1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam situasi perekonomian yang sedang mengalami krisis, perusahaan yang bergerak di sektor bisnis properti dan manufaktur merupakan perusahaan yang memiliki sensitifitas tinggi terhadap perubahan kondisi ekonomi makro. Faktor-faktor ekonomi makro seperti inflasi, tingkat suku bunga dan nilai tukar Rupiah/US Dollar akan mempengaruhi investasi di pasar modal khususnya saham, yang selanjutnya akan berdampak terhadap harga pasar saham di bursa. Krisis ekonomi global telah memberi dampak yang lebih dalam bagi perkembangan perekonomian Indonesia. Berbagai perkembangan terkini menunjukkan hampir semua negara maju dan sebagian negara-negara berkembang mengalami penurunan dalam Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2009. Ketatnya likuditas juga telah mewarnai kondisi pasar keuangan global sebagai konsekuensi dari masih terus berlangsungnya proses deleveraging di sejumlah negara maju. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 akan berada pada kisaran 4 - 5% dengan risiko bias ke bawah apabila situasi global makin memburuk. Melambatnya pertumbuhan ekspor akan menjadi sumber utama pelemahan ekonomi di tahun 2009. Sementara itu, sumber utama pendorong pertumbuhan tahun ini adalah permintaan domestik, terutama konsumsi swasta yang ditopang oleh kenaikan upah minimum provinsi, belanja terkait kebijakan sosial oleh Pemerintah Pusat dan Daerah, dan belanja Pemilu oleh partai-partai politik. Sementara itu, kegiatan investasi akan ditopang oleh belanja modal Pemerintah Pusat sebagai bagian integral dari kebijakan stimulus fiskal dan pembangunan infrastruktur, dan belanja modal Pemerintah Daerah. (www.antaranews.com) Seiring dengan melemahnya perekonomian global dan turunnya harga komoditas, tekanan inflasi di Indonesia mulai menurun dan diperkirakan terus berlanjut pada tahun 2009. Apabila perkembangan penurunan harga komoditas dan harga BBM bersubsidi serta produksi beras yang diharapkan cukup baik, maka batas bawah dari kisaran proyeksi inflasi 5-7% pada tahun 2009 sangat

2

mungkin dapat dicapai. Indikasi akan menurunnya tekanan inflasi ke depan terasa semakin kuat. Permintaan domestik yang semakin melemah, pergerakan harga komoditas internasional (khususnya bahan pangan dan energi) yang menurun lebih tajam, serta terjaganya kecukupan pasokan barang kebutuhan pokok dan energi merupakan sebagian faktor yang mendukung semakin berkurangnya tekanan terhadap inflasi. Bahkan penurunan harga minyak mentah internasional yang lebih tajam dibandingkan dengan prakiraan semula dapat memfasilitasi penurunan harga BBM bersubsidi lebih lanjut. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong penurunan harga komoditas yang memiliki kaitan cukup besar dengan bahan bakar seperti tarif angkutan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Keuangan 2010, dapat diketahui perkembangan ekonomi makro Indonesia sebagai berikut: Tabel 1: ASUMSI EKONOMI MAKRO 2005-2010 Indikator
• • • • • • PDB Pertumb. Ekonomi Inflasi y.o.y (%) Kurs Rupiah (Rp/$) SBI 3 bulan rata-rata (%) Harga Minyak ($/barrel) Lifting Minyak (juta barrel perhari)

2005
Realisasi

2006
Realisasi

2007
Realisasi

2008
Realisasi

2009
APBN RAPBN

2010
RAPBN

5,7 17,1 9.705 9,1 51,8 0,999

5,5 6,6 9.164 11,7 63,8 0,959

6,3 6,6 9.140 8,0 69,7 0,899

6,1 11,1 9.691 9,3 97,0 0,931

6,0 6,2 9.400 7,5 80,0 0,960

4,3 5,0 10.600 7,5 61,0 0,960

5,0 5,0 10.000 6,5 60,0 0,965

Sumber: www.fiskal.depkeu.go.id Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun 2205 mengalami fluktuasi, dimana pada tahun 2005 pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sebesar 5,7 persen, kemudian mengalami penurunan sebesar 0,2 persen pada tahun 2006 yaitu sebesar 5,5 persen. Pada tahun 2007 mengalami peningkatan yang cukup tajam yaitu sebesar 6,6 persen tetapi mengalami penurunan mulau pada tahun 2008 sampai dengan 2010 sehingga hanya mencapai 5,0 persen.

3

Pertumbuhan ekonomi yang lambat dibarengi dengan penurunan tingkat iflasi tahunan, yaitu pada tahun 2005 tingkat inflasi di Indonesia adalah sebesar 17,1 persen, kemudian pada tahun 2006 sampai dengan 2010 mulai mengalami penurunan sehingga mencapai angka 5 persen pada tahun 2010, walaupun pada tahun 2008 sempat mengalami peningkatan sebesar 11,1 persen tetapi kondisi tersebut tidak terlalu merisaukan karena pada tahun 2009 inflasi kembali dapat diturunkan. Nilai tukar Rupiah (kurs rupiah) masih bertahan pada level 9.000-an sampai dengan tahun 2008, tetapi pada tahun 2009 dan 2010 mengalami penurunan sehingga mencapai level Rp10.000 per dollar. Di tengah perkembangan perekonomian yang terjadi tersebut, dan seiring dengan menurunnya tekanan inflasi, Bank Indonesia mengarahkan perhatiannya pada upaya menjaga pertumbuhan ekonomi negeri. Hal ini dilakukan dengan tetap mengawal inflasi dan kestabilan makroekonomi dan sektor keuangan dalam jangka menengah. Berbagai upaya untuk mencegah sektor riil anjlok lebih dalam lagi juga ditempuh Bank Indonesia melalui kebijakan moneternya. Bank Indonesia dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur pada Februari 2009 telah kembali menurunkan suku bunga BI Rate sebesar 50 bps dari 8,75% menjadi 8,25%. Penurunan ini adalah penurunan yang ketiga sejak bulan Desember 2008. Selain mengambil kebijakan dengan melakukan penurunan BI Rate, Bank Indonesia akan tetap mengoptimalkan penggunaan seluruh instrumen kebijakan moneter yang tersedia, seperti pelaksanaan Operasi Pasar Terbuka dan upaya menjaga stabilitas di pasar rupiah dan valas. Selain itu, upaya pelonggaran kebijakan moneter juga diiringi oleh kebijakan Bank Indonesia untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor produktif dalam koridor praktek perbankan yang berhati-hati (prudent). Langkah ini diharapkan dapat memberi gairah pada perekonomian domestik untuk tidak turun lebih dalam. Perkembangan indikator perbankan menunjukkan bahwa penurunan BI Rate mulai direspon oleh pergerakan suku bunga deposito dan suku bunga kredit walaupun masih terbatas. Disamping itu, penurunan suku bunga tersebut diharapkan dapat mengurangi kendala penyaluran kredit dari sisi suplai

