memberikan sebuah ungkapan

praktis, Di NGO, kita lah yang menggaji diri kita sendiri. Itu berarti bahwa semakin baik kinerja

dan produktifitas yang dihasilkan oleh sebuah NGO sehingga manfaat yang dirasakan oleh

masyarakat semakin besar, maka dana yang akan mengalir ke NGO tersebut tentunya akan

semakin besar pula. Itu menunjukkan bahwa kepercayaan dari pihak-pihak donatur untuk

mendanai sebuah NGO tentu saja semakin besar. Jadi, bukanlah suatu masalah atau hal yang

tidak realistis bagi mereka untuk memberikan dana yang relatif besar sesuai dengan jumlah yang

diajukan oleh sebuah NGO yang punya kualitas dan kredibilitas yang cukup baik serta manfaat

yang cukup besar bagi kemaslahatan masyarakat. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika

lebih besar dari jumlah yang pernah diberikan sebelumnya, asalkan track record NGO yang

bersangkutan cukup baik dan berpotensi untuk lebih baik lagi di masa berikutnya.

Namun, apa yang menyebabkan munculnya trend bekerja di NGO di kalangan masyarakat Aceh,

termasuk mahasiswa dan akademisi, khususnya dosen? Dengan sedikit ekstrim bisa kita katakan,

trend ini memang punya gengsi tersendiri di kalangan penduduk Serambi Mekkah ini. Kita

ketahui bahwa bantuan yang mengalir untuk korban Tsunami di Aceh, termasuk untuk proses

rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, banyak yang berasal dari atau dikelola oleh NGO dengan

berbagai taraf dan level serta program dan tujuan.Sejak masa distribusi bantuan itulah, tidak

dapat dipungkiri bahwa banyak mahasiswa di Aceh yang menambah kesibukan atau karirnya

dengan bekerja di NGO, mulai dari posisi sebagai worker hingga policy maker. Bagi mahasiswa,

tentu saja honor/gaji yang diperoleh dengan bekerja di NGO relatif besar, bahkan sangat besar,

khususnya bagi mereka yang menjabat posisi sebagai policy maker. Apalagi di NGO asing atau

internasional, mahasiswa bisa kaya mendadak.

Penulis pernah bertanya tentang gaji di NGO pada seorang mahasiswa Universitas Syiah Kuala

yang sudah tiga tahun menjalankan aktifitas kuliahnya. Dia mengaku menerima gaji di atas 2,5

juta rupiah per-bulan dengan mengerahkan skill-nya untuk bekerja di sebuah NGO asing. Angka

yang cukup besar untuk level seorang worker dengan status mahasiswa yang sebenarnya masih

dikategorikan lulusan SMA. Apalagi jika dibandingkan dengan gaji PNS yang statusnya sarjana

bahkan master sekalipun, secara umum masih lebih besar. Walaupun masih berstatus mahasiswa,

tetapi dia sudah memiliki skill yang cukup untuk jenis pekerjaan yang ditawarkan.

Namun, tentu saja uang bukanlah segala-galanya meskipun merupakan faktor penting yang

mendorong kita untuk bekerja. Lebih dari itu, di sana mereka bisa memperoleh pengalaman yang

sangat berharga dan tak terlupakan, yaitu bagaimana rasanya bekerja dengan orang asing alias

bule yang berbeda karakter dan budaya, bekerja dalam suasana pluralisme, tanpa harus ke luar

negeri. Tentunya banyak pelajaran yang dapat diambil. Belum tentu kan mereka bisa

memperoleh pengalaman seperti itu di lain waktu setelah mereka menyelesaikan jenjang

perguruan tingginya?Lagipula, peluang kerja di NGO sudah ada di depan mata, kemampuan/skill

lebih kurang juga sudah dimiliki, jadi apa salahnya toh kuliah sambil bekerja? Hitung-hitung

menambah uang saku lah. Jadi, siapa sih yang nggak tergiur? Walaupun pada akhirnya kita lihat

sendiri bahwa kebanyakan dari mereka sering tidak masuk kuliah sehingga mempengaruhi

prestasi akademiknya.

Sebuah dampak yang negatif memang. Bahkan, ada yang rela menelantarkan skripsinya demi

memperoleh gaji yang besar dan pengalaman bekerja di NGO hingga akhirnya mereka terpaksa

menjadi mahasiswa abadi yang hanya sesekali muncul di kampus dan skripsinya pun tak kunjung

selesai.Memang sih tidak ada salahnya kuliah sambil bekerja asalkan mampu mengatur dan

membagi waktu dengan baik dan seimbang, misalnya dengan memilih bekerja part-time (paruh

waktu). Intinya, harus memilki management of time yang baik dan siap menanggung segala

resiko yang terkadang sering menimbulkan dilema di sana-sini. Malah dengan kuliah sambil

bekerja menunjukkan bahwa mereka sudah siap menghadapi dan bersaing di dunia kerja serta

mampu mengaplikasikan ilmu atau skill yang umumnya mereka peroleh dari perkuliahan untuk

kemaslahatan masyarakat banyak. Akan tetapi, kalau sampai menelantarkan kuliah? Mau jadi

mahasiswa abadi yang bikin pusing dan kecewa orang tua dan dosen? Bagi dosen sendiri, alasan

mereka menambah job di luar kampus rasanya tidak jauh berbeda dengan mahasiswa. Peluang

sudah tersedia di depan mata, kapasitas atau skill sudah cukup memadai, dan gaji yang diperoleh

lebih besar bahkan jauh lebih besar daripada gaji yang diperoleh dengan satus PNS yang relatif

kecil. Apalagi di international NGO yang gajinya bisa dibilang gila-gilaan. Ya, hitung-hitung

menambah penghasilan untuk meningkatkan kesejahteraan. Apalagi bagi mereka yang kondisi

perekonomiannya kurang baik, mencari penghasilan di luar PNS merupakan alternatif dan

peluang yang sangat berharga dan dibutuhkan.

Sekedar informasi, berdasarkan survey yang dilakukan oleh Aceh Institute melalui kuesioner

yang diedarkan kepada para peserta Semiloka Peran SDM Lokal dalam Rehabilitasi dan

Rekonstruksi Aceh pada tanggal 18 maret 2006 yang diselenggarakan oleh Aceh Institute

sendiri, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa 55% dari total responden mengaku bahwa

mereka menerima gaji sebesar 3 - 6 juta rupiah per-bulan. Sedangkan 10% dari total responden

menerima gaji senilai 10 - 15 juta rupiah. Ini adalah data berdasarkan responden yang rata-rata

masih muda dan umumnya bukan dosen. Jika diasumsikan bahwa kualifikasi dosen lebih tinggi

dari responden survey sederhana ini, dapat pula diasumsikan bahwa rata-rata staf LSM, terutama

LSM asing yang berasal dari kalangan dosen bisa lebih diatas gaji terbesar dalam survey

tersebut.

Namun, mungkin saja gaji besar bukanlah alasan utama bagi mereka. Tapi, dengan bekerja di

NGO mereka dapat mengembangkan diri serta mengaplikasikan ilmu yang dimiliki di dunia luar

kampus. Memang sih, bukan berarti NGO menjadi satu-satunya alternatif untuk maksud tersebut,

tapi fenomena yang terjadi dewasa ini menjadikan NGO sabagai alternatif yang punya banyak

nilai lebih dan terasa lebih membumi dan memasyarakat. Jadi, profil seorang dosen dengan

kapasitas sebagai intelektual dan akademisi memang seharusnya tidak hanya mampu dan

menghabiskan waktunya untuk bergelut di dunia kampus tanpa membuka mata dan responsif

terhadap dinamika yang terjadi di dalam masyarakat. Jika ilmu yang dimiliki hanya dapat

diaplikasikan dan diseminasikan di dunia kampus, tentu masih sempit bukan? Jadi, realistis toh

kalau sekarang ini dosen juga ikut terjun ke dunia NGO?

Akan tetapi, jika dengan aktifitas tersebut dosen menjadi tidak optimal dalam memfungsikan

statusnya alias sering meninggalkan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang dosen,

misalnya jarang mengajar atau memberi kuliah, lebih sering digantikan oleh asisten, sering tidak

meluangkan waktunya untuk melayani mahasiswa yang memerlukan bimbingan akademik,

lantas bagaimana dengan nasib si mahasiswa? Tentu saja mereka tidak mau menjadi pihak yang

dirugikan gara-gara ulah si dosen.

Namun demikian, pada prinsipnya tidak menjadi masalah kalau dosen bekerja di NGO alias

menjadi double agent, asalkan komitmen serta kewajiban dan fungsinya sebagai seorang tenaga

pengajar dan pendidik tidak diabaikan dan ditelantarkan. Tentu saja dengan langkah dan cara

yang bijak sehingga tidak ada pihak yang dirugikan atau dizalimi. Resiko apapun yang akan

menghadang harus siap untuk diterima, dihadapi, dan disiasati dengan fair. Dari penjelasan di

atas, rasanya tidak salah jika kita menilai bahwa ternyata bekerja di NGO memiliki gengsi

tersendiri dan nilai lebih bagi masyarakat di Aceh, sehingga kini menjadi sebuah trend yang

banyak diminati, temasuk para intelektual dari kalangan mahasiswa dan dosen. NGO bukan saja

dapat memberi alternatif dan tambahan penghasilan, tapi juga menjadi alternatif sebagai media

aktualisasi diri bagi sejumlah intelektual muda Aceh. Bagi sebagian orang, NGO bahkan

memberi ruang gerak yang lebih leluasa untuk menjaga idealisme dari mesin birokrasi yang

jumud dan lembam. Tak salah jika sebagian dari kita merasa ada kebanggaan tersendiri kalau

bisa bekerja di NGO!

Working Paper:

Akuntabilitas Lembaga Swadaya Masyarakat:

Beberapa Observasi

Ridwan al-Makassary

Pengantar

Lembaga Swadaya Masyarakat (selanjutnya disingkat LSM) sedang menuai kritikan tajam. Selama tiga

hari, harian Kompas (16 April, 18 April dan 19 April 2007) menurunkan liputannya mengenai

akuntabilitas Lebaga Swadaya Masyarakat. Bermula dari sebuah diskusi publik bertema ´Perlunya

Mengaudit Agenda dan Sumber Dana Asing terhadap LSM yang merugikan Rakyat, Bangsa dan Negara´

di Jakarta (14 April 2007), akuntabilitas LSM digugat. Beberapa poin yang mengedepan dalam diskusi

tersebut adalah perlunya mengontrol LSM dengan audit publik dan membuat peraturan setingkat Undang-

Undang untuk mengatur tentang LSM sebagai pilar civil society. Ada juga polemik mengenai perlunya

LSM membuka laporan keuangannya kepada publik jika memperoleh dana donor luar negeri. Selain itu,

ada konstatasi bahwa partai politik lebih akuntabel dan transparan dari LSM. Bahkan, ada yang secara

sarkastik menuding beberapa LSM hanya bermodalkan kliping koran, dll.

Berdasar pada liputan Kompas tersebut, penulis mencoba mendiskusikan gagasan dan praktik

akuntabilitas LSM di Indonesia secara lebih berimbang. Bagian awal akan menjelaskan kerangka

konseptual tentang transparansi dan akuntabilitas bagi LSM. Selanjutnya, akan mendeskripsikan

sejarah pertumbuhan LSM di Indonesia, dan juga penyimpangan-penyimpangan aktivisme LSM.

Bagian akhir akan menjelaskan model ideal akuntabilitas LSM.

Kerangka konseptual: Transparansi dan Akuntabilitas

Akuntabilitas, yang sering dipahami sebagai akuntabilitas demokratis, berakar di dalam

pengetahuan, dan sebuah pemahaman terhadap kedua prinsip dasar demokrasi, yaitu, ajaran

mengenai mayoritas dan pemerintahan oleh rakyat. Akuntabilitas berarti kewajiban dasar bagi

sebuah badan (negara, bisnis, LSM) untuk memerhatikan masyarakat atau pemegang saham

untuk mengetahui berbagai kegiatan dan prestasi mereka. Prinsip ini mejamin masyarakat untuk

mengetahui siapa dan bagaimana keputusan sebuah badan ditetapkan dan alasan yang

mendasarinya. Pada saat yang sama, prinsip transparansi merujuk pada sikap terbuka sebuah

badan kepada masyarakat guna mendapatkan akses informasi yang benar, jujur dan adil, seraya

tetap melindungi hak-hak dasar dan kerahasiaan sebuah badan yang bekerja.[1]

Karenanya, akuntabilitas tidak saja terkait dengan pelaporan keuangan, melainkan juga persoalan

legitimasi. Karenanya, untuk mengukur derajat akuntabilitas LSM tidak cukup menyoroti

persoalan teknis, seperti keuangan dan program, tetapi juga partisipasi, konsultasi dan proses

demokratisasi internal LSM.[2]

Menurut Rustam Ibrahim, akuntabilitas LSM adalah proses yang menempatkan LSM

bertanggung jawab secara terbuka atas apa yang diyakininya, apa yang dilakukan dan tidak

dilakukannya kepada stake holder (kelompok sasaran, lembaga donor, sesama Ornop,

pemerintah dan masyarakat luas). Akuntabilitas diwujudkan dalam bentuk pelaporan (reporting),

pelibatan (involving) dan cepat tanggap (responding). Singkatnya, pelaporannya dengan cara

transparan.[3]

Transparansi mengandung arti adanya keterbukaan dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Artinya, setiap aktivitas selalu bisa dibuktikan melalui data yang kuat, sah, dan akurat.

Sedangkan akuntabilitas merupakan manifestasi rasa tanggung jawab yang menuntut

pelaksanaan tugas yang telah diamanahkan dilaksanakan secara bertanggung jawab. Singkatnya,

konsep yang terakhir sejalan dengan efisiensi dan efektifitas.[4]

Sejarah Pertumbuhan Masyarakat Sipil: Sebuah Overview

Gagasan civil society menguat pada dua dasawarsa terakhir, terutama sejak berhembusnya angin

perubahan dan menguatnya gelombang demokratisasi dari daratan Amerika Latin dan Eropa Timur, yang

menyapu berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Civil society, pada dasarnya, memiliki motivasi

dasar untuk merestriksi absolutisme kekuasaan, meningkatkan kapasitas komunitas, mengurangi derajat

negatif ekonomi pasar, dan menuntut akuntabilitas politik serta menaikkan mutu dan sifat inklusif dari

tata kelola pemerintahan (good governance).[5]

Karenanya, intisari civil society adalah visi etik terhadap tatanan kehidupan sosial yang bertolak dari dua

perspektif. Perspektif pertama, terbangun dari tradisi berpikir marxist, yang menekankan basis ide civil

society berdasar pada ketegangan (tensions) antara perkembangan masyarakat dengan kenyataan yang

diperhadapkan oleh negara. Tradisi ini berpandangan masyarakat sebagai sebuah entitas yang mampu

mengatur dirinya sendiri dan memiliki hak dan kebebasan. Keadaan ini membutuhkan perlindungan dari

represi negara. Perspektif kedua, memandang civil society sebagai sebuah tipe ideal di mana organisasi

sosial berdiri sendiri dan merupakan institusi sukarela (voluntary association) serta bebas dari interferensi

negara. Keberadaan civil society merupakan entitas yang berhadapan dengan negara dan sektor swasta.[6]

Kedua pandangan tersebut sejatinya memiliki muara yang sama, yaitu civil society dapat

mengembangkan masyarakat yang lebih demokratis, menjunjung tinggi kemanusiaan (humanity) dan

merealisasikan keadilan sosial (social justice). Dengan demikian, pentingnya civil society merupakan

agenda masyarakat dunia sejak perang dingin (Cold War) berakhir sudah. Bahkan, terpatri keyakinan

bahwa negara akan lebih demokratis jika civil society berkembang.

Tidak ada definisi yang tunggal mengenai civil society. AS Hikam secara eklektik mendefinisikan civil

society sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisir dan bercirikan antara lain kesukarelaan,

keswasembadaan dan keswadayaan. Kemandirian yang tinggi menghadapi negara dan keterikatan dengan

norma atau nilai hukum yang diipanuti oleh warganya.[7]

Sebagai ruang politik, civil society merupakan arena yang dapat menjamin terselenggaranya perilaku,

tindakan dan refleksi mandiri, yang tidak terkungkung oleh kondisi material, dan juga tidak terserap ke

dalam jaringan kelembagaan politik resmi. Berpegang pada penilaian seperti ini, maka civil society

mengejawantah ke dalam pelbagai organisasi/asosiasi yang dibentuk oleh masyarakat di luar pengaruh

negara. Karenanya, Organisasi non pemerintah (ornop), organisasi sosial dan keagamaan, paguyuban, dan

juga kelompok kepentingan merupakan penjelmaan kelembagaan civil society.

