P. 1
Rehabilitasi_Kawasan_Hydroseeding

Rehabilitasi_Kawasan_Hydroseeding

|Views: 499|Likes:
Published by heru dwi riyanto

More info:

Categories:Types, Research
Published by: heru dwi riyanto on Dec 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/26/2013

pdf

text

original

REHABILITASI KAWASAN KONSERVASI TAMAN HUTAN RAYA DENGAN TEKNIK HYDROSEEDING 1 Oleh : Heru Dwi Riyanto dan Susi

Abdiyani2 ABSTRACT
Hydroseeding adalah proses penanaman dengan menggunakan adonan antara biji dan mulsa. Adonan tersebut diangkut dalam tanki, truk atau trailer dan disemprotkan di atas lahan yang telah dipersiapkan dalam tapak yang seragam. Hydroseeding dapat dijadikan alternatif dari proses tradisional penyebaran biji/benih secara langsung dalam mendukung percepatan rehabilitasi suatu kawasan.. Teknik Hydroseeding untuk jenis tanaman hutan masih belum banyak dilakukan, hal ini terkendala terutama oleh beragamnya ukuran benih/biji tanaman hutan, dari sangat besar, sampai sangat halus, juga adanya dua sifat benih tanaman hutan yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses penanaman dengan teknik hydroseeding tersebut. Dua sifat tersebut adalah: 1. benih dorman yaitu benih yang mampu mempertahankan tingkat viabilitasnya pada kondisi tertentu yang bukan kondisi optimum untuknya berkecambah, 2. benih rekasiltran yaitu benih yang mudah menurun tingkat viabilitasnya pada kondisi tertentu yang bukan kondisi optimum untuknya berkecambah. Informasi mengenai penanaman dengan teknik hydroseeding beserta materi/formula hydroseeder untuk jenis tanaman hutan masih sangat jarang, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai hal tersebut, sebelum teknik ini dikembangkan/diaplikasikan secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh teknik hydroseeding terhadap perkecambahan dan pertumbuhan benih/biji jenis tanaman kehutanan guna menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan untuk implementasi
1

Makalah pada Seminar Nasional Hasil Penelitian “Teknologi, Sosial Ekonomi dan Kelembagaan Sebagai Basis Pengelolaan DAS di Purwokerto Tanggal 26 Agustus 2008. 2 Peneliti pada Balai Penelitian Kehutanan Solo. Jl. A. Yani-Pabelan Po Box 295. Surakarta. Telp. 0271-716709, Fax. 0271-716959. Email : heru_dwi_r@yahoo.com.

1

PROSIDING

Seminar Nasinal, 2009

rehabilitasi hutan dan lahan di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngargoyoso, yang secara administrasi pemerintahan berada di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso. Areal penelitian mempunyai luas ± 2 hektar yang terbagi ke dalam petak/plot pengamatan dengan luas petak ± 0,1 hektar sebanyak 20 plot. Bahan materi hydroseeding yang digunakan adalah perekat( tackifier), pupuk NPK dan insektisida. Benih yang digunakan dan disemprotkan adalah Agathis (Agathis lorantifolia), Suren (Toona sureni), Kaliandra merah dan putih (Caliandra calothyrsus). Perlakuan dibedakan atas perekat dan non perkat; full coverage dan strip coverage. Hasil inventarisasi permudaan, benih yang tumbuh dibanding yang disebarkan dalam satuan satu meter persegi untuk benih dorman panjang adalah 7 %, sedang dorman pendek 14 %.

Key word : Rehabilitasi, Dormansi, Hydroseeding, Perekat I. A. PENDAHULUAN

Latar Belakang Teknik Hydroseeding merupakan teknik penanaman yang sudah diterapkan pada skala luas, terutama untuk merehabilitasi tepi-tepi konstruksi jalan dan lahan bekas tambang oleh perusahaan-perusahaan tambang. Hydroseeding terutama digunakan pada fase awal rehabilitasi lahan dengan tumbuhan rumputrumputan dan legume sebagai tanaman pioner. Hydroseeding adalah proses penanaman dengan menggunakan donan antara biji dan mulsa yang dicampur jadi satu serta ditambahkan air. Adonan tersebut diangkut dalam tanki, truk atau trailer dan disemprotkan di atas lahan yang telah dipersiapkan dalam tapak yang seragam. Teknik ini dapat dijadikan sebagai alternatif dari proses tradisional penyebaran biji/benih secara langsung (direct seeding/ dry seed). Adonan hydroseeding sering memiliki tambahan bahan termasuk pupuk, agen perekat (tackifier agents), pewarna dan materi tambahan lainnya. 2