penurunan suku bunga diharapkan dapat mengurangi pesimisme sektor dunia usaha akan prospek ekonomi ke depan. Tujuan utama berinvestasi adalah memaksimalkan return. tanpa melupakan faktor risiko yang harus dihadapi. seperti tercermin dari aliran likuiditas dalam pasar uang antar bank yang mulai mengalami perbaikan dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu. Mengetahui secara pasti besarnya return yang dapat diperoleh dari suatu investasi di masa yang akan datang tidaklah mudah. Kepekaan tingkat keuntungan yang saham terhadap perubahan pasar disebut dengan beta saham.4 (perbankan). Beta merupakan suatu pengukur volatilitas return suatu sekuritas atau portofolio terhadap return pasar. Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor untuk berinvestasi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor dalam menanggung risiko atas investasi tersebut. Volatilitas dapat . ruang bagi penurunan BI Rate akan tetap terbuka. Berbagai upaya untuk mengurangi segmentasi likuiditas perbankan juga telah menunjukkan hasil. Dewan Gubernur Bank Indonesia akan melanjutkan kebijakan yang ditujukan pada upaya memberikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi dengan tetap memperhatikan stabilitas makroekonomi. Apabila tekanan inflasi terus menurun. seperti tercermin dari perkembangan Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non Performing Loan (NPL) perbankan yang tetap pada batas-batas yang aman. Bank Indonesia akan melanjutkan upaya meningkatkan peran perbankan untuk menjadi sumber pembiayaan bagi kegiatan dunia usaha dan mendorong pertumbuhan ekonomi. termasuk upaya peningkatan sistem pengawasan perbankan. Upaya penurunan BI Rate tersebut juga akan terus didukung oleh langkah-langkah lain berupa pembenahan dan penguatan sektor keuangan. Risiko merupakan variabilitas return realisasi terhadap return yang diharapkan. Investor menghadapi kesempatan investasi yang berisiko sehingga tidak dapat hanya mengandalkan pada tingkat keuntungan yang diharapkan dalam analisis investasi. Di sisi dunia usaha. Return investasi yang didapatkan di masa yang akan datang mungkin berbeda dengan estimasinya. Kondisi perbankan nasional sampai saat ini masih mantap.

dimana risiko sistematis (beta) saham adalah sebagai variabel dependent dari penelitian ini. Mengacu pada penelitian-peneltian terdahulu mengenai pengaruh inflasi. Evaluasi kinerja portofolio. Pembentukan portofolio. Untuk itu. Bank Mandiri Tbk. Beta saham mengukur tingkat kepekaan saham terhadap perubahan pasar. Dalam tahap ini investor melakukan evaluasi kinerja terhadap portofolionya. Investor harus menentukan tujuan investasinya yang sesuai dengan keuntungan yang diharapkan dan preferensi risikonya. Bank yang dipilih dalam penelitian ini adalah PT. Melakukan revisi portofolio. Menentukan kebijakan investasi. Tahap ini dilakukan dengan menganalisis sekuritas secara individual maupun dalam suatu portofolio. 4. Analisis sekuritas. Tahap ini dilakukan jika investor menilai bahwa portofolio yang dimiliki tidak dapat memberikan hasil yang optimal atau sudah tidak sesuai dengan preferensi risiko mereka. .5 diartikan sebagai fluktuasi dari return-return suatu sekuritas atau portofolio dalam suatu periode waktu tertentu. 3. yaitu : 1. Risiko merupakan faktor penting dalam keputusan investasi. suku bunga dan kurs valas dan tentang risiko sistematis (beta) saham. Beberapa hal yang harus diperhatikan investor sebelum mengambil keputusan investasi. 2. baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun risiko yang ditanggung. mendiversifikasikan Investor membentuk portofolio dengan tujuan untuk sekuritas yang dimikili untuk mengurangi risiko investasi. 5. Penelitian ini dilakukan di salah satu bank swasta yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. penelitian ini berjudul ”ANALISIS PENGARUH SUKU BUNGA. Mengetahui beta suatu sekuritas merupakan bagian penting dalam menganalisis suatu sekuritas. dapat dihitung menggunakan data historis untuk mengestimasi beta di masa datang.

6 INFLASI DAN KURS VALAS (Rp/$) TERHADAP RISIKO SISTEMATIS SAHAM PT. Bank Mandiri Januari 2005 – Januari 2010 yang paling dominan. Bank Mandiri Januari 2005 – Januari 2010? 2. Dollar) terhadap Risiko sistematis saham PT. tingkat suku bunga dan kurs valas (Rupiah/US. Bagaimana perbedaan pengaruh antara inflasi. Untuk mengetahui pengaruh inflasi. Tbk YANG GO PUBLIK DI BURSA EFEK INDONESIA DARI JANUARI 2005 – JANUARI 2010. Adapun manfaat penelitian ini adalah: 1. Permasalahan Berdasar fakta tersebut diatas maka permasalahan dalam penelitian ini . tingkat suku bunga dan kurs valas terhadap Risiko sistematis saham PT. Dollar) terhadap Risiko sistematis saham PT. Dollar) terhadap Risiko sistematis saham PT. Bank Mandiri Januari 2005 – Januari 2010 yang paling dominan. 2.3 1 Tujuan dan Manfaat Penelitian Sedangkan tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: Menganalisis pengaruh inflasi. Dollar) terhadap Risiko sistematis saham PT. Bagaimana pengaruh inflasi. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh inflasi. tingkat suku bunga dan kurs valas (Rupiah/US. tingkat suku bunga dan kurs valas (Rupiah/US. Bank Mandiri Januari 2005 – Januari 2010. Bank Mandiri Januari 2005 – Januari 2010 yang paling dominan. tingkat suku bunga dan kurs valas (Rupiah/US. 1. BANK MANDIRI. Bank Mandiri Januari 2005 – Januari 2010. 2 Menganalisis perbedaan pengaruh inflasi. Dollar) terhadap Risiko sistematis saham PT. 1. tingkat suku bunga dan kurs valas (Rupiah/US.2 adalah: 1.

dkk (2001). nilai tukar. Metode analisis yang digunakan untuk melihat pengaruh risiko sistematis. Dalam penelitian Gudono (1999). dan inflasi terhadap harga saham secara simultan maupun secara bersama-sama. . inflasi berpengaruh negatif terhadap resiko investasi di BEJ namun menurut Hardiningsih. Penelitian Nakman Harahap adalah untuk menguji bagaimana pengaruh risiko sistematis. Masalah yang dirumuskan dalam penelitian tersebut adalah “Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dan secara parsial antara risiko sistematis. tingkat suku bunga dan nilai tukar mata uang terhadap return saham memiliki hasil yang kontradiktif.7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. nilai tukar. dkk (2001) inflasi berpengaruh positif terhadap return saham sedangkan menurut Tandelin (1997) dan Gudono (1999). dan inflasi adalah metode analisis deskriptif dan metode analisis statistik yang berguna dalam analisis regresi linear berganda dan pengujian hipotesis. nilai tukar. Berdasar hasil penelitian terdahulu mengenai pengaruh inflasi. Nurdin (1999) serta Mudji Utami dan Mudjilah Rahayu (2003). menunjukkan bahwa nilai tukar Rupiah/US Dollar berpengaruh negatif terhadap return saham sedangkan penelitian Nurdin (1999) menunjukkan bahwa nilai tukar Rupiah/US Dollar tidak berpengaruh terhadap resiko investasi saham. inflasi tidak berpengaruh sama sekali. tingkat suku bunga berpengaruh negatif terhadap return saham namun dalam penelitian Tandelin (1997) menunjukkan bahwa tingkat suku bunga tidak berpengaruh terhadap resiko sistematis. suku bunga. Menurut Nurdin (1999).1 Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian yang dilakukan oleh Aldrin Wibowo dan Susi Suhendra (2009). Penelitian Hardiningsih. suku bunga. dan inflasi terhadap harga saham Industri Tekstil di Bursa Efek Indonesia”. suku bunga. Namun dalam penelitian Mudji Utami dan Mudjilah Rahayu (2003) menunjukkan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar berpengaruh positif terhadap return saham.