Gerakan ornop, atau lebih populer dengan LSM di Indonesia, pada dasarnya juga terbentuk sebagai

pengimbang dominasi negara dalam proses rancang bangun pembangunan. Trend demikian sudah jamak

terjadi di berbagai belahan dunia, baik di Utara (negara-negara maju) maupun di Selatan (negara-negara

berkembang). Namun, di negara maju LSM sudah memainkan agensinya dalam menetapkan kebijakan

publik, oleh karena budaya demokrasi sudah maju, SDM yang mumpuni dan kemampuan finansial yang

tersedia. Sedangkan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, LSM masih berjuang sebagai

mitra pemerintah dalam proses pembanguan.

Sejarah keterlibatan LSM di Indonesia sudah bermula sejak tahun 1950-an. Namun, peran dan aktivitas

yang dijalankan secara umum masih berkutat pada upaya-upaya karitatif, terutama menanggulangi

kelaparan. Jadi, keberadaannya lebih sebagai ³sinterklas´. Priode ini berlangsung hingga tahun 1960-an.

Menurut penulis, meskipun masa sudah berubah, dewasa ini kita masih menemukan LSM yang lebih

berfungsi sebagai sinterklas.

Tahun 1966 hingga 1970-an adalah formative years pertumbuhan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

yang berjuang untuk keluar dari formasi sinterklas. LSM masa ini mulai mengembangkan sikap kritis

terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan.Terdapat tiga argumen yang mendasari perkembangan ini.

Pertama, munculnya inisiatif kalangan non-pemerintah untuk mendirikan organisasi-organisasi non-

pemerintah berbasis komunitas. Beberapa organisasi non-pemerintah seperti LP3ES didirikan atas

prakarsa tokoh-tokoh muda dari kalangan sipil. Kedua, pada fase ini mulai terjalin kontak yang intensif

antara LSM lokal dan internasional sekaligus menandai dimulainya kerjasama dan pengembangan

jaringan (networking) dengan mitra-mitra kerja di luar negeri. Ketiga, pemerintah mulai menyediakan

perangkat hukum sebagai aturan main lembaga-lembaga non-pemerintah tersebut.[8]

Namun, fase ini ditandai dengan local resources yang terbatas. Kalangan LSM lebih banyak bergantung

pada sumber-sumber pendanaan internasional, semisal USAID, The Ford Foundation, The Asia

Foundation, Toyota Foundation, FNS, NOVIB dll. LSM juga menerima bantuan dana dari lembaga

keuangan internasional seperti Bank Dunia dan Asian Development Bank. Selain berbentuk hibah (grant),

dana yang diterima dari sumber terakhir ini sebagian bersifat utang negara.[9]

Sejak tahun 1970-an, kalangan LSM benar-benar menikmati ³surga´ aliran dana tersebut dengan mudah

(easy money). Karenanya, mereka sering dituding menjadi perpanjangan tangan donor asing. Bahkan, ada

asumsi bahwa LSM-LSM tersebut bekerja untuk mendukung agenda donor asing ketimbang menunaikan

kepentingan domestik. LSM menjual kemiskinan, menjual negara, agen-agen kapitalis adalah di antara

aneka tuduhan dari pihak pemerintah atau pihak-pihak yang merasa gerah dengan agenda LSM. Situasi

ini tidak jarang merepotkan para aktivis LSM, terutama dalam menegosiasikan agenda-agenda sosial

politik yang diperjuangkannya. Kesulitannya adalah bagaimana LSM meyakinkan pihak dalam negeri

bahwa agenda mereka bebas dari campur tangan pihak asing.[10]

Di sini tidak ingin dikembangkan suatu perspektif bahwa kerjasama dengan pihak asing merupakan

barang haram. Karena dalam dunia yang menglobal hubungan dan kerjasama dengan negara-negara

sahabat di Barat sungguh tak terelakkan. Apalagi bila hubungan tersebut berlandaskan komitmen untuk

menata dunia yang lebih adil, damai dan sejahtera. Ini juga mengingat sumberdana domestik tidak

mencukupi untuk membiayai agenda-agenda pembangunan. Memperoleh dana pemerintah dalam jumlah

besar sulit terwujud karena anggaran pemerintah yang terbatas. Selain itu, dana seperti ini beresiko

mengkooptasi kemandirian LSM dalam mengadvokasi kebijakan publik.

Sementara itu, penggalangan dana dari perusahaan dalam negeri, atau lebih dikenal dengan istilah

corporate social responsibility (CSR), juga problematik mengingat sebagian besar sektor swasta di

Indonesia menyumbang kontribusi besar dalam mencipta problematika sosial serta merusak lingkungan

alam. Pada masa Orde Baru, kalangan swasta, terutama perusahaan besar, seringkali bersekongkol dengan

penguasa untuk menguras kekayaan alam serta memanfaatkan akses-akses ekonomi politik secara

privilage demi kepentingan bisnis mereka. Salah satu ulah perusahaan besar adalah mengeksploitasi

sumberdaya alam dan ekonomi secara illegal dan membabi buta sehingga menyebabkan Indonesia

terjebak dalam krisis sosial dan kerusakan alam yang sangat parah. Demikianlah beberapa alasan

mengapa organisasi non-pemerintah tidak tertarik menggalang dana dari sektor swasta.[11]

Pada pungkasan 1970-an hingga 1990-an, minyak bumi andalan Indonesia mengalami kerugian dan

membumbungnya utang luar negeri yang sangat memprihatinkan tanah air. Bersamaan dengan itu, rejim

Orde Baru yang otoriter membuat isu-isu dunia seperti lingkungan hidup, demokratisasi, gender dan

HAM kuat berkumandang ke pelbagai sudut-sudut kehidupan. Dalam konteks ini, terjadi

mushroomingLSM yang karakternya bertujuan melakukan transformasi sosial. Fase ini juga masih

mengandalkan bantuan donor asing, yang mengakibatkan LSM menuai tudingan yang tidak sedap seperti

telah disinggung di atas.

Salah satu problem yang menghinggapi LSM dewasa ini adalah keberlanjutan finansial (financial

sustainability). Tidak saja berbagai LSM kecil yang menghayati kesulitan ekonomi, bahkan beberapa di

antaranya berguguran, tetapi juga beberapa LSM besar yang diterpa kesulitan finansial mengalami

kesulitan meneruskan agendanya. Misalnya, kita pernah dikejutkan dengan berita akan tutupnya Yayasan

Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) akibat kekurangan finansial. Kondisi itu tercipta setelah

beberapa lembaga donor menghentikan aliran dananya. Di sini tidak akan dibahas kenapa dana asing itu

distop, karena keterbatasan ruang.

Hasil penelitian Rustam Ibrahim pada tahun 2005 dengan mengambil sampel 25 organisasi, meskipun

tidak semua sampel itu tergolong LSM, karena sebagiannya adalah OSMS, menjustifikasi fenomena itu.

Mayoritas responden mengandalkan bantuan luar negeri yang mencapai 65 %, dan sumber dalam negeri

35 %.[12]

Sementara itu, beberapa tahun terakhir ada kecenderungan berkurangnya dana hibah akibat situasi dunia

yang berubah sehingga ikut mengubah prioritas dan kebijakan lembaga donor. Saya pernah mendengar

bahwa beberapa donor besar, seperti Ford Foundation mulai mengalihkan perhatiannya dari Indonesia

secara perlahan, dan mendorong penggalangan local resources. Akibatnya, berbagai upaya untuk sintas

(survive) sedang dan telah dilakukan oleh LSM dengan menggali local resources yang tersedia, baik

dengan menggalang dana secara masif dari masyarakat maupun melalui unit-unit usaha yang digiatkan

LSM.

Sejak pungkasan tahun 2000-an, terbit fenomena filantropi (kedermawanan) yang luar biasa di kalangan

masyarakat. Pada saat negara mengalami kegagalan mensejahterakan warganya, ketika bencana alam

datang bertalu-talu, animo masyarakat untuk berfilantropi atau berderma sangat kuat. Sayangnya,

filantropi untuk tujuan-tujuan publik atau juga kepada LSM sangat terbatas.[13] Bahkan, beberapa

Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang banyak meraup dana publik enggan untuk bermitra dengan LSM dalam

menyalurkan filantropi untuk keadilan sosial.[14]

Penyimpangan-Penyimpangan Aktivisme LSM

Keberadaan LSM sebagai motor penggerak masyarakat sipil sering dimaknai negatif akibat perilaku

beberapa LSM atau pengurus LSM itu sendiri. Kastorius Sinaga mencotohkan penggelapan dana JPS

yang melibatkan sejumlah LSM tahun 2000; dugaan penyimpangan dana banjir oleh ICE on Indonesia

tahun 2002; tuduhan kolusi antara PLN dengan salah seorang pengurus YLKI tahun 2001 telah

mencoreng wajah LSM.[15]

Hasil observasi LP3ES beberapa waktu lalu di delapan Propinsi menunjukkan berbagai penyimpangan

LSM. Paling tidak ada empat bentuk aktivisme LSM menyimpang ini. Pertama, LSM yang memiliki

tautan yang kuat dengan lingkar kekuasaan, terutama dalam aktivitas dukung mendukung calon pejabat di

berbagai level. Kedua, LSM yang sengaja dibentuk untuk memperebutkan atau menampung proyek

pemerintah (daerah). Kehadiran LSM ini untuk menyahuti peluang kebijakan berbagai negara-negara

donor yang mensyaratkan peran serta masyarakat dalam proyek pembangunan. Umumnya LSM ini

dibentuk atau melibatkan pegawai Pemda setempat bersama kroninya. Ketiga, LSM yang bertujuan untuk

meraih keuntungan ekonomi dengan berkedok LSM yang melakukan kegiatan investigasi, mengkritik

dengan pendekatan wachtdog, namun ujung-ujungnya transaksi money politics digelar dibelakang layar.

Keempat, ada kelompok yang mengidentikkan diri sebagai LSM, yang justru mengabsahkan tindak

kekerasan dan anarkhi.[16]

Model Ideal Akuntabilitas Lembaga Swadaya Masyarakat

Memang harus diakui beberapa perilaku nakal LSM pada akhirnya hanya membuat bopeng wajah LSM

secara umum. Namun, di sini pentingnya untuk tidak menggeneralisasi atau gebyah uyah bahwa semua

LSM tidak akuntabel.

Implementasi akuntabilis LSM memang problematik di kalangan LSM. Menurut Greg Rooney, Civil

Society Program Advisor ACCES, sedikit sekali perhatian yang didedikasikan untuk membentuk

organisasi yang memiliki akuntabilitas dihadapan konstituennya. Bahkan, tidak banyak organisasi nirlaba

yang berupaya meningkatkan prosedur operasional (baik SOP dan AD/ART) yang mengatur

organisasinya. Bahkan, ada resistensi sejumlah LSM terutama yang menerima hibah donor asing untuk

tidak melaporkan keuangannya secara transparan.[17]

Akuntabilitas LSM memang lebih ditujukan kepada donor secara langsung dengan cara membuat laporan

akhir dan laporan keuangan. Donor tersebut yang akan melaporkan kepada publik. Namun, jika

memperoleh dari pemerintah, maka LSM wajib melaporkannya kepada masyarakat. Sejauh ini beberapa

LSM juga telah melaporkan kegiatan dan keuangannya kepada donor dan kepada publik. Ada yang

membuat laporan tahunannya secara reguler dan bisa diakses publik. Jadi, tidak benar sama sekali bahwa

tidak ada akuntabilitas LSM. Sebab jika itu benar, maka para donor juga enggan menggelontorkan dana

hibahnya. Yayasan Interseksi, misalnya, mengembangkan akuntabilitas publik dengan cara

mempublikasikan program risetnya melalui buku yang dapat dibeli di toko-toko buku. Bahkan, serpihan-

sepihan sebuah program yang berjalan diberi ruang untuk dimuat di website. Ini juga mungkin suatu cara

untuk menegaskan bahwa LSM bukanlah sarang ³penyamun´, yang hanya sibuk mengkliping koran.

Dalam kasus Interseksi, publikasinya menerima resepsi yang meriah. Misalnya buku Hak Minoritas

Dilema Multikulturalisme di Indonesia, yang notabene hasil riset atas bantuan Yayasan Tifa, menjadi

bahan ajar di Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.

Beberapa tahun terakhir, LSM telah mulai melirik pemberlakuan kode etik dan akreditasi/sertifikasi.

Aplikasi kode etik atau akreditasi bagi LSM akan ideal jika terbangun secara orisinil dari kalangan LSM

sendiri, dan tidak harus bersifat monolitik. Apalagi jika diatur dengan perangkat hukum untuk

membungkam LSM, yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah dan pro aktif mengadvokasi

masyarakat terpinggirkan. Tolok ukur yang seragam dan elitis harus dijauhi dan juga tidak mudah dicapai.

Beberapa LSM sudah mengembangkan akuntabilitasnya. Upaya yang tengah digiatkan oleh KPMM di

Padang dan Sawarung di Bandung, contohnya, sangat penting untuk disokong secara kolektif. Demikian

juga, eksprimentasi LP3ES dalam merumuskan formula Kode Etik LSM di tingkat regional dan nasional

harus juga didukung.

Sebagai kesimpulan singkat, mari kita bersikap adil terhadap LSM. Jangan memojokkan LSM hanya

sebagai kedok untuk menutupi bopeng wajah sendiri atau manifestasi dari vested interest.

[1]Lusi Herlina, ³Pengembangan Transparansi dan Akuntabilitas di KPMM, Sumbar´, dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan

Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa,

2004, h. 197

[2]Zaim Saidi, ³Lima Persoalan Mendasar dan Akuntabilitas LSM´ dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan Otokritik LSM:

Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa, 2004, h. 39

[3]Rustam Ibrahim dikutip dalam Hamid Abidin, ³Transparansi dan Akuntabilitas LSM: Problem dan Ikhtiar´, dalam Hamid Abidin dan Mimin

Rukmini (ed), Kritik dan Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC,

Ford Foundation dan Tifa, 2004, h.62.

[4]Andi Faisal Bakti, ³Good Governance dalam Islam: Gagasan dan Pengalaman, dalam buku Islam Negara dan Civil Society Gerakan dan

Pemikiran Islam Kontemporer, Jakarta: Paramadina, 2005, h. 332-334.

[5] Rustam Ibrahim Dkk. Governance dan Akuntabilitas LSM Indonesia. 2004.

[6] AS.Hikam. Civil Society. LP3ES.

[7] Ibid.

[8]Wawancara Ridwan al-Makassary dengan Andy Agung Prihatna, Peneliti LP3ES, di Jakarta awal Januari 2005. Wawancara ini ketika itu

dilakukan untuk kepentingan penelitian riset ´Filantropi untuk Keadilan Sosial dalam Masyarakat Islam: Kasus Indonesia´ CSRC UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

[9] Richard Holloway, Menuju Kemandirian Keuangan, Jakarta: Yayasan Obor, 2001

[10] Richard Holloway, Menuju Kemandirian Keuangan, Jakarta: Yayasan Obor, 2001, h. 17-18.

[11]Lihat, buku Sumbangan Sosial Perusahaan (penyunting Zaim Saidi dkk), Jakarta: PIRAC, 2003, h 23-24..

[12]Hamid Abidin, ³Transparansi dan Akuntabilitas LSM: Problem dan Ikhtiar´, dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan

Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa,

2004, h. 66.

[13]Ridwan al-Makassary, ³Pengarusutamaan Filantropi Islam untuk Keadilan Sosial di Indonesia: Proyek yang Belum Selesai´ dalam Jurnal

Galang, vol 1, No.3, April 2006, h. 38-49. Lihat juga buku-buku Filantropi yang diterbitkan oleh CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan

PIRAC. Keduanya beberapa tahun terakhir menggalakkan studi Filantropi untuk Keadilan Sosial (Philanthropy for Social Justice).