Pertumbuhan Sengon Muda….(Heru

DR dan Heri P)

Teknik Hydroseeding untuk jenis tanaman hutan masih belum banyak dilakukan, hal ini terkendala terutama oleh beragamnya ukuran benih/biji tanaman hutan, dari sangat besar, sampai sangat halus, juga adanya dua sifat benih tanaman hutan yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses penanaman dengan teknik hydroseeding tersebut. Dua sifat tersebut adalah:
1. benih dorman yaitu benih yang mampu mempertahankan tingkat viabilitasnya pada kondisi tertentu yang bukan kondisi optimum untuk berkecambah, 2. benih rekasiltran yaitu benih yang mudah menurun tingkat viabilitasnya pada kondisi tertentu yang bukan kondisi optimum untuk berkecambah.

Sampai dengan saat ini informasi mengenai penanaman dengan teknik hydroseeding beserta materi/formula hydroseeder untuk jenis tanaman hutan masih sangat terbatas. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai hal tersebut, sebelum teknik ini dikembangkan/diaplikasikan secara luas. B. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh teknik hydroseeding terhadap perkecambahan dan pertumbuhan benih/biji jenis tanaman kehutanan guna menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan untuk implementasi rehabilitasi hutan dan lahan di lapangan.

II. A.

SEKILAS TENTANG HYDROSEEDING

Sejarah Pengertian Hydroseeding Komersial Hydroseeder pertama kali muncul di Amerika Serikat pada awal tahun 1950.Hal ini dilakukan dalam rangka mengefisienkan penyebaran benih/biji dan pemupukan dalam areal yang luas. Proses ini sekarang telah digunakan di banyak tempat di dunia, seperti di Inggris hydroseeding pertama kali dilakukan adalah pada tahun 1960. 3

PROSIDING

Seminar Nasinal, 2009

Hydroseeding adalah proses penanaman dengan menggunakan adonan antara biji dan mulsa. Adonan tersebut diangkut dalam tanki, truk atau trailer dan disemprotkan di atas lahan yang telah dipersiapkan dalam tapak yang seragam. Teknik ini dapat dijadikan alternatif dari proses tradisional penyebaran dry seed mendukung percepatan berkecambah benih/biji mengurangi erosi. Mulsa dalam campuran hydroseed membantu menjaga tingkat kelembaban benih/bibit. Adonan hydroseed sering memiliki tambahan bahan termasuk pupuk, agen perekat (tackifier agents), pewarna dan materi tambahan lainnya. (Wikipedia, 2008). Materi/Formula Hydroseeding Teknik hydroseeding dilakukan dengan cara menyemprotkan campuran hydroseeding. Campuran ini biasanya terdiri dari beberapa komponen, yaitu biji (terutama biji rumput tetapi dapat juga berupa tumbuhan berbunga, semak belukar maupun pohonpohonan), sintentis dan/atau kondisioner tanah alami ( polyacrylamide polymers, atau ekstrak tumbuhtumbuhan), soil amendments ( mineral gypsum, kapur, Kalsium Karbonat, atau bahan organik seperti residu tanaman maupun hewan), mulsa (serat alami seperti jerami, kayu, kapas, serabut kelapa, serat sintetis seperti kertas dan plastik) serta mikoriza. Komponenkomponen ini kemudian dicampur dan atau dilarutkan dalam air dan akhirnya disemprotkan ke seluruh area (www.freepatentsonline.com, 2007). Evaluasi pendahuluan terhadap kondisi lahan perlu dilakukan untuk implementasi guna memilih material campuran dalam hydroseeding, yaitu : B. Kondisi tanah Topografi lahan Cuaca dan iklim 4 Pemeliharaan dipersyaratkan Sensitivitas areal Ketersediaan air yang

Pertumbuhan Sengon Muda….(Heru

DR dan Heri P)