Variabel nilai tukar berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham. Tingkat suku bunga digunakan pemerintah untuk mengendalikan tingkat harga. Suku bunga juga merupakan sebuah harga yang menghubungkan masa kini dengan masa depan. Hasil simultan (uji-F) menunjukkan bahwa semua variabel independent berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Menurut Laksmono (2001). Dengan demikian suku bunga yang tinggi diharapkan berkurangnya jumlah uang yang beredar sehingga permintaan agregatpun akan berkurang dan kenaikan harga dapat diatasi. dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap haarga saham 2. sebagaimana harga lainnya maka tingkat bunga ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran (Suhaedi. Hasil parsial (uji-t) menunjukkan bahwa variabel risiko sistematis dan inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham. Hal ini disebabkan oleh akses . dan secara parsial risiko sistematis.00 for windows.2 2. sedangkan variabel suku bunga tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Suku bunga mempengaruhi keputusan individu terhadap pilihan membelanjakan uang lebih banyak atau menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yaitu terdapat pengaruh signifikan variabel independent terhadap harga saham. nilai suku bunga domestik di Indonesia sangat terkait dengan tingkat suku bunga internasional. nilai tukar. 2000). Pengolahan data menggunakan program Software SPSS (Statistic Package for the Social Sciens) 14.8 Pengujian hipotesis yaitu uji secara simultan (uji-F) dan uji secara parsial (uji-t) dengan tingkat signifikansi 5%. ketika tingkat harga tinggi dan jumlah uang yang beredar dalam masyarakat banyak sehingga konsumsi masyarakat tinggi akan diantisipasi oleh pemerintah dengan menetapkan tingkat suku bunga yang tinggi.1 Tinjauan Teori Teori Suku Bunga Menurut Nopirin (1996) suku bunga adalah biaya yang harus dibayar oleh peminjam atas pinjaman yang diterima dan merupakan imbalan bagi pemberi pinjaman atas investasinya.2.

Sementara itu Ackley mendefinisikan . Akibat meningkatnya suku bunga. Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. 1985) berpendapat bahwa tingkat suku bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang. Pergerakan suku bunga SBI yang fluktuatif dan cenderung meningkat akan mempengaruhi pergerakan sektor riil yang dicerminkan oleh pergerakan return saham. 2. 1990 dalam Sugeng. 1992). semakin tinggi pendapatan nasional semakin tinggi tingkat suku bunga. Selain suku bunga internasional. Keynes (Boediono. Apabila penawaran uang tetap. Peningkatan diskonto SBI segera direspon oleh suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) sedangkan respon suku bunga deposito baru muncul setelah 7 sampai 8 bulan. Menurut A.2. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. tingkat diskonto Suku Bunga Indonesia (SBI) juga merupakan faktor penting dalam penentuan suku bunga di Indonesia. Kenaikan suku bunga akan sangat berpengaruh bagi pelaku pasar modal.2 Teori Inflasi Inflasi adalah ukuran ekonomi yang memberikan gambaran tentang meningkatnya harga rata-rata barang dan jasa yang diproduksi pada suatu sistem perekonomian (Suseno Hg.Lehner inflasi adalah keadaan terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan (Anton H Gunawan. inflasi adalah suatu keadaan yang ditandai dengan peningkatan harga-harga pada umumnya atau turunnya nilai mata uang yang beredar. para pemilik modal akan lebih suka menanamkan uangnya di bank dari pada berinvestasi dalam bentuk saham (Dornbusch & Fischer. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.P. 2004). Dalam menentukan tingkat suku bunga berlaku hukum permintaan dan penawaran.9 pasar keuangan domestik terhadap pasar keuangan internasional serta kebijakan nilai tukar mata uang yang kurang fleksibel. Menurut Herman (2003).1991).

b) Indeks Harga Perdagangan Besar merupakan indikator yang pergerakan harga dari komoditi-komoditi yang menggambarkan diperdagangkan di suatu daerah. Indikator inflasi adalah sebagai berikut (www. Indikator inflasi lainnya berdasarkan international best practice antara lain: 1. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat. Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota. dkk (2001) menambahkan bahwa peningkatan harga-harga pada umumnya dapat diukur dengan menggunakan indeks harga. [Penjelasan lebih detail mengenai IHPB dapat dilihat pada web site Badan Pusat Statistik (www. BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). indeks harga perdagangan besar (wholesale price index) dan GNP deflator. Beberapa indeks harga yang sering digunakan dalam indikator inflasi antara lain: indeks biaya hidup (consumer price index). Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK).id ): a) Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator yang umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga.go. Sejak Juli 2008. Menurut Boediono(1995) inflasi adalah kecenderungan dari hargaharga untuk naik secara umum dan terus-menerus.bi. Hardiningsih.go. Kemudian.id) . Tingkat inflasi di Indonesia biasanya diukur dengan Indeks Harga Konsumen (IHK).bps. paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).10 inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus-menerus dari barang dan jasa secara umum.

kecuali apabila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain. b) Cost-Push Inflation Cost plush inflation ditandai dengan kenaikan harga serta turunnya produksi. inflasi dapat digolongkan berdasar sebab akibat terjadinya inflasi yaitu sebagai berikut (Dornbusch & Fischer. . Ada berbagai cara untuk menggolongkan jenis inflasi.11 2. 1992): Inflasi diakibatkan oleh: a) Demand-pull Inflation. Selain itu. (1990). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan. 1992 ): a) b) c) d) Inflasi ringan (< 10% setahun) Inflasi sedang (10%-30% setahun) Inflasi berat (30%-100% setahun) Hiper inflasi (>100% setahun) Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi. diantaranya dengan cara menggolongkan inflasi berdasarkan parah atau tidaknya suatu inflasi (Dornbusch & Fischer. Menurut Keynes terjadinya inflasi disebabkan oleh permintaan agregat sedangkan permintaan agregat ini tidak hanya karena ekspansi bank sentral. Keadaan ini timbul dimulai dengan adanya penurunan dalam penawaran total (aggregate supplay) sebagai akibat kenaikan biaya produksi. sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati kesempatan kerja penuh.al. inflasi menunjukkan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan arus harga secara umum yang pengukurannya dapat menggunakan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagaimana yang dikemukakan oleh Clark et. Inflasi ini bermula dari adanya permintaan total (agregat demand). Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Menurut Samuelson (1992). namun dapat pula disebabkan oleh pengeluaran investasi baik oleh pemerintah. Jadi inflasi yang dibarengi dengan resesi.

Pemilik saham dan pelaku pasar modal akan lebih suka melepas saham yang mereka miliki ketika inflasi tinggi. 3. Foreign Exchange (FOREX) atau dalam pengertian Bahasa Indonesia boleh juga disebut sebagai Valuta Asing (VALAS) adalah suatu mata uang tertentu yang dimiliki oleh negara lain sebagai alat pembayaran yang sah. dimana lebih dari 50% dari jumlah tersebut ditransaksikan di pasar London.3 Kurs Valas (Rp.5 triliun per hari. valuta asing dapat didefinisikan sebagai: “Acurrency other than an entity’s functional currency” sehingga dapat disimpulkan bahwa valuta asing adalah pertukaran mata uang suatu negara terhadap negara lainnya. 2.12 maupun oleh swasta dan pengeluaran konsumsi pemerintah yang melebihi penerimaan (defisit anggaran belanja negara) dalam kondisi full employment. Definisi sederhana dari forex adalah perubahan nilai dari satu mata uang ke mata uang lainnya. yang disebut foreign exchange rate (kurs valuta asing). Perdagangan ini diawali pada tahun 1971 berdasarkan perjanjian Bretton Woods yang menetapkan perubahan nilai mata uang suatu negara dari kurs tetap menjadi kurs mengambang yang nilainya ditentukan oleh pasar.2. Forex (Foreign Exchange) atau Valuta Asing adalah pasar mata uang yang merupakan pasar derifatif terbesar di dunia. Tempat bertemunya penawaran dan permintaan valuta asing disebut dengan Bursa Valuta Asing atau Foreign Exchange Market. Perbandingan nilai antara mata uang suatu negara terhadap negara lain menimbulkan suatu nilai. Valuta asing akan mempunyai suatu arti apabila valuta tersebut dapat ditukarkan dengan valuta lainnya tanpa pembatasan. Teori Paritas Internasional ./$) Menurut FASB No. Besarnya transaksi pasar valuta asing berdasarkan survey yang dilakukan oleh Bank of International Settlements (BIS) adalah US$ 80 juta per hari pada tahun 1980 dan saat ini meningkat menjadi US$ 1.52. Para pelaku pasar modal lebih memandang inflasi sebagai suatu resiko yang harus dihindari.