[14]Adi Chandra Utama, ³Menyambung yang Terputus (Model Bagi Optimalisasi Potensi Kedermawanan Menuju Keadilan Sosial´ dalam Jurnal

Galang, vol 1, No.3, April 2006, h.5-21.

[15]Kastorius Sinaga, ³Melembagakan Transparansi dan Kontrol LSM di Indonesia´ dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan

Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa,

2004, h. 85

[16]Zaim Saidi, ³Lima Persoalan Mendasar dan Akuntabilitas LSM´ dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan Otokritik LSM:

Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa, 2004, h. 39

[17]Hamid Abidin, ³Transparansi dan Akuntabilitas LSM: Problem dan Ikhtiar´, dalam Hamid Abidin dan Mimin Rukmini (ed), Kritik dan

Otokritik LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia, Jakarta: PIRAC, Ford Foundation dan Tifa,

2004, h. 62.

Kiprah Perempuan di Ranah Politik dari Masa

ke Masa

Written by Luky Sandra Amalia

Wednesday, 30 June 2010 00:00

There are no translations available.

Secara kuantitas, perempuan di Indonesia berjumlah 101.625.816 jiwa atau menempati 51% dari

seluruh penduduk Indonesia (BPS, 2000). Tetapi, karena konstruksi budaya dalam masyarakat

membuat perempuan harus menempati posisi kedua setelah laki-laki. Pembagian kerja berbasis

jenis kelamin (gender based division of labor) telah melandasi terjadinya stratifikasi gender yang

membuat perempuan hanya bekerja di sektor domestik sedangkan laki-laki di wilayah publik.

Pekerjaan di sektor domestik seringkali dianggap lebih rendah daripada pekerjaan di wilayah

publik, disamping juga dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bernilai ekonomi (unpaid labor).

Oleh karena itu, aktivis perempuan tidak henti-hentinya berjuang untuk meningkatkan kesadaran

perempuan yang secara sadar atau tidak sadar telah mengadopsi praktek-praktek patriarki,

bahkan perempuan sendiri menerima keadaan tersebut sebagai kodrat (given). Sebenarnya,

bagaimana kiprah kaum perempuan di Indonesia, khususnya di bidang politik? Sejak kapan

perjuangan perempuan di ranah politik dimulai dan bagaimana bentuknya? Untuk itu, tulisan ini

akan menuturkan kiprah perempuan di ranah politik dari masa ke masa.

Perempuan dan Rezim

Perjuangan aktivis perempuan, sejatinya, telah dimulai jauh sebelum Republik Indonesia

merdeka. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya organisasi-organisasi perempuan yang

berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia. Misalnya, organisasi Pawijatan Wanito di

Magelang yang didirikan pada tahun 1915 dan PIKAT (Perantaraan Ibu kepada Anak Temurun)

yang dibentuk di Manado pada tahun 1917. Selain itu, di Surabaya juga ada organisasi

perempuan yang dikenal dengan Poetri Boedi sejak didirikan pada tahun 1919 (Suryochondro,

1999:3). Beberapa organisasi perempuan ini, setidaknya, memberikan inspirasi bagi gerakan

kaum perempuan yang terus menjamur pada masa selanjutnya, yaitu masa setelah kemerdekaan

hingga memasuki Orde Lama.

Perkembangan organisasi perempuan semakin tampak setelah lahirnya Kongres Wanita

Indonesia (Kowani) pada tahun 1945. Kowani merupakan ³reinkarnasi´ dari organisasi

perempuan yang didirikan pada tahun 1928, yaitu Perikatan Perkoempoelan Perempuan

Indonesia (PPPI). Sayangnya, pada tahun 1965 Kowani menghadapi persoalan yang cukup

serius, yaitu pimpinannya memiliki keberpihakan kepada G 30 S/PKI. Namun demikian, keadaan

ini telah memunculkan organisasi perempuan baru sebagai bentuk respon atas peristiwa tersebut,

yaitu Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (Kawi). Tidak hanya itu, organisasi lain yang juga muncul

adalah Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang beraliran komunis (Kompas,7 Oktober 1999).

Pada masa Orde Lama, selain organisasi juga muncul beberapa nama perempuan yang berkiprah

dalam bidang politik, antara lain Kartini Kartaradjasa dan Supeni, dua nama yang terkenal dari

Partai Nasional Indonesia (PNI). Tidak hanya itu, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) juga

memiliki tokoh perempuan yaitu Walandauw. Demikian halnya di Partai Nadhlatul Ulama juga

ada nama Mahmuda Mawardi dan HAS Wachid Hasyim. Sementara itu, Salawati Daud

merupakan tokoh perempuan terkenal dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini

menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan Orde Lama, keberadaan perempuan

diperhitungkan di panggung politik. Namun, semua itu sirna seiring dengan berakhirnya masa

kekuasaan rezim Orde Lama dan berganti dengan Orde Baru.

Masa transisi dari Orde Lama menuju Orde Baru merupakan saat yang sulit bagi pergerakan

perempuan di Indonesia. Organisasi perempuan dianggap sebagai salah satu elemen yang harus

diawasi dan dipasung atas nama kepentingan negara. Salah satu contoh nyata adalah gerakan

penghancuran hingga ke akar-akarnya yang dilakukan terhadap Gerwani pada tahun 1965.

Penghancuran ini dilakukan dengan cara politik pencitraan hingga di tingkat daerah dimana

Gerwani dicitrakan sebagai sekumpulan perempuan kejam yang kerapkali menyilet dan

menyiksa para korbannya.

Pada masa Orde Baru, organisasi perempuan disentralisasi oleh negara di bidang

³keperempuanan´. Perempuan berperan sebagai istri pendamping suami, pendidik anak dan

pembina generasi muda, serta pengatur ekonomi rumah tangga. Kalaupun ada perempuan yang

bekerja di luar rumah, hanya dianggap sebagai pencari nafkah tambahan. Selain itu, kiprah

perempuan di luar rumah juga difokuskan pada aktivitas sosial dan penyumbang tenaga pada

masyarakat. Hal ini, tentu saja, semakin melanggengkan budaya patriarki.

Salah satu organisasi yang terkenal pada masa itu adalah Dharma Wanita yang berdiri pada tahun

1974 dan dikenal sebagai organisasi istri pegawai negeri. Organisasi ini juga terkenal dengan

programnya yang disebut PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Demikian halnya dengan

istri-istri ABRI juga tergabung dalam organisasi sesuai dengan bidang suaminya, antara lain

Persit (Persatuan Istri Tentara) Candra Kirana bagi istri angkatan darat, Jalasenastri untuk istri

angkatan laut, PIA Ardhya Garini bagi istri angkatan udara, dan Bhayangkari untuk istri anggota

Polri.

Namun demikian, pada tahun 1980-an banyak bermunculan organisasi perempuan yang mencoba

untuk keluar dari rumusan peran Orde Baru, diantaranya Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) di

Yogyakarta dan Yayasan Kalyanamitra di Jakarta. Yayasan ini bahkan memiliki jaringan hingga

ke LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), yakni LSM Solidaritas Perempuan dan LSM Rifka

Annisa. Perjuangan aktivis perempuan pada masa ini tidaklah mudah sebab di satu sisi mereka

harus mengubah mindset kaum perempuan terhadap kesetaraan gender, dan di sisi lain mereka

juga harus berhadapan dengan negara yang memiliki rumuan peran perempuan yang berbeda

dengan perjuangan mereka.

Perempuan dan Reformasi

Keberadaan organisasi perempuan semakin mendapat tempat seiring dengan runtuhnya rezim

otoriter Orde Baru. Perjuangan aktivis perempuan untuk memperjuangkan hak kaum perempuan

yang selama ini dipasung oleh pemerintah atas nama kepentingan negara semakin terbuka lebar.

Organisasi perempuan terus bermunculan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk

ormas, yayasan, dan LSM, melainkan juga dalam bentuk women crisis center dan hotline. Tidak

hanya itu, partai politik pun tidak ketinggalan memasukkan unsur perempuan ke dalam bidang

organisasinya maupun sayap organisasi yang dipimpin langsung oleh perempuan. Misalnya,

Partai Golkar memiliki Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG), Partai Persatuan

Pembangunan (PPP) memikili Wanita Persatuan, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memiliki

Perempuan Kebangkitan Bangsa, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memiliki

Departemen Urusan Pemberdayaan Perempuan (DUPP), Partai Amanat Nasional (PAN)

memiliki Perempuan Amanat Nasional, dan masih banyak lagi.

Keberpihakan terhadap kaum perempuan juga ditunjukkan dengan amandemen UUD 1945 dan

memuat unsur kesetaraan gender dalam bentuk persamaan hak dan kewajiban antar sesama

warga negara dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang hukum dan

pemerintahan. Bahkan, pada saat pembentukan draft amandemen UUD 1945, organisasi

perempuan juga dilibatkan di bawah koordinasi Komite Perempuan untuk Perdamaian dan

Demokrasi. Hal ini diperkuat dengan UU RI Nomor 39 Tahun 1999, Pasal 46, tentang Hak Asasi

Manusia yang menjamin keterwakilan perempuan, baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.

Tidak hanya itu, pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang

Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional yang mengharuskan seluruh kebijakan

dan Program Pembangunan Nasional dirancang dengan perspektif gender (Anshor, 2008).

Sebelum itu, sebetulnya pemerintah Orde Baru telah meratifikasi Deklarasi Universal Hak Asasi

Manusia, Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan

(Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women-CEDAW) yang

disahkan melalui UU R Nomor 7 Tahun 1984.

Namun demikian, perjuangan perempuan masih menemui jalan berliku karena hingga saat ini

untuk mencapai wilayah publik (lembaga legislatif) harus melalui pintu partai politik sebagai

satu-satunya mesin politik di Indonesia. Padahal, tidak semua partai politik berpihak kepada

perempuan. Artinya, dunia politik masih kental dengan budaya maskulinisme. Misalnya, rapat

partai dilakukan pada malam hari hingga menjelang subuh. Keadaan ini menyulitkan bagi

perempuan, yang secara tradisional terikat dengan beban kewajiban untuk menjaga anak dan

melayani suami. Sehingga, hal tersebut menghambat perempuan untuk berperan di bidang

politik. Contoh lain, mayoritas perempuan tidak mandiri secara ekonomi, artinya secara finansial

masih bergantung kepada suami. Oleh karena itu, perempuan harus seijin suaminya dalam hal

membelanjakan uangnya, termasuk untuk membelanjakan uangnya di bidang politik, terkait

dengan gerakannya di partai politik. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang mayoritas bertindak

sebagai pengambil keputusan berkaitan dengan posisinya sebagai kepala rumah tangga.

Bahkan, ketika aktivis perempuan berhasil mendesakkan tindakan afirmatif dalam UU Pemilu

yang memuat kuota 30% bagi keberadaan calon anggota legislatif perempuan, itu pun tidak

berjalan mulus mendudukkan perempuan sebagai wakil rakyat. Hal ini terkait dengan persoalan

teknis di lapangan, dimana kuota 30% bagi perempuan hanya diberlakukan di tataran pencalonan

dan tanpa sanksi bagi partai politik yang tidak mampu memenuhinya. Sedangkan, urusan

penomoran urutan caleg berada di tangan pimpinan partai politik yang didominasi oleh laki-laki.

Tidak hanya itu, sistem zipper yang sedianya dianggap mampu menaikkan keterwakilan

perempuan di parlemen justru harus ³kandas´ karena ³dipatahkan´ melalui Keputusan

Mahkamah Konstitusi (MK).

Dengan demikian, perjuangan perempuan dalam upaya menegakkan kesetaraan gender masih

jauh dari harapan. Peningkatan jumlah anggota dewan perempuan dari periode ke periode belum

mampu mengentaskan kaumnya dari ketidaksetaraan gender yang dialami. Oleh karena itu,

perjuangan perempuan untuk mewujudkan kesetaraan gender tidak dapat dilakukan oleh kaum

perempuan sendiri, melainkan diperlukan kerjasama dengan entitas sosial lain yang memiliki

kepekaan terhadap persoalan perempuan (gender sensitivity). Selain itu, perjuangan tersebut juga

memerlukan upaya yang sistematis, terprogram, dan berkesinambungan pada semua sisi

pembangunan. Disamping itu, perjuangan tersebut juga memerlukan komitmen bersama dari

para pengambil keputusan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, LSM, kaum

cendekiawan, beserta seluruh elemen masyarakat dalam rangka mengeliminasi berbagai kendala

kultural, struktural, dan instrumental dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender di semua lini

kehidupan. (Luky Sandra Amalia)

Sekedar Bertutur...

Tulisan-tulisan disini sekedar menuturkan gumam, membahas cerita-cerita tentang masyarakat,

mencoba menautkannya dengan kajian kesejahteraan sosial walupun masih lemah berteori. Blog

ini merupakan sarana mendiskusikan hal sederhana yang ditemukan di µjalanan¶, di

µpersimpangan¶, hingga di 'pedalaman'. Jika mungkin layak bisa ditautkan dengan konteks

pengembangan masyarakat, CSR, kemiskinan atau atribusi lain.

Sabtu, 03 April 2010

VISI PEMBANGUNAN NASIONAL dan LUNTURNYA MODAL SOSIAL

Latar Belakang

Sejak dilakukan amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945, terjadi berbagai perubahan

dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, yaitu terjadinya perubahan dalam pengelolaan pembangunan,

dengan tidak dibuatnya lagi garis-garis besar haluan negara (GBHN) sebagai pedoman penyusunan

rencana pembangunan nasional. Disisi lain, Indonesia membutuhkan perencanaan pembangunan jangka

panjang sebagai arah dan prioritas pembangunan secara menyeluruh yang dilakukan secara bertahap

dalam upaya mewujudkan masyarakat adil dan makmur sebagaimana diamanatkan dalam Undang-

Undang Dasar 1945. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dibuatlah Undang-undang terkait dengan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional yaitu Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007

(UU No.17 tahun 2007)

RPJP Nasional merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Indonesia

yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,

memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangs dan ikut melaksanakan

ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dalam

bentuk rumusan, visi, misi dan arah pembangunan nasional.

Kurun waktu RPJP Nasional adalah 20 (dua puluh) tahun. Pelaksanaan RPJP 2005-2025 terbagi

kedalam tahap-tahap perencanaan pembangunan dalam periodisasi perencanaan pembangunan jangka

menengah nasional 5 (lima) tahunan yang dituangkan dalam RPJM Nasional I Tahun 2005-2009, RPJM

Nasional II Tahun 2010-2014, RPJM Nasional III Tahun 2015-2019, dan RPJM Nasional IV Tahun 2020-

2024.

RPJP Nasional digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan RPJM Nasional.

Pentahapan pembangunan nasional disusun dalam masing-masing periode RPJM Nasional sesuai

dengan visi, misi dan Program Presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat. RPJM

Nasional memuat strategi pembangunan nasional, kebijakan umum, program kementrian/

lembaga dan lintas kementrian/lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka

ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah

kebijakan fiskal dalam rencana kerja berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang

bersifat indikatif.

RPJMN memiliki peran strategis karena menjadi acuan dalam perjalanan bangsa, salah satu

aspek yang dikaji dalam makalah ini adalah mengenai salah satu visi pembangunan nasional yaitu

mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan

falsafah pancasila. Jika dirunut dari Visi dan misi pembangunan nasional, disebutkan bahwa Visi

pembangunan nasional harus dapat dukur untuk mengetahui tingkat kemandirian, kemajuan, keadilan

dan kemakmuran yang ingin dicapai. Secara mendasar kemandirian sesunguhnya mencerminkan sikap

sesorang atau sebuah bangsa mengenai dirinya, masyarakatnya, serta semangatnya dalam menghadpai

tantangan-tantangan. Karena menyangkut sikap, kemandirian pada dasarnya adalah masalah budaya

dalam arti seluas-luasnya. Sikap kemandirian harus dicerminkan dalam setiap aspek kehidupan, baik

hukum, ekonomi, politik, sosial budaya, maupun pertahanan kemanan.