Tipe Tanaman untuk vegetasi vegetasi permanen Lebih lanjut tahap-tahap yang harus diikuti dalam pelaksanaan adalah sebagai berikut : Hydroseeding dapat dilakukan dengan proses multi tahap atau proses satu tahap, proses multi tahap menjamin maksimum kontak langsung benih dengan tanah. Proses satu tahap biasanya menggunakan campuran serbuk, benih dan lain-lain., jumlah benih harus diperbesar untuk menggantikan benih-benih yang tidak kontak langsung dengan tanah. Prioritas aplikasi, areal yang akan ditanami secara jalur searah kontur digemburkan. Perlu pemakaian mulsa jerami untuk menjaga benih tetap ditempatnya dan untuk menjaga kelembaban dan temperatur tanah sampai benih berkecambah dan tumbuh. Benih harus terjamin kemurnian, persen kecambah, dan benih sedapat mungkin telah diinokulasi mikoriza. Pupuk komersial dapat berupa pelet atau butiran. Perendaman, Perekatan dan Perkecambahan Biji Perendaman biji dalam pemecahan perkecambahan biji telah dibuktikan dalam peralatan akselerator germinator dalam laboratorium, tetapi tidak dipengujian lapangan. Perendaman lebih lama akan menurunkan tingkat perkecambahan (Kay B.L et al., 1977). Kerusakan biji baik yang direndam maupun yang tidak adalah normal dalam hydroseeding. C. Dalam rangka untuk mengoptimalkan revegetasi pada lahan-lahan yang mengalami kerusakan, perlu untuk dilakukan dengan teknik hydroseeding yang menggunakan campuran koloidal dalam upaya perbaikan vegetasi penutup. Untuk pemilihan koloidal, dilakukan tes kapasitas perekatan dan perkecambahan dari tanaman herba yang dicampur dengan campuran koloidal baik pada kondisi laboratorium maupun lapang. Beberapa campuran menunjukan hasil yang positif. Pada skala laboratorium, alginat paling efektif dalam 5

PROSIDING

Seminar Nasinal, 2009

meningkatkan perkecambahan dan perekatan. Pada skala lapang campuran selulosis menjadi yang paling efektif dalam perekatan biji, perkecambahan dan pencegahan erosi. (Merlin, G et al., 1998). III. A. METODOLOGI

Lokasi dan Luas Areal Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngargoyoso, yang secara administrasi pemerintahan berada di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso . Penelitian ini menempati areal seluas ± 3 hektar yang terbagi ke dalam petak/plot pengamatan dengan luas petak ± 0,1 hektar sebanyak 20 plot.

Pelaksanaan Pelaksanaan hydroseeding di lokasi Tahura Ngargoyoso telah dilakukan pada bulan Maret 2009, penyemprotan dilakukan oleh rekanan, PT Green Planet, dengan mengaplikasikan materi hydroseeding sebagai berikut : Perekat (tackifier), pupuk NPK, insektisida. Dengan benih yang disemprotkan Agathis (Agathis lorantifolia), Lemo (Litsea cubeba), Suren (Toona sureni), Kaliandra merah dan putih (Caliandra calothyrsus). Perlakuan dibedakan atas perekat dan non perekat; full coverage dan strip coverage. B. C. Alat dan Bahan Penelitian Alat dan bahan yang dipergunakan dalam penelitian/pengamatan adalah sebagai berikut : 1. Alat : GPS, Alat ukur cahaya, alat ukur tingggi dan diameter, meteran, meteran, tali rafia, hand counter, dan lain-lain. 2. Bahan : Tallysheet, patok batas, permudaan/anakan Agathis (Agathis lorantifolia), Suren (Toona sureni), Kaliandra merah dan putih (Caliandra calothyrsus) 6

Pertumbuhan Sengon Muda….(Heru

DR dan Heri P)

Parameter dan Pengamatan Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah persen hidup empat jenis tanaman tersebut. D. Pengamatan dilakukan pada, bulan Agustus/September (mewakili musim kemarau) dan November/Desember (mewakili musim Penghujan). Rancangan Penelitian 1. Rancangan penelitian adalah perlakuan sebagai berikut : dengan

A. Dengan Perekat B. Tanpa Perekat 1. Full Covered 2. Strip/Jalur Covered a. Biji Dorman Panjang b. Biji Dorman Pendek ● Jumlah biji per petak/plot pengamatan adalah ± 60.000 biji atau 60 biji atau benih per meter persegi ● Sebelum pelaksanaan penyemprotan, benih terlebih dahulu diuji dulu daya kecambahnya dan diperoleh persentase kecambah ± 75% Analisa data Data dianalisa secara deskriptif statistik, yang akan menggambarkan suatu rerata dari jumlah benih berkecambah, bibit hidup. IV. A. 1. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Kondisi Umum Tahura Ngargoyoso Lokasi Tahura Ngargoyoso merupakan tegakan Pinus merkusii tua dengan kerapatan ± 250 pohon/Ha, dengan tumbuhan bawah berupa rumput dan belukar, dengan elevasi ± 1400 m dari permukaan laut. (Gambar 1 dan 2).