Hubungan antara kurs valas dan harga komoditi dalam doktrin paritas daya beli yaitu kurs valas akan cenderung menurun dengan proporsi yang sama dengan kenaikan harga. Teori paritas daya beli ini menghubungkan kurs valas dengan dengan harga-harga komoditi yang dinyatakan dalam uang lokal di pasar internasional (Baile & McMohan. Paritas daya beli absolut menyatakan bahwa keseimbangan nilai mata uang dalam negeri terhadap nilai mata uang luar negeri merupakan perbandingan harga absolut dalam dan luar negeri. Teori paritas daya beli memiliki dua bentuk yaitu paritas daya beli absolut dan paritas daya beli relatif. Teori paritas daya beli ini dapat dinyatakan: S= P P* di mana S adalah nilai kurs valas. Paritas daya beli relatif ini dapat dinyatakan sebagai berikut: %∆ S = %∆ P %∆ P * . dan tanda (*) menunjukkan variabel luar negeri. maka harga di tempat lain juga harus sama. Paritas daya beli absolut ini selanjutnya menghasilkan hukum satu harga (law of one price) yang menyatakan bahwa untuk satu jenis barang yang sama. 1989:16-19). Paritas daya beli relatif menyatakan bahwa kurs valas merupakan suatu prosentase perbandingan perubahan harga absolut dalam negeri terhadap luar negeri. Salah satu teori yang digunakan untuk menjelaskan kurs mata uang adalah teori Paritas Daya Beli (purchasing power parity).13 Seberapa besar variabel-variabel fundamental ekonomi dalam mempengaruhi fluktuasi kurs valas akan dikaji dengan beberapa model kurs valas dengan pendekatan moneter yang telah dipakai oleh beberapa peneliti sebelumnya dengan menggunakan dasar teori paritas daya beli (purchasing power parity) dan paritas suku bunga (interest rate parity). Teori kurs daya beli ini menyatakan bahwa kurs mata uang antar negara harus mencerminkan nilai perbandingan nilai mata uang satu negara terhadap negara lainnya yang ditentukan oleh daya beli masing-masing negara. P adalah tingkat harga. pada tahun 1918. Teori paritas daya beli ini diperkenalkan oleh seorang ekonom Swedia. Gustav Cassel.

penentuan harga. Kurs spot Rp/US$ LM1= Log. (3) Barang dalam negeri dan luar negeri bersifat homogen sempurna untuk masing-masing barang. dan informasi. i1 = Selisih tingkat bunga deposito (i) Indonesia terhadap Amerika (i*) Inf1 = Selisih tingkat Inflasi (η) Indonesia terhadap inflasi (η*) Amerika CA1= Selisih neraca transaksi berjalan (CA) Indonesia terhadap neraca transaksi berjalan (CA*) Amerika.4 Risiko Risiko merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan investasi karena tidak ada investasi yang dilakukan yang bebas dari risiko. Seorang investor dituntut untuk memiliki pengetahuan yang cukup tentang .2. Asumsi ini selanjutnya menyatakan bahwa (Kuncoro. Ratio tingkat pendapatan nasional (PDB) Indonesia terhadap pendapatan nasional (PDB) Amerika. (2) Tidak ada restriksi-restriksi dalam perdagangan internasional. Spesifikasi Model Kurs Valas Rp/US$ Model-model kurs valas dengan pendekatan moneter di atas akan dipakai untuk menganalisis kurs Rp/US$ dengan spesifikasi model awal sebagai berikut: LSU =l +µLM l − αLY l + βil LSU =l +µLM l −αLY l − βil + γINF 1 LSU =l +µLM l −αLY l − βil + γINF 1 − δCA1 Keterangan : LSU= Log. 2. Selisih JUB (M2) Indonesia terhadap JUB Amerika (M1+quasy money) LY1= Log. 1996: 182): (1) Semua barang merupakan barang yang diperdagangkan di pasar internasional (tradable goods) dan tidak ada biaya transportasi. 2. operasional. (4) Terdapat kesamaan indeks harga yang digunakan untuk memperhitungkan daya beli mata uang asing dan domestik. terutama untuk indeks harga dan elemen indeks harga.14 Asumsi utama yang mendasari teori paritas daya beli adalah bahwa pasar komoditi merupakan pasar yang efisien baik dari segi alokasi.

ini merupakan proyek yang hanya satu dari sekian banyak proyek di dalam . Risiko perusahaan spesifik atau perusahaan unik. Pada dasarnya. dkk. tetapi pada dasarnya dari jenis-jenis risiko yang ada tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua jenis risiko yaitu risiko sistematis (systematic risk) dan risiko tidak sistematis (unsystematic risk). 2. investor harus dapat menjaga tingkat risiko dengan pengembalian yang seimbang. dan tidak peduli berapa banyak investor menganekaragamkan. diantaranya adalah risiko likuiditas. 2004:206) Risiko sistematis merupakan risiko suatu proyek yang diukur dari segi pandang pemegang saham terdiversifikasi dengan baik. Risiko sistematis merupakan bagian dari variasi (berubah-ubahnya) pengembalian investasi yang dapat dihapuskan melalui perndiversifikasin investor. Risiko merupakan prospek dari hasil yang tidak disukai yang dapat diartikan sebagai suatu pengembalian yang diperkirakan yang dapat diukur dengan deviasi standard. Risiko yang terkait dengan pasar. 2004:206) Jenis risiko investasi yang di pasar modal bermacam-macam. 2004:202). Dalam artian. dkk. tidak dapat dihapuskan. Risiko yang dapat didiversifikasi ini merupakan pengembalian dari faktor yang unik pada perusahaan tertentu. disebut juga dengan risiko pasar. investor tidak mampu untuk memindahkan semua risiko (variabel pengembalian) yang dihadapi tetapi investor dapat mengambil kebijakan dengan membagi total risiko (variabel total) portofolianya dalam dua jenis risiko yaitu : 1. Oleh karena itu. atau risiko yang dapat didiversifikasikan karena risiko tersebut dapat didiversifikasi. (Keown. et al.15 pengembalian dan risiko investasi yang dilakukan karena antara pengembalian dengan risiko memiliki korelasi yang langsung. risiko suku bunga dan sebagainya. (Keown. risiko valas. (Keown. yaitu semakin tinggi pengembalian yang diperoleh maka semakin tinggi resiko yang akan dihadapi oleh investor yang bersangkutan. merupakan risiko yang tidak dapat didiversifikasikan. Risiko Sistematis Risiko sistematis atau risiko yang tidak dapat didiversifikasi (dihindarkan).

1) Terdapat pengaruh yang kuat antara inflasi. Dollar) terhadap Risiko sistematis saham PT. Bank Mandiri Januari 2005 – Januari 2010. maka investor akan mengharapkan kenaikan return sekuritasnya sebesar 5% pula. risiko tingkat bunga. misalnya perubahan dalam perekonomian secara makro. risiko inflasi. 2. (Keown. risiko politik. tingkat suku bunga dan kurs valas terhadap Risiko sistematis saham PT.16 perusahaan. Misalnya apabila return pasar naik sebesar 5%. Jadi.3 Perumusan Hipotesis (Rupiah/US. dan saham tidak lain hanya satu dari sekian banyak saham di dalam portofolio pemegang saham. et al. maka beta dari sekuritas tersebut bernilai 1. Jika fluktuasi return sekuritas secara statistik mengikuti fluktuasi return pasar. Sedangkan menurut Scott et al. Parameter yang dapat dipergunakan dalam mengukur risiko sistematis adalah beta. tingkat suku bunga dan kurs valas . or relative systematic risk”. risiko nilai tukar dan risiko pasar. 2004:206) Risiko sistematis berkaitan dengan kondisi yang terjadi di pasar secara umum. beta merupakan pengukur volatilitas suatu risiko sistematis pada sekuritas atau saham-saham yang dapat dihitung dengan titik estimasi yang menggunakan data historis maupun estimasi secara subjektif. Dimana pengertian volatilitas adalah sebagai fluktuasi dari return suatu sekuritas dalam suatu periode tertentu. Bank Mandiri Januari 2005 – Januari 2010 2) Terdapat perbedaan yang paling dominan antara inflasi. Pengertian beta menurut Jones (2000) dalam Suharli M (2005:104) adalah : “Beta a measure of volatility. (2000) dalam Suharli M (2005:104) yang menyatakan bahwa “Beta a measure stock’s volatility relative to an average stock”. Risiko tersebut dapat mempengaruhi semua perusahaan dan karenanya tidak bisa dihilangkan dengan diversifikasi.