Tingkat kemajuan suatu bangsa dinilai berdasarkan berbagai ukuran. Ditinjau dari indikator

sosial, tingkat kemajuan suatu negara diukur dari kualitas sumber daya manusianya. Suatu bangsa

dikatakan semakin maju apabila sumber daya manusianya memiliki kepribadian bangsa, berakhlak

mulia, dan berkualitas pendidikan yang tinggi. Tingginya kualitas pendidikan penduduknya ditandai oleh

makin menurunnya tingkat pendidikan terendah serta meningkatnya partisipasi pendidikan dan jumlah

tenaga ahli serta profesional yang dihasilkan sistem pendidikan.

Salah satu visi pembangunan nasional, yaitu Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia,

bermoral, beretika, berbudaya dan beradab berdasarkan falsafah pancasila adalah memperkuat

jatidiri dan karakter bangsa melelui pendidikan yang bertujuan membentuk manusia bertakwa

kepada Tuhan yang Maha Esa, mematuhi aturan hukum, memelihara kerukunan internal dan

antar umat eragama, melaksanakan interaksi antarbudaya, mengembangkan modal sosial,

menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan memiliki kebanggan sebagai bangsa Indonesia

dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral, dan etika pembangunan bangsa.

Dalam arah, tahapan, dan prioritas pembangunan jangka panjang, terdapat ukuran tercapainya

indoneisia yang maju, mandiri, dan adil, pembangunan nasional dalam 20 tahun mendatang diarahkan

pada pencapaian sasaran-sasaran pokok dalam hal ini pada aspek Terwujudnya Masyarakat Indonesia

Berakhlakmulia, Bermoral, Beretika, Berbudaya, dan Beradab ditandai oleh hal-hal berikut:

1. Terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral

berdasarkan falsafah pancasila yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan

masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa,

berbudi luhur, toleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis dan berorientasi

IPTEK.

2. Makin mantapnya budaya bangsa yang tercermin dalam meningkatnya peradaban, harkat dan

martabat manusia Indonesia, dan menguatnya jati diri dan kepribadian bangsa.

Arah pembangunan jangka panjang dalam upaya mewujudkan masyarakat yang

berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab adalah sangat penting bagi

terciptanya suasana kehidupan masyarakat yang penuh toleransi, tenggang rasa, dan harmonis.

Disamping itu kesadaran akan budaya memberikan arah bagi perwujudan identitas nasonal yang

sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa dan menciptakan iklim kondusif dan harmonis

sehingga nilai-nilai kearifan lokal mampu mersespon modernisasi secara positif dan produktif

sejalan dengan nilai-nilai kebangsaaan;

1. Pembangunan agama diarahkan untuk menetapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan

moral dan etika dalam pembangunan, membina akhlak mulia, memupuk etos kerja, menghargai

prestasi, dan menjadi kekuatan pendorong guna mencapai kemajuan dalam pembangunan.

Disamping itu pembangunan agama diarahkan pula untuk meningkatkan kerukunan hidup antar

umat beragama dengan meningkatkan rasa saling percaya dan harmonis antar keompok

masyarakat sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang penuh toeransi, tenggang rasa

dan harmonis.

2. Pembangunan dan pemantapan jatidiri bangsa ditujukan untuk mewujudkan karakter bangsa dan

sisitem sosial yang berakar, unik, modern, dan unggul. Jatidiri tersebut merupakan kombinasi

antara nilai luhur bangsa seperti religus, kebersamaan dan persatuan, serta nilai modern yang

universal, mencakup etos kerja dan prinsip tata kepemerintahan yang baik. Pembangunan jatidiri

bangsa tersebut dilakukan melalui transformasi, revitalisasi, dan reaktualisasi tata nilai budaya

bangsa yang mempunyai potensi unggul dan memantapkan nilai modern yang membangun.

Untuk memperkuat jatidiri dan kebanggaan bangsa, pembangunan olah raga diarahkan pada

peningkatan budaya dan prestasi oleh raga.

Makalah ini secara khusus membahas mengenai visi pertama pembangunan nasional

yaitu Mewujudkan Masyarakat Berakhlak Mulia, Bermoral, Beretika, Berbudaya dan Beradab

Berdasarkan Falsafah Pancasila. Visi ini amatlah penting dikarenakan menjadi identitas

masyarakat Indonesia, ukuran ideal masyarakat Indonesia, juga menjadi pencerminan sikap

terhadap bangsa lain. Namun tantangan terhadap konsistensi dari visi ini sangatlah besar baik

dari sisi internal maupun eksternal, terlebih indikasi desakralisasi jatidiri bangsa terjadi begitu

massif seperti menjamurnya budaya demoralisasi seperti korupsi, kolusi dan nepotisme,

hilangnya rasa malu, pensyakralan hal-hal profan dan pemprofanan hal-hal yang sifatnya sakral.

Hal yang paling dihawatirkan saat ini adalah globalisasi telah membawa budaya lintas batas,

dimana secara kebudayaan masyarakat Indonesia telah dijajah budaya barat dan lebih menyukai

penetrasi budaya tersebut, yang secara tidak langsung telah berhasil membuat masyarakat

Indonesia kehilangan identitasnya.

Menjadi sebuah pertanyaan apakah RPJM Nasional yang yang didalamnya terdapat visi

Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab berdasarkan

falsafah pancasila, sudah siap dengan perubahan zaman, sudah memprediksi dan mempersiapkan

langkah prefentif tehadap penajajahan kultural bangsa lain, atau malah visi RPJM hanya menjadi

sekedar simbol tertulis yang sama sekali tidak membumi, sehingga ada atau tidak ada visi tersebut tidak

ada pengaruhnya terhadap batas dberkasi antara identitas bangsa dengan penetrasi budaya luar.

Belum lagi aspek lain terkait identitas yang lebih pada ruang komunitas, yaitu pemerintah

sering tidak menyadari, jika program-program yang dilakukan mencerminkan nilai-nlai yang

jauh dari upaya mewujudkan akhlak mulia, bermoral dan bertetika, berbudaya dan beradab.

Karena beberapa program malah meluruhkan hal-hal tersebut, seperti halnya pada program

Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang lebih mengajarkan masyarakat untuk berlomba-lomba

merasa miskin atau menjadi bangga dengan kemiskinanya, membuat kecemburuan sosial

diantara warga, memunculkan mentalitas masyarkat yang tidak berdaya, semakin menguatkan

budaya kemisiknan, memberikan ikan bukan pancing.

Pada program pemerintah lainnya, yaitu Program Nasional Pemberdayaan Nasional

Mandiri (PNPM Mandiri) pada beberapa kasus telah memberikan kontribusi dalam

menurunkannya modal masyarakat Indonesia. PNPM yang dirancang memberdayakan

masyarakat, dengan konsep dasar membangun partisipasi, ternyata memberikan dampak negatif,

yaitu menumbuhkan rasa curiga mencurigai antar masyarakat terkait program yang pada

akhirnya menjadi proyek yang diperebutkan warga, memunculkan keengganan masyarakat

bergotong royong dengan dalih sudah ada PNPM, mendidik masyarakat memanipulasi dan

mengkorupsi dana PNPM. Kondisi ini telah merubah struktur dan kultur masyarakat yang sudah

ada yaitu bentuk-bentuk kearifan lokal, berbuat tanpa pamrih, saling membantu, tenggang rasa

dan lain-lain.

Modal sosial merupakan identitas atau jati diri bangsa yang harus dipupuk dan dijaga,

selama bangsa ini ada. Sedangkan pemerintah atas dasar pembangunan mencoba memasukan

unsur eksternal pada kebudayaan lokal terlebih ada kaitan dengan nilai materi yang secara tidak

langsung merubah tatanan sosaial yang sudah ada.

Berdarkan dua kondisi diatas, perlu adanya upaya untuk menajga kemurnian visi

pembanguann nasional, dengan mengawal dan terus menerus mengevaluasi kondsi yang ada,

sehingga ketika ada aspek yang diperkirakan menggangu harus segera diantisipasi, bukan

dibiarkan dan dipelihara. Terkait itu perlu adanya kajian khusus mengenai modal sosial bangsa

Indonesia, dan bagaimana supaya terus terkuatkan sehingga tidak terjadi penurunan. Dalam

makalah ini sengaja dikaji mengenai modal sosial, tujuannya adalah agar menjadi patokan dalam

upaya membentengi identitas bangsa dari ancaman pengaruh internal dan eksternal. Selain

menjadi pelengkap dalam indikator visi pertama pembangunan nasional.

Modal sosial

Para sosiolog, analis kebijakan dan pekerja sosial, belakang ini cukup sering membicarakan

mengenai modal dalam bentuk lain, seperti modal manusia, modal intelektual dan modal kultural atau

budaya, yang juga dapat digunakan untuk keperluan tertentu atau diinvestasikan untuk kegiatan di masa

yang akan datang. Modal manusia misalnya dapat meliputi keterampilan atau kemampuan yang dimiliki

orang untuk melakukan tugas tertentu. Modal intelektual mencakup kecerdasan atau ide-ide yang

dimilikii manusia untuk mengartikulasikan sebuah konsep atau pemikiran. Sedangkan modal kultural

meliputi pengetahuan dan pemahaman komunitas terhadap praktek dan pedoman-pedoman hidup

dalam masyarakat. Konsep mengenai modal manusia, intelektual dan kultural lebih sulit diukur, karena

melibatkan pengetahuan yang dibawa orang dalam benaknya dan tidak mudah dihitung secara biasa.

Modal sosial yang juga konsep yang tidak gampang diidentifikasi dan apalgi diukur secara kuantitas dan

absolut. Modal sosial dapat didiskusikan dalam konteks komunitas yang kuat (strong community),

masyarakat madani yang kokoh, maupun identitas negara bangsa (nation state identity). Modal sosial

termsuk elemen-elemennya seperti kepercayan, kohesivitas, altruisme, gotong royong, jaringan dan

kolaborasi sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui beragam

mekanisme, seperti meningkatnya partisipasi dalam proses demokrasi, menguatnya keserasian

masyarakat, dan menurunnya tingkat kekerasan dan kejahatan (Suharto, 2008).

Dua tokoh utama yang mengembangkan konsep modal sosial , yaitu Putnam dan Fukuyama,

memberikan definisi modal sosial yang penting. Meskipun berbeda, definisi keduanya memiliki kaitan

yang erat, terutama menyangkut konsep kepercayaan (trust). Putnam mengartikan modal sosial sebagai

penampilan organisasi sosial seperti jaringan-jaringan dan dan kepercayaan yang memfasilitasi adanya

koordinasi dan kerjasama bagi keuntungan bersama. Menurut Fukuyama, modal sosial adalah

kemampuan yang timbul dari adanya kepercayaan dari sebuah komunitas.

Modal sosial dapat diartikan sebagai sumber (resource) yang timbul dari adanya interaksi

antara orang-orang dalam satu komunitas. Namun demikian pengukuran modal sosial jarang

melibatkan interaksi itu sendiri. Melainkan,hasil dari interaksi tersebut, seperti terciptanya atau

terpeliharanya kepercayaan antar warga masyarakat. Sebuah interaksi dapat terjadi dalam skala

individual maupun institusional. Secara individual, interaksi terjadi manakala relasi intim antar

individu terbentuk satu sama lain yang kemudian melahirkan ikatan emosional. Secara

institusional, interaksi dapat lahir pada saat individu dan tujuan suatu organisasi memiliki

kesamaan dengan visi dan tujuan organisasi lainnya.

Meskipun interaksi terjadi karena berbagai alasan, orang-orang berinteraksi, berkomunikasi dan

kemudian menjalin kerjasama pada dasarnya dipengaruhi oleh keinginan untuk berbagai cara mencapai

tujuan bersama yang tidak jarang berbeda dengan tujuan dirinya secara pribadi. Keadaan ini terutama

terjadi pada interaksi yang berlangsung relatif lama. Interaksi ini melahirkan modal sosial yaitu ikatan-

ikatan emosional yang menyatukan orang untuk mencapai tujuan bersama, yang kemudian

menumbuhkan kepercayaan dan kemanan yang tercipta dari adanya relasi yang relatif panjang. Seperti

halnya modal finansial, modal sosial seperti ini dapat dilihat sebagai sumber yang dapat digunakan baik

untuk kegiatan atau proses produksi untuk saat ini, ataupun bagi kegiatan di masa depan.

Masyarakat yang memiliki modal sosial tinggi cenderung bekerja secara gotong-royong,

cenderung merasa aman untuk berbicara dan mampu mengatasi perbedaan-perbedaan. Sebaliknya

masyarakat yang memiliki modal sosial rendah akan tampak adanya kecurigaan satu sama lain,

merebaknya kelompok kita dan kelompok mereka , tiadanya kepastian hukum dan keteraturan

sosial, serta sering munculnya kambing hitam.

Parameter Modal sosial

Modal sosial mirip bentuk-bentuk modal lainnya, dalam arti ia juga bersifat produktif. Modal

sosial dapat dijelaskan sebagai produk relasi manusia satu sama lain, khsususnya relasi yang intim dan

konsisten. Modal sosial menunjuk pada jaringan, norma dan kepercayaan yang berpotensi pada

produkstifitas masyarakat. Namun demikian modal sosial berbeda dengan modal finansial, karena modal

sosial bersifat kumulatif dan bertambah dengan sndirinya (self reinforcing) (Putnam, 1993). Modal sosial

tidak akan habis jika dipergunakan, melainkan semakin meningkat. Rusaknya modal sosial lebih sering

disebabkan oleh bukan karena dipakai, melainkan karena ia tidak dipergunakan. Berbeda denga modal

manuisa, modal sosial juga menunjuk pada kemampuan orang untuk berasosiasi dengan orang lain

(coleman 1988). Bersandar pada norma-norma dan nilai-nilai bersama, asosiasi antar manusia tersebut

menghasilkan kepercayaan yang pada gilirannya memiliki nilai ekonomi yang besar dan terukur

(Fukuyama, 1995).

Merujuk pada Ridell (1997), ada tiga parameter modal sosial, yaitu kepercayaan (trust), norma-

norma (norms) dan jaringan-jaringan (networks).

1. Kepercayaan

Sebagaiman dijelaskan Fukuyama, kepercayaan adalah harapan yang tumbuh di dalam sebuah

masyarakat yang ditunjukkan oleh perilaku jujur, teratur, dan kerjasama yang dianut oleh norma-

norma yang dianut bersama. Kepercayaan sosial sosial merupakan penerapan terhadap

pemahaman ini. Cox (1995) kemudian mencatat bahwa dalam masyarakat yang memiliki tingkat

kepercayaan tinggi, aturan-aturan sosial cenderung bersifat positif; hubungan-hubungan juga

bersifat kerjasama. Kepercayaan sosial pada dasarnya produk dari modal sosial yang baik.

Adanya modal sosial yang baik ditandai oleh adanya lembaga-lembaga sosial yang kokoh; modal

sosial melahirkan kehidupan yang harmonis (Putnam, 1995). Kerusakan modal sosial akan

menimbulkan anomie dan perilaku anti sosial (Cox, 1995).

2. Norma

Norma terdiri dari pemahaman, nilai-nilai, harapan±harapan dan tujuan-tujuan yang diyakini dan

dijalankan bersama oleh sekelompok orang. Norma-norma dapat bersumber dari agama, panduan

moral, maupun standar-standar sekuler seperti halnya kode etik profesional. Norma-norma

dibangun dan berkembang berdasarkan sejarah kerjasama dimasa lalu dan diterapkan untuk

mendukung iklim kerjasama (Putnam, 1993; Fukuyama, 1995). Norma-norma dapat merupakan

prakondisi maupun produk kepercayaan sosial.

3. Jaringan

Infrastruktur dinamis dari modal sosial berwujud jaringan-jaringan kerjasama antar manusia

(Putnam, 1993). Jaringan tersebut memfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi,

memungkinkan tmbuhnya kepercayaan dan memperkuat kerjasama. Masyarakat yang sehat

cenderung memiliki jaringan-jaringan sosial yang kokoh. Orang mengetahui dan bertemu orang

dengan orang lain. Mereka kemudian membangun inter-relasi yang kental, baik bersifat formal

maupun informal. Putnam berargumen bahwa jaringan-jaringan sosial yang erat akan

memperkuat perasaan kerjasama antar anggotanya serta manfaat-manfaat dari partisipasinya itu.