7

PROSIDING

Seminar Nasinal, 2009

Gambar 1. Rerumputan 2.

Gambar 2. Semak belukar

Pelaksanaan Hydroseeding Pelaksanaan hydroseeding dilaksanakan bersama-sama Pusat Penelitian Hutan Tanaman (P3HT), Balai Penelitian Kekutanan Solo (BPK-Solo) dan PT. Green Planet, peralatan dan perlengkapan untuk penyemprotan serta Tackifier (Perekat) disiapkan oleh PT. Green Planet, benih, pupuk, insektisida disiapkan oleh P3HT dan untuk pengamatan serta penelitiannya dilaksanakan oleh BPK-Solo. Pelaksanaan penyemprotan dilaksanakan pada bulan April 2009. Peralatan semprot, benih dan penyemprotan disajikan pada Gambar 3 sampai 8.

Gambar 3. Perlakuan benih yang meliputi skarifikasi dan pencampuran insektisida

8

Pertumbuhan Sengon Muda….(Heru

DR dan Heri P)

Gambar 4. Proses penyemprotan benih

3.

Pengamatan Pasca Semprot Pengamatan Setelah Semprot Pengamatan ini penting dilakukan, untuk melihat apakah benih yang disemprotkan betul tepat sasaran dan dalam kondisi baik. Hasil pengamatan tersebut disajikan dalam Gambar 5, …..., a.

9

PROSIDING

Seminar Nasinal, 2009

Gambar 5. Benih setelah semprot b. Pengamatan H + 1 Minggu

Gambar 6. Perkecambahan Suren dan Agathis dan Kaliandra umur 1 minggu setelah penyemprotan

c.

Pengamatan H + 7 (Bulan November)

10

Pertumbuhan Sengon Muda….(Heru

DR dan Heri P)

Gambar 7. Permudaan Agathis dan Suren umur 7 bulan Pengamatan permudaan dilakukan pertama kali pada bulan Agustus/September, bulan ini mewakili musim kemarau dan pengamatan ke dua dilakukan bulan November /Desember, mewakili musim penghujan. Pengamatan permudaan pada tiap petak pengamatan yang berukuran 30 m x 35 m atau ± 0,1 hektar dilakukan dengan secara sampling yaitu dibuat plot permanen ukuran 1 m x 1 m sebanyak 9 plot ukur permanen yang tersebar (Gambar 21). ● ● ● ● ● ● ● ● ●

Gambar 21. Plot permanen Hasil pengamatan dan pengukuran disajikan dalam Tabel 1. 4. Benih Dorman Panjang Benih dorman panjang dapat diartikan benih yang mampu mempertahankan kemampuan viabilitasnya pada kondisi tertentu. Benih dorman panjang umumnya mempunyai kulit yang keras, sehingga mampu menjaga kadar air minimum benih. Hasil pengamatan terhadap benih ini dalam penerapan 11

PROSIDING

Seminar Nasinal, 2009

teknik penanaman secara direct seeding disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Hasil inventarisasi permudaan 5 bulan dan 7 bulan setelah pelaksanaan Hydroseeding.
Bulan Pengamatan No. Ptk K. merah Jm T l (c m) 7 5,5 11 7 38 12 4 20 38 38 97 27 6 5,5 7 7,6 5,5 5 6 6.1 September Jenis K. putih Jm l 10 1 12 1 2, 4 T (c m) 6 12 4 5 6,8 Lemo Jm l T (c m) K. merah Jm T l (c m) 14 6.3 1 6 7 13 8 3 11 10 39 11 10 5 10 5 10 6 8 7,7 November Jenis K. putih Jm l 3 1 7 19 9 3 12 40 12 22 13 T (c m) 7,5 10 13. 5 8 10. 5 15 6.8 8.5 7 10 9.7 Lemo Jm l T (c m) -

1 3 5 7 9 10 12 14 16 18 Rat a2

5.

Benih Dorman Pendek Benih dorman pendek atau rekasiltran dapat diartikan benih yang kemampuan mempertahamkan viabilitasnya dalam kondisi tertentu hanya dalam waktu yang pendek. Benih ini apabila tidak segera ditanam viabilitasnya cepat turun. Hasil pengamatan terhadap benih ini disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. Hasil inventarisasi permudaan 5 bulan dan 7 bulan setelah pelaksanaan hydroseeding.