gambaran atau lukisan secara sistematis. maka penggunaan metode tersebut adalah untuk memperoleh gambaran dan kesimpulan yang benar secara ilmiah tentang fenomena perilaku tingkat suku bunga. 3. (Narbuko. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. 2001:44) Winarno (1992) mengatakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang ini dengan cara mengumpulkan data. mengklasifikasikan dan menginterpretasikan kemudian menarik kesimpulan. Berkaitan dengan penulisan ini. Dua lembaga yaitu Marketing Research Indonesia . suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang guna membuat deskriptif.2 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebanyak 29 buah bank yang listing di BEI dari bulan Januari 2005 sampai dengan Januari 2010 dengan pertimbangan bahwa pada pada tahun 2005 perkembangan industri perbankan sedang dalam kondisi yang baik. suatu set kondisi.17 BAB III METODE PENELITIAN 3. suatu objek. menganalisa. dianalisis. C. sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Abu. Tahun 2008 merupakan tahun pembuktian keunggulan Bank Mandiri dalam pelayanan perbankan kepada nasabah. kemudia menyimpulkan. menjelaskan. Achmadi. Penelitian deskriptif yaitu suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia. Bank Mandiri Tbk.1 Jenis Penelitian yang Digunakan Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. menyusun.maka jenis penelitian yang dieprgunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. inflasi dan kurs valas (Rp/$) terhadap risiko sistematis (beta) saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel penelitian yang di ambil adalah PT.

IHSG dan harga saham dari bulan Januari 2005 sampai dengan Januari 2010. “Penghargaan tertinggi dalam bidang pelayanan perbankan merupakan bukti nyata bahwa Bank Mandiri sebagai bank terbesar di tanah air tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata tetapi juga pada customer focus. inflasi.go.4 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Studi dokumenter.3. untuk data inflasi dan suku bunga Bank Indonesia. 3. baik lokal maupun asing. www. . untuk data laporan keuangan perusahaan c) d) Badan Pusat Statistik.id.3 3. telah menganugerahi penghargaan tertinggi kepada Bank Mandiri. 3. untuk data kurs valuta asing. MRI menilai Bank Mandiri layak mendapatkan The Best Bank Service Excellence (BSEM) 2007/2008.com.id. 3. www. setelah melakukan riset pada 19 bank di Indonesia.bi. kurs valas. www. Direktur Utama Bank Mandiri.” ujar Agus Martowardojo. Adapun data-data tersebut adalah data suku bunga.go.2 a) Sumber Data Sumber data yang dipergunakan adalah dari website: www.id.co.idx. yaitu metode pengumpulan data dengan mengambil data-data kuantitatif yang ada pada lembaga-lembaga yang terkait dengan penelitian ini.18 (MRI) dan Indonesia Contact Center Association (ICCA). Bank Mandiri b) Bursa Efek Indonesia.bps.3. untuk data harga saham PT.duniainvestasi.1 Jenis dan Sumber Data Jenis Data Jenis data yang dipergunakan adalah data sekunder atau data time series (runtun waktu) adalah data yang bersumber dari pihak kedua yaitu websitewebsite yang mempublikasikan data tersebut.

5 Teknik Analisis Data Ada beberapa teknik analisis data yang dapat dilakukan untuk menjawab permsalahan penelitian ini adalah: 3. Risiko sistematis saham (Beta) ini dihitung dengan menggunakan indeks model tunggal dengan rumus sebagai berikut: Ri = α + βi ( Rm ) − εi atau βi = Cov ( Ri .1 Risiko Sistematis (Beta) Saham Risiko saham dalam penelitian ini akan diukur dengan beta.19 2) Studi kepustakaan. yaitu pengumpulan data dengan cara mengadakan penelaahan kepustakaan dengan objek-objek yang dibahas atau pengumpulan data yang diperoleh dari instansi-instansi yang terkait dan bahan-bahan bacaan yang berhubungan permasalahan yang diteliti.Rm ) / Var ( Rm ) Keterangan: Rm βi α Ri = adalah tingkat keuntungan saham = adalah risiko sistematis (beta) saham i = adalah konstanta = adalah tingkat keuntungan saham i Tingkat keuntungan pasar (Rm) dihitung dengan menggunakan data indeks harga saham gabungan per bulan selama periode 2005 sampai dengan 2010 dengan formula sebagai berikut: Rmt = IHSGt − IHSGt −1 IHSGt −1 Tingkat keuntungan saham i (Ri) ditentukan dengan menggunakan perubahan harga yang terjadi setiap bulan dari bulan Januari 2005 sampai dengan Januari 2010 dengan formulasi sebagai berikut: Rit = Pt − Pt −1 Pt −1 Pt = adalah harga saham untuk periode t . 3.5.

025) d) Kesimpulan . 1. Adapun tahapan sebagai berikut: a) Uji Hipotesis H0 : βi = 0 Artinya. Penentuan α = 5% Kriteria pengujian yang dipergunakan sebagai berikut: Daerah HO di tolak (Ha di terima) -2. yang bertujuan untuk menguji hipotesis bahwa variabel independen (X) mempenaruhi variabel dependent (Y) dengan asumsi variabel bebas lainnya dianggap konstant. jika: Z hitung < −Z α / 2 Z hitung > Z α / 2 Z tabel pada level of signifikan 5 persen (Z0.2 = adalah harga saham untuk periode sebelum t Uji Kriteria Statistik (First Order Test) Pengujian bentuk ini dimaksudkan untuk tercapainya makna secara statistik dari parameter pada model yang diamati.000 H0 diterima. H0 : βi ≠ 0 Artinya. terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial dari b) c) variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial dari variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Uji secara Individu (Parsial) Untuk membuktikan bahwa koefisien regresi suatu model regresi secara statistik signifikan atau tidak dapat dilakukan dengan mempergunakan uji signifikan koefisien regresi secara parsial dengan mempergunakan uji Z (Z test).000 Daerah HO di terima 0 Daerah HO di tolak (Ha di terima) 2.20 Pt-1 3.5. jika: − Z α / 2 ≤ Z hitung ≤ Z α / 2 Ha diterima.

21 Kesalahan baku regresi sama dengan simpangan baku (standar deviasi) dari kesalahan pengganggu dengan formulasi: 2. H0 ≠ β1 ≠ β2 ≠ 0 Artinya: Seluruh variabel independent mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependent. n – k Criteria pengujian Rumusan Hipotesis H0 dan Ha . 2) 3) Penentuan α (5 %). untuk membuktikan kebenaran hipotesis digunakan uji F. Sebaliknya Fhitung < Ftabel maka HO diterima. Uji Simultan Uji ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independent yang terdapat di dalam model secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependent. Adapun prosedur pengujiannya adalah sebagai berikut: 1) H0 = β1 = β2 = 0 Artinya: Seluruh variabel independent tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependent. yaitu untuk mengetahui sejauh mana variabel-variabel bebas yang digunakan mampu menjelaskan variabel terikat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel bebas dari model regresi linear berganda tak mampu menjelaskan variabel terikatnya. Apabila dari perhitungan Fhitung > Ftabel maka H0 tidak diterima. sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas dari model regresi dapat menerangkan variabel terikat secara serentak. df: k – 1. Oleh karena itu.