Bersandar pada parameter diatas, beberapa indikator kunci yang dapat dijadikan ukuran

modal sosial antara lain (Suharto, 2006):

- Perasaan identitas

- Perasaan memiliki atau sebaliknya perasaan alienasi

- Sistem kepercayaan dan ideologi

- Nilai-nilai dan tujuan-tujuan

- Ketakutan-ketakutan

- Sikap-sikap terhadap anggota lain dalam masyarakat

- Persepsi mengenai akses terhadap pelayanan, sumber dan fasilitas (misalnya pekerjaan,

pendapatan, pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi dan jaminan sosial)

- Opini mengenai kinerja pemerintah yang dilakukan terdahulu

- Keyakinan pada lembag-lembaga masyarakat dan orang-orang pada umumnya

- Tingkat kepercayaan

- Harapan-harapan yang ingin dicapai dimasa depan

Dapat dikatakan bahwa modal sosial dilahirkan dari bawah (bottom up), tidak hirarkis

dan berdasar pada interaksi yang saling menguntungkan. Oleh karena itu modal sosial bukan

merupakan produk dari inisiatif dan kebijakan pemeritah. Namun demikian, modal sosial dapat

ditingkatkan atau dihancurkan oleh negara melalui kebijakan publik.

Mengembangkan Modal sosial melalui Kebijakan Publik

Dalam konteks kebijakan publik, modal sosial pada intinya menunjuk pada political will

dan penciptaan jaringan-jaringan, kepercayaan dan nilai-nilai bersama, norma-norma dan

kebersamaan yang timbul dari adanya interaksi manusia di dalam sebuah masyarakat.

Pemerintah dapat mempengaruhi secara positif kepercayaan, kohesivitas, altruisme, gotong-

royong, partisipasi, jaringan, kolaborasi sosial dalam sebuah komunitas. Modal sosial pada

umumnya akan tumbuh dan berkembang bukan saja karena ada kesamaan tujuan dan

kepentingan, melainkan pula karena adanya kebebasan menyatakan pendapat dan berorganisasi,

terjalinnya relasi yang berkelanjutan, serta terpeliharanya komunikasi dan dialog yang efektif.

Gambar berikut menunjukkan bagaimana kebijakan publik dapat mempengaruhi lingkaran modal

sosial yang pada gilirannya menjadi pendorong keberhasilan pembangunan, khususnya

pembangunan kesejahteraan sosial:

Interaksi efektif antar manusia

Berkembangnya gotong royong, altruism, kohesifitas, keyakinan untuk berpartisipasi

MODAL SOSIAL

Tumbuhnya niat baik, kepercayaan dan norma

Tumbuhnya saling pengertian

KEBIJAKAN PUBLIK

PEMBANGUNAN SOSIAL

PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

Gambar Kebijakan Publik dan Modal Sosial

Strategi Kebijakan Publik dalam Pengembangan Modal Sosial

Beberapa strategi kebijakan publik yang dapat dirancang guna mempengaruhi tumbuh

kembangnya modal sosial adalah sebagai berikut:

1. Memperkuat kepercayaan sosial (social trust) melalui:

- Model integrasi dan relasi di dalam dan diluar lembaga-lembaga pemerintahan

- Proses-proses yang mampu mengatasi konflik dan pertentangan berdasarkan prinsip µwin-win

policy¶

- Desentralisasi dalam pengambilan keputusan

2. Menumbuhkembangkan nilai-nilai kebersamaan, melalui:

- Kurikulum pendidikan

- Hukum dan kebijakan keteraturan

- Perasaan bersama menganai identitas dan kepribadian sebagai satu negara bangsa

- Peraturan yang mempromosikan nilai-nilai sosial positif, hak asasi manusia dan hak-hak publik

- Kepastian standar

3. Mengembangkan kohesifitas dan altruisme, melalui;

- Pengurangan pajak bagi perorangan atau perusahaan yang melakukan kegiatan sosial atau

Tanggungjawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility)

- Registrasi dan pengorganisasian kegiatan kedermawanan sosial

4. memperluas partisipasi lokal, melalui:

- Pendanaan proyek-proyek kemasyarakatan

- Dukungan bagi program pengembangan masyarakat (community development) guna

meningkatkan kapasitas masyarakat dan kepemimpinan lokal

- Inisiatif-inisiatif yang memperkuat keluarga

5. Menciptakan jaringan dan kolaborasi, melalui;

- Kolaborasi diantara lembaga pemerintah dan antara lembaga pemerintah dan lembaga-Lembaga

Swadya Masayarakat (LSM) serta lembaga usaha

- Dukungan terhadap organisasi-organiasi sukarela untuk membangun jaringan dan aliansi

6. Meningkatkan keterlibatan masyarakat warga melalui proses tata pemerintahan yang baik (good

governance), melalui:

- Kampanye agar orang terlibat dalam pemilihan pemerintah pusat dan daerah secara demokratis

- Konsultasi dan advokasi kebijakan bagi warga masyarakat

- Pelibatan masyarakat dalam perumusan kebijakan dan penganalisisan implementasinya

- Promosi dan sosialsiasi konsep mengenai masyarakat warga yang aktif

- Penyediaan sarana informasi pemerintah yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat

Manfaat

Aapa manfaat yang dapat diperoleh melalui strategi kebijakan publik yang difokuskan pada

pengembangan modal sosial:

- Meningkatnya partisipasi di dalam masyarakat sehingga terdapat kesempatan yang lebih luas

dan kemampuan yang lebih baik dalam mencapai tujuan bersama

- Meningkatnya partisipasi dalam proses-proses demokrasi sehingga pemerintah pusat dan lokal

lebih akuntabel dan terbuka dalam mendengarkan beragam suara dan aspirasi masyarakat.

- Menguatnya aksi bersama yang merefleksikan perasaan tanggungjawab bersama

- Tumbuhnya dukungan bagi, dan kepercayaa daripada, individu dalam memenuhi kebutuhan dan

aspirasinya.

- Menguatnya perasaan memiliki, identitas dan kebanggaan bersama sebagai satu warga

masyarakat

- Menurunnya tingkat kejahatan, korupsi dan alienasi karena meningkatnya keterbukaan, kontrol

sosial, kerjasama dan harmoni

- Meningkatnya hubungan dan jaringan antar sektor pemerintah, swasta, lembaga sukarela dan

keluarga

- Terjadinya tukar menukar gagasan dan nilai diantara keragaman dan pluralitas warga

masyarakat

- Rendahnya biaya-biaya transaksi karena adanya koordinasi dan kerjasama yang erat dan

memudahkan penyelasaian konflik

- Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam merespon guncangan yang datang tiba-tiba

Karena adanya jaringan kerjasama yang erat diantara seluruh komponen masyarakat warga

- Menguatnya kemampuan dan akses masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sumber-

sumber yanga da di sekitar mereka.

Pengembangan Masyarakat

Dalam Ife Terdapat pembahasan mengenai Perubahan Dari Bawah, dimana ketika berbicara

mengenai pembangunan masyarakat, maka harus memperhatikan beberapa aspek diantaranya:

1. Menghargai Pengetahuan Lokal

Menghargai pengetahuan lokal adalah sebuah komponen esensial dari aktivitas pengembangan

masyarakat, dan ini dapat dirangkum dalam frase µmasyarakat yang paling tahu¶. Diatas

segalanya, anggota masyarakat memiliki pengalaman dari masyarakat tersebut, tentang

kebutuhan dan masalah-masalahnya, kekuatan dan kelebihannya, dan ciri-ciri khasnya. Jika kita

ingin terlibat dalam proses pengembangan masyarakat, ia harus dikerjakan daiatas pengetahuan

lokal. Dalam hal ini pekerja pengembangan masyarakat boleh memberikan pengaruh ketika

sudah lama menjadi anggota masyarakat. Masyarakat lokalah yang memiliki kearifan,

pengetahuan, dan keahlian. Pekerja masyarakat harus mendengar dan belajar dari masyarakat,

bukan mengajari masyarakat tentang problem dan kebutuhan mereka.

2. Menghargai kebudayaan lokal

Suatu kebudayaan lokal masyarakat bisa terkikis oleh pemaksaan nilai-nilai dominan dari luar,

dengan demikian tidak diperbolehkan menghilangkan nilai dan menganggap rendah pengalaman

masyarakat lokal. Hal yang paling penting adalah bahwa nilai-nilai kultur lokal adalah utama

dalam pengembangan masarakat, dan dengan demikian adalaha hakikat untuk seorang pekerja

pengembangan masyarakat adalah berupaya mengerti dan menerima kultur lokal seperti itu, dan

bila mungkin mengesahkan dan bekerja dengan kultur tersebut. Berupaya memaksankan suatu

nilai lain hanya karena pekerja lebih terbiasa dan nyaman dengan itu adaah bentuk imperialisme

cultural yang melemahkan dan berlawanan dengan prinsip pengembangan masyarakat.

3. Menghargai sumber daya lokal

Salah satu prinsip penting dalam pengembangan masyarakat adalah keswadayaan, yang

diturunkan langsung dari prinsip ekologis keberlanjutan. Keswadayaan pada hakikatnya berarti

masyarakat bergantung pada sumber daya mereka sendiri, ketimbang sumber daya yang

diberikan secara eksternal. Prinsip mendasar yang menyangga pembentukan komunitas adalah

didasarkan atas pendekatan-pendekatan yang menekankan penentuan nasib sendiri dan

keswadayaan (yaitu bahwa masyarakat perlu diberdayakan untuk mengelola persoalan mereka

sendiri, yang mencakup merumuskan solusi-solusi mereka dan proses-proses untuk

mencapainya).

Permasalahan saat ini adalah bahwa hasil kebijakan dan program pembentukan komunitas terjadi

dalam lingkup suatu kerangka yang kuat dari prioritas pemerintah, kebijakan pemerintah dan

proses-proses pemerintah yang dipaksakan kepada masyarakat ketimbang yang berasal dari

mereka.

4. Menghargai keterampilan Lokal

Hal yang paling penting dalam hal menghargai keterampilan lokal adalah, ia lebih

memberdayakan dibanding melemahkan. Seorang pekerja msyarakat dapat menghargai

keterampilan lokal dengan membuat daftar ketermpilan, sekedar mencari tahu keterampilan yang

dimiliki oleh setuip anggota masyarakat. Hal kadang yang menjadi tak terduga, karena tanpa

disadari banyak anggota masyarakat yang memiliki potensi ketramapilan, tanpa harus

menghadirka orang luar. Sedangkan tiding jarang pekerja sosial lebih memprioritaskan

mendatangkan orang luar untuk proses pengembangan masyarakat.

5. Menghargai proses lokal

Proses-proses yang digunakan dalam pengembangan masyarakat tidak perlu diimpor dari luar,

karena mungkin terdapat proses-proses masyarakat lokal yang mengerti dan diterima dengan

baik oleh masyarakat lokal. Meskipun demikian, godaaan bagi seorang pekerja masyarakat

adalah mencoba mengadakan suatu proses yang telah ia pelajari dalam sebuah kursus, dari

sebuah buku, atau telah ia gunakan dengan berhasil pada sebuah konteks yang lain.

6. Bekerja dalam solidaritas

Pengalaman masyarakat lokal harus disahkan dan digunakan sebagai titik awal bagi setiap

pekerja pengembangan masyarakat. Menyelonong masuk sebagai seorang pakar, bermaksud

untuk campur tangan dan membuat perubahan dari suatu posisi pengetahuan dan keterampilan

yang superior, merupakan jaminan kegagalan, dan hanya akan mempengaruhi struktur dan

wacana keadaan yang melemahkan masyaakat.

Pekerja masyarakat harus belajar melangkah mundur, mendengarkan, bertanya ketimbang

memberikan jwaban, belajar, dan mencoba mengerti. Pekerja masyarakat harus menghargai

bahwa para anggota masyarakat mengetahui lebih banyak tentang masyarakat. Masalahnya, isu,

kekuatan, kebutuhan dan cara-cara melakuka sesuatu dan bahwa setiap proses pengembangan

masyarakat harus merupakan milik mereka bukan milik pekerja pengembangan masyarakat.

Permasalahan

Dalam RPJMN mengenai salah satu point Visi Pembangunan Nasional ³Mewujudkan

masyarakat berakhlak mulia, bermoral beretika, berbudaya, , dan beradab didasarkan etika

pancasila´.Pada dasarnya hanya memaparkan konsep ideal, tanpa memberikan gambaran dan

parameter yang jelas. Selain itu tidak dijelaskan bagaimana cara mempertahan kan identitas yang

tersebutkan dalam misi sehingga ketika ada permasalahan atau demoralisasi yang disebabkan

oleh berbagai permasalahn dari dalam bangsa maupun dari luar bisa jelas pentahapan dalam

mengatasinya.

Visi pembangunan nasional seolah-olah baru sekedar semboyan atau simbolisasi yang tidak

membumi, terlebih hanya memberikan tujuan tanpa memprioritaskan bagaimana proses untuk

mencapainya. Selain itu gejala demoralisasi semakin kentara saat ini, diantaranya sikap korupsi, kolusi

dan nepotesme seolah sudah menjadi budaya. Permasalahan lain adalah pemerintah terkadang tiak

konsisiten dalam mengimplementasikan visi tersebut malah terjebak pada program yang justru

meruntuhkan struktur sosial, kohesifitas sosial yang juga merupakan identitas dan karakteristik

masyarakat Indonesia. Beberapa program malah cenderung menyebabkan masyarakat menjadi

materialis, bukan memberdayakan malah melemahkan, menumbuhkan ketergantungan, dan

memunculkan bibit konflik pada level lokal.

Solusi

Modal sosial merupakan unsur yang terdapat dalam visi pembangunan nasional

³Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral beretika, berbudaya dan beradab

berdasarkan falsafah pancasila´ diperlukan beberpa langkah dalam menjaga dan memelihara

vsisi tersebut, diantaranya dengan upaya memperkuat Memperkuat kepercayaan sosial (social

trust) melalui model integrasi dan relasi di dalam dan diluar lembaga-lembaga pemerintahan.

Modal integrasi antar lenbaga pemerintahan maupun pihak luar merupakan aspek terpenting,

janga sampai terjadi tumpang tindih atau tidak adanya kesamaan model antara satu lembaga

dengan lembaga lain padahal memiliki tujuan yang sama.

Diperlukan adanya proses-proses yang mampu mengatasi konflik dan pertentangan

berdasarkan prinsip µwin-win policy¶. Prinsip ini menekankan pada pentingnya kebijakan yang

membangun kebersamaan dengan prinsip saling menguntungkan. Jangan sampai sebuah

kebijakan dikeluarkan menguntungkan bagi satu pihak sedangkan pihak lain dirugikan,

sebagaimana kebijakan pemerintah menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kemudian

memberikan substitusi atau kompensasi berupa program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang

sebetulnya secara hakikat tidak memberikan dampak positif pada masyarakat.

Solusi lainnya adalah perlunya desentralisasi dalam pengambilan keputusan, selama ini

terjadi penyeragaman dalam banyak aspek maulai dari program amupun kebijakan dimana satu

kebijakan disamaratakan tanpa melihat tingkat kebutuhan maupun heterogentas masayarakat

yang ada dibawah. Proses desentralisasi merupakan bagian dari upaya menghimpun aspirasi dan

keinginan masyarakat pada satu wilayah secara utuh.

Terkait dengan perlunya desentralisasi dalam pengambilan keputusan, perlu adanya

upaya menumbuhkembangkan nilai-nilai kebersamaan, melalui kurikulum pendidikan, hukum

dan kebijakan keteraturan, perasaan bersama menganai identitas dan kepribadian sebagai satu

negara bangsa, peraturan yang mempromosikan nilai-nilai sosial positif, hak asasi manusia dan

hak-hak publik dan kepastian akan suatu standar.