12

Pertumbuhan Sengon Muda….(Heru

DR dan Heri P)

No Peta k

Bulan Pengamatan September November Jenis Jenis Suren Jml T (cm) 9 4,8 40 5,6 63 5,3 30 6,7 64 5,7 127 5 101 4,5 46 5,1 3 5 42,6 5,3 Agathis Jml T (cm) 9 5,5 2 7 5 6,3 51 6 7,4 6,2 Suren Jml T (cm) 10 6,8 28 8,9 41 6,1 30 7,7 57 7,8 120 9,6 121 8.1 68 7,3 13 6 49 5,8 53,7 7,4 Agathis Jml T (cm) 10 8 3 7 1 7 3 5 2 6,8

2 4 6 8 11 13 15 17 19 20 Rata 2

Dari hasil inventarisasi terakhir pada bulan november, apabila diasumsikan bahwa hasil tersebut adalah yang hidup dan akan berkembang maka dalam satuan plot pengamatan 1050 m2 atau dikonversikan ke satuan hektar akan diperoleh jumlah bibit/permudaan sebagaimana disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Estimasi jumlah permudaan per hektar Jumlah Permudaan No Jenis Satuan Luas Plot (9 Hektar 2 m) 1 Kaliandra 10 11.666 merah 2 Kaliandra putih 13 15.167 3. Suren 53 61.833 4. Agathis 2 2.333 B. Pembahasan Dari hasil inventarisasi permudaan, benih yang tumbuh dibanding yang disebarkan dalam satuan satu meter persegi untuk dorman panjang adalah ((10 + 13)/9)/45 x 100% = 7 %, sedang dorman pendek ((53 13

PROSIDING

Seminar Nasinal, 2009

+ 2)/9)/45 x 100% = 14 %. Rendahnya persentase tumbuh tersebut.dapat terjadi karena: antara lain kerusakan benih pada saat penyemprotan. Kerusakan benih pada saat itu adalah suatu hal yang normal (Kay B.L et al., 1977). Kerusakan tersebut terjadi karena benturan – benturan pada mesin, selang, dan benturan dalam tangki. Selain hal tersebut musim juga merupakan faktor penentu. Ketidak tepatan musim akan berpengaruh terhadap persentase tumbuh. Jenis daur pendek (rekasiltran) apabila jatuh ditempat yang tidak optimum untuk pertumbuhannya akan mengalami penurunan viabilitas sampai kematian benih. Habitat tanaman juga sangat berpengaruh dalam pertumbuhan benih. Habitat atau tempat tumbuh alami juga akan berpengaruh terhadap perkecambahan dan pertumbuhannya. Menurut Heyne, 1987. Suren tumbuh pada ketinggian 1-1200 m dpl atau di bawah 3000 m dpl, Agathis tumbuh di bawah 3000 m dpl dan Kaliandra pada ketinggian 0 – 1200 m dpl. Dari hasil di atas terlihat bahwa permudaan suren lebih banyak dibanding jenis lain, hal ini selain ketinggian/ elevasi lokasi penelitian yang memang sesuai, suren juga tumbuh secara liar pada lahan- lahan masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa lokasi tersebut memang habitat suren. V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari apa yang telah diuraikan di muka di mana hasil penelitian/ pengamatan/ inventarisasi terhadap permudaan jenis Agathis, suren dan Kaliandra masih merupakan hasil antara dan belum merupakan hasil akhir penelitian ini maka dapat disimpulkan sementara sebagai berikut : Suren cukup adaptif pada lokasi penelitian hal ini ditunjukkan oleh jumlah permudaan yang lebih banyak dibanding jenis Kaliandra dan Agathis. B. Saran 14

Pertumbuhan Sengon Muda….(Heru

DR dan Heri P)

Penelitian ini agar dapat dilanjutkan sampai dapat disimpulkan efisiensi dan efektivitas aplikasi hydroseeding guna rehabilitasi lahan kawasan konservasi khususnya dan rehabilitasi lahan terdegradasi secara umumnya. DAFTAR PUSTAKA Heyne. K. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. Kay,B.L; Raymonds A. Evans; James A, Young1977 Soaking Procedure and Hydroseeder Damage to Common Bermudagrass. Websitehttp://agron.Scijournals.org/cgi/content/abstract/69/ 4/555 Merlin, G. Di-Gioia; L, Goddon,C. 1998. Comparative study of Germination and of Adhesion of Various Hydrocolloids Used for Revegetation by Hydroseeding wikipedia, 2008. Hydroseeding (Di akses tgl 20, bulan Maret, dan tahun 2009) Website www.freepatentsonline.com, 2007 Hydroseeding Mixture (Di akses tgl 20, bulan Maret, dan tahun 2009)

15

PROSIDING

Seminar Nasinal, 2009

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->