J. Adanya variabel lain selain variabel independen yang akan mempengaruhi variabel dependen. k −1. dengan mempergunakan koefisien determinasi senagai berikut: (Supranto. n − k 5) F hitung = F Hitung dengan formula: R 2 / k −1 (1 − R 2 ) / n − k 6) Kesimpulan 3.22 4) Daerah HO di terima Daerah HO di tolak (Ha di terima) Fα (5%). Koefisien determinasi merupakan koefisien yangmenunjukkan fraksi variabel tak bebas yang dapat dihubungkan dengan variabel bebas dalam persamaan regresi. df : k −1. n − k Ha diterima jika: F hitung >Fα . k −1. R2 =1− Σei 2 Σy i 2 . Untuk menguji hipotesis bahwa ada pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. 1990:288). n − k H0 diterima jika: F hitung ≤ Fα . Dengan mempergunakan koefisien determinasi kita juga dapat mengetahui berapa besar nilai stokastic residual (yang berasal dari aliran stokastik) yang berada di dalam model regresi. df . Koefisien Determinasi (R2) Pengujian koefisien determinasi (R2) yaitu menerapkan besarnya variasi di dalam variabel terikat yangmampu diterapkan oleh variabel bebas. walaupun variabel lain tersebut kecil tetapi akan mempengaruhi variabel dependen dengan pernambahan variabel pengganggu. df .

= Variabel Inflasi.23 Keterangan: R2 Σei 2 = Koefisien Determinasi = Jumlah kuadrat kesalahan (Residual Sum of Squares) di saat Xi terregresi pada variable selain k – 1. Σy i 2 = Jumlah kuadrat total (Total Sum of Squares) 4. = Variabel Kurs Valas (Rp/$) = Error (variabel bebas lain diluar model regresi) . Analisis Regresi Linier Berganda Dalam penelitian ini menggunakan model Regresi Linier Berganda. melalui metode ini peneliti berusaha menemukan bentuk atau pola hubungan antara variabel dependen dengan lebih dari satu variabel independent. = Variabel Suku Bunga. Persamaan garis regresi dalam penelitian adalah: Y = α + β1 X 1 + β2 X 2 + β3 X 3 + e Keterangan: Y α β1. = Koefisien regresi. β3 X1 X2 X3 e = Variabel Risiko sistematis (beta) saham = Konstanta regresi berganda. β2.

Daftar perusahaan sampel yang menjadi obyek dalam penelitian ini sebagai berikut: Tabel 2: Nama-nama Perusahaan Perbankan yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia 2010 No Nama Perusahaan No Nama Perusahaan 1. . 4. dalam sub bab berikut akan memberikan gambaran mengenai perkembangan tingkat suku bunga. Bank Agroniaga (AGRO) Bank Artha Graha Internasional (INPC) Bank Bukopin (BBKP) Bank Bumi Arta (BNBA) Bank Capital Indonesia (BACA) Bank Central Asia (BBCA) Bank CIMB Niaga (BNGA) Bank Danamon Indonesia (BDMN) Bank Ekonomi Raharja (BAEK) Bank Eksekutif Internasional (BEKS) Bank Himpunan Saudara 1906 (SDRA) Bank ICB Bumiputera (BABP) Bank Internasional Indonesia (BNII) Bank Kesawan (BKSW) Bank Mandiri (BMRI) Bank Mayapada Internasional (MAYA) 17. 13. Tbk dari bulan Januari 2005 sampai dengan Januari 2010. inflasi dan kurs valas selama periode penelitian. Perusahaan sampel yang menjadi obyek penelitian adalah perusahaan properti dan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) selama tahun 2000 – 2005 serta memiliki laporan keuangan tahunan selama perode penelitian. 12. 3. 23. 27. untuk itu. 25. 9. 19. 6. 11. 14. 15. 16. 21. 10. 20.1 Deskripsi Data Penelitian Penelitian ini untuk mengamati dan mengetahu seberapa besar pengaruh tingkat suku bunga. 22. 5. 26. inflasi dan kurs valas terhadap risiko sistematis saham PT. Bank Mandiri. 2.24 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Bank Mega (MEGA) Bank Mutiara (BCIC) Bank Negara Indonesia (BBNI) Bank Nusantara Parahyangan (BBNP) Bank OCBC NISP (NISP) Bank Pan Indonesia (PNBN) Bank Permata (BNLI) Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Bank Swadesi (BSWD) Bank Tabungan Negara (BBTN) Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Bank Victoria International (BVIC) Bank Windu Kentjana International (MCOR) adalah 7. 24. 8. 18.

25 28.co.id .idx. Sumber: www. 29.

6 6.03 0.59 11.31 0.1 1.36 1.57 0.8 0.45 0.05 0.16 0.79 0.1 Perkembangan Variabel Pengamatan Model kurs kasus Indonesia.46*) 0.45 0.id Keterangan: 2009 -0.65 1. jumlah uang beredar (JUB).34 0. yang melibatkan variabel fundamental ekonomi pendapatan nasional.37 0.04 17.41 0.07 0.21 1.56 1.33 0.11 0.5 0.21 0.55 0.26 4.17 0.23 2.7 0.go.1.95 0.84 0.51 0.04 1. .34 0.84 *) Sejak Juni 2008.22 -0.31 0.24 0.12 -0.18 0.58 0. maka dapat dilihat pada tabel berikut ini.77 -0.97 8. Adapun data inflasi bulanan selama periode penelitian adalah sebagai berikut: Tabel 3: Inflasi Bulanan Indonesia TAHUN 2005 2006 2007 2008 1.33 2.78 2010 0.62 0.04 0.1 -0. Perbedaan yang ada terletak pada variabel inflasi yang memberikan pengaruh dalam mendepresiasi nilai Rp/US$.19 -0.69 0.45 0.11 6.43 1.72 1.78 0. dan tingkat inflasi memberikan hasil yang hampir sama.45 1.03 0.91 0.75 0.06 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Tingkat Inflasi Sumber: www. IHK didasarkan pada pola konsumsi pada survei biaya hidup di 66 kota tahun 2007 (2007=100) Sedangkan untuk data tingkat suku bunga.86 0. Jadi kenaikan tingkat inflasi Indonesia terhadap inflasi Amerika akan menyebakan melemahnya nilai Rupiah terhadap US$.05 -0.21 0.bps.38 0.37 0.04 1.

75% 9.25% 8. Kondisi ini merupakan bentuk dari kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.00% 8.75% 9.42% 12. .25% Maret 7.75% 6.75% 11.50% Sumber: www.75% 9.25% 8.70% 12.27 Tabel 4: BI Rate periode Januari 2005 – Januari 2010 TAHUN Bulan 2005 2006 2007 2008 2009 Januari 7.25% 9.00% 7.25% 10.id 2010 6.00% Juli 8.50% 8.50% Mei 7.50% sampai dengan bulan Januari tahun 2010.50% 12.go.00% 10.25% 6.25% 12.44% 12.25% 9.25% 9.00% 6.75% 8. Pada tahun 2009 tingkat BI Rate sudah mengalami penurunan mencapai 6.50% Oktober 11.00% 8.50% 6.75% 9.25% 8.50% September 10.50% 6.75% 9.50% 7.25% 7.25% 8.00% 8.75% April 7.50% 8.50% 8.00% 8.00% 9.75% 8.43% 12.bi.00% 7.50% BI Rate dari tahun ke tahun semakin mengalami penurunan.50% November 12.00% 11.25% 6.75% Februari 7.25% 9.75% 8.95% 12.75% Agustus 8.75% 8.25% 8.50% 8.50% Desember 12.25% Juni 8.