Selain itu upaya terus menerus dalam menjaga dan mempertahankan identitas adalah

melalui mengembangkan kohesifitas dan altruisme, karena dalam sejarah panjang masyarakat

Indonesia dua aspek ini merupakan kekayaan budaya bangsa. Upaya yang dilakuakan untuk

mengembangkan kohesifitas dan altruism adalah melalui, pengurangan pajak bagi perorangan

atau perusahaan yang melakukan kegiatan sosial atau Tanggungjawab Sosial Perusahaan

(Corporate Social Responsibility), jangan sampai perusahaan dihadapakan beban biaya pajak

yang tinggi, biaya loby, biaya bawah meja yang menjadi budaya oknum aparat pemerintah, disi

lain perusahaan ditekan untuk melngembangkan program CSR. Seiring dengan itu perlu adanya

registrasi dan pengorganisasian kegiatan kedermawanan sosial, sehingga program yang sifatnya

positif tidak berjalan masing-masing, dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Partisipasi masyarakat lokal perlu terus dikembangkan, hal ini untuk menumbuhkan

kesadaran dan rasa tanggungjawab masyarakat dalam proses pembangunan yang fokus

pembangunan tersbut adalah untuk masyarakat sendiri. Pembnguanan partsispasi dilakukan

melalui; pendanaan proyek-proyek kemasyarakatan yang didasarkan pada µkebetuhan¶ bukan

pada µkeinginan¶ dengan catatan bantuan pendanaan tidak merubah struktur sosial dan kultur

masyarakat tersebut mendukung dengan menjaga keluhuran kearifan lokal. Dalam konteks

desentralisasi perlu diperkuatnya dukungan bagi program pengembangan masyarakat

(community development) guna meningkatkan kapasitas masyarakat dan kepemimpinan lokal

dan inisiatif-inisiatif yang memperkuat keluarga

Pada dasarnya pembangunan dan upaya menjaga kepribadian bangsa perlunnya

menciptakan jaringan dan kolaborasi, melalui sinergitas diantara lembaga pemerintah dan antara

lembaga pemerintah dan lembaga-Lembaga Swadya Masayarakat (LSM) serta lembaga usaha,

dan dukungan terhadap organisasi-organiasi sukarela untuk membangun jaringan dan aliansi

Solusi terakhir dalam upaya menjaga dan meningkatkan keterlibatan masyarakat adalah

melalui proses tata pemerintahan yang baik (good governance), yaitu dengan kampanye atau

sosialisasi agar orang terlibat dalam pemilihan pemerintah pusat dan daerah secara demokratis

menumbuhkan iklim konsultasi dan advokasi kebijakan bagi warga masyarakat, adanya pelibatan

masyarakat dalam perumusan kebijakan dan penganalisisan implementasinya, promosi dan

sosialsiasi konsep mengenai masyarakat warga yang aktif, dan penyediaan sarana informasi

pemerintah yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat.

Referensi:

- Amrik, Mulya dan Sarosa Wicaksono (2008), CSR Untuk Penguatan Kohesi Sosial, Jakarta:

Yayasan Indonesia Business Link.

- Ife, Jim dan Frank Tiserio (2008), Community Development, Alternatif Pengembangan

Masyarat Era Globalisasi. Jogjakarta: Pustaka Pelajar

- Lawang, Robert MZ (2004), Kapital Sosial, Dalam Perspektif Sosiologik Suatu Pengantar.

Jakarta: UI Press.

- Suharto, Edi. (2008), Membangun Masyarakat Memberdayakan, Rakyat, Bandung: Alfabeta.

- Suharto, Edi. (2008), Kebijakan sosial sebagai kebijakan publik, Bandung: Alfabeta.

- Werthein, WF. (1999), Masyarakat Indonesia Dalam Transisi, Studi Perubahan sosial.

Jogjakarta: Tiara Wacana

Ilmu kesejahteraan sosial

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kemiskinan merupakan pembahasan dari ilmu kesejahteraan sosial

Ilmu kesejahteraan sosial merupakan pengetahuan sistematis yang membahas isu kesejahteraan

dan upaya-upaya mencapai kesejahteraan.[rujukan?]

Kemunculan disiplin ini merupakan hasil dari

perluasan pokok bahasan bidang pekerjaan sosial [1]

Definisi

Ilmu kesejahteraan sosial adalah ilmu terapan yang mengkaji dan mengembangkan kerangka

pemikiran, serta metodologi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup

masyarakat. [1]

Fokus dan Ruang Lingkup

Bila ilmu kedokteran menekankan pada diagnosis dan penyembuhan, disiplin ini menekankan

pada penilaian (µ¶assessment¶¶) dan intervensi sosial. [2]

Intervensi sosial merupakan metode

perubahan sosial terencana yang bertujuan memfungsikan kembali fungsi sosial seseorang,

kelompok, maupun masyarakat. [2]

Ilmu kesejahteraan sosial dalam kaitannya dengan intervensi

sosial memiliki 3 ruang lingkup , yaitu mikro, mezzo, dan makro. [2]

Level mikro membahas

intervensi sosial di tingkat individu, keluarga, dan kelompok kecil; level mezzo membahas

intervensi sosial di tingkat komunitas; dan level makro membahas intervensi sosial di tingkat

masyarakat yang lebih luas. [2]

Sejarah

Sebelum abad 16

Pada mulanya, usaha-usaha kesejahteraan sosial dilakukan oleh kelompok keagamaan. [3]

Usaha-

usaha kesejahteraan yang dilakukan pada umumnya merupakan pelayanan sosial yang bersifat

amal.[4]

Sebagaimana yang dituliskan Canda dan Furman dalam bukunya, Keberagaman Agama

dalam Praktek Pekerjaan Sosial (Spiritual Diversity in Social Work Practice: The Heart of

Helping), bahwa setiap agama (Budha, Hindu, Islam, Konghucu, Kristen, dan Yahudi) memiliki

kepercayaan dan nilai dasar yang berimplikasi pada penerapan atau praktek kerja sosial. [5]

Abad 13-18

Pada periode ini pemerintah Inggris mengeluarkan beberapa peraturan perundangan untuk

menangani masalah kemiskinan [3]

Undang-undang Kemiskinan yang dikeluarkan oleh Ratu

Elizabeth (Elizabethan Poor Law) merupakan salah satu undang-undang yang paling terkenal

saat itu. Undang-undang tersebut dianggap sebagai cikal bakal intervensi pemerintah terhadap

kesejahteraan warga negaranya karena usaha kesejahteraan sosial sebelumnya lebih banyak

dilakukan oleh kelompok keagamaan, seperti pihak gereja. [3]

Usaha-usaha kesejahteraan sosial pada dasarnya berasal dari nilai-nilai humanitarianisme yang

percaya bahwa kondisi kemiskinan yang terjadi di tengah masyarakat adalah sesuatu yang tidak

seharusnya terjadi. [4]

Kemudian muncul kelompok-kelompok (relawan) yang mengupayakan

pengembangan usaha kesejahteraan sosial untuk memperbaiki kondisi tersebut. [4]

Usaha

kesejahteraan sosial yang dilakukan oleh relawan yang didasari semangat filantropis selanjutnya

berkembang menjadi lebih terarah dan terorganisir. [4]

Karena itu, baik di Inggris maupun

Amerika, sejarah pekerjaan sosial sangat terkait dengan para relawan dan organisasi para

relawan. [4]

Organisasi para relawan inilah yang kemudian mendorong terciptanya beragam usaha

kesejahteraan sosial. [4]

Tahun 1869

Organisasi relawan bernama COS (Charity Organization Society) didirikan di London, Inggris.

[4]

Organisasi relawan tersebut dikembangkan untuk menggalang dan mengkoordinasikan

bantuan dana dan material dari berbagai gereja serta kurang lebih 100 lembaga amal. [4]

Perkembangan organisasi relawan di Inggris berpengaruh pula terhadap perkembangan

organisasi relawan di Amerika. [4]

Tahun 1877

COS kemudian di kembangkan di Buffalo, New York. Dalam jangka waktu 10 tahun kemudian,

terbentuk 25 organisasi sosial di Amerika Serikat. [4]

Berkembangnya berbagai COS di Amerika membuat para relawan aktif yang terlibat di

dalamnya merasa perlu suatu pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang

berhubungan dengan perilaku individu, serta permasalahan sosial dan ekonomi. [4]

Oleh karena

itu, Mary Richmond, seorang praktisi pekerjaan sosial, berencana untuk mengembangkan

Sekolah Pelatihan Filantropi Terapan. [4]

Lembaga ini menjadi cikal bakal kelas pekerjaan sosial

di New York pada tahun 1898. [4]

Perluasan pokok bahasan dalam sejarah perkembangan bidang pekerjaan sosial telah

memunculkan suatu kajian kesejahteraan sosial yang lebih luas. [4]

Munculnya kajian

kesejahteraan sosial ini kemudian mendorong terbentuknya disiplin baru bernama ilmu

kesejahteraan sosial. [4]

Pendekatan

Menurut Midgley, terdapat empat pendekatan dalam mengupayakan kesejahteraan sosial :

Filantropi sosial

Filantropi terkait erat dengan upaya-upaya kesejahteraan sosial yang dilakukan para agamawan

dan relawan, yakni upaya yang bersifat amal (charity) dimana orang-orang ini menyumbangkan

waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. [6]

Pelaku dari filantropi disebut sebagai

filantropis.

Filantropi sosial bertujuan mempromosikan kesejahteraan sosial dengan mendorong penyediaan

barang pribadi dan pelayanan kepada orang yang membutuhkan [6]

. Ada beberapa karakteristik

pendekatan filantropi sosial, di antaranya [6]
:

1. Amal, dimana pendekatan ini tidak memiliki kesinambungan. Artinya, tidak ada lagi interaksi

dengan penerima bantuan ketika bantuan selesai diberikan.

2. Penerima pasif, menggunakan pandangan bahwa masyarakat tidak mampu memenuhi

kebutuhan mereka, sehingga dalam penyelenggaraannya tidak melibatkan partisipasi penerima.

3. Acak, tidak memiliki metode atau tahapan khusus dalam pelaksanaannya.

4. Kemauan, ketergantungan upaya pada kemauan baik dari para donor dan kemauan pemerintah

untuk menggunakan uang pembayar pajak demi mendukung kegiatan-kegiatan amal.

Seiring dengan perkembangan filantropi, filantropi tidak lagi hanya berkaitan dengan penyediaan

bantuan kepada yang membutuhkan. [6]

Selama abad ke-19, ketika kegiatan amal berkembang

dengan cepat di Eropa dan Amerika utara, beberapa pemimpin filantropis berusaha membawa isu

reformasi sosial dan peningkatan kondisi sosial. [6]

Para pemimpin, yang sering berhubungan

baik dengan anggota kelas menengah atas, berusaha untuk menggunakan pengaruh mereka untuk

menjaring dukungan dari para pemimpin politik dan bisnis. [6]

Mereka menggunakan koneksi

yang mereka miliki untuk membujuk pemerintah agar memperkenalkan layanan sosial yang

baru, membuat undang-undang yang mencegah eksploitasi dan diskriminasi, atau untuk tindakan

perlindungan terhadap kelompok rentan [6]

.

Pekerja sosial

Berbeda dengan pendekatan filantropi, pekerjaan sosial merupakan pendekatan yang terorganisir

untuk mempromosikan kesejahteraan sosial dengan menggunakan tenaga profesional yang

memenuhi syarat untuk menangani masalah sosial. [6]

Namun, perkembangan pekerjaan sosial

tidak lepas dari perkembangan filantropi. [6]

Sejak abad ke-19, pekerjaan sosial telah mengalami

pengembangan profesional dan akademik yang cukup pesat dan telah menyebar di seluruh dunia

[6]

.`

Administrasi sosial

Pendekatan administrasi sosial berusaha mempromosikan kesejahteraan sosial dengan

menciptakan program sosial pemerintah yang meningkatkan kesejahteraan warga negaranya

melalui penyediaan berbagai pelayanan sosial [6]

. Pendekatan ini diselenggarakan langsung oleh

pemerintah. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Undang-Undang tentang Kemiskinan

yang dikeluarkan oleh Ratu Elizabeth I. [6]

Pembangunan sosial

Pembangunan sosial merupakan suatu proses perubahan sosial terencana yang dirancang untuk

meningkatkan taraf hidup masyarakat secara utuh, di mana pembangunan ini dilakukan untuk

saling melengkapi dengan dinamika proses pembangunan ekonomi. [6]

Referensi

1. ^ a

b

Adi,Isbandi Rukminto. 2005. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial: Pengantar

Pada Pengertian dan Beberapa Pokok Bahasan.Jakarta. FISIP UI Press. Hal. 11-20

2. ^ a

b

c

d

Adi,Isbandi Rukminto. 2005. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial: Pengantar

Pada Pengertian dan Beberapa Pokok Bahasan.Jakarta. FISIP UI Press. Hal. 141-145

3. ^ a

b

c

(en) Zastrow, Charles. 1996. Introduction to Social Work and Social Welfare. Sixth

Edition. Pasific Grove: Brooks/Cole Publishing Company. Page 15.

4. ^ a

b

c

d

e

f

g

h
i

j

k
l

m

n

o

Adi,Isbandi Rukminto. 2005. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan

Sosial: Pengantar Pada Pengertian dan Beberapa Pokok Bahasan.Jakarta. FISIP UI Press. Hal. 1-10

5. ^ (en) Canda,Edward R.,Leola Dyrud Furman.1999.Spiritual Diversity in Social Work

Practice:The Heart of Helping.New York:The Free Press. Hal. 143-147

6. ^ a

b

c

d

e

f

g

h
i

j

k
l

m

(en) Migley, James.1995. Social Development:The Developmental

Perspective in Social Welfare. London:Sage Publications Ltd. Hal. 15-25

Definisi dan Ruang Lingkup Kebijakan Sosial

Abstrak

Kebijakan sosial merupakan kebijakan publik dalam bidang kesejahteraan sosial. Makna

kebijakan pada kata kebijakan sosial adalah kebijakan publik, sedangkan makna sosial menunjuk

pada bidang atau sektor yang menjadi garapannya, dalam hal ini adalah sektor atau bidang

kesejahteraan sosial (Suharto, 2008).

Kebijakan sosial pada dasarnya adalah gabungan dari dua aktivitas, menemukan (discovering)

dan mencari solusi (solve) suatu masalah sosial (Bessant, et al 2006:3). Dalam hal ini, kebijakan

sosial dipadukan dalam kegiatan ilmiah akademik seperti penelitian untuk menemukan suatu

masalah sosial seperti kemiskinan, kriminalitas dan pengangguran, serta mencari tahu apa

penyebab masalah tersebut. Kemudian sebagai hasil dari penelitian tersebut menghasilkan

sebuah formula kebijakan yang disebut sebagai produk kebijakan sosial. (Huda, 2009)

Namun demikian kebijakan sosial memiliki berbagai definisi sebagaimana pandangan beberapa

ahli (Huda, 2009), diantaranya:

a. Kebijakan sosial adalah kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan tindakan yang memiliki

dampak langsung terhadap kesejahteraan warga negara melalui penyediaan pelayanan sosial dan

bantuan keuangan. (Marshall).

b. Kebijakan sosial adalah perencanaan untuk mengatasi biaya-biaya sosial, peningkatan

pemerataan, dan pendistribusian pelayanan dan bantuan sosial (Rein).

c. Kebijakan sosial adalah strategi-strategi, tindakan-tindakan, atau rencana-rencana untuk

mengatasi masalah sosial dan memenuhi kebutuhan sosial (Huttman).

d. Kebijakan sosial merupakan bagian dari kebijakan publik (public policy). Kebijakan publik

meliputi semua kebijakan yang berasal dari pemerintah seperti kebijakan ekonomi, transportasi,

komunikasi, pertahanan keamanan (militer), serta fasilitas-fasilitas umum lainnya (air bersih,

listrik). Kebijakan sosial merupakan suatu tipe kebijakan publik yang diarahkan untuk mencapai

tujuan-tujuan sosial. (Magill)

e. Kebijakan sosial adalalh kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan (welfare), baik dalam

arti luas, yang menyangkut kualitas hidup manusia, maupun dalam arti sempit, yang menunjuk

pada beberapa jenis pemberian pelayanan kolektif tertentu guna melindungi kesejahteraan

rakyat. (Spicker)

f. Kebijakan sosial adalah studi mengenai peran negara dalam kaitannya dengan kesejahteraan

warganya. (Hill)

Sub bahasan lanjutan:

- Tujuan Kebijakan Sosial

- Ruang Lingkup Kebijakan Sosial

Daftar Pustaka:

Adi, Isbandi Rukminto. 2002. Pemikiran-pemikiran dalam Pembangunan Kesejahteraan

Sosial. Lembaga Penerbitan FEUI. Jakarta

Huda, Miftahul.2009. Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial: Sebuah Pengantar. Pustaka Pelajar.

Yogyakarta.

Midgley, James. 2005. Pembangunan Sosial, Perspektif Pembangunan Dalam Kesejahteraan

Sosial. Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Depag RI. Jakarta.

Prayitno, Ujianto Singgih. 2009. Tantangan Pembangunan Sosial di Indonesia. Pusat

Pengkajian Data dan Informasi (P3DI). Sekretariat Jendral DPR RI. Jakarta

Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. PT. Refika Aditama. Bandung

Suharto, Edi. 2008. Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik. Alfabeta. Bandung.

Suwarsono& SO, Alvin. 1999. Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia. LP3ES. Jakarata

Todaro, MP. 1989. Economic Development in The Third World. Longman Group Limited.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2009, Tentang Kesejahteraan Sosial.

Hubungan Antara Pekerjaan Sosial, Ilmu Kesejahteraan sosial dan Psikologi

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Sebagai mahasiswa program sarjana imu kesejahteraan sosial, sudah selayaknya mengetahui

bahwa manusia adalah makhluk biopsikososial yang harus dipelajari seluk beluknya untuk

mendukung pengembangan usaha-usaha kesejahteraan sosial. Bermula dari hal tersebut kita

harus mempelajari ilmu psikologi walaupun materi yang kita dapat tidak sedalam mahasiswa

psikologi, bahkan hanya sebagian kecil saja. Dalam praktiknya sarjana ilmu kesejahteraan sosial

berinteraksi dengan individu dan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.

Terlebih lagi dalam konteks praktisi sosial sebagai pekerja sosial yang sering dibatasi ruang

lingkupnya dalam level mikro dan mezzo yang harus bertatap muka secara langsung dengan

klien. Banyaknya klien yang harus kita hadapi dengan kondisi psikologis yang berbeda-beda

membuat materi psikologi wajib dikuasai agar program atau solusi yang kiat berikan dapat

berhasil secara tepat guna. Selain itu praktisi sosial juga wajib memperhatikan nilai dan prinsip

ilmu kesejahteraan sosial yang akan sangat menunjang kelancaran pelaksanaan program

sehingga tidak merugikan pihak pemberi layanan maupun klien. Pada awalnya layanan sosial

yang ada berasal dari kaum agamis dan bersifat charity atau sukarela. Pada perkembangannya

didirikan sekolah untuk menjadi pekerja sosial yang pertama di negara Inggris. Semakin banyak

dan luasnya cakupan masalah yang ada di masyarakat mendorong berkembangnya pekerjaan

sosial ke arah ilmu kesejahteraan sosial. Hal ini berarti ada keterkaitan yang erat antara

psikologi, pekerjaan sosial dan ilmu kesejahteraan sosial.

2. TUJUAN

Tujuan penulisan dari makalah ini adalah:

1. Menjelaskan definisi atau pengertian dari Psikologi, Pekerjaan Sosial, dan Ilmu

Kesejahteraan Sosial

2. Menjelaskan hubungan antara Psikologi, Pekerjaan Sosial, dan Ilmu Kesejahteraan Sosial

BAB 2

PEMBAHASAN

A. Pengertian Psikologi, Pekerjaan Sosial Dan Ilmu Kesejahteraan Sosial

Ø Pengertian Psikologi

Kata psikologi berasal dari dua kata yaitu psyche (jiwa) dan logos (ilmu) yang oleh banyak pihak

dimaknai secara berbeda-beda. Berikut ini terdapat beberapa definisi psikologi menurut beberapa

ahli:

1. Garden Murphy

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap

lingkungannya

1. Morga, King, Weisz dan Schopler

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan, di dalamnya termasuk

aplikasi ilmu tersebut terhadap masalah yang dihadapi manusia (human problems)

1. Henry L. Roediger

Psikologi adalah studi yang sistematis mengenai tingkah laku dan kehidupan mental (mental life)

1. Clifford Morgan

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan

1. Edwin G. Boring

Psikologi adalah studi tentang hakikat manusia

1. Sarlito Wirawan

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dan lingkungan

Dari definisi-definisi di atas diketahui bahwa psikologi secara umum mempelajari tingkah laku

manusia dan hewan yang terkait dengan lingkungannya serta aplikasinya terhadap masalah yang

dihadapi manusia.

Ø Pengertian Pekerjaan Sosial

Berikut ini adalah beberapa definisi pekerjaan sosial menurut para ahli:

1. Allen Pincus dan Anne Minahan

Pekerjaan sosial berurusan dengan interaksi antara orang-orang dan lingkungan sosial, sehingga

mereka mampu melaksanakan tugas-tugas kehidupannya, mengurangi ketegangan, dan

mewujudkan aspirasi dan nilai-nilai mereka.[1]

1. Max Siporin

Pekerjaan sosial didefinisikan sebagai metode institusi sosial untuk membantu orang-orang guna

mencegah dan menyelesaikan masalah sosial dengan cara memperbaiki dan meningkatkan

keberfungsian sosialnya. [2]

1. Friedlander, Walter A. dan Apte, Robert Z.

Pekerjaan sosial adalah pelayanan profesional yang didasarkan pada pengetahuan dan

keterampilan ilmiah guna membantu individu, kelompok, maupun masyarakat agar tercapainya

kepuasan pribadi dan sosial serta kebebasan.[3]

1. Charles Zastrow

Pekerjaan sosial adalah aktivitas profesional untuk membantu individu, kelompok atau

komunitas guna meningkatkan atau memperbaiki kapasitasnya untuk berfungsi sosial dan

menciptakan kondisi masyarakat guna mencapai tujuan-tujuannya.[4]

1. Leonora Scrafica-deGuzman.

Pekerjaan sosial adalah profesi yang bidang utamanya berkecimpung dalam kegiatan pelayanan

sosial yang terorganisasi, dimana tujuannya untuk memfasilitasi dan memperkuat relasi dalam

penyesuaian diri secara timbal balik dan saling menguntungkan antar individu dengan

lingkungan sosialnya, melalui penggunaan metode-metode pekerjaan sosial. [5]

Pekerjaan sosial merupakan sebuah profesi baru yang muncul pada awal abad ke 20, tetapi sudah

timbul sejak timbulnya revolusi industri. Pekerjaan sosial adalah sebuah profesi yang berusaha

menyatukan berbagai bidang ilmu atau spesialisasi dari berbagai lapangan praktik. Social worker

menangani klien dalam kaitannya dengan memberfungsikan kembali pihak yang mengalami

disfungsi sosial sehingga usaha-usaha yang dikembangkan membantu kliennya dalam

menjalankan fungsi sosialnya. Menurut Thelma Lee Mendoza disfungsi sosial dapat tejadi

karena:

y Ketidakmampuan individu atupun patologi yang membuat seseorang sulit menjalankan

tuntutan lingkungannya.

y Ketidakmampuan lingkungan yang di bawah kemampuan individu untuk mnyesuakan

diri.

y Ketidakmampuan personal dan situasional.

Disfungsi sosial tersebut dapat diatasi dengan tiga bentuk intervensi, yaitu:

y Intervensi yang dilakukan melalui individu

y Intervensi yang dilakukan melalui situasi atau lingkungannya melalui penyediaan fasilitas

dan pelayanan, serta

y Intervensi melalui individu dan juga lingkungannya

Jika dilihat dari hal di atas maka pekerjaan sosial mencakup area yang tidak terlalu luas yaitu

pada area mikro dan mezzo walaupun juga mencakup sedikit area makro tetapi tidak lebih

banyak dari ilmu kesejahteran sosial, dengan kata lain pekerjaan sosial berada dalam cakupan

ilmu kesejahteraan sosial.

Ø Pengertian Ilmu Kesejahteraan Sosial

Jika kita berbicara mengenai ilmu kesejahteraan sosial maka awalnya kita harus berbicara

mengenai kesejahteraan sosial itu sendiri. Di bawah ini ada beberapa definisi kesejahteraan

sosial menurut beberapa ahli.

1. Gertrude Wilson:

³Kesejahteraan sosial merupakan perhatian yang terorganisir dari semua orang untuk semua

orang´.

1. Walter Friedlander

³Kesejahteraan sosial merupakan sistem yang terorganisir dari institusi dan pelayanan sosial

yang dirancang untuk membantu individu atau kelompok agar dapat mencapai standar hidup dan

kesehatan yang lebih baik´.

1. Elizabeth Wickenden

³kesejahteraan sosial termasuk di dalamnya peraturan perundangan, program, tunjangan dan

pelayanan yang menjamin atau memperkuat pelayanan untuk memenuhi kebutuhan sosial yang

mendasar dari masyarakat serta menjaga ketentraman dalam masyarakat´.

1. Pre-conference working committee for the XVth International Conference of Social

Welfare

³Kesejahteraan sosial adalah keseluruhan usaha sosial yang terorganisir dan mempunyai tujuan

utama untuk meningkatkan taraf hidup mayarakat berdasarkan konteks sosialnya. Di dalamnya

tercakup kebijakan dan pelayanan yang terkait dengan berbagai kehidupan dalam masyarakat

seperti pendapatan, jaminan sosial, kesehatan, perumahan pendidikan, rekreasi, tradisi budaya,

dan lain sebagainya´.

Definisi-definisi di atas mengandung pengertian bahwa kesejahteraan sosial mencakup berbagai

usaha yang dikembangkan untuk meningkatkan taraf hidup manusia manusia, baik itu di bidang

fisik, mental, emosional, sosial, ekonomi dan spiritual. Selain itu kesejahteran sosial

dianalogikan sebagai kesehatan jiwa yang dapat dilihat dari empat sudut pandang yaitu sebagai

keadaan, ilmu , kegiatan, dan gerakan.

Dalam kaitannya kesejahteraan sosial sebagai suatu ilmu, ilmu kesejahteraan sosial diartikan

sebagai suatu ilmu yang berusaha mengembangkan metodologi (termasuk aspek strategi dan

teknik) untuk menangani berbagai macam masalah sosial, baik di tingkat individu, kelompok,

keluarga, maupun masyarakat (baik lokal, regional maupun internasional).

Munculnya ilmu kesejahteraan sosial tidak bisa dilepaskan dari kajian sejarah pekerjaan sosial

sebagai cikal bakal adanya ilmu kesejahteraan sosial. Pekerjaan sosial yang berawal dari praktik-

praktik para relawan mempunyai sekolah khusus untuk pertama kalinya yang diprakarsai oleh

Marry Richmond. Selanjutnya dengan meluasnya masalah-masalah sosial yang timbul maka

perlu adanya kajian yang lebih luas dibandingkan kajian dalam pekerjaan sosial sehingga

muncullah ilmu kesejahteraan sosial yang menggabungkan berbagai ilmu yang lebih banyak

daripada pekerjaan sosial. Seperti sudah dikatakan di atas bahwa ilmu kesejahteraan sosial juga

mencakup penyelesaian masalah internasional yang berupa kebijakan dan peraturan

perundangan.

B. Hubungan Psikologi, Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial

Pekerjaan sosial merupakan sebuah profesi yang berusaha untuk menyatukan berbagai bidang

ilmu ataupun spesialisasi dari berbagai lapangan praktek. Masalah-masalah yang dihadapi

pekerjaan sosial erat kaitannya dengan masalah fungsi sosial, yaitu kemampuan seseorang untuk

menjalankan peranan berdasarkan status yang ia miliki sesuai dengan harapan masyarakat atau

lingkungannya. Pada intinya, pekerjaan sosial merupakan sebuah profesi yang secara langsung

atau tidak langsung membantu individu, kelompok ataupun masyarakat dalam memberfungsikan

kembali peranan yang ia atau mereka miliki.

Sebagai sebuah ilmu yang memiliki tujuan utama menciptakan masyarakat yang sejahtera,

diperlukan adanya suatu usaha kesejahteraan sosial untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut

Arthur Dunham , untuk mencapai peningkatan kualitas hidup melalui usaha kesejahteraan sosial,

dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas hidup di bidang kehidupan anak dan keluarga,

bidang kesehatan, kemampuan adaptasi dengan lingkungan sosial, pemanfaatan waktu luang, dll.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat dilihat bahwa usaha kesejahteraan sosial harus

memperhatikan berbagai unsusr dari kehidupan sosial manusia, yaitu individu, kelompok,

komunitas, ataupun unit sosial yang lebih luas.

Ilmu pekerjaan sosial sendiri pada intinya merupakan himpunan bagian dari ilmu kesejahteraan

sosial, atau dapat pula dikatakan bahwa ilmu kesejahteraan sosial adalah perluasan dari ilmu

pekerjaan sosial.

Ilmu pekerjaan sosial lebih memusatkan pada tiga metode pekerjaan sosial yang konvensional,

yaitu bimbingan sosial perseorangan, bimbingan sosial kelompok, serta pengorganisasian dan

pengembangan masyarakat. Sedangkan ilmu kesejahteraan sosial, selain menggunakan ketiga

metode tersebut juga telah memperluas bidang kajiannya dengan bidang yang lebih makro

seperti perencanaan kesejahteraan sosial baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun

internasional; dan penelitian kesejahteraan sosial.

Dalam hal keterkaitan dengan bidang studi psikologi, pembahasan mengenai keterkaitan

pekerjaan sosial dan ilmu kesejahteraan sosial akan lebih dekat bila dilihat pada tingkat mikro.

Keterkaitannya lebih banyak terlihat dalam hubungan dengan ketiga metode pekerjaan sosial

yang konvensional diatas.

Buku Applied Psychology For Social Workers yang dikarang Paula Nicolson dan Rowan Bayne

(Isbandi R. Adi, 1994) mencoba menggambarkan mengapa psikologi diajarkan pada para

mahasiswa pekerjaan sosial, dan menyimpulkan area-area utama psikologi diterapkan pada

bidang praktek kesejahteraan sosial. Pada awal perkembangannya, pekerjaan sosial butuh untuk

menguatkan kerangka teoritis dan kebutuhan untuk mendefinisikan batasan serta cakupan

praktek pekerjaan sosial telah menjadi sumber perdebatan utama. Hal ini terlihat pada kursus

Certificate of Qualification in Social Work (CQSW) yang dikembangkan untuk melatih tenaga

professional yang baru dan diusulkan untuk melengkapi para mahasiswa agar dapat menangani

rentangan permasalahan sosial yang mempengaruhi berbagai macam kelompok klien. Secara

umum tujuan pelatihan pekerja sosial tersebut mengkonsentrasikan diri pada tiga bidang dibawah

ini :

1. Membuat pekerja sosial mampu memahami konteks sosial dan politik dari pekerjaannya.

2. Memberikan keterampilan untuk melakukan penilaian dan keterampilan untuk melakukan

terapi.

3. Mempertimbangkan pengetahuan teoritis mengenai perkembangan manusia, interkasi

sosial, dan luas lingkup disiplin profesionalnya sendiri serta displin professional lain.

Dalam melaksanakan pekerjaan sosial juga dibutuhkan ilmu Psikologi karena dapat memberikan

sumbangan dalam mencapai pemahaman pada :

1. Isu-isu praktis dan teoritis mengenai keterampilan wawancara, keterampilan melakukan

penilaian, dan ketrampilan melakukan terapi.

2. Perkembangan dan interkasi manusia.

3. Ruang lingkup psikologi terapan yang mendukung pekerjaan soisal dan berbagai layanan

kesejahteraan lainnya.

Pada tahun 1950-an terjadi perluasan dalam praktik pekerjaan sosial yang bergerak ke arah

pelatihan professional pada pekerja sosial di bidang psikiatri yang merupakan kelompok paling

professional dan mempunyai otonomi yang kuat diantara para pekerja sosial. Dalam sejarahnya,

mereka mendapat landasan teoritis dari para ahli terapi dan pekerja sosial di Amerika yang

berorientasi pada aspek psikodinamik. Mereka mengebangkan metode interfensi yang dikenal

dengan nama social case work. Metode ini fleksibel dalam menempatkan kerangka pemahaman

mengenai konteks sosial dan psikologi dari permasalahan klien and dapat beradaptasi dengan

perubahan alur teori pekerjaan sosial karena metode ini merupakan kerangka teoritis pertama

yang mnedukung berkembang pekrejaan sosial sebagai suatu profesi. Dampaknya psikologi

disamakan dengan teori psikodinamik.

Dua alasan utama pendekatan ini diadaptasi oleh profesi pekerjaan sosial:

1. Teori psikodinamik secara jelas mengarah pada pemahaman proses emosional dan

psikologis yang terjadi pada kehidupan individu dan saat mereka berinteraksi.