Pendekatan statistik ini digunakan untuk mengukur pengaruh dari suk bunga.12. tingkat inflasi dan kurs valas terhadap risiko sistematis saham PT. Tetapi posisi terrendah kurs tersebut terjadi pada tahun 2008 pada bulan November kemudian mengalami apresiasi lagi pada bulan April 2009 sampai dengan Januari 2010. 4. Kondisi ini sama dengan yang terjadi pada tahun 2008 walaupun rupiah terdepresiasi sampai mencapai level Rp. dimana variabel yang digunakan untuk menganalisis permasalahan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan secara statistik dengan model analisis ”regresi linier berganda”.go.000-an.28 Tabel 5: KURS TRANSAKSI BANK INDONESIA MATA UANG USD 2005 Kurs Kurs Jual Beli 9211 9306 9527 9618 9542 9762 9868 10291 10362 10140 10085 9879 9119 9214 9433 9522 9448 9664 9770 10189 10258 10040 9985 9781 2006 Kurs Kurs Jual Beli 2007 Kurs Kurs Jual Beli 2008 Kurs Kurs Jual Beli 2009 Kurs Kurs Jual Beli 2010 Kurs Kurs Jual Beli Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 9442 9276 9120 8819 9266 9347 9115 9146 9281 9156 9211 9065 9348 9184 9030 8731 9174 9253 9025 9054 9189 9064 9119 8975 9135 9206 9164 9128 8872 9099 9232 9457 9183 9149 9423 9466 9045 9114 9072 9038 8784 9009 9140 9363 9091 9057 9329 9372 9337 9096 9263 9280 9365 9271 9164 9199 9425 11050 12212 11005 9245 9006 9171 9188 9271 9179 9072 9107 9331 10940 12090 10895 11412 12040 11633 10767 10392 10276 9970 10110 9729 9593 9527 9447 11298 11920 11517 10659 10288 10174 9870 10010 9633 9497 9433 9353 9412 9318 Sumber: www.000-an.bi.2 Analisis Data Seperti yang telah diuraikan pada Bab III.id Perkembangan kurs Rp terhadap dolar setiap bulan mengalami perubahan. 10. Bank Mandiri. . Rupiah yang mengalami penurunan adalah pada bulan Agustus – November 2005 yang mencapai Rp.

Tingkat Inflasi dan Kurs Valas terhadap Risiko Sistematis (Beta) Saham PT. Penelitian ini mempergunakan model Firs Order Test yang terdiri dari Uji Parsial (Z test).099 .765 1.943 Z Hitung -3.123 -2.758 62. dapat juga dipergunakan sebagai pendekatan (approximation) atas hubungan yang bukan linier.032 F hitung = 1.048 Koefisien Standar Regresi Error -247.461 263.928 Sumber: data Sekunder di olah Variabel Z Hitung 1.765 Inflasi: Variabel Constanta Inflasi R2 = 0.753 F hitung = 2. Berdasarkan hasil pengolahan data yangdilakukan. Uji Simultan (F test) serta Koefisien Determinasi.29 Pendugaan dan pengujian hipotesis tentang koefisien regresi selain mudah diinterpretasikan.940 Tidak Signifikan R2 = 0. Uji Parsial (Z test) dan Regresi Berganda Uji parsial dilakukan untuk membuktikan bahwa koefisien regresi Suku Bunga.389 Keterangan Tidak Signifikan .933 78.628 SBI 5453.072 2 R = 0.716 Keterangan Tidak Signifikan Kurs Valas: Koefisien Standar Regresi Error Constanta 771. Bank Mandiri Tbk Periode Januari 2005 – Januari 2010 Suku Bunga: Koefisien Standar Variabel Z Hitung Keterangan Regresi Error Constanta -691.665 695. 1.650 2810.061 F hitung = 3.752 Inflasi -. hasil estimasinya disajikan dalam tabel 6 berikut: Tabel 6: Hasil Estimasi Regresi Suku Bunga.494 45.937 1. Tingkat Inflasi dan Kurs Valas secara statistik signifikan atau tidak.109 -1.

.. (1) Ri = -247.630 + 4646.000).389 Kurs Valas.. 1.461.0. Nilai konstanta sebesar -247.838 Kurs Valas -0. Jika dibandingkan dengan nilai Z tabel pada α = 5 persen (2.. Jika dibandingkan dengan nilai Z tabel pada α = 5 persen (2.044 0..650.716 untuk koefisien regresi tingkat Inflasi dan -1.838 Inflasi – 0..119 F hitung = 2.528 Tidak Signifikan -1.461 pada persamaan pertama menunjukkan bahwa tanpa adanya variabel suku bunga. (4) Persamaan regresi pertama dapat dianalisis bahwa jika dilihat dari nilai Z hitung variabel suku bunga adalah adalah 1.677 45.302 Inflasi 68.065 Tidak Signifikan Dari tabel di atas. sedangkan apabila terjadi peningkatan sebesar 1 persen pada tingkat suku bunga akan meningkatkankan risiko sistematis saham sebesar 5453.665 .494 Inflasi …………………………………….000).461 + 5453.099 Kurs Valas …………………………….302 SBI + 68.716 untuk koefisien regresi tingkat Inflasi. dapat diperoleh persamaan regresi untuk masing-masing model regresi sebagai berikut: Ri = -691.070 Z Hitung Keterangan 1.650 SBI ……………………………. Pada persamaan regresi yang kedua menunjukkan bahwa jika dilihat dari nilai Z hitung variabel tingkat Inflasi adalah adalah 1.331 2810.30 Regresi Berganda: Koefisien Variabel Regresi Constanta 59. (2) Ri = 771. maka ringkat risiko saham akan mengalami penurunan sebesar 691.511 Standar Error 766.758 pada persamaan kedua menunjukkan bahwa tanpa adanya variabel inflasi.……… (3) Ri = 59.653 Tidak Signifikan 1.630 SBI 4646.………. maka pada persamaan regresi tersebut tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik. maka pada persamaan regresi tersebut tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik.075 Kurs Valas . Nilai konstanta sebesar -691. maka ringkat risiko sistematis ..758 + 78.075 R2 = 0.940 untuk koefisien regresi SBI.

Inflasi.075.630. maka pada persamaan regresi tersebut tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik secara keseluruhan. Jika dibandingkan dengan nilai Z tabel pada α = 5 persen (2.000).758. Jika dibandingkan dengan nilai Z tabel pada α = 5 persen (2.099.528 dan Kurs Valas adalah -1.389.494.838 dan untuk variabel kurs valas jika terjadi peningkatan sebesar 1 persen pada variabel kurs valas akan dapat mengurangi risiko sistematis saham sebesar 0.551 (dengan nilai tabel signifikan 0. Dengan demikian dapat dikatan bahwa secara bersama-sama variabel independen yaitu Suku Bunga.302. Nilai konstanta sebesar 771. Pada persamaan yang keempat menunjukkan bahwa jika dilihat dari nilai Z hitung untuk regresi berganda untuk masing-masing variabel adalah SBI = 1. dan Kurs Valas tidak mampu memberikan .000). Pengujian secara simultan digunakan uji F dengan nilai F hitung diperoleh dari hasil estimasi pada persamaan regresi yaitu 2. variabel Inflasi sebesar 68. Sedangkan apabila terjadi peningkatan sebesar 1 persen pada SBI. Sedangkan apabila terjadi peningkatan sebesar 1 persen pada kurs valas akan dapat mengurangi risiko sistematis saham sebesar 0. 2. Sedangkan apabila terjadi kenaikan sebesar 1 persen pada inflasi akan meningkatkankan risiko sistematis saham sebesar 78. maka ringkat risiko saham akan mengalami peningkatan sebesar 771.068).665 pada persamaan ketiga menunjukkan bahwa tanpa adanya variabel kurs valas.31 saham akan mengalami penurunan sebesar 247. Uji Simultan (Serempak) Pengujian secara simultan menunjukkan bahwa variabel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependent. maka ringkat risiko saham akan mengalami peningkatan sebesar 59.665. maka pada persamaan regresi tersebut tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik.065. Inflasi dan kurs valas. maka tingkat risiko sistemartis saham adalah sebesar 4646.630 pada persamaan ketiga menunjukkan bahwa tanpa adanya variabel SBI. Nilai konstanta sebesar 59. Pada persamaan yang ketiga menunjukkan bahwa jika dilihat dari nilai Z hitung untuk variabel Kurs Valas adalah -1.653 Inflasi adalah 1.