2. Alur psikologi secara keseluruhan tidak menunjukkan minat secara utuh dalam

memberikan sumbangan terhadap pembentukan teori pekerjaan sosial atau pelatihan

pekerjaan sosial

Menurut Kurt Lewin dan Sigmund Freud pandangan dasar dari teori psikodinamika umumnya

menggambarkan adanya kekuatan yang mempengaruhi dinamika perilaku seseorang. Perbedaan

yang mendasar dari pandangan Lewin dan Freud terlihat dari kekuatan yang mendorong perilaku

seseorang. Freud lebih memfokuskan pada aspek dalam diri seseorang sedangkan lewin lebih

menekankan kekuatan dari luar diri seseorang yang mempunyai nilai positif dan negative

terhadap individu walaupun lewin mengakui adanya dinamika dalam diri individu akibat

kekuatan dari unsur yang dalam diri individu.

Walaupun pada awalnya bidang pekerjaan sosial (terutama intervensi mikro) lebih terfokus pada

pandangan psikodinamika, dalam pertimbangannya pendekatan psikologi yang lain mulai

mendapat perhatian dari bidang pekerjaan sosial maupun ilmu kesejahteraan sosial dalam upaya

mengembangkan bidang pekerjaan sosial secara lebih utuh. Menurut Paula Nicolson dan Rowan

Bayne, pendekatan psikologi yang dapat diterapkan dibidang pekerjaan sosial adalah sebagai

berikut:

1. Ketrampilan yang berkaitan dengan kemampuan menjalin hubungan dengan individu,

kelompok, atapun individu dalam kelompok

2. Pendekatan yang terkait dengan isu perkembangan, hubungan antar individu, maupun

kehidupan sosial yang terkait dengan relasi antara pekerja sosial dengan klien

3. Pemahaman tentang konteks dalam pekerjaan sosial di tingkat mikro maupun makro

Selain itu materi psikologi memberikan sumbangan bagi penelitian di bidang kesejahteraan

sosial berupa metode kulitatif dan kuantitatif untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan. Hal

ini berarti memberikan alternatif dan variasi tambahan dibandingkan dengan masukan dari

disiplin kesehatan masyarakat, sosiologi, maupun antropologi. Psikologi juga membantu

pengembangan kemampuan organisasi dan administrasi lembaga kesejahteraan sosial serta

kepemimpinan dalam lembaga nirlaba.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Psikologi, pekerja sosial dan ilmu kesejahteraan sosial memiliki hubungan yang sangat erat. Hal

tersebut disebabkan karena psikologi merupakan salah satu ilmu dasar yang harus dipelajari oleh

pekerja sosial dan ilmu kesejahteraan sosial dalam praktek menyeleseikan masalah-masalah

sosial. Selain itu, dengan ilmu psikologi kita dapat lebih memahami kepribadian dan tingkah

laku klien sehingga kita dapat menyeleseikan masalah tersebut dengan sudut pandang yang

berbeda, yaitu kepribadian klien dan masalah yang sedang dihadapi.

DAFTAR PUSTAKA

Definisi Pekerjaan sosial, Internet: http://blogs.unpad.ac.id/teguhaditya/script.php/read/definisi-

pekerjaan-sosial/, diakses pada 16 Februari 2008

Adi, Isbandi R. 1994. Psikologi, Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial : Dasar-dasar

Pemikiran. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Adi, Isbandi R. 2005. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Jakarta: FISIP UI Pers.

[1] Social Work Practice: Model and Methode, 1973 : 9 Itasca, Illinois: Peacock Publishers

[2] Introduction to Social Work Practice, 1975: 3

[3] A Concepts and Methods of Social Work, 1980: 4

[4] Introduction to Social Welfare Institutions: Social Problems, Service, and Current Issues.

1982: 12

[5] Fundamentals of social work, 1983: 3

Peranan Pekerja Sosial Dalam

Pendampingan

Written by Administrator

Tuesday, 19 January 2010 04:13

Oleh: Sunandar Shodiq

Pemberdayaan masyarakat dapat didefinisikan sebagai tindakan sosial dimana penduduk sebuah

komunitas mengorganisasikan diri dalam membuat perencanaan dan tindakan kolektif untuk

memecahkan masalah sosial atau memenuhi kebutuhan sosial sesuai dengan kemampuan dan

sumberdaya yang dimilikinya. Dalam kenyataannya, seringkali proses ini tidak muncul secara

otomatis, melainkan tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksi masyarakat setempat dengan

pihak luar atau para pekerja sosial baik yang bekerja berdasarkan dorongan karitatif maupun

perspektif profesional. Para pekerja sosial ini berperan sebagai pendamping sosial.

Pada saat melakukan pendampingan sosial ada beberapa peran pekerjaan sosial dalam

pembimbingan sosial. Ada beberapa peran di bawah ini sangat relevan untuk membantu dalam

pembimbingan tersebut Pendampingan sosial sangat menentukan kerberhasilan program

penanggulangan kemiskinan. Mengacu pada Ife (1995), peran pendamping umumnya mencakup

tiga peran utama, yaitu: fasilitator, pendidik, perwakilan masyarakat, dan peran-peran teknis bagi

masyarakat miskin yang didampinginya.

Fasilitator

Merupakan peran yang berkaitan dengan pemberian motivasi, kesempatan, dan dukungan bagi

masyarakat. Beberapa tugas yang berkaitan dengan peran ini antara lain menjadi model,

melakukan mediasi dan negosiasi, memberi dukungan, membangun konsensus bersama, serta

melakukan pengorganisasian dan pemanfaatan sumber.

Dalam literatur pekerjaan sosial, peranan ³fasilitator´ sering disebut sebagai ³pemungkin´

(enabler). Keduanya bahkan sering dipertukarkan satu-sama lain. Seperti dinyatakan Parsons,

Jorgensen dan Hernandez (1994:188), ³The traditional role of enabler in social work implies

education, facilitation, and promotion of interaction and action.´ Selanjutnya Barker (1987)

memberi definisi pemungkin atau fasilitator sebagai tanggungjawab untuk membantu klien

menjadi mampu menangani tekanan situasional atau transisional.

Strategi-strategi khusus untuk mencapai tujuan tersebut meliputi: pemberian harapan,

pengurangan penolakan dan ambivalensi, pengakuan dan pengaturan perasaan-perasaan,

pengidentifikasian dan pendorongan kekuatan-kekuatan personal dan asset-asset sosial,

pemilahan masalah menjadi beberapa bagian sehingga lebih mudah dipecahkan, dan

pemeliharaan sebuah fokus pada tujuan dan cara-cara pencapaiannya (Barker, 1987:49).

Pengertian ini didasari oleh visi pekerjaan sosial bahwa ³setiap perubahan terjadi pada dasarnya

dikarenakan oleh adanya usaha-usaha klien sendiri, dan peranan pekerja sosial adalah

memfasilitasi atau memungkinkan klien mampu melakukan perubahan yang telah ditetapkan dan

disepakati bersama (Parsons, Jorgensen dan Hernandez, 1994). Parsons, Jorgensen dan

Hernandez (1994:190-203) memberikan kerangka acuan mengenai tugas-tugas yang dapat

dilakukan oleh pekerja sosial:

* Mendefinisikan keanggotaan atau siapa yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan.

* Mendefinisikan tujuan keterlibatan.

* Mendorong komunikasi dan relasi, serta menghargai pengalaman dan perbedaan-perbedaan.

* Memfasilitasi keterikatan dan kualitas sinergi sebuah sistem: menemukan kesamaan dan

perbedaan.

* Memfasilitasi pendidikan: membangun pengetahuan dan keterampilan.

* Memberikan model atau contoh dan memfasilitasi pemecahan masalah bersama: mendorong

kegiatan kolektif.

* Mengidentifikasi masalah-masalah yang akan dipecahkan.

* Memfasilitasi penetapan tujuan.

* Merancang solusi-solusi alternatif

* Mendorong pelaksanaan tugas.

* Memelihara relasi sistem

* Memecahkan konflik

Pendidik

Pendamping berperan aktif sebagai agen yang memberi masukan positif dan direktif berdasarkan

pengetahuan dan pengalamannya serta bertukar gagasan dengan pengetahuan dan pengalaman

masyarakat yang didampinginya. Membangkitkan kesadaran masyarakat, menyampaikan

informasi, melakukan konfrontasi, menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat adalah beberapa

tugas yang berkaitan dengan peran pendidik.

Perwakilan masyarakat

Peran ini dilakukan dalam kaitannya dengan interaksi antara pendamping dengan lembaga-

lembaga eksternal atas nama dan demi kepentingan masyarakat dampingannya. Pekerja sosial

dapat bertugas mencari sumber-sumber, melakukan pembelaan, menggunakan media,

meningkatkan hubungan masyarakat, dan membangun jaringan kerja.

Mediator

Pekerja sosial sering melakukan peran mediator dalam berbagai kegiatan pertolongannya. Peran

ini sangat penting dalam paradigma generalis. Peran mediator diperlukan terutama pada saat

terdapat perbedaan yang mencolok dan mengarah pada konflik antara berbagai pihak. Lee dan

Swenson (1986) memberikan contoh bahwa pekerja sosial dapat memerankan sebagai ³fungsi

kekuatan ketiga´ untuk menjembatani antara anggota kelompok dan sistem lingkungan yang

menghambatnya.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam melakukan peran mediator meliputi kontrak

perilaku, negosiasi, pendamai pihak ketiga, serta berbagai macam resolusi konflik. Dalam

mediasi, upaya-upaya yang dilakukan pada hakekatnya diarahkan untuk mencapai ³solusi

menang-menang´ (win-win solution). Hal ini berbeda dengan peran sebagai pembela dimana

bantuan pekerja sosial diarahkan untuk memenangkan kasus klien atau membantu klien

memenangkan dirinya sendiri.

Compton dan Galaway (1989: 511) memberikan beberapa teknik dan keterampilan yang dapat

digunakan dalam melakukan peran mediator:

* Mencari persamaan nilai dari pihak-pihak yang terlibat konflik.

* Membantu setiap pihak agar mengakui legitimasi kepentingan pihak lain.

* Membantu pihak-pihak yang bertikai dalam mengidentifikasi kepentingan bersama.

* Hindari situasi yang mengarah pada munculnya kondisi menang dan kalah.

* Berupaya untuk melokalisir konflik kedalam isu, waktu dan tempat yang spesifik.

* Membagi konflik kedalam beberapa isu.

* Membantu pihak-pihak yang bertikai untuk mengakui bahwa mereka lebih memiliki manfaat

jika melanjutkan sebuah hubungan ketimbang terlibat terus dalam konflik.

* Memfasilitasi komunikasi dengan cara mendukung mereka agar mau berbicara satu sama

lain.

* Gunakan prosedur-prosedur persuasi.

Pembela

Dalam praktek PM, seringkali pekerja sosial harus berhadapan sistem politik dalam rangka

menjamin kebutuhan dan sumber yang diperlukan oleh klien atau dalam melaksanakan tujuan-

tujuan pendampingan sosial. Manakala pelayanan dan sumber-sumber sulit dijangkau oleh klien,

pekeja sosial haru memainkan peranan sebagai pembela (advokat). Peran pembelaan atau

advokasi merupakan salah satu praktek pekerjaan sosial yang bersentuhan dengan kegiatan

politik.

Peran pembelaan dapat dibagi dua: advokasi kasus (case advocacy) dan advokasi kausal (cause

advocacy) (DuBois dan Miley, 1992; Parsons, Jorgensen dan Hernandez, 1994). Apabila pekerja

sosial melakukan pembelaan atas nama seorang klien secara individual, maka ia berperan

sebagai pembela kasus. Pembelaan kausal terjadi manakala klien yang dibela pekerja sosial

bukanlah individu melainkan sekelompok anggota masyarakat.

Rothblatt (1978) memberikan beberapa model yang dapat dijadikan acuan dalam melakukan

peran pembela dalam PM:

* Keterbukaan ± membiarkan berbagai pandangan untuk didengar.

* Perwakilan luas ± mewakili semua pelaku yang memiliki kepentingan dalam pembuatan

keputusan.

* Keadilan ± memiliki sesuah sistem kesetaraan atau kesamaan sehingga posisi-posisi yang

berbeda dapat diketahui sebagai bahan perbandingan.

* Pengurangan permusuhan ± mengembangkan sebuah keputusan yang mampu mengurangi

permusuhan dan keterasingan.

* Informasi ± menyajikan masing-masing pandangan secara bersama dengan dukungan

dokumen dan analisis.

* Pendukungan ± mendukung patisipasi secara luas.

* Kepekaan ± mendorong para pembuat keputusan untuk benar-benar mendengar,

mempertimbangkan dan peka terhadap minat-minat dan posisi-posisi orang lain.

Pelindung

Tanggungjawab pekerja sosial terhadap masyarakat didukung oleh hukum. Hukum tersebut

memberikan legitimasi kepada pekerja sosial untuk menjadi pelindung (protector) terhadap

orang-orang yang lemah dan rentan. Dalam melakukan peran sebagai pelindung (guardian role),

pekerja sosial bertindak berdasarkan kepentingan korban, calon korban, dan populasi yang

berisiko lainnya. Peranan sebagai pelindung mencakup penerapan berbagai kemampuan yang

menyangkut: (a) kekuasaan, (b) pengaruh, (c) otoritas, dan (d) pengawasan sosial.

Prinsip-prinsip peran pelindung meliputi:

* Menentukan siapa klien pekerja sosial yang paling utama.

* Menjamin bahwa tindakan dilakukan sesuai dengan proses perlindungan.

* Berkomunikasi dengan semua pihak yang terpengaruh oleh tindakan sesuai dengan

tanggungjawab etis, legal dan rasional praktek pekerjaan sosial.

Dalam proses pendampingan sosial, ada dua pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki

pekerja sosial:

1. Pengetahuan dan keterampilan melakukan asesmen kebutuhan masyarakat (community

needs assessment), yang meliputi: (a) jenis dan tipe kebutuhan, (b) distribusi kebutuhan, (c)

kebutuhan akan pelayanan, (d) pola-pola penggunaan pelayanan, dan (e) hambatan-hambatan

dalam menjangkau pelayanan (lihat makalah penulis mengenai metode dan teknik pemetaan

sosial untuk mengetahu cara-cara mengidentifikasi masalah dan kebutuhan masyarakat).

2. Pengetahuan dan keterampilan membangun konsorsium dan jaringan antar organisasi.

Kegiatan ini bertujuan untuk: (a) memperjelas kebijakan-kebijakan setiap lembaga, (b)

mendefinisikan peranan lembaga-lembaga, (c) mendefinisikan potensi dan hambatan setiap

lembaga, (d) memilih metode guna menentukan partisipasi setiap lembaga dalam memecahkan

masalah sosial masyarakat, (e) mengembangkan prosedur guna menghindari duplikasi

pelayanan, dan (f) mengembangkan prosedur guna mengidentifikasi dan memenuhi kekurangan

pelayanan sosial.

Sumber: http://sunandars.blogspot.com/2009/02/peranan-pekerja-sosial-dalam_20.html

Last Updated on Tuesday, 19 January 2010 04:16

JARINGAN ALUMNI KESOS UI DEPOK

Email:

miftah_nawawi@yahoo.co.id

Situs Web:

http://www.ui.ac.id/id

Kantor:

Depok, Universitas Indonesia

Lokasi:

Margonda Raya

JARINGAN ALUMNI PASCA SARJANA KESOS UNIVERSITAS INDONESIA

Kategori:

Minat Bersama - Aktivitas

Keterangan:

Group ini adalah wahana silaturahmi antar alumni pasca sarjana Ilmu Kesejahetraan

Sosial Universitas Indonesia tahun 2002. pada waktu masuk jumlahnya sekitar 38 orang.

yang terdiri dari para dosen, birokrat, peneliti, LSM, lembaga PBB, dan aktivis pekerja

sosial, dan lain-lain. pada saat ini mereka mengabdi ke berbagai lembaga yang

membesarkan mereka. mereka sekarang betempat tinggal di Jakarta, Jogjakarta, Bogor,

dan lainnya. semoga dengan adanya group ini pesaudaraan diantara para alumni... (baca

selengkapnya)

Jenis Privasi:

Terbuka: Semua isi dapat dibaca umum.

Pendidikan Pekerjaan Sosial di Selandia Baru/EdiSuharto2006® 1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->