32 pengaruh yang signifikan secara statistik pada Risiko sistematis saham PT.2 persen. Ini menunjukkan bahwa kemampuan dari variabel independent ini mempengaruhi risiko sistematis saham sangat kecil. Bank Mandiri Tbk. Persamaan terakhir adalah ketika dilakukan pengujian secara bersamaan. Sedangkan untuk variabel dependent kurs valas. kondisi perekonomian amat memberikan dampak yang besar pada keputusan investasi yang dilakukan oleh investor.1 persen variabel lain diluar variabel pengamatan yang mempengaruhi variabel dependent.8 persen. Ini menunjukkan bahwa 96. Seiring dengan hal tersebut. Ini menunjukkan bahwa terdapat 88.8 persen variabel lain diluar variabel kurs valas yang mempengaruhi risiko sistematis saham. Tingkat suku bunga.3 persen variabel lain diluar variabel suku bunga yang mempengaruhi risiko sistematis harga saham PT. Ini berarti terdapat 93. Koefisien Determinasi Nilai koefisien determinasi (R2) pada persamaan regresi pada hasil estimasi di atas menunjukkan seberapa besar pengaruh variabel suku bunga. 4. Bank Mandiri Tbk. inflasi dan kurs valas terhadap risiko sistematis saham. Pada persamaan regresi diperoleh hasil untuk koefisien determinasnya adalah sebesar 6.9 persen. Ini menunjukkan bahwa terdapat 95. .3 Intepretasi Hasil Penelitian Studi tentang variabel makro ekonomi dalam mempengaruhi harga suatu harga saham telah banyak dilakukan oleh ekonom saat ini. 3. maka diperoleh nilai koefisien determinasi adalah 11.2 persen variabel lain di luar variabel inflasi yang mempengaruhi risiko sistematis saham.1 persen untuk variabel Suku Bunga. tingkat inflasi dan kurs valas diharapkan secara tidak langsung ikut mempengaruhi harga saham suatu perusahaan. nilai koefisien determinasinya adalah sebesar 3. Sedangkan pada persamaan regresi dengan variabel independennya adalah inflasi nilai koefisien determinasinya adalah sebesar 4.

karena akan mempengaruhi investasi perusahaan pada negara yang bersangkutan. Kebijakan makro ekonomi yang diambil oleh pemerintah dalam usaha untuk mendukung kondisi investasi yang aman di suatu negara akan tercermin lewat kebijakan-kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah terutama bank sentral dalam penetapan tingkat suku bunga. Masih banyak faktor-faktor lain di luar ketiga faktor independen tersebut yang sangat mempengaruhi risiko sistematis saham. . Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. tingkat inflasi pada suatu negara dan kurs valuta asing negara tersebut terhadap dollar. risiko sistematis saham pada salah satu Bank yang telah go publik di Bursa Efek Indonesia tidak hanya dipengaruhi tingkat suku bunga. respon masyarakat lewat daya beli yang dapat dilihat pada tingkat inflasi yang ada serta kepercayaan investor lewat nilai tukar mata uang yang ditunjukkan dengan tingkat kurs valas yang ada pada suatu negara.33 Kondisi perekonomian makro merupakan salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh para investor.

2) Pengujian regresi berganda yang dilakukan pada ke tiga variabel independen diperoleh hasil bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik pada variabel risiko sistematis saham PT. 4) Besarnya risiko sistematis suatu saham bukan hanya ditentukan oleh suku bunga SBI. antara lain: 1) Kebijakan akan suku bunga akan mempengaruhi investor dalam berinvestasi di indonesia. inflasi dan kurs valas.2 Saran/Rekomendasi Dari kesimpulan atas penelitian yang dilakukan. 3) Hanya Kurs Valas yang mampu mengurangi risiko sistematis saham Bank Mandiri selama periode penelitian yaitu dari Januari 2005 sampai dengan Januari 2010. tingkat suku bunga dan nilai tukar Rupiah/US Dollar dalam mempengaruhi investasi di pasar modal khususnya saham. yang selanjutnya akan berdampak terhadap harga pasar saham di bursa ternyata pada Bank Mandiri kondisi tersebut tidak terbukti. Oleh karena besaran suku bunga perlu ditinjau ulang oleh otoritas moneter dalam upaya meningkatkan minat investor dan meminimalkan risiko sistematis saham masing-masing perusahaan. melainkan terdapat faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi risiko sistematis saham tersebut. .1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitan yang dilakukan dan beberapa uraian-uraian tersebut di atas. 5) Faktor-faktor ekonomi makro seperti inflasi.34 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. maka dapat diambil kesimpulan bahwa: 1) Variabel independen tingkat suku bunga. 5. tingkat inflasi dan kurs valas baik secara parsial maupun secara serempak (simultan) tidak berpengaruh signifikan secara statistik pada α = 5 persen. Bank Mandiri Tbk. maka diperoleh beberapa saran.

35 2) Penelitian selanjutnya hendaknya dilakukan dengan periode yang lebih lama yaitu dari perubahan perkembangan perekonomian di Indonesia sampai dengan kondisi terkini untuk lebih mempertajam analisis. 3) Diharapkan setelah penelitian ini hendaknya dilakukan pada beberapa perusahaan untuk melihat perbandingan risiko sistematis yang dihadapi oleh perusahaan dalam meminimalkan risiko yang ada. .

J William dan Scott. Dornbusch. Surakatra. Surakatra. (1995). Konsep dan Aplikasi) Edisi Pertama. John D.co. dan Suku Bunga SIBOR Terhadap Indeks Saham LQ 45 di Bursa Efek Jakarta 2002.3. Manajemen Keuangan (Teori. J.bps..bi. 1983..go. J William dan Scott. Analisis Kurs Valas dengan Pendekatan BoxJenkins: Studi Empiris Rp/US$ dan Rp/Yen. Ekonomi Moneter.. David F.5: Ekonomi Moneter.idx. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Sekar R. Jub. (1996). BPFE. American Economic Review.2-2000.com www. Jakarta. Sudarwanti.. Teori dan Aplikasi. Salemba Empat Nopirin. Fakultas Ekonomi Universitas Muhamadiya Surakarta. Buku I dan II. 4. T. Jakarta.Fisher (1980).id www. Supranto. Suku Bunga Sbi. 1 – 2007. (2005). Statistik. Arthur. (2005).id www.id www.2005). Terjemahan Chaerul D. Perbedaan Pengaruh Inflasi. International Edition.. Pengaruh Return Saham dan Laba Akuntansi terhadap Risiko Sistematis (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2006). Fakultas Ekonomi Universitas Muhamadiya Surakarta. Prentice Hall Keown. (2003).M. & Mudrajad K. Fakultas Ekonomi. Retno. John D. Hadi K. (2007). (1990). Yogyakarta.id . Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. Pdb. Martin. Erlangga Sutrisno.go. J. Keown. Petty. Petty. Yogyakarta.go. R & S. Universitas Gajah Mada.. Djatman & Dwi Sulistyorini. New Jersey. Exchange Rate and Current Account. BPFE. (2000).36 DAFTAR PUSTAKA Adiatmo R.antaranews. Martin.depkeu. Analisis Pengaruh Inflasi. David F.fiskal. Yogyakarta. Boediono. Kurs Dollar Amerika.UGM. Arthur. Ekonisia www. Yogyakarta. (2009).. J. Tingkat Suku Bunga dan Nilai Tukar Rupiah/US Dollar terhadap Return Saham (Studi Kasus Pada Saham Properti Dan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta 2000 . Financial Management.

Tingkat Inflasi. Analisis Pengaruh Nilai Kurs. & Suhendra S.. Universitas Gunadarma. Jakarta. .com Wibowo A. (2009).37 www.duniainvestasi. dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Dana Pihak Ketiga pada Bank Devisa di Indonesia (Periode Triwulan I 2003 – Triwulan III 2008).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful